To Liong To **

MUSIM semi gembira-ria,
Setiap peringatan Han-sit,
Bunga Lee-hoa mekar semua.
Sutera putih licin,
Bau harum bertebaran,
Pohon2 bagaikan giok,
Tertutup salju berhamburan.
Malam yang sunyi,
Sinar yang mengambang,
Cahaya, yang dingin.
Diantara bumi dan langit,
Sinar perak menyelimuti semesta a1am.
Ah, dia bagaikan Dewi dari gunung Kouwsia,
Bakatnya cerdas dan suci,
Wataknya agung dan murni.
Laksaan sari bunga besar kecil tak ketentuan,
Tapi siapa berani mengatakan, dia tak
berendeng dengan bunga2 kenamaan?
Jiwanya gagah,
Kepintarannya berlimpah2,
Sesudah rontok, semua sama.
Maka itu, dia pulang kekeraton langit'
Guna melihat keindahan nan ABADI.
Sajak diatas sajak "Boe siok liam" (Cita2 hidup bebas dari segala keduniawian), adalah buah kalam seorang ahli silat ternama dijaman Lan-song (kerajaan Song Selatan). Orang itu she Khoe bernama Cie Kie (Kee) bergelar Tiang coen coe, salah seorang dari Coan cin Cin Cit coe (Tujah Coe dari agama Coan cin kauw)
Dalam sajak itu Khoe Cie Kie bicara tentang bunga Leehoa. Tapi sebenarnya, dalam melukiskan keagangan bunga Leehoa, is ingin memberi pujian kepada seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian serba putih. la membandingkan wanita itu seperti "Dewi dari gunung Kouw sia, bakatnya cerdas dan suci, wataknya agung dan murni." Ia memujinya sebagai manusia yang "jiwanya gagah kepintarannya ber-limpah2."
Siapakah wanita yang mendapat pujian sedemikian tinggi dari seorang, beribadat yang berilmu itu ?
Ia adalah Siauw Liong Lie, seorang jago betina parte Kouw bok pay (parte Kuburan tua). Ia suka mengenakan pakaian serba putih, sehingga se-olah2 pohon giok yang tertutup salju Dengan sifat2nya yang bersih dingin is se-akan2 sinar rembulan yang menyelimuti semesta alam dengan sinarnya yg teduh dan dingin.
Waktu masih berdiam di Ciong Lan Sam Siauw Liong Lie pernah jadi tetangga Kho Cie Kie dan sesudah melihat gadis itu yang elok luar biasa. Cie Kie segera menulis sajak "Boe siok-liam" untuk memujinya.
Tapi sekarang Kho Cie Kie sudah lama meninggal dunia, sedang Siauw Liong Lie pun sudah menikah dengan Sintiauw Tayhiap Yo Ko.
Akan tetapi, pada suatu hari, dijalanan gunung Siauw sit san, di propinsi Holam, terlihat seorang gadis remaja yang sedang berjalan sambil menundukkan kepada dan menghafal sajak "Boe siokliam."
Gadis itu, yang berusia kira-kira delapan belas tahun dam mengenakan pakaian warna kuning menunggang seekor keledai kurus. Perlahan-lahan binatang itu mendaki jalanan gunung yang sempit. Sambil termenung2 diatas tunggangannya, sinona berkata dalam hatinya. "Ya ! Memang juga, hanyalah seorang seperti Liong Cie-cie yang pantas menjadi isteri dia."
"Dia" adalah Sintiauw Tayhiap Yo Ko.
Keledai berjalan terus, perlahan-lahan.
Si nona menghela papas dan berkata dengan suara perlahan. "Berkumpul gembira, berpisahan menderita......"
Gadis tersebut, yang berpakaian sederhana dan yang pada pinggangnya tergantung sebatang pedang pendek, berjalan dengan paras muka tenang, sehingga dengan muka sekelebatan saja, orang bisa menebak, bahwa ia adalah seorang yang sadah biasa berkelana dalam dunia Kang-ouw. Ia berada dalam usia remaja, usia riang gembira. Menurut akuran biasa, dalam usia belasan, pemuda atau pemudi tak mengenal apa yang dinamakan penderitaan atau kedukaan. Akan tetapi, nona itu berada di luar dari ukuran biasa. Pada paras mukanya yang cantik bagaikan sekuntum bunga mawar, terlihat sinar yang guram. Alisnya berkerut, seolah-olah serupa pikiran berat sedang menindih hati iya.
Nona itu she Kwee bernama siang, puteri ke dua dari Tayhiap Kwee Ceng dan Liehiap Oey Yong. Dalam dunia Rimba Persilatan, ia di juluki sebagai "Siauw-tong-sia" (si Sesat kecil dari Timur). Dengan seekor keledai dan sebatang pedang, ia berkelana untuk menghilangkan kedukaan. Tapi diluar dugaan semakin jauh ia berkelana mendaki gunung2 yang indah dan sunyi semakin besar kedukaannya.
Jalan kecil itu, dibuat atas perintah Kaizar Kocong dari kerajaan Tong, untuk memudahkan lalu lintas kekuil Siau-lim-sie.
Sesudah berjalan beberapa lama, Kwee Siang melihat lima buah air terjun digunung seberang dan dibelakang sebuah tikungan, apat2 terlihat tembok dap genteng dari se buah kuil yang besar luar biasa.
Sambil mengawasi bangunan2 yang berderet, si nona berkata dalam hatinya. "Semenjak dulu Siauw lim sie dikenal sebagai pusat pelajaran ilmu silat. Tapi mengapa, selama dua kali diadakan pertandingan di puncak gunung Hwa-san, diantara lima jago utama tidak terdapat orang yang berkepandaian Cukup tinggi? Atau apakah, karena sudah memiliki ilmu yang sangat tinggi, mereka sung kan mencampuri segala pergaulan didalam dunia?"
Sambil berpikir, ia mendekati kuil itu.
Ia turun dari tunggangannya dan menuju ke pintu kelenteng. Ia melewati pohon2 itu yang berdiri sejumlah pay batu yang sebagian besar sudah rusak, sehingga hurup2nya tak dapat dibaca lagi.
Si nona menghela napas. "Ah ! Huruf2 yang terpahat di pay batu sudah hampir tak terbaca karena lamanya tempo, tapi mengapa, huruf2 yang terukir dalam hatiku, semakin lama jadi semakin tegas ?" katanya didalam hati.
Dalam saat, ia berpapasan dengan sebuah pay batu yang sangat besar dengan hurufnya yang masih dapat di baca. Pay itu ternyata hadiah Kaizar Tong-thay-tong sebagai pujian untuk jasa-jasanya para pendeta Siauw-lim-Sie
Menurut catatan sejarah, pada waktu masih jadi Raja muda Cin-ong, Tong-thay-cong pernah membawa tentara untuk menghukum Ong Sie Oen. Dalam peperangan itu, bajak pendeta siauw-lim-sie memberi bantuan dan yang paling terkenal berjumlah tiga belas orang. Antara mereka itu, hanya seorang she Tham yang suka menerima pangkat jenderal sedang yang lainnya, sesudan peperangan selesai, lantas meminta diri. Tong-thay-cong tak dapat menahan mereka dan sebagai pernyataan terima kasih kepada setiap orang, ia menghadiahkan satu jubah pertapaan yang sangat indah.
"Pada jaman antara kerajaan Soe dan Tong ilmu silat Siau Lim sie sudah tersohor dikolong langit," kata Kwee Siang didalam hati.
"Selama beberapa ratus tahun, ilmu silat itu tentu sudah memperoleh banyak kemajuan. tahu berapa banyak orang yang berilmu bersembunyi dalam kuil yang besar ini?"
Selagi dia melamun dibelakang pohon, tiba2 terdengar suara berkerincingnya rantai besi, disusul dengan suara seseorang yang sedang menghafal Hoed keng (Kitab Suci agama Budha. ). Antara perkataan2 yang di hafal ia menangkap kata2 seperti berikut.
"... Dari cinta timbul ke jengkelan, dari cinta timbul ketakutan. Jika seseorang menyingkirkan diri dari cinta, ia terbebas dari kejengkelan dan ketakutan."
Jantung si nona memukul keras. Ia bengong mengulangi kata2 itu. "Dari cinta timbul ke jengkelan dan ketakutan. Jika seseorang menyingkirkan diri dari cinta, ia terbebas dari kejengkelan dan ketakutan."
Dilain saat, suara kerincingan rantai besi dan suara pembacaan Kitab Suci sudah jadi semakin jauh.
"Aku mesti tanya dia," kata si nona dalam hati. "Aku mesti tanya, bagaimana seseorang bisa menyingkir dari cinta, bisa terbebas dari kejengkelan dan ketakutan". Buru2 ia mengikat tali les keledai disatu pohon dan lalu mengubar kearah suara itu.
Ternyata, dibelakang pohon2 terdapat satu jalan kecil yang menanjak keatas dari seorang pendeta yang memikul dua tahang besar sedang naik ditanjakan itu.
Dengan cepat Kwee Siang mengudak dan waktu berada dalam jarak belasan tombak dari si pendeta, tiba2 terkesiap. la mendapat kenyataan, bahwa yang dipikulnya sepasang tabang besi yang tiga kali lipat lebih besar dari tahang biasa. Yang mengejutkan ialah, dileher, di tangan dan dikaki sipendeta dilibatikan rantai besi yang besar, sehingga menimbulkan suara berkerincingan. Berat kedua tahang besi itu ratusan kati dan ditambah dengan air dapat dibayangkan betapa beratnya.
".. Toah hweeshio (pendeta besar) "teriak si nona. "Berhenti dulu ! Aku ingin bertanya."
Si pendeta menengok, mereka saling memandang. Pendeta itu ternyata Kak-wan yang pada tiga tahun berselang pernah bertemu Kwee Siang di puncak ganung Hwa-san.
Si Nona tahu, biarpun pendeta itu agak tolol, ia memiliki Lweekang yang sangat tinggi, yang tak kalah dari siapapun juga. "Ah! Kukira siapa," katanya. "Tak tahunya Kak kwan Taysoe. Mengapa kau jadi begini ?"
Kak kwan manggut kan kepalanya sambil tersenyum dan merangkapkan kedua tangannya, tapi ia tak menjawab pertanyaan si nona. Lalu ia memutar badan dan berjalan pula
"Kak Wan Taysoe !" teriak Kwee Siang. "Apakah tidak mengenal aku ? Aku Kwee Siang!"
Kak wan kembali menengok, ia tertawa dan memanggut2kan kepala, tapi kakinya bertindak terus.
"Siapa yang mengikat kau dengan rantai?" tanya sinona. "Siapa yang menghina kau?"
Sambil berjalan terus Kak wan menggoyang2 tangan kirinya dibelakang kepala, sebagai isyarat supaya sinona jangan terlalu melit.
Kwee Siang jadi semakin heran. Mana ia bisa puas dengan begitu saja? Ia segera mengudak untuk mencegat pendeta yang aneh itu, tapi diluar dugaan, sesudah mengubar beberapa lama, Kak wan yang dilibat rantai dan memikul tahang, masih tetap berada disebelah depan. sinona jadi jengkel. Ia mengempos semangat dan mengudak dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Bagaikan seekor walet tubuhnya yang langsing melesat kedepan dan satu tangannya coba menjambret sebuah tahang.
Menurut perhitungan, jambretan itu tak akan melesat. Tapi diluar dugaan, tangan Kwee Siang jatuh ditempat kosong, hanya kacek dua dim dari tahang itu.
"Toahweeshio ! Lihay benar kau !" teriaknya. "Lihatlah! Biar bagaimanapun juga aku akan menyandak kau."
Jalanan semakin menanjak,kebelakang gunung. Dengan tenang Kak Wan percepat tindakannya, sehingga berkerincingnya rantai jadi semakin ramai. Si ubar dengan sekuat tenaga, nafasnya tersengal2, tapi ia terpisah kurang lebih setombak dari pendeta ltu. Ia kagumi bukan main dan berkata dalam hatinya : "Diatas gunung Hwa-san, ayah dan ibu pernah mengatakan, bahwa hweeshio ini memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Waktu itu aka masih percaya. Sekarang baru terbukti, perkataan ayah dan ibu adalah benar."
Tak lama kemudian merekapun tiba didepan sebuah rumah kecil dan Kak Waa sagera pergi kebelakang dam menuang air kedua tahang itu kedalam sumur. Kwee siang jadi lebih heran. "Toa hweeshio, apa kau sudah gila? " tanyanya. "Mengapa kau menuang air kedalam sumur?"
Paras muka sipendeta tetap tenang. Ia hanya tersenyum.
Mendadak Kwee siang tertawa nyaring. " Ah! Kutahu sekarang," katanya. "Kau sedang melatih ilmu silat bukan ?"
Kak Wan kembali meng-geleng2kan kepala.
Sinona jadi mendongkol. "Kau seorang gagu, barusan aku mendengar kau menghafal Kitab Suci." katanya. "Mengapa kau tak mau menjawab pertanyaanku ?"
Si pendeta merangkap kedua tangannya, Sedang dilihat dari paras mukanya, ia seperti ingin meminta maaf. Tapi ia tetap membungkam dan sesudah mengangkat kedua tahangnya, ia lalu turun di jalanan tadi.
Kwee siang melongok sumur itu. Ia hanya melihat air yang bening dan merasakan hawa yang dingin. Tiada apapun yang luar biasa.
Ia berdiri bengong dan hati bimbang mengawasi bayangan Kak wan yang semakin lama jadi semakin jauh. Sesudah menguber mati matian, ia merasa letih dan lalu duduk dipinggir sumur sambii memandang keadaan diseputarnya. Ia berada ditempat yang lebih tinggi dari pada kuil Siauw liem sie. Di pandang dari jauh kuil itu, angker dan indah. Ia mendongak dan memandang puncak. yang menjulang kelangit dan berderet2 bagaikan sekosol, sedang di bawah puncak2 itu terdapat awan putih yang mengambang kian kemari. Di lain saat, sayu sayu kupingnya mendengar suara lonceng di kuil yang dibawa keatas olen tiupan angin. Dalam keadaan begitu, ia merasa berada di suatu tempat suci yang jauh dari keduniawian.
"Kemana perginya murid si pendeta itu?" tanyanya didalam hati. "Kalau dia sendiri tak mau bicara, biar kucari itu." Perlahan lahan ia turun gunung untuk mencari Thio Koen Po, murid Kak wan.
Sesudah berjalan beberapa lama, ia kembali mendengar suara berkerincingnya rantai besi dan jauh-jauh Kak wan kelihatan mendatangi sambil memikul dua tahang besinya. Kwee siang baru baru melompat dan menyembunyikan diri di belakang pohon. "Biarlah aku intip padanya." pikirnya, "Permainan gila apa yang tengah dilakukannya?"
Tak lama kemudian, Kak wan sudah tiba di tempat bersembunyinya. Kwee Siang yg mendapat kenyataan, bahwa sambil berjalan pendeta itu membaca sejilid buku dengan penuh perhatian. Mendadak ia melompat dan berteriak. " Toah wee shio, buku apa yang di baca olehmu ?"
"Aduh ! Kaget benar aku !" teriak sipendeta tanpa merasa. "Nakal sungguh kau!"
Si nona tertawa geli. "Toa hwee shio, mengapa tadi kau berlagak gagu ?" tanyanya dengan dada mangejek,
Muka pendeta itu lantas saja berubah pucat, seperti orang ketakutan. Ia menegok ke Kiri kanan dan menggoyang-goyangkan tangannya.
"Apa yang di takuti olehmu ?" tanya pula Kwee Siang dengan perasaan heran.
Sebelum Kak wan keburu menjawab, dari dalam hutan mendadak muncul dua orang pendeta yang mengenakan jubah kuning. "Kak wan!" bentak sipendeta yang jalan didepan. "Hm! Kau berani bicara dan melanggar larangan kami ? Hm! Kau berani bicara dengan seorang luar. Apa pula demang seorang wanita. Sekarang kau harus menghadap pada tetua Kayloet tong (dewan per udang-undangan dari kalangan Buddha)."
Kak wan kelihatan berduka. Ia menunduk dan mengguk, akan kemudian berjalan mengikuti dibelakang kedua pendeta itu.
Kwee Siang lantas saja naik darahnya "Hai ! Dikolong langit mama ada aturan tak boleh bicara ?" bentaknya. "Aku bicara dengan Tay soe itu, karena aku mengenalnya. Ada sangkut paut apakan dengan kau berdua ?"
Pendeta yang bertubuh jangkung melotot matanya. "Semenjak ribuan tahun, seorang wanita belum pernah dipermisikan masuk kedalam daerah Siauw lim sie."
katanya. "Lebih baik nona cepat-capat turun gunung supaya tidak menghadapi kesukaran."
Sinona jadi semakin gusar. "Eh, kalau wanita masuk disini, mau apa kau?" bentaknya." Apa perempuan tak sama dengan lelaki? Mengapa kamu menyusahkan Kak wan Taysoe? Sesudah mengikatnya dengan rantai besi, kau mengeluarkan larangan gila-gila."
Si jangkung mengeluarkan suara dihidung "Kaizar sendiri tak pernah mencampuri urusan dalam kuil kami," katanya dengan suara tawar.
"Nona tak usah banyak bicara."
Kwee Siang berjingkrak. "Kutahu Kak wan Taysoe seorang baik dan karena ia seorang baik, kau berani menghinanya," katanya. "Huh-huh! Dimana adanya Thian beng Siansoe, Boe sek Hweeshio dan Boe Siang Hweeshio? Panggil mereka? Aku mau menanyakan urusan gila ini!"
Kedua pendeta itu terkejut. Harus diketahui, bahwa Thian beng Siansoe adalah Hongthio atau kepala dari kuil Siauw lim sie, sedang Boe sek Siansoe pemimpin Lo-han-tong Pan Boe siang Siansoe pemimpin Tak mo tong dengan kedudukan yang sangat tinggi, mereke dihormat oleh segenap pendeta yang belum pernah berani menyebutkan Hoat nia (nama sesudah jadi pendeta) mereka dan biasa menggunakan panggilan "Loo hong thio" "Lo han tong Co-soe" atau "Tat mo tong Cocoa. " Maka itu, tidaklah heran jika mereka kaget tercampur gusar waktu mendengar sinona menyebut nama ketiga, pemimpin dengan suara kasar.
Hoat mia pendeta yang bertubuh jangkung itu, adalah Hong bang, muria kepala Co coe (pemimpin) Kay Loet tang. Atas perintah coe coe, bersama Hong yan, adik seperguruannya ia menilik gerak-gerik Kak kwan. "Lie sie cue (nona) !" bentaknya sambil menahan amarah. "Jika kau terus berlaku kurang sopan ditempat yang suci ini, Siauwceng tak akan berlaku sangkan lagi."
"Kau kira aku takut ?" Kwee Siang balas membentak. "Lekas buka rantai yang meli- bat Kak wan Taysoe. Jika tidak, aku akan cari Thian beng Loo hwaeshio untuk berurusan lebih jauh."
Bagaimana siauw tong sia Kwee Siang bisa berada digunung Siaw sit san ?
Sesudah berpisah dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie dipuncak Hwa san, tiga tahun lamanya ia tak pernah menerima warta tentang kedua sahabat itu. Karena berkuatir, ia segera minta permisi dari kedua orang tuanya untuk pesiar keberbagai tempat, dengan tujuan mendengar berita tentang Yo Ko. la bukan terlalu ingin bertemu muka dengan kedua suami isteri itu. Ia sudah merasa puas jika bisa mendengar warta tentang sepak terjang mereka. Tapi semenjak berpisah, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tak pernah muncul dalam dunia Kangouw. Tiada orang tahu dimana mereka menyembunyikan diri. Sesudah berkelana disebagian besar wilayah Tiong go an, dari utara keselatan, dari timur kebarat, belum pernah Kwee Siang nendengar disebut-sebutnya, nama "Sintiauw Tayhiap Yo Ko."
"Waktu tiba dipropinsi Holam, dia ingat dulu Yo Ko pernah mengatakan bahwa ia kenal Hong thio dari, kuil Siauw Lim sie. Mengingat begitu dalam hatinya muncul harapan, kalau Thian beng SianSoe mengetahui segala sesuatu mengenai Yo Ko. la lalu mendaki Siauw sit san, tapi tak dinyana, begita tiba ia bertemu dengan kejadian mengheran kan.
Melihat dipinggang Kwee Siang tergantung sebatang pedang pendek, Hong beng dan Hoang yan jadi semakin gusar. "Tinggal kan pedangmu disini dan lekas pergi dari gunung!" bentak Hoang yang dengan mata melotot.
Mendengar perintah itu, kegusaran sinona jadi bertambah2. Ia membuka ikatan tali pedang dari pinggangnya dan sambil menggusarkannya dengan kedua tangan ia berkata seraya tertawa dingin.
"Baiklah, aku menurut perintah!"
Semenjak kecil Hongyan sudah mencucikan diri dikuil Siauw Lim sie. Selama belasan tahun, ia selalu mendengar bahwa Siauw lim sie adalah pusat dari ilmu silat dan siapapun juga, biarpun ahli silat yang berkepandaian paling tinggi, tak akan berani melewati pintu kuil dengan membawa senjata. Sekarang walaupun Kwee Siang masih belum masuk dipintu, tapi ia sudah berada dalam lingkungan Siauw lim. Dengan usianya yang masih begitu muda, apa pula ia hanya seorang wanita, dapat dimengerti jika Hong Yang tidak mempandang sebelah mata kepada Kwee Siang. Begitu ia mengangsurkan senjatanya, si pendata menafsirkan, bahwa nona itu sudah menyerah dengan ketakutan. Dengan paras muka ber seri2 sambil mengebas tangan-jubah yang menutupi kedua tangannya; ia segera menelonjorkan tangan untuk menjemput pedang Si nona.
Tapi baru saja lima jarinya menyentuh sarung pedang, lengannya bergetaran, seperti kena arus kilat. Ia merasakan semacam tenaga yang sangat besar menerobos keluar dari pedang itu dan mendorongnya dengan hebat, sehingga tak ampun lagi ia roboh terguling dan terus menggelinding kebawah tanjakan. Sesudah tergelincir belasan tombak, untuk juga ia berhasil menjemput satu pohon kecil di pinggir jalanan dan dapat menolong dirinya,
Darah Hong beng mendidih; paras mukanya merah padam. "Perempuan celaka!" bentaknya,
"Kau rupanya sudah makan nyali singa, sehingga berani unjuk keganasan di Siauw Lim sie." Sambil mencaci, ia menghantam dengan kedua tangannya.
Melihat gerakan orang, Kwee Siang tahu, bahwa kepandaian pendeta itu banyak lebih tinggi daripada kawannya yang barusan terguling. Dengan capat ia mengangkat pedangnya yang masih berada didalam sarung dan menotok pundak Hong bang bagaikan kilat, si pendeta mengegos, sambil coba menjambret sarung pedang.
"Jangan berkelahi! Jangan berkelahi!" teriak Kak wan dengan suara bingung.
Jembretan Hong beng ternyata berhasil, tapi baru saja ia mau membetot sarung pedang, lengannya mendadak kesemutan dan ia mengeluarkan teriakan tertahan.
"Celaka!" Hampir berbaring, Kwee Siang menyapu dengan kakinya dan tubuh Hong beng tergelincir ke bawah, ia menderita lebih hebat dari pada Hong yang dan baru berhenti sesudah menggelinding duapuluh tombak lebih dengan badan dan muka berlepotan darah.
Peristiwa itu membuat sinona agak menyesal.
"Ah! Aku naik ke Siauw Lim sie untuk mendengar2 warta tentang Yo Toako," pikirnya. "Siapa nyana, aku kebentrok dengan mereka."
Melihat Kak wan berdiri di pinggir jalan dengan paras muka berduga, ia segera menghunus pedang dan membacok rantai yang melibat kaki pendeta itu. Biarpun bukan pedang mustika, senjata Kwee Siang bukan senjata sembarangan. Dengan berkerincingan, tiga rantai sudah putus terbacok.
"Jangan! Jangan !" si pendeta coba mencegah.
"Mengapa jangan ?" tanyanya. Ia mengawasi Hong beng dan Hong yang yang sedang berlari-lari dan berkata pula. "Dua hweshio jahat itu tentu mau melapor. Mari kita mabur. "Mana muridmu, si orang she Thio ? Kita ajak dia lari ber sama-sama."
Kak wan meng geleng2kan kepala dan mengawasi si nona dengan sorot mata berterima kasih.
Tiba-tiba Kwee Siang mendengar suara orang dibelakangnya. "Terima kasih untuk kebaikan nona. Aku berada di sini."
Si nona menengok dan melihat di belakang nya berdiri seorang pemuda yang berusia kurang lebih tujuh belas tahun, dengan alis tebal, mata besar dan badan tinggi besar, tapi paras mukanya masih ke-kanak-kanakkan la segera mengenali bahwa pemuda itu bukan lain dari pada Thio Koen Po, yang pernah bertemu di puncak gunung Hwa-san. Tubuh anak itu sudah banyak lebih tinggi, tapi mukanya tidak banyak berubah.
Kwee Siang girang. "Dua hwe-shio jahat itu telah menghinakan gurumu," katanya. Mari kita kabur"
"Mereka sebenarnya tidak menghinakan Soe-hoe." kata Koen Po.
"Tidak menghinakan", menegas si nona. "Mereka melibatkan rantai di kaki tangan gurumu dan melarang gurumu bicara. Apa itu tidak menghina?" Kak-wan tertawa getir. Ia kembali menggelengkan kepala sambil menuding kebawah sebagai nasehat supaya Kwee Siang buru-buru kabur sendiran.
Tapi Siauw tong-sia Kwee Siang adalah manusia yang memiliki sifat-sifat kesatria. Ia yakin bahwa di kuil Siauw Lim-sie terdapat ahli-ahli silat yang tak terhitung berapa banyaknya. Tapi melihat keganjilan, ia tak bisa berpeluk tangan. Melihat Kak wan Koen Po ayal-ayalan ia jadi bingung karena kuatir keburu di cegat. "Lekas! Kalau mau bicara, boleh bicara dibawah gunung. katanya sambil menyeret tangan pak gurunya dan murid itu. Tapi baru saja ia mengeluarkan perkataan itu dari bawah tanjakan sudah muncul tujuh delapan pendeta yang masing2 bersenjata toya Cee bie koen.
"Perempuan dari mana berani mengganas di Siauw lim sie?" teriak satu antaranya.
"Soeheng jangan kurang ajar," kata Koen Po. "la adalah ..."
"Jangan menyebutkan namaku!", memotong Kwee Siang. Ia mengerti bahwa ia sudah menerbitkan keonaran yang mungkin tak bisa dibereskan lagi dengan jalan damai.
Sebagai jago betina bertanggung jawab sepenuhnya atas perbuatannya sendiri, ia sungkan meyeret2 kedua orang tuanya. Maka itu ia lalu menambahkan dengan suara perlahan: "Mari kita kabur. Tapi kau jangan se kali menyebut nama kedua orang tuaku atau lain-lain sahabat".
Se-konyong2, terdengar suara bentakan dan diatas gunung kembali muncul tujuh delapan pendeta.
Melihat jalanan didepan dan dibelakang sudah tercegat, Kwee Siang jadi mendongkol. "Semua gara2mu berdua yang seperti nenek2 sedikitpun tak punya semangat laki2. Bilang sekarang. Mau pergi atau tidak ?"
Koen Po berpaling kepada gurunya seraya berkata: "Soehoe inilah kebaikan budi dari Kwee Kouwnio . . . " Sesaat itu, dibawah tanjakan kembali muncul empat pendeta yang berjubah warna kuning, Mereka tidak bersenjata, tapi selagi mendaki tanjakan, gerakan mereka gesit dan cepat luar biasa. Diam2 Kwee Siang mengakui, bahwa mereka adalah orang2 yang berkepandaian tinggi.
Sekarang sinona mengerti, bahwa ia tak kan dapat melarikan diri lagi. Ia segera ber diri tegak dengan sikap angkuh, siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.
Begitu datang dekat, pendeta yang berjalan paling depan segera berteriak dengan suara nyaring: "Atas perintah tetua Lo-han-Tong, kau harus meninggalkan senjatamu. Sesudah itu, kau harus pergi ke Pendopo Lip swat teng dikaki gunung untuk memberi penjelasan dan mendengar keputusan kami."
Kwee Siang tertawa dingin. "Ah! Lagak hweeshio2 Siauw Lim sie sungguh tak berbeda dengan pembesar2 negeri," katanya dengan nada mengejek. "Bolenkah aku mendapat tahu, apa para Toa hweeshio menjadi pembesar dari kerajaan Song atau menjadi pembesar dari kaizar Mongol ?"
Pada waktu itu, daerah disebelah utara sungai Hway soei sudah jatuh kedalam tangan tentara Mongol dan Siauw sit san dengan Siauw lim sienya justeru berada diwilayah kekuasaaan Mongol.
Sampai sebegitu jauh, karena bertahun-tahun repot menyerang kota Siangyang, maka bala tentara Mongol masih belum sempat memperhatikan soal2 lain, sehingga sampai sebegitu juga, Siauw lim sie masih belum diganggu.
Mendengar perkataan Kwee Siang yang sangat tajam, paras muka pendeta itu lantas saja berubah merah. Ia merasa, bahwa perkataannya memang tidak pantas, karena dengan berkata begitu, Siauw lim sie se olah-olah mau jadi hakim sendiri terhadap orang luar. Maka itu, sambil merangkap kedua tangannya, ia segera berkata pula dengan suara manis. "Ada urusan apa Lie sie coe datang berkunjung kekuil kami? Memohon kau suka meninggalkan senjata dan pergi kependopo Lip swat teng untuk sekedar minum teh dan beromong-omong."
Kwee Siang mengeluarkan suara dihidung,
"Huh! Kau orang melarang aku masuk kekuil mu, apa dalam kuilmu terdapat mustika yang menjadi ternoda karena dilihat olehku?" katanya sambil melirik Thio Koen Po dan berkata pula dengan suara perlahan. " Kau mau ikut tidak?"
Pemuda itu menggelengkan kepala dan moyongkan mulut kearah Kak wan, sebagai tanda, bahwa ia mau menetap disamping gurunya.
"Baiklah," kata sinona dengan suara nyaring
"Aku tak campur lagi." Ia mengangkat kaki dan turun ditanjakan itu.
Sijubah kuning yang pertama lantas minggir kesamping, tapi yang kedua dan yang ketiga merintang sambil mengangkat tangan mereka.
"Tunggu dulu," kata salah seorang. "Tinggalkan dulu senjatamu."
"Kami tak akan menahan senjata Lie sie coe dalam tempo lama," kati si jubah kuning yang pertama. "Begitu lekas Lie coe sudah turun gunung, kami akan segera mengembalikannya. peraturan ini adalah peraturan Siauw lim sie sudah dipertahankan selama ribuan tahun, sehingga kami meminta Lie sie coe suka memaaf kannya."
Mendengar permintaan yang sopan itu, sinona bimbang. " Jika membantah, aku tentu mesti bertempur dan seorang diri, bagaimana bisa melawan jumlah mereka yang begitu besar?" Pikirnya. "Tapi, kalau aku meninggalkan senjata, aku seperti juga menghilangkan muka ayah, ibu, kakek ciecie, Toako dan Liong Cie cie."
Sebelum ia mengambil keputusan, tiba2 satu bayangan kuning berkelebat, disusul dengan bentakan. "Kau bukan saja membawa senjata, tapi juga sudah melakukan orang. Semenjak dulu, belum pernah ada manusia yang berani berbuat begitu." Hampir berbareng, lima jeriji menyambar sarung pedang Kwee Siang.
Jika dia tidak diserang, sesudah memikir masak-masak, mungkin sekali si nona akan menyerahkan senjatanya. Harus diketahui, bahwa sifat gadis itu berbeda dengan Kwee Hoe, kakaknya. Walaupun gagah, ia tidak sembrono. Melihat keadaan yang merugikan dirinya, ia bisa menahan sabar untuk kembali lagi dikemudian hari dengan membawa, bala-bantuan.
Tapi usaha si pendeta untuk merebut pedangnya, sudah meniadakan segala mungkinan perdamaian. Mana bisa ia menyerahkan senjatanya dengan begitu saja?
Ilmu Kin na Chioe hoat (ilmu menangkap menyengkeram) pendeta itu memang sangat lihay. Sekali menjambret, ia berhasil menyengkeram sarung pedang. Dalam keadaan terdesak, Kwee Siang mencekal gagang pedang dan membetotnya. "Sret!", pedang tercabut dan mengeluarkan sinar menyilau, kan mata.
Hampir berbareng si pendeta berteriak, karena lima jarinya terpapas putus. Dalam kesakitan, ia menotok muka si nona dengan sarung pedang yang dicekal dalam tangan kanannya. Kwee Siang memapaki dan "trang!", sarung pedang itu jadi dua potong. Pendeta itu tidak bisa menyerang lagi dan dengan paras muka pucat ia lalu melompat mundur. Kawan2nya jadi gusar bukan main, dengan serentak mereka memutar toya dan maju mengepung.
"Ah, hari ini aku pasti tak bisa meloloskan diri tanpa melukakan banyak orang," kata Kwee Siang dalam hatinya. Sambil mencekal pedangnya erat2, ia segera menerjang dengan Lok-eng Kiam-hoat.
Lok-eng Kiam-hoat yang digubah Oey Yok Soe dari ilmu pukulan Lok-eng Cianghwat, merupakan salah satu kepandaian istimewa dari pulau Tho hoa dan tidak kalah lihapnya dari pada Giok siauw Kiam hoat. Begitu menerjang, pedang si nona menyambar2 bagaikan kilat dan dalam sekejap dua orang pendeta sudah terluka. Akan tetapi, ia berada diatas angin hanya untuk sementara waktu dan tidak lama kemudian, keadaannya mulai terjepit, karena semakin lama jumlah pengepung jadi semakin besar.
Sesudah bertempur beberapa puluh jurus, Kwee Siang hanya bisa membela diri, tanpa mampu menyerang pula. Sebenarnya dalam keadaannya yang terdesak, seperti itu para pendeta sebenarnya bisa segera merobohkannya. Akan tetapi, sebab Siauw lim sie mengutamakan belas kasihan, mereka merasa tak tega untuk melakukannya. Tujuhan mereka hanyalah untuk merebut senjata sinona dan kemudian mengusirnya dari sit san.
Tapi merebut pedang bukan pekerjaan mudah dan sesudah lewat lagi puluhan jurus, Kwee Siang masih dapat mempertahankan senjatanya. Semakin lama para pendeta itu jadi semakin heran. Mereka merasa pasti, bahwa gadis kecil ita adalah puteri atau murid seorang ahli silat kenamaan dan oleh karena nya, mereka lebih2 tidak berani melukakan nya, sebab hal itu bisa berbuntut panjang.
Maka itu, sambil mengepung, salah seorang buru2 pergi kekuil dan melaporkan kepada Boe sek Siansoe, pemimpin Loo han tong.
Tak lama kemudian, seorang pendeta tua yang bertubuh jangkung kurus mendekati gelanggang pertempuran dan lalu menonton sambil tersenyum. Dua orang pendeta segera melompat keluar dari gelanggang dan bicara bisik-bisik dengan pendeta tua itu.
Sementara itu, Kiam hoat sinona sudah kulihat.
"Hai! Kau semua benar-benar tak mangenal malu !" teriaknya. "Kau orang mengugulkan Siauw lim sie sebagai pusat pelajaran ilmu silat, tapi tak tahunya, puluhan Toa hweeshio menarik keuntungan dengan jalan mengerubuti."
"Berhenti!" membentak sipendeta tua bukan lain dari pada Boe sek Siansoe, sambil bersenyum. Mendengar perintah itu dengan serentak semua pendeta melompat keluar dari gelanggang dan berdiri dipinggiran.
"Nona," menegur Boe sek dengan suara sabar.
"Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama nona yang mulia. Siapa nama orang tuamu dan siapa gurumu ? Ada urusan apa nona datang berkunjung ke kuil kami ?"
"Hari ini aku sudah mengacau hebat dan jika diketahui ayah ibu dan Toakoko, mereka tentu akan mengomel," kata Kwee Siang dalam hatinya. Memikir begitu, ia lantas saja mengeluarkan suara dihidung. "Tak mung kin aku memberitahukan namaku," jawabnya. "Aku mendaki gunungmu karena ketarik dengan pemandangannya yang sangat indah dan sama sekali tidak mengandung maksud apapun juga. Tapi siapa nyana, Siauw lan-sie lebih angker dari pada keraton kaizar. Tak keruan-ruan, kau ingin merampas senjataku. Taysoe, aka ingin tanya. Apakah aku pernah menginjak pintu kuilmu?' Ia berdiam sejenak sambil mengawasi Boe sek dan kemudian berkata pula. "Dulu, pada wakta Tat-Mo Couw soe menurunkan ilmu silat, kurasa tujuannya yang terutama adalah supaya para pendata memiliki tubuh yang kuat supaya dapat menjalankan tugas2 keagamaan se-baik2nya. Tapi ternyata semakin lama nama Sauw lim sie semakin terkenal, ilmu silatnya jadi semakin tinggi dan kebiasaan mengeroyoknyapun jadi semakin kesohor! Baiklah, Toa hweeshio, jika kau mau merebut juga senjataku, ambillah! Tapi, kecuali kau membinasakan aku, kejadian ini pasti akan diketahui oleh semua orang dalam Rimba persilatan."
Mendengar perkataan sinona yang sangat tajam itu. Boe Sek tergugu. Untuk sejenak ia mengawasi si nona dengan mulut ternganga dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata.
"Aku sendiri takut kejadian ini diketahui orang, tapi dia rupanya lebih takut lagi." kata Kwee Siang dalam hatinya. Memang juga puluhan pendeta mengerubuti seorang wanita bukan kejadian yang boleh dibuat bangga." Ia segera melontarkan pedangnya dan bertindak untuk turun gunung.
Boe sek maju setindak sambil mengebas dengan lengan dan pedang itu lantas saja tergulung lengan jubah. Seraya mencekal senjata itu yang bernoda darah dengan kedua tangannya ia berkata: "Jika nona enggan menjawab pertanyaanku, biarlah aku mengembalikan saja senjata ini dan dengan segala kehormatan aku mengantar nona turun dari gunung ini."
Kwee Siang tertawa. "Toa-hweeshio adalah seorang yang mengerti urusan dan boleh di buat contoh oleh pendeta2 disini." ia memuji sambil mengulur tangan untuk menyambuti. Tapi begitu lekas jerijinya menyentuh gagang pedang, ia terkesiap.
Ternyata, dari telapakan tangan Boe-sek keluar semacam tenaga menyedot sehingga pedang itu tak dapat diangkat. Tiga kali Kwee Siang mengempos semangat dan mengerahkan Lwekang, tapi ia belum juga bisa berhasil.
"Eh. Toahweesio, kau sengaja memperlihatkan kepandaianmu, ha?" tanyanya dengan mendongkol.
Mendadak, bagaikan kilat tangannya menyambar dan mengebut jalanan darah Thian-teng-hiat dan Kie-koet-hiat di leher Boe-sek, yang jadi kaget bukan main dan buru2 melompat kebelakang.
Pada detik ia terkejut dan Lweekangnya jadi agak kendor, si nona membetot dan berhasil merebut pulang senjatanya.
"Sungguh indah Lan hoa Hoed hiat Chioe (Ilmu Bunga anggrek mengebut jalanan darah )!" memuji Boe sek. "Nona, masih pernah apakah kau dengan majikan pulau Tho hoa?"
"Majikan pulau Tho hoa?" ia menegas seraya tertawa "Dia dikenal sebagai Loo-tong sia ( si Sesat Tua dari Timur )."
Tong sia Oey Yok Soe, pemilik Tho hoa, adalah kakek Kwee Siang. Orang tua yang adat nya aneh sering memanggil cucu perempuan nya sebagai "Siauw-tong-sia" yang lalu membalas dengan menggunakan istilah "Loo-tong-sia". Sebaliknya dari jengkel, sang kakek jadi girang dan menerima baik panggilan si cucu nakal. begitu mendengar jawaban Kwee Siang, Boe-sek sendiri segera menarik ke simpulan bahwa sinona tak punya hubungan rapat dengan orang tua itu. Jika masih tersangkut keluarga, ia tentu tak akan mengeluarkan kata-kata yang agak kurang ajar.
Memikir begitu, hati Boe-sek jadi lebih lega.
Diwaktu masih muda, Boe-sek Siang-soe pernah menjagoi di kalangan Rimba Hijau. Maka itu, biarpun ia sudah menjadi orang beribadat puluhan tahun lamanya, sifat-sifat Jagoannya masih belum hilang. Semakin Kwee Siang menolak untuk memberitahukan nama gurunya dan asal-usulnya, semakin besar hasratnya untuk menyelidiki. la tertawa ter bahak-bahak seraya berkata. "Nona kecil mari kita main-main sedikit untuk menjajal mata si pendeta tua. Coba kita lihat, apakah dalam sepuluh jurus, aku bisa atau tidak menerka asal usul ilmu silatmu ?"
"Bagaimana jika kau tak mampu ?" tanya si nona.
Boe-sek kembali tertawa terbahak-bahak. "Jika kau bisa melayani aku dalam sepuluh jurus dan aku masih belum bisa menebak asal-usul ilmu silatmu, aku akan turut segala kemauanmu." jawabnya.
"Dengan Tay-soe itu dulu aku pernah bertemu muka dan sekarang aku ingin meminta apa-apa untuknya," kata Kwee siang sambil menunjuk Kak wan. "Kalau dalam sepuluh jurus kau masih belum bisa menebak siapa guruku aku minta kau suka meluluskan permohonanku untuk tidak menyukarkan Tay-soe itu lagi.
Boe-sek merasa sangat heran. Sepanjang pengetahuannya, selama sepuluh tahun mengurus kitab-kitab di Cong-keng-kok ( perpustakaan.) Kak wan belum pernah berhubungan dengan orang luar. Bagaimana ia bisa mangenal sinona? Maka itu, sambil mengawasi Kwee Siang dengan sorot mata tajam, ia berkata. "Kami belum pernah berniat untuk sengaja menyakitinya. Jika melanggar, setiap pendeta dalam kuil ini, tak perduli siapapun juga, diharuskan mendapat hukuman. Maka dari itu, adalah kurang tepat jika nona menggunakan istilah menyusahkan."
"Hm!" kata Kwee Siang seraya tertawa dingin. "Biar apapun yang dikatakan olehmu, kau tetap seorang yang pandai putar putar omongan.”
Boe sek mengangkat kedua tangannya seraya berkata. "Baiklah. Aku luluskan permintaanmu ! Jika loohap kalah, biarlah aku mewakili Kak wan Soetee memikul tiga ribu seratus delapan pikul air. Nona kecil, hati2 aku akan segera menyerang."
Diam2 Kwee Siang menentukan siasat.
"Pendeta ini pasti memiliki kepandaian tinggi dan jika dibiarkan ia menyerang lebih dulu, aku mesti mengeluarkan ilmu silat ayah dan ibu untuk membela diri." pikirnya. "Paling benar aku mendului dan mengirim sepuluh serangan aneh beruntun-runtun."
Boe sek habis mengucapkan perkataannya Kwee Siang segera menikam dengan pukulan Ban-cie cian-hong dari Lok eng Kiam hoat. Dengan pukulan itu, ujung pedang menggetar tak hentinya, sehingga musuh sukar menebak arah serangannya. Boe sek yang tahu lihaynya pukulan tersebut, tidak berani menyambut secara berhadapan dan buru2 melompat.
"Awas,sekarang kedua!" teriak si nona seraya memutar senjatanya dan lalu menikam dari bawah keatas dengan tipu Thin sin to hian (Malaikat langit jungkir balik) dari Coan cia Kiam boat.
"Thin sin to hian!" seru Bee sek.
"Belum tentu benar," kata si nona sambil me nyengir.
Begitu mengegos, Boe sek membalik tangan kanannya dan lima jerijinya yang dipentang menyambar kearah muka Kwee Siang. Sinona terkejut karena ia sama sekali tak menduga, bahwa pendeta itu bisa mengirim serangan membalas secara begitu cepat. Dalam keadaan terdesak, ia menggonyangkan pedangnya berapa kali dan menyambut dengan Ok kian lum Louw (Anjing jahat mencepat jalan) dari Tah kauw Pang hoat (ilmu tongkat memukul anjing).
Harus diketahui, bahwa diwaktu kecil, nona Kwee bersahabat rapat dengan mendiang Louw Yoe Kak, Pangca dari Kaypang (Partai pengamis). Mereka sering makan minum ber sama2, bersenda gurau dan tempo2 atas desakan sinona , mereka berlatih. Meskipun dalam Kaypang terdapat peraturan, bahwa Tah kauw Pang hoat hanya boleh diturunkan kepada seorang pangcoe, tapi lama2 berkat pergaulannya dengan orangtua itu maka Kwee Siaug bisa berhasil untuk mencari beberapa pukulan dari ilmu silat tongkat yang luar biasa itu. Jika diingat, bahwa bekas pangcoe Oey Yong sekarang Yek lu Chi, adalah suami kakak perempuannya, maka sinona sebe narnya mempunyai kesempatan luas untuk melihat latihan-latihan Tah kauw Pang hoat. Maka itu walaupun tak mengerti intisari dari pada ilmu silat tersebut, dalam keadaan terjepit, ia masih bisa menggunakannya untuk menolong diri.
Boe sek kaget bukan main sebab pada saat lima jarinya hampir menyeatuh pergelangan tangan sinona, mendadak sehelai sinar putih berkelebat dan pedang menyambar dari arah yang sebenarnya tak mungkia dilakukan, sehingga hampir-hampir jerijinya terbabat putus. Untung juga, pada detik terakhir ia masih keburu melompat kebelakang. Tapi meskipun begitu, tak urung lengan jubahya tergores ujung pedang dan menjadi robek. Paras muka Boe sek lantas saja berubah pucat dan keringat dingin mengucur dari dahinya.
Kwee Siang berbunga hatinya. "Taysoe apa kau tahu ilmu pedang apa itu?" tanyanya sambil menyengir.
Dalam dunia memang tidak terdapat Kim-boat yang serupa itu. Sesudah mencuri Tah kauw Pang hoat, dengan otaknya yang sangat cerdas, sinona megubah pukulan Kiam hoat berdasarkan ilmu tongkat itu, sehingga dengan demikian, ia telah membuat seorang pendeta Siauw limsie yang berilmu tinggi, tak bisa menjawab pertanyaannya. "Ha! Jika aku bisa menyerang lagi dengan beberapapu kulan Tah kauw Pang hoat, pendeta tua ini pasti akan dapat dirobohkan katanya didalam hati. "Sungguh sayang, aku hanya memiliki satu pukulan yang semengga-mengganya ini."
Sebelum sang lawan sempat bergerak, Kwee siang sudah mendului lagi dan menotol baberapa kali bagian bawah Boe sek dengan ujung pedang. Kali ini ia menyerang Leng po wie po (Leng po bertindak dengan ayunya), yaitu salah satu pukulan dari Giok lie Kiam hoat yang didapat dari Siauw Liong lie.
Sebagaimana diketahui, Giok lie Kiam hoat ilmu pedang gubahan Lim Tiauw Eng dan setiap pukulannya mempunyai gerakan Leng po wie go jadi lebih menyolok karena dilakukan oleh nona Kwee yang cantik dan ayu. Dengan perasaan kagum, para pendeta mengawasi serangan itu sambil menahan napas.
Harus dike tahui, bahwa Tat mo Kiam boat, Lo han Kiam boat dan lain2 ilmu pedang dari Siauw lim sie mengutarakan "kekerasan", sedang Giok lie Kiam boat, yang jarang terlihat dalam Rimba Persilatan justru berbeda dengan silat Siauw lim pay. Begitu sinona meyerang dengan Leng-po we-po, seperti pendeta lainnya Boe sek pun mengawasi dengan rasa kagum dan heran. Seumur hidup, belum pernah ia menyaksikan ilmu pedang yang seindah itu dan cepat2 ia meloncat ke samping dengan harapan sinona akan mengulangi serangannya.
Dalam saat, Kwae Siang kembali mengubah cara bersilatnya. la sekarang berlari ketimur dan kebarat sambil membabat berulang dengan pedangnya. Thio Koen Po yang menonton dipinggir jalan mengawasi serangansi nona dengan mata membelalak dan tiba2 ia mengeluarkan teriakan : "Ah!" Ternyata, yang digunakan Kwee Siang adalah pukulan Soe tong Pat ta (Empat menembus Delapan meyampaikan), yaitu ilmu silat yang pada tiga tahun berselang telah diturunkan oleh Yo Ko kepada Koen Po. Waktu itu Kwee Siang kebetulan dapat melihatnya dan sekarang lalu menggunakan untuk menghadapi Boe sek.
Soe thong Pat-ta yang dulu diajar Yo Ko ialah Canghoat ilmu silat tangan kosong. Dengan mengubahnya menjadi Kiam hoat (ilmu pedang), pengaruh ilmu itu jadi banyak berkurang, sehingga jika dulu Thio Koen Po berhasil mengalahkan In Kek See, sekarang Kwee Siang tidak bisa berbuat banyak terhadap Boe sek.
Dengan be-runtun2 KWee Siang sudah menyerang lima kali, tapi Boe sek masih juga belum bisa meraba asal usul ilmu silat sinona. Diwaktu muda ia malang melintang dalam dunia Kangouw dan, mempunyai pengalaman yang sangat luas. Semenjak mengetuai Lo-han tong pada belasen tahun berselang, ia telah menggunakan seluruh temponya untuk menyelidiki ilmu silat barbagai partai dau membandingkannya dengan ilmu Siauw lim-sie. Ia menggodok semua pengalamannya dan pendapatnya itu untuk menyempurnakan ilmu partainya. Maka itu, ia selalu percaya penuh bahwa dengan sekali melihat, ia sudah bisa tahu asal usul ilmu silat setiap ahli. Tapi di luar dugaan, hari ini ia "ketemu batunya". Kakek, ayah-ibu paman2, kakak2 Kwee Siang rata2 adalah ahli2 silat nomor satu pada jaman itu. Dalam menghadapi serangan yang bermacam2 coraknya, kapandaian Boe-sek masih lebih dari cukup untuk membela diri. Tapi untuk mengetahui siapa guru sinona, ia masih belum bisa me-raba2.
"Jika aku membiarkan ia menyerang lebih dulu, jangankan dalam sepuluh jurus, sedangkan se ratus jurus sekalipun, belum tentu aku bisa menebak asal usul ilmu silatnya," pikir Boa sek.
"'Jalan satu2 nya adalah menyerang dengan hebat, supaya ia terpaksa mengeluarkan imu silatnya yang asli guna monolong diri" Memikir begitu cepat bagaikan kilat , ia mengepos kekiri dan menghantam dengan pukulan Song Koan koen, dengan merapatKan kedua tangannya dan sepulun jarinya ditekuk bagai kan ceker. Melihat sambaran yang sangat dahsyat, Kwee Siang tidak berani menyambut kekerasan, dengan kekerasan. Dengan membungkuk sedikit dan dengan saatu gerakan yang sangat indah dan lincah, ia berhasil meloloskan diri dari bawah kedua tangan lawan. Tipu itu adalah tipu yang pernah digunakan Eng Kouw waktu bertempur dengan Yo Ko di Ban Hoa Kok (lembah laksaan bunga).
"Bagus, sungguh bagus gerakanmu!" memuji Boe sek "sambutlah lagi satu seranganku." Ia membuat sebuah lingkaran dengan tangan kirinya, sedang sikut kanan ditaruh didada dengan telapakan tangan menghadap keatas. Itu lah pukulan Oei eng loh kee (Burung kuning hinggap dicagak) dari Siauw lim koen. Sebagai seorang tetua Siauw lim sie, biarpun paham dengan ilmu silat berbagai partai, tapi dalam setiap pertempuran, ia selalu harus menggunakan ilmu partai sendiri yang paling asli.
Kwee Siang kaget sebab begitu lekas Boe sek membuat lingkaran ditengah udara ia lantas saja merasakan tindihan semacam tenaga yang sangat kuat. Buru2 membalik pedang dan dengan gagang pedang, ia menotok jalanan darah Wan-koet-hiat, Yang kok hiat dan Yang loo hiat di pergelangan tangan si pendeta. Ilmu molok itu adalah It yang cie yang ia belajar dari Boe Sioe Boen. Sebenarnya pelajarannya masih sangat cetek dan belum bisa digunakan untuk melukakan musuh. Tapi gerakan menotok tiga jalanan darah itu adalah salah satu pukulan yang paling lihay dari It yang cie. Maka itu, begitu melihat gerakan tangan si nona, Boe sek kaget tak kepalang dan cepat2 ia menarik pulang serangannya. Andaikata ia menyerang terus dan tertotok pergelangan tangannya, ia pasti tak akan terluka, sebab totokan itu tidak di sertai dengan Lwekang It yang cie yg disegani orang. Tapi sebagai orang yang berpengalaman, Boe sek sungkan mempertaruhkan nama besarnya dalam satu pukulan itu.
Kwee Siang tertawa nyaring. "Toahweeshie kau ternyata mengenal ilmuku yang sangat lihay," katanya seraya menyengir.
Boe sek tidak menyambut, ia hanya mangeluarkan suara "Hm" dan lalu menyerang dengan pukulan Tan-hong-tiauw-yang (Angin dan matahari). Dengan pukulan itu, kedua tangannya terpentang lebar dan terangkat tinggi, sehingga si nona sukar menggunakan It-yang cie lagi. Tapi Kwee Siang tak kehabisan modal. Dengan cepat ia menyilangkan kedua telapak tangannya dan balas menyerang deugan Biauw-chioe-kong-kong (Tangan yang lihay ke lihatan kosong), yaitu jurus ketujuh puluh dua dari Kong beng koen, gubahan Loo hoan tong. Cioe Pek Tong Kong beng koen adalah ilmu yang belum pernah tersiar didunia maka untuk sekian kalinya, Boe sek ter-heran2. Dengan cepat ia berkelit kesamping dan hampir berbareng mengirim pukulan Pi na hoa cit seng (Tujuh bintang). Bagaikan arus kilat, tahu2 tangannya sudah menyentuh telapakan tangan si nona, yang jika tidak melawan dengan menggerakkan Lwekang, tulang tangannya pasti akan patah.
Kwee Siang mengerti, bahwa tangannya sudah ada dibawah kekuasaan lawan, tapi hati nya masih penasaran. Jangan kegirangan dulu kau! Belum tentu bisa mematah tulang tanganku," katanya didalam hati. Ia segera mengempos semangat melawan tenaga si pendeta dengan Cat-po-san-chioe ( Kipas-besi ) . llmu ini yang merupakan ilmu simpanan dari Tiat-Ciang-kang (ilmu tangan besi) adalah satu ilmu "keras" yang paling ditakuti dalam Rimba Persilatan.
Sebagai seorang ahli, Boe sek tentu saja mangenal ilmu itu dan jantungnya memukul keras. Ia jadi serba salah. Jika ia menggunakan kekerasaan sinona bisa terluka berat dan ia sama sekali tidak bermaksud until mencelakai gadis itu. Disamping itu untuk berterus terang, ia memang merasa agak segan terhadap Tiat-ciang-kang. Sesudah memikir sejenak, ia segera menarik pulang tangannya.
Sekali lagi, si nakal tertawa nyaring. " Awas! Pukulan yang ke sepuluh. Apa kau masih belum bisa menebak partaiku ?" teriaknya. Sambil berteriak begitu, ia mengebas keatas dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menyambar kejanggut Boe-sek. Tanpa merasa, semua pendeta mengeluarkan seruan tertahan, sebab pukulan itu, yang diberi nama Kouw hay hoei tauw ( Memutar kepala di laut kesengsaraan ) adalah salah situ pukulan Kin na chioe hoat ( Ilmu menangkap dan menyengkeram), dari Siauw lin pay sendiri.
Tapi Kouw hay hoei tauw agak berlainan dengan Kim na chioe hoat lain cabang, karena biasanya hanya di gunakan pada saat berbahaya untuk menolong jiwa. Dengan pukulan itu, tangan kiri sipenyerang menolak kepala musuh, sedang tangan kanan menyambar leher, sehingga jika berhasil, leher musuh bisa patah, setidaknya terluka berat.
Melihat sinakal berani menggunakan pukulan tersebut dihadapannya, seolah seorang sasterawan mengugulkan diri dihadapan Nabi Khong Coe. Boe sek jadi geli dalam hatinya. Selama puluhan tahun, ia sudah melatih pukulan tersebut sehingga setiap gerakanya sudah terjadi secara wajar. Secepat kilat, ia miringkan badan dan menggeser maju kakinya, sedang tangan kirinya menyambar kebawah ketiak si nona dan tangan kanannya mencekal belakang lutut Kwee Siang.
Pukulan itu yang diberi nama Sia can tiauw hay (Mengempit gunung melompati lautan) merupakan pukulan tunggal untuk memunahkan Kouw hay hoei-tauw.
Si nona kaget tak kepalang dan tahu2 ke dua kakinya sudah terangkat naik dari muka bumi. Sebenarnya dengan menggunakan sikut, ia masih bisa menyikut lawan. Tapi sebab gerakan Boe sek cepat luar biasa, sebelum sempat bergerak, ia sudah tak berdaya.Dengan demikian, putri Kwee Ceng telah dikalahkan.
Selagi kedua tangannya mencekal sinona, mendadak Boe sek terkesiap. "Celaka !" ia mengeluh. "Aku hanya memperoleh kemenangan dalam pertempuran, tapi masih belum tahu siapa gurunya dan apa nama partainya."
Kwee Siang memberontak sekuat tenaga. "Lepaskan aku!" teriaknya. "Cring!" serupa benda jatuh dari saku sinona.
"Toahweeshio, apa benar2 kau tak mau melepaskan diriku ?" serunya dengan suara ke takutan.
Boe sek Siansoe adalah seorang berlibat yang berilmu tinggi dan yang mencintai segenap makhluk Tuhan. Maka itu, mendengar suara sinona cilik, is lantas saja tertawa ter bahak2.
"Nona kecil, loolap sudah berusia lanjut dan pantas menjadi kakekmu," katanya seraya tersenyum. "Apa kau masih perlu merasa takut ?" Sehabis berkata begitu, dengan menggunakan tenaga yang diperhitungkan, ia melontarkan tubuh sinona kira2 dua tombak jauhnya dan kedua kaki Kwee Siang hinggap dimuka bumi tanpa kurang suatu apa.
Sebagai ksatria yang tak akan menjilat ludah sendiri. Boe sek segera manggutkan kepalanya untuk mengaku kalah. Selagi kepalanya mengangguk, tiba-tiba ia melihat serupa benda hitam diatas tanah dan benda itu adalah sepasang Lohan (pendeta yang berilmu tinggi) yang terbuat daripada besi.
"Toahweeshio, apa kau mengaku kalah ?" tanya Kwee Siang.
Boe sek mengangkat mukanya yang berseri-seri dan seraya tertawa girang, ia menjawab.
"Bagaimana aku bisa kalah dari seorang bocah cilik? Aka tahu, ayahmu adalah Tay hiap Kwee Ceng, ibumu Liehiap Oey Yong dan majikan pulau Thoa hoa adalah kakekmu. Ayahandamu memiliki kepandaian yang beraneka ragam, karena ia pernah berguru dengan Kanglam Citkoay, dengan Kioe-cie sin-kay, tokoh-tokoh Coancien pay dan lain lain partai lagi. Kwee Jie kaouwnio, kau adalah putrinya pendekar kelas satu pada jaman ini sehingga tidaklah heran, jika kau memiliki kepandaian luar biasa."
Kwee Siang kemekmek, ia tak pernah mimpi akan mendengar jawaban begitu.
Melihat paras bingung dimuka sinakal, sambil tertawa geli Boe sek membungkuk dan menjemput dua Lo han besi itu.
"Kwee Jie kouwnio, aku si pendeta tua tak boleh mendustai seorang bocah cilik," katanya. "Aku bernasil menebak asal usulmu karena melihat sepasang Lo Han besi ini. Apa Yo Tayhiap baik ?"
"Apa kau pernah berjumpa dengan Toako dan Liong cici?" ia balas menanya. "Aku datang kemari justru untuk mendengar-dengar tentang mereka. Kau mungkin belum tahu, bahwa toakoku dan Liong sudah merangkap menjadi suami istri."
Boe sek mengangguk beberapa kali, "Pada beberapa tahn yang lalu, Yo Tayhiap pernah datang berkunjung kekuil kami untuk beberapa hari dan aku merasa sangat cocok dengannya," menerangkan si tua. "Belakangan kami mendengar, bahwa ia membinasakan kaizar Mongol diluar kota Siangyang, sehingga namanya menggetarkan seluruh dunia. Waktu menerima warta itu, kami semua merasa girang bukan main. Tapi sekarang kami tak tahu, dimana ia berada. Ah. Kalau begitu ia sudah menikah. Aku berani memastikan, bahwa istrinya adalah seorang wanita yang boen boe song coan (mahir dalam ilmu surat dan ilmu perang)."
Kwee Siang berdiri bengong dan mengawasi ketempat jauh. Ia menghela napas seraya berkata dengan suara perlahan. "Kalau begitu, kalian pun tak tahu dimana mereka berada. Siapa yang bisa memberi keterangan?"
Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula, "Sekarang baru kutahu, kau adalah Boe sek Siansu. Tak heran. Jika kau memiliki memiliki begitu tinggi. Hmm! Aku belum menghaturkan terima kasih untuk hadiah ulang tahunku. Sekarang belum terlambat. Biarlah hari ini saja aku menghaturkan banyak terima kasin kepadamu."
Sipendeta tertawa. "Orang sering mengata kan, bahwa tanpa berkelahi tidak bisa menjadi sahabat," katanya. "Bagi kita berdua, Kata-kata itu sungguh tepat sekali. Eh, kalau kau bertemu dengan Yo Tayhiap, kuharap kau jangan memberitahukan bahwa aku si tua telan menghina seorang wanita muda,"
Kedua mata sinona memandang puncak2 gunung yang tertutup awan, "Sampai kapan. ... sampai kapan baru akan bisa bertemu dengannya" katanya.
Sebagaimana diketahui, pada waktu Kwee Siang merayakan hari ulang tahunnya yang keenam belas, Yo Ko telah mengundang jago jago Rimba persilatan untuk berkumpul di kota Siang yang, guna memberi selamat panjang umur. Pada hari itu, dengan memandang muka Yo Ko, ahli-ahli silat dari "jalanan hitam" dan "jalanan putih" telah berkumpul di Siangyang. Boe sek yang kebetulan sedang repot tak bisa datang berkunjung dan hanya mengirim seorang wakil untuk memberi selamat dan menyampaikan barang antaran, Dan barang antaran yang dikirimnya bukan lain sepasang Lo han besi itu dipasang alat alat dan jika alat2 tersebut diputar, anak2an itu segera menjalankan satu pukulan Lo han koen. Yang membuatnya adalah seorang pendeta aneh yang pada satu abad berselang pernah bertempat tinggal dikuil Siauw lim sie. Kwee Siang yang masih ke kanak2an merasa sangat ketarik dengan mainan yang selalu di bawa2nya didalam saku. Pukulan Kauw hay hoei tauw yang barusan digunakannya, sebenarnya telah didapat oleh si nona dari kedua Lo han besi itu. Tak dinyana, karena gara2 itu juga hari ini asal usulnya telah ditebak jitu oleh Boe sek Siansoe.
"Berhubung dengan peraturan yang turun tumurun, aku merasa menyesal tak bisa mengundang Kwee Jie-kouwnio datang berkunjung kekuil kami," kata Boe sek. "Aku percaya kau tak akan jadi kecil hati."
"Tak apa2," kata sinona dengan masgul. "Ada yang aku hendak tanyakan."
Sambil menunjuk Kak wan, pendeta tua itu berkata pula. "Tentang Soeteeku itu, aku akan menerangkan kepadamu perlahan2. Begini saja. "Si tua akan menemani kau turun gunung dan kita cari sebuah rumah makan, supaya aku bisa menjadi tuan rumah untuk minum beberapa cawan arak. Bagaimana pikiranmu?"
Mendengar kata2 itu, semua pendeta kaget tercampur heran. Boe sek Siansoe adalah seorang yang mempunyai kedudukan sangat tinggi dalam Siauw lim sie. Bahwa ia sudah berlaku begitu hormat terhadap seorang gadis remaja, adalah suatu kejadian luar biasa.
"Taysoe, janganlah kau berlaku begitu sungkan," kata sinona de ngan perasaan jengah." Aku menyesal bahwa barusan dengan semberono aku sudah melakukan perbuatan sangat tak pantas terhadap beberapa Sueheng. Aku memohon Taysoe sudi menyampaikan maafku kepada mereka.
Biarlah kita berpisahan disini saja dan dilain hari, kita pasti akan bertemu pula." Sehabis berkata begitu, ia segera memberi hormat, lalu memutar dapan dan mulai bertindak turun dari tanjakan itu.
"Nona kecil, mengapa kau menolak tawaranku yang diajukan dengan setulus hati?" kata Boe sek sambil tertawa. "Beberapa tahun berselang, karena sedang repot, aku tak bisa menghadiri pesta hari ulang tahunmu, sehingga sampai sekarang hatiku masih merasa tak enak. Kalau hari ini aku tidak mengatarkan kau sampai 30 li, aku seperti juga tidak mengenal peraturan untuk melayani tamu terhormat."
Mendengar kata2 itu yang tulus iklas dan juga karena merasa senang dengan cara2 si tua yang polos, Kwee Siang segera berpaling dan berkata sambil bersenyum."Marilah."
Dengan berendeng pundak mereka turun dari tanjakan itu dan tak lama kemudian, tibalah mereka dipendopo Lip swat teng. Tiba2 mereka mendengar suara tindakan kaki dan waktu menengok, mereka melihat, bahwa orang yang membuntuti adalah Thio Koan Po. " Saudara Thio," menegur Kwee Siang." Apakah kau juga ingin mengatarkan tamu?"
Paras muka pemuda itu lantas saja berubah merah. "Benar!" jawabnya.
"Pada saat itulah, se-konyong2 dari jauh mereka melihat seorang pendeta bertindak keluar dari pintu kuil dan kemudian lari turun sekeras kerasnya dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Alis Boe sek berkerut. "Ada apa begitu ter-buru2 ?" tanyanya.
Begitu berhadapan dengan Boe sek, pendeta itu memberi hormat dan lalu bicara bisik2. Paras muka si tua laatas saja berubah. "Apa benar ada kejadian begitu?" teriaknya.
"Loo hong-thio (pemimpin kuil) mengudang Sioe-co (kepala bagian) untuk berdamai." jawabnya.
Melihat paras muka Boe-sek. Kwee Siang mengerti, bahwa Siauw-lim-sie sedang menghadapi urusan sulit. Maka itu, ia lantas saja berkata: "Loo-sian-soe, dalam persahabatan yang paling penting adalah kecintaan hati. Segala adat istiadat tiada sangkut pautnya dengan persahabatan. Jika Loo-sian-soe mempunyai urusan, uruslah saja. Di lain hari, kita masih mempunyai banyak kesempatan untuk makan minum sepuas hati."
"Tak heran Yo Tay hiap begitu menghormatimu," memuji Boe sek. "Kau benar2 seorang gagah, seorang jago betina. Aku merasa girang bisa bersahabatan dengan seorang seperti kau."
Kwee Siang bersenyum deagan paras muka ke-merah2 an dan sesudah mereka saling memberi hormat, si pendeta tua segera kembali kekuil Siauw-lim-sie.
Sinona lalu meneruskan perjalanannya dengan dibuntuti Thio Koen Po dari belakang. Pemuda itu tak berani berjalan berendeng, ia mengikuti dalam jarak lima-enam tindak.
"Saudara Thio, mengapa mereka menghinakan gurumu ?" tanya nona Kwee sambil menengok kebelakang. "Dengan memiliki kepandaian begitu tinggi, gurumu sebenarnya boleh tak usah takuti mareka."
Koen Po mempercepat tindakannya. "Mereka bukan sengaja menghina Soehoe," jawabnya. "Peraturan di dalam kuil selalu dipegang keras sehingga siapapun juga membuat pelanggaran, tak akan terluput dari hukuman."
Kwee Siang jadi heran. "Gurumu adalah seorang kesatria dan dalam dunia jarang terdapat manusia yang hatinya begitu mulia," katanya. "Kedosaan apakah yang telah di perbuatnya ?"
Pemuda itu menghela napas panjang. "Latar belakang kejadian ini sebetulnya sudah di ketahui nona," jawabnya. "Yang menjadi gara-gara adalah kitab Leng-keh-keng."
"Ah ! Kitab yang dicuri Siauw Siang Coe dan In Kek See ?" menegas si nona.
"Benar," jawabnya. "Hari itu, waktu berada di puncak Hwa-san, atas petunjuk Yo Tay hiap, aku telah menggeledah badan kedua orang. Sesudah turun gunung, mereka tak kelihatan mata hidungnya lagi. Dengan apa boleh buat, Soesoe dan aku segera kembali kekuil dan melaporkan kepada Sioe co dari Kay-loet-ton. Leng keh keng adalah kitab yg di tulis oleh Tatmo Couwsoe sendiri dan merupakan salah sebuah barang berharga dalam Siauw-lim-sie. Maka itu dapatlah dimengerti, jika Soehoe tak bisa terlolos dari hukuman.
"Gurumu dihukum tak boleh bicara ?" tanya pula si nona.
"Ya, menurut peraturan yang sudah turun temurun," sahutnya. Menurut peraturan itu, seorang yang dihukum harus memikul air dengan kaki tangan dilibat rantai dan tak boleh bicara".
"Menurut katanya para tetua hukuman memikul air malahan ada baiknya untuk yang terhukum. Dengan membungkam, ia mendapat kemajuan dalam latihan rokhani dan dengan memikul air tangannya akan bertambah besar."
Si nona tertawa geli. "Kalau begitu, gurumu sebetulnya bukan menjalani hukuman, tapi sedang melatih badan." katanya. "Ah ! Memang aku yang terlalu rewel dan suka mencampuri urusan orang lain."
"Bukan, bukan begitu," kata Koen Po dengan cepat, "Untuk kebaikan nona, Soehoe merasa sangat berterima kasih dan tak akan melupakannya."
Kwee Siang menghela nafas. "Lain orang sudah melupakan aku sama sekali," katanya didalam hati.
Sesaat itu, tiba2 terdengar suara bunyi keledai yang sedang makan rumput didalam hutan. "Saudara Thio, tak usah kaum engantar lebih jauh lagi." katanya sambil bersiul dan tunggangannya segera menghampiri.
Koen Po mengawasi dengan sorot mata duka. Ia kelihatannya merasa berat untuk berpisahan, tapi ia tak mengeluarkan sepatah kata,
Kwee Siang yang dapat membaca jalan pikiraannya, segera merogoh saku dan mengeluarkan sepasang Lo han besi. "Kau ambilah ini" katanya seraya mengangsurkannya.
Koen Po terkejut, ia tak berani menyambutinya. "Ini . ini . ." katanya ter-putus2.
"Aku berikan ini kepadamu," kata si nona , "Kau ambil lah."
Pemuda itn tergugu: "Aku . . aku .."
SiNona segera memasukkan sepasang han besi itu kedalam saku Koen Po dan kemudian melompat naik keatas punggung keledai.
Tapi, sebelum ia berangkat, diatas tanjakan se konyong2 terdengar teriak: "Kwee
Jie-bouwnio! Tahan!" Si nona menengok dan melihat Boe Sek Siansoe sedang mendatangi dengan ber-lari2.
"Pendeta tua itu ternyata kukuh sekali," pikirnya. "Perlu apa ia mengatarkan aku?"
Begitu berhadapan dengan sinona, Boe Sek segera berkata pada Koen Po: "Lekas kau kembali kekuil. Kau tak boleh berkeliaran lagi digunung ini."
Pemuda itu mengangguk sambil melirik sinona, ia segera mendaki tanjakan.
Sesudah Koen Po berada jauh. Boe sek segera mengeluarkan selembar kertas dari dalam lengan jubahnya dan berkata: "Kwee Jie-kauw nio, apa kau kenal tulisan siapa ini ?"
Sinona menyambuti dan membaca dua baris huruf yang tertulis diatasnya. "Sepuluh hari kemudian, Koen-leon Sam seng (Tiga nabi gunung Koen-loen san) akan datang berkunjung ke Siauw lim-sie untuk meminta pelajaran,"
"Siapa Koen loen Sam seng ?" tanya sinona "Suaranya sombong sekali!"
"Kalau begitu nona pun tak mengenal mereka katanya." Situa berdiri bengong. "Urusan ini benar benar mengherankan," katanya dengan suara perlahan.
"Mengapa mengherankan ?" tanya Kwee Siang.
"Biarpun baru pernah bertemu, aku menganggap nona sebagai seorang sahabat lama dan aku bersedia untuk menerangkan se-jelas2nya kata Boe-sek. "Apa nona tahu dari mana datangnya kertas ini ?"
"Diantarkan oleh suruhan Koe-loen Sam-seng." Jawabnya.
"Jika disampaikan oleh seorang suruhan, kami tentu tak menjadi heran." kata siPendeta.
"Orang sering mengatakan, bahwa pohon yang tinggi selalu mengundang serangan angin. Dan sudah sejak lama, selama beberapa ratus tahun, Siauw lim sie dikenal sebagai sumber pelajaran ilmu silat dan oleh karena demikian, banyak sekali ahli silat datang berkunjung untuk menjajal kepandaian kami. Hal ini adalah hal yang lumrah. Dipihak kami, setiap kali orang menantang, kami selalu coba membujuknya, supaya ia membatalkan niatan itu. Sedapat mungkin, kami coba mengelakkan pertandingan. Kami sungkan merebut kemenangan. Orang2 yang masih suka berkelahi, mana boleh jadi murid Budha
"Benar, perkataan Taysoe benar sekali," ka ta sinona sambil mengangguk.
Akan tetapi, pada umumnya, seorang ahli silat yang datang berkunjung, masih penasaran jika belum memperlihatkan kepandaiannya," kata pula Boe sek. "Maka itu, dalam kuil kami dibentuk bagian Lo han tong yang bertugas untuk melayani para tamu itu."
Sinona tertawa-tawa geli. "Aha ! Kalau begitu Taysoe bertugas sebagai tukang berkelahi," katanya.
Situa tertawa getir. "Sebagian besar ahli ahli silat yang datang kemari dapat dilayani oleh para murid dan aku tak usah turun tangan sendiri," katanya. "Tapi hari ini karena melihat gerakan2 nona yang luar biasa, aku terpaksa turun tangan sendiri."
"Terima kasih banyak2 atas pujian Toahweeshio," kata sinona sambil membungkuk dan tertawa manis.
"Ah, aku sudah melantur kelain tempat," kata Boe sek. "Sekarang kita kembali pada surat tantangan itu. Untuk bicara sejujurnya kertas ini diambil dari dalam tangan patung Hang-liong Lo-han yang terdapat didalam kamar Lo-han-tong."
"E eh! Siapa yang menaruhnya?" tanya si nona.
Sipendeta meng garuk2 kepala. "Kami tak tahu, inilah justru yang mengherankan," jawabnya. "Dalam Siauw lim-sie terdapat ratusan pendeta, sehingga seorang luar tak mungkin menyelinap masuk, tanpa diketahui. Apa pula kamar Lo han tong siang malam dijaga oleh delapan murid dengan bergantian. Barusan, mendadak saja seorang murid melihat kertas itu didalam tangan Hang liong Lo han dan ia segera melaporkan kepada Loo-hong-thio. Semua orang jadi heran tak habisnya dan mereka lalu memanggil aku untuk diajak berdamai."
Mendengar sampai disitu, Kwee Siang lantas saja dapat menebak jalan pikiran sipendeta. "Bukankah kau merasa curiga terhadapku?" tanyanya. "Kalian menganggap, bahwa aku mempunyai hubungan dengan manusia2 yang menamakan dirinya sebagal Koen-loen Sam-seng. Aku mengacau diluar dal mereka diam2 masuk ke Lo han-tong untuk menaruh surat itu. Bukankah begitu dugaanmu?"
"Aku sendiri tidak, hatiku bebas dari segala prasangka," sahutnya. "Tapi nona tentu bisa mengerti, jika Loo-hong-thio dan Boe siang Soe-heng agak curiga. Secara kebetulan, surat itu muncul pada waktu nona mau berangkat."
"Sekali lagi aku memastikan, bahwa aku tidak mengenal tiga manusia itu," kata Kwee Siang.
"Toa-hweeshio, apa yang mesti ditakuti? Jika mereka benar2 berani menyateroni, iringlah segala kemauannya."
"Takut kami tentu tak takut," kata situa. "Jika nona tidak bersangkut paut dengan mereka, aku boleh tak usah berkuatir lagi."
Kwee Siang mengerti, bahwa maksud si pendeta tua adalah baik sekali. Boe sek rupanya menyangka tiga orang itu ada berhubungan dengan dirinya, sehingga jika sampai bergerak ketiga orang itu sampai terluka, si pendeta akan merasa tak enak hati terhadapnya. Maka itu, ia lantas saja berkata. "Toa hweesio, jika mereka datang baik2 dan bicara baik2, kau boleh menyambutnya secara baik2 pula. Tapi kalau mereka kurang ajar, hajarlah, supaya mereka tahu lihaynya Siauw lim-sie. Dilihat dari suratnya, mereka kelihatannya sombong luar biasa."
Bicara sampai di situ, dalam otaknya mendadak berkelebat serupa pikiran dan ia lalu berkata pula: "Toa, hweeshio, apa tak mungkin didalam kuil terdapat konconya yang diam2 sudah menaruh kertas itu ditangan Hang liong Lo han?"
"Kemungkinan ini sudah direnungkan oleh kami," sahutnya. "Tapi rasanya tak mungkin terjadi. Tinggi tangan Hang liong Lo han da ri lantai ada tiga tombak lebih dan murid yang membersihkannya, selalu harus menggunakan tangga. Orang yang memiliki ilmu mengentengkan badan sangat tinggi, belum tentu bisa mencapainya. Andaikata benar ada pengkhianat, dia pasti tak mempunyai ilmu yang begitu tinggi."
Penuturan yang sangat manarik itu sudah nembangkitkan rasa kepengin tahu dalam hati Kwee Siang. Ia kepingin tahu, bagaimana macamnya Koen loen Sam Seng dan kepingin tahu pula bagaimana kesudahan pertemuan itu. Hanya sayang, tak mungkin ia menyaksikan itu semua dengan mata sendiri, karena Siauw lim-sie tak bisa menerima tamu wanita.
Melihat sinona ter-menung2. Boe sek menduga, bahwa nona itu sedang memikiri daya upaya untuk mengelakkan ancaman bahaya. Maka dari itu, sambil tersenyum ia berkata. "Kwee Jie kouwnio, selama ribuan tahun Siauw-lim-sie telah mengalami banyak gelombang dan taufan, tapi begitu jauh, belum pernah dirusak orang. Jika Koen loen Sam sang sungkan di ajak berunding, kamipun tak akan mengorbankan keangkeran Siauw lim sie dengan begitu saja. Kwee Jie kouwnio, setengah bulan kemudian, kau boleh men-dengar2, apa Koen loen Sam seng sudah berhasil menghancurkan kuil kami" Waktu mengucapkan kata2 yang paling akhir, muncullah kembali keangkeran Boe sek di jaman muda, suaranya nyaring dan berpengaruh, sedang kedua matanya ber-kilat2.
"Toa hweeshio, jangan kau gampang2 naik darah," kata sinona sambil tertawa geli. "Cara2 yang berangasan tak sesuai dengan kedudukanmu sebagai murid Sang Buddha. Baiklah setengah bulan lagi, aku menunggu warta menggirangkan." Sehabis berkata begitu, ia mengedut les keledai dan lalu mulai turun gunung. Diam2 ia mengambil keputusan, bahwa sepuluh hari kemudian ia akan kembali untuk menonton keramaian.
Sambil jalankan keledai perlahan2, rupa2 pikiran ber-kelebat2 dalam otak si nona. "Mungkin sekali Koen loen Sam seng tak mem punyai kepandaian berarti, sehingga aku tak bakal menyaksikan keramaian, yang menarik nati," pikirnya. "Ah jika di antara mereka terdapat orang2 yang memiliki kepandaian kira2 seperti kakek, ayah, ibu atau Yo Toa koo, peritiwa Sam seng mengacau Siauw lim sie barulah sedap ditonton."
Mengingat Yo Ko, hatinya lantas saji berduka. Selama tiga tanun, ia telah menjelajahi berbagai tempat, tapi selalu menubruk angin. Ciong lim -san Kuburan Mayat Hidup sunyi-senyap, dilembah Ban hoa kok hanya terdapat rontokan laksaan bunga, Coat ceng kok hanya penuh dengan tampukan puing, sedang di Hong leng touw pun, ia tidak bisa menemukan tapak2 Yo Ko dan Siauw Long Lie. Ia menghela napas ber-ulang2 dan berkata dalam hatinya. "Andaikata, kubisa bertemu dengan dia nya, apa artinya pertemuan itu ? Bukan kah akan hanya menambah luka yang pedas perih ? Bukankah hanya menyingkirnya dia ke tempat jauh banyak baiknya untuk diriku ? Hai ! Terang2an kutahu, bahwa apa yang kupikir adalah bayangan bunga di kaca atau bayangan rembulan di muka air. Tapi. . . aku tak berkuasa untuk menindas dorongan hati . .untuk menindih keinginan mencari dia."
Sambil melamun, la membiarkan keledainya jalan sejalan-jalannya. Diwaktu lohor ia sudah terpisah agak jauh dari Siau sit san, Disepanjang jalan, ia menikmati pemandangan yang sangat indah dan dari jauh ia memandang puncak timur dari Siauw sit san yang menjulang kelangit. Mendadak, dari antara pohon-pohon siong yang sudah ribuan tahun tuanya, lapat-lapat terdengar suara khim. "Si apa yang menaruh khim ditengah gunung yang sunyi ini ?" tanyanya didalam hati. Karena kepingin tahu, ia melompat turun dari keledainya dan berjalan kearah suara tetabuhan itu,
Sesudah datang lebih dekat, ia mendapat kenyataan, bahwa suara khim itu diiringi dengan suara lain, seperti semacam nyanyian.
Semenjak kecil, di bawah pimpinan ibunya Kwee Siang telah mempelajari berbagai ilmu sehingga, walaupun tidak terlalu mendalam, ia mengenali baik ilmu menabuh khim, ilmu main tiokie ( catur Tioaghoa ) , Unit surat dan melukis yang umumnya di miliki oleh orang2 terpelajar pada jaman itu, di tambah dengan otaknya yang sangat cerdas, ia tak usah kalah dari orang2 biasa dan malahan ia masih sanggup menimpali kakeknya dalam ilmu musik dan melayani Coe Coe Lioe dalam ilmu surat. Sekarang mendengar suara tabuh tabuhan yang agak aneh itu, ia segera mendekati dengan indap-indap.
Dalam jarak belasan tombak, barulah terang baginya, bahwa suara khim itu diiringi oleh suara ratusan burung. Dengan rasa heran, ia lalu mengintip dari belakang satu pohon besar dan terlihat seorang lelaki yang mengenakan baju putih sedang duduk di bawah tiga pohon siong sambil menabuh khim. Di dahan2 ketiga pohon itu terdapat ratusan ekor burung besar dan kecil yang menyanyi menurut irama tabuh2an itu. Suara khim dan bunyi burung adalah sedemikian akur sehingga didengar dari jauh, sukar sekali orang dapat membedakan, yang mana suara khim, yang mana suara burung.
Kwee Siang terpesona dan dengan hati ber debar2, ia mendengari musik luar biasa itu, yang semakin lama jadi semakin keras. Tiba2 di sebuah kejauhan terdengar ramai suara gerakan sayap burung yang mendatangi dengan cepat sekali dan di lain saat ratusan burung gereja tiba di situ, sebagaian segera hinggap di cabang2, sebagian pula terbang ber-putar2. Tiba-tiba Kwee Siang ingat suatu hal. "Ah" katanya di dalam hati. "Apakah lagu ini bukan lagu Pek niauw hong (
Ratusan burung menghadap kepada burung Hong) yang sudah tak dikenal lagi dalam dunia ? Menurut katanya kakek, dalam lagu tersebut suara khim menyerupai bunyi burung Hong yang bisa menyebabkan kedatangan ratusan burung. Tapi, apa benar dalam dunia terdapat ilmu memetik khim yang begitu tinggi?"
Berapa lama kemudian, suara itu berubahlah perlahan, kawanan burung mulai meninggalkan dahan2 dan lalu terbang berputaran diatas pohon. Mendadak terdengar suara "ting" dan orang ita berhenti memetik alat musiknya. Setelah terbang memutar beberapa kali lagi, ratusan burung itupun turut bubar.
Orang itu dongak dan sesudah menghela napas, dari mulutnya terdengar nyanyian seperti berikut.
Mengapa siang hari begitu cepat saatnya
Ratusan tahun lewat dalam sekejap mata
Langit yang luas tiada batasnya.
Takdir mendurita tak bisa dibantah.
Lihatlah rambut si Niekauw suci.
Sebagian sudah seperti salju yang putih.
Thian kong bertemu dengan Gioklie
Tertawa ter-bahak2 laksana kali.
Aku ingin mengeluarkan kereta.
Dan mendorongnya pulang kekampung halaman.
Pak tauw menuang air kata2.
Dan mengajak semua orang minum secawan.
Kekayaan dan, kemewahan tak jadi idam-idaman.
Yang diharapkan ialah awet muda sepanjang jaman.
Suara orang itu sedih sekali, seperti juga ia merasakan, bahwa penghidupan manusia dalam dunia ini diliputi dengan kesengsaraan yang tidak habis2nya. Kwee Siang jadi turut merasa terharu, tanpa merasa dua butir air mata mengalir turun kedua pipinya. Ia mendongak seraya berkata.
"Memutar pedang!
Mengangkat alis!
Air bening, batu putih, mengapa bersimpang siur?
Manusia hidup tanpa sahabat sejati.
Hidup ribuan tahun, tiada berarti."
Tiba2 dari bawah khim, orang itu menghunus sebatang pedang bersinar hijau. "Aha Kalau begitu, dia seorang Boe boe coan cay (pandai ilmu surat dan ilmu perang)" pikir si nona. "Coba kulihat ilmu silatnya.
Perlahan2 orang itu berjalan kesebidang tanah lapang. Tapi sebaliknya dia bersiasat, ia menggores tanah dengan pedangnya, segaris demi segaris.
"E eh? Kiam hoat apa itu?" tanya sinona dalam hatinya. "Benar2 dia manusia aneh."
Orang itu terus memcuat garisan2 melintang, sesudah menggores sembilan belas kali ia berhenti dan lain mulai membuat garisan2 membujur, yang jaraknya
bersamaan satu sama lain, yaitu kurang lebih satu kaki. Seperti juga garisan melintang, ia membuat sembilanbelas garisan membujur.
Dengan menuruti caranya orang itu, Kwee Siang meng-garis2 tanah dengan telunjuknya. "Wah! Kurang ajar!" katanya didalam hati, "Papan Wie-kie !" ( Wie kie semacam catur yang menggunakan biji putih dan biji hitam).
Sesudah selesai, dengan ujung pedang ia membuat bundaran disudut kiri atas dan sudut kanan papan catur itu. Kemudian ia membuat tanda silang, juga disudut kiri atas dan sudut kanan bawah.
Kwee Siang yang mengintip dari sebelah kejauhan, mengerti, bahwa orang itu sedang mengatur biji Wie kie, tanda bundar mewakili biji putih, tanda silang merupakan biji hitam.
Orang itu lalu mulai jalankan biji2nya. Sesudah jalan enambelas biji, ia kelihatan bersangsi. Apakah biji putih harus bergulat terus atau mengambil sikap membela diri disepanjang pinggiran papan? la menancap pedangnya ditanah dan mengawasi papan dengan berpikir keras.
"Dilihat begini, dia seorang yang hidup kesepian," pikir sinona: "Ia memetik khim sendirian dan berkawan dengan burung." Ia tak punya kawan untuk main Wie
kie dan harus main seorang diri"
Sesudah memikir beberapa saat, orang itu lalu mulai jalankan lagi biji2 Wie kie. Ternyata, biji putih sungkan mengalah dan sa tu pertempuran hebat lantas saja terjadi disudut kiri atas. Putih dan hitam lantas ber gerak2 dan saling makan dengan serunya sama2 coba merebut kedudukan Tionggoan (tengah2). Tapi, biar bagaimanapun, karena memang sudah kalah setingkat, biji putih terus berada dibawah angin. Sesudah jalan 93 kali, biji putih sudah terjepit, tapi masih ber gulat terus sedapat mungkin.
Si nona menonton pertempuran itu dengan hati berdebar. Tiba2 tanpa merasa ia berteriak. "Mengapa tak mau meninggalkan Tiong goan dan mundur ke See ek (sebelah barat)"
Orang itu terkejut. Ia melihat bahwa bagian barat papan catur itu memang terdapat sebidang tanah yang kosong, dan jika biji putih menerjang kesitu, masih bisa dipertahankan keadaan seri."
"Bagus ! Bagus!" serunya dan lalu menjalankan biji putih kejurusan barat. Sesudah jalan beberapa kali, barulah ia ingat kepa da orang yang memberi tunjuk. Ia melemparkan pedangnya diatas tanah dan memutar tubuh. "Orang yang berilmu siapakah yang memberi pelajaran ?" teriaknya. "Aku sungguh merasa berterima kasih."
Sehabis berkata begitu ia mengoya kearah Kwee Siang.
Si nona mendapat kenyataan, bahwa orang itu, yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun, bermuka lonjong panjang dan bermata dalam, sedang badannya jangkung kurus. Sebagai seorang jago betina yang tak menghiraukan perbedaan antara lelaki dan perempuan, perlahan-lahan Kwee Siang berjalan keluar dari tempat sembunyinya dan berkata seraya tertawa. "Barusan aku merasa kagun waktu mendengar Sian-seng memetik khim dengan diiring nyanyian dari ratusan burung. Sesudah itu, dengan tak kurang rasa kagumku, kumelihat Sianseng membuat papan Wie kia dengan menggaris tanah dan main Wie xie dengan menggunakan pedang, Karena itu, aku jadi banyak mulut dan aku harap Sianseng sudi memaafkan."
Mendengar perkataan sinona, orang itu kelihatan girang sekali. "Dari kata2mu. nona ternyata mahir dalam ilmu memetik khim," katanya sambil bersenyum. "Jika sudi, aku memohon nona suka perdengarkan satu dua lagu."
"Memang benar aku pernah belajar menabuh dari ibuku, tapi jika dibandingkan dengan kepandaianmu, aku masih kalah jauh sekali," kata sinona. "Tapi jika menolak terlalu keras, aku merasa tak enak hati. Biarlah aku akan mendengarkan sebuah lagu. Tapi jangan tertawa."
"Bagaimana aku berani ?" kata orang itu sambil mengangsurkan khimnya dengan kedua tangan.
Khim itu sudah berusia tua dan enteng se kali. Sesudah mengakurkan tali2nya. Kwee Siang segera memetik lagu Kho phoa. Kepandaian sinona memang tidak seberapa tinggi dan lagu yang didengarnya tidak luar biasa. Tapi walaupun begitu, pada paras muka orang itu terlukis rasa kaget tercampur girang. Mengapa? Karena lagu Kho phoa mengenakan jitu pada apa yang dipikirnya, sehingga ia merasa amat girang dan berterima kasih ter hadap sinona. Sesudah selesai Kwee Siang menabuh, untuk beberapa saat ia masih bengong dengan mata mengawasi ketempat jauh.
Syair lagu Ko phoa diambil dari Sie keng (Kitab Syair). Itulah sebuah nyanyian dari seorang Tay soa, seorang yang mengasingkan diri dari pergaulan umum.
Dalam syair itu dikatakan bahwa cita2 yang luhur dari seorang laki2 sejati yang berkelana sebatangkara didaerah pegunungan tidak akan berubah, biarpun pada mukanya terlihat sinar kedukaan dan didalam hatinya terdapat rasa kesepihan.
Perlahan2 si nona menaruh khim diatas tanah dan tanpa mengeluarkan sepatah kata lalu barjalan pergi, akan kemudian melompat keatas punggung keledai dan meneruskan perjaanan yang tak tentu rimbanya.
Siang dan malam lewat dengan cepatnya dan dalam sekecap tibalah hari kesepuluh, yaitu hari yang dijanjikan Koen loen Sam seng untuk menyataroni Siauw lim sie. Sudah berapa hari Kwee Siang mengasah otak untuk mencari daya guna masuk kekuil Siauw lim sie, tapi ia belum juga berhasil." Sungguh malu aku menjadi anak ibuku", pikirnya dengan mendongkol.
"Ibuku begitu pintar, anaknya sedemikian tolol. Biarlah aku datang saja diluar kuil dan menunggu kesempatan. Mungkin sekali, selagi repot berkelahi, mereka tak sempat merintangi aku."
Pagi itu sudah menangsal perut dengan makanan kering, ia tujukan keledainya ke Siauw lim sie. Waktu berada dalam jarak kurang lebih sepuluh li dari kuil, tiba2 ia mendengar suara kaki kuda dan dari jalanan gunung di sebelah kaki kelihatan mandatangi tiga penunggang kuda. Ketiga ekor kuda itu satu bulu dauk, satu kuning dan satu lagi putih bertubuh tinggi besar dan cepat sekali larinya. Dalam sekejap, mereka sudah melewati sinona dan menuju kearah kuil. Ketiga penunggang kuda itu rata2 berusia kira2 limapuluh tahun. Mereka mengenakan baju pendek warna hijau dan diatas pelana masing2 tergantung kantong kain yang berisi alat senjata. " Ah! Mereka tentulah Koen loen Sam seng, " pikir Kwee Siang. "Jika terlambat, bisa2 aku ketinggalan nonton."
Ia segera menjepit perut keledai dengan lututnya dan menepuk leher binatang itu. Sambil berbunyi kerena, keledai itu lantas saja lari congklang. Biarpun kurus kecil, dia ternyata kuat sekali dan cepat larinya. Tak lama kemudian, dia sudah bisa menyusul dan membuntuti ketiga penunggang kuda itu.
Sekarang si nona bisa melihat lebih tegas. Penunggang kuda dauk bertubuh kate kecil, Penungggang kuda kuning berpotongan badan sedang dan penungggang kuda putih seorang jangkung kurus. Selanjutaya ia pun mendapat kenyataan, bahwa ketiga binatang itu berbulu sangat panjang sampai dikakinya sehingga berbeda sekali dengan kuda di wilayah Tiong goan.
Begitu tahu ada yang membututi, ketiga orang itu segera menggeprak tunggannya yg lantas saja kabur sekeras-kerasnya sehingga Kwee Siang lantas saja ketinggalan jauh sekali.
Sesudah me]alui dua-tiga-li, si nona belum juga melihat bayangan2 ketiga penunggang kuda itu. Biarpun kuat, tenaga keledai kecil kurus itu, sangat terbatas.
Napasnya sudah tersengal-sengal dan dia kelihatannya sudah lelah sekali. "Binatang tak punya guna!" bentak sinona. "Biasanya kau banyak lagak dan selalu mau lari cepat cepat. Tapi waktu aku justeru memerlukan tenagamu kau lantas saja keok." Melihat tak gunanya coba menyusul lagi, ia lalu melompat turun dari punggung si kurus dan duduk mengaso di sebuah pendopo batu dipinggir jalan dan membiarkan keledai makan rumput.
Belum lama ia duduk mengaso sekonyong konyong terdengar pula suara kaki kuda dan ketiga penunggang kuda yg tadi sesudah male wati satu lembah, kelihatan mendatangi.
"Eh, mengapa mereka kembali begitu cepat?° tanyanya di dalam hati.
Setibanya dipendopo satu itu, mereka segera melomat turun dari tunggangan mereka dan lalu duduk mengaso bersama-sama si nona. Orang yang bertubuh kate kecil, bermuka merah dan yang paling menyolok adalah hidungnya yang merah mengkilap seolah olah bara.
Ia mempunyai paras yang selalu tersungging senyuman. Si tua yang bertubuh jangkung kurus, pucat sekali mukanya, di antara warna putih pias terdapat sinar
biru, seolah olah ia tak pernah kena sorotan matahari. Dengan demikian, warna kedua orang itu bertentangan satu sama lain: yang satu merah membara, yang lain pucat pias. Orang ketiga, yang badannya sedang sedang saja, tidak mempunyai ciri ciri luan biasa, kecuali mukanya yang berwarna kuning seperti orang sakitan.
Sesudah menyapu ketiga orang itu dengan matanya yang bening tajam, Kwee Siang ber senyum seraya menanya: "Samwe Loosian seng (ketiga tuan) apakah kalian barusan mengunjungi Siauw lim sie? Mengapa, baru naik kalian sudah turun kembali?"
Si muka pucat melirik seperti orang kekhi tapi si muka merah tertawa dan balas menanya dengan suara manis. "Bagaimana nona tahu, kami pergi ke Siauw lim-sie
?"
"Kalau bukan ke kuil kemana lagi?" kata Kwee Siang.
Si muka merah mengangguk. "Benar," katanya. "Kemana nona sendiri mau pergi?"
"Kalian pergi ke Siauw Lim sie, akupun mau kesitu," jawabnya.
Tiba2 simuka pucat menyelak:" Siauw lim sie tak pernah mempermisikan orang perempuan masuk kedalam kuil dan juga tak pernah mempermisikan masuknya orang yang membawa senjata."
Ia bicara dengan suara sombong, tanpa melirik kepada si nona.
Kwee Siang jadi mendongkol. "Tapi mengapa kalian sendiri membawa senjata?" tanyanya. "Bukankah dalam kantong dicelana, berisi senjata ?"
"Bagaimana kau bisa dibandingkan dengan kami," kata simuka pucat dengan suara tawar.
"Sombong sungguh! Siapa sebenarnya kalian?" tanya sinona dengan suara yang sama tawarnya. "Apa Koen loen Sam seng sudah bertempur dengan pendeta2 Siauw 1im sie?" "Bagaimana kesudahannya ?"
Mendengar kata2 Koen loen Sam sang," ketiga Orang itu jadi kaget bukan main dan paras muka mereka lantas saja berubah.
"Nona kecil," kata simuka merah.'"Bagaimana kau tahu hal Koen loen Sam seng ?'
"Tentu saja kutahu," jawabnya.
Mendadak simuka pucat maju setindak dan membentak: "She apa kau ? Siapa gurumu Ada urusan apa kau datang kesini ?'
"Bukan urusanmu," sinona balas membentak.
Simuka pucat yang sangat berangasan dan yang selama puluhan tahun selalu dihormati orang, lantas saja meluap darahnya. la segera mengangkat tangan untuk menggaplok si jelita yang dianggap sangat kurang ajar. Tapi sebelum tangannya melayang, tiba2 ia ingat kedudukannya yang sangat tinggi. la insyaf bahwa adalah sangat tidak pantas, jika sebagai seorang tua, ia menghina seorang muda, lebih2 seorang wanita. Mengingat begitu, ia mengurungkan niatnya untuk menggampar muka, tapi tangannya menyambar terus kepinggang sinona dan tiba2 pedang Kwee Siang bersama sarungnya sudah pindah tangan! Kecepatan orang tua itu, sungguh sukar dilukiskan.
Selama berkelana dalam dunia Kangouw kejadian getir itu belum pernah dialami oleh nona. Kepandaian yang dimilikinya memang belum cukup untuk malang melintang dengan leluasa. Akan tetapi, jago2 Rimba Persilatan sebagian besar tahu, bahwa ia adalah puteri Kwee Ceng, sedang pentolan2 dalam kalangan tersesat juga banyak sekali mengenalnya karena atas undangan Yo Ko, mereka pernah datang di Siang yang untuk memberi selamat panjang umur kepadanya. Maka itu semua orang berlaku sungkan terhadap si nona, jika tidak memandang muka Kwee Ceng, memandang Yo Ko. Di samping itu si nona mempunyai paras yang cantik dan adat yang polos terbuka. Ia tidak pernah bersikap sombong dan memandang siapapun juga sebagai sesama manusia. Bukan jarang ia mengajak buaya2 kecil minum arak ber-sama2. Dengan demikian, biarpun dunia Kang ouw penuh dengan duri dan bahaya, sebegitu jauh ia berkelana dengan tak kurang suatu apa. Belumm pernah ada
orang yang berani mengnina padanya.
Ia kemekmek waktu mendapat kenyataan bahwa pedangnya telah dirampas si tua. Ia angin coba merebut kembali, tapi ia tahu ke pandaiannya masih kalah terlalu jauh. Tapi kalau menyudahi saja, hatinya sangat penasaran.
Sementara itu, sambil megang pedang orang dalam tangan kirinya, si muka pucat berkata dengan suara dingin: "Aku akan menyimpan pedangmu ini untuk sementara waktu. Bahwa kau sudah berani berlaku begitu karang ajar terhadapku, adakah karena seorang tua dan gurumu kurang mengajarmu. Beritahukanlah, supaya mereka datang kepadaku untuk meminta pulang pedangmu ini. Dengan baik2 aku akan menasehati ayah ibu dan gurumu, supaya mereka lebih memperhatikan kau."
Paras muka si nona lantas saja berubah merah. Si tua seolah2 memandangnya sebagai bocah nakal yang kurang ajar. Dengan gusar, ia berkata dalam hatinya.
"Bagus! Kau mencaci aku seperti juga mencaci kakek, ayah dan ibuku. Apa benar kau punya kepandaian begitu tinggi sehingga kau begitu sombong?" Sesudah dapat menenteramkan hatinya yang bergoncang keras, sambil menahan amarah ia menanya, "siapa namamu ?"
Si muka pucat mengeluarkan suara di hidung. "Apa? Kau berani menanya siapa nama ku?" bentaknya. "Kau sungguh-sungguh tak tahu adat. Kau harus mengatakan begini, Bolehkah aku mendapat tahu, she dan nama Loo cianpwee yang mulia ?" Mengerti ?"
"Jangan rewel!" bentaknya. "Aku merdeka untuk menggunakan kata apapun juga. Berapa harganya pedang itu? Kau seorang tua, tapi tidak menghargai usiamu yang tua. Tak malu mencuri pedang orang! Sudahlah ! Aku tak mau pedang itu" Sambil berkata begitu, ia bertindak keluar dari pendopo.
Se-konyong2 satu bayangan berkelebat dan simuka merah menghadang didepannya. "Seorang gadis remaja tak boleh gampang marah," katanya saraya ber-senyum2.
"Kalau sudah menikah, apa kau boleh marah2 seperti anak kecil dihadapan mertua? Baiklah, sekarang aku memberitahukan kau. Dalam beberapa hari sesudah melalui
perjalanan berlaksa kami bertiga saudara seperguruan baru saja tiba di Tionggoan dari daerah See ek (daerah sebelum barat) . ..."
"Aku sudah tahu," memotong sinona sambil monyongkan mulutnya. Didaerah Tiong-goan memang tidak terdapat namamu bertiga.
Ketiga orang itu saling meagawasi.
"Nona, bolehkah aku mendapat tahu siapa gurumu ?" tanya si muka merah.
Sebenarnya Kwee Siang tak suka memberi tahu nama ayah dan ibunya, tapi sekarang, karena sudah jengkel, ia lantas saja menjawab: "Ayah she Kwee bernama Ceng. Sedang ibuku she Oey bernama Yong. Aku tak punya garu, hanya kedua orang tuaku yang menurun kan sedikit ilmu silat."
Ketiga kakek itu saling mengawasi. Saaat kemudian barulah simuka pucat berkata. "Kwee Ceng? Oey Yong? Dari partai mana mereka ? Murid siapa ?"
Dengan pertanyaan itu sinona jadi gusar. Nama kedua orang tuanya tersohor dikolong langit, jangankan orang2 dari Rimba Persilatan, sedangkan rakyat jelatapun mengenal Kwee Tay hiap, seorang pendekar yang telah bantu membela kota Siang-yang.
Tapi, melihat paras sungguh2 dari ketiga orang itu, Kwee Siang segera mendapat lain ingatan. "Koen-loen-san terletak didaerah barat dan terpisah jauh dari wilayah Tionggoan" pikirnya. "Ketiga orang lihai memiliki ilmu ilmu silat yang sangat tinggi, tapi ayah dan ibu belum pernah me-nyebut2 nama mereka. Maka itu, memang mungkin sekali, mereka belum pernah mendengar nama kedua orang tuaku." Mengingat begitu darahnya yang barusan sudah meluap, mereda kembali. "Aku sendiri she Kwee bernama Siang," katanya pula. "Siang adalah Siang dari Siang yang. Nah sesudah memperkenalkan diri, bolehkah menanya she dan nama kalian yang mulia ?"
Si muka merah tertawa hahahihi. "Bocah perkataanmu tepat sekaii, " katanya. "Dengan jawabanmu itu, kau menghormati orang yang lebih tua," Sambil menunjuk si muka kuning, ia berkata pula: "Itulah Tosoeko (kakak seperguruan yang paling tua) kami. Ia she Phoa bernama Thian Keng. Aku sendiri adalah Jie soe heng (kakak kedua),aku she Phoe, namaku Thian Loo" la menuding pada si muka pucat dan melanjutkan perkataannya. "Yang itu adalaa Sam soetee( adik ketiga), she Wie, bernama Thian Bong. Kau lihat! Kami bertiga saudara seperguruan masing2 mengambil huruf "Thian (Langit) untuk nama kami."
"Hm!" Kwee Sing mengeluarkan suara dihidung dan berdiam sejenak mengingat2 tiga nama itu. "Tapi apakah kalian sudah bertanding dengan pendeta2 Siauw lim se?
Kalau sudah, siapa yang lebih unggul?" tanyanya kemudian.
Si muka pucat Wie Thian Bong lantas saja menjadi gusar dan membentak dengan suara keras. "Eh, bagaimana kau tahu? Bahwa kami ingin menjajal ilmu dengan Siauwlim sie hanya diketahui oleh beberapa orang saja. Bagaimana kau bisa tahu? Lekas bilang! " Seraya berteriak ia mendekati Kwee Siang dan menatap wajah si-nona dengan mata melotot.
Tentu saja Kwee Siang jadi dongkol. Jika mereka menanya baik2 mungkin sekali ia akan memberitahukan dengan segala senang hati. Tapi dengan cara yang kasar itu, ia lantas saja mengambil putusan untak menutup rahasia. "namamu bertiga sebenarnya kurang tepat. " katanya dengan suara tawar "Mengapa tak dirubah menjadi Thian Ok (Ok berarti jahat)?"
"Apa kau kata?" bentak Thian Bong.
"Kwee Siang menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku sungguh jarang lihat manusia yang begitu galak seperti kau" katanya dengan adem.
"Sesudah merampas barangku, kau masih bersikap begitu ganas. Bukankah kau seperti juga penitisan dari binatang jahat dilangit?"
Tiba2 tenggorokan Wie Thian Bong mengeluarkan suara aneh, se olah2 menggaungnya binatang buas dan dadanya lantas saja melembung keatas, sedang rambut dan alisnya bangun serentak.
"Samtee!" kata Phoei Thian Loo simuka merah dengan cepat. "Jangan kau naik darah."
Sanbil berkata begitu, ia menyeret tangan Kwee Siang kebelakangnya, sehingga badannya sendiri berada diantara kedau orang itu, Melihat hebatnya gerak gerik Wie Thian Bong sehingga jika ia turun tangan, pukulannya tentu hebat luarbiasa, hati si nona jadi keder juga.
Sementara itu, dengan tangannya Wie Thian Bong mencabut pedang Kwee Siang, sedang jariji tangan kirinya mementil badan pedang. "Cring!" pedang itu patah dua.
Kemudian ia memasukkan pedang buntung itu ke dalam sarungnya seraya berkata dengan suara mengejek: "Siapa yang kepingin senjata yang tak gunanya ini ?"
Bukan main kagetnya si nona. Biarpun kepandaian itu belum bisa menandingi Ian cia San thong (ilmu mementil) dari kakeknya tapi tenaga Lwee kang yang begitu dahsyat sungguh jarang terlihat dalam Rimba persilatan
Melihat perubahan pada paras muka si nona, Wie Thian Bong jadi bungah hatinya. Ia dongak dan tertawa ter-bahak2. Suara tertawa itu, yang disertai Lwee kang sangat menusuk kuping dan malahan menggoncangkan juga genteng2 di atas pendopo batu itu.
Se-konyong2, berbareng dengan suara gedbrakan, atap pendopo berlubang besar dan dari lubang itu jatuh serupa benda yang sangat besar.
Semua orang terkejut, terhitung Wie Thian Bong sendiri. Ia sama sekali tak pernah menduga, bahwa suara tertawanya biarpun di sertai Lwee kang bisa merusakkan atap pendopo batu.
Waktu orang tahu, benda apa yaag jatuh itu, rasa kaget jadi semakin besar. Ternyata yang rebah di lantai adalah seorang lelaki yang mengenakan baju putih dan kedua tangannya memeluk khim. Ia rebah disitu sambil meramkan kedua matanya, se-olah2 sedang tidur pulas.
Mendadak terdengar teriakan Kwee Siang "Aha ! Kau berada di sini ?"
Orang itu bukan lain dari pada si pria yg pandai memetik khim dan yaag telah di temui si nona pada beberapa hari berselangi.
Per-lahan2 orang ita membuka matanya. Begitu melihat Kwee Siang, ia melompat bangun seraya berkata. "Nona, aku cari kau kesegala tempat. Tak tahunya kau berada disini."
"Perlu apa kau cari aku?" tanyanya. "Aku lupa menanya she nona yang mulia dan nama yang besar," jawabnya.
"Apa itu she mulia nama besar?" kata Kwee Siang seraya mencebikan bibir. Aku paling sebal dengan kata2 yang banyak kembangnya."
Orang itu kelihatan kaget, tapi di lain saat ia tertawa besar. "Benar, nona," katanya "Memang, semakin manusia berlagak pintar semakin kosong otaknya."
Sambil berkata begitu, ia mengawasi Wie Thian Bong dengan mata melotot dan kemudian tertawa dingin.
Kwee Siang jadi girang sekali. Ia tak nyana si baju putih seorang yang menarik.
Paras muka Wie Thian Bong yang pucat jadi lebih pucat lagi. "Siapa tuan?" tanyanya.
Ia tidak menggubris dan sambil berpaling kepada Kwee Siang, ia menanya: "Nona, siapa namamu ?"
"Aku she Kwee bernama Siang." jawabnya
Orang itu menepuk kedua tangannya dan berseru dengan suara girang. "Ah ! Mataku benar2 kotokan tak mengenali gunung Thay san yang besar. Kalau begitu kau Kwee Toakouwnio yang namanya kesohor diseluruh jagat! Kecauli manusia-manusia tolok, siapapun juga mengenal ayahmu Kwee Ceng Kwee Tayhiap, dan ibumu, Oey Yong Oey Liehiap Dalam dunia Kangoaw, siapakah yang tidak mengenal mereka? Mereka adalah orang2 yang boen-boe-song-coan (mahir dalam ilmu surat dan ilmu perang ), mahir menggunakan macam senjata dan sudah menyelami dasarnya berbagai ilmu silat paham dalam ilmu penabuh khim, tio kie, menulis huruf-huruf indah, melukis, bersyair, dan bersajak. Dari dulu sampai sekarang, kepandaian mereka jarang tandingan didalam dunia. Ha ha ha ! Tapi masih juga terdapat manusia-manusia yang tidak mengenal mereka!"
Kwee Siang jadi girang sekali. "Kalau begitu sudah lama dia bersembunyi diatas atap pendopo dan sudah mendengari pembicaraanku dengan ketiga orang itu."
katanya di dalam hati, "Didengar dari perkataannya, ia pun belum mengenal kedua orang tuaku. Kalau sudah mengenal, ia tentu tak akan memanggil aku sebagai Kwee Toakouwnio (nona Kwee yang paling besar). Sungguh lucu ia mengatakan ayahku mahir dalam ilmu menabuh khim, main tio kie, menulis huruf indah dan sebagainya. Memikir begitu, seraya bersenyum ia menanya. "Siapa namamu?"
"Aku she Ho, namaku Ciok Too." jawab nya, (Ho Ciok Too berarti Tidak cukup berharga untuk dibicarakan).
"Ho Ciok Too?" menegas si nona. "sungguh satu nama yang merendahkan diri."
"Benar." jawabnya. "Tapi namaku banyak lebih baik dari pada nama yang menggunakan perkataan2 sombong seperti "Langit dan bumi". Sedikitnya namaku tidak memuakkan orang yang mendengarnya."
Siapapun mengerti, ia sedang mengejek ketiga Soehengtee itu (saudara seperguruan yang menggunakan huruf "Thian" langit itu), maka sesudah manyaksikan cara Ho Ciok Too menjatuhkan diri dari lubang atap mereka tahu bahwa orang itu bukan sembarangan orang dan oleh karenanya, se-bisa2 mereka menahan sabar. Tapi mendengar ejekan yang paling belakang, Wie Thian Bong meluap darahnya. Dengan sekali membalik tangan la menggapelok dagu orang. Ho Ciok Too menundukkan kepalanya dan molos dari bawah bahu. Mendadak Wie Thian Bong merasa tangan kirinya kesemutan dan tahu2 pedang, Kwee-Siang yang sedang dicekalnya sudah berpindah tangan. Sebagaimana diketahui, waktu merampas pedang itu dari tangan nona Kwee, gerakannya cepat luar biasa, Dari sini dapatlah dibayangkan, bagaimana cepat gerakan Ho Ciok Too yang dengan begitu mudah sudah berhasil merampas senjata itu.
Wie Thian Bong terkesiap. Dilain detik, dengan gusar ia menerjang dan lima jerijinya yang dipentang bagaikan gaetan, menyambar pundak Ho Ciok Too. Dengan sekali mengegos Ho Ciok Too sudah berhasil menyelamatkan diri. Sementara itu, hampir berbareng Phoa Thian Keng dan Phoei Thian Loo melompat keluar dari pendopo. Dengan gergetan, Wie Thian Bong mengirim serangan2 berantai dengan kedua tangannya dan dalam sekejap, ia sudah menyerang tujuh delapan kali. Tapi lawannya tetap bersikap tenang. Kemudian diserang bagaikan hujan dan angin sedikitpun ia tidak membalas. Dengan mengengos kekiri kanan, kedepan dan kebelakang, ia kelit pukulan2 hebat itu.
Biarpun masih bersia muda dan kepandaiannya tidak seberapa tinggi, nona Kwee Siang adalah puterinya ahli2 silat nomor satu pada jaman itu dan dengan sendirinya, ia mempunyai mata yang sangat tajam. Melihat gerakan Ho Ciok Too yang begitu gesit dan lincah, ia yakin bahwa orang itu adalah barbeda dengan berbagai ilmu silat yang terdapat diwilayah Tionggoan.
Sementara itu, sesudah menyerang dua puluh jurus lebih tanpa berhasil, tiba2 Wie Thian Bong menggeram dan mengubah silatnya. Jika tadi serangan2 dikirim bagaikan kilat, sekarang gerakan-gerakannya banyak lebih perlahan, tapi disertai dengan tenaga yang sangat hebat. Sesudah ia menyerang beberapa jurus, Kwee Siang yang berada didalam pendopo, turut merasakan sambaran-sambaran pukulannya, sehingga buru-buru ia melompat keluar.
Ho Ciok Too pun lantas saja mengubah sikap. Kini ia tak berani memandang enteng lagi musuhnya. Setelah menyelipkan pedang Kwee Siang dipinggangnya, berdiri tegak dan badannya seolah-olah sebuah gunung yang kokoh teguh. "Kau menggunakan ilmu keras?" tanya Ho Ciok Too, lalu "Apa kau rasa diriku tidak mampu ?" Pada saat kedua tangan Wie Thian Bong menyambar, sambil mengerahkan Lweekang, ia memapaki dengan tangan kirinya. Karena melawan keras! "Tak!" kedua tangan beradu dengan dahsyatnya. Badan Wie Thian Bong ber-goyang2 terhuyung kebelakang dua tiga tindak, sedang kedua kaki Ho Ciok Too tetap berdiri tegak.
Wie Thian Bong yang selala menganggap bahwa Gwakangnya (ilmu luar, yaitu ilmu yang menggunakan teanga kekerasan) jarang tandingan, jadi penasaran sekali.
Sesudah menarik napas panjang, sambil membentak keras sekali lagi is menghantam dengan kedua tangannya. Ho Ciok Too pun mengeluarkan teriakan nyaring, dan satu tangannya kembali memapaki pukulan lawan. "Dak !", kedua bau tangan beradu pula, kali ini hebat luar biasa, sehingga debu dan pasir meluruk turun dari lubang diatap pendopo. Hampir berbareng dengan bentrokan itu, tubuh Wie Thian Bong terhuyung lagi dan sesudah sempoyongan empat lima tindak, barulah ia bisa berdiri tegak.
Sesudah dikalhkan dua kali, Wie Thian Bong jadi mata merah. Rambutnya terurai, kedua matanya melotot, sehingga macamnya menakuti sekali. Dengan kedua tangan memegang perut, dia menarik napas panjang. Dilain saat, dadanya melesak kedalam, perut melembung keluar, se-akan2 sebuah tambur dan tulang2nya berkerotokan.
Dalam keadaan yang menyeramkan itu, setindak demi setindak ia mendekati lawannya.
Melihat begitu, Ho Ciok Too mengerti, bahwa lawannya akan segera menyerang dengan menggunakan seantero kepandaian dan tenaga Lwekang. Ia tak berani berayal lagi dan buru2 monyedot nafas untuk mengerahkan Lweekang.
Menurut kebiasaan, sesudah mengerahkan Lweekang yang hebat itu, dari jarak empat lima tindak, Wie Thian Bong sudah mengirim pukulan. Tapi sekarang ia tak berbuat begitu. Dengan perlahan, ia terus maju hingga berhadapan dengan lawan. Sesudah itu, barulah kedua tangannya bergerak, yang satu memukul muka, yang lain menyambar kepunggung. Tujuan kedua pukulan, itu adalah untak membuyarkan seantero Lwekang Ho Ciok Too.
Ho Ciok Too pun lantas saja menyambar dengan kedua tangannya. Tangan kiri menempel dengan tangan kiri, tangan kanan dengan tangan kanan. Tetapi didalam tangan itu, dia mengeluarkan dua tenaga yang berbeda, satu "keras" dan yang satu "lembek". Dengan begitu tangan Wie Thian Bong yang memukul keras kepunggung seperti juga menghantam kapas, sedang tangan kanan yang menyambar kemuka se-akan2 menyentuh tembok tembaga. "Celaka !" Wie Thian Bong mongeluh. Hampir berbareng, ia merasakan dorongan tenaga yang sangat hebat dan tanpa ampun lagi badannya didorong keluar dari pendopo.
Itulah akibat keras melawan keras. Yang bertenaga lebih lemah, dialah yang celaka. Didorong dengan tenaganya sendiri yang berbalik dan ditambah dengan dorongan tenaga Ho Ciok Too, Wie Thian Bong pasti bakal muntah darah.
Pada saat yang sangat berbahaya, yaitu sedetik sebelum roboh, tiba2 Phoa Thian Keng dan Phoei Thian Loo membentak keras: "Keluarkan pukulan!" Dengan berbareng mereka mendorong kedepan dan tenaga tangan mereka merupakan semacam tembok lembek yang tidak kelihatan. Punggung Wie Thian Bong bersandar diarus tenaga itu dan ia tertolong dari luka berat didalam badan. Tapi meskipun begitu, isi perutnya mendapat goncangan hebat, tulang2nya seolah terpukul hancur dan ia merasakan kesakitan biasa disekujur badannya.
Melihat saudara seperguruannya dirobohkan secara begitu menyedihkan bukan main gusar nya Phoei Thian Loo, tapi paras mukanya masih tetap tersenyum. "Kekuatan tenaga tangan tuan sangat jarang terdapat didalam dunia," katanya. "Aka sugguh marasa tahluk."
Mendengar kata2 xu, Kwee Siang tertawa. Dalam hatinya. "Koen loen Sam seng tiada bedanya seperti kodok didalam sumur" pikirnya. "Mengenai tenaga tangan siapakah yang dapat menadingi ayahku dalam pukulan Hang Liong Sip pat ciang?"
Sesudah berdiam sejenak, seraya tertawa hahahihi, si-muka marah berkata pula: "Aku si tua yang tak punya kepandaian berarti, sekarang ingin meminta pengajaran dari Kiam hoat tuan"
"Phoei-heng berlaku sangat manis terhadap Kwee Kouwnio dan akupun tak mempunyai ganjelan terhadapmu," jawabn:ya. "Aku rasa kita boleh tak usah menjajal kepandaian."
Kwee Siang terkejut. Kalau begitu, ia menghajar Wie Thian Bong karena kurang ajar terhadapku," katanya didalam hati.
Sementara itu, tanpa menggubris penolakan orang, Phoei Thian Loo segera menghampiri tungggangannya dan mengambil sebatang pedang panjang dari kantong senjata. "Srt!" ia menghunusnya dan paras mukanya latas saja berubah keren!. Sambil melonjorkan tangan kirinya, ia mendongakkan pedang yang dicekal dalam tanganaya. Itulah pukulan yang diberi nama Sian-jin-tit-loan (Dewa mengunjuk jalan).
Ho Ciok Too bersenyum seraya berkata "Jika Phoei-heng mau juga bertanding, biarlah aku melayani beberapa jurus dengan menggunakan pedang Kwee Kouwnio."
Sehabis berkata begitu ia mencabut pedang buntung yang terselip dipinggangnya. Pedang itu asal nya memang pedang pendek. Panjangnya tak lebih daripada dua kaki. Sesudah dipatahkan Wie Thiang Bong, yang ketinggalan hanya tujuh delapan dim, sehingga lebih pendek daripada pisau belati biasa.
Sambil mencekal sarung pedang ditangan kirinya, tanpa menegur lagi ia segera mengirim tiga serangan kilat yang cepat luar biasa. Hanya karena senjatanya terlalu pendek, maka serangan2 itu tidak mengenakan sasarannya. Phoei Thian Loo terkesiap. "Cepat sungguh gerakannya !" pikirnya. "Kiam-hoat apa itu? Jika ia menggunakan pedang panjang, jiwaku mungkin sudah melayang"
Dilain pihak, sesudah menyerang tiga kali beruntun, Ho Ciok Too melompat kesamping dan berdiri tegak. Ia hanya mengenggos dan berkelit, waktu Phoe Tnian Loo balas menyerang. Tiba2 selagi dihujani serangan, sekali lagi ia mengirim tiga tikaman berantai, sehingga silat lawan jadi kalang kabut. Dilain saat, seperti tadi, ia meloncat lagi kesamping dan berhenti menyerang. Dipermainkan begitu rupa. Phoei Thian Lpo meluap darahnya. Sambil membentak keras ia menyerang seraya memutar pedangnya yang lantas saja me nyambar2 bagaikan kilat. Badannya yang kurus kecil se-akan2 dikurung sinar pedang yang berkelebat seperti titiran.
