Wanita Iblis **

Jilid 01
KRIITT……
Pemuda baju biru itu terkejut ketika pintu rumah gurunya, sekali dorong terbuka
sendiri. Dan kejutnya itu segera diselimuti rasa heran ketika didapatinya ruangan sunyi
senyap.
Ia meragu beberapa saat lalu melangkah masuk. Setelah melalui ruang depan, ia
menuju ke ruang besar. Ada suatu firasat aneh melekat di benaknya. Tentunya terjadi
sesuatu dalam rumah gurunya itu.
Saat itu malam hari. Ruangan besar gelap gulita. Tiada sepelik penerangan sama
sekali. Sedemikian gelap sehingga ia tak dapat melihat jari tangannya sendiri. Desir angin
malam, menambah keseraman suasana saat itu. Walaupun pemuda itu berilmu silat
tinggi, namun mau tak mau ia merasa ngeri juga. Tanpa disadari, tangannya meraba
batang pedang yang terselip di pinggirnya.
Berkat ilmu silatnya, matanya tajam sekali, dapat melihat dalam kegelapan. Ketika
menajamkan pandangan menembus kegelapan, segera ia dapat melihat jelas segala
benda di dalam ruangan.
Di ujung dinding terdapat sebuah meja segi delapan dan empat buah kursi yang teratur
rapi. Perabot-perabot ruangan terletak di tempat yang sesuai.
Pemuda itu tiba-tiba lari menuju ke ruang belakang. Tiba di sebuah bilik yang pintunya
tertutup. Ia tertegun. Tetapi pada lain saat cepat ia mendorong pintu. Pada saat tangan
hendak menyentuh daun pintu, tiba-tiba ia menariknya kembali.
Bilik itu adalah ruang semedi gurunya. Ia tahu tak boleh sembarang orang
memasukinya. Ia takut dimarahi gurunya. Sebagai gantinya ia berbatuk-batuk dan
dengan nada menghormat, segera ia berseru: “Murid Pui Siu-lam, mohon berkunjung….”
Nyaring sekali ucapannya. Ruang seolah-olah terdengar oleh kumandang suaranya.
Tetapi melas! Tiada penyahutan sama sekali….
Saat itu dalam musim salju. Ketika angin malam meniup, gumpalan salju yang
menumbuk di atas payon, bilik semedi, berhamburan menabur ke muka si pemuda.
Siu-lam atau pemuda baju biru segera bersiap-siap hendak mendobrak pintu tetapi
pada lain kilas terbayanglah ia akan wajah gurunya yang angker. Kembali ia batalkan
niatnya dan terus ayunkan tubuh loncat ke pagar tembok.
Di atas pagar tembok, sejenak ia lepaskan pandangannya ke sekeliling penjuru. Dua
pohon bwe masih tumbuh di halaman kebun. Berselimutkan salju putih pohon itu makin
menghamburkan bunga-bunga harum semerbak.
Sekilas terbayanglah Siu-lam akan kenangan pada belasan tahun yang lalu….
Pada masa itu bersama Hui-ing, putri gurunya, masih kanak-kanak yang berumur
delapan atau sembilan tahun. Bermain bersama belajar silat bersama, sama-sama
membagi suka dan duka. Keduanya tak ubah seperti kakak dan adik. Tetapi sang waktu
berjalan laksana anak panah. Tak terasa kini berselang belasan tahun. Ketika
meninggalkan rumah gurunya, Siu-lam dan sumoay itu Hui-ing sudah dewasa. Dan kini ia
sudah bertahun-tahun ia berpisah. Dari tempat jauh sengaja datang ke telaga Ping-ou.

Tujuannya tak lain tak bukan hanya menjenguk keselamatan gurunya dan sekalian untuk
bertemu dengan Hui-ing….
Setelah puas merenung, barulah Siu-lam loncat turun. Perlahan-lahan ia melangkah ke
bilik gurunya berlatih ilmu lwekang.
Dalam pembayangannya, apabila rumah tangga gurunya itu menderita ancaman
bahaya tentulah guru dan ibu gurunya membawa putrinya (Hui-ing) pindah ke lain tempat
yang aman.
Tiba di muka pintu, segera ia mendorong pintunya. Kritt… pintu terentang lebar-lebar
dan hai…! Seketika mendeliklah mata pemuda itu. Rambunya berdiri tegak dan mulut
menganga tak dapat berkata apa-apa. Apa yang disaksikan dalam bilik ruangan itu,
benar-benar membuatnya terlongong-longong seperti patung.
Ruang bilik kosong melompong. Yang ada hanya… sepasang peti mati berjajar
berdampingan…!
“Suhu….!” serentak menjeritlah Siu-lam seraya lari menubruk kedua peti mati itu.
Pecahlah tangisnya tersedu sedang air matanya membanjir….
Setelah beberapa waktu menumpahkan air mata, agak tenanglah hatinya. Dan
mulailah ia mengadakan analisa: “Suhu seorang tokoh yang memiliki kepandaian sakti.
Namanya menggetarkan dunia persilatan. Subo (ibu guru) juga seorang pendekar wanita
yang termasyhur. Senjata rahasia Kim-lian-hoa, disegani di seluruh wilayah Kanglam.
Andaikata diserang oleh beberapa tokoh silat kelas satu, beliau tentu masih dapat
menyelamatkan diri atau lolos. Ah, mungkin dalam kedua peti mati itu bukan terisi
jenazah suhu dan subo.”
Memikir sampai di sini, tergeraklah pikirannya. Diam-diam segera ia salurkan tenaga
dalam hendak membuka tutup peti mati.
“Jangan!” sekonyong-konyong terdengar gemerincing suara melengking macam butir
mutiara tertumpah di dalam tampi. Merdu tetapi bernada dingin.
Cepat Siu-lam berpaling. Entah kapan, tahu-tahu di belakangnya tegak seorang dara
cantik. Rambutnya terurai lepas sampai ke bahu. Pakaiannya serba putih.
Sekalipun kecantikan dara itu menyolok sekali tetapi dalam tempat dan suasana seperti
saat itu, dan kemunculannya secara misterius tanpa sedikitpun mengeluarkan suara, mau
tak mau membuat hati Siu-lam berdebar keras.
“Siapa kau? Mengapa tengah malam buta kau datang kemari dan menangis seperti
anak kecil?” tegur dara itu dengan dingin. Sama sekali tak mau ia memandang Siu-lam.
Kepalanya menunduk.
“Aku murid Ciu Pwe lo-enghiong. Namaku Pui Siu….”
“Sudahlah, aku tak menanyakan namamu!” tukas dara baju putih itu.
Siu-lam kerutkan dahi, ujarnya: “Bolehkah aku melihat apa isi kedua peti mati itu?”
“Tak perlu!” sahut si dara tetap bernada dingin, “Yang satu berisi jenazah Ciu Pwe loenghiong.
Dan yang satu jenazah isterinya.”
Seketika menggeloralah darah Siu-lam, bentaknya: “Benarkah itu?”
Dengan wajah tetap sedingin salju, dara itu menyahut tawar. “Kalau tak percaya,
bukalah sendiri.”
Sekali kerahkan tenaga, Siu-lam mengungkap tutup peti mati sebelah kiri. Ia menyulut
korek. Seketika ruangan itu menjadi terang. Dilihatnya di depan tengah kedua peti mati
itu terdapat sebuah meja knaap. Di atas meja masih terdapat sisa batang lilin. Segera
disulutnya lilin itu sehingga ruang semakin terang benderang.
Berpaling ke belakang, dilihatnya wajah dara itu masih menampil kehambaran. Ia
tegak di sisinya diam mematung.
Siu-lam berpaling lagi melihat ke dalam peti mati. Tampak setampang wajah seorang
tua berjenggot putih, tersembul di atas sosok tubuh yang terbungkus kain putih. Bagi Siulam
suami isteri Ciu Pwe itu bukan melainkan sebagai guru, pula merupakan orang tuanya
yang kedua. Sudah tentu cepat ia dapat mengenali wajah guru yang dicintainya.

Seketika bergolaklah darah di dada Siu-lam. Tak kuasa lagi Siu-lam menahan
perasaannya. Huak… segumpal darah segar menyembur dari mulut. Jatuhkan diri di
hadapan peti mati, menangislah sekeras-kerasnya….
Dari jauh ia membawa kenangan indah untuk mengunjuk bukti kepada sang guru,
tetapi apa yang didapatinya hanyalah kedukaan yang tak terhingga. Benar-benar remuk
redam hati Siu-lam. Entah berapa lama ia tumpahkan air mata sehingga air matanya
kering dan berganti dengan cucuran darah. Karena hanya dengan menangislah ia dapat
menumpahkan rasa kedukaan yang mencekam sanubarinya.
Setelah puas menangis, dilihatnya lilin hanya tinggal sisa sedikit. Dan si dara berwajah
dinginpun masih tegak mematung di sebelahnya.
Siu-lam berbangkit pelahan-lahan. Ditatapnya dara berbaju putih itu, tegurnya:
“Siapakah nona ini? Apakah jenazah suhuku kau berdua yang memasukkan ke peti?”
Tanpa memandang yang bertanya, dara itu menyahut dingin: “Ayah bundaku pernah
menerima pertolongan Ciu lo-enghiong. Kurawat jenazah mereka selaku balas budi, kau
sudah menangis setengah malam, seharusnya tentu tinggalkan tempat ini!”
Dara itu berputar tubuh dan melangkah pelahan-lahan ke belakang.
“Harap berhenti dulu, nona. Aku hendak bertanya beberapa hal,” cepat Siu-lam
berseru.
Si dara tertegun di depan kain gordin putih, sahutnya: “Lekas katakan!”
Tak puas Siu-lam melihat tingkah laku si dara yang kelewat tak memandang mata
kepadanya itu. “Hm, dara itu benar-benar tak bersahabat!” pikirnya.
Dalam dia menimang itu, rupanya si dara tak sabar menunggu lagi. Selagi bergerak,
iapun sudah menyusul ke dalam kain gordin putih.
Karena Siu-lam biasa menerima pelajaran dalam bilik semedhi itu, tahulah ia bahwa di
balik kain gordin itu tiada terdapat tembusan ke lain kamar lagi. Maka iapun berseru:
“Tahukah nona kemana gerangan putri suhuku itu?”
“Tak tahu!” benar seperti yang diduga Siu-lam, terdengarlah dara itu menyahut dari
balik kain gordin.
“Bilamana nona datang kemari? Tahukah nona siapakah yang mencelakai kedua
suhuku itu?” kembali Siu-lam bertanya.
Terdengar dara itu menyahut ringkas: “Ketika aku tiba di sini mereka sudah binasa
beberapa waktu.”
Keterangan itu menimbulkan kecurigaan Siu-lam, serunya pula: “Mengapa nona tahu
bahwa suhu binasa lalu sengaja datang kemari untuk mengurus jenazah mereka?”
“Bagaimana? Kau mencurigai aku yang membunuh kedua suhumu?” tiba-tiba kali ini si
dara tertawa gemerincing. Nadanya penuh mengandung keseraman yang menggigilkan
bulu roma pendengarannya.
Tiba-tiba mata Siu-lam tertuju pada sebuah lengan halus yang tersembul dari gulungan
kain putih. Tangan itu tengah menyekal sebatang lilin merah. Belum sempat Siu-lam
mengatakan apa-apa, dara itupun berseru pula: “Jika kau hendak menjaga peti mati
suhumu, baiklah. Sulutlah lilin ini dan tutuplah lagi peti mati yang kau buka itu!”
Siu-lam mempunyai perasaan bahwa tingkah laku dan ucapan dara itu serba misterius.
Dalam keadaan dan saat seperti itu, walaupun memiliki ilmu silat tinggi, namun mau tak
mau bergidik juga hati Siu-lam. Namun diberanikan juga untuk menerima lilin dari tangan
si dara.
“Lilin itu cukup sampai nanti terang tanah. Jika kau tak takut, silahkan kau bergadang
di sini malam ini!”
Siu-lam tak menyahut. Disulut lilin itu, menutup peti mati suhunya lalu duduk bersila di
sisi peti mati gurunya. Memandang cahaya lilin, pikirannya penuh sesak dengan berbagai
persoalan aneh….
Selama berguru, ia mengetahui sendiri bahwa Ciu-pwe itu seorang jago silat yang
berwatak lurus dan tegas. Penuh wibawa. Sedangkan ibu gurunya, seorang wanita cantik

yang ramah-tamah, halus budi pekerti. Sumoay-nya pun seorang dara yang tangkas jelita,
mengesankan. Kesemuanya itu merupakan kenangan indah yang membekas dalam lubuk
hatinya. Siapa tahu, ya siapa sangka bahwa apa yang didapatinya saat itu hanyalah suatu
keruntuhan puing-puing kenangan. Kedua gurunya telah menjadi jenazah dalam peti dan
sumoay-pun entah lenyap kemana perginya. Masih hidup atau sudah mati.
Malam makin larut. Dihempas oleh kedukaan hebat dikoyakkan oleh kehancuran
impian, dibenam oleh kegelapan malam yang rawan dan seram, tak terasa Siu-lampun
jatuh tertidur bersandar pada peti mati.
Tak tahu entah berapa lama ia berada dalam keadaan tertidur itu, tahu-tahu ia rasakan
tubuhnya didorong tangan. Ketika membuka mata, seorang lelaki tua berwajah sedih,
tengah berdiri di dekat peti mati.
Serentak loncatlah Siu-lam dan terus mendekap kaki orang itu seraya menangis
tersedu-sedan.
Lelaki tua itu menghela napas pelahan, ujarnya: “Bangunlah, mari kita bicara yang
tenang.”
Siu-lam membesut air matanya dan berbangkit bangun. Kemudian ia menerangkan:
“Ketika tadi malam wanpwee (aku) tiba, suhu dan subo sudah menjadi jenazah dalam peti
mati…”
Lelaki tua itu terbeliak kaget: “Hay, apakah jenazah kedua gurumu bukan kau yang
memasukkan ke dalam peti?”
“Bukan!” sahut Siu-lam. Tiba-tiba ia teringat akan si dara baju putih tadi. Sigap sekali
ia segera menyingkap kain gordin putih di belakangnya. Astaga! Dara itu tak nampak
lagi. Sebagai gantinya di balik kain gordin itu terdapat sederet kepala manusia!
Wajah lelaki tua itu serentak berubah. Ia melangkah ke balik kain gordin. Siu-lam
tercengang lalu cepat-cepat menyusul si lelaki tua.
Pada sudut bilik di balik kain gordin putih itu terdapat setumpuk mayat tanpa kepala.
Jumlahnya entah berapa! Ketika diam-diam Siu-lam menghitung, jumlahnya tepat lima
belas mayat.
Lelaki tua itu bukan lain adalah suheng (kakak seperguruannya) dari Ciu Pwe. Bernama
Tio It-ping.
“Benar-benar ganas sekali. Sebuah penumpasan total seorangpun tak ada yang
ditinggalkan hidup,” Tio It-ping mendengus geram.
Siu-lam tahu bahwa supehnya (paman guru) itu jauh lebih sakti dari gurunya (Ciu
Pwee). Dalam saat seperti ini ia dapat berjumpa dengan sang supeh, girangnya bukan
kepalang. Harapan untuk menuntut balas atas kematian suhunya, timbul segera.
Dengan meratap Siu-lam segera memohon pertolongan supeh itu: “Supeh mempunyai
pengalaman luas. Wanpwe mohon dengan sangat agar supaya sudi membalaskan sakit
hati suhu.”
Tio It-ping menghela napas, ujarnya: “Nak, tak perlu kau utarakan kata-kata itu.
Dengan sendirinya sudah menjadi tanggung jawabku untuk membalas sakit hati suteku.
Mungkin kedukaan hatiku tak lebih kecil dari kau. Asal supehmu Tio It-ping masih
bernyawa, tentu akan menuntut balas…”
Jago tua itu tak dapat melampiaskan kata-katanya karena dua tetes air mata meluncur
keluar.
Serta merta Siu-lam jatuhkan diri memberi hormat di hadapan supehnya: “Atas nama
mendiang suhu, dengan ini Wanpwe menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Budi supeh takkan Wanpwe lupakan seumur hidup!”
Tio It-ping terharu mendengar pernyataan pemuda itu. Beberapa saat kemudian ia
suruh Siu-lam bangun.
Diam-diam Sui-lam memperhatikan seksama pada tumpukan kelima belas mayat itu.
Ternyata di antara mereka tak terdapat sumoaynya. Segera ia menuturkan
pengalamannya semalam.

Mendengar tentang gerak-gerik si dara baju putih yang serba misterius itu, diam-diam
timbullah keheranan Tio It-ping. Anak perempuan tentu bernyali kecil. Sekalipun memiliki
kepandaian silatpun sukar diterima bahwa seorang dara akan datang ke rumah kematian
pada saat seperti itu.
“Keterangan wanpwe ini memang sungguh,” karena takut tak dipercaya, buru-buru Siulam
memberi penegasan, “Gerak-gerik dara itu memang menyerupai dengan bangsa
kuntilanak…”
Tio It-ping tertawa hambar: “Di dunia memang terdapat hal-hal yang tak mungkin.
Sekiranya kau tak pepat pikiranmu karena berduka tentulah diri gadis itu merupakan
bahan penyelidikan yang penting. Siapa tahu di sinilah terletaknya kunci rahasia
pembunuhan gurunya sekeluarga!”
Siu-lam mengakui kebenaran kata-kata supehnya itu lalu mengulangi keterangannya
kembali: “Memang jika tak melihat dengan mata kepala sendiri, tentulah wanpwe takkan
percaya tentang diri gadis yang misterius itu.”
Baru Siu-lam berkata begitu, tiba-tiba secercah kilat putih menyambar ke arahnya.
Dengan sigap Siu-lam ulurkan tangan menyumpit benda itu. Ai, dingin sekali. Ternyata
segenggam es.
Perongkol es sebesar gundu itu, dilontarkan oleh tangan lihay. Menembus kain gordin
langsung menyambar Siu-lam.
Tio It-peng mendengus. Sekali beringsut, ia melesat ke luar. Siu-lam pun gunakan
gerak Yan-cu-coan-bun (burung wallet menerobos awan) meletik ke luar halaman.
Dilihatnya Tio It-ping sudah berdiri di atas wuwungan rumah seraya memandang ke
seluruh penjuru.
Tiba-tiba jago tua itu meluncur ke bawah menghampiri Siu-lam: “Ah, sudahlah. Hari ini
aku Tio It-ping benar-benar kena dipermainkan orang. Nah, cobalah kau remas perongkol
es yang kau sanggupi itu!”
Sekali pijat, Siu-lam meremas hancur perongkol salju. Ternyata di dalamnya terisi
sehelai kain putih yang bertuliskan: “Tempat ini bukan tempat yang sesuai, tinggalkan
secepat mungkin, agar terhindar dari kematian.” Tanpa tanda tangan, tanpa tanda suatu
apa.
Tio It-ping terkesiap. Memang ia sudah menduga dalam gumpalan es itu tentu
terdapat apa-apa. Tetapi sedikitpun tak menyangka bahwa isinya ternyata sebuah
peringatan maut.
“Tio supeh, kita tunggu kedatangan mereka,” kata Siu-lam dengan geram.
Tio It-ping kerukan alis dan menghela napas dalam-dalam: “Ah, kau seorang pemuda
yang berani. Tak kecewa gurumu memberikan pelajaran padamu. Tetapi jika kau
menunggu di sini takkan membawa faedah apa-apa.”
Karena hatinya kesal. Sui-lam sampai mengucurkan air mata. Kemudian ia berseru
tegas: “Aku bersumpah untuk menuntut balas atas kematian suhu. Jika aku Pui Sui-lam
dalam hidup sekarang ini tak mampu menumpas musuh, lebih baik aku menjadi seperti
pohon ini….!” Ia menutup kata-katanya dengan menyabetkan pedangnya ke pohon bwe.
Bum…. Pohon bwe yang pernah menjadi tempat bermain-main semasa kanak-kanak itu,
kutung menjadi dua dan rubuh ke tanah….
Tio It-ping beringas. Ia terharu sekali melihat kesetiaan anak muda itu terhadap
gurunya. Tetapi pada lain kilas jago tua itu tenang sekali.
“Jika tak tahan menghadapi persoalan kecil, tentu sukar untuk melaksanakan pekerjaan
besar. Menilik kepandaian orang yang melemparkan es berisi peringatan maut itu, jelas
dia tentu seorang sakti. Jangankan kau, bahkan aku sendiri pun belum tentu dapat
menandinginya. Aku sudah tua, soal mati hidup tak kuhiraukan lagi. Tekadku sudah
bulat. Aku pasti akan berusaha sekuatnya untuk membalaskan sakit hati Ciu sute. Jika
aku bisa lolos dari lingkaran maut ini, aku tentu akan berusaha untuk mengundang
sahabat-sahabat persilatan untuk mencari musuh itu…”

Tiba-tiba jago tua itu berhenti bicara. Serentak dicekalnya siku lengan Siu-lam diajak
lari keluar dari lingkungan rumah Ciu Pwe.
Kira-kira lima li jauhnya, barulah Tio It-ping melepaskan cekalannya. Ia menghela
napas seraya bertanya: “Kau kira kematian suhu dan subomu itu secara mendadak?”
Sebenarnya tak puas hati Siu-lam karena seolah-olah diseret oleh paman gurunya itu.
Padahal ia benar-benar sudah bertekad hendak menjaga jenazah gurunya. Ia hendak
meronta dari cekalan paman gurunya atau tiba-tiba Tio It-ping sudah lepaskan diri. Dan
lebih kesima Siu-lam, ketika mendapat pertanyaan semacam itu.
“Apakah maksud supeh? Apakah supeh hendak mengatakan bahwa suhu dan subo
sebelumnya sudah tahu bakal menderita bencana itu?” tanyanya.
Tio It-ping tengadahkan kepala dan menghela napas pula, sahutnya: “Benar, bukan
saja sudah tahu pun suhu dan subomu itu juga tahu bahwa mereka berdua tidak nanti
dapat lolos dari ancaman musuh. Oleh karena itu dia tak sempat lagi untuk mengundang
bantuan orang luar atau melarikan diri!”
“Benar-benar wanpwe tak mengerti maksud keterangan supeh ini. Dunia begini luas
apalagi suhu dan subo berkepandaian tinggi. Kalau tahu bakal tak dapat melawan,
masakan mereka tak dapat meloloskan diri?” Siu-lam makin tak mengerti.
Tio It-ping merenung sejenak, ujarnya: “Justru itulah yang hendak kujelaskan padamu.
Gurumu itu berwatak keras dan disiplin. Dia tak mempunyai banyak musuh. Sejak jemu
dengan pergaulan ramai, mereka menyembunyikan diri di Telaga Ping-ou dan sejak itu
seolah-olah putuskan hubungan dengan dunia persilatan. Kecuali hanya dengan seorang
dua orang sahabat karibnya, jarang sekali mereka berdua bergaul dengan tokoh-tokoh
persilatan. Dua puluh tahun hidup dalam kesenangan, mereka menikmati kehidupan yang
bahagia. Tiga tahun yang lalu ketika aku berkunjung, kudapatkan ilmunya lwekang makin
bertambah sempurna. Juga subomu memperoleh kemajuan yang mengejutkan. Di
seluruh wilayah Kanglam, rasanya tiada seorang jago silat yang mampu menandingi
suhumu berdua. Tetapi dari penyelidikan yang kudapatkan dalam rumah kediamannya
tadi, jelas bahwa suhumu berdua sudah mengetahui akan datangnya bencana maut itu.
Dari siang-siang keduanya sudah membuat persiapan…”
“Sukalah supeh segera menjelaskan, agar wanpwe jangan selalu terselubung
kegelapan,” pinta Siu-lam yang masih bingung.
Setelah memandang kian kemari, barulah Tio It-ping berkata: “Apa yang kukatakan itu
hanyalah berdasarkan pengalaman saja. Apakah di antara mayat-mayat itu terdapat
mayat sumoay-mu?”
“Gadis secantik sumoay, jarang terdapat di dunia. Mungkin dia telah dibawa lari
pembunuh-pembunuh itu. Wanpwe tak dapat membayangkan….”
Tio It-ping tertawa tawar: “Tentang tak terdapatnya sumoaymu di antara mayat-mayat
itu, ada dua kemungkinan. Dugaan dia dilarikan si pembunuh memang banyak
kemungkinannya. Tetapi dugaan bahwa sebelumnya dia memang sudah diperintahkan
suhumu untuk menyingkir lebih dulu ke lain tempat, juga dapat terjadi. Yang nyata
sumoaymu tak terdapat di antara tumpukan mayat, ini mencurigakan!”
“Ah, wanpwe benar-benar gelap pikiran, tak dapat memikirkan hal itu.”
Tio It-ping menghela napaas: “Jika kau mau memperhatikan bahwa tumpukan mayatmayat
itu semua berpakaian ringkas (pakaian siap tempur), jelas menandakan bahwa
suhumu memang sudah mengetahui. Dia tak mau mati konyol dan bersiap-siap
mengadakan perlawanan.”
Seluruh bujang dan anggota keluarga dikerahkan untuk menghadapi musuh. Tetapi
rupanya musuh terlampau kuat. Suhumu dan seluruh penghuni rumah tangganya telah
dihabiskan. Satu hal yang tak habis kumengerti. Kalau sudah tahu bakal menerima
bencana hebat, mengapa tak mau menyingkir saja? Walaupun musuh tentu tetap
mengejar jejaknya, tetapi untuk sementara waktu suhumu tentu mempunyai kesempatan
untuk membuat rencana persiapan yang lebih sempurna. Ah, Thian (Allah), mengapa aku

tak datang tiga hari yang lalu? Ah, hanya karena terlambat dua hari saja, keadaan
menjadi begini rupa.”
Diam-diam Siu-lam mengakui apa yang dikatakan supehnya itu memang tepat. Diapun
menyatakan keheranannya. “Ya, mengapa suhu tak mau mengundang bantuan
sahabatnya?”
“Memang hal itu mengherankan,’ kata Tio It-ping. “Tetapi untuk mengundang tenaga
yang lebih sakti atau sekurang-kurangnya menyamai kepandaian suhumu, bukanlah hal
yang gampang. Dan untuk keluar mencari bantuan, tidaklah semudah seperti yang kita
bayangkan. Kalau tak salah penilikanku, kemungkinan tempat kediaman suhumu itu
sudah dikepung rapat dan diawasi ketat oleh musuh. Yang melontar gumpalan salju,
kemungkinan tentu si nona baju putih yang kukatakan itu. Dalam hal ilmu ginkang
(meringankan tubuh) rasanya kepandaianku tak jelek. Tetapi aneh, ketika aku melesat
keluar, sama sekali tak tampak bayangan orang. Jelas pembunuhnya itu dilakukan oleh
tokoh hebat. Baik kepandaian maupun keganasannya, tiada tandingannya. Gerak-gerik
nona baju putih menjaga jenazah suhumu tentu mempunyai maksud tertentu.
Kemungkinan walaupun suhumu mempunyai rencana hendak mencari bantuan, pun sukar
melaksanakan…..”
Tio It-ping berhenti beberapa saat, lalu melanjutkan pula: “Pada hematku ada dua hal
yang perlu kita kerjakan. Pertama mencari jejak sumoaymu yang lenyap. Dan kedua,
menyelidiki siapa pembunuh ganas itu. Paling tidak kita harus dapat mengetahui jejak si
pembunuh, baru merencanakan tindakan selanjutnya. Tetapi kedua tugas itu tak
semudah seperti yang kita katakan. Kita berhadapan dengan musuh yang luar biasa!”
Siu-lam jatuhkan diri di hadapan jago tua itu. “Wanpwee masih hijau, terserah
bagaimana supeh hendak mengatur. Walaupun harus masuk ke dalam lautan api
menerjang hutan golok, wanpwe tentu akan melakukan perintah supeh!”
Tio It-ping suruh pemuda itu bangun. “Musuh terlampau sakti. Tak perlu kita harus
menempurnya, tetapi cukup menyelidiki jejaknya saja. Kalau kita pergi bersama, bukan
saja mudah diketahui musuhpun juga membagi tenagaku untuk melindungimu. Mencari
sumoaymu, lebih penting dari menyelidiki jejak musuh. Karena apabila sumoaymu telah
diketemukan, tentulah kau akan dapat meminta keterangan yang dapat menyingkap tabir
pembunuhan itu!”
Diam-diam Siu-lam membenarkan pandangan supehnya. Akhirnya ia memberi
pertanyaan: “Baiklah, wanpwe hanya menurut saja. Tetapi dunia yang begini luas,
kemanakah wanpwe harus mencari jejak sumoay?”
Tio It-ping mengeluarkan sebuah uang mas berbentuk segi empat: “Bawalah uang
emas ini ke Co-yang-ping di Lu-an, temuilah Siu-chin-kiau-in Su Bo-tun. Jika dia tak mau
menemuimu, tunjukkanlah uang emas ini. Dia tentu akan menanyakan apa yang kau
kehendaki. Jangan buru-buru mengatakan bahwa kau hendak minta bantuannya untuk
mencari sumoaymu. Cukup bilang saja, pemegang uang emas belum datang. Kau hanya
disuruh menyampaikan dulu. Percayalah, betapa dingin sambutannya kepadamu, tetapi
dia tenu akan menahan kesabarannya. Hanya saja jangan sekali-kali kau bersikap kasar
sehingga menimbulkan kemarahannya. Tunggu setelah dia mengembalikan uang emas itu
kepadamu, barulah kau boleh mengatakan tentng maksud mencari sumoaymu,” Tio Itping
berhenti sejenak, “Masalah ini penting sekali, jangan sampai kau melantarkan. Kau
harus bersabar dan menekan segala perasaanmu terhadap segala ucapannya yang sinis.
Ingat, dapat diketemukan sumoaymu dan pembunuh dari suhumu hanya tergantung pada
sikap dan tindakanmu saat itu.”
Siu-lam menyatakan kesanggupannya.
Tio It-ping menghela napas: “Orang she Su itu aneh sekali perangainya. Seumur hidup
dia tak memperdulikan orang. Dia dingin sekali sikapnya. Nah, waktu berharga sekali.

Tak dapat kuceritakan lebih panjang. Segeralah kau berangkat. Dan dalam satu dua hari
lagi akupun tentu menyusul ke sana…”
Tio It-peng merenung sejenak, lalu berkata lagi: “Jika dalam tiga hari aku belum tiba,
gunakan kekuasaan uang emas minta pada Su Ba-tun supaya dalam waktu tiga bulan
harus dapat memberi keterangan siapa pembunuh suhumu!”
Tio It-peng menghela napas.
Setelah menerima petunjuk-petunjuk dari supehnya, Siu-lam segera minta diri.
Menjelang petang, tibalah ia di sebuah kota kecil. Karena sehari semalam ia tak makan,
perut Siu-lam terasa merintih. Kebetulan di dekat jalan ia meliha sebuah warung makan.
Sebuah warung makan yang sederhana. Hanya mempunyai tiga buah meja dengan
kursi-kursi yang kasar. Karena lapar sekali, Siu-lam segera berseru memanggil pelayan.
Tetapi tak ada yang menyahut.
“Hai, apakah di warung ini tiada orang?” serunya dengan keras.
Seorang dara berumur lima belas enam belas muncul dari kain penutup pintu.
Pakaiannya dari kain kasar, rambutnya dikepang dua dan suaranya melengking runcing:
“Ayah sedang ke pasar. Makanan sudah habis dipesan kedua tamu itu!”
Memang sebelum Siu-lam masuk, di warung itu sudah terdapat dua orang tamu.
“Setan alas, kalau makanan habis mengapa tak tutup….” Siu-lam marah tetapi pada lain
saat ia teringat. Apa perlunya ia harus marah-marah terhadap seorang perawan desa.
Segera ia tertawa ramah: “Karena sudah sejak tadi malam tak makan dan saya masih
perlu melanjutkan perjalanan jauh, maka tolonglah nona buatkan makanan sederhana.
Terserah apa saja. Nanti akan kubayar secukupnya.”
Semakin Siu-lam marah, si dara tenang saja. Sedikitpun tak takut. Setelah Siu-lam
habis bicara, barulah nona itu tersenyum: “Menilik pakaian dan gaya, tuan tentu putera
orang raja atau pangkat. Warung desa kecil ini, persediaan makanan memang terbatas.
Kalau habis ya habis benar-benar. Sekalipun tuan hendak membayar berapa, aku tak
dapat.”
Nada dan rangkaian kata-katanya luwes serta lancar. Jelas kalau perawan itu tentu
berpendidikan. Tetapi mengapa tinggal di desa sunyi?
Di luar kesadarannya, Siu-lam mengangkat kepala dan memandang gadis itu. Ah,
seorang gadis jelita. Dalam pakaian serba sederhana, gadis itu tetap menonjol
kecantikannya. Hanya kulitnya agak kehitam-hitaman. Serta merta Siu-lam meminta
maaf atas kata-katanya yang kasar tadi. Setelah itu Siu-lam ngeloyor pergi.
“Tunggu dulu, tuan!” tiba-tiba gadis itu melengking.
Ketika Siu-lam berpaling, tampak gadis itu telah berdiri di ambang pintu warung,
serunya sambil tersenyum: “Menempuh perjalanan dalam hawa yang begini dingin,
tentulah tuan mempunyai urusan yang penting sekali. Hari sudah hampir gelap, tentu
makin dingin. Meskipun tuan seorang persilatan, tetapi jangan harap dapat berburu
binatang untuk isi perut. Binatang-binatang sama menyembunyikan diri karena hawa
dingin.”
Siu-lam terkesiap. Ia heran mengapa dara itu tahu kalau ia bisa ilmu silat.
“Jika tak menolak, silahkan tuan masuk ke dalam lagi, nanti akan kusiapkan masakan
seadanya,” dara itu tersenyum.
Siu-lam benar-benar tercengang. Gerak-gerik dan ucapan gadis itu memang serba
mengherankan. Pikirnya ia hendak menolak, tapi perutnya sudah tak tahan lagi.
Terpaksa ia menurut tawaran gadis itu.
Eh… Siu-lam terbeliak. Kedua orang lelaki yang duduk di meja tadi, masih terpaku di
tempatnya. Seperti patung yang tak bergerak. Timbul kecurigaan Siu-lam.
Dipandanginya kedua tamu itu. Astaga….! Kedua tamu itu ternyata tak dapat berkutik
karena tertotok jalan darahnya. Tadi karena memikirkan perutnya yang lapar, ia tak
sempat memperhatikan keadaan kedua orang itu.

Si dara tertawa tawar. Rupanya ia tahu keterkejutan Siu-lam. Serunya: “Jika tuan tak
merasa jijik, silahkan mendahar masakan kedua orang itu dulu. Mereka belum
menjamahnya.”
“Terima kasih,” sahut Siu-lam, “tetapi hidangan yang sudah dipesan orang, masakan
hendak kurebut!”
Si dara tertawa: “Baiklah, kalau tuan tak mau, tunggulah sebentar kumasakkan.” Ia
terus masuk ke dalam dapur.
Siu-lam sempat memandang keadaan warung itu. Sebuah warung yang hanya
mempunyai tiga ruangan kecil. Ruang muka untuk tetamu, tengah untuk meracik
hidangan dan dapur untuk masak. Kecuali tiga meja dan beberapa kursi bambu, warung
itu tidak ada perkakas lain-lainnya lagi.
Seketika timbullah kecurigaan Siu-lam. “Tempat sesepi ini tentu jarang dikunjungi
tetamu. Hih, jangan-jangan warung ini warung hitam untuk menjegal orang… Gadis itu,
gadis itu memang mencurigakan!”
Tiba-tiba si dara muncul dengan membawa setalam berisi sepuluh butir telur rebus:
“Maaf, hanya ini yang dapat kuhidangkan. Mudah-mudahan dapat menenangkan perut
tuan!”
Siu-lam mengeluarkan uang perak: “Harap nona suka terima sedikit pengganti
pembelian telur ini!”
“Ah, hanya sepuluh butir telur masakkan tuan begitu sungkan?” seru si dara dengan
sama sekali tak memandang uang perak yang diletakkan di atas meja.
Tetapi Siu-lam mendesaknya. Setelah mengucap terima kasih segera ia menyambar
telur dan keluar….
Kira-kira sepuluh lie jauhnya, barulah ia berhenti. Saat itu cuaca sudah gelap. Dan
benar yang dikatakan gadis pemilik warung tadi, di hadapannya kini terbentang hutan
pegunungan. Siu-lam menghela napas. Apa boleh buat. Ia segera memakan telur lalu
duduk di tanah menyalurkan napas. Setelah rasa letih hilang, barulah ia bangun dan
meneruskan perjalanan.
Setengah jam kemudian, jalan makin berbahaya. Lamping gunung penuh jurang dan
tebing terjal. Batu-batu karang menggunduk tinggi, menutup jalan. Apa lagi jalan-jalan
tertutup hilang oleh salju. Siu-lam benar-benar harus peras keringat. Berjalan malam hari
di pegunungan yang tertutup salju, sungguh berbahaya sekali!
Menjelang fajar, barulah ia tiba di tempat tujuan ini di karang Po-to-kang. Puncak
gunung menyusup ke dalam awan, lerengnya melandai berkilat-kilat licin sekali.
Karena sehari semalam menempuh perjalanan, Siu-lam letih sekali. Ia merasa tak kuat
untuk mendaki ke puncak. Terpaksa ia beristirahat di bawah karang. Tak terasa ia
tertidur. Ketika bangun, matahari sudah sepenggalah tingginya.
Menurut keterangan Tio It-ping, dataran Co-yang-ping itu terletak di lamping gunung
yang penuh batu karang. Kecuali memang alamnya, pun keadaan di situ diperbaiki lagi
oleh Su Bo-tun sehingga merupakan sebuah tempat-tempat yang tak mudah dicapai
orang.
Ketika tiba di daratan Long-yang-ping, dilihatnya sebuah karang yang mengunjuk besar
sekali, menyerupai sebuah bukit kecil. Jalanan ke karang it, hanya dicapai dengan
gunduk-gunduk tiang batu yang hanya cukup dilalui seseorang. Setiap gunduk tiang
karang, terpisah dua-tiga meter. Sekali orang tak berhati-hati, pasti akan tergelincir jatuh
ke dalam jurang di bawah. Sebuah jurang yang tak kelihatan dasarnya…..
Siu-lam memperhitungkan kepandaiannya. Ia merasa dapat melintasi jalanan
berbahaya itu. Segera ia berseru nyaring: “Wanpwe Pui Siu-lam mohon bertemu pada
locianpwe…” ia menutup kata-katanya dengan sebuah gerak Walet Menerobos Awan.
Tubuhnya mencelat ke udara dan melayang turun ke tiang karang yang pertama. Ketika
memandang ke bawah, matanya berkunang-kunang, bulu roma bergidik. Jauh di sebelah
bawah, terhampar sebuah jurang yang tak diketahui dasarnya, buru-buru ia pejamkan

mata dan pusatkan pikiran. Kemudian ia apungkan tubuh ke udara dan melayang ke
batas karang yang kedua.
Kini ia mempunyai pengalaman. Tak mau ia memandang ke bawah agar nyalinya tak
pecah. Dan mulailah ia melayang ke batu karang yang ketiga. Setelah berturut-turut
melayang delapan kali, habislah tiang-tiang karang yang menjadi penghubung dengan
karan bunting. Kini jaraknya hanya tinggal tiga tombak. Suatu jarak yang tak mungkin
dapat ia loncati.
Tengah ia gelisah menghadapi rintangan terakhir tiba-tiba terdengarlah lengking suara
tajam menyusup ke telinganya: “Guruku sudah selama dua puluh tahun putuskan
hubungan dengan dunia luar. Lebih baik kau kembali saja!”
Siu-lam terkejut. Ketika memandang seksama tampak seorang pemuda berusia dua
puluh lima tahun. Sepasang mata pemuda baju biru itu berkilat-kilat memandang Siu-lam
dengan pandangan dingin.
Karena sudah dipesan Tio It-ping, Siu-lam pun mengekang kesabarannya. Ia memberi
hormat: “Aku Pui Siu-lam hendak mohon menghadap Su-locianpwe. Ada urusan penting
yang hendak kusampaikan pada beliau. Harap saudara suka melaporkan pada beliau.
Harap saudara suka melaporkan pada beliau!”
Pemuda yang berkulit hitam itu tertawa mengakak: “Ho, belum pernah aku bertemu
dengan orang berkulit setebal kau. Sudah kukatakan suhu tak menerima tetamu, kalau
tak percaya, bolehkan kau tungguh sampai seminggu atau sebulan!” Habis berkata ia
terus berputar diri dan melangkah pergi.
“Tunggu!” teriak Siu-lam.
Pemuda berkulit hitam berhenti dan berputar tubuh, serunya geram: “Seorang lelaki
mengapa banyak mulut? Apakah tak merasa malu?”
Siu-lam mengeluarkan uang emas dan diangsurkan ke atas: “Kenalkah saudara akan
benda ini?”
Sejenak memandang uang emas itu, kerut wajah pemuda berkulit hitam itu rupanya
agak tenang. Ia tertawa: “Mengapa dari tadi kau tak mau mengatakan membawa Soh-inkim-
chi dari suhuku sehingga aku bersikap kasar?”
Pemuda itu segera mengeluarkan segulung tali terus dilemparkan ke arah Siu-lam.
Lemparannya tepat sekali. Ujung tali melayang ke dada Siu-lam dan disambutinya.
“Jika saudara percaya padaku, peganglah tali erat-erat dan kutarik kemari. Tetapi jika
saudara tak percaya kepadaku, silahkan mengikat ujung tali pada tiang karang dan
gunakan ilmu meringankan tubuh meluncur di sepanjang tali!”
“Tentu, aku tentu percaya pada saudara,” seru Siu-lam. Setelah mencekal tali dengan
kedua tangan, segera diayunkan tubuh melayang ke bawah. Cepat sekali ia sudah
melayang ke batu karang. Begitu membentur karang, tiba-tiba tubuhnya terangkat naik
dan tahu-tahu sudah berada di atas karang buntung.
Pemuda muka hitam menggulung tali dan tertawa: “Dengan Soh-in-kim-chi dari
suhuku, saudara tentu sudah mengerti cara menemui suhu.”
Soh-in-kim-chi artinya uang emas pengikat budi, Siu-lam gugup. Jika mengatakan
terus terang, ia kuatir pemuda muka hitam itu akan memperoloknya. Maka ia menjawab:
“Masa kau tak tahu!”
“Mana berikan padaku!” pemuda muka hitam tertawa dan angsurkan tangannya.
Tetapi Siu-lam cukup cerdas. Cepat-cepat ia mengelak: “Soh-in kim-chi dari Su
locianpwe ini merupakan barang tak ternilai. Hendak kuhaturkan sendiri pada Su locianpwe.”
“Tetapi saat ini suhu sedang semedhi, tunggu saja dua jam lagi!” kata si muka hitam.
“Tetapi urusan ini penting sekali, jika saudara suka membantu, aku tentu berterima
kasih sekali,” desak Siu-lam. Bahkan ia segera menjura.
Akhirnya pemuda muka hitam itu terpaksa menggerutu: “Baik, baik, coba-coba saja aku
laporkan. Tetapi berhasil tidaknya tergantung dari peruntunganmu.

Segera ia berlari menuju ke sebuah gubuk. Tak berapa lama ia muncul lagi dan
tertawa-tawa: “Peruntunganmu besar sekali, suhu suka menerima!”
Siu-lam menghaturkan terima kasih dan menanyakan nama si hitam itu.
“Aku she Seng nama Kim-po.”
“Saudara Seng tentu mewarisi kepandaian Su lo-cianpwe yang sakti. Kelak apabila
muncul di dunia persilatan tentu menjadi bintang yang cemerlang!”
Kim-po tertawa: “Suhu tak suka campur urusan dunia, tak suka menerima tamu. Dan
aku sendiripun tak suka cari nama.”
Merekapun tiba di muka pondok. Kim-po membawa tamunya masuk. Di ruang dalam
mereka berhadapan dengan seorang tua bertubuh kurus. Mengenakan baju pendek
warna biru, berikat pinggang tali rumput. Orang tua itu duduk di sebuah kursi kayu.
Wajahnya dingin. Kedatangan kedua pemuda itu tak dihiraukan sama sekali.
Siu-lam memberi hormat, serunya: “Wanpwe Pui Sui-lam mohon menghadap Su locianpwe.”
Su Bo-tun mendengus dingin. “Aku tak suka bicara dengan orang yang tak
berkepentingan. Berikan Soh-in-kim-chi dulu baru kita bicara lagi.”
Diam-diam Siu-lam mendongkol. Tapi ia terpaksa mengeluarkan Soh-in-kim-chi. Ketika
menyambuti dan selesai memeriksa, Su Bo-tun menghela napas.
“Inilah uang emas hutang budi yang terakhir kukeluarkan. Sehabis ini, aku sudah tak
berhutang budi pada orang lagi. Bilang, kau perlu apa padaku?” kata Su Bo-tun.
“Pemegang Soh-in-kim-chi, karena masih ada urusan dan lalu agak lambat datang. Aku
hanya disuruh menyampaikan dulu pada lo-cianpwe.”
Seketika wajah Su Bo-tun berubah gelap, dengusnya: “Siapa yang suruh kau kemari,
katakan! Karena beberapa biji Soh-in-kim-chi, aku telah menderita kedinginan di Co-yangping
sini selama duapuluh musim dingin. Jika tak memberitahukan siapa yang menyuruh
kau, anak muda seperti kau, jangan harap kau bisa pergi dari sini!”
Betapa geram hati Siu-lam namun ia masih bisa bersikap tenang dan menghias sebuah
tawa: “Kemasyhuran nama lo-cianpwe, siapakah yang menaruh perindahan….”
“Jangan ngaco belo!” bentak Su Bo-tun. “Di dunia persilatan hanya sedikit sekali yang
tahu diriku. Hm, anak muda seperti kau, sudah pandai menjilat pantat!”
Karena ingat pesan Tio It-ping, Siu-lam tetap mengekang diri. Walaupun dimaki, ia
tertawa: “Tokoh sakti seperti lo-cianpwe, karena enggan keluar sudah tentu banyak
angkatan muda seperti wanpwe yang tak mengenal….”
Mata Su Bo-tun berkilat, dibentaknya Siu-lam dengan marah: “Aku benci dengan
manusia palsu. Kalau kau mau minta tolong, lekas bilang. Jika bicara yang tak ada
gunanya, jangan kaget kalau penyakit gemar membunuhku kumat lagi!”
Hampir Siu-lam kehilangan sabar. Pada saat ia hendak balas mendamprat, tiba-tiba
terlintas bayangan ngeri dari kematian suhunya.
“Siu-lam. Siu-lam. Jika kau tak dapat menahan kesabaran, mungkin kau akan bentrok
dengan Su Bo-tun. Kau mati tak mengapa, tapi bagaimana dengan cita-citamu hendak
membalaskan sakit hati gurumu?” diam-diam ia memaki dirinya sendiri.
Serentak ia tenang lagi dan tertawa tawar, sahutnya: “Wanpwe hanya disuruh. Sudah
tentu tak berani mengambil keputusan sendiri. Harap lo-cianpwe memaafkan.”
Jawaban yang tenang hambar itu membuat Su Bo-tun tak berdaya. Ia kerutkan dahi:
“Kalau tak bisa ambil putusan, perlu apa kau datang kemari? Apakah maksudmu suruh
aku mengembalikan lagi uang ini kepadamu.”
“Banyak terima kasih karena lo-cianpwe sudi menyerahkan kembali uang emas itu
kepada wanpwe,” kata Siu-lam sambil membungkuk memberi hormat.
Su Bo-tun mendengus: “Hm, hidup tujuhpuluhan tahun baru sekali ini aku bertemu
dengan manusia yang begini berbelit!”
Walaupun mengomel tetapi ia serahkan kembali uang emas Soh-in-kim-chi kepada Siulam.

Setelah menyimpan uang emas Siu-lampun tertawa, ujarnya: “Wanpwe hendak mohon
bantuan lo-cianpwe tentang diri seseorang. Apakah lo-cianpwe mengetahui?”
Su Bo-tun mendengus: “Asal kau mau menyerahkan Soh-in-kim-chi kepadaku, cukup
kau sebut nama orang itu, tentu akan kucari dan kubawanya kemari.”
“Ah, tak perlu,” kata Siu-lam, “wanpwe hanya sekedar bertanya saja. Kalau lo-cianpwe
tak tahu, tak apalah. Tetapi wanpwe tahu orang itu memang sudah berada di Co-yangping
sini!”
“Kurang ajar, siapakah yang berani menyusup ke Co-yang-ping tanpa ijinku, bilang!” Su
Bo-tun melengking marah.
Siu-lam tertawa: “Dia orang she Ciu, namanya Hui-ing. Tahun ini berumur delapan
belas tahun. Entah benar tidak dugaan wanpwe itu?”
Serentak berbangkitlah Su Bo-tun dan melambai pada Kim-po: “Bawa budak ini kepada
budak perempuan itu! Lekas, aku muak melihat tampangnya!”
Kim-po segera mengajak Siu-lam keluar.
“Siasat membakar hati yang saudara lakukan tadi, hebat benar. Sejak aku menjadi
murid suhu, belum pernah kulihat beliau mengajak orang bicara begitu lama,” Kim-po
memuji.
Siu-lam jawab: “Dunia persilatan menyohorkan Su lo-cianpwe berwatak aneh. Tetapi
apa yang kusaksikan tadi, ternyata tak sesuai. Bukan saja beliau seorang tokoh yang
pegang janji pun hanya lahirnya saja seorang yang dingin tapi hatinya mudah terbakar.”
Berubahlah seketika wajah Kim-po, katanya dengan tajam: “Sebaiknya jangan menilai
diri suhuku agar jangan ditimpa bencana maut!”
Siu-lam mengiakan. Tapi diam-diam ia menggerutu dalam hati: “Guru kencing berdiri,
murid kencing berlari. Gurunya kukway, muridnyapun aneh. Eh, mengapa mereka bisa
saling bertemu?”
Dalam bercakap-cakap itu mereka tiba di ujung karang. Menunjuk pada sebuah
lekukan batu karang, berkatalah Kim-po: “Aku paling takut bicara dengan perempuan.
Perempuan itu berada dalam goa. Apabila berjalan ke ujung situ, tentulah saudara akan
melihat pintu masuknya.”
Dan habis berkata Kim-po berputar tubuh terus melesat tinggalkan tamunya. Siu-lam
tak menghiraukan pemuda limbung itu, benar juga ketika tiba di ujung karang, ia melihat
pintu sebuah goa.
Setelah masuk dan melalui tiga buah tikungan, tibalah ia di hadapan sebuah kamar
batu seluas satu tombak. Seorang dara berbaju biru sedang duduk bersila memandang ke
langit kamar. Seolah-olah sedang merenungkan sesuatu.
Hati Siu-lam bergetar keras sekali ketika melihat dara itu adalah sumoaynya Ciu Hui-ing
yang telah berpisah selama dua tahun. Melihat sumoaynya tak kurang suatu apa, sampai
beberapa saat Siu-lam tak dapat bicara.
“Adik Ing….” akhirnya berserulah Siu-lam dengan nada agak gemetar.
Dara itu terkejut dan berpaling. “Hai, Pui su-heng!” serentak ia loncat berbangkit.
Entah bagaimana perasaan Siu-lam menghadapi pertemuan itu. Tapi yang nyata ia
mencucurkan air mata karena teringat akan nasib malang yang menimpa kedua suhunya.
“Pui suheng, kau mengapa?” seru Hui-ing terheran-heran melihat Siu-lam menangis.
“Apakah suheng menjenguk ke rumahku? Bagaimana keadaan ayah bundaku?”
Gemetar tubuh Siu-lam menerima pertanyaan semacam itu. Namun diulasnya sang
wajah dengan tertawa: “Suhu dan subo sehat walafiat.”
“Lalu mengapa kau mengucurkan air mata?” Hui-ing kerutkan dahi.
Setiap patah kata-kata dara itu dirasakan Siu-lam seperti pisau yang menyayat hatinya.
Hampir ia tak dapat menahan banjirnya sang air mata. Tetapi dikeraskan juga hatinya
dan agar jangan diketahui sang sumoay, iapun tertawa ringan: “Aku terharu girang karena
pertemuan ini. Bukankah sudah dua tahun berpisah?”

Jawaban itu membuat si dara tersipu malu, gerutunya: “Ah, penyakit suheng masih
belum baik. Selalu suheng suka berolok-olok!”
Hui-ing mengeluarkan sapu tangan dan diberikan kepada Siu-lam: “Pesutlah air
matamu agar jangan ditertawakan orang. Masakan sudah besar masih seperti bocah kecil
saja. Sedikit-sedikit menangis.”
Siu-lam menurut. Kemudian ia bertanya: “Mengapa kau lari ke tempat itu sehingga aku
bersusah payah mencarimu?”
Hui-ing tertawa: “Setengah bulan yang lalu, entah bagaimana tiba-tiba ayah suruh aku
membawa sebuah uang emas kepada Sin-chiu-kian-in Su Bo-tun. Maksudnya minta Su
Bo-tun supaya suka memberi pelajaran ilmu silat kepadaku. Huh, tua Bangka Su itu
ternyata manusia berhati dingin dan berwatak aneh. Dia tak mau banyak bicara. Begitu
menerima uang emas yang kuserahkan, terus diamat-amati seperti orang yang belum
pernah melihat uang. Dia tertawa gelak-gelak seperti orang gila. Tetapi begitu kukatakan
supaya dia memberi pelajaran silat kepadaku, serentak berubah gelaplah wajahnya. Dia
suruh muridnya membawa aku ke sini. Hari kedua, dia baru datang ke sini memberi
pelajaran ilmu silat. Aku tak boleh keluar dari kamar ini. Tiap hari muridnya yang
bermuka hitam itu yang mengantar makanan. Aku sebal sekali. Kuanggap orang she Su
itu tak memberi pelajaran ilmu silat melainkan suruh aku duduk sepanjang hari di sini.
Kuhitung, sampai hari ini sudah berjalan setengah bulan lebih. Tetapi Su tua itu tak
pernah datang lagi. Jika tahu begini lebih baik kutolak perintah ayah sekalipun aku tentu
didampratnya!”
Siu-lam tahu sumoaynya itu manja sekali. Tentulah tak betak ditahan dalam kamar
yang sesunyi itu. “Suhu suruh kau mempelajari ilmu silat apa?” tanyanya. Diam-diam ia
membenarkan dugaan supehnya Tio It-ping bahwa suhunya memang sebelumnya sudah
tahu akan bencana maut itu. Tetapi yang menjadi keheranan Siu-lam, kalau sempat
mengungsikan puterinya, mengapa suhunya itu tak mau menyingkir sendiri?
Kembali Siu-lam menghela napas panjang.
“Suheng, kau ini kenapa? Mengapa beda dengan biasanya?” Hui-ing benar-benar
heran.
Siu-lam gelagapan, ujarnya sekena saja: “Su lo-cianpwe meskipun berwatak aneh tetapi
mempunyai kepandaian yang sakti. Jika adik Ing bisa mendapatkan pelajarannya, tentu
bermanfaat sekali….”
“Oh, kau ini suheng!” Hui-ing tertawa, “Kemanakah terbangnya pikiranmu? Mengapa
ucapanmu simpang-siur tak karuan. Hm, entah apa yang sedang kau pikirkan.”
Melihat tingkah laku Hui-ing masih sama seperti semula, mulailah timbul semangat Siulam.
Jelaslah bahwa sumoaynya tak tahu sama sekali tentang peristiwa yang menimpa
keluarga Ciu.
“Eh, adik Ing, kau tadi belum menerangkan pertanyaanku,” kata Siu-lam, “yaitu tentang
ilmu kepandaian yang kau minta pada Su lo-cianpwe!”
“Sebuah ilmu silat yang gayanya mirip untuk menghindari serangan musuh. Tetapi aku
sendiripun tak mengerti di mana letak keistimewaan ilmu itu.” Hui-ing mengutarakan
keluhannya, “Ketika pertama kali datang memberi pelajaran, Su Bo-tun mengatakan
bahwa ilmu sakti yang diajarkan itu sebuah ilmu yang sakti. Tak sembarang orang
mampu meyakinkan berhasil. Si tua itu hanya mengajarkan, dia tak ambil mumet apakah
aku dapat menerimanya atau tidak. Dia tak mau menyembunyikan ilmunya. Seluruh jurus
diajarkan padaku. Tetapi dia hanya mengajar satu kali saja tak mau untuk yang kedua
kali. Sebagai batas waktu aku diberi tempo tiga bulan. Dalam tiga bulan, sampai dimana
aku dapat mempelajari, disitulah dianggap selesai. Aku harus meninggalkan Co-yangping.
Coba kau pikir, suheng. Masakan di dunia ada seorang guru yang sedemikian
sintingnya. Tidak mau memberi pelajaran yang kedua kalinya, bisa atau tidak, itu urusan
muridnya….”
Siu-lam merenung sejenak, ujarnya: “Tahukah adik Ing, apa nama ilmu pelajaran itu?”

“Ayah mengatakan padaku supaya aku minta pada si tua Su mengajarkan ilmu
kepandaian Chit-sing-tun-hiang (tujung bintang meluncur). Memang ilmu itu berdasarkan
tujuh gerak langkah. Lingkarannya hanya setombak. Aku tak percaya suheng, bahwa
dalam gerak lingkaran sesempit itu kita dapat menghindari serangan musuh.”
Siu-lam memandang ke sekeliling kamar. Memang di tengah ruang, terdapat bekasbekas
telapak kaki.
“Suhu memiliki ilmu silat dan ilmu pedang yang hebat. Mengapa dia masih suruh
puterinya minta pelajaran dari pada Su Bo-tun? Rahasia apakah yang tersembunyi dalam
ilmu silat Chit-sing-tun-heng itu?” diam-diam ia menimang dalam hati.
Memperhatikan bekas telapak kaki, Siu-lam mendapat kesan bahwa ilmu silat Chit-singtun-
heng memang mirip dengan ilmu Thian-kong-chit-sing!
“Suhu seorang tokoh yang luas pengalaman. Kalau beliau menyuruhmu belajar di sini,
tentulah karena mengetahui kesaktian Su lo-cianpwe,” kata Siu-lam.
“Eh, karena kaulah yang selalu bertanya ini itu, sampai aku tak sempat bertanya
padamu. Apakah ayah mengatakan padamu aku berada di sini? Tetapi tentulah beliau tak
menyuruhmu datang ke sini!” seru Hui-ing.
“Mengapa?” Siu-lam heran.
Hui-ing tertawa mengikik. “Mudah saja. Ketika menyerahkan uang emas Soh-in-kimchi,
ayah menandaskan bahwa dia hanya memiliki sebuah saja. Maka aku dipesan wantiwanti
jangan sampai menghilangkan dan harus menyerahkan sendiri pada Su Bo-tun. Coyang-
ping merupakan gunduk karang yang terpisah dari deretan karang-karang lain. Jika
tiada orang yang menyambut, tak mungkin orang mampu datang kemari. Tak membawa
uang emas Soh-in-kim-chi, tak mungkin diterima Su Bo-tun. Su Bo-tun hanya memandang
uang emasnya tidak memandang orang. Tak mungkin ayah memberi Soh-in-kim-chi.
Karena tak punya uang emas itu tak mungkin ayah tega menyuruhmu datang ke Cio-yangping!”
“Hanya berpisah dua tahun saja, kau sudah pintar, adik Ing,” Siu-lam tersenyum.
Kemudian ia mengeluarkan Soh-in-im-kim-chi.
“Hai, dari mana kau mendapatkan benda itu? Masakan ayah……”
“Jangan ngawur, adik Ing,” sahut Siu-lam, “Benda ini pemberian dari Tio supeh…” tibatiba
Siu-lam teringat lagi akan peristiwa ngeri yang terjadi di dalam rumah tangga
suhunya. Darahnya bergolak keras hampir ia tak dapat menahan air matanya. Buru-buru
ia berbatuk-batuk untuk menutupi perasaannya.
“Pui suheng, sikapmu hari ini benar-benar aneh. Apakah yang sebenarnya telah terjadi
selama ini?” akhirnya Hui-ing mendesak.
“Apanya yang aneh? Ah, janganlah adik Ing banyak curiga. Hanya karena….”
Walaupun Siu-lam seorang pemuda cerdas, tetapi di hadapan sumoaynya yang sejak kecil
menjadi kawan sepermainannya mulutnya terasa berat untuk berbohong.
“Karena apa? Hm, jelas kau tentu menyembunyikan apa-apa terhadapku. Jika tak mau
mengatakan sebenarnya, sudahlah, tak usah kita bertemu lagi!”
Siu-lam makin gelisah. Sampai beberapa saat ia termangu-mangu tak dapat bicara.
Tak tahu ia harus berbuat bagaimana. Tiba-tiba dari belakang terdengar sebuah suara
yang bernada dingin: “Sekarang akan kuberi pelajaran tentang gerak perubahan dari
pelajaran tempo hari.”
Kedua suheng dan sumoay itu terkejut. Ketika berpaling ternyata Su Bo-tun sudah
masuk menggendong tangan di punggung. Kedatangannya sama sekali tak terdengar.
Dia orang she Su itu menengadah memandang ke langit kamar. Sama sekali tak
memperdulikan kedua pemuda.
Siu-lam berkata: “Yang penting belajarlah ilmu silat itu sampai paham. Nanti kita bicara
lagi.” Ia terus melangkah keluar.
Ketika Siu-lam memberi hormat, Su Bo-tun tak menghiraukan, seolah-olah tak
melihatnya. Angkuh dan congkak benar orang she Su itu.

“Ilmu Chit-sing-tun-hing yang lo-cianpwe berikan padaku itu, dapatkah dipersingkat
waktunya? Jika disekap dalam tempat begini, belum tiga bulan aku tentu sudah mati!”
Hui-ing melengking.
Sambil memandang ke langit kamar, Su Bo-tun menyahut tawar: “Tiga bulan tetap tiga
bulan, seharipun tak boleh kurang!”
“Kalau aku tak mau?”
“Aku tak perduli kau mau tak soal,” sahut Su Bo-tun, “tetapi aku tetap mengajarkan
sampai selesai. Seumur hidup aku tak suka berhutang budi orang.”
Hui-ing makin mendongkol terhadap sikap dan kata-kata Su Bo-tun yang mau menang
sendiri. Tiba-tiba ia lari menerobos keluar seraya berteriak: “Aku tak sudi menerima
pelajaranmu, mau apa?”
Su Bo-tun marah, ia tampar tangan kiri. Pintu kamar tertutup dan serempak Hui-ing
rasakan dilibat oleh suatu tenaga tarik yang menyedot tubuhnya. Ia terkejut.
Su Bo-tun tertawa dingin. “Perhatikan baik-baik, sekarang kuajarkan tujuh perubahan
dari ilmu Chit-sing-tun-hing!”
Habis berkata tanpa memperdulikan apakah Hui-ing menurut atau tidak, Su Bo-tun pun
segera berlincahan di antara bekas-bekas telapak kaki dalam lantai ruangan situ.
Karena geramnya, Hui-ing pejamkan mata tak sudi melihat. Tetapi Su Bo-tun pun tak
menghiraukan. Dia tetap bersilat terus….
Sekalipun meram tetapi diam-diam Hui-ing teringat akan pesan ayahnya supaya
menggunakan hak Soh-in-kim-chi untuk belajar Chit-sing-tun-hing. Jika ia menuruti
kemarahan dan tak mampu mempelajari ilmu itu, bukankah ayahbundanya akan berduka?
Tiba-tiba ia membuka mata. Yang nampak di hadapannya hanyalah sesosok bayangan
menyambar kian kemari seperti kilat.
“Huh, berputar-putar seperti orang gila begitu, apanya yang harus kupelajari? Asal
orang memiliki ginkang tinggi tentulah mampu melakukan gerak semacam itu!” dengus
Hui-ing.
Tiba-tiba tubuh Su Bo-tun berputar seperti roda dan beberapa kejap kemudian berhenti
seketika.
Jilid 02
“SETIAP jurus dari ilmu Chit-sing-tun-hing ini mempunyai tujuh perubahan. Sama
sekali mempunyai empat puluh sembilan jurus perubahan. Tadi yang kuajarkan sudah
empat jurus, berarti dua puluh delapan jurus perubahan. Ketika kau meramkan mata,
maka kau kehilangan empat jurus itu. Mengingat sekarang kaupun sudah menginsyafi
kekeliruan, maka kuperingatkan. Yang kelewat memang tak dapat ditolong lagi, tetapi
masih ada sisa tiga jurus ini, harus kau perhatikan benar-benar. Asal kau dapat
mengingat separoh saja, berarti kedatanganmu kemari takkan sia-sia.”
“Caramu memberi pelajaran yang sedemikian cepatnya, siapakah yang dapat
mengikuti, terang kau memang sengaja hendak menyimpan kepandaianmu!” lengking Luiing.
Su Bo-tun tertawa dingin: “Hm, jika tak memandang pada Soh-in-kim-chi tentu sudah
kuremuk kepalamu. Kau yang tak mengerti sendiri, masih menyalahkan orang!”
Hui-ing marah, serunya tak gentar: “Kalau sekali lihat sudah bisa, perlu apa aku
gentayangan datang ke sini?”
Kali ini kata-kata Hui-ing tajam sekali dan beralasan, sehingga Su Bo-tun tercengang.
Ia garuk-garuk kepala berkata seorang diri: “Apakah benar-benar memang caraku
mengajar yang kurang baik?”
“Hm, memang caramu yang kurang baik, mengapa aku yang dipersalahkan tak becus
belajar?” gerutu Hui-ing.

Su Bo-tun mendengus: “Hm, tak peduli caraku mengajar salah atau tidak. Tetapi
salahmu sendiri kalau kau tak dapat mengikuti pelajaranku. Pokoknya aku tidak
menyembunyikan ilmu itu. Nah, tiga jurus kali tujuh gerak perubahan itu akan kulakukan
dengan perlahan. Kalau kau masih tak mampu menirukan, jangan banyak cerewet!”
Tiba-tiba Su Bo-tun berteriak: “Hai, apa yang kau lihat!”
“Lihat tubuhmu yang berputar-putar seperti roda. Mataku kabur, tak mungkin dapat
kuikuti gerakanmu!” sahut Hui-ing.
“Ho, makanya kau tak mengerti. Dalam bertempur, kalau lawan sampai dapat
mengetahui gerakan tubuh kita, itu berarti bukan ilmu kepandaian!”
Hui-ing terkesiap. Diam-diam ia mengakui kebenaran kata-kata Su Bo-tun. “Lalu apa
yang harus aku perhatikan?” serunya.
Seumur hidup belum pernah aku melihat seorang budak perempuan setolol kau. Lebih
dulu telah kuatur letak dari ketujuh jurus itu dan setiap jurus telah kubekasi dengan
telapak kaki. Sudah tentu kau harus perhatikan gerak perpindahan kakiku!” seru So Botun.
Tanpa menunggu jawaban Hui-ing, Su Bo-tun terus saja mulai bergerak lagi.
Kali ini benar-benar Hui-ing tak mau mengabaikan. Seluruh perhatian ditumpahkan
untuk mengikuti gerak langkah Su Bo-tun. Dan gerak langkah tokoh aneh itupun jauh
lebih perlahan dari yang semula. Setiap gerakan, dapat dilihat dengan tegas. Setiap
langkah dan gerakan tubuh selalu berlainan. Setelah dua puluh satu kali melakukan gerak
perubahan, tiba-tiba Su Bo-tun berhenti.
“Empat puluh sembilan perubahan dari ketujuh jurus Chit-sing-tun-hing telah kuajarkan
selesai. Kau dapat mempelajari sampai berapa bagian, itu terserah padamu. Kuberi
waktu tiga hari untuk berlatih. Tiga hari kemudian aku akan mulai mengajari lagi ilmu
untuk melawan ketujuh jurus itu!” kata Su Bo-tun seraya terus melangkah keluar. Sama
sekali ia tak mau memandang Hui-ing.
Dari kedua orang tuanya, Hui-ing sudah mendapat latihan dasar yang kokoh.
Walaupun sifat-sifatnya sering menghambat sehingga ia belum dapat menghirup seluruh
kepandaian ayah-bundanya, tetapi kepandaian yang telah dimiliki, telah mencapai
tingkatan yang dapat digolongkan sejajar dengan jago silat kelas satu.
Selama memperhatikan gerak langkah Su Bo-tun tadi, diam-diam Hui-ing memberi
penilaian tinggi. Ilmu silat Su Bo-tun itu memang bukan sembarangan. Diam-diam ia
menyesal mengapa tadi ia tidak menaruh perhatian semestinya sehingga menghilangkan
beberapa jurus yang penting.
Tetapi Hui-ing seorang dara yang berhati tinggi. Walaupun begitu tetapi tak mau minta
pad Su Bo-tun agar mengulang pelajarannya lagi. Pikirnya itu percuma, toh tentu ditolak!
Setelah beberapa lama termenung tiba-tiba ia terbelalak: “Mengapa aku termenung
seperti patung?” Segera ia mulai melakukan gerak langkah seperti yang diajarkan Su Botun
tadi. Tetapi apa yang dilihat dan diingatnya ternyata tak semudah seperti waktu
dipraktekkan ia dapatkan setiap gerakan sukar sekali. Kalau bukan salah langkah tentu
posisi tubuhnya yang tak mirip dengan yang diajarkan Su Bo-tun.
Dara itu penasaran. Dua tiga puluh kali ia mengulang gerakannya. Tetapi ia merasa
tetap tak menyerupai gerakan Su Bo-tun. Kini baru ia menyadari sampai di mana
kehebatan ilmu Chit-sing-tun-heng itu. Benar-benar sebuah ilmu silat yang luar biasa
indah dan saktinya.
Selama diasuh oleh ayahbundanya, Hui-ing selalu menonjol kecerdasannya. Tak peduli
ilmu pukulan apa saja sekali belajar tentu berhasil. Dia maju pesat sekli dalam pelajaran
ilmu silat. Tetapi apa yang ia hadapi saat itu benar-benar membuatnya penasaran sekali.
Tak pernah selama ini ia merasa setolol seperti saat itu. Srtiap langkah dan gerak yang
dilakukan, selalu tak sesuai dengan ajaran Su Bo-tun. Dan karena makin penasaran,
gerakannyapun makin kacau, makin salah.
Akhirnya karena kesal hati, ia duduk beristirahat. Sekalipun begitu tak pernah
pikirannya berhenti untuk merenungi ajaran Su Bo-tun tadi. Tetapi hasilnya setali tiga

uang. Bagaimana dipikir dan merenungkan, tetapi ia menemui jalan buntu. Akhirnya
karena marah dan penasaran, menangislah ia tergugu-gugu.
Setelah beberapa saat menangis, hawa penasaran dalam hatinya agak turun, pikirannya
pun mulai tenang. Segera ia pejamkan mata duduk bersemedhi.
Setelah ketenangannya kembali, barulah ia berbangkit lagi dan mulai melakukan
latihan. Hasilnya, ia berhasil melakukan dua buah gerakan yang benar. Tetapi langkahlangkah
selanjutnya, lagi-lagi menjadi kacau balau. Buru-buru ia berhenti dan duduk
menyalurkan napas lagi. Setelah hatinya tenang, ia baru mulai berlatih lagi.
Hui-ing benar-benar telah mengerahkan segenap perhatian dan semangatnya untuk
menembus kemacetan. Sedemikian asyik masyuk dara itu mempelajari ilmu Chit-sing-tunheng
sehingga sudah dua kali Siu-lam masuk ke dalam goa, ia tak tahu sama sekali.
Karena tak mau mengganggu sumoaynya, terpaksa Siu-lam keluar lagi. Setelah
memberi pelajaran, Su Bo-tun segera masuk ke dalam pondoknya. Kim-po pun sibuk
seorang diri, entah apa dikerjakannya. Walaupun sudah kenal dengan Siu-lam tetapi
pemuda bermuka hitam itu tak mau menegur tetamunya. Terpaksa Siu-lam mondarmandir
seorang diri. Baru setelah hampir malam, Kim-po keluar dari pondok dan
menghampirinya: “Telah kusediakan tempat beristirahat untukmu, silahkan ikut!” katanya.
Kim-po membawa tetamu masuk ke dalam pondok. Ia diberi sebuah bilik: “Itulah bilik
untuk saudara. Sedikit hidangan telah kusediakan juga di situ,” katanya seraya terus
tinggalkan tetamunya.
Karena lapar, Siu-lam menyantap juga bubur dan dua macam masakan sayur.
Kemudian ia berbaring di atas tumpukan rumput. Ia bergulak-gulik tak dapat meramkan
mata. Pikirannya melayang-layang. Membayangkan nasibnya yang diderita keluarga
gurunya dan betapa reaksi Hui-ing apabila nanti mengetahui tentang berita duka itu. Ia
menutup renungan seram itu dengan helaan sebuah napas….
Tiba-tiba terdengar sebuah suitan panjang yang mengaum di angkasa. Siu-lam
menyambar pedang dan lari keluar menuju ke deretan tiang karang yang menjadi jalan ke
karang Co-yang-ping.
Sesosok bayangan hitam tengah berloncatan dari tiang karang yang satu ke tiang
karang yang lain. Dalam sekejap saja, orang itu pun sudah tiba di tiang karang yang
terakhir.
Siu-lam dan orang itu hanya terpisah tiga tombak jauhnya. Betapa kejut Siu-lam ketika
melihat siapa orang itu. “Tio supek, wanpwe sengaja menyambut kedatangan supek!”
“Hiantit, lekas bantu aku melintasi jurang ini!” sahut Tio It-ping dengan nada yang
lemah.
Siu-lam terkejut. Cepat ia membuka baju luar lalu dirobek-robek dan disambungsambung
lalu dilontarkan kea rah Tio It-ping. Ah! Sambungan mantel itu tak cukup
panjangnya. Kurang dua tombak.
“Tunggu dulu, supeh! Akan kucari tali!” seru Siu-lam.
“Jangan, tak perlu!” tiba-tiba Tio It-ping berseru: “Aku tak sanggup menahan lukaku.
Jangan buang waktu, lekas lemparkan sambungan kain itu sekali lagi!”
Siu-lam makin kaget. Jelas kalau supehnya itu menderita luka parah. Ia bingung.
Untuk mencari tali, mungkin terlambat. Tetapi jika melontarkan sambungan kain, juga
besar bahayanya. Apabila supehnya tak kuat, tentu akan melayang jatuh ke dalam
jurang. Tetapi apa boleh buat. Dicobanya sekali lagi untuk melontarkan sambungan kain
mantel itu.
Pada saat ujung sambungan mantel melayang, Tio It-pingpun enjot tubuhnya melayang
dan menyambar ujung sambungan mantel. Siu-lam kerahkan seluruh tenaganya untuk
menariknya ke atas lalu dipeluknya. Dengan hati-hati diletakkannya tubuh Tio It-ping di
atas karang.
“Apakah supeh menderita luka berat?” tanyanya cemas.

Tio It-ping menghela napas dan menganggukkan kepala: “Lukaku.. parah… huak…”
tiba-tiba ia muntah darah. Lalu meramkan mata.
Siu-lam bingung sekali. Hendak dipondongnya sang supeh ke dalam pondok dan minta
Su Bo-tun menolongnya. Tetapi ketika berpaling tahu-tahu Su Bo-tun sudah berdiri tak
jauh di belakangnya.
“Su locianpwe, inilah….”
“Tak usah bilang, dia bernama Tio It-ping. Tigapuluh tahun yang lalu sudah kenal aku.
Tak perlu kau perkenalkan lagi,” sahut Su Bo-tun dingin.
Siu-lam mendongkol sekali. Terhadap seorang kenalan, Su Bo-tun tetap bersikap
dingin.
“Supehku menderita luka parah. Demi memendam persahabatan lama, sukalah locianpwe
menolongnya,” terpaksa Siu-lam meminta.
“Jika kau gunakan Soh-in-kim-chi meminta, tentu akan kuberinya pertolongan. Tetapi
jika tak mau menukar dengan uang emas itu, akupun tak punya kewajiban menolongnya,”
sahut Su Bo-tun.
“Menolong orang jauh lebih mulia dari mengadakan sesaji sembahyangan. Apalagi
locianpwe kenal dengan supehku. Menolong jiwa orang bukan seperti orang berolokolok!”
seru Siu-lam.
“Siapa berolok-olok denganmu!” bentak Su Bo-tun, “Apa yang kukatakan semua nyata.”
Siu-lam tertawa dingin: “Locianpwe benar-benar seorang berhati dingin. Baru malam
ini mataku terbuka dan dapat melihat seorang manusia luar biasa!”
“Barang siapa pernah menolong aku tentu kuberinya sebuah uang emas. Pertanda aku
berhutang budi padanya. Tetapi yang tak pernah menolong aku, aku tak peduli karena
tak merasa berhutang apa-apa. Tio It-ping pernah aku beri sebuah uang emas itu. Jika
dia mau menyerahkan lagi, tentu akan kubantunya!”
Serentak Siu-lam merogoh uang Soh-in-kim-chi dari bajunya. Tetapi ketika hendak
diserahkan pada Su Bo-tun, sekonyong-konyong Tio It-ping membuka mata dan
memandangnya beringas. Siu-lam buru-buru masukkan lagi uang itu ke bajunya.
“Apakah keponakanku Hui-ing berada di Coh-yang-ping sini?” tanya Tio It-ping.
Siu-lam mengiakan. Dia menerangkan bahwa gadis itu membawa uang emas Soh-inkim-
chi untuk ditukarkan dengan ilmu silat Chit-sing-tun-hing kepada Su Bo-tun.
Su Bo-tun diam saja. Hanya matanya memandang tawar kepada Siu-lam. Sebaliknya
Tio It-ping tertawa tergelak. “Bagus, bagus, kalau begitu uang emas yang kau bawa itu
boleh kau tukarkan dengan ilmu silat Hok-hou-pat-ciang…” tiba-tiba ia berhenti berkata.
Luka dalam yang diderita membengkah. Dada serasa pecah. Buru-buru Siu-lam
mencegahnya supaya jangan memikirkan ia (Siu-lam). Untung emas itu lebih baik
ditukarkan dengan obat.
“Bagus, memang sudah selayaknya tukar-menukar itu. Bukan aku bermulut besar.
Tetapi lukanya yang sepele itu, sekali kuobati tentu sembuh!”
“Jangan! Jangan!” serentak Tio It-ping berseru. “Ilmu silat Chit-sing-tun-sing dan Hokhou-
pat-ciang itu adalah ilmu simpanannya yang paling istimewa. Jika kalian berdua
masing-masing dapat memperolehnya, cukuplah berharga untuk ditukar dengan jiwaku!”
“Hm, memang ilmu silat Chit-sing-tun-sing dan Hok-hou-pat-ciang itu tiada taranya di
dunia persilatan, tetapi jangan harap orang dapat mempelajarinya dengan sempurna
dalam waktu empat-lima bulan. Sekalipun kuberikan tetapi belum tentu kalian mampu
menerimanya seluruhnya. Apakah kau tak lebih sayang pada jiwamu sendiri?”
“Sekalipun mati, aku tetap tak sudi minta pertolonganmu dengan uang Soh-in-kim-chi
ini. Apalagi aku belum pasti mati!” Tio It-ping mendengus.
“Supeh, sakit hati kedua guruku hanya mengandal tenaga supeh. Jika supeh sampai
kena apa-apa, sakit hati itu tentu sukar terhimpas. Apalagi ilmu silat Hok-hou-pat-ciang

belum tentu yang paling sakti di dunia persilatan. Lebih baik aku tak mempelajarinya
sajalah!” seru Siu-lam.
Tio It-ping anggap ucapan anak muda itu memang beralasan. Jika ia sampai mati,
sukarlah bagi kedua anak muda itu untuk menuntut balas.
Melihat supehnya berdiam, tahulah Siu-lam bahwa sang supeh menyetujui. Segera ia
merogoh uang emas Soh-in-kim-chi untuk diserahkan pada Su Bo-tun. Sekonyongkonyong
terdengar kesiur angin menderu tajam di udara dan segulung sinar bianglala
menyambar ke arah Tio It-ping.
Su Bo-tun pun loncat mundur beberapa langkah. Siu-lam cepat-cepat memeluk
supehnya dan menggelundung ke samping. Tangan kanannya menangkis pedang.
Tring… pedang terpental ke udara dan tangan Siu-lampun kesemutan. Siu-lam mencabut
pedangnya lagi dan timpukkan kepada penyerangan gelap itu. Dan dengan sebuah gerak
loncatan, ia melenting ke samping Su Bo-tun serta menyerahkan uang kepadanya: “Inilah
uangmu Soh-in-kim-chi!”
Begitu menyambuti uang emas, Su Bo-tun pun segera melesat ke hadapan Siu-lam dan
membentak: “Hm, siapakah yang tengah malam berani mengacau di tempatku ini!”
Cepat sekali muncul tiga orang berloncatan dari satu ke lain tiang jembatan. Dan tahutahu
muncullah seorang lelaki kurus berumur empatpuluh tahun tangan mencekal
sebatang golok Kui-than-to. Di belakangnya mengiring dua orang lagi yang bertubuh
kekar. Masing-masing membawa golok.
“Hm, masih ada beberapa kawan lagi?” tegur Su Bo-tun sedingin es.
Ketiga orang itu bertubuh pendek-pendek. Salah seorang segera menyahut: “Hanya
kami bertiga saudara. Apakah terlalu banyak!”
Su Bo-tun menyeringai: “Tidak! Apa maksud kalian ke sini?”
Orang pendek ketiga melengking: “Lo-toa, kata-kata orang banci ini menusuk telinga.
Bunuh saja sekali!”
“Lo-sam, jangan ngaco!” bentak si pendek yang dipanggil Lo-toa atau kakak pertama.
Kemudian ia memberi hormat kepada Su Bo-tun: “Karena hendak memburu seorang
musuh, kami telah kesalahan masuk di tempat saudara. Jika saudara tak ikut campur,
begitu orang itu telah kubunuh kamipun segera meninggalkan tempat ini!”
“Selama orang tak menyalahi aku, akupun tak mau menyalahi orang,” jawab Su Bo-tun.
“Siapakah yang kalian hendak bunuh itu?”
“Dia!” seru si pendek seraya menuding kepada Tio It-ping.
Su Bo-tun menimang-nimang uang emas Soh-in-kim-chi di tangannya, serunya:
“Terserah, aku takkan ikut campur. Tetapi harap tunggu setelah kuobati lukanya sampai
sembuh. Dan karena kalian berani datang ke sini tanpa izin, sebagai hukuman kalian
harus memotong sebuah jari kalian sendiri. Tiga hari kemudian, tunggulah di tiang batu
jembatan. Terserah kalian dapat membunuhnya atau tidak!”
Enak saja ia mengucapkan kata-katanya. Seolah-olah yakin orang tunduk pada
perintahnya.
Si pendek yang paling tua, tiba-tiba menengadah tertawa gelak-gelak: “Kami Beng-gaksam-
liau, belum pernah bertemu dengan orang yang berani bicara begitu sinis…”
“Apa itu Beng-gak-sam-liau atau Beng-gak-liok-liau!” tukas Su Bo-tun, “Aku tak suka
banyak omong, kalian dengar atau tidak?”
Seorang pendek pertama yang menyebut dirinya sebagai Beng-gak-sam-liau (Tiga
Setan Gunung Beng-gak), berpaling kepada kedua kawannya dan tertawa: “Tua Bangka ini
besar sekali mulutnya. Lo-sam, berilah ajaran padanya!”
Si pendek yang dipanggil Lo-sam (adik ketiga), melesat ke hadapan Su Bo-tun dan
tanpa berkata apa-apa terus memukul dadanya. Tetapi Su Bo-tun menyurut mundur.
Enak saja tampaknya ia menghindari ke belakang itu tetapi bagi ketiga Beng-gak-sam-liau,
gerak penghindaran itu benar-benar mengejutkan.

Tiba-tiba Su Bo-tun berputar-putar seperti sebuah roda dan tahu-tahu sudah berada di
belakang si pendek. Dengan sebuah gerakan yang sukar diikuti mata, orang she Su itu
sudah mencabut pedang yang terselip di punggung si pendek. Wut… tring! Begitu Su Botun
menabas, secepat itu juga si pendek sudah menyambutnya dengan kelingking tangan
kiri. Pedangpun terpental.
Siu-lam leletkan lidah. Kecepatan dan kelihayan kedua orang itu bergerak, benar-benar
baru pertama kali ini ia saksikan. Diam-diam ia merasa kecil. Kepandaian yang dimilikinya
sekarang ini masih jauh sekali dengan mereka….
Pertempuran makin berlangsung seru. Si orang pendek loncat ke udara, sambil
memutar goloknya dalam jurus Awan-menutup-rembulan, ia menyerang kepala Su Bo-tun.
Su Bo-tun tertawa dingin. Berputar-putar menyelinap dari curahan golok, ia menyerang
seorang pendek lainnya.
Si pendek nomor tiga yang melayang ke udara tadi, karena serangannya luput,
meluncur menyerang ke arah Tio It-ping.
Siu-lam terkejut. Dia tak punya senjata lagi. Untuk melarikan supehnya, ia merasa
kalah tinggi ilmu ginkangnya dengan musuh. Untung dalam saat-saat berbahaya itu,
dengan sebuah gerakan yang luar biasa cepatnya, Su Bo-tun sudah melesat di dekat Siulam.
Tring…. terdengar benturan suara tajam. Si pendek Lo-sam jungkir balik di udara
dan meluncur ke belakang. Tetapi Su Bo-tun sendiripun tersurut mundur selangkah….
Sejak muncul di dunia persilatan, baru pertama kali ketiga Setan Pendek dari Gunung
Beng-gak ketemu batunya. Mereka tercengang-cengang memandang Su Bo-tun.
“Apa yang kukatakan tentu kulaksanakan!” seru Su Bo-tun. “Lekas potong jarimu dan
segera enyah dari Coh-yang-ping sini. Tiga hari kemudian tunggulah orang buronanmu itu
di tiang jembatan. Jika masih banyak bicara, jangan harap kalian bisa keluar dari Cohyang-
ping sini!”
Si pendek Lo-toa memandang ke arah Lo-sam yang ternyata telah kehilangan sebuah
jarinya, tegurnya: “Bagaimana lukamu?”
“Jangan kuatir, toako,” sahut Lo-sam dengan menggigit bibir, “Sekalipun lenganku
putus, aku tak takut.”
“Hm,” Lo-toa mendengus, kemudian berpaling menghadap ke arah Su Bo-tun: “Sejak
keluar ke dunia persilatan baru pertama kali ini kami Beng-gak-sam-liau menderita
kerugian. Dengan dapat mengutungi sebuah jari saudaraku, kepandaianmu tentu lebih
tinggi dari kami bertiga. Tetapi….”
“Jika tak terima, silahkan kalian maju bertiga. Aku bersedia mengalah sampai sepuluh
jurus….” tukas Su Bo-tun.
“Kalau dalam sepuluh jurus kami tak mampu melukaimu, kami bersedia memotong jari
dan tinggalkan tempat ini!” tukar Lo-toa.
“Hm, kalau tidak terpaksa hendak menyelesaikan hutang budi, masakan aku sudi
memberi kemurahan padamu. Ayo, majulah!” seru Su Bo-tun. Ia lemparkan golok kepada
si Lo-sam, serunya: “Akan kuberimu kemurahan lebih banyak lagi. Sepuluh pukulan boleh
kalian ganti dengan serangan golok!”
Kata-kata garang dari orang she Su itu benar-benar mengejutkan sekalian orang.
Bukan saja ketiga jago kate itu murka pun Siu-lam dan Tio It-ping kaget.
Lo-sam memungut golok yang dilempar Su Bo-tun lalu loncat menerjang lawan. Lo-toa
dan Lo-ji pun segera ikut menyerang. Ketiga tokoh-tokoh kate dari gunung Beng-gak itu
menyerang hebat. Su Bo-tun dilanda hujan golok yang deras.
Tapi sesuai dengan ucapannya yang garang Su Bo-tun dapat menghindari dengan
gerakan yang luar biasa indahnya. Dalam beberapa detik saja, sepuluh jurus telah selesai.
“Berhenti!” tiba-tiba Lo-toa berseru. Serentak hujan golokpun berhenti. Lo-toa
memandang kepada kedua saudaranya. Tiba-tiba ia memotong jari kelingkingnya sendiri
lalu lemparkan goloknya ke dalam jurang. Dipungutnya jari kelingking yang jatuh di tanah
itu lalu ditelannya.

Lo-ji dan Lo-sam terkesiap. Tapi mereka pun mengikuti perbuatan kakaknya. Setelah
masing-masing memotong jari kelingkingnya, ketiga jago pendek itu segera lari tinggalkan
Coh-yang-ping.
Setelah ketiga orang kate itu lenyap, Su Bo-tun segera perintah Siu-lam membawa Tio
It-ping ke dalam gubuk.
Dengan membawa sebatang lilin dan sebuah peti obat, Su Bo-tun menghampiri ke
pembaringan. Sejenak memandang Tio It-ping ia memberi perintah: “Duduk dan salurkan
napasmu. Pertama hendak kutusuki tubuhmu dengan jarum, lalu kusaluri tenaga dalamku
dan akhirnya minumlah pil buatanku. Dalam tiga hari, kemungkinan tentu kau sembuh!”
“Jangan kuatir, sembuh atau belum dalam tiga hari aku tentu pergi dari sini,” sahut Tio
It-ping.
“Tidak!” bentak Su Bo-tun. “Aku tidak sudi hutang budi orang. Selama lukamu belum
sembuh tak kuijinkan kau keluar dari Coh-yang-ping ini.”
Tio It-ping tertawa hambar. Tak mau ia banyak bicara dengan manusia aneh itu lagi.
Segera ia duduk pejamkan mata dan salurkan napas. Su Bo-tun pun cepat bekerja. Ia
mengeluarkan dua bilah jarum emas. Pertama kali ia tusuk dada Tio It-ping dengan
sebilah jarum, lalu yang sebilah lagi ditusukkan ke samping dada.
Sepenanak nasi lamanya, barulah Su Bo-tun mencabut jarumnya, kemudian ia duduk di
belakang Tio It-ping dan menempelkan telapak tangannya ke punggungnya Tio It-ping.
Seketika Tio It-ping rasakan tubuhnya dibanjiri hawa hangat. Ketika ia menyalurkan
napas, ternyata jauh lebih enak dan longgar dari tadi. Diam-diam ia memuji kepandaian
orang she Su itu.
Selesai menyaluri tenaga dalam, Su Bo-tun lalu memberikan sebuah pil hitam kepada
Tio It-ping. “Sekalipun bukan pil dewa, tetapi pil Kiu-coan-hwat-hiat-tan ini telah
menggunakan waktuku sepuluh tahun untuk membuatnya. Tiap satu sejam, makanlah
sebutir. Jika besok lukamu tak mengalami perubahan apa-apa, dalam tiga hari kau tentu
sembuh!” Su Bo-tun meletakkan lima butir pil lalu ngeloyor pergi.
Siu-lam menunggu dengan sabar di dekat supehnya. Entah berapa lama kemudian,
tiba-tiba Tio It-ping membuka mata dan berseru: “Orang she Su itu benar-benar manusia
aneh. Dia hanya memperbolehkan kita tinggal di sini selama tiga hari. Dalam dua hari ini
kau harus berusaha tinggalkan tempat ini.”
Siu-lam terkejut. “Tetapi luka supeh masih belum sembuh, aku….”
“Jangan kuatir, aku tentu sembuh dalam tiga hari,” kata Tio It-ping, “Yang penting ialah
cara bagaimana kau dapat melintasi jembatan batu itu. Walaupun Beng-gak-sam-liu telah
dihalau Su Bo-tun, tetapi mereka tentu masih sembunyi di jembatan batu. Jelas kau
bukan tandingan mereka. Sukar bagimu dapat melintasi jembatan itu.”
Siu-lam menghibur supehnya supaya jangan banyak pikiran. Yang penting supaya
supehnya itu lekas sembuh.
Tio It-ping kerutkan dahi: “Kecuali kita mempunyai sebiji uang emas Soh-in-kim-chi lagi
untuk minta Su Bo-tun melindungi kau keluar dari Coh-yang-ping, rasanya tiada jalan
lagi.”
Walaupun belum lama keluar ke dunia persilatan, namun nama Beng-gak-sam-liu itu
belum pernah kudengar. Apakah mereka tergolong tokoh-tokoh ternama?” seru Siu-lam.
Tio It-ping menghela napas: “Walaupun tidak semua tokoh-tokoh Kanglam kukenal,
tetapi sebagai hasil dari persilatan selama berpuluh tahun ini, banyaklah tokoh-tokoh
persilatan yang kuketahui. Tetapi siapa ketiga jago kate itu dan di mana letak gunung
Beng-gak, aku benar-benar tak tahu. Belum lagi aku berhasil menyelidiki musuh-musuh
gurumu, aku malah menderita luka berat.”
Siu-lam menyatakan bahwa supehnya itu telah berusaha sekuat tenaga untuk mencari
musuh gurunya.
“Hm, meskipun belum mengetahui siapa pembunuhnya tetapi sedikit banyak aku sudah
dapat menduga sebab-sebab pembunuhan itu. Asal kutemukan letak Beng-gak, tentu

mudahlah mencari musuh itu. Peristiwa pembunuhan kedua gurumu itu memang bukan
pembunuhan biasa…” Tio It-ping berhenti sejenak, “Mungkin, mungkin pada sumoaymu
kau dapat memperoleh jejak si pembunuh.”
“Biarlah kutanyakan padanya…!” buru-buru Siu-lam berseru. Tetapi Tio It-ping
gelengkan kepala.
“Gurumu itu seorang yang berhati-hati. Segala apa tentu telah direncanakan dengan
cermat. Tetapi sumoaymu itu seorang dara yang kekanak-kanakan. Jika dugaanku tak
keliru, sumoaymu itu tentu membawa benda yang luar biasa pentingnya. Sekali benda itu
diketahui orang, jiwanya tentu terancam maut.” Tio It-ping berhenti sejenak, lalu katanya
pula: “Yang penting sekarang ini ialah: kesatu, kau harus menanyakan benda yang dibawa
sumoaymu itu. Kedua, mencari akal supaya lolos dari pencegatan Beng-gak-sam-liau.
Aku merasa salah lari kesini. Syukur mereka belum mengetahui bahwa benda yang
mereka kejar-kejar itu ternyata berada di Coh-yang-ping sini. Aku kuatir…”
“Harap supeh beristirahat dulu, aku hendak mencari sumoay,” kata Siu-lam seraya
tinggalkan pondok.
Ternyata di dalam ruang guha batu, Ciu Hui-ing sedang asyik berlatih diri. Sedemikian
asyiknya sehingga ia tak tahu kalau Siu-lam datang. Siu-lam pun tak mau mengganggu
sumoaynya. Ia berdiri di ambang pintu.
Sepeminum teh lamanya, Hui-ing berhenti dan duduk di tanah, mendekap muka dan
menangis. Siu-lam haru melihat tingkah laku sumoaynya yang aneh itu.
Puas menangis dara itupun duduk bersila menyalurkan napas. Siu-lam tak mau
mengganggunya. Diam-diam ia menghela napas. Sumoaynya itu seorang gadis remaja.
Kini tentu tersinggung di bawah perintah seorang guru bengis seperti Su Bo-tun.
Beberapa lama kemudian Hui-ing membuka mata. Ketika melihat suhengnya berdiri
menunggu di pintu, ia bangkit dan tertawa. “Eh, mengapa suheng tak mau
membangunkan aku?”
Siu-lam mengatakan bahwa ia tak mau mengganggu sang sumoay yang tengah
meyakinkan ilmu tenaga dalam.
“Eh, apakah sudah terang tanah?” Hui-ing berseru agak kaget. Ternyata ia telah
mempelajari ilmu Chit-sing-tun-heng semalam suntuk.
“Sumoay, kau benar-benar giat belajar!”
Hui-ing mengomel panjang pendek tentang sukarnya pelajaran dari Su Bo-tun. Siu-lam
menghiburnya dan menganjurkan supaya dara itu terus berlatih dengan giat. Makin sukar
ilmu silat itu, tentu makin luar biasa saktinya.
“Suheng, mana uang emas Soh-in-kim-chi itu?” tiba-tiba Hui-ing bertanya.
“Sudah kuberikan kepada Su Bo-tun,” jawab Siu-lam. Kemudian ia menanyakan apakah
pesan ayah bunda Hui-ing tatkala menyuruh dara itu ke Coh-yang-ping.
“Setelah selesai belajar pada Su Bo-tun, ayah suruh aku segera ke gunung Ki-he-nia di
tepi telaga Se-ou untuk mencari si Tukang Pancing Lim Cing-siu. Ayah dan ibu menunggu
di sana!”
Hampir Siu-lam mengucurkan air mata. Buru-buru ia alihkan pembicaraan: “Mengingat
sumoay belum pernah mengembara keluar, tentulah waktu berangkat suhu memberi bekal
apa-apa kepadamu, bukan?”
Hui-ing tertawa mengikik: “Benar, memang memberi bekal. Tetapi entah benda apa
itu, sebuah bungkusan kecil dari kain kuning kusam!”
“Bolehkah aku melihatnya?”
Hui-ing gelengkan kepala: “Tidak! Ayah pesan wanti-wanti tak boleh membukanya dan
harus diserahkan pada Tukang Pancing Lim Ching-siu itu. Aku sendiripun tak boleh
membukanya, apalagi kau!”
Siu-lam kerutkan dahi. “Tak boleh membuka tak apa, tetapi masakan melihat
bungkusannya saja tak boleh?”

Melihat suhengnya kecewa, Hui-ing terpaksa mengeluarkan sebuah bungkusan kecil
dan diserahkan pada Siu-lam. “Nih, apanya yang menarik dengan bungkusan kain kusam
ini!”
Setelah memeriksa sejenak, berkatalah Siu-lam: “Eh, entah bagaimana aku benar-benar
tertarik sekali untuk melihat isi bungkusan ini. Apakah sumoay mengijinkan?”
“Tidak!” Hui-ing menggeleng. “Jika ayah tahu dia tentu marah sekali kepadaku….”
Diam-diam Siu-lam kagum atas sikap Hui-ing. Biasanya dara itu bersifat kekanakkanakan
tetapi ternyata dalam melaksanakan pesan, ia bersikap serius.
“Bagus, kali ini kau benar-benar bersikap seperti orang dewasa, sumoay,” katanya
tertawa.
Hui-ing memasukkan lipatan kain kuning itu ke dalam bajunya lagi. “Jangan coba-coba
memancing aku, jangan harap aku mau membuka bungkusan ini!”
Siu-lam segera pamit dan suruh Hui-ing beristirahat, agar dapat berlatih terus.
“Ingat, kalau ketemu si tua Bangka Su itu jangan lupa tanyakan padanya apakah kau
boleh tinggal di sini selama tiga bulan sampai pelajaranku selesai!” Hui-ing memberi
pesan.
Siu-lam tertawa dan terus melangkah keluar ke tempat supehnya lagi. Keadaan Tio Itping
jauh lebih baik.
“Apakah yang kau peroleh dari sumoaymu?” tegurnya dengan tersenyum.
“Benar seperti yang diduga supeh. Tetapi entah apa isinya,” kata Siu-lam menuturkan.
“Mengapa tidak kau buka?”
“Sumoay berkeras tak mau karena bukan barangnya. Jika kupaksa, dikuatirkan ia
marah.”
“Kenalkah supeh akan orang yang bernama Lin Ching-siu bergelar Si Tukang Pancing
dari Telaga Se-ou?”
“Hai, itulah susiok (paman guru) dari suhumu. Kau memanggil kakek guru…” seru Tio
It-ping. Kemudian katanya pula: “Mungkin benda dalam bungkusan kuning itulah yang
menimbulkan peristiwa pembunuhan kedua gurumu. Ah, betapa cermat suhumu
mengatur rencana toh akhirnya kuketahui juga!”
Siu-lam heran, dan meminta penjelasan:
“Turut dugaanku dan setelah melalui analisa lebih dalam, kemudian terbukti sumoaymu
membawa benda itu, jelas bahwa dugaanku seratus persen benar.”
“Ya, ya, memang supeh menduga tepat, tetapi apakah sebenarnya yang berada di
dalam bungkusan kain kuning itu?”
Tio It-ping menghela napas: “Telah aku katakan padamu, berkat bertahun-tahun aku
mengembara, aku kenal dan tahu markas maupun sarang partai-partai persilatan dan
gerombolan-gerombolan penjahat. Tetapi belum pernah selama ini kudengar tentang
tempat yang disebut Beng-gak itu serta ketiga tokoh Beng-gak-sam-liau. Tetapi yang jelas
Beng-gak itu tentulah sebuah tempat misterius….”
Tio It-ping berhenti sejenak, lalu katanya pula: “Dengan munculnya tokoh-tokoh dari
Beng-gak ke dunia persilatan, jelas tentu mempunyai tujuan besar. Yang nyata suhumu
mempunyai simpanan benda-benda pusaka yang mungkin tiada terdapat di dunia lagi.
Oleh karena itu mereka menyerang suhumu…” ia berhenti sejenak. “Yang penting
sekarang ialah cara bagaimana kau dapat lolos dari karang Coh-yang-ping ini!”
“Maksud supeh hendak suruh aku dan sumoay lolos?” tanya Siu-lam.
Tio It-ping mengangguk. “Kakek gurumu Tukang Pancing Lim Ching-siu tidak kalah
kepandaiannya dengan Su Bo-tun. Disuruhnya sumoaymu menyingkir ke Coh-yang-ping
sini adalah hanya siasat. Dari sini ke Ki-he-nia, jaraknya jauh sekali. Sumoaymu belum
pernah mengembara. Jika seorang diri mengadakan perjalanan tentu akan menarik
perhatian dan besar bahayanya….” tiba-tiba Tio It-ping berhenti karena terkerat oleh
teriakan si tolol Seng Kim-po (murid Su Bo-tun): “Hai, siapakah yang berani mati datang
ke Coh-yang-ping itu?”

“Hm, lancang benar mulutmu, akan kupersen dua buah tamparan!” Terdengar sebuah
lengking suara gadis disusul dengan dua buah tamparan ke pipi orang.
Siu-lam cepat melesat keluar dan apa yang disaksikannya, membuat jantungnya
berdebar keras. Di bawah sinar bintang suram tampaklah tubuh si dara baju putih, dara
yang telah merawat jenazah suhu dan subonya tempo hari. Dan di belakangnya tampak
ketiga orang kate Beng-gak-sam-liau tadi.
Si tolol Kim-po rupanya terlongong-longong karena mendapat tamparan. Pada lain
kejap ia gelagapan dan balas menjotos. Tetapi si dara baju putih hanya ganda tertawa
hina. Tanpa menghindar ia angkat tangan kirinya dan menampar. Hek… Kim-po
mendeham dan tersurut mundur tiga langkah. Tangan terkulai ke bawah seperti terkena
tusukan….
Habis menampar si tolol Kim-po, si dara baju putih tak mau menyerangnya lagi. Ia
hanya memandang Su Bo-tun yang ternyata juga sudah muncul.
“Mengapa kau tak mau turun tangan? Tunggu apa lagi?” tegur si dara baju putih.
“Ilmumu mengebut jalan darah sudah hampir sempurna. Makanya sekali gerak kau
dapat merubuhkan muridku yang tidak berguna itu,” Su Bo-tun.
Siu-lam terkejut melihat kedinginan hati Su Bo-tun. Masakah muridnya dipukul orang
dia tinggal diam saja. Kalau dara baju putih itu menyerang lagi bukankah Kim-po akan
celaka?
Si dara baju putih berpaling ke belakang dan bertanya kepada Beng-gak-sam-liau:
“Apakah benar si tua Bangka ini?”
Rupanya Beng-gak-sam-liau jeri dan menghormat sekali kepada dara baju putih itu,
sahut mereka: “Benar!”
Si dara baju putih memandang Su Bo-tun dari kaki sampai ke ujung kepala, serunya
dingin: “Ciu Pwe, putrid dari Ciu lo-enghiong apakah bersembunyi di sarangmu sini?”
Sahut Su Bo-tun: “Selamanya aku tak suka menjawab pertanyaan orang!”
Tiba-tiba si dara mengalihkan pandangannya ke arah Siu-lam yang tegak di muka pintu,
kemudian memandang Su Bo-tun lagi, serunya: “Kunasehati, lebih baik jangan turut
campur urusan ini dan lekas sembunyi!”
“Benar, memang aku tak suka campur urusan orang lain. Tetapi aku tak pernah
melarikan diri!” sahut Su Bo-tun.
Si dara mendengus pelahan lalu menghampiri ke tempat Siu-lam. Siu-lam terkejut. Tio
It-ping baru saja sembuh, jika si dara itu menyerangnya, tentu sang supeh celaka. Segera
dia menghadang di depan pintu: “Mengapa tengah malam begini kau seorang nona
hendak masuk ke kamar orang?”
Sepasang mata si dara berkilat-kilat dan serentak wajahnyapun bengis. Tetapi pada
lain kejap reda pula. Ia berhenti memandang Siu-lam.
Ketika berpandangan mata, Siu-lam pun menggigil. Sinar mata dara itu dingin sekali.
Tiba-tiba si dara ayunkan langkah hendak masuk. Dalam gugupnya Siu-lam lintangkan
tangan kiri ke pintu dan tangan kanan mendorong ke muka dengan jurus Long-jong-kiauyan
atau Ombak Mendampar Karang….
Dalam kegugupan itu Siu-lam telah menyerang dengan sepenuh tenaga. Walaupun tak
dapat mengundurkan si dara namun paling tidak tentu dapat menahannya.
Tetapi hasilnya benar-benar membuat ia terkejut bukan kepalang. Tepat pada saat
tangan Siu-lam bergerak, dara itupun sudah menyelinap ke dalam pondok. Karena
pukulannya luput, tubuh Siu-lam menjorok ke muka. Ia terkejut ketika sesosok tubuh lain
menyelinap ke dalam pondok lagi. Tetapi rasa kejut itu cepat berubah menjadi rasa lega
ketika mengetahui yang masuk itu Su Bo-tun. Rupanya Su Bo-tun menyusul si dara.
Si dara baju putih menghampiri ke tempat Tio It-ping yang tengah bersemedhi.
Sedang Su Bo-tun mengikuti di belakangnya. Jarak Su Bo-tun dengan dara itu dekat
sekali Sekali tutuk, tentu dapat mengenai punggung si dara. Tetapi anehnya dara itu
tenang-tenang saja. Bahkan tak mau ia berpaling ke belakang. Su Bo-tun tak mau

bergerak. Rupanya ia tengah menimang-nimang langkah yang hendak diambil terhadap
dara itu….
Sekalipun begitu, tetapi Siu-lam tetap gelisah. Cepat-cepat ia lari ke dalam pondok dan
menghadang di muka supehnya. Lilin besar dalam ruang pondok itu sudah padam hingga
ruang menjadi gelap. Tampak si dara baju putih bergerak melangkah maju perlahanlahan….
“Nak, nyalakanlah lilin,” tiba-tiba Tio It-ping memberi perintah kepada Siu-lam.
Siu-lam mengerti maksud supehnya. Dalam pondok itu hanya dia paling lemah
kepandaiannya. Jika si dara sampai turun tangan, tentu dialah yang paling menderita. Ia
segera melakukan perintah supehnya menyalakan lilin. Seketika ruangan terang.
Tio It-ping memandang berganti-ganti pada si dara dan Su Bo-tun kemudian
memejamkan mata lagi. Seolah-olah ia tak mengacuhkan kehadiran si dara dan Su Botun.
Si dara maju ke depan Siu-lam dan ulurkan tangan menyiaknya: “Minggirlah!”
Siu-lam hendak menangkis. Tetapi pada saat ia mengangkat tangan, terasa jalan darah
di lengannya tersambar angin. Celaka, ia tentu terkena totokan atau terpaksa menyingkir.
Ia pilih menyingkir dua langkah ke samping. Berpaling kepala dilihatnya ketiga Beng-gaksam-
liau menjaga di ambang pintu dengan wajah beringas.
Tiba-tiba dara itu berpaling kepada Su Bo-tun, serunya: “Kaukah yang membiarkan dia
tinggal di sini merawat lukanya?”
“Ya!”
Dara baju putih itu tertawa dingin. Kemudian ia bertanya kepada Tio It-ping: “Di mana
puteri dari Ciu Pwe?”
Tio It-ping membuka mata perlahan-lahan dan tertawa tawar. “Siapa kau? Mengapa
kau hendak mencari puteri dari Ciu lo-enghiong?”
“Kau mau mengatakan tidak?!” dara baju putih setengah membentak.
Tiba-tiba Tio It-ping pejamkan mata dan tertawa: “Di daerah Kanglam yang begitu luas,
di mana saja orang bebas menyembunyikan diri!”
Si dara angkat tangan kanannya dan berhamburan ketiga Beng-gak-sam-liau loncat ke
dalam ruang seraya tegak berjajar-jajar. Su Bo-tun kerutkan dahi tetapi ia tetap tak
bertindak apa-apa.
“Ringkus dulu orang itu!” perintah si dara kepada Beng-gak-sam-liau.
Ketiga orang pendek itu segera hendak bertindak tetapi tiba-tiba Su Bo-tun
membentak: “Berhenti! Tak kubiarkan kalian bertindak semau sendiri di sini!”
“Aku hendak menangkapnya, kau mau apa?” lengking si dara.
“Kau tak percaya ucapanku, coba saja!” Su Bo-tun mulai marah.
“Baik!” si dara menyambut tantangan orang dengan memberi isyarat tangan. Lo-tao,
Beng-gak-sam-liau yang tertua, segera ulurkan tangan mencengkeram dada Tio It-ping.
Tetapi serempak dengan itu, serangkum tenaga dalam yang kuat berhamburan melanda
Lo-toa sehingga jago ke satu dari Beng-gak-sam-liau itu terpental mundur dua langkah.
Si dara mendengus: “Hm, kalian bertiga tak sanggup meringkus seorang yang sudah
terluka!”
Ketiga jago pendek itu takut kepada si dara. Setelah saling berpandangan, mereka
menyahut dengan hormat: “Si tua Bangka ini hebat sekali. Jika dia melindungi….”
“Kalau begitu bunuh dulu tua Bangka itu baru tangkap si orang yang terluka!”
Beng-gak-sam-liau terkesiap. Seru mereka: “Jika kami sanggup melawannya tentu tak
berani merepotkan Sam Kounio!”
Dengan tawar si dara berseru: “Tak apalah! Jika kalian sampai mati dibunuhnya, nanti
aku yang membalaskan!”
Seketika berubahlah wajah ketiga jago pendek itu. Namun mereka takut membantah
perintahnya. Lo-toa memandang kepada kedua adiknya: “Karena Sam kounio sudah

memberi perintah, kita matipun tak jadi apa!” ia menutup kata-katanya dengan loncat
menyerang Su Bo-tun.
Su Bo-tun seorang manusia yang berhati dingin berwatak eksentrik. Mendengar katakata
si dara, bukan main marahnya: “Ho, kau kira aku tak berani membunuh orangmu?”
Menghindar dari serangan Lo-toa, ia balas memukul.
Ilmu gerak penghindaran memang menjadi keistimewaan dari Su Bo-tun yang
dituangkan dalam ilmu Cit-sing-tun-heng. Dan gerakan balas memukul merupakan
ilmunya yang paling istimewa seperti yang diciptakan dalam ilmu Hok-hou-pat-ciang atau
Delapan Tamparan Macam Mendekam.
Hek… punggung Lo-toa remuk dan didahului oleh semburan darah dari mulut, jago
kesatu dari Beng-gak-sam-liau itupun roboh tak bernyawa.
Menyaksikan pembunuhan yang mengerikan itu, tampaknya si dara acuh tak acuh saja.
Serunya dengan hambar: “Kalian tiga saudara selalu runtang-runtung. Hidup bersama,
matipun seharusnya bersama. Tidakkah bahagia kalau kalian mati bersama di tangan
seseorang?”
Kedua jago pendek itu tertawa meringis: “Terima kasih atas nasehat Sam kounio. Kami
akan mati dengan meram!”
“Matilah dengan ikhlas. Jangan kuatir, tentu akan kubalaskan!” sahut si dara.
Tiba-tiba kedua Beng-gak-sam-liau itu tertawa dingin: “Hm, siasat Sam kuonio untuk
melenyapkan orang-orang yang tak kau sukai, memang halus sekali. Tetapi percayalah,
Toa kuonio tentu mendengar juga peristiwa kematian kami di sini.”
Kedua Beng-gak-sam-liau itu menutup kata-katanya dengan menyerang Su Bo-tun dari
kanan dan kiri, mengarah jalan darah yang vital.
Su Bo-tun tak berani meremehkan serangan kalap dari kedua orang pendek itu. Cepat
ia berkisar menghindar ke samping lalu berputar-putar dengan gerak ilmu Chit-sing-tunheng.
Serangan luput, kedua Beng-gak-sam-liau itu berputar tubuh lalu menyerang pula
dengan dahsyat. Tetapi ilmu Chit-sing-tun-heng benar-benar luar biasa anehnya. Su Botun
seperti berubah menjadi gulungan sinar yang berputar-putar sukar ditentukan
arahnya. Tanpa disadari kedua Beng-gak-sam-liau itupun ikut dibawa berputar-putar dan
serangan merekapun menjadi kacau balau tak teratur lagi.
Walaupun dalam ilmu kepandaian Lo-toa yang paling tinggi, tetapi Lo-ji terkenal paling
keras dan berangasan wataknya. Tiga empat puluh pukulan telah dilancarkan. Dahsyat
dan gencar. Namun sedikitpun mereka tak mampu menyentuh ujung baju lawan. Mereka
semakin marah, serangannya makin kalap.
Rupanya beberapa saat kemudian Su Bo-tun anggap sudah keliwatan lama temponya.
Ia rubah gerakan-gerakannya menjadi perlahan. Agar musuh dapat mengetahui
gerakannya dan terpancing menyerang. Kedua Beng-gak-sam-liau benar-benar
menyerang dahsyat. Setelah dua jurus, Su Bo-tun menyelak di tengah mereka.
Kedua jago pendek itu sudah menyadari, hari itu mereka pasti mati. Andaikata luput
dari kematian di tangan Su Bo-tun, pun mereka tentu tak dapat lolos dari tangan si dara
yang ganas. Satu-satunya kemungkinan yang masih diharapkan ialah berusaha sekuat
tenaga untuk merobohkan Su Bo-tun. Apabila hal itu berhasil tentulah si dara baju putih
tak punya alasan kuat untuk membunuh mereka.
Kesempatan itu mereka anggap sudah tiba ketika Su Bo-tun mulai lambat gerakannya.
Mereka segera lancarkan serangan sedahsyat-dahsyatnya. Tiba-tiba Su Bo-tun
menggelincir ke samping karena terlalu menggunakan seluruh tenaganya, kedua Benggak-
sam-liau itu menjorok ke muka dan saling berbenturan sendiri. Su Bo-tun ayunkan
kedua tangannya. Punggung kedua jago pendek itu masing-masing menerima sebuah
pukulan. Hanya sekali mereka menjerit lalu terkapar putus jiwanya.

Dingin-dingin saja si dara baju putih memandang ketiga mayat Beng-gak-sam-liau,
serunya kepada Su Bo-tun: “Sekaligus tiga jiwa sudah kau bunuh. Apakah kau merasa
berhak untuk masih hidup?”
“Karena sudah terlanjur membuka pantangan membunuh, membunuh seorang lagi pun
tak apa!” sahut Su Bo-tun.
Si dara menghampiri Tio It-ping dan menegurnya: “Bagaimana lukamu, masih berat
atau tidak?”
Tio It-ping merenung. Melihat cara si dara meminjam tangan Su Bo-tun untuk
membunuh ketiga Beng-gak-sam-liau, tampaknya dara itu mempunyai maksud
membantunya. Tetapi ia tak mengerti bagaimana sikap dara itu yang sebenarnya.
“Eh, mengapa kau diam saja!” tegur dara itu pula.
“Kalau sudah baik, kau mau apa? Dan kalau belum, kau hendak bagaimana?” akhirnya
Tio It-ping menjawab.
“Jika sudah baik, segeralah kau memilih cara bunuh diri yang kau senangi. Lebih cepat
mati, lebih enak. Jika lukamu belum baik, biarlah kutolong, membebaskan kau dengan
sebuah pukulan, agar kau mati dengan cepat!” seru si dara.
Sebagai seorang persilatan yang berpengalaman, dapatlah samar-samar Tio It-ping
menangkap dara itu. Ujarnya sambil tertawa hambar: “Aku sudah tua, tak ada yang harus
disesalkan kalau mati.” Ia berbangkit lalu melangkah.
Tiba-tiba Su Bo-tun melesat ke hadapannya: “Lukamu belum sembuh, jangan bergerak
semaumu….”
“Kalau begitu, kau harus mewakilinya mati!” seru si dara.
Su Bo-tun berpaling: “Mungkin tak semudah itu!”
Walaupun si dara dengan Su Bo-tun telah bertengkar kata-kata tajam, tetapi sampai
saat itu mereka belum mau bergerak menyerang lebih dulu.
Tiba-tiba dara itu melengking: “Jiwa kami bertiga ditukar dengan jiwamu, toh aku
masih untung.”
Belum Su Bo-tun menyahut, tiba-tiba dari luar pintu pondok yang gelap, terdengar
sebuah suara parau berseru: “Sam kounio, siapakah yang berani mati membunuh orang
Beng-gak kita itu?”
Siu-lam berpaling. Seorang manusia aneh muncul di ambang pintu. Seorang bertubuh
tinggi kurus, matanya berkilat-kilat memancarkan api, memandang lekat-lekat pada Su Botun.
Dalam pakaian hitam orang itu makin seram tampaknya. Lehernya panjang, mulut
lebar, dan wajahnya pucat lesi. Kedua matanya luar biasa besarnya.
“Kalau tak terima, silahkan coba!” Su Bo-tun tertawa hina.
Manusia aneh itu melangkah ke dalam. Ia terus ulurkan tangan mencengkeram dada
Su Bo-tun. Su Bo-tun balas menampar dada orang itu.
Orang yang kurus tinggi itu ternyata memiliki gerakan yang luar biasa tangkasnya.
Pada saat Su Bo-tun mengangkat tangan, iapun sudah menarik tangannya dan melesat
keluar pondok: “Ayo kita bertempur di luar sini!” tantangnya.
“Seumur hidup aku tak pernah menerima perintah orang. Kalau mau berkelahi,
silahkan masuk!” jawab Su Bo-tun. Dia takut kalau keluar meladeni si manusia aneh, dara
baju putih akan menyerang Tio It-ping.
Karena bertubuh jangkung, orang aneh itu tak leluasa berkelahi di dalam pondok.
Mendengar Su Bo-tun tak mau keluar, marahlah ia: “Hei, akan kubakar pondokmu. Coba
saja, mau keluar tidak?”
Karena suaranya parau, teriakan orang itu benar-benar menyerupai tambur pecah yang
menyakitkan anak telinga.
“Cobalah kalau mau membakar!” dengus Su Bo-tun.
“Mengapa aku takut?” seru orang tinggi itu seraya mengeluarkan korek api. Setelah
menyulut, lalu ia lemparkan ke atas atap pondok.

Tetapi Su Bo-tun sudah siap-siap. Begitu orang itu timpukkan korek api, Su Bo-tun pun
sudah menamparnya. Cepat orang tinggi itu meluruskan tangan kiri untuk menyongsong
tamparan lawan. Terdengar letupan keras dan tubuh Su Bo-tun pun tergoncang dua.
Sedang manusia aneh itu tersurut mundur tiga langkah. Korek apinyapun berhamburan
padam.
Kedua manusia aneh itu tertegun. Pada lain saat tiba-tiba orang jangkung itu berputar
tubuh dan sekali melesat sudah berada di bawah serambi. Sekali dua tangannya menarik,
dua buah tiang penglari rumah itu jebol, debu dan atap rumbia berhamburan….
Siu-lam pejamkan mata. Tahu-tahu ia rasakan leher bajunya dicengkeram orang. Ia
hendak berteriak tetapi ia merasa tubuhnya terangkat ke udara. Dan ketika membuka
mata, ia sudah berada di luar pagar tembok dan tubuhnya sedang meluncur turun. Buruburu
ia empos semangat, berjumpalitan di udara lalu meluncur turun.
Cepat sekali otaknya yang cerdas dapat menduga bahwa yang menolongnya itu si dara
baju putih. Dalam hati: “Kalau benar ia maui jiwanya, tak mungkin aku lolos!”
Lebih lanjut Siu-lam menduga, si dara itu tentu bermaksud menolong dan menyuruhnya
melarikan diri, tapi bagaimana dengan supeh yang masih belum sembuh?
Tengah Siu-lam merancang keputusan, tiba-tiba terdengar suara si dara baju putih
melengking: “Kau sudah menderita luka parah. Jika mau membunuhmu sudah mudah.
Tetapi aku tak mau membunuh orang yang tak dapat melawan. Jika kau tak mau lari,
jangan salahkan aku kejam!”
Sahut Tio It-ping: “Jangan bermulut besar dulu. Dalam pertempuran malam ini belum
dapat dipastikan siapa yang kalah!”
Siu-lam terkejut. Ia menanggapi kata-kata Tio It-ping itu sebagai suatu isyarat agar ia
segera lari. Sedang Tio It-ping karena mempunyai Su Bo-tun sebagai pelindung, tentu
tidak berbahaya.
Siu-lam anggap anjuran supehnya itu benar. Segera ia lari menuju ke ruang batu
dalam gua. Hui-ing tampak tidur di sudut ruangan. Rupanya dara itu letih berlatih ilmu
Chit-sing-tun-heng hingga tak mendengar ribut-ribut di luar.
Setelah tertegun sejenak, akhirnya Siu-lam menghampiri dan membangunkan
sumoaynya. Hui-ing pun tersenyum: “Apakah sudah terang tanah?” tetapi ia berhenti
karena matanya memandang keluar goa masih gelap.
“Tengah malam begini kau datang kemari apa perlunya?” ia menegur Siu-lam.
“Coh-yang-ping telah kedatangan musuh kuat dan saat ini sedang bertempur dengan
Su lo-cianpwee,” kata Siu-lam, “Selain berjumlah banyak pun mereka sakti-sakti.”
“Kau hendak suruh aku melihat ramai-ramai itu? Bagus!” teriak Hui-ing girang.
Siu-lam gugup. Buru-buru ia menghadang si dara yang hendak melangkah keluar:
“Jika tak ada urusan penting, masa malam-malam begini datang padamu. Aku hendak
minta kau melarikan diri dari pertempuran itu.”
Hui-ing tertawa mengolok: “Kulihat nyalimu kecil sekali, suheng. Kau takut tetapi aku
tidak. Aku harus melihat pertempuran itu.”
Kata Siu-lam serius: “Kepandaian Su lo-cianpwee luar biasa saktinya, tetapi toh
kewalahan menghadapi mereka. Lebih baik kita melarikan diri saja!”
Melihat kesungguhan sang suheng, Hui-ingpun hentikan tertawanya: “Benarkah itu?”
“Kapankah aku pernah membohongimu!” kata Siu-lam terus menarik tangan sang
sumoay diajak lari.
Siu-lam seorang cermat. Ketika masuk ke karang Coh-yang-ping diam-diam ia
memperhatikan situasi tempat itu. Selain gunduk-gunduk batu yang menjadi penghubung
Coh-yang-ping, rasanya tiada lain jalan lagi. Dia merasa kepandaiannya tidak mampu
loncat sampai tiga tombak jauhnya. Dan andaikata dapat, iapun harus menghadapi orang
Beng-gak yang tentu sembunyi di sekitar tempat itu.
“Sumoay, tahukah kau jalan keluar dari sini kecuali dari jembatan batu itu?” tanyanya.

“Pertama kali datang ke Coh-yang-ping, pemuda bermuka hitam itu memberi
peringatan kepadaku agar jangan blusukan ke sebelah dalam goa. Jika ada apa-apa,
jangan salahkan dia!” kata Hui-ing.
Karena jalan lain tidak ada lagi, Siu-lam memutuskan untuk bersembunyi saja. Setelah
musuh-musuh itu pergi barulah ia tinggalkan Coh-yang-ping. Segera ia balik masuk ke
dalam goa lagi. Ia menyusup sampai dua puluhan tombak jauhnya. Lorong goa
membelok ke kiri, makin sempit. Hanya cukup untuk seorang. Rupanya merupakan ujung
terakhir dari goa.
Saat itu tengah malam. Lorong goa makin gelap sekali. Siu-lam suruh Hui-ing
menanti, ia hendak menyusup keluar melihat keadaan. Lorong makin sempit dan naik
turun berbelok-belok sukar dilintasi. Setelah melalui tujuh-delapan tikungan, tiba-tiba
lorong putus terhalang sebuah goa sebesar tahang air, yang menurun ke bawah.
Siu-lam ngeri melihatnya. Kebanyakan goa semacam itu tentu dihuni ular atau
binatang berbisa. Tengah ia meragu, tiba-tiba terdengar Hui-ing tertawa nyaring:
“Mengapa tidak maju terus. Perlu apa terlongong di situ?”
“Ah, jalanan buntu!” Siu-lam menghela napas.
“Kau tidak bisa terus, lebih baik kembali saja,” seru Hui-ing.
“Tetapi musuh terlalu kuat, tak mungkin kita dapat lolos!”
“Mundur maju serba sukar, habis bagaimana? Hm, kau bernyali kecil. Tinggallah di
sini, aku yang akan keluar menghadapi orang-orang itu!” Hui-ing terus berputar diri dan
melangkah pergi.
“Hai, kembali dulu, Ing-moay!” Siu-lam berteriak gugup, “Di sini sebenarnya ada jalan,
tetapi….”
“Tetapi bagaimana!?” seru Hui-ing.
“Di sini terdapat goa sebesar tahang air, kukuatir terdapat ular dan binatang beracun!”
“Oh, biarlah aku yang mempelopori masuk!” seru si dara. Tetapi ketika melihat
keadaan goa yang melandai ke bawah, tertawalah dara itu: “Celaka, mana aku bisa
merayap dengan kepala di bawah kaki di atas?”
“Tak ada pilihan lain!” sahut Siu-lam.
“Baik!” Hui-ing menyambuti dan terus merayap ke dalam goa, Siu-lam mengikuti di
belakangnya.
Goa itu curam sekali menurunnya. Penuh dengan pakis (lumut) yang licin. Dengan
menggunakan seluruh tenaga dan perhatian barulah kedua anak muda itu berhasil
merayap sejauh sepuluhan tombak. Akhirnya Hui-ing tak tahan lagi: “Sudahlah, goa
begini licin dan berbahaya. Apalagi belum tentu bisa tembus jalan keluar!”
“Bagaiamana? Kau takut?” Siu-lam tertawa.
“Huh, siapa bilang aku takut?” tiba-tiba Hui-ing marah dan terus percepat langkahnya
merayap ke bawah.
Siu-lam kuatir sumoaynya terbentur batu. Ia meneriaki dara itu jangan cepat-cepat
merayap. Baru ia berseru begitu, tiba-tiba Hui-ing menjerit. Dara itu tergelincir ke
bawah….
Siu-lam terkejut sekali. Tanpa menghiraukan bahaya apa-apa, iapun meluncur
menyusul sumoaynya: “Sumoay, hati-hatilah….” Baru ia berteriak, tiba-tiba tubuhnya
melayang ke bawah.
Bum… terdengar tubuh kedua pemuda itu terbentur dasar goa. “Bagaimana, sakitkah?”
Hui-ing tertawa.
Ketika memandang ke muka, tampak sumoaynya duduk menyikap kedua lutut.
Mulutnya tertawa-tawa.
“Dan kau sendiri bagaimana, sumoay?” serunya.
“Kalau sakit masakan aku bisa tertawa?” sahut Hui-ing.
Memandang ke sekeliling, berkatalah Siu-lam: “Tempat ini cukup baik, sayang kelewat
lembab!”

“Eh, apakah tiada lubang keluar lainnya? Kalau harus merayap ke atas, mungkin kita
akan tergelincir. Kalau tak dapat keluar, kita tentu mati kelaparan di sini,” Hui-ing
bersungut-sungut.
Siu-lam memandang ke atas. Tapi mulut liang di atas kira-kira dua tombak tingginya.
Suatu jarak yang tak mungkin dicapai. Apalagi dinding liang licin sekali.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin: “Sekali terjerumus dalam liang ini, jangan
harap seumur hidup kalian dapat keluar!”
Hui-ing menjerit kaget dan merapat pada suhengnya: “Apakah itu bukan suara
manusia?”
Siu-lam sendiri juga terkejut sekali. Namun diberanikan juga untuk menegur:
“Siapakah itu?”
Segera ia hendak menyulut korek api, tetapi seketika itu juga serangkum angin kuat
melandanya. Tubuhnya terseret!
Hui-ing cepat mencabut pedangnya: “Hm, tak peduli kau setan atau manusia, aku tak
takut. Lepaskan suhengku, kalau tidak….” Ia taburkan pedang dan berhamburanlah sinar
pedang memenuhi ruangan liang.
Kembali dari sudut liang terdengar tertawa dingin dan serempak sebuah benda
mengaum ke arah si dara. Wut, Hui-ing menyabetnya tetapi benda itu seolah-olah
mempunyai mata. Dapat menghindari lalu hinggap di pergelangan tangan Hui-ing.
“Celaka!” dara itu mengeluh karena pergelangan tangannya ternyata terjirat seutas tali.
Tali mengencang keras dan mau tak mau terlepaslah pedangnya.
Sekali tarik, Hui-ing yang terjerat tangan kanannya itupun terseret ke muka. Kejut dan
marah dara itu bukan kepalang. Baru pertama kali ia bertempur, sudah dikalahkan dan
ditangkap hidup-hidup oleh musuh. Belum dapat ia menumpahkan kemarahannya, tahutahu
bahunya tertutuk. Dara itupun rubuh ke tanah.
Sekalipun tertutuk jalan darahnya, tetapi Hui-ing masih sadar pikirannya. Ia merasa
tubuhnya dijalari sebuah tangan yang kurus kering. Hendak menjerit tak dapat, hendak
meronta tak mampu. Dara itu menangis karena menahan malu dan kemarahan yang
meluap-luap. Karena ia jatuh tengkurap, maka tak dapatlah ia melihat siapakah yang jail
kepadanya itu.
Ketika tangan kurus itu meraba ke dada, tiba-tiba berhenti dan dengan sebuah
gurangan jari yang ringan, robeklah pakaian si dara!
Hui-ing makin gelisah. Tangan kurus itu ternyata berhenti di bagian bajunya yang
dipergunakan menyimpan buntalan kain kuning. Benda yang oleh ayahnya disuruh
menyerahkan pada Tukang Pancing Lim Ching-siu.
Sebelum dapat berbuat apa-apa, tangan kurus itu pun sudah mengambil keluar
bungkusan kain itu. Pada lain saat terdengar bungkusan itu dirobek.
Kira-kira sepeminum teh lamanya, Hui-ing rasakan jalan darahnya yang tertutuk itu
diurut-urut. Seketika darahnya memancar kembali. Hui-ing segera hendak loncat bangun
tetapi dia dibentak oleh sebuah suara dingin: “Budak perempuan, jika berani mencuri
kesempatan melarikan diri, tulang-tulangmu akan kuremuk-remuk. Biar kau merasakan
kesakitan yang paling hebat. Mati tidak hidup tidak. Dan kusuruh kau tinggal di sini
menemani aku!”
Jilid 03
HUI-ING ngeri mendengar ancaman itu, serunya:
“Huh, jika benda itu tak kau kembalikan padaku, akupun tidak sudi meninggalkan
tempat ini!” Dan mencuri kesempatan, tiba-tiba ia membalikkan kepala.
Astaga… apa yang dilihatnya benar, membuat tubuhnya menggigil. Cepat-cepat ia
pejamkan mata lagi. Keringat dingin membasahi tubuhnya.

Ternyata yang dilihatnya itu seorang manusia yang seram sekali. Manusia yang tak
berpakaian, telentang di atas sebuah batu. Rambutnya terurai lepas tiada ikatan,
memanjang beberapa meter. Mukanya penuh dengan gurat-gurat bekas luka. Dari batas
perut ke bawah, dagingnya kecil sekali, hanya tinggal tulang terbungkus kulit. Tangan
kirinya terkulai lunglai. Hanya tangannya kanan yang masih dapat bergerak. Sedang
menggenggam secarik gambar peta dari kain sutera.
Rupanya manusia seram itu sudah mengetahui ketakutan Hui-ing. Tiba-tiba ia
menghela napas: “Budak perempuan, jangan takut! Empat puluh lima tahun yang lalu,
akupun serupa cantiknya seperti kau. Mungkin masih lebih cantik dari kau. Entah berapa
puluh pemuda yang menyembah di bawah telapak kakiku….”
Hui-ing kicop-kicupkan matanya. Walaupun masih takut, tetapi diberanikan juga untuk
bertanya: “Benarkah itu?”
Manusia seram berambut panjang itu marah: “Masakan aku bohong padamu!” Tibatiba
nadanya agak lembut lagi: “Ah, memang kalau ditilik dari wajahku yang ngeri saat ini,
jangankan kau, tetapi setiap orang pun tentu tak percaya pada keteranganku. Tetapi apa
yang aku katakan itu, memang benar-benar kenyataan….”
Ia berhenti sejenak merenung. Rupanya ia terkenang akan peristiwa lama yang
menyedihkan. Ia menghela napas, ujarnya: “Tetapi apakah bedanya orang yang cantik
dan buruk itu? Bukankah setelah mati, tengkorak si cantik dan tengkorak si buruk tak ada
bedanya?”
Karena orang makin lama makin ramah, timbullah nyali Hui-ing untuk bertanya:
“Mengapa lo-cianpwee berada di liang neraka ini? Ah, betapa kasihan lo-cianpwe tinggal
di tempat selembab ini sampai berpuluh tahun…”
Tiba-tiba manusia seram itu tertawa dingin. “Aku telah dicelakai orang. Tubuhku
ditabur obat racun yang membuat tulang dan kulit-kulitku menyusut kecil. Lalu aku
dilempar ke dalam liang neraka sini. Aku menderita kesakitan paling sengsara yang
pernah dialami manusia! Tetapi orang yang mencelakai aku itu, telah kubunuh. Jika aku
tidak lumpuh, hm, entah berapa banyak jiwa yang akan kubunuh.”
Dalam kegelapan, Hui-ing melihat betapa tajam mata manusia seram itu memancarkan
cahaya berapi-api. Api dendam kesumat kepada musuh-musuhnya!
Tiba-tiba manusia seram itu menghela napas: “Mengapa dulu-dulu kau tak datang
kemari?”
Hui-ing terkesiap, sahutnya: “Liang goa ini berada di pusar gunung, jarang orang
mengetahui. Dan lagi kamipun tak tahu kalau di sini terdapat penghuninya….”
Tiba-tiba manusia seram itu mengangkat tangan kanannya yang memegang gambar
peta lalu mendorong pada dinding batu di belakangnya. Krek… dinding itupun terbuka
sebuah lobang. Cahayanya bintang-bintang di langit, menerobos masuk hingga liang itu
tampak agak terang.
Hui-ing berpaling. Dilihatnya Siu-lam terlentang di tanah dengan tangan mendekap
muka. Diam-diam Hui-ing heran dan kagum, manusia seram itu hanya mempunyai
sebuah lengan yang dapat bergerak, tetapi ilmu tutukannya luar biasa hebatnya. Dapat
menutuk cepat sekali dan mengarah jalan darah agar orang itu roboh menurut yang
dikehendakinya.
Manusia seram itu memandang ke langit, ujarnya: “Saat sudah lewat tengah malam.
Beberapa jam lagi sudah terang tanah. Jika kalian datang ke sini beberapa tahun yang
lalu, betisku belum hilang dagingnya, alangkah baiknya! Tetapi sekarang, sudah
terlambat. Sekalipun aku masih dapat bertahan hidup beberapa bulan, tetapi sudah tidak
berguna!”
Hui-ing tidak mengerti apa yang dituturkan manusia aneh itu, namun ia tetap terharu.
Tiba-tiba terdengar suara memanggil: “Mamah!”
Manusia aneh itu menghela napas, serunya: “Oh, kau sudah pulang?”
“Eeeh, lo-cianpwe mempunyai seorang putri juga?” tanya Hui-ing.

Manusia aneh tertawa: “Hm, benar! Apakah kau hendak berkenalan dengannya?”
Diam-diam Hui-ing tak percaya bahwa seorang gadis mampu masuk keluar ke tempat
yang sedemikian berbahayanya itu. Namun ia tertawa: “Sudah tentu aku senang sekali
berkenalan dengan puteri lo-cianpwe!”
Manusia berambut panjang yang ternyata seorang wanita itu segera lambaikan
tangannya ke lobang goa dan serempak dengan itu menggelindinglah dua butir buah Li,
lalu seekor burung nuri menyelinap masuk.
Hui-ing terkejut. Seumur hidup belum pernah ia melihat seekor burung nuri sebesar
itu. Sifat kanak-kanaknya timbul, dielus-elusnya burung itu.
“Itulah puteriku, kau suka?” tanya wanita aneh.
“Seekor burung yang bagus sekali, locianpwe tentu menggunakan waktu lama untuk
mengajarinya!”
“Sejak dilemparkan ke dalam liang neraka ini, hanya dialah yang menjadi kawanku. Ah,
jika tak ada dia, mungkin aku sudah mati kelaparan di sini.”
Tiba-tiba Hui-ing teringat akan suheng yang masih menggeletak tak berkutik, ia
memberanikan diri berkata: “Kami berdua telah dikejar musuh hingga kesalahan masuk ke
sini. Kami tak mempunyai permusuhan apa-apa dengan lo-cianpwee, entah….”
“Maksudmu agar kubuka jalan darah budak laki-laki itu, bukan?” tukas si wanita aneh.
“Lo-cianpwee seorang sakti, masakan kami dapat lolos?” kata Hui-ing.
“Memang,” sahut si wanita aneh. “Kecuali aku merelakan kau pergi, jangan harap kau
bisa tinggalkan tempat ini,” ia segera melambaikan tangan kanannya ke arah Siu-lam.
Terdengar Siu-lam menghela napas dan menggeliat bangun. Melihat sumoaynya tidak
kurang sesuatu, bernapas lega. Kemudian berpaling ke arah wanita aneh yang berbaring
di pembaringan, ia kaget tetapi cepat ia tindas perasaannya.
Wanita aneh itu menyapukan pandangannya kepada kedua muda-mudi, tanyanya: “Apa
kalian masih ingin tinggalkan liang neraka ini?”
“Maaf, aku tidak mengerti maksud lo-cianpwee,” sahut Siu-lam.
Wanita aneh itu tertawa seram: “Jika ingin tinggalkan tempat celaka ini harus
meluluskan sebuah permintaanku. Jika tidak, kalian harus tinggal di sini seumur hidup.
Setelah aku hampir mati, sebelumnya hendak aku remukkan dulu jalan darah kalian yang
penting agar serupa denganku. Akan kusuruh si nuri untuk mencarikan makan sampai
akhir hidup kalian!”
Siu-lam ngeri mendengarnya, namun dipaksakan juga untuk menyahut: “Entah apa
yang hendak lo-cianpwee perintahkan pada kami?”
Tiba-tiba si wanita aneh berganti nada seram: “Sebenarnya juga bukan hal yang sukar
asal kalian bersungguh-sungguh melaksanakan tentu dapat….” Ia mengangkat gambar
peta, serunya pula: “Akan kutukar obat yang hendak kusuruh cari itu, dengan gambar
peta ini!”
“Mana bisa! Peta itu adalah milik ayahku!” teriak Hui-ing.
Wanita aneh itu tertawa mengekeh, serunya: “Apa? Peta Telaga Darah itu milik
ayahmu?”
“Entah miliknya atau bukan aku kurang jelas. Tetapi ayahlah yang memberikannya
kepadaku dan suruh memberikannya pada seseorang!”
“Baik! Karena kau segan kehilangan peta itu, tinggallah di sini seumur hidup!” seru si
wanita.
Hui-ing terkesiap: “Caramu memaksa dengan kekerasan itu, sungguh tidak memuaskan
hatiku!”
Wanita aneh tertawa: “Jika kau bicara seperti ini ketika aku masih segar, walaupun
nyawamu rangkap sepuluh, tentu akan kuhancurkan semua! Setelah beberapa tahun
dijebloskan di sini, watak berangasanku banyak berkurang. Nah, katakanlah, dengan cara
bagaimana kau dapat puas?”

Siu-lam tahu bahwa wanita berwajah seram itu sakti sekali. Jika sumoaynya sampai
kesalahan omong, tentu akan celaka. Buru-buru ia nyeletuk: “Lo-cianpwee mau tukar
peta itu dengan obat yang kami cari. Tetapi lebih dulu harap ceritakan asal-usul peta itu
agar kami tak dapat ditipu orang!”
Wanita aneh itu merenung sejenak lalu katanya: “Dalam dunia persilatan dewasa ini,
memang sedikit sekali orang yang tahu tentang riwayat peta ini! Dan lagi menilik usia dan
kepandaian kalian sekarang ini, sekalipun memiliki peta itu juga tiada gunanya. Malahmalah
akan mendatangkan bencana padamu!”
Makin berat dugaan Siu-lam bahwa kematian kedua gurunya itu akibat menyimpan peta
itu. Keinginannya untuk mengetahui riwayat peta makin besar. Dengan cara membikin
panas hati, Siu-lam berseru: “Sebuah gambar peta dari sutera yang sudah kusam begitu,
masakan begitu berharga dipertaruhkan dengan jiwa?”
Wanita aneh tertawa: “Kau tahu apa, budak! Dahulu itu peta dibuat oleh seorang tabib
sakti Lo Hian bergelar Sin-ih-tan-su (Tabib Sakti Ahli Pembuat Pil). Peta itu merupakan
tempat penyimpanannya resep-resep dan obat-obat mukjijat. Selain itu juga dua batang
rumput ajaib, permata mustika yang tak terhitung banyaknya. Tabib Lo Han itu selain
pandai ilmu obat-obatanpun memiliki ilmu silat yang sakti. Tetapi tabib itu seorang
manusia aneh. Dia tak mau berjumpa dengan orang. Entah sudah banyak tokoh-tokoh
persilatan yang berusaha hendak menjumpainya, selalu gagal. Konon kabarnya tabib itu
sudah meninggal dan peta pusaka itu diberikan kepada salah seorang ahli waris muridnya.
Tetapi kabar itu tak benar. Karena seumur hidup dia tak pernah menerima murid secara
resmi. Orang yang disebut sebagai muridnya itu hanya secara kebetulan berjumpa
dengan dia dan tinggal bersamanya selama tiga hari. Sekalipun dalam waktu sesingkat
itu, orang itu telah mendapat banyak sekali pelajaran-pelajaran yang berharga. Walaupun
hanya sepersepuluh dari kepandaian si tabib, tetapi sudah membuatnya sejajar dengan
tokoh-tokoh persilatan yang berilmu tinggi.”
“Ah, masakah di dunia terdapat manusia yang sedemikian saktinya?” seru Siu-lam.
Wanita aneh menghela napas, ujarnya: “Yang hendak kusuruh kalian lakukan jalan
mencari orang yang dianggap sebagai ahli waris tabib itu. Tukarkan peta ini dengan obat
Kiu-coan-siok-beng-seng-ki-san!”
Kiu-coan-siok-beng-seng-ki-san artinya obat penyembuh nyawa dan pemulih daging.
Hui-ing tak berani memberi jawaban. Dipandangnya Siu-lam.
Siu-lam tampak merenung. Dia tahu bahwa menolak perintah wanita itu, berarti mati.
Namun meluluskan, pun berat. Peta itu adalah pemberian suhunya supaya diserahkan
pada Si Tukang Pancing Lim Chin-siu….
Kembali wanita aneh itu tertawa rawan: “Jika kalian dapat mencarikan obat itu
sehingga aku bisa sembuh, sudah tentu takkan kulupakan budimu begitu saja. Akan
kuberi tiga macam ilmu kesaktian yang kumiliki. Cukup kalian mempelajari tujuh bagian
saja, kalian tentu sukar menemui tandingan lagi. Seumur hidup aku belum pernah
meminta pertolongan orang seperti saat ini. Mau atau tidak kalian membantu aku, supaya
kalian pertimbangkan!” Habis berkata wanita itu lalu pejamkan mata.
Siu-lam berpaling kepada sumoaynya. Karena wanita itu berada di dekatnya, mereka
tak leluasa berunding dengan mulut. Apa boleh buat, mereka menggunakan isyarat
kerutan dahi dan wajah.
Setelah merenung beberapa waktu, akhirnya Hui-ing menghela napas perlahan: “Ah,
bagaimana ini? Ayah telah perintahkan aku supaya menyerahkan pada Si Tukang Pancing.
Jika tak kulaksanakan, ayah tentu marah. Ah, sukar nih….”
Tiba-tiba wanita aneh itu membuka mata dan memandang keluar: “Hari sudah terang,
sebentar tentu sudah terang tanah. Tubuhku yang kena racun ini tak boleh terkena sinar
matahari. Sekali kena, racun itu akan menjalar keras, tubuhku akan cair jadi air!”
“Begini sajalah,” akhirnya Siu-lam berseru: “Biar aku tinggal di sini sebagai tanggungan.
Lo-cianpwe berikan peta itu kepada sumoayku. Begitu sumoay sudah berhasil menemui

Ti-ki-cu Gan Leng-po dan menukarkan dengan Kiu-coan-siok-beng-seng-ki-san, barulah locianpwe
lepaskan kami!”
“Mamah, mamah, hari sudah pagi, hari sudah pagi!” tiba-tiba burung nuri berteriak dan
terbang keluar dari lubang goa.
Tiba-tiba wanita aneh itu mencengkeram tubuh Siu-lam dan diangkatnya ke atas: “Dari
pada kau yang tinggal di sini, aku lebih suka sumoaymu yang berada di sini. Paling lama
aku hanya dapat bertahan tiga bulan lagi. Jika dalam tiga bulan kau tak kembali
membawa obat itu, tulang-belulang sumoaymu akan kurusak agar dia tetap mengawani
aku seumur hidup di sini!”
Sebelum Siu-lam sempat bicara, tahu-tahu ia telah dilempar keluar. Huh! Ia dikejutkan
oleh air yang mencurah ke kepalanya. Ternyata saat itu ia berada di bawah sebuah air
terjun. Goa tadi terjadi karena lubang yang dibuat oleh curahan air terjun yang beratusratus
tahun lamanya.
Tiba-tiba wanita itu berseru dari lubang goa: “Ti-ki-cu Gan Leng-po itu tinggal di tapal
batas Kiang-see dan Kanglam di gunung Kiu-kiong-san. Mudah sekali menukarkan peta itu
dengan obat yang kuperlukan. Karena dia memang butuh sekali akan peta itu. Tetapi
ingat, jangan sekali-kali kau mengatakan bahwa aku yang memerlukan obat itu. Kalau dia
sampai tahu hal itu, kau tentu dibunuhnya. Nah, ingatlah, kau hanya mempunyai waktu
tiga bulan. Dapat tidaknya kau menepati janji, tergantung dari berapa nilai tanggung
jawabmu atas keselamatan sumoaymu ini!”
Tiba-tiba Siu-lam rasakan tubuhnya didorong oleh serangkum tenaga dan byuuur, ia
jatuh ke dalam kolam air. Buru-buru ia berenang naik ke tepian. Peta pusaka
disimpannya, setelah beberapa saat terlongong-longong memandang ke liang goa yang
berisi sumoaynya itu segera ia kuatkan hati dan angkat kaki.
Entah berapa lama ia menyusuri di dalam lembah itu, tiba-tiba mendengar suara orang
melengking di udara: “Matahari sudah keluar, matahari sudah keluar!”
Ketika memandang ke atas, ah, ternyata burung nuri piaraan si nenek berwajah seram.
Rupanya burung itu sengaja menunjukkan jalan. Akhirnya menjelang tengah hari,
dapatlah ia keluar dari lembah. Tiba di mulut lembah, burung nuri itupun tiba-tiba terbang
masuk ke dalam lembah itu.
Siu-lam terlongong-longong mengantarkan kepergian burung nuri berparuh merah itu.
Apa yang dialami selama beberapa hari itu. Apa yang dialami selama beberapa hari ini,
benar-benar tak mudah dilupakan. Kini ia hanya diberi waktu tiga bulan. Apabila ia gagal
mendapatkan obat itu, sumoaynya tentu dibunuh si nenek. Dan kini harus menjaga peta
itu baik-baik. Teringat akan peta, seketika timbullah keinginannya untuk melihat.
Benarkah peta itu sedemikian hebat nilainya.
Segera ia mencari beristirahat. Petapun dikeluarkan….
Di bawah sinar matahari, peta itu tampak jelas. Tetapi gambar-gambar yang tertera di
situ berbeda sekali dengan peta kebanyakan. Tutup kulit peta itu dilumuri darah merah,
sehingga menimbulkan kesan yang menyeramkan.
Di dalamnya terdapat banyak garis-garis warna hitam yang melingkar-lingkar macam
sarang labah-labah. Ada yang gurasannya tebal ada yang tipis. Di tengah-tengah
lingkaran garis itu terdapat sebuah titik warna putih yang menonjol, diberi dua baris
tulisan berbunyi:
“Mustika tiga jaman, pil lima racun, angin jahat bara api, rahasia sepanjang masa. Tak
boleh sembarang ambil. Siapa lancang masuk ke telaga darah, pasti hancur binasa tiada
tara.”
Beberapa jenak Siu-lam memandang peta itu dan merenungkan bunyi tulisannya. Ia
masih meragukan kebenaran isi tulisan itu.
Disimpannya lagi peta itu, lalu ia meneruskan perjalanan. Dengan menggunakan ilmu
lari cepat, dapatlah dalam beberapa hari saja ia tiba di kaki gunung Kiu-kiong-san.
Gunung itu merupakan sebuah pegunungan yang luas dan tinggi. Siu-lam termangu.

Kemanakah ia harus mencari tempat tinggal si tabib di daerah pegunungan yang seluas
itu?
Tengah ia bersangsi, tiba-tiba ia melihat seekor burung bangau besar terbang
menggondol seekor ular. Serentak timbul pikirannya. Ia beli segulung tali dan kain putih.
Ternyata ia hendak membuat sebuah layang-layang. Layang-layang itu ditulis beberapa
huruf yang artinya: “Mohon berjumpa dengan Ti-ki-cu!”
Layang-layang itu dinaikkan sampai tinggi ke udara. Ujung tali diikat pada sebatang
pohon. Dari tempat seluas beberapa li, tentulah terlihat jelas. Tetapi menunggu sampai
setengah hari, belum juga ia melihat seseorang. Bahkan sampai matahari terbenam!
Malampun tiba. Siu-lam tidak putus asa. Dicobanya cara kedua, membuat api unggun.
Disinari api unggun layang-layang itu tampak jelas di malam hari. Itu pun gagal!
Ketika berputar diri, ia tersentak kaget. Beberapa langkah di belakangnya ternyata
muncul si darah baju putih. Dara yang dijumpai di rumah suhunya tempo hari! Sama
sekali ia tak mendengar suara kedatangan dara itu….
Walaupun sudah pernah berjumpa beberapa kali, namun malam itu karena jaraknya
dekat dan diterangi api unggun, Siu-lam kesima melihat kecantikan si dara yang menonjol.
Rupanya dara itu tahu dipandang dengan lekat, tetapi ia tak membuat reaksi apa-apa.
Beberapa saat kemudian iapun balas menatap wajah Siu-lam. Yang ditatap gelagapan
tersipu, buru-buru ia memberi hormat: “Atas pertolongan nona di Co-yang-ping itu, aku
menghaturkan terima kasih!”
Dara itu tertawa.
“Tetapi apa maksud nona selalu mengikuti perjalananku selama ini?” tanya Siu-lam
pula.
Si dara alihkan pandangan ke sebuah batu karang, serunya dingin: “Selagi api masih
menyala, lekas kau seret mayat-mayat itu dan lempar ke dalam api!”
Terkejut Siu-lam saat melihat mayat lelaki berpakaian ringkas tergeletak di tepi karang.
Ternyata orang itu tertutuk jalan darahnya dan nyawanya putus. Menilik tubuhnya yang
masih hangat, terang belum lama matinya. Segera ia melakukan perintah nona itu.
“Untuk ke sekian kali, nona telah menolongku. Dan nona selalu ikuti jejakku. Apa
maksud nona sebenarnya? Memang kuakui, jika nona mau tentu mudah membunuhku.”
Sahut si dara dingin: “Sebenarnya akupun tak sesungguhnya hendak melepas budi
padamu. Tak perlu berterima kasih kepadaku. Karena gurumu Ciu Bwe dahulu pernah
sekali menolong orang tuaku, maka aku hendak membalas budi kepada murid atau anak
perempuannya. Malam ini adalah yang terakhir kalinya aku menolongmu. Lain kali jika
berjumpa mungkin kau kubunuh!” habis itu dara berputar diri dan berlalu.
Siu-lam memandang bayangan dara itu dengan berbagai kesan: “Ia dara cantik,
umurnya mungkin tujuh belasan tahun, tapi dingin.”
Tengah termenung-menung, tiba-tiba di udara terdengar suara tertawa di udara.
Mendengar itu si dara cepatkan langkah. Dua tiga kali berlompat ia sudah lenyap dalam
hutan.
Siu-lampun hendak bersembunyi tetapi sudah terlambat. Orangitu cepat sekali sudah
muncul di samping Siu-lam. Seorang kakek kurus yang berlari-lari dengan membawa
sebatang tongkat. Walaupun sudah tua tetapi gerakannya masih gesit sekali.
Kakek itu memandang Siu-lam dengan berkilat-kilat. Tiba-tiba kakek itu tekankan
tongkatnya ke tanah dan tahu-tahu tubuhnya melambung ke udara melayang melampaui
kepala Siu-lam terus meluncur ke tempat api unggun. Dengan tongkatnya ia mengungkit
mayat yang dilempar ke api oleh Siu-lam tadi, terus dilemparkan dua tombak jauhnya.
“Siapakah yang dibakar ini?” serunya dengan dingin.
Siu-lam tahu atas kesaktian si kakek. Tiba-tiba terkilas sesuatu pada pikirannya. Ia
tertawa: “Apa locianpwe ini Gan lo-cianpwe?”
“Benar, memang aku Gan Leng-po yang kau cari!” sahut orang tua itu.

“Wanpwe sudah lama mengagumi lo-cianpwe. Maka jauh-jauh kuperlakukan
berkunjung kemari untuk menemui lo-cianpwe.”
Ti-ki-cu Gang Leng-po memandang layang-layang kain yang dibuat Siu-lam. Ia tertawa
dingin: “Pintar juga akalmu itu. Tetapi apakah maksudmu menghadangku?” katanya
congkak.
“Gan lo-cianpwe tentulah seorang sakti, maka wanpwe sengaja bawa benda pusaka
kesini…”
“Apakah benda itu hendak kau haturkan padaku?” tanya Gan Leng-po dingin.
“Lo-cianpwe menduga tepat…”
“Seumur hidup aku hanya memberi pada orang. Tak pernah menerima pemberian
orang!” serunya marah.
Siu-lam tertawa: “Aaah, janganlah lo-cianpwe buru-buru menolak. Mungkin benda itu
adalah benda yang lo-cianpwee idam-idamkan.”
“Apa? Segala ratna mutu manikam bagiku hanya seperti batu biasa. Rasanya tiada
benda di dunia yang dapat menarik hatiku!” seru si tabib itu dengan murka.
“Janganlah lo-cianpwe buru-buru mengatakan begitu. Benda ini benar-benar tiada
tandingannya di dunia….”
“Sekalipun tiada keduanya di dunia, tetapi jangan harap dapat menggerakkan hatiku,”
berdengus Gan Leng-po. “Kau berani datang kemari tentu sudah tahu peraturanku.
Bahwa sekeliling sepuluh li luasnya tak boleh sembarangan melukai orang!”
Siu-lam tertawa tawar: “Maaf, wanpwe belum pernah dengar hal pantangan lo-cianpwe
itu!”
Gan Leng-po tertawa dingin: “Orang kenal aku, tentu tahu tentang laranganku itu. Kau
tak tahu berarti kau memandang rendah padaku. Dan dengan berani melukai orang, kau
tentu mempunyai kepandaian sakti. Nah, aku minta pelajaranmu beberapa jurus dulu
baru nanti kita bicara lagi!”
Wut, Gan Leng-po menutup kata-katanya, dengan melayangkan tongkat ke kepala Siulam.
Siu-lam terkejut sekali. Walaupun enak saja si tabib menggerakkan tongkat, tetapi
kerasnya bukan main. Menimbulkan deru angin yang dahsyat.
Siu-lam cepat menghindar ke samping. Ia tertawa gelak-gelak: “Aha, orang persilatan
mengagumi Ti-ki-cu sebagai tokoh yang mempunyai kelebihan. Tetapi ternyata apa yang
aku saksikan tidaklah seperti yang disohorkan. Sungguh kecewa sekali. Tahu begini tak
perlu jauh-jauh aku datang kemari menemuinya!”
Gan Leng-po tertawa gelak: “Di daerah tempat tinggalku kau berani membunuh orang,
mengapa masih berani banyak mulut?”
Diam-diam Siu-lam menimang. Orang itu dibunuh si dara baju putih. Jika ia dapat
mengadu Gan Leng-po dengan si dara baju putih, bukankah ia dapat melenyapkan
seorang musuh yang tangguh seperti dara itu? Tapi ia teringat betapa dara itu telah
menyelamatkan jiwanya. Tidakkah suatu perbuatan rendah jika membalas budi orang
dengan kejahatan?
Serentak ia mendapat akal, sahutnya: “Benda yang kuberikan pada lo-cianpwe ini,
menimbulkan nafsu orang untuk memilikinya. Untuk menjaganya terpaksa
membunuhnya, jikalau lo-cianpwe tak menerima, aku tidak memaksa dan aku pergi dari
sini!”
“Hm…. kau kata mencari aku dan malah berani melanggar laranganku membunuh
orang. Jangan harap bisa pergi dari sini semaumu!” dengus Gan Leng-po.
Siu-lam sadar, tidak mungkin ia dapat melawan tabib itu. Jika terlibat lama dalam
percakapan dan timbulkan kemarahan tabib itu, ia kuatir akan menderita bencana.
“Pernahkah lo-cianpwe mendengar tentang peta Telaga Darah?” tanyanya dengan nada
bersungguh.
Mendengar itu Gan Leng-po tercengang.
“Apa? Kau mendapatkan peta Telaga Darah?” teriaknya kaget.

Siu-lam tersenyum simpul: “Kedatanganku kemari adalah hendak menukarkan peta
pusaka itu dengan pil buatan lo-cianpwe!”
Entah girang entah kaget, Gan Leng-po hanya mengangguk-angguk kepala saja dan
mengigau perlahan: “Benar, di dalam dunia hanya benda itu yang dapat menggerakkan
hatiku!”
Melihat reaksi si tabib yang sedemikian hebat, diam-diam Siu-lam mengakui kebenaran
kata-kata si wanita seram.
“Aku seorang anak yang kurang pengalaman. Walaupun mendapat peta itu tetapi tak
gunanya. Maka kupikir lebih baik kutukarkan dengan beberapa macam pil buatan locianpwe
yang sakti!” katanya lebih lanjut.
Tampaknya si tabib sudah tenang kembali. Ia tertawa: “Di sini bukan tempat bicara.
Jika kau suka, mari kita omong-omong dalam pondokku!”
Siu-lam menerima ajakan itu. Sebelumnya lebih dulu si tabib memutus layang-layang
tali, Siu-lam ikut tabib aneh itu masuk ke dalam sebuah lembah.
Saat itu rembulan sudah mendaki puncak gunung. Sekonyong-konyong Gan Leng-po
berhenti dan berkata: “Tempat tinggalku di belakang tikungan itu!”
Ketika melalui dua buah tikungan gunung, tibalah mereka di sebuah telaga kecil. Di
atas telaga itu terapung dua pondok: “Itulah tempatku, di atas air!” kata si tabib.
Memandang ke lereng puncak, Siu-lam melihat kurang lebih dua ratusn kolam air,
dilingkari oleh beratus-ratus saluran air yang mencurah ke bawah karang. Cara
menyalurkan air diatur sedemikian rupa sehingga air tetap, mengalir ke bawah. Sebuah
jalan batu pandak menjulur masuk ke tengah telaga. Si tabib melangkah ke jalanan batu
itu lalu membungkuk dan masukkan tangannya ke dalam air. Tiba-tiba salah satu pondok
yang kecil, meluncur ke arah si tabib. Kiranya di bawah jalanan batu itu dipasang tali yang
menyambung ke pondok kayu.
Berkata si tabib dengan bangga: “Untuk membuat pil, terpaksa aku tinggal di sini
selama dua puluhan tahun. Air telaga ini berasal dari sumber air dingin di perut gunung
dan cairan salju beratus tahun umurnya. Air itu paling cocok untuk pembuatan pil.
Karena itu terpaksa kubuat dua buah pondok terapung!”
Siu-lam memuji keahlian orang. Setelah diajak masuk pondok terapung, si tabib lalu
membuka daun jendelanya. Tib-tiba pondok itu meluncur ke tengah telaga lagi.
Kembali Siu-lam harus memuji kepandaian tabib itu merencanakan pondok terapung
yang indah dan praktis. Di dalam pondok terdapat lukisan-lukisan dari pelukis-pelukis
ternama. Caranya mengatur hiasan dan alat-alat dalam pondok itu, menimbulkan kesan
yang menggairahkan hati orang.
Gan Leng-po senang mendapat pujian tamunya. Ia mengatakan bahwa tempat
pembuatan pil dilakukan di pondok terapung yang lebih besar itu.
“Selain seorang kacung, tak pernah orang luar masuk ke pondok terapung itu. Tetapi
malam ini kuadakan pengecualian untukmu. Mari kita lihat-lihat ke sana,” katanya.
“Ah, jika itu suatu tempat rahasia, lebih baik aku tak ke sana,” Siu-lam sungkan.
“Kau aneh benar, anak muda. Banyak orang ingin sekali melihat tempat pembuatan pil
tapi sia-sia. Sebaliknya kuajak kau, malah menampik. Benar-benar baru pertama kali ini
aku berjumpa dengan orang seperti kau,” kata si tabib.
Akhirnya Siu-lam terpaksa mau. Si tabib segera ajak Siu-lam melangkah ke dalam
pondok terapung yang besar. Sebuah tungku besar dengan sebuah kuali besar di ruang
tengah, di samping tungku itu duduk seorang pemuda cakap berumur dua puluhan tahun.
Rupanya pemuda itu asyik memandang kuali, hingga kedatangan kedua orang itu tak
diketahuinya.
Gan Leng-po menghampiri dan melongok ke kuali. Tiba-tiba ia membuka lubang angin
tungku. Seketika api pun reda.
Pemuda itu memandang sejenak pada Siu-lam lalu melangkah ke sudut ruang. Gan
Leng-po silahkan tamu duduk. Tak berapa lama si pemuda cakap keluar membawa

nampan dari batu pualam putih. Dari sinar lampu yang dibawa pemuda itu, Siu-lam
melihat dia pemuda beroman cakap dan gagah. Hanya sayang agak ketolol-tololan.
Siu-lam berterima kasih tetapi pemuda itu hanya tersenyum. Gan Leng-po hela napas
dan menunjuk pada pemuda itu: “Anak itu telah menunggu pembuatan pil selama tiga
belas tahun. Dia mempunyai tulang bagus. Sayang dia bisu tuli!”
Siu-lam terkejut, ia mengatakan bukankah si tabib berkepandaian sakti untuk
mengobati segala macam penyakit?”
Gan Leng-po menghela napas: “Obat tak dapat melawan takdir. Andaikata anak itu
sembuh, dia tentu menjadi seorang tunas persilatan yang cemerlang. Ah, sayang,
sayang!”
Memandang ke sebelah muka, Siu-lam melihat pemuda bisu itu tengah duduk
menunggu tungku. Sebentar-sebentar memandang Gan Leng-po dan Siu-lam dengan
tersenyum-senyum. Melihat itu makin timbul rasa kasihan Siu-lam. Ia mendesak
mengapa si tabib tak mengobatinya.
Gan Leng-po menghela napas: “Untuk mengobati memang masih ada harapan tetapi
harus dengan ilmu tusuk jarum yang lihay serta ramuan obat-obat yang sukar dicari….”
“Mengapa lo-cianpwe tak mau mencobanya?” desak Siu-lam pula.
“Ah, bukan aku tak mau. Dia telah membantu aku selama tiga belas tahun sejak dia
berumur enam tahun. Betapapun aku mempunyai rasa kasihan. Tetapi…”
“Tetapi bagaimana?”
“Cobalah kau lihat pada alisnya. Bukankah terdapat guratan macam naga timbul ke
atas. Itulah pertanda dari kekejaman yang ganas. Jika anak itu makin mempunyai
kesaktian, dia makin berbahaya. Aku tak dapat melawan takdir dan tak mau menimbulkan
bencana. Oleh karena itu sampai sekarang aku belum mau mengobatinya!”
Tiba-tiba Siu-lam teringat akan sumoaynya yang masih ditawan oleh si wanita seram.
Dia hanya diberi waktu tiga bulan. Segera ia alihkan pembicaraan kepada pokok
tujuannya. Mengeluarkan peta Telaga Darah, ia berkata: “Kudengar peta ini adalah
ciptaan Lo-han lo-cianpwe….”
“Itulah mendiang guruku, seorang manusia yang luar biasa….”
“Kudengar pula bahwa lo-cianwpe adalah satu-satunya murid dari Lo tayhiap, maka dari
jauh sengaja kudatang kemari karena perlu hendak menyerahkan peta pusaka ini kepada
lo-cianpwe dengan harapan lo-cianpwe sudi menukarnya dengan sebotol pil Kiu-coan-kisiok-
beng-san!”
Gan Leng-po tertawa: “Peta Telaga Darah adalah benda peninggalan guruku. Bagiku
benda itu tak ternilai harganya. Apa artinya hanya sebotol pil Kiu-coan-seng-ki-siok-bengsan?
Akan kuberi kau dua botol pil itu ditambah pula dengan sepuluh butir pil pemunah
segala racun Bik-tok-tin-sin-kim-tan.”
Serentak Siu-lam berbangkit dan menyerahkan peta kepada si tabib: “Harap lo-cianpwe
suka memeriksa palsu tidaknya peta ini!”
Dengan hati-hati sekali Gan Leng-po menerima peta dan memeriksanya: “Benar, benar,
memang inilah peta Telaga Darah yang asli!” serunya dengan gemetar.
“Karena pembalasan pil sedang mencapai taraf penyelesaian, maaf, aku tak berani
mengganggu tempo lo-cianpwe lebih lama dan segera hendak minta diri,” kata Siu-lam.
“Sebenarnya kuminta saudara tinggal beberapa hari di sini. Tetapi rupanya kau
mempunyai urusan penting yang harus diselesaikan. Baiklah tunggulah sebentar,
kuambilkan obat itu!” segera ia masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian keluar
membawa dua botol dari batu kumala serta sebuah doos berwarna kuning emas.
“Kedua botol ini berisi pil Kiu-coan-seng-ki-siok-beng-san dan doos ini berisi sepuluh
butir pil Bik-tok-tin-sin-kim-tan. Untuk segala macam racun, pil ini mujarab sekali. Harap
kau pergunakan sebaik-baiknya!”
Setelah menerima obat itu, Siu-lam pun segera minta diri. Gan Leng-po mengantar
tamunya sampai jauh, kemudian ia memberi petunjuk: “Lurus kea rah tenggara kira-kira

dua puluh li, beloklah ke timur dan kau tentu keluar dari lembah ini. Maaf, aku tak dapat
mengantar kau lebih jauh lagi.”
Siu-lam menghaturkan terima kasih dan segera lari menuruni gunung. Saat itu
rembulan terang, angin berhembus perlahan. Dengan gunakan ilmu lari cepat ia buruburu
hendak mencapai goa tempat kediaman wanita seram agar dapat membebaskan
sumoaynya.
“Berhenti!” sekonyong-konyong ia dikejutkan oleh bentakan yang dikenalnya sebagai
suara si tabib Gan Leng-po. Ia pun segera hentikan langkah.
Tabib itu mencekal tongkat dengan wajah merah membara, tegurnya bengis: “Seumur
hidup belum pernah aku ditipu orang. Tak kira mala mini aku kena diingusi seorang anak
kemarin sore!”
“Apa? Apakah peta Telaga Darah itu palsu?” Siu-lam terkejut juga.
Gan Leng-po tertawa dingin: “Aku percaya mataku belum lamur. Tak mudah untuk
menipuku barang palsu!”
Siu-lam kaget. Mengapa dalam waktu beberapa saat saja sikap dan nada tabib itu
berubah seratus delapan puluh derajat. Heran dibuatnya.
“Jika peta tidak palsu, mengapa lo-cianpwe menyusul aku dan tampaknya marah?
Apakah lo-cianpwe menyesal karena memberi obat kelewat banyak?”
“Aku tak pernah menjilat ludahku!” sahut si tabib.
“Habis, apakah maksud lo-cianpwe?” Siu-lam benar-benar heran.
Gan Leng-po merenung sejenak, ujarnya: “Kalau begitu apakah kau benar-benar tidak
tahu?”
Tepat sekali Siu-lam menduga kemungkinan yang dialami tabib itu, serunya: “Apakah
peta itu hilang?”
Gan Leng-po tertawa gelak-gelak: “Bukan saja peta tetapi orang itupun mencuri
beberapa botol obat!”
Diam-diam perhatian Siu-lam tertumpah si darah baju putih. Siapa yang mampu
melakukan perbuatan itu kalau bukan dara yang mempunyai ilmu tinggi?
“Celaka, apabila dia sampai marah kepadaku pil pemberiannya ini tentu diambilnya
kembali,” pikir Siu-lam.
“Aku tak mau menimpakan kesalahan pada orang. Tetapi yang jelas, selama dua puluh
tahun tinggal di pondok terapung itu tak pernah mengalami peristiwa semacam ini….”
“Maksud lo-cianpwe menuduh aku bersekongkol dengan orang luar?”
Siu-lam gelisah, namun ia masih berlaku setenang mungkin. Ia menanyakan
bagaimana maksud tabib itu.
“Selama peristiwa ini belum jelas, terpaksa kau tak kuperbolehkan meninggalkan
tempat ini,” Gan Leng-po mendengus dingin.
“Apakah setahun lo-cianpwe belum dapat menyelidiki peristiwa itu, akupun harus
tinggal selama setahun juga?” Siu-lam makin gelisah.
“Ya, selama belum terang, selama itu kau harus tinggal di pondok terapung!”
“Kalau sampai sepuluh tahun?”
“Sepuluh tahun kau harus tinggal!”
Siu-lam terkejut. Namun ia tahu tabib itu terlalu sakti. Ia bukan lawannya. Akhirnya ia
terpaksa menurut. Diam-diam ia akan merencakan jalan meloloskan diri.
Gan Leng-po menghela napas. ‘Kupercaya tokoh-tokoh persilatan di daerah Kanglam
tentu jeri kepadaku. Jelas pencuri peta dan obat itu tentu bukan tokoh dari sini.
Kemungkinan dia tentu mengikuti jejakmu secara diam-diam.”
“Kupercaya lo-cianpwe tentu mengetahui sampai di mana kepandaianku,” kata Siu-lam.
“Ah, siapa tahu kepandaian orang. Mungkin kau masih menyembunyikan ilmu
kepandaian yang istimewa.”
“Jangan merendah, locianpwe,” seru Siu-lam, “Jika lo-cianpwe bersungguh-sungguh
menyerang, mana aku sanggup bertahan sampai sepuluh jurus saja?”

Gan Leng-po memaki pemuda itu di hati: “Hm, besar sekali omonganmu. Jika mau,
dalam tiga jurus saja jiwamu tentu sudah melayang!”
“Lo-cianpwe mengatakan kemungkinan ada orang secara diam-diam mengikuti jejakku.
Jika memang benar ada, mengapa tidak di tengah jalan ia menghadang aku?”
Pertanyaan Siu-lam itu membuat Gan Leng-po terkesiap. Akhirnya ia tertawa: “Kau
pintar juga. Tetapi jangan kuatir. Apabila sudah aku bekuk pencurinya, dua botol obat
dan coba pemunah racun itu tentu kuberi kepadamu!” habis berkata ia terus angkat kaki.
Siu-lam mengikuti ketika tiba di pondok napasnya terengah-engah, sedang tabib itu
biasa saja. Tanpa menarik ujung tali pengikat pendek si tabib itu terus menyambar
lengannya Siu-lam dan dibawa loncat ke atas pondok yang besar. Rupanya tabib itu
mendapat firasat, selama ia mengejar Siu-lam, di pondoknya telah terjadi sesuatu lagi….
“Hai!” serentak menjeritlah Gan Leng-po ketika menyaksikan keadaan dalam ruang
pondok. Pemuda bisu menggeletak di dekat tungku. Dan api tungkupun padam.
Gan Leng-po banting-banting kaki: “Habis, habislah seluruh jerih payahku selama
sepuluhan tahun. Aku bersumpah tidak mau hidup sekolong langit dengan manusia itu!”
“Menghadapi musuh yang lihay baiklah lo-cianpwe berlaku tenang, jangan bernafsu,”
kata Siu-lam yang simpati atas kehilangan orang itu.
Pada saat melihat tungku api padam, wajah si tabib berubah menjadi suram sekali.
Bahkan Siu-lam sempat memperhatikan beberapa tetes air mata telah menitik dari mata
tabib itu. Ia tahu betapa besar kedukaan yang diderita si tabib saat itu.
Tiba-tiba Gan Len-po meraung sekeras-kerasnya. Tongkat dihantamkan sampai lantai
melesek. Dipeluknya kuali pemasak obat itu erat-erat. Ia tertawa nyaring nadanya penuh
dendam.
Gan Leng-po sekonyong-konyong melempar kuali itu ke dalam telaga sekuatnya. Air
telaga muncrat ke atas. Pondok terapung berguncang. Siu-lam kaget dan membuat
reaksi cepat. Ia loncat keluar pondok. Tapi betapa cepatnya masih kalah cepat dengan
sambaran tenaga yang dilancarkan si tabib. Tubuhnya meluncur tercebur ke dalam
telaga….
Untung ia pandai berenang. Cepat ia ke tepi telaga. Dilihatnya si tabib berlarian di
atas air telaga sambil tertawa pedih.
Siu-lam termangu-mangu menyaksikan peristiwa yang tak terduga itu. Seorang tokoh
persilatan yang sakti, tiba-tiba menjadi gila….
Tiba-tiba ia teringat pada pemuda bisu yang masih tergeletak di dalam pondok
terapung. Ia segera menuju ke situ. Ternyata pemuda bisu itu masih menggeletak tak
sadarkan diri. Walaupun sudah dilepaskan ikatannya, ia masih belum siuman. Dan
anehnya, Siu-lam tak mengetahui luka apa yang menyebabkan pemuda bisu itu pingsan.
Terpaksa ia duduk coba menolongnya dengan menyalurkan tenaga dalam. Tetapi
usahanya itupun tak berhasil.
Siu-lam menghela napas dan menyeka peluh di kepalanya. Pada saat ia mengangkat
kepala. Kejutnya bukan kepalang. Ternyata entah kapan, si dara baju putih sudah berada
di sebelahnya.
Dara itu tertawa riang: “Aku telah gunakan ilmu tutuk istimewa menutuk jalan darahnya
Thing-kiong dan Hong-ih di tubuh pemuda itu. Jangankan kau, sedang tokoh-tokoh
persilatan yang lihay jangan harap dapat mengetahui rahasia tutukan ini!”
Siu-lam tenangkan goncangan hatinya, ujarnya: “Kalau begitu peta dan obat dari Gan
Leng-po tentu kau yang mencurinya!”
“Huh, mencuri? Aku toh mengambil benda yang berharga?” sahut si dara.
“Kuali yang dibuat memasak obat itu, kau juga yang memadamkan apinya?”
Dara itu mengangguk. “Ya, perlu apa kau tanya begitu melilit?”

Si dara berhenti sejenak, kerutkan dahi. Katanya pula: “Rupanya kau seorang yang
baik hati. Hm, tetapi urusan di sini tiada sangkut pautnya dengan kau. Aku tak percaya
kau akan membalaskan sakit hati orang buta itu!”
Siu-lam benar-benar tersinggung mendengar ucapan si dara. Serunya melantang:
“Meskipun kepandaianku kalah dengan kau, tetapi aku tak takut kepadamu!”
Si dara tersenyum: “Dengan memandang mendiang Ciu lo-enghiong, aku tak mau
bertengkar dengan kau. Lekaslah kau kembali ke Coh-yang-ping menemui sumoaymu.”
Kata-kata itu diucapkan dengan nada ramah. Tidak lagi sedingin seperti tadi. Dan
memang Siu-lam segera teringat pada keselamatan sumoaynya. Buru-buru ia tinggalkan
pondok.
Si dara memandang bayangan pemuda itu dengan menghela napas. Pada saat ia
hendak memanggilnya, tiba-tiba Siu-lam berputar diri. Mata mereka saling berpandangan.
Bibir mereka yang bergerak-gerak hendak berkata, tiba-tiba ia tak dapat meluncurkan
kata-kata.
Setelah beberapa saat kemudian, adalah si dara yang membuka mulut lebih dulu:
“Mengapa tak lekas pergi?”
Sebenarnya tadi si daralah yang hendak memanggil tetapi karena Siu-lam berpaling diri,
dara itu batalkan kata-katanya.
“Pemuda itu seorang biasa. Jika kau tak mau menolongnya, janganlah melukainya
lagi!” kata Siu-lam.
“Perlu apa kau pedulikan dia? Bagaimana kalau kubunuh sekarang di hadapanmu?”
“Membunuh orang yang sudah tak berdaya bukanlah perbuatan yang perwira!” dengus
Siu-lam.
Sekonyong-konyong si dara baju putih membungkukkan badan dan menutuk kepala si
bisu. Bukan kepalang kejut Siu-lam. Serentak ia loncat menerjang, menampar tangan si
dara.
Tetapi dara itu luar biasa cepatnya. Menutuk kepala si bisu, kemudian menghindar
sehingga tamparan Siu-lam luput.
“Mau apakah kau?” tegurnya.
Siu-lam tertawa binal: “Menurut wajahmu secantik bunga, orang tentu tak percaya
kalau hatimu seganas ular berbisa!” habis berkata ia terus berputar tubuh dan melangkah
keluar.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa melengking nyaring:
“Kembalilah!” serangkum angin mendesis dan Siu-lam rasakan tubuhnya tertarik
mundur.
Siu-lam terkejut. Buru-buru ia salurkan darahnya. Ternyata tak kurang suatu apa.
Cepat ia berpaling. Ah, ia terkejut ketika melihat seorang dara baju merah tegak di
ambang pintu. Dara itu memegang sebatang hud-tim (kebut pertapaan). Rambutnya
disanggul mirip dayang keratin, dadanya penuh berhias intan permata yang berkilaukilauan.
Seorang dara yang cantik jelita….
Menilik kemunculannya yang tak mengeluarkan suara sama sekali itu, Siu-lam menduga
dara baju merah itu tentu tak kalah sakti dengan si dara baju putih. Dan ketika
memandang pada si dara baju putih, ternyata dara itu berubah wajahnya.
Dara baju merah tertawa mengikik: “Sam-sumoay, kau sehat-sehat saja kan selama
ini?”
Si dara baju putih menyahut dengan dingin: “Terima kasih atas perhatian Ji-suci!”
Ternyata keduanya suci dan sumoay, tetapi sikap mereka tak saling ramah. Walaupun
dara merah itu menyungging senyuman, tetapi senyum yang sinis. Dan walaupun si dara
putih menyebut suci (taci perguruan) serta memberi hormat, tetapi nadanya sedingin es.
“Ah, sam-sumoay seorang cerdas. Mengerjakan sesuatu tentu sempurna. Aku kagum
padamu. Tentulah kau sudah berhasil mendapatkan peta itu, bukan?”

Sahut si dara putih dingin: “Ah, suci terlalu menyanjung diriku, sungguh berat bagiku.
Sungguh kecewa sekali, peta Telaga Darah itu sampai saat ini belum terdengar beritanya
sama sekali!”
Dara baju merah tertawa melengking. Perlahan-lahan masuk ke dalam pondok,
ujarnya: “Ketika meninggalkan gunung, toa-suci pesan wanti-wanti padaku. Selekas
menemukan kau supaya segera diajak pulang!”
“Sudah tentu aku menurut saja perintah Ji-suci!” sahut si dara putih seraya melesat
keluar.
Tetapi secepat itu si dara baju merah kebutkan hud-timnya dan menghadangnya. Ia
tertawa. Tunggu dulu, aku masih perlu bicara denganmu!”
“Eh, bukankah suci memerintahkan supaya aku lekas pulang? Mengapa sekarang
merintangi?” lengking si dara baju putih.
Dara merah tertawa melengking: “Perintah toa-suci, supaya sumoay menyerahkan peta
itu kepadaku!”
“Kalau toa-suci benar memperhatikan diriku, tentu tak sampai hati menyuruh aku
mencari jejak peta itu!” sahut dara putih.
Dara merah tertawa pula: “Soal itu nanti saja boleh kau tegur pada toa-suci yang
penting sekarang ini, memenuhi perintah toa-suci aku hendak menanyakan padamu, di
manakah sekarang peta itu?”
Dara putih menyahut: “Bukankah telah kukatakan tadi, bahwa peta itu tiada beritanya
sama sekali!”
Si merah tertawa: “Jika benar peta itu belum diketemukan, aku sanggup mencari
jejaknya. Tetapi bila peta itu sebenarnya sudah kau simpan, ah, sukarlah bagiku. Bukan
saja sia-sia jerih payahku, pun sukar nanti kuberi jawaban kepada toa-suci!”
Si dara putih menjawab tenang: “Maaf jika aku agak kasar bicara. Jika memang toasuci
begitu tak percaya padaku, aku sungguh kecewa sekali….”
“Ah, tak perlu,” kata dara merah, “tetapi mana dia mau percaya pada keteranganku?
Begitu aku pergi, kemungkinan dia segera datang!”
“Kalau begitu, ji-suci juga tidak percaya padaku?” seru si dara putih.
“Itu belum menjadi pemikiranku,” kata si dara merah, “tetapi apabila perintah toa-suci
itu tak kulaksanakan, dikuatirkan toa-suci akan marah. Karena itu terpaksa aku harus
menyulitkan kau….”
“Aku tak mengerti apa maksud ji-suci?” seru si dara putih.
Dara merah tertawa: “Itu mudah saja. Sumoay kan cukup pintar. Masakan tidak dapat
memikirkan? Tetapi karena kau takmau mengatakan, baiklah, biarkan aku yang mewakili
kau. Yaitu, ijinkan aku menggeledah badanmu.”
Tiba-tiba wajah si dara putih itu berubah membesi. Dua alisnya yang menyerupai bulan
sabit tiba-tiba menjungkat ke atas: “Apa? Suci hendak menggeledah aku?”
“Ah, bukan begitu,” buru-buru si dara merah menyusuli, “Maksudku hanya memeriksa
sekedarnya. Dan anggaplah aku hanya sebagai wakil menjalankan perintah toa-suci saja!”
Diam-diam Siu-lam heran. Bukankah peta itu jelas sudah berada pada si dara putih?
Mengapa dia menyangkal? “Hm, asal aku membuka mulut mengatakan hal itu, kedua taci
beradik itu tentu akan bentrok sendiri. Dan apabila mereka sampai bertempur, akupun
dapat meloloskan diri dari sini!” diam-diam Siu-lam menimang suatu rencana.
Baru ia hendak membuka mulut, tiba-tiba si dara putih keliaran matanya dan
memandang kepadanya. Kemudian berkata pula pada jie-sucinya: “Dalam lain-lain
urusan, aku tidak berani membantah. Tetapi dalam hal ini, benar-benar aku sukar
meluluskan!”
Tiba-tiba wajah si dara merah membesi, serunya geram: “Jika sumoay tidak
meluluskan, bukan saja menyulitkan diriku terhadap toa-suci nanti, pun sukar bagiku
untuk mempercayaimu!”

“Jika ji-suci tidak percaya, akupun tidak berbuat apa-apa. Tetapi kalau badanku
hendak digeledah, maaf, aku keberatan.”
“Kalau aku tetap akan menggeledah?” dara baju merah menegas.
“Maaf, aku terpaksa tak dapat menurut!” sahut si putih.
“Bagus!” seru si dara baju merah, “karena nyata kau tidak memandang mata pada
orang yang kau sebut sebagai suci, maka janganlah persalahkan aku kalau bertindak
melampaui batas kepadamu!”
Entah dengan gerak ilmu apa, tetapi begitu tubuh dara baju merah itu menggeliat,
tahu-tahu ia sudah berada di muka dara baju putih dan terus ulurkan tangan
mencengkeramnya.
“Harap jangan keras-keras, ji-suci!” si dara baju putih pun balas menggurat jarinya ke
lengan si merah.
“Ih, kau berani melawan?” bentak si dara baju merah. “Wut…” ia ayunkan kebutnya ke
kepala sumoaynya.
Cepat-cepat si dara baju putih melesat ke samping dan mundur tiga langkah. Serunya:
“Dengan memandang sesame perguruan, aku akan mengalah sampai tiga kali!”
Marah sekali dara baju merah: “Kurang ajar, tak perlu kau mengalah sama sekali. Jika
mampu ayo tandingilah aku!”
Cepat dara baju merah itu lancarkan tiga buah serangan dengan hud-timnya. Setiap
kebutan mengandung tenaga dalam yang hebat hingga timbulkan deru angin keras. Baju
Siu-lam turut berkibar-kibar.
Si dara baju putih tak kurang lincahnya, bergeliatan menghindari ketiga serangan itu.
Tapi hebatnya serangan si dara merah telah membuat si dara baju putih terdesak di pojok
pondok. Terpaksa ia balas menyerang dengan tiga kali pukulan dan dua kali tendangan.
Serangan balasan itu telah memperbaiki posisi si dara baju putih lagi. Siu-lam di
hatinya ngeri melihat tingkah dua dara itu. Pikirnya: “Begitu ganas mereka berkelahi
dengan sesama saudara seperguruan sendiri. Jika dengan lain orang, tentulah lebih ganas
lagi!”
Tiba-tiba ia dapat pikiran, kalau tak lekas loloskan diri sekarang, kapan lagi? Cepat ia
menyelinap ke pintu pondok.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar tawa melengking: “Hai, jangan buru-buru pergi
dulu!” ucapan itu disusul dengan berkelebat si dara baju merah menghadang di pintu dan
dengan jurus Giok-tay-wi-yau atau Selendang Kumala Melibat Pinggang ia desak mundur
Siu-lam ke dalam pondok lagi.
Setelah memundurkan Siu-lam, dara baju merah itu berseru kepada si putih: “Ah,
kepandaianmu pesat sekali, sumoay. Sungguh aku kagum. Tak heran kalau beberapa kali
suhu memuji kau di depan toa-suci.”
“Nyata-nyata sekarang ini aku sucimu tak dapat menghajarmu lagi!”
“Ah, aku berterima kasih karena suci suka berlaku murah kepadaku,” si dara baju putih
merendah diri.
Habis bertempur dahsyat, kedua taci beradik seperguruan itu sudah ramah kembali.
Siu-lam tak habis herannya.
Memandang ke arah si pemuda bisu yang masih terkapar di tanah, dara baju merah
tertawa: “Sumoay, apakah orang itu sudah mati?”
“Telah kututuk jalan darah Thian-ting-hiat. Kalau tak mati juga akan cacad!” sahut si
baju putih.
Alihkan pandangan ke arah Siu-lam, dara baju merah itu bertanya: “Dan siapakah dia?
Kau lebih baik kubunuh sekalian!”
Si putih bersangsi, ujarnya: “Dia bukan orang sini! Kepandaiannya tidak tinggi. Biarkan
dia hidup, takkan merintangi kita. Membunuhnya tiada berguna bagi kita. Ah, lebih baik
lepaskan saja!”

Si Merah tertawa: “Ih, sejak kapan kau berubah begitu baik hati. Kau segan
membunuhnya, biar aku saja yang membunuhnya!” Wut, kebut segera diarahkan ke arah
Siu-lam.
Melihat kebut dari rambut kuda si dara merah tiba-tiba berubah seperti seikat jarum
tajam-tajam, bukan kepalang kaget Siu-lam. Cepat-cepat menghindar ke samping.
“Eh, kau bisa menghindar?” dara merah kerutkan sepasang alis dan maju mendekati.
Sekali geliatkan tangan, hud-tim dikebutkan menurun.
Siu-lam berada di sudut pondok. Tiada jalan menghindar lagi. Satu-satunya jalan
hanya menghindar ke kiri. Tetapi di situ menghadang si dara baju putih yang ganas.
Tetapi karena tiada jalan lain, apa boleh buat, ia terpaksa menghindar ke kiri….
Di luar dugaan, bukan saja dara putih itu tidak merintangi pun bahkan malah menyisih.
Dengan sebuah gerak isyarat agar Siu-lam menyelinap ke sisi.
Di balik wajahnya yang dingin, tersembullah sebuah senyum manis dan kata-kata yang
ramah: “Apakah kau terluka?” dan tangan kirinya pun menyentuh kening Siu-lam dengan
gerakan yang mesra sekali. Kemudian ia mengisar tubuh dan mengalingi di depan Siulam.
Dara merah sejak kecil menjadi teman sepermainan dara putih. Tetapi belum pernah ia
melihat sumoaynya itu bersenyum sedemikian manisnya. Dara merah tercengang,
serunya: “Mengapa kau tersenyum? Siapakah pemuda itu?”
Tiba-tiba si dara putih berubah ramah sekali dan menjawab perlahan: “Terus terang
aku katakan kepada suci, dia adalah….” Ia tak lanjutkan katanya. Pipinya merah jambu.
Dara merah tertawa ngikik: “Mengapa tak kau katakan tadi-tadi? Hampir saja dia
kulukai.”
“Ah, sudah tentu aku sungkan mengatakan,” si dara putih tertawa.
“Sumoay, biasanya kau alim seperti po-sat (dewi), mengapa ternyata….” Ia merasa
kelepasan omong dan hentikan kata-katanya.
Dengan kemalu-maluan tersipu-sipu berkatalah dara putih: “Ji-suci, kuminta janganlah
kau memberitahukan hal ini kepada toa-suci.”
“Takut apa? Biarpun tahu, dia juga tak dapat berbuat apa-apa,” sahut si dara merah.
“Tetapi mulut toa-suci tajam sekali. Aku takuti dia tentu menertawakan aku!” kata dara
putih.
Dara baju merah tertawa: “Baik, aku berjanji takkan memberitahukan. Tetapi harap
menyisih sebentar, aku ingin melihatnya!”
“Eh, dia manusia biasa, apanya yang harus dilihat?” seru si baju putih.
“Hendak kulihat tampangnya, apakah dia benar-benar seorang yang mempunyai
rejeki.”
“Ah, goda asmara…”
Perlahan-lahan si merah menyisihkan tubuh sumoaynya: “Masakan melihat sebentar
saja, kau tak boleh. Apa kau kuatir kurebut?”
“Tidak, tetapi aku kuatir ji-suci menertawakan!” si dara putih menyisih dua langkah ke
samping.
Siu-lam benar-benar pusing mendengar kata-kata si dara baju putih. Ia terlongonglongong
seperti patung.
“Ai, ternyata seorang tunas yang cemerlang,” tiba-tiba si dara baju merah melengking
tawa dan ulurkan tangannya hendak mencekal tangan Siu-lam. Pemuda itu mundur dua
langkah.
“Sumoayku yang cantik jelita, telah jatuh hati padamu. Masakan aku sebagai sucinya,
tak boleh melihatmu?”
“Mana begitu? Kan…!”
“Biasanya sumoayku itu dingin sekali,” tukas si dara merah, “untuk membuatnya
tertawa, sukar bukan kepalang. Sungguh luar biasa kau dapat merebut hatinya. Masakan

aku hendak berbuat apa-apa kepada adik iparku,” ia maju dan tiba-tiba menyambar
lengan kanan Siu-lam.
Karena cepat dan luar biasa sekali sambaran si dara baju merah, Siu-lam tak dapat
menghindar. Seketika ia rasakan tangannya terjepit besi. Tulang-tulang serasa remuk
dan hilanglah seluruh daya perlawanannya. Karena menahan sakit, keringat mengucur
deras di dahinya. Namun pemuda itu tak mau mengerang.
Berhasil meringkus si pemuda, dara baju merah siapkan kebutan hud-timnya dan baru
berkata kepada dara baju putih: “Jika sumoay tetap tak mau menyerahkan peta pusaka
itu, jangan menyesal kalau aku terpaksa mempersakiti kekasihmu!”
Dengan penuh kasih mesra, dara baju putih memandang Siu-lam, serunya: “Jika ji-suci
tak percaya omonganku, akupun tak dapat berbuat apa-apa. Sekalipun kau
membunuhnya, aku pun tak dapat mengadakan peta yang tak ada padaku!”
Siu-lam gusar sekali. Ia hendak membuka rahasia si dara baju putih. Tiba-tiba dara
baju putih maju dua langkah dan berkata dengan nada tajam:
“Jika ji-suci tetap hendak menyusahkannya, akupun terpaksa akan menempurmu
sampai mati….”
Dara baju merah terkesiap mendengar ancaman adik seperguruannya. Dengan ucapan
itu dara baju putih secara halus menyatakan bahwa pemuda itu adalah kekasihnya.
“Sebagai saudara tunggal perguruan, kepandaian kita sama. Apa yang kau bisa,
akupun tentu bisa juga. Jika kita saling bunuh, tentu akan ada yang mati!” sahut si dara
merah.
Wajah si dara putih berubah, serunya dingin: “Ah, belum tentu. Aku pernah
mempelajari ilmu Kui-chiu-mo-ciang (Pukulan Tangan Iblis Pagi). Apakah suci hendak
mencobanya?”
Dara baju merah mengerut sejenak lalu tertawa: “Kita toh tunggal seperguruan,
mengapa harus bentrok sungguh? Tadi aku hanya bergurau saja, masakan sumoay
menganggap sungguh-sungguh?”
Pada saat si dara baju putih mengisar tubuh, sekonyong-konyong si dara baju merah
melesat ke luar pondok. Loncat ke dalam air, ia gunakan ilmu kepandaian berjalan di atas
air melintasi telaga.
Diam-diam Siu-lam tak habis herannya. Mengapa si dara baju merah sebagai taci
seperguruan, takut kepada adiknya? Dan serentak ngerilah hati Siu-lam ketika
membayangkan kemungkinan lebih lanjut. Ya, apabila dara baju putih itu sampai
bertindak yang lebih ganas, ia tentu akan mati. Dara itu jelas menyimpan peta Telaga
Darah. Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia itu adalah dia. Jika dara itu
membunuhnya untuk menghilangkan jejak, tak mungkin ia dapat melawan.
Bagi Siu-lam, mati bukan soal. Tetapi yang dipikirkan ialah sumoaynya yang masih
ditawan si wanita aneh itu. Apabila ia tak berhasil membawakan obat, sumoaynya tentu
dibunuh oleh wanita itu.
Tiba-tiba dara baju putih itu menghela napas: “Mengapa kau tak lekas-lekas melarikan
diri?”
Siu-lam berpaling memandangnya. Dilihatnya wajah dara itu rawan dan matanya
mengembeng air mata. Budi dengan langit bedanya sekarang dara itu. Beberapa jenak
yang lalu, merupakan seekor iblis yang ganas. Kini berubah seperti sekuntum bunga
melati yang cantik suci.
Tiba-tiba Siu-lam teringat akan pemuda gagu yang masih menggeletak di lantai.
Serunya perlahan-lahan: “Dia gagu dan tuli, tak nanti dapat mengganggumu. Jika nona
suka bermurah hati, ampunilah dia!” habis berkata, ia terus hendak melangkah.
Tiba-tiba dara itu membentaknya: “Berhenti!”
Karena sudah menduga, tenang-tenang saja Siu-lam berhenti dan berseru: “Memang
telah kuduga nona tentu takkan melepaskan aku. Akupun tak mampu melawanmu.
Terserah kalau kau mau membunuhku!”

“Jika aku sungguh-sungguh mau membunuhmu, sekalipun kau mempunyai nyawa
rangkap sepuluh, tentu akan amblas juga. Sekarang…” tiba-tiba dara itu hentikan katakatanya
dan merenung lama. Katanya pula: “Sekarang aku sendiripun sudah terdesak
dalam kedudukan berbahaya. Setiap saat jiwaku terancam maut.”
“Apa?” Siu-lam terkejut.
Dara itu tertawa tawar: “Karena aku berani menentang saudara seperguruanku tadi,
hm, mereka tentu takkan berhenti sampai di sini saja. Mereka tentu akan minta
pertanggungjawaban. Kemungkinan jiwamu!”
“Apakah nona benar-benar hendak menolong….” Tiba-tiba Siu-lam berhenti karena
melihat dua gumpa asa membumbung ke udara.
Wajah dara putih itupun berubah: “Kusuruh lekas pergi, mengapa kau masih
membandel? Hm, kini terlambat, tak mungkin kau lolos lagi!”
Siu-lam seperti disadarkan, cepat-cepat ia memberi hormat: “Karena nona tak
bermaksud jelek kepadaku, sekarang aku hendak pergi!”
“Goblok! Ji-suci dan nona toa-suciku sudah bersatu pada datang. Tak mungkin kau
lari!”
Siu-lam tertegun. Serunya: “Kalau begitu, aku tetap harus tinggal di sini?”
Dara baju putih berdiam diri. Tiba-tiba ia mengangkat muka dan memandang Siu-lam
dengan iba.
“Apabila menghadapi bahaya maut, kau pilih mati konyol atau mati secara perwira?”
serunya.
Siu-lam terbeliak mendengar pertanyaan itu, Serunya heran: “Maaf, aku tak mengerti
maksud nona!”
Dara itu menghela napas ringan, ujarnya: “Baiklah, karena kau masih tak mengerti,
akan kujelaskan. Kedua saudara seperguruanku itu dengan susah payah mengejar aku,
tujuannya ialah hendak memburu peta Telaga Darah itu. Sudah jelaskah kau akan hal
itu?”
“Benar, aku sudah mengerti,” sahut Siu-lam.
“Kaupun tentunya mengerti juga bahwa peta itu penting sekali dan menjadi rebutan
orang persilatan. Jika peta itu sampai jatuh ke dalam tangan taci seperguruanku, dunia
persilatan tentu hancur lebur. Ah, adanya tak kuserahkan peta itu kepadanya karena aku
tak mau melihat dunia persilatan dilanda banjir darah. Peta itu berada padaku,
kemungkinan kedua taciku itu tentu akan menggeledah badanku!”
“Kalau begitu lebih baik hancurkan saja peta bencana itu!” serentak Siu-lam berseru.
Jilid 04
“MENGHANCURKANNYA MUDAH memang. Akan tetapi hal itu tak berarti akan
mencegah pertumpahan darah. Selama sumber bencana itu tak dilenyapkan, setiap saat
pembunuhan ganas tentu timbul….” Ia berhenti sejenak lalu berkata pula: “Kini hanya ada
satu cara. Entah kau mau meluluskan atau tidak?”
“Apa? Apakah dengan kepandaian yang begini dangkal aku mampu menghapus
ancaman itu?”
“Masih banyak persoalan, bukan melulu mengandalkan kepandaian ilmu silat saja.”
“Baik, silahkan bilang! Jika aku dapat tentu akan meluluskan,” sahut Siu-lam.
Sepasang pipi si darah merah jambu. Dengan mengulum senyum jengah ia berkata:
“Asal dapat menyimpan peta itu agar jangan sampai ketahuan kedua suciku, meskipun
mereka curiga padaku tetapi tanpa bukti, mereka tentu tidak dapat berbuat apa-apa!”
Siu-lam mengangguk: “Benar.”
Si dara tersenyum kecil: “Tetapi dalam pondok terapung ini, sukar untuk
menyembunyikan peta itu.”

Siu-lam memandang ke sekeliling, sahutnya: “Sebaiknya peta itu dicemplungkan dalam
air, tentu mereka tak dapat mencari. Begitu mereka pergi, baru kau ambil lagi.”
Si dara menggeleng: “Mustahil! Jika peta itu dibawa hanyut air, tak mungkin kita
mencarinya lagi. Hanya kau yang dapat membantu hal ini!”
“Aku? Bagaimana caranya?” Siu-lam heran.
“Telanlah peta itu! Selekas mereka pergi, baru nanti kuambilnya dari dalam perutmu.”
“Dari dalam perut….”
“Ya, kubelek perutmu.”
Gemetar tubuh Siu-lam mendengar kata-kata si dara. Perut dibelek, orangnya tentu
mati.
“Hm, cerdik sekali akalmu, ya. Tetapi….” Dengusnya.
“Tetapi apa?” tukas si dara. “Sekalipun kau mati tetapi kau dapat menyelamatkan
beribu-ribu jiwa. Jangan kuatir. Akupun takkan mengecewakan kau. Kau takkan
menderita sakit apa-apa. Kau akan mati dengan cepat. Dan setelah kau mati, akupun
takkan menikah selamanya. Begitu aku berhasil memperoleh pusaka dari Telaga Darah
itu, tentu akan kubalaskan sakit hatimu. Dan setelah berhasil menguasai dunia persilatan,
akan kupanggil seluruh kesatria dunia persilatan dan mengumumkan tentang jasamu.
Sekalipun kau sudah meninggal, tetapi namamu akan dipuja orang selama-lamanya. Dan
sebagai isterimu, aku tentu mendapat penghormatan dari dunia persilatan. Amal besar
yang gilang gemilang itu, beranikah kau melaksanakannya?”
Siu-lam tertawa tawar: “Untuk amal itu sekalipun harus ditebus dengan nyawa tetapi
cukup berharga. Hanya saat ini aku masih mempunyai beberapa urusan yang belum
terselesaikan. Jika mati, hatiku belum tenteram!”
“Serahkan urusan itu kepadaku!” sahut si dara baju putih. “Asal kau meluluskan, sejak
ini kita menjadi suami isteri. Urusanmu sudah tentu akan kuselesaikan!”
Melihat kesungguhan nada si dara, diam-diam Siu-lam menimang. Dia kalah sakti
dengan si dara itu. Meluluskan atau menolak, sama saja. Lebih baik ia bersikap ksatria.
“Jika ucapan nona itu sungguh dari hati nuranimu, aku rela berkorban untuk
menyelamatkan peta itu. Tetapi ada dua buah hal yang hendak kuminta kau
menyelesaikan!”
Kembali sepasang pipi dara itu merah. Bibirnya merekah senyum yang manis sekali.
Ujarnya lemah lembut: “Sebelum kita berpisah, marilah kita melakukan sumpah sebagai
suami isteri di hadapan Dewi Rembulan. Kemudian barulah kau mengatakan pesanpesanmu.”
Si dara mengulurkan tangan menyekal lengan Siu-lam dan keduanya serentak berlutut
di hadapan pintu. Dalam keadaan seperti itu, tak dapat lagi Siu-lam mengelak. Terpaksa
ia menurut saja. Dirasakannya tangan dara itu bercucuran keringat dingin. Pertanda
hatinya pun bergoncang keras.
Sesaat kemudian meluncurlah kata-kata dari mulut dara itu: “Dewi Rembulan menjadi
saksi hamba Bwe Hoang-swat, kelahiran Suci, tahun ini berumur delapan belas tahun.
Saat ini mengingatkan tali perjodohan dengan Pui Siu-lam. Menjadi suami istri sampai
kakek nenek. Dan berjanji akan setia sampai mati. Jika sampai bercabang hati, hamba
rela ditumpas langit pernyataan hamba ini biarlah disaksikan oleh bumi dan langit!” Diamdiam
Siu-lam mendengus dalam hati: “Huh, sumpahmu ini berpura-pura untuk
memperalat diriku. Apa gunanya bersumpah seberat itu!”
Teringat bahwa beberapa saat lagi, ia harus menelan peta, tergerak juga perasaan Siulam
atas sumpah yang diucapkan dara itu. Segera ia pun mengucapkan ikrar.
“Dewi Rembulan menjadi saksi, tecu Pui Siu-lam saat ini mengikat janji dengan nona
Bwee menjadi suami isteri. Tak ada lain permohonan, kecuali setelah aku mati, agar nona
itu suka melakukan dua buah permintaanku. Pertama, menyelidiki siapa pembunuh
guruku lalu membalas sakit hatinya. Kedua, paling lambat dalam waktu sebulan
menyampaikan pil pemberian Gan lo-cianpwee ini ke Po-to-kang. Dimana sumoayku

ditahan oleh seorang wanita tua dalam sebuah goa rahasia. Setelah menukarkan obat itu
dengan sumoayku lalu mengantarkan sumoay ke puncak Ki-ling-nia di telaga Se-ou.
Apabila kedua hal itu telah dilaksanakan, walaupun mati tetapi aku puas.”
Habis mengucapkan isi hatinya, Siu-lam berpaling kepada si dara baju putih, serunya:
“Mana peta itu?”
Dengan bercucuran air mata si dara mengeluarkan peta, ujarnya penuh haru: “Sejak
saat ini kau sudah menjadi suamiku. Apabila kubunuhmu untuk mengambil peta itu,
bukankah aku seorang isteri yang kejam terhadap suami!”
Siu-lam tertawa: “Telah kita janjikan di muka. Sudah tentu hal itu tak dapat dikatakan
membunuh suami.”
Siu-lam terus hendak menyambuti peta itu tetapi tiba-tiba si dara menariknya kembali:
“Jangan terburu memakannya dulu. Tunggu barangkali aku dapat memikirkan lain cara
yang lebih baik!”
Siu-lam tertawa getir: “Terhadap kedua sucimu yang begitu ganas, jangan harap kita
mampu menyembunyikan peta itu selain kutelan!”
Bwe Hong-swat memandang rembulan di langit. Tampak jelas kecantikannya yang
menonjol tetapi diliputi kedukaan yang mendalam. Butir-butir air mata bercucuran pada
kedua belah pipi. Dari seorang dara berhati beku dan kejam, saat itu ia berubah menjadi
seorang nona yang sedang menanggung duka.
Sekonyong-konyong angin malam membawakan suara teriakan si tabib Gan Leng-po
yang berkaok-kaok tak henti-hentinya: “Peta Telaga Darah…. peta Telaga Darah…”
Diam-diam Siu-lam menyesal sekali. Apabila ia tak menyerahkan peta itu, tabib sakti
itupun tak nanti menjadi gila.
Sekonyong-konyong serangkum hawa harum yang membuai semangat, menampar
hidung Siu-lam dan serempak dengan itu mulut si dara melekat di telinga Siu-lam, serunya
girang: “Ah, tak perlu kau telan! Aku menemukan lain cara lagi!”
“Bagaimana?” Siu-lam palingkan kepala.
Bwe Hong-swat tertawa. “Sekarang belum saatnya kuberitahukan kepadamu. Aku toh
sudah menjadi isterimu, sudah tentu aku tak mau sembarangan membunuhmu.”
“Hm, pandai benar nona ini bersandiwara,” diam-diam Siu-lam memaki dalam hati.
Adalah karena sudah terisi dengan purbasangka yang buruk, maka setiap itikad baik dari
Bwe Hong-swat selalu ditafsirkan salah, tetapi kali ini, agak berubah pandangan Siu-lam
terhadap sikap nona itu.
“Apa yang telah kuikrarkan tadi, tetap kupegang teguh. Menelan sekarang atau nanti,
toh sama saja. Bahkan kalau terlalu lama, mungkin tak menguntungkan kau. Apabila
kedua suci-mu keburu datang, bukankah akan sia-sia rencanamu tadi?”
“Ah, tidak,” sahut Siu-lam, “asal kau mau melaksanakan permintaanku tadi, matipun
aku puas!”
Dengan wajah bersungguh, Bwe Hong-swat berkata: “Sudahlah, jangan mengungkit
lagi hal itu. Aku toh sudah menjadi isterimu. Bagi seorang wanita, kesucian diri adalah
pusaka kehormatannya. Hidupku kini sudah menjadi milikmu. Aku sudah menjadi
anggota keluarga Pui. Sampai mati aku tetap akan menjadi setan keluarga Pui. Pada saat
kuminta kau menelan peta itu, terlintaslah kesadaran dalam nuraniku. Kita tak saling
mendendam permusuhan, hanya karena nafsu rakus maka aku sampai mengorbankan
jiwamu. Suatu hal yang benar-benar melanggar kewajiban seorang isteri. Ketika
mengucapkan sumpah di bawah kesaksian Dewi Rembulan tadi, aku menyadari kesalahan.
Sebagai seorang isteri tak layak aku membunuh suamiku….”
Bwe Hong-swat berhenti untuk menghela napas. Ujarnya pula: “Aku sendiri tak tahu
mengapa aku berubah pandangan. Mungkin karena pengaruh dari cara ibuku memberi
pendidikan tentang kewajiban seorang isteri yang berbudi. Maka kau anggap aku sebagai
isteri atau tidak, bukan soal bagiku.”

Siu-lam hanya ganda tertawa. Diam-diam ia memaki nona itu: “Boleh saja kau bicara
ini itu, tetapi aku tetap tak percaya.”
Tiba-tiba teriakan Gan Leng-po makin dekat. Jelas tabib gila itu sedang menuju ke
pondok terapung. Siu-lam terkejut. Ia kuatir tabib itu masih mengenalinya.
Akan tetapi ketika memandang pada Bwe Hong-swat, wajah dara itu tampak berseri
girang. Siu-lam tak habis herannya.
Saat itu Gan Leng-po gunakan ilmu Teng-cui-leng-po (ilmu berjalan di atas air)
melintasi telaga. Pada lain kejap, tabib itu sudah naik ke dalam pondok terapung. Tabib
sakti yang gila itu memandang Siu-lam sampai beberapa jenak. Tiba-tiba tabib itu
getakkan tongkatnya ke lantai dan membentak keras: “Apa kau tahu peta Telaga Darah?
Lekas kembalikan padaku!” tiba-tiba tangan kirinya mencengkeram bahu Siu-lam.
Siu-lam menghindar ke samping. Tetapi tabib itu tetap mengejarnya. Wut! Ia
sapukan tongkatnya.
Bwe Hong-swat cepat lompat menghampiri. Serunya kepada Siu-lam: “Pancing dia
supaya memusatkan perhatiannya kepadamu. Aku hendak menutuk jalan darahnya!”
Habis menghindar serangan tongkat, Siu-lam menghela napas: “Ah, dia sudah gila,
mengapa hendak kau bunuh?”
Walaupun gila tetapi kepandaian silat tabib itu masih tetap sakti. Cepat dan dahsyat
sekali tongkat itu ditusukkan ke dada. Terpaksa Siu-lam buang tubuh ke belakang.
Serangan tongkat makin lama makin menggencar. Betapapun Siu-lam berusaha keras
untuk menghindar namun akhirnya ujung bajunya terkena tusukan juga. Akhirnya tak
tahan pemuda itu. Setelah menghindari sebuah tusukan itu, ia berteriak: “Lo-cianpwe,
harap berhenti! Apakah kau hendak mencari peta Telaga Darah itu?”
Anehnya si tabib yang sudah gila, tiba-tiba berhenti ketika mendengar seruan Siu-lam:
“Benar! Apakah kau tahu peta itu?”
Siu-lam benar-benar kagum atas perhitungan Bwe Hong-swat terhadap diri tabib itu.
Serunya: “Peta Telaga Darah bukan lain selembar sutera kuning yang digambari dengan
garis-garis merah?”
“Benar, benar! Di mana peta itu?” teriak Gan Leng-po.
Saat itu Bwe Hong-swat sudah mendekati di belakang si tabib. Begitu Gan Leng-po
sedang tumpahkan perhatian melayani bicara pada Siu-lam, secepat kilat menutuk
punggung si tabib itu. Si tabib lengah dan tak berdaya…..
Setelah berhasil merubuhkan orang, cepat sekali Bwe Hong-swat mengeluarkan peta
dan menyusupkan ke dalam ujung baju tabib itu. Katanya kepada Siu-lam: “Hendak
kupinjam tabib gila ini untuk menyelamatkan peta dari sini!”
Siu-lam tercengang. Dia benar-benar heran terhadap gerak-gerik si nona yang serba
sukar diduga-duga itu.
“Cara ini memang bagus tetapi agak berbahaya. Memang dapat menghindari kedua
sucimu tetapi bila sewaktu-waktu tabib ini pulih kesadarannya, bukankah sukar untuk
merebut dari tangannya?” kata Siu-lam.
“Jangan kuatir!” Bwe Hong-swat tertawa. “Dia seorang tokoh yang berilmu tinggi dan
berkemauan keras. Sekali kehilangan barang yang dicintainya, dia telah mendapat
goncangan batin hebat. Apalagi melihat kuali pemasak obatnya tak kusengaja telah
kupadamkan apinya, dia makin menderita sekali….”
Siu-lam mengangguk: “Pandanganmu tepat sekali, nona!”
Siu-lam tergugu. Ia tak menyangka bahwa sandiwara sumpah perkawinan itu dianggap
serius oleh si dara. Padahal jelas semula dara itu hanya melakukan pernikahan itu sekedar
untuk menenangkan hati Siu-lam agar mau menelan peta.
Bwe Hong-swat menghela napas: “Peta dan obat merupakan jiwanya. Kehilangan
kedua benda itu membuatnya kalap dan berubah ingatan. Dalam waktu pendek tak
mungkin ia dapat sembuh. Untuk sementara waktu, kita tak perlu menguatirkan hal itu.
Yang perlu kita kuatirkan ialah kedua suciku. Mereka tentu masih curiga padaku. Jika

mereka memaksa mengajakku pulang, tentu sukar untuk mengambil kembali peta itu dari
tangan si tabib. Kepandaianmu jelas bukan tandingannya. Ah, tetapi dalam waktu seperti
saat ini, tak ada guna kita banyak persoalan lagi!” Bwe Hong-swat segera membuka jalan
darah tabib itu lagi, kemudian ia cepat-cepat loncat keluar pondok.
Gan Leng-po menghela napas. Dia duduk memandang Siu-lam lekat-lekat. Tiba-tiba ia
berseru marah: “Mana peta itu? Lekas kembalikan padaku!”
Siu-lam memaki tabib itu. Sedang jiwanya masih terancam mengapa tetap memikirkan
peta saja.
Melihat Siu-lam diam saja, rupanya tabib itu tak sabar lagi. Segera ia maju
mencengkeram bahu orang. Siu-lam cepat-cepat miringkan tubuh dan loncat keluar dari
pondok.
Gan Leng-po mengejar keluar. “Hai, mau lari kemana kau?” Ia menyerang punggung
Siu-lam dengan ujung tongkat. Tiba-tiba tongkat itu ditangkap oleh sebuah tangan halus
dan menyusul terdengar bentakan bengis: “Jangan menyerang sembarangan orang!”
Karena pikirannya masih linglung, Gan Leng-po terlongong-longong, sahutnya: “Dia
mencuri peta Telaga Darah milikku. Sudah tentu akan kutangkap!”
Bwe Hong-swat lepaskan cekalannya dan tertawa: “Bagaimana rupanya petamu itu?
Tentu kuberitahukan siapa pencurinya.”
Girang Gan Leng-po bukan kepalang, serunya: “Bagus, bagus, tentu kuterangkan, tentu
kuterangkan padamu!”
Hanya beberapa patah kata itu yang diucapkan, selanjutnya tak berkata apa-apa lagi.
Bwe Hong-swat kerutkan dahi, tertawa: “Tadi kulihat seorang nona baju merah,
membawa sebuah bungkusan sutera kuning yang penuh garis-garis merah.”
“Benar, benar! Memang itu petaku! Di mana nona baju merah itu?” teriak Gan Lengpo
serempak.
Bwee Hong-swat menunjuk ke seberang tepi telaga, serunya: “Dia lari ke sana
membawa peta.”
Tanpa menunggu kata-kata si nona lebih lanjut, tabib itu segera loncat ke dalam telaga.
Dengan gunakan ilmu Teng-ping-tok-cui (ilmu berjalan di atas air), ia lari ke tepi.
Siu-lam terlongong-longong mengawasi tingkah laku tabib itu. Beberapa saat kemudian
ia menghela napas: “Sayang, seorang tokoh yang dipuja dunia persilatan menjadi gila
karena sebuah peta. Terang dia masih dikuasai oleh nafsu kemilikan angkara murka….”
“Sudahlah, tak perlu memikirkan orang itu. Lekas duduk di sisiku sini. Kedua suciku
sebentar lagi tentu datang!”
Siu-lam menurut. Walaupun duduk di samping seorang dara cantik, namun pikiran Siulam
tetap melayang-layang memikirkan nasib sumoaynya yang masih dalam cengkeraman
hantu wanita tua itu.
“Ih, caramu ini tidak seperti seorang suami terhadap isterinya. Masakah duduk
berdampingan tetapi pikiranmu memikirkan lain orang. Kalau kau bersikap begitu, tentu
akan diketahui oleh kedua suciku!” tegur Bwe Hong-swat.
Siu-lam tersenyum: “Apa yang hendak kita percakapkan?”
Sebenarnya Bwe Hong-swat bukanlah seorang dara yang berhati dingin. Hanya karena
sejak kecil diasuh dalam keluarga yang keras, dia berubah menjadi seorang dara bengis.
Dan seumur hidup baru pertama kali itu ia bersanding dengan seorang jejaka. Pertanyaan
Siu-lam itu membuatnya termangu-mangu. Beberapa saat kemudian barulah ia dapat
berkata: “Apa saja yang hendak kau bicarakan, boleh saja. Asal kita duduk berapat diri
agar mereka mempunyai kesan bahwa kita ini benar-benar sepasang suami isteri yang
mesra!”
Habis berkata Bwe Hong-swat segera sandarkan kepalanya ke bahu Siu-lam. Jantung
Siu-lam mendebar keras. Dengan jengah, Siu-lam hendak menolak tubuh dara itu tetapi
secepat itu Bwe Hong-swat ulurkan tangannya ke dalam telapak tangan Siu-lam: “Nih,
lihatlah tanganku, bagus tidak?”

Siu-lam gelagapan dan di luar kesadarannya segera menyambuti tangan si dara.
Ujarnya tertawa: “Lunak sekali bagaikan tak bertulang, lembut bagaikan salju, indah
seperti mutiara!”
“Kita kan sudah menjadi suami isteri. Jika kau anggap bagus, pandanglah sepuaspuasmu!”
kata si dara.
Siu-lam melepaskan cekalannya: “Ah, melihat sebentar sudah cukup, toh sama saja….”
Cepat pada itu dua sosok bayangan berjalan di permukaan telaga. Segera Bwe Hongswat
membisiki Siu-lam: “Kedua suciku datang!” cepat ia rapatkan tubuhnya ke dada Siulam.
Cepat sekali kedua sosok bayangan itu muncul ke dalam pondok. Ketika Siu-lam
melirik, dilihatnya dua orang nona cantik tegak berjajar di hadapannya. Yang seorang
mengenakan pakaian warna biru. Usianya di antara dua puluh tiga tahun. Rambutnya
terurai sampai ke bahu. Yang di sebelah kanannya, mengenakan pakaian merah,
tangannya mencekal sebatang kebut hud-tim. Ialah si dara baju merah yang disebut jisuci
(kakak kedua) oleh Bwe Hong-swat tadi.
Kedua nona itu cantik-cantik bagai bunga mawar dengan dahlia. Sukar untuk memilih
siapa yang lebih cantik. Yang dapat dibedakan ialah, si dara baju biru berwajah angkuh
dan kejam. Sedang si dara baju merah ramah dan mengulum senyum.
Pelahan sekali Bwe Hong-swat membuka matanya dan memandang kedua sucinya itu.
Dengan tingkah yang keenggan-engganan, ia berbangkit dari pelukan Siu-lam, kemudian
memberi hormat kepada si nona baju biru: “Maafkan aku berlaku kurang hormat kepada
toa-suci.”
Nona baju biru tertawa hambar: “Dari ji-sumoay, kudengar kau sudah mempunyai
kekasih. Aku masih tak percaya. Tetapi apa yang kusaksikan saat ini, benar-benar
meyakinkan. Kuhaturkan selamat padamu, sam-sumoay!”
“Ah, toa-suci jangan mentertawakan,” sahut Bwe Hong-swat.
Tiba-tiba wajah si nona baju biru mengerut bengis.
“Aku mengagumi kecerdikan sam-sumoay. Oleh karena itu maka kuminta kau yang
mencari Peta Telaga Darah itu. Dan kuyakin sam-sumoay tentu tak akan mengecewakan
harapanku,” kata si nona baju merah.
Sahut Bwe Hong-swat: “Dari telaga Tang-ping-ou sampai ke Po-to-kang hingga ke
gunung Kiu-kiong-san sini, belumlah aku dapat menemukan jejak peta itu. Harap toa-suci
suka maafkan kebodohanku!”
Nona baju biru tertawa dingin. Menuding pada Siu-lam ia berseru; “Siapa dia? Dari
Tang-ping-ou sampai ke Po-to-kang dan dari Po-to-kang sampai ke Kiu-kiong-san sini,
siapakah yang kau kejar itu?”
“Meskipun yang kukejar itu dia tetapi ternyata dia tak menyimpan peta itu!” kata Bwe
Hong-swat seraya menuding Siu-lam.
Si nona baju merah tertawa mengikik: “Asal kalian berdua sekongkol menyembunyikan
peta itu, ah, ibarat seperti jarum jatuh di laut.”
“Mengapa ji-suci terlalu mencemoohku saja? Apakah maksud ji-suci?” seru Bwe Hongswat
dingin.
Si nona baju merah tertawa: “Walaupun ucapanku tak enak didengar tetapi maksudku
tetap baik.”
Bwe Hong-swat sebenarnya hendak menegur ji-sucinya tapi mendengar toa-suci agak
marah, tak berani ia berkata keras. Katanya perlahan: “Ji-suci memang sering berlawanan
pendapat dengan aku. Suka cari perkara. Dalam hal ini kumohon pertimbangan toa-suci!”
“Manis benar mulutmu!” si nona baju merah tertawa mengejek.
Si nona baju biru deliki mata: “Sudahlah, jangan ribut-ribut lagi! Benar tidak, kalian?
Masakah kalian tak mau mengindahkan kata-kataku!”
Toa-suci atau si nona baju biru mempunyai pengaruh besar. Bwe Hong-swat dan si
nona baju merah tak berani bicara lagi.

Mata si nona baju biru memandang beberapa jenak kepada Bwe Hong-swat. Lalu
katanya dengan nada dingin: “Tahukah sam-sumoay apa yang menjadi pantangan
perguruan kita?”
“Ah, masakan aku berani melupakan,” sahut Bwe Hong-swat.
“Baik,” kata si nona baju biru. “Apa hukumannya murid yang berani mengelabui guru
dan saudara seperguruannya yang lebih tua?”
“Dipagut ribuan ekor ular berbisa!” sahut Bwe Hong-swat.
Mendengar jawaban yang tegas itu, agak tenanglah wajah si nona baju biru. Sejenak
ia memandang ke arah Siu-lam, katanya: “Karena dia datang ke telaga Tong-ping-ou,
tentulah dia mempunyai hubungan dengan keluarga Ciu. Potong rambut tak mencabut
akarnya, tentu akan menimbulkan bahaya di kelak kemudian hari. Lebih baik bunuh saja
dia!”
Bwe Hong-swat kerutkan dahi, sahutnya: “Dia sudah menjadi suamiku. Mohon toa-suci
suka memandang mukaku dan jangan membikin susah padanya.”
Si nona baju biru tertawa hambar. “Telah kuselidiki jelas bahwa peta itu berada di
tangan suami-isteri Ciu-pwe. Setelah suami-isteri itu mati tentulah peta ini jatuh pada
orang yang mempunyai hubungan dengan mereka. Mungkin dia (Siu-lam) tentu tahu di
mana peta itu. Ah, sam-sumoay, di dunia banyak sekali pria yang bagus. Mudah sekali
untuk mencari suami tampan. Mengapa kau tergila-gila padanya? Lebih baik serahkan
saja pada ji-sucimu. Mungkin dapat diperoleh keterangan tentang peta itu. Hal ini sangat
penting. Sudah terlanjur membunuh seratus mengapa membiarkan hidup satu orang.
Harap sam-sumoay menyadari bahwa kepentingan perguruan jauh lebih penting daripada
kepentingan pribadi!”
“Hal ini….” Baru Bwe Hong-swat hendak membantah, si nona baju merah sudah
tertawa menukas: “Heran, mengapa sam-sumoay yang begitu anti orang laki, kini bisa
jatuh hati pada orang itu? Jangankan toa-suci, aku sendiripun menaruh curiga!”
Wajah Bwe Hong-swat mengerut bengis: “Benar, memang biasanya aku anti lelaki.
Tetapi sekali telah menjatuhkan pilihan, seumur hidup tetap akan setia. Jika suci berdua
hendak membunuhnya, akupun tak mau hidup di dunia lagi!”
Siu-lam terkesiap mendengar pernyataan Bwe Hong-swat.
Di luar dugaan perkataan si nona baju biru: “Karena Sam-sumoay bersungguh-sungguh
membelanya, demi memandang ikatan persaudaraan kita, kali ini dapat kuberinya
ampun!”
Serta merta Bwe Hong-swat berlutut di hadapan toa-sucinya: “Terima kasih atas budi
kebaikan toa-suci.”
Si nona baju biru mengangkat bangun Bwe Hong-swat: “Ah, kita toh sesama saudara
seperguruan. Mengapa Sam-sumoay bersikap seperti orang luar. Ah, jangka waktu suhu
menutup diri (sedang meyakini suatu ilmu) segera akan selesai. Sebaiknya kita harus
lekas pulang. Beliau sayang sekali kepadamu. Beliau paling senang kalau kau yang
menjaga di sampingnya. Urusan mencari peta itu, serahkan saja pada ji-sucimu. Marilah
kau ikut aku pulang sekarang juga!”
Bwe Hong-swat yang cerdas cepat mengetahui apa yang tersembunyi di balik kata-kata
toa-sucinya itu. Ia melirik pada si nona baju merah, serunya: “Harap ji-suci memandang
mukaku dan dapat bertemu lagi masih dalam persaudaraan!”
Si nona baju biru mencekal lengan Bwe Hong-swat, ujarnya: “Kita harus lekas-lekas tiba
di rumah sebelum suhu turun dari pertapaannya….” sejenak ia berpaling ke arah Siu-lam
dan berseru: “Jika kau ingin menemui sumoayku ini, tiga bulan kemudian datanglah ke
gunung Beng-gak, sebagai toa-suci aku tentu mengatur pertemuan kalian. Mudahmudahan
berpisah dalam keadaan sebagai temanten baru itu akan menambah rindu
kebahagiaanku dalam pertemua kalian nanti!”
Habis berkata ia menarik tangan Bwe Hong-swat diajak lari keluar. Setelah melintasi
telaga merekapun melenyapkan diri.