Semakin lama pertempuran dilakukan semakin cepat, sehingga gerakan2 kedua lawan itu sukar dapat dilihat tegas. Se-konyong2 terdengar bentakan Ho Ciok Too.
"Awas !" Hampir berbareng dengan bentakan itu, sarung pedang yang dicekal dalam tangan kirinya, menyambar. "Trang !", sarung itu masuk diujung pedang lawan dan pedang buntung meluncur ketenggorokan Phoei Thian Loo.
Walaupun lihay, simuka merah tak bisa menangkis lagi, sebab pedangnya tak bisa bergerak. Tapi sebagai orang yang kepandaian tinggi, dalam bahaya ia tak jadi bingung. Buru2 ia melepaskan pedangnya dan sambil melenggakkan kepala, ia membuang diri dan bergulingan ditanah.
Sebelum Phoei Thian Loo melompat bangun tiba2 berkelebat satu bayangan dan tangan Phoei Thian Keng sudah mencekal gagang pedang yang barusan dilepaskan oleh Soetee nya. Dengan sekali membetot, ia sudah mencabut pedang itu dari sarung pedang buntung yang dipegang Ho Ciok Too.
"Sungguh indah gerakan itu!" puji Ho Ciok Too dan Kwee Siang hampir berbaring.
Ternyata, sikakek yang mukanya seperti orang berpenyakitan dan tidak pernah mengeluarkan sepatah kata, memiliki kepandaian yang paling tinggi diantara ketiga orang2 itu.
"Aku sungguh merasa sangat takluk akan kepandaian tuan." kata Ho Ciok Too sambil membungkuk. Ia berpaling pada Kwee Siang dan berkata pula "Kwee Kouwnio. sesudah mendengar lagumu pada beberapa hari yang lalu, aku telah menggubah sebuah lagu baru yang aku ingin mempersembahkan kepadamu untuk dinilai."
"Lagu apa ?" tanya sinona.
Tanpa menghiraukan tiga otang tua itu, ia lantas saja bersila diatas tanah, meletakkan khimnya dipangkuan dan lalu menyetel tali2 nya.
Melihat begitu, Phoa Thian Keng lalu mendekati dan berkata. "Tuan sudah merobohkan kedua Soeteeku dan sekaranglah aku yang ingin meminta pengajaranmu."
Ho Ciok Too menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Tidak, sudah cukup," katanya. "Pertandingan silat tidak menimbulkan banyak kegembiraan. Sekarang aku ingin memetik khim untuk diperdengaran kepada Kwee Kouwnio. Laguku adalah sebuah lagu baru. Jika suka, kalian boleh duduk mendengari. Kalau tidak, kalian
merdeka untuk berlalu." Sehabis berkata begitu, jari2 nya mulai memetik tetabuhan itu.
Sesudah mendengari beberapa saat, Kwee Siang jadi kaget bercampur girang. Semenjak belajar memetik khim, belum pernah ia mendengar lagu yang begitu luar biasa. Luar biasa, karena lagu itu merupakan kombinasi dari lagu Ko-phoa yang pernah diperdengarkan olehnya dan lagu Kian kee (nama semacam rumput). Kedua lagu itu yang sebenarnya sangat berbedaan telah digubah begitu rupa sehingga merupakan sebuah lagu baru yang sangat merdu dan harmonis, Syair lagu ini antara lain berbunyi.
Siorang pertapaan.
Berkelana dipegunungan
Rumput,Kian kee hijau2.
Embun berubah menjadi salju.
Dan sidia.
Berada disatu sudut dunia
Mendengar sampai disitu, hati sinona berdebaran. "Siapa sidia ?" tanyanya dihati. "Apa dimaksudkan aua ? Mengapa suara khim itu sedemikian merdu dan mengharukan hati?" Mengingat begitu, mukanya lantas saja bersemu dadu. Ia merasa kagum bukan main, sebab dalam kombinasi itu, yang telah merupakan sebuah lagu Kian kee masih bisa mempertahankan kepribadiannya sendiri.
Phoa Thian Keng dan kedua Soeteenya, yang tidak mengerti ilmu musik, jadi mendongkol bukan main. Disamping cara2 Ho Ciok Too yang terus memetik tali2 khim tanpa memperdulikan mereka, dianggapnya sebagai suatu hinaan.
Sesudah mendengari beberapa saat, Phoa Thian Kheng tidak dapat menahan sabar lagi. Ia mendekati dan sambil menotok pundak kiri Ho Ciok To dengan ujung pedang, ia membentak. "Bangun kau ! Mari kita jajal kepandaian."
Ho Ciok Too yang sedang memusatkan seluruh semangat kepada tetabuhannya, seolah olah tidak mendengar tantangan itu. Ia seperti juga sedang berkelana disatu pegunungan yang amat indah dan dari jauh ia melihat seorang gadis jelita yang tengah berdiri diatas sebuah pulau kecil yang dikurung air...
Tiba2 ia merasa pundak kirinya sakit dan ia tersadar. Ia dongak dan melihat Phoa Thian Kheng berdiri didekatnya sambil mencekal pedang terhunus yang barusan telah digunakan untuk menotol pundaknya. Ia mengerti, bahwa jika tidak melawan, mungkin sekali ia akan terluka secara konyol. Hanya sungguh sayang, lagunya belum selesai. Sebagai seorang seniman tulen, ia tak rela menghentikan lagunya ditengah jalan.
Maka itu, tangan kirinya segera mengulurkan pedang buntung yang lalu digunakan untuk menangkis senjata Phoa Thian Kheng, sedang tangan kanannya tetap memetik tali2 khim.
Dengan kedua mata tetap memperhatikan tetabuhannya, Ho Ciok Too menangkis setiap serangan lawan. Phoa Thian Kheng jadi semakin gusar dan menyerang tambah hebat. Tapi kemanapun juga pedangnya menyambar, Ho Ciok Toa selalu menangkis.
Kwee Siang yang sedang kesengsem juga tidak memperdulikan serangan itu. Akan tetapi ia mendongkol, sebab suara bentrokan senjata telah merusak irama. Ia membentak. "Hai ! Apa kau tuli akan merdunya lagu ini. Jangan merusak ! Cobalah kau menyerang menurut tempo tepukan tanganku"
Tapi tentu saja Phoa Thian Kheng tak meladeni. Sambil membentak keras, dengan gusar ia mengobah kiam hoatnya dan menyerang bagaikan hujan angin sehingga suara bentrok an senjata jadi semakin gencar dan irama khim jadi semakin dikacaukan.
Ho Ciok Too juga mendongkol dan seraya menambah Lweekang, ia menangkis satu tikaman. "Trang !" pedang Phoa Thian Keng patah dua. Hampir berbareng, tali kelima dari Cithian khim ( khim yang bertali tujuh ) juga putus.
Paras muka Phoa Thian Keng jadi pucat bagaikan mayat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia meloncat keluar dari pendopo batu dan kemudian, bersama kedua Soeteenya, dia melompat naik kepunggung tunggangan mereka yang segera dikaburkan keatas gunung.
Kwee Siang heran. "E eh!" katanya. "Mengapa mereka lari kearah kuil ?" Ia nengok dan melihat Ho Ciok Too sedang memegang tali Khim yang putus itu dengan paras duka. "Mengapa dia begitu jengkel ?" tanyanya di dalam hati. ""Berapakah harganya tali khim?
Ho Ciok Too menghela napas dan berkata dengan suara perlahan: "Tujuh tahun aku barlatih, tapi hatiku tetap belum bisa tenang. Tangan kiriku berhasil mematahkan senjata, tapi tangan kanan memutuskan tali khim."
Sekarang si nona baru mengerti, bahwa ia berduka karena merasa kepandaiannya belum sempurna. Ia tertawa seraya barkata: "Dengan tangan kiri melawan musuh dan tangan kanan memetik khim, kau sebenarnya menggunakan ilmu Hoen sin Jie yong (ilmu memecah pikiran). Dalam dunia ini, hanya tiga orang yang mahir dalam ilmu itu. Bahwa kau belum mencapai taraf yang tinggi, tak usah dibuat jengkel!"
"Siapa tiga orang itu?" tanya Ho Ciok Too.
"Yang pertama adalah Loo boan thiong Cioe Pek Thiong," jawabnya. "Yang kedua ayanku sendiri, sedang yang ketiga Yo Hoe jin, Siauw Liong Lie. Selain tiga orang itu, malahan kakekku, ibuku atau SintiauwTayhiap Yo Ko tiada yang mampu memiliki ilmu yang luar biasa itu."
"Bolehkah kau memperkenalkan orang2 berilmu itu kepadaku ?" tanya Ho Ciok Too.
"Kalau kau mau bertemu dengan Thia thia (ayah) mudah sekali," jawabnya. "Tapi dua orang lainnya sangat sukar dicari, karena mereka tak punya tempat kediaman yang tentu"
Ho Ciok Too berdiri bengong, seperti juga ia masih merasa sangat menyesal karena putus nya tali khim itu. Si nona tertawa seraya berkata dengan suara menghibur."Dengan sekali gebrak. kau sudah berhasil merobohkan Koen loen Sam-seng dan hasil itu boleh dibuat bangga. Perla apa kau berduka karena hal yang remeh itu?"
Ho Ciok Too terkesiap. "Koen-loen Samseng?" ia menegas, "Apa kau kata? Bagaimana kau tahu?"
"Bukankah ketiga orang itu dikenal sebagai Koen-loen Sam sang?" tanyanya. "Kepandaian mereka mamang cukup tinggi, tapi jika mau coba2 membentur Siauw lim sie, kurasa mereka agak tahu diri . . . " Melihat paras muka Ho Ciok Too mengunjuk perasaan heran yang semakin besar, si nona lalu menaya. "Mengapa kau kelihatannya heran?"
"Koen loan Sam seng . . . Koen loan Sam seng Ho Ciok Too . . . itulah aku sendiri!" katanya dengan suara perlahan.
Sekarang giliran Kwee Siang yang terheran heran. "Kau... kau Koen loen Sam seng?" tanyanya. " Mana yang dua lagi?
"Koen loen Sam seng hanya satu orang," jawabnya, "Di See ek aku telah mendapat nama walaupun bukan nama besar. Kawan2 disitu menganggap, bahwa aku memiliki
kepandaian tinggi dalam ilmu main khim, ilma pedang dan ilmu main catur, sehingga oleh karena nya, kata mereka, aku boleh dinamakan sebagai Khim seng dan Kiam seng dan Kie sang (Nabi khim, Nabi pedang dan nabi kie. Kie berarti Tio kie atau catur). Lantaran aku suka sekali berdiam digunung Koen loen san, maka mereka memberi julukan -Koen loan Sam seng- kepadaku. Tapi aku selalu merasa malu dengan istilah Seng itu. Mana bisa manusia seperti aku menamakan diri sebagai seorang nabi ? Biarpun gelaran itu diberikan oleh orang lain, tak boleh aku menerimanya dengan begitu saja. Maka itulah, aku segera mengubah namaku, Aku menggunakan nama Ho Ciok Too, yang jika disambung jadi -Koen loan Sam seng Ho Ciok Too- (Koen loen Sam seng tidak cukup berharga untuk dibicarakan). Dengan demi kian orang tidak bisa mengatakan, bahwa aku manusia sombong."
Si nona menepuk2 tangan dan tertawa geli, "Oh, begitu?" katanya: "Mati hidup aku menduga, bahwa Koen loen Sam seng terdiri dari tiga orang. Tapi siapakah ketiga orang tua itu ?"
"Mereka adalah orang2 Siauw lim pay." Kwee Siang terkejut. "Siauw lim pay ?" ia menegas. "Hm ! . . . . Ilmu silat mereka kurang. Yang lain cukup tinggi ...
benar! Ilmu pedang sikakek muka merah memang Tat mo Kiam hoat. Tak salah! Si muka penyakitan paling belakang menyerang dengan ilmu Wie to Hok mo kiam (ilmu pedang telukan iblis), Tadi aku tidak bisa melihatinya karena dalam ilmu pedang itu terdapat banyak sekali perubahan. Tapi. . mengapa mereka mengaku baru datang dari See-ek ?"
"Ada sebabnya," jawab Ho Ciok Too, "Pada musim semi tahun lalu, aku main khim di puncak Keng sin hong gunung Koen loen san. Tiba-tiba aku mendengar suara pertempuran di luar gubuk. Aku segera keluar dan melihat dua orang yang masing-masing terluka berat sedang berkelahi mati-matian, Aku berteriak supaya berhenti, tapi dia tak meladeni. Karena merasa tak tega, aku segera memisahkan mereka. Begitu dipisahkan, salah seorang terbalik matanya dan menarik napasnya yang penghabisan. Yang satu lagi belum mati dan dulu aka membawanya kedalam gubukku dan coba menolong dengan memberikan pel Siauw yang tan kepadanya. Tapi sebelah lukanya terlalu berat, obatku tidak berhasil. Sebelum meninggal, ia memperkenalkan diri sebagai In Kek See.."
"Ah!" seru sinona, "Orang yang satunya lagi mestiaya Siauw Siang Coe. Bukankah orang yang binasa lebih pula bertubuh jangkung kurus dan bermuka seperti mayat
?"
"Benar," jawabnya. "Bagaimana kau tahu?". Kata sinona sambil tertawa. "Aka tak nyana pada akhirnya kedua mustika hidup itu mampus dengan saling bunuh."
Ho Ciok Too menghela napas dan berkata pula: " Sebelum mati, In Kek See mengatakan bahwa selama hidup, ia telah berbuat banyak sekali kedosaan dan sekarang ia merasa sangat menyesal, tapi sudah terlambat. Ia memberitahukan, bersama Siauw Siang Coe, ia telah mencuri sejilit kitab suci dari Siauw lim sie. Sesudah memiliki kitab itu, mereka saling curiga. Masing2 merasa kuatir, bahwa jika yang satu memahami kitab itu terlebih dulu dan berhasil mempertinggi ilmu silatnya, dia segera menurunkan tangan jahat untuk membinasakan yang lain guna memiliki sendiri kitab suci itu. Demikianlah, masing2 saling mengawasi dua
sungkan berpisahan. Mereka makan disatu meja dan tidur satu ranjang Sedikitpun hati mereka tak pernah tenang. Diwaktu makan, masing-masing kuatir racun. Diwaktu tidur, masing-masing takut kalau-kalau yang satu turunkan tangan jahat selagi pulas. Di samping itu, mereka juga kuatirkan kejaran pendeta2 Siauw lim sie. Mereka kabur sampai di See-ek. Setibanya di Keng sin hong, keduanya sudah lelah sekali. Mereka mengerti bahwa dengan hidup begitu terus menerus, belum sepuluh hari, mereka tentu sudah binasa. Mereka jadi nekat dan terus bertempur untuk mengakhiri keadaan yang gila itu. In Kek See mengatakan, bahwva ilmu silat Siauw Siang Coe sebenarnya banyak lebih tinggi dari padanya. Semula ia tak mengerti, mengapa dalam perkelahian, Siauw Siang Coe hanya lebih unggul sedikit. Belakagan ia baru igat, bahwa kawan yang berubah jadi musuh itu telah mendapat luka di gunung Hwa-san. Jika mereka tidak saling curiga, mereka tentu tak akan mendaki Koen loen-san."
Mendengar penuturan itu, Kwee Siang kelihatan berduka. Ia menghela napas berkata: "Hai! Karena sejilid kitab, mereka bersama-sama mengorbankan jiwa. Berapa harganya kitab itu ?"
Ho Ciok Too mengangguk dan kemudian melanjutkan perkataannya : "In Kek See bicara dengan napas tersengal-sengal dan suara ter-putus2. Akhirnya ia meminta supaya aku suka pergi kekuik Siauw-lim-sie dan menemui seorang pendeta yang bernama Kak wan. Ia memberitahukan, bahwa kitab suci itu berada didalam minyak. Aku heran mengapa didalam minyak? Selagi mau menayakan terlebih terang, ia sudah tak tahan lagi dan pingsan. Ia pingsan untuk tidak tersadar pula. Sesudah ia mati, aku teras memikiri arti perkataannya. Di dalam minyak ? Apa ia maksud kan kitab itu di bungkus didalam kain minyak. Dengan teliti aku memeriksa jenazah mereka, tapi aku tak bisa mendapatkan kitab itu. Sesudah menerima permintaan orang, aku tidak bisa menyampingkan dengan begitu saja. Mengingat bahwa aku memang belum pernah menginjak wilayah Tiong-goan, maka dengan menggunakan kesempatan itu, aku segera mengambil keputusan untuk pergi kekuil Siauw lim sie sebagian guna memenuhi pesanan orang dan sebagian lagi guna pesiar"
"Tapi mengapa kau sudah mengirim surat tantangan ?" tanya Kwee Siang.
Ho Ciok Too bersenyum waktu menjawab: "Asal mulanya adalah gara2 ketiga orang itu. Mereka bertiga adalah murid2 Siauw lim sie yang tidak mencukur rambut. Menurut katanya orang2 Rimba persilatan di daerah Barat (See ek), mereka adalah orang orang dari tingkatan Thian dan tingkatannya itu sama tingginya dengan Hong thio Siauw lim sie Thian heng Siansoe. Menurut dugaan orang. Soecouw mereka dulu telah kebentrokan dengan saudara2 seperguruannya dalam kuil Siauwlim sie dan sebagai akibat bentrokan itu, ia pergi ke daerah Barat dan mendirikan sebuah cabang Siauw lim pay. Hal ini bukan hal yang mengherankan. Ilmu silat Siauw lim sie telah di bawah oleh Tatmo Couw soe dari Thian tiok (India) ke Tiong goan (Tiongkok asli). Sekarang dari Tiong goan di angkat pula ke daerah Barat. Tak mengherankan, bukan ?
"Mendengar julukanku sebagai Koen loen Sam seng, mereka bertiga jadi penasaran. Mereka sesumbar ingin menjajal kepandaianku. Mereka tidak menghiraukan gelaran Khim seng dan Kie sang. Tapi gelaran Kiam seng (Nabi pedang) ? Ha ! Tak boleh dibiarkan saja?"
"Secara kebetulan muncul urusan In Kek See. Maka itu, aku segera mengambil keputusan untuk pergi kekuil Siauwlimsie, sekalian menjajal2 kepandaian mereka. Sebelum tiba di Tiong goan, aku sengaja menyingkirkan diri dari mereka. Tapi tak dinyana, mereka bisa datang begitu cepat."
"Oh, begitu?" kata Kwee Siang. Semua dugaan ternyata meleset semua. Sekarang ketiga orang itu sudah tiba dikuil. Entah apa yang dikatakan mereka !"
"Dengan pendeta2 Siauw lim-sie, aku tak punya ganjelan apapun juga," kata Ho Ciok Too. "Itu sebabnya, untuk menunggu kedatangan tiga orang itu, aku menjanjikan sepuluh hari. Sekarang penjajalan kepandaian sudah dilakukan, segala apa sudah jadi beres. Mari kita naik keatas. Sesudah aku menyampaikan pesanan In Kek See, kita boleh lantas turun lagi."
Si-nona mengerutkan alis. "Pendeta2 Siauw lim-sie mempunyai semacam peraturan yang sangat keras, yaitu, wanita dilarang masuk kedalam kuil," kata Kwee Siang.
"Fui ! Aturan apa itu?" kata Ho Ciok Too. "Bagaimana kalau kita menerobos masuk ?"
Sebenarnya Kwee Siang adalah seorang gadis pemberani yang suka cari urusan. Tapi karena merasa malu hati terhadap Boe sek Sian soe, ia segera menggelengkan kepala seraya berkata: "Jangan! Aku menunggu di luar kuil, kau masuk sendiri saja, supaya jangan banyak urusan."
"Baiklah," kata Ho Ciok Too. "Lagu yang tadi belum selesai. Begitu kembali, aku akan memetik sekali lagi"
Per-lahan2 mereka mendaki gunung, tapi sesudah tiba didepan pintu, mereka belum melihat bayangan satu manusiapun.
"Sudahlah, aku juga tak perlu masuk," katanya. "Aku akan panggil saja pendeta itu." Sehabis berkata begitu, ia berteriak. "Ho Ciok Too datang berkunjung ke Siauw limsie, ingin menyampaikan omongan kepada Kakwan Taysoe."
Hampir berbareng dengan teriakannya, belasan lonceng besar dalam kuil berbunyi dengan serentak, sehingga seluruh Siauw sit san se olah2 tergetar.
Mendadak pintu kuil terbuka dan dari kiri kanan keluar dua basis pendeta yang mengenakan jubah warna abu2. Kedua barisan itu masing terdiri dari lima puluh empat murid Lohan tong dan jumlah mereka adalah sesuai dengan seratus delapan Lo han. sesudah itu keluar delapan belas pendeta yang badannya dikerebungi jubah pertapan warna kuning Mereka adalah murid2 Tat mo tong yang berusaha lebih tinggi daripada murid2 Lo han tong. Sesaat kemudian dari dalam kuil berjalan keluar tujuh pendeta yang sudah berusia lanjut. Mereka adalah Cit loo (Tujuh Tetua) dari Simsian tong yang berkedudukan sangat tinggi. Beberapa diantaranya memiliki ilmu silat luar biasa, tapi yang lain tidak mengenal ilmu silat dan ia duduk dalam Sim siantong karena pengetahuannya yang sangat mendalam mengenai agama Buddha. Mereka malahan sangat dihormati oleh Hong thio Siauw limsie sendiri.
Paling akhir keluarlah Hong thio Thian beng Sansea, yang diampit olah kepala Tat ma tong Boe Shian Siansoe dan kepala Lo han tong Boesek Siansoe. Phoa Thian Keng, Phoei Thian Loa dan Wie Thian Bong mengikuti di sebelah belakang, bersama kurang lebih delapan puluh murid2 Siauw lim sie, yang tidak jadi pendeta.
Itulah penyambutan yang hebat luar biasa dan dapat dikatakan belum pernah, atau sedikitnya langka sekali, diberikan kepada seorang tamu. Menurut kebiasaan pembesar negeri, biarpun pangkatnya sangat tinggi, atau tokoh Rimba persilatan Paling banyak disambut oleh Hongthio, Boesek dan Boesiang sebegitu jauh di ingat orang Cii Loo dari Sim sian tong belum pernah keluar menyambut tamu.
Mengapa sekarang diadakan upacara penyambutan yang begitu besar? Sebab yang terutama yalah karena Ho Ciok Too tanpa diketahui oleh siapapun juga, sudah menaruh surat tantangan dalam tangan patung Hang liong Lohan. Kepandaian yang luar biasa itu mengejutkan hatinya para pemimpin Siauw lim sie. Selain itu, Phoa thian Keng dan kedua Soeteenya yang baru tiba dari See ek, juga telah menceritakan lihaynya Koen loan Sam seng, sehingga para pemimpin Siauw lim sie lebih berwaspada lagi.
Karena berpisahan sangat jauh, Siauwlimpay cabang See ek sangat jarang berhubungan dengan cabang Tiong cioe yaitu Siauw lim sie dan siauw sit san. Akan tetapi, para pendata tahu, bahwa Soe siok couw mereka mereka yang telah pergi ke Barat memiliki kepandaian yang sangat tinggi, sehingga murid marid atau cucu2 muridnya tentu juga bukan sembarangan ahli silat. Maka itu, sesudah mendengar keterangan Phoa Thian Keng bertiga, para pemimpin Siauw lim sie lantas saja mangambil tindakan2 yang seperlunya. Disamping tindakan2 didalam kuil, pucuk pimpinan juga telah mengeluarkan perintah, supaya murid Siauw lim sie, tak perduli pendeta atau orang biasa yang bertempat tinggal dalam lingkungan lima ratus li harus segera datang kekuii guna menunggu perintah2 selanjutnya.
Semua para pendeta itu menganggap bahwa Koen loen Sam seng terdiri dari tiga orang Sesudah mendapat keterangan Phoei Thian Keng, barulah mereka tahu bahwa Koen loan Sam seng hanya seorang dan bahwa ia memperoleh gelaran itu sebab mahir dalam tiga macam ilmu, yaitu ilmu main khim, ilmu pedang dan ilmu main catur. Mengenai ilmu main khim dan main catur, para pendeta tidak menghiraukannya. Yang mereka harus ber-siap2 yalah untuk menghadapi ilmu pedang dari orang itu. Maka itulah, semenjak mendapat tantangan, siang malam ahli-ahli pedang Siauw lim sie berlatih keras.
Sementara itu, karena merasa sengketa dengan Koen loan Sam seng adalah gara-gara mereka, Phoa Thian Keng dan kedua Soetee nya ingin sekali bisa membereskan pertikaian tersebut dengan tangan mereka sendiri, Untuk memapaki dengan menunggang kuda, setiap hari ia meronda disekitar gunung. Mereka kepingin sekali menjajal kepandaian lawan diluar kuil dan sesudah itu barulah mereka ingin balik kekuil, supaya Koen loen Sam seng bisa mengukur tenaga dengan para pendeta.
Dengan demikian mereka pikir biarlah dilihat, apa cabang Tiong cioe atau cabang See ek dari Siauw lim pay yang lebih unggul.
Tapi diluar dugaan, dalam pertandingan di pendopo batu, dengan mudah mereka telah dirobohkan oleh Ho Ciok Tao.
Begitu mendapat warta tentang kekalahan Phoa Thian Keng dan 2 Soeteenya Thian beng Sian soe insaf, bahwa hari itu adalah hari memutus utuh runtuhnya nama Siauw lim sie.
Biar bagaimanapun juga, gelar "sumber pelajaran Lima silat dikolong langit" yang sudah dipertahankan Siauw lim sie selama ribuan tahun, tak boleh hancur dalam tangannya. Tapi dalam pada itu, ia agak keder, karena merasa bahwa kepandaiannya, kepandaian Boe sek dan Boe siang, Tidak lebih unggul banyak diatas kepandaian Phoa Thian Keng bertiga, itulah sebabnya mengapa dengan terpaksa ia mengundang Cit long Sim sian tong untuk turut keluar menyambut, guna mem beri bantuan jika perlu. Tapi sampai berapa tinggi kepandaian tujuh tetua itu, ia dan Boe sek serta Boa siang juga tak tahu pasti. Apa jika ada bahaya Cit loo bisa menolong muka siauw lim sie masih merupakan sebuah teka teki.
Begitu berhadapan dengan Ho Ciok Too dan Kwee Siang, Thian beng segera merangkap kedua tangannya seraya berkata. "Apakan Kie soe (tuan) yang mahir dalam ilmu Khim Knim Kie? Loo ceng (aku pendeta tua) tidak bisa menyambut dari jauh dan untuk itu, aku harap Kie soe, suka memaafkan,"
Ho Ciok Too segera membalas hormat dengar membungkuk. "Boanseng (orang yang tingkatannya rendah) merasa tidak enak hati sudah mengacau dikuil yang angker ini dan Boan seng sungguh tidak sanggup menerima penyambutan yang begini besar"
Mendengar jawaban itu, Thian beng berkata dalam hatinya. Kata2nya cukup menyenangkan. Dilinat dari romannya, ia baru berusia kira2 tiga puluh tahun. Apa benar ia mempunyai kepandaian tinggi?" Memikir begitu, ia lantas saja berkata lagi: "Ho Kie toe jangan terlalu sungkan. Marilah kita masuk untuk minum air teh dingin dan Lie kie soe (nona) ini ..." ia tidak meneruskan perkataannya dan pada paras mukanya terlihat perasaan sangsi.
Melihat pendeta itu mau menolak Kwee Siang, Ho Ciok Loo dongak dan tertawa tawa 2.
"Loo hong thio," Katanya, "Boan-seng datang kemari karena menerima permintaan seseorang untuk menyampaikan sepatah kata. Sesudah menyampaikan ita, Boan seng akan segera berlalu. Akan tetapi, peraturan dalam Kuil Loa bong thio yang memandang tinggi kepada pria data memandang rendah kepada wanita, adalah peraturan yang tidak dimengerti olehku. Harus diketahui, bahwa ilmu Sang-Buddha tiada batasnya dan semua makhluk Tuhan adalah sama rata. Maka itu, menurut Boan seng, peraturan itu agak bertentangan dengan pelajaran Sang Buddha."
Thian beng Sian soe adalah seorang pendeta yang berilamu tinggi dan berpandangan luas. Ia segera dapat membedakan, apa yang benar dan apa yang salah.
Mendengar perkataan Ho Ciok Too, ia segera bersenyum dan berkata. "Trima kasih atas petunjuk Kie soe. Peraturan itu memang peraturan yang agak sempit. Kalau begitu, akupun mengundang nona untuk turut minum teh."
Kwee Sang melirik kawannya sambil bersenyum. sedang didalam hati ia memuji ketajaman lidah pemuda itu.
Thian beng segera minggir kesamping dan mengangkat tangannya sebagai undangan supaya kedua tetamu itu masuk. Tapi sebelum Ho Ciok Too bertindak dari samping kiri Thian beng tiba2 maju seorang pendeta tua yang bertubuh krus ."Dengan bebeapa perkataan saja, Kie soe sudah meniadakan peraturan Siauw lim sie yang sudah berjalaa ribuan tahun, katanya."
"Peraturan itu bukan tak boleh dirubah. Tapi kita harus menyelidiki. apa orang yang menyebabkan berubah peraturan2 itu, benar2 seorang yang berkepandaian tinggi. Maka itu aku mengharap Ho Kie soe suka memberi sedetik pelajaran, supaya para pendeta bisa membuka mata dan tidak merasa penasaranlagi karena mengetahui, bahwa orang yang merobah peraturan kami, ia orang yang sungguh sungguh berkepandaian tinggi," Orang bicara itu adalah Boe siang Sian soe, kepala Tatmo tong. Ia bicara dengan suara nyaring luar biasa, sehingga telinga yang mendengarnya merasa sakit sebagai akibat dari tekanan tenaga Lweekang yang sangat dahsyat.
Mendengar perkataan Boe siang, paras muka Phoa Thian Keng dan kedua Soeteenya lantas saja berubah. Mereka merasa diejek, bahwa mereka telah dijatuhkan oleh seorang yang belum tentu memiliki kepandaian tinggi.
Sementara itu, waktu melirik Bu sek Sia soe, Kwee Siang melihat sorot bingung dan jengkel pada muka pendeta itu. "Toa hweeshio adalah seorang baik dan juga sahabat Toakoko," katanya didalam hati. Jika Hiok Too dan pendeta Siau lim sie sampai bertempur, tak perduli siapa yang kalah dan siapa menang hatiku merasa tak enak." Memikir begitu, lantas saja ia berkata dengan suara nyaring.
"Ho Toako, aku sebenarnya tidak perlu masuk kekuil. Beritahukanlah sekarang omongan yang ingin disampaikan olehmu dan sesudah itu, kita boleh segera berlalu"
Sehabis berkata begitu, sambil menunjuk Boe sek, ia melan jutkan perkataannya. "ltulah Boe sek Sian soe, sahabat baikku. Kedua belah pihak sebaiknya jangan merusak keakuran."
Ho Ciok Too kelihatan terkejut. "Oh, begitu ?" katanya sambil berpaling kepada Thian beng dan berkata pula : "Loo hong thio, yang mana Kak wan Siansoe ? Aku menerima permintaan seseorang untuk menyampaikan perkataan kapadanya."
"Kak wan Sian-soe ?” menegas Thian beng dengan suara perlahan.
Dalam kuil Siauw lim-sie, Kak wan berkedudukan rendah dan selama beberapa puluh tahun, ia menyembuyikan diri dalam perpustakaan Cong keng-kok. Ia tidak banyak dikenal dari sebegitu jauh, belum pernah orang menambahkan kata2 "Siansoe" dibelakang nama gelarnya. Maka itu, untuk sementara, Thian beng tak ingat siapa adanya. "Kak wan Siansoe". Sesudah bengong beberapa saat, barulah ia berkata: "A ! Ho Kie soe tentu maksudkan pendeta yang jaga kitab Lang keh keng.
Apakah Kie soe mencari dia dalam hubungan soal kitab itu ?"
"Entahlah," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
Thian bang segera berpaling kepada seorang murid dan berkata: "Coba panggil Kak wan." Murid itu lantas saja berlalu untuk mejalankan tugasnya.
Boe siang Siansoe yang rupanya sangat bernapsu, sudah tak bisa menahan sabar lagi. Begitu mendapat kesempatan, ia segera berkata pula: "Ho Kie sie, kau dijuluki sebagai Khim kiam-kie Sam-seng dan kata Seng itu tentu tak dapat dimiliki oleh sembarang orang. Tak usah disangsikan lagi, Kie soe mempunyai kepandaian yang baik, tinggi dalam tiga rupa ilmu itu, 10 hari yang lalu, Kie soe telah menulis surat dan berjanji untuk memperlihatkan kepandaianmu. Tapi mengapa sesudah datang kemari, kau jadi begitu pelit dan sungkan memberi pelajaran kepada kami ?"
Ho Ciok Too menggelengkan kepala. "Nona ini sudah mengatakan, bahwa kedua belah pihak tidak boleh merusak keakuran," katanya.
Boe siang jadi gusar sekali. Ia terutama gusar karena, Ho Ciok Too sudah menantang lebih dulu dan tantangan itu dianggap sebagai kekurang-ajaran terhadap Siauw-lim sie. Disamping itu, ia juga gusar sebab Phoa Thian Keng dan kedua Soetee telah dirobohkan hingga diluaran orang bisa menyiarkan cerita, bahwa murid Siauw-lim pay dijatuhkan oleh Kiam seng. Tapi iapun yakin, bahwa sebagian besar murid2 Siauw-lim sie bukan tandingan Ho Ciok Too dan oleh karenanya, ia segera mengambil keputusan untuk turun tangan sendiri. Ia maju dua tindak seraya berkata: "Menjajal ilmu tak selamanya merusak keakuran. Mengapa Ho Kie soe menolak begitu keras ?" Ia berpaling kepada muridnya dan berkata pula. "Ambil pedang !"
Didalam kuil sudah diSediakan macam2 senjata, tapi pada waktu keluar menyambut tamu para pendeta itu tentu saja merasa tak pantas untuk membawa senjata.
Dengan cepat murid itu sudah keluar kembali dengan membawa tujuh delapan batang pedang yang lalu diangsurkan kepada Ho Ciok Too. "Apa Kie soe membaWa pedang sendiri atau ingin meminjam senjata kami?" tanyanya.
Sebaiknya dari menjemput senjata yang diangsurKan Ho Ciok Too membungkuk dan mengambil sebutir batu kecil. Tiba2 dengan mengunakan batu itu, ia membuat sembilan belas garis melintang dan sembilan belas garis membujur diatas batu hijau yang menutupi jalanan didepan kuil, Setiap garis itu sangat lurus, seperti juga di babat dengan menggunakan penggaris. Tapi apa yang mengejutkan yalah setiap goresan masuk dibatu kira2 satu dim dalamnya. Batu hijau itu adalah batu gunung Siauw sie san yang keras bagaikan besi. Ratusan tahun orang mundar mandir di atasnya, tanpa rusak sedikit juga.
Sesudah membuat garis2 itu yang merupakan papan catur, sambil tertawa Ho Ciok Too berkata: "Mengadu pedang agak terlalu ganas, sedang suara khim pun sukar diadu. Maka itu, jika Toahweeshio merasa gembira, mari kita main catur."
Apa yang diperlihatkan Ho Ciok Too sangat mengejutkan hatinya Thian beng, Boesek, Boe siang dan Cit loo dari Sim sian tong. Thian beng Siansoe yakin, bahwa Lweekang yang setinggi itu tidak dipunyai oleh siapa pun juga dalam kuil Siauw limsie. Ia jadi bingung bukan main, tapi baru saja ia memikir untuk mengaku kalah, tiba-tiba terdengar suara berkerincin dan rantai besi dan di lain saat, Kak wan muncul sambil memikul dua tahang besi, sedang di belakangnya mengikuti seorang pemuda yang bertubuh jangkung. Begitu tiba dihadapan Thian beng, ia segera memberi hormat seraya menanya. "Apakah Loo hong thio memanggil aku ?"
"Ho Kie soe ingin bertemu dan bicara denganmu." jawabnya.
Ia memutar badan dan merasa heran, sebab tak tahu siapa adanya orang itu. "Siauw ceng adalah Kak wan," ia memperkenalkan diri. "Omongan apa yang hendak disampaikan oleh Kie soe ?"
Sesudah membuat papan catur, kegembira Ho Ciok Too terbangun. "Omongan itu aku akan beritahukan sebentar." katanya. "Toahweesio manakah yang ingin melayani aku main catur ?" Ho Ciok Too adalah seorang yang keranjingan main khim, pedang dan tiokie. Kalau gilanya datang, ia melupakan apapun juga.
"Kepandaian Kie soe dalam membuat papan catur dengan menggores batu, belum pernah di saksikan oleh loolap," kata Thianbeng. "Samua pendeta dalam kuil kami tak dapat menandinginya."
Mendengar perkataan Thian beng dan melihat papan catur itu, barulah Kak wan tahu, bahwa Ho Ciok Too datang di Siauw Iim sie untuk memamerkan kepandaiannya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia menaruh kedua tahang besi di pundaknya sambil menyedot napas untuk mangumpulkan semua tenaga dalamnya di kedua lutut.
Sesudah itu, setindak demi setindak, ia berjalan digarisan pinggir dari papan catur itu.
Semua orang terkesiap dan mengawasi tindakan Kak wan dengan mata membalalak. Mengapa ?
Ternyata, di tempat yang dilewati rantai besi yang melibat di kakinya, terdapat goresan-goresan yang lebarnya kira-kira lima dim dan goresan-goresan itu telah merusak garis yang dibuat Ho Ciok too! Sesaat kemudian, tanpa merasa semua pendeta bersorak sorai.
Thian beng, Boe Sek, Boe siang dan lain2 pemimpin jadi kaget campur girang. Mereka tak pernah mimpi, bahwa pendeta tua yang tolol2an itu, memiliki lweekang tinggi. Mereka sudah berkumpul didalam satu kuil puluhan tahun lamanya, tapi tak seorangpun yang tahu kelihayan Kak Wan
Sebenarnya, biarpun seseorang mempunyai tenaga dalam yang hebat, ia tak mungkin membuat goresan seperti yang dibuat Kakwan diatas batu hijau yang amat keras itu. Hanyalah karena pendeta itu memikul dua tahang besi berisi air yang beratnya kurang lebih enam ratus kati sehingga tenaga yang sangat besar itu dapat disalurkan dari pundak ke rantai besi, maka selagi terseret, rantai besi itu seolah olah semacam cangkul yang mencangkul garis2 papan catur. Tapi meskipun demikian, walaupun Kak wan meminjam tenaga apa yang dipertunjuknya sudah jarang sekali terlihat dalam Rimba Persilatan.
"Toahweeshio!" teriak Ho Ciok Too. "Lwee kangmu hebat sekali, aku tak bisa menandingi"
Kak wan menghentikan tindakannya dan mengawasi tamu sambil bersenyum.
"Toahweeshio," kata pula He Ciok Too. "Kita tidak bisa main catur lagi dan aku mengaku kalah. Sekarang aku ingin minta petunjukmu dalam ilmu pedang."
Hampir berbareng dengan perkataannya, ia menghunus sebatang pedang panjang dari bawah Cit hian khim. Ia segera bergerak untuk menyerang dan gerakannya yang pertama sangat luar biasa, yaitu ujung pedang menuking dadanya sendiri, sedang gagang pedang menuding lawan. Semua orang ter-heran2 sebab didalam dunia belum pernah ada Khiam boat yang begitu aneh.
"Loo ceng hanya bisa membaca kitab, bersemedhi, menjemur buku dan menyapu lantai," kata Kak wan. "Mengenai ilmu silat sedikitpun aku tidak mengerti,"
Ho Ciok Too tentu saja mau percaya. Seraya tertawa dingin ia lompat menerjang. Tiba tiba ujung pedang itu berbalik dan meluncur kedada si pendeta. Ternyata, dalam gerakannya yang pertama, yaitu? waktu ujung pedang manuding dadanya sehdiri, ia sedang mengumpulkan tenaga dalam dan kemudian, secara mendadak, membalikkan senjatanya dengan Lweekang itu.
Jika Ho Ciok Too menghadapi ahli silat biasa, serangan itu pasti akan berhasil. Akan tetapi Lweekang Kak wan sudah mencapai tarap dimana setiap gerakannya selalu terjadi secara wajar, menurut jalan pikirannya, Maka itu, biarpun pedang menyambar bagaikan kilat, jalan pikiran si pendeta lebih cepat dari sambaran pedang. Pada detik yang tepat, sebuah tahang melompat naik dan "tang" pedang menikam tahang dan lantas saja melengkung seperti bulan sisir, Buru2 Ho Ciok Too menarik pulang senjatanya, sedang tangan kirinya mengebas muka lawan. Sekali lagi tahang yang lain naik dan tangannya terpental kesamping
Ia kaget tercampur penasaran. Ia merasa pasti, bahwa kedua tahang besi yang sangat berat itu, tak akan bisa menangkis ceceran pedang jika ia menyerang dengan menggunakan kecepatan. Memikir begitu, ia lantas saja berseru: "Toahweeshio, kali ini kau hati2" Pedangnya menggetar dan seperti kilat, ia mengirim enam belas tikaman berantai.
"Tang-tang-tang ! - - -" enambelas kali Cap-lak chioe Soen loei kiam (Pedang geledek enambelas kali menikam) menikam di tahang besi!
Melihat gerak gerik Kak-wan yang sangat repot dan bingung waktu diserang, semua orang percaya, bahwa memang sebenarnya ia tidak mengerti ilmu silat.
Pada waktu Ho Ciok Too baru mulai menyerang, semua orang sangat berkuatir. "Ho Kie-sie, jangan berlaku kejam !" teriak Boe sek dan Boe siang hampir berbareng,
"Ho Toako, jangan turuskan tangan jahat!" seru Kwee Siang.
Tapi heran sungguh, dalam caranya yang sangat luar biasa dan tidak sesuai dengan ilmu silat, Kak-wan mengangkat kedua tahang besi itu pergi datang dan semua tikaraan itu mampir ditahang air.
Sedang semua orang bisa melihat bahwa si-pendeta sebenaraya tak mengerti ilmu silat, Ho Ciok Tao seadiri, yang serangan2nya digagalkan hingga ia jadi sangat mendongkol, sedikitpun tidak merasa, bahwa lawannya menangkis tikaman2nya dengan gerakan wajar yang telah dapat berkat latihan Lweekang yang sangat tinggi. Maka itu, sesudah Cap-lak chioe Soen-loei-kiam, gagal, sambil membentak keras, ia menikam kempungan Kak-wan,
"Celaka !"seru sipendeta yang datam repotnya merangkap kedua tangan yang mencekal tahang. Berbareng dengan terdengarnya suara nyaring akibat beradunya besi, pedang Ho-Ciok Too tergencet diantara kedua tahang itu. Buru2 ia mengerahkan tenaga dalam dan coba membetot senjatanya, tapi sedikitpun tidak bergeming. Cepat bagaikan kilat, tangan kirinya menghantam muka lawan.
Semua orang terkesiap. Kak-wan yang sedang mencekal tahang besi itu, tak bisa menangkis lagi. Pada detik yang sangat berbahaya mendadak Thio Koen Po melompat dan menghantam pundak Ho Ciok Too dengan pukulan Soe thong Pat ta yang didapat dari Yo Ko. Pada saat yang bersamaan, Lweekang Kak wan sudah mengalir masuk kedalam tahang dan tiba-tiba saja sepasang "arus" air menyembur dari kedua tahang itu dan menyambar muka Ho Ciok Too, sehingga pukulannya kebentrok dengan air yang menyemprot dan ke dua dua nya basah kuyup.
Oleh karena tangan kanannya mencekal pedang yang di gencet tahang air dan tangan kiri menyambut sambaran air, maka ia tidak bisa menangkis lagi pukulan Thio Koen Po. "Bak !", pukulan itu mengenakan tepat di pundaknya. Sekali lagi semua orang terkejut, sebab Thio Koen Po yaug masih seperti bocah, ternyata memiliki Lweekang yang cukup tinggi, sehingga badan Ho Ciok Too bergoyang2 dan terhuyung kebelakang beberapa tindak.
"O mi-to-hoed !" teriak Kak wan. "Ho Kie soe, ampuni Loo ceng ! Tikaman-tikaman mu menenakuti sangat." Sehabis berkata begitu, ia menyusut air dan keringat yang membasahi mukanya dan lalu minggir kesamping.
Sekarang Ho Ciok Too naik darah nya. "Aku dengar dalam kuil Siauw lim sie berkumpul banyak sekali orang pandai dan ternyata memang benar begitu," katanya dengan suara mendongkol. "Malahan seorang bocah cilik memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Bocah ! Mari kita main2. Jika kau bisa melayani aku dalam sepuluh jurus, Ho Ciok Too tidak akan datang lagi ke wilayah Tiong goan untuk se lama-lamanya."
Boe sek, Boe siang dan yang lain-lain tahu bahwa Thio Koen Po adalah kacung Cong keng-kok dan sebegitu jauh belum pernah belajar silat. Entah bagaimana secara kebetulan, ia berhasil memukul orang she Ho itu. Mereka yakin, bahwa jika bertempur sungguh sungguh, dalam sejurus saja bocah itu bisa binasa dalam tangan lawannya.
"Ho Kie soe salah," kata Boo siang. "Kau bergelar Koein loen Samseng dan ilmu silatmu telah menggetarkan seluruh jagat. Bagaimana kau boleh bertempur dengan satu kacung tukang masak air dan menyapu lantai ? Jika kau tidak kau main-main sepuluh jurus.
Ho Ciok Too menggelengkan kepala. "Tak bisa," katanya. "Hinaan pukulan itu, bagaimana bisa disudahi saja. Bocah! Sambutlah!" Hampir berbareng dengan bentakannya, tangannya menyambar kedada Thio Koen Po. Jarak antara dia sangat dekat, sehingga biarpun Boe sek dan Boe siang ingin menolong, sudah tidak keburu lagi. Semua orang menduga, bocah itu akan segera terluka berat.
Diserang dengan pukulan hebat itu, kedua kaki Thio Koen Po tidak bergerak. Ia hanya menggeser ujung kakinya kekanan dan badan nya lantas saja turut berputar kekanan. Dalam gerakan itu, ia sudah berhasil mengempos pukulan lawan. Hampir berbaring, dengan tinju kiri melindungi pinggang, telapak tangan kanannya menyambar. Itulah pukulan Yoe co an hoa chioe (Pukulan menembus bunga) salah satu pukulan pokok dari ilmu silat Siauw lim pay.
Apa yang luar biasa, yalah, waktu memukul tubuhnya kokoh teguh bagaikan gunung, sedang pukulannya dahsyat seperti gelombang sungai Tiang kang. Semua orang kaget bukan main, karena pukulan itu bukan pukulan seorang pemuda yang masih hijau, tapi pukulan seorang tokoh kenamaan dari Rimba Persilatan. Sesudah pundaknya terpukul, Ho Ciok Too tahu, bahwa tenaga dalam pemuda itu banyak lebih kuat dari pada Phoa Thian Keng dan kedua saudara seperguruannya. Tapi ia yakin, bahwa dalam sepuluh jurus, ia akan dapat merobohkannya. Melihat sambaran Yoe coan hoa chioe yang sangat hebat itu, tanpa merasa ia memuji. "Bocah! Lihay benar pukulanmu!"
Jantung Boe siang berdebar2. Ia melirik Boe sek dan berkata seraya bersenyum: "Boe sek Soetee, aku memberi selamat, bahwa dengan diam-diam kau sudah mendapat murid yang begitu berbakat !"
Boe sek menggelengkan kepala dan berkata dengan suara perlahan. "Bukan ...."
Sementara itu, dengan beruntun Thio Koen Po sudah mengirim empat serangan berantai yaitu Auw po lat kiong (Menggeser kaki manarik busur), Tan hong tauw yang (Burung hong menghadap matahari), Sioe teek kiat chiang (Di bawah tangan baju memotong tangan) dan Jie long tan jan (Jie long memikul gunung). Setiap pukulan di sertai dengan Lweekang yang sangat tinggi, sehingga semua pendeta jadi kagum bukan main. Thian beng, Boe sek, Boe siang dan Cit loo dari Sim sian tong saling mengawasi dengan hati berdebar debar. "Pukulan-pukulannya yang sangat bagus dan cepat, masih dapat dimengerti," kata Boe siang. "Tapi bagaimana dengan Lwee kangnya yang begitu hebat?"
Sesaat itu dengan paras muka ke merah2-an Ho Ciok Too mengirim pukulan yang keenam. "Sedang seorang bocah saja aku sudah tak mampu jatuhkan, bagaimana aku berani datang di perguruan silat ditempatnya Siauw lim sie dan mengirim surat tantangan ." pikirnya. "Bukankah perbuatanku itu hanya jadi bahan tertawaan orang2 gagah dikolong langit?" sambil memikir begitu, ia memutar badan dan lalu menyerang dengan pukulan Thian san soat piauw (Salju melayang2 digunung Thiansan), dalam sekejap seluruh badan Thio Koen po sudah dikurang dengan pukulan2 yang menyambar2 bagaikan turunnya salju.
Kecuali Yo Ko yang pernah memberi petunjuk kepadanya dipuncak Hwa san, Koen Po belum pernah menerima pelajaran dari lain guru, Oleh karena itu, ia jadi kaget bukan main ketika melihat serangan2 yang sehebat itu. Pada detik yang sangat berbahaya, dalam bingungnya ia memutar pinggang kekiri, mengangkat kedua tangannya sampai meleWati dagu dan telapakan tangan kiri ber hadapan dengan telapak tangan kanan. Itulah pukulan Song coan chioe (pukulan sepasang lingkaran) dari Siauw limpay, serupa pukulan yang teguh kokoh bagaikan gunung jika disertai dengan tenaga Lweekang yang kuat dan dapat memunahkan segala rupa serangan. Maka itulah semua serangan Ho Ciok Too, tak perduli dari mana datangnya, dapat ditangkis dengan Song coan chioe.
Sampai disitu, kegirangan pihak Siauw Lim sie tak dapat ditekan lagi. Dengan serentak murid2 Tat mo tong bersorak sorai.
Sedang sorakan masih belum mereda, sambil membentak keras, Ho Ciok Too meninju dada lawannya, pukulan itu adalah pukulan biasa saja, tapi disertai dengan tenaga dalam yang sangat dahsyat. Buru2 Koen Po menolak dengan kedua telapakan tangannya dalam pianhoa citseng. "Buk!", telapakan tangan dan tinju beradu keras. Badau Ho Ciok Too ber goyang2 sedang Thio Koen Po terhuyung ke belakang beberapa tindak.
"Huh!" demikian terdengar suara Ho Ciok Too yang tanpa tenaga dalam mengubah gerakannya lalu maju setindak dan sekali lagi mengirim tinju deugan sepenuh tenaga. Thio Koen Po yaug ilmu silatnya saugat terbatas, kembali menangkis dengan Pian hoa cit seng yaitu mendorong dengan keduu telapakan tangaunya. "Buk !", tubuh Koen Po sempoyongan lima tindak kebelakaug, sedang badan Ho Ciok Too terhuyung kedepan, "Tinggal satu pukulan lagi !" bentaknya dengau paras muka pucat.
"Sambutlah dengan seantero tenagamu!" ia maju dua tindak, memasang kuda2 dan mengirim pukulan dengan gerakan perlahan.
Sesaat itu, ratusan pendeta Siauw lim sie mengawasi sambil menahan napas. Semua orang yakin, bahwa dengan pukulan itu, Ho Ciok Too mempertaruh nama besarnya dan bahwa ia tentu menggunakan seantero tenaga Lwee kang yang dimilikinya.
Untuk ketiga kalinya, Koen Po menyambut dengan Pian hoa cit seng. Sekali ini, beradunya tinju dan telapak tangan tidak mengeluarkan suara apapun juga. Kedua lawan dengan berbareng mengempos semangat mengarahkan seluruh Lweekang mereka.
Mengenai ilmu silat, Ho Ciok Too lebih unggul ratusan kali lipat daripada Thio Koen Po tapi dalam tenaga Lweekang, ia masih belum bisa mengatasi pemuda itu. Semua orang tak pernah mimpi, bahwa secara kebetulan Koen Po memperoleh pelajaran dari Kioe yang Cin ken keng dan memiliki tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat tinggi.
Sama juga mereka bertahan sambil memusat seantero tenaga dalam di tangan mereka. Se-konyong2, berbareng dengan keluarnya suara "huh", Ho Ciok Too mundur setindak karena ia merasa darahnya meluap ke atas, Se bisa2 ia masih mau coba mempertahankan diri, tapi mendadak matanya gelap dan ia lantas memuntahkan darah dari mulutnya. Walau tidak tahu apa artinya memuntahkan itu tak tabu, bahwa lawannya sudah terluka berat Thio Kaen Po kaget bukan main. "Celaka !" teriaknya sambil memburu untuk memapah lawan.
Ho Ciok Too mengebas tangannya dan seraya tertawa getir, ia berkata. "Ho Ciok Too! Ho Ciok Too! Kau benar2 orang edan!" berpaling kearah Thian beng Siansoe dan menyoja sampai ketanah. "Ilmu silat Siauw lim-sie sudah kesohor ribuan tahun dan benar saja nama itu bukan nama kosong," katanya. Hari ini aku bisa membuka kedua mataku lebih lebar. Sehabis berkata begitu, ia memutar badan dan dengan sekali menotol tanah dengan ujung kakinya, tubuhnya melesat beberapa tombak jauhnya. Ia berhenti sebentar dan menengok kearah Kak-wan. "Kak-wan Taysoe," katanya. "Orang itu mengatakan, bahwa kitab suci berada didalam minyak. Ia minta aku menyampaikan perkataannya kepadamu." Dilain saat dengan menotol tanah beberapa kali dengan ujung kakinya, ia sudah berada diluar dari rentetan pohon2 pek yang tumbuh disepanjang jalan. Semua pendeta merasa kagum bukan main, karena sesudah terluka berat ia masih bisa bergerak begitu cepat. Kepandaian dan keuletan itu sesungguhnya jarang ter dapat dalam Rimba Persilatan.
Sesudah musuh berlaen, semua pendeta segera mengawasi Thian beng untuk mendengar perintah lebih jauh. Tiba2 seorang pendeta tua yang bertubuh kurus dari Cit loo Sim sian tong berkata dengan suara nyaring dan menyeram kan.
"Siapa yang sudah turunkan ilmu silat kepada murid itu?"
Semua orang bergidik mendengar suara itu yang menyerupai bunyinya seekor burung malam. Thian bong, Boe sek dan Boe siang yang juga ingin mengajukan pertanyaan tersebut, dengan serentak mengawasi Kak wan dan Thio Po. Tapi guru dan murid itu tidak lantas menjawab. Mereka berdiri bengong dengan mulut ternganga.
"Kak wan memiliki Lweekang yang sangat tiggi, tapi bisa dilihat nyata, bahwa ia belum pernah belajar ilmu silat," kata Thian beng.
"Apa yang mengherankan adalah ilmu silat Siauw lim dari anak itu. Siapakah yang sudah mengajarkannya?"
Semua murid Tat mo tong dan Lo han tong menunggu jawaban dengan hati berdebar2. Semua orang menganggap bahwa bocah itu yang sudah merobohkan musuh sedemikian tangguh, pasti bakal mendapat hadiah besar, sadang gurunya pun akan mendapat pujian tinggi.
Melihat Thio Koen Po tidak mejawab pertanyaannya, alis sipendeta tua mendadak berdiri dan pada paras mukanya terdapat sinar Pembunuhan. " Hei! Aku tanya kau. Siapa yang mengajar Lohan koen kepadamu?" tanyanya pula dengan suara keras.
Thio Koen Po segera merogoh saku dan mengeluarkan sepasang Tiat lo han (Lo han besi) yang diberikan kepadanya oleh Kwee Siang.
"Teecoe (murid) belajar dari kedua Tiat lo han ini," jawabnya. "Dengan se-benar2nya Tee coe belum pernah mendapat pelajaran ilmu silat dari siapa juga pun."
Sipendeta tua maju setindak dan berkata pula dengan suara perlahan. "Kau bicaralah se tulus2nya. Siapa yang sudah turunkan ilmu silat kepadamu?" Walaupun diucapkan seperti berbisik, suara itu yang disertai Lweekang yang tinggi, dapat nyata oleh semua orang.
Thio Koen Po merasa sangat kecewa, tapi karena tidak merasa bersalah, maka biarpun melihat paras muka sipendeta tua yang menyeramkan, sedikitpun ia tidak merasa keder. "Tidak, dalam kuil ini, belum pernah ada seorang pun yang mengajar ilmu silat kepada Teecoe" katanya dengan suara nyaring. "Teecoe selalu berdiam di Keng kok, menyapu lantai, masak air dan melayani Kak wan Soehoe. Beberapa pukulan Lo han-koen itu telah dipelajari oleh Tee-coe sendiri dan jika ada gerak-gerik yang kurang benar, Teecoe memohon Loo soehoe sudi memberi petunjuk.
Si pendeta tua mengeluarkan suara di hidung dan kedua mata yaug ber-api2, ia menatap wajah Thio Koeh Po. Lama sekali ia mengawasi muka pemuda itu tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Kak wan tahu, bahwa pendeta Sim sian-tong itu mempunyai kedudukan sangat tinggi dalam Siauw lim-sie dan ia adalah Soesiok (paman guru) dari Thian beng Siausoe. Melihat sikap situa tehadap muridnya, ia merasa sungguh tidak mengerti. Tiba2 waktu kedua matanya kebentrok dengan mata pendeta tua yang penuh dengan sorot kebencian, dalam otaknya berkelebat suatu keingatan. Ia ingat bahwa duapuluh tahun lebhn berselang, secara ke betulan dalam Cong kek kok ia mandapatkan se jilid buku tipis dengan tulisan tangan, yang mencatat suatu peristiwa besar dalam kuil Sauw lim-sie.
Kejadiannya seperti berikut. Pada tujuh puluh tahun lebih yang lalu, Hong thio kuil Siauw lim-sie adalah Kouw tin Siansoe, itu Soecouw atau kakek guru dari Thian beng Siansoe. Menurut adad, setiap tahun sekali ada hari perayaan Tiong-coe, di Tat mo tong diadakan ujian ilmu silat yang dikepalai oleh Hong thio, sIoe coe dari Tat mo-tong dan Lo han-tong. Tujuan dari ujian itu adalah untuk melihat kemajuan para murid Siauw limsie selama satu tahun.
Diluar dugaan, waktu diadakan ujian pada tahun itu, telah terjadi suatu peristiwa yang sangat menyedihkan.
Sesudah semua murid memperlihatkan kepandaiannya, pemimpin Tat mo tong, Kouw tie Siansoe, segera naik kemimbar
dan membincangkan kepandaian setiap murid. Selagi Kouw-tie enak bicara, tiba2 muncul seorangTauw-to, atau pendeta yang memiara rambut, yang lantas saja berteriak; "Omongan Kouw tie Siansoe omongan kentut anjing! Dia sebenarnya tak tahu apa artinya ilmu silat dan berani mati, ia menduduki kursi Soei-co dari Tat mo-tong. Sungguh memalukan!"
Dengan kaget semua pendeta mengawas orang itu yang ternyata adalah Tauw to yaag bekerja didapur sebaai tukang menyalakan api. Pada sebelum guru mereka membuka mulut, murid2 Tat mo-tong sudah balas mencaci dengan kegusaran yang meluap-luap.
"Jangan banyak bacot kau!" teriak Si Tauw to "Gurunya kentut anjing, muridnyapun kentut anjing!" Sehabis memaki, ia berdiri di tengah ruangan dengan sikap menantang. Sejumlah pendetalantas saja maju untuk menghajar Tauwto itu, tapi satu demi satu, mereka dirobohkan secara mudah sekali. Apa yang lebih hebat lagi si Tauwto tidak berlaku sungkan2. Sembilan murid utama dari Tat mo tong telah dijatuhkan dengan luka berat atau patah kaki tangannya.
Kouw tie Siansoe kaget tercampur gusar. Ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat Tauwto itu adalah ilmu Siauw limpay, sehingga dia bukan seorang luar yang sengaja datang untuk mengacau. Sambil menahan amarah, Kouwtie meanaya siapa gurunya. "Aku belajar sendiri, tak satu manusia pun yang mengajar aku," jawabnya.
Apa latar belakang perbuatan Tauwto itu? Ternyata, selama baberapa tahun ia sering dianiaya olah pemilik bagian dapur yang beradat berangasan dan suka main pukul orang sebawahannya. Tiap kali ia muntah darah akibat pukulan pemilik dapur itu yang sering turun tangan tanpa mengenal kasihan. Dengan mendedam sakit hati yang sangat besar, diam2 ia belajar silat. Ia mendapat kesempatan luas untuk mencuri pelajaran, karena hampir semua murid Siauwlim si pandai ilmu silat jika seseorang bertekat untuk melakukan serupa pekerjaan lama atau cepat, ia pasti akan berhasil.
Dibantu dengan kecerdasan otaknya yang melebihi manusia biasa, maka dalam tempo belasan tahun, ia sudah memiliki, kepaudaian yang sangat tinggi. Tapi ia masih tetap menyembunyikan kepadaianaya itu dan terus bekerja sebagai tukang menyalakan api yang dengar kata Kalau dipukul oleh sipemilik dapur, ia sama sekali tidak melawan. Berkat Lweekangnya yang sangat kuat, ia sekarang tidak takut lagi segala pukulan. Dengan sabar ia berlatih terus. Sesudah merasa, bahwa kepandaiannya berada diatas semua pendeta Siawlim sie, pada hari ujian silat, dihari Tiongcoe, barulah ia turun tangan.
Sakit hati yang sadah didendam belasan tahun lamanya, menanam rasa benci terhadap semua pendeta Siauwlimsie, didalam lubuk hatinya, maka itu ia sudah menyerang tanpa sungkan2 lagi.
Sesudah mengetahui sebab musabab kejadian itu, Koawti Siansoe tertawa dengan seraya berkata, "Aku sungguh merasa kagum akan kegiatanmu itu." Ia turun dari mimbar dan satu pertempuran hebat lantas saja terjadi. Pada masa itu, Kouwtie adalah orang yang berkepandaian paling tinggi di-kuil Siauwlimsie.
Mereka berdua segera serang menyerang dengan menggunakan ilmu2 pukulan yang paling hebat dan dalam tempo cepat, mereka sudah bertempur kurang lebih 500 jurus.
Semakin lama pertempuran semakin hebat, sehingga mencapai sesuatu titik yang sangat berbahaya. Pada saat itu, karena mengingat jerih payahnya si Touw to untuk memiliki kepandaianya yang begitu tinggi, dalam hati Kouw tie muncul perasaan sayang dan kasihan. Maka itu, sambil mementang kedua tangannya, ia membentak. "Mundurlah!"
Tapi sungguh sayang, si Tauw to salah tampah maksud orang yang baik. Ia menduga, bahwa dengan mementang kedua tangannya, Kouw tie Siansoe ingin menyerang dengan Sin ciang Pat ta (Delapan pukulan Tangan Malaikat), salah satu ilmu terlihay dari Siauw lim sie. Ia ingat, bahwa waktu berlatih dengan ilmu itu, seorang murid Tat mo tonG pernah mematahkan satu balok kayu dengan pukulan kedua tangannya. Maka ita, ia tahu hebatnya Sin ciang Pat ta. Biar bagaimanapun juga, biar memiliki kepandaian tinggi tapi karena ia belajar dengan mencuri dan tidak mendapat petunjak guru yang pandai, maka ia masih belum bisa menyelami ilmu Siauw lim pay sampai didasarnya.
Ia sama sekali tak tahu, bahWa dengan mementang kedua tangannya, Kouw tie Siansoe sebenarnya mengeluarkan pukulan Hoen kay cian ( pukulan memecah dan membuka) untuk meminjam dan memindahkan tenaga, dengan tujuan menghentikan pertempuran begitu lekas kedua belah pihak melompat mundur. Ia menduga, bahwa Koauw tie ciaag (pukulan pembelah hati), pukulan keenaam dari Sin ciang Pat ta. Dengan menduga begitu, ia berkata dalam hatinya: "Tak begitu gampang kau ambil jiwaku !" la melompat dam memukul dengan kedua tangannya.
Pukulan kedua tangan itu menyambar bagaikan gunung roboh. Dengan hati mencelos Kouw tie Siansoe buru2 membalik tangannya untuk menangkis, tapi sudah tak keburu lagi Dengan satu suara "buk !", tulang lengan kiri dan empat tulang dadanya patah ! Semua pendata kaget dan bingung dengan serentak mereka memburu untuk memberi pertolongan. Tapi Kouw tie yang sudah terluka berat, hanya tersengal2 napasnya dan tidak dapat mengeluarkan sepatah kata lagi. Malam itu ia menutup mata.
Selagi seluruh Siauwlim sie diliputi kedukaan basar, malam itu siauw-To diam-diam menyatroni dam membinasakan sipendeta pemilik dapur serta lima pendeta yang mepunyai ganjelan dengannya.
Kejadian itu menerbitkan kegemparan dan kegusaran yang tiada taranya dalam sejarah Siauw-lim sie. Pendeta pimpinan lantas saja mengirim puluhan pendeta yang berkepandaian tinggi untuk membekuk Tauw to kejam itu, tapi sesudah mencari sana sini diseluruluh Kang-lam, dan Kang-pak(daerah sebelah selatan dan utara Sungai Besar), usaha mereka tidak berhasil.
Dan akibat dari peristiwa itu, dalam Siauw lim sie belakangan muncul gelombang yang merupakan perebutan kekuasaan dan saling salah menyalahi. Dalam gusarnya, pemimpin La han tong, Kouw hoei Sian soe, telah pergi di See ek dimana ia kemudian membentuk sebuah cabang Siauw lim pay. Phoa Thian Keng dan kedua saudara seperguruannya adalah murid2 Kouw hoei Sian soe.
Demikian bunyi catetan dalam buku tipis itu, yang kebetulan dapat dibaca oleh Kak wan.
Sesudah itu, ilmu silat Siauw lim sie merosot banyak. Untuk mencegah terulangnya kejadian itu, para pemimpin lalu mengadakan peraturan, bahwa setiap murid Siauw lim sie hanya boleh belajar silat dibawah pimpinan guru dan bahwa siapa pun juga tidak boleh mencari belajar, orang yang melanggar diancam dengan hukuman sangat berat paling berat hukuman masih paling enteng diputuskan tulang dan uratnya, supaya dia orang barcacat. Selama puluhan tahun, peraturan itu dipertahankan dengan kerasnya dan tak pernah terjadi lagi peristiwa mencari belajar silat. Sesudah lewat banyak tahun, per-lahan2 orang2 mulai melupakan kejadian hebat itu.
Si pendeta tua anggota Sim sian tong itu, adalah salah seorang murid Kouw tie Sian soe. Selama puluhan tahun, ia tak pernah melupakan kebinasaan gurunya yang sangat menyedihkan. Maka itulah, begitu tahu Thio Koen Po memiliki ilmusilat tinggi tanpa mempunyai guru, kejadian yang sudah lampau kembali terbayang didepan matanya dan rasa sedih dan gusar me-luap2 dalam hatinya.
Mengingat apa yang telah dibacanya, tanpa merasa Kak wan mengeluarkan keringat dingin "Loo hong thio!" teriaknya. "Ini .... Koen Po...."
Belum habis perkataan itu, Boe siang Siansoe sudah membentak. "Murid2 Tat mo tong! Majulah! Bekuk dia!"
Hampir berbareng dengan perintah itu, delapan belas murid Tat mo tong segera mdlompat maju untuk mengurung Kak wan dan muridnya. Karena mereka membuat lingkaran besar, Kwee Siang pun turut terkurung di dalamnya.
"Murid2 Lo han tong! Mengapa kau belum mau maju?" seru si pendeta Sim sian tong. Semua murid Lo ham tong segera bergerak serentak dan membuat tiga lingkaran lain diluar lingkaran murid2 Tat mo tong,
Thio Koen Po jadi bingung bukan main, Apakah dengan mengalahkan Ho Ciok Too, ia telah melanggar peraturan kuil ! "Soehoe!" teriaknya. "Aku... aku... "
Kurang lebih sepuluh tahun, Kak wan telah hidup ber-sama2 muridnya dan kecintaan mereka tiada bedanya seperti kecintaan antara ayah dan anak. Ia tahu, bahwa jika Koen Po sampai kena ditangkap, biarpun tidak mati, ia bakal jadi orang bercacad.
"Kalau tak mau turun tangan sekarang, mau tunggu sampai kapan lagi?" tiba2 terdengar bentakan Boe siang Sian soe.
Delapan belas murid Tat mo tong lantas saja mendesak dengan hebataya. Tanpa memikir lagi, Kak wan memutar sepasang tahang besi yang bembuat sebuah lingkaran, disertai dengan tenaga Lweekangnya yang sangat dahsyat, sehingga semua pendeta-pendeta itu tidak bisa maju. Bagaikan senjatanya itu sepasang bandringan, kedua tahang besi itu ter-putar2 dan untuk menyelamatkan diri, murid2 Tat mo tong terpaksa melompat kebelakang. Sesudah semua penyerang terpukul mundur, tiba2 Kak wan menyapu dengan kedua tahangnya dan Kwee Siang masuk ketahang kiri dan Koen Po masuk ketahang kanan. Sesudah itu, bagaikan terbang, ia turun gunung dengan memikul kedua orang muda itu. Semakin lama suara berkerincingnya rantai jadi semakin jauh dan beberapa saat kemudian, tidak kedengaran lagi.
Karena peraturan Siauw lim-sie selalu dijalankan dengan keras. Maka, sesudah Sioe-co Tat mo-tong mangeluarkan perintah untuk menangkap Thio Koen Po, biarpun tahu tak bisa menyandak, semua murid Tat mo-tong lantas saja mengubar. Dalam pengejaran itu, terlihatlah siapa yang berkepandaian lebih rendah dan mengentengkan badannya masih agak cetek, lantas saja ketinggalan dibelakang. Sesudah siang terganti malam, hanya lima orang saja yang masih mengejar terus. Tiba2 jalanan terpecah jadi beberapa cagak. Mereka jadi bingung sebab tak tahu, jalanan mana yang diambil Kak wan. Demikianlah, mau tak mau dengan masgul mereka kembali kekuil untuk mendengar perintah jauh.
Sesudah kabur seratus li lebih, barulah Kak wan berani menghentikan tindakannya. Ternyata, ia sudah masuk kedalam sebuah gunung yang sepi. Meskipun memiliki Lweekang yang sangat tinggi, tapi sesudah lari begitu lama dengan pikulan yang begitu berat, ia tidak bertenaga lagi,
Kwee Siang dan Koen Po lanas saja melompat keluar dari tahang yang separuhnya masih penuh air. Mereka basah kuyup dan sesudah mangalami kekagetan hebat, paras maka mereka masih kelihatan pucat. "Soehoe," kata Koen Po. "Kau mengaso dulu disisi, aku mau pergi cari makanan"
Tapi dalam gunung yang sepi, dimana ia mancari makanan? Sesudah pergi beberapa jam, ia kembali dengan hanya membawa buah buahan hutan. Sesudah menangsal perut mereka mengaso dengan menyender dibatu2.
"Toahweeshio," kata Kwee Siang. "Para pendata Siauw lim-sie kelihatannya aneh-aneh."
Kak wan tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan suara "hemm"
"Benar2 gila," kata pula si nona. "Dalam kuil itu tak seorangpun yang bisa melawan Koen loen Sam seng Ho Ciok Too, yang hanya dapat dipukul mundur dengan mengandalkan tenaga kalian berdua. Tapi sebaliknya dari berterima kasih, mereka berbalik mau menangkap saudara Thio. Benar2 gila! Mereka agaknya tak bisa membedakan yang mana hitam, yang mana putih."
Kak wan menghela napas. "Dalam hal ini kita tidak dapat menyalahkan Loo hong thie dan Boe siang soeheng" katanya. "Dalam Siauw lim sie terdapat sebuah peraturan . .. " Ia tak bisa meneruskan perkataannya karena lantas batuk tak henti2nya.
"Toahweeshia, kau terlalu letih" kata Kwee Siang seraya me-mukul2 punggung sipendeta "Besok saja baru kau ceritakan
."
Kak wan menghela napas, "Benar aku terlalu capai." katanya.
Thio Koen Po segera mengumpulkan cabang kering dan membuat perapian untuk mengeringkan pakaian Kwee Siang dan pakaian nya sendiri. Sesudah itu mereka bertiga lalu tidur dibawah satu pohon besar.
Ditengah malam sinona tersadar. Tiba2 ia medengar Kak wan bicara seorang diri, seperti juga sedang menghafat kitab suci. Antara lain ia berkata: "... Tenang dia merintangi kulit dan buluku, niatku sudah masuk ketulang dia. Dan tangan saling bartahan. Hawa menembus. Yang dikiri berat, yang pikiran kosong, sedang yang dikanan sudah pergi. Yang kanan berat, yang kanan kosong, yang kiri sudah pergi . . . "
Sekarang Kwee Siang mendapat kepastian, bahwa apa yang dihafal si pendeta adalah kitab ilmu silat .
"Toahweahsio tidak mengerti ilmu silat, tapi ia seorang kutu buku yang membaca dan menghafal segala apa yang dihadapinya," katanya didalam hati. "Beberapa tahun berselang, dalam pertempuran pertama dipuncak Hwa san. la telah memberitahukan, bahwa disamping kitab Leng keh keng, Tat mo Loo couw juga menulis sebuah kitab iImu silat yaag dinamakan Kioe yang Cin keng. Ia mengatakan bahwa pelajaran dalam kitab itu dapat menguatkan dan menyehatkan badan. Tapi sesudan berlatih menurut petunjuk2 kitab itu, tanpa marasa guru dan murid itu sudah memanjat tingkatan yang sangat tinggi dalam dunia persilatan. Hari itu, waktu diserang olah musuhnya Siauw Siang Coe, dengan sekali membalas saja, ia berhasil melukakan penyerangnya. Kepandaian yang setinggi itu belum tentu dimiliki Thia-thia atau Toakoko. Cara Thio Koen Po merobohkan Ho Ciok Too lebih2 mengagumkan. Apakah itu semua bukan berkat pelajaran Kioe yang Cin keng? Apakah yang barusan dijajalnya bukan Kioe yang Cin keng?"
Mengingat begitu, perlahan-lahan supaya tidak mengagetkan sipendeta, ia bangun dan duduk. Ia memasang kuping terang terang dan mengingat ingat apa yang di katakan Kakwan "Kalau benar apa yang dihafal Toa hwe shio adalah Cioe yang Cin keng, aku tentu tidak bisa menyelami artinya dalam tempo cepat, pikirnya. "Biarlah besok aka minta petunjuknya."
Sesaat kemudian, Kak wan berkata kata pula: "... Lebih dulu dengan menggunakan hati memerintahkan badan, mengikuti orang lain, tidak mengikuti kemauan sendiri. Belakangan badan bisa mengikuti kemauan hati. Menurut kemauan hati dengan tetap mengikuti orang. Mengikuti kemauan sendiri artinya mandek, mengikuti orang lain artinya hidup. Dengan mengikuti kemauan orang lain, kita bisa mengukur besar kecilnya tenaga orang itu, bisa mengenal panjang pendeknya lawan. Dengan adanya pengetahuan itu, bisa maju dan bisa mundur dengan leluasa."
Mendengar sampai di situ. Kwee Siang menggeleng2kan kepala. "Tak benar, tak benar." katanya didalam hati. "Ayah dan ibu sering mengatakan, bahwa jika berhadapan dengan lawan kita harus lebih dulu mengusai lawan dan sangat sampai diri kita kita dikuasai lawan. Apa yaag dikatakan Toa hweshio tak benar."
Selagi sinona memikir perkataan Kak wan, si pendeta sudah berkata lagi. "Lawan tidak bergerak, kita tidak bergerak. Lawan bergerak sedikit, kita mendului. Tenaga seperti juga longgar, tapi tidak longgar, hampir dikeluarkan, tapi belum dikeluarkan. Tenaga putus, pikiran putus....."
Semakin mendengari Kwee Siang jadi semakin bingung. Semenjak kecil, ia telah dididik bahwa "orang yang bergerak lebih dulu mengusai lawan, sedang yang terlambat gerakannya dikuasai lawan. Dengan lain perkataan, pokok dasari lmu silatnya yalah 'mendului lawan'. Tapi Kak wan mengatakan, bahwa mengikuti kemauan sendiri artinya mandek, mengikuti kemauan orang lain artinya hidup. Dan itu semua adalah sangat bertentangan dengan apa yang telah dipelajarinya.
"Jika aku berhadapan dengan musuh dan pada saat penting, aku mengikuti kemauan musuh2 mau ketimur aku ketimur musuh mau kebarat aku kebarat bukankah demikian, aku seolah olah cari penggebak sendiri?" kata nya di dalam hati.
Ilmu silat yg berpokok dasar. "Menguasai lawan dengan bergerak belakangan" baru dihargai orang pada jaman kerajaan Beng, pada jaman makmurnya partai Boe ciang pay. Maka dapatlah di mengerti, bahwa di waktu itu buntut kerajaan Song perkataan Kak wan membingungkan sangat hatinya Kwee Siang.
Dengan adanya kesangsian itu, banyak perkataan si pendeta tidak dapat ditangkap Kwee Siang. Ketika melirik, ia lihat Thio Koen Po sedang bersila dan mendengari perkataan gurunya dengan sepenuh perhatian. "Biarlah, tak perduli ia benar atau salah, aku mendengari saja," pikirnya. "Dengan mataku sendiri, aku menyaksikan Toa hwashio melukakan Siauw Siang Coe dan mengusir Ho Ciok Too. Sebagai orang yang memiliki kepandaian begitu tinggi, apa yang dikatakannya tentu mempunyai alasan kuat." Memikir begitu, ia lantas saja memusatkan pikirannya dan mendengari setiap perkataan yang diucapkan si pendeta.
Kak wan menghafal terus dan kadang2 dalam kata2nya terselip bagian2 dari kitab Leng-ka-keng. Hal ini sudah terjadi karena Kioe Yang Cin ken sebenarnya ditulis diantara huruf2 kitab Leng-ka-keng, sehingga si pendeta, yang sifatnya agak tolol, dalam menghafal Kioe-yan Cin keng, sudah menyelipkan kata2 dari kitab itu. Tentu saja Kwee Siang jadi makin bingung. Tapi berkat kecerdasan otaknya, ia berhasil juga menangkap sebagian dari apa yahg didengarnya.
Rembulan mendoyong kebarat dan makin lama suara sipendeta jadi makin perlahan. "Teahweeshio" kata si nona dengan suara membujuk. "Kau sudah sangat capai, tidurlah lagi"
Tapi Kak wan sepzrti juga tidak mendengarnya dan berkata pula dengan suara terlebih keras.
" ...Tenaga dipinjam dari orang. Hawa dikeluarkan dari tulang punggung. Dari kedua pundak masuk di tulang punggung dan berkumpul di pinggang. Inilah hawa yang dari atas turun kebawah dan dinamakan "Hap" (MenutuP). Kemudian, dari pinggang hawa itu naik ketulang punggung dan dari tulang punggung meluas sampai di lengan dan bahu tangan. Inilah hawa yang naik dari bawah keatas dan dinamakan "Kay" (Membuka). "Hap" berarti mengumpulkan, sedang "Kay" berarti melepaskan. Siapa yang Paham akan artinya "Hap" dan "Kay" akan mengerti juga artinya Im-Yang (negatif dan positif). . . ."
Suaranya semakin perlahan dan akhirnya tidak terdengar lagi, seperti orang sudah pulas. Kwee Siang dan Thio Koen Po tidak berani mengganggu dan hanya mengingat apa yang barusan didengar.
Tak lama kemudian, bintang2 mulia menghilang, rembulan menyilam kebarat dan sesudah cuaca berubah gelap untuk kira2 semakanan nasi, disebelah timur mulai kelihatan sinar terang.
Kak wan masih tetap bersila sambil meramkan kedua matanya, sedang badannya tidak bergerak dan pada bibirnya tersungging satu senyuman. "Kwee Kauwnio, apa kau tidak lapar?" bisik Koen Po. "Aku mau pergi sebentaran untuk cari bebuahan. Ketika menengok, tiba2 ia lihat berkelebatnya satu bayangan manusia dibelakang pohon dan samar2, orang itu seperti juga mengenakan jubah petapaan warna kuning. Ia tersiap dan membentak: "Siapa ?" Seorang pendeta tua yang bertubuh jangkung muncul dari belakang pohon dan pendeta itu bukan lain daripada pemimpin Lo han tong, Boe sek Siansoe.
Kwee Siang kaget tercampur girang. "Toahweeshio," tegurnya. "Mengapa kau terus membuntut? Apakah kau mau menangkap juga guru dan murid ini ?"
"Biar bagaimana juga, loo ceng (aku sipendeta tua) masih bisa melihat apa yang benar dan apa yang salah," jawabnya dengan paras muka sungguh2. "Aku bukan seorang yang tak tau peraturan. Sudah lama sekali loo ceng tiba disili dan jika mau turuh tangan, loo ceng tentu tidak menunggu sampai sekarang. Kak wan soeteee, Boe siang Sian soe dan murid2 "Tat mo tong mengejar kejurusan timur. Lekas kalian lari kesebelah barat."
Tapi pendeta itu terus bersila dan sedikit pun tidak bergerak. Koen Po mendekati seraya memanggil. "Soe hoe, bangunlah ! Lo han tong Sioe co ingin bicara denganmu."
Kak wan bersila terus. Dengan jantung memukul keras, Koen Po menyentuh pipi gurunya yang dingin bagaikan es. Ternyata, Kak wan sudah meniggalkan dunia yang fana ini.
Simurid munubruk dan memeluk gurunya sambil mengeluarkan teriakan menyayat hati. "Soehoe ! Soehoe !" teriaknya sambil menangis tersedu-sedu.
Boe sek Siauseo merangkap kedua tangannya dan berkata dengan suara perlahan : "dilangit tak ada awan, ditempat penjuru terang benderang angin membawa bau harum, seluruh gunung sunyi senyap. Hari ini bertemu dengan kegirangan besar. Bebas dari bahaya dan bebas pula dari segala penderitaan. Apa tak pantas untuk diberi selamat ?" Sehabis berdoa, orang beribadat itu segera berlalu tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi.
Bukan saja Koen Po tapi Kwee Siangpun mengucurkan tidak sedikit air mata. Sesuai dengan agama mereka jenazah semua pendata Siauw lim sie yang meninggal dunia diperabukan. Maka itu mereka lalu mengumpulkan kayu dan cabang2 kering dan kemudian membakar jenazah Kak wan.
Sesudah bares, Kwee Siang berkata dengan suara terharu. "Saudara Thio, kurasa pendeta2 Siauw lim sie akan terus berusaha untuk menangkap kau. Maka itu kau harus berlaku hati-hati. Disini saja kita berpisahan dan di hari kemudian, kita tentu akan mendapat ke sempatan untuk bertemu lagi."
"Air mata sipemuda itu mengalir turun kedua pipinya. "Kwee Kouwnio katanya dengan suara parau." Kemana saja kau pergi, aku mau mengikut."
Mendengar jawaban itu, sinona merasa pilu bukan main dan ia berkata dengan suara gemetar. "Aku adalah orang yang tengah menjelajah dunia dan aku sendiripun tak tahu kemana aka bakal menuju." Ia berdiam sejenak dan lula berkata pula. "Saudara Thio berusia sangat muda dan tak punya pengalaman dalam dunia Kang ouw, disamping itu pendata pendeta Siauw lim sie tentu bakal terus menerus manguber kau. Begini saja." Seraya berkata begitu, ia meloloskan gelang emas dari pergelangan tangannya dan lalu menyerahkannya kepada pamuda itu. "Bawahlah gelang ini kekota Siang yang dan minta bertemu dengan ayah ibuku," katanya lagi. "Mereka pasti akan memperlakukan kau dengan baik. Begitu lantas kau sudah barada dibawah perlindungan kedua orang tuaku para pendata Siauw lim sia pasti tak akan menyukarkan kaulagi." Dengan air mata berlinang linang, Koen Pa menyambuti gelang mas itu.
Sesaat kemudian Kwee Siang berkata pula dengan suara gerak. "Beritahukanlah kedua orang tuaku, bahwa aku tak kurang suatu apapun dan aku harap mereka tidak memikiri diriku. Ayahku paling suka dengan pemuda yang gagah dan sesudah bertemu dengan kau mungkin sekali ia akan mengambil kau sebagai murid. Adikku sederhana dan polos dan aku merasa pasti ia bisa bergaul rapat denganmu. Hanya Ciecieku yang agak sombong dan jika kalau ada orang yang punya salah sedikit saja, ia lalu menyemprotnya tanpa sungkan2lagi. Tapi asal kau bisa mengalah, kurasa tak bakal terjadi apa-apa yaag tidak diingini." Sehabis berkata ia memutar badan dan terus berjalan pergi.
Dapat dibayangkan bagaimana besar kedukaan Thio Koen Po pada waktu itu. Dengan berlalunya Kwee Siang ia betul merasa, bahwa ia hidup sebatang kara dalam dunia yang leba. Lama, lama sekali ia berdiri bengong didepan tumpukan sisa kayu dan abu bekas membakar guranya. Sesudah kenyang memeras air mata, perlahan-lahan, dengan hati seperti diris-iris, ia berjalan pergi. Tapi baru saja belasan tombak, ia kembali lagi dan lalu mengambil pukulan serta sepasang tahang besi, peninggalan mendiang gurunya. Sesudah itu, barulah ia meninggalkan tempat itu dengan tindakan lumbung, dengan kesepian dan dengan kedukaan besar.
Berselang kurang lebih setengah bulan, ia tiba didaerah Ouwpak dan sudah tak jauh lagi dari kota Siang yang. Untung juga, berkat pertolongan Boe sek Siang soe, dalam perjalanan itu ia tidak bertemu dengan pengejar pengejarnya.
Hari itu, diwaktu lohor, ia berada dikaki sebuah gunung yang besar. Waktu tanya seorang dusun, baru ia tahu, bahwa gunung itu guanung Boe tong atau Boe tong san, yang bukan saja besar dan angker, dengan hutan2 lebat serta tebing2 curam, tapi juga sangat indah pemandangan alamnya.
Selagi enak berjalan sambil memandang keindahan alam, tiba2 ia dilewati oleh dua orang pemuda dan pemudi dusun yang berjalan sambil berendeng pundak. Dilihat gerak geriknya tak bisa salah lagi mereka suami istri.
Dengan kupingnya yang sangat tajam, Koen po dapat menangkap perkataan si isteri yang sedang ngomeli suaminya. "Kau satu laki2 sejati, tapi sebaliknya dari mendirikan rumah tangga dengan tenaga sendiri, kau selalu mengandal kepada Ciecie dan Ciehoemu, sehingga akhirnya kau dihina. Kita berdua masih punya tangan dan kaki dan kita pasti bisa cari makan sendiri. Andaikata kita mesti hidup miskin dengan menanam sayur, tapi kita hidup dengan merdeka. Kau lelaki yang tak punya tulang punggung dan sungguh percuma kau hidup dalam dunia. Orang sering kata, kecuali mati, tak ada urusan besar. Apa kau tidak bisa hidup tanpa mengadai kepada orang lain?"
Sang suami tak berani menjawab mukanya berwarna ungu, seperti juga hati babi. Tanpa disengaja, perkataan wanita itu mengenakan jantung ati Koen Po. "Kau satu laki2 sejati, tapi sebaliknya dari mendirikan rumah tangga dengan tenaga sendiri, kau selalu mengandal pada Cieciee dan Ciehoemu, sehingga akhirnya kau dihina. Apa kau tidak bisa hidup tanpa mnegandal kepada orang lain?" Ia berdiri terlongong memikir kata2 itu. Dilain saat, sang suami mengucapkan bebera perkataan yang tidak dapat didengar oleh nya. Sesudah itu, mereka tertawa berkakakan. Rupanya silelaki sudah mengambil putusan untuk berdiri sendiri dan isterinya jadi girang sekali.
"Kwee Kouwhio mengatakan, bahwa Cie-cie nya beradat jelek dan biasa menyemprot orang tanpa sungkan? sehingga aku harus selalu mengalah," pikirnya. "Aku adalah seorang laki2 sejati, perlu apa aku mesti menunduk begitu rupa didepan orang hanya untuk bisa hidup dengan selamat? Kedua suami istri dusun itu masih mempunyai semangat untuk berdiri diatas kaki sendiri. Masa aku, Thio Koen Po, mesti selalu bernaung dibawah atas orang dan hidup dengan memperhatikan sorot mata tuan rumah?"
Sesudah berpikir beberapa lama, ia segera mengambil putusan gagah. Dengan memikul kedua tahang besi, ia segera mendaki Boe tong san. Mulai waktu itu, ia minum air gunung makan buah2an dan melatih diri berdasarkan Kioe yang Ci keng yang didapat dari gurunya. Berkat kecerdasan dan juga karena apa
yang dipelajari ialah sebuah kitab luar biasa dalam dunia persilatan, maka dalam tempo belasan tahun Lweekangnya sudah mencapai tingkatan tinggi. Pada suatu hari, selagi jalan2 digunung itu, ia menyaksikan pertarungan sengit antara seekor ular dan seekor burung. Dengan segala kegesitannya burung itu meyerang dari berbagai jurusan, tapi ia masih kalah setingkat dari ular itu, hingga akhirnya dia terpaksa melarikan diri. Tiba2 saja Koen Po mendapat serupa ingatan dan tujuh malam, ia merenungkan ingatan itu dalam guha. Mendadak ia tersadar, kedua matanya, seolah menembus suatu tabir rahasia. Ia sekarang dapat memahami suatu pokok dasar yang luar biasa dalam dunia persilatan, yaitu: Dengan "Joe" (kelembekan) melawan "Kong” (kekerasan).
Tanpa merasa ia dongak dan tertawa terbahak-bahak. Tertawa kegirangan itu berarti muncul sutiu Tay cong soe (guru besar) baru dalam Rimba persilatan. Dan ilmu yang didapatnya sendiri, digabung dengan Lweekang berdasarkan Kioe yang Cin keng, ia telah menggubah semacam ilmu silat yang belakangan dikenal sebagai
ilmu silat Boe tong sedang muridnya telah bersatu dalam suatu "partai" persilatan baru yang dinamakan Boe tong pay. Sesudah lewat lagi sekian tahun, pada waktu berkelana di Tiongkok Urara, ia telah bertemu dengan tiga puncak gunung (Sam Hong) yang luar biasa dan oleh karenanya ia lalu menggunakan gelar Sam Hong untuk dirinya sendiri dan luar biasa dalam sejarah persilatan di Tiongkok.
Bagaimana dengan Kwee Siang? Puluhan tahun lamanya, sinoana berkelana diempat penjuru untuk mencari Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Demi kecintaan yang suci murni dari muda sampai tua ia men-cari2 tanpa rasa menyesal sedikitpun juga. Tapi Yo Ko dan Siauw Liong Lie telah melenyapkan diri dan tak muncul lagi dalam dunia pergaulan. Waktu mencapai usia enampuluh tahun, tiba2 Kwee Siang terbuka matanya dan ia tersadar, akan kemudian mencukur rambut dan hidup sebagai pendeta perempuan dipuncak gunung Go bie san. Disitulah, dengan tekun ia melatih diri dam mempelajari ilmu silat,sehingga kian lama kepandaiannya jadi kian tinggi. Belakangan ia juga menerima murid dan serta cucu muridnya mempersatukan diri kedalam satu partai persilatan yang dikenal kedalam partai persilatan yang dikenal sebagai Go bie pay.
Dilain pihak, sesudah menderita kekalahan didepan kuil SiauW lim, Koen Loen Sam Seng Ho Ciok Too pulang kedaerah barat dan sesusai dengan sumpahnya selama hidup ia tak pernah menginjak lagi wilayah Tiong Goan. Sesudah berusia lanjut, barulah ia mengambil seorang murid yang mewarisi seni memetik Khim, ilmu main catur, dan ilmu silat pedangnya. Itulah sebabnya mengapa, walau pun bersumber didaerah Barat yang jauh, akan tetapi murid2 Koen-loen-pay rata rata boen
boecoan cay (mahir dalam ilmu surat dan dan ilmu pedang).
Dikemudian hari, partai rimba persilatan yang paling tersohor ialah Siauw Lim, Boe tong, Go bie dan Koen loen. Dalam keempat partai tersebut banyak sekali orang pandai yang memiliki kepandaian tinggi,
Pada hari itu, waktu Kak wan Taysoe menghafal Kioe yang Cin keng, sebelum ia meninggal dunia ada tiga orang yang mendengarnya yaitu Boe sek Siansoe, Kwee Siang dan Thio Koen Po. Oleh karena pengetahuan padat dan kecerdasan ketiga orang itu berbeda-beda maka apa yang didapati merekapun berbeda-beda pula. Dengan begitu pelajaran ilmu silat Siauw lim Go bie dan Boe tong banyak sekali perbedaanya dan sedikit persamaanya.
Kwee Siang adalah putri ahli2 silat kelas utama dan pelajarannyapun beraneka warna. Maka itu ilmu silat Go bie banyak sekali corak ragamnya dan satu saja dapat dipahami sampai kedasar2nya, sudah cukup untuk membuat orang itu mendapat nama besar.
Mengenai Boe sek Siansoe, pada waktu mendengari Kioe yang Cin keng, ia sendiri memang sudah menjadi seorang ahli kenamaan. Didapatinya Kioe yang Cin keng hanyalah mempertiggi kepandaiannya, tapi pada dasar pokoknya ia tidak menarik keuntungan apapun juga.
Diantara ketiga orang itu, yang menarik ke untungan paling banyak ialah Thio Koen Po. Pada waktu itu, kecuali empat jurus ilmu silat yang ia dapat dari Yo Ko dan beberapa macam pukulan Lo han koen, belum pernah ia belajar ilmu silat. Maka itu ia telah menarik pelajaran2 yang paling murni dari kitab Kioe yang Cin keng. Akan tetapi, oleh karena ia memang tidak pernah belajar dibawah pimpinan guru yang pandai, maka ia kekurangan dasar2 ilmu silat, sehingga banyak sekali bagian Kioe yang Cin keng yang tidak begitu dimengerti olehnya. Belakangan, sesudah mempelajari pertarungan antara ular dan burung, barulah ia tersadar akan seluk beluknya iimu silat. Akan tetapi kejadian itu telah lama dilupakan, sehingga banyak bagian dalam kitab Kioe yang Cin keng sudan tidak diingat lagi olehnya.
Dengan demikian ilmu silat Siauw Lim, Boe tong dan Go bie masing2 mempunyai keunggulan sendiri2 dan kekurangannya2. Ketiga guru besar partai partai itu sama-sama memetik bagian-bagian dari Kioe yang Cin keng dan berdasarkan bakat serta kecerdasan masing-masing, mereka mempelajari, memperbaiki dan lalu menggubah imu-ilmu silat yang luar biasa.
Sebagaimana diketahui kerajaan Goan adalah kerajaan bangsa Mongol yang berkuasa di Tiongkok. Selama jaman penjajahan itu, ilmu surat tidak lagi begitu diperhatikan lagi, karena para penyinta negeri ber-lomba2 belajar ilmu silat. Pada jaman itu, dalam dunia Kang ouw banyak muncul orang2 luar
biasa yang berkepandaian luar biasa pula. Jumlah mereka lebih besar dan kepandaian mereka lebih tinggi dari pada orang2 dijaman buntutnya kerajaan Song, yaitu pada jaman Kwee Ceng, Oey Yong, Yo Ko, Siauw-Liong Lie pay sebagainya. Orang2 gagah yg muncul didaerah Barat kebanyakan murid2 dari Koen-loen-pay, sedang jago2 di wilayah Tiong goan, sebagian besar adalah orang2 Siauw-Lim, Boe-tong dan Go-bie. Disamping itu, masih ada ratusan malahan ribuan partai partai lain yang lebih kecil. Demikianlah sedikit pendahuluan dari kisah Membunuh Naga atau Ie-thian To-liong-kie.
TAHUN itu adalah tahun kedua dari Kaizar Goan-soen-tee. Robohnya Kerajaan Song sudah genap enam puluh tahun.
Waktu itu bulan Shagwee (Bulan Ketiga) Cong soe (orang gagah) yang berusia kira kira tigapuluh tahun, mengenakan baju biru itu dan pakai sepatu rumput, kelihatan berjalan di jalan raya dengan tindakan lebar. Di kedua pinggir jalanan itu, buah tho yang merah dan pohon Hoe yang hijau memperlihat kan keindahannya, tapi orang itu tidak memperhatikan sedikitpun jua.
"Hari ini Shagwee Jie Tie ( Bulan Ketiga tanggal 24)" katanya didalam hati. "Sampai Sie gwee Ceekauw (Bulan Keempat tanggal 9 ) masih ada empat belas hari. Dengan tidak mem-buang2 tempo barulah aku bisa tiba pada waktunya di Giok-hie-kiong, Boetong-san untuk memberi selamat ulang tahun ke sembilan puluh pada In-soe (guru)."
Orang gagah itu she Jie, bernama Thay Giam, murid ketiga dari Thio Sam Hong (Thio Koen Po), Couw soe Boe-tong-pay. Sesudah berusia tujuh puluh tahun, ialah sesudah ilmu silatnya mencapai tingkatan sangat tinggi, barulah Thio Sam Hong menerima murid. Maka itu biarpun sendiri sudah berusia sembilan puluh tahun, tapi tujuh muridnya masih muda. Murid kepala, Song Wan Kiauw belum cukup empat puluh lahun. Sedang murid yang paling kecil, Boh Kok Seng,baru berusia belasan tahun.
Tapi meskipun begitu, meskipun murid2 itu masih berusia muda, mereka sudah melakukan pekerjaan2 yang menggemparkan dunia Kang ouw. Kalau menyebutkan nama mereka, orang2 Rimba Persilatan selalu mengacungkan jempol. Boe-tong Cit-hiap ( Tujuh Pendaikar dari Boe tong) adalah pendekar2 dari sebuah partai yang lurus bersih." kata mereka
Pada permulaan tahun itu, Jie Thay Giam mendapat titan gurunya untuk pergi ke propinsi Hokkian guna membinasakan seorang penjahat besar yang sangat menindas rakyat jelata. Penjahat itu bukan saja berkepandaian tinggi, tapi juga licin luar biasa. Sesudah menyelidiki dua bulan lebih, barulah ia berhasil mencari sarang penjhat itu, yang lalu ditantang olehnya. Dalam pertempuran yang sangat hebat, ia telah membinasakan musuh nya dangan pukulan kesebelas dari Thay kek koen Hian-hian Tohoat. Manurut perhitungan, ia bisa menyelesaikan tugasnya dalam tempo sepuluh hari, tapi diluar dugaan ia memerlukan waktu lebih dari dua bulan. Saat manghitung2, hari ulang tahun kesembilan puluh gurunya ternyata sudah dekat sekali sehingga oleh karenanya, ia buru2 berangkat pulang dari kota Lang lam.
Makin lama jalannya jadi makin sempit dan sisi kanan jalanan itu berdampingan dengan pantai laut. Tiba2 ia lihat tanah datar yang licin mengkilap bagaikan kaca dan dibagi jadi petakan2 yang luasnya kira-kira 7-8 tombak persegi. Sebagai orang yang sering berkelana disebelah selatan dan utara Sungai besar, Thay Giam mempunyai banyak pengalaman, tapi belum pernah ia melihat tanah yang begitu luar biasa. Sesudah menanya seorang penduduk pribumi, baru ia tahu, bahwa petakan2 itu bukan lain daripada sawah garam Untuk membuat garam, penduduk disitu memasukkan air laut kedalam sawah tersebut. Setelah kering, mereka keruk tanah yang mengandung garam yang kemudian dimasak dan dijemur lagi sampai menjadi garam yang putih bersih.
"Sudah tigapuluh tahun aku makan garam, tapi baru sekarang kutahu bagaimana sukarnya membuat garam," katanya didalam hati.
Selagi enak berjalan, se,-konyong2 ia melihat 30 orang lebih yang deagan memikul piKulan, mendatangi dengau cepat dari jalanan Kecil disebelah barat. Mereka itu mengenakan pakaian seragam baja dan celana pendek warna hijau, dan kepala mereka ditutup dengan tudung lebar. Sekelebatan saja, ia bisa menebak, bahwa isi pikulan itu ialah garam.
Ia tahu, bahwa pembesar disepanjang pantai biasanya sangat kejam dan rakus dan biasa memungut bea Cukai garam yang sangat berat. Maka itu, walaupun bertempat tinggal ditepi lautan, rakyat tidak kuat makan garam resmi, dan terpaksa membeli garam gelap. Dilihat potongan badan dan gerakan orang2 itu hampir boleh dipastikan, bahwa apa yang diangkat mereka adalah garam gelap. Hal ini sedikitpun tak mengherankan. Yang mengherankan adalah pikulan mereka. Setiap pikulan bukan bambu dan juga bukan kayu berwarna hitam dan tak mempunyai sifat melenting (membal), sehingga bisa diduga, bahwa pemikul2 itu terbuat dari besi. Apa yang lebih mengherankan lagi, ialah, walaupun saban orang mikul barang yang beratnya tak kurang dari tigaratus kati, tapi tindakan mereka cepat luar biasa, seolah tidak menginjak tanah dan dalam sekejap mereka sudah melewati Jie Thay Giam.
"Kawanan pengusaha garam gelap ini memang juga terdiri dari jago2," katanya dida lam hati. "Sudah lama aku dengar, bahWa Hay see pay (Partei Pasir laut) di Kanglam yang jual bell garam gelap, mempunyai pengaruh yang sangat besar dan anggauta yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi, adalah sangat luar biasa, jika duapuluh lebih ahli silat beramai-ramai memikul garam.°
Jie Thay Giam adalah seorang yang gemar menyelidiki hal2 aneh. Diwaktu biasa, ia tentu akan mencari tahu kejadian yang luar biasa itu. Tapi Sekarang , mengingat hari ulang tahun gurunya, ia sungkan membuang tempo dan sambil mengempos, ia lalu menyusul dan melewati pemikul2 garam itu, yang jadi heran melihat tindakan Jie Thay Clam yang begitu enteng.
Lewat magrib Jie Thay Giam tiba diSebuah kota kecil dan dari keterangan seorang penduduk, ia mengetahui, bahwa kota itu adalah Am tong tin dalam wilayah Cie yauw koan. Dari situ, sesudan menyeberang sungai Cian tong kang ia akan tiba di Lim an dan dengan membelok kejurusan barat laut, sesudan melewati propinsi Kang say dan Ouw lam, barulah ia tiba di Boe-tong. Malam itu, karena tak ada perahu untuk menyeberang sungai, ia terpaksa menginap disebelah rumah penginapan kecil di Am tong tin.
Sesudah makan malam, baru saja mencuci kaki untuk naik keranjang, tiba2 ia dengar suara ribut-ribut dari sejumlah orang yang mau menumpang nginap. Mendengar lidah Ciat kang timar dan suara yang nyaring luar biasa, ia melongok keluar dan ternyata, bahwa orang2 itu bukan lain daripada kawan pemikul garam yang ia bertemu tadi. Menurut kebiasaan, orang2 dari perdagangan garam gelap adalah kaum kasar yang suka sekali minum arak dan makan minum seperti setan kelaparan. Tapi berbeda dengan yang lain, mereka hanya minta disediakan nasi, sayur-sayur dan tauw hu.
Sesudah bersantap, tanpa minum setetes arak, mereka lalu pergi tidur. Jie Thay Ciam sendiri lantas saja bersamadhi dan melatih lweekang untuk beberapa lama sesudah itu, ia segera merebahkan badan diatas pembaringan.
Kira2 tengah malam, dikamar sebelah sekonyong konyong terdengar suara keresekan. Pada waktu itu, Jie Thay Giam sudah menyelami ilnu silat Boe tong pay dan ia sudah mencapai tingkatan yang sangat tinggi, sehingga, biarpun sedang pulas nyenyak, suara keresekan itu sudah cukup untuk menyadarkannya.
Tiba2 ia dengar suara orang berbisik. "Perlahan2. Jangan mengageti tamu dikamar sebelah supaya tidak menimbulkan banyak urusan". Pintu kamar dibuka per lahan lahan dan duapuluh orang lebih itu lantas keluar kedalam pekarangan penginepan. Jie Thay Giam mengitip dijendela. Sambil memikul pikulan, mereka semua keluar dangan melompati tembok, Walaupun tembok itu tidak tinggi, tapi bahwa mareka bisa melompatinya sambil memikul barang yang begitu berat, merupakan bukti, bahwa kepandaian mereka tak boleh di pandang enteng.
"Ilmu Silat mereka belum bisa menandingi aku, tapi dua puluh orang lebih yang rata2 memiliki kepandaian tinggi, bukan kejadian yang sering ditemui," kata Jia Thay Giam didalam hati. Untuk beberapa saat ia berdiri bengong dengan perasaan sangsi. Kata2 orang itu "jangan mengageti tamu dikamar sebelah supaya tidak menimbalkan banyak urusan?" sangat mengganggu pikirannya. Jika ia tidak dengar perkataan itu, biarpun terbiasa, ia tentu sungkan memperdulikan urusan orang.
Tapi kata2 itu sudah lantas membangunkan rasa kesatriannya. "Kejahatan apa yang mau dilakukan mereka tanyanya didalam hati.
"Sesudah berpapasan denganku, tak bisa tidak aku mesti mencampuri. Jika aku bisa menolong satu dua orang, meskipun tidak keburu hadir dalam peringatan hari ulang tahun In-soe, In-soe tentu tak akan gusari aku."
Jie Tay Giam sudah memikir begitu, olah karena setiap kali menerima murid baru, paling dulu Thio Sam Hong menasehati, bahwa sesudah berhasil dalam mempelajari ilmu silat, si murid harus mengutamakan sifat2 kesatria dan selalu bersedia menolong sesama manusia yang memerlukan pertolongan. Itulah sebabnya mengapa nama Boe-tong Cit-hiap tersohor bukan main. Mereka tersohor bukan saja sebab berkepandaian tinggi, tapi juga sebab sepak terjangnya sangat mulia.
Demikianlah, pada saat itu, dengan mengingat nasehat gurunya, Jie Thay Giam segera menyoren golok dan membekal kantong senjata rahasia, akan kemudian melompat keluar dari jendela dan tembok.
Begitu berada di luar rumah penginapan, ia dengar suara tindakan kaki kejurusan timur laut. Buru2 ia mengempos semangat dan mengejar dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Malam itu malam tak berbintang, langit gelap gulita, ditutup awan awan tebal. Melihat tindakan orang orang itu yang cepat liar biasa, seolah olah mereka tidak merasakan tindihan pikulan yang sangat berat, Jie Thay Giam jadi semakin heran. "Penjual garam gelap berjalan ditengah malam buta adalah kejadian yang biasa saja," pikirnya. "Apa yang luar biasa adalah kepandaian orang2 itu. Dengan memiliki ilmu silat yang begitu tinggi, kalau benar2 mereka mau berbuat jahat, jangankan merampok rumah hartawan, sedangkan sekalipun menggarong gudang pemerintah, mereka masih dapat melakukan tanpa bisa dicegah oleh opas2 atau tentara dikota ini. Mengapa mereka mau memikul garam ditengah malam buta untuk mendapatkan keuntungan yang sangat kecil? Tak bisa jadi. Dalam hal ini pasti terselip latar belakang yang luar biasa." Memikir begitu ia terus menguntit.
Berselang kurang lebih setengah jam, kawanan penjual garam gelap itu sudah melalui dua puluh li lebih. Sedikipun mereka tak merasa dibuntuti orang, karena ia berjalan dengan terburu-buru dan juga sebab yang menguntit mempunyai ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi.
Tak lama kemudian, mereka tiba dijalanan yang berdampingan dengan pantai laut dimana gelombang demi gelombang menerjang ketepi dengan mengeluarkan suara keras.
Selagi enak berjalan, mendadak salah seorang yang rupanya jadi pemimpin rombongan mengeluarkan seruan perlahan dan semua kawannya segera menghentikan tindakan. "Siapa?" bentak si pemimpin.
"Apa sahabat2 dari Tiga Pinggir Air?" Balas tanya seorang yang berada di tempat gelap.
"Benar, siapa tuan?" tanya pula si pemimpin.
Jie Thay Giam bingung. "Apa itu, sahabat sahabat dari Tiga Pinggir Air?" tanya didalam hati. Tapi dilain saat ia mandusin dan dapat menebak bahwa "Tiga Pinggir Air" berarti "Hay-see-pay" terdapat huruf "Air".
"Aku menasehati supaya kamu jangan campur-campur urusan To liong to," kata pula orang yang berada ditempat gelap. ( To-Liong to Golok membunuh naga ).
Si pemimpin terkejut. "Apa tuan juga datang urusan To liong-to?" tanyanya.
"Hu hu hu " orang itu tertawa dingin. Dia tidak memberi jawaban.
Mendengar suara tertawa itu, jantung Jie Thay Giam memukul keras. Suara itu aneh tak mungkin dilukiskan bagaimana anehnya dan begitu masuk kedalam kuping, pikiran orang yang mendengarnya lantas kalang kabut, se akan akan belasan ular bulu merayap ditulang punggung. Dengan perasaan sangat heran indap indap ia maju kedepan.
Dengan matanya yang terlatih, segera juga ia melihat, bahwa ditengah jalan menghadang seorang lelaki yang tubuhnya kurus dan kecil. Karena gelap gulita, ia tak dapat melihat tegas muka orang itu. Apa yang dapat di lihatnya ialah orang itu mencekal sebatang tongkat, sedang pada pakaiannya terdapat titik titik sinar yang berkeredepan, sehingga ia menarik kesimpulan bahwa orang itu mengenakan jubah sulam.
"To Liong to adalah mustika partai kami," kata pula si pemimpin Hey see pay. "Golok itu telah di curi orang dan adalah sewajarnya saja jika kami berusaha untuk mendapatkan nya kembali."
Sikurus lagi-lagi tertawa dingin dan tetap menghadang di tengah jalan.
Mendadak, seorang yang berdiri dibelakang si pemimpin, membentak dengan suara keras "Minggir! Dengan mencegat kami, kau hanya mencari mampus..."
Belum habis perkataannya, ia sudah mengeluarkan teriakan menyayat hati dan jatuh kebelakang. Semua kawannya terkesiap. Hampir berbareng, sinar berkeradepan di jubah sikurus kering bergoyang goyang beberapa kali dan dia menghilang dari pemandangan.
Para anggauta Hay see pay kaget tercampur gusar, karena kawan ia yang baru jatuh sudah putus napasnya dan badannya meringkuk beberapa antaranya sudah melepaskan pikulan untuk mengejar sikurus. Tapi musuh itu yang gerakannya cepat bagaikan kilat sudah tak kelihatan bayang2annya lagi.
Jie Thay Giam heran bukan main. "Senjata rahasia apa yang digunakan oleh sijubah sulam?" tanyanya didalam hati. "Cara bagaimana ia dapat membinasakan orang dengan tangan dan badan tidak bergerak? Aku berdiri cukup dekat, tapi tak bisa lihat gerakan apapun juga." la terus bersembunyi dibelakang batu besar, supaya tidak dilihat oleh orang2 Hey see pay yang sedang gusar.
"Biarlah kita tinggalkan jenazah Loo sie di tempat ini untuk sementara waktu," demikian terdengar lagi suara pemimpin. "Kita harus membereskan dulu urusan yang lebih penting. Sebentar, sesudah selesai urusan kita, baru kita merawat jenazah Loo sio. Kitapun harus nyelidiki siapa adanya musuh itu. Semua kawannya mengiakan dan segera berlalu sambil memikul pikulan mereka.
Sesudah mereka pergi jauh barulah Jie Thay Giam keluar dari tempat sembunyi dan mendekati jenazah. Orang itu mati dengan badan meringkuk seperti seekor udang dan dari tanda tandanya kebinasaannya disebabkan racun yang sangat hebat. Sebab takut kena racun, ia tak berani menyentuh mayat itu. Ia jadi sangsi dan sesudah berpikir beberapa saat, ia lalu mengempos semangat dan menyusul kawanan Hay soe pay yang sudah pergi agak jauh.
Sesudah melalui beberapa li si pemimpin rombongan tiba-tiba mengeluarkan seruan perlahan dan semua kawannya segera berpencaran dan mendekati sebuah gedung disebelah timur laut dengan tindakan perlahan.
"Apakah golok To liong to berada dalam rumah itu?" tanya Jie Thay Giam dalam hati.
Diatas gedung besar itu terdapat sebuah lubang asap, darimana terus mengepul asap hitam yang dalam tempo lama berkumpul ditengah udara, tanpa mau buyar. Kawanan penjual garam gelap itu segera menaruh pikulan ditanah dan setiap orang lalu mengeluarkan sendok kayu yang digunakan untuk menyendok semacam benda dari dalam keranjang mereka. Benda itu lalu ditaburkan diseputar gedung. Melihat warna yang putih bagaikan salju, Jie Thay Giam merasa pasti, bahwa benda tu ialah semacam garam.
"Apa yang disaksikan olehku pada malam ini sungguh luar biasa," pikirnya. "Jika diceritakan kepada In soe belum tentu ia mau percaya."
Waktu menyebarkan garam itu, orang2 Hay see pay kelihatan sangat ber hati2 seperti juga kuatir benda itu menyentuh badan mereka. Sebagai seorang yang sudah kawakan dalam dunia Kang ouw, Jie Thay Giam lantas saja mengerti bahwa garam itu mengandung racun hebat untuk mencelakakan penghuni gedung itu. Jiwa kesatrianya lantas saja terbangun. "Siapa salah, siapa benar, aku tak tahu, " pikirnya."Tapi perbuatan orang Hay soe pay terlalu rendah. Biar bagaimanapun juga, aku harus memberitahukan penghuni rumah itu, supaya dia jangan sampai celaka dalam tangan manusia2 rendah," Melihat orang2 itu belum menyebar kan garam dibagian belakang rumah, buru2 ia mengmbil jalan mutar kebelakang gedung dan lain melompat masuk kedalam tembok pekarangan.
Dalam pekarangan yang sangat luas berdiri lima buah bangunan dengan tigapuluh atau empatpuluh kamar dan apa yang mengheran kan, seluruh gedung itu gelap gulita, tidak terlihat sinar lampu atau lilin. "Dirumah tengah, dari mana mengepul asap hitam, pasti ada manusianya, pikir-Jie Thay Glam. Karena kuatir penghuni runah menganggapnya sebagai musuh, ia lalu mengambil sebatang cabang kering, menyalakan api dan lalu menyulutnya. Sambil mengangkat obor itu tinggi2 ia berkata."Murid Boe-tong-pay. Jie Thay Giam, datang berkunjung untuk memberitahukan satu rahasia. Aku tidak mengandung maksud kurang baik, harap kalian jangan curiga," Walau perlahan suaranya tajam dan jauh, sehingga menurut perhitungan, setiap perkataannya bisa didengar oleh penghuni dalam lima rumah itu. Tapi sesudah mengulangi perkataannya dua kali, ia masih juga belum mendapat jawaban.
Jie Thay Giam adalah seorang pendekar dari sebuah partai kenamaan dan tentu saja nyalinya labih besar dari manusia biasa. Biarpun gedung itu menyeramkan, ia sungkan memperlihatkan kelemahan. Tanpa menghunus golok dan dengan hanya mengempos semangat supaya panca indranya jadi lebih tajam, ia segera bertindak masuk kedalam rumah yang mangeluarkan asap hitam.
Setelah melewati sebuah cim chee, ia tiba diruangan belakang. Mendadak ia berdiri terpaku, sebab dipinggir ruang itu menggeletak dua mayat, yang satu mengenakan pakaian too jin (imam), sedang yang lain memakai pakaian petani. Usia kedua orang itu sudah lanjut dan mukanya menyeramkan, seperti juga kesakitan hebat sebelum menghembuskan napas yang penghabisan. Tapi dibadan mereka sedikitpun tidak terlihat tanda-tanda luka barang tajam.
Jie Thay Giam berjalan terus untuk menyelidiki keadaan rumah itu. Ia mendapat kenyataan bahwa setiap pintu terbuka lebar tapi semua kamar gelap gulita, sehingga ia tak bisa lihat apa yang terdapat dalam kamar-kamar itu. Kecuali obor yang dibawanya, tidak terdapat lain penerangan seluruh rumah yang luas itu. Meskipun bernyali besar, mau tak mau hatinya berdebar juga.
Dari situ, ia terus pergi keruangan samping, dimana ia melihat pemandangan yang lebih hebat lagi. Dalam ruangan itu, menggeletak mayat dua puluh orang lebih dengan senjata2 mereka. Dilihat dari muka mayat2 itu, sebagian sudah mati lama juga sebagaian lagi baru saja mati. "Dari senjatanya, diantara mereka terdapat orang2 pandai." katanya didalam hati. "Senjata untuk menotok jalan darah, roda Ngo-heng-loen, Poan-koan pit dan sebagainya. Jika orang2 itu tidak mahir dalam ilmu menotok jalan darah, mereka tentu tidak menggunakan senjata itu. Mengapa mereka mati disini? Mengapa ?"
Semula ia masuk gedung itu dengan sikap sembarangan. Tapi sekarang sesudah melihat mayatnya begitu banyak jago-jago, ia lantas saja berhati-hati. "Murid Boe-tong-pay Jie Thay Giam minta bertemu dengan Cianpwee untak melaporkan suatu urusan," teriaknya kembali. Jawaban tetap tidak ada, tapi diruangan tengah terdengar suara orang meniup api dan suara merontoknya perapian. Dengan tindakan hati-hati, ia lalu menghampiri suara itu dan sesudah melewati tembok dan sekosol, tibalah ia di ruangan tengah.
Ia terkejut sebab merasakan menyambarnya hawa yang sangat panas. Ditengah-tengah ruangan terdapat sebuah dapur besar yang terbuat dari batu dan api di dalam dapur itu menjilat-jilat keatas. Diseputar dapur berdiri tiga orang yang sedang meniup dengan menggunakan tenaga Lweekang, sedang diatas dapur menggeletak melintang sedatang pedang yang panjangnya kira-kira empat kaki. Sebab panasnya, dari merah sinar api berubah hijau dan dari hijau berubah merah, tapi sinar golok tersebut masih tetap berkeredepan dan sedikitpun tidak melumer atau rusak karena panas api.
Ketiga orang rata2 berusia kurang lebih enampuluh tahun dan mereka semua mengenakan jubah hijau. Muka mereka penuh debu dan jubah mereka banyak berlubang akibat peletikan api, diatas kepala mereka mengepul uap putih dan saraya mengempos semangat, perlahan2 mereka meniup api. Setiap kali ditiup, api itu menjilat keatas kira2 lima kaki tingginya dan menggulung golok yang berkeredepan itu. Jie Thay Giam mengerti, bahWa ketiga orang tua itu memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi. Dengan berdiri ditempat yang berapa tombak jauhnya dari perapian itu, ia sudah merasakan hebatnya hawa panas, sehingga dapatlah dibayangkan panasnya hawa yang menyambar ketiga kakek itu, yang berdiri dipinggir dapur. Tapi aneh sungguh, biarpun digulung api yang bersinar hijau, golok itu masih tetap utuh dan Warna nya tidak berubah sama sekali.
Mendadak diatas genteng terdengar suara menyeramkan "Berhenti! Marah golok mustika itu adalah kedosaan besar."
Jantung Je Thay Giam memukul keras, karena ia mengenali, bahwa suara itu adalah suara si jubah sulam. Tapi ketiga kakek itu tidak menghiraukannya dan malahan meniup semakin hebat. Mendadak hampir berbareng dengan terdengar nya suara tertawa dingin, satu bayangan yang bersinar emas berkelebatan dan bagaikan jatuhnya selembar daun, sijubah sulam sudah berdiri ditengah-tengah ruangan. Dengan bantuan sinar api, Jie Thay Giam bisa lihat tegas romannya orang itu, yang ternyata adalah seorang pemuda yang baru berusia kurang lebih duapuluh tahun, dengan muka yang tampan, tapi pucat dan bersorot hijau. Sulaman benang emas dijubahnya yang sangat indah dan mewah, merupakan gambar-gambar harimau, singa bunga-bunga. Dengan sikap tenang dan tanpa membawa senjata, ia berkata dengan suara dingin "Tiang pek sam khim, mengapa kau akan merusakkan senjata mustika itu ? "Seraya berkata, begitu ia maju setindak.
Sikakek yang berdiri disebelah barat mendadak mementang lima jari tangannya yang, terus menyambar kemuka orang. Sijubah sulam mengempas dan maju lagi setindak. Kakek yang berdiri disebelah timur dengan cepat meagambil satu martil yang terletak di pinggir dapur dan lalu menghantam kepala orang. Tapi gerakan pemuda itu gesit luar biasa. Dengan sekali miringkan badan, ia kermbali bisa meloloskan diri dari serangan kedua Martil itu menghantam tempat kosong dan jatuh dilantai dengan muncratnya lelatu api. Ternyata batu lantai bukan biasa, tapi batu gunung yang sangat keras.
Sikakek yang disebelah barat lantas saja bantu menyerang dengan kedua tangan yang jari2nya dipentang seperti cakar ayam. Ia menyerang secara nekat2an dengan pukulan-pukulan yang membinasakan, sehingga Jie Thay Giam jadi merasa sangat heran, "Sakit hati apa yang didendam orang-orang ini, sehingga mereka berkelahi dengan menggunakan pukulan pukulan yang kejam itu?" tanyanya didalam hati.
Tapi kepandaian si jubah sulam benar-benar luar biasa. Walaupun diserang oleh kedua kakek itu, ia masih bersenyum senyum dan melayani dengan sikap acuh tak acuh. Sesudah bertempur beberapa jurus, si kakek yang ber senjata martil membentak: "Siapa tuan ? Biar maui golok mustika, tuan harus lebih dulu memberitahukan she dan namamu,"
Tapi si jubah sulam tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin, mendadak ia memutar badan, disusul dengan suara "krak-krek" dari sikakek yang disebelah timur, terbang menghantam dan menjebloskan atap rumah, akan kemudian jatuh dipekarangan gedung !
Kakek yang martilnya terbang, dapat berpikir cepat. Ia tahu, bahwa mereka tengah menghadapi musuh yang satu, pihaknya dan meskipun tiga lawan satu, pihaknya pasti bakal dapat dirobohkan. Maka itu, buru2 ia mengambil satu jepitan api untuk menjepit golok To Liong to.
Pada waktu itu si kakek yang berdiri disebelah selatan, sudah siap sedia dengan senjata rahasianya dan menunggu kesempatan untuk menimpuk si jubah sulam. Akan tetapi karena gerakan pemuda itu gesit luar biasa, maka sedari tadi ia belum mendapatkan lowongan untuk menyerang. Sekarang, begitu lihat sikakek disebelah timur menangkat jepitan untuk menjepit To-Liong to hatinya terkesiap. Ia yakin, begitu lekas golok mustika itu jatuh kedalam tangan orang lain, ia sukar mendapatkannya kembali. Sesudah sikakek memiliki To liong to, mana mampu ia melawannya? Dalam bingungnya, ia jadi nekad dan bagaikan kilat, tangannya menyambar kedapur dan mencekel gagang golok.
Meskipun tidak sampai lumer sebagai,akibat dari pembakaran yang sangat hebat itu, golok itu panas luar biasa. Begitu tangan sikakek mencekel gagang golok, uap putih mengepul keatas dan semua orang mengendus bau daging dibakar. Tapi ia seperti juga tidak merasa sakit dan membelatak, ia tetap mencekel gagang golok itu. Karena kaget, pertempuran terhenti dan semua orang berdiri terpaku. Dilain saat, kakek itu sudah melompat kebelakang dan kemudian, sambil menenteng To-liong-to, bagaikan seorang edan, ia kabur dari ruangan itu.
Sijubah sulam tertawa dingin "Mana bisa begitu mudah?" katanya seraya turut melompat dan menjabret punggung sikakek yang lalu digentak kebelakang. Orang tua itu membalik tangannya dan To-Liong-to manyambar. Sebelum mata golok tiba, hawa panas sudah menyambar muka sijubah sulam, sehingga rambut dan alisnya lantas jadi hangus.
Pemuda itu terkejut dan tak berani menyambut dengan tangannya. Cepat bagaikan kilat, kedua tangannya mendorong kedepan dan tubuh sikakek terbang kearah mulut dapur!"
Jie Tay Giam yang sadari tadi menonton pertempuran itu sebenarnya tak ingin mencampuri sebab persoalan golok mustika tidak bersangkut paut dengan dirinya. Tapi pada detik jiwa sikakek terancam kebinasaan tanpa memikir panjang2 lagi, ia mengempos semangat dan melompat. Sedang badannya masih berada ditengah udara ia menjambret rambut orang tua itu law mengangkatnya keatas dan kemudian, dengan gerakan yang sangat indah ia hinggap diatas lantai. Lompatan itu yang merupakan ilmu mengentengkan badan paling tinggi dalam Rimba Persilatan dinamakan Tee in ciong "Lompatan awan tangga".
Si jubah sulat dan Tiang-Pek-Sam-khim yang tadinya tidak memperhatikan padanya jadi kaget bukan main.
"Bukankah lompatan itu Tee in ciong yang kesohor dikolong langit?" tanya pemuda itu.
Mendengar orang menyebutkan nama ilmunya. Jie Thay Giam bermula merasa kaget, tapi kemudian ia girang karena mendapat pujian, "ilmu yang cetek itu tiada artinya untuk di-sebut2", jawabnya dengan suara merendah. "Apakah aku bisa mendapat tahu she dan nama tuan yang mulia?"
"Bagus! Bagus!" katanya, tanpa menjawab pertanyaan orang. "Orang mengatakan, bahwa ilmu mengentengkan badan Boe tong pay tiada keduanya dalam dunia. Perkataan itu ternyata ada benarnya juga". Walaupun kata2nya memberi pujian, tapi suaranya bernada sombong, se olah2 seorang Cianpwee orang yang tingkatannya lebih tinggi sedang memuji kepandaian seorang Hoanpwee orang yang tingkatannya lebih bawah.
Jie Thay Giam mendongkol tapi ia menahan sabar. "Dengan sekali bergerak tuan sudah membinasakan seorang jago Hay see pay, katanya kepandaian tuan sungguh2 tak bisa diukur bagaimana tingginya."
Si baju sulam kaget. "Eeh, dia lihat aku, tapi aku sendiri tak lihat dia," katanya didalam hati. "Dimana bocah itu bersembunyi?"
Ia tersenyum tawar dan berkata dengan suara yang tawar pula. "Benar ilmu itu sukar dimengerti oleh orang luar. Jangankan tuan, sedangkan Ciang boen jin Boe tong pay sendiripun belum tentu bisa mengerti."
Jie Thay Giam adalah seorang yang sangat sabar tapi mendengar hinaan terhadap gurunya, darahnya naik juga. Baik juga ia masih bisa menguasai dirinya dan merasa tidak perlu untuk menambah musuh karena beberapa perkataan kurang ajar itu ia bersenyum seraya berkata. "Dalam dunia persilatan memang terdapat banyak sekali ilmu2 yang murni dan yang sesat Boe tong pay hanya memiliki sekelumit ilmu dari lautan ilmu yang dalam dan luas. Ilmu yang dimiliki tuan memang juga tidak dipunyai oleh guruku." Jawabnya yang sungkan itu mengandung duri dan ia seperti juga mau mengatakan bahwa Boe tong pay memang tidak mengerti segala ilmu sesat dan menyeleweng.
Sementara itu, sikakek yang mencekal golok mendadak memutar To Liong to dan lari menerjang keluar.
Jie Thay Giam yang berdiri paling dekat, paling dulu menerima serangan. Tiba2 ia merasakan sambaran angin hebat kearah pinggangnya. Sesudah menolong jiwa orang tua itu, sedikitpun ia tidak duga, bahwa dirinya bakal diserang cara begitu. Pada saat yang sangat berbahaya, ia menotol lantai dengan kakinya dan badannya lantas saja melesat keatas. Kakek itu sendiri terus lari keluar sambil menyabetkan To liong to secara membabi buta.
Si jubah sulam dan dua kakek lainnya tidak berani merintangi dengan kekerasar dan seraya ber-teriak2, mereka lalu mengumbar dari belakang.
Jie Thay Giam pun lantas turut mengudak. Berkat ilmu mengentengkan badannya yang sangat tinggi, biarpun mengubar belakangan, ia lebih dulu menyandak kakek itu, yang lari dengan tindakkan limbung dan kedua tangan mencekel To liong to, seperti juga tidak kuat menentengnya dengan satu tangan.
Begitu tahu dicandak orang, sambil mangeluarkan teriakan keras, ia melompat jauh dengan menggunakan seantero tenaga dan badannya lantas saja melesat keluar pintu depan. Heran sungguh, begitu kedua kakinya hinggap di tanah, ia terguling dan berteriak kesakitan seperti juga terluka berat.
Si jubah sulam dan kedua kakek lainnya menyusul dan coba merebut To liong to. Tapi dengan serentak merekapun turut2 robah dan mengeluarkan teriakan menyayat hati, seolah2 dipagut ular atau lain binatang berbisa. Sijubah sulam yang ilmunya paling tinggi dengan cepat melompat bangun dan lantas kabur sekeras2nya. Tapi ketiga kakek itu terus bergulingan dan tak bisa bangun lagi.
Melihat kejadian luar biasa itu Jie Thay Ciam segera bergerak untuk memberi pertolongan. Mendadak ia kaget sendiri sebab tiba2 saja ia ingat garam beracun yang disebar oleh orang2 Hay see pay. Melihat akibatnya terhadap Tiang-pek Sam khim dan sijubah sulam, racun itu mestinya hebat luar biasa ia tahu bahwa seputar gedung itu telah dikurung dengan garam beracun sehingga ia sendiripun tak tahu bagaimana harus meloloskan diri.
Ia berdiri diam dan mengasah otak. Sekonyong konyong ia lihat dua kursi tinggi dikedua samping pintu dan mendadak ia dapat pikiran baik. Buru2 ia membalik kedua kursi itu dan sambil menggaetkan kakinya dikursi ia berjalan seperti orang main jangkungan.
Ketiga orang tua masih terus bergulingan diatas tanah sambil mengeluarkan teriakan hebat. Thay Giam mengerti bahwa ia sedang berada ditempat yang sangat berbahaya cepat cepat ia merobek ujung bajunya dan dengan menggunakannya sebagai alat ia men jambret punggung sikakek yang mencekal To liong to dan sambil menentengnya ia lari kejurusan timur se-cepat2nya.
Inilah kejadian yang tak di duga2 oleh orang Hay see pang dengan serentak mereka melepaskan sejata rahasia. Tapi Jie Thay Giam yang gerakannya cepat luar biasa dalam sekejap sudah berada diluar jarak senjata rahasia. orang2 Hay see pang tak mau mengerti dan terus mengejar se-keras2nya.
Se konyong2, Jie Thay Giam melompat tinggi, sedang kedua kakinya menendang kedua kursi itu lantas saja terbang kebelakang dan menghantam beberapa pengejarnya. Mereka berteriak kesakitan dan semua kawannya terpaksa berhenti sejenak untuk melihat
keadaan mereka.
Dengan menggunakan kesempatan itu sambil mengempos semangat, Jie Thay Giam mempercepat tindakannya dan dalam sekejap ia sudah meninggalkan pengejarnya jauh sekali.
Sesudah lari lagi beberrapa jauh, ia hanya mendengar suara ombak laut dan suara kejaran musuh sudah tidak terdengar lagi.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.
Sikakek tidak menjawab. Ia merintih kesakitan "Lebih baik cuci badannya yang penuh garam beracun," pikir Thay Giam. Ia segera membawa orang tua itu keair yang cetek dan lalu melemparkannya keair itu, dengan menjaga supaya air laut tidak mengenakan badannya sendiri. Beberapa saat kemudian, kakek itu kelihatan tersadar, tapi belum bisa bangun. Selagi Thay Giam mau mengangsurkan tangan untuk menariknya, tiba2 menyambar gelombang besar yang secara kebetulan, sudah melontarkan badan situa keatas pasir.
"Sekarang kau sudah terlolos dari bahaya dan karena mempunyai urusan panting aku tidak bisa menemani terus, maka disini saja kita berpisahan." kata Thay Giam.
Sambil menekan pasir dengan kedua tangan nya si kakek mengangkat badannya. "Kau kau...mengapa kau tidak merampas golak mustika ini?" tanyanya dengan suara heran.
Thay Giam tertawa. "Biarpun bagus, golok itu bukan milikku," jawabnya. "Bagaimana aku bisa merampasnya?" Si kakek jadi semakin heran. Ia tak percaya dalam dunia ada orang begitu mulia. "Kau..,.kau...tipu busuk apa yang dijalankan olehmu?" tanyanya. "Kau ingin menyiksa aku?"
"Kita sama sekali tidak bermusuhan, bagai mana aku bisa menyiksa kau?" Thay Giam balas tanya seraya tersenyum. "Malam ini, secara kebetulan kita bertemu dan karena merasa tak tega melihat kau terluka, aku sudah memberi pertolongan."
Orang tua itu menggeleng2kan kepalanya. "Jiwaku berada dalam tanganmu, kalaukau mau ,bunuhlah sekarang!" katanya dengan suara keras. Tapi jika kau turunkan tangan beracun, sesudah mati aku akan jadi setan penasaran dan akan terus me-ngubar2 kau."
Thay Giam tahu otak si tua masih kalang kabut dan ia hanya bersenyum tanpa meladesi. Baru saja ia mau berlalu, mendadak menyambar sebuah gelombang besar, sehingga pakaiannya basah kuyup dan kakek sendiri mendekam diatas pasir dengan badan gemetaran.
Dengan adanya kejadian itu, Thay Giam berubah pikiran. "Jika menolong orang, kita harus menolong sampai diakhirnya," pikirnya "kalau aku berlalu, mungkin sekali dia akan mati didalam laut." Memikir begitu, ia lantas saja menjambak punggung si kakek itu dan sambil menentengnya, ia berjalan kearah sebuah bukit, ia mengawasi keadaan diseputarnya dan melihat sebuah rumah kecil yang bentuknya menyerupai kelenteng. Ia lalu pergi kesitu dan benar saja rumah itu rumah berhala yang didepannya terdapat huruf2 "Hay sin bia" Kelenteng Malaikat Laut. Ia menolak pintu dan mendapat kenyataan bahwa kelenteng yang sangat kecil itu hanya mempunyai sebuah ruangan.
Sesudah meletakkan si kekak diatas meja sembahyang, ia mengeluar bahan api, tapi tak dapat menggunakan karena basah. Dalam gelap, ia meraba2 meja sembahyang dan sungguh untung diatas meja terdapat bahan api yang diperlukannya. Ia lalu menyalakan bahan api itu dan menyulut lilin yang tinggal sepotong.
Dibawah sinar lilin ia lihat muka si kakek yang berwarna hijau ungu sebagai tanda keracunan hebat. Dengan kaget ia merogo saku dan mengeluarkan sebutir Thian sin Kay tok tan atau pel pemunah racun. "Telanlah pel ini," katanya.
Si kakek membuka mataya. "Tidak," katanya dengan suara gusar. "Aku lebih suka mati daripada makan pil racunan."
Biar bagaimana sabarpun, Jie Thay Giam naik juga darahnya. Sambil mengerutkan alis, ia berkata dengan suara keras: "Kau anggap aku siapa? Walaupun Boe tong Cit hiap bukan orang2 mulia, mereka sedikitnya bukan manusia2 yang gemar mencelakakan sesama manusia. Sebentar pel ini adalah untuk memunahkan racun. Karena kau sudah kena racun hebat, biarpun belum tentu bisa menolong jiwamu, sedikitnya pel ini bisa memperpanjang usiamu selama tiga hari. Paling benar kau menyerahkan To liong to kepada Hay see pay dan menukarkannya dengan obat pemunah."
Mendadak kakek itu melompat bangun dan berteriak : "Tidak . . . .! Tidak bisa !"
"Perlu apa golok mustika itu, kalau jiwamu sendiri sudah melayang?" tanya Thay Giam.
"Jiwaku boleh melayang, tapi To liong to mesti tetap jadi milikku" jawabnya dengan suara pasti seraya mencekal golok itu erat2 dan menempelkannya dipipinya dengan sikap sangat menyayang.
Jie Thay Giam jadi heran bukan main. Ia sebenarnya ingin menanya, "apa kefaedahan golok tersebut sehingga dicinta sampai begitu. Tapi melihat sorot mata si kakek yang serakah dan ganas, ia jadi merasa muak dan sesudan memutar badan, ia lantas saja berjalan pergi.
"Tahan! Mau kemana kau?" bentak orang tua itu.
Thay Giam tertawa. "Kemudian aku mau pergi, bukan urusanmu," jawabnya sambil berjalan terus. Tapi baru ia berjalan beberapa tindak, mendadak kakek itu menangis keras seperti jeritan binatang yang terluka hebat yang penuh kesakitan dan putus harapan.
Tangisan itu telah membangkitkan rasa kesatria Jie Thay Giam. Ia balik kembali menanya: "Mengapa kau menangis?"
"Sesudah mengalami banyak sekali penderitaan, barulah aku memiliki golok mustika ini." jawabnya. "Tapi sekarang aku tahu, dalam sekejap mata, jiwaku akan terpulang kealam baka. Sesudah aku mati, perlu apa golok mustika ini ?"
"Hm....untuk menyelamatkan jiwamu tak ada jalan lain dari pada menyerahkan golok itu kepada Hay see pay untuk ditukar dengan obat pemunah" kata Jie Thay Giam.
Sikakek menangis meng gerung2. "Aku tak tega untuk menyerahkannya! Tak tega untuk menyerahkan!" teriaknya dengan nada pe
nuh keserakahan.
Thay Giam merasa geli melihat serakahnya orang tua itu tapi dengan menyaksikan penderitaannya yang sangat hebat ia tidak bisa tertawa pula, seorang ahli silat yang sejati hanya mengandalkan kepandaiannya untuk mengalahkan musuh dan dalam sepak terjang ia selalu berjalan lurus dan bersedia untuk menolong sesama manusia supaya namanya tetap harum turun temurun. "Golok atau pedang mustika adalah benda2 yang berada diluar badan kita. Kalau mendapatkannya kita tak usah bergirang, sedang kalau kehilangan kita juga boleh tak usah merasa sedih. Maka itu, perlu apa Lootiang mesti bersedih sampai begitu rupa?"
"Enak saja kau bicara!" bentak sikake! "Apa kau penuh dengan kata2 seperti berikut."
"Boe lim cie coen, po to to liang, hauw leng thian hee boh kam poet cong?" (Yang termulia dalam Rimba Persilatan golok mustika membunuh naga perintahuya dikolong langit tiada manusia yang berani tidak menurut.)
Jie Thay Giam tertawa." Tenta saja aku pernah mendengarnya," jawabnya. "Disebelah bawah parkataan itu masih ada dua baris perkataan lain yang berbunyi:"Ie thian poet coat, swee ie ceng hong?" Sepanjang tahuku, apa yang dimaksudkan dengan ucapan itu ada lah suatu peristiwa yang menggemparkan Rimba Persilatan pada beberapa puluh tahun berselang dan sama sekali bukan membicarakan golok mustika To Liong Ie thian berarti mengandal kepada Langit atau Tuhan. Tapi disini Ie thian adalah namanya sebatang pedang mustika. Maka itu, Ie thian poet coat, swee ie ceng hong! Berarti: "Ie thian tidak keluar siapa lagi yang melawan ketajamannya?
"Kejadian apa yang menggemparkan?" tanya sikakek. "Coba kau ceritakan."
"Peristiwa itu diketahui oleh hampir setiap orang dalam Rimba Persilatan," menerangkan Thay Giam. "Yang dimaksudkan ialah peristiwa dibunuhnya kaisar Mongol Hian cong, oleh Sintiauw Tay Hiap Yo Ko. Mulai dari waktu itu setiap perintah yang dikeluarkan oleh Sintiauw Tay hiap tidak pernah tidak diturut oleh segenap orang2 gagah dikolong langit. Dengan Liong, (naga) dimaksudkan kaisar Mongol dan To liong berarti membunuh kaisar Mongol. Apa kau kira dalam dunia ini benar2 ada naga?"
Si kakek tertawa dingin. "Aku minta tanya. Senjata ada yang biasa digunakan oleh Yo Tay hiap ?" tanyanya.
Thay Giam agak terkejut: "Menurut katanya guruku, Yo Tayhiap berlengan satu dan ia biasanya tidak menggunakan senjata apapun juga," jawabnya. "Tapi pada hari waktu bertempur melawan Kim Loen Hoan ong diluar kota Siang yang, ia menggunakan senjata pedang"
"Senjata apa yang digunakan Yo Tay biap untuk membinasakan kaisar Mongol?" tanya pula si kakek.
"Ia menimpuk Hian cong dengan sebutir batu dan kejadian ini dilihat oleh semua orang." jawabnya.
Orang tua itu kelihatan girang. "Baiklah" katanya. "Menurut katamu sendiri, Yo Tayhiap biasa menggunakan saja tangannya atau tempo2 menggunakan pedang. Senjata yang digunakanya sebutir batu. Dengan begitu, dari mana datangnya perkataan po to to liong atau golok mustika membunuh naga?"
Jie Thay Giam terperanjat dan untuk beberapa saat ia tak dapat menjawab pertanyaan itu. "Ah! Kurasa itu hanya kata2 yang ditemu kan se-enak2nya saja oleh orang2 Rimba Persilatan," jawabnya sesudah selang beberapa saat. "Orang tentu tidak bisa mengatakan 'batu membunuh naga'. Kata2 itu tak enak didengarnya."
Sekali lagi si kakek tertawa dingin. "Alasanmu adalah alasan dibuat2 yang tak ada dasarnya sama sekali," katanya dengan suara mengejek. "Aku mau tanya lagi, apa artinya perkataan Ie thian poet-coet, wee ie ceng hong?"
Lagi2 Jie Thay Giam bungkam. Sesudah mengasah otak beberapa lama, baru ia menjawab: "Mungkin sekali Ie thian namanya orang. Sepanjang cerita, Yo Thayhiap belajar ilmu silat dari istrinya. Bisa jadi Yo Hujin bernama Ie Thian dan mungkin juga perkataan itu dimaksudkan Kwee Tay hiap yang telah membela kota Siang yang mati2an."
"Hm !" si orang tua mengeluarkan suara hidung.
"Aku memang sudah duga, kau tak tahu apa artinya perkataan itu. Sekarang kau dengarlah. To liong adalah sebilah golok yaitu golok To Liong to yang sedang dicekal olehku. Ie thian adalah namanya sebatang pedang. Pedang itu dikenal sebagai Ie thian kiam. Makanya perkataan itu berarti begini: Dalam Rimba Parsilatan, benda yang termulia adalah golok To liong to Segala perintah dari orang yang bisa memiliki golok itu, akan diturut oieh segenap orang gagah dikolong langit. Asal saja Ie thian kiam tidak muncul, maka senjata yang terlihay dalam dunia adalah To liong to sendiri."
Thay Giam separoh percaya separoh tidak. "Boleh aku lihat golok itu ?" tanyanya.
Sikakek memeluk To liong to erat2. "Kau kira aku bocah usia 3 tahun?" katanya dengan suara gusar. "Jangan kau harap bisa akali aku". sesudah kena racun ia sebenarnya tidak bertenaga lagi, tapi setelah menelan pel yang di berikan oleh Jie Thay Giam sebagian tenaga nya pulih kembali dan dapat mengerahkgn Lweekang untuk memeluk golok mustika.
Dilain saat sebagai akibat dari pengarahan tenaga dalam itu napasnya ter sengal2.
"Kalau kau tidak mempermisikan, aku pun tidak ingin memaksa," kata Thay Giant seraya tertawa. "Sekarang sesudah kau memiliki golok mustika To Liong, siapakah yang bersedia untuk menurut perintahmu? Apakah karena melihat kau memeluk golok itu aku segera menurut segala kemauanmu? Benar2 menggelikan menurut pendapatku, kau adalah seorang yang baik tapi sebab percaya segala omongan gila pada akhirnya akan mengorbankan jiwamu sendiri. Hai! Malahan sampai dini detik kau masih belum tersadar juga."
"Bahwa kau tidak bisa memerintah aku adalah suatu bukti bahwa golok itu sebenar nya tidak luar biasa sama sekali."
Sikakek bengong dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata. "Lau tee," katanya sesudah berpikir beberapa lama. "Sekarang kita mengadakan serupa perjanjian. Kau menolong jiwa ku dan aku akan membuka sebagian rahasia dari kebagusannya golok mustika ini. Apa kau mupakat?"
Jie Thay Giam tetawa terbahak2. "Looliang dengan berkata begitu kau sungguh memandang rendah murid2 Boe tong," katanya.
"Menolong manusia yang harus ditolong adalah tugas dari kami semua. Apakah kau kira dalam menolong orang kami mengharapkan pembalasan budi? Kau kena garam beracun, tapi aku sendiri tidak tahu racun apa adanya itu. Maka itulah sebagaimana kukatakan jalan satu2nya adalah meminta obat pemunah dari Hay see pay sendiri."
"Tak mungkin!" kata situa sambil menggelengkan kepala.
"Golok mustika ini telah dicuri dari dalam tangan Hay-see-pay. Mereka sangat membenci aku dan mereka pasti tak akan sudi menolong."
"Dengan menyerahkan golok itu kepada mereka, segala sakit hati akan menjadi hilang." kata Thay Giam. "Perlu apa mereka mengambil jiwamu?"
Tapi sikakek tetap menggeleng2kan kepala, "Kulihat kau mempunyai kepandaian yang sangat tinggi dan kau pasti bisa mencuri obat pemunah dari Hay-see-pay." katanya. "Pergilah curi obat itu dan tolonglah selembar jiwaku."
"Aku merasa menyesal tak dapat meluluskan permintaanmu itu," kata Thay Giam. "Pertama, aku sendiri mempunyai urusan penting dan tidak boleh berdiam terlalu lama ditempat ini. Kedua, kau telah mencuri golok orang dan dalam hal ini, kaulah. Mana bisa aku mengambil pihak yang tidak benar? Lootian, lekaslah kau meminta pertolongan pihak Haysee-pay. Jika terlambat aku khawatir tidak keburu lagi."
Melihat Thay Giam memutar badan untuk segera berlalu, si tua buru2 berkata "Sudahlah, tak apa jika kau tak mau menolong. Tapi aku ingin ajukan sebuah pertanyaan lagi. Pada waktu kau mengangkat tubuhku, apakah akan ada merasakan apa2 yang luar biasa?"
"Benar, aku sendiri merasa sangat heran," jawabnya. "Kau bertubuh kurus dan kecil tapi pada waktu aku mengangkat badanmu aku merasa herat sekali, kira2 ada duaratus kati, Kau tidak membawa barang berat, tapi mengapa berat badanmu begitu hebat ?"
Orang tua itu segera menaruh To-liong to di atas tanah dan berkata: "Nah, coba sekarang kau angkat lagi badanku."
Thay Giam segera mencekal baju si kakek dan mengangkatnya. Benar saja, dengan heran mendapat kenyataan, bahwa berat badan orang tua itu hanya kira2 delapanpuluh kati. "Betul luar biasa," katanya. "Aku tak nyata, berat golok itu ada seratus kati lebih." Sambil berkata begitu, perlahan2 ia melepaskan tubuh si kakek diatas tanah.
"Keanehan golok ini bukan hanya terpihak pada beratnya saja." kata pula si kakek. "Lau-tee, kau she apa, she Jie atau she Thio?"
"Aku she Jie, namaku Thay Giam, Lootiang bagaimana kau bisa menebak begitu?"
Si kakek tertawa seraya berkata: "Diantara Boe-tong Cit-hiap, Song Tayhiap berusia le bih tua dari padamu. In hiap dan Boh hiap baru berusia kira2 duapuluh tahun. Jie hiap dan Sam hiap kedua2nya she Jie. Sie hiap dan Ngo hiap masing2 she Thio. Dalam Rimba persilatan, siapakah yang tidak tahu itu? Lautee kalau begitu kau adalah Jie Samhiap. Tak heran jika kau memiliki kepandaian yang begitu lihay. Nama Boetong Cithiap menggemparkan seluruh dunia persilatan dan kini hari, aku mendapat bukti, bahwa nama besar itu benar2 bukan kosong."
Walaupun masih berusia muda, Jie Thay Giam sudah kenyang makan asam garam dunia Kangouw. Ia mengerti bahwa pujian itu mempunyai maksud untuk dapat pertolongannya, sehingga oleh karenanya ia menjadi kheki terhadap sikakek yang coba mengumpak dirinya.
"Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama Loo tiang yang?" tanyanya.
"Aku she Tek, namaku Seng," sahutnya. "Sahabat2 diwilayah Liao tong memberi gelar Hay tong ceng kepadaku." Hay tong ceng ada lah semacam burung elang yang terdapat didaerah Liao tong. Burung itu ganas dan buas dan biasa makan binatang2 kecil.
"Thay Giam segera merangkap kedua tangannya seraya berkata. "Sudah lama sekali aku mendengar nama besar Loo tiang. Aku merasa sangat beruntung bahwa dihari ini bisa berkenalan dengan Loo tiang." Sehabis berkata begitu ia dongak mengawasi langit.
Tek Sang mengerti bahwa pemuda itu akan segera berangkat pergi. Ia menganggap bahwa untuk menahannya ia harus memancing Thay Giam dengan keuntungan besar. Maka itu, ia lantas saja berkata. "Dalam hal ini ada apa2 yang belum dimengerti olehmu.
Kata2 hauw len2 thian hee, boh kam po pang, pada hakekatnya bukan berarti bahwa perintah orang yang memiliki To Liong to, ia akan dituruti dengan begitu saja oleh orang2 gagah dalam Rimba Persilatan. Bukan arti yang sebenarnya bukan begitu."
Ia berdiam sejenak dan kemudian berbisik: "Jie Lau tee, didalam golok mustika itu tersimpan kitab rahasia ilmu silat. Ada yang kata Kioe yang Cin keng, ada pula yang kata Kioe im Cin keng. Asal saja orang bisa mengeluarkan kitab tersebut dan beralih menurut petunjuk2nya, maka orang itu akan memiliki kepandaian yang sedemikian tinggi, sehingga semua orang tak akan berani membantah segala perintahnya."
Cerita mengenai kedua kitab itu memang per nah didengar oleh Jie Thay Giam dari gurunya. Dulu, pada sebelum Kak wan Taysoe meninggal dunia, guru2 dari Siauw-lim, Boe tong dan Gobie telah memetik beberapa bagian dari Kioe yang Cin keng, tapi kitab itu, sendiri tak diketahui lagi dimana adanya.
Mengenai Kioe im Cin keng, sudah beberapa tahun orang tidak pernah me-nyebut2 lagi kitab itu, sehingga dalam Rimba Persilatan, orang sangat menyangsika kebenarannya cerita itu.
Melihat paras Jie'Thay Giam yang penuh rasa tidak percaya Tek Seng lantas saja berkata lagi: "Sesudah mendapat golok mustika ini, kami bertiga coba mencairkannya dengan menggunakan api guna mengambil kitab yang tersimpan didalamnya. Tapi rahasia itu bocor dan sebelum berhasil, orang sudah datang mengganggu. Jie Lau tee, sekarang aku ingin minta pertolonganmu untuk mencuri pemunah racun. Sesudah aku sembuh, kita bisa pergi ketempat yang sepi dan jauh dari manusia untuk mencairkan To Hong to dan mengambil kitab itu. Dalam beberapa tahun saja, kita berdua sudah bisa menjagoi dikolong langit. Jie Lau tee, bagaimana pendapatmu?"
Thay Giam menggelengkan kepalanya. "Hal itu tidak boleh terlalu dipercaya," katanya. "Jangankan dalam golok itu memang tidak tersimpan kitab, sedangkan, sekalipun benar ada kitabnya, pada sebelum golok itu menjadi cair kitab tersebut tentu sudah menjadi abu."
"Golok itu keras luar biasa dan tak dapat dibuka dengan pahat yang bagaimana tajam-Pun,." kata Tek Seng. "Jalan satunya adalah mencairkannya dengan menggunakan api. Bicara sampai disitu paras Jie Thay Giam mendadak berubah dan dengan tangannya ia mengebut lilin2 yang lantas padam. "Ada orang" bisiknya.
Tek Sen yang Lweekangnya masih kalah jauh dari pemuda itu, tak dapat dengar apapun juga. Baru saja ia mau menanya, disebelah kejauhan mendadak terdengar suara seruan yang saling sambut. "Musuh mendatangi!" katanya dengan suara kaget. "Mari kita kabur dari belakang kelenteng."
"Dibelakang kelenteng juga sudah ada musuh," kata Thay Giam.
"Celaka !" mengeluh Hay tong ceng.
"Tek Loo tiang," kata Thay Giam. "Yang datang adalah orang Hay see pay. Dengan menggunakan kesempatan ini, paling baik kau minta obat pemunah. Aku sendiri tak dapat mencampuri urusanmu dan segala apa terserah atas putusan Lootiong sendiri."
Sikakek ketakutan setengah mati dan ia mencekal tangan Jie Sam hiap erat2. "Tidak, tidak... kau tidak boleh meninggalkan aku....tak boleh meninggalkan aku..." katanya dengan suara gemetar dan ter-putus2.
Thay Giam merasa jari tangan sikakek yang mencekal pergelangan tangannya bagaikan jepitan besi, dingin seperti es. Dengan sekali membalik tangan, ia melepaskan cekalan itu dan berbalik mencengkeram lima jerijinya orang itu. Tek Seng merasa tulang jerijinya seperti mau patah, tapi pada saat itu ia yakin, bahwa orang satu2nya yang bisa menolong jiwanya adalah pemuda itu. Untuk menyerahkan To-liong to yang telah direbutnya dengan mempertaruhkan jiwa, ia sungguh tak rela lebih tak rela daripada memotong dan memberikan sepotong dagingnya sendiri.
Maka itu, se-konyong2 ia memeluk Thay Giam dengan tangatnnya, secara nekat2an.
Dengan kaget pemuda itu menggoyang pundak untuk melepaskan pelukan itu. Tapi mati2an sikakek memeluk terus seperti orang kalelap diair. "Krek...krek..." demikian terdengar suara berkekreknya tulang. Thay Giam mengerti, bahwa jika ia mengerahkan Lwekang lagi, tulang kedua lengan Tek Seng akan lantas menjadi patah. Hatinya tak tega dan ia tidak mengeluarkan lagi tenaga dalamnya. "Lepas!" bentaknya.
Sesaat itu, suara tindakan kaki sudah tiba di luar kelenteng disusul dengan suara gedebrukan dan pintu terpental karena ditendang orang Thay Giam terkesiap. "Orang ini bukan lawan enteng." pikirnya. Hampir berbareng ia mengendus bau amis dan didalam kegelapan serupa benda dilontarkan kedalam.
Dengan sekali menggoyang badan, seperti seekor cacing ia meloloskan diri dari pelukan Tek Sang dan dengan kecepatan luar biasa, sebelum benda itu atau senjata rahasia mengbantam, ia sudah melompat kebelakang patung Malaikat laut. Hampir berbareng. ia dengar teriakan sikakek yang lantas roboh bergulingan dilantai, sedang senjata rahasia itu masih terus dilepaskan tak henti2nya.
Semakin lama bau amis jadi semakin hebat seolah2 ratusan ikan busuk dilemparkan kedalam kelenteng itu. Tek Seng yang sudah bisa bangun kembali, melompat kesana sini dengan tindakan limbung seperti orang mabuk tapi karena ruangan itu sangat sempit dan juga sebab keadaannya memang sudah payah, maka beruntun senjata2 rahasia itu mengenakan badannya dengan jitu.
Sesudah mendengar suara menyambarnya, Thay Giam berkata dalam hatinya : "Senjata apa itu? pasir beracun? Kalau pasir beracun, bagaimana Tek Seng bisa mempertahankan diri begitu lama?" Dilain saat ia mendusin. "Ah! Tak salah! Garam beracun dari Hay-see-pay," pikirnya. Walaupun kepandaian tinggi, tapi karena garam menyambar terus menerus mama mana ia berani menerjang keluar? Sementara itu diatap kelenteng kembali terdengar suara keras dan atap itu lantas saja berlubang di susul dengan turunnya garam dari lubang tersebut.
Sampai disitu Jie Thay Giam yang bernyali besar keder juga hatinya. "Celaka! Tak dinyana aku harus membuang jiwa ditempat ini ia mengeluh. Ia ingat kejadian pada waktu si jubah sulam dan Tiang pek Sam khim kena garam beracun. Ketika kakek itu, sudah tak usah dikatakan lagi, tapi malahan si Jubah sulam yang berkepandaian tinggi masih tak tahan menghadapi garam itu. Ia merasa dadanya menyesak dan hampir2 muntah karena bau amis itu dan ia yakin bahwa dalam tempo cepat ia tak akan bisa terlolos lagi dari racun yang menyambar dari depan dan turun dari atas seperti hujan gerimis dalam bingungnya ia menghantam punggung patung yang lantas saja berlubang besar, melihat begitu hatinya girang dan buru2 masuk kedalam perut patung. Dengan adanya aling2 itu garam itu tak bisa mencelakakan dirinya lagi.
Karena bekerjanya racun garam agak lambat, maka meskipun Tek Seng berteriak kesakitan ia masih bergulingan.Sementara itu karena merasa jerih akan kepandaian Jie Thay Giam orang2 Hay see pay belum berani menerjang masuk dan masih terus menimpuk dengan senjata rahasia mereka untuk menunggu sampai tak berdayanya kedua musuh itu.
Menurut kebiasaan senjata rahasia beracun yang dikenal dalam dunia Kang ouw, seperti jarum emas, pasir besi dan sebagainya, mencelakakan manusia sesudah senjata itu menancap ditubuh dan racunnya masuk kejalanan darah. Tapi bekerjanya racun Hay see pay sedikit berbeda. Sesudah garam itu menempel dikulit, racunnya masuk kedalam badan manusia dengan per-lahan2 sampai sikorban binasa, Jie Thay Giam mengerti bahwa dengan bersembunyi didalam perut patung, ia tak akan bisa menghentikan serangan Hay see pay. Tapi karena tak ada jalan yang lebih baik ia harus menunggu sampai tumpukan garam itu mereda dan barulah coba menerjang keluar dari lubang asap.
Ia segera mengeluarkan pel pemunah racun yang lalu ditelannya dan kemudian memusat ken semangat seraya menjalankan pernapasannya. Beberapa saat kemudian dadanya yang menyesak jadi lega kembali.
Sementara itu, orang2 Hay see pay yang berada diluar kelenteng berdamai dengan suara perlahan.
"Tak ada suaranya lagi mungkin mereka sudah pingsan" kata yang satu.
"Tunggulah sebentar. Pemuda itu lihay sekali kita tidak boleh ter-gesa2" kata yang lain.
"Sekali ini kita mendapat hasil besar dan Toako pasti akan memberi hadiah yang besar juga" kata orang ketiga.
Tiba2 terdengar bentakan keras: "Hei! Lebih baik kamu menakluk supaya jangan membuang jiwa secara cuma2." Bentakan itu disusul dengan teriakan komando dan beberapa belas orang lantas saja menerjang masuk. Mereka semua sudah memakai obat pemunah sehingga tak takuti lagi garam beracun.
"Dengan Heng-see-pay aku tidak mempunyai ganjelan apapun juga, sedang kedatanganku di sini juga bukan untuk merebut o-liong- to," Sekarang paling benar aku munculkan diri dan coba mendamaikan mereka." Tapi dilain saat ia mendapat pikiran lain.
"Tidak bisa,tidak bisa aku berbuat begitu." pikirnya, "Boe tong-pay adalah sebuah partai besar yang namanya menggetarkan Rimba Persilatan. Jika aku ke luar dan coba bicara baik2 dengan mereka, artinya seperti juga aku menekuk lutut dan sikapku ini sangat memalukan guruku.''
Selagi ia bersangsi, ditempat yang jauh memdadak terdengar serupa seruan. Seruan itu halus bagaikan benang sutera. tapi tajam, dan menusuk kuping, sehingga orang yang mendengarnya ber-debar2 hatinya. Dilain saat seruan itu sudah terdengar didepan kelenteng, sehingga bukan main kagetnya Thay Giam karena kecepatan yang sungguh luar biasa. Pertama kali, seruan itu terdengar ditempat yang jaraknya beberapa li dan dilain detik sudah tiba didepan pintu.
Dalam dunia ini kecuali beberapa macam burung yang terbangnya luar biasa cepat, baik manusia maupun binatang tak akan mempunyai kecepatan yang begitu hebat. Lebih aneh didengar dari suaranya seruan manusia.
Hampir berbareng dengan berhentinya seruan itu, Tek Seng mengeluarkan teriakan ketakutan. "Kau....kau juga maui To liong...Peh bie" Peh bie berarti Alis putih.
Mendadak diluar kelenteng terjadi perubahan luar biasa. Puluhan orang Hay see pay tiba2 bungkam mulutnya. Keadaan sunyi senyap se-olah2 puluhan manusia itu berubah menjadi batu. Mereka seperti juga melihat sesuatu yang sangat menakuti sehingga bahwa takutnya, tak dapat mereka mengeluarkan suara lagi.
Beberapa saat kemudian kesunyian itu dipecahkan dengan suara "bruk!" dan salah seorang roboh terguling. Robohnya orang itu disusuri dengan teriakan yang gemetar:" Peh bie!.... Lari. ayo lari!...." Teriakan itu putus ditengah jalan. Mungkin sekali orang yang berteriak tak bisa meneruskan teriakannya dan kawan2nya tak kuat lari lagi, sebab sesuatu yang ditakuti sudah masuk kedalam klenteng.
Jie Thay Giam heran tak kepalang. "Apa itu Peh bie?" tanyanya didalam hati. "Apa binatang buas atau manusia yang lihay luar biasa, sehingga semua orang ketakutan begitu rupa?"
Se-konyong2 terdengar suara seorang: "Kauw coe Pemimpin Agama tanya kamu, dimana adanya To Liong to. Lekas keluarkan. Kauw coe berhasil mulai dan akan mengampuni kamu semua. Suara itu manis dan lemah lembut, tapi mengandung keangkeran.
"Dia...dia yang curi," demikian terdengar jawaban seorang Hay see pay. "Kami datang kemari justru untuk coba merebut pulang Kauw coe.....Kauw coe....."
"
"Eh, mana golok mustika itu?" tanya suara yang manis itu. Thay Giam tahu, orang itu menanya Tek Seng, Tapi kakek itu tidak menjawab. Dilain saat terdengar robohnya sesosok tubuh.
"Celaka! Tek Seng dibinasakan," pikir Thay Giam. Ia yakin, bahwa dengan seorang diri, ia bukan tandingan musuh. Tapi sesudah mencampuri urusan ini, ia merasa malu untuk bersembunyi terus. "Mundur dada waktu berbahaya, bukan perbuatan seorang lelaki," katanya didalam hati. Baru saja ia mau melompat keluar, mendadak terdengar suara yang dingin: "Dia sudah mati karena ketakutan. Geledah badannya,"
Lain2 Thay Giam terkesiap. "Mati sebab ketakutan?" tanya dalam hati. Sementara itu sudah terdengar suara dirobeknya pakaian dan dibolak baliknya badan manusia. "Melaporkan kepada Kauw coe, bahwa dibadan orang ini tidak terdapat apapun juga," kata orang yang suaranya lemah lembut.
Perkataan orang itu disusul dengan suara pemimpin Hay see pay yang berkata dengan suara gemetar ; "Kauw coe ... terang dia yang mencuri. Kami tak berani berdusta...." Ia bicara dengan ketakutan sangat hebat, seperti juga nyalinya hancur, sehingga bulu roma Jie Thay Giam bangun semua.
"Benar2 heran." Katanya didalam hati. "Golok mustika itu memang dicekel Tek Seng. Ke mana perginya."
"Kamu mengatakan bahwa golok inustika itu dicuri olehnya, tapi mengapa tak kedapatan?" tanya pula orang yang suaranya manis. "Tak salah lagi kamulah yang menyembunyikannya. Begini saja! Siapa yang bicara terus terang, dialah yang diampuni jiwanya. Diantara kamu hanya seorang yang boleh hidup terus. Siapa yang bicara lebih du1u, dialah yang dapat pengampunan."
Keadaan sunyi senyap dan beberapa saat kemudian, barulah si pemimpin Hay-see-pay berkata : "Dengan sejujurnya kami melapor kan kepada Kauwcoe, bahwa kami tidak tahu menahu tentang hilangnya golok mustika itu. Tapi kami berjanji akan berusaha untuk menyelidiki sampai se-terang2nya"
Kauwcoe itu tidak menjawab ia hanya mengeluarkan suara dihidung.
Orang yang suaranya manja berkata lagi. "Siapa yang bicara terus terang, dialah yang boleh hidup terus" Keadaan kembali sunyi senyap.
Tiba2, kesunyian yang menakuti itu dipecahkan oleh teriakan seorang. Dengan se-betul2nya kami sedang mencari golok mustika itu, yang mendadak menghilang secara luar biasa. Jika kau tetap tidak percaya, dari pada mati konyol, lebih baik kami melawan mati2 an sampai dimana kepandaian Peh bie Kauw..." Suara itu berhenti ditengah jalan dan keadaan kembali sunyi senyap. Rupanya dia sudah binasa dengan begitu saja.
"Tadi seorang lelaki yaag berusia kira? 30 tahun telah menolong kakek itu," menerang kan Hay see pay. "Dia mnemiliki ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi. Entah kemana perginya sekarang. Golok mustika itu pasti dibawa lari olehnya,"
Kauw coe itu kembali mengeluarkan suara dihidung dan kemudian berkata dengan suara dingin; "Ampuni jiwa orang ini.." Hampir berbareng terdengar kesiuran angin dan ia sudah keluar dari pintu kelenteng. Tiba2 terdengar pula suara, nyaring ditempat yang jauhnya belasan tombak.
Jie Thay Giam tak bisa menahan sabar lagi seraya melompat keluar dari perut patung ia berteriak "aku berada disini jangan celakakan orang!"
Tapi keadaan lagi2 sunyi senyap. Thay Giam mengawasi disekitarnya dan ia lihat semua orang berdiri seperti patung ia heran bukan main dan buru2 menyulut lilin diatas meja sembahyang. Mendadak ia mengeluarkan seruan tertahan karena dua puluh lebih anggota Hay see pay berdiri tegak tanpa bergerak seperti juga tertotok jalanan darahnya sedang muka mereka mengunjuk rasa takut yang sangat hebar dengan nyalinya yang besar dan pengalamannya yang luas tak urung jantung Thay Giam memukul keras,
"Bagaimanakah lihaynya Kauw-coe Peh bie kauw it"?" tanyanya didalam hati. "Orang2 Hay see pay bukan sembarang orang tapi mengapa bertemu dengan Kauw coe, mereka ketakutan sampai begini rupa ia mengangsurkan tangannya dengan niatan menotok jalanan darah Hoa kay hiat dari salah seorang itu untuk membuka jalanan darahnya yang tertutup.
Tapi lagi2 ia kaget jerijinya menotok jalanan darah yang sudah membekuk dan orang itu tetap tidak bergerak setelah memeriksa pernapasannya baru dia tahu dia sudah binasa? Kecuali seorang semua anggota Hay see pay sudah binasa sebab totokan perjalanan darah yang membinasakan orang yang masih hidup itu yaitu orang yang bicara paling belakang sebab dilantas dengan napas ter-sengal2.
Rasa heran dan kagetnya Thay Giam sukar dilukiskan benar ia tak mengerti bagaimana dalam sekejap mata, Kauw coe itu bisa membinasakan dua puluh orang lebih yang berkepandaian tinggi sambil mengangkat tubuh orang itu ia bertanya: "Agama apa Peh bie kauw? Siapa Kauw coe itu?" Orang itu tidak menjawab pertanyaannya yang diulangi beberapa kali dia hanya mengawasi dengan mata membelalak. Thay Giam memegang nadinya dan ternyata aliran darah orang itu sudah kalang kabut sebagai tanda bahwa beberapa uratnya telah diputuskan sehingga ia menjadi gagu dan terganggu otaknya.
Darah Jie Thay Giam lantas saja meluap. "Apa itu Peh-bie kauw? Mengapa dia begitu kejam?" tanyanya didalam hati dengan penuh kegusaran. Tapi ia tabu, bahwa ia bukan tandingan orang itu. Sesaat itu juga, ia sudah menghitung2 tindakan yang akan diambilnya. Ia ingin segera berangkat ke Boe tong san untuk melaporkan kejadian itu dan menanyakan asal usul Peh bie kauw kepada gurunya. Ia berniat mengajak semua saudara seperguruannya untuk menyatroni manusia yang dinamakan Peh bie Kauwcoe. Ia menganggap, bahwa walaupun Kauwcoe itu lihay luar biasa Boe-tong Cithiap masih dapat menandinginya.
Melihat garam beracun yang tersebar diseputar kelenteng itu, ia menghela napas panjang. "Orang2 Hay see pay juga bukan manusia baik2, sehingga kebinasaannya yang begitu rupa mungkin ada pantasnya juga," katanya didalam kelenteng sangat tak pantas dan orang bisa celaka, jika kebetulan datang disini."
Memikir begitu ia segera mangambil golok dan menggali satu lubang besar didalam kebun sayur. Sesudah itu, dengan hati2 ia mengangkat mayat2 itu yang lalu memasukkan kedalam lubang. Sesudah memindahkan belasan mayat, tiba2 ia terkejut, karena mayat itu berat luar biasa, sedangkan badannya hanya berukuran sedang. Ia segera memeriksa dan ternyata, dari pundak terus kepunggung mayat itu terdapat luka besar yang sangat panjang. Begitu ia meraba tangannya menyentuh benda yang keras dingin dan setelah ditarik keluar benda itu bukan lain daripada To liong-to yang diperebuti!
Secara kasar ia segera menebak apa yang sudah terjadi. Rupanya, begitu melihat Peh-bie Kauwcu, Hay-tong ceng Tek Seng hancur nyalinya dan ia mati ketakutan. Pada waktu menghembuskan napasnya yang penghabisan golok itu terlepas dari cekalannva dan jatuh dipunggung orang itu. Karena berat dan tajam To Liong to amblas dibadan orang itu.
Maka itu tidaklah heran jika pada waktu menggeledah semua orang, kaki tangan Kauw coe tidak bisa mendapatkan apapun juga.
Kalau dalam hati Jie Thay Giam tidak muncul rasa kasihan mungkin sekali golok mustika yang menggemparkan itu, akan hilang dari dunia persilatan.
"Golok ini adalah mustika dalam Rimba Persilatan," kata Thay Giam dan dalam hatinya "Akan tetapi, menurut pendapatku, senjata ini bukan senjata yang mujur. Hay tong ceng Tek Sang dan-puluhan orang Hay see pay binasa karena gara2 To liong to. Sekarang paling benar aku mempersembahkan senjata ini kepada Soehoe, untuk meminta keputusan."
Sesudah selesai menguburkan semua mayat itu, karena kuatir garam beracun mencelakakan rakyat, ia segera mencari cabang2 kering yang lalu disulut untuk membakar kelenteng tersebut. Dibawah sinar api itu ia lalu meneliti golok mustika itu yang ternyata berwarna hitam bukan besi dan juga bukan emas, entah dibuat dari logam apa. Dari gagang sampai badannya samar2 terlihat garisan2 yang berwarna biru. Dengan mata kepala sendiri, ia telah menyaksikan dibakarnya golok itu, tapi sungguh aneh, golok tersebut tidak rusak sedikitpun. "Bagaimana orang bisa menggunakan golok yang begini berat?" tanyanya didalam hati. "Dulu, Ceng liong Yan-goat to dari Kwan Ong-ya, yang mempunyai tenaga malaikat, hanya delipan puluh satu kati beratnya," Kwan Ong-ya, Kwan Kong dari jaman samkok.
Ia segera me masukkan golok itu kedalam buntalannya dan kemudian berkata dengan suara perlahan didepan kuburan Tek Seng. "..Tek Loo tiang, bukan mau serakahi golok ini. Tapi karena To liong to senjata luar biasa, maka jika jatuh ketangan manusia jahat, bencananya bukan kecil. Aku ingin menyerahkannya kepada Soehoe, seorarg adil yang berhati mulia, yang tentu akan bisa
membereskan persoalan golok ini se-baiknya."
Sesudah berkata begitu, ia lalu menggendong buntalannya dan meneruskan perjalanan kejurusan utara.
Sesudah berjalan kurang lebih setengah jam tibalah ia ditepi sungai. Ketika itu ribuan bintang yang sinarnya sudah suram masih berkelip kelip diatas sungai. Ia mengawasi keberbagai jurusan tapi tak terlihat sebuah perahu pun. Ia lalu berjalan disepanjang gili2 dan kira2 semakanan nasi, ia lihat sinar lampu dari sebuan perahu penangkap ikan yang terpisah kira2 belasan tombak dari tepi sungai.
"Toako penangkap ikan!" teriaknya. "Tolong seberangkan aku?"
Karena perahu ikan itu terpisah terlalu jauh sipenangkap ikan rupanya tidak mendengar teriakannya.
Thay Giam segera mengempos semangat dan berteriak lagi. Terikan itu yang disertai dengan Lweekang yang sudah dilatih kira2 dua puluh tahun nyaring dan sangat tajam. Beberapa saat kemudian dari aliran sebelah atas muncul sebuah perahu kecil yang menggunakan layar dan yang perlahan2 menempel ditepi sungai. "Apa tuan mau menyeberang" tanya si juru mudi.
"Benar, aku ingin minta pertolongan Toako untuk menyeberangkan aku," jawabnya dengan girang.
"Sekali menyeberang ongkosnya satu tahil perak." kata pula juru mudi itu.
Permintaan itu sebenarnya terlalu mahal tapi sebab ingin buru2, Thay Giam tak rewel lagi. "Baiklah," katanya seraya melompat turun kedalam perahu yang melesak kedalam air.
"Tuan, bawa apa kau ? Mengapa begitu berat," tanya juru mudi itu dengan perasaan heran.
Jie Thay Giam segara mengangsurkan sepotong perak dan menjawab sambil tertawa : "Tak apa2. Badanku berat. Ayohlah"'
Si juru mudi kelihatannya bercuriga dan berulang kali melirik buntalan Thay Giam. Sesaat kemudian, dengan menuruti aliran air, perahu itu belayar dengan mengambil arah timur laut. Sesudah melalui satu li lebih tiba2 terdengar suara gemuruh.
"Juru mudi, apa mau turun hujan?" tanya Thay Giam.
"Bukan." jawabnya seraya tertawa, "Guru itu suara air pasang sungai Cian tong kang. Dengan mengikuti aliran air pasang. dalam sekejap kita bisa sampai dilain tepi."
Thay Giam mengawasi kearah suara itu. Jauh2 ia lihat sehelai garis putih yang mendatangi dengan ber-gulung2. Suara itu kian lama kian menghebat dan gelombang juga jadi makin besar. "Baru sekarang kutahu, bahwa diantara langit dan bumi terdapat pemandangan yang seangker ini," katanya didalam itati. "Tidak cuma2 aku membuat perjalanan ini." Dilain saat, ombak sungai sudah tiba dan mendorong perahu dengan kekuatan luar biasa.
Selagi memandang dengan penuh perhatian se-konyong Thay Giam mengeluarkan seruan tertahan, karena dipuncak ombak terlihat sebuah perahu yang menerjang kedepan menurut gerakan ombak itu. Apa yang luar biasa ialah pada layar putih dari perahu itu terdapat lukisan yang merupakan sebuah tangan berwarna merah dengan lima jeriji yang terpentang lebar. Karena memiliki mata yang sangat tajam, biarpun didalam kegelapan, dalam jarak puluhan tombak ia sudah bisa lihat tangan berdarah itu.
Sijuru mudi sendiri baru bisa melihatnya sesudah perahu itu datang terlebih dekat. Mendadak ia mengeluarkan teriakkan ketaku tan:" Hiat chioe hoan." (Hiat chioe hoan perahu layar Tangan berdarah).
"Apa itu Hiat chioe hoan?" tanya Thay Giam.
Sebaliknya dari menjawab ia menerjun ke dalam air! Thay Giam terperanjat dengan gelombang yang sebear itu biarpun pandai berenang, orang tak akan bisa bertahan lama didalam air buru2 ia mengambil sebatang gala yang lalu disodor keair tapi juru mudi itu menggoyangkan tangan dengan paras muka ketakutan dan dilain saat ia masuk kedalam gelombang untuk tidak keluar lagi.
Tanpa juru mudi begitu terpukul ombak, perahu itu lantas saja terputar. Cepat2 Thay Giam pergi kebelakang perahu untuk memegang kemudi pada saat itulah mendadak terdengar suara "dak" dan perahu Hiat chioe hoan membentur perahunya Thay Giam
Karena kepala Hiat chioe hoan dilapis besi begitu terbentur, perahu Thay Giam lantas saja bocor dan air menerobos masuk.
Bukan main gusarnya Thay Giam. "Perahu siapa yang begitu kurang ajar?" bentaknya dengan suara keras. Melihat perahunya sudah hampir tenggelam, dengan sekali menotol ujung kaki, ia melompat keatas kepala perahu Hiat chioe hoan. Pada yang bersamaan satu ombak besar menerjang, sehingga Hiat chioe hoan "terbang" keatas, setombak lebih tinggi nya. Kejadian itu terjadi pada sesaat badan Thay Giam berada ditengah udara sehingga perhitungannya meleset semua dan ia melayang jatuh kedalam air.
Pada detik yang sangat genting sambil mengempos semangatnya ia menggoyang kedua pandaknya dan dengan menggunakan gerakan Tee in ciang, tiba2 tubuhnya meleset keatas lagi setombak lebih dan kedua kakinya hinggap diatas kepala perahu Hiat-chioe-hoan.
"Ada orang tercebur diair! Lekas tolong !" teriak Thay Giam. Ia mengulangi teriakannya beberapa kali. Tapi tidak mendapat jawaban.
Dengan mendongkol ia menolak pintu gubuk perahu tapi pintu itu yang terbuat dari besi, tidak bergeming. Seraya menggerakkan Lweekang dikedua lengannya ia mendorong sambil membentak keras. Pintu belum terbuka tapi sudah berlobang karena menghubungkan gubuk dan pintu telah putus dan jatuh dengan mengeluarkan suara berkerincingan.
Tiba2 didalam gubuk terdengar suara orang "Tee in ciong dan Tin san ciang (Pukulan menggetarkan gunung) yang tersohor dari Boe tong pay sungguh bukan pujian kosong. Jie Sam hiap serahkan To liong to yang berada dalam buntalanmu dan kami akan mengantarkan kau menyeberang sungai suara yang le mah lembut itu bukan lain dari pada suara kaki tangan Peh bie Kauw coe yang pernah didengarnya dikelenteng Hay sin bio. Sekarang baru ia tahu bahwa perahu Hiat cioe hosn adalah milik Peh bie Kauw coe sehingga tidak heran sijuru mudi jadi ketakutan setengah mati.
Tapi ia tak mengerti bagimana orang itu tahu namanya dan beradanya To liong to di dalam tangannya.
Sebelum ia menanya orang itu sudah berkata lagi:" Jie Sam Hiap mungkin kau merasa heran mengapa kami tahu she dan namamu bukankah begitu tapi sebenarnya kau tak usah heran kecuali ahli silat Boe tong pay dalam dunia ini siapa lagi yang memiliki lompatan Tee in ciong dan pululan Tin san ciang? Tiga hari sebelum Jie Sam hiap menginjak wilayah Ciat kang kami sudah mendapat warta. Hanya sayang kami tidak keburu menyambut dari tempat jauh.
Thay Giam tak tahu bagaimana harus menjawab perkataan orang itu tapi mengingat sijuru mudi yang tercebur didalam air ia lantas saja berkata. "Hal lain dapat ditunda paling dulu kita harus menolong jiwanya juri mudi itu."
Orang itu tertawa ter-bahak2. "Jie Sam hiap hatimu terlalu mulia katanya. "Juragan perahu itu mempunyai satu gelaran yang sangat bagus yaitu Sauw cay Seei kwie (Setan air yang menagih hutang) Disungai Ciang tong-kang entah berapa banyak jiwa melayang didalam tangannya. Jie Sam hiap adalah seorang yang berhati sangat mulia. Tapi setan air itu sebenarnya sudah mengincar buntalanmu dan ingin menagih hutang dari penitisan yang lain. Haha !"
Thay Giam sendiri sebelumnya sudah menaruh curiga, karena-lihat lahat juru mudi itu yang seperti lagak bangsat. Sekarang ia mendapat kenyataan, bahwa kecurigaannya sangat beralasan. "Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama tuan yang besar dan apa boleh aku bertemu muka denganmu?" tanya Thay Giam.
"Antara Peh bie kauw dan partai tuan sama sekali tidak mendapat tali persahahatan atau permusuhan," jawabnya. "Maka itu menurut pendapatku, lebih baik kita tak usah bertemu muka. Jie Sam hiap taruh saja To liong to dikepala perahu dan kami akan menyeberangkan kau ketepi."
Mendengar perkataan itu, darah Thay Giam lantas saja naik. "Apakah To liong milik Peh bie kauw?" tanyanya dengan suara kaku.
"Bukan," jawabnya. "Tapi golok itu adalah senjata termulia dalam Rimba Persilatan, maka dapatlah dimengerti, jika setiap ahli silat sangat ingin memilikinya."
"Kalau begitu, dengan sangat menyesal aku tak bisa meluluskan permintaanmu," kata Thay Giam. "Golok ini sudah jatuh kedalam tangan ku dan aku merasa berkewajiban uniuk menyerahkan kepada guruku, supaya ia bisa memberi keputusan. Aku masih berusia muda dan tak dapat mengambil keputusan apa apa."
Orang itu kembali bicara, tapi suaranya sehalus bunyi nyamuk, sehingga Thay Giam tak dapat menangkapnya. "Apa kau kata?" tanyanya sambil maju beberapa tindak.
Sesaat itu, gelombang besar kembali menghantam, sehingga perahu layar itu "terbang" keatas dan terombang ambing ditengah2 ombak. Mendadak Jie Thay Giam merasa sakit gatal didada dan pahanya, seperti digigit nyamuk. Waktu itu adalah permulaan musim semi dan biasanya tidak ada nyamuk.
Tapi ia tidak menghiraukan dan lalu menepuk beberapa kali ditempat yang gatal. "Untuk merebut sebilah golok, Peh bie kauw telah membinasakan tidak sedikit manusia," katanya dengan suara nyaring. "Dikelenteng Hay sin bio saja, beberapa puluh orang telah melayang jiwanya. Menurut pendapatku, tanganmu agak terlalu kejam."
"Kau salah," membunuh orang itu. "Dalam menurunkan tangan, Peh bie kauw selalu membuat perbedaan. Terhadap orang jahat, kami turunkan tangan yang berat, sedang terhadap orang baik, kami turunkan tangan enteng. Jie Sam hiap, namamu yang mulia telah menggetarkan dunia Kangouw dan kami tentu tidak akan mengambil jiwamu. Jika kau menyerahkan To Liong to, kami akan segera memberikan obat pemunah jarum Boen sie ciam kepadamu," Boen sie ciam Jarum kumis nyamuk.
Mendengar kata2 "Boen sie ciam," Thay Giam terperanjat. Buru2 ia meraba dada, dibagian yang bekas digigit nyamuk. Ia merasa gata12, tiada bedanya seperti akibat gigitan nyamuk. Tapi sesudah memikir sejenak, ia mengerti, bahwa rasa gatal itu tak mungkin akibat gigitan nyamuk, karena pada waktu itu adalah musim semi, apapula jika diingat, bahwa ia sedang berada diatas sungai. Dari mana datangnya nyamuk? Mendadak ia mendusin. "A-ha! Kalau begitu, ia sengaja bicara perlukan untuk memancing supaya aku datang terlebih dekat, agar ia bisa menimpuk dengan senjata rahasianya yang sangat halus," katanya didadalam hati. Mengingat ketakutannya Tek Seng orang2 Hay-see-pay dan si juragan perahu, maka boleh dipastikan, racun itu hebat luar biasa. Maka itu, jalan yang terbaik adalah menangkap dan memaksanya untuk mengeluar kan obat pemunah. Memikir begitu, sambil membentak keras, ia melompat kedalam gubuk perahu itu.
Sebelum kedua kakinya hinggap dipapan perahu, angin yang sangat tajam menyambar mukanya dan dalam gusarnya, iapun segera menghantam dengan sekuat tenaga. Begitu kedua tangan kebentrok, kedua lawan itu tetpental kebelakang dengan berbareng Jie Thay Giam sendiri terdorong keluar, tapi sukar, ia tak sampai roboh terguling hanya telapak tangannya dirasakan sakit sekali ia mengerti bahwa musuh telah menyembunyikan senjata dalam tangannya sebab pada waktu kedua telapak tangan beradu ia merasa tujuh batang jarum atau paku, menancap ditelapak tangan nya. Dalam segebrakan itu ia sudah tahu bahwa tenaga lawan kira2 setanding dengan tenaganya sendiri.
"Racun Ciang sim Cit sang tengku hebat luar biasa" demikian terdengar suara orang itu "Lweekang Jia Sam hiap sungguh liehay dan aku merasa takluk. Ciang sim Cit seng teng (Paku tujuh bintang) yang ditaruh ditelapak tangan.
Jie Thay Giam yang sabar sekarang menjadi kalap is meraba buntalannya dan lalu mencabut To liong to. Sambil mencekal gagang golok dengan kedua lengan ia membacok. "Trang!" pintu besi itu terbelah dua melihat tajamnya golok itu semangatnya terbangun dan ia lalu membacok kalang kabut sehinga gubuk itu yang terbuat dari pada besi lantas menjadi hancur dan lembaran2 besi jatuh ke dalam air.
Orang yang berada didalam gubuk tak dapat menyembunyikan dirinya lagi ia lalu melompat kebelakang perahu seraya menbentak "kau sudah kena dua macam racun, mau apa kau banyak lagak." Jie Thay Giam yang sudah mata gelap tidak menghiraukannya dan terus menerjang sampai memutar golok.
Melihat serangan kalap itu buru2 orang itu menangkis dengan sebuah jangkar. "Trang" jangkar itu juga terbelah dua dengan hati mencelos ia melompat kesamping dan berteriak.
"Hei? Kau lebih sayang jiwa atau lebih sayang golok?"
Thay Giam berhenti menyerang. "Baiklah" katanya. Serahkan obat pemunah aku akan menyerahkan golok ini kepadamu. Sesaat itu merasa pahanya semakin gatal dan sakit sebagai tanda bahwa racun sudah mulai bekerja. Mengingat bahwa To liong to telah didapatinya secara kebetulan dan sebab ia memang tak ingin memiliki harta benda orang lain maka hilang hilangnya golok itu juga tidak dirasakan berat olehnya. Dilain saat, ia sudah melemparkan To Liong to diatas papan perahu.
Orang itu kegirangan dan buru2 menjemput nya, akan kemudian meng-usap2 badan golok itu dengan sikap yang sangat menyayang. Ia berdiri dengan membelakangi rembulan, sehingga Thay Giam tak dapat lihat nyata mukanya. Tapi dalam perhatiannya kepada golok itu, ia rupanya lupa akan janjinya untumemberikan obat pemunah.
Lewat beberapa saat, rasa sakit dan gatal didada dan paha Thay Giam makin menghebat. "Eh, mana obat?" tanyanya.
Orang itu tertawa berkakakan seperti juga mendengar cerita lucu.
Tentu saja Thay Giam jadi gusar seka]i." Hei! Aku minta obat yang dijanjikan olehmu," bentaknya. "Ada apa lucunya ?"
Orang itu menuding muka Thay Giam dan berkata seraya tertawa: "Hihihi ! Kau sungguh tolol ! Sebelum aku mengeluarkan obat, kau sudah lebih menyerahkan golok ?"
"Perkataan seorang laki2 seperti juga larinya seekor kuda," kata Thay Giam dengan amarah me-luap2. "Kita sudah berjanji untuk menukar golok dengan obat, apa kau lupa?"
Orang itu tertawa lagi. "Dengan golok dalam tanganmu, aku masih jerih juga," katanya dengan suara mengejek, "Adat kata kau tidak bisa menangkan aku, kau masih dapat melemparkan golok itu kedalam sungai dan belum tentu aku bisa mencarinya. Tapi sekarang, sesudah golok ini berada dalam tanganku, apa kau masih mengharapkan obat pemunahan ?"
Perkataan itu se-olah2 air dingin yang mengguyur kepala Thay Giam. Mimpipun ia tidak pernah mimpi, bahwa orang itu bisa berlaku begitu licik. Ia ingat, bahwa Boe-tong-pay tak mempunyai permusuhan apapun jugs dengan Peh bie-kauw, sedang orang itupun memiliki kepandaian tinggi, sehingga kedudukannya pasti bukan kedudukan rendah. Tapi mengapa ia menjilat lagi ludah yang sudah dibuang?
"Jie Sam hiap," orang itu berkata pula. "Ada satu hal yang harus diterangkan kepadamu. Racun dari Boen sie ciam masih tidak begitu hebat tapi racun Cit-seng benar2 luar biasa. Dalam tempo dalam duapuluh empat jam semua dagingmu akan copot dan jatuh ditanah. Dalam dunia kecuali obat pemunah dari Peh bie kauw, jangankan manusia, sedang dewapun tak akan bisa menolongnya. Disamping itu andaikata sekarang aku memberikan obat pemunah, obat itu hanya bisa menolong selembar jiwamu, tapi ilmu silat Jie Sam-hiap yang tersohor dalam dunia Kangouw tak akan bisa pulih kembali untuk se-lama2nya. Perkataan itu dikeluarkan dengan suara manis dan lemah lembut, se-olah2 manusia itu sedang bicara dengan sahabat karibnya.
"Hidup atau mati adalah takdir," kata Thay Giam sambil menahan amarah. "Selama hidup Jie Thay Giam belum pernah melakukan apa2 yang tidak baik, sehingga ia boleh tak usah merasa malu terhadap Langit dan bumi. Andaikata sekarang aku binasa dalam tangan seorang rendah, sedikitpun aku tidak merasa jerih."
Orang itu mengacungkan jempolnya. "Bagus!," ia memuji. "Nama besarnya Boe tong Cithiap benar2 bukan nama kosong. Orang gagah yang kenal Cit-seng-teng dan Boe sie-ciam tak bisa dihitung berapa banyaknya. Kalau bukan, meminta ampun, mereka yaitu orang2 yang mempunyai tulang punggung tentu mencaci aku. Tapi orang yang seperti Jie Sam-hiap, yang tidak menghiraukan masih akan hidup, aku sungguh jarang menemui."
Thay Giam mengeluarkan suara dihidung "Tapi apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama tuan yang besar?" tanyanya.
"Aku hanyalah seorang kecil dalam Peh-bie-kauw dan jika Boe-tong-pay ingin membalas sakit hati adalah Kauw coe yang akan melayaninya." jawabnya. "Malam ini, Jie Sam hiap akan mati dengan diam2."
SEMENTARA itu, karena leher dan badannya tak bisa bergerak, JieThay Giam hanya bisa melihat bendera piauw yang tertancap dipot bunga. Untuk sejenak seluruh ruangan sunyi senyap dan yang terdengar hanyalah bunyi laler yang beterbangan kian kemari. Lain suara yang didengarnya ialah suara nafas Touw Tay Kim yang ter-sengal2. Walaupun tak melihat mukanya, ia bisa menebak, bahwa Cong piauw tauw itu tengah mengawasi emas yang berkredepan dengan mata membelalak.
Beberapa saat kemudian, barulah terdengar suara Touw Tay Kim: "In Toa ya, piauw apa yang mau diantar?"
"Lebih dulu jawablah pertanyaanku," sahutnya. "Apakah kau bisa memenuhi tiga syarat yang diajukan olehku.."
Touw Tay Kim menepuk lututnya seraya berkata: "In Toa ya, sesudah kau memberi hadiah yang begitu besar, biarlah aku mempertaruhkan jiwa untuk memenuhi segala permintaanmu, Kapan aku bisa menerima piauw itu?"
"Piauw yang harus dilindungi dan diantar olehmu adalah orang rebah dibalai2 itu," jawabnya dengan suara dingin.
Tanpa merasa, Touw Tay Kim mengeluarkan seruan tertahan, bahkan herannya.
Jie Thay Giam terkesiap. Ia membuka mulut, tapi suara yang mau dikeluarkan, tak bisa keluar.
Dengan menggunakan seantero tenaganya, is coba melompat turun, tapi tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun. Sekarang baru ia tahu, racun Cit seng teng benar2 liehay.
"Apa ... apa .... benar tuan ini?" menegas Touw Tay Kim dengan suara terputus2.
"Tak salah," jawabnya. "Kau sendiri yang harus mengantarkannya. Kau bolah menukar orang. Dalam sepuluh hari, kau sudah mesti tiba di Boe tong san, Siang yang hoe, propinsi Ouw pak, dan menyerahkan orang itu kepada Thio Sam Hong, Ciang coen Couw soe boe tong pay."
"Boe tong pay?" menegas Touw Tay Kim. "Biarpun tak mempunyai ganjela apa2 dengan Boe tong pay, tapi kami, murid2 Siauw lim-sie jarang...jarang sekali berhubungan dengan mereka ....Ia...."
"Jika gagal, kau tak akan dapat mengganti kerugian dengan laksaan tail emas," kata si orang she In dengan suara tawar.
"Katakan saja. Terima atau tidak. Mengapa sebagai seo-rang laki2 kau begitu sukar mengambil keputusan?"
"Baiklah, dengan memandang muka In Toanya, Liong-boan Piauw-kiok menerima baik piauw ini," jawabnya.
Orang ini tersenyum. "Hari ini Sha gwe Jie kauw (Bulan tiga tanggal 2?)," katanya. "Kalau pada Sie gwee Cee kauw Ngosie (Bu1an Empat tanggai 9), tengah hari, kau belum menyerahkan tuan ini kepada Ciong boen Couwsoe Boe tong pay, aku akan membasmi besar kecil tujupuluh satu orang di Liong baen Piauw kiok. Malah ayam dan anjingpun tak akan diampuni olehku!" Ancaman itu disusul dengan suara "trik trik" dan belasan jarum perak yang halus menancap dipot bunga itu yang lantas saja hUncur jadi puluhan keping yang jatuh berhamburan dilantai.
Timpukan senjata rahasia itu yang disertai dengan Lwekang dahsyat, benar2 mengejutkan. Touw Tay Kim mengeluarkan seruan kaget sedang Jie Thay Giam pun terkesiap.
"Ayoh pulang!" bentak siorang she In. Dua tukang gotong lalu saja menaruh balai2 diatas lantai dan segera meninggalkan ruangan itu dengan ter-buru2.
Selang beberapa saat, sesudah dapat menentramkan hati Touw Tay Kim menghampiri Jie Thay Giam seraya menanya: "Bolehkah kutahu she dan nama tuan yang mulia? Apa benar tuan dari Boe tong pay ?"
Thay Giam tak dapat berbicara, ia hanya mengawasi Cong piauw tauw itu yang berusia kira2 limapuluh tahun, badannya tinggi besar dengan otot2 lengan yang menonjol keluar dan parasnya angker sekali. Melihat potongan badan dan gera2kan orang itu, Thay Giam tahu bahwa ia adalah seorang ahli ilmu silat Gwa kang(ilmu silat luar).
"In Toaya adalah seorang tampan yang lemah lembut gerakannya," kata Touw Tay Kim. "Tak dinyana mereka memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Orang dari partai manakah dia?" Ia mengulangi pertanyaannya beberara kali tapi Thay Giam tetap tidak menjawab dan terus memeramkan kedua matanya.
Hati Cong-piauw tauw itu merasa sangat tidak enak. Ia sendiri adalah seorang ahli melepaskan senjata rahasia sehingga didalam dunia Kangouw, ia mendapat julukan Ie-pie-him, tapi kepandaian siorang she In betul2 luar biasa.
Dengan sekali mengebas tangan bajunya belasan batang jarum yang halus bagaikan bulu kerbau telah menghancurkan sebuah pot kristal. Jika tak melihatnya dengan mata kepala sendiri ia tentu tak akan percaya. Ia membungkuk dan menjemput kepingan kristal yang jatuh dilantai ternyata setiap jarum seperti juga terpantek masuk dengan martil kedalam kristal itu. Lweekang yang sedemikian hebat, ia sungguh belum pernah mendengarnya.
Sudah dua puluh tahun lebih Touw Tay Kim mengepalai Liong boen Piauw kiok dan selama itu ia telah mengalami tidak sedikit gelombang dari dunia Kang ouw. Tapi piauw manusia hidup dengan ongkos dua ribu tahil emas bukan saja belum pernah dialami olehnya, tapi juga belum pernah terdengar dalam seluruh sejarah perusahaan piauw.
Sesudah menyimpan emas itu ia segera memerintahkan orang untuk membawa Jie Thay Giam kesebuah kamar yang sepi supaya sisakit bisa mengaso, kemudian dengan cepat ia mengumpulkan para piauw tauw, menyiapkan kuda kereta untuk berangkat pada hari itu juga.
Sebelum berangkat karena merasi tidak enak mendengar ancaman siorang she In, Touw Tay kam lebih dulu berdamai dengan dua orang piaum tauw yang berusia tinggi sesudah menghitung2, mereka mendapat kenyataan bahwa dari ibu Touw Tay Kiam sampai bayi Ciok Piauw tauw yang berusia belum cukup sebulan keluarga Liong boen Piauw kiok tepat berjumlah tujuh puluh satu orang yaitu sesuai dengan jumlah yang disebutkan oleh siorang she In. Mereka bertiga lantas saja saling mengawasi dengan hati berdebar.
"Cong pauw touw," kata Piauw tauw she Ciok itu. "Menurut pendapatku meskipun hadiahnya besar tugas ini terlalu berbahaya, sehingga lebih baik kita menolak saja."
Piauw tauw yang satunya lagi seorang she Soe, lantas saja berkata: "Ciok Sam ko sayang sungguh pendapatmu diutarakan sesudah kasep. Piauw ini sudah diterima dan apakah Liong boen Piauw kiok yang sudah mendapat nama besar selama dua puluh tahun lebih harus mengembalikannya lagi?"
"Soe Ngo tee," kata Ciok Piauw tauw dengan suara mendongkol. "Kau menyayang nama besar Liong boen Piauw kiok tapi apa kau tidak menyayangi jiwanya begitu banyak orang? Menurut penglihatanku urusan ini sangat mencurigakan dan mungkin sekali orang sedang memasang jebakan untuk menjebak kita."
Soe Pauw tauw tertawa dingin seraya berkata "sesudah makan dari perusahaan piauw, memang siang malam kita hidup diujung senjata. Kalau Ciok Sam ko mau hidup tenteram, kau harus berdiam saja dirumah sambil mendukung bayimu dan jangan berkelana diluaran."
Kedua Piauw tauw itu lantas saja mulai bertengkar keras, sehingga Touw Tay Kim harus datang disama tengah, "Jie wie jangan tarik urat," katanya sambil tersenyum. "Piauw sudah diterima dan kita memang tidak boleh mundur lagi, Orang kata, musuh datang jenderal menyambut, air datang tanah menguruk. Bahwa Ciok Sam ko memikiri So So istri kakek lelaki dan anaknya, adalah kejadian yang sangat bisa dimengerti. Sekarang begini saja, kita mengirim semua orang tua, perempuan dan anak2 dari keluarga piauw hang kesebuah kampung diluar kota Lim an. Tindakan ini bukan sebab kita bernyali kecil, tapi hanya untuk menjaga akan terjadinya segala kemungkinan.
Sehabis berkata begitu, ia segera memerintah kan sejumlah pegawai piauw hang untuk segera mengantar keluarga para piauw tauw ke sebuah dusun guna menyingkirkan diri sementara waktu.
Semua orang yang bakal mengiring piauw istimewa itu, lantas saja makan kenyang dan mempersiapkan bekalan untuk disepanjang jalan. Sesudah beres, seorang pegawai segera membawa bendera piauw dengan kedua tangannya dan berjalan kepintu tengah dari gedung Liong boen Piauw tok. Sambil membuka bendera itu, ia membentak: "Liong boen sam yauw lee, Hie jie hoa wia long!" (Tiga ekor gabus yang sedang melompat dari Liong boen, akan berubah menjadi naga).
Sementara itu, macam2 pikiran masuk kedalam otak Jie Thay Giam yang rebah dalam sebuah kereta. "Selama berkelana dalam dunia Kangouw aku selalu memandang rendah orang2 Phiauw hang, katanya didalam hati. "Tak dinyana, selagi menghadapi bencana besar, aku harus diangkut ke Boe tong san oleh mereka." Dilain saat, ia bertanya pada dirinya sendiri "Siapakah sahabat she In itu yang sudah menolong jiwaku? Didengar dari suaranya, ia mestinya seorang perempuan dan menurut katanya Cong piauw tauw, parasnya tampan dan ilmu silatmya tinggi. Tapi cara2nya sungguh luar biasa. Hanya sayang, aku tak dapat melihat wajahnya dan, juga tak bisa menghaturkan terima kasih. Jika bisa terlolos dari kebinasaan. aku pasti akan membalas budinya yang sangat besar itu."
Kereta berjalan terus dan waktu hampir tiba dipintu kota, se-konyong2 terdengar teriakkan Touw Tay Kim: "Mengapa kamu kembali? Aku sudah memesan, kamu tak boleh balik ke Lim-an."
"Cong...cong-piauw- tauw," demikian terdengar jawaban ter putus?. "Kami...kuping kami!"
"Siapa yang potong kupingmu?" teriak pula Touw Tay Kim dengan suara gusar tercampur kaget.
"Selagi...mengantar...Loa tay tay (nyonya tua ibu Touw Tay Kim) keluar kota, baru kira2 dua li, kami....dicegat orang," menerangkan orang itu dengan suara gemetar: "Pencegat2 itu bengis dan ganas sekali. Keluarga Liong boen Piauw kiok tidak boleh meninggalkan kota Lim an, kata satu diantaranya. Aku coba melawan dengan mulut, tapi orang itu lantas saja menghunus golok dan memotong kupingku! Kuping meraka... mereka berduapun telah dipotong olehnya. Orang itu menyuruh aku beritahukan Cong piauw tiauw, bahwa jika piauw yang harus diantar tidak tiba pada temponya yang betul, maka...maka....ayam dan anjing akan di basmi semua.
Touw Tay Kim menghela napas. Ia mengerti bahwa setiap gerak gerik Liong boen Piauw kiauw sekarang diawasi orang. Sambil mengebas tangan kanannya ia lantas saja berkata. "Baiklah kamu pulang saja. Jaga baik2 semua keluarga dan gedung Piauw kiok. Jangan keluar kalau tidak terlalu perlu." Sehabis berkata begitu ia mencambuk kuda dan rombongan itu lantas berangkat.
Dengan secepat2nya mereka menuju kejurusan barat. Yang mengantar Jie Thay Giam, selain Touw Couw piauw tauw Ciok dan Soe Piauw tauw, masih ada empat orang piauw soe muda yang bertubuh kuat dan kekar. Mereka semua menunggang kuda pilihan dan seperti yang dikatakan siorang she In mereka menukar kereta, menukar kuda2, tapi tidak diperbolehkan menukar orang2. Dengan hati berdebar mereka meneruskan perjalanan siang hari dan malam karena mereka tahu, bahwa jika terlambat bukan saja jiwa mereka sendiri tapi jiwa semua keluarga Liong boen Piauw kiok pun tak akan bisa ditolong lagi.
Waktu baru keluar dari kota Lim an, Touw Tay Kim menduga, bahwa disepanjang jalan, ia akan harus mengadu jiwa. Ia harus mengadu jiwa dalam pertempuran2 mati2an. Tapi diluar dugaan, sesudah meniggalkan Ciat kang, melewati An hoei dan kemudian masuk dalam propinsi Ouw pak, dalam beberapa hari, mereka tak pernah menemui rintangan apapun jugaa. Hari itu, telah mereka lewati kota Hoan shia, Thay pang tiam, Sian jin touw, Kong hwa koan. Dia kemudian sesudah menyeberang sungai Han soei, tibalah mereka di Laoho kouw dari mana mereka bisa mencapai Boe tong san dalam tempo sehari.
Sebelum Ngo sie, mereka sudah tiba di Song kengcoe dan tak lama lagi akan tiba digunung Boetongsan. Biarpun disepanjang jalan cepat lelah tapi mereka tiba pada waktu yang tepat sehingga para piauw tauw jadi sangat girang.
Waktu itu adalah buntut musim semi dan permulaan musim panas. Langit cerah, hawa hangat, pohon2 hijau, dan bunga2 beraneka warna. Sambil memandang puncak Thian coe hong yang menjulang kelangit dengan cambuknya. Touw Tay Kim berkata: "Ciok Sam tee selama beberapa tahun ini nama Boe tong bay jadi semakin tersohor dan meskipun masih belum bisa menandingi Siauw lim pay, sepak terjang Boe tong Cit hiap telah menggetarkan dunia Kang ouw. Dengan melihat Thian coe hong yang begitu angker, aku jadi ingat perkataan orang bahwa jika manusianya jempol tanahnya pun keramat."
"Biarpun Boe tong pay telah mendapat nama besar tapi dasarnya masih sangat cetek dan tak bisa dibandengkan dengan Siauw lim pay yang mempunyai sejarah seribu tahun lebih," kata Ciok Piauw tauw.
"Ambil saja contoh, Cong piauw-tauw sendiri, yang memiliki Jie sie chioe Hang-mo-ciang (Pukulan takluki iblis yang mempunyai duapuluh empat jalan) dan Liam coe Kong-piauw yang bisa dilepaskan beruntun. Siapakah diantara orang2 Boetong yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi itu."
"Benar", seru Soe Piauw tauw. "Omongan2 dalam kalangan Kangouw kebanyakan tidak boleh dipercaya. Nama Boe tong cit hiap memang cukup tersohor, tapi bagaimana tinggi kepandaian mereka, kami belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Mungkin sekali pujian2 itu diberikan oleb orang2 kampung yang belum pernah melihat luasnya dunia."
Touw Tay Kim hanya bersenyum. Sebagai seorang yang mempunyai pengetahuan banyak lebih tinggi daripada kedua Piauw-tauw itu, ia yakin, bahwa nama besarnya boe tong pay bukan nama kosong dan Boe-tong Cit hiap pasti memiliki kepandaian luar biasa. Akan tetapi karena selama duapuluh tahun lebih ia memang jarang bertemu dengan tandingan maka ia sangat percaya akan kepandaiannya sendiri. Sudah ber-ulang2 ia mendengar umpakan kedua piauw tauw itu dan sebagai manusia biasa, ia tetap merasa girang setiap kali, mendengar pujian yang muluk.
Sembari ber-omong2 ketiga piauw tauw itu, berjalan dangan rendengkan kuda mereka semakin lama jalanan gunung semakin sempit, sehingga orang tidak bisa jalan berendeng dan Soe Piauw tauw lalu menahan les kuda untuk berjalan disebelah belakang.
"Cong piauw tauw kalau sebentar kita bertemu dengan Thio Sam Hoag, peradatan apa yang dijalankan kita", tanya Ciok piauw tauw.
"Kita bukan dari partai dan tak punya ikatan apupun juga" jawabnya. "Akan tetapi Thio Sam Hong sudah beusia sembilan puluh tahun dan dalam Rimba Persilatan dapat dikatakan ialah yang merasa paling tua. Untuk menghormati seorang Ciau pwee dari Rimba Persilatan tidak halangannya jika kira berlutut dihadapannya."
"Menurut pendapatku, begitu bertemu kita berteriak: "Thio Cinjin, Boanpwee memberi hormat dengan berlutut!" ia tentu akan belaku sungkan dan coba mencegah", kata Ciok Piau tauw, "dengan demikian kita boleh tidak usah menjalankan peradatan yang besar itu.."
Touw Tay Kim tidak memberi jawaban. Ia hanya bersenyum karena ia sedang coba menebak asal usul Jie Thay Giam.
Selama sepuluh hari Thay Giam tidak pernah bergerak dan juga tidak pernah mengeluar kan sepatah kata. Makan minumnya dan segalanya harus ditolong oleh pegawai piauw kiok. Sudah beberapa hari Tauw Tay Kim dan lain piauw tauw coba men duga2 tapi mereka tetap tak bisa menebak siapa adanya pemuda itu. Apa dia murid Boe tong pay? Sahabat atau musuh Boe tong? Semakin mendekat Boe tong san semakin besar rasa heran mereka. Tapi mereka ingat bahwa begitu lekas bertemu dengan Thio Sam Hong teka teki itu akan terpecah sendirinya. Hanya mereka tak tahu apa pertemuan itu akan berbuntut dengan kecelakaan atau keberuntungan.
Selagi Touw Tay Kim mengasah otak disebelah barat tiba2 terdengar suara kaki kuda. Untuk menyelidiki Ciok piauw tauw lantas saja mengebrak tunggangannya yang segera kabur terlebih dulu. Beberapa saat kemudian ia melihat enam penunggang kuda yang setelah berada dalam jarak belasan tombak dari rombongan piauw mendadak menahan les dan menghadang ditengah jalan. Tiga orang terbaris didepan dan tiga orang disebelah belakang.
"Apakah bakal muncul rintangan dikaki Boe tong san?" Touw Tay Kim bertanya didalam hati. Ia mendekati Soe Piauw tauw dan ber bisik. "Hati2 jaga kereta."
Sementara itu seorang pegawai piauw kiok sudah meng-goyang2 bendera ikan gabus sebagai satu pemberian harmat, sedang Touw Tay Kim sendiri segera majukan kudanya untuk menyambut keenam orang itu. "Liongboen Piauw kiok numpang lewat ditempat sahabat dan jika kami berlaku kurang hormat mohon sahabat sudi memaafkan" katanya seraya membungkuk.
Diantara enam pemegat itu terdapa dua orang toosoe "imam" yang memakai topi kuning sedang yang lainnya adalah orang2 biasa. Mereka semua menyoren golok atau pedang dan sikapnya angker sekali. Mendadak Touw Tay Kim mendapat satu ingatan: "Apakah mereka bukan enam pendekar dari Boe tong Cit hiap?" tanyanya didalam hati ia segera menggebrak tunggangannya dan berkata sambil merangkap kedua tangannya "aku adalah Touw Tay Kim dari Liong boen Piauw kiok, bolehkah aku mendapat tahu she dan nama saudara yang mulia?"
"Perlu apa Touw heng datang di Boe tong san", tanya salah seorang yang berdiri disebelah kanan. Orang itu bertubuh jangung sedang pada pipi kirinya terdapat sebuah tahi lalat itu tumbuh tiga lembar rambut yang panjang. "Piauw kiok kami telah diminta membawa seorang yang terluka berat ke Boe tong san untuk diserahkan kepada Ciang boen dari partai saudara2. Thio Cinjin," jawabnya.
"Kami telah diminia oleh seorang she In untuk membawa tuan itu kegunung ini," sahutnya. "Siapa adanya tuan itu, bagaimana ia mendapat luka dan duduknya persoalan semua tak diketahui oleh kami. Liong Boen Piauw kiok hanya menerima permintaan orang dan menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Mengenai soal pribadi, kami selamanya belum pernah mencari tuan."
Sebagai seorang yang sudah puluhan tahun bekerja dalam perusahaan piauw. Touw Tay Kim punya pengalaman luas. Dengan berkata begitu, ia mencuci bersih segala kemungkinan yang bisa merembet kepada Liong boen Piauw kiok. Baik Jie Thay Giam seorang sahabat, maupun musuh Boe tong pay, keenam orang itu tak bisa menjadi gusar terhadapnya.
Orang yang bertahi lalat menengok kepada dua kawannya seraya berkata. "Orang she In? Siapa orang itu?"
"Ia adalah seorang pemuda yang berparas tampan dan mempunyai kepandaian tinggi dalam ilmu melepaskan senjata rahasia," menerangkan Touw Tay Kim.
"Apa kau pernah bertempur dengannya ?" tanya pula si penyegat.
Touw Tay Kim jadi bingung dan menjawab dengan gugup: "Tidak... tidak .. dia yang...."
Belum habis perkataannya salah seorang lain sudah membentak: "Mana To liong to? Dalam tangan siapa golok itu berada ?"
"Apa itu To liong to?" menegas Touw Tay Kim dengan kaget. "Apakah Boe lim cie coen, Po to to liong ! yang tersohor?"
Orang yang membentak ternyata beradat berangasan. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera melompat turun dari tunggangannya meng hampiri kereta, membuka tirai lain melongok kedalamnya.
Melihat gerakan orang itu yang gesit luar biasa, Tauw Tay Kim jadi semakin bercuriga. "Apakah kalian bukan Boe tong Cit hiap yang namanya tersohor dalam dunia Kangouw ?' tanyanya. "Yang mana Song Tay hiap" Sudah lama kudengar nama besarnya dan aku ingin sekali bertemu muka."
"Nama itu hanya nama kosong belaka dan tidak-cukup berharga untuk di-sebut2," kata orang vang bertahi lalat. "Touw heng terlalu merendahkan diri."
Sesaat itu, si berangasan sudah melompat pula keatas punggung kudanya. "Lukanya sangat berat dan harus segera ditolong " katanya. "Biarlah kita saja yang membawanya."
Orang yang bertahi lalat lalu merangkap ke dua tangannya seraya berkata dengan suara manis: "Untuk capai lelah Touw heng yang dari jauh sudah mengantar sampai disini, Siauwte menghaturkan banyak terima kasih."
Tauw Tay Kim segera membalas hormat dan mengucapkan perkataan merendahkan diri.
"Saudara itu mendapat luka yang sangat berat, maka biarlah kami saja yang membawanya keatas gunung untuk segera ditolong." kata pula orang itu.
Toaw Tay Kim yang memang ingin melepas kan diri dari tanggung jawab selekas mungkin lantas saja berkata: "Biarlah. Kalau begitu di sini saja kami menyerahkan tuan itu kepada Butong-pay."
"Touw heng jangan kuatir," kata orang itu. "Sekarang Siauwte yang bertanggung jawab. Apakah ongkos piauw sudah dibayar?"
"Sudah dibayar cukup," jawabnya.
Orang itu lalu mengeluarkan sepotong emas yang beratnya kira2 seratus tahil dan berkata sambil mengangsurkan kepada Touw tay Kim: "Ini untuk beli teh, harap Touw heng suka mem-bagi2kan kepada saudara2 yang lain."
Cong piaw tauw itu menolak dengan keras. "Dua ribu tahil emas sudah lebih daripada cukup." katanya. "Aku bukan seorang temaha."
"Hm Dua tahil emas..." kata orang yang bertahi lalat itu. Dua kawannya lantas saja majukan tunggangan mereka, yang satu melompat keatas kereta, mengambil Ies dari tangan kusir dan lalu menjalankan kereta itu sedang yang satunya lagi mengikuti dari belakang.
Orang yang bertahi lalat mengayun tangan dan melemparkan potongan emas itu kearah Touw Tay Kim. "Touw heng jangan berlaku sungkan," katanya seraya tertawa. "Kalian kem ball saja kekota Lim an."
Melihat potongan emas melayang kehadapan nya, Touw Tay Kim terpaksa menyambutnya. Sebenarnya ia masih ingin memulangkannya tapi orang itu sudah berlaku dengan kaburkan tunggangannya.
Disebelah kejauhan ia lihat lima orang mengiring kereta yang muat Jie Tay Giam dan sesudah membelok disuatu tikungan mereka menghilang dari pemandangan. Dilain saat melihat potongan emas yang dicekal dalam tangannya, ia terkesiap karena terdapatnya sepuluh tapak jari yang dalamnya kira2 setengah dim. Apa yang lebih luar biasa, ialah, tapak jari2 itu, sampai urat2nya, terpeta nyata diatas potongan emas itu. Walaupun emas lebih lembek dari pada besi atau tembaga, tapi tenaga jari tangan itu, yang disertai dengan Lweekang yang sangat dahsyat benar2 mengejutkan. Sambil mengawasi emas itu dengan mulut ternganga, ia berkata dalam hatinya "Boe tong Cip hiap sungguh2 lihay. Didalam Siau lim pay mungkin hanya satu dua Soe siok yang mempelajari Kim kong cie, yang mempunyai kepandaian seperti itu."
Melihat pemimpin mengawasi potongan emas itu dengan bengong, Ciok Piauw tauw ber kata: "Cong piauw-tauw, murid2 Boe tong agak tak tahu adat. Sesudah bertemu muka, mereka sama sekali tidak memperkenalkan diri dan juga tidak menanyakan she dan nama kita. Dari tempat yang jauhnya ribuan kita datang kesini. Tapi mereka merasa tak perlu untuk mengundang kita bersantap atau menginap semalaman datam kuil mereka. Sebagai sesama orang Rimba Persilatan, sikap mereka sangat tidak manis."
Didalam hati, memang Touw Tay Kim me rasa sangat tak puas akan sikap orang2 itu, hanya ia tak mengatakan terang2an. Maka itu mendengar perkataan rekannya, ia seera berkata dengan suara tawar: "Dengan adanya mereka, kita bisa menghemat tenaga. Baiklah ada baiknya juga?"
"Disamping itu, aku sebenarnya agak tak enak jika orang2 Siauw-lim-pay mesti masuk kedalam kuil Boe tong-pay. Jie-wie Hiantee marilah kita berangkat pulang!"
Dalam perjalanan itu, meskipun tidak menemui, halangan Liong boen Piauw-kiok telah dihina orang. Bahwa Boe-tong Liok-hiap sudah tidak mamperkenalkan diri, merupakan tanda bahwa mereka tak memandang sebelah mata kepada Piauw kiok itu. Semakin memikir Touw Tay Kim jadi semakin mendongkol dan diam2 ia menghitung cara bagaimana sakit hati itu bisa dibalasnya.
Dalam perjalanan pulang itu sedang sipemimpin diliputi dengan kemasgulan, para Piauw tiauw dan pegawai bergirang2. Sesudah capai sepuluh hari dan sepuluh malam, Liong boen Piauw-kiok bisa mengantongi duaribu tail emas dan Cong piauw tiauw mereka yang terbuka tangannya, sudah pasti akan memberi hadiah besar.
Diwaktu magrib, mereka sudah melewati Song kengcoe. Melihat Touw Tay Kim masih berduka Ciok piauw-touw berkata: "Cong-piauw, jangan kau terlalu jengkel. Gunung tinggi dan air panjang dilain hari dalam dunia Kangouw, kita pasti akan bisa berpapasan
lagi dengan mereka. Hm! Berapa lama Boe—tong Cit-hiap bisa mempertahankannya ?"
Touw Tay kim menghela napas. Ciok Hiante katanya. "Ada suatu hal yang sangat dibuat menyesal olehku."
"Hal apa ?" tanyanya.
Baru saja ia berkata begitu, disebelah belakang tiba2 terdengar suara kaki kuda. Tindak kuda itu tidak begitu gencar, malah boleh di katakan perlahan, tapi heran sungguh, semakin lama kedengarannya semakin dekat. Semua orang lantas saja menengok kebelakang. Ternyata kuda itu mempunyai kaki yang amat panjang sedang bendanyapun kira2 dua kaki lebih tinggi daripada kuda biasa, dengan kaki yang panjang langkahnya sangat lebar, sehingga biarpun larinya tak terlalu cepat, jarak yang dicapai lebih jauh daripada kuda biasa, bukan saja istimewa tubuh dan kakinya, gerakannya angker sekali sedang bulunya mengkilap seperti dipoles minyak.
"Bagus benar kuda itu!" memuji Ciok piauw tauw. Ia terdiam sejenak dan kemudian berka ta : "..Cong pit tauw, apakah kami berbuat sesuatu kesalahan?"
"Bukan, bukan kalian berbuat kesalahan," jawabnya dengan suara duka. "Apa yang diingatkan adalah kejadian pada duapuluh lima tahun berselang. Waktu itu, sudah dua belas tahun aku belajar dalam Siauw lim sie dan sudah memenuhi syarat2 sebagai murid yang lulus. Guruku Goan-hiap Sian soe coba membujuk supaya aku berdiam lagi lima tahun guna belajar lima Tay kim kong ciang. Tapi sebagai seorang pemuda yang pendek pikiran, aku menganggap, bahwa kepandaian dimilikiku, sudah cukup untuk aku malang melintang dalam dunia Kangouw. Maka itu, ditambah lagi dengan rasa tak tahan untuk hidup menderita terlebih lama didalam kuil, aku sudah menolak bujukan In soe. Hai! Jika pada waktu itu aku belajar lagi lima tahun, hari ini aku tentu tak akan dihina oleh murid2 oe tong..." Baru berkata sampai disitu, orang yang menunggang kuda jempolan itu, yang bulunya berwarna hijau putih, sudah menyandak dan kemudian melewati rombongan piauw hang. Selagi lewat, sipenunggang kuda melirik Touw Tay Kim dan Ciok Ptauw tauw dengan paras muka heran.
Touw Tay Kim pun mengawasi orang itu yang ternyata adalah seorang pemuda tampan yang berusia kira2 dua puluh dua tahun dengan paras muka yang angker.
Dilihat sekelebatan ia seorang yang bertubuh kecil lemah tapi sesudah diawasi dalam tubuh yang kecil itu terdapat gerakan2 yang gesit,lincah dan mantep. Sambil merangkap kedua tangannya, pemuda itu berseru: "Numpang lewat! Numpang lewat!" Dalam sekejap, kuda itu sudah kabur didepan rombongan piauw hang.
Sembari mengawasi byangan pemuda itu, Touw Tay Kim bertanya: "Ciok Hian tee, bagaimana pendapatmu mengenai orang muda itu ?"
"Dia turun dari atas gunung mungkin sekali salah seorang murid Boe tong." jawabnya. Tapi ia tidak membekal senjata dan badannyapun kelihatan lemah. Bisa jadi juga ia seorang biasa saja dan bukan murid Boe tong."
Mendadak, pemuda itu memutar tunggangan nya dan balik kembali. Jauh2 ia sudah memberi hormat seraya berkata: "Maaf ! Siauwtee ingin ajukan satu pertanyaan, harap kalian tidak jadi gusar."
Mendengar kata2 yang manis itu, Touw Tay Kim segera menahan les dan balas menanya: "Pertanyaan apa ?"
Seraya melirik bendera ikan gabus yang dicekal oleh seorang pegawai piauw hang, pemuda itu berkata. "Apakah kalian dari Liong-boen Piauwkiok dikota Lim-an ?"
"Benar," jawab Ciok Piauw tauw.
°Boleh aku mendapat tahu she dan nama Sahabat2 yang mulia?" tanya lagi pemuda itu "Apakah Touw Cong-piauw-tauw baik?"
Ciok-piauw-tauw merasa senang sekali melihat cara2 pemuda itu yang ramah tamah, tapi karena orang2 Kang-ouw sangat sukar ditebak isi hatinya, maka ia belum berani bicara terus terang. "Aku she Cok, siapakah sahabat?" katanya. "Apakah sahabat men genal Cong-piauw tauw dari piauw-kiok kami?"
Pemuda itu lantas saja melompat turun dari tunggangannya dan maju beberapa tindak dengan satu tangan menuntun kuda. "Aku she Thio, namaku Coei San," ia memperkenalkan diri. "Sudah lama kudengar nama besar dari Cong piauw tauw hanya sayang aku belum bisa berkenalan dengannya."
Begitu mendengar nama "Thio Coei San" Touw Tay Kim dan yang lain2 terkejut bukan main. Nama Thio Coei San "Touw tong Cit hiap" dan dalam beberapa tahun yang terakhir namanya sangat terkenal dalam Rimba Persilatan. Menurut katanya orang ia memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan tidak dinyana, ia bukan saja masih berusia begitu muda, tapi gerak geriknya juga menyerupai anak sekolah yang lembut.
Dengan rasa sangsi Touw Tay Kim majukan kudanya seraya berkata: "Aku yang rendah ialah Touw Tay Kim. Apakah tuan bukan Gin kauw Tiat hoa Thio Ngo hiap?"
Muka pemuda itu lantas saja bersemu dadu "Pendekar apa?" tanya dengan suara jengah. "Pujian Touw Cong piauw-touw terlalu tinggi untuk diterima olehku. Sesudah datang di Boe tong-san, mengapa kalian tidak mampir ditempat kami? Hari ini adalah hari ulang tahun kesembilanpuluh dari guru kami dan jika sekiranya tidak menjadi halangan aku mengundang saudara2 naik kegunung untuk minum arak panjang umur."
Senang sekali hati Touw Tay Kim dan yang lain, "mengapa diantara Boe tong Cit hiap terdapat perbedaan watak yang begitu besar?" Kata Ciong piauw tauw itu didalam "Enam orang yang jadi begitu tak mengenal adat tapi Thio Ngo hiap sedemikian tambah ramah. Ia lantas saja melompat turun dari tunggangannya dan herkata: "Dari Lim-an kami datang di Siangyang dan tujuan kami sebenarnya adalah untuk menemui Thio Cinjin. Hanya...hanya tidak membawa barang antaran, kami merasa malu untuk mendaki gunung."
Thio Coei San tersenyum. "Kita semua sama dari kalangan Rimba Persilatan," katanya dengan suara halus,"Toaw Cong piauw tauw janganlah menganggap kami sebagai orang luar. Guruku sering mengatakan bahwa ilmu silat Boe tong pay bersumber dari Siauw lim dan ia memesan bahwa jika bertemu dengan Cian pwee Siauw lim pay kami harus menghormat nya sebagaimana mustinya kalau guruku tahu rombongan Toaw Cong piauw tauw lewat di-kaki gunung siang2 ia tentu sudah memerintahkan kami menyambut dari tempat yang jauh."
Mendengar perkataan itu Touw Tay Kim jadi salah mengerti, ia menduga Thio Coei San hanya ber-pura2 dan dalam perkataan yang tajam. Ia tertawa dan berkat dengan suara tawar. "Walaupun ilmu silat Boe tong dikatakan ter sumber dari Siau lim sie akan tetapi bagaikan warna2 hijau sebenarnya berasal dari warna biru tapi pada akhirnya hijau mengalahkan biru. Thio Sian hiap yang masih berusia muda memang sangat dikagumi orang. Tapi manusia yang seperti aku dalam usia yang sudah lanjut ini kepalaku seperti juga menempel di badan anjing."
"Ah, mengapa Cong piauw tauw", kata begitu Thio Coei San. "Dalam kalangan Kang ouw, siapakah yang tidak mengenal nama besar Lioag boen Piauw kiok? Dalam Rimba Persilatan semua orang tabu liehaynya Jie cap sie chioe Hong mo ciang dan Lian coe Kong piauw. Touw Cong piauw tauw apakah kau boleh memperkenalkan beberapa Toako ini ke padaku?"
Mendengar permintaan orang yang diajukan secara pantas, Touw Tay Kim lantas saja memperkenalkan Ciok dan Soe Piauw tauw kepada pemuda itu.
"Aku sungguh merasa beruntung bahwa dini hari bisa berkenalan dengan saudara2 yang mempunyai nama besar dalam Rimba Persilatan" kata pula pemuda itu. "Dulu Kim to golok emas dari Ciok Piauw tauw telah merohohkan Ie yang Ngo hiang (Lima Jago Ie yang) dijalankan Sin an sedang ilmu silat toya Sam gie koen dari Soe Piau tauw juga tidak kurang tersohornya."
Sebagai seorang murid yang sangat disayang oleh Thio Sam Hong pemuda itu mempunyai pengetahuan yang sangat luas mengenai didunia Kang ouw karena dia sering mendengari cerita gurunya.
Dengan otak yang cerdas dan peringatan yang kuat apa yang sudah didengarnya tidak terlupa lagi sebagai Couw soe Boe tong pay yang sudah mencapai usia sembilan puluh tahun dan mempunyai pergaulan luar, Thio Sam Hong dapat dikatakan mengenal semua partai semua cabang persilatan dan semua tokoh dan segala pengalamannya serta pengetahuannya sering diceritahan kepada murid2nya. Maka itu, begitu mendengar nama Ciok dan Soe Piaaw tauw, Thio Coei San lantas saja bisa menyebutkan kepandaian yang sering diandalkan dari kedua orang.
Bahwa pemuda itu mengenal kepandaian Touw Tay Kim yang namanya sudah terkenal selama puluhan tahun, bukan kejadian yang meng herankan. Tapi pengetahuannya mengenai Ciok dan Soe Piauw tauw, yaitu ahli2 silat kelas empat atau kelas lima, ada sedikit luar biasa. Tak usah dikatakan lagi, pujian yang diucapkan dengan nada sungguh2 itu, menggirang kan sangat hatinya ketiga pemimpin piauw hang itu.
"Cong piauw tauw" kata Ciok piauw tauw. "Hari itu secara kebetulan adalah hari ulang tahun orang tua itu. Menurut pendapatku, memang pantas jika kita naik keatas untuk menberi selamat panjang umur."
"Benar," kata Thio Coei San. "Sesudah kalian datang kesini. kami harus memenuhi tugas sebagai tuan rumah. Beberapa saudara seperuruanku adalah orang2 yang sangat suka bergaul. Marilah, aku mengundang kalian menginap semalam dua malam."
Sesudah mendengar pembicaraan itu, Touw Tay Kim mendapat lain pikiran. "Bagaimana dia bisa tahu begitu tegas mengenal Ciok dan Soe Piauw tauw?" tanya didalam hati. Dalam hal ini mungkin terdapat lain latar belakang. Apakah karena perbuatannya yang tak mengenal adat keenam orang yang tadi sudah ditegur oleh gurunya yang memerintahkan pemuda ini menghaturkan maaf dan mengundang kita?" Memikir begitu, hatinya jadi lebih lega. Ia tertawa seraya berkata: "Kalau saudara seperguruanmu sama ramah tamahnya seperti Thio Ngo hiap, sedari tadi kami sudah naik keatas gunung."
"Apa?" menegasi Coei San dengan suara heran. "Apakah Cong piauw tauw sudah bertemu dengan saudara seperguruanku? Yang mana?"
Touw Tay Kim kembali menduga pemuda itu ber-pura2. "Hari ini, rejekimu sangat besar," jawabnya. "Dalam seharian saja, aku su dah bertemu dengan hampir semua anggauta dari Boe tong Cit hiap."
Pemuda itu jadi semakin heran dan mengawasi pemimpin piauw hang itu dengan mata terbuka lebar. "Apakah kau juga bertemu dengan Jie Sam ko?" tanyanya.
"Apa Jie Thay Giam Jie Sam hiap?" menegas Touw Tay Kim. "Mereka merasa segan untuk memperkenalkan diri, sehingga aku tak tahu, yang mana itu Jie Sam hiap. Aku hanya bertemu dengan enam orang dan mungkin sekali Jie Sam hiap terdapat diantara mereka.,"
"Enam orang?" seru pemuda itu dengan suara kaget. "Sungguh mengherankan ! Siapa mereka ?"
"Mana aku tahu ? Saudara2 seperguruanmu sendiri yang sungkan memperkenalkan diri," jawabnya. "Karena kau adalah Thio Ngo hiap maka keenam orang iru mestinya Song Tayhiap dan yang lain2". Waktu berkata begitu, ia menekankan setiap perkataan "Hiap" dengan nada mengejek tapi pemuda itu yang sedang ke bingungan tidak, memperhatikan ejekan orang.
"Apa benar2 Cong piauw tauw telah betemu dengan mereka?" menegas pula Thio Coei San.
"Bukan saja aku, tapi semua orang yang mengikut dalam rombongan ini, juga telah lihat mereka," jawabnya.
Pemuda itu meng geleng2kan kepalanya. "Tak bisa jadi," katanya dengan suara pasti. "Hari ini, Song Soeko dan yang lain2 sehari suntuk menemani Soehoe di Giok hie kiong dan setindak pun mereka tak pernah berlalu dari samping Soehoe. Melihat sampai tengah hari Jie Samko belum juga datang, Soehoe telah memerintahkan siauw tee turun gunung untuk menyambutnya. Cara bagaimana Cong piauw tauw bisa bertemu dengan Song Soeko dan yang lain lain ?"
"Apakah orang yang pada pipinya terdapat sebuah tahi lalat dan pada tahi lalat itu tumbuh tiga lembar rambut bukan Song Tay hiap?" tanya Touw Tay Kim dengan hati ber debar2.
Coei San terkesiap. "Diantara Soehengteeku tak seorangpun yang bertahi lalat dipipinya," katanya.
Perkataan itu seperti air dingin yang menggusur kepala Tauw tay Kim. "Keenam orang itu mengatakan mereka adalah Boe tong Liokhiap," katanya dengan jantung memukul keras. "Diantara mereka terdapat dua toojin yang memakai topi kuning. Tentu saja kami...."
"Biarpun guruku seorang toojin, akan tetapi semua muridnya adalah orang2 biasa yang tidak memeluk agama," kata pemuda itu. "Apa kah mereka benar2 memperkenalkan diri sebagai Boe tong Liok hiap ?"
Touw Tay Kim mengeluarkan keringat dingin. Memang juga orang2 itu tidak pernah memperkenalkan diri sebagai Boe tong Liok hiap. Adalah ia sendiri yang menganggap mereka sebagai enam pendekar Boe tong, kenyataan yang sebenarnya ialah mereka tidak membantah pada waktu ia mengutarakan anggapan begitu untuk beberapa saat ia dapat mengeluarkan sepatah kata dan hanya mengawasi kedua kawannya dengan paras muka pucat. "Kalau begitu keenam orang itu mengandung maksud jahat", katanya dengan mendadak, mari kita ubar!" Ia melompat keatas punggung kudanya yang lalu dikaburkan keatas gunung.
Thio Coen San pun lantas saja menyusul dan kemudian merendengkan kudanya dengan tunggangan Touw Tay Kim. "Touw heng!" serunya "Perlu apa kita menguber mereka? Tak apa2 jika mereka menggunakan nama kami."
"Dalam ini terselip lain hal", kata Touw Tay Kim. "Bagaimana dengan orang itu? Kami sebetulnya ingin menyerahkan orang ini kepada Thio Cinjin tapi enam orang itu sudah mengabilnya dari tangan kami. Orang itu mendapat luka berat. Celaka sungguh!"
Sambil membedel kudanya dengan suara ter-putus2, ia menceritakan apa yang sudah terjadi.
"Siapa namanya orang itu? Bagaimana macamnya", tanya Coei San dengan heran.
"Entahlah," jawabnya "ia terluka berat, tak bisa bicara dan tak bisa bergerak sedang napasnya tinggal sekali2. Ia berusia kurang lebih tigapuluh tahun." Sesudah berkata begitu ia segera melukiskan roman dan potongan badan Jie Thay Giam. "Celaka", teriak Coei San dengan hati mencelus, "itulah Jie Samko!" Beberapa saat kemudian sesudah dapat menentramkan hatinya dengan tangan kiri ia manyentak les kuda Touw Tay Kim.
Binatang itu yang sedang lari keras berhenti dengan mendadak sambil berbengar keras dan berjingkrak sedang mulutnya mengeluarkan darah akibat dentakan itu.
Dengan kaget seraya menghunus golok Touw Tay Kim metompat turun dari tungganganaya. Ia heran, cara bagaimana pemuda yang badannya begitu kurus lemah bisa mempunyai tenaga yang begitu besar.
"Touw Toako jangan salah mengerti" kata pe muda itu, "dari tempat jauhnya ribuan li Toako telah mengantar Jie Sam ko sampai disini dan untuk itu semua siauwtee merasa sangat berterima kasih. Maka itu sedikitpun siauwtee tidak mempunyai maksud yang kurang baik."
Touw Tay Kim segera masukkan goloknya kedalam sarung tapi tangan kanannya mesih tetap mencekal gagang senjata itu.
"Bagaiman Jie Samko mendapat luka? Siapa musuhnya? Siapa yang minta Touw Toako mengantarkannya sampai disini?" tanya Coei San.
Tapi antara tiga pertanyaan itu, satupun tak dapat dijawab oleh Touw Tay Kim.
"Bagaimana macamnya keenam orang itu yang mengambil Jie Samko?" tanya pemuda itu. Sebelum Toauw Tay Kim keburu menjawab, Soe Piauw-tauw sudah mendahului dan lalu melukiskan macamnya orang2 itu.
"Kalau begitu, biarlah Siauwtee coba mengubar mereka", kata Thio Coei San seraya memberi hormat dan lalu kaburkan tunggangannya sekeras-kerasnya.
Sebagai saudara seperguruan dan dengan bersama2 melakukan pekerjaan mulia, Boetong Cit hiap mencintai satu sama lain seperti saudara kandung. Mendengar kakaknya luka berat dan jatuh ketangan orang2 yang belum di ketahui siapa adanya, bukan main bingung Coei San. Ia membedal mencambuk kuda mustika itu, se-olah2 tidak menghiraukan jika tidak tunggangannya yang disayang mesti lantaran kecapaian. Dalam sekejap ia sudah tiba di Co tiam, satu tempat dimana terdapat tiga cagak jalanan: yang satu naik keatas gunung, sedang yang lain membelok kejurusan timur laut sampai di kota In-yang.
"Kalau enam orang itu benar2 mengantar Jie Samko keatas gunung, waktu turun gunung, aku pasti sudah bertemu dengan mereka," katanya didalam hati. Memikir begitu, ia lantas saja mengambil jalanan yang menjurus ketimur laut.
Sesudah lari kurang lebih satu jam, meskipun bertenaga kuat, per-lahan2 kuda itu menjadi lelah dan semakin lambat. Siang sudah ter ganti dengan malam dan dijalanan gunung yang memangnya sepi, sudah tidak terdapat lagi manusiapun yang bisa diminta keterangannya. Sambil mengubar, pemuda itu, mengaju kan macam2 pertanyaan pada dirinya sendiri "Jie Samko memiliki kepandaian yang sangat tinggi." Pikirnya. "Bagaimana ia bisa dilukakan orang dengan begitu mudah? Tapi dilihat dari sikap dan perkataan Touw Tay Kim tak bisa jadi ia mendusta."
Selagi mengasah otak, tiba2 kuda itu berbanger dan lari kesebidang tanah lapang dimana terdapat beberapa kuburan. Thio Coei San mengerti bahwa penyelewengannya binatang itu pasti disebabkan oleh sesuatu yang luar biasa. Dengan waspada ia mengawasi tanah lapang itu. Sesaat kemudian ia mendapat kenyataan, bahwa sebuah kereta roboh terguling di antara rumput yang tinggi.
Setelah lihat seekor keledai rebah didepan kereta itu dengan kepala hancur. Buru2 ia melompat turun dan menyingkap tirai kereta, tapi didalamnya tidak terdapat manusia. Ia menengok keseputarnya dan mendadak matanya yang sangat jeli melihat seso sok tubuh manusia rebah didalam gompolan rumput. Dengan jantung memukul keras, ia menubruk dan mengangkat orang itu. Dengan sekelebatan saja, ia sudah mengenal bahwa orang itu bukan lain dari pada Soekonya yang sedang dicari.
Dalam kegelapan, samar2 ia lihat kedua mata kakak seperguruan itu tertutup rapat, sedang mukanya pucat bagaikan kertas. Bukan main kaget dan sakit hatinya. Dengan tangan gemetar, ia mendukung sang Soeko dan menempelkan mukanya sendiri dimuka yang pucar itu. Tiba2, dalam hatinya yang duka timbul harapan, karena ia merasakan sedikit hawa hangat dipipi Jie Thay Giam. Buru2 ia meraba dada Soekonya dan ternyata jantung sang kakak masih mengetuk dengan perlahan.
"Samko" teriaknya sambil mengucurkan air mata. "Samko...mengapa kau? Aku Ngotee.. .Ngoteemu...." Dan perlahan dan hati2 ia bangun berdiri. Sekali lagi, jantungnya memukul keras, ke dua tangan danw kedua kaki Jie Thay Giam kontal kantul kebawah. Ternyata tulang2nya telah dipukul patah, sedang darah mengalir dari jeriji pergelangan tangan lengan dan betis nya. Melihat kekejaman musuh, Thio Coei San marasa dadanya mau meledak, melihat luka itu ia tahu bahwa musuh belum pergi jauh dan jika diubar ia masih bisa menyandaknya. Dalam kalanya ia lantas saja melompat keatas punggung kuda untuk mengejar, tapi dilain sa at ia mendapat lain pikiran yang lebih jernih. "Luka Jie Samko berat luar biasa dan perlu segera ditolong," pikirnya. "Jika seorang koencu mau membalas sakit hati, sepuluh tahun masih belum terlambat,"
Karena kuatir goncangan2 diatas kuda memperhebat luka sang Soeko, maka, sesudah berpikir sejenak, ia segera mendukung tubuh Jie Thay Giam dengan hedua tangannya dan lain berjalan pulang dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Kuda jempolan itu, yang mungkin merasa heran mengapa sang majikan tidak menunggunya, mengikuti dari belakang.
==========================
HARI itu adalah hari ulang tahun kesembilan puluh dari Couw-soe Boe-tong-pay Thio Sam Hong. Sedari pagi sekali, Giak-hie-kiong sudah diliputi dengan suasana bersuka ria. Dengan bergiliran, ke-6 muridnya memberi selamat panjang umur dan berlutut. Hanya sayang diantara 7 murid itu masih kurang seorang. Menurut perhitungan, sesudah menjalankan tugas membunuh seorang penjahat besar di Tiongkok Selatan. siang2 Jie Thay Giam sudah harus kembali. Tapi ditunggu sampai tengah hari, ia belum juga kelihatan mata hidungnya. "Semua orang dibawah_gunung," kata Thio Coei San.
Tapi begitu pergi, Thio Coei San pun tak ada kabar ceritanya. Dengan menunggang kuda istimewi, andaikata ia pergi sampai di Lao ho kouw, iapun sudah mesti pulang lebih siang, tapi ditunggu hingga Yoe sie dari jam 5 sore sampai tujuh malam, ia belum juga kelihatan bayangan bayangannya.
Di ruang tengah, meja perjamuan sudah di atur rapih, sedang lilin merah sudah habis separuhnya. Semua orang mulai bingung. Murid keenam In Lie Heng dan murid ke7 Boh Seng Kok sudah keluar masuk puluhan kali, sedang saudaranya yang lainpun tak kurang bingungnya. Sebagai seorang yang ilmu kebatinannya sudah sangat tinggi, Thio Sam Hong tetap t nang. Tapi ia yakin, bahwa belum pulangnya kedua murid itu mesti disebabkan oleh kejadian sangat luar biasa. Ia kenal baik watak mereka. Jie Thay Giam sangat ber-hati2 dan boleh diandalkan untuk memegang pekerjaan penting sedang Thio Coei San seorang pemuda yang cerdas dan selalu bisa bertindak dengan mengimbangi jelatatan.
Serasa mengawasi lilin yang semakin pendek Song Wan Kiauw berkata sambil tertawa "Soe hoe, Jie Samtee dan Thio Ngotee tentulah juga bertemu dengan urusan ganjil dan mereka lalu menggulung tangan baju untuk mencampurinya, Soehoe selamanya menganjurkan kami untuk melakukan perbuatan mulia dan hari ini, hari ulang tahun Soehoe, kedua soetee menolong sesama manusia sebagai hadiah ulang tahun."
Thio Sam Hong mengurut jenggotnya."Hm pada hari ulang tahunku yang kedelapanpuluh kau telah menolong seorang janda yang mem buang diri kedalam sumur" katanya seraya tertawa, "perbuatanmu itu memang harus dipuji akan tetapi jika dalam sepuluh tahun baru menolong orang satu kali mereka yang perlu di tolong sungguh harus menunggu dengan sangat tidak sabaran". Mendengar perkataan guru mereka lima murid itu lantas saja tertawa geli, tapi adatnya sangat terbuka dan sering sekali ia berguyon dengan murid2nya "paling sedikit Soehoe akan bisa hidup dua ratus tahun kata", Thio Siong Kee murid keempat sambil bersenyum "jika setiap sepuluh tahun kami melakukan sesuatu perbuatan baik ditambah jumlah nya tidak sedikit."
Boh Seng Kek murid ketujuh tertawa nyaring "hanya mungkin sekali kita tak bisa makan umur begitu panjang" katanya.
Baru saja perkataan itu habis diucapkan, Song Wan Kiauw dan Jie Liam Cioe, murid ke dua se konyong2 melompat keluar seraya ber teriak:" Apa Samtee!"
"Benar" jawab Thio Coei San dengan suara parau dilain saat dengan kedua tangan pakaian berlepotan darah dan penuh keringat ia bertindak masuk dengan tindakan limbung dan lalu berlutut dihadapan Thio Sam Hong. "Soe hoe...." katanya "Jie Samko.,..telah dibokong orang!"
Semua orang terkesip. Sehabis berkata begitu, badan Thio Coei San bergoyang, dan ia roboh terjengkang karena terlalu lelah dan duka.