“Ji-suci, maukan kau mengantar kami sebentar?” tiba-tiba Bwe Hong-swat berpaling
dan berteriak.
Si nona baju merah tertawa mengekeh: “Ah, mengapa tidak? Harap Sam-sumoay
jangan banyak kecurigaan!” sekali melesat ia melintasi telaga dan menyusul kedua
saudaranya.
Kini di dalam pondok terapung itu hanya tertinggal Siu-lam seorang diri terlongonglongong.
Tiba-tiba ia teringat akan pemuda gagu. Cepat ia masuk ke ruang dalam. Si
gagu itu masih membujur di lantai, entah masih hidup atau sudah mati. Tetapi ketika Siulam
meraba dadanya, ternyata jantung si gagu itu masih mendebur pelahan. Segera ia
duduk dan menyalurkan tenaga dalam untuk mengurut-urut tubuh si gagu.
Ah, ternyata ilmu tutukan Bwe Hong-swat merupakan ilmu tutukan istimewa dari
perguruannya. Sekalipun kepala Siu-lam mandi keringat tak juga si gagu dapat bergerak.
Akhirnya ia lepaskan usaha pertolongannya.
“Aku sudah berusaha sekuat kemampuanku, tetapi tak dapat menolong saudara.
Terpaksa aku hendak pergi dari sini. Semoga Tuhan melindungi anda dan anda dapat
bertemu dengan orang berilmu yang dapat memberi pertolongan!” Siu-lam mengucap
kata-kata perpisahan lalu melangkah ke luar pondok.
Setelah tiba di tepi telaga, segera ia gunakan ilmu lari cepat. Ia merasa telah berlari
belasan li maka dikendorkanlah larinya. Ia percaya dirinya tentu sudah di luar wilayah
kekuasaan Gan Leng-po.
“Hai, mengapa baru datang?” tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah lengking teriakan.
Siu-lam berpaling. Di bawah sinar rembulan remang, dilihat si nona baju merah berada
beberapa meter di belakangnya. Tangan mengepit si gagu sambil tersenyum simpul.
Diletakkannya si gagu di tanah, serunya tertawa: “Kau sudah berjanji sehidup-sehati
dengan Sam-sumoayku. Dengan begitu kita sudah menjadi orang sendiri. Maukah kau
menjawab beberapa pertanyaan sucimu ini?”
“Asal tahu tentu aku bersedia menjawab,” sahut Siu-lam.
Nona itu tertawa. Sekali menggeliat, ia melesat ke depan Siu-lam: “Di manakah peta
Telaga Darah itu? Asal kau suka memberitahukan selain takkan kuganggu pun bahkan
akan kuberimu beberapa benda yang jarang terdapat di dunia….”
Siu-lam menyurut mundur, sahutnya tertawa: “Aku belum pernah melihat apa peta
Telaga Darah itu. Bagaimana aku dapat mengunjukkan benda itu padamu?”
Nona baju merah tersenyum: “Ah, kan lebih enak minum anggur daripada minum
racun? Jika aku sampai marah, jangan harap kau tinggalkan gunung ini dengan masih
bernyawa!”
“Telah kuterangkan sejujurnya. Jika tak percaya silahkan nona menggeledahku!”
Sejenak nona itu merenung lalu menyuruh Siu-lam menanggalkan baju luarnya. Apa
boleh buat, Siu-lam terpaksa menurut.
“Hai, mengapa tak lekas-lekas membuka?” seru nona baju merah ketika melihat Siu-lam
perlahan-lahan menanggalkan baju luarnya.
“Kalau tak percaya, geledahlah! Masakan baju dalam harus kubuka semua?” teriak Siulam
marah.
“Benar,” si nona tertawa mengikik, “harus buka semua baru aku mau percaya kalau kau
tak menyembunyikan peta itu!”
“Seorang lelaki boleh dibunuh tetapi jangan dihina. Aku seorang pria, masakan disuruh
buka baju di hadapan seorang gadis!” teriak Siu-lam.
Sambil memainkan kebutnya, si nona baju merah tertawa: “Jika kau enggan, terpaksa
aku harus bertindak sendiri.” Ia maju dua langkah, tangan kiri mencengkeram bahu Siulam.
Siu-lam menghindar ke samping. Dengan gerak Kiau-bak-kim-leng, ia memukul dada si
nona.

“Sayang sam-sumoayku sudah tak berada di sini. Kalau ada, ia tentu menolongmu!”
seru si nona seraya menggeliat ke samping dan secepat kilat menyambar siku lengan Siulam
sebelah kanan. Seketika Siu-lam rasakan tenaganya lumpuh.
Sambil mengunjukkan kebut hud-tim di muka Siu-lam, nona itu berkata: “Jika kau tetap
tak mau menyerahkan peta, terpaksa akan kusapu mukamu sampai hancur. Lihat saja,
apakah sumoayku nanti masih suka padamu atau tidak!”
“Matipun bukan soal, apalagi hanya rusak muka!” sahut Siu-lam.
“Kau keras kepala benar,” si nona tertawa tetapi aku tak percaya kau mempunyai
tulang besi. Mari kita coba siapa yang lebih tahan!”
Tiba-tiba terdengar suitan nyaring dan bagaikan bintang meluncur turun, sesosok tubuh
muncul di hadapan kedua orang. Nona baju merah dan Siu-lam terkejut melihat kegesitan
orang itu. Ah, ternyata si tabib sakti Gan Leng-po.
“Kembalikan peta Telaga Darah!” teriak si tabib seraya gunakan jurus Thay-san-ya-ting
(Gunung Thay-san Menindih Kepala) menghantam kepala si nona baju merah dengan
tongkatnya.
Si nona menangkis dengan hud-timnya: “Hai, tua bangka, mengapa kau bertingkah
seperti orang gila!”
Walaupun gila tetapi kepandaian tabib itu masih sakti melihat si nona menyongsong
kebut, cepat ia geliatkan tongkatnya ke bawah untuk menyapu kaki.
Si nona baju merah terkejut melihat kelihaian orang gila itu. Cepat ia dorong Siu-lam
mundur dan ia sendiri loncat ke belakang.
Walaupun berkepandaian tinggi, tetapi nona itu kurang pengalaman. Menghadapi
serangan si tabib yang begitu dahsyat, ia gugup. Benar ia dapat menghindar tetapi ia pun
lepaskan cekalannya pada lengan Siu-lam.
Si tabib makin kalap. Dengan jurus Sun-cui-tui-cou (menurut arus mendorong perahu),
ia tusukkan ujung tongkatnya. Jurus itu sebenarnya jurus biasa. Tetapi dalam tangan si
tabib, telah berubah menjadi jurus yang berbahaya sekali.
Kini si nona tak mau mundur lagi. Tusukan tongkat dihindari dengan sebuah geliatan
tubuh kemudian ia menyerang dengan menamparkan kebutannya.
Gan Leng-po masih ingat akan keterangan Bwee Hong-swat bahwa yang mencuri peta
Telaga Darah itu seorang nona baju merah. Maka begitu melihat nona itu merah bajunya,
segera ia serang mati-matian. Tetapi ternyata nona baju merah itu lihay sekali. Serangan
kebutnya, memaksa ia harus mundur tiga langkah.
Kini Gan Leng-po makin yakin bahwa nona baju merah yang di hadapannya itulah yang
mencuri peta Telaga Darah.
“Kembalikan petaku!” teriaknya seraya menyerang dengan jurus Bay-san-to-hay
(menghancurkan gunung membalikkan laut).
Demikian keduanya bertempur seru dengan jurus yang berbahaya dan dahsyat.
Melihat itu timbullah pikiran Siu-lam untuk lolos. Cepat ia menyelinap pergi dari situ.
Si nona baju merah tahu perbuatan Siu-lam. Tetapi karena dilibat oleh hujan serangan
si tabib, terpaksa ia tak dapat mencegah. Kini kemarahannya ditumpahkan kepada si
tabib edan. Serangan kebutannya dirubah sedemikian rupa. Setiap gerak kebutan
tamparan merupakan jurus-jurus maut. Disaluri tenaga dalam, untaian rambut hud-tim itu
berubah keras seperti kawat tajam.
Kepandaian Gan Leng-po bukan olah-olah saktinya. Walaupun kepandaian nona itu
hebat, tetapi dalam waktu singkat, sukar untuk memenangkan pertempuran.
Sedang Siu-lam yang meloloskan diri, lari sekuat kakinya mampu membawanya. Ia
tidak mau menganggap dirinya sudah lolos sebelum benar-benar dirinya sudah aman.
Ketika mentari pagi mengintip di puncak gunung, barulah Siu-lam rasakan kedua kakinya
lemas lunglai. Ia beristirahat di balik sebuah batu di tepi jalan.
Entah berapa lama ia tertidur, ketika bangun ternyata sudah tengah hari. Kini perutnya
mulai merintih-rintih minta isi. Baru ia hendak berbangkit mencari makanan, tiba-tiba ia

mendengar suara orang berkata perlahan: “Kudengar Ti-ki-cu Gan Leng-po pandai sekali
dalam ilmu membuat obat-obatan. Jika kali ini kita datang bertemu dengannya, pasti kita
akan mendapat beberapa obat yang berharga.”
Terdengar lengking suara mirip anak, menyahut: “Suhu telah memperingatkan kita
bahwa Gan lo-cianpwe seorang yang aneh wataknya. Tak usah kita meminta apa-apa
padanya agar jangan dipandang remeh olehnya.”
“Ah, sute hanya tahu satu tak tahu lainnya. Suhu hanya kenal pada Gan lo-cianpwe
tetapi tidak pernah berhubungan. Surat suhu yang kita bawa untuk Gan lo-cianpwe ini
tentulah penting sekali isinya. Siapa tahu, karena girang Gan lo-cianpwe suka memberi
hadiah beberapa macam pil kepada kita!” sahut yang berkata pertama tadi.
Kembali orang yang bernada seperti bocah tertawa: “Mudah-mudahan begitulah. Mari
kita lanjutkan perjalanan lagi.”
Ketika Siu-lam mengintip dari celah karang, dilihat yang bercakap-cakap itu dua orang
anak muda yang mengenakan jubah seperti imam dan memanggul pedang. Mereka
menuju ke barat.
Bermula Siu-lam hendak memanggil mereka dan memberitahukan tentang keadaan
yang diderita oleh si tabib, tetapi akhirnya ia ambil putusan lebih baik lekas-lekas
menolong sumoaynya. Ia tak kenal dengan kedua orang itu, siapa tahu jangan-jangan
bisa salah paham dan menimbulkan kesulitan.
Baru kaki diayun, tiba-tiba seorang tua berjubah warna kelabu dan seorang lelaki
berumur tiga puluhan tahun berlari-larian mendatangi. Dari pakaian dan roman muka
mereka jelas kalau mereka agak letih karena habis menempuh perjalanan jauh. Mereka
berhenti di muka Siu-lam dan setelah memandang pemuda itu, beberapa jenak, si orang
tua memberi salam:
“Tolong tanya, apakah anda melihat dua orang berpakaian imam lalu di sini?” tegurnya.
Siu-lam mendapat kesan bahwa kedua orang itu tentu sedang mengejar kedua imam
tadi. Tak tahu bagaimana harus menjawab. Tiba-tiba lelaki setengah tua mencabut
senjatanya sepasang poan-koan-song-pit (sepasang tangkai pena) dan menuding pada
Siu-lam: “Apa kau tuli? Mengapa ditanya diam saja?!”
Siu-lam kerutkan keningnya. Ia tak kenal siapa kedua orang itu. Sebaiknya ia bersikap
menghindari diri saja. Selintas teringatlah ia akan pemuda gagu pembantu dari Gan Lengpo.
Ah, sebaiknya ia pura-pura menjadi seorang gagu saja.
Dengan tingkah laku seperti orang gagu, Siu-lam menguak-nguak teruskan berjalan
pergi.
“Seorang pemuda cakap yang gagah, mengapa gagu?” si orang tua kerutkan dahi.
“Dia tentu hanya berpura-pura gagu saja. Biarlah kutampar mukanya, tentu dia bisa
bicara!” seru lelaki setengah tua seraya hendak menampar. Tapi dicegah oleh si orang
tua.
“Jangan, kalau berpura-pura masakan aku tak tahu. Ah, jangan buang waktu
percuma!” kata si orang tua yang merasa dirinya lebih berpengalaman. Rupanya lelaki
yang muda itu takut kepadanya.
“Tetapi aku tak percaya kalau dia gagu, dari gerak-geriknya dia bahkan seorang yang
mengerti ilmu silat,” lelaki setengah tua itu masih menggerutu.
“Benar, dia memang mengerti ilmu silat. Tetapi masakan tak ada orang persilatan yang
gagu. Sudahlah, pengalamanku yang berpuluh tahun di dunia persilatan ini tentu takkan
salah lihat!” sahut si orang tua.
Lelaki setengah tua menyelinap senjatanya ke punggung lagi tetapi tetap memandang
gerak-gerik Siu-lam yang berjalan dengan tenang. Akhirnya dapatlah Siu-lam lolos dari
gangguan kedua orang tak dikenal itu. Setelah beberapa waktu berlari, ia beristirahat lagi.
Tubuhnya benar-benar lemas karena perut kosong.
Tiba-tiba di udara beterbangan beberapa ekor burung dara. Timbul seketika akal Siulam
untuk mendapatkan makanan. Ia memungut sebutir kerikil lalu dilontarkan ke atas.

Seekor burung merpati terkena lontarannya dan jatuh. Kemudian Siu-lam membuat api
unggun dari ranting-ranting kering.
Tiba-tiba ia teringat bahwa orang persilatan sering menggunakan burung merpati untuk
menyampaikan berita. Segera burung itu diperiksa, ah, ternyata benar. Ia menemukan
sebuah tabung kecil berisi surat di bawah sayap kiri burung itu. Surat berbunyi:
Thian Hong toheng,
Maaf, karena ada urusan penting,
aku tak dapat datang memenuhi janji.
Tujuh hari lagi, aku pasti datang.
Surat itu tak bertanda tangan tetapi dibubuhi cap sebuah gambar Thay-kek-tho.
Siu-lam mendengar juga siapa paderi Thian Hong itu. Dia seorang paderi yang menjadi
tokoh pertama dari Su-tay-beng-kiam (Empat Jago Pedang Termasyhur). Karena sering
melakukan perbuatan utama, paderi itu dianggap sebagai pemimpin golongan putih dari
tujuh propinsi Kang-lam.
Siu-lam tertegun. Diam-diam ia menyesal telah mengganggu merpati itu. Pengirim
surat tentu juga seorang golongan putih. Dan serentak dengan itu teringatlah ia akan
orang tua dan lelaki setengah tua serta kedua orang yang terdahulu dijumpainya tadi.
Gerak-gerik kedua orang rombongan itu bukan sewajarnya, kemungkinan kedatangan
mereka tentulah mempunyai hubungan dengan peta Telaga Darah.
Ia terkejut ketika api hampir padam. Buru-buru ia hendak berbangkit, tiba-tiba
pergelangan tangannya dicengkeram oleh sebuah tangan keras.
“Lekas berikan surat itu kepadaku! Berani melawan, urat-uratmu kuhancurkan!”
terdengar suara ancaman bengis.
Dan serentak punggung Siu-lam dicengkeram. Dalam keadaan seperti itu terpaksa Siulam
menurut. Tetapi ketika ia mengangkat tangan, bahunya kesemutan dan pingsanlah
ia. Entah berapa lamanya, ketika sadar ia dapatkan dirinya berada dalam sebuah kereta.
Kaki dan tangannya diikat kencang.
Siu-lam geram. Dikerahkan tenaga dalam untuk memutus tali pengikat. Tiba-tiba
terdengar suara berbisik: “Harap kenal gelagat sobat. Jika coba-coba berontak, jangan
menyesal kalau aku terpaksa memutus lenganmu!”
Ternyata dalam kereta itu terdapat seseorang yang menjaganya. Siu-lam hanya dapat
menghela napas. Dan karena kedua matanya ditutup dengan kain hitam, ia tak tahu saat
itu malam atau siang.
“Sahabat, aku tak kenal dan mempunyai dendam permusuhan apa-apa kepadamu.
Mengapa kau menyiksa aku begini?” serunya.
Orang itu tertawa: “Tanyakan saja nanti pada pemimpin kita. Sekarang lebih baik kau
jangan banyak bicara!” jawab penjaga itu.
Siu-lam teringat akan perutnya yang lapar. Memang kalau lapar tentu tak punya
tenaga bertempur. Lebih baik ia bersikap bersahabat dan minta disediakan makanan.
Baru ia hendak membuka mulut tiba-tiba terdengar suara parau dari sebelah luar: “Hai,
budak itu sudah bangun?”
Penjaga dalam kereta mengiakan.
“Awas, budak itu ganas rupanya. Hati-hati jangan sampai dia lolos. Kita yang celaka
nanti,” seru suara parau itu pula.
Mendengar itu Siu-lam terpaksa batalkan kata-katanya. Kira-kira sejam kemudian,
kereta itu tiba-tiba berhenti. Dan Siu-lam rasakan dirinya digotong keluar. Ternyata dia
diangkut ke tepi sebuah sungai. Di situ telah disiapkan sebuah perahu. Karena kelaparan
dan letih sekali Siu-lam pingsan lagi.
Ketika membuka mata, ia berada dalam sebuah ruangan besar yang terang benderang
penerangannya. Ruangan itu penuh dengan orang yang duduk diatur dalam dua jajaran.
Tak kurang dari dua puluhan orang jumlahnya. Di tengah-tengah duduk seorang tua
memakai pakaian warna biru. Umurnya lebih kurang lima puluh tahun. Hidung betet,

mata juling. Tubuhnya kokoh kekar dilingkari dua untai jenggot yang menjulur sampai ke
dada. Seorang lelaki yang gagah perkasa.
Di sebelah kirinya, duduk seorang lelaki bertubuh pendek. Sepasang matanya bersinar
tajam. Sedang di sebelah kanan duduk seorang tua bertubuh kurus. Rambut dan
jenggotnya sudah putih semua.
Lelaki gagah itu memegang surat yang ditemukan Siu-lam dari sayap merpati. Begitu
melihat Siu-lam ia segera memberi salam dan berseru dengan tertawa: “Maaf, karena tak
tahu maka sampai berlaku kurang sopan terhadap saudara!”
Walaupun ucapan ramah tetapi nadanya tetap seram. Saat itu Siu-lam sudah tidak
diikat dan tak ditutupi matanya. Melihat sambutan orang yang ramah, iapun tersipu-sipu
membalas hormat.
“Rasanya dunia persilatan Kanglam tidak pernah melihat kehadiran saudara. Saudara
tentu berasal dari jauh,” kata lelaki si hidung betet.
“Benar, memang aku datang dari Kangpak dan kebetulan pesiar ke gunung Kiu-kiongsan.
Tetapi entah apakah kesalahanku sehingga tuan menawanku ke sini?”
“Ah, memang sudah jamak dalam dunia persilatan sering terjadi kesalahan paham.
Memang karena salah paham maka anak buahku sampai membawa saudara kemari. Dan
karena kita sudah saling kenal, maka sukalah saudara memberi petunjuk tentang kedua
buah hal. Setelah itu tentu akan kami antar saudara pulang serta menghukum anak
buahku yang bersalah itu!”
Diam-diam Siu-lam menimang. Lelaki hidung betet ini tentulah pemimpin dari
rombongan orang yang berada di situ. Timbul keinginannya untuk mengetahui siapa
orang itu. Dengan hormat ia menanyakan nama dan gelaran si hidung betet.
Sambil mengurut-urut jenggot, si hidung betet tertawa: “Ah, aku seorang yang tak
ternama. Namaku Wan Kiu-gui.”
Siu-lam terkesiap. Ia pernah mendengar juga tentang Wan Kiu-gui bergelar Siau-hinsin-
eng atau Elang Sakti Berwajah Ketawa, sebagai pemimpin golongan hitam dari tujuh
propinsi Kanglam. Dialah pemimpin dunia lok-lim (bangsa penyamun) di Kanglam.
Kedudukannya berlawanan dengan Thian Hong totiang yang satu pemimpin golongan
putih, yang satu pemimpin golongan hitam.
Elang Sakti Tertawa Wan Kiu-gui balas menanyakan nama Siu-lam. Dan Siu-lampun
memberitahukan namanya.
“Ah, apakah saudara Pui kenal pada Thian Hong-totiang?” tanya Wan Kiu-gui.
“Thian Hong-totiang?” sahut Siu-lam tenang-tenang, “setiap orang persilatan tentu
mengenalnya. Begitu juga aku. Hanya sayang aku tak pernah bertemu dengan paderi
itu.”
Wan Kiu-gui tertawa: “Oh, kiranya saudara hanya kenal namanya saja. Kalau begitu….”
sampai di sini tiba-tiba wajah si hidung betet itu berubah seram lagi. Diacungkan surat
yang dicekalnya lalu berseru dingin. “Dari manakah saudara mendapatkan surat ini?”
Saat itu Siu-lam merasa dirinya disorot oleh berpuluh-puluh pasang mata. Diam-diam
ia mengeluh. Dan berada dalam sarang harimau. Sekali kurang hati-hati bicara, tentu
akan tertimpa bencana maut.
“Surat itu kudapatkan secara tak sengaja,” akhirnya ia menjawab.
Beberapa tertawa mengejek berhamburan dari kedua jajaran tempat duduk yang penuh
orang itu. Siu-lam menyurut dua langkah ke belakang, serunya: “Siapa pengirim surat itu,
aku pun tak tahu!”
“Kalau begitu saudara juga tak tahu akan rapat besar yang hendak diselenggarakan
paderi Thian Hong?” seru Wan Kiu-gui pula.
Siu-lam mengiakan.
“Walaupun keterangan saudara menyangsikan, tetapi akupun terpaksa
mempercayaimu,” kata Wan Kiu-gui seraya tertawa keras.

“Aku telah mengatakan sebenar-benarnya. Kalau saudara tak percaya, terserah saja,”
kata Siu-lam.
Wan Kiu-gui tenang-tenang saja memasukkan surat itu ke dalam bajunya. Dan kini ia
mengeluarkan sebuah botol kecil dari batu kumala putih. Siu-lam hampir menjerit melihat
botol kumala itu. Cepat ia merogoh bajunya, ah…. kosong! Siu-lam pucat seketika.
Sambil memainkan sepasang botol kumala, Wan Kiu-gui tertawa: “Saudara mengatakan
tak pernah campur dengan orang persilatan. Tetapi kedua botol ini berisi obat yang
jarang terdapat di dunia persilatan. Dari manakah saudara memperolehnya?”
Dari gelisah kini Siu-lam menjadi gusar. Serunya: “Obat itu kuperoleh dari pemberian
Gan lo-cianpwe di gunung Kiu-kiong-san. Apakah hubungannya?”
Wan Kiu-gui tertawa gelak-gelak. Sejenak ia tukar isyarat mata dengan orang tua
kurus yang duduk di sebelah kanannya. Katanya lagi kepada Siu-lam: “Obat Kiu-coansiok-
beng-seng-ki-san dan Kun-tok-tin-sin-tan ini, obat dewa yang sukar didapat. Kalau
Ti-ki-cu Gan Leng-po sampai mau memberikan padamu, tentulah mempunyai hubungan
baik sekali dengan saudara!”
Siu-lam terkesiap, sahutnya: “Memang aku punya hubungan baik dengan kalian!”
Siu-lam buang semua rasa takut. Ia duga benggolan golongan hitam itu tentu marah.
Di luar dugaan Wan Kui-gui malah tertawa girang: “Oho, kalau begitu kau tahu tempat
tinggalnya!”
“Ya!”
“Ah, sudah lama aku ingin bertemu dengan tabib itu. Sayang tak tahu tempatnya. Kini
saudara tentu tak keberatan membawaku kesana, bukan?”
Siu-lam terkesiap dan tak dapat berkata sampai beberapa saat.
“Jika kau membuat aku kecewa, terpaksa akupun akan mengecewakanmu,” Wan Kuigui
seraya lemparkan botol kumala melambung tinggi ke atas. Kemudian botol itu
disambutinya. Ia memberi peringatan pada Siu-lam, bahwa setiap saat obat itu dapat
dihancurkan.
“Bukan karena tak mau tetapi Gan lo-cianpwe itu sekarang tak tinggal di sana,” seru
Siu-lam.
Wan Kui-gui mendengus dan lemparkan botol makin tinggi lalu disusul lagi dengan
botol yang kedua. Tring….botol itu berbenturan perlahan.
“Tak apalah. Asal kau mau membawaku ke sana, puaslah hatiku,” kata Wan Kui-gui.
Tiba-tiba Siu-lam loncat menerjang benggolan itu untuk merebut botol obatnya. Wan
Kui-gui masih tertawa melantang. Ia hanya guratkan tangan kanan perlahan-lahan dan
Siu-lam sudah terhuyung-huyung mundur tiga langkah.
Pemuda itu putus asa. Tak mungkin ia dapat melawan benggolan sakti itu. Dalam
putus asa, Siu-lam hendak melarikan diri. Tetapi ah… si orang tua yang duduk di samping
Wan Kui-gui sudah melesat menghadang di ambang pintu.
Siu-lam tertegun. Orang tua itu menghampirinya perlahan-lahan. Semua hadirin di situ
memandang Siu-lam. Siu-lampun bersiap-siap. Tetapi tiba-tiba, sebelum ia sempat
berbuat sesuatu sebuah jari kurus telah menutuk dadanya. Cepat dan tepat sekali jari itu
bergerak. Seketika Siu-lam rubuh lemas, tenaganya lumpuh.
“Aku meminta secara baik, namun kalau kau tak kenal gelagat, terpaksa kupersakiti,”
Wan Kiu-gui tertawa.
Marah, malu, penasaran dan putus asa berkecamuk dalam hati Siu-lam. Benggolan
golongan hitam tersebut sepuluh kali lebih sakti darinya. Tak bakal ia mampu lolos.
“Jika kau mau mengantarkan aku ke tempat Gan Leng-po, bukan saja kedua botol itu
kukembalikan padamu, pun akan kuantarkan kau pulang. Kelak apabila kau memerlukan
bantuan, kami bersedia untuk membantumu. Ah, kau seorang cerdik, mengapa tak mau
berpikir panjang?”
Siu-lam memandang kepala benggolan itu dengan tajam. Ia tak dapat berkutik tetapi
mulutnya bergerak seakan hendak bicara.

Sebagai seorang berpengalaman, cepat Wan Kiu-gui berbangkit dan mengangkat
bangun Siu-lam. Ditepuknya punggung pemuda itu tiga kali: “Kalau tadi saudara
menerima, tentu tak sampai begini.”
Kemudian ia perintah supaya mempersiapkan perjamuan itu, walaupun Wan Kiu-gui
berlaku ramah, pikirnya Siu-lam tetap melayang jauh kepada sumoaynya. Betapa ia ingin
lekas-lekas membawa obat itu untuk membebaskan dara itu.
Selesai perjalanan, wan Kiu-gui segera mengajak Siu-lam berangkat. Dia membawa
pengiring delapan orang bersenjata lengkap. Mereka naik kuda. Cepat sekali mereka tiba
di tepi sungai. Lima buah perahu telah disiapkan, tiap perahu dinaiki dua orang. Wan Kiugui
dan Siu-lam naik dalam sebuah perahu.
“Aku hanya bersedia mengantarkan ke tempat Gan locianpwe. Soal dia di rumah atau
tidak dan mau menerima kedatanganmu atau tidak, bukan tanggung jawabku,” kata Siulam.
“Tentu,” jawab Wan Kiu-gui. “Masih ada sebuah hal lagi yang hendak kutanyakan
padamu?”
“Silahkan.”
“Rupanya kau belum pernah berkelana di dunia persilatan. Apa maksudmu
mengembara kali ini? Apakah hanya semata-mata hendak minta obat kepada Gan Lengpo?”
“Benar, memang hanya itu.”
Wan Kiu-gui tertawa. Serunya beberapa jenak kemudian: “Walaupun kudengar pil Kiucoan-
siok-beng-seng-ki-san dan Bi-tok-tik-siu-tan itu obat mujijat, tetapi selama ini belum
pernah kulihatnya. Benarkah tujuanmu hanya untuk meminta obat itu?”
Siu-lam mengatakan bahwa obat itu hanya untuk persediaan saja. Dalam pada
bertanya jawab itu, perahupun tiba di seberang tepi. Kembali mereka melanjutkan
perjalanan dengan kuda. Pada hari kedua menjelang petang, mereka tiba di kaki gunung
Kiu-kiong-san.
Menghadapi pendakian yang sukar, terpaksa mereka berjalan kaki. Kuda disuruh jaga
salah seorang pengiring Wan Kiu-gui. Siu-lam tetap dijaga ketat oleh delapan buah Wan
Kiu-gui.
“Masih berapa jauhnya tempat tinggal Gan lo-cianpwee itu?” tanya Wan Kiu-gui.
Siu-lam mengeluh: “Kabut mulai membungkus gunung sukar untuk mengenal jalan….”
Belum habis ia berkata tiba-tiba Wan Kiu-gui mendengus dan loncat ke semak belukar
yang tumbuh di sebelah kiri. Dia berhenti di muka sebuah semak, lelaki tua bertubuh
kurus segera maju menghampiri semak itu. Ternyata di dalam semak itu terbaring dua
orang lelaki. Matanya tertutup kaki tangannya menjulur. Entah hidup atau mati.
“Selain Gan Leng-po, siapakah yang tinggal di daerah sini lagi?” tanya Wan Kiu-gui.
“Aku kurang jelas,” sahut Siu-lam.
Wan Kiu-gui tertawa seram lalu pengiringnya memeriksa keadaan kedua korban itu.
Siu-lam terbeliak kaget ketika mengetahui kedua korban itu bukan lain ialah orang tua
berjubah kelabu dan lelaki setengah tua yang dijumpainya kemarin.
“Sudah mati,” kata pengiring Wan Kiu-gui.
Dengan tetap mengulum tawa, Wan Kiu-gui perintah anak buahnya mengubur kedua
mayat itu.
Dua anak buah Wan Kiu-gui segera mengangkut mayat itu ke dalam hutan. Ucap Wan
Kiu-gui kepada Siu-lam: “Pernahkah kau bertemu dengan kedua anak buahku yang mati
itu?”
Siu-lam tahu bahwa berhadapan dengan kepala golongan hitam yang cerdik dan licin
itu tak guna ia berbohong. Maka diceriterakannya pertemuan dengan kedua korban
beberapa hari yang lalu.
“Menilik kau juga seorang persilatan, tentulah dapat menduga bagaimana cara
kematian mereka?”

Seru Wan Kiu-gui pula.
“Menurut penilikanku, kedua anak buah tuan binasa karena tutukan Ciong-chiu-hwat!”
Wan Kiu-gui tertawa: “Benar, memang mereka mati karena tangan ganas itu!”
“Menurut pendapatku, mereka belum lama meninggalnya….” Tukas si orang pendek.
“Setelah ditutuk tak berkutik mereka ditinggalkan di sini sampai jiwanya melayang.
Penutukan itu terjadi dua hari yang lalu,” Wan Kiu-gui menambahi keterangannya, “Di
dunia persilatan orang yang berani menentang aku tak ada keduanya kecuali si hidung
kerbau Thian Hong itu. Tetapi kedua orang tadi jelas bukan mati karena tangan paderi
itu. Entah siapa lagi yang mempunyai ilmu tutukan sedemikian saktinya itu!”
“Semua telah terjadi, tak perlu Hu pa-cu meresahkan,” kata si pendek. Lalu ia berkata
kepada Siu-lam: “Apakah aku perlu yang mempelopori di muka?”
“Tak usah!” sahut Wan Kiu-gui, “tutukan itu luar biasa sekali. Sekalipun kita keburu
datang sebelum mereka mati, pun rasanya sukar menyembuhkan!”
Siu-lam terkejut dalam hati. Siapa lagi yang memiliki ilmu tutukan luar biasa kalau
bukan si dara merah?
Sekonyong-konyong orang kurus melesat ke dekat Siu-lam seraya menegur: “Siapa lagi
yang tinggal di daerah ini kecuali Gan Leng-po?” Ia menutup kata-katanya dengan sebuah
gerak menyambar siku lengan Siu-lam.
Siu-lam menggelincir tiga langkah ke samping untuk menghindari cengkeraman orang.
Si kurus deliki mata dan dengan sebuah gerakan yang luar biasa cepatnya, ia lanjutkan
lagi serangan kedua. Karena tak sempat menghindar, terpaksa Siu-lam menangkis dengan
jurus Ing-hong-can-jau (menyongsong angin memotong rumput).
Pak tua kurus itu tertawa dingin. Menarik tangan kanannya, ia gunakan tangan kiri
untuk menyambar siku lengan kanan Siu-lam. Crek…. Siu-lam tak dapat berkutik lagi
tenaganya serasa lenyap!
Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras: “Tok Sam-goan, lepaskanlah!”
Ketika pak tua itu berpaling ternyata yang membentak itu si Elang Sakti Tertawa Wan
Kiu-gui, orang she Wan itu menatapnya dengan sorot kemarahan.
Pak tua yang dipanggil Tok Sam-goan itu tergetar nyalinya. Buru-buru ia lepaskan
cengkeramannya dan mundur selangkah.
“Kemarilah saudara Pui,” Wan Kiu-gui memanggil Siu-lam menyadari gelagatnya makin
memburuk. Anak buah Wan Kiu-gui sudah menaruh kecurigaan kepadanya. Setiap waktu
mereka dapat membunuhnya. Walaupun belum tentu Wan Kiu-gui itu sungguh hendak
melindunginya, tetapi untuk sementara itu dia masih membutuhkan bantuannya. Tentu
takkan turun tangan.
Siu-lam segera menghampiri. Dilihatnya jago golongan hitam yang selalu menyungging
tawa itu agak memuram durja. Sambil menepuk bahu Siu-lam, Wan Kiu-gui
menerangkan: “Kedua orang yang mati itu adalah saudara angkat Tok Sam-goan. Sudah
tentu dia marah kepadamu. Harap jangan gelisah!”
Keterangan itu membuat Siu-lam makin prihatin. Setiap saat jiwanya terancam maut.
Satu-satunya jalan untuk menghadapi mereka, ialah harus bersikap setengah mungkin.
Tetapi sikap itu ditafsirkan lain oleh Wan Kiu-gui. Pemimpin golongan hitam itu makin
curiga. Tetapi karena kuatir ditertawakan bernyali kecil, ia pun tak mau mendesak pada
pemuda itu.
Tak lama merekapun tiba di mulut sebuah lembah. Dua batang pohon siong tua,
tumbuh di tengah jalan. Tiba-tiba terdengar Wan Kiu-gui mendengus dan berhenti.
Matanya berkeliaran memeriksa pohon siong itu. Siu-lam pun mengikuti arah yang
dipandang jago itu. Hai, bukan kepalang terkejutnya!
Di atas dahan pohon siong itu masing-masing bergelantungan dua sosok tubuh
orang….
Saat itu sudah malam. Suasana makin seram. Bahkan seorang benggolan seperti Wan
Kiu-gui pun diam-diam mengucurkan keringat dingin.

Namun sebagai datuk golongan hitam, tak mudah ia mengutarakan kegentaran hatinya.
Tiba-tiba ia tertawa dingin: “Kedua imam yang gantung diri itu rupanya anak murid Thian
Hong totiang. Ha ha ha, golongan putih dan hitam daerah Kanglam kali ini telah
dijatuhkan orang di gunung Kiu-kiong-san!”
Wan Kiu-gui girang karena ternyata anak murid paderi Thian Hong pun diganas orang.
Siu-lam memperhatikan kedua korban itu. Ah, benarlah. Memang mereka ialah kedua
imam yang pernah dijumpainya ketika turun dari Kiu-kiong-san beberapa hari yang lalu.
Tiba-tiba Wan Kiu-gui hentikan tertawanya. “Aku dengar Gan Leng-po itu disanjung
orang persilatan sebagai seorang tabib sakti. Siapa tahu ternyata dia seorang manusia
berhati ganas.…” Ia berhenti sejenak, lalu berkata pula: “Masih berapa jauh lagi dari
tempat tinggalnya? Jika bertemu dengannya, ingin aku meminta pelajaran barang
beberapa jurus!”
Dengan ucapan itu seolah-olah Siu-lam sudah digolongkan sebagai orang dari Gan
Leng-po. Siu-lam menerangkan bahwa tempat tinggal Gan Leng-po masih kira-kira
sepuluh lie lagi.
Kembali Wan Kiu-gui melantangkan tertawanya yang sukar diraba artinya itu: “Bagus,
bagus, harap saudara percepat waktunya!”
“Aku hendak mohon bertanya sebuah hal kepada tuan, entah tuan mau meluluskan
atau tidak?” tiba-tiba Siu-lam berseru.
Jilid 05
SEJATI Wan Kiu-gui tertegun tetapi cepat-cepat ia mempersilahkan pemuda itu
mengatakan permintaannya.
“Apabila nanti Gan lo-cianpwe menanyakan tentang obat yang diberikan kepadaku,
bukankah akan menimbulkan kesulitan….”
Wan Kiu-gui tertawa: “Aku tak takut menghadapi kesulitan. Tetapi apabila saudara
menginginkan kembali botol obat itu, sudah tentu akan kuserahkan!”
Segera orang she Wan itu mengeluarkan botol obat dan diberikan kepada Siu-lam.
Setelah mengamati botol itu berisi obat, segera Siu-lam menyimpan di dalam bajunya.
Katanya: “Perangai Gan lo-cianpwe itu aneh sekali. Jika bertemu harap saudara Wan suka
berlaku sabar!”
Wan Kiu-gui menyanggupi. Ia berjanji takkan bertindak keras apabila tidak terdesak.
Setelah itu Siu-lampun mengajaknya berjalan lagi. Diam-diam Siu-lam gelisah. Tak tahu
ia bagaimana kesudahan pertempuran antara Gan Leng-po lawan si dara baju merah,
tetapi baik tabib itu menang atau kalah, yang pasti dia tentu takkan berada dalam
gohanya lagi. Dan apabila Wan Kiu-gui tak menemukan tabib itu, sudah tentu akan
menumpahkan kemarahannya padanya.
“Hm, aku harus cari daya untuk lolos dari cengkeraman mereka,” akhirnya Siu-lam
memutuskan.
Karena getarnya sang perasaan, tanpa disadari Siu-lam berhenti di mulut lembah. Wan
Kiu-gui menegurnya: “Eh, mengapa berhenti. Apakah masih jauh?”
“Beberapa tikungan lagi, tentu sudah datang….” Siu-lam tergugup kaget ketika
matanya tertumbuk pada sebuah batu karang besar yang bergurat beberapa tulisan:
“Berani masuk melangkah tentu binasa.” Wan Kiu-gui melihat juga tulisan itu.
Dengusnya: “Hm, sombong sekali. Aku hendak mencoba!”
Seketika timbullah pikiran Siu-lam, ujarnya: “Gan lo-cianpwee tinggal dalam sebuah
telaga di lembah ini. Beberapa hari yang lalu ketika aku datang, tulisan itu belum ada.
Entah siapa yang menulisnya, tetapi yang jelas bukan buah tangan Gan lo-cianpwe!”
Wan Kiu-gui merenung sejenak, katanya: “Cobalah saudara mengamat-amati lagi,
apakah tulisan itu dari Gan Leng-po?”

Siu-lam mengatakan bahwa ia kenal baik dengan tulisan Gan Leng-po. Katanya:
“Mungkin dia sedang pergi mencari daun obat-obatan dan suruh orang menjagakan
tempat tinggalnya. Dan orang itulah yang menulis tulisan itu!”
Wan Kiu-gui mengangguk dan membenarkan dugaan Siu-lam. Tanyanya sesaat
kemudian: “Selain dia, siapa lagikah yang tinggal di sini?”
“Hanya seorang anak yang menjadi pelayannya!” jawab Siu-lam.
Wan Kiu-gui tertawa seram lalu memberi perintah pada seorang pengawalnya: “Mo
Tong, suruh kawan-kawanmu menjaga mulut lembah ini. Kau dan Tek Sam-goan ikut aku
masuk!”
Ternyata yang bernama Mo Tong itu adalah si orang pendek. Dia bersama Tek Samgoan
si orang tua kurus tersipu berlari menghampiri. Sementara lima orang pengiring
yang termasuk jago-jago kelas satu dalam golongan hitam, tanpa menunggu perintah lagi
terus pencar diri menjaga mulut lembah.
“Jika tulisan itu bukan dari Gan Leng-po tentu sudah ada lain orang yang mendahului
kita!” kata si pendek Mo Tong setelah melihat tulisan itu.
“Memang mencurigakan. Tapi kuperhitungkan tentu bukan paderi Thian Hong. Tak
mungkin dia lebih cepat dari kita. Heran, siapakah tokoh lain yang berani bermusuhan
dengan aku?” kata Wan Kiu-gui.
Sekali bergerak, tubuh ketua golongan hitam itupun sudah melesat ke dalam lembah.
Ilmu gin-kangnya luar biasa. Mo Tong dan Tek Sam-goan segera mengikuti.
Siu-lam tertegun. Dalam keadaan seperti saat itu mundur maju serba salah baginya.
Tiba-tiba ia mendengar pekikan Wan Kiu-gui. Sepertinya dia sedang bertempur dengan
seorang lawan yang hebat. Serentak Siu-lam pun lari ke dalam lembah….
Apa yang disaksikan membuatnya terkejut bukan kepalang. Tampak Wan Kiu-gui
sedang mencekal sebatang tongkat bambu. Mo Tong dan Tek Sam-goan berdiri di
belakangnya. Siu-lam cepat-ceat menghampiri dan apa yang dilihatnya makin
membuatnya kaget seperti disambar geledek.
Tangan kanan Wan Kiu-gui mencekal secarik kertas. Kertas itu berlukiskan sepuluh
sosok mayat. Pinggirnya bertuliskan beberapa huruf, berbunyi:
“Dengan hormat menyambut kedatangan.
Maaf, tak sempat sedia peti mati.”
Setelah termangu-mangu beberapa saat, Wan Kiu-gui pun berkata kepada si kurus Tek
Sam-goan: “Rupanya perjalanan kita telah diketahui musuh….” Kerutkan alis ia
memandang Siu-lam tajam-tajam: “Bagaimanakah ini? Jika tak mau menjelaskan
sejujurnya jangan sesalkan kalau aku tak menghormat seorang sahabat!”
Siu-lam geleng-geleng kepala: “Soal ini aku juga tak mengerti. Tetapi yang jelas tulisan
ini pun bukan dari Gan lo-cianpwe!”
Dengan mata berapi-api dan tertawa iblis Wan Kiu-gui segera minta Siu-lam menunjuk
jalan. Terpaksa Siu-lam menurut.
“Terserah kalau saudara mencurigai aku. Tetapi kukenal jelas bagaimana perangai Gan
lo-cianpwe itu. Tak nanti dia bertindak seganas itu. Mungkin setelah aku pergi, dia
mendapat bencana….”
Diam-diam Wan Kiu-gui mengakui bahwa pemuda itu berkata jujur. Pikirnya: “Jika
Thian Hong dan aku mengetahui tentang munculnya peta Telaga Darah itu, orang lainpun
tentu tahu juga. Kemungkinan Leng-po sudah dicelakai orang lain!”
Tak berapa lama tibalah mereka di telaga. Menunjuk pada kedua pondok terapung di
telaga itu, Siu-lam mengatakan kalau pondok itu adalah tempat tinggal si tabib.
Setelah memandang keadaan di sekeliling, Wan Kiu-gui suruh Tek Sam-goan menjaga
di mulut jalan sedang ia bersama Mo Tong menuju ke pondok terapung.
Tiba-tiba dari dalam pondok terapung yang besar, melintas sesosok bayangan biru.
Dan menyusul terdengar suara melengking: “Apakah tuan-tuan baru tiba? Sudah lama
aku menunggu di sini!”

Nadanya tinggi macam serigala meraung di tengah malam. Mau tak mau Wan Kiu-gui
seram juga. Dilihatnya pintu pondok menghambur segulung asap dan pada lain saat
muncullah seorang tua yang bertubuh kurus sekali. Wajahnya aneh. Dengan menjinjing
sebuah lentera biru, orang aneh itu meluncur di permukaan air, menghampiri ke tempat
rombongan Wan Kiu-gui. Dikata meluncur karena kalau berjalan, kakinya sama sekali
tidak tampak bergerak….
“Ih, ilmu ginkang apakah yang dijalankan orang itu? Apakah dia bukan bangsa
manusia?” diam-diam Wan Kiu-gui bercekat dalam hati.
Orang itu makin lama makin dekat. Dan saat itu hanya terpisah setombak dari tepi
telaga. Dari cahaya biru yang dijinjingnya, tampak jelas bagaimana wajah orang itu.
Benar-benar sebuah wajah yang membuat bulu roma orang berdiri. Muka panjang, leher
tinggi, mulut lebar dan kedua matanya besar sekali….
Baik Wan Kiu-gui maupun Mo Tong, adalah benggolan yang biasa membunuh orang.
Tetapi berhadapan dengan manusia aneh itu mau tak mau mereka bergidik juga.
Sementara Siu-lam segera teringat bahwa manusia aneh itu adalah manusia aneh yang
bertempur dengan Su Bo-tun.
Segera Wan Kiu-gui hendak menegur tetapi ia tertegun ketika melihat cara orang aneh
itu berdiri di atas air. “Gila, meluncur di atas air sudah suatu ilmu aneh, sekarang dia
berdiri di atas air! Ah, tak mungkin manusia dapat melakukan hal semacam itu. Mungkin
malam in aku bakal ketemu batu!” diam-diam Wan Kiu-gui menimang gelisah.
Kegelisahan itu menurunkan nyalinya beberapa derajat.
Tiba-tiba si tua kurus Tek Sam-goan tertawa dingin: “Menggunakan dua bilah papan
berdiri di air untuk menggertak orang, bukanlah ilmu yang mengherankan! Hm,
kepandaian macam begitu masakan mampu mengelabui aku!”
Manusia aneh berbaju hitam itu ketika mendengar tipu rencananya diketahui orang,
tertawa mengekeh. Sekali melesat, ia melayang ke sebuah batu, serunya: “Karena kalian
takut mati, silahkan melihat-lihat ke dalam pondok itu!”
Suara parau, nadanya macam genderang pecah. Tak enak sekali di telinga. Wan Kiugui
dapatkan bahwa kedua kaki orang aneh itu memang dilekati bilah papan. Tertawalah
ia gelak-gelak: “Maaf, aku tak kenal siapa anda ini!”
Manusia aneh itu tertawa dingin: “Barang siapa kenal padaku, tentu akan pindah ke
dunia lain. Baiklah kalian jangan banyak ini itu!”
Wan Kiu-gui yang sudah pulih nyalinya, segera tersenyum: “Oh, begitu? Justeru aku
mau bertanya!”
Manusia aneh itu murka: “Setelah kau mati, baru kuberitahukan namaku. Sekarang
lekas ke pondok itu agar jam kematianmu tak terlambat!”
Kemudian manusia aneh itu pindahkan pandangannya ke arah Siu-lam, dengusnya
dingin: “Hm, kau kembali lagi ke sini, budak. Rupanya kau sudah ditakdirkan mati!” habis
berkata manusia aneh itu loncat ke tengah telaga lagi dan terus meluncur pergi.
“Tak kira kalau kau kenal dengan banyak tokoh aneh!” damprat Tek Sam-goan kepada
Siu-lam.
Wan Kiu-gui deliki mata kepada orang bawahannya lalu bertanya perlahan-lahan
kepada Siu-lam: “Tentulah saudara tahu dan asal-usul orang aneh itu?”
Jawab Siu-lam: “Walaupun pernah bertemu satu kali tetapi aku tak kenal padanya.
Tentang asal-usulnya, mungkin aku tahu sedikit. Pernahkah saudara mendengar tentang
gunung Beng-gak?”
“Beng-gak…” di luar dugaan, benggolan golongan hitam yang banyak pengalaman itu
berjengit kaget. “Walaupun aku kenal dengan semua tokoh golongan hitam maupun putih
di dunia persilatan, tetapi tak pernah kudengar tentang cerita dari orang semacam itu tadi.
Gunung Beng-gak akupun belum pernah mendengar. Harap saudara memberitahukan di
mana letak tempat itu!”

“Eh, aku sendiripun tak tahu tempat itu. Tetapi kalau mereka berasal dari gunung
Beng-gak. Pemimpinnya saat ini sedang pit-bun (memendam diri meyakinkan sesuatu
ilmu kesaktian). Yang menjalankah kemudi pimpinan gerombolan itu adalah ketiga
muridnya, dara merah dara putih dan dara biru. Mereka gadis-gadis cantik tetapi
ganasnya bukan kepalang dan berilmu tinggi pula. Orang aneh tadi, masih belum
terhitung seberapa. Paling-paling kedudukannya setingkat dengan thau-bak (kepala
guru)….”
Siu-lam mempunyai ingatan tajam. Sekalipun hanya mendengar keterangan secara
terpotong-potong tetapi ia dapat membuat analisa yang teratur sehingga tak menimbulkan
kecurigaan. Sampai saat itu Siu-lam berhasil menghindari pembicaraan tentang peta
Telaga Darah.
Wan Kiu-gui memberi isyarat mata kepada Tek Sam-goan dan si pendek Mo Tong,
ujarnya: “Rupanya Ti-ki-cu Gan Leng-po telah mati di tangan mereka. Tetapi karena kita
sudah jauh-jauh datang kemari, biar bagaimana kita tetap harus menjenguk ke dalam
pondok terapung itu. Kemungkinan besar kita akan menghadapi pertempuran. Kalian
harus tunggu isyaratku, jangan sembarangan bertindak sendiri!” habis berkata benggolan
itu segera loncat ke tengah telaga. Dengan gunakan ilmu Teng-ping-tok-cui ia berjalan di
atas air.
Tek Sam-goan segera menyusul sedangkan Mo Tong setelah mengajak Siu-lam baru ia
loncat ke telaga.
“Kalau begitu kau tak mau menjenguk pondok itu.”
“Benar-benar aku tak mampu lari di atas air. Maukah kau menunjukkan caranya?”
balas Siu-lam.
Tiba-tiba Mo Tong teringat akan cara si orang aneh meluncur di permukaan air tadi. Ia
minta Siu-lam menunggunya sebentar. Ia hendak cari alat penyeberang untuk pemuda
itu.
Tak berapa lama pemuda itu datang dengan dua kerat dahan kayu kering sebesar
lengan. Ia suruh Siu-lam meletakkan dahan kering itu ada telapak kaki. Berkat sudah
memiliki dasar ilmu ginkang, ditambah dengan bantuan kayu kering, dapatlah Siu-lam
melintasi telaga. Mereka menghampiri pondok yang besar. Setelah melepaskan kayu
kering, Siu-lam bersama Mo Tong masuk. Tampak Wan Kiu-gui dan Tek Sam-goan tegak
bahu-membahu. Si orang aneh berdiri di samping pintu. Seperti menjaga jangan sampai
kedua orang itu dapat meloloskan diri.
Keadaan ruang pondok itu sama seperti beberapa hari yang lalu. Hanya di tengah
ruangan tergantung sebuah penerangan warna biru. Dikata seperti pelita, lampu pun
bukan lampu. Benar-benar semacam alat penerangan yang aneh. Sebentar
memancarkan sinar biru, sebentar hijau. Menimbulkan suasana yang menyeramkan…..
Selain seorang aneh, di dalam ruang tak ada lain orang lagi. Rupanya Wan Kiu-gui tak
dapat menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba ia berseru: “Mempersilahkan orang ke dalam
ruangan, mengapa tak lekas muncul….”
Belum habis berkata, tiba-tiba melengking sebuah suara bernada tinggi: “Sudah mau
masuk mengapa tak dapat menunggu sebentar saja!”
Krit, tiba-tiba dinding merekah sebuah liang sebesar pintu kecil dan seorang dara cantik
berbaju merah, muncul dengan tersenyum-senyum. Tangannya menjinjing sebuah hudtim.
Menuding pada rombongan Wan Kiu-gui, dara merah itu menghitung: “Satu, dua,
tiga, empat, eh, salah. Bukankah kalian berjumlah sepuluh orang?”
Belum sempat Wan Kiu-gui membuka mulut, tiba-tiba si dara baju merah berseru
kepada Siu-lam: “Hai, bukankah kita sudah menjadi keluarga? Mengapa kau malah
membantu orang lain memusuhi aku?”
Si orang aneh terkesiap: “Ji-kounio, mengapa budak itu menjadi keluarga kita?”
Si baju merah tertawa mengikik: “Apakah kau tak tahu bahwa dia menjadi kekasih
Sam-kounio?”

Orang aneh itu geleng-geleng kepala: “Sam kounio cantik sekali dan wataknya dingin.
Selama ia tak suka pada orang lelaki. Budak itu kepandaiannya rendah, bagaimana Samkounio
sudi memandangnya….”
Dara merah itu tertawa: “Kapankah aku membohongi kau? Jika tak percaya, tanyakah
pada Sam kounio sendiri!”
Tiba-tiba orang aneh itu tamparkan tangannya keluar hingga air telaga muncrat.
Teriaknya: “Jika benar demikian, ah, burung cendrawasih berjodoh dengan burung gagak,
sungguh kasihan Sam-kounio!”
Setelah beberapa saat, Wan Kiu-gui mulai tenang. Diam-diam ia mulai menimbang:
“Ruangan ini sempit sekali, tak mungkin mereka berjumlah banyak. Dara baju merah ini
paling banyak berumur delapan belas tahun sembilan belas tahun. Taruh kata sejak bayi
dia sudah belajar silat, juga takkan mencapai kesaktian yang luar biasa….”
Segera ia tertawa dingin dan bertanya pada Siu-lam: “Tiga nona yang kau ceritakan
tadi, apakah nona ini salah satu di antaranya?”
“Benar,” Siu-lam mengiakan.
Dara merah tertawa melengking: “Bagus! Kau sudah membocorkan diri kami kepada
orang lain…?” ia sejenak berhenti, katanya pula: “tetapi tak apalah, toh kalian takkan
dapat pulang lagi!”
“Besar nian kata-katamu,” Wan Kiu-gui tertawa hina.
“Apa? Kau tak percaya pada ucapanku?” dara merah menegas.
Wan Kiu-gui tertawa gelak-gelak. “Hal ini belum saatnya kita bicarakan sekarang! Aku
hendak bertanya sedikit hal kepada nona.”
Terdapat perbedaan dalam nada tertawa kedua orang itu, tertawa si dara baju merah
bernada tinggi bagai kelenting gemerincing. Sedangkan tertawa Wan Kiu-gui dingin seram
seperti iblis meringkik.
Tiba-tiba si dara baju merah mengebut api penerangan. Seketika ruang pondok itu
gelap gulita, sudah tentu Wan Kiu-gui dan rombongannya terkejut sekali. Merekapun
bersiap-siap.
Tiba-tiba terdengar si dara merah berseru melengking: “Kau perlu tanya apa, silahkan
lekas mengatakan. Setelah mendapat keterangan mungkin kau akan mati dengan mata
meram!”
Wan Kiu-gui tertawa gelak-gelak. Nadanya mengiang-ngiang menusuk telinga,
serunya: “Di manakah Ti-ki-cu Gan Leng-po pemilik pondok ini?”
Wan Kiu-gui mengiakan: “Benar, memang sudah lama aku mengagumi Gan lo-enghiong
dan ingin berjumpa!”
Sebagai kelanjutannya, tiba-tiba si dara baju merah mengebutkan hud-tim kepada
orang she Wan, serunya sinis: “Ingin bertemu Gan Leng-po? Bagus….”
Wan Kiu-gui menggembor seraya menghindar ke samping. Dengan gerak to-bak-kimciong
(memukul roboh genta) dia balas menyerang: “Bagaimana Gan Leng-po?”
Si dara baju merah mengisar diri. Sehabis menghindar serangan Wan Kiu-gui ia
menotok Tek Sam-goan seraya menjawab pertanyaan orang she Wan: “Dia….”
Tek Sam-goan memijak lantai. Dengan meminjam tenaga pijakan itu dia menyelinap ke
samping dalam ruang yang gelap gulita. Tek Sam-goan hanya memikirkan serangan si
dara. Dia lupa bahwa di samping itu masih terdapat si orang aneh. Belum sempat
kakinya berdiri tegak, tiba-tiba dia dilanda oleh serangkum gelombang tenaga dahsyat
serta teriakan parau: “Ho, tua bangka, enyahlah kau!”
Pak tua kurus Tek Sam-goan telah mengikui Wan Kiu-gui di dalam beratus pertempuran
besar maupun kecil. Dalam hal berkelahi ia sudah kaya pengalaman. Cara menghadapi
dan memberi reaksi pada setiap serangan, bukan main cepatnya. Belum sang kaki berdiri
tegak, tangan kanan sudah menampar ke belakang. Tapi…. dua buah gelombang tenaga
saling berbentur. Sebagai jago berpengalaman, ia menyadari bahwa mengadu tenaga
dengan si orang aneh, akan membawa bencana. Buru-buru ia loncat menyingkir….

Habis menyerang Tek Sam-goan kini si dara merah memberi giliran pada si orang
pendek Mo Tong. Untuk orang pendek itu, si dara gunakan jurus Ci-hong-hud-liu atau
angin puyuh melanda pohon. Tetapi Mo Tong sudah siap sedia. Begitu merasa dilanda
angin, cepat-cepat ia mnyelinap ke sebelah kiri.
Sambil tertawa gemerincing, si dara merah menyerang ke sana, menampar ke sini.
Ganti berganti Tek Sam-goan dan Mo Tong dihajarnya. Kedua kaki tangan Wan Kiu-gui itu
menjadi kalang kabut…
Walaupun Wan Kiu-gui sakti tetapi ia tak kenal keadaan pondok terapung itu. Ia kuatir
dalam pondok itu telah disiapkan alat-alat perangkap. Maka menghadapi amukan si dara,
ia hanya gunakan tujuh puluh persen tenaganya. Lebih banyak berjaga diri daripada
menyerang. Itulah sebabnya walaupun ketiga jagoan golongan hitam lelaki yang sakti
tetapi mereka dapat dibuat bulan-bulanan oleh serangan si dara.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba dara itu hentikan serangan, serunya: “Sedikit
pelajaran ini hanya untuk membuka mata kalian. Terserah kalian pilih jalan mati atau
hidup!”
Wan Kiu-gui mendengus dingin: “Jalan hidup bagaimana? Jalan mati bagaimana?”
“Jika mau hidup, kalian menyerah saja dan ikut aku ke suatu dunia yang luas. Jika
memilih jalan mati, itu mudah sekali caranya. Asal setiap orang kuberi sebuah pukulan
Sam-im-ciang dalam dua belas jam kalian tentu sudah mampus!”
Mencuri kesempatan di saat si dara sedang bicara, Wan Kiu-gui melirik ke sekeliling
pondok. Dan pada saat si dara selesai bicara. Wan Kiu-gui segera menyambutnya dengan
sebuah pukulan yang dahsyat. Biat-gong-cong atau pukulan penglebur angkasa luar,
hebatnya bukan alang kepalang. Bruk…. dinding ruang pecah berlubang. Kini keadaan
dalam ruang makin jelas.
Tokoh-tokoh yang bertempur itu memiliki tenaga dalam hebat. Asal ada sedikit
penerangan untuk melihat sasarannya, tentu akan digunakan sebaik-baiknya.
Marah sekali si dara karena dinding dihancurkan itu. Tetapi dia seorang dara yang
sukar diduga perasaannya. Walaupun marah namun tetap menyungging senyum tertawa.
Ia bergeliat mendekati Wan Kiu-gui, serunya: “Pukulan yang hebat. Benar-benar mampu
menghancurkan batu!”
Sudah tentu Wan Kiu-gui tahu apa yang hendak dirancang dara itu. Tak mau ia
didekati. Kontan ia lontarkan pukulan Hui-poan-jong-ciong (alu memukul lonceng).
“Apakah Gan Leng-po sudah mati di tanganmu?” serunya.
Si dara merah salurkan tenaga dalam ke arah hud-tim. Ia menyabet perlahan dan
lenyaplah pukulan Wan Kiu-gui.
“Begitu besar perhatianmu terhadap orang itu. Bukankah karena peta Telaga Darah?”
seru si dara seraya maju lebih dekat dan tamparkan kebutannya. Rambut hud-tim itu
lurus-lurus seperti sapu lidi.
Wan Kiu-gui tergetar. Kini baru ia tahu bahwa bukan saja si dara memiliki kelincahan
yang hebat, pun juga mempunyai tenaga dalam yang dahsyat. Ia pun maju menyongsong
dengan jurus Chiu-poh-ngo-hian (lima jari memetik harpa).
Si dara tersenyum: “Silahkan kau mengeluarkan seluruh kepandaianmu! Dalam tiga
puluh jurus jika tak mampu membunuhmu, akan kulepaskan kau dengan penuh
kehormatan!”
Si dara menutup ancamannya dengan menutukkan kebut ke lengan Wan Kiu-gui. Wan
Kiu-gui menyurut mundur. Tiba-tiba si dara melesat ke tempat Mo Tong. Tamparkan
kebut dan tebaskan tangan, tiga kali berturut-turut dara itu menyerang si pendek.
Walaupun hanya tiga tetapi cepat dan dahsyatnya bukan alang kepalang.
Dua jurus Mo Tong dapat menghindari tetapi jurus yang ketiga, bahu kirinya tersentuh
kebutan hud-tim. Sakitnya bukan kepalang. Ketika Mo Tong masih tertegun karena rasa
sakitnya si dara sudah menusukkan kebut kepadanya. Jago pendek itu tak mungkin
menghindar lagi. Bluk, rubuhlah ia ke lantai…..

Serentak Tek Sam-goan loncat hendak menolong, tetapi si orang aneh sudah
mencegahnya dengan sebuah pukulan keras. Tek Sam-goan terpaksa mundur lagi.
Adegan itu berjalan hanya dalam sekejap mata. Karena mengira si dara hendak
menyerangnya, ia mundur selangkah. Siapa tahu ternyata si dara alihkan serangan
kepada Mo Tong, Wan Kiu-gui tak sempat menolong anak buahnya itu lagi.
Setelah merubuhkan Mo Tong, si dara lanjutkan serangannya pada Wan Kiu-gui.
Sedang si orang aneh tetap menghamburkan pukulan untuk menghalangi Tek Sam-goan
membantu Wan Kiu-gui.
Si dara merah tak mau memberi hati. Serangan hud-tim diperlancar untuk mengarah
jalan darah lawan.
Sebagai tokoh golongan hitam yang disegani di seluruh wilayah Kang-lam, Wan Kiu-gui
memang mempunyai kepandaian yang luar biasa. Menghadapi si dara iapun memberi
perlawanan yang seru. Deru angin yang ditimbulkan dari pukulannya membuat pakaian
dara itu bertebaran. Namun dara itu makin lama makin aneh ilmu serangannya.
Permainannya hud-tim makin aneh sehingga seorang momok seperti Wan Kiu-gui yang
kaya pengalaman menjadi bingung juga.
Memang luar biasa permainan si dara itu. Tampaknya hud-tim mengebut ke samping
tetapi tiba-tiba menggeliat menyerang ke bawah. Perubahan yang tiba-tiba dan sukar
diduga itu, membuat lawan selalu terkejut. Untuk menjaga sampai si dara mendekat, Wan
Kiu-gui terus-menerus menghamburkan pukulan dahsyat. Memang dengan cara itu
bermula Wan Kiu-gui berhasil memancang lawan pada jarak tertentu. Tetapi karena terus
menerus menghantam, lama kelamaan ia lelah juga. Sedangkan si dara mengembangkan
permainan lebih aneh….
Menghadapi lawan sehebat itu mau tak mau gentar juga nyali Wan Kiu-gui. Ia insyaf
jika diteruskan tentu ia celaka. Seketika ia mengambil putusan. Sambil bersuit kecil ia
lancarkan tiga buah pukulan dahsyat. Pada saat si dara menyusut mundur, Wan Kiu-gui
loncat ke belakang. Sekali tending, dinding papan hancur dan terlempar ke dalam air.
Wan Kiu-gui loncat keluar dan melayang di atas sekeping papan….
“Anak bulus, hendak lari kemana kau!” teriak si orang aneh dengan suaranya yang
parau. Menjebol sekeping papan ia pun loncat menyusul. Wut, ia lontarkan pukulan ke
dada Wan Kiu-gui.
Wan Kiu-gui terkejut. Pukulan orang aneh itu hebat sekali, tak berani ia betrayal.
Dengan sekuat tenaga ia menangkis. Krek…. seketika Wan Kiu-gui rasakan darahnya
bergolak keras dan tubuhnya terhuyung dua langkah ke belakang. Dan papan yang sudah
dibuat pijakan itupun mengendap ke bawah. Air telaga muncrat berhamburan ke manamana.
Sebenarnya orang aneh itu galak sekali. Tetapi karena air muncrat keras, ia tak berani
menghantam lagi melainkan menghantam bahu kiri Wan Kiu-gui. Kiranya dia tak pandai
berenang maka kuatir kalau papan pijakannya dilanda tenggelam oleh goncangan air.
Wan Kiu-gui terkejut lagi. Orang aneh yang dikatakan hanya berkedudukan sebagai
thau-bak (kepala regu) ternyata sedemikian dahsyat pukulannya. Ia merasa berbahaya
kalau melanjutkan adu tenaga dengan orang aneh itu.
Belum hilang rasa terkejutnya, tahu-tahu bahunya hendak dicengkeram. Wan Kiu-gui
cepat mengisar tubuh lalu menebas lengan lawan disusul dengan menendang perut orang
aneh itu.
Papan yang mereka pijak itu hanya sekeping kecil, kira-kira hanya setengah meter
panjangnya. Bertempur di atas keping papan kecil itu, tubuh mereka berguncang-guncang
hendak tenggelam. Separuh tubuh mereka terendam air.
Adalah karena tubuhnya kelewat tinggi, maka kaki tangannya tak leluasa bergerak.
Dan karena takut tenggelam, ia tak berani menyerang. Untung ia mempunyai kelebihan
dari tangannya yang panjang. Sambil menarik tangan kirinya, ia menebas tendangan
lawan dengan tangan kanan.

Sebagai seorang tokoh terkemuka, cepat sekali Wan Kiu-gui mengetahui kelemahan
lawan. Ia tertawa memanjang lalu melancarkan serangan gencar dengan pukulan dan
tendangan. Maju mundur, naik turun ia berlincahan menghujam serangan. Karena
separuh perhatiannya ditumpah untuk menjaga keseimbangan tubuh agar jangan
tenggelam dalam telaga, maka si orang aneh hanya gunakan separuh tenaganya untuk
menghadapi serangan Wan Kiu-gui. Dalam kedudukan itu, ia hanya dapat bertahan tak
sanggup balas menyerang!
Pada saat Wan Kiu-gui menang angin, tiba-tiba dari dalam pondok terdengar lengking
teriakan seram. Cepat sekali teriakan itu hilang. Jelas bahwa teriakan itu berasal dari Tek
Sam-goan. Tentunya pembantunya itu dirobohkan oleh si dara baju merah. Seketika
getarlah semangat jago she Wan itu.
Suatu pantangan bagi setiap jago silat ialah bahwa di kala bertempur jangan sekali-kali
terpencar perhatiannya. Hanya sesaat ia agak lamban namun detik itu cukup memberi
peluang bagi si orang aneh untuk menyambar siku lengan lawan. Orang aneh itu cepat
hendak menghancurkan urat nadi lawan tetapi ternyata Wan Kiu-gui bukan makanan
empuk. Sambil mengerahkan tenaga dalam ke lengan, iapun gunakan ilmu pemberat
tubuh Cian-kin-thui. Serentak papan yang dipijaknya tenggelam dan orangnya pun turut
meluncur ke bawah telaga!
Si orang aneh terkejut dan buru-buru lepaskan cekalannya untuk loncat ke udara. Ia
melayang ke atas pondok terapung. Ia benar-benar takut kecemplung air.
Setelah berada di dalam air, Wan Kiu-gui yang pandai berenang segera menghampiri
pondok dan mengintai dari pinggir tembok. Tek Sam-goan dan Mo Tong terkapar di lantai
tak berkutik.
“Anak bulus itu barang kali sudah mati tenggelam di dasar telaga!” teriak si orang aneh.
“Jangan ribut!” bentak si dara. “Orangnya sudah berada di bawah pondok ini, kau
masih memaki-maki tak karuan!”
Wan Kiu-gui terkejut….
Gadis itu benar-benar lihay,” serunya seraya menyelam lebih ke bawah lagi.
Gerakan Wan Kiu-gui yang pelahan sekali itu, tertangkap juga oleh telinga si dara baju
merah. Ia pun kaget dan cepat taburkan tangannya. Serangkum benda bersinar putih
menyusup ke dalam air.
Wan Kiu-gui mengira bahwa dengan menyelam ke dasar telaga ia tentu sudah aman,
tetapi ternyata dugaannya itu meleset. Benda itu ternyata kuat sekali menyelam ke dalam
air dan mengejar korbannya. Sebelum Wan Kiu-gui menyadari, tahu-tahu bahu kirinya
terasa sakit kesemutan, kejutnya bukan kepalang. Dengan mati-matian ia meluncur ke
tepi telaga.
Setelah muncul ke tepi dan tak nampak si nona mengejar, ia segera lari menuju ke
mulut lembah untuk mencari anak buahnya yang menjaga di situ. Tetapi belum berapa
jauh ia lari, tubuhnya terasa kaku sekali sampai tak dapat digerakkan.
“Celaka,” keluhnya. Senjata rahasia yang dilepaskan si dara berbaju merah ternyata
mengandung racun. Walaupun selama berenang tadi ia sudah berusaha untuk
menyalurkan darah menutup kemungkinan dijalari racun, toh ternyata gagal.
Dengan sekuat sisa tenaganya, Wan Kiu-gui berlari. Tetapi makin menggunakan
tenaga, racun makin cepat berkembang dan kakinyapun makin berat. Ia menghela napas.
Sambil mendongak ke langit ia merintih: “Ah, tak kira aku Wan Kiu-gui akhirnya harus
binasa di gunung Kiu-kiong-san ini tanpa diketahui orang….”
Rintihan itu timbul dari keharuan duka. Rasa duka telah menghapur nyali
kegagahannya. Dan tenaga yang dipertahankan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya
akhirnyapun goyah. Ia rasakan matanya nanar, alam di sekelilingnya gelap gulita dan
pada saat kedua kaki lantas ia pun rubuh….
Entah berapa lama ia pingsan. Hanya ketika ia membuka mata ternyata ia dikerumuni
oleh tujuh delapan orang. Mereka bukanlah anak buahnya. Yang tegak di hadapan

seorang paderi berjenggot panjang. Ah, paderi itu bukan lain Thian Hong totiang,
pemimpin dari golongan putih di daerah Kang-lam.
Di sebelah kanan kiri paderi itu adalah tokoh-tokoh terkenal dari Kang-lam. Mereka
tergolong jago-jago silat dari golongan putih.
Hati Wan Kiu-gui tergetar, namun setenang mungkin ia menegur sinis: “Bagus benar
siasat toheng. Malam ini bunuhlah Wan Kiu-gui. Toheng bakal merajai daerah Kang-lam
tanpa lawan lagi!”
Thian Hong totiang tersenyum: “Harap saudara Wan jangan kuatir. Aku bukanlah
orang yang suka mencelakai orang yang sedang menderita!”
“Aku terkena senjata rahasia beracun. Kau tak mau membunuh aku, pun nyawaku tak
sampai besok pagi!”
Thian Hong tertawa tawar: “Jelek-jelek aku mengerti ilmu obat-obatan. Jika saudara
percaya, aku bersedia mengobati lukamu.”
“Bagiku mati hidup bukan soal. Silahkan totiang memeriksa!” sahut Wan Kiu-gui.
Thian Hong segera memeriksa. Ternyata pada lengan kanan Wan Kiu-gui terdapat
lubang sebesar kelingking. Anehnya luka itu tiada berdarah. Thian Hong minta ijin untuk
merobek baju Wan Kiu-gui.
“Sekalipun lenganku dikutungi, akupun takkan merintih. Silahkan, totiang,” kata Wan
Kiu-gui.
Wan Kiu-gui itu seorang rase tua yang kenyang makan asam garam dunia persilatan.
Dia tahu bahwa racun yang mengeram pada lengannya itu ganas. Bila Thian Hong
berhasil menyembuhkan, ia tidak perlu berhutang budi. Karena Thian Hong adalah
seorang pemimpin golongan putih yang biasa melakukan kebaikan.
Tapi sebaliknya apabila Thian Hong gagal dan Wan Kiu-gui sampai mati, dunia
persilatan tentu akan mengutuk paderi itu. Paderi itu tentu disangka membunuh seorang
lawan yang terluka dengan cara pura-pura mengobati.
Demikian kelicikan Wan Kiu-gui sekalipun dalam bahaya maut!
Sebelum memeriksa dengan teliti, akhirnya Thian Hong menemukan sebuah benda
sekecil ujung pit (pena) menyusup ke dalam daging lengan kiri Wan Kiu-gui. Ujarnya:
“Harap Wan-heng tahan sakit, hendak kucabut senjata rahasia itu. Setelah mengetahui
asal-usulnya baru dapat kulakukan pengobatannya!”
Wan Kiu-gui mengangguk. Thian Hong pun mulai bergerak. Sekali menjepit dengan
dua jari ia mencabut sebatang panah kecil (passer) yang menyerupai jarum. Warnanya
putih mengkilap.
Rombongan orang gagah segera mengkerumun hendak melibat senjata rahasia itu.
Wan Kiu-gui adalah pemimpin loklim (begal) yang telah merajai selama dua puluh tahun
lebih. Dia mempunyai kepandaian yang istimewa. Jika bukan senjata istimewa, tak
mungkin dapat melukai pemimpin golongan hitam itu. Itulah yang mendorong keinginan
tahu para orang gagah.
Namun sampai beberapa saat, tak seorang pun yang dapat mengenal senjata rahasia
itu. Mereka hanya saling berpandangan. Thian Hong memeriksa dengan teliti. Di bawah
cahaya bintang, dilihatnya pada ujung jarum terdapat tiga buah huruf Chit-jiau-soh.
Seketika Thian Hong tertegun….
“Apakah dia masih hidup…?” mulutnya mengigau seorang diri. Tangannya lunglai dan
jatuhlah jarum itu ke tanah.
Sekalian tercengang memandang Thian Hong. Seorang jago tua yang jenggotnya putih
menjuntai maju memungut jarum.
“Dalam dunia persilatan rasanya tiada yang menandingi keempat Ji-tok-song-coat
dalam hal senjata rahasia beracun. Tetapi to-hengpun tak usah gelisah. Apakah jarum
perak ini…”

Saat itu paderi Thian Hong sudah tenang kembali. Cepat ia menukas: “Ah, sebagai
seorang yang pengalaman rasanya Lo-heng tentu kenal akan jarum Chi-jiau-soh, yang
termasyhur itu?”
Mendengar nama Chit-jiau-soh, wajah jago tua itu seketika berubah pucat. Serunya:
“Apa? Jarum yang bentuknya seperti anak panah bukan anak panah, seperti paku bukan
paku, apakah Chit-jiau-soh yang digentarkan dalam cerita dunia persilatan itu?”
“Silahkan Lo-heng periksa sendiri!”
Jago tua berjenggot putih itu segera meneliti jarum. Benar juga pada ujung jarum itu
terdapat tiga buah huruf Chit-jiau-soh. Seketika jago tua itu melongo….
Memang dalam rombongan orang gagah yang hadir di situ, mereka yang tergolong
angkatan tua, tergetar hatinya. Tetapi dua jago muda, diam-diam geli melihat ketakutan
kawan-kawannya.
Thian Hong meminta jarum itu dari si jago tua. Katanya: “Yang penting sekarang ini,
kita harus menolong orang ini. Karena dikuatirkan kita akan dianggap mencelakainya. Loheng
paham tentang mengobati luka beracun, harap membantu usahaku ini!”
Thian Hong segera memeriksa luka Wan Kiu-gui. Luka itu berwarna merah, sampai
masuk ke dalam tulang. Walaupun paderi itu ahli dalam pengobatan racun, tetapi
terhadap racun dari Chit-jiau-soh, ia terpaksa geleng-geleng kepala.
“Saudara Wan terkena racun Chit-jiau-soh yang dahulu pernah menggemparkan dunia
persilatan. Terus terang, aku tak dapat mengobati. Tetapi bukan berarti aku tak mau
menolong. Tetap akan kuusahakan sekuat tenaga untuk mencarikan obat. Saat ini racun
sudah menyusup dalam saluran darah, jika saudara Wan mau, kupikir hendak kupotong
daging-daging yang keracunan itu baru kulumuri obat….”
Wan Kiu-gui perlahan-lahan membuka mata dan memandang si paderi dengan tertawa.
Secepat itu ia pejamkan mata lagi tanpa memberi penyahutan apa-apa.
Melihat sinar mata orang she Wan itu suram layu, tahulah paderi Thian Hong bahwa
racun telah masuk dalam jalan darah dan menyalur ke seluruh tubuh. Harapan tertolong,
sangat tipis.
Thian Hong tak jadi memotong daging Wan Kiu-gui. Segera ia kerahkan tenaga
memijit keluar darah warna gelap. Kemudian melumurinya dengan obat.
Jago tua berjenggot putih menghela napas: “Ah, to-heng telah memakai sekian banyak
obat pemunah racun yang berharga. Apabila sampai tak dapat menolongnya, tentu tiada
orang yang mempersalahkan to-heng lagi. Akulah yang menjadi saksi bahwa to-heng
sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan jiwanya!”
Thian Hong hanya bersenyum saja. Tiba-tiba terdengar sebuah jeritan. Walaupun
berasal dari jauh, tetapi sekalian orang gagah mendengarnya. Sayup-sayup jeritan itu
menyerukan kata-kata peta Telaga Darah….
Nama itu lebih mempunyai daya tarik dari jarum Chit-jiau-soh. Sekalian orang menjadi
tegang seketika. Dan suara jeritan itu makin lama makin dekat.
Tiba-tiba Wan Kiu-gui membuka mata dan menggeliat duduk: “Peta Telaga Darah….”
habis berkata ia meram lagi dan menggeletak.
Hilangnya sebuah jeritan itu berganti dengan munculnya seorang tua berjalan dengan
tongkat. Rambutnya terurai awut-awutan menjadi satu dengan jenggotnya yang panjang.
Mata mulut dan telinganya tertutup rambut. Keadaannya seperti seorang gila. Tetapi
menurut derap langkahnya yang berat, terang orang itu seorang berilmu.
Thian Hong mencabut pedang dan membentak orang itu: “Hai, tengah malam menjadi
setan berambut gembel, bukanlah laku seorang ksatria!”
Tetapi orang gila itu tak menghiraukan dan tetap menghampiri. Sebagai seorang yang
menjunjung perikemanusiaan, Thian Hong tak mau sembarangan membunuh. Dia
mundur tiga langkah dan lintangkan pedangnya: “Jika anda masih tetap maju, jangan
persalahkan aku!”

Tiba-tiba Wan Kiu-gui menggeletak di tanah, berteriak: “Peta Telaga Darah, Chit-jiausoh….”
Rupanya racun telah menyerang keras hingga tubuhnya panas dan ia mengigau
tak karuan.
Orang gila itu tiba-tiba tertawa nyaring: “Kau tahu siapa yang mencuri peta Telaga
Darah?” serunya seraya melesat ke tempat Wan Kiu-gui.
“Berhenti!” bentak Thian Hong sambil lintangkan pedang. Tetapi orang gila itu sebat
sekali. Menyiak pedang ia terus menghampiri Wan Kiu-gui.
Sekalian orang gagah segera menyambut senjata dan mengepung si gila. Si gila buang
tongkatnya lalu mengangkat tubuh Wan Kiu-gui, katanya: “Bilang, siapakah yang mencuri
Peta Telaga Darah milikku!”
Melihat si gila membuang tongkatnya, sekalian orang gagah itupun tak mau
menyerang.
“Kau mau cari peta Telaga Darah?” sahut Wan Kiu-gui antara sadar tak sadar.
“Benar, benar….” Tiba-tiba orang gila melihat luka di bahu Wan Kiu-gui. Buru-buru ia
letakkan orang she Wan itu ke tanah lagi. Ia merogoh ke dalam baju dan mengeluarkan
dua batang jarum dan sebilah pisau kecil, dua botol kecil dari kumala biru.
Terkejut Thian Hong melihat si gila mempunyai dua botol kumala: “Eh, dari mana orang
gila itu memiliki kumala seindah itu….”
Tangan kanan dan kiri si gila yang mencekal jarum segera menusuki tubuh Wan Kiugui.
Cepat dan cekatan sekali ia menusuki sehingga Thian Hong tak dapat mencegahnya
lagi.
Sekalian orang yang menyaksikan cara orang gila itu menusuk, terkejut sekali. Jelas
yang ditusuk si gila itu adalah jalan darah yang penting. Jika bukan seorang sakti, tak
mungkin dapat melakukan tusukan semacam itu.
Thian Hong pun terkejut. Dalam dunia persilatan, tabib Ti-ki-cu Gan Leng-po yang
mampu melakukan pengobatan semacam itu. “Eh, apakah orang gila ini Ti-ki-cu Gan
Leng-po?”
Dugaan itu makin mempunyai kesan yang kuat. Dan si paderipun segera
menyarungkan pedangnya lagi.
“Apakah saudara ini Ti-ki-cu Gan Leng-po? Aku paderi Thian Hong. Dengan beberapa
sahabat persilatan di Kang-lam sengaja datang ke gunung ini hendak berkunjung pada
saudara.”
Mendengar itu sekalian rombongan orang gagah segera memberi hormat kepada si gila.
Mereka orang-orang persilatan yang berpengalaman luas. Bahwa Thian Hong telah
mengunjuk sikap hormat pada si gila, serentak merekapun memberi hormat pula.
Si gila tak mengacuhkan teguran Thian Hong. Sama sekali ia tak mau palingkan muka
dan tetap menusuki Wan Kiu-gui. Jago tua she Lo tadi, walaupun tergolong angkatan tua,
tetapi wataknya paling jelek. Dia mendongkol melihat sikap si gila. “Huh, sombong
benar!”
Buru-buru Thian Hong mencegahnya. Sementara sehabis menusuki, si gila lalu
menuang beberapa butir pil dari botol kumala dan disusupkan ke mulut Wan Kiu-gui.
Entah bagaimana si gila yang ternyata memang Gan Leng-po, malam itu berlaku
istimewa sekali. Pil yang diminumkan Wan Kiu-gui, merupakan pil simpanan yang tak
ternilai harganya. Tak sembarang diberikan orang. Walaupun andaikata yang minta itu
Wan Kiu-gui, tak mungkin Gan Leng-po mau memberi. Tapi entah bagaimana, saat itu
Gan Leng-po benar ngotot hendak menyembuhkan Wan Kiu-gui.
Habis mengobati, Gan Leng-po masih menunggu di samping Wan Kiu-gui dan
memandangnya lekat-lekat. Gerak-gerik orang gila itu menimbulkan berbagai pertanyaan
pada sekalian orang. Adakah si gila itu hanya berpura-pura ataukah memang tak waras
otaknya.

Beberapa saat kemudian, Wan Kiu-gui membuka mata. Ketika pandangannya
tertumbuk pada si gila yang rambutnya kusut masai tak karuan, segera ia bangun dan
menegurnya: “Hai, siapakah kau?”
Bukannya menjawab, si gila malah balas bertanya: “Kau mengetahui peta Telaga Darah
milikku itu, ayo kita cepat mencarinya!”
Dan sebelum Wan Kiu-gui menyahut, si gila sudah mencekal tangannya dan terus
diseret diajak lari.
Cekalan si gila itu bagaikan kait besi yang luar biasa kerasnya. Wan Kiu-gui tak
berkutik. Jika ia kerahkan tenaga menolaknya, urat-urat pergelangan tangannya pasti
putus. Terpaksa ia menurut saja diseret si gila.
Apa yang berlangsung saat itu cepat dan di luar dugaan. Ketika Thian Hong dan
sekalian orang gagah tersadar, si gila dan Wan Kiu-gui sudah beberapa tombak jauhnya.
Thian Hong tertegun. Karena orang sudah jauh, ia tak mau mengejar. Ia memungut
dua botol kumala dan dua batang jarum perak yang ditinggal lari oleh pemiliknya, si gila
Gan Leng-po. Disimpannya benda-benda itu. Kemudian ia bertanya kepada sekalian
orang gagah, apakah ada yang kenal dengan Ti-ki-cu Gan Leng-po.
Sahut seorang jago tua yang bertubuh kurus: “Selain Gan Leng-po, tokoh persilatan
manakah yang mampu menusuki jarum di tempat yang segelap ini? Dalam beberapa
kejap dapat menyembuhkan seorang yang sudah hampir mati. Siapa lagi tokoh di dunia
persilatan yang mampu melakukan kesaktian semacam itu? Kecuali si tabib sakti Gan
Leng-po?”
Jago tua itu adalah Lo Kun bergelar si Golok Sakti. Di dalam dunia persilatan daerah
Kang-lam, kedudukannya sejajar dengan paderi Thian Hong. Dia lebih tua dari Thian
Hong, pengalamannya luas sekali. Biasanya dia sering mengandalkan usianya tua, untuk
menonjolkan diri. Sering-sering ia berbeda pendapat dengan Thian Hong. Sebagai
seorang paderi, Thian Hong selalu mengalah saja.
Mendengar ucapan jago golok itu, Thian Hong merenung sejenak. Ujarnya: “Memang
hanya tabib sakti Gan Leng-po itu yang disohorkan orang sebagai tabib yang berwatak
aneh. Masakan tingkah lakunya seperti orang gila….”
“Kulihat dia memang sengaja bertingkah seperti orang gila….” kata Lo Kun.
“Aneh, mengapa dia mengigau peta Telaga Darah saja? Apakah maksudnya? Jika dia
benar Ti-ki-cu Gan Leng-po, ah, sia-sialah kunjungan kita kemari….” kata Thian Hong.
Setelah merenung sejenak, Lo Kun berkata pula: “Tak usah kita resahkan dia Gan Lengpo
atau bukan. Yang penting dengan munculnya Chit-jiau-soh itu, kita harus
menanggapinya dengan sungguh-sungguh.”
Tiba-tiba dua orang jago muda menyeletuk: “Biasanya Lo-cianpwee berwibawa sekali.
Aneh, mengapa menghadapi jarum Chit-jiau-soh, Lo-cianpwe menjadi gelisah. Wan Kiugui
terkena senjata rahasiapun suatu peristiwa yang tak perlu digemparkan….” kedua
pemuda itu tak lanjutkan kata-katanya. Mungkin kuatir menyinggung perasaan Lo Kun.
Lo Kun berpaling, ternyata kedua pemuda yang bicara itu adalah putera dari Kat Thianbeng.
Kat Thian-beng oleh dunia persilatan Kanglam dijuluki sebagai It-pit-hoan-thian
atau Sebatang Pit Membalik Langit. Kedua puteranya itu bernama Kat Hong dan Kat Wi.
Lo Kun mengurut-urut jenggotnya tertawa: “Dahulu ayahmu memang jarang mendapat
tandingan. Tentulah kalian telah menerima warisan ilmunya yang sakti, tetapi Chit-jiausoh
itu….”
Kat Hong tersenyum: “Sejenak ayah mengasingkan diri di gunung Han-tay-san, dia tak
mau mengurusi dunia persilatan lagi. Kami berdua dibesarkan di gunung, jarang keluar di
dunia persilatan. Kepandaian rendah, pengalaman kurang. Jika ada kesalahan, harap locianpwe
memberi maaf!”
Lo Kun tertawa dan berpaling kepada Thian Hong pula, tampak wajah paderi itu
mengerut gelap. Rupanya dia tengah memikirkan suatu hal yang gawat.

Yang disebut rombongan orang gagah dari Thian Hong itu hanya terdiri dari delapan
orang. Thian Hong, Lo Kun, kedua kakak beradik Kat Hong dan Kat Wi serta keempat
murid Thian Hong.
“Apakah yang kalian tak pernah menceritakan tentang Chit-jiau-soh itu?” tanya Lo Kun
kepada kedua saudara Kat.
Sejenak Kat Wi memandang kepada engkohnya (Kat Hong) lalu menyahut: “Sejak ayah
mengasingkan diri di gunung Hun-tay-san, beliau jarang memberi petunjuk pada kami.”
Sementara Kay Hong pun menerangkan bahwa menurut ayahnya, di dunia persilatan
sekarang ini hanya keempat Ji-tok dan Song-coat yang paling ganas dalam hal senjata
beracun. Tentang Chit-jiau-soh, ayahnya tak pernah bercerita.
“Mungkin ayahmu mengira Chit-jiau-soh itu sudah lama lenyap,” Lo Kun menghela
napas, “bahkan aku sendiripun jika malam ini tak menyaksikan sendiri, mungkin tak
percaya bahwa Chit-jiau-soh muncul lagi!”
“Oh, Chit-jiau-soh tentu mempunyai riwayat yang menggemparkan sekali!” seru Kat
Hong.
Sambil mengurut-urut jenggot, Lo Kun berkata: “Bukan melainkan hanya
menggemparkan, dan mengguncangkan jagat persilatan….”
Rupanya Kat Wi tertarik sekali. Segera ia minta agar Lo Kun menuturkan riwayat Chitjiau-
soh. Keempat murid Thian Hong pun serempak memandang ke arah jago tua Golok
Sakti Lo Kun.
Lo Kun tertawa riang: “Baiklah, kalau kalian ingin mendengarkan, akan kuceritakan.
Tetapi karena ceritanya panjang, mari kita duduk.”
Setelah sama mengambil tempat duduk, mulailah Lo Kun bercerita:
“Empat puluh tahun yang lalu, di dunia persilatan muncul sepasang muda-mudi yang
aneh dan sakti. Ilmu kepandaian menggetarkan semua jago-jago ternama. Kedua sejoli
itu selalu bersama-sama. Yang lelaki gagah perkasa, yang perempuan cantik jelita.
Kemunculan sejoli yang cantik dan gagah itu menimbulkan kegemparan orang. Banyak
pemuda yang tergila-gila akan kecantikan gadis itu. Banyak pemudi yang kesengsem
dengan kecakapan si pemuda. Mereka berasal dari seperguruan yakni anak murid dari Lo
Hian si orang sakti.”
Lo Kun berhenti sejenak untuk bertanya: “Pernahkah kalian mendengar tentang tokoh
Lo Hian itu?”
Kedua saudara Kat gelengkan kepala.
“Lo Hian muncul di dunia persilatan pada enam puluh tahun yang lalu. Dan
kemunculannya itu bagaikan sekuntum bunga mekar. Pagi mekar, sore layu. Tak lama Lo
Hian sudah melenyapkan diri lagi. Banyak cerita tersiar di dunia persilatan. Katanya Lo
Hian mukswa dengan raganya. Adapula yang mengatakan dia mengasingkan diri di
gunung dan tak mau muncul lagi. Tentang sejoli muda-mudi itu, entah benar murid Lo
Hian atau bukan, sukar diselidiki. Hanya karena hanya keduanya memiliki ilmu kesaktian
yang luar biasa, orang lalu menghubungkannya dengan Lo Hian. Sepak terjang kedua
muda-mudi itu terlalu semena-menanya. Tak peduli tokoh dari golongan putih maupun
hitam asal tak menyenangkan hati mereka, tentu dihajar. Tindakan mereka itu
menimbulkan kemarahan dunia persilatan. Diam-diam orang telah mengedarkan surat
untuk memadu persatuan. Baik golongan putih maupun golongan hitam telah mencapai
sepakat untuk menindak kedua anak muda itu. Di mana-mana telah dipasang perangkap
untuk mencelakai kedua anak muda gagah itu. Tetapi berkat kesaktian dan kecermatan,
sejoli muda-mudi itu tetap malang melintang di dunia persilatan….”
“Masakan di dunia persilatan tiada tokoh yang mampu mengalahkan mereka?” rupanya
Kat Wi penasaran.
Lo Kun mengangguk: “Dewasa ini kaum persilatan telah bersepakat untuk mengangkat
partai Siau-li-si menjadi pemimpin dunia persilatan. Sekalipun tak dilangsungkan
pengangkatan secara resmi, tetapi dalam prakteknya hal itu telah diakui orang….”

“Sayang aku tak hidup berpuluh tahun yang lalu. Coba masa itu aku sudah besar,
tentu akan kutantng kedua pemuda itu berkelahi!” Kat Wi menyeletuk geram.
Lo Kun hanya tertawa hambar dan melanjutkan ceritanya: “Barisan Lo-han-tin dari
Siau-lim-si, memang merajai dunia persilatan. Beratus-ratus tahun lamanya jarang
terdapat orang yang mampu lolos dari kepungan Lo-han-tin. Tetapi ketika berhadapan
dengan kedua muda-mudi itu, barisan jebol ketiga puluh enam paderi yang menjadi inti
barisan terluka dan kedua anak muda itu lolos. Betapa kesaktian keduanya dapatlah
dibayangkan sendiri….”
“Kalau tahu bahwa dirinya sakti tiada lawan, mengapa kedua anak muda itu tak mau
mendirikan sebuah partai saja?” tanya Kat Hong.
“Ah, segala sesuatu di dunia ini memang sukar diduga. Demikian dengan nasib
keduanya. Pada masa dunia persilatan baik golongan putih maupun hitam berada dalam
kegelisahan akibat pengganasan kedua muda-mudi itu, terjadilah suatu keajaiban. Kedua
sejoli yang tiada tandingannya itu akhirnya saling bunuh membunuh sendiri!” kata Lo Kun.
Kat Wi tercengang, serunya: “Benar-benar di luar dugaan! Mengapa mereka sampai
bermusuhan sendiri?”
Lo Kun mengurut jenggot menghela napas “Pada masa kedua muda-mudi itu naik ke
puncak kemasyhurannya, tiba-tiba mereka menghilang. Setengah tahun kemudian,
barulah tersiar kabar tentang peristiwa saling bunuh di antara kedua pemuda itu. Menurut
cerita dari Siluman Tulang Kumala Ih Ing-hoa, pertempuran yang disaksikan antara kedua
sejoli itu berlangsung seru sekali. Suatu pertempuran yang jarang terdapat di dunia
persilatan. Dari pagi sampai petang dan sampai pagi lagi. Lebih dari seribu jurus telah
dipertarungkan. Akhirnya karena kehabisan tenaga, keduanya sama-sama terluka….”
“Siluman Tulang Kumala Ih Ing-hoa…. rasanya ayah pernah menuturkan nama itu!”
seru Kat Hong.
“Melihat namanya saja kau tentu dapat membayangkan bagaimana pribadi wanita itu.
Dia adalah seorang wanita aneh yang pernah muncul di dunia persilatan pada empat
puluh tahun berselang. Selain cantik tubuhnya bertulang lunak sekali bagai kapas. Hanya
saja dia itu seorang wanita yang luar biasa cabulnya. Menghadapi kedua sejoli yang tiada
tandingannya itu, entah dari rencana siapa, tetapi tahu-tahu orang telah meminta pada Ih
Ing-hoa untuk mengadu dombakan kedua anak muda itu. Dengan kecantikannya yang
menggiurkan, Ih Ing-hoa diminta untuk menimbulkan cemburu si pemudi agar bertengkar
dengan kawannya si pemuda itu sendiri. Diminta agar Ih Ing-hoa benar-benar dapat
mainkan peranan merayu si pemuda sedemikian rupa, agar si gadis marah. Tentang cara
Ih Ing-hoa menjalankan peranannya, banyaklah cerita yang tersiar. Tapi pada pokoknya,
wanita cantik itu telah membuat sejoli itu bertengkar dan akhirnya bertempur sendiri….”
Rupanya Kat Wi tertarik sekali dengan cerita itu. Ketika Lo Kun berhenti sejenak, Kat
Wi segera mendesaknya: “Lalu bagaimana kesudahannya?”
“Ih Ing-hoa menyaksikan pertempuran itu. Menurut ceritanya, kedua sejoli itu samasama
menderita parah. Yang lelaki dibawa oleh Ih Ing-hoa, yang perempuan ditinggal di
hutan. Kemudian gadis itu ditolong oleh seorang persilatan orang she Bwe. Demikian
ceritanya yang dibawa Ih Ing-hoa. Tetapi benar tidaknya, tiada orang yang dapat
membuktikan. Mungkin hanya tiga orang yang mengetahui hal itu!”
“Apakah ketiga orang itu mempunyai hubungan dengan jarum Chit-jiau-soh?” tiba-tiba
Kat Hong bertanya. Rupanya dia lebih cerdik dari adiknya.
“Munculnya sepasang muda-mudi sakti itu bagai prahara yang mendampar samudera.
Gelombang berhamburan dahsyat. Belum sampai tiga tahun muncul, kedua muda-mudi
itu telah mengobrak-abrik empat puluh delapan sarang gerombolan Loklim (penyamun),
menantang Siau-lim-si dan menghancurkan barisan Lo han-tinnya. Nama mereka
bagaikan bintang cemerlang di angkasa persilatan. Dunia persilatan gentar dan
mengagumi. Tetapi kepergian mereka pun cepat sekali bagaikan bintang jatuh. Mereka
lenyap bagaikan ditelan bumi. Pada tahun kedua sejak lenyapnya sejoli anak muda itu,

Siluman Tulang Kumala Ih Ing-hoa baru muncul lagi di dunia persilatan. Karena
dipandang berjasa melenyapkan kedua muda-mudi itu, dunia persilatan menaruh hormat
kepada Ih Ing-hoa. Tetapi dasar wanita cabul. Rasa menghindarkan dari kaum persilatan
itu, menyebabkan dia semakin mengumbar nafsu kecabulannya. Entah berapa banyak
jago-jago muda dari beberapa partai golongan putih, telah dicemarkan oleh wanita itu.
Hal itu menimbulkan kemarahan partai yang tersangkut. Mereka lalu berserikat
menangkapnya. Tetapi ternyata sejak berkeliaran selama setahun itu, kepandaian Ih Inghoa
bertambah maju. Beberapa kali ia dapat mengalahkan orang-orang yang hendak
menangkapnya. Mendapat hati, Ih Ing-hoa makin melonjak. Tidak kepalang tanggung,
dia lalu membentuk sebuah partai persilatan. Dia menculik dara-dara cantik untuk dipaksa
menjadi muridnya. Semakin besar pengaruhnya, semakin dia jadi mengumbar
kecabulannya lebih hebat. Perbuatan wanita itu telah menimbulkan kemarahan orang
gagah kedua daerah Kanglam dan Kangpak. Mereka bersatu padu bersepakat untuk
menghancurkan wanita siluman itu. Pada masa itu nama ayahmu termasyhur sekali.
Dialah yang mempelopori gerakan membasmi Siluman Tulang Kumala. Akupun menerima
baik undangannya. Tetapi sebelum kami bergerak, tiba-tiba terjadilah perubahan yang
menggemparkan….”
“Bagaimana? Apakah sekalian ksatria itu mundur teratur karena jeri terhadap si
Siluman Tulang Kumala?” seru Kat Hong.
“Tidak! Kalau takut masakan kita mengadakan gerakan itu?”
“Lalu apakah Siluman Tulang Kumala yang ketakutan melarikan diri karena mendengar
gerakan besar itu?”
“Jika dia takut lalu melarikan diri, itu bukan suatu kejadian menggemparkan!” sahut Lo
Kun.
“Ataukah sebelumnya dia sudah dibunuh orang lebih dulu?” Kat Wi menegas.
“Benar!” Lo Kun tertawa. “Gerombolan Siluman Tulang Kumala yang dibentuk dengan
susah payah selama bertahun-tahun itu, dalam satu malam saja telah dibakar habis oleh
seseorang. Anak muridnya dibunuh sampai ludas. Tetapi anehnya, mayat Siluman Tulang
Kumala itu tak dapat diketemukan. Dia menghilang secara misterius. Selanjutnya wanita
itu tak pernah muncul di dunia persilatan lagi. Sampai sekarang sudah lebih dari tiga
puluh tahun lamanya dia menghilang.”
Akan tetapi kedua saudara Kat menyatakan bahwa kemungkinan besar mayat wanita
itu turut terbakar hangus. Tetapi Lo Kun mengatakan bahwa dia tak berani memastikan
hal itu. “Sampai sekarang, hal itu masih belum terdapat buktinya.”
Berpaling kepada paderi Thian Hong, dilihatnya paderi itu tengah memandang langit
seolah-olah tak ikut mendengarkan cerita Lo Kun. Sedang keempat muridnya tertarik juga
mendengar cerita itu.
Secepat Lo Kun tersenyum lalu melanjutkan ceritanya: “Belum setahun Siluman Tulang
Kumala lenyap muncullah seorang momok perempuan. Wanita itu juga tak kurang
anehnya. Selain potongan tubuhnya yang menyerupai seorang wanita, dia tak pernah
bicara dan tak pernah memperlihatkan wajahnya. Wajahnya diselubungi dengan kain
sutera hitam. Hanya kepandaiannya lebih tinggi dari Siluman Tulang Kumala. Setiap kali
membunuh orang, tentu pada jalan darah korbannya tertancap sebatang jarum Chit-jiausoh.
Lama kelamaan jarum itu menjadi tanda pengenal keganasannya. Setiap Chit-jiausoh
muncul, tentu seorang korban mati. Ada orang menduga, jarum itu sebagai
perlambang dari suatu kenikmatan abadi. Lebih dulu korban diajak main pat-pat gulipat,
kemudian baru dibunuh dengan tusukan jarum. Dugaan itu agak sesuai tetapi sayang
tiada yang mampu membuktikan….”
“Rupanya dia lebih ganas dari Siluman Tulang Kumala. Tetapi entah apakah dia lebih
cantik dari Ih Ing-hoa?” tanya Kat Wi.
“Dia tak pernah membuka kain kerudungnya, tiada seorangpun yang pernah melihat
wajahnya!” sahut Kat Hong.

“Benar, memang tiada seorangpun yang pernah melihat wajahnya! Dan barang siapa
melihatnya serta mendengar ia bicara, tentu akan mati….!” seru Lo Kun.
Jilid 6
“MENGAPA kaum persilatan tak mau bersatu lagi untuk membasmi momok perempuan
itu?” tanya Kat Hong.
“Mengapa tidak? Tiga belas propinsi dari wilayah Kanglam dan Kangpak serta delapan
puluhan jago-jago Siau-lim-si terbagi dalam empat regu, telah mengadakan pengejaran.
Salah sebuah regu berhasil menemukannya di kota Kim-leng. Regu yang terdiri dari dua
puluhan lebih jago-jago silat itu segera mengepungnya, tetapi regu itu dihancurkan
semua. Pada setiap dada korban, tertancap sebatang jarum Chit-jiau-soh. Tiada
seorangpun dari regu itu yang hidup. Kemudian regu kedua berhasil mencari jejaknya di
kota Kay-hong. Juga regu kedua ini mengalami nasib seperti regu kesatu. Hancur binasa
semua dengan perut masing-masing tertusuk Chit-jiau-soh. Dua peristiwa mengerikan itu
cukup merontokkan nyali. Regu pengejaran itu segera membubarkan diri. Dari rencana
hendak membasmi, mereka menjadi calon-calon korban yang ketakutan. Tak ada lain
usaha dari mereka yang masih hidup kecuali hanya berdoa mudah-mudahan si Momok
Wanita jangan membunuhnya. Mereka pasrah nasib karena tak tahu siapa dan
bagaimanakah sebenarnya Momok Wanita itu. Wanita misterius itu dijuluki sebagai Chitjiau-
soh dan jarum itu merupakan ciri pengenal dari momok itu. Untunglah dia tak lama
muncul di dunia persilatan lalu menghilang lagi. Namun nama jarum maut Chit-jiau-soh itu
tetap berkumandang lama di dunia persilatan sebagai lambang kematian. Setelah limaenam
tahun wanita itu tak muncul lagi, barulah orang persilatan dapat bernapas lega dan
mulai melupakan peristiwa itu. Bahwa kali ini Chit-jiau-soh muncul lagi, benar-benar
membuat orang mulai meraba-raba….”
Kat Hong tersenyum, “Kiranya tak perlu lo-cianpwe gelisah. Jika Chit-jiau-soh itu benarbenar
muncul lagi di dunia persilatan, aku berharap dapat menempurnya demi untuk
membalaskan sakit hati kaum persilatan yang telah binasa!”
Semasa ayah kedua saudara Kat, yakni It-pit-hoan-thian Kat Thian-beng masih aktif,
namanya sangat termasyhur di dunia persilatan. Entah berapa jago-jago golongan hitam
maupun putih yang roboh di bawah senjatanya, bun-ciang-pit. Tetapi setelah ia
mengasingkan diri di gunung Hun-tay-san, ia menolak menerima kunjungan sahabatsahabat
dunia persilatan. Kecuali paderi Thian Hong, tak seorangpun yang mengetahui
tempat kediamannya. Lo Kun juga mengagumi kesaktian Kat Thian-beng. Maka kata-kata
takabur dari dua saudara Kat itu, tak mau ia mencelanya.
Sekonyong-konyong paderi Thian Hong membolang-balingkan pedang dan berseru,
“Jika tak masuk sarang harimau, tak mungkin akan memperoleh anak macan! Karena
Chiat-jiau-soh sudah muncul, kitapun tak dapat mundur. Maukah Lo-heng ikut serta?”
Lo Kun tertawa, “O, sekian lama merenung kiranya hanya begitu keputusanmu. Aku toh
sudah tua, mengapa aku memikirkan soal mati hidup? Sekalipun harus mati di gunung ini,
aku takkan kecewa!”
Dengan tegas dan serius, Thian Hong menghaturkan terima kasih. Dengan pedang siap
di tangan, paderi itu segera melanjutkan perjalanan ke atas.

Thian Hong diam-diam telah memperhitungkan bahwa munculnya Chit-jiau-soh itu
terjadi pada tiga puluhan tahun berselang. Yang muncul sekarang ini kebanyakan tentulah
muridnya. Tetapi ia tak pasti. Andaikata dugaan itu meleset, berarti jiwanya dan beberapa
orang yang ikut dalam rombongannya, dia akan mengorbankan jiwanya. Itulah sebabnya
maka Thian Hong menimang-nimang sampai sekian lama, baru ia memutuskan untuk
menjelajah ke bagian lebih dalam dari gunung Kiu-kiong-san.
Karena darah muda, kedua saudara Kat itu diam-diam penasaran terhadap momok
wanita yang dijuluki Chit-jiau-soh itu. Kedua saudara itu percepat langkah mendahului
Thian Hong.
Thian Hong tahu bahwa kepandaian kedua anak muda itu memang tinggi. Tetapi
karena musuh belum diketahui ciri-cirinya jelas, ia memberi peringatan kepada kedua
pemuda itu agar berjalan perlahan-lahan.
Setelah membelok beberapa tikungan, suasana berubah lain. Alam sekeliling diliputi air.
Kiranya saat itu mereka tiba di telaga tempat tinggal Ti-ki-cu Gan Leng-po. Rombongan
orang gagah itu berhenti di tepi telaga. Thian Hong menyatakan hendak menuju ke
pondok terapung di tengah telaga. Tetapi Kat Hong tak setuju.
“Lo-cianpwee adalah pemimpin rombongan, mana boleh sembarangan menempuh
bahaya. Lebih baik ijinkan aku saja yang meninjau ke sana!” dan tanpa menunggu
jawaban Thian Hong, anak muda itu terus enjot tubuhnya dan lari di permukaan air.
Melihat caranya anak muda itu gunakan ilmu berjalan di atas air, Lo Kun memberi
pujian, “Dengan sebatang bun-jiang-pit dan kepandaian gin-kangnya, Kat Thian-beng
tayhiap telah menjagoi dunia persilatan selama berpuluh tahun. Sayang aku tak pernah
bertemu muka. Tetapi menilik dari kepandaian puteranya saja kiranya nama Kat tayhiap
itu bukan pujian kosong!”
Kat Wi tertawa, “Ah, apa yang dipertunjukkan saudaraku itu hanya kepandaian kosong,
harap lo-cianpwe jangan memuji kelewat tinggi!”
Dalam pada itu Kat Hong pun sudah loncat ke dalam pondok terapung. Tetapi sampai
sekian saat, pondok itu sunyi saja. Kat Hong tak muncul lagi….
Tiba-tiba paderi Thian Hong getarkan pedangnya dan berkata perlahan-lahan kepada
Lo Kun, “Harap Lo-heng menunggu di sini, aku….”
Belum habis paderi itu berkata, sekonyong-konyong Kat Wi sudah loncat ke telaga dan
terus lari menuju ke pondok. Gerakannya tak kalah gesit dari kakaknya tadi.
Thian Hong tak keburu mencegah. Sekali kebutkan lengan jubahnya iapun sudah
melesat ke muka dan mendahului Kat Wi. Diam-diam Kat Wi penasaran. Begitu hampir
mendekati pondok, tiba-tiba ia melenting ke udara, melayang di atas payon pondok
terapung. Ia berhasil mendahului Thian Hong. Dan secepat kakinya tiba di atas payon
geladak, anak muda itupun sudah mencabut sepasang poan-koan-pitnya. Yang sebatang
untuk melindungi muka dari serangan. Yang sebatang untuk menyerang. Ia loncat turun
dan menerobos masuk ke dalam pondok….
Keadaan dalam ruang pondok gelap sekali, hingga Kat Wi tidak dapat melihat jemarinya
sendiri. Anak muda itu sudah membekal kewaspadaan. Poan-koan-pit di tangan kiri diputar

untuk melindungi diri kemudian barulah ia melayang turun. Tetapi alangkah kagetnya
ketika ia merasa menginjak sesosok tubuh orang. Buru-buru ia kerahkan semangatnya dan
melambung ke udara lagi. Ia takut kalau yang diinjak itu saudaranya. Maka cepat-cepat ia
loncat ke atas.
Duk…karena tak melihat keadaan ruang pondok kepalanya membentur langit tutup
pondok.
Belum hilang kagetnya, tiba-tiba ia merasa seperti diserang orang dari sebelah
samping. Serangan itu cepat sekali datangnya. Belum orangnya tiba, angin gerakannya
telah membaur Kat Wi. Anak muda membawa hawa yang harum. Sebelum tahu apa yang
terjadi, tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal orang dan menyusul terdengar suara
tertawa melengking, “Lepaskan senjatamu, lekas! Jika coba melawan, kau pasti menderita
lebih hebat!”
Kat Wi mendengar dingin. Sebagai jawaban ia balikkan tangan dan menutukkan poankoan-
pit dalam jurus To-ta-kim-leng atau memukul terbalik kelintik emas.
Tetapi baru tangan bergerak, tiba-tiba ia rasakan bahunya kesemutan dan seluruh
tenaganya lenyap. Bluk, jatuhlah pemuda itu di lantai.
Tepat pada saat itu, Thian Hong menggembor keras dan menerobos.
Walaupun jalan darahnya tertotok dan tak berkutik, tetapi pikiran Kat Wi masih terang.
Dilihatnya yang menotok dirinya itu adalah seorang dara cantik yang mencekal sebatang
hud-tim. Dan saat itu si dara tengah mengebutkan hud-timnya pada pedang Thian Hong.
Dengan ilmu pedang yang saktilah maka Thian Hong dapat memimpin dunia persilatan
golongan putih di daerah Kanglam. Ia telah mencapai tingkat yang tertinggi dalam
meyakinkan ilmu pedang itu. Cepat ia tarik pulang pedangnya. Tetapi baru saja ia hendak
menyerang, ternyata si dara telah mendahului dengan kebutannya. Cepat sekali dara itu
telah melancarkan tiga buah serangan! Serangan bukan sembarang serangan tetapi ketiga
jurus yang dilancarkan si dara jarang terdapat di dunia persilatan. Cepat dahsyat dan luar
biasa anehnya.
Betapapun saktinya Thian Hong, namun menghadapi serangan luar biasa dari si dara, ia
terpaksa harus mundur dua langkah.
Tiba-tiba dalam kegelapan, sebuah tangan kurus menyembul dari kegelapan dan
menampar bahu si paderi. Karena sedang menghadapi serangan si dara yang dahsyat,
semangat dan perhatian Thian Hong tertumpak ke situ seluruhnya. Dia tak menyadari
bahwa sebuah tangan maut diam-diam mengancam dirinya.
Kat Wi jelas melihat tangan kurus itu. Tetapi karena ia dalam keadaan tertotok tak
dapat bicara hatinya gelisah bukan kepalang.
Tring….pemuda itu makin gelisah dan kaget ketika mendengar suara pedang Thian
Hong jatuh ke lantai disusul dengan tubuh pendeta itu yang terkulai roboh.
“Celaka. Thian Hong totiang pun tertutuk. Habislah semua pasukan kita!” keluh anak
muda itu. Ia pejamkan mata karena ngeri membayangkan peristiwa yang dihadapinya….

Tiba-tiba ia merasa tubuhnya diangkat dan dipindah ke lain tempat. Kemudian jalan
darahnyapun ditutuk lagi sehingga saat itu kesadarannya hilang.
Kat Hong, Kat Wi dan Thian Hong ketiga tulang punggung rombongan, telah rubuh
dalam pondok terapung yang misterius itu…
Ketika membuka mata, Kat Wi dapatkan hari sudah siang. Seorang dara berbaju merah
duduk di tengah-tengah ruangan pondok terapung itu. Di belakangnya tegak seorang
lelaki tinggi berpakaian hitam. Wajahnya seram.
Seorang dara yang cantik jelita dan seorang raksasa kurus yang jelek rupanya. Benarbenar
suatu pemandangan yang tak sedap….
Mengerling ke samping, Kat Wi melihat engkohnya (Kat Hong) bersama seorang
pemuda lain, duduk bersandar pada dinding. Tetapi paderi Thian Hong tak tampak, entah
berada di mana.
Tiba-tiba dara baju merah itu kebutkan hud-timnya menampar punggung Kat Wie, jalan
darahnya yang tertutup segera terbuka. Segera Kat Wi kerahkan tenaga dan menggeliat
bangun. Ketika ia hendak menyambar poan-koan-pit yang terletak di samping si dara,
tiba-tiba dara baju merah itu tertawa melengking, “Kedua kakimu telah kututuk, tak
mungkin kau mau berkelahi lagi. Lebih baik duduk sajalah!”
Kat Wi kerahkan tenaga, ah, ternyata kedua pahanya lemah lunglai dan agak linu
kesemutan. Kata-kata si dara itu memang benar.
“Siapakah kau? Apa maksudmu menyiksa aku?” serunya.
Dara itu tersenyum, “Aku belum bertanya, mengapa kau berani bertanya padaku?”
“Mengapa tak berani? Toh paling-paling aku kehilangan jiwa?” seru Kat Wi.
“Ih, rupanya kau memang ingin mati?” si dara tersenyum manis.
Kat Wi marah, “Seorang lelaki boleh dibunuh tetapi jangan dihina. Jika kau
memperlakukan secara nista begini, jangan marah kalau kucaci maki nanti!”
Tiba-tiba si jangkung berwajah ngeri tertawa mengekeh, “Anak bulus, tidak gampang
mau mati, lho. Sekali kutampar, kepalamu tentu pecah!” ia melangkah maju dan
mengangkat tangannya.
Tangan si jangkung itu panjang sekali. Meskipun terpisah tiga empat langkah dari Kat
Wi tetapi sekali ulur sudah menyentuh tubuh si pemuda. Tetapi cepat-cepat si dara baju
merah kebutkan hud-timnya menyiak tangan si jangkung.
“Jangan melukainya!” seru si dara tertawa.
Rupanya si jangkung itu taat pada si dara. Ia segera menyusut mundur ke tempatnya.
Mulutnya mengomel, “Hm, membiarkan manusia-manusia hidup hanya akan menimbulkan
bahaya di kemudian hari. Lebih baik lekas dikirim ke neraka sajalah!”

“Ilmu tutuk dari partai Beng-gak, tiada manusia di kolong langit yang mampu
membuka. Sekalipun dibawa lari kemana saja, tak mungkin orang itu mampu
menolongnya….” kata si dara lalu alihkan pandangannya ke arah Kat Hong dan Siu-lam, ia
memerintahkan si jangkung supaya membawa kedua pemuda itu keluar. Si jangkung
segera melakukan perintah. Tangan kanan menjinjing Siu-lam, tangan kiri mengangkat Kat
Hong terus dibawa keluar.
Si dara merah pelahan sekali kebutkan hud-tim ke muka Kat Wi dan tertawa, “Sekarang
dalam ruangan ini hanya kita berdua!”
Kat Wi rasakan darahnya tersirap. Buru-buru ia berpaling muka, “Hanya dua orang lalu
bagaimana….”
“Kau boleh menjawab pertanyaan dengan sejujurnya!”
Umur Kat Wi baru enam belas tahun. Tetapi dia seorang pemuda yang keras kepala,
sahutnya dengan dingin, “Ah, tak semudah itu!”
Mengira pemuda itu yang paling kecil umurnya, si dara anggap tentu mudah mengorek
keterangan. Bocah itu tentu tak sanggup menahan siksaan. Tetapi apa yang diperoleh dari
mulut Kat Wi hanya menimbulkan kemarahannya saja. Ia tertawa mengikik, serunya, “O,
tak mungkin kunyana kau seorang jantan. Aku tak percaya tulang-tulangmu dari besi!”
Ia menutup kata-katanya dengan mencekal tangan Kat Wi, “Adik, lebih baik kau bilang
saja. Di manakah peta Telaga Darah itu?” sekali kerahkan tenaga, tangan halus itu
berubah sekeras besi.
Buru-buru Kat Wi kerahkan tenaga hendak melawan. Tetapi ah, ia rasakan dadanya
macet. Kejutnya bukan kepalang.
“Telah kukatakan,” si dara merah tertawa, “bahu jalan darah sau-yan-tam-keng dan
Thay-im-pi-keng tubuhmu telah kututuk. Berarti kepandaianmu lenyap seluruhnya. Maka
percuma saja jika kau hendak berkeras melawan!”
Seketika Kat Wi rasakan darahnya menyalur terbalik arah. Aduh, sakitnya bukan
kepalang. Namun pemuda tanggung itu tetap menggertek gigi bertahan sakit. Sepatahpun
ia tak mengerang….
Si dara berlingkap biji matanya yang indah dan tertawa melengking, “Namun jalan
darahmu tadi telah kututuk putus. Kecuali jago-jago Beng-gak tak mungkin di dunia orang
mampu menolongmu….”
Kepala Kat Wi mandi keringat. Tak sempat ia mendengarkan kata si dara lagi.
Bentaknya murka, “Tutup mulutmu, siapa sudi mendengar omonganmu!”
Si dara tetap tertawa mengikik, “Jika tak keburu ditolong, dalam waktu tiga bulan, uraturatmu
itu akan terlanjur mengeras. Bukan saja kepandaianmu hilang, pun kau akan mati
dengan perlahan. Dalam usia masih remaja seperti sekarang ini, bukankah sayang kalau
kau mati?” dalam pada berkata-kata itu diam-diam si dara menambahkan tekanannya.
Kat Wi rasakan darahnya makin keras, berhamburan meliar merekahkan dada. Rupanya
si dara tahu kalau pemuda itu sudah tak dapat bertahan lagi, katanya pula, “Asal kau

bicara terus terang, selain kusembuhkan jalan darahmu semua rombonganmu akan
kubebaskan. Pikirlah masak-masak!” kata si dara seraya mengendorkan cengkeramannya.
Kat Wi rasakan sakitnya berkurang. Ia menghela napas, ia menimang, “Saat ini Thian
Hong totiang dan engkohku berada dalam genggamannya. Jika aku bersikap keras kepala,
mungkin aku dan semua orang akan binasa. Aku harus mulai memakai siasat. Toh aku
juga tidak mengerti persoalannya. Kuikatnya dulu dengan perjanjian baru aku mau
menjawab….”
“Mudah saja kau suruh aku menjawab pertanyaanmu. Tetapi sebelumnya kaupun harus
bersedia meluluskan tiga buah syaratku!” katanya kepada si dara.
“Katakanlah!” seru si dara.
“Pertama, bebaskanlah semua orang yang kau tawan!”
Si dara baju merah tertawa, “Ih, pintar juga kau ini. Kalau begitu orang-orang itu
adalah rombonganmu….” ia berhenti lalu melanjutkan pula, “Apa syarat yang kedua?”
“Ini yang paling penting. Kau harus memikir semasak-masaknya sebelum mengambil
putusan….”
“Jangan banyak bicara, bilanglah!” seru si dara.
“Apa yang kuketahui, akan kuceritakan terus terang semua. Tetapi apa yang tak
kuketahui, janganlah kau memaksa aku mengatakan!”
Sejenak dara berbaju merah itu merenung. Kemudian ia minta Kat Wi menyebutkan
syaratnya yang ketiga.
Kat Wi tertawa, “Kita tak kenal mengenal dan tidak ada orang yang menyaksikan kita.
Maka kita harus mengangkat sumpah, agar jangan mengingkari janji!”
Wajah dara baju merah itu mengilas senyum sinis, ujarnya, “Baik, lebih dulu akan
kubuka jalan darahmu, baru nanti kuajukan pertanyaan!”
Dara itu menepuk delapan buah jalan darah Kat Wi dan mengurut-urut lukanya.
“Nah, jalan darahmu sudah kubuka lagi. Sekarang jawablah pertanyaanku,” kata si
dara.
Kat Wi menggeliat bangun, serunya, “Nanti dulu, nanti dulu. Kau toh belum
bersumpah!” Rupanya Kat Wi masih belum hilang sifat kanak-kanaknya. Ia tetap
menganggap sumpah itu penting.
Si dara tertawa, “Sepatah perkataanku sama dengan segumpal emas, masakan aku
mau mengingkari. Ah, kau kekanak-kanakkan!”
Dikata begitu Kat Wi malu. Cepat ia nyeletuk, “Jika begitu, silahkan kau bertanya!”
Si dara tertawa, “Jauh-jauh kau datang ke Kiu-kiong-san sini, apakah bertujuan mencari
Gan Leng-po?”

“Benar!” sahut Kat Wi.
“Perlu apa mencarinya!”
“Hal itu aku kurang jelas. Rupanya seperti hendak minta dia mencari sebuah benda!”
“Apa bukan peta Telaga Darah?” si dara kerutkan alis.
“Aku kurang jelas, tak dapat bicara ngawur!”
Dara itu tertawa mengikik, ujarnya, “Adik kecil, rupanya kau tahu banyak sekali, ya?”
“Benar, tetapi tadi telah kita setujui syarat itu. Yang kuketahui tentu kukatakan. Tetapi
sebenarnya aku tak tahu apa. Bagaimana, apakah kau menyesal?” Kat Wi tertawa gelakgelak
seolah-olah bangga karena dapat menyiasati si dara.
“Kau pintar. Tetapi akupun takkan menyesal!” sahut si dara, kemudian ia berseru
nyaring, “Ciok Toa-piau, bawalah tawanan-tawanan itu keluar semua!”
Sebuah suara parau macam kaleng borot, menyahut, “Ji-kounio, waktunya tinggal
sedikit. Perlu apa bawa mereka? Lebih baik kuremuknya saja!”
“Kusuruh kau membawa mereka keluar, kau dengar tidak?” seru si dara baju merah.
Rupanya Ciok Toa-piau atau si jangkung berwajah ngeri itu takut kepada si dara.
Segera ia menjinjing keluar dua sosok tubuh. Cepat sekali ia bekerja. Dalam beberapa
kejap ia sudah meletakkan sepuluh sosok tawanan.
“Apa masih?” tanya si dara.
Si jangkung gelengkan kepala, “Sudah semuanya!”
Si dara tertawa, serunya, “Tujuh hari kemudian, adalah hari selesainya pertapaan
kaucu. Biarlah kita berbuat amal kebajikan lepaskan mereka!”
“Apa?” si jangkung terbelalak.
Si dara memandang Kat Wi, tertawa, “Aku telah berjanji pada adik kecil itu untuk
membebaskan mereka semua. Masakan aku ingkar janji!”
Ia menutup kata-katanya dengan menampar tubuh Kat Hong. Seketika pemuda itu
menghela napas panjang dan menggeliat duduk. Cepat sekali si dara menampari tubuh
kesepuluh tawanan. Merekapun bangun semua.
Si jangkung hanya mengawasi tingkah laku si dara dengan mata mendelik. Rupanya ia
tak puas dengan tindakan dara itu namun tak berani mencegah.
Setelah menyadarkan tawanannya, si dara tertawa, “Maaf atas penyambutan yang
kurang hormat atas kedatangan tuan-tuan yang jauh memerlukan datang kemari.”

Sepuluh orang tawanan itu terdiri dari Thian Hong dan rombongannya, kedua orang
kepercayaan Wan Kiu-gui yang menyertai kepala golongan hitam itu ke Kiu-kiong-san dan
Siu-lam.
Ternyata waktu Thian Hong masuk ke dalam pondok terapung dan tidak keluar lagi, Lo
Kun segera ajak keempat murid Thian Hong menyusul. Tetapi merekapun mengalami
nasib serupa seperti Thian Hong. Dara merah dan si jangkung Ciok Toa-piau dapat
merubuhkan mereka.
Setelah membuka jalan darah kesepuluh orang tawanannya dan bicara beberapa patah
senda-gurau, si dara baju merah segera melangkah keluar. Tetapi baru beberapa langkah,
ia berpaling lagi, serunya, “Siapakah di antara kalian yang tahu tentang peta Telaga
Darah, lebih baik segera antarkan ke Beng-gak. Jika tidak, dalam waktu sebulan lagi,
dunia persilatan tentu akan banjir darah….!”
Lo Kun Si Golok Sakti mendengus, “Hm, menyerang secara bersembunyi, bukanlah
perbuatan yang gemilang….’
“O, rupanya kau belum puas?” si dara tertawa.
Lo Kun mengurut jenggot dan tertawa nyaring, “Bukan hanya tak puas saja, pun aku
memang ingin meminta pelajaran beberapa jurus dari nona!” katanya seraya melangkah
ke muka.
Sinjangkung Ciok Toa-piauw cepat menghadang dan menghantamnya dengan jurus
Cui-san-tiam-hay (mendorong gunung menimbun laut). “Bulus tua, kau omong apa itu?
Makanlah ketupatku ini.”
Tetapi si nona cepat kebutkan hud-tim melintang serunya, “Mereka toh calon-calon
mayat, perlu apa kau meladeni.”
Thian Hong tergerak pikirannya, ia menggamit ujung baju Lo Kun, “Jangan gegabah,
Lo-heng. Mundurlah!”
Si dara memandang ke arah Siu-lam, serunya, “Harap saudara Pui jangan melupakan
perjanjian dengan sumoayku di Beng-gak. Asal ketemu dengan dia, dia pasti akan
menolongmu.” Habis berkata ia terus berputar diri dan melintasi telaga.
Si jangkung sejenak memandang rombongan Thian Hong lalu menyusul si dara.
Tek Sam-goan dan Mo Tong, kedua anak buah Wan Kiu-gui, merasa terpencil. Karena
yang berada di situ semua termasuk rombongan Thian Hong. Mo Tong yang licin segera
berseru kepada Tek Sam-goan, “Tek-heng, sayang pemimpin kita tak berada di sini.
Mungkin tangan kita tak cukup menghadapi sekian banyak orang….”
Thian Hong tertawa hambar, “Jangan khawatir. Walaupun kalian memang termasuk
orang yang harus dilenyapkan untuk kepentingan rakyat Kanglam, tetapi tidak nanti
kuturun tangan di tempat ini!”
Mo Tong tahu Thian Hong itu seorang paderi yang berwatak utama. Mendengar
pernyataan itu, longgarlah perasaan Mo Tong. Namun masih si licik itu sengaja tertawa
sinis, “Sebenarnya mati hidup bagiku tak penting!”

Thian Hong tidak mau menghiraukan. Ia berpaling dan berseru pada murid-muridnya,
“Sebelum mendapat perintahku, kalian tak boleh bertindak sendiri. Siapa melanggar, akan
dihukum!”
Setelah itu si paderi bertanya pada Siu-lam, “Maaf, siapakah saudara ini?”
Siu-lam memperkenalkan diri, “Aku jarang datang ke Kang-lam maka totiang tentu tidak
kenal.”
“Kalau bukan orang Kang-lam apakah tujuan saudara ke Kiu-kiong-san sini?” Tadi ia
mendengar si nona baju merah bicara dengan pemuda itu tentang perjanjian di gunung
Beng-gak.
Siu-lam tahu kalau orang menaruh kecurigaan. Untuk menceritakan seluruh kisahnya
tentu memakan waktu. Maka ia mengatakan bahwa ia datang hendak menyambangi Gan
Leng-po yang sudah dikenalnya lama. “Tetapi di sini aku berjumpa dengan nona baju
merah tadi,” katanya.
Lo Kun mengurut-urut jenggot, belum sempat ia bicara, Kat Wi sudah mendahului, “Jika
begitu Pui-heng juga baru saja bertemu dengan gadis itu!”
Kata yang bernada sindiran itu membuat Siu-lam tertegun. Tiba-tiba Lo Kun maju
hendak mencengkeram bahu Siu-lam, bentaknya, “Jika kau tak mau memberi keterangan
sejujurnya, jangan persalahkan aku seorang tua tidak tahu adat!”
Siu-lam mengisar ke samping, “Hm, menyerang secara mendadak begini, apakah juga
bukan perbuatan hina?”
Siu-lam tak mau membalas karena hal itu tentu akan menimbulkan kemarahan Lo Kun.
Maka cukuplah ia gunakan kata-kata tajam untuk menghentikan tindakan orang.
Perhitungan anak muda itu tepat. Lo Kun menarik tangan dan menyurut mundur, “O,
kalau begitu kau hendak menantang aku berkelahi?”
Belum Siu-lam menyahut, Thian Hong sudah maju selangkah untuk melerai, “Sekalipun
Pui-heng ini kenal dengan si nona baju merah tetapi aku berani mengatakan dia bukan
anak buah mereka. Harap Lo-heng jangan mendesaknya.”
Thian Hong menyuruh keempat muridnya agar mendayung pondok terapung itu ke tepi
telaga. Walaupun mulut mengiakan, tetapi keempat murid itu kerutkan dahi. Tak tahu
mereka dengan cara apa dapat mendorong pondok itu ke tepi. Rupanya Siu-lam tahu
kesulitan mereka. Ia segera menarik tali di bawah air. Seketika pondok itupun meluncur ke
tepi.
Thian Hong dan rombongan segera mendarat. Kira-kira tujuh li jauhnya, mereka tiba di
sebuah puncak gunung. Tiba-tiba keempat murid Thian Hong merasa punggungnya linu
sakit. Badannya mulai tak enak dan tenaganya makin lemas, kakinya memberatkan. Tetapi
karena melihat lain-lainnya tidak apa-apa, merekapun tidak berani mengatakan apa-apa
kepada gurunya dan paksakan diri berjalan.

Adalah Lo Kun yang memperhatikan wajah keempat orang itu, diam-diam merasa heran
dan berbisik kepada Thian Hong, “Lihatlah keempat muridmu itu apakah tidak sehat?”
Thian Hong berpaling memperhatikan murid-muridnya. Katanya, “Mungkin mereka
diam-diam telah dicelakai si nona baju merah tadi!”
Kata-kata paderi itu membuat sekalian orang terkesiap. Serempak mereka memandang
ke arah murid-murid paderi itu. Dan serentak dengan itu timbullah pikiran pada hati tiaptiap
orang, “Ah, kalau terhadap mereka dilakukan penganiayaan, bukan mustahil terhadap
diriku pun demikian.”
Thian Hong menghampiri muridnya dan suruh mereka membuka baju. Ah, benarlah. Di
punggung mereka masing-masing terdapat lima telapak jari warna merah.
Melihat itu makin gelisahlah sekalian orang. Kat Wi segera suruh engkohnya membuka
baju. Tetapi Kat Hong rupanya enggan.
“Kalau engkoh tak mau, biarlah aku yang membuka bajuku sendiri!” Kat Wi segera
membuka baju. Kat Hong terpaksa memeriksa punggung adiknya. Dan ah, kejutnya bukan
kepalang. Pada punggung Kat Wie itupun terdapat bekas telapak jari berwarna merah.
“Bagaimana engkoh?” teriak Kat Wi gelisah.
Kat Hong mengangguk sarat, “Mengapa tidak ada? Kita harus lekas, mungkin ayah
dapat menolong!”
Lo Kun menghela napas, “Ah, sungguh aku harus meminta maaf kepada anda berdua.
Anda berdua biasa hidup bersenang-senang di lembah Tay-beng-koh. Adalah karena kami
undang maka anda berdua sampai tertimpa bencana semacam ini.”
Sambil memakai baju, Kat Wie menyahut, “Ah, lo-cianpwe tak bersalah. Malah
kemungkinan lo-cianpwe sendiri juga menderita hal semacam ini.”
Sahut Lo-kun; “Aku sudah tua. Mati bukan soal. Tetapi anda yang masih muda, ibarat
matahari yang baru bersinar, penuh dengan masa depan yang gemilang….”
Kat Hong tertawa, “Tak usah lo-cianpwe terlalu meresahkan. Mati hidup sudah takdir.
Kita manusia tak mungkin ingkar. Dan belum tentu luka ini akan mematikan diriku.”
Mo Tong tercekat hatinya. Diam-diam iapun gelisah jangan-jangan dirinya juga terkena
telapak jari si nona. Serunya kepada Tek Sam-goan, “Tek-heng, harap buka bajumu agar
kuperiksanya juga!”
Tek Sam-goan menolak, “Tak usahlah. Bukan saja aku pasti ada, pun setiap orang di
sini tentu juga terdapat bekas jari itu. Sebaiknya kita berhenti dulu untuk menyalurkan
darah dan memeriksa bagian jalan darah yang terluka.”
Walaupun berkata kepada Mo Tong, tetapi sebenarnya kata-kata itu ditujukan kepada
sekalian rombongan Thian Hong totiang. Thian Hong tanpa menyahut terus mendahului
duduk bersemedhi.

Sekalian orangpun segera menuruti tindakan paderi itu. Masing-masing mengatur
pernapasan. Tiba-tiba sekalian orang duduk bersila, salah seorang menyelinap pergi.
“Hai, memang kutahu kau memang seorang telur busuk! Berhenti!” tiba-tiba Lo Kun
berseru. Walaupun sedang bersemedhi tetapi Lo Kun tetap memperhatikan gerak-gerik
Siu-lam yang dicurigai itu.
Dan memang yang menyelinap pergi adalah Siu-lam. Ia tak dapat menahan diri lagi. Ia
harus lekas-lekas membebaskan sumoaynya dari tahanan si wanita aneh. Ya, memang ia
tahu dirinya tentu mati. Tetapi sebelum mati, ia harus dapat menolong sumoaynya dulu.
Mendengar teriakan Lo Kun, kedua saudara Kat Hong dan Kat Wi cepat melenting
dengan gerak Capung Memagut Air. Dua tiga kali loncatan, kedua saudara itu sudah
berada di belakang Siu-lam.
“Apa maksud kalian mengejar aku?” Siu-lam hentikan langkah.
“Hm, kau hendak kemana?” Kat Wi mendengus.
“Perlu apa kau mengurus?” sahut Siu-lam.
“Memang aku tak berhak mengurusi. Tetapi pada saat dan suasana seperti ini kau
ngacir secara diam-diam, tentu menimbulkan kecurigaan orang!” seru Kat Hong.
Siu-lam diam-diam mengakui kebenaran kata-kata anak muda itu. Sahutnya, “Benar,
jika mencurigai aku mempunyai hubungan dengan nona baju merah tadi, baiklah aku
takkan pergi….” Serentak ia membuka baju dan suruh kedua saudara itu melihat.
“Lihatlah, kalau punggung tidak terdapat bekas telapak jari, anggaplah aku dengan
nona itu ada….”
Kat Wi cepat menukas, “Jika kuukur dirimu dengan nilai seorang kuncu (ksatria),
dikuatirkan kena kau kelabuhi!”
“Apa? Apakah punggungku tak ada bekas telapak jari?” Siu-lam berseru kaget.
Rupanya Kat Hong lebih berpikiran dewasa. Melihat kerut wajah Siu-lam bukan seperti
orang yang pura-pura, ia cepat maju merintangi adiknya yang hendak menyerang. Setelah
itu ia berkata kepada Siu-lam, “Benar, memang punggungmu tak terdapat luka apa-apa!”
Saat itu Lo Kun pun sudah menghampiri dan menghadang di tengah jalan. Serunya,
“Setiap hari aku biasa berburu burung meriwis, masakan burung meriwis mampu menutuk
mataku!”
Dalam keadaan seperti saat itu sukar bagi Siu-lam untuk berbuat apa-apa. Segera ia
memakai baju lagi.
Dengan mata berapi-api Kat Wi memandang Siu-lam, serunya, “Bukti sudah nyata, kau
mau bilang apa lagi?”
Cepat ia menyelinap dari belakang engkohnya dan menyambar lengan Siu-lam.

“Kau kelewat menghina orang!” Siu-lam berteriak seraya menghindar. “Apakah kau kira
aku takut padamu?” iapun balas memukul dada orang.
Kat Wi terpaksa menghindar. Ketika ia hendak membalas, Kat Hong cepat merintangi
dan berseru kepada Siu-lam, “Harap Pui-heng berhenti dulu, aku hendak bicara!”
Tetapi Lo Kun serupa pikirannya dengan Kat Wi. Teriaknya, “Separuh umurku
kugunakan berkelana di dunia persilatan. Masakan aku dapat keliru. Jelas orang itu
komplotan si nona baju merah. Asal dapat meringkusnya tentu dapat kita paksa supaya
menyembuhkan luka kita!”
Walaupun Siu-lam berusaha untuk meredakan suasana, tetapi menerima hinaan
semacam itu, ia tak dapat mengendalikan diri lagi. Teriaknya, “Ayo, majulah kalian!” Ia
menutup kata-katanya dengan melayangkan tinju kepada Lo Kun.
Sambil menangkis Lo Kun membentaknya, “Buktikanlah apa tulangku yang tua ini
mampu menangkis pukulanmu?”
Sebenarnya Siu-lam sudah akan menarik pulang tangannya tetapi mendengar kata-kata
Lo Kun, bangkitlah amarahnya lagi. Diam-diam ia kerahkan tenaganya dan teruskan
pukulannya.
Krek…. Siu-lam tersurut mundur dua langkah. Lo Kun tertawa gelak-gelak. Maju
merapat lagi, ia menyerang lagi. Kali ini bahkan dengan kedua tangan….
Melihat Lo Kun menyerang hebat sehingga Siu-lam kelabakan, Kat Hong dan Kat Wi
cepat loncat ke samping mereka. Tetapi hati kedua saudara itu berlainan pandangannya.
Kat Wi menjaga jangan sampai Siu-lam lolos, kebalikannya Kat Hong menjaga apabila
pemuda itu sampai terancam ia siap membuatnya supaya lolos….
Pertempuran makin seru. Lo Kun makin menyerang gencar. Hanya karena terdorong
rasa marah maka Siu-lam dapat bertahan diri. Dua belas jurus kemudian, Siu-lam makin
payah. Tenaga lemas, badan menjadi keringatan, napas terengah-engah. Berapa jurus
lagi, dia pasti akan rubuh!
Melihat itu Kat Hong sibuk. Hendak terang-terangan melindungi pemuda itu, ia sungkan
kepada Lo Kun. Tengah ia gelisah mencari akal, sekonyong-konyong Lo Kun menjerit dan
mundur dua langkah. Tinjunya tak dapat digerakkan.
Siu-lam tak mensia-siakan kesempatan itu. Maju merapat, segera ia menjotos dada
lawan. Tetapi pada saat tinju hendak mengenai sasaran, tiba-tiba Siu-lam melihat wajah
orang tua lawannya itu menahan kesakitan, kepalanya basah mengalir keringat. Siu-lam
tarik pulang tinjunya menyurut mundur.
Lo Kun mulai meletuk terkulai ke tanah. Tangan kirinya menekan punggung dan
mulutnya mengerang-erang.
Melihat itu marahlah Kat Wi. Ia mengira Siu-lam yang menyebabkan Lo Kun rubuh.
Tanpa banyak bicara segera ia menyerang pemuda itu. Sekaligus ia lancarkan empat buah
serangan.
“Adik Wi…!” Kat Hong memanggilnya.

“Jangan kuatir, engkoh. Aku seorang cukup untuk menghadapinya!” sahut Kat Wi yang
salah menafsirkan panggilan engkohnya.
Thian Hong cepat loncat menghampiri Lo Kun, “Lo-heng, terluka.…”
Thian Hong tak lanjutkan katanya. Ia ingat Lo Kun pun ditampar punggungnya oleh si
nona baju merah. Mungkin juga terlekat telapak jari si nona. Karena marah dan
menyerang Siu-lam, luka itu cepat sekali merekah.
Buru-buru Thian Hong merobek baju Lo Kun dan memeriksanya. Ah, benar, benar juga,
punggung jago tua itu juga terbekas telapak jari merah dan saat itu malah sudah
membengkak besar. Ketika diraba, luka itu panas rasanya. Diam-diam paderi itu menghela
napas. Belum pernah ia mendengar tentang ilmu pukulan beracun yang sedemikian
aneh….
Berpaling kepada keempat muridnya, tampak mereka masih duduk bersila. Wajahnya
menampil kesakitan dan muka basah keringat.
“Hai, berhentilah kalian bertempur. Aku hendak bicara!” cepat-cepat ia menyerukan
supaya Kat Wi dan Siu-lam berhenti.
Siu-lam cepat loncat mundur. Tetapi Kat Wi tetap merangsang hendak menyambar
lengan lawan. Kat Hong tak senang melihat tindakan adiknya yang melanggar peraturan
pertempuran. Orang sudah berhenti, dia mencuri kesempatan menyerang. Cepat-cepat Kat
Hong loncat menghampiri. Maksudnya hendak mencegah sang adik. Tetapi Siu-lam salah
mengerti. Dikiranya Kat Hong hendak membantu adiknya. Dengan seluruh sisa tenaganya
Siu-lam gunakan jurus Khui-long-poh-lam menyongsong Kat Hong. Sedang sikut kirinya
menyodok lambung Kat Wi.
Karena marah Siu-lam telah gunakan seluruh tenaganya. Ia bersedia bertempur sampai
mati.
Kat Hong kaget. Ia tak mengira Siu-lam akan menyerang dirinya. Karena serangan
dilakukan cepat sekali, tak mungkin ia menghindar. Terpaksa ia menangkis dengan tangan
kanan.
Dua buah pukulan itu menimbulkan reaksi yang cukup hebat. Tinju Kat Hong tertahan
di tengah jalan karena terdampar angin pukulan Siu-lam. Tetapi Siu-lam pun tergetar
tangannya sehingga membentur tangan Kat Wi.
“Hm, kau sendiri yang cari sakit, jangan salahkan aku seorang kejam!” Kat Wi
mendengus dingin seraya mencengkeram siku lengan orang. Seketika Siu-lam rasakan
lemas, darah membalik ke atas melancar jantung. Dadanya hampir meledak.
“Menang karena mengeroyok, bukanlah….” belum selesai Siu-lam menghamburkan
makian tiba-tiba terdengar lengkingan seorang dara, “Cis, tak tahu malu, masakan dua
orang mengeroyok seorang!”
Sesosok tubuh melayang dari udara dan tahu-tahu Kat Wi lepaskan cengkeramannya
dan terpental mundur. Seorang dara kira-kira berumur lima belasan tahun, muncul di

muka Siu-lam. Rambut dara itu dikepang dua, pakaiannya dari kain kasar. Dengan wajah
marah, ia melindungi di depan Siu-lam.
Bermula Kat Wi mengira dirinya didorong oleh seorang sakti. Demi melihat pendatang
itu hanya seorang dara gunung, marahlah ia, “Budak liar, ayo lekas enyah kau!” ia maju
menghampiri.
“Siapa yang kau maki?” dara itu melengking marah. Dengan gerakan yang luar biasa
cepatnya, ia menyerang Kat Wi. Hanya dalam sekejap mata saja ia sudah lancarkan tiga
serangan kilat. Kat Wi dipaksa mundur beberapa langkah.
Sebenarnya Kat Hong hendak melindungi Siu-lam tetapi karena munculnya si dara yang
menyerang Kat Wi begitu deras, karena kuatir adiknya menderita, Kat Hong terpaksa
menampar punggung dara itu. Tetapi Siu-lam pun menguatirkan keselamatan si dara.
Begitu Kat Hong menampar, Siu-lam juga menyerang Kat Hong.
“Siapa suruh kau membantu aku? Lekas mundur!” Di luar dugaan dara itu berpaling
dan membentak Siu-lam.
“Apa?” Siu-lam terhenyak.
Adalah karena membagi perhatian pada Siu-lam maka lengan dara itu tertepuk tangan
Kat Hong. Dara itu tertawa dingin. Cepat laksana kilat, ia tusukkan jarinya ke siku lengan
Kat Hong. Kat Hong terkejut dan cepat-cepat loncat mundur.
“Hai, mengapa dia dapat bergerak luar biasa cepatnya!” diam-diam Kat Hong
mengagumi.
Saat itu Kat Wi marah sekali. Cepat ia mencabut sepasang poan-koan-pitnya. Ilmu
ajaran dari ayahnya (Kat Thiat-beng) yang disebut Liu-sing-pit atau pit bintang meluncur
segera dimainkan. Ilmu totokan poan-koan-pit yang terdiri dari tiga puluh enam jurus itu
hebatnya bukan kepalang. Seketika tubuh Kat Wi seperti terbungkus oleh ribuan sinar
bintang.
Liu-sing-pit merupakan kepandaian istimewa dari Kat Thian-beng. Jago itu mengambil
kelebihan-kelebihan dari berbagai ilmu, digabung dan disempurnakan sehingga kaya
dengan variasi. Jurus-jurus ilmu pedang, golok, tombak dan lain-lain, semua terdapat
dalam ilmu poan-koan-pit!
Kat Hong tak setuju melihat adiknya menghadapi seorang dara gunung dengan cara
begitu. Waktu ia hendak mencegah, tiba-tiba dara itu sudah maju menerjang hamburan
sinar pit. Dengan sepasang tangan kosong, dara itu menghadap sepasang poan-koan-pit!
Berselang lima jurus kemudian, sekonyong-konyong dara itu melengking. Sekali
balikkan tangan, ia dapat menangkap siku lengan kanan Kat Wi. Dan sekali disentakkan,
berhasillah ia merebut sebatang poan-koan-pit dari anak muda itu.
Indah dan luar biasa sekali gerakan dara itu. Kat Hong dan Siu-lam benar-benar tak
mengerti, ilmu apakah yang digunakan si dara untuk merebut poan-koan-pit Kat Wi itu.

Sebelum Kat Hong dan Siu-lam hilang cengangnya, tiba-tiba si dara melangkah maju
dan setelah menghalang poan-koan-pit di tangan kiri Kat Wi, si dara segera mengangkat
tangannya dan siap menusukkan poan-koan-pit rampasannya tadi ke dada lawan….
Tiba-tiba Kat Wi menjerit dan mundur dua langkah. Bluk, ia jatuh terduduk di tanah.
Poan-koan-pitnyapun jatuh ke tanah!
Melihat adiknya jatuh, marahlah Kat Hong. Karena teraling tubuh si dara, ia tak tahu
bagaimana adiknya sampai rubuh itu. Tetapi ia duga tentulah ditusuk si dara. Cepat ia
mencabut sepasang poan-koan-pitnya dan terus menyerang si dara. Sekaligus ia gunakan
jurus Hong-lui-ki-hwat atau badai dan halilintar menderu, menutuk punggung, kepala dan
pinggang si dara. Cepat dan dahsyatnya bukan main sehingga tak keburu lagi Siu-lam
hendak mencegah.
“Awas, nona!” satu-satunya cara untuk membantu si dara hanyalah berseru
memperingatkannya.
Sebenarnya teriakan Siu-lam itupun sudah dekat punggung si dara. Dan tampaknya si
dara masih acuh tak acuh. Begitu poan-koan-pit hampir menyentuh punggungnya barulah
ia membungkuk ke muka dan gerakkan sebelah kaki menyapu kaki lawan.
Gerak menghindar dan menyerang itu membuat Kat Hong terkejut. Buru-buru ia loncat
ke belakang. Cepat memang pemuda itu membuat reaksi, tetapi ternyata si dara lebih
cepat lagi. Sebelum tubuh pemuda itu melayang ke belakang, kaki si dara sudah
mendahului menyepak lututnya. Seketika Kat Hong rasakan separuh tubuhnya kaku.
Walaupun ia tak sampai rubuh tetapi ia tak mempunyai tenaga untuk menyerang lagi.
Dara itu melenting berputar diri, serunya, “Jika ayahku tak melarang sembarangan
melukai orang, kakimu tentu sudah kupatahkan!” Ia buang poan-koan-pit rampasan dari
Kat Wi ke tanah. Berputar tubuh terus ngeloyor pergi….
Sebagai seorang yang berpengalaman, seketika tahulah Thian Hong bahwa dara itu
seorang sakti.
Percuma ia hendak mengejarnya. Dan yang penting dalam rombongannya harus ada
yang memimpin. Jika ia sampai kalah lagi dengan dara aneh itu, rombonganna pasti
berantakan ibarat sapu lidi tanpa pengikat. Dengan pertimbangan itu ia memutuskan
untuk tidak turun tangan.
Setelah beberapa tombak jauhnya, tiba-tiba dara gunung itu berpaling dan berseru, “Ih,
kenapa kau tak menyusul aku? Begitu aku sudah jauh, orang tentu akan mengganggumu
lagi!”
Siu-lam gelagapan. Ikut salah, tidak ikut pun salah. Ia terlongong-longong. Akhirnya ia
menyusul dara itu.
Walaupun betis kakinya terluka, namun Kat Hong masih memikirkan keadaan adiknya.
Dengan kerahkan tenaga ia loncat ke tempat adiknya, “Apakah lukamu parah?” Baru ia
mengucap begitu, tiba-tiba kaki kirinya terasa linu kesemutan dan tubuh terhuyunghuyung.
Buru-buru ia duduk.
Kat Wi membuka mata dan menggeleng, “Bukan dara gunung itu yang melukai diriku!”

Thian Hong cepat lari menghampiri, tukasnya, “Oh, kemungkinan tentulah racun
pukulan dara baju merah itulah yang menyebabkan!” cepat ia membuka baju Kat Wi dan
memeriksanya. Pada punggung pemuda itu terdapat telapak jari merah. Sekelilingnya
membenjul biru.
Kat Hong terkejut dan buru-buru suruh adiknya menyalurkan pernapasan, “Setelah kau
dapat menghentikan rasa sakit, segera aku kupanggul pulang. Mungkin ayah dapat
menolong!”
Berkata paderi Thian Hong, “Kita semua terkena pukulan beracun dari dara baju merah
itu. Hanya karena keadaan badan dan latihan kita masing-masing berbeda maka
bekerjanya racun itupun berbeda juga waktunya. Sebenarnya berkat tenaga dalam yang
cukup kokoh, adikmu dapat bertahan lama. Tetapi karena bertempur tadi maka darah
mengalir lebih keras dan racun cepat bekerjanya,” paderi itu diam sejenak menghela
napas. Katanya pula, “Terus terang, aku sendiri saat inipun agak mulai terasa sakit di
punggung. Mungkin racun sudah mulai bekerja. Sekalipun ayahmu mungkin dapat
menyembuhkan, tetapi jarak gunung Hun-tay-san amat jauh. Dalam waktu setengah hari
tidak mungkin dicapai. Apabila di tengah jalan racun dalam tubuhmupun bekerja, siapakah
yang akan menolong?”
Seperti disadarkan, Kat Hong segera menyalurkan darahnya. Ah, punggungnya juga
terasa kaku-kaku sakit.
“Memang ucapan lo-cianpwe tepat. Tetapi apakah kita rela mati menunggu kematian
tanpa berdaya apa-apa?” bantahnya. Dan berpaling kepada adikya, tampak kepala Kat Wi
bercucuran keringat. Kat Hong makin bingung.
Thian Hong seorang paderi yang banyak pengalaman. Dalam menghadapi kesukaran
saat itu ia tetap bersikap tenang. Ujarnya sambil tersenyum, “Harap Kat-heng jangan
gelisah. Ijinkan aku memikirkan daya upaya!”
Menengadah ke atas, tampak deretan puncak gunung yang tertutup salju. Namun
paderi itu tak tertarik akan pemandangan alam yang sepermai itu. Tiba-tiba ia merogoh ke
dalam jubahnya dan mengeluarkan dua botol kumala. Dituangnya dua butir pil, serangkum
hawa wangi membaur semerbak.
“Ah, kalau pil ini dapat menyembuhkan luka Wan Kiu-gui dari racun Chit-jiau-soh,
mungkin dapat juga untuk menyembuhkan luka pukulan beracun dari dara baju merah.
Betapapun halnya, baiklah kucoba pada mereka,” sejenak ia menimang lalu memberikan
kedua butir pil itu pada Lo Kun dan menyuruhnya minum.
Saat itu keadaan Lo Kun makin payah. Walau ia bersemedhi dan berjuang mati-matian
untuk menutup racun, namun tubuhnya tetap panas seperti terbakar. Keringat membanjir
seperti orang mandi. Antara sadar tak sadar, Lo Kun menyambut pil dan terus
menelannya. Dengan tegangnya, Thian Hong menunggu perkembangan Lo Kun. Dapat
tidaknya pil itu menyembuhkan racun pukulan si dara, tergantung dari percobaan pada Lo
Kun!
Sepeminum teh lamanya, keringat Lo Kun mulai berkurang dan cahaya mukanya mulai
tenang. Girang Thian Hong bukan kepalang. Segera ia membagikan pil itu pada dua kakak

beradik Kat serta keempat muridnya. Setelah minum dan menyalurkan darah, keadaan
mereka tampak baik lagi.
Sekarang kita ikuti dulu Siu-lam yang menyusul si dara gunung. Kira-kira empat li
jauhnya, tiba-tiba Siu-lam berhenti. Ia teringat akan penderitaan yang dialami sumoaynya.
Setiap detik terlambat, berarti setiap detik siksaan bagi sumoaynya itu.
“Terima kasih atas pertolonganmu, nona!” Ia berseru kepada dara gunung itu.
Tiba-tiba dara gunung itu berpaling dan menegur, “Ih, apakah kau lupa padaku?”
Sebenarnya Siu-lam samar-samar sudah ingat bahwa dara gunung itu adalah dara dari
warung makan yang pernah disinggahinya ketika ia hendak mendaki ke gunung Coh-yang
mencari Su Bo-tun tempo hari. Hanya karena tak tahu siapa namanya, maka tak dapatlah
Siu-lam memanggil. Buru-buru ia memberi hormat, “Masakan aku lupa akan pertolongan
nona yang telah memberi makan padaku tempo bulan yang lalu. Karena tak tahu….”
“Benar,” tukas si dara gunung, “memang saat itu aku tak memberitahukan siapa
namaku. Nah, dengarlah. Aku orang she Tan…” tiba-tiba dara itu tersipu-sipu merah
mukanya. Ia teringat dirinya seorang anak perawan masakan tak sungkan
memberitahukan nama kepada seorang pemuda.
“O, kiranya nona Tan. Aku bernama Pui Siu-lam,” Siu-lam memberi hormat.
Tiba-tiba dara itu menghela napas, “Ah, kakekkupun datang!” Nadanya penuh
kerawanan disertai dengan kerut wajah yang muram.
Siu-lam terkesiap heran, ujarnya, “Kakek nona tentu seorang cianpwe sakti yang
terpendam. Sungguh suatu kebahagiaan apabila aku dapat berjumpa!”
Dara itu menghela napas, “Penyakit lama kakekku baru-baru ini kambuh lagi. Sudah
tiga hari tiga malam beliau tak sadar. Di tengah gunung sunyi ini sebagai dara aku harus
menghadapi peristiwa begini,” bercucuran air mata dara itu.
“Harap nona jangan bersedih. Orang baik tentu diberkahi Tuhan,” Siu-lam menghibur.
“Ah, tetapi kakek mungkin tak dapat hidup lagi,” kata si dara dengan rawan.
Siu-lam tertegun, ujarnya, “Aku membawa beberapa macam pil mujijat dari Ti-ki-cu
Gan Leng-po. Mungkin dapat menyembuhkan kakek nona!”
Si dara menggeleng, “Dalam hal ilmu pengobatan, kakek tiada tandingannya. Penyakita
yang betapa beratpun dapat disembuhkan. Kali ini dia tak dapat menyembuhkan lukanya
sendiri, terang kalau sudah tiada harapan. Sekalipun tabib Hoa To yang termasyhur hidup
lagi, tetap takkan dapat menolongnya!”
Habis berkata dara itu lalu berjalan perlahan-lahan.
Siu-lam tertegun. Ia teringat beberapa kali telah mendapat pertolongan. Bagaimana ia
dapat membiarkan dara itu pergi seorang diri dalam kesusahan? Dan sekurang-kurangnya
ia haturkan terima kasih pada dara itu. Segera ia mengikutinya.

Setelah menikung dua buah tikungan, tibalah mereka di sebuah karang tinggi. Si dara
memandang ke atas karang, serunya, “Kakek tinggal di goha puncak karang itu!” tiba-tiba
ia loncat melambung dan berjumpalitan di udara, lalu melayang ke puncak karang.
Siu-lam menimang-nimang. Puncak karang itu tidak kurang dari dua tombak lebih
tingginya. Sekalipun ia kerahkan seluruh ilmu ginkangnya, tak mungkin ia mampu
mencapai puncak karang itu. Karena itu melandai tinggi, tiada terdapat lekuk atau
benjolan yang dapat dibuat memanjat. Siu-lam kesima.
Rupanya dara itu tahu apa yang diresahkan si anak muda. Segera ia melolos ikat
pinggang dan menjulurkan ke bawah, “Loncat dan peganglah ujung ikat pinggang, biar
kutarik kau ke atas!”
Walau malu hati, tetapi Siu-lam terpaksa menurut juga. Setelah berhasil menarik
pemuda itu ke atas dan memakai ikat pinggangnya lagi, si dara mengatakan kakeknya
tinggal di dalam goha di sebelah muka. Dara itupun lalu berjalan menuju ke goha itu.
Memang Siu-lam melihat di hadapannya terdapat sebuah goa, kecil dan besar. Seorang
tua bungkuk dan jenggotnya putih, tengah berbaring di atas tumpukan rumput kering.
“Kek, ada tetamu hendak menjengukmu!” si dara berlutut di sisi orang tua itu dan
memanggilnya beberapa kali. Tetapi rupanya orang tua itu tidak mendengar. Bahkan
tubuhnyapun tak berkutik sama sekali.
“Biarkan dia tidur, tidak usah dibangunkan,” kata Siu-lam. Rupanya si dara mau
mendengarkan perintah Siu-lam. Ia duduk memeluk lutut dan air matanya bercucuran
memandang keadaan sang kakek….
Suasana dalam ruang goa sunyi senyap. Siu-lam tak tahu bagaimana harus menghibur
dara itu. Diam-diam ia heran. Orang tua itu tentulah seorang tokoh yang berilmu sakti.
Mengapa berada dalam tempat semacam itu? Apakah penyakit yang diidapnya?
Tiba-tiba orang tua itu menghela napas dan bangun. “Song-ji, kau menangis lagi?”
serunya kepada si dara yang sesenggukan.
Buru-buru si dara mengusap matanya dan menggantinya dengan tertawa, “Tidak, kek.
Aku tidak menangis.”
Namun betapapun dara itu berusaha untuk menutupi kesedihannya, tetap makin
menambah suasana kedukaan saat itu.
Kakek bungkuk itu menggelengkan kepala, “Telah kukatakan padamu beberapa kali.
Saat ini kau sedang berlatih lwekang Hian-shian-ginkang. Di antara dua belas jalan
darahmu ada jalan darah terakhirmu yang belum terbuka yakni jalan darah Seng-si-hiankwan.
Justeru inilah yang paling penting. Dapat tidaknya latihan itu selesai, tergantung
dari dapat tidaknya Sang-si-hian-kwanmu tertembus. Lukaku yang lama kambuh lagi,
racun sudah menjalar ke seluruh tubuhku. Sekalipun mendapat pil dewa, tak mungkin
dapat menolong jiwaku.”
Katanya lagi, “Tenaga murni sudah habis. Aku sudah seperti pelita kehabisan minyak.
Maka sebelum menutup mata, aku ingin menyempurnakan kepandaianmu. Untuk itu
dengan paksakan diri setiap hari karena menderita siksaan harus menyalurkan darah

dalam tubuhku….” ia berhenti sejenak dan perlahan-lahan alihkan pandangannya kepada
Siu-lam. Tegurnya, “Song-jie, siapakah orang itu?”
“Dia orang yang kutolong baru saja tadi!” sahut si dara. Kemudian ia menerangkan
bagaimana Siu-lam dikerubuti beberapa orang dan akhirnya ikut hendak menjenguk
kakeknya di goa.
Siu-lam tersipu-sipu merah mukanya. Ia merasa tersinggung atas ucapan si dara yang
menyebut-nyebut tentang pertolongannya. Buru-buru ia bangkit dan memberi hormat
kepada dara itu, “Terima kasih budi pertolongan nona. Lain waktu aku tentu akan
membalasmu. Karena masih ada lain urusan penting, aku mohon diri!”
Baru tiba di mulut goha, tiba-tiba terdengar si kakek menggeram, “Hm, belum pernah
ada orang yang berani bertingkah liar di hadapanku. Nyalimu besar sekali, budak. Kau
mau kembali atau tidak?”
Walaupun nadanya agak rendah tak bertenaga tetapi masih penuh wibawa. Siu-lam
tertegun dan berhenti. Berpaling ke belakang dilihatnya kakek bungkuk itu duduk
bersandar dinding goha. Wajahnya pucat tetapi tetap memancar kewibawaan. Tanpa
disadari Siu-lampun menghampiri lagi.
Di hadapan si kakek, Siu-lam pun membungkuk memberi hormat, “Lo-cianpwe hendak
memberi pesan apa?”
Kakek itu membuka mata. Matanya memancarkan sinar berkilat-kilat tajam. Pada saat
pandangan Siu-lam beradu dengan mata si kakek, diam-diam ia menggigil.
Si kakek memandang Siu-lam dari ujung kaki hingga ke atas kepala. Serunya dingin,
“Berhadapan dengan aku, mengapa kau begini tak tahu adat?”
“Ah, mana aku berani,” Siu-lam tersipu-sipu.
“Dewasa ini, orang yang berhadapan dengan aku dan tak memberi hormat, sungguh
dapat dihitung jumlahnya. Dan kau termasuk orang yang memperlakukan aku seperti
orang biasa saja!” kata si kakek.
Panas juga hati Siu-lam mendengar kata-kata sombong dari si kakek. Kalau menuruti
perasaannya, seketika itu juga ingin mendampratnya. Tetapi pada lain saat itu teringat
akan si dara. Jika ia berlaku keras terhadap si kakek itu, tentulah si dara akan berduka.
Bukankah ia berhutang budi dengan dara itu. Ah, lebih baik ia menuruti kata-kata si kakek.
Buru-buru ia bangkit dan memberi hormat kepada si kakek.
Tiba-tiba wajah kakek itu berubah gembira. Katanya dengan lemah, “Bangunlah, nak!
Memang tak terhitung jumlahnya orang yang memberi hormat kepadaku. Tetapi orang
yang memberi hormat begini khidmat, hanyalah kau seorang….”
Diam-diam Siu-lam mengkal. Bukankah si kakek itu sendiri yang menyuruh ia memberi
hormat. Dengan penuh keberanian, Siu-lam mengangkat kepala dan menatap si kakek.
Pada kedua pipi si kakek itu terdapat dua buah bekas luka guratan golok. Suatu hiasan
yang menambah keseraman wajah kakek itu.

Kakek bungkuk itu menghela napas. Ia memandang keluar goha yang telah terang
benderang tertimpa sinar mentari pagi. Kemudian ia memandang si dara. Katanya seorang
diri, “Song-ji, aku kuatir tak dapat keluar dari goha ini selama-lamanya. Andaikata dapat
keluar, tetapi sudah tak dapat menikmati alam pemandangan di luar goha lagi….”
Tiba-tiba dara itu menangis sesenggukan, ujarnya berbisik, “Kek, jangan tinggalkan
aku! Di dunia hanya kakek seorang yang menjadi keluarga….”
Tubuh kakek itu agak gemetar. Ujarnya setengah berbisik, “Aku sudah menderita
selama belasan tahun. Kini rupanya tak dapat kupertahankan lagi. Kecuali bisa mendapat
peta Telaga Darah….ah, percuma. Sekalipun bisa mendapatkan peta itu, tetapi sudah
terlambat….”
“Tidak, kek! Kutahu kau masih dapat hidup lebih panjang, tetapi kau sendiri rupanya
yang tidak mau.”
Kakek bungkuk itu merenung. Pelahan-lahan ia ulurkan tangan mengelus-elus kepala si
dara, “Aku sudah kehabisan tenaga murni. Walaupun minum air Ki-seng-hwe-si, juga tak
dapat menolong lagi. Ah, kau bakal hidup seorang diri….”
Dara itu tak dapat menahan kedukaannya. Ia menubruk dada si kakek dan menangis
tersedu-sedan. Kakek itu pejamkan mata. Dua butir air mata mengalir dari ujung
pelupuknya….
Ruang goha sunyi senyap. Diam-diam Siu-lam timbul keheranan. Dara itu begitu cinta
sekali kepada si kakek. Tetapi siapakah ayah bundanya? Apakah ayah-bundanya sudah
meninggal?”
Si kakek membuka mata lagi dan pelahan-lahan mendorong tubuh si dara, ujarnya,
“Jangan menangis, cucuku! Di dunia tiada pesta yang tak berakhir. Meskipun aku dapat
hidup beberapa tahun lagi, toh tak nanti kau ikut padaku seumur hidup!”
“Tidak, kek,” sahut si dara, “sehari kakek hidup, sehari aku tetap akan menemanimu.”
Tiba-tiba wajah kakek itu mengerut serius, “Song-ji, paling banyak aku hanya dapat
hidup setengah bulan lagi. Dalam waktu singkat itu aku harus dapat menurunkan seluruh
ilmuku kepadamu….” Ia berhenti sejenak memulangkan napas, “selama belasan tahun ini,
kau telah berlatih dengan sungguh-sungguh sehingga kau telah mencapai kemajuan yang
hebat. Telah kusadari bahwa aku tak dapat hidup lebih lama maka kutilik latihan dengan
bengis. Tujuanku tak lain agar kau benar-benar dapat mewarisi kepandaianku. Asal aku
dapat hidup setengah tahun lagi, cita-citaku tentu terlaksana. Tetapi ah, rupanya Tuhan
tak mengijinkan. Pada saat rencanaku belum selesai, tiba-tiba penyakitku lama kambuh
lagi!”
“Mengapa dulu-dulu kau tak memberitahukan kepadaku, kek?”
“Agar pikiranmu tidak terganggu! Nah, sekarang dengarkanlah pesanku. Sebelum mati,
aku menghendaki jalan darah Seng-si-hian-kwanmu terbuka agar latihanmu mencapai
kesempurnaan. Tetapi jika hal itu gagal, lebih baik kulenyapkan seluruh kepandaianmu
dan kawinlah dengan seorang gunung. Mungkin kau dapat hidup bahagia….”
Jilid 7

“KEK….!” Si dara menjerit kaget.
Kakek berjenggot perak itu merogoh keluar sebatang pisau kecil lalu dilemparkan ke
tanah.
Dengan wajah serius berkatalah dia, “Sudah lama kusiapkan pisau kecil ini. Sebelum
aku mati, jika jalan darahmu Seng-si-hian-kwan belum terbuka, urat-urat Sau-im-sim-keng
di lengan kirimu, akan kupotong agar kepandaianmu punah….”
Mendengar itu ngerilah Siu-lam. Ia gemetar dan mengucurkan keringat dingin. Pikirnya,
“Kakek ini kejam sekali. Terhadap darah dagingnya sendiri, ia begitu dingin….”
Tiba-tiba kakek berjenggot perak itu menghela napas. Ujarnya, “Sejak kecil aku telah
mendapat pelajaran ilmu pengobatan dari suhuku. Aku paham sekali akan letak jalan
darah tubuh manusia. Andaikata sampai salah, paling-paling kau hanya kehilangan sebuah
lengan. Kejam tampaknya tetapi demi untuk kebahagiaan hidupmu, Song-ji!”
Diam-diam Siu-lam mengakui kebenaran ucapan kakek itu. Memang lebih bahagia bagi
seorang anak perempuan jika tak mengerti ilmu silat. Dia menikah, menjadi isteri dan ibu
yang merawat rumah tangga dan anak-anak.
Berkata si kakek lebih lanjut, “Ketahuilah, kepandaianmu sekarang ini tak sembarangan
tokoh persilatan mampu menandingi. Jika aku mati dan kau berkelana di dunia persilatan,
tentu akan bertempur dengan orang. Dan sekali bertempur, orang tentu akan mengetahui
sumber ilmu silatmu. Lalu menyelidiki asal-usulmu. Pada waktu itulah….” tiba-tiba kakek
itu hentikan bicara dan memandang wajah si dara.
Si dara tertawa rawan, “Apakah kakek menguatirkan musuh-musuhmu akan melakukan
pembalasan kepadaku?”
“Benar! Jika tahu asal-usulmu, mereka tentu berusaha keras untuk menangkapmu. Dan
sekali kau sampai jatuh ke tangan mereka, kau tentu akan merasakan derita siksaan yang
paling ngeri di dunia….” si kakek berhenti sejenak, lalu berkata pula, “Siksaan itu benarbenar
tak terperikan sakitnya. Song-ji, menghadapi saat-saat seperti itu, sekalipun kau
ingin mati juga tak bisa!”
Kakek dan cucu itu bicara asyik, Siu-lam tak dihiraukan sama sekali. Tampak si dara
merenung diam. Bukan karena ngeri mendengar kata-kata kakeknya. Tetapi sedang
mempertimbangkan sesuatu hal penting.
Beberapa saat kemudian si kakek melanjutkan lagi, “Merekapun berusaha mencari aku,
tetapi sampai begitu juga tak berhasil. Tetapi mereka tetap belum puas. Bulan yang lalu,
kedua orang yang kau totok jalan darahnya dalam warung itu, setelah kuperiksa mereka
mengaku memang orang Beng-gak. Karena itu maka segera kututup warung dan kuajak
aku pindah kemari. Ah, di tengah perjalanan kudengar lagi tentang tersiarnya peta Telaga
Darah. Serentak kurobah rencana dan menuju ke gunung Kiu-kiong-san. Tetapi tak
kunyana, karena perjalanan itulah maka penyakit lamaku kambuh lagi….” ia berhenti
terbatuk-batuk.

Si dara mengelus-elus punggung kakeknya. Setelah kakek itu berhenti batuk,
bertanyalah dara itu, “Kakek pandai sekali ilmu obat-obatan. Masakan tak dapat
mengobati penyakitmu sendiri?”
Kakek itu gelengkan kepala! “Ah, memang dalam ilmu pengobatan, tiada yang mampu
menandingi aku. Jika tidak, tentu aku sudah mati sepuluh tahun yang lalu!”
Diam-diam Siu-lam terkejut. Dalam dunia persilatan hanya tabib Gan Leng-po yang
termasyhur pandai. Mengapa kakek itu membanggakan dirinya tiada tandingan?
Mendengar ucapan si kakek, menangislah si dara, “Kalau begitu penyakit kakek tiada
obatnya lagi?”
“Untuk menyembuhkan lukaku, hanya kecuali jika kakek gurumu Lo Hian muncul di
gunung sini lagi!”
Siu-lam terbelalak. Jika kakek itu mengatakan si dara sebagai cucu-murid dari orang
sakti Lo Hian, tentulah kakek itu adalah murid dari Lo Hian.
“Tetapi kakek-gurumu Lo Hian sudah lama meninggalkan dunia fana ini. Nak, jangan
memimpikan hal yang tak mungkin!”
Tiba-tiba wajah si dara mengerut gelap, serunya, “Karena ternyata luka kakek tak
mungkin disembuhkan lagi, aku tak ingin hidup sebatang kara di dunia. Selesai mengubur
jenazah kakek, segera aku pun hendak menghabiskan jiwaku di hadapan makammu!”
Si kakek terkesiap. Sesaat kemudian ia marah, “Dengan susah payah kurawat kau
sampai dewasa. Aku mewajibkan diri sebagai ganti orang tuamu. Belasan tahun aku rela
menderita siksaan sakit dari jalan darahku yang bergolak-golak sehingga seluruh tenaga
murni dalam tubuhku habis. Kuhabiskan tenagaku untuk mencari daun obat untuk
memperpanjang jiwaku. Apakah guna kesemuanya itu? Tak kira sekarang setelah kau
besar, ternyata begitu ringan kau memandang jiwamu. Jika dulu tahu begitu, tak perlu
kualami penderitaan sekian lama!”
Mendengar dampratan itu, menangislah si dara. Serunya terisak-isak, “Jika kakek tak
menghendaki aku menyusul kau ke akhirat, apakah kakek hendak membiarkan aku
seorang dara berkeliaran di dunia persilatan seorang diri?”
Kakek jenggot putih itu menghela napas pelahan, “Aku telah berusaha sekuat-kuatnya
untuk mencari obat. Selama ini memang aku berhasil mengumpulkan ramuan obat yang
tak ternilai mutunya. Dan kini aku kehabisan darah dan tenaga murni….” ia berhenti
terbatuk-batuk lalu berkata pula, “Sekarang tak dapat kuketahui sampai berapa lama lagi
dapat kupertahankan hidupku. Tetapi akan kugunakan waktu itu sebaik-baiknya untuk
menyelesaikan harapanku membuka jalan darah Seng-si-hian-kwan tubuhmu. Dalam ilmu
pedang, kau sudah mendapat tujuh delapan bagian dari pelajaranku. Asal kau giat berlatih
tentu akan mencapai kesempurnaan. Pada saat aku menghembuskan napas terakhir, jika
jalan darahmu Seng-si-hian-kwat tak dapat terbuka, kau harus memotong sebelah urat
nadimu. Dan sejak itu janganlah kau bicara soal ilmu silat lagi!”
Perlahan-lahan mata si dara tertumpah pada pisau kecil di atas tanah. Butir-butir air
mata mencucur dari matanya. Beberapa saat kemudian barulah ia kerutkan gigi dan
berseru dengan nada keras, “Karena kakek sudah menetapkan sudah tentu Song-ji tak

berani melanggar. Aku akan berusaha keras agar harapan kakek terlaksana!” habis
berkata ia segera duduk bersila pejamkan mata.
Kemudian si kakek memandang pada Siu-lam, tegurnya, “Anak murid siapakah kau?”
“Wanpwe adalah anak murid dari Ciu Pwe lo-enghiong,” sahut Siu-lam.
Kata si kakek, “Kau dapat berjumpa dengan aku tanpa kita berjodoh. Aku hendak minta
tolong sebuah hal padamu, apakah kau suka meluluskannya?”
Karena teringat akan keselamatan sumoaynya, Siu-lam agak meragu. Tetapi akhirnya ia
menerima juga.
Sepasang alis kakek itu berjungkat ke atas. Wajahnya memancarkan sinar kemarahan.
Tetapi pada lain saat ia tenang kembali, ujarnya, “Setiap hari aku harus menggunakan sisa
tenaga murniku melawan derita kesakitan dari jalan darahku. Dalam keadaan seperti saat
itu aku tak berdaya melawan serangan siapapun juga….”
“Apakah lo-cianpwe menghendaki aku supaya melindungi nona Tan?” seru Siu-lam.
Tiba-tiba wajah kakek itu merah, serunya, “Seumur hidup aku tak pernah minta tolong
pada orang. Jika kau meluluskan hal itu, tentu kau takkan kecewa. Pada saat semangatku
sadar, akan kuberimu bermacam ilmu silat. Hal itu akan kulangsungkan sampai jalan darah
Seng-si-hian-kwan Song-ji sudah terbuka atau napas sudah berhenti.”
Diam-diam Siu-lam girang. Ya, cukup dengan satu dua macam ilmu saja, tentulah ia
akan memiliki kesaktian yang menggemparkan. Tetapi pada lain saat ia teringat akan
keselamatan sumoaynya. Buru-buru ia hendak menolak permintaan si kakek, tetapi pada
lain kilas ia teringat akan pernyataan kakek itu tadi. “Ah, bahwa dia bakal tak lama hidup
di dunia tentulah tidak bohong! Wanita berwajah seram itu memberi batas waktu sampai
tiga bulan. Rasanya sekarang masih ada waktu. Ah, lebih baik kuterima permintaan kakek
ini. Menilik kepandaian si dara itu, apabila aku dapat memperoleh kepandaian kakeknya
tentulah bermanfaat sekali buat melaksanakan tujuanku membalas sakit hati kedua
guruku….”
Akhirnya ia berkata kepada si kakek, “Aku merasa berhutang budi kepada nona Tan.
Sudah tentu aku wajib membalasnya. Tetapi sayang aku mempunyai janji dengan orang
lain sehingga tak dapat lama-lama tinggal di sini. Jika dalam setengah bulan nona Tan tak
dapat terbuka Seng-si-hian-kwannya, akupun terpaksa akan tinggalkan tempat ini.”
Kakek jenggot putih menghela napas, “Mungkin sukar aku bertahan diri sampai
setengah bulan. Jika dalam setengah bulan itu dia tak berhasil membuka Seng-si-hiankwannya,
biarlah dia memotong urat nadinya dan melenyapkan seluruh ilmu
kepandaiannya….” ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Senjata apakah yang biasa kau
gunakan?”
“Pedang!” sahut Siu-lam.
Si kakek memungut sebatang ranting pohon siong yang panjang, serunya, “Lebih dulu
hendak kuajarkan sebuah ilmu pedang. Hanya karena tenaga murniku sudah hampir habis
maka sukarlah kuberi penjelasan. Kau harus memperhatikan sendiri!” habis berkata segera

ia gerak-gerakkan batang ranting itu. Sambil memberi keterangan sambil memainkan
gerakannya.
Siu-lam mencurahkan seluruh perhatiannya dan menirukan gerakan si kakek. Pada
permulaan ia masih belum mengetahui betapa tinggi keindahan ilmu pedang itu.
Dua belas jurus kemudian, si kakek berhenti, ujarnya, “Ilmu pedang ini, boleh dikatakan
sudah selesai. Kau harus mempelajarinya sendiri. Jika ada yang kurang jelas, boleh kau
tanyakan padaku.” Habis berkata si kakek lalu pejamkan mata dan melakukan penyaluran
napas. Rupanya ia harus mengalami penderitaan yang hebat akibat kehabisan tenaga.
Makin yakin Siu-lam bahwa orang tua itu orang sakti, makin tumbuhlah rasa kagum dan
perindahannya. Tetapi diam-diam iapun kasihan melihat bagaimana penderitaan orang tua
itu untuk menggembleng cucunya. Tiba-tiba ia teringat akan pelajaran orang tua itu tadi.
Buru-buru ia memungut batang pohon dan segera berlatih. Tetapi makin lama ia makin
bingung. Beberapa kali ia terpaksa berhenti. Pikirnya hendak bertanya pada orang tua itu.
Tetapi ketika menampak wajahnya, keinginan itupun reda.
Saat itu si kakek sedang mandi keringat. Keringat bercucuran jelas dari kepala
membasahi mukanya. Jelas ia sedang berjuang mati-matian untuk menahan derita sakit
urat nadinya. Terpaksa Siu-lam tak mau mengganggunya.
Berpaling arah, dilihatnya si dara masih tetap duduk bersemedhi dengan wajah serius.
Kepalanya menengadah ke muka dan dari ubun-ubun kepalanya menguap asap. Diamdiam
Siu-lam kagum. Seorang dara yang baru belasan tahun umurnya ternyata sudah
memiliki ilmu lwekang yang sedemikian hebatnya.
Tiba-tiba Siu-lam gelagapan. Ia teringat akan tugas yang dihadapinya itu. Bukankah
tadi ia sudah menyanggupi diri untuk melindungi. Pada saat seperti itu, apabila ada musuh
datang, tentu celakalah kedua kakek dan cucu itu. Segera ia melangkah ke pintu goha.
Langit berkabut awan tebal dan angin menderu-deru. Beberapa saat kemudian tiba-tiba
cuaca berubah tenang. Puncak gunung yang putih tertutup salju, tampak menonjol jelas.
Sekonyong-konyong di antara angin puyuh, terdengar teriakan nyaring, “Kau mau
bilang tidak?”
Siu-lam terkejut. Ia tak asing dengan suara itu. Berpaling arah, dari mulut lembah
muncul dua orang lelaki. Orang yang di muka kedua tangannya diringkus ke belakang.
Dan di belakang seorang tua rambutnya terurai, memegang sebatang tongkat bambu, tak
henti-hentinya mendorong orang di muka itu supaya lekas berjalan. Ah, orang tua
berambut kusut itu bukan lain dari Ti-ki-cu Gan Leng-po! Dan yang tak henti-hentinya
didorong itu bukan lain ialah kepala golongan hitam daerah Kanglam Wan Kiu-gui.
Kedua tangan Wan Kiu-gui diikat ke belakang. Sambil tangan kiri memegang ujung tali,
tangan kanan Gan Leng-po yang mencekal tongkat, tak henti-hentinya menggebuki Wan
Kiu-gui.
Diam-diam Siu-lam geli, “Ah, tak nyana seorang pemimpin penyamun yang termasyhur,
telah ditawan dan digusur sedemikian rupa. Apabila diketahui anak buahnya, betapa
malunya!”

Tiba-tiba Siu-lam terkesiap. Gan Leng-po seorang tabib sakti. Siapa tahu ia mungkin
dapat mengobati luka kakek dalam goha ini. Baru ia hendak meneriaki, tiba-tiba Wan Kiugui
berhenti dan memandang ke atas. Buru-buru Siu-lam menyurut ke dalam goha.
Kedengaran Wan Kiu-gui berkata, “Aku benar-benar tak tahu di mana beradanya peta
Telaga Darah itu. Kalau tak percaya, apa yang dapat kulakukan?”
Gan Leng-po marah, “Masakan aku Gan Leng-po kena kau kelabui? Tak mau
mengatakan peta Telaga Darah jangan harap kau bisa hidup!”
“Masakan aku takut mati? Mau bunuh, bunuhlah! Tetapi kalau mau menghina secara
begini, jangan marah kalau kumaki-maki!”
“Asal kau dapat membawa aku ke tempat peta itu tentu segera kulepaskan. Kau bebas
pergi kemana saja, aku tak perduli lagi!” Gan Leng-po tetap mengoceh peta Telaga Darah
saja.
“Kau sudah memberi pertolongan mengobati lukaku. Tetapi juga tak sedikit hinaan
yang kau timpakan kepadaku. Budi dan dendam saling bertentangan. Jika aku
membunuhmu, bukankah aku membalas budi dengan kejahatan!”
“Jangan banyak bicara, lekas bawa aku ke tempat peta itu!” bentak Gan Leng-po.
Wan Kiu-gui tertawa dingin, “Walaupun aku tahu tempat itu, tetapi aku kuatir kau tak
berani memintanya.”
“Siapa bilang!” teriak si tabib.
Siu-lam terkejut. Dalam keadaan seperti orang gila itu, Gan Leng-po tentu berani
melakukan apa saja. Jika Wan Kiu-gui bermaksud hendak mencelakai dirinya (Siu-lam),
tentu mudah sekali. Bagaimana dengan keselamatan kakek dan cucunya ini? Ah, kakek ini
telah melepas budi kepadaku, aku harus melindungi mati-matian….”
Terdengar Wan Kiu-gui berkata, “Tempat peta itu jauh sekali. Mendaki puncak ini, kita
dapat menghemat waktu ke sana!”
Siu-lam makin kaget. Jika mereka naik ke puncak, tentulah mengetahui goha di situ.
Jelas kedua tokoh itu jauh lebih sakti dari dirinya. Siu-lam makin gelisah.
Tetapi agaknya Gan Leng-po tak mudah dikelabuhi. Serunya, “Mana bisa, puncak ini
melandai. Untuk mendaki tentu ikatan tanganmu harus dibuka dulu. Lebih baik kita ambil
jalan lain!”
Kedua orang itu segera melangkah pergi. Siu-lam menghela napas longgar. Ia duduk
termenung-menung menjaga di muka pintu goha. Entah beberapa lama kemudian, tibatiba
kedengaran si kakek jenggot putih berseru, “Apakah kau sudah mengerti ilmu pedang
yang kuajarkan tadi?”
“Ilmu pedang yang lo-cianpwe ajarkan, luar biasa indahnya. Setelah berlatih beberapa
jurus aku bingung!”

Kakek itu tersenyum, “Tak dapat menyalahkan kau. Kedua belas jurus ilmu itu,
memang merupakan kumpulan dari ilmu pedang di dunia persilatan. Sudah tentu dalam
waktu singkat kau tak mungkin dapat memahami perobahannnya. Tetapi asal kau ingat
baik gerakan kedua belas jurus itu dan terus berlatih giat, ilmu pedang itu tentu akan
dapat kau pahami. Tentang inti keindahannya, lama kelamaan kau tentu dapat menyelami
sendiri…” tiba-tiba ia berhenti dan berpaling ke arah cucunya. Wajahnya tampak berseri
girang.
Siu-lam heran mengapa kakek itu tiba-tiba begitu gembira. Tiba-tiba ia dapat
menangkap bunyi desir halus. Wajah si dara tampak merah dan tubuhnya menggigil.
Rupanya ia tengah menahan penderitaan hebat.
“Huak….!” tiba-tiba mulut dara itu menguak keras dan rubuhlah ia terjerembab ke
belakang.
Siu-lam terkejut dan cepat-cepat lompat hendak menolong. Tetapi si kakek
mencegahnya, “Jangan sentuh dia!”
Tangan Siu-lam yang sudah menyentuh pakaian si dara terpaksa ditarik lagi dan ia
mundur ke belakang. Dipandangnya kakek itu dengan kesima.
“Dia sedang mengumpulkan seluruh hawa murni dalam tubuhnya untuk menyelesaikan
usahanya yang terakhir, menembus jalan darah Seng-si-hian-kwan. Jika kau sembarangan
menggoyangnya jalan darahnya akan binal dan mungkin dia akan menjadi Co-hwat-jipmo!”
Siu-lam terkejut. Co-hwat-jip-mo artinya akan gusar dalam keadaan yang kacau. Atau
jalan darah itu akan membinal tak karuan jalannya. Kalau tidak rusak tubuhnya tentu dia
akan menjadi seperti orang gila….
Kira-kira sepeminum teh lamanya dalam keadaan tubuh telentang dengan kedua kaki
masih bersila, dara itu tiba-tiba mengurai kakinya lalu bergeliat bangun.
“Usahamu hampir berhasil. Mungkin dalam waktu setengah bulan lagi kau tentu sudah
memenuhi apa yang kuharapkan!” si kakek tertawa riang.
Dara itu gelengkan kepala, “Ah, janganlah kakek menaruh harapan terlalu besar
kepadaku. Setengah bulan cukup lama, mungkin terjadi perubahan yang mengecewakan!”
Habis berkata si dara lalu menghampiri sudut goha dan menyalakan api menanak nasi.
Tak beberapa lama mereka segera bersantap. Meskipun hanya dengan sayur-mayur
sederhana, tetapi ternyata dara itu pandai memasak. Dan karena sehari semalam tak
makan, Siu-lam dapat menghabiskan empat mangkok nasi.
Selesai makan, si dara kembali duduk bersemedhi. Sedang si kakek mulai mengajarkan
ilmu pukulan baru kepada Siu-lam.
Waktu berjalan cepat sekali. Tak terasa sudah sepuluh hari mereka tinggal di goha. Si
kakek sibuk menurunkan pelajaran kepada Siu-lam dan si dara giat bersemedhi
menyalurkan jalan darahnya. Bagi Siu-lam, apa yang diterima selama itu benar-benar tak
ternilai. Pelajaran dari si kakek itu boleh dikata meliputi seluruh ilmu silat yang terdapat di
dunia persilatan. Diam-diam tak mengerti mengapa sedemikian giat si kakek memberi
pelajaran kepadanya. Apakah kakek itu hendak mempergunakan hidupnya yang tinggal

sedikit itu untuk menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Siu-lam agar ilmu
kepandaian itu jangan turut lenyap terkubur di tanah….?
Pada hari yang keempat belas tiba-tiba kakek itu merangkak bangun dan menghampiri
goha. Ia melongok keluar. Saat itu malam hari. Langit penuh bertabur bintang. Salju
menyelimuti lereng gunung. Sambil mengurut-urut jenggot, kakek itu menghela napas.
“Ah, tak kira sinar bulan yang terakhir, tak dapat kunikmati….” katanya seorang diri
dengan nada penuh haru.
Siu-lam hendak menghibur tetapi tak tahu bagaimana harus mengatakan. Hanya
sepatah kata yang dapat ia serukan, “Lo-cianpwe….”
Kakek jenggot putih berpaling, “Kemarilah!” serunya berbisik.
Buru-buru Siu-lam menghampiri, “Apakah yang lo-cianpwe hendak pesankan?”
Kakek berjenggot putih itu tertawa hambar, “Seumur hidup aku belum pernah begini
ramah terhadap orang….” Ia berpaling ke arah si dara yang masih duduk bersemedhi.
“Kecuali terhadap Song-ji seorang!”
“Tetapi lo-cianpwe telah memperlakukan sebagai orang tua dan melepas budi yang
besar sekali….”
“Ah, mungkin iut tanda-tanda dari keberangkatanku ke alam baka…” kata si kakek,
“Jika meninggal, kuburkanlah aku di puncak gunung itu!”
Menurut arah yang ditunjuk si kakek, Siu-lam melihat sebuah puncak yang menjulang
tinggi menyusup awan. Tempat yang bersuasana sunyi hampa, terpisah dari dunia ramai.
Tak terasa bercucuran air mata Siu-lam.
“Hm, anak yang berguna, perlu apa menangis. Dahulu aku menderita luka parah,
sekujur tubuhku tertabur luka. Sehari semalam terbujur di atas tanah salju, tetap aku tak
mengerang sepatahpun juga. Tak sebutir air mata mengucur dari mataku….”
“Lo-cianpwe seorang manusia luar biasa, sudah tentu wanpwe tak mungkin menyamai!”
Si kakek tersenyum, “Pintar sekali kau memaki. Mengapa tak memaki saja sebagai
seorang yang berwajah besi berhati dingin….” Tiba-tiba kakek itu mengerut wajah.
Dengan nada serius berkatalah ia, “Besok siang sudah penuhlah hari perjanjian kita. Aku
harus mengerahkan sisa tenagaku untuk membantu menembus jalan darah Seng-si-hiankwan
Song-ji….”
“Dalam hal ini harap lo-cianpwe jangan….”
“Dalam setengah bulan ini Song-ji telah mencapai kemajuan pesat sekali. Paling-paling
aku hanya membantunya memberi penuntun. Mungkin akan menghabiskan tenaga
murniku dan akupun segera mati. Berlakulah tenang, setelah ia sadar….” Ia mengeluarkan
sebuah kantong kim-piau (kantong dari sutera emas), “Kim-tay ini untuk sementara kau
bawalah. Setelah ia sadar, kasihkanlah kepadanya. Jika ia masih belum berhasil terbuka
Seng-si-hian-kwannya, bakarlah kantong ini….”

Cepat-cepat Siu-lam menerima kantong itu dan disimpannya. Kakek itu menghela napas
pula, “Kemungkinan aku tentu sudah meninggal sebelum Song-ji tersadar. Jangan kau
gelisah dan mengganggu persemedhiannya….”
Dengan khidmat Siu-lam mengiakan.
Kakek itu merenung diam. Beberapa lama kemudian baru ia berkata kepada Siu-lam
pula, “Seumur hidup aku tak suka menerima pertolongan orang. Aku hendak menukarkan
sebuah ilmu pedang dan sejurus ilmu pukulan kepadamu. Dan kau harus mengerjakan
sebuah hal untukku.”
“Mengapa lo-cianpwe berkata begitu? Apa yang lo-cianpwe pesan, tentu akan
kukerjakan. Tak perlu harus tukar-menukar….”
Si kakek menukas kata-kata Siu-lam dengan nada dingin, “Setiap saat aku bisa mati
sekarang ini. Tiada tempo banyak bicara dengan kau. Kau mau meluluskan atau tidak,
lekas bilang!”
“Tentu wanpwe bersedia menerima,” tersipu-sipu Siu-lam menyahut.
Si kakek menjumput batang pohon siong lagi, katanya, “Jurus ilmu pedang ini disebut
Kiu-toh-coa-hoa. Merupakan ilmu pedang yang paling ajaib sejak jaman dulu. Meskipun
bukan ciptaanku sendiri tetapi dalam dunia persilatan tiada orang kedua yang dapat
memainkan pedang itu kecuali aku….”
Ia berhenti untuk memulangkan napas. Katanya pula, “Sayang aku terlambat
mengetahui ilmu pedang ini. Maka selama bertempur dengan musuh, belum pernah aku
menggunakannya. Tentang jurus ilmu pukulan itu, meskipun tak sehebat ilmu pedang tadi,
tetapi dapat merupakan imbangan untuk menundukkan lawan. Di kolong jagad, tak
mungkin terdapat orang yang mampu lolos dari serangan ilmu pedang dan ilmu pukulan
itu. Satu-satunya orang yang mampu hanyalah guruku Lo Hian!”
Diam-diam Siu-lam heran mendengar ucapan kakek itu. Batinnya agak tak percaya,
“Betapapun luar biasa ilmu pukulan dan ilmu pedang itu, tetapi masakan di dunia tiada
terdapat orang yang mampu menghindari!”
Si kakek julurkan batang pohon siong ke muka, “Lihatlah! Sekali jurus ini bergerak,
semua berjumlah delapan buah perobahan. Kau harus ingat baik-baik akan perobahan itu.
Kurang satu saja, kehebatannya akan berkurang!”
Batang pohon lurus ke muka dan siku lengan si kakek itu agak bergoyang-goyang.
Seketika batang pohon itu bergerak-gerak menjadi sebuah lingkarang kecil.
Dengan penuh perhatian, Siu-lam mengikuti pelajaran itu. Ah, memang benar banyak
sekali perobahannya. Dan karena si kakek melambatkan gerakannya, maka mudahlah Siulam
melihatnya.
Sambil memberi pelajaran, si kakek pun memberi penjelasan seperlunya. Tiba-tiba Siulam
menyadari bahwa apa yang dibanggakan si kakek itu memang nyata. Ilmu pedang itu
benar-benar luar biasa hebatnya. Seketika ia curahkan seluruh semangat dan perhatian
untuk mencatat di dalam hati.

Selesai memberi pelajaran tiba-tiba kakek itu batuk-batuk dan muntah darah. Bukan
main terkejutnya Siu-lam. Buru-buru ia mengelus punggung si kakek.
“Apa kau dapat mengingat perobahan ilmu pedang tadi?” tanya si kakek.
Melihat keadaan si kakek, kasihanlah Siu-lam.
Kalau mengatakan belum dapat mengingat seluruhnya, si kakek tentu akan mengulang.
Dan ini berarti menyiksanya. Maka terpaksa ia menyahut kalau sudah mengerti.
Saat itu pikiran si kakek sudah tak tenang lagi. Iapun menerima saja keterangan anak
muda itu, serunya, “Bagus, sekarang sudah kuajarkan padamu sebuah ilmu pukulan yang
disebut Hud-hwat-bu-pian (ilmu pelajaran Budha tiada batasnya).”
Sambil membuat gerakan-gerakan, si kakek menerangkan, “Ilmu pukulan ini
mempunyai tiga buah perobahan, sesuai dengan unsur Langit, Bumi dan manusia. Sedang
ilmu pedang Kiau-to-co-hoa sesuai dengan unsur Pat-kwa (delapan unsur dunia). Berbeda
namun saling mengisi satu sama lain. Sekalipun agak kalah hebat dengan ilmu pedang
Kiau-to-co-hoa, tetapi tak mungkin orang dapat menghindari pukulan Hud-hwat-bu-pian
ini!”
Untuk ilmu pukulan ini, Siu-lam benar-benar curahkan seluruh perhatiannya. Dan
tampaknya kakek itupun bersemangat sekali mengajarkannya. Maka tak heran kalau Siulam
mengerti sepenuhnya pelajaran ilmu pukulan itu. Tetapi karena letih, kembali si kakek
muntah darah lagi!
Setelah beberapa saat pejamkan mata, kakek itu bergeliat bangun, ujarnya, “Kini aku
telah menurunkan dua macam ilmu pukulan dan ilmu pedang yang tak terdapat di dunia
persilatan. Kini aku hendak minta kau melakukan sebuah hal untukku. Tetapi kau harus
bersumpah lebih dulu untuk melaksanakan sampai selesai.”
Siu-lam terkejut heran, pikirnya, “Mengapa aku harus bersumpah? Urusan apakah yang
sedemikian pentingnya?”
“Apakah lo-cianpwe anggap wanpwe tentu dapat melakukannya?” tanyanya bersangsi.
“Kau mampu melakukannya. Yang dikuatirkan kau tak mau melakukannya!” jawab si
orang tua.
Siu-lam menjawab serentak, “Asal wanpwe dapat, walaupun menerjang ke dalam
lautan api, wanpwe pasti akan melaksanakan untuk lo-cianpwe!”
“Ah, mudah sekali. Dengan sisa tenagaku, akan kubantu Song-ji untuk membuka Songsi-
hian-kwannya. Dalam melakukan itu, aku pasti akan mati. Adakah Song-ji nanti berhasil
terbuka Song-si-hian-kwannya atau tidak, sukar kukatakan. Kuperhitungkan, besok
sebelum tengah hari, dia pasti sudah sadar. Apabila Song-si-hian-kwannya belum terbuka,
dia tentu letih sekali….” si kakek berhenti. Tiba-tiba ia berganti dengan nada bengis,
“Apabila saat itu ia belum terbuka Song-si-hian-kwannya, kau harus segera menotok jalan
darah Si-hiat (kematian). Lalu timbunilah goha ini dengan kayu kering dan bakarlah
mayatku dan mayatnya….”
“Hai!” Siu-lam menjerit kaget.

“Kau sudah bersumpah. Jika ingkar, kau akan menerima akibat dari sumpahmu itu….” si
kakek memperingatkan. Kemudian ia menghela napas, ujarnya, “Rencanaku ini demi untuk
kepentingannya. Lakukan saja apa yang kukatakan tadi!”
Kakek itu segera terhuyung-huyung menghampiri si dara. Ia duduk bersila di belakang
tubuh dara itu. Dengan pejamkan mata, mulailah si kakek ulurkan tangan kanannya
melekat pada punggung si dara. Beberapa saat kemudian tampak wajah si kakek yang
pucat itu berobah merah segar. Kepalanya menguap asap dan keringat membanjir turun.
Sementara si dara yang duduk bersila, saat itu bahkan tampak tenang sekali. Suasana
dalam goha hening sekali. Siu-lam tak berkesiap memandang kedua kakek dan cucu
dengan hati yang gundah. Ia terharu sekali menyaksikan pemandangan yang begitu
mengharukan sekali.
Karena semangat dan tenaganya letih sekali mengikuti pelajaran yang diberikan si
kakek tadi, tak terasa tertidurlah ia. Ketika terbangun ternyata matahari sudah menerangi
luar goha. Tampak si dara masih duduk bersila. Ia menghela napas lega lalu berjalan ke
pintu goha untuk menghirup hawa segar. Tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan orang
menyebut peta Telaga Darah. Celaka, tabib Gan Leng-po itu sakti sekali. Dalam keadaan
tak waras seperti dia sekarang, apabila sampai masuk ke dalam goha itu, si dara tentu
bakal terganggu. Sekali persemedhian dara itu terganggu, tak dapat tidak pasti si dara
akan terdampar dalam kondisi Co-hwe-jip-mo. Dara itu pasti cacad atau mungkin mati.
Siu-lam mengucurkan keringat dingin. Akhirnya ia memungut sebatang dahan pohon
siong yang agak panjang dan mengumpat di balik pintu goha. Ia memutuskan, demi untuk
melindungi keselamatan kakek dan cucunya itu, ia terpaksa harus menyerang Gan Lengpo.
Tetapi ketegangan hatinya hanya beberapa kejab. Teriakan tabib yang gila itu makin
lama makin jauh. Rupanya tabib itu lari menuju ke tengah lembah. Siu-lam menghela
napas longgar.
Berpaling ke belakang dilihatnya bibir dara itu gemetar dan dada berkembang kempis,
napas terengah-engah. Kepala dan mukanya basah kuyup dengan cucuran keringat.
Saking kagetnya, Siu-lam cepat lari menghampiri. Segera ia hendak menjamah tetapi tibatiba
teringatlah ia akan pesan si kakek. Buru-buru ia menarik kembali tangannya.
Tiba-tiba dari belakang terdengar orang tertawa dingin, “Jangan mengganggunya!”
Siu-lam berpaling kaget. Ah, kiranya di dalam goha telah bertambah seorang tua
berjubah biru. Wajahnya membesi, mengenakan kain pembungkus kepala berbentuk
persegi.
Siu-lam terkejut. Tak tahu ia bila dan bagaimana orang tua itu masuk. Dihampirinya
orang itu dan disapanya, “Siapakah yang lo-cianpwe hendak cari?”
Sepasang mata orang tua berjubah biru itu berkilat-kilat memancarkan api.
Dipandangnya sekeliling goha lalu menyahut dingin, “Kalian bertiga bukan orang yang
hendak kucari!” tiba-tiba ia berputar tubuh terus melangkah keluar.

Siu-lam diam saja. Baginya lebih baik kalau orang itu pergi agar terhindar dari
gangguan. Di luar dugaan, baru dua langkah orang itu berjalan, tiba-tiba ia berbalik diri
lagi, serunya, “Pernahkan kau berjumpa dengan dua orang pemuda yang bersenjata poankoan-
pit?”
“Mereka lebih kurang berumur tujuh belas tahun?” seru Siu-lam.
“Benar, benar! Di manakah mereka sekarang?” orang tua berjubah biru itu berseru
girang.
“Setengah bulan yang lalu aku memang pernah melihat mereka tetapi di manakah
mereka sekarang tak tahulah aku!”
Rupanya orang tua berjubah biru tidak begitu percaya atas keterangan Siu-lam. Masih
ia mendesaknya, “Mereka hanya dua orang atau dengan orang lain lagi?”
“Mereka berombongan. Di antaranya terdapat seorang tua berjenggot panjang yang
membekal golok besar….”
“Tentulah si Golok Besar Lo Kun!” seru orang tua berjubah biru itu.
“Entahlah, aku tak tahu namanya. Selain itu masih terdapat beberapa paderi lagi,” kata
Siu-lam.
“Mereka tentu Thian Hong totian dan murid-muridnya. Rupanya keteranganmu ini
memang tak bohong!”
“Memang aku tak suka bohong.”
Orang tua berjubah biru itu berputar diri melangkah ke mulut goha. Diam-diam Siu-lam
menghela napas lega. Ketika ia hendak berpaling melihat keadaan si dara, tiba-tiba orang
tua jubah biru itu melesat ke dalam goha lagi. Kedua matanya memandang berkilat-kilat
pada orang tua jenggot putih yang berada di belakang si dara yang tengah duduk bersila.
“Siapakah namamu?” tegurnya.
“Pui Siu-lam!”
“Apakah orang tua yang berada di belakang si dara itu gurumu?”
Siu-lam mengakui bahwa orang tua jenggot putih itu telah menurunkan bermacam ilmu
kesaktian kepadanya. Kakek itu dapat dianggap menjadi gurunya. Tetapi jika ia
mengakuinya sebagai guru, tentulah si orang tua berjubah biru ini akan bertanya panjang
lebar. Setelah berpikir sejenak, menyahutlah ia, “Aku juga baru saja bertemu dengan
mereka dalam goha ini!”
“O, kiranya begitu?” orang tua jubah biru mengerutkan alis setengah tak percaya. Ia
melangkah maju.
Bukan kepalang kejut Siu-lam. Cepat ia menghadang, “Lo-cianpwe mau apa? Mereka
sedang menyalurkan tenaga dalam, harap jangan diganggu!”

Orang tua jubah biru itu tertawa dingin, “Menyingkirlah!” ia menyiak dengan tangan
kiri.
Siu-lam cepat menarik lengan kiri, secepat kilat tangan kanan menampar pergelangan
tangan orang tua itu. Dalam gugupnya, tak sengaja, Siu-lam gunakan ilmu penampar jalan
darah yang diajarkan si kakek jenggot putih kepadanya. Orang tua jubah biru itu terkejut
dan loncat mundur….
Mulutnya mendesis perlahan. Ditatapnya Siu-lam tajam-tajam. Tiba-tiba ia menengadah
muka tertawa gelak-gelak, “Aku Kat Thian-beng sudah dua puluh tahun tak keluar dunia
persilatan. Tak kira di kalangan anak muda juga timbul jago-jago lihay. Ingin aku bermainmain
barang beberapa jurus denganmu!”
Mendengar itu gelisahlah Siu-lam. Buru-buru ia membungkuk memberi hormat, “Sama
sekali aku tak bermaksud hendak mengajak lo-cianpwe berkelahi!”
Tiba-tiba Kat Thian-beng berseru nyaring, “Katakan terus terang, siapa kakek itu
sebenarnya?”
Sahut Siu-lam, “Tetapi benar-benar aku tak tahu namanya. Harap lo-cianpwe maafkan!”
Kat Thian-beng mendengus dingin, “Aku ini orang apa, masakah kena kau kelabuhi!”
tiba-tiba ia melesat maju dan memukul dada Siu-lam.
Melihat gerakan yang sepesat dan pukulan yang sedahsyat itu, bukan kepalang kejut
Siu-lam. Siu-lam bingung. Jika ia menangkis, ia merasa tak mampu menerima pukulan
orang tua itu. Namun kalau menghindar ke samping, tentulah orang tua itu akan
memperoleh kesempatan untuk masuk lebih dalam. Dalam gugupnya, ia kerahkan tenaga
dalam dan menyongsong dengan pukulan.
Di luar dugaan Kat Thian-beng mendesis dan loncat mundur sampai tiga langkah lalu
menyelinap keluar goha.
Siu-lam tercengang. Sesaat kemudian baru ia menyadari bahwa pukulannya tadi
ternyata dapat membuat si orang tua jubah biru lari. Ia ingat bahwa ia tadi hanya
kerahkan seluruh tenaga dalam ke arah dada kemudian menyalurkan menutupi jalan
darah yang penting. Setelah siapkan pertahanan diri, barulah ia balas memukul. Ia
memukul sekenanya saja. Entah mengenai bagian mana dari tubuh orang tua itu.
Ternyata tanpa disadari Siu-lam telah gunakan jurus Hud-hwat-bu-pian ajaran si kakek.
Pelajaran itulah yang paling banyak meminta perhatian serta paling berkesan dalam
ingatannya.
Beberapa saat kemudian ia melangkah ke mulut goha. Melongok ke bawah, tampak
sesosok bayangan orang lari bagai bintang meluncur jatuh di angkasa. Orang itu lari
keluar lembah dan pada lain kejab lenyap dari pemandangan.
Seketika teringatlah ia akan ucapan si kakek jenggot yang mengatakan, “Sayang aku
terlambat mengetahui rahasia ilmu pedang ini. Maka selama ini tak pernah kugunakan
ilmu pedang itu. Tentang ilmu pukulan, walaupun hanya satu jurus tetapi merupakan
imbangan dari ilmu pedang. Di kolong dunia tak mungkin terdapat orang yang mampu
lolos dari serangan ilmu pedang dan ilmu pukulan ajaranku ini.”

Pada waktu itu, ia tak percaya akan kata-kata si kakek. Ia kira si kakek itu hanya
membual saja. Tetapi apa yang ia buktikan saat ini, benar-benar menyadarkan pikirannya.
Ucapan kakek jenggot putih bukan kata-kata kosong.
Serentak ia berlatih lagi ilmu pukulan ajaran kakek itu sampai dua kali….
Kali ini Siu-lam berlatih dengan penuh semangat dan berhati-hati sekali agar jangan
sampai salah. Walaupun hanya sejurus namun telah memaksa waktu yang cukup lama.
Setelah merasa cukup, mulailah ia berlatih ilmu pedang. Amboi… sama sekali ia lupa akan
gerak-gerak ilmu pedang itu! Buru-buru ia berhenti dan mulai merenung. Dipusatkan
seluruh pikirannya untuk mengingat gerak-gerak ilmu pedang itu. Akhirnya berhasil juga ia
mengingat-ingatnya.
Diambilnya sebatang ranting pohon siong lalu mulai mainkan jurus-jurus menurut
ajaran si kakek. Menurut kata si kakek jenggot putih, ilmu pedang itu mempunyai delapan
jurus perobahan, tetapi baru ia mainkan tiga jurus, ia sudah berhenti. Benar-benar ia tak
mampu mengingat jurus-jurus berikutnya lagi….
Ia mengulang sampai berpuluh kali. Hendak dipaksanya ingatannya supaya dapat
melanjutkan jurus-jurus berikutnya dari ilmu pedang Jiu—toh-co-hoa itu, namun tetap
gagal. Benar-benar ia hanya mampu memainkan tiga jurus saja. Ia menghela napas
panjang….
Tiba-tiba ia teringat akan si dara. Buru-buru ia berpaling. Dilihatnya dara itu masih
duduk bersemedhi. Saat itu ia tak mengucurkan keringat lagi. Bibirnya sudah terkatup dan
wajahnya berseri senyum. Longgarlah perasaan Siu-lam. Tiba-tiba ada suatu perhatian
yang menarik matanya. Kecuali pada kulit mukanya beberapa bintik-bintik kecil warna
hitam, tampang muka dara itu sebenarnya cukup menarik. Alis dan matanya indah
dipandang. Sepasang bibirnya merah segar, giginya memutih laksana untaian mutiara.
Seorang dara yang cantik juga kiranya….
Tiba-tiba dara itu menghela napas panjang dan membuka mata. Setelah memandang
kian kemari, ia berseru perlahan, “Kakekku….?”
Sekonyong-konyong Siu-lam teringat akan ucapan si kakek beberapa waktu yang lalu.
Seketika berdebarlah hatinya. Masih terngiang-ngiang kata-kata kakek itu, “Jika jalan
darah Seng-si-hian-kwan budak itu belum terbuka, segera kau tutuk jalan darahnya
supaya mati dan bakarlah mayatnya dan mayatku….”
Melihat Siu-lam menunduk tak bicara apa-apa, si dara kerutkan alis serunya, “Diajak
bicara, mengapa diam saja? Apa kau tak mendengar?”
Siu-lam terbeliak. Dengan tegang ia bertanya, “Apakah jalan darah…. Seng-si-hiankwan….
nona sudah terbuka?”
“Sudah!” si dara mengangguk.
Siu-lam menghela napas longgar sekali. Dadanya seperti terlepas dari himpitan batu
besar. Darah serasa memancar ke seluruh tubuh. Mulutnya berseru lepas, “Syukur….!”
“Apa katamu?” dara itu terbeliak heran.

“Yang kumaksudkan adalah Tan lo-cianpwe. Dengan penyakinan tenaga dalam yang
telah sempurna, beliau telah berhasil membantu mencapai apa yang diinginkan!” sahut
Siu-lam. Dia tak mau mengatakan apa sebenarnya pesan kakek berjenggot putih. Maka
dalam merangkai kata-katanya, ia menggunakan kata-kata sekenanya saja sehingga kaku
dan janggal kedengarannya.
Untung si dara tak mengetahui kelemahan itu. Dara itu menghela napas, serunya,
“Entah bagaimana, kakek itu rupanya menaruh perhatian istimewa terhadap jalan darahku
Seng-si-hian-kwan. Beberapa tahun terakhir ini beliau tiap hari selalu mengemukakan soal
itu saja. Ah, jika bukan karena dorongan kakek, mungkin sepuluh tahun aku masih belum
mampu menembus Seng-si-hian-kwan itu….” tiba-tiba ia teringat akan kakeknya yang
masih belum kelihatan itu. “Kemanakah kakek?”
“Beliau kan duduk di belakangmu!” sahut Siu-lam.
Tiba-tiba wajah dara itu berobah. Pelahan-lahan ia berpaling. Agaknya ia sudah
mempunyai firasat tak baik. Maka berat sekali tampaknya ia memalingkan kepalanya itu.
Dan ketika pertama-tama matanya tertumbuk pada si kakek, air matanya segera
membanjir turun…. Kedukaan yang begitu menggoyangkan, membuat dara itu tak dapat
mengeluarkan suara tangis. Dipandangnya sang kakek yang masih duduk bersila sambil
pejamkan mata….
Siu-lam perlahan-lahan menghampiri dan berseru dengan perlahan, “Tan lo-cianpwe….”
“Kek….!” tiba-tiba dara itu menjerit dan muntah darah. Kemudian rubuhlah ia tak
sadarkan diri.
Sejak kecil dara itu sudah terpisah dari orang tuanya. Kakeknya itulah yang merawat
dan mendidik sampai dewasa. Bagi si dara, hanya si kakek itulah satu-satunya
keluarganya. Bahwa sekarang orang satu-satunya yang dicintai meninggal dunia, remuk
redamlah hati dara itu. Ia bakal menjadi dara sebatang kara, tiada sanak tiada keluarga
lagi. Luapan kesedihan itu tak tertahankan lagi oleh si dara. Dan pingsanlah ia…
Siu-lam perlahan-lahan menjamah tangan si kakek. Ah, sudah membeku dingin.
Rupanya sudah beberapa lama kakek itu meninggal. Diam-diam Siu-lam memaki dirinya
sendiri. Mengapa menjaga goha sampai sekian lama belum juga mengetahui tentang
kematian si kakek itu?
Berpaling ke arah si dara, dilihatnya dara itu sudah sadar lagi. Berkat jalan darah Sengsi-
hian-kwannya sudah terbuka, seluruh jalan darah di tubuhnya berjalan lancar. Maka
hanya beberapa kejap pingsan, iapun sadar terbangun lagi.
Siu-lam menghiburnya, “Ah, orang yang sudah meninggal takkan hidup kembali.
Janganlah nona kelewat berduka. Apalagi dalam hidupnya Tan lo-cianpwe selalu
mengalami derita kesakitan yang hebat. Jika bukan demi kepentingan nona, mungkin
beliau sudah tak mau hidup di dunia ini lagi!”
Dara itu perlahan-lahan bergeliat duduk. Sambil mengusap air matanya ia bertanya,
“Kakek memberi pesan apa kepadamu?”
“Beliau pesan agar dikubur di atas salah satu puncak gunung ini…”

Sekonyong-konyong dara itu memeluk jenazah sang kakek. Sambil mengangkatnya ia
bertanya, “Di mana? Carikan lekas!” Tampak dara itu teringat akan sesuatu urusan yang
penting.
“Hm, sekalipun aku pernah menerima budimu, tetapi janganlah kau bersikap begitu
kasar kepadaku. Karena orang tua itu mengajarkan ilmu kesaktian kepadaku, akupun
harus sering datang menyambangi kuburannya.” diam-diam Siu-lam mempunyai pikiran
untuk segera meninggalkan dara itu.
Ia melangkah ke mulut goha. Walaupun ia menyadari ilmu ginkangnya tak mampu
loncat turun ke bawah lembah, tetapi di hadapan si dara itu tak mau unjuk kelemahan.
Segera ia loncat melayang ke bawah. Begitu hampir tiba di dasar lembah, ia empos
semangat dan berhasillah ia menginjakkan kaki di tanah. Tetapi ketika berpaling, hai….
Ternyata dara itu sudah berada di belakangnya! Sambil membopong jenazah kakeknya,
dara itu menganggukkan kepala dan berjalan mendahuluinya.
Setelah jalan darah Seng-si-hian-kwannya terbuka benar-benar, dara itu berobah
menjadi manusia baru. Walaupun membopong sesosok tubuh namun dengan lincah ia
dapat melayang turun dari karang yang cukup tinggi. Betapapun Siu-lam hendak
mengikuti langkah si dara, tapi makin lama makin ketinggalan jauh dan akhirnya dara itu
lenyap dari pandangan. Ketika ia dapat mencapai sebuah puncak gunung yang tertinggi
ternyata di situ si dara sudah selesai menggali sebuah lubang. Sedang si kakek masih
tampak duduk di tanah seperti orang yang semedhi.
Sejenak dara itu memandang Siu-lam seperti hendak berkata, tetapi tak jadi. Perlahanlahan
diangkatnya tubuh sang kakek lalu dimasukkan ke dalam lubang.
“Apakah begitu saja kau hendak menguburnya?” karena tak tahan akhirnya Siu-lam
menegur.
“Lalu bagaimana menanamnya?” dara itu terkesiap.
Sejenak Siu-lam layangkan matanya memandang alam sekelilingnya. Sebuah tempat
yang dikelilingi oleh langit nan biru, salju putih dan gumpalan awan. Ia yakin kakek sakti
itu tentu mempunyai tujuan mengapa minta dikubur di tempat yang sedemikian sunyinya.
Tiba-tiba ia teringat akan kantong Kim-tay. Segera kantong itu diberikan kepada si dara,
“Lo-cianpwe pesan apabila nona sudah sadar, supaya memberikan kantong itu kepadamu.
Mungkinkah lo-cianpwe meninggalkan pesan dalam kantong ini.”
Pada si dara menyambuti dan membuka kantong itu, Siu-lam pun segera berputar
tubuh dan melangkah pergi.
“Kembalilah!” tiba-tiba dara itu melengking.
“Apakah nona memanggil aku?” Siu-lam berpaling.
“Di sini hanya ada dua orang. Bukan kau siapa lagi? Apakah aku memanggil batu?”
Terpaksa Siu-lam menghampiri. Diam-diam ia heran mengapa si dara sekarang berubah
sedemikian kasar. Tetapi mengingat dara itu ditinggal mati oleh satu-satunya keluarga,

dapatlah Siu-lam memahami kegoncangan. Mungkin kegoncangan itulah yang
menyebabkan perangainya berobah kaku.
“Lihatlah!” seru si dara sambil menyerahkan kantong itu kepada Siu-lam meragu
beberapa saat, ujarnya, “Ini….”
“Ini ini, apa? Kusuruh kau melihat, lihat sajalah, habis perkara!” tukas si dara.
Siu-lam terpaksa membuka kantong itu. Dilihatnya kantong itu berisi tong-soh (jarum
berduri) dan secarik kertas yang bertuliskan:
Nanti pada malam pertengahan musim Tiong-ciu (rontok), pergilah ke gunung Tay-san
di telaga Hek-liong-than. Kutungan Chit-jiau-soh ini tukarkan dengan pedang Liong-sipkiam….
Melihat tulisannya, terang surat itu belum selesai. Tetapi ternyata sudah tak
bersambung lagi. Dan kecuali kutungan Chit-jiau-soh, tiada lain benda lagi dalam kantong
itu. Dan ketika mengamat-amatinya, pada batang jarum kutungan itu terdapat ukiran tiga
buah huruf ‘Chit-jiau-soh’.
Ternyata kakek jenggot putih itu tak meninggalkan pesan apa-apa untuk Siu-lam.
“Hai, mengapa kau diam saja?” tegur si dara.
Sambil memasukkan jarum dan surat ke dalam kantong lagi, Siu-lam menyahut, “Jika
jenazah lo-cianpwe ditanam begitu saja tanpa dimasukkan ke dalam peti, mungkin kelak
akan terpendam hilang sehingga kita sukar mencarinya….”
“Apakah kelak kau sungguh mau menyambangi kakek ini?” tanya si dara.
Siu-lam menyatakan bahwa kakek itu tak beda dengan gurunya. Sudah tentu wajib ia
membalas budi. Yang penting saat itu, harus didayakan cara untuk melindungi jenazahnya
dari gangguan alam dan tangan jail. Untuk mencari peti mati di tempat seperti itu, terang
tak mungkin. Akhirnya Siu-lam mendapat akal. Ia mengusulkan agar jenazah kakek itu
dilingkupi batu-batu es yang keras dan bercahaya sehingga jenazah tentu awet takkan
rusak.
Si dara setuju, begitulah mereka segera bekerja dan akhirnya dapatlah jenazah kakek
jenggot putih itu ditanam dalam es keras. Selesai penguburan, Siu-lam menanyakan
tentang tujuan si dara.
Si dara tertawa hambar, “Dalam dunia seluas ini, kemanakah aku harus pergi? Aku
akan tinggal di sini menjaga kakek!”
“Tetapi tempat ini dingin sekali. Bahkan tanamanpun tak tumbuh. Tak mungkin nona
dapat tinggal di sini!” Siu-lam terkejut.
“Kalau begitu lebih baik aku pergi ke telaga Hek-liang-tham di gunung Thay-san saja!”
seru si dara.
“Tetapi surat itu tak menyebutkan kepada siapa kau harus meminta pedang!” seru Siulam.

Si dara kerutkan alis, “Tinggal di sini, tak boleh. Pergi ke Thay-san pun tidak boleh.
Habis, kau hendak suruh aku pergi kemana?”
“Apakah nona tak mempunyai barang seorang family?” tanya Siu-lam.
“Kecuali kakekku yang sudah meninggal itu, aku tak punya sanak saudara lagi!”
“Ayah bundamu?”
“Sejak kecil aku hanya tahu kakek. Dan kakekpun tak pernah mengatakan siapa orang
tuaku!”
Siu-lam kerutkan kening. Ia tak sampai hati membiarkan seorang dara seorang diri
mengembara di dunia persilatan. Akhirnya ia memutuskan, untuk sementara akan
bersama-sama dara itu. Tujuan pertama menuju ke poh-toh-kang menolong sumoaynya.
Katanya kepada dara itu, “Karena nona tiada tujuan, sebaiknya marilah kita bersama-sama
ke Lulam….”
Dara itu berbangkit perlahan-lahan, “Baik, tetapi kau harus mau menemani aku pada
nanti musim Tiong-chiu ke telaga Hek-liong-tham di gunung Thay-san!”
“Hm, aku kasihan padamu karena kau seorang diri, mana kau artikan sebagai
menemanimu,” diam-diam Siu-lam mendengus dalam hati. Namun ia sungkan menolak,
“Baiklah, jika ada kesempatan tentu akan kuantar kau ke Thay-san!”
Dara itu menengadah ke atas dan merenung, tiba-tiba ia berkata, “Aku seorang anak
perempuan. Jika bersama kau tentu akan ditertawakan orang….”
Siu-lam terbelalak. Memang apa yang dikatakan dara itu benar. Tetapi belum sempat ia
berkata, dara itu sudah berseru pula, “Sebenarnya sejak hidup dengan kakek, aku bebas
bergaul. Tetapi entah bagaimana, tiba-tiba aku merasa tegang mengadakan perjalanan
bersamamu?”
“Tak dapat disalahkan karena selama belasan tahun kau hidup bersama kakekmu….”
“Bukan begitu, yang penting kutahu kau seorang baik…” habis berkata dara itupun
segera berbangkit dan berjalan perlahan-lahan menuruni puncak.
Diam-diam Siu-lam kasihan atas nasib dara itu.
Selama berjalan itu sampai beberapa belas lie keduanya tak bicara apa-apa. Rupanya
dara itu sedang terbenam dalam suatu perasaan tersendiri. Karena sebesar itu barulah
pertama kali itu ia berjalan bersama seorang pemuda.
“Ai, jika nanti-nanti bertemu orang, bagaimanakah hendaknya kupanggil kau?” tiba-tiba
ia teringat.
Siu-lam terbeliak. Memang agaknya sulit juga. Sebelum ia mendapat pemecahan, dara
itu pun sudah menghela napas pelahan, “Namaku Tan Hiong-song. Di kala kakek masih
hidup, dia biasa memanggilku Song-ji. Baiklah kau panggil aku Song-ji juga!”

Siu-lam tersipu-sipu, “Mana bisa aku menyebutmu Song-ji, Song-ji kan berarti anak
Song. Bagaimana kalau kupanggilmu nona Song saja?”
Dara itu gelengkan kepala, “Tidak, dengan panggilan itu apabila didengar lain orang
tentu menduga kita ini orang asing. Dan seorang pemuda, berjalan dengan seorang
pemudi yang tak dikenal, tentu akan ditertawakan orang!”
Siu-lam kerutkan keningnya, serunya tertawa meringis, “Habis, bagaimana
memanggilmu?”
“Suruh kau memanggil Song-ji, kau tak mau. Kalau begitu tak usah memanggil saja!”
seru dara itu.
Karena Siu-lam sudah mempunyai perasaan mengalah maka tak memikirkan olok-olok
dara itu. Bahkan ia tersenyum melihat dara itu naik pitam.
Melihat pemuda itu tenang-tenang, makin meluaplah amarah Hian-song, “Huh,
mengapa kau tertawa? Orang bingung, kau malah seenakmu sendiri saja!”
Sahut Siu-lam, “Aku telah mendapat akal. Tetapi dikuatirkan tak menyenangkan kau.”
“Katakan!”
“Tan lo-cianpwe telah menurunkan ilmu silat kepadaku. Walaupun resmi belum menjadi
murid, tetapi sudah mempunyai hubungan sebagai guru dan murid. Jika kau setuju,
baiklah panggil aku sebagai suheng saja. Dengan begitu orang tentu tak mengurusi lagi!”
Mendadak si dara melengking tertawa, “Bagus, boleh jugalah!”
Sekonyong-konyong dari tengah lembah terdengar jeritan nyaring. Makin lama jeritan
itu makin jelas bahkan samar-samar terdengar dering senjata beradu. Rupanya terjadi
pertempuran.
“Ayo kita ke sana. Entah siapa yang bertempur itu!” ajak Hian-song. Adalah berkat jalan
darahnya Seng-si-hian-kwan sudah terbuka maka indera pendengarannya tajam sekali.
“Boleh saja kita lihat-lihat sebentar, tapi jangan lama-lama,” kata Siu-lam.
Hian-song melesat ke muka. Siu-lam menyusul. Setelah membiluk dua buah tikungan,
di sebelah muka tampak si tabib gila Gan Leng-po tengah bertempur seru dengan seorang
tua jubah biru. Gan Leng-po pakai tongkat bambu dan orang tua jubah biru menggunakan
sebatang bun-jiang-pit. Pertempuran berjalan seru sekali.
Di samping kedua orang yang bertempur itu menggeletak beberapa sosok tubuh.
Antara lain si Golok Sakti Lo Kun, kedua saudara Kat Hong dan Kat Wi serta paderi Thian
Hong dan keempat muridnya.
Siu-lam sudah menduga tentulah racun bekerja sehingga mereka rubuh.
Tiba-tiba terdengar Gan Leng-po memekik keras. Tongkatnya berubah gencar seperti
angin. Serangannya lebih deras dan hebat sekali. Walaupun sudah limbung pikirannya,
tetapi ternyata ilmu silat tabib itu masih hebat bahkan makin kalap.