Song Wan Kiauw dan Jie Lian Cioe adalah orang2 yang mempunyai pengalaman luas dan mereka tahu sebab musabab dari pingsannya Thio Coei San. Mereka mengerti bahwa apa yang penting adalah Jie Tay Giam. Maka itu dengan berbareng mereka menubruk dan mengangkat tubuh Jie Sam. Begitu meraba dada si adik, hati mereka mencelos sebab napas Jie Thay Giam tinggal sekali.
Melihat muridnya yang disayang terluka begitu berat tanpa mengeluarkan sepatah kata, Thio Sam Hong buru2 masuk kekamarnya dan keluar lagi dengan membawa pels Pek houw Tok bang tan (pememulihkan jiwa yang mulutnya ditutup dengan lilin putih)Untuk tidak membuang tempo dengan dua jarinya ia mememijit peles itu yang lantas saja menjadi hancur. Ia mengambil tiga butir pel yang lalu dimasukkan kedalam mulut Jie Thay Giam. Tapi gigi Jie Sam hiap terkancing dan mulutnyn tertutup rapat.
Thian Sam Hong segera mengangkat kedua tangannya dan dengan menggunakan jempol dan telunjuk, ia menotok Liong yauw kiauw diujung kuping Jie Thay Giam dengan tenaga Ho cweekin. Pada waktu itu kepandaian Thio Sam Hong sudah sedemikian tinggi sehingga dengan Ho cweekin Tiam Liong yauw kiauw, tenaga Ho cwee kin menotol Liong yauw kiauw ia malahan dapat menyadarkan untuk sementara waktu orang. Sesudah menotol dua puluh kali, simurid masih juga tidak bergerak.
Sambil menghela napas, ia segera menengkurupkan kedua telapak tangannya dan menotol jalanan darah Kian kie hiat didagu muridnya, dengan menggunakan In cioe atau telaga dingin. Sesudah itu, ia membalik kedua telapak tangannya dan menotok pula dengan Yang cioe atau tenaga panas, per-lahan2 mulut Jie Thay Giam terbuka dan ia lalu menelan tiga butir pil itu.
Tapi otot2 leher Jie Sam hiap sudah menjadi kaku, sehingga biarpun masuk kedalam tenggorokan pel itu tak bisa turun terus sampai di perut. Guru besar itu segera memerintahkan Thio Siong Kee mengurut leher Jie Thay Giam sedang ia sendiri lalu menotok jalanan darah Kwat poen dan Jie hoe dibagian pundak serta Yang koan dan Beng Boen diujung tulang punggung, supaya sesudah tersadar si murid jangan merasakan kesakitan yang terlalu hebat.
Semenjak Song Wan Kiauw dan Jie Lian Cioe berguru biarpun menghadapi urusan yang bagai mana besar, sang guru selalu bersikap tenang. Tapi sekarang tangan guru itu bergemetar sedang paras mukanya mengunjuk rasa bingung sehingga mereka mengerti, bahwa luka adik mereka luar biasa berat.
Selang beberapa saat, Jie Thay Giam mulai tersadar.
"Soehoe," kata Thio Coei San dengan suara pilu. "Apakah Jie San ko masih bisa ditolong jiwanya ?"
Thio Sam Hong tidak menjawab secara langsung. Ia hanya berkata: "Dalam dunia ini siapa kah yang bisa hidup untuk se-lama2nya ?"
Tiba2 terdengar suara tindakan orang. Seorang toojin kecil masuk kedalam ruangan itu dan memberitahu, bahwa Touw Tay Kim dan lain2 piauw tauw Liong boen Piouw kiok datang berkunjung.
Paras muka Thio Coei San lantas saja berubah gusar. "Ini semua gara2 kawanan manusia itu!" teriaknya seraya melompat keluar. Dilain saat diluar kelenteng terdengar suara jatuhnya senjata2 diatas tanah. Baru saja In Lie Heng dan Boh Seng Kok ingin melompat keluar untuk membantu Soehengnya, Thio Coei San sudah kelihatan berjalan masuk dengan satu tangan menenteng seorang lelaki yang badannya tinggi besar. Sambil melontarkannya keras2 di atas lantai ia berseru: "Manusia inilah yang sudah merusak urusan besar!"
Diantara Boe tong Cit hiap, In Lie Henglah yang beradat paling berangasan. Mendengar orang itu yang menyebabkan terlukanya sang Soeko, ia segera melompat dan mengangkat kaki untuk menendang Touw Tay Kim.
"Lioktee! Tahan!" bentak Song Wan Kiauw.
"Hei! Orang2 Boetong memakai aturan atau tidak?" demikian terdengar teriakan diluar kelenteng. "Kami adalah tamu2 yang datang ber kunjung. Mengapa kau menghina kami?"
Song Wan Kiauw mengerutkan alisnya. Ia menghampiri Touw Tay Kim dan menepuk belakang kepala dan punggung Cong-piauw-tauw itu, untuk membuka jalanan darahnya. "Yang di luar harap jangan ribut," teriaknya, "Tunggu sebentar". Suara itu angker dan nyaring luar biasa dan orang2 Liong-boen Piauw-kiok yang menduga bahwa teriakan itu adalah teriakan Thio Sam Hong, tak berani banyak ribut lagi.
"Ngo-tee," kata Song Wan Kiauw. "Bagaimana Samtee bisa mendapat luka begitu berat ? Ceritakanlah dengan tenang."
Sesudah mengawasi Tauw Tay Kim dengan sorot mata gusar, barulah Thio Coei San menerangkan, bagaimana Liong boen Piauw-kiok telah diminta oleh seorang untuk mengantarkan Jie Thay Giam ke Boetong-san dan bagai mana saudara itu akhirnya diambil enam penjahat yang menyamar sebagai murid2 Boetong. Sedari tadi, sesudah lihat kepandaian Tay Kim, Song Wan Kiauw sudah tahu, bahwa Cong piauw tauw itu bukan orang yang bisa mencelakakan Soe-teenya. Begitu mendengar keterangan Thia Coei San, paras mukanya lantas saja berubah sabar dan dengan kata2 manis, ia segera bertanya kepada Tauw Tay Kim hal ihwal peristiwa itu.
Touw Tay Kim lantas saja menceritakan segala kejadian se-terang2nya. Pada akhirnya ia berkata dengan suara duka: "Song Tayhiap, aku benar2 tolol dan karena kebodohanku, Jie Samhiap mesti menderita begitu lebat. Kutahu bahwa aku berdoa besar sekali dan pantas mendapat hukuman mati. Nasib keluarga kami di Lim an juga belum tahu bagaimana jadinya."
Selagi muridnya bicara dengan tamu itu, Thia Sam Hong tidak mencampuri dan sambil mengempos semangat terus menempelkan telapak tangannya pada jalan darah Sincong dan Lengtay untuk memberi bawa panas kepada Jie Thay Giam, Tapi begitu lekas mendengar perkataan Tauw Tay Kim yang berakhir ia segera berkata: "Lian Coe, bersama Seng Kok sekarang juga kau harus berangkat ke Lim an untuk melindungi keluaga Long boen Piauw kiok"
"Soehoe." kata Thio Coei San dengan suara penasaran. "Orang she Touw itu terlalu gila dan karena gara2nya, biarpun tidak disengaja Sam soeko mesti menderita begitu hebat. Bahwa kita tidak membuat perhitungan dengannya, dia sudah untung besar. Perlu apa melindungi anak isteri dan keluarganya ?"
Sang guru tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala, sebagai tanda tidak setuju dengan pendapat si murid.
"Ngo tee," kata Song Wan Kiauw. "Mengapa pemandanganmu begitu sempit? Untuk siapa Tauw Cong piauw tauw datang kemari dengan melalui perjalanan ribuan li ?"
"Untuk mengantongi dua ribu tahil emas," jawabnya sambil tertawa dingin. Mendengar perkataan itu, muka Touw Tay Kim lantas saja berubah merah. Dalam hati kecilnya ia juga mengakui, bahwa kesudiannya untuk mengantar Jie Thay Giam memang sebab hadiah yang besar itu.
"Ngo tee!" bentak Song Wan Kiauw. "Jangan kau kurang ajar terhadap tamu kita ! Kau sudah terlalu capai pergilah mengaso."
Dalam kalangan Boe tong pay kedudukan seorang Soeheng sangat diindahkan dan disegani. Baik dalam ilmu silat dan usia maupun dalam pribadi dan kemuliaan Song Wan Kiauw lebih menang setingkat daripada semua saudara seperguruannya. Maka itu dari Jie Lian Cioe sampai Boh Seng Kok, tak seorangpun yang tidak menghormatinya. Begitu dibentak Thio Coei San tidak berani mengeluarkan suara lagi, tapi ia terus berdiri disitu sebab sangat memikiri keadaan Jie Thay Giam.
"Jie tee," kata pula Song Wan Kiauw. "Menolong jiwa orang seperti menolong bahaya kebakaran. Sesudah Soehoe mengeluarkan perintah, kurasa lebih baik kau berangkat malam ini juga ber-sama2 Cittee," Jie Lian Cioe dan Boh Seng Kok lantas saja meninggalkan ruangan itu untuk bebenah.
Melihat kedua pendekar itu ber-siap2 untuk pergi ke Lim-an guna melindungi keluarga Liong boen Piauw kiok bukan main rasa berterima kasihnya Touw Tay Kim. Tapi rasa terima kasih itu bercampur dengan rasa malu yang besar. "Thio Cinjin," katanya sambil memberi hormat kepada Thio Sam Hong dengan merangkapkan kedua tangannya. "Dalam urusan kami Boanpwee tidak berani merepotkan Jie hiap dan Boan hiap. Sekarang saja kami berpamit."
"Malam ini kalian menginap saja ditempat kami " kata Song Wan Kiauw, "Kami masih ingin menanyakan beberapa hal". Perkataan itu diucapkan dengan manis budi mengandung pengaruh besar yang sukar ditolak, sehingga tanpa membantah lagi Touw Tay Kim segera duduk dipinggiran. Beberapa saat kemudian Jie Liam Cioe dan Boh Seng Kok mengambil selamat berpisah dari gurunya dan sesudah mengawasi Jie Thay Giam beberapa kali, dengan perasaan tertindih mereka turun gunung untuk menjalankan perintah sang guru. Bahwa mereka merasa berat untuk meninggalkan saudara seperguruannya yang terluka berat, sangat bisa dimengerti, karena masih merupakan pertanyaan, apakah mereka akan bisa bertemu muka lagi.
Seluruh ruangan sunyi senyap dan apa yang terdengar, hanyalah suara nafas Thio Sam Hong yang ter-sengal2. Diatas kepala guru besar itu kelihatan keluar semacan uap panas, sebagai tanda bahwa Thio Sam Hong tengah mengerahkan Lweekang yang sangat dahsyat. Berselang kira2 setengah jam, se-konyong2 Jie Thay Giam mengeluarkan teriakan menggeledek, sehingga ruangan itu se-olah2 tergetar.
Touw Tay Kim terkesiap dan tanpa merasa, ia melompat bangun dari kursinya. Ia melirik Thio Sam Hong dan dapat kenyataan, paras muka orang itu mengunjuk rasa jengkel atau rasa girang, sehingga sukar sekali ditebak apa artinya teriakan Jie Thay Giam itu.
"Siong Kee, Lie Heng, bawalah Samkomu kedalam kamar supaya ia bisa mengaso."
Sesudah menjalankan titah gurunya, mereka masuk lagi kedalam ruangan itu, "Soehoe, apa ilmu silat Samko bisa pulih lagi seperti biasa?" tanya In Lie Heng.
Thio Sam Hong menghela napas panjang. Selang beberapa saat, barulah ia menjawab dengan suara perlahan: "Apakah jiwanya bisa tertolong, masih harus menunggu tempo sebulan. Urat2nya yang sudah rusak dan tulang2-nya yang patah, tak bisa disambung lagi. Selama hidupnya...." ia tak dapat meneruskan perkataannya dan hanya meng-geleng2kan kepalanya dengan paras berduka.
Mendengar jawaban itu, In Lie Heng tak bisa menahan lagi rasa sedihnya, ia lantas saja menangis tersedu2. Diantara saudara seperguruannya, biarpun sudah memiliki kepandaian sebagai ahli silat kelas utama, hatinya paling lembek dan mudah sekali menangis.
Melihat saudaranya menangis, Thio Coei San lantas meluap darahnya. Dengan sekali me lompat, tangannya melayang menggaplok muka Touw Tay Kim. Congpiauw tauw ini coba menangkis, tapi tangan Thio Coei San menyambar bagaikan kilat cepatnya dan pipinya sudah kena digampar. Kena belum puas, Coei San lalu mengirim tinju kepinggang Touw Tay Kim tapi untung sebelum mengenakan sasarannya, Thio Siong Kee keburu men dorong pundak saudaranya sehingga tinju itu jatuh ditempat kosong. Saat itu, Touw Tay Kim pun coba menolong diri dengan melomat kebelakang dan selagi ia melompat tiba2 terdengar suara "trang" sepotong emas jatuh dilantai dari sakunya.
Thio Coei San menjemput emas itu dan berkata dengan suara dingin "manusia serakah begitu lihat berkredepnya emas kau segera menyerahkan Jie Samko kepada orang...." Tiba2 perkataannya putus ditengah jalan disusul dengan seruan "ih".
"Toako" katanya sambil mengawasi potongan emas itu, "lihatlah tapak jari2 ini adalah akibat ilmu Kim kong cie dari Siauw lim pay"
Song Wan Kiauw meneliti potongan emas itu beberapa lama dan kemudian menyerah kan kepada sang guru yang lalu mengawasi dengan penuh perhatian dan membulak balik nya beberapa kali tapi tidak berkata apa2.
"Soehoa" teriak Thio Coei San "tak bisa salah lagi itulah ilmu Kim kong cie dari Siauw lim pay. Dalam dunia ini tiada lain partai yang memiliki ilmu begitu, Soeboe bukankah begitu?"
Pada saat itu didepan mata Thio Sam Hong kembali terbayang kejadian dimasa lampau. Ia ingat bagaimana diwaktu masih kecil ia melayani gurunya. Kak wan Tay Soe yang bertugas dalam Cong keng kok, bagaimana mereka telah merobohkan Koen loen Sam sang, bagaimana mereka kabur dengan diuber oleh pendeta Siauw Him sie, dan bagaimanaia akhirnya menetap digunung Boe tong san. Melihat tapak jarak pada potongan emas itu memang tak bisa dipungkir lagi itu semua adalah akibat perbuatan seorang Siauw lim sie. Ilmu silat Boe tong pay mengutamakan Lweekang dan tidak memperhatikan ilmu keras untuk bisa menghancurkan batu dan sebagainya. Dalam lain2 partai persilatan mempelajari ilmu Gwa kang (ilmu silat luar) terdapat tenaga telapak tangan, tenaga tinju, tenaga kaki dan sebagai nya yang hebat tapi tak satu partaipun yang memiliki tenaga jari tangan yang begitu dahsyat.
Maka itulah sesudah Thio Coei San menanya dua tiga kali ia masih juga belum memberi jawaban. Jika ia bicara terus muridnya tentu tak mau mengerti dan sebagai akibatnya dua partai besar dalam Rimba Persilatan akan saling bertempur.
Thio Coei San yang sangat cerdas lantas saja bisa menebak jalan pikiran gurunya. "See-hoe", katanya pula. "Apakah dalam Rimba Persilatan bisa muncul seorang luar biasa, yang tanpa didikan guru, dapat memiliki ilmu Kim kong cie?"
Thio Sam Hong menggelengkan kepalanya. "Tak mungkin", jawabnya. "Kim-kongcie adalah hasil pengalaman, bukan ilmu yang bisa digubah dalam tempo pendek. Menurut pendapatku, seorang yang paling cerdas otaknya tak akan bisa memiliki Kim kong cie, tanpa pimpinan guru". Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula: "Dulu, pada waktu berdiam dalam kuil Siauw lim sie, aku pun tak tahu, bagaimana jari tangan manusia bisa mempunyai kekuatan yang begitu luar biasa."
Sesaat itu pada kedua mata Song Wan Kiauw terlihat sorot yang luar biasa "soehoe," katanya. Dilihat begini, urat dan tulang sam tee juga dihancurkan dengan ilmu Kimkong ci.
Mendengara perkataan sang Toako. InLie Hang menangis pula.
Dilain pihak, Touw Tay Kim mendengar pembicaraan antara guru dan murid itu dengan hati berdebar2. Beberapa kali ia sudah membuka mulut, tapi mulutnya tak dapat mengeluarkan suara. Akhirnya, sesudah menenteramkan hati, ia dapat juga berkata: "Tidak! Tak mungkin orang Siauw Lim-sie. Belasan tahun aku berdiam dalam kuil Siauw lim sie tapi belum pernah aku bertemu dengan orang itu."
Song Wan Kiauw mengawasi Cong piauwtauw itu dengan sorot mata bersangsi. "Liok tee, antarlah tamu2 kita keruangan belakang, supaya mereka bisa mengaso," katanya. "Bari tahukan Loo-ong supaya ia merawat baik2 semua tamu kita." In Lie Heng mengiakan dan lain mengajak Touw Tay Kim dan yang lain2 pergi kebagian belakang kelenteng itu.
Sesudah mengantarkan Piauw tauw dan pegawai Liong boen Piauw kiak kekamar tamu, In Lie Heng pergi kekamar Jie Thay Giam. Ia lihat kakak itu rebah dengan paras muka seperti mayat, sedang napasnya pun terdengar lemah sekali, "Samko!" serunya dengan suara menyayat hati dan kemudian sambil menekap muka dengan kedua tangan, Song Wan Kiauw dan lain2 saudara seperguruannya sedang duduk diseputar guru mereka, maka iapun segera mengambil tempat duduk disamping Thio Coei San.
Untuk beberapa lama dengan mata mendelong Thio Sam Hong mengawasi pohon kwie yang, tumbuh ditengah cemehe (Red: what is a cemehe?). Ia meng gelengkan kepala dan berkata dengan suara duka: "Urusan ini sulit sekali. Siong Kee, bagaimana pendapatmu?"
Diantara tujuh murid Boe tong. Thio Siong Keelah yang paling berakal budi. Jika Boe tong pay menghadapi soal2 sulit, ialah yang jadi juru pemikir dan biasanya ia selalu dapat memecahkan cengkeraman sukar. Tak usah dikatakan lagi, sedari pulangnya Thio Coei San dengan mendukung Jie Thay Giam yang luka berat, ia sudah mengasah orak untuk menembus kabut yang meliputi peristiwa itu. Mendengar pertanyaan gurunya, ia lantas saja menjawab: "Menurut pendapat teecu, bencana ini bukan bersumber pada Siauw lim-pay, tapi pada To liong to."
"Sie tee." kata Song Wan Kiauw. "Coba ceritakan pendapatmu se-terang2nya, supaya bisa dipertimbangkan Soehoe."
"Jie Sam ko adalah seorang yang sangat berhati2 dan juga pandai bergaul, sehingga tak mungkin ia menanam bibit permusuhan secara semberono." kata Siong Kee. "Disamping itu, penjahat besar yang telah dibinasakan Sam ko hanya memiliki ilmu silat kelas tiga dan sangat dibenci oleh orang Rimba Persilatan. Maka itu, tak mungkin orang Siauw lim-pay turunkan tangan jahat untuk membela penjahat itu."
Thio Sam Hong manggut2kan kepalanya.
"Putusnya urat2 dan tulang2 Sam ko sudah terjadi ditengah jalan." katanya pula. "sebelum berangkat dari Lim an, Sam ko memang sudah kena racun yang sangat hebat, sehingga menurut teecoe, jalan satu2nya bagi kita ialah pergi ke Lim an untuk menyelidiki, bagaimana Sam ko kena senjata beracun dan siapa yang melepaskan senjata itu."
"Benar," kata sang guru. "Racun yang masuk kedalam badan Thay Giam sangat luar biasa. Sampai sakarang, aku belum tahu, racun apa adanya itu. Pada telapak tangannya terdapat tujuh lubang kecil, seperti ditusuk jarum. Dalam dunia Kangouw, belum pernah kudengar senjata rahasia yang begitu aneh."
"Peristiwa ini memang aneh bukan main." kata Song Wan Kiauw. "Menurut pantas, seorang yang bisa melukakan Sam tee dengan senjata rahasia, mestinya seorang ahli silat dari kelas satu. Tapi, seorang ahli silat kelas satu biasanya sungkan menggunakan senjata rahasia keracun."
Semua bungkam. Seluruh ruangan sunyi senyap, sehingga suara nafas guru dan murid2 itu bisa terdengar nyata. Selang beberapa saat, kesunyian itu, dipecahkan oleh Thio Siong Kee "mengapa orang yang bertahi lalat itu menghancurkan tulang Sam ko?" tanyanya "jika ia sakit hati dengan sekali pukul saja ia bisa mengambil jiwa Sam ko. Kalau mau menyiksa mengapa ia tidak menghantam tulang punggung. Kurasa dipersakitinya Samko bertujuan untuk mengorek keterangan dari mulut Samko. Keterangan apa tentang To liong to? Bukankah Tauw Tay Kim memberi tahukan bahwa salah seorang diantara mereka telah menyebut To Liong to?"
"Perkataan Boe lim cie coat po to to liong, Ie thian poet coat sweeie ceng hong sudah tersiar beberapa ratus tahun" kata Song Wan Kiauw "apakah bisa jadi baru sekarang benar muncul sebilah To liong to?"
"Bukan beberapa ratus tahun", membantah sang guru, "perkataan itu baru tersiar pada kira2 tujuh puluh tahun berselang.Waktu aku masih muda dalam kalangan Kang ouw tidak pernah terdengar perkataan bagitu."
Sekonyong2 Thio Coei San bangun seraya berkata "apa yang dikatan Sie ko sedikitpun tak salah. Orang yang mencelakakan Sam ko mestinya berada didaerah Kanglam, marilah kita sama2 cari manusia itu. Akan tetapi orang Siauw lin pay yang sudah turunkan tangan begitu kejam juga tidak boleh dibiarkan begitu saja."
"Wan Kiauw bagaimana kita harus menghadapi urusan ini?" tanya Thio Sam Hong sambil menengok kepada muridnya. Selama berapa tahun yang paling akhir segala urusan besar dan kecil dalam Boe tong pay memang sudah di serahkan kepada murid itu oleh sang guru. Sebagai seorang yang pandai bekerja dan selalu bertindak dengan hati2, sebegitu jauh Wan Kiauw belum pernah mengecewakan pengharapan gurunya.
Mendengar pertanyaan itu ia lantas saja bangun berdiri dan segera menjawab dengan sikap hormat, "Soehoe urusan ini bukan hanya urusan membalas sakit hati Sam tee, tapi juga bersangkut paut dengan keselamatan nama dan Boe tong pay. Kalau kita bertindak salah sedikit saja akibatnya bisa hebat sekali dan mungkin merupakan bencana besar bagi seluruh rimba Persilatan. Maka itu dalam urusan yang sangat besar ini tee coe memohon petunjuk dan keputusan Soehoe sendiri."
"Baiklah", kata Thio Sam Hong "bersama Siauw Kee dan Lie Heng kau pergi kekuil Siauw lim sie dan menyerahkan suratku kepada Hong thio Hong hoat Sian soe serta ceritakan juga se-terang2nya. Kau boleh tambah dengan permintaan supaya Hong-hoat Siansoe suka memberi petunjuk2. Dalam urusan Siawlim pay menurut hematku, kita boleh tak usah mencampuri. Siauwlim pay adalah sebuah partai persilatan yang memegang keras segala peraturannya, sedang Hong hoat Siansoe pun seorang yang sangat dihormati dalam Rimba per silatan. Maka itu, aku merasa pasti, bahwa soal yang mengenakan Siauw lim pay dapat di bereskan oleh mereka sendiri."
Ketiga murid itu lantas jaja mengiakan de ngan sikap menghormat.
"Kalau hanya untuk mengirim sepacuk surat Liok Sietee sendiri sudah lebih daripada cukup," pikir Thio Siong Kee. "Mengapa Soehoe memerintahkan juga Toasoeko dan aku sendiri untuk pergi bersama? Perintah ini pasti mempunyai maksud yang lebih dalam. Mungkin sekali Soenoe kuatir Siauw limpay akan rewel dan ingin supaya kita bertiga bisa bertindak dengan mengimbangi selatan,"
Sesaat kemudian benar saja sang guru berkata pula: "Perhubungan antara partai kita dan Siauw lira pay tidak begitu erat. Aku adalah seorang murid Siauw lim sie yang telah kabur dari tersebut. Mungkin sekali karena memandang usiaku yang sudah lanjut, mereka tidak menyatroni Boetong san dan menyeretku kembali ke Siauw lim-sie. Tapi biar bagaimanapun jua, antara kedua partai masih mempunyai sangkut paut." Ia tertawa dan kemudian berkata pula. "Kalau sudah tiba di Siauw lim sie kau bertiga harus bersikap hormat terhadap Hong boat Hong thio. Tapi kamipun tak boleh bikin merosot derajatnya partai kita."
Ketiga murid itu manggut2kan kepala sebagai janji, bahwa mereka akan memperhatikan segala pesanan sang guru. Thio Sam Hong menengok kepada Thio Coei Sam dan berkata pula: "Coei San, besok kau berangkat ke Kanglam untuk menyelidiki urusan ini dan dalam segala hal kau harus mendengar perkataan Jie soeko." Murid ia lantas saja membungkuk dan mengiakan
"Malam ini perjamuan dibatalkan saja," kata lagi Thio Sam Hoag. "Satu bulan kemudian kita berkumpul lagi disini. Andaikata Thay Giam tak bisa disembuhkan, kamu masih bisa bertemu lagi dengannya." Perkataan yang paling akhir diucapkan dengan suara gemetar. Didalam hati orang itu sangat berduka. dan ia tak nyana bahwa sesudah mempunyai nama besar selama puluhan tahun, dalam usia sembilan puluh, salah seoreng muridnya yang tercinta mengalami bencana. In Lie Hong yang cetek air matanya lantas saja menangis dengan perlahan.
"Pergi tidurlah," kata sang guru seraya mengebas tangan jubahnya.
"Soehoe," kata Song Wan Kiauw dengan suara menghibur. "Samsoetee adalah seorang mulia yang selalu menolong sesama manusia. Orang kata manusia yang baik selalu dipayungi Tuhan Yang Maha Kuasa. Teecoe percaya, Langit mempunyai Mata dan Samsoetee pasti akan tertolong jiwanya...." berkata sampai di situ suaranya parau dan air matanya mengalir turun.
Demikian pendekar2 itu yang biasa menghadapi bahaya tanpa berkedip sekarang menangis ter-sedu2 karena rasa duka dan penasaran yang sangat hebat.
Diantara saudara2 seperguruannya Jie Tay Giam dan In Lie Henglah yang bergaul paling erat dengan Thio Coei San. Maka itu Thio Coei Sanlah yang paling bergusar dan kegusaran itu menyesak dalam dadanya sebab tak bisa dilampiaskan. Sesudah kurang lebih satu jam rebah diatas pembaringan dengan gelisah per-lahan2 ia bangun dan berjalan keluar dari kamarnya dengan niatan mencari Touw Tay Kim dan menghajar Cong piauw tauw itu untuk melampiaskan kemendongkolannya. Karena kuatir ia berlaku dengan hati-hati supaya tindakannya tidak didengar orang.
Waktu tiba di ruangan itu sambil menggendong kedua tangannya, orang yang bertubuh jangkung itu, bukan lain dari pada gurunya sendiri. Ia berdiri terpaku dibelakang satu tiang tanpa berani ber gerak. Ia tahu, bahwa jika sekarang ia kembali kekamarnya, gerak geriknya pasti diketahui sang guru. Kalau ia mengaku sejujurnya yaitu hendak menghajar Tauw Tay Kim, ia pasti bakal dapat teguran keras.
Beberapa saat kemudian, tiba2 Thio Sam Hong mengangkat tangan kanannya dan menulis huruf2 ditengah udara. Dengan memperhatikan gerak2an tangan itu, Coei San mendapat kenyataan, bahwa yang ditulis gurunya adalah dua huruf "Song loan" atau Kesedihan kekalutan. Sesudah mengulangi beberapa kali sang guru menulis dua huruf lain yaitu "To-tok" atau Penganiayaan hebat, diubrak abrik. Melihat begitu, Thio Coei San lantas saja tahu, bahwa gurunya sedang menulis "Song loan siap" dari Ong Hie Cie.
THIO COEI SAN mendapat gelaran Gin kauw Tiat hoa (Gaetan perak Coretan besi) karena tangan kirinya menggunakan Houw tauw kauw (Gaetan kepala harimau ) yang terbuat dari pada perak, sedang tangan kanannya bersenjatakan Poan koan pit (senjata yang menyerupai pena Tionghoa) yang terbuat daripada besi. Sebab kuatir ditertawai oleh kaum sasterawan, maka sesudah mahir dalam ilmu silat, ia lalu mempelajari juga ilmu surat di bawah pimpinan gurunya yang Boen boe coan cay (pandai ilmu surat dan ilmu silat). Song loan tiap itu pernah dipelajari olehnya pada dua tahun yang lain.
Sambil bersembunyi di belakang tiang, ia memperhatikan gerakan tangan gurunya yang menulis seperti berikut: "Hie Cie toen sioe, song loan cie kek, sian bok cay lie to tok, toei wie kouw seng. (Hie Cie memberi hormat. Kesedihan dan kekalutan melampaui batas, kuburan-kuburan leluhur diubrak abrik, kalau diingat sungguh hebat perasaan duka).
Lewat beberapa saat, Coei San dapat merasakan bahwa setiap coretan yang dibuat oleh gurunya mengandung kedukaan dan secara mendadak, ia berhasil menyelami perasaan Ong Hie Cie sendiri pada waktu ia menulis Song loan tiap itu.
Ong Hie Cie adalah seorang sasterawan besar pada jaman kerajaan Cin Timur. Di waktu itu, Tiongkok kacau balau dan bangsa asing menentang kekuasaannya. Dalam kesedihan dan kekalutan hebat (song loan), murid-murid Ong Hie Cie teleh melarikan diri ke Tiongkok Selatan. Bukan saja manusia, tapi kuburan-kuburan pun turut diubrak abrik, sehingga dapatlah dibayangkan, kedukaan dan kegusaran rakyat yang sangat menghormati kuburan leluhur mereka. Penderitaan yang hebat itu semua dilukiskan dalam Song loan tiap.
Diwaktu yang lampau, dalam keadaan yang selalu riang dan gembira, Thio Coei San tidak bisa memahami maksud yang sebenarnya arti 'tiap' itu. Tapi sekarang, karena ia sendiri tengah diliputi dengan kedukaan berhubung dengan terlukanya Jie Thay Giam maka secara mendadak ia dapat menyelami arti "Song loan° dan "To tok".
Sesudah menulis beberapa kali, Thio Sam Hong menghela napas panjang dan lalu masuk keruangan tengah, dimana ia termenung-menung beberapa lama. Tiba-tiba ia mengangkat pula tangan kanannya dan menulis huruf-huruf ditengah udara. Kali ini, huruf-huruf itu berbeda dengan huruf-huruf Song loan tiap. Huruf-huruf pertama adalah "Boe" (Persilatan), sedang yang kedua "Lim" Rimba. Ia menulis terus sampai duapuluh empat huruf.
Dengan mengawasi gerakan tangan sang guru, Thio Coei San tahu, bahwa yang ditulisnya ialah: "Boe lim cie coen, po to To liong hauw leng thian hee, boh kam poet ciong, Ie thian poet coet swee ie ceng hong."
"Apakah Soehoe sedang coba memecahkan teka teki dalam kata itu", tanyanya didalam hati. Thio Sam Hong menulis huruf-huruf itu berulang-ulang, semakin lama gerakan tangannya jadi semakin perlahan, setiap gerakan menyerupai gerakan silat. Mendadak saja, Thio Coei San tersadar. Ia sekarang mengerti, bahwa dengan menulis duapuluh empat huruf itu, sang guru sebenarnya tengah menjalankan serupa ilmu silat yang sangat tinggi, dalam mana setiap huruf berarti setiap pukulan.
Dalam duapuluh empat huruf itu, hurup "liong" (naga) dan huruf "hong" (tajam) yang paling banyak coretannya, sedang huruf "to" (golok) dan huruf "hee" (bawah) yang paling sedikit coretannya, Tapi, walaupun coretannya banyak, gerakannya tidak kelihatan berlebihan, sedang biarpun coretannya sedikit, gerakannya tidak kelihatan kekurangan. Setiap gerakan pukulan tepat dan mantep, indah dan lincah, angker bagaikan badai, bertenaga seperti tubrukan harimau, kokoh kuat seakan-akan tindakan gajah, cepat seolah-olah berkredepan kilat diangkasa. Dalam duapuluh empat huruf itu terdapat dua "poet" dan dua "thian" tapi, sesuai dengan artinya yang berbeda beda, jiwa dari pukulan pukulannya berbeda-beda.
Dalam tahun-tahun yang belakangan ini, jarang sekali Thio Sam Hong berlatih silat. Ilmu silat In Lie Heng dan Boh Seng Kok didapat dari Song Wan Kiauw dan Jie Lian Coe yang mewakili gurunya. Maka itu, biarpun Thio Coei San murid kelima, tapi sebenar-benarnya ia, adalah murid penutup, atau murid terakhir yang mendapat pelajaran dari Thio Sam Hong sendiri.
Malam itu guru dan murid mempunyai perasaan yang sama, berhubung dengan terjadinya peristiwa mendukakan itu. Mereka berduka sebab memikiri keselamatan Jie Thay Giam dan mendongkol karena adanya ancaman dari pihak yang belum di ketahui siapa adanya. Dalam jengkelnya, Thio Sam Hong sudah menulis huruf-huruf itu dan secara kebetulan, ia telah menciptakan semacam ilmu silat baru. Secara kebetulan, oleh karena, pada waktu baru menulis huruf-huruf itu, ia sedikit pun tak punya niatan untuk menggubah ilmu pukulan. Sementara itu, Thio Coei San yang kebetulan bersembunyi dibelakang tiang, telah melihat dipertunjukkannya ilmu silat tersebut, yang lantas saja dapat dipahami olehnya lantaran iapun sedang diliputi dengan perasaan duka. Demikianlah, secara sangat luar biasa, satu ilmu silat baru yang berdasarkan seni menulis huruf, telah tercipta dalam Rimba Persilatan.
Dua jam lamanya, sehingga rembulan naik tinggi, Thio Sam Hong berlari terus menerus. Beberapa lama kemudian, sambil bersiul nyaring, telapak tangan kanannya menyabet dari atas kebawah, bagaikan menyambernya sehelai sinar pedang. Sabetan yang dahsyatitu merupakan coretan terakhir dari huruf "hong".
Sehabis menyabet, ia dongak seraya berkata: "Coei San, bagaimana pendapatmu dengan Soe hoat (seni menulis huruf indah) ini?"
Thio Coei San terkesiap. Ia tak nyana bahwa bersembunyinya telah diketahui oleh sang guru. Buru-buru ia manghampiri seraya menjawab: "Hari ini teecoe mujur luar biasa, karena dapat melihat ilmu silat Soehoe yang begitu tinggi. Apa boleh teecoe panggil Toasoeko dan yang lain-lain, supaya mereka pun bisa turut menyaksikan?"
Sang guru meoggelengkan kepalanya. "Kegembiraanku sudah habis, sehingga mungkin sekali aku tak bisa menulis lagi begitu bagus," katanya "Wan Kiauw, Siong Kee dan yang lain lain tidak mengerti Soehoat, sehingga meskipun melihat, belum tentu mereka bisa menarik banyak kefaedahan." Sehabis berkata begitu seraya mengebas tangan jubahnya, is berjalan masuk keruangan dalam.
Thio Coei San tidak berani tidur, sebab kuatir sesudah pulas, ia akan lupakan ilmu silat itu. Dengan lantas ia bersilat dan menjernihkan pikiran, sambil mengingat-ingat setiap coretan yang barusan dilihatnya, dengan tempo-tempo bangun berdiri dan menjalankan beberapa pukulan sulit. Entah berapa jam ia bersila disitu, tapi pada akhirnya dapatlah ia menghapal seluruh ilmu silat tersebut yang terdiri dari duapuluh empat huruf dengan seluruh lima belas perubahan-perubahannya.
Beberapa saat kemudian, ia melompat bangun dan lalu menjalankan semua pukulan itu. Sesudah beberapa jurus, pukulan pukulannya keluar dengan deras dan lancar bagaikan air tumpah, sedang tubuhnya enteng melompat kian kemari seperti seekor kera. Akhirnya, ia membuat coretan paling penghabisan dari huruf 'Hong' (tajam) dengan telapak tangan kanannya yang menyambar dari atas kebawah dan "bret!", ujung bajunya robek karena pukulan itu. Ia kaget tercampur girang. Tiba tiba saja, ia mendapat kenyataan, bahwa matahari sudah naik tinggi.
Sesudah menyusut keringat yang membasahi mukanya, ia segera berlari lari kekamar Jie Thay Giam, di mana sang guru sedang menempelkan kedua telapak tangannya pada dada saudara seperguruan itu sambil mengerahkan Lweekang untuk mengobati lukanya.
Perlahan-lahan supaya tidak mengganggu, ia berjalan keluar dari kamar itu. Ternyata Song Wan Kiauw, Thio Siong Kee dan In Lie Heng sudah berangkat. Sedang rombongan Liang boen Piauw kiok pun sudan turun gunung. Karena sungkan mengganggu latihannya, maka ketiga saudara seperguruan itu sudah pergi tanpa pamitan lagi.
Ia pun segera berkemas, membekal senjata dan beberapa puluh tahil perak, akan kemudian, pergi lagi ke kamar Jie Thay Giam. "Soehoe, teecoe mau berangkat sekarang" katanya. Sambil bersenyum, sang guru manggut manggutkan kepalanya.
Sehabis berkata begitu, Coei San mendekati pembaringan dan lihat muka Thay Giam yang berwarna kehitam hitaman karena pengaruh racun, sedang tanda tandanya bahwa kakak seperguruan itu masih bidup, hanya napasnya yang berjalan perlahan sekali. Bukan main rasa dukanya. "Samko," katanya dengan suara serak, "Biarpun badanku hancur lulur, aku pasti akan, membalas sakit hatimu". Ia menekuk lutut dihadapan gurunya dan kemudian sambil menekap muka dengan kedua tangannya, ia meninggalkan kamar itu.
Dengan menuggang Cengcong ma (kuda bulu hijau putih), ia turun dari Boe tong san. Sesudah melalui lima puluh li lebih, siang terganti dengan malam dan awan mendung meliputi langit. Baru saja ia masuk kedalam sebuah rumah penginapan. Hujan mulai turun. Semakin lama, hujan itu jadi semakin besar dan semalam suntuk turun tak henti hentinya. Pada keesokan paginya, awan gelap belum buyar dan hujan masih terus turun dengan tidak kurang hebatnya.
Karena ingin membalas sakit hati Soekonva secepat mungkin, ia tak mau membuang buang tempo. Ia segera membeli baju hujau dan tudung dari pemilik penginapan dan lalu meneruskan perjalanan. Untung juga Cengcong ma bukan sembarang kuda, sehingga dia dapat berlari terus dijalanan berlumpur sangat jelek.
Sesudah melewati Lao ho kouw, ia menyebrang sungai Han soei yang airnya banjir dan menerjang kealiran bawah dengan dahsyatnya. Cengcong ma dibedal terus melalui kota Siang yang dan Hoan soie. Ia dengar berita orang bahwa di aliran sebelah bawah Han soei, gili-gili bobol rakyat diserang air bah. Setibanya di Gie shia, ia mulai bertemu dengan rakyat yang melarikan diri dari serangani banjir dengan berbondong-bondong. Hujan masih turun terus dan penderitaan rakyat hebat bukan main.
Selagi mengaburkan tunggangannya, disebelah depan terlihat sejumlah penunggang kuda yang mengibarkan bendera piauw hang. Segera juga ia mengenali, bahwa mereka mereka itu adalah orang orang Liong boen piauw kiok. Ia lantas saja mencambuk Cengcong ma yang segera lari bagaikan terbang dan sesudah melewati rombongan itu, ia menahan les, memutar tunggangannva dan menghadang ditengah jalan.
Melihat Thio Coei San, Touw Tay Kim menanya dengan suara dingin: "Thio Ngo hiap, ada urusan apa kau mengubar kami?"
"Apakah Touw Cong piauw tauw lihat penderitaan rakyat yang kelanggar bencana banjir itu ?" ia balas menanya.
Touw Tay Kim tak duga ia bakal ditanya begitu.
"Apa?" menegasnya dengan terkejut.
Pemuda itu tertawa-dingin. "Aku ingin minta para dermawan mengeluarkan emas mereka untuk menolong rakyat yang bersengsara" jawabnya.
Paras Cong piauw tauw itu lantas saja berubah pucat. "Kami orang-orang piauw hang setiap hari hidup diujung senjata dan mencari makan dengan mempertaruhkan jiwa," katanya dengan suara gusar. "Mana kami mempunyai kekuatan untuk menolongg begitu banyak orang ?"
"Serahkan itu duaribu tahil emas yang berada dalam sakumu!" bentak Thio Coei San.
"ThioNgo hiap, apa kau mau mencari-cari urusan dengan aku?" tanya Touw Tay Kim seraya meraba gagang golok.
Ciok dan Soe Piauw tauw lantas saja menghunus senjata mereka dan berdiri didekat pemimpinnya.
Dengan tetap bertangan kosong, Thio Coei San berkata sambil tertawa dingin: "Touw Cong piauw tauw, tanyalah dirimu sendiri. Sesudah makan upah, apakah kau sudah menjalankan tugasmu? Hmn! Kau, masih ada muka untuk mengantongi duaribu tahil emas itu ?"
Muka Touw Tay Kim merah padam, karena malu dan gusar. "Bukankah kami sudah mengantar Jie Sam hiap sampai di Boe tong san ?" Ia membela diri. "Sebelum kami menerima tugas itu, ia memang sudah terluka berat. Sekarang pun ia masih belum mati."
"Jangan ngaco!" bentak Coei-San "Apa kaki tangan Jie Sam ko sudah patah-waktu ia berangkat dan Lim an?"
Touw Tay Kim tak dapat menjawab.
"Thio Ngo hiap." menyelak Soe Piauw Tauw, "Apakah sebenarnya maksudmu. Katakan saja terang-terangan."
"Aku balas hancurkan tulang tulang tanganmu!" bentaknya sambil melompat dan menerjang. Soe piauw tauw mengangkat toyanya untuk menangkis, tapi ia kalah cepat. Bagaikan kilat, Thio Coei San mengebas dan membabat dengan tangan kirinya dan toya itu terbang sedang Soe Piauw tauw jatuh terpelanting dari tungganannya. Dalam serangan itu, Thio Coei San menggunakan huruf "thian" (langit) dari ilmu silat yang baru didapatinya.
Piauw tauw yang bisa lihat selatan, coba menyingkirkan diri, tapi sudah tidak keburu lagi. Karena tangan Coei San sudah menyapu pinggangnya dalam gerakan garis melintang dari huruf "thian" sehingga tanpa ampan lagi, tubuhnya bersama-sama sela kuda terpental setombak lebih dan jatuh terjengkang diatas tanah. Waktu diserang, kedua kaki piauw tauw, itu menginjak sanggurdi keras-keras, tapi sebab lawannya menghantam dengan Lwekang yang sangat hebat, maka tali ikatan perut kuda menjadi putus dan sela kuda turut terlempar.
melihat hebatnva serangan musuh, Touw Tay Kim mengeprak kudanya dan menerjang. Dengan sekali memutar badan. Coei San menghantam dengan pukulan huruf "hee" (bawah).
"Buk!" pukulan itu mengenakan tepat dipunggung Touw Tay Kim yang tubuhnya lantas saja ber goyang-goyang. Karena ilmunya banyak lebih tinggi daripada kawannya, maka ia tidak sampai roboh dari tungganannya. Baru saja ia melompat turun dari punggung kuda untuk mengadu jiwa, tiba tiba ia merasa tenggorokannya penuh dan "ugh!" ia muntahkan datah. Ia terhuyung beberapa tindak. Kakinya lemas roboh duduk diatas tanah. Tiga piauw soe lainnya dan para pegawai piauw hang tentu saja tidak berani bergerak lagi.
Waktu baru bertemu dengan rombongan piauw hang itu, dengan kegusaran yang meluap luap Thio Ngo hiap betekad untuk mematahkan kaki tangan para piauw soe itu. Tetapi sesudah melukakan tiga orang secara begitu mudah, malah seorang diantaranya mendapat luka berat, ia sedikitpun tidak menduga, bahwa ilmu silat yang baru dipelajarinya itu sedemikian hebat. Hatinya jadi lemas dan ia tak tega untuk turun tangan lebih jauh.
"Orang she Touw!" bentaknya, "Hari ini aku berlaku murah terhadapmu. Keluarkan dua ribu tahil emas itu untuk menolong rakyat yang kelanggar bencana alam. Aku akan menilik sepak terjangmu dari kejauhan dan jika setahil saja kau sembunyikan dalam kantong mu, aku akan basmi seluruh Liong boen Piauw kiok, aku akan binasakan kecil besar tujuh puluh dua jiwa, malah ayam dan anjing pun tak akan diberi ampun!"
Ia mengancam dengan menggunakan kata-kata dari orang yang memberikan dua ribu tahil emas sebagai upah untuk mengantar Jie Thay Giam ke Boe tong san.
Perlahan-lahan Tauw Tay Kim bangun berdiri, tapi ia merasa punggungnya sakit sangat dan begitu bergerak, ia kembali muntahkan darah. Soe Piauw tauw yang hanya mendapat luka enteng, segera berkata dengan suara lemas "Thio Ngo hiap, emas itu berada di Lim an, sehingga tak dapat kami menolong orang-orang yang berada di sini"
Thio Coei San tertawa dingin. "Kau kira aku anak kecil?" tanyanya dengan nada mengejek, "Semua jago Liong boen Piauw kiok keluar dari sarangnya dan Lim an hanya ketinggalan keluarga kamu yang tak bisa melindungi harta itu. Emas itu sudah pasti berada disini!" Sambil berkata begitu, ia menyapu rombongan piauw hang dengan matanya. Mendadak ia menghampiri sebuah kereta dan menghantam dengan telapak tangannya, "Brak!" kereta hancur dan belasan potongan emas jatuh berhamburan di tanah.
Semua orang pucat mukanya. Mereka tidak mengerti, bagaimana pemuda itu tahu tempat menyimpan emas. Ternyata, biarpun masih berusia muda, Thio Ngo hiap berotak cerdas, bermata awas dan berpengalaman luas. Melihat tanda lumpur diroda kereta yang mengunjuk bahwa roda-roda tersebut amblas lebih dalam dari pada kereta-kereta lainnya dan melihat bagaimana sesudah ia menghajar Touw Tay Kim, sebaliknya dari pada menolong pemimpin itu, tiga piauw soe buru-buru mendekati kereta tersebut, maka ia segera menarik kesimpulan, bahwa kereta itu, yang muatnya diisi dengan muatan sangat berharga. Ia mengawasi potongan-potongan emas itu sambil tertawa dingin dan kemudian tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi ia melompat kepunggung Kuda yang terus di kaburkan.
Sembari jalan hatinya senang sekali. Ia menduga pasti, bahwa demi keselamatan keluaga mereka, piauwsoe-piauwsoe itu tak akan berani membantah perintahnya. Perasaan senang itu sebagian besar disebabkan oleh kenyataan, bahwa ilmu silat yang berdasarkan dua puluh empat huruf yang baru di dapatnya, bukan main lihaynya.
Dengan melawan hujan, beberapa hari ia membedal kudanya terus menerus. Meskipun binatang itu binatang luar bias, tenaganya ada batasnya.
Demikianlah, waktu tiba didaerah propinsi Kang say, mulut kudanya mengeluarkan busa putih dan badannya panas, Coei San menyesal bukan main, karena ia sangat sayang tunggangannya itu. Ia segera berhenti disebuah rumah penginapan, memberi obat kepada kudanya dan selang beberapa hari, barulah panasnya turun. Sesudah binatang itu sembuh, ia meneruskan perjalanan dengan perlahan-lahan dan pada tanggal Sie gwee Sha cap (Bulan Empat tanggal 30) barulah ia masuk kedalam kota Lim an.
Sesudah dapat kamar disebuah hotel, ia segera menimbang-nimbang tindakan apa yang akan diambilnya. "Karena kudaku sakit, aku sangat terlambat," pikirnya. "Apa rombongan Liongboen Piauw kiok sudah pulang? Dimana adanya Jieoko dan Citee? Biarlah malam ini aku menyelidiki digedung piauw kiok itu."
Sesudah makan malam, ia segera mencari tahu letaknya gedung Liong boen Piauw kiok dari pelayan-pelayan hotel yang memberitahu bahwa gedung itu berdiri dipinggir telaga See Ouw. Kemudian ia pergi kepusat toko-toko dan membeli seperangkat pakaian baru dengan kopiah sasterawan serta sebuah kipas Hang cioe yang tersohor. Ia kembali kehotel, mandi, menyisir rambut dan lalu menukar pakaian. Waktu berdiri didepan kaca dan memandang bayangannya sendiri, ia tertawa gali. Bayangan itu adalah bayangan seorang Kongcoe sasterawan dan bukan seorang Hiapsoe (pendekar) yang namanya menggetarkan Rimba Persilatan.
Dengan bersenyum senyum, ia meminjam alat tulis dari pengurus hotel untuk menulis syair dikipasnya. Secara wajar, apa yang ditulisnya adalah itu dua puluh empat huruf "Ie thian to liong". Ia merasa heran sebab setiap coretan yang turun diatas kipas banyak lebih bertenaga dan indah daripada biasanya. "Sesudah mempelajari silat itu, Soe hoatku juga dapat banyak kemajuan," pikirnya.
Pada waktu itu kerajaan Song sudah roboh dan seluruh Tiongkok berada di bawah kekuasaan dinasti Goan. Karena Lim an adalah bekas ibukota Lam song (Song Selatan), bangsa Mongol telah membuat penjagaan lebih kuat dikota itu daripada dilain lain kota. Mereka memerintah dengan tangan besi, sehingga dalam kekuatannya, banyak penduduk bearpindah kelain tempat. Maka itulah, disepanjang jalan Thio Coei San bertemu dengan banyak rumah yang rusak karena akibat perang dan yang kosong sebab ditinggalkan penghuninya. Kota yang sepi itu memperlihatkan pemandangan menyedihkan, tidak tertampak pula keramaian serta kemakmuran dari Lim an yang dulu, yang merupakan salah sebuah kota tersohor dari Kanglam yang indah permai.
Cuaca masih belum gelap, tapi banyak rumah sudah pada menutup pintu dan di jalanan jarang sekali terlihat rakyat jelata. Apa yang ditemukan Coei San hanyalah serdadu-serdadu Mongol yang meronda dengan menunggang kuda. Sebab tak ingin banyak urusan, sedapat mungkin ia menyingkirkan diri dari peronda-peronda itu.
Dulu, di waktu malam, apapula pada malam malam terang bulan, telaga See ouw bukan main ramainya dan seluruh telaga seolah-olah ditabur dangan lampu-lampu perahu pelesir. Tapi sekarang, ketika ia tiba di Pak tee dan memandang ketempat jauh, telaga itu diliputi dengan kegelapan yang menyeramkan dan diatas air tak terdapat sebuah perahupun. Ia menghela napas berulang-ulang dan sesuai dengan petunjuk pelayan hotel, ia lalu berjalan menuju kegedung Liong boen Piauw kiok.
Gedung itu sangat besar dan berhadapan dengan telaga See ouw sedang dua singa-singaan batu di depan pintu sangat menambah keangkerannya. Perlahan-lahan Thio Coei San mendekati.
Tiba-tiba, ia melihat sebuah perahu pelesir ditepi telaga depan gedung itu. Dalam perahu dipasang dua tengloleng sutera dan dibawah penerangan itu kelihatan duduk seorang lelaki yang sedang minum arak seorang diri. "Enak betul minum arak diatas air," katanya dalam hati sambil menghampiri pintu. Teng (peep: teng=???) besar yang tergantung didepan gedung tidak dipasangi lilin, sedang pintunya yang dicat merah tua tertutup rapat. Penghuni gedung itu rupanya sudah pada tidur. "Sebulan yang lalu Samko masuk ke pintu ini," pikirnya dengan rada duka. Mendadak ia terkejut, karena di belakang nya terdengar hela napas yang panjang.
Ditengah malam yang sunyi, hela napas itu kedengarannya menyeramkan dan menyayat hati. Dengan cepat ia memutar badan, tapi ia tidak lihat bayangan satu manusiapun. Kecuali orang yang sedang minum arak data in perahu, di sekitar itu tidak terdapat lain manusia. Dengan perasaan heran, ia mengawasi orang itu, yang mengenakan tiungsha (jubah panjang) warna hijau dan memakai topi empat persegi, yaitu dandanan seorang sasterawan seperti ia sendiri. Ia tak dapat melihat tegas muka orang itu, tapi dipandang dari samping dengan bantuan sinar tengloleng, kelihatannya pucat pasi. Orang itu duduk termenung-menung dengan tidak bergerak dan gerakan satu-satunya hanyalah berkibatnya tangan jubah karena tiupan angin.
Sesudah mengawasi beberapa lama, ia memutar badan lagi dan mencekal cincin tembaga yang menempel dipintu dan lalu mengetuk-ngetuknya beberapa kali. Sebenarnya ia ingin masuk dengan melompat tembok, tapi sesudah melihat orang di perahu itu, ia merasa jengah sendiri. Suara ketukan itu terdengar nyaring sekali dan sehabis mengetuk, ia menempelkan kupingnya didaun pintu, tapi di dalam sunyi-sunyi saja tidak terdengar suara manusia yang menghampiri pintu.
Dengan heran, ia mendorong sedikit dan pintu itu terbuka. Lantas saja ia bertindak masuk seraya berseru: "Apa Touw Cong piauw tauw ada dirumah ?"
Ia berjalan terus keruangan tengah yang gelap gelita. Mendadak terdengar suara "truk!" pintu tertutup keras seperti di tiup angin.
Ia kaget, lalu melompat keluar dari ruangan itu dan menghampiri pintu. Ia terperanjat karena pintu itu sudah dikunci orang. Tapi sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, nyalinya sangat besar. Sambil tertawa dingin, ia masuk pula ke ruangan tengah.
Baru saja masuk beberapa tindak, tiba-tiba ia merasakan sambaran angin tajam dari depan belakang, kiri dan kanan. Dengan sekali melompat, ia kelit serangan keempat pembokong itu. Dalam kegelapan ia lihat berkelebatnya sinar-sinar putih, sebagai tanda, bahwa penyerang-penyerang menggunakan senjata golok. Cepat seperti kilat, ia meloncat kesebelah barat dan telapak tangan kanannya membabat salah seorang dari kanan kiri. "Ptak!" tangannya mengenakan jitu jalanan darah Tay yang hiat orang itu yang lantas saja roboh terguling. Hampir berbareng, telapak tangan kirinya menyabet dari kanan atas kiri bawah dan mampir tepat dipinggang seorang musuh lainnya yang juga ambruk dilantani. Dua pukulan itu merupakan satu garis melintang dan satu coretan miring dari huruf "poet" (tidak). Sesudah berhasil merobohkan dua musuh, ia mengirim pukulan lurus dari atas kebawah dan satu totokan yaitu coretan lurus dan sebuah titik dari hurup "poet" dan dua penyerang lainnya terjungkal di lantai.
Demikianlah, dengan empat pukulan yang merupakan tiga coretan dan sebuah titik huruf "poet", ia berhasil menjatuhkan empat pembokong itu.
Karena tak tahu siapa empat penyerang itu, Thio Coei San sunkan berlaku kejam, dan hanya menggunakan tiga bagian tenaganya. Orang keempat yang "ditotok" olehnya, terhuyung beberapa tindak dan badannya menubruk sebuah kursi yang lantas saja menjadi hancur "Binatang! Sungguh kejam kau!" cacinya: "Kalau kau benar2 laki-laki, beritahukan namamu,"
"Jika aku berlaku kejam, jiwamu sudah melayang" katanya sambil tertawa. "Aku adalah Thio Coei San dari Boe tong san."
Orang itu mengeluarkan seruan kaget. "Apa.... benar kau Gin kauw Tiat hoa Thio Coei San?" tanyanya dengan suara tidak percaya.
Sambil bersenyum, Thio Ngo hiap meraba pinggangnya dan di lain saat, tangan kirinya sudah mencekal gaetan Houw tauw kauw yang terbuat dari pada perak, sedang tangan kanannya memegang Poan koan pit besi. Dengan sekali membenturkan kedua senjata, lelatu api muncrat disertai dengan suara yang sangat nyaring.
Dengan bantuan sinar lelatu api, Thio Coei San mendapat lihat, bahwa keempat penyerang itu mengenakan jubah pertapaan hweshio yang warnanya kuning. Dua di antaranya, yang mukanya kebetulan berhadapan dengannya, mengawasi dengan sorot mata gusar dan membenci.
Bukan main herannya Ngo hiap. "Siapa Tay-soe?" tanyanya.
"Sakit hati yang dalam seperti lautan, tak bisa dibalas hari ini!" teriak satu diantaranya. "Ayo berangkat!" Hampir bareng dengan teriakan itu, mereka melompat bangun dan lalu berjalan keluar. Salah seorang yang rupanya terluka berat, sempoyongan dan roboh dilantai. Dua kawannya lantas memberi pertolongan dan mereka berlalu tanpa menengok lagi. "Soe wie tahan dulu!" teriak Coei San. "Sakit hati apa ?" Tapi keempat pendeta itu tidak meladeni dan jalan terus.
Thio Coei San bingung campur heran. Untuk beberapa saat ia berdiri bengong sambil mengasah otak, tapi tak berhasil memecahkan teka teki itu.
Mengapa dalam gedung Liong boen Piauw kiok bersembunyi empat orang Hweeshio? Mengapa mereka lantas menyerang secara membabi buta? Mengapa mereka mengatakan sakit hati yang dalam seperti lautan? "Untuk menjawab pertahyaan-pertanyaan itu, jalan satu-satunya adalah menanyakan orang-orang Liong boen Piauw kiok," pikirnya.
Memikir begitu, ia lantas saja berteriak: "Apa Touw Cong piauw tauw berada di rumah? Apa Cong piauw tauw ada?" Tapi sesudah berteriak berulang-ulang, ia tetap tak dapati jawaban. "Tak bisa jadi manusia tidur seperti bangkai." katanya daiam hati. "Apa mereka mabur ketakutan?" Ia terus mengeluarkan bahan api yang lalu dinyala kan, sehingga ruangan yang gelap gelita itu lantas menjadi terang. Ia menghampiri sebuah ciak tay (tempat menancap lilin) yang berdiri di atas meja teh dan menyulut lilinnya. Sesudah itu, dengan berwaspada, sambil membawa ciaktay, ia berjalan ke ruangan belakang.
Barusan belasan tindak, tiba tiba ia lihat tubuh seorang wanita yang rebah di lantai seperti sedang tidur. "Toacie, mengapa kau tidur di situ?" tegurnya. Wanita itu tidak menjawab dan tidak berqerak. Dengan tangan kiri ia medorong pundak wanita itu, sedang tangan kanannya yang mencekel ciaktay menyuluhi muka orang. Tiba-tiba saja, ia terkesiap.
Wanita itu sedang tertawa, tapi otot-ototnya kaku! Dia sudah mati lama juga. Perlahan-lahan ia melempangkan pinggangnya dan lagi-lagi ia terperanjat, sebab di depan tiang disebelah kiri kelihatan menggeletak sesosok tubuh lain. Ia menghampiri dan memeriksanya. Ternyata orang itu seorang kakek yang berdandan sebagai pelayan, juga sudah mati dengan muka tertawa!
Dengan jantung berdebar-debar, Thio Coei San meraba pinggang dan kemudian, dengan tangan kiri mencekel gaetan dan tangan kanan mengangkat ciaktay tinggi-tinggi, ia bertindak maju setindak demi setindak. Dengan rasa kaget dan heran yang sukar dilukiskan, apa yang ditemukannya adalah puluhan mayat-mayat, yang menggeletak di sana sini! Di seluruh gedung Liong boen Piauw kiok yang besar dan luas itu, tak terdapat lagi manusia hidup.
Thio Coei San adalah seorang pendekar kenamaan dalam Rimba Persilatan yang sudah kenyang mengalami kejadian-kejadian hebat. Tapi kali ini, melihat kekejaman manusia yang sudah membasmi sesama manusia, ia menggigil. Bayangannya ditembok kelihatan bergoyang-goyang, karena tangannya yang mencekel ciaktay bergemetaran.
Mendadak ia ingat ancaman itu orang yang telah memberi upah kepada Liong boen Piauw kiok untuk mengantarkan kakak seperguruannya ke Boe tong san.
Sekarang benar-benar seisi-Piauwkiok telah dibasmi. Apakah kekejaman itu sudah dilakukan sebab piauwkiok tersebut sudah gagal dalam menunaikan tugasnya? "Orang itu turunkan tangan kejam karena Jie Samko sehingga menurut pantas dia mestinya sahabat Samko", katanya di dalam hati. "Orang itu berkepandaian banyak lebih tinggi daripada Touw Tay Kim. Sesudah mengetahui, mengapa bukan ia sendiri yang mengantar Samko? Kakak adalah seorang pendekar mulia yang membenci setiap kejahatan. Apa mungkin ia bersahabat dengan manusia yang begitu kejam?"
Dangan rasa heran yang semakin lama jadi semakin besar, ia bertindak keluar dari ruangan sebelah barat. Dengan pertolongan sinar lilin, ia lihat dua orang pendeta yang mengenakan jubah warna kuning sedang bersender ditembok dan mengawasi padanya dengam paras muka tertawa. Ia mendekati dan membentak: "Perlu apa Jie wie datang disini?" Tapi mereka tidak menyahut dan juga tidak bergerak.
Mayat!
Pada tubuh kedua mayat itu tidak terdapat luka apapun juga, hanya dada jalanan darah Siauw yauw hiat (jalan darah yang membangkitkan tertawa) terdapat total merah. Ia manggut manggutkan kepala dan mengerti, bahwa paras muka tertawa dari mayat-mayat itu adalah akibat totokan pada jalanan darah tersebut.
Mendadak, ia terkesiap karena ingat sesuatu. "Celaka!" Ia mengeluh, "Sakit hati yang dalam seperti lautan ..."Ia teringat cacian salah seorang dari empat hweeshio yang telah menyerang dirinya. Ia merasa bahwa semua tuduhan bakal ditumpuk diatas pundaknya. Siapa keempat pendeta itu? Dilihat dari pukulan pukulannya, mereka adalah ahli-ahli ilmu silat Siauw limpay. Touw Tay Kim seorang Siauw lim sehingga mungkin sekali mereka berada disitu atas undangan Cong piauw tauw tersebut. "Tapi dimana adanya Jie Jieko dan Boh Cit tee?" tanyanya didalam hati. "Mereka diperintah Soehoe untuk melindungi keluarga Liong boen Piauw kiok. Apa bisa jadi, dengan memiliki kepandaian sangat tinggi mereka telah dirobohkan orang?"
Semakin dipikir, teka teki itu jadi semakin sulit. "Dengan pulangnya keempat hweesio Siauw lim pay pasti akan menaruh kecurigaan atas diriku," katanya didalam hati. "Tapi, biar bagaimanapun juga urusan ini akan menjadi terang. Satu waktu, kita pasti akan tahu siapa adanya manusia kejam itu. Siauw lim dan Boetong harus bekerja sama untuk mencari manusia itu. Yang paling penting adalah cari Jie-ko dan Cit-tee." Memikir begitu ia segera meniup lilin dan keluar dari gedung tersebut dengan melompati tembok.
Tapi pada sebelum kedua kakinya hinggap diatas bumi diluar tembok, tiba tiba ia merasakan kesiuran angin yang menyambar pinggangnya, disusul dengan bentakan: "Thio Coei San, Roboh kau!"
Pula saat itu, badannya masih berada ditengah udara, sehingga ia tak dapat berkelit lagi. Dalam bahaya, Thio Ngo hiap tak jadi bingung, secepat arus kilat, tangan kirinya menekan senjata musuh dan dengan meminjam tenaga, badannya melesat keatas lagi dan kedua kakinya hinggap diatas tembok.
Hampir berbareng dengan hinggapnya diatas tembok, kedua tangannya sudah mencekal kedua senjatanya.
Melihat lihaynya pemuda itu, sipenyerangpun kaget dan kagum, karena ia mengeluarkan seruan tertahan dan berkata: "Bocah ! Kau sungguh lihay !"
Dengan tangan kiri mencekal gaetan dan tangan kanan memegang Poan koan pit, Coei San melintangkan senjata itu di depan dadanya, kepala gaetan dan ujung pit menunduk kebawah. Itulah gerakan Kiong leng kauw hoei (Dengan hormat menerima pelajaran) yang digunakan dalam Rimba persilatan. Jika seorang yang tingkatannya lebih rendah berhadapan dengan orang yang lebih tinggi, sebagai seorang kesatria, walaupun hatinya mendongkol, Coei San tetap sungkan melanggar adat istiadat.
Ia menunduk dan melihat dua pendeta yang mengenakan jubah pertapaan warna merah dengan sulaman benang emas berdiri berendeng dibawah dengan masing-masing mencekal Sian thung (toya yang mengeluarkan sinar emas).
Melihat jubah pertapaan itu, Coei San terkejut. "Apakah mereka anggauta Siauw Lim Cap peh Lo han yang tersohor?" tanyanya di dalam hati. (Siauw lim Cap peh lohan = Delapan belas Lohan dari Siauwlim sie).
Dengan San thungnya, pendeta yang disebelah kiri menubruk batu hijau, sehingga mengeluarkan suara yang sangat nyaring. "Thio Coei San!" bentaknya "Boe tong Cit hiap mempunyai nama yang cukup baik. Tapi mengapa begitu kejam?"
Mendengar pendeta itu tidak menggunakan panggilan "Thio Ngo hiap atau Thio ngoya, Coei San jadi mendongkol. Diantara Boetong Cit Hiap, biarpun gerak geriknya sopan dan paras mukanya halus, dialah yang berada paling tinggi. (peep: what's that mean?) Dalam kedongkolannya, ia segera menyahut dengan suara dingin: "Tanpa menanyakan lebih dulu siapa yang salah, siapa yang benar, dengan bersembunyi dikaki tembok, Tay soe sudah membokong aku. Apakah perbuatan itu perbuatan seorang gagah? Kudengar ilmu silat Siauw Lim menggetarkan seluruh dunia, tapi aku tak nyana di antara orang Siauwlim ada juga yang pandai membokong."
Bukan main gusarnya hweeshio itu. Dengan sekali menggenjot tubuh, ia melesat ke atas tembok, sedangkan kedua kakinya belum hinggap ditembok, toyanya sudah menyambar. Dengan cepat Coei San mangangkat Hauw tauw kauw untuk menahan sambaran Sian thung dan dengan berbareng Poan koan pit nya menotok senjata lawan, "Trang!" ujung Poan koan pit membentur Sian thung dengan dahsyatnya. Kedua tangan pendeta itu tergetar dan tubuhnya melayang kebawah lagi, tapi kedua lengan Coei San juga kesemutan sehingga ia jadi kaget. Ia mengerti bahwa kini ia berhadapan dengan seorang yang berilmu tinggi dan jika mereka berdua mengrubuti, ia mungkin tak mampu membela diri.
"Siapa Jie wi?" bentaknya.
"Pinceng adalah Goan im" jawab pendeta yang berdiri disebelah kanan "Yang ini adalah Soeteku Goan giap."
Buru-buru Coei San menundukkan senjatanya dan sambil mengangkat kedua tangan, ia berkata: "Ah! Kalau begitu, Jie wie Taysoe adalah dari Siauw lim Cap peh Lohan. Sudah lama aku mendengar nama Taysoe yang sangat harum dan aku merasa beruntung, bahwa hari ini kita bisa bertemu muka. Pelajaran apakah yang mau diberikan oleh Taysoe ?"
"Soal ini bersangkut paut langsung dengann Siauw Lim dan Boe tong pay," jawab Goan Im.
"Kami berdua adalah orang orang yang berkedudukan sangat rendah dalam Siauw lim pay dan sebenarnya kami tak dapat mengurus persoalan ini. Tapi karena sudah terlanjur bertemu, kami tanya mengapa Thio Ngo hiap membinasakan puluhan orang dari Liong boen Piauw kiok dan dua Soetit (keponakan murid) kami? Orang kata, jiwa manusia bersangkut paut dengan Langit. Kami ingin dengar, bagaimana Ngo hiap mau membereskan peristiwa ini."
Kata-kata itu meskipun diucapkan deugan perlahan, kedengarannya sangat menusuk kuping, sehingga dapatlah diketahui, bahwa kepandaian pendeta tersebut banyak lebih tinggi dari pada adik seperguruannya.
Thio Coei San tertawa dingin. "Mengenai permbunuhan terhadap orang-orang Liong boen Piauw kiok, aku sendiripun merasa sangat heran," jawab nya. "Disamping itu, aku juga tidak mengerti, mengapa begitu membuka mulut, Taysoe sudah menuduh aku. Apakah kejadian itu disaksikan dengan mata kepala Taysoe sendiri ?"
"Hoei hong!" teriak Goan im. "Coba kau memberi kesaksian di hadapan Thio Ngo hiap."
Dari belakang pohon lantas saja muncul empat orang pendeta yang tadi dirobohkan Coei San dalamm gedung Liong boen Piauw kiok.
Pendeta yang bergelar Hoei hong itu lantas saja membungkuk seraya berkata: "Melaporkan kepada Soepoh, bahwa beberapa puluh orang dari Liong boen Piauw kiok Hoei thong dan Hoei kong kedua Soeheng semuanya.... semuanya dibinasakan oleh bangsat she Thio itu."
"Apa kau lihat dengan mata kepala sendiri ?" tanya Goan im.
"Ya," jawabnya. "..Kalau tak keburu lari, teecoe berempat pun sudah binasa di tangannya."
"Murid Sang Buddha tak boleh berjusta," kata Goan im dengan suara keren. "Soal ini mengenai Siauw lim dan Boe tong, kedua partai besar dalam Rimba persilatan, dan kau tidak boleh bicara sembarangan"
Hoei bong segera berlutut dan sambil merangkap kedua tangannya, ia berkata: "Teecoe tak akan berani menjustai Soepeh dan apa yang dikatakan teecoe adalah kejadian yang sebenar-benarnya. Untuk itu, Sang Buddha menjadi saksinya."
"Cobalah kau ceritakan apa yang dilihat dengan matamu sendiri" memerintah Goan im. Mendengar perkataan itu, Thio Coei San lantas saja ia melompat turun.
Goan-giap yang menduga pemuda itu ingin menyerang Hoei hong, lantas saja menyabet dengan Sianthungnya. Coei San menunduk untuk memunahkan serangan itu dan kemudian, dengan sekali melompat ia sudah berada di belakang Hoei hong. Menurut ilmu silat toya Hok mo thung (takluki iblis), sesudah sabetannya meleset, Goan giap harus menyerang pula dengan membabat pundak lawan. Akan tetapi, karena waktu itu Coei San sudah berada di belakang Hong bong, maka jika ia menyerang lagi, toyanya akan lebih dulu mengenakan keponakan muridnya. Dalam kagetnya, ia terpaksa menarik pulang Sian thungnya. "Mau apa kau?" bentaknya.
"Aku mau mendengarkan ceritanya," menjawab Coei San.
Hoei hong mengerti bahwa kalau mau, Thio Coei San yang berada dalam jarak dua kaki, dengan mudah bisa mengambil jiwanya dan meskipun kedua Soe pehnya berada di situ, mereka tak akan keburu menolong. Tapi dalam gusarnya, ia tak jadi gentar, dan lantas saja memberi keterangan dengan suara nyaring : "Waktu berada di Kang pak (sebelah utara Sungai Besar). Goan sim Susiok menerima surat Touw Tay Kim Suheng yang meminta pertolongan. Begitu menerima surat itu buru-buru Soesiok memerintahkan Hoei Thong dan Hoei Kong Soeheng memberi datang kemari untuk memberi bantuan. "
"Belakangan Soesiok pun memberi perintah kepada teecoe dan ketiga Soetee untuk menyusul. Begitu tiba, Hoei kong Soeheng mengatakan bahwa malam ini, musuh mungkin datang menyatroni dan ia minta kami berempat sembunyi dikaki tembok sebelah timur. Iapun memesan supaya kami jangan sembarangan meninggalkan tempat jagaan dan jangan sampai diselomoti dengan tipu memancing harimau keluar dari gunung.
Baru siang berganti malam, tiba-tiba kami mendengar bentakan dan cacian Hoei thong Soeheng yang sudah mulai bertempur di ruang belakang. Sesaat kemudian ia mengeluarkan teriakan kesakitan, Sebagai tanda terluka berat. Teecoe segera memburu keruangan belakang dan tihat dia ..dia..... bangsat She Thio itu" Berkata sampai disitu, mendadak ia melompat bangun dan berteriak sambil menuding hidung Thio Coei San. "Dengan mata kepalaku sendiri kulihat kau pukul Hoei kong Soeheng yang lantas mati dengan membentur tembok. Karena merasa tidak ungkulan, aku lalu bersembunyi dibawah jendela dan menyaksikan cara bagaimana kau menerjang ke pekarangan sambil membunuh orang. Tak lama kemudian, delapan orang Piauw kiok berlarian keluar dari belakang dengan diubar olehmu. Mereka semua kau binasakan dengan totokan dan sesudah membasmi semua orang yang berada dalam gedung, barulah kau mabur dengan melompati tembok."
Thio Coei San berdiri tegak tanpa bergerak.
"Kemudian bagaimana?" tanyanya dengan suara dingin.
"Kemudian?" bentak Hoei hong dengan kegusaran meluap-luap. "Kemudian aku balik ketembok timur dan berdamai dengan ketiga Soeteeku. Kami yakin, bahwa kepandalanmu terlalu tinggi untuk dilawan, dan jalan satu-satunya adalah menunggu, datangnya ketiga Soepeh di dalam gedung piauw kiok. Tapi sungguh tak dinyana, kau lagi-lagi menyatroni untuk mencari Touw Cong piauw tauw. Biarpun tahu bahwa kami hanya bakal mengantarkan jiwa, kami bukan bangsa pengecut, maka segara kami menyerang. Waktu ditanya olehkU, bukankah kau telah memperkenalkan diri sebagai Gin kauw Tiat hoa Thio Coei San? Semula aku tak percaya. Aku berpendapat, bahwa sebagai salah seorang dari Boe tong Cit hiap, kau tentu tak akan melakukan perbuatan yang begitu kejam. Tapi kau lantas saja mengeluarkan kedua senjatamu, sehingga tak mungkin kau Thio Coei San palsu."
"Benar, memang benar aku telah memperkenal kan diri dan mengeluarkan senjataku," kata Coei San. "Memang benar aku yang sudah merobohkan kamu. Tapi coba ceritakan sekali lagi, coba tuturkan lagi, bagaimana dengan mata kepala sendiri, kau melihat aku membunuh puluhan orang itu."
Pada saat itulah, tiba-tiba Goan im mengebas tangan jubahnya dan mendorong tubuh Hoei hong beberapa kaki jauhnya. "Ya! Cobalah kau cerita kan lagi, supaya Thio Ngo hiap yang namanya menggetarkan Rimba Persilatan, tidak dapat menyangkal pula," katanya dongan suara menyeramkan. Ia mendorong Hoei hong guna berjaga-jaga kalau-kalau dalam gusarnya, pemuda itu turunkan tangan jahat untuk menutup mulut saksi.
"Baiklah" kata Hoei hong. "Aku akan menegaskan satu kali lagi. Dengarlah! Dengan mataku sendiri kulihat. kau membinasakan Hoei hong dan Hoei thong Soeheng. Dengan mataku sendiri, kulihat kau membunuh delapan orang dari Liong boen Piauw kiok dengan totokan."
"Apa kau lihat tegas mukaku?" tanya Coei San dengan suara menyeramkan. "Pakaian apa yang dipakai olehku?"
Sambil berkata begitu ia menyalakan api dan menyuluhi mukanya sendiri.
Hoei hong menatapnya dan berkata dengan suara membenci: "Tak salah ! Kau mengenakan pakaian itu, jubah panjang dan topi empat segi. Waktu itu kau menyelipkan kipasmu di belakang leher baju."
Bukan main gusarnya Thio Ngo hiap. Ia tak mengerti mengapa pendeta itu menuduhnya secara membabi buta.
Sambil mengangkat api tinggi-tinggi, ia maju dua tindak dan membentak: "Kalau kau mempunyai nyali, katakan lagi bahwa yang membunuh orang adalah Thio Coei San!"
Mendadak kedua mata pendeta its mengeluarkan sinar luar biasa. Ia menunding seraya berteriak: "Kau....!"
Tubuhnya tiba-tiba terjengkang dan robot di tanah. Dengan serentak sambil mengeluarkan seruan tertahan, Goan giap dan Goan im melompat untuk coba menolong. Tapi Hoan hong sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan dengan paras muka ketakutan.
"Kau! kau membunuh dia!" teriak Goan giap dan Goan im, tapi juga mengagetkan sangat Thio Coei San. Ia menengok kebelakang dan matanya yang sangat jeli melihat goyangnya beberapa cabang pohon "Jangan lari!" bentaknya sambil melompat.
Ia mengerti, bahwa perbuatannya itu sangat berbahaya sebab musuh yang bersembunyi dapat membokongnya. Tapi untuk cuci bersih segala tuduhan, ia mesti bisa menangkap pembunuh itu. Selagi badannya masih berada di tengah udara itu Goan im dar Goan giap sudah menyabet dengan senjata mereka. Bagaikan kilat, ia menekan Sian thung Goan giap dengan Houw tauw kauw dan menotok toya Goan im dan Goan giap dengan Poan koan pit dan dengan meminjam tenaga itu, badannya melesat keatas. Begitu kedua kakinya hinggap di atas tembok, segera matanya menyapu kearah gerobolan pohon. Benar saja beberapa cabang kecil masih bergoyang goyang, tapi orang yang bersembunyi sudah tak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
Sambil menggeram dan mengebas Sian thungnya Goan giap bergerak untuk melompat keatas tembok "Jie wie jangan merintangi aku. Mari kita ubar pembunuh itu!" teriak Coei San.
"Kau ..... dihadapanku kau berani membunuh orang !" teriak Goan im dengan napas tersengal-sengal, "Apa sekarang kau masih mau menyangkal". Beberapa kali Goan giap coba melompat ke atas, tapi ia selalu kena dipukul mundur. "Thio Ngo Hiap, kami bukan mau mengambil jiwamu," kata Goan im. "Kau ikut saja kami ke Siauw lim sie"
"Benar-benar gila!" teriak Coei San. "Karena gara gara kalian berdua yang sudah menghalang halangi aku,pembunuh itu telah berhasil melarikan diri. Sekarang kamu berbalik mau mengajak aku ke Siauw Lim sie. Perlu apa aku pergi ke Siauw Lim sie?"
"Supaya Hong thio kami dapat memberi keputusan," jawabnya. "Dengan beruntun kau sudah membinasakan tiga orang murid kuil kami, ini adalah terlalu besar untuk dibereskan oleh kami berdua."
Coei San tertawa dingin "Hm!" ia mengeluarkan suara di hidung. "Sungguh percuma kamu berdua menjadi anggauta dari Siauw lim Cap peh Lo han. Penjahat lari di depan hidungmu, kamu masih belum tahu!"
"Sudahlah!" kata Goan im dengan suara menyesal dan duka. "Biar bagaimanapun juga, hari ini kami tak akan dapat melepaskan kau."
Mendengar tuduhan yang sangat hebat itu, semakin lama pemuda itu jadi semakin gusar."Tay Soe" katanya sambil tertawa dingin. "Jika kamu mempunyai kepandaian, cobalah tangkap aku!" hampir berbareng dengan tantangannya, Goan giap menumbuk tanah dengan San thungnya dan badannya segera melesat keatas. Coei San pun melompat tinggi dan selagi tumbuhnya melayang turun, bagaikan angin puyuh ia menyerang. Goan giap coba menangkis, tapi dengan sekali balik Houw tauw kauw, ia menggeres alis pendeta itu yang lantas saja mengucurkan darah dan tumbuhnya ambruk ke bawah. Dalam serangan itu, Coei San masih berlaku murah hati. Jika gaetan tersebut diturunkan sedikit lagi kearah tenggorkan, jiwa Goan giap tentu sudah melayang.
"Giap soeete!" teriak Goan im. "Apa kau terluka berat?"
"Tidak Jangan rewel! Hajarlah !" jawabnya dengan kalap.
Mendengar perkataan saudara seperguruannya. Goan im segera menyerang sambil melompat lompat dan sesaat kemudian, tanpa membalut luka nya, Goan giap pun segera membantu. Melihat serangan-serangan yang sangat hebat itu, Coei San mengerti, bahwa jika kedua pendeta tersebut dapat , melompat ke atas tembok, ia bakal repot sekali.
pMaka itu, sambil mengempos semangat, ia segera berkelahi dengan hati-hati dan menjaga supaya kedua lawannya jangan sampai berdiri di tembok. Ketiga pendeta dari tingkatan "Hoei" tidak berani maju, biarpun mereka ingin sekali membantu.
Thio Coei San mengerti bahwa untuk membersihkan dirinya dari tuduhan yang sangat hebat itu, ia harus menyelidiki dan membekuk pembunuh yang tulen. Ia tahu bahwa dilangsungkannya pertempuran hanyalah akan memperdalam sakit hati dan salah mengerti. Maka itu sambil menggerakkan kedua senjatanya untuk menutup serangan kedua pendeta itu, ia berseru keras dan mengenjot tubuh.
Tapi sebelum ia melompat tiba tiba terdengar bentakan geledek, dan tembok yang sedang diinjaknya roboh didorong orang. Sebelum kedua kakinya hinggap di bumi seorang pendeta yang tubuhnya tinggi besar menerjang dan coba merampas kedua senjatanya.
Di tempat gelap Coei San tak bisa lihat tegas muka hweeshio itu, tapi melihat sepuluh jarinya yang dipentang seperti gaetan, ia tahu, bahwa pendeta itu menyerang dengan Houw jiauw kang (ilmu pukulan kuku harimau) salah satu pukulan terlihay dari Siauw lim sie.
"Sim Soeheng!" teriak Goan giap. "Jangan kasih bangsat ini lari"
Semenjak turun dari Boe tong san, Thio Coei San jarang bertemu dengan tandingan. Sesudah memiliki ilmu silat Ie thian To liong, kepandaiannya jadi lebih tinggi lagi dan nyalinya pun jadi lebih besar. Melihat serangan mati-matian dari tiga pendeta itu ia jadi mendongkol bukan main dan lantas saja timbul niatan untuk memperlihatkan kepandiannya. Ia segera menyelipkan kauw tauw kauw dan Poan koan pit di pinggang nya dan membentak "Kalau mau bertempur, ayolah! Biarpun Siauw lim Cap peh Lo han turun semua, Thio Coei San sedikit pun tidak merasa keder" Sesaat itu, tangan kiri Goan sim menyambar. Sambil berkelit, ia menggerakkan tangannya "Bret!" tangan jubah pendeta itu robek. Dengan gusar Goan sim coba mencengkeram pundaknya, tapi sebelum kelima jarinya menyentuh pundak, lututnya sudah ditendang Coei San.
Tapi diluar dugaan, dua kaki Goan sim luar biasa kuat, sehingga biarpun kena tendangan jitu, badannya hanya bergoyang-goyang dan tidak sampai roboh di tanah. Sambil menggeram, tangan kanan nya menyambar, dan dengan berbareng, Sian thung Goan im dan Goan giap menyabet pinggang dan kepala. Coei San tak jadi bingung. Dengan lompat tinggi ia menyelamatkan dirinya.
Sambil bertempur Coei San berkata dalam hatinya: "Dalam beberapa tahun yang belakangkangan nama Boe tong dan Siauw lim dikatakan berendeng dalam Rimba Persilatan. Tapi yang mana lebih tinggi, yang mana lebih rendah, sukar sekali dapat diukur. Biarlah hari ini aku menjajal kepandaian pendeta Siauw Lim." Ia segera mengempos semangat dan melayani ketiga lawan itu dengan hati-hati. Sesudah lewat sekian jurus, biarpun dikerubuti tiga, perlahan lahan ia berada di atas angin.
Sebenarnya, ilmu silat Siauw lim dan Boe tong mempunyai keunggulan sendiri-sendiri. Boe tong pay didirikan oleh Thio Sam Hong, seorang luar biasa pada jaman itu. Tapi ilmu silat Siauw lim sie, dengan sejarah seribu tahun lebih dan diperbaiki terus menerus, bukan main hebatnya. Dalam pada itu, orang harus ingat, bahwa dalam Boe tong pay, Thio Coei San termasuk sebagai Jago kelas utama, sedang Goan im, Goan sim dan Goan giap biarpun kedudukannya sebagai anggota Cap peh Lo han, dalam kalangan Siauw lim sie ilmu silatnya baru mencapai tingkatan kedua. Maka itu sesudah bertempur lama, sebaliknya dari keteter, Thio Coei San jadi semakin gagah.
Sesudah lewat sekian jurus tagi, tiba tiba pemuda itu menyerang dengan pukulan huruf "Liong" (naga). Mendadak satu tangannya menangkap San-thung Goan giap yang dengan menggunakan ilmu meminjam tenaga, memukul tangan lalu disentaknya kearah toya Goan im. "Trang !"Hebat sungguh bentrokan kedua toya itu. Tenaga kedua pendeta itu yang sudah cukup hebat, ditambah lagi dengan tenaga Thio Coei San. Telapak-tangan Goan im dan Goan giap terbeset dan mengeluarkan darah. Lengan mereka kesemutan, sedang kedua Sian thung itu melengkung.
Dengan kaget, Goan sim menubruk untuk memberi pertolongan. Melihat serangan nekat, Coei San mengengos sambil mengggaet dengan kakinya dan menepuk punggung pendeta itu. Tepukan itupun dikirim dergan ilmu "Meminjam tenaga, memukul tangan" yaitu memukul dengan menuruti tenaga Goan sim sendiri. Tanpa ampun, pendeta itu terjungkel.
Sambil tertawa dingin, Thio Coei San lantas saja berjalan pergi,
"Jangan lari kau!" terial Goan sim seraya melompat bangun dan terus mengudak diikuti oleh kedua saudara seperguruannya.
Melihat pengejaran nekat, Coei San jadi bingung juga. Tentu saja sama sekali bukan maksudnya untuk mencelakakan mereka. Maka itu, ia segera mengempos semangat dan lari dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Tapi ketiga pendata itu terus mengubar sambil berteriak-berteriak.
Sembari lari Thio Coei San merasa geli didalam hati, karena bagaimanapun juga, ketiga pangejar itu tak akan bisa menyandak dirinya. Selagi enak lari, tiba-tiba terdengar teriakan kaget dan kesakitan dan begitu menengok, ia lihat ketiga pendeta itu menutupi mata kanan mereka dengan kedua tangan, seperti kena senjata rahasia. "Orang she Thio!" Hoan giap mencaci. "Jika kau mempunyai nyali, butakanlah lagi mata kiriku!"
Coei San kaget bukan main. "Apa mata kanannya dibutakan orang dengan senjata rahasia?"tanyanya didalam hati.
"Siapa yang sudah membantu aku. Mendadak ia ingat sesuatu dan lantas saja berteriak! "Cit tee !Cit tee! Dimana kau?" Ia berteriak begitu karena ingat bahwa diantara saudara-saudara seperguruannya Boh Seng Kok lah yang paling pandai dalam ilmu menggunakan senjata rahasia. Boh Cit hiap mahir menggunakan piauw, panah tangan, paku, jarum, batu, Hoei hong sek dan lain-lain. Maka itu, ia menduga, bahwa orang yang telah menimpuk mata ketiga pendeta itu adalah adiknya yang paling kecil
Tapi sesudah memanggil beberapa kali, ia tak mendapat jawaban, ia melompat masuk kegerombolan pohon-pohon dipinggir telaga, tapi disitu pun ia tak lihat bayangan manusia.
Dilain pihak, sesudah seluruh matanya terluka, Goan giap jadi kalap dan sambil berteriak-teriak ia melompat untuk mengubar lagi. Tapi Goan im buru-buru menarik tangan Soeteenya. ia mengerti, bahwa meskipun belum terluka, mereka bertiga belum tentu dapat melawan musuh. Sekarang, sesudah terluka, apapula luka itu dirasakan gatal seperti kena senjata beracun keadaan mereka jadi lebih jelek lagi dan tak usah harap bisa memperoleh kemenangan. "Giap Soetee, " katanya dengan suara menghibur. "Dalam usaha membalas sakit hati, orang tak perlu terlalu bernapsu. Dalam urusan ini, andai kata kita bertiga mau menyudahi saja, Hong thio dan kedua Soepeh sudah pasti tak akan tinggal diam."
Sementara itu, sesudah ternyata pengubaran atas dirinya dihentikan, Coei San mulai memikiri kejadian barusan dengan rasa heran yang sangat besar. "Aku suka mengunggulkan ilmu mengentengkan badanku, tapi kepandaian orang itu kelihatannya banyak lebih tinggi dari padaku. Tapi siapa dia!"
Ia tak berani berdiam lama-lama lagi dipinggir telaga dan lantas berjalan pulang kerumah penginapan. Tapi baru saja berjalan puluhan tombak, sekonyong-konyong ia lihat bergoyang-goyangnya rumput tinggi ditepi telaga. Ia tahu bahwa disitu bersembunyi orang dan dengan hati-hati ia mendekati. Baru saja ia ingin menegur, dari antara rumput-rumput melompat keluar seorang yang terus membacok kepalanya dengan golok sambil membentak: "Kalau bukan aku, kau yang mampus!"
Dengan cepat Coei San mengegos dan mengirim tendangan yang mengenakan jitu pergelangan tangan kanan orang itu sehingga goloknya terbang dan jatuh diatas air. Orang itu yang gundul kepalanya dan mengenakan jubah pertapaan. Lagi-lagi seorang pendeta Siauw lim sie "Bikin apa kau di sini?" bentak Coei San.
Tiba-tiba ia lihat 3 sosok tubub yang menggeletak tanpa bergerak, entah sesudah mati, entah terluka berat didalam rumput-rumputan tinggi. Tanpa menghiraukan lawannya ia segera mendekati dan membungkuk. Begitu lihat, ia terkesiap karena ketiga orang itu bukan lain daripada pemimpin-pemimpin Liong boen Piauw kiok, yaitu Touw Tay Kim, Ciok dan Soe Piauw tauw. "Touw Cong piauw tauw!" serunya. "Kau !.... kau ..... " Perkataannya diputuskan oleh melompatnya Touw Tay Kim yang seperti orang edan lalu menyengkeram bajunya didada dan mencaci:"Bangsat ! Aku hanya simpan tiga ratus tahil perak, tapi kau sudah lantas berlaku begitu kejam."
"Ada apa?" tanya Coei San. Baru saja ia ingin memberontak, mendadak ia melihat darah di ujung mata dan mulut Cong Piauw tauw itu. Ia kaget bukan main. "Kau mendapat luka dalam?" tanyanya.
Touw Tay Kim menengok ke pendeta itu dan berkata dengan suara parau: "Soetee, kenalilah Orang ini Gin Kauw Tiat hoa Thio Coei San. Dia.... dialah pembunuhnya. Lekas kau pergi ! . . lekas ! jangan kena dicandak olehnya . .".
Mendadak kedua tangannya membetot keras dan kepalanya dibenturkan ke dada Thio Ngo hiap dengan tujuan untuk mati bersama. Coei San mengangkat kedua tangannya dan mendorong. "Bluk!", badan Touw Tay Kim terpental dan jatuh terjengkang tapi bajunya sendiripun menjadi robek.
Thio Coei San adalah seorang yang tidak mengenal takut. Tapi kejadian-kejadian malam itu dan paras muka Touw Tay Kim adalah sedemikian menyeramkan, sehingga bulu romanya bangun semua. Dengan hati berdebar-debar, ia membungkuk untuk coba menolong, tapi Touw Tay Kim sudah melepaskan napasnya yang penghabisan. Sesudah mendapat luka berat, dorongan Coei San dan jatuhnya ditanah telah menghabiskan jiwanya.
"Bangsat!" teriak sipendeta. "Kau!..... kau binasakan Soe hengku !" Ia memutar badan dan terus kabur sekeras-kerasnya.
Coei San menghela napas panjang dan menggeleng gelengkan kepalanya. Ia mendapat kenyataan, bahwa Ciok dan Soe Piauw tauw, yang kakinya masuk kedalam air, sudah mati lebih dulu.
Bukan main rasa dukanya pemuda itu. Dengan Touw Tay Kim, ia tak mempunyai permusuhan apapun juga. Ia hanya merasa jengkel karena dalam mengantar Jie Thay Giam, Cong piauw tauw itu sudah diabui orang dan menyerahkan samkonya kepada kawanan orang jahat. Tapi sekarang melihat kebinasaan yang begitu menyedihkan, ia merasa sangat terharu dan kasihan. Untuk beberapa saat, ia berdiri bengong. Tiba-tiba ia ingat perkataan Cong piauw tauw itu yang mengatakan, "aku hanya menyimpan tigaratus tahal emas, tapi aku sudah lantas berlaku begitu kejam".
Sebenar-benarnya, jangankan ia tak tahu hal itu, sekalipun tahu, ia pasti tak akan sembarangan membunuh orang. Ia segera membungkuk daa membuka buntalan yang diikat dipunggung Cong piauw tauw itu. Benar saja, dalam buntelan itu kedapatan beberapa potongan emas.
Coei San jadi bertambah duka. Ia ingat kesukaran dan penderitaan seorang piauw tauw yarg mencari sesuap nasi dengan melakoni perjalanan li (peep: ???) dan setiap hari hidup diujung senjata. Tujuan satu-satunya adalah mengumpul sedikit uang untuk berjaga-jaga keperluan dihari tua. Uang itu sekarang menggeletak disamping Touw Tay Kim, tapi ia sudah tak dapat menggunakannya. Mengingat begitu, ia menghela napas. Ia ingat pula, bahwa ini malam, seorang diri ia telah mengalahkan tiga pendeta Siauw lim sie sehingga namanya naik tinggi dalam Rimba Persilatan. Tapi apa artinya itu semua? Pada akhirnya ia dan Tuow Tay Kim tidak banyak bedanya, yaitu berpulang ketempat baka.
Tanpa merasa, sekali lagi ia melamun ditengah telaga. Mendadak terdengar suara khim. Ia mengawas kearah suara itu dan mendapat kenyataan, bahwa sastrawan yang tadi minum arak seorang diri di dalam perahu, yang sekarang yang menetik khim. Sesaat kemudian, dengan menuruti irama tabuh-tabuhan itu, ia menyanyi:
"Mendapat ilham, tenaga pit seolah olah menggetarkan Ngo gak,
Syair rampung suara bersyair mencapai Ciang Cioe.
Kalau nama dan kemuliaan terus berdiri tegak,
Sangai Han soei seharusnya mengalir balik ke barat laut."
Coei San terkejut. Suara itu yang merdu dan nyaring, seperti juga suara seorang wanita, sedang sajak mengenakan jitu isi hatinya. Dilain saat, ia segera mengangkat kaki uatuk meninggalkan tempat itu, karena, jika perahu itu mendekati dan si sasterawan melihat ketiga mayat yang menggeletak disitu, dia mungkin berteriak dan mengakibatkan datangnya serdadu peronda. Tapi baru ia bertindak, sastrerawan itu sekonyong-konyong menepuk khim dan berkata dengan suara nyarirg: "Jika Heng tay (saudara) merasa senang untuk pelesir diatas telaga, mengapa Heng tay tak mau naik kesini?". Sambil berkata begitu, ia mengebas tangannya dan tukang perahu yang duduk dikemudi lantas saja menggayu perahu itu ketepi telaga.
"Orang itu sedari tadi sudah belada diatas telaga sehingga mungkin sekali aku akan bisa mendapat keterangan berharga dari mulutnya," pikir Coei San yang lalu turun dipinggir air. Begitu perahu itu datang dekat, ia segera melompat kekepala perahu.
Dengan ilmu mengentengkan badannya yang sangat tinggi, lompatannya itu sedikitpun tidak menggoncangkan badan perahu. Sisasterawan bangun berdiri dan sambil tersenyum, ia menyoja, akan kemudian menunjuk kursi supaya tamunya duduk.
Dengan pertolongan sinar tengtoleng Coei San mendapat kenyataan bahwa sastrawan itu kulitnya putih bagaikan susu dan pantasnya cantik ayu, sedang waktu ia bersenyum pada pipi kirinya yang agak kurus tertampak sebuah sujen. Dipandang dari jauh, ia kelihatannya seperti seorang tongcoe yang tampan, tapi dilihat dari dekat, ia adalah seorang wanita muda belia yang mengenakan pakaian lelaki.
Sebagai murid Thio Sam Hong, Coei San telah diajar untuk mentaati sopan santun dan memegang keras peraturan pada jaman itu, mengenai pergaulan antara pria dan wanita.
Selama malang melintang dalam dunia Kangouw, Butong Cit hiap belum pernah dibikin mabok oleh kecantikan wanita.
Maka itulah, setelah mengetahui, bahwa sasterawan itu adalah seorang wanita, parasnya lantas saja berubah merah dan begitu bangun berdiri, ia segera melompat balik kedaratan. Sambil menyoja ia berkata dengan sikap menghormat: "Aku yang rendah tak tahu, bahwa nona adalah seorang wanita yang menyamar sabagai pria. Untuk kelancanganku, harap nona sudi memaafkan."
Tanpa menjawab, nona itu memetik khin seraya bernyanyi
"Kejengkelan menghilangkan kegembiraan,
kesepian menimbulkan kedukaan.
Terbang berputaran, memandang ketempat jauh.
Mencekal pedang, melompat ke atas perahu."
Mendengar nyanyian itu, yang mengundangnya untuk kembali keperahu, Coei San berkata di dalam hati: "Malam ini aku telah bertemu dengan banyak soal sulit. Nona itu rupanya dapat membantu aku dalam usaha mencuci bersih segala tuduhan yang tidak-tidak." Memikir begitu ia lantas saja bergerak untuk melompat kembali ke perahu.
Tapi ia lantas mendapat lain ingatan. "Ah! Aku belum mengenalnya dan ia begitu cantik," pikirnya. "Jika aku membuat pertemuan di tengah malam buta, namanya yang suci bersih bisa ternoda."
Selagi bersangsi, tiba-tiba ia dengar suara penggayu memukul air, dan perahu itu sudah bergerak ketengah telaga. Dilain saat terdengar bunyi khim yang diiring dengam nyanyian seperti berikut;
"Malam ini kuhilanag kegembiraan,
Besok malam, belum ada ketentuan.
Dibawah Liok ho tah,
Yanglie melambai, perahu menunggu,
Pemuda kesatria,
Apa sudi datang kesitu ?"
Semakin lama perahu jadi semakin jauh, sedang nyanyian itu pun semakin sayup kedengarannnya, sinar tengloleng kelihatan seperti sebutir kacang dan kemudian menghilang dari pemandangan.
Pengalaman Thio Coei San pada malam itu sungguh-sungguh luar biasa. Disaat ini, dia menghadapi pembunuhan, mayat dan pertempuran disaat lain, ia bertemu dangan wanita cantik, khim dan nyanyian merdu. Lama juga ia berdiri ditepi telaga, seperti orang hilang ingatan. Kemudian sambil menghelan napas, dengan tindakan lesu ia kerumah penginapan.
Pada esok harinya, pembunuhan hebat digedung Liong boen Piauw kiok dan ditepi telaga telah menggemparkan seluruh kota Lim an. Thio Coei San yang gerak geriknya lemah lembut seperti seorang sasterawan tentu saja tidak dicurigai. Hari itu, dari pagi sampai sore, ia berputar-putar dipasar pasar dikelenteng-keleteng dalam usaha mencari Jie Lim Coe dan Boh Seng Kok. Tapi jangankan orangnya, sedangkan tanda tandanyapun yang biasa ditaruh disepanjang jalan jika Boe tong Cit hiap sedang manjalankan tugas tak kelihatan.
Sesudah mata hari mendoyong kebarat, mau tak mau, ia ingat nyanyian nona cantik itu yang selalu terbayang didepan matanya. "Jika aku berlaku sopan, halangan apa aku menemuinya?" katanya di dalam hati, "Memang alangkah baiknya jika Jieko dan Cit tee berada disini dan bisa turut serta. Ya, aku mesti bertemu dengan nona itu. Dia adalah orang satu-satunya yang bisa ditanyakan olehku." Sesudah mengambil keputusan, buru-buru ia menangsal perut dan lalu berangkat kepagoda Liok ho tah.
Liok ho tah berada ditepi Sungai Cian tongkang dan tempat itu terpisah agak jauh dari kota Lim an sehingga walaupun Thio Coei San menggunakan ilmu mengentengkan badan, waktu tiba di Liok ho tan, siang sudah terganti dengan malam.
Dari jauh ia sudah lihat, bahwa disebelah timur pagoda itu terdapat tiga pohon yanglioe dan dibawah pohon tertambat sebuah perahu kecil. Perahu perahu disungai itu kebanyakan menggunakan layar dan bentuknya banyak lebih besar daripada perahu pelesir ditelaga See ouw. Tapi perahu yang berada di bawah pohon yanglioe, tiada bedanya dengan perahu semalam dan dikepala perahu tergantung sebuah tengloleng.
Jantung pemuda itu, memukul keras dan sesudah dapat menenteramkan hatinya, barulah ia mendekati pohon yanglioe itu. Dikepala perahu kelihatan berduduk seorang wanita yang mengunakan baju muda. Ternyata nona itu tidak menyamar lagi sebagai pria.
Waktu berangkat dari rumah penginapan, Coei San bertekad untuk menemui sinona dan menanyakan urusan semalam. Tapi sekarang, melihat nona itu memakai pakaian perempuan, hatinya bersangsi lagi.
Sekonyong-konyong sinona mendongak dan mengucapkan sebuah sajak:
"Memeluk lutut dikepala perahu,
Sambil menunggu seorang tamu.
Angin meniup, ombak bergoyang.
Duduk melamun, pikiran meiayang."
"Aku yang rendah, Thio Coei San, ingin menanyakan sesuatu kepada nona," kata pemuda itu dengan suara nyaring.
"Naiklah keperahu," mengundang Sinona.
Dengan gerakan yang indah Coei San melompat ke atas
"Kemarin awan hitam menutupi langit dan bulan tak muncul," kata nona itu. "Malam ini langit bersih, lebih menyenangkan daripada kemarin." Suaranya merdu dan nyaring tapi ia bicara sambil mengawasi langit.
"Apakah boleh ku tahu she nona yang mulia?" tanya Coei San sambil membungkuk.
Mendadak Sinona menengok dan matanya kedua yang bening menyapu muka itu. Tapi ia tak menjawab pertanyaan orang.
Pemuda itu jadi kemalu-kemaluan. Tanpa berani mengeluarkan sepatah kata lagi, ia memutar badan dan lalu melompat kedaratan dan berlari-lari. Sesudah lari beberapa puluh tombak, ia menghentikan tindakannya. "Coei San! Coei San !'" Ia mengeluh "Kau dikenal sebagai seorang gagah yang selama sepuluh tahun didunia Kang ouw tidak mengenal apa artinya takut. Tapi mengapa begitu berhadapan dangan seorang wanita, kau lari terbirit birit ?" Ia menengok dan melihat perahu si nona maju perlahan-lahan disepanjang pingiran sungai, dengan menuruti aliran air. Dengan hati ber debar-debar, ia lalu berjalan disepanjang gili gili, berendeng dengan perahu, sedang nona itu sendiri masih tetap duduk dikepala perahu sambil memandang langit.
Sesudah berjalan beberapa lama, tanpa merasa Coei San dongak mengawasi rembulan yang sedang dipandang sinona. Tiba-tiba di sebelah timur laut muncul segumpal awan hitam. Benar juga orang kata, angin dan awan tak dapat ditaksir kedatangannya. Dengan cepat, awan itu bergerak dan meluas. Tak lama kemudian, rembulan sudah tertutup awan hitam dan berbareng dengan turunnya angin, hujan gerimis mulai turun.
Ketika itu, Coei San sedang berjalan digili-gili yang berdampingan dengan sebidang tanah lapang dan disekitar itu tak ada tempat meneduh. Tapi pemuda yang sedang was-was itu pun tidak ingin cari tempat meneduh. Walaupun yang turun hanya gerimis, lama-lama pakaian Coei San basah juga. Ia melirik sinona yang juga masih tetap duduk dikepala perahu, dengan tak menghiraukan serangan hujan. Tiba-tiba ia tersadar.
"Nona, masuklah! Apa kau tak takut basah?" teriaknya.
"Ah!" nona itu mengeluarkan seruan tertahan sambil bangun berdiri. "Eh, apa kau juga tak takut basah ?"
Sehabis berkata begitu, ia masuk kegubuk perahu dan keluar pula dengan tangan mencekal payung, yang lalu dilontarkan kearah pemuda itu. Coei San menyambuti dan lalu membukanya. Diatas payung terdapat lukisan pemandangan alam yang sangat indah: gunung, air dan beberapa pohon yanglioe, sedang diatas gambar terdapat huruf-huruf seperti berikut: "Sia hong see ie poet hie kwi."
Payung Hangcioe memang biasa ada lukisannya. Tapi tulisan seperti itu, yang banyak terdapat pada barang pecah belah keluaran Kangsay, adalah sedikit luar biasa. Dengan rasa kagum, Coei San membaca huruf-huruf itu, yang walaupun masih kurang bertenaga sangat indah ayu dan mengunjuk jelas sebagai buah kalam seorang wanita. Dengan mata mengawasi tulisan itu, ia berjalan terus sehingga ia tak lihat sebuah solokan kecil yang melintang ditengah jalan. Tiba-tiba saja kakinya menginjak tempat kosong dan jika ia seorang biasa, ia pasti terjungkal kedalam solokan itu. Tapi Thio Coei San bukan orang biasa. Sedang kaki kanannya kejeblos, kaki kirinya sudah menotol pinggir solokan dan badannya meleset kedepan, sehingga ia hinggap diseberang dengan selamat.
"Bagus!" memuji sinona.
Coei San menengok dan melihat nona itu berdiri di kepala perahu dengun memakai tudung. Pakaiannya berkibar-kibar ditiup angin dan disambar hujan gerimis, sehingga dipandang dari kejauhan, ia seolah-olah seorang dewi.
"Apakah tulisan dan lukisan diatas payung itu cukup berharga untuk dilihat oleh Thio Sianseng?" tanya sinona.
"Huruf-huruf ini ditulis menurut Soe hoat (sari menulis) dari Wie Hoejin," jawabnya. "Biarpun coretannya agak pendek, artinya panjang. Huruf huruf ini sudah cukup indah".
Mendengar pengertian pemuda itu akan seni menulis dan pujian yang diberikan kepadanya, sinona jadi girang. "Dalam tujuh huruf itu, huruf 'poet' yang paling jelek." katanya.
Coei San mengawasi pula tulisan itu seraya berkata: "Tulisan cukup wajar, hanya kurang memperlihatkan arti yang tergenggam dalam huruf itu. Berbeda dengan enam huruf lainnya yang sangat indah dan tidak membosankan."
"Benar," kata sinona "Sudah lama aku merasa bahwa dalam huruf itu terdapat kekurangan itu. Sesudah Sianseng menjelaskan, barulah aku mendusin."
Perahu terus laju kealiran sebelah bawah, sedang Thio Coei San terus mengikuti sambil omong omong tentang seni menulis. Tanpa merasa mereka sudah melalui belasan li dan siang sudah terganti dengan malam. Tiba-tiba sinona berkata: "Benar juga dikatakan orang, bahwa bicara semalaman dengan seorang pandai, banyak lebih berfaedah daripada membaca buku sepuluh tahun. Terima kasih banyak untuk keteranganmu, dan di sini saja kita berpisahan," Sehabis berkata begitu, ia memberi isyarat dengan tangannya dan layar perahu lantas saja naik dengan perlahan. Sesudah layar terpentang perahu itu lantas saja laju dengan pesatnya. Dengan mata mendelong, Coei San mengawasi perahu sinona yang semakin lama jadi semakin jauh. Sekonyong konyong, sayup-sayup ia dengar teriakan sijelita: "Aku she In. Dilain hari, aku akan meminta pelajaran lagi."
Mendengar kata kata "aku she In", pemuda itu terkesiap. Ia ingat keterangan Touw Tay Kim, bahwa orang yang menyuruhnya untuk mengantar kan Jie Thay Giam ke Boe tong san adalah seorang sasterawan tampan yang mengaku she In. Apakah sasterawan she In itu sinona adanya?
Memikir begitu, tanpa memperdulikan lagi soal pembatasan pergaulan antara pria dan wanita, ia segera mengempos semangat dan mengubar dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Ia sudah menyandak. "In Kouwnio!" teriaknya. "Apakah kau kenal Jie Samko Jie Thay Giam?"
Nona itu menengok tanpa menjawab. Lapat-lapat Coei San seperti mendengar suara hela napas panjang. "Nona ada beberapa soal yang kuingin tanya," teriaknya pula.
"Soal apa?" sinona balas tanya.
"Apakah kau yang sudah minta Liong boen Piauw kiok mengantar Jie Samko ke Boe tong san?", tanya Coei San. "Tapi apa Kouwnio tahu, bahwa sesudah tiba di Boe tong san, Jie Samko telah dianiaya orang ?"
"Untuk kejadian itu, aku sungguh merasa sangat menyesal," jawabnya.
Sedang mereka tanya jawab, angin turun semakin besar dan perahu laju semakin cepat. Tapi dengan memiliki Gin kang yang sangat tinggi, Coei San tetap bisa lagi berendeng.
Dilain pihak, setiap perkataan sinona yang di ucapkan secara biasa diantara hujan dan angin, dapat didengar tegas oleh Thio Coei San dan hal itu membuktikan bahwa iapun mempunyai Lwekang yang tinggi.
Semakin jauh, permukaan Sungai Cian tongkang kang jadi semakin luas dan hujan angin pun turun semakin hebat. "In Kouwnio, puluhan jiwa dalam Liong boen Piauw kiok telah dibinasakan orang." teriak Coei San. "Apa kau tahu siapa pembunuhnya?"
"Aku telah memberitahukan Touw Tay Kim bahwa dia harus hati hati mengantar Jie Samhiap pulang ke Boe tong." sahutnya. "Kalau dia gagal...."
"Kau akan membasmi seluruh keluarge piauw kiok, sekalipun ayam dan anjing tidak diberi ampun." menyambung pemuda itu.
"Benar." katanya. "Dia tak bisa melindungi Jie Samhiap dan segala kejadian berikutnya adalah salahnya sendiri."
Coei San mencelos hatinya. Ia menggigil seperti disiram air es. Dengan mata membelalak, ia berteriak: "Kalau begitu, semua orang digedung itu telah.... telah...."
"Dibunuh olehku," menyambungi si nona.
Mata pemuda itu ber-kunang2. Mimpi pun ia tak pernah mimpi, bahwa wanita yang begitu cantik ayu adalah si pembunuh kejam. Lewat beberapa saat, sesudah menenteramkan hatinya, barulah ia dapat membuka suara lagi: "Siapa yang bunuh dua hweeshio Siauw lim sie itu?"
"Aku," jawabnya dengan tenang. "Sebenarnya aku tidak berniat menanam bibit permusuhan dengan Siauw lim sie, akan tetapi karena mereka berlaku kurang ajar, aku tak dapat mengampuninya.."
"Tapi.... tapi kenapa semua kesalahan ditumpuk diatas pundakku?" tanya pula pemuda itu.
Si nona be-senyum. "Akulah yang sengaja mengatur begitu!" jawabnya.
Darah Thio Coei San bergolak-golak, ia merasa dadanya seperti mau meledak "Kau yang sengaja mengatur begitu? Supaya mereka sakit hati kepadaku?" teriaknya dengan suara kalap.
"Tak salah," jawabnya sambil tertawa.
"mengapa kau berbuat begitu, sedang kau dan aku sama sekali tidak bermusuhan?" Coei San berteriak pula.
Si nona tidak menjawab. Tiba-tiba sambil mengebas tangan bajunya, ia melompat masuk dalam gubuk parahu.
Coei San tentu saja tak mau mengerti. Ketika itu perahu terpisah belasan tombak dari tepi sungai dan ia tak dapat mencapainya dengan satu lompatan. Dengan kegusaran meluap-luap, ia menghantam satu pohon dan mematahkan dua cabang yang agak besar. Sambil melontarkan satu antaranya ketengah sungai kearah perahu itu, kakinya menotol tanah dan badannya melesat bagaikan anak panah. Begitu hinggap, kaki kirinya menotol cabang itu dan tubuhnya kembali melesat beberapa tombak jauhnya, sembari melontarkan cabang yang satunya lagi. Seperti tadi, kaki kanannya menotol cabang itu dan bagaikan seekor burung, ia hinggap diatas kepala perahu. "Hei !" bentaknya. "Bagaimana kau melakukan perbuatanmu itu?"
Tapi dari dalam gubuk itu tidak terdengar jawaban. Ia sangat ingin menerjang masuk, tapi sebisa-bisa ia menahan sabar, karena merasa, bahwa perbuatan itu adalah tidak sopan.
Sekonyong-konyong lilin dalam gubuk menyala terang. "Masuklah!" undang si nona.
Sesudah merapikan pakaiannya, Coei San bertindak masuk. Mendadak ia kaget, karena dalam gubuk itu kelihatan berduduk seorang pemuda yang mengenakan thungsha hijau dan topi empat persegi, sedang tangan kanannya menggoyang-goyang kipas. Ternyata, dalam sekejap si nona sudah menukar pakaian lelaki dan dalam pakaian begitu, ia kelihatannya mirip sekali dengan Thio Ngohiap.
Tadi Coei San menanya, bagaimana ia telah berlaku sehingga, pendeta-pendata Siauw lim sie menduga, bahwa pembunuhan itu dilakukan olehnya. Tanpa menjawab, nona In telah memberi jawaban. Dengan mengenakan pakaian sasterawan, ditempat yang agak gelap, sukar sekali akan orang membedakan yang mana si wanita. Maka itu tidaklah heran jika Hoei hong dan Touw Tay Kim menuduh padanya.
"Thio Ngohiap, duduklah," mengundang si nona sambil menuang teh disebuah cangkir. Ia mengangsurkan cangkir itu seraya berkata: "Sungguh menyesal aku tak punya arak untuk disuguhkan kepada Ngohiap."
Penyambutan yang sangat ramah tamah itu memaksa Coei San menahan hawa amarahnya. "Terima kasih," katanya sambil membungkuk.
Melihat pakaian pemuda itu basah kuyup sinona berkata pula: "Dalam perahu ini aku masih mempunyai seperangkat pakaian laki-laki. Ngohiap boleh pergi kebelakang untuk menukar pakaian yang basah itu."
"Tak usah," sahutnya sambil menggelengkan kepala. Ia lantas saja mengerahkan Lweekang dan hawa panas segera mengalir di seluruh badannya, sehingga tak lama kemudian pakaian yang basah itu menjadi kering.
"Aku tak ingat, bahwa Lweekang Boe tong pay luar biasa tinggi," kata si nona sembari bersenyum. "Dengan menyuruh menukar pakaian, siauw moay benar-benar berpandangan sempit."
"Bolehkah aku mendapat tahu partai nona?" tanya Coei San.
Mendengar pertanyaan itu, si nona memandang keluar jendela, alisnya berkerut dan pada paras mukanya tertampak sinar kedukaan.
Melihat perubahan itu, Coei San tidak berani mendesak lagi. Lewat beberapa saat, barulah ia berkata pula: "Nona, siapakah yang menganiaya Jie Samko? Bolehkah kau memberitahukan aku?"
"Bukan saja Tauw Tay Kim, tapi akupun sudah kena diakali," jawabnya, "Sebetulnya aku mengingat bahwa Boe tong Cit hiap adalah pendekar-pendekar yang gagah tampan dan tidak bisa jadi beroman begitu kasar."
Mendengar jawaban yang menyimpang, yang menyebut-nyebut "gagah tampan", Coei San mengerti bahwa sinona tengah memuji dirinya dan hatinya lantas saja berdebar-debar, sedang mukanya berubah merah.
Sesaat kemudian, nona In menghela napas sambil menggulung tangan baju kirinya. Coei San buru buru menunduk, ia tak berani mengawasi lengan yang putih itu.
"Apa kau kenal senjata rahasia ini?" tanya si nona.
Mendengar perkataan "senjata rahasia", Coei San mengangkat kepala dan melihat tiga batang piauw baja kecil yang menancap dilengan kiri dan
diseputar senjata rahasia itu terlihat warna hitam seperti air bak.
Panjangnya piauw itu hanya satu setengah dim dan kira-kira satu dim masuk kedalam daging sedang buntut piauw yang menonjol keluar berbentuk bunga bwe. Coei San terkejut dan berseru sambil bangun berdiri: "Ah ! Bweehoa piauw dari Siauw limsie. Mengapa berwarna hitam?"
"Tak salah," kata sinona. "Bwee hoa piauw dari Siauw lim sie. Piauw itu mengadung racun."
"Siauw lim sie adalah partai persilatan yang ternama, sehingga menurut pantas tak mungkin orang Siauw lim sie menggunakan senjata rahasia beracun." kata Coei San. "Tapi piauw itu adalah senjata yang hanya dapat digunakan oleh orang Siauw lim sie."
"Aku juga merasa sangat heran," kata nona itu. "Sebagaimana dikatakan oleh gurumu, hancurnya tulang tulang Soehengmu juga adalah akibat cengkeraman Kim kongcie, yaitu ilmu istimewa dati Siauw limsie."
Coei San terkejut. Keterangan gurunya hanya didengar oleh saudara-saudara seperguruannya. Bagaimana nona itu dapat mengetahuinya? "Nona, apakah kau pernah bertemu dengan Jie Soeko Jie Lian Cioe dan Cit tee Boh Seng Kok?" tanyanya dengan tergesa-gesa.
Sinona menggelengkan kepala. "Aku hanya bertemu satu kali dengan mereka di Boe tong," jawabnya.
Bukan main rasa herannya Coei San, "Apa nona pernah datang di Boe tong?" tanyanya. "Mengapa aku tak tahu? ... Nona, sudah berapa lama kau kena piauw itu? Kau harus cepat cepat mencari obat." Waktu berkata begitu, paras mukanya mengunjuk rasa kuatir
"Sudah duapuluh hari lebih," jawabnya dengan suara berterimakasih, "Aku sudah menggunakan obat untuk menahan mengamuknya racun itu, sehingga untuk sementara waktu, aku masih dapat mempertahankan diri. Tapi aku tidak berani mencabutnya, sebab kuatir, begitu tercabut, racun akan menjalar kelain bagian tubuh dengan mengikuti aliran darah."
Pemuda itu mengerti, bahwa dalam usaha menahan menjalarnya racun, seseorang bukan saja harus menelan obat mustajab, tapi juga harus memiliki Lweekang yang sangat tinggi. Dilihat romannya, nona itu baru berusia kira-kira delapanbelas tahun dan bahwa ia sudah mempunyai Lweekang yang sedemikian tinggi, adalah kenyataan yang sangat mengagumkan. Tanpa merasa ia berkata dengan suara terputus-putus "Nona .... sesudah duapuluh hari lebih .... kukuatir. .dibelakang hari, pada kulitmu akan terdapat .... terdapat bekas-bekas yang tak akan hilang....." Sebenarnya apa yang dikuatirinya yalah: jika, racun itu mengeram terlalu lama, sinona mungkin tak akan dapat menggunakan tangan kirinya lagi.
Mendengar perkataan Coei San, air mata sinona berlinang-linang dikedua matanya. "Aku sudah berusaha sedapat mungkin...." - katanya dengan suara peralahan "Semalam aku sudah menggeledah badannya pendeta pendeta Siauw lim itu, tapi tak bisa mendapatkan obat pemunah.... Lengan ini tak akan dapat digunakan lagi." Sambil berkata begitu perlahan-lahan ia menurunkan tangan jubahnya.
"Rasa kesatrian Thio Coei San lantas saja tampil kemuka. "In Kouwnio," katanya dengan suara tetap. "Apakah kau percaya aku? biarpun Lwee kangku masih sangat cetek. kupercaya masih dapat membantu kau dalam usaha mengeluarkan racun itu diri dalam lenganmu."
Nona In tertawa dan pada pipinya terlihat sujen yang sangat manis. Ia kelihatan girang dan paras mukanya berseri-seri. "Thio Ngo hiap," katanya, "Dalam hatimu terdapat banyak sekali pertanyaan dan kesangsian. Biarlah lebih dulu aku memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya, supaya sesudah menolong aku, kau tidak akan merasa menyesal."
"Mengobati sakit dan menolong manusia adalah tugas orang-orang Rimba Persilatan," kata Coei San dengan suara nyaring. "Bagaimana aku bisa menyesal?"
"Sudah duapuluh hari lebih racun itu mengeram dalam badanku, sehingga sekarang kita tak perlu terlalu tergesa-gesa," kata sinona sambil tersenyum. "Biarlah kau dengar dulu penuturanku. Hari ini sesudah menyerahkan Jie Sam hiap kepada Liong boen piauw kiok, aku sendiri diam-diam menguntit dari belakang. Benar saja, disepanjang jalan beberapa orang ingin turunkan tangan jahat terhadap Jie Sam hiap, tapi semuanya sudah dipukul mundur olehku. Kejadian itu sama sekali tidak diketahui oleh Tauw Tay Kim."
Thio Coei San lantas saja mengangkat kedua tangannya "Budi nona yang sangat besar tak akan dilupakan
oleh segenap murid Boe tong pay," katanya sambil menyoja.
"Jangan terburu napsu menghaturkan terimakasih kepadaku," kata nona In sambil bersenyum. "Sebentar kau bisa membenci aku."
Coei San terkejut, Ia tak mengerti apa yang dimaksudkan sinona.
"Sepanjang jalan," ia melanjutkan penuturannya "Hari ini aku menyamar sebagai petani, lain hari sebagai saudagar dan terus membuntuti dari belakang. Tak dinyana, sesudah tiba di Boe tong baru terjadi peristiwa yang menyedihkan"
"Apakah nona lihat enam penjahat itu?" tanya Coei San sambil mengertak gigi. "Touw Tay Kim benar-benar tolol. Dia tak dapat memberikan keterangan apapun jua tentang asal usul enam penjahat itu."
"Bukan saja lihat, aku malah sudah bertempur dergan mereka," jawabnya. "Tapi akupun tolol. Aku juga tak tahu asal usul mereka." Sesudah mengirup teh, ia berkata pula: "Pada waktu enam orang itu turun dari atas gunung dan bicara dengan Touw Tay Kim, aku mengawasi dari sebelah kejauhan. Kudengar Cong piauw tauw itu menggunakan istilah Boe tong Liok hiap dan merekapun menerima baik panggilan itu. Sesudah mereka menerima kereta Jie Sam hiap, dari tangan rombongan piauw kiok, aku anggap, urusan sudah selesai dan aku menahan kuda dipinggir jalan, membiarkan lewatnya rombongan Touw Tay Kim,
Tapi dilain saat, aku terkesiap karena melihat sesuatu ang tidak masuk di akal. Siauw moay menganggap Boe tong Cit hiap saling menyintai seperti saudara saudara kandung sendiri. Menurut pantas, mereka ramai-ramai harus menengok Jie Sam hiap yang rebah di kereta dengan terluka berat. Tetapi kenyataannya, hanya seorang yang melongok kedalam kereta, sedang yang lainnya tidak mau mengambil perduli. Bukan saja begitu, paras muka mereka malahan menggunjuk perasaan girang dan sambil berteriak teriak, mereka mengikuti di belakang kereta. Itulah kejadian yang sangat mencurigakan sebab sangat tidak masuk akal.
"Tidak salah pendapat noda" kata Coei San sambil mengangguk beberapa kali.
"Semakin lama, hatiku jadi semakin tak enak," si nona berkata pula. "Aku segera mengubar dan menanyakan nama mereka. Mereka ternyata mempunyai mata yang cukup tajam. Sekelebatan, mereka sudah tahu, bahwa aku adalah seorang wanita yang menyamar sebagat pria. Aku mencaci mereka sebagai manusia rendah yang sudah menggunakan nama Boe tong Cit hiap dan merampas Jie Sam hiap dengan tipu busuk. Aku segera menerjang dan dilayani oleh seorang pemuda kurus yang berusia kurang lebih dua puluh tahun dengan dikawani oleh seorang too soe yang berdiri dipinggiran sedang empat kawannya yang lain berjalan sambil menggiring kereta.
Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi
"Diluar dugaan, pemuda kurus itu sangat lihay dan dalam tigapuluh julUs, aku belum dapat menjatuhkannya. Mendadak imam yang berdiri di pinggiran mengayun tangan kirinya dan tiga batang piauw menancap ditanganku.
"Begitu kena, lenganku sakit sakit gatal. Aku gusar dan kegusaranku di tambah dengan perkataan sikurus yang sangat kurang ajar, yang sesumbar ingin menangkap aku. Aku segera membalas dengan tiga batang jarum dan ahirnya berhasil meloloskan diri" Berkata sampai disitu, muka sinona bersemu merah. Mungkin sekali sikurus yang dikatakan kurang ajar telah mengeluarkan kata-kata yang tak sopan.
"Melepaskan Bwee hoa piauw dengan tangan kiri banyak lebih sukar daripada dengan tangan kanan," kata Coei San, "Tapi mengapa murid Siauw lim pay mengenakan pakaian toosoe? Apa dia menyamar?"
Nona In tersenyum. "Kalau toosoe mau menyamar sebagai hweeshio, dia harus menyukur rambut," katanya. "Banyak lebih mudah kalau hwee shio menyamar sebagai toosoe. Sudah cukup jika dia memakai topi toojin"
Pemuda itu mengangguk sambil bersenyum.
"Aku mengerti, bahwa pada waktu itu aku tak bisa berbuat banyak," kata pula nona In. "melawan pemuda kurus itu saja, aku belum bisa menang, apalagi jika ditambah dengan siimam, yang kelihatannya lebih lihay lagi. Aku yakin, biar bagaimanapun aku tak akan dapat melawan enam orang itu."
Coei San membuka mulutnya, tapi ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata.
"Aku tahu apa yang dipikir olehmu," kata sinona. "Kau tentu ingin mengatakan mengapa kau tak mau naik ke Boe tong dan memberitahukan hal itu pada kami ? Bukankan kau ingin menanya begitu ? Hai! Sebabnya adalah karena aku tak boleh naik ke Boe tong! Kalau dapat maju sendiri, perlu apa aku minta bantuan Touw Tay Kim untuk mengantar Jie Samhiap ? Aku merasa sangat bingung dan tak tahu harus berbuat bagaimana. Selagi berjalan dengan rasa sangsi, mendadak aku lihat kau yang sedang bicara dengan Touw Tay Kim. Belakangan, dengan mengikuti rombongan piauwkiok itu aku turut naik ke Boe tong. Dalam kekalutan dan kedukaan, orang tidak memperhatikan diriku. Kalian menganggap aku sebagai anggauta piauw hang, sedang rombongan Liong boen Piauw kiok menganggap aku sebagai orang Boe tong pay."
Tiba-tiba sipemuda ingat sesuatu "Aha!" serunya. "Hari itu kau menyamar sebagai tukang kereta, bukan? Tudungmu ditekan kebawah sampai hampir menutupi muka."
"Sungguh lihay mata Thio Ngo hiap," jawab si nona sambil tertawa. "Jika waktu itu kau tidak dilipati kegusaran dan kesedihan, mungkin sekali rahasiaku sudah diketahui olehmu. Tapi aku tak dapat mengabui mata Song Toa hiap?"
"Toa soeko kenali kau?" menegas Coei San dengan rasa heran. "Tapi ia tak mengatakan apapun jua kepada kami,"
"Song Toahiap sangat sopan dan luhur pribudinya." memuji sinona In. "Kepadakupun ia tidak megatakan sesuatu apa. Hanya pada waktu memberikan kamar-kamar kepada rombongan piauw kiok, ia sengaja menunjuk sebuah kamar terpisah untukku sendiri."
"Ya, Toa soeko memang begitu", kata Coei San dengan rasa hormat terhadap kakak seperguruannya itu.
"Belakangan, bersama rombongan Touw Tay Kim aku turun gunung" kata sinona: "Aku telah menyaksikan, cara bagaimana kau sudah paksa mereka muntahkan lagi duaribu tahil emas itu, untuk menolong rakyat yang tertimpa bencana alam. Thio ngohiap, kau royal sekali dengan orang lain. Uang itu adalah uangku,"
Coei San tertawa geli. "Biarkan atas nama rakyat yang menderita, aku menghaturkan banyak banyak terima kasih kepadamu," katanya.
"Hm ! Kalau uang sudah berada dalam tangan orang-orang temaha, mana mereka sudi muntahkan seanteronya?" kata pula nona In. "Hanya karena nama Thio Ngohiap terlalu besar, maka mereka tidak berani tidak muntahkan. Aku tahu diam diam mereka menyimpan tigaratus tahil. Sesudah kembali kesini aku segera minta pertolongan orang untuk memeriksa luka ini. Ada yang kata, bahwa Bwee hoa Piauw adalah senjata rahasia istimewa dari Siauw lim sie sehingga jika tidak mendapat obat dari mereka, racun itu sukar dipunahkan. Dalam kota Lim an, kecuali di Liong boen Piauw kiok, tak ada orang lain yang berasal dari Siauw lim sie. Maka itu aku telah menyatroni untuk memaksa supaya mereka mengeluarkan obat pemunah itu. Tapi di luar dugaan, bukan saja mereka tidak memberikan, tapi juga sudah mempersiapkan kawan-kawannya dan begitu aku tiba, mereka lantas menyerang."
"Tapi nona bukankah tadi kau mengatakan, bahwa kaulah yang sudah sengaja mengatur, sehingga mereka menuduh aku?" kata Coei San.
Nona In kelihatan kemalu-maluan dan sambil menundukkan kepala, ia berkata dengan suara perlahan: "Melihat kau ke toko dan membeli pakaian, aku .... aku merasa pakaian itu bagus sekali. Maka itu, aku juga turut membelinya,"
"Hal itu tidak mengapa." kata Coei San "Tapi dengan membunuh beberapa puluh orang kurasa kau terlalu kejam. Dengan orang-orang Liong boen Piauw kiok kau sebenarnya tidak mempunyai permusuhan suatu apa."
Mendengar teguran itu, paras muka si nona lantas saja berubah. Ia tertawa dingin seraya berkata "Kau ingin memberi pelajaran kepadaku ? Hm! Aku sudah hidup sembilan belas tahun, tapi belum pernah ada yang mengajar aku. Thio Ngo hiap adalah seorang yang sangat mulia dan aku mempersilahkan kau berlalu saja. Manusia kejam tidak perlu berhubungan dengan seorang mulia."
Paras muka pemuda itu lantas saja berubah merah. Ia segera bangun berdiri. Baru saja mau bertindak keluar, tiba-tiba ingat janjinya untuk bantu mengobati luka-luka si nona.
"Gulung tangan bajumu," katanya.
Alis nona In berdiri dan kedua matanya melotot. "Aku tak perlu diobati olehmu!" katanya.
"Lenganmu sudah terluka lama sekali dan jika tidak segera diobati, aku kuatir .... aku kuatir akan keselamatan jiwamu," kata Coei San.
"Memang paling baik jika aku mampus," kata nona In dengan suara ketus "Kalau jiwaku melayang, kaulah yang sudah mencelakakan aku"
Mendengar kata-kata yang tidak beralasan itu, Coei San jadi heran "Eeh!" katanya "Kau telah dilukakan oleh orang Siauw lim sie, mengapa kau menyalahkan aku?"
"Kalau aku tidak melakoni perjalanan ribuan lie untuk mengantar Jie Samkomu ke Boe tong san, aku tentu tak akan bertemu dengan enam penjahat itu," kata si nona.
"Sesudah enam bangsat itu merampas Jie Samkomu, kalau aku berpeluk tangan, lenganku tentu takkan terluka. Dan jika kau datang terlebih siang dan memberi bantuan, aku pasti tidak akan sampai terluka."
Coei San lantas saja mengangkat kedua tangan nya dan berkata: "Benar. Aku yang rendah menawarkan bantuan kepada nona, untuk membalas sebagian kecil saja dari budimu yang sangat besar."
Nona In melengos, "Apa kau mengaku bersalah ?" tanyanya.
"Bersalah apa ?" menegas Coei San.
"Kau mengatakan aku kejam, pernyataan itu salah sama sekali," katanya dengan suara mendongkol. "Hweeshio-hweeshio Siauw lim sie, Touw Tay Kim dan kawan kawannya semua pantas dibunuh."
Coei San menggelengkan kepala. "Biarpun lengan nona terkena piauw tapi kau masih dapat ditolong," katanya. "Samsoeko terluka berat, tapi is masih hidup. Andaikan ia tak dapat diobati, paling banyak kita cari biang keladinya. Biar bagaimana pun juga, tidak pantas nona membunuh puluhan orang."
Si nona mendelik dan parasnya berubah gusar. "Kau tetap menyalahkan aku ?" bentaknya. "Apakah yang menimpuk lenganku dengan Bweehoa piauw bukan orang Siauw lim sie? Apakah Liong boen Piauw kiok bukan dibuka oleh orang orang Siauw lim sie?"
"Murid-murid Siauw lim sie tersebar di kolong langit, jumlahnya ribuan, malah mungkin laksaan orang," kata Coei San dengan suara sabar.
"Nona hanya diserang dengan tiga batang piauw. Apakah untuk membalas sakit hati itu kau ingin menbunuh semua murid Siauw lim sie?"
Karena kalah bicara, si nona jadi semakin gusar. Mendadak ia mengangkat tangan kanannya dan menghantam tiga piauw yang tertancap di lengan kirinya. Keruan saja ketiga senjata rahasia itu amblas kedalam daging dan luka jadi bertambah hebat.
Coei San terperanjat. Ia tak pernah menduga bahwa si nona mempunyai adat yang seaneh itu. Sedikit saja tak senang, ia lantas mempersakiti dirinya sendiri. Dipandang dari sudut itu, tidaklah heran jika dia bisa membunuh orang secara mem buta tuli.
"Mengapa kau berbuat begitu?" tanyanya dengan mata membelalak. Dengan hati berdebar-debar ia lihat tangan baju si nona yang mulai basah dengan darah hitam. Ia mengerti bahwa luka itu sudah terlalu berat dan Lweekang si nora tidak akan dapat menahan lagi naiknya racun sehingga jika tidak lantas ditolong, jiwanya bisa melayang. Maka itu tanpa mengeluarkan sepatah kata, tangan kirinya menyambar dan menyekal lengan kiri nona In, sedang tangan kanannya merobek tangan baju orang
Mendadak, Coei San dengar bentakan dibelakangnya: "Bangsat! Jangan kurang ajar kau!" Hampir berbareng, sebilah golok menyambar ke punggungnya. Ia tahu, bahwa yang menyerang adalah si tukang perahu. Dalam keadaan genting, tanpa menengoknya ia menendang dan orang itu terpental keluar dari gubuk perahu.
"Tak usah kau tolong, aku lebih baik mati!" teriak sinona. "Plok", muka pemuda itu digaplok keras-keras.
Rasa kaget dan sakit tercampur jadi satu. Tanpa merasa, Coei San melepaskan cekelannya.
"Pergi kau! Aku tak sudi lihat lagi mukamu," kata nona In.
Coei San malu dan gusar. "Baiklah," katanya. "Hmm! Betul-betul aku belum pernah lihat wanita yang begitu tak mengenal aturan." Sehabis mengomel, dengan tindakan lebar ia berjalan keluar.
Nona In tertawa dingin dan berkata: "Kau belum pernah lihat? Hari ini kau boleh lihat!" Coei San mengambil sepotong papan untuk digunakan sebagat papan loncatan untuk mendarat. Tapi baru saja ia mau melemparkan papan itu keair, hatinya merasa tidak tega karena ia yakin, bahwa perginya berarti binasanya nona kepala batu itu. Maka itu sambil menahan amarah, ia kembali kegubuk perahu. "Biar pun kau menggaplokku, aku tak jadi marah," katanya. "Gulung tangan bajumu. Apa kau mau mati ?"
"Aku mau mampus atau mau hidup, ada sangkut paut apa denganmu ?" tanya nona In dengan suara aseran. (peep: aseran=???)
"Dengan melalui perjalanan ribuan kau sudah mengantar Samko," kata Coei San. "Budi yang sangat besar itu tak bisa tidak dibalas."
Sinona tertawa dingin, "Bagus! Aku baru tahu, bahwa tujuanmu hanya untuk membayar hutang," katanya. "Kalau aku tidak mengantar Samko-mu, biarpun aku terluka lebih berat lagi, biarpun kau lihat aku sudah hampir menghembuskan napas penghabisan, kau tentu tak sudi menolong."
Mendengar perkataan itu, Coei Sin ternganga. "Ah!..... itu sih belum tentu ....." katanya tergugu. Tiba-tiba ia lihat sinona menggigil, sebagai tanda, bahwa racun sudah mulai naik ke atas "Kau sungguh gila!" katanya dengan suara berkuatir. "Janganlah kau main-main lagi dengan jiwamu sendiri."
Nona In menggigit gigi. "Kalau kau tidak mengaku bersalah. biar bagaimanapun juga, aku tak sudi ditolong olehmu," katanya. Kulit mukanya yang putih sekarang berubah pucat dan tubuhnya agak bergemetaran, sehingga pemuda itu jadi lebih tak tega lagi. Ia menghela napas seraya berkata: "Baiklah. Hitung-hitung aku yang salah dan kau tidak bersalah."
"Tak bisa!" kata sinona. "Kalau salah, ya salah. Mengapa kau menggunakan perkataan hitung-hitung? Mengapa sesudah menghela napas, baru kau mengaku salah? Hm! Pengakuanmu tidak keluar dari hati yang jujur."
Sebab perlu menolong jiwa, Coei San sungkan bertengkar lagi. "Kaizar Langit di atas, Malaikat Sungai dibawah, dengan hati yang setulus-tulusnya aku ingin menyatakan kepada nona In ....In ....." Ia tak dapat meneruskan perkataannya sebab belum tahu nama si nona.
"In So So," menyambungi nona itu.
"Hmm! .... kepada nona In So So, bahwa dalam segala hal, akulah yang bersalah, atau tegasnya, aku mengaku bersalah."
In So So bunga hatinya, ia tertawa dengan paras berseri seri. Tapi hampir berbareng, kedua lututnya lemas dan ia jatuh duduk dikursi. Buru-buru Coei San mengeluarkan sebutir Pek co Hoei sim tan, yaitu pel untuk melindungi jantung dari segala rupa serangan racun, yang lalu diberikan kepada So So. Sesudah ia menggulung tangan baju si nona dan mendapat kenyataan, bahwa separuh lengan itu sudah berwarna hitam ungu dan hawa racun terus naik keatas dengan cepatnya.
Sambil mencekel bahu si nona dengang tangan kirinya, la menanya: "Apa yang dirasakan oleh mu ?"
"Dadaku menyesak," jawabnya. "Mengapa kau tidak cepat-cepat mengaku salah? Kalau aku mati, kaulah yang berdosa."
Tentu saja Coei San tidak meladeni perkataan seperti anak kecil itu. "Tak apa-apa, legakanlah hatimu." katanya dengan suara lemah lebut. "Longgarkan semua otot-ototmu, jangan menggunakan tenaga sedikitpun, berbuatlah seperti kau sedang tidur pulas."
"Aku merasa seperti juga sudah mati," kata si nona.
"Hmm! Sesudah terluka begitu, dia masih begitu gila-gilaan," kata Coei San dalam hatinya. "Celaka sungguh orang yang jadi suaminya." Memikir begitu, jantungnya memukul keras, karena kuatir si nona dapat menebak apa yang dipikirnya. Ia melirik muka si nona yang kelihatan bersemu dadu, seperti orang kemalu-maluan. Tiba tiba kedua mata kebentrok dan mereka saling melengos. "Thio Ngo ko," tiba tiba So So berkata dengan suara perlahan. "Aku bicara sembarangan saja. Kuharap kau tidak gusar" Mendengar perubahan panggilan dari Thio Ngo hiap jadi Thio Ngo ko, hati Coei San berdebar-debar semakin keras. Tapi lain saat, ia segera menjernihkan pikiran dan mengempos semangat untuk mengarahkan Lweekang. Perlahan-lahan semacam hawa hangat naik dari perutnya keatas dan lalu berkumpul dikedua lengan tangannya.
Selang beberapa saat, dari kepala pemuda itu keluar uap putih, sedang keringatnya turun berketel-ketel, sebagai tanda, bawwa ia tengah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.
Bukan main rasa terima kasihnya So So, ia mengerti, pada saat Coei San tak boleh diganggu maka ia pun segera meramkan kedua matanya dan tidak berani mengeluarkan sepatah kata.
Mendadak terdengar suara "plok". Sebatang piauw melompat keluar kira-kira setombak jauhnya dan menghantam dinding gubuk perahu, disusul dengan mancurnya darah hitam dari lubang luka. Lengan yang hitam itu perlahan-lahan berubah merah, Sesaat kemudian, piauw kedua melompat keluar.
Selagi Coei San mengempos semangat untuk mengeluarkan piauw yang terakhir sekonyong konyong terdengar seruan orang: "Hei! Apa In Kouw nio ada disitu?"
Coei San heran, tapi karena sedang mengerahkan tenaga, ia tidak menggubris.
"Siang Tay coe lekas kemari!" demikian terdengar teriakan si tukang perahu. "Ada orang jahat mau menganiaya In Kouwnio."
"Bangsat! Jangan kurang ajar!" demikian terdengar teriakan menggeledek dari sebuah perahu yang sedang mendatangi dengan cepatnya.
In So So membuka matanya dan bersenyum, dengan paras seperti orang ingin meminta maaf untuk salah mengerti itu.
Piauw yang ketiga ternyata masuk dalam sekali didaging si nona, sehingga sesudah tigakali menggunakan seantero tenaga dalamnya, senjata rahasia itu belum juga bisa didesak keluar.
Sementara itu sesudah terdengar suara penggayu memukul air sebuah perahu sudah datang dekat sekali. Sesaat kemudian, perahu si nona bergoyang sedikit, karena hinggapnya kaki manusia dipapan perahu. Tanpa menengok, Coei San terus mengempos semangat.
Dengan tindakan lebar, orang itu masuk ke dalam gubuk perahu. Melihat kedua tangan Thio Ngo hiap mencekal lengan kiri si nona, ia tentu saja tidak menduga, bahwa pemuda itu tengah mengobati luka In So So. Dengan kegurasan meluap, ia mengangkat tangannya dan menghantam punggung Coei San, "Bangsat! Lepaskan !" bentaknya.
Coei San tidak menangkis. Sambil menarik nafas, ia pasang punggungnya. "Bak!", pukulan itu kena tepat pada sasarannya.
Sebagai salah seorang murid terutama dari Boe tong pay, Lweekang Thio Coei San sudah mencapai tingkat tertinggi dan ia memiliki juga kepandaian luar biasa.
Demikianlah, tanpa bergerak, dengan ilmu "meminjam tenaga memindahkan tenaga", ia memindah kan tenaga pukulan itu ketelapak tangannya sendiri. "Plok !", Bwee hoa piauw yang ketiga melompat keluar dari lengan In So So dan menancap di papan gubuk perahu!
Sesaat itu, orang yang nenyerang sudah mengirim pukulan kedua. Ia terkesiap melihat akibat pukulannya yang pertama, sehingga tangannya yang tengah menyambar berhenti ditengah udara. "In Kouwnio! .. kau ... apa kau terluka?" teriaknya.
Si nona tidak menyahut.
Sebagai seorang jago yang berpengalaman, begitu melihat darah hitam yang mancur dari lengan si nona, orang itu sudah mengerti, bahwa ia telah berbuat suatu kehilafan. Ia merasa sangat menyesal dan menduga Thio Coei San telah mendapat luka berat karena pukulannya itu hebat luar biasa. Buru2 ia merogo saku dan mengeluarkan obat untuk diberikan kepada pemuda itu.
Coei San menggelengkan kepala dan setelah melihat darah hitam sudah berubah merah, perlahan2 ia melepaskan lengan si nona. Ia menengok dan berkata sambil tertawa: "Tenaga pukulanmu sungguh tidak kecil."
Orang itu kaget bukan main. Dengan pukulan serupa itu, entah sudah berapa banyak jago2 binasa dalam tangannya Sungguh heran, pemuda itu seperti juga tidak merasakan apapun jua. Ia mengawasi dengan mulut ternganga dan berkata dengan suara ter-putus2 "Kau...kau..." Ia mengangsurkan tiga jari yang lalu ditempelkan kepada Coei San.
"Biar aku main2 sedikit dengannya," pikir pemuda itu. yang segera mengerahkan Lweekang dan jantungnya lantas saja berhenti berdenyut serupa kepandaian yang hanya dimiliki oleh seorang yang Lweekangnya sudah mencapai puncak tertinggi.
Begitu menyentuh nadi Coei San, paras maka orang itu berobah pucat karena nadi itu tidak mengetuk lagi. Dalam kagetnya, ia meraba dada pemuda itu dan hatinya mencelos, sehingga ia melompat kebelakang sambil mengeluarkan seruan tertahan.
"In Kouwnio, apakah tuan ini sahabatmu ?" tanya Coei San sambil tersenyum. "Mengapa kau tidak memperkenalkannya kepadaku ?" Sambil berkata begitu, ia menyambuti saputangan yang di sodorkan oleh In So So dan lalu membalut luka dilengan nona itu.
Mendengar suara Coei San yang tidak berubah sedikitpun jua, keheranan orang itu tak mungkin dilukiskan lagi.
"Siang Tan coe, kau tak boleh kurang ajar!" membentak si nona. "Inilah Thio Ngo hiap dari Boe tong pay."
Orang itu buru-buru memberi hormat dan berkata dengan suara kagum "Aha. Kalau begitu Thio Ngo hiap dari Boe tong Cit hiap! Tak heran jika Lweekangnya sedemikian tinggi. Aku yang rendah Siang Kim Peng dan aku memohon maaf untuk kekurang ajaranku."
Coei San mengawasi orang itu yang berusia kurang lebih limapuluh tahun. Mukanya bopeng dengan otot-otot yang menonjol keluar dari telapak tangannya lebar seperti kipas sehingga selintas saja mengetahui, bahwa orang she Siang itu adalah seorang ahli silat Gwa kee. Ia mengerti bahwa jika lweekangnya belum sempurna betul, pukulan yang tadi sudah pasti akan mengambil jiwanya sendiri.
Sesudah memberi hormat kepada pemuda itu. Siang Kim Peng lalu menjalankan peradatan dihadapan In So So yang menerimanya dengan sikap acuh tak acuh.
Coei San jadi sangat beran. Dari pukulan Siang Kim Peng, ia tahu bahwa orang itu bukan sembarang orang. Tapi mengapa In So So berani bersikap begitu kurang ajar terhadapnya dan dia juga kelihatannya menerima baik sikap dari si nona.
Di lain saat, Siang Kim Peng berkata dengan suara perlahan: "Hian boe tan Pek Tan coe telah menjanjikan orang-orang Hay see pay, Kie keng pang dan Hok kian Sin koen boen untuk mengadakan partemuan besok pagi di pulau Ong poan san dimulut sangai Can tong kang, guna mengangkat senjata dan menetapkan keangkeran. Jika, kesehatan nona agak terganggu, biarlah Siauw jin lebih dulu mengantarkan nona pulang ke Lim an. Menurut pendapatku, Pek Tan coe sudah lebih dari pada cukup untuk membereskan segala urusan di Ong poan san."
So So mengeluarkan suara di hidung. "Hay-see-pay, Kie keng -pang, Sin koen boen .... Hmmm .... Apakah Ciang boen Jin Hoa koen boen Kwee Sam Koen, turut datang juga?" tanyanya.
"Ya. Kudengar ia akan datang sendiri dengan mengajak dua belas muridnya yang terutama," jawabnya.
Si nona tertawa dingin. "Meskipun nama Kwee San Koen sangat cemerlang, tapi dia bukan tandingan Pek Tan coe," katanya. "Siapa lagi yang bakal turut serta?"
Sesudah berdiam sejenak, barulah Siang Kim Peng menjawab: "Menurut warta, dua orang Kiamkek (ahli silat pedang) muda dari Koen loen pay juga akan menghadiri pertemuan itu, untuk .. melihat To .. . To ... To ...." Ia melirik Thio Coei San dan tidak meneruskan perkataannya.
"Mereka mengatakan mau lihat-lihat To liong to?" tanya So so. "Hm .... mungkin .. sesudah melihat dalam hati mereka timbul rasa serakah ....."
Mendengar perkataan "To liong to", Coei San terkejut, tapi sebelum ia keburu membuka mulut untuk menanyakan terlebih jauh, sinona sudah berkata pula: "Hmmm......selama beberapa tahun ini, dalam Rimba Persilatan, gelombang Tiangkang yang disebelah belakang mendorong gelombang yang disebelah depan. Orang-orang Koen loen pay tak dapat dipandang enteng. Luka dilenganku tidak berarti. Begini saja. Aku akan turut pergi kesitu untuk menonton keramaian. Mungkin sekali aku akan perlu memberi bantuan kepada Pek Tancoe." Ia berpaling kepada Thio Coei San dan menyambung perkataannya: "Thio Ngohiap, disini saja kita berpisahan. Aku menumpang di perahu Siang Tan coe dan kau sendiri boleh menggunakan perahuku untuk kembali ke Lim an. Boe tong-pay jangan kerembet dalam urusan ini."
"Terlukanya Samko agaknya bersangkut paut dengan To liong to," kata Coei San. "Apakah nona dapat memberi keterangan lebih jelas mengenai hal itu?"
"Seluk beluk kejadian itu tidak diketahui jelas olehku." Jawabnya. "Kau harus tanya Samkomu sendiri."
Coei San mengerti, So So sungkan meberi keterangan dan iapun tak mau mendesak lagi.
"Orang yang melukakan Samko sangat ingin memiliki To liong to," katanya didalam hati.
"Menurut Siang Tan coe, pertemuan di Ong poan san adalah untuk mengangkat senjata dan menetapkan keangkeran. Apakah bisa jadi To Liong to berada dalam tangan mereka? Jika benar begitu, orang-orang yang mencelakakan Samko tentu juga turut datang kepulau itu"
Memikir begitu, ia lantas saja menanya: "Apakah Toosoe yang menyerang kau dengan Bweehoa piauw akan turut datang dipulau itu?"
So So tertawa sebaliknya dari menjawab pertanyaan orang, ia balas menanya: "Kaupun ingin menonton keramaian, bukan? Baiklah! Kita pergi bersama-sama." Ia menengok kepada Siang Kim Peng dan berkata pula "Siang Pangcoe, perahumu jalan duluan."
"Baik," jawabnya sambil membungkuk dan lalu berjalan pergi, seperti caranya seorang pegawai terhadap majikannya. Sinona hanya mengangguk sedikit, tapi Coei San, yang menghargai ilmu silatnya orang itu, sudah mengantarkarnya sampai dipintu gubuk perabu.
Sesudah itu, So So menggapai jurumudi seraya membentak: "Kemari kau!" paras muka si tukang perahu lantas saja berubah pucat dan tubuhnya menggigil. Ia mengerti, bahwa tadi ia sudah berbuat kesalahan dengan teriak-teriakannya dan sekarang ia akan mendapat hukuman. Dengan bibir bergemetaran, ia berkata: "Siauw .... siauwjin tidak sengaja ....... Mohon ..... mohon Kouw nio sudi mengampuni .. ."
Sinona tidak menjawab, sehingga dia jadi lebih ketakutan dan dengan sorot mata memohon pertolongan, ia mengawasi Coei San, yang merasa sangat tidak mengerti akan sikapnya itu. Bahwa jurumudi tersebut sudah berteriak-teriak meminta pertolongan Siang Kim Peng, adalah karena salah mengerti, karena ia menduga Coei San mau mencelakakan So So. Tapi, teriakannya itu adalah sebab kesetiaannya terhadap sinona. Mengapa ia sudah begitu ketakutan?
Dilain saat, sinona berkata dengan suara kaku: "Matamu tak ada bijinya, kupingmu tuli. Perlu apa kau mempunyai mata dan kuping?"
Mendengar comelan itu, paras muka sijurumudi lantas berubah girang, sebab ia tahu si nona sudah mengampuni Jiwanya. Baru-baru ia menekuk lutut seraya berkata: "Banyak terima kasih untuk kemurahan hati nona!" Hampir berbareng, ia meraba pinggannya dan menghunus sebilah pisau yang lalu digunakan untuk memotong kedua kupingnya. Sesudah itu, ia mengangkat pisau itu tinggi tinggi ditujukan kearah matanya!
Bukan main kagetnya Coei San. Bagaikan kilat tangannya menyambar dan dua jirinya menjepit pisau itu yang sedang meluncur turun ke mata si jurumudi. "In Kauwnio," katanya. "Dengan memberanikan hati, aku memohon belas kasihanmu,"
So So mengawasi kearah pemuda itu dan kemu dian berkata dengan suara perlahan: "Baiklah." Ia menengok pada si tukang perahu dan menyambung perkataannya: "Lekas haturkan terimakasih pada Thio Ngohiap !"
Dengan tersipu-sipu, ia segera menekuk lutut dan manggut manggutkan kepalanya berulang ulang kali dihadapan Coei San dan kemudian berlutut lagi di hadapan So So. Sesudah itu, ia mundur ke belakang dan dengan suara nyaring memerintahkan ke anak buah perahu menaikkan layar.
Sementara itu, Coei San berdiri membelakang So So dan mengawasi air yang luas tanpa mengeluarkan sepatah kata. Di dalam hati, ia merasa heran, bagaimana seorang wanita yang berparas begitu cantik mempunyai tangan begitu kejam.
So So melirik pemuda itu dan melihat pakaiannya yang pecah dibagian punggung karena pukulan Siang Kim Peng, ia segera berkata: "Buka pakaianmu. Aku mau tambal."
"Tak usah!" kata Coei San.
"Kau kira aku tidak bisa menjahit?" tanya Si nona.
"Bukan begitu," kata pula pemuda itu dengan suara pendek dan matanya tetap memandang ke tempat jauh. Didalam hati, ingat kebinasaan yarg sangat menyedihkan dari orang orarg Liong boen Piauw kiok. Tapi, sebaliknya dari pada membunuh manusia yang begitu kejam, ia malahan sudah menolongnya dengan mengeluarkan piauw beracun. Biarpun pertolongan itu adalah untuk membalas budi orang yang sudah membantu Soehengnya, akan tetapi, sepak terjangnya tetap tidak dapat dibenarkan dan ia merasa bahwa dalam tindakannya itu, ia tidak bisa membedakan yang jahat dan yang baik.
Diam diam ia mengambil keputusan, bahwa begitu lekas pertemuan dipulau Ong poan san sudah selesai, ia akan berpisahan dengan nona itu untuk selama-lamanya.
Melihat paras muka Coei San yang suram, So So lantas saja dapat menebak apa yang dipikirnya. Ia tertawa dingin dan berkata: "Bukan saja Touw Tay Kim, Ciok dan Soe Piauw tauw, bukan saja semua orang dari Liong boen Piauw kiok dan dua pendeta Siauwlim itu, tapi Hoei hong pun dibunuh olehku,"
"Aku memang sudah mencurigai kau, hanya aku tidak tahu cara bagaimana kau membunuhnya?" kata Coei San.
"Tak usah heran" kata sinora. "Waktu itu aku merendam didalam air dan mendengari pembicaraan kamu. Sesudah didesak olehmu, tiba-tiba Hoei hong merasa, bahwa muka kita memang berbeda, tapi sebelum ia keburu mengaku, aku mendahului melepaskan sebatang jarum kedalam mulutnya. Kau coba mencari aku digombolan pohon dan rumput-rumput tinggi, tapi aku sendiri enak-enak merendam diair"
"Sebagai akibat dari perbuatanmu itu, pihak Siauw lim menuduh aku," kata Coei San dengan mendongkol. "In Kouwnio, kau sungguh pintar dan tanganmu benar—benar lihay."
So So berlaga pilon. Ia bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk : "Terima kasih Thio Ngohiap memuji aku terlalu tinggi."
Coei San jadi semakin gusar. "In Kouwnio!" bentaknya. "Aku seorang she Thio belum pernah berbuat kesalahan apapun jua terhadapmu. Tapi mengapa kau sudah begitu tega mencelakakan aku ?"
So So bersenyum. "Aku bukan ingin mencelakakan kau," katanya dengan suara tenang "Mengapa aku sudah berbuat begitu ? Siauwlim dan Boe tong adalah dua partai persilatan yang sangat besar dan ternama. Aku hanya ingin mereka bertempur nntuk menyaksikan siapa sebenarnya yang lebih kuat."
Mendengar pengakuan sinona, Coei San terkejut. Sedikitpun ia tak nyana wanita cantik itu mempunyai tujuan yang begitu hebat "Kalau Siauw Lim dan Boe tong sampai bertempur entah berapa banyak korban yang akan rubuh dan kejadian itu bakal merupakan suatu peristiwa hebat dalam Rimba Persilatan," pikirnya.
Paras sinona sendiri tetap berseri-seri dan sambil menggoyang-goyangkan kipasnya, ia berkata: "Thio Ngohiap, bolehkah kulihat tulisan dan lukisan dikipasmu?"
Sebelum Coei San keburu menjawab, diperabu Siang Kim Peng se konyong konyong terdengar suara teriakan: "Apa perahu Kie keng pang? Siapa yang berada diperahu?"
"Siauw pang coe dari Kie keng pang ingin menghadiri pertemuan dipulau Ong poan san."
"In Kouw nio dan Coe ciak tan Siang Tan coe berada disini" teriak seorang dari perahu Siang Kim peng. "Kalian diharap mengikuti saja dari belakang."
"Jika Peh bie kauw In Kauw coe sendiri yang berada disitu, kami bersedia untuk mengalah," jawab seorang dengan suara keras. "Kalau orang lain, maaf saja."
Mandeagar perkataan "Peh bie kauw In Kauw coe," Coei San kaget, karena ia belum pernah mendengar nama agama (kauw) itu, baik dari gurunya, maupun dari luaran. Ia melongok keluar jendela dan dilihatnya disebelah kanan terdapat sebuah perahu yang bentuknya menyerupai seekor ikan paus. Dikepala perahu terlihat sinar putih yang ber kilau kilauan karena dipasangnya puluhan pisau sebagai gigi ikan, sedang badan perahu yang melengkung dan buntutnya yang mengacung keatas berbentuk seperti buntut ikan paus. Layar perahu sangat lebar dan jalannya perahu itu lebih cerat daripada perahu Siang Kim Peng.
Kie keng pang (partai Ikan Paus Raksasa) adalah sebuah perkumpulan bajak laut yang berkeliaran disepanjang pantai propinsi, Kangsouw, Ciatkang dan Hokkian. Mereka membajak, membunuh dan melakukan lain-lain perbuatan terkutuk, tapi sebegitu jauh, karena licinnya, mereka belum dapat ditumpas oleh angkatan laut negeri dan selama puluhan tahun mereka malang melintang diperairan lautan Tong hay.
Siang Kim Peng segera maju dan berdiri dikepala perahu. "Bek Siauw pangcoe," teriaknya.
"In Kouwnio berada disini. Apakah kau sungkan memberi sedikit muka kepada kami ?"
Dari gubuk perahu Kie keng pang muncul seorang pemuda yang mengenakan pakaian warna kuning. Ia tertawa dingin seraya berkata: "Didaratan, Peh bie kauw boleh menjagoi, diair Kie keng pang yang memegang kekuasaan. Mengapa kami mesti mengalah dan membuntuti kamu dari belakang ?"
Medengar pembicaraan mereka, Coei San juga merasa, bahwa cara-cara Peh bie kauw terlalu sombong.
Sementara itu, anak buah Kie keng pang sudah menaikkan lagi sebuah layar, sehingga jalannya perahu jadi semakin laju, dengan begitu jadi sukar dapat diubar lagi.
Siang Kim Pang mengeluarkan suara dihidung.
"Kie kong pang ...... hm ..... To Liong to ..... juga ..... To liong to ......" demikian terdengar perkataannya. Karena suara angin yang menderu deru dan jarak antara kedua perabu sudah agak jauh, maka Bek Siauw pang coe hanya dapat menangkap perkataan "To liong to." Ia kelihatan kaget dan buru-buru memerintahkan anak buahnya memperlambat jalan perahu. Beberapa saat kemudian, perahu Siang Kim Peng sudah mendekati.
"Siang Tan coe, apa kau kata ?" tanya pemuda itu.
"Bek Siauw pang coe . . . Hian boentan Pek Tan coe kami ...... golok To liong to itu...." jawab Siang Kim Peng.
Coei San merasa heran karena ter putus-putusnya jawaban Siang Kim Peng.
Sementara itu, kedua perahu sudah jadi semakin makin dekat. Tiba-tiba terdengar suara gedubrakan disusul dengan teriakan orang. Ternyata diluar dugaan semua orang, dengan mendadak Siang Kim Peng mengangkat jangkar dan melontarkannya keperahu Kie keng pang.
Suara rantai dan mencangkolnya jangkar diperahu Kie keng pang dibarengi dengan jeritan kesakitan dan ada orang anak buah perahu. (peep: ????)
"Hai! Apa kau gila?" bentak Bek Siauw pang coe.
Anak buah Siang Kim Peng buru-buru mengangkat sebuah jangkar lain yang lalu dilemparkan lagi keparahu Kie keng pang dan dua buab jangkar itu telah mengambil jiwanya tiga orang anak buah. Dilain saat, kedua perahu hampir berdampatan. Bek Siauw pang coe melompat kepinggir perahu dan coba mengangkat salah sebuah jangkar. Tapi sebelum ia berhasil, Siang Kim Peng sudah mengayun tangan kanannya dan serupa benda warna biru yang menyerupai buah semangka
menghantam tiang layar tengah. Benda itu, yang terbuat daripada baja, adalah salah sebuah dari sepasang sanjata Siang Kim Peng yang berantai emas dan digunakan sebagai bandringan. "Semangka" itu adalah senjata berat yang dipegang ditangan kiri sembilanpuluh lima kati beratnya. sedang yang ditangan kanan seratus lima kati. Dari situ dapatlah dibayangkan, betapa hebat tenaga orang she Siang. Jika tak mempunyal tenaga ribuan kati, ia pasti tidak akan dapat menggunakan senjata seberat itu.
Begitu dihatam dengan "semangka" kanan, tiang layar itu bergoyangagoyang. "Semangka" kiri menyusul dan disusul pula dengan "Semangka" kanan. "Krek....krek....krek.... brak!" Tiang yang kasar itu tak tahan dan patah. Keadaan jadi terlebih kalut dengan anak buah Kie keng pang ber teriak-teriak, sambil menghunus senjata.
Tanpa mempedulikan segala kekacauan itu Siang Kim Peng melompat kebelakang parahu itu dan menghantam tiang layar belakang. Tiang itu banyak lebih kecil dan sekali dihajar, lantas saja ambruk.
Pek Siauw pang coe sebenarnya mempunyai kepandaian tinggi. Senjatanya dinamakan Hoensoen Go bie cek, sepasang pusut yang panjangnya kirakira satu kaki dan sangat cocok untuk digunakan dalam pertempuran didalam air. Tapi dalam kaget dan bingungnya, sebelum ia keburu berbuat suatu apa, Siang Kim Peng yang bergerak luar biasa cepat, sudah mematahkan dua tiang layarnya.
"Dengan adanya Peh bie kauw, diatas airpun Kie keng pang tak mempunyai kekuasaan," teriak orang she Siang itu sambil melontarkan sebuah "semangka" kelambung perahu musuh yang lantas saja ber lubang besar dan air mengalir masuk. Anak buah Kie keng pang jadi semakin bingung.
Dengan mata merah Bek Siauw pang coe mencabut pusutnya dan dengan sekali menotol kaki di depan perahu, badannya melesat keperahu musuh.
Selagi tubuh pemuda itu berada ditengah udara tiba-tiba Siang Kim Peng melontarkan senjatanya kemuka pemuda itu. Serangan itu yang dikirim secara mendadak dan kejam mengejutkan sangat sekali. Hati Bek Siauwpangcoe. "Celaka" teriaknya sambil menotok "semangka" itu dengan kedua pusutnya dalam usaha melompat balik dengan meminjam tenaga tersebut. Jika ilmu mengentengkan badannya bersamaan dengan ilmu Thio Coei San, bukan saja ia akan dapat mengelakkan serangan itu, tapi ia juga bisa balas menyerang. Tapi dalam segala hal, dia masih kalah jauh dari jago Boe tong pay itu.
"Semangka" yang beratnya seratus kati, ditambah dengan tenaga Siang Kim Peng sendiri, terlalu hebat untuk dilawannya. Tiba-tiba ia merasa dadanya menyesak, matanya berkunang-kunaug dan tanpa ampun ia rubuh terguling diatas perahunya.
Begitu lawannya rubuh, Siang Kim Peng segera menghantam pula dengan kedua "semangka" dan badan perahu Kie keng pang lantas saja berlubang dibeberapa tempat. Sesudah itu, sambil mengerahkan Lweekang, is menarik pulang kedua jangkar yang mencantol di perahu musuh. Tanpa diperintah lagi oleh Tan Coe mereka anak buah perahu Peh bie kauw lantas saja menaikkan layar dan perahu itu perlahan-lahan mulai bergerak, tapi sebentar kemudian melaju kedepan dengan amat cepatnya.
Melihat cara Siang Kim Peng merubuhkan musuh, jantung Thio Coei San bardebar keras, "Jika tak mempunyai kepandaian meminjam tenaga memindahkan tenaga, tadi aku tentu sudah binasa dalam tangannya. " pikirnya. Ia melirik In So So yang bersikap tenang-tenang saja, seolah-oah tidak terjadi kejadian luar biasa.
Tiba-tiba disebelah kejauhan terdengar suara guruh. itulah tanda, bahwa air pasang sedang mendatangi. Walaupun anak buah Kie keng pang pandai berenang, mereka tak nanti dapat melawan gelombang pasang yang seperti gunung. Bahaya yang dihadapi mereka lebih besar lagi, karena pada waktu itu, mereka berada dimuara tempat ber temunya sungai dan lautan, sehingga lebarnya permukaan sungai sampai puluhan li. Maka itulah, begitu mendengar guruh, anak-anak Kie keng pang ketakutan setengah mati dan berteriak-teriak minta pertolongan, tapi perahu Siang Kim Peng dan In So So tidak meladeni dan terus berlayar kejurusan timur
Coei San melongok keluar jendela dan melihat Perahu ikan paus itu sudah tenggelam separuh. Mendengar teriakan-teriakan anak buah perahu ia sebenarnya merasa sangat tidak tega tapi karena mengetahui bahwa Siang Kim Peng dan In So So adalah manusia-manusia kejam, ia merasa tak guna membuka mulut.
Melihat paras pemuda itu, si nona bersenyum. Mendadak ia berseru "Siang Tan coe, hati Thio Ngohiap sangat mulia. Tolonglah anak buah perahu kie keng pang !"
Coei San terkejut, sebab hal itu benar-benar diluar dugaannya.
"Baik !" teriak Siang Kim Peng. Dilain saat perahunya membelok dan menuju ke perahu Kie keng pang. "Anggauta- anggauta Kie keng pang dengarlah!" teriak Siang Kim Peng," Atas permintaan Thio Ngohiap dari Boe tong pay, kami bersedia untuk menolong jiwamu. Siapa yang mau hidup, berenanglah kemari!"
Anak buah Kie keng pang jadi girang dan berburu berenang kearah perahu Siang Kim Peng yang memapaki mereka. Dalam tempo tidak berapa lama, hampir semua orang, terhitung juga Bek Siauw pangcoe, sudah dapat ditolong. Tapi biarpun begitu, ada enam tujuh orang yang mati dipukul ombak.
"Terima kasih untuk pertolongananmu!" kata Coei San.
Sinona mengeluarkan suara dihidung dan berkata dengan suara tawar: "Orang-orang itu adalah Bajak-bajak yang biasa merampok dan membunuh, perlu apa kau menolong mereka ?"
Coei San tergugu, tak dapat ia menjawab pertanyaan si nona. Ia memang sudah dengar, bahwa Kie keng pang adalah salah satu dari empat "pang" yang jahat dan ia pun tak pernah menduga, bahwa hari ini ia berbalik menolong kawanan bajak yang kejam itu.
"Kalau mereka tidak ditolong didalam hati Thio Ngohiap pasti akan mencaci maki aku," kata pula si nona. "Kau tentu akan mencaci aku sebagal perempuan kejam yang tidak pantas ditolong."
Perkataan itu mengenakan jitu dihati Coei San, sehingga paras muka pemuda itu lantas saja berubah merah: "Kau memang pandai bicara dan aku tidak dapat menandingi," katanya sambil tertawa. "Dengan menolong orang-orang itu, kau telah melakukan perbuatan baik dan kau sendirilah mendapat pembalasan baik. Dengan aku sedikitpun tiada sangkut pautnya."
Baru saja ia berkata begitu, tibalah gelombang pasang. Perahu In So So seperti juga dilontarkan keatas dan mereka tak dapat bicara lagi. Coei San melongok keluar jendela dan melihat gelombang gelombang besar dalam bentuk seperti tembok tembok tinggi mendatangi dengan saling susul. Ia bergidik karena mengingat, bahwa jika tidak ditolong semua anak buah perahu Kie keng pang pasti binasa didalam air.
Mendadak si nona bangun berdiri, masuk kegubuk perahu yang disebelah bekakang dan lalu menutup pintu. Beberapa saat kemudian, ia keluar lagi dengan mengenakan pakaian wanita dan memberi isyarat dengan gerakan tangannya, supaya Coei San membuka jubah luarnya. Karena merasa kurang enak untuk menolong lagi, ia lalu membuka jubahnya. Ia menduga si nona ingin menambal bagian yang berlubang dari jubah itu. Tapi tak dinyana, So So lalu mengangsurkan jubahnya sendiri yang tadi dipakai olehnya, sedang jubah Coei San lalu dibawanya kegubuk belakang.
Mau tak mau, Coei San terpaksa memakai juga. Karena jubah luar biasanya dibuat dalam ukuran besar, maka meskipun tubuh pemuda itu lebih besar daripada badan si nona, ia masih dapat menggunakannya. Dilain saat, jantungnya memukul keras, sebab hidungnya mengendus bebauan yang sedap dan wangi. Ia merasa jengah dan tidak berani memandang lagi si nona. Karenanya matanya ditujukan kepada lukisan-lukisan yang dipasang didinding gubuk, tapi hatinya tetap berdebar-debar. In So So pun tidak mengajak bicara lagi dan duduk diam sambil mendengar suara gelombang. Datam gubuk ini dipasang sebatang lilin. Mendadak sebagai akibat hantaman gelombang, perahu miring dan lilin padam. "Celaka!" Coei San mengeluh dalam hatinya.
"Biarpun aku sopan, tapi dengan berdiam berdua-dua ditempat gelap, name baik In Kauwnio bisa ternoda." Buru-buru in bangun berdiri dan membuka pintu belakang, akan kemudian pergi ketempat jurumudi yang dengan tenang mengemudikan parahu itu kealiran bawah.
Kurang lebih satu jam kemudian air pasang mulai surut dan air keluar lagi kelautan, sehingga dengan menurut aliran air, perahu itu laju semakin cepat. Pada waktu fajar menyingsing pulau Ong poan san sudah berada didepan mata.
Pulau itu, yang terletak dimulut sungai Ciantong kang, dalam perairan lautan Tonghay adalah sebuah pulau kecil yang tandus dan tiada penduduknya. Waktu kedua perahu itu berada dalam jarak beberapa kali, dari atas pulau tiba-tiba terdengar suara terompet dan dua orang kelihatan menggoyang-goyangkan dua bendera hitam. Waktu perahu datang lebih dekat, Coei San mendapat kenyataan bahwa bendera hitam itu berpinggir putih dengan sulaman kura-kura terbang.
Dibawah kedua bendera itu berduduk seorang tua, begitu lekas perahu menepi, lantas saja berseru : "Hian boen tan Pek Kwie Sioe menyambut In Kauw nio dengan segala kehormatan." Suaranya keras, tapi kedengarannya sangat menusuk kuping. Sehabis berseru begitu si kakek sendiri memasang papan untuk pendaratan. In So So mempersilahkan Coei San jalan lebih dulu dan sesudah mereka mendarat, ia segera memperkenalkan, pemuda itu kepada Pek Kwie Sioe.
Mendengar pemuda itu adalah salah seorang dari Boe tong Cit hiap, Pek Kwie Sioe terkejut. "Sudah lama aku mendengar nama besar dari Boe tong Cit hiap," "katanya. "Aku merasa sangat beruntung, bahwa dihari ini aku dapat bertemu muka dengan Thio Ngohiap."
Thio Coei San segera menjawab dengan perkataan-perkataan merendahkan diri.
"Hai! Kalian berdua pandai sekali bicara manis-manis," kata In So So. "Di hati lain, dimulut lain. Didalam hati, yang satu berkata: "Celaka. Orang Boe tong pay turut datang kesini dan tambah lagi satu lawan lihay yang mau merebut To liong to. Yang lain berpikir Huh! Manusia apa kau ? Anggauta dari agama yang menyeleweng. Tak sudi aku bersahabat denganmu. Menurut pendapatku, lebih baik kalian bicara saja terang-terang. Jangan main berpura pura."
Pek Kwie Sioe tertawa terbahak-bahak.
"Tidak, aku tidak memikir begitu," kata Coei San. "Aku yakin, bahwa Pek Tan coe memiliki ke pandaian yang sangat tinggi. Ilmu mengirim suara sangat mengagumkan. Kedatanganku disini hanyalah menemani In Kouwnio untuk menonton ke ramaian dan sedikitpun aku tidak mempunyai niatan untuk turut dalam perebutan golok mustika."
Mendengar perkataan pemuda itu, In So So me rasa girang sekali.
Pek Kwie Sioe mengenal nona In sebagai wanita yang berhati kejam dan tak pemah berlaku manis2 terhadap siapapun jua. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, ia menyaksikan sikap yang luar biasa halus dari sinona terhadap Thio Coei San, sehingga ia segera mengetahui, bahwa Son So sudah jatuh hati kepada pemuda yang tampan itu. Selain begitu, ia juga merasa senang mendengar pujian yang diberikan Coei San dan rasa permusuhannya terhadap pemuda itu lantas saja hilang.
"In Kouw nio," katanya sambil tersenyum, "orang orang Hay See Hay dan Sin koen boen sudah datang semua. Disamping mereka, terdapat juga dua pemuda dari Koen loan pay. Lagak mereka agak sombong dan berbeda jauh dengan Thio gohiap yang tenama besar....hm...,Memang orang yang benar-benar berkepandaian tinggi tidak banyak tingkah"
Baru ia berkata sampai disitu, dibelakang bukit mendadak terdengar bentakan: "Hai! Perlu apa kau membusuki nama orang dibelakangnya? Apa itu perbuatan seorang laki-laki ?"
Berbareng dengan bentakan itu, dari belakang bukit dua pemuda usia dua puluh tahun lebih yang bertubuh kurus dan mengenakan jubah panjang wama kuning, sedang dipunggung mereka terselip sebatang pedang. Mereka menghampiri dengan paras muka menyeramkan.
Pek Kwie Sioe tertawa nyaring, dan berkata dengan suara tenang: "Aha! Baru menyebut nama Co Coh, Co Coh lantas saja datang. Mari, mari aku memperkenalkan kalian."
Kedua Kiamtek (ahli pedang) Koen loan pay itu sebenamya sudah mau mengunjuk kegusaran mereka, tapi begitu melihat kecantikan So So mereka tertegun. Yang satu mengawasi sinona dengan mulut ternganga, yang lain melengos, tapi diam-diam melirik berulang ulang.
Sambil menunjuk pemuda yang tengah mengawasi So So, Pek Kwie Sioe berkata: "Yang ini adalah Ko Cek Sang Tay kiamkek." Ia menengok kearah yang lain dan menyambung perkataannya : "Yang itu Chio Tauw Taykiamkek. Mereka berdua adalah pentolan-pentolan Koen loen pay. Nama Koen loan pay telah menggetarkan wilayah Barat dan dalam Rimba Persilatan, semua orang merasa kagum akan tingginya ilmu silat Koen loan. Maka itu, Ko dan Cio Taykimkek juga pasti memiliki kepandaian yang lain dari pada yang lain. Kali ini, dari tempat jauh mereka datang di Tionggoan dan mereka pasti akan memperlihatkan kepandaian istimewa supaya kita semua bisa menambah pengalaman.
Mendengar perkataan itu yang dikeluarkan nada mengejek, Coei San menduga, bahwa kedua pemuda itu akan segera menghunus senjata, atau sedikitnya, akan membalas dengan kata-kata tajam. Tapi diluar dugaan, mereka hanya manggut-manggut, tanpa mengeluarkan sepatah kata. Setelah mengawasi muka merah, baru Coei San tahu sebab musababnya. Mereka teryata seperti orang linglung karena dipengaruhi dengan kecantikan In So So.
Coei San merasa geli. "Nama Koen loan pay tersohor dikolong langit dan dikenal sebagai malaikat dalam ilmu silat pedang," pikimya "Sungguh sayang murid-muridnya yang datang kemari adalah manusia-manusia rendah."
Tapi sebenamya, meskipun Ko Cok Sang dan Chio Tauw beradat sombong, mereka bukan manusia rendah yang gemar dengan paras cantik. Yang menjadi soal ialah karena memang So So terlalu cantik dan memiliki sifat-sifat seperti besi barani, yang dapat membetot semangat orang. Dengan mengingat, bahwa mereka adalah manusia manusia biasa, apapula usia mereka masih begitu muda, maka sikap yang menggelikan itu dapat dikatakan jamak.
Sementara itu, Pek Kwie Sioe berkata pula: "Yang itu adilah Thio Coei San Siangkong dari Boe tong pay, yang ini nona In So So, sedang yang itu Siang Kim Pang Tan coe dari agama kami."
Mendengar perkataan Pek Kwie Sioe, So So merasa sangat girang. Bahwa si kakek hanya menggunakan istilah "Siangkong" ( tuan ) dan tidak menggunakan lagi perkataan "Thio Ngohiap", merupakan petunjuk, bahwa ia menganggap Coei San seperti orang sendiri. Sambil bersenyum, si nona melirik pemuda itu dengan sorot mata menyinta.
Melihat sikap So So terhadap Coei San, Ko Cek Song yang beradat kasar saja meluap darahnya dan tidak dapat menyembunyikan lagi rasa jelusnya. "Chio Soetee," katanya dengan suara tawar, "di See hek, kita seperti pemah mendengar, bahwa Boe tong pay adalah sebuah partai yang tulen dalam Rimba Persilatan diwilayah Tionggoan."
"Benar. akupun seperti pemah mendengar begitu" jawab adik seperguruannya.
"Tapi kita mendengar tidak sama dengan melihat sendiri," kata pula Ko Cek Sang "Pendengaran itu tidak dapat dipercaya."
"Dalam kalangan Kangouw memang banyak sekali tersiar desas desus yang tidak boleh dipercaya," menyambung Cio Tauw. "Ko Soeheng, apa artinya perkataanmu itu?"
"Murid dari partai persilatan yang tulen bagaimana bisa bercampur gaul dengan orang-orang dari Sia kauw (agama yang menyeleweng)?" jawabnya, "Bukankah kejadian itu sangat menurunkan namanya partai yang sangat cemerlang itu?"
Dalam menyindir Thio Coei San, mereka tak pernah mimpi, bahwa In So So pun seorang dari Peh bie kauw. Mereka hanya mengetahui, bahwa yang menjadi anggauta agama itu hanya Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Pang.
Coei San meluap darahnya, tapi segera juga ia mendapat pikiran lain. Ia ingat, bahwa kedatangannya dipulau Ong poan san adalah untuk menyelidiki musuh yang telah mencelakakan Jie Thay Gam, sehingga ia tak boleh merusak tujuannya sendiri dengan mengumbar napsu amarah. Ia juga ingat, bahwa biarpun berusia lebih tinggi dari padanya, kedua Kiamkek Koen loen pay itu adalah orang orang tidak tenama yang baru menceburkan diri kedalam dunia Kangouw. Maka itu, tak pantas ia meladeninya. Di samping itu, iapun mengakui, bahwa Peh bie kauw memang suatu agama yang menyeleweng dan In So So serta Siang Kim Pang adalah manusia-manusia kejam yang dapat membunuh sesama manusia seperti orang menyuap nasi. Ia memang sudah mengambil putusan untuk tidak bergaul terus dengan orang itu.
Memikir begitu, ia lantas saja tersenyum seraya berkata: "Dengan orang-orang Peh kie kauw, aku pun baru berkenalan, tidak berbeda dengan kedua Jin heng."
Keterangan itu mengherankan hatinya semua orang, kecuali si nona sendiri, Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Pang pun semula menduga, bahwa persahabatan antara nona In dan Coei San sudah berjalan lama. In So So sendiri merasa sangat mendongkol. Ia mengerti, bahwa dengan berkata begitu, Coei San memandang rendah kepada Peh bie kauw. Ko Cek Sang dan Chio Tauw saling mengawasi dengan senyuman mengejek. Mereka menganggap, bahwa Coei San sudah jadi ketakutan karena mendengar nama Koen loan pay.
"Kecuali Bek Siauw pangcoe, semua tetamu sudah tiba," kata Pek Kwie Sioe. "Kita tak usah menunggu ia. Sekarang kalian boleh jalan-jalan di pulau ini secara bebas dan sebentar tengah hari, harap kalian suka datang dilembah untuk minum arak dan melihat golok mustikaku."
Siang Kim Pang tertawa. "Perahu Bek Siauw pangcoe mendapat kerusakan dan atas permintaan Thio Siangkong, mereka telah ditolong," ia menerangkan. "Sekarang Siauw pangcoe itu berada dalam perahuku. Sebentar kita boleh mengundangnya untuk menghadiri pertemuan"
Biarpua kedua Tan coe itu bersikap sangat hormat dan walaupun In So So memperlihatkan kecintaannya, Coei San sudah mengambil keputusan untuk menjauhkan diri. Maka itu, ia segera berkata: "Siauwtee ingin jalan-jalan sendiri," tanpa menunggu jawaban, ia segera berjalan kearah sebuah hutan di sebelah timur.
Kecuali bukit-bukit dan hutan-hutan kecil. di Pulau itu tidak ada pemandangan yang berharga. Disebelah tenggara terdapat sebuah pelabuhan di mana berlabuh belasan perahu, yaitu perahu-perahu para tetamu. Sambil menunduk Coei San berjalan disepanjang pantai dan sembari berjalan ia mengasah otak. Ia merasa sangat tidak puas dengan kekejaman dan sepak terjang In So So, tapi sungguh heran, hatinya seperti juga dibetot betot dan tak dapat melupakan nona yaag cantik itu.
"Tak dapat disangkal lagi, In kauwnio mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam Peh bie kauw," pikirnya. "Pek Tancoe dan Siang Tancoe menghormatinya seperti juga ia seorang puteri. Tapi sudah terang ia bukan Kauw coe. Siapa dia?"
Dilain saat, ia berkata pula didalam hatinya: "Dalam pertemuan ini yang dihimpunkan oleh Peh bie kauw, partai-partai lain telah mengirim wakil-wakilnya yang paling jempolan. Tapi Peh bie kauw sendiri hanya mengutus seorang Tan coe, seolan-olah mereka tidak memandang sebelah mata kepada pihak lawan. Dari gerakan-gerakannya, kepandaian Pek Tancoe berada di sebelah atas Siang Tancoe. Dilihat begini, Peh bie kauw sungguh-sungguh tidak boleh dipandang enteng. Biarlah hari ini aku menyelidiki asal usul mereka, Mungkin sekali di kemudian hari Boe tong Cit hiap akan bertempur mati-matian dengan mereka." Selagi memikir begitu, tiba tiba ia dengar suara beradunya senjata di luar hutan.
Ia heran dan lalu menuju kearah suara itu.
Jauh-jauh ia lihat Ko Cek Seng dan Chio Tauw sedang berlatih pedang dengan ditonton oleh In So So. "Soehoe sering mengatakan, bahwa kiam sut (ilmu pedang) Koen loen pay lihay bukan main dan diwaktu masih muda, beliau pernah bertempur dengan seorang pentolan Koen loan pay yang ber gelar Kiam Seng (Nabi pedang)," pikirnya: "Kesempatan untuk menyaksikan ilmu pedang itu sebenar-benarnya tidak boleh disia-siakan. Akan tetapi, menurut peraturan Rimba persilatan, jika orang sedang berlatih silat, orang tidak boleh mencuri lihat." Sebagai murid dari sebuah rumah perguruan yang terhormat, Coei San sungkan melanggar peraturan itu, sehingga oleh karenanya, biarpun didalam hati ia sangat kepingin menonton, tetapi sesudah melihat beberapa kali, ia segera memutar badan dan berjalan pergi.
Diluar dugaan, baru satu dua tindak, ia telah dilihat In So So yang sambil menggapai-gapai, lantas saja berteriak : "Thio Ngoko, kemari!"
Coei San tahu, bahwa jika tidak menghampiri, ia bisa dicurigai sebagai orang yang benar sudah mencuri lihat latihan pedang itu. Maka itu, ia lantas saja mendekati seraya berkata : "Kedua Heng tay tengah berlatih dan tak pantas kita berdiam disini lama-lama. Mari kita pergi ketempat lain."
Sebelum sinona keburu menjawab,mendadak berkelebat sinar pedang dan "brett !" pedang Chio tauw telah menggores lengan kiri Ko Cek Sang yang lantas saja mengucurkan darah.
Coei San terkejut, ia duga Chio Tauw kesalahan tangan. Tapi ia lebih kaget lagi, karena tanpa mengeluarkan sepatah kata dan dengan paras muka merah padam, Ko Cek Seng mengirim tiga serangan beruntun yang sangat hebat dan ditujukan kearah bagian-bagian tubuh yang membinasakan. Sekarang baru ia tabu, bahwa kedua orang itu bukan berlatih, tapi sedang bertempur sungguhan.
In So So tertawa dan berkata : "Dilihat begini, sang Soeko belum dapat menandingi siadik. Menurut pendapatku ilmu Chio heng lebih unggul sedikit."
Mendengar perkataan itu, sambil bergertak gigi, Ko Cek Seng memutar tubuh dan menyabet dengan pedangnya dalam pukulan Pek tiang hoe po (Air tumpah beratus tombak panjangnya). Pedang itu menyambar dari atas kebawah, seolah-olah turunnya air tumpah. Dengan menggunakan seantero kelincahannya, Chio Tauw coba mundur kebelakang, tapi pedang Ko Cek Seng tiba-tiba berubah arah dan dengan satu suara "brett !," ujung pedang mengenakan jitu dibetis kirinya.
Sinona tertawa geli dan menepuk nepuk tangan.
"Aha ! Kalau begitu sang Soeheng mempunyai ilmu simpanan!" teriaknya "Kali ini Chio heng yang kalah."
"Belum tentu !" bentak Chio Tauw dengan gusar sambil menyerang dengan pukulan Ie tehhoei hoa (Hujan menghantam bunga yang beterbangan). Pedangnya menyambar nyambar dalam gerakan miring kadang-kadang diseling dengan tikaman lurus. Sebagai murid Koen loen pay, Ko Cek Seng tentu saja paham dalam ilmu pedang itu dan tanpa sungkan sungkan lagi iapun segera membuat serangan serangan membalas. Mereka berdua sudah sama-sama terluka dan biarpun tidak berbahaya, dalam perterpuran, darah mereka beterbangan kian kemari, sehingga muka, tangan dan pakaian mereka penuh dengan noda darah. Semakin lama mereka terus bertempur semakin sengit dan ahirnya mereka saling tikam mati-matian, seolah olah sedang berhadapan deagan musuh besar,
Dilain pihak, In So So saban-saban tertawa dan menepuk-nepuk tangan, sebentar ia memuji yang satu, sebentar memuji yang lain.
Sekarang Coei San mengerti, bahwa bertempurnya kedua saudara seperguruan itu adalah karena gara-gara sicantik, yang rupanva sudah menjalankan siasat adu domba, karena mendongkol atas ejekan mereka terhadap Pak bie kauw. Sesudah mengawasi beberapa lama, ia berpendapat, bahwa meskipun mereka cukup paham dalam ilmu pedang, perubahan perubahan pedang masih kurang cepat den Lweekang merekapun masih belum cukup tinggi.
"Thio Ngoko," kata sinona dengan suara gembira. "Bagaimana pendapatanmu dengan Kiang hoat Koen loan pay ?"
Coei San tidak menjawab. Ia mengerutkan alis seperti orang sebal. Melihat begitu, So So lantas saja berkata : "Sudahlah ! begitu-begitu juga. Aku pun sudah merasa sebal. Mari kita pergi kesitu untuk menikmati pemandangan langit." Sehabis berkata begitu ia menarik tangan kiri Coei San dan berjalan pergi.
Jantung Coei San berdebar keras. Ia merasa tangan nya dicekal dengan tangan yang empuk halus, sedang hidungnya mengendus bebauan yang sangat wangi. Ia mengerti, bahwa dengan berbuat begitu, So So sengaja ingin membangkitkan rasa jelus dan guramnya kedua murid murid Koen loen pay itu. Karena merasa tak enak untuk melepaskan tangannya, tanpa menneluarkan sepatah kata, ia segera mengikuti.
Mereka berdiri ditepi laut sambil memandang air yang seakan-akan tiada batasnya. Beberapa saat kemudian, So So mendadak berkata: "Dalam kitab Congcoe dibagian Chioe soei pian terdapat kata kata begini: Air dikolong langit tak ada yang lebih besar dari pada lautan. Laksana sungai mengalir kedalam laut. Entah kapan sungai-sungai itu berhenti mengalir dan tidak memenuhkan lautan. Tapi Sang laut sedikitpun tidak jadi sombong dan hanya berkata: Aku berada diantara langit dan bumi seperti juga sebutir batu atau satu pohon kecil yang tumbuh disebelah gunung yang besar. Setiap kali membaca kitab itu, aku mengagumi Cong coe (Chuang tze) tidak habisnya, karena dari tulisan-tulisan tersebut, ia sungguh sungguh seorang
berjiwa besar"
Mendengar perkataan sinona Coei San kaget. Ia merasa tak puas melihat cara-cara nona In yang sudah mencari kesenangan dengan mengadu domba kan orang. Sedikitpun ia tidak nyana, bahwa memedi perempuan yang dapat membunuh manusia tanpa berkesip, dapat mengutip kata-kata dari kitab Cong coe.
Kitab Cong coe adalah sebuah kitab yang mesti dibaca dan dipelajari oleh murid-murid agama Too kauw. Waktu masih berguru di Boe tong sn, ia dan saudara-saudara seperguruannya sering sekali mendengar penjelasan-penjelasan Thio Sam Hong mengenai isi kitab itu.
Demikianlah dalam rasa kaget dan herannya, tanpa merasa ia segara berkata: "Benar. Ribuan li jauhnya, tak dapat dikatakan besar, ribuan kaki tak dapat dikatakan dalam."
Dendengar Coei San mengutip kitab Congcoe untuk melukisan besarnya dan dalamnya lautan, sedang pada muka pemuda itu terlihat paras penuh penghormatan, sinona segera berkata : "Apakah kau ingat Soehoemu ?"
Coei San terkesiap, tanpa merasa ia mengangsurkan tangan kanannya dan'mencekal tangan sinona yang satunya lagi. "Bagaimana kau tahu apa yang dipikir olahku?" tanyanya dengan suara heran.
Hal ini mempunyai latar belakang seperti berikut:
Dulu waktu berada digunung Boe tong san, pada suatu hari ia bersama-sama Song Wan Kiauw dan Jie Thay Giam membaca kitab Congcoe. Sesudah membaca "Ribuan li jauhnya, tak dapat dikatakan besar, ribuan kaki tak dapat dikatakan dalam", Jie Thay Giam berkata: "Dalam berguru dengan Soe hoe, semakin lama belajar, aku merasa semakin berbeda jauh dengan kepandaian beliau, seperti juga, sebaiknya daripada maju, kita mundur setiap hari menurut pendapatku, kata-kata Cong coe itu adalah yang paling tepat untuk melukiskan kepandaian Soehoe yang tak dapat diukur berapa dalamnya."
Mendengar perkataan saudara itu, Wan Kiauw dan Coei San memanggut manggutkan kepalanya.
Itulah sebab musabab mengapa begitu mengutip kata-kata itu, ia lantas saja ingat gurunya yang tercinta.
"Dengan melihat paras mukamu, aku segera mengetahui, bahwa jika bukan ingat kedua orang tuamu, kau tentu ingat gurumu," jawab si nona. "Oleh karena dalam dunia ini hanyalah Thio Sam Hong seorang yang surup untuk dilukiskan dengan perkataan itu, maka aku segera menduga pasti, bahwa yang diingat olehmu adalah Soehoemu."
"Kau sungguh pintar," kata Coai San dengan suara kagum. Sesaat itu, tiba-tiba ia sadar, bahwa kedua tangannya sedang mencekal kedua tangan si nona. Paras mukanya lantas saja berubah merah dan buru-buru ia melepaskannya.
"Apakah kau boleh memberitahukan kepadaku, berapa tingginya ilmu silat gurumu?" tanya So So.
Pemuda itu tidak lantas menjawab. Sesudah memikir sejenak baru ia berkata. "Ilmu silat adalah ilmu yang tidak begitu penting. Apa yang diajar dari beliau bukan terbatas pada ilmu silat saja. Hai! Luas dan dalam ... entah bagaimana aku harus menceriterakannya."
Sinona tersenyum seraya berkata: "Hoecoe bertindAk, aku turut bertindak. Hoecoe berjalan, aku turut berjalan. Hoecoe lari aku turut lari. Tapi begitu lekas Hoecoe lari cepat, biarpun mengikuti sebisa-bisanya, aku tetap ketinggalan jauh" (Hoe coe berarti guru, tapi disini dimaksudkan Khong coe atau Khongfusius).
Mendengar sinona mengutip kata-kata pujian Gan Hwee (murid Khongcoe ) terhadap Khongcoe, Coei San lantas saja berkata: "Tapi guruku tak usah lari keras. Sekali ia berjalan atau lari pelan pelan, kami sudah tidak dapat mengikutinya." Dari perkataan itu dapatlah diketahui, bahwa pemuda itu sangat memuja gurunya
Demikianlah, dengan duduk berendeng diatas sebuah batu besar, kedua orang muda itu merunding kan ilmu surat dan iimu silat secara panjang lebar dan mendalam.
Sebagai seorang yang berpengetahuan tinggi dan sangat cerdas, In So So selalu dapat menimpali Coei San dalam omong-omong itu.
Tiba-tiba terdengar suara tindakan dan batuk batuk, disusul dengan suara orang: "Thio Siangkong, In Kouwnio, Ngo sie (tengah hari) sudah tiba. Harap kalian suka pergi ketempat perjamuan."
Coei San menengok dan melihat Siang Kim Peng berdiri dalam jarak belasan tombak dan mengawasi mereka dengan bersenyum. Dari paras mukanya, ia kelihatan merasa kagum dan girang melihat dua sejoli yang setimpal itu. Menurut kebiasaan, In So So sombong dan kurang ajar jika berhadapan dengan orang-orang sebawahannya. Tapi kali ini, dengan muka kemerah merahan ia menundukkan kepala.
Siang Kim Peng lantas saja memutar badan dan berjalan lebih dulu dengan tindakan lebar.
"Aku jalan lebih dulu," bisik sinona.
Coei San tak mengerti, tapi ia lantas saia mengangguk.
In So So lantas saja berlari lari dan berjalan berandeng dengan Siang Kim Peng. "Bagaimana dengan kedua bocah tolol dari Koen loen itu ?" demikian terdengar pertanyaan si nona.
Coei San mengawasi mereka dengan perasaan sukar dilukiskan dan kemudian, sesudah mereka terpisah jauh, barulah ia mengikuti dengan tindakan perlahan.
Begitu tiba dimulut lembah, ia lihat tujuh delapan meja persegi disebidang tanah lapang rumput. Kecuali meja utama disebelah timur, semua meja sudah penuh orang.
Melihat kedatangan Coei San, Siang Kim Peng segera bangun berdiri dan berteriak dengan suara nyaring: "Thio Ngohiap dari Boe tong pay". Hampir berbareng, Pek Kwie Sioe juga bangun dari tempat duduknya dan kemudian dengan masing-masing diikuti oleh lima orang Hio Coe kedua Tan coe itu meninggalkan meja perjamuan untuk menyambut tamu yang baru datang itu. Duabelas orang itu berdiri berjejer dikedua pinggir dan menyambut sambil membungkuk.
"Hian boe tan Pek Kwie Sioe dan Ciak tan Siang Kim Peng yang berada dibawab perintah In Kauw coe dan Peh bie kauw, menyambut kedatangan Thio Ngohiap!" seru Pek Kwie Sioe dengan suara nyaring, In So So sendiri tidak meninggalkan meja, tapi ia turut bangun sendiri.
Mendengar kata-kata "In Kauw coe." hati Coei San berdebaran. "Kalau begitu, kepala agama Peh bie kauw benar seorang she In," katanya didalam hati. Segera ia menangkap kedua tangannya dan berkata: "Tak berani aku menerima kehormatan yang begitu besar." Begitu datang dekat meja-meja perjamuan ia mendapat kenyataan, bahwa semua orang mengawasinya dengan paras mendongkol. Ia merasa heran, tapi tidak memperdulikan.
Yang menjadi sebab dari perasaan mendongkol itu adalah karena kedatangan pemimpin-pemimpin Hay see pay, Kie keng pang dan Sin koen boen hanya disambut oleh seorang Hio coe dan tidak mendapat kehormatan seperti yang didapat oleh jago Boe tong pay itu. Keruan saja mereka merasa dihina, tapi kejadian itu tidak diketahui Coei San.
Dengan sikap hormat Pek Kwie Sioe mengantarkan pemuda itu kemeja utama disebelah timur dan mengundang supaya dia duduk disitu. Dimeja itu, yang mempunyai kedudukan paling mulia, hanya terdapat sebuah kursi. Coei San menyapu seluruh gelanggang perjamuan dengan matanya dan is mendapat kenyataan, bahwa dilain-lain meja berduduk tujuh delapan orang, hanya dimeja keenam berduduk dua orang, yaitu Ko Cek Seng dan Chio Tauw.
"Aku yang rendah adalah seorang muda yang berkepandaian cetek," katanya dengan suara nyaring. "Tidak berani aku duduk dimeja utama itu."
"Dalam Rimba Persilatan, Boe tong pay merupakan gunung Thay san atau bintang Pak tauw," kata Pek Kwie Sioe. "Kalau Thio Ngohiap yang namanya menggetarkan seluruh negara tidak berani duduk, siapa lagi yang berani duduk disitu ?"
Tapi Coei San yang selalu diajar oleh gurunya untuk merendahkan diri, tetap menolak.
Sementara itu, Ko Cek Seng dan Chio Tauw saling memberi isyarat dengan lirikan mata. Tiba tiba Chio Tauw mengangkat kursinya dan melontarkannya kearah meja utama. Antara meja yang didudukinya dan meja utama itu terdapat lima belas meja lain. Dengan menggunakan Lweekarg yang tepat. kursi itu terbang diatas kepala para tamu dan hinggap disamping kursi utama. Begitu lekas Chio Tauw memperlihatkan kepandaiannya, Ko Cek Seng segera berseru : "Huh huh ! Thaysan .....Pak tauw ! Siapa yang mengangkat Boe tong pay menjadi Thaysan Pak tauw? Jika si orang se Thio tidak berani duduk disitu, biarlah kami berdua yang menggantikannya." Bersama Soetee nya, ia segera melompat kemeja utama itu.
Bagaimana kedua saudara seperguruan jadi bertempur dan sesudah bertempur mati-matian, mereka akur kembali ?
Tadi, sesudah barkenalan, dalam kedongkolannya karena kedua pemuda itu sudah mengejek Peh bie kauw, In So So segera menanya siapa di antara mereka berdua yang ilmu pedangnya terlebih tinggi dan mengatakan, bahwa ia ingin sekali mempelajari beberapa pukulan dari Koenloen Kiamhoat. Kedua pemuda itu yang sudah dirubuhkan oleh kecantikan si nona, lantas saja menghunus pedang.
Semula mereka hanya ingin memperlihatkan keunggulan dalam sebuah latihan, tapi semakin lama mereka jadi semakin sengit dan ditambah dengan ejekan-ejekan So So, akhirnya mereka jadi bergempur mati-matian dan kedua-duanya terluka.
Belakangan, sesudah si nona dan Coei San meninggalkan mereka sambil bergandengan tangan, barulah mereka tersadar dan menghentikan pertempuran itu. Dengan rasa malu dan gusar, mereka membalut luka, tapi mereka tak berani mengunjuk kegusaran terang-terangan kepada nona In.
Demikianlah, mereka sekarang ingin merebut kursi yang ditawarkan kepada Coei San untuk menghina pemuda itu dihadapan orang banyak.
"Tahan!" bentak Siang Kim Peng sambil merentang tangannya.
Ko Cek Seng segera mengangkat tangannya untuk menotok jalan darah dilengan Kim Peng.
Tapi sebelum ia turun tangan, Coei San sudah mendahului berkata: "Jie wie berdua memang paling cocok duduk di sini," kata Coei San. "Biarlah aku duduk disitu." Sambil berkata begitu, ia berjalan kemeja keenam.
"Thio Ngoko, kemari! " seru In So So sambil menggapai.
Coei San segera mendekati, karena menduga si nona ingin berbicara dengannya. Tapi diluar dugaan, So So menarik sebuah kursi dan menaruhnya di samping kursinya. "Kau duduk disini saja." katanya sambil tersenyum.
Coei San jengah bukan main dan untuk sejenak ia tak tahu harus berbuat bagaimana. Kalau duduk disitu, ia merasa malu. Kalau menolak, penolakan itu merupakan hinaan besar untuk sinona.
"Aku ingin bicara denganmu," bisik SoSo.
Melihat sorot mata memohon dari sinona, Coei San merasa tak tega untuk menolak dan lantas saja duduk dikursi itu. Nona In jadi sangat girang dan sambil bersenyum-senyum, ia menuang secawan arak.
Di lain pihak melihat duduknya Coei San di samping nona In, walaupun sudah berhasil merebut kedudukan utama, Kok Cek Seng dan Chio Tauw jadi semakin medongkol. Pada sebelum mereka duduk dikedua kursi itu, Pek Kwie Sioe menyelak dan mengebut-ngebut kursi itu dengan menggunakan tangan bajunya. "Memang pantas Taykiamkek dari Koen loen pay duduk dikursi utama," katanya sambil tertawa. "Duduklah." Sehabis berkata begitu, dengan bersama Siang Kim Peng dan sepuluh Hio coe, ia segera kembali ke tempat duduknya.
Dengan anggapan bahwa mereka sudah berhasil menindih lawannya, Ko Cek Seng dan Chio Tauw segera duduk dikedua kursi itu. Tapi berbareng dengan suara "krekek", kaki kursi patah dan mereka rubuh terjengkang. Untung juga, sebagai ahli-ahli silat, begitu rubuh, begitu mereka melompat bangun. Tak usah dikatakan lagi, mereka malu bukan main, lebih-lebih karena para hadirin tertawa terbahak-bahak. Ko Cek Seng mengerti, bahwa patahnya kaki kursi adalah karena perbuatan Pek Kwie Sioe yang mengerahkan Lwee-kang pada waktu mengebut-ngebut dengan tangan bajunya. Ia yakin, siorang she Pek telah menggunakan tenaga Im kin (tenaga dingin) yang tidak dipunyakan olehnya sendiri. Ia adalah seorang yang sombong dan sama sekali tidak memandang mata kepada Peh bie kauw yang dianggapnya sebagai agama menyeleweng.
Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa dalam Peh bie kauw terdapat orang yang berkepandaian sedemikian tinggi.
Sementara itu, dengan suara tawar Pek Kwie Sioe berkata pula: "Semua orang tahu, bahwa ilmu silat Koen loen pay lihay luar biasa. Akan tetapi, janganlah Jie wie menumplek hawa marah kepada kursi itu. Ilmu yang barusan diperlihatkan Jie wie, aku yakin dimiliki oleh semua orang yang hadir disini." Ia menuding kepada sepuluh orang Hiocoe yang duduk dimeja paling ujung, Hampir ber bareng, diiringi dengan suara "krekek-krekek", sepuluh kursi patah kakinya dan sepuluh Hio coe itu bangun berdiri dengan sikap tenang.
Sekali lagi para hadirin bersorak sorai, sedang paras muka kedua jago Koen loen pay jadi pucat bagaikan mayat.
Diantara sorakan tiba tiba dua orang Hio coe menghampiri meja utama dengan masing-masing mendukung sebuah batu besar. "Kursi kayu tidak cukup kuat untuk diduduki oleh kalian," kata satu antaranya "Jie wie duduklah dibatu ini"
Kedua Hio coe itu adalah orang kuat dalam Peh bie kauw. Ilmu silat mereka biasa saja, tapi mereka memiliki tenaga yang luar biasa.
Ko Cek Seng dan Chio Tauw kaget bukan main. Meskipun mereka berkepandaian tinggi ilmu ilmu pedang, mereka merasa tak sanggup menyambuti batu yang beratnya kira-kira tujuh ratus kati itu, "Taruhlah." kata Ko Cek Seng.
"Huh !' kedua orang kuat itu mengerahkan tenaganya dan mengangkat tinggi-tinggi kedua batu itu. "Sambutlah !" kata mereka.
Kedua jago Koenloen itu terkesiap. Dengan serentak mereka melompat kebelakang.
"Jika Jie wie Koenloen Kiam kek tak mau duduk di meja utama, biarlah Thio Siang ong saja yang duduk di situ," kata Pek Kwie Sioe.
Mendengar perkataan itu, Coei San yang sedang kelelap dalam lautan asmara mendadak tersadar. "Celaka !" ia mengeluh. "Tak boleh aku membiarkan diriku dijatuhkan oleh memedi perempuan ini," Ia lantas saja bangun berdiri dan menghampiri meja utama.
Dalam mengundang Coei San untuk duduk di meja utama, Pek Kwie Sioa beminat menjajal kepandaian pemuda itu, yang dipuji tinggi oleh Siang Kim Pang, tapi belum disaksikan olehnya sendiri. Maka itu, begitu lekas Coei San menghampiri, ia segera memberi isyarat kepada kedua Hio coe itu dengan lirikan mata.
"Thio Siangkoan, hati-hati!" teriak kedua Hio coe itu waktu Coei San sudah datang cukup dekat dan sambil membentak keras, dengan berbareng mereka melontarkan kedua batu itu yang lantas saja terbang kekepala Coei San.
Semua hadirin terkesiap dan serentak mereka bangun. berdiri. Dilain pihak, melihat terbangnya kedua batu besar itu, Pek Kwie Sioe yang hanya ingin mencoba kepandaian pemuda itu dan pada hakekatnya tidak mempunyai maksud kurang baik, lantas saja merasa menyesal, tercampur takut. Ia yakin, bahwa sebagai seorang ahli silat, pemuda itu masih dapat menyelamatkan diri dengan melompat mundur. Akan tetapi, kejadian itu adalah kejadian yang sangat memalukan, sehingga bukan saja Coei San, tapi In So So pun bisa menjadi gusar.
Sebagai seorang kejam, sesaat itu juga ia sudah mengambil keputusan, bahwa ia akan menumplek semua kesalahan diatas pundak kedua Hio coe itu dan jika perlu, ia akan membinasakan mereka supaya bisa meloloskan diri dari kegusaran nona In.
Melihat menyambarnya batu, Coei San pun terkejut. Jika ia melompat mundur, seperti Ko Cek Sang dan Chia Tauw, ia merasa sangat malu karena hal ini sangat menurunkan pamornya Boe tong pay. Pada detik yang sangat genting, ia tak sempat memikir panjang-panjang lagi. Pada saat berbahaya, semua tenaga dan ilmu dari seorang yang pandai silat bisa keluar secara wajar. Demikianlah, tanpa dipikir lagi, tangan kirinya mengebas kekanan batu yang menyambar dari sebelah kiri dengan pukulan huruf "boe" (persilatan) sedang tangan kanannya mengebas kekiri batu yang menyambar dari sebelah kanan. Seperti telah dikatakan, berat setiap batu tak kurang dari tujuh ratus kati, sehingga, ditambah dengan tenaga jatuhnya dari atas kebawah, maka tenaga menindih dari setiap batu tidak kurang dari seribu kati.
Dalam mempelajari ilmu silat, Coei San belum pernah mengutamakan latihan untuk memperbesar tenaga, sehingga jika diukur dengan tenaga yang dimilikinya, ia pasti tak akan dapat menyambuti kedua batu itu. Akan tetapi, ilmu silat Tnio Sam Hong yang berdasarkan Soe hoat adalah ilmu silat yang sangat luar biasa.
Pada hakekatnya, ilmu silat dari Boe tong pay tidak mengutamakan tenaga atau kecepatan memukul. Yang dipelajari yalah ilmu mengeluarkan tenaga pada saat yang tepat dengan gerakan dan kekuatan tenaga yang tepat pula. Pada jaman belakangan, dalam kitab Thay kek Koen keng, Ong Cong Gak, seorang ahli Boe tong pay telah ne nyebutkan pukulan Sie nio Po cian kin (tenaga empat tahil melontarkan barang yang beratnya ribuan kati). Dengan lain parkataan, jika tenaga yarg dikirim sesuai dengan "peraturan", maka tenaga empat tahil akan dapat melontarxan barang yang beratnya ribuan kati.
Demikianlah dengan menggunakan ilmu silat yang paling tinggi dari gurunya, Coei San berhasil melontarkan kedua batu besar itu yang menyambar kepalanya
Apa yang telab mengejutkan para hadirin yalah ia seolah-olah melemparkan kedua batu itu dengan tangan bajunya, karena kedua tangannya bersembunyi didalam tangan baju yang besar. Kejadian itu adalah sedemikian mengejutkan, sehingga semua orang hanya mengawasi dengan mulut terngaga dan lupa untuk bersorak sorai lagi.
Dilain saat, kedua batu itu melayang turun ke muka bumi, yang satu lebih tinggi, yang lain lebih rendah. Dengan sekali menotol kakinya di tanah, badan Coei San meleset keatas dan ia lalu bersila diatas batu yang lebih tinggi. Dengan suara gedubrakan hebat, sehingga bumi tergetar, batu pertama ambruk dibumi dan separuhnya amblas di dalam tanah dan dilain detik, batu kedua jatuh tepat diatas batu pertama dan waktu kedua batu itu beradu, lelatu api muncrat keatas.
Dengan paras tenang, Coei San tetap duduk di batu yang sebelah atas. "Tenaga kedua Hio coe sungguh besar." katanya sambil bersenyum. "Aku merasa kagum dan takluk." Tapi kedua Hio coe itu masih tetap mengawasi dengan mata membelalak, tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata.
Beberapa saat kemudian, dilembah yang sunyi itu barulah bergema sorak sorai gegap gempita.
In So So mengawasi Pek Kwie Sie dengan mata melotot, tapi paras mukanya berseri-seri. Sekarang Pek Kwie Sie kegirangan. Ia mengerti, bahwa ke cerobohannya yang hampir-hampir menerbitkan onar, berbalik merupakan keuntungan bagi dirinya.
Sesudah menuang secawan arak, ia segera menghampiri Thio Coei Sin dan berkata dengan suara nyaring: "Sudah lama kami mendengar nama besar Boe tong Cit hiap, tapi baru sekarang kami melihat kepandaian Thio Ngohiap. Betapa besar rasa kagum kami tak dapat dilukislan lagi. Izinkan siauwjin memberi selamat kepada Thio Siang kong dengan secawan arak ini." Sehabis berkata begitu, ia minum kering arak itu.
Coei San lantas saja turut minum dan menjawab dengan kata-kata merendahkan diri.
Tiba-tiba dari meja Kie keng pang bangun berdiri seorang lelaki yang mengenakan baju kuning. "Menurut pendapatku, ilmu silat Thio Ngohiap yang sangat tinggi adalah soal kedua." teriaknya. "Yang paling mengagumi adalah hatinya yang mulia, berbeda jauh dengan manusia manusia rendah yang barhati jahat dan biasa menggunakan siasat busuk. Aku juga ingin memberi selamat kepada Thio Ngohiap dengan secawan arak." Sehabis berkata begitu, ia minum kering secawan arak yang dipegangnya.
Orang itu bukan lain daripada Bek Siauw pangcoe yang kemarin telah ditolong dengan perahu Siang Kim Pang atas permintaan Coei San. Sambil membungkuk pemuda itu mengangkat cawan araknya seraya berkata: "Tak berani aku menerima pujian yang begitu tinggi. Aku pun ingin balas memberi hormat kepada Bek Siauw pangcoe dengan secawan arak ini." ia hirup araknya sampai kering.
Sesudah suasana berubah tenang kembali, perlahan-lahan Pek Kwie Sioe bangun berdiri dan berkata dengan suara nyaring : "Belum lama berselang, agama kami telah mendapatkan golok mustika yang dikenal sebagai To liong to.... Mengenai golok itu, dalam Rimba Persilatan tersiar kata kata yang, seperti berikut : Boelim cie-coen, poto To Liong, hauw leng thian hee, boh kam poet-ciong!" Berkata sampai disitu, ia berhenti sejenak dan kedua matanya yang bersinar terang menyapu para hadirin.
"Sesudah memperoleh golok mustika itu, In Kauw coe dari agama kami sebenarnya ingin mengundang orang-orang dikolong langit untuk mengadakan sebuah pertemuan besar di gunung Heng San guna memperlibatkan golok itu kepada dunia," katanya pula. "Akan tetapi menghimpun pertemuan besar itu meminta banyak tenaga dan tempo, sehingga oleh karenanya pemimpin kami telah mengambil keputusan untuk mengundang saja kalian yang berada ditempat-tempat yang berdekatan supaya kalian dapat turut melihat macamnya golok mustika itu." Sehabis berkata begitu, ia mengebas tangannya dan delapan orang murid Peh bie kauw lantas saja bangun berdiri dan berjalan menuju kesebuah gua yang terletak disebelah barat.
Semua mata mengawasi delapan orang itu yang mendapat tugas untuk mengambil To liongto. Tapi waktu mereka keluar lagi, yang dibawa mereka, bukan golok, tapi satu hanglo (tempat perapian) besi yang sangat besar dengan api yang berkobarkobar. Mereka memikulnya dengan menggunakan pikulan kayu yang sangat panjang dan dengan napas tersengal-sengal, meraka menaruh hanglo itu di tengah-tengah lapangan. Di belakang mereka mengikuti empat orang, dua menggotong sebuah bantalan besi dan dua orang lagi maisng-masing membawa sebuah martil raksasa
"Siang Tan coe," kata Pek Kwie Sioe, "harap kau suka memperhatikan golok mustika itu untuk menetapkan keangkeran!"
"Baiklah." kata Siang Kim Peng sambil berpaling dan berkata kepada Hio coe yang tadi melontarkan batu kepada Coei San, "Ambil golok mustika itu !"
Mereka lantas saja masuk kedalam guha dan keluar lagi dengan seorang menyangga sebuah bungkusan sutera kuning dengan kedua tangannya, sedang seorang lain melindungi di sampingnya. Hio coe itu lalu menyerahkan bungkusan tersebut kepada Siang Kim Peng dan kemudian berdiri dikiri kanannya. Dengan sikap hormat, Siang Kim Peng jalu membuka bungkusan yang didalamnya berisi sebatang golok. Dengan kedua tangan ia mengangkat tinggi-tinggi golok itu yang kemudian dihunusnya. "Golok ini adalah To liong to yang sangat dihormati dalam Rimba Persilatan!" teriaknya. "Kalian boleh melihatnya dengan teliti."
Nama besar To liong to sudah lama dikenal dalam dunia Kang ouw. Akan tetapi, melihat macamnya golok itu yang biasa saja dan warnanya kehitam-hitaman, semua orang menjadi sangsi. Apa benar golok itu To liong to yang dikagumi dalam Rimba Persilatan ?
Perlahan-lahan Siang Kim Peng turunkan golok itu dan menyerahkannya kepada Hio coe yang berdiri disebelah dirinya. "Gunakanlah martil!" ia merintah.
Hio coe itu lalu menyambuti golok tersebut yang lalu ditaruh diatas bantalan besi dengan mata golok menghadap keatas Hio coe yang disebelah kanan segera mengangkat martil dan menghantam nya kemata golok. "Trang!" dan.., "loh!" Kepala martil terpapas putus jadi dua potong. Separuh jatuh ditanah dan separuh lagi masih menempel digagang martil
Itulah kejadian yang sungguh luar biasa. Semua orang terkesiap dan dengan serentak mereka bangun berdiri. Bahwa dalam Rimba Persilatan terdapat senjata mustika yang dapat memapas baja atau emas, bukan kejadian langka.
Tapi senjata yang dapat memapas besi yang begitu besar seperti memapas tahu, benar-benar belum pernah didengar mereka. Seorang dari Sin koen boen dan seorang dari Kie keng pang segera menghampiri bantalan besi itu dan menjemput potongan martil yang jatuh di tanah. Ternyata, bagian yang terpapas berkilat-kilat, sebagai tanda baru saja dipapasnya.
Sementara itu, dua orang Hio coe yang lain sudah mengangkat martil yang satunya lagi yang lalu dihantamkan kemata golok. Seperti juga tadi, dengan mengeluarkan suara "tring", kepala martil terpapas pula.
Kali ini semplaknya martil itu disambut dengan tampik sorak riuh.
Perlahan-lahan Siang Kim Peng mendekati bantalan besi itu dan mengangkat To liong to. Kemudian, dengan gerakan To pek Hwa san (Menghantam gunung Hwa san), ia membabat bantalan besi itu yang lantas saja kutung dua. Sesudah itu, sambil menenteng golok, ia berjalan ke sebelah barat dan dengan kecepatan kilat, menjambret dahan satu pohon siong tua dengan golok itu. Dengan beruntun-runtun, ia membabat delapan belas pohon siong,
Para hadirn merasa sangat heran, karena meskipun terang-terangan sudah dibabat putus, pohon-pohon itu masih tetap berdiri tegak.
Pek Kwie Sioe tertawa nyaring dan dengan tangan bajunya, ia mengebas pohon yang pertama. Dengan suara gedubrakan, pohon itu. sebatas yang telah terbacok, rubuh diatas tanah. Teryata, memang dengan sekali membabat saja, dahan pohon itu sudah menjadi putus. Tapi karena To liong to tajam luar biasa, maka biarpun dahannya putus pohon itu masih tetap berdiri dan barulah tumbang sesudah didorong oleh Pek Kwie Sioe, sesudah merubuhkan pohon pertama, Pek Tan coe lalu mengebas pohon-pohon lainnya yang juga lantas saja rubuh dengan mengeluarkan suara keras.
Sesudah itu, sambil tertawa terbahak-bahak Pek Kwie Sioe mengambil Toliong to dari tangan Siang Kim Peng dan lalu memasukkannya kedalam hanglo yang apinya sedang berkobar-kobar.
Pada waktu pohon-pohon sedang rubuh dikebas Pek Kwie Sioe, tiba-tiba disebelah kejauhan terdengar suara "peletak peletok" dan gedubrakan yang beruntun-runtun, seperti juga seorang lain sedang merubuhkan lain-lain pohon. Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Peng terkejut dan mereka segera mengawasi kearah suara itu. Mereka jadi lebih kaget lagi, karena teryata, bahwa tiang-tiang dari perahu perahu yang berlabuh dipantai, rubuh satu demi satu. Pada tiang-tiang itu tergantung bendera bendera Peh bie kauw, Kie keng pang, Hay see pay dan Sin koen boen. Semua orang lantas saja turut memandang kearah itu. Keruaan saja mereka jadi gusar bukan main dan beberapa pemimpin, dengan mengajak sejumlah orang sebawahannya, lantas saja berlari-lari kepantai untuk me nyelidiki.
Mendadak, jago-jago yang berkumpul dilapangan itu melihat lain perubaban yang lebih mengagetkan. Satu demi satu, perahu mereka mulai tenggelam. Rombongan kedua, yang terdiri dari beberapa partai, lantas saja menyusul kepantai. Jarak antara pelabuhan dan lapangan rumput itu tidak terlalu jaub, tapi rombongan penyelidik pertama, yang terdiri dari belasan orang, tidak kelihatan balik kembali.
Semua orang saling mengawasi dengan perasaan sangsi. Sambil menengok kepada seorang Hio coe Pek Kwie Sioe berkata: "Coba kau pergi lihat." Sesudah orang itu pergi, dengan sikap tenang yang di buat-buat, ia berkata pula: "Mungkin sekali di-lautan terjadi perubahan luarbiasa, Tuan-tuan tak usah terlalu berkuatir. Andaikata semua perahu rusak, kita masih bisa pulang dengan getek-getek kayu. Mari! Keringkan cawan !"
Walaupun hati mereka bergoncang keras, tapi supaya tidak dikatakan bernyali kecil, jago-jago itu terpaksa mengangkat juga cawan mereka. Tetapi baru saja cawan menenpel di bibir, tiba-tiba terdengar teriakan menyayatkan hati, seperti juga jeritan orang yang melompat bangun dengan paras muka pucat. Mereka itu rata-rata manusia-manusia, yang sudah biasa membunuh sesama manusia. Tapi sekarang mereka jadi ketakutan karena terjadinya perkembangan luar biasa dan suara jeritan itu yang sangat menyeramkan. Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Peng segera mengenali, bahwa itulah teriakan Hio coe yang barusan diperintah pergi menyelidiki. Di lain saat, sekonyong-konyong terdengar bunyi tindakkan kaki dan seorang yang bagaikan mandi darah mendatangi de gan berlari lari. Orang itu bukan lain dari pada Hio coe tadi.
Dengan kedua tangsnnya, ia menekap mukanya yang bercucuran darah, kulit kepalanya terbeset, pakaiannya robek-robek dan berlepotan darah. Begitu berhadapan dengan suara bergemetar ia berkata : "Kim mo Say ong ! .Kim mo Say ong ..." (Kim mo Say ong 'Raja singa bulu emas".
"Singa?" menegas Pek Kwie Sioe dengan hati lebih lega karena menduga, bahwa yang menyerang adalah seekor binatang buas.
"Bukan...bukan...." jawab Hio coe itu, "Manusia, bukan, bukan singa. Semua orang dicakar sampai mati.... semua perahu tenggelam !"
Sehabis berkata begitu, ia tidak dapat mempertahankan diri lagi dan rubuh binasa diatas tanah "Coba aku yang menyelidiki," kata Pek Kwie Sie.
"Aku ikut," kata Siang Kim Peng.
"Tidak, kau harus melindungi In Kouwnio," cegah Pek Kwie Sioe, yang mengerti bahwa sekarang ia sedang menghadapi lawan yang sangat tangguh. Hio coe yang tadi diperintah pergi menyelidiki, adalah salah seorang yang ilmu silatnya paling tinggi dalam kalangan Pek bie kauw. Bahwa dia telah dibinasakan secara begitu mudah, merupakan suatu tanda, bahwa pihak lawan adalah seorang yang lihay bukan main. Siang Kim Peng tidak membantah lagi dan sambil mengangguk, ia menjawab "ya."
Mendadak tardengar suara batuk-batuk, diikuti dengan suara bicaranya seorang : "Kim mo Say ong sudah berada disini!"
Semua orang terkejut dan menengok kesana tapi mereka tak melihat bayangan manusia lain. Dimana orang itu bersembunyi ?
Mendadak terdengar pula suara itu : "Tolol! Sungguh tolol !" Cacian itu disusul dengan terbayangnya sebuah batu besar dan satu manusia melompat keluar dari lubang dibawah batu. Ternyata, siang-siang ia sudah bersembunyi dibelakang pohon dan kemudian, dengan menggali tanah,ia masuk kedalam lubang yang dibuatnya dibawah sebuah batu besar.
Bukan main kagetnya semua orang, tidak terkecuali In So So, yang sambil mengeluarkan seruraan "ah!" lari mendekati Thio Coei San.
Badan orang itu tinggi besar luar biasa, kira-kira lebih tinggi satu kaki dari manusia biasa. Rambutnya yang berwama kuning terurai dipundaknya sedang kedua matanya yang bersinar hijau bersorot tajam seperti pisau.
Dalam tangannya, is mencekal sebatang toya Long gee pang yang panjangnya satu tombak tujuh kaki. Dengan tubuhnya yang seperti raksasa. Ia berdiri diantara meja-meja perjamuan bagaikan satu malaikat.
"Kim mo Say ong?" Coei San tanya dirinya sendiri. "Siapa dia ? Aku belum pemah mendengar nama begitu, baik dari Soehoe, maupun dari lautan." Ia mendapat kenyataan, bahwa orang itu mengenakan jubab panjang yang terbuat dari macam-macam kulit binatang, seperti kulit harimau, kulit macan tutul, kulit kerbau, manjangan, biruang. anjing ajak, rase dan sebagainya. Sepotong demi sepotong kulit-kulit itu dijahit satu pada lainnya dan dilihat dari buatannya yang sangat halus, tukang yang membuatnya bukan sembarang tukang. Antara begitu banyak binatang, hanya kulit singa saja yang tidak terdapat pada pakaiannya itu. Coei San menduga, bahwa orang itu sangat menghormati binatang singa, sehingga ia menggunakan nama binatang itu sebagai gelarnya. Long gee pang atau toya gigi anjing ajak, yang dicekal oleh orang itupun lain daripada yang lain. Menurut kebiasaan, paku-paku yang merupakan gigi anjing ajak, hanya dipasang pada satu ujung dari Long gee pang. Tapi toya yang dicekal orang bukan saja panjang dan besar luar biasa, tapi juga dipasang paku-paku pada kedua ujungnya, sedang warna toya keemas-emasan, tapi bukan terbuat daripada emas.
Sesudah dapat menenteramkan hatinya yang berdebaran, Pek Kwie Sioe maju setindak seraya bertanya : "Apakah aku boleh mengetahui she dan nama tuan yang mulia ?"
"Aku she Cia, bernama Soen, alias Twie Soe," jawabnya. "Disamping itu aku juga mempunyai satu gelaran, yaitu Kim mo Say ong."
Coei San dan So So saling melirik. Mereka sependapat, bahwa walaupun ganas, orang itu mempunyai nama dan gelar seperti seorang sasterawan.
Mendengar jawaban yang pantas, hati Pek Kwie Sioe jadi lebih lega. "Oh, kalau begitu, aku sedang berhadapan dengan Cia Sianseng," katanya sambil membungkuk.
"Sebegitu jauh yarg diketahui olehku, Sianseng dan kami sama sekali belum pemah berurusan, malah belum pernah mengenal satu sama lain. Tapi mengapa, begitu tiba
Sianseng segera merusak perahu dan membunuh orang !"
Cia Soen tersenyum dan memperlihatkan dua baris giginya yang putih dan berkilat. "Perlu apa tuan-tuan berkumpul ditempat ini?" ia balas menanya.
Pak Kwie Sioe merasa, bahwa ia tidak dapat berjusta terhadap orang yang lihay itu. Dalam perhitungannya, biarpun ia tahu orang itu bekepandaian tinggi, tapi karena dia hanya seorang diri, ia tidak begitu keder. Ia menganggap bahwa dengan Siang Kim Peng, Thio Coei San dan In So So, biar bagaimanapun juga, pihaknya akan dapat menjatuhkan lawan tunggal itu. Memikir begitu, ia lantas saja menjawab dengan suara nyaring: "Belum lama berselang Peh bie kauw telah mendapat sebilah golok mustika dan sekarang kami mengumpulkan sahabat-sahabat dalam dunia Kang ouw untuk menyaksikan golok tersebut."
Cia Soon menengok kehanglo yang apinya sedang berkobar-kobar dan membakar sebilah golok berwama hitam. Melihat api yang begitu hebat, tapi golok itu sedikitpun tidak bergeming, ia tabu, bahwa golok itu benar benar senjata mustika. Dengan tindakan lebar ia mendekat dan mengangsurkan tangan untuk mencekal gagang golok.
"Tahan!" bentak Siang Kim Peng.
Cia Soen menengok. "Mengapa?" tanyanya sambil tersenyum tawar.
"Golok itu adalah milik agama kami," jawabaya.
"Sababat, kau hanya boleh melihat dari jauh tidak boleh mendekatinya "
"..Milikmu?" menegas Cia Soen. "Apa golok itu dibuat olehmu atau dibeli olehmu?"
Siang Kim Peng tergagap, tak dapat ia menjawab pertanyaan itu.
"Pihakmu mengambilnya dari tangan orang lain dan sekarang aku mengambilnya dari tangan kamu," kata pula Cia Soen "Hal itu cukup adil, mengapa tidak boleh?'' Sehabis berkata begitu, ia kembali memutar badan dan. mengangsurkan tangannya untuk mencekal gagang To liong to.
Berbareng dengan suara berkerincin rantai Siang Kim Peng mengeluarkan senjata semangka dari pinggangnya.
"Sahabat!" bentaknya. "Jika kau tidak meladeni, aku terpaksa berlaku kurang sopan terhadapmu." Dalam kata-katanya ia baru memberi peringatan, tapi sebenarnya berbareng dengan perkataannya itu "semangka" yang ditangan kirinya sudah menyambar punggung Cia Soen.
Tanpa memutar badan atau menengok, Cia Soen menyodok kebelakang dengan toyanya. Benturan antara Long gee pang dan 'semangka' itu menerbitkan suara yang sangat hebat dan semangka besi itu hancur jadi tujuh delapan potong yang melesat kesana sini. Hampir berbareng badan Siang Kim Peng bergoyang goyang dan sudah muntahkan darah, ia rubuh berguling tanpa beryawa lagi.
Ternyata Siang Kim Peng telah dibinasakan dengan tenaga Lweekang yang menyerang dari Long gee pang lewat semangka besi itu ketubuhnya. Jika orang tahu betapa tinggi kepandaian Siangg Kim Peng, dapatlah ia membayangkan hebatnya Lweekang orang she Cia itu.
Lima Hio coe Coe ciak tan menecelos hatinya. Dengan serentak mereka melompat maju, dua menubruk pemimpin mereka, sedang tiga yang lain, tanpa memperdulikan segala apa, segera menghunus golok dan menerjang musuh.
Sesudah mengambil To liong to, dengan menggunakan Long gee pang Cia Soen menyontek hangl0 besi itu yang lantas saja terbang keatas dan jatuh menghantam tubuh ketiga Hio coe itu. Karena tenaganya belum habis, hanglo itu menggelinding terus dan menghantam pula kedua Hio coe yang sedang coba membangunkan Siang Kim peng. Dalam sekejap, pakaian lima Hio coe dan mayat Siang Kim Peng, berkobar-kobar. Empat Hio coe mati disitu juga, sedang yang satu menjerit_jerit kesakitan.
Siapakah yang tidak menjadi gentar sesudah melihat kejadian yang sangat hebat itu?
Meskipun masih berusia muda, Coei San sudah kenyang makan asam garam dunia Kangouw dan sudah pernah bertemu dengan banyak sekali orang pandai. Tapi manusia yang kepandaiannya setinggi Cia Soen, belum pemah ditemuinya. Diam diam ia mengakui, bahwa kepandaiannya masih kalah jauh. Ia mengakui, bahwa diantara saudara-saudara seperguruannya, tak satupun yang dapat menandingi orang itu, bahkan Boe tong Cit hiap, tujuh pendekar Boetong, bersama-sama belum tentu bisa memperoleh kemenangan. Menurut taksirannya, adalah gurunya seorang yang dapat meladeni Cia Soen.
Sementara itu, dengan jarinya Cia Soen menyentil To liong to yang mengeluarkan suara aneh, seperti suara tersentuhnya emas, tapi bukan emas, seperti kayu tapi bukan kayu. Ia manggut-manggutkan kepalanya seraya berkata dengan suara perlahan : "Tak ada suara, tak ada warna, Benar-benar golok mustika."
Sesudah itu, ia mengawasi sebuah sarung golok yang terletak dimeja, didekat tempat berdirinya Pek Kwie Sioe. "Apa itu sarung To long to?" tanyanya, "Bawa kemari."
Pek Kwie Sioe mengerti, bahwa sepuluh sembilan jiwanya bakal melayang. Jika ia menurut dan menyerahkan sarung golok itu, habislah nama baiknya yang sudah dipertahankan selama puluhan tahun. Disamping itu, jika dikemudian hari Kauw coe menyelidiki peristiwa tersebut, ia pasti akan binasa dalam tangannya pemimpin tersebut. Tapi dilain pihak, jika membangkang, ia juga bakalan mati. Maka itu, sesudab memikir sejenak, ia lantas saja berkata : "Jika kau ingin membunuh aka, bunuhlah ! Aku siorang she Pek, bukan manusia yang takut mati."
Cia Soen bersenyum. "Keras kepala ! Manusia keras kepala !" katanys. "Dalam Peh bie kauw teryata terdapat orang-orang yang mempunyai nyali." Tiba tiba ia mengayun tangan kirinya dan To liong to menyambar ke arah Pek Kwie Sioe, Begitu golok menyambar, Pek Kwie Sioe, yang tidak berani menyambuti, lantas saja berkelit ke samping. Tapi diluar dugaan. waktu mendekati
meja mendadak golok itu terbang rendah dan ., "srok!", masuk tepat kedalam sarungnya ! Apa yang lebih aneh lagi, golok yang sudah bersarung itu terbang balik dan dengan sekali menyontek dengan Long gee pang, Cia Soen sudah mencekel lagi golok itu yang bersama sama sarungnya lantas saja diselipkan dipinggangnya !
Pertunjukan aneh itu, yang hanya dapat diperlihatkan oleh seseorang yang Lweekangnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, benar-benar menakjubkan.
Sesudah itu, sambil menyapu para hadirin dengan matanya yang sangat tajam, ia berkata: "Apakah tuan-tuan mempunyai pendapat lain mengenai keinginanku untuk memiliki golok mustika ini?"
Sesudah ia mengulagi pertanyaannya dua kali, tiba-tiba seorang yang duduk dimeja Hay see pay duduk berdiri dan berkata "Cia Cianpwe adalah seorang yang mulia dan tersohor diempat lautan. Golok mustika itu memang pantasnya dimiliki oeh Cia Cianpee dan kami semua merasa sangat setuju."
"Apakah tuan Cong to ceo?, (pemimpin besar) dari Hay see pay yang bernama Goan Kong Po?" tanya Cia Soen.
"Benar," jawabnya. Ia merasa girang dan heran mendengar pertanyaan itu. Bagaimana Cia Soen bisa mengenal she dan namanya ?
"Apa kau tahu siapa guruku ?" tanya pula Cia Soen "Apa kau tahu dari partai mana ? Perbuatan mulia apakah yang pernah dilakukan olehku ?"
Goan Kong Po tergugu. "Aku ...aku ...." jawabnya terputus putus. Ia sebenarnya tidak pernah mangenal Cia Soen dan kata katanya yang barusan hanyalah untuk mengumpak-umpak.
"Sedang kau tidak mengenal aku, bagaimanakau tahu aku sangat mulia dan tersohor diempat lautan?" tanya Cia Soan dengan suara memandang rendah. "Golok ini dulu dimiliki oleh Hay see pay, kemudian direbut oleh Tiang pek Sam-kim dan lalu jatuh kedalam tangan Jie Thay Giam dari Boo tong pay ..."
Mendengar perkataan "Jatuh kedalam tangan Jie Thay Giam dari Bo tong pay" membuat jantung Coei Sin memukul keras. Baru sekarang ia tahu, bahwa golok itu mempunyai sangkut usut dengan Samkonya.
Sementara itu Cia Soen bicara terus: "Dengan diam-diam turunkan tangan beracun, Peh bie kauw merampas golok ini dari tangan Jie Thay Giam. Huh huh!" Sesudah merasa, bahwa Hay see pay tidak mempunyai kesempatan lagi untuk merebut pulang To liong to, kau segera mengeluarkankata-kata merdu untuk mengumpak umpak aku Kau adalah penjilat yang tak mengenal malu dan selama hidup, aku paling benci bangsa penjilat. Kemari!" Waktu mengucapkan kata-kata paling belakang, suaranya nyaring bagaikan geledek dan menusuk kuping.
Goan Kong Po yang sudah hancur nyalinya tidak berani membangkang. Dengan tindakan limbung, ia menghampiri dan waktu sudah berhadapan deaga Cia Soen, kedua kakinya bergemetaran.
Sementara itu, hati Coei San berdebaran dan darahnya bergolak-golak. waktu melirik In So So, ia mendapat kenyataan paras muka si nona pucat bagaikan kertas.
"Kamu, kawanan Hay see pay, sungguh kawanan simuka tebal," Cia Soen mencaci pula. "Ilmu silat kamu ilmu silat pasaran dan modalmu yang terutama untuk mencelakakan manusia adalah garam beracun. Tahun yang lalu, di Gin yauw, kamu telah membinasakan Thio Teng In serumah tangga, tak kurang dari sebelas orang melayang jiwanya. Bulan ini, tanggal satu, kamu juga telah membunuh Auwyang Ceng di Hay boen."
Goan Kong Po kaget tak kepalang. Ia sungguh tak mengerti, bagaimana Cia Soen bisa tahu seluk beluk kedua pembunuhan itu yang dilakukan secara rahasia.
"Mengapa kau diam saja ?" bentak Cia Soen "Suruh orangmu bawa dua mangkok garam beracun kemari! Aku mau lihat bagaimana macamnya racunmu itu?"
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Hay see pay bahwa kemanapun mereka pergi, mereka pasti membekal garam beracun. Maka itu, dengan apa boleh buat, Goan Kong Po segera memerintahkan sebawahannya membawa dua mangkok racun.
Cia Soen menyambuti dua mangkok itu yang lalu diendut-endus dengan hidungnya, "Mari kita masing-masing makan semangkok!" katanya.
Goan Kong Po terkesiap, garam itu mengandung racun yang sangat hebat, sehingga, jangankan dimakan. sedangkan menempel dibadan manusia saja sudah cukup untuk mengambil jiwa orang.
Dalain saat, Cia Soen menancapkan toyanya di tanah dan satu tangannya menyambar kedagu Goan Kong Po yang begitu tersentuh, mulutnya lantas saja menganga dan tidak dapat ditutup lagi.
Hampir berbareng ia mengangkat mangkok garam dan menuang semua isinya kemulut orang!
Binasanya Thio Tang In dan semua keluarganya di Gie yauw dan terbunuh matinya Auwyang Ceng dalam sebuah hotel di Hay boen merupakan suaru teka-teki yang mengherankan dalam Rimba Persilatan.
Sekarang baru ketahuan, bahwa kedua pembunuhan gelap itu telah dilakukan oleh orang-orarg Hay See pay. Maka itu melihat nasib yang dijalani Goan Kong Po, jago-jago yang berada di situ diam-diam merasa girang,
Sesudah itu sambi mengangkat mangkok garam yang satunya lagi. Cia Soen berkata dengan suara nyaring : "Aku si orang she Cia selalu berlaku adil dan jujur. Kau sudah makan semangkok, aku pun akan makan semangkok." Ia menuang garam itu kedalam mulutnya dan lalu menelannya.
Itulah perbuatan yang tak pernah diduga orang orang yang paling kaget adalah Coei San. Sesudah memperhatikan paras muka Cia Soen, ia mendapat kenyataan, bahwa meskipun sepak terjangnya sangat ganas, pada paras mukanya terdapat sinar kesedihan, Dengan mengingat, bahwa' jago-jago yaag telah dibinasakan olehnya adalah manusia manusia jahat. maka dalam hati pemuda itu muncul rasa simpathi. Demikianlah, begitu lihat Cia Soen menelan garam itu, tanpa terasa ia berteriak : "Cia Cianawee, manusia itu memang pantas mendapat hukuman mati. Perlu apa Cianpwee ber buat begitu ?"
Cia Soen menengok dan mengawasi, Coei can bersenyum, sedang paras mukanya sedikitpun tidak terlihat sinar ketakutan.
"Siapa tuan ?" tanya Cia Soen.
"Boanpwee adalah Thio Coei San dari Boe tong," jawabnya.
"Hmmn ....Boe tong Thio Ngohiap . . . apakah kau datang untuk merebut To liong to ?" tanyanya pula.
Pemuda itu menggelengkan kepala seraya berkata: "Bukan. kedatangan boanpwee adalah untuk menyelidiki sebab musabab terlukanya Jie Samko, Kurasa Cianpwee mengetahui banyak mengenai peristiwa itu dan aku memohon keterangan Cianpwee."
Sebelum Cia Soen keburu menjawab, tiba-tiba Goan Kong Po mengeluarkan jeritan kesakitan dan ia rubuh sambil memegang perutnya. Sesudah bergulingan beberapa kali ditanah, badannya tidak bergerak lagi dan rohnya berpulang kealam baka.
"Cia Sianseng, lekas minum obat!" teriak Coei San dengan bingung.
"Obat apa?" bentaknya. "Ambil arak!" Seorang pelayan dari Peh bie kauw lantas saja mengambil cawan dan poci arak.
"Mengapa Peh bie kauw begitu kikir?" teriak Cia Soen. "Ambil poci yang paling besar!"
Dengan tergesa-gesa pelayan itu segera mengambil poci yang paling besar dan lalu menaruhnya dihadapan Cia Soen. "Manusia ini rupanya kepingin mampus terlebih cepat," katanya didalam hati.
Sambil tertawa Cia Soen lalu mengangkat tempat arak itu dan menuang isinya kedalam mulutnya. Dalam sekejap, arak itu yang beratnya kirakira tigapuluh kati, sudah dituang kering. Ia mengusut-ngusut perutnya yang melembung besar den tertawa berkakakan.
Mendadak ia mendongak dan membuka mulutnya. Hampir berbareng, diluar dugaan semua orang ia menyemburkan arak yang menyambar dada Pek Kwie Sioe bagaikan sehelai sutera putih. Karena tidak berjaga-jaga, Pek tan coe terhuyung dan kemudian rubuh karena dadanya seperti dipukul martil. Sesudah itu, Cia Soen lalu menyemburkan keatas arak itu yang kemudian jatuh seperti hujan gerimis, sehingga membasahi muka semua orang.
Sejumlah orang yang Lweekangnya masih cetek,yang tidak tahan dengan bau dan racun arak, lantas saja roboh dalam keadaan pingsan.
Ternyata, dengan menggunakan Lweekang yang sangat tinggi, terlebih dulu Cia Soen mencuci racun garam dalam perutnya dengan arak itu yang kemudian disembur keluar sebagai arak beracun. Sedikit racun yang masih ketinggalan didalam perut ditindih olehnya dengan menggunakan Lwee kang.
Bek Keng Pangcoe dari Kie keng pang, jadi gusar bukan main dan mendadak ia melompat bangun. Tapi dilain detik, ia ingat, bahwa kepandaiannya masih jauh dari kepandaian orang itu, sehingga perlahan-lahan ia duduk kembali sambil menahan amarah.
"Bek Pangcoe," kata Cia Soen seraya tertawa dingin. "Bukankah pada Go gwee tahun ini di muara Sungai Bin kiang kau telah membajak sebuah perahu dari Liaow tong ?"
Paras muka Bek keng lantas saja berubah pucat . "Benar," jawabnya.
"Sebagai bajak, memang juga, kalau tidak membajak, kau tentu tak bisa hidup," kata pula Cia Soen. "Bahwa kau membajak, sangat dapat dimengerti olehku. Sedikitpun aku tidak menyalahkan kau. Tapi mengapa kau sudah melemparkan beberapa puluh pedagang yang tidak berdosa kedalam laut dan telah memperkosa tujuh wanita sehingga mereka jadi binasa? Apakah seorang gagah dalam dunia Kang ouw boleh melakukan perbuatan yang terkutuk itu ?"
Bek Keng bergemetar sekujur badannya. "Itu.... itu ..... perbuatan .....perbuatan orang orang ku," jawabnya terputus-putus. "Aku aku sama sekali tidak mengambil bagian."
Cia Soen mengeluarkan suara dari hidung. "Huh! Enak benar kau menyangkal!" bentaknya. "Andai kata benar kau tidak mengambil bagian, karena kau sama sekali tidak mencegah orang orangmu melakukan perbuatan yang sangat memalukan Rimba persilatan, maka semua kedosaan harus ditanggung olehmu sendiri. Perbuatan itu seperti juga dilakukan olehmu sendiri. Sekarang aku mau tanya: Siapa siapa pada hari itu telah melakukan perbuatan terkutuk itu ?"
Untuk menyelamatkan jiwanya sendiri, Bek Keng segera menghunus golok. "Coa Sie, Hoa Cong San Ouw Liok ! Kamu bertiga mengambil bagian di hari itu!" Hampir berbareng, bagaikan kilat ia membacok tiga kali dan ketiga bajak itu lantas saja rubuh tanpa bernyawa lagi.