Siu-lam teringat bahwa orang tua jubah biru itu pernah memperkenalkan dirinya
sebagai Kat Thian-beng. Dan ketika di dalam goha, ia berhasil mengalahkan orang itu
dengan pukulan sakti Hud-hwat-bu-pian. Tetapi apa yang dilihatnya saat itu benar-benar
mengherankan. Ternyata kepandaian orang tua bernama Kat Thian-beng itu luar biasa
saktinya. Diam-diam Siu-lam mengakui, sekiranya ia belum mendapat ilmu pukulan Hudhwat-
bu-pian dari kakek jenggot putih, tentulah ia tewas di tangan orang tua berjubah
biru itu.
Rupanya kerut wajah pemuda itu dalam menyaksikan pertempuran telah diperhatikan si
dara Hiang-song. “Eh, Pui suheng, mengapa kau?” tegurnya. Agak kikuk juga ia
menggunakan sebutan itu hingga mukanya tersipu-sipu merah.
Siu-lam gelagapan, “Nona…. eh, Song sumoay memanggil aku?”
“Eh, apa yang kau lamunkan? Orang mengajakmu bicara kau tertegun seperti patung
saja.” Hian-song bersungut-sungut.
Siu-lam meringis, “Ah, aku sedang memikirkan sesuatu. Harap sumoay ulangi lagi.”
Hian-song rentangkan kedua matanya yang bundar. Tetapi sampai lama belum juga ia
bicara. Akhirnya baru berseru, “Ah, tak usah berkata lagilah! Toh sekarang mau bicara
juga sudah tak jelas!”
“Mengapa?” Siu-lam terkejut. Tiba-tiba ia tersadar, serunya pula, “Ah, benar, kau tentu
hendak bertanya aku sedang memikirkan apa?”
Si dara tertawa, “Aku tak perduli!”
Tiba-tiba pembicaraan mereka terputus oleh bentakan Kat Thian-beng yang
menggeledek dan senjata bun-ciang-pitnyapun menyerang hebat dalam tiga jurus. Batang
pena itupun berubah menjadi segumpal sinar dan memaksa Gan Leng-po mundur dua
langkah.
Kat Thian-beng tak mau mendesak melainkan berhenti menyerang dan berseru,
“Bukankah saudara ini tabib termasyhur Ti-ki-cu Gan Leng-po? Ah, aku Kat Thian-beng!”
tiba-tiba ia berpaling lontarkan lirikan ke arah Siu-lam. Cepat-cepat ia berpaling ke muka
lagi.
Gan Leng-po deliki mata kea rah orang tua jubah biru itu. Tiba-tiba ia berteriak nyaring,
“Kembalikan peta Telaga Darahku!” Wut, tongkat dikemplangkan ke kepala Kat Thianbeng
dengan jurus Thay-san-ya-ting atau gunung Thay-san menindih puncak.
Kat Thian-beng loncat mundur setombak. Bentaknya, “Siapa kau!”
Dalam keadaan gila seperti itu, tak mungkin Gan Leng-po dapat mendengar jelas.
Sebagai jawabannya ia ayunkan tongkat menyapu dengan jurus Lat-soh-ngo-gak atau
dengan kekuatan menyapu lima gunung.
Keduanya kembali bertempur pula. Lebih dahsyat daripada tadi. Kat Thian-beng tak
mengetahui bahwa Gan Leng-po memang sudah gila. Dikiranya tabib itu tak mau kenal

lagi padanya, jago she Kat itu marah, senjata bun-ciang-pit dimainkan dalam jurus-jurus
yang luar biasa ganasnya. Serangannya selalu batal.
Tetapi walaupun dalam keadaan gila, kepandaian Gan Leng-po tetap sakti. Tongkatnya
bagaikan angin topan menyambar-nyambar dengan dahsyat.
Kepandaian kedua tokoh itu hampir berimbang. Pertempuran berjalan seru dan sengit
sekali.
Diam-diam Siu-lam kasihan melihat keadaan tabib itu. Seorang tabib yang sakti dalam
ilmu pengobatan dan ilmu silat, mendadak menjadi gila karena memikirkan peta Telaga
Darah. Siu-lam berjanji dalam hati, akan berusaha mendapatkan peta itu dan
menyerahkannya kepada Gan Leng-po agar sembuh kembali.
Dilihatnya pertempuran makin seru dank eras. Tetapi yang jelas tabib itu sudah mulai
letih. Permainan tongkatnya mulai kacau.
Kat Thian-beng rupanya menyadari bahwa pertempuran itu takkan selesai dalam
seratus jurus. Maka iapun segera mengendalikan diri tak mau terlalu mengumbar nafsu
untuk menyerang mati-matian melainkan gunakan ilmu meringankan tubuh untuk
berlincahan menghindar dan memutari lawan. Rupanya ia hendak menghabiskan tenaga
lawan, baru kemudian memberi pukulan yang menentukan!
Diam-diam Siu-lam menilai bahwa Gan Leng-po takkan dapat bertahan sampai lima
puluh jurus lagi. Segera timbul pemikiran dalam hatinya. Peta Telaga Darah besar sekali
artinya bagi kehidupan dunia persilatan. Jika peta itu berada dalam tubuh seorang gila
seperti Gan Leng-po, tentulah tidak bermanfaat. Segera ia berpaling kepada si dara Hiansong,
“Harap Song sumoay tunggu di sini, aku hendak memancing supaya orang gila itu
menyingkir agar jangan sampai terluka di tangan orang yang bersenjata bun-jiang-pit itu!”
“Eh, kau kenal dia?” Hian-song heran.
“Aku sudah pernah berjumpa dengannya. Dia memang seorang tabib yang tiada
tandingan di dunia persilatan. Adalah karena kuali pemasakan obatnya dihancurkan orang
sehingga saking marahnya ia menjadi gila mendadak. Tetapi tenaga dalamnya tinggi
sekali, ilmu silatnya bukan main. Kupikir hendak menolongnya agar dia dapat sembuh….”
“Sayang kakek sudah meninggal. Jika dia masih hidup tentulah dia dapat
menyembuhkannya!”
Siu-lam menghela napas, “Ah, sayang seorang tokoh luar biasa harus menderita
penyakit gila…” tiba-tiba ia melesat ke tempat kedua orang yang bertempur.
Jilid 8
SEJAK MENERIMA PUKULAN Hud-hwat-bu-pian dari Siu-lam, Kat Thian-beng berhatihati
terhadap pemuda itu. Selama bertempur dengan Gan Leng-po, dia tetap
memperhatikan gerak-gerik pemuda itu. Melihat Siu-lam loncat menghampiri, cepat-cepat
Kat Thian-beng tarik pulang senjatanya dan loncat mundur beberapa langkah.
Siu-lam tak memperdulikan Kat Thian-beng. Tujuannya ialah hendak mengambil
kembali peta Telaga Darah yang tersimpan dalam baju Gan Leng-po. Ia menghadang di
muka tabib itu berseru tertawa: “Apakah Gan lo-cianpwe masih kenal padaku?”

Tabib itu terlongong-longong mengawasi Siu-lam. Tiba-tiba ia menggembor keras dan
mengemplangkan tongkatnya. Tapi Siu-lam tahu bahwa tabib itu sedang tak waras
pikirannya. Diam-diam ia sudah bersiap. Setelah menghindari ia berseru tertawa pula:
“Jika Gan lo-cianpwe hendak mencari peta itu, silahkan ikut aku!”
Tanpa menunggu jawaban, Siu-lam berputar tubuh terus ayunkan langkah lari.
“Hai, sekalipun kau lari ke ujung langit, tentu akan kukejarmu!” teriak tabib itu seraya
mengejar.
Siu-lam tak menghiraukan. Ia lari sekencang-kencangnya. Dia tahu bahwa kepandaian
orang lebih tinggi dan larinyapun tentu lebih kencang. Jika sampai tersusul dan bertemur
tentulah sukar lolos.
Di luar dugaan ia rasakan tubuhnya jauh lebih ringan dari dulu. Sejak digembleng si
kakek jenggot putih, kepandaiannya maju pesat sekali. Larinyapun jauh lebih cepat.
Dalam beberapa kejap dapatlah ia melintasi tiga buah puncak. Dia berhenti di sebuah
tempat yang sunyi. Tetapi baru ia berputar tubuh, tongkat si tabib sudah menyambar
kepalanya….
Siu-lam terkejut sekali. Untuk menghindar tak mungkin lagi karena jaraknya dekat dan
serangan tabib itu secepat kilat. Dalam gugupnya Siu-lam berpaling dan layangkan jurus
Hud-hwat-bu-pian. Ilmu pukulan si kakek jenggot perak yang paling berkesan dan paling
mendapat penuh perhatiannya. Desss…. Gan Leng-po menjerit dan menyurut mundur!
Kiranya tabib itu kena dipukul lengan kanannya. Itu masih untung. Coba mengenai
tubuhnya, tabib itu tentu remuk.
Gan Leng-po terlongong-longong memandang si anak muda. Karena pertempuran
ratusan jurus dengan Kat Thian-beng tadi memakan banyak tenaganya. Walaupun tidak
menggunakan tenaga penuh, tetapi pukulan Hud-hwat-bu-pian Siu-lam tadi cukup
membuatnya ia meringis. Tulang lengannya serasa patah sehingga tak dapat digerakkan
lagi. Tabib itu benar-benar tak tahu apa jurus yang digunakan anak itu. Buru-buru ia
kerahkan tenaga dalam untuk menahan lukanya.
Siu-lam pun tegak berdiam diri. Kini ia putar otak untuk mencari cara mengambil peta.
Walaupun ia tak sampai hati melukai orang hanya karena hendak mengambil peta yang
tersimpan dalam pakaian tabib itu.
Setelah memandang anak muda itu beberapa saat tiba-tiba Gan Leng-po memutar
tubuh dan pergi.
“Gan lo-cianpwe hendak pergi kemana?” teriak Siu-lam yang dengan gugup segera
loncat memburu.
Sekonyong-konyong tabib itu berputar diri dan menghantam. Karena terlalu cepatnya
Siu-lam hendak mendekap tabib itu, tak sempat menarik pulang tenaganya. Terpaksa ia
menangkis. Krek… hebat benar akibat beradunya kedua tangan mereka. Siu-lam
terpental ke atas dan si tabib terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang lalu jatuh
terduduk di tanah!
Siu-lam menyalurkan napas sejenak lalu menghampiri tabib itu. Tabib itu menggeletak
di tanah. Matanya meram, rambutnya kusut masai tak karuan. Siu-lam terharu melihat
keadaannya. Namun ia tak mau membuang waktu. Dengan cepat ia segera menelusuri
baju tabib itu dan ah….ternyata peta Telaga Darah itu masih ada. Buru-buru ia
mengambil dan menyimpan dalam bajunya lalu mulai mengurut-urut tubuh tabib itu.
Tabib itu terluka parah. Hampir sepeminum teh lamanya baru Siu-lam dapat
menyadarkannya. Tabib itu menghela napas panjang dan membuka mata.
Melihat Gan Leng-po sudah sadar, Siu-lam cepat loncat bangun dan terus lari menuju
ke tempat si dara Hian-song. Rupanya dara itu tengah cemas mengharap-harap
kedatangan Siu-lam. Demi melihat anak muda itu muncul, buru-buru ia menyongsongnya.
Serunya: “Orang-orang itu sama-sama terluka berat. Wajah mereka pucat lesu, mungkin
sukar ditolong…. Ah, jika kakek masih hidup, tentulah mereka dapat ditolong. Sayang

kakek….” teringat akan kakeknya kembali dara itu berlinang-linang. Beberapa butir air
matanya menetes di tangan Siu-lam.
“Sudah, sumoay, jangan bersedih. Kita manusia tentu akhirnya akan mati,” Siu-lam
menghiburnya.
Ternyata orang-orang yang menggeletak itu sudah diangkut dan dikumpulkan jadi satu
oleh Kat Thian-beng. Jago tua itu tegak tertegun di samping mereka. Rupanya diapun
tak berdaya untuk menolong. Di antaranya, yang paling parah adalah Kat Hong dan Kat
Wi. Tubuh kedua pemuda itu sudah kaku, kebanyakan mereka tentu sudah mati. Sedang
yang lain-lain, wajahnya pucat lesi. Rupanya setelah tiba di tempat situ, barulah racun di
tubuh mereka mulai bekerja. Mereka segera duduk menyalurkan tenaga dalam untuk
coba bertahan. Walaupun mereka membekal ransum kering, tetapi agaknya sudah habis.
Dalam keadaan terluka dan hawa dingin dari angin bercampur salju, akhirnya tak kuatlah
mereka bertahan diri lagi…..
Diam-diam Siu-lam menimang: “Mereka terkena pukulan beracun dari si nona baju
merah. Entah ilmu pukulan apa yang digunakan nona itu. Tetapi rasanya nona itu telah
membenci kepadaku daripada orang-orang itu. Mengapa ia tak memukulku? Eh, apakah
memang racun dalam tubuhku belum bekerja?”
Teringat akan hal itu, serentak punggungnya terasa sakit. Siu-lam mulai kucurkan
keringat dingin.
Tiba-tiba kedengaran Kat Thian-beng berkata seorang diri: “Hong-ji, Wi-ji, tak nyana
baru saja kau keluar ke dunia persilatan, telah menderita nasib yang begini
menggenaskan. Aku terlambat datang dan habislah keturunan kita….” tiba-tiba ia
memondong tubuh kedua pemuda itu. Ia tak menghiraukan siapa-siapa lagi. Hatinya
hancur dicengkam kedukaan.
Siu-lam terpaksa menyisih ke samping memberi jalan. Tiba-tiba beberapa langkah
kemudian Kat Thian-beng berhenti dan perlahan-lahan menghampiri ke tempat paderi
Thian Hong dan beberapa orang yang terluka. Ia membungkuk dan menutuki jalan darah
Beng-bun-pian pada orang-orang itu.
Tiba-tiba Siu-lam teringat bahwa ia membawa obat pemunah racun Bik-tok-tin-sin dari
Gan Leng-po. Ia memberanikan diri menghampiri Kat Thian-beng, ujarnya: “Wanpwe
membawa obat pemunah racun yang cukup mujarab. Entah dapat digunakan atau
tidak….”
Berhenti sejenak mengambil keluar botol kumala, ia berkata pula: “Walaupun sejenak
keadaan mereka sudah sukar ditolong, tetapi kiranya tak ada jeleknya jika dicobakan.
Apabila lo-cianpwe setuju!”
Rupanya Siu-lam masih kuatir. Jangan-jangan setelah minum obat, orang-orang itu
malah mati. Maka sebelumnya ia meminta persetujuan jago tua itu.
Setelah menerima pukulan dari Siu-lam tahulah Kat Thian-beng bahwa pemuda itu
memiliki kepandaian yang sakti. Tawaran obat dari pemuda itu serentak mendapat
sambutan baik. Ujarnya: “Jika kau mau menolong, aku berterima kasih sekali. Orangorang
yang menderita luka ini, selain kedua puteraku juga sahabat-sahabatku yang erat.
Silahkan kau mencobakan. Toh mereka sudah tiada harapan. Andaikata setelah minum
obat mereka mati, tak apalah!”
Siu-lam segera membuka botol dan meminumkan beberapa butir pil ke mulut orangorang
itu. Dan di luar dugaan, pil Bik-tok-tin-sin-tan itu justeru obat penawar racun
pukulan Cek-lian-tok-ciang dari si nona baju merah. Khasiatnya cepat dan luar biasa.
Belum cukup sepeminum teh lamanya, napas mereka mulai berangsur ke…., wajah pun
merah.
Bukan main rasa terima kasih Kat Thian-beng kepada Siu-lam. Segera memberi hormat
sehangat-hangatnya: “Sudah lama aku tak keluar ke dunia persilatan. Maafkan mataku
sudah lamur, tak kenal seorang ko-jin!”

Ko-jin artinya orang yang berilmu. Sudah tentu Siu-lam tersipu-sipu dan mengatakan
kata-kata merendah. Kemudian ia minta diri karena harus lekas-lekas mengerjakan
urusan penting. Dia tak mau diketahui oleh rombongan Thian Hong. Maka ia ajak Hiansong
setelah melintasi beberapa puncak, Siu-lam mulai kendorkan larinya.
“Aku hendak ke Po-to-kang di Lulam, entah….” baru Siu-lam mengatakan begitu si dara
sudah menukas: “Di atas dunia aku hanya kenal padamu seorang. Sudah tentu akan
bersamamu. Masakan masih bertanya lagi?”
Siu-lam mengatakan bahwa ia hendak menuju ke Lulam untuk menolong sumoaynya
dan karena waktunya sudah mendesak maka harus lekas-lekas tiba di sana.
Hian-song menantang: “Silahkan kau hendak lari bagaimana cepatnya, aku tentu dapat
mengimbangimu!”
Siu-lam tersenyum dan segera lari. Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di Po-tokang.
Hampir memakan waktu setengah hari barulah Siu-lam berhasil menemukan muka
tempat persembunyian si wanita aneh. Terutama air terjun itulah yang merupakan tanda
pengenal bagi Siu-lam. Segera ia menerobos air terjun itu dan merayap ke atas karang.
Setelah menemukan karang goha, Siu-lam mengetuk dan berseru keras: “Lo-cianwe,
bukalah pintu. Aku telah membawa obat yang kau kehendaki!”
Tetapi sampai diulang beberapa kali, tetap tiada penyahutan. Saat itu hari sudah siang.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu: “Ai, benar, benar. Karen tubuh wanita itu dilumuri obat,
dia tak berani terkena sinar matahari. Terpaksa aku harus tunggu sampai malam!”
Hian-song tahu-tahu sudah tiba di sampingnya. Tegur dara itu: “Siapa yang hendak
kau cari, suheng? Mengapa kau berada di sini?”
Menunjuk pada batu karang, Siu-lam berbisik: “Orang itu tinggal dalam goha ini. Tetapi
sekarang belum bisa menemuinya!”
“Kenapa? Hayo kita bersama-sama menjebolnya, masakan tak dapat membuka?”
Siu-lam gelengkan kepala: “Jangan, bukannya dia tak mau menemui kita melainkan
melihat ada kesulitan!”
Hian-song tertawa: “Tahu kalau tidak bisa bertemu, perlu apa kau datang kemari?”
“Tunggu sampai nanti malam baru bisa bertemu!”
Hian-song terkesiap: “Mengapa? Siang hari tak bisa menemui orang dan harus pada
malam hari. Dia tentulah bukan manusia….”
“Huh, jangan omong sembarangan. Jika ia sampai mendengar, celakalah!” cegah Siulam.
Sebaliknya Hian-song malah menantang: “Biarkan dia mendengar, takut apa? Kau
boleh takut, tetapi aku tak sudi takut!” Dalam membawakan kata-katanya itu Hian-song
sengaja keraskan suaranya agar didengar orang di dalam goha.
Tahu bahwa dara itu memang manja, Siu-lam tak mau meladeni lebih jauh. Segera ia
berbangkit dan menarik tangan si dara diajak bicara ke lain tempat. Hian-song segansegan
berdiri. Tiba-tiba ia menendang ke arah batu karang.
Siu-lam terkejut. Tetapi ia tak keburu mencegah lagi. Apa boleh buat, ia hanya
melihat saja. Tiba-tiba ketika kaki si dara hampir menyentuh karang, ia memutar tubuh
secara mendadak dan tahu-tahu meluncur turun dan hinggap di atas sebuah pohon.
“Hayo, turunlah!” ia melambai Siu-lam sambil tertawa.
Siu-lam pun segera melayang turun dan menggerutu: “Dalam beberapa hari
sebenarnya aku hendak mengatakan perangaimu berobah baik, siapa tahu sekarang angot
nakal lagi!”
“Eh, kapankah kau pernah memujiku?”
“Karena belum kuucapkan sudah tentu kau tak tahu!” sahut Siu-lam.
Hian-song tertawa dan melayang turun. Mereka duduk di sebuah lapangan rumput.
Kala itu meski sudah melewati tengah musim rontok, tetapi pohon belum mulai bersemi
lagi. Mereka dikelilingi oleh gunung karang sehingga terhindarlah mereka dari serangan
angin salju yang dingin.

Dekat di mata jauh di hati. Demikian keadaan kedua muda-mudi yang tengah duduk di
atas rumput itu. Jika Hian-song sedang sedih memikirkan nasib yang sudah sebatang
kara, sebaliknya Siu-lam sedang gelisah memikirkan sumoaynya yang sedang berada
dalam goha. Ia kuatir apabila wanita berwajah buruk itu tak pegang janji dan turun
tangan kepada sumoaynya.
Berpaling muka, ia terkesiap kaget ketika melihat Hian-song bercucuran air mata.
Buru-buru ia menghiburnya: “Tan lo-cianpwe sudah meninggal, apa kau tangisi saja….”
“Satu-satunya keluargaku hanyalah kakek. Dan sekarang kakek sudah meninggal.
Sedang siapa ayah bundaku aku tak pernah melihatnya. Bagaimana tak sedih jika aku
mengenangkan diriku ini seorang anak perempuan sebatang kara hidup di dunia yang
begini luasnya.”
“Di dunia banyaklah jumlahnya orang yang sudah sebatang kara. Dan merekapun
tabah dalam menghadapi cobaan hidup. Mengapa kau harus berputus asa?”
Hian-song mengusap air matanya dan serentak berbangkit: “Apa? Kau juga sudah
sebatang kara seperti aku?”
“Walaupun orang tuaku masih hidup, tetapi kesulitan yang kuhadapi sekarang ini
mungkin tak kalah beratnya dengan kesulitanmu!”
“Hm, memang yang tersangkut batu benar-benar dapat merasakan penderitaannya!”
gumam Hian-song.
Siu-lam segera menuturkan pengalamannya. “Sebenarnya yang kumaksud dengan
kedua orang tuaku bukan lain hanya kedua guruku. Mereka telah melepas budi besar
kepadaku maka kuanggap sebagai orang tuaku sendiri. Ah, nasib malang yang mereka
derita, jauh lebih besar dari nasibmu. Seluruh keluarga mereka, besar kecil tua muda,
telah dibunuh orang. Yang beruntung selamat hanya puterinya, lebih tua sedikit dari
kau….”
“Dia tentu sumoaymu! Apakah kedatanganmu kemari karena hendak mencari
sumoaymu itu?”
Siu-lam mengiakan: “Benar, dia telah ditawan oleh seorang wanita berwajah seram
yang tinggal di goha ini. Dia memberi batas waktu sampai tiga bulan harus membawa pil
Siok-beng-tan dari tangan Gan lo-cianpwe, untuk mengobati lukanya.”
Hian-song tak mau mendesak melainkan perlahan-lahan berbangkit dan tegak
terlongong-longong. Siu-lam menghampiri dan berkata dengan berbisik: “Ah, maafkan
karena aku tak ingat membeli pakaian untukmu.”
Sahut Hian-song: “Sejak kecil aku biasa mengenakan pakaian kasar. Tak usah suheng
repot-repot.”
Tiba-tiba Siu-lam teringat sesuatu. Hian-song ini seperti pinang dibelah dua dengan si
dara berbaju putih yang pernah memaksanya supaya menelan peta Telaga Darah tempo
hari. Dara yang itu bernama Bwe Hong-swat sedang dara yang ini bernama Hian-song.
Tengah pikirannya melayang-layang tiba-tiba ia mendengar derap kaki orang berjalan
datang. Cepat-cepat ia berpaling dan ah…. kiranya si hitam Seng Kim-po, murid dari Su
Bo-tun. Cepat-cepat ia memberi salam.
Si hitam Seng Kim-po berpaling dan memandang dingin kepada Siu-lam: “Huh,
mengapa kau datang kemari lagi? Apakah masih belum kapok?”
Sebenarnya Siu-lam hendak menanyakan tentang Tio It-ping tetapi ketika mendengar
ucapan si hitam yang getas, sesaat ia tak dapat berkata apa-apa.
Adalah si dara Hian-song yang segera melengking: “Apakah Co-yang-ping ini milikmu?
Kami suka datang kemari, kau mau apa? Hm, jangan suka usil!”
Seng Kim-po melongo menerima sentilan itu, serunya: “Seorang anak perempuan,
omong asal omong. Tidak pakai aturan. Aku Seng Kim-po seorang lelaki yang bertubuh
tinggi besar, mana sudi melayani ocehanmu!” Lalu ia berpaling kepada kawannya seorang
paderi. “Ayo kita pergi!”

“Berhenti!” tiba-tiba Hian-song membentak si hitam yang melangkah hendak pergi.
Rupanya dara itu hendak maju melabrak, tetapi buru-buru dicegah Siu-lam: “Kita sedang
mengurus soal penting, janganlah sumoay cari onar!”
Tetapi Seng Kim-po sudah terlanjur berhenti dan paderi muda kawannya itupun sudah
melepaskan tongkat yang dipanggul di bahunya.
Melihat sikap kedua orang itu seperti hendak menantang, amarah si dara yang sudah
mereda berkobar lagi: “Lepaskan!” ia meronta dari cekalan Siu-lam terus melesat maju.
Karena tadi Seng Kim-po berjalan di muka dan si paderi mengikuti di belakang, maka
ketika berhenti, si paderi yang kini berada di muka Hian-song langsung hendak
menerjang. “Minggir! Apa memang sengaja mau menghadang aku?”
“Harap nona jangan marah-marah. Pinceng (aku) datang dari jauh karena hendak
menghadap guru dari saudara Seng ini. Perlu merundingkan suatu urusan maha penting
yang menyangkut mati hidupnya seluruh kaum persilatan. Urusan penting ini harus lekaslekas
diselesaikan. Sedetik ditunda, sedetik bahaya itu makin besar. Ah, mungkin akan
membinasakan jiwa beberapa orang….”
Hian-song menyeletuk: “Apa yang kau katakan begitu panjang lebar itu, sedikitpun aku
tak mengerti. Apa yang terjadi sebenarnya?”
Tampaknya paderi muda itu gelisah sekali. Katanya gugup: “Tanda kematian jarum
Chit-jiau-soh yang pernah menggemparkan dunia persilatan pada tiga puluh tahun yang
lalu, kini muncul lagi. Dan lagi para ketua partay persilatan dan tokoh-tokoh hitam telah
menerima pemberitahu. Diberi waktu sampai pesta Peh-cun (pesta air) tahun ini harus
datang menghadiri pesta Ciau-hun-yan (perjamuan memanggil nyawa) yang akan
diselenggarakan di lembah Coat-beng-koh (Lembah Putus Nyawa) di gunung Beng-gak.
Barangsiapa tak datang, dalam waktu sebulan seluruh keluarga dan handai taulan orang
itu akan dibasmi habis….”
Berkata sampai di sini tiba-tiba paderi muda itu berhenti. Ia anggap tiada manfaatnya
membicarakan soal penting itu kepada seorang anak perempuan yang tak dikenal. Segera
ia mengakhiri pembicaraannya: “Kedatangan pinceng kemari adalah hendak mohon pada
Siu-chiu-kiau-in Su Bo-tun tayhiap agar suka turun gunung untuk menyelamatkan bencana
dunia persilatan. Apabila li-sicu berkeras hendak berkelahi dengan Seng-sicu ini,
dikuatirkan akan menimbulkan kemarahan….” tiba-tiba ia berhenti karena menyadari
bahwa kata-katanya itu mungkin dapat membangkitkan ketidakpuasan nona itu. Buruburu
ia mengakhiri kata-katanya dengan ucapan “omitohud”.
Melihat kecemasan wajah si paderi, Hian-song tertawa kecil: “Persetan Mengundang
Roh di Lembah Putus Nyawa itu. Seram benar kedengarannya!”
Mendengar dara itu seenaknya saja mengucapkan nama-nama tempat itu, si paderi
muda gelengkan kepala dan menghela napas: “Li sicu masih muda belia, tentulah tak
mengetahui tentang peristiwa hebat pada tiga puluh tahun yang lalu itu….”
Belum selesai si paderi mengucap, tiba-tiba Hian-song merogoh keluar kutungan jarum
Chit-jiau-soh dari kantong pemberian kakeknya: “Yang kau katakan jarum Chit-jiau-soh
sebagai lambang kematian dalam dunia persilatan itu, apakah bukan benda ini?”
Bermula si paderi muda tak percaya mendengar ucapan si dara. Dikiranya dara itu
hanya berolok-olok. Tetapi ketika dipandangnya dengan seksama, wajahnya segera
berubah pucat dan tubuhnya menggigil. Cepat ia menarik tangan Seng Kim-po diajak lari
secepat-cepatnya.
Hian-song geli melihat tingkah laku si paderi yang begitu ketakutan seperti melihat
setan. Katanya kepada Siu-lam: “Eh, mengapa paderi itu begitu ketakutan setengah mati
melihat kutungan jarum ini? Ayo, kita kejar dan tanyakan sebabnya!”
Siu-lam tahu Su Bo-tun itu sangat lihay. Jika mengejar muridnya mungkin akan
menimbulkan onar. Ia mencegah maksud si dara. Untunglah Hian-song mau mendengar
kata. Tetapi pada lain saat dara itu tiba-tiba melengking: “Ya, ya, adanya kau takut akan
menimbulkan onar, karena kau kuatir akan membikin terlantar diri sumoay-mu!”

Siu-lam terkesiap, sahutnya: “Mundur seharipun tak jadi apa. Tetapi aku kuatir kalau
kau mengejarnya dan bertempur, jika sampai melukai orang, bukankah akan menambah
permusuhan saja? Dan jika kita yang terluka, pun bahkan lebih tak berharga lagi.”
Agak terhibur juga hati Hian-song mendengar penjelasan itu. Ia tertawa: “Memang aku
sudah merasa, sejak kakek meninggalkan dunia ini tiada lagi orang yang menyayang
padaku….” ia melangkah pelahan-lahan ke muka.
Sejak kecil ditinggal mati kedua orang tuanya, dara itu ikut pada kakeknya dan amat
dimanjakan sekali. Memang tampaknya sang kakek keras sekali, hal mana agar dara itu
benar-benar mau belajar ilmu silat. Tapi pada hakekatnya kakek itu cinta sekali kepada
Hian-song.
Siu-lam hanya mengikuti di belakang dara itu tanpa bicara apa-apa. Beberapa hari ini
ia dapat mempelajari perangai si dara. Seorang dara yang benar-benar aneh dan tak
dapat diraba hatinya. Cepat girang cepat pula merajuk.
Beberapa lama kemudian tiba-tiba Hian-song berpaling dan bertanya: “Pui suheng, aku
mempunyai persoalan yang sukar kupecahkan. Maukah kau memecahkannya?”
“Katakanlah, sedapat mungkin tentu kubantu!”
Si dara tertawa: “Melihat jarum kutung tadi, mengapa paderi itu ketakutan sekali?”
Sejenak merenung, menyahutlah Siu-lam: “Mungkin dia salah duga kalau kau juga anak
buah Beng-gak.”
“Tetapi mengapa kakek dapat menyimpan jarum yang katanya pernah menggegerkan
dunia persilatan itu?” tanya si dara pula, “Apakah aku ini benar….”
Dara itu tak melanjutkan kata-katanya lagi. Tetapi diam-diam Siu-lam yang cerdaspun
membatin dalam hati: “Ah, omongannya memang benar. Apa maksud kakeknya
menyimpan jarum maut itu? Ah, rupanya soal ini baru mungkin dipecahkan apabila sudah
tiba di telaga Hek-liong-than di gunung Thay-san. Paling tidak setelah menukarkan jarum
itu dengan pedang, tentulah dapat diketahui jejaknya….”
“Uh, mengapa kau diam saja? Apa saja yang kau pikirkan? Apakah kau benar-benar
mengira aku ini orang Beng-gak?” tiba-tiba si dara menegur karena Siu-lam tak mau bicara
lagi.
Siu-lam menggeleng: “Tentu ada maksudnya mengapa Tan lo-cianpwe menyimpan
kutungan jarum itu? Walaupun kau bukan orang Beng-gak, tetapi sekurang-kurangnya
tentu mempunyai hubungan entah budi apa dendam dengan pemilik Chit-jiau-soh….”
Hian-song merenung. Ia berusaha mengingat peristiwa yang telah lalu. Tetapi sampai
hampir setengah hari, tak berhasil ia menemukan keterangan apa-apa.
“Ah,” akhirnya ia menghela napas. “Memang aku gelap terhadap asal-usul diriku.
Bagaimanakah wajah ayah-bundaku, sama sekali aku tidak tahu. Apa yang kuketahui,
sejak kecil aku hidup bersama kakek. Kakek hanya mengatakan namaku disebut Hiangsong.
Aku harus giat belajar ilmu silat. Lain-lain hal dia tak pernah bercerita. Pernah
kutanya siapa ayah-ibuku, kakek diam saja. Karena kuatir ia sedih, akupun tak mau
bertanya lagi. Pikirku, kelak pada suatu hari, kakek tentu akan memberi tahu sendiri. Ah,
siapa tahu, sampai pada ajalnya, kakek tak memberitahukan hal itu. Maka untuk selamalamanya
aku tak bakal tahu siapakah ayah-bundaku….”
“Ah, mungkin Tan lo-cianwpe sudah mempersiapkan sesuatu rencana….” Siu-lam
menghiburi. Merenung sejenak, ia berkata pula: “Tan lo-cianpwe sakti dalam ilmu silat
dan ilmu pengobatan. Beliau bukan tokoh sembarangan. Asal-usul sumoay, kelak tentu
tak sukar diketahui, maka janganlah sumoay gelisah akan hal itu!”
Hian-song tertawa ringan: “Benar, memang jarang terdapat tokoh sesakti kakek. Jika
tak menderita luka dalam, beliau tentu terhitung seorang tokoh utama dari suatu angkatan
jamannya!”
Saat itu haripun hampir petang. Kata Siu-lam: “Sudah hampir petang, baiklah kita
beristirahat di sini. Nanti malam kita menolong sumoayku dan lantas tinggalkan tempat
ini. Kita menuju ke telaga Se-ou yang termasyhur itu!”

“Apakah telaga Se-ou itu indah pemandangannya?” tanya Hian-song.
Baru Siu-lam hendak menyahut, si dara sudah mendahului lagi: “Ya, kutahulah! Se-ou
merupakan telaga yang indah di dunia. Baiklah, mari kita istirahat dulu.”
Begitulah keduanya segera bersemedhi memulangkan tenaga. Setelah malam tiba,
mereka segera menuju ke goha di bawah air terjun. Sejak jalan darah Seng-si-hiankwannya
terbuka, gerakan Hian-song amat ringan sekali. Ia lebih dulu dapat tiba di muka
goha itu. Dan tahu-tahu menendang karang goha.
“Hai, jangan main tendang, sumoay!” Siu-lam kaget dan berseru. Tetapi sudah
terlambat. Tendangan Hian-song tepat mengenai pintu goha. Siu-lam kebat-kebit
hatinya. Ia kuatir si wanita berwajah seram akan marah. Tetapi sampai sekian lama
ternyata tak terdengar reaksi apa-apa. Segera ia mendebur pintu goha dan berseru
nyaring: “Wanpwe sudah membawa pil Kiu-coan-seng-ki-beng-tan. Harap lo-cianpwe
bukakan pintu!”
Diulangnya seruan itu beberapa kali namun pintu tetap tertutup. Tiada penyahutan
sama sekali.
“Mungkin wanita tua itu sudah meninggal….” tiba-tiba Hian-song menyeletuk.
Tergetar hati Siu-lam mendengar kata-kata si dara. Ujarnya: “Wanita aneh itu sudah
belasan tahun tinggal di dalam goha ini, masakah dia tak kuat bertahan sampai tiga bulan
seperti yang telah dijanjikan padaku….”
Hian-song tertawa: “Pui suheng, orang mati itu datangnya tak dapat diduga-duga!”
Memang Siu-lam sudah curiga, apalagi setelah mendengar keterangan Hian-song,
hatinya makin cemas. Katanya seorang diri: “Ah, wanita itu berhati dingin sekali. Jika ia
merasa bakal tak hidup, dikuatirkan ia lebih dahulu membunuh sumoayku!”
Bluk…! Mendadak ia menendang pintu goha dan berseru nyaring: “Wanpwe datang
menepati waktu yang dijanjikan, mengapa lo-cianpwe tak mau membukakan pintu?”
Namun goha tetap tak memberi reaksi apa-apa. Hian-song tak sabar dan ajak Siu-lam
mendobrak pintu. Malah ia sudah mendahului menendang pintu goha. Tak berapa lama
pintu dapat dihancurkan. Tetapi ketika si dara hendak masuk, Siu-lam mencegahnya:
“Wanita itu sakti sekali, janganlah sumoay gegabah masuk!”
“Aku tak takut!” Hian-song tertawa. Dengan kerahkan tenaga segera ia mendorong
pintu. Karena sudah digempur tendang, mudah saja pintu itu terbuka. Lebih dulu ia
lepaskan pukulan ke dalam goha, kemudian baru menerobos masuk. Dara itu betul-betul
tak kenal takut.
Tetapi pada lain saat itu terdengarlah Hian-song menjerit dan loncat ke luar lagi
menubruk dada Siu-lam.
“Eh, mengapa kau?” Siu-lam terkejut.
Hian-song mengangkat kepalanya perlahan-lahan, serunya: “Aku takut….”
Ketika Siu-lam memandang ke dalam goha ternyata di atas sebuah ranjang batu,
sebuah tengkorak duduk bersandar pada dinding. Kecuali rambutnya yang panjang yang
masih melekat di batok kepala, boleh dikata daging tubuhnya sudah tak ada lagi, tinggal
tulang kerangka. Kejut Siu-lam bukan alang-kepalang: “Ing sumoay! Ing sumoay….!”
Teriaknya.
Hian-song lepaskan diri dari pelukan Siu-lam. Bersandar pada dinding, ia memandang
tak berkesiap kepada pemuda itu.
Siu-lam segera menghampiri pada tulang kerangka. Sejenak memeriksa, ia menjerit
keras dan terhuyung-huyung rubuh ke atas tanah.
Hian-song kaget mendengar jeritan pemuda itu. Betapapun ia tetap seorang anak
perempuan. Dalam tempat yang seseram itu, mau tak mau ia gemetar juga. Beberapa
saat kemudian setelah tenang, ia menghampiri Siu-lam dan mengangkatnya bangun.
Tampak pemuda itu mencucurkan air mata.
Iba juga hati dara itu melihat keadaan Siu-lam. Sambil mengusap air mata pemuda itu,
Hian-song menghiburnya: “Pui suheng, apakah kau berduka?” Selama hidup, ia tak

pernah menghibur orang tetapi dihibur. Maka tak dapat ia merangkai kata-kata yang
tepat.
Siu-lam menghela napas panjang. Air matanya membanjir, ujarnya: “Sumoay mati….”
Berpaling ke samping, Hian-song melihat di ujung ruang goha, terbaring sesosok tubuh
yang memakai pakaian wanita, rambutnya kusut masai, tubuhnya kaku. Mungkin sudah
mati beberapa waktu. Dari perawakan dan pakaiannya, umurnya tentu masih muda.
Tiba-tiba Siu-lam berbangkit. Ia masih mengharap agar mayat itu bukanlah
sumoaynya. Buru-buru ia menghampiri. Disibakkan rambut mayat itu dan
mengangkatnya agar dapat mengraut wajahnya. Ah…. tiba-tiba Siu-lam mengeluh kaget.
Wajah mayat itu tak dapat dikenali lagi karena hancur lebur tak karuan akibat dicakari jari
tangan!
Siu-lam termangu. Tiba-tiba ia berpaling memandang kerangka yang duduk di atas
batu. Dampratnya: “Hei, perempuan siluman. Perjanjian belum kelewat batas waktunya.
Mengapa kau ingkar janji membunuh sumoayku?!”
Setelah memaki habis-habisan, ia tending kaki mayat itu. Pyur, tulang belulang bagian
kaki mayat itu berhamburan ke empat penjuru. Namun rupanya Siu-lam masih belum
puas hati. Ia menghantam juga bagian badan mayat itu. Tulang tubuh dan kepala mayat
itu berhamburan membentur dinding jatuh berserakan ke tanah.
Tring…. tiba-tiba terdengar dering macam bunyi logam saling membentur. Siu-lam
memandang ke arah bunyi itu. Ada suatu benda berkilau-kilauan seperti emas masih
melekat pada dinding.
“Ah, belum tentu kalau mayat itu sumoaymu!” tiba-tiba Hian-song menyeletuk.
Sahut Siu-lam: “Goha ini terletak di perut gunung yang sukar diketahui orang. Tak
mungkin orang luar masuk kemari. Siapa lagi kalau bukan tindakan wanita ganas itu.
Tahu bahwa lukanya tak bakal sembuh, sebelum mati ia membunuh sumoayku lebih dulu.”
“Ah, masakan di dunia tiada orang tahu rahasia goha ini,” bantah Hian-song.
“Sudah hampir tiga puluh musim dingin, wanita itu mengeram di sini dalam keadaan
luka parah, lumpuh tak dapat berjalan. Umurnyapun sudah lebih dari enam puluh tahun.
Dan mayat itu jelas mayat seorang perempuan. Siapa lagi kalau bukan sumoayku?”
“Apakah kau masih ingat baju warna apa yang dipakai sumoaymu tempo hari?”
“Bajunya warna biru!”
“Benar?” Hian-song menegas. Ia tahu jelas bahwa pakaian yang dipakai mayat itu
memang berwarna hijau atau biru. Ia anjurkan supaya Siu-lam mengangkat mayat itu
keluar agar dapat dikenali lebih jelas.
Siu-lam menurut. Diangkatnya mayat itu dan diletakkan di muka pintu goha. Ketika
mengamat-amati warna pakaiannya, ia menjerit.
“Orang yang sudah mati takkan hidup kembali. Apa gunanya kita tangisi? Bukankah
suheng pernah menasihati aku begitu…” Hian-song menghampiri seraya berseru perlahanlahan.
“Ah, memang akulah yang menyebabkan kematiannya. Jika aku lekas datang, tentulah
dia tak sampai dibunuh wanita jahat itu!” sahut Siu-lam.
Hian-song menghela napas: “Ah, akulah yang menjadi gara-garanya. Jika tidak karena
aku, kau tentu sudah pulang lebih cepat dari sekarang!”
“Kau tak salah, Song sumoay. Jika bukan kau yang menolong akupun tentu mati di
Kiu-kiong-san!”
“Apakah Ing sumoay itu baik kepadamu?” tanya Hian-song setengah berbisik.
Siu-lam kembali membawa jenazah itu masuk dan diletakkan di atas ranjang batu.
Tiba-tiba dilihatnya sebuah benda mengkilap. Segera diambilnya seraya menyahut
pertanyaan Hian-song: “Ya, dia baik kepadaku!”
“Ah, kalau dia baik kepadamu, biarlah aku yang mewakili dan akan memperlakukan kau
sebaik ia berlaku kepadamu….”

Siu-lam menghela napas. Diangkatnya jenazah sang sumoay, lalu mengajak Hian-song
tinggalkan goha itu.
“Hendak kau bawa kemanakah jenazah sumoaymu?” tanya Hian-song.
Siu-lam tertawa hambar: “Hendak kucari sebuah tempat yang bagus alamnya sebagai
tempat peristirahatannya…” tiba-tiba ia teringat sesuatu, serunya rawan: “Tetapi ah, di sini
jauh dari kota. Sukar membeli peti mati…”
Kata Hian-song: “Goha ini walaupun gelap tetapi ada hawanya juga. Kukira lebih baik
jenazahnya diletakkan di atas ranjang batu sini lalu kita tutup goha ini rapat-rapat. Nanti
beberapa hari lagi, kita ambil jenazahnya untuk dikubur satu tempat dengan ayah
bundanya.”
Siu-lam tidak setuju karena dikuatirkan jenazah sumoaynya akan dimakan kutu.
“Kalau begitu,” Hian-song tampak ragu-ragu, “ada lain cara, tetapi entah setuju atau
tidak!”
Rupanya Siu-lam mengerti apa yang dimaksud si dara, serunya mendahului: “Bukankah
kau hendak membakar jenazahnya?”
Hian-song mengiakan: “Benar, kita mudah mengirim abunya. Eh, apa dengan cara
seperti penguburan kakekku ialah dibekukan dalam timbunan salju?”
Sejenak Siu-lam heran mengapa dara yang biasanya keras kepala dan manja itu, tibatiba
berubah lemah lembut dan memperhatikan dirinya. Akhirnya Siu-lam setuju untuk
memperabukan jenazah sumoaynya. Segera ia keluar goha dan sekali melesat ia
melayang turun ke bawah lembah. Hian-song tetap mengikutinya.
Setelah tiba di lamping gunung, di bawah sinar bintang Siu-lam makin yakin bahwa
jenazah itu adalah Hui-ing. Terkenang akan kehidupannya bersama sumoay itu di kala
masih berguru dan bergaul, air mata Siu-lam bercucuran deras….
Hian-song memperingatkan supaya cari kayu bakar. Ketika meletakkan jenazah, tibatiba
ia merasa tangannya yang memegang benda mengilap tadi menarik perhatiannya.
Benda itu ternyata sebuah senjata yang aneh bentuknya. Mirip pedang tetapi bukan
pedang, menyerupai golok tapi bukan golok. Senjata itu tumpul, kedua tepinya berbentuk
seperti perisai. Anehnya walaupun terbuat seperti dari bahan besi tembaga, tetapi senjata
itu ringan sekali.
Semula hendak dibuang saja benda itu tetapi ia terkesiap ketika melihat Hian-song pun
mencekal benda semacam itu juga. Hanya warnanya agak berbeda. Yang dipegangnya
itu berwarna putih mengkilap, tetapi yang ada pada Hian-song berwarna kuning
keemasan.
“Ah, dia tentu senang bermain-main benda ini. Baiklah kusimpan dahulu, kelak
kuberikan kepadanya,” diam-diam Siu-lam membatin lalu menyimpan benda itu ke dalam
baju.
“Jagalah di sini, aku hendak mencari kayu,” tanpa menunggu penyahutan, Siu-lam
segera lari ke bawah gunung. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa setumpuk
kayu.
“Eh, nanti dulu suheng,” tiba-tiba Hian-song berkata, “Kita masih kurang guci untuk
tempat abu!”
Siu-lam kerutkan dahi: “Ah, kemanakah kita harus mencari benda itu?”
“Su Bo-tun seorang ternama, kita minta pinjam sebuah guci, masakan dia tak boleh?”
kata Hian-song.
“Dia seorang manusia aneh, tak kenal belas kasihan sama sekali. Jangankanlah guci,
cangkir untuk minumpun belum tentu boleh!”
“Eh, masakan dia manusia begitu. Tetapi marilah kita coba. Kalau boleh, ya sudah.
Tapi kalau menolak, kita paksa pinjam. Coba dia mau apa!”
“Tetapi dia sakti, kita berdua mungkin bukan tandingannya!” kata Siu-lam.
Hian-song tak puas dalam hati. Katanya: “Ah, tetapi kita perlu dengan benda itu!”
Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia terpaksa menyetujui usul Hian-song.

Hian-song tertawa: “Nanti apabila di sana, kaulah yang bicara. Aku berjanji takkan
menimbulkan onar!”
“O, sekali-kali bukan maksudku hendak membatasi kebebasan sumoay. Tetapi orang
itu memang benar-benar sakti, lebih baik kita jangan cari perkara…”
Siu-lam segera mengatur persiapan. Jenazah diletakkan di atas batu karang lalu
ditimbuni kayu.
Siu-lam ingat letak dataran karang Co-yang-ping dengan baik. Karena jaraknya tak
berapa jauh maka dalam waktu singkat tibalah mereka di tempat yang dituju.
“Co-yang-ping merupakan karang bunting. Jalan satu-satunya hanya dapat dicapai
dengan jembatan tonggak-tonggak karang yang licin. Maka harap sumoay berhati-hati!”
Siu-lam memberi peringatan dan terus hendak melayang ke tonggak karang pertama.
Tetapi tiba-tiba Hian-song sudah mendahuluinya. Tubuh dara itu ringan dan gerakannya
lincah serta tepat memilih sasaran. Beberapa kejab saja dara itu malah sudah meneriaki
Siu-lam supaya lekas menyusulnya.
“Lekas balik, sumoayku. Aku sudah pernah datang kemari satu kali maka biarlah aku
yang menunjukkan jalan!” seru Siu-lam.
Tetapi dara itu tetap tertawa: “Jangan kuatir, suheng. Walaupun malam, aku sudah
dilatih ilmu lwekang oleh kakek untuk melihat dalam kegelapan. Ayo, lekaslah suheng ke
tempat sini!”
Karena menyadari bahwa ilmu dara itu lebih tinggi, terpaksa Siu-lam menurut.
Akhirnya mereka dapat mencapai tonggak karang yang terakhir. Hian-song lebih dulu
melayang ke tonggak itu kemudian Siu-lam menyusul. Tiba-tiba pemuda itu terkejut
karena si dara tak mau menyingkir. Kuatir membentur sehingga dara itu nanti
terpelanting jatuh ke bawah jurang, ia mengurangi gerakan melayangnya. Dengan
bergeliat tubuh Siu-lam sendirilah yang meluncur ke bawah. Tiba-tiba sesosok tubuh
melayang dan lambungnya dicekal oleh sebuah tangan halus terus disangga ke atas:
“Tonggak karang ini cukup untuk dua orang. Telah kusisihkan tempat untukmu!”
Tiba-tiba kaki Siu-lam sudah berdiri di atas tonggak karang, tubuhnya dipeluk erat-erat
oleh Hian-song. Dalam keadaan seperti tempat itu, tak dapat ia menghindari lagi.
“Pejamkan matamu, biar kubantumu mendorong ke seberang karang itu!” Hian-song
letakkan tangan di punggung si anak muda.
Sebenarnya Siu-lam memang tak mempunyai keyakinan akan dapat mencapai tepi
karang Co-yang-ping. Tetapi ia malu mengatakan. Tiba-tiba punggungnya kena didorong
oleh tangan si dara. Serasa ia ditiup angin badai dan dapatlah ia mencapai tepi karang
itu.
Buru-buru ia tegak di karang datar itu, tiba-tiba terdengar suara Hian-song sudah
melengking di sampingnya: “Ai, karang buntung ini memang berbahaya sekali. Menilik
tempatnya saja terang kalau orang itu tentu seorang manusia aneh!”
Mereka menuju ke pondok kediaman manusia berhati dingin Su Bo-tun. Siu-lam heran
ketika melihat pondok Su Bo-tun masih terang dengan penerangan. Padahal saat itu
sudah tengah malam. Dan yang lebih mengherankan, pintu pondok itu terbuka lebar. Su
Bo-tun tampak duduk di kursinya yang terbuat dari pohon co-bok. Seng Kim-po tegak
berdiri di sampingnya. Rupanya dalam ruang pondok itu sedang menerima banyak
tetamu. Heran Siu-lam dibuatnya. Ia tahu bagaimana dingin dan aneh watak orang she
Su itu. Mengapa mendadak sontak dia mau menerima sekian banyak tetamu?
Tengah Siu-lam menimang-nimang, tiba-tiba ia dikejutkan oleh bentakan Su Bo-tun
yang bengis: “Hm, siapakah yang diam-diam berani menyelundup kemari? Sudah berani
datang ke Co-yang-ping mengapa tak berani masuk kemari?”
Siu-lam terbeliak. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui orang she Su itu terang.
Ternyata tetamu yang berada dalam ruang pondok itu terdiri dari seorang tua lebih kurang
berusia enam puluh tahun. Jenggotnya yang putih menjulai panjang sampai ke dada.
Seorang paderi berjubah kelabu dan dua orang lelaki setengah tua yang bertubuh tinggi

besar. Melihat dari sinar mata dan sikapnya, jelas mereka tentulah tokoh yang berilmu
sakti.
Hanya si paderi jubah kelabu yang memandang kedatangan Siu-lam berdua, tetapi
yang lain sama sekali tak mengacuhkan pemuda itu.
“Hm, mau apa kau datang kemari lagi?” tegur Su Bo-tun.
Siu-lam mengatakan kalau hendak pinjam sebuah benda milik tuan rumah. Belum Su
Bo-tun menyahut, kedua lelaki tinggi besar sudah serentak berdiri dan mendamprat: “Hai,
kau tahu tempat apa ini. Lekas enyah atau mau minta mati!?”
Hian-song kerutkan alis. Kemarahannya mulai berkobar. Tetapi ketika melihat Siu-lam,
Hian-song tenang kembali.
Terdengar si orang tua jenggot putih berseru: “Kiranya Su-heng sudah mengikat
permusuhan dengan orang Beng-gak. Kau tak mau cari perkara, tetapi mereka tetap akan
mencarimu. Aku tahu Su-heng tak mau bergaul dengan orang lagi maka mengasingkan
diri di sini. Tetapi dalam hal suasana seperti sekarang ini, bukan saja menyangkut
kepentingan seorang dua orang tetapi boleh dikata seluruh dunia persilatan. Bahkan para
ketua gereja Siau-li-si pun tak dapat berpeluk tangan lagi. Dapatlah diperkirakan betapa
gawatnya peristiwa ini. Jika Su-heng tetap tak mau ikut campur, dikuatirkan perempuan
siluman itu takkan mengampuni Su-heng!”
Si paderi jubah kelabu pun menyeletuk; “Omitohud! Suhuku pernah memuji ilmu Chitsing-
tun-heng dari Su sicu tiada taranya. Jika Su sicu meluluskan untuk menyelesaikan
urusan, ah, benar-benar suatu kebahagiaan bagi kaum persilatan!”
Rupanya tergerak juga hati Su Bo-tun mendengar permintaan para tamunya itu. Ia
tundukkan kepala tak bicara.
Tiba-tiba si orang tua jenggot putih berbangkit, serunya: “Mungkin Su-heng perlu
hendak mempertimbangkan dulu. Tetapi memang benar-benar aku telah menerima surat
dari ketua gereja Siau-lim-si agar supaya aku menemui dan meminta bantuan Su-heng…”
ia berhenti sejenak lalu melanjutkan: “Peristiwa ini benar-benar menyangkut seluruh dunia
persilatan. Sebagai tokoh terkemuka dari dunia persilatan, sekalipun Su-heng tidak
mengikut permusuhan dengan Beng-gak, tetapi mereka tentu akan mencarimu. Apalagi
Su-heng telah membunuh anak buah Beng-gak, tentulah takkan dimaafkan.”
“Harap Lui-heng jangan membakar hatiku lagi. Ijinkanlah aku untuk berpikir. Setelah
beberapa hari baru kuberi putusan. Jika setuju, tentu pada saatnya aku akan datang ke
lembah Coat-beng-koh. Tetapi jika tak setuju, sekalipun ketua Siau-lim-si datang kemari
sendiri, aku tetap menolak. Hm, gelar Siu-chiu-kiau-in (Tak Mau Campur Urusan Dunia
Lagi) masakan hanya nama kosong?”
Si orang tua jenggot putih tertawa dingin: “Memperlakukan seorang sahabat lama
dengan sikap sedingin itu, apakah tidak kelewatan…”
“Terserah!” Su Bo-tun mengangkat bahu.
“Su-heng kelewat menghina orang!” orang tua jenggot putih itu tertawa dingin. “Jika
aku tak punya urusan penting yang harus kukerjakan, tentu saat ini aku akan minta
pelajaran padamu!” Ia terus melangkah keluar pondok.
Su Bo-tun tak mengacuhkan. Ia menengadah memandang puncak penglari pondoknya.
Dengan marah-marah, orang tua jenggot putih itu menerjang saja Siu-lam dan Hiansong
yang berdiri di ambang pintu. Hian-song tak puas dengan tingkah laku orang tua itu.
Ia malah menghadang di tengah jalan: “Apakah kau tak melihat kami berdiri di sini?”
Dada orang tua jenggot putih itu hampir meledak karena melihat sikap dingin dari Su
Bo-tun. Tetapi karena ia merasa kalah sakti dan pula masih mempunyai lain urusan, maka
terpaksa ia tahan kemarahannya. Bahwa kini seorang dara berani menghadang jalannya,
orang tua jenggot putih itu benar-benar meledak kemarahannya.
“Menyingkirlah!” serunya seraya menyiak kedua muda-mudi itu.
“Jangan turun tangan sumoay!” cepat-cepat Siu-lam mencegah Hian-song yang hendak
gerakkan tangan. Tetapi sudah terlambat. Si dara lebih cepat. Dengan gerakan yang

luar biasa cepatnya, dara itu menghindar dan balas menyerang dua kali sehingga orang
tua itu dipaksa mundur kembali.
Menyaksikan gerakan si dara yang sedemikian luar biasa, sekalian tetamu terbeliak
kaget. Demikian pun orang tua jenggot putih.
Su Bo-tun mendengus: “Hm, di depan hidung Su Bo-tun berani-berani bertempur,
berarti hendak cari sakit. Jika aku sampai marah, jangan harap kalian bisa hidup!”
Hian-song tak dapat menahan kesabarannya lagi. Berpaling kepada Siu-lam ia memaki:
“Suheng, pak tua itu kalau bicara seenaknya sendiri saja. Perlukah kita menghajarnya?”
Belum Siu-lam menyahut, Su Bo-tun sudah bangkit dan perlahan-lahan menghampiri si
dara. Melihat itu si paderi jubah kelabu gugup dan memburu ke samping Su Bo-tun,
serunya berbisik: “Gadis itu mempunyai Chit-jiau-soh, mungkin mempunyai hubungan
dengan Beng-gak…”
Su Bo-tun terkesiap. Dibentaknya Siu-lam: “Siapakah budak perempuan ini? Lekas
bilang!”
Siu-lam tak sempat menyelami maksud pertanyaan itu. Cepat-cepat ia menyahut: “Dia
sumoayku!”
“Ngaco belo! Dari mana kau bisa memperoleh sekian banyak sumoay?” bentak Su Botun.
“Kau sendiri yang ngaco belo. Kalau bukan sumoaynya, masakah di aku-aku!” Hiansong
balas membentak.
Bagi si dara ia memaki asal memaki untuk melampiaskan kedongkolannya. Tetapi bagi
Su Bo-tun hal itu merupakan hinaan besar. Ia tertawa dingin: “Kau pintar memaki!” tibatiba
ia menampar…: “Biar gigimu rompal, coba lihat saja apakah kau masih bisa memakimaki
orang?”
Hian-song jarang berkelahi. Mendapat serangan yang luar biasa cepatnya itu, ia
terkejut. Cepat-cepat ia menekuk pinggang dan menyurut mundur dua langkah ke
belakang.
Tamparannya luput, Su Bo-tun makin panas hatinya. Tahu-tahu ia sudah melesat ke
samping Hian-song. Itulah ilmu Chit-sing-tun-heng atau Tujuh Bintang Beralih Tempat
yang tiada keduanya di dunia persilatan!
Siu-lam terkejut dan berseru nyaring: “Siu-chiu-kiau-lam yang termasyhur ternyata mau
juga melayani seorang anak perempuan tak ternama. Apakah kau tak takut ditertawain
orang?” Ia menutup serangannya mulut dengan serangan tangan.
Tetapi pada saat Siu-lam berseru, ternyata si dara sudah melesat mundur lima langkah.
Su Bo-tun terkesiap menyaksikan gerak si dara yang luar biasa itu. Seketika timbullah
nafsunya untuk mengadu kesaktian.
Tangan kiri gunakan jurus Chin-poh-ngo-hian untuk menangkis serangan Siu-lam,
sementara tangan kanan menghantam Hian-song dengan pukulan Biat-gong-ciang yang
dahsyat….
Hian-song kaget melihat pukulan orang yang sedahsyat itu. Namun ia sudah terpojok
di dinding pojok. Tak mungkin ia mundur. Terpaksa ia kerahkan tenaga dalam,
menutupkan kedua tangannya ke dada dan sambil pejamkan mata ia menyambut pukulan
orang.
Apa yang terjadi sesaat kemudian, benar-benar di luar dugaan. Hian-song tetap berdiri
di tempatnya. Sebaliknya Su Bo-tun menarik pulang tangannya dan mundur dua langkah
ke belakang.
Kiranya ia rasakan pukulannya itu menimpa gumpalan kapas yang lunak sekali. Su Botun
sudah mencapai tingkat sempurna dalam menguasai tenaga dalam. Setiap saat dapat
menghamburkan tetapi setiap saat dapat ditarik menurut kehendak hati. Begitulah ia
lakukan saat itu. Tetapi betapa kejutnya ketika ia menarik pulang tangannya, tiba-tiba ia
rasakan serangkum aliran tenaga mendampratnya. Untuk menolaknya sudah tak keburu

lagi. Daya membal dari reaksi tenaga tangkisan Hian-song telah memaksa Su Bo-tun
tersurut dua langkah.
Hian-song membuka mata dan tertawa kepada Siu-lam. Kemudian ia melesat
menerkam Su Bo-tun. Ia tak mau memberi peluang pada Su Bo-tun untuk melancarkan
pukulan Biat-gong-ciang yang kedua. Maka si dara bergerak cepat sekali. Sekaligus ia
sudah melancarkan tiga pukulan dan empat tusukan jari.
Serangan kilat Hian-song itu semua diarahkan pada bagian jalan darah yang
mematikan. Betapa saktinya Su Bo-tun, namun ia terpaksa tak berani betrayal untuk
menghindar. Memang ilmu Chit-sing-tun-heng yang dimiliki itu, sebuah ilmu silat yang
luar biasa. Penuh dengan gerak perubahan yang sukar diketahui. Tubuhnya berputarputar
lincah sekali dan serangan gencar si darapun menemui tempat kosong.
Hian-song pun tak kurang kejutnya. Tadi ia gunakan serempak pukulan Hui-ing-ciang
dan ilmu totokan Thian-sing-ci ajaran mendiang kakeknya. Tetapi kesemuanya itu dapat
dihindari lawan. Berputar tubuh, Hian-song loncat ke samping Siu-lam.
Sebenarnya kejut Su Bo-tun tak kalah besarnya. Ia benar-benar kaget melihat gaya
serangan si dara yang luar biasa hebat dan cepatnya itu. Bukan saja totokan si dara itu
selalu tepat mengarah sasaran, pun mengandung pancaran tenaga dalam yang kuat.
Hampir ia tak percaya bahwa seorang dara yang baru belasan tahun umurnya, dapat
memiliki kesaktian yang demikian hebatnya.
Tetapi Su Bo-tun itu seorang tokoh yang aneh. Baik girang maupun kaget, sukar
diketahui perubahan mimik wajahnya.
Tamu-tamu yang berada di pondok situ, adalah tokoh-tokoh kelas tinggi. Mereka
semua mengikuti dengan penuh perhatian pertempuran tadi. Dan kesan yang
diperolehnya, hampir sama. Terkejut, heran dan kagum….!
Bahwa seorang dara yang baru berumur belasan tahun, ternyata mempunyai kesaktian
yang begitu hebat telah mendorong mereka pada kesimpulan: Jika bukan anak buah
Beng-gak, tak mungkin di dunia persilatan terdapat seorang dara yang sedemikian sakti!
Tadi si orang tua jenggot putih yang hendak tinggalkan pondok itu, terpaksa batalkan
niatnya karena pertempuran itu. Bahwa ternyata itu dapat menandingi Su Bo-tun, orang
tua jenggot putih itu diam-diam kaget juga.
“Apakah nona anak murid Beng-gak?” tegurnya.
Hian-song tak menghiraukan orang tua jenggot putih itu. Ia berbisik kepada Siu-lam:
“Eh, pak tua itu memang sakti. Mungkin aku tak menang, lebih baik jangan
menempurnya!”
Karena tak dipedulikan, orang tua jenggot putih itu marah. Tetapi ia jeri terhadap si
dara. Demikian pun Su Bo-tun. Ia tak mau menyerang si dara lagi. Kedua pihak saling
bersiap-siap tetapi tak berani mulai menyerang dulu.
Tiba-tiba Siu-lam teringat bahwa goha tempat tinggal wanita berwajah buruk yang
menawan sumoaynya itu, dapat menembus ke karang Coh-yang-ping. Ia duga Su Bo-tun
tentu tahu jalan ke tempat goha rahasia tersebut. Tetapi baru ia hendak menanyakan hal
itu, tiba-tiba si imam berambut merah sudah berbangkit dan mencabut pedangnya.
“Konon kabarnya Cit-jiau-soh itu menggemparkan dunia persilatan. Tetapi sampai
sekarang aku belum pernah menyaksikan sendiri. Maka sungguh beruntung sekali hari ini
kita dapat menerima kedatangan seorang anak buah Beng-gak. Kita dapat membuktikan
benar tidaknya kabar-kabar tentang kesaktian orang Beng-gak itu!”
Ucapan orang itu membangkitkan ketegangan sekalian tetamu. Kedua laki-laki
bertubuh tinggi besar, setelah saling berpandangan segera loncat menghadang di ambang
pintu. Si orang tua jenggot putih pun menyisih dua langkah ke samping dan menjaga di
sebelah kiri. Si imam jubah kelabu sambil menjinjing tongkatnya maju selangkah, tegak di
tengah-tengah. Su Bo-tun juga mengisar langkah dan tegak di sebelah kanan. Seketika
mereka seperti membentuk sebuah lingkar kepungan kedua muda-mudi itu.

Hian-song kerutkan alis dan bertanya bisik-bisik kepada Siu-lam: “Apa hubungan jarum
Chit-jiau-soh yang mereka katakan itu dengan kita berdua?”
Siu-lam menghela napas: “Mereka menganggap kita ini orang Beng-gak!”
Sambil membolang-balingkan pedang untuk melindungi diri, imam rambut merah maju
ke samping Siu-lam, serunya: “Chit-jiau-soh merupakan tanda maut. Sungguh beruntung
malam ini aku dapat bertemu dengan pembawa tanda maut itu. Apakah maksud
kedatangan kalian kemari?”
“Aku Pui Siu-lam dan ini sumoayku Tan Hian-song…”
“Banyak benar sumoaymu, huh!” cepat-cepat Su Bo-tun sudah menukasnya.
Siu-lam tak menghiraukan ejekan tuan rumah. Ia menjawab pertanyaan imam rambut
merah; “Kedatangan kami ke Coh-yang-ping tak lain tak bukan hanya perlu hendak pinjam
sebuah alat dapur pada Su lo-cianpwe dan sekalian hendak mohon tanya tentang dua
buah hal. Aneh, mengapa tuan-tuan malah mengepung kami?”
Paderi jubah kelabu berseru: “Sebagai kaum beragama, aku tak pernah berdusta.
Bukankah nona itu membawa jarum yang dianggap orang persilatan sebagai tanda
pengenal maut?”
“Benar, kau mau apa?” Hian-song melengking.
Orang tua jenggot putih yang sejak tadi diam, saat itupun membuka suara:
“Kedatangan kalian malam ini ke Coh-yang-ping sini tentulah hendak menyampaikan
undangan supaya datang ke pesta Ciau-hun, bukan?”
Sebenarnya mendongkol sekali Siu-lam karena dituduh sebagai anak buah gerombolan
Beng-gak. Tetapi diam-diam ia gelisah karena memang Hian-song menyimpan sebatang
jarum Chit-jiau-soh yang kutung.
“O, jadi tuan-tuan tetap menuduh kami berdua ini orang Beng-gak?” serunya.
“Dengan mata kepala sendiri kulihat nona itu membawa kutungan jarum yang mirip
sekali dengan jarum Chit-jiau-soh. Dan itu berarti hendak membawa undangan Beng-gak
kepada kami!” seru si paderi.
Hian-song seraya mengeluarkan kutungan jarum dari bajunya: “Inikah jarum yang kau
maksudkan itu?”
Belasan mata menumpah ke arah telapak tangan si dara yang memegang sebuah
benda berkilau-kilauan. Walaupun sudah mendengar namanya, tetapi sedikit sekali yang
pernah melihatnya. Kecuali si paderi jubah kelabu, sekalian orang sama melongok
memandang lekat-lekat. Ditimpa sinar pelita, kutungan jarum di telapak tangan si dara itu
memancarkan sinar biru gelap.
Tiba-tiba si orang tua jenggot putih memekik: “Tidak salah lagi, memang itulah jarum
Chit-jiau-soh…”
Su Bo-tun mendengus dingin: “Baru pertama kali aku melihat, berikanlah benda itu
padaku!”
Tetapi Hian-song cepat memasukkan jarum itu ke dalam bajunya lagi: “Perlu apa?
Cukup kalau sudah melihat saja…”
Su Bo-tun gusar: “Kau menghina aku. Masakan aku sudi memiliki benda semacam itu!”
“Tetapi ini peninggalan kakekku. Bagaimana dapat kuserahkan kepadamu, hm…”
“Persetan dengan benda peninggalan siapa saja. Pokoknya aku hendak
memeriksanya!” Su Bo-tun melangkah maju.
“Lo-cianpwe seorang tokoh yang ternama, masakan hendak merampas benda milik
orang!” tiba-tiba Siu-lam menghantam tuan rumah.
“Hm, kau berani kurang ajar padaku!” tangan kanan Su Bo-tun menyambar siku lengan
Siu-lam dengan gerak Kim-soh-pok-kau atau mengikat naga dengan tali emas.
Memang setelah gagal mengalahkan si dara, Su Bo-tun hendak tumpahkan
kemarahannya kepada Siu-lam. Justeru saat itu ia mempunyai alasan untuk bertindak. Ia
sekali gerak tentu dapat menguasai pemuda itu. Beberapa bulan yang lalu ia tahu jelas
sampai di mana kepandaian si anak muda.

Tetapi penilaiannya itu meleset jauh sekali. Tiba-tiba Siu-lam membalikkan sikunya.
Pukulan Hud-san-ciang tiba-tiba diganti dengan menutukkan dua buah jarinya ke
pergelangan tangan Su Bo-tun.
Bukan kepalang kaget Su Bo-tun menerima serangan yang tak diduga-duga itu. Ia
menyurut mundur dan tertegun. Hanya dalam waktu tiga bulan sejak berpisah, kini tahutahu
pemuda itu memiliki ilmu tutukan tingkat tinggi.
Jilid 9
SIU-LAM tak mau mendesak tuan rumah. Berpaling kepada sekalian tetamu, ia berseru
nyaring: “Meskipun sumoayku menyimpan kutungan Chit-jiau-soh, tetapi sama sekali aku
bukan anak buah Beng-gak. Bahkan kamipun mempunyai permusuhan juga kepada
mereka. Jika tak percaya kalian boleh tanyakan pada Su lo-cianpwe sendiri. Walaupun
dia tak tahu sampai jelas, tetapi dia telah menyaksikan sendiri peristiwa itu!”
Berpuluh mata tetamu segera diarahkan pada Su Bo-tun.
“Memang benar,” Su Bo-tun menyahut dingin.
Tiba-tiba paderi jubah kelabu menyeletuk: “Menurut yang kuketahui, selain merupakan
tanda pengenal gerombolan Beng-gak, tak kudengar orang menggunakan jarum itu.”
“Kutungan jarum itu, sumoay memperoleh dari seorang lo-cianpwe. Dari mana beliau
mendapatkan, akupun tak tahu,” tukas Siu-lam. “Tetapi satu hal yang dapat kuterangkan
pada kalian…” tiba-tiba ia melirik ke arah meja dan serentak dengan terbeliaknya mata, ia
menjerit kaget: “Hai, jarum Chit-jiau-soh…”
Gemparlah sekalian orang. Cepat-cepat mereka memandang ke meja. Wahai… kejut
mereka bukan kepalang. Di atas meja yang tadi kosong melompong saat itu tahu-tahu
terdapat sebatang jarum Chit-jiau-soh, jarum itu menindih sehelai kertas putih….
Su Bo-tun mendengus dingin. Diambilnya kertas itu dan dibacanya. Sekalian
tetamupun segera mengerumuni.
Undangan:
Diminta saudara-saudara pada nanti hari Toan-ngo (Peh-cun) datang ke lembah Toanbeng-
koh di gunung Beng-gak guna menghadiri permandian dosa pada pesta Ciau-hun
(memanggil roh). Barang siapa tidak datang, akan dibasmi seluruh keluarganya!
Tertanda
Ketua Beng-gak.
Su Bo-tun memberikan surat itu kepada orang tua jenggot putih: “Cobalah Ngo-heng
periksa tulisannya. Apakah serupa dengan tulisan di lain surat undangan?”
Setelah memeriksa, berkatalah jago tua itu: “Ah, aku sudah tak ingat lagi. Tetapi
menurut bentuknya, surat undangan ini tak berbeda….”
Su Bo-tun mendengus dan berpaling ke arah si hitam Kim-po: “Apa pagi tadi sewaktu
menyapu, kau melihat surat itu?”
“Tidak! Baru siang tadi muridpun menyapu lagi, tetapi surat undangan itu belum ada!”
sahut Seng Kim-po.
Su Bo-tun tak mau menanya lebih jauh. Jarum disimpan dalam bajunya.
“Setelah menerima undangan itu, apakah Su sicu akan menghampiri?” tiba-tiba si
paderi jubah kelabu berseru.
Su Bo-tun tertawa dingin: “Walaupun aku tak suka mencampuri urusan lain orang,
tetapi ternyata mereka mencampuri urusanku. Terpaksa kali ini kulanggar peraturan.
Ingin kulihat bagaimanakah orang yang menamakan dirinya sebagai ketua Beng-gak itu!”
“Ah, syukurlah kalau Su-heng sudi turun gunung. Dengan begitu jerih payahku tak siasia…”
tiba-tiba si orang tua jenggot putih berseru lega. “Ketua Siau-lim, akan menuju ke
Tang-gak guna memimpin rapat besar para tokoh persilatan guna merundingkan langkahlangkah
menghadapi ancaman itu. Rapat itu akan diadakan pada nanti bulan tiga tanggal
tiga. Jadi kurang sebulan lagi. Kuharap Su-heng dapat menghadiri.”

Paderi jubah kelabu pun menambahi: “Rapat di gunung Beng-gak itu, menyangkut
kepentingan mati hidupnya kaum persilatan. Dengan hadirnya para tokoh persilatan dari
seluruh penjuru, kiranya kita dapat mengikat persahabatan yang luas.”
Su Bo-tun hanya menyahut dingin: “Sekali sudah kuterima untuk hadir, tentu takkan
ingkar. Maaf, di pondok yang begini sepi, aku tak dapat menyediakan hidangan yang
sepantasnya. Jika masih ada lain urusan, silahkan melaksanakan tugas masing-masing.”
Mendengar ucapan tuan rumah yang bernada mengusir itu, berubahlah wajah sekalian
tetamu. Si orang tua berjenggot putih yang pertama-tama melangkah keluar. Menyusul
kedua lelaki setengah tua dan gagah dan kemudian si paderi jubah kelabu. Mereka
berbondong-bondong tinggalkan pondok itu. Su Bo-tun dingin-dingin saja melihat tetamutetamunya
pergi.
“Orang itu benar-benar tak punya perasaan sekali,” bisik Hian-song, “Ayo kita pun
pergi!”
Belum Siu-lam menyahut, tiba-tiba Su Bo-tun sudah menyeletuk: “Hm, karena sudah
datang, mana bisa gampang-gampang pergi….”
Menatap Siu-lam, manusia berhati dingin itu bertanya: “Apa yang hendak kau tanyakan
padaku tadi, lekas bilang! Setelah itu akan kuberi kalian hajaran yang setimpal!”
Siu-lam melihat gelagat yang kurang baik. Rupanya pertempuran dengan tuan rumah
tak dapat dihindari lagi.
Dalam keadaan seperti itu ia memutuskan lebih baik berlaku gagah saja.
“Apakah di daerah Co-yang-ping sini hanya didiami oleh lo-cianpwe berdua dengan
murid saja?” serunya dengan tersenyum.
Su Bo-tun kerutkan kening, serunya gusar: “Jika bukan aku berdua dengan murid,
siapakah yang berani tinggal di sini!”
Siu-lam tertawa dingin: “Sebuah goha rahasia yang terletak di perut karang Co-yangping
ini ternyata ditinggali oleh seorang wanita tua yang menderita luka parah. Apakah locianpwe
tak mengetahui hal itu?”
Su Bo-tun agak terkesiap, serunya, “Sudah berpuluh tahun aku tinggal di sini, tetapi tak
kuketahui hal itu. Dari mana kau mendengar ocehan semacam itu?”
“Tetapi aku melihatnya dengan mata kepala sendiri, masakah aku bohong! Jika tak
percaya, harap lo-cianpwe ikut aku ke sana!”
“Benarkah begitu?” Su Bo-tun menegas.
“Aku tak pernah bohong!”
Sejenak Su Bo-tun merenung. Sesaat kemudian ia berseru: “Baiklah, jika berani
bohong, jangan harap kalian dapat tinggalkan tempat ini!”
Siu-lam segera menarik tangan Hian-song dan Su Bo-tun mengikutinya. Mereka
menuju ke goha rahasia di balik air terjun.
Ternyata Seng Kim-po pun mengikuti gurunya. Karena sudah paham, Siu-lam segera
memasuki goha dan menyusur ke dalam lorong. Akhirnya tibalah mereka di bagian lorong
yang sempit. Setelah mencapai ujung lorong mereka berjatuhan ke bawah dan tibalah di
ruang tempat si wanita berwajah seram.
Seng Kim-po menyulut api dan melihat di tanah tulang-tulang berserakan. Siu-lam
menerangkan bahwa itulah tulang-belulang si wanita berwajah seram yang tak pegang
janji.
“Dia telah menawan sumoayku. Kemudian dia mengadakan perjanjian, apabila dalam
tiga bulan aku dapat mencari obat dari Ti-ki-cu Gan Leng-po maka sumoayku akan dilepas.
Tetapi belum cukup waktunya, ketika aku kembali ke sini, ternyata dia telah membunuh
sumoayku dan dia sendiri pun sudah mati. Karena marah, kutendang berantakan tulangbelulangnya…!”
Tiba-tiba dari gumpalan rambut yang berhamburan di tanah, Su Bo-tun memungut
sebatang tusuk kundai emas. Ketika diperiksa lebih lanjut, berubahlah wajah Su Bo-tun.
Dia mengigau seorang diri: “Tak kira kalau Giok-kut-yau-ki yang namanya

menggoncangkan dunia persilatan ternyata berpuluh tahun menyembunyikan diri dalam
goha di bawah karang Co-yang-ping!”
Siu-lam ikut mengamati tusuk kundai itu. Ternyata pada batang tusuk kundai terdapat
tiga buah huruf kecil-kecil. Menilik bentuk huruf yang mencang-mencong, jelas bukan
diukir tukang emas. Mungkin wanita itu sudah menyadari kalau takkan hidup lebih lama
lagi. Maka dia mengambil tusuk kundainya dan mengguratkan namanya dengan kuku jari.
Giok-kut-yau-ki artinya Siluman Perempuan Bertulang Kumala. Gelar itu dimiliki oleh Ih
Ing-hoa yang cantik jelita dan sakti. Namun Siu-lam dan Hian-song tak kenal siapa tokoh
wanita itu.
Sambil memasukkan tusuk kundai ke dalam baju, Su Bo-tun berkata pula: “Sejak kapan
wanita ini bersembunyi di sini, aku sendiri tak tahu…” Ia menatap Siu-lam, katanya lebih
lanjut: “Entah di manakah jenazah sumoaymu sekarang ini?”
Siu-lam mengatakan bahwa jenazah sumoaynya telah dibawa keluar dari goha itu.
Katanya: “Karena lo-cianpwe tak mengetahui peristiwa ini, akupun takkan menanyakan
lebih jauh. Tetapi apabila tak keberatan, sukalah lo-cianpwe menceritakan tentang
riwayat hidup Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa itu!”
Su Bo-tun mendengus: “Sebenarnya aku paling tak suka bicara. Tetapi karena kau
sudah membawa aku menemukan tempat persembunyian Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa,
baiklah akan kuceritakan riwayat wanita itu selaku terima kasihku!”
Tiba-tiba Siu-lam teringat akan jenazah sumoaynya yang ditinggalkan di perut gunung.
Ia meminta agar Su Bo-tun suka bersama-sama datang ke tempat itu. Ujarnya: “Asal locianpwe
sudah menceritakan riwayat wanita itu, aku segera tinggalkan tempat ini dan
takkan mengganggu ketentraman lo-cianpwe lagi!”
“Hm, anak muda tetapi banyak petingkah,” gumam Su Bo-tun. Namun ia mengikuti
juga Siu-lam ke tempat jenazah Hui-ing. Setelah melihat tumpukan kayu kering yang
menimbuni jenazah sumoaynya masih seperti tadi, Siu-lam segera minta Su Bo-tun
memulaikan penuturannya.
Su Bo-tun memandang bintang-bintang di cakrawala, Rupanya ia tengah merenung
peristiwa-peristiwa yang lampau. Beberapa saat kemudian barulah ia membuka mulut:
“Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa dahulu merupakan tokoh wanita sakti yang cabul dan kejam.
Entah sudah berapa banyak jago-jago silat yang telah dibunuhnya. Hal itu pernah
menimbulkan kemarahan dunia persilatan. Beberapa partai persilatan telah bersekutu
untuk menghancurkannya. Sungguh tak nyana kalau dia berhasil lolos dan
menyembunyikan diri di bawah karang Co-yang-ping sini?”
Ringkas sekali penuturan itu sehingga Siu-lam kurang puas, tanyanya: “Sampai di
manakah ilmu kesaktian Giok-kut-yau-ki itu?” Ia tahu Su Bo-tun tak suka bicara panjang
lebar. Maka sengaja ia memancingnya dengan pertanyaan satu demi satu.
Su Bo-tun mendengus: “Jika tidak memiliki kepandaian sakti, masakah digelari Giokkut-
yau-ki? Hm, selama dua puluh tahun terakhir ini kaulah satu-satunya orang yang
kuajak bicara sampai lama...” tiba-tiba ia memutar tubuh terus melangkah.
Sebenarnya Siu-lam hendak merintangi tapi pada lain kilas ia batalkan niatnya. Su Botun
menyembunyikan diri karena tak suka bicara dengan orang. Jelas ia tentu tak banyak
mengetahui tentang wanita Ih Ing-hoa.
Setelah Su Bo-tun dan muridnya lenyap, Siu-lam mulai menimang rencana selanjutnya.
Jumlah musuh jauh lebih besar, untuk membalas sakit hati gurunya, untuk sementara
sukar dilaksanakan. Akhirnya ia memutuskan untuk menuju ke gunung Tang-gak saja.
Mungkin dalam rapat orang gagah itu nanti, ia akan menemukan sesuatu jalan.
Ketika hal itu diutarakan, Hian-song gembira sekali. Siu-lam segera mengambil jenazah
sang sumoay. Jenazah itu tak jadi dibakar melainkan hendak ditanam saja. Sehabis rapat
di Tang-gak, ia hendak kembali lagi mengambil tulang-tulang sumoaynya.

Mereka terpaksa karena di sebelah depan menghadang sebuah karang yang menjulang
tinggi. Ternyata di sekelilingnya dikitari oleh karang-karang tinggi sehingga merupakan
sebuah lembah mati.
Siu-lam anggap tempat itu sesuai untuk menanam jenazah sumoaynya. Ia hendak
menggali tanah, tapi tiba-tiba ia teringat bahwa pedangnya telah hilang dalam perjalanan:
“Sumoay, apakah kau membawa benda keras untuk menggali tanah?”
Kebetulan tadi Hian-song memungut sebuah perisai berbentuk seperti pedang pendek
dari goha Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa. Segera diberikannya benda itu kepada Siu-lam.
Siu-lam bagai diingatkan bahwa ia sendiri pun punya perisai semacam itu. Hanya saja
warnanya kuning.
Mereka segera bekerja membuat liang. Siu-lam gunakan perisai kuning. Hian-song
perisai putih. Setelah selesai, jenazah Hui-ing pun dimasukkan. Siu-lam tak sampai hati
menimbuni tanah. Dipandangnya sosok mayat yang membujur di tanah itu dengan air
mata bercucuran. Entah berapa lama suasana itu berlangsung, tiba-tiba mereka
dikejutkan oleh sebuah suara melengking nyaring: “Ing-ji, Ing-ji!”
Ketika mereka berpaling, ternyata di atas dahan pohon siong di dekat situ, hinggap
seekor burung kakaktua putih. Hai, itulah burung piaraan si wanita Ih Ing-hoa! Demikian
Siu-lam teringat akan burung piaraan Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa yang dapat bicara seperti
manusia. Segera ia menghampiri ke bawah pohon.
“Niau-ji, Niau-ji, turunlah kemari aku hendak bertanya padamu!” serunya sambil
melambai.
Seperti mengerti bahasa orang, burung itu pun segera terbang ke samping Siu-lam.
Melihat itu Hian-song loncat menghampiri. “Hai, suheng, bagus benar ya, burung ini….”
Siu-lam hanya tertawa. Kemudian ia bertanya pada si burung: “Hai Niau-ji, jika kau
benar-benar pintar, cobalah ceritakan tentang kematian sumoayku!”
Kakaktua putih memandang ke lubang yang berisi jenazah Hui-ing. Tiba-tiba ia
melengking: “Tidak… tidak… Ing-ji… tidak Ing-ji!”
Rupanya burung itu tak pernah diajar kata-kata bukan. Maka ia hanya dapat
mengatakan tidak.
“Apa katamu?” dengan gugup Siu-lam berseru. Tetapi di luar dugaan tiba-tiba burung
itu terbang pergi. Siu-lam enjot tubuhnya melambung ke udara dan mengulangi
seruannya namun burung itu tak menghiraukan.
Pemuda itu tegak terlongong-longong sampai beberapa lama. Tiba-tiba ia mendapat
kesimpulan bahwa mungkin burung itu pernah diganggu orang. Dan pengganggunya itu
tentu mengucapkan kata-kata seperti yang diucapkan barusan. Diam-diam Siu-lam
menyesal dan banting kaki. Setelah meninggalkan pertandaan, mereka tinggalkan tempat
itu.
Mengingat rapat para orang gagah hanya tinggal kurang lebih sebulan lagi, maka Siulam
batalkan rencananya mengantar Hian-song ke telaga Se-ou.
Entah bagaimana sejak melihat Siu-lam bersedih karena kematian sumoaynya. Hiansong
berubah ramah dan lemah lembut. Ia menurut saja rencana Siu-lam hendak menuju
ke gunung Tang-gak atau Thaysu di mana rapat akan diselenggarakan.
Hari itu mereka tiba di kota Yan-ciu. Selama dalam perjalanan tak sedikit mereka
berjumpa dengan orang-orang persilatan, baik secara rombongan maupun perseorangan.
Ia duga mereka tentu tokoh-tokoh persilatan yang hendak menghadiri rapat besar di
gunung Thay-san.
Diam-diam Siu-lam mengagumi kewibawaan gerombolan Beng-gak. Hanya dengan
sebatang jarum dan secarik kertas saja telah dapat mengguncangkan seluruh kaum
persilatan.
Saat itu Siu-lam tiba di depan sebuah rumah penginapan. Biasanya tentu jongos
penginapan menghalang di depan pintu untuk mempersilahkan tetamu. Tetapi saat itu

tidak. Rupanya penginapan sudah penuh. Namun Siu-lam tetap melangkah masuk dan
menanyakan kamar pada seorang jongos.
Melihat Siu-lam berpakaian bagus, jongos itu dengan sikap manis memberi keterangan
bahwa semua kamar sudah dipesan orang. Ia mempersilahkan Siu-lam cari lain rumah
penginapan saja.
Tetapi beberapa rumah penginapan yang didatangi Siu-lam, serupa saja keadaannya.
Jongos selalu mengatakan kalau kamar penuh semua. Siu-lam duga tetamu-tetamu itu
tentulah tokoh-tokoh persilatan yang hendak menghadiri rapat gunung Thay-san. Oleh
karena harinya masih jauh, maka mereka tentu hendak beristirahat dulu di Yan-ciu. Yanciu
merupakan sebuah kota besar di wilayah Lulam. Sebuah kota yang ramai
perdagangannya dan penuh hiburan.
“Eh, apakah karena pakaianku buruk mereka tak mau menerima kita!” tiba-tiba Hiansong
menyeletuk.
Siu-lam tak mengira si dara mempunyai perasaan begitu. Sahutnya: “Nanti setelah
dapat rumah penginapan barulah kita beli pakaian baru!”
Hian-song tertawa: “Memang pakaianku yang robek ini sudah kupakai beberapa tahun.
Kakek tak mengurusi soal pakaian. Tetapi sekarang kalau berjalan bersama kau dalam
pakaian begini, ah, malulah!”
Diam-diam Siu-lam memperhatikan wajah dara itu. Walaupun kulitnya agak hitam
tetapi sebenarnya memiliki paras yang cantik. Apabila berganti pakaian yang bagus,
tentulah dara itu akan tampak kecantikannya.
“Sudahlah sumoay. Sekalipun memakai pakaian yang lebih buruk lagi, aku tetap
memperlakukan sebaik sekarang ini!” katanya.
Dalam pada bercakap-cakap itu mereka tiba di sebuah rumah penginapan yang
memakai nama Hwe-ing-lok. Penginapan itu sebuah gedung besar, tentu masih ada
kamar kosong. Segera Siu-lam menanyakan pada jongos.
Selain rumah penginapan, pun Hwe-ing-lok itu merupakan rumah makan. Ruang
penuh dengan tetamu yang sedang makan. Jongos mengatakan bahwa kamar sudah isi
semua.
“Sudah beberapa rumah penginapan kami datangi tetapi kamar penuh semua.
Penginapan ini sebuah penginapan besar, kalau satu dua kamar saja tentulah masih,” Siulam
mendesak.
Jongos itu tetap gelengkan kepala: “Kami mengusahakan rumah penginapan dan
menjual makanan. Sudah tentu setiap tetamu akan kami sambut dengan girang.
Masakah kami berani menolak?”
Siu-lam tersipu-sipu. Baru ia hendak melangkah pergi, tiba-tiba seorang tetamu
menghampirinya: “Jika saudara suka, bolehlah saudara memakai dua buah kamar yang
telah kupesan!”
Siu-lam agak terkejut ketika melihat yang menawari itu ternyata It-pit-boan-thian atau
Pit Pengaduk Dunia Kat Thian Beng. Buru-buru ia memberi hormat: “Ah, tak kira dapat
berjumpa dengan lo-cianpwe di sini….”
Kata jago tua itu: “Di sini bukan tempat bicara. Marilah kita ke kamarku!”
Siu-lam mengiakan. Menuju ke ruangan dalam, melalui dua halaman, mereka masuk
sebuah ruang besar. Di tengah ruang telah disiapkan hidangan dan empat orang lelaki
duduk saling berhadapan. Ketika melihat kedatangan Kat Thian-beng, serentak keempat
orang itupun berdiri memberi hormat.
Siu-lam taka sing lagi kepada mereka berempat, yakni Thian Hong totiang, si Golok
Sakti Lo Kun dan kedua putera Kat Thian-beng ialah Kat Hong dan Kat Wi.
“Aha, karena di gunung Kiu-kiong-san, saudara buru-buru pergi maka tak sempat
kuhaturkan terima kasih kepadamu. Sekarang sambutlah persembahanku secawan arak
terima kasih!” Lo Kun menuang arak dan dengan kedua tangan menghaturkan kepada
Siu-lam. Karena sungkan terpaksa Siu-lam meneguknya!

“Ah, lo-cianpwe kelewat menyanjung. Hanya secara kebetulan saja aku membawa obat
itu,” kata Siu-lam dengan merendah.
Muncullah Kat Thian-beng dari tempat pertapaannya karena surat undangan dari pihak
Siau-lim-si mengundangnya pada bulan tiga tanggal tiga supaya hadir dalam rapat orang
gagah di gunung Thay-san. Setelah rombongan Thian Hong sembuh dari lukanya, Kat
Thian-beng menceritakan siapa yang menolong mereka. Paderi itu tak mau kepalang
tanggung. Tujuannya untuk membasmi gerombolan Beng-gak makin teguh. Kedua
muridnya disuruh pulang kemudian ia bersama Lo Kun segera ikut Kat Thian-beng menuju
ke Thay-san.
Sebenarnya Kat Thian-beng hendak suruh kedua puteranya pulang, tetapi rupanya
kedua pemuda itu berkeras ikut. Terpaksa Kat Thian-beng mengijinkan juga.
Pertemuan kali ini benar lain sekali suasananya. Siu-lam mendapat perindahan dan
terima kasih dari rombongan orang gagah itu sehingga berulang kali ia harus
mengucapkan kata-kata rendah hati.
Bahkan Kat Thian-beng yang pernah bertempur dengan Siu-lam tak henti-hentinya
memuji kesaktian pemuda itu. Diam-diam kedua puteranya, Kat Hong dan Kat Wi, tak
puas. Dasar darah muda, walaupun telah ditolong Siu-lam, tetapi kedua pemuda itu masih
tetap tak puas karena ayahnya memberi pujian. Andaikata sang ayah tak di situ, mungkin
mereka sudah cari perkara untuk menantang berkelahi pada Siu-lam.
Lo Kun dan Thian Hong totiang walaupun tak percaya pada keterangan Kat Thian-beng,
tetapi karena mereka tergolong orang tua, tidaklah hati mereka menjadi panas dan
penasaran.
Selesai makan malam, Kat Thian-beng suruh kedua puteranya tidur di kamar Lo Kun.
Ia dan Thian Hong menyerahkan kamarnya kepada Siu-lam dan Hian-song.
Sikap yang begitu mengindahkan dari ayahnya itu makin membangkitkan nafsu Kat
Hong dan Kat Wi untuk mencoba kesaktian Siu-lam. Begitu sudah mengalahkan pemuda
itu barulah nanti mereka memberitahukan pada ayahnya. Dalam keadaan begitu, mereka
yakin ayahnya tentu terpaksa takkan memarahinya.
Setelah berada di kamar, Siu-lam segera suruh jongos memanggil tukang jahit dan
minta malam itu dibuatkan pakaian baru untuk Hian-song. Menjelang pagi, pakaianpun
sudah selesai. Ketika ganti pakaian baru, benar-benar Hian-song tampak cantik sekali.
Walaupun agak hitam tetapi hitamnya manis dan sedap dipandang.
Pagi-pagi sekali Kat Thian-beng sudah datang untuk mengajak kedua muda-mudi itu
makan pagi. Selesai makan bersama, Kat Thian-beng bertanya apakah Siu-lam berdua itu
juga akan menghadiri rapat besar di Thay-san.
Dengan merendah Siu-lam menyahut: “Ah, wanpwe hanya seorang anak muda yang
masih hijau mana diajak diundang ke rapat itu. Memang wanpwee berdua hendak menuju
ke sana untuk menambah pengalaman dan sekalian pesiar saja.”
Berkata Kat Thian-beng dengan serius: “Sudah berpuluh tahun aku berkelana di dunia
persilatan tetapi baru pertama kali ini aku berjumpa dengan seorang muda yang memiliki
kepandaian luar biasa seperti saudara ini. Jika saudara mau menghadiri rapat orang
gagah yang akan berlangsung di gunung itu, akulah yang akan mengusulkan kepada rapat
agar menerima saudara Pui dalam barisan terdepan untuk menggempur gerombolan
Beng-gak!”
Mendengar ucapan sang ayah, Kat Hong dan Kat Wi makin gatal, dada mereka serasa
meledak. “Dengan sebatang pit, ayah telah mengalahkan jago-jago silat dari tiga belas
propinsi Kangpak dan Kanglam. Dunia persilatan mengindahkan sekali kepada ayah.
Tetapi mengapa sekarang ayah menyanjung-nyanjung pada anak muda itu?” demikian
rasa tak puas yang berkobar dalam hati Kat Hong dan Kat Wi. Diam-diam mereka mencari
alasan agar dapat menguji kepandaian Siu-lam.
Thian Hong dan Lo Kun juga mempunyai anggapan yang sama. Mereka menganggap
Kat Thian-beng terlalu berlebihan memuji Siu-lam. Namun sebagai paderi yang berakhlak

tinggi, Thian Hong tak mau mengutarakan apa-apa. Tidak demikian dengan watak Lo Kun
yang serba terus terang. Jago tua itu tersenyum dan langsung tanpa tedeng aling-aling
berkata kepada Siu-lam: “Ah, sayang kami tak sempat menyaksikan kesaktian saudara Pui.
Sejauh pengalamanku sepuluh tahun di dunia persilatan, sukar aku memperoleh kesan
bahwa saudara Pui ini memiliki kepandaian yang sakti.”
Kata-kata jago tua she Lo itu, sesuai sekali dengan isi hati Kat Hong dan Kat Wi. Kedua
pemuda itupun segera memberi dukungan tertawa hina.
Siu-lam tersipu-sipu merah, ujarnya: “Memang kepandaian wanpwe sangat terbatas,
harap lo-cianpwe jangan mentertawakan.”
“Mengapa Lo-heng berkata begitu?” tiba-tiba Kat Thian-beng menukas, “Telah
kusaksikan sendiri kepandaian saudara Pui ini. Bukan omong besar, memang banyak yang
dapat mengalahkan aku tetapi yang dapat mengalahkan aku dengan sekali pukul, selama
ini belum pernah ada. Tetapi saudara Pui ini ternyata mampu. Sekiranya dia tak sungkan
mungkin aku sudah mati atau sekurang-kurangnya tentu cacad!”
“Hai, benarkah begitu?” Lo Kun berteriak kaget-kaget heran.
“Ha, benar-benar mengherankan sekali.” Lo Kun makin tercengang. “Ketika di gunung
Kiu-kiong-san jelas kusaksikan sendiri bagaimana kedua putera Kat-heng bertempur
dengan dia. Jika nona Tan ini tak segera datang, mungkin…” tiba-tiba ia teringat bahwa
Siu-lam lah yang menolong dirinya. Terhadap seorang yang telah melepas budi, tak
baiklah menyerang kata-kata tajam. Buru-buru ia alihkan kata: “Ah, pertempuran berjalan
seru dan masih belum ada kesudahannya.”
“Benarkah?” Kat Thian-beng berpaling menatap kedua puteranya, Kat Hong dan Kat Wi.
Mereka mengiakan.
Sejenak jago tua itu merenung, tiba-tiba ia membentak: “Ngaco belo! Masakan aku
orang tua akan membohongi kalian!”
Jago tua itu tak dapat mendamprat Lo Kun maka ia tumpahkan kemangkelannya
kepada kedua puteranya.
Tetapi paderi Thian Hong segera menyela: “Memang apa yang dikatakan kedua putera
Kat sicu itu benar. Aku juga melihat peristiwa itu!”
Kat Thian-beng berkisar menatap Siu-lam. Dipandangnya anak muda itu tajam-tajam,
tetapi ah, memang anak muda itulah yang dijumpai dan bertempur dengannya di gunung
Kiu-kiong-san!
“Ah, kiranya kita lupakan saja urusan itu. Perlu apa lo-cianpwe sibuk-sibuk hendak
mencari penjelasan pada urusan yang tak berarti itu?” buru-buru Siu-lam menjernihkan
suasana karena kuatir Hian-song nanti naik pitam.
Kat Thian-beng tertawa lebar: “Ah, memang kau seorang pemuda yang lapang dada
luas pikiran, tak mau melayani ocehan mereka…” kemudian ia mengakhiri pembicaraan
itu: “Benar, tak perlu kita ungkat-ungkat lagi peristiwa yang telah lampau. Mari kita
segera berangkat ke Thay-san!”
Pagi itu rombongan Kat Thian-beng tinggalkan kota Yan-ciu. Di tengah jalan mereka
sering berpapasan dengan orang-orang persilatan yang juga menuju ke Thay-san.
Kat Thian-beng menceritakan kepada Siu-lam bahwa karena sudah puluhan tahun
menyembunyikan diri maka jaranglah kaum persilatan yang mengenalnya.
Mendadak terdengar derap kuda lari dan dua penunggang kuda mencongklang pesat di
samping mereka, tiba-tiba kuda yang sudah jauh itu berhenti, berputar dan kembali
menuju ke arah Kat Thian-beng, kedua penunggangnya loncat turun dan berseru nyaring:
“Aha, sudah lama kita tak berjumpa Kat-heng? Tidak lupa padaku, bukan?”
Kat Thian-beng tertawa: “Ah, siapa kaum persilatan Kanglam yang tak kenal pada
saudara…?”
Siu-lam dapatkan kedua penunggang kuda itu bukan lain ialah kedua lelaki setengah
tua yang pernah dijumpainya di Coh-yang-ping.

“Walaupun menunggang kuda yang mencongklang pesat tetapi ternyata jiwi berdua
masih dapat melihat padaku, menunjukkan bahwa ilmu lwekang kalian sekarang sudah
jauh maju!” Kat Thian-beng berseru seraya menghampiri.
Lelaki yang berdiri di sebelah kiri memandang Siu-lam dan Hian-song dengan berapiapi.
“Apakah kedua muda-mudi itu juga bersama-sama Kat-heng?” tanya mereka dengan
berbisik.
Kat Thian-beng mengiakan.
“Apakah Kat-heng tahu asal-usul mereka?” tanya lelaki yang di sebelah kanan.
“Kita sama-sama baru kenal,” jawab Kat Thian-beng. “Eh, mengapa saudara bertanya
begitu?”
Lelaki yang di sebelah kiri yang tampaknya lebih tua, segera menerangkan: “Beberapa
hari yang lalu kami berjumpa di pondok Siu-chiu-kiau-in Su Bo-tun. Bukan saja mereka
memiliki kesaktian hebat, juga menyimpan jarum Chit-jiau-soh. Rupanya jika bukan anak
buah Beng-gak tentu mempunyai hubungan dengan gerombolan itu!”
Walaupun berbisik-bisik, namun Siu-lam dapat juga menangkap pembicaraan itu. Ia
berpaling ke arah Hian-song. Belum sempat ia buka mulut, dara itu sudah mendahului:
“Rupanya kedua orang itu membicarakan diri kita. Biar kuhajarnya!”
Siu-lam gelengkan kepala: “Justeru aku hendak mencegahmu. Biarkan saja mereka
mengoceh….”
Kat Thian-beng tertawa dingin: “Harap kalian jangan menghina orang!” Habis berkata
jago tua itu segera berputar tubuh dan melangkah pergi.
Kedua lelaki itu sambil loncat ke punggung kuda berseru: “Kalau tak percaya
omonganku, terserah saja…” Kuda dikeprak mencongklang pesat.
Setelah kedua penunggang kuda itu lenyap, Kat Thian-beng berkata kepada Lo Kun:
“Thian-lam-song-gan juga termasuk tokoh ternama. Mengapa bicaranya tak sesuai
dengan pribadi?”
Tiba-tiba Lo Kun teringat bahwa semua rombongan Thian Hong terkena telapak jari
beracun dari nona baju merah. Hanya Siu-lam yang tidak. Segera ia membantah:
“Menilik kedudukan Thian-lam-song-gan yang begitu menonjol di wilayah Ciat-kang,
mungkin dia tidak bohong. Dalam hal ini…” tiba-tiba ia menyadari bahwa Siu-lam dan
Hian-song berada di samping. Buru-buru ia hentikan kata-katanya.
Siu-lam dan Hian-song mendengar semua pembicaraan itu. Untuk menumpahkan
kemarahannya, mereka mengambil cara sendiri. Siu-lam menengadah memandang
cakrawala, Hian-song tertawa ringan. Sayang ia gagal menyembunyikan seri wajahnya
dari hawa kemurkaan dan pembunuhan….
Kat Thian-beng kerutkan dahi: “Aku sungguh tak mengerti akan ucapan Lo-heng.
Apakah Lo-heng juga menaruh curiga kalau kedua anak muda itu anak buah Beng-gak…”
ia berhenti sejenak, lalu katanya pula: “taruh kata benar orang Beng-gak, tapi dia telah
melepas budi besar kepadamu. Masa kau tak sungkan kepadanya.”
Nada Kat Thian-beng sengaja dikeraskan sehingga semua orang dapat mendengar
jelas.
Kata Kat Hong kepada saudaranya: “Mengapa kali ini dia begitu mati-matian melindungi
budak itu, sekalipun pemuda itu telah melepas budi besar, tetapi tak nanti ayah sampai
bersikap begitu. Rasanya tentu ada sebab lain!”
“Bukankah tadi ayah mengatakan kalau pemuda itu dapat mengundurkan ayah dengan
sekali pukul?” sahut Kat Wi. “Ah, tetapi aku tak percaya….”
“Ayah seorang ksatria, tak nanti dia bohong!” balas Kat Hong. “Hanya saja yang
kuragukan, mungkin serangan itu hanya secara kebetulan saja mengenai ayah. Mungkin
karena ayah tak menduga atau mungkin karena sungkan terhadap orang penolong. Dan
mungkin pula hanya kesimpulan ayah sendiri. Karena dapat mengobati rombongan kita,
ayah menduga anak itu tentu memiliki kepandaian sakti juga!”

Kat Wi merenung, katanya sesaat kemudian: “Aku mempunyai akal untuk menjajal
kepandaian pemuda itu agar ayah dapat menyaksikan sendiri!”
Atas pertanyaan Kat Hong, Kat Wi menjelaskan: “Secara tak sengaja kita tabrak saja
budak itu. Biar dia terhuyung-huyung mundur atau kalau perlu kita tutuk jalan darahnya
secepat kilat…”
Kat Hong anggap walaupun kurang sempurna, tetapi rasanya tiada lain cara yang lebih
baik dari itu. Ia menyetujui.
Siu-lam sengaja agak menjauh dari rombongan. Ketika Kat Wi dengan pemuda itu
sekonyong-konyong ia percepat langkah dan terhuyung-huyung membentur punggung
Siu-lam!
Siu-lam terkejut tetapi ia tak menduga jelek kalau Kat Wi sengaja hendak
menabraknya. Cepat ia lompat ke muka seraya ulurkan tangan hendak menahan supaya
Kat Wi jangan jatuh. Kat Wi tertawa dingin. Tiba-tiba ia balikkan tangan kanan dan
mencengkeram siku Siu-lam.
Sama sekali Siu-lam tak mengira bahwa pemuda itu berani terang-terangan hendak
mengujinya. Seketika marahlah ia. Menarik pulang tangannya, ia berang dengan
menamparkan tangan kiri dalam jurus Hong-lui-peng-hwat atau Angin dan halilintar
serempak menyambar.
Dari kakek Hian-song, Siu-lam menerima bermacam-macam ilmu pukulan yang anehaneh
dan jarang terdapat di dunia persilatan. Maka mimpi pun tidak Kat Wi kalau ia bakal
menerima serangan yang tak diduga-duganya. Terpaksa ia loncat ke samping masuk ke
sawah gandum.
Melihat adiknya terpontang-panting, Kat Hong loncat mencengkeram Siu-lam. Siu-lam
agak miringkan tubuh. Setelah menghindari cengkeramannya, dengan gerakan Hud-liu-tehoa
yang indah, kelima jari tangannya mencekal pergelangan tangan Kat Hong terus
didorong mundur seraya berseru perlahan: “Mengapa kalian mendendam padaku?”
Tubuh Kat Hong yang dicengkeram, diputar lalu didorong ke belakang itu, mirip dengan
sebuah gangsingan. Pemuda itu terhuyung-huyung sampai beberapa langkah jauhnya.
Bukan saja kedua saudara Kat itu terlongong-longong, bahkan si Golok Sakti Lo Kun
ikut tercengang menyaksikan kesaktian Siu-lam. Bukankah pada waktu di gunung Kiukiong-
san, pemuda itu masih trondol? Mengapa dalam waktu satu dua bulan saja dia
mendadak berubah sedemikian lihaynya?
Juga Kat Thian-beng tak luput dari rasa heran. Kat Thian-beng luas pengetahuan kaya
pengalaman. Sekali lihat ia tahu bahwa kedua jurus yang dimainkan Siu-lam itu yang satu
mirip dengan ilmu pukulan kaum Siau-lim-si, tetapi juga yang satunya mirip dengan ilmu
tutukan Nok-hiat-hud-meh dari kaum Bu-tong-pay. Heran jago tua itu dibuatnya.
Mengapa seorang anak muda yang masih begitu muda, dapat memiliki bermacam-macam
ilmu kepandaian beberapa cabang persilatan.
“Nah, berilah pelajaran pada kedua anak yang berandalan itu. Jika tak diberi hajaran,
mereka memang tak kapok!” lain apa yang di batin dalam hati, lain pula apa yang
dikatakan Kat Thian-beng di mulut.
Sebenarnya baru saat itu Siu-lam tahu betapa sakti ilmu yang diajarkan kakek dari
Hian-song. Hanya dua jurus saja, ia sudah mampu menindas serangan Kat Hong dan Kat
Wi. Pada saat ia hendak lancarkan serangan ketiga, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kata-kata
merendah oleh Kat Thian-beng. Ia sungkan dan cepat-cepat naik ke belakang.
Kat Thian-beng membentak kedua puteranya: “Apa kalian tak mau lekas-lekas minta
maaf kepada Pui tayhiap dan hendak membikin malu aku?”
Kat Hong dan Kat Wi tak berani membantah perintah ayahnya. Mereka segera
menghampiri Siu-lam dan minta maaf.
“Ah, janganlah saudara terlalu merendah. Anggaplah kita sebagai saudara saja,” kata
Siu-lam.

Melihat Siu-lam tidak bersikap congkak, puaslah hati kedua saudara itu. Karena masih
muda mereka masih ambisius sekali. Segala apa ingin menang sendiri. Syukur mereka
berhati jujur. Setelah sadar bahwa Siu-lam memang lebih sakti, diam-diam mulailah
mereka menaruh perindahan.
Di jalan penuh dengan orang-orang gagah yang hendak menuju ke Thay-san.
Walaupun peristiwa antara Siu-lam dengan kedua saudara Kat tadi berlangsung dalam
beberapa kejab, tetapi cukuplah menarik perhatian orang. Mereka terkejut dan kagum
pada Siu-lam.
Tiba-tiba terdengar derap kuda mencongklang. Tiga ekor kuda tegar lari mendatangi
dengan cepat. Siu-lam terkejut. Yang datang itu ternyata kedua Thian-lam-song-gan dan
seorang tua berjenggot putih, yang orang tua yang berada di pondok Su Bo-tun beberapa
hari yang lalu. Diam-diam Siu-lam mengeluh bahwa menilik gelagatnya, situasi mungkin
akan memburuk.
Melihat kedua Thian-lam-song-gan kembali lagi dengan membawa seorang kawan, Kat
Thian-beng mendengus dan berkata seorang diri: “Hm, tak kira Thian-lam-song-gan
benar-benar membawa kawan hendak cari perkara!”
Walaupun berkata seorang diri tetapi jelas ucapannya itu didengarnya juga kepada
paderi Thian Hong dan Lo Kun.
Cepat sekali ketiga penunggang kuda itu tiba. Begitu menghentikan kudanya si orang
tua jenggot putih segera memberi hormat dan berseru dengan tertawa: “Ah, sudah
berpuluh tahun tak berjumpa ternyata Kat-heng masih gagah sekali. Apakah masih ingat
padaku?”
Setelah memperhatikan seksama, barulah Kat Thian-beng mengetahui bahwa orang tua
jenggot putih itu ternyata Tui-hong-tui atau Si Alap-alap pemburu angin Ngo Cong-gi yang
termasyhur di wilayah Kang-lam dan Kang-pak. Heran Kat Thian-beng makin menjadijadi,
pikirnya: “Eh, mengapa Tui-hong-tui Ngo Cong-gi yang termasyhur, galang-gulung
dengan Thian-lam-song-gan?”
“Ah, bagaimana kabarmu selama ini Ngo-heng?” cepat-cepat Kat Thian-beng menjawab
dengan hormat. Sebagai seorang yang berpengalaman, ia tak mau memandang rendah
pada orang lain.
Ngo Cong-gi tersenyum dan melirik ke arah Siu-lam, serunya: “Apakah dia sudah lama
berkenalan dengan Kat-heng?”
Pertanyaan yang langsung tanpa tedeng aling-aling itu membuat Kat Thian-beng tak
senang. Dengusnya: “Apakah Ngo-heng mempunyai dendam dengan Pui-heng ini?”
Ucapan yang bernada melindungi Siu-lam itu membuat Ngo Cong-gi kerutkan dahi.
Sesaat kemudian barulah ia tertawa: “Aku baru sekali bertemu dengannya. Mana
mempunyai dendam?”
“Bagus,” sahut Kat Thian-beng, “Pui-heng ini telah melepas budi besar kepada kami
ayah dan anak. Andaikata Ngo-heng mempunyai dendam kepadanya, haraplah suka
memandang mukaku dan jangan berlarut-larut!” Dengan kata-kata itu Kat Thian-beng
hendak mendekking (menjaga) dulu agar Ngo Cong-gi jangan melanjutkan maksudnya.
Sejenak merenung segera Tui Hong-tiu menyahut: “Baiklah, dengan memandang Katheng,
salah paham dengan Pui-heng itu takkan kulanjutkan lebih jauh!” Habis berkata ia
keprak kudanya.
Diam-diam Siu-lam memperhatikan kerut wajah orang tua berjenggot perak itu.
Walaupun mulutnya berjanji kepada Kat Thian-beng, tetapi jelas sikapnya masih
mengunjuk rasa tak puas. Ia duga orang tentu masih akan berusaha untuk mencari
perkara.
Tetapi ternyata dugaannya meleset. Selama dalam perjalanan, rombongan Kat Thianbeng
tak menjumpai kesulitan apa-apa.
Pada tengah hari itu mereka tiba di kaki gunung Thay-san. Tokoh-tokoh persilatan
yang menerima undangan tak henti-hentinya berdatangan. Pada umumnya mereka

adalah tokoh-tokoh yang tergolong ko-chiu (jago kelas satu) di daerah masing-masing. Di
antaranya tidak sedikit tokoh-tokoh yang sudah lama memendam diri, kini muncul lagi.
“Rapat besar kali ini walaupun belum tentu dapat dikatakan dikunjungi oleh seluruh
tokoh persilatan di segenap tanah air, tetapi mungkin merupakan rapat yang terbesar
selama seratus tahun terakhir ini. Aha, betapa senang hatiku dalam sisa hidupku ini masih
dapat menikmati rapat besar kaum ksatria yang sedemikian megahnya, matipun aku
sudah puas!” kata Lo Kun dengan bersemangat.
Kat Thian-beng pun merasa bahwa rapat besar kali itu memang di luar dugaan.
Betapapun luas pengaruh dan kewibawaan gereja Siau-lim-si namun sukarlah dipercaya
kalau mampu menggerakkan sekian banyak kaum persilatan. Diam-diam Kat Thian-beng
heran. Namun ia tak mau menyatakan perasaannya. Ia menyatakan bahwa sebelumnya
memang ia sudah beberapa kali pesiar ke Thay-san, maka ia menyatakan kesediaannya
untuk menjadi pelopor jalan.
Gunung Thay-san yang digelari sebagai Tang-gak atau gunung timur itu, memiliki akar
yang panjang sekali. Pegunungan itu mulai dari daerah Selam di teluk Liau-jiu-wan
propinsi Shoatang, hingga sampai ke pesisir wetan dari kanal atau susukan Yun-ho.
Puncaknya berderet-deret. Yang paling tinggi ialah puncak Tiang-jin-hong. Puncak ini
memiliki alam yang indah permai.
Demi untuk menyelamatkan dunia persilatan dari ancaman gerombolan Beng-gak,
maka ketua Siau-lim-si menyelenggarakan rapat besar kaum persilatan di gunung itu.
Undangan disebar ke seluruh pelosok tanah air.
Memang partai Siau-lim-si dipandang sebagai pemimpin dari dunia persilatan. Sumber
ilmu silat gereja Siau-lim-si dianggap sebagai barometer atau ukuran dari perkembangan
ilmu silat di Tiongkok. Konon kabarnya Siau-lim-si mempunyai tujuh puluh dua macam
ilmu silat yang sakti.
Cerita itu turun temurun berkesan dalam dunia persilatan. Apalagi Siau-lim-si
mempunyai peraturan yang keras. Murid-murid yang belum tamat pelajarannya tak boleh
keluar ke dunia persilatan. Dan dilarang pula apabila tak terpaksa betul-betul, muridmurid
Siau-lim-si itu mencampuri urusan lain partay. Sikap dan tindakan Siau-lim-si itu
mendapat penghargaan dari golongan putih maupun golongan hitam. Kedua golongan
kaum persilatan itu kebanyakan tak mau mengganggu anak murid Siau-lim-si.
Demikian sekelumit sejarah dan kedudukan gereja Siau-lim-si dalam dunia persilatan.
Maka tidaklah mengherankan apabila rapat besar yang disponsori oleh Siau-lim-si itu
mendapat perhatian yang sangat besar.
Kat Thian-beng memimpin rombongannya menuju ke puncak Beng-gwat-ciang. Setelah
melintasi beberapa puncak, tibalah mereka di sebuah puncak yang tinggi dengan karangkarangnya
yang melandai curam! Setelah dapat mendaki puncak itu dan melanjutkan
perjalanan kira-kira sejam lamanya, tiba-tiba Kat Thian-beng berhenti. Ia menunjuk ke
arah sebuah puncak, ujarnya: “Itulah puncak Beng-gwat-ciang. Puncaknya dikelilingi
hutan pohon siong. Pemandangannya indah sekali. Di situlah aku dahulu bersama
seorang sahabat menikmati rembulan sambil omong-omong tentang keadaan dunia
persilatan. Ah, aku kembali lagi ke sini tetapi sahabatku itu sudah tiada di dunia lagi. Ah,
hidup itu benar-benar seperti impian….”
Lo Kun mengurut-urut jenggot sambil tertawa: “Ah, kalau Kat-heng teringat pada
sahabat lama, akupun teringat juga pada peristiwa yang lampau…” ia menengadah
memandang langit. Tiba-tiba ia bersuit nyaring untuk melepaskan kesesakan dadanya.
“Dahulupun pernah timbul gerakan kaum persilatan untuk membasmi Giok-kut-yau-ki
Ih Ing-hoa. Lebih dari empat puluh lima ko-chiu persilatan berkumpul merundingkan
pembasmian itu. Kala itu aku masih berumur dua puluhan. Semangatku masih menyala,
keberanianku menonjol. Rapat kaum persilatan saat itu, dianggap orang sebagai satu
peristiwa yang jarang terjadi di dunia persilatan. Dan kini, berselang puluhan tahun
kemudian, kembali kaum persilatan dari segenap penjuru tanah air, berkumpul di ThayTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
san. Bukan saja yang memimpin rapat ketua gereja Siau-lim-si Pek It Taysu, pun yang
hadir tak terhitung jumlahnya. Betapa bahagiaku dapat menghadiri rapat kali ini!” katanya
lebih lanjut lalu tertawa puas.
“Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa yang lo-cianpwe katakan tadi, apakah sekarang masih
hidup?” tanya Siu-lam.
“Kejadian itu pada empat puluh tahun berselang. Kemungkinan wanita itu sudah
meninggal…” tiba-tiba ia berhenti. Sekilas ia teringat bahwa umur Siu-lam baru dua
puluhan tahun. Serentak ia berpaling dan bertanya: “Munculnya Giok-kut-yau-ki Ih Inghoa
terjadi pada dua puluh tahun berselang. Kini sudah jarang orang menceritakan
peristiwa itu. Dari mana kau mengetahui cerita itu?”
Sebenarnya Siu-lam hendak menuturkan peristiwa yang dijumpainya dalam goha
tempat tinggal Giok-kut-yau-ki. Tetapi ketika menyadari bahwa dirinya sendiri masih
dalam sorotan orang, ia kuatir ceritanya itu toh takkan dipercaya. Maka buru-buru ia
gelengkan kepala. “Pernah kudengar itu dari seorang lo-cianpwe. Maka aku tertarik sekali
ketika kau juga menceritakan tentang diri wanita itu.”
Lo Kun tertawa: “O, wanita itu memang sukar dinilai. Dia memang pernah mengacau
balaukan dunia persilatan, tetapi diapun juga telah membuat sesuatu yang berguna bagi
kaum persilatan. Jadi sukar untuk memberi penilaian pada dirinya.”
Dalam pada bercakap-cakap itu, mereka tiba di kaki puncak Beng-gwat-ciang. Ketika
hendak mendekati, tiba-tiba dari balik sebuah batu karang besar terdengar suara orang
menyebut Omitohud. Dan serentak dengan itu muncullah dua paderi tinggi besar
menghadang jalan.
Sambil lintangkan tongkat besinya, paderi yang berdiri di sebelah kiri berseru: “Apakah
sicu sekalian ini hendak menghadiri rapat besar?”
Kat Thian-beng mengiakan.
“Jalan di sebelah depan telah disiapkan rombongan penyambut para tetamu. Mengapa
sicu sekalian tak mengambil jalan depan tetapi naik dari belakang gunung?” tegur paderi
yang berdiri di sebelah kanan.
“Aku paham akan jalanan di sini maka sengaja mengambil jalan yang pendek,” sahut
Kat Thian-beng.
Mata kedua paderi itu mengawasi tajam kepada rombongan Kat Thian-beng. Katanya
dengan wajah menghormat: “Sebagai tetamu yang menerima undangan, sicu sekalian
tentu sudah mengetahui tujuan rapat besar itu? Jalanan sebelah muka yang menuju ke
tempat rapat telah disiapkan penyambutan selayaknya. Bagi mereka yang hendak
menerobos secara menggelap, diminta supaya kembali saja….”
“Ho, kalau begitu rapat besar orang gagah ini tidak diperuntukkan sembarangan
orang?” seru Lo Kun.
“Ketua gereja kami selalu mengindahkan setiap kaum persilatan,” kata paderi yang di
sebelah kiri. “tak ada yang dibedakan. Hanya rapat besar kali ini memang mendapat
penelitian yang keras dari ketua kami. Yang diundang sebenarnya mereka yang
dipandang memiliki syarat-syarat yang layak. Tetapi karena kabar telah tersiar luas, yang
tak menerima undangan pun berbondong-bondong datang. Terpaksa ketua kami
mempersiapkan pos-pos penyambutan tetamu. Barangsiapa yang tak menerima surat
undangan, diminta dengan hormat supaya turun kembali saja. Jika sicu sekalian memang
menerima surat undangan, harap suka menunjukkan. Kami pasti tak berani mempersulit
kedatangan sicu!”
Dalam rombongan memang hanya Kat Thian-beng yang menerima surat undangan.
Yang lain-lain tidak menerima. Dengan tenang Kat Thian-beng mengambil surat
undangan dari dalam bajunya: “Ketua gereja Siau-lim-si kenal baik padaku. Sungguh
suatu kehormatan bagiku menerima surat undangannya ini….”

Setelah memeriksa surat undangan itu benar-benar tulisan ketua paderi Siau-lim-si,
kedua paderi itu segera bersikap menghormat dan mempersilahkan Kat Thian-beng naik
ke atas.
Kata Kat Thian-beng: “Sebenarnya aku merasa rendah diri menerima surat undangan
itu karena kepandaianku terbatas. Agar jangan mengecewakan ketuamu, maka aku
memberanikan diri mengajak empat orang sahabatku dan membawa juga kedua
puteranya. Jika kalian tak dapat memberi putusan, harap suka melapor pada ketuamu.
Aku bersedia menunggu di sini!”
Kedua paderi itu saling tukar pandangan mata. Kemudian paderi yang sebelah kanan
berkata: “Rapat besar ini bertujuan untuk merundingkan rencana membasmi serbuan
gerombolan yang sakti. Kepala gerombolan pernah muncul di dunia persilatan beberapa
puluh tahun yang lalu. Baru muncul berapa tahun saja, gerombolan itu sudah
menggegerkan dunia persilatan,” ia berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi, “Karena
peristiwa itu mengancam kemusnahan dunia persilatan maka ketua kami mengeluarkan
pengumuman, melarang paderi Siau-lim-si keluar ke dunia persilatan. Dan untuk menjaga
segala kemungkinan, ketua kami mengajak murid-murid Siau-lim-si angkatan ketiga, ikut
datang kemari. Turut yang aku ketahui, baru pertama kali inilah sejak seratus tahun
terakhir, gereja kami mengadakan larangan seperti ini….”
“Ah, Pek It taysu benar-benar seorang paderi yang memikirkan keselamatan kaum
persilatan. Sudah tentu para ksatria sangat menjunjung tinggi kepada beliau….”
Paderi yang di sebelah kiri tersenyum melanjutkan kata-katanya: “Namun karena kuatir
para ko-chiu (jago-jago kelas tinggi) Siau-lim-si angkatan ketiga itu masih belum dapat
mengimbangi kekuatan musuh, maka ketua kami telah mengundang para kochiu dari
berbagai partay untuk berkumpul di puncak Beng-gwat-jiang ini guna merundingkan
rencana menghadapi gerombolan Beng-gak. Oleh karena bukan rapat biasa, maka hanya
mereka yang dipandang layak, baru diundang. Sedang mereka yang tak ternama, tak
diundang karena sayang jika sampai mengorbankan jiwa secara sia-sia.”
Sehabis berkata paderi itu bergiliran memandang Siu-lam, Kat Hong dan Kat Wi,
ujarnya: “Untuk menjaga hal itu, maka ketua telah memberi perintah keras kepada kami,
agar kepada mereka yang tak menerima undangan supaya dipersilahkan kembali saja. Hal
ini bukan bermaksud apa-apa, melainkan karena ketua kami menyayangkan pengorbanan
yang sia-sia. Maka kunjungan Kat tayhiap kami sambut dengan rasa syukur. Kemudian
Kat kongcu dan sicu lain-lainnya, dengan hormat kami persilahkan kembali saja….”
Kat Thian-beng berpaling ke arah kedua puteranya dan Siu-lam. Diam-diam ia
membenarkan ucapan kedua paderi itu. Sejenak merenung, berkatalah ia kepada kedua
puteranya: “Sewaktu hendak ke Tang-gak sini aku belum sempat memberitahukan ibumu.
Sekarang salah satu dari kalian berdua yang boleh ikut aku, yang satunya segeralah
pulang kasih tahu pada ibumu.”
Di hadapan sekian banyak orang, ia sungkan memberi dampratan. Maka dengan
alasan ibu, ia tahu kedua puteranya itu tentu menurut. Tetapi di luar dugaan, kedua anak
muda itu tak menyahut apa-apa melainkan saling berpandangan.
Tiba –tiba Siu-lam melangkah maju ke hadapan kedua paderi, ujarnya: “Tindakan ketua
kalian untuk membasmi gerombolan yang mengancam dunia persilatan, memang suatu
perbuatan yang mulia dan pantas dihargai. Tetapi dengan cara yang hanya menerima
undangan yang diperbolehkan ikut ke rapat itu, mungkin tidak tepat karena sikap itu dapat
ditafsirkan seperti bermaksud memandang remeh pada kaum persilatan lainnya. Apakah
yang ketua kalian tak kenal lalu tak diundang?”
Siu-lam memang sengaja hendak memancing kemarahan kedua paderi itu. Ia benci
terhadap sikap kedua paderi itu yang mulutnya saja mengucap kata-kata merendah dan
hormat tetapi sikapnya seperti algojo bengis.
Pancingannya berhasil. Kedua paderi itu tampak tak senang. Paderi yang di sebelah
kiri segera berseru: “Entah bagaimana yang sicu maksudkan tetapi kami hanyalah

melaksanakan perintah ketua kami untuk mencegah orang-orang yang tak membawa
undangan. Jika sicu yakin akan mampu naik ke atas, dapatlah kami tunjukkan jalannya.
Jalan di gunung bagian muka, didirikan lima buah pos penjagaan. Jika sicu mampu
menerobosnya, ketua kami tentu tak punya alasan lagi untuk menolak kedatangan sicu.
Sicu pasti diterima dan diperlakukan sebagai mereka yang menerima undangan!”
Mendengar itu, Siu-lam berpaling memandang Kat Thian-beng. Diam-diam pemuda itu
menimang: “Untuk mengambil jalan ke muka gunung, tentu jauh dan makan waktu.
Ternyata selain di depan, pun di bagian belakang gunung telah dijaga ketat oleh paderi
Siau-lim-si, jika paderi itu tadi mengatakan bahwa pos-pos penjagaan di bagian muka
dapat dilalui oleh mereka benar-benar mempunyai kepandaian sakti tentu tak ada bedanya
dengan pos penjagaan di belakang gunung. Jelas paderi itu hendak memberi isyarat
halus, bahwa penjagaan di sinipun boleh diterobos juga asal mampu!”
“Jalanan gunung bagian depan, sangat jauh. Boleh aku melalui penjagaan di sini
dengan syarat seperti yang taysu katakan tadi?”
Kedua paderi itu menyurut mundur dua langkah. Wajah mereka mengerut gelap,
sahutnya: “Terus terang kami beritahukan kepada sicu. Kelima pos penjagaan di depan
gunung itu, walaupun hanya diperuntukkan menyambut tetamu-tetamu yang membawa
undangan, tetapi dapat juga dilalui dengan ilmu kesaktian yang unggul. Demikian dengan
pos penjagaan di belakang gunung ini. Hanya ketahuilah sicu. Pos penjagaan di depan
gunung. Mereka yang memaksa hendak melalui penjagaan di depan gunung harus dapat
mengalahkan penjaga-penjaga di situ. Bila berhasil, dapat naik terus. Bila gagal, hanya
dipersilahkan pulang tanpa diganggu keselamatan jiwanya. Tetapi pos penjagaan di
belakang gunung sini, lain halnya. Kalau gagal melalui pos di sini, keselamatannya tak
terjamin!”
Dengan kata-kata itu si paderi hendak memperingatkan Siu-lam supaya jangan
gegabah bertindak. Kalau gagal menerobos penjagaan di situ, jiwanya pun terancam
kebinasaan!
Siu-lam sudah bulat tekadnya. Ia tetap hendak menuntut balas atas kematian gurunya.
Walaupun andaikata ia tak mampu membunuh musuh itu, asal musuh dapat dibunuh
beramai-ramai oleh sekalian orang gagah, iapun sudah puas.
“Terima kasih atas keterangan yang taysu berikan. Jika taysu berdua sudi mengijinkan
aku naik, budi taysu tentu kuingat selama-lamanya. Namun jika taysu tetap melarang,
maaf, terpaksa akupun tetap hendak melintasi….”
Belum selesai Siu-lam berkata, tiba-tiba kedua paderi itu loncat dan melenyapkan diri di
balik batu besar. Tetapi mereka berseru dari tempat persembunyiannya: “Jika sicu hendak
menggunakan kekerasan, baiklah sicu keluar dari bagian depan saja. Ketahuilah bahwa
pedang dan tombak tak bermata, apakah sicu tak kecewa!”
Berkata Siu-lam kepada Kat Thian-beng: “Lo-cianpwe silahkan naik lebih dahulu.
Wanpwe hendak mendobrak kawanan paderi yang menghalang jalan ini. Apakah mereka
benar-benar sekokoh dinding baja…” tiba-tiba ia merasa kelewat membanggakan diri
maka buru-buru ia hentikan bicaranya.
Kat Thian-beng hanya tertawa: “Aku paling paham tempat di sini. Biar kutemani kalian
bersama-sama naik ke atas.”
Kesempatan itupun tak disia-siakan Kat Hong dan Kat Wi. Mereka minta kepada
ayahnya agar diperkenankan ikut menghadiri rapat. Alasan mereka rapat besar kaum
kesatria itu belum tentu dalam seratus tahun terjadi lagi. Mereka ingin sekali menambah
pengalaman.
Di hadapan orang banyak, tak enak rasanya Kat Thian-beng hendak mengutarakan
kesulitan hatinya. Maka ditatapnya kedua puteranya itu dengan marah: “Rapat besar ini
adalah rapat dari para tokoh terkemuka. Mengijinkan kalian hadir, itu tak layak. Dalam
rapat orang tak boleh bertindak semaunya sendiri….”

Kat Hong dan Kat Wi berjanji akan mentaati. Dalam pada itu Siu-lam pun meminta
kepada Hian-song supaya jangan menimbulkan onar. Habis memberi pesan, ia segera
loncat menerjang ke muka.
Sejak pertempuran di lembah Po-to-kang, kini ia menyadari bahwa kepandaiannya maju
sekali. Apalagi Hian-song berada di sampingnya. Ia mempunyai keyakinan dapat
menerobos penjagaan paderi Siau-lim-si.
Kat Thian-beng yang tahu kepandaian Siu-lam, juga percaya kalau anak muda itu tentu
berhasil. Maka iapun segera membisiki kedua puteranya dengan nada setengah
mendamprat: “Tuh lihat, umurnya sebaya dengan kalian tetapi kepandaiannya entah
berapa kali lipat ganda dari kalian…” tiba-tiba ia teringat bahwa ia sendiri pun tak dapat
bertahan menerima pukulan Siu-lam. Dengan memaki puteranya berarti menampar muka
sendiri.
Jilid 10
JAGO tua itu tak melanjutkan bicaranya dan tiba-tiba loncat memburu ke muka. Thian
Hong totiang dan Lo Kun pun segera menyusulnya. Sebenarnya kedua orang itu masih
belum percaya penuh atas kesaktian Siu-lam.
“Tak perlu to-heng kuatir,” bisik Lo Kun kepada Thian Hong totiang, “walaupun
kepandaian budak she Pui masih kurang, tetapi dara itu sakti sekali. Apalagi masih ada Itpit-
hoat-thian Kat Thian-beng yang menyertai. Kemungkinan besar tentu dapat menerobos
penjagaan mereka!”
Ketika tiba di muka batu tempat kedua paderi bersembunyi, Siu-lam berseru nyaring,
“Harap siansu berdua menjaga hati-hati, aku hendak melalui penjagaan di sini!”
Seruan itu dimaksud untuk memancing supaya kedua paderi keluar dari
persembunyiannya. Tetapi ternyata perhitungannya meleset. Kedua paderi itu termasuk
golongan ko-ceng (paderi yang berilmu tinggi) dari Siau-lim-si. Mereka memiliki ilmu
kepandaian silat dan kecerdasan yang tinggi. Mereka tak mengacuhkan seruan Siu-lam.
Begitu tiba di samping Siu-lam terus saja Hian-song tertawa, “Biar kubukakan jalan
untukmu, suheng!” tahu-tahu secepat kilat dara itu sudah melesat ke muka.
“Sumoay, jangan gegabah!” Siu-lam terkejut tetapi tak keburu mencegah lagi. Terpaksa
ia mengejar ke muka.
Dari balik batu terdengar suara Omitohud dan serempak dengan itu berhamburanlah
gelombang angin tamparan yang kuat. Paderi Siau-lim-si pada umumnya paderi yang
menjunjung budi welas asih. Walaupun pukulan mereka amat dahsyat tetapi tidak
langsung ditujukan pada orang, melainkan hanya untuk mencegah agar orang jangan
dapat menerobos maju.
Tetapi mereka salah menilai Hian-song. Sejak jalan darah bagian Seng-si-hian-kwan
sudah terbuka dara itu seolah-olah berganti tubuh baru. Sayang dia masih kurang
pengalaman menghadapi lawan. Melihat lawan menghantamnya dengan dahsyat, dara itu
tak mau adu kekerasan. Cepat ia mengempos semangatnya dan sekali enjot sang kaki,
tubuhnya melambung sampai dua tombak tingginya. Di atas udara, dara itu bergeliatan
membuat gerakan salto (jungkir balik) dan tahu-tahu ia melintang turun kira-kira dua
tombak jauhnya dari batu besar!

Ilmu gin-kang yang dipertunjukkan si dara itu benar-benar mempesonakan sekalian
orang. Bahkan seorang tokoh sakti seperti Kat Thian-beng pun diam-diam merasa kagum.
Pada saat Hian-song dapat melampaui penjagaan, Siu-lam pun sudah tiba. Kembali
terdengar suara orang melantangkan O-mi-to-hud dan pada lain saat muncullah sebatang
tongkat besi yang berputar-putar seperti hujan mencurah menghadang jalan!
Siu-lam mulai menduga akan hal itu. Cepat ia mencabut pedang. Dengan jurus Inghun-
hong-ji atau Menyambut awan menyongsong matanya, ia menusuk lingkaran sinar
tongkat….
Tringgg….!
Terdengar dering melengking nyaring. Lingkaran sinar tongkat itu tersiak dan lenyap.
Sebagai gantinya tampaklah sebuah ujung pedang menekan di atas sebatang tongkat
besi….
Bagi Siu-lam memang tiada pilihan lagi. Jalanan di sebelah muka makin sempit.
Separuh bagian tertutup oleh karang besar dan yang separoh terhadang oleh lingkaran
sinar tongkat si paderi. Sedang di kedua samping jalanan itu, terbentang dua buah jurang
yang curam. Kecuali memiliki kepandaian ginkang hebat yang dapat melampaui batu
karang itu, jalan lain hanya harus menerobos lingkaran tongkat. Karena Siu-lam tak dapat
mengikuti jejak Hian-song, terpaksa ia menembus lingkaran sinar tongkat.
Tetapi lingkaran sinar tongkat itu hebat sekali. Bermula Siu-lam meragukan apakah dia
mampu menerobosnya. Tiba-tiba ia teringat akan jurus In-huan-hong-jit ajaran kakek
Hian-song. Segera ia kerahkan seluruh tenaga dalam ke ujung pedang!
Walaupun jurus Ing-hun-hong-jit itu merupakan jurus yang khusus untuk membuyarkan
serangan dahsyat, tetapi mengandung bahaya juga. Sekali tutukannya meleset, dia akan
kehilangan keseimbangan tubuh dank arena seluruh tenaga sudah tercurah ke ujung
pedang, maka mudahlah bagi musuh untuk membunuhnya!
Dalam keadaan seperti saat itu, Siu-lam memberanikan diri untuk mengambil resiko.
Dan ternyata ia berhasil. Setelah berhasil ia maju ke muka. Pada saat ia hampir berhasil
melewati batu karang itu, sekonyong-konyong terdengar suara bentakan keras.
“Ho, kiranya sicu memiliki kepandaian hebat maka tak heran kalau berani buka suara
besar!” suara itu ditutup dengan munculnya seorang paderi yang melintangkan tongkatnya
di depan Siu-lam. Rupanya yang menghadang jalan kali ini paderi yang kedua. Sedang
paderi yang pertama setelah menarik tongkatnya, segera melenyapkan diri di balik batu.
Diam-diam Siu-lam membanding bahwa paderi-paderi gereja Siau-lim-si itu benar-benar
tak boleh dipandang ringan.
Dalam pada itu Kat Thian-beng bersama kedua puteranya pun tiba di tepi karang besar
itu. Sesaat timbullah pikiran Kat Wie dan Kat Hong. Konon didengarnya ilmu silat dari Siaulim-
si hebat sekali, maka kedua anak muda itu ingin mencari pengalaman.
“Yah, izinkan aku maju untuk mewakili saudara Pui,” bisik mereka.

Kat Thian-beng melirik kepada puteranya dan mendengus, “Penjaga-penjaga di
belakang gunung ini adalah paderi-paderi berilmu dari gereja Siau-lim. Sedang aku sendiri
pun tidak mempunyai keyakinan menang, apalagi kau!”
Dalam pada itu Siu-lam ternyata sudah bertempur dengan paderi yang kedua. Paderi ini
rupanya lebih hebat lagi. Memiliki tenaga dalam yang hebat, gerakan tongkatnya
menimbulkan deru angin yang dahsyat.
Diam-diam Siu-lam membenarkan anggapan dunia persilatan bahwa Siau-lim-si layak
diangkat sebagai pemimpin dunia persilatan. Jika ia tak mendapat pelajaran dari kakek si
dara, tentu dari tadi ia sudah kalah.
Siu-lam tumpahkan seluruh perhatian menghadapi serangan si paderi. Setelah
lintangkan pedang menutup jalan sempit di samping batu karang secepat kilat ia loncat
mundur.
Paderi itu tak mau memberi kesempatan. Ia mengejar. Tongkatnya dibolang-balingkan
kian kemari sehingga menimbulkan damparan angin yang dahsyat.
Kegarangan paderi itu membuat kedua kakak beradik Kat Wi Kat Hong terperanjat.
Bahkan si Golok Sakti Lo Kun dan paderi Thian Hong pun diam-diam merasa kagum. Baru
paderi yang belum masuk deretan pimpinan gereja saja sudah sedemikian hebat, apalagi
pucuk pimpinannya.
Kat Thian-beng mencabut bun-jing-pitnya. Ia siap bertindak apabila terjadi sesuatu.
Juga si dara Hian-song tampak kembali menghampiri ke tempat pertempuran lagi.
Sekonyong-konyong seorang paderi melesat keluar dari balik batu karang dan
menghadang Hian-song.
“Nona sudah berhasil melintasi pos penjagaan di sini. Kamipun tidak mau melakukan
pengejaran. Tetapi apabila nona kembali hendak ikut membantu kawan nona, terpaksa
kami pun tak mau memegang janji…!” seru paderi itu.
Baru paderi itu mengucapkan begitu, tiba-tiba terdengar Siu-lam menggembor keras.
Pedangnya berhamburan laksana beribu bintang menabur di langit. Kini ia balas
menyerang….
Sebenarnya sewaktu digempur serangan tongkat si paderi, Siu-lam terus main mundur.
Dia bingung untuk menghadapi serangan kilat itu. Tak tahu ia jurus ilmu pedang ajaran si
kakek yang mana yang harus dikeluarkan. Justeru karena bingung, pikirannya makin kalut
dan permainan pedangnya pun makin kacau. Di dalam detik-detik hampir menderita
kekalahan itu, tiba-tiba ia teringat akan sebuah jurus dari si kakek yang disebut Thian-hoto-
kwa atau Bintang Bima Sakti. Jurus itu terdiri dari tujuh buah rangkaian gerak yang
dapat digunakan untuk menyerang maupun bertahan. Diiringi oleh gemboran keras segera
loncat maju dan mainkan jurus Thian-ho-to-kwa itu….
Sebenarnya ilmu pedang itu berasal dari ilmu pedang partay Bu-tong-pay. Tujuh
rangkaian gerak pedang itu digabung menjadi satu jurus. Hebatnya bukan kepalang.
Dalam beberapa kejap, paderi itu berbalik terdesak….
Kat Thian-beng terkesiap, sebenarnya ia sudah hampir loncat membantu pemuda itu.
Hampir ia tak percaya bahwa pemuda itu begitu mudah dikalahkan oleh paderi Siauw-limTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
si. Bahkan saat itu timbullah suatu keraguan dalam hatinya. Apakah kekalahan yang
diderita dari Siu-lam itu bukan karena secara kebetulan saja? Buktinya sekarang pemuda
itu tak berdaya sama sekali menghadapi serangan si paderi.
“Ah, betapapun halnya, dia pernah menolong puteraku. Aku harus membalas budi,”
akhirnya ia memutuskan.
Tepat pada saat ia hendak ayunkan tubuh membantu Siu-lam, sekonyong-konyong
pemuda itu menggembor dan lancarkan serangan balasan yang mengagumkan. Dan
dengan jurus Thian-ho-to-kwa itu, Siu-lam dapat memaksa si paderi mundur empat lima
langkah….
Hian-song hentikan langkah. Kat Thian-beng tertegun dan paderi yang mencegat Hiansong
itupun kesima. Jelas jurus yang dimainkan pemuda itu adalah ilmu pedang Bu-tongpay.
Adakah pemuda itu anak murid Bu-tong-pay? Demikian paderi itu bertanya-tanya
dalam hati….
Belum sempat paderi yang diundurkan Siu-lam itu memperbaiki posisinya, Siu-lam
sudah menyusului menusuk siku lengan kanan si paderi lagi.
Kali ini Siu-lam gunakan jurus Cu-si-jan-wan atau Jaring lebah-lebah menjerat lengan.
Sebuah ilmu pedang dari partay Hoa-san-pay….
Tiga kali paderi itu berusaha untuk menghindari ancaman ujung pedang Siu-lam, tetapi
tak berhasil. Terpaksa ia berputar tubuh loncat ke belakang sampai beberapa langkah!
Tetapi Siu-lam benar-benar tak memberi ampun. Menerjang maju ia lancarkan jurus
yang ketiga, ujung pedang diayunkan ke dada si paderi, diputar-putar melingkar baru
ditusukkan ke dada.
Kali ini Siu-lam berganti dengan ilmu pedang baru yakni jurus Jay-hun-hui-hong (Mega
gemilang bianglala melayang) dari ilmu pedang partay Kun-lun-pay! Lingkaran pedangya
itu menerbitkan tiga kuntum sinar pedang yang sukar dibedakan dan diduga lawan….
Si paderi menangkis dengan tongkatnya. Siu-lam tertawa dingin. Pedangnya mendadak
bergeliat menyusup dari sela tongkat yang kosong terus menusuk pecah jubah si paderi di
bagian pundak….
Menyaksikan Siu-lam dapat menggunakan ilmu pedang dari Bu-tong-pay, Hoa-san-pay
dan Kun-lun-pay sekaligus dalam sebuah serangan bukan melainkan rombongannya yang
kesima, pun paderi lawannya mau tak mau harus mengakui kekalahannya. Paderi itu
buang tongkatnya dan sambil memberi salam ia menyisih ke samping, serunya, “Sicu
hebat sekali. Silahkan sicu naik!”
Siu-lam menyimpan pedang, serunya dengan merendah, “Ah, para paderi Siau-lim
memang patut dihormati!” ia memberi hormat lalu melangkah ke muka. Kat Thian-beng,
paderi Thian Hong dan Lo Kun pun segera mengikuti.
“Ah, sungguh mengagumkan sekali bahwa selama ini saudara tak mau menonjolkan
diri,” akhirnya Lo Kun memuji.
Siu-lam menjawab dengan berkata rendah.

“Memang sungguh,” kata paderi Thian Hong, “jika pertempuran tadi dilanjutkan, dalam
lima jurus lagi, paderi Siau-lim tadi itu tentu tak dapat bertahan….”
Mendengar orang sama memuji Siu-lam, diam-diam Hiang-song girang, serunya, “Ah,
mungkin tak sampai lima jurus!”
Kat Thian-beng tertawa, “Selama berpuluh tahun mengembara di dunia persilatan,
rasanya Pui-henglah jago silat paling luar biasa yang pernah kujumpai. Jurus-jurus
permainan pedang Pui-heng tadi sekaligus meliputi ilmu pedang sakti dari partai Bu-tongpay,
Kun-lun-pay dan Hoa-san-pay. Tiga partai persilatan yang termasyhur dalam ilmu
pedang….”
“Suheng,” tiba-tiba Hian-song menyeletuk, “setelah kedua paderi tadi, apakah yang
bakal kita hadapi lagi?”
Siu-lam memandang ke atas puncak. Jaraknya masih lumayan jauhnya. Ia tertawa,
“Rasanya tentu masih ada lagi!”
Siu-lam tahu bahwa kepandaian dara itu lebih tinggi dari dia. Maka iapun mengiakan,
“Baiklah, nanti kau yang menyelesaikan….”
Baru ia berkata begitu, sekonyong-konyong terdengar suara orang menyebut O-mi-tohud
dan diantar oleh tiupan angin, dari atas sebatang pohon siong besar, meluncur turun
dua orang paderi berjubah putih. Kedua paderi itu menghadang di tengah jalan. Mereka
bertubuh tinggi besar. Jika tak memiliki gin-kang tinggi, tak mungkin mereka dapat
melayang turun indah sekali.
Cepat Hian-song melesat maju ke samping kedua paderi itu. Paderi itu yang seorang
mencekal tongkat dan yang seorang memegang golok kwat-to.
“Apakah kalian hendak menghadang perjalanan kami?” tegur Hian-song secara
langsung.
Karena terkesiap menerima pertanyaan begitu, kedua paderi itu hanya dapat
menganggukkan kepala.
“Kalau begitu, kita harus bertempur!” Hian-song tak memberi kesempatan kedua paderi
bicara.
Paderi di sebelah kiri yang mencekal tongkat, lintangkan tongkat, menyahut, “Kami
hanya menerima perintah….”
Tiba-tiba Hian-song mengayunkan tangannya menampar, “Tak usah banyak ini itu.
Kalau mau bertempur lebih baik segera mulai saja!” si dara menutup kata-katanya dengan
gerak menampar.
Kedua paderi itu gugup menghadapi seorang yang lincah bicara lincah menyerang.
Sekaligus dara itu menyerang dengan kedua tangannya. Serangannya tepat mengarah
jalan darah berbahaya. Ancaman itu membuat kedua paderi terpaksa menyurut mundur….

Tetapi rupanya si dara tak ingin memberi kelonggaran lagi. Ia maju dan menyerang
keras kedua paderi itu.
Baik Kat Thian-beng maupun paderi Thian Hong menganggap dara itu terlalu kasar.
Masakan mengatakan menyerang terus saja menyerang sungguh. Diam-diam Kat Thianbeng
berjaga-jaga untuk memberi bantuan apabila dara itu sampai terancam bahaya.
Mereka belum kenal Hian-song. Diperkirakan begitu kedua paderi itu balas menyerang,
Hian-song tentu akan kelabakan.
Tetapi apa yang mereka saksikan benar-benar membuat mereka tercengang heran.
Hian-song menyerang makin gencar. Menutuk jalan darah, dan memukul dan menampar
dengan gerak yang dahsyat. Kedua paderi itu benar-benar kewalahan. Sampai mereka tak
sempat lagi melancarkan serangan balasan. Senjata yang dibawanyapun tidak bisa
digunakan lagi….
Kat Thian-beng dan pendeta Thian Hong terkesiap kaget. Mereka tak menyangka
bahwa si dara ternyata lihai sekali. Jurus-jurus yang dimainkan sukar diduga. Setiap kali
tentu mendahuluinya menindas gerak-gerik kedua paderi yang hendak balas menyerang.
Kedua paderi sudah tampak kepayahan. Kebalikannya, makin lama si dara makin keras
dan cepat serangannya. Karena tak berdaya, kedua paderi itu terpaksa loncat mundur
sampai beberapa belas langkah.
Rupanya mundurnya kedua paderi itu memang hendak mengatur rencana. Apabila
Hian-song berani mendesak, kedua paderi itu akan melaksanakan rencana pengerutan.
Kalau yang satu diserang, yang lain akan cepat menyerang lawan.
Kedua paderi itu tergolong sebagai murid kelas tinggi dari ruang Tat-mo-wan gereja
Siau-lim-si. Mereka telah melatih diri dalam ilmu bertempur berantai atau saling bantu
membantu.
Walaupun memiliki kepandaian sakti, namun Hian-song masih hijau dalam pengalaman.
Melihat kedua paderi itu mundur, sesaat dara itupun tertegun. Tak tahu ia harus
menyerang paderi yang mana lebih dulu. Paderi berdiri berpencar, masing-masing terpisah
dua tiga meter jauhnya.
Jika Hian-song ragu-ragu, tidak demikian dengan kedua lawannya. Setelah
mempersiapkan diri untuk bertempur berdua, maka majulah kedua paderi itu. Paderi yang
membawa tongkat segera memutar tongkat dan menyerang dari sebelah kiri. Yang
mencekal golok kwat-to pun menyerang dari sebelah kanan. Serangan mereka itu cepat
dan dahsyat.
Siu-lam terkejut dan cepat-cepat mencabut pedangnya. Ia mencemaskan keadaan si
dara yang tak menggunakan senjata apa-apa. Tetapi sebelum ia bergerak, tiba-tiba
terdengar Hian-song melengking dan tahu-tahu tubuhnya mencelat ke udara.
Uh… kedua paderi itu mengeluh kaget ketika serangannya menemui tempat kosong.
Tetapi sebelum sempat menarik pulang senjatanya, Hian-song sudah berjumpalitan di
udara dan turun menukik ke bawah sambil taburkan kedua tangannya menyerang kedua
paderi.
Kedua paderi itu memang lancarkan serangan dahsyat. Memang sudah mempunyai
latihan yang sempurna dalam hal menyerang serempak. Dalam masa itu jarang sekali jago

silat yang mampu lolos dari serangan serempak dari kedua paderi itu. Bahwa seorang dara
ternyata mampu menghindari serangan istimewa itu benar-benar membuat sekalian orang
terlongong heran. Bahkan kedua paderi itu sendiri segera menyadari bahwa mereka
berhadapan dengan seorang dara yang aneh dan memiliki ilmu kesaktian aneh pula.
Kedua paderi Siau-lim itu tak sempat lagi menilai kepandaian lawan karena saat itu si
dara sudah menukik dan menyerang. Terpaksa mereka loncat ke samping, lemparkan
senjatanya dan tegak berdiri rangkapkan kedua tangan di dada.
“Hian-song, jangan melukai orang!” cepat-cepat Siu-lam mencegah. Si dara tertawa.
Sekali berjumpalitan, ia buang tubuh ke belakang dan melayang turun setombak jauhnya.
Indah dan lincah sekali….
Kedua paderi itu mundur selangkah untuk memberi jalan….
Dengan dipelopori oleh Siu-lam yang berjalan di sebelah muka, maka rombongan Kat
Thian-beng dan kawan-kawannya segera meneruskan perjalanan. Sejak saat itu,
pandangan mereka terhadap kedua muda-mudi itu berobah seratus delapan puluh derajat.
Tak berani lagi mereka memandang rendah.
Sejak kecil Hian-song memang dimanjakan oleh kakeknya. Boleh dikata, kepandaian
kakeknya telah diberikan kepadanya. Sekali pun ia tidak tahu kepandaiannya termasuk
tingkat yang bagaimana, tetapi ia anggap mengalahkan kedua paderi itu, adalah sudah
sewajarnya. Maka iapun tak bangga atas hasil kemenangannya tadi.
Tidak demikian dengan Siu-lam. Diam-diam ia terkejut atas kepandaian yang dimilikinya
sekarang. Nyatanya menghadapi paderi Siau-lim-si yang termasyhur aliran ilmu silat,
dengan mudah ia dapat mengatasi. Kini makin besar rasa kagumnya terhadap kakek dari
Hian-song. Jelas kakek itu tentu seorang sakti yang terpendam….
“Ah, baru kali ini aku si orang tua benar-benar kabur pandanganku karena tak dapat
melihat diri Pui-heng yang sebenarnya,” tiba-tiba Lo Kun menghela napas.
“Hah, jangankan kau, sedang aku sendiri pun tahu dan tak percaya kalau aku
mempunyai kesaktian begitu hebat,” diam-diam Siu-lam mengeluh dalam hati. Namun
mulutnya menjawab, “Ah, lo-cianpwe kelewat memuji!”
Lo Kun makin suka pada anak muda yang tak sombong itu. Dalam pada bercakapcakap
itu, mereka sudah tiba di puncak. Ternyata puncak gunung itu tertutup oleh sebuah
hutan pohon siong.
Kata Kat Thian-beng, “Gunung Beng-gwat-ciang ini, sebelah kanan kirinya tertutup oleh
hutan siong. Satu-satunya jalanan hanya di sebelah muka. Terpaksa kita harus melintas
hutan ini….”
Tiba-tiba dari arah hutan terdengar suara nyanyian dan muncullah empat orang paderi
tinggi besar. Keempat paderi yang mengenakan jubah putih itu segera berjajar
menghadang!
Kat Thian-beng pernah memenuhi undangan ketua gereja Siauw-lim-si dan tinggal
beberapa hari di gereja itu. Terhadap pakaian seragam dari para paderi, ia agak paham.
Melihat pakaian yang dikenakan keempat paderi itu, segeralah ia tahu tingkatan mereka.

Ternyata adalah golonga Tiang-lo, paderi yang berkedudukan tinggi dari Siauw-lim-si.
Diam-diam Kat Thian-beng cemas.
Buru-buru ia memberi hormat, ujarnya, “Aku yang rendah adalah Kat Thian-beng
datang memenuhi undangan Tay Hong siansu untuk menghadiri rapat orang gagah di
gunung Thay-san sini. Karena kesengsem menikmati alam pemandangan yang indah,
maka sampai tersesat ke belakang gunung ini. Mohon taysu suka memberi jalan….”
Keempat paderi yang berumur di sekitar lima puluhan itu berwajah angker. Yang berdiri
di ujung kiri memegang sebatang tongkat besi, besar bulat seperti telur itik. Yang berdiri
di ujung kanan, mencekal sepasang golok kwat-to yang putih berkilau-kilauan. Sedang dua
paderi yang berdiri di tengah-tengah, masing-masing memegang semacam golok yang
kedua pinggiraannya bermata tajam.
Mendengar kata-kata Kat Thian-beng, keempat paderi itu saling berpandangan.
Kemudian paderi yang berdiri di ujung kiri, berseru, “Karena Kat sicu menerima undangan
ketua kami, maka sicu adalah tetamu kami. Di sebelah muka gunung telah dibangung
beberapa pos penyambutan tetamu. Kami mendapat perintah dari ketua bahwa para
tetamu tak boleh jalan dari belakang gunung. Maka kami mohon sicu sekalian suka
kembali dan jalan dari sebelah muka saja.”
Sebenarnya Siu-lam agak jeri melihat sikap keempat paderi yang begitu angker. Tetapi
mengingat yang menerima undangan itu hanya Kat Thian-beng seorang, sekalipun
mengambil jalan muka gunung toh tetap akan ditolak. Menurut perhitungannya karena
sudah terlanjur naik dari sebelah belakang gunung dan kemungkinan pos yang
dihadapinya saat itu merupakan pos rintangan terakhir, Siu-lam memutuskan untuk
menerjang terus!
Siu-lam pun tertawa nyaring, “Siansu berempat memang hanya menjalankan tugas.
Tetapi bagaimana kalau aku hendak melintasi penjagaan ini. Apakah siansu mengijinkan?”
Keempat paderi serempak memandang Siu-lam. Sesaat kemudian, paderi bersenjata
sepasang golok, menyahut pelahan, “Jalanan di belakang gunung itu mempunyai tiga pos
penjagaan. Bahwa sicu sekalian sudah dapat melewati dua buah pos di bawah, tentulah
sicu mempunyai kepandaian tinggi. Tetapi kami terpaksa harus mematuhi perintah ketua,
melarang siapa pun yang hendak naik dari sini. Jika sicu yakin dapat melintasi pos di sini,
kami pun tak dapat mencegah!”
Siu-lam tersenyum, “Terima kasih atas penjelasan siansu. Karena sudah terlanjur
melintasi dua buah pos, terpaksa kamipun hendak coba melintasi pos di sini. Mohon taysu
berempat suka bermurah hati!”
Siu-lam mencabut pedang di punggung lalu melangkah perlahan-lahan ke muka.
“Pui-suheng, aku ikut!” tiba-tiba Hian-song berseru perlahan.
Siu-lam tersenyum, sahutnya, “Biarkan aku seorang diri yang mencoba. Jika memang
gagal barulah sumoay yang maju!”
“Ooo, aku jadi cadangan?” Hian-song tertawa. Setelah mengenakan pakaian baru, dara
itu tampak makin cantik. Jika tertawa, lesung pipit pada pipinya tampak menggiurkan. Hati
Siu-lam berdetak keras tetapi cepat-cepat ia berpaling ke muka dan lanjutkan langkah.

Keempat paderi itu tampak pejamkan mata. Sedikitpun tak tampak tanda-tanda mereka
akan bertempur.
“Harap siansu berempat suka berlaku murah!” kembali Siu-lam berseru nyaring.
Keempat paderi itu sedikit rentangkan mata memandang Siu-lam, serunya, “Silahkan
sicu mulai!” Habis berkata mereka pejamkan mata lagi.
Siu-lam maju ke muka, pedang lurus dijulurkan ke muka. Ia salurkan tenaga dalam ke
batang pedang. Kira-kira lima enam langkah dari keempat paderi, tiba-tiba ia berhenti.
Sebenarnya keempat paderi itu tak memandang mata Siu-lam. Tetapi demi melihat
sikap dan perbawa Siu-lam mengacungkan pedang lain dari yang lain, seketika merekapun
tegang.
Ketegangan lebih hebat menyerang Kat Thian-beng, paderi Thian Hong, Lo Kun, Kat Wi
dan Kat Hong. Mata dan perhatian mereka ditumpahkan seluruhnya ke muka.
Keempat paderi itu tegak laksana gunung karang yang angker. Sikapnya membuat
orang jeri. Tiba-tiba Siu-lam menggembor keras, pedang diputar menjadi setengah
lingkaran. Nampaknya perlahan dan biasa gerak putarannya pedang Siu-lam tetapi
keempat paderi itu tampak berubah wajahnya. Serempak mereka menjulurkan senjatanya
ke muka.
Ternyata gerakan pedang Siu-lam itu, dari salah sebuah jurus ilmu pedang Bu-tong-pay
yang disebut Thay-kek-hui-kiam. Memang tampaknya perlahan saja, tetapi dalam
keperlahanannya itu mengandung gerakan perubahan yang sukar diduga.
Kiranya sebagai paderi tingkatan tiang-lo dari gereja Siauw-lim-si, keempat paderi itu
bertemu dengan jago-jago sakti dari partai Bu-tong-pay. Oleh karena itu mereka
mendengar juga tentang ilmu pedang Thay-kek-hui-kiam yang sakti dari Bu-tong-pay,
seketika hilanglah sikap memandang rendah kepada pemuda itu.
Di luar dugaan, sehabis mainkan pedang beberapa saat, Siu-lam tiba-tiba berdiri tegak
tak mau menyerang.
“Apakah sicu anak murid Bu-tong-pay?” paderi yang mencekal tongkat besi berseru.
Sahut Siu-lam, “Guruku tak pernah mendirikan partai apa-apa. Silahkan siansu
berempat menyerang!”
“Permainan pedang sicu tadi jelas menggunakan jurus Thay-kek-hui-kiam mengapa sicu
tak mengakui sebagai murid Bu-tong-pay? Apakah kau hendak menghina kami paderipaderi
tak kenal ilmu pedang?”
Siu-lam menjawab bersungguh-sungguh, “Apa yang kuyakinkan, memang tidak keruan
macamnya. Tetapi ilmu silat itu pada dasarnya tentu tak meninggalkan sumber asalnya.
Sekalipun gerakan pedangku tadi mirip dengan ilmu pedang Bu-tong-pay, tetapi bukan
menandakan bahwa aku ini murid Bu-tong-pay!”

Mendengar kata-kata itu, tiba-tiba paderi yang bersenjata tongkat besi sebesar telur
itik, segera hamburkan tongkatnya. Tongkat itu berubah menjadi sebuah lingkaran sinar
yang menghamburkan angin menderu-deru. Katanya, “Kami hanya menjalankan perintah.
Barang siapa tak membawa undangan, dilarang mendaki ke atas. Jika sicu yakin mampu
menerjang tempat ini, silahkan mencoba!”
Diam-diam Siu-lam terkejut melihat gerak permainan tongkat si paderi. Tapi karena
sudah terlanjur seperti orang naik di panggung macan, terpaksa ia tak dapat mundur lagi.
“Maaf, perintah siansu terpaksa kulaksanakan,” Siu-lam menutup kata-katanya dengan
menusukkan pedangnya kepada paderi yang berdiri paling ujung kanan. Dan serempak
dengan itu, ia melangkah maju tiga tindak.
Paderi di ujung kanan, cepat gerakkan golok kwat-to untuk menangkis. Siu-lam menarik
pulang pedangnya, paderi itupun juga menarik pulang goloknya lalu tegak berdiri lagi.
Sikap paderi itu membingungkan Siu-lam. Mereka tak mau menyerang jika tak diserang.
Musuh diam mereka diam. Musuh bergerak, merekapun bergerak. Jika tak diserang habishabisan,
sukarlah untuk menerobos penjagaan mereka. Demikian Siu-lam menimang.
Dan mulai ia meneropong letak kekuatan lawan. Ia hanya menyerang mereka berempat
secara serempak, barulah dapat dikacau. Dan setelah pertahanan mereka kacau balau,
barulah mudah diserang.
Sesudah menetapkan siasat, Siu-lam segera lancarkan sebuah jurus yang disebut Kenghong-
li-wi, atau burung bangau terkejut meninggalkan, biarpun. Ujung pedang diarahkan
pada paderi di tengah yang mencekal senjata golok datar (kedua tepinya bermata tajam).
Sambil menurutkan gerak tusukan, Siu-lam maju ke muka.
Kedua paderi yang berdiri di tengah, cepat putar golok datar mereka. Lingkaran sinar
putih menutup tubuh mereka. Tetapi Siu-lam tak mau adu senjata. Tiba-tiba ia
menggembor keras dan tubuhnya melambung di udara. Secepat kilat ia menyerang paderi
yang bersenjata tongkat.
Meskipun Siu-lam telah mendapat ajaran berbagai ilmu pedang dari kakek Hian-song
tetapi ilmu lwekangnya belum sempurna hingga tak dapat mengimbangi kemajuan ilmu
pedangnya. Memang jika berhadapan dengan jago-jago kelas satu saja, tentu dapat
dikaburkan pandangannya dan diserang kelabakan. Tetapi keempat paderi tiang-lo dari
Siau-lim-si itu mempunyai latihan silat selama tiga puluh tahun. Hebatnya bukan kepalang.
Sikapnya setenang gunung tetapi gerakannya segesit ular menyambar.
Dalam gebrak pertama, memang tampaknya keempat tiang-lo itu terdesak oleh
permainan pedang Siu-lam. Tetapi setelah lewat jurus yang ke sepuluh, mulailah keempat
paderi itu memperoleh kepribadian gayanya. Mereka mulai tenang dan tongkatpun mulai
berhamburan deras menjadi sebuah dinding tembok sinar. Betapapun Siu-lam lancarkan
serangan-serangan yang hebat, tetapi ia tak maju selangkahpun juga.
Tiba-tiba terdengar paderi yang bersenjata golok kwat-to berseru, “Kata-kata sicu tadi
memang benar. Ilmu pedang sicu memang luas dan beraneka ragam. Dalam sepuluh jurus
tadi, sicu telah mainkan beberapa ilmu pedang sakti dari beberapa partai persilatan.
Sayang tenaga dalam sicu masih belum memadai sehingga tak mampu mengembangkan
ilmu pedang itu sebagaimana mustinya….”

Paderi itu menutupi kata-katanya dengan berseru o-mi-to-hud, tiba-tiba ia berseru,
“Harap sicu berlaku hati-hati, kami hendak balas menyerang!”
Dalam berkata-kata itu si paderipun sudah maju dan hamburkan sepasang golok kwatto
menggempur kepala Siu-lam!
Karena seluruh kepandaian sudah ditumpahkan tanpa hasil, mulailah Siu-lam bingung.
Ia merasa tak mungkin dapat memenangkan mereka. Lebih baik ia undurkan diri saja.
Tetapi belum sempat ia bergerak, tiba-tiba paderi itu melambung ke udara dan
menaburkan goloknya.
Berkata Kat Thian-beng kepada kedua puteranya, “Kata-kata paderi itu memang benar.
Seandainya Siu-lam memiliki ilmu lwekang seperti aku, keempat paderi itu pasti sudah
kalah. Hm, kalau keempat tiang-lo itu sampai jatuh di tangan seorang pemuda tak
terkenal, dunia persilatan pasti gempar. Pertempuran kali ini cukup sudah untuk
mengangkat nama anak muda itu.”
Kat Thian-beng menaruh kepercayaan penuh pada Siu-lam. Dia percaya akhirnya
pertempuran itu tentu dimenangkan si anak muda soalnya hanya waktu.
Tiba-tiba Golok Sakti Lo Kun menyelutuk, “Kat-heng, mungkin anak itu tak dapat
bertahan. Bagaimana kalau kita maju membantunya?”
Kat Thian-beng memandang ke muka. Tampak paderi yang bersenjata kwat-to itu
loncat ke udara lalu menukik menyerang kepala Siu-lam. Pada hal saat itu Siu-lam sedang
menghadapi ketiga paderi lainnya. Ia tidak berdaya menjaga serangan dari atas itu….
Kat Thian-beng terkejut sekali. Jelas pemuda itu terancam bahaya. Cepat-cepat ia
hendak bergerak memberi pertolongan, tetapi sudah terlambat….
Pada saat sinar golok berhamburan menabur kepala Siu-lam, tiba-tiba anak muda itu
meraung sekeras-kerasnya dan pedang tiba-tiba pecah menjadi ratusan pedang yang
berhamburan menyerang ke segenap penjuru….
Kiranya dalam kebingungan menghadapi serangan keempat paderi itu, tiba-tiba Siu-lam
teringat akan sebuah jurus Kiau-toh-co-hoa ajaran si kakek dari Hian-song. Cepat ia
mainkan jurus itu. Begitu jurus itu dikeluarkan, terkejutlah keempat paderi.
Tring tring tring…! Terdengar dering senjata beradu dan keempat paderi itupun susul
mundur ke belakang. Paderi yang menukik dari udara pun tiba-tiba menarik goloknya dan
mencelat ke belakang.
Kat Thian-beng, paderi Thian Hong dan rombongannya terkesiap kaget. Tak tahu
mereka jurus apa yang dimainkan anak muda itu. Yang ia ketahui hanyalah pedang Siulam
seolah-olah berubah menjadi ratusan ujung pedang yang berhamburan seperti
kembang api….
Setelah keempat paderi itu mundur, Siu-lam pun menarik pulang pedangnya. Sesaat
suatu hening lelap.

Sekalian orang tak tahu bagaimana Siu-lam gerakkan pedangnya tadi. Saat itu tampak
keempat paderi berdiri tegak. Dengan kepala menunduk mereka kempit senjatanya
masing-masing.
Berseru salah seorang paderi, “Sicu mempunyai ilmu pedang yang hebat. Kini baru
kami mendapat pengalaman.” Mereka lalu mundur ke samping membuka sebuah jalan
untuk Siu-lam.
Siu-lam tertegun sendiri. Dipandangnya keempat paderi itu satu demi satu. Tampak
jubah dari kedua paderi yang bersenjata tongkat berlubang beberapa tempat. Sedang
paderi yang mencekal golok kwat-to, selain jubahnya robek, pun lengannya tergurat
beberapa luka.
Kat Thian-beng berpaling kepada Lo Kun dan paderi Thian Hong ujarnya, “Baru
pertama kali dalam hidupku, kusaksikan adanya ilmu Kiau-toh-co-hoa….”
Siu-lam terkejut berseru, “Apakah lo-cianpwe kenal akan jurus yang kumainkan tadi?”
Kat Thian-beng gelengkan kepala, “Ilmu pedang Pui-heng luar biasa anehnya, mana
aku dapat mengenalnya?”
Siu-lam diam. Sambil berjalan tak henti-hentinya ia memikir tentang perubahanperubahan
yang terdapat dalam jurus Kiau-toh-co-hoa tadi. Pada waktu si kakek sakti
menurunkan ilmu pedang satu jurus itu kepadanya, meskipun diberi keterangan tentang
kegunannya sampai beberapa kali, namun Siu-lam masih belum dapat memahami. Tadi
dalam keadaan terdesak, ia secara sembarangan mainkan jurus itu. Ah, ia tak mampu
mainkan jurus itu sampai selesai. Bahkan bagaimana cara memulaikan jurus itu, hampir
tak dapat ia mengingatnya lagi.
“Apakah ilmu pedang yang suheng mainkan tadi bukan yang disebut Kiau-toh-co-hoa?”
tiba-tiba Hian-song bertanya.
“Benar, apakah sumoay juga pernah belajar?” balas Siu-lam.
Hian-song tertawa, “Rasanya kakek pernah mengajarkan juga. Maka ketika kau
bergerak tadi rasanya aku seperti sudah pernah tahu. Tetapi agak lupa. Ih, benar-benar
aku seorang tolol!”
“Kalau begitu apabila senggang kita dapat berlatih bersama, tentu bermanfaat,” kata
Siu-lam.
Saat itu keempat paderi tadipun sudah melenyapkan diri di dalam hutan. Tampaknya
dari luar hutan itu hanya sebuah hutan lebat ternyata dalamnya hanya sejauh lima enam
tombak. Begitu keluar dari hutan, tiba-tiba mereka melihat dua orang paderi bocah yang
umurnya baru antara lima belas-enam belas tahun. Kedua paderi kecil itu berlari-lari
menghampiri. Cepat sekali mereka sudah tiba di muka rombongan Siu-lam.
“Berhenti!” bentak Hian-song yang mengira kedua paderi kecil itu tentu akan
menghadang jalan.

Kedua paderi kecil menurut kata. Begitu berhenti mereka segera memberi hormat,
“Kami dapat perintah dari ketua untuk menyambut kedatangan tuan-tuan sekalian. Harap
nona jangan salah paham!”
Kat Thian-beng maju selangkah, tanyanya, “Di manakah hong-tiang (ketua) sekarang
ini?”
“Hong-tiang berada di puncak gunung sedang menyambut tetamu. Marilah kami
antarkan ke sana.”
Paderi kecil itu membawa rombongan tamu ke sebuah kuil. Pintu kuil yang berwarna
hitam terpentang lebar. Kedua paderi kecil itu mempersilahkan rombongan tamunya
berhenti di muka pintu, sedang mereka masuk melapor pada gurunya. Tetapi baru
mengisar langkah, tiba-tiba dari dalam kuil melantang sebuah suara, “Loni (seorang paderi
menyebut dirinya sendiri) sudah menerima laporan dari keempat tiang-lo bahwa Kat
tayhiap dan beberapa ko-jin telah datang. Maafkan loni tak dapat segera menyambut….”
Serempak dengan seruan itu seorang paderi tua yang alisnya putih melangkah keluar
perlahan-lahan. Kat Thian-beng pun cepat-cepat menyongsong memberi hormat,
“Kehormatan yang lo-siansu berikan kepadaku supaya menghadiri rapat di gunung ini,
sudah tentu kulaksanakan.”
Paderi beralis putih itu menghela napas perlahan, “Ah, walaupun sudah lima puluh
tahun mengabdi gereja membaca kitab, tetapi loni masih tak dapat membebaskan diri dari
nafsu amarah. Maka loni telah merepotkan sekalian ksatria persilatan!”
Terhadap pemimpin gereja Siau-lim-si yang dipandang sebagai pemimpin dunia
persilatan itu Kat Thian-beng menaruh perindahan. Ia mengucapkan kata-kata dan pujian
atas langkah yang diambil Siau-lim-si untuk menyelenggarakan rapat itu.
Paderi beralis putih itu mengucapkan kata-kata merendah. Kemudian ia menanyakan
lebih jauh tentang pemuda yang dapat melintasi penjagaan kepada keempat tiang-lo tadi.
Kat Thian-beng segera perkenalkan Siu-lam kepada paderi itu, setelah Siu-lam
perkenalkan namanya, berkatalah paderi beralis putih, “Loni bergelar Tay Hong. Siu-sicu
baru berumur dua puluh satuan tahun tetapi sudah memiliki kepandaian yang tinggi. Kelak
siu-sicu pasti menjadi bintang cemerlang di dunia persilatan!”
Siu-lam tersipu-sipu menjawab dengan kata-kata merendah. Setelah bercakap-cakap
beberapa jenak, kemudian ketua Siau-lim-si itu mempersilahkan rombongan tetamu
masuk.
Tetamu yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang serentak berbangkit ketika Tay
Hong sian-su masuk di ruangan besar. Diam-diam Kat Hong dan Kat Wi heran. Ratusan
orang yang berkunjung ke gunung, tetapi mengapa yang hadir saat itu hanya dua puluhan
orang saja di situ. Dan lima buah meja besar untuk perjamuan yang disiapkan di ruang
tersebut, menandakan bahwa jumlah tetamu yang diundang hadir paling banyak empat
lima puluh orang saja.
Setelah mempersilahkan para tamunya duduk, Tay Hong segera membuka perjamuan.
Diperhatikan Siu-lam bahwa para tetamu yang hadir di situ rata-rata berusia lima puluhan

tahun. Sinar mata mereka tajam dan pelipisnya menonjol, pertanda dari tokoh-tokoh yang
memiliki ilmu lwekang tinggi. Siu-chiu-kiau-in Su Bo-tun tak tampak hadir.
Tay Hong siansu mengangkat cawan, mengucap kata-kata sambutan dan terima kasih
kepada tetamu yang telah memenuhi undangannya.
Tiba-tiba dua orang paderi kecil masuk mengantar empat orang tetamu. Begitu berada
dalam ruang, keempat tetamu itu memandang lekat-lekat ke arah Siu-lam.
Hian-song menggamit lengan Siu-lam, “Apa suheng masih kenal orang itu?”
Siu-lam mengangguk dan menjawab lirih, “Mereka memang memusuhi kita, tak perlu
dihiraukan….”
Rupanya Tay Hong dapat menangkap kasak-kusuk kedua pemuda itu. Segera ia
berpaling kepada keempat pendatang itu dan mempersilahkan duduk.
Keempat orang itu bukan lain kedua tokoh Thian-lam-song-gan, Su Bo-tun dan jago tua
berjenggot putih Ngo Cong-han.
Thian-lam-song-gan dan Ngo Cong-han membalas hormat Tay Hong siansu, tetapi Su
Bo-tun si manusia aneh tetap bersikap dingin. Tanpa berkata apa, dia melangkah masuk
dan mengambil tempat duduk.
Tay Hong siansu tak menghiraukannya. Setelah para tetamu duduk tenang, Siau-lim-si
membuka sidang perjamuan.
“Maksud tujuan gereja kami menyelenggarkan pertemuan besar ini, tentulah saudarasaudara
sekalian sudah mengetahui. Jarum Chit-jiau-soh yang sudah lama menghilang,
kini muncul di dunia persilatan.”
Ia berhenti sejenak memandang sekalin tetamu kemudian melanjutkan pula, “Berpuluh
tahun yang lampau, jarum Chit-jiau-soh pernah muncul di dunia persilatan. Entah berapa
banyak kawan-kawan persilatan yang binasa di tangan pemilik jarum itu. Karena
keganasannya maka jarum kecil itu dipandang sebagai lambang kematian. Barang siapa
melihat jarum itu tentu mati. Kala itu loni belum menerima jabatan ketua gereja Siau-lim.
Loni mendapat perintah dari ketua gereja supaya bersama delapan orang ko-chiu tingkat
ruang Tat-mo-wan, menyelidiki jejak pemilik jarum Chit-jiau-soh. Siapa tahu orang itu licin
dan misterius sekali. Sebentar muncul sebentar lenyap, sukar disergap. Setengah tahun
lamanya loni mengejar jejak tetapi tetap sia-sia. Terpaksa loni kembali pulang melapor
pada ketua….
Ketua kami menganggap pemilik jarum Chit-jiau-soh itu kelewat dan berbahaya. Jika
tidak lekas-lekas dibasmi tentu akan menimbulkan malapetaka. Maka Siau-lim-sie segera
mengundang partay Kun-lun-pay, Bu-tong-pay dan lain-lain partay persilatan untuk
bersama-sama mengempur orang itu. Lama benar pengejaran dilakukan sehingga hampir
makan waktu setahun barulah berhasil menyergapnya di luar kota Kim-leng. Terjadilah
pertempuran yang dahsyat….”
Kembali Tay Hong siansu berhenti menengadahkan kepala seolah-olah seperti
mengenangkan peristiwa itu.

Beberapa saat kemuidian baru ia melanjutkan pula, “Kala itu loni tak mempunyai
kesempatan ikut bertempur. Tetapi menurut cerita kedua suheng loni. Setiap orang yang
ikut dalam pertempuran yang paling dahsyat dan ganas. Dua belas jago-jago sakti dari
beberapa partay ikut bertempur dalam pertempuran yang dimulai dari petang hari sampai
pagi. Dia berhasil melukai empat orang dan dapat meloloskan diri dari kepungan. Mungkin
pertempuran itu jarang tersiar di dunia persilatan dan kiranya saudara-saudara yang hadir
di sini tentu jarang yang mengetahui peristiwa itu….”
Tiba-tiba dari meja sebelah kiri berbangkit seorang lelaki tua yang matanya tinggal
satu. Serunya, “Jelek-jelek aku si orang tua ini juga ikut dalam pertempuran besar itu!”
Sekalian mata segera tertumpah ke arah orang tua bermata satu itu. Seorang tua yang
berumur lebih dari tujuh puluh tahun. Jenggotnya yang putih menjulai turun ke dada.
Mata kirinya yang hilang ditutup sehelai kain hitam. Di tengah alisnya terdapat sebuah
noda guratan bekas terluka golok.
Dia menghela napas perlahan-lahan lalu menyingkap kain hitam penutup matanya,
“Mataku kiri ini hilang pada waktu pertempuran itu. Selain aku, masih ada enam orang lagi
yang terluka….”
Perlahan-lahan ia memandang kepada Tay Hong siansu, katanya, “Di antara ketujuh
orang yang terluka itu, yang tiga telah meninggal. Maka tak salah kalau mengatakan
bahwa yang terluka empat orang!”
Tay Hong siansu lekas-lekas memberi hormat, “Bukankah lo-cianpwe ini kojin dari Butong-
pay Siauw Yau-cu-lo-cianpwe?”
Mendengar itu hadirin serentak berbangkit dan memberi hormat kepada si orang tua
bermata satu!
Siau Yan cu merupakan jago pedang nomor satu dari partai Bu-tong-pay sejak seratus
tahun yang terakhir ini. Berpuluh-puluh tahun berselang, namanya sudah menggetarkan
dunia persilatan. Setiap jago silat yang berumur enam puluh tahun ke atas tentu
mendengar nama Siau Yan-cu. Lima puluh tahun yang lalu, ketika keempat partai
persilatan yang termasyhur ilmu pedangnya, yakni Bu-tong-pay, Hoa-san-pay. Kun-lun-pay
dan Go-bi-pay berkumpul di gunung Gobi untuk merundingkan ilmu pedang (istilah halus
untuk menyebut saling menguji kepandaian) Siau Yan-cu yang masih muda telah berhasil
menundukkan jago-jago pedang Hoa-san-pay, Kun-lun-pay dan Go-bi-pay. Sejak peristiwa
yang menggemparkan itu, Siau Yan-cu dianggap sebagai jago pedang sakti nomor satu!
Tetapi sayang, sejak peristiwa yang mengharumkan nama partay Bu-tong-pay itu, Siau
Yan-cu melenyapkan diri dari dunia persilatan. Maka kehadirannya di gunung Thaysan saat
itu, benar-benar mengejutkan. Itulah sebabnya maka sekalian hadirin serempak
berbangkit untuk mengunjuk hormat. Bahkan Su Bo-tun yang berhati dingin, ikut juga
berdiri memberi hormat. Hanya pemuda-pemuda macam Siu-lam, Hian-song, Kat Wi dan
Kat Hong yang tak kenal siapa Siau Yan-cu, tetap duduk di tempatnya.
Rupanya Siu-lam sungkan juga. Akhirnya ia ikut berdiri memberi hormat. Tetapi Hiansong
menarik ujung bajunya dan berbisik, “Apakah kau kenal pada orang tua mata satu
itu?”

Kuatir dara itu mengoceh tak karuan, Siu-lam buru-buru menggamit tangan Hian-song
dan digoyang-goyangkan.
Rupanya Hian-song mengerti apa yang dikehendaki Siu-lam. Ia bangun dan berbisik ke
dekat telinga si anak muda, “Bukankah suheng melarang aku banyak bicara?”
Siu-lam berpaling dan mengangguk.
Siau Yan-cu menutup mata kirinya dengan kain hitam pula kemudian berkata, “Kala itu
aku masih muda. Karena suhu sayang padaku maka aku diberi pelajaran suatu ilmu
lwekang yang sakti. Setelah pelajaran selesai timbullah keinginan untuk ikut dalam
pengejaran wanita siluman pemilik jarum maut. Segera kumenghadap Ciang-bun-jin
(ketua) memohon ijin untuk turun gunung dan menggabungkan diri pada keempat
partay….”
Golok Sakti Lo Kun tiba-tiba berbangkit, serunya, “Ikut sertanya Siau lo-cianpwe dalam
pertempuran bersejarah itu tentu menjadi buah tutur orang. Tetapi mengapa tiada orang
yang pernah menceritakan?”
Kata Siau Yan-cu, “Partay Bu-tong-pay menganggap musuh terlalu sakti, maka hontiang
melarang aku mengunjuk diri secara terang-terangan….”
Walaupun Siau Yan-cu tak melanjut kata-katanya namun sekalian orang tahu apa yang
dimaksud Siau Yau-cu merupakan murid cemerlang dari Bu-tong-pay. Namanya sudah
semerbak di seluruh penjuru. Jika dalam pertempuran itu sampai kalah, bukan saja Siau
Yau-cu tetapi partay Bu-tong-pay pun akan jatuh namanya!
“Omitohud!” seru Tay Hong siansu, “kedatangan lo-cianpwe benar-benar memberi
muka terang kepada sekalian saudara. Loni mohon sudilah kiranya lo-cianpwe memegang
tampuk pimpinan rapat sekarang ini….”
Tetapi Siau Yau-cu menolak. Ia anggap Siau-lim-pay lah yang paling tepat memegang
pimpinan.
“Sekalipun lo-cianpwee tak mau menjadi ketua rapat ini, tetapi loni mohon sudilah locianpwe
memberi petunjuk-petunjuk yang berharga!” kata Tay Hong pula.
Siau Yau-cu menghela napas perlahan, “Berhasil atau gagalnya gerakan ini, tak berani
kupastikan. Tetapi menilik kehadiran para tokoh-tokoh persilatan yang mewakili berbagai
partai dapatlah kita berbesar hati. Kalah dan menangnya tergantung dalam
perkembangannya nanti. Dahulu dalam pertempuran itu aku telah kehilangan sebuah mata
tetapi aku berhasil menggurat pecah kain kerudungnya hingga tahu bahwa dia ternyata
seorang wanita….”
Tiba-tiba seorang tua yang menyanggul sepasang pedang berbangkit, serunya,
“Maukah lo-cianpwe menuturkan peristiwa itu agar kita semua dapat tambah
pengalaman?”
Siau Yau-cu tertawa, “Setelah mataku terluka, aku tak segera kembali ke gunung Butong-
pay. Kucari sebuah tempat persembunyian untuk mengobati lukaku. Sesudah
sembuh, mulai lagi kuyakinkan beberapa ilmu pelajaran yang belum selesai. Ketua Butong-
pay telah menyebar seluruh anak untuk mencari jejakku, tetapi tak berhasil….”

Walaupun tak menjelaskan, tetapi tahulah sekalian hadirin bahwa adanya Siau Yau-cu
tak mau pulang ke gunung, tentulah karena merasa malu.
Siau Yan-cu melanjutkan pula, “Kepandaian perempuan itu selain sakti juga ganas
sekali. Banyak sekali jurus-jurusnya yang tak pernah tampak di dunia persilatan.
Gerakannya luar biasa gesitnya. Dalam kepungan tokoh-tokoh empat partai, dia masih
tetap dapat bergerak sebebas-bebasnya. Dan yang paling mengagumkan ialah daya
kelahinya yang luar biasa. Bermula dia dikepung oleh dua belas jago-jago sakti. Yang
mempelopori membuka serangan ialah Tay Ti taysu dari Siau-lim-pay….”
“Tay Ti adalah suhengku. Sayang dia sudah gugur dalam pertempuran itu!” seluruk Tay
Hong.
Siau Yan-cu tertawa hambar, “Belum sampai sepuluh jurus, Tay Ti siansu telah terdesak
oleh jurus permainan musuh yang luar biasa anehnya. Maka berhamburanlah jago-jago
yang ikut dalam pengepungan itu menyerbu maju. Aku turun tangan yang terakhir karena
hendak kupelajari dahulu gaya permainannya dan aliran pelajarannya. Tetapi di luar
dugaan, sampai lama sekali belum juga kuketahui induk partai persilatan.
Saat itu sebelas jago-jago sakti sudah serempak turun tangan namun tetap tak mampu
mengalahkan. Bahkan mereka malah terdesak oleh permainan aneh orang itu. Melihat
para jago sakti terdesak, terpaksa aku turun tangan. Ya, baru sejam aku terlibat
pertempuran….”
“Omitohud!” seru Tay Hong siansu, “Lo-cianpwe benar-benar hebat!”
“Begitu aku turun gelanggang, keadaanpun berubah baik. Para kawan mulai dapat
bernapas longgar dan dapat mengembangkan kepandaiannya lagi. Di antara yang paling
menonjol ialah gaya permainan partai Siau-lim-si. Walaupun akhirnya gugur, namun
semangat dan kegagahan Tay Ti amat berkesan sekali…” kata Siau Yan-cu pula, “Saat itu
sekalian jago-jago belum mengetahui diri siapa. Satu-satunya yang bermata tajam hanya
Tay Ti siansu seorang. Sengaja ia mengisar langkah menghampiri ke sampingku kemudian
memanggil namaku perlahan-lahan. Karena sedang menumpahkan seluruh perhatian pada
pertempuran, sekalian jago-jago tak mendengar seruan Tay Ti siansu itu….”
Siau Yan-cu berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Karena sudah kepergok, terpaksa aku
memberi anggukan kepala kepada Tay Ti siansu. Sambil perhebat serangannya, Tay Ti
siansu mencari kesempatan untuk bicara padaku, merundingkan siasat untuk
menghancurkan lawan. Dia mengusulkan suatu rencana. Dia hendak mendesak lawan
sekuat-kuatnya dan aku disuruh segera berusaha untuk mencongkel kain kerudung hitam
yang menutupi wajah wanita iblis itu.
Permintaan Tay Ti siansu itu memang tepat. Sayang tak mudah untuk melaksanakan.
Jelas permainan lawan tetapi gesit dan makin dahsyat. Untuk menyingkap kain kerudung
yang menutup wajah perempuan iblis itu, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah….”
“Oh, jadi lo-cianpwe menolak rencana Tay Ti suheng?” tiba-tiba Tay Hong siansu
menyeletuk.
Siau Yau-cu mendongak dan tertawa panjang. Serunya, “Karena hal itu hampir saja
timbul salah paham antara partay Siau-lim-si dengan Bu-tong-pay. Dalam hal itu memang

tak dapat menyalahkan orang yang menyiarkan desas-desus mengenai kesalahan paham
itu. Oleh karena sukar untuk menuduh siapakah orang yang menyiarkan desas-desus
tersebut. Adanya kali in segan untuk mengundang orang Bu-tng-pay, kemungkinan tentu
masih terdapat dendam kesalahan paham!”
“Memang desas-desus itu santer sekali di dunia persilatan. Namun loni segan untuk
mencari permusuhan dengan orang Bu-tong-pay. Apalagi Tay Ti suheng sudah binasa, kita
benar-benar prihatin sekali. Kami tak sempat lagi mengurusi soal dendam kepada orang
Bu-tong-pay…. Orangnya toh sudah mati, perlu apa ketegangan dibesar-besarkan tanpa
guna….”
Kata Siau Yau-cu, “Hal itu memang tak dapat dipersalahkan. Ketika itu hanya paderi
Thian In to-tiang yang dapat menangkap pembicaraanku dengan Tay Ti siansu. Sayang
Thian In to-tiang sudah meninggal sehingga sukar mencari saksi yang benar-benar
mengetahui peristiwa itu….”
Siau Yan-cu tiba-tiba pejamkan kedua matanya lalu melanjutkan, “Kala itu memang aku
masih belum menyatakan apa-apa terhadap rencana Tay Ti siansu. Tiba-tiba Tay Ti siansu
gerakkan tongkatnya dan di empat penjuru segera terpancar gulung sinar tongkat yang
sederas hujan mencurah dari langit….”
Saat itu aku tak dapat mempertimbangkan apa-apa lagi. Pedang kucabut dan menyurut
mundur. Tay Ti siansu benar-benar kembangkan sehebat-hebatnya ilmu kepandaiannya.
Tongkatnya berayun laksana naga bergeliatan di udara. Angin menderu-deru laksana
badai prahara. Ah, memang sudah selayaknya apabila Siau-lim-si dipandang sebagai aliran
pemimpin dunia persilatan!”
“Ah, lo-cianpwe sendirilah yang sepantasnya menerima penghormatan itu,” kata Tay
Hong siansu merendah. Tiba-tiba ia tak melanjutkan kata-katanya karena teringat akan
mata Siau Yan-cu yang terluka itu.
Jago pedang Bu-tong-pay itu tertawa getir, serunya, “Saat itu aku menyisih ke samping
untuk memulangkan napas dan menunggu kesempatan. Setelah melihat suatu liang
kesempatan yang bagus, segera kuloncat ke udara menerjangnya. Aku berhasil menggurat
pecah kain kerudungnya tetapi tak kuduga-duga dengan suatu gerakan membalik tangan
yang luar biasa, diapun berhasil melukai sebelah mataku. Luka itu membuat aku tak dapat
melanjutkan serangan lagi. Dan kesempatan itu tak disia-siakan wanita iblis. Dia lancarkan
serangan balasan yang hebat. Yang pertama-tama menjadi korban ialah Thian In totiang.
Dadanya tertusuk pedang siluman perempuan itu. Namun dalam keadaan terluka parah,
totiang kerahkan seluruh sisa tenaganya dan berhasil balas menusuk dan menutuk lawan.
Rencanaku telah menyalurkan napas secukupnya, aku hendak menempurnya lagi.
Tetapi ternyata pertempuran telah mengalami perubahan yang hebat sehingga tak
memungkinkan lagi aku maju ke gelanggang. Thian In totiang menghembuskan napas.
Tay Ti siansu terluka berat dan aku kehilangan sebelah mata. Dan kawan yang lain-lain
sudah kehabisan tenaga. Kemudian terdengar jeritan ngeri berturut-turut. Dalam beberapa
kejap saja, siluman perempuan itu telah dapat melukai tujuh orang kemudian ia
menerobos keluar dari kepungan. Di antara ketujuh orang yang terluka itu, tiga orang
termasuk Thian In totiang telah meninggal. Aku dan Tay Ti siansu terluka berat. Dari
partai Go-bi-pay dan Kun-lun-pay masing-masing terluka seorang. Dalam keadaan yang
sedemikian itu, terpaksa kami tak dapat mengejar siluman perempuan itu. Demikianlah
kurang lebih gambaran dari pertempuran besar yang bersejarah itu…”

Tay Hong siansu menghela napas, “Berpuluh-puluh tahun lamanya antara partai kami
dengan partai lo-cianpwe tak dapat akur adalah disebabkan kesalahpahaman itu. Ah,
sebaiknya urusan lama tak perlu diungkat lagi. Dengan pendirian itu maka loni telah
mengirim undangan kepada Bu-tong-pay agar suka mengirimkan wakil menghadiri
pertempuran besar ini….”
“Ah, meskipun tak menerima undangan tetapi karena Bu-tong-pay mendapat undangan
dari Beng-gak supaya datang menghadiri pesta Ciau-hun-yan, sudah tentu ketua Bu-tongpay
pun akan datang ke lembah Coat-beng-ko juga!” kata Siau Yau-cu.
Tiba-tiba terdengar seorang berseru nyaring, “Pemimpin gerombolan Beng-gak telah
mengirim undangan pada seluruh partai-partai persilatan dan jago-jago di segenap
penjuru, supaya menghadiri pesta mau yang disebut Ciauhun-an (pesta panggil arwah).
Entahlah apa maksudnya undangan itu. Tetapi rasanya kaum persilatan tentu bakal
menghadapi bencana besar! Meskipun musuh sangat kuat, tetapi pihak kita pun cukup
kuat. Rasanya dengan tenaga persatuan yang berkumpul saat ini, kita tak perlu gentar
menghadapi musuh. Tetapi yang patut dikuatirkan ialah tipu muslihat musuh. Jika mereka
secara licik mencampurkan racun di dalam arak atau hidangan lain, sabarlah kita
hadapi….”
Sekalian orang berpaling ke arah suara itu. Ternyata yang bicara itu adalah Ngo Conghian
yang bergelar It-ciang-tin-sam-sian atau dengan sebuah pukulan menundukkan tiga
wajah. Jago tua yang sudah berumur tujuh puluhan itu yang tadi datang bersama-sama
Su Bo-tun.
Kemudian jago tua itu beralih memandang ke arah Siu-lam dan Hian-song, serunya,
“Dan masih ada sebuah hal lain yang tak kurang bahayanya. Ialah kita tak tahu
bagaimana keadaan musuh yang sebenarnya. Tetapi sebaliknya musuh dapat
menyelundupkan orangnya ke dalam rapat kita ini.”
Begitu ucapan itu berkumandang, gemparlah suasana pertemuan. Siau Yau-cu serentak
memberingas dan memandang tajam-tajam pada setiap tetamu….
Jilid 11
RUPANYA TAY HONG siansu juga terpengaruh oleh pernyataan jago tua itu. Ia agak
gemetar lalu membisiki seorang paderi kecil yang berada di sampingnya, “Undang
keempat houw-hwat kemari!”
Paderi kecil itu segera lari keluar. Setelah itu Tay Hong siansu berseru kepada Ngo
Cong-hian, “Jika Ngo tayhiap tahu akan hal itu, harap segera menunjukkan….”
Ngo Cong-hian menuding ke arah Siu-lam dan si dara Hian-song, serunya dengan
tandas, “Siapakah di antara saudara-saudara yang hadir di sini kenal pada mereka
berdua…?”
Mendengar itu serentak berbangkitlah Kat Thian-beng, “Ngo-heng, jangan memfitnah
orang sewenang-wenang! Aku kenal saudara ini!”

Su Bo-tun perlahan-lahan memandang pada Kat Thian-beng. Ia tertawa dingin tetapi
tak mengucap apa-apa.
Karena dirinya menjadi bulan-bulanan perhatian para hadirin, Kat Thian-beng berseru
pula, “Aku berjumpa dengan saudara Pui ini di gunung Kiu-kiong-san. Kala itu gurunya
sedang sakit keras dalam sebuah goha…”
Ternyata pengetahuannya terhadap diri Siu-lam hanya terbatas sampai di situ. Maka ia
tak dapat menceritakan lebih panjang lagi.
“Silahkan Kat-heng duduk kembali. Loni hendak bicara sedikit dengan kedua sicu itu!”
seru Tay Hong siansu.
Siu-lam menyadari bahwa walaupun Kat Thian-beng bertekad hendak membelanya
tetapi jago tua itu tak mempunyai kemampuan untuk melindungi. Maka berbangkitlah ia
dan berseru, “Apa yang lo-sancu hendak menanyakan, aku yang rendah bersedia
menjawab!”
Ketua Siau-lim-si itu rangkapkan kedua tangan dan berseru dingin, “Maafkan loni. Dari
perguruan manakah sicu itu?”
Siu-lam merenung sejenak, jawabnya, “Guruku orang she Ciu bernama Pwe!”
Singkat dan tegas Siu-lam memberi jawaban. Sehabis menjawab ia terus duduk lagi.
“Ciu Pwee…” Tay Hong mengulang nama itu. Tanya pula, “Apakah gurumu tak hadir
di sini?” Dengan pertanyaan itu jelas bahwa Tay Hong tak kenal dengan Ciu Pwe.
Tiba-tiba Thian Hong totiang berbangkit, serunya, “Ciu Pwe adalah salah seorang dari
empat jago pedang Kanglam. Aku pernah bertemu dengannya!”
“Apakah Ciu tayhiap tak datang?” tanya Tay Hong siansu.
Sekalipun sudah tahu kalau jago she Ciu itu tak nampak, namun Thian Hong totiang
masih memandang sekeliling ruangan kemudian baru menjawab, “Belum datang!”
“Silahkan to-heng duduk,” kata Tay Hong. Kemudian ketua Siau-lim-si itu berpaling ke
arah Siu-lam lagi, “Siau-sicu telah mampu melalui tiga buah pos penjagaan di belakang
gunung. Apakah ilmu pedang sicu itu juga sicu peroleh dari guru sicu?”
Diam-diam Siau-lam tak puas atas sikap ketua Siau-lim-si. Masakan di hadapan sekian
banyak tokoh persilatan, seolah-olah dirinya hendak diperiksa asal-usulnya.
Namun pemuda itu masih menekan perasaannya dan menyahut dingin-dingin, “Apa
yang kupelajari memang banyak ragamnya. Selain dari guruku, aku pernah bertemu
dengan seorang sakti. Pokoknya harap lo-siansu jangan kuatir. Aku bukan orang Benggak.
Sebaliknya dengan orang Beng-gak aku mempunyai dendam sakit hati yang besar.
Hadirku ke sini adalah hendak menggabungkan diri dengan sekalian orang gagah untuk
menumpas gerombolan itu.”
Tiba-tiba terdengar langkah kaki orang dan empat paderi tinggi besar masuk ke dalam
ruangan dengan membawa senjata.

Melihat itu Siu-lam sengaja keraskan suaranya, “Tentang dendam antara perguruanku
dengan gerombolan Beng-gak, rasanya Su lo-cianpwe dari Po-to-kang tentu mengetahui
sedikit-sedikit. Jika kurang percaya, silahkan lo-siansu menanyakan padanya. Hanya
inilah yang dapat kuterangkan. Namun bila lo-siansu masih tetap tak mempercayai,
akupun tak dapat berbuat apa-apa lagi!”
Tay Hong alihkan pandangan pada Su Bo-tun, tanyanya, “Jika tak keberatan, sukalah
Su-heng suka memberi sedikit penerangan.”
Acuh tak acuh sambil memandang ke atas tiang penglari, menyahutlah Su Bo-tun
dengan dingin, “Sudah puluhan tahun aku menutup diri dari pergaulan kaum persilatan.
Tiga bulan yang lalu, dia datang ke Po-to-kang dengan membawa Soh-in-kim-chi.
Sebelumnya ia datang, memang ada pula seorang anak perempuan yang muncul di Po-tokang.
Rupanya kedatangan pemuda itu telah dikuntit orang….”
Tampaknya Su Bo-tun bicara dengan susah payah dan suaranya pun makin lama makin
rendah. Pada saat mengucapkan kata-katanya yang terakhir itu, hampir seperti tak
kedengaran lagi.
Tay Hong siansu kenal akan perangai manusia aneh itu. Jika mendesaknya, mungkin
akan menimbulkan kemarahannya. Maka beralihlah kepada Siu-lam, ujarnya, “Bagaimana
loni berani mencurigai Siau-sicu? Hanya loni benar-benar mengagumi ilmu pedang siausicu.
Saat ini yang berkumpul di sini adalah jago-jago kelas satu dari berbagai partay
persilatan dan tokoh-tokoh persilatan yang ternama. Maksud loni, hendak meminta siausicu
mempertunjukkan kepandaian di depan orang gagah dari seluruh penjuru negeri agar
kami dapat tambah pengalaman!”
Siu-lam menimang. Dalam keadaan dan tempat seperti saat itu, sukarlah baginya
untuk menolak. Maka ia memutuskan untuk menerima permintaan paderi itu.
Serentak ia berbangkit, ujarnya, “Karena lo-siansu yang menyuruh sudah tentu wanpwe
tak berani menolak. Hanya saja wanpwe pun ingin mengajukan permintaan, entah
apakah lo-siansu suka meluluskan?”
“Asal beralasan tentu loni takkan menolak!”
Siu-lam tersenyum lalu menunjuk pada Ngo Cong-hian, “Wanpwe hendak mohon agar
Ngo lo-cianpwe itu suka menemani wanpwe bermain-main.”
Tay Hong terkesiap, sahutnya, “Dalam hal ini, harus menanyakan persetujuan Ngo
tayhiap!”
Kini sekalian orang memandang ke arah Ngo Cong-hian.
Jago tua itu tak dapat menghindar lagi, katanya, “Karena kau begitu memandang tinggi
padaku, terpaksa aku pun suka menemani!” Segera ia perlahan-lahan maju ke tengah
ruangan.
Tiba-tiba Siu-lam berseru nyaring, “Kita hanya sekedar bermain-main untuk saling
menguji kepandaian dan sifatnya hanya tukar pengalaman. Jangan saling melukai!”

Kemudian ia memberi pesan kepada Hian-song. Baik ia kalah atau menang, janganlah
dara itu ikut campur.
Hian-song tertawa, “Sudah tentu kau dapat menundukkannya, masakan perlu
kubantu!”
Siu-lam segera melangkah ke tengah. Keempat paderi tinggi besar tadi segera
berpencaran berdiri di empat sudut. Seolah-olah mereka hendak menjaga jangan sampai
Siu-lam melarikan diri.
It-ciang-tin-sam-siang Ngo Cong-hian sejenak memandang ke arah hadirin, serunya,
“Yang hadir saat ini terdiri dari tokoh-tokoh ternama dari tiga belas propinsi. Aku hendak
mohon bertanya pada saudara-saudara sekalian. Pada masa ini kecuali ketua dari Benggak,
siapa lagi yang menggunakan jarum Chit-jiau-soh itu?”
Suasana hening seketika. Tak seorang pun yang menyahut pertanyaan jago tua itu.
Ngo Cong-hian melanjutkan pula, “Tetapi di antara para hadirin di sini, ada seorang
yang menyimpan jarum maut. Walaupun tak berani memastikan bahwa Beng-gak telah
mengirim mata-mata ke sini, tetapi sukarlah untuk menghilangkan kecurigaanku. Jika
nanti aku sampai mati dalam tangannya, harap saudara-saudara suka menyelidiki hal
itu….”
Siu-lam anggap orang she Ngo itu berkeras hendak memaksa para hadirin supaya
percaya bahwa ia (Siu-lam) benar-benar mata-mata Beng-gak. Dalam keadaan seperti
saat itu, memang sukar untuk memberi penjelasan. Sebaiknya ia menundukkan dulu
beberapa orang setelah itu baru memberi penjelasan.
Mencabut pedangnya, pemuda itu tertawa nyaring, “Para lo-cianpwe sekalian, tentulah
ada yang pernah bertempur dengan orang Beng-gak. Sebaiknya suka memperhatikan
apakah dalam ilmu pukulan atau pedangku nanti, mirip dengan kepandaian orang Benggak
atau tidak….”
Kemudian ia menatap Ngo Cong-hian, serunya, “Karena wanpwe menyimpan sebatang
jarum kutung maka lo-cianpwe lalu menuduh aku sebagai mata-mata Beng-gak. Rasanya
lo-cianpwe tentu sudah kenal akan ilmu kepandaian orang Beng-gak. Dari gerak
permainan wanpwe nanti dapat menunjukkan ciri wanpwe. Silahkan lo-cianpwe segera
meloloskan senjata!”
Ngo Cong-hian tertawa dingin, “Biarlah kulayanimu dengan sepasang tanganku ini.”
Siu-lam meragu dan hendak menyimpan pedang seraya berkata, “Kalau begitu, silahkan
lo-cianpwe menyerang dulu!”
Gelar It-ciang-tin-sam-sian atau sebuah pukulan menggetarkan tiga propinsi dari Ngo
Cong-hian itu bukanlah suatu gelar kosong. Memang dalam hal ilmu pukulan ia
mempunyai kepandaian yang istimewa. Dia telah berhasil memiliki ilmu pukulan Thit-satciang
atau pukulan pasir besi serta pukulan Tiok-yap-chiu (pukulan daun bambu). Thiatsat-
ciang bersifat lunak. Selama berkelana di dunia persilatan, Ngo Cong-hian jarang
menemui lawan.

Teringat akan budi Siu-lam, buru-buru Kat Thian-beng berseru memberi peringatan
kepada pemuda itu, “Ilmu pukulan Ngo tayhiap telah menggetarkan dunia persilatan.
Harap Pui-heng tetap pakai senjata sajalah….”
Ngo Cong-hian berseru pula, “Selama hidup sampai tujuh puluh tahun, tak pernah aku
bertempur memakai senjata. Silahkan kau yang mulai menyerang!”
“Baik!” Siu-lam menjawab dengan mainkan pedangnya dalam jurus Thian-ma-henggong
atau kuda langit mencongklang di udara. Putaran pedang pemuda itu memancarkan
sinar berkilau-kilauan seperti petir menyambar.
Ngo Cong-hian terkejut. Mundur selangkah ia lepaskan sebuah tamparan. Sedang
tangan kiri balas menyerang.
Dalam beberapa bulan terakhir ini Siu-lam selalu berhadapan dengan musuh yang sakti.
Maka makin banyaklah pengalaman yang diperolehnya dan makin tinggilah
kewaspadaannya. Terhadap lawan, ia tak berani bersikap memandang rendah.
Walaupun tahu tamparan lawan tampaknya lemah tak bertenaga, namun tak berani ia
menangkis. Mengikuti gerak putaran pedangnya, ia menghindar ke samping baru balas
menyerang lagi. Pelajaran yang diterima dari kakek Hian-song yang sakti itu, meliputi
berbagai ilmu pedang dari partai persilatan ternama. Sebentar ia gunakan ilmu pedang
dari Hoa-san-pay, sebentar berganti dengan ilmu pedang dari partai Kun-lun-pay. Setiap
jurus yang dimainkan tentu merupakan ilmu permainan istimewa dari partai persilatan
yang bersangkutan.
Dalam waktu yang singkat saja, Ngo Cong-hian sudah terdesak mandi keringat.
Tiba-tiba Siu-lam bersuit nyaring dan tubuhnya melambung ke atas. Segumpal sinar
pedang segera mengurung kepala Ngo Cong-hian.
“Omitohud! Jurus Thian-ong-lo-jiok yang indah sekali!” tiba-tiba Tay Hong berseru.
Baru ia mengucap begitu, sekonyong-konyong Siu-lam menarik pulang pedang dan
mundur sampai lima langkah.
Merah padam muka jago tua Ngo Cong-hian. Tiba-tiba ia merangkap kedua tangan
memberi salam, serunya, “Ilmu pedangmu sungguh hebat. Aku tak mampu melawan!”
Habis berkata jago tua itu berputar diri lari keluar….
Tay Hong cepat-cepat lintangkan lengannya mencegah, “Menang kalah adalah jamak.
Mengapa Ngo tayhiap begitu bersungguh-sungguh?”
Lengan ketua Siau-lim-si itu bagai sebuah palang besi yang kokoh sekali sehingga Ngo
Cong-hian tak dapat berjalan lagi.
Su Bo-tun kerutkan kening memandang Siu-lam dengan tajam. Dari kerut wajahnya,
jelas kalau ia merasa terkejut. Namun karena dia tak suka bicara, dia tak mau
mengutarakan isi hatinya.
Tay Hong memandang Siu-lam, ujarnya, “Maukah siau-sicu mengeluarkan kutungan
jarum Chit-jiau-soh yang ada pada sicu itu?”

Siu-lam berpaling dan suruh Hian-song mengeluarkan kutungan jarum Chit-jiau-soh.
Dara itu segera menyerahkan jarum pada si anak muda.
“Apakah jarum kutung ini yang disebut Chit-jiau-soh, aku sendiri tak tahu. Silahkan
cianpwe sekalian memeriksanya…” kata Siu-lam sambil meletakkan jarum itu di telapak
tangannya.
“Benar! Benar!” serentak terdengarlah teriakan bergemuruh memenuhi ruangan.
Siu-lam segera hendak menyerahkan jarum itu kepada Hian-song. Tiba-tiba Tay Hong
siansu berseru, “Harap siau-sicu serahkan jarum itu kepada loni.”
Siu-lam meragu sejenak tetapi akhirnya ia menghampiri ke tempat ketua Siau-lim-si,
katanya, “Jarum ini pemberian seorang lo-cianpwe. Kami hendak menukarkannya dengan
sebuah benda lain. Silahkan locianpwe memeriksa, tetapi setelah selesai harap
kembalikan kepada wanpwe!”
Jika Siu-lam mengatakan bahwa jarum itu merupakan tanda undangan dari Beng-gak
untuk menghadiri rapat yang diselenggarakannya, tentulah urusan takkan berlarut-larut
panjang. Tetapi dengan memberikan keterangan seperti yang diucapkan kepada Tay
Hong itu, bahkan Saiauw Yau-cu pun tertarik perhatiannya.
Mata Tay Hong berkilat-kilat memandang jarum yang berada di telapak tangan Siu-lam,
serunya, “Jika siau-sicu kuatir loni takkan mengembalikan, lebih baik sicu simpan saja….”
Ketua Siau-lim-si itu berhenti sejenak, lalu berkata pula, “Tentang asal-usul jarum itu
harap siau-sicu menerangkan yang jelas agar menghilangkan kecurigaan para hadirin!”
Diam-diam Siu-lam mengeluh. Suasana saat itu gawat sekali. Sekali salah bicara pasti
akan menimbulkan bencana jarum. Disimpannya lalu tertawalah ia, “Tentang asal-usul
jarum ini, wanpwe benar-benar kurang jelas…” ia berpaling pada Hian-song dan minta
dara itu agar menceritakan apa yang diketahui tentang jarum itu.
Siu-lam seorang pemuda cerdas. Sejak tempo hari, memang ia sudah menduga kakek
Hian-song itu tentu mempunyai hubungan dengan pihak Beng-gak. Tetapi saat itu Siu-lam
sungkan untuk menanyakan pada kakek Hian-song. Sedang karena si dara masih kecil,
juga sukar untuk mengorek keterangan.
Tetapi kini di hadapan hadirin yang terdiri dari tokoh-tokoh persilatan di seluruh
penjuru, di antara tokoh-tokoh yang sudah tergolong cianpwe (angkatan tua) itu tentulah
ada seorang dua orang yang dapat membantu membuka tabir yang menyelimuti jarum
kutung itu. Atas dasar pemikiran itulah maka Siu-lam minta si dara bercerita.
Serta merta Hian-song menghampiri Siu-lam. “Suheng, kau menghendaki aku
mengatakan bagaimana?” serunya. Memang wajar sekali pertanyaan dara itu. Karena
sejak kecil ia hanya ikut pada sang kakek, tak tahulah ia asal-usul dirinya. Maka ia
bingung apa yang harus diceritakan.
Siu-lam memandang wajah si dara. Sesaat timbullah rasa kasihannya, pikirnya, “Begitu
ikhlas ia menaruh kepercayaan kepadaku, tetapi aku bersikap dingin kepadanya….”

Siu-lam menghela napas, katanya, “Terserahlah katakan apa saja yang kau ketahui.
Jika mereka tak percaya, kita pun tak dapat berbuat apa-apa!”
Si dara berkeliaran memandang kepada hadirin lalu berkata, “Jarum kutung ini kuterima
dari kakekku di kala beliau hendak menutup mata. Beliau suruh aku menukarkan jarum
itu dengan seseorang. Jarum itu supaya ditukar dengan sebatang pedang…” Di hadapan
sekian banyak orang, dara itu tak lancar bicaranya. Maka setelah mengucap beberapa
patah, ia pun berhenti lagi.
Sekalipun begitu, cukup sudah untuk membangkitkan perhatian para hadirin. Tiba-tiba
Tay Hong meminta pada Siu-lam, “Bolehkah siau-sicu meminjamkan jarum itu kepada
loni?”
Kali ini Siu-lam tak banyak bicara terus saja menyerahkan jarum. Tay Hong memeriksa
dengan seksama sekali. Dari bekas kutungannya, jelas mengunjukkan bahwa bekas itu
sudah lama sekali. Setelah menyerahkan kembali jarum itu kepada Siu-lam, berkatalah
ketua Siau-lim-si itu, “Menurut pemeriksaan loni, bekas kutungan jarum itu mungkin
terjadi pada beberapa belas tahun yang lalu!”
Tiba-tiba Siau Yau-cu berbangkit dan menghampiri ke muka Hian-song, “Siapakah
namamu?”
Sejenak dara itu memandang ke arah Siu-lam, kemudian menyahut, “Aku bernama Tan
Hian-song!”
“Tan Hian-song! Tan Hian-song!” Siau Yau-cu mengulang beberapa kali lalu bertanya
pula, “Dapatkah nona memberitahukan nama orang tua nona?”
Hian-song kerutkan dahi, ia menggeleng, “Aku tak pernah melihat wajah orang tuaku.
Bagaimana aku dapat mengetahui namanya?”
Jawaban itu membuat Siau Yau-cu terbeliak. Buru-buru ia menghaturkan maaf, “Maaf
atas kelancanganku bertanya. Tetapi siapakah kiranya yang memelihara nona selama
ini….”
Hian-song pejamkan mata. Dua butir air mata menetes turun. Sahutnya dengan
rawan, “Aku ikut pada kakekku….”
“Kalau begitu nona tentu tahu siapa nama kakek nona yang mulia?” tanya Siau Yau-cu.
Di luar dugaan dara itu tetap gelengkan kepala, “Selain memberi pelajaran menulis dan
ilmu silat, baik nama ayahbundaku maupun nama kakek sendiri, tak pernah beliau
mengatakan kepadaku!”
Pernyataan Hian-song itu mendapat sambutan helaan napas dari para hadirin. Siau
Yau-cu beralih memandang Siu-lam, serunya, “Karena saudara berbahasa suheng sumoay
dengan nona ini, tentulah saudara tahu tentang riwayatnya.”
Baru Siu-lam hendak menjawab, Hian-song sudah mendahului, “Kalau aku sendiri yang
tersangkut tidak tahu asal-usul diriku, bagaimana suheng dapat mengetahui? Apa
perlunya menanyakan padanya?”

Para hadirin mengindahkan sekali pada Siau Yau-cu yang dianggap sebagai cianpwe.
Maka tiada seorang pun yang lancang mengganggu pembicaraan jago tua itu.
Siau Yau-cu berbatuk-batuk berapa kali lalu bertanya lagi, “Walaupun tak tahu
namanya tetapi nona tentu masih ingat potongan wajah kakek nona itu!”
Agaknya Hian-song sudah mulai bosan mendengar pertanyaan Siau Yau-cu. Ia
berpaling kepada Siu-lam, serunya, “Suheng, mengapa orang tua ini ceriwis sekali
bertanya tak putus-putusnya? Perlukah kuberitahukan?”
Siu-lam tersenyum, “Siau lo-cianpwee adalah seorang angkatan tua dari Bu-tong-pay.
Jika sumoay tahu, tiada halangan memberitahukan kepadanya.”
Sebenarnya diam-diam Siu-lam juga ingin mengetahui hal itu sendiri. Hanya ia segan
untuk bertanya pada Hian-song.
Hian-song berdiam merenung. Rupanya ia hendak mengingat-ingat peristiwa yang
lampau. Pada lain saat ia berkata, “Ketika aku tahu apa saat itu kakek sudah tua sekali.
Dia menderita luka berat. Setiap hari dia tentu gunakan waktu sepenuhnya untuk
mengajar aku ilmu silat dan ilmu sastra. Tak pernah dia membicarakan lain-lain soal
kepadaku. Dan akupun tak tahu penyakit apa yang dideritanya itu. Tetapi kurasa
penyakitnya itu amat parah sekali.”
Siau Yau-cu telah menumpah seluruh perhatiannya untuk mendengarkan cerita si dara.
Ketika Hian-song tiba-tiba berhenti, segera ia bertanya, “Yang aku tanyakan ialah wajah
kakek nona dan berapakah usianya. Entah apakah nona suka memberitahukan hal itu?”
“Berapa usia tua kakekku itu? Ah, aku benar-benar tak tahu. Mungkin di antara
delapan puluhan tahun. Jenggotnya yang putih memanjang sampai ke dada. Tubuhnya
kurus dan lemah!”
Siau Yau-cu berdiam sampai beberapa saat. Kemudian ia menegas, “Apakah kata-kata
nona itu benar-benar sesungguhnya?”
“Kalau sudah mau memberitahukan kepadamu, masak aku bohong!” sahut Hian-song.
Mata Siau Yau-cu yang tinggal satu itu berkilat-kilat menyapu seluruh hadirin. Tiba-tiba
ia mundur dua langkah dan meraba tangkai pedangnya.
“Di antara kalian berdua, siapakah yang kepandaiannya paling tinggi?”
Melihat jago tua itu merubah tangkai pedang dengan wajah memberingas, sekalian
hadirin segera berbondong-bondong mundur dan kembali ke tempat duduk masingmasing.
Hanya Tay Hong siansu dan Su Bo-tun yang masih hidup tetap berdiri di tempat.
Siu-lam berpaling kepada Hian-song dan minta dara itu supaya mundur dulu, “Biarlah
aku yang lebih dulu akan menerima pelajaran dari lo-cianpwe ini. Jika tak kuat, barulah
sumoay yang maju!” katanya seraya mencabut pedang dan melangkah maju.
Jago tua dari Bu-tong-pay itupun lintangkan pedangnya di dada lalu berseru dingin,
“Pertandingan ini menyangkut mati hidup. Harap jangan bersenda gurau!”

Siu-lampun bersiap diri, “Silahkan lo-cianpwe memulai. Matipun wanpwe takkan
menyesal!”
“Aku mengembara di dunia persilatan tak begitu lama. Selama itu tak pernah kuturun
tangan lebih dulu. Silahkan saudara yang mulai!”
Siu-lampun tak mau banyak bicara lagi. Begitu getarkan pedang, segera ia menusuk ke
dada Siau Yau-cu.
Siau Yau-cu gerakkan pedang. Seketika berhamburan segumpal sinar pedang menabur
pedang Siu-lam. Tring… seketika Siu-lam rasakan tangannya kesemutan. Pedangnya
hampir terlepas. Buru-buru ia empos semangat dan mundur tiga langkah.
************http://ecersildejavu.wordpress.com/***************
Tenang sekali Siau Yau-cu mengangkat pedang lagi, kaki kiri maju selangkah, pedang
menusuk ke muka. Tampaknya biasa saja gerak serangan itu. Tetapi yang hebat adalah
gerakan kaki kiri yang maju mengikuti pedang itu. Benar-benar sukar dijaga.
Siu-lam pun sudah siap. Dengan kerahkan seluruh tenaga ia maju menyerang. Pedang
diputar laksana kitiran, sekaligus diserangkan pada tiga buah jalan darah Hian-im, Ciangtay
dan Ki-bun.
Siau Yau-cu tersenyum serunya, “Jurus Hwe-chiu-gin-hoa yang bagus! Pujian itu
ditutup dengan menusuk ke tengah lingkaran sinar pedang Siu-lam. Dan begitu ujung
pedang tergetar terpecah berhamburan menusuk siku lengan Siu-lam sebelah kanan…”
Walaupun Siu-lam bergerak lebih dulu, tetapi ternyata Siau Yau-cu lebih cepat
serangannya. Untuk kedua kalinya Siu-lam dipaksa harus loncat mundur lagi!
Siau Yau-cu tak mau mengejar. Dia tegak di tempat sambil lintangkan pedangnya.
Serunya tersenyum, “Jurus Hwe-chiu-gin-hoa yang kau mainkan tadi, meskipun
gerakannya tak salah, tapi tenagamu masih kurang cukup. Gerak serangannya pun
kurang cepat. Pembukaan dan penutupnya tidak serasi. Sayang ilmu pedang yang begitu
sakti, menjadi berkurang perbawanya.
Diam-diam Siu-lam mengakui tajamnya pandangan jago tua itu. Memang dari kakek
Hian-song, dia tak pernah menerima ilmu pedang yang lengkap. Maka tak dapatlah ia
melengkapi setiap pembukaan dengan penutupannya.
Siu-lam tenangkan diri sejenak. Setelah itu dia mengerang lagi. Pedang ditusukkan ke
kiri lalu dibabatkan ke kanan. Sekaligus ia lancarkan empat buah serangan. Kali ini bukan
melainkan cepat, pun juga dilengkapi dengan penutupnya.
Dan memang kali ini, Siau Yau-cu tak semudah memecahkan seperti tadi. Tampak jago
tua itu tegak mematung. Pedangnya diputar-putar menjadi sebuah lingkaran sinar.
Tring, tring, tring… keempat serangan Siu-lam terpental oleh sinar pedang Siau Yau-cu.
Karena menderita kegagalan, Siu-lam mundur lima langkah. Pedang dijulurkan ke muka
dalam sikap menunggu lawan.

Tetapi ternyata Siau Yau-cu tak mau menyerang. Dia tetap berdiri di tempatnya sambil
lintangkan pedang. Ia mengangguk tertawa.
“Empat jurus serangan pedang tadi, adalah merupakan empat buah serangan berantai
dari ilmu pedang Bu-tong-pay yang disebut Leng-hong-cap-pek-kiam (ilmu pedang
delapan belas angin puyuh). Di dunia persilatan ilmu pedang itu dijuluki sebagai Tui-huntoh-
beng-kiam (Pedang mengejar roh perampas jiwa). Jika tenaga dan latihanmu sudah
dapat mencapai keseimbangan, aku tentu sukar menghadapinya!”
Kata-kata jago tua itu mengandung nada pujian. Sekalian hadirin yang terdiri dari
tokoh-tokoh persilatan ternama, pun kagum. Mereka tak nyana bahwa seorang pemuda
yang berusia kurang lebih dua puluhan tahun, ternyata dapat memiliki ilmu pedang sakti
dari partay Bu-tong-pay yang termasyhur.
Siu-lam tenangkan diri. Tiba-tiba ia maju menyerang lagi. Kali ini dia menusuk ke dada
orang. Tampaknya gerakannya amat sederhana. Tetapi bagi Siau Yau-cu yang dipandang
sebagai seorang Kiam-seng (nabi pedang), tidak demikian. Tiba-tiba jago tua itu mundur
dua langkah lalu putar pedangnya dengan gencar sekali. Seketika berhamburanlah
bergumpal-gumpal sinar putih.
Melihat gerakan pedang yang sedemikian dahsyatnya, terpaksa Siu-lam tak berani
menangkis. Buru-buru ia menarik pedang dan mundur ke belakang.
Setelah dapat mengundurkan si anak muda, Siau Yau-cu pun hentikan putarannya
pedang. Ia mengangguk dan berseru memuji, “Jurus It-cut-keng-thian yang bagus.
Itulah ilmu pedang istimewa dari partay Hoa-san-pay. Entah dari manakah saudara dapat
mempelajarinya?”
Pertanyaan itu menyadarkan Siu-lam bahwa kini dirinya benar-benar telah mempunyai
kepandaian yang sakti. Di hadapannya sekian banyak tokoh-tokoh ternama, ia mendapat
pujian dari seorang tokoh macam Siau Yau-cu, mau tak mau ia gembira juga.
“Ah, lo-cianpwe keliwat memuji wanpwe. Wanpwe benar-benar tak berani menerima
pujian begitu tinggi….”
Tiba-tiba Siau Yau-cu berkata, “Sekarang, aku hendak balas menyerangmu!” Ia
menutup kata-katanya dengan melangkah maju. Pedang dihamburkan ke arah kepala Siulam.
Siu-lam terkejut sekali. Dilihatnya pedang lawan telah berubah menjadi ribuan batang
pedang yang menyerang dari empat jurusan. Ia benar-benar bingung untuk menangkis.
Dalam kebingungan tiba-tiba ia teringat akan jurus Bi-kun-bik-jit (awan tebal menutup
matahari) ajaran dari si kakek sakti. Serentak ia mainkan pedangnya untuk melindungi
kepalanya. Kemudian ia geserkan kaki kirinya, setelah langkah ke samping sambil
memutar pedangnya. Tring… tring… terdengar dering ujung pedang beradu nyaring dan
tahu-tahu berhasillah ia keluar dari lingkaran pedang lawan….
Siau Yau-cu mendesis lirih. Pedang digetarkan dan iapun menyerang lagi. Kali ini
serangannya lebih hebat. Sedikitpun ia tak mau memberi ampun. Selain gencarnya
sederas hujan mencurah, pun batang pedang telah disaluri lwekang. Wut, wut, wut…

anginnya menderu-deru berhamburan di udara. Dalam sekejap saja kembali Siu-lam
terbungkus oleh sinar pedang!
Melihat Siu-lam tak berdaya, Hian-song tak karuan. Dengan melengking, ia menyerbu!
Melihat itu Tay Hong siansu goyangkan tangan kirinya dan keempat paderi tinggi besar
tadipun segera berjajar-jajar menghadang si dara.
Hian-song murka. Tanpa bicara apa-apa, ia gerakkan kedua tangannya. Yang kanan
menghantam, yang kiri menutuk. Pukulan dan tutukan itu mengarah bagian yang
berbahaya. Ganasnya bukan main.
Kedua paderi yang berjajar di sebelah muka terpaksa mundur lalu menangkis. Mereka
berempat adalah paderi-paderi Siau-lim-si yang berkedudukan tinggi. Tak mau mereka
berkelahi dengan seorang anak perempuan. Maka merekapun tak mau balas menyerang.
Hian-song berdiri tegak menunggu serangan. Tetapi karena lawan tiada bergerak,
iapun menyerang lagi.
Ruang perjamuan yang tak seberapa besarnya itu tak menyempatkan orang
menggunakan ilmu ginkang. Maka jika hendak menolong Siu-lam, si dara harus
menerobos hadangan keempat paderi. Dalam kebingungan, Hian-song lancarkan
serangan maut. Betapapun halnya ia harus dapat membantu Siu-lam. Kekalapan dara itu
membuat keempat paderi kelabakan untuk menjaga diri. Untung mereka mempunyai
kepandaian tinggi dan tenaga sakti. Hantaman mereka berempat, menderu-deru laksana
badai prahara.
Setelah beberapa kali serangan tak berhasil Hian-songpun merubah siasatnya. Tak lagi
ia menyerang maju melainkan cukup memperhebat pukulannya. Keempat paderi makin
sibuk dan terpaksa mereka membalas menyerang untuk melindungi diri.
Tay Hong siansu terkejut menyaksikan kepandaian Hian-song. Hampir ia tak percaya
bahwa seorang anak perempuan yang begitu muda belia ternyata mempunyai ilmu
kepandaian yang begitu sakti. Diam-diam ketua Siau-lim-si itu gelisah. Jika keempat houhwat
itu tak mampu mengalahkan seorang dara, Siau-lim-si pasti akan menjadi bulanbulan
ejekan orang persilatan. Sedangkan sebagai ketua Siau-lim-si, ia tak dapat
merendahkan diri untuk maju melawan seorang dara tak terkenal.
Kegelisahan Tay Hong siansu makin memuncak ketika dilihatnya keempat paderi
terpontang-panting tak mampu balas menyerang lagi.
Sekonyong-konyong terdengar teriakan nyaring dan seketika taburan sinar pedang Siau
Yau-cu yang memenuhi ruang, hilang lenyap….
Sekalian hadirin memandang ke tengah gelanggang. Tampak Siu-lam berdiri di
samping masih mencekal pedang. Tetapi wajahnya pucat lesi, kepalanya basah kuyub
mandi keringat….
Sementara Siauw Yau-cu loncat ke sudut ruang. Wajahnya tenang sekali seperti tak
mengalami kejadian suatu apa.