"Bagus! Hanya sayang terlalu terlambat," kata Cia Soen. "Kalau hari itu kau menghukum mereka, hari ini aku tentu tidak turun tangan. Bek Pangcoe, ilmu apa yang paling diandalkan olehmu?"
Melihat ia tidak dapat meloloskan diri lagi, Bek Keng berkata dalam hatinya : "Kalau bertanding didaratan, mungkin aku tidak dapat melawannya dalam tiga jurus. Tapi diair adalah duniaku. Andai kata kalah, aku masih dapat melarikan diri. Tak mungkin ilmu berenangnya lebih lihay daripada aku." Memikir begitu, ia lantas saja berkata: "Aku ingin meminta pelajaran Cia Cianpwee dalam ilmu berkelahi dibawah air."
"Baiklah, mari kita pergi ketengah laut untuk menjajal kepandaian" jawab Cia Soen sambil meagangguk. Tapi baru berjalan beberapa tindak, ia berhenti seraya berkata: "Tahan! Aku kuatir begitu lekas aku pergi, orang-orang itu lantas saja kabur!"
Mendengar perkataan itu, semua orang tereajut. Apa dia mau membinasakan semua orang ?
Bek Keng sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik dan ia segera berkata dengan tergesa-gesa "Biarpun didalam air, aku pasti bukan tandingan Cianpwee. Aku mohon pertandingan dibatalkan saja dan aku mengaku kalah."
"Hm... kalau begitu, aku boleh tak usah banyak berabe," kata Cia Soen. "Jika kau mengaku kalah, kau harus membunuh diri."
Bek Keng terkesiap. Sesudah berdiam sejenak, ia berkata dengan suara tak lampas: "Dalam.... dalam pertempuran, kalah menang adalah kejadian biasa. Mengapa mesti membunuh diri?"
"Jangan rewel!" bentak Cia Soen. "Manusia seperti kau ingin bertanding denganku? Kedatanganku hari ini adalah untuk menagih jiwa. Siapa saja yang pernah melakukan perbuatan jahat dan membunuh manusia yang tidak berdosa tak akan bisa terlolos dari tanganku. Hanya karena aku kuatir kamu binasa dengan penasaran, maka aku membolehkan kamu mengeluarkan kepandaian yang paling lihay untuk membela diri. Siapa yang dengan kepandaiannya dapat menangkan aku, aku akan mengampuni jiwamu."
Sehabis berkata begitu, ia membungkuk dan mengambil dua gempal tanah liat yang lalu dibasahi dengan arak. Sesudah memulung gempalan tanah itu menjadi dua bola bundar, ia segera berkata: "Tinggi rendahnya kepandaian berenang dari seseorang dapat diukur dengan berapa lama ia dapat bertahan dibawah permukaan air. Sekarang begini saja. Dengan menggunakan tanah ini, aku dan kau menutup hidung dan mulut. Siapa yang lebih dulu tak tahan, boleh mengorek tanah ini, tapi ia harus membunuh diri sendiri."
Tanpa menanya lagi apa Bek Keng setuju atau tidak, ia segera menutup hidung dan mulutnya dengan tanah liat itu dan kemudian, dengan sekali menimpuk, bola tanah yang lain menutup hidung dan mulut Bak Keng.
Melihat pertunjukan itu, semua orang merasa geli, tapi tak satupun berani tertawa. Sebelum jalanan napasnya ditutup, Bek Keng sudah menarik napas dalam-dalam. Sesudah itu, ia lantas saja bersila dan menahan napas.
Dalam ilmu menahan napas Bek Keng banyak lebih unggul daripada manusia kebanyakan. Semenjak berusia tujuh delapan tahun, ia sering selulup diair untuk menangkap ikan dan kepiting. Dengan latihan yang terus menerus, semakin lama in semakin mengenal sifatnya air dan dapat bertahan dibawah permukaan air sampai kira-kira sepasangan hio. Maka itu, dalam pertandingan ia percaya bahwa ia bakal mendapat kemenangan.
Dilain pihak, Cia Soen tidak menyontoh perbuatan lawannya. Sebaiknya dari bersila atau duduk, dengan tindakan lebar ia menghampiri meja Sin koen dan menatap wajah Kwee Sam Koen, Ciangbunjin in boen, dengan mata melotot.
Diawasi secara begitu, si orang she Kwee bangun bulu romanya. Buru-buru ia berdiri dan berkata sambil merangkap kedua tangannya. "Cia Cianpwee, aku yang rendah adalah Kwee Sam Koen dari Sin koen boen."
Karena hidung dan mulutnya tertutup, Cia Soen tidak dapat bicara. Ia menyelup telunjuknya ke dalam cawan arak dan menulis tiga huruf diatas meja. Begitu melihat tiga hurup itu, paras muka Kwee Sam Koen lantas saja berubah pucat seperti kertas. Beberapa muridnya melirik huruf-huruf itu yang ternyata berbunyi "Coei Hoei Yan" adalah nama seorang wanita, tapi tak tahu mengapa guru mereka jadi begitu ketakutan
Coei Hoei Yan adalah puteri gurunya Kwee Sam Koen. Sesudah sang guru meninggal dunia, dia telah main gila dengan nona itu. Tapi, sesudah nona itu hamil, ia meninggalkannya dengan begitu saja dan masuk menjadi murid partai Sin Koen boen. Karena malu dan gusar, Hoei Yan menggantung diri sehingga binasa. Karena keluarga Hoei hanya ketinggal Hoei Yan seorang, maka urusan itu tidak menjadi panjang dan kecuali Kwee Sam Koen sendiri, rahasia tersebut tidak diketahui oleh orang luar. Tapi diluar semua dugaan, sesudah lewat kurang lebih dua puluh tahun, Cia Soen telah menulis nama nona itu diatas meja.
Begitu melihat tiga huruf itu, Kwee Sam Koen segera berkata dalam hatinya: "Sesudah menang kan Bek Keng dan mencopot tanah liat yang menutup jalan napasnya, dia tentu akan mengumumkan perbuatan itu. Paling baik aku menggunakan kesempatan ini untuk turun tangan lebih dulu. Jika dia mengerahkan tenaga untuk melawan aku, dia tentu akan kalah dalam pertandingan melawan Bek Keng". Memikir begitu, ia lantas saja berkata deagan suara nyaring: "Aku yang rendah adalah Ciang boen dari Sin koen boen. Kepandaian ku yang paling diandalkan adalah silat tangan kosong. Sekarang aku ingin meminta pelajaran darimu dalam ilmu silat itu"
Berbareng deagan perkataannya, ia mengirim tinju kempungan Cia Soen dan tinju pertama lalu disusul tinju kedua. Nama "Sam Koen" atau "Tiga tinju" yang digunakan nya adalah karena ia mempunyai tinju yang luar biasa keras, sehingga dengan sekali meninju saja, ia dapat membinasakan seekor kerbau. Dalam kalangan Kangouw, ahli-ahli kelas pertengahan jarang ada yang dapat malayani tiga tinjunya, sehingga oleh karenanya, ia kenal dengan nama "Kwee Sam Koen" dan namanya yang aseli tidak diketahui orang.
Dua tinju yang dikirim dengan beruntun itu segera ditangkis oleh Cia Soen, Sam Koen merasa bahwa dalam menangkis pukulannya, Lweekang lawan tidak seberapa kuat dan berbeda banyak dengan Lweekang yang digunakan untuk membunuh Siang Kim Pang. Maka itu, sambil mengayun tinju ketiga, ia membentak keras: "Jagalah pukulan ketiga!"
Tinju yang sangat hebat itu di beri nama Hoen sauw cian koen (Menyapu laksaan serdadu) dan pukulan tersebut sudah pernah menjatuhkan banyak sekali jago-jago Kangouw.
Sementara itu, Bek Keng yang bersila sambil menahan nafas rupanya sudah merasa tak tahan lagi muka dan kupingnya merah, sedang matanya berkunang-kunang. Melihat keadaan ayahnya, Bek Siauw pangcu berkhuatir bukan main. Maka itu selagi Kwee Sam Koen menyerang dengan dua pukulan, dengan cepat ia mencabut sebatang tusuk konde seorang Tocoe wanita dari Kie keng pang. Dengan mengerahkan Lweekang dijari tangannya, ia memutus tangkai tusuk konde yang kemudian ditimpukkan kemulut ayahnya. Biarpun tangkai tusuk konde itu dapat melukakan mulut atau tenggorokan sang ayah, tapi tanah liat yang menutup jalanan napas akan berlobang sehingga sedikit banyak ayahnya bisa mendapat hawa udara segar.
Pada saat tangkai tusuk konde itu terpisah kira kira setombak dari mulut Bek Keng, mata Cia Soen yang sangat tajam telah melihatnya. Tanpa menggerakkan tubuh,ia menendang tanah dan sebutir batu kecil melesat keatas, menyambar tangkai tusuk konde, yang begitu terpukul dengan batu kecil itu, lantas saja terbang balik. Tiba tiba Bek Siauwpangcoe mengeluarkan teriakan kesakitan sambil menutup mata kanannya, yang mengeluarkan darah. Ternyata, tangkai tusuk konde itu menjambret tepat kemata kanannya yang lantas saja menjadi buta.
Pada saat itulah, tinju Kwee Sam Koen yang ke tiga menyambar kempungan Cia Soen. Sebelum tiba pada sasarannya, pukulan yang sangat dahsyat itu sudah mengeluarkan sambaran angin yang sangat tajam. Sam koen menduga lawannya akan coba menangkis atau berkelit. Tapi tak dinyana, Cia Soen tidak bergerak "Bak!", tinju itu mengenakan tepat pada sasarannya. Kempungan adalah salah satu bagian tubuh manusia yang paling lemah dan tinju itu amblas di kempungan.
Tapi, sesaat itu juga, Kwee Sam Koen mencelos hatinya, karena tinjunya tersedot dengan semacam tenaga yang seperti besi berani. Cepat-cepat ia mengerahkan Lweekang untuk menarik pulang kepalannya, tapi sedikitpun tidak bergeming dan tinju itu terus melekat di kempungan musuh.
Dengan tenang Cia Soen mengangsurkan tangan kirinya kepinggang lawan. Melihat guru mereka dalam keadaan bahaya, dua orang murid Sin koen segera melompat untuk memberi pertolongan. Tapi begitu diawasi Cia Soen dengan sorot mata yang setajam pisau, hati mereka keder dan tidak berani bergerak lagi. Dilain saat, Cia Soen sudah meloloskan ikat pinggang Kwee Sam Koen yang lalu digunakan untuk melibat leher pecundang itu. Sesudah itu ia mengikat ujung ikatatan pinggang kedahan pohon, sehingga badan Kwee Sam Koen jadi tergantung.
Kwee Sam Koen meronta-ronta, tapi semakin ia meronta, ikatan pada lehernya menjirat semakin erat. Beberapa saat kemudian, didepan matanya terlibat bayangan Coei Hoei Yang. Rasa takut dan menyesal bercampur aduk dalam hatinya. Dalam keadaan separuh lupa, kupingnya mendengar kata-kata: "Jalan langit tidak pernah gagal. Perbuatan jahat akan mendapat pembalasan Jahat!"
Cia Soen menengok dan melihat warna putih pada kedua matanya Bek Keng. Ia lalu menghampiri, dan lalu mencopot tanah liat yang menutupi jalanan napas lawan itu dan kemudian meraba raba dadanya. Sesudah mendapat kepastian, bahwa Pangcoe Kek keng pang itu sudah tidak bernyawa lagi, barulah ia mencopot tanah yang menutupi hidung dan mulutnya sendiri. Ia mendongak dan tertawa nyaring "Kedua orang itu adalah manusia-manusia yang sangat jahat," katanya "bahwa mereka baru binasa sekarang sebenarnya sudah terlalu terlambat." Sehabis berkata begitu, ia mengawasi kedua Kiam kek muda dari Koen loan pay. Paras muka Ko Cek Seng dan Chio Tauw pucat seperti kertas, tapi merekapun bales mengawasi, tanpa mengunjuk rasa keder.
Melihat cara bagaimana Coei San telah membinasakan dua pemimpin dari dua partai persilatan yang ternama, Coei San kaget bukan main dan sugguh-sungguh ia tak dapat mengukuri betapa tinggi kepandaian orang itu. Sekarang melihat Cia Soen mengawasi kedua Kiam kek Koenloen ia merasa sangat berkuatir akan keselamatan kedua orang muda itu.
Buru-buru ia bangun berdiri dan berkata: "Cia Cianpwee, menurut katamu sendiri, orang-orang yang telah dibinasakan olehmu adalah manusia-manusia jahat yang pantas dibunuh. Tapi, jika kau sendiri membunuh manusia secara sembarangan. maka kaupun tiada banyak bedanya dengan orang orang yang dikatakan jahat olehmu."
"Tidak banyak bedanya?" menegas Cia Soen sambil tertawa-tawa. "Kepandaianku tinggi kepandain mereka rendah. Yang kuat menjatuhkan yang lemah. Itulah perbedaannya."
"Manusia bukan binatang dan manusia yang wajar harus dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah," kata pula Coei San. "Jika seorang menindih yang lemah dengan hanya mengandalkan kekuatannya, tanpa memperdulikan benar atau salah, maka orang itu tiada bedanya dengan binatang"
Cia Soen tertawa berkakakan. "Apa benar dalam dunia ini terdapat apa yang dinamakan salah atau benar?" tanyanya dengan nada mengejek. "Orang yang berkuasa pada jaman ini adalah bangsa Mongol. Mereka sering berbuat sewenang wenang. Apakah dalam melakukan perbuatan-perbuatan itu, mereka bersedia untuk bicarakan soal benar atau salah denganmu?"
"Memang benar, mereka tak memperdulikan benar atau salah," jawab Coei San. "Tapi juga benar, bahwa segenap pencinta negeri siang malam mengharap-harapkan datangnya kesempatan untuk mengusir kawanan penjajah itu."
Cia Soen menyeringai, "Huh ! Sekarang kita bicara saja mengenai orang Han sendiri," katanya. "Dulu, pada waktu orang Han duduk diatas tahta, apa dia menggubris soal benar atau salah dalam sepak terjangnya? Gak Hoei adalah seorang menteri setia. Tapi mengapa ia dibunuh oleh Song ko cong? Cin Kwee dan Kee Soe To adalah menteri-menteri dorna, Tapi mengapa mereka dapat memanjat kedudukan tinggi dan hidup dalam kemuliaan dan kemewahan?"
"Kaizar-kaizar Lam song (kerajaan Song Selatan) telah menggunakan manusia-manusia pengkhianat dan membinasakan menteri menteri setia, antaranya Gak Hoei, sehingga kerajaan rubuh dan negeri jatuh kedalam tangan bangsa lain," kata Coei San. "Dalam hal ini dapat kita katakan, bahwa kaizar-kaizar itu telah mendapat buah yang jahat karena menyebut bibit kejahatan. Inilah kejadian yang membuktikan adanya perbedaan antara salah dan benar."
Cia Soen bersenyum dan berkata dengan suara duka: "Thio Ngohiap, kau mengatakan, bahwa kaizar-kaizar itu telah mencicipi buah sebab perbuatannya yang jahat dan kejam. Sekarang aku ingin menanya: Apakah dosanya rakyat jelata sehingga mesti menderita terus menerus, mesti mengalami tindasan?"
Coei San tak dapat menjawab ia hanya menghela napas dengan paras muka suram.
"Rakyat sudah terpaksa membiarkan dirinya di persakiti karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk melawan," menyeletuk In So So. "Hal ini adalah hal yang lumrah dalam dunia."
"Itulah sebabnya mengapa kita, orang-orang Rimba Persilatan, telah belajar silat," menyambungi Coei San. "Tujuan kita yang terutama adalah membela keadilan dan menolong manusia yang perlu ditolong, Cia cianpwee adalah seorang enghiong yang jarang ada tandingannya dan dengan memiliki ilmu yang sangat tinggi itu, Cianpwee dapat berbuat banyak sekali untuk umat manusia ?"
"Apa bagusnya membela keadilan" tanya Cia Soen sambil menjebi. "Apa perlunya membela keadilan?"
Coei San kaget tak kepalang. Semenjak kecil ia telah menerima didikan bathin dari gurunya dan pada sebelum belajar silat, ia sudah tahu pentingnya tugas membela keadilan. Dalam alam pikirannya, seorang yang belajar silat secara wajar mempunyai tugas suci itu. Selama hidup, pertanyaan perlu apa membela keadilan belum pernah masuk kedalam otaknya. Maka itu, mendengar perkataan Cia Soen, ia tercengang dan tak dapat mengeluarkan sepatah kata.
Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata: "Membela keadilan... itulah jalan untuk menegakkan keadilan, sehingga perbuatan baik mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat mendapat pembalasan jahat."
Cia Soen jadi tertawa terbahak-bahak. "Omong kosong!" katanya dengan suara nyaring. "Perbuatan baik mendapat pembalasan baik, perbuatan jahat mendapat pembalasan jahat! itu semua omong kosong belaka! Orang-orang Boe tong pay paling suka membaca kitab Cong coe dan sebagai murid Boe tong, kau tentu paham dengan isinya kitab itu."
"Dalam kitab tersebut terdapat kata-kata yang seperti berikut: Dalam dunia ini, Kaizar Oey Tee dianggap sebagai manusia yang berkedudukan paling tinggi. Tapi Oey Tee masih belum dapat menyempurnakan kemuliaannya. Dalam peperangan dilembah To Ok, ia telah mengalirKan darah sampai ratusan li jauhnya. Kaizar Gouw tidak welas asih, Kaizir soen tidak berbakti. Kaizar Ie sempit pemandangannya. Kaizar Tong mengusir majikannya, Boe ong menyerang Tioe, sedang Boe ong menangkap Kiang Lie. Sepanjang sejarah, keenam kaizar itu dianggap sebagai manusia-manusia yang paling mulia. Untuk kepentingan pribadi ahli-ahli sejarah telah memutar balikkan kenyataan-kenyataan secara tidak mengenal malu."
"Sekarang aku mau menanya, Apa artinya perkataan perkataan itu? Oey Tee yang selalu dianggap sebagai seorang nabi, masih dapat membunuh begitu banyak manusia dan mengalirkan darah sampai ratusan li. Jika dibandingkan dengan itu, apa artinya perbuatanku yang hanya membinasakan beberapa manusia saja dan mengalirkan darah yang jauhnya hanya beberapa tindak?"
Coei San tak pernah menduga, bahwa manusia yang macamnya begitu menyeramkan dan sepak terjangnya begitu kejam ganas, dapat menghapal kitab-kitab kuno. Rasa kagumnya jadi semakin besar dan ia berkata dengan sikap menghormat:
"Cia Cianpwee, apa yang barusan dihapal olehmu adalah bagian To tit pian dari kitab Cong coe dan bagian itu dipalsukan orang, bukan ditulis oleh Cong coe sendiri."
"Andai kata benar bagian tersebut ditulis oleh seorang lain tapi yang penting bukan penulisnya." kata Cia Soen "Yang menjadi soal ialah: Apakah tulisan itu beralasan atau tidak?"
"Beralasan terang beralasan juga." jawab Coei San. "Tapi tulisan itu yang menyerang kaizar kaizar jaman dulu, terlalu mencari-cari kesalahan orang dan menurut kesempurnaan dalam dirinya manusia, sedang pada hakekatnya, dalam dunia yang fana ini, tidak ada manusia yang pernah berbuat kesalahan."
Cia Soen mengeluarkan suara dihidung. "kau selalu mencari cari alasan untuk membela orang-orang itu," katanya. "Dalam kitab Kit bong soe terdapat tulisan seperti ini: Soan mengusir Giauw di Pang yang. Ek dibunuh oleh Kit. Dalam kitab Siang sie Tong cek terdapat kata kata: Tong mengusir Kiat di Lam co dan perbuatan itu sangat mengurangkan kemuliaannya Nah, lihatlah! Bukankah kedua kitab terang-terang mengunjuk, bahwa kaizar-kaizar jaman dulu yang begitu dimulaikan sebenarnya tidak begitu mulia ?"
Coei San kembali bengong untuk beberapa saat." Aku seorang yang berpengetahuan dangkal dan belum pernah membaca kitab-kitab" katanva "Tapi halnya kaizar-kaizar itu terjadi dijaman purba, sehingga benar tidaknya tak dapat diketahui dengan pasti."
"Baiklah, Jika begitu, sekarang bicarakan saja kejadian-kejadian yang belakangan," kata Cia Soen "Tadi, kau mengatakan, bahwa perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat akan mendapat pembalasan jahat. Tapi kenyataannya tidak selamanya begitu Cong-coe berkata seperti berikut: Benda diluar selamanya belum dapat dipastikan. Maka itulah, Liong Hong dibinasakan. Pie Kan binasa, Kie Coe jadi gila. Ok Lay meninggal dunia. Kiat dan Coe juga habis nyawanya. Orang yang menjadi raja selalu mengharapkan kesetiaan menteri menterinya, akan tetapi menteri setia belum tentu dipercaya. Maka itulah, Ngo Yan menceburkan dirinya disungai. Sedang Tiang Sie binasa di negeri Siok."
"Itulah kata-kata yang ditulis Cong coe. Disamping itu, kau tentu tahu, bahwa Souw Cin telah berhasil mempersatukan enam negara, tapi ia sendiri celaka. Koet Goan seorang menteri setia, tapi belakangan ia sampai membuang diri disungai Bie lo, Han Sin berjasa besar untuk negaranya, tapi tak urung ia binasa didalam penjara. Sekarang marilah tengok orang-orang peperangan, Tang Ngay berhasil merebut Siok han, tapi ahkirnya ia masuk kerangkeng. Atas bantuan Ngo Coe Sie, negeri Gouw menjagoi, tapi Ngo Coe Sie sendiri didesak oleh rajanya, sehingga ia mesti membunuh diri.
"Han ko couw telah merebut dunia (Tiongkok) atas bantuan Han Sin, tapi ia masih tega untuk membunuh Han Sin. Sesudah mengalahkan Tio Coei di Liang peng. Raja Cin berbalik membunuh Pek Kie. Dilihat dari contoh-contoh itu, siapa kata perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik?"
Coei San menghela napas panjang. Ia berduka karena mengingat, bahwa diantara jenderal-jenderal ternama, seperti Teng Ngai, Ngo Coe Sie, Han Sin, Pek Kie, Lie Kong, Man Wan dan lain lain, banyak sekali yang menjadi korban kaizar kaizar kejam.
Sementara itu Cia Soen berkata pula: "Dengan segenap jiwa dan raga. Tay hoe Boen Ciong telah mengabdi kepada Gouw ong Kouw Cian, sehingga Kouw Cian dapat merebut pulang negerinya. Tapi bagaimana akhirnya ? Akhirnya Boen Ciong dibunuh mati oleh Kouw Cian."
"Kay Coe Twie mengikuii Ciong Nyie dalam mengunjungi berbagai negeri, sehingga Ciong Nyie belakangan dapat pulang kenegeri Cin dan menjadi Raja Cin boen kong. Akan tetapi, Cin boon kong bukan saja sudah melupakan jasa-jasa Kay Coe Twie bahkan belakangan ia membakar gunung sehingga Kay Coe Twie mati kebakar."
"Hok Kong bersetia kepada kerajaan Han, tapi sesudah ia mati, kaizar Han membunuh serumah tangganya."
"Pada jaman Sam Kok, Liok Soen telah mengalahkan Lauw Pie dan membakar tenda-tenda tentara yang panjangnya tujuh ratus sehingga menyelamatkan Tong gouw dari kemusnahan. Tapi tak urung Soen Koan bercuriga dan menulis surat berulang-ulang. sehingga karena jengkel ia meninggal dunia."
"Pada jaman Tong, Pang Hiang Lang berhamba kepada Tong thay cong. Ia mengunjuk kesetiaannya, sehingga namanya dipuji tinggi dalam kitab sejarah. Tapi pada akhirnya, seluruh keluarganya tak urung di sapu bersih juga oleh sang kaizar ...."
Dengan bersemangat, terus-menerus Cia Soen memberi contoh-contoh dari sejarah, cara bagaimana menteri setia menjadi korban dalam tangannya kaizar kaizar kejam. Sebagian contoh itu dikenal, sebagian pula tidak dikenal oleh Coei San.
Dari sini dapatlah dilihat betapa dalam pengetahuan Cia Soen mengenai ilmu surat dan pengetahuannya itu bahkan melebihi sasterawan biasa.
Sambil mengawasi ketempat jauh, Coei San merenungkan perundingan itu.
"Hm ..... sekarang kau lihatlah !" kata pula Cia Soen. "Kau lihatlah .. . baik dibalas baik, jahat dibalas jahat, tidak selamanya begitu. Banyak manusia jahat hidup mewah dan berkedudukan tinggi. Kita ambil contoh yang paling terkenal. Han ko couw Lauw Pang adalah manusia kejam. Waktu ia akan perang, untuk menyelamatkan jiwa sendiri, dia melontarkan putera puteri kandungnya kebawah kereta."
"Satu waktu Hang Ie telah menangkap ayahnya dan ia diberitahukan, bahwa daging sang ayah bakal dimasak, Tapi Lauw Pang cukup tega untuk berkata begini: Sesudah dimasak, bagilah sedikit kepadaku untuk dicoba. Tapi manusia kejam, manusia tidak berbakti itu, bukan saja sudah menjadi kaizar, tapi juga berumur panjang dan mati baik-baik diatas pembaringan. Huh! Tong thay tiong membunuh kakak dan adiknya sendiri dan kemudian mendesak ayah andanya sambai begitu rupa, sehingga, mau tidak mau sang ayah terpaksa menyerahkan kedudukan kepada anak durhaka itu."
"Song thay cong pun tidak kalah kejamnya. Ia juga manusia yang telah membunuh saudara sendiri. Dalam kalangan Kang ouw, manusia-manusia begitu dipandang luar biasa jahat. Tapi pembalasan apa yang didapat mereka ?"
"Mengenai kekejaman kaizar-kaizar jaman dulu, apa yang dikatakan Cia Cianpwee memang benar sekali," kata Coei San. "Diantara sepuluh, ada sembilan kaizar yang sangat kejam dan buas. Dengan kekuasaannya yang tidak terbatas, mereka membunuh manusia dan berbuat sewenang-wenang, sesuka hati. Mungkin sekali, dihari kemudian akan tiba temponya, kapan dunia tidak melihat lagi kaizar yang memiliki kekuasaan tidak terbatasi."
"Tapi biar bagaimanapun jua, aku tetap ber pendapat, bahwa perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat akan mendapat pembalasan jahat."
"Menurut pendapatku, tujuan terutama dari hidupnya manusia dalam dunia ina adalah mencari keberuntungan dalam rupa ketenangan jiwa dan kepuasan batin. Dan seseorang barulah bisa merasa beruntung, jika ia tahu, bahwa selama hidupnya, ia telah berbuat banyak kebaikan terhadap sesama manusia."
"Mengenai kaizar-kaizar itu atau menteri-menteri dorna yang banyak mencelakakan manusia, sedikit pun aku tidak percaya, jika dikatakan mereka tidak meadapat pembalasan. Manusia yang bermusuhan dengan ayah atau saudara sendiri bahkan mencelakakannya adalah manusia yang paling tidak beruntung didalam dunia. Bayangkanlah penderitaan batin dari manusia-manusia itu! Mana boleh mereka tidak terhukum? Mereka mungkin terlolos dari hukuman lahir, tapi mereka pasti tidak terlolos dari hukuman batin dan hukuman batin adalah hukuman yang terhebat, karena orang terhukum tidak sedikitpun dapat mencicipi kesenangan dan kepuasan di dalam hatinya. Maka itulah, aku tetap berpendapat bahwa siapa yang menyabar angin pasti akan mendapat taufan."
Sesudah mendengar perundingan yang panjang itu, paras muka Cia Soen agak berubah. Dalam hati kecilnya, ia mengakui kebenaran perkataan pemuda itu. Tapi ia tentu saja sungkan mengaku terang terangan. Sesaat kemudian, sambil mengawasi Coei San dengan sorot mata tajam, ia berkata dengan suara mengejek: "Kudengar gurumu yaitu Thio Sam Hong, berilmu tinggi. Hanya sayang aku belum pernah bertemu dengannya. Kau adalah salah seorang murid terutama dari Thio Sam Hong dan aku merasa menyesal karena mendapat kenyataan bahwa pemandanganmu begitu tolol. Kurasa Thio Sam Hong tiada banyak bedanya denganmu dan aku boleh tak usah pergi menemuinya."
Melihat Cia Soen mempunyai pengetahuan tinggi dalam ilmu surat dan ilmu silat, Coei San merasa sangat kagum. Tapi, karena mendadak orang itu memandang rendah kepada gurunya, yang dipuja olehnya bagaikan malaikat, darahnya lantas saja meluap. "In soe (guruku) memiliki kepandaian sedemikian tinggi, sehingga tak akan dapat diukur oleh manusia biasa," katanya dengan suara keras.
"Ilmu Cianpwee sangat tinggi dan tak dapat dilawan oleh orang-orang muda. Tapi dimata Insoe, Cia Cianpwee hanyalah seorang kasar yang tidak kenal budi."
Mendengar kata-kata itu, In So So kaget bukan main dan buru-buru menarik ujung baju Coei San. Tapi pemuda itu yang sedang panas perutnya, lantas saja berkata: "Seorang laik-laki, jika mesti mati, biarlah mati, tapi tak dapat ia membiarkan gurunya dihina orang"
Diluar dugaan, Cia Soen tidak menjadi gusar. "Thio Sam Hong adalah seorang guru besar dan pendiri sebuah partai yang besar pula," katanya dengan suara tawar. "Mungkin sekali, ia memiliki kepandaian tinggi. Ilmu silat tiada taranya. Bukan tak bisa jadi bahwa jika dibandingkan, kepandaianku tak nempil dangan kepandaiannya. Nanti, di satu hari, aku pasti akan mendaki Boe tong san untuk meminta pelajaran. Thio Ngohiap, ilmu apa yang kau paling mahir? Hari ini aku siorang she Cia ingin menambah pengalaman."
In So So terkejut. Sesudah menyaksikan kepandaian Cia Soen, ia mengerti, bahwa Coei San bukan tandingan orang itu. Maka itu ia lantas saja berkata : "Cia Cianpwee, To liong to sudah jatuh kedalam tanganmu dan semua orang merasa kagum melihat kepandaianmu. Apa lagi yang kau mau ?"
"mengenai To liong to, semenjak dulu telah tersiar beberapa kata-kata yang sampai sekarang belum dapat dipecahkan orang." kata Cia Soen. "Apakah kau tahu bunyi kata-kata itu ?"
"Ya," jawabnya.
"Golok ini katanya sebuah senjata yang paling dihormati dalam Rimba Persilatan dan siapapun juga yang memilikinya, akan dapat memerintah di kolong langit dan tiada manusia yang akan menentangnya," kata pula Cia Soen. "Tapi sampai sekarang, belum ada juga yang tahu, rahasia apa bersembunyi dalam golok ini. Apakah benar orang yang memilikinya dapat memerintah orang-orang gagah dalam Rimba Persilatan ?"
"Cia Cianpwee adalah seorang yang berpengetahuan tinggi dan boan pwee justru ingin menanyakan Cianpwee tentang hal itu," kata si nona.
"Akupun tak tahu," jawabnya. "Sesudah mendapatkan golok ini, aku akan berdiam ditempat yang sepi dan akan menggunakan tempo beberapa tahun untuk mencoba memecahkan teka-teki itu "
"Bagus." kata So So. "Cia Cianpwee mempunyai kecerdasan otak yang melebihi manusia biasa. Jika Cianpwee tidak berhasil, lain orangpun pasti tak akan bisa berhasil."
"Huh huh! Aku si orang she Cia bukan sebangsa manusia sombong," katanya. "Mengenai ilmu surat dan ilmu silat, Kong boen Tay soe Ciang boen jin Siauw lim pay, Thio Sam Hong Too tiang dari Boe tong pay, Tiang loo dari Go bie pay dan Koen loen pay semuanya adalah orang-orang yang berkepandaian sangat tinggi. Mengenai kecerdasan otak, Peh bie Eng ong In Kauwcoe dari Peh bie kauw memiliki kecerdasan otak yang jarang terdapat dalam ratusan abad."
In So So segera bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk: "Terima kasih banyak atas pujian Cianpwee."
"Aku ingin memiliki golok ini, lain orang juga kepingin," kata Cia Soen. "Hari ini dipulau Ong poan san, aku tidak bertemu dengan tandingan. Dalam hal ini, In Kauwcoe sudah salah menghitung. Ia menganggap bahwa Pek Tan coe dan yang lain-lain sudah cukup untuk menghadapi Hay see pay, Kie keng pang dan Sin koen boen. Ia sedikit pun tidak menduga, bahwa siorang she Cia bisa datang kemari."
"Bukan, bukan Kauwcoe salah menghitung," memutus si nona. "Ia tak dapat datang kemari karena mempunyai lain urusan yang terlebih penting."
"Tapi biarpun begitu, bahwa hari ini To liong to sampai jatuh ketanganku, sedikit banyak menurunkan nama besar In Kauwcoe sebagai seorang yang bisa menghitung bagaikan malaikat," kata Cia Soen seraya bersenyum.
Si nona bersenyum dan berkata pula: "Dalam dunia ini, banyak kejadian tidak dapat diperhitungkan lebih dahulu. Enam kali Coekat Boehouw ke luar dari gunung Kie San, tapi ia gagal dalam usahanya untuk mempersatukan seluruh Tiongkok. Tapi, meskipun ia mengalami kegagalan, nama besarnya tidak jadi merosot. Inilah apa yarg dikatakan: Manusia berusaha, Allah yang berkuasa. Cia cianpwee adalah seorang yang luar biasa dan mempunyai rejeki besar. Lain orang bergulat mati-matian untuk merebut golok itu, tapi Cianpwee sendiri sudah dapat memiliknya secara mudah sekali." Sehabis berkata begitu, ia mengawasi Cia Soen sambil bersenyum manis. Ia sudah sengaja mengulur-ulur pembicaraan itu supaya Cia Soen melupakan tantangannya terhadap Thio Coei San.
"Semenjak muncul dalam dunia, entah sudah berapa kali golok ini berpindah tangan dan entah sudah berapa orang binasa karena memilikinya," kata Cia Soen. "Sekarang aku berhasil merebut golok ini. Siapa tahu kalau dikemudian hari tidak muncul seorang yang berkepandaian lebih tinggi dari pada aku"
So So dan Coei San saling melirik. Mereka menganggap, perkataan orang itu mengandung maksud yang dalam. Coei San ingat, bahwa kakak seperguruannya mendapat luka berat karena mempunyai sangkut paut dengan To liong to, dan sampai sekarang mati hidupnya belum dapat dipastikan. Ia sendiri berada dalam bahaya besar dan sebab-sebabnya hanya karena turut melihat golok mustika itu.
Sesudah berdiam sejenak, Cia Soen menghela napas panjang. "Kalian berdua adalah orang-orang yang boen boe coan cay (mahir ilmu surat dan ilmu silat) dan setimpal benar satu sama lainnya, yang satu cantik, yang lain tampan," katanya.
"Jika aku membunuh kalian, aku seolah-olah menghancurkan sepasang Giak kee (alat dari batu giok) yang jarang terdapat dalam dunia. Tapi, didesak oleh keadaan dan kenyataan, tak dapat aku tidak membinasakan kalian."
"Mengapa begitu?" tanya si nona dengan suara kaget.
"Kalau aku pergi dengan membawa golok ini dan meninggalkan kalian dipulau ini, dalam berapa hari saja, orang sedunia sudah tahu, bahwa To liong to berada dalam tanganku," Ia menerangkan.
"Yang ini akan cari aku, yang itu akan cari aku, semua orang akan cari aku. Aku bukan manusia yang tiada tandingan didalam dunia. Yang lain tak usah dibicarakan. Peh bie Eng ong saja belum tentu dapat dirubuhkan olehku."
"Ah! Kalau begitu kau membunuh orang menutup mulutnya!" kata Coei San dengan suara tawar.
"Benar." jawabnya.
"Jika demikian, perlu apa kau mengunjuk kedosaan orang-orang Hay see pay, Kie keng pang dan Sin koen boen?" tanya Coei San.
Cia Soen tertawa berkakakan. "Aku ingin mereka mati tanpa penasaran," jawabnya.
"Hmm . . kau kelihatannya masih mempunyai hati yang baik," kata puji pemuda itu.
"Didalam dunia ini, siapakah yang bisa hidup abadi ?" tanya Cia Soen. "Mati lebih cepat atau mati lebih lama beberapa tahun, tidak banyak bedanya. Kau, Thio Ngohiap, dan In Kouwnio masih berusia sangat muda. Jika hari ini kalian binasa dipulau Ong poan san, memang juga kelihatannya sangat mesti disayangkan. Tapi, ditinjau seratus tahun kemudian, bukankah kebinasaan dihari ini atau meninggal dunia dihari nanti bersamaan saja? Andai kata dahulu Cin Kwee tidak mencelakakan Gak Hoei sehingga panglima besar itu binasa, apakah Gak Hoei bisa hidup sampai sekarang? Yang penting ialah seseorang harus mati dengan hati terang dan tidak merasakan penderitaan. Mika itu, aku sekarang mengajak kalian bertanding secara adil. siapa yang kalah, dialab yang mati. Kalian berusia lebih muda dan aku suka mengalah. Pilihlah dalam ilmu silat dergan senjata, tanpa senjata, Lweekang, senjata rahasia, atau mengentengkan badan, ilmu berenang, kalian boleh pilih dan aku akan mengiringkan."
"Kau sombong sekali," kata sinona. "Apakah kau artikan, bahwa kau bersedia untuk melayani kami dalam ilmu apapun juga?" Suara si nona agak gemetar karena ia tahu, bahwa ia dan Coei San tidak dapat meloloskan diri lagi.
Mendengarkan pertanyaan So So, Cia Soen agak terkejut. Ia adalah seorang yang amat cerdas dan sesaat itu juga, ia lantas saja ingat, bahwa untuk si nona dapat menantangnya dalam ilmu menjahit atau lain lain ilmu kaum wanita yang tidak dimilikinya. Mengingat begitu, ia lantas saja menjawab dengan suara nyaring: "Tantanganku itu terbatas pada ilmu silat. Aku pasti tidak bermaksud untuk bertanding makan nasi, minum arak dan sebagainya yang tidak bersangkut paut dengan ilmu silat." Dilain saat, melihat Coei San mencekal kipas, ia menyambung perkataannya: "Akupun bersedia untuk melayani kalian dalam ilmu boen (ilmu surat). Menulis huruf indah, melukis, memetik khim, main tio kie, menulis syair atau sajak semua boleh. Hanya kita harus berjanji, bahwa pihak yang kalah harus membunuh diri sendiri, Hai! Melihat kalian, sepasang orang muda yang setimpal sungguh untuk menjadi suami isteri, aku merasa sangat tak tega untuk untuk turun tangan."
Mendengar perkataan yang paling belakang itu, paras muka kedua orang muda itu lantas saja berubah merah.
Si nona mengerutkan alis. "Kalau kau yang kalah, apakah kau juga akan membunuh diri?" tanyanya.
"Bagaimana aku bisa kalah?" kata Cia Soen sambil tertawa.
"Dalam pertandingan mesti ada yang kalah dan ada yang menang," kata si nona. "Thio Ngohiap adalah murid dari seorang berilmu tinggi, maka selalu terdapat kemungkinan, bahwa dia akan mengalahkan kau "
Cia Soen tertawa, "Orang yang masih berusia begitu muda, biarpun berkepandaian tinggi tak akan memiliki Lweekang yang cukup dalam untuk dapat menghadapi aku," katanya.
Selagi kedua orang itu bicara, diam-diam Coei San mengasah otak untuk menetapkan ilmu apa yang akan diajukan olehnya. Dalam ilmu surat, dalam mana tercakup seni melukis huruf indah, seni lukis, memetik khim, main tio kie, menulis syair, pengetahuannya masih dangkal. Ilmu apa yang harus diajukannya? Ilmu silat? Ilmu mengentengkan badan? Ilmu silat gubahan gurunya yang berdasarkan Soehoat? Tiba-tiba serupa ingatan berkelebat dalam otaknya dan ia lantas saja berkata: "Cia Cianpwee, karena kau mendesak, maka aku tak dapat tidak mempersembahkan kebodohanku. Jika kalah, aku tentu akan menggorok leher sendiri. Tapi bagaimana, andaikata aku beruntung bisa keluar dengan seri ?"
Cia Soen menggelengkan kepala, "Tak mungkin seri," jawabnya. "Seri dalam pertandingan pertama, kita bertanding pula sampai ada yang menang, dan ada yang kalah."
"Baiklah," kata Coei San. "Andaikata dalam pertandingan ini boanpwee memperlihatkan keunggulan, boanpwee tak berani menuntut apapun jua. Boanpwee hanya ingin memohon supaya Cianpwee sudi meluluskan satu permintaan."
"Aku berjanji untuk meluluskan permintaanmu itu," kata Cia Soen. "Hayolah, katakan saja, dalam ilmu apa kau ingin bertanding."
Melihat begitu, bukan main leganya hati sinona.
"Kau mau bertanding dalam ilmu apa ? Apa kau punya pegangan untuk mendapat kemenangan?" bisiknya.
"Belum tentu," jawabnya.
"Kalau kau kalah, kita coba lari," bisik pula si nona.
Coei San tidak menjawab, ia hanya bersenyum getir. Dengan perahu sudah tenggelam semua dan mereka berada disebuah pulau kecil, kemana mereka mau lari? Ia segera mengikat tali pinggang erat-erat dan mencabut Poan koan pit dari pinggangnya.
"Dalam dunia Kangouw, Gin kauw Tiat hoa Thio Coei San sangat cemerlang dan hari ini aku akan menjajal-jajal dengan Long gee pang." kata Cia Soen,
"Mengapa kau tidak mengeluarkan Lan gin Houw tauw Gin kauw ?"
"Boanpwee bukan ingin bertempur melawan Cianpwee dengan menggunakan senjata," jawabnya dengan sikap hormat.
"Boanpwee hanya ingin sekedar menulis beberapa huruf." Sehabis berkata begitu, ia berjalan kelereng bukit disebelah dimana ia berdiri satu tembok batu yang tinggi dan besar. Ia menarik napas dalam-dalam, menotol tanah dengan kakinya dan badannya lantas saja melesat keatas.
Ilmu ringan badan dari Boe tong pay adalah yang terbaik dalam seluruh Rimba Persilataa. Pada detik mati atau hidup, Coei San telah mengeluarkan seanteto kepandaiannya. Dengan sekali melompat, tubuhnya melesat setombak lebih dan lompatan itu disusul dengan lompatan Tee in ciong kaki kanannya menendang tembok dan badannya kembali terbang keatas kurang lebih dua tombak. Dengan berbareng, Poan koan pit bergerak. "Sret sret sret ....." bagaikan kilat ia sudah menulis huruo , "boe". Baru selesai satu hurup badannya mulai melayang turun kebawah.
Dengan cepat ia mencabut Gin Kauw yang lalu ditancapkan kesebuah lobang kecil ditemboK batu itu. Demikianlah, dengan menggunakan gaetan itu untuk menahan badannya, ia lalu menulis huruf "lim". Ia menulis dengan menggunakan gerakan yang digubah Thio Sam Hong pada malam itu, gerakan-gerakan yang mengandung tenaga Im dan Yang, Kong dan Jioe (negatip dan positip, keras dan lembek) dan semua itu merupakan limn silat tertinggi dari Boe tong pay. Meskipun Lweekang Thio Coei San belum sempurna, sehingga goresan goresan Poan koan pit tidak masuk terlalu dalam ditembok batu itu, tapi kedua huruf itu indah luar biasa, seolah-olah terbangnya naga atau menarinya burung Hong. Sesudah huruf "cie" dan "coen", ia menulis semakin cepat dan dalam sekejap mata, dua puluh empat hurup itu sudah selesai.
Sesudah menulis hurup "hong" yang terakhir, ia menotol tembok dengan Gin kauw dan Poan koan pit dengan berbareng dan dalam suatu gerakan yang indah, badannya melayang turun ke bawah dan hinggap didampingi si nona.
Dengan mulut ternganga Cia Soen mengawasi tiga baris huruf huruf itu yang setiap hurufnya sebesar gantang. Sesudah lewat sekian lama, ia menghela napas saraya berkata: "Aku tak dapat menulis seperti itu. Aku kalah."
Ia tentu saja tak tahu, bahwa Thio Sam Hong berhasil menggubah lima silat yang sangat luar biasa itu sesudah mengasah otak seluruh malam dan pada waktu bersilat, ia telah menumplek seluruh semangat dan pikirannya. Andai kata Thio Sam Hong sendiri yang harus menulis huruf-huruf itu diatas tembok itu, belum tentu ia bisa menulis begitu indah dan bertenaga, jika tidak di sertai dengan semangat dan pemusatan pikirannya yang sesuai. Cia Soen tentu saja tak tabu, bahwa dua puluh empat huruf itu serupa ilmu silat. Ia hanya menduga, bahwa karena melihat To liong to, Coei San sudah ingat perkataan yang tersiar mengenai golok itu dan lalu menulisnya. Ia tak pernah mimpi, bahwa apa yang mampu ditulis oleh Coei San hanyalah dua puluh empat huruf itu.
In So So girang bukan kepalang. "Kau kalah, kau tak boleh mungkir dari janjimu!" teriaknya.
"Thio Ngohiap, ilmu yang mempersatukan Boe hak dengan Soe hoat (ilmu silat dengan ilmu huruf-huruf bagus) baru sekarang dilihat olehku," kata Cia Soen. "Aku sungguh merasa kagum."Perintah apa yang kau mau memberikan ke padaku?"
"Boanpwee adalah seorang muda yang berkepandaian cetek, mana berani boanpwee memberi perintah kepada Cianpwee?" jawabnya sambil membungkuk. "Boanpwee hanya ingin memberanikan hati untuk mengajukan satu permohonan."
"Permohonan apa?" tanya Cia Soen.
"Aku mohon supaya Cianpwee suka mengampuni jiwa semua orang yang berada dipulau ini," jawabnya. "Cianpwee dapat memerintahkan supaya mereka bersumpah untuk tidak membuka rahasia, bahwa To liong to berada dalam tanganmu."
"Aku belum begitu edan untuk percaya sumpahnya manusia." kata Cia Soen dengan mata melotot.
"Apa kau mau menarik pulang janjimu sendiri?" tanya si nona. "Bukankah kau sudah herjanji, bahwa jika kalah, kau akan meluluskan permintaan Thio Ngoko?"
"Kalau aku tidak pegang janji, mau apa kau?" bentak Cia Soen. Sesaat itu ia rupanya menginsyafi kekeliruannya, karena ia segera menyambung perkataannya: "Jiwa kalian berdua sudah kuampuni. Yang lain tidak bisa."
"Kedua Kiam kek Koen loen pay adalah murid murid dari partai yang ternama dan mereka belum pernah melakukan perbuatan jahat," kata Coei San.
"Jangan rewel!" bentak Cia Soen. "Dimataku, baik dan jahat tiada bedanya. Lekas robek ujung baju kalian dan sumbatlah kuping kalian. Tutup kuping keras-keras dengan kedua tangan. Jika kalian menyayang jiwa, turut perintahku." Ia bicara separuh berbisik, seperti takut didengar orang.
Coei San dan So So saling mengawasi dengan perasaan heran. Tapi karena melihat Cia Soen bicara sungguh-sungguh mereka merobek ujung tangan baju yang lalu digunakan untuk menyumbat kuping dan kemudian mereka menutup kuping dengan kedua tangan.
Tiba2 Cia Soen membuka mulut lebar2 seperti orang berteriak dan mendadak mereka merasa bumi goyang-goyang. Hampir berbareng orang orang Peh bie kauw, Kie keng pang, Hay see pay dan Sin koen boen berubah paras mukanya seolah olah merasakan kesakitan luar biasa, dan dilain saat, mereka rubuh bergulingan diatas tanah.
Ko Cek Sang dan Cio Tauw kelihatan kaget dan ketakutan, buru-buru mereka bersila dan mengerahkan Lwee kang untuk melawan teriakan itu. Dilihat dari paras muka kedua Kiamkek dan keringat yang turun berketel-ketel dari muka mereka, Coei San dan So So tahu, bahwa Ko Cek Seng dan Cio Tauw sedang mengeluarkan seantero tenaganya. Beberapa kali, mereka mengangkat tangan untuk menutup kuping, tapi selalu gagal dan tangan mereka sudah diturunkan lagi sebelum menyentuh kuping.
Sesaat kamudian, Coei San merasa tubuhnya bergoyang keras dan hampir berbareng, tubuh Ko Cek Seng dan Cio Tauw melesat keatas kira-kira setombak akan kemudian rubuh ditanah tanpa bergerak lagi.
Cia Soen segera menutup mulutnya dan memberi isyarat supaya Coei San dan So So membuka sumbat kuping.
"Sebagai akibat dari teriakanku, mereka pingsan untuk sementara waktu," katanya. "Sebentar, sesudah tersadar, urat syaraf mereka yang rusak tidak dapat pulih lagi seperti biasa dan mereka menjadi gila. Mereka tak ingat apa yang sudah terjadi disini. Thio Ngohiap, kau minta aku mengampuni jiwa semua orang yang berada dipulau ini dan permintaan itu telah dipenuhi olehku."
Coei San bengong dan tidak dapat mengeluarkan sepatah kata. Ia bergusar dan berduka, tapi tidak berdaya. Biar bagaimanapun jua, kepandaian Cia Soen yang sangat luar biasa itu harus dikagumi. Ia juga akan mengalami nasib seperti yang lainnya. Dengan perasaan tidak keruan rasanya ia mengawasi Ko Cek Sang, Cio Tauw, Pek kwie Sian dan lain-lain, yang rebah ditanah dengan paras muka pucat bagaikan mayat.
"Mari kita berangkat," kata Cia Soen dengan suara tawar.
"Kemana?" tanya Coei San.
"Pulang!" jawabnya. "Urusan di Ong poan san sudah beres. Perlu apa berdiam lama-lama disini"
Sehabis berkata begitu, ia mengajak kedua orang muda itu pergi kesebelah barat pulau, kebelakang sebuah bukit kecil, darimana mereka lihat sebuah perahu dengan tiga tiang layar yang berlabuh disebuah muara kecil. Perahu itu adalah perahu Cia Soen.
Begita tiba dipinggir perahu, Cia Soen berkata sambil membungkuk: "Aku mengundang Jiewie naik keperahu."
"Hm! Sekarang kau berlaku mulia sekali." kata So So seraya ketawa dingin.
"Dalam perahuku, kalian adalah tamu-tamu yang terhormat, sehingga aku harus memperlakukan kalian dengan segala kehormatan," jawabnya.
Ia memberi isyarat kepada anak buahnya yang segera mengangkat jangkar dan perahu lantas saja berangkat.
Diperahu itu terdapat enambelas atau tujuhbelas anak buah, tapi waktu memberi perintah perintah kepada mereka juru mudi hanya menggerak gerakkan kaki tangannya, seokah-olah semua anak buah gagu dan tuli.
Si nona merasa heran dan berkata : "Kau pintar sungguh, bisa mendarat anak buah yang tuli gagu"
Cia Soen tertawa. "Apa sukarnya?" jawabnya. "Aku hanya perlu cari orang-orang yang buta huruf, menusuk telinganya, memberi obat kepada nya dan segala apa sudah beres."
Mendengar keterangan itu, bulu roma Coei San bangun semua dan ia mengawasi Cia Soen dengan sorot mata gusar.
Tapi So So menepuk-nepuk dan tertawa nyaring : "Bagus! Bagus!" katanya. "Tuli dan gagu juga buta huruf. Hmm! Rahasiamu yang bagaimana besarpun pasti tak akan dibocorkan mereka, Hanya sayang, kau masih memerlukan mereka untuk menjalankan perahu. Kalau bukan begitu, bukankah kau akan membuta kan juga mata mereka?"
Coei San melirik si nona dan menegur dengan suara mendongkol : "In Kauwnio, kau adalah seorang gadis baik-baik, tapi mengapa kau begitu kejam? Kejadian itu adalah kejadian yang sangat mendukakan dan aku sungguh tak mengerti, bagaimana kau sampai hati untuk mengatakan begitu."
So So sudah membuka mulutnya untuk bertengkar, tapi ia mengurungkan niatnya, karena Coei San kelihatannya sudah gusar sungguhan
"Dikemudian hari, sesudah kembali didaratan Tiongkok, aku akan menusuk mata mereka," kata Cia Soen dengan suara dingin.
Sementara itu, layar sudah naik dan perahu melaju semakin cepat.
"Cia Cianpwee, bagaimana orang-orang yang berada dipulau Ong poan san." tanya Coei San. "Kau sudah menenggelamkan semua perahu. Cara bagaimana mereka bisa pulang? "
"Thio Ngohiap," jawabnya, "kau adalah seoraug yang berhati mulia, hanya kau bawel sekali, seperti nenek bangkotan. Biarlah mereka mampus sendiri, bagaikan impian dimusim semi yang tiada bekasnya, Apakah itu bukan kejadian yang bagus sekali?"
Coei San segera menutup mulutnya, karena ia tahu, bahwa terhadap manusia yang kejam itu, ia tak dapat berunding lagi. Ia menunduk dan menghela napas perlahan. Ia ingat, bahwa selama beberapa tahun, Boe tong Cit hiap malang melintang didunia Kangouw dan selalu berada diatas angin. Tapi sekarang, diluar dugaan, ia mesti menunduk dibawah pengaruh orang, tanpa dapat melawan, Hatinya jengkel, pikirannya kusut dan ia memandang ketempat jauh tanpa meladeni Cia Soen dan So So.
Tak lama kemudian, tampak seorang pelayan membawa makanan dan menuang arak ditiga cawan. "Sebelum bersantap aku ingin memetik khim guna menghibur tetamuku yang terhormat," kata Cita Soen. "Disamping itu aku ingin minta petunjuk-petunjuk Thio Siangkong dan In Kauwnio,"
Sehabis berkata begitu, ia mengambil sebuah khim dari dinding gubuk perahu dan lalu memetiknya. Dalam seni musik, Coei San tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam dan ia tidak mengenal lagu yang dimainkan. Ia hanya merasa bahwa lagu itu sangat sedih, semakin lama semakin menyayat hati, sehingga pada akhirnya, tak dapat mempertahankan diri lagi dan lalu mengucurkan air mata.
Tiba-tiba, dengan sekali menggaruk dengan lima jarinya, suara tetabuhan itu berhenti. "Aku sebenarnya ingin menghibur kalian, tapi tak dinyana Thio Siangkong berbalik sedih," katanya sambil tertawa getir." Untuk kesalahanku itu aku harus didenda dengan secawan arak,"
Ia mengangkat cawan dan meneguk isinya.
"Lagu apa yang barusan diperdengarkan Cia Cianpwee?" tanya Coei San.
Cia Soen mengawasi So So, seperti juga ingin meminta supaya nona itu yang menjawabnya. Tapi sinona menggelengkan kepala.
"Apakah kau pernah mendengar riwayat Kie Kong dari jaman Cin?" tanya Cia Soen. "Inilah baru yang diperdengarkannya waktu ia mau dihukum mati."
"Lagu Kong leng san?" tanya Ceil San dengan suara terkejut.
"Benar," jawabnya.
"Sepanjang sejarah, semenjak Kie Kong meninggal dunia, lagu ini sudah tidak terdapat dalam dunia," kata pula pemuda itu. "Bagaimana Cianpwee bisa mendapatkannya ?"
Cia Soen tertawa dan paras mukanya yang berseri-seri mengunjuk, bahwa hatinya senang sekali. "Kie Kong manusia keras kepala, adatnva mirip-mirip dengan adatmu." katanya. "Pada jaman itu, Ciong Hwee berpangkat tinggi dan mendengar nama besarnya Kie Kong, ia telah mengunjunginya. Tapi Kie Kong tidak meladeninya dan terus memukul besi yang sedang dikerjakannva. Ciong Hwee mendongkol dan lantas saja berlalu. Ia adalah seorang yang sangat pintar dan berkepandaian tinggi, hanya sayang, pemandangannya terlalu sempit. Sikap Kie Kong dianggapnya suatu hinaan yang tidak dapat diampuni dan secara licik, ia lain menggosok-gosok Soema Ciauw dengan mengatakan, bahwa Kie Kong telah bicara jelek tentang Soema Ciauw itu. Dengan gusar, Soema Ciauw menjatuhkan hukuman mati atas diri Kie Kong. Sebelum dibunuh, ia memetik khim dan memperdengarkan lagu Kong leng san. Sesudah selesai, ia berkata: Mulai hari ini Kong leng san tak akan dapat didengar lagi dalam dunia. Menurut pendapatku, kata-kata itu sangat memandang rendah kepada orang-orang yang hidup dijaman belakangan. Ia hidup dijaman Samkok. Menurut perhitunganku, mungkin sekali lagu itu tidak tersiar pula sesudah jaman itu. Tapi aku tak percaya Kong leng san tidak dikenal orang pada sebelum jaman Samkok."
Thio Coei San tidak mengerti apa maksudnya keterangan itu dan ia lalu minta penjelasan.
"Perkataan Kie Kong menimbulkan rasa penasaran dalam hatiku," menerangkan pula Cia Soen. "Aku segera membongkar kuburan-kuburan menteri-menteri besar dari kerajaan Tong han dan sesudah membongkar duapuluh sembilan kuburan akhirnya aku berhasil menemukan lagu Kong leng san dalam kuburan, Coa Yong" Sehabis menerangkan begitu, ia tertawa terbahak-bahak dengan kegirangan besar.
Coei San terkejut. "Orang ini benar-benar tak mengenal Tuhan," katanya didalam hati. "Hanya karena sepatah kata yang diucapkan oleh seorang dijaman dulu, dia rela menjadi pembongkar kuburan. Andai kata ada orang yang berdosa terhadapnya, ia pasti membalas sakit hati sehebat-hebatnya"
waktu mendongak, ia lihat sebuah lukisan yang tergantung didinding gubuk perahu. Dilihat dari warnanya yang sudah agak suram, lukisan San Coei (gunung dan air) itu sudah tua sekali, tapi lukisannya sendiri hidup, indah dan angker luar biasa.
Melihat pemuda itu mengawasi tanpa berkesip Cia Soen segera berkata: "Lukisan itu adalah buah tangan Thio Ceng Yoe dari jaman kerajaan Liang. Aku telah mencurinya dari istana kaizar. Menurut orang, kalau melukis naga, ia tak pernah melukis mata naga itu, sebab, jika dilukis, gambar naga lantas saja hidup dan terbang kelangit sesudah mendobrak tembok. Tentu saja cerita itu omong kosong belaka dan hanya digunakan untuk memberi pujian kepada lukisan naga Thio Ceng Yoe yang indah luar biasa. Menurut pendapatku, duapuluh empat huruf yarg ditulis olehmu ditembok batu tidak kalah indahnya dari lukisan San soei itu."
"Boanpwee hanya mencorat coret secara serampangan, mana bisa dibandingkan dengan pelukis kenamaan dijaman dulu" Coei San merendahkan diri.
Demikianlah, mereka beromong omong tentang sastra dan lain-lain ilmu jaman dulu dan jaman sekarang dengan tuan rumah bicara sebagai seorang sasterawan besar. Coei San merasa sangat kagum akan pengetahuan Cia Soen, tapi hatinya tetap diliputi kegusaraaan karena mengingat kekejaman orang itu. Beberapa lama kemudian, ia mulai merasa sebal dan lalu memandang keluar jendela, dengan membiarkan si nona bicara terus dengan tuan rumah.
Tiba-tiba ia lihat matahari sore yang tengah menyelam ditepian laut dan yang memancarkan sinar emas yang gilang gemilang. Selagi mengawasi dengan pikiran melayang layang, mendadak ia terkejut. "Mengapa matahari menyelam disebelah balakang perahu ?" tanyanya didalam hati. Ia menengok seraya berkata : "Cia cianpwee, juru mudimu telah mengambil jalanan yang salah. Kita menuju kearah timur."
"Tidak salah, kita memang sedang menuju ke timur," jawabnya.
In So So juga kaget. "Disebelah timur adalah lautan besar. Kemana kita mau pergi?" tanyanya.
Cia Soen tidak segera memberi jawaban, tapi pelan-pelan menuang secawan arak dan lain mengendus endusnya dengan paras muka berseri-seri."Arak ini adalah Lie tin, Tin cioe dari Siauwhin," katanya sambil bersenyum. "Usianya paling sedikit sudah dua puluh tahun dan Jie wie tak boleh memandang rendah."
"Aku bukan bicarakan soal arak," kata si nona dengan suara tidak sabaran. "Perahu salah jalan dan kau harus memerintahkan jurumudi memutar kemudi."
"Bukankah waktu masih berada di pulau Ong poan san aku sudah memberitahukan kalian seterang-terangnya?" kata Cia Soen, "Sesudah mendapatkan To liong to, aku ingin mencari sebuah tempat yang terpencil, dimana aku bisa menggunakan tempo beberapa tahun untuk coba memecah kan teka teki sekitar golok mustika itu. Aku ingin mencari tahu, mengapa To liong to dikatakan sebagai senjata yang paling dihormati dalam Rimba persilatan dan apa benar pemiliknya dapat menguasai segenap orang gagah dikolong langit, Daratan Tiong-goan adalah tempat yang sangat ramai. Begitu lekas orang tahu bahwa aku memiliki golok itu, mereka ramai ramai tentu akan menyateroni untuk coba merebutnya dari tanganku. Dengan adanya gangguan itu, mana bisa aku memusatkan pikiran? Kalau yang datang pentolan-pentolan seperti Thio Sam Hong Sianseng atau Peh bie kauwcoe atau yang lain lain, belum tentu aku dapat menandinginya. Itulah sebabnya, mnengapa aku ingin cari sebuah pulau yang kecil dan terasing ditengah-tengah lautan, guna dijadikan tempat tinggalku selama beberapa tahun."
"Kalau begitu, kau antarkan kami pulang lebih dulu," kata So So.
Cia Soen tertawa. "Begitu lekas kalian kembali di Tiong goan, apakah rahasiaku tidak menjadi bocor?" tanyanya.
Mendadak Coei San melompat dan berseru dengan suara keras: "Habis apa yang kau mau?"
"Aku tak dapat berbuat lain daripada meminta kalian berdiam bersama-sama aku dan melewati hari-hari secara riang gembira selama beberapa tahun," jawabnya. "Begitu lekas aku dapat menembus rahasia To liong to, kita bertiga segera kembali kedaratan Tiong goan bersama-sama."
"Bagaimana kalau sampai sepuluh tahun kau masih juga belum berhasil?" tanya pula Coei
"Kalian harus mengawani sehingga sepuluh tahun," jawabnya dengan tenang. "Andaikata seumur hidup, aku tidak berhasil, kalianpun harus menemani aku seumur hidup."
"Kau adalah sepasang orang muda yang setimpal dan aku mengerti, bahwa kalian mencintai satu sama lain. Nah ! Kalian boleh menikah dan berumah tangga dipulau itu. Apa itu tidak cukup menyenangkan ?"
Coei San gusar bukan main. "Jangan ngaco kau !" bentaknya.
Ia melirik So So dan ternyata si nona sedang menunduk dengan paras muka kemalu-maluan. Ia bingung bukan main. Ia merasa, bahwa ia tengah menghadapi beberapa lawan yang tangguh dengan berbareng. Cia Soen lawan pertama, si nona lawan kedua, sedang dirinya sendiri merupakan lawan ketiga. Dengan berdampingan dengan wanita cantik itu, belum tentu ia dapat menguasai diri terus menerus.
Terdapat kemungkinan besar sekali, bahwa pada akhirnya, ia akan rubuh dibawah kaki In SoSo.
Memikir begitu, sambil menahan amarah ia segera berkata: "Cia Cianpwee, aku adalah seorang yang selamanya memegang teguh kepercayaan. Aku pasti tidak akan membocorkan rahasia Cianpwee. Aku bersumpah, bahwa aku takkan bicara dengan siapapun jua tentang kejadian dihari ini."
"Aku percaya segala perkataanmu," kata Cia Soen "Thio Ngohiap adalah seorang pendekar yang kenamaan dan setiap perkataanmu berharga ribuan tail emas. Hanya sayang, pada waktu berusia dua puluh lima tahun, aku pernah bersumpah berat. Lihatlah jeriji tanganku."
Ia mengangkat tangan kirinya dan mementang jari-jarinya. Ternyata, ditangan itu hanya ketinggalan tiga jeriji.
Dengan paras muka dingin, Coei San berkata pula: "Pada tahun itu, seorang yang paling dipercaya dan paling dihormati olehku, telah menipu dan mencelakakan aku, sehingga namaku rusak, rumah tangga berantakan, anggauta-anggauta keluargaku binasa dalam sekejap mata. Waktu itu, aku membacok jari tangan dan bersumpah, bahwa selama hidup, tak nanti aku percaya manusia lagi. Sekarang aku berusia empatpuluh lima tahun. Selama duapuluh tahun, aku ingin bergaul dengan kawanan binatang. Aku percaya binatang, tidak percaya manusia. Selama duapuluh tahun, aku membunuh manusia, tidak membunuh binatang."
Coei San bergidik. Sekarang ia mengerti, mengapa lagu Ko leng san begitu menyayat hati dan mengapa, biarpun berkepandaian sangat tinggi, nama orang itu tidak dikenal dalam dunia Kangouw. Sekarang ia mengerti, bahwa kejadian hebat yang terjadi pada dua puluh tahun berselang, telah mengubah sifat-sifatnya Cia Soen. sehingga dia membenci dunia dan segenap penghuninya. Dengan munculnya pengertian itu, rasa gusarnya agak mereda dan didalam hatinya malah timbul rasa kasihan. Sesudah bengong sejenak, ia berkata dengan suara halus: "Cia Cianpwee, bukankah sakit hatimu sudah terbalas ?"
"Belum" jawabnya. "Ilmu silat orang yang mencelakakan aku, luar biasa tinggi dan aku tak dapat melawannya."
Tanpa merasa, hampir berbareng, Coei San dan So So mengeluarkan suara tertahan: "Masih ada manusia yarg lebih lihay dari padamu?" tanya si nona. "Siapa dia?"
"Perlu apa aku memberitahukan namanya kepadamu?" Cia Soen balas menanya. "Jika bukan karena gara-gara sakit hati ini, apa perlunya aku marebut To liong to? Guna apa aku berusaha untuk memecahkan teka teki sekitar golok itu? Thio Ngohiap, begitu bertemu denganmu, aku lantas saja merasa suka. Jika menuruti kebiasaanku, siang-siang jiwamu sudah melayang. Bahwa aku membiarkan kalian hidup beberapa tahun lebih lama sebenarnya sudah melanggar kebiasaanku, sehingga mungkin sekali, pelanggaran itu akan mengakibatkan kejadian yang tidak baik bagi diri ku."
"Apa artinya perkataanmu?" menegas So So "Mengapa kau mengatakan, hidup beberapa tahun lebih lama?"
"Sesudah aku berhasil memecahkan rahasia To liong to, pada waktu mau meninggalkan pulau itu aku akan mengambil jiwamu," jawabnya dengan tawar. "Satu hari belum berhasil, satu hari kalian masih boleh hidup."
Si nona mengeluarkan suara dihidung. "Hmm! Menurut pendapatku, golok itu hanyalah golok yang berat luar biasa dan tajam tuar biasa," katanya. "Kata-kata tentang siapa yang memilikinya akan menguasai orang-orang gagah di kolong langit rasanya hanya omong kosong belaka."
"Kalau benar begitu, biarlah kita bertiga berdiam dipulau itu seumur hidup," kata Coei San. Tiba-tiba menghela napas dan paras mukanya diliputi dengan awan kedukaan.
Perkataan si nona kena tepat pada hatinya. Memang mungkin sekali To liong to hanya sebuah golok yang tajam dan jika benar sedemikian, sakit hatinya yang sangat besar tidak akan dapat dibalas lagi.
Melihat paras Cia Soen yang penuh dengan kesedihan, Coei San ingin coba menghibur. Tapi sebelum ia keburu membuka mulut, Cia Soen su dah meniup lilin seraya berkata: "Tidurlah !" ia kembali menghela napas dan suara helaan napas itu kedengarannya bukan seperti suara manusia, tapi bunyi binatang yang sudah menghembuskan napasnya yang penghabiskan. Dan suara yang menyeramkan itu jadi lebih menyeramkan lagi karena bercampur dengan arus ombak ditengah lautan. Mendengar itu jantung Coei San dan So So memukul keras.
Angin laut yang dingin menderu deru. Sesudah lewat beberapa lama, si nona yang hanya mengenakan selembar pakaian tipis, tak dipat mempertahankan diri dan ia mulai menggigil.
"In kauwnio, apa kau dingin?" bisik Coei San "Tak apa." jawabnya.
Coei San segera membaka jubah panjangnya dan berkata: "Kau pakailah."
Sinona merasa sangat berterima kasih. "Tak usah, kau sendiri juga kedingnan," Ia menolak sambil memaksakan diri untuk bersenyum. Tapi biarpun mulutnya menolak. tangannya menyambuti juga jubahnya itu yang lalu digunakan untuk menyelimuti pundaknya. Begitu merasakan hawa hangat dari jubah itu, ia bersenyum dengan rasa beruntung.
Sementara itu, Coei San sendiri mengasah otak untuk mencari jalan guna meloloskan diri. Sesudah memikir bulak balik, ia berpendapat, bahwa jalan satu-satunya adalah membunuh Cia Soen.
Ia memasang kuping dan diantara suara gelombang, ia mendengar suara mengerosnya Cia Soen yang sudah pulas nyenyak, ia heran dan berkata dalam hatinya: "Orang itu telah bersumpah untuk tidak percaya manusia. Tapi bagaimana ia bisa tidur pulas dalam sebuah perahu bersama sama aku dan In Kauwaio? Apa dia tidak takut aku turunkan taugan jahat? Atau, apakah, karena menganggap kepandaiannya sudah sangat tin6gi, ia tidak memandang sebelah mata kepadaku? Sudahlah ! Biar bagaimanapun jua, aku harus berani menempuh bahaya. Orang ini sudah pasti akan melakukan apa yang dikatakannya. Kalau terlambat, bisa-bisa aku harus menemani dia dipulau kecil sampai masuk dilubang kubur," Memikir begitu, perlahan-lahan ia mendekati In So So untuk membisiki niatannya.
Tapi diluar dugaan, sebelum ia keburu membuka mulut, didalam kegelapan apa mau si nona memutar kepala sehingga tanpa tercegah lagi, bibir pemuda itu menyentuh pipinya.
Tak kepalang kagetnya Coei San! Ia sangat ingin menyatakan kepada sinona, bahwa kejadian itu adalah kejadian kebetutan dan ia sama sekali tidak berniat untuk berlaku kurang ajar tapi mulutnya terkancing dan ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata.
Dilain pihak sinona girang bukan main dan lalu merebahkan kepalanya dipundak pemuda itu. Sesaat itu, So So melupakan segala bahaya yang tengah mengancam dan pada detik itu, ia merasa dirinya, sebagai manusia yang paling beruntung dalam dunia. Tiba-tiba ia dengar bisikan Coei San: "In Kouwnio, aku harap kau tidak jadi gusar."
Dengan paras muka bersemu merah dan dengan suara terputus-putus, ia berkata: "Kau.... menyintai aku.... Aku.... sangat.. girang."
In So So adalah memedi perempuan yang dapat membunuh manusia tanpa berkedip. Tapi dalam keadaan begitu, ia tiada bedanya seperti wanita lain. Jantungnya memukul keras, mukanya panas, rasa malu, kaget dan girang tercampur menjadi satu.
Kalau bukan berada dalam kegelapan, mungkin sekali ia tak berani mengucapkan kata-kata itu yang menumplek isi hatinya kepada pemuda yang dicintainya.
Mendengar jawaban si nona, sekali lagi Coei San terkesiap, ia tidak duga, bahwa permintaan maafnya sudah memancing pengakuan cinta. Biar bagaimana jua, ia adalah manusia biasa, manusia yang masih berusia muda. Maka itu, jantungnyapun memukul keras dan ia jadi bingung bukan main. Tiba-tiba, jiwa kesatrianya memberontak. "Coei San!" Ia mengeluh. "Mengapa kau begitu lemah? Apa kau sudah lupa pesanan In soe?. Biarpun ia mencintai aku dan ia pernah melepas budi kepada Samko, tapi ia seorarg dari agama yang menyeleweng dengan sepak terjangnya yang tidak dapat dibenarkan. Andaikata aku ingin menikah dengannya, terlebih dahulu aku harus memberitahukan In soe untuk minta permisi. Mana boleh aku bercinta-cintaan ditempat gelap?"
Memikir begitu, dengan perlahan ia mendorong tubuh sinona dan berbisik: "Kita harus berusaha untuk menakluki orang itu guna meloloskan diri."
Mendengar bisikan itu, So So terkejut. "Apa?" Ia menegas.
"Biarpun berada dalam bahaya, kita barus bertindak secara tenang," Menerangkan pernuda itu. "Kalau kita menyerang selagi dia pulas, perbuatan kita bukan perbuatan kesatria. Aku akan membangunkannya dan akan menantangnya untuk mengadu kekuatan. Selagi aku bertanding, kau harus melepaskan jarum emas kejalan darahnya. Meskipun kita mengerubuti dan kemenangan kita bukan kemenangan yang gemilang, tapi apa boleh buat, karena ilmu silatnya banyak lebih tinagi daripada kita."
Coei San membisikkan dengan suara yang sangat halus dan bibirnya hampir menempel dengan kuping si nona. Tapi diluar dugaan, baru saja ia selesai, Cia Soen yang tidur digubuk belakang sudah tertawa terbahak-bahak "Kalau kau membokong, mungkin sekali kau masih mempunyai harapan." katanya dengan suara nyaring. "Tapi dengan ingin mengambil jalanan yang terang, untuk mempertahankan nama baik partaimu, kau cari celaka sendiri."
Dilain saat berbareng dengan berkelebatnya bayangan manusia ia sudah berada dihadapan Coei San dan lalu menghantam dada pemuda itu dengan telapak tangannya.
Selagi Coei San bicara, Coei San sudah mengempos semangat dan mengerahkan Lweekang. Begitu lekas lawan menyerang, ia segera menyambut dengan tangan kanannya dan balas mengirim serangan deagan tenaga Bin ciang (Pukulan kapas). Begitu lekas tangannya kebentrok dengan tangan lawan, ia merasa dadanya tergetar dan tenaga lawan menindih hebat bagaikan gelombang.
Sebelum tangan lawan menyambar, Coei San, yang tabu keunggulan orang itu, sudah mengerahkan seluruh Lweekang untuk membela diri. Maka itu, waktu angin pukulan menyambar, ia menarik pulang lengannya kira-kira delapan dim dan dengan garis pembelaan yang lebih pendek itu, ia mendapat banyak keuntungan, sehingga, walau pun Cia Soen terus menambah tenaganya, ia masih dapat mempertahankan diri.
Sesudah mendorong tiga kali, Cia Soen merasa heran, sebab meskipun Lweekang lawannya banyak lebih rendah, tapi ia tidak berhasil untuk menghancurkannya. Ia terus menambah tenaga, tapi Coei San masih tetap dapat mempertahankan diri. Selagi mereka mengadu kekuatan secara mati-matian, papan perahu mengeluarkan suara "krekekkrekek", karena tidak kuat menahan tindihan tenaga kedua orang yang tengah bertanding itu.
Tiba-tiba Cia Soen mengangkat tangan kirinya dan menghantam kepala Coei San, yang buru-buru menangkis dengan tangan kirinya dengan pukulan Hoeu kee kim liang (Memasang penglari emas).
Sesudah kedua-dua tangannya beradu dengan kedua tangan lawan, Coei San merasa dadanya di tindih dengan tenaga Im jioe (tenaga lembek), sedang tenaga yang menindih dari atas kepala adalah tenaga Yang kong (tenaga keras). Bahwa seseorang dapat menyerang dengan dua macam tenaga dengan berbareng adalah kepandaian yang sungguh jarang terdapat dalam Rimba Persilatan. Untung juga ilmu silat Boe tong pay sangat mengutamakan Lweekang, sehingga biarpun kalau dalam pertempuran biasa kepandaian Coei San masih jauh, tapi dalam pertandingan Lweekang sedikitnya untuk sementara waktu, dengan menggunakan "ilmu meminjam tenaga, memidahkan tenaga" dan Sie nio po cia kin, ia masih dapat mempertahankan diri.
Dalam sekejap, keringat membasahi pakaian pemuda itu. "Mengapa In Kauwnio masih belum turun tenaga?" tanyanya didalam hati. "Jika In Kouw nio menyerang, dia pasti akan berkelit dan waktu dia berkelit, aku bisa menggunakan kesempatan untuk menyerang."
Kemungkinan itu juga rupanya sudah diingat oleh Cia Soen sendiri. Waktu baru menyerang, ia menduga, bahwa dengan sekali pukul, ia akan dapat merubuhkan pemuda itu. Tapi diluar dugaan, sesudah seminuman teh, Coei San masih dapat mempertahankan diri. Ia mengerti, bahwa jika sinona turun tangan, ia bisa celaka. Maka itu, sambil bertanding, kedua lawan tersebut terus memperhatikan gerak-gerik In So So.
Karena sedang mengerahkan seluruh Lweekang nya, Coei San tidak berani bicara. Tapi Cia Soen Yang Lweekangnya sudah mencapai puncak tertinggi masih dapat bicara. "nona kecil, aku menasehati kau jangan coba-coba turun tangan," katanya. "Begitu kau melepaskan jarum emas, aku akan segera menghantam dengan sekuat tenaga kecintaanmu tidak dapat hidup lebih lama lagi "
"Cia Cianpwee, tarik pulang seranganmu," kata sinona.
"Kamu akan menghatur maaf?" tanya Cia Soen.
Coei San tidak berani menjawab, karena begitu membuka suara, tenaganya akan habis. Ia mendongkol bukan main karena So So tidak melepaskan jarumnya.
"Cia Cianpwee, lekas tarik pulang tenagamu!" teriak nona In dengan suara bingung "Apa kau mau aku turun tangan?"
Sebenar-benarnya didalam hati Cia Soen pun sangat berkuatir. Didalam kegelapan dan ditempat yang sangat sempit, ia sukar menolong diri, jika si nona menyerang dengan jarum emas yang berjumlah besar dan halus itu, ia juga tidak bisa menangkis jarum-jarum itu dengan kedua tangannya yang tengah beradu deagan kedua tangan Coei San. Maka itu, jika So So menyerang, mungkin sekali mereka bertiga akan binasa atau terluka berat bersama-sama.
Karena adanya kekuatiran itu, ia segera berkata: "Nona kecil, aku sebenarnya tidak mempunyai niatan kurang baik, aku bersedia untuk mengampuni jiwanya, jika kau bersumpah atas nama nya."
sesudah memikir sejenak, So So berkata: "Thio Ngoko, kita bukan tandingan Cia Cianpwee. Tiada lain jalan daripada menurut perintahnya dan menemani dia satu dua tahun. Kurasa, sebagai seorang yang sangat cerdas otaknya, tak sukar untuk Cia Cianpwee memecahkan rahasia To liong to. Ngo ko boleh aku bersumpah atas namamu?"
Coei San tetap tidak berani menyahut. Didalam hati ia mendongkol bukan main karena si nona masih juga tidak mau melepaskan senjata rahasianya.
Melihat kecintaannya terus membungkam, sinona segera berkata: "Aku In So So bersama Thio Coei San berjanji akan mengawani Cia Cianpwee disebuah pulau sampai Cia Cianpwee dapat memecahkan rahasia To liong to. Jika kami mempunyai hati bercabang, biarlah kami mati dibawah pedang atau golok "
Cia Soen tertawa, "Bagi orang-orang Rimba Persilatan, mati dibawah senjata bukan soal penting," katanya.
Si nona menggertak gigi. "Baiklah," katanya dengan suara gusar. "Kalau aku melanggar janji, biarlah aku tidak bisa hidup sampai dua puluh tahun. Apa kau puas?"
Cia Soen tertawa terbahak-bahak dan lalu menarik pulang tenaganya. Begitu lekas tindihan tenaga lawan disingkirkan, Coei San yang sudah habis tenaganya lantas saja rubuh diatas papan perahu. Melihat muka pemuda itu pucat bagaikan kertas dan napasnya tersengai-sengal, bukan main bingungnya si nona yang lantas saja menubruk sambil mengucurkan air mata.
"Murid Boe tong sungguh-sungguh bukan mempunyai nama kosong," memuji Cia Soen. "Tak malu mereka menjagoi dalam Rimba Persilatan diwilayah Tionggoan."
Sementara itu, So So sudah mengeluarkan sapu tangan dan menyusuti keringat yang membasahi Coei San. Melihat si nona menangis sedu sedan, kemendongkolan pemuda itu lantas saja hilang dan didalam hatinya timbul perasaan sangat berterima kasih. Baru saja ia ingin menghaturkan terima kasih, tiba-tiba matanya gelap. Sayup sayup ia mendengar teriakan So So: "Orang she Cia jika kakakku mati, aku akan mengadu jiwa dengan mu!"
Dilain saat dalam keadaan lupa ingat, ia mendengar suara menderunya angin dan badannya terayun-ayun. Mendadak ia merasa badannya basah dan air asin masuk kedalam mulutnya. Sesaat itu juga ia tersadar dan hatinya bingung, karena ia duga perahu itu sedang karam. Cepat-oepat ia bangun berdiri, tapi ia tak dapat berdiri tegak, sebab perahu kembali miring kekiri dan gelombang menghantam perahu. Angin menderu-deru dan gelombang sebesar bukit menerjang dengan saling susul.
Dalam keadaan ribut dan kacau, mendadak ia dengar teriakan Cia Soen: "Thio Coei San, lekas pergi kebelakang perahu dan pegang kemudinya. Tanpa memikir lagi, ia berlari-lari kebelakang perahu. Ombak lagi-lagi menghantam perahu miring kekiri kanan dan sebuah perahu kecil, yang semula ditaruh diatas perahu layar itu, terbang keatas beberapa tombak tingginya, akan kemudian tenggelam kedasar laut.
Sebelum Coei San tiba ditempat kemudi, gelombang-gelombang besar mengamuk, sehingga perahu terputar-putar dan terpental kian kemari. Buru buru ia mengempos semangat dan menancap kedua kakinya dipapan perahu, sehingga meskipun perahu terombang-ambing, badannya tidak bergerak. Beberapa saat kemudian, sesudah serangan gelombang agak mereda, ia merangkak dan dengan kedua tangannya ia memegang kemudi erat-erat.
Sekonyong-konyong terdengar beberapa kali suara gedubrakan yang keras bukan main dan badan perahu bergoyang goyang, Ternyata, dengan menggunakan Long gee pang, Cia Soen telah merubuhkan tiang layar tengah dan depan dan kedua tiang itu bersama-sama kain layarnya yang berwarna putih, jatuh kedalam laut
Topan yang menyerang benar-benar hebat. Meskipun hanya ketinggalan sebuab layar belakang, perahu itu masih tetap miring kian kemari seperti orang mabok arak. Menghadapi serangan alam yang hebat, Cia Soen yang gagah tak berdaya. Ia mengawasi langit dergan paras muka mendongkol dan beberapa kali hampir-hampir ia tergelincir di sapu angin. Akhirnya, dengan apa boleh buat, ia mengangkat pula Long gee pang dan menghantam tiang yang terakhir.
Sesudah semua tiang layar rubuh, perahu itu lantas saja terombang ambing tanpa tujuan. Tiba-tiba Coei San ingat So So. "In Kouwnio!" teriaknya. "Dimana kau? Dimana kau? In Kouwnio !" Ber ulang-ulang ia berteriak, tapi sedikitpun ia tidak mendapat jawaban, sehingga dalam teriakan-teriakan yang belakangan, dalam suaranya terdapat nada seperti orang menangis. Mendadak ia merasa lututnya seperti dipeluk orang dan berbareng, sebuah gelombang yang besar telah menyambar badannya.
Sambil mengempos semangat, ia mencekal kemudi erat-erat, tapi tak urung tubuhnya bergoyang goyang karena dahsyatnya ombak itu. Pada detik itu, orang yang barusan memeluk lututnya sudah merangkul pinggangnya. "Thio Ngoko, terima kasih," demikian terdengar suara So So yang lemah lembut: "Kau sangat memperhatikan keselamatanku."
Coei San girang bukan, main. "Oh, Tuhan ! Terima kasih untuk perlindunganMu!" bisiknya sambil memeluk pinggang sinona.
Angin terus mengamuk dan amarah lautan masih tetap belum mereda.
Diantara pukulan-pukulan gelombang, mendadak Coei San melihat sebuab kenyataan. Ia sekarang mengakui, bahwa didalam bahaya, ia lebih memikiri keselamatan So So daripada keselamatan diri nya sandiri.
"Thio Ngoko, biarlah kita mati bersama-sama," bisik pula si nona.
Dalam keadaan biasa, biarpun kedua orang muda itu menyintai satu sama lain mereka pasti tak akan menumplek isi hati mereka secara begitu cepat dan terang-terangan. Tapi pada saat itu pada detik mereka bersama-sama menghadapi kebinasaan, segala perasaan main dan jengah telah dikesampingkan. Didalam kegelapan dan diantara badai, badan perahu tak hentinya mengeluarkan suara "krekek" dan bisa hancur luluh disetiap saat, tapi didalam hati kedua orang muda itu terdapat rasa beruntung yang tiada batas.
Sesudah mengadu tenaga dengan Cia Soen, Coei San sebenarnya merasa lelah bukan main. Tapi rasa cinta yang kini tengah memenuhi dadanya telah memberi tenaga baru kepadanya. Dengan tangan kanan, mencekal kemudi tangan kiri memeluk pinggang si nona, ia mengempos semangat dan mengerahkan seluruh Lweekang untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan topan dan gelombang.
Semua anak buah perahu sudah habis disapu air. Jika Cia Soen, Coei San dan So So tidak memiliki ilmu tinggi, siang-siang merekapun sudah ditelan laut.
Untung juga, perahu itu sangat kuat buatannya, sehingga, walaupun diserang begitu hebat, tidak sampai jadi berantakan.
Dilain saat, untuk penambahan penderitaan, hujan turun seperti dituang tuang.
Sementara itu, sesudah merubuhkan semua tiang layar, sambil merangkak Cia Soen pergi kebelakang perahu. "Thio Heng tee, terima kasih untuk bantuanmu," katanya. "Serahkan kemudi kepadaku dan pergilah kalian mengaso digubuk perahu."
Coei San lalu menyerahkan kemudi kepadanya dan sambil menuntun tangan si nona, ia menuju kegubuk perahu. Tapi baru berjalan beberapa tindak, se-konyong2 sebuah gelombang, sebesar bukit menghantam dengan dahsyatnya. Karena serangan itu datang secara sangat mendadak,
sekali ini Coei San tidak dapat mempertahankan dirinya lagi. Badan mereka tersapu dan terpental keluar perahu .
Dilain detik tubuh Coei San sudah berada ditengah udara dan melayang turun keatas gelombang! Dalam bingungnya, ia berhasil menjambret pergelangan tangan So So. Pada saat itu, ia hanya ingat untuk binasa bersama dengan si nona
Tapi baru saja tangan kirinya mencekal pergelangan tangan nona In, sekonyong-konyong sehelai tambang menyambar dan melibat lengan tangan kanannya. Hampir berbareng, ia merasa badannya ditarik kebelakang, akan kemudian, bersama sama So So, jatuh diatas papan perahu. Yang menolong mereka adalah Cia Soen sendiri. Pada saat yang sangat genting, Cia Soen menjemput seutas tambang layar yang kebetulan menggetetak didekat kakinya, sehingga pada detik terakhir, jiwa kedua orang muda itu ketolongan.
Itulah kejadian yang sangat diluar dugaan, "Sungguh berbahaya !" mengeluh Cia Soen. Kalau tambang itu tidak kebetulan berada didekatnya, biarpun mempunyai kepandaian yang sepuluh kali lipat lebih tinggi, ia tentu tidak berdaya.
Dengan merangkak, Coei San dan So So lalu masuk kedalam gubuk perahu. Perahu terus ter ombang-ambing, sebentar seperti berada dipuncak gunung dan sebentar seperti masuk kedalam lembah. Tapi bagi mereka yang seolah-olah baru saja bangun dari kuburan, semua bahaya itu tidak ada artinya lagi. "Ngoko," bisik nona In. "Jika kita bisa hidup terus, aku tak mau berpisahan dengan kau untuk selama-lamanya."
"Akupun justeru begin mengatakan begitu," kata Coei San. "Langit diatas, bumi dibawah, diantara manusia dan didasar lautan, kita akan tetap bersama-sama."
Si nona menghela napas. "Benar," bisiknya pula. "Langit diatas, bumi dibawah, diantara manusia dan didasar lautan, kita akan tetap bersama-sama."
Sementara itu, Cia Soen mengemudikan perahu sambil mengomel panjang pendek. Dalam menghadapi badai dan gelombang, kepandaiannya yang sangat tinggi tidak banyak menolong.
Sesudah mengamuk tujuh jam lamanya, barulah topan mereda. Awan hitam perlahan-lahan buyar dan bintang-bintang mulai muncul lagi diatas langit. Coei San dan So So keluar dari gubuk perahu. "Cia Cianpwee, terima kasih banyak untuk pertolonganmu," kata pemuda itu.
"Tak usah rewel," jawabnya. "Kita bertiga hampir-hampir mampus."
Coei San menghela napas dan lain menggantikan memegang kemudi. Sesudah bertahan mati matian hampir semalam Cia Soen pun sudah lelah sekali dan ia segera pergi kegubuk perahu untuk mengaso.
So So duduk didamping kecintaannya dan dongak mengawasi bintang Paktauw yang tengah memancarkan sinaraya. "Ngoko, perahu ini tengah menuju kejurusan utara," katanya.
"Benar," jawabnya. "Aku ingin sekali dia menuju kebarat supaya kita bisa pulang"
"Kalau dia berbalik ketimur, entah kemana kita akan pergi," kata pula nona In.
"Ketimur masuk bilangan samudera," kata Coei San. "Kalau kita berada ditengah lautan tujuh delapan hari saja, tanpa air, kita akan...."
"Kudengar di lautan Tanghay tardapat sebuah pulau dewata," memutus si nona. "Orang kata, dipulau itu terdapat dewa-dewi yang hidup abadi. Siapa tahu, kalau kita mendarat dipulau itu, kita akan tertemu dengan para dewa dan dewi ....."
Sambil mengawasi bima sakti yang membentang dilangit, ia berkata pula: "Mungkin sekali perahu ini akan berlayar terus, sehingga tiba dibimasakti dan kita dapat menyaksikan pertemuan diatas jembatan burung antara Goe Long dan Cit Lie." ( Bima-sakti adalah sehelai sinar terang diwaktu malam yang membentang dilangit, terdiri daripada rangkaian bintang-bintang).
"Ya," kata Coei San. "Kita boleh menyerahkan perahu ini kepada Goe Long, supaya ia dapat menemui Cit Lie disembarang waktu dan tidak usah menunggu Cit gwee Cit sek (tanggal tujuh Cit lie)."
Si nona bersenyum. "Ngoko, jika perahu dihadiahkan kepada Goe long, alat pengangkutan apakah yang dapat digunakan kita jika kita ingin bertemu ?" tanyanya.
"Langit diatas, bumi dibawah, sekali bersama sama, kita telah bersama-sama," jawabnya. "Perlu apa kita menyeberangi bima-sakti ?"
In So So tertawa, paras mukanya seakan-akan sekuntum bunga yang baru mekar Dengan sikap kemalu-maluan, ia mencekal erat-erat tangan Coei San.
Kedua orang mula itu saling mencekal tangan dengan rasa bahagia. Banyak sekali yang ingin dikatakan mereka, akan tetapi, mereka tak tahu apa yang harus dikatakan terlebih dahulu. Memang juga, manakala dua manusia sedang mencintai satu sama lain, kata-kata tidak perlu sama sekali.
Dengan lirikan mata saja, mereka sudah bicara banyak, karena dalam keadaan sedemikian, yang satu tahu apa yang mau dikatakan oleh yang lain.
Entah sudah selang berapa lama barulah Coei San menunduk dan melirik kecintaannya. Ia terkejut, karena kedua mata si nona kelihatan basah dan paras mukanya penuh kedukaan. "Mengapa kau menangis ?" bisiknya.
"Diantara manusia atau dibawah lautan mungkin sekali aku dapat berkumpul dengan kau." jawabnya perlahan. "Tapi dihari kemudian, sesudah kita meninggal dunia, kau masuk di surga, aku... aku ....akan masuk keneraka !"
"Omong kosong!" bentak Coei San dengan suara menyinta.
So So menghela napas dan berkata dengan suara menyesal: "Aku sendiri mengerti ......aku mengakui, bahwa aku telah melakukan banyak sekali perbuatan jahat dan banyak membunuh manusia secara sembarangan."
Coei San terkejut. Diam diam dia merasa, bahwa memang benar dia tidak pantas menikah dengan seorang wanita yang sepak terjangnya menyeleweng seperti So So. Akan tetapi karena rasa cintanya sudah mendalam dan juga sebab dalam menghadapi bahaya besar, orang tidak menghitung hitung kejadian dihari kemudian, maka ia lantas saja membujuk dengan suara lemah lembut:
"Jika kau ingin memperbaiki kesalahanrnu, sekarang masih belum terlambat. Mulai dari sekarang, kau harus berbuat kebaikan guna menebus segala dosamu." So So tidak menyahut. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ia menyanyi dengan perlahan.
Yang dinyanyikannya adalah lagu Sam poyang, sebuah lagu rakyat yang sangat terkenal pada jaman kerajaan Goan. Lagu itu biasa dinyanyikan rakyat dari selatan sampai diutara, hanya kata katanya banyak berbeda satu sama lain.
Sambil menahan napas Coei San mendengar nyanyian itu yang seperti berikut

"Dia dan aku,
Aku dan dia.
Diantara kita, terdapat binyak rintangan.
Bagaimana dapat mencapai sebuah pernikahan?
Akhirnya mati didepan keraton Giam ong.
Ai ya ! Biarkanlah !
Mengambil alu untuk menumbuknya.
Mengambil gergaji untuk menggargajinya.
Mengambil penggilingan untuk menggilingnya,
Mengambil kuali untuk menggorengnya.
Ai ya ! Biarkanlah !
Apa yang terlihat, manusia, hidup mendapat hukuman,
Belum pernah terlihat, setan jadi perantaian.
Ai ya ! Biarkanlah !
Alis terbakar, perhatikan saja mata,
Alis terbakar, perhatikan saja mata."
Nyanyian itu disambut dengan sorak sorai Cia Soen dari dalam gubuk perahu. "Bagus ! Bagus sungguh nyanyian itu !" teriaknya "In Kouwnio, kau lebih menyocoki aku daripada Thio Siang kongmu yang berlagak mulia !"
"Ya, aku dan kau adalah manusia-manusia jahat dan kita pasti akan mati secara tidak baik," kata si nona.
"Kalau kau mati secara tidak baik, akupun begitu," bisik Coei San.
So So kaget tercampur girang. Ia mengawasi pemuda itu dan hanya dapat mengeluarkan sepatah kata: "Ngoko ...."
Pada esokan paginya, dengan menggunakan Long gee pang, Cia Soen membinasakan seekor ikan Yang beratnya belasan kati dan yang dapat menangsal perut selama dua hari. Karena lapar, biar pun ikan mentah, mereka makan dengan bernapsu. Untung toya itu yang dipasangi paku-paku seperti gaetan merupakan alat yang sangat cocok untuk memukul ikan. Biarpun diatas perahu sudah tidak ketinggalan setetes air tawar, tapi dengan menelan minyak dan cairan yang keluar dari badan ikan mereka masih dapat mempertahankan diri.
Arus air terus mengalir keutara dan siang malam, mereka dapat melihat bintang kutub Utara yang memancarkan sinarnya berhadapan dengan kepala perahu.
Diwaktu siang, matahari muncul dari sebelah kiri perahu dan diwaktu sore, menyelam dari sebelah kanan.
Selama belasan hari. keadaan berlangsung seperti itu tanpa perobahan.
Semakin lama hawa udara jadi semakin dingin. Dengan memiliki Lweelang yang tinggi, Cia Soen dan Coei San masih dapat mepertahankan diri. Tapi tidak begitu dengan In So So. Ia kedinginan, sehingga mukanya berubah pucat. Cia Soen dan Coei San membuka jubah panjang mereka dan memberikannya kepada sinona, tapi pakaian yang tidak seberapa tebal itu, tidak banyak menolong.
Dengan sekuat tenaga si nona coba menguatkan diri bertahan dan sebisa-bisanya harus memperlihatkan paras gembira. Tapi Coei San yang tahu, bahwa kegembiraan itu adalah kegembiraan yang dibuat-buat, jadi makin bingung. Ia mengerti, kalau perahu terus menuju keutara beberapa hari lagi, kecintannnya bakal mati ke dinginan.
Tapi benar juga orang kata, Langit tidak memutuskan jalanan manusia.
Secara tidak diduga duga, perahu berpapasan dengan sekelompok biruang dan dengan menggunakan Long gee pang, Cia Soen telah membinasakan beberapa antaranya.
Kulit biruang merupakan selimut hangat, sedang dagingnya dapat dimakan. Tak usah dikatakan, mereka tertiga jadi girang bukan main.
Malam itu, mereka berkumpul dikepala perahu sambil mengawasi langit.
"Bintang apa yang paling berfaedah dalam dunia ini?" tanya So So sambit tertawa.
Cia Soen dan Coei San tertawa geli. "Biruang" jawab mereka hampir berbareng.
Sesaat itu tiba-tiba terdengar suara "ting tung ting tung !"
Serentak meraka memasang kuping, mendadak paras muka Cia Soen berubah pucat. "Es Es yang mangambang !" katanya deagan suara parau. Ia memukul mukul air dengan senjatanya dan terdengar suara terpukulnya kepingan-kepingan es.
Hati mencelos, dingin bagaikan es. Mereka tahu, bahwa jika perahu terus menuju keutara, pada akhirnya dia akan terjepit diantara balokan balokan es dan tidak dapat bergerak lagi. Itu akan berarti, bahwa merekapun tak akan bisa hidup lebih lama lagi. Malam itu mereka tak dapat pulas, kuping mereka terus mendengari "ting tung ting tung" yang tak henti hentinya.
Pada esokan paginya, kepingan-kepingan es sudah jadi lebih besar, sudah sebesar mangkok, sedang suaranya pun makin nyaring, Cia Soen tertawa getir seraya berkata: "Hai! Aku bermimpi ingin membuka rahasia To liong to. Tapi siapa nyana, sebelum berhasil, aku sudah jadi manusia es."
Jantung sinona berdebar debar. Ia mencekal tangan Coei San erat-erat.
Tiba-tiba Cia Soma mengangkat To liong to dan membentak dengan suara gusar. "Paling benar lebih dulu aku mengantarkan kamu kekeraton Raja Naga!" Tapi sudah mengangkat golok, ia tak tega dan sambil menghela napas, ia pergi kegubuk perahu untuk menaruh golok mustika.
Empat hari lewat lagi dan selama empat hari Itu, perahu terus menuju keutara. Balokan es jadi semakin besar, sekarang sebesar meja atau rumah kecil. Mereka merasa, bahwa kebinasaan su dah berada didepan mats dan dalam menghadapi kebinasaan, mereka jadi nekad dan tak mau memikir panjang-panjang lagi. Malam itu kira-kira tengah malam, sekonyong-konyorg terdengar suara gedubrakan dan perahu bergoncang hebat. "Bagus ! Bagus sungguh !" teriak Cia Soen, "Gunung es !"
Coei San dan So So saling mengawasi sambil bersenyum getir. "Inilah saat terakhir!" pikir mereka. Tiba-tiba mereka saling memeluk erat erat. Mereka ingin mati dalam keadaan begitu, dilain saat, mereka merasa air es sampai dilutut. "Tamatlah! perahu sudah pecah !"
Sekonyong-konyong terdengar teriakan Cia Soen: "Naik keatas gunung es! Bisa hidup sehari, biar kita hidup sehari! Langit mau membinasakan aku, aku melawan!"
Kedua orang muda itu tersadar. Buru buru mereka melompat kekepala perahu. Disamping perahu berdiri sebuah gunung es yang dibawah sinar rembulan, memancarkan sinar hijau yang dingin luar biasa. Itulah pemandangan yang indah tapi menakuti.
Cia Soen berdiri disebuah undakan, dibagian bawah gunung es itu, dan ia menyodorkan senjata nya untuk menyambut kedua orang muda itu. Dengan tangan kiri So So menekan Long gee pang bersama sama Coei San, ia melompat naik ke gunung es itu.
Perahu itu ternyata terlubang besar dan selang kira-kira seminuman teh, sudah tenggelam kedalam laut.
Cia Soen segera menggelar selembar kulit biruang diatas es dan mereka bertiga lantas saja duduk dengan berendeng pundak. Jika berada di atas bumi, besar gunung es itu kira-kira bersamaan dengan sebuah bukit kecil, dengan garis tengah kurang lebih delapan belas tombak dan tingginya kira-kira lima tombak.
Cia Soen mendongak sambil mengeluarkan teriak nyaring, seolah-olah sedang menantang musuh, "Berdiam diperahu yang sempit, dadaku menyesak," katanya. "Tempat ini lebih cocok untuk aku melemaskan urat," berkata begitu, ia berjalan mundar mandir dan sungguh heran, kakinya tidak terpeleset meskipun permukaan es licin luar biasa.
Coei San mengerti, dia sedang menantang Langit yang dianggapnya sangat tidak adil terhadapnya. Dalam menghadapi kebinasaan, rasa penasarannya semakin menjadi.
Dengan menuruti tiupan angin dan arus air, gunung es itu terus bergerak kejurusan utara.
Pada suatu hari, selagi mereka bertiga duduk terpekur, tiba-tiba Cia Soen tertawa terbahak bahak dan berkata dengan suara mengejek: "Langit telah mengirim sebuah perahu untuk menyambut kita guna bertemu dengan Pak kek Siang ong (Dewa Kutub Utara)."
Mendengar itu So So hanya bersenyum. Ia tidak menghiraukan andaikata langit bakal rubuh asal saja kecintaannya berada didampingnya. Tapi Coei San mengerutkan alis dan pada paras mukanya terlukis sinar kedukaan.
Selang tujuh delapan hari, sinar es yang disoroti matahari adalah demikian hebat berkilauannya sehingga mata mereka dirasakan sakit sekali. Oleh karena begitu, diwaktu siang mereka menyelimuti kepala dengan kulit biruang sambil merebahkan diri diatas es dan diwaktu malam, barulah mereka bangun untuk menangkap atau memburu biruang.
Sungguh heran, semakin keutara siang hari jadi
semakin panjang, sehingga belakangan, jangka waktu dimalam hari hanya beberapa jam saja.
Makin lama Coei San dan So So jadi makin lelah dan paras muka mereka makin pucat. Cia Soen sendiri kelihatan seperti seorang lupa ingatan dan pada kedua matanya terlihat sinar luar biasa. Kadang-kadang, kalau datang kalapnya, ia menuding-nuding tangan dan mencaci-caci, seolah-olah manusia edan.
Pada suatu malam, karena tak dapat pulas di waktu siang, Coei San tidur sambil menyender di es, tiba-tiba dalam pulasnya, ia mendengar jeritan So So: "Lepas Lepas!" Ia tersadar dan melompat bangun dan melihat Cia Soen sedang memeluk kecintaannya dengan mulut mengeluarkan suara "ho ho ho," seolah olah bunyi binatang buas.
Sesudah menyaksikan lagak Cia Soen yang luas biasa selama beberapa hari Coei San merasa sangat berkuatir. Hanya ia tak nyana bahwa orang itu dapat berbuat begitu rupa terhadap So So. "Lepas !" bentaknya dengan gusar, sambil melompat maju.
Cia Soan tertawa terbahak-bahak. "Dalam menghadapi kebinasaan, aku tak mergenal segala peraturan bau," katanya. "Waktu masih berada diatas bumi, aku sudah tidak mengenal Lie gie liam tie. Apa lagi sekarang?"
Lie gie liam tie berarti adat istiadat, pribudi putih bersih tak korup dan mmgenal malu, yaitu empat prinsip dari Kwan Tong.
"Lepas!" teriak pula Coei San dengan gusar. "Jika tidak, aku akan mengadu jiwa denganmu."
"Apamu dia? Jangan campur-campur urusanku!" jawabnya dengan suara dingin. Ia mengeraskan pelukannya, sehingga So So mengeluarkan jeritan kesakitan.
"Dia isteriku," kata Coei San dengan bingung. "Cia Cianpwee, seorang laki-laki lurus berjalan lurus. Biarpun kita sekarang berada diatas gunung es, tapi janganlah kau melakukan perbuatan yang hanya akan memalukan diri sendiri."
Cia Soen tertawa terbahak-bahak. "Aku si orang she Cia belum pernah menghiraukan jahat atau baik," katanya. Andai kata benar kau suami nya, kau tetap tidak boleh campur-campur dan harus turut segala perintahku. Jika berani membandal, aku akan hajar kau."
Coei San tak dapat menahan sabar lagi. Baiklah, biar kita bertiga mampus bersama sama!" bentaknya seraya menghantam punggung Cia Soen yang menangkis dengan tangan kirinya. Tubuh Coei San bergoyang-goyang dan karena licinnya es, ia tak dapat berdiri tetap dan lantas saja terguling. Cia Soon mengangkat kaki kanannya dan menendang pinggang pemuda itu. Tapi Coei San pun bukan anak kemarin dulu. Ia menekan es dengan satu tangannya dan melompat bangun, sedang tangan yang lain menotok jalan darah dilutut Cia Soen. Pada detik yang berbahaya, cepat bagaikan tandangannya, tangan kanannya memukul kepala Coei San, sedang tangan kirinya memeluk pinggang si nona.
Sesaat itu tangan kiri So So mendapat kemerdekaan, maka buru-buru ia menggunakan dua jerijinya untuk menotok jalan darah Soei touw hiat ditenggorokan orang. Tapi, diluar dugaan, tanpa menghiraukan serangan itu, Cia Soen terus mengerahkan Lweekang dan memukul kepala Coei San. Dengan kedua tangan, pemuda itu menangkis dan ia terkesiap, karena pukulan itu berat luar biasa, sehingga dadanya menyesak.
Dilain pihak, nona In pun tidak kurang kaget nya. Kedua jerijinya yang menotok Soei touw hiat seperti membentur benda yang licin dan serta didorong balik dengan serupa tenaga yang tidak kelihatan. Si nona mencelos hatinya, sebab, walaupun seorang yang mempunyai ilmu weduk Kim ciong to atau Tiat po san tak akan dapat menahan totokannya itu. Dari sini dapat dibayang kan, betapa tinggi kepandaian Cia Soen.
Waktu itu, badan So So dan tangan kanannya di peluk keras-keras dan hanya tangan kirinya yang merdeka. Sesudah totokannya gagal, dengan pertolongan sinar es, ia lihat muka Coei San yang kedua matanya berwarna merah seperti darah dan seolah-olah mengeluarkan api. Pada detik itu. mendadak ia ingat pengalamannya waktu mengikuti ayahnya memburu harimau dihutan. Ia ingat bahwa kedua mata seekor harimau yang terluka juga berwarna merah darah. Sepulangnya dari perburuan, sering-sering ia merasa kasihan terhadap binatang itu.
Sekarang, melihat Cia Soen yang menyerupai macan edan rasa kasihannya timbul dan ia berkata pada dirinya sendiri: "Dia biasanya ramah tamah dan sopan santun. Ia beradat aneh, tapi keanehan itu adalah akibat pengalaman getir dalam penghidupannya. Tapi biar bagaimanapun juga, ia seorang luar biasa mahir ilmu surat dan ilmi silat. Bahwa sekarang ia kalap adalah karena otaknya yang kurang beres." Selagi memikir begitu, tiba-tiba disebelah utara muncul sinar berkredepan yang beraneka warna dan indah luar biasa. "Cia Cian pwee," katanya dengan suara lemah lembut. "Kau mengasolah. Lihatlah! Ditepian langit muncul sinar yang sangat luar biasa!"
Cia Soen menengok kearah yang ditunjuk si nona. Ternyata, diantara kegelapan disebelah utara itu muncul ribuan, bahkan laksaan, sinar terang yang sangat aneh, sebentar besar, sebentar kecil, sedang warnanya yang kuning campur ungu dan dalam sinar ungu itu berkredepan sinar keemas emasan.
Cia Soen terkesiap, ia melepaskan pelukannya dan menarik pulang tangannya yang menindih ke dua tangan Coei San. Dilain saat, sambil menggendong tangan, ia berjalan kepinggir gunung es dan memandang kearah utara dengan mata membelalak. Ternyata, mereka sudah mendekati Kutub Utara. Sinar yang luar biasa itu adalah pemandangan yang hanya terdapat didaerah kutub. Pada jaman itu belum pernah ada orang Tionghoa yang pernah melihat pemandangan tersebut.
Sambil mencekal tangan kecintaannya, Coei San mengiwasi orang anah itu dengan hatiri berdebaran. Malam itu, Cia Soen tidak mengganggu lagi. Lama sekali ia berdiri terpaku disitu sambil menikmati sinar-sinar menakjubkan itu.
Pada keesokan paginya, sinar-sinar itu menghilang dari pemandangan. Cia Soen rupanya merasa jengah karena kejadian semalam, sehingga seharian suntuk ia tak pernah berani melirik sinona, sedang gerak-geriknya pun kelihatan kikuk sekali.
Beberapa hari kembali lewat dan mereka terus berlayar kejurusan utara. Sementara itu, gilanya Cia Soen mulai kumat lagi. Semakin hari caciannya terhadap langit jadi semakin hebat. Sedang dari matanya keluar pula sinar mata binatang buas. Coei San dan So So memperhatikan perubahan perubahan itu dengan hati berkuatir dan mereka selalu berwaspada untuk menghadapi segala kemungkinan.
Hari itu sudah lewat jam tujuh malam, tapi matahari yang menyerupai sebuah bola merah masih tergantung ditepian laut sebelah barat dan tak juga mau menyelam. Mendadak Cia Soen melompat bangun dan sambil menuding matahari, ia membentak: "Kau juga mau menghina aku? Oh, matahari jika aku memiliki busur dan anak panah, dengan sekali memanah, aku dapat menembuskan badan mu!" Tiba-tiba, dengan tinjunya ia menghantam es yang jadi somplak dan kemudian, dengan sekuat tenaga, ia menimpuk matahari dengan potongan es itu, yang terbang puluhan tombak dan kemudian jatuh dilaut. Ia mengutangi lagi perbuatan itu, sehingga dalam tempo tidak terlalu lama, ia sudah melontarkan tujuh puluh lapis potongan es. Sesudah itu, sambil berteriak-teriak, ia menginjak injak gunung es itu, sehingga kepingan-kepingan es pada muncrat keatas.
"Cia Cianpwee, kau mengasolah dulu," membujuk So So dengan suara lemah lembut. "Jangan kau meladeni matahari itu."
Cia Soen menengok dan dengan mata merah, ia menatap wajah si nona. So So ketakutan, tapi ia memaksakan diri untuk bersenyum.
Sekonyong konyong sambil berteriak keras Cia Soen melompat dan memeluki nona. "Mampus kau! Mampus!" jeritnya.
So So memberontak, tapi sedikitpun tidak bergeming. Coei San kaget bukan main dan tanpa mengeluarkan sepatah kata. ia menghantam jalan darah Sin tohiat dipunggung Cia Soen. Tapi tinju yang hebat itu seolah-olah memukul besi. Sementara itu, sambil mengeluarkan suara "ho ho ho" seperti bunyi binatang buas, Cia Soen mengeraskan pelukannya.
"Lepas! Jika kau tak lepas, aku akan menggunakan senjata !" teriak Coei San.
Tapi orang kalap itu tetap tidak meladeni.
Cepat bagaikan kilat Coei San mencabut Poan koan pit dari pinggangnya dan lalu menotok jalan darah Kian kin hiat dipundak kanan serta Siauw hay hiat pada lengan kiri Cia Soen. Tapi dia sungguh-sungguh lihay. Jika seorang ahli silat biasa kena totokan itu, sudah pasti kedua tangannya tidak akan dapat digunakan lagi. Tapi ia hanya merasa kesemutan dan dengan sekali menjambret, ia berhasil merampas Poan koan pit yang lalu dilontarkan kelaut.
Tapi serangan Coei San bukan tidak ada hasilnya. Totokan itu melonggarkan pelukan Cia Soen. Nona in memberontak dan berhasil memerdekakan dirinya. Tapi hampir berbareng, sambil mengbantam leher Coei San dengan telapak tangan kirinya, Cia Soen coba menyengkeram badan sinona dengan tangan kanan. Dengan satu suara "bret!" kulit biruang yang menyelimuti badan So So, menjadi robek. Coei Saa tahu, bahwa jika ia melompat mundur, kecintaannya pasti akan tertangkap lagi. Maka itu sambil mengerahkan seantero Lwee kangnya, ia menyambut tangan lawan dengan pukulan Bian ciang.
Begitu lekas kedua tangan kebentrok, ia merasa tangannya diisap dengan semacam tenaga yang
dahsyat luar biasa, sehingga tidak dapat dilepaskan lagi. Ia tidak dapat berbuat lain dari pada mengempos semangat untuk coba melawan. Tiba tiba ia merasakan menyerangnya semacam hawa yang sangat panas dari tangan lawan sehingga pikirannya kalang-kabut dan kepalanya pusing.
Inilah untuk ketiga kalinya Coei San mengadu tenaga dengan Cia Soen. Dalam dua pertandingan yang lebih dulu, ia belum pernah mengalami serangan yang seaneh itu.
Dilain detik, dengan satu tangannya terus menempel pada tangan pemuda itu, Cia Soen miringkan badannya dan coba menjambret si nona. Dengan cepat nona In melompat kebelakang. Selagi tubuhnya masih berada ditengah udara. tiba-tiba Cia Soen menendang es, sehingga beberapa keping terbang dan mengenakan lutut kanan si nona, yang sambil mengeluarkan teriakan kesakitan, rubuh terguling. Hampir berbareng, Cia Soen mengebas tangannya yang menempel dengan tangan Coei San, sehingga pemuda itu terlempar beberapa tombak jauhnya dan jatuh dipinggir gunung es, ia terpeleset dan tergelincir kedalam air.
"Celaka !" Coei San mengeluarkan seruan tertahan. Tapi berkat kepandaiannya yang sudah mencapai taraf sangat tinggi dalam keadaan yang sangat berbahaya, ia masih keburu mencabut Gin kauw dari pinggangnya yang lalu digunakan untuk menotok es, dan dengan meminjam tenaga , badannya kembali melesat keatas.
Selagi kedua kakinya hinggap diatas es, hatinya berdebar-debar, karena ia merasa pasti, bahwa So So akan jatuh lagi kedalam tangannya orang edan itu.
Tapi diluar dugaan dibawah sinar rembulan, ia lihat Cia Soen sedang menekap kedua matanya dengan tangan sambil mengeluarkan suara kesakitan, sedang So So sendiri menggeletak diatas es. Buru buru Coei San membangunkannya. Sambil memeluk leher pemuda itu, si nona berbisik : "Aku.... aku telah lukakan matanya."
Mendadak, sambil mengaum bagaikan harimau, Cia Soen menubruk, tapi untung juga, sambil memeluk kecintaanaya dan dengan bergulingan Coei San dapat menyelamatkan diri. Tiba-tiba terdengar beberapa kali suara keras dan kedua tangan Cia Soen kelihatan amblas didalam es yang beratnya seratus kati lebih. Ia berdiri diam sambil memasang kuping untuk mendengar dimana adanya kedua orang muda itu, Coei San dan So So mengerti apa artinya itu, perlahan-lahan menyenubunyikan diri didalam sebuah lubang yang terdapat di gunung es itu dan mengawasi si orang edan sambil menghela napas. Melihat darah mengalir dari kedua mata Cia Soen, Coei San mengerti, bahwa pada saat berbahaya, So So sudah menimpuk dengan jarum emasnya dan sekarang orang itu sudah menjadi buta.
Tapi, biarpun sudah tak dapat melihat, kuping orang kalap itu tajam luar biasa. Lama ia berdiri bagaikan patung. Jika kedua orang muda itu mengeluarkaw suara sedikit saja, ia pasti akan menyerang sehebat-betatnya
Untung juga suara gelombang, angin dan suara terbenturnya balokan balokan es pada gunung es itu telah menutupi suara napas mereka. Andaikata mereka berada dalam sebuah kamar tertutup diatas daratan sudah boleh dipastikan mereka tak akan terlolos dari tangan Cia Soen.
Sesudah memasang kuping beberapa lama tanpa berhasil, dalam kegusaran, kesakitan dan ketakutan, Cia Soen kalap lagi. Sambil berteriak-teriak, ia memukul-mukul dan menendang-nendang, sambil menimpuk kian kemari dengan potongan-potongan es. Dengan paras muka pucat, Coei San dan So So saling peluk dalam lubang itu. Mereka yakin, sepotong es saja sudah cukup untuk mengambil jiwa mereka.
Cia Soen mengamuk kurang lebih setengah jam, tapi kedua orang muda itu merasakan seperti juga setengah tahun. Beberapa saat kemudian, ia berhenti dan mendadak berkata dengan suara lemah lembut: "Thio Siangkong, In Kauw Nio, barusan aku kalap dan telah melakukan gila-gila. Kuharap kalian sudi memaafkan"
Sudah berkata begitu. ia duduk untuk menunggu jawaban.
Thio Coei San adalah seorang yang mulia dan murah hati, tapi iapun seorang pintar yang sangat hati-hati, sehingga tidak gampang diakali orang. Nona In yang licin dan banyak akalnya, lebih-lebih sukar diabui. Mereka tidak meladeni perkataan Cia Soen dan tetap berwaspada sambil bernapas pelan-pelan. Sesudah mengulangi perkataannya beberapa kali, Cia Soen menghela napas panjang seraya berkata: "Jika kalian tak sudi memberi maaf, akupun tidak bisa memaksa lagi," Sehabis berkata begitu, ia menarik nafas dalam-dalam.
Tiba-tiba dalam otak Coei San berkelebat satu peringatan. Ia ingat, bahwa sebelum mengeluarkan jaritannya yang dahsyat dipulau Ong poan San, Cia Soen telah menarik napas seperti itu. Hatinya mencelos, menyumbat kuping sudah tidak keburu lagi. Dengan cepat ia membetot tangan sinona dan melompat kedalam air.
Sebelum si nona mengerti maksudnya, Cia Soen sudah mengeluarkan teriakannya yang dahsyat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, pemuda itu membetot pula tangan kecintaannya dan mereka menyelam kedalam air.
Dengan Gin kauw yang dicekel di tangan kiri, Coei San menggaet pinggiran gunung es, sedang tangan kanannya memegang tangan nona In.
Tapi, biarpun kepala berada dibawah permukaan
air, kuping mereka masih mendengar juga teriakan-teriakan yang hebat luar biasa. Gunung es terus maju keutara. Diam-diam Coei San bersyukur, bahwa yang dilemparkan Cia Soen adalab Poan koan pit, sehingga ia masih dapat menggunakan Gin Kauw untuk menggaet gunung es itu. Andaikata ia kehilangan Gin Kauw, maka meskipun dapat menyelamatkan diri dari teriakan Cia Soen, mereka pasti akan mati didalam air, sebab ditinggalkan gunung es itu yang terus bergerak maju.
Sesudah lewat. beberapa lama, mereka menim but dipermukaan air untuk menyedot hawa udara yang segar. Cia Soen pun sudah berhenti berteriak.
Teriakan-teriakan itu rupanya telah meminta banyak tenaga dan dengan letih, ia bersila diatas es sambil menjalankan pernapasannya. Coei San lantas saja menarik tangan So So dan pelan pelan mereka merayap naik keatas.
Sesudah duduk ditempat agak jauh dari Cia Soen, mereka mencabut bulu biruang untuk menyumbat kuping.
Mereka mengerti, bahwa setiap detik mereka menghadapi bahaya besar.
Matahari belum juga menyelam karena mereka sudah berada didaerah kutub, dimana siang dan malam berbeda jauh dengan lain bagian bumi.
Beberapa saat kemudian, So So yang basah kuyup tak dapat mempertahankan dirinya lagi. Badannya bergemetaran dan giginya bercakrukan.
Tentu saja suara itu segera terdengar Cia Soen, yang sambil membentak keras, lalu menghantam dengan Long gee pang. Buru-buru mereka menyingkirkan diri. Dengan satu suara nyaring luar biasa, gunung es itu somplak dan tujuh delapan balokan es jatuh kedalam laut.
Sesudah gagal dengan pukulannya yang pertama, Cia Soen segera memutar senjatanya bagaikan titiran. Begitu diputar, senjata itu yang panjangnya setombak lebih segera mengeluarkan tenaga mendorong yang sangat hebat dalam jarak tujuh delapan tombak.
Coei San dan So So terpaksa mundur terus dan dalam sekejap mereka sudah berdiri di pinggir gunung es.
Cia Soen teru§ mendesak .....
"Bagaimana baiknya?" bisik si nona dengan suara parau.
Sekali lagi Coei San membetot tangan si nona dan mereka segera melompat pula kedalam air.
Selagi badan mereka masih berada ditengah udara, terdengar suara nyaring dan beberapa kepingan es menghantam punggung mereka yang dirasakan sakit sekali. Hampir berbareng dengan jatuhnya mereka kedalam air, sebalok es, sebesar meja, jatuh didekat mereka. Dengan cepat Coei San menjambretnya dan dilain saat, mereka sudah duduk diatas balokan es itu.
Bagaikan seorang gila, Cia Soen menimpuk kalang kabut dengan potonngan-potongan es, tapi sebab matanya buta dan balokan es yang diduduki kedua orang muda itu terus bergerak maju, maka timpukannya meleset semua.
Karena balokan es itu banyak lebih kecil dari gunung es, maka jalannyapun banyak lebih cepat, sehingga tak lama kemudian, Coei San dan So So sudah meninggalkan Cia Soen jauh sekali. Tapi karena kecilnya, balokan es itu tak dapat menahan berat badan dari dua orang dan sebagian tubuh mereka masuk kedalam air.
Untung juga, tak lama kemudian mereka bertemu dengan sebuah gunung es Cepat-cepat mereka menggayu dengan menggunakan tangan untuk mendekati gunung es itu dan kemudian merapat naik keatasnya.
"Langit tidak memutuskan jalanan orang, tapi langit telah memberikan sangat banyak penderitaan kepada kita," kata Coei San sambil tertawa getir. "So So bagaimana keadaanmu?"
"Sayang sungguh kita tidak membekal daging biruang," kata sinona. "Apa Gin Kauwmu hilang?"
Dilain saat, mereka tertawa geli, karena mereka baru merasa, bahwa bulu biruang yang digunakan untuk menyumbat kuping, belum dicabut, sehingga masing-masing tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh pihak lain.
"So So," kata Coei San sesudah mereka mencabut bulu biruang dari kuping mereka. "Andaikata kita mesti mati kitapun tak akan berpisahan lagi."
"Ngoko," kata sinona dengan suara aleman. "Aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Kuharap kau akan menjawab dengan sejujurnya. Apakah kau akan tetap mencintai aku, andaikata kita betada didaratan, tanpa mengalami penderitaan yang hebat ini ?"
Coei San tertegun. Beberapa saat kemudian, barulah ia dapat menjawab: "Aku rasa, kita tidak akan bisa bersahabat begitu cepat. Juga .... juga .... kita pasti akan mendapat banyak rintangan. kita barasal dari lain partai...."
So So manghela napas, "Akupun berpendapat begitu," katanya. "Itulah sebabnya, mengapa pada waktu kau bertanding pertama kali dengan Cia Soen, aku sudah tidak mau melepaskan jarum emas, biarpun didesak berulang-ulang olehmu."
"Ya, tapi mengapa begitu?" tanya Coei San dengan rasa heran, "Aku semula menduga, bahwa kau menolak untuk melepaskan jarum, karena kuatir melukakan aku yang waktu itu sedang bertanding ditempat gelap."
"Bukan, bukan begitu," bisik sinona. "Kalau waktu itu aku melukakan dia dan kita dapat kembali kedaratan, kau tentu akan meninggalkan aku!"
Coei San kaget mendengar pengakuan. itu. "So So!" serunya.
"Mungkin kau akan gusar," kata sinona. "Tapi tujuanku yang satu-satunya adalah supaya tidak berpisahan dengan kau. Keinginan Cia Soen supaya kita mengawaninya dipulau yang terpencil, cocok sekali dengan keinginanku,"
Bukan main rasa terima kasihnya Coei San. Ia tak pernah menduga, bahwa rasa cinta sinona adalah demikian besar. "So So, sedikitpun aku tidak gusar," bisiknya.
Nona In dongak mengawasi pemuda itu dan berkata pula dengan suara lemah lembut: "Langit telah mengirim aku keneraka dingin ini, tapi sebaliknya daripada penasaran aku merasa beruntung sekali. Aku mengharap kita jangan kembali keselatan untuk selama-lamanya. Hm ... Jika kita pulang ke Tiong goan gurumu tentu akan membenci aku, sedang ayah mungkin sekali akan membunuh kau ..."
"Ayahmu ?" menegas Coei San.
"Ya, ayah adalah Peh bie Eng ong In Thian Ceng," jawabnya. "Ia adalah pendiri dan pemimpin Peh bie kauw."
"Oh, begitu ?" kata Coei San. "So So, kau tak usah takut. Aku pasti akan tetap berada bersama sama kau. Aku yakin, biarpun ayahmu ganas, ia tentu tidak akan membunuh puteri dan mantunya sendiri."
Mendengar perkataan itu, paras si nona bersinar terang, sedang mukanya bersemu dadu. "Apa kau bicara setulus hati?" tanyanya.
"So So, biarkan sekarang saja kita terangkap
menjadi suami isteri," kata Coei San.
Mereka lantas saja berlutut dengan berendeng diatas es dan Coei San berkata dengan suara nyaring : "Raja Langit menjadi aksinya, bahwa hari ini tee coe Thio Coei San terangkap jodoh menjadi suami isteri dengan In So So. Biarlah senang dan susah bersama-sama dan cinta mencinta selama-lamanya!"
Sesudah Coei San si nonapun berdoa perlahan: "Aku mohon supaya Langit melindungi kami berdua, supaya dari satu ke lain penitisan kami bisa terus menerus menjadi suami isteri." Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula: "Andaikata dibelakang hari kami bisa kembali di Tiong goan, tee coe akan mencuci hati dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dulu. Tee coe akan bertobat dan bersama-sama suamiku, tee coe akan berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan balk. Tee coe tak akan membunuh manusia lagi secara sembarangan. Jika tee coe melanggar sumpah ini, biarlah Langit dan manusia menghukum tee coe."
Coei San girang tak kepalang. Ia tak pernah menduga, bahwa tanpa diminta, sang isteri telah bertobat dan bersumpah untuk menjadi manusia balk. Sesudah selesai dengan upacara pernikahan itu, sambil saling mencekal tangan dan duduk berendeng diatas es. Pakaian mereka basah dan hawa dingin menyerang dengan hebat. Akan tetapi, hati mereka hangat bagaikan hangatnya muslin semi yang penuh kebahagiaan dan keindahan.
Lewat beberapa lama, baru mereka ingat, bahwa sudah sehari suntuk, perut mereka belum ditangsal. Kedua senjata Coei San sudah hilang dilaut, tapi So So masih mempunyai pedang yang tergantung dipinggangnya. Coei San lalu menghunus pedang isterinya, membungkus ujung pedang dengan kulit biruang dan kemudian, sambil mengerahkan Lwee kang sampai di jeriji tangan, ia menekuknya sehingga ujung pedang itu menjadi bengkok seperti gaetan. Tak lama kemudian, dengan menggunakan gaetan itu, ia berhasil menangkap seekor ikan yang cukup besar. Ikan diwilayah Kutub Utara gemuk dan banyak minyaknya, sehingga biarpun baunya sangat amis dapat menambahkan tenaga dan menghangatkan badan.
Demikianlah siang malam, gunung es itu terapung-apung kejurusan utara, Mereka mengerti, bahwa kemungkinin pulang ke Tionggoan hampir tidak ada, tapi hati mereka tenang dan damai. Ketika itu, siang sudah berubah sangat panjang, sedang malam sangat pendek dan mereka tak dapat mengbitung hari lagi. Pada suatu hari, mendadak mereka lihat mengepulnya asap hitam disebelah utara. So So yang melihat lebih dulu, mencelos hatinya dan paras mukanya berubah pucat. "Ngo ko!" teriaknya sambil, menuding asap hitam itu.
"Apa disitu terdapat manusia?" tanya sang suami dengan rasa kaget tercampur girang. Tapi biarpun sudah tertampak dalam pandangan mata, tempat mana asap itu keluar masih terpisah jauh sekali, Sesudah lewat lagi satu hari, asap itu jadi makin besar dan makin tinggi kelihatannya dan diantara asap terlihat sinar api.
"Siapa itu?" tanya So So.
Sang suami tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Ngoko, ajal kita sudah hampir tiba," kata si isteri dengan suara gemetar. "Itu pintu nereka."
Coei San terkejut, tapi ia segera membujuk: "Mungkin juga disana ada manusia yang sedang membakar hutan."
"Kalau membakar hutan, bagaimana asap dan apinya begitu tinggi?" tanya sang isteri.
"So So, sesudah tiba disini, biarlah kita menyerahkan segala apa kepada Langit," kata Coej San. "Kalau Langit tidak mau kita mati kedinginan dan ingin kita mati terbakar, biarlah kita menerima nasib."
Dengan perlahan tapi tentu, gunung es itu terus menuju kearah asap dan api. Coei San dan So So yang tidak mengerti sebab musababnya, merasa sangat heran dan mereka hanya menganggap, bahwa apa yang bakal terjadi, baik kecelakaan maupun keselamatan, adalah takdir.
Apa yang dilihat mereka sebenarnya adalah sebuah gunung berapi yang bekerja, sehingga sebagai akibat, air laut diseputar gunung itu menjadi hangat dan air yang hangat mengalir kejurusan selatan. Dengan demikian, secara wajar, air yarg dingin atau es terbetot kearah utara.
Sebagaimana diketahui, angin dan gelombang yang saling terjadi ditengah lautan adalah karena perbedaan antara air dingin dan panas dalam hawa dan air.
Sesudah terapung-apung lagi sehari semalam, gunung es itu tiba dikaki gunung.
Ternyata gunung berapi itu berada diatas sebuah pulau yang sangat besar. Disebelah barat terdapat sebuah puncak dengan batu yang bentuk dan macamnya sangat aneh. Selama berkelana di daerah Tionggoan, Coei San sudah kenyang mendaki gunung-gunung yang kenamaan, akan tetapi, belum pernah ia melihat puncak yang begitu luar biasa. Ia mengawasi itu semua dengan mata membelalak dan kegirangan meluap-luap didalam hatinya. Ia tak tahu bahwa puncak itu adalah tumpukan lahar yang disemprotkan gunung berapi selama ratusan atau ribuan tahun. Disebelah timur terdapat tanah datar yang sangat luas. Tanah datar itupun muncul disitu karena bekerjanya gunung berapi. Abu yang disemprotkan oleh gunung itu jatuh ke dalam laut dan lama-lama, mungkin dalam tempo ribuan tahun, air laut teruruk dan muncullah tanah datar yang sangat luas.
Biarpun tempat itu sudah mendekati Kutub Utara, tapi karena gunung berapi masih bekerja, maka hawa dipulauitu menyerupai hawa digunung Tiang pek san atau daerah Hek Liong kang. Dipuncak-puncak yang tinggi terlihat salju, tapi ditempat yang rendah, pohon-pohon menghijau, pohon siong, pek dan lain-lain yang tidak terdapat diwilayah Tionggoan.
Sesudah memandang beberapa lama dengan mata tidak berkesip, tiba-tiba So So melompat dan memeluk suaminya. "Ngoko ! Kita sudah tiba ditempat dewa !" bisiknya dengan suara serak.
Kegirangan Coei San pun sukar dilukiskan. Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata dan hanya balas memeluk isterinya yang tercinta.
Lama mereka saling peluk dengan disaksikan oloh sejumlah menjangan yang sedang makan rumput dengan tenang diatas pulau itu. Kecuali asap api yang agak menakuti, segala apa yang tertampak disitu adalah tenang, damai dan indah.
Mandadak terdengar teriakan So So: "Celaka ! Kita tak dapat mendarat!" Ternyata gunung es itu, yang terpukul dengan air yang hangat, mulai bergerak meninggalkan pulau.
Coei San pun tidak kurang kagetnya. Buru-buru
mengerahkan Lweekang dan menghantam es yang lantas saja somplak sebesar balok. Sesudah itu, sambil memeluk balokan es itu, mereka melompat kedalam air dan dengan menggunakan tangan dan kaki sebagai penggayu, mereka akhir nya mendarat dipulau itu.
Melihat kedatangen manusia, manjangan-menjangan yang sedang makan rumput mendongak dan mengasi, tapi mereka tidak memperlihatkan rasa takut sedikit jua. Perlahan lahan So So mendekati, menepuk-nepuk punggung salah seekur. "Kalau disini terdapat juga beberapa ekor burung ho, aku pasti akan mengatakan, bahwa tempat ini adalah tempatnya dewa Lam kek Sian ong," katanya seraya tertawa.
Karena letih, mereka segera merebahkan diri diatas lapangan rumput dan pulas nyenyak untuk beherapa jam lamanya. Waktu tersadar, matahari masih belum menyelam. "Sekarang mari kita menyelidiki pulau ini untuk mendapat tahu apa ada manusia atau binatang buas," kata sang suami.
"Aku rasa tak mungkin ada binatang buas," kata So So.
"Lihat saja menjangan-menjangan itu yang hidup damai dan tenteram."
So So adalah seorang wanita yang sangat memperhatikan dandanannya. Biarpun menghadapi bahaya diatas gunung es, ia tetap berpakaian rapi.
Sekarang sudah berada diatas bumi, begitu tersadar, ia membereskan pakaian dan rambutnya dan kemudian membantu sang suami menyisir rambut. Sesudah itu, harulah mereka berangkat untuk menyelidiki pulau tersebut.
Untuk menghadapi segala kemungkinan, So So mencekal pedangnya yang sudah bengkok, sedang Coei San sendiri lalu mematahkan cabang pohon untuk dijadikan semacam tongkat. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, mereka berlari-lari dari selatan keutara yang panjangnya lebib dari duapuluh lie. Apa yang dilihat mereka di sepanjang jalan, selain pohon pohon yang tinggi kate, adalah binatang kecil, burung dan pohon-pohon bunga yang kebanyakan tidak dikenal mereka.
Belakangan, sesudah melewati hutan besar, dari
jauh mereka lihat sebuah gunung batu dan dikaki gunung itu terdapat sebuah guha. "Ah! Sungguh bagus tempat ini !" teriak sang isteri sambi1 lari-lari.
"Hati hati!" teriak Coei San.
Belum rapat mulutnya, dari dalam guha mendadak berkelebat satu bayangan dan seekor biruang putih yang sangat besar menerjang keluar. Biruang itu yang panjang bulunya seolah-olah seekor kerbau.
Dengan kaget So So melompat mundur. Biruang itu berdiri diatas kedua kakinya seperti manusia dan menghantam kepala So So dengan satu telapak kakinya. Nyonya itu menyambut dengan sabetan pedang, tapi apa mau, karena pedang bengkok itu sudah jadi lebih pendek, sabetannya meleset. Baru saja ia mau membabat lagi, binatang itu sudah menubruk dan menghantam senjatanya yang lantas saja jatuh diatas tanah.
"So So, mundur!" teriak Coei San seraya melompat dan menotok lutut biruang itu dengan tongkatnya. Cabang kayu itu patah, tapi tulang kaki binatang itu hancur dan dia mengeluarkan jeritan hebat dan menyeramkan.
Buru-buru So So menjemput pedangnya untuk memberi bantuan.
"Lekas lontarkan pedarg itu keudara!" teriak Coei San. Sang isteri terkejut, tapi ia nenurut apa yang diperintahkan suaminya.
Dengan menotol tanah dengan kakinya, Coei San melompat tinggi dengan menggunakan ilmu Tee in ciong dan sekali menjambret, ia menangkap pedang itu. Dengan tangan kiri mencekal tongkat pendek, ia sekarang seperti juga ber senjatakan Gin kauw dan Poan kian pit. Ia mengangkat tangan kanannya dan menyabet dari atas kebawah dengan gerakan huruf "Hong" (tajam). Pukulan tersebut diberikutkan dengan Lweekang yang sangat dahsyat dan tongkat pendek itu amblas tujuh delapan dim dikepala binatang itu yang sesudah ngamuk dan menggeram hebat, lantas saja rubuh tanpa berkutik lagi.
So So menepuk-nepuk tangan sambil tertawa. "Indah sekali ilmu ringan badan itu!" teriaknya. "Hebat sungguh totokan itu!"
Tapi, baru babis ia berteriak begitu tiba-tiha Coei San berseru : "Awas! Lari!"
Mendengar teriakan suaminya dengan cepat ia melompat kedepan. Begitu menengok kebelakang, ia terkesiap karena dibelakangnya sudah berbaris tujuh ekor biruang putih yang memperlihatkan sikap menakutkan.
Coei San mengerti. bahwa mereka berdua tak akan dapat melawan tujuh binatang buas itu. "Lari !" bisiknya dan mereka lantas saja kabur dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Meskipun badannya besar, binatang-binatang itu bisa lari cepat sekali, tapi kecepatan mereka masih kalah dengan ilmu ringan badan Coei San dan So So, sehingga sesudah mengubar beberapa lama, mereka ketinggalan agak jauh. Tapi mereka terus mengejar dari belakang.
"Jalan satu-satunya lari ke air," kata Coei San "Apa biruang tidak bisa berenang?" tanyanya.
"Entahlah," jawab So So sambil menggelengkan kepala.
"Harap saja mereka tidak bisa berenang."
Sambil bicara mereka lari terus secepat-cepat nya.
"Celaka!" mendadak So So mengeluh.
"Mengapa ?" tanya Coei San.
"Apa kau tahu apa makanan biruang putih?" sang isteri balas menanya. "Menurut katanya seorang jurumudi. biruang makan madu tawon dan ikan."
"Makan ikan" menegas Coei San sambil menghentikan tindakannya. "Kalau benar binatang itu makan ikan, mereka pasti bisa berenang."
Sebelum mereka dapat berdamai terlebih jauh,
sekonyong konyong So So berteriak: "Ih! Mengapa mereka berada didepan kita ?"
Dengan hati berdebar-debar mereka mengawasi enam ekor biruang yang mendatangi dari sebelah depan.
"Bukan. Mereka bukan biruang yang tadi," kata Coei San. "Kita sekarang dicegat dari depan dan dari belakang," Sehabis berkata begitu, buru burn ia melompat keatas satu pohon siong yang sangat besar .
Sesudah berada diatas, ia menggaetkan kedua kakinya dicabang pohon, sehingga badannya menggelantung kebawah dan kedua tangannya menyambut-tangan sang isteri yang turut melompat keatas. "Aku harap saja mereka tak dapat memanjat pohon," kata So So sesudah mereka duduk disatu cabang.
"Biarpun mereka, bisa manjat kita tak usah kuatir," kata sang suami. "Maju satu, kita binasakan satu. Asal saja tidak dikurung, kita masih dapat melayani."
Sesaat kemudian, enam ekor biruang yang datang dari depan dan tujuh ekor dari belakang sudah berkumpul dibawah pohon. Mereka mendongak dan menggeram hebat sambil memperlihat gigi mereka.
Coei San mematahkan sebatang cabang kecil yang lain digunakan untuk menimpuk mata seekor biruang.
Timpukan itu mengenakan tepat pada sasarannya dan sambil menggeram serta me lompat-lompat bahna sakitnya, binatang itu menyeruduk pangkal pohon dengan kepalanya. Melihat hasil pertama, Coei San segera mengulangi perbuatannya. Tapi kawanan binatang itu ternyata pintar sekali dan mereka semua menundukkan kepala dan mulai mengeragoti pohon. Oleh karena begitu, Coei San hanya dapat menimpuk punggung mereka yang kulitnya tebal, sehingga serangan itu tidak dirasakan sama sekali. Tak lama kemudian, pangkal pohon itu sudah somplak sebagian dan jika di dorong beramai-ramai, sudah pasti akan roboh.
Coei San menghela napas. "Aku tak nyana, sesudah berhasil menyelamatkan diri dari lautan, kita bakal jadi makanan kawanan biruang," katanya.
Dengan jantung memukul keras, So So mengawasi satu pohon siong yang terpisah kira-kira tujuh delapan tombak. "Ngoko," bisiknya. "Dengan ilmu mengentengkan badan, sekali lompat kau bisa turun kebawah dan dengan sekali lompat lagi, kau bisa naik kepohon itu."
Sang suamipun sudah lihat kemungkinan itu. Memang, kalau seorang diri, ia dapat berbuat begitu. Tapi dengan membawa isterinya, mereka tentu akan tercegat ditengah jalan. Maka itu sambil menggeleagkan kepala, ia berkata: "Tidak dapat. Tak dapat aku berbuat begitu."
"Ngoko, tak usah kau pikiri aku," kata pula sang istiri. "Tidak perlu kita mati berdua-dua."
"Kita sudah bersumpah, bahwa Langit diatas bumi dibawah, kita tak akan berpisahan untuk selama-lamanya." jawab sang suami. "Mana dapat aku meninggalkan kau dengan begitu saja ?"
Bukan main rasa terharunya nyonya itu, sehingga air matanya lantas saja berlinang-linang. Ia ingin coba membujuk lagi, tapi mu!utnya seearti terkancing.
Sesaat itu, tiba-tiba pohon bergoyang-goyang, karena didesak dengan berbareng oleh kawanan biruang itu.
Hati So So mencelos, sehingga tanpa merasa, ia mengeluarkan teriakan perlanan. Ia tahu. beberapa detik lagi, pohon itu pasti akan rubuh.
Pada saat yarg sangat berbahaya, disebelah kejauhan sekonyong konyong terdengar suara yang sangat tajam. Suara itu tidak begitu keras, tapi aneh sekali, seperti bunyi burung malam, seperti bunyi khim, seperti angin meniup daun bambu dan seperti bunyi genta.
Begitu mendengar suara itu, ketigabelas biruang berhenti serentak dalam usahanya untuk merubuhkan pohon dan berdiri diam sambil memasang kuping. Dari sikap mereka, seolah olah suara itu adalah suara yarg paling menakuti didalam dunia. Apa yang paling mengherankan lagi, sesaat kemudian, seekor demi seekor menundukkan kepala dan mendekam diatas tanah tanpa bergerak.
Walaupun tak tahu apa artinya itu, Coei San dan So So girang tak kepalang dan harapan besar muncul dalam hati mereka. "Tolong! Tolong!" jerit So So. "Tolong....! Biruang mau mencelakakan manusia."
Jeritan itu disambut dengan suara yang tadi, yang mendatangi dengan kecepatan luar biasa, lebih cepat dari terbangnya burung.
Sesaat kemudian, didepan mereka berkelebat satu bayangan merah, seolah-olah sebuah bola api yang menyambar dari satu pohon disebelah depan dan kemudian hinggap didahan pohon dimana Coei San dan So So sedang menyembunyikan diri.
Sekarang baru mereka bisa melihat nyata. Yang hinggap didahan itu adalah seekor kera yang bulu nya merah, tingginya kira-kira tiga kaki, mukanya putih seperti batu giok, sedang kedua matanya yang berkilat-kilat mengeluarkan sinar keemas emasan.
Bahwa binatang yang datang kesitu adalah seekor
kera yang begitu menarik, tidak diduga-duga mereka. Waktu berteriak untuk meminta pertolongan, So So menaksir, bahwa binatang yang mengeluarkan suara begitu adalah binatang buas yang sangat menakuti.
Tapi karena sedang menghadapi bahaya besar, mau tidak mau, ia berteriak juga. Maka itu, dengan kegirangan yang meluap-luap, ia segera mengangsurkan tangannya kearah kera itu.
Biarpun belum pernah melihat manusia kera itu ternyata pintar luar biasa. Ia rupanya mengerti maksud persahabatan itu dan segera mengulur satu tangannya dan menyentuh tangan si nyonya. Sambil menuding kawanan biruang itu, So So ber kata: "Mereka mau mencelakakan kami. Apa kau dapat menolong?"
Melihat gerakan So So, seraya memekik kera itu melompat turun dan menghampiri salah seekor biruang. Dengan sekali menggerakkaa tangan, jari-jarinya amblas kedalam kepala biruang itu dan dilain saat, tangannya sudah memegang otak biruang. Ia melompat naik pula dan dengan sikap hormat, mengangsurkan otak biruang itu kepada So So.
Coei San dan isterinya kaget bakan main. tenaga binatang yang sehebat itu sungguh-sungguh belum pernah didengar mereka. So So sebenarnya tidak sanggup menelan otak mentah itu. Tapi sebab tidak mau membangkitkan kegusaran tuan penolong itu, dengan apa boleh buat, ia menyambutinya. Ia menggigit sebagian otak itu, dan menyerahkan sisanya kepada Coei San.
Diluar dugaan, otak biruang itu lezat luar biasa, lebih enak dari makanan apapun jua yang pernah dimakannya. Sambil bersenyum, ia lalu mengambilnva kembali dari tangan suaminya dan menghabis kan semuanya.
"Terima kasih, terima kasih," katanya sambil memanggut-manggutkan kepala.
Dilain saat kera itu sudah melompat turun lagi dan mengambil pula dua otak biruang yang lalu dimakannya. Sungguh mengherankan, kawanan biruang itu bukan saja tidak berani melawan, tapi juga tidak berani lari Mereka terus mendekam diatas tanah, seperti orang yang sedang menerima hukuman.
So So tertawa nyaring. "mampuskan semua biruang itu," katanya. "Kalau kau tidak keburu datang, kami berdua tentu sudah masuk kedalam perut mereka." Sambil memekik kera itu melompat turun lagi dan dalam sekejap ia sudah membinasakan semua biruang itu.
Coei San dan So so lantas saja turut melompat turun. Melihat tiga belas bangkai binatang itu, Coei San merasa tidak tega dan ia berkata dengan suara menyesal: "Sebenarnya tak usah membinasakan mereka semua. Cukup jika mereka diusir pergi."
Mendengar perkataan suaminya, So So yang sedang mencekal lengan si kera agak terkejut. "Ngoko tentu mencela aku," katanya didalam hati. "Ya... aku harus berusaha untuk mengubah adatku yang kejam." Tapi biarpun hatinya menyesal, ia tertawa seraya berkata: "Hm. . . sekarang Ngoko merasa kasihan terhadap biatang-binatang buas itu. Kalau saudara kera tidak datang menolong, apakah biruang-biruang itu akan menaruh belas kasihan terhadap kita?"
"Kalau kita sama kejamnya seperti binatang, bukankah kita tiada beda seperti binatang?" kata sang suami.
"Binatangpun ada juga yang baik," kata So So sambil tertawa. "Lihatlah saudara kera ini. Kepandaiannya lebih tirggi dan rupanya lebih tampan daripada kau."
Coei San tertawa terbahak-bahak. "Ai ya?" seru nya. "Kau membuat aku cemburu."
Sesudah terlolos dari lubang jarum. mereka bergembira sekali dan beromong-omong dengan tertawa-tawa. Kera merah itupun tidak kurang gembiranya dan dia melompat-lompat kian kemari.
"Kawanan biruang itu mungkin mempunyai anak, coba kita tengok," kata Coei San.
Dengan So So menutun kera, mereka lalu masuk kedalam guha. Sesudah berjalan-jalan kira-kira sembilan tombak, ditengah-tengah guha itu terbuka sebuah lubang, sehingga sinar terang menyorot masuk kedalam. Hanya sayang, guha yang sebenar nya sangat nyaman itu berbau busuk sebab penuh dengan kotoran dan air kencing biruang. "Kalau tidak berbau busuk, tempat ini cocok sekali untuk menjadi tempat meneduh kita," kata So So sambil menekap hidung.
"Kita dapat mernbersihkannya," kata sang suami.
"Sesudah lewat sepuluh hari atau paling lama setengah bulan, kurasa bau itu akan hilang sendirinya"
So So mengawasi Coei San dengan hati girang tercampur duka, karena ia ingat, babwa mulai hari itu, ia akan berdiam dipulau tersebut bersama sama Coei San untuk selama-lamanya.
Sementara itu, Coei San sudah mematahkan cabang-cabang poloh yang lalu dibuat menjadi sebuah sapu. Dengan dibantu oleh isterinya, ia lalu menyapu kotoran biruang. Dengan gembira sikera coba membantu, tapi biarpun pintar, kera tetap kera dan sebaliknya daripada membantu, ia mengacau pekerjaan orang. Karena mengingat budinya, Coei San dan So So membiarkan ia mengunjuk kenakalannya. Sesudah bekerja berat, guha itu akhirnya bersih, tapi bau busuknya belum mau menghilang juga.
"Alangkah baiknya jika kita dapat mencuci dengan air," kata So So. "Hanya sayang kita tak punya tahang."
Sesudah memikir sejenak, Coei San berkata: "Ada jalan," Buru-buru ia mendaki gunung dan mengambil beberapa balok es yang lalu ditaruh dibatu-batu yang agak tinggi dalam guha itu.
"Ngoko, lihay sungguh otakmu!" memuji sang isteri sambil menepuk-nepuk tangan.
Tak lama kemudian, balokan es itu mulai melumer dan airnya mangalir kebawah, sehingga guha itu seolah-olah disiram.
Sedang suaminya mencuci guha, dengan menggunakan pedang bengkok, So So memotong daging biruang yang kemudian ditumpuk menjadi satu. Walaupun dipulau itu terdapat gunung berapi tapi karena berada dalam wilayah Kutub Utara, maka hawanya masih sangat dingin. Maka itu, sesudah diuruk dengan potongan-potongan es, daging itu rasanya tak akan rusak dalam tempo lama.
Sesudah selesai bekerja, So So menghela napas seraya berkata: "Manusia selalu merasa tidak puas. Jika sekarang kita dapat menyalakau api dan membakar telapak kaki biruang, kita akan dapat mencicipi makanan yang sungguh luar biasa."
(Telapak kaki biruang semenjak jaman purba sudah diakui sebagai salah satu makanan yang paling enak).
"Api ada, hanya terlalu besar," kata Coei San sambil mengawasi asap yang mengepul dari gunung berapi. "Perlahan-lahan kita harus berdaya untuk mengambil api itu."
Malam itu mereka makan otak biruang dan tidur diatas pohon.
Pada esokan paginya, baru saja membuka mata, So So sudah berteriak : "Aduh! Wangi sungguh !" Ia melompat turun dari pohon dan mendapat tahu, bahwa bau wangi itu darang dari dalam guha.
Bersama suaminya, ia berlari-lari kedalam guha, dimana terdapat tumpukan-tumpukan bunga yang tengah dilontarkan kian kemari oleh sikera sambil melompat-lompat, So So yang sangat suka akan bunga jadi girang bukan main dan mengawasi lagak kera itu sambil menepuk nepuk tangan.
Coei San. "Aku hendak bicarakan serupa soal
denganmu."
Melihat paras suaminya yang bersungguh-sungguh
ia agak terkejut. "Ada apa?" tanyanya.
"Aku ingin berdamai bagaimana kita bisa mendapatkan api." jawabnya,
"Ah, orang edan kau!" bentak stag isteri seraya tertawa . "Kukira ada urusan penting. Ambil api!
Aku setuju. Lekas beritahukan rencanamu."
"Dimulut gunung berapi, hawanya luar biasa panas dan kita tak akan dapat mendekatinya," menerangkan Coei San. "Maka itu menurut pendapatku, jalan satu-satunya ialah membuat tambang yang panjang dari kulit pohon. kemudian menjemur tambang itu dan ....."
"Bagus!" memutus sang isteri. "Kemudian mengikat sebutir batu diujung tambang, melontarkan tambang itu kemulut gunung barapi dan menariknya kembali sesudah ujung tambang terbakar. Bukankah begitu maksudmu?"
Coei San mengangguk seraya memuji kepintaran isterinya.
Karena ingin sekali makan daging matang, tanpa menyia-nyiakan tempo lagi, mereka segera bekerja. Selang dua hari, mereka sudah membuat tambang yang panjangnya seratus tombak lebih dan yang lalu dijemur dibawah sinar matahari. Pada hari ke empat, dengan membawa tambang itu, mereka lalu pergi ke gunung berapi.
Walaupun kelihatannya dekat, gunung itu terpisah empat puluh li lebih dari tempat mereka. Makin dekat dengan gunung itu, hawa makin panas. Keringat mengucur dari tubuh mereka dan diseputar itu tidak terdapat pohon-pohonan lagi. Apa yang mereka menemuinya hanyalah batu-batu yang gundul.
Sesudah berjalan lagi beberapa lama, hawa panas jadi makin hebat. Melihnt muka isterinya yang merah kepanasan, Coei Scan yang menggendong jadi tak merasa tega. "Kau tunggu disini, biar aku saja yang pergi kesitu," katanya.
"Jangan rewel!" bentak sang isteri. "Kalau kau banyak bicara, aku tak akan meladeni lagi. Paling banyak seumur hidup kita tidak mengenal api lagi, seumur hidup makan makanan mentah."
Coei San besenyum dan mereka teuns mendaki gunung itu. Sesudah berjalan lagi kurang lebih satu li, napas mereka tersengal-sengal dan hampir tak dapat bertahan lagi. Coei San memiliki Lweekang yang sangat tinggi, tapi iapun merasa matanya ber kunang-kunang dan kupingnya berbunyi. "Sudahlah," katanya. "Dari sini saja kita melontar kan tambang ini. Jika tidak menyala. hem...kita..."
So So tertawa dan menyambungi: "Kita jadi suami isteri orang hutan..." Belum habis perkataannya, badannya bergoyang-goyang dan ia pasti rubuh jika tidak buru-buru mencekal pundak suaminya.
Dari atas tanah Coei San menjemput sebutir batu yang lalu diikatkan keujung tambang. Sesudah itu, sambil berlari-lari dan mengerahkan Lweekang, ia melontarkan tambang dengan sekuat tenaga.
Bagaikan seekor ular, tambang itu terbang di tengah udara, kemudian jatuh dipermukaan bumi. Akan tetapi, sebab jarak dengan mulut gunung yang mengeluarkan api, masih terlalu jaub, maka sesudah mereka menunggu beberapa lama, tambang itu belum juga menyala.
Sementara itu, mereka merasakan hawa panas semakin hebat, sehingga mata mereka seolah-olah mengeluarkan api. Coei San menghela napas seraya berkata: "Orang-orang dulu membuat api dengan menggosok kayu atau memukul batu. Sudahlah! Menggunakan tambang tidak berhasil. Biarlah kita cari lain jalan saja."
Dengan rasa kecewa, So So manggutkan kepalanya.
Selagi ia mau memanggil sikera merah, yang selalu mengikuti kemanapun juga mereka pergi, tiba-tiba ia lihat binatang itu menjemput sebutir batu dan dengan menyontoh cara Coei San, dia berlari-lari, kemudian melontarkan batu itu. Dia gembira bukan main dan kelihatannya tak takut akan hawa panas.
Melihat begitu, tiba tiba So So mendapat satu
pikiran. "E eh, kera itu kelihatannya tidak takut api." katanya didalam hati. Ia segera bersiul dan
berkata: "Saudara kera, apakah kau dapat menolong untuk membawa ujung tambang ke api dan menyalahkannya ?" Sambil berkata begitu, ia memberi isyarat dengan tangannya.
Kera itu ternyata pintar luar biasa. Baru saja So So memberi isyarat dua tiga kali, ia sudah mengerti apa maksudnya dan seraya berbunyi keras, dengan belasan kali lompatan saja, dia sudah melalui seratus tombak lebih dan sesudah menjemput ujung tambang, dia berlari kemulut gunung bagaikan kilat cepatnya.
Melihat begitu, Coei San dan So So merasa menyesal, karena mereka kuatir dia tercemplung di dalam lubang api. "Kauw jie! Kauw jie!" teriak So So. "Balik! Hayo balik!"
Baru saja ia berteriak begitu, jauh-jauh terlihat mengepulnya asap diujung tambang yang kemudian ditarik dengan cepat oleh si kera dan beberapa saat kemudian ujung tambang yang menyala sudah berada dihadapan Coei San dan So So. Bukan main girangnya mereka, So So melompat dsn memeluk binatang itu, sedang Coai San lalu mengambil cabang-cabang kayu kering yang diikat menjadi satu sebagai semacam obor dan kemudian menyulutnya dengan api ditambang itu.
Apa yang sangat mengherankan bagi mereka ialah, jangankan badannya sedangkan bulu si kera sedikitpun tidak berubah.
Dengan hati gembira, kedua suami isteri itu segera kembali keguha biruang bersama-sama sikera merah.
Mereka segera mengumpulkan cabang-cabang kayu dan rumput kering untuk membuat sebuah perapian. Didalam dunia, dapat dikatakan semua binatang sangat takuti api. Tapi sikera merah adalah lain dari yang lain.
Sambil mengeluarkan bunyi yang menggelikan dan dengan lagak nakal, ia bergulingan beberapa kali diatas perapian yang berkobar-kobar.
Mendadak Coei San ingat apa yang pernah dituturkan oleh gurunya dan tanpa merasa, ia mengeluarkan seruan "ah !"
"Ada apa ?" tanya sang isteri.
"Soehoe pernah memberitahukan aku, bahwa di dalam dunia hidup semacam tikus yang dinamakan tikus api," jawabnya. "Tikus itu dapat masuk bedalam api tanpa terbakar bulunya yang panjangnya satu dim lebih, dapat dibuat menjadi semacam kain yang diberi nama kain asbes. Kalau kain itu kotor, cara mencucinya adalah memasukannya kedalam api dan begitu dikeluarkan dari api, warnanya sudah putih kembali seperti sediakala. Menurut pendapatku, kera itu tidak banyak berbeda dengan tikus yang dituturkan Soehoe."
So So tertawa. "Jika bulu Saudara Kauw jie rontok, aku akan membuat kain untukmu!" kata nya. "Tapi paling sedikit kau harus berusia dua atau tiga ratus tahun."
Sesudah mempunyai api, segala apa beres, mereka masak air, memasak daging dan membuat satu dua rupa masakan. Sedari perahu tenggelam, belum pernah mereka merasakan makanan matang. Sekarang secara tidak diduga duga, mereka dapat makan telapak kaki biruang yang kesohor lezat dan dapatlah dibayangkan kegembiraan mereka. Si kera merah yang tidak makan lain daripada otak biruang, pergi kehutan untuk mencari buah-buahan.
Madam itu, sesudah makan kenyang, Coei San dan So So tidur didalam guha diantara bau wangi dari berbagai macam bunga yang luar biasa.
Keesokan paginya, Coei San keluar dari guha dan dengan hati lapang ia memandang ketempat jauh.
Tiba-tiba ia melihat seorang yang bertubuh tinggi besar berdiri tegak diatas batu cadas dipinggir laut. Ia kaget bukan main, karena orang itu bukan lain dari pada Cia Soen! Sesudah mengalami penderitaan yang sangat hebat, ia dan isterinya mendarat dipulau yang indah itu. Tapi baru saja menikmati penghidupan bahagia dan tenteram beberapa hari, si memedi sudah muncul lagi.
Dilain saat, ia lihat Cia Soen jalan mendatangi dengan badan bergoyang goyang. Ternyata, sesudah matanya buta, ia tidak dapat menangkap ikan atau membunuh biruang, sehingga sedari hari itu, ia tak pernah menangsal perut dan biarpun badannya kuat luar biasa, ia tak dapat mempertahankan diri lagi.
Sesudah berjalan belasan tombak, badannya kelihatan bergemetar dan rubuh diatas tanah.
Buru-buru Coei San kembali keguha. Begitu melihat suaminya, So So bersenyum seraya berkata: "Ngo .."
Ia tidak meneruskan perkataannya sebab melihat paras sang suami yang suram.
Sesudah berhadapan dengan isterinya, Coei San berkata dengan suara perlahan: "Si orang she Cia ada disini!"
So So melompat bangun seperti orang dipagut ular. "Dia sudah lihat kau ?" bisiknya. Tapi saat itu juga ia ingat, bahwa Cia Soen sudah buta dan hatinya jadi lebih tenang. "Ngoko, kau tak usah takut," katanya pula. "Masakan kita berdua, ditambah lagi dengan Kauw jie, tidak dapat melawan seorang buta?"
Coei San manggut-manggutkan kepalanya. "Dia rubuh pingsan karena kelaparan" katanya.
"Mari kita tengok," kata sang isteri sambil merobek ujung bajunya kemudian dirobek lagi jadi empat potong kecil. Dua segera dimasukkan ke dalam kupingnya dan yang dua lagi diserahkan kepada suaminya. Dengan tangan kanan mencekal pedang dan tangan kiri menuntun si kera merah, ia segera mengikuti Coei San untuk menengok Cia Soen.
Sesudah berada dekat, Coei San berteriak: "Cia Cianpwee. apa kau mau makan ?"
Dalam keadaan lupa ingat, Cia Soen mendengar teriakan itu dan pada paras mukanya lantas saja terlukis sinar harapan. Tapi dilain saat, ia mengenali, bahwa suara itu adalah suara Coei San dan paras mukanya lantas saja berubah menyeramkan. Selang beberapa lama, barulah ia mengangguk.
Coei San segera melontarkan sepotong daging seraya berteriak: "Sambutlah !"
Cia Soen bangun sambil menekan tanah dengan tangan kiri dan dengan pertolongan kupingnya yang sangat tajam, dengan tangan lainnya ia menangkap daging itu yang lalu dimakan perlahan-lahan.
Melihat seorang yang begitu gagah perkasa telah menjadi lemah dalam hati Coei San lantas saja timbul perasaan kasihan. Tapi So So mempunyai pendapat lain. Ia sangat tidak mupakat dengan tindakan suaminya yang sudah memberi makanan kepada Cia Soen.
"Hmm! Sesudah kuat, mungkin dia akan membinasakan kita berdua," katanya didalam hati. Tapi karena sudah bersumpah untuk menjadi orang baik maka meskipun hatinya mendongkol, ia menutup mulut.
Sesudah makan sepotong daging itu. Cia Son lantas saja pulas diatas tanah. Coei San segera menyalakan sebuah perapian didekatnya untuk mengusir hawa dingin dan mengeringkan pakaian Cia Soen yang basah kuyup. Sampai lohor barulan si buta sadar.
"Tempat apa ini?" tanyanya.
Melihat gerakan mulutnya, Coei San dan So So, yang menungguinya, segera mencabut satu sumbatan kuping untuk mulai bicara, tapi mereka sangat berwaspada dan siap sedia untuk menyumbat kuping jika terlihat gerakan yang luar biasa.
"Pulau ini adalah pulau yang tidak ada manusia." jawab Coei San.
Cia Soen mengeluarkan suara dihidung. Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata: "Katau begitu kita tak akan bisa pulang."
"Hal itu lebib baik kita menyerahkan saja ke pada kebijaksanaan langit," kata pula Coei San.
Mendadak Cia Soen meluap darahnya dan bagaikan kalap ia mulai mencaci langit. Sesudah kenyang memaki maki ia meraba-raba satu batu besar dan lalu duduk diatasnya. "Apa yang kamu ingin berbuat terhadapku ?" tanyanya.
Coei San melirik isterinya yang segera memberi isyarat, bahwa ia menyerahkan keputusan kepada sang suami. "Sesudah memikir sejenak, pemuda itu lalu berkata dengan suara nyaring: "Cia Cianpwee, kami berdua suami isteri ..."
"Hm..... " Cia Soen memotong pembicaraan orang. "Kamu sudah menjadi suami isteri?"
Paras muka, So So lantas saja bersemu dadu, sedang hatinya girang. "Dalam pernikahan kami, dapat dikatakan Cianpweelah yang menjadi comblang," katanya seraya tertawa. "Untuk itu. kami harus menghaturkan terima kasih."
Cia Soen kembali mengeluarkan suara dihidung.
"Baiklah. Apa yang kamu mau berbuat terhadapku?" tanyanya pula.
"Cia Cianpwee," kata Coei San. "Kami merasa sangat menyesal, bahwa kami telah membutakan kedua matamu. Tapi karena hal itu sudah terjadi kami meminta maaf pun tiada gunanya. Jika kits ditakdirkan untuk berdiam dipalau ini seumur hidup dan tak bisa kembali lagi di Tionggoan maka satu-satunya yang dapat diperbuat kami yalah merawat Cianpwee seumur hidup."
Cia Soen mengangguk. "Ya.. begitu saja," kata nya.
"Kami berdua sangat mencintai satu sama lain dan akan hidup atau mati bersama-sama," kata pula Coei San. "Jika penyakit Cianpwee kumat lagi dan mencelakakan salah seorang diantara kami, maka orang yang masih hidup sudah pasti tak akan mau hidup lebih lama lagi."
" Kau ingin mengatakan, bahwa jika kalian berdua mati, akupun tak bisa hidup seorang diri di pulau ini. Bukankah begitu?" tanya Cia Soen
"Benar," jawab Coei San.
"Kalau begitu, perlu apa kalian menyumbat kuping?" tanya pula Cia Soen.
Coei San dan So So saling mengawasi sambil bersenyum dan lalu mencabut potongan kain yang masih menyumbat kuping kiri mereka. Mereka merasa kagum bukan main, karena walaupun sudah tak dapat melihat, Cia Soen masih dapat mengetahui segala apa dengan kupingnya yang sangat tajam.
Sesudah beromong omong sedikit, Coei San lalu meminta orang tua itu memberi nama kepada pulau mereka. "Di pulau ini terdapat es yang ribuan tahun tak pernah melumer dan terdapat pula api yang laksaan tahun tak pernah padam." kata Cia Soen. "Maka biarlah kita menamakannya pulau Pang hwee to saja." Pang hwee to berarti Pulau es dan api.
Demikianlah. Mulai waktu itu, tiga manusia dan seekor kera menjadi penghuni dari pulau terpencil itu.
Untuk keperluan hidup, Coei San dan So So bekerja keras. Mereka membuat piring mangkok dengan membakar tanah liat, membuat dapur dengan menumbuk tanah dan batu, membuat kursi meja dan lain-lain perabotan rumah tangg. Biarpun buatannya sangat kasar, alat-alat dan perabotan itu dapat memenuhi keperluan mereka. Saban-saban ada tempo yang luang, mereka menanam pohon-pohon bunga disebelah kiri guha itu.
Cia Soen juga tidak pernah rewel dan hidup dengan tenteram. Setiap hari ia duduk termenung sambil mencekal To liong to. Ia rupanya terus mengasah otak untuk memecahkan rahasia yang bersembunyi dalam golok mustika itu. Mereka membujuk supaya ia jangan memutar otak lagi. "Aku pun mengerti bahwa andaikata aku dapat memecahkan rahasia ini, aku tak akan dapat berdiam disebuah tempat yang terpencil dan tak punya harapan untuk bisa kembali ke Tionggoan," jawabnya dengan suara getir. "Akan tetapi, karena aku tak punya kerjaan dan merasa sangat kesepian maka biarlah aku mengasah otak untuk menghilangkan tempo." Mendengar jawaban yang sangat beralasan, mereka mengangguk dan tidak membujuk lagi.
Kira-kira setengah li dalam guha biruang, terdapat sebuah guha lain yang lebih kecil. Sesudah bekerja keras kurang lebih sepuluh hari, Coai San mengubah guha itu menjadi sebuah kamar yang kecil, yang lalu diserahkan kepada Cia Soen untuk dijadikan kamar tidurnya.
Beberapa bulan telah terlalu dengan cepatnya. Pada suatu hari, bersama sikera merah, Coei San dan So So pesiar kesebelah utara pulau itu. Di luar dugaan mereka, pulau itu sangat panjang dan sesudah melalui seratus li lebih, mereka belum wencapai ujungnya.
Sesudah berjalan lagi beberapa lama, disebelah depan menghadang sebuah hutan yang sangat besar. Mereka mendekati hutan itu, tapi baru saja Coei San ingin masuk, si kera merah berbunyi keras dan memperlihatkan sikap ketakutan. So So jadi kuatir dan berkata: "Ngo ko, kau tak boleh masuk, Kauw jie kelihatannya saungat ketakutan."
Coei San merasa heran tercampur kuatir, karena si isteri yang biasanya sangat bergembira jika menemui sesuatu yang luar biasa, pada waktu waktu
belakangan sangat lesu kelihatannya. "So So, mengapa kau?" tanyanya. "Apa badanmu kurang enak."
Ditanya begitu, So So kelihatannya kemalu maluan, sehingga paras mukanya barubah merah. "Tidak apa-apa," jawabnya dengan suara perlahan.
Sang suami jadi makin heran dan terus mendesak. Akhirnya, sambil menunduk ia berkata dengan suara perlahan: "Langit rupanya tahu, bahwa kita terlalu kesepian dan akan mengirim seorang manusia lain datang kepulau ini."
Coei San terkesiap dan dilain saat, kegirangannya meluap-luap. "Kita akan punya anak?" tanyanya.
"Sts! Perlahan sedikit!" bentak si isteri, tapi dilain saat ia tertawa geli karena baru ia ingat bahwa disekitar hutan itu tiada lain manusia.
Siang malam terbang bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya. Cuaca berubah agi, siang makin pendek dan malam makin panjang, sedang hawa udarapun makin dingin. Sesudah hamil, So So gampang capai, tapi ia tetap melakukan pekerjaan sebari-hari seperti masak, menambal pakaian dan menyapu lantai.
Malam itu ia sudah hamil hampir sepuluh bulan. Sesudah menyalakan perapian didalam guha, kedua suami isteri lalu duduk beromong-omong. "Ngoko. coba kau tebak, apa anak kita lelaki atau perempuan?" kata So So.
"Perempuan seperti kau, lelaki seperti aku, bagi ku sama saja." jawab sang suami.
"Aku lebih suka anak lelaki." kata pula So So. "Coba kau pilih satu nama untuknya."
Coei San hanya mengeluarkan suara "hmmm" dan tidak menjawab perkataan isterinya.
"Ngoko, apa sedang dipikir olehmu?" tanya pula sang isteri. "Dalam beberapa hari ini kau kelihatannya agak bingung."
Coei San bersenyum. "Tak apa-apa, mungkin karena kegirangan bakal menjadi ayah, aku kelihatannya tolol," jawabnya.
Tapi nyonya itu yang sangat pintar tak dapat
diakali. Ia sudah melihat bahwa pada mata suaminya terdapat sinar kekuatiran. "Ngoko, jika kau tidak berterus terang, aku akan jengkel sekali." katanya dengan suara lemah lembut. "Ada apa yang mendukakan hatimu?"
Coei San menghela napas. "Aku harap saja penglihatanku keliru," katanya. "Dalam beberapa hari ini, kulihat perubahan pada paras muka Cia Cianpwee."
So So mengeluarkan seruan tertahan dan berkata dengan suara berkuatir : "Benar, akupun sudah lihat perubahan itu. Paras mukanya makin hari jadi makin ganas dan mungkin sekali ia bakal kalap lagi."
Coei San manggut-manggutkan kepalanya. "Dia rupanya jengkel karena tidak dapat menembus rahasia yang meliputi To liong to." katanya.
Tiba-tiba air mata So So mengucur, sehingga suaminya terkejut. "Aku sedikitpun tidak merasa halangan kalau kita mati bertempur dan mati bersama-sama dia," katanya dengan suara sedih. "Tapi.... tapi....."
Dengan rasa terharu, Coei San memeluk istrinya.
"Benar sesudah mempunyai anak, kita tak boleh sembarangan mengadu jiwa," katanya "Kalau dia kumat lagi kalapnya, tiada jalan lain dari pada membinasakannya. Kedua matanya sudah buta dan aku merasa pasti, dia tak akan bisa mencelakakan kita."
Mendengar niatan suaminya untuk membunuh Cia Soen, badan nyonya itu bergemetaran. Sebagaimana diketahui, waktu masih ia kejam luar biasa dan dapat membunuh puluhan manusia tanpa berkesiap. Tapi sesudah hamil, entah mengapa hatinya jadi berubah mulia.
Pernah kejadian pada suatu hari Coei San menangkap seekor biang menjangan yang diikut oleh dua anaknya sampai diguba. So So merasa tak tega dan berkeras supaya suaminya melepaskan betina menjangan itu. Ia lebih suka makan buah buahan saja daripada membunuhnya.
Melihat istrinya menggigil, Coei San tertawa seraya berkata dengan suara menyinta: "Aku harap saja dia tidak kalap lagi. So So, berikan saja nama Liam Coe (Langit Welas asih) kepada anak kita. Apa kau setuju? Aku ingin supaya kalau sudah besar, dia akan terus ingat, bahwa ibunya mempunyai hati yang welas asih. Perem puan atau lelaki, kita berikan saja nama itu."
So So mengangguk dengan perasaan beruntung. "Dulu, setiap kali aka membunuh manusia, hati ku merasa girang," katanya. "Tapi sekarang, dengan mengatahui, bahwa dalam hatiku telah muncul perasaan kasih terhadap sesama manusia, aku merasa bahagia dan kebahagiaan itu berbeda jauh dengan kegirangan diwaktu dulu, waktu aku membunuh manusia."
Sang suami manggut-manggutkan kepalanya. "Aku sungguh girang mendangar pengutalanmu ini," katanya. "Orang kata, bibit mencelakakan manusia tidak boleh ditanam didalam hati, bibit menolong manusia harus dipupuk."
"Benar," kata So So. "Tapi bagaimana kita harus bertindak, kalau benar dia kalap lagi. Dengan adanya saudara Kauw jie sebagai pembantu, kekuatan kita bertambah besar."
"Tapi kurasa kita tidak dapat terlalu mengandalkan kera" kata sang suami. "Dia memang pintar sekali, tapi belum tentu dia mengerti kemauan kita. Kita harus mencari daya upaya yang lebih semgurna."
"Begini saja," So So mengajukan usulnya. "Waktu momberikan makanan kepadanya, kita menaruh racun.... Tidak! Tidak boleh begitu! Belum tentu dia kalap lagi dan mungkin sekali kita menduga keliru."
"Aku mempunyai serupa akal yang rasaaya dapat digunakan," kata Coei San. "Mulai besok kita pindah kebagian sebelum guha ini dan membuat sebuah lubang jebakan dibagian luar dan diatas lubang itu, kita tutup dengan rumput dan daun daun kering."
"Akal itu sangat baik, hanya aku kuatir kau akan dicegat dia ditengah jalan waktu kau memburu binatang," kata So So.
Coei San tertawa. "Tak usah kau kuatirkan keselamatanku," katanya, "Begitu lekas melihat
gelagat kurang baik, aku bisa lantas melarikan diri. Dengan memanjat batu-batu cadas dan tebing, kurasa dia tak akan dapat menyandak aku."
Keesokan paginya, Coei San lalu mulai menggali lubang dibagian luar guha itu. Karena tidak mempunyai cangkul besi, ia terpaksa menggunakan potongan kayu, sehingga pekerjaan itu memerlukan tenaga yang sangat besar. Tapi berkat Lweekangnya yarg sangat tinggi, sesudah bekerjaa keras tujuh hari lamanya, ia berhasil menggali lubang yang dalamnya sudah kira-kira tiga tombak.
Sementara itu, makin hari Cia Soen makin gila lagaknya. Sering-sering ia menari-nari ditempat terbuka sambil mencekal To liongto. Coei San bekerja makin keras. Sesudah menggali lima tombak, ia berniat menancapkan potongan-potongan kayu tajam didasar lubang. Menurut rencananya, guha itu bermulut lebar dan berdasar sempit sehingga jika Cia Soen jatuh kedalamnya, ia bukan saja akan terluka, tapi sukar dapat melompat keluar karena badannya bakal terjepit.
Hanya sayang, sebelum ia selesai mengali sampai lima tombak, penyakit Cia Soen sudah keburu kumat lagi.
Hari itu, sesudah makan tengah hari, Cia Soen jalan mundar-mandir didepan guha. Coei San tidak berani bekerja, karena kuatir suara menggali tanah akan menimbulkan kecurigaannya. Ia juga tidak berani meninggalkan isterinya dan terus berdiam diluar mulut guha sambil menahan napas dan berwaspada.
Tiba-tiba Cia Soen mulai mencaci. Ia mencaci langit, Bumi, dewa-dewa dan malaikat-malaikat. Sesudah itu ia mencaci kaizar-kaizar dan orang orang ternama dijaman purba. Sebagai seorang yang berpengetahuan tinggi, maki-makiannya di sertai dengan kutipan-kutipan sejarah sehingga Coei San yang mendengarnya jadi merasa ketarik sekali.
Sesudah puas menyikat orang-orang dulu, ia mulai mencaci pentolan pentolan dalam Rimba Persilatan. Tatmo Couw soe dari Siau lim pay, Gak Boe Bok (Gak Hoi), jago-jago dan yang lain - lain bintang dilangit persilatan semua disikat bersih. Ia mencaci orang-orang gagah dari satu kelain jaman dan apa yang sangat menarik, caciannya bukan membuta tuli, tapi di sertai juga dengan kupasan-kupasan pedas tajam mengenai kekurangan dari ilmu silat setiap partai
atau perseorangan. Waktu memaki orang-orang gagah dijaman buntut Lam song (Kerajaan Song Selatan), yang disikat olehnya adalah Tong sia, See tok, Lam tee, Pay kay dan Tiong sin thong dan sesudah lima jago itu, ia mencaci juga Kwee Ceng dan Yo Ko. Akhirnya, tibalah giliran Thio Sam Hoag, pendiri dari Boe tong pay dan sampai disitu, Coei San tak dapat menahan sabar lagi.
Dengan darah meluap, Coei San membuka mulutnya untuk balas memaki. Tetapi sebelum perkataannya keluar, tiba-tiba Cia Soen berteriak : "Thio Sam Hong bukan manusia! Muridnya. Thio Coei San, juga bukan manusia! Paling benar aku mampuskan dulu bininya!"
Sambil berteriak begitu, ia melompat masuk kedalam gua.
Coei San lantas saja turut melompat, tapi hampir berbareng, ia dengar suara gedubrakan, sebagai tanda, bahwa orang edan itu sudah terjeblos kedalam jebakan.
Tapi karena didasar lubang belum dipasang kayu-kayu tajam, maka biarpun terguling. Cia Soen tidak sampai terluka dan sesudah hilang kagetnya, ia segera melompat keatas.
Sementara itu, Coei San sudah menjemput potongan kayu yang digunakan untuk menggali tanah dan begitu lihat munculaya badan Cia Soen, ia segera menghantam kayu itu. Mendengar sambaran angin tajam, bagaikan kilat Cia Soen menangkap kayu itu dengan tangan kirinya dan membetotnya keras-keras. Coei San tak kuat menahan betotan yang sangat hebat itu, sehingga bukan saja kayu terlepas, tapi telapak tangannyapun terbeset dan mengeluarkan darah. Tapi karena pukulan tersebut, tubuh Cia Soen kembali jatuh kedalam lubang.
Pada saat itu, tanpa diketahui sang suami, So So sebenarnya sudah hampir melahirkan anak. Waktu si edan mondar mandir didepan gua perutnya sudah sakit.
Tapi ia tidak berani memanggil suaminya karena kuatir didengar Cia Soen. Sekarang, melihat senjata suaminya direbut, sambil menahan sakit ia mengambil pedangnya yang lalu dilontarkan ke pada Coei San.
"Kepandaian orang itu sepuluh kali lipat tinggi dari padaku dan jika aku mem bacok, pedang ini pasti akan direbut olehnya," pikir Coei San. Mendadak ia ingat, bahwa sesudah kedua matanya buta, Cia Soen menganggap potongan kayu tadi dengan mendengar sambaran angin pukulan. Maka itu, pasti akan berhasil jika bisa menyerang tanpa menerbitkan sambaran angin.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa terbahak bahak disusul dengan melompatnya si kalap kemulut lubang hua. Coei San segera menudingkan ujung pedang yang sudah diluruskan setelah mereka mendarat dipulau itu kearah siedan yang sedang melesat keatas. Ia tidak menikam atau membacok, ia hanya menunggu. "Crass" ujung pedang menancap dikepala Cia Soen. Karena tak ada sambaran angin, Cia Soen yang sedang melompat keatas tentu saja tak menduga, bahwa ia akan dipapaki dengan senjata tajam.
Masih untung ia mempunyai kepandaian yang sangat tinggi dan dapat bergerak luar biasa cepat. Begitu ujung pedang menggores batok kepalanya begitu ia melenggakkan kepala seraya menangkap badan pedang dan mengerahkan tenaga Ciankie toei (ilmu untuk menambah berat badan), sehingga tubuhnya jatuh lagi kedalam lubang dengan kecepatan luar biasa. Tapi, biarpun dapat menyelamatkan jiwanya, ia sudah terluka agak berat dan darah mengucur dari kepalanya.
Begitu jatuh, ia segera mencabut pedang yang
menancap dibatok kepalanya dan sesudah menghunus To liong to, untuk ketiga kalinya ia melompat pula sambil memutar golok mustika itu guna melindungi kepalanya.
Kali ini Coei San menimpuk dengan satu batu besar, tapi batu itu dipukul terpental dengan To liong to. Begitu kedua kakinya hinggap dipinggir lubang, Cia
Soen menerjang seperti orang gila. Sambil melompat mundur, hati Coei San mencelos. Ia ingat, bahwa hari itu ia dan So So akan berpulang kealam baka, tanpa melihat lagi anaknya yang belum terlahir.
Biarpun sedang kalap didalam perkelahian, Cia Soen ternyata masih dapat menggunakan otaknya. Ia merasa, bahwa yang paling penting adalah menjaga supaya Coei San dan So So tidak dapat keluar dari guha itu. Begitu lekas mereka keluar, ia tak akan dapat mencarinya.
Maka itu, dengan tangan kanan mencekal golok dan tangan kiri memegang pedang, ia memutar kedua senjata itu bagaikan titiran cepatnva, sehingga mulut guha tertutup dengan sambaran sambaran senjata yang sangat hebat.
Mendadak, pada saat yang sangat berbahaya bagi dirinya kedua suami isteri itu, didalam guha terdengar suara menangisnya bayi. Cia Soen terkesiap dan ia berhenti bergerak. Bayi itu menangis terus.
Pada saat itu, walaupun tahu, bahwa bencana sudah berada diatas kepalanya, Coei San tidak menghiraukan orang edan itu lagi. Dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan, mata Coei San dan So Sa mengawasi bayi itu yang menggerak-gerakkan kaki tangannya sambil menangis keras. Mereka mengerti, bahwa dengan sekali membabat, Cia Soen dapat membinasakan mereka bersama bayi yang baru terlahir itu. Tapi mereka tidak menghiraukan. Didalam hati, mereka bersyukur, bahwa sebelum mati, meraka masih dapat melihat wajah anak itu.
Mereka sama sekali tak pernah mimpi, bahwa tangisan bayi itu mempunyai pengaruh yang sangat luar biasa. Dengan tiba-tiba saja, Cia Soen tersadar dan kalapnya hilang seketika, seperti daun disapu angin. Didepan matanya lantas saja terbayang peristiwa pada puluhan tahun berselang, waktu keluarganya dianiaya. Istrinya belum lama melahirkan dan bayi yang baru lahir itu tidak luput dari keganasan musuh. Dalam otaknya berkelebat- kelebat peringatan-peringatan yang menyayat hati, kecintaan suami istri, kekejaman musuh, dibantingnya bayi yang baru lahir, usahanya untuk me
nambah kepandaian, tapi kepandaian musuh bertambah lebih cepat, didapatinya To liong to dan kegagalannya untuk menembus rahasia golok mustika itu. Lama ia berdiri terpaku, sebentar bersenyum, sebentar mengertak gigi.
"Lelaki atau perempuan ?" mendadak terdengar
pertanyaan Cia Soen.
"Lelaki." jawab Coei San.
"Apa arinya sudah digunting?" tanyanya pula.
"Benar! Aduh, kulupa!" jawab Coei San.
Cia Soen segera memutar pedang yang dicekalnya dan menyodorkan gagangnya kepada Coei San yang segera menyambuti dan memotong ari bayi itu. Sesaat itu ia terkesiap, karena barulah ia ingat bahwa si edan berada dekat sekali dengan mereka.
Tapi begitu melirik muka Cia Soen, ia merasa lebih lega, karena kekalapannya sudah menghilang dan paras mukanya terlukis perasaan menyayang.
"Berikan kepadaku," kata So So dengan suara lemah.
Sang suami segera mengangkat bayi itu dan menaruhnya kedalarn dukungan isterinya.
"Apa kau sudah masak air untuk memandikannya ?" tanya Cia Soen dengan suara perlahan.
Coei San tertawa. "Aku benar gila!" katanya. "Aku sudah melupakan segala apa." Seraya berkata, ia segera bertindak keluar untuk memasak air. Tapi baru satu dua tindakan, ia berhenti karena sangsi.
Cia Soen rupanya dapat menebak kekuatiran pemuda itu "Kau berdiam saja disini menemani isterimu," katanya. "Biar aku yang masak air."
Ia segera memasukkan To liong to kedalam sarung dan berjalan keluar sambil melompati lubang jebakan. Tak lama kemudian, ia sudah kembali dengan membawa sepaso air panas dan Coei San lalu memandikan bayinya.
"Bagaimana macamnya bayi itu?" tanya Cia Soen.
"Seperti ibunya atau seperti ayahnya ?"
Coei San beriseyum "Lebih banyak menyerupai ibunya,"
jawabnya "Tidak gemuk, mukanya potongan kwaci"
Cia Soen menghela napas panjang. Sesudah termenung sejenak, ia berkata dengan suara perlahan: "Aku mendoakan, supaya sesudah besar ia jangan bernasib jelek. Aku mendoakan supaya ia banyak rezeki dan umur panjang, jauh dari segala penderitaan."
"Cia Cianpwee, apakah nasib anak ini kurang baik?" tanya So So.
"Bukan begitu," jawabnya, "Kudengar, anak itu menyerupai kau. Kalau benar, ia berparas terlampau ayu. Orang kata, orang yang terlalu ayu sering bernasib jelek sehingga aku kuatir, jika dihari kemudian anak ini masuk dalam dunia pergaulan, ia akan menemui banyak kesukaran."
"Cia Cianpwee, kau memikir terlalu jauh," kata Coei San sambil tertawa. "Kita berempat berada dipulau yang terpencil ini, sehingga mana dapat anak kami masuk kedalam dunia pergaulan ?"
"Tidak!" bentak So So. "Kita boleh tak usah kembali ke Tionggoan, tapi anak ini tidak dapat dibiarkan berdiam di sini terus menerus, seumur hidupnya. Sesudah kita bertiga mati, siapa yang akan meagawaninya? Sesudah dia dewasa, dimana ia harus mencari isteri ?"
Semenjak kecil In So So berada diantara orang-orang Peh bie kauw dan apa yang dilihatnya ialah perbuatan-perbuatan yang kejam sehingga sesudah besar, sifatnya jadi ganas sekali. Tapi sesudah bersuami isteri dengan Thio Coei San, sifat nya berubah dengan perlahan. Sekarang setelah menjadi ibu, rasa cinta yang wajar terhadap anaknya memenuhi lubuk hatinya dan ia rela berkorban demi kepentingan bayi yang baru lahir itu.
Mendengar perkataan sang isteri, Coei San berduka sekali. Dengan berada dipulau itu, yang terpisah laksaan li dari wiiayah Tionggoan, dan dengan tak memiliki alat pengangkutan, mana dapat mereka kembali kedalam dunia pergaulan? Tapi ia membungkam, karena kuatir isterinya putus harapan.
"Tak salah perkataan Thio Hoejin." kata Cia Soen. "Bagi kita bertiga, tidak halangannya untuk berdiam disini seumur hidup. Tapi anak ini, tidak! Tak dapat kita membiarkan dia berdiam disini seumur hidupnya tanpa mencicipi kesenangan dunia. Thio Hoejin, kita bertiga harus berusaha sedapat mungkin supaya anak itu bisa kembali ke Tiong goan."
Bukan main girangnya So So. Ia berusaha untuk bangun berdiri. Buru-buru Coei San mencekal lengannya seraya berkata: "So So, kau mau apa ? Rebahan saja!"
"Ngoko," jawabnya, "Kita berdua harus berlutut dihadapan Cia Cianpwee guna menghaturkan terima kasih untuk kebaikannya terhadap anak kita."
Cia Soen menggoyang-goyangkan tangannya seraya mencegah: "Tak usah! Tak usah! Apa anak itu sudah di beri nama ?"
"Secara sembarangan kami sudah memilih satu nama, yaitu Liam Coe," jawab Coei San. "Cia Cianpwee seorang yang berpengetahuan tinggi, makaa bolehlah Cianpwee memilih lain nama yang lebih cocok untuknya!"
Cia Soen memikir sejetak. "Thio Liam Coe.. Thio Liam Coe.... " katanya. "Namanya itu sudah cukup baik. Tak usah diubah"
Tiba-tiba So-co mendapat satu pikiran. "Orang aneh itu kelihatannya menyayang sekali anakku," katanya didalam hati "Paling benar aku memberikan anak ini sebagai anak pungutnya, supaya ia tidak turunkan tangan jahat kalau kalapnya datang lagi." Memikir begitu, it lantas saja berkata: "Cia Cianpwee, untuk kepentingan anak ini, aku akan mengajukan suatu permohonan kepadamu dan ku harap kau tidak menolaknya."
"Permohonan apa ?" tanyanya.
"Aku ingin menyerahkan Liam Coe kepadamu untuk dijadikan anak angkat," jawabnya. "Biarlah kalau sudah besar, ia dapat merawat kau seperti ayahandanya sendiri. Dengan berada dibawah perlindunganmu seumur hidupnya ia tentu tak akan dihina orang. Ngoko, bagaimana pendapatmu?"
"Bagus!",kata Coei San. "Aku harap Cia Cianpwee tidak menolak permohonan kami berdua."
Paras muka Cia Soen mendadak berobah dan diliputi dengan sinar kedukaan yang sangat besar. "Anak kandungku sendiri telah dibanting orang sehingga jadi perkedel," katanya dengan suara perlahan. "Apa kau tidak lihat?"
Coei San dan Sa So saling melirik dengan perasaan berkuatir, karena perkataan itu seperti keluar dari mulµtnya seorang edan. Dalam kekuatiran merekapun merasa kasihan terhadap orang yang bernasib malang itu. Sesudah berdiam sejenak, Cia Soen berkata pula: "Kalau dia hidup, sekarang sudah berusia delapan belas tahun. Aku Cia Soen pasti akan turunkan semua baik ilmu surat maupun ilmu silat kepadanya. Huh huh! Dia belum tentu kalah dari Boe tong Cit hip atau Siauw lim Sam gie."
Kata-kata itu, yang kedengarannya angkuh, bernada sedih dan mengutarakan perasaan dari seorang yang hatinya sangat kesepian. Mendengar itu, Coei San dan So So turut berduka dan mereka merasa menyesal, bahwa karena terpaksa, kedua mata orang itu telah dibikin buta.
"Kalau dia masih dapat melihat, bukankah kita berempat bisa hidup senang di pulau ini ?" kata Coei San didalam hati.
Untuk beberapa saat lamanya, ketiga orang itu tidak mengeluarkan sepatah kata. Akhirnya kesunyian dipecahkan oleh Coei San yang berkata dengan suara tetap: "Cia Cianpwee, kau terimalah anak ini. Kami akan menukar she nya jadi she Cia."
Mendadak, sehelai sinar terang berkelebat di muka Cia Soen yang suram. "Apa benar ?" tanyanya dengan suara kurang percaya. "Kau rela dia menukar she ? Cia Liam Coe....Cia Liam Coe.... Namun itu cukup baik. Tapi anakku yang mati bernama Boe Kie."
"Kalau Cia ciapwee menghendaki, anak kami boleh dinamakan Boe Kie," kata Coei San.
Tak kepalang girangnya Cia Soen, tapi dalam kegirangan itu, ia merasa sangsi, kalau-kalau ke dua suami isteri itu sedang menipu dia. "Kalian memberikan anakmu kepadaku, tapi bagaimana kau sendiri ?" tanyanya pula.
"Tak perduli dia she Cia atau she Thio, kami berdua akan tetap menyintainya," kata Coei San. "Di belakang hari, ia harus mengunjuk kebaktian kepada Cianpwee dan kepada kami sendiri. Bukan kah itu baik sekali ? So So, bagaimana pendapat mu?"
"Aku setuju apa yang dikatakan olehmu," jawab So So dengan suara agak bersangsi. "Makin banyak orang menyintainya, makin bagus untungnya anak itu."
Dengan air mata berlinang-linang Cia Soen menyoja sambil membungkuk. "Aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih kepada kalian," kata nya dengan suara terharu. "Sakit hati membuta kan mata mulai sekarang sudah dihapuskan, Cia Soen kehilangan anak, tapi hari ini dia mendapat pula seorang anak. Di hari kemudian, nama Cia Boe Kie akan menggetarkan dunia dan biarlah orang tahu, bahwa ayahnya adalah Thia Coei San, ibunya In So So, sedang ayah angkatnya adalah Kim mo Say ong Cia Soen"
Barusan So So agak bersangsi karena Cia Boe Kie yang tulen telah binasa seperti perkedel, sehingga ia kuatir nama itu kurang baik, untuk anak nya. Tapi melihat kegirangan Cia Soen yang begitu besar, ia merasa tak tega untuk mengutara kan kesangsiannya. Ia yakin, bahwa anak itu tentu akan sangat dicinta Cia Soen dan hal ini merupakan keberkahan untuk anak itu.
"Cia Cianpwee apa kau mau mendukungnya?" tanyanya sambil mengangsurkan anak itu.
Cia Soen menyambuti dan memeluknya dengan hati-hati. Mendadak, karena terlalu girang, kedua tangannya bergemetaran dan air matanya mengalir. "Kau...kau.. ambilah pulang,"katanya. "Melihat mukaku, dia bisa ketakutau setengah total."
"Jika masih senang, kau boleh mendukungnya terlebih lama," kata So So sambil bersenyum. "Dikemudian, hari kaulah yang harus mengajak ia bermain-main." Sehabis berkata pegitu ia menyambuti anak itu.
,
"Baik! Baik!" kata Cia Soen sambil tertawa debar.
Mendengar si bayi menangis keras ia ber kata pula: "Tetekkanlah. Dia ]apar. Aku mau keluar dulu." Coei San dan So So bersenyum. Dengan matanya yang sudah buta, biarpun So So sedang menyusukan, ia sebenarnya boleh berdiam terus disitu. Tadi dalam kalapnya, ia begitu ganas. Tapi sekarang, ia begitu mengenal adat.
Sebelum ia bertindak keluar, Coei San sudah mendului: "Cia Canpweee...."
"Tidak! Sesudah kita jadi orang sendiri, kau tak dapat menggunakan istilah Cianpwee lagi," katanya. "Apa kalian setuju jika kita sekarang mengangkat saudara? Tali kekeluargaan ini akan banyak baiknya untuk anak kita!"
"Cianpwee adalah seorang yang berusia banyak lebih tua dan berkepandaian banyak lebih tinggi, sehingga mana bisa kami berdua berdiri berendeng dengan Cianpwee?" kata Coei San.
"Fui!" bentak Cia Soen. "Kau adalah seorang dari Rimba Persilatan dan aku sungguh tak mengerti mengapa kau begitu, rewel ? Ngotee, Soe moay, apakah kau berdua bersedia untuk memanggil aku Toako (kakak paling tua) ?"
"Baiklah, biar aku yang lebih dulu memanggil Toako." kata So So. "Kalau dia tetap mau panggil kau Cianpwee, maka terhadap akupun, dia harus memanggil Cianpwee."
"Kalau begitu, biarlah siauwtee menurut perintah Toako," kata Coei San.
"Sesudah kita mencapai persetujuan, beberapa hari lagi, sesudah aku lebih kuat, barulah kita bersembahyang dan memberitahukan kepada Langit dan bumi, akan kemudian menjalankan peradatan mengangkat ayah dan mengikat tali persaudaraan," kata SoSo.
Cia Soen tertawa terbahak-bahak. "Satu laki laki tak akan menarik pulang perkataannya. Perlu apa bersembahyang kepada langit? Aku sudah membenci Langit !" Sehabis berkata begitu dengan tindakan lebar ia berjalan keluar. Beberapa saat kemudian, Coei San dan So So mendengar suara tertawanya yang panjang dan nyaring. Sedari bertemu, belum pernah mereka melihat dia begitu bergembira.
Demikianlah, dengan penuh perhatian, ketiga orang itu merawat dan memelihara Cia Boe Kie. Sebagai seorang yang bergelar Kim-mo Say ong, kepandaian Cia Soen dalam ilmu menangkap dan melatih binatang dapat dikatakan tidak bandingannya didalam dunia. Coei San mengajak ia pergi keberbagai pelosok pulau itu dan sekali pergi, ia tidak melupakan lagi jalanan jalanannya.
Dalam pembagian pekerjaan, Cia Soen bertanggung jawab untuk menyediakan daging kepada keluarganya, menangkap menjangan atau memburu biruang.
Kadang-kadang sikera merah mengikut, tapi karena cara kera itu membinasakan biruang terlalu mudah, maka Cia Soen berbalik tidak merasa gembira. Semula ia masih suka mengajaknya untuk dijadikan penunjuk jalan, tapi sesudah mengenal jalanan, ia tidak mempermisikan lagi dia mengikut dan memerintahkannya berdiam untuk ber main-main dengan Boe Kie.
Beberapa tahun telah lewat dengan aman sentosa. Bayi itu bertubuh kuat, tidak pernah mengenal penyakit, dan dengan cepatnya sudah menjadi seorang anak yang mungil dan subur. Diantara ketiga orang tua itu, Cia Soen lah yang paling memanjakannya. Setiap kali Coei San atau So So mau nenghukumnya, karena ia terlalu nakal, Cia Soen selalu datang disama tengah dan menghalang halangi. Dengan demikian, saban-saban ayah dan ibu kandungnya bergusar, ia tentu lari ketempat sang ayah angkat untuk meminta pertolongan. Kedua orang tuanya hanya dapat menggeleng-geleng kan kepala dan menggerutu, bahwa anak itu terlalu dimanja oleh sang toako.
Waktu Boe Kie berusia empat tahun, So So lalu mulai mengajar ilmu surat kepadanya. Pada hari ulang tahunnya yang kelima, Coei San berkata: "toako, anak kita sudah boleh belajar silat. Mulai hari ini, kurasa kau sudah boleh mengajarnya. Apa Toako setuju?"
Sang kakak menggelengkan kepalanya. "Tak bisa," jawabnya. "Ilmu silatku terlampau dalam. Jika sekarang aku yang mengajarnya, ia tak mengerti. Sebaiknya, lebih dulu kau menurunkan ilmu Boe tong Sim hoat dan sesudah is berusia delapan tahun, barulah aku yang mengajarnya. Sesudah aku mengajar dua tahun, kamu sudah boleh pulang!
So So kaget dan heran. "Apa? pulang? Pulang ke Tionggoan?" menegasnya.
"Benar." jawabnya. "Selama beberapa tahun, sehari aku memperhatikan arah angin dan arus air. Aku mendapat kenyataan, bahwa saban tahun pada malam yang paling panjang, turunlah angin yang meniup keras terus menerus sampai beberapa puluh malam. Sebelum waktu itu tiba, kita dapat membuat sebuah getek yang besar, memasang layar dan jika Langit tidak mengacau, mungkin sekali kalian bisa ditiup angin sampai di Tionggoan."
"Kami?" tanya pula So So. "Apa kau tidak turut serta?"
"Mataku sudah tidak bisa melihat, perlu apa aku pulang ke Tionggoan?" jawabnya.
"Jika kau tidak ikut, kami pasti tak akan mempermisikan kau berdiam sendirian dipulau"
kata So So. "Anak kitapun tak akan mau mengerti, Ka1au bukan Gie hoe (ayah angkat), siapa lagi yang bisa menyayangnya?"
Cia Soen menghela napas dan paras mukanya kelihatan berduka. "Aku sudah menyayangnya sepuluh tahun. cukuplah," katanya. "Langit selama nya mengacau penghidupanku. Jika anak kita berdampingan terlalu lama denganku, Langit mungkin akan menggusari dia dan dia bisa celaka."
Coei San dan So So bingung. Tapi sesaat kemudian, mereka manganggap, bahwa sang kakak bicara sembarangan saja dan hati mereka jadi lebih lega.
Mulai hari itu, Coei San mulai memberi pelajaran Lweekang kepada puteranya. Ia menganggap bahwa bagi anaknya yang masih begitu kecil, pelajaran Lweekang untuk menguatkan diri sudahlah cukup.
Disamping itu, dengan berdiam dipulau tersebut, anak itu sebenarnya tidak perlu memiliki ilmu silat, karena tidak ada kemungkinan untuk berkelahi. Mengenai kesempatan pulang ke Tionggoan tidak pernah disebut-sebut lagi oleh Cia Soen, sehingga Coei San dan So So menganggap, bahwa kakak mereka sudah berkata begitu secara sembarangan saja.
Waktu Boe Kie berusia delapan tahun, benar saja Cia Soen mengajukan untuk memberi pelajaran ilmu silat. Tapi ia mengadakan peraturan, bahwa waktu ia menurunkan pelajaran, baik Coei San maupun So So tidak boleh turut menyaksikan. Peraturan itu yang sudah lazim dalam Rimba Persilatan, tidak pernah dibantah oleh mereka. Mereka tahu, bahwa sang kakak akan memberi pelajaran yang sebaik baiknya kepada Boe Kie.
Sang tempo lewat dengan cepat dan tahu-tahu Boe Kie sudah menerima pelajaran setahun lebih dari ayah pungutnya. Semenjak terlahirnya anak itu, karena hatinya bahagia dan mempunyai tugas tertentu, Cia Soen tak pernah memperhatikan lagi To liong to. Pada suatu malam, karena tak dapat pulas. Coei San keluar dari guha dan jalan-jalan diseputar situ. Tiba-tiba ia lihat Cia Soen sedang bersila diatas satu batu besar sambil mencekal golok mustika dengan kepala menunduk.
Baru saja ia mau menyingkir diri, sang kakak yang sudah mendengar suara tindakannya sudah keburu berseru: "Ngotee, kurasa kata-kata Boe lim coe-coan, poto To liong hanya kata-kata kosong belaka."
Coei San menghampiri seraya berkata: "Di dalam Rimba Persilatan memang banyak sekali tersiar omongan-omongan yang tidak boleh dipercaya. Toako adalah seorang yang berpengetahuan tinggi, sehingga aku sesungguhnya tidak mengerti, mengapa kau percaya omongan itu?"
"Ngotee, aku bukan percaya secara serampangan saja," jawabnya. "Keterangan itu dapat dari Kong kian Taysoe, seorang pendeta dari Siauw limpay."
"Ah!" Coei San mendadak mengeluarkan seruan tertahan. "Kong kian Taysoe! Kudengar ia adalah Soeheng (kakak seperguruan) dari Kong boen Taysoe, Ciangboejin Siauw limpay. Ia sudah meninggal dunia lama sekali."
"Benar," kata Cia Soen. "Akulah yang membinasakannya!"
Tak kepalang kagetnya Coei San. Dalam dunia Kangouw terdapat kata yang seperti berikut: "Siauw lim Seng ceng, Kian Boen Tie Seng," (Pendeta suci dari Siauw lim pay yalah Kian, Boen, Tie dan Seng). Kata-kata itu adalah untuk mengunjuk keempat Hweeshio lim sie, yaitu Kong kian, Kong boen, Koug tie dan Kong seng. Belakangan ia dengar dari gurunya, bahwa Kong kian telah meninggal dunia dan tak dinyana, sekarang ia mendapat tahu, bahwa pendeta suci itu telah dibinasakan oleh kakaknya.
Cia Soen telah menghela napas panjang dan paras mukanya berubah sedih. "Kong kian manusia tolol," katanya. "Ia membiarkan aku memukulnya tanpa membalas. Ia mati sesudah dipukul tigabelas kali"
Coei San jadi lebih kaget lagi. Seorang yang kuat menerima tigabelas pukulan Cia Soen, harus mempunyai kepandaian yang luar biasa tinggi.
Sementara itu, paras muka Cia Soen jadi semakin suram dan terdapat sinar kemenyesalan yang sangat dalam.
Coei San mengerti, bahwa dibalik kebinasaan Kong kian Taysoe bersembunyi peristiwa yang sangat mendukakan. Ia yakin bahwa kebinasaan pendeta suci itu bukan kejadian yang biasa saja. Biarpun sudah delapan tahun mereka hidup bersama-sama dipulau itu sebagai saudara angkat, dalam rasa menghormat kepada kakak, dalam hati Coei San juga terdapat rasa jerih. Ia tidak berani menanya melit-melit, karena kuatir membangunkan peringatan tidak enak dari masa dahulu.
"Selama hdupku, orang yang dihargai olehku hanya beberapa gelintir saja," kata pula Cia Soen dengan suara perlahan. "Orang yang seperti guru mu, yaitu Thio Cinjin, aku hanya mendengar nama dan belum pernah bertemu dengan beliau. Kong kian Taysoe sungguh seorang pendeta suci. Meskipun nama besarnya tidak begitu dikenal seperti adik adik seperguruannya, seperti Kong tie dan Kong seng, tapi menurut pendapatku, kepandaian kedua Taysoe itu tak dapat menandingi Kong kian Taysoe"
Semenjak bertemu dengan Coei San, Cia Soen selalu memandang rendah kepada semua pentolan pentolan dunia. Maka itu, Coei San heran tak kepalang ketika mendengar pujian terhadap Kong kian Taysoe.
"Mungkin sekali karena orang tua itu selalu hidup menyembunyikan diri didalam kelenteng, maka tak banyak orang mengenal kapandaiannya." kata Coei San.
Cia Soen tidak kedengaran menjawab. Ia bengong dan kedua matanya mengawasi ketempat jauh.
"Sayang!..... Sungguh sayang!....." katanya pada dari sendiri, "Manusia yang begitu luar biasa telah binasa dalam tanganku! Jika waktu itu ia membalas, aku Cia Soen tentu tak bisa hidup sampai sekarang,"
"Apakah Kepandaian pendeta itu lebih tinggi daripada Toako ?" tanya Coei San.
"Mana bisa aku dibandingkan dengan beliau ?" jawabnya. "Ilmu silat murid-muridnya juga lebih tinggi daripada aku." Ia mengeluarkan kata-kata itu dengan nada penyesalan yang tiada taranya.
Coei San jadi makin heran. Ia hampir tak percaya keterangan kakaknya. Gurunya sendiri, Thio Sam Hong, adalah salah seorang luar biasa pada jaman itu. Tapi ia yakin, bahwa Jika gurunya mesti bertanding dengan Cia Soen, paling banyak sang guru lebih unggul setengah tingkat. Jika Kong kian lebih unggul dari pada Cia Soen, bukankah gurunya sendiri tak akan dapat menandingi Kong kian? Tapi iapun mengenal kakaknya sebagai manusia yang sangat angkuh. Jika ia tak benar-benar merasa takluk, ia pasti tak akan membuat pengakuan itu.
Cia Soen rupanya dapat membaca apa yang dipikir oleh adiknya. "Baiklah. Panggil Boe Kie sekarang. Katakan padanya, bahwa aku ingin menceritakan sebuah cerita dahulu."
Walaupun merasa, bahwa membangunkan anak itu tengah malam buta bukan seharusnya, Coei San tak berani membantah perintah sang kakak. Maka itu, ia segera kembali keguhanya dan membangunkan arak itu. Mendengar ayah angkatnya mau bercerita, Boe Kie jadi girang dan mengia kan dengan suara keras-keras, sehingga ibunya turut tersadar. Maka itu, mereka bertiga lantas saja pergi keguha Cia Sam untuk mendengari ceritera yang dijanjikan.
Sesudah semua orang berkumpul, Cia Soen segera mulai: "Anak, tak lama lagi kau akan pulang ke Tionggoan"
"Apa? Ke Tionggoan ?" memutus Boe Kie.
Cia Soen menggoyangkan tangan supaya anak itu jangan memutuskan omongannya dan berkata pula "Jika getek kita tenggelam dilaut atau ditiup angin ke samudera yang luas, maka kita boleh tak usah bicara lagi. Tapi andaikata kita kembali ke Tiongggoan, aku ingin memberitahukan suatu hal kepadamu. Ingatlah hati manusia didalam dunia sangat jahat dan kau tidak boleh main percaya kepada siapapun jua kecuali ayah dan ibu sendiri. Aku nyesa1, bahwa diwaktu masih muda, tak pernah ada orang yang memberi nasehat itu kepadaku. Tapi biarpun ada yanh menasehati, waktu itu aku tentu tidak mau percaya."
"Pada waktu aku berusia sepuluh tahun, secara, kebetulan aku telah bisa berguru dengan seorang yang mempunyai nama besar dalam Rimba persilatan. Karena melihat bakatku yarg sangat baik, Soehoe sangat menyayang aku dan telah menurunkan ilmu-ilmu silat yang istimewa kepadaku, sehingga dengan demikian, perhubungan kami adalah bagaikan ayah dan anak. Ngotee, pada waktu itu, rasa cinta dan rasa hormat ku terhadap Soehoe kira-kira bersamaan seperti rasa cinta dan rasa hormatmu terhadap gurumu. Aku keluar dari rumah perguruan dalam usia dua puluh tiga tahun. Tak lama kemudian, aku menikah, dan mempunyai seorang anak. Penghidupan kami sangat beruntung."
"Selang dua tahun, waktu lewat di kampung kelahiranku. Soehoe mampir dan berdiam berapa hari dirumahku. Aku girang bukan main dan seluruh keluarga melayaninya dengan sepenuh perhatian. Dengan menggunakan kesempatan itu, guru ku juga memberikan berbagai petunjuk pada kekurangan-kekurangan dari ilmu silatku. Tapi siapa nyana.... seorang tokoh yang termasyhur dalam Rimba Persilatan sebenarnya mempunyai hati binatang! Pada tanggal lima belas Bulan tujuh, sesudah minum arak, tiba-tiba ia coba memperkosa isteriku ..."
Dengan berbareng Coei San dan So So mengeluarkan seruan kaget. Guru menodai kehormatan isteri muridnya adalah suatu kejahatan langka dalam Rimba Persilatan.
"Isteriku memberontak dan berteriak-teriak minta tolong." Cia Soen melanjutkan penuturannya. "Mendengar teriakan itu, ayahku menerjang masuk kedalam kamar. Melihat rahasianya terbuka, guruku memukul ayahku yang lantas saja binasa. Sesudah itu, dia membinasakan juga ibuku dan membanting Cia Boe Kie, anakku yang berumur belum cukup setahun ...."
"Cia Boe Kie ?" memotong si bocah dengan suara heran.
"Jangan rewel! Dengari cerita Gie-hoe!" bentak Coei San.
"Benar," jawab sang ayah pungut. "Itulah anak kandungku yang namanya bersamaan dengan namamu. Guruku membantingnya keras-keras, sehigga dia jadi perkedel!"
"Gie-hoe ! Apa.... .apa dia masih bisa hidup ?" tanya Boe Kie.
"Tak bisa! Tak bisa hidup lagi!" jawabnya dengan suara parau.
So So mendelik sambil menggoyang goyangkan tangannya untuk melarang anak itu untuk menanya lagi.
Sesudah bengong beberapa saat, barulah Cia Soen berkata lagi: "Melihat kejadian itu nyawaku terbang separuh dan aku berdiri terpaku sambil mengawasi dengan mata membelalak. Tiba-tiba guruku me!ompat dan meninju dadaku, sehingga aku rubuh terguling dalam keadaan pingsan. Ketika aku tersadar, guruku sudah menghilang, sedang diseputar rumahku penuh mayat. Mayat ayah dan ibuku, isteriku, anakku, isteri adikku dan bujang-bujangku, semuanya berjumlah tigabelas jiwa. Ia tidak memukul aku lagi, sebab rupanya ia duga aku sudah mati"
"Sebab terluka, berduka dan bergusar secara melampaui batas, aku mendapat sakit berat sekali. Sesudah sembuh, siang malam aku melatih diri dan selang lima tahun, aku mencari guruku untuk membalas sakit hati. Tapi kepandaianku masih kalah terlalu jauh, sehingga dapat hinaan yang sangat lebar. Bia bagaimana pun sakit hati tiga belas orang tak dapat di sudahi dengan begitu saja. Aku segera berkelana untuk mencari guru yang pandai. Selama sepuluh tahun, aku telah bertemu dengan tiga orang berilmu yang menurunkan kepandaiannya kepadaku. Dengan dugaan bahwa kepandaianku sudah cukup tinggi, sekali lagi aku mencari guruku. Tapi di luar taksiran, sedang kupandaianku bertambah, kepandaiannya bertambah lebih banyak lagi. Demikianlah untuk kedua kalinya, aku pulang dengan terluka berat"
"Sekali lagi aku melatih diri tanpa mengenal capai. Kali ini aku melatih Lweekang dari Cit siang koen (ilmu pukulan Tujuh Luka) dan sesudah berlatih tiga tahun lamanya, barulah aku berhasil. Aku menganggap, bahwa dengan memiliki kepandaian itu, aku sudah boleh berendeng dengan ahli ahli silat kelas utama dan jika guruku tidak mendapat lain-lain ilmu yang lebih tinggi, ia pasti tidak akan bisa melawan aku. Untuk ketiga kalinya, aku menyatroninya rumahnya, tapi bakan main rasa kecewaku, karena ia sudah pindah ketempat lain. Aku lalu berkelana dalam kalangan Kangnuw untuk mencarinya, tapi ia tetap tak kelihatan mata hidungnva Rupanya, untuk menyingkir dari bencana, ia telah kabur ketempat jauh. Dunia begini luas, dimana aku mencarinya ?"
"Sesudah itu, dengan sakit hati yang makin lama makin mendalam dan kegusaran yang meluap-luap, aku lalu mengamuk. Aku memperkosa wanita, merampok, membunuh dan membakar rumah. Setiap kali bekerja, aku selalu meninggal kan nama guruku !"
"Ah!" Coei San dan So So mengeluarkan seruan kaget dengan berbareng.
"Apa kau tahu siapa guruku?" tanya Cia Soen. So So manggat-mangaut kepalanya seraya berkata: "Kalau, begitu, Toako adalah murid Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen." (Hoen goan Pek lek chioe - si tangan geledek).
Ternyata pada belasan tahun berselang didalam Rimba Persilatan mendadak terjadi gelombang yang sangat hebat. Dalam tempo setengah tahun, dari Liao tong sampai di Lenglam dengan beruntun-runtun terjadi peristiwa-peristiwa besar. Tiga puluh lebih orang-orang gagah kenamaan telah dibunuh dan si pembunuh meninggalkan nama Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen. Orang yang dibunuh, kalau bukan Ciang boenjin suatu partay, tentulah juga seorang gagah yang mempunyai pergaulan luas.
Seluruh Rimba Persilatan telah mengerahkan tenaga untuk menyelidiki pembunuhan itu dan atas perintah guru mereka. Boe tong Cit hiap turun gunung untuk membantu, tapi sesudah membuang banyak tempo dan tenaga, meraka tetap tidak berhasil dalam usahanya. Tak seorangpun tahu, siapa pembunuh yang kejam itu. Semua orang mengerti bahwa ada seorang yang sengaja mau mencelaka kan Seng Koen, karena sebegitu jauh Seng Koen dikenal sebagai manusia baik-baik dan beberapa orang yang telah dibinasakan, adalah sahabat-sahabat baiknya.
Orang satu satunya yang mungkin tahu siapa, pembunuh itu, adalah Seng Koen sendiri. Tapi jago itu mendadak menghilang tanpa meninggalkan bekassehingga, biarpun semua orang gagah dalam dunia Persilatan ingin membantu, mereka tidak berdaya sebab tidak tahu siapa penjahatnya.
Sekarang, sesudah mendengar pengakuan Cia Soen barulah Coei San dan So So mengetahui latar belakang dari kejadian-kejadian yang hebat itu.
Sesudah berdiam beberapa saat, Cia Soen melanjutkan penuturannya: "Kau harus tahu, bahwa tujuan dari sepak terjangku itu adalah untuk memaksa keluarnya Seng Koen. Dengan dicari oleh ribuan atau sedikitnya ratusan orang, menurut dugaanku, ia pasti akan dapat ditemukan."
"Tipu Toako memang sangat bagus," kata So So. "Akan tetapi sungguh kasihan orang-orang itu yang sudah dibunuh tanpa berdosa."
"Hm! Apakah kau tidak merasa kasihan terhadap orang tua dan anak istriku yang juga sudah dibunuh tanpa berdosa!" tanya Cia Soen dengan suara getir. "Dulu kulihat kau seorang yang sangat polos terbuka. Tetapi sesudah menikah sepuluh tahun dengan Ngote, kau jadi bawel seperti nenek tua,"
So So melirik suaminya sambil bersenyum, "Toako, bagaimana buntutnya? Apa kau berhasil mencari Seng Koen?" tanyanya.
"Tidak, tidak berhasil," jawabnya. "Belakangan, waktu berada di Lokyang, aku bertemu dengan Song Wan Kiauw."
Coei San terkesiap. "Song Wan Kiauw, Toa soekoku ?" ia menegas.
"Benar, Song Wan Kiauw, kepala dari Boe tong cit hiap." jawabnya. "Sesudah aku mengamuk, Rimba Persilatan jadi kacau balau dan kalang kabutan. Tapi guru ...."
"Gie-hoe," memutus Boe Kie. "Dia begitu jahat, mengapa masih memanggil guru kepadanya ?"
Cia Soen tertawa getir. "Sudah kebiasaan sedari kecil," jawabnya. "Sebagian besar ilmu silatku didapat daripadanya. Dia jahat, akupun bukan manusia baik. Mungkin sekali, segala kejahatanku juga didapat daripadanya. Maka itu, aku tetap memanggil guru kepadanya."
Mendengar penuturan sang kakek yang sedemikian hebat. Coei San jadi merasa kuatir, bahwa ceritera itu akan memberi pengaruh kurang baik kepada Boe Kie. Diam-diam dia mengambil keputusan untuk memberi penerangan dan penjelasan lebih jauh kepada bocah itu.
Sementara itu, Cia Soen sudah menyambung pula penuturannya: "Melihat guruku belum juga muncul, aku berpendapat, bahwa kalau aku tidak melakukan perbuatannya yang menggemparkan dunia, ia pasti tak akan keluar. Sebagaimana kau tahu, daiam Rimba Persilatan, yang paling dihormati orang adalah partai Siauw lim dan Boe-tong."
"Menurut pendapatku, aku baru bisa berhasil jika membunuh seorang pentolan Siauw lim atau Boe tong. Hari itu, ditaman Bouw tan wan, depan kuil Ceng hie koan di Lokyang, aku telah menyaksikan cara bagaimara Song Wan Kiauw menghajar seorang hartawan jahat. Aku mendapat kenyataan, bahwa ia benar-benar berkepadaian tinggi dan pada saat itu juga, aku segera mengambil keputusan untuk membinasakannya."
Walaupun tahu, bahwa pada akhirnya Song Wan Kiauw tidak terbunuh, Coei San merasa terkejut juga. Ia yakin, bahwa kepandaian Cia Soen banyak lebih tinggi dari saudara seperguruannya, sehingga kalau diserang, Toasoehengnya pasti akan dijatuhkan, So So yang juga tahu, bahwa Song Wan Kiauw tidak dibinasakan, lantas saja berkata: "Toako, masih untung kau tidak tega turunkan tangan jahat, Jika kau binasakan Song Tayhiap. Thio Ngohiap pasti akan mengadu jiwa denganmu dan kita tak bisa mengangkat saudara lagi."
Cia Soen mengeluarkan suara dari hitung. "Tidak tega? Mana boleh tidak tega?" katanya. "Kalau sekarang, aku tentu tak akan memusuhi orang orang Boe tong. Tapi pada waktu itu, jangankan Song Wan Kiauw, sedangkan Ngote sendiripun, jika bertemu denganku, aku pasti akan coba membinasakannya tanpa ragu ragu lagi."
"Gie hoe. mengapa kau mau membunuh ayah?" Boe Kie menyelak.
"Aku hanya menyebutkan suatu perumpamaan dan bukan benar-benar mau membunuh ayahmu," jawab sang ayah angkat sambil tersenyum.
"Oh begitu?" kata si bocah.
Sambil mengusap-usap kepala anak itu, Cia Soen berkata pula dengan suara perlahan: "Meskipun langit sering menyakiti batiku, kali ini aku merasa syukur bahwa pada akhirnya, aku tidak membunuh Song Wan Kiauw. Memang benar, jika Song Wan Kiauw sampai dibunuh olehku, kita tak akan bisa mengangkat saudara." Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi: 'Malam itu, sesudah bersantap, aku segera bersemedhi didalam kamar untuk mengumpulkan semangat dan tenaga. Aku mengerti, bahwa sebagai kepala dari Cit hiap, song Wan Kiauw mempunyai kepandaian yang sangat tinggi. Jika dengan sekali pukul aku tidak dakat membinasakannya dan ia bisa melarikan diri, maka rahasiaku akan bocor dan usaha mencari guruku akan gagal sama sekali. Bukan saja begitu, aku malah bakal dikepung oleh orang-orang gagah dikolong langit. sehingga, biarpun aku mempunyai tiga kepala enam tangan. Aku pasti tak kan dapat melawannya. Aku mati tak menjadi soal tapi jika aku mati begitu rupa, sakit hati yang begitu besar itu akan dibawa kelubang kubur."
"Gie hoe," tiba Boe Kie menyelak lagi." Matamu tidak bisa melihat. Tunggulah sampia aku besar. Sesudah mempunyai kepandaian tinggi, aku akan membalas sakit hati Gie hoe."
Perkataan itu mengejutkan Cia Soen dan Coei San yang dengan serentak bangun berdiri. Dengan mata yang tak dapat melihat, Cia Soen "mengawasi" anak angkatnya dan berkata dengan suara perlahan: "Boe Kie, apa benar kau menpunyai niatan begitu?"
Coei San daa So Sa jadi bingung. Sekarang mereka berada disebuah pulau terpencil didaerah Kuub Utara, sehingga belum tentu mereka bisa kembali ke Tiong goan. Akan tetapi, didalam Rimba Persilatan orang sangat mengutamakan kepercayaan. Sekali berjanji seumur hidup tak dapat ditarik lagi. Begitu lekas Boe kie menyanggupi untuk membalas sakit hati Cia Soen, maka ia segera memikul beban yang luar biasa berat diatas pundaknya. Sedang Cia Soen yang memiliki kepandaian sedemikian tinggi masih belum mampu membalas sakit hatinya, bagaimana anak itu bisa memenuhi janjinya ?
Menurut kebiasaan Rimba Persilatan, walaupun anak itu masih kecil, dalam urusan itu, ia harus mengambil keputusan sendiri dan orang tua nya tidak boleh mempengaruhi pikirannya. Maka itu, meskipun sangat berkuatir, Coei San dan So So tidak berani mengeluarkan sepatah kata.
"Gie hoe," kata anak itu dengan suara nyaring "Orang yang membinasakan serentero keluargamu, bernama Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen, bukan? Baiklah Boe Kie akan mengingat nama itu. Dibelakang hari, anak tentu mewakili ayah untuk membalas sakit hati dan akan membasmi seluruh keluarganya, tak satupun yarg diberi hidup!"
"Boe Kie ! Jangan ngaco kau!" bentak Coed San dengan gusar. "Satu orang yang berbuat, satu orang yang harus bertanggung jawab, Biarpun dosanya Seng Koen lebih besar lagi, hanya dia seorang yang harus mendapat hukuman. Lain orang yang tidak berdosa tidak boleh diganggu selembar rambutnya!"
"Ya, ya . . . Thia thia," katanya dengan suara ketakutan dan ia tidak berani membuka suara pula.
"Orang yang sudah mati tak tahu suatu apa," kata Cia Soen. "paling hebat yalah hidup sendirian didalam dunia sesudah seluruh keluarga dibinasakan orang...."
"Toako, bagaimana kesudahan usahamu untuk bertempur dengan Toasoeheng," Coei San memotong perkataan kakaknya. Ia berbuat begitu karena kuatir Cia Soen bicara terlalu panjang mengenai penderitaannya, sehingga dapat memberi pengaruh yang lebiih besar pada anaknya.
"Sungguh heran Toasoeheng be1um pernah memberitahukan kejadian itu kepada kami"
"Song Wan Kiauw belum pernah mimpi bahwa ia pernah men jadi bulan-bulanan," jawabnya.
"Mungkin sekali, ia malah belum pernah mendengar nama kin mo Say ong Cia Soen. Mengapa ? Karena pada akhirnya, aku tidak jadi cari padanya."
Coei San menarik napas lega. "Terima kasih Langit, terima kasih bumi." katanya.
"Mengapa kau mengaturkan terima kasih kepada langit dan bumi?" tanya So So sambil tertawa. "Yang harus menerima pernyataan terima kasihmu adalah Cia Toako."
Mendengar itu, Coei San dan Boe Kie turut tertawa.
Cia Soen tidak turut tertawa. Paras mukanya berubah jadi duka dan ia berkata dengan suara perlahan: "Kejadian malam itu masih diingat tegas olehku, seperti juga baru terjadi kemat in. Aku duduk diatas pembaringan batu dan menjalankan pernapasan, melatih Cit siang koen beberapa kali. Ngote, kau belum pernah menyaksikan pukulan Cit siang koen. Apa kau ingin melihatnya ?"
"Ilmu pukulan itu tentulah hebat luar biasa," mendahului So So "Toako, mengapa kau tidak cari Song Tayhiap ?"
"Kalau tidak hebat, bagaimana pukulan itu bisa dinamakan Cit siang koen?" kata Cia Soen sambil tersenyum dan lalu jalan mendekati satu pohon besar. Ia mengangkat tangan seraya menbentak keras, menghantam dahan pohon itu.
Dengan Lweekang yang dimilikinya, biarpun ia tak dapat merubuhkan pohon itu, sedikitnya tinju Cia Soen akan amblas didahan. Tapi diluar dugaan, pohon itu bergoyangpun tidak, sedang kulit nya tetap utuh. So So merasa menyesal dan berkata didalam hati: "Sesudah berdiam disini sembilan tahun, ilmu silat Toaka merosot banyak. Hal itu tak heran, karena ia memang tak pernah berlatih lagi." Tapi walaupun hatinya berduka, mulutnya bersorah sorai.
"Se moay sorakanmu tidak keluar dari hati yang setulusnya," kata sang kakak. "Kau anggap ilmu sllatku sudah tidak seperti dulu, bukan."
"Dengan berdiam dipulau terpencil ini dan kita berempat adalah orang sekeluarga, memang tak perlu kita berlatih silat lagi," kata So So.
"Ngotee, apa kau bisa melihat lihaynya pukulanku?" tanya Cia Soen tanpa menghiraukan So So.
"Waktu menyambar, pukulan itu sangat dahsyat, sehingga aku tidak mengerti, mengapa pohon itu tidak bergeming, malah daunnya tidak bergoyang," kata Coei San. "Aku percaya malah Boe Kie dapat menggoyang dahan itu."
"Aku bisa!" teriak sibocah sambil berlari-lari dan kemudian meninju dahan pohon itu. Benar saja pohon yang besar itu bergoyang keras. Kedua suami isteri girang bukan main, karena putera mereka sudah memiliki tenaga yang begitu besar. Mereka mengawasi Cia Soen dan menunggu penjelasan sang kakak.
Cia Soen bersenyum seraya berkata: "Tiga hari kemudian semua daun akan menjadi kering dan rontok dan selewatnya tujuh hari, pohon itu akan mati berdiri. Aku sudah memutuskan nadi pohon "
Kedua suami isteri kaget dan heran, tapi mereka tidak menyangsikan keterangan itu, karena sang kakak belum pernah berdusta.
Tiba-tiba Cia Soen menghunus To liong to dan menyabet putus dahan yang tadi dipukulnya. Dengan suara gedubrakan, pohon itu rubuh ditanah. "Mari, lihatlah," kata sang kakak. "Kalian boleh manyaksikan lihaynya Cit siang koen."
Coei San bertiga lantas saja menghampiri. Ternyata "hati" pohon sudah menjadi rusak, ada "urat-urat" yang hancur dan ada juga yang putus, suatu tanda, bahwa pukulan itu mengandung beberapa macam tenaga. Bukan main rasa kagumnya Coei San dan So So. "Toako, hari ini kau telah membuka mata siauwtee," kata Coei San.
"Dalam pukulanku itu terdapat tujuh macam tenaga," kata sang kakak dengan suara bangga. "Tenaga keras, tenaga lembek dalam keras, keras dalam lembek dan sebagainya. Seorang musuh dapat menahan tenaga pertama, tak dapat menahan tenaga kedua, yang dapat menahan tenaga kedua, tak akan dapat menahan tenaga ketiga dan begitu seterusnya. Maka itulah, pukulan tersebut diberi nama Cit-siang koen. Huh huh ! Mungkin sekali kau akan mengatakan bahwa Cit-siang koen terlalu kejam."
"Gie hoe, bolehkah kau turunkan Cit siang koen kepadaku?" tanya Boe Kie.
"Tak bisa!" jawabnya seraya menggeleng-geleng kan kepala, sehingga bocah itu merasa sangat kecewa.
"Boe Kie, kau benar edan!" kata So So. "Pukulan Giehoemu itu tak akan dapat dipelajari sebelum mempunyai Lweekang yang sangat tinggi."
Si bocah mengangguk seraya berkata: "Baiklah nanti kalau sudah memiliki Lweekang tiaggi, barulah Boe Kie mengajukan permintaan pula ke pada giehoe."
"Tidak boleh, tak nanti aku turunkan Cit siang koen kepadamu," kata Cia Soen. "Dalam tubuh setiap manusia. bukan saja terdapat hawa Im dan yang (negatif dan positif ) tapi juga lima Heng yaitu Kim, Bok, Soei, Ho dan Touw (emas, kayu, air, api, dan tanah). Misalnya saja, paru-paru termasuk dalam Kim, buah pinggang termasuk dalarn Soei, nyali termasuk dalam Touw dan sebagainya. Begitu lekas seorang melatih diri dalam pukulan Cit siang coen, tujuh bagian isi perutnya yang sangat penting akan terluka. Makin tinggi kepandaiannya, makin hebat luka didalam itu. "Cit siang" atau "tujuh luka", lebih dulu melukai diri sendiri. Kemudian baru melukai musuh. Sabah musabab mengapa aku sering kalap adalah karena latihan Cit siang koen"
Coei San dan So Sal terkejut. Baru sekarang mereka tahu, mengapa Cia Soen yang boen boe song Coei (pandai ilmu surat dan ilmu silat) acap kali berlaku seperti binatang buas.
"Jika aku melatih Cit siang koen sudah memiliki Lweekang yang sama tingginya sepertt Lwee kang Kong kian Taysoe atau Thio Cinjin dari Boe tong pay, mungkin sekali aku tidak sampai terluka, luka itu tidak menjadi halangan," kata pula Cia Soen. "Aku sudah tidak menghiraukan segala bencana karena didorong oleh keinginan untuk membalas sakit hati secepat mungkin. Tahun itu, sesudah membinasakan tujuh orang, barulah aku dapat merampas kitab Cit siang koen dari tangan Kong tong pay dan dengan tergesa-gesa segera melatih diri menurut petunjuk-petunjuk kitab itu. Aku berbuat begitu, sebab kuatir guruku keburu mati dan aku tidak bisa membalas sakit hati. Sesudah kasep dan tidak bisa diubah lagi, barulah aku mendusin, bahwa aku sudah mendapat luka didalam. Aku sama sekali tidak memikir untuk lebih dulu menyelidiki, mengapa dalam kalangan Kong tong pay sendiri tidak ada orang yang mempelajari ilmu pukulan itu. Disamping itu, masih ada lain sebab, mengapa aku segera melatih diri dalam Cit siang koen. Pukulan itu mempunyai sifat-sifat yang dahsyat dap menyeramkan dan bagiku, hal itu merupakan keuntungan besar. Su moay, apakah kau mengerti maksudku."
So So memikir sejenak. "Apakah Toako maksud kan bahwa Cit siang koen agak mirip dengan ilmu silat Pek lek chioe." tanya si adik.
"Benar!" jawabnya. "So moay, kau sungguh pintar. Guruku bergelar Hoen goan Pek lek chioe, atau si Tangan geledek, dan ilmu silatnya mengandung pengaruh angin dan geledek yang sangat hebat. Jika aku menyerang dengan Cit siang koen, ia pasti akan menduga, bahwa aku menyerang dengan ilmu silatnya sendiri, ia akan mendusin sesudah pukulanku mampir dibadannya, tapi sudah kasep. Ngotee, jangan kau mengatakan, aku licik dan kejam, Guruku adalah salah seorang yang paling hati-hati dan paling kejam didunia. Jika kau tidak menggunakan racun untuk melawan racun, sakit hatiku pasti tidak akan terbalas.
Hai! Ngotee, aku sudah melantur terlalu jauh sehingga melupakan soal Kong kian Taysoe yang mau dituturkan olehku. Malam itu, sesudah melatih diri dalam Cit siang koen, aku segera berangkat untuk cari Song Wan Kiauw."
"Selagi melompat keluar dari tembok, sedang kedua kakiku belum hinggap dibumi, tiba-tiba pundakku ditepuk orang. Aku kaget bukan main. Bahwa badanku disentuh orang tanpa aku mampu menangkis, adalah kejadian yang belum pernah terjadi, Boe Kie, cobalah kau pikir. Jika orang itu menepuk dengan menggunakan Lweekang, bukan kah aku sudah mendapatkanluka berat? Aku balas memukul dan begitu lekas kaki kiriku hinggap ditanah, aku memutar badan. Saat itu sekali lagi aku merasa punggungku ditepuk orang dan hampir berbareng terdengar hela napas dan suara seorang: "Lautan penderitaan tiada terbatas, menengok kebelakang melihat tepian."
Boe Kie gembira sekali, ia tertawa terbahak bahar. "Gie hoe," katanya. "Apa orang itu main main denganmu?" Coei San dan So So sudah menebak, bahwa orang itu Kong kian Taysoe adanya.
"Waktu itu aku begitu kaget, sehingga sekujur badan dingin semua," Cia Soen melanjutkan panturannya. "Dengan kepandaian yang sedemikian tinggi, dengan mudah orang itu bisa mengambil jiwaku. Tapi delapan perkataan yang diucapkan nya bernada lemah lembut, penuh kasih dan sayang. Begitu memutar badan. kulihat seorang pendeta yang mengenakan jubah putih berdiri dalam jarak empat tombak lebih. Dengan demikian, sesudah menepuk punggungku, ia sudah melompat kurang lebih empat tombak jauhnya dan kecepatan gerakan itu sungguh-sungguh luar biasa."
"Pada waktu itu, aku hanya menarik suatu kesimpulan, bahwa yang berdiri dihadapanku bukan manusia, tapi setan penasaran dari seorang yang telah diburuh olehku. Aku menarik kesimpulan itu, karena, menurut pendapatku, seorang manusia biasa tak nanti mampu bergerak begitu cepat. Sebab menduga begitu, nyaliku jadi besar lagi dan aku segera membantak: Setan siluman! Pergi kau! Aku tidak takut Langit dan bumi, apalapi kau!"
"Pendeta itu merangkap kedua tangannya seraya berkata: Cia Kiesoe, Looceng Kong kian memberi hormat. Begitu mendengar perkataan 'Kong kian' aku terkesiap. Sudah lama kudengar 'Siauw lim Sang ceng, Kian, boen, tie seng yang tersiar luas didalam Rimba Persilatan. Kong kian Taysoe adalah kepala dari empat pendeta nabi (Sengceng ) Siauw lim sie sehingga tidaklah heran jika ia memiliki kepandaian yang begitu tinggi."
Mendengar sampai disitu, hati Coei San dan So So merasa sangat tidak enak, karena mereka tahu, pada akhirnya Kong kian binasa karena tiga belas pukulan Cia Soen.
Sesudah berdiam sejenak, Cia Soen berkata pula: "Aku mengawasinya seraya bertanya: Apa kah aku sedang berhadapan dengan Kong kian Seng ceng dari Siauw lim sie? Ia jawab: Perkataan Seng ceng aku tidak dapat menerima tapi memang benar loolap ialah Kong kian dari Siaw Lim sie. Aku kata: Aku dan Taysoe belum pernah mengenal satu sama lain, tapi mengapa Taysoe mempermainkan aku? kata Kong kian: Mana berani loolap mempermainkan Kiesoe? Aku hanya ingin menanya: Kemana Kiesoe mau pergi? Ku jawab: Kemana kumau pergi tiada sangkut pautnya dengan Taysoe! Ia menghela napas dan berkata dengan suara perlahan: Malam ini Kiesoe ingin membunuh Song Wan Kiauw Tayhiap dari Boe tong pay. Bukankah begitu? Sekali lagi aku terkesiap."
"Ia mengawasi aku dengan mata tajam dan berkata pula: Kiesoe ingin melakukan perbuatan yang menggemparkan Rimba Persilatan untuk memancing keluar Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen guna membalas sakit hati.... Aku heran dan kaget tak kepalang. Aku belum pernah memberitahu perbuatan guruku kepada orang lain dan gurukupun tak pernah membuka rahasia busuknya itu ?"
"Begitu mendengar Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen, tubuhku menggigil. Jika Taysoe sudi mengunjuk dimana adanya dia, aku rela menjadi kerbau atau kuda untuk kepentingan Taysoe, kata ku. Ia menghela napas dan berkata dengan suara menyesal: Perbuatan Seng Koen memang suatu kedosaan yang sangat besar. Akan tetapi, dalam kegusarannya, Kiesoe sudah membunuh begitu banyak orang dan perbuatan Kiesoe itu juga merupakan kedosaan yang tidak kecil."
"Aku mendongkol dan sebenarnya ingin sekali menyemprotnya. Tapi karena tahu, bahwa aku bukan tandingannya, maka sambil menahan amarah, aku berkata: Aku berbuat begitu sebab tidak ada jalan lain. Seng Koen menyembunyikan diri dan aku tidak dapat mencarinya."
"Ia manggut-manggutkan kepala seraya berkata: Aku mengerti, aku sangat merasakan perasanmu. Sakit hatimu besar luar biasa dan aku tidak dapat melampiaskan, akan tetapi, Song Tay hiap adalah murid pertama Thio Sam Hong Cinjin dan jika kau membinasakannya, bakal muncul gelombang yang tidak kecil. "
"Aku tersenyum getir. Itu memang tujuanku,jawabku. Makin dahsyat gelombang yang diterbitkan olehku, makin baik lagi, karena hanyalah itu yang bisa memaksa keluarnya Seng Koen dari tempat persembunyiannya."
"Sesudah itu, aku dan Kong Kian bicara seperti berikut: Cia Kiesoe, jika kau membinasakan Song Tayhiap, memang Seng Koen tidak bisa tidak keluar dari tempat persembunyiannya. Akan tetapi, Seng Koen sekarang bukan Seng Koen dulu. Terang terang aku mengatakan, bahwa kepandaian Kie soe masih belum dapat menandinginya. Biar bagaimanapun jua, Kiesoe tak akan bisa membalas sakit hatimu. "
"Seng Koen adalah guruku. Aku lebih mengenal kepandaiannya daripada Taysoe."
"Tidak, tidak begitu. Ada halnya yang tidak di ketahui Kiesoe. Seng Koen telah mendapat guru yang sangat lihai dan selama tiga tahun ia telah memperoleh kemajuan lvar biasa pesat. Biarpun Kiesoe mahir dalam ilmu Cit siang koen dari Khong tong pay Kiasoe tak akan dapat melukakannya"
"Untuk sekian kalinya aku terkejut. Kong kian Taysoe belum pernah bertemu denganku, tapi gerak gerikku diketabui begitu jelas olehnya. Aku mengawasinya dengan mata membelalak. Sesudah menenteramkan hatiku yang berdebar-debar, aku bertanya: Bagaimana Taysoe tahu? Ia menjawab: Seng Koen sendiri yang memberitahukan kepadaku"
Coei San, So So dan Boe Kie mengeluarkan suara tertahan dengan berbareng.
"Kalian heran, tapi aku lebih heran lagi. Aku melompat bahna kagetku, dan membentak: Bagaimana dia tahu? Kong kian menjawab dengan suara perlahan: Selama beberapa tahun, ia selalu mendampingi Kiesue. Hanya karena ia selalu selalu menyamar, maka Kiesoe tak mendapat tahu. Tak mungkin! teriakku. Tak mungkin! Aku mengenalnya. Biarkan dia sudah menjadi abu, aku masih dapat mengenalinya."
"Kong kian menggelengkan kepala seraya berkata deagan suara lemah lembut: Cia Kie soe, kau bukan seorang semberono. Akan tetapi, karena kau hanya ingat soal membalas sakit hati, maka kau tidak memperhatikan keadaan disekitarmu. Kau ditempat terang, dia ditempat gelap. Tak heran jika kau tidak mengenalinya."
"Aku tidak bisa tidak percaya keterangan itu. Kong kian taysoe adalah seorang pendeta suci yang namanya terkenal dikolong langit, sehingga tak mungkin ia berdusta. Kalau begitu, bukankah lebih baik baginya jika ia membunuh aku dengan membokong? kataku. Jika ia ingin mengambil jiwa, ia dapat melakukannya seperti membalik tangan sendiri, Kata Kong kian: Cia Kiesoe, dua kali kau coba membalas sakit hati, dua kali telah dikalahkan. Jika ia memang mau menghendaki jiwamu, mengapa waktu itu ia tidak turun tangan? Pada waktu kau coba merampas kitab Cit siang koen, kau telah mengadu Lweekang dengan tiga tetua dari Kong tong pay. Sebagai mana kau tahu, partai itu mempunyai lima orang tetua. Kemana perginya dua tetua yang lain? Mengapa kedua orang itu tidak turut mengerubuti kau? Kalau Ngo lo (Lima tetua) turun tangan dengan berbareng, apakah Kiesoe masih bisa hidup terus?"
"Untuk kesekian kalinya, aku terkejut. Memang benar, waktu aku melukakan Khong tong Sam loo (Tiga tetua Khong tong pay), aku mendapat tahu, bahwa dua tetua yang lain, yang tidak turut bertempur, juga mendapat luka berat. Hal itu selalu merupakan teka teki yang tidak dapat dipecahkan olehku. Apakah kedua tetua itu berkelahi dengan kawan sendiri? Apakah aku dibantu oleh seorang yang berilmu tinggi? Sekarang, mendengar perkataan Kong kian Taysoe, aku bertanya didalam hati. Apakah dua tetua itu dilukakan oleh Seng koen ?"
Coei San dan So So adalah orang oraag mempunyai pengalaman, pergaulan dan pendengaran luas. Mereka sudah kenyang mendengar cerita cerita aneh dalam Rimba persilatan, tapi belum pernah ada yang seaneh cerita Cia Soen. Sesudah bergaul lama, mereka tahu, bahwa Cia Soen bukan lihat ilmu silatnya saja, tapi juga lihay otaknya. Tapi Hoen Goan Pek lek chioe Seng Koen kelihatannya lebih lihay dari pada saudara angkat itu.
"Toako." kata So So. "Apa benar kedua tetua Khong tong pay dilukakan oleh gurumu?"
Cia Soen mengangguk seraya menjawab "Benar. Akupun tetah mengajukan pertanyaan begitu kepada Kong kian. Cia Kiesoe, apa kau lihat mukanya kedua tetua itu ? tanyanya. Bagaimana paras muka mereka? Aku tidak lantas menjawab dan mengingat-ingat beberapa saat, barulah aku berkata: Kalau begitu, Khong tong jie loo benar telah dilukakan oleh guruku. Aku terpaksa mengakuinya, karena kuingat, bahwa pada waktu
Khong tong Jie loo menggeletak ditanah, muka mereka penuh dengan bintik-bintik merah darah. Itu merupakan petunjuk, bahwa mereka telah menyerang dengan menggunakan tenaga Im kin (Tenaga lembek), tapi telah dipukul balik dengan ilmu Hoen goan kong. Setahuku, disamping akibat pukulan Hoen goan kong, bintik-bintik merah di muka ialah tanda dari penyakit cacar atau sebangsanya. Tak mungkin Jie loo mendapatkan penyakit cacar, karena pada hal itu, ketika aku baru bertemu dergan Khong tong Ngo loo, mereka semua segar bugar. Aku juga tau, bahwa didalam Rimba Persilatan. Hoen goan kong hanya dimiliki oleh
guruku dan aku saja."