Sekalian hadirin tidak tahu bagaimana kesudahan pertempuran tadi. Bahkan Hian-song
yang sedang bertempur dengan keempat paderi tadipun serentak berhenti.
Tiba-tiba tubuh Siu-lam terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang. Dan
‘huak’!… tahu-tahu ia muntah darah.
“Pui suheng!” Hian-song menjerit kaget seraya lari menghampiri. Cepat-cepat ia
menyanggapi tubuh Siu-lam agar jangan sampai jatuh, “Kau terluka?” tanyanya penuh
cemas.
Siu-lam tersenyum, “Tak apalah. Aku hanya terlalu banyak menggunakan tenaga.
Sebentar tentu akan baik sendiri!”
Mendengar nada suara si anak muda masih terang, legalah hati Hian-song. Tampak
Siau Yau-cu menghampiri. Wajahnya amat serius.
Hening seketika. Semua mata dicurahkan pada gerak-gerik jago tua itu. Mereka
berdebar-debar menantikan apa yang akan terjadi.
Hian-song cepat merebut pedang Siu-lam. Dia siap melindungi anak muda itu apabila
Siau Yau-cu berani menyerang lagi.
Tiba-tiba jarak empat, lima langkah, Siau Yau-cu berhenti. Matanya yang tinggal satu,
berkilat-kilat memandang si dara, “Silahkan nona menyingkir ke samping. Aku hendak
bicara kepadanya!”
“Bicara kepadaku, juga sama saja!” sahut si dara.
Tiba-tiba Siu-lam melangkah dua tindak ke samping lalu memberi hormat kepada jago
tua itu, “Apa yang lo-cianpwe hendak memberi petunjuk, wanpwee bersedia mendengar!”
“Siapa yang mengajarmu jurus ilmu pedang untuk menangkis seranganku tadi?” tanya
Siau Yau-cu.
Siu-lam berdiam sejenak, sahutnya, “Ketika lo-cianpwee tadi menyerang, aku hampir
tidak dapat bertahan lagi. Tiba-tiba aku teringat sebuah jurus ilmu pedang….”
“Benar! Memang dalam permainan pedangmu banyak yang mencurigakan.
Pertempuran pada belasan tahun berselang di mana ketua gerombolan Beng-gak mainkan
ilmu pedangnya yang sakti, saat ini muncul kembali dalam ruang sini….”
Seketika gemparlah seluruh hadirin!
“Apa?” Siu-lam berteriak kaget, “Ilmu pedang yang kumainkan tadi serupa dengan ilmu
pedang dari gerombolan Beng-gak?”
Siau Yau-cu berseru nyaring, “Apakah ketua Beng-gak sekarang ini sama dengan
perempuan siluman yang menjadi pemilik jarum Chit-jiau-soh dahulu itu, sebelum melihat
wajahnya aku tak berani menetapkan dulu….”
Berpuluh-puluh pasang mata menumpah ruah ke arah Siau Yau-cu dan Siu-lam.
Pernyataan Siau Yau-cu itu benar-benar menggetarkan semangat para hadirin. Benarkah

ketua Beng-gak yang menyelenggarakan pesta maut di lembah Coat-beng-koh itu sama
orangnya dengan iblis perempuan pemilik jarum Chit-jiau-soh yang pernah menggegerkan
dunia persilatan beberapa puluh tahun yang lalu?
Sejenak Siau Yau-cu sapukan pandangannya kepada hadirin, kemudian baru berkata
lagi dengan pelahan, “Dari permainan pedang saudara kecil ini, aku sudah mempunyai
kesan yang mencurigakan. Maka kuserangnya dia dengan gencar. Kepandaiannya
memang hebat tetapi dalam hal tenaga dalam dia masih kalah jauh sekali dengan aku.
Tetapi ketika dalam keadaan terdesak, dia tiba-tiba mengeluarkan kepandaiannya yang
aneh.”
“Mengapa lo-cianpwe menganggap permainanku itu aneh?” tanya Siu-lam penuh
keheranan.
“Mataku yang kiri ini terluka dengan jurus itu! Maka terhadap jurus permainan itu
kuingat jelas sekali. Berpuluh tahun yang lalu, aku mengasingkan diri di tengah gunung.
Kucurahkan seluruh waktuku untuk menciptakan ilmu pedang guna menghancurkan jurus
permainan yang telah menghilangkan sebelah mataku itu. Kuyakin aku telah berhasil
menciptakan ilmu pedang yang dapat mengalahkan jurus itu. Tetapi siapa tahu ketika kau
gunakan jurus itu, ternyata aku masih tak mampu menghadapi!”
Diam-diam Siu-lam teringat akan kata-kata kakek Hian-song tempo hari, bahwa di
dunia persilatan tak ada tokoh yang mampu menghadapi jurus ilmu pedang yang
diajarkannya itu. Dan di dunia pun tiada orang kedua yang memiliki ilmu pedang itu!
Teringat hal itu diam-diam menyesal karena ia hanya dapat menguasai separoh bagian
saja dari ilmu pedang sakti itu.
“Belasan tahun aku bersembunyi dalam pegunungan. Kucurahkan hidupku untuk
menciptakan ilmu penghancur ilmu pedang itu. Rasanya di dunia memang tiada lagi orang
kedua yang mampu menggunakan ilmu pedang ajaib itu kecuali si iblis perempuan. Maka
jika saudara tak mau mengatakan siapa yang mengajarkan padamu, sukar bagiku untuk
tak menaruh kecurigaan pada dirimu!”
Wajah Siu-lam mengerut serius. Dia balas bertanya, “Apakah lo-cianpwe memastikan
bahwa yang melukai lo-cianpwe itu seorang wanita?”
Pernyataan Siu-lam itu membuat sekalian hadirin terkesiap. Mereka tak mengerti
mengapa si anak muda bertanya begitu.
“Aku takkan salah melihatnya!” sahut Siau Yau-cu tegas.
Siu-lam berdiam diri. Setelah memandang ke sekeliling hadirin, kemudian ia
memandang kepada Hian-song, “Sumoay, tentang luka yang diderita Tan lo-cianpwe,
apakah beliau tak pernah mengatakan padamu?”
Si dara gelengkan kepala, “Tidak, sejak aku besar, memang kakek menderita penyakit
itu. Dia hanya kadang-kadang keluar mencari daun obat. Selebihnya dia tak pernah
keluar dari kamarnya!”
Siu-lam menghela napas, katanya pula, “Cobalah sumoay ingat-ingat lagi. Apakah
selama belasan tahun itu tiada orang yang pernah datang berkunjung pada beliau?”

Hian-song merenung. Beberapa lama kemudian baru ia berkata, “Rasanya pernah ada
seorang tetapi waktu itu aku masih kecil. Ketika kakek bercakap-cakap dengan dia di
kamar, samar-samar aku masih ingat. Orang itu seorang buta. Sejauh ingatanku, orang
buta itu adalah satu-satunya tetamu yang pernah berkunjung pada kakek. Tetapi pun
hanya satu kali itu saja. Selanjutnya tak pernah datang lagi.”
Siu-lam sejenak berpaling kepada Siau Yau-cu itu kemudian menghadap si dara lagi,
tanyanya, “Cobalah sumoay ingat-ingat lagi. Apakah yang mereka bicarakan dalam kamar
itu?”
Kali ini Hian-song gelengkan kepala, “Waktu itu aku baru berumur sepuluhan tahun.
Jika tetamu itu bukan seorang buta, akupun tentu tak ingat lagi. Dia tinggal setengah hari
di kamar kakek. Akupun tak memasuki kamarnya. Biasanya begitu bangun pagi, kakek
tentu mengharuskan aku berlatih silat. Hanya hari itu karena menerima si buta, ia
menginginkan aku bermain keluar. Setelah si buta pergi, barulah kakek memanggilku
pulang.”
“Selain tetamu buta itu, apakah tiada lagi yang pernah berkunjung?” tanya Siu-lam.
“Tidak pernah! Ya hanya tetamu buta itu!” sahut Hian-song.
Tiba-tiba Siu-lam mengajukan pertanyaan, “Sumoay, ketika aku singgah di kedaimu,
kulihat kedua tetamu itu tertutuk jalan darahnya. Siapakah mereka?”
Rupanya Siu-lam lupa bahwa saat itu ia sedang berada dalam sebuah perjamuan yang
dihadiri puluhan tokoh-tokoh ternama dari segenap penjuru. Ia tak henti-hentinya
bertanya agar si dara dapat mengingat peristiwa yang lampau. Pernyataan Siau Yau-cu
bahwa ilmu pedang yang dimainkan dari ajaran si kakek itu, ternyata sama dengan ilmu
pedang wanita pemilik jarum Chit-jiau-soh. Keinginan untuk menyelidik hal itu besar
sekali.
Hian-song tersenyum, “Ih, kau masih ingat peristiwa itu?”
“Ya, siapakah yang menutuk mereka?” tanya Siu-lam.
“Siapa lagi kalau bukan aku!” jawab Hian-song, “Tetapi hal itu tiada hubungannya
dengan kakek. Kedua orang itu cengar-cengir hendak berlaku kurang ajar kepadaku lalu
kututuk jalan darahnya. Jadi tak ada sangkut pautnya dengan kakek. Sebelum kakek
bangun, mereka sudah kulepas lagi…” tiba-tiba dara itu agak tersipu-sipu, ujarnya, “Eh,
waktu itu akupun membohongimu, karena memberitahukan padamu kalau kakek sedang
ke pasar. Sebenarnya di waktu itu kakek berada di rumah. Lukanya sedang kambuh…”
Tiba-tiba seorang paderi tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan. Dia memberi
hormat di hadapan Tay Hong siansu. Setelah mengucap beberapa patah kata dia lalu
keluar lagi. Hal itu agak membuyarkan perhatian para hadirin. Kini perhatian mereka
ditujukan kepada Tay Hong. Mereka duga tentu terjadi sesuatu yang penting.
Ketua Siau-lim-si itu menyapukan pandangannya pada para hadirin lalu bertanya, “Di
antara saudara-saudara, siapakah yang kenal akan Tian-ki-ci Gan Leng-po?”

Walaupun Gan Leng-po jarang keluar di masyarakat ramai dan karena sikapnya yang
dingin, orang segan berhubungan dengannya. Namun setiap orang persilatan tahu akan
tabib sakti.
Tiba-tiba Thian Hong totiang menyelutuk, “Aku pernah berjumpa dengannya. Tetapi
dia sudah berubaha pikirannya, agak tak waras!”
“Omitohud!” seru Tay Hong siansu, “Apa dasarnya ucapan to-heng itu?”
“Rombongan kami telah menyaksikan sendiri. Tentulah tak keliru!”
“Benar, akupun melihat sendiri!” tiba-tiba Golok Sakti Lo Kun berseru.
Diam-diam Siu-lam gelisah. Jika tabib gila itu masih kenal padanya dan di hadapan
hadirin meminta kembali peta Telaga Darah, tentulah akan timbul kerunyaman….”
Tay Hog berpaling kepada kedua muridnya yang berada di samping, “Minta pada ruang
Tat-mo-wan agar mengirim dua orang untuk membawa tetamu itu masuk!”
Kedua paderi kecil itu melakukan perintah.
Siau Yau-cu bertanya kepada Thian Hong, “Apakah Ti-ki-cu Gan Leng-po itu yang
disohorkan dunia persilatan sebagai tabib sakti murid dari Lo Hian?”
Belum Thian Hong menyahut Golok Sakti Lo Kun sudah mendahului mengiakan.
“Karena saudara kenal padanya, apakah desas-desus yang mengatakan dia itu murid Lo
Hian, memang benar?”
Lo Kun mengurut-urut jenggotnya. Pada lain saat ia berseru, “Hal itu memang sukar
dikata. Menurut kabar yang tersiar, memang Gan Leng-po pernah berjumpa dengan Lo
Hian. Tapi Lo Hian itu macam naga sakti yang penuh diliputi rahasia. Banyak cerita di
dunia persilatan mengenai dirinya, tetapi selama itu tiada yang dapat memberi bukti.
Hingga tokoh Lo Hian itu seolah-olah hanya hidup dalam cerita saja. Mungkin Gan Lengpo
benar-benar telah berjumpa padanya atau mungkin juga dia hanya mengaku-aku
sebagai murid Lo Hian agar namanya terkenal di dunia persilatan sebagai tabib. Dia tak
menduga bahwa dengan itu bakal dibanjiri oleh orang-orang yang hendak minta
pertolongan. Mungkin karena kewalahan akhirnya ia lari menyembunyikan diri di gunung
Kiu-kiong-san.”
Karena Lo Kun dipandang sebagai orang jago tua yang banyak pengalaman, maka tiada
seorangpun yang mengusik pembicaraannya.
Satu-satunya yang berani nyeletuk adalah Siau Yau-cu, tanyanya, “Lo-heng tinggal
lama di Kang-lam. Entah apakah pernah dengar tentang peta Telaga Darah?”
Lo Kun mengurut-urut jenggot, tertawa, “Para hadirin di sini, kebanyakan tentu sudah
mendengar cerita peta Telaga Darah itu. Tetapi benda itupun serupa halnya dengan diri
Lo Hian. Ceritanya memang ada tapi yang pernah melihat sendiri, mungkin tidak ada…”
tiba-tiba ia berhenti karena merasa kelepasan omong. Buru-buru ia berseru, “Tetapi entah
siapakah di antara saudara-saudara yang pernah melihat peta Telaga Darah?”

Jantung Siu-lam berdebar keras. Buru-buru kini berpaling karena takut tak dapat
menguasai perasaannya.
Memang pertanyaan Lo Kun itu membuat suasana hening lelap. Tiada seorang pun
yang membuka mulut. Setelah beberapa lama tiada yang menyahut, Lo Kun hendak
bicara lagi. Tetapi tiba-tiba Su Bo-tun batuk-batuk dan berbangkit perlahan-lahan. Kini
sekalian hadirin memandang kepadanya.
Tetapi ternyata Su Bo-tun hanya bergeliat pinggang lalu duduk kembali. Memang kaum
persilatan telah mengetahui bagaimana watak orang she Su itu. Tak seorangpun yang
suka cari perkara padanya. Maka tingkah lakunya yang aneh itupun dibiarkan saja.
Siau Yau-cu kerukan kening lalu berpaling kepada Tay Hong siansu, “Aku hendak
mohon tanya kepada taysu?”
Tay Hong mempersilahkan, “Silahkan Siau lo-cianpwee memberi petunjuk!”
“Ah, janganlah taysu menyebut dengan panggilan begitu. Aku adalah kawan suheng
taysu, maka kita ini sama tingkatan!”
“Baiklah. Silahkan Siau-heng bertanya,” kata Tay Hong siansu.
Kata Siau Yau-cu, “Eng-hiong-tay-hwe kali ini, bertujuan untuk menghadapi gerombolan
Beng-gak. Untuk menyelamatkan dunia persilatan dari bahaya keganasan. Yang
memenuhi datang dalam pertemuan ini harus mempunyai tujuan dan tekad yang sama.
Sehidup semati dan senasib seperjuangan. Semua harus berlaku jujur. Di antara saudara
hadirin, jika ada yang tahu tentang peta itu, sebaiknya suka mengatakanlah.
Mata Su Bo-tun menumpah pada Siau Yau-cu, katanya dengan nada dingin, “Apakah
dampratan Siau-heng itu ditujukan pada aku?”
“Harap jangan salah paham. Maksudku tak lain hanya mengharap agar saudarasaudara
sekalian suka mencurahkan isi hatinya secara terbuka. Dengan begitu kita
mempunyai kemungkinan untuk mencari jejak ketua Beng-gak. Pengetahuan itu akan
menjadi pegangan kita di dalam menghadapinya nanti!”
“Seumur hidup aku tak pernah mengatakan sesuatu yang tak mempunyai!” dengus Su
Bo-tun. Karena menghadapi seorang tokoh seperti Siau Yau-cu, Su Bo-tun pun agak
sungkan.
Siau Yau-cu menghela napas. Pada saat ia hendak berkata, tiba-tiba muncullah dua
orang paderi dengan membawa orang tua. Orang tua bertubuh kurus, mencekal sebatang
tongkat bambu.
Sekalian hadirin diam saja mengawasi orang tua kurus itu. Hanya Siu-lam yang diamdiam
terkejut. Karena ia tahu orang itu bukan lain Gan Leng-po sendiri….
Begitu melangkah masuk, Gan Leng-po sapukan pandangannya sekeliling. Ketika
matanya tertumbuk pada Siu-lam, tiba-tiba ia berhenti. Wajahnya berubah tegang.

Siu-lam tergetar hatinya. Dia tahu kalau tabib itu sudah mengetahui dirinya. Jika
sampai dia (Gan Leng-po) mengatakan dirinya mempunyai peta Telaga Darah, tentulah
akan menimbulkan kegemparan besar.
Rupanya hadirinpun mulai memperhatikan gerak-gerik Gan Leng-po. Karena tabib itu
terus-menerus memandang Siu-lam, sekalian orangpun menjadi tegang.
Siu-lam segera berpaling kepada Hian-song dan memanggilnya.
“Baiklah, mari kita tinggalkan tempat ini suheng!” seru si dara seraya menghampiri.
Dara itu memang cerdik tetapi sayang dia tak punya pengalaman. Apa yang dikandung
dalam hati terus saja ditumpahkan secara kontan.
Sebaliknya Siu-lam kelabakan. Kata-kata terus terang dari si dara seolah-olah
memberitahu kepada orang bahwa keduanya hendak melarikan diri. Bukan main tegang
Siu-lam sehingga tubuhnya mengucurkan keringat dingin. Namun ia berusaha keras untuk
tetap bersikap setenang mungkin.
“Apakah kau takut?” tanyanya kepada Hian-song dengan disertai senyum tertawa.
Pertanyaan yang tepat sekali. Selain untuk menghindari kecurigaan orang, sekaligus
dapat membakar semangat si dara yang terkenal keras kepala itu.
Menyahutlah Hian-song dengan tegas, “Mengapa takut? Sekalipun mereka maju
semua, akupun tak gentar!”
Secara demonstratif (menyolok) Siu-lam menepuk-nepuk bahu dara itu. Pemuda itu
hendak melonggarkan ketegangannya. Tetapi lupa bahwa Hian-song seorang gadis.
Tindakannya tak sesuai dengan tata santun hubungan antara pria dan wanita pada masa
itu. Apalagi dilakukan di depan sekian banyak orang. Sekalian hadirin sama menyeringai
hina.
Rupanya Siu-lam menyadari tindakannya yang melampaui batas kesopanan itu. Buruburu
ia menarik pulang tangannya. Dilihatnya si dara pun kemaluan…. Tetapi bibirnya
mengulum senyum bahagia. Tiba-tiba ia berkisar menatap wajah Siu-lam. Keduanya
saling beradu pandang….
Dalam anggapan Hian-song, Siu-lam satu-satunya orang yang menjadi tiang
sandarannya di dunia. Tindakan Siu-lam tadi dianggapnya suatu pernyataan yang
menyambut harapan si dara.
“Di hadapan sekian banyak orang dia begitu mesra kepadaku tentulah dia sudah
menerima diriku sebagai kawan hidup. Antara pria dan wanita yang paling mesra dan
akrab hubungannya adalah di antara suami istri. Ah, memang aku goblok sekali. Dia
sudah mencintai diriku mengapa sedikitpun aku tak menyadari?” demikian pikiran yang
menghinggapi benak Hian-song saat itu.
“Engkoh Lam, kalau kita berdua sampai kalah menghadapi sekian banyak orang, tak
apalah. Bukan kita yang harus malu, tetapi merekalah!” katanya. Ia berusaha untuk
membesarkan hati Siu-lam.
Tiba-tiba wajah Gan Leng-po menggersang menghela napas lalu berteriak sekuatkuatnya,
“Hiat-te-tho, Hiat-te-tho…” tiba-tiba ia rubuh terkapar di tanah.

Tay Hong kerutkan alis berseru pelahan, “Omitohud…” ia melesat ke tempat Gan Lengpo
menyambar tubuh tabib itu.
Sekalian hadirin terkejut. Sedang Siau Yau-cu pun segera menghampiri untuk memberi
pertolongan. Setelah diurut-urut beberapa saat, jago tua itu menghela napas, “Mengapa
detak nadinya lemah sekali.”
“Ah, tak kukira kalau tabib yang termasyhur sakti ternyata tidak mampu mengobati
dirinya sendiri?” dengus Su Bo-tun.
Kata-kata itu benar-benar tidak simpatik. Sekalian hadirin tak puas mendengarnya.
Siau Yau-cu berpaling kepadanya, “Apakah Su-heng kenal padanya?”
Jawab Su Bo-tun dingin, “Dia mempunyai nama besar sebagai tabib sakti, tetapi
diragukan kepandaiannya tak sepadan dengan namanya….”
“Bagaimana Su-heng tahu?” tukas Siau Yau-cu dengan wajah agak mengerut.
“Jika dia memang pandai ilmu obat-obatan tentu tak perlu ngerepotkan Siau-heng!”
Siau Yau-cu memandang tajam kepada Su Bo-tun, matanya membertik kemarahan.
Sekalian hadirin gelisah. Kedua orang itu merupakan tokoh-tokoh yang sakti tetapi
berwatak aneh. Jika mereka sampai bentrok, dikuatirkan pertemuan besar itu akan
mengalami kegagalan besar!
“Menurut pendapat Siau-heng, bagaimanakah keadaan saudara Gan? Apakah dia ada
harapan tertolong?” buru-buru Tay Hong menyela.
“Dia lama kehilangan kesadaran pikirannya. Dan karena kurang beristirahat, badannya
lemah sekali. Tetapi bagi seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, takkan menderita begitu
apabila tak mengalami penderitaan batin yang hebat….”
Tiba-tiba Lo Kun menyelutuk, “Pada beberapa bulan terakhir ini, di wilayah Kanglam
telah tersiar berita tentang munculnya peta Telaga Darah. Dan menurut kabar, Ti-ki-cu
Gan Leng-po itu merupakan ahli waris dari Lo Hian yang diberi peta itu. Pemimpin
golongan hitam Siau-bin-it-tiau Wan Kiu-gui pernah membawa anak buahnya ke Kiu-kiongsan.
Aku dan Thian Hong totiang pun menuju ke gunung itu juga. Di tengah jalan telah
berpapasan dengan dia (Gan Leng-po). Keadaannya sudah tak karuan. Rambut terurai
kusut, pakaian compang-camping dan tingkah lakunya limbung….”
Lo Kun berhenti bicara. Apa yang diketahui tentang diri si tabib hanya terbatas sampai
di situ. Ia berpaling kepada Siu-lam dan berseru, “Saudara tentu tahu lebih banyak.
Maukah kau mengatakannya?”
Dalam keadaan seperti itu, Siu-lam tak dapat menyembunyikan diri lagi. Karena hal itu
pasti akan mempertebal kecurigaan orang kepada dirinya. Segera ia menuturkan
pengalamannya selama beberapa bulan ini. Tetapi bagian mengenai peta Telaga Darah
tak diceritakan. Diaturnya ceritanya itu dengan hati-hati sehingga tak menimbulkan
kecurigaan orang.

Sambil dengarkan cerita, Siau Yau-cu menyalurkan tenaga dalam ke beberapa jalan
darah di tubuh Gan Leng-po. Berkat tenaga dalam sakti dari jago tua itu, tak berapa lama
dapatlah Gan Leng-po tersadar. Sejenak ia memandang kepada Siau Yau-cu, lalu duduk
bersila menyalurkan tenaganya.
Kembali ruangan sunyi senyap. Tetapi hati hadirin tetap tak tenteram, penuh diliputi
ketegangan menunggu Gan Leng-po sadar. Diam-diam Siu-lam berdoa agar kesadaran
pikiran si tabib jangan sampai sembuh. Karena sekali tabib itu dapat mengingat peristiwa
yang lampau, tentulah akan mengoceh, dan ia serta Hian-song pasti akan menjadi bulanbulanan
perhatian hadirin.
Detik-detik penuh ketegangan itu benar-benar mencengkeram suasana pertemuan
sehingga ketua Siau-lim-si sebagai penyelenggara pertemuan itupun tak dapat berbuat
apa-apa.
Beberapa saat kemudian ketua Siau-lim-si itu segera berbisik-bisik suruh pelayan
paderi-paderi kecil menghidangkan minuman dan makanan kepada hadirin. Dalam
beberapa saat meja-meja yang tadi telah disingkirkan ke samping, diatur lagi. Sekian
tokoh-tokoh pun segera mengambil tempat duduk. Siau Yau-cu berhadapan dengan Siulam.
Setelah hidangan selesai dihidangkan maka Tay Hong segera mengangkat cawan arak
dan berseru, “Sejak kecil pinceng (aku) telah menjalankan pantangan tak makan daging
dan minum arak. Tetapi hari ini pinceng sengaja melanggar pantangannya itu dan
mempersembahkan arak kehormatan kepada saudara-saudara sekalian. Demi
keselamatan seluruh kaum persilatan dan rakyat semoga Tuhan memberkahi perjalanan
kita ke Beng-gak menemui undangan….”
Upacara yang penuh bernada budi-asih itu telah menyentuh perasaan sekalian hadirin.
Bahkan seorang tokoh berhati dingin macam Su Bo-tun pun ikut berdiri mengangkat
cawan arak dan meneguk bersama-sama.
Tiba-tiba Gan Leng-po membuka mata terus bangun dan duduk di sebuah kursi di
dekatnya, ia menyambar sumpit (sendok) terus makan dan minum sepuas-puasnya. Dia
tak mengacuhkan sekalian hadirin yang terheran-heran melihatnya. Sambil tundukkan
kepala, ia mengganyang makanan dengan lahapnya. Ternyata dia kuat sekali makan dan
minumnya. Hidangan yang berada di meja, telah diganyangnya habis-habisan.
Siau Yau-cu menghela napas pelahan, serunya, “Siapakah di antara saudara-saudara
yang kenal padanya?”
Lo Kun berpaling dan mengamat-amati wajah Gan Leng-po dengan tajam. Serunya,
“Orang limbung yang kami jumpai di gunung Kiu-kiong-san tempo hari, memang mirip
sekali dengan dia. Tetapi kala itu wajahnya tertutup rambutnya yang terurai kusut masai
dan pakaiannya pun tak keruan. Lain dengan saat ini….”
Agaknya Su Bo-tun muak mendengar keterangan Lo Kun yang tak banyak bedanya
dengan yang tadi. Ia mendengus, menyambar cawan arak lalu diteguknya habis.
Karena dengusan itu, Lo Kun buktikan kata-katanya dan berpaling memandang orang
she Su itu. Tay Hong kuatir kedua orang itu bentrok. Buru-buru ia berbangkit, serunya,
“Apakah menurut Lo-heng orang itu benar Sin-ih Gan Leng-po yang termasyhur?”

Lo Kun terkesiap, sahutnya, “Memang dia mirip sekali dengan orang tua gila yang kami
jumpai di Kiu-kiong-san. Tetapi apakah dia itu Gan Leng-po, tak berani kupastikan.
Hanya kalau menilik gerak-geriknya kemungkinan memang benar!”
Tiba-tiba seorang tua yang jenggotnya putih menjalar sampai ke dada, berbangkit,
“Aku tinggal di daerah utara, tetapi sering kali mendengar tentang Gan Leng-po yang
termasyhur sebagai tabib sakti dan berilmu silat tinggi. Tokoh semacam itu tentulah
mempunyai wibawa seperti seorang dewa. Tetapi orang itu tolol dan limbung mana sesuai
dengan pribadi Gan Leng-po? Karena Lo-heng ini tak dapat member kesaksian yang pasti,
sebaiknya tak usah kita perbincangkan lebih lanjut. Undangan Beng-gak sudah dekat
sekali waktunya. Setiap detik, berharga bagi kita. Lebih baik kita segera rundingkan
langkah untuk menghadapi Beng-gak daripada membicarakan seorang tua limbung yang
tiada gunanya!”
Walaupun perkataan jago tua itu ditujukan pada pimpinan pertemuan, tetapi pada
hakekatnya mengandung dampratan halus pada Lo Kun. Lo Kun merah padam mukanya
tetapi untuk beberapa saat tak dapat ia memberi jawaban yang tepat. Ia terlongonglongong,
duduk berdiri serba salah. Dipandangnya orang yang mengancamnya tadi.
Tetapi ia tak kenal.
Melihat Lo Kun dalam kesukaran, buru-buru Kat Thian-beng berbangkit dan bertanya
dengan tawar kepada orang tadi, “Karena Kau-heng sudah lama mendengar nama Gan
Leng-po, tentulah juga sudah mengenalnya, bukan?”
Orang tua she Ku itu tersenyum, “Apakah maksud Kat-heng bertanya padaku itu?
Apakah Kat-heng masih tak melupakan peristiwa kecil pada dua tahun yang lalu itu? Tadi
aku berkata hanya sering mendengar kebesaran nama Gan Leng-po sebagai tabib sakti,
tetapi aku tak mengatakan pernah melihatnya!”
“Ah, terhadap Kiu-sing-tui-hun (Sembilan Bintang Pengejar Nyawa) Kau Cin-hong yang
termasyhur di enam propinsi utara, masakan aku berani mengecam. Hanya kalau Kauheng
menganggap kata-kata semacam yang kuajukan itu tak sedap didengar, hendaknya
janganlah Kau-heng tujukan pada lain orang juga!”
Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong tertawa dingin, “Dengan begitu Kat-heng memang
hendak mempersulit aku?”
Tenang-tenang Kat Thian-beng menyahut, “Setiap hal tentu ada pangkal dan ujungnya.
Manusiapun mempunyai hati yang baik dan buruk. Kau-heng sendiri mengecam orang
seenaknya saja. Apakah hal itu? Apalagi ternyata Kau-heng hanya mendengar nama Gan
Leng-po sebagai tabib sakti tetapi tak mengetahui tentang peta Telaga Darah. Tahu
ujungnya tak tahu pangkalnya, dan toh sudah bangga setengah mati. Padahal apa yang
diketahuinya hanya bagian luarnya yang kosong melompong….”
Brak… tiba-tiba terdengar suara tinju menghantam meja. Karena marahnya, Kau Cinhong
menghantam meja. Makanan dan minuman yang berada di meja itu pecah
berantakan beterbangan kemana-mana….
Melihat ketegangan itu, buru-buru Tay Hong siansu berseru, “Harap saudara berdua
memandang muka loni dan duduk tenang. Segala apa dapat dirundingkan dengan
tenang!”

Jilid 12
PERLU diketahui bahwa tokoh-tokoh yang hadir dalam pertemuan itu, terdiri dari jagojago
terkemuka dalam daerahnya masing-masing. Setiap orang mempunyai keangkuhan
dan harga diri. Maka setiap hal betapapun kecilnya tetapi dirasa menyinggung perasaan
tentu mudah menimbulkan bentrokan. Adalah berkat kewibawaan ketua Siau-lim-si maka
bentrokan-bentrokan dapat diatasi sebaik-baiknya.
Kat Thian-beng bersahabat baik dengan Tay Hong siansu. Maka iapun segera duduk.
Tiba-tiba Siauw Yau-cu membuka suara, “Memang akupun pernah mendengar tentang
cerita Lo Hian. Sayang sekalian hadirin di sini tak ada yang dapat membuktikan benar
tidaknya cerita itu. Jika pribadi Lo Hian itu memang ada maka kemungkinan besar
perempuan iblis pemilik jarum Chit-jiau-soh itu mempunyai hubungan dengan tokoh Lo
Hian….”
Karena tak tahan, Siu-lam serentak berbangkit. Tetapi pada saat ia hendak membuka
mulut menceritakan tentang terbunuhnya kedua gurunya serta rahasia dari peta Telaga
Darah, tiba-tiba ia batalkan. Pikirnya, “Ah, rahasia besar itu mana boleh kuceritakan
kepada orang luar. Ternyata sebagian besar orang-orang yang hadir di sini tak tahu
menahu tentang peta Telaga Darah. Sekali mendengar tentang peta itu, mereka tentu
akan berlomba-lomba mengejarnya.”
Dengan pertimbangan itu, iapun duduk kembali.
Tay Hong kerutkan alis, serunya, “Apakah yang siauw-sicu hendak katakan? Silahkan,
sekalipun salah, tak apalah!”
Belum Siu-lam menyahut, Siauw Yan-cu sudah melanjutkan kata-katanya lagi, “Dahulu
ketika aku bersama jago-jago sakti dari empat partai persilatan menempur perempuan
siluman itu, jelas kuperhatikan ilmu pedangnya terdiri dari beberapa macam ilmu pedang
sakti. Sebentar dia gunakan ilmu pedang partai Hoa-san-pay, sebentar ia keluarkan ilmu
pedang sakti dari Kun-lun-pay. Ilmu pedang itu ternyata merupakan gabungan dari semua
ilmu pedang sakti berbagai partai persilatan. Hampir serupa dengan permainan pedang
saudara ini (Siu-lam). Bedanya hanya perempuan iblis itu lebih hebat lwekangnya serta
lebih ganas….”
Pada waktu mengucapkan kata-kata terakhir itu, mata Siau Yau-cu memandang Siulam.
Siu-lam berpaling memandang Hian-song tetapi dara itupun hanya balas memandang
kepadanya.
“Dan terutama permainan pedang saudara kecil itu sewaktu memecahkan seranganku.
Benar-benar sama dengan permainan pedang si perempuan iblis ketika melukai mataku
yang kiri. Jika ketua gerombolan Beng-gak itu juga perempuan siluman pemilik jarum Chitjiau-
soh, terang kalau ia mempunyai hubungan dengan anak muda ini. Sekurangkurangnya
tentu kepandaiannya berasal dari satu sumber!”

Hian-song pelahan-lahan menarik ujung baju Siu-lam, bisiknya, “Engkoh Lam, apakah
jurus permainan pedang yang kaumainkan tadi, ajaran dari kakekku?”
Siu-lam mengangguk, “Benar, memang Tan lo-cianpwe yang mengajarkan!”
Dara itu merenung beberapa jenak, katanya pula, “Eh, kalau begitu apapun kakek
mempunyai hubungan dengan perempuan siluman pemilik Chit-jiau-soh?”
Mendengar si dara memaki pemiliki Chit-jiau-soh sebagai perempuan siluman, sekian
orang sama memandang kepadanya.
“Aneh!” tiba-tiba Su Bo-tun menghela napas dan mendengus. Tetapi hanya sepatah itu
saja lalu dia tak mau bicara lagi. Tahu bagaimana wataknya, sekalian orangpun tak mau
bertanya kepadanya.
Siu-lam segera berbangkit, “Bahwa Siau lo-cianpwe menaruh kecurigaan, memang tak
dapat dipersalahkan. Wanpwe tak berani mengatakan ilmu pedang yang wanpwe mainkan
tadi ada hubungannya dengan orang Beng-gak atau tidak…” sejenak ia berpaling kepada
Hian-song, katanya pula, “Tetapi yang jelas ilmu pedang itu wanpwe terima dari kakek
nona Tan ini ialah Tan lo-cianpwe. Seorang tua yang kasihan sekali nasibnya karena
walaupun memiliki kesaktian tetapi dirundung luka dalam yang parah. Saudara-saudara
yang hadir di sini adalah para ksatria yang ternama. Tentu mempunyai pengalaman yang
luas. Asal ada yang mengetahui tentang diri lo-cianpwe yang memakai she Tan, tentulah
rahasia yang berbelit-belit ini dapat tersingkap!”
“Siau-sicu benar!” seru Tay Hong siansu.
Siau Yau-cu pun berkata, “Sayang di antara kita yang hadir di sini tak ada yang tahu
apakah orang tua aneh ini benar-benar si tabib sakti Gan Leng-po. Karena di dunia
mungkin hanya dia yang pernah ketemu Lo Hian.”
Siu-lam memandang tajam kepada lelaki tua yang masih duduk terlongong-longong itu.
Beberapa saat kemudian, berkatalah ia perlahan-lahan, “Dia memang Ti-ki-cu Gan Lengpo,
tetapi….”
Gemuruh hiruk pikuk sekalian hadirin mengerat kata-kata Siu-lam yang belum selesai.
“Harap siau-sicu memeriksa lagi dengan teliti. Benarkah dia Gan Leng-po?” seru Tay
Hong siansu dengan nada berat.
Berpuluh-puluh mata menimpah ruah kepada Siu-lam. Seolah-olah pesakitan yang
sedang menunggu keputusan hakim….
“Tak salah lagi, dia memang Ti-ki-cu Gan Leng-po!” sahut Siu-lam dengan wajah
bersungguh, “Wanpwe telah berjumpa dengan dia di pondok terapung bulan yang lalu.
Sampai lama aku bercakap-cakap dengannya sehingga tak mungkin salah lagi. Tetapi kini
dia sudah gila mungkin tak dapat mengingat peristiwa yang lampau lagi…” tiba-tiba ia
berhenti. Terlintas sesuatu pada pikirannya, “Penyakit gila tabib itu masih belum sembuh.
Mengapa ia berpakaian baru dan dapat menuju ke atas gunung Thay-san? Tak mungkin
seorang gila mampu mencapai puncak Beng-gwat-ciang apabila tak dibawa orang!”

Sekalian orang memandang Siu-lam seorang pemuda yang penuh misteri. Bukan saja
memiliki kesaktian yang di luar penilaian orang, pun ucapannya mengenai diri lelaki tua
sebagai Gan Leng-po itu disambut dengan penuh kekagetan!
Karena melihat pemuda itu tak melanjutkan keterangannya, Tay Hong segera menegur,
“Jika siau-sicu kenal padanya, harap suka memberi keterangan yang jelas. Jika hal itu
dapat menjadi jalan ke arah menundukkan gerombolan Beng-gak, besar nian jasa siausicu
terhadap dunia persilatan!”
Kata Siu-lam dengan hormat, “Ada suatu hal yang secara tak terduga-duga menjadi
buah pikiran wanpwe. Dalam hal ini wanpwe mohon petunjuk taysu!”
Dengan serentak Tay Hong memberikan kesediaannya. Siu-lam memandang Gan Lengpo
lekat-lekat, serunya, “Jelas bahwa penyakitnya gila masih belum sembuh. Tetapi
bagaimana dia dapat naik ke puncak Beng-gwat-ciang sini? Dan bukankah kedatangannya
itu tepat sekali pada waktu perjamuan sedang berlangsung?”
Tay Hong terkesiap. Ia hendak perintah paderi kecil untuk menyelidiki siapakah yang
membawa tabib itu tadi. Tapi buru-buru Siu-lam berkata, “Jika memang tak ada orang
yang mengirimnya kemari, jelas penyakit gila tabib itu patut disangsikan. Tetapi jika
memang ada orang yang mengantarnya kemari, maka orang yang mengantar itulah
merupakan jejak yang harus kita selidiki!”
Tay Hong memuji pendapat Siu-lam. Ia segera membisiki paderi kecil yang berada di
samping dan paderi kecil itupun segera lari keluar.
Suasana menjadi tenang kembali. Sekalian hadirin setuju akan pernyataan Siu-lam.
Mereka tak sabar lagi menanti kedatangan paderi kecil itu. Tak berapa lama kembalilah
paderi kecil itu dengan membawa seorang bocah lelaki yang memakai kopiah. Dua orang
paderi tinggi besar yang menyanggul golok kwat-to mengiring ke belakang mereka.
Bocah laki-laki itu walaupun pakaiannya jelek dan robek-robek, tetapi nyalinya besar.
Tenang-tenang saja ia melangkah masuk ke dalam ruang yang penuh dengan berpuluhpuluh
tokoh silat.
Tay Hong kerutkan kening, tegurnya, “Marilah maju mendekat sini, aku hendak
bertanya padamu.”
Jejaka tanggung berpakaian buruk itu umurnya baru lima belasan tahun. Tetapi kerut
wajahnya yang penuh ketenangan itu menandakan bahwa dia seorang kelana dalam dunia
persilatan. Sambil mengangguk, iapun maju ke hadapan Tay Hong.
Mata Tay Hong yang tajam segera menarik kecurigaan. Diperhatikannya sorot mata
pemuda tanggung itu kejam sekali dan sikapnya pun luar biasa. Tetapi mengapa
mengenakan pakaian yang compang-camping? Ah, mungkin tentu ada sesuatu dengan
bocah itu. Diam-diam Tay Hong siansu salurkan tenaga dalam untuk berjaga-jaga.
Kira-kira terpisah dua tiga meter dari ketua Siau-lim-si, berhentilah pemuda tanggung
itu. Sejenak ia sapukan mata memandang ke sekeliling hadirin kemudian tegak berdiri
dengan tangan menjulai.

Setelah menunggu beberapa saat, barulah Tay Hong tersenyum. Menuding ke arah Gan
Leng-po, bertanyalah ia, “Adakah siau-sicu kenal dengan orang itu?”
Pemuda tanggung itu mengangguk-angguk tiga kali tetapi tak menjawab sepatah pun
juga.
“Karena kau yang membawanya kemari, tentulah kau tahu namanya?” tanya Tay Hong
pula.
Kali ini si pemuda tanggung gelengkan kepala.
“Eh, mengapa kau tak bicara? Apakah kau gagu?” seru Tay Hong siansu dengan keras.
Pemuda tanggung itu menunjuk mulutnya sendiri lalu geleng-geleng kepala.
Ketua Siau-lim-si menghela napas, ujarnya, “Loni tak mau menyakiti orang. Tetapi
caramu bergerak seperti orang gagu itu, tak mungkin dapat mengelabuhi loni!”
Pemuda tanggung itu tetap tak bicara. Tenang sekali sikapnya seolah-olah memang tak
mendengar apa yang diucapkan Tay Hong siansu.
Tay Hong agak kewalahan. Mengingat kedudukan sebagai ketua Siau-lim-si yang
termasyhur, ia tak mau turun tangan terhadap seorang bocah yang baru berumur lima
belasan tahun. Walaupun diketahui bocah itu sedang bermain sandiwara, namun ketua
Siau-lim-si itu tak dapat berbuat apa-apa.
Tiba-tiba Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong berdiri dan berseru, “Karena taysu sebagai
ketua Siau-lim-si segan berurusan dengan seorang bocah, baiklah serahkan padaku saja!”
“Baiklah,” jawab Tay Hong, “menilik air muka dia seorang anak yang cerdik. Tidak
menyerupai seorang gagu. Harap Kau-heng menanyainya.”
Kau Cin-hong tertawa, “Seorang gagu pasti tuli telinganya. Tetapi dia tadi dapat
mendengar dengan baik. Tak mungkin gagu. Tentu hanya berpura-pura saja!”
Tiba-tiba jago tua itu menggebrak meja, dan membentak bocah itu, “Kemarilah!”
Melihat Kau Cin-hong menggebrak meja beberapa orang yang duduk di sebelahnya
sama loncat menyingkir. Mereka tak mau kecipratan makanan seperti tadi lagi. Karena
ternyata tak ada mangkuk yang pecah, orang-orang itupun kembali duduk lagi.
Bocah itu mengerut wajah kurang senang. Dipandangnya Kau Cin-hong sejenak lalu
melangkah menghampirinya.
Kau Cin-hong mempunyai pengalaman luas dalam dunia persilatan dan wataknya keras.
Diam-diam ia heran mengapa bocah itu dan begitu tenang walaupun ia menunjuk sikap
bengis. Ia harus berjaga diri. Ketika bocah itu sudah hampir dekat, cepat ia membentak,
“Berhenti!”
Bocah itupun berhenti. Sedikitpun ia tak mengunjuk rasa jeri atau takut.

“Budak, lihatlah siapa saja yang berada dalam ruangan ini. Mereka adalah tokoh-tokoh
persilatan yang ternama. Jangan kau berlagak gagu… jika tetap tak mau bicara jangan
tanya dosa nanti!”
Pemuda aneh itu memandang pada Siu-lam lalu Hian-song tundukkan kepala.
Berulangkali ia berlaku begitu. Kau Cin-hong sama sekali tak dihiraukan.
Jago tua itu marah sekali. Wut, ia ulurkan tangan menyambar siku lengan si bocah.
Tetapi Kau Cin-hong hampir mengeluh kaget ketika pemuda tanggung itu menyingkir ke
samping. Ilmu sambaran Kin-na-chiu dengan mudah dapat dihindari bocah itu.
Hampir Cin-hong tak percaya apa yang disaksikan. Ilmu sambarang tangan yang
disebut Kin-na-chiu itu, jarang sekali jago-jago persilatan yang mampu meloloskan diri.
Tetapi seenaknya saja bocah itu menghindar. Kemudian ia terus memandang Siu-lam dan
Hian-song saja.
Diam-diam Siu-lam risih, pikirnya, “Eh, kenapa dia memandangku tak hentinya?” Dia
balas memandang dengan seksama. Eh, rasanya ia pernah bertemu dengan pemuda
tanggung itu. Tapi entah di mana….”
Pemuda tanggung itu beradu pandang dengan Siu-lam tiba-tiba tertawa sehingga
tampak dua deret giginya yang putih dan rapi. Sebaliknya Siu-lam heran.
Tiba-tiba Siau Yau-cu berbangkit dan maju ke muka, “Saudara, kau gesit sekali…”
secepat kilat tangannya kiri menyambar.
Pemuda tanggung itu cepat-cepat mengendap ke bawah dan tiba-tiba melesat ke
samping. Dia terhindar dari cengkeram Siau Yau-cu. Kejadian itu benar-benar
menggemparkan. Sekalian hadirin tersentak berdiri dan siap-siap hendak menghadang
bocah itu. Sekalian hadirin punya pendapat yang sama. Pada diri pemuda tanggung itulah
akan dapat diperoleh kesaksian benar tidaknya lelaki tua yang gila itu Gan Leng-po. Dan
mungkin juga bocah itu akan merupakan kunci untuk mencari keterangan tentang
gerombolan Beng-gak.
Hanya Su Bo-tun yang masih tetap duduk. Hanya matanya tak hentinya memperhatikan
tingkah laku bocah aneh itu.
Karena hadirin jago-jago silat semua, maka dengan cepat mereka segera mengatur diri,
mengepung pemuda tanggung yang bermuka kotor itu. Tetapi bocah itu tetap acuh tak
acuh.
Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong melangkah maju setindak, bentaknya, “Budak, jika masih
tetap membisu, tentu kuhajar!” sambil membentak Kau Cin-hong ulurkan tangan kanan
mencengkeram bahu kanan pemuda itu.
Bocah itu mengangkat tubuh, tanpa kelihatan kakinya gerak, tahu-tahu ia sudah
meluncur ke muka, menuju ke tempat Siu-lam berdiri.
“Kembalilah!” Siu-lam mendorongkan tangan kanan dengan jurus Tui-bo-cu-lan
Bocah itu tertawa. Tangan yang kotor menampar dan tiba-tiba mencengkeram lengan
Siu-lam yang bermula memandang rendah, tak keburu menghindar lagi. Ia terkejut sekali

ketika rasakan angin tamparan bocah itu panas sekali. Apabila tangannya kena
tercengkeram, tentu celaka.
Walaupun sudah memiliki kekuatiran begitu, namun Siu-lam tetap tak mampu
menghindari diri. Uh, ia rasakan siku lengan kanannya tercengkeram. Serangkum hawa
panas meresap keras. Buru-buru ia hendak salurkan tenaga dalam untuk melawan, tapi
tiba-tiba bocah itu sudah loncat ke samping.
Sejak pertempurannya dengan Siau Yau-cu tadi, sekalian hadirin menganggap Siu-lam
yang seorang pemuda sakti. Pun loncatnya bocah itu ke samping, mereka sangka tentulah
karena dipentalkan oleh tenaga Siu-lam yang lihay. Mereka tak tahu sama sekali bahwa
bocah itu memang atas kemauannya sendiri loncat ke samping itu.
Siu-lam tegak berdampingan dengan Hian-song. Dara itu melihat jelas apa yang terjadi.
Tetapi dia kurang pengalaman sehingga tak dapat mengetahui sebabnya. Paling-paling ia
anggap, matanya agak kabur.
Siu-lam tercengang karena tangannya kena terlumur kotoran minyak tangan si bocah.
Namun ia pun heran mengapa bocah itu hanya menjamahnya tanpa melukai. Dan ketika
memandang ke muka tampak bocah itu tertawa menyeringai memandangnya dengan
mesra.
Siu-lam makin tertarik perhatiannya. Dipandangnya bocah itu beberapa kali. Aneh,
kenapa seorang pemuda mempunyai wajah yang cantik dan tubuh langsing. Ia merasa
seperti melihatnya tetapi entah di mana.
Tiba-tiba Tui-hong-tiau Ngo Cong-hian mengerung keras dan menghantam bocah desa
itu. Memang loncatnya bocah itu tepat berada di samping. Semula ia hendak turun tangan
tapi masih ragu-ragu. Kalau sampai menggigit jari seperti Siau Yau-cu dan Kau Cin-hong,
ia tentu jatuh merk. Namun yang terdekat dengan bocah itu adalah dia. Kalau dia tak
bergerak, orang lainpun tentu sungkan. Apa boleh buat, terpaksa ia turun tangan juga.
Tadi Kau Cin-hong dan Siau Yau-cu gunakan menyambar tapi mengalami kegagalan.
Maka sekarang tak mau ia berlaku sungkan kepada bocah itu. Sekali gerak, ia lepaskan
hantaman keras. Tetapi serempak dengan hantaman itu serentak tersadarlah ia akan
kedudukan dirinya. Pantaskah seorang tokoh seperti dia, menghantam seorang bocah
kotor? Ah, ia menyesal sendiri tetapi tangannya sudah terlanjur terlepas. Wut, bocah itu
seperti terdampar kena angin dan terpental ke belakang. Tetapi anehnya gerak
melayangnya tubuh bocah itu enak dan indah sekali. Bukan macam laying-layang putus
tetapi seperti bintang beralih tempat.
Seketika terlintaslah sesuatu pada benak Siu-lam, “Eh, benarkah dia yang menyamar?”
tanyanya dalam hati.
Kali ini Golok Sakti Lo Kun berteriak nyaring, “Hai, budak kotor! Jika tetap membandel,
jangan salahkan aku si orang tua menghajar anak kecil!” sambil mengacungkan tinju, Lo
Kun menerjang.
Juga Lo Kun mempunyai pertimbangan yang sama. Walaupun tahu bahwa bocah itu
lebih sakti dari dirinya, tetapi ia sungkan kalau tak turun tangan. Untuk menjaga
kemungkinan dia mendapat malu, maka dilantangkanlah kata-kata yang garang lebih dulu.

Pada saat bocah muka kotor itu hendak melayang turun ke lantai, tiba-tiba tubuhnya
berhenti di atas dan wuuut… ia ayunkan tubuhnya ke atas tiang penglari kemudian baru
melayang turun.
Sekalian hadirin tercengang. Bukan seolah-olah hebatnya ilmu ginkang bocah itu.
Beberapa saat kemudian baru terdengar Tay Hong siansu berseru, “Omitohud! Jurus Hudpoh-
lian-tay yang bagus!”
Hud-poh-lian-tay artinya Buddah berjalan di atas teratai bunga telaga.
Sin-kiu-kiau-in Su Bo-tun tertawa dingin, serentak ia berbangkit dan perlahan-lahan
menghampiri ke tengah gelanggang. Serunya, “Itu ginkang semacam itu, belum patut
diherankan. Menutup penyaluran lwekang lalu menyalurkan ke perut dan melambung ke
atas lalu turun lagi bukanlah suatu pekerjaan yang sukar!”
Watak Su Bo-tun yang eksentrik (aneh) memang sudah terkenal. Pada waktu sekalian
hadirin mengepung bocah kotor itu, dia tetap enak-enak duduk. Dan bahwa saat itu ia
turun ke gelanggang sendiri, benar-benar menarik perhatian. Bahwa seorang tokoh
macam Siau Yau-cu pun ikut tertarik.
Dalam pada itu Hian-song menghampiri ke samping Siu-lam, bisiknya, “Lengkoh Lam,
aku pun dapat juga melakukan ilmu ginkang seperti bocah itu.”
Karena pikirannya sedang dipusatkan untuk mengingat siapakah bocah bermuka kotor
itu, maka Siu-lam tak menaruh perhatian pada kata-kata Hian-song. Ia hanya ganda
tertawa hampa. Dan Hian-song yang masih bersifat kekanak-kanakan, ikut tertawa juga.
Tetapi ketika Hian-song berpaling ke muka, dilihatnya bocah muka kotor itu masih
memandang lekat-lekat pada Siu-lam. Hian-song heran, serunya, “Eh, engkoh Lam,
apakah dia kenal padamu? Mengapa dia terus-menerus memandang padamu saja?”
Belum Siu-lam menyahut, tiba-tiba Su Bo-tun sudah tiba di sampingnya dan tak
disangka-sangka tokoh aneh itu terus menyambar siku lengan Siu-lam. Siu-lam kaget
tetapi sudah tak keburu menghindar lagi. Siku lengannya kena tercengkeram!
“Lepaskan!” melihat itu, secepat kilat Hian-song gunakan dua buah jarinya untuk
menusuk.
Memang cepat sekali gerakan si dara itu. Tetapi sayang dia berhadapan dengan
seorang tokoh semacam Su Bo-tun. Dengan sebuah gerakan menyurut mundur dua
langkah, dapatlah tusukan si dara itu dihindari.
Tetapi Hian-songpun dara yang jalan darah Hian-seng-si-kwannya sudah tertembus.
Dia dapat bergerak dalam posisi yang bagaimanapun juga. Tusukannya luput, cepat sekali
ia sudah menyerang lagi dengan pukulan dan tutukan jari. Sekaligus ia lancarkan empat
buah serangan. Cepatnya bukan kepalang, dahsyatnya bukan seolah-olah. Yang diarah
ialah bagian jalan darah maut dari lawan!
Walaupun Su Bo-tun pemilik dari ilmu langkah Chit-sing-tun-hing (Tujuh Bintang
Beralih) yang sakti, tetapi karena tangan kanannya sedang mencengkeram lengan Siu-lam,
maka gerakannyapun kurang leluasa. Hanya sekejap ia agak berayal menghindar, maka
bahu kanannya terkena ujung jari Hian-song. Seketika ia rasakan lengannya kesemutan.

Cengkeramannya kendur. Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Siu-lam untuk
berontak lalu lompat ke samping.
Setelah pemuda itu terlepas, gerakan Su Bo-tun pun lebih leluasa. Segera ia mainkan
gerak Chit-sing-tun-hing. Kesaktian gerakan kaki itu dengan cepat dapat menghindari
serbuan jari Hian-song. Tetapi pada saat Su Bo-tun hendak lancarkan balasan, Hian-song
pun sudah buang tubuhnya loncat beberapa meter ke belakang!
Siu-lam dengan penuh toleransi memberi hormat kepada Su Bo-tun, “Su lo-cianpwe
adalah seorang yang sangat diindahkan di dunia persilatan. Tetapi tindakan menyerang
tanpa memberitahukan apa-apa itu, apakah lo-cianpwe tak merasa merendahkan diri?”
Tutukan jari Hian-song pada bahunya tadi, saat itu mulai terasa sakit. Cek Su Bo-tun
kerahkan tenaga dalam untuk menolak rasa sakit itu. Diam-diam ia terkejut atas kelihayan
si dara. Karena sedang menyalurkan lwekang maka tak mau ia menyahut teguran Siu-lam.
Ia hanya berpaling dan memandang dingin kepada pemuda ini.
Sekalian hadirin yang terdiri dari tokoh-tokoh persilatan kawakan, cepat mengetahui
bahwa bocah bermuka kotor itu mempunyai hubungan dengan Siu-lam. Sedangkan Tay
Hong siansu segera memberi perintah kepada paderi bocah yang berada di samping.
Paderi bocah itupun segera keluar.
Tiba-tiba Siau Yau-cu melangkah maju menghampiri si bocah bermuka kotor dan
membentaknya, “Gan Leng-po yang asli kau bawa kemana, hah!”
Ucapan jago tua dari Bu-tong-pay itu benar-benar menggegerkan seluruh ruangan.
Bahkan si bocah bermuka kotor itu sendiripun tercengang dan melongo. Tetapi rupanya
bocah itu seorang cerdas. Cepat-cepat ia mengatupkan mulutnya yang menganga.
Perubahan muka bocah itu diketahui jelas oleh Siau Yau-cu. Sebagai seorang persilatan
yang bangkotan, cepat ia dapat melihat kelemahan bocah itu. Serunya tertawa, “Ho,
jangan kau berpura-pura bisu! Berkepandaian tinggi dan mempunyai wajah bagus,
mengapa dilumuri kotoran tak karuan? Perlua apa memakai pakaian compang-camping
untuk menutupi keadaan dirimu yang sebenarnya?”
Sejenak bocah itu keliarkan pandangannya ke sekeliling hadirin. Kemudian perlahanlahan
ia mengatupkan mata dan tetap membisu.
Sementara itu Tay Hong siansu segera menghampiri ke meja tempat si lelaki tua tadi,
serunya, “Apakah sicu ini Sih-in Gan Leng-po yang termasyhur?”
Lelaki tua itu berpaling memandang dingin kepada ketua Siau-lim-si. Tay Hong
menghela napas. Diam-diam ia memperhatikan keadaan orang aneh itu. Kesimpulannya:
dia memang tidak berpura-pura tetapi kemungkinan ditotok jalan darahnya atau diberi
minum racun yang dapat melumpuhkan tenaga dalamnya.
“Ah, asal dapat menolongnya, kemungkinan tentu dapat memperoleh keterangan yang
berharga. Jika dia benar Gan Leng-po, tentu dapat menuturkan apa yang telah terjadi
padanya. Tetapi jika bukan Gan Leng-po, pun tak apalah. Memberi pertolongan kepada
orang yang menderita adalah perbuatan yang mulia!” akhirnya ia mengambil keputusan.

Setelah mengerahkan tenaga dalam, ketua Siau-lim-si itu sekonyong-konyong
menggembor keras dan menampar ubun-ubun kepala orang tua itu.
Kiu-sing-tui-hun Kan Cin-hong terkejut. Jelas orang tua yang limbung dan ketololtololan
itu tentu hancur kepalanya. Cepat-cepat ia berseru, “Lo-siansu, harap jangan
membunuhnya….”
Tetapi seruan itu sudah terlambat. Plak, tangan Tay Hong sudah tiba di atas ubun-ubun
kepala orang tua itu. Seketika itu bersama kursinya dia terjungkal rubuh ke belakang.
Tetapi secepat kilat Tay Hong sudah menyambar orang itu, diseretnya maju dan dengan
kecepatan yang luar biasa, Tay Hong lekatkan tangan kanannya ke dada orang itu lalu
loncat mundur lagi….
Kejadian itu berlangsung dalam sekejab mata. Si lelaki aneh tetap duduk di atas
kursinya sambil menyekal tongkat. Dan Tay Hong siansu tegak berdiri di samping. Kepala
pemimpin Siau-lim-si bercucuran keringat.
Hadirin tak tahu apa yang sedang dilakukan Tay Hong. Kiranya ketua Siau-lim-si itu
sedang melaksanakan pertolongannya dengan gunakan ilmu Lo-han-coan-teng. Sebuah
ilmu rahasia yang hanya diajar pada Ciang-bun-bong-tiang (ketua gereja) dan paderipaderi
tingkatan tianglo (para kepala bagian). Bahkan walaupun murid-murid Siau-lim-si
yang berkepandaian tinggi tak tahu juga bahwa Siau-lim-si memiliki ilmu rahasia semacam
itu.
Bahwa sekalian hadirin tak tahu apa yang dilakukan ketua Siau-lim-si, memang tak
dapat dipersalahkan. Gerakan Tay Hong siansu itu memang aneh. Dikata memberi
pertolongan tidak seperti orang menolong. Namun menyerang orang pun tak menyerupai
seperti orang memukul. Tokoh-tokoh itu tak mengerti tetapi merekapun tak berani berbuat
apa-apa. Dipandangnya ketua Siauw-lim-si itu dengan penuh perhatian.
Tengah perhatian hadirin tertumpah pada Tay Hong siansu, tiba-tiba si bocah muka
kotor itu melentikkan sebuah benda kecil ke arah Siu-lam. Lentikan itu menggunakan
tenaga dalam lunak sehingga tak menerbitkan suara apa-apa.
Siu-lam cepat menyambuti. Ternyata benda itu lunak seperti sutera. Segera ia berputar
tubuh dan membukanya. Lipatan sutera itu bertuliskan beberapa huruf berbunyi:
Peta Hiat-tho yang kuikatkan pada baju Gan Leng-po, hilang!
Isterimu: Swat
Kata-kata terakhir yang mesra itu bagaikan halilintar menyambar telinga Siu-lam. Bukan
kepalang terkejutnya. Pikirnya, “Peristiwa pernikahan di bawah rembulan dahulu, sudah
lampau. Tetapi mengapa dia masih menyebut dirinya sebagai isteriku?”
Tiba-tiba Hian-song melengking, “Engkoh Lam, bolehkah kulihat benda itu?”
Bagi Hian-song, Siu-lam adalah satu-satunya orang yang mengisi hatinya. Walaupun
sekalian hadirin memperhatikan Tay Hong, namun dara itu tetap memperhatikan gerakgerik
Siu-lam. Melihat pemuda itu menyambuti benda yang dijentikan si bocah muka kotor
lalu tampak termenung, tertariklah perhatian Hian-song.

Siu-lam terkesiap. Jika sutera itu diberikan, tentulah si dara akan curiga. Setelah
merenung sejenak segera ia angsurkan sutera itu.
Hian-song tertawa seraya menyambuti. Tetapi belum tangan menyentuh sutera itu tibatiba
sebuah tangan lain mendahului merebut. Siu-lam terkejut dan buru-buru menarik
tangannya tapi kalah cepat. Tangan orang itu sudah mencengkeram ujung sutera. Bret…
ketika Siu-lam menariknya, sutera itupun robek jadi dua. Yang digenggam Siu-lam hanya
sobekan sutera yang tertulis:
“Peta Hiat-ti-tho, lenyap.
Isterimu Swat”.
“Orang hutan bangkotan, tak malukah kau merebut barang orang?” Hian-song
mendamprat marah dan ayunkan tangannya kepada orang yang merebut sutera.
Ternyata yang merebut ialah Siu-chiu-kiau-in Su Bo-tun. Tokoh aneh itu mendengus
dingin. Ia gerakkan tangan kirinya dalam jurus Im-hun-hong-gwat (awan hitam menutup
rembulan) untuk menangkis serangan Hian-song. Sedangkan tangan kanan cepat
memasukkan sobekan sutera ke dalam bajunya!
Hian-song terdampar mundur selangkah. Marah dan sesalnya bukan kepalang. Jika ia
tak minta lihat sutera itu, tentulah tokoh aneh itu tak merebutnya. Pikirnya lebih lanjut,
“Ah, jika aku tak berhasil merebut kembali separoh sobekan dari tangan si orang, engkoh
Lam terus benci padaku. Ah, aku harus merebutnya kembali!”
Dengan keputusan itu, Hian-song segera menyerang Su Bo-tun lagi. Sekalian hadirin ia
terkejut mendengar dampratan Hian-song tadi dan merekapun segera berpaling
memandang ke arahnya. Terkejutlah mereka ketika menyaksikan entah apa sebabnya
dara itu menyerang Su Bo-tun.
Walaupun belum mengetahui bahwa dara itu telah terbuka jalan darah Seng-si-hiankwan
sehingga tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat kesempurnaan, namun melihat
cara dara itu menyerang sedemikian dahsyat dan cepat, tergetarlah hati Su Bo-tun.
Memang jika ia menangkisnya dengan kekerasan tentu segera dapat diketahui
kesudahannya. Tetapi andaikata ia menang, pun beratus-ratus tokoh persilatan yang hadir
di situ, ia takkan tambah dikagumi karena menang dari seorang anak perempuan yang tak
terkenal. Dan apabila kalah, bukankah namanya akan ludes?
Dengan pertimbangan itu, akhirnya Su Bo-tun gunakan ilmu gerakan kaki Chit-sing-tunheng
untuk menghindari serangan si dara.
Kini adalah giliran Hian-song yang terkesiap kaget. “Eh, tuang Bangka itu gunakan ilmu
apa? Mengapa tepat pada saat lenganku hampir menyentuh tubuhnya, tiba-tiba ia dapat
menghindarkan diri?” diam-diam Hian-song bertanya dalam hati. Namun ia masih
penasaran. Diemposnya semangat dan kerahkan tenaga dalamnya ke arah tangan
kanannya, ia siap lancarkan serangan yang lebih dahsyat.
Pada saat Su Bo-tun hendak memperbaiki posisi tubuhnya setelah menghindari
serangan si dara, tiba-tiba si bocah muka kotor melesat ke tempatnya dan secepat kilat
menampar muka Su Bo-tun dengan tangan kiri….

Dalam pada itu,Siu-lam pun segera masukkan separoh sobekan sutera ke dalam baju
dan terus loncat ke samping Hian-song, “Adik Song, orang itu cukup lihay, jangan
sembarangan menyerangnya!”
Memang Hian-song agak kewalahan menghadapi Su Bo-tun. Ia girang karena Siu-lam
memberi nasihat itu. Tapi dia telah merebut sutera yang kau pegang. Jika tak kurebutnya,
kau tentu benci padaku, Engkoh Lam? Seru Hian-song dengan nada kekanak-kanakan.
“Sudahlah, mengapa aku membencimu?” Siu-lam tersenyum.
“O, kalau begitu legalah hatiku!” Hian-song tertawa riang.
Pada waktu kedua anak muda itu bercakap-cakap, Su Bo-tun pun sudah bertempur
dengan bocah muka kotor. Seru sekali pertempuran itu berlangsung.
Ilmu kesaktian Su Bo-tun, dewasa itu dianggap sebagai tokoh yang paling terkemuka di
dunia persilatan. Ilmu gerakan kaki Chit-sing-tun-hengnya dipandang sebagai ilmu yang
jarang terdapat di dunia persilatan. Bahkan ketua Siau-lim-si pun menaruh perindahan
kepadanya. Maka Tay Hong khusus mengirim orang untuk menyerahkan surat undangan
kepadanya.
Setiap jago silat yang mampu bertahan diri melayani Su Bo-tun sampai sepuluh jurus,
tentu dapat digolongkan jago kelas satu. Tetapi bocah muka kotor itu ternyata mampu
menempurnya sampai tiga puluhan jurus dan belum menunjukkan tanda-tanda kekalahan.
Peristiwa itu benar-benar menggoncangkan hati para hadirin.
Su Bo-tun bertempur dengan hati-hati sekali. Sedang si bocah muka kotor makin lama
makin memperhebat serangannya dengan jurus-jurus yang ganas. Hanya saja gerak
serangan mereka, tidak lagi berebut kecepatan tetapi pelahan-lahan. Justru gerak pelahan
inilah yang lebih mengerikan. Setiap gerak pukulan dan tendangan tentu mengandung
tenaga dalam yang hebat. Lebih mengerikan dari serangan cepat yang mereka lakukan
dalam babak-babak permulaan tadi.
Pertempuran yang bermutu tinggi telah menarik perhatian sekalian hadirin.
“Hiat-ti-tho! Hiat-ti-tho…!” tiba-tiba orang tua yang diduga Gan Leng-po itu serentak
berbangkit dan berkaok-kaok terus menyerbu kepada kedua orang yang tengah bertempur
itu.
“Berhenti!” Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong cepat loncat menghadang.
Wut… lelaki tua itu menyambutnya dengan ayunkan tongkat. Kau Cin-hong terkejut dan
buru-buru menyingkir ke samping. Setelah tiada menghadang orang tua itu terus
menyerbu ke tengah gelanggang. Wut… ia sapukan tongkatnya kepada Su Bo-tun.
Pertemuan itu benar-benar di luar dugaan Su Bo-tun. Di hadapan sekian banyak tokohtokoh
silat dari delapan penjuru, ia malu untuk gunakan gerak kaki Chit-sing-tun-heng. Dia
hendak gunakan kesaktian tenaga dalamnya untuk menundukkan si bocah. Masakan
seorang bocah yang baru berumur belasan tahun mampu menandingi lwekangnya.
Tetapi apa yang dihadapinya ternyata di luar dugaan. Bukan saja ilmu pukulan bocah
itu luar biasa anehnya, pun tenaga dalamnya juga hebat sekali. Hampir berimbang dengan

dirinya. Su Bo-tun tak mampu mengembangkan tenaga dalam karena setiap kali tentu
terhapus oleh tenaga dalam lunak dari bocah itu. Itulah sebabnya pertempuran sampai
berjalan sekian lama.
Sampai pada saat itu barulah Su Bo-tun menyadari suatu kenyataan. Apabila ia sampai
kalah, ludaslah namanya dari dunia persilatan. Kini ia mulai merobah siasat. Ia gunakan
gerakan lambat tetapi disaluri tenaga dalam penuh untuk menyerang.
Tetapi siasat itupun ternyata mendapat perlawanan hangat dari si bocah. Bocah itu
sekaligus gunakan kedua tangannya untuk menyerang. Tangan kanan menghamburkan
tenaga dalam lunak untuk menghapus pukulan lawan. Tangan kiri menghambur tenaga
dalam terus untuk balas menyerang.
Su Bo-tun makin kaget. Ia benar-benar tak menyangka bahwa bocah itu sedemikian
saktinya. Sekali terkena pukulan atau tendangannya, ia tentu menderita muka. Kekuatiran
itu menambah perhatiannya untuk lebih mempertinggi kewaspadaannya.
Maka pada saat si lelaki limbung menyerang dengan tongkat, walaupun terasa
punggung tersambar angin, namun ia lebih memberatkan serangan si bocah. Serentak
luruskan kedua tangannya lalu sekonyong-konyong direntangkan menyerang ke muka
untuk menangkis serangan si bocah. Dalam pada itu diam-diam ia kerahkan tenaga dalam
ke arah punggungnya. Serangan tongkat siap diterimanya.
“Ah, Gan tayhiap seorang tabib sakti yang ternama, mengapa menyerang orang dari
belakang?” tiba-tiba sesosok tubuh mencelat ke tengah dan menyambar tongkat orang tua
limbung itu. Cepat dan tangkas sekali gerak sambaran itu.
Ternyata yang bertindak itu adalah Siau Yau-cu jago tua dari partai Bu-tong-pay. Dan
karena tongkatnya dicengkeram, orang tua limbung itu terlongong-longong….
Bum… terdengar bunyi menggelegar keras ketika Su Bo-tun beradu pukulan dengan si
bocah. Bocah itu terpental ke belakang sampai tiga langkah. Tetapi Su Bo-tun tergetar
tubuhnya.
Keduanya telah memeras tenaga. Maka setelah beradu pukulan, mereka sama-sama
berdiam diri menyalurkan tenaga.
“Hiat-ti-tho…” karena tongkatnya dicengkeram kencang dan dua kali tak berhasil
menariknya lepas, orang tua limbung itu lepaskan tongkatnya dan tiba-tiba menyerang Su
Bo-tun!
Su Bo-tun marah, dampratnya, “Kau sendiri yang minta mati, jangan salahkan aku
kejam!” Cepat gunakan langkah Chit-sing-tun-heng menyelinap ke samping lalu balas
memukul. Pukulan itu menggunakan jurus biasa, tetapi karena diimbangi dengan gerak
Chit-sing-tun-heng, perbawanya dahsyat sekali.
Ternyata kesaktian dari gerak Chit-sing-tun-heng bukan melainkan terletak pada gerak
penghindaran diri yang tak dapat diduga musuh, tetapipun jika diserempaki dengan
pukulan yang sederhana saja, akan merupakan serangan yang berbahaya sekali.
Orang tua limbung itu memang belum sembuh pikirannya, tetapi tenaga dan ilmu
silatnya masih tetap hebat. Serangannya kepada Su Bo-tun itu, dilakukan dengan cepat

dan dahsyat. Maka ketika tiba-tiba Su Bo-tun lenyap, dia tak keburu menarik pulang
tangannya lagi. Karena sudah terlanjur memukul ke muka, ia teruskan saja menyerang
pada Siu-lam.
Su Bo-tun yang menyelinap ke belakang tabib gila itu, kini hendak menggempur
punggung orang. Si tabib gila Gan Leng-po tentu celaka. Kalau tak mati tentu akan terluka
parah!
Siu-lam kaget. Celaka ia lompat ke muka untuk melindungi si tabib seraya berseru
mencegah Su Bo-tun, “Lo-cianpwee, harap menaruh kasihan!”
Sebenarnya tak mungkin Siu-lam dapat menghadang, tetapi seruan pemuda itu telah
membuka kesadaran Su Bo-tun. Tokoh aneh itu diam-diam membantu. Jika ia sampai
membunuh orang tua limbung yang diduga keras tentu Gan Leng-po, tentulah akan
menimbulkan kemarahan orang banyak. Karena pemikiran itu maka ia agak termangu ragu
sehingga gerakannyapun agak perlahan.
Siu-lam cepat menarik tubuh orang tua limbung ke samping kemudian ia memberi
hormat kepada Su Bo-tun, “Terima kasih atas kemurahan hati lo-cianpwe!”
“Hm, kau hendak menjadi pahlawannya?” dengus Su Bo-tun dengan nada dingin.
“Ah, mana wanpwe berani pada lo-cianpwe. Hanya wanpwe sayangkan kalau locianpwe
sampai mengotorkan tangan membunuh seorang tua yang tak sehat pikirannya.”
“Tetapi dia menyerang aku dari belakang. Andaikata aku sampai terkena, kepada
siapakah aku harus minta keadilan?” Su Bo-tun makin marah.
“Ah, tak mungkin Su lo-cianpwe yang sakti sampai terkena pukulannya!” Siu-lam
tertawa.
Pujian itu meredakan kemarahan Su Bo-tun. Namun tokoh aneh itu tetap
mendampratnya, “Aku tak suka berkelakar dengan orang….”
Tiba-tiba Hian-song melesat datang dan menyahutnya, “Siapa sudi bergurau padamu?
Sudahlah, jangan pedulikan padanya, engkoh Lam!”
Hian-song seorang dara yang biasa bicara terus terang. Ia anggap Siu-lam adalah satusatunya
pemuda yang menjadi tiang harapannya. Ia marah apabila ada orang berani
menghina atau mengganggu pemuda itu. Tak peduli itu Su Bo-tun atau Siau Yau-cu atau
ketua Siau-lim-si atau siapapun juga….
Saat itu Siu-lam sudah dapat mengenali siapakah sebenarnya di balik wajah kotor dari
bocah aneh itu?
Dia bukan lain adalah Bwe Hong-swat, si dara baju putih yang telah memaksanya
melakukan sumpah perkawinan di bawah sinar bulan tempo hari. Dan dara itu rupanya
tetap setia memegang sumpah. Ah, bagaimanakah jadinya nanti apakah dara itu tetap
bersungguh-sungguh mengaku jadi isterinya? Bukankah keadaan akan menjadi runyam?
Dalam beberapa saat Siu-lam benar-benar kehilangan paham. Tak tahu ia apa yang
harus dilakukannya.

Dalam pada itu, Su Bo-tun memandang dingin kepada Hian-song, pikirnya, “Aku habis
bertempur sampai seratus jurus dengan bocah kotor itu. Tenagaku belum pulih. Dan dara
ini juga tak boleh dipandang ringan. Jika dia sampai turun tangan menyerangku, tentu
sibuk aku dibuatnya. Ah, lebih baik tak kuhiraukan saja….” Ia pejamkan mata dan tak
mempedulikan Hian-song lagi.
Rupanya Gan Leng-po masih belum waras pikirannya. Ia tak tahu bahwa dirinya habis
terhindar dari bahaya maut. Karena tak berhasil menggebuk orang, dia terus lari keluar.
Tay Hong siansu memberi isyarat dengan tangan dan beberapa paderi segera
berhamburan menghadang tabib gila itu.
Melihat ada orang menghadang jalannya, Gan Leng-po menjawab dengan tongkatnya.
Kawanan paderi itu segera menghadapinya dengan ilmu pengepungan. Setiap kali si tabib
hendak menerobos keluar, setiap kali itu pula paderinya menghalaunya mundur. Mereka
adalah paderi-paderi Siau-lim-si yang tergolong tingkat kochiu (jago sakti) dari paseban
Tat-mo-wan. Apalagi mereka menyerang secara beramai, sudah tentu perbawanya
dahsyat sekali.
Karena tak berhasil menerobos keluar, Gan Leng-po berputar dan terus menerjang ke
arah Tay Hong siansu.
“Omitohud!” Tay Hong siansu menyambutinya dengan menyongsongkan kedua tangan
ke muka. Serangkum angin dahsyat melanda Gan Leng-po. Tabib itu menangkis, tetapi ia
tersurut mundur tiga langkah.
Dalam pada itu Siau Yau-cupun menghampiri Siu-lam, tegurnya, “Benarkah orang tua
yang limbung itu Ti-ki-cu Gan Leng-po?”
Siu-lam mengiakan.
“Berapa lamakah kau pernah berjumpa dengan dia?” tanya Siau Yau-cu.
“Kira-kira tiga-empat bulan yang lalu!”
“Apakah kala itu dia sudah limbung begitu?”
Pertanyaan Siau Yau-cu itu tak lekas-lekas dijawab. Siu-lam masih menimang-nimang.
Jika ia menceritakan terus terang, dikuatirkan sekalian hadirin yang terdiri dari tokohtokoh
persilatan yang banyak pengalaman itu tentu akan menghujani pertanyaanpertanyaan.
Melihat Siu-lam bersangsi, timbullah kecurigaan Siau Yau-cu. Serunya melantang,
“Meskipun ilmu pedang saudara hebat sekali, tapi tenaga dalammu masih belum
sempurna, sehingga tak mampu menyalurkan ke arah pedang. Aku percaya, masih dapat
melawannya!”
“Apakah maksud lo-cianpwe? Maaf, wanpwe tak jelas,” Siu-lam heran.
“Kau pintar, masakan tak dapat menyelami. Tetapi baiklah kujelaskan juga!” Sian Yaucu
tertawa sambil mengurut-urut jenggotnya.

Tiba-tiba jago tua Bu-tong-pay itu agak berobah kerut wajahnya, serunya, “Sewaktu
bertanding pedang tadi, telah kuketahui jelas bahwa ilmu pedang saudara satu sumber
dengan ilmu pedang wanita siluman yang dahulu melukai mataku. Rasanya di dunia tiada
lagi orang kedua yang mampu menggunakan ilmu pedang itu….”
Diam-diam ia terperanjat. Ia heran mengapa jago tua itu mengungkat kembali soal
jurus ilmu pedang Jiau-toh-co-hoa yang dikatakan serupa dengan ilmu pedang dari
perempuan iblis yang pernah melukai sebelah mata Siau Yau-cu. Padahal jelas ilmu
pedang adalah dari orang tua she Tan atau kakek Hian-song. Adakah kakek itu
mempunyai hubungan dengan si wanita siluman?
Rupanya pernyataan Sian Yau-cu menarik perhatian sekalian hadirin. Mereka segera
mengerumuni ke tengah ruangan.
Hian-song tak puas karena dikerumuni orang banyak, segera ia maju menghampiri ke
samping Siu-lam, bisiknya, “Engkoh Lam, andaikata kita kalah melawan sekian banyak
orang, rasanya tentu takkan memalukan!”
Sekalian orang itu siap hendak turun tangan. Mereka panas mendengar ucapan Hiansong.
Sian Yau-cu memperhatikan kedua muda-mudi itu dengan tajam. Walaupun
dikepung sekian banyak jago silat, namun kedua anak muda itu tetap tenang. Hian-song
bersenyum simpul. Siu-lam tegak mematung.
Dalam pada itu, tampak si bocah muka kotor sudah pulih tenaganya. Selekas membuka
mata, segera ia memandang Su Bo-tun lagi.
Saat itu Su Bo-tun berdiri dekat dengan Siau Yau-cu. Ketika terasa ada angin
menyambar dari belakang, secepat kilat Siau Yau-cu menyambar ke belakang. Bocah
muka kotor itu terkejut. Tamparan Siau Yau-cu dahsyat sekali. Tak mau ia menangkis
melainkan menyingkir ke samping.
Melihat kericuhan itu segera Tay Hong siansu berseru, “Harap saudara-saudara tenang
dulu. Loni hendak bicara!”
Sekalian hadirin terkejut mendengar seruan ketua Siau-lim-si yang bernada marah.
Apalagi setelah diketahui kerut wajahnya agak menggelap, mau tak mau mereka
mengindahkan seruan itu.
Tay Hong siansu memandang ke sekelilingnya, serunya pula, “Loni sangat bersyukur
sekali pada saudara-saudara sekalian yang telah memberi muka pada loni dengan
memerlukan menghadiri rapat di gunung Tay-san ini.
Kehadiran saudara-saudara jelas mempunyai satu tujuan yang sama. Yakni bersamasama
menyelamatkan dunia persilatan dari suatu bencana,” sejenak ketua Siau-lim-si itu
berhenti lalu berkata pula, “Kami kaum gereja Siau-lim-si, sejak didirikan oleh mendiang
Tat Mo cousu, telah mengalami bermacam-macam gelombang bencana dan ujian
kesulitan. Syukurlah berkat kesatuan dan persatuan kaum Siau-lim-si, kesemuanya itu
dapat dilintasi dengan baik….”
Tiba-tiba Kat Thian-beng nyeletuk, “Memang sejak ratusan tahun, di dunia persilatan
tak pernah mengalami ketenangan. Selalu ada saja bahaya yang mengancam. Tetapi

setiap kali timbul bahaya, tentulah gereja Siau-lim-si segera muncul. Jika tidak
mendamaikan suatu perselisihan di antara sesama kaum persilatan, tentulah bersamasama
kaum persilatan bersatu-padu untuk menumpas sesuatu durjana yang ganas. Nama
Siau-lim-si telah mendapat tempat perindahan yang tertinggi dalam dunia persilatan. Hal
itu yang utama bukanlah karena kepribadian dan sifat-sifat keutamaan kaum Siauw-lim-si
benar-benar menundukkan hati orang. Maka jika losiansu hendak memberi petunjuk,
silahkan segera mengutarakan. Kami para hadirin tentu sedia melakukannya!”
Tay Hong tertawa, “Ah, sicu terlalu menyanjung. Loni benar-benar tak berani dan tak
pantas menerima pujian setinggi itu…” ia menghela napas pelahan, sambungnya pula,
“Tetapi pertemuan kali ini adalah merupakan pencerminan dari kesatuan para tokoh
persilatan. Jadi bukanlah merupakan kepentingan seseorang atau segolong golongan.
Demi tujuan dan kepentingan bersama itulah maka loni mohon kepada sekalian saudara
supaya suka melepaskan segala kepentingan dan dendam permusuhan pribadi. Agar kita
benar-benar dapat bersatu untuk melaksanakan cita-cita bersama itu!”
Kata-kata yang diucapkan dengan lantang dan penuh wibawa itu benar meresap ke
dalam hati para hadirin.
Kemudian ketua Siau-lim-si itupun menghampir ke tempat Su Bo-tun. Ia memberi
hormat, ujarnya, “Telah lama loni mengagumi nama Su-heng yang telah termasyhur di
dunia.”
Rupanya Su Bo-tun si hati dingin itu tak berani memandang rendah kepada paderi Siaulim-
si. Ia pura-pura mengangguk sedikit, sahutnya, “Ah, jangan lo-siansu kelewat memuji.
Silahkan lo-siansu memberi pesan!”
“Tak lain tak bukan, loni hendak memberanikan diri mohon lihat separoh sobekan
sutera yang Su-heng simpan tadi,” kata Tay Hong.
“Ini…” Su Bo-tun mendengus.
Tiba-tiba Siau Yau-cu menyeletuk, “Karena Su-heng sudah sudi mendatangi rapat ini,
tentu Su-heng sudah bersatu tujuan dengan kita. Menurut anggapanku, persoalan yang
kita hadapi saat ini, bukanlah menyangkut kewibawaan nama seseorang tetapi benarbenar
demi keselamatan dunia persilatan. Hal ini bukan aku bermaksud memuji kekuatan
lawan dan merendahkan kekuatan kita sendiri. Tetapi memang suatu kenyataan bahwa
dahulu ketika empat partai jago-jago partai persilatan yang terluka dan binasa di bawah
taburan jarum Chit-jiau-soh wanita iblis itu. Maka sekarang ini apabila ketua gerombolan
Beng-gak ternyata si wanita iblis pemilik jarum Chit-jiau-soh, kita bakal menghadapi suatu
bencana besar. Apakah persatuan partai-partai menumpasnya, masih belum dapat kita
amalkan. Menghadapi hal semacam itu, hanya rasa kesatuan dan persatuan dari seluruh
kaum persilatan yang sangat diperlukan untuk bersatu padu menumpas wanita berbahaya
itu. Yang pasti, dunia persilatan dewasa ini sedang terancam oleh banjir darah, partaipartai
persilatan terancam bahaya kemusnahan!”
Uraian panjang lebar yang diucapkan oleh seorang jago tua dari Bu-tong-pay yang
termasyhur itu, benar-benar menggetarkan seluruh perasaan hadirin. Mereka beralih
memandang ke arah Su Bo-tun dengan pandangan menuntut….
Su Bo-tun batuk-batuk sebentar lalu mengeluarkan separoh robekan kain sutera tadi
dan diserahkan kepada Tay Hong siansu. Tay Hong membukakan dan membaca:

Pada baju Gan Leng-po yang kuletakkan… tulisan hanya sampai di situ. Jadi belum
dapat diketahui benda apa yang diletakkan itu.
Tay Hong memandang ke arah si orang tua. “Apakah memang dia Gan Leng-po?”
tanyanya dalam hati.
Tay Hong segera melangkah ke tempat Siu-lam dan minta pinjam separoh robekan
sutera yang disimpan pemuda itu.
Siu-lam diam-diam terkejut. Akan diberikankah robekan sutera itu kepada Tay Hong?
Jika ia menolak, tentu akan menimbulkan kemarahan orang banyak. Namun kalau
diserahkan, ia kuatir si bocah muka kotor akan marah….
Dalam kebingungan, Siu-lam berpaling memandang kepada si bocah muka kotor!
Siau Yau-cu melangkah maju menghampiri dan menegurnya, “Siapakah sebenarnya
saudara ini? Jika tak mau mengaku terus terang, jangan sesalkan kita terpaksa akan
menindakmu!”
Siu-lam memperhatikan wajah bocah kotor itu dingin saja. Ia mempunyai kesan bahwa
bocah itu tentu tak keberatan. Maka segera ia hendak mengeluarkan robekan sutera yang
disimpannya itu.
“Engkoh Lam, jangan diberikan!” tiba-tiba Hian-song melengking.
Sambil berpaling Siu-lam menjawab, “Tak apalah. Toh sobekan suteraitu tak ada
rahasianya apa-apa. Tiada halangan mereka hendak melihatnya!”
Tetapi tiba-tiba ia terkejut dalam hati. Bukankah tulisan itu ditandai oleh kata-kata isteri
Swat? Seketika timbullah keraguannya. Namun saat itu robekan sutera sudah terlanjur
dikeluarkan. Jika tak diserahkan, tentu mudah disangka jelek. Namun diserahkan, tentu
akan menimbulkan kesulitan baru. Mereka tentu akan bertanya, siapakah yang menyebut
dirinya sebagai ‘isterinya Swat’ itu.
Setelah menimang sejenak, akhirnya Siu-lam menyerahkan juga robekan sutera itu
kepada Tay Hong seraya disertai kata-kata yang tandas, “Taysu seorang paderi utama,
wanpwe percaya penuh….”
Tay Hong siansu tak mengerti apa yang dimaksud oleh pemuda itu. Tetapi ia sungkan
untuk bertanya. Setelah menyambuti pemberian Siu-lam segera ia padukan dengan
separoh robekan dari Su Bo-tun tadi. Dan saat itu barulah ia melihat satu rangkaian katakata
yang berbunyi:
Pada baju Gan Leng-po yang kuletakkan peta Hiat-thi-tho, ternyata lenyap.
Isterimu Swat.
Beberapa jago silat, ada yang hendak menghampiri untuk melihat isi robekan sutera.
Tetapi Tay Hong memang seorang paderi yang bijaksana. Melihat dua kata yang terakhir
(isterimu Swat) cepat sekali ia sudah dapat menghubungkan dengan ucapan Siu-lam tadi.

“Omitohud!” cepat-cepat paderi itu mengatupkan robekan sutera lagi dan segera
berpaling kepada Su Bo-tun, “Benda yang Su-heng rampas tadi, kuwakilkan Su-heng untuk
menyerahkan kepada pemiliknya!”
Habis berkata ia segera menyerahkan kembali kedua robekan sutera itu kepada Siulam.
Serta merta Siu-lam menyambuti dan menjura kepada ketua Siau-lim-si itu, “Taysu
benar-benar seorang pemimpin yang arif bijaksana. Wanpwe kagum sekali!”
Tay Hong hanya tertawa hambar, “Loni jarang berkelana keluar maka tak begitu jelas
tentang cerita peta Hiat-ti-tho yang tersiar di luaran. Harap sicu suka menjelaskan!”
Pertanyaan itu kembali memojokkan Siu-lam. Dengan menyerahkan robekan sutera itu
kepada Tay Hong, ia duga si dara baju putih Bwe Hong-swat yang saat itu menyaru jadi
bocah muka kotor, tentu membencinya. Dan apabila ia menjelaskan tentang rahasia peta
itu lagi, sudah tentu akan menimbulkan dendam gadis baju putih itu.
Sesaat tak tahu ia apa yang harus dilakukan. Berpaling kepada si bocah muka kotor,
tampak dia tegak berdiri tenang. Sedikitpun kerut wajahnya tak menampilkan sinar
kemarahan. Sukar diduga bagaimana isi hatinya.
Suasana hening seketika. Berpuluh-puluh mata hadirin tertumpah pada Siu-lam.
Peta Hiat-ti-tho atau Telaga Darah merupakan pusaka yang paling diincar oleh seluruh
kaum persilatan. Maka pernyataan ketua Siau-lim-si itu, benar-benar mendapat reaksi
penyambutan yang besar.
Setiap orang segera membuat perhitungan (rencana) dalam hati. Setiap ucapan dan
gerak-gerik Siu-lam, mendapat sorotan yang tajam.
Siu-lam merasa saat itu dirinya berada di ujung tanduk. Setiap patah ucapan yang
keliru, pasti akan menimbulkan salah paham besar yang menjurus pada pertumpahan
darah.
Beberapa saat Siu-lam tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia benar-benar kehilangan
paham. Hatinya tegang bukan kepalang….
Sekonyong-konyong Ngo Cong-gi memecah kemacetan suasana dengan berseru
nyaring, “Kini persoalannya sudah jelas. Anak muda itu (Siu-lam) jika bukan orang Benggak
tentulah mempunyai hubungan dengan anak buah Beng-gak. Pernah kudengar cerita
orang, sebelum Lo Hian lenyap, dia telah membuat sebuah peta yang diberi nama Telaga
Darah. Seluruh ilmu silat dan ilmu pengobatan, ditulis dalam sebuah kitab, kemudian
disembunyikan dalam sebuah tempat rahasia. Peta itu merupakan peta rahasia tempat
penyimpanan kitab. Cerita itu sudah lama sekali tersiar didunia persilatan. Kurasa saudarasaudara
tentu sudah mendengarnya….”
Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan pula, “Dalam beberapa hari terakhir ini, memang
di dunia persilatan santer tersiar kabar tentang kemunculan peta Hiat-ti-tho. Tetapi tiada
yang pasti kebenarannya, hal itu karena tiada seorangpun yang tahu pasti siapakah yang
memilikinya. Andaikata tahu, punorang pasti akan merahasiakan. Akupun pernah tertarik
juga akan berita itu tetapi penyelidikanku selama ini sia-sia belaka. Yang nyata, sejak

meluapnya berita itu sampai ke daerah Kanglam, maka sering terjadi pembunuhanpembunuhan
gelap. Tahu-tahu sebuah keluarga atau sebuah perguruan telah dibunuh
orang. Dan setiap pembunuhan itu tentu dilakukan secara habis-habisan sampai ke candil
abangnya.
Sudah tentu masyarakat dan dunia persilatan menjadi panik. Menurut dugaanku,
pembunuhan itu mempunyai sangkutan dengan peta Hiat-ti-tho. Dan kini setelah ternyata
peta itu muncul di sini, sebaiknya janganlah lo-siansu menyerahkan benda itu kepada
orang…” orang she Ngo itu menutup kata-katanya sambil memandang lekat-lekat pada
sobekan sutera yang dicekal Siu-lam. Sorot matanya mengandung nafsu hendak
merampas….
Tay Hong gelengkan kepala tertawa, “Robekan sutera yang ditangkap siau-sicu itu,
telah kuberikan jelas. Bukan peta Hiat-ti-tho! Jika peta Hiat-ti-tho masakan loni berani
gegabah mengembalikan kepadanya!”
Ngo Cong-gi tertegun diam.
Dalam pada itu, Siu-lam memperhatikan sekalian jago-jago pada saat itu. Mereka
nampak tegang dan siap berkelahi. Siu-lam menenangkan diri dengan menghias
senyuman.
“Untuk kesekian kalinya wanpwe tandaskan,” katanya kepada Tay Hong siansu, “Bahwa
wanpwe tidak ada hubungan sama sekali dengan Beng-gak. Kebalikannya wanpwe malah
bersumpah tak mau hidup dalam satu kolong langit dengan mereka. Guruku dibinasakan
sehingga sumoayku terpaksa lari ke Coh-yang-ping mencari perlindungan pada Su locianpwe.
Jika taysu tak percaya harap tanyakan pada Su lo-cianpwe!”
Tay Hong berpaling, serunya, “Su-heng, benarkah hal itu?”
Su Bo-tun menyahut dingin, “Sebelum mengasingkan diri, aku pernah memberikan lima
batang uang Soh-in-kim-chi kepada orang. Barangsiapa yang mendapatkan uang itu, dia
dapat meminta pertolongan apapun kepadaku. Aku tak peduli siapa dia, pokok uang Sohin-
kim-chi itu merupakan hutang budi yang harus kubayar!”
“Seluruh kaum persilatan tak ada yang tak kenal nama Su-heng!” seru Tay Hong pula,
“Siapa saja yang dapat menunjukkan uang emas Soh-in-kim-chi, tentu Su-heng
meluluskan apa saja yang dimintanya!”
“Yang menjadi peganganku ialah uang emas Soh-in-kim-chi itu asli atau tidak. Tentang
asal-usul orang itu dapat memperoleh uang tersebut, tak kuhiraukan!” sahut Su Bo-tun.
Tay Hong kurang puas dengan sikap dan perangai Su Bo-tun yang kelewat tak punya
perasaan.
“Loni benar-benar kagum atas tindakan Su-heng memberi uang emas sebagai tanda
Su-heng berhutang budi. Tetapi jika ada orang yang karena memiliki uang emas Soh-inkim-
chi sampai binasa dan Su-heng tetap berpeluk tangan saja, tidak tepatlah kalau uang
emas itu disebut Soh-in-kim-chi….”

“Dunia persilatan siapakah yang tak kenal perangai Su Bo-tun yang aneh? Masakan kau
perlu meminta penjelasan lagi? Apakah artinya sebutan Siu-chiu-kiau-in itu?” tukas Su Botun.
“Kalau begitu mengapa tak mengganti nama Soh-in-kim-chi dengan Soh-beng-kim-chi
saja?” tiba-tiba terdengar seseorang menyeletuk. Soh-in artinya pengikat budi tetapi Sohbeng
artinya pengikat nyawa atau kebalikan arti dari Soh-in.
Sekalian orang berpaling ke arah suara itu. Ternyata dia seorang lelaki berjubah biru
tua. Usianya kurang lebih enam puluh tahun tetapi masih nampak gagah.
Hadirin tak kenal padanya. Tetapi bahwa dia diundang untuk menghadiri rapat Enghiong-
tay-hwe tentulah seorang tokoh yang cemerlang….
“Jika menyimpan uang emas Soh-in-kim-chi saja tak mampu, biarlah nyawanya
direnggut orang!” Siu-chiu-kiau-in Su Bo-tun mendengus.
Jago tua berjubah biru yang bicara tadi, tersinggung mendengar kata-kata Su Bo-tun.
“Sudah lama kudengar Su-heng ini sebagai tokoh persilatan yang paling tidak aturan.
Kiranya hari ini baru kubuktikan kebenarannya!”
Su Bo-tun tertawa dingin, “Hal itu masakan perlu kau yang mengatakan lagi? Memang
seumur hidup aku tak suka bicara tetek bengek. Jika kau tak puas, silahkan keluarkan
kepandaianmu!”
“Orang takut pada Su Bo-tun, tapi aku tidak takut…” jago tua itu berseru gusar seraya
melangkah maju.
Tay Hong siansu cepat maju menghadangnya, “Harap jiwi suka memandang mukaku
dan mundur dulu….”
Rupanya jago tua itu mengindahkan pada ketua Siau-lim-si. Ia menurut.
Tay Hong menghela napas pelahan dan memandang Su Bo-tun, “Su-heng sudah lama
mengundurkan diri dari masyarakat persilatan. Dan Tio-heng ini pun jarang sekali keluar.
Biarlah aku yang memperkenalkan saudara berdua…” ia berhenti sejenak dan tersenyum,
“walaupun jiwi berdua belum kenal, tapi tentu sudah saling mendengar nama masingmasing.
Tio-heng ini ialah Tio Hong-kwat, pendekar ternama yang pernah
menggemparkan dunia persilatan dengan Sam-kiam-it-pit (tiga pedang satu pit)!”
Ucapan itu mendapat sambutan yang gemuruh dari para hadirin. Mereka memandang
ke arah jago tua itu. Memang belasan tahun yang lalu, nama Sam-kiam-it-pit Tio Hongkwat
itu menjadi buah bibir orang persilatan daerah Tionggoan (Tiongkok). Lebih-lebih
kaum persilatan daerah Kanglam Kangpak sangat mengindahkan sekali kepadanya. Tetapi
sedikit sekali orang yang bertemu muka dengannya.
Dia benci pada segala kepalsuan dunia persilatan maka ia jijik sekali bergaul dengan
kaum persilatan. Untuk mencemoohkan mereka, sengaja ia memakai topeng yang
wajahnya buruk sekali. Tiap kali bertempur, selalu ia memakai topeng itu. Dalam
menjalankan darma kependekarannya, entah sudah berapa banyak tokoh-tokoh jahat
yang jatuh di tangannya. Dalam menilai sesuatu peristiwa ia selalu berpijak pada
kebenaran dan sedia menghadapi siapa saja dan tokoh sakti yang manapun juga.

Dia menggunakan senjata yang aneh. Tiga batang pedang dan sebatang pit (pena
orang Tionghoa). Walaupun sangat benci pada kejahatan tapi wataknya welas asih.
Terhadap tokoh-tokoh jahat yang dikalahkan tak mau ia menurunkan tangan ganas. Maka
sekian banyak korban-korbannya itu, jarang yang sampai terluka parah atau binasa. Jagojago
yang dikalahkan itu, tidak mendendam bahkan menaruh rasa kagum padanya, entah
sudah berapa banyak orang yang berusaha untuk bertemu muka dengan dia, tapi tak
pernah berhasil. Orang mengira dia menghilang dari dunia persilatan, tapi sebenarnya dia
masih sering keluyuran kemana-mana. Hanya orang tak mampu mengenalinya.
Maka kalau saat itu sekalian hadirin terbeliak kaget dan memandang dengan penuh
perhatian pada jago tua yang diperkenalkan sebagai Sam-kiam-it-pit, memang tak
mengherankan.
“Jiwi berdua adalah tetamu yang loni hormati,” kata Tay Hong lebih lanjut, ”maksud
bukan lain hendak mohon bantuan jiwi untuk bersama-sama menumpas bencana yang
mengancam dunia persilatan dewasa ini. Dalam hal ini mohon keikhlasan jiwi berdua agar
jangan menghiraukan hal-hal yang kurang penting sehingga membuat loni sulit
mengurusi.”
Su Bo-tun mendengus dan palingkan muka.
“Ah, maafkan siansu. Belum membantu malah sudah menyulitkan siansu.”
Siau Yau-cu pun menghampiri, ujarnya, “Dalam menghadapi masalah penting ini, lebih
dulu kita harus mengadakan pembersihan…” ia memandang Siu-lam, kemudian si dara
Hian-song lalu si bocah bermuka kotor. Katanya pula, “Setelah kupikir berulang kali,
memang ilmu pedang saudara Pui itu, serupa dengan ilmu pedang yang dahulu dimainkan
si wanita iblis pemilik jarum Chit-jiau-soh. Dan bocah muka kotor itu, gerak-geriknya lebih
mencurigakan juga. Walaupun belum berani kukatakn bahwa dia orang suruhan Beng-gak,
tapi kita tak dapat menghindari dugaan begitu.”
Saat itu Siu-lam benar-benar kehabisan akal. Ia insyaf akan suasana yang gawat. Sekali
salah urus, tentu akan menimbulkan bencana. Menghadapi tokoh sakti yang hadir di situ,
akibatnya kalau tidak mati tentu terluka berat.
Jilid 13
TANPA TERASA, ia berpaling memandang Hian-song dan si bocah muka kotor. Tampak
bocah itu tenang saja seperti tak menghiraukan keadaan di sekelilingnya. Sebaliknya diamdiam
Hian-song telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Tay Hong berpaling memandang Siu-lam, ujarnya, “Kiranya sicu masih menyimpan
banyak rahasia. Benar-benar loni tak mengerti mengapa sicu tak mau mengutarakan?”
Sejenak mata Siu-lam menyapu sekalian hadirin. Katanya, “Benar, benar, memang aku
menyimpan banyak rahasia. Tetapi rahasia itu sama sekali tiada hubungan dengan hadirin
di sini. Apalagi aku telah berjanji pada seorang untuk tidak membocorkannya.”

“Jika siau-sicu tak dapat menerangkan dengan terus terang, loni pun sukar untuk
melindungi,’ kata Tay Hong siansu.
Tiba-tiba Hian-song melesat ke samping Siu-lam, lengkingnya, “Kalau tak mau
mengatakan terus terang, lalu bagaimana?”
“Soal ini menyangkut mati hidupnya ribuan orang persilatan. Sekali-kali loni tiada
mempunyai maksud apa-apa, harap jiwi berdua suka menimbang semasak-masaknya!”
Siu-lam mengambil lengan baju si dara, bisiknya, “Tay Hong siansu seorang paderi
yang berbudi luhur, harap sumoay jangan sampai melanggar adat kepadanya.”
Hian-song terkesiap tetapi pada lain saat ia tertawa dan menyingkir ke belakang Siulam.
Tay Hong siansu menghela napas; “Kiranya siau-sicu tadi tentu sudah mendengar cerita
Siau lo-cianpwe tentang jarum sakti Chit-jiau-soh. Jarum yang halus kecil itu, telah
merupakan lambang Elmaut bagi setiap orang persilatan yang melihatnya. Jika sekarang
jarum itu muncul lagi di dunia persilatan, apalagi jarum itu diperuntukkan tanda undangan
kepada seluruh tokoh persilatan agar menghadiri pesta maut di gunung Beng-gak,
tentulah merupakan persoalan yang hebat sekali.
Siau-sicu masih muda, tentu tak menyaksikan betapa ngeri suasana pembunuhan yang
telah terjadi di dunia persilatan akibat keganasan jarum Chit-jiau-soh. Kemunculan jarum
maut itu lagi dapat dibayangkan betapa ngerinya banjir darah yang akan menggenangi
dunia persilatan nanti. Jika siau-sicu memang orang dari Beng-gak, loni tak dapat berbuat
apa-apa. Tetapi jika bukan, loni mohon kerelaan siau-sicu untuk menyelamatkan ribuan
orang persilatan!”
Dengan halus Tay Hong siansu telah memberi ultimatum (peringatan) kepada Siu-lam.
Jika anak muda itu tetap menolak untuk memberi keterangan, seluruh hadirin tentu akan
menuduhnya sebagai orang Beng-gak. Apa yang akan terjadi, dapatlah sudah Siu-lam
membayangkan.
Tengah Siu-lam merenung, tiba-tiba dari luar ruangan terdengar derap kaki orang
melangkah masuk. Begitu melihat siapa pendatang itu, buru-buru Siu-lam memberi hormat
dan berseru girang, “Ah, kebetulan sekali Tio supeh datang. Aku sedang menderita
dicurigai sebagai orang Beng-gak. Mohon supeh suka menolong kesulitanku!”
Kiranya yang datang itu bukan lain ialah Tio It-ping, salah seorang jago pedang yang
termasyhur di wilayah Kanglam. Begitu masuk, ia curahkan mata memandang pada si
bocah muka kotor.
“Dunia persilatan Kanglam, siapa yang tak tahu kalau kau murid dari Ciu Pwe…!”
sahutnya.
“Memang telah kujelaskan hal itu kepada para lo-cianpwe, tetapi rupanya tidak
dipercaya!” kata Siu-lam. Tiba-tiba ia teringat sewaktu berpisah dengan supeh itu,
tanyanya, “Apakah luka supeh sudah sembuh?”
Tio It-ping mengangguk. Sambil menghampiri ke tempat Siu-lam, ia menanyakan
tentang diri Hian-song, serunya, “Siapakah anak perempuan ini?”

Setelah berpisah dalam keadaan berbahaya, seharusnya Tio It-ping menanyakan
tentang keadaan Siu-lam selama ini, tetapi tidak sepatah pun kata-kata semacam itu
terluncur dari mulutnya. Wajah jago tua itu tampak dingin-dingin saja.
Siu-lam menerangkan bahwa Hian-song pernah menolong jiwanya dan kini mereka
saling berbahasa sebagai suheng dan sumoay.
“Hm, karena mempunyai sumoay yang cantik maka kau lantas melupakan sumoay yang
dulu!”dengus Tio It-ping.
Siu-lam terkesiap, “Apakah maksud supeh….”
“Mengapa kau tak mengerti?” sahut Tio It-ping. “Mendapat yang baru melupakan yang
lama, memang bukan hal yang mengherankan. Hanya sayang gite (adik angkat, yang
dimaksud ialah Ciu Pwe), telah keliru mengambil seorang murid palsu. Bukan saja
menurunkan seluruh kepandaiannya, pun pada saat menutup mata telah memesan
kepadaku dan Jui-tian-ih-hong Lim Jing-siu supaya melaksanakan perjodohan anak
perempuannya dengan kau. Hm, gite-ku itu punya mata tetapi tak dapat melihat orang….”
Siu-lam makin gugup, serunya, “Sudilah kiranya supeh mengatakan yang jelas. Biar
bagaimana aku tentu melaksanakan.”
Tio It-ping merasa, ucapannya tadi memang kurang jelas. Ia agak tenang dan berseru,
“Oh, kalau begitu kau masih ingat pada Ciu sumoaymu?”
Sahut Siu-lam, “Suhu benar-benar telah mengalami nasib yang menggenaskan. Seluruh
keluarganya dibunuh, puteri tunggalnya yang lolos ke Coh-yang-ping pun akhirnya jatuh
ke tangan iblis wanita Ih Ing-hoa. Aku sendirilah yang mengubur jenazah sumoay di dalam
lembah Coh-yang-ping.”
Ih Ing-hoa adalah momok wanita yang termasyhur di dunia persilatan. Hadirin tahu
siapa wanita itu. Mereka terbeliak mendengar kata-kata Siu-lam.
Mata Siau Yau-cu berkilat-kilat. Ia melangkah maju menghampiri Siu-lam, tegurnya,
“Apakah dia masih hidup? Di mana kau melihatnya…” tiba-tiba jago Bu-tong-pay itu
teringat akan kedudukan dirinya. Sikapnya yang tampak gugup itu tentu akan
menimbulkan dugaan para hadirin. Maka ia tak mau melanjutkan kata-katanya.
“Apakah lo-cianpwe kenal pada Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa itu?” Siu-lam balas bertanya.
Sebenarnya Siau Yau-cu tak suka menjawab pertanyaan mengenai hal itu, namun
mulutnya bersungut-sungut, “Bukan hanya kenal saja, sekalipun sudah jadi bangkai, tetap
kukenalnya…” tiba-tiba ia menyadari kalau kelepasan omong. Tapi sudah terlanjur.
“Ih Ing-hoa mempunyai kesalahan, pun mempunyai jasa. Dunia persilatan masih belum
punya penilaian pasti terhadap dirinya. Kau seorang anak muda, tak pantas memaki orang
tanpa mengetahui duduk perkaranya!” cepat-cepat Tio It-ping menyeletuk. Jelas bahwa
jago tua itu, simpati terhadap Ih Ing-hoa.
Tay Hong siansu segera menengahi, “Sekarang ini masih belum diketahui Ih Ing-hoa
mati atau masih hidup. Maka sukar untuk menetapkan penilaian terhadap dirinya.”

Tampak tubuh Siau Yau-cu agak menggigil. Menatap Siu-lam, jago tua dari Bu-tong-pay
itu bertanya, “Apakah Ih Ing-hoa masih hidup?”
“Sudah mati…” sahut Siu-lam.
Siau Yau-cu terkesiap. Masih ia menegas lebih lanjut, “Kapan dia mati? Di mana
mayatnya sekarang?”
Siu-lam mempunyai kesan bahwa ucapan jago tua Bu-tong-pay itu mengandung
perhatian mesra kepada Ih Ing-hoa. Diam-diam ia bersangsi sendiri apakah wanita
berwajah jelek di dalam goha tempo hari benar Ih Ing-hoa atau bukan. Karena selama itu,
si wanita tak pernah mengatakan asal-usulnya.
“Eh, kutanyakan di manakah mayatnya sekarang, mengapa kau diam saja? Apakah kau
tidak mendengar?” Siau Yau-cu mengulangi.
Melihat kesibukan orang, Siu-lam menyahut dengan tenang, “Apakah wanita itu benar
Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa atau bukan, aku tidak berani memastikan, hanya dugaan saja!”
Sebagai seorang jago tua yang ternama, cepat-cepat Siau Yau-cu menindas
kegoncangan hatinya. Sikap Siau Yau-cu menimbulkan tafsir lain pada hadirin. Mereka
mengira jago tua itu tentu mempunyai ganjalan hati kepada wanita iblis Ih Ing-hoa.
Merekapun tak mau mendesak lebih lanjut.
Setelah melepaskan diri dari pertanyaan Siau Yau-cu, Siu-lam berpaling ke arah Tio Itping
dan menanyakan keadaan supeh itu selama berpisah.
Jawab Tio It-ping, “Walaupun perpisahan itu tak lama, tetapi ceritanya panjang sekali.
Nanti saja apabila ada kesempatan akan kuceritakan padamu!”
Kemudian jago tua itu berpaling kepada Tay Hong siansu, serunya, “Anak ini memang
benar murid Ciu Pwe. Bukan saja tak mempunyai hubungan dengan pihak Beng-gak,
tetapi malah mempunyai dendam darah yang hebat. Hal ini, aku yang menjadi saksinya!”
Namun ketua Siau-lim-si itu tetap berkata, “Ah, hati orang sukar diduga. Walaupun siasicu
itu berasal dari murid keluarga Ciu, tetapi dia sudah berpisah beberapa bulan dengan
Tio tay-hiap. Dalam beberapa bulan itu, sukar untuk menjamin bahwa dia tidak
berobah….” Jelas bahwa ketua Siau-lim-si itu, sudah mempunyai kecurigaan besar
terhadap Siu-lam, sampaipun kata-kata Tio It-ping tak dipercayai.
“Jika lo-siansu tak percaya, memang aku dapat berbuat tak apa-apa…” sungut Siu-lam.
Tiba-tiba Tay Hong berseru nyaring, “Siapakah anak perempuan yang menyaru menjadi
bocah laki-laki bermuka kotor itu? Walaupun pura-pura gagu, tetapi tetap tak dapat
mengelabuhi mata loni!”
Ucapan ketua Siau-lim-si itu menyebabkan sekalian hadirin terbeliak dan berpaling
memandang si bocah bermuka kotor.

Siu-lam pun terkesiap. Ia duga pengetahuan Tay Hong itu tentu berasal dari surat yang
dilontarkan dara baju putih Bwe Hong-swat kepadanya itu. Ia kuatir dara itu akan marah
kepadanya.
Rupanya Bwe Hong-swa atau si bocah muka kotor itu dapat mengetahui keresahan hati
Siu-lam. Tiba-tiba ia tertawa dan berseru kepada Tay Hong, “Hm, bukankah setelah
membaca surat itu aku baru tahu aku seorang wanita? Kalau tahu mengapa sejak tadi kau
tak mau mengumumkan?”
Permainannya bersandiwara menjadi orang gagu, saat itu buyar seketika….
Su Bo-tun segera mendengus, “Hm, pertama kali melihatmu, aku sudah menduga kau
tentulah bocah perempuan baju putih dari gerombolan Beng-gak….”
Bwe Hong-swat mengusap mukanya dengan lengan baju. Seketika terlihatlah wajahnya
yang asli. Sebuah wajah gadis yang berkulit putih segar.
“Kau memang suka membual! Kalau memang tahu mengapa tadi-tadi tak mengatakan.
Sekarang setelah orang lain bilang, kau tak mau kalah angin…” seru Hong-swat.
“Memang aku sengaja hendak menunggu permainan yang hendak kau suguhkan. Maka
aku tak mau membuka kedokmu dulu!” sahut Su Bo-tun marah.
“Su-heng, apakah benar anak perempuan ini benar orang Beng-gak?” tanya Tay Hong.
“Benar,” sahut Su Bo-tun, “Bukan hanya anak buah saja tetapi dia adalah murid
kesayangan dari ketua Beng-gak!”
Bwe Hong-swat terkesiap. Ia heran mengapa Su Bo-tun mengetahui keadaan dirinya.
Walaupun ia dibesarkan dan dididik dalam lingkungan serba ngeri, tetapi sebagai seorang
gadis yang baru berusia delapan belas tahun, ia masih memiliki perasaan ingin mengetahui
segala apa. Namun ia kuatir, jika menanyakan malah akan menimbulkan kerunyaman.
Tampak wajah Tay Hong mengerut serius, ujarnya dengan nada berat, “Soal ini penting
sekali. Harap Su-heng jangan bergurau!”
Tay Hong seorang ketua Siau-lim-si yang berwibawa. Betapapun sifat Su Bo-tun yang
dingin, tetapi saat itu mau tak mau ia terpengaruh juga oleh sikap Tay Hong. Seketika ia
menyahut, “Apa yang kukatakan, tak nanti salah. Harap lo-siansu jangan bersangsi lagi!”
Tanya Tay Hong pula, “Bagaimana Su-heng tahu kalau dia anak murid Beng-gak?”
Ketua Siau-lim-si itu tidak mau bertindak secara gegabah. Ia menyadari, tindakan yang
salah akan mengakibatkan kehancuran.
Rupanya Su Bo-tun kesal hati. Ia memandang ke atas tiang penglari, ia menyahut
dingin, “Setiap orang tahu peristiwa hebat pada belasan tahun yang lalu di mana tokohtokoh
partai persilatan telah menguber dan menggempur wanita iblis pemilik Chit-jiau-soh.
Tetapi tiada seorangpun yang tahu bahwa aku Su Bo-tun tanpa banyak ramai, seorang diri
telah bertempur dengan perempuan siluman itu sampai sehari semalam. Walaupun
akhirnya aku dilukai oleh perempuan iblis itu, tetapi aku bertempur dengan mengandalkan
pada kepandaianku sendiri. Dari pertempuranku dengan budak perempuan itu tadi jelas

kuketahui bahwa ilmu silatnya sama dengan perempuan iblis pemilik Chit-jiau-soh dulu.
Jelaslah sudah bahwa ketua Beng-gak sekarang ini tak lain tak bukan adalah perempuan
iblis pemilik Chit-jiau-soh itu juga!
Dan dugaanku lebih diperjelas dengan adanya undangan dari Beng-gak yang
menggunakan Chit-jiau-soh sebagai surat undangan. Bahwa budak perempuan yang baru
berumur dua puluhan tahun sudah begitu hebat kepandaiannya, siapa lagi kalau bukan
anak murid kesayangan dari iblis perempuan pemilik Chit-jiau-soh….”
Sebenarnya dalam hati Su Bo-tun kagum atas kepandaian bocah muka kotor itu.
Namun mulutnya berkata lain.
Bwe Hong-swat dengan tenang membuka kancing bajunya. Ia hendak membuka baju
di hadapan para hadirin. Sudah tentu sekalian hadirin terkesiap. Tay Hong segera berseru
menganjurkan hadirin agar memalingkan muka. Semua orang menurut. Hanya Hian-song
yang tetap deliki mata memandang lekat-lekat pada gerak-gerik Bwe Hong-swat.
Bwe Hong-swat bergerak cepat. Dalam beberapa kejap iapun sudah membuka bajunya,
menyingkap rambut palsu, mengusap-usap mukanya lalu melongsorkan rambutnya ke
atas. Seketika tampak dirinya yang asli. Seorang gadis cantik dalam pakaian putih. Dengan
wajah yang membuka dingin, ia tegak berdiri di tengah ruangan.
Sambil membelai-belai rambut, ia berseru hambar, “Kalau benar, mau apa? Kalah salah,
mau apa?”
Di hadapan sekian banyak tokoh ternama, ia tampak tenang sekali. Sedikitpun tak
mengunjuk rasa gentar.
Tay Hong tersenyum, serunya, “Li-sicu benar-benar bernyali besar. Loni sangat kagum.
Para hadirin di sini adalah mereka yang diundang oleh suhumu untuk menghadiri pesta
Ciau-hun-yan di lembah Coat-beng-koh. Tetapi sejauh pengetahuanku, tak ada gunung
yang disebut Beng-gak itu. Maukah li-sicu memberitahukan tempat itu?”
Sahut Bwe Hong-swat dingin, “Lembah Coat-beng-koh, pesta maut Ciau-hun, suatu
tempat yang berkabut keseraman, berawan kengerian. Bisa datang, tak bisa pulang.
Sebaiknya kalian jangan datang kesanalah!”
Kata-kata itu menimbulkan berbagai pertanyaan dalam hati para hadirin. Siau Yau-cu
tertawa dingin, serunya, “Kata-kata nona itu, sungguh sukar dimengerti. Jika nona tak
mau menjelaskan terpaksa kami minta tolong nona untuk menunjukkan jalan ke gunung
itu!”
Dengan masih tetap tawa hambar, Bwe Hong-swat menyahut, “Jika kalian memang
hendak mengantar jiwa, harap jangan terburu-buru. Pada waktunya tentu bakal ada orang
yang datang menjemput…” ia berhenti merenung. Sesaat kemudian berkata lagi, “Coanbeng
tiada tempat, Cian-hun mempunyai tempat. Kalian masih mempunyai waktu dua
bulan untuk hidup….”
“Budak hina, jangan coba-coba menggertak orang! Aku tak percaya di dunia terdapat
semacam tempat yang begitu misterius!” tiba-tiba dari sudut ruangan terdengar suara
orang melengking.

Sekalian hadirin memandang ke arah suara itu. Ah, ternyata seorang tua bertubuh
pendek. Dia mengenakan pakaian compang-camping penuh tambalan. Jika tidak buka
suara, hadirinpun tak mengetahui bahwa di sudut ruangan ternyata terdapat seorang tua
pendek yang sedemikian anehnya.
Orang itu telinganya panjang sekali sehingga menjulur sampai ke pundak. Sepasang
matanya setengah meram setengah melek. Hidungnya mekar, alis pendek dan
tubuhnyapun pendek gemuk. Sepintas pandang memang aneh sekali perawakan orang itu.
Bwe Hong-swat si gadis berhati dingin tak kuasa menahan gelinya ketika melihat
perwujudan orang pendek itu. Serunya, “Hi hi kau juga akan menghadiri pesta Ciau-hunyan?”
Orang pendek itu menyahut dingin, “Seumur hidup aku paling benci melihat perempuan
tertawa. Kalau bicara, bicaralah yang tegas. Jangan cekikikan tak genah. Kalau tak
menurut, awas, tentu kuhajar!”
“Uh, justeru aku hendak tertawa sebebas-bebasnya supaya kau dapat menikmati.
Setelah itu baru akan bicara!” sahut Bwe Hong-swat. Sambil menyingkap rambutnya ke
belakang bahu, gadis itupun tertawa gelak-gelak. Nadanya penuh kerawanan.
Biasanya orang tak menaruh perhatian karena wajah gadis itu berseri dingin. Tetapi
saat itu ketika ia tertawa, air mukanyapun berubah berseri-seri laksana bunga sedang
mekar….
Tiba-tiba terdengar orang tua pendek mendengus geram. Ia mengangkat tangan
kanannya dan dikibaskan ke muka. Seketika Bwe Hong-swat hentikan tertawanya dan
menyurut mundur beberapa langkah.
“Bu-ing-sin-kun!” teriak Siau Yau-cu. Bu-ing-sin-kun artinya pukulan tanpa bayangan.
Kakek pendek gemuk itu tak menghiraukan Siau Yau-cu. Ia melesat maju ayunkan
tangannya. Bwe Hong-swat kembali terdorong mundur. Tubuhnya tampak gemetar sedikit
seperti orang yang menderita luka berat. Dan kakek pendek itu dengan wajah bengis,
maju menghampiri.
Saat itu kaki Bwe Hong-swat tak dapat berdiri jejak dan tubuhnyapun terhuyunghuyung.
Wajah pucat, ujung mulutnya seperti mengulum darah. Jika kakek kerdil itu
memukul lagi, Bwe Hong-swat tentu binasa seketika! Tetapi gadis itu keras hati. Walaupun
menghadapi bahaya kematian, tetap ia tak mau minta ampun. Setelah mundur empat-lima
langkah ia berhenti.
Melihat itu timbullah rasa kasihan Siu-lam. Bagaimana juga, ia pernah berjanji menjadi
suami-siteri dengan gadis itu. Apalagi gadis itu pernah menolong jiwanya. Segera ia
bersiap-siap memberi pertolongan.
Tampak si kakek cebol mengangkat tangannya dan maju menghampiri. Gaya
pukulannya memang luar biasa anehnya. Sedikitpun tak mengeluarkan suara dan
sambaran angin dan tahu-tahu lawan sudah menderita.

Melihat hal itu cepat-cepat Siu-lam bertindak. Sambil berseru nyaring ia menerjang si
kakek cebol dengan dorongkan kedua tangannya. Jurus itu disebut Hud-hwut-hu-pian,
ajaran kakek dari Hian-song.
Karena yakin akan kesaktiannya, si kakek cebol hanya tertawa dingin saja dan kerahkan
tangannya menangkis. Tetapi tiba-tiba tangan Siu-lam meluncur ke bawah dan berputarputar.
Tahu-tahu tangan kanan si kakek tersiak ke samping dan telapak tangan Siu-lam
langsung menjamah dada si kakek. Tetapi Siu-lam tak mau melontarkan tenaga dalam
yang telah dikerahkan pada telapak tangannya itu. Ia hanya meminta dengan berbisik,
“Harap lo-cianpwe suka memberi ampun kepadanya!”
Wajah kakek cebol itu berubah seketika. Dia biarkan saja dadanya dijamah Siu-lam. Tak
mau menyurut mundur juga tak mau menangkis.
“Setiap berkelahi, aku selalu berpegang pada anggar-anggar. Siapa yang dapat
memenangkan aku, tentu kululuskan permintaannya. Dengan kepandaian yang kau miliki
sekarang walaupun lebih hebat lagi sedikit, nanti tak mampu melukai aku. Tetapi karena
kau mampu menjamah dadaku, pantas juga mendapat pujianku. Ya, aku suka mengaku
kalah. Dalam itupun, kaulah orang kedua yang dapat mengalahkan aku!”
Siu-lam menarik tangannya, “Wanpwe takkan minta apa-apa hanya mengharap locianpwe
suka melepaskan nona baju putih itu!”
“Menang satu kali, aku hanya dapat mengabulkan sebuah permintaan. Jika kululuskan
membebaskannya, berarti aku sudah tak berhutang janji lagi padamu. Apa kau tak
menyesal?”
“Seorang lelaki sekali bilang, tentu takkan menyesal!” sahut Siu-lam.
Kakek pendek itu merogoh ke dalam baju dan mengeluarkan sebuah botol kecil dari
batu kumala lalu menuang sebutir pil putih. Katanya kepada Bwe Hong-swat, “Kau telah
terkena dua kali pukulan Bu-ing sin-kun. Tentu menderita luka dalam. Makan pil ini tentu
sembuh!”
“Siapa sudi minum pil darimu!” sahut Bwe Hong-swat angkuh.
Kakek pendek itu marah, “Kalau tak minum pil jangan harap kau hidup lebih dari tiga
bulan!”
“Matipun tak mengapa,” jawab Bwe Hong-swa seraya berputar diri terus melangkah
pergi.
It-ciang-cin-sam-siang Ngo Cong-hian dan Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong yang tengah
berdiri di ambang pintu, cepat menghadang gadis itu.
Bwe Hong-swat menginsyafi, dalam keadaan terluka seperti saat itu, tidak mungkin
dapat melawan kedua tokoh itu. Segera ia hendak loncat keluar.
Tiba-tiba terdengar Ngo Cong-hian mendesak dan menyurut ke samping. Tepat pada
saat itu terdengar suara tertawa dingin dari si kakek pendek, “Siapa yang berani
menghadang nona itu, akan mendapat Bu-ing sin-kun!”

Pada saat itu Siu-lampun sudah loncat ke samping Bwe Hong-swat. Ketika melihat
tanpa sebab apa-apa mendadak Ngo Cong-hian menyingkir ke samping, tahulah ia si
kakek pendek telah memberi bantuan. Buru-buru ia berbisik kepada Bwe Hong-swat,
“Lekas tinggalkan tempat ini, nona!”
Bwe Hong-swat menghela napas perlahan. Wajahnya berkerut-kerut hendak
mengucapkan sesuatu tetapi tak jadi.
Tiba-tiba sesosok tubuh melesat menyanggapi tubuh Ngo Cong-hian yang terhuyunghuyung,
serunya cemas, “Apakah kau terluka berat?”
Siu-lam agak terkesiap. Dilihatnya penolong itu mirip seperti pinang dibelah dua dengan
Ngo Cong-hian. Dia kenal orang itu Ngo Cong-gi bergeral Tei-Tui-Hong-ciau yang pernah
dijumpai di karang Coh-yang-ping. Memang keduanya itu kakak beradik. Ngo Cong-hian
menjadi pemimpin kaum persilatan di daerah Oulam. Sedangkan Ngo Cong-gi berkelana di
dunia persilatan. Melihat engkohnya terluka, Ngo Cong-gi pun cepat-cepat menolongnya.
Tay Hong siansu maju menghampiri dan menegur kakek cebol itu, “Apakah lo-cianpwe
ini Bu-ing-sin-kun yang termasyhur di dunia persilatan?”
Orang tua pendek itu tiba-tiba berpaling kepada Siu-lam, serunya, “Aneh, orang itu tak
mengandung maksud baik tapi tak mengajukan sikap bermusuhan!”
Ia tak menghiraukan Tay Hong. Namun ketua Siau-lim-si itu seorang paderi yang penuh
toleransi. Ia tak marah. Kemudian melangkah ke hadapan si kakek pendek. Tetapi belum
lagi paderi itu membuka mulut, si kakek cebol sudah mendahuluinya. “Meminta aku
supaya jangan merintangi jalannya, benarkah seperti kentut busuk?”
Terdengar desah tertahan dan Kau Cin-hong yang ikut menghadang tadi, pun menyurut
ke samping memberi jalan.
Siu-lam cepat-cepat menyanggah pinggang Bwe Hong-swat, “Lekas pergi,” sekali
mengayunkan tangan ia lemparkan tubuh gadis itu keluar pintu.
Karena tak dihiraukan, hilanglah kesabaran Tay Hong siansu, serunya nyaring, “Dia
terluka parah, mungkin sukar melintasi Beng-gwat-ciang sini!”
Dengan kata-kata itu ia hendak mengatakan bahwa Beng-gwat-ciang tempat
pertemuan besar itu penuh dengan penjagaan yang ketat.
Seru si kakek pendek dengan dingin, “Siapa yang berani merintangi tentu sudah bosan
hidup!”
Tay Hong berseru gusar, “Memang sudah lama loni mendengar kemasyhuran nama Buing-
sin-kun. Hari ini benar-benar loni tambah pengalaman….”
Tiba-tiba kakek pendek itu tertawa nyaring sehingga memutuskan ucapan Tay Hong
yang belum selesai. Kemudian ia berseru lantang, “Aku tinggal lama sekali di Se-gak (luar
perbatasan daerah barat atau Tibet). Jarang benar aku datang ke Tiong-goan. Tetapi
sekalipun tinggal di daerah terpencil, sering juga aku mendengar tentang dunia persilatan
Tiong-goan yang penuh dengan jago-jago sakti. Terutama mengenai partai Siu-lim-si
sangatlah berkumandang. Ilmu kesaktian dari kitab Tat-mo-ih-kin-keng dan tujuh puluh

dua macam ilmu kepandaian, telah menempatkan Siau-lim-si sebagai partai utama yang
memimpin dunia persilatan Tiong-goan. Sudah lama kurindukan, jika hari ini kau
beruntung dapat menerima pelajaran barang beberapa jurus, alangkah senang aku!”
Tay Hong siansu benar-benar tak kecewa sebagai ketua dari sebuah partai persilatan
besar. Ucapan si kakek pendek yang penuh dengan provokasi itu, tak dapat lekas-lekas
membangkitkan kemarahan ketua Siau-lim-si itu. Bahkan dia tampak tenang-tenang saja.
Dengan wajah ramah dan senyum cerah, berserulah Tay Hong, “Terima kasih atas pujian
yang tak layak loni terima itu. Sebagai pejabat yang diserahi untuk menjadi ketua ke
duapuluh delapan dari gereja Siau-lim-si, loni hanya ditugaskan untuk mengembangkan
ajaran-ajaran budi welas asih, bukan dendam permusuhan….”
Kakek pendek itu tertawa dingin dan berseru menantang, “Kecuali para ko-chiu Siaulim-
si boleh dikata seluruh jago-jago sakti dalam dunia persilatan Tiong-goan telah
berkumpul di sini. Siapapun saja, apabila suka bermain-main dengan aku si orang tua ini
barang dua jurus saja, tentu akan kusambut dengan gembira sekali!”
Rupanya kakek pendekitu bernafsu sekali untuk berkelahi. Maka ucapannya itu bernada
suatu tantangan pada sekalian hadirin!
Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat rupanya tak dapat tinggal diam lagi. Pikirnya, “Hm,
congkak sekali orang itu. Dia tak memandang mata sama sekali kepada kaum persilatan
Tiong-goan. Jika tak diberi pengajaran, tentu dia makin besar kepala.”
Sebelum Tay Hong membuka mulut, Tio Hong-kwat segera mendahului berseru,
“Kudengar dalam ilmu kesaktian terdapat semacam ilmu pukulan yang disebut Bu-ing-sinkun.
Konon kabarnya pukulan itu tak mengeluarkan suara sama sekali. Tahu-tahu orang
akan menderita luka dalam yang parah tanpa dapat menghindar….”
“Kau siapa? Apakah kau berminat hendak menguji Bu-ing-sin-kun?” seru si kakek
pendek.
Menyaksikan bahwa Bwe Hong-swat, Ngo Cong-hian dan Kau Cin-hong telah dilukai
pukulan Bu-ing-sin-kun, diam-diam Tio Hong-kwat sudah siapkan rencana untuk
menghadapi si kakek pendek. Ia mengeluarkan tiga batang belati pendek dan tangan kiri
menjepit sebatang poan-koan-pit. Serunya, “Terima kasih atas perhatian saudara yang
suka memberi pelajaran sakti kepadaku. Tetapi akupun hendak mainkan senjata-senjataku
ini. Jika permainanku jelek, harap jangan ditertawakan!”
Kakek cebol itu mendengus dingin, “Tak apa kau hendak pakai senjata apapun, asal
dapat melukai diriku, aku tentu mengaku kalah….”
Tiba-tiba kakek itu memandang keluar. Dilihatnya Bwe Hong-swat pergi dengan
langkah pelahan-lahan. Diam-diam timbullah kasihannya. Ia tahu bahwa apa yang
dikatakan Tay Hong siansu tadi tentu tak bohong. Apa yang diperingatkan ketua Siau-limsi
itu tentu sesungguhnya. Bwe Hong-swat tentu sukar untuk lolos dari penjagaan muridmurid
Siau-lim-si….
Memikir keadaan si gadis, serentak bangkitlah nafsu berkelahi dari si kakek cebol.
Serentak ia berseru lantang menyahut pernyataan Tio Kwat-hong, “Jangan lagi hanya tiga
batang pisau kecil sekalipun kau tambah dengan beberapa macam senjata, bagiku tiada
artinya. Ayo, silahkan kau tunjukkan permainanmu!”

Saat itu Sam-kiam-it-pit Tio Kwat-hong telah siap. Sejak mengundurkan diri dari dunia
persilatan, ia telah berhasil meyakinkan suatu ilmu lwekang yang istimewa. Masih belum
banyak orang yang mengetahui hal itu. Walaupun kehadirannya dalam pertemuan Benghiong-
tay-hwe itu bukan bertujuan untuk mempertunjukkan kepandaian, tetapi keadaan
telah menyeretnya dalam suasana yang berlainan dengan tujuannya. Adalah berkat ilmu
keyakinannya maka ia dapat membuat Su Bo-tun mengkeret nyalinya. Karena saat itu ia
tengah kerahkan ilmu lwekangnya yang baru, maka ia tak dapat menyahut tantangan si
kakek pendek.
Tay Hong benar-benar seorang paderi berilmu. Selain ilmu agama, iapun mahir akan
ilmu silat berbagai aliran. Tatkala Siau Yau-cu menyerukan ilmu pukulan Bu-ing-sin-kun
tadi, dengan cepat Tay Hong sudah dapat menangkap. Memang ia tahu bahwa dalam
dunia ilmu silat terdapat ilmu pukulan aneh semacam itu. Sayang di dunia persilatan
Tiong-goan selama ini belum terdapat tokoh yang memiliki ilmu kepandaian itu.
Menjadi pemimpin gereja Siau-lim-si bukanlah mudah. Dia harus seorang paderi yang
benar-benar memiliki bakat dan kecerdikan yang gemilang. Kalau tidak dalam bidang
pelajaran agama tentu dalam bidang ilmu silat.
Sebenarnya paderi yang setingkat dengan Tay Hong, berjumlah sembilan orang. Dan
Tay Hong termasuk dalam urutan yang ke tujuh. Tetapi berkat kecerdasannya yang hebat
dan menonjol, dapatlah ia diangkat menjadi ketua Siau-lim-si. Sekalipun begitu dia
memiliki pribadi yang luhur dan rendah hati. Selain suhunya, para saudara
seperguruannya tidak mengetahui sampai di mana kesaktian ilmu yang dimiliki Tay Hong.
Dan karena selama puluhan tahun tak pernah berkelahi dengan orang, maka para
pengasuh bagian dalam gereja Siau-lim-si tetap tak mengetahui kepandaian Tay Hong.
Melihat Sam-kiam-it-pit Tio Kwat-hong hendak bertempur dengan si kakek cebol, diamdiam
iapun kerahkan lwekangnya untuk bersiap-siap memberi pertolongan apabila
diperlukan.
Ketika melihat Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat mengacungkan senjatanya dan tidak mau
bicara, tahulah orang tua pendek itu bahwa orang sedang mengerahkan tenaga. Namun
orang pendek itu hanya tertawa hambar saja.
Tiba-tiba ia kibaskan tangannya perlahan-lahan ke muka. Tidak terdengar suatu bunyi,
tak terdengar kesiur angin, tahu-tahu Tio Hong-kwat rasakan dirinya dilanda oleh
dorongan tenaga yang kuat, hingga tubuhnya bergetar dua kali….
Sekalian hadirin yang terdiri dari tokoh-tokoh persilatan itu, mau tak mau tercengang
menyaksikan kejadian yang aneh itu. Belum pernah mereka melihat suatu ilmu pukulan
yang demikian ajaib.
Setelah menerima sebuah pukulan Bun-ing-sin-kun, tiba-tiba Tio Hong-wkwat
hembuskan napas dan cepat taburkan ketiga batang belati kecil itu beriring-iring, satu di
muka dua di belakang, melayang ke arah si orang tua yang pendek.
Menggunakan tiga batang pisau yang dijepit dengan jari, sudah merupakan ilmu
permainan yang aneh. Kemudian pada saat tertekan musuh, cepat dapat membuat reaksi
menaburkannya, lebih menakjubkan lagi.

Tiba tang pisau itu seketika berubah seperti tiga buah bintang meluncur, mendesingdesing
menuju ke dada si orang tua pendek. Tetapi kakek pendek itu tak acuh. Pada saat
belati hampir tiba di dadanya, barulah ia kebutkan tangan kanan. Seketika ketiga batang
belati itu tersiak ke samping, melayang ke arah Tay Hong siansu.
“Omitohud!” Tay Hong berseru seraya kebutkan lengan jubahnya. Angin menderu keras
dan ketiga batang belati itupun mencelat ke atas tiang penglari.
Tiba-tiba Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat menggembor keras. Sekali tangan kanannya
berayun seperti orang memetik, ketiga belati itupun meluncur turun dan kembali ke dalam
tangannya lagi.
Adegan itu berlangsung dalam sekejap mata. Kakek pendek dari Tibet, ketua Siau-lim-si
dan Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat, telah mengunjukkan ilmu kepandaian yang luar biasa.
Menggunakan kesempatan itu, Siu-lam cepat-cepat lari keluar menyusul Bwe Hongswat.
Serunya berbisik, “Jika tak mau lari sekarang mau menunggu kapan lagi?”
Bwe Hong-swat menengadah memandang awan yang berarak di cakrawala, sahutnya
rawan, “Yang akan lari, bukan aku….”
Siu-lam mendengus lirih, “Bukan kau, masakan aku?”
Bwe Hong-swat mengusap bibirnya yang berdarah lalu tertawa hambar, “Kau dan
sumoaymu itu. Mumpung saat ini masih pagi, harap lekas-lekas menyingkir pergi! Aku
sudah menjadi isterimu, apa yang kukatakan tentu tak bohong!”
Kata-kata itu diucapkan dengan tenang tiada nada cemburu atau dengki. Hanya seperti
kebiasaannya, memang dingin nadanya.
Siu-lam terkesiap. Ia heran mengapa nona itu tetap tenang dan dingin menghadapi
bahaya maut. Dan mengapa nona itu tetap setia pada janji di bawah sinar rembulan yang
lalu.
“Tetapi betapapun halnya, dia pernah menolong jiwaku. Aku harus membalas budi dan
minta supaya dia mau tinggalkan tempat ini…” akhirnya ia mengambil kesimpulan.
Tetapi tak sempat membuka mulut, Bwe Hong-swat sudah mendahului bicara, “Setelah
meninggalkan tempat ini, jika ingin hidup tenang, carilah daerah pegunungan yang sunyi
yang jarang didatangi orang. Gantilah nama dan jangan muncul lagi ke dunia persilatan.
Paling baik lagi jika kalian dapat berlayar keluar negeri dan menetap di sebuah pulau
kosong. Kalian tentu akan dapat hidup tenang dan bahagia. Namun jika kau tetap hendak
hidup di dunia persilatan dan mengangkat nama, satu-satunya jalan hanyalah harus
menemukan peta Telaga Darah itu. Hanya kalau sudah dapat mempelajari ilmu kesaktian
dalam kitab peninggalan Lo Hian, barulah kau dapat menundukkan guruku….
Sekalipun aku ini isterimu, tetapi tak dapat pergi bersamamu. Karena jika ketahuan aku
lenyap suhu dan saudara-saudara seperguruanku tentu akan mengerahkan tenaga untuk
mencariku. Hal itu selain akan menimbulkan banjir darah di dunia persilatan, pun akhirnya
kita nanti tak mampu lolos dari kejaran mereka. Sekali tertangkap kau tentu tak dapat
membayangkan betapa ngeri kematian yang akan kita terima….

Walaupun dalam kehidupan sekarang kita tak dapat terangkap sebagai suami isteri,
tetapi aku sudah menjadi isterimu. Biar bagaimana tetap akan menjaga kesucian diriku,
agar dapat kupersembahkan kelak pada penjelmaan kita yang akan datang. Tekad dan
ikrarku ini, biarlah bumi dan langit yang menjadi saksi!”
Suatu rangkaian kata-kata panjang yang penuh bernada kasih mesra dan kesetiaan
seorang isteri sejati. Tetapi mimik wajah gadis itu tetap membeku dingin sehingga seolaholah
kata-kata yang indah mesra itu bukan berasal dari mulutnya….
Bermula Siu-lam pun tergerak hatinya. Tetapi ketika melihat wajah Bwe Hong-swat
yang dingin, seketika perasaannya pun tawar. Ia sangsi apakah hati dan wajah gadis itu
tidak bertentangan?
Siu-lam tertawa dingin, “Memang manis laksana madu nona merangkai kata-kata,
tetapi sayang kuanggap kata-kata itu hanya suatu pulasan kosong belaka. Aku merasa
berhutang budi padamu maka tanpa menghiraukan kecurigaan para orang gagah yang
hadir di dalam ruangan aku berusaha membantumu supaya dapat lolos dari sini. Tetapi
jika nona tak mau lari, akupun tak dapat memaksamu!” habis berkata Siu-lam berputar diri
terus melangkah ke dalam ruangan lagi.
Tiba-tiba terdengar Bwe Hong-swat berkata seorang diri, “Sebagai seorang isteri, harus
berbakti kepada mertua dan menurut suami. Sekalipun kau maki-maki, tetapi aku tetap
takkan membalas!”
Siu-lam berhenti dan berpaling. Tampak Bwe Hong-swat tegak mematung dengan
hampa. Siu-lam termangu sejenak. Pada lain kejab ia keraskan hati terus loncat masuk ke
dalam ruangan.
Ternyata suasana dalam ruangan genting sekali. Kedengaran si kakek cebol gemuk itu
tertawa dingin. Sambil menatap Tio Hong-kwat, ia berseru, “Kepandaianmu yang tak
seberapa itu tetap bukan menjadi tandinganku. Lebih baik kau menyisih ke samping. Lihat
saja!”
Kakek gemuk itu berpaling ke arah Tay Hong siansu, serunya pula, “Ilmu silat Siau-limsi
ternyata bukan nama kosong. Melihat caramu menampar belati tadi benar-benar ada
isinya juga. Dapat bertemu dengan seorang paderi sakti seperti kau tak sia-sialah jerih
payahku datang ke Tiong-goan.”
Diam-diam Tay Hong menimang. Ia heran dari mana dan kapan kakek cebol itu
menyelundup ke dalam ruangan. Padahal penjagaan di luar sangat ketat sekali. Jelas
bahwa kakek itu memang seorang sakti yang luar biasa. Apabila bisa mendapat bantuan
tenaganya, tentulah akan menambah kuatnya barisan orang gagah di dalam menghadapi
pihak Beng-gak. Sedapat mungkin harus menjadikan dia sahabat, bukan musuh, pikirnya.
“Ah, sicu amat sakti, loni jelas bukan tandingan sicu,” katanya kepada kakek cebol itu.
Di luar dugaan si kakek cebol marah, serunya, “Kita belum bertanding, bagaimana kau
tahu tak dapat mengalahkan aku?”
Kakek cebok menutup kata-katanya dengan mengangkat tangan kanan dan sebuah
pukulan Bu-ing-sin-kun sudah meluncur.

Sudah beberapa orang yang terluka oleh Bu-ing-sin-kun yang sakti. Dan kini para
hadirin gelisah cemas atas keselamatan Tay Hong.
Ketua Siau-lim-si itu rangkapkan kedua tangan memberi hormat, “Ilmu pukulan Bu-ingsin-
kun, benar-benar jarang terdengar dan terlihat. Mana mampu loni menerimanya?”
Walaupun mulut mengatakan begitu, tetapi diam-diam Tay Hong sudap siap
mengerahkan ilmu lwekang Siang-kang (ilmu lwekang dari sumber kitab Buddha) yang
telah diyakinkan selama berpuluh tahun untuk melindungi tubuhnya.
Berpuluh pasang mata yang mencurah pada Tay hong, melihat jubah ketua Siau-lim-si
itu bergoyang-goyang seperti tertiup angin. Tetapi pada lain saat, sudah tenang kembali.
Kakek cebol itu tertawa meloroh serunya, “Ilmu kepandaian Siau-lim-si benar-benar tak
bernama kosong. Aku sungguh gembira sekali dapat menguji kesaktian dengan ketua
partai persilatan yang mengepalai dunia persilatan!”
Kembali kakek cebol itu gerakkan kedua tangannya. Berturut-turut ia lepaskan dua
buah pukulan Bu-ing-sin-kun.
Lwekang yang terpancar dari Bu-ing-sin-kun itu termasuk Im-ji-kang atau lwekang
lunak bersifat Im atau yang disebut Im-ji-kang. Begitu menyentuh tubuh orang, barulah
tenaga itu membuat reaksi memancarkan tenaga membal yang dahsyat. Dapat
menghancurkan isi tubuh orang. Karena sama sekali tak mengeluarkan suara, maka
musuh jarang mampu menjaga diri.
“Harap sicu berhenti dulu, loni hendak bicara!” seru Tay Hong siansu, diam-diam ia
mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada orang cebol yang congkak itu agar
jangan kelewat tak memandang mata pada tokoh-tokoh persilatan Tiong-goan.
Diam-diam ketua Siau-lim-si itu kerahkan tenaga lwekang yang disebut Pan-cha-siankang.
Suatu lwekang yang hanya terdapat dari sumber pelajaran kitab suci Buddha. Ia
perkokoh kedua kuda-kuda kakinya, menegakkan dada dan menyambut kedua buah
pukulan Bu-ing-sin-kun….
“Hm,” terdengar orang tua kate itu mendesah perlahan. Bahunya gemetar dan
tubuhnya terdorong dua langkah!
Sementara tubuh Tay Hong siansu pun tampak mengkeret pendek beberapa dim.
Serunya, “Ilmu Bu-ing-sin-kun sicu telah loni terima. Memang benar-benar tiada taranya di
dunia. Loni sungguh tak mampu menghadapi, harap hentikan. Loni hendak berkata.
Apabila nanti sicu hendak berkelahi lagi, nanti saja dimulai lagi!”
Kiranya kedua kaki ketua Siau-lim-si itu telah melesak beberapa dim ke dalam tanah.
Itulah sebabnya, tubuhnya tampak pendek.
Kecongkakan yang berlebih-lebihan dari kakek pendek itu, seketika hilang lenyap
bagaikan awan tertiup angin. Diam-diam ia mengeluh dalam hati bahwa ternyata apa yang
didengung-dengungkan orang bahwa Tiong-goan penuh dengan tokoh-tokoh persilatan
yang sakti, ternyata bukan cerita kosong.

Bu-ing-sin-kun yang dapat digunakan untuk memukul hancur batu karang pada jarak
dua tombak jauhnya, ia percaya tentu dapat menghancurkan tubuh Tay Hong. Tetapi apa
yang dialaminya benar-benar di luar dugaan. Tubuh ketua Siau-lim-si itu telah
memancarkan tenaga lwekang yang dapat menolak dan mementalkan kembali Im-ji-kang
dari pukulan Bu-ing-sin-kun. Hebatnya tenaga membal itu harus diderita olehnya sehingga
kuda-kuda kakinya tergempur dan dia dipaksa harus menyurut mundur dua langkah.
Siau Yau-cu jago tua dari Bu-tong-pay, pun terkesiap kagum. Diam-diam ia memuji
kepandaian dari partai Siau-lim-si. “Bahwa memang tepatlah kalau Siau-lim-si diangkat
sebagai partai pemimpin. Kiranya sumber kepandaiannya memang lebih tinggi dari partai
Bu-tong-pay. Menilik umurnya, Tay Hong siansu ini lebih muda sepuluh tahun dari aku.
Tetapi ilmu lwekang dan kesaktiannya, ternyata lebih tinggi!”
Rupanya kakek pendek itu menurut juga untuk hentikan serangannya. “Mau bicara apaapa,
lekas silahkan!” serunya.
Tay Hong mengangkat kedua kakinya yang melesak di lantai lalu menghampiri.
Ujarnya, “Mohon tanya, apakah kedatangan sicu jauh-jauh dari Se-gak ke Tiong-goan sini,
hanya semata-mata hendak adu kesaktian dengan kaum persilatan Tiong-goan?”
Kakek pendek itu merenung sejenak, sahutnya, “Sekalipun bukan hendak adu
kesaktian, tetapi untuk menerima pelajaran dari tokoh-tokoh persilatan Tiong-goan, adalah
cita-citaku!”
“Kecuali untuk menguji kepandaian mencari nama, apakah sicu masih ada lain tujuan
lagi?” tanya Tay Hong pula.
“Ah, sukar menyatakan hal itu,” jawab si kakek pendek.
Walaupun keyakinan Tay hong belum mencapai taraf sepi ing pamrih, namun terhadap
ambisi cari nama, ia sudah tak memiliki lagi. Ia tersenyum, “Sewaktu kecil loni pernah
mendengar cerita suhu, bahwa di antara ilmu kesaktian dari berbagai aliran persilatan di
dunia, terdapat sebuah ilmu pukulan yang tak mengeluarkan suara, disebut Bu-ing-sinkun.
Kala itu sudah timbul keinginan dalam hati loni agar kelak mempunyai rejeki untuk
menyaksikan ilmu yang luar biasa itu….”
Kakek pendek itu mendengus dingin, “Sekarang aku sudah berada di sini. Silahkan kau
keluarkan semua kepandaian partai Siau-lim-si, agar aku tambah pengalaman!”
Diejek begitu, Tay Hong tetap tak marah. Bahkan dengan senyum tertawa ia berseru,
“Kala itu umur loni masih muda sekali, pengalaman kurang maka memiliki keinginan untuk
menerima pelajaran Bu-ing-sin-kun. Tetapi kini setelah tua, keinginan itu sudah lenyap
sama sekali.”
“Hm, sayang keinginanku untuk mencari nama tak turut hilang dihanyut masa
ketuaanku. Hari ini marilah kita adu kepandaian sampai ada yang menang dan kalah.”
Mendengar ketua mereka dihina, sekalian paderi Siau-lim-si gusar dan sebagian besar
hendak loncat ke tengah gelanggang menghajar kakek sombong itu.
Tetapi sebaliknya Tay Hong malah tertawa lepas, serunya, “Tujuan sicu dari daerah Segak
yang begitu jauh datang kemari, jika hendak menguji ilmu kesaktian sicu dengan para

jago silat Tiong-goan. Lepas dari isi hati sicu yang sebenarnya, tujuan sicu itu memang
bagus sekali. Andaikata dalam keadaan biasa, loni tentu akan membantu sekuat-kuatnya
agar maksud sicu itu terlaksana. Akan loni undang seluruh kaum persilatan untuk
menyambut sicu. Tetapi sayang, sicu datang pada saat yang tidak tepat….”
“Tidak tepat? Bukankah saat ini semua jago-jago silat Tiong-goan hadir di sini?
Bukankah ini satu ketika yang bagus sekali….”
“Benar,” sahut Tay Hong, “Memang yang berkumpul di sini adalah tokoh persilatan
ternama. Tetapi pertemuan ini bukan bertujuan menentukan pemimpin dunia persilatan.
Bukan pula untuk menyelesaikan sengketa dunia persilatan. Tetapi bertujuan
membicarakan suatu persoalan. Soal yang menyangkut mati hidupnya kaum persilatan
dari suatu ancaman bencana. Dalam suasana prihatin seperti saat ini, sudah tentu kami
tak punya selera untuk bertanding kesaktian dengan sicu!”
Kakek gendut pendek itu termenung sejenak. Pada lain saat ia bertanya, “Apakah
hubunganku dengan bencana yang akan menimpa dunia persilatan Tiong-goan itu?”
Belum Tay Hong menyahut, tiba-tiba Siu-lam sudah mendahului, “Lo-cianpwe,
bukankah kedatanganmu ke Tiong-goan ini karena hendak menantang berkelahi dengan
tokoh silat Tiong-goan yang paling sakti?”
Kakek pendek itu terkesiap. Sesaat ia tak dapat menjawab pertanyaan Siu-lam. Tibatiba
ia marah, teriaknya, “Hm, tadi karena lengah, kau mampu menjamah dadaku. Untuk
itu aku pun sudah sedia meluluskan sebuah permintaanmu. Sekarang di antara kita sudah
tidak ada hutang-piutang lagi. Jika kau tak puas, ayo kita bertempur lagi!”
Walaupun sudah tua tetapi rupanya kakek itu masih berdarah panas. Selain tak mau
mengakui kesalahannya, ia pun gemar sekali berkelahi.
Siu-lam tersenyum, serunya, “Ah, mengapa lo-cianpwee begitu bersungguh-sungguh.
Tadi hanya karena kebetulan saja maka wanpwe dapat menggunakan lwekang
kesempatan yang bagus. Tetapi ah, itu tak berarti. Kepandaian wanpwe masih tak setaraf
ujung kuku lo-cianpwe!”
Rupanya kakek pendek gendut itu biasa hidup di daerah Tibet yang masih terbelakang.
Ia jarang bergaul dengan orang. Pergaulannya pun terbatas dengan suku-suku Mongol
dan suku Hwe. Suku-suku yang masih polos jujur, tidak seperti orang suku Han yang
sudah cerdik. Disanjung demikian rupa oleh Siu-lam, kakek itu tak dapat menjawab. Dia
hanya mendengus dingin.
Rupanya Siu-lam tak mau memberi kesempatan si kakek berpikir lebih mendalam.
Cepat-cepat ia menyusul kata-kata lagi, “Para hadirin di sini, meskipun terdiri dari tokohtokoh
ternama dalam dunia persilatan Tiong-goan, tetapi jika bicara secara jujur mereka
semua lantas bukanlah tokoh yang benar-benar luar biasa kepandaiannya!”
Sudah tentu ucapan Siu-lam itu menimbulkan reaksi besar. Sekalian hadirin
memandang anak muda itu.
Namun Siu-lam tak mau mengacuhkan. Dengan senyum hambar ia berseru lebih lanjut,
“Tokoh yang kami anggap paling sakti di dunia persilatan, saat ini tak hadir. Jika benarTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
benar lo-cianpwe hendak mengangkat nama, asal mampu kalahkan orang itu, tentulah
seluruh kaum persilatan Tiong-goan akan tunduk pada lo-cianpwe!”
Kakek pendek itu terbakar oleh kata-kata Siu-lam. Hatinya panas seketika, serunya,
“Mana orang itu? Akan kutangtangnya berkelahi!”
Dengan tenang tetapi penuh provokatif, berserulah Siu-lam, “Orang itu memang sakti
sekali dan oleh kamu persilatan dipandang jago nomor satu. Sudah tentu dia tak mau
sembarangan unjuk diri. Para hadirin yang berada di sini, telah menerima surat
undangannya untuk adu kepandaian. Waktu akan diadakan pertandingan itu ialah dua
bulan lagi. Jika lo-cianpwe takut harap lekas-lekas kembali ke Se-gak saja, jangan lama
berada di Tiong-goan sini. Tetapi jika lo-cianpwe memang bersungguh-sungguh hendak
mencari nama, silahkan hadir dalam pesta adu kepandaian itu. Asal lo-cianpwe mampu
mengalahkan dia, gelar sebagai jago nomor satu di dunia tentu dapat lo-cianpwe miliki!”
Setelah mendengar kemana tujuan kata-kata Siu-lam seharusnya sekalian hadirin
mendukung. Tetapi mereka tetap kuatir. Karena jelas ketua Beng-gak sekarang itu bukan
lain ialah pemilik jarum Chit-jiau-soh dahulu. Walaupun kakek dari Tibet itu memang
hebat, tapi dikuatirkan masih belum dapat mengalahkan ketua Beng-gak.
Tay Hong siansu, Siau Yau-cu, Su Bo-tun diam-diam menyetujui tindakan Siu-lam.
Memang kalau bisa mendapatkan tenaga kakek Tibet itu, tentulah kekuatan mereka
bertambah besar.
Kakek pendek itu merenung beberapa jenak. Katanya, “Dua bulan lagi? Wah, terlalu
lama sekali! Mana aku tahan menunggu!”
Tiba-tiba terdengarlah sebuah lengking gemerincing laksana kelinting meandering, “Ih,
jika kau ingin lekas-lekas mati, mudah saja. Lembah Coat-beng-koh sudah siapkan pesta
Ciau-hun-yang (memanggil arwah). Jika saudara suka, boleh segera datang ke sana!”
Tanpa berpaling segera Siu-lam tahu siapa yang buka suara itu. Ia kerutkan kening dan
menegur, “Ih, mengapa kau belum pergi?”
Sekalian hadirin berpaling. Ah, ternyata si gadis baju putih muncul lagi. Gadis itu
perlahan-lahan melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Mengapa aku harus pergi? Kalian toh sudah pasti mati, biarlah kulakukan suatu
kebaikan. Membawa kalian ke lembah Coat-beng-koh termasuk sebuah jasa yang baik!”
“Omitohud!” Tay Hong rangkapkan kedua tangannya. “Li-sicu telah mengaku sebagai
orang Beng-gak. Dapatkah li-sicu menerangkan, benarkah ketua Beng-gak sekarang ini
sama dengan pemilik jarum Chit-jiau-soh pada masa berpuluh tahun yang lampau….”
Dingin-dingin saja gadis itu menyahut, “Benar atau tidak, tak ada perubahan yang
penting. Yang penting kalian harus cari jalan hidup….”
Sejenak ia berhenti lalu berkata pula, “Sebelum bulan lima tanggal lima nanti, kalian
harus datang lebih dulu ke sana. Hal itu tentu menguntungkan kalian. Aku telah
merencanakan sesuatu untuk kebaikan kalian! Untuk terhindar dari kematian, mudah tak
mungkin. Rencanaku untuk akan memberi kesempatan kalian untuk menurunkan pelajaran
pada anak murid atau menuliskan ilmu kepandaian kalian dalam buku sebagai peninggalan

kepada murid-murid. Dengan begitu kepandaian kalian takkan ikut terkubur selamalamanya….”
Tay Hong siansu tersenyum, “Jika kami memang benar pasti mati dalam pesta Ciauhun-
yan itu, maksud li-sicu memang mulia sekali!”
“Kalian tak percaya omonganku? Ah, aku pun tak dapat berbuat apa-apa!” kata Bwe
Hong-swat.
“Apakah wanita siluman yang menjadi ketua Beng-gak itu, suhu nona sendiri?” tiba-tiba
Siau Yau-cu nyeletuk.
Di luar dugaan, Bwe Hong-swat mengiakan, “Benar….”
“Tetapi suhumu tidak mempunyai dendam permusuhan dengan kami semua, mengapa
dia hendak mengadakan pesta Ciau-hun-yan untuk membasmi kaum persilatan semua?”
tanya Siau Yau-cu pula.
“Hm, masakan hal itu dibuat heran. Jika kalian dibasmi, bukankah tiada orang yang
berani melawan suhuku lagi? Bukankah dunia persilatan dapat dikuasai Beng-gak? Suhu
mau jadi raja pun tiada orang yang berani menentangnya!”
Su Bo-tun yang sudah sekian lama tidak membuka mulut, tiba-tiba nyeletuk, “Ilmu
kepandaian silat, tersebar luas tiada batasnya. Sekalipun suhumu sakti, tetapi tentu masih
ada yang lebih sakti lagi. Untuk membasmi semua kaum persilatan di dunia, hanya satu
lamunan gila!”
Bwe Hong-swat tak perdulikan tokoh berhati dingin itu. Ia menengadah memandang ke
wuwungan ruangan. Setelah merenung sejenak ia berkata pula, “Mungkin jika kepandaian
kalian ini diberi pada seorang, kemungkinan orang itu tentu dapat melawan suhuku.
Tetapi… menurut hematku, kemungkinan menang, kan tipis….”
Tiba-tiba nona itu tertawa rawan, serunya, “Namun jika kalian tak mau datang ke pesta
itu, kematian yang bakal kalian terima tentu lebih mengerikan lagi. Ah, aku sudah bicara
kelewat banyak. Kutahu kata-kataku ini tak akan banyak faedahnya bagi kalian.”
Tay Hong rangkapkan kedua tangan memberi hormat, “Terima kasih atas petunjuk
nona yang berharga. Jika kami beruntung dapat terhindar bahaya dari lembah Coat-bengkoh,
li-siculah yang paling besar jasanya….”
Rupanya pernyataan ketua Siau-lim-si itu telah mempengaruhi sekalian hadirin. Tak lagi
pandangan mereka terhadap Bwe Hong-swat sebagai musuh.
Bwe Hong-swat maju menghampiri Tay Hong. Ia mengeluarkan selembar sutera putih,
ujarnya, “Inilah lukisanku sendiri tentang keadaan lembah Coat-beng-koh. Ikutilah jalanjalan
pada peta itu dan datanglah lebih pagi ke sana!”
Tay Hong menyambuti peta itu dan terus dimasukkan ke dalam jubah. Ia hendak
mengucap sesuatu tetapi tak tahu apa yang dikatakan.
Bwe Hong-swat tetap dingin wajahnya. Dengan tenang ia memandang ke sekeliling
hadirin. Lalu menghampiri Siu-lam. Tiba-tiba Hian-song maju ke sisi pemuda itu dan

tempelkan kepala ke bahu Siu-lam serta menggandeng tangannya. Dipandangnya Bwe
Hong-swat direbut gadis baju putih itu.
Melihat ketegangan dara itu, tiba-tiba Bwe Hong-swat tertawa, serunya, “Jagalah dia
baik-baik, jangan sampai dia jatuh dalam pelukan gadis lain.”
Sekalian hadirin terbeliak. Masakan seorang mengucap kata romantis begitu, dengan
sikap yang tenang.
“Jangan berolok-olok!” Siu-lam tersipu-sipu.
“Kau malu?” Bwe Hong-swat tertawa.
Siu-lam hendak menyahut tetapi secepat kilat Bwe Hong-swat mencabut pedang Siulam
dan terus ditusukkan ke bahunya sendiri. Seketika pakaiannya yang putih basah
dengan darah merah….
Setelah menusuk diri, Bwe Hong-swat serahkan kembali pedang kepada Siu-lam. Siulam
tak tega. Ia merobek lengan bajunya dan menghampiri Bwe Hong-swat.
“Ah, mengapa kau menyiksa diri?” serunya seraya hendak membalut bahu si nona.
Tetapi diam-diam Bwe Hong-swat sudah kerahkan lwekang menutup darahnya yang
mengalir. Kemudian ia berputar dan melangkah pergi, “Kau mau apa?”
Siu-lam tertegun melongo, serunya, “Apakah kau tak tahu kalau aku hendak membalut
lukamu?”
Bwe Hong-swat merobek bajunya sendiri lalu suruh Siu-lam membalutkan. Siu-lampun
menurut. Malah Hian-song pun membantu membalutkan juga. Tanpa mengucap sepatah
kata, Bwe Hong-swat hanya mengangguk dan terus melangkah keluar.
Tay Hong siansu melangkah mengantarkan nona itu sampai keluar ruangan dan
mengucapkan doa agar lekas sembuh. Kemudian sambil berbisik, ketua Siau-lim-si itu
bertanya, “Apakah siasat Gok-ji-ki (menyiksa diri) nona itu dapat mengelabuhi suhu
nona?”
“Jangankan suhuku, bahkan kedua suciku pun mungkin sukar dikelabuhi,” sahut Bwe
Hong-swat.
“Kalau nona tahu begitu perlu apa nona menyiksa diri?” tanya Tay Hong pula.
Bwe Hong-swat tiba-tiba tertawa, “Jika kau mau menolong, jangankan kedua suci
bahkan suhuku pun tentu kena dikelabuhi!”
Serta merta Tay Hong menyatakan kesediaannya.
“Kudengar Siau-lim-si mempunyai sebuah ilmu pukulan dahsyat Toa-lat-kim-kong-ciang,
benarkah itu?”
“Benar,” sahut Tay Hong, “ilmu itu termasuk salah satu dari tujuh puluh dua ilmu Siaulim-
si. Bila nona menginginkan, dengan senang hati akan loni berikan.”

“Pukullah aku dengan Toa-lat-kim-kong-ciang, supaya kedua tulang dadaku patah,”
tiba-tiba Bwe Hong-swat berseru.
Tay Hong agak terkesiap. Tetapi segera ia tahu maksud nona itu. Ia menghela napas,
ujarnya, “Ah, pribadi nona yang rela mengorbankan diri untuk kepentingan umum, benarbenar
sangat luhur! Kelak jasa nona tentu akan diingat orang selama-lamanya. Baiklah,
loni akan melaksanakan permintaan nona!”
Habis berkata ketua Siau-lim-si itu segera memukul ke samping dada Bwe Hong-swa,
wut, tubuh Bwe Hong-swat mencelat sampai-sampai lima-enam meter dan terhampar di
tanah. Ternyata nona itu memang sengaja memberikan dirinya terluka maka iapun tak
mau mengerahkan lwekang.
“Omitohud!” Tay Hong berseru seraya loncat ke tempat Bwe Hong-swat. Diangkatnya
nona itu, “Apakah nona terluka berat?”
Bwe Hong-swat pucat wajahnya. Ia tertawa hambar, ujarnya, “Apabila Gan Leng-po
sudah tersadar, tanyakanlah di mana peta Telaga Darah itu. Hanya ilmu yang tersimpan
dalam kitab itu yang dapat menundukkan suhuku!”
“Terima kasih atas petunjuk nona yang berharga,” kata Tay Hong, “loni akan berusaha
sekuat tenaga untuk melaksanakannya. Saat ini sekalian tokoh-tokoh persilatan telah
berkumpul. Sekalipun suhu nona kelewat sakti tetapi belum pasti dapat membasmi kami
semua. Nona terluka parah, maukah kusuruh mengantarkan dalam perjalanan.”
“Tak usah,” sahut Bwe Hong-swat serentak, “Di bawah kaki gunung sudah ada orang
yang menyambut…” ia menghela napas lalu katanya pula, “Dalam peta buatanku ini di
sebelah dalamnya masih terdapat secarik peta lagi. Apabila lo-siansu memeriksanya
tentulah akan mengetahui berbagai perkakas rahasia yang dipasang di Beng-gak. Nah,
selamat tinggal!” Nona itu terus lari turun gunung.
Setelah bayangan Bwe Hong-swat lenyap, Tay Hong siansu menghela napas dan
melangkah ke dalam ruangan lagi.
“Apakah nona itu sudah pergi?” tanya Siau Yau-cu. Tay Hong mengiakan.
“Apa katanya kepadamu?” tiba-tiba kakek pendek dari Tibet menyeletuk. Dari nadanya
ia sudah tak memusuhi Tay Hong lagi.
“Dia minta supaya kita mempercepat kedatangan kita ke Beng-gak agar jangan
memberi kesempatan pada si wanita iblis mempersiapkan rencana yang jahat!” sahut Tay
Hong.
Kembali Su Bo-tun yang sudah sekian saat tak buka suara, kini berseru, “Jika ketua
Beng-gak itu benar-benar wanita iblis pemilik jarum Chit-jiau-soh dahulu, menurut
anggapanku, tak perlu kita takuti!”
“Harap sicu suka memberi petunjuk!” seru Tay Hong.
Sepasang mata tokoh dataran karang Coh-yang-ping itu berkilat-kilat memandang ke
sekeliling ruangan kemudian katanya, “Seorang manusia terdiri dari darah dan daging.
Betapapun saktinya namun tak mungkin dia mampu mempelajari segala macam ilmu

kepandaian dari partai-partai persilatan. Walaupun yang hadir dalam pertempuran ini
bukan tokoh-tokoh yang sempurna, tetapi mereka terdiri dari tokoh-tokoh yang terkemuka
di daerah masing-masing. Memang jika bertempur satu lawan satu, kita tentu kalah.
Tetapi kalau kita beramai-ramai menempurnya, masa tak dapat mengalahkannya?”
“Dahulu bukankah keempat partai persilatan juga mengambil langkah seperti itu?
Namun tetap dapat dibobolkannya!” seru Siau Yau-cu.
Siau Yau-cu berkata dingin, “Setiap ilmu kepandaian silat, tentu memiliki cirri
keistimewaan sendiri. Tetapi sewaktu menyerang beramai-ramai, tak boleh setiap orang
hanya mengunjukkan ilmu istimewanya masing-masing tanpa menurut aturan. Karena hal
itu bukan saja tak dapat mengembangkan permainan, pun malah akan membuat keadaan
kacau. Misalnya ilmu lwekang Yang-kong (keras) seharusnya diimbangi dengan lwekang
Im-ji-kang (lunak), apabila dipadukan dengan serasi tentu akan hebat perbawanya.
Sebaliknya, apabila perpaduan itu kurang memadai, tentu akan menguntungkan pihak
lawan yang akan menggunakan kelemahan-kelemahan kita untuk menghancurkan. Maka
yang penting adalah masing-masing orang harus dapat menyesuaikan diri dengan gaya
permainan kawan dan permainan gabungan keseluruhannya. Coba saudara-saudara
jawab, siapakah yang mampu menghadapi serangan dari tiga macam ilmu kesaktian yang
menyerang dengan serempak!”
Tay Hong siansu mengangguk, “Pandangan Su-sicu memang hebat. Loni kagum sekali,
ilmu silat di dunia hampir serupa coraknya. Barisan Ngo-heng-tin dari Bu-tong-pay dan
barisan Lo-han-tin dari Siau-lim-si, menurut penilaian orang merupakan barisan istimewa
untuk mengepung musuh. Tetapi menurut hemat loni, barisan itu baru dapat berkembang
baik apabila anggotanya sudah mempunyai sumber ilmu silat yang sejenis. Uraian Su-sicu
tadi yang mengatakan bahwa walaupun sumber ilmu silatnya berlainan, tetapi asal orang
mengembangkan kepandaiannya masing-masing untuk menyerang, tentu musuh akan
kewalahan. Dalam hal ini loni kurang mengerti harap Su-sicu menjelaskan!”
Su Bo-tun menuang arak pada cawannya. Setelah meneguk, ia berkata perlahan-lahan,
“Dalam hidupku, baru saat ini aku bicara banyak. Rupanya gelar Siu-kiau-in terpaksa harus
kuserahkan kepada orang lain.”
Berkata Tay Hong, “Urusan ini menyangkut keselamatan seluruh kaum rimba persilatan.
Sekalipun Su-sicu membuka pantangan banyak bicara, namun kata-kata Su-sicu pasti akan
menjadi kenangan indah bagi angkatan muda di kemudian hari.”
Jilid 14
Tiba-tiba Su Bo-tun berbangkit. Menengadah memandang ke wuwungan, ia berkata
seorang diri: “Seumur hidup, aku hanya tahu pada diriku sendiri, tak peduli pada lain
orang. Setiap budi tentu kubalas, setiap dendam tentu kuhimpas. Aku tak mau hutang
pada orang, tetapi tak mau meminjamkan orang. Apakah falsafah hidup begitu tak
benar….”
Tiba-tiba sepasang matanya membertik cahaya bergemerlapan dan mulutnyapun
merekah senyum, serunya: “Ibarat matahari, aku sudah hampir condong ke barat.
Mungkin hidupku hanya takkan lebih dari 20 tahun lagi. Tetapi apakah yang kutinggalkan?
Dalam sepanjang hidupku tak pernah kuterima penghargaan dan kesayangan orang. Dan
belum pernah kumenyayangi seseorang…” tiba-tiba ia teringat akan Bwe Hong-swat gadis
baju putih yang berwajah dingin. Diam-diam ia membatin bahwa gadis itu cocok sekali
dengan pribadinya sendiri….

Setelah beberapa saat ia termenung diam, tiba-tiba ia memandang pada Tay Hong,
serunya: “Dunia persilatan menganggap partai Siau-lim-pay sebagai pemimpin dunia
persilatan. Bagaimanakah pandangan Siau-lim-si terhadap diriku?”
“Jika Su-sicu sungguh-sungguh hendak bertanya, loni tentu senang sekali
memberitahukan!”
“Jangan kepalang tanggung. Bilanglah, baik atau buruk aku tetap akan
mendengarkan!”
Kata Tay Hong siansu: “Menurut kesan yang loni peroleh, dunia persilatan pada
umumnya menilai Su-sicu dengan 16 patah kata.”
“Apakah itu?” tanya Su Bo-tun.
“Seorang pendekar yang aneh. Bersikap tawar, puas diri. Tiada perasaan, kurang
nafsu. Enggan bergaul, emoh keluarga!”
Seketika tertawalah Su Bo-tun tergelak-gelak: “Delapan kata yang dibagian muka,
rupanya siansu sengaja hendak menyanjung aku. Tetapi delapan kata yang terakhir,
memang tepat. Tiada kecintaan, kurang nafsu, enggan bergaul, emoh berkeluarga.
Memang sampai setua ini aku belum kawin dan tak memikirkan keturunan. Yang
kupikirkan hanya soal baik dan buruk, tidak menghiraukan salah atau benar. Hidup
seorang diri, tanpa kawan tanpa keluarga. Dan tak pernah kulakukan sesuatu yang akan
dikenang orang,” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan pula.
“Sayang kedua orang tuaku sudah menutup mata. Sehingga tak dapat kuberbakti lagi.
Dalam usia setua ini, soal berkeluarga akan kupertangguhkan sampai kelak pada
penjelmaan yang akan datang lagi…” tiba-tiba wajahnya mengerut sungguh, katanya lebih
jauh, “Hanya terhadap masalah terakhir itu akan kulakukan dengan sepenuh tenaga. Agar
dikenang oleh angkatan yang akan datang!”
Tay Hong mengucapkan beberapa patah kata pujian: “Keputusan Su-sicu merupakan
kebahagiaan bagi seluruh kaum persilatan!”
Su Bo-tun menghela napas: “Telah kukatakan tadi bahwa pendirian hidupku akan
mengasingkan diri dari dunia ramai. Tetapi melihat tindakan gadis baju putih yang rela
melukai diri sendiri demi untuk menyelamatkan kaum persilatan, tergeraklah hatiku. Ah,
wajah gadis itu serta sikapnya sedingin dan setawar sikapku. Tetapi hatinya ternyata lebih
sadar dari aku. Aku benar-benar malu!”
Tay Hong cepat perintahkan paderi kecil untuk siapkan meja perjamuan lagi. Kemudian
hadirin mulai menikmati hidangan lagi. Tay Hong berdiri mengangkat cawan, serunya:
“Atas pernyataan Su-sicu yang bertekad hendak membantu dunia persilatan dari bencana
kemusnahan, marilah loni ajak minum bersama-sama untuk merayakan peristiwa itu!”
Su Bo-tun tersipu-sipu, ujarnya: “Ah, lo-siansu kelewat menyanjung diriku. Seumur
hidup aku belum pernah berbuat kebaikan apa-apa. Sudah hampir berumur 80 tahun, di
mana sebelah kakiku sudah ongkang-ongkang di liang kubur, aku mendapat rejeki untuk
melakukan sesuatu demi kepentingan orang banyak. Dalam hal itu, aku tak pantas
menerima pujian dari saudara-saudara terutama lo-siansu!”
Hampir sekalian hadirin tak percaya. Tetapi apa yang disaksikan saat itu memang
suatu kenyataan Siu-chiu-kiu-in Su Bo-tun tokoh yang termasyhur berhati dingin, tiba-tiba
telah berubah menjadi seorang manusia yang bersemangat keluhuran!
Perjamuan itu telah terkacau hampir dua jam lamanya akibat kemunculan tabib Gan
Leng-po, si gadis baju putih Bwe Hong-swat dan si kakek gemuk pendek dari Tibet.
Setelah suasana reda, kini perjamuan berlangsung pula dengan meriah. Sebagai tuan
rumah, Tay Hong sibuk mengangkat cawan arak untuk menghormat setiap tokoh.
Setelah perjamuan selesai, maka mulailah mereka menginjak pembicaraan tentang
rencana untuk menghadapi Beng-gak.
Kata Siau Yau-cu: “Diam-diam tadi telah kupikirkan. Kurasa kedatangan gadis baju
putih itu sungguh-sungguh secara mendadak sekali. Walaupun kita tak memandangnya
sebagai musuh, tetapi tiada jeleknya kita menaruh kewaspadaan!”

“Siau lo-cianpwe benar! Walaupun kita tak boleh berprasangka jelek terhadap orang,
tetapi tak boleh kita lengah…” sahut Tay Hong.
Tiba-tiba si kakek pendek berbangkit, serunya: “Aku tak dapat tinggal lama-lama di sini.
Jika kalian sudah menetapkan waktunya hendak menuju ke Beng-gak, biarlah aku si kakek
tua ini menjadi pelopor pertama untuk menghadapi wanita itu. Aku akan menanti sampai
10 hari ini. Apabila sampai selama itu belum juga berangkat ke Beng-gak, maaf, akupun
terus akan pulang saja!”
Diam-diam Tay Hong memutuskan jangan sampai kakek pendek yang memiliki pukulan
sakti Bu-ing-sin-kun sampai pergi. Segera ia menerangkan bahwa sebelum 10 hari tentu
sudah menuju ke Beng-gak.
Kakek itu tertawa gembira: “Lembah Coat-beng-koh jarang terdengar namanya.
Tempat itu justeru membangkitkan kegembiraanku!”
Mendengar tokoh aneh itu suka tinggal di situ Tay Hong gembira sekali. Suasana
pertemuan yang tadi begitu panas karena tercengkam oleh rasa curiga mencurigai, saat
itu telah tenang penuh dengan rasa kesatuan dan persatuan.
Tay Hong mengulangi pertanyaan kepada Su Bo-tun dan minta jago Coh-yang-ping itu
menguraikan rencananya menghadapi Beng-gak.
“Ah, sebenarnya hal itu bukan kepandaian sejati,” sahut Su Bo-tun, “maksudku begini.
Kita pilih 6 orang tokoh bersama aku menjadi 7 orang. Hendak kuberikan pelajaran
tentang ilmu langkah Chit-sing-tun-heng. Dengan ilmu itulah nanti kita beramai-ramai
menghadapi ketua Beng-gak….”
Tay Hong kejut-kejut girang. Ia memuji kehebatan ilmu yang tiada keduanya di dunia
persilatan itu.
Su Bo-tun hanya ganda tertawa: “Orang-orang hanya mengira bahwa ilmu Chit-singtun-
heng itu khusus diperuntukkan untuk menghindari serangan. Tetapi mereka tak
mengerti bahwa sebenarnya ilmu itupun dapat dipergunakan untuk menyerang. Asal
sudah dapat menyelami keindahan ilmu itu, kita tentu akan mempunyai sebuah barisan
yang sakti. Baik dalam pertahanan maupun dalam serangan. Pilihan 6 tokoh itu
sebaiknya dari cabang persilatan yang berlainan sumbernya. Setelah menguasai gerak
langkah Chit-sing-tun-heng, masing-masing dipersilahkan untuk menyerang dengan
kepandaian sakti masing-masing. Dalam keadaan begitu, musuh yang betapa saktinya,
pun tentu akan kewalahan…” ia berhenti sejenak lalu katanya pula: “Sebaiknya silahkan
lo-siansu yang memilih tokoh-tokoh itu!”
Tay Hong tertegun. Sampai beberapa saat ia tak dapat menjawab. Memang
tampaknya sederhana, tetapi prakteknya tak mudah untuk memilih keenam tokoh itu.
Rupanya Siau Yau-cu mengetahui kesulitan Tay Hong. Ia berbangkit, serunya:
“Keadaan kita sekarang adalah senasib sependeritaan. Apa yang kita hadapi adalah
mengenai mati hidupnya dunia persilatan. Asal kita dapat mengatasi bencana ini, generasi
yang akan datang tentu lebih aman dan tenang. Sekurang-kurangnya kita dapat
melenyapkan malapetaka yang hebat…” ia berhenti sejenak: “Ilmu gerak langkah Chitsing-
tun-heng dari Su-heng itu, memang sudah termasyhur di dunia persilatan. Untuk
menentukan siapa yang patut dipilih menjadi anggota barisan itu, memang sulit. Maka
kusarankan lebih baik Su-heng dan Tay Hong siansu berunding untuk menetapkan pilihan
itu!”
Sekalian hadirin tiada membuat reaksi apa-apa. Dalam pada itu Tay Hongpun
menimang. Jika menolak, urusan tentu akan berlarut-larut panjang. Akhirnya ia
menerima usul Siau Yau-cu itu.
Setelah merenung beberapa saat, ketua Siau-lim-si itu berseru: “Dengan memberanikan
diri loni mempersilahkan Kat Thian-beng sicu, berdua saudara Ngo, Tio It-ping sicu, Thian
Hong tootiang berenam dengan ditambah Su-heng sendiri, agar segera dapat mempelajari
gerak langkah Chit-seng-tun-heng itu. Apakah saudara-saudara mempunyai lain pendapat
lagi?”

Kat Thian-beng memang sudah kenal baik dengan Tay Hong. Tak mau ia menyulitkan
sahabatnya itu. Serentak ia berbangkit dan menyatakan persetujuannya. Juga Kiu-singtui-
hun Kau Cin-hong, kedua saudara Ngo Cong-han Ngo Cong-gi serta Thian Hong totiang
dan Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat mendukung pernyataan Kat Thian-beng.
Atas pertanyaan Tay Hong, kapan dimulai mempelajari ilmu Chit-sing-tun-heng itu Su
Bo-tun tertawa: “Jika hendak menyakinkan sempurna, mungkin akan berlangsung 10
tahun. Tetapi jika hanya untuk melakukan pengepungan bersama, dalam 7 hari saja,
sudah cukup.”
Demikianlah setelah tercapai persepakatan, Tay Hong segera mempersilahkan hadirin
beristirahat. Untuk itu telah disediakan ruangan-ruangan tetamu.
Paderi kecil yang bertugas membawa tetamu-tetamu ke kamar yang disediakan,
menghampiri Siu-lam dan Hian-song. Ia mengatakan kedua pemuda itu disediakan dua
buah kamar. Kaum pria dan wanita harus tinggal di kamar terpisah.
“Ih, paderi kecil itu usil benar,” gerutu Hian-song. Namun Siu-lam tertegun merah
mukanya.
“Eh, engkoh Lam, apa yang kau pikirkan?” tegur Hian-song ketika melihat sampai
beberapa saat Siu-lam tertegun diam.
Siu-lam menghela napas: “Kalau tinggal di sini, kurasa bukan penyelesaian yang
tepat….”
“Benar!” seru si dara, “setelah kita selesaikan beberapa urusan, kita harus pergi.
Dalam beberapa hari ini aku sedang memikirkan sesuatu….”
“Apa yang kau pikirkan?”
Dengan mata berkicup-kicup, dara itu mengangkat mukanya dan menatap Siu-lam:
“Apakah kau benar-benar tahu…” selebar muka dara itu merah jambu.
Siu-lam tak berani beradu pandang, buru-buru ia berpaling muka, katanya: “Mana
kutahu apa yang kau pikirkan?”
Hian-song tertawa. Tiba-tiba ia berseru mantap: “Ah, kau seorang pemuda pintar
tetapi ada kalanya bertindak tolol sekali! Aku sedang terkenang akan pesan kakekku!”
“Pesan apa yang kau pikirkan?”
“Beliau mengatakan, tak pantaslah kiranya seorang anak gadis berkelana luntanglantung
di dunia persilatan. Saat itu memang tak kuacuhkan. Tetapi sekarang baru
kuakui kata-kata kakek itu memang benar!”
Siu-lam menghela napas: “Ah, dunia persilatan memang penuh kebohongan dan
kepalsuan. Bagi seorang gadis memang kurang tepat berkelana di situ.”
“Ah, baru sekarang aku menyesal mengapa aku belajar silat. Jika aku tak bisa silat,
tentu aku akan tinggal di rumah mengurusi rumah tangga. Membantu suami merawat
anak, mencuci pakaian dan masak-masak!”
Siu-lam terkesiap, ia tertawa: “Manusia mempunyai nasib yang berbeda. Tak dapat kita
persamakan. Sumoay bukanlah seorang gadis biasa maka mempunyai perjalanan hidup
yang lain!”
“Aku bagaimana? Bukankah sama dengan gadis biasa?” seru Hian-song kemudian
pelahan-lahan jatuhkan diri ke dada siu-lam. Sinar matanya berkicup-kicup memancar
kesipuan.
Sebenarnya Siu-lam hendak mengelak, tetapi pada lain kilas ia kasihan juga terhadap
dara yang sudah sebatang kara itu. Tak mau ia melukai hatinya. Dirangkulnya bahu dara
itu.
“Engkoh Lam, siapakah gadis baju putih itu? Apakah hubungannya dengan kau?
Rupanya kau kenal banyak gadis-gadis,” Hian-song tanya berbisik-bisik.
Siu-lam terkesiap. Kemudian ia tertawa: “Ah, kukenal padanya ketika di gunung Kiukiong-
san dahulu!”
“Apakah dia baik kepadamu?”
“Dia pernah menolong jiwaku!”

“Mengapa dia menolongmu!” tiba-tiba Hian-song berpaling menatapnya. Beberapa saat
Siu-lam tertegun.
Tiba-tiba Hian-song tertawa: “Ah, aku harus menghaturkan terima kasih kepadanya!
Jika ia tak menolongmu, mungkin kita takkan berjumpa!”
Karena sampai beberapa saat Siu-lam tak dapat bicara, Hian-song berkata pula:
“Engkoh Lam, salahkah kata-kataku tadi?”
“Tidak!”
“Lalu mengapa kau diam saja?”
“Apa yang harus kukatakan?” tanya Siu-lam.
Ketika Hian-song hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara orang batuk-batuk.
Ternyata kedua paderi kecil yang mengantar para tetamu tadi, muncul dengan membawa
hidangan teh.
Menggunakan kesempatan itu, Siu-lam segera suruh si dara mengasoh. Kemudian ia
sendiripun masuk ke dalam kamarnya. Mereka mendapat dua buah kamar.
Siu-lam duduk bersemedhi memulangkah semangat. Kemudian baru ia berbaring di
tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara orang menyebut Omitohud di luar jendela. Siulam
terkejut dan buru-buru membukan jendela.
“Siau-suhu hendak pesan apa lagi?” tegurnya kepada pendatang itu yang ternyata si
paderi kecil.
“Hongtiang mengundang sicu ke kamarnya. Ada urusan penting!”
“Tolonglah siau-suhu memanggilkan nona Tan….”
“Suhuku hanya mengundang sicu seorang!”
“Hanya aku sendiri?” Siu-lam agak kaget.
Paderi kecil itu mengiakan. Siu-lam mulai membayang kecurigaan. Adakah paderi
Siau-lim-si itu hendak mencelakainya? Ia dan si dara akan dipisah kemudian satu demi
satu akan dihancurkan.
“Berapakah umur siau-suhu tahun ini?” untuk menutupi kegelisahannya, Siu-lam alihkan
pertanyaannya.
“Tahun ini umurku 15. Harap sicu jangan kuatir. Suhu seorang paderi yang welas asih.
Beliau selalu bekerja secara terang. Tak nanti mau mencelakai sicu!” kata paderi kecil itu.
Isi hatinya diketahui, wajah Siu-lam tersipu merah. Ia percaya ucapan paderi kecil itu
tentu benar. Maka segera ia keluar mengikuti paderi itu. Ternyata Siu-lam dibawa ke
ruang Cong-keng-loh atau perpustakaan. Sebuah tempat yang dalam sekali letaknya dan
harus melalui beberapa pintu.
“Apakah maksud lo-siansu memanggil aku kemari?” tanyanya ketika berhadapan
dengan Tay Hong.
“Siau-sicu tentu curiga mengapa loni mengundang sicu datang ke ruang yang begini
pelik letaknya. Silahkan masuk loni hendak minta beberapa penjelasan,” sambut Tay
Hong siansu.
Siu-lam mengikuti ketua Siau-lim-si itu melintasi beberapa gang dan tikungan yang
gelap. Tak berapa lama kemudian tibalah mereka di sebuah ruangan yang terdapat
penerangannya. Di ruang itu tampak juga It-tay-kiam-seng Siau Yau-cu. Di sampingnya
duduk si tabib gila… Gan Leng-po.
Rupanya tabib itu masih linglung. Ketika masuk, Siu-lam pun tak mau menghiraukan
kedua orang itu. Dilihatnya di ujung ruangan terdapat sebuah kim-ting (tempat perapian
dari emas). Kim-ting mengepulkan asap wangi.
Berkata Tay Hong kemudian: “Sebenarnya tak selayaknya loni mengganggu
peristirahatan siau-sicu yang tentu letih. Tetapi karena sebuah masalah yang sukar sekali,
terpaksa loni mengundang sicu kemari!”
“Silahkan lo-siansu memberi pesan,” kata Siu-lam.

Kata Tay Hong: “Mungkin pertanyaan loni ini agak tak nalar. Tetapi karena hal itu
menyangkut mati hidupnya dunia persilatan, harap sicu dapat berlapang dada dan
memandang luas persoalan itu secara keseluruhannya.”
Kembali Siu-lam minta paderi itu lekas mengatakan saja.
“Apakah orang tua bertongkat bambu ini benar Ti-ki-cu Gan Leng-po?” tanya Tay Hong.
“Benar, aku pernah tinggal lama bersamanya di Kiu-kiong-san. Tak mungkin mataku
keliru!”
“Dapatkan siau-sicu menuturkan pengalaman sicu ketika berjumpa dengannya?”
Setelah merenung sejenak, Siu-lampun mengiakan lalu ia menuturkan apa yang telah
dialami di gunung Kiu-kiong-san bersama si tabib itu.
Tay Hong tersenyum dan menghaturkan terima kasih atas kesediaan anak muda itu
menuturkan ceritanya.
“Entah apakah yang lo-siansu hendak tanyakan padaku lagi?” tanya Siu-lam.
Siau Yau-cu menyelutuk: “Gadis baju putih yang melukai lengannya sendiri itu apakah
benar anak murid Beng-gak?”
“Menurut yang kuketahui memang dia adalah anak murid ketua Beng-gak,” kata Siulam.
“Omitohud!” tiba-tiba Tay Hong berseru seraya pejamkan mata: “Sebenarnya loni tak
mau menaruh syak wasangka. Tetapi karena urusan ini besar sekali artinya, terpaksa loni
akan bertanya lagi. Bagaimanakah sicu dan gadis baju putih itu saling memanggil?”
Siu-lam merenung. Jelas paderi itu telah mengetahui cabikan sutera Bwe Hong-swat
yang dilontarkan kepadanya. Ah, lebih baik ia menceritakan secara terus terang saja.
“Tentulah loni sudah mengetahui sendiri dari cabikan sutera itu. Tetapi apabila
kuceritakan, tentu menggelikan dan tak mungkin dapat dipercaya,” katanya sesaat
kemudian.
“Ah, loni tak sengaja telah melihat cabikan sutera itu. Loni tak enak hati….”
“Tak perlulah lo-siansu mempunyai perasaan begitu. Janji terhadap gerombolan
macam Beng-gak, mana kita harus bersungguh-sungguh menepati?” Siu-lam tertawa.
Tetapi tiba-tiba wajah Tay Hong mengerut serius, serunya: “Bagi kaum wanita kesucian
adalah kehormatannya dan merupakan jiwanya. Tak nanti ia mau sembarangan
mengucap janji apabila hatinya tak bersungguh-sungguh. Gadis baju putih itu berwajah
jujur dan serius, harap sicu jangan membuat hatinya sengsara!”
“Mengapa aku harus bersungguh-sungguh pada sepatah dua patah janji yang
kulakukan secara sembarangan itu? seru Siu-lam.
“Perintah ayah-bunda, merupakan pegangan hidup bagi kaum gadis. Kami orang
persilatan, memandang setiap ucapan janji itu sebagai jiwa kita. Sekali berkata tak
mungkin kita jilat lagi!” tiba-tiba Siau Yau-cu berseru dengan nada berat.
Siu-lam terkesiap. Diam-diam ia heran mengapa kedua tokoh sakti itu begitu
memperhatikan sekali akan urusan muda-mudi?
Tiba-tiba Tay Hong siansu berkata pula:
“Dalam umur 5 tahun, loni telah masuk gereja dan ketika umur 9 tahun, loni telah
mulai dicukur rambut. Umur 12 loni telah dipilih menjadi murid pewaris dari ketua Siaulim-
si yang lalu. Sebenarnya loni tiada mempunyai pengetahuan tentang urusan anak
muda. Tetapi karena masalah ini menyangkut kepentingan dunia persilatan, terpaksa loni
harus banyak mulut. Ketahuilah, gadis baju putih itu menumpahkan cintanya pada sicu
dengan sungguh atau hanya pura-pura, mempunyai hubungan besar sekali dengan
kepentingan dunia persilatan!”
“Harap lo-siansu memberi penjelasan!”
Tay Hong mengeluarkan sutera putih dan membentangnya di atas meja, serunya”
Sutera putih ini merupakan peta yang dibuat oleh nona itu. Dalam peta ini telah
diterangkan segala kejahatan dan alat-alat ganas dari gerombolan Beng-gak. Cobalah sicu
kemari melihatnya!”

Siu-lam terbeliak….
Pencuri
Pada peta itu tampak lukisan sebuah lembah yang sekelilingnya penuh dengan hutan.
Di tengah-tengahnya terdapat sebuah padang rumput. Di tengah padang rumput terdapat
8 buah huruf kecil berbunyi:
Lembah Coat-beng-koh
pesta Ciau-hun-yan
Barang siapa hadir
Tak mungkin kembali!
Setelah meneliti beberapa jenak, karena masih belum mengetahui rahasianya, Siu-lam
bertanya pada Tay Hong siansu.
“Siansu, apakah ciri-ciri yang mencurigakan dalam peta ini?” tanyanya.
Tay Hong menghela napas, ujarnya: “Bermula loni mengira kalau hutan-hutan itu diatur
menurut formasi barisan Ki-bun-pat-kwa atau Ngo-heng-seng-gek dan lain-lain. Maka
kuminta Siau lo-cianpwe bersama-sama merundingkan. Tetapi hasilnya, kita tak
menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kemudian perhatian loni tertumpah pada
bentuk lembah yang seperti kelopak bunga. Ketika sejak kecil berada di gereja Siau-lim-si,
gurun loni suka sekali dengan…. Maka di taman gereja Siau-lim-si, banyaklah ditanami
dengan berbagai jenis tanaman yang aneh-aneh. Tetapi aneh, bentuk kelopak bunga
dalam peta ini, loni benar-benar belum pernah melihatnya. Menurut dugaan loni,
kemungkinan besar bentuk bunga itu hanya suatu peringatan bahwa di sekitar hutan di
situ penuh dipasangi senjata rahasia beracun!”
“Menurut tinjauanku, ketua Beng-gak itu tak lain tak bukan ialah perempuan iblis
pemilik jarum Chit-jiau-soh dahulu. Dia tentu tak mau dan menganggap tak perlu untuk
menghiasi hutan dengan senjata rahasia...” tiba-tiba Siau Yau-cu berkata, “tetapi memang
mengherankan. Mengapa lembah itu hanya ditanami dengan hutan bunga begitu.
Memang mencurigakan!”
Tay Hong mengambil sepucuk surat lalu diserahkan kepada Siu-lam: “Surat ini diberikan
pada sicu. Loni tak boleh membukanya!”
Siu-lam melihat surat itu bertuliskan alamatnya dan hanya boleh dibuka olehnya. Ia
terkesiap. Pada sudut sampul tertera kata-kata: Dari isterimu yang tetap setia: Bwe Hongswat.
Tersentuh perasaan Siu-lam. Ah, ternyata nona baju putih itu masih tetap setia janji di
Telaga Han-cui-than dahulu….
Begitu merobek sampul, dibacanya surat itu:
Aku dibesarkan dalam keluarga harimau dan serigala yang buas. Tetapi nuraniku
belum ludas sama sekali. Aku tetap patuh kepada ajaran Sam-jong (3 patuh: gadis patuh
pada orang tua, isteri taat pada suami dan janda menurut anaknya).
Sejak sumpah di Telaga Han-cui-than aku sudah menjadi keluarga Pui. Aku kecewa
dan menyesal sekali karena tak dapat melakukan kewajiban sebagai seorang isteri,
sehingga berdosa karena tak dapat memberi keturunan pada keluarga Pui. Maka dengan
segala keikhlasan hati, kuharap kau suka mengambil isteri lagi. Lelaki mempunyai dua
tiga isteri, sudah lumrah. Harap kau jangan bersangsi….
Siu-lam menghela napas, serunya: “Surat yang kabur tak jelas artinya….”
Tiba-tiba Siau Yau-cu menanyakan isi surat itu. Siu-lam terkesiap dan hanya menghela
napas saja.
“Baiklah sicu membaca sampai habis dulu. Jika ada hal-hal yang meragukan, barulah
kita berunding lagi,” kata Tay Hong siansu.
Siu-lam membaca lagi:
Perkakas dan alat-alat rahasia di lembah Coat-beng-koh, tak mungkin dapat diduga
orang. Aku sendiri tak tahu rahasia-rahasianya. Kalau toh sudah tahu berbahaya, apa

guna kita harus mengadu jiwa? Bukankah hanya seperti telur beradu dengan tanduk?
Dengan kesungguhan dan kesucian hati sebagai isteri, kumohon kau jangan ikut datang.
Dengan iringan jiwa kesetiaanku, kudoakan kau mengenyam kehidupan yang bahagia….”
Siu-lam tersentuh nuraninya. Ia baru menyadari betapa besar rasa cinta Bwe Hongswat
kepada dirinya. Ia melanjutkan membacanya lagi:
Penyakit gila dari tabib Gan Leng-po, walaupun sukar diobati tetapi bukan tak mungkin
disembuhkan. Jika dia dapat disembuhkan dan dapat diketemukan peta Telaga Darah
kemudian bisa mendapatkan kitab pusaka dari Lo-hian, barulah dapat melenyapkan
bencana sekarang ini. Tetapi waktunya sempit sekali. Hari perjamuan Ciau-hun-yan
sudah di depan mata. Atas nama seorang isteri setia, kumohon kau pergi
menyembunyikan diri dan berusahalah untuk mencari kitab pusaka itu. Tetapi harus
dirahasiakan benar-benar, agar jangan menimbulkan kehebohan. Tetapi apabila Gan
Leng-po tak dapat sembuh, lebih baik dilenyapkan sekali saja agar peta itu jangan sampai
jatuh ke tangan orang lain. Kudengar suhuku belum berani merajalela. Tetapi selekas
mendapatkan kitab itu, dia tentu akan melaksanakan cita-cita untuk menghancurkan kaum
persilatan dan merajai dunia persilatan….”
Membaca sampai di sini, Siu-lam berhenti dan entah bagaimana ia tak mau melanjutkan
membacanya lagi. Beberapa saat kemudian ia serahkan surat itu kepada Tay Hong,
ujarnya: “Tentang hubunganku dengan nona Bwe, kiranya lo-siansu dapat mengetahui
surat itu. Ah, tak kira ia begitu bersungguh-sungguh menganggap ikrar itu. Tetapi dunia
persilatan ini penuh dengan kelicikan dan kepalsuan. Dan hal ini kuserahkan saja kepada
lo-siansu bagaimana baiknya!”
Setelah membaca, Tay Hong kerutkan alis. Katanya: “Menilik isi surat itu, memang
nona itu bersungguh-sungguh sekali tampaknya. Tetapi karena hal ini penting sekali, loni
pun tak dapat memberi kesimpulan yang tetap. Siau-heng, tolonglah kau bantu
memecahkan persoalan ini,” katanya kepada Siau Yau-cu seraya menyerahkan surat.
Siau Yau-cu membacanya dengan serius. Hampir sepeminuman teh lamanya baru ia
selesai. Sambil menyerahkan kembali surat itu kepada Tay Hong:
“Undangan Beng-gak itu masih kurang dua bulan. Kita masih mempunyai tempo untuk
berusaha. Yang penting harus menyembuhkan tabib Gan Leng-po,” katanya.
Tay Hong menyerahkan surat kepada Siu-lam, ujarnya: “Karena kehilangan peta maka
tabib itu berubah gila. Mungkin bukan obat yang dapat menyembuhkannya.”
Siau Yau-cu membenarkan dan mengusulkan untuk menutuk beberapa jalan darah
tabib itu. Ketua gereja Siau-lim-si itu merenung sejenak lalu kata: “Sebelum pergi, nona
baju putih itu pernah berkata kepada loni, jika kita tak mempunyai pegangan untuk
memenangkan Beng-gak, lebih baik datang lebih pagi ke sana!”
Siau Yau-cu tetap menyatakan bahwa soal pergi ke Beng-gak itu baik ditunda dulu.
Yang penting mengobati Gan Leng-po. Tay Hong setuju. Kemudian ia persilahkan Siu-lam
kembali ke kamarnya. Ia mengantar sendiri anak muda itu keluar dari ruang
perpustakaan, kemudian suruh seorang paderi kecil mengantarkan.
Siu-lam terkejut ketika pada pohon siong yang tumbuh di halaman luar, tampak
sesosok tubuh langsing tengah bersandar. Ia taka sing lagi dengan orang: “Eh, mengapa
Song sumoay berada di sini,” tegurnya seraya menghampiri.
Memang yang bersandar di pohon itu si dara Hian-song, sahutnya: “Kemana saja kau
malam-malam begini, sampai aku bingung mencarimu!”
Siu-lam mengatakan bahwa ia dipanggil Tay Hong diajak berunding. Kemudian ia
menanyakan mengapa dara itu tak tidur.
“Sebenarnya aku sudah ngantuk tetapi tiba-tiba teringat sebuah hal penting dan buruburu
mencarimu tetapi kau tak ada!”
Atas pernyataan Siu-lam, dara itu berkata: “Tiba-tiba aku teringat akan peta Telaga
Darah!”

Siu-lam terkejut. Ia tahu bahwa dara itu tentu diam-diam sudah mengetahui bahwa ia
menyembunyikan peta itu.
“Pernahkah kau melihat peta itu?” tiba-tiba Hian-song bertanya.
Siu-lam bingung. Jika memberitahukan, ia kuatir dara itu akan kelepasan
membocorkan rahasia. Namun kalau tidak diberitahu, ia sungkan membohongi.
Tiba-tiba dara itu mengangkat tangan dan menggoyang-goyangkan di muka Siu-lam,
serunya: “Engkoh Lam, apakah kau melihat jari tanganku ini?”
“Sudah tentu, aku toh belum linglung,” Siu-lam tertarik dan sekali lagi ia suruh dara itu
beristirahat.
“Ih, kukira kau tak bisa bicara,” Hian-song tertawa. “aku tak mengantuk sekarang.
Kalau memikirkan sesuatu. Masakan mata bisa di bawa tidur!”
“Apakah yang kaupikirkan?”
Si dara mengemasi rambutnya yang terurai seraya berkata: “Ketika mendengar orangorang
tadi membicarakan peta Telaga Darah, tiba-tiba aku teringat ketika masih kecil dulu
kakek pernah mengatakan tentang peta itu. Sebenarnya ia tak suka menceritakan tetapi
entah bagaimana saat itu ia memberitahukan padaku. Sayang aku tak dapat mengingat
seluruhnya!”
Sebenarnya Siu-lam buru-buru hendak masuk ke dalam kamar untuk memikirkan
bagaimana sebaiknya ia menggarap peta yang berada padanya itu. Jika peta itu benarbenar
petunjuk dari tempat simpanan kitab pusaka Lo Hian, sungguh tak ternilai
pentingnya. Merupakan kunci dari hidup-matinya kaum persilatan. Peta itu sebenarnya
telah dikuasai Bwe Hong-swat. Apakah hendak dikembalikan kepada nona itu lagi, ia
masih belum tahu….
Adalah ketika mendengar kata-kata Hian-song tadi, serentak Siu-lam bertanya: “Apa
yang diceritakan Tan lo-cianpwe? Maukah sumoay memberitahukan kepadaku?”
“Tolol! Kalau tak bermaksud memberitahukan padamu masakan aku mencarimu!” si
dara tertawa.
Siu-lam meminta agar dara itu suka mengingat pelahan-lahan karena hal itu penting
sekali artinya.
“Tetapi aku tak dapat mengingat semuanya!” kembali si dara menjelaskan, “begini
sajalah. Apa yang kuingat akan kuceritakan, yang tidak ingat takkan kuceritakan!”
Sebenarnya tempat itu tak tepat untuk bicara, namun kalau dibawa masuk ke kamar,
Siu-lam pun sungkan. Akhirnya ia mengajak dara itu duduk di bawah pohon siong
tersebut.
“Engkoh Lam, apakah kita ikut mereka ke lembah Coat-beng-koh juga?” tanya Hiansong.
Siu-lam mengatakan bahwa hal itu belum dapat ia pastikan, melihat perkembangannya
nanti. Sambil menyandarkan kepalanya ke bahu pemuda itu, Hian-song berkata: “Ketika
kakek menceritakan tentang peta Telaga Darah aku baru berumur 12 tahun. Kala itu
penyakit kakek sudah payah sekali. Dia mengatakan kalau dia tak dapat hidup lama lagi,
kecuali bisa mendapatkan peta itu. Aku heran dan mengira Telaga Darah itu tentu suatu
obat mujijat. Kutanyakan apakah Telaga Darah itu….”
“Eh, sumoay, apakah kata Tan lo-cianpwe?” tukas Siu-lam.
“Kakek tak mau segera menjawab pertanyaanku. Beberapa lama kemudian baru ia
menceritakan benda itu,” Hian-song sejenak melirik pada Siu-lam dan tertawa, “kakek
mengatakan bahwa Telaga Darah itu sebuah peta tempat penyimpanan kitab pusaka.
Kitab itu dibuat oleh seorang aneh yang luar biasa pandainya. Asal dia melakukan
sesuatu, maka orang harus menggunakan seumur hidup untuk mempelajarinya. Sekali
tahu apa maksud pelajarannya orang tentu mendapat kepandaian yang tak habis
digunakan seumur hidup!”

“Apakah Tan lo-cianpwe mengatakan bahwa orang sakti itu bernama Lo Hian?” tanya
Siu-lam. “Siapa namanya aku tak ingat,” kata Hian-song, “hanya sekali itu kakek bercerita
dan karena aku masih kecil, akupun tak begitu menaruh perhatian.”
“Tan lo-cianpwe mengatakan dia pernah bertemu dengan orang sakti itu?” tanya Siulam.
“Ya, pernah!” sahut Hian-song, “Meskipun kakek tak mengatakan pernah bertemu,
tetapi setiap kali menyebut orang sakti itu, kakek selalu bersungguh-sungguh dan
mengindahkan. Jika tak pernah bertemu, mustahil dia begitu mengindahkan sekali!”
Siu-lam tertawa dan memuji dara itu sekarang semakin cerdas. Hian-song tertawa
riang: “Aku merasa banyak sekali hal yang tak mengerti, maka ingin sekali aku belajar,
tetapi entah dapat berhasil atau tidak….”
“Ah, kau seorang dara yang cerdik tentu dapat belajar dengan baik,” kata Siu-lam.
“Kakek mengatakan bahwa orang aneh itu selain saksi dalam ilmu silat pun pandai
dalam ilmu sastera, begitu pula ilmu perbintangan dan ketabiban. Dia sering menjelajah
hutan dan gunung yang terpencil untuk mencari daun-daun obat. Entah berapa banyak
orang yang telah ditolongnya tetapi anehnya tiada seorangpun dari mereka yang tahu
siapa penolongnya. Orang sakti itu selalu bekerja dengan diam-diam!”
“Apakah orang sakti itu masih hidup?”
Hian-song menggeleng: “Entahlah. Kakek mengatakan entah apa sebabnya orang sakti
itu tiba-tiba melenyapkan diri dari masyarakat. Tiada seorangpun yang tahu dan pernah
mendengar beritanya. Kemudian di dunia persilatan terdengar desas-desus tentang
munculnya peta Telaga Darah. Bermula kakek tak percaya tetapi kemudian ia melihat
sendiri peta itu barulah ia percaya.”
Hian-song menghela napas, katanya pula: “Kesemuanya itu terjadi pada beberapa
puluh tahun berselang. Kala itu aku belum muncul di dunia!”
“Apakah Tan lo-cianpwe tak mengambil peta tersebut?” tanya Siu-lam.
“Aku tak ingat! Tetapi kemungkinan tentu tidak karena kalau kakek mengambil peta itu
mengapa dia tak dapat menyembuhkan penyakitnya sendiri?” sahut Hian-song.
“Benarlah,” kata Siu-lam, “tetapi bahwa dia pernah melihat peta Telaga Darah, tentulah
tak bohong. Kalau kakek tak dapat mengambil peta itu, terang kalau peta itu telah
menjadi rebutan dan mengalami pergolakan hebat.”
Siu-lam segera teringat akan nasib gurunya. Jika gurunya tak menyimpan peta itu
tentu tak sampai mengalami nasib yang begitu mengenaskan.
Hian-song menghela napas lagi: “Ah, engkoh Lam, aku ingat lagi. Lebih baik jangan
membicarakan hal itu!”
Siu-lam menganjurkan supaya dara itu suka mengingat-ingat lagi dengan pelahan. Dan
kalau teringat sesuatu, supaya memberitahukannya.
Hian-song berbangkit: “Eh, benar, aku teringat sebuah hal yang tak kumengerti.
Bolehkah kubilangkan padamu?”
Sudah tentu Siu-lam terkejut dan mempersilahkan dara itu berkata.
“Silahkan, tak apalah kalau salah,” kata Siu-lam.
Hian-song tundukkan kepala, ujarnya rawan: “Entah bagaimana ketika kulihat kau
bersama-sama dengan nona baju putih tadi, hatiku jadi gelisah!”
Siu-lam mengatakan bahwa di dalam dunia persilatan sudah lazimlah pergaulan antara
wanita dan pria.
“Ah, memang begitu. Aku sudah tahu hal itu memang sudah biasa. Tetapi entah
bagaimana waktu melihat kau bersama dia, ingin sekali aku membunuhnya!”
“Apa?” Siu-lam terbeliak kaget.
Hian-song mencucurkan beberapa tetes air mata, ujarnya: “Engkoh Lam, kalau
kubunuhnya, kau tentu akan membenci aku, bukan?”
Siu-lam menghela napas pelahan: “Dia orang baik tak layak membunuhnya.”
“Kalau aku dibunuh orang, apakah kau juga sedih?” tanya si dara.

“Tentu!”
“Kalau kau dibunuh, cobalah terka, aku bersedih atau tidak?”
Siu-lam tertawa: “Ah, mana aku bisa menerka.”
Dengan wajah memberingas, berseru si dara penuh kemantapan: “Aku takkan bersedih
tetapi akan menangkap musuhmu dan akan kubunuhnya pelahan-lahan. Mayatmu akan
kubawa ke sebuah goa yang tak pernah dijelajahi orang, seumur hidup aku menunggu di
situ… agar aku pun mati di sampingmu.”
Siu-lam tertegun. Belum sempat ia membuka mulut, si dara sudah berputar tubuh dan
melangkah pergi. Sikap dan nada dara itu penuh mengunjuk tekadnya yang tegas dank
eras.
Ia kembali ke dalam kamarnya sendiri. Tetapi matanya tak mau dibawa tidur. Ia
mengenangkan peristiwa-peristiwa yang dialaminya selama ini. Tiba-tiba ia teringat akan
Tio It-ping. Bukankah pamannya itu terluka parah mengapa mendadak bisa datang ke
sini. Cepat ia bangun dan lari keluar. Tetapi ia tertegun. Untuk mencari kamar
pamannya itu, ia harus bertanya pada paderi. Dan apabila bertanya tentu akan
menerbitkan kecurigaan. Ah, ia terpaksa kembali masuk ke kamarnya lagi. Tak lama ia
jatuh pulas.
Ketika bangun ternyata hari sudah malam. Dan di luar halaman hujanpun turun.
Kamar gelap karena tiada penerangan tetapi ia dapat melihat benda-benda di sekeliling.
Setelah meneguk teh, perasaannya agak enak. Tiba-tiba dari cahaya kilat yang
memancar, tampak sesosok bayangan orang berada di luar jendela. Ia terkejut. Dalam
penjagaan paderi-paderi Siau-lim-si yang keras, hanya seorang dara sakti semacam Hiansong
yang mampu menyelundup ke situ.
Siu-lam loncat keluar jendela dan menghampirinya. Memang pendatang itu Hian-song.
Rupanya ia mengetahui Siu-lam datang.
“Engkoh Lam, apa kau terjaga dari tidur?” tiba-tiba dara itu menegur.
“Song-moay, mengapa kau berada di sini?” sahut Siu-lam.
“Aku tak bisa tidur dan berdiri di luar kamarmu sejak tadi. Kudengar kau tidur nyenyak
sekali maka tak tega membangunkan kau!”
Tergerak hati Siu-lam mendengar kata-kata itu. Ia memegang tangan si dara dan
diajaknya masuk ke kamar. Ia kasihan melihat dara itu kehujanan. Ia mendorong pintu
tetapi pintu terkancing.
“Ah, aku benar-benar tolol,” ia teringat tadipun mengambil jalan loncat dari jendela.
Maka terpaksa ia masuk dari jendela lagi. Kemudian ia menyalakan lampu. Pakaian Siulam
basah tertimpah air hujan.
“Engkoh Lam, duduklah di kursi itu!” tiba-tiba si dara berseru. Siu-lam terpaka
menurut.
“Apapun yang kukerjakan, kau tak boleh bergerak!” kata si dara pula. Siu-lam
mengiakan.
Hian-song menghampiri kamar tidur, mengambil pakaian dan sepatu Siu-lam lalu
mengangkat sebelah kaki si pemuda dan meloloskan sepatunya yang basah.
“Hai, tak usah, sumoay. Aku dapat menggantinya sendiri!” Siu-lam terkejut.
“Bukankah tadi kau sudah berjanji takkan bergerak!” seru si dara.
“Sumoay sudah seorang dara remaja dan aku seorang pemuda. Mana boleh melakukan
hal itu?” serentak Siu-lampun berbangkit.
Hian-song mengangkat mukanya pelahan-lahan, ujarnya: “Apakah kelak kau tak mau
memperisterikan aku?”
“Urusan perkawinan adalah soal yang menyangkut kehidupan kita. Tanpa persetujuan
orang tua dan tanpa perantara, kita tak dapat memutuskan sendiri!” kata Siu-lam.
Hian-song terkesiap, katanya: “Memang sejak kecil tiada orang yang mendidik aku.
Banyak hal di dunia yang aku tak mengerti. Kupikir kelak apabila menjadi isterimu, aku

melayanimu baik-baik. Tetapi bagaimana caranya, aku tak mengerti. Karena melihat
pakaianmu basah, kupikir hendak menggantinya. Apakah hal itu salah?”
Siu-lam kasihan pada dara yang sudah sebatang kara itu. Jika ia berlaku kasar, tentu
akan melukai perasaannya. Maka dengan tenang ia memberi penjelasan: “Memang di
dunia banyak sekali adat istiadat kesopanan. Pelahan-lahan kau tentu akan
mengetahuinya. Walaupun sebagai putera-puteri persilatan, kita tak perlu terikat akan
segala adat kesopanan itu, tetapi kitapun harus membatasi diri agar jangan dicela orang.
Harap sumoay ke kamar dan beristirahat. Besok kita bicara lagi!”
“Ah, mungkin beberapa tahun lagi aku takkan berlaku setolol ini,” tiba-tiba ia menutupi
mukanya dan lari keluar.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali paderi kecil sudah mengantari minuman. Siu-lam tak
menghiraukan.
“Pakaian sicu yang basah ini, biarlah kucucinya,” tiba-tiba paderi kecil itu berseru.
Siu-lam mengiakan. Setengah jam kemudian ia tersentak kaget. Peta Telaga Darah…
buru-buru ia loncat bangun, ah… pakaiannya yang basah sudah lenyap. Tentu dibawa si
paderi kecil tadi! Cepat ia memburu keluar tetapi paderi kecil itu sudah tak tampak.
Siu-lam bingung tak keruan. Kemanakah ia harus mencari paderi kecil itu? Tiba-tiba ia
mendapat pikiran untuk mencarinya ke dapur. Paderi kecil itu tentu bertugas di bagian
dapur.
Untuk menghormat kedatangan para tetamunya, Tay Hong memang khusus membawa
paderi yang ahli masak. Ketika tiba di dapur, Siu-lam hanya melihat seorang paderi
tengah mencuci mangkuk. Kepala dapur tak ada.
Siu-lam memberi hormat dan bertanya kepada paderi: “Maaf, toa-suhu, tolong tanya di
mana beberapa suhu kecil yang mengantar minuman pagi tadi?”
“Sicu maksudkan paderi kecil yang mengantar makanan pagi tadi? Mereka berjumlah
12 orang. Entah mana yang sicu tanyakan?”
“Yang mengantar ke ruang bagian timur!”
“Ruangan sebelah timur ada 3 buah. Yang mana sicu maksudkan? Dan paderi-paderi
kecil itu secara sukarela mengantarkan makanan. Tak ditentukan siapa-siapa yang harus
mengantar. Apakah keperluan sicu?” tanya paderi itu.
“Aku kehilangan sebuah benda yang penting!” kata Siu-lam.
Paderi itu terkesiap, ujarnya: “Gereja dijaga keras, tak mungkin terjadi pencurian.
Kedua belas paderi kecil itu dibawa Hong-tian (ketua) dari gereja Siau-lim-si. Tak nanti
mereka berani mencuri!”
Siu-lam mengatakan bahwa paderi kecil itu bukan mencuri melainkan telah mengambil
pakaiannya yang kotor.
“Tentulah akan dicuci. Nanti tentu akan dikembalikan pada sicu lagi,” kata paderi itu.
“Dalam pakaianku itu terdapat sebuah benda. Kalau sampai ikut tercuci tentu rusak.”
Paderi itu gelengkan kepala: “Ah, mungkin sudah terlambat.” Kemudian ia
menunjukkan tempat mencuci pakaian di bagian belakang dapur.
Tempat pencucian pakaian itu di sebuah saluran air bening. Ketika Siu-lam tiba,
dilihatnya 30-an stel pakaian sedang dijemur. Di antaranya terdapat pakaiannya sendiri.
Buru-buru ia lari menghampiri.
Dua orang paderi kecil muncul dan menanyakan apakah Siu-lam hendak mengambil
pakaiannya.
“Ya, dalam pakaianku ini ada barangnya!”
“Jangan kuatir, setiap barang dalam pakaian tentu kami simpan. Nanti akan kami
kembalikan lagi beserta pakaian yang sudah bersih,” kata paderi kecil itu.
Siu-lam mengatakan bahwa ia kepingin memeriksa apakah benda itu masih di dalam
pakaiannya. Ia terus menghampiri pakaiannya. Alangkah kejutnya ketika peta itu sudah
tak berada di saku bajunya!
Tetapi ia cepat-cepat tenangkan diri agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Siu-lam tertawa tenang: “Karena takut barang itu tercuci rusak, maka aku bergegasgegas
kemari. Ah, terima kasih karena siau-suhu sudah menyimpannya. Bolehkah
kuambil sekarang?”
Sikap tenang Siu-lam itu menghilangkan kecurigaan kedua paderi kecil. Menunjuk pada
sebuah pondok batu di balik rumpun pohon-pohon bunga, mereka berkata: “Barangbarang
yang ketinggalan dalam pakaian kotor, telah kami ambil dan taruh dalam pondok
itu. Disitupun dijaga orang. Jika sicu hendak mengambilnya sekarang, silahkan
memeriksa ke sana!”
Siu-lam menghaturkan terima kasih dan buru-buru menuju ke pondok itu.
Pondok itu terdiri dari tiga buah ruangan besar kecil. Ketika Siu-lam masuk, ternyata di
situ sudah terdapat seseorang. Tetapi ketika mengetahui siapa orang itu, kejut Siu-lam
bukan alang kepalang….
Yang berada dalam pondok itu ternyata dua orang yakni Tio It-ping dan Su Bo-tun. Di
sebelah mereka tegak seorang paderi kecil. Dari sikapnya yang seperti patung, jelas
paderi kecil itu tentu tertutuk jalan darahnya….
Siu-lam tenangkan kegoncangan hatinya. Ia memberi hormat kepada kedua orang itu.
Tetapi belum sempat berkata, Tio It-ping sudah mendahului menegur: “Mau apa kau
datang kemari?”
Ketemu dan Hilang
Siu-lam tertegun, sahutnya: “Tecu hendak mencari sebuah barang. Tio supeh….”
“Caria pa?” Tio It-ping tertawa dingin.
Siu-lam terkesiap. Nada pertanyaan dan tertawa pamannya itu mengunjuk rasa
permusuhan. Ia heran benar-benar.
Tiba-tiba Su Bo-tun menepuk punggung paderi kecil itu lalu mundur menghadang di
ambang pintu.
Paderi kecil itu menghela napas panjang dan membuka mata. Ia celingukan
memandang orang di sekelilingnya dan ke arah tumpukan benda yang terletak di atas
meja.
“Siapa yang menutuk kau? Apakah ada barang yang hilang?” seru Su Bo-tun.
Bermula Siu-lam mengira kalau paderi kecil itu tentu ditutuk oleh salah seorang dari
kedua orang itu. Tetapi ucapan Su Bo-tun itu memberi penjelasan bahwa baik Tio It-ping
maupun Su Bo-tun bukan yang menutuk si paderi kecil.
Setelah mengawasi ketiga orang, paderi kecil itu gelengkan kepala: “Aku tak jelas
wajah orang itu. Benda-benda di meja itu…” – ia memeriksa barang-barang di atas meja
dengan teliti, serunya: “Ah, rupanya ada sebuah gambar peta yang hilang….”
Siu-lam berubah tegang seketika. Serunya serentak: “Masakan kau tak ingat potongan
tubuh orang itu?”
Paderi kecil menggeleng: “Dia cepat sekali datangnya. Ketika kupergoki, secepat kilat
dia menutuk jalan darahku!”
“Lekas panggil suhumu kemari!” seru Su Bo-tun.
Tio It-ping memandang kepada Siu-lam, tanyanya: “Apakah benda yang diserahkan
sumoay-mu itu kau simpan?”
Diam-diam Siu-lam heran mengapa hanya berpisah beberapa bulan saja, kini perangai
pamannya berubah tak seperti dulu.
Su Bo-tun berada di situ. Jika menjawab pertanyaan pamannya itu, tentu Su Bo-tun
akan mengetahuinya.
Tiba-tiba terdengar derap kaki mendatangi dan pada lain kejab muncullah Tay Hong
siansu bersama Siau Yau-cu, jago tua dari Bu-tong-pay. Di belakangnya mengiring 4
paderi berpangkat hou-hwat.

Sebenarnya ketika Siu-lam pergi ke dapur, diam-diam ada paderi yang melapor pada
Tay Hong. Maka sebelum ada panggilan dari Su Bo-tun sebenarnya ketua Siau-lim-si
bersama Siau Yau-cu itupun sudah menuju ke dapur.
“Mengapa sicu sekalian berada di sini?” tanya Tay Hong.
Siu-lam menerangkan bahwa ia hendak mencari barang yang masih ketinggalan dalam
baju yang dicuci.
“Sudah ketemu?” tanya Tay Hong.
“Belum.”
“Benda apakah itu?” Tay Hong kerutkan alis.
Siu-lam merenung sejenak, ujarnya: “Biarlah kuingat-ingatnya dulu!”
Tay Hong berpaling kepada Tio It-ping: “Sekalipun tak menerima undangan, tetapi
karena sicu dapat melintasi ke-13 pos penjagaan di gunung ini, pun loni anggap sebagai
tetamu terhormat.”
Tio It-ping hanya tertawa, tak menyahut.
“Apakah sicu juga mencari barang yang kelupaan dalam pakaian?” tanya Tay Hong
pula.
“Tidak, aku hendak mencari benda peninggalan seorang sahabatku!”
“Benda dari sahabat sicu? Bagaimanakah benda itu bisa berada di sini?” Tay Hong
kerutkan dahi.
Tio It-ping memandang sejenak pada Siu-lam, sahutnya: “Benda dari sahabatku itu
telah dikangkangi oleh seorang muridnya yang tak kenal budi. Dari gunung Kiu-kiong-san
aku telah mengejarnya sampai di sini.”
Walaupun tak menyebut namanya, tetapi sekalian orang tahu bahwa yang dimaksudkan
itu ialah Siu-lam. Mereka tumpahkan pandangannya ke arah pemuda itu.
Seketika meluaplah kemarahan Siu-lam atas tuduhan Tio It-ping. Dia hendak
membantahnya tetapi pada lain kilas ia teringat bahwa paman It-
Tay Hong berpaling kepada Su Bo-tun, ujarnya: “Dan kedatangan Su-heng kemari ini?”
Su Bo-tun menunjuk pada Tio It-ping: “Kuikuti jejaknya sampai di sini tetapi tetap
terlambat. Siau-suhu itu telah ditutuk orang!”
Sedari menerima nasihat Tay Hong siansu, sudah banyak berubahlah perangai orang
she Su itu.
Mendengar keterangan Su Bo-tun, Tay Hong segera memberi perintah kepada keempat
paderi hou-hwat untuk menyelidiki semua pos-pos penjagaan. Apakah semalam mereka
memergoki seseorang yang menyelundup ke atas gunung.
Setelah keempat paderi itu pergi, Tay Hong berkata pula kepada Siu-lam: “Jika
semalam tak ada orang yang menyelundup, terang benda itu masih berada di sini. Tetapi
entah benda apakah yang hilang itu? Pertanyaan ini demi untuk leluasanya penyelidikan
kita nanti.”
Walaupun tetap tenang dan sabar sikap ketua Siau-lim-si itu, tetapi nada dan sinar
matanya berkilat-kilat tajam. Jelas bahwa paderi sakti itu marah dalam hati.
Siu-lam tertegun. Jelas bahwa soal itu tentu akan menimbulkan kesulitan besar.
Sampai beberapa saat ia terdiam tak dapat menjawab apa-apa.
Tay Hong menatap Siu-lam tajam-tajam, katanya: “Sicu paling muda usianya, tetapi
paling banyak ragamnya. Jika benda yang sicu hilangkan itu benar milik orang lain,
apabila ketemu tentu akan loni kembalikan kepada pemiliknya. Dan bila benda itu
menyangkut kepentingan kaum persilatan seluruhnya, terpaksa loni akan menyimpannya
agar tak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan!”
Siu-lam mendengus, sahutnya: “Kupercayakan pada kebijaksanaan lo-siansu.
Walaupun aku mempunyai sesuatu keengganan dalam hati, tetapi dalam soal ini aku tak
mau menentang kehendak lo-siansu.”

Tio It-ping mendengus dingin, serunya: “Di dalam biara yang memuja kesucian, segala
apa berdasarkan kebersihan. Tiada hal yang tak boleh dikatakan di sini, semua serba
terang dan halal!”
Tay Hong kerutkan wajah. Dahinya memancarkan kemarahan tetapi ia tetap tenang.
Katanya dengan nada serius: “Biara Siau-lim-si mempunyai peraturan yang keras. Hal ini
telah diketahui semua orang. Tetapi pun gereja ini takkan membiarkan orang berbuat
sesukanya sendiri…” ia berhenti sejenak, lalu berkata pula: “Jika loni memutuskan
peradilan kepadamu, kau tentu tak puas. Maka hendak loni serahkan saja persoalanmu itu
kepada rapat besar. Biarlah mereka yang memutuskan!”
Siau Yau-cu menyelutuk: “Yang penting sekarang ini ialah menemukan benda yang
hilang itu. Maka harap taysu suka menanyakan benda apakah itu?”
Siu-lam menghela napas: “Apakah lo-cianpwe tetap berkeras hendak menanyakan?”
“Jika tak mengetahui benda itu, bagaimana kita dapat menyelidiki?” sahut Siau Yau-cu.
Siu-lam menengadah dan berkata pelahan-lahan: “Jika lo-cianpwe sekalian tetap
hendak menanyakan benda itu, terpaksa akupun menerangkan. Benda itu…” – tiba-tiba ia
berhenti lagi.
Su Bo-tun membentaknya: “Huh, benda apakah itu, sehingga kau sampai begitu jual
mahal? Bukan laku seorang ksatria sikapmu itu!”
Siu-lam mengerling tajam kepada orang she Su itu dan mendengus dingin: “Peta
Telaga Darah!”
Mendengar keterangan itu seketika berubahlah wajah sekalian orang. Mereka
tercengang-cengang.
“Benarkah omonganmu itu?” Siau Yau-cu menegas.
“Benar!”
“Kalau kau menyimpan peta itu mengapa kau tak mau bilang dulu-dulu?” tanya Tay
Hong.
“Karena benda itu bukan milikku!”
Tio It-ping menyanggapi: “Ucapanmu itu memang tepat. Peta itu milik suhumu.
Karena suhumu sudah meninggal, maka menjadi milik puterinya!”
“Ah, sayang sumoay-ku itu sudah tak berada di dunia lagi…” kata Siu-lam dengan
berlinang-linang air mata.
Tio It-ping melongo.
“Andaikata sumoay masih hidup, peta itupun tak bisa dikatakan menjadi miliknya,” kata
Siu-lam.
“Kalau bukan miliknya, apakah milikmu?” seru Tio It-ping murka.
“Secara jujur, peta itu seharusnya menjadi milik Ti-ki-cu Gan Leng-po!” sahut Siu-lam.
“Kalau benar milik Gan Leng-po mengapa berada dalam tanganmu?” tegur Tay Hong.
Tetapi segera paderi itu teringat akan surat si nona baju putih yang diberikan kepada Siulam.
Nona itu mengemukakan tentang peta tersebut. Bahwa peta itu ternyata berada
pada Siu-lam terang pemuda itu tentu merampas atau diam-diam telah mencurinya.
“Pertanyaan taysu itu tepat,” sahut Siu-lam, “peta itu memang bukan milikku, tetapi
aku yang menyimpannya!” – ia menghela napas.
“Dari manakah asalnya peta itu, aku tak tahu. Tetapi yang jelas suhuku telah menjadi
korban pembunuhan karena peta itu. Suhuku seorang cerdas. Sebelumnya ia telah
membuat persiapan. Peta diberikan kepada sumoayku dan disuruhnya sumoay
bersembunyi di tempat Su lo-cianpwe. Suhu memperhitungkan, pengaruh Su lo-cianpwe
cukup besar. Tetapi siapa tahu ternyata orang Beng-gak diam-diam telah mengetahui dan
mengikuti jejak sumoay…” kata Siu-lam pula. Kemudian ia mengerling ke arah Su Bo-tun
dan melanjutkan berkata pula:
“Su lo-cianpwe tak mau lekas turun tangan sehingga bala bantuan Beng-gak keburu
datang. Lalu terjadi pertempuran. Su lo-cianpwe dapat mengalahkan 3 jago Beng-gak,
tetapi karena terlambat sekali turun tangan, Beng-gak keburu kirim jago-jagonya yang

lebih ganas. Kala itu kepandaianku masih terbatas, tak mampu membantu. Aku bersama
sumoay melarikan diri melalui sebuah jalan rahasia di belakang gunung. Tetapi siapa
tahu, di dalam goa rahasia itu aku berjumpa dengan seorang lo-cianpwe yang aneh!”
“Su-heng, benarkah cerita sicu ini?” tanya Tay Hong kepada Su Bo-tun.
Su Bo-tun mengiakan.
Siu-lam melanjutkan pula: “Lo-cianpwe aneh itu berlumuran obat penghilang kulit
sehingga tak berani terkena sinar matahari. Separoh tubuh bagian bawah sudah lumpuh
tak berdaging. Hanya tinggal dua kerat tulang. Tetapi dia tetap masih hidup dan masih
sakti. Aku dan sumoay kena ditutuk jalan darahku, kemudian dia mendapat peta Telaga
Darah itu dari badan sumoay. Dia menyuruh aku membawa peta itu untuk menukarkan
obat dari Ti-ki-cu Gan Leng-po. Sumoay tetap ditahan sebagai jaminan. Begitu aku
membawa obat, sumoay akan dilepaskan. Oleh karena itu, peta seharusnya sudah
menjadi milik Gan lo-cianpwe!”
“Hm, kalau peta sudah kau tukarkan dengan obat, mengapa masih kau simpan?” tanya
Tay Hong.
Siu-lam menerangkan bahwa ketika Gan Leng-po mengantar dia ke telaga Han-cuithan,
nona baju putih telah menyelundup ke dalam pondok terapung dan berhasil mencuri
peta itu.
“Siapakah nona Bwe itu?” tanya Tay Hong.
“Ialah nona baju putih yang melukai dirinya sendiri tadi!”
“Omitohud! Nona itu benar-benar pantas dihormati dan dikagumi!” seru Tay Hong.
Siu-lam melanjutkan ceritanya: “Ketika pulang ke pondok dan dapatkan petanya hilang,
Gan lo-cianpwe mengejar aku lagi dan memaksa aku kembali ke pondoknya. Kamipun
kembali dan suatu peristiwa yang mengejutkan telah terjadi. Kuali pemasak obat dalam
pondok terapung itu tumpah ruah hancur berantakan. Dilanda oleh kegoncangan yang
hebat, seketika pikiran Gan lo-cianpwe berubah gila….”
Siu-lam menuturkan apa yang telah dialaminya selama ini. Hanya satu bagian yang
dilewati ialah tentang sumpah di bawah rembulan menjadi suami isteri dengan Bwe Hongswat
itu tak diceritakan.
“Eh, siapakah orang aneh yang berada dalam goa rahasia itu?” tiba-tiba Siau Yau-cu
menyelutuk.
“Bermula aku tak tahu siapa namanya. Barulah setelah aku menemui Su lo-cianpwe
dan bersama-sama menuju ke goa rahasia itu, dari barang-barang yang ditinggalkan
dalam goa itu ternyata lo-cianpwe itu ialah iblis wanita Ih Ing-hoa yang menggemparkan
dunia persilatan pada 20 tahun berselang.”
Mendengar itu menggigillah tubuh Siau Yau-cu: “Jadi dia benar sudah mati?”
“Ketika aku kembali ke goanya, dia memang sudah meninggal. Sumoaykupun
dibunuhnya. Semasa muda, wanita itu tentu jahat dan cabul, maka pantaslah kalau dia
diganjar penyakit yang begitu mengerikan!”
“Su-heng tantu tahu hal itu…” kata Siau Yau-cu kepada Su Bo-tun.
Orang she Su menggeleng: “Memang memalukan sekali. Aku yang tinggal berpuluhpuluh
tahun di Coh-yang tak mengetahui sama sekali bahwa di bawah karang
bersembunyi perempuan iblis itu!”
Tay Hong menghela napas. Paderi itu tetap menyesalkan Siu-lam mengapa dulu-dulu
tak mau mengaku terus terang. Siu-lam menunduk.
“Taysu, harap memberi jalan!” tiba-tiba Tio It-ping melangkah hendak keluar.
Tetapi Tay Hong tetap tak mau beringsut dari ambang pintu: “Harap tunggu sebentar
lagi!”
“Mengapa?” tiba-tiba Tio It-ping mendorong paderi itu ke samping.
“Omitohud! Sicu hendak menyerang loni?” Tay Hong beringsut untuk menyingkirkan
bagian jalan darah, kemudian membiarkan bahunya dijamah orang.

“Orang yang berhati bersih tentu mau bersabar sebentar. Kalau main kasar, jangan
menyesal kalau aku turun tangan!” Siau Yau-cu mendengus.
Ketika membentur bahu Tay Hong siansu, tangan Tio It-ping seperti membentur karang
dan memantulkan daya membal yang keras. Ia tercengang.
Tiba-tiba Tay Hong bertanya kepada Su Bo-tun: “Su-heng, apakah setelah lukanya
sembuh, Tio-sicu ini lalu tinggalkan Coh-yang-ping?”
Pertanyaan justru seperti yang hendak ditanyakan Siu-lam. Iapun mendengar dengan
penuh perhatian.
“Waktu itu aku sedang bertempur seru dengan jago-jago yang dikirim Beng-gak. Dia
duduk di samping sambil mengobati lukanya. Setelah musuh pergi, dia tinggal di Cohyang-
ping hampir 10 hari lamanya. Setelah lukanya sembuh, baru ia pergi. Tetapi saat
itu aku tak menanyakan kemana tujuannya,” kata Su Bo-tun.
Tay Hong merenung. Beberapa saat kemudian, keempat paderi jubah kuning yang
disuruh menyelidiki tadi, bergegas-gegas datang. Mereka memberi laporan bahwa
semalam tak ada seorangpun yang naik ke atas gunung.
Wajah Tay Hong mengerut gelap. Dengan tertawa dingin ia menatap Tio It-ping: “Di
antara kita yang berada di sini, hanya sicu yang paling mencurigakan. Tetapi loni tak mau
terlalu menekan orang. Harap sicu suka mempertimbangkan semasak-masaknya lalu
memberi keterangan pada loni!”
Tio It-ping menyahut dingin: “Ucapan taysu yang tak jelas juntrungnya itu, bermaksud
bagaimana?”
Ketua Siau-lim-si itu pejamkan mata dan mengucap doa. Beberapa saat kemudian
tampak wajahnya tenang. Membuka mata dengan tersenyum ia berkata ramah: “Mati
hidupnya kaum persilatan, merupakan soal yang maha penting. Mengapa sicu tak mau
berbuat kebaikan dengan menyerahkan saja!”
Tio It-ping menyurut selangkah, serunya: “Menyerahkan apa?”
“Hiat-ti-tho!” sahut Tay Hong siansu.
Tio It-ping tertawa dingin: “Apakah taysu hendak memfitnah aku?”
Tay Hong kerutkan sepasang alisnya yang putih kemudian berkata dengan serius: “Jika
sicu tak mau menyerahkan baik-baik, jangan menyesal kalau loni berlaku kurang hormat!”
“Taysu mau apa?”
Wajah ketua Siau-lim-si itu berubah, serunya: “Apakah sicu anggap loni tak dapat
menggeledah sicu?”
Tio It-ping mengangkat kedua tangannya dan tertawa nyaring: “Jika taysu mencurigai
aku, silahkan menggeledah badanku!”
Sikap Tio It-ping itu membuat Tay Hong agak meragu. Ia berpaling kepada si paderi
berjubah kuning, ujarnya: “Cobalah kalian memeriksa badan sicu itu. Harap yang teliti
tetapi jangan berlaku kasar!”
Keempat paderi jubah kuning itupun segera melakukan perintah. Tio It-ping acuh tak
acuh dan mempersilahkan keempat paderi mulai menggeledahnya.
Dengan hati-hati dan teliti keempat paderi itu memeriksa seluruh tubuh Tio It-ping
namun tak mendapatkan suatu apa.
Setelah keempat paderi itu selesai menggeledah, tertawalah Tio It-ping dengan sinis:
“Apakah suhu berempat perlu memeriksa sepatuku juga?”
Sebagai seorang ketua gereja yang disegani orang, sudah tentu Tay Hong malu
mendengar sindiran itu. Namun mengingat betapa pentingnya peta itu dan betapa besar
akibatnya jika sampai jatuh ke tangan orang yang tak bertanggung jawab, Tay Hongpun
segera menerima tawaran Tio It-ping.
Jawaban Tay Hong itu mengejutkan sekalian orang. Bahkan keempat paderi jubah
kuningpun tertegun. Karena belum pernah mereka melihat ketua mereka begitu serius
seperti saat itu.

Siu-lampun gelisah sekali. Menggeledah sepatu orang berarti suatu hinaan. Apabila
Tio It-ping benar-benar tidak mengambil peta itu, tentulah pamannya itu akan
mendendam kepada kaum Siau-lim-si.
Baru ia hendak mencegah, tiba-tiba Tay Hong sudah membentak keempat paderi jubah
kuning: “Hai, mengapa kalian tak lekas-lekas mengerjakan perintahku? Apakah kalian
tidak mau mendengarkan kata-kataku?”
Sebenarnya Tio It-ping hendak mengejek ketua Siau-lim-si itu. Tetapi di luar dugaan,
ternyata Tay Hong benar-benar menerima tawarannya. Apa boleh buat, akhirnya ia
melolos sepatu dan kaus kakinya juga.
“Cobalah kalian periksa sepatuku ini. Apakah ada sesuatu yang kusembunyikan?”
sambil mengangkat sepatunya, Tio It-ping berseru dingin.
Jilid 15
TAY HONG berpaling kepada si paderi kecil penjaga pondok, serunya dengan bengis,
“Barang milik tetamu, telah hilang. Jelas, kau tak mampu menjaganya. Untuk
hukumannya, sementara kau harus menghadap tembok sampai tiga tahun lamanya. Lekas
pulang ke Ko-san dan serahkan diri pada paderi yang berwajib!”
Dengan serta merta paderi kecil itu member hormat dan tinggalkan pondok.
“Dengan maksud apa Su-heng juga dating kemari?” kemudian Tay Hong beralih tanya
kepada Su Bo-tun.
Ternyata itu membuat Su Bo-tun hamper kambuh penyakitnya. Ia kerutkan dahi tetapi
pada lain saat cepat ia dapat menekan kemarahannya lagi.
Sahutnya, “Rasanya aku tadi sudah menjawab pertanyaan itu. Aku memburu jejak
orang ini!” ia menunjuk pada Tio It-ping.
“Kemana saja kau selama ini?” tiba-tiba Tay Hong menegur paderi kecil lainnya.
“Teecu tetap berada di sini, tak sedetikpun pergi kemana-mana,” sahut paderi kecil itu.
“Jika tetap berada di sini mengapa tidak tahu benda itu hilang?”
“Tecu telah ditutuk orang!”
“Siapa yang menutukmu? Apakah kau tak ingat sama sekali?”
Paderi itu mengatakan bahwa orang itu yang menutup jalan darahnya itu cepat sekali
gerakannya sehingga ia tak sempat mengetahui mukanya. Sebelum berpaling, jalan
darahnya sudah tertutuk.
Tay Hong mengerut kening. Tokoh-tokoh yang datang dalam pertemuan itu adalah
para tokoh ternama. Karena paderi kecil itu tak dapat menerangkan ciri-ciri si penutuk,
maka sukarlah untuk menuduh seseorang. Dan untuk menuduh seseorang, tentu akan
menimbulkan kehebohan dan pertengkaran!

Rupanya Siau Yau-cu dan Su Bo-tun dapat mengetahui keresahan Tay Hong, kata
mereka, “Kiranya tak perlulah taysu resah. Yang penting sekarang ini ialah harus
menghadapi Beng-gak. Soal mencari peta itu, bisa dipertangguhkan setelah urusan Benggak
selesai!”
Tay Hong tertawa dan menghaturkan terima kasih atas anjuran kedua tokoh itu. Tibatiba
Tio It-ping menyeletuk, “Apakah aku boleh tinggalkan tempat ini?” katanya seraya
menerobos keluar.
Tay Hong hendak mencegah tetapi entah bagaimana tangan yang sudah diulurkan,
tiba-tiba ditarik kembali.
Su Bo-tun tertawa dingin dan mengangkat tangannya menuding ke arah punggung Tio
It-ping. Tio It-ping rasakan punggungnya gemetar. Tiba-tiba ia berhenti dan berpaling
sebentar lalu melanjutkan perjalanan lagi.
Mengingat hubungan lama, Siu-lam hendak menyusul tetapi Su Bo-tun cepat
menghadang, serunya, “Dia telah kututuk dengan Keng-gong-ci (menutuk dari jauh).
Dalam dua belas jam lukanya tentu akan sembuh lagi. Paling tidak dalam waktu tiga bulan
baru ia dapat sembuh. Saat itu kita sudah menyelesaikan urusan Beng-gak dan sudah tahu
menang kalahnya. Kelak kita bias mencarinya lagi. Untuk sementara ini biarkan saja dia
pergi!”
Saat itu Tio It-ping sudah lenyap. Siu-lam hanya menghela napas.
“Loni hendak bicara pada sicu. Apakah sicu bersedia?” tiba-tiba Tay Hong berkata
kepada Siu-lam. Sudah tentu Siu-lam mengiakan.
“Tentang hilangnya peta itu, untuk sementara baiklah dirahasiakan. Loni secara diamdiam
akan menyelidikinya. Jika dapat menemukan, tentu segera loni memberitahukan. Jika
kehilangan itu sampai teruwar, dikuatirkan akan menimbulkan kehebohan. Dalam hal ini
loni juga pengertian sicu!”
Siu-lam menganggap pendapat ketua Siau-lim-si itu benar. Ia meluluskan. Tay Hong
menyatakan andaikata peta itu belum dapat diketemukan, nanti bila urusan Beng-gak
sudah selesai, tetap ia hendak berusaha mencarinya dan akan mengembalikan kepada
anak muda.
Kemudian Tay Hong menanyakan kepada Su Bo-tun kapan akan dimulainya latihan
barisan Chit-sing-tun itu.
Dengan nada bersungguh Su Bo-tun mengatakan, barisan itu tentu sudah selesai dalam
lima hari lagi.
Su Bo-tu berapi-api menatap Siu-lam, serunya dengan nada dingin, “Buyung, peta
Telaga Darah menyangkut nasib dunia persilatan. Aku telah menganut jalan hidupku
dengan caraku sendiri. Aku tak perduli orang mengatakan aku bagaimana. Tetapi sungguh
tak kunyana, dalam hari tuaku aku bakal menghadapi peristiwa begini. Sekalipun
pendirianku telah kurubah, tetapi bukan berarti aku tak seganas dulu. Jika kau berani
main-main tentang peta itu, jangan salahkan aku berlaku kejam padamu!”

“Bagaimana maksud lo-cianpwe? Aku tak mengerti,” kata Siu-lam.
Su Bo-tun tertawa dingin, “Apakah petamu itu benar-benar hilang?”
“Kalau tidak hilang, masakan aku begini sibuk. Dan perlu apa aku membohongi!” Siulam
berteriak marah dan terus melangkah pergi. Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam
untuk menjaga diri. Karena menurut perangai orang she Su dahulu, tak mungkin dia dapat
menerima sikap kasar yang diunjuk Siu-lam seperti saat itu.
Di luar dugaan Su Bo-tun tertawa gelak-gelak dan tinggalkan pondok itu juga.
Ketika Siu-lam kembali ke kamar, ternyata Hian-song sudah menunggu. Dara itu
memandang ke wuwungan kamar dan tertawa-tawa riang gembira.
“Eh, adik Song, mengapa kau begitu riang gembira?” tegur Siu-lam.
Dara itu tertawa dan berbangkit, “Ketika sumoaymu masih hidup, kalian tentu rukun
sekali, bukan?”
Siu-lam terkejut dan terlongong-longong. Beberapa saat kemudian baru ia menyahut,
“Benar, mengapa kau tiba-tiba menanyakan soal itu?”
“Tetapi saying dia sudah meninggal,” kata si dara tanpa menghiraukan pertanyaan
orang.
Siu-lam terbeliak lagi, ujarnya, “Kita telah menguburnya di kaki bukit Po-tok-nia.
Masakan kau lupa?”
Sekonyong-konyong wajah dara itu berubah gelap dan dingin. Bertanyalah dia dengan
bengis, “Jika pada waktu di gunung Kiu-kiong-san aku tak menolongmu, apakah kau masih
dapat hidup sampai sekarang?”
Siu-lam makin tak mengerti sikap dara itu, diam-diam ia menduga jangan-jangan dara
itu tak enak badan sehingga bicaranya tak karuan.
“Benar, jika tak kau tolong, aku tentu sudah mati,” sahutnya seraya maju mendekati.
“Kakekku telah menurunkan ilmu sakti sehingga dalam waktu singkat kau telah menjadi
tokoh persilatan yang hebat, kau anggap budinya besar atau tidak?” kembali Hian-song
bertanya.
“Budi Tan lo-cianpwe adalah sebesar gunung Tay-san. Seumur hidup nanti tak
kulupakan!”
Hian-song menatap wajah pemuda itu dengan tajam, sesaat kemudian ia menitikkan
dua butir air mata. Katanya dengan rawan, “Segala itu sudah lampau, percuma diangkat
kembali….”
“Adik Song, apakah salahku?” kata Siu-lam seraya menarik lengan si dara. Ia kasihan
pada dara itu.

Hian-song terbeliak tetapi sampai beberapa saat tak dapat berkata apa-apa. Katanya
kemudian, “Semalam telah kupikirkan masak-masak, akhirnya aku dapat memikirkan
sesuatu….”
“Apa yang kau temukan?”
“Kemarin kulihat nona baju putih itu memang cantik sekali….”
Kini tahulah Siu-lam kemana jatuhnya kata-kata dara itu. Ia hendak membuka mulut
tetapi Hian-song sudah mendahului lagi, “Bukankah dia bersikap baik sekali padamu?”
Diam-diam Siu-lam menimang. Dalam keadaan sedang tegang, tak pantaslah ia melukai
hati dara itu. Maka tertawalah ia, “Walaupun aku pernah berjumpa padanya….”
“Maka kau lantas tak mau padaku…” tukas si dara, “jika dulu tahu begini, tentu aku tak
mau menolong jiwamu di Kiu-kiong-san. Biarkan aku dibunuh orang baru nanti kubunuh
orang itu untuk membalaskan sakit hatimu.”
Diam-diam Siu-lam mengeluh. Perangai Hian-song mudah marah. Jika hidup
bersamanya, tentu sukar menghadapi.
Hian-song menghela napas panjang, “Jika kelak aku bertemu dengan nona baju putih
itu, tentu akan kuhiasi wajahnya dengan ujung pedang. Lihat saja apakah dia masih cantik
lagi!”
Siu-lam teringat memang semalam ia bersikap agak dingin pada dara itu. Kemungkinan
dara itu tersinggung perasaannya. Ia hendak menghibur, tapi tak harus mengatakan
bagaimana.
Akhirnya ia alihkan pembicaraan, “Kini seluruh tokoh persilatan sedang mencurahkan
perhatiannya untuk menghadapi Beng-gak. Soal-soal pribadi, dendam dan kasih, untuk
sementara dikesampingkan. Dalam hal ini harap sumoay jangan salah paham.”
Dara yang masih sering bersifat kekanak-kanakan itu rupanya mau mempertimbangkan
ucapan Siu-lam. Setelah merenung sejenak, tampak wajahnya riang kembali.
“Kakek telah member banyak sekali ilmu kepandaian padaku. Diantaranya adalah ilmu
pedang yang dahsyat sekali perbawanya. Tetapi ilmu pedang itu harus dilakukan oleh dua
orang baru dapat berkembang baik. Sebaiknya kita pelajari ilmu pedang itu agar nanti
dalam saat yang diperlukan dapat kita pergunakan untuk menghadapi musuh!” katanya.
“Eh, mengapa kau tahu? Kapankah sumoay memiliki ilmu pedang itu?”
Melihat nada Siu-lam berubah ramah, hati si darapun menjadi lunak. Ia rebahkan tubuh
ke dada Siu-lam dan dengan nada manja berkata, “Engkoh Lam, apakah kau sungguhsungguh
suka padaku?”
“Mengapa tidak?”
“Semalam ketika melihat sikapmu dingin kepadaku, hatiku mendongkol sekali.
Kuanggap nona baju putih itulah yang menjadi gara-garanya. Dia sangat cantik, siapa saja

tentu suka padanya. Semalam itu aku tak dapat tidur dan pikirku hendak mencarimu untuk
membuat perhitungan…!”
“Eh, apakah sekarang kau masih marah?” tanya Siu-lam dengan tertawa.
Hian-song gelengkan kepala, “Aku telah membuat keputusan. Hendak kuminta kau
berkata terus terang, apakah kau suka padaku atau tidak. Jika tidak, aku segera akan
tinggalkan tempat ini….”
“Kau seorang anak wanita yang belum berpengalaman. Kemanakah kau ingin pergi
dalam dunia yang begini luasnya?”
“Sudah tentu ada yang hendak kutuju. Aku hendak mencari tahu tempat yang terpencil.
Hendak kuyakinkan ajaran kakek sampai sempurna. Kemudian aku akan keluar ke dunia
persilatan lagi. Lebih dulu hendak kubunuh nona baju putih itu setelah itu lalu
mencarimu….”
“Apakah kau juga hendak membunuhku?”
“Entahlah,” sahut Hian-song, “sudah tentu aku bencai sekali padamu. Tapi tak tahulah
aku, apakah hendak membunuhmu atau tidak….”
Tiba-tiba dara itu mengikik, “Andaikata tak membunuh, pun tentu akan kubawa kau ke
sebuah lembah yang terpencil. Akan kurantai kaki tanganmu agar kau jangan muncul ke
masyarakat ramai lagi!”
Diam-diam Siu-lam tergetar nyalinya. Ia makin menyadari sifat dan perangai dara itu.
“Engkoh Lam, kau takut atau tidak?” kembali Hian-song membuka mulut.
“Apa kau hendak membuat aku supaya mati kelaparan?” tanya Siu-lam.
“Akupun akan menemani kau di situ. Tiap hari akan kumasakkan kau hidangan yang
lezat. Seumur hidup kita takkan keluar dari tempat itu!”
“Seumur hidup?” tanya Siu-lam.
“Ya, sampai kakek nenek, hidup berdua mati bersama. Andaikata kau mati lebih dulu,
aku pun akan segera membunuh diri di sampingmu!”
“Kalau kau yang mati lebih dulu?”
“Kau kubunuh lebih dulu, kemudian baru aku mau mati,” sahut Hian-song.
Tergerak hati Siu-lam mendengar pernyataan si dara yang penuh emosi tetapi
bersungguh-sungguh. Begitu besar dan mati-matian dara itu menyintai dirinya. Diam-diam
Siu-lam berjanji akan berusaha untuk mempengaruhi agar dara itu jangan terlalu keras
wataknya.
Kembali Siu-lam mengungkapkan tentang suasana keprihatianan dunia persilatan
menghadapi ancaman gerombolan Beng-gak. Ia menganjurkan supaya dara itu suka

mengamalkan ajaran-ajaran ilmu kesaktian dari kakeknya untuk membantu kaum
persilatan.
“Baik, mari kuajarkan ilmu pedang itu,” kata Hian-song seraya menarik Siu-lam diajak
keluar. Sambil mengucapkan gerakan-gerakan ilmu pedang itu secara lisan, iapun
memainkannya dengan pelahan-lahan.
Tempo berjalan dengan cepat sekali. Tak terasa sudah sepuluh hari mereka tinggal di
gunung itu. Selama itu Siu-lam dan Hian-song giat berlatih ilmu pedang.
Begitu pula para tokoh yang telah berada di gunung itu. Masing-masing giat berlatih
diri. Saling berunding tentang ilmu kesaktian.
Hari itu ketika baru saja hari mulai gelap Siu-lam dan Hian-song masih berlatih ilmu
pedang. Tiba-tiba muncullah seorang paderi kecil yang mengundang kedua pemuda itu
supaya menghadap pada Tay Hong siansu.
Siu-lam dan Hian-song terpaksa hentikan latihannya dan segera mengikuti paderi kecil
itu.
Ketika tiba di ruangan samping, di situ telah disiapkan meja perjamuan. Di luar ruangan
dijaga keras oleh seluruh paderi Siau-lim-si dengan senjata terhunus.
Tay Hong mempersiapkan keduanya duduk.
Setelah mengajak para tokoh persilatan mengangkat cawan, berkatalah Tay Hong
siansu, “Dalam beberapa hari ini, loni telah mengirim murid-murid Siau-lim-si untuk
menyelidiki ke segenap penjuru di manakah letak gunung Beng-gak itu. Hasilnya, telah
diketemukan dua buah tempat yang mencurigakan. Sekalipun untuk penyelidikan itu Siaulim-
si telah kehilangan empat orang jiwa muridnya, tetapi usaha itu tak sia-sia.”
Sekalipun tokoh-tokoh tertarik perhatiannya. Karena sekalipun mereka itu terdiri dari
tokoh-tokoh yang ternama dari segenap penjuru, akan tetapi mereka benar-benar tidak
tahu di manakah letak tempat yang disebut Beng-gak itu.”
“Hari Peh-cun sudah kurang empat belas hari lagi. Tetapi barisan Chit-sing-tun-heng
dari Su-heng telah selesai terbentuk. Begitu pula saudara-saudara sekalianpun telah siap
sedia. Maka maksud loni hendak menuju Beng-gak lebih pagi dari hari pembukaannya.
Lebih lekas selesai, lebih lekas saudara-saudara dapat pulang ke rumah. Dan kedua
kalinya, kedatangan kita yang beberapa hari di muka itu, tentu tak memberi kesempatan
kepada musuh untuk membuat persiapan-persiapan yang sempurna!” kata Tay Hong.
Tiba-tiba Su Bo-tun berbangkit, “Di manakah murid-murid taysu menemukan tempat
itu? Berapakah jauhnya dari sini?”
Tay Hong menghela napas perlahan, “Jika nona baju putih itu tidak meninggalkan peta,
mungkin bertahun-tahun kita tak akan menemukan tempat itu. Mungkin saudara-saudara
akan terkejut bila mendengar bahwa ternyata yang disebut Beng-gak itu terletak di tengah
lembah yang tak jauh dari sini. Maka setelah perjamuan malam ini selesai, loni bermaksud
hendak berangkat malam ini juga!”

Seorang tua bertubuh gemuk pendek berbangkit, serunya, “Sudah sepuluh hari aku
tahankan diri tinggal di sini. Jika kalian tak lekas-lekas ke sana, aku terpaksa akan pulang
saja. Dua tahun lagi, akan kubawa jago-jago dari Se-gak kemari. Pertama-tama aku akan
ke gereja Siau-lim-si di Kosan. Jika dapat menundukkan Siau-lim-si, barulah kuundang
kalian dalam sebuah pertemuan besar. Jika dalam pertemuan itu kami jago-jago Se-gak
kalah, kujamin dalam seratus tahun lamanya, jago-jago Se-gak tidak boleh datang ke
Tiong-goan!”
Ternyata yang bicara itu adalah kakek pendek dari Se-gak (Tibet) ahli pukulan Bu-ingsin-
kun. Karena sudah tahu bagaimana watak si kakek yang gemar berkelahi itu, tiada
seorangpun yang mau meladeninya.
Tay Hong menjawab, “Jika malam ini loni tak dapat menemukan Beng-gak, silahkan
sicu pulang. Dua tahun lagi tentu loni akan menunggu kedatangan sicu ke Siau-lim-si!”
Siu-lam melihat bahwa di antara tokoh-tokoh yang hadir dalam perjamuan malam itu
hanya Ti-ki-cu Gan Leng-po si tabib gila yang tak kelihatan. Maka ia menanyakan kepada
Tay Hong.
Jawab ketua Siau-lim-si, “Penyakit Gan Leng-po itu tak mungkin sembuh dalam waktu
yang singkat, maka loni suruh murid-murid membawanya ke gereja Siau-lim-si….”
Demikian para tokoh persilatan itu segera makan malam bersama. Ternyata Tay Hong
sudah mempersiapkan ransum kering. Tiap orang diberi bekal untuk tiga hari.
Tay Hong menerangkan bahwa adanya disediakan ransum itu adalah karena
kemungkinan besar makanan yang dihidangkan orang Beng-gak itu dicampuri dengan
racun.
Setelah persiapan-persiapan selesai maka berangkatlah rombongan orang gagah itu di
bawah pimpinan Tay Hong siansu.
Siu-lam, Hian-song dan Kat Hui berjalan bersama-sama. Delapan belas paderi jubah
kuning dan delapan belas paderi jubah merah mengiring di belakang rombongan.
Setelah melintasi dua buah gundukan gunung tiba-tiba Tay Hong percepat langkahnya.
Sekalipun berjumlah besar tetapi karena mereka terdiri dari tokoh-tokoh kelas satu,
sekalipun berlari cepat namun tak mengeluarkan suara apa-apa.
Perjalanan di atas gunung itu makin lama makin berbahaya. Jalanan sempit dan
berlingkar-lingkar mendaki tebing yang curam.
Kira-kira sepenanak nasi lamanya, tibalah mereka di sebuah lembah dan Tay Hongpun
segera berhenti. Saat itu malam makin larut. Di langit tiada rembulan. Angin malam
menderu-deru. Tay Hong mengeluarkan peta dari Bwe Hong-swat. Setelah memeriksa lagi
dengan teliti lalu merobeknya.
“Benar, memang lembah ini…” katanya seraya mendahului melangkah masuk.
Sekonyong-konyong empat orang paderi jubah kuning yang berada di bagian belakang
rombongan, lari melindungi di depan Tay Hong.

Lembah itu benar-benar masih liar. Setelah memasuki sampai duapuluhan tombak
lebih, terasalah angin menghembuskan suasanan keseraman.
Setelah menikung beberapa tikungan tampak puncak gunung yang menjulang tinggi
menutupi rembulan sabit. Keadaan lembah makin gelap. Hati setiap anggota rombongan
makin berdebar.
Tiba-tiba Siau Yau-cu mendengus perlahan dan menunjuk ke arah sebuah puncak yang
hitam, “Apakah itu?”
Ketika sekalian orang memandang ke muka, samar-samar tampak di atas puncak yang
kehitam-hitaman itu huruf-huruf yang berbunyi “Lembah Kematian” atau Lembah Maut.
“Omitohud! Kiranya tak salah lagi,” kata Tay Hong seraya percepat langkahnya.
Tiba di kaki bukit, jalanan tertutup oleh sebuah karang kecil. Karang itu merupakan
jalan buntu. Memandang ke atas puncak tampak tulisan Lembah Maut itu dipasang
setinggi ratusan tombak. Entah terbuat dari bahan apa.
Tay Hong menghela napas dan merenung.
“Kira-kira jam berapakah saat ini?” tiba-tiba Siau Yau-cu bertanya.
Su Bo-tun yang berada di sampingnya mengatakan bahwa saat itu kira-kira menjelang
pukul satu tengah malam.
“Tulisan Lembah Maut itu jelas dibuat oleh orang. Kalau tak salah, inilah Beng-gak yang
akan kita cari itu!” kata Siau Yau-cu.
“Tetapi mengapa jalanan putus begini?” kata Tay Hong.
Siau Yau-cu menyatakan, “Saat ini tengah malam. Andaikata kita menemukan jalan,
tetapi karena musuh dalam kedudukan gelap dan kita berada dalam kedudukan terang,
berbahaya sekali kalau kita mendaki ke atas. Sebaiknya kita beristirahat dulu di sini sampai
nanti terang tanah!”
Tay Hong setuju. Maka sekalian rombonganpun berhenti mengaso dengan duduk
bersemedi memulangkan semangat.
Setelah berselang beberapa jenak, tiba-tiba Hian-song membisiki Siu-lam, “Engkoh
Lam, ada sesuatu yang terpendam dalam hatiku. Jika tak kuberitahukan padamu, rasanya
masih mengganjal saja!”
“Apa?”
Hian-song tertawa perlahan, “Hi hi, petamu yang hilang itu sebenarnya aku yang
mengambil!”
“Apa?” Siu-lam tersentak kaget.
Dara itu tertawa mengikik dan membisiki ke dekat telinga Siu-lam, “Jangan gugup!
Bukan aku yang mencurinya tetapi kucuri dari tangan orang lain!”

“Siapa?”
“Pamanmu Tio It-ping itu!”
Sekalipun mereka bicara dengan perlahan sekali namun tetap mengganggu
persemedian sekalian orang. Mereka berpaling memandang kedua anak muda itu.
“Sudahlah, mereka mengawasi kita,” kata Hian-song.
Siu-lam merasa bahwa persoalan itu penting sekali. Sekali bocor tentu akan
menimbulkan kehebohan besar. Ia mengangguk dan tak mau bertanya lebih lanjut.
Suasana menjadi hening kembali. Walaupun di tempat itu terdapat tak kurang dari
lima-enam puluh tokoh-tokoh persilatan, tetapi sama sekali tak kedengaran napas mereka.
Rombongan paderi Siau-lim-si jubah kuningpun memencar diri untuk melindungi
keselamatan rombongan.
Di antara sekian banyak tokoh yang tengah bersemedi itu hanya Tay Hong seorang
yang pikirannya tak lepas mengingat lukisan pada peta pemberian Bwee Hong-swat.
Sekalipun sudah dihancurkan namun ia masih ingat jelas tempat-tempat pada peta itu.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Berpaling ke arah rombongannya, tampak sekalian tokohtokoh
itu masih duduk bersemedi. Boleh dikata mereka adalah tokoh-tokoh termasyhur
dari delapan penjuru.
Sekalipun ketua Beng-gak itu manusia yang mempunyai tiga kepala enam lengan,
rasanya sukar untuk menghadapi sekian banyak tokoh sakti. Seketika semangat Tay Hong
timbul.
Saat itu hari sudah mulai terang. Sekian orangpun sudah bangun. Semangat mereka
tampak segar kembali.
Memandang ke sebelah muka, Tay Hong samar-samar melihat sebuah jalanan yang
ditanami dengan jajaran pohon siong. Pohon itu tampaknya diatur menurut bentuk yang
tertentu.
Siau Yau-cu menghampiri Tay Hong, “Apakah taysu sudah memahami jalan-jalannya?”
“Hutan pohon siong itu mungkin merupakan jalan yang harus kita tempuh,” sahut Tay
Hong.
Siau Yau-cu memandang menurut arah yang dimaksud ketua Siau-lim-si itu. Memang ia
juga melihat gerumbul hutan pohon siong itu.
Tay Hong lalu mengajak rombongannya berangkat. Jalanan penuh ditumbuhi dengan
rotan yang menyemak liar. Tiada jalanan sama sekali. Akhirnya setelah menempuh dengan
hati-hati, dapatlah Tay Hong memimpin rombongan orang gagah melintasi hutan pohon
siong itu.
Kini mereka berhadapan dengan sebuah jalanan yang kedua sampingnya terdiri dari
karang tinggi. Jalanan sempit itu menuju ke sebuah mulut lembah. Karang ditumbuhi pakis

yang licin dan curam. Walaupun memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi, juga sukar
untuk melintasinya. Satu-satunya jalan hanyalah melalui jalanan kecil itu.
Diam-diam Tay Hong cemas. Jika pada kedua lamping karang itu musuh
menyembunyikan barisan pendam, tentu celakalah rombongannya.
“Harap sicu sekalian tunggu di sini dulu. Loni akan menyeberangi dulu dan setelah balik
baru akan mengajak sicu…” kata Tay Hong seraya terus melangkah ke muka.
Di luar dugaan ternyata Tay Hong selamat tak mengalami gangguan suatu apa.
Kemudian ia mengajak rombongan orang gagah melintasi lembah itu. Lembah sempit itu
panjangnya tak kurang dari ratusan tombak. Apabila musuh menggelindingkan batu dari
atas karang, sekalian orang gagah tentu hancur binasa semua.
Begitu keluar lembah, mereka melihat sebuah patung batu yang besar. Wajahnya
seperti setan yang ngeri. Tangannya mencekal sebuah perisai batu yang bertuliskan,
“Tanda undangan Ciau-hun, harap tuan-tuan datang lebih pagi!”
Di belakang patung itu terdapat sebuah altar batu setinggi satu tombak. Di atas altar
duduk seorang manusia aneh berpakaian hitam, mencekal sehelai panji bertuliskan, “Bisa
datang tak bisa pulang!”
Walaupun saat lalu sudah terang tanah, tetapi pemandangan itu cukup menyeramkan
juga.
“Apakah itu juga sebuah patung?” bisik Tay Hong kepada Siau Yau-cu. Jago Bu-tongpay
itu menggeleng, “Rupanya bukan!”
Tiba-tiba Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong menimpukkan sebentuk kim-hoan (gelang
emas) ke arah manusia aneh itu. Sekonyong-konyong orang berbaju hitam itu bersuit
panjang dan kibaskan panji. Ces… kim-hoan menyusup ke dalam panji tanpa bersuara
apa-apa.
Cin-hong terkejut. Ketika hendak menimpuk lagi, Tay Hong siansu mendahului berseru,
“Loni adalah Tay Hong dari Siau-lim-si. Rombongan kami yang terdiri dari para orang
gagah segenap penjuru telah datang untuk memenuhi undangan ketua Beng-gak. Harap
memberitahukan kedatangan kami!”
Orang baju hitam itu menyahut dingin, “Sekarang toh belum hari Peh-cun, mengapa
kalian sudah datang? Apa kepingin lekas mati?”
“Hari Peh-cun adalah ketua Beng-gak yang menetapkan. Dalam hal itu loni dan
rombongan loni belum memberi persetujuan,” sahut Tay Hong.
Orang berbaju hitam itu bolang-balingkan panji sehingga menimbulkan deru angin
keras. “Sebelum mendapat perintah dari ketua, siapapun tak boleh masuk ke sini. Lebih
baik kalian kembali dulu agar bisa menikmati sinar matahari untuk beberapa hari lagi. Bila
sudah tiba saatnya, jangan harap kalian bisa hidup!”
Pada saat Tay Hong hendak menjawab, tiba-tiba It-ciang-tin-sam-siang Ngo Cong-han
sudah melengking, “Tidak perlu taysu melayaninya? Kita toh sudah datang memenuhi
undangan, masakan masih kurang?”

Ia terus melangkah maju dan lepaskan sebuah pukulan Biat-gong-ciang ke arah orang
berbaju hitam itu.
Orang berada di atas altar batu itu tertawa seram dan kebutkan panjinya. Panji yang
panjang itu cukup untuk mencapai tempat Ngo Cong-han. Seketika pukulan biat-gongciang
dari Ngo Cong-han terhapus dan panji itu menyambarnya.
Ngo Cong-han terkejut dan cepat-cepat lompat tiga langkah ke belakang. Gerakan
orang berbaju hitam yang dahsyat itu mengejutkan sekalian orang gagah.
Tay Hong cepat mengambil tongkat dari salah seorang murid Siau-lim-si lalu melangkah
maju, “Ngo-heng, biarkan loni mencobanya!”
Karena merasa tak dapat menandingi kesaktian si orang baju hitam, terpaksa Ngo
Cong-han mundur.
Orang itu tetap duduk di atas altar batu. Hanya kedua tangannya bergerak-gerak,
sedang tubuhnya bagian bawah tetap tidak bergerak. Lambaian panjinya dahsyat dan
leluasa sekali.
Setelah maju empat lima langkah, berserulah Tay Hong, “Loni ingin menerima pelajaran
dari sicu….”
Orang berbaju hitam itu tidak menunggu Tay Hong menyelesaikan kata-katanya terus
saja mengayunkan panjinya. Deru anginnya dahsyat sekali.
Tay Hong segera menangkisnya. Terdengar letupan keras bagai guruh. Tubuh orang
berbaju hitam itu gemetar keras. Tay Hongpun tergetar.
Adu kekuatan itu mengejutkan sekalian orang. Tiba-tiba Tay Hong berseru,
“Omitohud!” Dengan gunakan jurus Lat-soh-ngo-gak (menggempur lima gunung), ia
menyapu tangan orang itu.
Tring… tring… triiingg… terdengar dering gemerincing yang memekakkan telinga ketika
terjadi lima kali adu kekuatan antara panji dengan tongkat.
Panji yang terbuat dari pada sutera putih telah hancur lebur dan kini hanya tinggal
batang tonggaknya yang menyerupai tombak.
Ketua gereja Siau-lim-si yang biasanya sabar itu, saat itu benar-benar tak dapat
mengendalikan kemarahannya.
Setelah sejenak memulangkan tenaga, segera ia acungkan tongkatnya lagi. Tring,
tring… terdengar lagi letupan yang dahsyat. Tiba-tiba orang berbaju hitam itu muntah
darah dan rubuh ke belakang. Rupanya dia telah kehabisan tenaga!
Melihat itu Tay Hong hentikan serangannya dan maju menghampiri. Sekonyongkonyong
orang berbaju hitam itu deliki mata. Wajahnya mengerutkan derita kesakitan
yang hebat. Ia melengking seram dan sebelum Tay Hong dapat menduga-duga, tiba-tiba
orang itu menghantam batok kepalanya sendiri….

Tay Hong terkejut. Ia tak menyangka bahwa orang itu ternyata masih mempunyai
kekuatan menyerang. Kemarahannya yang hampir padam seketika berkobar lagi. Tring…
dengan kerahkan seluruh tenaga, Tay Hong menangkis. Orang itu muntah darah lagi,
tangkai pancingnyapun terpental jatuh….
Masih ia hendak berusaha bangun. Tetapi sekonyong-konyong tubuhnya terhuyung ke
muka dan jatuh terkulai.
Tay Hong terkejut. Jelas ia telah menghancurkan lawan dengan lwekang sakti, tetapi
mengapa orang itu tetap tak jatuh menggelinding ke bawah altar?
Tay Hong hendak loncat memeriksa ke atas altar tetapi Siau Yau-cu sudah mendahului
melambung ke atas altar. Bukan kepalang kejut jago Bu-tong-pay itu ketika mengetahui
bahwa kaki orang berbaju hitam itu ternyata diikat dengan rantai dan ditalikan pada
sebuah tonjolan altar. Ah, makanya orang itu tak dapat jatuh menggelinding ke bawah.
Setelah mengungkit tubuh orang itu agar sekalian orang yang berada di bawah
melihatnya, Siau Yau-cu lalu loncat turun lagi.
Tay Hong menghela napas, ujarnya, “Menilik jejaknya ketua Beng-gak sekarang ini
tentulah seorang wanita iblis pemilik jarum Chit-jiau-soh dahulu. Asal dia sudah lenyap
dunia tentu takkan mengalami bencana lagi!”
Di sebelah muka banyak sekali patung-patung yang diukir pada karang tinggi. Ngeri
juga Hian-song dibuatnya. Tanyanya, “Engkoh Lam, jika kau dirantai di sini, kau takut
tidak?”
“Kalau memang begitu, apa dayaku?” sahut Siu-lam.
Ketika Hian-song hendak bicara, Siu-lam sudah mengajaknya berjalan lagi menyusul
rombongan mereka. Setiap dua tiga tombak, tentu terdapat sebuah patung. Setiap patung
wajahnya diberi warna menyeramkan dan tangannya mencekal senjata aneh.
Kira-kira tiga empat lie jauhnya, mereka membau angin yang harum. Siau Yau-cu
berhenti, serunya, “Bunga apakah ini, mengapa aku belum pernah membauinya?”
Ternyata di sebelah muka, terdapat pula sebuah hutan pohon siong yang lebat. Bau
harum itu berasal dari dalam hutan tersebut.
Setelah tertegun sejenak, Tay Hong minta pada Siau Yau-cu supaya suka menyelidiki
keadaan hutan itu.
“Menilik keadaannya, hutan itu memang sudah lama sekali dan memang sebuah hutan
alam. Perempuan siluman itu menambah lagi dengan bermacam susunan!”
Tay Hong segera mengajak rombongannya memasuki hutan itu. Karena tak berapa
luas, beberapa saat kemudian mereka sudah keluar dari hutan itu. Kini mereka
berhadapan dengan sebidang kebun bunga. Bunga-bunga itulah yang menyiarkan bau
harum. Warnanya merah semua. Di tengah taman bunga, terdapat sebuah jalan kecil yang
hanya cukup dilalui seorang saja.

Tay Hong loncat ke atas jalan kecil itu lalu menyusur ke depan. Setelah membelok
beberapa tikungan gunung, taman bunga itupun berakhir dan kini mereka menghadapi
sebuah tanah lapang yang luas. Di sekeliling penjuru tampak rumput menghijau dan
pohon-pohon siong bergoyang gontai dihembus angin.
Jauh di sebelah muka tampak sebuah puncak gunung yang dikelilingi kabut. Sedemikian
tebal kabut itu hingga sekalipun Tay Hong memiliki pandangan mata yang tajam, tetapi
tidak dapat melihat keadaan puncak itu dengan jelas.
“Mungkin puncak itulah yang disebut Beng-gak!” seru Siau Yau-cu.
Tay Hong mengiakan. Siau Yau-cu mengajak ketua gereja Siau-lim-si itu segera
menyelidiki. Berbondong-bondong rombongan orang gagah itu lari menghampiri puncak
misterius itu. Setelah menempuh jarak tiga empat li, tibalah mereka di kaki puncak gunung
itu. Anehnya sekalipun sudah berada di kaki gunung, tetap mereka tak dapat melihat
keadaan puncaknya.
Tay Hong kerutkan dahi, “Eh, dari manakah timbulnya kabut yang begitu tebal itu….”
Tiba-tiba Su Bo-tun nyeletuk, “Apakah taysu tidak merasakan sesuatu yang aneh pada
iklim tempat ini?”
Seketika sekalian orang seperti disadarkan. Memang saat itu, mereka rasakan hawa
tiba-tiba berubah panas.
“Aku paling tak percaya terhadap segala setan. Maka akupun tak percaya bahwa di
daerah Tiong-goan terdapat orang yang mahir ilmu siluman!” tiba-tiba terdengar suara
tertawa mengejek. Dan orang itu bukan lain ialah jago pukulan Bu-ing-sin-kun dari Tibet
yang bertubuh pendek gemuk.
Su Bo-tun cepat menyahut, “Padang sahara Tibet, memang tertutup salju dan jarang
terdapat gunung berapi…?”
“Apa?” teriak si pendek gemuk.
Kuatir kedua orang itu akan bertengkar, Tay Hong siansu segera nyeletuk, “Di daerah
tenggara sini memang sering terdapat letusan gunung berapi. Pernah saudara dengar hal
itu?”
Siau Yau-cu menambahi, “Apa yang dikemukakan Su-heng memang benar. Mengapa
tanah di pegunungan sini subur sekali? Tentulah karena ratusan tahun yang lalu daerah ini
merupakan sebuah gunung berapi yang meletus. Laharnya menjadi tanah subur dan
tertinggallah di sini sebuah puncak gunung yang tunggal. Kemungkinan besar puncak ini
merupakan sisa gunung berapi….”
“Hai, apakah itu?” tiba-tiba Tay Hong berteriak seraya memandang ke muka.
Di antara asap kabut yang tebal, tiba-tiba muncul sebuah papan besar yang bertuliskan
huruf-huruf warna merah darah, “Kabut yang membungkus sekeliling gunung ini
mengandung racun. Jika tak menerima undangan, jangan coba mendaki ke puncak!”

Melihat itu si gemuk pendek segera mundur dua langkah. Pada saat ia hendak bertanya
pada Tay Hong, dari belakang papan itu muncul tiga orang wanita berjalan jajar tiga.
Rombongan orang gagah silau menyaksikan munculnya ketiga orang yang ternyata
nona-nona berwajah cantik gilang-gemilang. Nona yang di tengah, usianya paling tua.
Rambutnya disanggul seperti puteri istana. Di pinggang menyelip sebatang po-kiam
(pedang mustika). Pinggangnya dililit oleh sebuah benda merah berbentuk seperti tanduk
rusa. Dalam pakaian warna biru, ia tampak luar biasa cantiknya!
Gadis yang mengawal di sebelah kiri, mengenakan pakaian warna merah. Rambutnya
terurai sampai ke belakang pundak. Memegang sebatang hud-tim (kebut pertapaan).
Punggungnya pun menyanggu sebatang po-kiam.
Sedang gadis yang mengawal di sebelah kanan, berpakaian serba putih, berambut
panjang dan membawa sebatang giok-cie (tongkat pendek dari batu kumala).
Mata Tay Hong yang tajam segera mengenal bahwa gadis baju putih itu bukan lain
ialah nona baju putih Bwe Hong-swat yang telah melukai dirinya tempo hari. Saat itu
wajah Bwe Hong-swat membeku dingin.
Ketiga orang nona berhenti ketika terpisah beberapa belas langkah dari rombongan
orang gagah. Wajah mereka sayu sepi seolah tak menganggap kedatangan rombongan
tamu itu.
Nona yang berdiri di tengah agak menjurah selaku memberi hormat pada rombongan
tetamu kemudian berkata dengan nada gemerincing seperti bunyi kelinting, “Apakah kalian
hendak menghadiri pesta Ciau-hun-yan?”
“Omitohud!” Tay Hong mengucap doa, “Benar, memang loni dan rombongan hendak
menghadiri pesta itu!”
“Suhu kami mengundang tuan-tuan supaya menghadiri pesta itu nanti pada hari Pehcun.
Kini masih kurang sebulan, mengapa tuan sudah datang?” seru si nona baju biru.
Tay Hong tertawa dingin, “Entah dengan siapakah guru sicu menetapkan hari pesta itu
pada hari Peh-cun nanti?”
“Apakah lo-siansu lupa bahwa dalam tanda undangan yang diedarkan guru kami itu
telah ditentukan harinya?”
Tay Hong tertawa pula, “Guru nona telah menetapkan hari itu secara sepihak. Apakah
kami tak mempunyai kebebasan untuk mengajukan usul?”
Tiba-tiba nona baju biru itu tertawa, “Oh, lo-siansu bermaksud hendak majukan hari
pesta itu?”
“Karena sudah terlanjur datang, apakah harus kembali pulang?” sahut Tay Hong.
Sejenak nona baju biru itu merenung lalu berkata, “Baiklah begitu. Karena tuan-tuan
sudah datang, silahkan ikut kami!” Nona itu berbalik tubuh dan melangkah perlahan-lahan.

Dikawal oleh keempat paderi jubah merah, Tay Hong segera mengikuti. Rombongan
orang gagahpun segera menyusul.
Tak berapa lama tibalah mereka di kaki puncak gunung yang tertutup kabut itu. Tibatiba
nona baju biru berhenti dan membelok ke sebelah kiri.
Tay Hong diam-diam telah membuat persiapan. Ia selalu menjaga jarak yang tertentu
dengan nona itu agar dapat menjaga setiap kemungkinan yang tak diingini.
Tiba-tiba terdengar kesiur angin dari belakang. Su Bo-tun dan Siau Yau-cu cepatlah
langkah mendahului Tay Hong dan mengikuti ketiga nona itu dari jarak yang dekat.
Nona baju biru itu berpaling dan tertawa, “Jika tuan tak percaya, mari kita jalan
bersama-sama!”
Kedua tokoh itu saling berpandangan. Mereka tersenyum dan terus melangkah maju
menghampiri ketiga nona. Kiranya kedua jago itu telah menyadari bahwa saat itu tiada
guna untuk bertengkar cari nama. Ucapan si nona yang penuh ejek itu didesak tentu
mengandung siasat. Maka keduanyapun menggunakan siasat jugu dan menerima tawaran
si nona.
Nona baju biru itu benar-benar besar sekali nyalinya. Berjalan bersama dua tokoh sakti
tanpa ia kikuk dan rendah diri. Bahkan sebaliknya malah tersenyum-senyum seolah-olah
kedua tokoh itu dianggapnya sebagai orang biasa.
Ia melirik ke arah Su Bo-tun kemudian kepada Siau Yau-cu. Dengan tertawa genit,
bertanyalah ia kepada jago tua Bu-tong-pay, “Eh, apakah sebuah biji matamu yang buta
itu memang sudah semenjak dilahirkan?”
Mata Siau Yau-cu berkilat-kilat memancarkan api, sahutnya, “Aku sudah tua, tak apalah
kehilangan sebuah mata!”
Si nona tertawa lepas, “Langit mengenal mendung, rembulan tempo bundar setempo
berkurang. Meskipun hilang sebelah mata, tetapi kepandaianmu tentu sakti!”
Siau Yau-cu menjawab dingin-dingin, “Apakah maksud nona?”
“Eh, aku selalu bicara dengan terus terang. Tak pernah menghambur pujian kosong!”
“Jelaskan!” seru Siau Yau-cu.
“Tetapi jikalau kujelaskan, mungkin kau nanti tak senang hati,” seru si nona. Sengaja ia
berseru lantang agar didengar oleh rombongan tetamu.
Diam-diam Siau Yau-cu memaki nona yang kurang ajar itu. Tetapi ia sengaja tertawa,
“Aku seorang tua yang sudah kenyang makan asam garam. Baik atau jelek, aku sedia
mendengarkan. Silahkan nona mengatakan saja!”
“Biasanya seorang yang mempunyai cacad tentu dihinggapi rasa rendah diri. Justeru
rasa rendah diri itu merupakan cambuk pendorong untuk mengejar kekurangankekurangan
akibat cacadnya itu. Seperti halnya kau. Setelah menginsyafi buta sebelah
mata, tentu kau akan menyempurnakan dirimu dengan kepandaian yang sakti. Kau tentu

lebih dapat memusatkan perhatian untuk meyakinkan ilmu kepandaian yang hebat dan
jarang dapat dipelajari orang. Kau tentu bertekad untuk menjadikan dirimu lebih unggul
dari setiap orang yang tak cacad. Dan jika tak salah dugaanku, sampai saat ini kau tentu
masih bujangan, bukan?”
Siau Yau-cu tertawa tergelak, “Penilaian nona sungguh mengagumkan. Sayang aku si
orang tua ini seorang manusia yang buta rasa kasih sehingga mengecewakan setiap
harapan orang!”
Nona baju biru tersenyum, “Memang jika kau kenal rasa kasih tentu tak mungkin kau
tetap luntang-lantung hidup membujang!”
Karena pembicaraan itu dilakukan dengan suara keras, maka rombongan orang
gagahpun sama mendengarnya. Diam-diam mereka geli.
Tiba-tiba si nona baju biru beralih Tanya pada Su Bo-tun, “Siapakah namamu?”
“Hm, seumur hidup aku tak suka bersenda gurau dengan orang,” sahut Su Bo-tun
dingin.
Nona baju biru tertawa, “O, makanya wajahmu begitu dingin. Lebih banyak menyerupai
sebuah patung bernyawa!”
“Hai, kau anggap aku ini orang apa? Mana aku sudi bergurau dengan seorang budak
wanita seperti kau!” Su Bo-tun keluar tanduknya.
“Hi, hi,” si nona tertawa, “Kau tak suka justeru aku akan bergurau dengan kau.”
“Tanganku tak kasihan pada wajah cantik dan tak kenal ampun pada siapapun. Jangan
bicara tak karuan!”
“Ih, kau berhati dingin dan bertangan ganas? Kalau begitu tentu kau tak punya anak
keturunan!” Kembali si nona baju biru melengking.
Su Bo-tun tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Cepat ia menampar pipi nona,
“Budak hina, kau berani mengejek aku!”
Si nona menggeser tubuh sedikit ke samping dan balas menamparkan lengan bajunya
pada lengan Su Bo-tun, “Ah, kau memang manusia limbung!”
Su Bo-tun terkejut. Tamparan lengan baju nona itu penuh dengan hamburan tenaga
dalam yang dahsyat. Cepat ia tarik pulang tangannya berbareng dua buah jari tangan
kirinya ditutukkan ke lengan si nona.
Nona baju biru itu agak miringkan tubuh seraya kibaskan lengan baju ke siku lengan Su
Bo-tun.
“Ai, kau benar-benar berhati dingin!” serunya. Walaupun diiringi tertawa, tetapi tenaga
yang terpancar dari lengan bajunya itu cukup dahsyat.
Mau tak mau Su Bo-tun gentar juga. Dia heran mengapa seorang gadis yang baru
berumur dua puluhan tahun sudah memiliki ilmu lwekang yang sedemikian hebat. Dapat

menguasai lwekang untuk disalurkan sekehendak hatinya. Nyata orang-orang Beng-gak
tak boleh dipandang ringan. Demikian kesimpulannya.
Orang she Su itu cepat menarik pulang tangan kanan, berbareng dua buah jari kirinya
balas menutuk siku si nona.
“Ai, sungguh manusia berhati besi, masakan tak mau member ampun benar-benar!”
kembali si nona baju biru melengking sambil menyurut mundur selangkah. Setelah berhasil
menghindari serangan, ia kibaskan lengan baju ke arah kepala lawan.
Su Bo-tun rasakan suatu sambaran angin yang lembut tetapi dingin. Ia tahu bahwa si
nona telah pancarkan lwekang Im-ji-kang (lunak). Buru-buru ia menangkis dengan tangan
kiri.
Sekarang giliran si nona baju biru yang terkejut. Gerakan tangan Su Bo-tun itu ternyata
memancarkan tenaga membal yang kuat. Buru-buru ia tambahkan lwekang ke lengan
bajunya.
Ketika terjadi benturan, seketika Su Bo-tun rasakan lengan kirinya kesemutan. Hampir
ia tak kuat bertahan.
Adu lwekang itu sepintas pandang memang seperti orang yang sedang bercanda.
Lengan baju si nona cantik melekat pada tangan Su Bo-tun. Dan nona itu berjalan
lenggak-lenggok dengan gaya yang beraksi sekali.
Tetapi hal itu tak luput dari pengawasan rombongan orang gagah yang berjalan di
belakang mereka. Mereka melihat bagaimana lengan baju si nona melekat erat-erat pada
lengan Su Bo-tun dan keduanya berjalan seperti sepasang kekasih.
Sekira tujuh delapan tombak jauhnya tiba-tiba nona baju biru itu menarik lengan ujung
bajunya dari lengan Su Bo-tun seraya tertawa melengking, “Ai, sudah begini tua mengapa
kau belum mati?”
Rasa kesemutan pada lengannya itu terasa membuat tulang Su Bo-tun linu. Dia kuatir
dalam seratus langkah lagi, tentu tak dapat bertahan.
Buru-buru ia kerahkan lwekang untuk bertahan. Ketika si nona lepaskan kaitan lengan
bajunya dan berseru mengejek, iapun menyahut dingin, “Aku tak punya anak isteri,
matipun tak ada yang menyambangi kuburanku. Perlu apa aku kesusu mati?”
Pada saat itu mereka tiba di ujung tikungan gunung. Tiba-tiba si nona baju biru
berhenti. Ia berpaling kepada Tay Hong siansu, “Paderi tua, kita sudah tiba di lembah
Coat-beng-koh!”
Dengan wajah keren, ketua Siau-lim-si itu maju menghampiri, “Harap nona suka
membawa kami masuk!”
Karena sikap ketua Siau-lim-si penuh wibawa, si nona baju birupun tak berani berolokolok.
Ia membelok ke tikungan dan melangkah lebih dulu. Jalanan di situ hanya cukup
untuk dua orang berjalan bersama.

Tiba-tiba Siau Yau-cu menyelinap di muka. Si nona baju merah pun menyelinap di
muka Su Bo-tun. Dan nona baju putih mengikuti di belakang orang she Su itu. Maka iringiringan
itu terdiri dari: Si nona baju biru paling depan, lalu Siau Yau-cu, si nona baju putih
baru kemudian Tay Hong siansu dan rombongan orang gagah….
Setelah melintasi jalanan yang sempit itu, tibalah mereka di tengah lembah yang
lebarnya tak kurang dari sepuluh tombak dan panjangnya tidak dapat diketahui. Di situ
penuh ditumbuhi pohon-pohon bunga yang tengah mekar dengan warna-warni. Bentuk
bunga aneh sekali seperti yang digambar oleh si nona baju putih.
Di tengah padang bunga itu, terdapat sebuah jalur jalan kecil terbuat dari pasir kuning.
Si nona baju biru berpaling dan tertawa, “Harap kalian jalan perlahan-lahan saja!”
Sahut Siau Yau-cu tertawa nyaring, “Mati di padang bunga, merupakan kematian yang
puas!”
Nona itu tersenyum, “Setan mata satu, tahukah kau nama bunga-bunga ini?”
“Bunga liar di lembah mati, apakah mempunyai nama yang bagus?” ejek Siau Yau-cu.
“Kuduga kaupun tak tahu namanya. Nama bunga itu ialah Siau-hun-lan (delima
pelenyap nyawa). Barang siapa melihat bunga itu tentu harus mati! Dan lagi kematiannya
secara mengenaskan!” kata si nona baju biru.
Siau Yau-cu tertawa gelak, “Ha ha ha, nona mengingatkan aku akan sebuah ucapan
bahwa: Orang merasa bahagia kalau mati di bawah bunga, jadi setanpun tetap puas. Bagi
seorang tua seperti aku, mati di tengah samudra bunga benar-benar amat bahagia sekali.
Tetapi bagi kau seorang gadis cantik yang masih muda belia, bukankah sayang sekali
kalau mati di tengah-tengah padang bunga.” Si nona tertawa, “Seorang yang sudah
melongok di liang kubur seperti kau, ternyata masih romantis sekali. Untunglah bungabunga
itu tak mengerti bahasamu tak tahu umurmu sehingga mereka tak dapat menolak
rayuanmu itu!”
Jitu sekali si nona baju biru menangkis dan melontarkan makian tajam kepada orang.
Hampir saja Siau Yau-cu hendak balas mendamprat tetapi pada lain kilas ia teringat
kedudukan dirinya. Kiranya tak pantaslah kalau orang sebagai dia melayani seorang gadis
yang tak terlena. Apabila nona itu melontarkan kata-kata yang lebih tajam lagi, bukankah
ia akan lebih malu lagi? Maka iapun segera mendongak memandang ke langit dan seolaholah
tak menghiraukan si nona lagi.
Pada akhir jalanan, mereka tiba di sebuah padang rumput yang datar. Luasnya tak
kurang dari empat atau lima bahu. Juga di sekeliling padang rumput itu penuh bertebaran
pohon-pohon bunga warna-warni yang indah.
Kembali si nona baju biru itu berhenti. Serunya dengan lantang, “Silahkan tuan-tuan
beristirahat di padang rumput ini. Bila pesta Ciau-hun-yan sudah tiba, nanti kami tentu
akan melayani lagi.”
Habis berkata nona itu segera memberi isyarat tangan kepada kedua sumoaynya, “Mari
kita pergi!”

“Harap nona jangan pergi dulu. Loni hendak mohon bertanya,” tiba-tiba Tay Hong
berseru.
Nona baju biru mengicup-ngicupkan mata, sahutnya dengan diiringi tertawa, “Apakah?
Silahkan!”
Dengan wajah serius, berkatalah ketua Siau-lim-si, “Sekalipun rombongan kami telah
menerima undangan guru nona, tetapi belumlah setuju akan ketentuan harinya. Dalam
rombongan loni yang terdiri dari tokoh-tokoh persilatan terkenal ini, masing-masing
mempunyai kesibukan. Sudah tentu tak dapat menunggu lama. Maka harap nona agar
segera menemui rombongan kami. Jika memang sungguh-sungguh mengundang, tentulah
tak keberatan jika mengatur acara pertempuran itu selekas mungkin!”
Si nona memandang ke langit, ujarnya, “Saat ini sudah hampir petang hari. Jika suhuku
hendak menyelenggarakan pesta penyambutan yang meriah, tentulah tak sampai jauh
malam. Tuan-tuan habis menempuh perjalanan jauh, lebih baik beristirahat dulu agar
nanti dapat mati dengan mata meram!”
Tiba-tiba terdengar sebuah suara parau melengking dingin, “Apa itu pesta meriah atau
tidak meriah! Kedatanganku kemari bukan untuk ngiler makan hidanganmu. Lekas
beritahu pada gurumu. Suruh dia lekas keluar menyambut. Jangan sampai menimbulkan
kemarahanku! Kalau aku sampai marah, tentu akan kubumi hanguskan lembah ini!”
Ketika si nona baju biru berpaling, ternyata yang berseru itu seorang tua gemuk
pendek. Bahkan orang tua itu sudah tampil keluar dari rombongannya.
“Ih, siapakah kau? Mengapa kau bicara seenaknya saja?” tegur si nona baju biru.
Orang tua gemuk pendek itu tertawa lepas. Serunya, “Aku memang jarang datang ke
wilayah timur. Percuma saja kukatakan padamu, toh seorang budak wanita seperti kau
tentu tak tahu juga!”
Tiba-tiba berseri wajah si nona baju biru yang selalu menyungging senyum simpul tadi
,berubah dingin, serunya, “Kalau jarang ke daerah timur, kau tentu berasal dari Se-gak!”
Orang gemuk pendek itu terkesiap. Dia heran mengapa nona itu tahu hal dirinya.
“Benar, aku memang dari Tibet. Thian-san-sin-kun Pek Co-gi adalah aku sendiri!”
sahutnya.
Si nona baju biru tertawa dingin, “Dari daerah Se-gak yang begitu jauh kau perlukan
datang, benar-benar kau memang bersungguh-sungguh hati hendak mencari jalan
kematian!”
“Budak mulut lancing! Jika berani mengoceh tak karuan, jangan salahkan aku bertindak
kasar kepadamu!” Pek Co-gi marah.
“Di daerah yang kosong melompong, masa iya ada tokoh yang berkepandaian tinggi?”
ejek si nona.
“Budak hina, kau berani menghinaku? Jika tak kuhajar, tentu kau belum tahu rasa!”
Pek-co-gi berteriak seraya menampar dengan tangan kanan.

Tahu bahwa orang tentu melancarkan pukulan Biat-gong-ciang, buru-buru si nona baju
biru bersiap menjaga diri. Di luar dugaan, tiba-tiba orang gemuk menarik lagi tangannya.
Nona baju biru itu heran dan mengira kalau orang itu tak jadi memukulnya. Tetapi
sekonyong-konyong serangkum gelombang angin yang tak bersuara telah menyambarnya.
Si nona baju biru terkejut, tetapi sudah terlambat. Ia dipaksa mundur tiga langkah.
Masih sebelumnya ia sudah bersiap-siap lebih dulu, kalau tidak ia tentu sudah roboh.
“Eh, ilmu pukulan apa itu?” diam-diam ia heran juga dibuatnya.
Memang Bu-ing-sin-kun atau pukulan sakti tanpa bayangan, merupakan ilmu
kepandaian istimewa dari partai Thian-san-pay yang berpusat di gunung Thian-san. Tak
seorang tokoh persilatan di wilayah Tionggoan yang dapat memiliki ilmu itu. Sekalipun si
nona baju biru tinggi kepandaiannya, iapun tak mengetahui dan kedahsyatan pukulan
tanpa suara itu.
“Itu tadi hanya sedikit hajaran, jika mulutmu masih lancang, jangan salahkan aku si
orang tua berlaku kejam!” Pek Co-gi tertawa keras.
Wajah si nona berubah pucat. Setelah merenung sampai beberapa saat, tiba-tiba ia
melesat dan dengan senjatanya yang berbentuk aneh, ia menusuk si kakek pendek.
Pukulan Bu-ing-sin-kun si kakek itu telah melukai bagian dalam dari tubuh si nona.
Untung berkat lwekangna yang tinggi, setelah menyalurkan darahnya beberapa saat,
lwekangnyapun pulih kembali. Dan secepat itu ia balas menyerang.
Si kakek pendek kibaskan lengan baju untuk menampar senjata berbentuk seperti
tanduk rusa dari si nona.
Jago tua dari Tibet itu terkejut. Cepat ia menyurut mundur tetapi tak kalah cepatnya
tahu-tahu si nona sudah menyusuli dengan sebuah tutukan jari….
Hebat dan cepatnya bukan kepalang. Karena tak menduga, terpaksa Pek Co-gi
menangkisnya. Seketika ia rasakan tangannya linu. Buru-buru ia menariknya pulang.
Setelah berhasil menutuk, nona baju biru itu loncat setombak jauhnya seraya tertawa,
“Itulah yang dinamakan ilmu tutukan Cian-hun-it-ci. Untuk membayar pukulanmu tadilah.
Jika masih penasaran, nanti kita selesaikan lagi!”
Melihat kesaktian nona itu, diam-diam tergetarlah hati rombongan orang gagah.
Pek Co-gi memeriksa tangannya. Ternyata bekas tutukan nona itu telah meninggalkan
tanda biru sebesar mata uang logam. Jika tutukan itu mengenai jalan darah yang
berbahaya, tentu akan membawa maut. Diam-diam jago tua itu menghela napas. “Ah,
ternyata daerah Tiong-goan penuh dengan jago-jago yang sakti. Benar-benar tak boleh
dipandang enteng…” kecongkakkan jago Tibet itupun menurun beberapa derajat.
“Omitohud!” seru Tay Hong, “Harap nona suka berhenti dulu. Loni hendak bicara. Yang
di hadapan nona saat ini adalah puluhan orang gagah. Apakah nona bertiga yakin dapat
mengatasi mereka?”

Sejenak nona baju biru keliarkan matanya memandang ke sekeliling. Diam-diam ia
mengakui ucapan ketua Siau-lim-si. Ia memperhitungkan, tenaganya bertiga sukar
menghadapi rombongan tetamu. Suhu mereka tentu tak mungkin tahu peristiwa dan buruburu
datang menolong.
Dan lagi, serangan Bu-ing-sin-kun dari Pek Co-gi tadi cukup member kesan padanya
bahwa rombongan orang gagah itu tentu sakti-sakti semua. Dengan pemikiran itu, tidak
beranilah ia bersikap sombong kepada tetamunya.
“Bagaimana?” serunya dengan tertawa untuk menutupi kecemasan hatinya, “Apakah losiansu
hendak memaksa kami bertiga saudara tinggal di sini menemani rombonganmu?”
Sebagai seorang ketua partai persilatan gereja yang termasyhur, sudah tentu Tay Hong
tidak biasa mengucapkan kata-kata yang tidak genah. Maka untuk beberapa saat ia tak
dapat menjawab.
“Loni adalah umat beragama, tak pernah berkelakar hal-hal yang tak pantas,” akhirnya
dapat juga ia paksakan mencari jawaban.
“Menilik sikap dan gaya bicara, rupanya lo-siansu ini pemimpin dari rombongan tetamu
yang mengunjungi pesta di Beng-gak?” seru si nona.
Tay Hong mengucapkan kata-kata merendah diri.
“Jika belum saatnya perjamuan, kemungkinan guruku tak akan keluar,” kata si nona
pula.
“Ah, kiranya tak layaklah kalau guru nona itu terlalu memegang harga diri. Bukankah
para tamu undangannya sudah datang? Mengapa dia tak mau keluar menyambut?” kata
Tay Hong.
“Uuh, karena kalian tidak memenuhi tanggal yang termaksud dalam undangan itu!”
Kata Tay Hong pula, “Rombongan ini telah sama membekal ransum kering. Tak usah
guru nona sibuk menyiapkan perjamuan itu!”
Diam-diam si nona baju biru menimang, “Uh, menilik gelagatnya, paderi tua ini hendak
menahan aku bertiga sebagai barang jaminan. Saat ini suhu belum selesai mengadakan
persiapan. Jika kugempur mereka, kemungkinan suhu tak akan datang menolong. Jelas
hal itu tak menguntungkan. Lebih baik kujelaskan siasat mengulur waktu saja.”
Maka tertawalah ia dengan genit, “Ah, saat ini suhu belum turun dari persemedhiannya.
Kemungkinan tentu tak dapat lekas datang ke sini….”
“Kalau begitu terpaksa loni minta nona bertiga tinggal di sini untuk sementara. Begitu
suhu nona muncul, silahkan nona berlalu!” kata Tay Hong.
Nona baju biru berpaling kepada kedua sumoaynya dan tertawa, “Lihat, mereka hendak
menjadikan kita bertiga sebagai sandera?”

Su Bo-tun tertawa dingin, “Bukan melainkan menjadi sandera saja. Jika guru kalian
main mengulur waktu dan tak mau lekas-lekas keluar, lebih dulu kalian kami bunuh baru
kemudian karang ini kami jadikan karang abang!”
Si nona baju biru melengking, “Besar nian mulutmu! Apakah kau yakin dapat
membakarnya? Hm….”
“Saat ini sukar dikata,” Tay Hong menyeletuk. “Meskipun dunia persilatan mempunyai
peraturan-peraturan tetapi karena tindakan guru nona itu kelewat batas hingga
menimbulkan kemarahan umum, maka sukarlah untuk menghindarkan tindakan itu.
Apabila tiba waktunya kemungkinan lonipun tentu kewalahan untuk mencegah kemarahan
mereka!”
Diam-diam si nona baju biru gelisah, pikirnya, “Keadaan musuh belum diketahui jelas.
Seharusnya kulaporkan pada suhu. Tetapi jika paderi tua ini hendak menahan aku di sini,
sungguh menyulitkan!”
Sebenarnya tujuan Tay Hong siansu untuk menahan ketiga nona itu bukan lain untuk
menjaga kemungkinan di padang bunga itu telah dipasangi alat rahasia.
Setelah merenung sejenak, nona baju biru tertawa, “Baiklah, jika kalian hendak
bertemu dengan guruku, biarlah kuundangnya keluar!”
Berkata Tay Hong, “Kalian berjumlah tiga, masakan harus nona yang pergi?”
Nona baju biru tertawa dan mempersilahkan ketua Siau-lim-si untuk menunjuk siapa.
Mulailah Tay Hong siansu melakukan pengamatan menjatuhkan pilihannya. Bermula ia
memandang si nona baju biru, kemudian perlahan-lahan beralih kepada si nona baju putih
atau Bwe Hong-swat. Baru ia hendak membuka mulut untuk meminta nona itu saja yang
pergi, tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Ah, jika kupilih nona Bwe, kalau sampai
menimbulkan kecurigaan gurunya, bukankah akan membuat segala rencana berantakan
dan mencelakakan nona itu?”
Dengan cepat Tay Hong berganti pilihan. Ia menunjuk pada nona baju merah, “Biarlah
nona itu saja yang melapor!”
Nona baju biru memberi kecupan mata kepada sumoaynya itu, “Ji-sumoay, rupanya
paderi tua terpikat kepadamu!”
Nona baju merah berbangkit perlahan-lahan, serunya tertawa, “Apakah suruh aku
memberitahukan suhu?”
“Sampai tengah malam jika suhu nona belum juga muncul, janganlah menuduh loni
manusia yang kejam…” dan melirik si nona baju biru serta si putih Bwe Hong-swat, ia
berkata pula, “Dan kedua nona saudara seperguruanmu ini jangan harap dapat tinggalkan
tempat ini dengan masih bernyawa!”
“Dan padang bunga inipun akan menjadi padang api!” Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong
menambahi.

Jilid 16
SI NONA baju merah tak mengacuhkan. Dengan tenang ia mengemasi rambutnya yang
kusut, lalu tertawa lepas, “Jangan jual suara besar dulu. Jika tiada persiapan, masakah
pihakku berani mengundang kalian!” Habis berkata ia terus melangkah maju.
Tay Hong memberi isyarat agar keempat paderi jubah merah yang menghadang di
tengah itu menyingkir memberi jalan.
Dengan lengangnya nona baju merah itu melintasi lingkar kepungan rombongan orang
gagah. Tiba-tiba ia berhenti lagi dan berpaling. “Di luar barisan padang bunga ini terdapat
sejenis kabut beracun yang selalu bertebaran siang malam. Kabut itu tiada berwarna dan
berbau. Sebaiknya tuan-tuan jangan pergi kemana-mana. Jika berani melanggar
peringatanku, kalau sampai terkena kabut beracun, jangan sesalkan siapa-siapa!”
Tanpa menunggu Tay Hong menjawab, sekali melesat nona baju merah itu sudah
berada pada jarak dua tombak jauhnya. Dan setelah berlenggang-lenggok di antara
gerumbul pohon bunga, pada lain kejab iapun lenyap.
Tay Hong melingkar-lingkarkan tangannya ke atas. Tiga puluh enam murid Siau-lim-si
cepat bergerak-gerak membentuk diri dalam sebuah susunan barisan.
Siau Yau-cu tertawa, “Bukankah barisan ini disebut barisan Lo-han-tin yang termasyhur
dari partai Siau-lim-si?”
“Benar,” Tay Hong pun tertawa, “barisan ini jarang sekali dikeluarkan. Terdiri dari dua
barisan yakni Barisan Besar dan Barisan Kecil. Barisan Besar merupakan barisan lengkap
yang terdiri dari seratus delapan orang. Barisan kecil hanya terdiri dari tiga puluh enam
orang. Sayang anak murid Bu-tong-pay belum datang. Jika mereka datang, tidak dapat
loni menyangsikan barisan Ngo-heng-tian Bu-tong-pay yang ternama itu!””
Siau Yau-cu menjawab, “Harap taysu jangan kuatir. Dalam perjalanan telah
kutinggalkan tanda-tanda sandi kepada anak murid Bu-tong-pay. Dari Beng-gwat-ciang
sampai di tempat ini….”
“Tetapi karena kita memajukan temponya, mungkin anak buah partai saudara tak
mengetahui hal itu…” Su Bo-tun menyeletuk.
Tiba-tiba si nona baju biru tertawa melengking, “Sebaiknya mereka cepat datang saja
dan sebelum tengah malam ini sudah masuk ke dalam lembah Coat-beng-koh sini. Dengan
demikian menghemat tenaga dan waktu kami!”
Siau Yau-cu tak mengacuhkan sindiran nona itu. Ia tertawa, “Setelah diambil putusan
untuk memajukan kedatangan kita, telah kusuruh murid Bu-tong-pay di lereng Beng-gwatciang
segera melapor ke Bu-tong-san. Minta supaya Bu-tong-pay segera
memberangkatkan bantuan. Mungkin dalam dua hari ini mereka tentu datang. Jika tidak
hari ini tentu besok pagi!”
Tay Hong siansu menyatakan supaya Sin Cong totiang, ketua Bu-tong-pay yang
sekarang supaya memimpin sendiri, “Tentang salah paham antara Bu-tong dan Siau-lim

dahulu, mudah-mudahan dalam kesempatan ini dapat kita hapuskan,” kata ketua Siau-limsi.
“Jangan kuatir,” kata Siau Yau-cu, “sutit yang menjadi ketua Bu-tong-pay sekarang ini
tak begitu memandang sungguh-sungguh akan perselisihan dengan Siau-lim-si yang
lampau. Siau-lim dan Bu-tong merupakan sumber ilmu silat yang tertua. Sedikit salah
paham yang terjadi pada masa lamapu, telah kujelaskan pada Sin Cong sutit!”
Paderi Sin Cong ketua Bu-tong-pay yang sekarang, termasuk murid keponakan dari
Siau Yau-cu, maka ia memanggil sutit.
Tay Hong tersenyum. Karena saat itu masih beberapa jam lamanya dari tengah malam,
maka ia mengajak sekalian rombongannya beristirahat memulangkan semangat.
Sekalian orang gagahpun duduk bersemedhi dan kedua nona Beng-gak itu masih
terkepung di tengah-tengah mereka.
Bwe Hong-swat si nona baju putih sejenak memandang ke sekeliling rombongan
tetamu, kemudian iapun duduk. Senjatanya giok-ci diletakkan di samping. Sejak muncul
tadi, ia tetap tidak mau bicara, wajahnya tampak hambar.
Diantara ketiga saudara seperguruan yang digelari sebagai Beng-gak-sam-li, dialah
yang paling cantik. Hanya bedanya, si nona baju biru dan baju merah selalu riang gembira
dan murah tertawa, tetapi Bwe Hong-swat selalu berwajah dingin laksana kutub utara.
Si merah memetik setangkai bunga, serunya, “Sam-sumoay, bangunlah!”
Bwe Hong-swat hanya mengangkat kepalanya pelahan-lahan, “Ada apa?”
“Lihatlah kedua orang yang duduk berdampingan itu. Mereka kasak-kusuk dengan asyik
sekali!”
Dengan selalu berwajah dingin dan tak menampil reaksi apa-apa, berkatalah Bwe
Hong-swat dengan tawar, “Apanya yang perlu dilihat. Sudahlah jangan melihatnya! Lebih
baik toa-suci duduk memulangkan tenaga. Jika terjadi pertempuran nanti, tentu akan
berlangsung seru sekali!”
Si Biru tersenyum, “Jangan kuatir sumoay, suhu sudah mengadakan persiapan.
Masakan kita perlu berjerih payah membuang tenaga dengan mereka.”
Sekalipun kedua nona itu bicara dengan pelahan sekali tapi bagi rombongan jago-jago
yang sedang memusatkan panca indera itu, sudah tentu dapat mendengarkannya.
Tay Hong membuka mata dan memandang kedua nona itu sejenak lalu pejamkan mata
lagi.
Karena Bwe Hong-swat tak mau berdiri, Si Biru terpaksa duduk juga di sebelahnya.
Serunya dengan berbisik, “Dalam pesta Ciau-hun-yan nanti, orang-orang itu pasti akan
mati semua. Apakah kau tidak menghiraukan pemuda kekasihmu itu?”
Bwe Hong-swat serentak berpaling kepada toa-sucinya, “Dunia kan banyak orang lelaki,
mengapa toa-suci mencemaskan kematian pemuda itu?”

Si nona biru tertawa, “Ih, kiranya tak salah suhu sering memujimu sebagai seorang
gadis yang berhati dingin. Rupanya kaulah yang akan dijadikan pewaris suhu untuk
menggantikan beliau!”
Sahut Bwe Hong-swat, “Yang muda harus menghormat yang tua. Kepandaian toa-suci,
baik dalam ilmu silat maupun dalam kecerdasan dan keganasan, jauh melebihi diriku.
Masakan aku berani melancangi toa-suci?”
Tiba-tiba wajah nona baju biru berubah gelap. Serunya dengan bersungguh, “Tetapi
jika suhu memilihmu?”
Sahut Bwe Hong-swat, “Tak mungkin suhu akan memilihku. Pun andaikata memilih aku,
aku pun tentu akan menyerahkan pada toa-suci.”
Nona baju biru itu merenung diam seraya memandang awan di langit. Beberapa saat
kemudian baru ia berkata, “Jika hatimu benar-benar sama dengan ucapanmu, aku tentu
akan membalas budimu!”
Kali ini mereka bicara sepelahan mungkin hingga hanya orang-orang yang berada di
dekatnya saja yang mendengarnya.
Angin malam berhembus di lembah sunyi, menerbitkan suasana yang makin
menyeramkan. Berpuluh-puluh jago silat ternama mengepung dua orang nona cantik.
Benar-benar suatu pemandangan yang jarang terdapat.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara melengking macam naga meringkik. Suara
melengking itu memecah kesunyian malam, mengejutkan sekalian orang gagah yang
tengah bersemedi.
Siau Yau-cu serentak berbangkit, “Nah, dia sudah datang!” serunya.
“Apakah Sin Cong totiang?” tanya Tay Hong.
Siau Yau-cu mengiakan, “Benar, sekalipun suitan itu bukan dari dia, tetapi dia tentu
yang memimpin rombongannya!”
Ketua Siau-lim-si berdiri, ujarnya, “Kalau begitu biarlah loni bersama murid-murid yang
menyambutinya!”
Tetapi Siau Yau-cu mencegahnya.
Tak berapa lama, dari gerumbul pohon-pohon di padang bunga, bermunculan beberapa
sosok bayangan. Sekalian rombongan sama berdiri. Cepat sekali pendatang-pendatang itu
tiba. Yang paling depan seorang tua berjenggot putih menjurai sampai ke dada.
Mengenakan jubah warna biru. Kepala besar, mata bundar dan telinga panjang. Dia
adalah Sin Ciong totiang, ketua partai Bu-tong-pay!
Tay Hong siansu bergegas-gegas menghampiri dan memberi hormat, “Maaf kelambatan
loni untuk menyambuti kedatangan to-heng!”

Ketua Bu-tong-pay segera membalas hormat, sahutnya dengan tertawa, “Ah, jangan
taysu merendahkan diri. Karena melatih murid-murid dalam barisan Ngo-heng-tin, hingga
sampai membuat taysu menunggu lama!”
Ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Tetapi walaupun datang terlambat, pinto (aku)
telah mengajak beberapa kochiu dari Ceng-seng-pay dan Kun-lun-pay untuk datang
kemari. Mudah-mudahan kelambatan pinto itu dapat ditebus dengan itu!”
Memang di belakang ketua Bu-tong-pay itu tampak empat orang paderi yang usianya
rata-rata sudah lebih dari lima puluhan tahun. Tetapi mereka masih tampak segar dan
gagah. Terutama sinar matanya memancar tajam sekali. Pertanda bahwa mereka adalah
ahli-ahli lwekang yang berilmu tinggi. Sin Cong totiang memperkenalkan kedua orang yang
berdiri di sebelah kiri, “Kedua saudara ini adalah kedua persaudaraan Song Hong dan Song
Gwat dari partai Ceng-seng-pay!”
“Omitohud!” cepat Tay Hong memberi hormat, “Sudah lama loni mengagumi nama
saudara berdua. Sungguh beruntung sekali hari ini!”
Kedua saudara Song itupun membalas hormat, “Ah, karena suheng kami ketua Cengseng-
pay belum menyudahi pertapaannya, maka tak dapat datang dan sengaja mengutus
kami berdua saudara untuk memenuhi undangan taysu.”
Tay Hong menghaturkan terima kasih.
Kemudian Sin Cong mengenalkan lagi kepada kedua orang yang berdiri di sebelah
kanan, “Dan inilah Thian Heng dan Thian Jio kedua to-heng dari Kun-lun-pay!”
Sebelum Tay Hong membuka mulut, kedua imam dari Kun-lun-pay itupun sudah
mendahului, “Ketua kami sedang memenuhi undangan seorang sahabat di Thian-san dan
belum pulang maka kami berdualah yang datang memenuhi undangan taysu!”
Kembali Tay Hong menghaturkan terima kasih.
Kata Sin Cong tojin, “Hendaknya janganlah taysu merendah diri. Saat itu sekalian orang
gagah sudah sama berkumpul di sini. Kita memerlukan seorang pemimpin untuk mengatur
dan menyatukan langkah. Dalam hal ini kukira hanya taysu yang tepat menduduki jabatan
itu. Mengenai diri pinto dan kedua saudara Song Hong dan Song Gwat, Thian Heng dan
Thian Jio, mereka adalah sahabat lama pinto. Maka beranilah pinto mewakili mereka
dalam pendapat ini!”
Dalam keadaan seperti saat itu akhirnya Tay Hong mau juga menerima pengangkatan
itu.
Sin Cong tojin melambai ke belakang dan tujuh imam yang berdiri pada jarak beberapa
tombak di belakangnya segera bergegas-gegas lari menghampiri serta memberi hormat.
Ketujuh imam itu rata-rata sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun. Masing-masing
menyanggul pedang di punggungnya.
Sin Cong tojin menunjukkan kepada mereka katanya, “Mereka adalah ketujuh murid
pinto yang pinto pilih paling baik sendiri kepandaiannya. Telah pinto latih mereka dalam

barisan Ngo-heng-tin. Lima orang yang maju dan dua orang yang menjadi cadangan. Jika
taysu memerlukan, setiap waktu boleh memanggilnya!”
Lagi-lagi Tay Hong menghaturkan terima kasih.
Kata ketua Bu-tong-pay pula, “Tentang sedikit salah paham antara Bu-tong-pay dan
Siau-lim-pay dahulu, tak usahlah taysu mempersoalkan lagi!”
Habis berkata ketua Bu-tong-pay itu segera berputar tubuh dan memberi hormat
kepada Siau Yau-cu, “Tecu tak berguna, tak mampu memikul beban yang amat berat ini.
Harap paman guru suka memberi bantuan dan petunjuk seperlunya!”
Jawab Siau Yau-cu, “Pergolakan dunia persilatan kali ini yakni, boleh dikata yang
terhebat selama beberapa ratus tahun ini. Dalam pergolakan sekarang ini apabila dapat
melewatkan dengan selamat aku akan mengasingkan diri ke tempat suci. Aku akan
melewatkan sisa hari tuaku dengan tenteram!”
“Di belakang gunung Bu-tong-san, terdapat beberapa tempat yang indah
pemandangan. Silahkan paman memilih tempat yang mana, nanti akan kami bangun
sebuah tempat pertapaan. Pertama-tama, agar paman selalu dapat memberi petunjuk
pada tecu. Kedua, agar murid-murid sekalian dapat membaktikan diri untuk merawat
paman!”
Siau Yau-cu tertawa, “Hal ini kelak kita bicarakan lagi. Sekarang yang penting kita harus
merundingkan rencana untuk menghadapi musuh!”
Melirik kepada kedua nona yang masih duduk bersemedi, Sin Cong berbisik
menanyakan kepada Tay Hong.
“Apakah taysu belum bertemu dengan ketua gerombolan Beng-gak itu?” tanya Sin
Cong tojin pula.
“Belum, orang itu nanti malam baru mau keluar,” jawab Tay Hong.
“Kedua nona itu saat ini memang tak mampu lolos dari kepungan kita. Tetapi begitu
guru mereka muncul, kita tentu berabe karena dari muka dan belakang harus menghadapi
musuh. Jika taysu setuju, lebih baik kita tawan dulu nona itu!”
Tay Hong diam sampai beberapa saat. Tiba-tiba Su Bo-tun menyeletuk, “Losiu setuju
pendapat Sin Thong toheng. Kedua nona itu berkepandaian sakti. Jika lebih dulu kita
ringkus, tentu dapat mengurangkan kekuatan mereka!”
Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong juga setuju. Ia menyatakan tak usah berlaku sungkan
terhadap gerombolan semacam Beng-gak.
Beberapa orang pun menunjang pendapat itu. Karena terpisah dekat, maka kedua nona
itupun dapat mendengar pembicaraan mereka.
Si baju biru membuka mata dan berbisik kepada si putih Bwe Hong-swat, “Keadaan
makin gawat. Rupanya mereka hendak menawan kita. Dan suhu entah apa sudah turun
dari persemediannya….”

Belum selesai ia berkata tiba-tiba terdengar bunyi genta bertalu-talu. Seketika si nona
baju biru memberingas semangatnya, “Nah, apakah itu bukan pertanda dari suhu?”
Bwe Hong-swat menengadah memandang ke langit, katanya, “Benar, tetapi kita harus
menunggu sampai beberapa jam lagi baru sang malam tiba!”
Si baju biru tertawa, “Apabila bertemu suhu, ji-sumoay tentu akan menceritakan
tentang keadaan kita di sini. Beliau tentu segera bertindak. Jika tak dapat datang sendiri
tentu akan mengirim orang untuk menolong kita.”
“Musuh yang kita hadapi saat ini, terdiri dari jago-jago kelas satu. Jika bukan suhu
sendiri yang datang, sukarlah untuk menolong kita,” kata Bwe Hong-swat.
Si nona baju biru sejenak keliarkan pandangannya ke sekeliling penjuru, kemudian ia
berseru, “Sumoay, bersiap-siap untuk menghadapi musuh. Rupanya kita terpaksa harus
turun tangan!”
Kiranya saat itu karena didesak orang banyak, Tay Hong siansu terpaksa meluluskan
untuk menawan kedua nona itu. Tetapi justeru Tay Hong menyetujui, keadaan malah
menjadi sunyi. Sekalian orang gagah berdiam diri. Rupanya mereka masih teringat akan
pertempuran antara Bwe Hong-swat lawan jago Tibet Pek Co-gi dan si nona baju biru adu
lwekang dengan Su Bo-tun. Kesan-kesan itu membuat masing-masing harus berpikir
panjang karena merasa tak ungkulan melawan kesaktian kedua nona itu.
Hal itu membuat kedua wakil Kun-lun-pay imam Thian Heng dan Thian Jie, menjadi
heran. Mereka melangkah ke depan.
“Kami berdua saudara bersedia untuk melakukan rencana kita menawan kedua nona
itu,” kata Thian Heng.
Melihat bagaimana kening kedua saudara itu menonjol tinggi dan langkah kaki mereka
ringan sekali, diam-diam Tay Hong menduga bahwa kedua imam Kun-lun-pay itu tentu
memiliki ilmu pedang yang sakti. Dan memang partai Kun-lun-pay termasyhur ilmu
pedangnya.
“Ah, jiwi toheng baru saja tiba dari perjalanan jauh. Lebih baik beristirahat dulu. Biarlah
loni suruh murid-murid saja yang turun tangan,” kata Tay Hong.
Thian Heng tertawa, “Dari jauh pinto datang sampai saat ini belum mendirikan suatu
jasa. Semoga tindakan pinto berdua ini dapat diterima sebagai sumbangsih partai Kun-lunpay!”
“Omitohud!” seru Tay Hong siansu, “ilmu kepandaian Beng-gak luar biasa aneh dan
saktinya. Partai-partai persilatan di Tiong-goan sukar menghadapi mereka. Harap jiwi
toheng jangan memandang rendah mereka.”
Tetapi rupanya ketua wakil Kun-lun-pay itu tak mau dicegah. Thian Heng mencabut
pedang dan setelah menghaturkan terima kasih atas petunjuk TayHong siansu, ia segera
menghampiri ke tempat dua nona.
Melihat suhengnya maju, Thian Jio pun mencabut pedang dan loncat menyusul.

Melihat kdatangan kedua imam itu, si nona baju biru malah pejamkan mata bersikap
tak mengacuhkan.
Ketika tiba di tempat kedua nona, pertama-tama kesan yang membuat Thian Heng
terkesiap adalah ketika melihat bentuk senjata si nona baju biru yang aneh.
“Huh, senjata apakah yang begitu aneh bentuknya? Dan entah dari bahan apa
dibuatnya. Rupanya bukan dari bahan besi, pun bukan dari baja,” Thian Heng menimangnimang.
Kemudian ia beralih memandang ke arah Bwe Hong-swat. Kembali ia terkesiap dan
heran mengapa senjata si nona baju putih terbuat dari batu giok putih.
Tetapi karena sudah tiba di hadapan mereka, maka Thian Heng pun segera berseru,
“Thian Heng adan Thian Jio dari Kun-lun-pay hendak mohon pelajaran dari nona berdua!”
Si nona baju biru segan-segan memicingkan mata dan tersenyum. Perlahan-lahan ia
bangkit seraya mengajak Bwe Hong-swat, “Sumoay, bantulah!”
“Suci hendak menyuruh apa?” Bwe Hong-swat bangun.
“Ilmu pedang Kun-lun-pay telah termasyhur di dunia persilatan,” sahut si nona baju
biru.
“Kun-lun-pay termasyhur dengan ilmu pedangnya. Cobalah kau bermain-main barang
beberapa jurus dengan mereka,” kata si nona baju biru pada sumoaynya.
Bwe Hong-swat melangkah perlahan-lahan di hadapan kedua imam Kun-lun-pay itu.
Setelah siapkan senjata giok-cu, berkatalah ia, “Maju kalian berdua!”
Seketika berubahlah wajah Thian Heng, serunya geram, “Nona bermulut besar sekali.
Biarlah pinto seorang yang melayani dulu!”
Ketika dia mengangkat pedang, tiba-tiba Thian Jio lari menghampiri, “Suheng, ijinkan
aku yang maju dulu!”
“Siapa yang maju sama saja. Tetapi yang paling baik kalau maju berdua!” seru Bwe
Hong-swat dengan nada dingin. Serentak ia maju menyerang kedua orang itu.
Thian Jio mendengus. Dengan jurus Thian-li-san-hoa atau bidadari menyebar bunga, ia
taburkan pedang untuk menangkis serangan Bwe Hong-swat yang menimpa Thian Heng.
“Janganlah nona bermulut terlalu omong besar. Jika mampu mengalahkan pinto,
barulah nona boleh menghadapi suhengku!” serunya. Dalam pada berkata-kata itu, ia
sudah lancarkan enam buah tusukan.
Melihat ilmu pedang Thian Jio, Siu-lam memuji dengan suara perlahan, “Ilmu pedang
Kun-lun-pay benar-benar tak bernama kosong. Jika aku tak mendapat pelajaran dari Tan
locianpwe, tentu tak dapat kutandingi ilmu pedang itu!”
Mendengar itu si dara Hian-song tertawa, “Sebaiknya, imam tua itu dapat membunuh!”

Siu-lam terbeliak. Tetapi cepat ia dapat menyadari apa yang di balik ucapan si dara itu,
Ia berbatuk-batuk kecil lalu berdiam diri.
Sementara itu terdengarlah dering gemerincing senjata beradu. Tanpa menyurut
mundur sama sekali, Bwe Hong-swat telah tebarkan giok-cu untuk menangkis.
Tiba-tiba Thian Jio membentak keras. Sebelum si nona sempat balas menyerang, ia
telah mendahului membolang-balingkan pedangnya. Hanya dalam sekejap mata saja ia
sudah lancarkan empat buah serangan pedang….
Serangan itu cepat dan deras bagaikan hujan menyurah tetapi Bwe Hong-swat tak
gugup. Dengan tenang ia mainkan giok-ci untuk menghalau serangan itu.
Menyaksikan pertempuran itu, Thian Heng yang lebih tua dan lebih banyak
pengalamannya segra mengatahui bahwa si nona baju putih itu bukanlah seorang nona
biasa, tetapi seorang nona yang sakti. Buru-buru ia berbatuk-batuk dan berseru dengan
palahan, “Sute, jangan terburu nafsu!”
Memang Thian Jio sendiri menginsyafi bahwa nona yang dihadapinya bukan sembarang
jago. Walaupun tampaknya serba luwes dan ringan gerakannya, tetapi setiap gerakan
mengandung tenanga lwekang lunak. Setiap kali saling berbentur, pedangnya tentu
terpental. Maka peringatan suhengnya itu makin menyadarkan pikirannya. Cepat ia
mengendorkan desakannya. Tak berani lagi ia memandang rendah pada si nona. Dengan
wajah bersungguh-sungguh, ia mainkan pedangnya agak lambat. Dari menyerang menjadi
bertahan, ia mainkan ilmu pedang Thian-soan-si-cap-pwe-kiam, salah sebuah ilmu pedang
istimewa dari Kun-lun-pay.
Walaupun gerakannya tampak lambat, tapi perbawanya masih dahsyat. Pedang
melanda tak henti-hentinya seperti gelombang bengawan Tiang-kang.
Tetapi Bwe Hong-swat tetap bersikap mempertahankan diri. Dia tak mau menyerang.
Sepasang giok-ci dipakai untuk melindungi tubuh, bergerak-gerak menurut cepat
lambatnya pedang lawan. Sampai tiga puluh jurus lamanya, satu kalipun ia tak mau balas
menyerang.
Menyaksikan itu Tay Hongpun kerukan kening. Diam-diam ia menimang, “Ah, nona ini
sudah mengandung cita-cita untuk kembali ke jalan benar. Musuh yang sebenarnya ialah
nona baju biru itu. Jika Thian Jio tojin bertempur secara begitu, biarpun sampai dua tiga
ratus jurus, tetap takkan menang. Kalau toh sudah terlanjur turun tangan, sebaiknya
harus menggunakan cara kilat….”
Saat itu Tay Hong hendak suruh salah seorang paderi Siau-lim yang berkepandaian
tinggi untuk turun ke gelanggang. Tiba-tiba Thian Jio tojin bersuit nyaring dan berubahlah
permainan pedangnya!
Kiranya imam dari Kun-lun-pay itu juga sudah mempunyai perhitungan. Kun-lun-pay
termasuk salah satu dari tiga partai yang termasyhur ilmu pedangnya. Jika dengan
seorang gadis tak terkenal saja tak mampu memenangkan, tentulah Kun-lun-pay akan
merosot namanya.

Dengan pemikiran itu, timbullah seketika semangatnya. Cepat ia mengganti permainan
pedangnya. Pedang berhamburan dan sekejap lalu tubuh Bwe Hong-swat sudah terkurung
oleh lingkaran sinar pedang….
Memang para orang gagah yang hadir dalam untuk undangan pihak Beng-gak itu, tahu
bahwa ilmu pedang Kun-lun-pay tak di bawah ilmu pedang partai Bu-tong-pay dan Cengsia-
pay. Tetapi pengetahuan itu hanya didasarkan atas cerita orang. Mereka jarang
melihat permainan pedang dari jago Kun-lun-pay. Maka ketika menyaksikan betapa
dahsyat permainan pedang yang dilakukan oleh Thian Jio tojin saat itu diam-diam mereka
memuji terus….
Tetapi kebalikannya Thian Heng malah terkejut ketika menyaksikan sutenya telah
mainkan jurus Hok-mo-sam-kiam dari ilmu pedang Thian-soan-si-cap-pwe-kiam. Ia hendak
mencegah tapi sudah tak keburu lagi. Thian Jio sudah lancarkan jurus pertama Thian-onglo-
mo. Orangnya membayangi kiblatan sinar pedang. Dan sinar pedang telah berubah
menjadi melingkar jaring sinar yang menghambur ke kepala si nona….
Tetapi Bwe Hong-swat hanya mendengus dingin. Senjata giok-ci tiba-tiba diacungkan
ke atas untuk melindungi kepala. Tring, trang… terdengar dering yang tajam ketika kedua
senjata saling beradu!
“Ilmu pedang Kun-lun-pay, ternyata hanya begini saja,” Bwe Hong-swat melengking,
“kalau masih ada jurus simpanan yang lain, lekas keluarkanlah. Waktu sangat terbatas
sekali, aku segera akan balas menyerangmu.”
Imam Thian Jio marah bukan kepalang. Dengan menggerung keras, ia lancarkan jurus
kedua kim-ngo-ki-mo. Sekali tangan menggeliat maka gumpalan sinar yang memenuhi
keliling penjuru tadi segera berkumpaul jadi satu dan meluncur ke tubuh si nona.
Serangan saat itu telah dibarengi dengan tenaga lwekang oleh Thian Jio. Di hatinya
bukan alang kepalang. Sambaran pedang menimbulkan deru angin yang keras!
Kiranya imam Kun-lun-pay itu memperhitungkan bahwa seperti telah terjadi beberapa
kali ini Bwe Hong-swat tentu akan menangkis. Maka ia lancarkan serangannya dengan
penuh tenaga.
Tetapi ternyata dugaannya meleset. Bwe Hong-swat kali ini tidak mau mengadu
kekerasan tetapi miringkan tubuh ke samping lalu mundur tiga langkah.
Serangannya menemui tempat kosong, tiba-tiba imam Thian Jio melambung ke udara
dan meluncur turun membayangi si nona. Inilah keistimewaan dari ilmu pedang Thiansoan-
si-cap-pwe-kiam. Jika lawan tak mampu memecah serangan itu, gerak serangan itu
akan berubah menjadi serangan yang sungguh-sungguh. Tetapi jika lawan mampu
menangkisnya, serangan itupun akan berubah menjadi sebuah serangan kosong. Apabila
lawan kecele, disitulah pedang akan mengisinya dengan gerakan serangan yang akan
membuat lawan tak berdaya….
Melihat gerakan lawan yang sedemikian dahsyatnya, diam-diam Bwe Hong-swat
berpikir, “Jika aku tak melukai orang ini, tentu akan menimbulkan kecurigaan suci. Tetapi
jika melukainya, dikuatirkan akan menimbulkan salah paham rombongan orang gagah….”
Sampai beberapa saat nona itu tak dapat menentukan keputusan.

Tetapi ia tak sempat berpikir lebih lama lagi karena saat itu Thian Jio sudah menyerang.
Dalam gugupnya, terpaksa Bwe Hong-swat putar giok-ci dengan jurus Ji-hong-su-pit.
Thian Jio tertawa mengejek dan membentaknya, “Lepaskan!” ujung pedang menjungkit
ke atas kemudian melesat menusuk siku lengan kanan lawan.
Bwe Hong-swat terkejut. Untuk menghalaunya, sudah tak keburu. Apa boleh buat, ia
terpaksa lepaskan giok-ci di tangan kanannya….
Mendapat kemenangan, Thian Jio makin besar hatinya. Sekaligus ia lancarkan lima
buah serangan lagi….
Bwe Hong-swat kelabakan dibuatnya. Melihat itu, si nona baju biru merasa heran.
Sambil memutar senjatanya yang berbentuk seperti tanduk rusa, ia berseru, “Jika sumoay
tak dapat melayani harap lekas menyingkir….”
Tetapi tepat pada kata-kata itu dilantangkan, Bwe Hong-swat sudah lancarkan
serangan balasan. Senjata di tangan kiri berputar-putar ke kanan kiri. Serangan dahsyat
dari Thian Jio telah dapat ditahannya. Dan setelah berhasil, tiba-tiba si nona malah
susupkan senjatanya ke tengah sinar pedang musuh untuk maju menusuknya. Cepat dan
hebatnya gerakan si nona itu bukan alang kepalang.
Demikianlah kedua tokoh yang bertempur merapat itu tiba-tiba pecah dan saling loncat
mundur.
Bwe Hong-swat memungut giok-ci yang jatuh di tanah tadi lalu mundur dua langkah
dan tegak berdiri dengan tenang.
Thian Jio pun berdiri diam. Melihat itu Siau Yau-cu curiga dan berkata perlahan-lahan
kepada Tay Hong, “Jangan-jangan Thian Jio toheng itu menderita luka dalam.”
Belum selesai Siau Yau-cu berkata, tiba-tiba tubuh Thian Jio rubuh ke belakang dan
jatuh terlentang ke belakang.
Thian Heng cepat-cepat loncat menghampiri dan dengan sebat telah menyanggapi
tubuh sutenya, lalu dibawa loncat mundur.
Wajah Thian Jio pucat lesi. Kedua matanya melotot tetapi mulut tak dapat berkata apaapa.
“Apakah sute terluka? Lekas gunakan ilmu kita untuk mengatur jalan darah!” kata Thian
Heng. Tetapi sampai diulang beberapa kali, sutenya seperti tidak mendengar. Kedua mata
Thian Jio tetap mendelik.
Melihat keadaan sutenya tampak menguatirkan, buru-buru Thian Heng letakkan
tangannya ke dada sang sute, “Sute, lekas gunakan sim-hwat perguruan kita untuk
menyalurkan peredaran darah. Apakah kau tak mendengar?”
Karena disaluri tenaga murni oleh suhengnya, mata Thian Jio tiba-tiba dapat bergerakgerak.
“Apakah sutemu terluka berat?” seru Siau Yau-cu seraya menghampiri.

Thian Heng menghela napas, “Dikuatirkan tak dapat tertolong lagi.”
Siau Yau-cu terkejut. Ia heran dan tak mengetahui ilmu apa yang digunakan si nona
baju putih tadi. Namun tak mau ia menyatakan kegentaran hatinya dan dengan tenang ia
berkata lagi, “Sutemu cukup sakti, tentu takkan terjadi apa-apa padanya. Losiu sedikitsedikit
mengerti ilmu pengobatan. Bolehkan losiu memeriksanya?”
Jago dari Kun-lun-pay itu berpikir. Kekalahan sutenya oleh seorang nona tak dikenal,
telah diketahui oleh orang banyak. Peristiwa itu tak mungkin ditutupi lagi. Maka lebih baik
ia berdaya untuk menolongnya.
“Baiklah, jika locianpwe suka memberi pertolongan, kami tentu takkan melupakan budi
locianpwe,” katanya kepada Siau Yau-cu. Habis berkata jago Kun-lun-pay itu segera
letakkan tubuh sutenya di tanah kemudian ia mencabut pedang dan berjalan menghampiri
Bwe Hong-swat.
Melihat itu Tay Hong segera mencegah, “Harap toheng suka merawat sute toheng yang
terluka itu dan biarlah loni yang menerima pelajaran dari nona itu!”
Dua jago Kun-lun-pay yang satu sudah terluka maka sebagai pemimpin rombongan, tak
enaklah kata Tay Hong kalau membiarkan Thian Heng maju.
“Taysu adalah pemimpin rombongan, mana boleh bertindak sendiri. Biarlah pinto saja
yang menghadapinya!” sahut Thian Heng.
Tay Hong tetap mencegahnya dan ia akan maju. Tetapi Thian Heng tetap berkeras
hendak maju, “Pinto hendak membalas sakit hati suteku!”
Kiranya Thian Heng telah mengetahui bahwa keadaan sutenya memang parah sekali.
Andaikata dapat tertolong jiwanya, pun kemungkinan akan menjadi cacad. Sejak kecil ia
sudah hidup bersama dan belajar bersama dengan sutenya. Hubungan keduanya sudah
seperti saudara sekandung. Maka ia sedih dan marah sekali ketika sutenya menderita
penganiayaan sedemikian rupa. Ia bertekad hendak menuntut balas.
Tiba-tiba didengar sebuah suara melengking dari rombongan orang gagah, “Sudahlah,
tak perlu kalian ribut mulut!”
Serentak dengan itu sesosok tubuh langsing melompat keluar. Itulah si dara Hian-song!
Kiranya ketika melihat Bwe Hong-swat dapat melukai Thian Jio tojin, tiba-tiba timbullah
sesuatu dalam hati Hian-song. Pikirnya, “Budak itu cantik sekali dan amat baik dengan
Engkoh Lam. Lebih baik menggunakan kesempatan saat ini untuk membunuhnya agar dia
jangan selalu mengganggu pikiran engkoh Lam!”
Hian-song seorang dara yang masih hijau. Dan ia paling tak dapat mengendalikan
emosinya. Apa yang dipikir tentu segera dilaksanakan seketika.
Thian Heng tak kenal siapa dara itu. Ia kuatir jangan-jangan dara itu akan kalah. Tetapi
baru ia hendak mencegahnya, Hian-song sudah mencabut pedang dan loncat ke muka.
Tanpa berkata apa-apa, ia terus menusuk Bwe Hong-swat dengan jurus Ki-hong-ceng-kau.

Karena didahului, terpaksa Thian Heng mengalah. Ia mendengus dingin dan mundur.
Lalu bertanya kepada Tay Hong, “Siapakah nona itu? Mengapa dia tak tahu aturan?”
Tetapi Tay Hong hanya menjawab, “Ah, mengapa toheng masih memandang tinggi
peradatan-peradatan yang tak berarti? Biarkan dia yang maju!”
Bwe Hong-swat putar giok-ci untuk menangkis serangan Hian-song. Begitu pedang
terpental, tiba-tiba Hian-song berputar tubuh dan menabas tubuh lawan. Gerakan itu aneh
sekali. Hanya seorang ahli pedang semacam Siau Yau-cu yang dapat mengetahui bahwa
gerakan dara itu sesungguhnya sebuah ilmu pedang yang tergolong tingkat tinggi.
Tring… kembali terdengar dering senjata beradu dan sekonyong-konyong Hian-song
berputar ke sebelah kiri. Kali ini gerakan pedang makin dahsyat, begitu pula berputaran
diri itupun lebih cepat dari yang tadi.
Sepintas pandang gerakan si dara itu memang biasa saja. Sekalian orang gagahpun tak
mengerti ilmu apa yang digunakan dara itu. Mereka hanya melihat dara itu menangkis dan
menghindar.
Bwe Hong-swat pun tak mengerti apa serangan yang dimainkan dara itu. Maka iapun
lagi-lagi hanya gerakkan giok-cinya untuk menangkis.
Hian-song mengulangi gerak berputar tubuh dan menusuk pedang itu sampai empat
kali. Setiap kali lebih dari yang terdahulu.
Anehnya setelah empat kali berturut-turut menangkis serangan Hian-song, Bwe Hongswat
tampak tak kuat. Nona itu terpental mundur selangkah. Ia rasakan serangan pedang
si dara semakin lama semakin dahsyat sekali.
Tiba-tiba terdengar sebuah suitan nyaring. Hian-song terkejut dan menarik pulang
pedang. Berpaling ke belakang, dilihatnya sekalian orang gagahpun celingukan kian kemari
untuk mencari siapa yang bersuit senyaring itu!
Sirapnya suitan nyaring itu disusul dengan kumandangnya suara music yang luar biasa
sedihnya. Tak tahu alat music apa yang digunakan, tetapi yang jelas suara lagunya benarbenar
menyayat-nyayat hati. Mirip dengan puluhan orang yang sedang merintih-rintih di
dera cambuk….
Tiba-tiba Siau Yau-cu bersuit panjang. Nadanya mirip dengan nada meringkik, suaranya
menembus awan.
Tay Hong berpaling dan berseru, “Rupanya suatu music itu pertanda dari akan
munculnya ketua Beng-gak!”
“Telah kulantangkan suitan untuk menyambut, apabila benar ketua Beng-gak, tentu
akan terdengar dalan!” sahut Siau Yau-cu.
Tiba-tiba suara musik itu berhenti tetapi serempak dengan itu terdengarlah suara genta
bertalu keras tiga kali. Mendengar itu si nona baju biru tersenyum simpul.

“Harap tuan-tuan suka bersabar sebentar lagi. Lonceng King-hun (pengejut jiwa) sudah
berbunyi, suhuku tentu akan datang…” kemudian ia berseru kepada Bwe Hong-swat,
“Sam-sumoay, lekas balik kemari!”
Bwe Hong-swat menurut perintah sucinya.
“Hai, kita toh belum selesai, mengapa kau menyingkir?” teriak Hian-song seraya maju
menyerang lagi.
Tetapi Bwe Hong-swat tak mengacuhkan. Ketika Hian-song hendak mengejar, Tay
Hong mencegahnya, “Li-sicu, harap berhenti dulu. Nanti masih ada waktu untuk
bertempur lagi.”
Hian-song menurut. Ia kembali ke tempat Siu-lam. Katanya dengan tertawa-tawa,
“Engkoh Lam, apa kau dapat menggunakan jurus yang kumainkan tadi?”
“Tidak bisa,” sahut Siu-lam.
“Tetapi andaikata dapat, belum tentu kau mampu mengembangkan kedahsyatannya.
Oleh karena itu akupun tak mengajarkan kepadamu,” Hian-song tertawa.
Baru Siu-lam hendak menyahut, tiba-tiba musik aneh tadi terdengar lagi. Berpaling ke
arah suara itu, dilihatnya dari gerumbul pohon bunga sebelah timur muncul sekelompok
manusia-manusia aneh yang berpakaian aneh.
Dua orang berjalan di muka, bertubuh tinggi besar dan mengenakan baju putih, berikat
pinggang tali rami. Masing-masing memegang sebatang tongkat Gok-song-pang (tongkat
menangis sedih). Jalannya bergoyang gontai seperti orang yang keberatan tubuh.
Di belakang kedua orang tinggi besar itu, mengiring sekelompok orang yang rupanya
seperti setan jejadian. Merekalah yang membawa alat-alat tetabuhan yang mengalun lagu
sedih itu!
Melihat itu Hian-song berkata kepada Siu-lam, “Engkoh Lam, mengapa manusiamanusia
itu mengerikan wujudnya? Apakah mereka sengaja berdandan begitu atau
memang aslinya begitu?”
“Mana di dalam dunia terdapat setan? Mereka tentu manusia-manusia biasa yang
menyaru,” jawab Siu-lam.
Sebenarnya agak takut juga Hian-song, tetapi setelah mendengar keterangan Siu-lam,
nyalinya jadi besar lagi.
Rombongan manusia-manusia aneh itu makin lama makin mendekati. Ternyata di
belakang rombongan manusia setan itu tampak juga sebuah rombongan lain. Terdiri dari
delapan wanita berpakaian serba putih, mengurai rambut, berkaki telanjang dan
menggotong sebuah tandu berwarna hijau….
Berbeda dengan rombongan setan yang dipimpin kedua manusia tinggi besar tadi,
kedelapan wanita baju putih itu berparas cantik.

Tiba-tiba music tadipun berhenti. Rombongan manusia setan cepat-cepat menyiak ke
samping memberi jalan pada rombongan perempuan baju putih.
Su Bo-tun mendengus, “Hm, apa perlunya mereka mengeluarkan barisan setan?
Apakah mereka hendak membikin takut kita?”
Rombongan penandu perempuan itupun makin dekat ke tempat rombongan orang
gagah. Setelah meletakkan tandu, mereka mundur beberapa langkah dan tegak berjajarjajar
di belakang tandu. Sedang barisan manusia setan di belakang mereka kira-kira dua
tombak jauhnya.
Setelah menyebut kata-kata omitohud, berserulah Tay Hong, “Apakah yang di dalam
tandu ini ketua Beng-gak? Loni dan rombongan adalah tetamu-tetamu yang memenuhi
undangan. Harap gakcu (ketua) jangan memberi penyambutan dengan cara yang seram!”
Tetapi sampai diulang beberapa kali, tetap tiada jawaban dari dalam tandu itu. Baik
kedelapan perempuan cantik maupun rombongan manusia setan, mereka tetap membisu.
Betapapun sabarnya, akhirnya Tay Hong tak dapat menahan perasaannya lagi. Sekali ia
acungkan tangan maka kedelapan belas paderi jubah kuning segera tampil menghampiri.
Dengan mencekal tongkat merekapun segera menghampiri ke tempat tandu.
Kedelapan perempuan cantik itu cepat merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan
golok bian-to yang tipis.
Siau Yau-cu kerutkan alis dan berbisik kepada Tay Hong, “Golok kedelapan wanita itu
tajam sekali. Sebaiknya jangan sampai beradu dengan senjata mereka.”
Berserulah Tay Hong dengan nyaring, “Karena gakcu yang mengundang kami,
mengapa sekarang tak mau keluar bertemu muka? Jika gakcu tetap bersikap begitu, maaf
terpaksa loni akan bertindak melanggar aturan….”
Belum selesai ketua Siau-lim-si itu mengucap, terdengarlah suara ketawa melengking
nyaring macam bunyi kelinting dari dalam tandu, “Tak kira kalau kalian datang lebih pagi
dari waktu undangannya. Karena tak keburu mengadakan persiapan maka sampai
membuat kalian menunggu lama.”
Nadanya lemah lembut dan tenang. Selesai ucapan itu, layar penutup kelambu
tersingkap perlahan-lahan dan seorang wanita yang mengenakan pakaian seperti seorang
pertapa perlahan-lahan keluar dari tandu.
Ratusan mata dari rombongan orang gagah yang hadir di tempat itu, segera tercurah
ke arah wanita itu.
Wajah wanita itu kekuning-kuningan. Alisnya tebal dan mulutnya lebar. Sekilas
merupakan raut wajah yang tak sedap dipandang. Tubuhnya langsing, tangannya putih
seperti salju. Jika tak melihat wajahnya dan hanya memandang potongan tubuhnya
tentulah mengira kalau wanita itu cantik.
Tay Hong berpaling dan berkata perlahan kepada Siau Yau-cu, “Kenalkah Siau-heng
kepada wanita itu?”

Jawab jago tua Bu-tong-pay itu, “Dahulu ketika bertempur dengan wanita itu, dia
mengenakan kain kerudung muka hitam sehingga tak kelihatan wajahnya. Tak ingat lagi
bagaimana rupanya. Tetapi aku terluka aku berhasil menyingkap kain kerudungnya dan
seingatku wajahnya tidak begitu.”
Tiba-tiba Su Bo-tun mendengus, “Sekalipun kau memakai topeng kulit manusia, tak
nanti dapat mengelabui mataku!”
Tiba-tiba wanita itu mengusap mukanya dan tertawa, “Benar, memang aku memakai
topeng kulit manusia. Tetapi begitu kalian melihat wajahku yang asli, hari kematian kalian
tentu sudah dekat!”
Begitu tangan wanita itu mengusap mukanya, maka wajah yang kuning emas segera
berganti dengan wajah yang merah segar….
Diam-diam Tay Hong membatin, “Hm, entah berapa lembar topeng kulit yang
dipakainya. Mengapa wajahnya bisa berubah menjadi merah.”
Terdengar wanita misterius itu tertawa pula.
“Tuan-tuan adalah tetamu dari jauh. Sekalipun datang kemari hendak mengantar
kematian, tetapi sebagai tuan rumah akupun harus menyambut dengan baik, kemudian
baru turun tangan!”
Ia menutup kata-katanya dengan guratkan tangannya ke udara dan serentak suara
musikpun terdengar lagi.
Begitu musik berbunyi, dari gerumbul pohon bunga muncul sekelompok manusiamanusia
aneh yang wajah dan pakaiannya bermacam-macam warnanya. Mereka masingmasing
membawa dua buah kursi dan meja. Dalam sekejap saja, di tengah padang bunga
itu telah disiapkan berpuluh meja perjamuan. Menyusul dengan itu, muncul pula pelayanpelayan
yang membawa hidangan. Kira-kira sepeminum teh lamanya, meja-mejapun
sudah penuh dengan hidangan dan minuman.
Wanita berpakain pertapaan itu segera memberi hormat seraya tertawa, “Silahkan
tuan-tuan minum arak Ciu-hun-ciu. Perjalanan kea lam baka jauh sekali, jangan sampai
saudara-saudara kelaparan di tengah jalan!”
Sejenak Tay Hong memandang kepada rombongannya dan diam-diam ia berpikir.
Mengapa munculnya rombongan pelayan itu tak dapat diketahui sama sekali. Begitu pula
hidangan itu entah dari mana datangnya, tahu-tahu sudah dibawa kabur. Dan ketika
memandang ke arah padang bunga, ternyata rombongan manusia-manusia berpakaian
aneh yang membawa hidangan tadi, sudah tak tampak lagi bayangannya….
Tiba-tiba ia dikejutkan oleh lengking oleh tertawa dari si wanita berbaju pertapaan,
“Silahkan tuan duduk seenaknya!” kemudian wanita itu mendahului mengambil tempat di
kursi.
Siau Yau-cu berbisik kepada Tay Hong, “Baik kita menuruti permintaannya dulu. Nanti
setelah tanyakan apa maksudnya mengundang kita, barulah kita mengambil tindakan lebih
lanjut. Sekalipun arak dan makanan mereka dicampuri racun, tak nanti dapat mencelakai
kita.”

Diam-diam Tay Hong menimang. Ia tak tahu apakah wanita itu benar-benar ketua
Beng-gak atau bukan. Ia setuju dengan pendapat Siau Yau-cu.
“Siau-heng benar,” katanya. Kemudian ia mengacungkan tangan dan berseru nyaring,
“Saudara-saudara boleh masuk dalam perjamuan tetapi jangan makan dan minum.”
Habis berkata ia terus mengambil tempat duduk berhadapan dengan wanita itu. Siau
Yau-cu pun duduk di sebelah Tay Hong.
Su Bo-tun memandang ke arah Sam-kiam-it-pit Tio Hon Leng, Ngo Cong-han, Kui-sintui-
hun Kau Cin-hong, dan paderi Thian-hong. Kemudian orang she Su itu berkata dengan
perlahan, “Lebih baik kita duduk di meja yang di tengah itu!”
Keenam orang itu mengerti maksud Su Bo-tun. Mereka segera mengambil tempat
duduk di tengah dan dengan diam-diam telah membentuk barisan Chit-sing-tun-heng-tinhwat
mengepung si wanita.
Demikian sekalian rombongan orang gagah segera mengambil tempat duduk. Meja
dengan diduduki sepuluh orang. Selain wanita yang mengenakan pakaian pertapa itu,
yang Sembilan orang adalah rombongan tetamu. Sedang kedelapan gadis berpakaian
putih yang menguasai rambut tadi, sambil bersiap dengan golok bian-to di tangan, tegak
berjajar di belakang wanita berpakaian pertapa.
Rombongan manusia aneh yang berwajah seperti setan tadi, masih tetap berdiri di
tempatnya semula.
Perjamuan itu tampak aneh. Sekian banyak tetamu hanya ditemui oleh seorang dari
pihak tuan rumah.
Tiba-tiba wanita berpakaian pertapa itu berbangkit seraya mengangkat cawan arak,
“Saudara-saudara telah jauh memerlukan datang untuk memenuhi undangan pesta maut.
Sungguh pantas dikagumi. Maka sebagai selamat datang, marilah kita teguk cawan
araknya.”
Tetapi sekalian tetamu diam saja. Tiada seorangpun yang menyambuti ajakan wanita
itu.
Tay Hong siansu memberi hormat seraya bertanya, “Undangan gak-cu kepada kami,
sesungguhnya bermaksud apa? Harap gak-cu sudi menjelaskan!”
Wanita itu tertawa longgar, “Eh, bukankah telah kulakukan? Cawan pertama tadi adalah
selaku hatur terima kasih bahwa kalian telah sudi memenuhi undangan untuk hadir dalam
pesta maut ini….”
Tiba-tiba Su Bo-tun menekan cawan araknya. Cawan itupun ambles masuk ke dalam.
Kemudian berseru dingin, “Ah, belum tentu. Jika tak percaya, silahkan gak-cu segera turun
tangan.”
Wanita berpakaian pertapa itu tertawa mengekeh, “Kalian lebih dulu sudah terkena
racun. Maka tak perlu harus turun tangan, kalian tak mungkin hidup lebih lama dari dua
belas jam lagi!”

Mendengar itu terkejutlah sekalian orang gagah. Buru-buru mereka menyalurkan napas
untuk mengetahui apakah kata-kata wanita itu benar.
Melihat sekalian tetamunya ketakutan, wanita itu tersenyum simpul. Tiba-tiba ia
mengusap mukanya lagi dan serentak dengan itu wajahnya yang berwarna merah segar
tadi, tiba-tiba berubah menjadi hitam legam. Karena tersenyum maka tampaklah deretan
giginya yang putih.
“Racun yang menyusup ke tubuh saudara memang tiada berwarna dan tiada berbau.
Tetapi ganasnya bukan kepalang. Kecuali ramuan obat yang kubuat, di dunia tak mungkin
terdapat obat yang dapat menolong jiwa kalian…” kata wanita itu.
Karena dapatkan pernapasan tak kurang suatu apa, Kau Cin-hong marah dan
membentaknya, “Jangan ngaco-belo jual gertakan kosong!”
Habis berkata jago she Kau itu segera berbangkit lalu diikuti oleh Ngo Cong-han, Ngo
Cong-gi, Kat Thian-beng, Tio Hong-kwat dan Thian Hong totiang. Mereka siap hendak
menyerang.
Wanita aneh yang berpakaian pertapa itupun tertawa tawar. Seolah-olah ia tak
mengacuhkan sikap keenam orang pemberingas itu.
“Kalau kalian tak percaya, silahkan coba menyedot napas yang panjang. Tentu kalian
merasakan agak berbeda dengan biasanya!”
Kau Cin-hong menurut. Ia menyedot napas panjang. Ia membau bau bunga yang
wangi, lain tidak. Saking marahnya Kau Cin-hong segera lontarkan sebuah hantaman
kepada wanita itu, “Jangan coba menggertak kami dengan segala ocehan kosong!”
Wanita itu diam saja. Ia tak mau menghindar maupun menangkis. Tampaknya ia
membiarkan dirinya dipukul.
Kau Cin-hong menjadi kelabakan sendiri. Karena orang diam saja, ia mengurangi
tenaga pada pukulannya.
Tetapi alangkah terkejutnya ketika tinju mengenai tubuh wanita itu, terasa seperti
membentur segumpal pakis atau lumut yang licin sekali. Tinju menggelincir ke samping.
Untunglah Kau Cin-hong tadi sudah mengurangi tenaga pukulannya. Kalau tidak orang
tentu terbawa oleh tinjunya yang menggelincir ke samping itu.
Melihat peristiwa itu, kagum Ngo Cong-han bukan kepalang. Dengan menggembor
keras, iapun lontarkan sebuah pukulan keras. Dia duduk paling dekat dengan wanita itu.
Maka pukulannya diarahkan pada jalan darah di punggung orang.
Tetapi wanita berpakaian pertapa itu tetap tak mengacuhkan dan tertawa kepada Tay
Hong siansu, “Bagi kalian hanya terbuka dua buah jalan. Jalan hidup atau jalan mati…..”
Tiba-tiba Ngo Cong-han mendengus tertahan dan tahu-tahu tubuh ke samping. Melihat
itu buru-buru Su Bo-tun mengangkat tangan kanan dan melepaskan tenaga dalam untuk
menyanggah tubuh Ngo Cong-han. Siau Yau-cu pun tak kurang sigapnya. Ia ulurkan
tangan menyalurkan napas!

Tay Hong bertanya dengan nada dingin, “Kalau jalan hidup itu bagaimana? Kalau jalan
matipun bagaimana?”
Wanita berpakain pertapa kembali tersenyum lalu menyahut, “Jika ingin hidup, harus
segera mengangkat sumpah berat. Bahwa sejak hari ini kalian harus menurut segala
perintahku. Tak boleh membantah. Tetapi jika menghendaki jalan mati, itupun malah lebih
mudah. Asal kuperintahkan membunyikan lagu mengantar kematian, racun dalam tubuh
kalian tentu segera bekerja. Tak seorangpun dari rombongan kalian yang dapat melihat
matahari esok pagi!”
Mendengar nada wanita itu tampaknya bersungguh-sungguh, diam-diam Tay Hong
menimang, “Ditilik dari kesungguhan bicaranya, kemungkinan rombonganku memang
telah keracunan. Tetapi setelah melangkah masuk ke dalam lembah Coat-beng-koh tadi,
tak ada anggota rombongan yang minum air walaupun hanya setitik saja. Aneh, mengapa
dia mengatakan aku dan rombongan terkena racun?”
Maka berserulah ia dengan tersenyum, “Loni benar-benar tak mengerti ucapan gak-cu
tadi. Sejak memasuki lembah ini, tak setitik air yang diminum rombongan loni. Entah
bagaimana bisa keracunan?”
Su Bo-tun kerutkan dahi dan berseru juga, “Karena datang menghadiri undangan gakcu,
tentang soal mati-hidup sudah tak kami hiraukan lagi. Terkena racun atau tidak,
takkan kami pikirkan sama sekali….”
Tiba-tiba ketua Bu-tong-pay dari imam Sin Cong menyeletuk, “Lebih baik segera kita
mulai bertanding saja agar diketahui siapa yang menang atau kalah!”
Sekalian orang gagah serempak berbangkit dan teganglah suasana saat itu.
Wanita pertapa itu mengusap mukanya lagi. Seri wajahnya yang berwarna hitam tibatiba
berubah menjadi biru muda. Dan dengan tertawa seram berserulah ia, “Karena kalian
ingin buru-buru turun tangan, baiklah! Tetapi apakah kalian hendak maju serempak atau
satu persatu?”
Ringan kedengarannya suara tertawa wanita itu, tetapi sesungguhnya telah menembus
ke dalam telinga sekalian orang seperti jarum yang menusuk. Kecuali Tay Hong siansu dan
beberapa tokoh sakti, lain-lain orang yang mendengar tertawa itu, hatinya tergetar keras.
Apalagi kalau melihat wajah si wanita yang seram, mungkin orang biasa tentu sudah
melarikan diri.
Beberapa tokoh yang sudah siap menyerang tadi begitu mendengar tantangan si
wanita, malah terkesiap dan tak dapat berbuat apa-apa.
Setelah hening beberapa jenak, Su Bo-tun berseru dingin, “Undanganmu kepada
sekalian orang gagah itu, jelas bermaksud memandang rendah. Aku….”
“Aku bersedia menjadi orang pertama yang hendak menguji kepandaian orang yang
dijuluki sebagai tokoh nomor satu di dunia persilatan!” tiba-tiba sebuah suara telah
mendahului Su Bo-tun.

Ketika sekalian orang berpaling, ternyata yang bicara itu adalah si jago gemuk dari
Tibet. Pek Co-gi, jago Tibet yang bergelar Bu-ing-sin-kun perlahan-lahan melangkah maju.
Wanita berpakaian pertapa itu tertawa melengking, “Mendengar kata-katamu, agaknya
kau ini bukan orang yang menerima undanganku….”
“Benar, aku memang datang dari Segak dan tak menerima undanganmu. Aku hanya
kepingin menyaksikan kesaktianmu….”
Kembali wanita itu tertawa mengekeh, “Bagus! Sungguh kebetulan sekali kau datang
sendiri sehingga aku tak perlu mencari jauh-jauh….”
Pek Co-gi tertawa dingin. Tangan kanannya diangkat dan menampar, “Cobalah dulu
pukulanku Bu-ing-sin-kun ini!”
Wanita itu heran mengapa tak terdengar desis angin pukulan jago Tibet itu. Tetapi
keheranannya itu segera terjawab ketika tahu-tahu dadanya terlanda tenaga dahsyat.
Tubuhnya berguncang keras sehingga tak dapat berdiri tegak. Setelah bahunya
bergoyang-goyang beberapa kali barulah ia dapat berdiri tegak lagi.
Mendapat hasil, Pek Co-gi tak mau memberi kesempatan lagi. Dengan kedua tangannya
ia lepaskan beberapa pukulan.
Tiba-tiba wanita itu mengacungkan tangan ke atas. Manusia-manusia aneh yang berada
di belakangnya segera membunyikan alat-alat tetabuhannya dan seketika terdengarlah
suara music yang menusuk telinga. Dan serempak dengan itu, wanita itupun mulai
goyang-goyangkan lengan bajunya dan menari.
Wanita itu menari tetapi tari bukan sembarang tari. Dari gerak lengan bajunya itu
berhamburanlah tenaga lwekang lunak yang sakti. Bukan saja tenaga pukulan Pek Co-gi
terhapus, pun dapat memantulkan tenaga membal yang melanda kepada jago Tibet itu.
Bermula Pek Co-gi hanya merasakan tenaga pukulannya terpental balik, tetapi makin
lama makin terasa dahsyat….
Diam-diam Su Bo-tun memperhatikan perkembangan itu. Dilihatnya Pek Co-gi makin
tak tahan. Segera ia berbangkit dan mulai mengambil posisi sebagai penggerak (kepala)
barisan Chit-sing-tun-heng-tin-hwat.
Melihat Su Bo-tun bertindak, maka Tio Hong-swat, Ngo Cong-han, Kat Thian-beng, Kau
Cin-hong dan Thian Hong totiang serta Ngo Cong-gi yang sudah beristirahat tadi
berbangkit dan mengambil posisi masing-masing. Mereka bergerak cepat sekali. Dalam
sekejap mata sudah terbentulah barisan Chit-sing-tun-heng-tin itu. Wanita itu dikepung di
tengah-tengah.
Tiba-tiba wanita itu taburkan kedua tangannya. Setelah berhasil mengundurkan Pek Cogi,
sekonyong-konyong ia loncat mundur dan menyelundup ke dalam gerumbul pohon
bunga.
Kedelapan gadis baju putih dan rombongan manusia aneh penabuh music, segera
mengikuti di belakang wanita itu. Mereka menyelinap ke dalam gerumbul bumi.

“Lo-siansu, mari kita kejar!” seru Su Bo-tun kepada Tay Hong seraya mendahului loncat
ke muka.
Sebagai seorang ketua sebuah partai persilatan yang besar, sudah tentu Tay Hong
harus menjaga diri. Setelah merenung sejenak, barulah ia menyetujui ajakan Su Bo-tun
itu. Tetapi pada saat itu, Su Bo-tun dan rombongan wanita berpakaian pertapa tadi, sudah
lenyap ke dalam gerumbul pohon bunga. Dan ketika berpaling ke belakang, ternyata si
nona baju biru dan Bwe Hong-swat pun sudah tak tampak lagi.
Siau Yau-cu menyambut pedangnya dan berseru, “Dikuatirkan Su-heng terpancing
siasat wanita siluman itu. Ayo, kita lekas menyusulnya!”
Rombongan orang gagah segera bergerak maju. Sambil berjalan mereka bolangbalingkan
senjatanya membabati pohon-pohon bunga yang tumbur di kedua tepi jalan.
Terdengar gemuruh pohon-pohon yang tumbang dan daun-daun yang berhamburan
kemana-mana.
Padang bunga itu ternyata cukup luas. Setelah pohon-pohon bunga dibabati, mereka
melihat padang bunga itu makin menurun. Agaknya seperti sebuah lereng gunung yang
melandai ke bawah.
Siau Yau-cu memperhatikan keadaan di sekeliling. Dilihatnya sebuah karang yang
menjulang tinggi sekali hingga mencapai ketinggian beratus tombak. Sebuah karang yang
tak mungkin dicapai sekalipun orang memiliki ilmu ginkang yang sakti.
Diam-diam Siau Yau-cu memperhitungkan.
Jika wanita siluman itu benar-benar telah berada di karang tinggi yang puncaknya
tertutup kabut tebal itu, jelas Su Bo-tun tentu tak berhasil menyusulnya. Maka satusatunya
jalan hanyalah harus melintasi gerumbul pohon yang terbentang di sebelah muka
itu.
Dalam pada itu, Siau Yau-cu dan rombongannya telah tiba di ujung penghabisan dari
gerumbul pohon bunga. Dan keadaan di sini tiba-tiba berubah. Karang-karang yang
belasan tombak tingginya, berjajar mengeliling lamping gunung. Merupakan sebuah
lembah batu yang sempit memanjang. Tetapi mulut lembah batu itu hanya cukup dimasuki
dua orang. Dinding lembah licin dan melandai runcing sehingga sukar untuk dipanjat.
Siau Yau-cu berhenti dan berpaling, serunya, “Selain ganas, siluman perempuan itu
ternyata cerdik sekali. Lembah yang memang menyeramkan keadaannya ini telah
dibangun lagi menjadi sebuah tempat yang berbahaya. Kita yang tak kenal keadaan di
tempat ini, tentu akan menderita kerugian. Kanan kiri tempat ini merupakan jalan buntu
dan satu-satunya jalan hanya lembah batu yang sempit itu. Rupanya Su-heng telah dipikat
perempuan siluman itu agar masuk ke dalam lembah.”
“Apa boleh buat, marilah kita masuk ke lembah ini,” sahut Tay Hong.
Tiba-tiba dari salah sebuah ujung lembah, muncul dua orang bertubuh tinggi besar dan
berpakaian serba putih. Mereka masing-masing mencekal tongkat gok-tong-pang. Dengan
langkah bergoyang-gontai mereka melangkah keluar.

Siau Yau-cu berbisik-bisik, “Kedua orang itu adalah pelopor jalan ketika si perempuan
siluman hendak muncul tadi. Terang kalau perempuan siluman itu berada dalam lembah
ini. Dan Su-heng kebanyakan tentu sudah masuk. Sebaiknya kita lekas menyerbu masuk.”
Tay Hong menimang. Menilik sempitnya lembah, lebih baik hanya beberapa orang saja
yang masuk. Kalau kebanyakan orang, malahan tak leluasa.
Kemudian ketua Siau-lim-si itu berkata kepada sekalian orang gagah, “Dalam lembah
sempit ini kemungkinan musuh tentu menyembunyikan barisan yang kuat. Harap saudarasaudara
menunggu di luar sini dulu. Biarlah loni dahulu yang masuk meninjau ke dalam.”
Dengan pedang di tangan, Siau Yau-cu segera melangkah masuk ke dalam lembah.
Melihat itu, kedua lelaki tinggi besar tadi segera percepat langkahnya untuk
menyambut. Sedang Tay Hong yang menyusul Siau Yau-cu segera membisiki jago tua dari
Bu-tong-pay itu, “Harap Siau-heng mundur dulu. Rupanya tongkat kedua orang itu berat
sekali. Di dalam lembah tak leluasa bertempur, biarlah loni yang menghadapi mereka!”
Karena mengetahui ketua Siau-lim-si itu memang memiliki tenaga yang dahsyat, maka
Siau Yau-cu pun segera menyingkir ke samping memberi jalan.
Tay Hong segera maju. Baru ia melewati Siau Yau-cu, kedua orang tinggi besar itupun
sudah tiba di hadapannya. Salah seorang yang di sebelah kiri mendengus dingin dan tahutahu
tongkat segera menghantam ke dada Tay Hong dengan jurus Tay-san-ya-ting atau
gunung Tay-san menindih puncak.
Tongkat pertapaan atau siang-ciang yang dibawa Tay Hong itu hampir dua meter
panjangnya. Untuk dibuat bertempur dalam lembah yang sesempit itu, terang tak leluasa.
Maka Tay Hong segera mengganti caranya mencekal. Ia mencekal di bagian tengah
tongkat itu sehingga seperti orang memakai toya pendek. Dengan memutar-mutar tongkat
ia melawan kedua orang tinggi besar itu.
Tring tring… terjadilah benturan keras antara tiga batang tongkat. Diam-diam Tay Hong
terkejut atas tenaga lawannya yang dapat menahan tongkatnya.
Jilid 17
TIBA-TIBA dari belakang kedua orang tinggi besar itu terdengar suara orang
melengking, “Sudahlah, jangan bertempur, berhentilah!”
Kedua orang tinggi besar itu menurut perintah. Mereka menarik tongkat dan tegak
berdiri di samping.
Seorang nona baju biru yang membawa senjata aneh macam tanduk rusa, muncul di
hadapan kedua orang tinggi besar. Dengan wajah berseri tawa, berserulah nona itu,
“Paderi tua dan kau Tok-gan-kui (Setan mata satu yakni Siau Yau-cu), dengarlah aku
hendak bicara….”
“Apa maksudmu?” tegur Siau Yau-cu.

“Lembah ini sempit sekali. Jika tak biasa bertempur di sini, tentu tak dapat
mengembangkan kepandaiannya….”
Diam-diam Siau Yau-cu membenarkan kata-kata nona itu. Namun ia menyahut dingin,
“Apakah maksud nona?”
Jawab nona baju biru itu, “Meskipun tuan berdua sakti, tetapi sukar rasanya untuk
melintasi hadangan-hadangan dalam lembah ini.”
“Hm, hendaknya nona jangan bicara berputar-putar,” dengus Siau Yau-cu, “harap lekas
katakan apa maksud nona!”
Nona baju biru itu tertawa, “Jika tuan berdua hendak melintasi jalanan ini, harap
mundur dan kembali ke tempat semula dulu. Setelah kami bertiga menyeberang keluar,
barulah tuan berdua masuk ke dalam lembah….”
Ah, kiranya berputar-putar sampai sekian lama, nona itu hanya menghendaki kedua
tokoh itu mundur keluar lembah.
Siau Yau-cu tertawa hambar, “Ah, lebih baik nona saja yang mundur kembali dan kami
yang melintasi lebih dulu!”
“Omitohud!” tiba-tiba Tay Hong berseru, “Hud-co ampunilah murid hendak membuka
pantangan membunuh!”
Dengan kerahkan tenaga lwekang, ia melangkah ke muka. Tongkatnya tiba-tiba
bergerak dalam jurus Tit-to-ui-liong (luruk menjolok naga kuning), menusuk ke arah salah
seorang lelaki tinggi yang berdiri menyambar karang gunung sebelah kiri.
Orang tinggi besar itu cepat-cepat gerakkan tongkat gok-song-pangnya untuk
menghantam tongkat orang.
Tay Hong adalah ketua Siau-lim-si. Dia sebenarnya memiliki kepandaian sakti dan
lwekang yang tinggi. Tetapi sebagai seorang paderi yang saleh, ia selalu bermurah hati
dan menjunjung perikemanusian. Tetapi saat itu karena mencemaskan keselamatan Su
Bo-tun, maka ia bertindak keras.
Tring, tangkisan orang tinggi besar itu tak mampu menghalang tongkat Tay Hong.
Ujung tongkat ketua Siau-lim-si tetap langsung menusuk lambung si tinggi besar. Huak…
mulutnya muntah darah dan orangnya terpental beberapa meter di belakang si nona baju
biru!
Seumur hidup jarang Tay Hong turun tangan seganas itu. Bahwa sekali gerak ia
membinasakan jiwa si tinggi besar, paderi Siau-lim-si itu terkesiap sendiri dan buru-buru
mengucap omitohud. Serunya, “Jika kalian berdua tetap tak mau menyingkir, jangan
salahkan loni berlaku ganas!”
Ucapan itu ditutup dengan tusukan ujung tongkat kepada si tinggi besar yang berada di
sebelah kanan. Hanya saja, kali ini ia cuma gunakan separoh tenaganya.

“Lembah ini memang sempit tetapi tak ada barisan terpendam. Jika kita tak kembali,
kawan-kawan tentu akan menyusul kemari. Lebih baik kita berdua masuk,” kata Siau Yaucu.
Setelah merenung sejenak, Tay Hongpun menyetujui. Begitulah kedua tokoh itu segera
melintasi pintu batu. Tiba di ujung padang rumput, mereka berhadapan dengan sebuah
pintu batu lagi. Pada pintu batu itu tertulis tiga huruf besar: Seng-su-bun atau Pintu Matihidup.
Si nona baju putih Bwe Hong-swat tegak berdiri di ambang pintu dengan memeluk
senjata giok-ci.
Siau Yau-cu hendak menyelidiki keadaan tempat itu melalui Bwe Hong-swat. Tetapi
wajah nona baju putih itu sedingin wajah sebuah patung….
Tay Hong memandang ke dalam pintu. Tampak di dalamnya penuh dengan bangunan
gedung, merupakan sebuah dunia tersendiri. Diam-diam Tay Hong menimang, “Ah,
jangan-jangan tempat ini terdapat barisan pendam. Hanya saja Bwe Hong-swat tak leluasa
untuk memberi isyarat!”
Tay Hong yang cerdik segera mengambil sikap seperti tak kenal nona itu. Sambil
melintangkan tongkatnya, ia membentak keras, “Harap nona suka menyisih!” Ia menutup
kata-katanya dengan gerak jurus Ngo-tiang-bit-san, tongkat dihantamkan ke kepala si
nona.
Bwe Hong-swat berkisar diri dan menyisih ke samping kiri sampai tiga langkah
kemudian berseru dingin, “Silahkan masuk!”
“Omitohud!” seru Tay Hong seraya melangkah masuk. Seruan omitohud itu dilambari
dengan tenaga lwekang yang membuat telinga pekak.
Siau Yau-cu pun mengimbangi dengan bersuit nyaring lalu ikut masuk.
Di dalam pintu Sen-si-bun itu ternyata sebuah pemandangan lain. Barisan manusiamanusia
aneh yang wajah dan dandanannya menyerupai setan, tegak berjajar-jajar di
kedua samping jalan. Masing-masing mencekal senjata. Tetapi manusia-manusia itu tak
mengacuhkan kedatangan Tay Hong dan Siau Yau-cu.
Dengan keliarkan mata dalam sekejap saja Siau Yau-cu sudah dapat mengetahui
jumlah barisan manusia-manusia aneh itu tak kurang dari empat puluhan.
Diam-diam ia terkejut, pikirnya, “Jika mereka sakti semua dan kita hanya dua orang
tentu sukar untuk menghadapi mereka!”
Tay Hong tenang-tenang saja. Ia tak menghiraukan barisan orang-orang aneh itu. Ia
terus melangkah maju dan barulah berhenti ketika ia terhalang oleh sebuah ruang besar.
Di samping ruang itu berjajar kedelapan gadis baju putih. Masing-masing mencekal
sebatang bian-to atau golok tipis.
Pintu ruang besar itu terkancing rapat. Di atasnya terdapat delapan buah tulisan:
“Barang siapa masuk selangkah saja, tentu bakal hancur binasa!”

Sejenak memandang kedelapan gadis baju putih itu, berserulah Tay Hong, “Apakah
pemimpin kalian berada dalam ruang ini?”
Kedelapan gadis itu tertawa. Serempak mereka mundur tiga langkah dan memberi
jalan. Dan pintu bercat hitam itupun tiba-tiba mengatup sendiri tetapi sebelum menutup
rapat, kembali berhenti. Lubang celah di tengah kedua daun pintu hanya cukup untuk
dilalui seorang.
Memandang ke dalam, Tay Hong melihat sebuah ruang yang gelap gulita. Diam-diam ia
heran dan tak mengerti apakah yang direncanakan wanita siluman itu.
Tengah ia merenung, tiba-tiba dari dalam ruang terdengar suara orang bernada lembut
sekali, “Paderi tua, mengapa kau ragu-ragu tidak masuk? Apakah kau takut?”
Diam-diam Tay Hong menimang. Jika ia tak berani memasuki ruang itu tentu akan
ditertawakan orang dan nama Siau-lim-si pasti akan jatuh. Maka setelah menetapkan
keputusan segera ia melangkah maju. Tiba-tiba Siau Yau-cu loncat mendahuluinya.
Melihat jago Bu-tong-pay itu sudah menerobos masuk, maka kedelapan gadis baju
putih itupun tertawa-tawa memandang kepada Tay Hong. Sudah tentu Tay Hong marah.
Ia duga kawanan gadis itu tentu menertawakan dirinya yang tak berani masuk.
“Siau-heng, jangan masuk seorang diri, tunggulah loni!” setelah mengerahkan tenaga
dalam segera ia ayunkan tongkatnya menghantam daun pintu.
Bummm! Terdengar ledakan keras tetapi daun pintu bercat hitam itu tetap tidak
bergeming. Kiranya daun pintu itu terbuat daripada besi baja yang kokoh sekali.
“Taysu, lekas menjemput sekalian kawan-kawan kita. Kekuatan kita tipis sekali,
dikuatirkan tak dapat mengatasi keadaan!” seru Siau Yau-cu dari dalam.
Diam-diam Tay Hong membenarkan ucapan jago tua Bu-tong-pay itu. Jika pintu besi itu
dapat bergerak membuka sendiri, tentulah juga dapat menutup sendiri.
Sekalipun di dalam ruang tiada terdapat barisan musuh, tetapi dengan ditutup dalam
pintu baja sekuat itu, tentu keduanya tak mungkin dapat keluar lagi. Lebih baik ia
mengundang rombongannya untuk beramai-ramai menggempur pintu itu.
“Siu-heng, harap lekas keluar. Pada saat dan tempat ini, bukanlah waktunya untuk
unjuk kegagahan!” seru Tay Hong kepada Siau Yau-cu.
Terdengar suara orang tertawa mengikik tetapi suara Siau Yau-cu tak terdengar sama
sekali. Beberapa saat kemudian, suara tertawa itupun berhenti dan ruangpun kembali
sunyi.
Kembali kedelapan gadis baju putih itu memandang Tay Hong seraya tersenyum ewah.
Ketua Siau-lim-si terkesiap, serunya dingin, “Jika kalian menggunakan siasat iblis, terpaksa
loni bertindak!”
Mendengar itu sekonyong-konyong kedelapan gadis itu bergerak-gerak menari. Lemah
gemulai tubuhnya menyertai gerak tariannya yang indah, benar-benar sangat menarik.

Karena sejak kecil tak pernah bergaul dengan kaum wanita dan tak pernah melihat tarian
yang seindah itu berdebar-debarlah hati Tay Hong siansu.
Tetapi dia seorang paderi yang tinggi kebatinannya. Buru-buru ia tenangkan
kegoncangan hati dan dengan membentak keras segera gunakan jurus Lat-sog-ngo-gak, ia
menyerang kawanan gadis itu.
Kedelapan gadis itu terkejut dan cepat-cepat mundur ke samping. Tetapi setelah dapat
menghindari tongkat Tay Hong, merekapun maju menyerang dengan bian-to.
Tay Hong mendengus. Tongkat dibolang-balingkan ke kanan dan ke kiri. Dalam sekejap
saja ia telah lancarkan dua belas jurus serangan. Kedelapan gadis itu terpaksa harus
mundur….
Tiba-tiba terdengar salah seorang dari mereka tertawa mengikik. Sekali tangan kiri
bergerak maka terlepaskan pakaiannya putih. Saat itu ia hanya mengenakan celana dalam
warna merah. Ketujuh kawannya pun mengikuti juga. Mereka lepaskan baju dan tinggal
memakai celana dalam warna merah….
Tay Hong tertegun. Diam-diam ia memaki kawanan gadis yang tak punya malu itu.
Tetapi karena ia betrayal gerakan tongkatnya pun agak kendor. Empat gadis itu
menerjang maju seraya membaurkan hawa harum. Keempat golok tipis mereka
berhamburan menyerang jalan darah berbahaya di tubuh Tay Hong.
Tay Hong agak terkejut. Buru-buru ia pusatkan semangatnya dan sapukan tongkatnya.
Keempat gadis yang menyerang itupun terpaksa mundur lagi.
Kini kawanan gadis setengah telanjang itu berputar-putar menarikan bian-tonya untuk
menyerang. Bermula Tay Hong tak merasakan apa-apa, tetapi selang belasan jurus
kemudian tiba-tiba ia rasakan sesuatu yang tidak wajar. Dalam pandangannya kedelapan
gadis itu benar-benar menarik. Selain memiliki tarian golok yang merupakan jurus-jurus
serangan yang berbahaya, pun gerakan tubuh mereka sangat indah sekali. Perlahan-lahan
tongkat ketua Siau-lim-si itupun makin kendor gerakannya….
Memang hebat sekali kedelapan gadis itu. Selain memiliki wajah yang cantik jelita, pun
gerak tarian bersama yang indah gemulai itu selalu diiringi dengan senyum yang
menawan. Seorang paderi saleh seperti Tay Hong siansu, hampir saja tergoncang
perasaannya. Untung dalam saat-saat yang berbahaya itu, Tay Hong dapat tersadar. Buruburu
ia berseru ‘Omitohud’. Sambil pejamkan kedua mata ia mainkan tongkat dalam ilmu
Cap-pik-lo-han-ciang-hwat yang sakti. Ilmu permainan tongkat itu merupakan ilmu
istimewa dari partai Siau-lim-si. Dimainkan oleh seorang tokoh semacam Tay Hong siansu,
ilmu yang benar-benar sedahsyat gunung rubuh!
Ketua Siau-lim-si itu tetap pejamkan kedua matanya sehingga pemusatan pikirannya
lebih penuh. Pikiran terpusatkan, gerakan tongkatnyapun makin dahsyat.
Kedelapan gadis setengah telanjang itu tertawa mengejek karena melihat tingkah laku
paderi Siau-lim-si itu. Masakan orang bertempur dengan mata meram? Ah, dalam sepuluh
jurus saja paderi itu tentu sudah dapat diringkus. Demikian pikiran mereka.
Tetapi apa yang mereka hadapi saat itu, benar-benar mengejutkan. Tubuh ketua Siaulim-
si itu seolah-olah tertutup oleh bayangan tongkat. Sedikitpun tiada lubang

kelemahannya. Di samping itu, pun tongkat si paderi makin lama malah semakin
menyerang gencar sekali. Kedelapan gadis bersenjata bian-to itu, dipaksa harus mundur
dalam lingkaran setombak jauhnya. Mereka tak mampu mengisar maju walau pun hanya
sejari!
Setelah dua puluh jurus lamanya, Tay Hong merasa pikirannya sudah tenang. Tiba-tiba
ia membuka mata dan dengan menggembor keras ia jurus Sin-liong-tiau-siu atau Naga
sakti terpenggal kepalanya, ia hantam golok seorang gadis hingga terpental ke udara.
Golok bian-to memang tipis dan tajam luar biasa. Tetapi karena tongkat sian-ciang itu
terbuat dari baja murni dan berat sekali, golok bian-to tak mampu memapasnya malah
terpental jatuh!
Setelah memperoleh hasil, semangat Tay Hong semakin menyala. Ia balikkan tongkat
dengan jurus To-coan-im-yang (memutar balik Im dan Yang) dan dapat menghantam
lepas golok dari gadis yang berkedudukan di sebelah tenggara. Dan meluncur ia lancarkan
tiga kali serangan tongkat. Seketika kepungan kedelapan gadis itu menjadi kacau balau.
Asal Tay Hong lanjutkan lagi serangannya, kedelapan gadis itu tentu terluka….
Tiba-tiba dari dalam ruang besar yang gelap terdengar lengkingan nyaring, “Kalian
bukan tandingan paderi tua itu. Lekas mundur!”
Kedelapan gadis itupun mundur.
Kembali suara dari dalam ruang gelap itu melengking lagi, “Dapat memenangkan
dengan beberapa pelayanku, masih belum termasuk sakti. Siau-lim-si adalah partai
termasyhur dan dianggap sebagai pemimpin dunia persilatan. Jika berani, masuklah ke
ruang Hwe-lun-tian ini!”
Tay Hong sejenak berpaling ke belakang. Tampak Bwe Hong-swat masih tegak
memeluk senjatanya Giok-ci. Sedangkan rombongan orang gagah di luar lembah tadi
masih belum tampak muncul. Diam-diam ketua Siau-lim-si resah….
Lembah sempit itu hanya cukup dilalui dua orang. Jika orang Beng-gak menugaskan
jago-jagonya yang sakti untuk menjaga mulut lembah itu, tentu sukar bagi rombongan
orang gagah untuk menerobos masuk. Dan mengapa Siau Yau-cu yang dipandang sebagai
tokoh dewa pedang, begitu masuk ke dalam ruang Hwe-lun-tian lantas tak kedengaran
suaranya lagi? Demikian pertanyaan-pertanyaan yang mencengkam dalam benak Tay
Hong saat itu.
“Paderi tua, apakah kau takut?” kembali orang di dalam ruang gelap itu melengking
dengan tertawa mengejek.
Tay Hong benar-benar gelisah. Tidak masuk, kuatir akan ditertawakan. Berarti pula
nama Siau-lim-si akan jatuh. Namun masuk, ia kuatir masih akan memasang perangkap
yang ganas.
Ketua Siau-lim-si itu ragu-ragu tak dapat segera mengambil keputusan….
Kembali suara lengking tertawa dari ruang itu terdengar pula, “Paderi tua, jika takut
janganlah masuk. Segeralah berlutut di depan pintu dan memberi hormat tiga kali
kepadaku….”

“Ho, kau anggap loni ini orang apa?” teriak Tay Hong dengan gusar, “Sekalipun ruang
Hwe-lan-tian ini merupakan gunung golok hutan pedang, loni tetap akan masuk juga!”
Dengan lintangkan tongkat sian-ciang, paderi Siau-lim-si itu segera melangkah masuk.
Bum… begitu masuk, pintu besipun segera mengatup rapat ruang gelap gulita sekali
sehingga tak dapat ia melihat jari tangannya sendiri.
Tay Hong kerahkan lwekang untuk melindungi diri lalu memandang ke sekeliling. Berkat
lwekangnya yang tinggi, penglihatannyapun tajam sekali. Cepat ia segera dapat melihat
keadaan ruang itu.
Pada dinding sebelah muka, terdapat sebuah ranjang dari batu pualam hijau. Di atas
ranjang itu duduk bersila seorang wanita berpakaian pertapa, tetapi wajahnya diselubungi
kain kerudung warna hitam. Siau Yau-cu dan Su Bo-tun tak nampak berada di ruang situ.
Entah di mana mereka.
Pada keempat ujung tiang, ditaruh sebuah pot bunga yang menyiarkan bau harum,
kecuali pot bunga, ranjang pualam dan wanita berkerudung, lain-lain benda tak terdapat
dalam ruangan itu.
Diam-diam Tay Hong heran, pikirnya, “Menilik sikapnya, wanita berkerudung itu bukan
seperti orang yang habis bertempur. Tetapi mengapa Siau Yau-cu tak kelihatan?”
Tay Hong memandang ke sebelah muka lalu berseru, “Apakah nona yang menjadi tuan
rumah di sini?”
Wanita itu perlahan-lahan menyingkap kain kerudung yang menutupi wajahnya.
Seketika ruangan yang gelap gulita itu menjadi terang benderang menyilaukan mata.
Sebuah wajah yang cantik jelita menonjol gilang-gemilang….
Kiranya sinar terang itu berasal dari untaian permata yang dilekatkan pada kain
kepalanya. Di antara roncean berpuluh-puluh permata itu, paling depan sendiri adalah
sebutir mustika sebesar buah kelengkeng. Sinarnya paling terang sendiri.
“Benar!” sahutnya dengan suara hening.
Betapapun kuat iman Tay Hong, namun tak urung tergetar juga hatinya melihat
kecantikan wajah wanita itu. Betul-betul ia kerahkan semangatnya untuk menguasai
dirinya. Setelah ia bertanya pula, “Kemanakah orang yang masuk ke sini tadi?”
Jawab wanita itu dengan nada melengking genit, “Ruang Hwe-lun-tian merupakan
ruanga peleburan nyawa. Begitu masuk, mana dapat keluar lagi? Kedua sahabatmu itu
telah terbenam dalam lautan derita siksaan yang hebat. Setelah mereka sadar akan
kesalahannya dan bersedia bernaung dalam Beng-gak, barulah mereka dapat keluar dari
laut penderitaan itu.”
“Alam pelebur jiwa dari karma manusia, adalah ajaran yang diturunkan oleh Budha
kepada manusia, agar kita manusia sadar akan kesalahan dan menuju ke jalan yang
terang. Masakan kau layak membicarakan hal itu?”
Wanita cantik itu tertawa, “Ruang ini meskipun luas, tetapi tak ada alat perkakasnya
apa-apa. Jika tak percaya, silahkan kau periksa di mana kedua sahabatmu itu.”

Memang justeru hal itu yang mengherankan Tay Hong. Pikirnya, “Apakah Su Bo-tun
juga masuk ke sini, itu masih belum jelas. Tetapi ternyata tadi Siau Yau-cu terang masuk
ke sini. Mengapa dia tak tampak sama sekali?”
Namun Tay Hong adalah seorang paderi yang cerdik sekali. Setelah merenung sejenak,
tiba-tiba ia tersadar. Iapun tertawa dingin, “Jika gak-cu memasang alat rahasia di tengah
ruang ini dan menggerakkan pada saat orang sedang lengah….”
Tiba-tiba wanita berpakaian pertapa itu tertawa melengking. Sekali tangannya
melontar, pakaiannya berhamburan ke samping dan tubuhnya tak memakai selembar
pakaianpun juga.
Sejak kecil Tay Hong sudah masuk gereja. Tak pernah ia bergaul dengan kaum wanita.
Menyaksikan pemandangan yang demikian ‘menyeramkan’ itu serentak Tay Hong segera
berseru, “Omitohud!” lalu melengos ke samping tak mau memandang lagi.
Kemudian ia berseru nyaring, “Gak-cu mengirim jarum untuk mengundang sekalian
orang gagah. Apakah tujuan gak-cu? Gak-cu termasuk ketua sebuah partai persilatan.
Apakah perbuatan gak-cu bertelanjang itu tak merendahkan kedudukan gak-cu?”
Serangkum angin harum membaur dan wanita itu melenking lagi, “Paderi tua, orang
hidup paling lama hanya seratus tahun!”
Nadanya lemah lembut, suaranya merdu sehingga semangat Tay Hong tergerak. Diamdiam
ia terkejut dan tak berani mendengarkan lagi. Serentak ia menggembor dan
menyerang dengan tongkatnya!
Serentak dengan taburan angin tongkat yang menderu dahsyat, terdengarlah lengking
tertawa wanita itu mengiang-ngiang lenyap bersama lenyapnya angin sambaran tongkat.
Tay Hong terkejut dan memandang ke muka lagi, kawanan gadis telanjang itupun
lenyap!
Ruanganpun seketika hening lagi.
Dalam pada itu Tay Hong pun menimang-nimang dalam hati, “Di dalam ruang ini entah
berapa banyak alat-alat rahasia yang dipasang. Betapapun tinggi kepandaianku, tetapi aku
hanya seorang diri. Tentu tak mungkin mampu menahan gelombang bahaya yang begitu
banyak. Baiklah kubobolkan pintu besi dulu agar sekalian kawan-kawan dapat masuk!”
Secepat menetapkan rencana, ketua Siau-lim-si itupun melesat ke muka pintu dan
ayunkan tongkat besinya. Buummm!! Terdengar ledakan dahsyat macam gunung meletus.
Pintu tak apa-apa sebaliknya Tay Hong rasakan tangannya tergetar. Mau tak mau ia harus
mengeluh.
Tiba-tiba terdengar lengking suara wanita tadi dari ujung ruang, “Paderi tua, apakah
kau masih tak menyerah? Apakah kau ingin berkumpul dengan kedua kawanmu yang
sedang menderita siksaan itu….”

Dada Tay Hong serasa diledak kemarahan. Merogoh ke dalam baju, ia menjemput
sebatang kim-pa (semacam alat music pang disebut kecer) lalu mencurahkan perhatian
mencari di mana si wanita berada.
Tetapi dia adalah seorang ketua gereja besar. Biasanya, jangakan pakai senjata rahasia
sedang membawanya saja ia tak pernah. Tetapi dalam menghadapi keadaan seperti saat
itu ia terpaksa menggunakannya. Karena dalam tempat itulah akan ditentukan nasib dunia
persilatan.
Dalam memutuskan membekal senjata itu atau tidak, ia harus mengadakan perdebatan
dalam hati. Akhirnya ia memutuskan untuk membekal dua belas batang kim-pa.
Dengan tegang ia menunggu setiap gerakan. Begitu si wanita telanjang muncul lagi,
segera akan ia tabur dengan kim-pa.
Tiba-tiba terdengar lengking suara tertawa wanita itu. Tetapi bukan dari sudut ruang
melainkan seperti dari belakang ruang.
“Ih, ih, kau hendak menggunakan senjata rahasia?”
Tay Hong yang sudah siap, begitu mendengar arah datangnya suara itu, cepat-cepat
menaburkan kim-panya. Kim-pa meluncur menimbulkan bunyi bersuit-suit yang tajam.
Cring! Kim-pa itu membentur dinding dan menyusup ke dalamnya.
Kecer emas atau kim-pa itu terbuat dari bahan baja murni yang lunak, Empat tepinya
tajam sekali. Sekalipun orang memiliki ilmu kebal Kim-ciong-toh, Thiat-poh-san dan lainlain
kekebalan, juga sukar untuk terhindar dari timpahan kim-pa tersebut!
Begitu selesaikan melontarkan sebuah kim-pa, tangannya kiripun sudah merogoh dua
buah kim-pa lagi.
Dari lain sudut ruang, terdengar suara seorang gadis berseru dengan nada dingin,
“Karena kau tak menyadari kesesatanmu, terpaksa aku pun tak mau banyak bicara lagi!”
Tay Hong menajamkan pandangan matanya tetapi tak tampak suatu apa. Agaknya
suara itu seperti berasal dari dalam tembok. Tay Hng tak mau menimpuk. Ia tegak berdiri
dengan bersiap-siap. Matanya diarahkan ke ujung ruang. Asal wanita telanjang itu muncul,
tentu segera akan disambut dengan taburan kim-pa.
Sayup-sayup terdengar suara berderakan. Dan ranjang batu di sudut dinding tampak
bergerak pelahan-lahan. Tak berapa lama, dari tengah ranjang batu muncul sebuah kimting
(tempat pedupaan dari emas). Setelah ranjang batu itu berhenti berputar, di
tengahnya tampak sebuah kim-ting. Besarnya tak kurang dari satu setengah meter. Kimting
itu berkepul-kepul memecahkan asap….
Sambil mengawasi kesemuanya itu, diam-diam Tay Hong sudah menetapkan rencana.
Jika alat-alat rahasia dalam ruang itu tak dihancurkan tentu sukarlah dirinya keluar. Begitu
ranjang berhenti berputar, iapun segera menghampiri. Takut kalau lantai terdapat alat-alat
rahasianya, ia berjalan dengan pelahan-lahan.
Tuan-tuan hidungnya membau bau harum semerbak dan seketika itu ia rasakan
kepalanya pusing, tubuhnya terhuyung-huyung mau jatuh.

Dan berbareng itu terdengarlah suara orang tertawa melengking, “Lekas lepaskan
senjatamu dan kau masih ada harapan hidup. Kau sudah menghirup racun wangi Cit-tokhiang
yang ganas.”
Pada saat Tay Hong hendak menyahut, tiba-tiba ia teringat. Jika ia bicara, racun wangi
itu tentu akan tersedot masuk ke dalam tubuhnya. Maka cepat-cepat ia menutup
pernapasan dan tak mau menjawab. Setelah itu ia kerahkan tenaga murni untuk
menghalau racun dalam tubuhnya!
Pada saat ketua Siau-lim-si itu sedang berjuang keras untuk menghalau racun, adalah
rombongan orang gagah yang berada di tengah lembah itu mulai sadara menunggu
kedatangan Tay Hong dan Siau Yau-cu yang sampai sekian lama tak kembali. Dengan
dipelototi Sin Cong tojin ketua Bu-tong-pay, rombongan orang gagah itupun segera
melangkah ke depan.
Baru beberapa belas langkah, tiba-tiba terdengar getaran keras. Dari kedua samping
dinding karang tiba-tiba meluncur keluar dua bilah papan besi yang menutup jalan.
Sin Cong tojin memperhitungkan bahwa ia mampu loncat melewati papan besi yang
tingginya hampir dua tombak itu. Maka setelah mengempos semangatnya, ia putar pedang
dan melambung ke atas. Cret, ia hinggap di puncak papan besi itu tak terdapat rintangan
suatu apa.
Dengan membolang-balingkan pedang selaku isyarat, ia berseru, “Di belakang papan
besi tak ada rintangannya. Silahkan saudara-saudara loncat ke atas papan ini!” habis
berkata iapun terus melayang ke bawah dan melangkah ke depan.
Kedua belah papan besi itu meskipun tak terlalu tinggi, tetapi licin dan tajam sekali. Jika
tak memiliki ilmu gin-kang yang tinggi, tak mungkin mampu berdiri di atas papan itu tanpa
terluka.
Ilmu silat itu memang tiada batasnya. Tak mungkin seseorang dapat menguasai
seluruhnya dengan sempurna. Ada yang hanya sakti dalam ilmu gin-kang, ada pula yang
mengutamakan kesempurnaan ilmu lwekang, ada yang hebat dalam ilmu gwa-kang
(tenaga luar), ada yang mempunyai pukulan sakti yang maut, ada yang sakti dalam ilmu
pedang, ada lagi yang tiada tandingannya dalam ilmu melepas senjata rahasia dan lainlain.
Rombongan orang gagah yang datang ke Beng-gak itu, demikian juga keadaannya.
Walaupun mereka terdiri dari tokoh-tokoh persilatan yang ternama, tetapi tidak semua
orang sakti dalam ilmu gin-kang atau meringankan tubuh. Karenanya hanya sebagian saja
yang mampu loncat melampaui papan besi itu. Kira-kira ada masih dua puluhan orang
yang tidak dapat mengutamakan ilmu tenaga luar (gwa-kang). Ilmu bermain senjata,
kebanyakan memerlukan ilmu gwa-kang yang tinggi.
Oleh karena tak mampu melompati, maka rombongan jago-jago gwa-kang itu segera
menggempur papan besi dengan senjatanya masing-masing. Seketika terdengar deburan
dahsyat macam gunung meletus….

Setelah melayang turun di tanah, Sin Ciong tojin segera lari ke muka. Pada saat ia
hendak keluar dari mulut lembah, tiba-tiba seorang nona baju merah menghadang di
jalan. Nona itu memanggul sebatang pedang dan tangannya mencekal sebuah hud-tim.
Begitu muncul dan membentak, nona baju merah itu terus menyerang Sin Ciong tojin
dengan pedangnya.
Sin Ciong tojin berlari cepat sekali, dan nona itupun muncul dengan mendadak.
Keduanya belum sempat melihat jelas masing-masing pihak. Pedang si nona menabur dan
pedang Sin Ciongpun melayang. Trang, tring, tring, terdengar dentring senjata beradu
keras. Setelah menghalau pedang si nona, Sin Ciong lancarkan serangan balasan sekaligus
tiga jurus.
“Hebat benar ilmu pedangmu, imam tua!” seru nona baju merah seraya tertawa. Iapun
mainkan pedang dengan gencar dan rapi. Bertubi-tubi ia menyerang sampai tiga belas
kali.
Tetapi Sin Ciong tojin adalah ketua dari partai Bu-tong-pay yang termasyhur dalam ilmu
pedang. Ia memang telah mencapai tingkat sempurna dalam ilmu pedang. Sekalipun
serangan si nona selebat hujan mencurah, namun tidak mampu mendesaknya mundur
setengah langkah sekalipun! Semua serangan dapat dihalaunya.
Pada saat kedua orang itu masih bertempur seru, rombongan orang gagahpun tiba.
Tapi karena lembah batu itu sempit sekali, maka sudah dipenuhi oleh baying-bayang
kedua orang yang bertempur itu sehingga rombongan orang gagah tak dapat member
bantuan.
Sambil bertempur, nona baju merah itu lepaskan pandangan pada sekalian orang
gagah. Serunya dengan tertawa, “Harap tuan-tuan bersabar menunggu giliran. Pintu
akhirat masih tetap terbuka menunggu kedatangan tuan-tuan. Sebaiknya dalam
menunggu giliran ini, tuan-tuan suka merenungkan kembali kepada masa muda yang lalu.
Di mana tuan-tuan tentu pernah mengalami peristiwa yang indah dan romantis….”
Sin Ciong tojin menggembor sekuatnya, “Siluman perempuan yang hina, jangan
mengoceh tak keruan!” pedang tiba-tiba berkilat dengan dahsyatnya.
Amukan ketua Bu-tong-pay itu mengejutkan sekalian orang gagah. Baru sekarang
mereka benar menyaksikan betapa hebat ilmu pedang Bu-tong-pay yang termasyhur itu.
Seketika tubuh si nona terbungkus oleh sinar pedang. Rupanya malu juga Sin Ciong
karena berhadapan dengan seorang nona tak terkenal saja, ia tak mampu menjatuhkan.
“Jika dia sampai mampu melayani aku seratus jurus, nama Bu-tong-pay tentu akan
merosot ditertawakan orang,” pikir Sin Ciong.
Maka setelah mengambil keputusan, ia kerahkan ilmu lwekangnya ke batang pedang.
Setiap tabasan dan gerakan pedangnya tentu mengandung hamburan lwekang yang hebat
keliwat-liwat.
Rupanya hal itu dimaklumi juga oleh si nona baju merah. Ia rasakan setiap sambaran
pedang lawan tentu menghambur tenaga hebat. Diam-diam ia menimang, “Rupanya imam

hidung kerbau ini sakti dalam ilmu pedang dan lwekang. Menilik gelagatnya, tipis
harapanku untuk mengalahkannya.”
Kini ia berganti siasat untuk bertahan diri. Di samping itu tak henti-hentinya ia
menggoda dengan ucapan-ucapan yang mengejek, “Imam tua, apakah kau sungguhsungguh
hendak mengadu jiwa dengan aku?”
Tetapi Sin Ciong tojin tak mau menggubris. Dia tetap curahkan seluruh perhatiannya
dalam serangan pedangnya. Serangannya pun makin lama makin dahsyat.
Setelah dapat bertahan sampai delapan sembilan jurus, mau tak mau akhirnya nona itu
merasa tak kuat juga. Lingkaran pedangnyapun makin lama makin menyempit kecil.
Bertempur dalam lembah batu yang sesempit itu memang sukar sekali. Gerak-geriknya
sangat terpancang, tak leluasa untuk berlincahan menghindar. Demikianlah pada pihak
yang menyerang. Segala jurus permainan yang sakti pun tak leluasa dikembangkan.
Ilmu kepandaian nona itu mempunyai gaya aneh dan penuh ragam. Tetapi ia tidak
leluasa untuk mengembangkan. Kebalikannya, ketua Bu-tong-pay itu memiliki lwekang
yang jauh lebih tinggi dari si nona. Ilmu pedangnyapun istimewa sekali.
Si nona rupanya menyadari kelemahannya.
Makin lama ia makin terdesak kewalahan.
“Lepas!” tiba-tiba terdengar Sin Ciong membentak keras. Pedang berkiblat menabas
lawan. Hebat dan cepatnya bukan seolah-olah.
Karena sempit dan kedua sampingnya terhalang karang, si nona tak mungkin
menghindar. Satu-satunya jalan hanya menyurut ke belakang. Tetapi karena cepatnya
pedang lawan, ia terpaksa menangkis.
Tring,,,, tubuh si nona melengkung, kaki menyurut mundur dua langkah. Pedang Sin
Ciong saling melekat dengan pedangnya. Dua kali ia berusaha untuk menghalau pedang
lawan tetapi tak berhasil.
Saat itu Sin Ciong tojin benar-benar sudah terangsang hawa pembunuhan. Dengan
tertawa seram, ia perkeras tekanannya dan berhasil mengendap turun dua tiga dim lagi.
Wajah si nona tampak pucat. Butir-butir keringat mulai mengambng di dahinya….
Saat itu perhatian sekalian orang gagah ditumpahkan pada adu lwekang yang
disalurkan melalui pedang antara Sin Ciong tojin dan si nona baju merah.
Dalam pada itu beberapa orang yang agak kurang tinggi gin-kangnya dan tak dapat
loncat ke atas papan besi, telah dibantu oleh kawan-kawannya dengan ditarik tambang.
Akhirnya merekapun berhasil melewati papan besi itu.
Sementara pedang si nona baju merah tampak makin lama makin menurun ke bawah.
Terpisah dari kepalanya hanya beberapa jari saja. Kepala nona itu sudah basah kuyup
dengan keringat begitu pula pakaiannya.

Tetapi Sin Ciong tojin sendiripun juga banyak mengeluarkan tenaga. Ubun-ubun
kepalanya menguap dan keringatpun mulai mengucur.
Siu-lam dan Hian-song yang menyaksikan adu lwekang itu, menarik kesimpulan bahwa
dalam beberapa saat kemudian, si nona baju merah tentu akan kalah….
Tiba-tiba dari belakang nona baju merah itu melesat sesosok bayangan. Gerakannya
macam burung walet meluncur dari udara.
“Hai, mereka hendak membantu…!” Hian-song berteriak terus enjot tubuhnya
menyongsong.
Suatu adegan yang mendebarkan telah terjadi. Pada saat pendatang itu melayang di
atas kepala kedua orang yang sedang bertempur, Hian-songpun sudah menebangnya. Jadi
Hian-song dan pendatang baru itu adu kesaktian di atas kepala kedua orang yang tengah
mengadu tenaga.
Tring… terdengar dering senjata beradu dan kedua sosok bayangan itupun masingmasing
mencelat ke belakang.
Setelah keduanya tegak di tanah, barulah sekalian orang mengetahui bahwa ternyata
yang digempur Hian-song itu si nona baju biru atau murid ke-satu dari ketua Beng-gak!
Siu-lam buru-buru menghampiri Hian-song; “Sumoay, apakah kau terluka?”
Si dara berpaling memberi senyum kepada pemuda itu, sahutnya, “Tidak!”
Si nona baju biru setelah berdiam diri sejenak untuk memulangkan napas, lalu berseru,
“Sumoay, harap mundur. Biar cici yang menghadapi mereka!”
Saat itu si nona baju merah atau murid ke-dua dari ketua Beng-gak sedang menderita
tekanan hebat dari ketua Bu-tong-pay. Walaupun mendapat perintah dari sucinya, tetapi ia
tak mampu melepaskan diri dari gencetan musuh….
Makin deras butir-butir keringat yang membanjir turun dari nona baju merah itu.
Napasnyapun terengah-engah dan pedang Sin Ciong tojin makin menurun sesenti demi
sesenti. Saat itu mata pedang hanya terpisah sejari tangan dari muka si nona.
Melihat sumoaynya terancam bahaya, cepat-cepat si baju biru mengeluarkan
senjatanya yang aneh seperti tanduk rusa, menyanggah pedang Sin Ciong.
Seketika pedang ketua Bu-tong-pay itupun macet tak mampu menurun lagi.
Si nona baju merah menghela napas longgar, serunya, “Toa-suci, apakah temponya
sudah cukup panjang?”
“Cukup,” sahut si nona baju biru, “kita mundur pelahan-lahan!”
Pembicaraan kedua nona itu terdengar jelas tetapi sekalian orang gagah tak mengerti
apa yang mereka maksudkan.

Sedang Sin Ciong tojinpun menimang dalam hati, “Ah, tenaga lwekang kedua nona ini
memang hebat. Jika kuteruskan adu kekuatan dengan mereka, kemungkinan aku tak
dapat bertahan lama.”
Secepat kilat, ketua Bu-tong-pay itu mengambil keputusan. Dengan kerahkan
tenaganya ia menyentakkan pedangnya dan bubarlah ketiga senjata yang saling melekat
itu….
Begitu lawan menarik pulang pedangnya, si nona baju merahpun cepat-cepat
menyelinap ke belakang toa-sucinya.
Saat itu rombongan orang gagah hanya terpisah dua-tiga meter dari mulut lembah.
Mereka hendak menyerbu ke dalam lembah itu.
Sambil memutar pedang untuk melindungi diri, sejenak Sin Ciong tojin berpaling ke
belakang. Ketika tampak rombongan orang gagah mengikutinya, diam-diam ia membatin,
“Karena Tay Hong siansu sudah masuk ke dalam lembah, saat itu rupanya mereka
mempercayakan pimpinan kepadaku….”
Semangat ketua Bu-tong-pay serentak menyala. Tanpa disadari pedang telah
dimainkan dalam jurus ilmu pedang simpanan partai Bu-tong-pay, yakni ilmu pedang
Thay-kek-hui-kiam yang hebat.
Tay-kek-hui-kiam merupakan ilmu pedang warisan dari partai Bu-tong-pay. Selain
mempunyai gaya dan gerak perubahan yang luar biasa anehnya pun mempunyai daya
kegunaan yang istimewa, yakni meminjam tenaga lawan untuk menghantam lawan. Ilmu
pedang itu sebetulnya khusus untuk menghadapi lawan yang lebih kuat. Ilmu pedang
yang dilambari dengan lwekang Im-ji-kang atau lwekang Im yang bersifat lunak.
Merupakan ilmu simpanan yang istimewa dari partai Bu-tong-pay. Setiap angkatan ketua
baru, hanya diajarkan kepada dua orang anak murid Bu-tong-pay. Ialah kepada ketua
partai dan murid yang dipandang paling cerdas dan berbakat atau kepada murid yang
telah berjasa besar kepada partai.
Setelah ketua Bu-tong-pay itu melancarkan tiga jurus berantai dari ilmu pedang Thaykek-
hui-kiam maka si nona baju biru menjadi kelabakan. Akhirnya terpaksa ia melolos
pedangnya juga. Sebelah tangan mencekal pedang, barulah ia dapat bertahan diri.
Sekalipun begitu ia tetap terdesak mundur.
Melihat betapa gencar dan dahsyat serangan pedang ketua Bu-tong-pay itu diam-diam
nona baju biru heran-heran kagum. Namun ia menghias kegentaran hatinya dengan
senyum simpul, “Aduh, tak kira kalau seorang imam tua hidung kerbau seperti kau
ternyata memiliki kepandaian yang begini hebat. Sayang kau seorang pertapaan, seumur
hidup tentuk takkan mencari isteri!”
Mulutnya menggoda, tetapi kedua senjatanya tetap bergerak makin seru untuk
menahan desakan pedang lawan.
“Kau anggap pinto ini orang apa? Masakan sudi bergurau dengan perempuan siluman
seperti macammu!” teriak Sin Ciong tojin dengan marah sekali seraya perhebat permainan
pedangnya.

Nona baju biru itupun mencurahkan seluruh kepandaiannya. Tetapi makin lama makin
merasa payah. Betapapun ia mengeluarkan jurus-jurus yang aneh dan istimewa, tetapi
selalu didahului oleh pedang lawan. Ia makin terkejut, pikirnya, “Ah, mengapa sedemikian
hebat ilmu pedang imam tua ini? Mengapa pedangnya selalu membayangi dan mendahului
gerak senjataku? Kalau pertempuran ini dilanjutkan, mungkin aku tak kuat bertahan
sampai seratus jurus….”
Tengah nona baju biru itu menimang-nimang bagaimana tindakan yang akan dilakukan
tiba-tiba dari belakang terdengar si nona baju merah berseru, “Toa-suci, barisan sudah
disiapkan. Lepaskan saja mereka dan cepatlah masuk!”
Si biru mengiakan terus buru-buru menyurut mundur. Tetapi ujung pedang Sin Ciong
tojin tetap membayangi dan menusuk ke dada nona itu.
Nona baju biru menghindar ke samping terus loncat mundur dan lari keluar lembah.
Sin Ciong tojin memburu sampai di mulut lembah. Dia tak mau terus mengejar si nona,
melainkan berhenti untuk menyelidiki keadaan di luar lembah itu.
Ternyata di luar lembah telah berjajar sebuah barisan dari anak buah Beng-gak yang
wajahnya dicontreng dengan macam-macam warna dan mengenakan pakaian yang anehaneh.
Si nona baju biru masuk ke dalam barisan itu.
Barisan orang-orang aneh itu mengenakan topi dan senjata-senjata yang berbentuk
aneh juga. Ada yang seperti tusuk garu, ada yang jarang digunakan orang persilatan.
Setelah adu kepandaian kedua nona tadi, kini Sin Ciong tojin tak berani memandang
rendah pada kekuatan Beng-gak. Ia tegak berdiri mengawasi barisan itu. Lebih dulu ia
hendak meneropong, barisan apakah yang dihadangkan lawan itu kemudian setelah
mengetahui namanya barulah ia menggempurnya.
Tetapi sampai beberapa jenak, belum juga ia mengetahui nama barisan itu. Jelas bukan
jenis barisan Pat-kwa-kiu-kiong-tin, bukan pula barisan Ngo-heng-seng-khik-tin. Ketua Butong-
pay yang sakti ilmu pedangnya itu benar-benar tak mengetahui barisan apa yang
dihadapinya itu.
Saat itu sekalian rombongan orang gagah sudah siap di luar lembah. Masing-masing
siap dengan senjatanya. Setiap saat akan menyerbu.
Dalam pada itu diam-diam si nona baju biru kerahkan semangatnya. Karena
lwekangnya tinggi, maka dalam beberapa saat saja ia sudah segar kembali. Sambil
membolang-balingkan senjatanya tanduk rusa, ia berseru melengking, “Imam hidung
kerbau, jangan bersikap sok tahu! Sekalipun kau mengawasi tiga hari tiga malam, tak
nanti mampu mengetahui rahasia barisan Ngo-kui-tin ini!”
Ngo-kui-tin berarti lima macam setan. Atas kata-kata si nona itu, Sin Ciong tojin seperti
disadarkan. Dari warna muka anggota barisan samar-samar ia dapatlah Sin Ciong
mengetahui sedikit rahasia barisan itu.
Kiranya manusia-manusia aneh yang menjaga barisan itu mukanya dilumuri bedak lima
macam warna. Karena bercampur baur untuk sesaat memang sukar dibedakan. Tetapi

setelah memperhatikan, barulah Sin Ciong tojin mengetahui bahwa wajah anggota barisan
itu terbagi atas warna merah, kuning, biru, putih, dan hitam.
Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat maju mendekati Sin Ciong tojin dan berbisik, “Apakah
totiang sudah mengetahui rahasia perubahan barisan itu?”
Wajah ketua Bu-tong-pay itu agak kemerah-merahan. Ia gelengkan kepala dan
mengatakan belum.
“Jika kita terus-menerus hanya menghadapi saja, kiranya kurang menguntungkan.
Jumlah orang kita hampir seimbang dengan mereka. Sekalipun kita terkurung di dalam
barisan, rasanya kita masih dapat bertahan. Kita tetapkan rencana, setiap orang
menghadapi seorang musuh, jangan berganti lain musuh. Sekalipun barisan Ngo-kui-tin itu
banyak sekali perubahannya, tetapi asal satu demi satu kita bayangi terus, masakan
mereka mampu bergerak!” kata Tio Hong-kwat.
Diam-diam Sin Ciong tojin menimang. Saat itu sekalian orang gagah sudah siap tempur.
Jika ia mencegah, kemungkinan akan menimbulkan rasa tak puas mereka. Akhirnya ia
memberi komando.
“Karena saudara-saudara ingin menyerbu barisan mereka, pintopun tak dapat
menghalangi. Tetapi sampai saat ini pinto belum dapat mengetahui bagaimana rahasia
barisan itu. Maka dalam penyerbuan nanti, sebaiknya kita pecah menjadi lima kelompok
yang satu dengan yang lain harus saling dapat memberi bantuan!” kata ketua Bu-tong-pay
itu.
Kemudian ia mengangkat pedang dan berseru nyaring, “Hayo, kita serbu!”
Yang paling tak sabar lagi adalah rombongan anak murid Siau-lim-si. Mereka benarbenar
mencemaskan ketua mereka yang berada di dalam sarang musuh. Maka begitu
mendengar komando Sin Ciong, merekapun serentak bergerak menerjang!
Tiba-tiba jumlah delapan belas orang imam jubah merah menyelinap keluar dari
samping kanan Sin Ciong tojin. Mereka masing-masing menghunus golok kwat-to. Dan
dari samping kiri ketua Bu-tong-pay itupun muncul lagi delapan belas orang imam jubah
kuning dengan membawa tongkat sin-ciang. Kedua barisan imam itu dengan wajah
bengis, melangkah maju.
Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat dengan mencekal pit di tangan kiri dan tangan kanan
memegang pedang, pun segera menempati di tengah kedua barisan.
It-ciang-tin-sam-siang Ngo Cong-han, Tui-hong-tiau Ngo Cong-gi, Kiu-sing-tui-hun Kau
Ciu-hiong, It-pit-boan-thian Kat Thian-beng dan Thian Hong totiang segera mengikuti di
belakang Tio Hong-kwat.
Kedua jago pedang dari partai Ceng-shia-pay Siong Hong dan Siong Gwat, Thian Heng
totiang dari partai Kun-lun-pay, bersama lima belas tokoh sakti lainnya juga menyerbu ke
muka.
Sin Ciong tojin beserta anak murid Bu-tong-pay, Sin-kun Pek Co-gi jago tua dari Tibet
dan yang lainnya tetap berada di luar barisan.

Demikian rombongan orang gagah segera mulai bergerak. Yang pertama-tama bentrok
dengan barisan orang Beng-gak adalah kedua barisan paderi Siau-lim-si. Segera terjadi
pertempuran gempar, golok menyambar-nyambar dan tongkat menderu-deru….
Begitu tiba, Tio Hong-kwat segera menyerang seorang musuh yang mengenakan
pakaian hitam. Ia sabatkan pedang dengan jurus Hwat-jo-hun-coa sedang pit lurus
menusuk dada.
Manusia aneh berpakaian hitam itu, tenang-tenang mengangkat garu baja untuk
menangkis. Tring, tring terdengar dua buah benturan keras….
Tio Hong-kwat terkejut. Diam-diam ia berpikir, “Orang ini hanya salah seorang anak
buah Beng-gak yang tergolong kerucuk, tetapi tenaganya sudah sedemikian hebat!”
Tetapi Tio Hong-kwat tak sempat menimang lebih lanjut karena saat itu si orang aneh
baju hitam sudah lancarkan serangan balasan sampai tiga kali. Terpaksa ia putar pedang
dan pit untuk menangkis. Sehabis itu, ia menyurut mundur dua langkah. Memindahkan
pedang ke tangan kiri dan tangan kanannya merogoh sebatang pedang pandak dari dalam
baju.
Pedang pandak itu berkilat-kilat tajam. Jelas dari bahan baja murni yang terpilih. Setiap
batang pedang tangkainya diberi alat pelindung tangan. Alat itu diikat dengan tali kawat
yang halus.
Pada saat Tio Hong-kwat mengeluarkan senjata baru itu, Ngo Cong-han dan Ngo Conggi
menyelinap dari samping kanan-kirinya, terus menyerbu ke muka.
Tetapi berbareng dengan itu, dari barisan Beng-gak pun melesat seorang manusia aneh
berpakaian merah. Dengan golok kui-thau-to ia menyambut kedatangan musuh.
Terjadi bentrokan hebat antara Tio Hong-kwat dengan si orang aneh baju merah.
Keduanya sama-sama melayang di udara. Tio Hong-kwat mainkan senjata pitnya dalam
jurus Ki-hong-teng-ka (burung cenderawasih melambung naga menjulang).
Orang aneh baju merah itu menyapu dengan goloknya. Terdengar dering senjata
beradu keras dan kedua orang itupun sama-sama melayang turun ke tanah.
Pada saat melayang itu, Tio Hong-kwat sempat memperhatikan seorang aneh baju
kuning tengah memandangnya lekat. Orang aneh baju kuning itu mencekal sepasang
tombak panjang. Tampaknya orang itu siap hendak menyerang.
Melihat itu cepat-cepat Tio Hong-kwat empos semangatnya. Sekali menggeliat ia
melambung ke udara lagi. Sepasang pedang pandak yang berada di tangan kanan, tibatiba
ditaburkan.
Manusia aneh baju kuning tadi, telah kehilangan arah pandangannya karena lawan (Tio
Hong-kwat) meluncur turun. Apalagi di sekelilingnya penuh dengan hamburan senjata
kawan-kawannya yang sedang bertempur dengan rombongan lawan. Dering gemerincing
suara senjata saling beradu, telah memekakkan telinganya ia tak dapat menangkap
sepasang pedang pandak yang dilepas Tio Hong-kwat. Tahu-tahu punggungnya tersusup
ujung pedang. Sakitnya bukan kepalang….

Ternyata Tio Hong-kwat berhasil menusuk punggung orang aneh baju kuning itu. Ia
gunakan ilmu Cian-kin-tui (memberatkan tubuh) meluncur turun sambil memutar pit di
tangan kiri untuk melindungi diri. Begitu menginjak tanah cepat ia sentakkan tangan
kanan dan pedang yang bersarang di punggung si orang baju kuning menyembur darah
dan orangnyapun segera rubuh.
Kiranya sepasang pedang pandak Tio Hong-kwat itu diikuti dengan tali kawat yang
halus. Begitu ditaburkan, dapat ditarik kembali lagi.
Ada sesuatu yang mengherankan Tio Hong-kwat. Yang sekaligus terkena tusukan maut
dan rubuh, tetapi orang baju kuning itu sepatahpun tak mengeluarkan rintihan.
Melihat seorang kawannya rubuh, orang baju merah yang bertempur dengan Tio Hongkwat
tadi segera menyerbu lagi. Ia hantamkan golok menabas kepala Tio Hong-kwat
dengan jurus Thay-san-ya-ting. Berbareng itu mulutnya bersuit-suit aneh. Suitan itu
rupanya sebuah komando. Karena sesaat kemudian barisan Ngo-kui-tin segera bergerakgerak….
Tring, Tio Hong-kwat menangkis dengan pit. Tetapi ketika pit beradu dengan golok, ia
rasakan tangannya bergetar. Diam-diam ia terkejut atas tenaga orang yang sedemikian
kuatnya.
Tetapi sebelum orang baju merah itu menyusuli lagi serangan yang kedua, barisan
Ngo-kui-tin sudah mulai bergerak-gerak merobah formasinya. Buru-buru orang baju merah
itu menerjang masuk. Seorang kawannya yang berbaju biru, ikut menerjang sambil
tusukkan ujung garu kepada Tio Hong-kwat.
Tio Hong-kwat gunakan jurus Ji-hong-si-pit untuk menangkis lalu menyerang dengan
jurus Siau-ci-thian-lam. Tetapi habis menyerang orang baju biru itu terus melesat ke
samping. Tusukan pit Tio Hong-kwat telah disambut oleh seorang baju hitam. Begitu Tio
Hong-kwat menangkis dan balas menyerang, orang itupun sudah melesat mundur dan
diganti oleh lain kawannya.
Gerak menyerang dan menghindar secara bergantian itu telah dilancarkan dengan rapi,
cepat dan dahsyat. Gerak-gerak mereka seperti rantai yang tak henti-hentinya melibat
lawan.
Tio Hong-kwat yang berada dalam barisan musuh di bagian paling dalam sendiri, telah
menderita tekanan yang paling berat. Didapatinya barisan Ngo-kui-tin itu bergerak dengan
cepat dan rapat sekali. Setiap anggota barisan yang terdiri dari manusia-manusia aneh
berpakaian warna-warni itu, masing-masing memiliki kepandaian yang sakti.
Saat itu Tio Hong-kwat benar-benar dalam keadaan yang sulit. Kepungan barisan Ngokui-
tin.
Bahkan untuk berkisar ke kanan-kiri saja ia tak mempunyai kesempatan lagi.
Pertempuran itu telah berlangsung beberapa saat dan Tio Hong-kwat tak tahu entah
sudah melayani beberapa banyak lawan. Tetapi yang jelas ia terpancing di tempat tak
dapat bergerak karena terkepung rapat oleh barisan Ngo-kui-tin.

Dalam pertempuran itu makin lama makin terasa suatu keanehan. Di antara lima
macam warna muka orang-orang aneh itu, hanya yang bermuka dan berbaju merahlah
yang tak henti-hentinya bercuit-cuit seperti suara tikus. Tetapi mereka yang berbaju
kuning, biru, putih dan hitam, tampaknya seperti orang gagu semua.
Sin Ciong tojin yang mengawasi pertempuran itu, terkejut karena mendapatkan
rombongan kawan-kawan tak dapat menerobos barisan musuh. Ia mendapat kesan bahwa
anggota-anggota barisan Ngo-kui-tin itu sakti-sakti semua. Rupanya mereka sengaja
diperintah untuk menghadang masuknya rombongan orang gagah ke dalam lembah.
Dalam pada itu tampak si nona baju biru dan baju merah tetap berada di tengah
barisan tetapi tak ikut turun tangan.
Makin memperhatikan, Sin Ciong makin mendalam kesannya, bahwa anggota-anggota
Ngokui-tin itu ternyata bukan sembarang tokoh. Jelas mereka itu tergolong jago-jago sakti
kelas satu. Apalagi mereka telah dilebur dalam sebuah kesatuan barisan yang dahsyat.
Pembawaannya sudah tentu hebat bukan kepalang!
“Apakah mereka anak murid Beng-gak? Ah, kalau benar anak buah Beng-gak
sedemikian saktinya, memang sukar memenangkan Beng-gak,” ia menimang dalam hati.
Tiba-tiba dari belakang barisan, muncul seorang gadis baju putih sembari mengempit
senjata giok-ci. Ia menghampiri si nona baju biru dan setelah membisiki beberapa patah
kat, lalu muncul ke samping.
Nona baju biru mengangguk lalu mengangkat senjatanya tinggi-tinggi ke atas.
Sekonyong-konyong barisan Ngo-kui-tin itu menyiak ke kanan dan ke kiri. Mereka berbaris
dengan rapi pada kedua samping. Di tengah-tengah terbuka sebuah jalan.
Si nona baju biru segera ayunkan langkah melintasi jalan itu. Sementara si nona baju
merah dan si baju putih segera mengikuti di belakangnya.
Rombongan orang gagahpun terpaksa hentikan serangannya. Kira-kira dua tiga meter
jaraknya, si nona baju biru berhenti. Serunya, “Paderi tua Siau-lim-si itu, sudah terjeblos
dalam ruangan Hwe-lun-tian. Lalu siapakah yang menjadi pimpinan rombongan kalian?”
Sekalian orang memandang kepada ketua Bu-tong-pay. Sin Ciong totiang tertegun. Ia
merasa, sekalian orang gagah secara resmi belum memintanya menjadi pimpinan.
“Sudahlah, jangan banyak aksi,” tiba-tiba si nona baju biru melengking tertawa,
“anggap saja kau yang menjadi gantinya pimpinan rombonganmu!”
Sin Ciong tojin tampil ke muka dan membentaknya, “Pinto tak pernah bergurau, harap
nona bicara yang sopan agar jangan dipandang sebagai perempuan rendah!”
Si nona baju biru itu malah tertawa mengikik, “Sebenarnya aku memang bukan seorang
gadis pingitan. Boleh saja kau hendak mengatakan apa saja!”
“Apa yang nona hendak katakan, silahkan,” kata Sin Ciong tojin.

Sejenak nona itu memandang kepada sekalian orang gagah kemudian berkata, “Kedua
orang tua bangka dan paderi tua itu sudah terjeblos dalam ruang pelebur Hwe-lun-tian
dan sedang menderita siksaan….”
Tiba-tiba kata-kata nona itu terputus oleh kaum serempak dari sekalian paderi Siau-limsi
yang mengucapkan doa keselamatan untuk ketua mereka.
Betapapun dingin dan kejam hati si nona baju biru, namun ketika mendengar
rombongan paderi itu melantangkan doa-doa keagamaan, tak urung hati nuraninya
tersentuh juga.
Doa itu berlangsung beberapa saat. Selama itu Siu-lam termenung-menung. Sejak
terjadi pertempuran dengan barisan Ngo-kui-tin, ia tetap tidak mau turun tangan. Kiranya
ia sedang bingung memikirkan sesuatu, yakni tentang peta Telaga Darah yang ada pada
Hian-song. Ia tak mau ikut menyerbu karena kuatir dara itupun akan ikut. Jikalau sampai
tertawan Beng-gak, bukankah peta pusaka itu akan jatuh juga ke tangan musuh?
Pertimbangan-pertimbangan inilah yang menyebabkan ia tertegun tidak ikut bergerak.
Hian-songpun juga ikut diam.
Setelah nyanyian pemanjatan doa itu selesai, hati Siu-lam pun ikut tenang. Entah
bagaimana semangat keperwiraannya timbul seketika. Ketika memandang ke muka
dilihatnya kawanan orang aneh dari barisan Ngo-kui-tin itu tiba-tiba jadi hiruk-pikuk
seperti orang kebingungan.
Melihat itu si nona baju biru terkejut. Wajahnya berubah seketika. Untunglah nyanyian
itu segera berhenti sehingga kegelisahan orang-orang aneh itupun sirap juga.
Tiba-tiba ketua Bu-tong-pay mencabut pedang dan bersuit nyaring, “Tay Hong siansu
adalah paderi saleh yang berilmu tinggi, mana kita dapat merelakan dia berkorban untuk
kita? Jika nona tidak ada lain urusan, pinto segera hendak menerobos barisan!”
Si nona baju biru tertawa, “Bagaimana gerak perubahan Ngo-kui-tin, kiranya kalian
tentu sudah melihatnya. Dengan kepandaian yang kalian miliki, tentulah sukar untuk
menerobosnya. Tetapi….”
“Tetapi bagaimana?” sambut Sin Ciong.
“Tetapi sekarang tak perlu kalian berkelahi lagi.”
“Pinto tak percaya kalau tak mampu menerobos Ngo-kui-tin,” seru Sin Ciong. Tapi
diam-diam dalam hati ketua Bu-tong-pay itu masih meragu. Walaupun selama
memperhatikan pertempuran tadi ia sudah menemukan cara untuk memecahkannya,
tetapi ia belum yakin penemuan itu akan berhasil.
Kembali nona baju biru itu tertawa melengking, “Guru telah mengeluarkan perintah,
mengutus kami bertiga saudara mengantar kalian ke ruang Hwe-lun-tian!”
Diam-diam ketua Bu-tong-pay tercekat hatinya. Menilik sikap dan nada bicara nona itu
begitu longgar, ia kuatir jangan-jangan Tay Hong siansu, Su Bo-tun dan paman gurunya
Siau Yau-cu benar-benar sudah terjebak dalam perangkap mereka. Tetapi ketua Bu-tongpay
itu tak mau mengunjuk kegelisahannya. Dengan lantang ia menyahut, “Jangankan

hanya sebuah ruang Hwe-lun-tian yang kecil sekalipun golok hutan pedang, akupun tidak
gentar. Silahkan nona membawa kami ke sana!”
Demikian ketiga nona itu segera berjalan diikuti oleh rombongan orang gagah. Setelah
melintasi barisan Ngo-kui-tin dan sebuah padang rumput yang panjang, tibalah mereka di
muka sebuah pintu batu yang bertulisan tiga huruf Seng-si-bun (pintu kematian).
Begitu memasuki pintu itu, seketika pemandangannya berubah. Kawanan manusia aneh
yang berjajar menjaga pintu itu, sudah tak tampak. Suasananyapun tak menyeramkan
lagi.
Mereka memasuki sebuah ruang besar dari batu marmer hijau. Pada kedua samping
ruang itu, berjajar delapan orang gadis baju putih tak memakai sepatu. Masing-masing
mencekal sebatang golok tipis bian-to.
Begitu pintu gedung dibuka, ruangan dalam penuh dengan lilin yang mengepulkan asap
tebal sehingga keadaan dalam ruang itu tak kelihatan jelas. Kedelapan gadis baju putih itu
segera mundur.
Nona baju biru terus melangkah ke dalam ruang. Tetapi begitu tiba di tengah,
bayangannya lenyap ditelan kemelut asap.
Nona baju merahpun segera mengikuti sucinya. Tiba di tengah ruang, tiba-tiba ia
berpaling dan menghentikan langkah. Dengan kebut pertapaannya ia mengebut-ngebut
asap yang menyelubungi dirinya. Sepintas pandang, seolah-olah seperti seorang dewi
kahyangan yang turun dari awan.
Si nona baju putih begitu melangkah masuk ke pintu segera berpaling dan berkata
pada rombongan orang gagah, “Setelah masuk pintu Seng-si-bun, harap kalian masuk ke
ruang Hwe-lun-tian ini!”
Jilid 18
SAMBIL ayunkan langkah perlahan-lahan, diam-diam Sin Ciong totiang memperhatikan
keadaan ruang itu dengan seksama. Tetapi asap yang menyelubungi ruang itu tebal sekali
sehingga apa yang berada di situ tak begitu jelas.
Siu-lam pun mengikuti dí belakang ketua Bu-tong-pay. Ketika lewat di muka si nona
baju putih Bwe Hong-swat, tiba-tiba tubuh nona itu berputar melintas cepat di
hadapannya. Seketika Siu-lam rasakan sebuah tangan halus telah menjamah tangannya.
Pemuda yang cerdik itu cepat-cepat menyambut tangán si nona, dan ah… benarlah.
Kiranya nona itu telah menyusupkan dua butir pil sebesar kedele ke dalam tangannya. Dan
secepat menyerahkan pil, Bwe Hong-swat terus menyelinap lenyap dalam lautan asap.
Sin Ciong mencabut pedangnya dan membolang-balingkan untuk melindungi diri.
Tindakan itu diikuti oleh semua orang gagah.
Tiba-tiba terdengar suara menggelegar keras. Ternyata pintu gedung Hwe-lun-tian
telah menutup sendiri.

Saat itu hanya separoh dari rombongan yang masuk. Yang separoh masih tertinggal di
luar gedung.
Sin Ciong tojin membolang-balingkan pedangnya ke udara. Itulah pertandaan dari
partai Bu-tong-pay. Anak murid Bu-tong-pay yang berada di belakang, cepat segera
mengatur diri dalam barisan Ngo-heng-kiam-tin.
Asap makin lama makin tebal sehingga menyerupai halimun pegunungan di pagi hari.
Dan mulailah terasa hawa yang lembab-lembab basah.
Tiba-tiba dari sudut ruang yang tertutup kabut asap itu terdengar suara seorang wanita
melengking, “Lekas lepaskan senjatamu dan duduk bersila mendengar keputusanku. Jika
berani membangkang, jangan salahkan aku bertindak ganas!”
Nada suara melengking nyaring bagaikan bunyi burung kenari yang sedap didengar.
Asup tebal sekali sehingga Sin Ciong tojin yang berusaha untuk menajamkan
pandangan matanya tetap gagal untuk mengetabui siapa wanita itu.
Tiba-tiba penerangan lilin di ruang itu padam serempak. Gelap pekat tiada taranya.
Tiba-tiba Siu-lam teringat akan pil pemberian si nona baju putih tadi. Sejenak ia merayu.
Pil itu hanya dua butir. Kepada siapakah hendak ia berikan?
Tiba-tiba sebuah tangan halus mencekal lengannya dan disusul dengan suara Hiansong
yang halus, “Engkoh Lam, apakah kau takut?”
“Tidak!”
Dengan manja Hian-song rapatkan tubuhnya kepada Síu-lam seraya berbisik bahagia,
“Asal bersama engkau, aku tidak takut segala apa!”
Siu lam mendengus. Pada saat ia hendak bicara, tiba-tiba serangkum angin bertenaga
kuat melanda dari belakang.
Dalam tempat dan keadaan segelap itu, satu-satunya alat penjagaan diri hanyalah
telinga. Arah datangnya serangan atau gangguan lawan, hanya dapat diperhitungkan
melalui penangkapan telinga.
Sebenarnya Siu-lam dapat menghindar ke samping. Tetapi ia tak berbuat begitu,
melainkan sabetkan pedangnya ke belakang. Seketika terdengarlah jeritan ngeri. Entah
siapa, tetapi jelas pedangnya telah memakan satu korban.
Sesungguhnya ketika menyabetkan pedang tadi, Siu-lam sudah menginsyafi akibatnya.
Dalam keadaan pekat itu, kemungkinan pedangnya akan memakan jiwa seorang kawan
sendiri. Tetapi pedang sudah terlanjur disabetkan. Tak mungkin ditariknya kembali….
Ia baru terkejut ketika mendengar jeritan yang begitu ngeri. Korban tebasannya itu,
jika tidak mati tentu akan terluka parah.
Síu-lam menyesal sekali. Tiba-tiba terdengar suara gemerincing senjata beradu.
Rupanya telah terjadi pertempuran seru antara rombongan orang gagah melawan orangorang
Beng-gak.

Siu-lam segera empos semangatnya dan curahkan seluruh perhatiannya. Tetapi asap di
dalam ruangannya sedemikian tebalnya hingga jari-jari tangannya sendiri tidak dapat
terlihat, ia tak dapat melihat siapa bertempur dengan siapa. Yang didengarnya hanyalah
senjata saling beradu!
Kembali terdengar dua kali jeritan ngeri. Dan tetap ia tidak mengetahui siapakah
korban yang jatuh itu. Diam-diam ia mengeluh. Musuh tahu terang, tetapi fihaknya tak
dapat melihat musuh. Jika mereka melancarkan serangan dahsyat, rombongan orang
gagah tentu akan terancam bahaya kemusnahan. Demikian kecemasan yang mulai
mencekam hati Siu-lam.
Dari arah sudut ruangan, kembali terdengar suara wanita tadi melengking, “Kuberi
kalian waktu sepeminum teh lamanya. Jika tidak mau membuang senjata dan menyerah,
kalian semua akan kubinasakan, saat itu kalian hendak menyerah sudah tak dapat
kuterima lagi!”
Tiba-tiba terdengar sebuah suara teriakan yang lantang, “Asap dalam ruangan ini tebal
sekali, harap saudara-saudara hentikan serangan!”
Siu-lam mengenal suara itu sebagai suara Sin Ciong totiang. Ia membisiki Hian-song,
“Memang suasana ruang ini gelap sekali. Bahkan jari-jemari kita sendiri tak dapat
melihatnya. Apabila musuh menyuruh dua tiga orangnya untuk mengacau di tengah ruang
ini, kemungkinan kita akan berantam dengan kawan sendiri!”
Hian-song tertawa, “Tetapi walaupun lebih gelap lagi, aku tetap melihat kau.”
Dalam saat dan tempat yang dikuasai iblis-iblis maut itu, mudahlah orang tergetar
hatinya. Siu-lampun segera memeluk si dara erat-erat.
Apakah Hian-siong tersipu-sipu malu atau berseri girang, Siau-lam tak dapat melihat.
Tapi yang dirasakan nyata, dara itu susupkan mukanya ke dadanya seraya berbisik,
“Engkoh, kemungkinan kita tak dapat keluar dari sini lagi. Asap yang berhamburan ini
mengandung racun!”
“Hai, bagaimana engkau tahu?”
“Dalam asap ini kucium bau yang harum. Karena bau harum itu halus sekali, maka
seorang tentu sukar merasanya…”
“Tetapi mengapa kau dapat merasakan?”
“Dahulu ketika aku masih tinggal bersama kakek, memang pernah membaui semacam
wewangian halus seperti ini. Ketika itu kakek tak di rumah, maka aku segera lari ke dalam
biliknya dan membuka kotak besinya. Ternyata dalam kotak itu terdapat beberapa macam
bunga yang sudah kering. Bau harum halus itu berasal dari bunga-bunga itu. Hanya saja
bau yang sekarang ini lebih halus lagi maka tadi aku tak dapat lekas-lekas
mengenalnya….”
Dara itu menghela napas longgar, katanya pula, “Sekarang karena aku berada di
sampingmu, sekali tahu bahwa kita segera akan mati, tetapi sedikitpun hatiku tak gentar?”

“Sumoay, cobalah kau baui lagi yang seksama, apakah kau tak salah?”
Hian-song mengangkat kepala dan mengemasi rambutnya lalu berkata, “Tidak salah
lagi.”
Siu-lam pun mencobanya. Ah, benarlah. Ia rasakan dalam asap itu mengandung bau
harum yang halus. Serentak timbullah kemarahan Siu-lam. Jika asap itu benar
mengandung racun harum, celakalah sekalian orang gagah yang berada dalam ruang itu.
Serentak ia hendak berteriak memperingatkan rombongan orang gagah. Tetapi pada lain
saat ia teringat akan pil pemberian Bwe Hong-swat. Apakah pil itu bukan untuk menolak
racun? Jika aku berteriak, dikuatirkan tentu akan menyulitkan nona Bwe….
Sesungguhnya ia tidak mempunyai ikatan apa-apa dengan Bwe Hong-swat. Tetapi
entah bagaimana, seringkali ada sesuatu perasaan yang timbul dalam hatinya, bahwa
nona baju putih itu benar-benar telah menjadi isterinya seperti yang mereka ucapkan di
bawah sinar rembulan dahulu.
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berseru melengking, “Ketika masuk ke dalam
lembah ini, sebenarnya kalian sudah menghisap racun yang membaur dari padang bunga.
Tetapi racun itu memang lambat sekali jalannya. Dua belas jam kemudian baru terasa.
Tetapi sekarang kalian telah menghisap racun yang lebih hebat dari asap di sini. Setelah
kedua jenis racun itu bercampur, jangan harap kalian mampu tertolong lagi. Jika tak
percaya, cobalah kalian menyalurkan napas atau cobalah menyedot dengan hati-hati,
adakah dalam asap itu tidak terbaur bau harum yang halus!”
Mendengar itu sekalian orang gagah hentikan usahanya untuk menjebol pintu besi.
Mereka berusaha untuk menenangkan diri.
“Ya, benar, memang asap ini mengandung racun halus. Kata-kata orang tadi memang
tak bohong!” teriak Hian-song dengan lantang.
Setelah mendapat penegasan dari dara itu barulah sekalian orang mempercayai.
Mereka segera menyedot napas. Ah, benarlah. Dalam asap itu memang mengandung bau
harum yang halus.
Demikianpun yang dirasakan Sin Ciong tojin. Ia merasakan sesuatu yang berlainan
dalam dadanya. Namun ia tak mau mengakui, karena dikuatirkan sekalian orang akan
menjadi panik.
“Kita harus lekas-lekas keluar dari ruang ini. Mari kita kerahkan seluruh kepandaian kita
untuk menggempur ruangan ini!” serunya dergan nyaring.
Rombongan anak murid Bu-tong-pay segera bersiap dalam barisan Ngo-heng-tin.
Sambil menjaga kedatangan musuh, mereka telah mengeluarkan api untuk menerangi
ruangan itu.
Rornbongan orang gagahpun mengeluarkan kipas untuk menghalau asap di
sekelilingnya. Kini keadaan ruang itu agak tenang.
Pada saat itu tiba-tiba Siu-lam rasakan kepalanya pening. Buru-buru ia telan sebutir pil
pemberian Bwe Hong-swat itu. Kiranya karena untuk membuktikan kata-kata Hian-song,

tadi ia telah menyedot agak keras, sehingga racun yang masuk dalam tubuhpun lebih
banyak.
Setelah minum pil, tubuhnya terasa panas. Tanyanya kepada Hian-song, “Sumoay,
apakah kau tahu cara untuk menyembuhkan racun asap itu?”
Hian song menggeleng, “Tidak tahu! Ketika kubuka kotak kakek dan terkena racun
bunga, kakek segera datang dan menolongku. Tetapi aku harus beristirahat beberapa hari
baru sembuh betul. Kakek memperingatkan agar aku jangan memasuki kamarnya dan
membuka barang-barangnya lagi.
Harapan Siu-lam untuk menolong rombongan orang gagah tak tercapai. la menghela
napas, dan suruh si dara minum pil yang sebutir.
Saat itu setelah ruangan terang, rombongan orang gagah segera mengatur diri sejak
menggempur barisan Ngo-kui-tin dan terjadi kekacauan ketika ruangan gelap, rombongan
paderi Siau-lim-si telah kehilangan dua orang yang luka dan seorang yang mati.
Rombongan murid Bu-tong-pay hanya menderita dua orang yang luka.
Kini murid Siau-lim-si telah membentuk barisannya Lo-han-tin pula dan murid Bu-tongpay
siap dengan barisan Ngo-heng-tin.
Sambil membolang-balingkan pedang, Sin Ciong totiang berseru nyaring, “Sudah berani
mengundang mengapa tak berani unjuk diri? Jika masih main mengumpat, ruang Hwe-luntian
ini akan kami hancurkan….”
Tiba-tiba dari sudut ruang terdengar suara seorang perempuan melengking, “Ruang
Hwe-lun-tian ini terbuat dari baja yang kokoh. Jika ampuh, silahkan kalian
menggempurnya….”
Dengan pendengarannya yang tajam dapatlah Sin Ciong membedakan bahwa suara
wanita itu bukanlah wanita yang tadi.
Tio Hong-kwat berbisik kepada Sin Ciong, “Kita telah terjebak dalam perangkap
mereka. Bila bertempur, kita tentu lebih menderita. Sebaiknya kita berusaha untuk keluar
dari ruang ini!”
“Benar!” sahut Sin Ciong tojin, “tetapi aku tak dapat menemukan cara untuk
membobolkan tembok ruangan ini. Apakah mempunyai cara yang bagus?”
Tio Hong-kwat tertegun, “Ah, saat ini aku belum menemukan cara untuk
menggempurnya. Tetapi baiklah totiang memberitahukan pada sekalian saudara untuk
berusaha keluar dari sini!”
Jawab Sin Ciong, “Jika asap ini benar mengandung racun, kitapun sudah kemasukan
racun. Jika mundur dari sini, kemungkinan juga tidak terdapat obat. Daripada begitu, lebih
baik kita menyerbu masuk dan bertempur sampai detik terakhir dengan siluman
perempuan itu!“
Ngo Cong-han mendukung pernyataan ketua Bu-tong-pay itu.

Setelah merenung sejenak, ketua Bu-tong-pay itu berseru nyaring, “Asap dalam ruang
ini kemungkinan memang mengandung racun. Kita hanya mempunyai dua jalan.
Menggempur dan keluar dari ruangan ini atau beramai-ramai menyerbu musuh!”
Habis berkata ketua Bu-tong-pay itu terus memutar pedang dan menyerbu ke sudut
ruang dari mana suara lengking wanita tadi berasal.
Saat itu korek api yang disulut rombongan orang gagah sudah hampir separo yang
padam. Hanya tinggal empat atau lima batang saja.
Begitu melihat pemimpinnya bergerak, barisan anak murid Bu-tong-pay pun segera
bergerak mengikuti. Begitu pula sekalian orang.
Sebenarnya Sin Ciong tojin seorang yang cermat dan hati-hati. Tetapi dalam saat dan
tempat seperti itu, ketenangan pikirannya mulai goyah. Dia hendak mencari orang Benggak
untuk memaksanya supaya memberitahukan rahasia keluar darí ruangan itu. Atau
kalau ketemu dengan ketua Beng-gak, hendak ia terjang mati-matian.
Tetapi di sudut, ruang, ia tak menemukan barang seorang musuhpun juga. Ketiga nona
anakmurid Beng-gak itu entah Ienyap kemana!
Untuk menumpahkan kemarahannya, Sin Ciong hantamkan pedangnya ke dinding. Dia
seorang tokoh yang bertenaga sakti. Pedangnyapun sebuah pedang pusaka yang dapat
menabas logam. Tetapi anehnya dinding ruangan itu sama sekali tak bergeming.
Sekalian orang gagahpun menghampirí. Dengan menggembor sekuat-kuatnya, delapan
belas paderi jubah kuning serempak ayunkan tongkatnya menghantam dinding. Terdengar
ledakan dahsyat dan percikan bunga api, tetapi dinding itu tetap tangguh.
Tiba-tiba terdengar lengking tertawa dingin dari lain sudut, “Jika aku tak keluar untuk
bertempur, mungkin kalian tak dapat mati dengan meram….”
“Benar!” teriak Sin Ciong tojin, “jika kau dapat mengalahkan kami dengan kepandaian,
barulah kami benar-benar tunduk. Menang karena menggunakan segala macam akal
muslihat busuk, bukankah laku seorang kesatriya!”
Suara melengking itu menyahut, “Karena kalian berkeras hendak melihat aku, baiklah.
Tetapi barang siapa melihat wajahnya, hanya dua pilihan. Kesatu, dia harus mati. Kedua,
harus masuk menjadi anak buah Beng-gak dan tak boleh berkhianat….”
Sin Ciong membentak, “Hm, kau melupakan sebuah kemungkinan lagi. lalah, suatu adu
kesaktian yang akan dapat memutuskan siapa yang lebih unggul dan harus mati dulu!”
Tiba-tiba asap dalam ruangan itu lenyap. Ruang tampak jelas keadaannya.
Dengan tenang, ketua Bu-tong-pay itu berseru kepada sekalian orang gagah, “Entah
menang entah kalah, tetapi kita memang mempunyai harapan tipis bisa keluar dari Benggak
sini. Di daerah Kang-lam dan Kang-pak dan di luar perbatasan, kemungkinan memang
masih banyak okoh-tokoh sakti yang bersembunyi. Tetapi berpuluh-puluh tahun ini tokohtokoh
sakti yang terdapat di dunia persilatan hanyalah kita yang ada sekarang ini.”

Ucapan ketua Bu-tong-pay itu sangat berkenan dalam hati sekalian rombongan.
Memang yang aktif dan ternama dalam daerah masing-masing, hanyalah anggota-anggota
yang ikut serta dalam rombongan yang datang ke Beng-gak itu.
Kata Sin Ciong lebih lanjut, “Asap dalam ruangan ini tadi mengandung racun. Dan
karena kita berada agak Iama di sini, tentulah sudah kemasukan racun itu.”
Sekalian orang memandang ke arah ketua Bu-tong-pay itu dengan pandang
kehampaan.
Sin Ciong menghela napas, “Jika kita binasa di sini, dunia persilatan tentu akan
mengalami perobahan. Sayang bahwa kepandaian sakti dari saudara-saudara sekalian,
ikut lenyap!”
“Karena waktunya tak banyak, maka harap totiang lekas memberitahukan bagaimana
rencana totiang,” seru Kau Cin-hong.
Sin Ciong totiang berkilat-kilat memandang ke arah Siu-lam dan Hian-song. Tampak
kedua anak muda itu berdiri berdampingan. Wajahnya kemerah-merahan dan matanya
meram seperti orang yang mabuk arak. Ketua Bu-tong-pay itu kerutkan dahi. Dia
menghela napas pelahan. Wajahnya mengunjuk rasa putus asa….
Ketika berpaling, ia melihat dua pemuda yang berada di belakang Kat Thian-beng.
Segera ia menghampirinya, “Apakah kedua anak muda ini, putera saudara?” tanya kepada
Kat Thían-beng.
Kat Thian-beng mengiakan. Walaupun disertai dengan tertawa, tetapi diam-diam
hatinya berduka. Karena orang yang datang ke Beng-gak situ kebanyakan tentu seorang
diri. Hanya dia sendiri yang membawa kedua puteranya. Dengan begitu ludaslah ayah dan
anak….
“Kat-heng mempunyai berapa putera?”
Pertanyaan ketua Bu-tong-pay itu bagaikan ujung pisau menyayat hati Kat Thian-beng.
Jago tua itu menghela napas pelahan, “Memang puteraku hanya dua oranrg itu!”
Hubungan antara ayah dan anak adalah seperti mata dengan kaki. Apabila sang kaki
terluka, mata tentu ikut mengucurkan air mata sedih. Kat Thian-beng yang gagah perkasa,
akhirnya harus mengusap air mata yang mulai menitik di pelupuknya….
Melihat itu Kat Wi dan Kat Hong segera menghibur ayahnya, “Harap ayah jangan
berduka. Anak berdua tak takut mati….”
Mendengar pernyataan kedua puteranya itu, tiba-tiba Kat Thian-beng tertawa terbahak.
“Bagus puteraku. Kalian tak kecewa menjadi putera keluarga Kat yang gagah perkasa.
Ayah dan anak bisa mati bersama, memang suatu kematian yang gemilang!”
Tiba-tiba Sin Ciong tojin menutuk jalan darah kedua pemuda itu. Sudah tentu Kat
Thian-beng terkejut sekali, “Eh, apa maksud totiang?”

Wajah ketua Bu-tong-pay berobah serius. la memandang kepada rombongannya, “Saat
ini kita semua sudah terkena racun. Sekalipun belum tentu seperti yang dikatakan oleh si
perempuan siluman bahwa kita hidup hanya beberapa jam saja tetapi jelas hari ini kta
memang sukar keluar dari sini….”
Sekalian orang mendengar ucapan ketua Bu-tong-pay itu dengan penuh perhatian.
Sin Ciong tojin menghela napas pula, “Pinto mempunyai dua butir pil kim-tan. Pil ini
adalah pusaka warisan dari partay Bu-tong-pay. Entah terbuat dari bahan apa tetapi
khasiatnya seperti pil dewa yang dapat menghidupkan orang yang hampir mati, dapat
memunahkan segala macam racun. Sayang pil itu hanya kubawa dua butir sedang yang
terluka sekian banyak orang. Maka pil ini akan kuberikan pada anak muda yang berbakat
bagus dan berotak terang…!”
“Ah, mana bisa? Lebih baik totiang sendiri saja yang meminumnya!” Kat Thian-beng
berseru kaget.
Tetapi ketua Bu-tong-pay itu tak menghiraukanya. Memandang kepada rombongan
orang gagah ia berkata pula, “Kedua putera saudara Kat ini, termasuk yang paling muda
sendiri di antara kita. Mereka mempunyai bakat bagus dan pribadi yang perwira. Pinto
hendak meminumkan pil ini pada mereka. Mudah-mudahan kedua pemuda itu dapat lebih
kokoh tenaga dalamnya. Tetapi saudara-saudara harus menyetujui sebuah syaratku agar
ilmu kepandaian saudara-saudara jangan sampai lenyap!”
Kini sekalian orang mengerti apa yang dimaksud Sin Ciong tojin. Tetapi mereka tak
berani berkata apa-apa.
Ketua Bu-tong-pay itu kemudian mengeluarkan dua butir pil dari botol kumala lalu
memasukkannya ke dalam mulut Kat Wi dan Kat Hong.
Kat Thian-beng terharu sekali sehingga mengucurkan air mata.
“Pinto akan menulis ilmu simpanan dari Bu-tong-pay, baik ilmu silat tangan kosong,
ilmu pedang maupun pukulan Bian-ciang di atas baju ini.” Sin Ciong tojin merobek lengan
baju dan dengan peniti ia menulis di atasnya. Dengan tenaga dalam yang hebat, dapatlah
ketua Bu-tong-pay itu mengerjakan semua rencananya.
Sekalian orang tergerak hatinya melihat tindakan Sin Ciong tojin itu. Merekapun segera
mengikuti. Ada yang merobek lengan baju dan menulis dengan ujung senjatanya. Ada
pula yang menuliskan thiat-pit (pena baja) pada tangkai pedang dan lain-lain.
Dalam beberapa kejap di hadapan kedua anak muda Kat Wi dan Kat Hong telah
bertumpuk seonggok robekan baju, tangkai pedang dan ikat kepala.
Setelah itu, Sin Ciong tojin gunakan tenaga sakti, tempelkan tangannya ke punggung
kedua anak muda yang masih pingsan itu. la salurkan Iwekang ke tubuh mereka.
“Toheng, biarlah kubantumu!” tiba-tiba Bu-ing-sin-kun Pek Co-gi jago tua dari Tibet
menghampiri. Dan tanpa tunggu jawaban Sin Ciong ia segera lekatkan tangannya pada
punggung Kat Hong.

Berkat Iwekang kedua tokoh yang sakti itu, dalam beberapa kejap saja kedua anak
muda itu dapat sadar kembali.
“Harap kalian berdua jangan bicara dulu. Salurkanlah darahmu untuk menyambut
saluran Iwekang pinto. Pinto akan membantu kalian untuk menembus jalan darah penting
dalam tubuh kalian!”
Kedua pemuda itu memandang kepada ayahnya. Tampak Kat Thian-beng dengan
wajah bersungguh-sungguh menyuruhnya segera menurut perintah Sin Ciong tojin.
Kat Hui dan Kat Hong pun segera mengerahkan lwekangnya untuk menyambut saluran
lwekang kedua tokoh tua itu.
Bluk! Tiba-tiba terdengar dua sosok tubuh berjatuhan ke lantai. Ketika sekalian orang
berpaling, ternyata yang jatuh itu adalah Siu-lam dan Hian-song.
Golok Sakti Lo Kun segera menghampirinya dan ketika hendak mengangkat tubuh
mereka tiba-tiba terdengar gelak tertawa melengking memenuhi ruang. Ketika
mamandang ke sudut ruang, ternyata di situ telah muncul empat wanita yang berpakaian
empat macam warna.
Karena sudah menumpahkan perhatian pada Kat Hui dan Kat Hong serta terkejut atas
rubuhnya Siu-lam dan Hian-song, maka mereka tak tahu kemunculan keempat wanita itu.
Pada saat Sin Ciong tojin tengah menyalurkan Iwekang ke tubuh Kat Hui, sekalian
orang diam-diam menganggap Thian Hong siansu sebagai pimpinan. Karena paderi itu
diam saja. Sekalian orangpun tak berani bicara.
Keempat wanita itupun maju menghampiri rombongan orang gagah. Yang tiga orang
ternyata si nona baju merah, baju biru, dan si putih Bwe Hong-swat. Tetapi yang seorang
lagi mengenakan pakaian warna hitam, begitu pula wajahnya tertutup kerudung hitam.
Perawakan wanita misterius itu lebih tinggi dari ketiga nona. Suara ketawa melengking
tadi, berasal dari wanita itu juga.
Begitu keempat wanita itu hampir tiba, Kat Thian-beng loncat menerjangnya dengan
senjata thiat-pit.
Si nona baju merah yang mengawal di sebelah kanan si wanita, tertawa dingin terus
loncat menyongsong Kat Thian-beng dengan kebut hud-tim berbareng itu tangan kanan
mencabut pedang dan ditusukkan ke dada orang.
Thiat-pit dan pedang susul-menyusul datangnya Kat Thian-beng yang sudah merasa
berterima kasih kebaikan Sin Ciong tojin mcnolong kedua puteranya, telah membulatkan
tekadnya. Dengan mengembor keras, ia benturkan thiat-pitnya kepada kebud si nona.
Nona berbaju merah tertawa dingin. Kebud disentakkan keatas untuk melibat thiat-pit
sedang pedang digerakkan dengan jurus Keng-hong-hwi atau burung hong kaget
meninggalkan rumpun alang-alang. Pedang berkilat laksana kilat.
Terlibat oleh kebut, pedang Kat Thian-beng tak dapat seketika bergerak. Jika ia
menghindari pedang si nona, ia harus lepaskan thiat-pitnya.

Kat Thian beng tak mempunyai banyak waktu untuk merenung. Cepat-cepat ia
lepaskan pedang dan Ioncat mundur. Tetapi nona baju merah ítu setelah kebutkan thiatpit,
dengan tertawa melengking ejek segeria mengejar, “Huh, hendak lari kemana kau?
Maju selangkah, pedang dimainkan dalam jurus Coan-hun-ki-gwat atau menembus
awan mengambil rembulan. Bagaikan kilat menyambar pedang berkiblat menusuk dada.
Saat itu belum saja Kat Thian-beng berdiri tegak atau pedang sudah hampir melekat
dadanya. Dalam kejutnya ia hantamkan tangan kanan dengan pukulan Tou-ping-boangwat
atau bintang membentur bulan.
“Huh, kau masih berani melawan?” dengus nona baju merah itu. Pedang tiba-tiba
dirobah dengan jurus Lan-ho cay-tou atau Bintang bima sakti menjatuhkan bintang.
Pedang tiba-tiba menabas.
Uh… terdengar orang tertahan disusul dengan muncratnya darah merah. Separoh
lengan kiri jago she Kat itu terpapas kutung.
Tetapi jago tua itu dengan keraskan hati, gerakkan tangan kanan menghantam dengan
jurus Pit-to-hong-liong atau Menyogok naga kuning.
Kenekadan orang she Kat itu membuat si nona baju merah yang berhati ganas mau tak
mau menjadi terkesiap juga….
Duk… karena tertegun, dada si nona termakan tinju Kat Thian-beng. Seketika nona itu
terhuyung mundur dua langkah!
Mendapat hasil, Kat Thian-beng menggembor keras dan maju dua laugkah untuk
menyodokkan tinjunya yang masih lempang kemuka tadi ke dada si nona. Ia bergerak
dengan cepat dan keras.
Tetapi ternyata si nona baju merah lebih cepat lagi. Kisarkan tubuh ke samping, pedang
diputar dan tiba-tiba di papaskan ke atas.
Uh!…. Kembali terdengar jeritan tertahan dari mulat Kat Thian-beng. Lengan
kanannyapun terpapas kutung!
Tetapi entah dengan kekuatan apa, jago she Kat itu tidak mengerang dan tidak rubuh.
Bahkan seperti orang yang kerasukan setan, setelah kedua lengannya kutung, sekonyongkonyong
ia ayunkan kaki kanannya dengan ilmu tendangan Gai-sing-thi-tou atau bintang
pagi berjumpalitan. Dengan sekuat tenaga ia tendang perut si nona.
Nona baju merah itu berkerut alis dan tertawa dingin, “Benar seorang jago yang gagah
perkasa!”
Kata-kata itu ditutup dengan menyapukan kebutnya ke kaki lawan. Begitu kaki Kat
Thian-eng terpental, nona itu segera susuli dengan tusukan pedang ke dada.
Cres! .. ujung pedang menusuk dada terus tembus sampai ke punggung. Namun orang
she Kat itu pantang berteriak. la hanya mengerang perlahan lalu menyurut mundur dan
rubuh ke ataa tanah.

Kat Thian-beng jago yang termasyhur dengan senjata thiat-pit (pena baja), terpaksa
mesti mengakhiri hidupnya secara mengenaskan.
Adalah karena racun asap itu maka Khat Thian-beng menderita kekalahan dari si nona
berbaju merah.
Buru-buru Sin Ciong tojin menotok pinggang Kat Hong dan Kat Wi lagi. la kuatir karena
melihat ayahnya meninggal secara begitu mengenaskan, kedua pemuda itu akan
terpengaruh sehingga darahnya meliar dan menderita apa yang dikata Co-hwe-jip-mo atau
tubuhnya rusak menderita aliran darah yang liar.
Setelah Kat Thian-beng meninggal, baru]ah Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat
menggembor dan menerjang dengan pedangnya. Memang pengaruh racun itu menjadikan
pikiran sekalian orang gagah menjadi tumpul.
Si nona baju merah tertawa dan berpaling, “Ji sumoay, kau saja yang membereskan!”
Si putih Bwe Hong-swat mengiakan. Sekali melesat ia menyongsong Tio Hong-kwat.
Tring, tring terdengar benturan senjata tajam dan Tio Hong-kwatpun tersurut mundur
beberapa langkah….
Sekalian orang gagahpun mengikuti Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat manyerbu. Mereka
segera disambut oleh si nona baju biru dan baju merah. Tetapi si wanita berkerudung kain
hitam tegak berdiri mengawasi saja.
Ketliga nona murid Beng-gak itu berkepandaian sakti. Dengan bahu membahu, mereka
bertiga dalam membendung serbuan lawan. Pertempuran lawan berlangsung seru sekali.
Senjata macam tanduk rusa dari si nona baju biru, tampaknya mengganas dengan hebat!
Tring, tring, tring, tak henti-hentinya terdengar gemerincing senjata beradu. Beberapa
saat kemudian terdengar jerit orang tertahan dan seorang murid Siau-lim-si telah terbelah
dua oleh senjata si nona baju biru.
Sin Ciong tojin mengawasi pertempuran itu dengan hati dingin. Walaupun serangan
rombongan orang gagah cukup dahsyat, tetapi mereka lebih mirip dengan kerbau gila
daripada jago persilatan yang menyerang dahsyat. Hal itu menandakan bahwa racun
dalam tubuh mereka sudah mulai bekerja.
Diam-diam ketua Bu tong pay itu menggigil….
Ia menghela napas. Sambil putar pedangnya ia berbisik kepada kedua jago Ceng-siapay
ialah kedua saudara Siong Hong dan Siong Gwat totiang, “Apa yang toheng berdua
rasakan saat ini?”
“Hatiku agak berdebar tak tenang…” jawab Siong Hong totiang.
“Harap toheng tenangkan semangat dulu. Setelah itu harap memberitahukan pinto.
Nanti Kita bersama-sama menyerbu….”

Tiba-tiba terdengar dua buah jeritan ngeri. Dua orang gagah dalam rombongan, telah
rubuh.
“Omitohud!” terdengar ucapan doa melantang. Serempak terdengarlah nyanyian
memanjatkan doa untuk kedua korban yang jatuh itu.
Nyanyian itu telah membangkitkan semangat anak murid Siau-lim-si. Mereka
menyerang dengan cepat dan dahsyat. Terpaksa lain-lain orang gagah menyingkir ke
samping memberi jalan.
Munculnya gelombang serangan barisan Siau-lim-si itu dapat mencegah amukan ketiga
nona.
Adalah karena rombongan orang gagah itu terhadang oleh ketiga nona dan ada
beberapa yang terbunuh maka kepala barisan Siau-lim-si segera lantangkan doa kemudian
terdengar nyanyian-nyanyian doa dari dalam kitab suci. Ayat dan doa yang dinyanyikan itu
membangkitkan kerelaan semangat berkorban untuk kepentingan lain orang. Mendekatkan
akan hakiki dari kematian dengan kehidupan. Mati adalah seperti pulang ke rumah asal.
Dengan semangat yang telah diisi itu, barisan Lo-han-tin segera bergerak dengan
mantap.
Ke tigapuluh enam paderi Siau-lim-si itu merupakan murid angkatan kedua dari Siaulim-
si. Mereka berkepandaian tinggi. Begitu pula barisan Lo han-tin itu merupakan barisan
Siau-lim-si yang paling dibanggakan. Penuh dengan perobahan-perobahan yang sukar
diduga dan variasi yang mengagumkan.
Melihat perbawa barisan Lo han-tin, timbullah semangat Sin Ciong tojin. Dengan
lwekang yang hebat, ia dapat menekan menjalarnya racun dalam tubuhnya.
Sambil membolang-balingkan pedang, ia berseru lantang kepada anak murid Bu-tongpay,
“Barisan Lo han-tin sudah bergerak. Tapi cara bertempur dahsyat itu akan
mempercepat bekerja racun. Sekali racun mengembang, tak mungkin terobati Iagi….”
Ketua Bu-tong-pay itu menghela napas, kemudian ia berbisik-bisik memberi pesan
kepada anak murid Bu-tong-pay. Setelah itu ia berpaling dan bicara beberapa saat dengan
jago Ceng-sia-pay Siong Hong dan Sing Gwat, kemudian dengan jago tua dari Tibet Pek
Co-gi. la bicara pelahan sekali sehingga lain orang tak dapat menangkapnya.
Hanya yang tampak, saat itu anak murid Bu-tong-pay, kedua jago Ceng-sia-pay, Buing-
sin-kun Pek Co-gi segera duduk bersemedhi.
Sementara Sin Ciong tojin pun segera bekerja. la mengumpulkan warisan ilmu
pelajaran silat dari beberapa tokoh yang ditulis pada tangkai pedang, robekan baju dan
lain-lainnya itu. Lalu dibagi dan dibungkus jadi dua bungkusan. Kemudian iapun duduk
bersemedhi.
Tak berselang beberapa saat, tiba-tiba Sin Ciong tojin rubuh lebih dulu. Setelah itu
berturut-turut rubuhlah Bu-ing-sin-kun Pek Co-gi, kedua jago Ceng-sia-pay dan anak murid
Bu-tong-pay. Mereka menggeletak malang-melintang di lantai. Ada yang rubuh terlentang,
ada yang miring, dan ada pula yang tengkurap sehingga menimbulkan kesan kalau
pekakas dalam tubuhnya hancur karena keracunan….

Karena melihat mereka rubuh, diam-diam Kau Cin-hong heran, “Eh, mengapa mereka
begitu mudah terjungkal!? Apakah mereka tak mampu menahan bekerjanya racun?”
Seketika ia nekad. tetapi serempak dengan itu matanya terasa berkunang-kunang. Ah,
ia pun hampir tak kuat bertahan lagi. Dengan menggembor keras, ia taburkan senjatanya
Kiu-mo-ci-hoat atau gelang jari sembilan. Lontaran itu dilambari dengan sisa tenaganya
dan ditujukan pada si wanita berkerudung kain hitam!
Tetapí sehabis melempar, ía sendiripun rubuh. Sebaliknya si wanita berkerudung itu
acuh tak acuh ayunkan tangannya menampar. Senjata Kiu-mo-ci-hoan itupun terlempar
jatuh.
Sehabis menampar, wanita berkerudung itu tiba-tiba melengking nyaring dan
melambung ke udara. la melayang melampau barisan Lo-han-tin dan rubuh di depan Kau
Cin Hong. Begitu menginjak lantai, ia segera menampar. Huak… Kau Cin-hong menyembur
darah segar dan rubuh terkapar!
Sekalian orang gagah yang tengah menyalurkan darah untuk menekan racun, begitu
dengar jeritan Kau Cin-hong, mereka segera loncat menyerbu wanita berkerudung itu.
Tiba-tiba wanita berkerudung menyingkap kain kerudungnya, “Kalian sudah terkena
racun. Jangan harap dapat hidup lama. Lekas buang senjatamu dan menyerah. Nanti akan
kuberi kalian masing-masing sebutir pil pemunah racun. Percuma saja kalian hendak
berusaha untuk menekan bekerjanya racun itu….”
Ia menutup kata-katanya dengan membuka pakaian hitamnya.
Pada saat wanita itu menyingkap kain kerudung, seketika tercenganglah sekalian orang
gagah ketika melihat sebuah wajah yang cantik gemilang. Dan pada waktu mendengar
lengking suara wanita itu, mereka pun seperti mendengar bunyi seruling nafiri. Lebih-Iebih
ketika wanita itu melolos pakaiannya, seketika terbanglah semangat mereka….
Insan manusia atau seorang bidadarikah yang berada di hadapan mereka itu? Begitu
indah jelita wajahnya, sedemikian sempurna setiap lekuk potongan tubuh wanita itu.
Darah mereka terasa mendidih, senjata-seniata yang mereka pegangpun serasa lunglai.
Hamburan darah yang menggelora keras dalam tubuh mereka membuat racun lebih cepat
bekerja.
Tiba-tiba terdengar jeritan ngeri dan seorang paderi Siau-lim-si terbelah kepalanya oleh
si nona baju biru. Menyusul empat orang paderi Siau-lim-si mati di bawah pedang si nona
baju merah dan biru.
Jeriran-jeritan ngeri mengandung lengking tertawa dari kedua nona itu. Sedang si nona
baju putih tetap berwajah dingin. Sepatahpun dia tak mengucap, juga tak tertawa.
Sepasang giok-ci dari nona baju putih itu bertebaran kian kemari untuk menggasak
rombongan murid Siau-lim-si. Tetapi anehnya, setiap kali hampir mengenai tubuh lawan,
cepat-cepat ia tarik kembali sehingga tiada seorangpun yang dilukainya!

Barisan Lo-han-tin yang menjadi kebanggaan gereja Siau-lim-si dan diagungkan
sebagai barisan yang tak mungkin dihancurkan, ternyata saat itu menjadi porak-poranda!
Banyak paderi Siau-lim-si yang terluka. Bahkan yang mati sudah mencapai jumlah dua
belas orang.
Si nona baju biru dan merah itu ganas sekali. Setiap menyerang tentu mengarah bagian
tubuh orang yang berbahaya. Banyak murid Siau-lim-si yang menjadi korban
keganasannya.
Memang pada saat pertempuran itu berlangsung, racun dalam tubuh paderi-paderi
Siau-lim-si itu sudah mulai bekerja. Kepala mereka pening, mata berkunang dan kaki
tangannya lemas. Sudahlah tentu mereka menjadi makanan yang empuk bagi kedua nona
yang ganas itu….
Kedua nona itu bergerak dengan cepat. Dalam beberapa kejap saja, ketigapuluh enam
anggota barisan Lo-han-tin itu sudah diganyang habis semua!
Walaupun pakaiannya yang putih berlumuran darah, tetapi Bwe Hong-swat tak melukai
seorang lawanpun juga.
Pemandangan saat itu benar-benar merupakan suatu penjagalan yang ngeri. Tubuh
manusia malang-melintang menggeletak di lantai tanpa kepala, tanpa kaki atau tangan
dan lain-lain atau anggota tubuhnya. Sin Ciong tojin yang pura-pura menggeletak mati,
hampir saja tidak kuat menahan kemarahannya. Hampir saja ia hendak loncat menerjang
kedua nona ganas itu. Tetapi syukurlah ia masih dapat menahan hatinya….
Selesai membasmi barisan Lo-han-tin, ketiga nona itu segera menyerbu rombongan
orang gagah lainnya.
Pedang berkelebat, darah disertai gumpal potongan daging manusia berhamburan.
Jeritan ngeri susul-menyusul. Dalam beberapa kejap, tujuh, delapan orang telah
terganyang!
Tiba-tiba terdengar wanita berpakaian hitam tadi tertawa melengking. Kemudian ia
hentikan pertunjukannya yang cabul, lalu menyerang rombongan orang gagah. Secepat
dengan gerak tusukan jari dan pukulan tangannya, maka terdengarlah jeritan ngeri dan
jatuhnya tubuh susul-menyusul.
Memang saat itu racun di dalam tubuh rombongan orang gagah itu sudah bekerja.
Mereka tak berdaya menangkis. Gerakan mereka hanya sekedar bergerak saja. Sama
sekali tidak menunjukkan tata silat.
Kalau Sin Ciong tojin masih dapat menahan kemarahannya, tidak demikian dengan
kedua jago Ceng-sia-pay. Seketika Siong Hong dan Siong Gwat tojin hendak melenting
bangun. Untung cepat-cepat Sin Ciong tojin mencegahnya. Walaupun meramkan mata,
tetapi ketua Bu-tong-pay itu tetap mencurahkan perhatian pada keadaan di sekelilingnya.
Begitu melihat kedua imam dari Ceng-sia-pay itu hendak bergerak, iapun segera
mendahului menggamit tubuh mereka.
Siong Hong tersadar. Diam diam ia mengeluh dan menyesal atas tindakannya yang
kurang sabar itu.

Dengan gunakan ilmu suara Coan-bi-jip-im Sin Ciong tojin menyusupkan suara kepada
kedua jago Ceng-sia-pay itu, “Tunggu begitu pintu ruangan ini terbuka, pinto dan Pekheng
akan menerjang. Dan to-yu berdua harap menggotong kedua anak muda itu
mengikuti keluar. Barisan Ngo-heng-tin dari Bu-tong-pay akan bertugas buat menahan
musuh!”
Dia gunakan Cian-li-jip-bi (ilmu menyusupkan suara). Kecuali Pek Co-gi, Siong Hong,
Siong Gwat dan murid-murid Bu-tong-pay, lain-lain orang tak dapat mendengarnya.
Suasana dalam ruang Hwe-lun-tian saat itu sunyi seperti sebuah kuburan. Rombongan
orang gagah hancur berantakan di bawah pedang kedua nona baju merah dan biru atau si
wanita berkerudung. Beberapa orang yang belum sempat ditanyai, pun karena bekerjanya
racun, sudah jatuh sendiri!
Sin Ciong tojin mencuri sebuah kesempatan untuk melirik ke sekeliling. Dilihatnya
mayat rombongannya bergelimpang mandi darah. Tubuh mereka banyak yang tak utuh.
Diam-diam ketua Bu-tong-pay itu menghela napas duka.
Sejenak memandang sekeliling ruang, tiba-tiba wanita berkerudung itu berseru keras
suruh ketiga muridnya berhenti. Kemudian ia tertawa mengekeh.
“Buka pintu dan suruh mereka bersihkan ruangan ini. Yang belum mati, jebloskan ke
penjara dan tunggu keputusan!” serunya. Tetapi si nona baju biru membantah,
“Kemungkinan di antara mereka ada yang bersiasat pura-pura mati. Maksud murid, lebíh
baik habisi saja mereka semua!”
Wanita berkerudung itu merenung sejenak, lalu katanya, “Benar, memang tentu ada
yang pura-pura mati. Begitu pintu terbuka tentu akan gunakan kesempatan untuk lolos….“
Sejenak ia sapukan pandangan ke segenap penjuru. kemudian tertawa dingin, “Tetapi
sekalipun dapat melarikan diri, jangan harap mereka dapat melintasi rintangan. Mereka
kebanyakan jago silat ternama. Satu saja diberi hidup tentu akan menimbulkan kesulitan
di belakang hari.”
“Jika begitu, silahkan suhu beristirahat. Biarlah murid berdua yang menyelesaikan di
sini,” kata si nona baju biru….
Si wanita berkerudung mengangguk lalu melangkah pergi dari ruangan.
Pada saat Bwe Hong-swat mengantar kepergian suhunya itu, ia menggunakan
kesempatan untuk menendang tubuh Siu-lam dan Hian-song. Sebelumnya ia telah
memperhatikan arah jalan dalan kedua pemuda itu. Maka tanpa melihat lagi, dengan tepat
ia telah dapat menendang jitu jalan darah untuk menyadarkan kedua pemuda itu.
Karena jalan darah Seng-si-hian-kwan sudah terbuka, maka Hian-songlah yang lebih
dulu cepat sadar. Baru Bwe Hong-swat berjalan beberapa langkah saja, Hian-song sudah
sadar dan membuka mata.
Tetapi dara itu baru pertama kali menyaksikan sekian banyak mayat malang-melintang
secara mengerikan. Maka tidak urung ia merasa ngeri dan buru-buru pejamkan mata lagi.
Rasa ngeri itu menyebabkan jalan darahnya mengalir deras sehingga semangatnya malah
bertambah segar.

Sejenak kemudian ia membuka mata dan memandang kepada Siu-lam. Dilihatnya
pemuda itu mulai berkedip-kedip seperti mau membuka mata. Buru-buru Hian-song
mencekal tangan kiri pemuda itu dan terus menyalurkan lwekangnya.
Begitu mendapat saluran tenaga sakti, cepat sekali Siu-lam sudah membuka mata.
Pada saat ia hendak loncat bangun, tiba-tiba si dara membisikinya, “Engkoh Lam, jangan
terburu-buru dulu. Lekas salurkan tenaga dalammu. Kemungkinan kita akan bertempur!”
Siu-lam menjabat tangan si dara yang mencekal pergelangan tangannya sebagai tanda
terima kasihnya.
“Engkoh Lam, apakah sesungguhnya kau suka padaku?” tanya si dara dengan kemalumaluan.
Sudah tentu Siu-lam tergetar hatinya. Sesaat ia tak dapat menjawab apa-apa. Tiba-tiba
pada saat itu terdengar pintu berderit-derit terbuka. Segumpal sinar matahari, meningkah
ke dalam.
Tiba-tiba terdengar Sin Ciong tojin berteriak keras dan loncat bangun terus menerjang
ke pintu. Tindakan itu disusul oleh Bu-ing-sin-kun Pek Co-gi yang begitu loncat bangun
terus lepaskan dua buah pukulan. Tenaga pukulan yang tak kelihatan itu meluncur ke arah
si nona baju biru dan baju merah. Tahu-tahu kedua nona itu merasakan dadanya empek
dan terpaksa mundur dua langkah.
Dan habis melancarkan pukulan, Pek Co-gi pun segera loncat ke udara dan melayang
ke pintu besi. Secepat kaki hendak menginjak tanah, ia sudah lepaskan pukulan Bu-ingsin-
kun lagi ke arah delapan gadis baju putih yang bersenjata golok bian-to….
Siong Hong dan Siong Gwatpun loncat bangun. Yang satu menggendong Kat Wi, yang
satu memanggul Kat Hong. Setelah menyusupkan buntalan kain yang berisi ilmu pelajaran
silat dari rombongan orang gagah yang berada dalam ruang itu, mereka segera berlari
menuju ke pintu.
Begitu melihat Sin Ciong tojin bergerak, semangat Hian-song pun menyala. Cepat-cepat
ia loncat bangun. Tetapi ia lupa kalau masih mencekal pergelangan tangan Siu-lam. Tanpa
disadari karena loncat bangun itu, Hian-song menggunakan tenaga besar sehingga Siulam
peringisan setengah mati. Napas pemuda itu terengah-engah menahan sakit.
Sesaat kemudian barulah dara itu menyadari. Buru-buru ia lepaskan cekalannya.
Saat itu si wanita berkerudung baru tiba di ujung ruang dan belum sempat melangkah
masuk ke dalam pintu rahasia. Ia agak terkejut melihat perubahan mendadak itu. Cepat
berpaling, tertawa dingin lalu lambaikan tangan kiri memberi isyarat Bwe Hong-swat
membantu kedua sucinya. Dia sendiri menekan ke atas tembok dan seketika terbukalah
sebuah pintu. Cepat-cepat ia masuk ke dalam. Jelas bahwa ia tak memandang mata sama
sekali akan mengamuknya ketua Bu-tong-pay dan beberapa kawannya itu.
Saat itu si nona baju biru dan baju merah sudah bertempur dengan barisan Ngo-hengtin
dari anak murid Bu-tong-pay.

Ngo-heng-tin dari Bu-tong-pay dan Lo-han-tin dari Siau-lim-si merupakan dua buah
barisan sakti yang termasyhur. Betapapun sakti kedua nona itu, namun dalam waktu yang
singkat mereka sukar juga membobolkan barisan Ngo-heng-tin itu. Apalagi anak murid Butong-
pay tak bersungguh-sungguh bertempur. Sambil bertempur mereka mundur.
Tujuannya hanya mencegah kedua nona itu menghalang ketua Bu-tong-pay meloloskan
diri.
Sedangkan Sin Ciong tojin saat itupun sudah bertempur melawan kedelapan nona baju
putih. Bu-ing-sin-kun Pek Co-gie, Siong Hong dan Siong Gwat tak ikut turun, melainkan
pejamkan mata memulangkan semangat.
Begitu melihat anak murid Bu-tong-pay bergerak dengan teratur mendekati pintu, Sin
Ciong tojin bersuit nyaring. Pedang diputar laksana kilat menyambar-nyambar. Ketua Butong-
pay yang sakti itu, akhirnya dapat membuat kedelapan gadis menjadi kelabakan.
Saat itu Pek Co-gi pun membuka mata dan dari jauh ia lepaskan dua buah pukulan Buing-
sin-kun. Segera terdengar lengking tertahan dan dua orang gadis baja putih serentak
muntah darah terus terkapar di tanah.
Melihat pukulannya berhasil, Pek Co-gi menggerung dan melepaskan dua buah pukulan
tanpa bayangan lagi.
Setelah kehilangan dua orang kawannya, keenam kawanan gadis baju putih itu pecah
nyalinya. Begitu melihat Pek Co-gi gerakkan tangannya mereka buru-buru loncat
menghindar.
Menggunakan kesempatan keenam gadis itu berloncatan menghindar, Sin Ciong tojin
gunakan jurus Sing gwat-to-kwa (bintang dan bulan berjungkir balik), membuka sebuah
jalan. Melihat itu Siong Hong dan Siong Gwat segera loncat mengikuti di belakang ketua
Bu-tong-pay.
Pek Co-gi lepaskan enam pukulan kepada keenam gadis baju putih lagi. Keenam gadis
baju putih itu walaupun sakti tetapi kurang pengalaman. Karena sedang melayani amukan
pedang ketua Bu-tong-pay, mereka lengah menjaga pukulan tanpa bayangan dari Pek Cogi.
Baru setelah merasa dadanya ampek, mereka terkejut dan buru-buru hendak
menghindar tapi sudah kasip.
Jantung mereka serasa bergoncang keras dan serempak terhuyung-huyunglah mereka
ke belakang. Tetapi dua orang yang terkena agak parah, terus jatuh ke tanah.
Diam-diam Bwe Hong-swat girang karena melihat Sin Ciong tojin berhasil lolos dari
pintu Sen-si-bun. Si nona baju merah dan biru masih terpancang oleh rintangan barisan
Ngo-heng-tin yang kokoh. Tetapi kuatir akan menimbulkan kecurigaan kedua sucinya, Bwe
Hong-swat pun loncat menyerang dengan senjata giok-ci. Begitu ia turun gelanggang,
barisan Ngo-heng-tin itu pun segera menderita tekanan keras. Tampaknya makin lama
mereka makin tidak kuat lagi bertahan.
Melihat itu Siu-lam segera membisiki Hian-song, “Sumoay. lekas kau bantu Sin Ciong
tojin membuka jalan. Aku hendak membantu anak murid Bu-tong-pay yang merintangi
musuh di belakang itu!”

Hian-song cepat loncat ke udara. Ia melampaui kepala Siong Hong dan Siong Gwat lalu
melayang turun di belakang Sin Ciong tojin, “Harap totiang beristirahat, biar aku yang
menghajar mereka!”
Memang setelah banyak mengeluarkan tenaga Sin Ciong rasakan racun dalam
tubuhnya tentu akan bekerja. Jika tidak lekas-lekas beristirahat menekan racun itu, ia
tentu roboh. Maka ia lancarkan dua buah serangan untuk mengundurkan lawan lalu cepatcepat
loncat mundur.
Sebenarnya Sin Ciong tojin sudah mencapai pintu Seng-si-bun. Tetapi di situ ia harus
berhadapan dengan barisan Beng-gak yang terdiri dari dua belas orang aneh. Tiga kali
sudah ketua Bu-tong-pay itu mencoba untuk menerjang tetapi tiga kali itu juga ia terpaksa
menderita kegagalan!
Sejenak Hian-song menendang ke arah kedua belas orang aneh itu. Mereka berpakaian
serba aneh dan mukanya dicoreng tak keruan. Walaupun tahu bahwa mereka hanya
manusia, tetapi karena wajahnya begitu menyeramkan, tak urung si dara ngeri juga. Ia
berpaling kepala tak berani melihatnya. Pedang diputar lalu sambil melengos, ia
menyerang dua orang aneh.
Sekalipun tanpa melihat tetapi tusukannya tepat sekali. Yang menjadi sasaran adalah
bagian jalan darah berbahaya. Kedua orang aneh yang ternyata pemimpin barisan,
dipaksa harus mundur selangkah.
Tusukannya berhasil, nyali, Hian-song mulai mengembang cepat ia putar pedangnya
makin cepat dan dalam waktu sekejap mata saja sudah lancarkan delapan buah serangan.
Ia sendiri tak menyadari bahwa kedelapan serangannya itu merupakan jurus-jurus yang
luar biasa ganasnya. Kedua belas orang aneh, menjadi kelabakan setengah mati. Mata
rantai hubungan barisan, menjadi kacau balau.
Sambil menyalurkan penyaluran darah, diam-diam Sin Ciong tojin memperhatikan ilmu
pedang si dara. Ia terkejut heran karena selama itu tak pernah ia melihat semacam ilmu
pedang sedemikian anehnya!
Jika saja ia belum terkena racun, tentulah ia dapat mempelajari ilmu pedang dara itu.
sudah berpuluh-puluh tahun ia membenam diri dalam ilmu pedang maka setiap melihat
ilmu pedang yang belum pernah dilihatnya tentu diperhatikan dengan seksama. Sayang
selama ini ia belum pernah menemui lawan yang lebih unggul ilmu pedangnya. Oleh
karena itu, ia belum mendapat tambahan ilmu pedang yang baru.
Sejak matanya terluka oleh si wanita bersenjata Chit- jiau-soh, dewa pedang Siau Yaucu
tak pulang ke Bu-tong-san lagi. Sin Ciong tojin tak henti-hentinya mencari berita
tentang angkatan tua dari Bu-tong-pay dari itu untuk memintanya pulang. Dengan
pulangnya jago tua itu, dapatlah Sin Ciong memperdalam ilmu pedangnya lebih jauh.
Dengan begitu ilmu pedang Bu-tong-pay tentu akan lebih tinggi mutunya.
Tetapi ketika Siau Yau-cu pulang, tepat pada saat itu Beng-gak telah menyebarkan
jarum Chit-jiau-soh untuk mengundang sekalian orang ke Beng-gak. Dengan begitu Sin
Ciong tak sempat untuk meminta pelajaran pada jago tua itu.

Ilmu pedang yang dimainkan Hian-song benar-benar memikat perhatian ketua Bu-tongpay.
Hanya sayang saat itu dia sudah terkena racun. Dengan menghela napas ia mementil
batang pedangnya…
Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara orang tertahan dan berkiblatnya sinar merah. Ketika
memandang dengan seksama ternyata saat itu Hian-song berlepotan darah pakaiannya.
Ternyata dia mengamuk dengan hebat. Empat orang aneh telah diganyangnya!
Saking kagum dan terpesona menyaksikan ilmu pedang Hian-song, Pek Co-gi, Kat Hui,
Kat Hong, Siong Hong dan Siong Gwat sesaat lupa bahwa mereka masih berada dalam
sarang macan.
Kembali Hian-song taburkan pedangnya dan kembali dua orang aneh telah rubuh mandi
darah. Barisan orang aneh itu benar-benar tak berdaya menghadapi permainan pedang si
dara yang luar biasa.
Kalau di sini Hian-song mengamuk, di sanapun Siu-lam juga unjuk kegagahan. Dia
dapat menahan ketiga nona murid Beng-gak yang sakti.
Dengan terjunnya Bwe Hong-swat dalam gelanggang, barisan Ngo-heng-tin dari Butong-
pay menjadi kalang kabut. Untung pada saat itu Siu-lam cepat datang membantu.
Dalam tiga kali serangan saja, barisan Ngo-heng-tin sudah kembali tenang lagi.
Si nona baju merah tertawa mengikik, “Bagus, kiranya kaupun juga pandai berpurapura
mati!” Sambil berkata ia lancarkan dua buah serangan. Tetapi dengan gunakan jurus
Tou-coan-cee-ih atau bintang pindah tempat, Siu-lam berhasil mematahkan serangan itu.
Kemudian dengan jurus Pi-peh biat-poh (menyanggul harpa), ia balas menusuk tiga buah
jalan darah di tubuh nona baju biru.
Tring, tring, tring, nona baju biru itupun segera mainkan senjatanya tanduk rusa dalam
jurus Thiat-chiu-gin-hoa (pohon besi bunga perak). Dua buah senjata saling beradu….
Melihat Siu-lam mencapai kemajuan yang begitu pesat, diam-diam Bwe Hong-swat
gembira sekali. Namun wajahnya terap dingin-dingin saja. Terpaksa iapun menyerang dari
samping dengan jurus Ho-liong-tiam-ceng atau melukis naga menitik mata.
Diam-diam Siu-lam menimang. Jika ia tak melayani serangan nona itu, tentu akan
menimbulkan kecurigaan si nona baju merah dan biru. Maka terpaksa ia gunakan jurus
Tiau-hoat-lam-hay untuk menangkis dan balas menyerang. Bwe Hong-swatpun cepatcepat
menangkis dan balas menyerang.
Tiba tiba terdengar si nona baju merah tertawa menyindir, “Huh, benar-benar seorang
lelaki yang berhati buta. Masakan terhadap sam-moay, kaupun menyerang begitu
ganas….”
Tiga buah kiblatan pedang yang dimainkan Siu-lam telah berhasil memaksa si nona
baju merah itu mundur selangkah. Sementara serangan si nona baju biru dan Bwe Hongswat
dapat dibendung oleh barisan Ngo-heng-tin. Barisan yang penuh dengan perubahan
aneh itu, dapat melindungi Siu-lam dari serangan kedua nona.
Tiba-tiba terdengar erang tertahan. Seorang anggota barisan Ngo-heng-tin dipentalkan
pedangnya oleh Bwe Hong-swat. Seperti kilat si nona baju biru nyelonong dari samping.

Sekali menabas, murid Bu-tong pay itu terbelah badannya. Dengan hilangnya seorang
anggota, barisan Ngo-heng-tin mulai kacau.
Si nona baju biru terus merangsek maju. Senjatanya yang berbentuk seperti tanduk
rusa, berkelebat kian kemari memasuki barisan. Dengan begitu barisan Ngo-heng-tin
makin kacau.
Siu-lam masih sempat memperhatikan bahwa imam-imam anak murid Bu-tong-pay itu
sudah mandi keringat. Gerak permainannyapun mulai kaku. Jelas racun dalam tubuh
mereka sudah mulai bekerja. Sekalipun tak diterjang ketiga nona, merekapun tentu akan
rubuh sendiri.
Diam-diam Siu-lam menghela napas. Ia menyadari bahwa adanya Hian-song dan ia tak
merasa menderita keracunan, tentulah karena pertolongan dua butir pil pemberian Bwe
Hong-swat. Tak tahu ia bagaimana kelak ia dapat membalas budi nona baju putih itu….
“Engkoh Lam, lekas mundur!” tiba-tiba ia dikejutkan oleh teriakan Hian-song.
Tetapi saat itu si nona baju merah malah mendesak dengan seru seraya tertawa
melengking.
“Sam-sumoay, perlu apa menyayangi seorang kekasih yang tak berbudi? Sam-sumoay,
ayo bunuhlah dia agar penasaranmu hilang!”
Dengan menggembor keras, Siu-lam tiba-tiba rubah permainan pedangnya. Dia
gunakan jurus Jiau-toh-co-hoa untuk sekaligus menyerang ketiga nona pengeroyoknya.
Jurus itu merupakan ilmu pedang yang luar biasa hebatnya dan perubahan-perubahan
yang aneh. Sekalipun hanya sebuah jurus dan diserangkan ke arah tiga musuh, tetapi
cukuplah hal itu memaksa ketiga nona itu mundur.
“To-heng berempat lekas mundur!” Siu-lam segera menarik pulang pedang, loncat ke
pintu Seng-Si-bun. Tetapi ketika ia berpaling ternyata keempat murid Bu-tong-pay tadi
sudah rubuh terkapar. Dan sekali kedua nona baju merah dan biru ayunkan senjatanya,
keempat murid Bu-tong-pay itupun terbelah menjadi dua.
Racun dalam tubuh mereka sudah bekerja. Ketika Siu-lam menyertakan supaya mereka
mundur sebenarnya keempat murid Bu-tong-pay itu sudah tak kuat. Maka begitu ketiga
nona itu menyerang, merekapun segera jatuh.
Saat itu Hian-song sudah dapat menguasai musuh. Barisan orang aneh sudah separoh
lebih yang dibasminya.
Sesungguhnya Sin Ciong amat berduka sekali atas kematian anak murid Bu-tong-pay.
Tetapi sebelumnya ia memang telah membayangkan peristiwa itu. Maka dengan keraskan
hati ia segera menyerbu. Kedua jago Ceng-sia-pay yakni Siong Hong dan Siong Gwat serta
jago Tibet Pek Co-gi karena menginsyafi bahwa racun dalam tubuh mereka tentu segera
bekerja, maka merekapun bergegas-gegas mengikuti Sin Ciong tojin untuk menerjang
keluar dari pintu Seng-si-bun.
Dalam menghadapi ketiga orang murid Beng-gak yang sakti itu, Siu-lam bertempur
dengan gigih sekali. Setiap kali ia terancam, buru-buru ia mengeluarkan jurus aneh dari

ilmu Jiau-toh-co-hoa. Setiap kali jurus peninggalan kakek Hian-song itu digunakan, ketiga
nona itu tentu terdesak mundur.
Sementara dari jarak jauh, Bu-ing-sin-kun Pek Co-gi lepaskan pukulan untuk membantu
Siu-lam. Dengan begitu ketiga nona murid Beng-gak itu tak berdaya untuk mengejar Siong
Hong dan Siong Gwat yang menggendong kedua anak muda Kat Wi dan Kat Hong.
Hian-song makin bersemangat untuk membuka jalan darah. Dia tak menyadari bahwa
ilmu pedangnya sebenarnya sudah tergolong tingkat tinggi. Bermula karena kurang
pengalaman, ia masih agak kikuk. Tetapi makin lama nyalinya makin besar dan
permainannyapun makin tangkas sekali. Jurus yang dimainkan pun makin ganas. Barisan
orang aneh yang tangguh itu tak kuasa untuk menahan amukan si dara. Setiap kali
pedangnya berkelebat, tentu salah seorang aneh itu terbelah.
Akhirnya berhasillah ia membobolkan penjagaan pintu Seng-si-bun itu. Sin Ciong tetap
mengikuti di belakang si dara. Diam-diam ia kerahkan tenaga untuk setiap waktu turun
tangan membantunya.
Jilid 19
DALAM BEBERAPA SAAT kemudian, tibalah mereka di mulut lembah. Hian-song yang
sedikitpun tak tampak letih, segera menyerbu. Empat orang aneh menghadangnya. Sret,
sret, sebelum mereka sempat bergerak, pedang si dara sudah merubuh yang dua orang.
Sret, sret, sekali lagi Hian-song kiblatkan pedangnya, kedua orang aneh itu yang satu
terpapas lengannya yang satu terbelah kutung badannya.
Hian-song benar-benar hebat sekali.
Dengan tenaga saktinya, dapatlah Sin Ciong menekan berkembangnya racun dalam
tubuhnya. Sekalipun ia menyadari bahwa cara itu hanya dapat bertahan untuk sementara
waktu saja, tapi tiada lain jalan baginya. Di mana ada kemungkinan, walaupun hanya
beberapa saat, ia tetap berusaha untuk bertahan hidup. Ketua Bu-tong-pay itu mengikuti
di belakang si dara.
Saat itu papan besi yang menghalang di lembah telah tak tampak. Lembah sunyi
senyap. Kecuali keempat orang aneh itu, tak tampak seorang pun menghadang lagi.
Siong Hong dan Siong Gwat dengan memanggul kedua putra Kat Thian-beng, tetap
mengikuti Sin Ciong tojin. Di belakang mereka Siu-lam masih tetap menghadang ketiga
nona murid Beng-gak di luar lembah.
Dalam bertempur dengan Siu-lam, si nona baju merah mendapatkan bahwa dalam
waktu singkat Siu-lam telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali. Tetapi sebagai
orang yang berhati tinggi, si nona baju merah tetap tak memandang mata kepada Siu-lam.
Alangkah kejutnya ketika ia tertumpuk akan kenyataan! Berapa bulan yang lalu, salah satu
dari ketiga nona itu, dapat mengalahkan Siu-lam. Tapi saat itu ternyata mampu melawan
mereka bertiga. Yang membuat nona baju merah itu terkejut heran adalah ilmu pedang
Siu-lam itu dalam banyak hal terdapat banyak persamaannya dengan mereka bertiga. Tapi
dalam hal gerakan perubahannya, Siu-lam bahkan lebih unggul sedikit!

Melihat rombongan Sin Ciong tojin dapat melintasi lembah, si nona baju biru marah
sekali. Dengan berteriak nyaring ia mainkan pedangnya makin gencar untuk mengimbangi
kedahsyatan senjata tanduk rusa dari si nona baju merah….
Sebaliknya Bwe Hong-swat diam-diam gembira sekali menyaksikan kemajuan Siu-lam.
Tapi ia tetap masih kuatir akan kesempatan pemuda itu. Kedua sucinya mengamuk hebat
sekali. Setiap gerakan senjatanya dilambari dengan tenaga dalam yang penuh. Sekali
mengena sasarannya, tak dapat disangsikan lagi tubuh Siu-lam pasti hancur lebur!
Dalam hati ia mencemaskan keselamatan Siu-lam, tetapi agar jangan diketahui oleh
kedua sucinya, terpaksa ia harus melancarkan serangan yang seru. Demikianlah kedua
senjata giok-cinya diputar dan dimainkan laksana sepasang naga yang menyambarnyambar….
Hian-song terus melangkah keluar dari lembah. Di luar lembah ternyata tiada
penghadang lagi. Tetapi ketika berpaling dan melihat Siu-lam masih bertempur seru
dengan ketiga nona Beng-gak, ia segera minta kepada Sin Ciong tojin dan rombongan
supaya menunggu sebentar. Sekali melesat dara itu masuk ke dalam lembah lagi dan
berseru nyaring, “Engkoh Lam, jangan takut, aku datang membantumu!”
Dengan jurus Long-coang-liu-sat atau Ombak bergulung mendampar pasir, ia segera
maju menyerang. Tetapi yang menjadi sasaran pertama adalah Bwe Hong-swat!
Bwe Hong-swat menangkis dengan giok-ci kiri lalu giok-ci di tangan kanan balas
menyerang dua kali.
Sekalipun ilmu pedang Siu-lam sakti, tetapi tenaganya tetap terbatas. Sekian lama
bertempur melawan ketiga nona, dia merasa letih sekali. Jika tak memiliki ilmu pedang
Jiau-toh-co-hoa yang luar biasa itu, kemungkinan dia tentu sudah kalah.
Tetapi setelah Hian-song ikut membantu, keadaanpun berubah. Iwekang yang dimiliki
Hian-song sejak jalan darah Seng-si-hian-kwatnya terbuka, laksana sumber air yang tak
pernah kering. Bahkan makin lama dara itu malah makin gagah dan serangannya makin
mengganas. Ketiga murid Beng-gak benar-benar tak berdaya untuk maju setengah
langkah saja.
Tiba-tiba Siu-lam menggerung. Ia keluarkan jurus Jiau-toh-co-hoa lagi. Melihat itu si
nona baju biru dan Bwe Hong-swat terpaksa mundur. Tetapi si nona baju merah
penasaran sekali. Setiap kali pemuda itu mengeluarkan jurus itu, tentu dapat mendesak.
Hal itu benar membuatnya mendongkol. Maka untuk serangan Siu-lam kali ini, dia benarbenar
tak mau mundur. Kebut hud-tim di tangan kiri dan pedang pusaka di tangan kanan,
serentak ditaburkan untuk menyongsong serangan Siu-lam.
Gumpalan sinar kebut dan pedang yang memancar tiba-tiba terbenam dalam kepungan
sinar pedang Siu-lam. Saat itu barulah si nona baju merah terkejut dan bergegas-gegas
hendak menarik pedangnya dan mundur.
Ia bergerak dengan cepat tapi tetap terlambat. Wut, wut, segumpal rambut kepalanya
berhamburan jatuh kena terpapas….
Sebenarnya dalam jurus Jiau-toh-co-hoa itu masih mempunyai perubahan yang aneh
dan tak habis-habisnya. Sayang Siu-lam hanya dapat mengingat separuh jurus saja.

Andaikata ia dapat menguasai seluruh jurus penuh, ketiga nona itu tentu tadi sudah
rubuh.
Setelah memperoleh hasil, Siu-lam segera berseru kepada Hian-song, “Adik Song, lekas
mundur,” cepat ia ulurkan tangan menarik ujung lengan baju si dara terus diajak lari.
Rambutnya terpapas, menyebabkan semangat nona baju merah terbang. Ia tegak
termangu di mulut lembah. Ketika Siu-lam dan Hian-song lari, iapun hanya mengawasinya
saja. Dan karena ia berdiri di tengah mulut lembah, maka si nona baju birupun terhalang
jalannya. Sedangkan Bwe Hong-swat yang sengaja mengulur waktu, pun tak mau
mengejar.
Si nona baju biru mengawasi wajah si nona baju merah. Melihat nona baju merah itu
tegak mematung, buru-buru ia mendampratnya, “Huh, budak gila! Mengapa tak lekas
mengejar dan tegak terlongong-longong saja!”
Si nona baju merah gelagapan. Dengan mendengus, ia segera lari mengejar.
Sin Ciong heran melihat mengapa Siu-lam dan Hian-song tak kurang suatu apa. Cepat
ia menyongsong dengan pertanyaan, “Apakah kalian tak merasakan apa-apa dalam tubuh
kalian?”
Siu-lam gelengkan kepala.
Sin Ciong tojin merenung sejenak lalu berkata, “Biarlah aku yang menghadang orang
Beng-gak. Harap kalian berdua melindungi kedua to-heng dari Ceng-sia-pay keluar dari
neraka sini!”
Dan tanpa menunggu jawaban Siu-lam ketua Bu-tong-pay itu terus putar pedangnya
menyambut ketiga nona murid Beng-gak.
Pek Co-gi merasa telah mengeluarkan banyak tenaga sehingga racun dalam tubuhnya
merangsang keras. Dia menyadari kalau tak dapat bertahan lama. Maka berkatalah ia
kepada kedua imam dari Ceng-sia-pay, “Jiwi berdua mempunyai beban tugas yang
penting. Harap melaksanakan dengan sekuat tenaga. Usahakan sekuat-kuatnya agar
kedua pemuda Kat itu dapat lolos dari tempat ini. Aku hendak membantu Sin Ciong
toheng….”
Jago tua dari Tibet itu menutup kata-katanya dengan loncat kembali ke dalam lembah.
Sebelum orang-orangnya tiba, ia sudah lepaskan dua buah pukulan Bu-ing-sin-kun ke arah
ketiga nona Beng-gak.
Karena selama memanggul kedua pemuda, kedua jago Ceng-sia-pay itu belum
bertempur dengan musuh, maka bekerjanya racun dalam tubuh merekapun agak lambat.
Mereka menyadari pada setiap detik amat berharga sekali. Maka segera mereka mengajak
Siu-lam dan Hian-song lanjutkan perjalanan.
Bermula Siu-lam agak heran menyaksikan gerak-gerik Sin Ciong tojin dan Pek Co-gi
dengan kedua tokoh Ceng-sia-pay. Tetapi karena kedua tokoh Ceng-sia-pay itu sudah
mendahului lari dengan pesat, terpaksa Siu-lam dan Hian-songpun lari mengikuti mereka.

Siong Hong dan Siong Gwat terus kencangkan larinya sambil memandang ke sekeliling
untuk mencari jalan keluar. Tak berapa jenak mereka sudah lari sejauh beberapa li. Saat
itu mereka tiba di padang bunga.
Tiba-tiba sesosok bayangan melesat dari tengah-tengah padang bunga. Dua orang
gadis baju hijau muncul menghadang dengan pedang terhunus.
Siong Gwat segera mencabut pedangnya terus menyerang gadis baju hijau yang di
sebelah kiri. Tetapi gadis itu tak mau menangkis melainkan menghindar mundur.
Sebaliknya gadis baju hijau yang di sebelah kanan segera maju menangkis.
Melihat itu Siu-lam berseru, “Harap totiang berdua jaga baik-baik kedua saudara itu,
biarlah aku yang menghadapi kedua nona ini.”
Kalau dia hanya bicara saja tetapi Hian-song sudah mendahului menyerang kedua nona
penghadangnya itu.
Gadis baju hijau yang sebelah kanan segera gunakan jurus Hwe-hong-wu-liu,
menangkis serangan Hian-song. Tetapi Hian-song cepat berputar tubuh sambil menarik
pedang dan tiba-tiba balikkan tangannya ke belakang menabas dengan jurus Thian-gwalay-
hun atau dari luar langit timbul awan.
Tepat pada saat itu terdengar jeritan ngeri. Hian-song cepat berpaling dan dilihatnya
gadis baju hijau di sebelah kiri tadi tiba-tiba telah menusuk punggung gadis baju hijau
yang menangkis serangan Hian-song. Ujung pedang tembus sampai ke luar dada.
Sudah tentu Siu-lam dan Hian-song kesima. Dipandanganya gadis baju hijau itu dengan
tak berkesiap.
Gadis baju hijau itu mencabut pedangnya yang menembus dada kawannya lalu
membersihkan darah pada batang pedang. Setelah itu ia bertanya, “Siapakah yang
mempunyai nama she Pui?”
Siu-lam tertegun, sahutnya, “Akulah!”
Gadis baju hijau sejenak mengamat-amati Siu-lam lalu berkata pula, “Apakah kau yang
bernama Pui Siu-lam?”
Siu-lam mengiyakan.
“Jalanan di muka penuh dengan alat rahasia dan juga jago-jago sakti. Di lembah ini
terdapat sebuah jalan keluar. Jika tuan-tuan hendak meloloskan diri, hanya jalan itu yang
merupakan satu-satunya jalan keluar,” kata si nona.
“Siapa kau?” tegur Siu-lam.
Nona baju hijau menyahut perlahan, “Aku disuruh kemari oleh nona Bwe. Tempo
tinggal sedikit, marilah tuan-tuan ikut aku!” ia tendang mayat kawannya tadi ke dalam
padang bunga lalu lari ke muka.
Siu-lam mengajak Siong Hong dan Siong Gwat mengikuti nona itu.

Rupanya gadis baju hijau itu paham keadaan tempat di gunung Beng-gak. Ia melintasi
padang bunga.
Saat itu racun dalam tubuh kedua tokoh Ceng-sia-pay sudah bekerja. Kaki dan tangan
mereka terasa lemas tak bertenaga. Menggendong orang, dirasakan berat sekali. Keringat
bercucuran membasahi tubuh mereka. Wajah merekapun mulai biru. Tetapi dengan
keraskan hati mereka tetap lari.
Rupanya gadis baju hijau itu juga tegang sekali. Tahu bagaimana keadaan kedua imam
Ceng-sia-pay namun ia tetap tidak kendorkan larinya.
Siu-lam tetap mengikuti di belakang nona itu. Ia telah bersiap-siap. Begitu nona itu
hendak menyeleweng, segera akan ditindaknya.
Sepenanak nasi lamanya, barulah mereka keluar dari padang bunga. Nona itu berpaling
kepada Siong Hong dan Siong Gwat, “Harap totiang berdua tahankan diri sebentar lagi.
Kita sudah hampir terhindar dari bahaya!”
Ia terus lari menuju ke sebuah lembah yang lebih senyap. Siu-lam mulai curiga. Si nona
guna pedang untuk menyiak semak belukar yang menyubur di lembah itu. Kira-kira dua li
jauhnya ia menghela napas dan berhenti. Katanya kepada Siu-lam, “Jika gerak-gerik kita
tidak diketahui penjaga-penjaga yang bersembunyi di dalam padang bunga tadi, itulah
sudah beruntung!”
“Apakah kecuali nona, tiada lain anak buah Beng-gak yang tahu jalan ini?” tanya Siulam.
Nona itu menerangkan bahwa lembahitu sebuah lembah mati.
Jika lembah mati, mengapa nona membawa kami ke sini?” Tanya Siu-lam curiga.
“Ah, mengapa engkau begitu terburu-buru menukas keteranganku?” sahut si nona.
“Dalam lembah mati terdapat sebuah terowongan yang merupakan mulut gunung berapi.
Tetapi sudah berpuluh tahun gunung itu tidak mengeluarkan api lagi!”
Siu-lam terkejut dan diam-diam mendamprat nona itu karena hendak menggunakan
gunung api untuk mencelakai mereka.
Karena tak mempunyai pengalaman, nona itu tetap melanjutkan keterangannya dengan
tenang, “Nona Bwe suruh aku mengantar kalian ke mulut gunung berapi itu. Menurut kata
nona Bwe hanya mulut gunung berapi itu merupakan satu-satunya jalan keluar!”
“Tetapi bukankah bagian dalamnya masih panas sekali? Jika masuk, dikuatirkan tak
dapat keluar lagi….”
Nona itu gelengkan kepala, “Tentang hal itu aku tak tahu. Tetapi nona Bwe hanya
memerintahkan supaya aku membawa tuan-tuan masuk ke dalam terowongan itu,” dan
tanpa menunggu jawaban Siu-lam nona itu terus lanjutkan jalan ke muka lagi.
Siu-lam berpaling. Dilihatnya Siong Hong dan Siong Gwat sudah mandi keringat.
Matanya dipejamkan seperti orang yang sudah tak bersemangat lagi.

“Dalam keadaan begini, harapan hidup tipis sekali. Lebih baik aku mencoba masuk ke
dalam terowongan gunung berapi itu,” akhirnya Siu-lam mengambil putusan dan
mengikuti si nona baju hijau.
Hian-song juga mempunyai pikiran seperti pemuda itu. Iapun mengikuti Siu-lam.
Saat itu racun dalam tubuh kedua imam Ceng-sia-pay sudah bekerja dan kedua tokoh
itu sudah kehilangan kesadaran pikirannya. Merekapun hanya mengikuti kemana Siu-lam
bergerak.
Setelah berjalan satu li jauhnya, tibalah mereka di sebuah dinding karang yang tinggi.
Di bawah kaki karang itu terdapat sebuah terowongan kecil.
“Inilah!” seru si nona seraya menunjuk mulut terowongan.
Siu-lam memandang ke dalam. Liang terowongan gelap sekali sehingga tak dapat
diketahui berapa dalamnya.
“Silahkan periksa sendiri, aku hendak kembali!” kata gadis itu.
Siu-lam menimang. Jika gadis itu hendak mencelakai dirinya, tentu dia takkan
membunuh kawannya sendiri. Tentulah ia benar suruhan Bwe Hong-swat yang berusaha
untuk menolongnya.
Berpaling ke belakang tampak kedua imam dari Ceng-sia-pay sudah lentuk tak
bertenaga. Sedang Hian-song seorang dara yang tak berpengalaman. Maka ia harus
memutuskan sendiri apakah akan memasuki terowongan itu atau tidak.
Ia menyadari betapa penting tugas yang terletak di bahunya saat itu. Ia harus
menyelamatkan jiwa beberapa orang itu, setelah merenung beberapa saat akhirnya ia
memutuskan untuk masuk.
“Adik Song, aku yang mempelopori di muka, dank au yang menjaga di belakang. Kedua
imam itu rupanya sudah tak tahan!” kata Siu-lam. Ia terus menghunus pedang dan
melangkah masuk.
Memang pikiran kedua imam Ceng-sia-pay itu tak terang lagi. Ia hanya menurutkan
kemana Siu-lam langkahkan kaki. Begitu melihat pemuda itu masuk ke dalam terowongan,
mereka pun segera mengikuti.
Lorong terowongan gelap sekali, sehingga tak dapat melihat jari-jari tangannya sendiri.
Lorong terowongan menurun ke bawah kira-kira tiga puluh tombak jauhnya, lorong yang
sempit tiba-tiba lebih besar. Tetapi berbareng itu terdengar suara gemuruh!
Siu-lam berhenti untuk mencari arah suara gemuruh itu. Tetapi sampai sekian jenak, ia
tak berhasil mengetahui arahnya. Suara itu sebentar seperti dari sebelah barat, sebentar
pindah ke sebelah timur.
Tengah ia menumpahkan perhatian, tiba-tiba terdengar Siong Hong dan Siong Gwat
mengerang dan jatuh terkapar di tanah. Kedua pemuda yang digendongnya itupun ikut
numprah. Ketika Siu-lam memeriksa, ternyata Siong Hong sudah putus jiwanya.

Siu-lam terpaksa menolong Kat Hong. Imam Siong Gwat menghela napas, “Kedua
pemuda itu sudah ditutuk jalan darahnya. Asal sudah dapat disembuhkan, tentu dapat
berjalan sendiri.”
Katanya terputus oleh darah yang muntah dari mulutnya. Siu-lam buru-buru memberi
pertolongan dengan menyalurkan tenaga dalamnya. “Totiang hendak memberi pesan
apa?”
Imam dari Ceng-sia-pay itu membuka mata dan dapat berkata, “Mereka berdua telah
diberi minum pil kim-tan dari Bu-tong-pay. Asal dibuka jalan darahnya yang tertutuk,
mereka tentu sembuh, dalam bungkusan itu tersimpan segala ilmu pelajaran dari tokohtokoh
yang ikut masuk ke dalam Seng-si-bun. Ilmu itu diberikan kepada kedua pemuda itu
agar mereka menyakinkan dengan sungguh-sungguh…” Siong Gwat tojin mengambil
sebuah lencana dari bajunya, “Inilah lencana dari Ceng-sia-pay… yang memiliki lencana ini
akan diberi kekuasaan untuk memegang pimpinan Ceng-sia-pay….”
Jago dari Ceng-sia-pay itu tak dapat meneruskan kata-katanya karena muntah darah
lagi dan seketika putuslah jiwanya.
Siu-lam menghela napas, “Adik Song, lepaskanlah, dia sudah meninggal.’
Dara itu menanyakan apa sebab tokoh itu meninggal. Siu-lam mengatakan bahwa
mereka mati karena terkena racun.
“Eh, mengapa kita tak terkena racun?”
“Karena kita menelan pil pemunah racun. Kalau tidak kita tentu sudah mati juga!”
“O, jadi ketika di dalam ruang Hwe-lun-tian, kau menyusupkan pil itu ke dalam
mulutku?”
Siu-lam mengiakan.
“Dari mana kau memperoleh pil itu?”
Diam-diam Siu-lam membatin. Itulah suatu kesempatan agar Hian-song tak membenci
lagi kepada Bwe Hong-swat. Maka dengan terus terang ia memberitahukan hal itu.
“Jika tiada pil itu kita tentu sudah mati,” Siu-lam menambahkan keterangannya.
Bermula Hian-song diam saja tetapi begitu mendengar keterangan Siu-lam yang
terakhir, seketika marahlah dara itu, “Jika tahu pil itu pemberiannya, aku tak sudi minum
dan lebih suka mati!”
Siu-lam terkejut dan buru-buru mengalihkan pembicaraan, “Sebaiknya kita lekas
memindahkan jenazah kedua imam ini kemudian menolong kedua pemuda. Ah, entah
apakah pil dari Bu-tong-pay itu dapat menolong jiwanya….”
“Huh, kalau obat dari lain orang tidak mujarab kecuali dari adikmu si gadis baju putih
itu, ya!” kembali Hian-song merajuk.

Siu-lam hanya tertawa hambar. Tak mau ia meladeni dara yang sedang marah-marah
itu. Kemudian ia cepat-cepat memberi pertolongan pada kedua pemuda yang masih
pingsan.
Beberapa saat kemudian kedengaran Kat Wi dapat menghela napas dan tersadar. Hiansong
pun membantu menyadarkan Kat Wi. Pemuda itu pun tersadar.
“Tuh, lihat, engkoh Lam, siapa bilang pil dari Bu-tong-pay tidak mujarab?” lengking si
dara.
Siu-lam menghela napas, ujarnya, “Sin Ciong tojin rela memberikan dua butir pil Butong-
pay kepada kedua pemuda ini dan ia sendiri rela untuk mati. Sungguh seorang tokoh
yang luhur!”
Kat Hong dan Kat Wi yang baru tersadar terkejut ketika dapatkan dirinya berada dalam
sebuah terowongan yang gelap. Tetapi Siu-lam cepat menyabarkan mereka, “Saudara
berdua baru saja terlepas dari tutukan, kemungkinan dalam tubuh saudara masih ada
racunnya. Sebaiknya jangan bergerak dulu dan menyalurkan darah untuk mengusir racun
itu!”
“Mana ayahku?” tanya Kat Hong.
Memang pada saat Kat Thian-beng mengalami nasib yang menggenaskan, buru-buru
Sin Ciong tojin menutuk jalan darah kedua pemuda itu agar jangan sampai goncang
hatinya, maka kedua anak muda itupun tak tahu kemana sang ayah.
“Sebaiknya saudara memulangkan napas dulu dan berusaha untuk mengenyahkan
racun dalam tubuh saudara. Nanti tentu akan kuberitahukan semua peristiwa…” Siu-lam
memberi penjelasan, “tempat ini masih dalam daerah berbahaya, begitu saudara sudah
sembuh, kita harus lekas tinggalkan tempat ini!”
Kedua saudara Kat itu menurut. Mereka segera duduk bersemedhi menyalurkan darah.
Pil kim-tan yang dibawa Sin Ciong tojin merupakan pil pusaka buatan dari Tio Samhong,
pendiri partai Bu-tong-pay. Hanya dibuat sebanyak lima butir pil, turun-menurun
diserahkan pada Ciang-bun-jin (ketua) Bu-tong-pay. Pil itu tak boleh digunakan
sembarangan kecuali menghadapi suatu peristiwa yang luar biasa. Pada saat diterima oleh
Sin Ciong tojin, pil itu hanya tinggal dua butir.
Pil itu memang mujijat sekali. Begitu kedua pemuda Kat itu menyalurkan napas, mereka
segera rasakan dadanya longgar, semangatnya segar. Tiba-tiba mereka muntah-muntah.
Tetapi setelah itu tampaknya mereka mulai sehat.
“Kau lapar?” tanya Hian-song yang masih kekanak-kanakan.
“Jangan adik Song,” cegah Siu-lam, “memang setelah muntah tentu merasa lapar. Tapi
bekal yang kita bawa itu tentu sudah mengandung racun. Sebaiknya dibuang saja!”
Dara itu menurut.
“Ai, kali ini kau benar-benar mendengar kata!” Siu-lam tertawa bergurau.

Hian-song berbangkit dan menghampiri dekat pemuda itu. Serunya dengan lemah
lembut, “Engkoh Lam…” Belum selesai ia mengucap tiba-tiba terdengar letusan yang
dahsyat dan segumpal asap tebal menyambar dari belakang.
Terkejut mereka bukan kepalang. Mereka seolah-olah digodok dalam api. Keringat
mengalir seperti anak sungai. Hawa panas merangas cepat sekali sehingga tak
menyempatkan mereka untuk bertahan diri.
Siu-lam cepat kerahkan tenaga dalam untuk menahan panas lalu memanggul kedua
saudara Kat terus dibawa.
“Adakah saudara terluka?” tanyanya.
Kedua saudara Kat itu gelengkan kepala. Saat itu racun dalam tubuh mereka sudah
sebagian besar hilang. Keadaan berangsur-angsur baik.
“Engkoh Lam, aku teringat…” tiba-tiba Hian-song tersenyum.
“Teringat apa?” Tanya Siu-lam heran.
“Nona baju putih itu tak cinta padamu maka ia sengaja suruh orang menjerumuskan
kau ke dalam terowongan gunung berapi supaya kita terkubur hidup-hidup!”
Siu-lam tertegun. Diam-diam ia mengakui memang kata-kata si dara itu benar juga.
Tetapi pada lain kilas ia teringat. Bahwa jika nona itu benar-benar bermaksud jahat, tak
nanti ia memberi pil penawar racun di ruang Hwe-lun-tian….
“Ah, tetapi kalau dia berbuat begitu, aku malah lega.” Hian-song tertawa lalu
menggelendot di dada Siu-lam.
Sebagai seorang dara yang menjelang alam kedewasaan, sebagai seorang yang sudah
sebatang kara, ia anggap Siu-lam itu adalah satu-satunya manusia di dunia yang menjadi
tiang andalannya. Maka ia tak senang apaibila si nona baju putih bersikap baik pada Siulam.
Siu-lam tergerak hatinya melihat sikap mesra dari dara itu. Dipeluknya dara itu seraya
berbisik, “Cukuplah kalau kau sudah tahu, jangan suka mengada-adakan pikiran apa-apa
lagi!”
Tiba-tiba terdengar Kat Hong menghela napas dan berkata pada saudaranya, “Adik,
samar-samar aku masih ingat bahwa ayah telah dilukai si nona baju merah dalam ruang
Hwe-lun-tian!”
“Ya, ya, akupun seperti melihat ayah terluka oleh ketiga siluman perempuan itu. Tetapi
tiba-tiba jalan darahku ditutuk orang…” sahut Kat Wi dengan menghela napas. Kemudian
berpaling ke arah Siu-lam ia berkata, “Apapun yang terjadi harap Pui-heng
memberitahukan terus terang. Toh sudah dalam keadaan begini, tak nanti kami berdua
menyesal.”
Siu-lam merenung sejenak lalu berkata, “Sin Ciong totiang telah memberikan dua butir
kim-tan kepada saudara berdua. Kim-tan itu merupakan pil pusaka turun-temurun dari
partai Bu-tong-pay. Selain itu, sekalian orang gagah yang ikut masuk ke dalam Hui-lunTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
tian telah meninggalkan ilmu kepandaiannya masing-masing kepada saudara berdua. Budi
para cianpwe itu sungguh tak ternilai. Mereka telah meletakkan seluruh harapan kepada
saudara berdua. Apabila saudara sampai mengecewakan harapan mereka, rasanya Sin
Ciong totiang tentu tidak dapat mengaso tenang di alam baka….”
Kedua saudara itu serempak menyahut, “Harap Pui-heng jangan kuatir. Kami berdua
pasti takkan mengecewakan harpan Sin Ciong totiang!”
“Kesanggupan saudara itu pasti akan menentramkan hati Sin Ciong totiang yang telah
memberikan ilmu pelajarannya agar ilmu itu tak ikut hilang…” Siu-lam berhenti sejenak
lalu berkata pula, “Saudara memang benar, ayah saudara memang sudah meninggal….”
Mendengar itu air mata kedua pemuda itu membanjir turun. Namun mereka kuatkan
hati untuk menahan kedukaan.
Siu-lam menghela napas, “Bukan melainkan hanya Kat lo-cianpwe, pun kecuali kita
berempat ini, yang lainnya kemungkinan besar tentu juga sudah tak ada….”
Dengan singkat Siu-lam segera menuturkan apa yang telah terjadi di ruang Hwe-luntian.
Pada akhirnya ia menandaskan lagi akan kemuliaan hati ketua Bu-tong-pay yang
relah memberikan pil mujizat itu kepada kedua saudara Kat.
Kat Hong bangkit dan mengajak adiknya untuk memberi hormat kepada jenazah Siong
Gwat dan Siong Hong, kedua imam Ceng-sia-pay yang telah menggendong mereka.
Dengan haru dan khidmat, kedua saudara itu memberi hormat yang sedalam-dalamnya
kepada jenasah kedua tokoh Ceng-sia-pay.
Menunjuk pada buntalan kain di samping, berkatalah Siu-lam, “Buntalan ini terisi ilmu
pelajaran sakti dari para lo-cianpwe. Harap saudara berdua menyimpannya baik-baik. Jika
sampai hilang berarti akan hilang ilmu kesaktian dari dunia persilatan!”
Kat Hong membuka buntalan itu. Tangkai pedang, lengan baju, keping kayu dan
benda-benda yang bertuliskan ilmu pelajaran sakti, dibagi dua diberikan kepada adiknya.
Setelah menyimpannya baik-baik, berkatalah ia, “Jika berdua sampai tertimpa sesuatu
bahaya, harap Pui-heng mengambil buntalan yang kami bawa ini. Sekali-kali jangan
sampai jatuh di tangan musuh.”
Pemuda itu berbangkit lalu melangkah ke luar. Siu-lam tercengang dan buru-buru
mencegahnya, “Saudara Kat, tunggu dulu. Kau hendak kemana?”
“Mumpung kami masih mempunyai kekuatan untuk menghadapi musuh, kami akan
berusaha untuk lolos dari Beng-gak. Jika tidak tentu kami di sini akan lemas kelaparan!”
sahut Kat Hong.
Siu-lam menghela napas, “Apakah saudara menganggap kepandaian saudara itu lebih
unggul dari lo-cianpwe itu?”
Sahut pemuda itu, “Dalam keadaan seperti saat ini, walaupun kepandaian tidak
memenuhi syarat, tetapi lebih baik kita berpantang maut sebelum ajal. Mari kita keluar
berpencaran dari empat penjuru. Satu saja bisa lolos, sudah beruntung daripada mati

semua!”
“Berani kupastikan bahwa kita ini tiada yang dapat lolos,” kata Siu-lam.
“Jadi maksud Pui-heng, lebih baik kita tunggu kematian di sini saja?”
“Keluar dari terowongan ini jangan harap bisa selamat. Satu jalan hanyalah terus
masuk berusaha mencari lubang yang bisa keluar dari lingkungan Beng-gak!”
Kat Hong melangkah balik, katanya, “Hawa panas dari semburan asap tadi, tidak
mungkin dapat kita tahan… ah, mungkin Pui-heng memiliki lwekang yang mampu
menahan panas. Tetapi bagi kami berdua saudara, tentu akan mati kepanasan. Daripada
menerjang maut lebih baik kita adu peruntungan untuk menggempur Beng-gak….”
Siu-lam tak leluasa untuk memberitahukan tentang perintah Bwe Hong-swat kepada
bujangnya agar membawa rombongan keempat pemuda itu mengambil jalan dari
terowongan di situ. Ia kuatir Hian-song akan merajuk. Tetapi Siu-lam yakin, bahwa Bwe
Hong-swat mempunyai hati yang kasih saying. Lain dari Hian-song yang berwatak keras
dan berterus terang. Kepercayaan Siu-lam terhadap Bwe Hong-swat telah menimbulkan
harapan pemuda itu bahwa adanya Bwe Hong-swat menyuruh ambil jalan melalui
terowongan gunung, tentulah dalam terowongan itu terdapat sebuah jalan lolos.
Setelah merenungkan kesemuanya itu, berkatalah Siu-lam, “Saat ini hanya ada dua
jalan. Keduanya penuh penderitaan. Keluar dari terowongan dan bertempur dengan orang
Beng-gak. Kita kesampingkan dulu soal ilmu kepandaian.
Tetapi cukup dengan cara mereka menaburkan racun saja, kita sudah tak mampu
menandingi.”
“Maksud Pui-heng….”
“Maksudku, daripada harus menghadapi orang Beng-gak dengan kemungkinan tipis,
lebih baik kita lanjutkan menyusur terowongan ini. Kemungkinan terdapat jalan keluar!”
kata Siu-lam.
Tetapi Kat Hong tetap menyangsikan kalau terowongan itu dapat menyelamatkan
mereka.
“Gunung berapi ini sudah berpuluh tahun mati. Tentu terdapat celah-celah lubang pada
gumpalan-gumpalan karang bekas lahar. Memang hanya semburan asap panas tadi yang
kita alami, tetapi sampai saat ini kita tak menderita gangguan apa-apa lagi. Coba saudara
pikir. Jika memang gunung berapi ini masih bekerja, kita mati tetapi dapatkah orang Benggak
terhindar dari terjangan lahar maut?”
Akhirnya Kat Hong mengakui dan satu keputusan Siu-lam. Siu-lam pun segera
mengajak mereka berangkat.
Kat Wi menyeletuk bahwa dengan perut kosong, tak mungkin mereka dapat mencapai
ujung terowongan yang tak diketahui berapa panjangnya itu.

“Ih,kalau kalian begitu takut mati, lebih baik jangan pergi saja!” Hian-song menyeletuk
dengan mengkal.
Kat Wi marah, “Kalau nona berani, mengapa aku seorang anak lelaki takut? Ayo
berangkat!” ia terus melangkah mendahului Siu-lam.
Siu-lam mencekal lengan anak muda itu, “Harap saudara janga menurutkan kemarahan
hati. Biarlah aku yang mempelopori di muka!”
Tahu pemuda itu lebih sakti, Kat Wi pun tak mau berkeras kepala. Ia berjalan mengikuti
di belakang Siu-lam.
Saat itu setelah cukup duduk menyalurkan napas mereka merasa segar dan tajam
penglihatannya. Dilihatnya di sebelah muka hanya gunduk-gunduk karang. Belasan
tombak jauhnya, kembali mereka harus melintasi sebuah jalan yang sempit. Suara
gemuruh itupun terdengar lagi.
Siu-lam berhenti dan pasang pendengaran lalu berjalan perlahan-lahan. Ia tahu bahwa
suara menggelegar yang gemuruh itu menandakan bahwa perut gunung terdapat gerakan
lava (gejolak lahar). Tetapi tak mau ia mengatakan hal itu supaya jangan mengecilkan hati
kedua saudara Kat.
Maka berjalanlah keempat pemuda itu dengan langkah berat dan hati tegang. Tiba-tiba
dengan Hian-song menghela napas, “Engkoh Lam, apabila kita berhasil lolos dari perut
gunung ini, kemungkinan kita masih terancam kesulitan-kesulitan lagi!”
“Kesulitan yang bagaimana?”
“Kali ini banyak tokoh persilatan yang binasa di gunung Beng-gak. Hanya kita berempat
yang berhasil lolos, dengan begitu murid-murid mereka tentu akan mencari kita untuk
menanyakan tentang kematian guru-gurunya!” kata Hian-song.
“Ah, janganlah memikirkan begitu jauh. Yang penting kita sedang menghadapi bahaya,
dan tipis kemungkinan kita dapat selamat,” diam-diam Siu-lam mendamprat dara itu.
Namun ia tertawa dan mengiakan kata-kata Hian-song, “Ya, ya, kita tentu repot tiap hari
menerima tetamu….”
Kat Wi menyeletuk, “Ah, saudara berdua masih sempat memikirkan apa yang belum
terjadi. Lebih baik kita kesampingkan dulu hal itu.”
“Apa? Kau takut mati” Hian-song tertawa.
“Apa kau tak takut?” balas Kat Wi.
“Apa guna kita takut? Dalam keadaan seperti saat ini, kita tak tahu bagaimana nasib
kita nanti. Mati atau hidup terserah saja.”
“Adik, nona Hian-song benar,” Kat Hong ikut bicara, “apabila gunung berapi ini meletus
tak mungkin kita bisa hidup!”
Untuk menghindari perdebatan yang tiada berguna, Siu-lam minta supaya mereka
berjalan dengan hati-hati dan cermat. Tiba-tiba terdengar letusan menggelegar yang

makin lama makin dekat. Dan pada lain saat serangkum hawa belerang menyembur ke
dalam terowongan.
Siu-lam terkejut dan lekas-lekas suruh kawan-kawannya menyalurkan lwekang dan
rebah di tanah. Tepat pada saat mereka menelungkup ke tanah, suara letusan itu
melayang di atas kepala mereka. Hampir seperminum teh lamannya, suara letusan itu
baru hilang.
Untunglah mereka sudah siap lebih dulu. Ketika bangun Kat Wi batuk-batuk karena
mulut menyedot bau belerang yang masih memenuhi liang terowongan. Ternyata dia
hendak mengusulkan lebih baik kembali dan keluar dari terowongan saja lalu bertempur
dengan orang Beng-gak. Tetapi baru membuka mulut sudah batuk-batuk.
Rupanya Siu-lam tahu apa yang hendak dikatakan pemuda itu. Ia menghela napas dan
setengahnya memberi dampratan halus, “Beban yang diletakkan para cianpw di atas bahu
saudara, amat berat. Jika sampai terjadi apa-apa bukan saja saudara mengecewakan
harapan mereka, pun ilmu kepandaian sakti dari berbagai aliran persilatan akan turut
ludas….”
Kat Hong pun menganjurkan agar adiknya menuruti nasihat Siu-lam. Tiba-tiba Kat Wi
berbangkit dan rentak mengajak melanjutkan lagi.
Selama menyusuri terowongan, angin dan letusan-letusan dahsyat sudah tiada
terdengar lagi. Setelah beberapa lama kemudian, tiba-tiba mereka tiba di sebuah simpang
tiga.
“Pui-heng, kita ambil jalan yang mana?” tanya Kat Wi.
Memang ketiga simpang jalan itu hampir serupa. Sesaat Siu-lam tak dapat menentukan.
“Ah, yang manapun boleh saja. Toh kemanapun kita tetap mati…” Kat Hong menghela
napas.
“Tetapi ketiga jalan ini tak sama. Angin panas tadi tentu berasal dari salah satu jalan
ini. Dan letusan menggelegar tadi, mengapa tidak terdengar lagi. Ini dapat membantu
kita…” kata Siu-lam yang berhenti tiba-tiba karena dikejutkan oleh setiup angin dingin
yang menghambur dari salah sebuah ketiga jalan.
“Pui-heng, mari kita ambil dari jalan yang menghembus angin dingin ini,” kata Kat
Hong.
Tetapi Siu-lam malah duduk bersemedhi menyalurkan napas, ujarnya, “Angin dingin ini
kelewat dingin. Setelah beberapa lama dalam hawa panas, kemungkinan kita tak tahan.
Lebih baik kita duduk memulangkan napas dulu.”
Hian-song membenarkan. Kedua saudara Kat itupun terpaksa mengikuti.
Tengah mereka duduk bersila, tiba-tiba dari samping meniup angin panas lagi. Bahkan
lebih panas dari yang tadi, sehingga mereka bermandi keringat. Angin panas yang segera
disusul dengan semburan asap itu berasal dari jalan di sebelah kiri. Di balik hamburan
asap itu tampak memburat sinar api.

“Api! Lekas menyingkir, gunung ini akan meletus…” serentak kedua saudara Kat itu
menjerit dan loncat bangun terus lari ke salah satu jalanan.
Memang saat itu segulung api melanda dari jalanan sebelah kiri yang tepat berada di
belakang kedua saudara itu.
Siu-lam menghantam api itu. Dan dia berhasil mengurangkan semburan api yang
melanda dengan cepat. Tetapi itu hanya suatu penundaan karena pada lain saat, api
menyerang lebih hebat dan cepat sehingga Siu-lam tak sempat lepaskan tamparan lagi.
Siu lam hendak loncat ke jalan ditengah tetapi serangan api telah memaksa ia mundur
dan masuk ke jalan yang sebelah kanan. Terowongan jalan di situ sempit dan berliku-liku.
Karena serangan api yang panas, terpaksa Hian-song dan Siu-lam lari menyusul
terowongan itu. Berulang kali mereka harus meringis karena tubuh dan kepala mereka
terbentur karang yang menonjol tajam.
Entah sudah berapa lama mereka mati-matian melarikan diri dari serangan api itu. Baru
setelah merasa ancaman api itu berkurang, mereka hentikan larinya.
“Adik Song, apakah kau terluka?” tanya Siu-lam.
“Eh, masih bertanya. Lihatlah kepalamu sendiri itu!” Hian-song mengambil sapu tangan
dan menyeka kepala pemuda itu dengan mesra.
“Adik Song, apakah kau sungguh-sungguh tak terluka?”
Hian-song tertawa, “Sekali kepalaku terantuk karang, aku lantas berhati-hati!”
Siu-lam tertawa gembira. Tetapi diam-diam ia terkejut. Jelas bahwa kepandaian dara
itu ternyata lebih unggul dari dirinya. Ia babak bonyok, tetapi dara itu tak kurang suatu
apa. Ia mengajaknya duduk bersemedhi lagi.
“Apa kau letih?” tanya Hian-song?
Siu-lam mengatakan bahwa tulang-tulangnya nyeri sekali akibat benturan-benturan
pada batu karang. Kemudian ia mneyatakan penyesalannya karena telah mengajak dara
itu ke Beng-gak yang penuh derita.
“Tetapi selama dengan kau, segala penderitaan kuterima dengan gembira,” sahut si
dara. “Eh, tulangmu di bagian mana yang sakit, mari kuurutnya!” Tanpa tunggu jawaban
orang, dara itu terus mengurut urat kaki Siu-lam.
Dipijati oleh tangan yang halis, rassa sakit Siu-lam menjadi mengurang dan tak lama
kemudian ia tertidur pulas.
Ketika bangun ia melihat Hian-song duduk bersemedhi pejamkan mata. Diam-diam
timbul kesan yang mendalam pada hati Siu-lam. Bahwa dara yang sudah sebatang kara itu
jelas menganggap dirinya sebagai orang satu-satunya yang menjadi tiang sandaran. Ia
menyesal bahwa ia telah membawa-bawa dara itu ke tempat neraka semacam Beng-gak.
“Engkoh Lam, kau sudah bangun?” tiba-tiba dara itu membuka mata.

Siu-lam mengiakan, “Berapa lama aku tertidur tadi?”
“Kira-kira satu jam?” sahut Hian-song. “Eh, engkoh Lam, mengapa kau menghela
napas?”
“Aku memikirkan kedua saudara Kat tadi. Entah bagaimana dengan mereka,” kata Siulam.
“Mereka masuk ke dalam terowongan yang berhawa dingin. Kemungkinan mereka
tentu tak tahan!”
“Benar, memang hawa itu luar biasa dinginnya!”
“Terowongan yang kita masuki ini, cukup memuaskan. Tidak dingin tidak panas.”
Siu-lam berbangkit dan segera ajak melanjutkan perjalanan lagi.
Sambil mengikuti di belakang Siu-lam, si dara berseru, “Engkoh Lam, bahaya apapun
yang akan menghadang di sebelah muka, janganlah kita sampai bercerai. Sungguh
engkoh, aku takut setengah mati kalau berjalan seorang diri dalam terowongan segelap
ini!”
“Tak apa. Terowongan ini tak mungkin ada ular dan binatang berbisa!”
Demikian sambil berjalan, keduanya bercakap sambil bergurau. Setelah melintasi dua
buah tikungan tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara bergemuruh macam ombak lautan.
“Engkoh Lam, apakah kau dapat berenang?”
“Bukan, suara itu bukan seperti debur ombak,” kata Siu-lam.
“Kalau bukan air, habis apa?”
“Seperti angin puyuh!”
“Ah, mana mungkin?”
“Memang benar angin. Inilah yang membingungkan!”
“Mengapa bingung? Ini berarti kita bakal lekas dapat keluar!” sebaliknya Hian-song
malah gembira.
“Tetapi dapat mendengar deru suaranya, mengapa kita tak merasa hembusan angin itu
sedikitpun juga?”
Hian-song mengatakan tak usah banyak pikir lebih baik berjalan maju lagi.
Beberapa belas tombak jauhnya, deru angin itu makin dahsyat. Namun mereka tetap
tak merasa sesuatu hembusan apa-apa. Tetapi beberapa langkah kemudian, mereka
terkejut, ketika deru angin makin dekat dan melengking menusuk telinga.

Setelah membelok sebuah tikungan lagi, mereka berhadapan dengan sebuah karang
buntu yang gelap. Kini Siu-lam baru mengetahui bahwa karang buntu itulah yang
menahan masuknya angin ke dalam terowongan.
“Engkoh Lam, ayo kita kembali saja! Karang itu buntu!” tiba-tiba Hian-song berseru.
“Tidak, adik Song. Justru kita sudah hampir dapat lolos dari bahaya!” jawab Siu-lam.
Kemudian ia ajak si dara duduk bersemedhi lagi untuk mengumpulkan tenaga.
Atas permintaan si dara, Siu-lam memberi penjelasan, “Terowongan ini terletak di perut
gunung dan tembus ke darat gunung. Tak mungkin terdapat angin. Angin dahsyat itu
tentu berasal dari luar gunung. Dan karang buntu ini pasti tidak berapa tebal!”
Hian-song girang mendengar penjelasan itu. Ia membayangkan bahwa tak lama, tentu
sudah dapat lolos dari neraka.
“Engkoh Lam, kemanakah kita akan menuju setelah keluar dari neraka ini?” tanyanya.
“Soal itu belum dapat kupastikan. Yang jelas dunia persilatan tentu akan mendengar
berita tentang kematian beberapa tokoh di Beng-gak. Mereka tentu takkan tinggal diam.
Dunia persilatan pasti akan timbul pergolakan hebat…” Siu-lam berhenti sejenak karena
didapatinya dara itu sandarkan kepalanya pada bahunya, “eh, adik Song, kau memikir
apa?”
“Kubayangkan setelah kita lolos dari sini, apakah kita masih dapat berkumpul terus.
Kalau di sini memang terdapat bahan makanan, alangkah baiknya kita terus berada di sini
saja.”
Siu-lam terbeliak, ujarnya, “Tetapi adik Song, kita harus berdaya upaya untuk
tinggalkan tempat ini. Kita harus lekas-lekas menyampaikan berita kematian para tokohtokoh
itu kepada dunia persilatan.”
“Kalau karang ini tidak seperti yang kau bayangkan, lalu bagaimana rencanamu?” tanya
si dara pula.
Siu-lam mengangkat bahu, “Kalau memang begitu kita tak dapat berbuat apa-apa.
Tetapi sebelumnya kita harus berusaha!”
Tiba-tiba Hian-song loncat bangun, serunya, “Jalan pikiranmu berlawanan dengan aku.
Namun aku tetap akan menurut rencana!” Habis berkata ia menghantam karang buntu ini.
Bum… pukulan Hian-song mental dan memantulkan suara kumandang. Siu-lam terkejut
dan menusuk karang itu dengan pedangnya. Suara kumandang itu melantang pula.
“Engkoh, itu bukan karang betul!” kata Hian-song.
“Benar, seperti karang logam. Aneh, mengapa di dalam perut gunung terdapat dinding
karang logam!”
“Ya, memang aneh. Padahal tempat ini jelas belum pernah didatangi orang!” kata si
dara.

Karena tak dapat memecahkan persoalan itu, Siu-lam mengajak duduk bersemedhi lagi.
“Ah, kalau benar dinding karang ini dari logam besi, jangan harap kita dapat keluar!”
Hian-song tertawa tawar.
“Salah, kalau memang dinding karang logam, kita malah mempunyai harapan keluar!”
“Hai, mengapa?” Hian-song heran.
“Kalau dinding logam, terang dahulu tentu sudah ada orang yang pernah datang ke
sini!” kata Siu-lam. Tiba-tiba ia rasakan tubuhnya kesemutan. Saking kagetnya ia loncat
beranjak.
Hian-songpun mempunyai perasaan demikian dan ikut melonjak juga. Tetapi setelah
turun ke tanah perasaan kesemutan itu hilang. Mereka saling menyatakan apa yang
dirasakan tadi.
“Celaka, kita bersua setan?” Hian-song menjerit ketakutan, lalu jatuhkan diri ke dada
Siu-lam.
Siu-lam menghiburnya. Bahwa di dunia ini sebenarnya tak ada setan. Tetapi belum
habis kata-katanya ia rasakan tubuhnya kesemutan lagi sehingga ia berteriak dan
melonjak kaget.
“Celaka, aku bisa mati ketakutan. Hayo, kita pergi!” teriak Hian-song.
Sudah tentu Siu-lam tak mau. Karena sudah sampai di situ, percuma kalau ia harus
kembali lagi.
“Tidak, adik Song. Tenaga yang membuat kita kesemutan itu jelas bukan dari setan…”
“Kalau bukan setan, habis apa?”
“Andaikata setan, pun tetap kalah berbahaya dari orang-orang Beng-gak!”
Demikian kedua anak muda itu termenung beberapa saat. Mereka benar-benar tak
mengerti apa-apayang menyebabkan tubuh kesemutan itu.
Saking jengkelnya, Siu-lam menghampiri dinding dan menghantam sekuat-kuatnya.
Bum… dinding tetap tak bergeming tetapi beberapa pasir tampak berhamburan. Buru-buru
Siu-lam memeriksa pasir itu. “Ah, ternyata memang bukan pasir biasa melainkan pasir
besi.”
“Engkoh Lam, apa yang kau lakukan itu?”
“Kita mempunyai harapan keluar.”
“Bagaimana?”
“Dinding itu jelas bukan karang besi melainkan gumpalan pasir besi yang membeku.
Walaupun keras tapi karena pasir, tetap dapat dihancurkan. Apa lagi kalau kita perlahanlahan
mengoreknya dengan pedang, tentu akan berlubang!”

“Tetapi berapakah tebalnya?”
“Rasanya tak seberapa tebal. Karena kalau tebal sekali tak mungkin kita dapat
mendengar suara deru angin gemuruh itu. Adik Song, mungkin sebelum berhasil
mengorek sebuah lobang, kita tentu sudah lemas karena lapar. Tapi apa boleh buat, kita
tak ada lain daya lagi!”
Hian-song tertawa dan mengatakan dalam keadaan bagaimanapun juga, ia tetap
menurut saja pada pemuda itu. Kemudian ia mengeluarkan pedangnya dan mulai
menusuk-nusuk dinding karang. Ah, benar juga. Pasir berhamburan.
Siu-lam pun ikut menusuk dengan pedangnya. Karena keduanya memiliki tenaga sakti
maka dalam beberapa kejap saja, mereka sudah berhasil membuat lobang sebesar
setengah meter. Pedang pusaka milik Hian-song, bergurat-gurat ujungnya.
Entah berapa lama mereka bekerja, setelah berhasil membuat lobang semeter
besarnya, pedang keduanyapun sudah tak karuan wujudnya. Dugaan Siu-lam bahwa
dinding karang itu tak berapa tebal, ternyata meleset.
Mereka berhenti untuk bersemedi memulangkan semangat. Kemudian mereka bekerja
lagi. Sampai membelai-belai rambut si dara, berkatalah Siu-lam dengan rawan, “Adik
Song, kalau sekali ini gagal, tak perlu kita bekerja lagi. Ah, aku benar-benar menyesal
sekali telah menyebabkan kau menderita. Aku harus minta maaf sebesar-besarnya kepada
arwah Tan lo-cianpwe di alam baka….”
Hian-song tertawa menghiburnya, “Kami merasa beruntung karena kakek telah
menyerahkan diriku kepadamu. Dan saat ini aku benar-benar bahagia karena dapat
sehidup semati dengan kau!”
Dengan sekuat tenaga dara itu menusukkan pedangnya, uh… ia menjorok ke muka
karena batang pedangnya telah menyusup masuk.
“Engkoh Lam, kita berhasil menembus karang ini!” serunya kaget.
“Benarkah?” Siu-lam berseru girang. Ia pun menusuk. Ah, ternyata pedangnya dapat
menyusup tembus pada dindiug karang.
Setelah mencabut pedangnya, Hian-song mengintai pada bekas lubang tusukannya. Ia
terkejut karena di luar dinding karang itu ternyata gelap sekali. Entah tempat apa.
Siu-lampun mengintai juga. Dia hampir putus asa karena keadaan tempat itu. Tetapi
pada lain kilas ia menduga tentulah saat itu pada malam hari.
Ia kembali hantamkan pedangnya sehingga lubang itu makin membesar dan cukup
untuk dimasuki orang.
Segera ia memanjat dan menyusup ke dalam lubang itu. Ketika kakinya hendak
melangkah keluar, tiba-tiba ia rasakan menginjak tempat kosong. Karena tak menduga,
hilang keseimbangan tubuhnya dan meluncurlah ia ke bawah.

Kejutnya bukan kepalang. Ia kuatir Hian-song akan mengalami nasib serupa. Maka
dalam waktu tubuhnya melayang itu, ia masih sempat berteriak-teriak memperingatkan si
dara supaya berhati hati.
Bluk… jatuhlah ia ke sebuah tempat karang yang keras. Untung sebelumnya ia sudah
siap mengempos semangatnya sehingga tak sampai terluka berat.
“Engkoh Lam, kau di mana?” sidara melengking nyaring dan terus menyusul.
“Aku disini…” baru Siu-lam menyahut tiba-tiba si dara sudah melayang turun di
sampingnya.
“Engkoh, apa kau tak terluka?”
“Tak apalah,” sahut Siu-lam, “tetapi kita berada di mana sekarang ini? Mengapa deru
angin puyuh tadi tak kedengaran lagi?”
Mata Hian-song yang tajam dapat melihat pada samping kanan kirinya, merupakan
karang dengan di tengahnya sebuah terowongan sempit. Menyerupai sebuah lembah yang
dalam.
Sekonyong-konyong terdengar angin menderu-deru dahsyat seperti badai.
Kumandangnya bagai ribuan laskar berkuda menyerbu di medan perang!
Siu lam terkejut dan melangkah mundur. Maksudnya hendak bersandar pada dinding
karang. Tetapi badai angin itu meniup dahsyat sekali. Kekuatannya mampu
menumbangkan sebuah bukit!
Begitu tersambar, Siu-lam tak kuasa bertahan diri lagi. Dalam deru badai dahsyat ia
tiba-tiba ia masih mendengar lengking jeritan Hian-song. Tetapi jeritan itu cepat ditelan
badai.
“Adik Song…! Siu-lam berteriak. Duk… tiba-tiba tubuhnya terbentur pada dinding
karang. Kepalanya seperti dipalu besi. Seketika matanya berkunang-kunang dan tak
tahulah ia apa yang terjadi.
Tubuh pemuda itu rubuh kemudian didampar badai raksasa dan melayang-layang bagai
layang-layang putus tali di udara….
Entah berapa lamanya Siu-lam dalam keadaan tak sadar itu. Ketika ia membuka mata,
telinganya segera mendengar suara helaan napas berat, “Ah, kasihan kau nak… kau sudah
sadar?”
Siu lam merentang mata. Dipandangnya orang itu dengan seksama. Ah, seorang nenek
tua yang duduk di sebuah kursi bambu, di sampingnya. Ia sendiri ternyata berbaring di
sebuah balai-balai.
Ia berada dalam sebuah ruang gubuk yang bersih. Sinar matahari menerobos masuk
dari daun jendela.
“Nenek, tempat apakah ini? Apakah aku masih hidup?” tanyanya heran.

Nenek itu tertawa, “Kau terluka parah sekali, nak. Sudah sehari semalam kau tidur
terus. Aii, kau memang seorang muda yang kuat. Jika seperti aku si nenek tua ini, tentu
sudah tidak tertolong lagi!”
Siu-lam hendak bergeliat bangun tetapi dicegah si nenek, “Kau baru tersadar, jangan
bergerak dulu. Nanti kuambilkan bubur untukmu!”
Nenek itu bangkit menyambar tongkat bambu yang tersandar di dinding, lalu berjalan
ke luar.
Siu-lam meraba kepalanya. Di dapatinya sang kepala sudah dibalut kain, pinggang dan
punggungnya terasa sakit.
Serentak teringat ia akan peristiwa yang dialaminya ketika berada dalam perut gunung
berapi. Jika dituturkan mungkin orang takkan percaya.
Ia menghela napas. Telinga serasa masih terngiang oleh lengkingan jerit Hian-song. Ah,
kemanakah gerangan dara itu… seketika darah mendebur keras. Tetapi dengan menahan
sakit, ia perlahan-lahan melangkah keluar dari ruangan.
Di luar gubuk, merupakan sebuah halaman yang penuh ditumbuhi bunga-bungaan.
Pemandangan sekeliling penjuru dan angin pegunungan yang berhembus, menimbulkan
rasa nyaman yang indah….
Beberapa langkah jauhnya, ia. bingung kemana harus mencari Hian-song. Ah, buruburu
ia berputar tubuh hendak bertanya pada nenek yang empunya gubuk.
Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki seseorang. Cepat ia berbalik tubuh lagi, ah,
ternyata seorang tukang tebang kayu kira-kira berumur lima puluhan tahun, memanggul
seonggok kayu bakar.
Siu-lam hendak menegur tetapi tiba-tiba tukang tebang kayu itu terkejut. Meletakkan
kayunya, ia buru-buru lari menghampiri.
“Hai, tuan luka parah sekali, belum sembuh. Mengapa keluar kemana-mana. Ah,
temanku ini memang kurang hati-hati menjaga!” serunya.
Siu-lam mengatakan bahwa ia sendirilah yang diam-diam telah keluar dari gubuk.
“Ah, kau benar-benar seorang pemuda kuat. Kemarin kau sangat payah sekali, tetapi
kini sudah jauh lebih baik!” seru si tukang tebang kayu.
“Paman, maukah paman menunjukkan tempat ketika paman menolong diriku kemarin?”
Tukang tebang kayu itu mengatakan bahwa Siu-lam masih terluka. Di kuatirkan tak
dapat mencapai tempat itu. Tetapi Siu-lam mengatakan tiada halangan.
Tukang tebang kayu itu mengatakan hendak memberitahukan kawannya dulu. Setelah
beberapa jenak masuk ke dalam gubuk, ia keluar dengan membawa sebatang tongkat
untuk diberikan pada Siu-lam.

Siu lam menghaturkan terima kasih. Dengan bantuan tongkat, ia berjalan mengikut
pemilik gubuk. Berkat Iwekangnya yang tinggi, lukanya sudah banyak berkurang sehingga
gerakannyapun makin lincah lagi.
Setelah melintasi puncak gunung, tibalah mereka di sebuah tempat yang seram.
“Jalanan lembah itulah yang di sebut Im-hong-koh yang termasyhur. Lembah itu sering
timbul angin badai yang dahsyat. Batu dan pohon beterbangan dilandanya. Cobalah lihat
keadaan lembah itu, tuan tentu tahu!”
Melongok ke bawah, tampak lembah itu ratusan tombak dalamnya. Dasarnya gelap
gulita. Dinding lembah merupakan karang yang licin dan melandai curam.
Orang tua itu menghela napas, ujarnya pula, “Im-hong-koh memang merupakan
tempat yang aneh sekali. Sepanjang dua, tigapuluh li, kedua lamping dinding lembah
tajam sekali. Ah, alam memang ajaib sekali di dalam menciptakan segala benda di dunia.
Jalanan lembah bagian sini hanya selebar sepuluhan tombak. Jika keadaan jalan ini serupa
dengan yang lain, kemungkinan seluruh lembah yang luasnya seratus li itu tak terdapat
barang suatu tumbuh-tumbuhan apa-apa….”
Lebih jauh orang tua itu menerangkan bahwa angin badai itu luar biasa dinginnya.
Maka lembah itu disebut orang Im-hong-koh (lembah angin Im atau jahat).
Siu-lam menanyakan tempat ia ditemukan dalam keadaan tak sadar.
Menuding ke arah sebuah puncak gunung yang terpisah satu li jauhnya, berkatalah
penebang kayu itu, “Tuan menggeletak pingsan di bawah batu besar itu!”
“Terima kasih atas pertolongan paman. Tetapi orang yang lainnya?”
“Apa? Kau mempunyai kawan?”
“Benar, aku bersama seorang adikku perempuan …. “
Orang itu gelengkan kepala dan berkata dengan mantap, “Tak perlu aku mencarimu.
Bahwa kau dapat selamat itu sudah seharusnya berterima kasih pada Tuhan. Adikmu itu
kemungkinan sudah lenyap ditelan angin Im-hong!”
Memandang jauh ke dalam lembah, beberapa butir air mata Siu-lam mengucur.
Kemudian ia berdoa, “Semoga Tuhan melindunginya agar dia terhindar dari bahaya
maut….”
Betapa pedih hati Siu-lam, sukar dilukiskan. Tetapi ketika teringat bahwa kepandaian
Hian-song lebih tinggi, ia terhibur. Kalau ia dapat berusaha menyelamatkan diri, tentulah
dara itu juga lebih mampu.
Tukang tebang kayu itu menanyakan bagaimana hal ikhwalnya Siu-lam dapat terlanda
badai Im-hong.
Dengan singkat Siu-lam menjawab, bahwa salah satu masuk ke dalam lembah ini !”

Tiba-tiba tukang tebang kayu itu berseru, “Ah, hampir aku lupa menerangkan. Lembah
Im-hong-koh ini selain mengeluarkan badai dingin, pun juga menghembuskan angin yang
panas, Jika angin panas itu berhembus, segala makhluk tentu terbakar hangus!”
Diam-diam Siu-lam memutuskan untuk kembali ke pondok orang tua itu dulu. Jelas
bahwa usaha pencaharian Hian-song, sukar sekali. Maka ia segera mengajak pak tua itu
pulang.
Orang tua itu mengangguk. Ia menghela napas, “Lembah Im-hong-koh itu merupakan
tenpat aneh nomor satu di dunia. Sekalipun luasnya hanya tiga empat puluh li tetapi
penuh dengan keajaiban keajaiban….”
Siu-lam minta supaya orang tua itu suka menceritakan lebih jauh.
Setelah sejenak mengumpulkan ingatan, orang tua itu bercerita lebih lanjut, “Lembah
ini sebenarnya merupakan lembah mati. Tetapi aneh sering mengeluarkan angin badai.
Padahal ujung lembah merupakan karang buntu. Entah dari mana angin itu asalnya….”
“Karena adanya angin dingin dan angin panas, iklim dalam lembah itu setiap saatpun
berobah-robah….”
Karena sejak tadi hanya mengatakan tentang badai, maka Siu-lam mendesaknya,
“Selain itu, apakah masih terdapat lain keanehan lagi?”
Orang tua menggaruk kepala, katanya, “Ada, ada. Setiap pertengahan tanggal, lembah
ini sering muncul gumpalan api warna kebiru-biruan yang bertebaran memenuhi lembah
dan mengeluarkan bunyi mendesis macam suara genderang. Dan di samping tiga buah
keanehan ini, masih ada keanehan yang keempat yang paling menyeramkan…”
“Apa?” tanya Siu-lam.
“Seekor binatang aneh yang mirip ular mirip naga. Tubuhnya bersisik merah seperti
api.”
“Hai? Ular atau naga?” Siu-lam berteriak kaget.
“Ketika kami datang, makhluk aneh itu tengah merayap masuk ke dalam sebuah goha
dan hanya ekornya yang masih berada di luar. Kala itu terang bulan sehingga tampak jelas
sekali kulit binatang itu. Yang anehnya, yang mengherankan, tampaknya binatang itu
mempunyai dua buah ekor. Jika benar seekor ular atau naga masakan berekor dua!” kata
si tukang tebang kayu.
Diam-diam Siu-lam membatin, kemungkinan tukang tebang kayu dan istrinya itu agak
silap sehingga mengira binatang itu berekor dua.
“Kemungkinan binatang itu memang ada dua ekor,” kata Siu-lam tertawa.
Tukang tebang itu berpaling menghadapi Siu-lam, serunya dengan tegas, “Aku sudah
berpuluh tahun. Tak mungkin keliru melihatnya. Jika toh semacam kelabang, tentulah
kelabang yang berumur ribuan tahun!”

Siu-lam tak mau berbantah. Setelah melihat-lihat beberapa saat, mereka pulang.
Wanita tua pemilik gubuk menyambut mereka di ambang pintu. “Kau masih berlumuran
darah mengapa kau jalan-jalan. Ayo, lekas masuk, bubur sudah menunggu!”
Siu-lam meoghaturkan terima kasih atas kebaikan nyonya rumah. Wanita itu tertawa
rawan, “Ah, sayang anak perempuanku ketika baru berumur tiga tahun telah digondol
setan gunung sehingga sampai sekarang lenyap. Entah hidup entah mati!”
“Ho, orang perempuan memang cupet pikiran. Masakan siang hari ada setan. Yang
jelas anak itu tentu dimakan binatang buas!” seru pak tua.
“Kenapa lain anak tidak dimakan? Kenapa hanya makan anakku saja…!” seru wanita itu
dengan marah.
Pak tua mengatakan pada Siu-lam bahwa sejak kehilangan anaknya, wanita itu
memang agak linglung, “Dia masih tetap yakin bahwa pada suatu hari, anaknya pasti akan
ketemu lagi!”
Siu-lam menghibur, “Keajaiban memang sering terjadi. Anak bibi, mungkin masih
hidup!”
Wanita itu gembira sekali. Tiba-tiba ia menghela napas, “Ah, jika anak itu ketemu, dia
tentu sudah seorang gadis yang cantik.
Pak tua tertawa, “Ha, ha, jangan melamun. Andaikata masih hidup, kemungkinan
diapun tak kenal lagi padamu!”
Jilid 20
KEMUDIAN mereka makan pagi. Selesai makan wanita itu memberikan ciri-ciri anaknya
kepada Siu-lam. Ialah siku lengan kanan gadis itu terdapat bekas luka terkena pisau
pemotong kayu. Ia minta apabila Siu-lam berjumpa dengan anak itu, supaya disuruh
pulang menemui ibunya.
Ketika beristirahat dalam biliknya, Siu-lam merenungkan peristiwa yang baru dialaminya
itu. Kemanakah lenyapnya Hian-song….
Tiba-tiba terlintas sesuatu dalam pikirannya. Bahwa dalam pertemuan di Beng-gak itu
boleh dikata seluruh rombongan orang gagah telah binasa. Dikuatirkan pihak Beng-gak
akan menggunakan kesempatan untuk menghancurkan pusat partai-partai persilatan.
Karena dipastikan bahwa partai-partai persilatan tentu belum mengetahui berita kematian
ketua dan tokoh mereka yang binasa di Beng-gak….
“Ah, aku harus memberitahukan berita itu kepada partai-partai persilatan agar mereka
dapat berjaga-jaga!” tiba-tiba ia membulatkan tekad. Ia mencoba mengerahkan napas,
ternyata luka yang dideritanya itu hanya luka luar.
Segera ia keluar menemui kedua suami isteri pemilik gubuk dan menyatakan kalau saat
itu juga ia hendak minta diri melanjutkan perjalanan.

Sudah tentu kedua suami isteri itu mencegah. Tetapi Siu-lam tetap pada keputusannya.
Ia mengatakan bahwa ia masih mempunyai urusan yang penting sekali maka terpaksa ia
harus pergi hari itu juga.
“Nanti dulu tuan,” tiba-tiba wanita tua mencegahnya, “anakku itu bernama Bong-lian.
Jika bertemu harap tuan memberitahu kepadanya bahwa ayah bundanya sangat
mengharap-harap sekali kedatangannya!”
Siu-lam mengiakan lalu melangkah pergi. Tetapi tiba-tiba ia berhenti lagi dan
menanyakan nama kedua orang tua itu.
Ternyata pak tua itu bernama Hun Kim-seng. Setelah mendapat keterangan, Siu-lam
pun segera pergi. Setelah turun dari puncak gunung yang sukar dilalui, hampir petang ia
sudah tiba di jalan besar.
Kini ia harus berpikir lagi. Ia menduga saat itu pihak Beng-gak tentu sudah
mengirimkan anak buahnya untuk mengobrak-abrik markas partai-partai persilatan. Harus
kemanakah ia lebih dulu. Setelah memikir beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk
menuju ke markas partai Siau-lim di gunung Ko-san lebih dulu. Ia anggap Siau-lim-si
sebagai partai pemimpin. Dan kedua kalinya ia hendak menyelidiki tentang diri si tabib
Gan Leng-po yang dibawa Tay Hong siansu ke Siau-lim-si untuk diobati.
Setelah peristiwa Beng-gak, kini ia merasa betapa pentingnya peta Telaga Darah itu.
Sayang peta itu sudah lenyap bersama Hian-song.
Ia melaksanakan rencana dengan segera. Menjelang tengah hari, tibalah ia di kaki
gunung Ko-san. Ia mencari sebuah tempat yang sepi untuk makan bekal ransumnya.
Setelah itu baru ia mendaki ke atas.
Siau-lim-si merupakan sebuah gereja besar yang termasyhur. Bangunan gereja meliputi
daerah sepuluh buah puncak gunung. Murid-muridnya berjumlah besar kecil. Peraturan
keras dan tertib.
Ketika tiba di pintu gerbang gereja, Siu-lam melihat sebuah papan yang bertuliskan tiga
buah huruf besar “SIAU LIM SI”.
Seorang paderi pertengahan umur segera menyambutnya, “Apakah sicu hendak
bersembahyang?”
Siu-lam gelengkan kepala, “Tidak, aku mempunyai urusan penting sekali mohon
bertemu dengan Hong-tiang (ketua). Sukalah taysu menyampaikan kepada beliau.”
Paderi jubah abu-abu itu sejenak memandang Siu-lam lalu kerutkan dahi, “Urusan
apakah yang sicu hendak beritakan itu? Apakah tak dapat diterima kecuali Hong-tiang?”
“Aku yang rendah adalah Pui Siu-lam, baru saja lolos dari Beng-gak….”
Mendengar itu seketika berubahlah wajah paderi itu, ujarnya, “Silahkan sicu duduk,
pinceng segera hendak menyampaikan pada Hong-tiang!” dia terus masuk dan Siu-lam
melangkah ke dalam ruangan.

Rupanya di dalam gereja sudah diadakan persiapan. Delapan paderi jubah kelabu,
berpencaran menjaga di belakang dan kanan kiri pintu. Masing-masing mencekal tongkat
sian-ciang.
Siu-lam agak meragu tetapi akhirnya ia terus masuk juga. Melihat itu buru-buru paderi
penyambut tetamu tadi memburu, serunya, “Marilah pinceng tunjukkan jalan!”
Tiba-tiba ia berputar tubuh dan melangkah ke sebuah gang yang terletak di samping
gang itu menuju ke sebuah hutan kecil yang penuh ditumbuhi rumput-rumput runcing dan
pohon-pohon bunga.
Cepat sekali paderi itu sudah melintasi lapangan rumput, taman bunga lalu masuk ke
hutan kecil. Di tengah hutan itu terdapat sebuah pondok batu merah.
Paderi itu lambatkan langkahnya dan berbisik kepada Siu-lam, “Pondok itu tempat
hong-tiang menerima tetamu. Sicu seorang tetamu dari jauh, silahkan duduk dulu. Akn
pinceng laporkan pada hong-tiang!”
Tiba-tiba mundur dua langkah lalu memberi hormat kepada Siu-lam, “Silahkan sicu
masuk!”
Siu-lam terkesiap melihat perubahan paderi itu. Sejenak meragu, ia terus masuk ke
dalam pondok. Paderi itu tak ikut masuk. Ia menunggu di luar seraya berkata, “Di dalam
pondok tersedia hidangan. Jika lapar, silahkan sicu dahar.” Habis berkata paderi itu terus
pergi.
Diam-diam Siu-lam membatin, “Siau-lim-si dikabarkan sebagai partai terkemuka dalam
dunia persilatan. Partai-partai Siau-lim-si sesama memiliki kepandaian sakti. Peraturannya
keras dan tertib, apa yang dilakukan oleh paderi tadi memang menimbulkan kesan yang
aneh!”
Siu-lam melihat pondok itu berpintu hitam. Kedua daun pintu bertuliskan huruf-huruf
emas yang berbunyi Ing-ping dan Siau-han. Begitu mendorong pintu, segera Siu-lam
membau hawa yang harum. Ia terkesiap.
Didapatinya dekat dinding ruang pondok terdapat sebuah meja pat-sian (delapan segi),
di tengahnya teletak sebuah tong-thing (tempat perasapan dari tembaga). Bau harum tadi
berasal dari asap tong-thing itu. Di samping thong-ting, terdapat poci porselen, cawan
kumala yang diatur rapi sekali. Selain dua buah kursi bambu, terdapat juga sebuah tempat
tidur bambu. Tetapi pondok itu kosong tidak ada orangnya.
Tiba-tiba Siu-lam merasa letih sekali. Begitu duduk di tempat tidur, dia terus pulas.
Ketika membuka mata, dilihatnya seorang paderi tinggi besar duduk di hadapannya.
Dan pondok itupun diterangi oleh lilin. Kiranya saat itu sudah malam hari.
Siu-lam mengucap dan berkata seorang diri, “Eh, bagaimana ini?”
“Omitohud,” seru paderi itu. “Loni bernama Tay Hui, kepala dari bagian ruang Tat-mowan
sini….”
Siu-lam melonjak bangun, “Ruang penyambut tetamu itu penuh dengan asap bius.”

Paderi itu gelengkan kepala tertawa, “Harap sicu jangan kuatir. Siau-lim-si tak nanti
menyimpan segala macam obat bius yang tak halal.”
“Mengapa setelah membau asap itu aku segera tak ingat diri?”
Paderi itu menghela napas, “Ah, sicu tentu letih setelah mengadakan perjalanan jauh.
Asap dalam ruang ini memang mengandung asap harum yang membuat orang tidur tetapi
sama sekali tak mengandung bahaya!”
Siu-lam coba melakukan pernapasan. Ternyata ia tak merasa sesuatu apa.
Kecurigaannya lenyap. Tetapi ia membantah, “Sebuah partai besar, mengapa Siau-lim-si
melakukan penyambutan secara begini?”
Wajah Tay Hui agak berubah, “Jika sicu bukan datang dari Beng-gak, tentu kami takkan
menyambut begini. Adalah karena…” ia tak melanjutkan bicaranya dan menghela napas.
“Apa? Apakah sudah ada orang Beng-gak yang lebih dulu datang ke sini?” Siu-lam
kaget.
Tay Hui mengangguk, “Inilah sejak beratus-ratus tahun pertama kali Siau-lim-si
mengalami kekalahan. Dengan hormat kami menyambut tapi mereka diam-diam telah
gunakan obat bius sehingga delapan belas orang Siau-lim-si tingkat hou-hwat telah
diculiknya…” Tay Hui batuk-batuk sejenak, katanya pula, “kemudian mereka dilepas lagi!”
Siu-lam terkejut. Diam-diam ia merangkai dugaan. Bahwa menilik gerak-gerik Tay Hui,
tentulah ada sebuah pusaka gereja itu yang telah dibawa kabur orang.
“Ah, kalau begitu kedatanganku ini terlambat…” kata Siu-lam.
Wajah paderi itu berubah serius, “Loni hendak mengajukan sedikit pertanyaan, entah
bagaimana pendapat sicu.”
Setelah Siu-lam memperlihatkan, Tay Hui berkata, “Sicu mempunyai hubungan apa
dengan Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa, entah apakah sicu suka memberitahukan?”
“Sama sekali tidak mempunyai hubungan apa-apa!”
Tay Hui merogoh keluar sebuah kim-pay (lencana emas) dari jubahnya, “Jika sicu tak
mempunyai hubungan apa-apa dengan wanita siluman itu, dari manakah sicu memperoleh
kim-pay ini?”
Kim-pay itu ternyata adalah milik dari sumoaynya. Setelah Siu-lam menghela napas,
ujarnya, “Kim-pay itu adalah milik sumoayku. Sudah lama kusimpan benda itu dan tak
pernah kuberitahukan. Bahkan kepada Tay Hong siansu, pun belum kulaporkan…” dua titik
air mata menetes dari matanya.
“Bagaimana dengan ciang-bun suheng kami itu?” bisik Tay Hui.
Siu-lam tertegun, serunya, “Apa? Apakah orang-orang Beng-gak itu tak
memberitahukan kepada lo-siansu?”

“Belum, orang itu bergegas sekali sehingga loni belum sempat membicarakan tentang
peristiwa di Beng-gak!”
“Bagaimana potongan wajah orang itu?” Siu-lam mulai curiga.
“Mengenakan baju panjang, menyanggal pedang dan memelihara jenggot putih.
Umurnya antara lima puluhan tahun!”
“Apakah raut wajahnya tidak mempunyai ciri-ciri aneh?” Tanya Siu-lam pula.
“Sayang loni tak begitu memperhatikan. Tetapi loni sudah mengirim tiga orang paderi
dari Tat-mo-wan sini, masing-masing membawa sepuluh murid, untuk mengejarnya. Asal
dia belum keluar dari daerah Tiong-goan saja, dalam lima hari tentu sudah datang
laporannya!”
Siu-lam menghela napas perlahan, kemudian dengan nada sarat ia berkata, “Terlebih
dulu aku hendak menyampaikan berita buruk kepada lo-siansu….”
Tubuh ketua ruang Tat-mo-wan bergetar. Cepat ia menukas, “Apakah ciang-bung
suheng kami mendapat halangan…?”
Siu-lam menghela napas, “Ciang-bun dari Siau-lim-si telah terperangkap ke dalam
ruang Hui-lun-tian. Nasibnya belum ketahuan. Dan rombongan tiga puluh enam murid
Siau-lim-si yang menyertai perjalanannya telah binasa semuanya….”
“Apa…? Ketiga puluh enam murid gereja kami itu mati semua?” Tay Hui terkejut.
“Jago-jago persilatan yang hadir dalam pertemuan Beng-gak itu, boleh dikata hampir
semua binasa. Yang berhasil lolos dari neraka Beng-gak itu hanya empat orang saja.
Tetapi yang nyata masih hidup saat ini hanya seorang. Yang tiga, belum ketahuan
nasibnya!”
Tay Hui siansu rangkapkan kedua tangan dan pejamkan mata. Mulutnya berkematkemit
memanjatkan doa.
Beberapa saat kemudian barulah ia membuka mata lagi, ujarnya, “Jika hal itu benar,
inilah yang pertama kali sejak berdirinya Siau-lim-si, gereja ini menderita malapetaka yang
paling mengerikan!”
“Kusaksikan dengan mata kepala sendiri tentang kebinasaan ketiga puluh enam muridmurid
Siau-lim-si itu. Tetapi tentang nasib Tay Hong siansu, aku tak mengetahui maka tak
berani mengatakan apa-apa,” kata Siu-lam.
Tay Hui siansu perlahan-lahan berbangkit, ujarnya, “Sekalipun saat ini buat sementara
loni menjadi pejabat kepala Siau-lim-si, tetapi tak berani mengambil putusan tentang
masalah ini. Jika sicu yakin akan kebenaran laporan sicu ini, segera loni hendak
memanggil rapat para tiang-lo, merundingkan urusan ini!”
Dengan tegas Siu-lam menyatakan bahwa apa yang ia beritakan tadi, memang benarbenar
suatu kenyataan. Di hadapan siapa ia berani memberi keterangan itu.

Tay Hui segera menjemput sebuah palu kayu terus hendak ditabuhkan pada lonceng di
atas meja. Tetapi tiba-tiba ia batalkan, katanya, “Sudah selama tiga puluh tahun ini
lonceng itu tak pernah ditabuh. Begitu dibunyikan, semua kepala ruangan dan para
tianglo, segera akan berkumpul dalam ruang Gi-it-thia. Jarang sekali hal itu terjadi apabila
tiada peristiwa yang amat penting. Sekali lagi harap Pui sicu suka mempertimbangkan. Ini
bukan urusan main-main. Apabila sampai keliru membunyikan lonceng itu, loni tak berani
menanggung jawab akibatnya!”
“Harap lo-siansu jangan kuatir.…”
Wajah Tay Hui mengerut gelap, katanya, “Loni benar-benar tak mengert dari perguruan
manakah Pui sicu ini. Kalau sekian banyak tokoh-tokoh sakti binasa di lembah Beng-gak,
mengapa sicu sendiri dapat lolos? Dengan demikian, sicu tentu memiliki kesaktian yang
luar biasa!”
Siu-lam menghela napas perlahan, “Ah, memang tak dapat kusesalkan kecurigaan losiansu!”
Pemuda itu segera menuturkan apa yang dialami selama masuk ke dalam lembah
Beng-gak.
Walau kurang jelas tentang diri pemuda itu, namun karena pemuda itu dapat
membawakan penuturannya dengan jelas dan teratur, sungkan juga Tay Hui untuk
menanyakan riwayat dari Siu-lam. Tanpa ragu-ragu lagi ia menabuh lonceng itu!
Begitu melengking, segera dua orang paderi kecil berlari-lari masuk dan memberi
hormat, “Apakah yang suhu hendak titahkan?”
“Siarkan bahwa lonceng Ken-sin-ciong telah berbunyi!” sahut Tay Hui siansu.
Kedua paderi kecil itu segera melakukan perintah. Sementara itu Tay Hui mondarmandir
dalam ruang pondok. Rupanya banyak sekali hal yang dipikirkan penjabat kepala
Siau-lim-si itu.
Tiba-tiba ia berhenti dan berpaling pada Siu-lam, “Menurut sicu, nasib ciang-bun
suheng loni kemungkinan besar sangat buruk?”
Sekali lagi Siu-lam mengatakan bahwa setelah menerobos keluar dari ruang Hui-luntian
ia tak tahu lagi bagaimana keadaan Tay Hong siansu.
Tay Hui menghela napas panjang. Menatap sebuah patung Tat Mo (pendiri Siau-lim-si)
yang berada di dinding, diam-diam ia berkata, “Sejak gereja Siau-lim-si didirikan Tat Mo
sucou, sudah berganti pimpinan sampai dua puluh delapan angkatan. Meskipun selama ia
mengalami badai taufan, tetapi tidaklah seperti saat ini di mana ciang-bun-jin (ketua) telah
menderita nasib yang tak berketentuan. Dikuatirkan rapat para tiang-lo nantipun takkan
menghasilkan sesuatu rencana yang dapat mengatasi keadaan ini.”
Siu-lam teringat akan si tabib Gan Leng-po, segera ia menanyakan, “Dalam pertemuan
para orang gagah di gunung Beng-gak, Tay Hong siansu telah mengirim tabib gila Gan
Leng-po ke gereja Siau-lim-si. Entah di manakah orang itu sekarang?”
“Bukankah orang itu agak sinting?” tanya Tay Hui. Siu-lam mengiyakan.

“Karena penyakitnya belum sembuh, dia ditempatkan di ruang Kwat-ci-wan. Terpaksa
ia tak boleh bergerak kemana-mana dulu!”
Siu-lam menyatakan apakah sekiranya diijinkan untuk menjenguk orang itu. Tetapi
pejabat ketua gereja itu mengatakan bahwa saat itu sudah larut malam. Apalagi seluruh
murid Siau-lim-si akan rapat membicarakan urusan penting itu.
Saat itu terdengar lonceng bertalu-talu. Tay Hui mengajak Siu-lam segera menuju ke
ruang Gi-su-tian.
Siu-lam terkejut. Ia seorang tamu, bagaimana dapat menghadiri rapat gereja.
“Jika tiada urusan yang luar biasa penting lonceng Ken-sin-cong takkan dibunyikan.
Dalam rapat nanti, harap Pui sicu menuturkan lagi peristiwa di Beng-gak kepada rapat,”
kata Tay Hui seraya melangkah keluar.
Keadaan dalam gereja itu, penuh dengan ruang-ruang besar dan lorong-lorong yang
berliku-liku. Karena Tay Hui berjalan cepat, maka Siu-lam tak sempat memperhatikan
keadaan sepanjang yang dilaluinya. Akhirnya tibalah mereka di sebuah ruang besar.
Ternyata di dalam ruang besar itu tampak terang benderang dan penuh dengan paderipaderi.
Begitu melihat kedatangan Tay Hui mereka sama memberi hormat.
Selama memasuki ruang besar itu, Siu-lam memperhatikan wajah dan sikap paderipaderi
itu tampak tegang. Tay Hui duduk di sebuah kursi yang terletak di tengah,
menghadapi sebuah meja dari kayu pohon siong. Di kanan kiri meja itu berderet-deret dua
belas kursi yang masih kosong.
Melihat suasana begitu tegang, Siu-lam tak berani duduk. Akhirnya Tay Hui
mempersilahkannya duduk di sebelahnya. Beberapa saat kemudian kursi-kursi kosong
tadipun sudah penuh orang. Mereka terdiri dari paderi-paderi tua yang paling muda
berumur lima puluhan tahun. Selebihnya rata-rata sudah lanjut usianya. Dari sinar
matanya yang tajam, jelas mereka itu memiliki ilmu lwekang yang tinggi.
Diam-diam Siu-lam menimang, “Kedua belas kursi itu tentu sebelumnya sudah
dipersiapkan menurut tingkat kedudukan masing-masing. Karena ada sebuah kursi yang
kududuki, tentulah ada seorang paderi yang tidak dapat tempat!”
Diam-diam iapun memperhatikan juga keadaan dalam ruang itu. Jelas bahwa semua
kursi telah diatur menurut bentuk tertentu. Merupakan sebuah lingkaran yang rapi dan
rapat. Tidak seorangpun dapat memasuki ke tengah siding, pun tidak seorangpun yang
dapat keluar dari ruang itu. Sayang Siu-lam tak mengerti makna daripada tempat duduk
yang diatur dalam rapat itu.
Sesaat kemudian berkatalah Tay Hui siansu, “Pui sicu ini telah datang dengan
membawa berita yang buruk. Ciang-bun-jin kita angkatan yang ke dua puluh delapan, tak
ketentuan nasibnya di Beng-gak. Ketiga puluh enam murid yang mengantarnya, pun
semua telah binasa….”
Seketika gemuruhlah ruang Gi-su-thia. Seluruh paderi yang hadir sama merangkapkan
kedua tangannya dan pejamkan mata seperti orang berdoa.

Beberapa saat kemudian, seorang paderi tua berjubah putih yang duduk paling depan
di deretan kiri, tiba-tiba berbangkit.
“Ciang-bun-jin berilmu tinggi, memiliki ilmu lwekang yang sempurna. Tak mungkin dia
mendapat kesulitan. Sute sebagai pejabat ciang-bun-jin, tentu sudah mempunyai bukti
yang kuat tentang berita itu. Apakah sute sudi memberitahukan kepada kami semua?”
Tay Hui menghormat paderi tua itu. Setelah memberi hormat, berkatalah ia, “Pui sicu
ini, datang dari jauh. Ia menempuh perjalanan siang malam. Tentulah dia takkan gegabah
berani sembarangan bicara!”
Siu-lam berbangkit. Setelah memberi hormat kepada hadirin, berserulah ia, “Wanpwe
mohon Tanya, kursi suhu siapakah yang wanpwe duduki ini?”
Sekalian mata memandangnya tetapi tiada seorangpun yang menyahut. Ternyata kursi
itu adalah tempat bagi Tay Hui siansu. Tetapi karena dia telah diserahi oleh suhengnya
(Tay Hong siansu) sebagai pejabat pimpinan gereja, maka ia duduk di kursi ketua.
Diam-diam Siu-lam menyadari kekeliruannya dan minta maaf, tetapi tiada seorangpun
yang menjawab. Dia tertegun. Beberapa saat kemudian berkata, “Aku datang dari Benggak….”
Tiba-tiba sebuah suara parau menyeletuk dari deretan kursi sebelah kiri, “Loni sudah
menjelajah seluruh gunung ternama di segenap tanah air, namun belum pernah loni
mendengar gunung yang bernama Beng-gak!”
“Beng-gak berada dalam lingkungan pegunungan Thay-san. Terpisah seratusan li dari
puncak Beng-gwat-ciang. Karena jalannya sukar dilalui, penuh hutan belukar yang lebat,
maka sukar diketemukan!” sahut Siu-lam.
Tay Hui siansu meminta agar pemuda itu suka menuturkan pengalamannya sekali lagi.
Siu-lam mengiyakan. Lalu ia menuturkan sekali lagi pengalamannya selama ikut dalam
rombongan orang-orang gagah yang dipimpin Tay Hong siansu mendatangi pesta maut di
Beng-gak. Semua ia ceritakan sejelas-jelasnya. Tetapi mengenai Bwe Hong-swat
memberinya pil penolak racun dari peta yang disimpan Hian-song, ia tak mau
mengatakan.
Segenap paderi Siau-lim-si telah mendengarkan cerita itu dengan teliti dan kritis sekali.
Belum Siu-lam habis bercerita seorang paderi menyeletuk pertanyaan, “Sin Ciong tojin
adalah ketua Bu-tong-pay yang sakti dan termasyhur di penjuru tanah air. Adalah karena
diberi minum pil wasiat dari Bu-tong-pay maka kedua saudara Kat dapat tertolong jiwanya.
Tetapi entah mengapa Pui sicu dan nona Tan itu tidak terkena racun orang Beng-gak.
Apakah sicu berdua lebih sakti dari Sin Ciong totiang?”
Terhadap pertanyaan semacam itu, memang Siu-lam sudah siap. Tetapi karena
dikuatirkan menimbulkan kecurigaan hadirin, Siu-lam terpaksa merenung sejenak untuk
mengatur jawaban.
“Berkata bantuan dari seorang ko-chiu Beng-gak yang secara diam-diam telah memberi
obat penawar, barulah aku dapat selamat!” sahutnya kemudian.

“Dia tidak puas melihat keganasan ketua Beng-gak, dan diam-diam mengandung
maksud hendak kembali lurus. Itulah sebabnya ia mau memberi bantuan kepadaku!”
Paderi tua yang bertanya itu, duduk di sebelah selatan. Wajahnya merah mengenakan
jubah warna kuning telur. Umurnya lebih dari lima puluh tahun. Menilik tempat duduknya,
dia tentu mempunyai tingkatan yang tinggi dalam gereja Siau-lim-si.
“Kalau orang itu benar mempunyai maksud untuk kembali ke jalan lurus, mengapa dia
tak mau menolong semua orang gagah dan hanya kepada sicu berdua saja?” kembali
orang itu berseru. Maksudnya, jika orang itu bersungguh-sungguh hendak kembali ke jalan
lurus mengapa tak mau minta pertolongan Sin Ciong tojin saja daripada hendak menolong
dua orang anak muda yang tak terkenal.
Pertanyaan itu telah menimbulkan reaksi. Sekalian paderi Siau-lim-si timbul
kecurigaannya kepada Siu-lam. Beratus-ratus mata mencurahkan kepada pemuda itu.
Dalam gugupnya Siu-lam menyahut, “Orang itu seorang gadis!”
Paderi jubah kuning telur itu kerutkan dahi. Dia hendak membuka mulut tetapi tidak
jadi. Sebagai seorang paderi Siau-lim-si yang tinggi kedudukannya, ia tak leluasa untuk
mengungkapkan hubungan antara pria dan wanita. Tapi penyahutan Siu-lam itu memang
membuat orang curiga.
“Siapakah gadis itu?” sesaat kemudian paderi jubah kuning itu bertanya pula.
Walaupun Siu-lam sudah menduga akan menerima pertanyaan itu, namun di depan
siding paderi Siau-lim-si yang begitu serius mau tak mau ia terkesiap juga. Setelah
beberapa saat kemudian baru ia dapat menyahut agak lampias, “Dia murid dari ketua
Beng-gak!”
Seketika berisiklah ruang sidang. Jawaban pemuda itu sangat tak terduga-duga. Tetapi
pada beberapa saat kemudian, suasana kembali tenang.
Paderi yang duduk di muka pada deretan sebelah kanan, serentak bangkit. Dia
mengenakan jubah biru. Ujarnya, “Bagaimana sicu dapat mengenal murid Beng-gak itu?”
Siu-lam menyadari bahwa pertanyaan itu mengandung kecurigaan kepada dirinya.
Serempak iapun bangkit dengan marah, “Kedatanganku kemari ini hanya perlu untuk
menyampaikan berita. Sama sekali tak mengharap atas bantuan toa-suhu sekalian.
Percaya atau tidak, terserah saja. Maaf, aku hendak mohon diri karena masih ada urusan
lain!”
Habis berkata pemuda itu memberi hormat terus melangkah keluar.
Dari deretan tempat duduk yang ditempati oleh rombongan paderi, masing-masing
mempunyai kedudukan. Jika buka kepala ruang tentulah termasuk golongan tiang-lo
(sesepuh). Mereka atas tindakan Siu-lam, tapi mereka diam saja. Adalah barisan paderi
yang duduk di barisan tengah, tak mampu membiarkan. Mereka bergerak dan berjajar
menjadi sebuah dinding penutup jalan.
Siu-lam berhenti. Diamatinya barisan penghadang itu. Hanya ada dua macam jalan.
Menerjang atau loncat melampaui kepala mereka.

“Omitohud,” seru Tay Hui siansu. “Pui sicu harap tunggu sebentar lagi, loni hendak
bicara.”
Walaupun marah terhadap rombongan paderi yang menghalanginya tapi Siu-lam tak
berniat hendak bertempur. Iapun berhenti ketika diminta Tay Hui siansu.
“Taysu hendak memberi petunjuk apa?” tanyanya.
Tay Hui minta pemuda itu kembali ke tempat duduknya dulu. Setelah itu barulah
penjabat ketua Siau-lim-si berdiri, “Hingga sekarang, belum pernah terjadi seorang
ketuanya sampai tiada ketahuan nasibnya. Berita yang sicu bawa itu, benar-benar
merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah kehidupan Siau-lim-si. Adalah karena
luapan perasaan maka terdapat beberapa yang agak keras. Dalam hal ini harap sicu suka
berlapang dada!”
Kata-kata yang dibawakan penuh keramahan itu, membuat Siu-lam sungkan juga. Ia
tak menyalahkan sikap para paderi Siau-lim-si yang mencurigai dirinya.
Tay Hui gelengkan kepala, “Tay Hong suheng, merupakan tunas yang paling cemerlang
dalam Siau-lim-si. Kecerdasan dan kesaktiannya yang melebihi orang. Bahwa dia sampai
tertimpa masih yang tiada ketentuan itu, selain merupakan suatu hinaan bagi gereja Siaulim-
si, pun benar-benar merupakan suatu peristiwa yang mengejutkan….”
Paderi tua yang duduk pada paderi pertama di sebelah kanan tiba-tiba bangkit, “Atas
kesungguhan hati dari Pui sicu yang tak segan menempuh perjalanan jauh untuk
menyampaikan berita itu, murid Siau-lim-si angkatang ketiga, sangat berterima kasih.”
Buru-buru Siu-lam memberi hormat dan mengucapkan kata-kata merendah.
Paderi tua itu menghela napas pelahan, ujarnya pula, “Malapetaka yang menimpa ketua
Siau-lim-si dari Beng-gak itu, selain merupakan suatu noda bagi Siau-lim-si, pun
merupakan suatu peristiwa yang sangat menggemparkan dunia persilatan!”
Sahut Siu-lam, “Siau-lim-si telah dianggap sebagai bintang Pak-tau (pemimpin) dunia
persilatan. Telah berabad-abad menegakkan keadilan dan membela kebenaran,
mempelopori perjuangan untuk perikemanusiaan!”
Tay Hui pun menanggapi, “Siau-lim tak berani menepuk dada sebagai pembela keadilan
dan kebenaran, tetapi kiranya kaum persilatan tentu sudah mengetahui sendiri peraturan
dan pantangan-pantangan murid Siau-lim-si. Keadaan sekarang ini, bukan hanya
menyangkut kepentingan Siau-lim-si saja, melainkan mengenai hidup matinya dunia
persilatan dan kesejahteraan rakyat. Harap Pui sicu suka memberi keterangan seadanya
agar kami dapat mempunyai gambaran jelas untuk menentukan langkah selanjutnya.”
Kata Siu-lam, “Apa yang wanpwe tuturkan tadi, adalah apa yang wanpwe saksikan dan
alami sendiri. Satupun tak wanpwe rahasiakan. Kalau toh ada satu dua bagian yang
wanpwe sengaja lewatkan, karena mengenai sedikit hubungan pribadi wanpwe. Tapi hal
itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa yang penting….”
Dia menengadah dan menghela napas panjang. Katanya lebih jauh, “Keadaan Beng-gak
itu memang serba aneh. Baik orang, pakaian, maupun tempatnya. Mereka sama

mengenakan kedok muka. Rupanya ketua Beng-gak memang sengaja hendak menjadikan
markas Beng-gak itu seolah-olah seperti istana iblis. Dan orang-orang yang berwajah aneh
itu semua memiliki kepandaian sakti. Wanpwe pernah bertempur dengan mereka.
Walaupun menderita luka yang bagaimana parahnya, mereka pantang mengeluh sakit!”
Tay Hui berpaling ke arah seorang paderi tua berjubah putih yang di deret muka
sebelah kanan. Bisiknya, “Suheng memiliki pandangan yang luas. Setiap kali Ciang-bun
suheng tentu minta pendapat suheng. Bagaimana kiranya pendapat suheng dalam
peristiwa ini?”
Paderi tua itu pejamkan mata. Sesaat kemudian berkatalah ia, “Keadaan dewasa ini
benar-benar di luar kemampuan kita. Rasanya lebih baik kita mengundang kedua susiok
supaya turun gunung.”
Siu-lam tertegun. Dipandangnya paderi itu dengan cermat. Seorang paderi tua yang
beralis tebal dan putih, wajahnya penuh lekuk-lekuk, usianya tentu lebih dari tujuh puluh
tahun. Diam-diam Siu-lam heran. Kalau paderi itu sudah sedemikian tuanya, tentulah
susioknya (paman guru) sudah berumur lebih dari seabad.
Tay Hui siansu menghela napas pelahan, “Kedua susiok itu sudah tiga puluh tahun
menutup diri dari soal keduniawian. Entah apakah kedua beliau itu suka turun gunung
lagi.”
Paderi jubah kuning telur yang duduk tak jauh dari Siu-lam, tiba-tiba ia berdiri, “Untuk
mengganggu kedua susiok, menurut pandangan siaute, adalah tidak tepat. Kedua susiok
kita sudah mendekati kesempurnaan, apabila sampai terganggu tentu akan besar
akibatnya. Salah-salah bisa tertimpa bencana co-hwe-jip-mo (rusak jasmaninya)!”
“Jika tidak mengganggu kedua susiok, lalu bagaimana pendapat sute?” tanya Tay Hui.
Paderi jubah kuning telur itu merenung sejenak lalu berkata, “Menurut hematku, lebih
baik kita kerahkan ko-chiu Siau-lim-si untuk menyusul ke Beng-gak. Lebih dulu kita selidiki
keadaan Tay Hong suheng, kemudian kita pancing orang Beng-gak dalam barisan Lo-hantin
agar dapat menangkapnya hidup-hidup….”
Paderi jubah putih tadi gelengkan kepala, “Menurut sute, bagaimana kepandaian sute
dibanding dengan Tay Hong suheng?”
Dengan merendah, paderi jubah kuning telur itu mengakui kalah sakti.
“Itulah,” kata paderi jubah putih “di antara murid-murid Siau-lim-si dewasa ini, Tay
Hong sutelah yang paling cemerlang. Baik dalam ilmu kesaktian maupun dalam pelajaran
keagamaan. Keenam murid-murid berpangkat hou-hwat yang menyertai itu, merupakan
murid-murid pilihan dari ruang Tat-mo-wan….”
Mata paderi berjubah putih itu berkilat-kilat memandang Siu-lam, katanya lebih lanjut,
“Jika apa yang dikatakan Pui sicu ini benar, maka ketiga puluh enam murid hou-hwat itu
sudah binasa semua. Cobalah kita renungkan. Di antara murid-murid tingkatan ketiga dari
gereja Siau-lim-si sekarang ini, siapakah yang mampu menyamai kepandaian mereka….”
“Pendapat suheng memang benar,” kata Tay Hui.

Paderi tua jubah putih itu menghela napas, “Tay Hong sute telah memimpin muridmurid
hou-hwat dan mengetuai rapat besar kaum gagah. Sebelum pergi, rupanya sute
sudah mempunyai firasat bahwa kepergiannya kali ini lebih banyak akan menghadapi
bahaya daripada selamat. Maka diam-diam sute telah berunding dengan aku. Apa yang
dibicarakan pada tengah malam itulah yang membuat aku kagum akan kecerdasan dan
pandangan Tay Hong sute….”
Paderi tua itu mengerling pandangannya ke sekeliling ruang. Sekalian paderi tampak
serius dan tenang.
“Dalam pembicaraan tengah malam itu, pernah kuminta agar dia jangan pergi tetapi
aku atau Tay Hui sute saja yang mewakili Siauw-lim-si. Tetapi Tay Hong sute menolak.
Kuperingatkan kepadanya bahwa dia adalah pimpinan Siau-lim-si yang amat dibutuhkan
tenaga dan pikirannya oleh gereja ini. Sudah tentu tak boleh sembarangan meninggalkan
gereja ini. Karena jika sampai terjadi sesuatu, bukan saja Siau-lim-si akan kehilangan
pemimpin tetapi akan merugikan nama gereja ini. Tetapi lagi-lagi Tay Hong sute tetap
pada pendiriannya. Akhirnya ia mengusulkan untuk menguji kepandaian dengan aku.
Siapa yang unggul dialah yang akan memimpin rombongan Siau-lim-si menghadiri
undangan Beng-gak. Terus terang saja, sute sekalian, walaupun dalam pelajaran kitab aku
sangat mengagumi Tay Hong sute yang lebih pandai dari semua suhengnya, tetapi dalam
ilmu kesaktian kurasa Tay Hong sute belum tentu menang dari aku. Kuterima usulnya itu.
Tetapi apa yang terjadi? Hanya dalam sepuluh jurus, ya sepuluh jurus kemudian Tay Hong
sute telah gunakan ilmu pukulan sakti Lui-im-ciang, menundukkan tiga macam ilmu
kesaktian yang aku yakinkan selama empat puluh tahun yakni tutukan jari Kim-kong-ci,
tendangan Koan-im-ciok dan ilmu sakti Lo-han-cit-si….”
Demi mendengar penuturan yang terus terang dari paderi tua jubah putih itu, seketika
terkejutlah sekalian paderi yang hadir di situ.
Ilmu jari sakti Kim-kong-ci, tendangan Koan-im-ciok dan pukulan Lo-han-cit-si,
merupakan tiga macam ilmu istimewa dari tujuh puluh dua buah pusaka Siau-lim-si itu
benar-benar merupakan ilmu kesaktian yang tiada taranya di dunia persilatan. Adalah
karena saktinya, maka tak mudahlah orang mempelajari. Apabila orang dapat memahami
dua buah saja, maka dia sudah dapat dianggap seorang tokoh yang jarang tandingannya.
Bahwa Tay Hong siansu dalam sepuluh jurus dapat mengalahkan ilmu jari Kim-kong-ci,
tendangan Koan-im-ciok dan pukulan Lo-han-chit-si, benar-benar menggemparkan seluruh
sidang! Yang hadir dalam rapat luar biasa gereja Siau-lim-si saat itu, adalah para paderi
murid Siau-lim-si yang berkedudukan tinggi. Dalam arti kata tinggi ilmu pelajaran
agamanya dan tinggi pula ilmu kesaktian silatnya. Mereka mengerti apa yang dimaksud
dengan Kim-kong-ci, Koan-im-ciok dan Lo-han-chit-si itu. Hampir mereka tak percaya akan
apa yang didengarnya saat itu. Namun karena yang mengatakan itu paderi jubah putih
yang menjadi suheng dari ketua Siau-lim-si sekarang, mau tak mau mereka mesti percaya.
Tay Ih siansu, si paderi tua jubah putih itu, menghela napas, ujarnya pula, “Setelah Tay
Hong sute menang, maka keputusanpun tetap Loni tak dapat ingkari janji lagi. Kini sute
tak mau memperbincangkan urusan ke Beng-gak lagi dan mulai membicarakan tentang
kedua susiok kita yang sudah mensucikan diri itu. Pada waktu kedua susiok hendak mulai
mensucikan diri, beliau telah meninggalkan pesan. Walaupun hal itu terjadi pada duapuluh
tahun berselang, tetapi Tay Hong sute dapat mengingat tiap patah dengan jelas. Sute
menuturkan pesan kedua susiok itu kepada loni….”

Diam-diam Siu-lam terkejut. Apa yang disebut Pit-koan-co-sian (bersemedhi mencapai
kesempurnaan) di kalangan kaum paderi, atau Jip-ting (masuk ke dalam kesunyian) dari
kaum imam (paderi yang memelihara rambut), adalah sama dengan ilmu bersemedi dari
kaum persilatan. Dapat bersemedi beberapa jam saja , semangat segar. Bersemedi
beberapa hari, akan memperoleh kekuatan dan pikiran yang terang sekali. Apalagi kedua
paman guru Tay Hong yang sudah bersemedhi selama dua puluh tahun. Dapat
dibayangkan betapa kesempurnaan ilmu yang akan dicapainya….
“Apakah sebelum pergi, Tay Hong suheng sudah meninggalkan pesan?” tanya Tay Hui
siansu.
Tay Ih siansu si paderi jubah putih mengangguk, “Dia pernah memberitahu kepada si
suheng. Di antara suheng dan sute seperguruannya mungkin sukar untuk mencari orang
yang mampu menandingi kepandaiannya. Diapun mengatakan pula bahwa kepergiannya
ke Beng-gak itu sukar diramalkan bagaimana akhirnya. Apabila terjadi sesuatu, Tay Hong
sute pesan kepadaku agar menasihatkan kepada para sute sekalian, agar jangan bertindak
sembarangan. Janganlah sute segera mengerahkan seluruh anak murid menggempur
Beng-gak. Tay Hong menandaskan bahwa hidup matinya Siau-lim-si, bukanlah sematamata
hanya mengenai gereja ini. Karena sejak berates-ratus tahun Siau-lim-si merupakan
pedoman dari dunia persilatan. Jika Siau-lim-si musnah, dunia persilatan pasti kacau. Tay
Hong sute meminta padaku supaya sute sekalian dapat menahan diri!”
Paderi jubah kuning telur yang usianya paling muda sendiri, berseru, “Menurut
pendapat suheng, kita tak perlu mencari jejak Tay Hong suheng yang tak ketahuan itu,
bukan?”
“Menurut pesan Tay Hong sute, kita harus tunggu sampai tahun depan bulan tiga, ialah
pada saat persemedhian kedua susiok kita sudah selesai, barulah kita mengundang pada
kedua beliau itu,” sahut Tay Ih siansu.
Siu-lam menyeletuk, “Tetapi nafsu orang Beng-gak untuk menguasai dunia persilatan,
takkan menunggu sampai tahun muka. Mungkin mereka segera akan menyerang kemari!”
Tay Hui siansu serempak berbangkit dan berkata kepada paderi jubah kuning telur,
“Tay To sute, harap menemani Pui sicu ini beristirahat ke ruang Tat-mo-wan!”
Siu-lam tahu bahwa para paderi Siau-lim-si itu hendak merundingkan soal yang
penting. Maka iapun segera melangkah keluar. Tay To si paderi jubah kuning telur
mengikutinya.
Begitu keluar dari ruang, Tay To percepat langkahnya menyusul ke muka Siu-lam,
ujarnya, “Pui sicu, gereja ini penuh dengan alat-alat yang berbahaya, harap jangan
sembarangan pergi kemana-mana. Marilah kita ke ruang Tat-mo-wan beristirahat.
Sebelum terang tanah, Tay Hui suheng tentu sudah membawa keputusan!”
“Mudah-mudahan lekas ada keputusan agar aku lekas-lekas pergi ke lain tempat,” kata
Siu-lam.
Paderi itu menanyakan kemanakah Siu-lam hendak pergi selanjutnya nanti.

Jawab Siu-lam, “Dalam pertempuran di Beng-gak, sebagian besar orang gagah yang
hadir telah hancur binasa. Beruntung aku dapat lolos. Maka menjadi kewajibanku untuk
menyampaikan berita buruk itu kepada masing-masing partai, agar mereka dapat bersiapsiap….”
Dia menghela napas, serunya pula, “Inilah merupakan tujuanku pokok pada dewasa
ini!”
“Menurut pendapat Pui sicu, bagaimana kalau kami kerahkan seluruh anak murid Siaulim-
si untuk menggempur Beng-gak?”
“Anak buah Beng-gak merupakan manusia-manusia yang serba misterius dan ganas.
Sedangkan Siau-lim-si adalah partai pemimpin dari dunia persilatan. Ketujuh puluh dua
ilmu kesaktian Siau-lim-si telah diketahui orang dan beratus-ratus tahun telah
menggetarkan dunia persilatan. Jika mengadu kekuatan dengan Beng-gak, memang sukar
diramalkan kesudahannya,” jawab Siu-lam.
Wajah paderi itu agak menggelap, “Dalam hal tipu muslihat dan senjata rahasia, orang
Beng-gak yang lebih ganas itu tentu dapat mengalahkan Siau-lim-si. Tetapi jika mereka
berani mengadu kesaktian dalam ilmu kepandaian silat dan tetap dapat mengalahkan
Siau-lim-si, loni benar-benar tak percaya!”
Di antara para tianglo dan ketua-ketua ruang, paderi Tay To itulah yang paling keras
wataknya. Ucapannya sering-sering menusuk hati.
Siu-lam kerutkan dahi. Pikirnya, “Paderi ini sombong sekali. Tak memandang mata pada
lain orang. Biarlah kucari kesempatan untuk memberinya sedikit hajaran agar dia sadar!”
Baru ia hendak membuka mulut cari alas an, terdengar paderi Tay To itu berseru, “Pui
sicu, pinceng bersyukur bahwa sicu dapat lolos dari Beng-gak….”
“Bukankah itu suatu hal yang mustahil dapat dipercaya?” cepat Siu-lam menangkap isi
hati orang.
“Ah, tidak. Pinceng benar-benar girang atas kemujuran sicu.”
Merekapun tiba di ruang muka Tat Mo-wan. Dua buah lentera merah tergantung pada
kedua pintu gerbang, menerangi tiga huruf Tat Mo-wan yang besar.
Saat itu tergeraklah pikiran Siu-lam. Ia menyatakan bahwa Siau-lim-si memiliki tujuh
puluh dua buah ilmu kepandaian yang termasyhur. Berapa banyak paderi Tay To itu telah
berhasil mempelajarinya.
Tay To siansu berpaling menatap Siu-lam dengan tertawa bangga, “Apakah maksud
sicu bertanya begitu?”
Siu-lam tertawa, “Aku ingin memohon taysu suka mempertunjukkan barang sejurus,
agar menambah pengalamanku yang sempit.”
“Silahkan sicu mengajukan caranya,” cepat Tay To menyahut.

Siu-lam terkesiap. Benar-benar paderi itu congkak sekali. Serentak ia berkata, “Konon
kabarnya Siau-lim-si memiliki sebuah ilmu pukulan sakti yang disebut Peh-poh-sin-kun
(ilmu silat sakti seratus langkah). Di dalam ilmu silat itu terdapat jurus Kek-san-ba-gu
(pukulan kerbau di balik gunung). Benarkah itu?”
Tay To siansu tertawa, “Walaupun dalam ketujuh puluh dua ilmu kesaktian Siau-lim-si
tiada jurus Kek-san-bak-gu dari Peh-po sin-kun, tetapi ada sebuah ilmu yang disebut Siphun-
ciang. Sama saktinya dengan ilmu pukulan Kek-san-bak-gu.”
“Kiranya taysu tentu sudah menguasai ilmu itu. Ingin benar aku yang rendah
menikmatinya.”
Tay To memandang ke arah kedua lentera yang tergantung pada pintu. Tingginya tak
kurang dari setombak. Ujarnya, “Kaum pertapa dan agama, sebenarnya mengutamakan
kesabaran dan ketenangan. Tak bernafsu untuk mengejar keduniawian dan nama. Tetapi
dewasa ini dunia telah dilanda kekacauan dan pembunuhan. Setan-setan dan iblis
berkeliaran mencari korban. Demi welas asih yang kami junjung, benar-benar kami tak
dapat melihat kesemuanya itu berlangsung terus….”
Berhenti sejenak ia lanjutkan pula, “Sicu telah lolos dari Beng-gak dan jauh-jauh
memerlukan datang kemari untuk menyampaikan berita buruk tentang ciang-bun suheng
kami, membalas budi sicu, pinceng akan mengunjuk permainan yang jelek….” Habis
berkata tiba-tiba ia mengangkat tangan kanannya. Lentera merah sebelah kanan yang
tergantung tinggi, bergoyang-goyang dan tiba-tiba padam!
Diam-diam Siu-lam membatin, “Ah, makanya paderi ini congkak sekali. Dia memang
sungguh-sungguh memiliki kepandaian.”
Serentak berserulah ia memuji, “Ah, benar-benar ilmu tamparan Sip-hun-ciang yang
hebat. Kemasyhuran Siau-lim-si sebagai sumber ilmu kesaktian, memang bukan kabar
bohong!”
Dengan berseri gembira dan bangga, Tay To mengucapkan beberapa kata merendah.
Diam-diam Siu-lam telah memutuskan untuk memberi kesulitan pada paderi itu supaya
jangan terlalu congkak. Tetapi akibatnya, ilmu pukulan Sip-hun-ciang tadi malah makin
membuat si paderi bangga sekali.
Tiba-tiba Tay To berkata, “Para kochiu yang datang ke Beng-gak sama binasa semua
kecuali sicu seorang. Pui sicu benar-benar seorang yang besar sekali rejekinya!”
“Ah, hal itu hanya secara kebetulan saja.”
Tay To tertawa dingin, katanya pula, “Ah, tak mungkin suatu peristiwa yang kebetulan.
Kalau Pui sicu tak mempunyai ilmu kepandaian sakti, tak mungkin dapat lolos dari Benggak.”
Diam-diam Siu-lam membatin, rupanya paderi-paderi Siau-lim-si curiga karena ia lolos
dari Beng-gak. Tetapi mereka tak mau terang-terangan mengatakan….

Seketika timbullah kemarahan Siu-lam. Ia balas tertawa dingin, “Memang benar, jika
aku tak mempunyai sedikit kepandaian, sekalipun dibantu orang dalam secara diam-diam,
tetapi juga sukar dapat lolos!”
“Nah, Pui sicu seorang yang cepat berpikir, tangkas bicara. Seorang yang jujur dan
suka berterus terang. Tetapi entah, apakah sicu tak keberatan untuk mempertunjukkan
barang satu dua macam kepandaian yang sicu miliki itu agar dapat menambah
pengalaman pinceng?”
Wajah Siu-lam serentak berubah gelap. Ia tegak berdiri tak mengucap apa-apa.
Rupanya ia tengah menimang. Jelas bahwa ilmu pukulan lwekang Sip-hun-ciang dari
paderi itu hebat sekali. Jika apa yang dipertunjukkan lebih rendah dari itu, tentu akan
ditertawakan. Ia agak bingung dalam memilih ilmu apa yang pantas dikeluarkan untuk
mengimbangi pukulan Sip-hun-ciang.
Melihat pemuda itu diam saja, paderi Tay To tertawa, “Apakah Pui sicu belum dapat
menjatuhkan pilihan?”
Merahlah wajah Siu-lam. Ia mengangkat kepala. Tampak paderi Tay To
memandangnya dengan dingin. Amarah Siu-lam makin merangsang. Tanpa banyak piker,
serentak ia berseru, “Bagaimana kalau kuingin mencoba pukulan toa-suhu?”
Tay To terkesiap, tetapi pada lain saat ia tertawa dingin, “Tangan dan kaki tidak
bermata. Jika pinceng sampai kesalahan melukai sicu, bukankah akan menimbulkan
peristiwa dendam-mendendam?”
“Walaupun aku ini seorang bodoh, tetapi dari nada ucapan toa-suhu tadi, agaknya toasuhu
tak percaya atas lolosku dari Beng-gak….”
“Benar,” Tay To tertawa, “memang pinceng agak heran atas peristiwa itu. Dunia
persilatan penuh dengan tipu muslihat. Gereja ini pernah menderita….”
Jawab Siu-lam, “Ah, toa-suhu terlalu berprasangka. Meskipun dengan cara apa kuberi
penjelasan, tentulah sukar dapat diterima. Maka sebaiknya kita saling menguji kepandaian
dulu, baru nanti kita bicara lagi.”
“Baiklah kalau sicu menghendaki demikian,” kata paderi Tay To lalu mempersilahkan
pemuda itu memulai lebih dahulu.
“Harap toa-suhu hati-hati!” sambil berseru Siu-lam maju memukul.
Bahu paderi itu bergetar dan orangnya menyingkir ke samping. Kemudian ia berdiri
tegak sambil rangkapkan kedua tangannya.
“Mengapa toa-suhu tak mau membalas?” seru Siu-lam.
“Pui sicu seorang tetamu jauh, pinceng hendak menghormat sampai tiga jurus,” sahut
Tay To.
Wajah Siu-lam berubah, serunya, “Harap toa-suhu jangan terlalu memandang rendah
padaku. Janganlah toa-suhu mengalah sampai tiga jurus. Sekali lagi aku hendak

menyerang, apabila toa-suhu mampu menghindar, aku bersedia mengaku kalah,” sahut
paderi itu tak mau kalah garang.
Siu-lam tertawa tawar, serunya, “Satu dengan sepuluh, terpaut banyak sekali.
Hendaknya toa-suhupun jangan kelewat bangga!”
Dalam pada berkata itu, Siu-lam diam-diam sudah kerahkan tenaga dalam. Dan habis
berkata, segera ia menggembor keras seraya menghantam. Hantamannya menggunakan
jurus Hud-hwat-bu-pian ajaran kakek dari Hian-song yang sakti. Begitu pukulan
dilancarkan, segera Tay To rasakan sesuatu yang membuatnya kesima kaget. Buru-buru ia
apungkan diri loncat beberapa langkah ke belakang.
Tetapi Siu-lam tertawa dingin dan cepat-cepat membayanginya. Gerak pukulannyapun
bertubi-tubi dilancarkan dengan gaya yang berubah-rubah.
Tay To rasakan pukulan anak muda itu mencurah hebat, sebentar dari sebelah kanan
sebentar dari kiri sehingga membuat orang berkunang-kunang. Hanya dalam beberapa
kejap saja, pukulan anak muda itu sudah menghambur ke arah jalan darah Hian-ki yang
berbahaya.
Tay To tercengang. Buru-buru ia pejamkan mata dan berseru, “Ah, pinceng mempunyai
mata tetapi tak mengetahui sicu memiliki kepandaian yang sakti, sehingga….”
Tangan Siu-lam yang sudah menjamah pada dada paderi itu, cepat ditariknya dan
mundur dua langkah, “Ah, rupanya toa-suhu memang sengaja mengalah. Aku berterima
kasih sekali.”
“Pinceng benar-benar mengaku tunduk. Ucapan sicu, lebih membuat pinceng malu
sekali!”
“Ah, benar-benar kepandaianku masih kalah jauh dengan toa-suhu,” Siu-lam merendah.
Tay To menghela napas pelahan, “Ah, jika dengan ilmu sakti yang sicu miliki itu tak
dapat mengalahkan orang Beng-gak, terang kalau orang-orang Beng-gak itu memang
sakti sekali!”
Siu-lam menerangkan bahwa ilmu kesaktian orang Beng-gak memang mempunyai
aliran tersendiri. Ditambah pula dengan cara mereka menghias diri dan berpakaian yang
seram-seram, Beng-gak benar-benar merupakan sebuah daerah iblis.
Kini paderi Tay To berubah sikapnya. Tak berani lagi ia bersikap congkak. Ia segera
mempersilahkan tetamunya masuk.
Ruang Tat-mo-wan merupakan ruang berlatih silat. Perlengkapan ruang itu sangat
seram. Begitu melangkah masuk, empat orang paderi segera menyambut dan memberi
hormat kepada paderi Tay To.
Tay To memberi pesan, “Pui sicu ini datang dari jauh sekali karena kepentingan gereja
Siau-lim-si. Layanilah sebaik-baiknya!”

Keempat paderi itu segera mengantarkan Siu-lam ke sebuah kamar. Lima buah lilin dan
hidangan telah disiapkan. Setelah keempat paderi itu minta diri, Siu-lam segera makan
kemudian baru tidur. Lilin dipadamkan dan ia duduk bersemedhi.
Berkat lwekangnya makin maju, dalam beberapa waktu saja, Siu-lam sudah pulih
kesegarannya. Ia tak perlu tidur dan melainkan melanjutkan semedhi. Tetapi karena
teringat akan peristiwa-peristiwa yang dialaminya, menjelang pagi baru ia dapat
bersemedhi dengan pikiran kosong.
Turun dari pembaringan ternyata hari sudah tinggi. Dan ternyata paderi Tay To sudah
menunggu sejak tadi.
“Tay Hui suheng hendak mengundang sicu ke Kwat-si-wan untuk menemui seorang
sahabat,” kata Tay To.
“Apakah orang itu agak limbung pikirannya?” tanya Siu-lam.
“Entah, pinceng tak jelas keadaan orang itu. Tetapi ruang Kwat-si-wan merupakan
ruang pengadilan dari gereja ini. Bahwa Tay Hui suheng hendak menunggu sicu di Kwatsi-
wan, tentulah menyangkut urusan yang penting!”
Demikian keduanya segera menuju ke ruang Kwat-si-wan. Di sinilah persidangan,
pengadilan dan hukuman diputuskan. Tak seorangpun diperbolehkan masuk ke dalam
ruang itu, sekalipun anak murid Siau-lim sendiri.
Setiap paseban atau gedung ruangan, didirikan di sebuah halaman yang luas.
Merupakan sebuah gedung bangunan tersendiri. Setiap paseban, diurus di bawah
pimpinan seorang paderi. Di antara sekian paseban-paseban, di antaranya paseban Tat
Mo-wan dan Kwat-si-wan inilah yang paling keras peraturannya. Sekalipun anak murid
Siau-lim-si sendiri, tak boleh memasuki ruang atau paseban tersebut kalau tak mendapat
panggilan. Keliling Tat Mo-wan dan Kwat-si-wan ditutup dengan pagar tembok dan dijaga
ketat. Halamannya ditanami pohon siong yang berusia satu abad.
Sebuah bangunan batu yang merupakan bagian kamar penjara dari Kwat-si-wan,
tampak di antara gerumbul pohon di dekat ruang paseban.
Tay To membawa Siu-lam masuk dan menuju ke sebuah ruangan yang temboknya
berwarna kuning tua. Jika waktu berada dalam ruangan Gi-su-thia (tempat rapat) tadi Tay
To garang sekali sikapnya, tetapi saat itu dia berubah sopan-santun sekali.
“Pui sicu telah datang,” serunya dengan hormat.
Dari dalam kamar terdengar suara Tay Hui menyahut perlahan, “Silahkan sute
kembali.”
Dengan serta merta Tay To minta diri mempersilahkan Siu-lam masuk.
Siu-lam dan Tay Hui siansu ditemani Tay Ih siansu. Kedua paderi tua itu tampak serius.
Mereka duduk di atas dua buah permadani. Siu-lam pun dipersilahkan duduk.
Dinding ruang itu ditutup dengan kain layar warna kuning tua juga. Tay Hui bertepuk
tangan dan layar kuning tersingkap. Dua orang paderi bertubuh kekar masuk membawa

seorang pria tua yang berpakaian compang-camping dan mukanya kotor, rambut kusut
dan jenggot panjang.
“Kenalkah Pui sicu kepada orang itu?” tanya Tay Hui.
Siu-lam gelengkan kepala dan mengatakan tak kenal.
“Harap sicu mengamati secara teliti lagi. Orang itu lama sekali mengasingkan diri,
mungkin perangainya berubah.”
Tapi Siu-lam tetap menyatakan tak kenal.
“Apakah orang itu bukan Gan Leng-po ang sicu sebut itu?” tiba-tiba Tay Ih siansu
berseru.
“Aku telah beberapa kali bertemu muka dengan Gan Leng-po. Dalam keadaan
bagaimanapun, tak mungkin aku lupa. Jelas dia bukan Gan Leng-po,” sahut Siu-lam
dengan tegas.
Tay Hui siansu serentak bangkit dan memberi isyarat kepada kedua paderi itu supaya
membawa orang tersebut keluar.
Tay Hui segera mengajak Tay Ih keluar. Tay Ih siansu mempersilahkan Siu-lam supaya
ikut. Walaupun tak tahu apa maksud kedua paderi pimpinan tertinggi dari Siau-lim-si itu,
namun Siu-lam mengikuti juga.
Ternyata mereka menuju ke pondok yang diperuntukkan tempat tahanan. Tay Ih siansu
mengeluarkan kunci dan membuka pondok itu. Di luar dugaan, ternyata keadaan dalam
pondok itu bersih sekali. Seorang lelaki tua yang jenggotnya putih menjulai sampai ke
dada, duduk bersila di sudut ruangan.
“Gan Leng-po…” serentak Siu-lam berseru perlahan dan buru-buru lari menghampiri
kemudian memberi hormat. Ia merasa bersalah terhadap tabib tua itu. Terutama ia ikut
bertanggung jawab atas keadaan si tabib yang menjadi orang sinting itu.
Dalam hari-hari terakhir ini, Gan Leng-po tampaknya makin tua. Tetapi penyakit gilanya
agak baik. Dia duduk diam. Ketika melihat ketiga orang itu masuk, ia tersenyum tetapi
tetap diam saja. Diapun tak memperdulikan pemberian hormat dari Siu-lam tadi.
Tay Ih siansu berbisik, “Harap Pui sicu maafkan loni. Adalah karena terpaksa oleh
keadaan maka loni telah menggunakan sedikit muslihat untuk menguji sicu.”
Siu-lam yang berotak terang, segera mengerti apa yang dimaksudkan orang itu.
Dibawanya lelaki tua untuk dikenal oleh Siu-lam tadi hanyalah suatu percobaan buat
mengetahui keadaan pemuda itu yang sebenarnya.
Namun Siu-lam seolah-olah tak mengerti apa yang diucapkan Tay Ih siansu, tanyanya,
“Apakah penyakit linglung dari Gan lo-cianpwe ini sudah agak sembuh?”
Tay Hui menghela napas. Ia mengatakan telah berusaha sekuat tenaga. Kesehatan
badan tabib itu sudah bertambah maju, tetapi penyakit pikirannya masih belum sembuh.

Kata Siu-lam, “Satu-satunya orang yang mengetahui jelas latar belakang Beng-gak,
rasanya hanya orang ini saja. Jika penyakit linglungnya sudah sembuh, tentu akan
membantu banyak sekali dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi sekarang ini!”
Tay Hui siansu berkata, “Berita yang sicu sampaikan itu, merupakan suatu noda dan
hinaan bagi Siau-lim-si sejak gereja ini berdiri ratusan tahun. Semalam loni telah
berunding dengan sekalian suheng dan sute. Kami menganggap masalah ini sangat gawat
sekali. Suatu kekalahan yang kita derita, berarti kemusnahan bagi dunia persilatan….”
Pejabat ketua Siau-lim-si itu menghela napas, ujar selanjutnya, “Terus terang
kukatakan kepada sicu bahwa di antara paderi golongan loni yang memakai gelar Tay, Tay
Hong suhenglah yang paling tinggi kepandaiannya. Begitu pula ketiga puluh enam paderi
hou-hwat yang menyertai kepergiannya itu, adalah pilihan dari anak murid Siau-lim-si
tingkat ketiga dewasa ini. Yang masih berada dalam ribuan paderi, tetapi jikalau
berhadapan dengan pihak Beng-gak, tentu hanya ibarat anai-anai membentur api saja.
Loni dan para suheng sute sekalian telah memutuskan untuk menggunakan Ki-kin-coan-im
(menyusupkan suara melalui getaran urat nadi) menyampaikan berita buruk ini kepada
paman guru….”
“Bukankah kedua lo-cianpwe itu masih belum menyelesaikan persemedhiannya?” tanya
Siu-lam.
“Apa boleh buat, keadaan memaksa kami untuk mengganggu ketenangan kedua susiok
itu,” Tay Hui menghela napas.
“Karena tugasku menyampaikan berita sudah selesai, maka aku hendak mohon diri,”
kata Siu-lam.
“Ilmu Ki-kin-coan-im dapat tidaknya sampai pada kedua lo-cianpwe, masih belum kami
ketahui. Sebaiknya sicu suka tinggal beberapa hari lagi baru nanti kita putuskan lagi,”
sahut Tay Ih siansu.
Diam-diam Siu-lam membatin, “Ah, Siau-lim-si benar-benar merupakan sumber ilmu
kesaktian yang sukar sekali diketahui ukurannya. Ilmu meluncurkan hawa dalam lewat
jalan darah, benar-benar sejenis ilmu yang baru pertama kali ini kudengar. Entah apa yang
disebut dengan ilmu Ki-kin-coan-im itu. Tetapi yang jelas bersemedhi sampai berpuluh
tahun, benar-benar suatu keanehan yang sukar dipercaya. Ah, kiranya aku tentu akan
mendapat banyak sekali pengalaman apabila tinggal beberapa hari lagi di gereja ini.”
Akhirnya ia menyatakan tidak keberatan untuk tinggal di gereja itu beberapa hari lagi.
Tay Ih segera mengajak keluar dari pondok itu. Setelah melalui beberapa buah ruang
dan halaman, mereka berjalan melalui sebuah jalan kecil yang penuh ditumbuhi rumput
dan bunga-bunga hutan. Walaupun sebuah bangunan yang luas sekali, tetapi keadaan
dalam gereja Siau-lim-si itu terawat bersih. Hanya di tempat yang mereka tengah lalui itu
rupanya memang tak mendapat pengurusan.
Saat itu mereka tiba di sebuah hutan kecil yang terdiri dari pohon bambu semua. Hutan
bambu itu agak menarik perhatian. Setiap pohon bambu tampaknya ditanam dalam jarak
tertentu dan bersilang selisih seperti sebuah barisan.

Tay Hui tundukkan kepala. Mulutnya berkemak-kemik mengucap doa. Setelah itu baru
melangkah ke dalam hutan itu.
“Harap Pui sicu mengikuti di belakang loni, agar jangan tersesat jalan,” kata Tay Ih.
Diam-diam Siu-lam membatin bahwa hutan pohon bambu itu tentu bukan hutan biasa.
Kemungkinan merupakan sebuah barisan. Atau mungkin dalam hutan itu penuh dipasangi
alat-alat rahasia.
Akhirnya tibalah mereka di sebuah dinding tembok yang buntu dan rusak. Pintunya
yang sudah kumul warnanya, tampak tertutup rapat. Dua kali Tay Hui siansu mengetuk.
Setelah menanti beberapa saat, tiba-tiba ia berpaling dan berbisik kepada Tay Ih siansu,
“Sudah berapa tahun kita tak datang ke sini?”
“Mungkin sudah tiga tahun. Kita datang sekali bersama Tay Hong sute,” sahut Tay Ih.
“Ah, dalam waktu tiga tahun, banyak sekali perubahan tempat ini. Entah apakah kera
putih yang biasa mengantar buah-buahan itu masih hidup?” tanya Tay Hui pula.
“Baiklah sute ketuk sekali! Apabila tak ada tanggapan suatu apa baru kita masuk!”
Tay Hui segera melakukan permintaan suhengnya. Dia mengetuk dua kali. Ternyata
pintu tetap tak ada reaksi suatu apa.
Jilid 21
SIU LAM menimang dalam hati: “Selama dalam perjalanan ke sini tadi, sikap paderi itu
tampak hormat sekali. Tentulah tempat ini merupakan pertapaan paman guru mereka.
Kalau mereka berdua begitu menghormat, itulah karena mereka anak murid Siau-lim-si.
Tetapi aku bukan murid Siau-lim-si, biarlah aku pura-pura tak tahu peraturan di sini.”
Secepat mendapat pikiran, ia terus loncat ke atas dinding tembok. Ternyata di dalam
dinding tembok itu terdapat tiga buah pondok yang berjajar-jajar. Setiap pondok
besarnya hampir sama dengan tiga buah kamar. Pondok itu tak terawatt sama sekali.
Sekelilingnya penuh ditumbuhi rumput dan alang-alang yang liar. Ruang pondok ditabur
dengan batu kerikil sebesar telur.
Tiba-tiba Siu-lam agak terkejut. Ia melihat seekor kera putih tengah duduk bersila di
atas dahan sebatang pohon siong.
Tay Hui dan Tay Ih tak mencegah tindakan Siu-lam. Mereka berdiri di depan pintu
sambil pejamkan mata.
Siu-lam batuk-batuk loncat ke bawah lalu membukakan pintu. Tay Hui membuka mata
dan memandang pemuda itu marah. Rupanya ia tak senang atas tindakan Siu-lam tetapi
tak mengucap apa-apa.
“Omitohud!” Tay Hui berseru seraya melangkah pelahan-lahan ke dalam. Tay Ih siansu
mengikutinya dari belakang. Ketika melihat kera putih yang duduk bersemedi di atas
pohon, kedua paderi itu agak terkesiap dan menghampiri.
Ketika dekat, Tay Hui kerutkan dahi tetapi tak mengucap apa-apa. Kini Siu-lam baru
mengetahui bahwa kera putih yang duduk bersemedi di atas pohon itu ternyata sudah
mati. Ketika melihat kedua pemimpin gereja Siau-lim-si bersikap amat menghormat sekali
kepada kera putih itu, Siu-lam pun buru-buru ikut memberi hormat.

Tay Hui menghela napas pelahan lalu menuju ke pondok yang terletak di tengah.
Sebenarnya sebuah pondok yang indah buatannya, tetapi karena tak terurus maka
merupakan sebuah pondok yang menyeramkan.
Beberapa langkah di muka pondok tengah itu Tay Hui siansu tiba-tiba berhenti dan
berlutut, lalu berseru pelahan-lahan: “Tecu Tay Hui, dengan sangat terpaksa sekali
menghadap susiok berdua. Karena bencana yang menimpa gereja Siau-lim-si dewasa ini
benar-benar di luar kemampuan tecu sekalian. Tay Hong suheng telah lenyap di markas
Beng-gak. Bagaimana nasib belum diketahui. Dunia persilatan bakal terancam
kemusnahan yang ngeri. Tecu atas perintah Tay Hong suheng telah menerima tugas
sebagai pejabat ketua Siau-lim-si. Tetapi sayang, karena tecu seorang bodoh, maka tak
dapat mengatasi kesulitan ini. Demi untuk menjaga kelangsungan hidup gereja Siau-lim-si
dan demi keselamatan dunia persilatan pada umumnya, terpaksa tecu memberanikan diri
menghadap pada susiok berdua.”
Habis berkata Tay Hui segera memberi hormat tiga kali, lalu bangkit dan mendorong
daun pintu pondok. Securah debu telah berhamburan ke tubuh Tay Hui.
Dengan berbisik-bisik Tay Hui menerangkan pada Siu-lam bahwa pondok itu adalah
tempat pertapaan kedua paman gurunya. Ia minta agar Siu-lam suka membatasi diri.
Pemuda itu tersipu-sipu mengiyakan.
Perabot dalam pondok itu sederhana sekali. Kecuali sebuah balai-balai dari kayu, tak
ada lain perkakas lagi. Sudut ruang penuh dengan sarang galagasi. Diam-diam pemuda
itu heran karena tak melihat kedua paderi yang dikatakan sebagai paman guru dari Tay
Hui dan Tay Ih itu.
Tay Hui dan Tay Ih tegak dengan meneliku tangan. Matanya memandang ke sekeliling
ruang buat mencari sesuatu.
Beberapa saat kemudian, delapan orang paderi melangkah masuk. Siu-lam masih
ingat, bahwa kedelapan orang paderi itu adalah paderi-paderi tingkat tinggi yang ikut hadir
dalam rapat gereja di ruang Gi-su-thia tadi malam. Di antaranya terdapat Tay To siansu,
paderi itu masing-masing mencekal sebatang tongkat bambu.
Sejenak setelah memandang ke arah rombongan paderi yang datang itu, Tay Hui
segera melangkah ke sudut ruang. Setelah membersihkan debu-debu yang menumpuk
tebal, ia mendorong. Tiba-tiba dinding tembok mereka dan tampaklah sebuah liang
bundar yang kecil.
Rombongan paderi yang datang itu segera menyambung bambu yang mereka bawa
lalu dimasukkan ke dalam lubang yang dibuat oleh Tay Hui tadi. Setelah selesai, Tay Hui
minta rombongan paderi itu kembali.
Tay Hui mengeluarkan sebuah giok-cu (zamrud), dimasukkan ke dalam lubang bambu.
Kemudian ia duduk bersemedi di lantai. Setiap sepenanak nasi lamanya, paderi itu
memasukkan sebuah giok-ci lagi. Habis memasukkan giok-cu, dia duduk bersemedi lagi.
Tak kurang dari lima biji giok-cu telah dimasukkan dalam bambu dan memakan waktu
sampai dua jam lamanya. Tetapi tetap tiada reaksi suatu apa.
Karena kesal melihat itu, Siu-lam segera ikut bersemedi. Ketika sadar, matahari pun
sudah mulai condong ke barat. Dilihatnya kedua paderi itu masih tetap bersemedi. Diamdiam
Siu-lam memuji konsentrasi yang hebat dari kedua pimpinan Siau-lim-si itu!
Pada saat Siu-lam menarik napas, kejutnya bukan kepalang. Terasa darah
menghambur ke dadanya. Buru-buru ia berusaha untuk menahannya. Kemudian berjalan
mondar-mandir dalam ruang itu.
Ruang pondok itu sudah bertahun-tahun tak disapu. Debu menumpuk tebal sekali.
Baru dua kali berjalan mondar-mandir, debu berhamburan memenuhi ruangan sehingga
jubah kedua paderi itupun berlumuran debu.
Tiba-tiba Siu-lam mendapat pikiran. Sesaat ia lupa akan tempat di situ. Kakinya tak
henti-hentinya bergerak sehingga debu makin lama makin tebal.

Akhirnya Tay Ih tak dapat bersabar lagi, serunya berbisik; “Hampir. Pui sicu jangan
keras-keras berjalan!”
Tetapi rupanya Siu-lam tak menghiraukan dan terus bergerak-gerak saja.
“Ah, rupanya dia tak sabar menunggu maka sengaja menyepak-nyepak debu supaya
kita keluar. Ah, lebih baik tak usah menghiraukannya!” bisik Tay Hui.
Tay Ih siansu gelengkan kepala: “Masakan dia sendiri tak terganggu matanya?” Paderi
itu segera memandang dengan seksama. Dilihatnya pemuda itu tengah meram tetapi jari
tangannya menggurat-gurat, entah sedang bermain apa.
Kiranya suatu hal yang tak terduga-duga telah dialami Siu-lam. Biasanya jika
bersemedhi, ia tak dapat mengosongkan pikiran benar-benar. Karena terlalu tercekam
oleh pikiran-pikiran yang tak lepas. Kuatir akan kedatangan musuh atau teringat akan
peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Tetapi saat itu lain sekali halnya. Karena dekat
dengan kedua paderi Siau-lim-si, ia tak mempunyai kekuatiran apa-apa dan lepaslah
segala isi hatinya. Dia dapat bersemedhi dengan sempurna, mengosongkan pikirannya
menunggalkan pribadi dalam alam kehampaan.
Ternyata hal itu membawa khasiat yang luar biasa. Bersemedhi dengan benar-benar
kosong pikiran menyamai hasilnya dengan berlatih lwekang selama berbulan-bulan.
Ketika ia bangun, sebenarnya hawa murni yang masih menebar di tubuhnya itu belum
reda.
Karena belum pernah merasakan hal ini maka Siu-lam agak kaget. Tetapi beberapa
saat kemudian, ia rasakan tubuhnya nyaman sekali, pikiran terang benderang. Seketika
iapun teringat akan jurus Jiau-toh-co-hoa ajaran dari orang tua dalam goa. Ingatannya
segera merayap dan menyusuri inti gerak-gerak jurus itu. Makin lama makin jelaslah ia
akan keindahan dan kesaktian yang terpendam dalam ilmu itu. Ibarat orang menggali,
makin dalam ia makin menemukan benda kuno yang tiada ternilai harganya.
Terbenamnya Siu-lam ke dalam alam yang baru itu, tanpa disadari, ia telah melakukan
gerakan tangan menirukan jurus Jiau-toh-co-hoa….
Melihat pemuda itu tetap bolak-balik dan melakukan gerakan tangan, kembali Tay Ih
berbisik pada Tay Hui: “Rupanya pemuda itu sudah linglung. Mengapa dia bolak-balik di
tempat yang punya debu….”
“Tetapi agaknya dia sedang melakukan gerakan ilmu silat,” sahut Tay Hui.
Tay Ih pun mengawasi dengan cermat. Memang pemuda itu bergerak-gerak secara
aneh sekali. Walaupun kedua paderi itu termasuk jago-jago silat kelas satu, tapi mereka
tak mengerti apa yang tengah dilakukan pemuda itu. Dan memang gerakan Siu-lam itu
tak menyerupai pukulan ilmu silat yang manapun juga.
Baik Tay Hui maupun Tay Ih tercengang. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara halus
yang memancar dari dalam buluh bambu: “Tay Hong sutit? Apa dalam gereja terjadi
sesuatu?”
Tay Ih siansu terkejut. Setelah menggamit Tay Hui, ia segera loncat menyerbu Siu-lam
untuk menghentikan tindakan pemuda itu.
Tay Hui cepat-cepat menyahut melalui buluh bambu: “Tecu Tay Hui, mohon maaf
sebesar-besarnya karena berani mengganggu susiok berdua.”
Dalam pada itu Tay Ih yang menyerbu Siu-lam tadi, telah mengalami peristiwa yang
mengejutkan. Ketika ia hampir dekat dengan pemuda itu, tiba-tiba tubuh pemuda itu
memancarkan angin tenaga yang menampar padanya. Begitu tenaga itu membentur
badannya, bukan lenyap tapi malah makin dahsyat. Terpaksa Tay Ih menangkisnya.
Siu-lam tersadar dari kelelapannya. Melihat debu memenuhi ruang, buru-buru ia
hentikan gerakannya dan minta maaf. Tetapi cepat-cepat Tay Ih memberi isyarat agar
pemuda itu jangan buka suara karena dapat mengganggu Tay Hui. Siu-lampun menurut.
Ketika memandang ke arah Tay Hui, dilihatnya pejabat ketua itu tengah bicara.

“Tay Hong suheng dengan tiga puluh enam murid, telah menuju ke Beng-gak. Ketiga
puluh enam murid tingkat hou-hwat itu binasa semua dan Tay Hong suheng tak ketahuan
nasibnya. Dalam keadaan terpaksa, tecu bermusyawarahan dengan tianglo….”
Kata-kata Tay Hui itu tak dilanjutkan karena dari buluh bambu terdengar penyahutan.
Tay Ih dan Siu-lam pasang pendengaran dengan seksama.
Terdengar suara yang lembut macam nyamuk mengiang: “Ya, ketahuilah. Tengah
malam nanti bersama susiokmu, aku hendak menghentikan persemedian. Tetapi
waktunya tak boleh lebih dari dua jam. Apa yang hendak kau ajukan, tulislah semua agar
jangan ada yang kelewatan!”
“Tecu akan melaksanakan perintah,” dengan khidmad Tay Hui siansu memberi hormat
lalu bangkit.
Siu-lam termangu berapa saat, baru ia menanyakan apakah yang bicara tadi kedua
paman guru kedua paderi itu.
“Benar, yang bicara tadi memang salah seorang supeh loni,” jawab Tay Hui.
“Bersemedi selama tiga puluh tahun, benar-benar aneh sekali. Jika tak menyaksikan
sendiri, tentu tak mungkin percaya,” kata Siu-lam.
Tay Hui mengajak mereka keluar. Setelah berada di luar, pejabat ketua Siau-lim-si itu
menghela napas: “Sebelum mendapat jawaban tadi loni memang tak yakin. Sebelum
pergi ke Beng-gak, setiap tiga tahun sekali Tay Hong suheng tentu datang kemari. Kecuali
mengajak Tay Ih suheng, ada kalanya, lonipun diajak kemari….”
“Apakah setiap kali juga menggunakan buluh bambu untuk bicara?” tanya Siu-lam.
Tay Hui gelengkan kepala: “Tidak, karena pada waktu itu ada kera putih yang menjadi
penghubung. Dengan otaknya yang luar biasa cerdasnya, Tay Hong siansu telah dapat
menyelami gerak-gerik dan bahasa kera putih itu. Dengan perantara kera putih itulah
maka Tay Hong suheng dapat mengetahui keadaan kedua paman guru kami. Pun tadi
kami hendak berbuat begitu, sayang kera putih itu sudah tewas.”
Demikian mereka bertiga segera kembali ke dalam induk gereja. Sebelumnya Tay Hui
telah memerintahkan supaya di sekeliling pondok pertapaan kedua paman gurunya itu
dijaga keras. Hal itu untuk menghadapi kemungkinan musuh menyerbu agar jangan
sampai mengganggu kedua paman gurunya.
Tay Ih mempersilahkan Siu-lam beristirahat dan nanti tengah malam supaya datang ke
ruang Kwat-si-wan lagi.
Karena pakaian Siu-lam kotor, ia minta pinjam jubah paderi. Tetapi Tay Hui keberatan.
Ia suruh seorang paderi kecil membawa Siu-lam ke sebuah desa yang terletak di belakang
gereja. Di situ terdapat beberapa perumahan rakyat dan anak sungai.
Tiba di sebuah rumah, tiba-tiba seorang gadis muncul dan menegurnya: “Siapa kau…!”
Gadis itu berusia lebih kurang delapan belas tahun. Mengenakan baju pendek warna
biru, rambutnya dikuncir panjang dan sedang mencekal jarum dan benang. Rupanya ia
sedang menjahit.
Walaupun seorang gadis gunung tetapi ia tidak pemalu. Begitu memikat Siu-lam,
segera ia menegurnya: “Tuan tentu datang dari jauh, apakah tidak lapar?”
Siu-lam geleng kepala dan menanyakan ayah gadis itu. Rupanya gadis itu pernah
menerima pelajaran sastra. Ia mengerti akan pertanyaan Siu-lam yang menggunakan
bahasa halus.
“Ayah sedang mencari kayu, adikku sedang menggembala. Jika tuan membutuhkan
apa-apa, silahkan bilang kepadaku,” sahutnya.
“Terima kasih aku tak berani merepotkan nona. Lebih baik aku hendak bertanya pada
rumah di seberang itu,” jawab Siu-lam seraya ngeloyor pergi.
Melihat gerak-gerik pemuda itu, si gadis tersenyum dan menggerutu: “Ah, seorang kutu
buku!”
Siu-lam tak menghiraukan dan terus menghampiri ke gubuk yang satu. Kemudian ia
berseru nyaring minta buka pintu.

Dari dalam gubuk muncul seorang wanita muda yang cantik. Siu-lam tercengang dan
diam-diam mengeluh. Tetapi karena terlanjur sudah mengetuk pintu, terpaksa ia bertanya
juga: “Tolong tanya, apakah ayah nona berada di rumah?”
Gadis itu gelengkan kepala, tertawa: “Rumahku di gunung itu. Di sini rumah bibiku!”
Kembali Siu-lam mengulang pertanyaan, apakah ada lain orang lagi di rumah situ.
Gadis itu tertawa: “Di dusun daerah gunung yang sepi, penghidupan amat sederhana
sekali. Siang hari orang lelaki keluar bekerja. Ah, tuan datang terlalu pagi.”
Siu-lam tak mau terlibat dalam pembicaraan lebih panjang lagi. Segera ia minta diri.
Tetapi gadis itu mendesaknya: “Eh, tuan mempunyai keperluan apa?”
Terpaksa Siu-lam menerangkan maksudnya hendak pinjam pakaian. Kalau disetujui, ia
bersedia mengganti kerugian dengan uang.
“Ah, di tempat terpencil ini, uang tidak berguna lagi. Sekalipun tuan punya banyak
uang aku tak berani menerima!” sahut gadis itu.
Siu-lam terkesiap. Diam-diam ia membatin, ucapan gadis itu makin lama makin tajam.
Tentulah bukan sembarang wanita. Ia minta maaf dan buru-buru pergi.
“Tunggu tuan!” tiba-tiba wanita itu berseru, “Akan kuambilkan barang itu!”
Tanpa menunggu penyahutan Siu-lam, gadis itu terus masuk ke dalam dan berapa
lama muncul membawa sebuah bungkusan putih lalu dilemparkan ke arah Siu-lam: “Harap
tuan terima!”
Siu-lam hendak menghaturkan terima kasih tetapi wanita itu sudah berputar diri dan
masuk ke dalam lagi, lalu menutup pintu. Siu-lam pun segera tinggalkan pondok itu.
Ketika tiba di tepi sungai barulah ia teringat akan membuka bungkusan itu. Kejutnya
bukan kepalang. Selain berisi pakaian dalam yang mahal, pun terdapat seperangkat
pakaian seorang bu-su (perwira tentara) warna hitam. Bagian dadanya disulam dengan
lukisan naga terbang.
Bermula ia hendak mengembalikan saja pakaian itu kepada wanita tadi tetapi
mengingat pakaiannya sudah tak keruan, terpaksa ia memakainya juga.
Selain pakaian bu-su, pun terdapat lagi sebuah mantel warna merah dan sepasang
sepatu. Begitu memakainya, tampaklah ia lebih gagah.
“Ah, dalam pakaian itu Pui sicu tampak lebih gagah sekali…” tiba-tiba paderi kecil yang
mengantarnya tadi berseru.
Siu-lam ayun tubuhnya melompati sungai itu seraya berseru: “Ah, janganlah siau-suhu
keliwat menyanjung diriku!”
Mereka pulang ke gereja lagi. Ketika tiba di muka pintu, tiba-tiba Siu-lam berhenti dan
bertanya: “Siau-suhu, siapakah yang menempati kedua gubuk itu?”
“Mereka sudah lama tinggal di situ. Aku jarang sekali keluar gereja. Yang kuketahui
gubuk itu dihuni banyak orang. Laki-laki, wanita tua dan muda. Tetapi aku tak tahu asalusul
mereka.”
“Apa siau-suhu tak pernah mendengar apa yang mereka bicarakan?”
“Peraturan gereja keras sekali. Dilarang mencari dengar pembicaraan orang!”
Karena menganggap percuma mencari keterangan kepada paderi kecil itu, Siu-lam
melanjutkan langkahnya masuk gereja. Karena diperlakukan sebagai seorang tetamu
terhormat, kawanan paderi Siau-lim-si menaruh hormat kepadanya.
Paderi kecil itu membawa Siu-lam ke sebuah ruang. Penunggu dan mempersilahkannya
beristirahat.
“Jika perlu apa-apa, harap Pui sicu memanggil pinceng,” kata paderi kecil itu seraya
melangkah keluar.
Saat itu pikiran Siu-lam sedang dicurahkan pada peristiwa nanti malam. Ialah akan
keluarnya kedua tokoh angkatan tua Siau-lim-si dari persemedhiannya yang sudah
berlangsung tiga puluh tahun. Tetapi ia bukan anak murid Siau-lim-si. Tentu tak
diperbolehkan menemui.

Apa boleh buat, dalam saat ketenggangan itu, ia gunakan untuk bersemedhi. Dalam
kelelapan mengosongkan pikiran itu, ia mulai merenungkan gerakan-gerakan ilmu pedang
Jiau-toh-co-hua ajaran kakek dari Hian-song yang sakti itu.
Hari makin kelam. Entah berapa lama ia terbenam dalam persemedhiannya itu, tibatiba
ia dikejutkan oleh suara orang berdoa. Ia terkejut dan serentak bangun.
Didapatinya Tay Hui siansu tegak di sampingnya, dengan wajah ramah, paderi itu
tertawa: “Apa saja yang meresahkan pikiran Pui sicu sehingga tak sempat makan malam?”
Dalam hati Siu-lam menggerutu, dalam semedinya tadi ia tak berhasil mengingat jurusjurus
ilmu pedang Jiau-toh-co-hua. Mengatakan hal itu kepada Tay Hui, pun percuma
saja. Maka ia menyahut sembarang mengatakan bahwa ia memikirkan tentang orangorang
yang tinggal di pondok di belakang gereja itu.
“Apakah pakaian yang sicu kenakan itu pemberian mereka?”
Siu-lam mengiyakan: “Benar, jika orang dusun, tentu tak mungkin memiliki pakaian
begini!”
Jawab Tay Hui: “Memang mereka bukan orang dusun biasa, tentu mereka sudah
berpuluh tahun tinggal di situ dan hidup dengan tenang.”
“Apakah mereka orang-orang persilatan?”
“Dahulu mereka memang bersahabat dengan para angkatan tua gereja ini. Berpuluhpuluh
tahun tak terjadi suatu apa. Sebagai orang agama, kami tak mau mencampuri lain
orang, menyelidiki asal-usul mereka!”
Siu-lam mengatakan bahwa ia hanya sekedar saja. Kemudian pejabat ketua Siau-lim-si
itu menerangkan bahwa setelah berunding dengan beberapa suheng dan sutenya, Siu-lam
hendak diundang menghadiri pertemuan dengan tokoh tua nanti malam.
Siu-lam girang sekali.
“Sebenarnya loni tak berani mengganggu sicu. Tetapi untuk menjaga kemungkinan
keterangan loni ada yang kurang lengkap, maka dapatlah sicu menambahinya….”
Maka berangkatlah Tay Hui dengan Siu-lam menuju ke paseban di padang rumput.
Penjagaan dilakukan ketat sekali. Setiap lima langkah terdapat penjagaan dan tiap
sepuluh langkah sebuah pos penjagaan. Semua paderi bersenjata lengkap seolah-olah
sedang menunggu kedatangan musuh.
Tay Hui memelopori berjalan masuk ke dalam paseban yang dikelilingi pagar bambu.
Di sekeliling ruang paseban itu penuh dengan paderi Siau-lim-si, dari tingkat ketua-ketua
paseban, para tianglo, yang menjabat pemilik gereja dan paderi-paderi yang
berkedudukan tinggi dalam gereja.
Yang duduk di sebelah muka ialah Tay Ih siansu. Tay To siansu berada di
belakangnya. Begitu melihat kedatangan Tay Hui bersama Siu-lam, sekalian paderi itu
hanya memberi salam anggukan kepala. Tetapi mereka tetap duduk bersila di tanah.
Setelah menunjuk tempat bagi Siu-lam, Tay Hui siansupun segera duduk di sebelah Tay
Ih.
Suasana di sekeliling pondok yang lebih tepat disebut sanggar pemujaan (tempat
bertapa) itu, hening lelap. Jendela dari sanggar itu tetap terkancing rapat. Dalam
kepekatan malam, kera putih yang duduk bersila di atas dahan pohon itu, makin jelas.
Menengadah ke langit, Siu-lam melihat bintang-bintang sudah berkisar, pertanda sudah
lewat tengah malam. Berpaling ke arah kawanan paderi, dilihatnya wajah mereka tampak
serius. Bibir bergetar-getar seperti sedang berdoa.
Tak berapa lama kemudian tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis perlahan.
Sekalian paderipun mulai membuka mata. Beratus-ratus mata mencurahkan ke arah
sanggar itu.
Pada lain saat, terdengar suara orang menyebut O-mi-to-hud yang halus. Menyusul
terdengar lengking suara macam bunyi nyamuk mengaung di telinga: “Tay Hui sutit!”

Tay Hui siansu serentak berbangkit dan memberi hormat, serunya: “Tecu Tay Hui,
bersama sekalian kepala paseban dan para tianglo, berkunjung menghadap supeh dan
susiok!”
Dengan tundukkan kepala, Tay Hui siansu melangkah menghampiri sanggar. Semua
paderipun mengikuti tindakan pemimpin mereka. Siu-lam berada paling belakang sendiri,
mengikuti Tay To siansu.
Tiba di muka pintu, Tay Hui siansu berhenti dan berseru perlahan: “Ijinkanlah tecu
masuk.”
“Masuklah!” terdengar penyahutan perlahan dari dalam sanggar.
Dengan hati-hati, Tay Hui melangkah ke dalam sanggar. Sekalian paderipun
mengikutinya dengan langkah yang perlahan sekali sehingga tak menimbulkan suara.
Ruang sanggar itu gelap gulita.
Siu-lam memandang dengan seksama. Tampak dua orang lelaki tua duduk bersila
menyender pada dinding tembok ruangan. Yang seorang berambut putih seperti salju,
menjulai panjang. Yang seorang berkepala gundul tetapi memelihara jenggot panjang
yang masih hitam. Sayang karena ruangan gelap sekali, maka tak dapat melihat wajah
mereka dengan jelas.
Adalah orang tua berambut putih yang buka mulut lebih dahulu: “Silahkan kalian
duduk!”
Tersipu-sipu sekalian paderi itu membungkuk memberi hormat lalu duduk di lantai.
Lalu orang tua berkepala gundul mulai berkata: “Bagaimana dengan Tay Hong sutit?”
“Sampai saat ini belum ada beritanya,” sahut Tay Hui.
Orang tua berambu putih itu menghela napas pelahan: “Sebelum mulai bertapa, loni
pernah bersama Tay Hong sutit membicarakan soal ilmu pelajaran Buddha. Antaranya dia
menanyakan tentang keadaan dunia persilatan selama berpuluh-puluh tahun ini. Pada
saat itu dunia persilatan sedang digemparkan oleh desas-desus tentang munculnya tokoh
sakti Lo Hian. Loni gelisah mendengar cerita itu. Lo Hian cinjin seorang tokoh aneh yang
termasyhur sakti sekali, tetapi segala desas desus tentang dirinya itu, belum pernah ada
orang yang dapat membuktikan.”
Orang tua berambut putih berhenti sejenak, lalu berkata pula: “Bermaksud hendak
meremehkan tokoh-tokoh angkatan tua, tetapi karena kuatir dia hendak menggunakan
kesaktiannya untuk menundukkan dunia, maka loni telah gunakan waktu delapan tahun
mengembara kemana-mana mencarinya. Loni ingin sekali bertemu muka. Tapi sayang,
tiada berhasil….”
Tampak paderi tua itu merasa menyesal atas kegagalannya. Ia menghela napa
pelahan, ujarnya: “Jika dia tak mengetahui tindakannya itu masih tak mengapa. Tapi jelas
dia tahu bagaimana aku bolak-balik menjelajah gunung dan hutan belantara hanya perlu
untuk menemuinya. Tetapi rupanya dia memang sengaja tak mau menemui aku….”
Sebagai seorang paderi angkatan tua yang tinggi kedudukannya, paderi berambut putih
itu sangat dihormati sekali oleh sekalian murid Siau-lim-si. Sekalipun ucapan tadi belum
selesai, namun tiada seorangpun yang berani bertanya.
Tiba-tiba Siu-lam yang tak kuat menahan keinginan tahu, serentak bertanya:
“Bagaimana lo-cianpwe mengetahui bahwa Lo Hian cinjin sengaja tak mau menjumpai locianpwe?”
Agaknya paderi tua berambut putih itu tengah merenungkan peristiwa yang lampau.
Dia tak mengacuhkan pertanyaan Siu-lam.
Beberapa saat kemudian baru ia kedengaran berkata: “Kalau tak salah, telah
kutemukan sebuah tulisan di atas batu karang di gunung Kiu-hoa-san. Tulisan itu
berbunyi menganjurkan aku supaya pulang ke gereja saja. Percuma aku membuang
waktu dan tenaga berjerih payah mengembara kemana-mana. Sekalipun berpuluh-puluh
gunung kudatangi, tak nanti dapat menemuinya.” Begitulah isi tulisan di karang itu. Dan

jelas bahwa tulisan itu belum lama dibuat. Timbul seketika dugaanku, jika tak berada di
sekeliling situ, mustahil dia dapat mengetahui aku bakal datang ke situ?”
Tiba-tiba Siu-lam nyeletuk: “Wanpwe pernah dengar tentang munculnya Lo Hian pada
lima-enam puluh tahun yang lalu. Jika lo-cianpwe mencari jejaknya pada tiga puluhan
tahun yang lalu, apakah Lo Hian masih hidup?”
Paderi tua itu menghela napas pelahan: “Jika perkiraan loni tak salah, Lo Hian sampai
sekarangpun masih hidup!”
Ucapan itu membuat sekalian hadirin terperanjat.
Paderi tua itu melanjutkan kata-katanya lebih jauh: “Sama sekali aku tak bermaksud
membuat orang terkejut. Tetapi tentang masih hidupnya Lo Hian itu, pun baru saja timbul
dalam pikiranku!”
Peristiwa tiga puluh tahun yang lalu, baru saja dia dapat menarik kesimpulan. Sudah
tentu kejut sekalian hadirin makin membesar. Untung karena hadirin di situ seluruhnya
paderi murid-murid Siau-lim-si (kecuali Siu-lam), maka merekapun tak menganggap paderi
berambut putih itu sedang mengoceh. Walaupun heran tetapi para paderi itu tak berani
bertanya.
Siu-lam memandang ke sekeliling. Ia tahun bahwa hadirin yang berada dalam sanggar
itu adalah paderi-paderi murid Siau-lim-si semua. Paderi berambut putih itu, dewasa ini
merupakan tokoh angkatan tua yang paling tinggi kedudukannya. Ketua Siau-lim-si yang
sekarang adalah murid keponakannya.
Siu-lam mempunyai kesan bahwa sekalipun janggal ucapannya tetapi para paderi itu
tak berani bertanya. Diam-diam ia membatin dan mengambil keputusan untuk bertindak.
Hanya saja dialah yang dapat bertindak bebas dari segala rasa takut yang mengindahkan.
Setelah berbatuk-batuk sejenak, berserulah ia dengan nyaring: “Lo-cianpwe, maafkan
atas kelancangan wanpwe. Apakah peristiwa yang berlangsung pada tiga puluh tahun
berselang, baru sekarang lo-cianpwe dapat menarik kesimpulan?”
“Benar, memang peristiwa tiga puluh tahun yang lalu itu baru sekarang aku terang.
Selama tiga puluh tahun itu, aku selalu menimpahkan kesalahan pada Lo Hian saja!”
“Maaf, sudilah kiranya lo-cianpwe suka memberi penjelasan yang jelas!”
Tiba-tiba paderi tua itu kedipkan mata dan menatap ke arah Siu-lam, serunya: “Pinceng
hanya punya waktu singkat turun dari sanggar pemujaan. Pinceng tiada punya waktu
untuk bicarakan hal-hal yang tak penting. Mengapa sicu terus-menerus mendesak saja?
Tindakan sicu itu mengganggu pemusatan pikiran pinceng dalam merenungkan peristiwa
tiga puluh tahun itu.”
Paderi tua itu menghela napas dan menukas kata-kata Siu-lam: “Pada saat melihat
tulisan itu, loni marah sekali. Dalam kemarahan loni terus pulang ke gereja, tak mau
menghiraukannya lagi. Bersama sute, loni lalu bertapa selama tiga puluh tahun. Bermula
loni kuatir tak dapat melaksanakan rencana itu. Karena sejak dahulu, para paderi
angkatan tua, paling lama hanya kuat bertapa sampai sepuluh tahun saja.”
“Ikrar loni untuk bertapa sampai tiga puluh tahun itu, sebagian besar disebabkan
karena kemarahan loni terhadap Lo Hian. Loni hendk gunakan waktu bertapa tiga puluh
tahun itu untuk meyakinkan ketujuh puluh dua ilmu kesaktian Siau-lim-si. Selesai bertapa,
loni hendak menantang Lo Hian untuk mengadu kesaktian.”
“Tetapi, ah, setelah bertapa selama tiga puluh tahun, dendam perasaan loni ternyata
lenyap. Cita-cita untuk berebut nama, menjadi reda. Tetapi hasil dari pada pertapaan itu,
loni makin menyerapi lebih dalam akan ilmu kesaktian pusaka gereja Siau-lim-si….”
Kini tahulah Siu-lam apa sebab paderi tua itu bertekad untuk bertapa selama tiga puluh
tahun.
Paderi tua itu berkata pula: “Sejak masuk dalam pertapaan, loni tak tahu lagi tentang
segala perubahan yang terjadi di dunia persilatan. Tetapi yang jelas hanya tokoh yang
memiliki kesaktian semacam Lo Hian saja yang mampu mengalahkan Tay Hong sutit.
Andaikata bukan Lo Hian sendiripun tentulah murid yang menjadi pewarisnya….”

“Lo-siansu menebak jitu sekali. Ketua Beng-gak adalah murid pewarisnya Lo Hian!”
seru Siu-lam.
Tay Hui melihat bintang-bintang di langit sudah mulai condong, pertanda hari sudah
menjelang terang tanah. Buru-buru ia berseru: “Tay Hong suheng terjebak di Beng-gak,
memang sesungguhnya. Tecu amat gelisah sekali karena peristiwa itu, mohon supeh suka
memberi petunjuk bagaimana untuk menyelesaikan peristiwa.”
Paderi tua yang gundul tampak merenung. Beberapa saat kemudian, baru ia berkata:
“Jika ketua Beng-gak itu benar-benar murid Lo Hian maka Lo Hian telah mengabaikan
sifat-sifat manusia. Dia hanya suka pada bakat tetapi lupa bahwa sifat pembawaan
manusia itu sukar dirubah. Loni benar-benar ingin bertemu muka dengan orang sakti itu
untuk tukar pikiran….”
Paderi gundul merasa kelepasan omong. Ia berhenti dan berganti nada: “Tay Hong
sutit merupakan bunga kebanggaan Siau-lim-si. Selain berbakat bagus, cerdas dan
bijaksana pun seorang yang memegang teguh keadilan dan kebenaran. Dapat menarik
garis tajam antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. Di samping itu,
dia merupakan bintang cemerlang dari Siau-lim-si. Tiada seorang pun yang mampu
menandingi kepandaian dan kesaktiannya!”
Paderi gundul yang jarang bicara, tiba-tiba menyeletuk: “Yang sedang kita hadapi
sekarang, rupanya bukan lagi soal hilangnya jejak Tay Hong sutit, tapi ancaman dari pihak
Beng-gak akan menggempur gereja Siau-lim-si…”
“Benar,” sahut Tay Hui siansu, “tecu benar-benar kehilangan paham untuk mengawasi
hal itu. Sedang Tay Hong suheng yang begitu sakti, hilang lenyap di Beng-gak, apalagi
tecu yang lebih rendah kepandaiannya. Benar-benar tecu tak sanggup memikul beban
yang seberat ini!”
Paderi gundul itu berpaling dan berbisik-bisik kepada paderi tua berambut putih: “Soal
Tay Hong sutit, kiranya dapat kita pertangguhkan sampai di lain waktu. Tetapi yang
penting adalah menjaga keselamatan gereja Siau-lim-si…” suara paderi itu makin perlahan
sekali sehingga sukar didengar lagi.
Paderi berambut putih itu menyahut: “Memang hal itu berbahaya sekali. Apabila dia
masih memanjakan sifat-sifatnya yang ganas, tentu hebat sekali akibatnya!”
Kata si paderi gundul: “Empat puluh tahun merupakan jangka waktu yang panjang.
Betapa ganas perangai seseorang, tetapi setelah melalui waktu sekian lama, tentulah akan
berubah lebih baik.”
Tetapi rupanya paderi tua berambut putih itu menggeleng: “Siauheng menganggap
perangai seseorang itu adalah sifat pembawaannya. Sukar berubah. Cobalah kita
renungkan diri Lo Hian itu sendiri. Dia seorang yang sangat sakti tetapi karena sedikit
salah langkah dia harus menemui keakhiran hidup yang menggenaskan!”
“Kecuali itu, apakah suheng mempunyai rencana untuk mempertahankan kelangsungan
hidup dari gereja kita ini?” tanya si paderi gundul.
Sepasang mata paderi berambut putih itu berkilat-kilat beberapa saat. Akhirnya
berkatalah ia: “Sute, harap sute melanjutkan pertapaan sute sampai tercapai apa yang kita
cita-citakan itu. Biarlah suheng yang akan menanggulangi ancaman musuh itu….”
“Ah, mana bisa!” bantah paderi kepala gundul, “Suheng hampir selesai dalam
pertapaan. Dari suhenglah nantinya warisan ilmu gereja Siau-lim-si itu akan
memancarkan sinar kejayaannya kembali. Jika suheng lepaskan pertapaan, selain
menghadapi bahaya Co-hwe-jih-mo (darah dalam tubuh binal sehingga orang akan
menjadi cacad), pun akan menelantarkan ilmu kesaktian yang suheng telah capai selama
ini. Apabila suheng sampai kena apa-apa, berarti suatu kerugian besar bagi Siau-lim-si.
Akibatnya dunia persilatanpun akan menderita malapetaka. Jika suheng setuju, biarlah
sute saja yang tinggal di luar untuk menghadapi kedatangan musuh….”
Paderi rambut putih merenung sejenak, ujarnya kemudian: “Dahulu ketika toa-suheng
masih hidup, dengan seluruh kekuatan dan derita barulah toa-suheng berhasil memikat

Lam-pak-ji-koay dan mengurungnya di belakang gunung. Karena peristiwa itu maka toasuheng
sampai menderita luka berat dan akhirnya menutup mata. Jika sekarang kita
lepaskan kedua tokoh itu, bukankah kita menyalahi pesan toa-suheng. Apalagi kedua
orang yang dikurung di belakang gunung itu, belum lenyap kesaktiannya. Begitu keluar
dari kurungan, dikuatirkan sifat liar mereka akan kambuh lagi. Jika sampai terjadi begitu
di dunia persilatan siapakah yang mampu menundukkan mereka? Kesaktian mereka,
belum tentu kalah dengan orang Beng-gak!”
Seenaknya saja kedua tokoh tua Siau-lim-si itu memperbincangkan peristiwa-peristiwa
yang lampau sehingga Tay Ih dan Tay Hui tak dapat ikut dalam pembicaraan.
Paderi gundul menghela napas, ujarnya: “Ji-koay jika masih liar seperti dahulu, tak
mungkin mereka mau tahan menderita dalam tahanan selama berpuluh-puluh tahun.
Besok malam, siaute hendak menjenguk ke tempat mereka. Hendak siaute tinjau, jika
mereka sudah dapat merubah perangainya, akan siaute lepaskan. Tetapi jika mereka
masih seperti dahulu, biarlah mereka hidup dalam tahanan selama-lamanya!”
Tampaknya paderi berambut putih itu tak mau berbantah dengan sutenya lagi.
Berkatalah ia dengan berbisik: “Baiklah, tetapi sebenarnya keyakinanmu saat ini sedang
menjelang titik yang genting. Janganlah bertindak sembarangan. Dan sebaiknya engkau
pergi bersama Tay Ih sutit ke sana!”
Serta merta Tay Ih siansu memberi hormat: “Tecu akan melakukan titah supeh. Tetapi
di manakah tempat tahanan kedua Ji-koay itu?”
Paderi berambut putih tiba-tiba merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan
sebungkus sutera putih: “Sutera putih ini merupakan peta tempat tahanan mereka!”
Dengan hormat Tay Ih segera menyambuti dan menyimpannya.
“Lam-pek-ji-koay, sakti sekali. Mudah-mudahan setelah ditahan selama berpuluh tahun
itu. Tetapi bukan mustahil juga, mereka bahkan akan bertambah lebih ganas lagi dari
dahulu. Mari kita harus berhati-hati menghadapinya!”
Paderi berambut putih berkata pula: “Kunci emas dalam sutera putih itu, adalah kunci
untuk membuka rantai borgolan mereka. Jika perangai mereka sudah berubah baik,
bawalah mereka ke ruang Cong-keng-lo (perpustakaan gereja). Apabila musuh datang,
biarlah mereka akan berhadapan. Empat puluh tahun yang lalu, kedua Ji-koay pada
sepuluh tahun berselang, merupakan jago nomor satu dan nomor dua di dunia persilatan.
Kalau sekarang mereka bersatu bahu-membahu, tentu takkan terkalahkan oleh siapapun
juga. Paling celakanya mereka tentu dapat bertahan diri, dapat melindungi gereja ini.
Selain itu, penjagaan kita perkuat lagi dengan barisan Lo-han-tin. Kemudian kita kerahkan
seluruh tenaga paderi Siau-lim-si lagi. Murid-murid tingkatan kelas tiga, kita pecah
menjadi sepuluh regu. Tiap regu dipimpin oleh murid golongan kelas dua. Apabila
mereka sampai terdesak, mereka harus segera mundur dan masuk ke dalam barisan Lohan-
tin. Di samping itu harus segera menyuruh salah seorang murid supaya datang
kemari dan gunakan ilmu Ki-kin-coan-im untuk memberitahukan kepadaku….”
Paderi berambut putih berhenti sejenak lalu berkata pula: “Tay Hui sutit memimpin
barisan Lo-han-tin. Barisan yang penuh dengan perubahan itu asal jangan sampai merasa
gentar dan kalut, tentu mampu menahan serangan musuh yang manapun juga. Dengan
begitu walaupun kita tak memperoleh kemenangan, tetapi pun tak sampai mengalami
kehancuran. Tentang diri Tay Hong sutit, setelah pertapaan kami berdua selesai, tentu
akan kami usahakan untuk mencarinya sampai ketemu!”
Tiba-tiba paderi tua itu kebutkan lengan jubahnya: “Nah, waktunya sudah habis. Aku
tak dapat tinggal di sini lebih lama lagi. Silahkan kalian pulang!”
Tay Hui tersipu-sipu memberi hormat. Sekalian paderi yang ikut hadirpun berlutut
memberi hormat sambil menyaksikan doa.
Saking kepingin tahu, Siu-lam melirik, lalu dilihatnya kedua paderi tua itu pelahan-lahan
bangkit dan masuk ke dalam. Tindakannya ringan jatuh ke tanah. Begitu tiba di pintu
yang berbentuk bundar, mereka tiba-tiba lenyap.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah rombongan paderi itu berhenti berdoa.
Tay Hui bangkit, serunya: “Suheng dan sute sekalian, kedua sutiang telah masuk ke dalam
sanggar pertapaan lagi. Kitapun harus tinggalkan tempat agar jangan menggangu
ketenangan mereka.”
Demikian rombongan paderi Siau-lim-si itu segera tinggalkan sanggar pertapaan dan
kembali ke dalam gereja. Siu-lam yang berjalan di sebelah belakang, ketika hendak keluar
puri pintu sanggar, tiba-tiba teringat harus menutup pintu sanggar. Tetapi ketika ia
berpaling ke belakang remang-remang ia melihat sesosok bayangan melesat dari dalam
sanggar yang terletak di sebelah kanan. Saking kagetnya, hampir saja Siu-lam berteriak.
Tay To siansu yang melihat anak muda itu berhenti di ambang pintu sanggar merasa
curiga. Buru-buru ia menghampirinya: “Mengapa Pui sicu berhenti?”
Untung saat itu Siu-lam sudah pulih dari kekagetannya. Ia menyahut dengan tertawa:
“Apakah dalam sanggar pertapaan ini terdapat orang yang melayani keperluan kedua locianpwe?”
Tay To gelengkan kepala: “Menurut pengetahuan loni, di dalam sanggar itu tiada
terdapat barang seorang pelayan. Bagaimana? Apakah sicu melihat sesuatu yang
mencurigakan?”
Siu-lam merenung sejenak lalu mengatakan: “Tidak, marilah, kita pergi!”
Tay Hui dan Tay To telah menyadari bahwa pemuda itu memiliki kesaktian. Tak berani
lagi mereka memandang rendah. Sekalipun agak mencurigai, tetapi mereka tak berani
mendesak lebih lanjut.
Ternyata Siu-lam sendiripun kuatir kalau salah lihat sehingga menimbulkan kehebohan.
Jika sampai tak dapat menemukan bukti apa-apa, tentu akan ditertawakan. Tetapi diamdiam
ia tetap memikirkan peristiwa tadi. Setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ia
berpaling dan bertanya pula: “Ah, kemungkinan sanggar pertapaan yang sedemikian
penting itu tak memerlukan penjagaan karena dapat menyinggung perasaan kedua locianpwe
tadi!”
Mau tak mau Tay To timbul juga kecurigaannya terhadap anak muda yang selalu
menanyakan tentang sanggar pertapaan itu. Namun ia tak berani terang-terangan
menegurnya melainkan dengan tersenyum berkata: “Sekalipun tempat pemujaan ini
penting sekali tetapi selama berpuluh tahun tak terjadi peristiwa suatu apa hingga tak
perlu diberi penjagaan.”
“Tetapi saat ini lain keadaannya, lebih baik….”
Tay To siansu tertawa: “Harap sicu jangan kuatir. Seluas seratus li dalam lingkungan
gereja ini, telah disiapkan penjagaan. Burungpun sukar untuk lolos dari sini.”
Siu-lam tak mau membantah. Diam-diam ia sangsi apakah tadi tak salah lihat. Saat itu
hari sudah menjelang fajar. Bintang-bintang pagipun makin kelam. Tay Hui siansu sangat
menghormat anak muda itu. Ia sendiri bersama seorang paderi kecil mengantar Siu-lam
ke kamar istirahat dan mempersilahkan anak muda itu mengaso. Sedang ia sendiri lagi
pergi.
Setelah menyulut lilin untuk penerangan, paderi kecil itupun segera pergi. Karena lelah
Siu-lam segera rebahkan diri di atas tempat tidur tanpa membuka lagi pakaiannya. Tetapi
sampai beberapa saat, matanya sukar dibawa tidur. Dia tetap mengenangkan bayangan
di sanggar pertapaan tadi.
“Jika mataku yang kabur, taka pa. Tapi jika benar ada orang yang hendak
menyelundup ke sanggar pertapaan itu, apalagi kalau orang jahat, bukankah hebat
akibatnya? Sekalipun aku ditertawakan, tapi aku tetap tak dapat berpeluk tangan
membiarkan hal itu terjadi!”
Ia terus keluar menuju ke kamar Tay Hui siansu. Maksudnya hendak menceritakan
peristiwa itu.
Malam sudah larut sekali. Para paderipun sudah tidur. Gereja Siau-lim-si seolah-olah
tenggelam dalam laut kesunyian.

Tiba di kamar pejabat ketua Siau-lim-si, nyata Tay Hui siansu sudah tidur. Siu-lam
bersangsi sejenak akhirnya diketuknya juga pintu ketua Siau-lim-si.
Tetapi tiada penyahutan suatu apa. Siu-lam batuk-batuk sejenak, lalu berseru: “Losiansu,
apakah lo-siansu sudah tidur?”
Tetapi kamar tetap sunyi. Terang kalau ketua Siau-lim-si itu tak ada dalam ruang itu.
Tak mungkin seorang tokoh seperti Tay Hui sampai terlelap dalam tidur nyenyak.
Diam-diam Siu-lam menyesal tak menceritakan terus terang saja tentang bayangan
dalam sanggar pemujaan. Andaikata ia salah lihat, paling-paling hanya ditertawakan saja.
Karena selain Tay Hui siansu, ia tak tahu letak kamar paderi yang lainnya. Dan pada saat
tengah malam seperti itu, tak dapat ia berkeliaran kemana-mana.
Siu-lam makin gelisah. Jika tak lekas bertindak, ia kuatir akan terjadi peristiwa yang
hebat. Buru-buru ia pergi ke sanggar yang dikelilingi pagar bambu tadi.
Seorang paderi telah menghadang jalan. Karena tiada waktu untuk memberi
penjelasan lagi, Siu-lam enjot tubuhnya melompati pagar itu.
Krak… ternyata pagar bambu itu sudah banyak yang sudah lapuk. Terinjak kaki,
bambu remuk dan Siu-lam ikut meluncur ke bawah. Untung ia cepat-cepat empos
tenaganya dan bergeliatan berdiri tegak di tanah.
Memandang ke muka, tampak ketiga sanggar pertapaan itu terkancing rapat dan tak
kelihatan tanda-tanda yang mencurigakan. Diam-diam Siu-lam mengeluh, barangkali tadi
ia sudah salah lihat.
Tetapi serentak dengan itu, terlintas dalam ingatannya bagaimana Tay To tadi
mengatakan bahwa daerah seluas seratus tombak di sekeliling gereja Siau-lim-si
merupakan daerah terlarang. Daerah seluas itu telah dijaga keras. Mengapa sekarang ia
tak melihat barang seorang penjaga sama sekali?
Tetapi ah… ia mempunyai pikiran lain. Kemungkinan penjagaan paderi Siau-lim-si itu
diatur secara bersembunyi sehingga dia dibiarkan saja masuk ke dalam lingkungan
sanggar pertapaan.
Memikir sampai di situ, Siu-lam memutuskan lebih baik ia lekas-lekas angkat kaki. Tapi
baru melangkah beberapa tindak, ia kembali mempunyai lain pikiran. “Ah, karena sudah
terlanjur datang kemari, mengapa aku cepat-cepat? Lebih baik kuselidiki di sekeliling
sanggar pertapaan ini agar kecurigaanku tentang bayangan orang tadi dapat dibuktikan
benar atau tidak!”
Ia batal pergi lalu lari menuju ke sanggar di sebelah kanan.
Sanggar itu sebuah bangunan terdiri dari tiga buah ruang. Sebuah dengan sanggar di
tengah. Hanya bedanya, pintu di sanggar itu dikunci rapat.
“Kalau memasuki sanggar ini, terpaksa harus kurusak kuncinya,” pikir Siu-lam. Tapi
ketika hendak menjamah pintu, ia tarik kembali tangannya. Ia menuju ke jendela
samping. Sekali dorong daun jendela terbuka. Debu berhamburan keluar. Melongok ke
dalam, keadaan ruang gelap sekali.
“Entah apa yang tersembunyi dalam kamar ini. Kalau kumasuki entah bagaimana
akibatnya,” pikirnya. Sekalipun menyadari bahwa memasuki ruang itu kurang benar,
tetapi dia gelisah memikirkan bayangan orang tadi.
Akhirnya ia memutuskan loncat masuk. Karena sudah berpengalaman waktu masuk ke
sanggar di tengah, maka waktu melompat ia menutup pernapasannya. Wut… belum
kakinya menginjak lantai, serangkum angin keras melandanya. Buru-buru ia
menyongsong dengan tinju. Dar… ia tersurut mundur beberapa langkah….
Rupanya setelah mendapat angin, penyerang di dalam kamar itu melanjutkan lagi.
Beberapa pukulan telah dilancarkan bertubi-tubi…..
Sambil menangkis, Siu-lam berteriak menegur: “Hai, siapa itu? Mengapa masuk ke
daerah gereja Siau-lim-si yang terlarang?”

Teriakan itu menyebabkan orang hentikan serangannya. Karena gelap, Siu-lam tak
dapat melihat jelas siapa penyerangnya itu. Tiba-tiba sesosok bayangan melesat keluar.
Tampak muka orang itu ditutup dengan kain kerudung hitam.
Siu-lam pun cepat loncat dan menunggu di luar. Begitu tiba di ambang pintu, orang
itupun menyingkap kain kerudungnya dan ah… ternyata Tay Ih siansu.
“Oh, maaf, kiranya lo-siansu. Maka tak heran kalau aku tak kuat menahan pukulan
tadi,” kata Siu-lam.
Paderi itu memandang Siu-lam dengan tajam, tegurnya: “Mengapa tengah malam buta
sicu datang kemari?”
Siu-lam memberi hormat: “Ah, lo-siansu salah paham.”
“Jika loni salah paham, tak nanti loni hentikan serangan tadi!”
“Mungkin lo-siansu telah mendengar ucapan Tay To siansu bahwa malam ini mungkin
akan datang kemari untuk menyelidiki?”
“Betapapun halnya, jika sicu tak dapat menerangkan maksud kedatangan sicu, mungkin
sukar untuk menghilangkan kecurigaanku…” paderi itu berhenti sejenak, lalu berkata pula:
“Terus terang saja, dalam ketiga sanggar ini memang sudah dijaga. Tay Hui sute berada
di sanggar yang di tengah….”
“Ah, kalau tahu para siansu sudah mengadakan penjagaan seketat ini, tentu takkan
datang ke sini.”
Tay Ih siansu berkata dingin: “Untung sicu masuk ke sanggar sebelah kanan, jika
masuk sanggar di tengah, dikuatirkan sicu tentu sudah hancur.”
Melihat nada dan sikap paderi itu, Siu-lam tahu kalau orang sudah salah paham. Ia
segera tertawa: “Ah, lo-siansu salah paham. Maksud wanpwe hanya mengatakan bahwa
kalau tahu penjagaan di sini sudah ketat, tak perlu wanpwe gelisah lagi….”
Kemudian ia menceritakan apa yang dilihatnya. Paderi itu kerutkan alis dan merenung
sejenak, katanya: “Jika sicu tadi mengatakan kepada Tay Hui sute, tentu takkan terjadi
kesalahan paham begini.”
Siu-lam mendapat kesan bahwa Tay Ih siansu tetap belum percaya penuh atas
keterangannya. Ia menghela napas pelahan: “Karena melihat bayangan itu di waktu
malam sehingga aku belum yakin, maka aku kuatir kalau membikin kacau para siansu
saja. Apalagi selama bicara dengan Tay To siansu, siansu tak pernah memberitahukan
bahwa di sekitar sanggar ini sudah diadakan penjagaan keras….”
“Sekalipun begitu, mengapa Pui sicu datang seorang diri kemari?”
Jawab Siu-lam: “Makin lama wanpwe makin cemas memikirkan bayangan itu. Biarlah
wanpwe ditertawai, pokok wanpwe harus membuktikan kebenaran hal itu demi untuk
keselamatan kedua lo-cianpwe di sini!”
“Sekalipun keterangan sicu cukup lancer tetap masih sukar dapat diterima penuh.”
Karena segala keterangan dan penjelasan tetap belum diakui, akhirnya marah juga Siulam.
Sambil memberi hormat ia minta diri. Tetapi baru berjalan beberapa langkah,
kemudian ia berhenti dan berpaling: “Apakah lo-siansu sudah menyelidiki keadaan ketiga
sanggar ini?”
Tay Ih siansu menyahut dingin: “Tak usah sicu banyak pikiran, kami sudah
mengadakan penyelidikan yang teliti. Tetapi tak dapat menemukan sesuatu hal yang
mencurigakan.”
Siu-lam menengadah ke udara dan berkata seorang diri: “Ah, kemungkinan aku
memang salah lihat tadi….”
“Atau kami yang banyak curiga,” Tay Ih siansu menyanggapi.
Mendadak Siu-lam mengerut serius: “Tetapi ternyata semuanya sudah jelas. Ya,
wanpwe tidak mungkin salah lihat lagi!”
Tay Ih siansu mempersilahkan supaya pemuda itu lekas kembali beristirahat di
kamarnya.

Siu-lam menurut. Ketika melalui pohon tempat kera putih (yang sudah mati) duduk di
atas dahannya, tiba-tiba Siu-lam menangkap suara ketawa halus yang melengking
menyusup ke dalam telinganya. Nadanya seperti suara tertawa yang tertahan.
Siu-lam berhenti dan memandang ke atas. Tampak kera yang sudah menjadi mayat itu
terduduk di dahan. Karena di sekelilingnya penuh dengan daun lebat, maka ia tak dapat
melihat apa-apa lagi.
Melihat pemuda itu berhenti pada pohon tempat pertapaan kera putih, Tay Ih siansu
marah.
“Di atas pohon siong itu terdapat kera piaraan gereja kami yang sudah mukswa. Pui
sicu…” sambil berkata, ia bergegas menghampiri.
Beberapa kali Siu-lam telah menerima kata-kata yang getas dari paderi itu. Diam-diam
ia mengkal. Kini ia mendapat kesempatan untuk menghamburkan isi hatinya: “Sayang
sekali beberapa pasang mata tetapi tak dapat melihat barang. Jelas musuh bersembunyi
di atas pohon siong. Mengapa para ko-chiu di Siau-lim-si tidak mampu mengetahuinya….”
“Apa?” Tay Ih siansu serentak tertegun kaget, “Di atas pohon itu terdapat musuh?”
Karena sudah terlanjur berkata, terpaksa Siu-lam mempertahankan: “Ya, benar….
Memang di dalam daun pohon yang lebat itu terdapat musuh tangguh.”
“Loni tak percaya!” serentak Tay Ih siansu enjot tubuhnya melayang ke atas dahan
pohon itu.
Sambil memandang gerakan paderi Siau-lim-si itu, diam-diam Siu-lam resah pikirannya.
Ya, jika lengking suara tadi bukan suara tertawa orang, kalau di dalam gerumbul daun
pohon itu tiada barang seorang musuh, bukankah salah paham terhadap dirinya akan lebih
mendalam….
Tepat pada saat itu, terdengar suara orang napas tertahan. Rupanya Tay Ih siansu
telah menderita tekanan tenaga dahsyat dan menyusul paderi itu meluncur turun. Dari
gerak turunnya yang laju sekali, jelas kalau paderi itu telah kehilangan keseimbangan
tubuhnya….
Melihat itu Siu-lam cepat-cepat loncat menyanggapi tubuh paderi itu. Kemudian
bertanya dengan perlahan: “Apakah lo-siansu menderita serangan musuh?”
Tay Ih siansu menghela napas dan berdiri. Wajahnya menampil kerut penyesalan,
ujarnya: “Loni telah keliru menyangka kepada sicu. Memang benar di atas dahan pohon
itu terdapat musuh yang tangguh. Karena tak berjaga-jaga tadi Loni telah terhantam oleh
pukulannya sehingga tak dapat bernapas dan terluncur jatuh….’
Tampak wajah paderi itu mengerut. Rupanya ia telah menderita luka dalam.
Siu-lam berbisik: “Harap lo-siansu beristirahat dulu. Biarlah aku yang
menghadapinya….”
“Harap sicu jangan bertempur di atas pohon itu agar jangan sampai merusakkan tubuh
kera putih itu,” cegah Tay Ih.
Siu-lam mengangguk. Sambil melindungi tubuh dengan saluran tenaga dalam, ia
melambung ke atas pohon. Tetapi baru kaki akan menyentuh dahan, tiba-tiba ia merasa
dilanda oleh gelombang tenaga yang amat dahsyat sekali. Asalnya dari gerumbul daun
yang lebat.
Karena sudah bersiap maka Siu-lam segera menangkis. Tetapi karena masih melayang
di atas dahan, ia tak mampu mengerahkan seluruh tenaganya. Begitu terjadi benturan
tenaga, Siu-lam rasa jantungnya tergetar keras dan tubuhnya terpental beberapa langkah,
kemudian meluncur jatuh ke bawah lagi….
Melihat itu, walaupun dirinya belum sembuh, Tay Ih bergegas-gegas menghampiri:
“Apakah Pui sicu terluka?”
“Masih untung sebelumnya aku sudah berjaga-jaga dulu. Tetapi agaknya musuh lebih
sakti dari aku. Dia dapat menggetarkan jantungku!”
Mereka berdua memandang lekat-lekat pada pohon siong itu. Takut kalau-kalau musuh
itu menyelinap pergi.

Tay Ih mempunyai kesan baik terhadap pemuda itu karena sikapnya yang terus terang.
Berani mengakui kalau musuh lebih tinggi kepandaiannya.
“Dengan bersembunyi di atas pohon, dia mempunyai kedudukan yang lebih baik dari
kita,” kata Tay Ih, “Tetapi bahwasanya dia mampu menyelundup ke dalam penjagaan
Siau-lim-si yang sangat ketat, menunjukkan bahwa orang itu selain sakti, pun juga cerdik
sekali. Tetapi bagaimanapun juga dia tak boleh lolos dari sini….”
“Maksud lo-siansu…” belum Siu-lam menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Tay Ih
siansu bertepuk tangan tiga kali.
Dari semak-semak rumput di sekeliling pagar bambu, muncul tujuh-delapan belas
paderi berpakaian hitam. Ada yang mencekal tongkat sian-ciang, ada yang gelap,
memang mereka sukar dilihatnya.
Saat itu baru Siu-lam tahu bahwa di sekeliling sanggar pertapaan tersebut, ternyata
setiap pohon, setiap gundukan tanah penuh dengan anak murid Siau-lim-si.
Tay Ih berkata pelahan-lahan kepada rombongan paderi itu: “Di atas pohon siong itu,
terdapat musuh yang lihay. Kepunglah pohon itu dengan ketat. Tak perlu menyerang,
cukup asal menjaga jangan sampai dia mampu lolos.”
Walaupun heran, tetapi kawanan paderi itu melakukan perintah juga. Mereka segera
mengepung pohon siong itu dengan rapat.
Rupanya Tay Ih hendak mengepung musuh itu sampai nanti terang tanah. Di samping
itu Tay Ih hendak mengumpulkan seluruh ko-chiu Siau-li-si untuk menangkap musuh itu.
Apabila pagi tiba, tentu sukarlah musuh hendak melarikan diri.
Pada saat itu berdatanganlah paderi-paderi angkatan Tay (saudara seperguruan dan
setingkat dengan Tay Ih, Tay Hui dan lain-lain). Di antaranya terdapat Tay To siansu, Tay
Goan dan Tay Teng yang menjabat sebagai pemilik gereja.
Tay Goan siansu melangkah maju ke dekat Tay Ih, bisiknya pelahan: “Orang kita sudah
cukup jumlahnya. Betapapun saktinya musuh, namun tak mudah lolos dari sergapan kita.
Lebih baik kita segera bertindak saja.”
Tiba-tiba Tay Ih siansu gerakkan tangan kanan. Dua butir Bok-liam-cu atau biji-biji
tasbih, meluncur ke arah pohon siong. Cres, cres… terdengar bunyi macam kerikil
menyusup ke dalam lautan pasir….
Jilid 22
MELIHAT ITU, Tay Ih tertawa dingin: “Jikalau tidak dengan cara menyamar lalu
menyelundup masuk ke sini, orang itu tentu sudah menyelidiki sampai paham betul
keadaan gereja ini!”
Berhenti sejenak, kembali paderi sakti itu berkata pula: “Kalau dugaanku tak salah,
rupanya mereka telah memilih pohon siong itu untuk tempat bersembunyi. Mereka
mengenakan pakaian yang sewarna dengan daun sehingga pada malam hari, tak mudah
dilihat orang….”
Lantang sekali Tay Ih mengucapkan kata-katanya itu seperti sengaja agar musuh
mendengarnya.
Tiba-tiba Tay Ih berisik: “Harap sute bertiga siap-siap. Begitu muncul, musuh tentu
akan menempur kita. Jangan sampai dia lolos!”
Tay To siansu yang mengetahui bahwa suhengnya (Tay Ih) hendak gunakan ilmu
menimpuk dengan bok-liam-cu untuk menghalau keluar musuh, buru-buru mencegah:
“Suheng….”
“Aku tahu…” tukas Tay Ih seraya menimpuk dengan tangan kanan lagi. Segera
terdengar beberapa bunyi mengaum di udara malam. Beberapa saat kemudian, kembali
Tay Ih menimpuk lagi.

Saat itu malam telah mulai menyurut, cuaca makin terang. Tetapi orang yang berada
dalam gerumbul daun itu, rupanya tak menghiraukan. Adalah Siu-lam yang gelisah dan
mulai curiga….
Tiba-tiba dari sanggar pertapaan yang di tengah, terdengar sebuah suara bentakan
keras. Menyusul sesosok bayangan menyelinap keluar. Melihat itu, pucatlah wajah Tay
Ih, Tay Goan dan Tay Teng. Sanggar pertapaan di tengah itu, adalah tempat pertapaan
dari kedua paderi tua, paman dari ketua Siau-lim-si sekarang.
Pada saat ketiga paderi itu terpukau, tiba-tiba dari gerumbul daun pohon siong,
melayang keluar sesosok bayangan. Dengan melampaui di atas kepala ketiga paderi itu,
orang aneh itu turun kira-kira setombak jaraknya dengan ketiga paderi angkatan Tay.
Siu-lam berteriak keras. Dengan gunakan ilmu peringan tubuh Pat-poh-teng-gong yang
sakti, ia lari mengejar bayangan orang itu.
Sejak menerima pelajaran ilmu tersebut dari orang tua sakti kakek Hian-song, baru
pertama kali itu Siu-lam menggunakannya. Dalam gugupnya ia tak menyadari bahwa
bagaimanapun pesat kepandaian yang telah dicapainya sampai saat itu, namun belum
cukup untuk menggunakan ilmu Pat-poh-teng-gong (Delapan langkah menerjang udara).
Hal itu baru dirasakan setelah pada loncatan pertama, ia tak dapat mencapai apa yang
diinginkan! Cepat-cepat ia kerahkan semangat dan pancarkan seluruh tenaganya.
Dengan dua tiga kali loncatan, ia dapat melampaui rombongan paderi dan tepat tiba di
depan bayangan orang itu. Tanpa bertanya lagi, Siu-lam terus menghantam.
Orang itu dari kepala sampai ke kaki, diselubungi jubah hijau. Hanya bagian mata yang
diberi lubang. Perawakannya kecil langsing.
Melihat pukulan Siu-lam sangat dahsyat orang itu cepat menghindar ke kiri dengan
suatu gerakan yang indah dan gesit sekali.
Siu-lam agak terkesiap. Rasanya ia tak pernah melihat orang dengan gerakan seperti
itu. Tapi ia tak dapat merenung lebih lama karena orang itu mengangkat tangan kiri dan
jarinya menghamburkan angin tajam.
Siu-lam cepat menyongsong dengan tamparkan tangannya. Begitu kedua tenaga saling
berbentur, terdengarlah letupan menggeletar di udara.
Siu-lam terkejut. Ia rasakan tenaga gerakan jari orang itu masih kuasa menembus
tamparannya.
Dalam pada itu, Tay Ih, Tay Goan, Tay Teng, Tay To dan lain-lain, telah tiba. Mereka
segera mengepung orang berpakaian kerudung hijau itu. Kecuali Tay Ih siansu, yang
lainnya sama menghunus senjata.
Melihat itu, orang berpakaian hitam yang menerobos keluar dari sanggar di tengah tadi,
berhenti dan menghampiri ke tempat kawannya yang terkepung itu.
Wut, wut, Tay Ih siansu lepaskan dua buah pukulan, serunya: “Kalau sudah berani
datang ke sini, mengapa sicu tak berani menunjukkan wajah?”
Belum orang berjubah hijau itu menyahut, tiba-tiba terdengar Tay Teng siansu
mendengus dingin dan menyingkir ke samping.
Ternyata waktu menghampiri datang, orang berjubah hitam itu telah gerakkan jarinya
kea rah punggung Tay Teng. Tay Teng berpaling dan menghantam. Tapi orang berjubah
hitam itu sudah bersiap-siap. Tangan kiri cepat menyusul, menuding. Tay Teng tak
sempat menjaga dan lengan kanannya terkena angin pancaran jari. Paderi itu mundur
dua langkah.
Bobol pos yang ditempati Tay Teng, telah digunakan sebaik-baiknya oleh orang baju
hijau yang secepat kilat sudah menyelinap keluar dari kepungan. Begitu bersatu dengan si
baju hitam, mereka berdua segera kabur. Sekali loncat, mereka sudah mencapai dua
tombak jauhnya.
Tay Ih kaget sekali. Saking gugupnya ia loncat ke udara dan menghantam Tay Goan
siansu.

“Hai, mengapa lo-siansu…” teriak Siu-lam yang kaget karena Tay Ih memukul sutenya
sendiri. Tapi ia tak jadi melanjutkan teriakannya karena ternyata habis memukul rubuh
Tay Ih meluncur lebih laju dan tiba-tiba sudah berada di belakang kedua orang
berkerudung tadi.
Kini jelaslah Siu-lam apa arti pukulan tadi. Ternyata paderi itu gunakan pukulan untuk
meminjam tenaga, agar laju tubuhnya dapat lebih pesat.
Rupanya Tay Ih sudah kehilangan kesabaran dan ketenangannya. Begitu turun ke
tanah, dengan menggembor keras, ia terus lepaskan hantaman. Pukulan itu dilambari
dengan tenaga lwekang penuh sehingga menimbulkan deru angin yang dahsyat.
Tetapi kedua orang berjubah hitam dan hijau itu rupanya tak mengacuhkan. Tanpa
berpaling muka mereka berpencaran ke samping.
Memang Tay Ih pun sudah memperhitungkan bahwa tak mungkin sekali pukul ia dapat
merubuhkan musuh. Maka ketika memukul dengan tangan kanan, tangan kiri sudah
siapkan beberapa liamcu. Begitu kedua musuh berpencaran ke kanan dan ke kiri, tangan
kiri segera menyambit empat buah liam-cu, dua ke sebelah kanan, dua ke sebelah kiri.
Paderi tua itu rupanya benar-benar marah sekali. Timpukan lima-cu itu juga disertai
dengan tenaga penuh sehingga benda-benda itu menerbitkan suara tajam.
Jubah hitam berpaling dan gerakkan tangan. Tring, tring, dua buah liam-cu
berhamburan jatuh terhantam badiknya.
Sementara jubah hijau lain lagi cara menghadapinya. Dia melenting ke udara sehingga
kedua liam-cu itu lewat di bawah kakinya.
Tetapi karena gangguan itu, Siu-lam, Tay Teng, Tay Goan dan lain-lainnya sempat
menyusulnya. Siu-lam cepat menyambar siku lengan si jubah hitam.
Sebenarnya si jubah hitam tahu, tetapi ia pura-pura diam saja. Begitu tangan Siu-lam
hampir menyentuh, dengan kecepatan yang luar biasa, ia menyambar tangan si pemuda.
Dengan begitu posisi berubah seketika. Dari kedudukan diserang menjadi penyerang.
Cengkeram mencengkeram itu tampaknya sederhana sekali tetapi sebenarnya mereka
menggunakan ilmu gerak yang luar biasa indahnya.
Karena agak ayal, punggung tangan Siu-lam kena tertampar jari musuh. Sakitnya
sampai menyerang ke bahu. Ia terpaksa mundur dua langkah.
Tay Teng siansu yang menyaksikan dari samping, cepat berseru: “Pui sicu silahkan
mundur. Biarlah loni yang…” tanpa menanyakan nama orang, paderi itu segera
menyerang dengan jurus Heng-soh-cian-kun (menyapu ribuan lascar). Senjata hong-pianjan
dibabatkan ke pinggang.
Tay Teng memiliki tenaga besar. Serangan yang dilancarkan sekuatnya itu
menerbitkan deru angin yang hebat.
Jubah hitam hanya mendengus dingin. Tiba-tiba ia menubruk dada Tay Teng dengan
badik.
Tay Teng terkejut. Jika tak menarik hong-pian-jannya, ia memang dapat menghantam
pinggang lawan. Tetapi dadanyapun tentu ambling tertikam badik. Akhirnya ia terpaksa
menarik pulang senjatanya sambil mundur ke belakang.
Tetapi jubah hitam itu tak mau memberi kesempatan lagi. Loncat melambung sampai
dua tombak tinggi, ia berjumpalitan di udara kemudian meluncur miring. Gerak itu
menempatkan dia sejauh tiga tombak.
Si jubah hijaupun dapat lolos dari kepungan Tay To siansu dan rombongan paderi. Kini
keduanya bersatu, siap bertempur bahu membahu.
Menyaksikan gerak loncatan kedua musuh itu menggunakan ilmu meringankan tubuh
yang sakti, Tay Ih siansu menginsyafi bahwa paderi-paderi Siau-lim-si tak mungkin mampu
mengejarnya. Bahkan jumlah rombongan paderi yang begitu banyak, malah merupakan
rintangan. Serentak berserulah ia: “Tay Goan sute, harap pimpin penjagaan di sini. Tay
Teng dan Tay To sute, ikutlah aku mengejar musuh!”

Tay Teng mencekal senjata hong-pian-jan dan Tay To mencekal sepasang golok kwatto.
Mereka cepat mengikuti Tay Ih siansu.
Siu-lam agak bersangsi. Berkatalah ia kepada seorang paderi yang berada di
sampingnya: “Toa-suhu, tolong pinjam senjata toa-suhu.”
Paderi itu bersangsi. Tiba-tiba ia rasakan tangannya kesemutan dan tahu-tahu golok
sudah pindah di tangan si anak muda. Ia terkejut. Ketika berpaling ternyata Siu-lam
sudah melayang di udara untuk menyusul Tay Ih dan sutenya.
Rupanya jubah hitam dan jubah hijau tak mau terlibat dalam pertempuran dengan
kawanan paderi. Dan pula agaknya mereka paham benar dengan keadaan gereja itu.
Mereka lari menuju ke arah barat laut.
Walaupun ketiga paderi tingkat tinggi dari Siau-lim-si itu mengejar dengan tenaga
penuh, tetapi tetap tak mampu mendekati kedua orang berjubah itu. Mereka tetap
terpisah pada jarak dua tombak. Sedangkan Siu-lam kira-kira terpisah satu tombak di
belakang ketiga paderi.
Tay Ih agak kesima. Kedua orang berjubah itu ternyata dapat memilih arah di mana
penjagaan tidak begitu kuat. Dan sekeluar dari lingkungan gereja, mereka akan menuju
pada sebuah jalan buntu.
Demikian enam sosok bayangan, berlari-lari kejar-mengejar seperti deru angin. Tibatiba
Tay Teng siansu melantangkan seruan O-mi-to-hud. Dalam malam yang sunyi,
nadanya bergema jauh. Belum seruan itu reda, empat orang paderi setengah tua,
bermunculanlah menghadang di tengah jalan.
Kiranya seruan O-mi-to-hud itu merupakan sandi untuk memanggil barisan pendamping
paderi Siau-lim-si yang bertugas di sekeliling tempat itu.
Begitu keempat paderi itu muncul, kedua orang berjubah itu sudah tiba di samping
mereka. Begitu keduanya gerakkan tangan, tiga di antara keempat paderi yang
menghadang jalan itu segera terjungkal rubuh. Paderi yang masih berdiri, segera gunakan
jurus Lat-soh-ng-gak (menyapu lima gunung), menghantam dengan tongkatnya.
Tetapi kedua orang berjubah itu luar biasa cepatnya. Baru paderi itu gerakkan
tongkatnya, mereka sudah melejit ke samping sehingga sabatannya menemui angin.
Tetapi sekurang-kurangnya, rintangan itu memberi kesempatan bagi rombongan Tay Ih
siansu untuk menyusul datang. Tay Teng tekankan tongkatnya ke tanah dengan
meminjam tenaga tekanan itu tubuhnya mencelat ke udara dan meluncur jauh di sebelah
muka.
Baik Tay Teng maupun Tay To hanya tahu bahwa suhengnya itu memang lebih sakti
dari lain-lainnya. Tetapi baru pertama kali itulah mereka menyaksikan Tay Ih siansu
gunakan ilmu meringankan tubuh jauh luar biasa. Keduanya makin menaruh rasa kagum.
Paderi yang masih bertahan tadi ketika melihat ketiga kawannya terkapar sebelum
sempat menghadang orang, diam-diam hatinya menyesal.
“Murid…” ia berseru lantang dengan nada penuh sesal. Tetapi belum sempat
menyelesaikan kata-katanya, Tay Teng dan Tay To sudah melesat ke sampingnya.
Ketika Siu-lam yang berada di belakang tiba di samping paderi itu, ia berseru pelahan
suruh paderi itu lekas menggotong kedua kawannya yang terluka ke dalam gereja.
Tay Ih siansu telah gunakan ilmu meringankan tubuh yang istimewa, yakni Leng-honghui-
toh. Ilmu itu merupakan ilmu sakti dari perguruan Siau-lim-si. Dengan tekankan
tongkat ke tanah, paderi itu melambung sampai tiga tombak tingginya. Kemudian tanpa
menginjak tanah, ia hantamkan tongkatnya lagi, dengan meminjam tenaga hantaman itu,
ia melayang sampai delapan-sembilan tombak jauhnya. Begitu melayang turun ke tanah,
ia hanya terpisah setombak dari kedua musuhnya.
Tay Teng dan Tay To yang kalah sakti dari suhengnya, walaupun sudah menumpahkan
seluruh tenaganya, tetapi tak dapat menyusul suhengnya.

Saat itu musuh sudah tinggalkan di lingkungan gereja Siau-lim-si. Setelah melintasi
dua buah puncak gunung, tiba-tiba mereka berhadapan dengan sebuah puncak tinggi
yang buntu.
“Hai, kalian berhadapan dengan jalanan buntu. Jika tak mau berhenti, terpaksa loni
akan lepaskan senjata rahasia!” Tay Ih siansu berseru nyaring. Ia tetap memegang
gengsi sebagai seorang paderi yang berkedudukan tinggi. Sekalipun marah tetapi tetap
tak mau menyerang secara gelap.
Tetapi mana orang berjubah hitam dan hijau itu mau menggubrisnya. Mereka
membelok dan lari menyusuri lamping gunung.
Tay Ih diam-diam menghela napas longgar. Ia kendorkan larinya. Dan ketika Tay
Teng dan Tay To menyusul, ia berkata dengan bisik-bisik: “Jika membelok ke sebelah
kanan, walaupun jalan sukar, tetapi masih terdapat jalanannya. Tetapi jika menikung ke
sebelah kiri, setelah lima lie jauhnya akan terhadang oleh jurang yang dalamnya ratusan
tombak dan lebarnya empat belas-lima belas tombak. Betapapun mereka sakti dalam ilmu
ginkang, tak mungkin mampu melampauinya. Baiklah kita kendorkan langkah untuk
beristirahat agar dalam menghadapi kemungkinan bertempur lagi, semangat kita sudah
segar. Siu-heng hendak mengejar mereka untuk menghalangi jangan sampai mereka
dapat membuat jembatan!”
Habis berkata paderi itu cepatkan larinya lagi. Saat itu Siu-lam pun tiba. Pesan Tay Ih
tadi didengarnya jelas. Buru-buru ia berseru memberi peringatan: “Harap toa-suhu
berhati-hati. Rupanya kedua orang itu seperti anak buah Beng-gak!”
“Harap sicu jangan kuatir. Loni tentu dapat menjaga diri…” kedengaran jauh sekali
suara penyahutan Tay Ih siansu.
Tay To berpaling menatap Siu-lam dan menghaturkan maaf karena menyangka keliru.
Siu-lam mengucapkan kata-kata merendah dan mengetahui bahwa diapun bersalah karena
tak mau menceritakan hal itu sebelumnya, sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
“Ah, memang penjagaan kami yang kurang rapat sehingga musuh dapat menyelundup.
Bukan salah sicu,” kata Tay Teng.
Dalam pada bercakap-cakap itu mereka bertiga membelok ke sebuah tikungan dan
menghadapi sebuah jalan sempit yang menuju ke sebuah lembah.
Saat itu malam sudah lenyap, fajar mulai menyingsing. Siu-lam memandang ke muka.
Dilihatnya pada ujung lembah, beberapa sosok tubuh sedang bertebaran kian kemari.
“Rupanya Tay Ih siansu sudah bertempur dengan musuh. Mari kita lekas susul,”
katanya seraya lari. Tay Teng dan Tay To segera mengikuti.
Lembah itu hanya sepanjang tiga, empat lie. Dalam beberapa kejap saja mereka sudah
tiba di ujung lembah. Ternyata di ujung itu merupakan sebuah ujung buntu yang
berbahaya. Di situ merupakan pertemuan dua lamping gunung. Di sebelah mukanya
terbentang sebuah jurang yang dalam sekali. Batu-batu gmerlap dan runcing,
bertebarang memenuhi jalan buntu itu.
Mentari pagi mulai memancarkan cahayanya. Gumpalan kabut pagi, berhamburan
keluar dari dasar lembah dan bertebaran memenuhi permukaan.
Memang saat itu Tay Ih siansu sedang bertempur seru dengan si orang jubah hitam.
Tay Ih mainkan tongkatnya menjadi hamburan beribu-ribu sinar, disertai dengan desus
angin yang menderu-deru.
Sedang si jubah hitam yang menggunakan pedang, melancarkan serangan-serangan
yang aneh dan cepat. Di dalam tekanan tongkat Tay Ih siansu yang mengaum-aum bagai
badai di musim dingin, pedang orang berjubah hitam itu melincah-lincah seperti kupukupu
main di atas bunga. Betapapun Tay Ih hendak menghancurkan, tetap lawannya
dapat menghindar.
Sementara itu si orang jubah hijau hanya tegak menggendong tangan. Rupanya dia
sedang menyelidiki satu jalan keluar dari karang buntu situ. Sama sekali ia tak
menghiraukan pertempuran dahsyat yang berlangsung di belakangnya.

Sepintas pandang, tampak tongkat Tay Ih siansu lebih perkasa sehingga seolah-olah
dia menang angin. Tetapi jika diamati dengan seksama, ternyata tidak demikian
keadaannya.
Sekali dalam lingkaran sinar tongkat yang mencurah hebat, namun orang jubah hitam
itu sama sekali tak sibuk dan tetap mainkan pedang dengan leluasa sekali. Jelas bahwa
dia belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Melihat itu, Tay Teng membisiki Tay To: “Harap sute menjaga di sini, aku hendak
membantu suheng!”
Habis berkata, Tay Teng menggembor keras dan menerjang dengan senjata hong-pianjan.
Tadi ketika di ruang Tok-li-wan, ia telah didesak mundur oleh orang berjubah hitam
itu. Ia amat penasaran sekali dan hendak mencari kesempatan menempurnya lagi.
Mendengar teriakan Tay Teng, si orang baju hijau berpaling. Tetapi ia tetap tak mau
membantu kawannya. Rupanya ia menganggap sepi saja kepada paderi itu.
Begitu melihat bala bantuan musuh datang, orang berjubah hitam itu segera mencabut
badik. Setelah dapat menipu tongkat Tay Ih dengan sebuah serangan Seng-liong-in-hong,
cepat ia balikkan pedangnya menyerang Tay Teng. Menyusul badik di tangan kirinya
menikam pundak kiri paderi itu.
Untuk tusukan pedang, Tay Teng mundur dua langkah lalu putar hong-pian-jannya
balas menyerang.
Hong-pian-jan merupakan senjata yang panjang. Jika bertempur merapat, tentu tak
leluasa digerakkan.
Rupanya tindakan Tay Teng itu tepat. Ia dapat memaksa lawan mundur tiga langkah.
Saat itu Tay Ih siansupun dapat kembangkan tongkatnya lagi. Ia serang lawan dengan
jurus Kun-lin-toa-te.
Si orang jubah hitam tak berani menangkis. Ia loncat mundur. Tay Ih tak mau
memberi hati. Ia mendesak maju.
Siu-lam yang memperhatikan permainan orang jubah hitam itu, mendapat kesan bahwa
rasanya ia pernah berjumpa. Tapi lupa entah di mana.
Tay Ih dan Tay Teng merangsek maju. Karena tiga empat tombak lagi karang itu
berakhir dengan sebuah jurang yang curam, tak mungkin ia akan mundur lagi. Ia mundur
ke samping si jubah hijau. Keduanya segera bersiap bahu membahu.
Tay Teng dan Tay To cepat-cepat menyusul dan berdiri di kanan-kiri Tay Ih. Kini kedua
belah pihak hanya terpisah dua tiga meter. Wajah ketiga paderi itu tampak serius. Begitu
pula dari kain kerudung tipis yang menutup bagian muka, tampak mata kedua orang
berjubah itu tak berkesia melawan lawan. Jelas merekapun mencurahkan seluruh
perhatiannya pada musuh.
“Jiwi memiliki kepandaian yang sakti. Tentu bukan tokoh yang tak bernama. Mengapa
tak berani unjuk muka secara terang-terangan?” seru Tay Ih.
Namun kedua orang berjubah itu diam saja.
“Apakah kalian tuli?” bentak Tay To.
Tapi rupanya kedua orang berjubah itu kebal akan segala ejekan dan makian. Mereka
tak mau menyahut melainkan menatap ketiga paderi itu tajam-tajam.
Tiba-tiba si orang jubah hitam gerakkan pedang menabur ke arah ketiga paderi.
Gerakan pedang yang aneh dan deras itu, memaksa ketiga paderi itu menangkis dengan
senjatanya.
Sinar pedang gemerlapan hong-pian-jang bersatu dengan lingkaran cahaya sepasang
golok, kwat-to yang dimainkan Tay To. Jalan sempit ujung lembah itu seolah-olah
tertutup oleh lingkungan sinar senjata ketiga paderi Siau-lim-si. Memang gereja Siau-limsi
tak kecewa disebut sebagai sumber ilmu silat. Walaupun berlainan bentuk, tapi ketiga
senjata itu berkembang dalam satu perpaduan yang serasi. Selain menangkis serangan
pedang lawan, pun mengurungnya dalam sebuah kepungan pagar senjata.

Gerakan ketiga senjata paderi Siau-lim-si itu, menimbulkan deru angin tajam yang
mengiang di telinga.
Dalam pertempuran saat itu, ketiga paderi Siau-lim-si telah mencurahkan delapan
bagian dari tenaga mereka.
Sambil mainkan pedangnya, tiba-tiba orang berjubah hitam itu loncat mundur ke
samping kawannya. Gerakannya indah, wajar, dan tepat.
Melihat itu diam-diam hati Tay Ih tercekat. Pikirnya: “Musuh benar-benar punya ilmu
kepandaian yang aneh luar biasa. Entah bagaimana dengan keadaan kedua susiok yang
bertapa dalam sanggar itu. Tay Hui sute yang bertugas menjaga sanggar pertapaan,
sejak kedua musuh itu menerobos keluar dari dalam sanggar, sampai sekarang belum
tampak muncul. Menilik gelagatnya, Tay Hui sute tentu menderita sesuatu….”
Memikir sampai di situ, hawa amarah Tay Ih meluap. Demi menjaga kehormatan dan
nama Siau-lim-si, ia harus mengambil keputusan. Ia harus bertempur mati-matian dengan
musuh. Cepat ia mengeluarkan peta sutera dan kunci emas pemberian paman gurunya
yang berambut putih (salah seorang paderi tua yang bertapa). Sambil menyerahkan
kepada Tay To, berkatalah ia: “Harap sute berikan kepada Tay Hui sute!”
Diterima pemberian itu dengan heran, lalu Tay To menanyakan apakah ia harus pergi
saat itu.
“Ya, sekarang juga. Jika tak bertemu Tay Hui sute, berikan peta dan anak kunci itu
pada kepala bagian penilik Tay An sute!” sahut Tay Ih.
Kini mengertilah Tay To akan maksud suhengnya. Serentak hatinya menjadi sayu,
katanya: “Ah, mengapa suheng bertindak sedemikian.”
Tay Ih kerutkan alis dan berseru dengan bengis: “Harap jangan banyak bicara, cepat
pergi.”
Siau-lim-si mempunyai aturan keras. Melihat suhengnya marah, Tay To tak berani
berayal lagi. Segera ia minta diri dan terus pergi.
Tay Ih mengantar kepergian sutenya dengan tersenyum. Wajahnya yang tegang tadi,
lenyap seketika. Seolah-olah ia seperti telah terlaksana harapannya. Baginya seperti
sudah bebas dari suatu beban kewajiban di dunia. Ringan pikirannya, ringan pula hatinya.
Mati hidup bukan soal.
Sambil kibaskan tongkatnya, ia berbisik kepada Tay Teng: “Harap sute menyingkir. Aku
hendak mencoba ilmu kepandaian Siau-lim-si. Apakah memang benar dianggap sebagai
bintang Pak-tou di angkasa persilatan….”
Paderi itu tertawa sejenak, lalu berkata pula: “Di antara persaudaraan tingkat Tay, Tay
Ti suhenglah yang paling tinggi kepandaiannya. Tetapi dia telah binasa ketika bertempur
dengan wanita berkerudung. Tay Hong suheng yang hanya setingkat di bawah Tay Ti
suheng, hilang di Beng-gak. Sedang loni sendiri yang hanya terpaut tak berapa tinggi
dengan para sute menyadari kekurangan itu dan tak henti-hentinya selama berpuluh
tahun meyakinkan ilmu perguruan gereja kami. Maka kini loni hendak menguji sampai di
mana pelajaran yang telah loni capai. Harap sute menjaga di luar gelanggang, jangan ikut
turun tangan.”
Sederhana sekali rangkaian kata-kata Tay Ih itu. Tetapi nadanya kokoh laksana paku
menancap. Dia telah mencapai ilmu pelajaran agama yang tinggi sehingga memiliki
toleransi yang kuat. Sekalipun telah bertekad hendak mengadu jiwa, namun ia tak mau
menghambur ucapan yang melukai hati orang.
“Baiklah,” Tay Teng mengiyakan.
“Obat manjur juga diperuntukkan penyakit yang belum takdirnya mati. Agama tak
dapat mempengaruhi orang yang memang tak berjodoh!” Tay Ih berseru nyaring lalu
melangkah maju.
Paderi sudah bertekad untuk mengadu jiwa. Dia tak menghiraukan lagi soal kematian.
Setapak demi setapak ia maju melangkah.

Rupanya orang berjubah hitam itu terpesona menyaksikan ketenangan Tay Ih. Pedang
segera diacungkan lurus ke muka, sedang badik di tangan kiri, ditumpangkan di atas
pedang. Dengan pelahan iapun maju menyongsong….
Ketika terpisah dua-tiga meter, keduanya berhenti. Masing-masing saling tegak
berhadapan dengan siapkan senjatanya.
Siu-lam terkesiap menyaksikan duel maut yang akan berlangsung itu. Diam-diam ia
membatin: “Tay Ih siansu seorang paderi tingkat tinggi dari Siau-lim-si. Aku harus
berusaha mencegah petempuran maut ini….”
Ia berpaling. Tampak wajah Tay Teng siansu berduka memandang Tay Ih, tetapi
paderi itu tak berani mencegah suhengnya.
Melihat itu Siu-lam tak mau betrayal lagi. Dengan menggembor keras, ia enjot
tubuhnya menerjang orang berjubah hitam itu dengan jurus Hong-lui-kiau-ki atau angin
dan kilat saling berbentur….
Pedang yang diacungkan lurus ke muka dada itu tiba-tiba digerakkan oleh si orang
jubah hitam. Seketika itu juga berhamburanlah beribu-ribu letikan bunga api, disusul
dengan dering gemerincing suara senjata beradu.
Hebat sekali taburan pedang-pedang orang berjubah hitam itu. Bukan saja senjatanya,
bahkan Siu-lam sendiripun terkurung dalam selubung sinar pedang.
Dahsyat dan serunya adu senjata itu berlangsung dalam sekejap mata, sehingga Tay Ih
siansu tak sempat membantunya lagi.
Pada saat Siu-lam tampak terancam bahaya kehancuran, sekonyong-konyong terdengar
orang berjubah hitam itu mendengus dingin dan mundur beberapa langkah!
Sambil lintangkan golok kwat-to, Siu-lam tegak berdiri dan berseru dingin: “Jangankan
hanya memakai pakaian lelaki, biar menjadi tumpukan debu, jangan harap engkau mampu
mengelabuhi mataku!”
Perubahan itu mengejutkan sekali. Bahkan Tay Ih siansu sampai tak mengerti, ilmu
pedang apa yang digunakan si anak muda untuk mengundurkan lawan.
Kiranya pada saat menghadapi tekanan lawan yang hebat di mana Siu-lam merasa tak
mampu lagi melawan, sekonyong-konyong ia teringat akan ilmu Hud-hwad-bu-pian
(pelajaran Buddha itu tiada batasnya), ilmu ajaran dari kakeknya Hian-song. Cepat ia
gerakkan tangan kiri dalam jurus itu dan bingunglah si orang jubah hitam. Plak, dadanya
termakan tinju, seketika jantungnya serasa bergoncang keras dan mundurlah ia ke
belakang….
Karena dalam keadaan terdesak, Siu-lam hanya gunakan seperempat bagian
tenaganya. Maka setelah beristirahat memulangkan napas, orang jubah hitam itu
dapatkan dirinya tak kurang suatu apa.
Tiba-tiba ia mencabut kerudung hitam yang menutup mukanya, lalu tertawa: “Ih,
ingatanmu kuat sekali!” Tangannya bergerak dan jubah hitam yang dikenakannya itu
segera lepas. Kini orang berjubah hitam itu berubah menjadi seorang nona yang cantik
jelita.
Pada saat si jubah hitam menanggalkan jubahnya, si jubah hijaupun melepaskan
jubahnya juga. Dalam sekejap saja, kedua orang berjubah itu telah berubah menjadi dua
orang nona cantik.
“Hm, besar sekali nyali kalian,” Siu-lam tertawa dingin. Kemudian berpaling kepada
Tay Ih, serunya: “Kedua nona ini adalah murid perempuan dari ketua Beng-gak….”
Sepasang mata paderi Siau-lim-si itu berkilat-kilat tajam mengamati kedua nona itu,
ujarnya: “Oh, kiranya dua orang li-sicu.”
Paderi itu memberi hormat.
Nona jubah hijau yang kini berpakaian warna merah, tertawa melengking: “Tak usah
pura-pura menghormat, paderi tua. Lebih baik bicara terus terang saja. Kau mau apa,
lekas bilang!”

“Kami kaum pertapaan, tak suka dengan berbohong. Bagaimanakah keadaan kedua
tianglo yang sedang melakukan pertapaan itu?” tanya Tay Ih.
Si nona jubah hitam yang kini mengenakan pakaian warna biru, tersenyum: “Apakah
orang tua gundul dan berambut putih itu?”
Tay Ih tergetar hatinya ketika mendengar nona itu dapat mengatakan tepat keadaan
susioknya. Tetapi ia cepat menekan kecemasannya dan mengiyakan.
Si nona baju biru tertawa mengikik: “Kedua orang tua itu, masing-masing telah kuberi
tiga buah tusukan. Mati atau hidup, aku tak tahu!”
Ucapan yang diucapkan seenaknya itu benar-benar sangat menusuk sekali hati Tay Ih.
Katanya dengan nada berat: “Kalau begitu, susiok kami itu sudah binasa di tangan li-sicu!”
Tay Teng dan Tay To sudah sejak tadi tak dapat menekan kesedihannya. Mendengar
ucapan yang terakhir itu, mata mereka berlinang-linang.
Si nona baju merah tiba-tiba melambai ke arah Siu-lam, serunya tertawa: “Hai, kekasih
tak berbudi, rupanya engkau banyak gembira, ya?”
Saat itu Siu-lampun sedang dicengkam oleh kedukaan karena kematian kedua paderi
tua itu. Kini mendengar seruan nona baju merah itu, makin terkejut. Apakah Hong-swat
sudah ditangkap mereka?
“Apa kesalahanku?” tanyanya.
Si merah tertawa mengikik: “Adikku si Hong-swat itu memang dibutakan oleh cinta.
Diam-diam ia melepaskan musuh. Kini dia dipaksa oleh suhu agar mencebur ke mulut
gunung berapi. Saat ini tubuhnya tentu sudah menjadi abu….”
Mendengar itu kepala Siu-lam seperti dihantam palu besi: “Benarkah itu?” ia menegas.
Si merah kicapkan matanya dan menatap Siu-lam, lalu tertawa: “Setiap patah
keteranganku tadi, adalah suatu kenyataan seperti matahari yang kita lihat!”
Hampir saja perasaan Siu-lam jatuh lebih dalam gelombang kedukaan yang
melandanya bertubi-tubi. Tiba-tiba ia kiblatkan kwat-to dan membentak: “Jika berita itu
benar, jangan harap kalian pergi dari lembah ini dengan selamat!”
Si Merah masih tertawa mengikik: “Aih, apakah engkau tidak takut hidup seorang diri?
Dengan kepandaian yang engkau punyai sekarang ini, apakah engkau berani berkata
sebesar itu?”
Berkata Tay Ih siansu dengan nada seram: “Jika kedua li-sicu hendak pergi, mudahlah.
Sebelumnya harus membuat loni menjadi sesosok mayat!” ia loncat terus menerjang si
nona baju biru.
Sejak muda, ia sudah mencukur rambut, masuk menjadi paderi. Selama berpuluhpuluh
tahun ia hanya hidup dalam lingkungan kesucian dan ketenangan. Belum pernah ia
mengalami kesedihan seperti saat itu. Berita kematian kedua paman gurunya merupakan
kedukaan yang pertama kali dideritanya sepanjang hidup. Luapan kedukaan,
dihamburkan dalam serangan tongkatnya yang dahsyat.
Mau tak mau si baju biru gentar juga. Ia bergeliat mundur lima langkah. Tetapi paderi
Siau-lim-si yang sudah dirundung kedukaan dan kemarahan itu, tidak mau memberi
ampun lagi. Dengan menggembor keras ia merangsek maju dengan jurus Gong-hong-hosiu
atau Badai menderu-deru.
Nona baju biru itu mundur pula beberapa langkah sehingga saat itu ia berada di tepi
jurang.
Tay Ih memburu. Bagaikan bayangan melekat, tongkatnya telah menghambur dalam
jurus Pat-hong-hong-oe atau Hujan angin delapan penjuru. Jika nona itu tak mau
menangkis lagi, tentu ia akan terdesak jatuh ke dalam jurang.
Akhirnya karena tak dapat mundur lagi, nona itu putar pedangnya dalam jurus Yaphwat-
soh-thian atau Api liar membakar langit. Pedang berhamburan menyambut tongkat.
Sedang badik di tangan kiri, menusuk mengarah ke dada.
Serangan tongkat yang dilambari oleh hawa kemarahan dari paderi Siau-lim-si itu,
hebatnya bukan alang kepalang. Sekalipun lwekangnya tinggi, tetap ia tak dapat

menahan amukan paderi itu. Hanya ilmu yang dimilikinya itu luar biasa. Dapat
dikendalikan menurut kehendak hatinya. Ia salurkan lwekang, pedang digelincirkan ke
samping terus dilemparkan.
Tay Ih terkejut. Ia tak menyangka bahwa nona itu masih mampu menimpukkan
pedang. Lontaran itu membuat tongkatnya menghajar angin.
Nona baju biru itu mengeluarkan permainan tingkat tinggi. Begitu dapat menahan
tongkat, badik di tangan kiri terus berkelebat menabas tangan si paderi dan menghambur
jubahnya.
Serangan badik itu cepatnya bagaikan kilat, sehingga Tay Ih tak sempat menghindar
maupun menangkis. Terpaksa ia kendorkan serangan tongkatnya, gunakan tangan kiri
untuk menyambar pergelangan tangan si nona.
Gerakan Tay Ih itu agak dapat meringankan tekanan si nona. Jika nona itu tetap
memapas dengan badiknya, memang lengan kanan Tay Ih terancam kutung. Tetapi
tangan kiri nona itu pun terancam cengkeraman si paderi. Sudah tentu bukan
sembarangan cengkeraman, tapi cengkeraman yang akan menghancurkan urat nadi.
Rupanya nona baju biru itu masih sayang akan kehilangan lengannya yang putih,
cepat-cepat ia endapkan tangannya ke bawah. Tapi dengan berbuat begitu, tusukan
badiknyapun luput. Cepat-cepat ia menyelinap ke samping.
Kini kedua saling berhadapan lagi. Pertempuran selanjutnya berlangsung sangat seru.
Keduanya tak berani ayal. Karena siapa lambat pasti akan terkurung dan dikuasai lawan.
Keduanya sama menginsyafi bahwa masing-masing telah bertemu dengan lawa yang
benar-benar setanding kepandaiannya.
Sepeminum teh lamanya, tiba-tiba Tay Ih berseru: “Harap li-sicu berhati-hati!” paderi
itu menutup kata-katanya dengan sebuah pukulan dari jarak jauh.
Meniup angin dahsyat segera melanda nona itu. Tetapi rupanya nona itu sudah siap
siaga. Ia gerakkan tangan kanannya. Serangkum tenaga lunak, melancar menyongsong
angin pukulan si paderi. Tiba-tiba ia menjerit dan membalikkan tangan kanannya ke
samping.
Seketika itu Tay Ih seperti tersedot sehingga tubuhnya condong ke muka. Buru-buru ia
hendak menarik pulang pancaran lwekangnya. Tetapi serempak dengan itu, sinar putih
bergemerlapan berhamburan menusuk dadanya….
Begitu dapat menghapus tenaga pukulan si paderi, segera nona baju biru itu
melancarkan serangan kilat. Beberapa jalan maut dari tubuh si paderi seketika terancam.
Dalam keadaan terdesak, tiba-tiba Tay Ih menggembor keras dan lepaskan tendangan
Koan-im-ciok atau kaki dewi Koan-im. Yakni sebuah tendangan yang tergolong salah satu
ilmu dari ketujuhpuluh dua ilmu pusaka gereja Siau-lim-si.
Nona baju biru mendengus dingin. Tiba-tiba ia menggeliat ke samping tetapi badiknya
tetap mengarah ke dada lawan.
Cres,,, duk… terdengar dua macam suara. Yang satu berasal dari badik si nona yang
berhasil menggurat pecah baju paderi terus membelah bahunya hingga tulangnya
kelihatan. Tetapi serempak dengan itu, kaki Tay Ih yang mendahului gerak penghindaran
si nona tadi, telah berhasil menendang tubuh nona itu. Tubuh nona baju biru itu terpental
melayang ke udara, membentur dinding karang di sebelah kanan lalu jatuh ke tanah….
Si nona berhasil menusuk bahu Tay Ih, tetapi Tay Ih pun berhasil menendang tubuh si
nona. Adalah karena tendangan itu maka tusukan si nona menjadi berkurang dahsyatnya.
Kalau tidak, tusukan itu tentu dalam dan membinasakan Tay Ih. Pun adalah karena
tusukan itu maka tendangan Tay Ih menjadi berkurang kekuatannya. Coba tidak, tubuh
nona itu tentu sudah hancur berkeping-keping.
Kedua-duanya sama-sama terluka.
Nona baju biru itu terbanting ke tanah dan hampir pingsan, tetapi badiknya masih
tergenggam di tangan. Sambil memegang dinding karang ia berbangkit bangun.
Wajahnya pucat pasi.

“Paderi tua, kepandaianmu hebat benar! Ilmu tendanganmu tadi benar-benar luar
biasa!” serunya.
Tay Ih menundukkan kepala. Dilihatnya jubahnya berlumuran darah. Dengan sikap
serius berseru: “Ilmu kepandaian Beng-gak memang luar biasa. Tak heran kalau Tay
Hong sute dan ketigapuluh enam paderi houw-hwat, binasa semua di Beng-gak!”
Tiba-tiba terdengar Tay Teng berseru Omitohud. Ia melangkah menghampiri Tay Ih
siansu: “Suheng harap beristirahat. Biarlah siaute yang meminta pelajaran dari orang
Beng-gak!”
Nona baju biru itu tertawa dingin: “Bagus, majulah engkau!” Sambil picingkan mata,
tangannya menjamah karang. Wajahnya pucat sekali.
Tay Teng benar-benar marah karena suhengnya telah mendapat luka. Dia hendak
menuntut pembalasan pada nona baju biru itu. Tetapi ketika ia hanya terpisah beberapa
meter dari nona itu, ternyata si nona tetap tegak berdiri sambil pejamkan mata.
Tay Teng mengangkat senjat hong-pian-jan dan terus hendak diayunkan, tetapi tibatiba
terkilas sesuatu: “Ah, rupanya dia benar-benar luka parah dan kehabisan tenaga. Jika
selagi dalam keadaan tak berdaya, dia kuhajar mati, apabila peristiwa ini sampai tersiar di
luar, bukan saja aku dihina orang, pun nama gereja Siau-lim-si tentu akan dicemooh
orang…, tetapi, iapun secara keji telah menyerang kedua susiok yang sedang bertapa.
Terhadap orang seperti itu apa guna memakai segala macam susila….”
Dua pertentangan yang timul dalam batinnya menyebabkan paderi Tay Teng tak segera
bertindak. Untuk sesaat tak tahu ia bagaimana harus berbuat?
Tiba-tiba nona baju biru itu membuka mata dan tertawa: “Eh, mengapa kau tak turun
tangan?”
Belum Tay Teng menyahut, kembali si nona baju biru itu sudah tertawa mengikik
seraya berkata pula: “Uh, karena kau tak mau bertindak, akupun tak mau sungkan lagi!”
tiba-tiba tubuhnya bergetar dan tahu-tahu orangnya sudah maju merapat terus menusuk
dada si paderi!
Sama sekali Tay Teng tak menyangka bahwa nona itu membuktikan kata-katanya
dengan perbuatan yang tangkas. Karena ia pakai senjata hong-pian-jan yang panjang
maka begitu nona itu merapat mendekatinya, Tay Teng tak dapat menggerakkan
senjatanya. Jalan satu-satunya, terpaksa ia buang tubuhnya berjumpalitan ke belakang.
“O, kau hendak lari?” seru si nona baju biru seraya melesat membayangi lawan. Badik
berlincahan menusuk kian kemari. Sekaligus ia telah lancarkan tujuh jurus serangan
hebat.
Ketujuh jurus serangan itu mengarah dada sehingga Tay Teng kelabakan. Begitu cepat
dan gencar si nona menyerang secara merapat sehingga Tay Teng tak punya kesempatan
lagi untuk memainkan hong-pian-jan. Senjata panjang yang berat itu malah merupakan
suatu beban menghalangi gerakannya.
Saat itu Tay Ih sudah membuka mata. Setelah melakukan penyaluran darah, ia
berhasil mengurangi rasa sakit pada luka di bahunya. Begitu melihat sutenya terancam
bahaya maut, ia jadi gelisah. Dilihatnya Siu-lam masih bertempur seru dengan si nona
baju merah dan Tay To yang disuruhnya mengantar surat tadi, belum muncul kembali.
Selagi ia ragu-ragu apakah ia harus turun tangan mengerubuti si nona yang hebatnya
dapat merosotkan gengsi gereja Siau-lim-si, tiba-tiba terdengar suara si nona baju biru itu
melengking dan hamburkan badiknya menabur tubuh Tay Teng. Karena tak keburu
menghindar, dada Tay Teng termakan sebuah tusukan. Darah bertetesan membasahi
jubahnya.
Tay Ih siansu telah memperhatikan kesemuanya itu. Jika ia tak lekas bertindak, dalam
tiga empat jurus lagi tentulah sutenya, Tay Teng, akan binasa di bawah taburan badik si
nona baju biru.
Didahului dengan sebuah gemboran keras mulailah Tay Ih menyalurkan seluruh
tenaganya ke tangan dan dada, lain saat, sebuah pukulan dahsyat telah dilontarkan….

Paderi Siau-lim-si itu memang memiliki tenaga lwekang yang tinggi. Sekalipun terluka,
namun tak mengurangi kedahsyatan tenaganya.
Memang si nona baju biru saat itu sudah mengetahui keadaan lawan. Dalam dua tiga
jurus saja dia pasti dapat merubuhkannya. Tak mau ia memberi kesempatan lagi.
Didesaknya Tay Teng dengan serangan yang gencar sekali.
Tengah asyik mengakhiri pertempuran, tiba-tiba ia merasa dilanda oleh setiup angin
kuat. Dadanya terasa sesak dan tubuhpun terpaksa mundur dua langkah.
Tetapi karena menggunakan tenaga penuh, luka di bagian lengan kiri Tay Ih siansupun
membengkak lagi dan mengucurkan darah.
Tetapi pertolongan itu tak sia-sia. Karena si nona baju biru menyurut mundur, Tay
Teng pun mendapat kesempatan untuk bergerak. Secepat kilat ia kembangkan hong-pianjan
untuk melakukan serangan balasan,
Hantaman Tay Ih tadi benar-benar membuat tubuh si nona gemetar. Luka dalam yang
dideritanya tadi mulai terasa lagi. Tenaganya makin habis dan tubuhnya lemas. Sudah
tentu ia tak mampu menghadapi serangan dahsyat dari Tay Teng.
Dalam sekejap saja, kedudukan mereka berubah. Yang diserang menjadi penyerang.
Nona baju biru itu hanya andalkan kelincahannya untuk bergerak kian kemari,
menghindari serangan bertubi-tubi dari Tay Teng.
Tetapi betapapun juga akhirnya dalam lima jurus saja, tubuhnya terasa makin kaku dan
tak leluasa bergerak.
“Sute, jangan sampai binasakan jiwanya. Pentalkan pedangnya dan tangkaplah ia
hidup-hidup!” berkata Tay Ih dengan berat.
Dengan pakaian berlumuran darah, Tay Teng tiba-tiba berseru membentak nona itu
agar lepaskan senjatanya. Dan saat itu, hong-pian-jan telah menindih di atas batang
pedang lawan.
Nona baju biru itu benar-benar sudah tak bertenaga lagi. Tindihan hong-pain-jan itu
memaksa si nona harus lepaskan pedangnya. Tay Teng maju selangkah dan menyusuli
sebuah tendangan ke lutut. Tetapi nona itu masih dapat menggeliat dan balas
menggempur dari sebelah kiri.
Sebenarnya gerakan nona itu tangkas sekali. Tetapi karena tenaganya sudah habis dan
luka dalamnya kumat, gerakannya agak lamban dan sekalipun lututnya selamat tetapi
pahanya termakan kaki si paderi. Nona itu berputar-putar lalu rubuh….
Tay Teng cepat memburu dan menutuk jalan darahnya. Ia menghela napas. Tiba-tiba
ia sempoyongan ke belakang dan bluk…. Jatuhlah paderi itu ke tanah. Hong-pian-jannya
menghantam karang.
Ternyata diapun terluka parah. Darahnya banyak keluar. Sekalipun tenaganya sudah
habis tetapi ia masih mengerahkan sisa tenaganya yang terakhir untuk mengirim
tendangan. Maka setelah menutuk jalan darah nona itu, ia sendiri tidak dapat bertahan
lagi!
Dalam pertempuran yang dahsyat itu, tiga jago sakti telah menderita luka parah.
Walaupun tahu sutenya terluka, namun karena dirinya sendiri sedang mengatasi darahnya
yang bergolak akibat lukanya, Tay Ih tidak sempat menolong Tay Teng.
Kini yang masih bertempur mati-matian hanya tinggal Siu-lam dengan si nona baju
merah. Saat itu mentari pagi mulai mengintip dari celah dinding langit timur. Tay Teng
dan si nona baju merah rebah di tanah. Tay Ih duduk bersandar pada dinding karang,
menyalurkan pernapasan.
Siu-lam dan nona baju merah sudah bertempur hampir seratusan jurus. Namun masih
belum ada yang kalah atau menang.
Siu-lam mainkan golok kwat-to dalam ilmu pedang ajaran si kakek (kakek dari Hiansong).
Walaupun ia belum mencapai kesempurnaan dalam latihannya, tetapi dapat
menghadapi serangan-serangan maut dari lawan.

Memang selama pertempuran itu berlangsung, si nona selalu unggul. Tetapi pada saat
Siu-lam terdesak dan tidak berdaya, ia segera mengeluarkan jurus istimewa ajaran si
kakek. Setiap kali jurus aneh itu keluar, si nona pasti terhalau mundur.
Di luar kesadaran, Siu-lam seperti mendapat pasangan untuk berlatih. Kini ia makin
mengerti keindahan ilmu pedang ajaran kakek Tan itu. Di samping itu, ia pun mulai
merasa heran karena ilmu permainan nona itu ternyata sealiran dengan ilmu ajaran si
kakek Tan. Berulang kali terjadi adegan di mana kedua senjata mereka saling berkelebat
ke tempat kosong atau saling berbenturan secara tepat dan serasi sekali. Sudah tentu
nona baju merah itu terkejut juga.
Siu-lam menginsyafi bahwa dengan bertempur seperti itu, tak aka nada yang kalah.
Jelas sudah, bahwa sumber kepandaian mereka berdua, berasal dari satu rumpun.
Memang dalam hal tenaga dan kemahiran, si nona baju merah lebih unggul. Tetapi
dalam variasi permainan, Siu-lam lebih menang. Terutama jurus Jiau-toh-cu-hua itu. Tiap
kali dimainkan lawan tentu terhalau mundur. Sayang Siu-lam hanya dapat mainkan dua
jurus saja, seperti yang dapat diingatnya.
Maka pemuda itu berusaha untuk mengenang kembali jurus-jurus selanjutnya dari
ajaran kakek Tan itu. Asal ia dapat memainkan barang satu jurus lagi saja, nona itu tentu
dapat dikalahkan.
Tetapi akibatnya karena pikirannya ditumpahkan untuk menggali ingatannya,
konsentrasinya menjadi terganggu. Dua kali ujung pedang si nona hampir menusuk ke
dada. Untung hanya baju bagian luar saja yang robek!
“Berhenti!” tiba-tiba nona itu berseru seraya menyurut mundur.
Siu-lam pun hentikan pedang dan tegak berdiri dan berseru: “Mengapa?”
Sejenak nona itu mengerlingkan mata ke arah si nona baju biru yang rebah di tanah,
kemudian berkata: “Ilmu pedangku dan ilmu golokmu, setali tiga uang….”
“Hanya begitu?” tukas Siu-lam seraya maju menabas dengan jurus Hian-to-tui-yang.
Si nona menangis sambil melanjutkan bicaranya: “Dari mana engkau mempelajari ilmu
permainan golok itu?”
“Ilmu silat, beratus jenis tetapi satu sumber. Wajar kalau ada beberapa gerak yang
bersamaan. Perlu apa engkau heran tak keruan?”
Wut, wut, kembali ia menabas dua kali.
Si nona baju merah tebarkan pedangnya. Terdengar dering gemerincing dari senjata
saling beradu. Setelah dapat menahan golok Siu-lam, kembali nona itu berseru lagi:
“Apakah sumoayku Hong-swat yang mengajarkan kepadamu?”
“Jangan memfitnah orang!” bentak Siu-lam.
Nona itu tertawa mengikik: “Toh orangnya sudah tidur dalam genangan lahar gunung.
Sekalipun engkau mengakui, juga tak apa!”
Mendengar itu seketika meluaplah kesedihan hati Siu-lam. Bayangan Hong-swat yang
gemar mengenakan pakaian serba putih dengan wajahnya yang sayu, kemudian melintas
dalam kenangannya. Ia menghela napas: “Apakah ia sudah mati sungguh-sungguh….”
Si nona baju merah tertawa: “Lahar gunung berapi dapat menghancurkan baja.
Sekalipun tubuhnya terbuat dari besi dan baja, tentu akan hancur luluh juga….”
Seketika terkenanglah Siu-lam akan peristiwa-peristiwa yang dialaminya selama ini.
Banyak nian hal-hal sedih yang menimpa dirinya. Ciu Hui-ing hilang di Po-ta-kang. Tan
Hian-song beberapa bulan yang lalu, merasa seperti hidup dalam impian. Hilangnya Cui
Hui-ing di karang Po-to-kang, lenyapnya Hian-song dihambur angin puyuh. Dan kini
muncul berita buruk lagi tentang kematian si putih Bwe Hong-swat di dalam lembah
gunung berapi. Kesemuanya itu merupakan derita hidup yang menghancurkan perasaan.
Dua butir air mata menitik keluar….
Tengah ia melamun tiba-tiba ia dikejutkan oleh berkelebatnya sinar pedang si nona
baju merah yang menusuk ke dadanya.

Serangan itu cepat sekali datangnya sehingga Siu-lam tak sempat menangkis.
Terpaksa ia loncat mundur. Tetapi nona baju merah itu tak mau memberi hati. Ia
mendahului menyerang lagi dengan cepat. Dalam sekejap saja, lima jurus serangan telah
dilancarkan.
Siu-lam benar-benar kelabakan. Betapapun ia berusaha untuk menghindar, namun
akhirnya lengan kanannya termakan sebuah tusukan. Sakitnya bukan kepalang sehingga
goloknya terlepas. Dalam gugup ia menghantam dengan jurus Hud-hwat-bu-pian….
Ilmu pukulan Hud-hwat-bu-pian itu memang luar biasa. Penuh perubahan yang sukar
diduga. Walaupun tahu, tetapi nona baju merah itu tak mampu lepaskan diri. Terpaksa ia
loncat mundur.
Tetapi Siu-lampun tak mau memberi kesempatan juga. Tangan kirinya menghantam
pundak sehingga nona itu terpental dua langkah dan kemudian menyusul sebuah
tendangan.
Seketika nona itu rasakan pundaknya kesemutan sehingga pedangnyapun hampir
terlepas. Belum hilang kejutnya, tendangan Siu-lam sudah datang. Tak kuasa lagi ia
mempertahankan keseimbangan tubuhnya dan terlemparlah ia beberapa belas langkah
jauhnya….
Di belakang nona itu terbentang sebuah jurang yang dalam sekali. Apabila mundur
lagi, nona itu pasti akan terjerumus ke jurang.
Siu-lam memungut goloknya, terus maju menyerang lagi. Sekalipun ia percaya bahwa
tak mudahlah untuk mendesak nona itu kecebur ke dalam jurang namun ia tetap
mencobanya.
Tetapi alangkah kagetnya ketika melihat nona itu benar-benar terpelanting ke dalam
jurang. Tengah ia terpukau, tiba-tiba tubuh nona yang meluncur ke bawah itu
membubung ke atas lagi. Menusuk dinding karang jurang, tubuh nona itu melenting ke
permukaan jurang dan melayang ke daratan lagi.
Melihat itu Siu-lam cepat memburu. Belum kaki nona itu menginjak tanah, Siu-lam
sudah menyapukan golok dengan jurus Ping-sat-lah-gan atau burung belibis melayang
datar.
“Apakah kau sungguh hendak membunuh aku?” lengking nona itu.
Siu-lam tertegun. Hanya sedetik ia berhenti, tetapi cukuplah sudah bagi si nona untuk
gerakkan pedangnya menangkis golok Siu-lam. Dan secepat kilat ia balas menyerang.
Begitu Siu-lam mundur, si nonapun dapat menginjak tanah.
“Ai, sekarang kepandaianmu maju sekali?” serunya dengan tertawa.
Melihat nona itu sudah tegak di tanah, Siu-lam tersadar dari kesalahannya. Ia tertipu.
Kini kesempatannya untuk mengalahkan nona itu lenyap. Dan pertempuran dahsyat tentu
akan dialaminya lagi.
“Hm, jangan harap kalian dapat lolos dari tempat ini!” dengusnya.
Si nona mengangkat kepala dan memandang ke arah sucinya yang masih menggeletak
di tanah. Ia tersenyum: “Kedua paderi tua itu lebih parah dari toa-suciku. Siapa yang
dapat bangun lebih dahulu dan menyalurkan napas, dialah yang akan menang. Mereka
tengah berjuang untuk bangun. Siapa yang akan menang, sekarang belum ketahuan!”
Diam-diam Siu-lam membenarkan kata-kata nona itu. Apabila dua jago sakti
bertempur, tentu dua-duanya akan menderita luka berat. Tanpa tersadar, ia berpaling
melihatnya…. Wut, ia kaget sekali ketika tiba-tiba tersambar oleh serangkum angin
dingin. Buru-buru ia menyurut mundur. Ah, ternyata nona itu telah menyerangnya ketika
ia sedang berpaling tadi. Untung hanya ikat kepala saja yang terpapas!
Memang nona itu menyadari bahwa tak mungkin ia dapat mengalahkan Siu-lam. Maka
ia gunakan siasat memikat perhatian orang lalu menyerangnya dengan tiba-tiba. Dan
sebenarnya serangannya itu pasti dapat melenyapkan jiwa si anak muda. Sayang karena
pahanya yang tertendang tadi masih belum pulih, gerakannyapun kurang lincah. Baru
bergerak, Siu-lam sudah mengetahui dan dapat menyurut mundur.

Setelah menenangkan hatinya, Siu-lam menghardiknya: “Hm. Orang Beng-gak benarbenar
licik dan keji. Segala akal jahat tak sungkan digunakan!”
Nona itu tertawa datar, seolah-olah tidak tersinggung mendengar dampratan itu:
“Dalam bertempur, kepandaian dan akal harus sama-sama digunakan. Biarlah engkau
mendapat pelajaran dari pengalaman-pengalaman tadi!”
“Apakah begitu yang disebut akal? Hm, tak malu engkau mengatakan begitu!” Siu-lam
menutup kata-katanya dengan sebuah pukulan dalam jurus Ping-ho-tang-gui.
Menyadari bahwa sebelah kakinya masih belum pulih, si nona segera gerakkan
pedangnya untuk menangkis serangan. Ketika senjata mereka saling beradu, terdengarlah
lengking suara yang memuakkan telinga.
Kini keduanya bertempur dengan hati-hati dan tak berani memandang rendah lawan.
Siu-lam lancarkan serangannya tetapi nona itu tak mau bergerak dan hanya bertahan
diri saja. Ia kuatir sekali dari gerakannya, pemuda itu akan mengetahui tentang pahanya
yang terluka karena tendangan tadi.
Dengan begitu pertempuran itu merupakan pertempuran adu kekerasan. Suara senjata
beradu bordering-dering memecah kesunyian lembah.
Duapuluh jurus Siu-lam telah lancarkan serangannya. Karena melihat nona itu tetap
tak mau berkisar dari tempatnya, ia curiga dan hentikan serangannya.
Nona itu tersenyum, tegurnya: “Ai, mengapa engkau tak menyerang?”
Siu-lampun balas bertanya: “Dan mengapa engkau diam tak bergerak? Hm, aku tak
percaya kalau engkau memang sengaja hendak adu kekerasan dengan aku….”
“Lenganmu terluka tidak ringan. Darah banyak keluar. Sepuluh jurus lagi, engkau
tentu tak kuat.”
Siu-lam tertawa gelak-gelak: “Jangan harap engkau dapat mengelabuhi aku lagi!”
Tangan kiri diluruskan ke muka dada, serunya: “Cobalah engkau terima pukulanku ini!” ia
menutup kata-katanya dengan sebuah hantaman.
Melihat pemuda itu gunakan ilmu pukulan yang sakti seperti beberapa kali tadi,
terkejutlah nona itu. Sebab setiap kali pemuda itu mengeluarkan ilmu pukulan tersebut,
tentu ia tak mampu menangkis. Namun sebelum ajal berpantang maut, tak mau ia mati
konyol. Pedang segera ditaburkan dalam sebuah lingkaran sinar yang melindungi dirinya.
Siu-lam yakin bahwa pukulan sakti ajaran kakek Tan (Kakek dari Hian-song) itu
mempunyai perubahan yang luar biasa. Ia tak takut lawan menggunakan pedang.
Setelah memusatkan ingatannya untuk mengingat, tiba-tiba ia rubah pukulannya menjadi
tamparan.
Memang jurus Hud-hwat-bu-pian (ajaran Buddha tiada batasnya) sekalipun hanya satu
jurus tetapi mengandung perubahan yang tiada batasnya. Apabila sudah menguasainya,
musuh tentu tak berdaya. Karena sebelum orang bergerak tentu sudah ditindas oleh
gerakan Hud-hwat-bu-pian yang penuh dengan segala perubahan. Disebut mengandung
perubahan, bukan sembarang gerak perubahan tetapi diambil dari sari terjadinya Langit,
Bumi, dan Manusia. Sekali bergerak, musuh tentu tertindas gerak-geriknya.
Sebenarnya perubahan memukul menjadi menampar yang dilakukan Siu-lam itu terjadi
secara mendadak karena melihat nona itu memutar pedang. Tetapi ternyata hal itu
benar-benar mengejutkan si nona. Tahu-tahu siku lengannya terasa kesemutan,
pedangnya terlepas jatuh. Dan secepat kilat tangan Siu-lam segera mencengkeram
pergelangan tangan lawan.
Siu-lam sendiri pun terkesiap. Ia tak menyangka kalau ilmu Hud-hwat-bu-pian ternyata
begitu sakti. “Ah, kalau tahu begini, tak perlu tadi aku membuang banyak waktu dan
tenaga,” pikirnya.
Ia termenung-menung, sehingga lengah untuk segera mengerahkan tenaga menguasai
lawan. Adalah karena kelengahan itu, ia harus menderita.
Sebenarnya nona itupun terpukau karena tercengkeram itu. Dalam hati ia sudah
mengeluh pasti habis riwayatnya. Tetapi ketika merasa Siu-lam hanya memegang saja,

seketika timbullah reaksinya. Dengan cepat ia gunakan tangan kiri mencengkeram siku
lengan kanan pemuda itu juga.
Siu-lam terkejut tapi sudah terlambat, pergelangan tangannya yang kanan sudah
dicengkeram si nona. Goloknyapun terlepas juga.
Kini keduanya saling mencengkeram dan sama-sama kesemutan. Siu-lam mengeluh.
Sebenarnya ia sudah menang tetapi karena melamun, kini keadaannya malah berbalik
sama-sama luka.
Makin lama mereka sama-sama merasakan separuh tubuhnya seperti kaku dan
tenaganya pun makin lenyap….
“Rupanya hari ini kita akan mati bersama. Apakah kau benar-benar tak mau
melepaskan cengkeramanmu? Hm, kau pun tak nanti mampu lepas dari
cengkeramanku…” tiba-tiba nona itu membuka suara.
“Apa yang kau maksudkan dengan mati bersama?” sahut Siu-lam dingin: “Hm, benarbenar
tak punya malu!”
Nona itu malah tertawa mengikik: “Seorang pria dan seorang gadis, saling bercekalan
tangan. Orang lain mengira kita sedang bercumbu rayu. Siapa tahu sebenarnya kita
sedang bergandengan tangan menuju ke akhirat!”
Diam-diam Siu-lam mengakui kebenarannya. Memang saat itu benar-benar merupakan
detik-detik kematian. Barang siapa lengah, pasti hancur.
Kembali nona itu tertawa: “Apakah kau mendengarkan tentang kematian samsumoayku
itu?”
“Tak perlu!” jawab Siu-lam dengan dingin, “Aku tak mau percaya padamu lagi.”
Tiba-tiba nona itu berubah wajahnya. Kaki kiri diangkat terus digempurkan ke perut
Siu-lam. Tetapi Siu-lam sudah siap siaga. Ia sudah berulang kali menderita tipu muslihat
nona itu. Begitu didengkul, ia cepat mendorong seraya menyingkir ke samping.
Oleh karena mereka masing-masing saling mencengkeram, gerakan itu menimbulkan
akibat yang hebat. Gempuran kakinya luput, menyebabkan nona itu terjerembab. Dan
karena terjerembab, Siu-lam pun ikut tertarik sehingga ia tak dapat menguasai
keseimbangan tubuhnya lagi dan ikut jatuh. Keduanya berguling-guling menghampiri tepi
jurang….
Untung Siu-lam dapat mengaitkan kakinya pada segunduk batu sehingga tubuhnya
dapat tertahan. Ketika berpaling ke belakang, bulu kuduknya berdiri. Sebuah jurang
curam yang sama sekali tak tampak dasarnya terbentang di bawah kakinya.
Tetapi si nona baju merah yang sudah bertekad untuk mati bersama, malah berusaha
sekuat-kuatnya untuk bergeliatan ke bawah.
Saat itu terjadi adegan yang tegang. Keduanya saling mencengkeram. Yang satu
bertahan, yang satu berusaha supaya tergelincir ke dalam jurang!
Tiba-tiba terdengar suara lemah: “Pui sicu harap bertahan beberapa saat lagi.”
Cepat Siu-lam mengenal suara itu sebagai suara Tay Ih siansu. Kalau ia merasa
longgar perasaannya adalah tidak demikian dengan si nona. Nona itu tentu sudah
memperhitungkan kemungkinan paderi itu sadar dan memberi bantuan pada Siu-lam.
Maka ia mengambil keputusan nekad. Lebih baik bersama-sama mati tercemplung ke
dalam jurang!
Sekonyong-konyong nona itu mengangkat muka dan benturkan bibirnya ke muka Siulam.
Sudah tentu Siu-lam kaget dan miringkan kepala, menghindari. Begitu ia miringkan
kepala, si nona menyerempaki dengan mendorong tubuh pemuda itu!
Terdengar suara bergemuruh dahsyat. Batu yang dibuat pertahanan kaki Siu-lam tadi,
telah jebol dan menggelinding ke dalam jurang! Dan tubuh kedua orang itu meluncur
maju lagi beberapa langkah. Siu-lam tak sempat berpaling. Kakinya bergeliatan untuk
mencari panjatan. Tetapi ah, hanya tanah yang datar semua.
Saat itu separuh tubuhnya sudah merosot ke dalam mulut jurang. Asal nona itu
mendorongnya lagi, mereka tentu akan meluncur ke bawah….

Tiba-tiba ia melihat siku lengan kanan nona itu seperti ada tanda tembong (kulitnya
merah) sebesar mangkuk. Seketika ia teringat akan ucapan kedua suami isteri tua yang
pernah menolongnya ketika keluar dari Beng-gak. Serentak ia berteriak kaget.
Jilid 23
“HAI, mengapa engkau berteriak? Apakah engkau takut mati?” nona itu tertawa
mengejek.
“Apakah engkau bernama nona Hun?” seru Siu-lam.
Bermula nona itu tertegun ketika orang menanyakan she-nya. Kemudian ia tertawa:
“Setengah meter di belakangmu, jurang yang curam sekali. Sekalipun paderi tua itu
bangun, tak mungkin dia dapat menolongmu!”
“Kecebur jurang belum tentu pasti mati. Apalagi kalau hancur lebur, bukan hanya aku
seorang…” sahut Siu-lam dengan marah. Kemudian ia mengulangi pertanyaannya lagi:
“Apakah engkau bernama Hun Bong-lian?”
Sepasang mata bundar dari nona itu membelalak. Sejenak ia termenung mengingat
nama itu.
“Apakah engkau bukan Pui Siu-lam!” tiba-tiba nona itu tertawa dan serentak
mendorong lagi sehingga tubuh Siu-lam meluncur sejengkal pula.
Saat itu Siu-lam sudah menggelantung di tepi jurang. Separuh tubuhnya tercebur
dalam mulut jurang. Asal si nona mendorong lagi, tentu mereka tergelincir!
Tiba-tiba nona itu tertawa tawar: “Di dasar jurang penuh dengan batu-batu yang
runcing. Asal jatuh ke dalam, biarpun bertulang besi, tetap tak mungkin bisa hidup!” ia
menutup kata-katanya dengan mengangakan mulut dan sekonyong-konyong menggigit
tangan Siu-lam yang mencengkeram pergelangan tangannya.
Siu-lam terkejut sekali. Ia tak menduga akan mendapat serangan begitu macam.
Karena tak dapat menghindar lagi, tangannya tergigit sehingga berlumuran darah.
Sakitnya bukan kepalang.
Siu-lam memperhitungkan kemungkinan yang akan dihadapinya. Nona itu dapat
melepaskan cengkeramannya dan memukulnya. Daripada menerima pukulan lebih baik ia
mendahului lepaskan cengkeramannya pada tangan nona itu dan loncat ke dalam jurang.
Memang perhitungan Siu-lam itu tepat. Nona itu benar-benar telah lepaskan
cengkeramannya dan menghantam. Tetapi karena Siu-lam sudah mendahului loncat ke
bawah, maka hantaman nona itupun hanya menemui angin kosong.
Cepat nona itu loncat bangun dan melongok ke bawah jurang. Ketika melihat tubuh
Siu-lam sedang meluncur ke bawah, ia tersenyum dan berseru nyaring: “Sam-sumoay,
maaf aku tak dapat mengantarkan jenasahnya,,,,”
“Hm, orang Beng-gak benar-benar tak kenal perikemanusiaan. Akupun takkan
memegang peraturan dunia persilatan lagi!” tiba-tiba terdengar suara seseorang dan tahutahu
punggung nona itu telah dicengkeram.
Nona itu tengah berdiri di tepi jurang. Asal orang itu mendorongnya, pasti ia terlempar
ke dalam jurang.
Nona itu terkejut. Namun ia berusaha untuk berlaku setenang mungkin. Ia menunggu
timbulnya suatu kesempatan.
Kembali suara orang yang bernada serat itu berseru pula: “Seumur hidup, loni tak
pernah mencelakai orang dan jarang berkelahi dengan orang. Tetapi saat ini loni tak
dapat mengampunimu. Sebenarnya sekali gerak loni dapat menghancurkan urat-urat
jantungmu sehingga engkau mati seketika. Tetapi aku masih berlaku murah. Biarlah
kudorongmu masuk ke dalam jurang. Mati hidup terserah pada nasibmu….”
Tiba-tiba terdengar suara orang melantangkan doa Omitohud: “Apakah itu bukan Tay
Ih suheng? Harap berhenti dulu!”
Suara itu cukup dikenal tetapi mau tak mau Tay Ih siansu terkejut juga.

“Tay Ih suheng, silahkan mundur dan lepaskan nona itu!” kembali suara itu terdengar
dari belakang. Tapi nadanya kini rada bengis.
Tay Ih siansu bergeliat berpaling ke belakang dan lepaskan cengkeramannya pada
punggung si nona. Lalu cepat-cepat mundur tiga langkah. Tak salah lagi dugaannya.
Yang datang itu adalah Tay Hong siansu, ketua Siau-lim-si yang dikabarkan hilang di
gunung Beng-gak.
Si nona baju merahpun cepat berputar tubuh. Begitu memandang Tay Hong siansu, ia
melangkah maju dua tindak dan berdiri tegak.
Tay Ih siansu tertegun beberapa saat. Perasaannya benar-benar meluap ketika
mengetahui bahwa sutenya yang dikabarkan hilang itu ternyata muncul kembali.
“Sute, kau datang? Ah, kini gereja sudah kembali pada pimpinannya. Siau-heng
menderita luka berat…” belum selesai mengucap Tay Ih siansu jatuh ke tanah.
Luka yang diderita dari pertempuran dengan si nona baju biru tadi, masih belum pulih
betul. Demi menolong Tay Teng siansu, ia terpaksa lepaskan pukulan dahsyat. Walaupun
Tay Teng tertolong, tetapi hawa murni dalam tubuh Tay Ih menjadi buyar dan lukanyapun
membengkak lagi. Adalah karena mempunyai keyakinan berpuluh tahun dalam hal tenaga
dalam, maka ia masih dapat bertahan diri.
Saat itu, begitu berhadapan dengan Tay Hong, perasaan Tay Ih meluap-luap lagi.
Darah melancar liar. Habis bicara, ia terus rubuh pingsan.
Tetapi anehnya Tay Hong hanya dingin-dingin saja melihat suhengnya itu pingsan.
Malah ia menghampiri si nona baju merah dan berkata: “Telah kucegah bala bantuan Siaulim-
si datang ke lembah ini. Tapi jika nona tetap tinggal di sini, tentu berbahaya. Harap
sembunyi di lain tempat dulu. Dalam tiga hari, seluruh Siau-lim-si tentu sudah dapat
dibubarkan!”
Sejenak nona itu memandang sekelilingnya lalu berkata: “Tempat ini selain jalanan
masuk tadi, tiada jalan keluar lainnya. Suciku terluka berat. Kemanakah engkau hendak
suruh kami pergi?”
Tay Hong kerutkan alisnya: “Apakah lukanya berat?”
“Kalau orang pingsan, masakan tidak luka berat?” sahut si nona baju merah.
“Mari kita periksa. Aku mempunyai pil mujizat yang mungkin dapat
menyembuhkannya,” kata Tay Hong.
Sebelum menyusul langkah Tay Hong, lebih dulu nona baju merah itu memberi sebuah
tendangan kepada Tay Ih siansu.
Tay Hong segera memeriksa tubuh si nona baju biru yang pucat wajahnya dan meram.
Kemudian ia berkata kepada si nona baju merah: “Toa-siocia ini telah menderita luka
berat. Tetapi tak apalah. Dia telah terkena pukulan Kim-kong-ciang dari Siau-lim-si
sehingga perkakas dalam tubuhnya terluka. Asal minum dua butir pil ini dan beristirahat
beberapa waktu, tentu akan sembuh.”
Tiba-tiba Tay Teng siansu yang rubuh di tanah tadi, bangun dan berseru: “Tay Hong
suheng, kapan engkau datang….”
Tay Hong berpaling. Tampak Tay Teng berseri wajahnya dan bersyukur karena Tay
Hong yang menjadi suheng dan pimpinan gereja Siau-lim-si sudah kembali dengan
selamat. Tetapi tiba-tiba mata Tay Teng tertumbuk akan si nona baju merah yang berada
di samping suhengnya. Buru-buru ia berseru dengan gelisah: “Suheng, hati-hatilah di
belakangmu!”
“Hm, orang itu sudah pulih kesadaran pikirannya. Jika dibiarkan hidup, kelak tentu
berbahaya. Lebih baik segera dilenyapkan saja!” pikir si nona baju merah seraya
melangkah ke samping Tay Teng dan plak, plak, ia memberi dua kali tamparan ke muka
paderi itu.
Tay Teng yang baru tersadar dari pingsannya, menjadi gelagapan menerima tamparan
itu. Mulutnya mengucur darah dan kepalanya pusing tujuh keliling. Tetapi pada lain saat,
tiba-tiba ia loncat dan mencabut senjatanya.

Melihat itu si nona baju merah cepat-cepat menendang lengannya. Tetapi Tay Teng
dapat menghindar dan berguling-guling sampai beberapa langkah jauhnya. Kini ia berdiri
dengan menghunus senjata hong-pian-jan. Cepat-cepat ia sapukan senjatanya dalam
jurus Hong-jui-lok-yap untuk menahan serangan nona baju merah.
Karena sudah mengetahui kelihayan paderi-paderi Siau-lim-si, si nona baju merah tak
berani mengabaikan. Ia terpaksa loncat menghindar. Kemudian ia memandang Tay Hong
dengan pandang penuh kecemasan.
Tay Hong letakkan tubuh si nona baju biru lalu berbangkit dan membentak sutenya:
“Tay Teng, kemarilah!”
Tay Teng siansu terkesiap heran dan tak berani lanjutkan serangannya.
“Kenalkah engkau siapa aku ini?” tanya Tay Hong.
“Suheng adalah ketua gereja Siau-lim-si!”
Tay Hong membentaknya: “Tidak menurut perintah pimpinan, harus mendapat
hukuman bagaimana. Lepaskan senjata dan kemarilah!”
Sejenak Tay Teng tertegun. Kemudian ia lepaskan senjatanya dan pelahan-lahan maju
menghampiri. Rupanya ia sudah mendapat firasat bagaimana nasibnya. Wajah mengerut
gelap, mata berkunang-kunang.
Si nona baju merah segera mundur dua langkah untuk memberi jalan. Begitu tiba di
hadapan Tay Hong, Tay Teng segera rangkapkan kedua tangannya ke dada dan pejamkan
mata, berkata: “Apakah perintah yang ciang-bun suheng hendak berikan?”
Tiba-tiba sepasang mata Tay Hong memancarkan hawa pembunuhan. Ia pelahanlahan
mengangkat tangan kanannya.
Sesungguhnya Tay Teng hanya pejamkan mata tetapi tidak menutupnya sama sekali.
Ia tahu akan tindakan suhengnya yang hendak melakukan hukuman itu. Walaupun Tay
Teng seorang paderi yang sudah tinggi kebatinannya tetapi dalam menghadapi maut saat
itu, tak urung hatinya goncang, keringat dingin membasahi tubuh….
Tiba-tiba timbullah rasa kasihan dalam hati Tay Hong. Tangannya yang sudah
diacungkan tinggi itu pelahan-lahan diturunkan pula.
Pada saat tangan ketua Siau-lim-si itu turun, tiba-tiba terdengar Tay Teng mengerang
tertahan dan tahu-tahu tubuhnya terlempar ke dalam jurang!
“Hi, karena kulihat engkau ragu-ragu, terpaksa kuwakili untuk menyelesaikannya!”
menyusul terdengar lengkingan suara si nona baju merah. Ternyata dialah yang
menurunkan tangan telengas untuk menghantam Tay Teng dari jauh.
Tay Hong tersenyum: “Bunuhlah! Entah bagaimana aku masih mengingat kepada
hubungan lama!” ia segera berjongkok, menyusupkan dua butir pil ke mulut si nona baju
biru lalu berkata kepada si nona baju merah: “Ji-kounio, harap mengurut jalan darahnya.
Setengah jam saja dia tentu sadar. Lalu harap nona berdua mencari tempat bersembunyi
di sekitar daerah sini dan beristirahatlah sehari. Besok malam, loni akan menjemput nona
berdua kemari. Nah, supaya jangan menimbulkan kecurigaan mereka, aku hendak pergi
lebih dulu!”
“Baik, engkau harus menjemput kami!” sahut si nona baju merah.
Tay Hong memberi hormat. Ia mengangkat Tay Ih siansu lalu dibawanya pergi.
Siu-lam yang kecebur ke dalam jurang, pikirannya masih sadar. Buru-buru ia kerahkan
semangat sambil menampar-namparkan tangannya untuk mencari benda yang dapat
dijadikan pegangan. Tetapi ternyata dinding jurang itu licin sekali dan tiada tumbuhtumbuhan
sama sekali. Akhirnya ia putus asa dan menghela napas. Entah berapakah
dalamnya dasar jurang itu. Ia tak tahu bagaimana nasibnya nanti.
Tubuhnya makin lama makin cepat meluncur ke bawah. Dan ia merasa ajalnya segera
tiba. Ia pejamkan mata pasrah nasib….
Dalam menghadapi datangnya malaikat elmaut saat itu, ia terkenang akan tiga bulan
kenangan yang indah. Pertama kepada sumoaynya, Ciu Hui-ing yang masih bersifat

kekanak-kanakan. Kedua kepada Tan Hian-song yang mudah merangsang emosi dan
ketiga kepada Bwe Hong-swat yang dingin laksana es….
Tiba-tiba ia rasakan luncur tubuhnya itu agak sendat. Seperti ada sesuatu tenaga yang
menahan luncuran tubuhnya itu.
Sebelum ia sempat mengetahui siapa yang melakukan itu, tahu-tahu ia sudah
menginjak tanah. Aneh, bukan batu-batu tajam seperti yang dibayangkan tetapi ternyata
semacam permadani yang empuk sekali.
Setelah menenangkan perasaannya, ia memandang ke sekeliling tempat itu. Hai…
kejutnya bukan kepalang. Ternyata ia bukan di atas permadani melainkan di dalam dua
belah tangan dari seorang tua yang tubuhnya berlumuran darah.
Serempak orang tua itu membisikinya dengan nada yang ramah: “Nah, engkau
beruntung telah tertolong. Tiada seorangpun yang dapat terhindar dari nasib yang telah
tersurat. Surat pesan mendiang toa-suheng, memang tepat sekali…” kembali ia menghela
napas.
Siu-lam segera loncat turun dari tangan orang tua itu. Tampak tak jauh dari tempat
orang tua itu, menggeletak seorang tua gundul yang berjenggot hitam. Jubahnya yang
pendek, penuh berlumuran darah. Lambungnya terdapat luka sebesar dua dim. Dia
menggeletak tak berkutik.
Siu-lam ingat lupa akan kedua orang tua itu. Entah di mana, rasanya ia pernah melihat
mereka.
Orang tua yang rambutnya putih yang menyanggapi tubuh Siu-lam tadi tersenyum:
“Bagaimana, apakah engkau sudah mengenali kami….”
“Apakah lo-cianpwe berdua bukan kedua tianglo dari Siau-lim-si?”
“Siau sicu…” baru orang tua berambut putih itu hendak berkata, tiba-tiba terdengar
suara dahsyat dan disusul dengan darah mencurah dari atas, sehingga tubuh Siu-lam
tercurah merah.
Orang tua itu sapukan mata dan menghela napas, serunya: “Apakah bukan Tay Teng
sutit?”
Siu-lam memandang ke sebuah tubuh yang jatuh dari atas. Badannya hancur
berlamuran darah tetapi dari pakaiannya dapatlah Siu-lam mengenalinya sebagai Tay Teng
siansu. Oleh karena orang tua berambut putih itu sudah berpuluh tahun bertapa,
sehingga ia tak dapat mengenal sutit (murid keponakan) dengan jelas. Untung kemarin
malam ia sempat mengenal wajah beberapa sutitnya itu dan tahulah kalau yang jatuh itu
Tay Teng siansu.
Rupanya orang tua berambut putih itu dapat membaca keraguan hati Siu-lam. Maka
tertawalah ia tawar: “Anak muda jangan banyak keraguan. Sebenarnya ketika jatuh tadi,
loni sudah mengenalnya, sayang karena tubuh loni sedang menderita tusukan pedang
gerakan loni tak leluasa sehingga tak dapat menolonginya. Ah, Tay Teng sutitpun telah
menemui ajalnya….”
Tersipu-sipu Siu-lam menyadari keselamatan. Segera ia berlutut memberi hormat di
hadapan orang tua itu: “Jika tiada lo-cianpwe menolong, wanpwepun tentu sudah mati!”
Orang tua berambut putih mengawasi Siu-lam, ujarnya: “Di dalam kelicikan masih
punya kepribadian, di dalam keganasan masih punya welas asih. Siapa yang dapat
menguasai hal itu barulah dapat menandingi gerombolan iblis yang sedang merajalela di
dunia persilatan….”
Siu-lam tak begitu jelas apa yang dimaksudkan, tapi ia sungkan bertanya. Setelah beri
hormat, iapun bangun.
Tampak orang tua itu pejamkan mata. Siu-lam yang masih hendak bicara, terpaksa tak
jadi. Ia tahu tentu orang tua itu menderita luka berat dan perlu bersemedhi.
Kemudian ia keluar menuju ke sebuah batu besar. Di situ merupakan dasar jurang
yang tak pernah diinjak manusia. Penuh dengan tumbuh-tumbuhan pakis yang lembab
dan berair. Tetapi entah dari mana sumber airnya. Tiba-tiba ia terkejut ketika melihat air

berwarna merah. Ah, ternyata bercampur darah. Dan memang tak jauh dari situ terdapat
tubuh Tay Teng yang sudah tak bernyawa….
Diam-diam ia menghela napas. Sama-sama jatuh ke dalam jurang tetapi lain nasibnya.
Akhirnya ia berniat untuk membuat lubang gnna mengubur mayat si paderi. Setengah
jam kemudian barulah ia berhasil membuat sebuah lubang dan lalu menguburnya.
Setelah itu ia mendekati ke tempat si jenggot hitam yang masih menggeletak di tanah.
Lukanya masih berdarah, pinggangnya agak gemetar tapi masih belum mati.
Siu-lam berjongkok, mengeluarkan sapu tangan, dicelupkan dalam air lalu hendak
membersihkan luka paderi itu.
Tiba-tiba si paderi yang berambut putih menyusupkan suara kepadanya: “Nak, jangan
mengganggunya. Dia takkan mati, hanya lukanya memang berat. Dia kehabisan tenaga
karena melakukan perjalanan jauh. Maka untuk beberapa waktu dia tentu belum dapat
tersadar.
Siu-lam kagum melihat orang tua berambut putih itu. Walaupun menderita luka berat,
tetapi masih tenang dan pikirannya masih terang. Suatu tanda bahwa ia memang seorang
sakti.
Terdengar orang tua berambut putih itu berkata pula: “Loni pun menderita luka berat.
Punggung tertusuk tiga kali sehingga sampai masuk ke tulang. Harus perlu beristirahat
beberapa waktu. Enam jam lagi, barulah loni dapat bicara dengan leluasa….”
Siu-lam memperhitungkan, enam jam kemudian tentu hari sudah malam. Iapun perlu
bersemedhi juga untuk memulihkan semangat tenaganya.
Entah lewat beberapa lama, Siu-lam dikejutkan oleh dengusan napas yang keras.
Ketika matanya dibuka, terkejutnya bukan kepalang. Seekor binatang yang menyerupai
orang hutan, dengan menyeringaikan gigi, tengah berdiri di samping orang tua jenggot
hitam yang menggeletak di tanah itu. Setelah mengawasi luka si orang tua, orang hutan
itu membungkuk hendak mengisap darah pada luka si orang tua berjenggot hitam.
Kejut Siu-lam bukan kepalang. Buru-buru ia menjemput sebuah batu dan bersiap-siap.
Berpaling ke sebelah lain, tampak orang tua berjenggot hitam itu tengah mencapai titik
yang tegang. Ubun-ubun kepalanya mengeluarkan uap, jenggotnya bergoncang-goncang.
Tetapi rupanya dia tak mengetahui tentang kemunculan binatang aneh itu.
Siu-lam cepat teringat bahwa kemungkinan besar, makhluk itu yang disebut Jim-hiong
atau Beruang orang. Siu-lam agak cemas karena ia tak membekal senjata. Pedangnya
telah jatuh ke dalam jurang.
Tengah menimang, mulut beruang yang besar sudah menempel pada luka orang tua
yang menggeletak itu.
Siu-lam tak mau berayal lagi. Cepat ia timpukkan batu dengan seluruh sisa tenaganya.
Gheeerr… hidung beruang itu tepat terhantam dan meraunglah ia sekeras-kerasnya.
Mendapat hasil, Siu-lam susul lagi dengan dua buah timpukan. Tetapi binatang itu
sudah siap. Dengan meraung kera, ia menampar batu yang mengarah hidung. Tetapi
batu yang tertuju ke perut tetap mengenai. Bluk, batu itu seperti membentur batu yang
keras dan terpental balik.
Melihat itu Siu-lam tertegun. Cepat ia melesat dan menghajarnya dengan jurus Hui-pacong-
ciong.
Jim-hiong itu bertubuh berat maka gerakannyapun kaku. Dadanya kena terpukul.
Tubuhnya pun bergoyang-goyang. Dengan menggerung keras, ia menyambar. Siu-lam
dapat menghindari lalu menendang perutnya. Duk… ia hampir menjerit sendiri karena
terasa menendang batu.
Kini ia menyadari bahwa tiada gunanya menggunakan kekerasan. Segera ia berganti
cara. Ia gnnakan siasat berlincahan kian kemari. Begitu dapat kesempatan, barulah ia
beri pukulan.

Benar juga. Jim-hiong itu menjadi pusing diajak berputar-putar. Karena marah
binatang itu seperti orang gila yang loncat-loncatan tak keruan. Beberapa dinding karang
yang menonjol atau runcing, berhamburan hancur karena terlanda gerakan beruang itu.
Tiba-tiba binatang itu berputar tubuh dan terhuyung-huyung menghampiri ke tempat
orang tua gundul. Kejut Siu-lam bukan kepalang. Dengan gunakan seluruh tenaganya, ia
menghajar punggung binatang itu dengan pukulan Ngo-ting-hiat-san.
Binatang itu hampir terjerumus jatuh. Dengan menggerung keras ia berputar tubuh,
rentangkan kedua tangannya untuk memeluk si anak muda.
Dalam keadaan seperti itu, Siu-lam nekad. Bukannya menghindar mundur, ia malah
maju menyeruduk kepalanya ke perut lawan. Kedua tangannya mencengkeram siku
lengan si binatang. Binatang itu menggerung keras dan mendorong si anak muda mundur
sampai tiga langkah.
Detik-detik ketegangan segera berlangsung. Asal cengkeraman Siu-lam kendor, dia
tentu akan dicekik atau digigit binatang itu. Atau terus didorong, ia tentu akan terpojok
pada dinding karang.
Ternyata ia kalah kuat. Pelahan tapi tentu ia makin terdorong ke belakang dan
akhirnya dipepetkan pada karang. Kini satu-satunya harapan ialah ia harus bertahan diri
agar tangan binatang itu jangan sampai terlepas sehingga dapat mencekiknya.
Duel adu tenaga antara manusia dan binatang itu berlangsung dengan hebat dan lama.
Namun akhirnya detik-detik maut itu telah mencapai titik yang memuncak. Ia kerahkan
tenaga dan tak lama kemudian ia rasakan tenaga binatang itu makin berkurang dan
akhirnya lenyap. Tetapi begitu ia terlepas dari tekanan, karena kehabisan tenaga, ia
sendiri pun rubuh tak ingat diri.
Entah berapa lamanya, ketika ia siuman ternyata hari sudah malam. Di sisi tempat ia
berbaring terdapat setumpuk unggun api dan bau daging bakar yang wangi. Buru-buru ia
duduk dan menyambar sekerat daging yang berada di dekat unggun api. Setelah
menggerogoti dua tiga kali, laparnyapun hilang dan kesadaran pikirannyapun makin
terang. Ternyata daging bakar yang dimakannya itu belum pernah ia lihat. Lain dengan
daging kebanyakan. Begitu diperiksa ke dekat api, ternyata daging itu sebesar tahu dan
berwarna merah darah. Baunya agak anyir. Buru-buru ia hendak melemparnya.
“Jangan anak muda. Makanlah sampai habis. Loni memang sengaja telah
mengambilkan limpa beruang untukmu. Walaupun mungkin baunya agak anyir, tetapi
khasiatnya baik sekali untuk tubuh…” tiba-tiba terdengar seorang tua berseru dengan
suara parau.
Kembali orang tua itu menghela napas panjang: “Engkau sudah tidur hampir duapuluh
empat jam lamanya. Selama engkau tidur tadi, loni telah membuka beberapa jalan darah
di tubuhmu. Ah, berpuluh-puluh tahun loni pantang untuk membunuh jiwa, sekalipun
seekor semut. Tetapi demi untukmu, loni telah melanggar pantangan itu dan membunuh
jim-hiong. Habiskanlah makanan itu, nanti loni masih perlu bicara denganmu!”
Siu-lam mengenali suara itu adalah suara si orang tua berambut putih. Dengan
pejamkan mata segera ia menghabiskan sate bakar limpa Jin-hiong. Setelahnya ia
melangkah keluar. Tetapi orang tua berambut putih tadi memanggilnya supaya masuk.
Tampak orang tua berambut putih duduk bersila sedang orang tua gundul yang
berjenggot hitam menyandar ke dinding karang sambil pejamkan mata.
Siu-lam menghaturkan terima kasih atas pertolongan orang tua itu yang telah
menyelamatkan jiwanya dari Jin-hiong.
“Engkau bukan anak murid Hud, tak perlu memberi hormat begitu rupa. Silahkan
duduk,” kata si orang tua berambut putih.
Siu-lam terpaksa menurut kemudian menanyakan petunjuk-petunjuk apa yang hendak
diberikan orang tua itu.

“Usiamu masih muda, tetapi engkau memiliki kepandaian yang luar biasa. Sayang
sumbernya tak jelas maka sekalipun kepandaianmu itu sakti, tetapi bukan tergolong yang
paling tinggi. Benarkah ucapan loni ini?” kata si orang tua berambut putih.
Siu-lam terkejut dan mengakui memang ia telah mendapatkan suatu rejeki besar
sehingga memperoleh suatu ilmu kesaktian yang aneh.
Orang tua berambut putih mengelus-elus jenggotnya lalu berkata: “Ilmu silat itu
sumbernya satu, dalamnya tiada terbatas. Memang panjang sekali kalau mau
diterangkan. Tetapi pada pokoknya hanya terbagi menjadi dua aliran, yakni aliran Cengcong
dan Pian-ci. Aliran Ceng-cong mengutamakan pada dasar dan ketekunan latihan.
Kemajuannya memang lambat, tetapi merupakan pengokohan jasmani yang utama….”
Ia menghela napas sejenak, lalu berkata pula: “Dan yang disebut Pianci itu adalah
memang mengutamakan jurus-jurus yang aneh untuk merebut kemenangan. Dan
walaupun terhitung menjaga diri dan melindngi jiwa tetapi ilmu itu cenderung ke aliran
nyeleweng. Misalnya menggunakan obat-obatan Im dan Yang, meminjam tenaga orang
dan lain-lain. Tetapi ah, ilmu itupun mempunyai sifat-sifat kebaikannya juga.”
“Bagaimana sifat kebaikannya itu?”
“Bagus, pertanyaan yang bagus,” seru orang tua itu perlahan.
Siu-lam heran. Buru-buru ia bertanya: “Apakah wanpwe salah omong? Mohon locianpwe
suka memberi maaf!”
“Bila engkau anak murid perguruan kami, atau seseorang yang berhati luhur, sekalipun
dalam hati mau mendengarkan kelanjutannya, tetapi tentu tak berani bertanya kepada
loni,” kata orang tua itu.
“Jadi lo-cianpwe menganggap wanpwe ini seorang yang rendah budi?”
Sahut paderi tua itu: “Menilik tulangmu, engkau seorang berbakat bagus. Tetapi
kecerdasan otak terbatas, keluhuran jiwa kurang. Syukur masih mempunyai hati yang
perwira dan iman yang baik!”
“Tiap patah kata yang lo-cianpwe ucapkan merupakan kata-kata emas. Terus terang
tanpa tedeng aling-aling. Wanpwe makin tersengsam.”
Orang tua berambut putih itu mengelus-elus jenggotnya tertawa: “Menilik keadaan
dunia persilatan dewasa ini, memang perlu seorang yang seperti engkau. Ialah orang
yanda dapat menyesuaikan diri dan menghadapi setiap perubahan. Tegas dan berani
bertindak! Dengan demikian barulah suasana kejahatan dalam dunia persilatan selama ini
dapat tersapu bersih.”
Siu-lam tersipu-sipu mengucapkan kata-kata merendahkan diri.
“Tetapi loni mengatakan suatu kenyataan, bukan bermaksud hendak menyanjungmu!”
“Ah, wanpwe merasa telah kelepasan omong, mohon lo-cianpwe suka memaafkan,”
kembali Siu-lam meminta maaf.
“Tadi engkau hendak menanyakan, apakah sifat kebaikan dari aliran Piau-ki itu.
Apakah sekarang engkau masih ingin mengetahuinya?” tanya orang tua berambut putih
itu.
“Disebut Pian-ki tentulah menjurus ke jalan sesat. Pinjam barang merugikan orang,
termasuk perbuatan yang jelek. Sudah tentu kesemuanya itu akan mendapat hasil secara
cepat. Ah, wanpwe memang tolol, mohon lo-cianpwe suka memberi petunjuk.”
Tiba-tiba orang tua berambut putih itu pendelikkan mata dan menatap Siu-lam dengan
tajam. Sesaat kemudian Siu-lam rasakan sinar mata orang tua itu seperti menembus ke
dadanya. Tiba-tiba saja ia merasa gelisah.
Tiba-tiba orang tua itu menghela napas, ujarnya: “Kau benar-benar. Ternyata kau
cerdik sekali. Ah, rupanya sudah suratan takdir. Pertumpahan darah tak dapat dihindari
lagi. Budha bersifat welas asih. Mungkin juga tak dapat menolong keadaan dunia
persilatan dewasa ini. Daripada membiarkan kejahatan merajalela, lebih baik menjalankan
tindakan membunuh untuk mencegah pembunuhan. Agar dunia persilatan lekas bersih
dari segala pengaruh iblis!”

Siu-lam terpukau. Tak jelas ia yang dimaksudkan orang tua berambut putih itu.
Kembali orang tua itu berkata pula: “Ilmu di luar sumber yang murni itu, sekalipun
sebelumnya memang sudah terdapat, tetapi Lo Hian-lah yang paling berani sendiri. Ilmu
kesaktian Lo Hian itu telah menggetarkan dunia persilatan sehingga dianggap lebih unggul
dari semua ajaran partai-partai persilatan….”
Orang tua itu berhenti sejenak. Ia menghela napas pula lalu melanjutkan: “Sebelum
bertapa, loni memang mengagumi juga akan kesaktian dan kepribadian Lo Hian itu.
Karena itu dengan susah payah loni telah berusaha mencarinya. Kedua, loni ingin
mengadakan pembicaraan mengenai berbagai masalah di dunia persilatan. Jika dia suka
kerja sama dengan Siau-lim-pay, tentu mudah untuk membersihkan dunia persilatan dari
segala kejahatan. Tetapi ternyata dia terlalu tinggi hati dan tak mau campur urusan dunia
persilatan. Diapun tak mau menemui loni dan akhirnya dia harus menelan akibat dari
sikapnya itu sendiri….”
“Bagaimana lo-cianpwe mengetahui hal itu?” tanya Siu-lam.
Orang tua itu menghela napas pelahan, ujarnya: “Sekalipun waktu itu tak dapat
berjumpa, tetapi loni telah menyelidiki jejaknya. Hasil penyelidikan itu loni kumpulkan dan
menyimpulkan bahwa meskipun Lo Hian telah terluka oleh musuhnya tetapi dia belum
meninggal. Di dalam peristiwa itu memang penuh dengan liku-liku dendam dan kasih.
Beberapa puluh tahun berselang, di dunia persilatan telah muncul sepasang muda-mudi.
Dan loni pun menyelidiki mereka. Memang benar mereka berdua adalah anak murid Lo
Hian. Kemunculan mereka di dunia persilatan itu sebenarnya sudah menyalahi pesan
gurunya. Tetapi entah apakah Lo Hian mengetahui hal itu. Atau memang disengaja
olehnya. Karena lebih dahulu ia telah membuat sebuah peta Giok-ti-tho. Menurut desasdesus,
barang siapa menemukan peta itu, akan memperoleh semua ilmu ajaran Lo Hian.
Tetapi mengenai hal itu, loni masih ragu-ragu.”
“Apakah lo-cianpwe tak percaya tentang desas-desus peta Giok-ti-tho itu?” tanya Siulam.
“Walaupun pernah mendengar ceritanya, tetapi loni belum pernah melihat benda itu.
Mungkin peta itu memang ada. Tetapi loni tak percaya bahwa peta itu benar-benar berisi
ilmu ajaran Lo Hian.”
“Mengapa lo-cianpwe mempunyai pandangan yang berbeda dengan anggapan dunia
persilatan?”
Kembali orang tua berambut putih itu menghela napas: “Ah, rupanya kau hendak
mengorek keterangan dari loni…” ia berhenti sejenak lalu berkata pula: “Menurut cengli
(logika), tak mungkin Lo Hian akan menulis semua ilmu kesaktiannya dalam buku itu dan
disembunyikan dalam Telaga Darah. Apalagi nama Hia-ti (Telaga Darah) itu merupakan
nama buatan. Agaknya bukan nama sebuah tempat. Menilik kecerdikan Lo Hian, tentulah
dia tak mau begitu mudah mencantumkan nama tempat persembunyian kitab itu.
Kemungkinan tentu mempunyai maksud lain.”
“Tetapi wanpwe pernah melihat peta itu!” tiba-tiba Siu-lam berkata.
Orang tua berambut putih itu menatap Siu-lam: “Di mana peta itu sekarang?”
“Benda itu berada pada seorang sumoayku. Sayang dia jatuh ke dalam perangkap
orang Beng-gak dan nasibnya belum ketahuan bagaimana.”
“Apakah engkau masih ingat akan lukisan pada peta itu?”
“Peta itu penuh dengan gurat-gurat merah yang menyeramkan. Tetapi tiada
keterangan suatu apa sehingga sukar dimengerti orang.”
Paderi angkatan tua dari Siau-lim-si itu mendesak Siu-lam: “Cobalah engkau ingatingat.
Apakah dalam peta itu masih ada lain-lain cirinya?”
Siu-lam merenung beberapa jenak. Lalu katanya: “Ah, benarlah. Memang beberapa
huruf yang mirip dengan syair tapi bukan syair!”
Masih paderi tua berambut putih itu mendesak agar Siu-lam mengingat-ingat lagi.
Siapa tahu peta itu terdapat ciri-ciri yang disembunyikan Lo Hian.

Siu-lam pejamkan mata. Ia menggali lubuk ingatannya. Berselang beberapa waktu,
barulah ia membuka mulut: “Ai, aku ingat sekarang!”
Tiba-tiba orang berjenggot hitam yang menyandar pada dinding karang itu, matanya
dibuka dan menukas: “Apakah yang ditulisnya.”
Siu-lam tertegun. Dia heran mengapa orang tua yang terluka parah itu dapat sembuh
dalam waktu yang cepat. Segera ia beri hormat: “Lo-cianpwe sungguh hebat sekali. Luka
yang begitu parah dalam waktu sehari saja sudah sembuh.”
Orang tua berjenggot hitam itu tersenyum dan tidak menyahut melainkan berkata pada
si orang tua berambut putih: “Pandangan suhengnya memang tajam sekali. Bocah ini
memang boleh juga.”
“Kecerdasan terbatas, keluhurannya tidak cukup…” sahut si paderi berambut putih.
Sahut orang tua gundul berjenggot hitam itu: “Jika semua orang seperti kami berdua,
ah, dunia persilatan sukar dicari orang jahat…” lalu dengan helaan napas berat, ia berkata
pula: “Suasana dunia sudah begitu rupa. Penuh dengan kejahatan dan pembunuhan. Jika
kita tak mampu berbuat apa-apa, ya, apa boleh buat. Tetapi sebenarnya kita dapat
berbuat dan bertindak. Jika kita membiarkan saja kesemuanya itu berlangsung, apakah
itu bisa dianggap sebagai suatu sikap welas asih.”
Orang tua berambut putih itu menghela napas: “Luka sute masih belum sembuh benar.
Janganlah banyak bicara. Lekas bersemedhi lagi!”
Sebenarnya orang tua gundul berjenggot hitam itu berwatak berangasan. Tapi
terhadap suhengnya dia tak berani membantah.
Setelah sutenya bersemedhi lagi, barulah orang tua berambut putih itu alihkan
pandangannya ke Siu-lam: “Apakah kau ingat akan kata-kata dalam peta itu?”
Siu-lam mengiyakan.
“Cobalah kau katakana!”
Kata Siu-lam: “Dalam peta yang berwarna merah darah itu terdapat sebuah jalur putih
yang bertuliskan beberapa huruf kecil, berbunyi:
Tiga puncak melindungi pusaka, lima racun menjaga pil. Angin jahat, api berkobar.
Penuh dengan perubahan aneh. Rahasia ajaib jaman kuno. Mana boleh diambil
sembarangan. Masuk ke Telaga Darah. Mati jangan penasaran.
“Sungguh bermulut besar!” tiba-tiba orang tua gundul berjenggot hitam tadi
melengking lagi.
Tapi orang tua berambut putih tenang-tenang saja bertanya pada Siu-lam: “Cobalah
ingat-ingat lagi, apakah masih ada tulisan lain?”
Siu-lam menandakan bahwa hanya itulah yang terdapat dalam peta tersebut.
“Bagaimana kepandaianmu?” tiba-tiba orang tua berambut putih bertanya.
Sudah tentu Siu-lam terbeliak dan sukar menjawab. Berselang beberapa saat baru ia
berkata: “Sesungguhnya kepandaian wanpwe ini hanya tergolong jago kelas dua atau tiga
saja. Terhadap ko-jin dari angkatan lo-cianpwe yang tadi, wanpwe tak mampu
menandingi. Tapi terhadap jago silat kebanyakan, mereka bukanlah tandingan wanpwe.”
Tiba-tiba orang tua itu ulurkan tangannya lalu berkata: “Cobalah kau sambut pukulan
loni ini untuk mengetahui sampai di mana kepandaianmu!”
Dan habis berkata terus dorongkan tangan kanannya ke wajah.
Siu-lam menghindar ke samping dan berseru: “Bagaimana wanpwe mampu menerima
pukulan lo-cianpwe?”
Orang tua itu tertawa: “Masakan untuk menguji kepandaianmu sendiri kau tak berani?”
Siu-lam terkesiap. Tiba-tiba ia rasakan serangkum tenaga menyerang dadanya
sehingga jantungnya berdebar keras. Kini ia merasakan tak dapat menghindari lagi.
Terpaksa ia empos tenaganya untuk bertahan.
Walaupun tekanan tenaga itu cukup dahsyat tapi begitu Siu-lam gerakkan tangannya
menangkis, tenaga itupun berhenti.

Tiba-tiba orang tua berambut putih tersenyum: “A, tenaga dalammu cukup tangguh!
Hati-hati loni hendak menambahi tekanan!”
Seketika Siu-lam rasakan tenaga tekanan yang dideritanya makin lebih dahsyat lagi.
Terpaksa ia kerahkan seluruh tenaganya untuk menghadapi.
Tapi tekanan orang tua berambut putih makin menghebat. Pada saat Siu-lam sudah
habis tenaganya, orang tua itu malah menambah tenaga tekanannya lagi. Huh… Siu-lam
rubuh terjerembab ke belakang. Namun ia masih dapat menyangga tubuh dengan tangan
kiri, sedang tangan kanan tetap menahan gempuran si orang tua.
Berselang beberapa jenak lagi, Siu-lam merasa letih sekali. Tulang-tulangnya seolaholah
seperti tercerai berai sehingga ia tak dapat membuka mulut lagi.
Orang tua berambut putih itu tersenyum, serunya: “Hati-hatilah, loni hendak
menambahi tenaga tekanan lagi!”
Ah, benar-benar ia lakukan apa yang dikata itu. Seketika Siu-lam rasakan darah dalam
tubuhnya bergolak ke atas. Ruas-ruas tulang dan jalan darahnya, sakit bukan kepalang.
Siku lengannya melentuk dan pingsanlah ia….
Ketika ia membuka mata, ternyata ia rebah di hadapan orang tua berambut putih itu.
Buru-buru ia hendak bangun tetapi tubuhnya terasa nyeri sekali. Ruas-ruas tulangnya
seperti terpisah-pisah. Ia mengeluh: “Mati aku sekarang. Karena tadi terlalu banyak
menggunakan tenaga, urat nadi dan tulangku tentu hancur. Ah, aku tentu menjadi
seorang cacad seumur hidup.”
“Engkau sudah bangun?” tiba-tiba terdengar paderi tua berambut putih itu menegur
dengan nada ramah.
“Ya, jika aku tak tersadar lagi, itu lebih baik!” sahut Siu-lam.
Paderi tua itu tertawa: “Orang masih muda mengapa tak mempunyai cita-cita. Dewasa
ini dunia persilatan sedang dilanda kejahatan. Tenagamu dibutuhkan sekali. Mengapa
enak saja mengucapkan kematian?”
“Lo-cianpwe telah menghancurkan urat-urat nadi ruas tulangku. Kini aku sudah tidak
dapat berkutik, mengapa masih disebut-sebut dalam dunia persilatan, hem….”
Paderi berambut putih itu tertawa: “Dunia persilatan akan meletakkan tugas berat di
bahumu. Suruh engkau merasakan sedikit penderitaan saja, apa sudah dingin hatimu?”
Siu-lam hendak berkata tetapi tak jadi.
Paderi tua berambut putih itu menghela napas: “Ah, budak yang licik. Kau mempunyai
rahasia dalam hati mengapa tak mau mengatakan? Ai… cerdik dan banyak akal memang
tepat untuk melaksanakan beban besar. Hanya dikuatirkan dlam melakukan tugas itu,
menggunakan keganasan tanpa kenal sedikit belas kasihanpun.”
Diam-diam Siu-lam terkejut karena paderi tua itu rupanya mengenal jelas perangainya.
Tiba-tiba paderi tua yang berjenggot hitam nyeletuk: “Engkau telah memakan kue
Cwan-leng-kau yang dibuat oleh suhengku dari ramuan tangan, hati dan empedu beruang.
Karena tiada api, suheng telah gunakan waktu dua belas jam untuk membuat kue itu.
Tadi dia mendesakmu untuk adu tenaga agar kau benar-benar kerahkan seluruh tenaga
dalam. Kemudian ia sambut dengan tenaga murni hasil peyakinannya selama berpuluh
tahun. Lalu dikerahkan untuk menembus jalan darah dalam tubuhmu. Suheng tak sayang
mengorbankan hawa murni yang tidak kalah nilainya dengan jiwa karena hendak
menciptakan suatu keajaiban yakni dalam waktu singkat akan menyusupkan tenaga dalam
istimewa dari Siau-lim-si ke dalam tubuhmu. Hm, budak hina, tak perlu engkau harus
berterima kasih, tetapi pun jangan lancang mengucap kata-kata kurang ajar!”
Serentak Siu-lam hendak menghaturkan terima kasih. Tetapi pada lain saat itu
menimang. Adanya paderi angkatan tua dari gereja Siau-lim-si itu rela mengorbankan
tenaga murni kepadanya, tentulah karena mempunyai maksud tertentu. Jika ia buru-buru
menghaturkan terima kasih, ia kuatir paderi tua itu malah akan memandangnya rendah.
Maka ia tak jadi mengucapkan terima kasih.

Tampak paderi tua berambut putih itu setengah pejamkan mata. Jenggotnyapun
tampak bergoncang-goncang. Rupanya dia tengah mempertimbangkan suatu masalah
yang berat.
Sepeminum teh lamanya, paderi itu membuka mata dan menatap Siu-lam, ujarnya:
“Dewasa ini dunia persilatan sudah mulai keruh. Keganasan makin merajalela. Walaupun
loni mengutamakan welas asih, tapi sukar rasanya untuk melawan takdir.”
Ia berhenti sejenak lalu berkata pula: “Loni mempertimbangkan untuk menyerahkan
ilmu kesaktian yang loni peroleh selama bertapa tigapuluh tahun itu, padamu,..” tiba-tiba
wajahnya berubah serius dan nadanyapun makin tegas: “Tapi kau harus bersedia
memenuhi tiga syarat.”
Siu-lam tertawa: “Mohon lo-cianpwe sudi mengatakan tiga syarat itu lebih dulu agar
wanpwe dapat mempertimbangkannya.”
Paderi tua itu merenung sejenak lalu berkata: “Pertama, setelah memahamkan ilmu
sakti itu, kau harus melindungi Siau-lim-si agar partai gereja itu tetap hidup di tengah
dunia persilatan.”
“Sudah menjadi kewajiban, setelah menerima budi lo-cianpwe, wanpwe harus
melakukan tugas itu. Lalu yang kedua?”
“Yang kedua, harus menegakkan kepercayaan dan kebajikan dalam dunia persilatan.
Dan kau sendiripun harus benar-benar melaksanakan kedua hal itu, sekalipun harus
ditebus dengan pengorbanan jiwa raga.”
Siu-lam menyahut: “Kepercayaan dan kebajikan, memang meliputi luas sekali. Penuh
dengan dalih-dalih yang berliku-liku. Tapi demi balas budi locianpwe, wanpwe berjanji
akan melakukan kedua hal itu dengan sepenuh hati. Dan bagaimana syara yang ketiga?”
“Yang ketiga ini, mungkin kau tak mau meluluskan.”
“Tak apalah. Karena lo-cianpwe belum menurunkan ilmu itu, apabila wanpwe tak
sanggup menerima, toh lo-cianpwe pun tak perlu berikan ilmu itu.”
Diam-diam paderi tua itu menghela napas, batinnya: “Benar-benar seorang bocah lihay.
Rupanya ia sudah perhitungkan bahwa aku mau tak mau harus mengajarkan ilmu itu
kepadanya.”
Kemudian ia menyahut tegas: “Apa yang hendak loni ajarkan kepadamu, kebanyakan
adalah ilmu pusaka dari Siau-lim-si. Ilmu itu merupakan ilmu simpanan Siau-lim-si selama
seratus tahun. Yang dipahaminya, memang sedikit sekali. Bahwa loni terpaksa
mengajarkan ilmu itu bukan kepada anak murid Siau-lim-si, sebenarnya sudah melanggar
pantangan gereja. Tetapi karena keadaan memaksa, terpaksa loni bertindak menyimpang.
Hanya pantangannya, jangan sekali-kali kau mengajarkan ilmu itu pada lain orang lagi.
Sekalipun isteri dan anak, juga tak boleh!”
Siu-lam kerutkan dahi, ujarnya: “Tapi andaikata orang perhatikan dan pelajari gerakgerak
wanpwe pada saat bertempur, bukankah hal itu tak dapat diartikan wanpwe telah
mengajar pada orang lain?”
Paderi tua berjenggot hitam tiba-tiba menyeletuk: “Benar-benar seorang bocah yang
licin. Asal tak disengaja, biarlah lain orang mencuri sedikitpun tak mengapa!”
“Karena lo-cianpwe bermaksud sungguh-sungguh hendak menyelamatkan dunia, maka
wanpwe pun akan melaksanakan dengan sepenuh hati,” kata Siu-lam.
“Sebenarnya suhengku masih mempunyai harapan pribadi. Tetapi dalam saat ini, dia
tak mau mengatakan padamu….”
“Sute, jangan…” cepat-cepat paderi tua berambut putih berseru.
“Silahkan lo-cianpwe mengatakan. Asal wanpwe mampu saja, pasti akan melakukan
dengan sungguh-sungguh!” seru Siu-lam tegas.
Paderi jenggot hitam tertawa: “Bagus, akulah yang akan memberitahukan. Kelak
apabila sudah berhasil mempelajari ilmu kesaktian dari suheng dan keluar ke dunia
persilatan, carilah Lo Hian dan tempurlah dia. Jika menang, bilang kepadanya bahwa
Bong taysu mencarinya akan diajak adu kesaktian!”

“Kalau wanpwe kalah?”
“Bilang kepadanya bahwa Kak Hui menunggu kedatangannya untuk menetapkan siapa
yang lebih unggul!”
Siu-lam menyatakan kesanggupannya.
Paderi tua berambut putih itu ternyata bergelar Kak Bong taysu. Sedang paderi tua
berjenggot hitam Kak Hui taysu.
“Engkau bukan anak murid Siau-lim-si,” kata Kak Bong taysu, “bagaimana watak
perangaimu, sukar diketahui jelas. Adanya loni dan sute menurunkan ilmu kesaktian itu
kepadamu adalah karena hendak meminjam tanganmu untuk menyelamatkan dunia
persilatan dari kehancuran….”
Serentak wajah Siu-lam mengerut serius dan dengan khidmatnya menjura di hadapan
Kak Bong taysu: “Atas kepercayaan yang lo-cianpwe limpahkan kepada wanpwe, Pui Siulam
bersumpah, akan melaksanakan tugas dengan sepenuh jiwa raga. Apabila lo-cianpwe
menganggap diri wanpwe masih kotor dan sukar diterima sebagai murid gereja,
wanpwepun tak berani memaksa. Hanya masih ada sebuah hal yang wanpwe kurang jelas
dan hendak mohon penjelasan.”
“Berdasarkan pada tanda-tanda di wajah, maka loni dapat menilai watak seseorang.
Sama sekali loni tak dapat meramal. Jika mempunyai persoalan, silahkan engkau
mengatakan. Sedapat mungkin, loni akan bantu menjelaskan!”
“Dalam ucapan lo-cianpwe tadi, samar-samar lo-cianpwe menunjuk bahwa wanpwe
seorang yang berwatak licin tak jujur. Berpegang pada itulah maka timbul pertanyaan
dalam hati wanpwe. Apakah dalam gereja Siau-lim-si tiada seorangpun yang memenuhi
syarat untuk menerima warisan ilmu dari lo-cianpwe berdua. Bukannya wanpwe hendak
menolak kepercayaan lo-cianpwe tadi. Tetapipun tak mengharapkan lo-cianpwe berdua
sampai melanggar peraturan gereja. Apabila lo-cianpwe sudi menunjukkan, wanpwe
sanggup untuk mengajak orang yang lo-cianpwe penuju, datang kemari menerima ajaran
lo-cianpwe!”
Kak Bong taysu mengusap janggut tersenyum: “Bagus sekali pertanyaanmu itu.
Mencari orang yang berbakat bagus dan berbudi luhur, tidaklah semudah seperti yang
diucapkan. Di kalangan Siau-lim-si walaupun banyak anak murid yang berbudi luhur tetapi
jarang yang mempunyai bakat baik….”
Paderi tua itu menghela napas, kemudian lanjutkan kata-katanya: “Ilmu silat memang
setiap orang dapat mempelajari. Tetapi yang dapat mencapai tingkat kesempurnaan,
hanyalah mereka yang mempunyai tulang dan bakat bagus. Orang yang begitu, sukarnya
seperti mencari jarum di lautan. Ratusan tahun yang lalu, tokoh-tokoh saktipun pusing
untuk mencari ahli warisnya. Terpaksa harus menjelajah ke segenap penjuru dunia untuk
mencarinya. Tetapi itupun belum tentu ketemu. Maka itulah sebabnya banyak sekali ilmu
kesaktian yang lenyap. Andaikata ketemu dengan orang yang dicita-citakan, demi untuk
mengembangkan ilmu dan menyelamatkan dunia persilatan dari bencana, tokoh-tokoh itu
tak ragu-ragu untuk mengangkat orang di luar perguruannya menjadi ahli waris. Dengan
keterangan ini, harap sicu dapat mengerti!”
Siu-lam mengiyakan.
“Misalnya dalam kalangan Siau-lim-si,” Kak Bong taysu lebih lanjut, “sejak Tat Mo cousu
mendirikan gereja Siau-lim-si, dengan kecerdasan yang gemilang dan bakatnya yang luar
biasa, cousu telah delapan tahun bersemedhi dan akhirnya dapat menciptakan kitab Tatmo-
ih-kin-cin-keng. Walaupun di kemudian hari jumlah anak murid Siau-lim-si makin
tambah besar, tetapi tiada seorangpun yang dapat memahami warisan ilmu Tat Mo Cousu
itu. Siau-lim-si memiliki tujuhpuluh dua ilmu kesaktian. Tetapi hingga saat ini, loni belum
mendengar bahwa di antara angkatan Siau-lim-si yang terdahulu, mampu memahami
benar-benar seluruh ilmu itu. Telah diatur cara latihan yang berlapis. Setelah diberi
ajaran oleh sucou (guru) maka murid-murid itupun mengadakan latihan bersama. Tetapi

itu pun tak berhasil menciptakan seorang tokoh yang benar-benar mencapai
kesempurnaan….”
Paderi tua itu menghela napas.
“Bukan maksud loni hendak menonjolkan keadaan Siau-lim-si tetapi hanya sekedar
menceritakan yang sebenarnya. Di dalam memilih anak murid, Siau-lim-si memang keras.
Dititikberatkan pada kecerdasan dan peribudinya, barulah diberikan ilmu sakti. Tetapi
kehidupan di dalam gereja yang keras itu, memang jarang orang yang dapat tahan.
Banyak para angkatan tua, telah mencurahkan hidupnya untuk mempelajari ilmu silat,
sehingga mereka tak pernah keluar ke masyarakat ramai. Maksudnya agar mereka tidak
terganggu pikirannya oleh urusan dunia. Tetapi hasilnya pun kurang memadai. Yang
mampu menguasai duapuluh satu macam ilmu sakti gereja Siau-lim-si, dapat dihitung
dengan jari….”
Berkata sampai di sini, paderi tua itu merenung diam. Berselang berapa jenak
kemudian baru ia menghela napas, ujarnya: “Menurut apa yang loni ketahui, sampai
sekarang, Siau-lim-si telah turun-temurun berpuluh angkatan. Muridnya tak terhitung
jumlahnya. Di antara mereka yang tergolong paling tinggi kepandaiannya, hanya dapat
menguasai limapuluh empat macam ilmu kepandaian saja….”
Kak Hui taysu nyeletuk: “Di dalam kalangan Siau-lim-si, suhenglah satu-satunya yang
dapat mencapai pertapaan selama tigapuluh tahun. Dengan demikian dapatlah kiranya
suheng dianggap sebagai satu-satunya murid yang mampu mencapai tingkat tertinggi.”
Kak Bong taysu gelengkan kepala: “Setelah bertapa selama tigapuluh tahun itu, barulah
loni mengetahui kesusahan Lo Hian. Sekalipun tak rela menurunkan ilmu kepandaiannya
pada orang yang tak sesuai dengan cita-citanya, tapi dia tidak menghendaki ilmu itu
sampai turut lenyap bersamanya ke alam baka….” Ia menatap Siu-lam, ujarnya:
“Begitulah susahnya mencari tunas berbakat!”
Serentak Siu-lam tersadar dan tersipu-sipu berlutut memberi hormat: “Banyak terima
kasih atas petunjuk lo-cianpwe yang berharga itu.”
Wajah Kak Bong siansu berseri-seri: “Walaupun aku melanggar peraturan perguruan,
tapi aku telah menurunkan hasil pertapaanku selama tigapuluh tahun kepada dunia. Asal
kelak kau mempergunakan ilmu itu demi kejayaan Siau-lim-si, loni tentu mati dengan
tenteram di alam baka!”
Siu-lam mengangkat muka dan berkata dengan tandas: “Petunjuk lo-cianpwe itu, bagai
lonceng pagi di hati wanpwe. Mengapa wanpwe tidak mati terlempar ke dalam jurang ini.
Mengapa wanpwe pun tidak mati dimakan beruang tadi. Beberapa bulan ini, wanpwe
telah mengalami bahaya maut dan peristiwa-peristiwa yang tegang. Kesemuanya itu
makin menambah kesadaran hati wanpwe. Maka sekiranya diri wanpwe sebagai murid
gereja Siau-lim-si. Agar wanpwe dalam mengabdikan hidup wanpwe pada gereja….”
Sampai beberapa jenak Kak Bong taysu menatap wajah pemuda itu. Ia bergeleng
kepala:
“Engkau bukan selayaknya menjadi murid gereja.”
“Tetapi tekad wanpwe sudah bulat. Harap lo-cianpwe jangan mensia-siakan
permohonan wanpwe ini!”
“Semua sudah tersurat dalam takdir. Tak dapat manusia menolaknya!” kata Kak Bong
taysu.
Masih Siu-lam mendesak: “Hidup wanpwe penuh kehampaan, jika lo-cianpwe sudi….”
“Obat takkan mematikan orang. Pengabdian agama Hud (Budha) hanya bagi orang
yang berjodoh. Jangan mengulangi permintaan itu lagi!” tukas Kak Bong taysu.
Kak Hui taysu pun menambah keterangan: “Adanya suheng tak berani menerima
permintaan karena mempunyai maksud lain. Jika engkau mencukur rambut masuk ke
dalam biara, siapakah yang akan mengangkat senjata untuk menumpas iblis-iblis di dunia
persilatan?”

“Tetapi mohon lo-cianpwe suka menerima dulu wanpwe menjadi murid Siau-lim-si.
Setelah tugas menyelamatkan dunia persilatan itu selesai barulah wanpwe melakukan
upacara cukur rambut dan tinggalkan dunia keramaian.”
“Sedang seorang tokoh berbakat cemerlang seperti Lo Hian tetap tak berani melanggar
kodrat. Apalagi aku yang kalah tinggi dengan Lo Hian. Sudahlah, percuma saja engkau
memohon. Lekas mulai bersemedhi, kosongkan pikiran. Loni segera hendak menurunkan
pelajaran kepadamu.”
Siu-lam menghela napas. Terpaksa melakukan perintah paderi tua itu. Ia mulai
bersemedhi.
Dalam pada itu Kak Hui taysu gunakan ilmu menyusup suara Coan-bi-jib-bi, bertanya
kepada Kak Bong: “Suheng, apakah benar-benar bocah itu tak berjodoh dengan Siau-limsi?”
Jawab Kak Bong taysu: “Alisnya mempunyai tiga kerut guratan. Pertanda jalan
hidupnya penuh berlumuran budi dan dendam, cinta dan kebencian. Tak mungkin untuk
melawan suratan takdir!”
“Kalau begitu dia kelak akan terjerumus dalam pergolakan soal wanita?” kata Kak Hui
dengan nada kurang senang. Ia memang benci kepada orang yang gila paras cantik.
“Yang dikatakan budi dan dendam, cinta dan kebencian, belum tentu dapat
digolongkan sebagai orang yang gemar paras cantik. Tetapi memang dalam perjalanan
hidupnya, bocah ini selalu terlibat dengan wanita. Dia tak bersalah karena dialah yang
selalu dilibat….”
Kak Bong taysu menghela napas pula, ujarnya: “Memang karena kurang kemantapan
dia tak dapat menjalankan tugas-tugas agama kita. Tetapi dia benar-benar memiliki
tulang dan bakat yang bagus sekali. Ya, benar-benar seorang tunas pilihan.”
“Setelah mendapat ilmu kesaktian, apakah kelak dia dapat menjalankan amal perbuatan
yang baik, ataukah dia akan mengikuti jejak Lo Hian yang melangkah ke jalan sesat.
Maka meskipun kita dapat melahirkan seorang bintang cemerlang dalam dunia persilatan,
tetapi kita pun telah menimbulkan sebuah bencana di dunia persilatan,” kata Kak Hui
taysu.
“Ah, rasanya takkan sampai menjurus ke tingkat begitu,” kata Kak Bong, “yang nyata
dia mempunyai perbawa angkuh sekali. Dikuatirkan selama melakukan tugas membasmi
kejahatan itu, dia akan melakukan pembunuhan tidak kenal kasihan.”
Kata Kak Hui pula: “Dewasa ini dunia persilatan tercengkeram oleh iblis-iblis jahat. Jika
ada seorang gagah yang mampu memberantas kejahatan itu, sudah tentu dunia persilatan
akan menyambut girang. Maka tak perlu suheng cemas….”
“Ai, memang suasana dewasa ini, memerlukan seseorang yang seperti dia. Cerdik dan
banyak akal serta dapat melakukan siasat dengan racun mengobati racun. Ketika kita
terluka dan lolos dari sanggar pertapaan kemudian jatuh ke dalam jurang ini, secara
kebetulan diapun jatuh tepat di atas kepalaku. Andaikata jatuhnya pada jarak setombak
dari tempatku, tak mungkin aku dapat menyanggapi tubuhnya. Jelas bahwa peristiwa
kebetulan itu, sebenarnya tersurat dalam takdir. Ini tepat sekali seperti yang diramalkan
toa-suheng.”
Karena kedua paderi itu bicara dengan gunakan ilmu menyusup suara Coan-im-jip-bi,
maka Siu-lam tak dapat mendengarkan sama sekali.
Tiba-tiba Kak Hui teringat akan sebuah hal yang sangat penting. Ia gelengkan kepala
dan menghela napas lalu berkata: “Tetapi dewasa ini di dunia persilatan sudah mulai
terjadi pembunuhan ganas. Mengajar ilmu kesaktian, pun tentu tak dapat selesai dalam
waktu yang singkat. Sampai seluruh kepandaian kita turunkan semua kepadanya,
dikuatirkan keadaan sudah terlambat dan sukar menolongnya lagi.”
“Tetapi dia sudah memiliki kepandaian yang hebat. Aku hendak menggunakan cara
perguruan kita Ih-goan-coan-sin untuk memberinya pelajaran secara cepat. Dalam waktu
tiga bulan saja, kiranya sudah dapat selesai.”

Kak Hui terkesiap: “Apakah cara itu takkan membuat suheng menderita?”
“Keadaan sudah memaksa. Tiada lain pilihan lagi. Tay Teng sutit dilempar ke dalam
jurang dan tubuhnya hancur lebur….”
“Mengapa aku tak tahu?” Kak Hui terkejut.
“Jenazahnya sudah dikubur anak muda itu,” kata Kak Bong.
Wajah Kak Hui berubah tegang: “Kalau begitu gereja Siau-lim-si sudah diserang
musuh!”
Kak Bong tertawa dan segera suruh anak muda itu segera mempertunjukkan
permainan ilmu pedangnya.
Kedua paderi tua itu mengikuti dengan penuh perhatian ketika Siu-lam memainkan ilmu
pedang ajaran kakek dari Hian-song.
Siu-lam mainkan ilmu pedang Jiau-toh-co-hoa dengan pelahan. Tiga jurus kemudian ia
berhenti: “Sebenarnya ilmu pedang itu terdiri dari delapan jurus tetapi wanpwe hanya
ingat tiga jurus saja!”
Sambil mengangguk, berserulah Kak Bong taysu: “Walaupun hanya tiga jurus, tetapi
cukup hebat. Jika engkau dapat mengingat keseluruhannya, keganasannya memang luar
biasa. Sebelum mengetahui keseluruhannya, sukar loni memberi penilaian. Hendak
merenungkan dahulu baru dapat memberi keterangan!”
Siu-lam mengiyakan. Ia menandaskan lagi bahwa ilmu pedang Jiau-toh-co-hoa itu
termasuk keras dan ganas. Tidak segemilang dan sejujur ilmu pedang Tat-mo-kiam.
Kak Bong taysu merenung sejenak. Tiba-tiba ia kerutkan wajahnya: “Dahulu, empat
partai besar telah mengepung wanita siluman yang bersenjata Chit-jiau-soh. Tetapi
wanita itu tetap berhasil meloloskan diri, setelah melukai beberapa orang. Tay Ti sutit,
salah seorang murid cemerlang dari Siau-lim-si pun terluka dan binasa….”
Berhenti sejenak, Kak Bong taysu menghela napas: “Jika Tay Ti sutit masih ada, tentu
takkan kuajarkan hasil pertapaanku kepadamu.”
Kak Hui yang dapat menangkap kemana arah jatuhnya ucapan Kak Bong, cepat
menyeletuk: “Apakah suheng teringat bahwa ilmu Jiau-toh-co-hoa itu ciptaan Lo Hian?”
“Benar,” sahut Kak Bong, “Jurus itu memang sangat ganas sekali. Mirip dengan watak
penciptanya, Lo Hian. Seorang yang sombong, memandang rendah pada semua orang di
dunia. Jika siluman wanita dari Beng-gak itu benar-benar anak murid dari perguruan Lo
Hian, ya, cukup hanya dengan jurus tadi saja, Siau-lim-si pasti tak akan tertolong….”
Tiba-tiba Kak Bong berpaling pada Siu-lam: “Sekalipun tiada ikatan guru dan murid,
tetapi terdapat budi memberi pelajaran. Aku dan sute telah menderita luka parah. Luka
itu menembuh pada jalan darah yang penting. Jika tak ada kesempurnaan hasil bertapa,
mungkin saat ini kami berdua tentu sudah binasa. Apakah nanti kami berhasil
memulihkan urat-urat yang putus itu dan mendapat kembali tenaga sakti, belumlah berani
kami pastikan. Tapi yang nyata, Siau-lim-si sedang di ambang kehancuran. Maka dalam
menurunkan pelajaran sakti itu, aku hanya minta tukar supaya kau menyelamatkan gereja
Siau-lim-si.”
Serentak Siu-lam berbangkit dan ia berjanji: “Ah, janganlah lo-cianpwe terlalu sungkan.
Sekalipun lo-cianpwe tidak memberi pelajaran, tapi wanpwe tetap akan membalas budi
pertolongan lo-cianpwe yang telah menyelamatkan jiwa wanpwe!”
Bergegas Kak Hui berseru: “Dia hanya pelajari Tat-mo-sam-kiam dan belum sempurna.
Apakah hanya dengan tangannya seorang, dapat mengatasi masalah gawat itu?”
“Dalam keadaan begini tiada lain jalan kecuali harus berani mengambil resiko,
melepaskan kedua Lam-pak-ji-koay itu. Mudah-mudahan dengan bantuan tenaga kedua
orang itu, Siau-lim-si akan tertolong dari kehancuran!” kata Kak Bong taysu.
“Lebih baik mencoba daripada diam saja!” Kak Hui menyetujui. “Harap suheng segera
memberi pesan kepadanya.”
Siu-lam pun mendesak agar paderi tua itu segera memberi petunjuk apa yang harus
dilakukan. Ia berjanji akan melaksanakan dengan sekuat tenaga.

Kak Bong menghela napas pelahan, ujarnya: “Di dalam menghadapi dua pilihan, kita
harus mengambil salah satu. Walaupun kedua Lam-pak-ji-koay itu luar biasa ganasnya,
tapi kepandaian mereka memang jarang terdapat di dunia persilatan. Tiba-tiba ia
berbangkit dan berkata pula: “Mari, kutunjukkan tempat penjara mereka itu!”
Ketika mengikuti keluar, Siu-lam memperhatikan bahwa kedua bahu paderi tua itu yang
satu lebih rendah dari lainnya. Begitu pula jalannya agak terhuyung-huyung. Siu-lam
terkejut. Ia tahu paderi itu benar-benar parah sekali lukanya.
Tiba-tiba Kak Bong cepatkan langkahnya. Tangannya tak mau memegang dinding
karang lagi, ia bagaimana yang kita bayangkan, janganlah membebaskan kedua ji-koay
itu.”
Tiba-tiba Siu-lam menyatakan keheranannya: “Waktu lo-cianpwe berdua bertapa,
jarang diketahui orang. Bahkan sebagian besar anak murid Siau-lim-si sendiri banyak
yang tidak tahu. Tapi mengapa orang Beng-gak dapat langsung mencari lo-cianpwe.
Kalau hal itu hanya secara kebetulan saja, rasanya kurang dapat diterima. Terus terang
wanpwe curiga, jangan-jangan di dalam gereja terdapat cumi-cumi yang membocorkan
rahasia pertapaan lo-cianpwe itu. Menurut pendapat wanpwe, saat ini Siau-lim-si benarbenar
terancam bahaya kemusnahan. Jika lo-cianpwe tetap berpegang pada welas asih,
dikuatirkan Siau-lim-si tak mungkin bangun lagi. Maaf, wanpwe tak mengerti soal ramalan
atau perbintangan, tetapi hanya melihat pada kenyataan saja.”
Siu-lam berhenti sejenak, kemudian berkata pula: “Wanpwe mohon diri. Berhasil atau
gagal, wanpwe tentu segera akan cepat-cepat kembali!”
Kak Bong memandang bayangan pemuda yang bergerak gesit itu dengan helaan napas
panjang. Kemudian ia masuk ke dalam lembah lagi.
Jilid 24
MENURUTKAN petunjuk Kak Bong, setelah mencapai tiga ratus langkah tibalah dia pada
sebatang pohon siong kate. Dan benarlah di bawah pohon siong itu terdapat sebuah pintu
yang dipahat dengan lukisan.
Setelah kerapkan tenaga, Siu-lam segera mendorong batu itu. Tetapi batu itu kuatnya
bukan main sehingga tak dapat bergerak.
Siu-lam percaya bahwa tak mungkin Kak Bong taysu akan menipunya. Maka sekali lagi
ia kerahkan tenaga mendorongnya. Tetapi walaupun sudah dicobanya beberapa kali,
tetap gagal. Namun ia tak putus asa. Ia tak henti-hentinya mendorongnya ke kanan kiri
dan akhirnya alat rahasia itupun bergerak. Serentak dengan bunyi berderak-derak keras,
pintu batu itupun terbuka.
Siu-lam cepat loncat menyusup ke dalam pintu batu dan menyusur lorong. Tiga
tombak jauhnya, tiba-tiba cuaca gelap. Ah, pintu batu itu tertutup kembali.
Kira-kira seratus tombak jauhnya, lorong itu terpecah menjadi dua persimpangan, ke
kanan dan ke kiri. Siu-lam memilih simpang kanan. Kira-kira tiga empat puluh tombak
jauhnya, lorong makin sempit dan terdengarlah suara helaan napas orang yang berat.
Siu-lam tahu bahwa dia kini sudah dekat pada penjara tempat Ji-koay. Diam-diam ia
kerahkan tenaga siap sedia dan sengaja berjalan dengan langkah berat.
Setelah membelok dua langkah tikungan, tiba-tiba suasana terang dan tampaklah
sebuah pintu batu yang tertutup rapat. Di atas pintu batu itu terdapat sebuah jendela.
Napas orang itu memancar keluar dari jendela tersebut.
Dengan perlahan-lahan Siu-lam menghampiri dan menengok ke dalam pintu. Seorang
lelaki tengah duduk bersandar pada dinding dan tidur mendengkur. Rambutnya terurai
panjang menutup mukanya. Pakaiannya compang-camping. Punggungnya menyanggul
sebuah borgol sebesar roda kereta. Di sebelah kanan-kiri ruang terdapat dua buah lubang
hawa dan penerangan.

Siu-lam segera mengetuk pintu: “Aku yang rendah Siu-lam, hendak berkunjng kepada
tuan.”
Tiba-tiba orang aneh itu berbangkit. Sepasang matanya berkilat-kilat memancarkan
api: “Engkau paderi Siau-lim-si?”
“Bukan…” sahut Siu-lam. Diputusnya rantai pintu dan mendorongnya lalu melangkah
masuk.
Orang aneh itu tertawa gelak-gelak. Ia duduk kembali bersandar pada dinding ruang.
“Beberapa puluh tahun yang lalu, orang persilatan tentu rontok nyalinya kalau
mendengar namaku. Aku gemar minum hati orang dengan arak. Engkau sungguh
seorang budak yang bernyali besar berani datang ke kamarku sini!”
Siu-lam tersenyum. Diam-diam kerahkan tenaga dalam berjaga-jaga. Kemudian purapura
seperti tidak terjadi apa-apa, ia duduk tenang berhadapan dengan orang aneh itu.
“Berapa lamakah lo-cianpwe berada di dalam ruang ini?” tanyanya diiringi tertawa.
Dari celah-celah rambutnya yang kusut masai, terpancarlah sinar dingin dari sepasang
mata orang aneh itu. Rupanya dia mengawasi Siu-lam tajam-tajam. Kemudian berkata:
“Lebih lama sedikit dari umurnya!”
“Ah, tentu kesepian sekali,” kata Siu-lam.
Orang aneh itu mendengus dingin dan mendamprat: “Paderi bangsat itu telah
menjebloskan aku di sini sampai belasan tahun. Hm, jika aku bebas, kelak tentu akan
kucarinya untuk membayar hutan ini!”
Siu-lam tersenyum: “Sudah berpuluh tahun lo-cianpwe tak berdaya untuk keluar dari
sini. Dikuatirkan seumur hiduppun sukar untuk meninggalkan tempat ini.”
Orang aneh itu tertawa nyaring: “Ah, tak lama lagi! Tiga tahun kemudian aku tentu
mampu menghancurkan tali pengikat ulat sutera ini dan tinggalkan neraka sini!”
“Wanpwe pernah mendengar kata orang. Tali dari ulat sutera itu kerasnya bukan main.
Senjata tajampun tak mampu memutuskannya. Bagaimana lo-cianpwe hendak
memutuskannya?”
Orang aneh itu tiba-tiba tertawa dingin: “Sudah berpuluh tahun aku berada di sini.
Tiap hari yang kupikirkan hanyalah cara untuk memutus tali ini. Masakan selama itu tak
berhasil menemukannya!”
Dengan kata-kata itu dia hendak menyatakan bahwa ia sudah mempunyai rencana
untuk melepaskan sepasang tangannya yang kurus tinggal tulang itu dari ikatan tali ulat
sutera.
Siu-lam mencuri lihat ke arah tali pengikat orang aneh itu. Ah, benarlah. Tali pengikat
tangannya sudah tiga perempat bagian putus. Yang seperempat bagian ia sanggup
melakukan dalam waktu tiga tahun lagi. Hal itu memang bukan mustahil.
Siu-lam seorang pemuda yang berotak cerdas. Ia baru mencari jalan supaya orang
aneh itu marah padanya. Ia berganti memandang ke arah kaki orang aneh. Ternyata kaki
orang itupun masih terikat dengan tali urat sutera. Tiba-tiba ia tertawa nyaring.
Orang aneh itu rupanya marah karena ditertawakan. Dengan mata berapi-api ia
membentak: “Apa yang kau tertawakan?” Bentakan itu dibarengi dengan gerakan kedua
tangannya yang berjari kuku panjang, menyerang Siu-lam.
Siu-lam memang sudah bersedia. Pada waktunya hendak masuk, diam-diam ia telah
mematahkan sebatang dahan pohon siong yang disembunyikan dalam bajunya. Sambil
menghindar ia sudah mengeluarkan dahan pohon itu. “Harap lo-cianpwe jangan marah
dulu. Dengarkanlah wanpwe hendak bicara. Habis itu boleh berkelahi kalau memang locianpwe
menghendaki begitu!”
Orang aneh itu ternyata mau hentikan serangannya. Katanya dingin: “Jika kau tak
dapat menerangkan kenapa kau tertawa, kau harus tinggal di sini selama tiga tahun
menemani aku!”
“Maaf, wanpwe terpaksa tak dapat meluluskan,” kata Siu-lam, “Tiga tahun hanya
sekejap mata. Untuk menemani lo-cianpwe di sini sebetulnya tak mengapa. Tetapi jika

lo-cianpwe tetap tak dapat tinggalkan tempat ini, apakah wanpwe juga harus menemani
selamanya.”
Orang aneh itu mendengus dingin. Seketika tampak dia hendak angot perangainya.
Siu-lam segera mendahului: “Jangan keburu mengumbar amarah dulu. Cobalah pikirkan.
Kalau tali pengikat tangan saja memerlukan waktu beberapa puluh tahun, bukankah harus
menggunakan waktu berpuluh tahun lagi untuk memutuskan tali pengikat kaki?”
Orang aneh itu tertegun dan jatuhkan diri duduk di tanah. Dengan suara rawan ia
berkata: “Benar, ah… kenapa dalam berpuluh tahun ini aku tak sampai pada pemikiran
begitu?”
“Rasanya sia-sialah jerih payah lo-cianpwe selama ini. Lo-cianpwe hanya memikirkan
bagian tangan tetapi lupa akan pengikat kaki!”
Tiba-tiba terdengar suara melengking yang nyaring sekali: “Benar, seumur hidup kita
takkan mampu keluar dari neraka ini!”
Siu-lam terkejut. Tetapi ia segera menyadari bahwa di sebelah ruang itu memang
masih terdapat seorang tahanan lagi. Jelas bahwa dinding ruang penjara itu kerasnya
seperti baja, tetapi ternyata orang di ruang sebelah masih dapat melantangkan suara yang
menggetarkan. Dapat dibayangkan betapa dahsyat tenaga dalam yang dimilikinya.
Siu-lam terkejut. Diam-diam ia mengagumi tenaga dalam orang itu, dan makin
keraslah nafsunya untuk menggunakan tenaga kedua orang itu.
“Wanpwe tahu cara melepaskan tali ikatan. Tetapi entah apakah lo-cianpwe berdua
bermaksud hendak tinggalkan tempat penjara ini?” serunya nyaring.
Sahut orang aneh yang mukanya tertutup rambut itu dengan dingin: “Sudah tentu ingin
sekali….”
Siu-lam sengaja menghela napas: “Tak sukar wanpwe untuk melepaskan tali pengikat
itu. Tetapi yang sukar adalah lo-cianpwe untuk meluluskan permintaan wanpwe….”
Orang aneh itu tertawa dingin: “Apa kau hendak melepaskan tali pengikatku, karena
hendak menggunakan tenagaku?”
“Ah, wanpwe tak berani mengatakan karena kuatir lo-cianpwe salah paham. Ditilik dari
nama dan kedudukan lo-cianpwe yang termasyhur dalam dunia persilatan, tentulah locianpwe
sukar untuk meluluskan permintaan wanpwe itu. Ah, tak perlu kita bicarakan lagi
urusan ini. Selamat tinggal! Siu-lam memberi hormat dan lalu melangkah pergi.
“Berhenti!” tiba-tiba orang aneh itu berteriak dan loncat menerkam Siu-lam.
Siu-lam sudah siap menghadapi kemungkinan itu. Berputar diri ia mainkan dahan
cemara dengan jurus Jiau-toh-co-hoa. Selingkar sinar hijau, merintangi terjangan orang
aneh itu.
Jiau-toh-ci-hua ajaran kakek Hian-song memang luar biasa saktinya. Gerakan yang
aneh luar biasa telah memaksa si orang aneh menarik lagi tangannya. Ia berjumpalitan di
udara dan melayang balik ke tempat semula.
Siu-lam terkejut dan kagum sekali. Sekalipun punggungnya menyanggul borgol yang
beratnya ratusan kati, tapi gerakan orang aneh itu tetap lincah sekali.
“Hanya ginkang yang beginilah yang layak menggemparkan dunia!” diam-diam Siu-lam
memuji.
Setelah tegak di tanah, berserulah orang aneh itu lantang: “Jangan pergi kau, budak.
Katakanlah apa permintaanmu!”
Diam-diam Siu-lam girang dalam hati. Orang aneh itu mulai masuk ke dalam
perangkapnya. Sengaja ia bersikap jual mahal, katanya: “Ah, tak ada gunanya. Toh
engkau nanti tak mau meluluskan!”
“Katakanlah!” teriak orang aneh itu makin bernafsu, “Jika tidak menyulitkan saja, aku
tentu bersedia meluluskan!”
Siu-lam menimang. Karena dipenjara selama berpuluh tahun, orang aneh itu sudah
agak berkurang sifat-sifat keliarannya.

“Wanpwe bukan murid Siau-lim-si tetapi wanpwe pernah menerima budi dari seorang
lo-cianpwe Siau-lim-si. Setelah menolong jiwa wanpwe, lo-siansu itu mengajarkan cara
melepaskan tali pengikat lo-cianpwe di sini. Dan wanpwe disuruh datang kemari untuk
melepaskan lo-cianpwe berdua….”
Siu-lam sengaja berhenti sebentar lalu melanjutkan lagi: “Ah, untuk apa menanyakan
nama lo-cianpwe apakah dugaan ini Lam-koay atau Pak-koay?”
“Aku Lam-koay Shin Ki!”
“Ah, kiranya Shin lo-cianpwe!”
Rupanya orang aneh Lam-koay Shin Ki itu gembira sekali karena dipanggil dengan
sebutan hormat oleh Siu-lam. Tertawalah ia gelak-gelak: “Lekas bilang, kemungkinan
besar aku tentu meluluskan!”
Siu-lam tertawa.
“Tiba di gereja ini, ternyata Siau-lim-si tengah diserang musuh yang kuat. Para paderi
dan anak murid Siau-lim-si tak mampu menghadapi mereka. Wanpwe bermula hendak
membantu, tetapi wanpwe segera teringat akan pesan lo-cianpwe di sini. Maka wanpwe
bergegas-gegas datang kemari untuk melepaskan tali pengikat lo-cianpwe. Apabila nanti
lo-cianpwe masih mendendam dan menyerang murid-murid Siau-lim-si, wanpwelah yang
paling bertanggung jawab. Selain dianggap sebagai orang yang tak tahu membalas budi
pun seorang yang berdosa terhadap Siau-lim-si!”
Lam-koay Shin Ki merenung sejenak lalu berkata: “Jika benar-benar engkau mampu
melepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini, aku sanggup membantu untuk
mengalahkan musuh Siau-lim-si. Tetapi setelah itu, aku tetap hendak mencari paderi Kak
Seng untuk menyelesaikan perhitungan selama berpuluh tahun ini!”
Diam-diam Siu-lam membatin: Yang dimaksud Kak Seng taysu tentu toa-suheng dari
Kak Bong dan Kak Hui taysu. Ah, biarlah. Tak perlu kuberitahukan bahwa Kak Seng
siansu sudah meninggal.
Ia segera menjawab: “Terserah kalau lo-cianpwe hendak mencari Kak Seng siansu.
Wanpwe tak dapat mencegah. Tetapi bagi kaum persilatan, budi dan dendam harus
dibedakan yang jelas. Baik, mari kita tetapkan janji kita. Karena lo-cianpwe sudah setuju
membantu wanpwe untuk menghancurkan musuh-musuh Siau-lim-si, mari wanpwe segera
lepaskan tali pengikat tangan dan kaki lo-cianpwe.”
Siu-lam menghampiri, berjongkok dan mulai melepaskan tali pengikat dari urat sutera
yang terpasang pada tangan dan kaki Lam-koay. Walaupun sudah diajari oleh Kak Bong
siansu tetapi karena tali itu lembut sekali maka setengah jam kemudian baru ia berhasil
mengurainya.
Sambil menghapus keringat di dahi, Siu-lam tertawa: “Harap lo-cianpwe bersabar.
Wanpwe akan membuka tali pengikat pada kaki lo-cianpwe.”
Lam-koay Shin Ki diam saja. Ia memandang anak muda itu dengan pandang berterima
kasih.
Setelah bebas, Lam-koay Shin Ki menghamburkan tertawa yang nyaring sekali. Dinding
tembok tergetar dan telinga serasa pekak. Lama sekali ia lepaskan kesesakan dadanya
selama berpuluh tahun itu, dalam sebuah tertawa panjang yang memakan waktu hampir
seperempat jam lamanya.
Siu-lam mengikuti gerak-gerik orang aneh itu dengan penuh kewaspadaan. Ia kuatir
apabila penderitaan selama berpuluh tahun itu akan lebih menjadikan dia seorang manusia
yang lebih ganas.
Tetapi ternyata setelah puas tertawa, Shin Ki lalu duduk bersemedhi. Kedua matanya
dipejamkan dan mulailah ia melakukan penyaluran darah. Tak berselang berapa lama,
ubun-ubun kepalanya menguap hawa panas.
Siu-lam terkejut: “Ah, bukan main lwekang orang ini!”
Tiba-tiba Lam-koay Shin Ki membuka mata dan memanggil: “Engkoh kecil, harap
menyingkir ke samping!”

Siu-lam segera mundur ke ambang pintu. Tiba-tiba Lam-koay merang sekuat-kuatnya.
Sekali kedua bahunya bergerak, besi borgolan yang menelikung punggungnya putus
menjadi dua dan jatuh berkerontangan di lantai. Kemudian ia menghampiri Siu-lam.
Karena berpuluh tahun disekap dalam penjara yang kurang sinar matahari, wajah orang
aneh itupun pucat seperti mayat. Dan rambutnya yang tak terawatt memanjang itu,
menambah keseraman.
“Dia seorang ganas. Hatinya sukar diduga. Lebih baik kujaga,” diam-diam Siu-lam
bersiap-siap.
Begitu tiba di samping Siu-lam, Lam-koay Shin Ki segera ulurkan tangannya yang kurus
mencengkeram tangan Siu-lam.
“Aku Shin Ki, belum pernah menerima budi orang. Budi pertolonganmu melepaskan tali
pengikat tanganku itu, merupakan budi yang takkan kulupakan seumur hidup!” kata Shin
Ki.
Siu-lam terkesiap, serunya: “Apakah maksud lo-cianpwe?”
Lam-koay Shin Ki tertawa lebar: “Maksudku, setelah kucari Kak Seng dan
menempurnya, kita angkat saudara.”
Siu-lam menghela napas longgar: “Ah, kiranya begitu. Tetapi mana wanpwe sembabat
menjadi saudara angkat lo-cianpwe?”
Lam-koay Shin Ki marah.
“Seumur hidup aku belum pernah menerima budi orang. Engkau telah menolong aku,
apakah itu bukan berarti melepas budi? Jika engkau menolak maksudku, terpaksa engkau
harus kubunuh!”
Siu-lam merenung sejenak, ujarnya: “Baiklah kita basmi dulu musuh-musuh Siau-lim-si
itu barulah nanti kita bicarakan lagi!”
Ternyata dalam hati kecilnya, Siu-lam enggan menerima tawaran Lam-koay. Ia tahu
nama orang aneh itu termasyhur sekali. Apabila dia mengangkat saudara dengan orang
itu ia pasti dipandang rendah oleh dunia persilatan golongan putih. Maka ia sengaja
menunda persoalan itu.
Tetapi tiba-tiba Shin Ki mencengkeram lebih keras. Siu-lam terkejut. Ia rasakan
tangannya seperti dijepit kait besi. Ia hendak mengerahkan tenaga perlawanan, tetapi
kalah dulu. Shin Ki sudah menguasainya.
“Engkau hanya mempunyai pilihan, menerima permintaanku atau mati!” dengus orang
aneh itu.
Siu-lam menimang. Manusia Lam-koay itu ganas dan telengas. Apa yang dikatakan
tentu dilakukan. Namun meluluskan permintaan karena di bawah ancaman, Siu-lam
merasa kehilangan kegagahannya sebagai seorang lelaki. Tetapi ah, jika menolak, ia pasti
mati….
Sebelum ia dapat mengambil keputusan, tiba-tiba Lam-koay Shin Ki kendorkan
cengkeramannya.
“Hm, tenaga dalammu terpaut jauh sekali dengan aku. Jika kubunuh dengan cara
begini, engkau pasti menjadi setan penasaran. Hayo, kita cari tempat yang lapang untuk
adu kepandaian. Biarlah engkau mati dengan puas!” kata Lam-koay seraya hendak
melangkah pergi.
Belum Siu-lam menyahut, tiba-tiba terdengar suara orang berseru dengan nada dingin:
“Ha, buyung. Jika engkau ingin hidup, kemarilah dan bukalah tali pengikatku. Di kolong
jagad ini, kecuali aku Pak-koay Ui Lian, tiada seorang manusia yang mampu melawan
kesaktian Lam-koay dengan ilmu lwekangnya Kiang-goan-gi-kang dan pukulan Cek-yangciang!”
Siu-lam kerutkan dahi. Ia merasa, melepas seorang Lam-koay sudah cukup berbahaya
apalagi melepaskan seorang Pak-koay lagi….

Lam-koay Shin Ki tertawa nyaring: “Hei, Ui lokoay, tunggulah duapuluh tahun lagi, nanti
kudatang melepaskanmu!”
Tiba-tiba terlintas dalam benak Siu-lam. Ia telah berjanji untuk melaksanakan
permintaannya kedua paderi Kak Bong dan Kak Hui siansu. Demi menghadapi keganasan
gerombolan Beng-gak yang hendak menghancurkan Siau-lim-si, ia harus
mengesampingkan segala perasaan pribadi. Kak Bong siansu telah menyuruhnya
melepaskan Lam-koay dan Pak-koay.
“Shin lokoay, kalau engkau takut nanti ada manusia yang dapat mengalahkan engkau,
rintangilah anak muda itu supaya jangan dapat melepaskan aku…” tiba-tiba Pak-koay Ui
Lian berseru mengejek.
“Huh, apa kau kira kau takut kepadamu?”
Lam-koay Shin Ki menggeram: “Terserah kalau dia mau melepaskan engkau. Aku
takkan menghalanginya!”
Pak-koay Ui Lian tertawa dan berseru kepada Siu-lam: “Buyung, jika engkau benarbenar
mau melepaskan aku, jangan kuatir Lam-koay dapat mencelakai dirimu….”
Nada tertawanya macam burung hantu memanggil-manggil mayat dalam kuburan.
Ucapannya nyaring, setiap patah kata melengking tajam memekakkan telinga. Jelas
bahwa dia hendak memamerkan kesaktiannya kepada Siu-lam melalui hamburan tertawa.
Belum sempat Siu-lam menyahut, suara Pak-koay sudah melengking lagi: “Ketahuilah,
buyung. Di dalam dunia, hanya aku seorang yang mampu menandingi Lam-koay Shin Ki.
Tak perduli saat ini dia bersumpah apa saja kepadamu tetapi pada saat dia ingat bahwa
ada kemungkinan engkau datang kemari melepaskan aku, dia tentu segera membunuhmu.
Tetapi apabila sekarang engkau melepaskan aku, kelak pikiran Lam-koay untuk
membunuhmu, tentu tak ada lagi. Percayalah, sekalipun dia seorang maha ganas, tetapi
dia merasa berhutang budi kepadamu. Asal jangan bertindak hal yang kelewat
membuatnya marah, dia tentu takkan mencelakakan dirimu!”
Hanya berhenti sejenak, Pak-koay Ui Lian terus melanjutkan kata-katanya lagi: “Apalagi
engkau mempunyai rencana untuk membantu Siau-lim-si. Meskipun Lam-koay Shin Ki
sakti, tenaga satu orang itu terbatas. Jika engkau lepaskan aku, ho, sekali Lam-koay dan
Pak-koay bersatu padu, siapakah manusia di dunia yang sanggup melawannya….”
Siu-lam anggap pernyataan Pak-koay itu benar. Melepaskan keduanya, akan
merupakan dua keseimbangan yang menindas diri mereka satu sama lain.
“Shin lo-cianpwe, bagaimana dengan pribadi Pak-koay Ui Lian itu?” ia bertanya kepada
Lam-koay Shin Ki.
Sengaja Siu-lam berseru dengan nyaring agar terdengar Pak-koay Ui Lian. Dengan
begitu tentulah Lam-koay Shin Ki sungkan melarangnya.
Sahut Lam-koay dengan dingin: “Jika paderi tua itu menyuruh engkau lepaskan kami
berdua, lepaskanlah dia!”
Kesempatan itu tak disia-siakan Siu-lam. Segera ia loncat ke ruang sebelah. Tapi tak
dapat melihat pintunya.
Rupanya Pak-koay tahu kesukaran pemuda itu. Maka berserulah ia: “Kamar tempatku
tadi, ada sebuah pintu batu. Doronglah pintu itu dan masuklah sepuluh langkah ke kiri.
Di situlah tempat penjara Pak-koay Ui Lian!”
Setelah menurutkan petunjuk Lam-koay, benar juga, Siu-lam telah tiba di sebuah
ruangan. Seorang manusia aneh yang rambutnya terurai panjang tengah duduk bersila
dengan tangan dan kaki terikat.
“Adakah lo-cianpwe ini Pak-koay Ui Lian?” seru Siu-lam sambil beri hormat.
Orang berambut putih itu mengangkat wajahnya. Sepasang matanya yang berkilatkilat
tajam, menatap Siu-lam. Dan menyahutlah ia pelahan-lahan: “Benar, aku Ui Lian.”
Siu-lam tak berani beradu pandang dengan orang itu. Cepat ia menghampiri, tali ulat
sutera yang mengikat tangannya lalu kakinya.

Pekerjaan itu memakan waktu lebih kurang setengah jam. Selama itu ia tak mau
berkata lagi.
Setelah bebas, Pak-koay Ui Lian tertawa sekeras-kerasnya: “Ho, kukira seumur hidup
aku harus tinggal dalam neraka ini. Benar-benar aku tak mengira akan bebas pada hari
ini!”
Ia melangkah keluar tapi tiba-tiba ia berhenti. Ia teringat akan Siu-lam.
“Buyung, atas pertolonganmu melepaskan tali pengikat tangan dan kakiku, aku takkan
melupakan. Aku bersedia meluluskan tiga buah permintaanmu. Setelah itu, kita sudah
tidak punya ikatan budi lagi. Adakah kita nanti menjadi kawan atau lawan, tergantung
bagaimana anggapanku terhadapmu!”
Siu-lam tertawa, sahutnya: “Pertama, ingin aku mengetahui bagaimana ruang yang
berdinding setebal ini, lo-cianpwe dapat mengetahui gerak-gerikku dengan Shin Ki locianpwe?”
Pak-koay Ui Lian tertawa keras: “Jika pertanyaan itu kujawab, berarti aku sudah
meluluskan sebuah permintaanmu. Dan kau hanya berhak mengajukan dua buah
permintaan saja!”
“Sudah tentu,” sahut Siu-lam, “apa yang kutanyakan ini takkan membuang percuma
saja bantuan lo-cianpwe.”
Pak-koay Ui Lian tertawa lagi, serunya: “Bagus buyung kau pintar bicara! Tetapi
benarkah kau takkan menyesal menggunakan kesempatan pertama hanya dengan
bertanya soal itu?”
“Seumur hidup wanpwe tak pernah menyesali apa yang telah wanpwe ucapkan!”
Pak-koay Ui Lian geleng-geleng kepala tertawa: “Sebenarnya soal semudah itu tak kau
tanyakan lagi. Asal kau mau perhatikan ruang ini dengan teliti, kau tentu akan mendapat
jawabannya!”
Siu-lam terkejut. Ia memandang ke segenap sudut dan ah… kira-kira satu tombak di
atas dinding ruang, ia melihat sebuah lubang sebesar jempok tangan.
“Tolol…!” diam-diam Siu-lam memaki dirinya sendiri mengapa mengajukan pertanyaan
tadi. Kini ia mendapat pelajaran, bahwa dalam menghadapi sesuatu tak boleh pikirannya
terpengaruh oleh rasa kekaguman yang berlebih-lebihan sehingga mengabaikan semua
perhatiannya.
Namun sudah terlanjur, iapun berseru dengan garang: “Oh, kiranya begitu. Kukira locianpwe
gunakan ilmu Thian-thong-gan!”
Sambil mengurut jenggotnya yang putih panjang, berkatalah Pak-koay Ui Lian dengan
girang: “Pelajaran pertama ini, kau untung separuh rugi separuh. Rugi, karena suatu apa,
aku telah memenuhi salah sebuah dari tiga permintaanmu. Tetapi untung, karena
kesalahan itu akan merupakan pelajaran pahit bagimu untuk selanjutnya
mempertimbangkan semasak-masaknya sebelum mengajukan permintaan!”
Siu-lam hanya tersenyum. Ia mendahului jalan keluar. Sedang Pak-koay Ui Lian masih
tegak bersandar pada dinding ruangan. Wajahnya tegang dan matanya berkilat-kilat
memandang ke depan pintu.
Sambil membungkuk, Siu-lam mempersilahkan orang aneh itu keluar.
“Lekas menyingkir!” tiba-tiba Lam-koay Shin Ki memberi isyarat tangan kepadanya.
Memang Siu-lam selalu waspada. Melihat wajah orang aneh dari selatan (Lam-koay),
tahulah Siu-lam tentu terjadi sesuatu. Buru-buru ia loncat ke sudut.
Baru ia berdiri tegak, tahu-tahu orang aneh dari utara (Pak-koay) Ui Lian sudah keluar
dari pintu penjara itu.
“Shin lokoay, entah selama beberapa puluh tahun ini, sampai di manakah tenaga sakti
Kian-goan-khi-kang dan pukulan Cek-yan-ciang itu,” seru Pak-koay Ui Lian.
“Jika kau ingin tahu, boleh cobalah!” sahut Lam-koay Shin Ki dengan dingin.
“Bagus, bagus!” seru Pak-koay Ui Lian seraya mengangkat tangan dan mendorong ke
muka.

Saat itu Siu-lam rasakan serangkum hawa dingin membaur dari gerak pukulan orang
aneh itu, diam-diam ia terkejut.
“Ui-heng, pukulanmu Hian-ping-ciang, entah bertambah hebat berapa kali lipat dari
dulu?” Lam-koay Shin Ki tertawa dingin seraya menyongsong dengan tangan kanan.
Dan serangkum hawa panas segera menghambur dari pukulan orang aneh itu.
Angin berhawa dingin dan angin berhawa panas segera saling melanda. Ruangan batu
seperti diamuk oleh deru angin keras.
Tiba-tiba Pak-koay Ui Lian tertawa mengakak: “Huh, Shin-heng, pukulanmu juga jauh
lebih dahsyat dari dahulu.”
“Harap lo-cianpwe hentikan adu tenaga. Wanpwe hendak berkata!” sambil berseru Siulam
terus loncat ke tengah-tengah kedua orang aneh itu.
“Lo-cianpwe berdua sudah menyanggupi wanpwe untuk membantu Siau-lim-si. Saat ini
musuh mungkin sudah berada dalam gereja. Jika lo-cianpwe berdua hendak menguji
kemajuan pukulan lo-cianpwe, tiada sasaran yang lebih tepat daripada musuh yang datang
menyerang itu!” seru Siu-lam pula.
Lam-koay Shin Ki mendengus: “Ui-heng, jika engkau menganggap bahwa pukulanmu
Hian-ping-ciang itu merupakan penakluk dari pukulanku Cek-yan-ciang, kita tentuka saja
di suatu tempat yang sepi di mana kita dapat mengadu kesaktian dengan tenang!”
Pak-koay Ui Lian tertawa: “Agaknya kita berdua ini seperti minyak dengan air. Sukar
untuk hidup bersama dalam dunia persilatan. Cepat atau lambat, kita tentu akan
berhadapan dalam suatu pertempuran adu jiwa….”
Ia berhenti sejenak lalu berkata pula: “Tetapi aku hendak mengatakan sepatah kata.
Dan ini memang perlu kukatakan di muka!”
“Silahkan,” kata Lam-koay Shin Ki, “apapun yang Ui-heng kehendaki, aku tentu
bersedia melayani!”
“Sebenarnya bukan suatu hal yang sulit. Ialah sebelum kita bertempur, lebih dulu kita
harus mencari Kak Seng taysu untuk menuntut balas tindakannya yang telah
memenjarakan kita selama berpuluh-puluh tahun ini. Walaupun selama dalam penjara itu
kita juga memperoleh kemajuan tetapi tentu kalah pesat dengan kemajuan yang dicapai
Kak Seng taysu. Dengan tanganku seorang, kurasa sukar untuk mengalahkannya. Kalau
kita berdua menempurnya, tentu harapan besar dapat membalas sakit hati kita itu.
Setelah itu baru kita cari suatu tempat untuk menentukan siapa yang berhak di dunia ini!”
kata Pak-koay Ui Lian.
“Lo-cianpwe berdua sudah berjanji sanggup membantu wanpwe untuk mengusir musuh
yang menyerang Siau-lim-si. Tentang budi dan dendam di antara lo-cianpwe berdua,
hendaknya dirunding lagi setelah urusan saat ini selesai!” buru-buru Siu-lam mendesak.
Berkata Pak-koay Ui Lian dengan tandas: “Aku tak perduli lawan atau kawan, pokoknya
akan menghantam setiap orang yang engkau perintahkan!”
“Terima kasih, lo-cianpwe. Itulah yang tepat!” sahut Siu-lam dengan gembira lalu
mendahului lari keluar.
Dengan cepat ketiga orang itu sudah tiba di persimpangan lorong. Setelah meneliti
sejenak, Siu-lam segera mengambil jalan yang mencapai Ciang-keng-kwat atau ruang
perpustakaan gereja Siau-lim-si.
Lorong di bawah tanah itu memang suatu lorong yang dicipta alam. Kemudian
diperbaiki oleh ketua Siau-lim-si menjadi semacam titian tangga yang mendaki ke atas.
Dalam pada berjalan mendaki itu, Siu-lam tak lepas dari suatu rasa cemas. Kedua
orang aneh itu seperti air dengan minyak. Watak mereka pun aneh sekali. Apabila tibatiba
mereka kumat penyakitnya, tentu keadaan akan menjadi runyam. Tetapi demi
kepentingan menyelamatkan Siau-lim-si, Siu-lam mengesampingkan kesemuanya itu.
Pikirannya hanya tertuju satu….

“Huh…” tiba-tiba ia berteriak tertahan ketika kakinya menginjak tempat kosong
sehingga hampir saja ia terjerumus jatuh. Ah, kiranya ia sudah tiba di ujung titian. Di
hadapannya kini terbentang sebuah tanah datar seluas satu tombak.
“Harap lo-cianpwe suka menunggu sebentar. Wanpwe hendak minta pintu!” kata Siulam
kepada kedua orang aneh itu.
Dengan teliti ia memandang ke sekeliling. Akhirnya ia melihat sebuah batu yang
menonjol. Cepat ia menghampiri dan menarik batu itu. Sebuah lubang pintu segera
terbuka. Tapi serentak dengan terbukanya pintu itu, hidungnya tersambar hawa anyir dari
darah orang. Ah, seorang paderi jubah biru tampak menggeletak menjadi mayat.
Kedua tangan paderi itu memegang erat-erat pada pintu batu. Darah pada
punggungnya sudah membeku hitam. Lantaipun penuh dengan noda darah. Tentulah dia
menderita luka berat lalu hendak meloloskan diri dari pintu terowongan itu. Tetapi dikejar
musuh dan dihantam mati.
Pemandangan itu menyebabkan Siu-lam bergidik. Tiba-tiba ia teringat akan kematian
suhunya yang mengenaskan dahulu. Kemudian ia teringat akan luka kedua paderi tua
yang telah menyuruhnya melepaskan kedua Lam-koay dan Pak-koay itu. Ah, apakah Siaulim-
si sudah hancur? Apakah ia datang terlambat?
Dengan langkah berat, ia ayunkan langkah. Ia merasa seperti orang yang memanggul
suatu beban yang maha berat. Kesanggupannya untuk melaksanakan pesan kedua paderi
tua Kak Bong dan Kak Hui merupakan suatu perintah maut. Karena terang gerombolan
Beng-gak amat tangguh sekali.
Tidak demikian dengan Lam-koay dan Pak-koay. Mereka tidak mengacuhkan suatu
apa. Mereka berseri gembira karena bebas dari penjara di bawah tanah. Siapa
gerombolan Beng-gak dan bagaimana keganasan mereka, setitikpun tak dihiraukan.
Mereka tiba di sebuah ruang yang luas. Penuh dengan lemari dan rak buku.
Siu-lam menghela napas panjang. Untuk melonggarkan rasa cemas yang menghimpit
dadanya. Kemudian ia melangkah keluar.
Timbul setitik harapan dalam hatinya. Mudah-mudahan kejadian ngeri dalam ruang
perpustakaan itu, dikarenakan serangan mendadak dari pihak Beng-gak.
Dia teringat akan barisan Lo-han-tin gereja Siau-lim-si yang termasyhur. Kiranya
barisan itu tentu tak sampai hancur.
Semangat Siu-lam bangkit pula. Segera ia lari keluar.
Walaupun kedua orang aneh itu mempunyai watak yang aneh, tetapi mereka adalah
tokoh-tokoh yang ternama. Dalam soal janji, mereka sangat mengindahkan. Mereka pun
mengikuti Siu-lam.
Sekeluarnya dari ruangan perpustakaan, Siu-lam hanya menjumpai bangunanbangunan
yang sudah menjadi tumpukan puing. Gereja sunyi-senyap seperti sebuah
kuburan.
Memandang ke sekeliling, ia tak melihat seorang paderipun jua.
“Tempat ini merupakan pusat kesibukan para paderi. Jika di sini tiada tampak seorang
paderipun juga, apakah gereja ini benar-benar telah ditumpas gerombolan Beng-gak?”
diam-diam Siu-lam terkejut.
Tetapi anehnya, ia tak melihat sesosok mayatpun juga. Segera ia menuju ke muka.
Merupakan ruang besar kedua dari gereja Siau-lim-si. Ia tertegun ketika mendengar suara
orang berdoa dengan nada berat. Ketika memandang ke muka, kejutnya bukan kepalang.
Di halaman luas dari ruang besar kedua itu, tujuh delapan ratus paderi tengah duduk
bersila. Mereka merangkap kedua tangan dan masing-masing pejamkan mata. Wajah
mereka mengerut kedukaan dalam.
Dari alis mereka yang mengerut naik, mengunjukkan mereka seperti tawanan yang
penasaran karena tak dapat melawan perintah yang sewenang-wenang…..
Siu-lam menghela napas panjang. Segera ia melintasi sebuah pintu bundar dan
menghampiri ke halaman.

Lam-koay dan Pak-koay saling bertukar pandang lalu mengikuti jejak Siu-lam.
Kawanan paderi yang duduk pada deretan muka, segera membuka dan memandang
Siu-lam. Begitu mereka melihat kedua orang aneh di belakang Siu-lam, mereka terbelalak.
Tetapi pada lain kilas, wajah mereka kembali menampilkan kedukaan lagi.
Dalam keheranannya melihat kawanan paderi itu, Siu-lam berpaling ke arah ruang
besar. Di tengah ruangan tampak ketua gereja Siau-lim-si yang sekarang yakni Tay Hong
siansu. Di sebelah kanan kirinya, tegak rombongan paderi tingkat tinggi. Antara lain
terdapat Tay Ih, Tay Goan, Tay To dan lain-lain.
Yang membuat Siu-lam terkejut sekali ialah tiga sosok mayat yang menggeletak di
tengah ruangan. Ia kenal salah seorang korban itu ialah Tay Hui siansu, pejabat ketua
Siau-lim-si ketika Tay Hong siansu hilang di gunung Beng-gak. Sedang mayat yang
lainnya, ia tak kenal. Yang jelas mereka berdua ialah paderi-paderi Siau-lim-si yang
berusia tua. Diduga tentu paderi angkatan gelar Tay.
Melihat Siu-lam, Tay Hong siansu segera menegur keras: “Ruang ini merupakan ruang
permusyawarahan gereja Siau-lim-si. Kecuali anak murid gereja, orang luar tak
diperkenankan hadir. Pui sicu belum mendapat undangan, ini berarti menyalahi peraturan
gereja. Tapi mengingat usiamu masih muda dan juga pernah menolong loni maka kali ini
kuberi kelonggaran. Harap segera keluar dari ruang ini!”
Siu-lam tertegun. Memandang ke arah Tay Ih siansu dan Tay To siansu, tampak wajah
mereka pun menampilkan kedukaan dan penasaran yang dalam. Tak ubah seperti
rombongan paderi yang berkumpul di halaman itu.
“Walaupun yang dua itu tak kuketahui siapa orangnya, tapi mayat yang satu jelas
adalah Tay Hui siansu. Tay Hui berkedudukan tinggi dalam gereja Siau-lim-si. Bahkan dia
menjabat sebagai ketua gereja ketika Tay Hong siansu tak ada. Tapi kenapa jenazahnya
dibiarkan terkapar di lantai? Dan kenapa wajah semua paderi bermuram durja? Mereka
seperti tak puas dengan keadaan yang dihadapinya namun tak kuasa membantah. Ah,
tentu terjadi sesuatu yang tak wajar!” diam-diam Siu-lam menimang dalam hati.
Siu-lam berotak tajam. Keadaan yang tak wajar itu cepat menarik perhatiannya. Ia tak
menjawab teguran Tay Hong tadi, juga tak menuruti perintahnya. Dipandangnya ketua
Siau-lim-si itu dengan tak berkesiap.
Wajah Tay Hong berubah gelap, serunya: “Apa maksudmu memandang begitu rupa
kepadaku? Sudah kuberi kelonggaran tak kukenakan hukuman atas tindakanmu
memasuki tempat terlarang ini. Mengapa kau tak mau lekas pergi dan bahkan
memandang aku begitu rupa?”
Setelah mengawasi wajah Tay Hong siansu dengan seksama, Siu-lam tak melihat
sesuatu yang mencurigakan. Tay Hong siansu tetap serupa dengan Tay Hong siansu yang
tempo hari memimpin rombongan orang gagah menggempur Beng-gak.
Tiba-tiba Siu-lam teringat akan kelihayan orang Beng-gak. Bukan suatu mustahil Benggak
telah mengirim seorang yang wajahnya mirip sekali dengan Tay Hong siansu, untuk
mengobrak-abrik gereja Siau-lim-si. Pihak Beng-gak tahu bahwa kawanan paderi Siau-limsi
patuh sekali kepada ketuanya.
“Ah, tetapi dugaan itu belum bertandakan bukti-bukti. Sukar untuk menjatuhkan
tuduhan seperti itu,” akhirnya Siu-lam menarik kesimpulan.
Karena terjepit oleh perasaan dan kenyataan tentang diri Tay Hong, maka Siu-lam
tegak tertegun.
“Jika benar orang itu Tay Hong siansu, memang sebagai orang luar aku tak berhak
mencampuri urusan rumah tangga gereja. Tetapi menilik keadaan gereja sudah tak
karuan, sungguh tak sampai hatiku meninggalkan ruang ini,” Siu-lam masih tetap
menimang.
Melirik ke arah Tay To siansu, ia dapatkan wajah paderi menunjukkan kedukaan hebat.
Sepasang mata paderi itu berkilat-kilat dan berulang kali memandang kepadanya dengan
sorot mata mengharap bantuan.

Isyarat pancaran mata Tay To siansu itu menyadarkan Siu-lam. Sesuai dengan
dugaannya, memang keadaan saat itu tak wajar. Suasana ruang besar diliputi oleh
semacam hawa pembunuhan.
“Jika wanpwe tak mau pergi?” akhirnya ia menjawab perintah Tay Hong siansu tadi.
Marahlah ketua Siau-lim-si itu, serunya: “Gereja Siau-lim-si masakan membiarkan kau
bertindak liar. Jika kau membangkang, jangan salahkan loni bertindak keras kepadamu!”
Siu-lam tertawa: “Sejak berpisah dengan taysu di Beng-gak dulu, tak sedetikpun
pikiranku lepas dari peristiwa Beng-gak itu. Wanpwe selalu memikirkan keselamatan
kaum persilatan dan ingin sekali menuturkan peristiwa yang wanpwe alami kepada
taysu….”
“Loni sedang mengadakan pembersihan dalam gereja, tak sempat mendengar
ocehanmu…!” bentak ketua Siau-lim-si itu.
Ia segera suruh dua orang paderi jubah kuning yang berada di belakang untuk
mengusir Siu-lam.
Sekali melesat kedua paderi itu tiba di hadapan Siu-lam.
Kedua paderi itu paderi dari golongan Tay. Tetapi anehnya walaupun mereka
perintahkan mengusir, tetapi ketika berhadapan dengan Siu-lam, mereka menundukkan
kepala. Setitikpun mereka tak mengunjukkan kemarahan kepada pemuda itu.
Melihat itu Siu-lam segera memberi hormat kepada Tay Hong siansu. Serunya sambil
tertawa: “Lo-cianpwe seorang angkatan tua yang diindahkan kaum persilatan. Wanpwe
bukan murid Siau-lim-si. Terhadap lo-cianpwe, wanpwe memang menaruh pengindahan
tetapi bukannya takut!”
Tay Hong siansu gerakkan tangan memberi perintah kepada kedua paderi jubah kuning
itu: “Lekas tindaklah dia….”
Seperti patung bernyawa, kedua paderi itu mengiyakan dan serempak menghantam
Siu-lam.
Siu-lam menghindar pukulan kedua paderi it uterus melesat ke tengah ruangan.
Diangkatnya mayat Tay Hui siansu. Ternyata dada pejabat ketua itu terdapat luka
tusukan senjata tajam yang menembus sampai ke punggung. Sedang badik yang
mencabut nyawa paderi itu masih tetap menancap di dadanya.
Kedua paderi jubah kuning yang gagal memukul itu, segera berputar tubuh dan loncat
menerjang Siu-lam lagi.
“Berhenti!” tiba-tiba Lam-koay Shin Ki yang berdiri di samping kiri pintu, membentak
seraya lepaskan pukulan dari jauh.
Salah seorang paderi jubah kuning yang baru loncat ke tempat Siu-lam, tiba-tiba
rasakan punggungnya dilanda oleh serangkum angin kuat. Buru-buru ia mengempos
semangat dan cepat-cepat turun ke tanah kemudian menghantam.
Cepat sekali paderi itu mengadakan reaksi. Tetapi betapapun ia tetap kalah cepat
dengan angin pukulan Lam-koay Shin Ki. Begitu tiba di lantai, tubuhnya terhuyunghuyung
mundur dua langkah dan, huak… mulutnya menguak darah segar lalu jatuhlah ia
terduduk di lantai.
Melihat Lam-koay mendahului turun tangan dan berhasil merubuhkan seorang paderi,
Pak-koay Ui Lian pun tak mau ketinggalan. Sambil tertawa meringkik, ia menampar
dengan lengan bajunya.
Paderi jubah kuning satunya yang menyerang Siu-lam dari samping kiri, seketika
rasakan dirinya dilanda oleh serangkum hawa dingin. Ia menggigil dan rubuh ke tanah….
Melihat itu berserulah Tay Hong siansu dengan marah: “Hai, siapa yang berani melukai
paderi Siau-lim-si?”
“Pernah apa engkau dengan si paderi tua Kak Seng?” Pak-koay Ui Lian balas bertanya.
Mendengar orang menyebut tentang diri mendiang suhunya, Tay Hong siansu
terkesiap: “Kak Seng taysu adalah mendiang guru loni!”
Lam-koay Shin Ki tertawa nyaring: “Jika betul begitu, engkau termasuk musuh kami!”

Tay Hong siansu memang belum pernah diberi tahu suhunya tentang kedua orang aneh
Lam-koay dan Pak-koay itu. Maka ia tak kenal siapa kedua tokoh aneh tersebut.
Tiba-tiba Siu-lam yang masih memeriksa mayat Tay Hui siansu berkata: “Harap
locianpwe berdua jangan tergesa turun tangan dulu. Ijinkanlah wanpwe menyelidiki
peristiwa ini sampai jelas!”
Kedua tokoh aneh itu hanya bertukar pandang dan tak mengucap apa-apa.
“Apakah lo-siansu ini meninggal karena bunuh diri?” tanya Siu-lam kepada Tay Hong
siansu.
Sahut Tay Hong dengan dingin: “Urusan rumah tangga gereja, mana boleh orang lain
ikut turut campur. Tay Goan sute, lekas usir orang-orang itu!”
Tay Goan siansu itu mengangkat muka, sejenak memandang kepada Siu-lam lalu
perlahan-lahan menghampirinya.
Melihat sikap siansu itu, tahulah Siu-lam bahwa orang sesungguhnya tak bermaksud
hendak turun tangan. Hanya karena tunduk pada perintah terpaksa Tay Goan siansu
bertindak.
“Apakah yang sesungguhnya terjadi dalam ruang permusyawarahan ini? Sunyi tapi
suasananya tegang sekali. Dan tampaknya segenap paderi yang hadir di sini, memendam
rasa tidak puas terhadap Tay Hong siansu…” diam-diam Siu-lam membatin.
Saat itu Tay Goan siansu sudah tiba di hadapan Siu-lam. Paderi itu memberi hormat
dan berkata: “Pui sicu, maafkan loni bertindak kurang ajar terhadap sicu!”
Singkat kata-katanya, tapi nadanya penuh rasa kedukaan yang dalam.
“Harap jangan tergesa-gesa turun tangan, lo-siansu. Harap lo-siansu suka
memperkenankan wanpwe bicara!” kata Siu-lam.
Tay Goan siansu tertawa getir: “Jika Pui sicu hendak mengatakan sesuatu, silahkan
berhadapan dengan ketua gereja ini. Peraturan Siau-lim-si keras sekali. Semua paderi
harus tunduk pada perintah ketua gereja. Ini sudah turun-temurun sejak dulu kala.
Percuma sicu hendak mengatakannya kepada loni karena toh, loni tak dapat mengambil
keputusan apa-apa!”
Mendengar itu, tertawalah Tay Hong siansu dengan sinis. Kemudian ia mengacungkan
tongkat kepemimpinan gereja yang disebut tongkat Liok-giok-hud-ciang (tongkat batu
kemala hijau), serunya nyaring: “”Kepala bagian Kian-wan Tay Goan siansu, sengaja
hendak membantah perintah. Berarti menyalahi peraturan. Hukumannya harus segera
membunuh diri.”
Tay Goan tertawa hambar. Cepat ia berputar diri menghadap Tay Hong. Serunya:
“Entah Ciang-bun-jin suheng berdasarkan pasal berapa dari peraturan hukuman bunuh
diri itu!”
Tay Hong siansu agak terkesiap, bentaknya:
“Berani membangkang kepada ketua, sudah termasuk salah satu pasal yang dapat
dijatuhi hukuman mati. Maka dalam kedudukan sebagai ketua Siau-lim-si, sekarang
kujatuhi engkau hukuman supaya menghantam ubun-ubun kepalamu sendiri….”
Tiba-tiba seorang paderi tua yang berada di samping, serentak berbangkit, serunya:
“Dalam kedudukan sebagai ketua bagian hokum, loni hendak membela kesalahan Tay
Goan sute. Ciang-bun sute telah menjatuhkan hukuman secara tidak adil. Sebagai salah
seorang kepala bagian yang tergolong dalam kelima tianglo, walaupun berani membantah
perintah ketua, tetapi Tay Goan sute tak dapat dijatuhi hukuman mati!”
Ketika Siu-lam berpaling mengawasi, ternyata yang bicara itu adalah Tay Ih siansu.
Mata Tay Hong siansu berkilat memandang kepada Tay Ih, serunya: “Atas nama
tongkat Liok-giok-hud-leng, loni memutuskan supaya Tay Goan sute segera menghabisi
jiwanya sendiri dengan menghantam ubun-ubun kepalanya!”
Tay Hong menyertai ucapannya dengan menggerak-gerakkan tongkat kumala hijau itu.
Sekalian paderi yang melihat tongkat kumala itu serempak menundukkan kepala dan

pejamkan mata. Tay Ih siansu pun mendekap tangan lalu mundur tiga tindak ke
belakang.
Tay Goan siansu dengan lantang menjawab: “Omitohud! Suheng dengan gunakan
kekuasaan Liok-giok-hud-ciang memerintahkan loni supaya bunuh diri? Ah, sudah tentu
loni tidak berani melanggar perintah itu…. Para suheng sekalian, sute mohon maaf!”
Ucapan itu dibarengi dengan suatu gerakan menghantam batok kepalanya sendiri. Prak…
Tay Goan siansu rubuh mandi darah di tanah.
Siu-lam terkejut sekali. Ia tak menyangka Tay Goan akan mengambil keputusan begitu
pendek. Karena ia tengah menyanggah mayat Tay Hui siansu, maka ia tak keburu
mencegah perbuatan Tay Goan. Ia menjerit tertahan….
Sebaliknya wajah Tay Hong siansu tidak berubah, seolah-olah tak terjadi sesuatu.
Kemudian ia mengangkat tongkat Liok-giok-hud-ciang dan berseru nyaring: “Tay Ih
suheng, harap menerima amanat Liok-giok-hud-ciang!”
Tay Ih siansu seorang paderi tua yang penuh dengan toleransi besar. Selain ilmu silat,
ia pun mempunyai pengetahuan ilmu kebatinan yang tinggi. Tetapi demi melihat suasana
bunuh-membunuh antara sesama suheng dan sute, ia tak dapat menahan getaran hatinya
lagi. Dua titik air mata menetes turun.
“Apakah Ciang-bun-hong-tiang hendak perintahkan kepadaku?” tanyanya.
“Suheng adalah ko-chiu utama dari paderi Siau-lim-si angkatan ketiga. Terimalah
amanat tongkat Liok-giok-hud-ciang ini. Dalam lima puluh jurus harus dapat membunuh
orang yang berani menyelundup ke tempat terlarang sini….”
“Jika dalam lima puluh jurus siau-heng gagal mengalahkan mereka…?”
“Jika gagal, harap menebus dosa dengan kematian!” tukas Tay Hong siansu.
Tay Ih siansu pejamkan mata. Wajahnya mengerut gelap. “Jika siau-heng menolak
amanat Liok-giok-hud-ciang itu, bagaimanakah hukumannya?”
“Duduk menghadap ke utara, mencabut golok dan bunuh diri!”
“Itulah,” sahut Tay Ih tak gentar, “paling-paling hanya mati. Siau-heng memberanikan
diri sekali ini untuk menolak amanat Liok-giok-hud-ciang!”
Habis berkata ia terus berputar tubuh. Duduk menghadap ke arah utara.
Tay Hong marah. Ia menghampiri perlahan-lahan. “Suheng berani menolak amanat
Liok-giok-hud-ciang? Sungguh suatu perbuatan yang memalukan para sucou gereja Siaulim-
si!”
Sahut Tay Ih: “Ciangbun sute, hendaknya jangan menyebut-nyebut tentang para
leluhur guru….”
Ia menghela napas panjang, kemudian berkata lagi: “Tak perlu menyebut para leluhur
kita. Cukup terhadap suhu kita saja. Beliau telah melimpahkan kepadamu budi yang
besar dan menumpahkan seluruh harapannya. Toa-suheng kita, pun demi kepentinganmu
telah meninggalkan gereja ini sehingga sampai sekarang sudah berpuluh tahun tiada
beritanya lagi….”
Rupanya Tay Hong tersentuh hatinya mendengar kata-kata suhengnya itu. Ia
termenung diam.
Tiba-tiba Tay Ih siansu berbangkit bangun, ujarnya: “Adalah karena kepercayaan suhu,
maka peraturan Siau-lim-si yang turun-temurun telah dilanggar. Pengangkatan sute
sebagai ciangbunjin adalah melanggar peraturan itu. Berat nian kewajiban yang sute
harus lakukan. Jika sute tak dapat mengembangluaskan nama Siau-lim-si, itu sudah
berarti melanggar kepercayaan insu (guru yang berbudi). Apalagi jika sute sampai
bertindak menumpas gereja ini, entah bagaimana sute kelak akan
mempertanggungjawabkan apabila sute besok menghadap insu di alam baka!”
Wajah Tay Hong mengerut dalam. Tetapi dari pancaran seri wajahnya, agaknya ia
sadar tak sadar akan ucapan suhengnya itu. Dipandangnya Tay Ih siansu dengan tajam.
Sekonyong-konyong ketua Siau-lim-si itu mengangkat tongkat Liok-giok-hud-ciang terus
diayunkan ke kepala Tay Ih siansu.

Sesungguhnya Tay Ih siansu sudah mengetahui sikap sutenya itu. Akan tetapi karena
ia kuatir akan merusakkan tongkat pusaka gereja, maka ia tak berani melawan dan hanya
tundukkan kepala menanti kematian.
Tetapi Siu-lam sudah siap. Tak mau ia melihat seorang paderi berilmu harus
mengorbankan jiwanya secara sia-sia. Cepat ia melesat maju. Tangan kanan
menghantam Tay Hong, tangan kiri menyambar tongkat Liok-giok-hud-ciang.
Tay Hong menghindar ke samping. Ia turunkan tongkat untuk menutuk perut Siu-lam.
Tetapi anak muda itupun tak kurang gesitnya. Ia miringkan tubuh seraya menerjang
maju. Setelah terhindar dari ujung tongkat, ia segera lepaskan dua buah pukulan.
Untuk yang kedua kalinya Tay Hong terpaksa harus menghindari serangan kilat dari
pemuda itu.
Siu-lam tak mau lanjutkan serangannya. Ia memandang ke arah sekalian paderi yang
hadir di ruang itu. Tampak wajah mereka menampilkan kemuraman dan kegelisahan.
Jelas mereka tak tahu apa yang harus dilakukan saat itu.
Tay Hong siansu memutar tongkat kumala dan berseru nyaring: “Tay Ih suheng, lekas
usir budak ini keluar!”
Tay Ih merenung sejenak. Akhirnya ia melangkah pelahan-lahan dan menghardik Siulam:
“Segenap murid Siau-lim-si, selalu taat kepada amanat tongkat Liok-giok-hud-ciang.
Begitu tongkat itu muncul berarti sama dengan para leluhur cousu Siau-lim-si
menampakkan diri. Perbawa kekuasaannya mutlak sekali….”
Siu-lam tertawa hambar: “Tetapi aku bukan murid Siau-lim-si. Rasanya aku tak perlu
harus mentaati amanat tongkat pusaka itu….”
“Tetapi sebagai murid Siau-lim-si, loni tak boleh tidak harus taat akan amanat tongkat
Liok-giok-hud-ciang itu!” tukas Tay Ih.
“Apakah maksud lo-cianpwe hendak mengusir wanpwe dari ruang ini?” Siu-lam
menegas.
“Loni sukar membantah amanat Liok-giok-hud-ciang. Harap Pui-sicu suka memaklumi!”
Memandang ke arah Tay Hong siansu, Siu-lam melihat mata ketua Siau-lim-si berkilatkilat
bengis sekali. Jelas ketua Siau-lim-si itu bergerak hendak mengenyahkannya dari
ruang itu. Namun jika ia keluar dari situ, jelas tentu berpuluh korban akan jatuh. Bukan
saja paderi golongan angkatan Tay, pun beratus-ratus paderi yang berada di halaman,
akan tumpas binasa karena mentaati amanat Liok-giok-hud-ciang yang gila-gilaan.
Apabila dugaan Siu-lam tak meleset, Siau-lim-si pasti akan lenyap dari dunia persilatan.
Sebuah partai persilatan yang telah harum namanya selama beratus-ratus tahun, dalam
sekejap mata saja akan habis ludas.
Siu-lam berdiri bulu romanya ketika membayangkan peristiwa ngeri semacam itu.
“Ah, biarlah aku menyalahi Siau-li-si dan tak mau keluar dari ruangan ini daripada harus
melihat Siau-lim-si hancur lebur!” akhirnya ia mengambil keputusan.
“Jika wanpwe tak bersedia meninggalkan ruang ini?” tanyanya kepada Tay Ih siansu.
Tay Ih menghela napas panjang, ujarnya:
“Karena loni tak dapat membantah amanat dan sicu tak mau meninggalkan ruang ini,
terpaksa loni akan menyalahi sicu!”
Siu-lam berpaling ke arah Lam-koay dan Pak-koay lalu berkata dengan sungguhsungguh:
“Ratusan tahun yang lalu, gereja Siau-lim-si termasyhur sebagai pembasmi
kejahatan. Baik golongan putih maupun hitam, semua mengindahkan Siau-lim-si. Tetapi
keadaan saat ini ternyata berlainan. Jika aku pergi dari ruang ini dikuatirkan Siau-lim-si ini
akan hancur. Mungkin sejak saat ini nama Siau-lim-si itu akan terhapus dalam dunia
persilatan!”
Siu-lam mengucapkan kata-katanya dengan lantang sekali. Setiap patah kata bagai
pisau tajam menusuk ulu hati sekalian paderi Siau-lim-si. Tay Ih siansu berubah
wajahnya. Dia tundukkan kepala, rangkapkan kedua tangan dan mengucap Omitohud!

Melihat sekalian paderi tergerak hatinya, Siu-lam melanjutkan kata-katanya lagi: “Siaulim-
si termasyhur karena peraturannya yang keras. Tetapi masalah dunia ini, tidak abadi
sifatnya. Saat ini keadaannya berbahaya sekali. Menyangkut kelangsungan hidup atau
kehancuran Siau-lim-si. Dalam keadaan segmenting itu, rasanya sekalian leluhur Siau-limsi
yang bersemayam di alam baka tentu takkan menyalahkan, apabila para cianpwe suhu
melanggar peraturan itu!”
Dari ucapan itu, Siu-lam hendak memberi bisikan kepada sekalian paderi bahwa dalam
keadaan genting seperti saat itu, tak perlulah kiranya harus mengikat diri pada peraturanperaturan
tongkat Liok-giok-hud-ciang atau kedudukan Ciang-bun-jin (ketua)….
Diam-diam Tay Ih siansu membatin: “Tujuan Tay Hong sute sudah jelas. Dengan
mengandalkan kekuasaan tongkat Liok-giok-hud-ciang dan kedudukan sebagai Ciang-bunjin,
ia hendak menghancurkan Siau-lim-si. Dan tampaknya pribadi Tay Hong sute jauh
berbeda dengan yang lalu. Tentu terjadi sesuatu pada dirinya. Dalam keadaan seperti
saat ini hanya aku dalam kedudukanku sebagai suheng, dapat melawannya. Jika hal itu
memang dianggap melanggar peraturan gereja, biarlah kelak kutebus dengan kematian.
Dengan begitu Siau-lim-si takkan kehilangan gengsinya!”
Benih perlawanan mulai tumbuh, tetapi serempak dengan itu naluri kepatuhan akan
peraturan gereja, pun mencengkeram hatinya. Dua macam perasaan yang saling
bertentangan, bergolak hebat dalam batinnya.
Keadaan dalam ruang musyawarah itupun sunyi senyap….
Tiba-tiba terdengar suara tertawa semacam burung hantu mengukuk. Itulah suara
tertawa seram dari Pak-koay Ui Lian.
“Buyung, perlu apa kau ribut-ribut?”
Cepat Siu-lam berpaling ke arah tokoh aneh itu: “Bukankah lo-cianpwe berdua sudah
memahami arti kata-kata bahwa janji seorang ksatria itu sungguh teguh, seperti tegak
gunung Thaysan. Karena lo-cianpwe sudah sungguh membantuku, kuharap lo-cianpwe
menepati janji itu!”
Pak-koay Ui Lian mendengus: “Hm, setelah selesai menunaikan janjiku itu, tentu akan
kuberimu hajaran.”
Sekonyong-konyong terdengar suara musik mengalun. Dan serentak dengan itu
berubahlah Tay Hong siansu. Sambil memutar tongkat Liok-giok-hud-ciang ia segera
menerjang Siu-lam sambil berseru memerintahkan sekalian paderi: “Lekas bunuh orang
ini!”
Di bawah perintah dari tongkat pusaka gereja, sekalian paderi yang hadir di situ
serempak hendak bergerak.
Tetapi Tay Ih siansu cepat mencegahnya: “Harap sekalian sute jangan tergesa-gesa
turun tangan dulu. Biarlah dosa melawan amanat tongkat Liok-giok-hud-ciang suheng
yang memikulnya. Jelaslah sudah bahwa perangai Tay Hong sute telah berubah.
Rupanya seperti telah dikuasai orang. Demi kepentingan Siau-lim-si, kita harus
menyelidiki hal itu sejelas-jelasnya. Setelah hal itu jelas, barulah nanti suheng akan
menebus dosa di hadapan arwah semua leluhur Siau-lim-si!”
Yang hadir dalam ruangan, kebanyakan adalah paderi golongan gelar Tay. Jika bukan
ketua bagian tentulah berkedudukan sebagai tianglo atau penilik gereja.
Dalam hati mereka sudah marah sekali menyaksikan perbuatan Tay Hong yang dengan
mengandalkan kekuasaan tongkat pusaka dan kedudukannya sebagai ketua telah
membunuh Tay Hui, Tay Goan, Tay Seng dan Tay Hi. Tetapi karena kepatuhannya akan
peraturan gereja, mereka hanya dapat marah tapi tak berani menyatakan apa-apa. Maka
seruan Tay Ih yang bersedia mempelopori perlawanan terhadap tongkat Liok-giok-hudciang
itu, ternyata mendapat sambutan yang baik. Merekapun hentikan langkah.
Tay Ih mempunyai kedudukan yang tinggi dalam kalangan paderi golongan gelar Tay.
Bahkan ketua Siau-lim-si yang sekarang, yakni Tay Hong, adalah sutenya. Sekalian murid

Siau-lim-si menaruh perindahan tinggi kepadanya. Anjuran Tay Ih itu cepat mendapat
sambutan menyetujui.
Suara alunan musik itu makin lama makin dekat. Dan beberapa saat kemudian sudah
berada di luar ruangan besar.
Saat itupun pertempuran antara Tay Hong lawan Siu-lam, pun sudah mencapai babak
genting. Selain menggempur dengan tongkat kumala pun Tay Hong menyerempaki
dengan gerakan jari dan pukulan untuk menyerang lawan.
Siu-lam lebih banyak bertahan daripada menyerang. Dia menyadari bahwa sekalipun
para paderi itu tak puas dengan tindakan Tay Hong, tetapi jika ia sampai melukai ketua
Siau-lim-si itu, tentu akan menimbulkan kemarahan sekalian paderi.
Tay Ih dan sekalian paderi yang hadir di situ, hanya diam melihati pertempuran itu
saja. Mereka tak membantu Tay Hong, pun tidak mau menghentikan pertempuran itu.
Duapuluh jurus serangan telah dilancarkan Tay Hong namun kesemuanya itu dapat
dihindari Siu-lam.
Selama dalam pertempuran itu, sekalian paderi mendapat kesan bahwa ilmu
kepandaian Tay Hong siansu jauh sekali bedanya dengan dahulu. Walaupun serangannya
tetap menggunakan ilmu ajaran Siau-lim-si, tetapi gerakannya lambat dan tidak
bertenaga. Maka dapatlah serangan-serangan itu dipatahkan Siu-lam.
Siu-lam sendiripun mempunyai kesan demikian. Ia heran mengapa Tay Hong sekarang
tidak lagi sesakti seperti di kala paderi itu memimpin serangan ke Beng-gak.
Saat itu benar-benar suara alunan musik sudah berada di luar ruangan. Nadanya
makin mengalun cepat dan nyaring. Dan seperti mengikuti irama musik itu, gerakan Tay
Hong pun makin gencar dan saru. Jelas bahwa ketua Siau-lim-si itu telah dipengaruhi oleh
suara musik di luar.
Setelah mendengar dengan seksama, tiba-tiba Siu-lam merasa seperti pernah
mendengar bunyi musik itu. Dan serentak dengan itu teringatlah ia aka nasal-usul musik
itu. Seketika tergetarlah hatinya.
Wut, wut, ia lancarkan dua buah pukulan dahsyat. Setelah mengundurkan Tay Hong,
segera ia berseru kepada kawanan paderi: “Ketua Siau-lim-si telah dikuasai orang Benggak.
Musik yang melengking tajam itu, berasal dari gerombolan Beng-gak. Jika sekalian
toa-suhu tetap mengikat pada peraturan Siau-lim-si, rela mematuhi amanat Liok-giok-hudciang,
kehancuran gereja Siau-lim-si pasti segera tiba!”
Dalam pada berkata itu, Siu-lam pun sudah menetapkan rencana. Ia gunakan jurus
ajaran dari kakek Hian-song. Dan mulailah ia melakukan serangan balasan yang gencar.
Tay Hong seketika terdesak mundur.
“Pui sicu, harap suka memberi kelonggaran!” seru Tay Ih siansu.
“Jangan kuatir taysu, tak nanti ciangbunjin Siau-lim-si akan kucelakai!” Siu-lam
memberi penegasan.
Cepat ia mengganti serangannya dengan jurus hud-hwat-bu-pian. Tangan kiri
mengancam mencengkeram dada Tay Hong. Tangan kanan nyelonong dari samping
menyambar siku lengan lawan. Sekali menekan sekuat-kuatnya, tongkat Liok-giok-hudciang
sudah berpindah ke tangannya dan cepat-cepat ia melesat mundur.
Sekalian paderi terkesiap kaget. Melihat tongkat pusaka Siau-lim-si direbut orang,
mereka serempak hendak menyerbu. Bahkan Tay Ih siansu yang tadi jelas menentang
Tay Hong, saat itupun mendahului menyerang Siu-lam dengan jurus Hud-hun-te-sing.
Jilid 25
JURUS itu merupakan ilmu tangan kosong yang istimewa dari Siau-lim-si. Sudah tentu
Siu-lam sukar menghindari serangan tak terduga-duga itu. Tongkat pusaka dapat
dicengkeram Tay Ih.

Siu-lam kerutkan dan membentak keras-keras: “Jika lo-siansu tak mau melepaskan
tongkat ini sehingga pusaka gereja Siau-lim-si sampai rusak, jangan persalahkan pada
wanpwe!”
Dengan sekuat tenaga ia menariknya ke belakang. Karena takut tongkat pusaka itu
rusak terpaksa Tay Ih lepaskan cekalannya.
Siu-lam ayunkan tongkat itu untuk menghalau tiga orang paderi yang hendak
menyerbunya. Karena takut tongkat pusaka itu rusak, ketiga paderi itupun terpaksa tak
berani menangkis dan hanya loncat menghindar saja.
Setelah mengundurkan kawanan paderi, berserulah Siu-lam dengan lantang: “Bagi
wanpwe, tongkat pusaka ini tiada berguna. Harap sekalian suhu jangan menduga jelek
kepadaku, sama sekali wanpwe tak mempunyai pikiran untuk memiliki tongkat ini….”
Tiba-tiba kata-katanya terputus oleh sebuah tertawa dingin yang menghambur dari luar
ruang. Serempak dengan itu terdengar suara seruan melengking: “Tetapi dengan
jatuhnya tongkat pusaka Siau-lim-si ke tangan orang lain, berarti suatu hinaan yang
memalukan!”
Siu-lam berpaling. Di luar ruangan tampak delapan lelaki berpakaian ringkas sedang
mengawal sebuah tandu, tegak dua orang gadis. Yang seorang berpakaian biru dan yang
seorang berpakaian warna merah.
Agaknya Lam-koay dan Pak-koay tertarik perhatiannya kepada tandu itu. Keduanya
memandang tandu itu dengan tajam.
Melihat tandu itu, segera Siu-lam berseru kepada sekalian paderi Siau-lim-si: “Itulah
rombongan Beng-gak. Menilik cara kedatangannya, kemungkinan ketua Beng-gak datang
sendiri!”
Tay Ih menghela napas perlahan dan berpaling kepada sekalian paderi: “Ini suatu bukti
yang nyata bahwa ciang-bun sute telah dikuasai oleh orang Beng-gak. Demi melindungi
gereja Siau-lim-si yang telah dibangun sejak beratus tahun, terpaksa kita harus
melepaskan diri dari segala ikatan peraturan. Apapun yang akan terjadi, semua adalah
tanggung jawab loni seorang. Sekarang harap sekalian sute mendengar petunjukku.”
Yang berada dalam ruang permusyawarahan situ, kecuali Tay Ih dan Tay Hong serta
keempat sute mereka yang sudah menjadi mayat di tengah ruangan, kini hanya tinggal
empat orang paderi golongan gelar TAY.
Sejak berdirinya Siau-lim-si ratusan tahun yang lalu, baru pertama kali itu mengalami
peristiwa yang sedemikian tragis.
“Baik, kami siap menunggu perintah suheng,” keempat paderi gelar Tay itu serempak
mengatakan ketaatannya.
Tay Ih siansu tersenyum getir, serunya: “Tay To sute, lindungilah ciang-bun-jin!”
Tay To siansu mengiyakan dan segera menghampiri Tay Hong siansu. Tampak
sepasang mata ketua Siau-lim-si itu merentang lebar memandang ke arah tandu di luar
ruang. Napasnya masih terengah-engah karena habis bertempur dengan Siu-lam tadi.
Siu-lam segera mengangsurkan tongkat Liok-giok-hud-ciang kepada Tay Ih: “Tongkat
pusaka ini merupakan lambing kekuasaan tertinggi dari gereja Siau-lim-si. Harap lo-siansu
menggunakan tongkat ini untuk memberi perintah!”
Dengan khidmat, Tay Ih menyambuti tongkat itu lalu berpaling kepada dua orang
paderi yang berada di sebelah kiri: “Harap sute berdua memimpin barisan Lo-han-tin….”
Tiba-tiba Pak-koay Ui Lian meraung keras. Ia ayunkan tangannya menghantam tandu.
Lwekang orang aneh itu tinggi sekali, apalagi dia meyakinkan ilmu pukulan Hian-pingciang.
Pukulan yang disertai kemarahan itu, menimbulkan tenaga yang luar biasa
kedahsyatannya.
Siu-lam terkejut. Ia heran mengapa tahu-tahu Pak-koay marah-marah. Jika yang
berada dalam tandu itu benar-benar ketua Beng-gak, serangan Pak-koay itu tentu akan
menimbulkan kemarahan. Dan pertempuran dahsyat pasti akan terjadi.

Belum Siu-lam hilang kejutnya, tiba-tiba Lam-koay Shin Ki pun mendengus geram:
“Hm, budak kurang ajar, engkau berani kurang ajar di hadapanku!” mengangkat tangan ia
pun segera lepaskan pukulan ke arah tandu.
Dua penjaga berbaju hitam yang menjaga di muka tandu, rupanya tak kenal siapa Pakkoay.
Dengan garang mereka menangkis. Mereka baru terkejut sekali ketika tubuh
mereka dilanda oleh serangkun gelombang hawa yang amat dingin sekali. Tubuh mereka
menggigil dan terhuyung-huyung ke belakang terus rubuh ke tanah.
Beberapa pengawal baju hitam yang menjaga di sekeliling tandu, serempak
menjulurkan tangan mereka ke muka dada. Mereka bersatu untuk menangkis pukulan
Hian-ping-ciang.
Benar pukulan Pak-koay dapat ditahan, tetapi tak urung wajah pengawal tandu itu
berubah pucat. Tubuh mereka menggigil seperti dibenam air es.
Pada saat pengaruh pukulan dingin itu masih belum lenyap, tiba-tiba pukulan Cek-yanciang
atau pukulan bara merah dari Lam-koay Shin Ki menyusul tiba.
Pukulan ganas Cek-yan-ciang tak kalah dahsyatnya dengan pukulan dingin Hian-pingciang.
Hanya sifatnya yang berbeda. Kalau Hian-ping-ciang menghambur hawa sedingin
es, Cek-yan-ciang menguap bara api yang sepanas lahar gunung berapi.
Melihat gelagat jelek, kedua gadis baju biru dan merah tadi segera lompat lari ke luar
halaman.
Melihat itu, dengan gugup Siu-lam segera berseru kepada Lam-koay dan Pak-koay:
“Harap lo-cianpwe berdua mengejar kedua gadis itu. Sebaiknya dapat ditangkap hiduphidup
agar wanpwe dapat menjatuhkan hukuman!”
Lam-koay dan Pak-koay merupakan tokoh yang termasyhur di dunia persilatan. Sejak
malang melintang di dunia persilatan, kecuali dikalahkan oleh Kak Seng taysu, mereka
belum pernah mendapat tanding. Bahwa saat itu Siu-lam seolah-olah memberi perintah,
mereka marah sekali.
“Huh, bayi yang belum hilang bau tetek ibunya, berani memerintah padaku…” seru Pakkoay
Ui Lian. Tetapi ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena saat itu terdengar
beberapa suara erang tertahan disusul dengan jatuhnya beberapa sosok tubuh ke tanah.
Ternyata beberapa pengawal tandu tadi, sudah remuk perkakas dalam tubuhnya ketika
menerima pukulan Hian-ping-ciang dari Pak-koay Ui Lian. Mereka sudah tak dapat
bertahan lagi.
Saat itu Tay Ih siansupun tiba. Ketika melihat keadaan Tay Hong, dia terkesiap dan
membisiki Tay To: “Tay To sute, bawalah dia ke ruang Kwat-si-wan untuk beristirahat.”
“Tay Hong suheng sudah kehilangan kesadaran pikirannya. Dikuatirkan dia tak dapat
tenang!” kata Tay To.
“Jika perlu, tutuklah jalan darahnya!” kata Tay Ih.
Tay To mengiyakan. Segera ia menutuk jalan darah Tay Hong lalu dibawanya ke ruang
Kwat-si-wan.
Suasana ruang kedua dari gereja Siau-lim-si kembali tenang. Tiba-tiba Tay Ih bertanya
kepada Siu-lam tentang isi tandu itu.
“Entahlah, bermula tampaknya seperti terisi tokoh Beng-gak yang penting. Tetapi
sekarang rupanya bukan….”
“Biarlah loni yang membuka selubung tandu itu!” kata Tay Ih seraya terus hendak
menarik kain selubung tandu itu.
“Tunggu dulu, siansu!” cegah Siu-lam.
“Kenapa?”
“Gerombolan Beng-gak banyak akal muslihat. Kedua gadis baju merah dan biru tadi
adalah murid kesayangan ketua Beng-gak. Kepandaian mereka cukup sakti. Beberapa
hari yang lalu, taysu sendiri pernah bertempur dengan mereka di dalam….”
“Benar,” sahut Tay Ih.

“Jika dalam tandu berisi pemimpin Beng-gak tak mungkin kedua gadis itu meninggalkan
begitu saja. Tetapi apabila tandu itu tidak terisi tokoh penting, tentu terisi suatu
perangkap yang berbahaya….”
Siu-lam berhenti sejenak. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada beberapa pengawal
tandu yang terkapar di tanah. Semuanya mati kecuali hanya seorang yang masih
bernapas.
Siu-lam menghampiri orang itu dan menarik tubuhnya lalu dibuka jalan darahnya.
Pengawal tandu itu menghela napas panjang dan membuka mata.
“Apa isi tandu itu? Lekas kau bilang jika kau ingin hidup!” hardik Siu-lam.
Mulut pengawal itu bergerak, tangannya bergoyang-goyang dan kepalanya
menggeleng. Tapi sepatah pun ia tak mengatakan apa-apa.
“Apa kau benar-benar tak mau mengatakan?” bentak Siu-lam. Dengan geram ia
mendorong tubuh orang itu. Karena sudah terluka parah, dorongan itu membuatnya
muntah darah dan putuslah jiwanya.
Siu-lam tertegun. Ia berbangkit dan berkata pada Tay Ih: “Harap lo-cianpwe suka
memberi perintah agar semua paderi yang duduk di halaman itu segera kembali ke posnya
masing-masing. Suasana tenang saat ini, hanya sementara saja. Merupakan permulaan
dari gelombang badai yang segera akan melanda. Menilik telaganya pertempuran dahsyat
segera akan terjadi!”
Tay Ih menghaturkan terima kasih atas bantuan anak muda itu.
“Ah, wanpwe hanya sekedar melaksanakan perintah dari seorang lo-cianpwe saja,” kata
Siu-lam.
“Siapa?” Tay Ih heran.
“Maaf, kelak siansu tentu mengetahui sendiri,” kata Siu-lam. Kemudian ia pinjam
pedang kepada Tay Ih.
Tay Ih merogoh jubahnya dan menyerahkan sebuh gin-pay yang berbentuk panjang.
“Benda ini kuterima dari Tay Hui sute ketika hendak menutup mata. Tay Hui sute
mengatakan benda ini milik sicu dan supaya diserahkan kepada sicu.”
Gin-pay atau lencana perak itu dahulu ditemukan Siu-lam di bawah tulang tengkorak
wanita Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa dalam goa di perut gunung Po-to-san.
Siu-lam segera menyimpan benda itu.
Tay Ih siansu memanggul tongkat Liok-giok-hud-ciang menuju ke depan tangga hitam.
Sambil mengacungkan tongkat pusaka itu, ia berseru nyaring:
“Ciang-bun-jin Siau-lim-si Tay Hong sute saat ini berada dalam kekuasaan pengaruh
orang Beng-gak. Entah diberi racun apa. Yang jelas kesadaran pikirannya hilang. Demi
menyelamatkan gereja Siau-lim-si, terpaksa loni memberanikan diri untuk mengambil alih
pimpinan gereja. Setelah ancaman bahaya musuh berlalu, loni segera menyerahkan diri di
hadapan arwah leluhur cou-su Siau-lim-si, untuk menerima keputusan hukuman yang
dijatuhkan para tianglo….”
Sekalian paderi yang berada di halaman itu serempak memberi hormat kepada tongkat
pusaka.
Berkata pula Tay Ih: “Saat ini musuh sedang mengerahkan anak buahnya untuk
menyerang gereja ini. Tetapi berkata bantuan Pui sicu, rencana mereka telah gagal.
Untuk sementara waktu, harap kalian kembali ke tempat masing-masing dulu. Yang
tinggal di sini hanya anggota-anggota barisan Lo-han-tin untuk berjaga-jaga.”
Para paderi yang duduk di halaman itu serempak berbangkit dan bubaran. Yang masih
tinggal hanya lebih kurang seratus paderi.
Siu-lam mengambil tongkat salah seorang paderi yang meninggal lalu digunakan untuk
menyingkap kain selubung tandu.
Begitu kain selubung tersingkap, segumpal asap putih berhamburan keluar. Ternyata
dalam tandu itu terisi sebuah Giok-ting atau tempat pendupaan dari kumala. Dari Giokting
itulah asap gumpalan membubung keluar.

Seketika Siu-lam teringat akan pengalalamannya ketika di Beng-gak dahulu. Serentak
ia terkejut dan berteriak sekeras-kerasnya: “Awas, asap dari Giok-ting itu mengandung
racun! Harap sekalian suhu jangan mendekatinya….”
Sekalian paderi Siau-lim-si mempunyai kesan baik terhadap Siu-lam. Sekarang mereka
menaruh perindahan kepada anak muda itu. Mendengar peringatan Siu-lam, buru-buru
para paderi itu menutup pernapasan dan menyingkir ke samping.
Siu-lari menuju ke dataran rumput. Menjemput segenggam pasir ia segera menimpa
Giok-ting.
Diam-diam ia mengagumi ketajaman panca indera kedua tokoh Lam-koay dan Pakkoay.
Begitu tandu tiba, kedua tokoh itu segera sudah mencium bau, maka dengan cepat,
kedua tokoh aneh itu segera menghantam mati pengawal-pengawal tandu. Jika tidak
dibinasakan, tentulah kawanan pemikul tandu itu sempat membuka selubung tandu dan
celakalah semua orang apabila asap sampai berhamburan kemana-mana.
Para paderi segera membantu Siu-lam untuk memadamkan Giok-ting dengan timbunan
pasir.
Siu-lam minta agar Tay Ih siansu memerintahkan rombongan paderi meninggalkan
halaman itu.
“Sebaiknya barisan Lo-han-tin itu disiapkan untuk menjaga tempat-tempat yang
penting. Halaman terlanjur dibaur asap beracun. Di dalam beberapa waktu asap itu tentu
belum lenyap pengaruhnya. Wanpwe sendiri hendak menjenguk kedua tokoh aneh yang
mengejar musuh tadi!” katanya lebih lanjut.
Tay Ih siansu mempersilahkan pemuda itu supaya meninggalkan ruangan, tetapi Siulam
mengajak berjalan keluar bersama-sama. Para paderi pun mengiringkan kedua orang
itu.
Setelah melintasi beberapa tikungan dan lorong bersimpang, di situlah para paderi
segera membentuk barisan Lo-han-tin.
Tay Ih siansu menghela napas: “Hari ini jika tidak mendapat bantuan Pui sicu mungkin
angkatan gelar TAY yang hanya tinggal empat orang ini, tentu sudah binasa di ruang
permusyawarahan tadi. Murid angkatan ketiga, walaupun terdapat beberapa orang yang
berpangkat bagus, tetapi mereka setingkat lebih rendah dari golongan TAY. Mereka tentu
tak berani menentang amanat tongkat Liok-giok-hud-ciang. Tanpa mengeluarkan seorang
anak buahnya, Beng-gak dapat menghancurkan gereja ini. Ya, tujuh-delapan ratus anak
murid Siau-lim-si pasti akan hancur binasa seluruhnya….”
Siu-lam menghibur paderi itu. Yang penting saat itu harus disiapkan rencana untuk
menghadapi serangan musuh.
“Saat ini bencana kehancuran total sudah lampau. Betapapun saktinya musuh tetapi
untuk menghancurkan Siau-lim-si, tidaklah mudah. Delapan ratus murid Siau-lim-si akan
bersatu-padu untuk mengadu jiwa demi membela gereja ini. Kami bertekad untuk
melawan sampai titik darah yang penghabisan. Musuh tentu akan membayar mahal jika
berani menyerang kemari,” kata Tay Ih siansu.
Tak berapa lama datanglah dua orang paderi kecil dengan membawa sepasang pedang
pusaka. Tay Ih siansu menyerahkan sepasang pedang itu kepada Siu-lam.
“Sepasang pedang ini, walaupun bukan tergolong pusaka Siau-lim-si, tetapi sudah
ratusan tahun berada dalam gereja ini. Jika dipisah, sepasang pedang ini menjadi
sebatang. Tetapi jika disatukan menjadi satu. Yang satu hijau yang satu putih.
Tajamnya bukan buatan. Karena anak murid Siau-lim-si tak pernah menggunakan
pedang, maka loni hendak menyerahkan sepasang pedang itu kepada Pui sicu sebagai
tanda penghargaan gereja Siau-lim-si terhadap bantuan sicu kepada Siau-lim-si.”
Siu-lam menyambuti pemberian itu dengan mengucap terima kasih. Begitu
menghunusnya, pedang itu memancarkan hawa dingin. Yang satu bercahaya hijau, yang
satu putih. Sepintas pandang, pedang itu terang bukan sembarang pedang.

“Ah, bagaimana wanpwe berani menerima pemberian begini hebat. Harap siansu suka
menukar dengan pedang biasa saja,” katanya.
Tay Ih menghela napas: “Memang sepasang pedang itu, bukan pedang biasa.
Berpuluh tahun berselang pernah keluar dan menggemparkan dunia persilatan. Pedang
itu disebut Liong-kau-song-kiam. Yang hijau disebut Liong-kiam, yang putih Kau-kiam.”
“Ah, wanpwe benar-benar tak berani menerimanya!” seru Siu-lam.
“Pui sicu telah banyak membantu Siau-lim-si. Sepasang pedang itu hanya sekedar
sebagai tanda terima kasih Siau-lim-si kepada sicu. Jika sicu menolak, berarti sicu
memandang rendah kepada loni.”
Diam-diam Siu-lam merenung. Ia memastikan pihak Beng-gak tentu akan menyerang
Siau-lim-si lagi. Dengan memiliki senjata sepasang pedang pusaka itu, tentu akan
berguna sekali dalam menghadapi orang Beng-gak nanti. Lebih baik untuk sementara, ia
menerima pemberian itu. Setelah bahaya selesai, ia masih dapat mengembalikan lagi
pedang itu kepada Siau-lim-si.
“Baiklah, untuk sementara ini wanpwe hendak meminjamnya, apabila sudah selesai
tentu wanpwe kembalikan lagi….”
“Tidak, sejak saat ini, sepasang pedang itu sudah menjadi milik sicu!” kata Tay Ih.
Siu-lam tak mau tarik urat. Ia minta Tay Ih segera perintahkan para paderi bersiapsiap
menghadapi musuh, sedang ia sendiri segera menyusul kedua tokoh Lam-koay dan
Pak-koay.
“Tapi sicu tak kenal jalanan di sini. Maksud loni hendak minta Tay Hi sute bersama
empat orang anak murid mengikuti sicu sebagai penunjuk jalan,” kata Tay Ih.
Tapi Siu-lam tak perlu karena kedua Lam-koay dan Pak-koay itu beradat aneh.
Dikuatirkan nanti timbul salah paham. Kemudian ia segera lari keluar gereja. Paderi yang
tersebar di segenap penjuru gereja, setiap kali berjumpa dengan Siu-lam tentu memberi
hormat.
Sampai di luar gereja, Siu-lam tetap belum melihat kedua tokoh aneh itu. Dia heran
dan gelisah. Ia kenal siapa gerombolan Beng-gak yang banyak tipu muslihatnya itu.
Diam-diam ia menyesal mengapa tak mau menerima tawaran Tay Ih supaya diantar oleh
Tay Hi yang lebih kenal jalanan di situ.
Tiba-tiba ia merasa seperti dilanda oleh suatu tenaga kuat yang tak bersuara. Untung
ia sudah waspada. Cepat-cepat ia kerahkan tenaga dalam untuk bertahan. Kemudian
dengan tibanya angin pukulan itu ia segera loncat ke udara dan melayang turun setombak
jauhnya. Sekalipun dengan meminjam tenaga orang itu ia berhasil terhindar dari bencana
kehancuran, namun tak urung darah dalam dadanya bergolak.
“Hei, siapakah yang memiliki tenaga dalam sedahsyat ini? Pada dalam lingkaran dua
tombak di sekeliling sini, tiada tempat untuk orang bersembunyi. Jelas bahwa penyerang
itu tentu berada paling sedikit pada jarak dua tombak jauhnya. Dan pukulan itu sama
sekali tak mengeluarkan suara apa-apa, jauh berbeda dengan pukulan Biat-gong-ciang…”
diam-diam ia menimang.
“Hai, itulah Bu-ing-sin-kun…!” mendadak ia teringat. Dan serempak dengan itu ia
mendengar suara orang tertawa macam dering kelinting. Datangnya dari arah barat di
balik sebuah batu karang. Dan pada lain saat, muncullah seorang gadis berbaju merah….
Siu-lam terbeliak kaget. Nona baju merah salah satu murid dari Beng-gak. Diam-diam
ia heran mengapa kedua tokoh aneh tidak mampu meringkus nona itu.
Nona baju merah itu mencekal pedang dan kebut Hud-tim. Walaupun wajahnya agak
kaget namun mulutnya masih menyungging senyum, serunya: “Eh, bagaimana? Apakah
kau masih hidup dan tak jadi mati terlempar di jurang?”
Siu-lam berkerut dahi, serunya: “Kau mampu lolos dari tangan kedua lo-cianpwe itu,
benar-benar besar peruntunganmu!”
Nona baju merah itu agak tertegun: “Aku dapat berubah seratus macam rupa,
bagaimana engkau mampu mengenali aku?”

“Itulah! Yang dikejar oleh kedua lo-cianpwe itu tentulah lain orang yang menyamar
jadi dirimu,” diam-diam Siu-lam tersadar. Kemudian ia mendengus: “Hm, orang Beng-gak
memang banyak akal muslihatnya….”
Nona baju merah itu tertawa mengejek:
“Gereja Siau-lim-si sudah masuk ke perangkap kami. Tunggu apabila nanti malam
suhuku datang tentu segera akan diadakan penyembelihan besar-besaran….”
“Ah, mungkin tidak seperti yang kalian harapkan…” sahut Siu-lam. Tetapi ia tak dapat
melanjutkan kata-katanya karena saat itu dadanya seperti terlanda oleh pukulan yang
tidak kelihatan.
Siu-lam tadi sudah menderita serangan gelap semacam itu. Sudah tentu ia sudah
berjaga-jaga. Sekalipun pukulan itu tidak mengeluarkan suara, tetapi dalam suasana dan
tempat seperti di situ, asal orang memperhatikan dengan cermat, tentu akan merasa
adanya semacam gelombang arus hawa dingin. Buru-buru ia ayunkan tangan kanan
menampar.
Ia sudah menginsyafi bahwa tenaga dalamnya tidak dapat mengimbangi serangan
pukulan tak bersuara itu. Sehabis memukul, ia cepat-cepat loncat ke samping dan
memaki.
“Hai, Pek Co-gi, kalau memang ksatria, jangan main melempar batu sembunyi tangan
begitu! Jika berani hayo keluarlah! Aku mau coba sampai di mana ilmu kepandaian orang
Beng-gak. Selain pukulan Bu-ing-sin-kun, hayo keluarkanlah semua kebisaanmu!”
Siu-lam memperhitungkan. Kalau seorang tokoh sakti semacam Tay Hong siansu saja
dapat ditundukkan Beng-gak, apalagi Bu-ing-sin-kun Pek Co-gi jago dari Tibet itu. Dan
dugaan itu didasarkan bahwa kecuali Pek Co-gi, rasanya tiada lain tokoh yang memiliki
ilmu pukulan tanpa suara.
Serempak dengan tantangan itu, dari balik sebuah pohon siong besar, muncullah
seorang lelaki bertubuh gemuk pendek. Di belakangnya diiringi empat-lima orang.
Setelah mengetahui jelas orang-orang yang muncul itu, Siu-lam tercengang-cengang.
Si gemuk pendek memang Bu-ing-sin-kun Pek Co-gi. Sedang pengiringnya itu ialah Sin-to
Lo Kun, Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong, Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat dan Tui-hong-tiau
Ngo Cong-gi.
Tokoh ternama itupun ternyata telah jatuh ke tangan Beng-gak. Dan dikuatirkan pula
bahwa Su Boh-tun dan Siau Yau-cu pun telah ditunjuk dan menjadi alat orang Beng-gak.
Tokoh-tokoh itu berilmu sakti, apabila Beng-gak sampai dapat menggunakan tenaga
mereka, tentu mengerikan sekali. Beng-gak tentu benar-benar akan dapat berhasil
melaksanakan cita-citanya untuk menguasai dunia persilatan….
Siu-lam teringat akan pengalamannya ketika menyerbu Beng-gak. Kawanan anak buah
Beng-gak yang mukanya dicontrengi warna-warni dan berpakaian aneh itu, kemungkinan
tentulah tokoh-tokoh berilmu yang telah jatuh dalam kekuasaan Beng-gak.
Terdengar nona baju merah itu tertawa melengking: “Kenalkah engkau pada mereka?”
Siu-lam cepat tenangkan perasaannya dan menyahut: “Benar, aku kenal mereka!”
Tertawalah nona baju merah itu dengan perasaan tawar: “Dan masih ada lagi Su Botun
dan tokoh Bu-tong-pay Siau Yau-cu itu, kenalkah engkau juga?”
“Hm, kalau kenal lalu bagaimana?”
“Mereka dahulu tentulah sahabat-sahabatmu, tetapi sekarang menjadi musuhmu…”
nona itu berhenti lalu memandang Pek Co-gi, serunya: “Apakah engkau yakin
kepandaianmu dapat mengalahkan kelima tokoh yang menyerangmu dengan serempak?”
Siu-lam terkejut. Diam-diam ia memang mengakui kebenaran ucapan nona itu.
Jangankan maju berbareng, sedang satu lawan satu saja, ia merasa belum tentu dapat
menang.
Belum sempat ia menjawab, nona baju merah itu mengangkat tangan memberi isyarat.
Kiu-sing-tui-hun Kau Cing-hong, Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat dan Sin-to Lo Kun
serentak mencabut senjatanya dan maju ke muka.

Siu-lam pun cepat mencabut Ceng-liong-kiam dan Pak-kau-kiam sepasang pedang
pusaka pemberian Tay Ih siansu. Sepasang pedang itu memancar berkilat-kilat dingin.
“Pedang yang bagus sekali! Jangan harap kami dapat melepaskan engkau sebelum
sepasang pedang pusaka itu jatuh ke tanganku!” seru si nona baju merah seraya loncat ke
muka seraya kebutkan hud-tim dan memberi perintah kepada ketiga tokoh itu supaya
segera maju menyerang.
Dengan golok kim-pwo-to, Lo Kun segera mempelopori menyerang lebih dahulu dengan
sebuah jurus Lat-biat-hoa-san. Ia hendak membelah kepala Siu-lam.
Melihat golok Lo Kun itu begitu dahsyat, karena kuatir akan merusakkan sepasang
pedangnya, Siu-lam terpaksa loncat menghindar ke samping.
Tetapi serentak ia disambut oleh Kau Cin-hong yang menutukkan ujung ruyungnya
Kau-kin-koa-thau (Ruyung urat naga kepala ular).
Siu-lam memutar pedang Ceng-liong-kiam yang dicekal di tangan kiri, untuk menjaga
ruyung.
Melihat pedang itu mengeluarkan sinar yang berkilat-kilat dingin, Kau Cin-hong tidak
berani mengadu dengan ruyungnya. Cepat ia menarik kembali senjatanya.
Melihat sepasang pedang itu memancarkan sinar kehijau-hijauan, tak beranilah Kuising-
tui-hun Kau Cin-hong untuk menangkis dengan ruyungnya. Buru-buru ia menarik
pulang ruyungnya.
Tetapi pada saat itu thiat-pit dari Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat sudah menutuk dada
Siu-lam. Terpaksa Siu-lam menangkis dengan pedang di tangan kanan.
Tio Hong-kwat cepat menarik pit dan secepat kilat kibaskan tiga batang pedang yang
terikat pada tangan kanannya. Tiga batang pedang yang lebih banyak menyerupai bentuk
belati itu diikat dengan rantai halus pada siku lengannya. Dapat digunakan sebagai
senjata biasa pun sebagai senjata rahasia yang ditaburkan ke musuh.
Siu-lam menggembor keras. Ceng-liong-kiam dia terus dibabatkan dengan jurus Thiatsoh-
lan-cou.
Dalam beberapa bulan setelah mendapat pelajaran dari kakek Hian-song dan kedua
tokoh Siau-lim-si, Kak Bong dan Kak Hui, Siu-lam memperoleh kemajuan pesat sekali.
Ditambah pula dengan kecerdasan otaknya, dapatlah ia menggunakan apa yang telah
dipelajarinya itu dengan tepat dan cepat.
Cara mengendapkan pedang dan membalikkannya untuk menyerang, memang banyak
menghemat waktu tak sedikit. Dan gerakan yang singkat itu mengandung arti besar sekali
dalam menentukan kalah menang.
Tring… tepat sekali pedang Ceng-liong-kiam berhasil memapas belati yang dikibaskan
Tio Hong-kwat. Dan kutunglah belati itu menjadi dua dengan menimbulkan dering
gemerincing lengking suara.
Sama sekali Siu-lam tak mengira bahwa pedang pusaka pemberian ketua Siau-lim-si
ternyata sedemikian tajamnya. Ia sendiri tertegun.
Justru ia tengah tertegun, tiba-tiba Lo Kun membacok pinggangnya dan ruyung Kau
Cin-hong pun menutuk dada Siu-lam.
Sekalipun sebatang belatinya sudah terpapas tetapi Tio Hong-kwat masih mempunyai
dua batang belati. Dan tangan kanannya masih mencekal sebatang thiat-pit. Setelah
terkesiap sejenak, Tio Hong-kwat segera menyerang lagi.
Siu-lam memutar sepasang pedangnya melawan ketiga tokoh penyerangnya. Cengliong-
kiam dan Pek-kau-kiam diputar sederas hujan mencurah.
Beberapa bulan yang lalu, salah seorang dari ketiga tokoh itu tentu dapat mengalahkan
Siu-lam. Tetapi saat itu, keadaan jauh sekali bedanya.
Siu-lam telah mengembangkan ilmu pedang Tan lo-cianpwe (kakek dari Hian-song)
sedemikian hebat. Dalam setiap lima enam jurus tentu terdapat jurus yang sukar diduga
perubahannya sehingga musuh mau tak mau dipaksa mundur menghindar.

Tambahan pula Siu-lam mencekal sepasang pedang pusaka. Ibarat harimau tumbuh
sayap, ia dapat melayani ketiga tokoh itu dengan baik dan lancar.
Melihat itu, si nona baju merah kerutkan dahi. Jelas diketahui ketika masih di gunung
Kiu-kiong-san dahulu, pemuda itu masih lemah sekali kepandaiannya. Tapi mengapa
dalam waktu yang tak lama saja, dia sudah berubah menjadi seorang tokoh yang begitu
sakti. Betapapun cerdas otaknya, namun tak mungkin pemuda itu dapat mencapai
kemajuan yang sedemikian pesatnya. Jika dibiarkan, kelak pemuda itu tentu akan
merupakan bahaya besar.
Seketika timbullah keganasan nona itu. Ia membisiki Pek Co-gi: “Dia mempunyai
sepasang pedang pusaka. Bantulah kawan-kawan kita dan segera bunuh pemuda itu.
Berikan pedang itu kepadaku!”
Pek Co-gi, jago Pukulan Tanpa Bayangan yang termasyhur di wilayah Tibet, ternyata
patuh sekali pada nona itu. Dengan menggembor keras ia loncat ke muka seraya
gerakkan kedua tangannya. Seketika menderalah angin badai dari pukulannya yang
dahsyat itu.
Di dalam menghadapi pengeroyoknya, bermula Siu-lam berlaku hati-hati, hanya
bertahan diri tak mau membalas. Tapi sesudah lewat belasan jurus, nyali timbul.
Serangan ketiga tokoh itu ternyata hanya begitu saja. Pada saat ia memutuskan hendak
balas menyerang, tiba-tiba didengarnya Pek Co-gi menggembor keras dan menyerbu.
Seketika Siu-lam rasakan tubuhnya diserang oleh angin yang bertenaga kuat sekali
sehingga ia tersurut mundur tiga langkah dan sepasang pedangnyapun hampir lepas
jatuh.
Memang Pek Co-gi telah membuka serangannya dengan ilmu Bu-ing-sin-kun, lalu ia
susul sekaligus dengan empat buah serangan.
Untung sebelumnya Siu-lam sudah kenal akan kelihayan ilmu pukulan Bu-ing-sin-kun.
Ia sudah berjaga-jaga. Maka begitu merasa angin pukulan itu menyambar, buru-buru ia
mundur.
Tapi sekalipun begitu tak urung darahnya bergolak keras dan ia menderita luka dalam.
Buru-buru ia salurka lwekangnya untuk menyembuhkan luka itu. Ia tak mau mengunjuk
terluka dalam. Ia bersikap tenang seperti tak terjadi sesuatu. Ia sadar, kalau musuh
mengetahui ia terluka, mereka tentu akan menyerang sehebat-hebatnya.
Tapi lain bencana datang menyusul. Ialah dari si nona baju merah yang sudah melesat
ke hadapannya. Dan secepat ia pula kebutkan hud-tim ke tangan Siu-lam. Ia hendak
merebut sepasang pedang pusaka pemuda itu.
Tapi Siu-lam tak mau mudah begitu saja.
Pedang di tangan kiri digerakkan dengan jurus Pek-hun-jut-yu, menangkis kebutan si
nona.
Nona baju merah itu ketawa melengking: “Ih, kau sudah terluka dalam. Jika tak lekas
menyalurkan tenaga, luka itu pasti mengembang dan jiwamu pasti takkan tertolong!
Sekalipun kau pura-pura memaksa diri menghadapi aku, tapi keadaanmu sudah payah.
Dalam tiga puluh jurus saja kau pasti sudah dapat kurubuhkan!”
Si nona menutup bicara dengan menghujani serangan-serangan. Siu-lam terkejut
karena nona itu sudah melihat keadaannya. Diam-diam ia memutuskan untuk
menurunkan tangan ganas. Ia sadar apabila sampai jatuh ke tangan musuh, nona itu
pasti takkan mengampuni jiwanya.
Sehabis menghindar dari tiga buah serangan pedang si nona, Siu-lam berkata: “Karena
aku pernah bertemu dengan orang tuamu, maka aku tak sampai hati melukaimu. Tetapi
mengapa engkau terus-menerus mengejar aku saja? Apa engkau kira aku benar-benar
takut kepadamu?”
Yang dimaksud dengan orang tua si nona baju merah itu ialah orang tua she Hui yang
pernah menolong jiwanya ketika ia terhambur keluar dari perut gunung tempo hari.

Nona baju merah itu tertawa melengking: “Jangan ngaco belo tak keruan! Ayah
bundaku sudah meninggal dan aku dirawat oleh suhu. Jika engkau mau ketemu ayah
bundaku, pergilah ke akhirat!” ia menutup kata-katanya dengan tiga buah serangan
pedang.
Dengan pedang Pek-kau-kiam, Siu-lam gunakan jurus Yap-hwe-soh-thian atau api
membakar langit untuk menahan ketiga serangan itu sedang Ceng-liong-kiam di tangan
kiri balas menyerang dengan jurus Se-lay-co-im. Ilmu pedang Se-lay-co-im ini ajaran dari
Kak Bong taysu. Ganas tapi mengandung welas asih.
Nona baju merah itu terkejut. Walaupun dalam taburan sinar pedang yang
berhamburan dari delapan penjuru itu masih terdapat beberapa lubang kelemahan, tetapi
ia tak tahu cara memecahkannya. Terpaksa ia mundur….
Tiba-tiba Sin-to Lo Kun menggembor keras dan menabas dengan golok kim-pwe-tonya.
Ilmu pedang Tat-mo-kiam dari Siau-lim-si, sekalipun merupakan ilmu pedang istimewa,
tetapi apabila akan menggunakan harus disertai dengan pengerahan tenaga dalam.
Dalam hal ini yang merupakan halangan bagi Siu-lam. Karena dadanya habis terkena
pukulan tanpa bayangan dari Pek Co-gi tadi, ia masih belum dapat menekan darahnya
yang bergolak-golak. Maka sewaktu menggunakan ilmu pedang Tat-mo-kiam, napasnya
terengah-engah. Terhadap tabasan golok Lo Kun, ia tidak berani menangkis tetapi loncat
menghindar.
“Sekalipun aku memakai sepasang pedang pusaka dan mengerti ilmu pedang Tat-mokiam,
tetapi karena dadaku terluka pukulan Bu-ing-sin-kun, perlulah aku harus beristirahat
dulu. Apalagi kalau Pek Co-gi ikut menyerang lagi, tentu repot melayani,” akhirnya ia
mengambil keputusan.
Maka begitu melesat ke samping, tanpa memberi kesempatan musuh menyerangnya
lagi, ia terus lari ke dalam gereja.
“Kejar, dia sudah terluka dalam…!” teriak si nona baju merah.
Kawanan orang gagah itu rupanya taat sekali kepada si nona baju merah. Segera
mereka mengejar.
Dengan paksakan diri, Siu-lam lari ke arah gereja. Untung dalam beberapa kejap ia
dapat mencapai pintu gereja. Empat orang paderi berjubah putih segera keluar
menyambut.
“Hadanglah orang-orang yang mengejarku,” kata Siu-lam seraya terus menerobos ke
dalam.
Karena sudah kenal akan anak muda itu, keempat paderi itupun memberi jalan.
Kemudian mereka bersiap menyambut kawanan pengejar itu.
Baru beberapa langkah jauhnya, tiba-tiba Siu-lam teringat bahwa Pek Co-gi dengan Buing-
sin-kunnya itu merupakan bahaya besar. Dikuatirkan keempat paderi itu tak kuat
menghadapinya. Segera ia berhenti dan berpaling: “Harap siansu berempat berhati-hati
menjaga pukulan Bu-ing-sin-kun…” tiba-tiba ia teringat bahwa Pek Co-gi itu berasal dari
daerah Tibet, kemungkinan keempat paderi itu tersebut belum kenal ilmu pukulan
istimewa dari jago Tibet itu. Maka segera ia memberi penjelasan lagi: “Bu-ing-sin-kun
adalah ilmu pukulan istimewa. Pukulan itu tiada mengeluarkan suara. Baru ketahuan
setelah mengenai sang korban. Dia seorang gemuk pendek, harap hati-hati dan awasi
gerakan tangannya….”
Belum selesai ia memberi penjelasan tiba-tiba seorang paderi yang berada di sebelah
kiri terdengar mendesah tertahan dan terhuyung tiga langkah ke belakang….
Ternyata sewaktu Siu-lam memberi penjelasan, paderi itu sudah terkena pukulan Buing-
sin-kun dari Pek Co-gi.
Siu-lam tergetar hatinya: “Jika aku memikirkan kepentingan diriku sendiri, keempat
paderi ini tentu hancur di tangan mereka. Sudah tentu aku malu terhadap Tay Ih siansu!”
Dengan pertimbangan itu, ia tak jadi masuk ke dalam tetapi melangkah keluar lagi. Ia
diam-diam kerahkan tenaga dalam menanti kedatangan musuh.

Saat itu pertempuran sudah pecah. Kecuali paderi yang belum-belum sudah terkena
pukulan Bu-ing-sin-kun tadi, yang tiga orang segera mengadakan perlawanan.
Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat, Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong dan Sin-to Lo Kun,
walaupun menyerang hebat tetapi ketiga paderi dengan senjata hong-pian-jan dan thiatsiang-
ciang itu telah memberi perlawanan yang gigih.
Melihat itu si nona baju merah memperhitungkan bahwa sekalipun bertempur sampai
seratus jurus, tetap takkan ada kesudahannya. Ia mulai gelisah menyaksikan
pertempuran seru. Begitu seru sehingga sukar dibedakan mana lawan mana kawan.
Dalam keadaan begitu Pek Co-gi pun tak sempat melancarkan pukulan sakti Bu-ing-sinkun
lagi.
Tak dapat lagi si nona baju merah itu menahan diri. Segera ia melesat menyerbu ke
tengah pertempuran. Dengan pedang ia menusuk dada seorang paderi dan hud-tim di
tangan kiri mengebut lengan seorang paderi di sebelah kiri.
Desakan nona itu memaksa kedua paderi Siau-lim-si tadi mundur selangkah.
Memang ilmu silat dari Beng-gak mempunyai aliran tersendiri. Selain jurus-jurusnya
yang aneh, pun sangat ganas. Jauh bedanya dengan ilmu silat yang kebanyakan. Begitu
nona baju merah itu terjun dalam pertempuran, situasinya segera berubah. Ketiga paderi
itu bingung tak keruan menghadapi serangan si nona yang menggunakan jurus-jurus
serba aneh dan ganas.
Saat itu Siu-lam sudah sempat menyalurkan lwekangnya. Melihat ketiga paderi
terdesak, ia segera loncat membantu.
Memang sejak makan kuwih Cwan-hiong-kau dari paderi Kak Bong dan disaluri tenaga
sakti dari paderi itu, ia merasa terdapat perubahan dalam tubuhnya. Maka dalam waktu
yang singkat saja, ia sudah pulih tenaganya.
Tiba-tiba terdengar suara doa yang nyaring. Tay Hi siansu dengan diiringi dua belas
ko-chiu Siau-lim-si berlari-lari mendatangi.
Diam-diam Siu-lam menimang. Dalam keadaan berbahaya seperti saat itu, tak perlulah
kiranya harus memegang tata susila kaum persilatan lagi. Apalagi menghadapi
gerombolan Beng-gak yang ganas. Biarlah rombongan paderi Siau-lim-si itu segera maju
serempak menghantam musuh.
Dalam pada menimang itu, Siu-lampun sudah lancarkan tusukan dengan pedang Cengliong-
kiam ke arah si nona.
Setiap kali beradu senjata dengan Siu-lam, nona itu merasa bahwa pemuda itu
sekarang bertambah pesat sekali lwekangnya. Diam-diam nona itu tak berani memandang
ringan. Sedapat mungkin ia menghindari benturan senjata. Tetapi Siu-lam agaknya
sengaja mencari kesempatan untuk adu kekerasan dengan nona itu.
Tring, tring, tring, dengan sebuah gerak yang secepat kilat menyambar, Siu-lam
sekaligus menangkis tiga buah tusukan si nona yag dilancarkan kepada ketiga paderi.
Tiba-tiba Pek Co-gi menggembor keras dan serentak menerjang Siu-lam. Dengan jurus
Tio-to-ni-liong atau Menjolok naga kuning, tinjunya menghujam ke dada Siu-lam.
Jago gendut dari Tibet itu memiliki tenaga yang kuat sekali. Setiap pukulannya tentu
menimbulkan deru angin yang menyeramkan.
Yang paling dikuatirkan Siu-lam hanyalah pukulan Bu-ing-sin-kun. Karena pukulan
yang tak bersuara itu sukar untuk dijaga. Maka ia harus cepat-cepat menundukkan jago
Tibet itu lebih dulu. Begitu menghindar, sambil berputar ia menyerang sekuat-kuatnya.
Setelah terlepas dari serangan Siu-lam, kegagahan nona baju merah itu mulai tampak
lagi. Sekaligus ia lancarkan tiga buah serangan pedang kepada ketiga paderi sehingga
paderi-paderi itu kelabakan dibuatnya.
Untunglah pada saat itu Tay Hi siansu dan rombongannya sudah tiba. Mereka segera
menyerbut nona baju merah itu.
Tay Hi siansu merupakan salah seorang paderi Siau-lim-si yang tinggi kedudukannya.
Ilmu kesaktiannya pun amat disegani. Ia memutar tongkat sian-cian laksana hujan

mencurah. Beberapa jurus kemudian, nona baju merah itu merasa tertekan. Buru-buru ia
curahkan perhatiannya untuk melayani Tay Hi.
Karena terlepas dari tekanan si nona, kini barisan paderi Siau-lim-si mulai tersusun lagi.
Pertempuran antara Siu-lam dan Pek Co-gi berlangsung seru sekali. Dengan sepasang
pedang pusaka dan ilmu permainan pedang yang beraneka coraknya, Siu-lam dapat
memaksa jago Tibet kelabakan setengah mati.
Dalam beberapa kejap saja, kedua jago itu sudah melangsungkan pertempuran sampai
lebih dari duapuluh jurus. Tiba-tiba Siu-lam merasa bahwa tenaga dalamnya sekarang
jauh lebih maju dari dulu. Setelah sempat mengawasi bahwa situasi pertempuran tidak
lagi membahayakan kedudukan Siau-lim-si, mulailah ia lancarkan ilmu pedang ajaran
kakek dari Hian-song, ialah ilmu sakti Jiuw-toh-co-hua. Pedang Ceng-liong-kiam
berhamburan laksana hujan mencurah dari langit.
Pek Co-gi tergetar dan loncat mundur. Ilmu pedang yang belum lengkap itu, tetap
tiada tandingannya.
Siu-lam memburu terus. Dia tak memberi kesempatan pada Pek Co-gi lagi. Begitu
loncat terus menyerangnya gencar.
Dalam keadaan terdesak, Pek Co-gi menghantam sekuat-kuatnya dan tangan kiri
gunakan ilmu Kim-na-chiu untuk mencengkeram lengan Siu-lam.
Ceng-lion-kiam dimainkan Siu-lam dalam jurus It-chiu-gin-hoa. Dan untuk menghindari
cengkeraman musuh, ia miringkan tubuh ke samping. Kemudian Pek-kau-kiam ditaburkan
dalam jurus Sin-liong-sam-sian.
Gerakan yang hebat dari anak muda itu kembali memaksa jago Tibet itu mundur dua
langkah.
Siu-lam tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Pedang ditaburkan dalam jurus Jiu-tohco-
hua dan mundurlah Pek Co-gi beberapa langkah.
Hanya dalam beberapa kejap saja, Siu-lam telah memaksa Pek Co-gi mundur sampai
tiga tombak jauhnya. Dalam kesempatan yang luang, ia berkata dengan perlahan kepada
jago Tibet itu:
“Harap lo-cianpwe mundur ke balik gunung itu, wanpwe hendak bicara sedikit!”
Sambil lancarkan dua buah pukulan, Pek Co-gi berseru: “Mau bilang apa, lekas
katakanlah sekarang saja!”
Kuatir jago Tibet itu akan mendapat kesempatan untuk melancarkan pukulan Bu-ingsin-
kun, Siu-lam mendesaknya lagi dengan hamburan pedang dan bicara lagi: “Maaf, Buing-
sin-kun memang sukar dijaga, maka wanpwe terpaksa mendesak begini… Tapi di sini
bukan tempat yang cocok untuk berbicara,” katanya setelah berhenti sejenak: “Jika locianpwe
percaya, harap lo-cianpwe suka mundur beberapa tombak lagi.”
Dalam pada berbicara Siu-lam tak hentinya mempergencar serangan pedangnya untuk
mendesak jago Tibet itu supaya mundur.
Rupanya Pek Co-gi mau mendengar permintaan Siu-lam mundur beberapa langkah.
Tiba-tiba Siu-lam kendorkan serangan pedangnya dan sambil tersenyum ia berkata:
“Lo-cianpwe, jika lo-cianpwe merasa sulit meluluskan permintaan wanpwe, baiklah kita
bicara saja sambil bertempur, setuju?”
“Bicaralah!” sahut Pek Co-gi.
Siu-lam menghela napas dan berkata dengan rawan: “Lo-cianpwe seorang yang berilmu
sakti dan harum namanya. Tapi mengapa lo-cianpwe rela menjadi kaki tangan
gerombolan Beng-gak? Wanpwe benar-benar tak mengerti!”
Jago Tibet menatap Siu-lam. Tiba-tiba ia menyerang dengan kedua tangannya.
Sekaligus ia lancarkan lima jurus serangan: “Itu urusanku pribadi, orang lain tak berhak
mencampuri!”
Siu-lam taburkan tiga jurus taburan pedang, sahutnya: “Sudah tentu orang lain tak
berhak mencampuri urusan lo-cianpwe. Tapi jelas bahwa gerombolan Beng-gak itu

memusuhi dunia persilatan. Dengan membantu Beng-gak berarti memusuhi segenap
kaum persilatan di Tiong-goan!”
Agaknya Pek Co-gi tertarik oleh ucapan itu. Kedua tangannya mulai kendor.
Anak muda itu kembali menghela napas. Katanya pula: “Dari daerah Tibet yang jauh,
lo-cianpwe memerlukan menghadiri pertemuan orang gagah di gunung Thay-san. Dengan
pukulan Bu-ing-sin-kun, lo-cianpwe telah menggemparkan para orang gagah. Pendirian
dan sikap lo-cianpwe yang bersedia mencampuri pergolakan dunia persilatan di Tionggoan
itu, benar-benar suatu tindakan yang luhur perwira. Betapa keji dan ganas
gerombolan Beng-gak mengalahkan rombongan orang gagah dengan siasat licik, kiranya
lo-cianpwe tentu sudah mengetahui sendiri.”
Dalam pada berbicara, Siu-lam pun mengimbangi gerakan Pek Co-gi dengan
mengendorkan serangan pedangnya.
“Walaupun dari daerah Tibet, tapi lo-cianpwe sudah kenal semua kaum persilatan di
Tiong-goan. Tujuan kaum persilatan di manapun pasti sama, yakni membela keadilan dan
kebenaran serta membasmi kejahatan dan kelaliman. Membantu gerombolan jahat,
walaupun dapat menguasai dunia persilatan, tapi hal itu bertentangan dengan hati nurani
kita….”
“Dengan kepandaian yang lo-cianpwe miliki, lo-cianpwe tentu mendapat sambutan dan
perindahan tinggi dari kaum persilatan Tiong-goan. Lo-cianpwe dapat membentuk sebuah
partai di sini untuk bersama-sama lain partai, menentramkan dunia persilatan. Dan dalam
kesempatan, lo-cianpwe tentu dapat memperebutkan kedudukan pemimpin partai
persilatan Tiong-goan. Bukankah itu suatu cita-cita luhur? Perlu apa lo-cianpwe
berhamba kepada orang lain? Bukankah lo-cianpwe sendiri sudah cukup untuk menjadi
pendiri dari sebuah partai persilatan? Ucapan wanpwe ini keluar dari hati nurani wanpwe,
mohon lo-cianpwe suka mempertimbangkan….”
Tiba-tiba Pek Co-gi hentikan serangannya.
“Benar,” sahutnya, “siapa tak tahu diriku ini, masakan mau menjadi kaki tangan
orang….”
“Benar, benar,” seru Siu-lam, “apabila lo-cianpwe menyadari kesalahan langkah itu,
wanpwe bersedia membawa….”
Belum Siu-lam selesai berkata, tiba-tiba Pek Co-gi teringat sesuatu yang mengerikan.
Tubuhnya agak gemetar. Serentak menggembor keras, ia ayunkan pukulan lagi.
Siu-lam heran mengapa pada saat jago Tibet hampir menyadari kesalahannya, tiba-tiba
dia merubah haluan dan memukulnya lagi. Terpaksa Siu-lam lompat mundur dan berseru:
“Lo-cianpwe….”
Tetapi Pek Co-gi seperti orang limbung. Dia malah gunakan sepasang tangannya untuk
memukul. Karena Siu-lam tak menduga dan tak bersiap dulu, walau mempunyai sepasang
pedang mustika, tapi ia benar-benar terdesak dan tak mampu menggunakannya.
Hanya beberapa kejap saja, Siu-lam sudah terdesak mundur sampai di tempat semula
mereka bertempur tadi.
Tetapi si nona baju merah rupanya curiga. Berpaling ke arah Pek Co-gi, ia berseru:
“Hm… kalian bicara asyik sekali.”
Pek Co-gi terkesiap. Dan pukulannyapun agak kendor. Kesempatan itu digunakan
sebaik-baiknya oleh Siu-lam untuk menyerang dengan pedangnya.
Kali ini Siu-lam tidak mau mengalah lagi. Sepasang pedangnya dikembangkan benarbenar.
Oleh karena dia memiliki berbagai ilmu pedang yang berbeda sumbernya, maka
serangannyapun penuh dengan variasi yang aneh-aneh sehingga Pek Co-gi dipaksa
mundur lagi.
Sambil menangkis, diam-diam Pek Co-gi heran atas permainan ilmu pedang lawan.
Tanpa suatu urut-urutan jurus ilmu pedang tertentu dan sepasang pedangnya

menerbitkan hawa dingin yang menegakkan bulu roma. Jika terus menerus bertempur
melawannya, ia kuatir tentu akan menderita kerugian.
“Ah, jika tidak aku dahului menurunkan pukulan maut, aku sendirilah yang akan
celaka,” diam-diam jago Tibet itu telah mengambil keputusan.
Untuk melaksanakan keputusan itu, ia kerahkan tenaga dalam sambil loncat ke
samping. Tetapi Siu-lam sudah mempunyai rencana juga. Ia tak mau memberi
kesempatan jago Tibet itu dapat melepaskan pukulan Bu-ing-sin-kunnya. Ia loncat
membayangi Pek Co-gi.
Tiba-tiba Pek Co-gi berbalik tubuh dan ayunkan tangan kanannya. Karena sudah
berulang kali menderita pukulan Bu-ing-sin-kun, Siu-lam sangat berhati-hati sekali. Begitu
melihat orang mengangkat tangannya, diapun cepat-cepat menyelinap ke samping.
Tapi ternyata jago Tibet itu menggunakan siasat. Tamparannya itu hanyalah gerakan
hampa. Begitu Siu-lam berdiri di samping, barulah ia lepaskan pukulan yang
sesungguhnya.
Bu-ing-sin-kun merupakan pukulan istimewa yang sama sekali tak mengeluarkan suara.
Pukulan itu mengandung gelombang halus dari tenaga lwekang lunak.
Betapapun Siu-lam sudah berlaku hati-hati sekali, tetapi dia tak menyangka sama sekali
kalau Pek Co-gi akan menyiasatinya. Begitu melihat Pek Co-gi menghampiri, segera ia
julurkan Ceng-liong-kiam untuk menahan lawan. Tetapi sekonyong-konyong ia rasakan
dirinya terlanda oleh arus tenaga yang lembut. Bukan main terkejutnya dia. Buru-buru ia
loncat ke belakang.
Pukulan Bu-ing-sin-kun yang dilancarkan Pek Co-gi itu menggunakan delapan bagian
tenaga lwekangnya. Hebatnya bukan kepalang. Sekalipun Siu-lam sudah mempunyai
pengalaman untuk menghindari pukulan itu, tetapi tak urung darah dalam tubuh bergolak
keras, mata berkunang-kunang.
Secepat kilat Pek Co-gi kibaskan tangan kanannya dan tahu-tahu sudah mencengkeram
siku lengan anak muda itu. Tring…! Siu-lam rasakan tangan kirinya kesemutan dan
terlepaslah pedang Ceng-liong-kiam dari cekalannya.
Pedang Ceng-liong-kiam berpindah tangan ke tangan Pek Co-gi.
Siu-lam telah menderita luka dalam yang parah. Tetapi kesadaran pikirannya masih
terang. Pedang Pek-kau-kiam yang dicekal di tangan kanannya itu segera ditaburkan di
dalam jurus Se-lay-co-im, yakni salah satu jurus istimewa dari ilmu pedang Tat-mo-kiam.
Seketika Pek Co-gi terkurung dalam lingkaran sinar pedang. Karena ia maju merebut
pedang Ceng-liong-kiam tadi, maka jaraknya dekat sekali dengan Siu-lam. Dengan begitu
ia tak mampu keluar lagi dari kurungan sinar pedang si anak muda.
Dalam keadaan itu Pek Co-gi menjadi kalap. Dia hendak mati-matian membobolkan
sinar pedang yang mengepungna. Dengan sekuat tenaga ia ayunkan pedang
rampasannya untuk menghantamkan sinar pedang yang mengurung di atas kepalanya.
Tat-mo-kiam sekalipun luar biasa dahsyatnya, tetapi permainan pedang itu masih
mengandung gerak yang memberi kelonggaran kepada musuh. Memang ketika Tat Mocou,
cikal bakal pendiri Siua-lim-si menciptakan ilmu pedang tersebut, dia telah
memperhitungkan tentang kemungkinan yang akan dialami musuh dalam menghadapi
taburan Tat-mo-kiam itu. Sengaja ia menyelipkan suatu gerak yang kendor dalam setiap
jurus perubahan ilmu pedang itu. Maksudnya tak lain supaya orang sempat
mengundurkan diri.
Tetapi ternyata Pek Co-gi memilih adu kekerasan. Ia tahu anak muda itu tentu sudah
terluka dalam sehingga tenaganya tentu berkurang. Tetapi apa yang terjadi benar-benar
tak diduganya.
Ketika sepasang pedang itu saling beradu keras, Pek Co-gi terhuyung-huyung mundur
dengan tubuh berlumuran darah. Itulah akibatnya dia berani mengadu kekerasan. TatTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
mo-kiam memberi kelonggaran tetapi dia malah membentur. Hasilnya, tubuhnya telah
berhias tiga buah tusukan pedang.
Tetapi keadaan Siu-lam sendiripun tak kurang menyedihkan. Sesungguhnya akibat
pukulan Bu-ing-sin-kun tadi ia sudah terluka dalam dan tenaganya berkurang sekali.
Adalah karena dirangsang kemarahan pedangnya direbut itu, maka ia menyerang Pek Cogi
dengan sisa tenaganya yang masih. Setelah berhasil melukai orang darahnya meluap
keluar dari mulutnya.
Si nona baju merah yang tengah bertempur melawan Tay Hi siansu, terkejut ketika
mendengar gemboran Siu-lam. Cepat ia berpaling. Ketika menampak Pek Co-gi sudah
berhasil merebut pedang Ceng-liong-kiam, girangnya bukan kepalang.
“Lekas, berikan pedang itu kepadaku!” serunya.
Karena perhatiannya tertuju pada pedang yang direbut Pek Co-gi, ia agak lambat. Dan
keayalan itu cukup memberi kesempatan Tay Hi siansu untuk melancarkan serangan
tongkat yang dahsyat. Nona itu kelabakan sekali.
Sedang Pek Co-gi pun sudah mencekal pedang Ceng-liong-kiam tapi karena tiga
tusukan dari pedang Siu-lam itu cukup parah, darah banyak keluar, ia harus lekas-lekas
menyalurkan lwekang untuk menghentikannya. Dengan begitu ia tak dapat melancarkan
pukulan Bu-ing-sin-kun lagi. Jika saja saat itu ia masih punya kemampuan untuk
menyusulkan sebuah pukulan Bu-ing-sin-kun lagi, dapat dipastikan Siu-lam sudah habis
riwayatnya.
Pertempuran kedua jago itu benar-benar merupakan pertempuran yang berakibat
keduanya menderita luka parah.
Melihat Siu-lam luka parah, empat paderi Siau-lim-si segera lari menghampiri dan
menggotongnya ke dalam gereja. Siu-lam dipanggul oleh salah seorang paderi, yang
seorang lagi melindunginya. Sedang yang dua, segera menyerbu Pek Co-gi untuk merebut
pedang Ceng-liong-kiam.
Si nona baju merah sekalipun terdesak dalam taburan tongkat Tay Hi siansu, tapi setitik
pun ia tak mau melepaskan keinginannya untuk menguasai pedang Ceng-liong-kiam.
Ketika melihat dua orang paderi lari menghampiri ke tempat Pek Co-gi yang tak
berkutik, nona itu menjadi gugup. Tiba-tiba ia lancarkan jurus Cu-pit Tiam-hun. Ujung
pedangnya berubah menjadi tiga bintik sinar perak yang memagut sikut lengan Tay Hi
siansu. Jurus itu sangat ganas sekali dan Tay Hi pun terpaksa mundur.
Begitu Tay Hi mundur, secepat kilat nona itu loncat ke samping dan kebutkan hudtimnya
ke arah paderi yang menerjang dari samping kiri Pek Co-gi. Sedang dengan
pedang ia menusuk paderi yang menyerang dari samping kanan. Pedang dan hud-tim
bergerak luar biasa cepatnya, tepat pada saat kedua paderi itu hantamkan tongkatnya ke
arah Pek Co-gi.
Jika kedua paderi itu tak menarik tongkatnya, Pek Co-gi tentu terluka. Tetapi kedua
paderi itupun pasti terluka juga oleh si nona baju merah. Kedua paderi itu terpaksa
mundur.
Si nona membuat suatu gerakan yang luar biasa. Ia timpukkan pedangnya ke arah
paderi di sebelah kanan, sedang hud-tim dikebutkan untuk menangkis serangan paderi di
sebelah kiri. Dan tangan kanan yang sudah tak mencekal pedang itu cepat menyambar
pedang Ceng-liong-kiam di tangan Pek Co-gi.
Meskipun jago Tibet itu sedang menyalurkan tenaga untuk menghentikan
pendarahannya, tetapi ilmu kepandaiannya masih belum punah. Begitu tangan si nona
menyentuh tangannya, serentak jago Tibet itu kibaskan pedangnya menusuk!
Si nona terkejut sekali. Buru-buru ia loncat ke samping dan menjerit: “Pek Co-gi,
engkau gila. Akulah!”
Betapapun cepatnya ia menghindar tetapi tak urung betisnya termakan pedang
sehingga mengucurkan darah….
Teriakan itu telah menyadarkan Pek Co-gi. Ia terkesiap karena kekeliruannya itu.

Tring, terdengar senjata beradu keras. Timpukan pedang si nona baju merah tadi,
ditangkis oleh tongkat si paderi. Kemudian paderi itu menyerbunya.
“Lekas berikan pedang itu!” teriak si nona.
Pek Co-gi agak berubah wajahnya tetapi iapun segera menyerahkan pedang pusaka itu.
Sesaat nona itu menerima pedang Ceng-liong-kiam, diapun sudah diserang oleh Tay Hi
siansu dan kedua paderi. Tay Hi telah menyerangnya dengan jurus Ngo-ting-biat-san,
membelah kepala si nona.
Paderi tua yang sabar itu, agaknya telah dirangsang kemarahan karena melihat
keadaan gereja Siau-lim-si yang kacau balau. Pukulannya itu dilancarkan dengan sepenuh
tenaga.
Melihat itu Pek Co-gi menggembor keras. Dua kali ia lancarkan pukulan Bu-ing-sin-kun.
Kedua paderi yang menyerang dari samping itu segera rasakan dadanya tergetar, macam
orang yang dihantam palu besi. Darah bergolak keras dan orangnyapun segera terhuyung
mundur tiga langkah. Tongkat mereka pun terlepas jatuh.
Nona baju merah itu memang memiliki kepandaian silat yang amat tinggi. Sekonyongkonyong
ia berputar tubuh mengisar dua langkah ke samping, lalu menabas tongkat Tay
Hi.
Sesungguhnya ia sayang sekali akan pedang pusaka itu. Tetapi dalam detik-detik
berbahaya ia tak menghiraukan suatu apa lagi.
Tring, terdengar dering melengking nyaring. Tongkat Tay Hi terkisar ke samping, ia
loncat mundur dan nona itupun mengisar ke samping.
Ketika memeriksa, ternyata tongkat Tay Hi kutung separuh. Demikian nona itu. Ia
juga memeriksa pedangnya. Tetapi ternyata pedang itu tak kurang suatu apa. Girangnya
bukan kepalang sehingga luka pada betisnya tadi tak dirasakan sama sekali. Dengan
memekik nyaring, ia menyerang Tay Hi lagi.
Sehabis melepaskan dua buah pukulan Bu-ing-sin-kun, memang Pek Co-gi telah dapat
melukai kedua paderi Siau-lim-si. Tetapi dia sendiri pun makin payah keadaannya.
Pendarahannya yang sudah hampir berhenti kembali merekah dan mengucur darah lagi….
Sementara itu karena melihat kedua kawannya terluka, beberapa paderi yang menjaga
pintu gereja segera menyerbu. Empat orang paderi dengan senjata masing-masing segera
menyerbu.
Tetapi setelah memiliki pedang pusaka, nona baju merah itu ibarat harimau tumbuh
sayap. Serangannya tambah sadis. Sedang Tay Hi harus berhati-hati jangan sampai
tongkatnya terpapas lagi.
Sesungguhnya kepandaian kedua orang itu berimbang. Hanya karena si nona lebih
unggul dalam senjata, Tay Hi agak terpancang gerakannya. Serangan si nona membuat
kelabakan. Apalagi jurus-jurus permainan pedang si nona itu memang aneh maka dengan
cepat ia dapat menang angin. Dalam lima jurus saja, paderi Siau-lim-si itu sudah
kelabakan setengah mati.
Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong, Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat, Sin-to Lo Kun dan Tuihong-
tiau Ngo Cong-gi tengah bertempur seru dengan rombongan paderi Siau-lim-si.
Walaupun tahu keadaan Pek Co-gi yang payah itu, tapi mereka tak dapat menolong.
Sekonyong-konyong terdengar lengking yang nyaring. Sesosok tubuh melayang tiba.
Empat paderi yang menyerang Pek Co-gi telah mencelat senjatanya.
Kawanan paderi itu terpaksa mundur. Ketika mengamati ternyata yang muncul itu
seorang dara baju biru. Tangan kirinya mencekal sebatang pedang, tangan kanan sebuah
senjata aneh semacam tanduk rusa. Nona itu tegak berdiri di samping Pek Co-gi.
“Berhenti!” teriaknya. Dan si nona baju merahlah yang pertama-tama menarik
senjatanya terus loncat mundur.
Kau Cin-hong, Tio Hong-kwat, Ngo Cong-gi dan Lo Kun, setelah melancarkan dua kali
serangan dahsyat, pun lalu loncat mundur.

Nona baju biru itu sejenak sapukan matanya memandang ke sekeliling. Serunya
dengan nada dingin: “Siapakah yang menjadi pimpinan rombongan paderi itu?”
Suaranya garang, sikapnya angkuh sekali.
Tay Hi mendengus dingin: “Anak wanita masih begitu muda. Jika ada urusan apa-apa,
silahkan bicara pada loni!”
Tay Hi, paderi yang penuh toleransi dan kesabaran, karena menyaksikan keadaan
gereja diobrak-abrik orang Beng-gak, membenci sekali kepada setiap anak buah Beng-gak.
Nona baju biru itu tersenyum, serunya: “Di antara sekian banyak paderi yang berada di
sini, memang engkaulah yang paling tua. Sebenarnya hal itu sudah kuketahui dan tak
perlu kutanyakan lagi!”
Tay Hi menukas: “Sebaiknya li-sicu jangan bicara yang tiada berguna….”
WANITA IBLIS 25
Saduran: S.D. Liong
JURUS itu merupakan ilmu tangan kosong yang istimewa dari Siau-lim-si. Sudah tentu
Siu-lam sukar menghindari serangan tak terduga-duga itu. Tongkat pusaka dapat
dicengkeram Tay Ih.
Siu-lam kerutkan dan membentak keras-keras: “Jika lo-siansu tak mau melepaskan
tongkat ini sehingga pusaka gereja Siau-lim-si sampai rusak, jangan persalahkan pada
wanpwe!”
Dengan sekuat tenaga ia menariknya ke belakang. Karena takut tongkat pusaka itu
rusak terpaksa Tay Ih lepaskan cekalannya.
Siu-lam ayunkan tongkat itu untuk menghalau tiga orang paderi yang hendak
menyerbunya. Karena takut tongkat pusaka itu rusak, ketiga paderi itupun terpaksa tak
berani menangkis dan hanya loncat menghindar saja.
Setelah mengundurkan kawanan paderi, berserulah Siu-lam dengan lantang: “Bagi
wanpwe, tongkat pusaka ini tiada berguna. Harap sekalian suhu jangan menduga jelek
kepadaku, sama sekali wanpwe tak mempunyai pikiran untuk memiliki tongkat ini….”
Tiba-tiba kata-katanya terputus oleh sebuah tertawa dingin yang menghambur dari luar
ruang. Serempak dengan itu terdengar suara seruan melengking: “Tetapi dengan
jatuhnya tongkat pusaka Siau-lim-si ke tangan orang lain, berarti suatu hinaan yang
memalukan!”
Siu-lam berpaling. Di luar ruangan tampak delapan lelaki berpakaian ringkas sedang
mengawal sebuah tandu, tegak dua orang gadis. Yang seorang berpakaian biru dan yang
seorang berpakaian warna merah.
Agaknya Lam-koay dan Pak-koay tertarik perhatiannya kepada tandu itu. Keduanya
memandang tandu itu dengan tajam.
Melihat tandu itu, segera Siu-lam berseru kepada sekalian paderi Siau-lim-si: “Itulah
rombongan Beng-gak. Menilik cara kedatangannya, kemungkinan ketua Beng-gak datang
sendiri!”
Tay Ih menghela napas perlahan dan berpaling kepada sekalian paderi: “Ini suatu bukti
yang nyata bahwa ciang-bun sute telah dikuasai oleh orang Beng-gak. Demi melindungi
gereja Siau-lim-si yang telah dibangun sejak beratus tahun, terpaksa kita harus
melepaskan diri dari segala ikatan peraturan. Apapun yang akan terjadi, semua adalah
tanggung jawab loni seorang. Sekarang harap sekalian sute mendengar petunjukku.”
Yang berada dalam ruang permusyawarahan situ, kecuali Tay Ih dan Tay Hong serta
keempat sute mereka yang sudah menjadi mayat di tengah ruangan, kini hanya tinggal
empat orang paderi golongan gelar TAY.
Sejak berdirinya Siau-lim-si ratusan tahun yang lalu, baru pertama kali itu mengalami
peristiwa yang sedemikian tragis.

“Baik, kami siap menunggu perintah suheng,” keempat paderi gelar Tay itu serempak
mengatakan ketaatannya.
Tay Ih siansu tersenyum getir, serunya: “Tay To sute, lindungilah ciang-bun-jin!”
Tay To siansu mengiyakan dan segera menghampiri Tay Hong siansu. Tampak
sepasang mata ketua Siau-lim-si itu merentang lebar memandang ke arah tandu di luar
ruang. Napasnya masih terengah-engah karena habis bertempur dengan Siu-lam tadi.
Siu-lam segera mengangsurkan tongkat Liok-giok-hud-ciang kepada Tay Ih: “Tongkat
pusaka ini merupakan lambing kekuasaan tertinggi dari gereja Siau-lim-si. Harap lo-siansu
menggunakan tongkat ini untuk memberi perintah!”
Dengan khidmat, Tay Ih menyambuti tongkat itu lalu berpaling kepada dua orang
paderi yang berada di sebelah kiri: “Harap sute berdua memimpin barisan Lo-han-tin….”
Tiba-tiba Pak-koay Ui Lian meraung keras. Ia ayunkan tangannya menghantam tandu.
Lwekang orang aneh itu tinggi sekali, apalagi dia meyakinkan ilmu pukulan Hian-pingciang.
Pukulan yang disertai kemarahan itu, menimbulkan tenaga yang luar biasa
kedahsyatannya.
Siu-lam terkejut. Ia heran mengapa tahu-tahu Pak-koay marah-marah. Jika yang
berada dalam tandu itu benar-benar ketua Beng-gak, serangan Pak-koay itu tentu akan
menimbulkan kemarahan. Dan pertempuran dahsyat pasti akan terjadi.
Belum Siu-lam hilang kejutnya, tiba-tiba Lam-koay Shin Ki pun mendengus geram:
“Hm, budak kurang ajar, engkau berani kurang ajar di hadapanku!” mengangkat tangan ia
pun segera lepaskan pukulan ke arah tandu.
Dua penjaga berbaju hitam yang menjaga di muka tandu, rupanya tak kenal siapa Pakkoay.
Dengan garang mereka menangkis. Mereka baru terkejut sekali ketika tubuh
mereka dilanda oleh serangkun gelombang hawa yang amat dingin sekali. Tubuh mereka
menggigil dan terhuyung-huyung ke belakang terus rubuh ke tanah.
Beberapa pengawal baju hitam yang menjaga di sekeliling tandu, serempak
menjulurkan tangan mereka ke muka dada. Mereka bersatu untuk menangkis pukulan
Hian-ping-ciang.
Benar pukulan Pak-koay dapat ditahan, tetapi tak urung wajah pengawal tandu itu
berubah pucat. Tubuh mereka menggigil seperti dibenam air es.
Pada saat pengaruh pukulan dingin itu masih belum lenyap, tiba-tiba pukulan Cek-yanciang
atau pukulan bara merah dari Lam-koay Shin Ki menyusul tiba.
Pukulan ganas Cek-yan-ciang tak kalah dahsyatnya dengan pukulan dingin Hian-pingciang.
Hanya sifatnya yang berbeda. Kalau Hian-ping-ciang menghambur hawa sedingin
es, Cek-yan-ciang menguap bara api yang sepanas lahar gunung berapi.
Melihat gelagat jelek, kedua gadis baju biru dan merah tadi segera lompat lari ke luar
halaman.
Melihat itu, dengan gugup Siu-lam segera berseru kepada Lam-koay dan Pak-koay:
“Harap lo-cianpwe berdua mengejar kedua gadis itu. Sebaiknya dapat ditangkap hiduphidup
agar wanpwe dapat menjatuhkan hukuman!”
Lam-koay dan Pak-koay merupakan tokoh yang termasyhur di dunia persilatan. Sejak
malang melintang di dunia persilatan, kecuali dikalahkan oleh Kak Seng taysu, mereka
belum pernah mendapat tanding. Bahwa saat itu Siu-lam seolah-olah memberi perintah,
mereka marah sekali.
“Huh, bayi yang belum hilang bau tetek ibunya, berani memerintah padaku…” seru Pakkoay
Ui Lian. Tetapi ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena saat itu terdengar
beberapa suara erang tertahan disusul dengan jatuhnya beberapa sosok tubuh ke tanah.
Ternyata beberapa pengawal tandu tadi, sudah remuk perkakas dalam tubuhnya ketika
menerima pukulan Hian-ping-ciang dari Pak-koay Ui Lian. Mereka sudah tak dapat
bertahan lagi.
Saat itu Tay Ih siansupun tiba. Ketika melihat keadaan Tay Hong, dia terkesiap dan
membisiki Tay To: “Tay To sute, bawalah dia ke ruang Kwat-si-wan untuk beristirahat.”

“Tay Hong suheng sudah kehilangan kesadaran pikirannya. Dikuatirkan dia tak dapat
tenang!” kata Tay To.
“Jika perlu, tutuklah jalan darahnya!” kata Tay Ih.
Tay To mengiyakan. Segera ia menutuk jalan darah Tay Hong lalu dibawanya ke ruang
Kwat-si-wan.
Suasana ruang kedua dari gereja Siau-lim-si kembali tenang. Tiba-tiba Tay Ih bertanya
kepada Siu-lam tentang isi tandu itu.
“Entahlah, bermula tampaknya seperti terisi tokoh Beng-gak yang penting. Tetapi
sekarang rupanya bukan….”
“Biarlah loni yang membuka selubung tandu itu!” kata Tay Ih seraya terus hendak
menarik kain selubung tandu itu.
“Tunggu dulu, siansu!” cegah Siu-lam.
“Kenapa?”
“Gerombolan Beng-gak banyak akal muslihat. Kedua gadis baju merah dan biru tadi
adalah murid kesayangan ketua Beng-gak. Kepandaian mereka cukup sakti. Beberapa
hari yang lalu, taysu sendiri pernah bertempur dengan mereka di dalam….”
“Benar,” sahut Tay Ih.
“Jika dalam tandu berisi pemimpin Beng-gak tak mungkin kedua gadis itu meninggalkan
begitu saja. Tetapi apabila tandu itu tidak terisi tokoh penting, tentu terisi suatu
perangkap yang berbahaya….”
Siu-lam berhenti sejenak. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada beberapa pengawal
tandu yang terkapar di tanah. Semuanya mati kecuali hanya seorang yang masih
bernapas.
Siu-lam menghampiri orang itu dan menarik tubuhnya lalu dibuka jalan darahnya.
Pengawal tandu itu menghela napas panjang dan membuka mata.
“Apa isi tandu itu? Lekas kau bilang jika kau ingin hidup!” hardik Siu-lam.
Mulut pengawal itu bergerak, tangannya bergoyang-goyang dan kepalanya
menggeleng. Tapi sepatah pun ia tak mengatakan apa-apa.
“Apa kau benar-benar tak mau mengatakan?” bentak Siu-lam. Dengan geram ia
mendorong tubuh orang itu. Karena sudah terluka parah, dorongan itu membuatnya
muntah darah dan putuslah jiwanya.
Siu-lam tertegun. Ia berbangkit dan berkata pada Tay Ih: “Harap lo-cianpwe suka
memberi perintah agar semua paderi yang duduk di halaman itu segera kembali ke posnya
masing-masing. Suasana tenang saat ini, hanya sementara saja. Merupakan permulaan
dari gelombang badai yang segera akan melanda. Menilik telaganya pertempuran dahsyat
segera akan terjadi!”
Tay Ih menghaturkan terima kasih atas bantuan anak muda itu.
“Ah, wanpwe hanya sekedar melaksanakan perintah dari seorang lo-cianpwe saja,” kata
Siu-lam.
“Siapa?” Tay Ih heran.
“Maaf, kelak siansu tentu mengetahui sendiri,” kata Siu-lam. Kemudian ia pinjam
pedang kepada Tay Ih.
Tay Ih merogoh jubahnya dan menyerahkan sebuh gin-pay yang berbentuk panjang.
“Benda ini kuterima dari Tay Hui sute ketika hendak menutup mata. Tay Hui sute
mengatakan benda ini milik sicu dan supaya diserahkan kepada sicu.”
Gin-pay atau lencana perak itu dahulu ditemukan Siu-lam di bawah tulang tengkorak
wanita Giok-kut-yau-ki Ih Ing-hoa dalam goa di perut gunung Po-to-san.
Siu-lam segera menyimpan benda itu.
Tay Ih siansu memanggul tongkat Liok-giok-hud-ciang menuju ke depan tangga hitam.
Sambil mengacungkan tongkat pusaka itu, ia berseru nyaring:
“Ciang-bun-jin Siau-lim-si Tay Hong sute saat ini berada dalam kekuasaan pengaruh
orang Beng-gak. Entah diberi racun apa. Yang jelas kesadaran pikirannya hilang. Demi

menyelamatkan gereja Siau-lim-si, terpaksa loni memberanikan diri untuk mengambil alih
pimpinan gereja. Setelah ancaman bahaya musuh berlalu, loni segera menyerahkan diri di
hadapan arwah leluhur cou-su Siau-lim-si, untuk menerima keputusan hukuman yang
dijatuhkan para tianglo….”
Sekalian paderi yang berada di halaman itu serempak memberi hormat kepada tongkat
pusaka.
Berkata pula Tay Ih: “Saat ini musuh sedang mengerahkan anak buahnya untuk
menyerang gereja ini. Tetapi berkata bantuan Pui sicu, rencana mereka telah gagal.
Untuk sementara waktu, harap kalian kembali ke tempat masing-masing dulu. Yang
tinggal di sini hanya anggota-anggota barisan Lo-han-tin untuk berjaga-jaga.”
Para paderi yang duduk di halaman itu serempak berbangkit dan bubaran. Yang masih
tinggal hanya lebih kurang seratus paderi.
Siu-lam mengambil tongkat salah seorang paderi yang meninggal lalu digunakan untuk
menyingkap kain selubung tandu.
Begitu kain selubung tersingkap, segumpal asap putih berhamburan keluar. Ternyata
dalam tandu itu terisi sebuah Giok-ting atau tempat pendupaan dari kumala. Dari Giokting
itulah asap gumpalan membubung keluar.
Seketika Siu-lam teringat akan pengalalamannya ketika di Beng-gak dahulu. Serentak
ia terkejut dan berteriak sekeras-kerasnya: “Awas, asap dari Giok-ting itu mengandung
racun! Harap sekalian suhu jangan mendekatinya….”
Sekalian paderi Siau-lim-si mempunyai kesan baik terhadap Siu-lam. Sekarang mereka
menaruh perindahan kepada anak muda itu. Mendengar peringatan Siu-lam, buru-buru
para paderi itu menutup pernapasan dan menyingkir ke samping.
Siu-lari menuju ke dataran rumput. Menjemput segenggam pasir ia segera menimpa
Giok-ting.
Diam-diam ia mengagumi ketajaman panca indera kedua tokoh Lam-koay dan Pakkoay.
Begitu tandu tiba, kedua tokoh itu segera sudah mencium bau, maka dengan cepat,
kedua tokoh aneh itu segera menghantam mati pengawal-pengawal tandu. Jika tidak
dibinasakan, tentulah kawanan pemikul tandu itu sempat membuka selubung tandu dan
celakalah semua orang apabila asap sampai berhamburan kemana-mana.
Para paderi segera membantu Siu-lam untuk memadamkan Giok-ting dengan timbunan
pasir.
Siu-lam minta agar Tay Ih siansu memerintahkan rombongan paderi meninggalkan
halaman itu.
“Sebaiknya barisan Lo-han-tin itu disiapkan untuk menjaga tempat-tempat yang
penting. Halaman terlanjur dibaur asap beracun. Di dalam beberapa waktu asap itu tentu
belum lenyap pengaruhnya. Wanpwe sendiri hendak menjenguk kedua tokoh aneh yang
mengejar musuh tadi!” katanya lebih lanjut.
Tay Ih siansu mempersilahkan pemuda itu supaya meninggalkan ruangan, tetapi Siulam
mengajak berjalan keluar bersama-sama. Para paderi pun mengiringkan kedua orang
itu.
Setelah melintasi beberapa tikungan dan lorong bersimpang, di situlah para paderi
segera membentuk barisan Lo-han-tin.
Tay Ih siansu menghela napas: “Hari ini jika tidak mendapat bantuan Pui sicu mungkin
angkatan gelar TAY yang hanya tinggal empat orang ini, tentu sudah binasa di ruang
permusyawarahan tadi. Murid angkatan ketiga, walaupun terdapat beberapa orang yang
berpangkat bagus, tetapi mereka setingkat lebih rendah dari golongan TAY. Mereka tentu
tak berani menentang amanat tongkat Liok-giok-hud-ciang. Tanpa mengeluarkan seorang
anak buahnya, Beng-gak dapat menghancurkan gereja ini. Ya, tujuh-delapan ratus anak
murid Siau-lim-si pasti akan hancur binasa seluruhnya….”
Siu-lam menghibur paderi itu. Yang penting saat itu harus disiapkan rencana untuk
menghadapi serangan musuh.

“Saat ini bencana kehancuran total sudah lampau. Betapapun saktinya musuh tetapi
untuk menghancurkan Siau-lim-si, tidaklah mudah. Delapan ratus murid Siau-lim-si akan
bersatu-padu untuk mengadu jiwa demi membela gereja ini. Kami bertekad untuk
melawan sampai titik darah yang penghabisan. Musuh tentu akan membayar mahal jika
berani menyerang kemari,” kata Tay Ih siansu.
Tak berapa lama datanglah dua orang paderi kecil dengan membawa sepasang pedang
pusaka. Tay Ih siansu menyerahkan sepasang pedang itu kepada Siu-lam.
“Sepasang pedang ini, walaupun bukan tergolong pusaka Siau-lim-si, tetapi sudah
ratusan tahun berada dalam gereja ini. Jika dipisah, sepasang pedang ini menjadi
sebatang. Tetapi jika disatukan menjadi satu. Yang satu hijau yang satu putih.
Tajamnya bukan buatan. Karena anak murid Siau-lim-si tak pernah menggunakan
pedang, maka loni hendak menyerahkan sepasang pedang itu kepada Pui sicu sebagai
tanda penghargaan gereja Siau-lim-si terhadap bantuan sicu kepada Siau-lim-si.”
Siu-lam menyambuti pemberian itu dengan mengucap terima kasih. Begitu
menghunusnya, pedang itu memancarkan hawa dingin. Yang satu bercahaya hijau, yang
satu putih. Sepintas pandang, pedang itu terang bukan sembarang pedang.
“Ah, bagaimana wanpwe berani menerima pemberian begini hebat. Harap siansu suka
menukar dengan pedang biasa saja,” katanya.
Tay Ih menghela napas: “Memang sepasang pedang itu, bukan pedang biasa.
Berpuluh tahun berselang pernah keluar dan menggemparkan dunia persilatan. Pedang
itu disebut Liong-kau-song-kiam. Yang hijau disebut Liong-kiam, yang putih Kau-kiam.”
“Ah, wanpwe benar-benar tak berani menerimanya!” seru Siu-lam.
“Pui sicu telah banyak membantu Siau-lim-si. Sepasang pedang itu hanya sekedar
sebagai tanda terima kasih Siau-lim-si kepada sicu. Jika sicu menolak, berarti sicu
memandang rendah kepada loni.”
Diam-diam Siu-lam merenung. Ia memastikan pihak Beng-gak tentu akan menyerang
Siau-lim-si lagi. Dengan memiliki senjata sepasang pedang pusaka itu, tentu akan
berguna sekali dalam menghadapi orang Beng-gak nanti. Lebih baik untuk sementara, ia
menerima pemberian itu. Setelah bahaya selesai, ia masih dapat mengembalikan lagi
pedang itu kepada Siau-lim-si.
“Baiklah, untuk sementara ini wanpwe hendak meminjamnya, apabila sudah selesai
tentu wanpwe kembalikan lagi….”
“Tidak, sejak saat ini, sepasang pedang itu sudah menjadi milik sicu!” kata Tay Ih.
Siu-lam tak mau tarik urat. Ia minta Tay Ih segera perintahkan para paderi bersiapsiap
menghadapi musuh, sedang ia sendiri segera menyusul kedua tokoh Lam-koay dan
Pak-koay.
“Tapi sicu tak kenal jalanan di sini. Maksud loni hendak minta Tay Hi sute bersama
empat orang anak murid mengikuti sicu sebagai penunjuk jalan,” kata Tay Ih.
Tapi Siu-lam tak perlu karena kedua Lam-koay dan Pak-koay itu beradat aneh.
Dikuatirkan nanti timbul salah paham. Kemudian ia segera lari keluar gereja. Paderi yang
tersebar di segenap penjuru gereja, setiap kali berjumpa dengan Siu-lam tentu memberi
hormat.
Sampai di luar gereja, Siu-lam tetap belum melihat kedua tokoh aneh itu. Dia heran
dan gelisah. Ia kenal siapa gerombolan Beng-gak yang banyak tipu muslihatnya itu.
Diam-diam ia menyesal mengapa tak mau menerima tawaran Tay Ih supaya diantar oleh
Tay Hi yang lebih kenal jalanan di situ.
Tiba-tiba ia merasa seperti dilanda oleh suatu tenaga kuat yang tak bersuara. Untung
ia sudah waspada. Cepat-cepat ia kerahkan tenaga dalam untuk bertahan. Kemudian
dengan tibanya angin pukulan itu ia segera loncat ke udara dan melayang turun setombak
jauhnya. Sekalipun dengan meminjam tenaga orang itu ia berhasil terhindar dari bencana
kehancuran, namun tak urung darah dalam dadanya bergolak.

“Hei, siapakah yang memiliki tenaga dalam sedahsyat ini? Pada dalam lingkaran dua
tombak di sekeliling sini, tiada tempat untuk orang bersembunyi. Jelas bahwa penyerang
itu tentu berada paling sedikit pada jarak dua tombak jauhnya. Dan pukulan itu sama
sekali tak mengeluarkan suara apa-apa, jauh berbeda dengan pukulan Biat-gong-ciang…”
diam-diam ia menimang.
“Hai, itulah Bu-ing-sin-kun…!” mendadak ia teringat. Dan serempak dengan itu ia
mendengar suara orang tertawa macam dering kelinting. Datangnya dari arah barat di
balik sebuah batu karang. Dan pada lain saat, muncullah seorang gadis berbaju merah….
Siu-lam terbeliak kaget. Nona baju merah salah satu murid dari Beng-gak. Diam-diam
ia heran mengapa kedua tokoh aneh tidak mampu meringkus nona itu.
Nona baju merah itu mencekal pedang dan kebut Hud-tim. Walaupun wajahnya agak
kaget namun mulutnya masih menyungging senyum, serunya: “Eh, bagaimana? Apakah
kau masih hidup dan tak jadi mati terlempar di jurang?”
Siu-lam berkerut dahi, serunya: “Kau mampu lolos dari tangan kedua lo-cianpwe itu,
benar-benar besar peruntunganmu!”
Nona baju merah itu agak tertegun: “Aku dapat berubah seratus macam rupa,
bagaimana engkau mampu mengenali aku?”
“Itulah! Yang dikejar oleh kedua lo-cianpwe itu tentulah lain orang yang menyamar
jadi dirimu,” diam-diam Siu-lam tersadar. Kemudian ia mendengus: “Hm, orang Beng-gak
memang banyak akal muslihatnya….”
Nona baju merah itu tertawa mengejek:
“Gereja Siau-lim-si sudah masuk ke perangkap kami. Tunggu apabila nanti malam
suhuku datang tentu segera akan diadakan penyembelihan besar-besaran….”
“Ah, mungkin tidak seperti yang kalian harapkan…” sahut Siu-lam. Tetapi ia tak dapat
melanjutkan kata-katanya karena saat itu dadanya seperti terlanda oleh pukulan yang
tidak kelihatan.
Siu-lam tadi sudah menderita serangan gelap semacam itu. Sudah tentu ia sudah
berjaga-jaga. Sekalipun pukulan itu tidak mengeluarkan suara, tetapi dalam suasana dan
tempat seperti di situ, asal orang memperhatikan dengan cermat, tentu akan merasa
adanya semacam gelombang arus hawa dingin. Buru-buru ia ayunkan tangan kanan
menampar.
Ia sudah menginsyafi bahwa tenaga dalamnya tidak dapat mengimbangi serangan
pukulan tak bersuara itu. Sehabis memukul, ia cepat-cepat loncat ke samping dan
memaki.
“Hai, Pek Co-gi, kalau memang ksatria, jangan main melempar batu sembunyi tangan
begitu! Jika berani hayo keluarlah! Aku mau coba sampai di mana ilmu kepandaian orang
Beng-gak. Selain pukulan Bu-ing-sin-kun, hayo keluarkanlah semua kebisaanmu!”
Siu-lam memperhitungkan. Kalau seorang tokoh sakti semacam Tay Hong siansu saja
dapat ditundukkan Beng-gak, apalagi Bu-ing-sin-kun Pek Co-gi jago dari Tibet itu. Dan
dugaan itu didasarkan bahwa kecuali Pek Co-gi, rasanya tiada lain tokoh yang memiliki
ilmu pukulan tanpa suara.
Serempak dengan tantangan itu, dari balik sebuah pohon siong besar, muncullah
seorang lelaki bertubuh gemuk pendek. Di belakangnya diiringi empat-lima orang.
Setelah mengetahui jelas orang-orang yang muncul itu, Siu-lam tercengang-cengang.
Si gemuk pendek memang Bu-ing-sin-kun Pek Co-gi. Sedang pengiringnya itu ialah Sin-to
Lo Kun, Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong, Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat dan Tui-hong-tiau
Ngo Cong-gi.
Tokoh ternama itupun ternyata telah jatuh ke tangan Beng-gak. Dan dikuatirkan pula
bahwa Su Boh-tun dan Siau Yau-cu pun telah ditunjuk dan menjadi alat orang Beng-gak.
Tokoh-tokoh itu berilmu sakti, apabila Beng-gak sampai dapat menggunakan tenaga
mereka, tentu mengerikan sekali. Beng-gak tentu benar-benar akan dapat berhasil
melaksanakan cita-citanya untuk menguasai dunia persilatan….

Siu-lam teringat akan pengalamannya ketika menyerbu Beng-gak. Kawanan anak buah
Beng-gak yang mukanya dicontrengi warna-warni dan berpakaian aneh itu, kemungkinan
tentulah tokoh-tokoh berilmu yang telah jatuh dalam kekuasaan Beng-gak.
Terdengar nona baju merah itu tertawa melengking: “Kenalkah engkau pada mereka?”
Siu-lam cepat tenangkan perasaannya dan menyahut: “Benar, aku kenal mereka!”
Tertawalah nona baju merah itu dengan perasaan tawar: “Dan masih ada lagi Su Botun
dan tokoh Bu-tong-pay Siau Yau-cu itu, kenalkah engkau juga?”
“Hm, kalau kenal lalu bagaimana?”
“Mereka dahulu tentulah sahabat-sahabatmu, tetapi sekarang menjadi musuhmu…”
nona itu berhenti lalu memandang Pek Co-gi, serunya: “Apakah engkau yakin
kepandaianmu dapat mengalahkan kelima tokoh yang menyerangmu dengan serempak?”
Siu-lam terkejut. Diam-diam ia memang mengakui kebenaran ucapan nona itu.
Jangankan maju berbareng, sedang satu lawan satu saja, ia merasa belum tentu dapat
menang.
Belum sempat ia menjawab, nona baju merah itu mengangkat tangan memberi isyarat.
Kiu-sing-tui-hun Kau Cing-hong, Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat dan Sin-to Lo Kun
serentak mencabut senjatanya dan maju ke muka.
Siu-lam pun cepat mencabut Ceng-liong-kiam dan Pak-kau-kiam sepasang pedang
pusaka pemberian Tay Ih siansu. Sepasang pedang itu memancar berkilat-kilat dingin.
“Pedang yang bagus sekali! Jangan harap kami dapat melepaskan engkau sebelum
sepasang pedang pusaka itu jatuh ke tanganku!” seru si nona baju merah seraya loncat ke
muka seraya kebutkan hud-tim dan memberi perintah kepada ketiga tokoh itu supaya
segera maju menyerang.
Dengan golok kim-pwo-to, Lo Kun segera mempelopori menyerang lebih dahulu dengan
sebuah jurus Lat-biat-hoa-san. Ia hendak membelah kepala Siu-lam.
Melihat golok Lo Kun itu begitu dahsyat, karena kuatir akan merusakkan sepasang
pedangnya, Siu-lam terpaksa loncat menghindar ke samping.
Tetapi serentak ia disambut oleh Kau Cin-hong yang menutukkan ujung ruyungnya
Kau-kin-koa-thau (Ruyung urat naga kepala ular).
Siu-lam memutar pedang Ceng-liong-kiam yang dicekal di tangan kiri, untuk menjaga
ruyung.
Melihat pedang itu mengeluarkan sinar yang berkilat-kilat dingin, Kau Cin-hong tidak
berani mengadu dengan ruyungnya. Cepat ia menarik kembali senjatanya.
Melihat sepasang pedang itu memancarkan sinar kehijau-hijauan, tak beranilah Kuising-
tui-hun Kau Cin-hong untuk menangkis dengan ruyungnya. Buru-buru ia menarik
pulang ruyungnya.
Tetapi pada saat itu thiat-pit dari Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat sudah menutuk dada
Siu-lam. Terpaksa Siu-lam menangkis dengan pedang di tangan kanan.
Tio Hong-kwat cepat menarik pit dan secepat kilat kibaskan tiga batang pedang yang
terikat pada tangan kanannya. Tiga batang pedang yang lebih banyak menyerupai bentuk
belati itu diikat dengan rantai halus pada siku lengannya. Dapat digunakan sebagai
senjata biasa pun sebagai senjata rahasia yang ditaburkan ke musuh.
Siu-lam menggembor keras. Ceng-liong-kiam dia terus dibabatkan dengan jurus Thiatsoh-
lan-cou.
Dalam beberapa bulan setelah mendapat pelajaran dari kakek Hian-song dan kedua
tokoh Siau-lim-si, Kak Bong dan Kak Hui, Siu-lam memperoleh kemajuan pesat sekali.
Ditambah pula dengan kecerdasan otaknya, dapatlah ia menggunakan apa yang telah
dipelajarinya itu dengan tepat dan cepat.
Cara mengendapkan pedang dan membalikkannya untuk menyerang, memang banyak
menghemat waktu tak sedikit. Dan gerakan yang singkat itu mengandung arti besar sekali
dalam menentukan kalah menang.

Tring… tepat sekali pedang Ceng-liong-kiam berhasil memapas belati yang dikibaskan
Tio Hong-kwat. Dan kutunglah belati itu menjadi dua dengan menimbulkan dering
gemerincing lengking suara.
Sama sekali Siu-lam tak mengira bahwa pedang pusaka pemberian ketua Siau-lim-si
ternyata sedemikian tajamnya. Ia sendiri tertegun.
Justru ia tengah tertegun, tiba-tiba Lo Kun membacok pinggangnya dan ruyung Kau
Cin-hong pun menutuk dada Siu-lam.
Sekalipun sebatang belatinya sudah terpapas tetapi Tio Hong-kwat masih mempunyai
dua batang belati. Dan tangan kanannya masih mencekal sebatang thiat-pit. Setelah
terkesiap sejenak, Tio Hong-kwat segera menyerang lagi.
Siu-lam memutar sepasang pedangnya melawan ketiga tokoh penyerangnya. Cengliong-
kiam dan Pek-kau-kiam diputar sederas hujan mencurah.
Beberapa bulan yang lalu, salah seorang dari ketiga tokoh itu tentu dapat mengalahkan
Siu-lam. Tetapi saat itu, keadaan jauh sekali bedanya.
Siu-lam telah mengembangkan ilmu pedang Tan lo-cianpwe (kakek dari Hian-song)
sedemikian hebat. Dalam setiap lima enam jurus tentu terdapat jurus yang sukar diduga
perubahannya sehingga musuh mau tak mau dipaksa mundur menghindar.
Tambahan pula Siu-lam mencekal sepasang pedang pusaka. Ibarat harimau tumbuh
sayap, ia dapat melayani ketiga tokoh itu dengan baik dan lancar.
Melihat itu, si nona baju merah kerutkan dahi. Jelas diketahui ketika masih di gunung
Kiu-kiong-san dahulu, pemuda itu masih lemah sekali kepandaiannya. Tapi mengapa
dalam waktu yang tak lama saja, dia sudah berubah menjadi seorang tokoh yang begitu
sakti. Betapapun cerdas otaknya, namun tak mungkin pemuda itu dapat mencapai
kemajuan yang sedemikian pesatnya. Jika dibiarkan, kelak pemuda itu tentu akan
merupakan bahaya besar.
Seketika timbullah keganasan nona itu. Ia membisiki Pek Co-gi: “Dia mempunyai
sepasang pedang pusaka. Bantulah kawan-kawan kita dan segera bunuh pemuda itu.
Berikan pedang itu kepadaku!”
Pek Co-gi, jago Pukulan Tanpa Bayangan yang termasyhur di wilayah Tibet, ternyata
patuh sekali pada nona itu. Dengan menggembor keras ia loncat ke muka seraya
gerakkan kedua tangannya. Seketika menderalah angin badai dari pukulannya yang
dahsyat itu.
Di dalam menghadapi pengeroyoknya, bermula Siu-lam berlaku hati-hati, hanya
bertahan diri tak mau membalas. Tapi sesudah lewat belasan jurus, nyali timbul.
Serangan ketiga tokoh itu ternyata hanya begitu saja. Pada saat ia memutuskan hendak
balas menyerang, tiba-tiba didengarnya Pek Co-gi menggembor keras dan menyerbu.
Seketika Siu-lam rasakan tubuhnya diserang oleh angin yang bertenaga kuat sekali
sehingga ia tersurut mundur tiga langkah dan sepasang pedangnyapun hampir lepas
jatuh.
Memang Pek Co-gi telah membuka serangannya dengan ilmu Bu-ing-sin-kun, lalu ia
susul sekaligus dengan empat buah serangan.
Untung sebelumnya Siu-lam sudah kenal akan kelihayan ilmu pukulan Bu-ing-sin-kun.
Ia sudah berjaga-jaga. Maka begitu merasa angin pukulan itu menyambar, buru-buru ia
mundur.
Tapi sekalipun begitu tak urung darahnya bergolak keras dan ia menderita luka dalam.
Buru-buru ia salurka lwekangnya untuk menyembuhkan luka itu. Ia tak mau mengunjuk
terluka dalam. Ia bersikap tenang seperti tak terjadi sesuatu. Ia sadar, kalau musuh
mengetahui ia terluka, mereka tentu akan menyerang sehebat-hebatnya.
Tapi lain bencana datang menyusul. Ialah dari si nona baju merah yang sudah melesat
ke hadapannya. Dan secepat ia pula kebutkan hud-tim ke tangan Siu-lam. Ia hendak
merebut sepasang pedang pusaka pemuda itu.
Tapi Siu-lam tak mau mudah begitu saja.

Pedang di tangan kiri digerakkan dengan jurus Pek-hun-jut-yu, menangkis kebutan si
nona.
Nona baju merah itu ketawa melengking: “Ih, kau sudah terluka dalam. Jika tak lekas
menyalurkan tenaga, luka itu pasti mengembang dan jiwamu pasti takkan tertolong!
Sekalipun kau pura-pura memaksa diri menghadapi aku, tapi keadaanmu sudah payah.
Dalam tiga puluh jurus saja kau pasti sudah dapat kurubuhkan!”
Si nona menutup bicara dengan menghujani serangan-serangan. Siu-lam terkejut
karena nona itu sudah melihat keadaannya. Diam-diam ia memutuskan untuk
menurunkan tangan ganas. Ia sadar apabila sampai jatuh ke tangan musuh, nona itu
pasti takkan mengampuni jiwanya.
Sehabis menghindar dari tiga buah serangan pedang si nona, Siu-lam berkata: “Karena
aku pernah bertemu dengan orang tuamu, maka aku tak sampai hati melukaimu. Tetapi
mengapa engkau terus-menerus mengejar aku saja? Apa engkau kira aku benar-benar
takut kepadamu?”
Yang dimaksud dengan orang tua si nona baju merah itu ialah orang tua she Hui yang
pernah menolong jiwanya ketika ia terhambur keluar dari perut gunung tempo hari.
Nona baju merah itu tertawa melengking: “Jangan ngaco belo tak keruan! Ayah
bundaku sudah meninggal dan aku dirawat oleh suhu. Jika engkau mau ketemu ayah
bundaku, pergilah ke akhirat!” ia menutup kata-katanya dengan tiga buah serangan
pedang.
Dengan pedang Pek-kau-kiam, Siu-lam gunakan jurus Yap-hwe-soh-thian atau api
membakar langit untuk menahan ketiga serangan itu sedang Ceng-liong-kiam di tangan
kiri balas menyerang dengan jurus Se-lay-co-im. Ilmu pedang Se-lay-co-im ini ajaran dari
Kak Bong taysu. Ganas tapi mengandung welas asih.
Nona baju merah itu terkejut. Walaupun dalam taburan sinar pedang yang
berhamburan dari delapan penjuru itu masih terdapat beberapa lubang kelemahan, tetapi
ia tak tahu cara memecahkannya. Terpaksa ia mundur….
Tiba-tiba Sin-to Lo Kun menggembor keras dan menabas dengan golok kim-pwe-tonya.
Ilmu pedang Tat-mo-kiam dari Siau-lim-si, sekalipun merupakan ilmu pedang istimewa,
tetapi apabila akan menggunakan harus disertai dengan pengerahan tenaga dalam.
Dalam hal ini yang merupakan halangan bagi Siu-lam. Karena dadanya habis terkena
pukulan tanpa bayangan dari Pek Co-gi tadi, ia masih belum dapat menekan darahnya
yang bergolak-golak. Maka sewaktu menggunakan ilmu pedang Tat-mo-kiam, napasnya
terengah-engah. Terhadap tabasan golok Lo Kun, ia tidak berani menangkis tetapi loncat
menghindar.
“Sekalipun aku memakai sepasang pedang pusaka dan mengerti ilmu pedang Tat-mokiam,
tetapi karena dadaku terluka pukulan Bu-ing-sin-kun, perlulah aku harus beristirahat
dulu. Apalagi kalau Pek Co-gi ikut menyerang lagi, tentu repot melayani,” akhirnya ia
mengambil keputusan.
Maka begitu melesat ke samping, tanpa memberi kesempatan musuh menyerangnya
lagi, ia terus lari ke dalam gereja.
“Kejar, dia sudah terluka dalam…!” teriak si nona baju merah.
Kawanan orang gagah itu rupanya taat sekali kepada si nona baju merah. Segera
mereka mengejar.
Dengan paksakan diri, Siu-lam lari ke arah gereja. Untung dalam beberapa kejap ia
dapat mencapai pintu gereja. Empat orang paderi berjubah putih segera keluar
menyambut.
“Hadanglah orang-orang yang mengejarku,” kata Siu-lam seraya terus menerobos ke
dalam.
Karena sudah kenal akan anak muda itu, keempat paderi itupun memberi jalan.
Kemudian mereka bersiap menyambut kawanan pengejar itu.

Baru beberapa langkah jauhnya, tiba-tiba Siu-lam teringat bahwa Pek Co-gi dengan Buing-
sin-kunnya itu merupakan bahaya besar. Dikuatirkan keempat paderi itu tak kuat
menghadapinya. Segera ia berhenti dan berpaling: “Harap siansu berempat berhati-hati
menjaga pukulan Bu-ing-sin-kun…” tiba-tiba ia teringat bahwa Pek Co-gi itu berasal dari
daerah Tibet, kemungkinan keempat paderi itu tersebut belum kenal ilmu pukulan
istimewa dari jago Tibet itu. Maka segera ia memberi penjelasan lagi: “Bu-ing-sin-kun
adalah ilmu pukulan istimewa. Pukulan itu tiada mengeluarkan suara. Baru ketahuan
setelah mengenai sang korban. Dia seorang gemuk pendek, harap hati-hati dan awasi
gerakan tangannya….”
Belum selesai ia memberi penjelasan tiba-tiba seorang paderi yang berada di sebelah
kiri terdengar mendesah tertahan dan terhuyung tiga langkah ke belakang….
Ternyata sewaktu Siu-lam memberi penjelasan, paderi itu sudah terkena pukulan Buing-
sin-kun dari Pek Co-gi.
Siu-lam tergetar hatinya: “Jika aku memikirkan kepentingan diriku sendiri, keempat
paderi ini tentu hancur di tangan mereka. Sudah tentu aku malu terhadap Tay Ih siansu!”
Dengan pertimbangan itu, ia tak jadi masuk ke dalam tetapi melangkah keluar lagi. Ia
diam-diam kerahkan tenaga dalam menanti kedatangan musuh.
Saat itu pertempuran sudah pecah. Kecuali paderi yang belum-belum sudah terkena
pukulan Bu-ing-sin-kun tadi, yang tiga orang segera mengadakan perlawanan.
Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat, Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong dan Sin-to Lo Kun,
walaupun menyerang hebat tetapi ketiga paderi dengan senjata hong-pian-jan dan thiatsiang-
ciang itu telah memberi perlawanan yang gigih.
Melihat itu si nona baju merah memperhitungkan bahwa sekalipun bertempur sampai
seratus jurus, tetap takkan ada kesudahannya. Ia mulai gelisah menyaksikan
pertempuran seru. Begitu seru sehingga sukar dibedakan mana lawan mana kawan.
Dalam keadaan begitu Pek Co-gi pun tak sempat melancarkan pukulan sakti Bu-ing-sinkun
lagi.
Tak dapat lagi si nona baju merah itu menahan diri. Segera ia melesat menyerbu ke
tengah pertempuran. Dengan pedang ia menusuk dada seorang paderi dan hud-tim di
tangan kiri mengebut lengan seorang paderi di sebelah kiri.
Desakan nona itu memaksa kedua paderi Siau-lim-si tadi mundur selangkah.
Memang ilmu silat dari Beng-gak mempunyai aliran tersendiri. Selain jurus-jurusnya
yang aneh, pun sangat ganas. Jauh bedanya dengan ilmu silat yang kebanyakan. Begitu
nona baju merah itu terjun dalam pertempuran, situasinya segera berubah. Ketiga paderi
itu bingung tak keruan menghadapi serangan si nona yang menggunakan jurus-jurus
serba aneh dan ganas.
Saat itu Siu-lam sudah sempat menyalurkan lwekangnya. Melihat ketiga paderi
terdesak, ia segera loncat membantu.
Memang sejak makan kuwih Cwan-hiong-kau dari paderi Kak Bong dan disaluri tenaga
sakti dari paderi itu, ia merasa terdapat perubahan dalam tubuhnya. Maka dalam waktu
yang singkat saja, ia sudah pulih tenaganya.
Tiba-tiba terdengar suara doa yang nyaring. Tay Hi siansu dengan diiringi dua belas
ko-chiu Siau-lim-si berlari-lari mendatangi.
Diam-diam Siu-lam menimang. Dalam keadaan berbahaya seperti saat itu, tak perlulah
kiranya harus memegang tata susila kaum persilatan lagi. Apalagi menghadapi
gerombolan Beng-gak yang ganas. Biarlah rombongan paderi Siau-lim-si itu segera maju
serempak menghantam musuh.
Dalam pada menimang itu, Siu-lampun sudah lancarkan tusukan dengan pedang Cengliong-
kiam ke arah si nona.
Setiap kali beradu senjata dengan Siu-lam, nona itu merasa bahwa pemuda itu
sekarang bertambah pesat sekali lwekangnya. Diam-diam nona itu tak berani memandang

ringan. Sedapat mungkin ia menghindari benturan senjata. Tetapi Siu-lam agaknya
sengaja mencari kesempatan untuk adu kekerasan dengan nona itu.
Tring, tring, tring, dengan sebuah gerak yang secepat kilat menyambar, Siu-lam
sekaligus menangkis tiga buah tusukan si nona yag dilancarkan kepada ketiga paderi.
Tiba-tiba Pek Co-gi menggembor keras dan serentak menerjang Siu-lam. Dengan jurus
Tio-to-ni-liong atau Menjolok naga kuning, tinjunya menghujam ke dada Siu-lam.
Jago gendut dari Tibet itu memiliki tenaga yang kuat sekali. Setiap pukulannya tentu
menimbulkan deru angin yang menyeramkan.
Yang paling dikuatirkan Siu-lam hanyalah pukulan Bu-ing-sin-kun. Karena pukulan
yang tak bersuara itu sukar untuk dijaga. Maka ia harus cepat-cepat menundukkan jago
Tibet itu lebih dulu. Begitu menghindar, sambil berputar ia menyerang sekuat-kuatnya.
Setelah terlepas dari serangan Siu-lam, kegagahan nona baju merah itu mulai tampak
lagi. Sekaligus ia lancarkan tiga buah serangan pedang kepada ketiga paderi sehingga
paderi-paderi itu kelabakan dibuatnya.
Untunglah pada saat itu Tay Hi siansu dan rombongannya sudah tiba. Mereka segera
menyerbut nona baju merah itu.
Tay Hi siansu merupakan salah seorang paderi Siau-lim-si yang tinggi kedudukannya.
Ilmu kesaktiannya pun amat disegani. Ia memutar tongkat sian-cian laksana hujan
mencurah. Beberapa jurus kemudian, nona baju merah itu merasa tertekan. Buru-buru ia
curahkan perhatiannya untuk melayani Tay Hi.
Karena terlepas dari tekanan si nona, kini barisan paderi Siau-lim-si mulai tersusun lagi.
Pertempuran antara Siu-lam dan Pek Co-gi berlangsung seru sekali. Dengan sepasang
pedang pusaka dan ilmu permainan pedang yang beraneka coraknya, Siu-lam dapat
memaksa jago Tibet kelabakan setengah mati.
Dalam beberapa kejap saja, kedua jago itu sudah melangsungkan pertempuran sampai
lebih dari duapuluh jurus. Tiba-tiba Siu-lam merasa bahwa tenaga dalamnya sekarang
jauh lebih maju dari dulu. Setelah sempat mengawasi bahwa situasi pertempuran tidak
lagi membahayakan kedudukan Siau-lim-si, mulailah ia lancarkan ilmu pedang ajaran
kakek dari Hian-song, ialah ilmu sakti Jiuw-toh-co-hua. Pedang Ceng-liong-kiam
berhamburan laksana hujan mencurah dari langit.
Pek Co-gi tergetar dan loncat mundur. Ilmu pedang yang belum lengkap itu, tetap
tiada tandingannya.
Siu-lam memburu terus. Dia tak memberi kesempatan pada Pek Co-gi lagi. Begitu
loncat terus menyerangnya gencar.
Dalam keadaan terdesak, Pek Co-gi menghantam sekuat-kuatnya dan tangan kiri
gunakan ilmu Kim-na-chiu untuk mencengkeram lengan Siu-lam.
Ceng-lion-kiam dimainkan Siu-lam dalam jurus It-chiu-gin-hoa. Dan untuk menghindari
cengkeraman musuh, ia miringkan tubuh ke samping. Kemudian Pek-kau-kiam ditaburkan
dalam jurus Sin-liong-sam-sian.
Gerakan yang hebat dari anak muda itu kembali memaksa jago Tibet itu mundur dua
langkah.
Siu-lam tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Pedang ditaburkan dalam jurus Jiu-tohco-
hua dan mundurlah Pek Co-gi beberapa langkah.
Hanya dalam beberapa kejap saja, Siu-lam telah memaksa Pek Co-gi mundur sampai
tiga tombak jauhnya. Dalam kesempatan yang luang, ia berkata dengan perlahan kepada
jago Tibet itu:
“Harap lo-cianpwe mundur ke balik gunung itu, wanpwe hendak bicara sedikit!”
Sambil lancarkan dua buah pukulan, Pek Co-gi berseru: “Mau bilang apa, lekas
katakanlah sekarang saja!”
Kuatir jago Tibet itu akan mendapat kesempatan untuk melancarkan pukulan Bu-ingsin-
kun, Siu-lam mendesaknya lagi dengan hamburan pedang dan bicara lagi: “Maaf, Buing-
sin-kun memang sukar dijaga, maka wanpwe terpaksa mendesak begini… Tapi di sini

bukan tempat yang cocok untuk berbicara,” katanya setelah berhenti sejenak: “Jika locianpwe
percaya, harap lo-cianpwe suka mundur beberapa tombak lagi.”
Dalam pada berbicara Siu-lam tak hentinya mempergencar serangan pedangnya untuk
mendesak jago Tibet itu supaya mundur.
Rupanya Pek Co-gi mau mendengar permintaan Siu-lam mundur beberapa langkah.
Tiba-tiba Siu-lam kendorkan serangan pedangnya dan sambil tersenyum ia berkata:
“Lo-cianpwe, jika lo-cianpwe merasa sulit meluluskan permintaan wanpwe, baiklah kita
bicara saja sambil bertempur, setuju?”
“Bicaralah!” sahut Pek Co-gi.
Siu-lam menghela napas dan berkata dengan rawan: “Lo-cianpwe seorang yang berilmu
sakti dan harum namanya. Tapi mengapa lo-cianpwe rela menjadi kaki tangan
gerombolan Beng-gak? Wanpwe benar-benar tak mengerti!”
Jago Tibet menatap Siu-lam. Tiba-tiba ia menyerang dengan kedua tangannya.
Sekaligus ia lancarkan lima jurus serangan: “Itu urusanku pribadi, orang lain tak berhak
mencampuri!”
Siu-lam taburkan tiga jurus taburan pedang, sahutnya: “Sudah tentu orang lain tak
berhak mencampuri urusan lo-cianpwe. Tapi jelas bahwa gerombolan Beng-gak itu
memusuhi dunia persilatan. Dengan membantu Beng-gak berarti memusuhi segenap
kaum persilatan di Tiong-goan!”
Agaknya Pek Co-gi tertarik oleh ucapan itu. Kedua tangannya mulai kendor.
Anak muda itu kembali menghela napas. Katanya pula: “Dari daerah Tibet yang jauh,
lo-cianpwe memerlukan menghadiri pertemuan orang gagah di gunung Thay-san. Dengan
pukulan Bu-ing-sin-kun, lo-cianpwe telah menggemparkan para orang gagah. Pendirian
dan sikap lo-cianpwe yang bersedia mencampuri pergolakan dunia persilatan di Tionggoan
itu, benar-benar suatu tindakan yang luhur perwira. Betapa keji dan ganas
gerombolan Beng-gak mengalahkan rombongan orang gagah dengan siasat licik, kiranya
lo-cianpwe tentu sudah mengetahui sendiri.”
Dalam pada berbicara, Siu-lam pun mengimbangi gerakan Pek Co-gi dengan
mengendorkan serangan pedangnya.
“Walaupun dari daerah Tibet, tapi lo-cianpwe sudah kenal semua kaum persilatan di
Tiong-goan. Tujuan kaum persilatan di manapun pasti sama, yakni membela keadilan dan
kebenaran serta membasmi kejahatan dan kelaliman. Membantu gerombolan jahat,
walaupun dapat menguasai dunia persilatan, tapi hal itu bertentangan dengan hati nurani
kita….”
“Dengan kepandaian yang lo-cianpwe miliki, lo-cianpwe tentu mendapat sambutan dan
perindahan tinggi dari kaum persilatan Tiong-goan. Lo-cianpwe dapat membentuk sebuah
partai di sini untuk bersama-sama lain partai, menentramkan dunia persilatan. Dan dalam
kesempatan, lo-cianpwe tentu dapat memperebutkan kedudukan pemimpin partai
persilatan Tiong-goan. Bukankah itu suatu cita-cita luhur? Perlu apa lo-cianpwe
berhamba kepada orang lain? Bukankah lo-cianpwe sendiri sudah cukup untuk menjadi
pendiri dari sebuah partai persilatan? Ucapan wanpwe ini keluar dari hati nurani wanpwe,
mohon lo-cianpwe suka mempertimbangkan….”
Tiba-tiba Pek Co-gi hentikan serangannya.
“Benar,” sahutnya, “siapa tak tahu diriku ini, masakan mau menjadi kaki tangan
orang….”
“Benar, benar,” seru Siu-lam, “apabila lo-cianpwe menyadari kesalahan langkah itu,
wanpwe bersedia membawa….”
Belum Siu-lam selesai berkata, tiba-tiba Pek Co-gi teringat sesuatu yang mengerikan.
Tubuhnya agak gemetar. Serentak menggembor keras, ia ayunkan pukulan lagi.
Siu-lam heran mengapa pada saat jago Tibet hampir menyadari kesalahannya, tiba-tiba
dia merubah haluan dan memukulnya lagi. Terpaksa Siu-lam lompat mundur dan berseru:
“Lo-cianpwe….”

Tetapi Pek Co-gi seperti orang limbung. Dia malah gunakan sepasang tangannya untuk
memukul. Karena Siu-lam tak menduga dan tak bersiap dulu, walau mempunyai sepasang
pedang mustika, tapi ia benar-benar terdesak dan tak mampu menggunakannya.
Hanya beberapa kejap saja, Siu-lam sudah terdesak mundur sampai di tempat semula
mereka bertempur tadi.
Tetapi si nona baju merah rupanya curiga. Berpaling ke arah Pek Co-gi, ia berseru:
“Hm… kalian bicara asyik sekali.”
Pek Co-gi terkesiap. Dan pukulannyapun agak kendor. Kesempatan itu digunakan
sebaik-baiknya oleh Siu-lam untuk menyerang dengan pedangnya.
Kali ini Siu-lam tidak mau mengalah lagi. Sepasang pedangnya dikembangkan benarbenar.
Oleh karena dia memiliki berbagai ilmu pedang yang berbeda sumbernya, maka
serangannyapun penuh dengan variasi yang aneh-aneh sehingga Pek Co-gi dipaksa
mundur lagi.
Sambil menangkis, diam-diam Pek Co-gi heran atas permainan ilmu pedang lawan.
Tanpa suatu urut-urutan jurus ilmu pedang tertentu dan sepasang pedangnya
menerbitkan hawa dingin yang menegakkan bulu roma. Jika terus menerus bertempur
melawannya, ia kuatir tentu akan menderita kerugian.
“Ah, jika tidak aku dahului menurunkan pukulan maut, aku sendirilah yang akan
celaka,” diam-diam jago Tibet itu telah mengambil keputusan.
Untuk melaksanakan keputusan itu, ia kerahkan tenaga dalam sambil loncat ke
samping. Tetapi Siu-lam sudah mempunyai rencana juga. Ia tak mau memberi
kesempatan jago Tibet itu dapat melepaskan pukulan Bu-ing-sin-kunnya. Ia loncat
membayangi Pek Co-gi.
Tiba-tiba Pek Co-gi berbalik tubuh dan ayunkan tangan kanannya. Karena sudah
berulang kali menderita pukulan Bu-ing-sin-kun, Siu-lam sangat berhati-hati sekali. Begitu
melihat orang mengangkat tangannya, diapun cepat-cepat menyelinap ke samping.
Tapi ternyata jago Tibet itu menggunakan siasat. Tamparannya itu hanyalah gerakan
hampa. Begitu Siu-lam berdiri di samping, barulah ia lepaskan pukulan yang
sesungguhnya.
Bu-ing-sin-kun merupakan pukulan istimewa yang sama sekali tak mengeluarkan suara.
Pukulan itu mengandung gelombang halus dari tenaga lwekang lunak.
Betapapun Siu-lam sudah berlaku hati-hati sekali, tetapi dia tak menyangka sama sekali
kalau Pek Co-gi akan menyiasatinya. Begitu melihat Pek Co-gi menghampiri, segera ia
julurkan Ceng-liong-kiam untuk menahan lawan. Tetapi sekonyong-konyong ia rasakan
dirinya terlanda oleh arus tenaga yang lembut. Bukan main terkejutnya dia. Buru-buru ia
loncat ke belakang.
Pukulan Bu-ing-sin-kun yang dilancarkan Pek Co-gi itu menggunakan delapan bagian
tenaga lwekangnya. Hebatnya bukan kepalang. Sekalipun Siu-lam sudah mempunyai
pengalaman untuk menghindari pukulan itu, tetapi tak urung darah dalam tubuh bergolak
keras, mata berkunang-kunang.
Secepat kilat Pek Co-gi kibaskan tangan kanannya dan tahu-tahu sudah mencengkeram
siku lengan anak muda itu. Tring…! Siu-lam rasakan tangan kirinya kesemutan dan
terlepaslah pedang Ceng-liong-kiam dari cekalannya.
Pedang Ceng-liong-kiam berpindah tangan ke tangan Pek Co-gi.
Siu-lam telah menderita luka dalam yang parah. Tetapi kesadaran pikirannya masih
terang. Pedang Pek-kau-kiam yang dicekal di tangan kanannya itu segera ditaburkan di
dalam jurus Se-lay-co-im, yakni salah satu jurus istimewa dari ilmu pedang Tat-mo-kiam.
Seketika Pek Co-gi terkurung dalam lingkaran sinar pedang. Karena ia maju merebut
pedang Ceng-liong-kiam tadi, maka jaraknya dekat sekali dengan Siu-lam. Dengan begitu
ia tak mampu keluar lagi dari kurungan sinar pedang si anak muda.

Dalam keadaan itu Pek Co-gi menjadi kalap. Dia hendak mati-matian membobolkan
sinar pedang yang mengepungna. Dengan sekuat tenaga ia ayunkan pedang
rampasannya untuk menghantamkan sinar pedang yang mengurung di atas kepalanya.
Tat-mo-kiam sekalipun luar biasa dahsyatnya, tetapi permainan pedang itu masih
mengandung gerak yang memberi kelonggaran kepada musuh. Memang ketika Tat Mocou,
cikal bakal pendiri Siua-lim-si menciptakan ilmu pedang tersebut, dia telah
memperhitungkan tentang kemungkinan yang akan dialami musuh dalam menghadapi
taburan Tat-mo-kiam itu. Sengaja ia menyelipkan suatu gerak yang kendor dalam setiap
jurus perubahan ilmu pedang itu. Maksudnya tak lain supaya orang sempat
mengundurkan diri.
Tetapi ternyata Pek Co-gi memilih adu kekerasan. Ia tahu anak muda itu tentu sudah
terluka dalam sehingga tenaganya tentu berkurang. Tetapi apa yang terjadi benar-benar
tak diduganya.
Ketika sepasang pedang itu saling beradu keras, Pek Co-gi terhuyung-huyung mundur
dengan tubuh berlumuran darah. Itulah akibatnya dia berani mengadu kekerasan. Tatmo-
kiam memberi kelonggaran tetapi dia malah membentur. Hasilnya, tubuhnya telah
berhias tiga buah tusukan pedang.
Tetapi keadaan Siu-lam sendiripun tak kurang menyedihkan. Sesungguhnya akibat
pukulan Bu-ing-sin-kun tadi ia sudah terluka dalam dan tenaganya berkurang sekali.
Adalah karena dirangsang kemarahan pedangnya direbut itu, maka ia menyerang Pek Cogi
dengan sisa tenaganya yang masih. Setelah berhasil melukai orang darahnya meluap
keluar dari mulutnya.
Si nona baju merah yang tengah bertempur melawan Tay Hi siansu, terkejut ketika
mendengar gemboran Siu-lam. Cepat ia berpaling. Ketika menampak Pek Co-gi sudah
berhasil merebut pedang Ceng-liong-kiam, girangnya bukan kepalang.
“Lekas, berikan pedang itu kepadaku!” serunya.
Karena perhatiannya tertuju pada pedang yang direbut Pek Co-gi, ia agak lambat. Dan
keayalan itu cukup memberi kesempatan Tay Hi siansu untuk melancarkan serangan
tongkat yang dahsyat. Nona itu kelabakan sekali.
Sedang Pek Co-gi pun sudah mencekal pedang Ceng-liong-kiam tapi karena tiga
tusukan dari pedang Siu-lam itu cukup parah, darah banyak keluar, ia harus lekas-lekas
menyalurkan lwekang untuk menghentikannya. Dengan begitu ia tak dapat melancarkan
pukulan Bu-ing-sin-kun lagi. Jika saja saat itu ia masih punya kemampuan untuk
menyusulkan sebuah pukulan Bu-ing-sin-kun lagi, dapat dipastikan Siu-lam sudah habis
riwayatnya.
Pertempuran kedua jago itu benar-benar merupakan pertempuran yang berakibat
keduanya menderita luka parah.
Melihat Siu-lam luka parah, empat paderi Siau-lim-si segera lari menghampiri dan
menggotongnya ke dalam gereja. Siu-lam dipanggul oleh salah seorang paderi, yang
seorang lagi melindunginya. Sedang yang dua, segera menyerbu Pek Co-gi untuk merebut
pedang Ceng-liong-kiam.
Si nona baju merah sekalipun terdesak dalam taburan tongkat Tay Hi siansu, tapi setitik
pun ia tak mau melepaskan keinginannya untuk menguasai pedang Ceng-liong-kiam.
Ketika melihat dua orang paderi lari menghampiri ke tempat Pek Co-gi yang tak
berkutik, nona itu menjadi gugup. Tiba-tiba ia lancarkan jurus Cu-pit Tiam-hun. Ujung
pedangnya berubah menjadi tiga bintik sinar perak yang memagut sikut lengan Tay Hi
siansu. Jurus itu sangat ganas sekali dan Tay Hi pun terpaksa mundur.
Begitu Tay Hi mundur, secepat kilat nona itu loncat ke samping dan kebutkan hudtimnya
ke arah paderi yang menerjang dari samping kiri Pek Co-gi. Sedang dengan
pedang ia menusuk paderi yang menyerang dari samping kanan. Pedang dan hud-tim
bergerak luar biasa cepatnya, tepat pada saat kedua paderi itu hantamkan tongkatnya ke
arah Pek Co-gi.

Jika kedua paderi itu tak menarik tongkatnya, Pek Co-gi tentu terluka. Tetapi kedua
paderi itupun pasti terluka juga oleh si nona baju merah. Kedua paderi itu terpaksa
mundur.
Si nona membuat suatu gerakan yang luar biasa. Ia timpukkan pedangnya ke arah
paderi di sebelah kanan, sedang hud-tim dikebutkan untuk menangkis serangan paderi di
sebelah kiri. Dan tangan kanan yang sudah tak mencekal pedang itu cepat menyambar
pedang Ceng-liong-kiam di tangan Pek Co-gi.
Meskipun jago Tibet itu sedang menyalurkan tenaga untuk menghentikan
pendarahannya, tetapi ilmu kepandaiannya masih belum punah. Begitu tangan si nona
menyentuh tangannya, serentak jago Tibet itu kibaskan pedangnya menusuk!
Si nona terkejut sekali. Buru-buru ia loncat ke samping dan menjerit: “Pek Co-gi,
engkau gila. Akulah!”
Betapapun cepatnya ia menghindar tetapi tak urung betisnya termakan pedang
sehingga mengucurkan darah….
Teriakan itu telah menyadarkan Pek Co-gi. Ia terkesiap karena kekeliruannya itu.
Tring, terdengar senjata beradu keras. Timpukan pedang si nona baju merah tadi,
ditangkis oleh tongkat si paderi. Kemudian paderi itu menyerbunya.
“Lekas berikan pedang itu!” teriak si nona.
Pek Co-gi agak berubah wajahnya tetapi iapun segera menyerahkan pedang pusaka itu.
Sesaat nona itu menerima pedang Ceng-liong-kiam, diapun sudah diserang oleh Tay Hi
siansu dan kedua paderi. Tay Hi telah menyerangnya dengan jurus Ngo-ting-biat-san,
membelah kepala si nona.
Paderi tua yang sabar itu, agaknya telah dirangsang kemarahan karena melihat
keadaan gereja Siau-lim-si yang kacau balau. Pukulannya itu dilancarkan dengan sepenuh
tenaga.
Melihat itu Pek Co-gi menggembor keras. Dua kali ia lancarkan pukulan Bu-ing-sin-kun.
Kedua paderi yang menyerang dari samping itu segera rasakan dadanya tergetar, macam
orang yang dihantam palu besi. Darah bergolak keras dan orangnyapun segera terhuyung
mundur tiga langkah. Tongkat mereka pun terlepas jatuh.
Nona baju merah itu memang memiliki kepandaian silat yang amat tinggi. Sekonyongkonyong
ia berputar tubuh mengisar dua langkah ke samping, lalu menabas tongkat Tay
Hi.
Sesungguhnya ia sayang sekali akan pedang pusaka itu. Tetapi dalam detik-detik
berbahaya ia tak menghiraukan suatu apa lagi.
Tring, terdengar dering melengking nyaring. Tongkat Tay Hi terkisar ke samping, ia
loncat mundur dan nona itupun mengisar ke samping.
Ketika memeriksa, ternyata tongkat Tay Hi kutung separuh. Demikian nona itu. Ia
juga memeriksa pedangnya. Tetapi ternyata pedang itu tak kurang suatu apa. Girangnya
bukan kepalang sehingga luka pada betisnya tadi tak dirasakan sama sekali. Dengan
memekik nyaring, ia menyerang Tay Hi lagi.
Sehabis melepaskan dua buah pukulan Bu-ing-sin-kun, memang Pek Co-gi telah dapat
melukai kedua paderi Siau-lim-si. Tetapi dia sendiri pun makin payah keadaannya.
Pendarahannya yang sudah hampir berhenti kembali merekah dan mengucur darah lagi….
Sementara itu karena melihat kedua kawannya terluka, beberapa paderi yang menjaga
pintu gereja segera menyerbu. Empat orang paderi dengan senjata masing-masing segera
menyerbu.
Tetapi setelah memiliki pedang pusaka, nona baju merah itu ibarat harimau tumbuh
sayap. Serangannya tambah sadis. Sedang Tay Hi harus berhati-hati jangan sampai
tongkatnya terpapas lagi.
Sesungguhnya kepandaian kedua orang itu berimbang. Hanya karena si nona lebih
unggul dalam senjata, Tay Hi agak terpancang gerakannya. Serangan si nona membuat
kelabakan. Apalagi jurus-jurus permainan pedang si nona itu memang aneh maka dengan

cepat ia dapat menang angin. Dalam lima jurus saja, paderi Siau-lim-si itu sudah
kelabakan setengah mati.
Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-hong, Sam-kiam-it-pit Tio Hong-kwat, Sin-to Lo Kun dan Tuihong-
tiau Ngo Cong-gi tengah bertempur seru dengan rombongan paderi Siau-lim-si.
Walaupun tahu keadaan Pek Co-gi yang payah itu, tapi mereka tak dapat menolong.
Sekonyong-konyong terdengar lengking yang nyaring. Sesosok tubuh melayang tiba.
Empat paderi yang menyerang Pek Co-gi telah mencelat senjatanya.
Kawanan paderi itu terpaksa mundur. Ketika mengamati ternyata yang muncul itu
seorang dara baju biru. Tangan kirinya mencekal sebatang pedang, tangan kanan sebuah
senjata aneh semacam tanduk rusa. Nona itu tegak berdiri di samping Pek Co-gi.
“Berhenti!” teriaknya. Dan si nona baju merahlah yang pertama-tama menarik
senjatanya terus loncat mundur.
Kau Cin-hong, Tio Hong-kwat, Ngo Cong-gi dan Lo Kun, setelah melancarkan dua kali
serangan dahsyat, pun lalu loncat mundur.
Nona baju biru itu sejenak sapukan matanya memandang ke sekeliling. Serunya
dengan nada dingin: “Siapakah yang menjadi pimpinan rombongan paderi itu?”
Suaranya garang, sikapnya angkuh sekali.
Tay Hi mendengus dingin: “Anak wanita masih begitu muda. Jika ada urusan apa-apa,
silahkan bicara pada loni!”
Tay Hi, paderi yang penuh toleransi dan kesabaran, karena menyaksikan keadaan
gereja diobrak-abrik orang Beng-gak, membenci sekali kepada setiap anak buah Beng-gak.
Nona baju biru itu tersenyum, serunya: “Di antara sekian banyak paderi yang berada di
sini, memang engkaulah yang paling tua. Sebenarnya hal itu sudah kuketahui dan tak
perlu kutanyakan lagi!”
Tay Hi menukas: “Sebaiknya li-sicu jangan bicara yang tiada berguna….”
Jilid 26
NONA itu kerutkan alis. Wajahnya menampilkan hawa pembunuhan, serunya: “Kasih
tahulah kepada pemimpin gerejamu ini, nanti lewat tengah malam, guruku bersama
rombongan jago-jago Beng-gak, akan berkunjung kemari. Masihlah ada kesempatan
apabila kalian hendak menginginkan perdamaian. Asal kalian suka menggabungkan diri ke
dalam rombongan Beng-gak, tentu terhindar dari malapetaka. Tengah malam belum ada
pernyataan, begitu sudah terlanjur masuk ke dalam gereja ini, tentu sukar ditolong lagi….”
“Gereja Siau-lim-si cukup dikenal dalam dunia persilatan. Dengan kata-katamu yang
sombong itu, seharusnya loni segera memberi hajaran kepadamu….”
Tiba-tiba nona baju merah tertawa mengikik, ujarnya: “Hanya dengan mengandalkan
kepandaianmu yang tak berarti? Hm, apakah engkau tak takut lidahmu disambar angin?”
Nona baju biru memberi isyarat dengan tangan: “Tak perlu banyak bicara dengan dia.
Ayo, kita pergi!” katanya seraya mendahului pergi.
Si nona baju merah dan ketiga tokoh yang sudah menjadi kaki tangan Beng-gak itu,
segera mengikutinya.
Dalam pertempuran tadi, Tay Hi mengetahui bahwa kepandaian nona baju merah itu
tak di bawahnya. Sejenak ia tertegun tak tahu apa yang harus dilakukan.
Tiba-tiba terdengar suara Siu-lam berseru dengan suara yang lemah: “Jangan mengejar
mereka! Lebih baik kita masuk ke dalam dan berunding menyiapkan rencana!”
Karena berterima kasih atas bantuan pemuda itu dalam menyelamatkan gereja Siaulim-
si, Tay Hi mengindahkan sekali pada Siu-lam.
“Harap Pui sicu beristirahat dengan tenang. Biarlah loni yang memberitahukan hal ini
kepada Tay Ih suheng,” katanya.

Siu-lam menghela napas: “Saat ini aku sedang melakukan pernapasan. Maaf, tak dapat
ikut ke dalam. Apabila Tay Ih siansu dapat datang kemari, ah sungguh beruntung sekali!”
Sebenarnya dengan dilindungi oleh beberapa paderi, Siu-lam tengah menyalurkan
lwekang untuk menyembuhkan luka yang dideritanya dari pukulan Bu-ing-sin-kun Pek Cogi.
Tetapi karena mendengar pembicaraan antara si nona baju biru dengan Tay Hi siansu
tadi, ia tak kuasa menahan diri untuk tidak sambung bicara.
Diam-diam Tay Hi suheng membatin: “Saat ini Tay Ih suheng sedang dalam kedudukan
sebagai ketua gereja. Dan kedudukannya berat sekali. Bagaimana dapat mengundangnya
keluar menemui anak muda ini….”
Tiba-tiba terdengar suitan panjang yang seolah-olah menembus angkasa. Dan dengan
cepat sekali dua sosok bayangan melesat tiba. Ah, kiranya Pak-koay Ui Lian dan Lam-koay
Shin Ki yang muncul.
Dengan mata berkilat-kilat Pak-koay menatap Siu-lam seraya berkata: “Hai, mengapa?
Apakah engkau terluka?”
“Benar, memang terluka,” sahut Siu-lam.
Pak-koay segera menghampiri, mengulurkan tangannya: “Bagaimana kalau kubantu
engkau memberi saluran tenaga supaya cepat sembuh!”
Bermula Siu-lam curiga jangan-jangan orang itu hendak mencelakakan dirinya. Tetapi
pada lain kilas ia hilangkan kecurigaan itu. Kalau memang bermaksud jahat, tentu dengan
terang-terangan mereka dapat melakukannya.
“Silahkan lo-cianpwe melakukan,” katanya serentak.
Sesungguhnya Pak-koay Ui Lian memang mempunyai rencana jahat untuk diam-diam
mencelakai pemuda itu. Tetapi demi mendengar jawaban Siu-lam yang tegas dan berani,
dia malah tak enak hati sendiri. Segera ia letakkan tangannya ke dada anak muda itu.
Serentak Siu-lam segera rasakan suatu hawa panas yang keras, menyalur ke dalam
tubuhnya. Buru-buru ia kerahkan lwekang untuk menyambut pancaran hawa itu.
Agaknya Lam-koay Shin Ki tak puas karena Pak-koay memberi saluran lwekang itu. Dia
pun melangkah maju dan tanpa berkata suatu apa terus lekatkan tangannya ke punggung
Siu-lam.
Pak-koay mendengus dingin. Tiba-tiba ia perkeras tenaga salurannya. Siu-lam
didorongnya ke belakang dan serentak dengan itu ia menyalurkan lwekangnya lebih keras
lagi.
Lam-koay balas tertawa dingin. Dia pun tak mau mengalah, salurannya lwekang ke
tubuh si anak muda diperhebat untuk menghalau saluran lwekang Pak-koay.
Celaka… tubuh Siu-lam telah dijadikan medan adu lwekang dari kedua tokoh aneh itu.
Mereka saling penasaran dan makin menambah hebat salurannya. Dengan demikian, Siulam
makin menderita. Ia rasakan darah dan perkakas dalam tubuhnya seperti copot,
darah bergolak-golak seperti kuda binal, sakitnya bukan alang-kepalang….
Tetapi kedua tokoh aneh itu tak menghiraukan penderitaan anak muda itu. Mereka
hanya mencari kepuasan untuk melampiaskan nafsu hatinya. Sekalipun diketahuinya
bagaimana anak muda itu menderita setengah mati, namun mereka tetap tak mau
menghentikan pancaran tenaga saktinya, sebelum ada yang kalah dan menang.
Sesungguhnya Siu-lam sudah tak kuat lagi.
Ketika ia hendak berseru meminta kedua tokoh itu hentikan saluran mereka, tiba-tiba ia
rasakan serangkum hawa hangat yang aneh, menyusup ke dalam perut. Hawa itu panas
sekali dan Siu-lam merasa seperti dibakar tubuhnya, ia tak jadi membuka mulut karena
harus mengerahkan tenaga dalam untuk menolaknya.
Ternyata karena marah maka Lam-koay Shin Ki telah memancarkan lwekang Cek-yanciang.
Pak-koay Ui Lian tertawa dingin. Diapun tak mau kalah dan memancarkan lwekang
Hian-ping-ciang yang dingin seperti es.

Dua macam lwekang sakti panas dan dingin telah menyerang tubuh Siu-lam. Dapat
dibayangkan betapa penderitaan anak muda itu…. Dia sebentar merasa seperti dibakar,
sebentar lagi merasa seperti dibenam dalam laut es!
Melihat penderitaan anak muda itu, Tay Hi tak dapat tinggal diam. Segera ia
menghampiri.
“Harap sicu berdua suka hentikan penyaluran. Jika diteruskan, kiranya Pui sicu tentu
tak dapat bertahan lagi!” serunya.
Pak-koay Ui Lian deliki mata kepada paderi itu dan membentaknya: “Lekas, enyah!”
Tay Hi siansu tertegun, serunya: “Apa?”
Pak-koay Ui Lian berteriak marah: “Apa engkau tuli? Pergilah!” dengan tangan kanan
masih melekat pada dada Siu-lam, tangan kirinya tiba-tiba ditamparkan ke arah Tay Hi
siansu.
Serangkum tenaga keras segera melanda paderi itu. Tay Hi terkejut dan buru-buru
menangkis tetapi tak urung ia terdampar mundur dua langkah. Diam-diam ia terperanjat:
“Hm, hebat benar lwekang orang ini. Hanya tangan kirinya saja sudah sedemikian
dahsyat. Kepandaiannya tentu luar biasa….”
Huak… sekonyong-konyong Siu-lam muntahkan segumpal darah segar. Ia benar-benar
tak tahan lagi. Dan pingsanlah anak muda itu.
Sekalipun anak muda itu sudah pingsan, kedua manusia aneh itu tak mau hentikan adu
lwekangnya. Yang satu melekatkan telapak tangannya ke dada Siu-lam, yang satu di
punggung anak muda itu.
Tay Hi gelisah sekali. Siu-lam sudah pingsan. Jika kedua tokoh itu tetap tak mau
hentikan penyaluran lwekangnya, Siu-lam tentu akan hancur binasa….
Tetapi Tay Hi menginsyafi. Kepandaiannya tak mampu menandingi mereka. Apalagi
mengingat saat itu Siau-lim-si sedang terancam gerombolan Beng-gak yang ganas. Jika
mencari permusuhan lagi kepada kedua tokoh sakti itu, tentu lebih menambah kesulitan.
Namun ia pun tak dapat melihat anak muda itu menderita kebinasaan di tangan kedua
manusia yang tak kenal kasihan itu. Pemuda itu harus diselamatkan….
Tengah ia bingung tak tahu apa yang harus dilakukan, tiba-tiba terdengar derap kaki
orang berlari mendatangi. Kiranya Tay Ih siansu dengan diiringi Tay Lip, Tay To dan
delapan ko-chiu Siau-lim-si tengah berlari mendatangi. Dalam beberapa kejap saja
mereka sudah tiba.
Menyaksikan keadaan Siu-lam, Tay Ih kerutkan alis dan menegur Tay Hi: “Pui sicu
adalah bintang penolong gereja kita. Mengapa engkau diam saja melihat dia berada
dalam kesukaran?”
Tay Hi rangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada suhengnya yang kini
menjadi pejabat pimpinan gereja itu: “Siaute telah meminta mereka, tetapi kedua sicu itu
tak mau meluluskan permintaan siaute. Siaute memang sedang bingung untuk mengambil
langkah!”
Tay Ih berpaling ke arah Tay Lip dan Tay To, memberi isyarat kepada mereka supaya
siap menghadapi musuh yang tangguh. Kemudian ia sendiri maju menghampiri dan
memberi hormat.
“Omitohud!” serunya dengan tenang, “Maukah sicu berdua berhenti sebentar untuk
mendengar ucapan loni?”
Saat itu Pak-koay Ui Lian dan Lam-koay Shin Ki tengah memperhebat pancaran
lwekangnya. Lwekang sakti Cek-yan-ciang dan Hian-ping-ciang sedang memancar dengan
dahsyatnya. Jangankah berhenti, sedang berpaling muka saja kedua tokoh itu tak mau.
Melihat keliaran mereka, Tay Ih yang sabar terpaksa meledak kemarahannya.
Berserulah ia dengan nyaring: “Loni minta dengan hormat supaya sicu berdua suka
berhenti sebentar. Apakah sicu berdua tak mau mengindahkan sama sekali?”
Pak-koay Ui Lian tenang-tenang berpaling dan tertawa dingin: “Hm, engkau bicara
dengan siapa?”

“Loni bicara kepada sicu berdua. Sicu berdua bukan orang yang tuli dan bukan pula
orang limbung, mengapa tak mengerti pembicaraan loni?”
“Engkau berani berkata melukai hati orang. Mungkin engkau sudah bosan hidup,
bukan?” seru Lam-koay Shin Ki.
Jawab Tay Ih siansu: “Loni ingin memperingatkan bahwa tindakan sicu berdua
terhadap seorang anak muda begitu itu, apakah sicu berdua tak takut ditertawai kaum
persilatan?”
Pak-koay cepat menukas: “Hm, siapakah yang berani menertawai Lam-koay dan Pakkoay….”
“Berarti dia tentu sudah bosan hidup!” cepat-cepat Lam-koay Shin Ki melanjutkan katakata
rekannya.
Aneh, benar-benar aneh. Kedua manusia aneh itu sedang mengadu kesaktian lwekang.
Tetapi nada kata-kata mereka seolah-olah seperti seorang kawan.
Melihat keadaan Siu-lam sudah makin payah, Tay Ih memutuskan mencari daya untuk
menghentikan tindakan kedua orang itu, baru nanti bicara lagi.
“Apapun maksud kata-kata sicu berdua itu, tetapi loni minta sicu berdua hentikan dulu
menganiaya anak itu!” teriak pejabat ketua Siau-lim-si itu dengan tenang.
Pak-koay Ui Lian menyambut permintaan paderi itu dengan sebuah tamparan tangan
kiri. Tetapi ketua Siau-lim-si itu sudah bersiap-siap. Buru-buru ia gerakkan tangan kanan
menangkisnya. Sekalipun begitu tak urung ia tetap merasa dadanya sesak dan tubuhnya
tersurut mundur dua langkah….
Untunglah Tay Ih lebih sakti daripada Tay Hi dan lagi ia sudah mengadakan penjagaan
lebih dulu. Cepat-cepat paderi itu berkisar ke kiri untuk menghindarkan diri.
Tetapi celaka, Lam-koay Shin Ki pun tak mau kalah hati. Segera ia menampar paderi
itu juga seraya berseru: “Nih, coba rasakan juga pukulanku!”
Tay Ih siansu dorongkan kedua tangannya untuk menyongsong. Karena tadi ia sudah
menderita, kali ini ia tak mau hal itu terulang lagi. Ia mendorong dengan kedua
tangannya dan dengan tenaga penuh.
Terdengar letupan keras dan Tay Ih tetap tersurut mundur selangkah.
Tay Lip dan Tay To segera melangkah maju. Dipandangnya kedua manusia aneh itu
dengan sikap menempurnya.
Saat itu tiba-tiba Siu-lam tersadar. Begitu membuka mata segera ia berkata kepada
Tay Ih siansu: “Harap taysu jangan kuatir. Kedua lo-cianpwe ini bersahabat baik sekali
dengan wanpwe. Tak nanti mereka akan mencelakai wanpwe.”
“Siapa bersahabat dengan engkau?” tiba-tiba Pak-koay membentaknya.
Siu-lam hanya ganda tertawa tak mau menyahut melainkan mengatupkan matanya lagi.
Ternyata pancaran lwekang panas dan dingin yang melanda dalam tubuh pemuda itu,
saat itu sudah mulai menyurut. Dan terjadilah suatu keajaiban. Luka akibat dari pukulan
Bu-ing-sin-kun tadi karena diamuk oleh lwekang panas dan lwekang dingin, luka itu
membuka dan meluncur keluar dari mulut Siu-lam. Tetapi setelah darah kental itu keluar,
luka itupun sembuh sama sekali.
Memang pada saat terjadi proses penyembuhan itu, Siu-lam tak tahan dan pingsan.
Tetapi setelah berlangsung beberapa jenak iapun dapat tersadar kembali.
Dan saat itu walaupun lwekang panas dan lwekang dingin itu masih berkecamuk dalam
tubuhnya, tetapi Siu-lam sudah tak begitu menderita seperti ketika luka akibat Bu-ing-sinkun
tadi masih belum sembuh.
Dan saat itu, iapun segera kerahkan lwekangnya untuk menghadapi serangan lwekang
panas dan lwekang dingin itu. Dan terjadilah semacam ‘perang tanding’ yang aneh. Jika
ia merasa kepanasan, ia segera menggabungkan lwekangnya dengan lwekang dingin
untuk menghalau hawa panas itu. Dan kalau lwekang dingin lebih kuat, buru-buru ia
gabungkan lwekangnya dengan lwekang panas untuk mengusir hawa dingin itu.

Dengan cara begitu, kini dapatlah ia menguasai kedua macam lwekang sakti yang
tengah melanda tubuhnya.
Sesungguhnya lwekang kedua manusia aneh itu memang istimewa hebatnya. Tetapi
tingkat kesaktian mereka berimbang. Dalam keadaan itulah maka Siu-lam berhasil dapat
mengendalikan mereka dengan jalan saling mengadu lwekang mereka.
Saat itu jika Siu-lam mau gabungkan lwekangnya dengan lwekang Lam-koay Shin Ki
Pak-koay Ui Lian pasti terdesak. Tetapi jika ia menggabung dengan Pak-koay Ui Lian,
Lam-koay Shin Ki tentu yang terdesak.
Pada saat Siu-lam menyadari keadaan itu, Pak-koay dan Lam-koay pun mengetahui
juga. Tetapi karena watak mereka yang angkuh dan tak mau kalah, mereka tetap tak
mau berhenti.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan: “Jika sang bangau berkelahi dengan kerang, si
pengail ikan yang mendapat keuntungan karena dapat menangkap mereka!”
Demikian pun dengan keadaan Siu-lam. Karena kedua manusia aneh itu saling ngotot
untuk mengadu kesaktian lwekang, maka diapun segera berusaha untuk menarik
keuntungan.
Dalam menerima banjir lwekang panas dan dingin itu, Siu-lam merasa bahwa kedua
lwekang itu mengalir ke arah jalan darah Seng-si-hian-kwan dalam tubuhnya. Padahal
Seng-si-hian-kwan merupakan jalan darah utama yang paling sukar diterobos. Dan jalan
darah itu merupakan bagian yang penting sekali atau merupakan ‘kwan’ rintangan terakhir
yang harus ditembus. Begitu Seng-si-hian-kwan itu tertembus, maka sempurnalah
lwekang seseorang.
Penderitaan yang dialami Siu-lam selama beberapa bulan ini, selalu berakhir dengan
suatu rejeki besar di mana dia selalu memperoleh keuntungan yang tak disangka-sangka
berupa ilmu kesaktian dari beberapa tokoh sakti. Dengan begitu, sekalipun dalam batin ia
mengalami derita, tetapi dalam ilmu kepandaian ia memperoleh kemajuan yang luar biasa.
Dalam pada itu karena adu lwekang itu berlangsung lama, akhirnya Pak-koay Ui Lian
marah. Dengan mendengus dingin, ia mencengkeram sekerasnya dada Siu-lam. Ia
salurkan seluruh lwekang Hian-ping-ciang.
Seketika hawa panas yang mengembang di punggung Siu-lam terdesak mundur. Dan
menggigillah tubuh anak muda itu.
Lwekang yang dikerahkannya, buyar terlanda hawa dingin itu. Untung pada saat lain,
Lam-koay Shin Ki segera melancarkan serangan balasan. Gelombang hawa panas segera
melanda dalam tubuhnya. Hawa dingin itupun segera menyurut reda.
Perubahan panas dan dingin itu berlangsung dengan cepat dan dahsyat sekali. Dan
karena Siu-lam tak kuasa lagi mempertahankan diri, gelombang kedua lwekang itu meluap
ke atas dan menerjang bagian Seng-si-hian-kwan.
Saat itu Pak-koay tengah mengerahkan lwekangnya untuk balas menyerang. Tubuh
Siu-lam yang panas tiba-tiba seperti disiram air es. Dan untuk yang kesekian kalinya, ia
menggigil lagi. Wajahnya berubah membesi, darah serasa membeku.
Tay Ih siansu berdiri diam di samping. Matanya tak lepas memandang tubuh Siu-lam.
Ia kaget sekali ketika menyaksikan tubuh pemuda itu menderita kecelakaan. Tay Ih
siansu tak dapat tinggal diam lagi. Segera ia lari menghampiri.
Tiba-tiba Lam-koay Shin Ki menggembor keras. Tangan yang melekat di punggung
Siu-lam, tiba-tiba didorongkan sekuatnya. Serangkum lwekang panas segera
berhamburan ke dalam tubuh pemuda itu.
Tubuh Siu-lam yang kaku kedinginan, pun segera gemetar lagi. Peluh bercucuran
membasahi mukanya.
Kumpulan lwekang panas dingin yang berpusat di pusar lwekang sendiri, akibat
dorongan dari kedua tokoh yang gila-gilaan itu, telah meluap, meletus berhamburan
melanda ke bagian jalan Seng-si-hian-kwan….

Auh… Siu-lam rasakan tubuhnya seperti ringan sekali. Tapi serempak dengan itu ia
merasakan hawa panas membakar dirinya itu makin hebat. Buru-buru ia kerahkan
lwekangnya untuk bertahan.
Tapi suatu keajaiban telah terjadi. Karena tubuhnya serasa ringan seperti bulu, begitu
ia kerahkan tenaga, tiba-tiba tubuh melanting ke udara dan turun setombak jauhnya….
Peristiwa aneh itu benar-benar mengejutkan Lam-koay dan Pak-koay. Mereka
termangu-mangu. Pancaran lwekangnyapun reda.
Tay Ih siansu yang berlari hendak memberi pertolongan, pun juga kesima menyaksikan
anak muda yang duduk itu tiba-tiba dapat melenting ke udara dan terlepas dari himpitan
kedua manusia aneh.
Pejabat ketua Siau-lim-si itu tertegun.
Kedua tokoh aneh itu memang gila-gilaan. Begitu tempat penyaluran lwekang mereka
menghilang, keduanya segera adu lwekang. Pak-koay Ui Lian dorongkan tangannya ke
muka, demikianpun Lam-koay Shin Ki. Keduanya kini bertempur mengadu kesaktian
lwekang….
Selekas berdiri di tanah, Siu-lam diam-diam menyalurkan darahnya. Bukan saja tiada
sakit, pun malah terasa nyaman dan longgar sekali. Ia heran tapi girang sekali.
“Apakah sicu tak terluka?” sesaat kemudian terdengar suara Tay Ih siansu bertanya.
“Tidak terasa apa-apa,” sahut Siu-lam. Dia sendiri tak mengerti apa yang telah terjadi
pada dirinya. Maka ia menyahut menurut keadaan yang dirasakan saja.
Ketika memandang ke arah sana, Siu-lam terperanjat.
“Celaka, kedua tokoh itu sama-sama saktinya. Jika mereka tak mau berhenti
bertempur, siapapun yang terluka pasti akan menimbulkan kerugian kita. Saat ini Siaulim-
si memerlukan tenaga mereka. Asal dapat menguasai mereka, mereka tentu
merupakan tenaga-tenaga yang sangat berguna,” diam-diam ia mengeluh ketika melihat
kedua tokoh aneh itu tengah adu lwekang.
Segera ia menghampiri.
“Mau kemanakah Pui sicu ini?” tiba-tiba Tay Ih siansu menghadangnya.
“Hendak kucegah agar mereka jangan terus bertempur.”
Tay Ih terkejut, cegahnya: “Kedua orang itu sakti sekali. Pukulannya seberat seribu
kati. Luka sicu masih belum sembuh benar. Jika mereka sampai….”
“Mereka berwatak jelek. Gemar membunuh tanpa suatu alasan. Tapi rasanya mereka
masih mau mendengarkan kata-kataku. Kecuali aku, rasanya tiada seorang pun yang
mampu mencegah mereka.”
Tay Ih tertegun. Diam-diam ia mengakui kebenaran kata-kata anak muda itu.
Maka berserulah Siu-lam dengan nyaring: “Harap lo-cianpwe berhenti dahulu. Wanpwe
hendak bicara sedikit.”
Lam-koay dan Pak-koay berpaling memandang kepadanya, tetapi tetap tak
menghiraukan.
Siu-lam terkejut. Dari kerut wajahnya jelas kedua tokoh aneh itu telah berkokoh tekad,
sebelum ada yang menang atau kalah, mereka tak mau berhenti.
Siu-lam menjadi sibuk dibuatnya. Tiada seorangpun yang mampu melerai kedua tokoh
itu.
Tengah ia sibuk mencari akal, tiba-tiba tangannya menyentuh pedang Pek-kau-kiam
yang tersanggul di punggungnya. Serentak ia mendapat pikiran. Pedang pusaka itu
dihunusnya lalu ia menghampiri mereka.
“Lo-cianpwe berdua adalah tokoh-tokoh ternama. Tentulah setiap patah ucapan locianpwe
berdua telah menyatakan sanggup untuk membantu wanpwe. Pernyataan itu
harus dipenuhi. Saat ini bukan saat lo-cianpwe saling bertempur mati-matian. Jika locianpwe
hendak memutuskan siapa yang lebih sakti, pun harus tunggu nanti apabila
sudah selesai memenuhi janji terhadap wanpwe.”

Ia yakin, kata-katanya itu tentu dapat menimbulkan kemarahan kedua tokoh aneh itu.
Tetapi Siu-lam sudah siap suatu rencana untuk menghentikan mereka dengan kekerasan.
Segera ia bolang-balingkan pedang Pek-kau-kiam seraya berseru: “Jika lo-cianpwe tetap
tak mau menghiraukan permintaan ini harap jangan sesalkan wanpwe akan berlaku
kurang ajar!”
Ia menutup ucapannya dengan menusuk ke arah kedua tangan Lam-koay dan Pak-koay
yang tengah saling melekat itu.
Pek-kau-kiam merupakan pedang pusaka yang dapat menabas logam seperti orang
mengiris tanah liat. Betapapun hebatnya kedua tokoh aneh itu, tetapi tangan mereka
tetap terdiri dari darah dan daging. Tidak mungkin mereka mampu bertahan terhadap
tusukan pedang pusaka itu.
Serentak Lam-koay dan Pak-koay menarik pulang lwekangnya dan menarik kembali
tangannya. Dan tepat pada saat itu juga, Siu-lam pun menarik mundur pedangnya….
Pak-koay Ui Lian berpaling deliki mata ke arah Siu-lam: “Hm, engkau memang budak
yang gemar mencampuri urusan orang. Awas pada suatu hari, engkau pasti mampus di
bawah pukulanku, Hian-peng-ciang!”
“Hm, belum tentu,” dengus Lam-koay Shin Ki.
Siu-lam memberi hormat kepada kedua manusia aneh itu: “Lo-cianpwe sudah berjanji
hendak membantu wanpwe. Seharusnya janji itu harus ditepati. Lain-lain urusan,
wanpwe minta nanti saja diselesaikan lagi setelah peristiwa yang saat ini tengah
mengancam Siau-lim-si sudah selesai!”
Diam-diam Siu-lam mencatat dalam hati bahwa dalam setiap ucapan, Lam-koay Shin Ki
itu selalu berdiri di pihaknya. Tetapi ia juga mengerti bahwa hal itu bukan disebabkan
karena Lam-koay sayang kepadanya, tetapi semata-mata diperuntukkan untuk menentang
Pak-koay saja.
Kedua manusia aneh itu tak dapat menyangkal ucapan Siu-lam. Mereka tak menyahut
melainkan mendengus saja.
Dalam kesempatan yang luang itu, Tay Hi siansu segera menuturkan apa yang telah
terjadi tadi. Terutama ultimatum dari si nona baju biru yang memberi batas waktu sampai
tengah malam nanti. Apabila Siau-lim-si tak mau menyerah, ketua Beng-gak dan
rombongan jago-jagonya akan membikin rata gereja Siau-lim-si.
Tay Ih siansu menengadah memandang langit. Ujarnya: “Saat ini masih sore.
Saudara-saudara tentu letih, harap masuk ke dalam gereja dan beristirahat secukupnya.
Nanti malam kita rundingkan lagi cara-cara untuk menghadapi musuh!”
Lam-koay Shin Ki kerutkan alis: “Jika tak ada arak, aku tak sudi makan. Sungguh
menjengkelkan sekali gereja ini. Banyak sekali aturannya….”
Tiba-tiba Pak-koay Ui Lian nyeletuk tertawa dingin: “Toh, nyatanya sudah lebih dari tiga
puluh tahun tak minum arak, engkau tetap tak mati!”
“Bagaimana engkau tahu aku tidak minum arak?” teriak Lam-koay dengan murka.
Kuatir kedua manusia aneh itu akan bertengkar lagi, buru-buru Tay Ih siansu berkata:
“Memang pada kebiasaannya, dalam setiap menjamu tamu gereja, kami tentu tak
menyediakan minuman arak. Tetapi gereja kami menyimpan arak wangi yang sudah
puluhan tahun lamanya. Jika jiwi berdua memang menginginkan, dengan segala senang
hati loni pasti akanmenghidangkannya!”
Pejabat ketua Siau-lim-si itu dengan sikap hormat segera persilahkan kedua manusia
aneh itu masuk ke dalam gereja.
Siu-lam cepat melangkah ke samping Tay Ih siansu dan berbisik: “Wanpwe telah
kehilangan sebatang pedang pusaka. Jika yang sebatang ini sampai hilang lagi, wanpwe
benar-benar malu pada siansu….”
Tay Ih siansu tersenyum: “Ceng-liong dan Pek-kau, sudah bukan hak milik gereja Siaulim-
si lagi. Bagaimana Pui sicu hendak mengurusnya, loni tak berhak bertanya!”
Siu-lam menghela napas pelahan, ujarnya:

“Ah, pertemuan malam nanti, bukan melainkan menyangkut hidup matinya gereja Siaulim-
si, tetapi menyangkut nasib seluruh dunia persilatan….”
Sahut Tay Ih dengan tegas: “Murid Siau-lim-si dari tiga angkatan, telah bersedia mati
untuk gereja dan dunia persilatan. Jika Pui sicu mempunya rencana harap segera
memberi tahu!”
“Wanpwe merasa ada suatu hal yang mengejutkan. Hal ini membuat hati wanpwe
selalu gelisah. Pertempuran nanti malam, walaupun yang utama karena mengandalkan
kesatuan dan persatuan dari seluruh murid-murid Siau-lim-si, tetapi kedua tokoh Lam-koay
dan Pak-koay itu sesungguhnya merupakan tenaga-tenaga yang penting sekali. Melainkan
tenaganya yang sakti mereka berdua pun memiliki ilmu pukulan yang istimewa. Menurut
hemat wanpwe, kedua tokoh itu tepat sekali untuk menghadapi jago-jago dari Beng-gak.
Tetapi yang wanpwe cemaskan adalah apabila mereka berdua sampai dapat dikuasai
musuh dan dipergunakan mereka!”
“Sicu menguatirkan watak mereka yang buruk itu akan timbul kembali dan sukar
diperingatkan?” tanya Tay Ih.
Siu-lam gelengkan kepala, sahutnya: “Tadi yang bertempur dengan wanpwe, kecuali
nona baju merah yang memang menjadi murid ketua Beng-gak, masih ada tiga orang
yang merupakan tokoh-tokoh termasyhur di daerah Kang-lam Kan-pak. Dalam pertemuan
di gunung Thay-san tempo hari, mereka merupakan tokoh-tokoh yang paling membenci
Beng-gak. Tetapi ternyata mereka sekarang menjadi kaki tangan Beng-gak. Inilah yang
membuat wanpwe tak habis mengerti….”
Ia berhenti sejenak, menghela napas: “Menilik kepandaian kedua tokoh Lam-koay dan
Pak-koay itu, tentu tak sukar untuk menangkap kedua gadis murid Beng-gak. Tetapi
anehnya, ternyata kedua anak perempuan itu dapat lolos. Dan kemudian, wanpwe
dapatkan kedua nona itu ternyata bukan murid Beng-gak yang sesungguhnya. Ini lebih
mengherankan lagi. Seharusnya Lam-koay dan Pak-koay jauh lebih mudah untuk
menangkapnya. Jelas kedua nona itu kepandaiannya tentu lebih rendah dari murid Benggak.
Dan ketika bertemu dengan wanpwe, kedua tokoh Lam-koay dan Pak-koay itu tak
pernah menyebut-nyebut tentang peristiwa hasil pengejaran mereka. Wanpwe duga,
kedua nona itu pasti berhasil meloloskan diri tanpa menderita suatu luka apapun. Inilah
yang benar-benar menjadi pemikiran wanpwe….”
“Menilik keadaan Tay Hong sute, loni duga orang Beng-gak itu tentu menggunakan
semacam obat untuk menghilangkan kesadaran pikiran orang,” kata Tay Ih siansu.
“Penilaian lo-cianpwe itu tepat,” kata Siu-lam, “Wanpwe juga menduga mereka pasti
menggunakan obat bius untuk menghilangkan pikiran orang, agar orang itu mau menjadi
kaki tangan mereka dan menurut segala perintah mereka….”
Dalam pada bicara itu, mereka sudah tiba di ruang tempat hongsio atau ketua gereja.
Lam-koay, Pak-koay dan Siu-lam diperlakukan sebagai tetamu agung dari gereja Siaulim-
si. Di dalam ruang itu sudah siap dengan hidangan yang lezat.
Tay Ih beserta ketiga sutenya, Tay Hi, Tay Lip dan Tay To menemani ketiga tetamunya.
Perjamuan itu benar-benar merupakan perjamuan yang istimewa. Keempat paderi dari
angkatan gelar Tay, demi menghormati tetamunya telah sama membuka pantangan
minum arak.
Lam-koay dan Pak-koay tetap mengunjukkan wajah dingin. Mereka tak mau bicara
dengan para paderi Siau-lim-si, pun tak sudi omong-omong dengan Siu-lam. Kedua
manusia aneh itu minum seenaknya sendiri. Paderi kecil yang melayani menuang arak,
tak henti-hentinya menuangkan arak lagi ke dalam cawan kedua tokoh itu.
Hanya dalam beberapa kejap saja, kedua tokoh itu masing-masing telah menghabiskan
limapuluhan cawan arak!
Siu-lam terkejut. Diam-diam ia mengeluh: “Ah, tampaknya kedua orang itu beradu lagi
dalam kekuatan minum. Celaka, kalau sampai mereka minum di luar batas, tentu akan

mabuk. Pertempuran nanti malam, benar-benar menyangkut nasib dunia persilatan. Jika
kedua tokoh itu sampai lupa daratan, mereka tentu tiada berguna tenaganya….”
Secepat mendapat pikiran, Siu-lam segera mengangkat cawan arak di meja dan berseru
mengajak kedua tokoh itu minum: “Wanpwe hendak mohon petunjuk!”
Setelah meneguk habis cawannya, kedua tokoh itu serempak berseru: “Urusan apa?”
“Nanti tengah malam, ketua Beng-gak akan memimpin anak buahnya menyerang
gereja ini. Kiranya lo-cianpwe tentu sudah mengetahui, bukan?”
“Kalau tahu lalu mau apa?” dengus Lam-koay.
“Soal itu menyangkut kepentingan seluruh dunia persilatan di kemudian hari. Dan
bukan semata-mata hanya menyangkut kepentingan gereja Siau-lim-si saja!” kata Siu-lam.
“Aku toh bukan murid Siau-lim-si, apa peduliku?” dengus Lam-koay Shin Ki.
“Benar, biarlah paderi-paderi Siau-lim-si dibunuh habis, aku tak peduli!” seru Pak-koay.
Seketika wajah Tay Ih dan ketiga sutenya berubah. Ucapan kedua tokoh itu benarbenar
menyakiti hati.
Tay Ih segera hendak bergerak….
Siu-lam cepat mencegah ketua Siau-lim-si itu, agar jangan bertindak sesuatu yang
menimbulkan permusuhan dengan Lam-koay dan Pak-koay.
Anak muda itu menyadari betapa penting kedudukan kedua tokoh sakti itu dalam
pertempuran nanti malam. Apabila kedua tokoh itu sempat memihak Beng-gak, Siau-limsi
pasti akan menderita malapetaka.
Dalam menghadapi tingkah laku Lam-koay dan Pak-koay yang serba menjengkelkan itu,
hati boleh panas tetapi kepala harus tetap dingin.
“Sekalipun lo-cianpwe tiada sangkut paut dengan Siau-lim-si tetapi lo-cianpwe sudah
berjanji hendak membantu wanpwe!” kata Siu-lam.
Lam-koay saling berpandangan dengan Pak-koay. Serempak mereka berseru: “Urusan
membantu hanya terhadap engkau. Jangan mencampur-adukkan dengan lain urusan!”
Diam-diam Siu-lam girang karena kedua tokoh itu ternyata masih pegang janji. Ia
membisiki Tay Ih: “Mereka habis bertempur dahsyat, tentu lelah. Biarkan mereka tidur,
kita cari lain tempat untuk berunding.”
Tay Ih siansu segera berbangkit dan berjalan keluar. Ia menghela napas.
“Delapan ratus anak murid Siau-lim-si telah membulatkan tekad untuk
mempertahankan gereja ini sampai titik darah yang penghabisan….”
“Bagus,” seru Siu-lam, “Biarlah wanpwe yang mengajak kedua tokoh aneh itu untuk
menempur jago-jago Beng-gak. Sedang siansu harap siapkan dua belas murid Siau-lim-si
yang berilmu tinggi untuk memimpin barisan!”
Tay Ih siansu mengangguk.
“Hanya loni masih tetap kuatir Lam-koay dan Pak-koay itu akan berkhianat….”
Siu-lam tersenyum: “Dalam hal ini harap lo-cianpwe jangan kuatir. Sekalipun watak
kedua orang itu aneh dan angkuh sekali, tetapi mereka adalah tokoh-tokoh persilatan
yang ternama. Sekali sudah berjanji membantuku, tentu mereka akan melaksanakan
sampai selesai!”
Ia tersenyum pula dan melanjutkan kata-katanya: “Memang menghadapi mereka, kita
tak dapat menggunakan cara-cara biasa. Wanpwe sudah mempunyai pengalaman….”
Tay Ih bersyukur karena pemuda itu benar-benar mau membantu kesukaran Siau-limsi.
Tiba-tiba Tay Hi menyeletuk: “Ada suatu hal yang masih kurang jelas dan akan minta
Pui sicu suka memberi penjelasan.”
“Silahkan.”
“Dengan tenaga lwekangnya yang sakti, kedua tokoh Lam-koay dan Pak-koay tadi telah
menjepit sicu di tengah. Sekilas pandang tampaklah Pui sicu sangat menderita sekali.
Tetapi mengapa pada saat ini sicu tak menderita suatu apa?”

Siu-lam mengangguk tertawa: “Memang saat itu wanpwe menderita kesakitan luar
biasa. Kemungkinan karena lwekang kedua tokoh itu berimbang kekuatannya, maka
wanpwe sampai mengalami penderitaan sehebat itu. Tetapi penderitaan itu malah
berakibat suatu keuntungan yang tak disangka-sangka.”
“Tuhan tentu selalu memberkahi orang yang baik. Loni mengucapkan selamat atas
peruntungan sicu,” kata Tay Ih siansu.
Kemudian ketua Siau-lim-si itu memandang ke langit, katanya: “Loni sudah
mempersiapkan penjagaan di ruang ini. Silahkan sicu beristirahat. Apabila terjadi
sesuatu, loni pasti segera suruh memberitahukan sicu!”
Ketua Siau-lim-si itupun segera tinggalkan tempat itu. Ketika mengantar ke luar ruang,
Siu-lam berkata dengan bisik-bisik: “Lam-koay dan Pak-koay memang mempunyai kesan
buruk terhadap Siau-lim-si. Tetapi saat ini kita memerlukan tenaga, harap lo-cianpwe
suka bersabar.”
Tay Ih mengiyakan dan mempersilahkan anak muda itu masuk.
Ketika ketua Siau-lim-si itu sudah pergi, Siu-lam kembali ke dalam ruang. Tampak di
atas ruang itu tergantung tiga buah huruf bertuliskan tinta emas ‘Hong-tiang-si’ (ruang
kepala gereja).
Diam-diam Siu-lam terkejut. Beberapa bulan yang lalu, Siau-lim-si adalah gereja yang
termasyhur dan sangat dihormati. Tiada seorangpun yang berani sembarangan masuk ke
dalam gereja itu. Tetapi saat ini, bahkan ruang untuk kediaman ketua Siau-lim-si pun
diperuntukkan bagi tetamu. Ah, perubahan keadaan dunia memang tak terduga-duga.
Saat itu hari mulai gelap. Pemandangan di dalam gereja pada senja hari cukup
menyedapkan mata.
Siu-lam menghela napas panjang dan duduk di dalam ruang. Tengah dia menikmati
pemandangan alam senja hari, tiba-tiba terdengar suara kilat meledak di udara.
Gumpalan awan yang semula bersih sekonyong-konyong berhamburan tertutup awan.
Siu-lam tertegun. Adalah begini jalannya roda penghidupan itu. Senang, susah,
untung, celaka, setiap waktu dapat tiba dengan tak terduga-duga.
Tiba-tiba benak Siu-lam terlintas suatu bayangan. Bayangan dari sesosok tubuh kecil
yang ramping. Ah… terkenanglah ia akan Ciu Hui-ing, sumoaynya yang masih tertinggal di
perut gunung tempo hari.
Dan belum bayangan gadis itu hilang, tiba-tiba terlintas lagi bayangan si dara Hiansong.
Dan menyusul terbayang juga wajah dingin dari si gadis cantik Bwe Hong-swat.
Siu-lam seperti terbenam dalam alam impian kenangan masa yang lampau.
Sekonyong-konyong ia disadarkan oleh hujan yang turun seperti dicurahkan dari langit.
Siu-lam menghela napas. Kematian dari ketiga gadis itu mempunyai sangkut paut
dengan dirinya. Dan mereka tak dapat hidup kembali.
“Oh, Tuhan! Aku benar-benar tak bermaksud mencelakai mereka tapi ketiga gadis itu
mati karena aku. Ah, siapa yang bertanggung jawab?”
Cuaca makin gelap, malam mulai tiba. Siu-lam segera masuk ke dalam ruang. Ia
mencoba tenaga lwekangnya. Sekali enjot, tubuhnya melayang sampai empat tombak
tingginya. Dan ketika melayang turun ia sudah tiba di depan ruang. Karena menerjang
hujan, ia tak mengetahui kemajuan ilmu gin-kangnya saat itu setelah dijepit oleh kedua
tokoh aneh.
Tapi Lam-koay dan Pak-koay yang menyaksikan gerak loncatan anak muda itu,
terkesiap heran dan saling berpandangan. Walaupun tak bicara apa-apa, tapi kedua tokoh
itu saling sependapat dalam penilaian. Kalau dalam usia semuda itu saja Siu-lam sudah
memiliki kepandaian demikian hebat, entah bagaimana kelak apabila sudah lewat berapa
puluh tahun lagi.
Karena dirantai dan dijebloskan dalam penjara bawah tanah, kedua tokoh itu masih
tetap mendendam kepada paderi Siau-lim-si. Setelah kenyang makan dan minum,
keduanya pura-pura jatuh tidur dan tak mau bicara dengan rombongan paderi Siau-lim-si.

Begitu paderi-paderi Siau-lim-si sudah pergi, mereka duduk lagi. Pak-koay Ui Lian
memandang Lam-koay dingin-dingin, serunya sesudah menyesali: “Sayang kau tak
mengindahkan kata-kataku. Jika kau menurut perkataanku, nasib dunia persilatan sejak
kini dan selanjutnya….”
“Seumur hidup jangan mimpi kita akan dapat bekerja sama. Dan kalau mau kerja
sama, kaulah yang menurut perintahku,” tukas Lam-koay.
Pak-koay tertawa keras, serunya: “Apa dasarnya aku harus menurut perintahmu?”
“Dan apa pula alasanmu mengapa aku yang harus mendengar perintahmu?” balas Lamkoay.
“Sepasang jago tentu tak dapat hidup bersama. Rupanya kita Lam-koay dan Pak-koay,
pada suatu saat tentu akan bertempur sampai ada yang mampus!” teriak Pak-koay dengan
murkanya.
“Benar, memang hanya begitulah penyelesaiannya!”
Keduanya mulai bersitegang leher. Yang satu sumbar-sumbar yang satu menantangnantang.
Suasana makin panas, pertempuran hanya tinggal tunggu waktu saja.
Dalam saat-saat yang genting itu, tiba-tiba muncullah Siu-lam.
Cepat Pak-koay Ui Lian merubah nada bicaranya: “Hari masih panjang. Penjelasan itu
tak perlu tergesa-gesa. Saat ini ada sebuah hal yang perlu diputuskan lebih dulu!”
Lam-koay Shin Ki merenung sejenak, bertanya: “Soal apa, katakanlah!”
“Kita mempunyai dendam kepada kawanan paderi Siau-lim-si. Apakah kita layak
membantu mereka?” kata Pak-koay.
“Tetapi karena kita sudah berjanji akan membantu budak she Pui itu, tak boleh kita
berhenti di tengah jalan,” sahut Lam-koay.
“Akupun mempunyai pikiran begitu juga. Sehabis membantu kawanan paderi Siau-limsi
menghadapi bahaya kali ini, kita nanti membuat perhitungan lagi dengan mereka,” kata
Pak-koay.
Siu-lam tak mau campur bicara melainkan menikmati pemandangan petang hari.
Kedua tokoh itu merasa heran atas tingkah laku anak muda itu tetapi merekapun tak mau
mengacuhkan. Dalam anggapan mereka, betapapun sakti kepandaian anak muda itu
tetapi tentu masih terbatas. Tak perlu ditakutkan.
Tiba-tiba Siu-lam loncat keluar terus lari.
Pak-koay Ui Lian terkejut. Entah bagaimana, ia pun serentak bangkit dan loncat lari
menyusul anak muda itu.
Lam-koay Shin Ki tak mau kalah. Dia segera mengejar di belakang Pak-koay.
Siu-lam mendadak merasa sebal duduk dalam ruangan itu. Segera ia lari menerjang
hujan. Ia hendak menumpahkan perasaan hatinya dengan lari tanpa tujuan. Di luar
dugaan, tindakannya itu disusul kedua tokoh Lam-koay dan Pak-koay.
Hujan yang lebat telah menimbulkan kabut yang tebal sehingga di sekeliling tempat
seperti terbungkus kabut.
Tiba-tiba Siu-lam teringat tempat kedua Siau-lim-ji-lo (paderi tua) yakni Kak Bong dan
Kak Hui siansu. Segera ia tujukan larinya ke sana.
Karena larinya cepat sekali dan kabut tebal apalagi nanti tengah malam musuh akan
datang maka saat itu sebagian paderi Siau-lim-si menggunakan kesempatan itu untuk
bersemedi memulangkan tenaga. Hanya terdapat beberapa paderi yang berusaha
menjaga di pos-pos yang penting. Maka Siu-lam tak menemui rintangan suatu apa.
Tiba-tiba Siu-lam hentikan langkah. Di sekelilingnya gelap dan hujanpun mulai reda.
Kiranya dia berada dalam sebuah hutan. Sambil mengibas-kibaskan air pada bajunya, ia
tertawa sendiri: “Huh, benar-benar aku seperti gila? Masakan lari pontang-panting
menerjang hujan tanpa suatu tujuan!”
Tak tahu ia sampai di mana saat itu. Tiba-tiba kilat melintas dan tampak jauh dari situ
sebuah tembok merah. Serentak ia teringat akan pengalamannya dahulu sewaktu
pertama kali ia datang ke gereja Siau-lim-si, ia disambut paderi Ti-khek-ceng (penyambut

tetamu) dan dimasukkan dalam kamar akan ditangkap. Ah, tak salah lagi. Tempat itulah
dahulu ia mengalami peristiwa penangkapan itu.
Saat itu pikiran Siu-lam sudah sadar. Ia teringat akan peristiwa yang dideritanya akibat
perbuatan gila-gilaan dari kedua Lam-koay dan Pak-koay yang adu lwekang dengan
meminjam tempat di tubuhnya. Untunglah akibat penderitaan itu, ia malah mendapat
keuntungan yang belum pernah ia impikan. Memang ia merasa, tubuhnya sekarang jauh
lebih lincah dan ringan dari sebelum peristiwa itu.
Ia memperhitungkan saat itu masih ada kesempatan beberapa jam lagi dari tengah
malam. Mumpung tiada orang, ia ingin sekali mencoba sampai di mana kepandaiannya
sekarang.
Segera ia menghampiri ke arah tembok merah itu. Langkahnya kini lebih tenang.
Ternyata di tengah hutan situ terdapat sebuah rumah pondok yang menyendiri. Pintu
pondok itu tertutup rapat.
Siu-lam sudah basah kuyup. Ketika ia hendak mengetuk pintu pondok itu, tiba-tiba ia
mendengar suara orang dari dalam pondok. Suaranya perlahan sekali. Pada saat hujan
seperti detik itu, memang suara itu hampir tidak kedengaran. Tetapi berkat telinga Siulam
makin tajam, ia dapat menangkapnya. Buru-buru ia tarik pulang tangannya dan
mendengari dengan seksama.
Terdengar suara yang amat perlahan itu berkata: “Saat ini lebih baik jangan
menemuinya. Nanti apabila keributan ini sudah selesai, kiranya belum terlambat untuk
menjumpainya!”
“Tetapi rasanya aku tak dapat menunggu lagi,” kata sebuah suara anak perempuan,
“Hendak kutanya secara baik-baik, mengapa dia bertindak melupakan budi. Ketika ayahku
masih hidup, ayah sayang sekali padanya, demikian pun perlakuanku padanya…” sampai
di sini suara anak perempuan itu seperti tercengkeram oleh isak tangis.
Siu-lam terkejut. Walaupun perlahan, tetapi ia taka sing lagi dengan suara itu.
Seketika gemetarlah tubuhnya dan kepalanyapun terantuk pada pintu pondok.
Suara isak tangis anak perempuan itu berhenti sejenak.
Baru Siu-lam hendak berdiri tegak, tiba-tiba pintu terbuka lebar dan sebatang pedang
yang berkilauan segera menusuk….
Serangan itu datangnya cepat sekali. Siu-lam tak sempat bicara apa-apa kecuali harus
menghindar ke samping.
Dan berteriak suara anak perempuan tadi dengan nada terkejut: “Dialah….”
Atas teriakan itu, serangan pedang ditarik kembali. Menyusul terdengar sebuah nada
yang dingin: “Apakah dia suhengmu yang tak kenal budi itu?”
Dari dalam ruangan terdengar pula suara yang lambat: “Cici, jangan kasih dia
masuk….”
Sejak mengalami berbagai peristiwa, perangai Siu-lam bertambah tenang. Dengan
menekan getaran hatinya, ia melangkah ke ambang pintu dan memberi hormat: “Apakah
sumoay masih hidup?”
Terdengar penyahutan yang murka: “Jadi engkau mengharapkan agar aku mati? Hm,
anggaplah aku sudah mati saja!”
Siu-lam terlongong-longong. Ia menyadari kata-katanya tadi memang tak layak. Buruburu
ia meminta maaf: “Sumoay, harap jangan salah mengerti. Sama sekali aku tak
bermaksud begitu!”
Sambil berkata, ia melangkah masuk.
“Cici, lekas usir dia keluar! Jangan kasih dia masuk kemari. Aku tak sudi melihatnya!”
teriak gadis itu.
Buru-buru Siu-lam memberi penjelasan: “Betapapun kesalahanku kepada sumoay,
tetapi kuharap sumoay suka memberi kesempatan padaku untuk memberi penjelasan.
Apalagi suhu telah melepas budi….”

Siu-lam tak dapat melanjutkan kata-katanya karena sebatang pedang langsung
menabasnya. Terpaksa ia mundur keluar pintu lagi.
Ia berdiri termangu di pintu, serunya: “Ikatan batin saudara seperguruan adalah
laksana laut dalamnya. Budi sumoay sebesar gunung. Ketika aku kembali dari Kiu-kiongsan
membawa obat, yang kudapati dalam goa itu kecuali jenazah Ih lo-cianpwe, terdapat
juga sesosok mayat orang. Baik pakaian maupun perawakan orang itu mirip sekali dengan
sumoay. Karena wajahnya telah dirusak oleh pembunuhnya, maka aku telah keliru
menyangka bahwa mayat itu adalah mayat sumoay….”
Dari dalam ruang pondok terdengar suara helaan napas panjang. Jelas, bahwa gadis di
dalam ruang itu tergerak hatinya mendengar kata Siu-lam.
Siu-lam sejenak menghela napas, lalu melanjutkan keterangannya lagi: “Ketika itu tak
terlukiskan kedukaanku. Kutanam mayat itu dengan baik di dalam sebuah lembah. Dan
kuberi juga tanda pada kuburannya. Maksudku kelak akan kukunjungi kuburan itu guna
membawa tulang kerangkanya dan akan kutanam di samping kuburan suhu dan subo….”
“Kalau begitu engkau masih teringat kepadaku?” seru gadis itu.
“Tiada sedikitpun kulupakan engkau!”
Terdengarlah lengking tertawa lembut. Tetapi nadanya penuh kerawanan.
“Asal engkau sungguh-sungguh masih ingat kepadaku, hatiku sudah gembira….”
Melihat orang sudah lunak, Siu-lam segera melangkah masuk. Tetapi gadis dalam
ruangan itu, melengking nyaring: “Jangan masuk!”
Siu-lam tertegun berhenti.
“Keluarlah!” dari belakang pintu terdengar bentakan bernada dingin dan menyusul sinar
pedang menyambar.
Siu-lam diam-diam memuji gerakan pedang itu. Terpaksa ia keluar lagi.
“Suheng, apakah engkau sungguh-sungguh hendak bertemu dengan aku?” kembali
terdengar suara gadis dalam pondok itu berseru.
“Sudah tentu ingin sekali. Masakan sumoay tak percaya kepadaku?” teriak Siu-lam.
Dari dalam pondok terdengar suara helaan napas panjang: “Ah, daripada berjumpa
lebih baik tidak berjumpa. Ciu Hui-ing sekarang bukanlah seperti Ciu Hui-ing yang dulu….”
“Mengapa?” Siu-lam berseru kaget.
Kembali terdengar Ciu Hui-ing menghela napas panjang: “Aku… aku sudah….”
Sampai beberapa saat, tak dapat Hui-ing melanjutkan kata-katanya.
Dari nadanya, Siu-lam dapat menduga tentulah terjadi suatu perubahan yang
mengejutkan pada diri sumoaynya itu.
Miringkan tubuh, ia menyelinap masuk ke dalam ruang dan berseru nyaring: “Kita
berdua sejak kecil sudah menjadi kawan bermain-main sehingga sampai dewasa. Jikalau
sumoay mendapat kesulitan harap jangan mengelabuhi suheng. Masakan suheng tak
boleh mengetahuinya?”
Tetapi sinar pedang segera berhamburan menutup pintu. Siu-lam sudah mengambil
keputusan tak mau mundur lagi. Tetapi sinar pedang yang menghamburkan hawa dingin,
menyebabkan Siu-lam hentikan langkah.
Dia tahu bahwa orang yang menghalangi dengan pedang itu, bukanlah Ciu Hui-ing. Dia
tak kenal dengan orang itu. Jika sampai kesalahan tangan, tentu akan menimbulkan halhal
yang tak enak.
Walaupun Siu-lam sudah tak bergerak tetapi sinar pedang itu masih berhamburan di
muka Siu-lam. Dengan demikian Siu-lam tak dapat melangkah maju lagi. Terpaksa ia
menyurut mundur selangkah.
“Siau-heng benar-benar tak mengerti mengapa sumoay menolek begitu getas kepada
siau-heng!”
Ciu Hui-ing tertawa mengikik, serunya: “Pui suheng, rasanya kita tak perlu bertemu
muka. Kita dapat bicara dari luar dan dalam saja.”

Siu-lam makin mendapat kesan bahwa ada sesuatu yang luar biasa. Kemunculan Ciu
Hui-ing di lingkungan gereja Siau-lim-si itu, sudah merupakan merupakan hal yang
mengherankan. Dan caranya dia menolak secara getas untuk menemui dirinya, lebih tak
masuk akal lagi….”
Sekonyong-konyong Siu-lam teringat akan Sin-to Lo Kun, Pek Co-gi dan lain-lain tokoh.
Bahkan ketua gereja Siau-lim-si yang dianggap sebagai pimpinan rombongan orang gagah
itupun juga tunduk pada gerombolan Beng-gak. Mereka lupa pada kawan seperjuangan,
bahkan sampai hati juga untuk mencelakakan kawan-kawan segereja misal tindakan Tay
Hong itu.
Jika tokoh-tokoh yang begitu termasyhur saja jatuh ke dalam kekuatan Beng-gak,
apakah tidak mungkin Ciu Hiu-ing juga begitu?
“Eh, mengapa engkau diam saja?” tiba-tiba Ciu Hui-ing berseru nyaring.
“Sudah lama kita tidak bertemu. Sekalipun dapat kudengar suaramu, tetapi bagaimana
aku puas tanpa bertemu dengan orangnya?”
Kata-kata itu diucapkan dengan penuh gelora perasaan. Dan Ciu Hui-ing pun termangu
diam sampai beberapa saat.
Karena sampai sepeminum teh lamanya belum juga gadis itu bicara lagi, akhirnya Siulam
berseru: “Dari jauh sekali sumoay berkunjung ke gereja Siau-lim-si sini, apakah bukan
karena hendak menjumpai siau-heng?”
Sahut Hui-ing dengan nada rawan: “Sejak berpisah beberapa bulan, aku sudah banyak
menderita kesengsaraan. Duduk bersandar pada dinding goa memandang langit. Siang
malam kuharap-harap kedatanganmu. Tetapi engkau bagaikan burung bangau berwarna
kuning yang tak pernah tampak. Sekali pergi tak kunjung kembali….”
“Tetapi ketika aku kembali ke Poh-to-kang, belum melampaui waktu perjanjian.”
“Mungkin engkau benar,” tukas Hui-ing, “tetapi keadaan sudah menjadi begitu. Apa
guna kita mengungkatnya lagi? Aku menyesal tak seharusnya datang ke Siau-lim-si
mencarimu.”
Gadis itu berhenti untuk menghela napas, kemudian melanjutkan pula dengan nada
yang rawan: “Aku kuatir engkau mencemaskan diriku. Aku sudah cukup menderita dalam
siksaan batin. Benar-benar kurasakan sehari seperti tiga tahun lamanya. Aku seperti
duduk di atas permadani jarum. Ah, kelembaban dan kerawanan goa itu takkan
kulupakan seumur hidup….”
“Bagaimana wanita Ih Ing-hoa itu memperlakukan kau?” teriak Siu-lam dengan tegang.
“Dia memperlakukan aku dengan baik. Jika dia tak memberi pelajaran ilmu secara
lisan, aku tentu sudah mati karena kehampaan!”
Ciu Hui-ing menghela napas lagi, kemudian melanjutkan: “Jika tahu bahwa engkau
telah meninggal, tentu takkan kudatang kemari untuk melihatnya!”
Ucapan yang sederhana itu penuh dengan pancaran hati yang halus sekali. Hati Siulam
terasa tersayat dan butir-butir air mata bercucuran keluar.
“Suhu berdua telah melimpahkan budi yang amat besar kepadaku. Dan engkau,
sumoay, adalah satu-satunya orang yang kuindahkan….”
Terdengar suara ketawa rawan: “Impian di musim semi telah berlalu tanpa bekas.
Bahkan ternyata kau masih ingat kepadaku, hatiku girang bukan kepalang. Silahkan
suheng pergi dan kamipun juga hendak pergi!”
Siu-lam terkejut, serunya; “Apa? Apakah sumoay benar-benar tak mau bertemu
denganku?”
Dengan gugup Siu-lam terus hendak menerobos masuk ke dalam ruang tapi lagi-lagi
sinar pedang telah melintang di ambang pintu.
“Sebelum mendapat ijin sumoay, janganlah kau gegabah masuk. Awas, pedang tiada
bermata!”
Gadis itu bersembunyi di balik pintu. Dia berdiri terhalang oleh pintu. Maka hanya
terdengar suaranya yang bernada dingin tetapi tak kelihatan bagaimana wajahnya.

Betapapun Siu-lam berusaha untuk menerobos dalam pandangan matanya tetap hanya
sebuah lengan putih yang kelihatan.
Berulang kali Siu-lam hendak mencabut pedangnya tapi pada akhirnya ia masih dapat
menekan kesabaran hatinya. Mengingat gerak pedang gadis itu cukup hebat, jika sampai
bertempur tentu menggunakan puluhan jurus untuk mengalahkannya. Dan yang penting,
ia kuatir akan menyinggung perasaan Ciu Hui-ing. Maka terpaksa ia buru-buru bersabar.
Kembali Ciu Hui-ing terdengar berseru dengan rawan: “Kau masih dapat mengenal
suaraku tapi entah apakah kau masih dapat mengenal wajahku juga?”
Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Siu-lam sehingga ia tertegun beberapa saat.
“Wajah sumoay selalu terukir dalam hatiku. Masakan aku dapat melupakan?” serunya.
“Benarkah itu?”
“Seratus persen benar, ucapan ini keluar dari hati nuraniku!” sahut Siu-lam.
“Ah, apakah kau masih ingat bagaimana wajahku itu?” tanya Hui-ing pula.
Benar-benar Siu-lam tak menduga akan mendapat pertanyaan semacam itu. Serempak
ia menyahut: “Wajahmu laksana bunga mekar di musim semi, cantik memikat mata!”
Ciu Hui-ing tertawa riang: “Ingatlah selalu bayangan itu dalam hatimu, suheng!”
Nada tertawa gadis itu benar-benar riang bebas. Tiada getaran yang rawan. Jelas
bahwa nona itu benar-benar terhibur hatinya dengan ucapan Siu-lam.
Saat itu hujan sudah berhenti. Awanpun menipis. Beberapa bintang mulai
bermunculan. Malam mulai merayap.
Menengadah ke langit, berkatalah Siu-lam dengan helaan napas: “Kata-kata sumoay
seperti mengandung kedukaan. Maafkan kebodohanku. Tetapi benar-benar siau-heng tak
dapat mengetahui apa sebab sumoay tak mau bertemu muka dengan siau-heng?”
Hui-ing termenung beberapa saat, katanya: “Jika engkau memang berkeras hendak
bertemu muka, engkau harus lebih dahulu meluluskan sebuah permintaanku!”
“Apa?”
“Engkau harus berdiri tiga meter jauhnya dari tempatku, tak boleh terlalu dekat dengan
aku,” seru Hui-ing.
Benar-benar Siu-lam heran atas pernyataan itu. Tetapi demi keinginannya untuk
berjumpa dengan sumoaynya itu, iapun meluluskan juga.
“Selain itu, engkau tak boleh lama-lama tinggal di pondok ini. Setelah melihat diriku,
harus segera pergi,” seru Hui-ing pula.
“Baik,” sahut Siu-lam, “Apakah masih ada lain lagi?”
“Masih sedikit lagi, yakni pembicaraan kita itu hanya mengenai kenangan peristiwa
yang lampau, tak boleh mengenai soal di kemudian hari. Jika engkau setuju, kita dapat
bertemu muka. Jika tidak, sekalipun untuk yang terakhir kalinya, aku tetap tak mau
bertemu muka!”
Setelah berdiam beberapa jenak, akhirnya Siu-lam menyetujui juga: “Kali ini aku dapat
menyetujui semuanya. Tetapi pada pertemuan lain kali, engkau harus meniadakan syaratsyarat
itu semua!”
Berkata Hui-ing dengan rawan: “Dalam kehidupan sekarang ini, kita hanya dapat
bertemu sekali saja. Sejak kini, kita akan terpisah oleh dua langit. Sampai matipun
takkan berhubungan lagi!”
Mendengar ucapan gadis itu bernada tegas dan pasti, tergetarlah hati Siu-lam.
“Sekalipun sumoay berada di ujung langit tetap akan kucarimu!” katanya.
“Ah, jangan setolol itu! Dunia amat besar dan langit tiada terbatas luasnya.
Kemanakah engkau hendak mencariku?”
“Tetapi engkau toh tentu mempunyai tempat tinggal yang tertentu?” seru Siu-lam.
Hui-ing tertawa, ujarnya: “Aku pergi datang tiada tertentu waktunya. Aku berjalang
tiada membekas jejak. Hendak kemanakah engkau akan mencari? Ah, sudahlah, jangan
buang-buang waktumu dengan sia-sia!”

Akhirnya Siu-lam tak mau banyak bicara lagi. Yang penting ia harus mengetahui
bagaimana keadaan sumoaynya itu. Ia segera melangkah masuk. Sekalipun sudah
mendapat ijin Hui-ing, namun ia masih kuatir akan serangan pedang dari si nona di balik
pintu.
“Cici, biarkan dia masuk!” terdengar Hui-ing berseru perlahan.
Nona di balik pintu itu mendengus: “Engkau harus memenuhi janji, tak boleh ingkar!”
Siu-lam segera melangkah masuk. Ruangan itu redup-redup gelap. Begitu mata Siulam
berkeliaran memandang, cepat-cepat nona di balik pintu berbalik tubuh
membelakanginya.
Ketika memandang ke muka, Siu-lam melihat sesosok tubuh langsing dalam pakaian
serba hitam tengah berdiri menghadap ke arah sana, memandang tembok. Nona itu
menghunus sebatang pedang.
Tiba-tiba dari sudut ruang yang redup itu, terdengar suara teguran Hui-ing: “Pui
suheng….”
Siu-lam tersirap. Cepat ia memandang ke arah suara itu. Di sudut ruang tampak
berdiri sesosok bayangan yang langsing tinggi. Dia pun mengenakan pakaian serba hitam
seperti nona yang berada di balik pintu itu.
Hui-ing berdiri sambil miringkan tubuh sehingga hanya separuh mukanya yang
Nampak. Sekalipun dengan matanya yang tajam, Siu-lam dapat melihat jelas keadaan
dalam ruang redup itu, namun ia tak mampu melihat bagaimana keadaan Hui-ing yang
sesungguhnya.
Suasana dalam ruang itu benar-benar penuh dengan kemisteriusan. Malam yang gelap
makin menambah keseraman ruang itu.
Hanya terpisah beberapa bulan saja, keadaan sudah berubah begitu rupa. Siu-lam pun
bersiaga. Ia melangkah perlahan-lahan.
Tiba-tiba Hui-ing mengangkat tangan kanannya. Lengan jubah yang bergerombyongan
segera menutupi separuh mukanya sehingga tak kelihatan sama sekali.
“Pui suheng, jangan maju lagi,” serunya.
Siu-lam tertegun dan hentikan langkahnya. Dari nada suaranya, ia dapat mengenal
bahwa gadis baju hitam yang berdiri di muka itu adalah Ciu Hui-ing.
Saat itu keduanya terpisah kira-kira tiga meter. Mata Siu-lam makin jelas mengetahui
keadaan ruangan. Tetapi karena Hui-ing tetap menutupi wajahnya dengan lengan baju,
iapun tak dapat melihatnya jelas.
“Apa yang suheng hendak katakana, harap lekas bilang. Aku segera akan tinggalkan
tempat ini!” kata Hui-ing dengan rawan.
“Ah, apa maksud sumoay jauh-jauh datang ke gereja ini?” tanya Siu-lam.
“Perlu memberitahukan kepadamu, bahwa aku belum mati!”
“Hanya itu saja?” Siu-lam menegas.
“Benar, memang itu maksudku ke sini. Dan karena kini maksudku sudah terlaksana,
akupun segera akan pergi.”
“Apakah sumoay dapat menceritakan tentang peristiwa-peristiwa sejak kita berpisah
dahulu?”
Kata Hui-ing: “Memang semula aku hendak mencarimu dengan membekal suatu hasrat
yang menyala-nyala. Kecuali hendak bertemu, pun akan kutumpahkan kandungan hatiku
kepadamu. Aku ingin rebah dalam pelukanmu dan menangis sepuas-puasnya…!”
“Sumoay tentu mengalami kedukaan yang besar. Siau-heng bersedia mendengarkan
kesemuanya itu. Bilanglah, akan kudengarkan dengan penuh perhatian!”
Jilid 27

TETAPI setelah bertemu denganmu, tiba-tiba kurasakan semua peristiwa itu sudah
lampau. Seratus kali bahkan seribu kali kuceritakan, pun tiada gunanya. Karena itu tak
ingin lagi kukatakan. Ya, aku takkan mengatakannya lagi!”
“Mengapa?” tanya Siu-lam.
“Sesungguhnya kedatanganku ke Siau-lim-si sini mencarimu, juga suatu hal yang tiada
artinya. Mati hidup itu hanya semacam awan di langit. Betapa besar nama seseorang dan
betapa tinggi kedudukan seseorang, akhirnya pasti akan mati laksana sebutir pasir jatuh di
dalam lautan. Ah, jika saja semula sudah kusadari hal itu, tentu aku takkan mencarimu
lagi!”
“Siau-heng benar-benar tak mengerti maksud sumoay.”
Hui-ing kisarkan tubuh, serunya: “Aku hendak pergi, harap suheng suka menyisih.”
Tetapi Siu-lam malah lintangkan tangannya menghadang, serunya: “Sudah beberapa
bulan kita tak bertemu. Banyak sekali yang hendak kukatakan. Mengapa engkau begitu
tergesa-gesa hendak pergi?”
Hui-ing menyurut mundur lagi, serunya: “Cukuplah! Yang lalu telah berlalu. Dan yang
akan datang, belum dapat kita ketahui. Apa yang harus dibicarakan lagi?”
“Siau-heng hendak berkata banyak sekali.”
“Jika aku tak suka mendengarkan?” kata Hui-ing dengan nada berat.
Siu-lam tertegun: “Apakah benar-benar sumoay membenci siau-heng? Dan
memutuskan hubungan kita? Aku Pui Siu....”
“Jangan mengatakan hal itu! Engkau memegang janjimu tadi atau tidak?” tukas Huiing.
Sama sekali Siu-lam tak menyangka bahwa sumoaynya yang dahulu begitu lemah
lembut, tiba-tiba berubah menjadi sedemikian dingin. Hanya beberapa bulan tanpa
berjumpa tampaknya sumoay itu sudah berubah sama sekali. Agaknya sumoay itu
tercengkam dalam dunia kebatinan dimana ia dapat menyadari arti diri pada hidup ini.
Hidup yang tak lebih merupakan suatu bayangan kosong.
Karena terbenam dalam menilai diri sang sumoay, Siu-lam sampai lupa untuk
menjawab.
Hui-ing tertawa dingin, serunya pula: “Tadi engkau sudah berjanji hanya bertemu
sebentar lalu pergi. Tetapi mengapa sekarang engkau hendak menyeret aku dalam
pembicaraan yang berlarut-larut? Hm, menyingkirlah, aku hendak pergi!”
Tanpa membuka lengan baju yang menutupi mukanya, gadis itu mulai ayunkan
kakinya, menyapu kaki Siu-lam.
Siu-lam terkejut. Buru-buru ia menyingkir ke samping dua langkah. Dan cepat sekali
Hui-ing sudah melesat keluar. Kemudian ia membisiki gadis yang menghunus pedang tadi:
“Cici, halanglah ia !”
Gadis baju hitam itu mengiyakan dan cepat menghadang di depan pintu. sekali gerak,
ia sudah lancarkan dua buah serangan. Cepat dahsyat bukan kepalang. Jika hal itu terjadi
beberapa bulan yang lalu, Siu-lam pasti sudah terluka.
Sehabis menyerang, gadis itu segera loncat keluar dan menyusul Hui-ing.
Dengan kerahkan semangatnya, Siu-lam segera mengejarnya seraya berseru nyaring:
“Hai, penjagaan gereja sangat ketat sekali. Jika sumoay hendak pergi, biarlah kuantarkan
keluar!”
“Tak usah, dapat datang kemari sudah tentu kamipun dapat pergi keluar sendiri!” sahut
si gadis hitam bersenjata pedang itu dengan dingin.
Mereka bergerak dengan cepat sekali. Dalam pada bicara itu, mereka sudah keluar dari
hutan.
Saat itu hujan sudah berhenti sama sekali. Langit penuh dengan bintang. Tiba-tiba
empat sosok tubuh yang mengenakan jubah paderi dan mencekal tongkat, muncul
berjajar-jajar menghadang di tengah jalan.

“Berhenti!” terdengar salah seorang paderi membentak seraya menyapu dengan
tongkatnya.
Tapi dengan suatu gerakan yang lemah gemulai, gadis itu menghindar ke samping
terus lari maju. Sama sekali ia tak memandang mata atas serangan paderi itu.
Dan gadis bersenjata pedang yang berada di belakangnya, segera ayunkan tubuh
melenting ke udara, terus melayang turun ke muka.
Paderi yang menyerang itu marah sekali karena diperlakukan sedemikian hina. Ia
menyerang lagi dengan sekuat tenaga.
Dalam menghadapi serangan maut itu, Hui-ing tetap menutupi mukanya sambil
berputar-putar menghindar ke samping. Gerakannya lincah dan indah sekali. Selain
menghindar serangan tongkat, pun ia maju menerjang keempat paderi yang lain.
Gerakan yang luar biasa anehnya itu menyebabkan keempat paderi penghadang itu,
tergetar hatinya.
Pada saat ke empat paderi itu terkesiap, tiba-tiba si gadis baju hitam sudah tiba. Sekali
kiblatkan pedangnya kekanan-kiri, ia menyerang dua orang paderi. Kedua paderi itu cepat
mengangkat tongkatnya untuk menangkis.
Hui-ing menggeliatkan tubuh dan tahu-tahu tubuhnya meluncur ke muka. Dua orang
paderi yang lainnya cepat-cepat menghadangnya dengan tongkat, tetapi mereka hanya
menghadang angin belaka. Hui-ing laksana sesosok bayangan yang sukar dijamah....
Kebalikannya gadis baju hitam pengawal Hui-ing itu tak berhasil menerobos dari
hadangan paderi Siau-lim-si. Gadis itu segera putar pedangnya. Hebat sekali gerakan
pedang nona itu sehingga kedua paderi penghadangnya jadi kelabakan menjaga diri.
Pada lain saat Siu-lam tiba di situ. Sambil memberi hormat ia berseru nyaring kepada
keempat paderi itu: “Harap taysu berempat suka memberi jalan kepada nona itu!”
Memang kepada Siu-lam paderi Siau-lim-si amat mengindahkan. Setelah menangkis,
merekapun menyisih ke samping memberi jalan.
Gadis baju hitam mendengus dingin. Tanpa berpaling muka ia mendamprat Siu-lam:
“Huh, jangan usilan. Siapa minta engkau membantu!”
Sekali enjot kaki, tubuhnya melambung ke udara. Setelah melayang turun, terus lari
menyusul Hui-ing.
Siu-lam memberi keterangan kepada keempat padri bahwa kedua nona itu bukanlah
anak buah Beng-gak. Ia kuatir keempat paderi itu salah paham. Habis memberi penjelasan
iapun segera lari menyusul.
Ketika Siu-lam dapat menyusul ternyata Hui-ing dan gadis baju hitam itu sedang
bertempur dengan belasan paderi Siau-lim-si.
Hui-ing tetap menutupi mukanya dengan lengan baju. Ia hanya menggunakan tangan
kiri untuk melawan pengeroyoknya. Tetapi gerakan tubuhnya luar biasa anehnya. Gadis itu
berlincahan laksana kupu-kupu ditingkah taburan senjata.
Tetapi si gadis baju hitam tetap mengandalkan permainan pedangnya yang ganas
sekali. Menyerang dan menangkis. Setiap jurus permainan pedangnya selalu mengandung
bencana maut sehingga musuh terpaksa waspada.
Pada saat Siu-lam hendak berseru menghentikan pertempuran itu, tiba-tiba terlintas
dalam pikirannya: “Sumoay dapat bergerak bebas lepas dalam kepungan musuh, tentulah
berkat ilmu gerakan kaki Cit-sing-tun-heng ajaran Siu-chiu-kiau-in Su Bo-tun. Dalam waktu
beberapa bulan saja ia sudah memahami ilmu pelajaran yang sesakti itu, sungguh
mengagumkan sekali. Tetapi entah siapakah gadis baju hitam yang bersamanya itu.
Mengapa ilmu pedangnya begitu ganas?
Akhirnya ia memutuskan untuk melihat dulu. Siapa tahu mungkin ia dapat memperoleh
sesuatu jejak untuk menetapkan aliran dari gadis baju hitam itu.
Ia batalkan niatnya untuk mencegah. Dan dengan penuh perhatian diamatinyalah
permainan pedang gadis itu.

Tiba-tiba gadis baju hitam itu merubah permainan pedangnya. Ia kembangkan jurus
serangan yang luar biasa cepat dan dahsyatnya. Sinar pedangnya bagaikan bunga api
berhamburan di udara!
“Uh!” terdengar erangan tertahan dari seorang paderi. Tiba-tiba paderi itu lemparkan
tongkatnya dan mundur beberapa langkah. Tangan kirinya mendekap lengan kanan dan
orangnya berlutut ke tanah. Darah menyembur keluar!
“Hm, ilmu pedang nona itu memang luar biasa ganasnya. Jika dilanjutkan, beberapa
paderi akan menjadi korban lagi!” diam-diam Siu-lam menimang.
Dan tepat pada saat ia menimang itu, terdengarlah pula dua buah erangan tertahan.
Dua orang paderi rubuh menjadi korban pedang nona itu.
Setiap turunkan pedangnya, tentu mengarah jalan darah yang berbahaya. Maka setiap
korbannya tentu menderita luka parah sekali.
“Celaka, jika aku tak lekas-lekas bertindak, paderi-paderi Siau-lim-si tentu akan terluka
semua,” demikian ia memutuskan.
Tepat pada saat itu, kembali seorang paderi rubuh. Tanpa berayal lagi Siu-Iam terus
mencabut pedang Pek-kau-kiam lalu loncat ke muka. Sambil memutar pedangnya dengan
jurus Tan-hong-liau-hun, ia berseru bengis: “Mengapa engkau melukai paderi Siau-lim-si
yang tak mempunyai dendam dengan engkau!”
Sekalipun hatinya panas, tetapi ia tetap menjaga perasaan Ciu Hui-ing, agar jangan
salah paham. Maka serangan pedangnya itupun agak lambat..
“Hm, engkau tidak puas? silahkan mencoba sendiri!” dengus nona baju hitam itu seraya
menarik pedangnya untuk digeliatkan membalik ke arah Siu-lam.
Gerak membalikkan pedang itu sudah mengandung dua jurus serangan yang dahsyat
sekali sehingga Siu-lam terpaksa mundur dua langkah.
Dalam pada itu rombongan paderi yang telah kehilangan empat kawannya, menjadi
murka. Tiga orang paderi serentak menyerang. Yang dua dengan tongkat sian-ciang, yang
seorang dengan golok kwat-to.
Siu-lam agak sibuk. la tak ingin melihat para paderi Siau-lim-si menjadi korban lagi
tetapi iapun menjaga jangan sampai menyinggung perasaan sumoaynya.
“Nona, menghindarlah ke samping!” akhirnya ia berseru kepada nona baju hitam itu.
Tetapi ternyata nona itu bukan menurut anjuran Siu-lam, kebalikannya malah kerahkan
semangat, menangkis dengan pedangnya. Tring, terdengar dering senjata beradu dahsyat.
Begitu tongkat seorang paderi yang menyerang dari sebelah kiri terpental, dengan
meminjam tenaga, benturan pedang itu, si gadis baju hitam terus loncat ke samping
beberapa meter jauhnya.
“Bagus!” diam-diam Siu-lam memuji dalam hati melihat kelincahan nona itu.
Tapi rasa kagumnya itu cepat buyar ketika si nona baju hitam membentak dengan
dingin: “Jangan cari muka! Hm, jika tak memandang muka moay-moayku, dua buah
serangan tadi, kau tentu sudah rubuh berlumuran darah.”
Melihat beberapa paderi yang rubuh di tanah itu hati Siu-lam berduka. Berserulah ia
dengan nyaring: “Gereja Siau-lim-si mempunyai nama yang harum di dunia persilatan.
Mengapa sumoay hendak mengikat permusuhan dengan mereka? Sudah empat paderi
yang kalian lukai. Biarlah siau-heng yang mempertanggung-jawabkan peristiwa ini. Harap
sumoay berhenti bertempur!”
Gadis baju hitam itu ketawa dingin: “Moay-moay, congkak benar suhengmu itu. Biarlah
cici memberinya pelajaran, ya?”
Nadanya seperti orang minta ijin tapi nyatanya tanpa menunggu penyahutan Hui-ing
lagi gadis baju hitam itu kiblatkan pedangnya kian kemari sehingga dua orang paderi yang
mendekatinya, terpaksa mundur.
Hui-ing tiba-tiba menghela napas, serunya: “Cici, marilah kita pergi!” Habis berkata
berputar-putar dua kali dan menyelinap keluar dari kepungan.

Siu-lam pun meminta para paderi supaya hentikan penyerangannya dan memberi jalan
kepada kedua nona itu.
Karena para paderi itu mengindahkan Siu-lam, merekapun segera berhenti dan
mengerumuni keempat kawannya yang terluka tadi.
Keempat paderi yang terluka itu, sepatahpun tidak mengerang kesakitan. Dan paderipaderi
yang mengerumuninya itu pun tak mengucurkan airmata. Mereka tegak berdiri
dengan merangkapkan kedua tangan. Hanya wajah mereka menampilkan kedukaan yang
dalam.
Siu-lam menghela napas: “Harap taysu sekalian menunggu di sini dulu, aku hendak
menghantar kedua nona itu. Taysu yang terluka parah, jangan bergerak dulu agar lukanya
tidak begitu parah.”
Habis berkata ia terus lari mcnyusul Hui-ing dan gadis baju hitam tadi.
Saat itu hujan sudah reda dan sekalian paderipun sudah siap di masing-masing pos.
Mereka mulai bersiap mengadakan penjagaan.
Baru sepuluh tombak jauhnya Siu-lam menyusul, tampak kedua gadis itu bertempur
lagi dengan rombongan paderi yang berjaga di situ.
Karena takut nona baju hitam itu akan melancarkan serangan-serangan pedang yang
ganas, Siu-lam segera loncat menahan pedang si nona baju hitam. Kemudian berseru
perlahan kepada para paderi: “Harap suhu sekalian suka kembali ke pos masing-masing.
Biarlah aku yang mengantarkan kedua nona ini keluar.”
Paderi-paderi itu hentikan serangannya lalu berpencaran menyembunyikan diri dalam
tempat.
Si gadis baju hitam menarik pedangnya seraya menegur Siu-lam: “Apa maksudmu
mengikuti kami?”
“Aku hendak mengantar kalian....”
“Hah, tak perlu, lebih baik engkau kembali saja!” tukas gadis baju hitam dengan jemu.
Siu-lam menerangkan bahwa keadaan gereja Siau-lim-si saat itu genting sekali. Setiap
lima meter terdapat sebuah pos penjagaan. Jika tak diantar keluar, kedua nona itu tentu
akan mengalami beberapa rintangan.
“Hmm, kawanan paderi itu mampu menghalangi perjalanan kami?” gadis baju hitam itu
mengejek.
Dengan agak menyindir, Siu-lam berkata: “Memang ilmu pedang nona luar biasa sekali.
Tetapi apabila sampai bertemu dengan paderi Siau-lim-si golongan ko-chiu, belum tentu
nona dapat mengatasi. Yang menghadang tadi, hanya murid-murid Siau-lim-si tingkat
angkatan kedua dan ketiga saja...”
Siu-lam berhenti sejenak untuk batuk-batuk kecil, kemudian katanya pula: “Adalah
karena memandang muka sumoayku, maka tadi aku selalu bersikap sungkan padamu….”
Nona baju hitam itu tertawa ngikik. Nadanya penuh ejakan dan kemarahan.
Siu-lam kurang puas melihat sikap nona itu, serunya: “Jangankan paderi angkatan kochiu,
bahkan denganku yang rendah ini, belum tentu nona dapat menang. Bahwa
mengapa aku tidak bertindak tadi, bukanlah karena jeri terhadap kepandaian nona….”
“Cici, mari kita pergi!” tiba-tiba Hui-ing berseru.
Sambil bolang-balingkan pedangnya, nona baju hitam itu berseru: “Jika tidak kuatir
menyinggung perasaan Hui-ing moay-moay, malam ini tentu sudah kuberimu hajaran!”
“Dan kalau menghindari agar sumoay jangan salah paham jangan harap malam ini
engkau mampu keluar dari gereja ini. Hm... tindakanmu melukai empat paderi tadi, tentu
tak akan diiarkan begitu saja!”
Rupanya marahlah nona baju hitam itu mendengar kata-kata Siu-lam, serunya:
“Cabutlah pedangmu! Jika tidak kuberimu sedikit hajaran, engkau memang takkan tahu
tingginya langit dan lebarnya dunia!”

Sesungguhnya Siu-lam tidak enak hati kepada para paderi Siau-lim-si. Sudah jelas nona
baju hitam itu telah melukai empat paderi, tetapi Siu-lam tetap sungkan dan bahkan masih
begitu baik hati hendak mengantar mereka ke luar.
Tetapi karena nona baju hitam itu baik sikap dan ucapannya mengunjukkan
kesombongan, akhirnya Siu-lam tak dapat menguasai kemarahannya lagi. Tring. ia
mencabut pedang Pek-kau-kiam.
Dengan memandang muka sumoayku, marilah kita bermain-main hanya tiga jurus
saja!” serunya.
“Tiga jurus hanya berlangsung dalam sekiblat gerakan saja. Bagaimana dapat
menghasilkan kalah dan menangnya?” sahut gadis itu.
“Dalam tiga jurus itu, aku akan mengalah untuk yang dua jurus, dan hanya akan balas
menyerang untuk yang sejurus. Sekalipun tidak dapat ditentukan kalah menangnya,
tetapi dalam hati kita dapat menilai siapa yang lebih unggul….”
“Sombong benar engkau!” damprat nona baju hitam itu dengan marah. Dan
kemarahannya segera ditumpahkan dengan sebuah tusukan yang berjurus Thiat-ki-tho-jut
atau barisan kuda keluar tiba-tiba.
Siu-lam terkejut menyaksikan kecepatan pedang si nona. Dengan mengerahkan
semangat ia cepat menghindar ke samping.
Tetapi hai... ia sendiri terkejut ketika gerakan yang dimaksud hanya untuk loncat ke
samping itu ternyata di luar dugaan hasilnya. Tubuhnya begitu ringan sekali hingga
gerakan ke samping itu melengtingkan dirinya jauh sampai beberapa meter. Ia benarbenar
tak mengerti dan heran sekali....
Nona baju hitam itu juga terkejut menyaksikan ilmu ginkang atau meringankan tubuh
dari pemuda itu sedemikian luar biasanya. Baru pertama kali itu ia menyaksikan ilmu
ginkang yang begitu hebat.
Diam-diam ia tak berani memandang rendah lagi dan berlaku hati-hati. Dengan jurus
Liong-heng-it-hang, ia menerjang.
Jurus ita merupakan sebuah jurus ilmu pedang yang harus dilambari dengan ilmu
ginkang yang tinggi. Karena orang dan pedangnya seolah-olah menjadi satu, melayang ke
arah musuh.
Lagi-lagi Siu-lam terkejut atas kedahsyatan dan kecepatan nona itu menyerang. Dia
pun tak berani memandang ringan. Cepat ia melenting setombak tingginya.
Karena dua kali serangannya tak mendapat hasil, gadis baju hitam itu makin marah.
Tetapi tatkala ia hendak melancarkan serangannya lagi tiba-tiba Siu-lam berseru memberi
peringatan: “Harap nona hati-hati!”
Sambil loncat menerjang, Siu-lam taburkan Pek-kau-kiam dalam jurus Se-lay-co-im.
Dari udara berhamburanlah ribuan bintang mencurah ke arah kepala nona itu.
Melihat dirinya seperti ditimpali oleh gunung pedang yang roboh, kejut nona itu bukan
alang-kepalang. Dengan kerahkan seluruh tenaganya, ia putar pedangnya menyongsong.
Siu-lam benci kepada perbuatan si nona yang telah melukai empat paderi tadi. Tiba-tiba
taburan sinar pedangnya berubah menjadi sebuah gumpalan pelangi dan membelah langit.
Tring… terdengar dering dahsyat. Pedang si nona baju hitam itu kutung menjadi dua!
Siu-lam menarik pulang pedangnya dan loncat mundur seraya berseru merendah:
“Maaf!”
Menarik pulang pedangnya yang sudah kutung itu, si nona baju hitam berseru dengan
dingin: “Tiga tahun lagi, aku tentu akan menuntut balas atas peristiwa kutungnya
pedangku malam ini!”
“Engkau sudah melukai empat paderi Siau-lim-si, apakah mereka akan membiarkan
engkau begitu saja?”
“Jika Siau-lim-si hendak menuntut balas, silahkan mencari aku. Nah, aku hendak pergi!”
berputar tubuh, nona baju hitam itu segera lari.

Hui-ing yang menyaksikan pertempuran itu dari samping, segera lari menyusul
kawannya.
Karena kuatir mereka akan dicegat oleh paderi-paderi yang menjaga gereja, Siu-lam
segera menyusul juga. Setiap bertemu dengan rombongan paderi yang hendak
menghadang, Siu-lam segera berseru meminta mereka agar memberi jalan kepada kedua
nona itu.
Setiba di luar gereja, Hui-ing hentikan larinya. Tetapi ia tetap berdiri membelakangi Siulam.
Tak mau ia berhadapan muka.
“Beberapa bulan tak berjumpa, suheng sungguh garang sekali. Kawanan paderi di sini
mengindahkan kepadamu. Kiranya suheng tentu sudah menjadi murid Siau-lim-si yang
berkedudukan tinggi!” serunya.
“Jangan salah paham, sumoay. Siau-heng sama sekali bukan murid Siau-lim-si!”
“Jika engkau benar-benar mau mencukur rambut menjadi paderi, alangkah bagusnya!”
“Mengapa?” Siu-lam terkesiap heran.
Hui-ing merasa agak kelepasan omong. Buru-buru ia berganti nada: “Ah, tak apa-apa.
Kuanggap seorang yang berkelana di dunia persilatan tentu tiada bertempat tinggal yang
menentu. Kiranya lebih baik mencukur rambut masuk gereja, menuntut kehidupan yang
suci dan tenang!”
Siu lam tertawa tawar.
“Melewati hari-hari sedih di dalam goa, menyebabkan hati sumoay kosong dan
menyelami soal kebatinan. Tapi siau-heng tetap tak dapat melupakan soal budi dan
dendam. Kematian suhu dan subo yang mengenaskan, tiada sesaatpun kulupakan.
Sebelum hutang darah itu terbalas, hatiku takkan tenteram.”
Agaknya Hui-ing terpengaruh oleh ucapan Siu-lam. Ia menghela napas panjang: “Ah,
aku berterima kasih sekali bahwa suheng tetap teringat akan sakit hati orang tuaku....”
Siu-lam tertawa panjang, serunya: “Guru dan murid adalah serupa dengan ayah dan
anak. Terhadap musuh orang tua, kita tak dapat hidup di bawah kolong langit, itu sudah
menjadi tugas kewajibanku, harap sumoay jangan....”
Tiba-tiba Hui-ing berputar diri. Merogoh ke dalam baju, ia mengeluarkan selembar
sutera putih lalu dilemparkan kepada Siu-lam.
“Di atas sutera putih itu, telah kucatat tentang ilmu Chit-sing-tun-heng dengan jelas.
Dan kuberi juga gambarnya. Dengan kecerdasan suheng, kiranya dalam tiga empat hari
saja tentu sudah dapat memahami. Asal suheng mau meyakinkan dengan sungguhsungguh,
tentu dapat menggunakannya dengan hebat.”
Siu-lam memungut sutera itu dan menghaturkan terima kasih.
“Tak usah terima kasih,” kata Hui-ing, “malam ini kami telah melukai empat orang
paderi, harap suheng suka menyelesaikan peristiwa itu!”
Siu-lam berjanji akan membereskannya.
Ttba-tiba Hui-ing bantingkan kakinya: “Harap suheng menjaga diri baik-baik, lain kali
kita berjumpa lagi!”
“Nanti dulu!” buru-buru Siu-lam berseru ketika Hui-ing berputar diri hendak pergi.
“Apa yang suheng perlu katakan lagi?” tanya Hui-ing yang selalu tetap menutup muka
nya dengan lengan baju.
“Kedatangan sumoay selain hendak mengetahui keadaan siau-heng, pun juga akan
memberikan ajaran ilmu Chit-sing-tun-heng-tin, siau-heng….”
“Ah, jika engkau tak ingatkan, aku tentu lupa bahwa ilmu Chit-sing-tun-heng-tin itu
adalah ilmu ciptaan Su Bo-tun yang paling dibanggakan. Maka setelah suheng dapat
memahaminya, sebaiknya sutera putih itu dihancurkan saja agar jangan sampai jatuh ke
lain orang!” kata Hui-ing.
Kata Siu-lam: “Siu-ciu-kiau-in Su Bo-tun sudah tunduk pada Beng-gak. Dia bakal
menjadi salah seorang musuh kita yang tangguh.”

Rupanya Hui-ing terkesiap mendengar tentang tokoh itu, serunya agak tergetar: “Entah
benar atau tidak Su Bo-tun menggabung pada Beng-gak, tetapi ilmu ajaran itu tak boleh
jatuh pada orang lain!”
Siu-lam mengiyakan.
“Baik, akupun segera mohon diri!” serentak berputar tubuh Hui-ingpun sudah melesat
setombak jauhnya.
Tunggu!” teriak Siu-lam seraya loncat menyusulnya, “dari ribuan li jauhnya sumoay
datang kemari, apakah hanya begini saja terus hendak pergi?”
“Habis, apakah aku disuruh tinggal di gereja para paderi itu?”
Mendengar jawaban yang agak getas itu, Siu-lam tertegun. Kemudian ia menghela
napas: “Jika sumoay tetap hendak pergi, akupun tak berani menghalangi. Tetapi maukah
sumoay lepaskan lengan baju yang menutupi muka sumoay itu agar siau-heng dapat
melihat wajah sumoay?”
Tiba-tiba Hui-ing tertawa tinggi. Nadanya penuh kedukaan dan kerawanan.
“Mengapa engkau.... tertawa?” Siu lam terkejut.
“Bukankah engkau masih ingat jelas bagaimana wajahku itu?” seru Hui-ing.
“Senyum tawa dan wajahmu, selalu terukir dalam benakku!” sahut Siu-lam.
Hui-ing menghela napas: “Kalau sudah ingat jelas, perlu apa kau hendak melihatnya
lagi?”
Siu-lam terkesiap. Tiba-tiba sesuatu melintas dalam benaknya: “Sumoay, apakah
wajahmu menderita… sesuatu….”
“Jangan bicara tak karuan!” bentak Hui-ing terus lari.
Melihat caranya Hui-ing kemudian dengan kalap Siu-lam tak berani mengejar. Ia
khawatir sumoaynya akan salah paham. Maka ia hanya berseru saja: “Sumoay, bolehkah
aku mendapat tahu alamatmu? Nanti setelah aku selesai membalaskan sakit hati suhu
dan subo, aku akan menjenguk...”
Dari jauh Hui-ing menyahut: “Tak perlu! Dalam kehidupan sekarang, aku tidakkan
berjumpa lagi dengan engkau!”
Siu-lam menengadah memandang cakrawala. Hatinya terasa hampa, penuh dengan
kedukaan. Untuk melonggarkan perasaan itu, ia menghela napas panjang.
Saat itu sudah menjelang tengah malam. Tiba-tiba dari belakang terdengar derap
langkah orang mendatangi. Ia tersentak dari lamunannya dan segera berputar diri.
Ternyata yang datang itu Tay Ih siansu beserta Tay To siansu. Dari derap langkahnya
yang berat, jelas kedua paderi Siau-lim-si itu sedang dirundung keresahan batin.
“Apakah kedua li-sicu tadi sudah pergi?” tanya Tay Ih siansu.
Siu-lam memberi hormat dan minta kepada paderi pimpinan Siau-lim-si itu agar jangan
mengimbangi tindakan kedua gadis tadi.
“Entah masih ada hubungan apakah kedua li-sicu itu dengan Pui sicu?” tanya Tay To.
“Ceriteranya panjang sekali. Tetapi salah seorang dari mereka adalah sumoayku. Hanya
gadis baju hitam yang melukai keempat murid Siau-lim-sie itu, wanpwe tak kenal. Dan
yang jelas sumoay wanpwe itupun mempunyai dendam besar kepada Beng-gak.
Keterangan yang lebih jelas, biarlah kelak wanpwe haturkan lagi.”
Tay Ih siansu tertawa: “Meski keempat paderi itu terluka, tetapi untung tiada yang
melayang jiwanya. Sekalian paderi Siau-lim-si amat berterima kasih sekali atas bantuan Pui
sicu. Sekalipun terjadi beberapa murid mendapat luka tetapi janganlah Pui sicu gelisah.
Mereka tak akan penasaran kepada sicu.”
Siu-lam menghaturkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.
“Sekarang sudah mendekati tengah malam. Pertempuran yang menentukan hidup atau
matinya gereja Siau-lim-si segera akan dimulai. Malam ini merupakan malam yang paling
menderita bagi Siau-Iim-si. Kami, seluruh paderi anak murid Siau-lim-si tak akan
melupakan budi bantuan Pui sicu kepada Siau-lim-si. Maka lupakan segala peristiwa kecil
yang tak berarti itu dan marilah kita hadapi musuh dengan persatuan tekad!”

Selain dipandang sebagai paderi angkatan tua yang berkedudukan tinggi di gereja Siaulim-
si, pun Tay Ih siansu itu juga sangat diindahkan dalam dunia persilatan.
“Hidup matinya gereja Siau-lim-si, berarti juga hidup matinya dunia persilatan. Tetapi
nyatanya saat ini hanya anak murid Siau-lim-si yang memikul beban menghadapi bencana
itu…” kata Siu-lam.
Sejenak ia memandang ke cakrawala dan menghela napas panjang. Kemudian katanya:
“Menurut hemat wanpwe, jika Siau-lim-si gagal memberantas bencana ini, dunia persilatan
pasti akan mengalami perubahan besar. Sembilan partay persilatan pasti takkan terhindar
dari kehancuran. Pertempuran malam ini sebenarnya merupakan penentuan nasib dari
dunia persilatan. Kesembilan partai persilatan itu seharusnya mengirim para jagonya untuk
bersama-sama menghadapi musuh. Tetapi nyatanya, mereka hanya berpeluk tangan saja,
membiarkan Siau-lim-si berjuang seorang diri!”
Tay Ih siansu tertawa: “Tetapi Pui sicu tak boleh menyesali mereka karena kedatangan
Beng-gak itu secara tiba-tiba sehingga loni tak sempat mengundang mereka.”
Tetapi Siu-lam tetap tak puas dengan sikap partay-partay persilatan yang begitu dingin:
“Setiap partay persilatan tentu mempunyai anak murid yang berkelana di dunia persilatan.
Kalau peristiwa sebesar ini mereka sampai tidak mendengar dan tak mengetahui, suagguh
menggelikan sekali!”
Melihat anak muda itu makin penasaran, akhirnya Tay Ih memintanya supaya
beristirahat dulu memulangkan tenaga.
Siu-lam menghaturkan terima kasih, lalu maju melangkah pergi. Pada setiap ujung dan
sudut di seluruh gereja itu, Siu-lam tentu melihat kelompok-kelompok paderi yang
menjaga dengan ketat sekali. Siu-lam menyatakan pujiannya kepada Tay Ih yang telah
mengatur persiapan begitu rapat.
Tay To siansu menerangkan: “Tiga ratus batang obor telah dipersiapkan. Setiap obor
dapat memberi penerangan seluas lima tombak. Jika tiga ratus batang obor itu serempak
disulut, gereja Siau-lim-si tentu akan terang benderang seperti siang hari. Kecuali Benggak
membasmi seluruh paderi Siau-lim-si, tentu tidak mungkin mereka dapat menerobos
masuk ke dalam gereja ini!”
Tay Ih siansu pun memberi penjelasan juga: “Loni telah minta Tay Lip dan Tay To sute,
untuk memimpin barisan Lo-han-tin. Dan loni minta kepada kedua sute itu supaya memilih
empat puluh delapan anak murid dari angkatan kedua dan ketiga. Dipecah dalam dua regu
dan masing-masing merupakan kelompok yang setiap saat harus memberi bantuan kepada
bagian yang genting.”
Siu-lam memuji cara paderi itu mengatur persiapan.
“Kemudian loni dan Tay To sute, masing-masing memimpin dua belas anak murid untuk
menyambut kedatangan rombongan Beng-gak. Sebagai tuan rumah kita harus menyambut
mereka dengan baik kemudian baru bertempur!”
“Sungguh tak kecewa menjadi pemimpin partai persilatan golongan Ceng-pay!” Siu-lam
memuji.
Kemudian Tay Ih minta agar Siu-lam yang membawa kedua tokoh Lam-koay dan Pakkoay
menghadapi musuh.
Dalam pada berbicara itu merekapun tiba di ruang Hong-tiang-si. Tay Ih siansu
mempersilahkan Siu-lam beristirahat. Bila ada sesuatu perubahan, tentu akan segera
diberitahukan.
Ketika masuk ke dalam ruang, ternyata Lam-koay dan Pak-koay masih duduk
menyalurkan napas. Begitu pemuda itu masuk, kedua tokoh itupun membuka mata dan
menabur ke arah wajah Siu-lam.
“Hebat juga ilmu pedang gadis baju hitam tadi!” seru Pak-koay Ui Lian.
Siu-lam tertegun, serunya: “Apakah locianpwe menyaksikan?”
Lam-koay Shin Ki mendengus: “Hm, apa-apaan locianpwe-locianpwe saja! Masih muda
begitu mengapa kau sangat pelupa sekali!”

“Apakah yang wanpwe lupakan?”
“Tatkala engkau membuka tali pengikatku, telah kuberi penjelasan kepadamu. Kita
akan menjadi saudara dan saling berbasa engkoh adik,” seru Lam-koay.
Diam-diam Siu-lam membatin. Saat itu memerlukan tenaga mereka. Apa yang tak
memberatkan, baiklah menurutkan permintaan mereka saja.
“Shin loko, terimalah hormatku!” katanya seraya memberi hormat.
Orang aneh Shin Khi tertawa gelak: “Bagus, adik yang baik!”
Kiranya setelah menyusul Siu-lam dan melihat kedua nona itu dapat menerobos
kepungan paderi Siau-lim-si, buru-buru kembali ke dalam kamarnya. Itulah sebabnya
maka mereka dapat menyaksikan jelas gerak-gerik Siu-lam.
Pak-koay Ui Lian tertawa dingin: “Hm, si tua si muda, apa guna….”
“Peduli apa engkau!” Shin Khi marah.
“Justeru aku hendak memperdulikan, mau apa engkau?” tantang Ui Lian terus melesat
dan menghantam.
Kuatir kedua manusia aneh itu akan berkelahi, buru-buru Siu-lam mencegah: “Harap
cianpwe berdua bicara secara baik-baik, jangan lah sedikit-sedikit terus berkelahi!”
Dalam berkata itu, ia gunakan sebelah tangan untuk menangkis tamparan Pak-koay Ui
Lian. Krak... Siu-lam tergempur. Karena jaraknya dekat dengan Lam-koay, maka ketika
tersurut mundur ia berada di samping Shin Ki.
Tiba-tiba Lam-koay Shin Ki ulurkan tangan kanan meraba punggung Siu-lam. Seketika
Siu-lam rasakan serangkum hawa membaur ke dalam tubuhnya. Dan diluar kehendaknya,
lwekangnya telah memancar keluar dan... tahu-tahu tangan Siu-lam mendorong membalas
tamparan Pak-koay.
Pak-koay tertawa dingin Ia segera dorongkan tangan kanannya dengan tenaga yang
keras.
Seketika terjadi adu tenaga. Dan ternyata Siu-lam dapat menahan Pak-koay.
Walaupun Lam-koay Shin Ki memancarkan lwekang, tetapi sebenarnya lwekang Siu-lam
sendiri sudah dapat menyambut serangan Pak-koay. Maka Lam-koay Shin Ki tak merasa
sama sekali.
Pak-koay Ui Lian marah sekali. Dengan tertawa dingin ia menyerang dengan saluran
lwekang yang lebih hebat.
Walaupun tokoh berhati dingin dan congkak itu ganas sekali, tetapi setelah dijebloskan
dalam penjara di bawah tanah selama berpuluh tahun, keganasannya banyak menurun.
Apalagi diam-diam ingat akan budi pertolongan Siu-lam. Maka dalam melakukan serangan
itu ia lancarkan dengan perlahan saja.
Sekalipun begitu cukuplah sudah membuat Siu-lam menderita. Seketika ia rasakan
tubuhnya seperti dilanda gelombang lwekang yang hebat sehingga hampir saja ia tak kuat
bertahan lagi. Darah bergolak, jantung berdebar dan napas sesak sekali.
Kiranya dia lelah lupa bahwa Lam-koay Shin Ki memberi bantuan penyaluran lwekang.
Maka ia menghadapi serangan Ui Lian seorang diri saja.
Tadi karena Siu-lam berjuang seorang diri Lam-koay Shin Ki tak merasa suatu apa. Ia
senggang. Tetapi kesenggangan itu segera menimbulkan lamuna. la teringat akan ilmu
pedang gadis baju hitam tadi. Rasa-rasanya ia pernah melihat ilmu pedang itu. Tetapi
karena sudah berpuluh tahun hidup dalam penjara di bawah tanah, hampir ia tak ingat lagi
semua peristiwa yang terjadi sebelumnya.
Demikianlah Lam-koay Shin Ki layangkan pikirannya melamun. Dan karena melamun itu
ia lupa bahwa pada saat itu ia tengah membantu Siu-lam mengadu lwekang dengan Pakkoay.
Ia menjadi gelagapan Setelah Siu-lam terdorong mundur.
“Jangan takut, adik!” serunya seraya serentak pancarkan lwekangnya.
Seketika Siu-lam rasakan perutnya panas. Hawa panas itu meluap ke atas, terus ke
lengan. Tubuhnya yang sudah miring tadi, pun lurus kembali.

Pak-koay Ui Lian sudah menggunakan enam bagian lwekangnya. Karena lawan bukan
saja dapat bertahan pun malah balas menyerang iapun buru-buru menambah lwekangnya.
Tiba-tiba Siu-lam mendapat pikiran: “Tak lama lagi tengah malam segera tiba. Aku lelah
sekali. Baiklah kupinjam saat-saat mereka adu Iwekang untuk beristirahat. Setelah
tenagaku pulih baru nanti mencari daya untuk melerai mereka !”
Siu-lam segera melaksanakan rencananya. Saat itu kedua tokoh sedang ngotot adu
lwekang. Masing-masing telah menambahi lwekangnya namun tetap belum ada yang
menang dan kalah.
Pada lain saat, kedua tokoh itu merasa tak enak hati. Di tengah mereka terdapat si
anak muda. Jika mereka menambahkan saluran lwekangnya, tentu anak muda itu yang
akan hancur. Oleh karena itu mereka tak mau menambahkan lwekangnya lagi.
Dalam keadaan begitu, di luar dugaan Siu-lam telah mendapat keuntungan. Dan
menggunakan pancaran lwekang kedua tokoh itu untuk menembus beberapa jalan darah
dalam tubuhnya yang selama ini belum dapat disaluri lwekang.
Berselang beberapa saat, tenaga Siu-lam pulih kembali. Tetapi ketika ia membuka mata
terkejutlah ia. Ternyata wajah Pak-koay yang biasanya dingin angkuh, saat itu mengerut
kedukaan.
Tetapi ketika ia hendak menegur, tiba-tiba di luar ruangan terdengar derap kaki
seorang paderi kecil lari mendatangi. Paderi kecil itu memberi hormat dan berkata: “Musuh
sudah muncul. Beberapa supeh, susiok sudah menyambut keluar. Aku diperintahkan
kemari mengundang sicu bertiga….”
Serentak teringatlah Siu-lam akan pesan Kak Bong taysu si paderi tua. Buru-buru ia
berseru kepada kedua tokoh yang tengah mengadu lwekang itu: “Harap jiwi berdua
berhenti!”
Lam-koay dan Pak-koay mendengus, tetapi tiada menghentikan pancaran Iwekangnya.
Kiranya kedua tokoh itu sudah menggunakan sembilan bagian Iwekangnya. Siapapun
sukar untuk berhenti Karena jika salah seorang menghentikan pancarannya, dia pasti akan
menderita luka dalam.
Siu-lam mengingsut ke samping. Ia hendak menyelinap keluar dari lingkaran lwekang
kedua tokoh itu.
Tetapi begitu tubuhnya bergerak, segera ia merasa ulu hatinya seperti mau pecah.
Buru-buru ia berhenti lagi.
Karena lwekang kedua tokoh itu berimbang maka dapatlah Siu-lam menyalurkan secara
berimbang. Tetapi begitu ia berkisar ke samping, seketika terasa kesakitan.
“'Tay Ih supeh telah pesan aku supaya mengantarkan jiwi bertiga. Pertempuran itu
genting sekali maka supeh sangat mengharap jiwi bertiga membantu. Saat ini supeh telah
membawa beberapa suheng yang berilmu tinggi menunggu kedatangan musuh di luar
pintu gereja!” kata paderi kecil itu pula.
Siu-lam gelisah. Tetapi kedua tokoh itu tetap tak mau hentikan pancaran lwekang.
Dalam gugupnya Siu-lam segera meminta Lam-koay Shin Ki supaya berhenti lebih dahulu.
Lam-koay Shin Ki juga tak kurang ganas dan anehnya dari Pak-koay. Dalam sejarah
perjalanan hidupnya, penuhlah dengan peristiwa-peristiwa berdarah dari beberapa tokoh
yang menjadi korbannya. Selama ini belum pernah ia tertarik pada orang dan belum
pernah pula berbahasa engkoh adik dengan orang.
Dia telah memperoleh ilmu kesaktian yang hebat dan telah pula mendapat nama yang
termahsyur. Akan tetapi diapun mengalami kehidupan yang sunyi. Dia tak pernah
mencintai seseorang. Hidupnya selalu diliputi oleh kesepian dan derita.
Seruan Siu-lam yang memanggilnya engkoh tadi, benar-benar telah menyentuh
sanubarinya.
Dia merasa bahwa di dalam dunia ternyata masih ada seorang yang mau mengakuinya
sebagai saudara. Ia menghela napas panjang….

“Adik, hati-hatilah, aku hendak menarik Iwekangku!” serunya seraya mulai
menghentikan pancaran lwekangnya dengan pclahan.
Pak-koay Ui Lian memperhatikan dengan seksama. Ia mendapat kesan bahwa Lamkoay
Shin Ki tadi belum seluruhnya mengeluarkan lwekangnya. Sepuluh tahun yang lalu,
keduanya sama-sama diagungkan dunia persilatan sebagai momok yang sakti. Keduanya
sama-sama memiliki ilmu pukulan Cek-yan-ciang dan Hian-ping-ciang yang termashyur.
Dan berpuluh-puluh tahun kemudian kesaktian keduanya masih tetap berimbang. Diamdiam
jago dari utara itu menghela napas. la merasa bahwa dalam sekarang, tak mungkin
ia dapat memenangkan Lam-koay.
Akhirnya iapun menarik lagi lwekangnya. Siu-lam berbangkit dan memberi hormat pada
kedua tokoh itu: “Shin toako dan Ui locianpwe. Harap menyalurkan napas dulu lalu kita
akan keluar menyambut kedatangan orang Beng-gak!”
Lam-koay Shin Ki loncat bangun seketika. “Uh, perlu apa harus menyalurkan napas,
sekarang juga berangkat!”
Pak-koay Ui Lian pun tak mau unjuk kelemahan. Ia juga loncat bangun.
“Tapi anak buah Beng-gak masing-masing memiliki kepandaian sakti. Terutama
pemimpinnya, ilmu kepandaiannya telah mencapai kesempurnaan. Baiklah jiwi berdua
kembali bernapas untuk memulihkan kesegaran semangat baru nanti kita menyambut
mereka,” Siu-lam agak gelisah.
Lam-koay Shin Ki tertawa tergelak: “Tak perlu saudara mencemaskan diriku.
Percayalah, berjalan seratus langkah saja, tenagaku tentu sudah pulih kembali!”
Pak-koay Ui Lianpun menyambutnya: “Itu bukan hal yang mengherankan. Tak perlu
dipamerkan pada seorang yang masih hijau!”
Kuatir keduanya akan cekcok lagi, buru-buru Siu-lam meminta agar Lam-koay Shin Ki
jangan meladeni ucapan Pak-koay Ui Lian. Dan Lam-koay pun menurut.
Namun Pak-koay Ui Lian masih mengomel: ''Huh, apa itu lo-cianpwe atau tidak locianpwe.
Apakah mulutmu tidak kaku mengatakan itu?”
Siu-lam tertegun, Tersipu-sipu ia memberi hormat: “Jika wanpwe salah, harap locianpwe
suka memberi maaf!”
Tetapi Pak-koay segera berpaling muka dan pura-pura tak mau melihatnya. Siu-lam
hanya ketawa lalu ayunkan langkah. Setelah saling bertukar pandang, kedua tokoh itu
segera mengikuti Siu-lam.
Malam itu langit tiada bulan melainkan bertabur bintang. Angin pegunungan
menghembus, pohon hutan berderaian.
Tay Ih siansu bersama Tay To telah siap di ambang pintu gereja bersama dua puluh
orang anak muridnya yang dipilih dari angkatan kedua dan ketiga.
Melihat kedatangan Siu-lam, pejabat ketua Siau-lim-si itu segera menyambut: “Ah,
membikin repot sicu bertiga saja!”
Siu-lam balas memberi hormat tetapi tak mengucap apa-apa. Sebaliknya Lam-koay dan
Pak-koay menengadah memandang langit, tak mau mengacuhkan sama sekali.
Tetapi karena Tay Ih siansu tahu akan perangai kedua tokoh itu, iapun tak mau
menarik panjang urusan tata kesopanan itu. Bertanyalah ia dengan bisik-bisik kepada Siulam:
“Saat ini sudah tengah malam, mengapa orang Beng-gak belum tampak muncul?”
“Menurut pendapat wanpwe, tak mungkin orang Beng-gak itu akan ingkar janji....”
belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara harpa berbunyi.
Harpa itu melengking tinggi macam iblis menangis. Apalagi di saat tengah malam seperti
itu. Makin menyeramkan sekali.
“Itulah mereka!” kata Siu-lam, “tempo hari wanpwee pun pernah mendengar suara
musik semacam itu ketika di Beng-gak!”
Memandang ke sekeliling, tampak anak murid Siau-lim-si yang berada di situ, sama
mengenakan pakaian warna warni. Kecuali Tay Ih siansu dan Tay To siansu yang tetap
mengenakan jubah paderi, kedua puluh empat anak murid Siau-lim-si itu sama

mengenakan pakaian ringkas warna kelabu tua. Mereka sama membekal senjata dan
senjata rahasia lainnya. Ada yang menyelip golok kwat-to, pedang pendek, tongkat sianciang.
Dan yang paling aneh adalah senjata yang disiapkan oleh dua orang paderi muda.
Yang seorang membawa senjata berbentuk seperti bunga teratai dan yang seorang
membawa senjata semacam sekop tujuh batang jumlahnya.
Sebenarnya para paderi Siau-lim-si tidak pernah menggunakan senjata rahasia. Hal itu
mengunjukkan bahwa Siau-lim-si telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk
menyambut musuh. Mereka akan berjuang mati-matian.
Suara musik macam ringkikan iblis itu makin lama makin dekat. Dan pada lain saat dari
dalam hutan siong di sebelah muka muncul tiga buah lentera berwarna hijau.
Tay Ih siansu beri isyarat tangan dan kedua puluh empat paderi murid Siau-lim-si itu
segera berpencaran.
Siu-lam berkata bisik-bisik: “Anak buah yang meniup seruling dan memetik harpa itu,
wajahnya seram seperti bangsa setan.”
Tay Ih siansu berpaling menatap anak muda itu, ujarnya: “Apabila mereka muncul,
harap Pui sicu yang bicara. Apabila perlu, baru loniakan ikut bicara.”
Sambil merabah ke arah pedang Pek-kau-kiam yang tersangkut di bahunya, Siu-lam
menghela napas sesal: “Sayang sekali, pedang pemberian locianpwe yang sebatang telah
hilang....”
“Ceng-liong-kiam dan Pek-kau-kiam sudah menjadi milik Pui sicu. Loni tak berhak
mengurus lagi.”
Dalam pada itu suara musik tadi pun berhenti. Tetapi keempat lentera hijau tadi cepatcepat
menghampiri datang.
Kiranya keempat lentera hijau itu mengiringkan sebuah tandu yang beratap kuning.
Empat lelaki gagah perkasa memanggul tandu itu. Wajah mereka bercontrengan tak
keruan bentuknya. Dalam beberapa kejap saja, tandu itu sudah tiba.
Keempat tukang tandu wajahnya dilumuri bedak merah dan putih. Dan mereka masingmasing
mencekal sebatang tongkat gok-song-pang. Dalam malam sesunyi itu, mereka
tampak makin menyeramkan sekali.
Di belakang tandu kuning itu, terdapat berpuluh-puluh pengiring yang terbagi menjadi
dua deret. Masing-masing mengawal tandu dari sebelah kanan dan kiri.
Dan pada kedua samping tandu itu, terdapat dua orang gadis yang cantik sekali. Yang
di sebelah kanan seorang gadis berpakaian warna merah, mencekal kebut hud-tim dan
punggung menyanggul pedang pusaka Ceng-liong-kiarn milik Siu-lam.
Di dalam rombongan Beng-gak itu Siu-lam tak mendapatkan Bw