"Kong kian Taysoe manggut-manggutkan kepala. Ia menghela napas seraya berkata: Dalam keadaan mabuk, memang gurumu telah melaku kan perbuatan sangat hebat. Sesudah tersadar dari mabuknya, ia malu dan menyesal bukan main. Dua kali kau mencarinya untuk membalas sakit hati, dua kali ia tidak mengambil jiwamu.Ia malah tidak ingin melukakan kau. Tapi kerena kau menyerang secara nekad bagaikan orang edan, ia tak bisa meloloskan diri tanpa melukakan kau. Sesudah itu ia terUs membayangi kau dari belakang dan tiga kali diam-diam ia sudah menolong kau dari bencana."
"Aku segara mengingat ingat dan memang benar, selain dari peristiwa pertempuran melawan para tetua Khongtongpay, dua kali aku terlolos dari bahaya secara mengherankan."
"Sesudah berdiam sejenak, Kong kian Taysoe berkata pula: karena tahu, bahwa kedosaannya terlalu besar, ia tidak berani memohon ampuh. Ia hanya mengharap, bahwa lama-lama kau akan melupakan sakit hati itu. Tapi diluar dugaan, gelombang yang diterbitkan olehmu makin lama jadi makin besar dan jumlah manusia yang dibinasakan olehmu jadi makin banyak. Hari ini jika kau membinasakan Song Tayhiap, suatu bencana besar tak akan dapat dielakkan lagi."
"Mendengar itu, aku segera berkata: Baiklah, aku tak akan cari orang she Song itu, Tapi aku harap Taysoe suka minta guruku menemui aku. Jawab kong kian Taysoe: ia tak mempunyai muka untuk bertemu dengan kau dan iapun tak berani menemui kau. Disamping itu, Cia Kiesoe, bukan loolap mau memandang rendah kepadamu, andaikata kau bertemu dengan gurumu, kaupun tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dibandingkan dengan dia, kepandaianmu masih terlalu rendah. Kurasa kau tak akan mampu membalas sakit hatimu."
"Aku mata sangat mendongkol dan segera berkata: Taysoe adalah seorang pendeta suci yang mempunyai perasaan adil. Apakah dengan berkata begitu Taysoe ingin aku menyudahi saja urusan ini? Ia mengawasi aku dengan sorot mata kasihan."
"Aku dapat merasakan hebatnya penderitaan Kiosoe. katanya. Akan tetap, kau harus ingat, bahwa perbuatan gurumu dilakukan dalam keadaan mabuk arak dan ia sebenarnya sama sekali tidak berniat begitu. Apa pula ia sungguh2 nerasa malu dan menyesal. Maka itu, loolap memohon pertimbangan Kiesoe mengingat kecintaan antara guru dan murid pada masa yang lampau."
"Mendengar bujukan itu, sambil menahan amarah aku segera berkata dengan suara kaku! Kalau kali ini aku tidak bisa memenang kan dia, biarlah dia binasakan aku. Jika aku tidak bisa membalas sakit hati, akupun tak sudi hidup lebih lama lagi didalam dunia."
"Kong kian mengawasi aku dengan paras muka berduka. Lama ia berdiri termenung tanpa menegeluarkan sepatah kata. Cia Kiesoe, katanva dengan suara perlahan, ilmu silat gurumu di waktu sekarang berbeda jauh dari pada diwarktu dulu. Biarpun kau mempunyai pukulan Cit siang koen, tak dapat kau melukakannya. Jika kau tak percaya, cobalah jajal pukulan itu terhadap diri loolap."
"Aku dan Taysoe sama sekali tidak mempunyai permusuhan, mana berani aku melukakan Taysoe? kataku, Walaupun berkepandaian rendah, kurasa Cit Siang koen tak mudah dilawan orang. Mendengar jawabanku, ia mengawasi aku sejenak dan kemudian berkata dengan suara tetap: Cia Kiesoe, marilah kita bertaruh. Gurumu telah membinasakan tigabelas anggauta keluargamu dan kau boleh memukulku tigabelas kali. Jika kau berhasil melukakan aku, aku tak akan campur lagi urusan ini dan gurumu akan keluar untuk menemui kau. Tapi jika kau tak dapat melukakan aku, kau harus melupakan sakit hatimu. Cia Kiesoe, bagaimana pendapatmu? Apa kau setuju pertaruhan ini."
"Aku tidak lantas menjawab. Kutahu pendeta itu memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan biarpun lihay, Cit siang koen belum tentu dapat melukainya. Kalau aku tidak bisa melukainya, apakah sakit hatiku boleh disudahi saja?"
"Sementara itu, Kong kian sudah berkata: Sekarang aku mau bicara terang-terangan kepada Kiesoe. Sesudah mencampuri urusan ini, loolap pasti tidak akan mempermisikan kau membinasakan lagi kawan-kawan Rimba Persilatan yang tak berdosa. Jika mulai dari sekarang Kiesoe menghentikan perbuatan kejam itu, aku bersedia untuk melupakan segala perbuatan perbuatan dulu-dulu.
"Cia Kiesoe, kau mencari musuhmu untuk membalas sakit hati. Apakah kau kira kelurga atau murid-murid dari orang-orang yang dibunuh olenhmu tidak akan mencarimu untuk membalas sakit hati?"
"Mendengar perkataan itu yang diucapkan dengan suara keren amarahku meluap. Baiklah aku akan pukul kau tiga belas kali! teriakku. Jika merasa tidak tahan, Taysoe boleh segera berteriak. Seorang laki-laki tak akan melanggar janji sendiri. Kalau kalah, Taysoe harus meyuruh guru menemui aku."
"Kong kian bersenyum seraya berkata: Kiesoe boleh segera mulai. Melihat badannya yang kate kecil, rambut dan alisnya yang sudah putih, dan paras mukanya yang welas asih, aku sungguh merasa tak tega untuk turun tangan. Maka itu, dalam pukulan pertama, yang ditujukan kedadanya aku hanya menggunakan tiga bagian tenaga"
"Gie hoe," memotong Bu Kie, "apakah kau menggunakan Cit siang koen yang dapat memutus kan nadi pohon?"
"Tidak," jawabnya. "Dalam pukulan pertama aku menggunakan Pek lek chioe dari guruku. Begitu terpukul, badan Kong kian Taysoe bergoyang goyang. Ia mundur setindak, Didalam hati, aku memandang rendah kepadanya. Dengan mengguna kan tiga bagian tenaga saja, ia sudah terhuyung setindak. Aku menduga, bahwa jika aku memukul dengan Cit siang koen, dalam tiga kali pukul mengambil jiwanya. Dalam pukulan kedua aku menambah tenaga. Badannya bergoyang goyang pula dan dia mundur setindak lagi. Pukulan yang ketiga pun mengeluarkan hasil yang sama"
"Diam-diam aku merasa heran. Dalam pukulan ketiga, aku kembali menambah tenrga, tapi ia tetap dapat menerimanya dengan sikap acuh tak acuh. Selain begitu, akupun merasa heran, karena tubuhnya sama sekali tidak mengeluarkan tenaga yang melawan tenaga pukulanku."
"Aku segera menarik kesimpulan, bahwa untuk merubuhkannya aku perlu menggunakan seantero tenaga. Akan tetapi, jika aku menggunakan seluruh tenaga, ia tentu akan terpukul mati, atau sedikitnya terluka berat. Biarpun aku seorang jahat dan kejam, tapi terhadap Kong kian Tayso yang rela berkorban untuk kepentingan orang lain, aku menaruh hormat yang sangat besar. Maka itu, aku lantas berkata: Taysoe, kau menerima pukulan tanpa membalas. Aku tak tega memukul lagi. Kau sulah dipukul tiga kaii. Baiklah aku sekarang berjanji tak akan cari Song Wan Kiauw."
"Tapi bagaimana dengan sakit hatimu terhadap Seng Koen ? tanyanya. Dengan bernapsu aku menjawab: Aku dan Seng Koen tidak bisa hidup bersama-sama dikolong langit. Kalau bukan dia, akulah yang binasa. Aku berdiam sejenak dan kemudian berkata pula: Tapi sesudah Taysoe tampil kemuka, dengan memandang Taysoe aku berjanji, bahwa mulai dari sekarang aku tak akan membunuh lagi kawan-kawan dalam Rimba Persilatan. Tujuanku hanya Seng Koen dan keluarganya!"
"Ia merangkap kedua tangannya seraya berkata: Atas nama kawan-kawan Rimba Persilatan, aku menghaturkan terima kasih untuk janji Kiesoe itu. Tapi loolap sudah mengambil keputusan untuk mendamaikan sakit hati ini, sehingga oleh karenanya, lebih baik Kieso meneruskan pukulan itu"
"Diam-diam aku menghitung-hitung. Memang paling baik aku melakukannya dengan Cit siang koen untuk memaksa keluarnya guruku. Untung juga, aku sudah mahir dalam pukulan itu, sehingga berat entengnya, mengirimnya atau menarik pulangnya dapat dilakukan sesuka hatiku. Dengan demikian, kurasa aku akan dapat mengimbangi pukulanku supaya tidak sampai mengambil jiwa pendeta yang mulia itu. Memikir begitu, aku segera berkata: Baiklah dan lalu mengirim pukulan Cit siang koen. Begitu lekas tinjuku menyentuh dadanya, dada itu agak melesak dan ia maju setindak."
Boe Kie menepuk-nepuk tangan. "Heran sungguh !" katanya sambil tertawa. "Kali ini, sebaik nya dari pada mundur, Hweeshio tua itu maju kedepan."
"Toako, bukankah Kong kian Taysoe menyambut pukulanmu dengan ilmu Kim kong Poet hoay tee (ilmu malaikat untuk membebaskan tubuh manusia dari sega1a kerusakan) dari Siauw lim pay?" tanya Coei San.
Cia Soen mengangguk beberapa ka1i. "Ngotee, kau ternyata mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang luas sekali," ia memuji. "Memang benar Kong kian Taysoe menggunakan ilmu itu. Kali ini, berbeda dari pada waktu menyambut tiga pukulan yang pertama, dari dalam tubuhnya keluar tenaga berbalik, sehingga isi perutku tergoncang hebat. Aku mengerti, bahwa Kong kian Taysoe sudah terpaksa mengeluarkan ilmu tersebut. Jika tidak, ia tak akan dapat menyambut pukulan Cit siang koan. Sudah lama kudengar, bahwa Kim kong Poet hoey tee dari Siauw lim pay adalah salah satu dari lima ilmu ajaib yang tertinggi dalam Rimba Persilatan. Sekarang baru aku tahu ilmu itu sungguh-sungguh hebat. Aku segera mengirim tinju kelima dengan menggunakan tenaga im-jioe (Tenaga lembek). Ia menyambutnya dengan maju lagi setindak dan aku sendiri lalu mengerahkan Lweekang untuk mempunahkan tenaga im-jioe yang berbalik menghantam diriku..."
"Giehoe," Boe Kie memutus pula perkataan ayah angkatnva," pendeta tua itu telah melanggar janji. Ia berjanji tidak akan membalas, tapi mengapa ia menghantam balik tenaga Im-jioemu?"
Cia Soen mengusap usap kepala bocah itu dan berkata pula dengan suara halus: "Sesudah aku mengirim tinju kelima, Kong kian Taysoe berkata: Cia Kiesoe, aku tak nyana Cit siang koen sedemikian hebat. Jika aku tidak mengerahkan Lweekang untuk menolak tenagamu, aku tak akan dapat bertahan."
"Tidak apa, kataku. Bahwa Taysoe sudah tidak membalas dengan pukulan, aku sudah merasa amat sangat berterima kasih."
"Bagaikan huyan angin aku segera mengirim pukulan keenam, ketujuh, kedelapan dan kesembilan. Kong kian Taysoe sungguh-sungguh lihay. Ia menyambut setiap pukulan dengan sikap tenang dan apa yang paling mengherankan, ia dapat membedakan lebih dulu tenaga tenaga yang digunakan olehku."
"Awas! teriakku seraya mengirim tinju yang kesepuluh."
Ia mengangguk sedikit dan lalu mendului maju dua tindak kedepan.
"Dalam pukulan yang kesepuluh aku telah menggunakan seantero tenaga dan aku terhuyung kebelakang beberapa tindak sebab terbentur dengan tenaga menolak yang sangat dahsyat. Aku tidak bisa melihat mukaku sendiri."
"Tapi kutahu mukaku sudah pucat bagaikan kertas, sedang napas Kong kian Taysoe pun tersengal sengal. Cia Kiesoe, kau harus mengaso dulu sebelum mengirim pukulan kesebelas, katanya. Aku adalah seorang yang sungkan mengaku kalah, tapi pada saat itu, benar-benar ku tak sanggup segera mengirim pukulan."
Coei San dan So So mengawasi sang kakak dengan perasaan tegang.
"Giehoe, lebih baik kau jangan memukul lagi," kata Boe Kie dengan tiba tiba.
"Mengapa?" tanya Cia Soen.
"Pendeta tua itu sangat mulia hatinya," jawab nya. "Jika Giehoe melukakannya, hati Giehoe tentu merasa tak enak. Jika Giehoe terluka kejadian itu sama tidak baiknya."
Coei San dan So So saling melirik. Mereka merasa girang, bahwa Boe Kie yang masih begitu kecil sudah mempunyai pemandangan jauh. Terutama Coei San merasa sangat terhibur, karena ia mendapat kenyataan, bahwa puteranya mempunyai pribudi yang luhur dan dapat membedakan apa yang benar, apa yang salah.
Cia Soen menghela napas panjang. "Ya? Aka hidup berpuluh tahun dengan cuma-cuma dan pikiranku tak bisa menandingi pikiran anak kecil," katanya dengan suara menyesal. "Tapi pada waktu itu, dengan adanya tekad bulat untuk membalas sakit hati, aku tidak menghiraukan apapun juga. Aku merasa, bahwa jika aku memukul tiga kali lagi, salah seorang pasti akan binasa atau luka berat. Tapi aku tidak perduli. Aku segera mengerahkan seluruh lweekang dan mengirim pukulan yang kesebelas. Kali ini ia melompat, sehingga tinju yang ditujukan kedadanya. mengenakan kempungan. Aku mengerti maksudnya yang sangat mulia. Jika aku memukul dadanya, tenaga mendorong dari dada itu hebat luar biasa dan ia kuatir aku tak kuat menerimanya. Tapi dengan memasang kempungan, ia sangat menderita. Begitu kena, ia mengerutkan alis, seperti orang sedang menahan sakit."
"Untuk sejenak aku berdiri terpaku dan mengawasi dengan mata mendelong. Taysoe, kedosaan guruku sangat besar dan tak lebih dari pada pantas jika ia menerima hukuman mati, kataku dengan suara terharu. Mengapa Taysoe rela mengorbankan diri yang berharga bagaikan emas dan giok untuk menolong manusia yang berdosa itu?"
"Ia tidak lantas menjawab. Untuk beberapa saat, ia berdiri tegak dan mengatur jalan pernapasan. Sesudah itu, ia tertawa getir seraya berkata: Dua pukulan lagi . . . dan . . . permusuhan akan cepat dibereskan . Melihat begitu tiba-tiba dalam otakku berkelebat serupa ingatan. Ternyata pada waktu mengerahkan tenaga Kim long Poet hay tee, ia tidak boleh bicara. Mengapa aku tidak memancing supaya ia bicara dan dengan berbareng mengirim pukulan mendadak ?"
"Mengingat begitu segera aku berkata : Kalau dalam tigabelas pukulan, aku berhasil melukakan Taysoe, apakah Taysoe tanggung bahwa guruku bakal datang untuk menemui aku? Seorang beribadat tak akan berdusta, jawabnya. Meskipun Taysoe berjanji, tapi apakah Taysoe mempunyai pegangan, bahwa ia pasti akan muncul ? tanyaku pula. Ia menjawab: ia sendiri yang mengatakan begitu kepadaku."
"Pada detik itulah, sebelum ia bicara habis dengan mendadak dan bagaikan kilat cepatnya, aku mengirim pukulan yang kedua belas kearah kempungannya. Aku merasa pasti bahwa ia tak akan keburu mengerahkan tenaga Kim kong Poeti hay tee !"
"Tapi diluar dugaan, ilmu itu dapat digunakan menurut kemauan hati. Begitu lekas tinjuku menyentuh kempungannya, tenaga malaikat dari Kim kong Poet hoay tee sudah berada diseluruh tubuh nya. Tiba-tiba aku merasa langit berputar dan bumi terbalik, sedang isi perutku seolah-olah mau meledak. Aku terhuyung tujuh delapan tindakkan. Sesudah punggungku membentur pohon, barulah aku bisa berdiri tegak."
"Hatiku hancur dan mendadak aku mendapat pikiran jahat. Sudahlah! teriakku. Sakit hati ini sukar bisa dibalas. Guna apa Cia Soen hidup lebih lama didalam dunia ? Seraya berkata begitu, aku mengangkat tangan untuk menghantam batok kepalaku."
"Lihay ! Sungguh lihay tipu itu!" seru Boe Kie. "Tapi Giehoe, apakah siasatmu itu tidak terlalu kejam?"
"Melihat apa kau?" tanya Coei San,
"Melihat Giehoe mau membunuh diri dengan rnenghantam batok kepala sendiri, Hweeshio tua itu pasti akan berteriak untuk mencegah dan akan coba menolong," jawab Boe Kie. "Giehoe pasti akan turun tangan pada saat pendeta itu tidak berjaga-jaga. Tapi ia begitu baik terhadapmu dan Giehoe tentu tidak boleh melukakannya. Bukankah begitu? "
Bukan main herannya Coei San dan So So. Mereka memang tahu, bahwa anak itu sangat cerdas otaknya. Tapi mereka sama sekali tak pernah menduga, bahwa dalam tempo sekejap mata, ia sudah bisa melihat akal khianatnya Cia Soen. Mereka sendiri adalah orang-orang yang terkenal pintar dan mempunyai banyak pengalaman dalam dunia Kangouw. Tapi dalam kecepatan berpikir, mereka ternyata masih kalah setingka t dari anak itu.
Paras muka Cia Soen berubah sedih dan sesudah menghela napas, ia berkata dengan suara parau: "Benar. Aku justru ingin menyalah gunakan kemuliaan Kong kian Tayso! BoaeKie, tebakanmu tepat sekali. Biarpun benar gerakanku itu merupakan suatu akal busuk, tapi pada waktu aku mengayun tangan untuk menepuk batok kepalaku, aku menghadapi bahaya yang sangat besar. Kalau aku tidak menghantam sungguh-sungguh dengan sepenuh tenaga, Kong kian tentu bisa melihatnya dan ia pasti tak akan coba, menolong."
"Dari tiga belas pukulan hanya ketinggalan satu pukulan saja. Cit siang koen memang lihay, tapi sudah ter bukti, bahwa itu tak bisa menghancurkan Kim kong Poet hoay tee yang melindungi seluruh tubuhnya. Maka itu, dengan pukulan biasa, tak usah diharap aku bisa berhasil dan aku boleh tak usah mimpi untuk membalas sakit hati ini. Demikianlah, ibarat orang berjudi, pada detik itu aku tengah melemparkan dadu yang penghabisan kali. Aku menghantam dengan sekuat tenaga. Jika ia tidak menolong, maka aku akan binasa dengan kepala hancur. Memang, kalau aku tidak bisa membalas sakit hati, memang labih baik aku binasa"
"Melihat sambaran tanganku, Kong kian Taysoe berteriak: Hei! Jangan ... Seraya berteriak, ia melompat dan nenangkis tanganku. Pada detik itulah aku mengirim tinju kiri kebawah dadanya. Buk ! Tinjuku mampir tepat pads sasarannya. Kali ini ia benar sekali tidak berjaga jaga. Tubuh manusia terdiri dari darah dan daging tentu saja tak bisa menerima pukulan Cit sang koen yang sehebat itu. Tanpa bersuara, pendeta yang sangat rnulia itu rubuh ditanah!"
"Aku mengawasinya sejenak dan tiba tiba rasa kemanusiaanku mengamuk hebat. Aku memeluknya dan rnenangis keras. Kong kian Taysoe, Cia Soen tak mengenal pribadi, lebih hina daripada babi dan anjing! kataku dengan suara parau."
Coei San bertiga tidak rnengeluarkan sepatah kata. Mereka sangat berduka akan kebinasaan pendata yang berhati begitu mulia.
"Melihat aku menangis, Kong kian Taysoe bersenyum." kata pula Cia Soen. "Ia menghibur aku dengaan berkata: Setiap manusia didunia harus pulang kealam baka! Kiesoe tak usah begitu sedih. Tak lama lagi gurumu akan tiba disini dan kau harus menghadapinya dengan penuh ketenangan."
"Nasehat itu menyadarkan aku. Barusan, sesudah megirimkan tiga belas pukulan, tenaga ku dapat di katakan habis. Sekarang dalam menghadapi lawan berat, tak boleh aku terlalu berduka, karena hal itu dapat merusak semangat. Aku segera bersila dan mengatur jalan pernapasan. Tapi sesudah lewat sekian lama, guruku belum juga datang. Aku melirik kong kian Taysoe dan melihat bahwa pada paras mukanya terlukis rasa heran."
"Sesaat itu, napas Kong kian Taysoe sudah sangat lemah. Iapun mengawasi aku dan berkata dengan suara terputus putus. Tak dinyana .... ia tidak.....tidak..... boleh dipercaya. Apa dia tertahan karena urusan lain ?"
"Aku gusar tak kepalang. Kau menipu aku! bentakku. Kau menipu aku, sehingga aku membinaskan kau. Sampai sekarang guruku masih belum muncul!"
"Ia mengeleng gelengkan kepala. Aku tidak menipu katanya. Aku merasa bersalah terhadapmu."
"Dalam kegusaran yang meluap-luap, aku mencacinya. Tiba-tiba selagi memaki, aku terkejut sebab ingat kenyataan yang sebenarnya. Andaikata ia menipu aku, tipunya merupakan pengorbanan jiwa dan baginya tak ada keuntungan apa pun jua, pikirku. Sesudah mengorbankan jiwa, ia malah meminta maaf kepadaku."
"Bukan main rasa maluku dan aku segera berlutut di sampingnya. Taysoe, apakah kau mempunyai keinginan yang belum ditunaikan? tanyaku dengan suara parau. Katakan saja. Aku pasti akan melakukannya."
"Ia bersenyum seraya berkata dengan berbisik: Aku hanya mengharap, bahwa jika kau mau membunuh orang, ingatlah loolap."
"Kong kian Taysoe bukan saja seorang pendeta suci yang memiliki ilmu silat sangat tinggi, tapi juga seorang budiman dan bijaksana yang dapat menyelami perasaanku. Ia mengerti, bahwa jika ia meminta supaya aku menyudahi permusuhan dan mengubah menjadl orang baik, aku tentu tak akan dapat melakukannya. Ia tahu bahwa permintaan begitu bakal sia-sia saja. Maka itu, ia hanya memesan, supaya jika mau membunuh orang, biarlah aku ingat pengorbanannya."
"Ngote, hari itu, pada waktu itu mengadu tenaga didalam perahu, aku tidak mengambil jiwamu, sebab, secara mendadak, aku ingat Kong kian Taysoe."
Coei San tercengang. Sedikitpun ia tak pernah menduga bahwa jiwanya ditolong oleh seorang pendeta yang sudah tidak ada lagi dalam dunia. Ia menghela napas dengan rasa kagum dan rasa hormat yang tiada batasnya.
"Giehoe, mengapa kau mengadu tenaga dengaa Thia-thia?" Boe Kie menyelak..
"Mereka hanya main-main untuk menjajal Lwee kang siapa yang lebih tinggi," So So mendahului.
Bocah itu tak percaya. "Giehoe," katanya pula. "Apa waktu itu kedua matamu sudah bute"
"Boo Kie ! Jangan ngaco!" bentak sang ibu dengan rasa terkejut.
Cia Soen bersenyum. "Belum, waktu itu aku belum buta," jawabnya. "Mengapa kau menanya begitu?"
Mendengar jawaban ayah angkatnya, Boe Kie segera berkata lagi: "Kalau begitu, mungkin sekali karena ayah tidak bisa mengalahkan Giehoe, maka ibu sudah turun tangan dan membutakan ke dua matamu...."
"Boe Kie!" bentak Coei San dan So So denngan berbareng sehingga anak itu ketakutan dan tidak berani membuka suara lagi.
"Tak boleb kamu menakut-nakuti anak itu," kata sang kakak, "Boe Kie, tebakanmu tak salah. Bagaimana kau dapat rnenebaknya?"
Bocah itu mengawasi kedua orang tuanya dan menjawab dengan suara terputus-putus: "Aku... aku...."
"Kau benar," kata sang ayah angkat. "Waktu itu, sebab ayahmu tidak bisa mengalahkan aku, ibumu sudah turun tangan dan menimpuk kedua mataku. Tapi kejadian itu sudah terjadi lama sekali dan orang yang bersalah adalah aku sendiri. Aku sama sekaili tidak menjadi gusar. Apakah kau dengar dari ibumu ?"
Ia tahu, bahwa So So tak mungkin menceritakannya kepada puteranya, tapi ia sengaja mengajukan pertanyaan itu supaya Coei San dan So So tidak bisa mencegah penjelasan si Boe Kie.
"Tidak ! Ayah dan ibu sama sekali belum pernah menuturkan kejadian itu kepadaku," jawab Boe Kie. "Beberapa hari yang lalu ibu mengatakan, bahwa ia mau mengajar aku menimpuk dengan jarum emas, tapi pada esok harinya, ia membatalkan janji. Menurut dugaanku, ayahlah yang sudah melarang ibu, karena ia kuatir hal itu mengingatkan Giehoe akan kejadian kejadian yang lampau."
Cia Soen tertawa terbahak bahak. "Ngote, So moay, anak kita lebih pintar lima kali lipat dari pada aku dan lebih cerdas sepuluh kali lipat dari pada kamu berdua," katanya dengan suara girang dan bangga, "Hmm . . .! Aku tak bisa menebak kelihayannya dibelakang hari ."
Tanpa terasa Coei San dan So So mengulur tangan mereka dan mencekal tangan sibocat erat erat. Mereka merasa sangat girang. tapi kegirangan itu tercampur dengan rasa kuatir. Coei San kuatir, bahwa karena terlalu pintar dihari kemudian anak itu akan menyeleweng. Sedang So So sendiri kuatir puteranya tidak bisa berumur panjang.
"Giehoe," kata pula Boe Kie sambil tertawa. "Dengan berkata begitu, bukankah Giehoe lebih pintar dua kali lipat daripada ayah dan ibu ?"
"Lebih daripada dua kali lipat," jawabnya di susul dengan tertawa nyaring.
"Giehoe, bagaimana dengan pendeta tua itu ? Apa ia dapat diselamatkan jiwanya ?" tanya pula si bocah.
Cia Soen menghela napas. "Tidak, tak dapat disembuhkan lagi," jawabnya. "Napasnya makian lama jadi makin lemah. Dengan mati matian aku menekan jalanan darah Leng tayhiatnya sambil mengempos Lweekang untuk coba menolong jiwanya. Tiba-tiba ia menarik napas panjang-panjang dan berkata dengan suara berisik: Apa gurumu belum datang? Belum! jawabku. Kalau begitu, ia tidak akan datang,katanya lagi."
"Taysoe, legakanlak hatimu"' kataku. "Aku berjanji, bahwa aku tak akan membunuh orang lagi secara serampangan untuk memancing dia. Untuk mencarirya, aku akan menjelajahi seluruh dunia."
"Ia mengangguk dan berkata dengan suara terputus putus: Bagus bagsus... Hanya sayang ilmu silatmu belum bisa menadinginya .... kecuali....kecuali..... "
"Sampai disitu, suaranya hampir tak dapat didengar lagi. Aku menempelkan kupingku dimulutnya. Sesaat kemudian ia berkata pula: Kecuali..... kau dapat mencari To liong to...... mencari golok itu punya pit......... Ia hanya dapat mengeluarkan perkataan 'pit'. Napasnys menyesak dan lalu menghambuskan napas penghabisan!"
(Penerusan "pit" yalah "bit". Pit bit berarti "rahasia".
Sekarang Coei San dan So So baru rnengerti mengapa kakak itu berusaha untuk mengorek rahasia To liong to, mengapa ia kadang-kadang kalap seperti binatang buas dan mengapa ia selalu
diliputi kedukaan. Sesudah mengangkat saudara sepuluh tahun. baru malam itu mereka mengetahui asal usul Cia Soen.
"Sesudah mencari dibanyak tempat. belakangan barulah aku dengar dimana adanya golok mustika itu," kata pula Cia Soen. "Buru-buru aku pergi kepulau Ong poan san untuk merebutnya. Kejadian selanjutrya sudah diketahui kamu dan tak perlu aku mengulangi lagi. Sebelum mendapat golok itu, aku berusaha mati-matian meacari Seng koen. Tapi sesudah memiliki, aku berbalik takut di cari olehnya. Maka itu, aku rnemerlukan sebuah tempat yang jauh dan tak dikenal manusia untuk coba memecahkan rahasia yang tersembunyi dalam golok itu. Karena kuatir kamu membocorkan rahasiaku, maka aku sudah membawa kamu datang disini. Tak dinyana kita sudah berdiam disini tak kurang dari sepuluh tahun. Cia Soen ... ah.... Cia Soen! Setiap usahamu selalu menemui kegagalan!"
"Menurut Toako, perkataan Kong kian Taysoe , belum selesai diucapkan," kata Coei San. "Ia mengatakan: Kecuali bisa mencari To liong to punya pit ... Mungkin sekali ia mempunyai maksud lain"
Cia Soen menghela napas. "Selama sepuluh tabuh siang malam aku mengasah otak," katanya. "Tapi aku tetap gagal. Tidak bisa salah lagi, didalam golok itu bersembunyi rahasia besar. Hanya otakku tidak cukup tajam untuk menembus kabut yang menyelimuti rahasia itu. Boe Kie, kau jauh lebih pintar daripada aku. Dikemudian hari mungkin sekali kau akan berhasil dimana aku mengalami kegagalan."
"Gie hoe, berapa usia Seng Koen sekarang?" tanya si anak.
Paras muka Cia Soe lantas saja berubah, "Tak salah kau, nak," katanya. "Dia sekarang sudah berumur enampuluh lima tahun. Sakit hatiku kebanyakan tidak bisa terbalas Hai! Langit! Langit! Kau telah membuat aku sangat menderita!"
Coei San dan So So mengerti apa yang dipikir kakak mereka. Andaikata dibelakang hari Boe kie berhasil memecahkan rahasia To liong to, andaikata ia memperoleh ilmu yang dapat merubuhkan Seng Koen, andaikata ia bisa pulang ke Tionggoan dan mencari Seng Koen, hal itu tentunya bakal terjadi dalam duapuluh atau tigapuluh tahun kemudian. Pada waktu itu, sepuluh sembilan harapan, Seng Koen sudah berpulang kealam baka.
Sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, fajar mulai menyingsing. "Boe Kie," kata Cia Soen. "Kau jangan tidur lagi. Giehoe akan mengajarkan kau semacam ilmu silat. "
Coei San dan So So saling melirik, tapi mereka tidak berani membantah dan lalu kembali keguha mereka.
Cia Soen tak pernah menyebut-nyebut lagi urusan itu, hanya caranya mendidik Boe Kie jadi berubah. Ia sekarang menurunkan pelajaran dengan lebih bengis dan keras.
Boe Kie baru saja berusia sembilan tahun dan biarpun otaknya sangat cardas, bagaimana ia dapat menyelami pelajaran Cia Soen yang begitu tinggi dalam tempo begitu pendek? Tapi sang ayah angkat tidak menghiraukan pertimbangan itu. Setiap kali bocah itu tidak memenuhi pengharapannya, ia bukan saja mencaci tapi juga memukulnya.
Sering kali So So melihat tanda-tanda biru bekas pukulan ditubuh puteranya, ia merasa kasihan dan tempo-tempo berkata : "Toako, tak dapat Boe Kie mempelajari semua ilmu silatmu dalam tempo pendek. Kita berdiam dipulau yang terpencil dan kita mempunyai banyak sekali tempo. Kurasa Toako tak usah begitu tergesa-gesa."
"Aku bukan menyuruh dia melatih diri dalam pelajaran-pelajaran yang diturunkan olehku," jawab sang kakak. "Aku hanya memerintahkan supaya dia mengingat dan menghafal semua pelajaran itu didalam otaknya."
So So tak mengerti maksud Cia Soen. Ia hanya tahu, bahwa kakak itu seorang aneh dengan cara-caranya yang aneh pula. Ia tidak dapat berbuat lain daripada membiarkan sang kakak bertindak semaunya.
Apa yang dapat dilakukannya hanyalah membujuk Boe Kie jika dia mendapat hajaran keras. Tapi anak itu sedikitpun tidak menjadi jengkel. "Ibu, maksud Giehoe sangat baik," katanya. "Makin keras ia memukul, makin cepat aku menghafal pelajaran."
Demikianlah setengah tahun yang pertama telah lewat. Pada suatu pagi, tiba-tiba Cia Soen berkata: "Ngotee, So-moay, empat bulan lagi angin dan arus laut akan membeluk keselatan. Mulai hari ini kita sudah boleh membuat getek."
Coei San kaget tercampur girang. "Toako, apa kah kau maksudkan, bahwa sesudah membuat getek, kita akan bisa kembali ko Tionggoan?" tanyanya.
"Tergantung atas kebijaksanaan Langit," jawabnya dengan suara tawar. "Ini yang dinamakan. manusia berusaha, Langit berkuasa. Kalau untung baik, pulang ketempat sendiri, kalau nasib malang, tenggelam didasar laut."
Jika mereka menuruti keinginan So So, mereka tak usah menempuh bahaya besar itu. Mereka hidup bahagia dan bebas merdeka dan So So sudah merasa sangat puas. Akan tetapi, disamping itu masih terdapat lain pertimbangan yang sangat berat. Mereka memikirkan nasib Boe Kie. Dengan siapa anak itu akan menikah ? Apa tidak kasihan, jika ia harus hidup selama-lamanya dipulau yang terpencil itu? Demi kepentingan Boe Kie, jika masih ada jalan, biar bagaimana jua mereka harus berusaha untuk kembali ke dunia pergaulan.
Demikianlah, dengan bersemangat mereka lantas saja mulai bekerja. Untung juga di pulau itu terdapat banyak pohon besar, sehingga soal bahan tidak menjadi soal lagi. Cia Soen dan Coei San menebang pohon, So So membuat layar dan tambang dari serat kulit kayu, sedang Boe Kie dan si kera putih pun turut membantu atau mengacau.
Biarpun Cia Soen dan kedua suami isteri itu orang-orang yang berkepandaian tinggi tapi karena kekurangan alat, pekerjaan mereka main dengan lambat sekali dan mereka harus menggunakan lebih banyak tenaga daripada seharusnya. Di waktu menebang pohon atau mengikat balok-balik untuk dijadikan getek. Cia Soen selalu memerintahkan Boe Kie berdiri disampingnya dan ia mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pelajarannya. Coei San dan So So tidak diharuskan lagi menyingkir dan mereka bisa mendengar tanya jawab antara ayah dan anak angkat itu. Mereka merasa heran , karena tanya jawab itu hanya mengenai Kouw koat (teori) dari berbagai ilmu silat.
Ternyata Cia Soen hanya menyuruh anak menghapal teori ilmu silat tangan kosong, ilmu golok, ilmu pedang dan sebagainya, tanpa memberi pelajaran mengenai cara-cara menggunakan teori itu. Dengan lain perkataan, Boe Kie hanya menghapal teori secara membeo, seperti anak sekolah jaman dulu menghapal kitab Soe sie dan Ngo keng tanpa mengerti maksudnya.
So So yang mendengari sambil bekerja, merasa kasihan pada puteranya. Jangankan seorang bocah cilik seperti Boe Kie, sedang seorang dewasapun tak akan bisa ingat Kouw-koat yang sulit itu tanpa mempelajari pukulan pukulannya.
Sebagai guru, Cia Soen bengis bukan main. Salah satu perkataan saja. Boe Kie dicaci atau di gaplok. Biarpun ia menampar tanpa mengerah Lweekang, tapi karena kerasnya, muka Boe Kio sering menjadi bengkak.
Sesudah menggunakan tempo dua bulan lebih barulah getek itu selesai dibuat. Untuk memasang tiang layar, mereka barus bekerja kira kira setengah bulan lagi. Sesudah itu, mereka memburu binatang. mengasini daging dan menjahit kantong kantong kulit untuk dijadikan tempat air.
Mereka harus mempersiapkan sebaik baiknya karena tak dapat diramalkan berapa lama mereka harus belayar ditengah samudara yang luas.
Waktu segala persiapan beres, siang hari sudah pendek dan malam sangat panjang, tapi arah angin masih belum berubah. Sambil menunggu perobahan angin, mereka membuat sebuah gubuk dipinggir laut untuk menempatkan getek itu.
Sekarang Cia Soen tidak pernah berpisaran lagi dengan Boe Kie dan diwaktu malam, mereka tidur bersama sama. Dengan bengis dan tidak mengenal lelah, ia terus mengisi pelajaran pelajaran terakhir kedalam otak anak angkat itu.
Pada suatu malam, waktu mendusin. tiba tiba Coei San mendengar suara angin yang agak aneh. Ia melompat bangun dan ternyata, angin rnulai meniup dati sebelah utara. Buru burn ia manggoyang goyangkan tubuh istrinya seraya berkata dengan suara girang: "So So, kau dengarlah !" Sebelum istrinya tersadar diluar sudah terdengar teriakan Cia Soen: "Angin utara datang!" Ditengah malaria buta, teriakan itu yang seperti tangisan kedengarannya menyeramkan sekali.
Pada esokan paginya, dengan rasa girang tercampur haru, Coei San, So So berkemas karena adanya harapan besar untuk kembali kewilayah Tiong goan dan terharu sebab mereka harus segera berpisahan dengan pulau yang indah itu dimana mereka sudah berdiam kira-kira sepuluh tahun lamanya. Kira-kira tengah hari barulah semua bekal selesai dipindahkan keatas getek. Sesudah itu, mereka bertiga mendorong getek tersebut keatas air. Orang yang melompat keatas getek paling dulu adalah Boe Kie yang mendukung si kera putih, diikuti oleh sang ibu. "Toako, mari melompat bersama-sama," kata Coei San sambil mencekal tangan sang kakak.
"Ngotee," tiba-tiba Coei San berkata dengan suara parau. "Mulai saat ini, kita berpisah untuk selama-lamanya! Aku harap kau bisa menjaga diri."
Kagetnya Coei San bagaikan disambar halilintar ditengah hari bolong. Ia menatap wajah kakaknya dengan mata membelalak dan berkata dengan suara terputus-putus : "Toako....kau....kau..."
"Ngotee, kau seorang yang berhati mulia dan kau pasti akan hidup beruntung." kata Cia Soen. "Tapi nasib manusia sukar ditebak dan kemauan Langit sukar diketahui. Maka itu , dalam
tindakan-tindakamu, kau haruslah berhati-hati. Boe Kie telah medapat seantero kepandaianku. Ia berotak sangat cerdas dan dihari kemudian ia pasti bisa berada disebelah atas kita berdua. Mengenai So moay, biarpun ia seorang wanita, ia gagah dan pintar sehingga ia pasti tak akan di hina orang. Ngotee, orang yang aku kuatirkan adalah kau sendiri."
"Toako, jangan kau ngaco!" kata Coei San dengan bingung. "Apa aku....kau..... tidak mau ikut kami ?"
Sang kakak bersenyum sedih. "Pada beberapa tahun berselang, aku sudah mengatakan begitu kepadamu," katanya. "Apa kau lupa ?"
Coei San terkejut. Memang benar Cia Soan pernah mengatakan begitu, akan tetapi karena soal itu tidak disebut-sebut lagi, Coei San dan So So tidak mengangapnya sungguh-sungguh. Selama membuat getek dan mempersiapkan bekal, sang kakak juga tidak pernah mengutarakan niatannya itu. Tak dinyana pada saat mau berangkat barulah ia memberitahukan keputusannya.
"Toako, mana boleh kau berdiam dipulau ini", kata pula Coei San dengan suara memohon, "Ayolah !" Seraya berkata begitu, ia membetot tangan kakaknya, tapi kedua kaki Cia Scam seolah berakar didalam tanah.
"So moay! Boe Kie kemari ! Toako tidak mau mengikut," teriak Coei San.
So So dan Boe Kie tentu saja kaget dan buru buru mereka melompat balik kedaratan.
"Giehoe, mengapa kau tidak mau turun ?" tanya si bocah, "Jika kau tidak turut, akupun tidak turut."
Tak usah dikatakan lagi, Cia Soen pun merasa sangat berat untuk berpisahan dengan mereka. Ia mengerti, bahwa perpisahan itu adalah untuk selama-lamanya. Akan tetapi, sesudah merenungkan masak-masak dalam tempo lama, ia telah mengambil keputusan untuk tidak kembali ke Tiorggoan. Mengapa? Karena, jika ia mengikut, keluar, Coei San akan menghadapi bencana yang tidak habis-habisnya. Biarpun ia mempunyai riwayat yang berlamuran darah dan ia pernah melakukan perbuatan-perbuatan kejam, tapi semenjak mengangkat saudara dengan Coei San dan So So, ia mencintai ketiga orang itu seperti mencintai diri sendiri. Dan kecintaannya terhadap Boe Kie tidak kurang daripada kecintaaanya pada anak kandung sendiri.
Ia mengerti, bahwa diatas pundaknya tertumpuk dengan beban hutang darah. Baik dalam kalangan Kangouw, maupun dalam kalangan Liok
li (Rimba hijau kalangan perampok), entah berapa banyak jumlahnya musuhnya yang ingin membalas sakit hati. Apa pula, sesudah merniliki To liong to, bakal makin banyak orang yang menghendaki jiwa dan goloknya.
Dulu sedikitpun ia tidak merasa gentar. Tapi sekarang, sesudah kedua mata nya buta, ia merasa tak sanggup untuk melayani begitu banyak musuh. Sebagai orang gagah sejati, jika ia dikerubuti, Coei San dan So So sudah pasti tak akan berdiri dengan berpeluk tangan. Maka itu, kalau ia mengikut, bukan saja ia sendiri tspi kedua saudara augkat dan anak pungutnya pun akan turut menjadi korban. Demikianlah, sesudah memikir baik-baik, ia mengambil keputasan itu.
Mendengar perkataan Boe kie, ia terharu bukan main. Sambil memeluk anak angkat itu, ia ber kata dengan suara serak: "Boe Kie, kau dengarlah perkataan Giehoe! Giehoe sudah tua, mata buta dan sudah enak hidup disini. Kalau kembali ke Tionggoan, Giehoe akan menderita.
"Sesudah kembali ke Tionggon anak akan melayani Giehoe dan tidak akan berpisahan lagi dengan Giehoe," kata Boe Kie. " Giehoe mau makan atau mimum apa, anak akan segera menyediakan nya. Bukankah penghidupsn begitu sama senangnya seperti penghidupan disini?"
Cia Soen menggelengkan kepala, "Tidak, aku lebih senang berdiam terus disinl," katanya.
"Kalau begitu, anakpun lebih senang hidup terus disini," kata pula bocah itu. "Thia, kita batalkan saja keberangkatan ini."
"Toako, jika kau mempunyai lain pendapat, lebih baik tau mengutarakan saja terang-terangan supaya kita beramai dapat mengatasinya" kata So So. "Biar bagaimanapun jua, kita tak nanti meninggalkan kau disini seorang diri"
"Toako," Coei San menyambungi, "apakah karena mempunyai banyak musuh, kau kuatir akan merembet-rembet kami? Sepulangnya di Tiong goan, kita boleh mencari sebuah tempat yang sepi dan kita boleh hidup menyendiri tanpa bergaul dengaa manusia lain. Menurut pendapatku, paliang benar kita berdiam di Boe tong san. Tak seorang pun yang akan menduga, bahwa Kim-mo Say-ong berada digunung itu."
"Hmm.... " Cia Soen mengeluarkan suara dihidung. "Biarpun kakakmu seorang bodoh, tak usah ia menyembunyikan diri dibawah perlindungan Thio Cinjin!'
Coei San terkejut. Ia tahu bahwa ia sudah kesalahan bicara dan buru buru berkata pula . "Bukan, bukan begitu maksudku. Kepandaian Toako tidak barada disebelah bawah Soehoe dan tentu saja Toako tak perlu berlindung dibawah perlindungan Soehoe. Di wilayah Tiong goan terdapat banyak sekali tempat yang terpencil dan jauh dari dunia pergaulan. misalnrya Hoei kiang, Tibet, daerah gurun pasir dan sebagainya. Kita berempat boleh pergi kesitu dan menuntut
penghidupan yang tenteram "
"Kalau mau mencari tempat yang jauh dari pergaulan manusia, tempat inilah yang paling baik!" Kata sang kakak. "Eh, katakan saja, apa kamu mau pergi atau tidak?"
"Tanpa kau, kami tak akan berangkat," jawab So So dan Boe Kie dengan berbareng.
Cia Soen menghelas napas "Baiklah"' katanya "kita semua jangan pergi. Sesudah aku mati, kamu masih mempunyai banyak tempo untuk pulang ke Tiong goan."
"Benar, kita sudah berdiam disini sepuluh tahun dan tak usah kita tergesa-gesa." kata Coei San.
"Bagus!" bentak Cia Soen. "Sesudah aku mampus, aku mau lihat apa kamu masih mau berdiam disini." Seraya berkata begitu, mendadak ia menghunus To liong to dan mengayun kelehernva.
Semangat Coei San terbang. "Jangan celakakan Boe Kie!" teriaknya. Ia mengerti, bahwa ia tak akan mampu mencegah niat kakaknya sehingga jalan satu-satunya adalah berteriak begitu.
Benar saja Cia Soen terkejut. Goloknya berhenti ditengah udara dan ia, bertanya: "Apa?"
"Toako jika kau sudah mengambil keputusan pasti siauwtee tidak dapat berbuat lain dari pada meminta diri," katanya dengan suara parau dan lalu berlutut dihadapan sang kakak.
"Giehoe!" teriak Boe Kie. "Jika kau tidak pergi akupun tidak pergi. "Kalau kau bunuh diri, akupun bunuh diri"
Cia Soen kaget. Ia tahu, bocah yang luar biasa pincar itu sekarang balas menggeretaknya. Buru buri ia memasukan To liong to kedalam sarung dan membentak: "Setan kecil! Jangan ngaco kau!"
Tiba tiba, ia mencengkeram punggung Boe Kie dan melemparkannya kegetek dan kemudian melontarkan juga Coei San dan So So. "Ngotee! So moay! Boe Kie!" teriaknya dengan suara duka. "Semoga perjalananmu diiring dengan angin baik dan siang-siang kembali di Tiong goan."
Melihat majikannya sudah berada digetek, si kera putihpun buru-buru melompat kegetek itu.
"Giehoe! Giehoe!" sesambat Boe Kie.
Cia Soen mencabut pula To liong to dengan membentak dengan suara angker: "Jika kamu turun lagi, Kamu akan temukan mayatku!"
Karena terpukul arus air, perlahan lahan getek itu meninggalkan pulau. Makin lama bayangan Cia Soen jadi makin kecil. Coei San dan So So mengerti bahwa keputusan kakak mereka sudah tak dapat diubah lagi. Mereka tak bisa berbuat lain daripada nengulap-ulapkan tangan dengan rasa sedih dan berterima kasih tak habisnya.
Sesudah berada dilautan terbuka Coei San bertiga tidak mengenal arah dan membiarkan getek itu berlayar semau maunya. Apa yang diketahui
mereka, ialah setiap pagi matahari naik dari sebelah kiri dan setiap sore, turun dari sebelak kanan. Saban malam, mereka bisa melihat bintang Pak kek dibelakang getek. Siang malam, dengan perlahan getek itu bergerak maju.
Selama kurang lebih dua puluh hari, Coei san tak berani memasang layar sebab kuatir getek itu membentur dengan gunung es. Tanpa layar, walau pun terbentur, benturan itu tidak keras, dia tak akan mencelakakan. Sesudah berpisahan dengan gunung es, barulah mereka menaikkan layar.
Dengan bantuan angin utara yang meniup tak henti-hentinya, getek itu mulai maju kearah selatan dengan pesat sekali. Dasar nasib baik, ditengah parjalanan mereka tidak pernah bertemu dengan badai dan dilihat tanda tandanya, mungkin mereka akan bisa pulang dengan selamat.
Selama sebulan Coei San dan So So tak pernah menyebut-nyebut Cia Soen, karena kuatir menbangkitkan kedukaan Boe Kie. Pada suatu hari sambil mengawasi permukaan air, tanpa merasa So So berkata "Toako benar-benar seorang luar biasa. Ia bukan saja tinggi ilmu silat nya, tapi juga paham lain-lain ilmu "
"Ibu, menurut katanya Giehoe, selama setengah tahun angin meniup keselatan dan setengah tahun lagi meniup ke utara," kata Boe Kie. "Biarlah lain tahun kira kembali ke Peng hwee to untuk menengok Giehoe."
"Benar," kata Coei San "Sesudah kau besar, kita beramai-rarnai mengunjungi lagi pulau itu."
"Apa itu?" So So memutuskan perkataan suaminya seraya menuding keselatan.
Jauh-jauh, digaris pertemuan antara angit dan laut, terlihat dua titik hitam.
Coei San terkesiap. "Apa ikan paus ?" katanya dengan suara ditenggorokan.
Susudah mengawasi beberapa lama, So So ber kata: "Bukan, bukan ikan paus. Aku tak lihat semburan air."
Dengan hati berdebar-debar, mereka terus memperhatikan kedua titik hitam itu. Berselang kurang lebih satu jam, tiba tiba Coei San berseru dengan suara girang: "Perahu ! Perahu !" Bahna girangnya, ia melompat bangun dan berjungkir balik. Boe Kie tertawa terbahak-bahak dan lalu mengikuti ayahuya yang sedang kegirangan. So So sendiri buru buru mengambil kayu bakar, menuang minyak ikan diatasnya dan lalu menyulutnya.
Sesudah lewat kira-kira satu jam lagi, sedang matahari mulai mendoyong kebarat, mereka sudah bisa melihat tegas dua buah perahu diatas permukaan air. Mendadak So So kelihatan menggigil dan paras mukanya berubah pucat.
"Ibu, ada apa ?" tanya Boe Kie dengan perasaan heran.
Sang ibu tidak menjawab, tapi bibirnya bergemetar. Dengan paras muka kuatir, Coei San mencekal kedua tangan isterinya. So So menghela napas. "Baru pulang, sudah bertemu," katanya.
"Apa?" menegas sang suami.
"Lihat layar itu," jawabnya sambil menuding kesebuah perahu.
Coei San mengawasi keperahu yang berada di sebelah kiri. Ia mendapat kenyataan, bahwa pada layarnya terpeta sebuah tangan berdarah dengan lima jeriji yang terpentang lebar. "Layar itu aneh sekali, apa kau tahu perahu siapa?" tanyanya.
"Perahu Peh bie kauw dari ayahku !" jawabnya dengan suara perlahan.
Coei San tertegun. Sesaat itu rupa-rupa pikiran berkelebat-kelebat diotaknya. "Ayah So So seorang jahat dan kejam, bagaimana aku harus berbuat jika bertemu dengannya ? Bagaimana si Insoe terhadap pernikahanku ini tanyanya di dalam hati. Kedua tangan isterinya yang dicekelnya agak bergemetar. Ia mengerti, bahwa sang isteripun sedang memikiri berbagai soal yang tengah dihadapi mereka.
"So So," katanya dengan suara membujuk. "Kita sudah menikah dan anak kita sudah begini besar. Langit diatas, bumi dibawah apapun yang akan terjadi kita tak akan berpisah lagi. Kau tak usah kuatir."
So So mengangguk dan bersenyum. "Aku ha nya mengharap kau tidak menyesalkan aku," katanya dengan suara perlahan.
Boe Kie yang belum pernah melihat perahu, tidak menghiraukan pembicaraan antara ayah darn ibunya dan matanya terus mengawasi kedua perahu itu, yang kelihatannya sangat berdekatan, seolah-olah menempel satu sarna lain. Jika tidak ada perobahan arah, getek mereka akan perpapasan dengan kedua perahu itu dalam jarak puluhan tombak.
"Apa kita perlu memberi isyarat ?" tanya Coei San.
"Tak perlu" jawab So So. "Susudah tiba di Tiong goan, aku akan mengajak kau, dan Boe Kie pergi menemui ayah."
"Baiklah," kata sang suami.
Mendadak Boe Kie berteriak: "Hei! Lihat! Orang-orang itu sedang berkelahi!"
Coei San dan So So terkejut dan lalu melihat kedua perahu itu. Benar saja mereka melihat berkelebat-kelebatnya senjata dan empat lima orang sedang bertempur.
"Apa ayah berada disitu ?" kata So So dengan rasa kuatir.
"Sesudah terlanjur bertemu, ada baiknya kita menengok sebentar," kata Coei San. Ia segera mengubah kedudukan layar dan membelokan kemudi sehingga getek mmbelok kekiri, menuju ke arah kedua perahu itu.
Berselang kira-kira setengah jam barulah getek mendekati kedua perahu itu. "Pelancong yang tidak ada urusan jangan datang dekat !" demikian terdengar terlakan dari perahu Peh bie kauw.
"Aku adalah Hio coe dari Congto !" teriak So So. "Tocoe dari bagian mana yang sedang memasang hio?"
Mendengar teriakan itu yang menggunakan istilah rahasia dari Peh bie kauw, orang yang barusan berteriak lantas saja berubah sikapnya'. "Maaf! Kami tak tahu, bahwa yang datang adalah Hio coe dari Congto," katanya dengan sikap hormat. "Kami adalah rombongan Lie Hio coe dari Thian sie tong yang memimpin Hong Tan coe dari Sin
coa tan dau Thia Tancoe dari Ceng liong tan. Bolehkah kami mendapat tahu, Hio coe dari mama yang, datang kesini ?"
"Hio coe dari Cie wie tong," jawab So So.
Hampir berbareng dengan jawaban So So, keadaan diperahu Peh bie kauw menjadi kalut. Beberapa orang berlari-lari, rupanya untuk memberitahukan pemimpin mereka, sedang belasan orang berteriak dengan suara kaget dan girang: "In Kouwnio pulang ! In Kouwnio pulang !"
Biarpun sudah menjadi suami isteri sepuluh tahun, So So belum pernah membicarakan Peh bie kauw dengan suaminya. Sedang Coei San pun belum pernah menanyakan. Sesudah mendengar tanya jawab itu, barulah Coei San tahu, bahwa kedudukan Hio coe dari Cie wie tong lebih tinggi dari pada kedudukan Tancoe. Waktu berada di pulau Ong poan san, ia pernah menyaksikan kepandaian Tancoe dari Hian boe tan dan Coe ciak tan yang lebih unggul dari pada ilmu silat So So. Ia mengerti bahwa isterinya bisa menjadi Hiocoe adalah karena So So puteri pemimpin besar dari Peh bie kauw. Maka itu, dapatlah diduga, bahwa Lie Hiocoe dart Thian sie tong seorang yang berkepandaian sangat tinggi.
Tiba-tiba dari perahu Peh bie kauw terdengar suara seorang tua: "Menuiut laporan, In Kauw nio sudah kembali. Bagaimana kalau kita menghentikan pertempuran untuk sementara waktu? "
"Baiklah !" jawab seorang yang suaranya nyaring bagaikan genta. "Hentikan Pertempuran!"
Dengan serentak suara beradunya senjata terhenti dan semua orang melompat keluar dari gelanggang pertempuran.
Mendengar suara yang nyaring itu, jantung Coei San memukul keras. "Apa Jie Lian Cioe Soeko?" teriaknya.
Jawab orang itu: "Aku Jie Lian Cioe. Ah...... Kau .... Kau ..."
"Siauwtee ..Coei San..." jawabnya dengan suara terputus-putus bahna terharunya. Sesaat itu jarak antara getek dan perahu Jie Lian Cioe belasan tombak. Dengan tergesa-gesa Coei San menyambar sepotong papan yang lalu dilontarkan keatas air, akan kemudian ia melompat kepapan itu dan sekali menotol dengan satu kakinya untuk meminjam tenaga, tubuhnya sudah melesat kekepala perahu Jie Lian Cioe.
Jie Lian Cioe menubruk dan memeluk Soeteenya. Sesudah mereka berpisahan sepuluh tahun dapat dimengerti perasaan mereka pada sesaat itu. Si adik berseru dengan suara parau: "Jieko'" Sang kakak berbisik "Ngotee!" Mata mereka basah.
Dilain pihak, orang-orang Peh bie kauw menyambut In So So dengan segala upacara. Empat buah terompet yang dibuat dari keong laut raksasa ditiup dengan serentak. Li Hiocoe berdiri paling depan dengan Hong Tancoe dan Thia Tancoe di belakangnya, dan dibelakang ketiga pemimpin itu berdiri kurang lebih seratus pengikut Peh bie kauw.
Diantara perahu besar dan getek dipasang selembar papan dan getek itu digaet dengan gala gaetan oleh beberapa anak buah perahu, supaya tetap pada tempatnya. Sambil menuntun Boe Kie, So So menyeberang perahu dengan melewati papan itu.
Didalam kalangan Peh bie kauw, orang yang berkedudukan paling tinggi ialah Kauwcoe (pemimpin agama), Peh bie Eng ong In Thian Ceng. Di bawah Kauwcoe terdapat Lwee sam tong (Tiga "Tong" Dalam) dan Gwa ngo tan (Lima "Tan" Luar) yang bantu pemimpin para pengikut Peh bie kauw.
Lwee sam tong terdiri dari Thian-wie tong, Cia wie tong dan Thian sie tong, sedang Gwa ngo tan yalah Sin coa tan, Ceng liong tan, dan (peep: the other three not specified )
Hiocoe (pemimpin) Thian wie tong yalah putera sulung In Thian Ceng yang bernama In Ya Ong. Hiocoe Thian sie tong yalah Lie Thian Hoan, Soetee (adik seperguruan) In Thian Ceng. Walau pun berkepandaian sangat tinggi dan tingkatannya lebih tua daripada So So, dengan memandang muka Kauwcoe, ia berlaku sangat hormat terhadap nyonya muda itu.
Melihat So So menuntun seorang bocah dan pakaiannya, yang terbuat daripada kulit binatang, mesum dan compang campicg. Lie Thian Hoan terkejut. Tapi dengan paras muka berseri, ia tertawa neraya berkata: "Terima kasih kepada Langit, terima kasih kepada Bumi, akhirnya kau pulang juga. Selama sepuluh tahun, bukan main jengkelnya ayahmu."
So So memberi hormat dengan berlutut. "Soe siok selamat bertemu pula!" katanya. Ia menengok kepada puteranya dan berkata pula: "Lekas berlutut dihadapan Soe-siok-couwmu." Boe Kie buru buru menekuk kedua lututnya dengan mata mengawasi Lie Thian Hoan dan ratusan orang yang berdiri dibelakang kakek paman guru Soe siok couw itu.
"Soesiok," kata So So sambil bangun berdiri. "anak ini adalah anak tit lie (keponakan perempuan) bernama Boe Kie."
Lie Hiecoe terkesiap, tapi sejenak kemudian, tertawa terbahak-bahak. "Bagus ! Bagus!" serunya. "Ayah mu pasti akan kegirangan. Bukan saja puterinya pulang dengan selamat, tapi juga sudah mendapatkan sang cucu yang tampan dan pintar."
Melihat noda-noda darah dan beberapa mayat yang menggeletak digeledak perahu, So So bertanya dengan suara perlahan: "Perahu siapa itu? Mengapa kalian berkelahi?"
"Orang-orang Boe tong pay dan Koen loan pay," jawab Thian Hoen.
Melihat suaminya sedang berpelukan dengan salah seorang dari perahu itu, So So mengerutkan alis dan berkata pula: "Lebih baik kita menghentikan dulu pertempuran ini dan tit-lie akan berusaha untuk mendamaikan!"
"Baiklah," jawab sang Soesiok.
Walaupun secara pribadi, tingkatan Lie Thian Hoan sebagai Soesiok (paman guru) lebib tinggi daripada So So, akan tetapi secara resmi, didalam kalangan Peh bie kauw, kedudukannya lebih rendah daripada nyonya muda itu, karena is memimpin "tong" ketiga, sedang So So menjadi Hiocoe "tong" kedua.
"So So, Boe Kie kemari! Temui Soekoku !" demikian terdengar teriakan Coei San.
Sambil rnenuntun Boe Kie, So So segera pergi keperahu Boe tong. Lie Thian Hoan, Hong dan Thia Tancoe bingung, tapi tanpa merasa mereka lalu mengikuti nyonya muda itu.
Diatas geladak perahu Boetong terdapat tujuh delapan orang dan salah seorang yang berusia kira kira empatpuluh tahun dan bertubuh jangkung kurus sedang berpegangan tangan dengan Coei San. "So So, inilah Jie Soeko yang namanya sering di sebut-sebut olehku," kata Coei San sambil bersenyum, "Jieko, inilah teehoemu (teehoe isteri dari adik lelaki) dan keponakanmu Boe Kie."
Semua orang kaget bukan main. Peh bie kauw dan Boe tong pay sedang bertempur mati-matian. Tak nyana, dua orang penting dari kedua belah pihak telah terangkap menjadi suami isteri dengan sudah mempunyai seorang putera.
Jie Lian Cioe mengerti, bahwa kejadian itu banyak latar belakangnya dan penjelasannya meminta tempo. Secara bijaksana, ia lebih dahulu memperkenalkan kawan kawsnnya kepada Coei San dan So So.
Seorang Toosoe tua yang berbadan kate gemuk yalah See hoa coe dari Koen loan pay, sedang seorang wanita setengah tua yang masih berparas cantik diperkenalkan sebagai Soemoay (adik seperguruan) dari Soe hoa coe. Ia itu bukan lain dari pada San tian chioe (si Tangan kilat) Wie Soe Nio, yang dalam kalangan kang ouw dikenal sebagai Son tian Nio. Beberapa orang lainnya juga jago jago kosen Koen loan pay, hanya nama mereka tidak begitu terkenal seperti See hoa coe dan Wie Soe Nio.
Meskipun sudah berusia lanjut, See hoa coe masih berangasan. "Thio Ngohiap, dimana adanya bangsat jahat Cia Soen?" tanyanya. "Kau mesti tahu!"
Coei San bingung tak kepalang. Sebelum mendarat, ia sudah menghadapi dua soal sulit. Pertama partainya sendiri bermusuhan dengan Peh bie kauw dan kedua, begitu membuka mulut, orang
sudah menanyakan tempat bersembunyinya Cia Soen. Ia merasa sukar untuk menjawab pertanyaan imam itu dan segera berkata sambil berpaling kepada Jie Lian Coe: "Jieko ada apakah sehingga kalian mesti bertempur?"
See hoa coe mendongkol. "Hai ! Apa kau tak dengar pertanyaanku?" bentaknya. "Di mana adanya bangsat Cia Soen ?" Sebagai seorang yang gampang marah, dalam Koen loan pay Soe hoa coe berkedudukan tinggi dan lihay ilmu silatnya, sehingga ia sudah biasa main bentak-bentak terhadap orang-orang separtainya.
Hong Tancoe, pemimpin Sin coa tan, adalah seorang yang sangat "berbisa". Dalam pertempuran tadi dua orang muridnya telah binasa dibawah pedang See hoa coe, sehingga ia merasa sangat sakit hati.
Maka itu, begitu mendengar bentakan si Toosoe, ia lantas saja menggunakan kesempatan baik itu. "Huh ! Jangan banyak lagak kau !" katannya deagan suara dingin. "Thio Ngohiap adalah menantu dari Peh bie kauw. Tidak boleh kau bicara begitu kasar terhadapnya"
Soe hoa coe lantas saja meluap darahnya. "Tutup rnulutmu !" bentaknya. "Mana bisa seorang baik baik menikah dengan perempuan siluman dari agama yang menyeleweng ? Dalam pernikahan itu pasti terdapat latar belakarg yang busuk."
"Jangan mengacao kau !" Hong Tancoe tertawa dingin. "Buktinya Kauwcoe kami sudah mempunyai cucu."
Dengan kalap See hoa coe berteriak: "Perempuan siluman itu ... "
"Soeheng jangan tarik urat dengan manusia itu" memotong Wie Soe Nio. "Dalam urusan ini kita menyerahkan saja kapada Jie hiap." Ia sudah melihat maksud Hong Tancoe untuk mengadu domba Boe tong pay dengan Koen loan pay.
Mendengar perkataan Soe moaynya, See hoa coe juga tersadar dan sambil menahan amarah, ia menutup mulut.
Sambil mengawasi Coei San dan So So, Jie Lian Coe merasa bingung dan didalam otaknya berkelebat-kelebat banyak pertanyaan. "Paling baik kita bicara digubuk perahu," katanya sesudah memikir beberapa saat. "Saudara-saudara kedua pihak yang mendapat luka harus ditolong terlebih dahulu."
Dalam perahu Jie Liam Coe, Peh bie kauw merupakan tamu dan orang yang berkedudukan paling tinggi dalam "agama" itu ialah In So So, Hio coe Cie wie tong. Maka itu, sambil menuntun Boe Kie, So So masuk paling dulu kedalam gubuk perahu, diikuti oleh Lie Hiocoo dan kedua Tancoe. Selagi Hong Tancoe baru mau masuk, mendadak ia merasakan kesiuran angin yang menyambar pinggangnya.
Sebagai seorang yang berpengalaman, ia tahu bahwa dirinya dibokong See hoa coe. Sebaliknya dari menangkis, ia menubruk kedepan seraya berteriaknya: " Celaka! Aku dibokong!" Dengan gerakannya itu, ia sudah mempunahkan pukulan Sam in Coat houw chioe dari See hoa coe. Mendengar teriakan itu, semua orang menengok mengawasi Hong Tancoe dan See hoa coe yang muka nya berubah marah seperti kepiting direbus.
Dengan rasa jengah, Wie Soe Nio deliki Soe hengnya. Pada saat itu, Hong Tancoe ialah seorang tamu terhormat dan bokongan terhadapnya bukan saja melanggar peraturan, tapi juga memalukan.
Didalam gubuk perabu, So So menduduki kursi tamu yang pertama dengan Boe Kie berdiri didampingnya, sedang Jie Lian Cioe duduk dikursi pertama dari pihak tuan rumah. Sambil menunjuk sebuah kursi disebelah belakang kursi Wie Soe Nio, Jie Lian Cioe berkata: "Ngotee, kau duduk disitu." Coei San mengangguk dan lalu duduk di kursi yang ditunjuk, sehingga kedua suami isteri duduk sebagai tuan rumah dan tamu.
Selama sepuluh tahun, sesudah Thio Coei San menghilang dan Jie Thay Giam tidak pernah keluar karena lukanya, yang bergerak dalam Rimba Persilatan haayalah lima pendekar Boe tong pay dan selama sepuluh tahun itu, nama mereka jadi makin cemerlang. Biarpun kedudukan mereka adalah murid turunan kedua dari Boe tong pay, tapi dalam Rimba Persilatan mereka sudah bisa berendeng dengan pendeta-pendeta Siauw lim sie yang berkeduduka n tinggi. Selama tahun-tahun yang belakangan, orang- orang Kangouw makin menghargai dan menghormati Boe tong Ngo hiap. Maka itu lah, biarpun tingkatannya tinggi. Soe hoa coe dan Wie Soe Nio mempersilahkan Jie Liam Cioe duduk dikursi utama.
Beberapa murid segera menyuguhkan teh dan sambil mengundang para tamunya minum teh. Jie Lian Cioe menimbang-nimbang perkataan apa yang harus diucapkannya terlebih dahulu. Perangkapan jodoh antara Coei San dan puteri In Kauwcoe adalah kejadian yang sangat diluar dugaan dan ia merasa bahwa jika ia menanyakan langsung persoalan itu dihadapan orang banyak. Coei San tentu akan merasa jengah dan tidak akan mau bicara seterang-terangnya.
Memikir begitu ia lantas saja berkata dengan suara nyaring: "Sebagnimana kita tahu, Siauw lim, Koen loen. Go bie, Khong thong dan Boe tong, lima "pay". Sin koen, Ngo hong to dan lain lain, berjumlah sembilan "boen", Hay see, Kie keng dan sebagainya, tujuh "pang", sehingga semuanya duapuluh satu partai atau golongan, telah salah mengerti dengan Peh bie kauw karena usaha kita untuk mencari Cia Soen. In Kouwnio dan Soeteeku, Coei San. Salah mengerti itu telah berbuntut dengan bentrokan, sehingga selama telah bertahun tahun jatuh banyak korban yang binasa dan terluka . . ."
Ia berhenti sejenak dan kemudian berkata pula: "Sungguh syukur, secara tidak diduga duga, In Kouwnio dan Thio Soetee pulang dengan selamat. Peristiwa yang sudah terjadi selama sepuluh tahun itu tidak dapat dibereskan dalam tempo pendek. Maka itu menurut pendapatku, sebaiknya kita menunda dulu permusuhan dan pulang kemasing-masing tempatnya. Biarlah In Kouwnio melaporkan segala pengalamannya kepada In Kauw coe, sedang Thio Soetee memberi pertanggungan jawab dihadapan guru kami. Sesudah itu, kita boleh mengadakan pertemuan pula untuk coba membereskan soal-soal kita. Adalah kejadian yang sangat di harap-harapkan, jika dalam pertemuan itu kita dapat menyudahi permusuhan yang sudah berlarut-larut ini "
"Dimana adanya bangsat Cia Soen ?" See-hoa coe memutus perkataan Lian Cioe. " Tujuan kita yang terulama adalah mencari bangsat Cia Soen." Coei San kelihatan berduka sekali. Ia merasa sangat tidak enek, karena, gara-gara mencari orang yang hilang dalam Rimba Persilatan telah muncul gelombang yang begitu besar dan yang sudah meminta sangat banyak korban. Mendengar pertanyaan See hoa coe, ia jadi serba salah. Jika ia memberitahukan terang-terangan, sejumlah besar pentolan Rimba Persilatan sudah pasti akan meluruk ke Pang hwee to untuk mencari kakaknya. Jika ia membungkam ..... bagaimana ia dapat membungkam?
Selagi ia bimbang, tiba-tiba terdengar suara So So: "Bangsat Cia Soen yang jahat dan membunuh manusia secara serampangan sudah mampus sembilan tahun yang lalu,"
Semua orang kaget. "Sudah mati ?" mereka menegas serentak.
"Benar," jawabnya. "Pada suatu malam, yaitu ketika aku melihatnya anakku, bangsat Cia Soen mendadak kalap. Selagi mau membunuh Ngoko dan aku, tiba-tiba dia dengar suara tangisan bayi ku. Penyakitnya kambuh dan bangsat itu mati dengan mendadak."
Coei San mengerti maksud isterinya. Dengan, mengatakan, bahwa "Cia Soen yang jahat sudah. mati." So So tidak berdusta, karena, bagai mendengar tangisan Boe Kie, kekalapan dan kekejaman "Cia Soen yang jahat" menghilang dan mulai dari detik itu, ia berubah menjadi seorang baik, dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa sembilan tahun berselang , "Cia Soen yang jahat" sudah mati dan Cia Soen yang baik menjelma dalam dunia.
See hoa coe mengeluarkan suara dihidung. Ia tidak percaya keterangan So co yang dianggapnya sebagai perempuan menyeleweng dari "agama,
yang menyeleweng pula.
"Thio Ngohiap, apa benar bangsat Cia Soen sudah mampus?," tanyanya dengan suara keras.
"Benar, bangsat Cia Soen yang jahat sudah mati pada sembilan tahun berselang," jawab Coei San dengan suara sungguh-sungguh.
Sekoyong-konyong Boe Kie menangis keras "Giehoe bukan bangsat jahat!" teriaknya. "Giohoe tidak mati! Giehoe tidak mati! "
Biarpun berotak sangat cerdas, Boe Kie masih terlalu kecil dan belum berpengalaman. Rasa cintanya terhadan Cia Soen tidak kurang dari rasa cintanya terhadap kedua orang tuanya sendiri.
Maka itu, dapatlah dimengerti, jika ia tidak tahan mendengar tanya jawab itu dan cacian-cacian yang ditujukan terhadap ayah angkatnya.
Semua orang terkesiap dan tertegun. Dalam gusarnya. So So menggapelok muka puteranya. "Diam!" bentaknya dengan bengis. "Ibu, mengapa kau mengatakan Giehoe sudah mati?" tanya bocah itu dengan suara serak "Bukankah ia masih hidup segar bugar?"
"Jangan campur-campur urusan orang tua !" bentak sang ibu "Yang sudah mati adalah Cia Soen, si penjahat jahat, bukan Giehoemu."
Boe Kie bingung, tapi ia tidak berani membuka rnulut lagi.
See hoa coe tertawa dingin. "Saudara kecil," katanya kepada Boe Kie. "Cia Soen ayah angkatmu bukan? Dimana dia sekarang ?"
Si bocah mengawasi muka kedua orang tuanya. Sekarang ia mengerti, bahwa perkataan yang tadi dikeluarkanuya mempunvai arti yang sangat penting. Ia menggelengkan kepala seraya menjawab: "Tidak, aku akan beritahukan kau." Dengan tidak sengaja, jawaban itu merupakan bukti yang lebih kuat, bahwa Cia Soen sebenarnya belum mati .
Sambil mengawasi Coei San dengan mata men delik, See hoa coe membentak: "Thio Ngohiap! Apa benar In Kouwnio isterimu ?"
"Benar, dia isteriku!" jawabnya dengan suara nyaring.
"Dua orang murid partai kami telah celaka dalam tangan isterimu." kata pula See hoa coe sambil menahan amarah. "Mereka mati tidak, hidup pun tidak. Bagaimana kita harus memperhitung kan perhitungan ini ?"
Coei San dan So So terkejut.
"Jangan ngaco!" bentak nyonya muda itu.
"Dalam hal ini mungkin terselip salah mengerti," kata Coei San, "Sudah sepuluh tahun karni berdua meninggalkan wilayah Tionggoan. Cara bagai man kami bisa mencelakakan murid partai kalian"'
"Huh huh! " See hoa coe menggeram. "Memang.....memang Ko Cek Seng dan Chio Tauw sudah menderita lebih dari sepuluh tahun lamanya."
"Ko Cek Seng dan Chio Tauw ?" menegas So So.
"Apa Thio Hoejin masih ingat kedua orang itu?" ejek See hoa coe. "Aku kuatir kau sudah tidak ingat lagi karena kau telah membunuh ter lalu banyak manusia."
"Mengapa mereka?" bentak So So. "Mengapa kau menuduh aku secara membuta tuli ?"
"Menuduh membuta tuli! Membuta tuli...!" teriak Soe hoa coe. "Ha ha ha ! .... Mereka se karang sudah jadi gila..... sudah hilang ingatan.. Tapi mereka masih ingat namanya satu manusia. Mereka masih ingat, bahwa yang mencelakakan mereka adalah In So So!" Seraya mengatakan begitu, ia menatap wajah nyonya Coei San dengan mata beringas.
"Tutup mulutmu !" bentak Hong Tancoe. "Kau tidak berhak untuk menyebutkan nama terhormat dari Hiocoe Cie wie tong kami. Apakah kau tidak tahu adat-istiadat Rimba Persilatan? Cian pwee apa kau ? Thia Hiantee, apakah dalam dunia ini ada hal yang lebih memalukan dari pada itu?"
"Tak ada," jawab Thia Tancoe. "Aku sungguh tak mengerti, mengapa sebuah partai yang begitu tersohor mempunyai murid ugal-ugalan seperti dia. Sungguh memalukan ?"
Di ejek begitu, See hoa coe jadi kalap. "Binatang ! Siapa yang memalukan ?" teriaknya seraya mencekal gagang pedangnya.
Hong Tancoe tetap tenang, bahkan melirikpun tidak. "Thia hiantee," katanya pula. "Seseorang yang sudah memiliki beberapa jurus ilmu pedang kucing kaki tiga sebenarnya harus mengenal kesopanan manusia. Bagaimana pendapatmu ?"
Thia Tancoa mengangguk seraya menjawab "Benar. Semenjak Giok hie Too tiang meninggal dunia, makin lama mereka makin tidak keruan macam."
Giok hie Too tiang adatah Soe peh (paman guru) See hoa coe. Imam yang beribadat itu bukan saja tinggi ilmu silatnya, tapi juga sangat mulia hatinya, sehingga ia dihormati sangat dalam Rimba Persilatan.
Paras muka See hoa coe berubah merah padam. Tak dapat ia menjawab sindiran itu. Jika ia membantah. bukankah ia jadi menhina Soe pehnya sendiri yang namanya telah menggetarkan seluruh negeri ?
Tiba tiba ia bangun, badannya berkelebat dan ia sudah berdiri diluar pintu gubuk perahu, "Srt!" Ia menghunus pedang. "Bangsat!" teriaknya. "Kalau kau mempunyai nyali, keluarlah!"
Ejekan kedua pemimpinan Peh bie kauw itu terhadap See hoa coe adalah untuk menolong in So So dari desakan. Mereka menganggap. bahwa dengan pernikahan Coei San dan So So, perhubungan antara Boe tong pay dan Peh bie kauw sudah berubah. Meskipun Jie Lian Cioe dan Thio Coei San tidak sampai turun tangan untuk membantu pihaknya, kedua orang itu juga pasti tidak akan menyerang Peh bie kauw. Menurut perhitungan mereka, tanpa campur tangannya pihak Boe tong, mereka akan dapat mengalahkau orang orang Koen loan pay yang hanya terdiri dari tujub delapan orang.
Perhitungan Peh bie kauw itu sudah dapat ditebak oleh Wie Soe Nio yang bisa berpikir dengan otak dingin. "Soeko!" teriaknya. "Mereka yang berada diperahu ini adalah tamu tamu kita. Kita harus turut segala keputusan Jie Jie hiap "
Dengan berkata bergitu, San-tian Nio nio telah berlaku bijaksana. Jie Lian Cioe adalah seorang pendekar yang tulus bersih, sehingga ia pasti tidak akan berlaku curang.
Tapi diluar dugaan dalam gusarnya, See-hoa coe yang tolol tidak mengerti maksud Soe-moay nya. "Omongan kosong!" teriaknya. "Boe tong pay dan Peh bie kauw sudah terikat famili. Mana bisa dia berlaku sama tengah lagi!"
Jie Lian Cioe adalah seorang yang sabar dan panjang pikirannya. Ia jarang memperlihatkan rasa girang atau gusar pada paras mukanya. Perkataan See hoa coe yang sangat menusuk tidak dijawab olehnya dan ia mengasah otak untuk mencari jalan keluar.
"Soeka, jangan kau menggoyang lidah sembarangan," kata Wie Soe Nio cepat-cepat dengan rasa mendongkol. "Semenjak dulu, Boe tong dan Koen loan mempunyai hubungan yang sangat erat. Dalam sepuluh tahun, dengan bahu membahu kita bersama sama melawan musuh. Jie Jiehiap alalah seorang jujur yang sangat dihormati dalam kalangan Kang-ouw, sehingga tidak mungkin ia mengeloni pihak yang salah."
See hoa coe mengeluarkan suara dari hidung, "Belum tentu," katanya
Bukan main rasa mendongkolnya Wie Soe Nio yaag diam diam mencaci kakak yang tolol itu: "Soeko!" bentaknya. "Jika tanpa sebab kau cari cari urusan dengan Boe tong Ngohiap dan kau di gusari oleh Ciangboen soesiok, aku tak akan campur campur lagi urusanmu."
Mendengar ancaman itu, barulah See hoa coe menutup mulut.
"Urusan ini telah menyeret berbagai partai dan golongan dalam Rimba Persilatan," kata Jie lian Coe. "Aku seorang bodoh maka tidak berani mengambil keputusan sendiri. Apa pula, karena sudah berlarut larut selama sepuluh tahun, persoalan ini tentu sukar dibereskan dalam tempo pendek. Aku telah mengambil keputusan untuk pulang ke Boe tong bersama-sama Thio Soe tee guna memberi laporan kepada Insoe dan Toa soeheng dan meminta petunjuk Insoe."
See hoa coe tertawa dingin, "Sungguh lihay pukulan Jie hong Soo pit Jie Jiehiap." ejeknya.
"Jie-hong Soe-pit," (Seperti tutupan seperti kurungan) adalah serupa pukulan Boe-tong-pay untuk membela diri yang sangat terkenal dalam Rimba Persilatan. Dengan berkata begitu See hoa coe bukan saja mengejek Jie Lian Cioe pribadi tapi juga menghina pukulan Boe tong pay itu yang digubah oleh Thio Sam Hong sendiri. Biarpun sabar, darah Jie Lian Cioe meluap juga. Syukur sebelum mengumbar napsu, ia keburu ingat segala akibatnya, sehingga, sambil menarik napas, ia menindih hawa amarahnya dan hanya menyapu muka See hoa coe dengan sinar mata berkilat-kilat. "Jika See hoa Toheng mempunyai pendapat lain, aku bersedia untuk mendengamya." katanya dengan suara dingin.
Setelah disapu dengan sorot mata gusar, See hoa coe jadi keder. "Soemoy," katanya, "bagaimana pendapatmu? Apakah sakit hati Ko Cek Seng dan Chio Tauw boleh disudahi dengan begitu saja ?"
Sebelum Wie Soe Nio menjawab, disebelah selatan sekonyong-konyong terdengar suara terompet dan sesaat kemudian seorang murid Koen Loen masuk seraya berkata: "Kawan-kawan dari Khong tong pay dan Go bie pay sudah tiba untuk menyambut kita."
Lie Thian Hoan dan dua kawannya saling melirik. Paras muka mereka agak berubah.
Dilain pihak, See hoa coe dan Wie Soe Nio jadi girang. "Jie Jiehiap." kata San tian Nionio, "kurasa kita sebaiknya minta pendapat pihak Khong tong dan Gobie."
"Baiklah," jawab Lian Cioe.
Kedatangan orang orang Khong tong dan Go bie menambah kejengkelan Coei San. Partai Go bie masih tidak apa, tapi Khong tong pay mempunyai permusuhan yang sangat hebat dengan kakaknya, yang sudah melukakan Khong tong Ngoloo dan merampas kitab Cit siang koen. Ia merasa pasti, bahwa orang-orang Khong tong tak akan mau mengerti jika ia tidak memberitahukan di mana adanya Cia Soen.
Sementara itu, So So memikir dari yang lain. Disatu pihak ia mendongkol terhadap puteranya, tapi dilain pihak ia ingat, bahwa anak itu belum mengerti kejustaan dan rasa cintanya terhadap Cia Soen tak dapat diukur dalamnya. Maka itu, bahwa dia menangis dan membantah pernyataan orang tentang kematian ayah angkatnya adalah hal yang sangat dapat dimengerti. Memi kirbegitu, ia merasa menyesal sudah menggaploknya begitu keras dan lalu memeluk Boe Kie sambil mengusap-usap pipi sibocah.
"Ibu. Giehoe tidak mati, bukan?" bisik Boe Kie dikuping ibunya.
"Tidak, tidak mati, aku hanya mempedayai mereka," jawab sang ibu "Mereka adalah orang orang jahat yang ingin mencelakakan Giehoemu."
Boe Kie tersadar. Dengan mata gusar, ia me nyapu Jie Lian Coei dan semua orang yang berada disitu, Mulai hari itu, kedua kakinya menginjak dunia Kangouw dan mulai saat itu, ia mengerti akan kekejaman manusia.
Beberapa saat kemudian, orang-orang Khongtong dan Go bie masing-masing pihak berjumlah enam tujuh orang sudah masuk kegubuk perahu. Pemimpin rombongan Khong tong adalah Kat-ie Loojin, seorang tua yang bertubuh kurus kering, sedang kepala rombongan Go bie adalab seorang Niekouw (pendata wanita) setengah tua. Melihat Lie Thian Hoan dan kawan-kawannya, mereka kaget dan heran.
"Tong Samko! Ceng hie Soe thay!" teriak See hoa coe. "Boe tong pay dan Peh bie kauw sudah bergandengan tangan. "Kali ini kita rugi besar."
Orang yang dipanggil "Tong Samko" adalah Kat-ie Loojin Tong Boe Liang, salah seorang dari Khong thong ngoo loo, sedang Ceng hie
Soethay yalah murid turunan keempat dari Go bie pay dan dalam Rimba Persilatan, pendeta wanita itu mempunyai nama yang cukup besar.
Mendengar teriakan See hoa coe, mereka tercengangang, Ceng hie Soethay yang berpikiran panjang dan mengenal adat See hoa coe tidak mau lantas percaya. tapi Tong Boen Liang lantas saja naik darahnya, "Jie Jie hiap, apakah benar begitu?" tanyanya dengan suara keras.
Sebelum Jie Lian Cioe keburu menjawab, See hoa coe sudah mendahului: "Boe tong pay dan Peh bie kauw sudah jadi cinkee (besan). Thio Coei San, Thio ngohiap, sudah menjadi menantu In Toakauwcoe..."
"Thio Ngohiap yang sudah menghilang sepuluh tahun yang lalu?" tanya Tong Boen Liang dengan heran.
"Benar, itulah adikku Coei San," jawab Lian Cioe seraya menunjuk Ngohiap. "Ngotee, inilah Tong Boen Liang, Tong Samya, seorang Cianpwee dari Khong tong pay."
Boe Liang dan Coei San saling membungkuk dan mengucapkan kata-kata merendahkan diri.
See hoa coe yang sudah tak dapat menahan sabar lagi, lantas saja berkata pula: "Thio Ngo hiap dan In Kauwnio tahu tempat persembunyiannya Kim mo Say ong Cia Soen, tapi mereka menolak untuk memberitahukannya kepada kami. Mereka malah berdusta dan mengatakan, bahwa bangsat Cia Soen sudah mampus."
Begitu mendengar nama Kim mo Say ong Cia Soen, darah Tong Boen Liang meluap. "Dimana dia sekarang ?" tanyanya dengan suara keras,
"Dalam urusan ini, lebih dulu aku harus melaporkan kepada In soe dan aku mohon maaf karena tak dapat segera memberitahukan kepada kalian." jawab Coei San.
Kedua mata Tong Boen Liang seolah-olah mengeluarkan api. "Dimana adanya bangsat Cia Soen?" teriaknya. "Dia telah membinasakan keponakanku. Aku tak mau hidup bersama-sama dia dalam dunia. Dimana dia? Katakan saja! Kau mau memberitahukan atau tidak?"
Perkataan-perkataan itu yang dikeluarkan tanpa sungkan-sungkan dan tanpa mengenal kesopanan sudah menggusarkan So So yang lantas saja
berkata dengan suara dingin : "Mengapa kau tidak menceritakan juga, bahwa dia sudah melukakan Kong tong Ngoolo dan merampas kitab Cit siang Koen?"
Dalam melukakan Ngoolo dan merampas kitab Cit siang koen, Cia Soen telah menggunakan nama Seng Koen. Hal yang sebenamya baru diketahui Khong tong pay pada kira-kira lima tahun berselang. Tapi, karena kejadian tersebut menodai nama partay maka orang-orang Khong tong pay selalu meenutupkan rapat. Bagaimana nyonya muda itu bisa tahu rahasia tersebut?
Paras muka Kat-ie Loojin lantas saja berubah pucat dan sambil mementang sepuluh jarinya, ia mengangkat kedua tangannya untuk menyerang. Tapi dilain detik, ia ingat, bahwa sebagai seorang tua, tak pantas ia turun tangan lebih dahulu terhadap seorang wanita muda yang kelihatannya begitu lemah lembut sehingga tangan yang sudah terangkat itu berhenti ditengah udara.
Sambil menahan amarah, ia berpaling kepada Coei San dan bertanya: "Siapa dia ?"
"Isteriku," jawabnya.
"Puterinya In Toakauwcoe dari Peh bie kauw," menyelak See hoa coe.
Peh bie Eng ong In Thian Ceng memiliki ilmu silat yang tidak dapat diukur tingginya dan sehingga waktu itu, seorangpun belum pemah dapat melayaninya dalam sepuluh jurus. Mendengar, bahwa nyonya Coei San adalah puteri In Thian Ceng, Tong boen Liang lantas saja merasa keder dan berkata dengan suara terputus-putus : "Oh!... begitu"
Sesaat itu, Ceng hie Soethay yang sedang masuk kegubuk perahu belum pemah bicara, baru membuka mulut. "Sebaiknya kita minta Jie Jiehiap menerangkan seluk beluk kejadian ini," katanya.
"Urusan ini berbelit belit dan sudah menyeret banyak sekali orang," kata Lian Cioe. "Disamping itu, permusuhan sudah berjalan lama sekali, sudah kurang lebih sepuluh tahun, sehingga dapatlah dimengerti, jika kita tak akan dapat mengupasnya dalam tempo pendek. Begini saja, tiga bulan kemudian partai kami akan mengadakan perjamuan di Hong ho lauw dan mengundang wakil-wakil berbagai partai serta golongan. Dalam pertemuan itu, kita akan merundingkan persoalan ini sedalam-dalamnya. Bagaimana pendapat kalian ?"
"Aku setuju," jawab Ceng hie seraya mengangguk.
"Siapa benar, siapa salah, boleh dibicarakan tiga bulan lagi," kata Tong Boen Liang. "Tapi tempat sembunyinya Cia Soen harus diberitahukan sekarang juga."
Coei San menggelengkan kepala. "Sekarang tidak bisa," katanya dengan suara tetap. Tong Boen Liang gusar tak kepalang, tapi sebisa bisanya ia menahan sabar, karena ia mengerti bahwa jika Boe tong pay sampai bersatu padu dengan Peh bie kauw, akibat bakal hebat sekali. Maka itu, dengan muka merah padam, ia bangun berdiri dan mengangkat kedua tangannya: "Baiklah. Kita akan bertemu kembali tiga bulan kemudian."
"Tong Samya, bolehkah kami menumpang di perahumu ?" tanya See hoa coe.
"Mengapa tidak ?" jawabnya.
"Bagus! Soemoay, ayolah !" mengajak See hoa coe. Orang orang Koen loan datang ketempat pertempuran dengan menggunakan perahu Boe tong dan dengan sikapnya itu, terang terang See hoa coe sudah memandang Boe tong pay sebagai lawan.
Tapi Jie Lian Cioe tetap bersikap tenang. Dengan manis budi ia mengantar semua tamu kekepala perahu. "Sepulangnya kami ke Boe tong dan sesudah kami memberi laporan kepada Insoe, kami akan segara mengirim surat undangan," katanya sambil membungkuk.
Baru saja See hoa coe mau menyebrang keperahu Khong tong, tiba-tiba So So berkata: "See hoa Tootiang, tahan dulu! Aku mau menanyakan serupa hal."
"Ada apa ?" tanya siberangasan sambil memutar tubuh.
"Tootiang," kata pula si nyonya sambil bersenyum. "tak henti-hentinya kau mengatakan, bahwa agama kami agama menyeleweng, agama sesat. sedang aku sendiri perempuan siluman. Bolehkah aku tahu dimana sesatnya dan dimana sifat silumannya?"
Untuk sejenak See hoa coe tertegun. Sesudah menenteramkan hati, ia menjawab: "Agamamu bukan agama tulen, tapi menyeleweng dan tersesat dari jalan yang lurus. Kecantikanmu seperti kecantikan siluman rase yang jahat dan cabul. Itu jawabanku. Perlu apa kau rewel rewel. Kalau kau bukan siluman, bagaimana seorang laki laki sejati Thio Ngohiap bisa terpincuk ! Hu-hu !"
"Terima kasih untuk penjelasan itu," kata So So.
See hoa coe girang dan bangga, menganggap nyonya muda itu sudah dijatuhkan dengan kata katanya yang tajam. Sambil bersenyum, ia menindak kepapan untuk menyeberang keperahu Tong Boen
Liang.
Perahu Boe tang dan Khong tong adalah perahu perahu besar dengan tiga layar sehingga walaupun berdempetan, jarak antara kedua perahu itu, yang dihubungkan dengan papan masih kira kira dua tombak.
Karena harus bicara dulu dengan So So, See hoa coe jadi ketinggalan dan sesudah semua orang berada diperahu Tong boen Liang, ia sendiri baru mulai menyeberang. Baru berjalan beberapa tindak, mendadak ia merasakan kesiuran angin luar biasa dibelakangnya. Meskipun berangasan dan pendek pikiran, ia berkepandaian tinggi dan berpengalaman luas. In tahu dirinya dibokong dan begitu memutar badan, tangannya sudah mencekal pedang.
Mendadak, mendadak saja, ia merasa kedua kakinya menjeblos kebawah. Papan penyeberangan putus jadi dua! Sebisa-bisanya ia berusaha untuk menolong diri, tapi karena jarak keperahu Khong tong masih agak jauh, maka tanpa ampun lagi ia tercebur kedalam air.
Sial sungguh, ia tidak bisa berenang, sehingga dalam sekejap, ia sudah minum beberapa ceguk air asin. Selagi ia kebingungan dan memukul serta menendang air dengan tangan dan kaki,tiba-tiba melayanglah seutas tambang. Cepat cepat ia mencekalnya dan dilain saat, ia merasa badannya terangkat naik keatas permukaan air.
Ia menengadah dan melihat bahwa yang mengangkatnya adalah Thia Tancoe yang paras muka nya seperti tertawa, tapi bukan tertawa.
Tak usah dikatakan lagi, itu semua kerjaan So So. Karena mendongkol, diam-diam ia memerintahkan Hong dan Thia Tancoe "mengerjakan." si berangasan itu. Tigapuluh enam golok terbang dari Hong Tancoe terkenal dalam kalangan Kang ouw. Golok itu yang tipis dan tajam luar biasa, jarang meleset dari sasarannya. Selagi So So bicara dengan See hoa coe, dengan sekali menimpuk, Hoag Tancon telah memotong papan itu dengan hoei to nya dan meninggalkan sebagaian kecil supaya tidak lantas jatuh kedalan air dan baruakan patah jika diinjak.Thia Tancoe sendiri siapa sedia deagan seutas tambang, tapi pertolongannya baru diberikan sesudah See hoa coe minum banyak air.
Wie Soe Nio, Tong Boen Liang dan yang lain lain menyaksikan itu dengan mata membelalak, tapu mereka tidak dapat segera menolong, karena berada dalam jarak yang agak jauh.
See hoa coe merasa dadanya seperti mau meledak, tapi dalam keadaan tidak berdaya, sedapat dapatnya ia menahan amarah. Celaka sungguh, baru mengangkat kira kira satu kaki dari permukaan air, Thia Tancoe berseru. "Toheng," katanya, "jangan kau bergerak. Tenagaku tidak cukup. Jika kau bergerak tambang ini bisa terlepas !"
See hoa coe bingung bukan main. Kalau dilepas, ia bisa celaka, atau sedikitnya bakal minum lebih banyak air asin.
Tiba tiba Thia Tancoe berteriak: "Hati hati!" Dengan sekali menyentak, tubuh See hoa coe terayun kebelakang tujuh delapan kaki dan kemudian, ia melemparkan bandulan manusia itu keperahu seberang.
Begitu kedua kakinya hinggap diatas geladak perahu Khong tong, See hoa coe kalap bahna gusarnya. Kegusarannya lebih meluap-luap, karena orang-orang Peh bie kauw dengan serentak bersorak-sorai. Karena pedangnya sendiri sudah hilang didalam air, bagaikan kilat ia menghunus pedang Wie Soe Nio dan melompat kekepala perahu untuk menerjang musuh. Tapi, jarak antara kedua perahu itu sudah sangat jauh, sehingga apa yang dapat dibuatnya hanyalah mencaci habis-habisan.
Semua perbuatan So So telah dilihat oleh Jie Lian Cioe, yang diam-diam mengakui, bahwa wanita itu benar mempunyai sifat-sifat yang sesat dan kurang tepat untuk menjadi pasangan adiknya. Maka itu, ia lantas saja berkata. "In Hio coe dan Lie Hio coe, kuharap kalian suka menghadapi pertemuan di Oey ho lauw pada tiga bulan kemudian. Sekarang kita berpisah saja. Ngotee, mari ikut aku pergi menemui Insoe."
"Baiklah," kata Coei San dengan perasaan tidak enak.
So So mengerti, bahwa dengan berkata begitu. Lian Cioe berusaha untuk memisahkan diri dari sang suami. Dengan paras muka duka, ia mendongak mengawasi langit dan kemudian menunduk, memandang geladak perahu.
Coei San lantas saja mengerti maksud isterinya, yang ingin mengingatkan sumpahnya sendiri yaitu "Langit diatas. Bumi dibawah, kita tak akan berpisahan lagi."
Maka itu, ia lantas saja berkata: "Jieko, aku ingin sekali mengajak teehoemu dan anakku pergi menemui Insoe lebih dulu dan sesudah mendapat perkenan beliau, barulah aku mengunjungi Gakhoe (mertua). Bagaimana pendapatmu?"
"Begitupun baik," jawab sang kakak sambil pengangguk.
So So girang. "Soesiok", katanya kepada Lie Thian hoan, "aku mohon kau suka memberitahu kan Thia thia (ayah), bahwa anaknya yang tidak berbakti telah bisa pulang kebali, dan didalam beberapa hari, kami akan pulang ke Cong to untuk menemui beliau."
"Baiklah." kata Lie Hiocoe seraya manggutkan kepala. "Kami akan menunggu kalian di Cong to." Ia bangun berdiri dan berpamitan.
"Bagaimana dengan kakakku?" tanya So So sebelum Lie Thian hoan berlalu.
"Bagus, sangat bagus!" jawabnya. "Selama bebarapa tahun ini, ilmu silat kakakmu telah mendapat kemajuan luar biasa, sehingga aku sendiri sudah ketinggalan sangat jauh."
"Ah! Soesiok selamanya suka guyon-guyon dengan anak anak." kata So So sambil tertawa.
"Tidak, aku tidak bicara main-main," kata sang paman dengan suara sungguh•sungguh. "Kemajuan kakakmu malah telah dipuji juga oleh ayahmu sendiri."
"Ah Soesiok!" kata nyonya Coei San. "Janganlah memuji orang sendiri dihadapan orang luar. Aku kuatir Jie Jie hiap akan tertawa."
"Sesudah Thio Ngohiap menjadi Kouw-ya (menantu), apakah Jie Jie hiap masih dipandang sebagai orang luar" kata Lie Thian Hoan seraya tertawa dan kemudian, sesudah memberi hormat, bersama dengan kawannya, ia lalu meninggalkan perahu Boe tong. Mendengar tanya jawab itu, Lian Cioe merasa kurang senang, tapi ia hanya mengerutkan alis dan tidak mengatakan apa-apa.
Begitu lekas orang-orang Peh hie kauw berlalu, Coei San segera bertanya dengan tergesa-gesa : "Jieko, bagaimana dengan keadaan Samko ? Apa..apa.. lukanya sudah sembuh?'
Lian Cioe menghela napas, ia tidak lantas menjawab pertanyaan adiknya.
Jantung Coei San berdebar keras. Dengan mata membelalak, ia mengawasi muka sang kakak.
"Samtee tidak mati," kata Lan Coei akhimya. "Tapi, hampir tiada beda dengan mati. Ia telah menjadi orang bercacad, kaki tangannya tidak dapat digerakkan lagi. Jie Thay Giam Jie Sam hiap..hm....dunia Kangouw tak akan melihatnya lagi."
Air mata Coei San lantas saja mengucur. " Apa kah sudah diketahui siapa yang mencelakakannya?" tanyanya dengan suara parau.
Lian Cioe tidak meniawab. Mendadak ia mutar kepala dan sinar matanya yang seperti kilat menatap wajah So So. "In Kauwnio, apa kau tahu siapa yang melakukan Jie Samtee?" tanyanya dengan suara tajam .
So So menggelengkan kapala. "Kudengar Jie Samhiap kena pukulan Kim kong cie dari Siauw lim sie," jawabnya.
"Benar! Tapi apa kau tahu siapa yang melakukan serangan itu?" tanya pula Lian Coe.
"Tidak, aku tak tahu," jawabnya.
Lian Cioe tidak mendesak lagi, tapi menengok kepada Coei San seraya berkata: "Ngotee, menurut Siauw lim pay kau telah membinasakan keluarga Liang boan Piauw kiok dan beberapa pendata. Siauw lim sie. Apa benar?"
Coei San tergugu dan menjawab dengan suara terputus-putus : "Ini... ini .."
"Kejadian itu tiada sangkut pautnya dengan dia ", menyelak So So. "Akulah yang sudah membunuh mereka."
Lian Cioe melirik nyonya muda itu dengan sorot mata gusar, tapi sejenak kemudian, paras mukanya udah berubah sabar kembali. "Aku memang tahu bahwa Ngo tee tak akan membunuh orang secara serampangan." katanya. "Semenjak kau menghilang antara partai kita dan Siauw lim pay telah terjadi sangketa. Kita mengatakan, bahwa mereka telah melukakan Samko, tapi mereka sebaliknya menuduh kau sebagai orang yang telah membunuh puluhan orang Siauw lim. Karena tak ada saksi, maka urusan itu sehingga sekarang masih belum bisa dibereskan. Untung juga Kong boen Tay-soe Ciang boen jin dari Siauw-lim pay, adalah seorang yang berpandangau jauh dan menghormati Insoe. Dengan sekuat tenaga, ia sudah melarang murid-muridnya menimbulkan gelombang. Itulah sebabnya mengapa selama sepuluh tahun, Boe-tong dan Siauw lim belum pernah terjadi bentrokan senjata."
"Diwaktu muda aku telah bertindak semberono dan sekarang aku merasa sangat menyesal" kata So So. "Tapi apa mau dikata beras sudah menjadi nasi. Jalan satu satunya adalah menyangkal tuduhan mereka,"
Paras muka Lian Cioe lantas saja berubah. Ia sungguh tak mengerti, bagaimana adiknya yang begitu mulia bisa menikah dengan wanita sesat itu.
Dilain pihak, So So pun merasa kurang senang terhadap Lian Cioe, karena Jie-hiap ini bersikap dingin tapi juga terus memanggil dengan panggilan "In Kouwnio" (nona In) dan tidak menggunakan "teehoe" (isteri dari adik lelaki). Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara tawar: "Siapa yang berbuat, ia yang harus bertanggung-jawab,
urusan ini, aku pasti tak akan menyeret-nyeret pihak Boe tong pay. Suruh saja Siauw lim pay cari Peh bie kauw."
Lian Cioe jadi gusar dan berkata dengan suara nyaring: "Dalam kalangan Kangouw, yang paling diutamakan adalah keadilan. Jangankan Siauw lim pay sebuah partai besar, anak kecilpun tak boleh dihina dengan mengandalkan kekuatan."
Jika teguran pedas itu diberikan pada sepuluh tahun berselang, So So tentu sudah menghunus pedang. Tapi sekarang, biarpun darahnya meluap, sebisa-bisa ia menahan napsu.
"Ajaran Jieko sedikitpun tak salah," kata Coei San seraya membungkuk.
"Aku tak kepingin dengar ajaranmu," kata So So didalam hati dan sambil menarik tangan Boe Kie, ia bertindak keluar. "Boe Kie, mari kita meninjau perahu besar ini yang belum pemah dilihat olehmu," katanya.
Sesudah isteri dan puteranya berlalu dari gubuk perahu, Coei San segera berkata dengan suara jengah. "Jieko, selama sepuluh tahun ini, aku...."
"Ngotee," sang kakak memotong perkataannya sambil mengebas tangan. "Kecintaan antara kau dan aku adalah kecintaan darah daging. Dalam bahaya apapun juga, aku akan tetap berdiri didampingmu untuk hidup dsn mati bersama-sama. Urusan pernikahanmu, kau tak usah membicarakan dengaku. Sesudah kemali di Boe tong, kau boleh melaporkan kepada Soehoe, Jika Soehoe gusar dan lalu menjatuhkan hukuman, kita beramai, Boe tong Cit hiap, akan berlutut dihadapan Soehoe untuk memohon pengampunan. Puteramu sudah begitu besar dan aku tidak percaya, bahwa Soehoe akan cukup tega untuk memisahkan kau dengan anak isterimu."
Bukan main rasa girang dan terima kasihnya Coei San. "Terima kasih atas kecintaan Jieko," katanya dengan suara terharu.
Jie Lian Cioe adalah seorang yang diluarnya kelihatan menyeramkan dan keras, sedang didalamnya, lembek dan mulia. Diantara Boe tong Cit hiap ialaj yang paling jarang berguyon, sehingga adik-adik seperguruannya lebih takut terhadapnya daripada terhadap Song Wan Kiauw. Tapi selain ditakuti, ia juga sangat dicintai, karena ia sangat mencintai saudara-saudara seperguruannya. Hilangnya Coei San mendukakan hatinya, sehingga hampir-hampir ia menjadi kalap. Pertemuan dengan si adik pada hari itu merupakan kejadian yang luar biasa menggirangkan, tapi ia tidak memperlihatkan kegirangannya itu pada paras mukanya dan malah sudah menegur So So dengan kata-kata keras.
Sesudah berada berduaan, barulah ia mengutarakan isi hatinya dihadapan si adik. Apa yang paling dikuatirkan olehnya adalah keselamatan So So yang sudah membunuh begitu banyak murid Siauw lim sie dan ia merasa, bahwa peristiwa itu tidak mudah dapat dibereskan dengan jalan damai. Tapi diam-diam ia sudah mengambil keputusan bahwa jika perlu, ia rela mengorbankan jiwanya sendiri, demi kepentingan dan keutuhan keluanga Soe teenya.
"Jieko apakah bentrokan kita dengan Peb-bie kauw karena gara gara siauwtee?" tanya pula Coei San. "Siauw tee sungguh merasa tidak enak."
"Bagaimana sebenamya kejadian dalam pertemuan Ong-poan-san ?" Lian Cioe balas menanya, tanpa menjawab pertanyaan siadik.
Coei San lantas saja menuturkan segala pengalamannya, cara bagaimana malam malam ia masuk kegedung Long boen Piauw kiok, bagaimana ia mengenal So So, bagaimana ia turut menghadiri pertemuan di Ong poan san, bagaimana Cia Soen membunuh orang, merampas To liong to dan akhirnya menawan ia dan So So. Sesudah mendengar penuturan itu, Lian Cioe lalu meminta penjelasan mengenai nasib Ko Cek Sang dan Chio Tauw. Sesudah segala apa jelas baginya, ia menghela napas seraya berkata: "Jika kau tidak pulang, entah sampai kapan rahasia ini baru bisa diketahui."
"Benar," kata Coei San, "Saudara angkatku .....hmm. Pada hakekatnya, Cia Soen sebenarnya bukan manusia jahat. Ia telah melakukan
banyak kedosaan sebab mengalami pengalaman hebat dan mendendam sakit hati yang hebat pula. Pada akhimya, aku telah mengangkat saudara dengan ia."
Lian Cioe hanya manggut manggutkan kepalanya.
"Dengan teriakannya yang maha dahsyat, Gie heng (saudara angkat) telah merusak urat syaraf semua orang yang berada dipulau itu." kata pula Coei San. "Ia mengatakan, bahwa andaikata orang orang itu tidak menjadi mati, mereka akan kehilangan ingatan dan dengan begitu, barulah rahasia To liong to tidak sampai menjadi bocor."
"Didengar dari penuturanmu, biarpun sangat kejam, Cia Soen adalah manusia luar biasa," kata Lian Cioe. "Sepak terjangnya sangat hati-hati, tapi ia masih terpeleset dan melupakan satu orang."
"Siapa?" tanya Coei San.
"Pek Kwie Sioe," jawabnya.
"Ah! Tancoe dari Hian boe tan," kata Coei San dengan kaget.
Lian Cioe mengangguk. "Menurut keteranganmu, diantara jago-jago yang berkumpul dipulau Ong poan san pada hari itu, Pek Kwie Sioe-lah yang memiliki Lweekang yang tinggi," katanya. "Karena diserang dengan semburan arak oleh Cia Soen, ia telah jatuh pingsan. Jika ia tidak berada dalam keadaan pingsan, mungkin sekali ia tak dapat mempertahankan diri pada waktu Cia Soen mengeluarkan teriakannya yang dahsyat itu."
"Benar!" Coei San memotong perkataan Soe hengnya sambil menepuk lutut. "Waktu itu memang Pek Kwie Sioe belum tersadar, sehingga oleh karenanya ia tak mendengar teriakan Gie heng dan secara kebetulan berhasil menyelamatkan dirinya. Benar! Gieheng seorang yang berpikiran panjang, tapi ia tidak bisa berpikir sampai di situ."
Lian Cioe menghela napas, "Yang masih hidup hanya Pek Kwie Sioe dan kedua murid Koen loen pay itu," katanya pula, "Sebagaimana kau
tau Lweekang Koen loen pay sangat luar biasa dan walaupun tenaga dalamnya masih belum cukup tinggi, Ko Cek Sang dan Chio tauw bisa terlolos juga dari kebinasaan. Tapi mereka hilang ingatan, seperti orang menderita penyakit urat syaraf. Setiap kali ditanya, siapa yang mencelakakan mereka, mereka hanya menggeteng-gelengkah kepala, Ko Cok Sang hanya menyebutkan nama seorang, yaitu nama 'In So So'...Hmmm".
Ia berhenti sejenak dan kemudian berkata lagi . "Sekarang baru aku mengerti, bahwa si orang she Ko menyebut-nyebut nama Teehoe, karena ia tidak dapat melupakan kecantikan Teehoe. ..hm. Jika dilain kali See hoa coe mengeluarkan kata-kata yang kurang ajar, entah bagaimana aku harus menjawabnya. Pihaknya sendiri yang tidak benar, tapi dia masih mau menyalahkan orang."
"Jika Pak Kwie Sioe tidak kurang suatu apa, dia tahu dari seluk beluk dari segala kejadian di Ong poan san," kata Coei San.
"Tapi dia tetap menutup mulut," kata Lian Cioe. "Apa kau bisa menebak sebab musababnya?"
Siadik memikir sejenak. "Ya." jawabnya, sesaat kemudian. "Mereka menutup mutut karena masih mengharap bisa merampas To liong to "
"Benar," kata Lian Cioe. "Permusuhan dalam Rimba Persilatan berpangkal disitu. Koen loan pay menuduh, bahwa In So So mencelakakan Ko Cek Seng dan Chio Tauw, sedang pihak kita menganggap kau sudah dibunuh oleh orang orang Peh bie kauw"
"Apakah hadirnya Siauwtee dipulau itu telah diberitahukan oleh Pek Kwie Sioe ?" tanya Coei San.
"Bukan," jawabnya. "Pek Kwie Sioe membungkam tidak sepatah kata keluar dari mulutnya. Bersama Sie tee dan Cit tee, aku telah membuat penyelidikan dipulau itu. Kami tahu kehadiranmu, sebab melihat duapuluh empat huruf yang di tulis olehmu ditembok batu dengan menggunakan Tiat pit. Kami, segera mencari Pek Kwie Sioe dan menanyakan tentang dirimu. Karena jawabannya kurang ajar, kita bertempur dan dia kena satu pukulanku. Tak lama kemudian orang orang Koen loen pay minta keterangan dari Peh bie kauw dan berbuntut dengan pertempuran. Malam pertempuran itu, Koen loen pay menderita kerugian dua orang dipihaknya binasa dan permusuhan menghebat. Srlama sepuluh tahun, dendaman sakit hati ini jadi makin mendalam."
Coei San sangat berduka. "Karena gara gara siauwtee suami isteri, berbagai partai menemui bencana " katanya. "Siauwtee sungguh merasa sungguh sangat tak enak. Sesudah memberi laporan kepada Insoe, siauwtee akan mengunjungi berbagai partai untuk coba mendamaikan dan siauw tee rela menerima hukuman apapun jua."
Lian Cioe menghela napas. "Dalam urusan orang ridak dapat menyalahkan kau," katanya. "Jika hanya karena persoalan kau berdua suami istri yang terseret dalam permusuhan, paling banyak hanya Koen loan, Boe tong dan Peh bie kauw, Tapi, dalam keinginannya untuk merampas To liong to, Peh bie kauw tidak pernah menyebut nyebut nama Cia Soen, sehingga dengan begitu, Kie keng pang, Hay see pay dan Sin koen boon sudah menumplek kedosaan diatas kepala Peh bie kauw. Mereka menganggap, bahwa orang orang Peh Bie kauwlah yang sudah membinasakan pemimpin-pemimpin mereka. Itulah sebabnya, mengapa Peh bie kauw sudah dikeroyok oleh begitu banyak partai dan golongan"
Coei San menggoyang-goyangkan kepalanya. "Aku sungguh-sungguh tidak mengerti apa kebaikannya To liong to, sehingga Gakhoe (mertua lelaki) rela menerima segala tuduhan yang tidak-tidak itu," katanya.
"Aku sendiri belum pernah bertemu muka dengan mertuamu," kata Lian Cioe. "Tapi kepandaiannya dalam memimpin orang-orangnya untuk melawan begitu banyak musuh, sangat dikagumi oleh semua orang."
"Jieko, ada hal lain yang tidak dimengerti olehku," kate pula Coei San. "Go bie dan Khong tong tidak turut hadir dalam pertemuan di Ong Poan San, mengapa mereks juga bermusuhan dengan Peb bie kauw?"
"Sebab musababnya berpangkal pada Giehengmu, Cia Soen, " jawabnya. "Dalam usahanya untuk mendapatkan To liong to Peh bie kauw tetah mengirim perahu-parahu Cia Soen diberbagai pulau. Kau harus mengetahui bahwa rahasia tak mungkin ditutup selama-lamanya. Meskipun Pek Kwie Sioe tetap membungkam, lama-lama rahasia itu bocor juga. Dangan menggunakan name Hoen-Goan Pek lek chioe Seng Koen, Gie-hengmu telah melakukan lebih dari tiga puluh pembunuhan yang menggemparkan. Banyak jago dari berbagai partai yang binasa ditangannya. Apa kau tahu kejadian ini?"
Coei San manggutkan kepala. "Kalau begitu, orang akhirnya tahu, bahwa itu semua telah dilakukan olehnya," katanya dengan suara perlahan.
"Setiap kali membunuh orang, diatas tembok ia menulis huruf-huruf besar yang berbunyi:Yang membunuh ialah Hoen goan Pek-lek-chioe Seng Koen," Lian Cioe melanjutkan penuturannya.
"Kejadian kejadian itu sedemikian hebatnya, sehingga aku dan lain-lain saudara pernah menerima perintah insoe untuk turun gunung guna bantu menyelidiki. Semula, tak satu manusiapun yang dapat menebak siapa penjahatnya, sedang Seng Koen sendiri tak pernah muncul. Tapi, sesudah rahasia Pak bie kauw bocor, orang-orang pandai berbagai partai lantas saja bercuriga dan mulai menebak-nebak. Cia Soen adalah murid tunggal dari Hoen-goan Pek lek Chie. Orang juga tahu meskipun tak tahu sebab sebabnya bahwa, belakangan Cia Soen bermusuhan hebat dengan gurunya. Maka itu, orang lantas saja menduga bahwa yang menggunakan nama Seng Koen adalah Cia Soen."
"Jumlah manusia yang dibunuh Cia Soen sudah terlalu besar dan jumlah partai yang punya dendam sudah terlalu banyak. Bahkan seorang yang berkedudukannya paling tinggi dalam Siauw lim-pay, yaitu Kong kianTaysoe, juga binasa dalam tangannya . Coba kau menaksir-naksir berapa jumlah orang yang ingin membalas sakit hati terhadapnya"
Paras muka Coei San berubah. pucat sekali, "Ya... Gie heng telah kembali kejalan lurus, tapi kedua tangannya berlumuran terlalu banyak darah." katanya dengan suara parau. "Jieko .. Pikiranku terlalu kusut dan aku tidak dapat memikir lagi."
"Dengan demikian semua orang mengeroyok Peh bie kauw," kata pula Lian Coe. "Karena kau, aku dan saudara-saudara mencari Peh bie kauw, karena Ko Cek Seng dan Chio Tauw, Koen loan pay mencari Peh bie kauw, karena kebinasaan pemimpinnya. Kie keng pang mencari Peh bie kauw. Siauw lim pay dan lain-lain golongan mencari Peh bie kauw sebab mau menanyakan dimana tempat sembunyinya Cia Soen. Selama beberapa tahun sudah terjadi lima kali pertempuran besar dan jumlah pertempuran kecil tak dapat dihitung lagi. Dalam pertempuran-pertempuran besar, pihak Peh bie kauw selalu jatuh dibawah angin. Akan tetapi, dengan kecerdikannya, Gak hoemu selalu dapat menolong rombongannya, sehingga tidak sampai menjadi hancur. Mau tidak mau semua orang orang mengakui, bahwa dia benar benar manusia luar biasa. Selama persoalan belum jelas dan masih banyak hal yang meragukan, Siauw lim, Koen loen, boe tong dan lain-lain pengurus tidak mau bertindak keterlaluan. Tapi golongan-golongan Kang ouw yang lainnya tidak sungkan-sungkan lagi. Kali ini, kami mendapat warta bahwa Hiocoe dari Thian sie tong telah berlayar dengan sebuah perahu besar. Kami lantas saja menguntip. Lie Hiocoe gusar dan pertempuran lantas saja terjadi. Jika kau tidak keburu datang, jumlah korban pasti akan lebih besar"
Bukan main rasa menyesalnya Coei San. Dengan sorot mata duka ia mengawasi kakak seperguruannya yang kelihatannya banyak lebih tua daripada sepulah tahun berselang. "Jieko selama sepuluh tahun, kau sungguh menderita..." katanya dengan suara berbisik. "Sesudah bisa bertemu lagi dengan kau, matipun aku rela...aku..."
"Ngotee, tak usah kau terlalu sedih," memotong kakak. "Berkumpulnya kembali Boe tong Cit hiap adalah kejadian yang sangat menggembirakan. Semenjak Samtee terluka dan kau menghilang, orang-orang Kangouw mengubah panggilan menjadi Boe tong Ngo Hiap. Huh huh! Hari ini Cit Hiap berkumpul kembali....." Ia tak dapat meneruskan perkataannya, sebab mendadak ia ingat, bahwa biarpun Cit hiap masih lengkap tujuh orang, tapi sebenarnya tidak begitu, karena Jie Thay Giam sudah tak dapat menunaikan lagi tugasnya sebagai seorang pendekar.
Sesudah berlayar belasan hari, mereka tiba dimulut Sungai Tiang kang. Mereka segera menukar perahu yang lebih kecil dan meneruskan perjalanan disungai itu. Coei San dan So So sudah menukar pakaian yang pantas dan mereka sungguh merupakan pasangan yang setimpal yang satu tampan, yang lain cantik. Boe Kie pun mengenakan baju baru dan sebagian rambutnya dibuat menjadi dua kuncir yang diikat dengan sutera merah.
Dengan parasnya yang tampan, kegesitan dan kecerdasannya, ia sungguh seorang bocah yang menarik.
Dalam sibuknya mempelajari ilmu silat, Lian Cioe tidak menikah dan ia sekarang menumplek kasih sayangnya kepada putera Soeteenya itu. Boe Kie yang pintar mengetahui, bahwa Soepeh yang parasnya menyeramkan itu sangat mencintai nya, sehingga, saban-saban Lian Cioe mempunyai waktu luang, ia selalu mendekati sang paman untuk menanyakan ini dan itu. Sebagai anak yang bisa bidup dipulau terpencil, pengalaman bocah itu sangat terbatas sekali banyaknya, sehingga hampir segala apa yang dilihatnya merupakan suatu yang baru baginya. Lian Cioc tidak pemah merasa bosan untuk menjawab penjelasan penjelasan yang seperlunya. Sering-sering dengan mendukung Boe Kie, ia berdiri dikepala perahu untuk menikmati pemandangan alam bersama sama keponakannya itu.
Hari itu, perahu tiba dikaki gunung Teng koan san, daerah Tong leng dalam propinsi An hoei. Diwaktu magrib, perahu itu berlabuh didekat sebuah kota kecil dan juragan perahu mendarat untuk membeli daging dan arak. Coei San suami isteri dan Jie Lian Cioe beromong-omong digubuk perahu sambil minum teh, sedang Boa Kie main-main sendirian dikepala perahu.
Didarat, duduk didekat perahu itu, kelihatan seorang pengemis tua yang lehemya dilibat seckor ular hijau, sedang kedua tangannya bermain-main dengan seekor ular besar yang badannya hitam dengan titik putih.
Karena belum pemah melihat ular, Boe Kie menonton permainan sipengemis dengan mata membelalak. Melihat si bocah, pengemis itu mengangguk sambil tertawa-tawa. Tiba-tiba sekali ia mengebas tangan, ular hitam itu melesat keatas, jungkir batik ditengah udara beberapa kali dan kemudian jatuh didadanya. Boo Kie heran bukan main dan terus mengawasi dengan mata tidak berkedip. Sipengemis tertawa dan menggapai-gapai sebagai undangan.
Tanpa memikir panjang Boe Kie segera melompat kedarat dan mendekatinya, Pengemis itu mengambit sebuah kantong kain yang menggemblok dipunggungnya dan sambil membuka mulut kantong, Ia berkata seraya berkata: "Didalam kantong ini terdapat serupa benda yang lebih menarik. Coba kau lihat."
"Benda apa?" tanya Boe Kie.
"Sangat menarik, kau lihat saja sendiri," jawabnya.
Boe Kie membungkuk dan mengawasi kedalam kantong itu, tapi ia tak dapat melihat apapun just. Ia maju setindak lagi untuk melihat dengan lebih jelas. Mendadak, bagaikan kilat, kedua tangan si pengemis bergerak, menungkup kepala Boe Kie. Bocah itu hanya dapat mengeluarkan teriakan di tenggorokan, karena mulutnya sudah dibekap dan badannya diangkat keatas.
Teriakan Boe Kie memang sangat lemah. Tapi Lian Cioe dan suami isteri Coei San adalah ahli kelas satu yang kupingnya tajam luar biasa.
Seketika itu mereka tahu, bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak baik. Dengan serentak mereka berlari lari kekepala perahu dan melihat Boe Kie yang sudah menjadi tawanan si pengemis. Baru saja mereka mau melompat kedarat, pengemis itu sudah membentak: "Jangan bergerak! Kalau kau masih sayang akan jiwa anak ini, jangan bergerak!"
Seraya mengancam, ia merobek baju Boe Kie dibagian pinggang dan mengangsurkan mulut ular hitam itu kedekat kulit punggung si bocah.
Melihat begitu, bukan main bingung dan gusarnya So So. Tanpa memikir lagi tangannya bergerak untuk melepaskan jarum emas.
"Jangan!" bentak Lian Cioe dengin suara perlahan. Ia sudah mengenali, bahwa ular hitam itu adalah salah satu dari delapan belas macam ular paling berbisa didalam dunia. Ular tersebut yang mengambil kedudukan kesebelas, diberi nama Cit lie seng. Makin hitam warnanya dan makin halus titik-titik putihnya, makin hebat bisanya. Ular sipengemis itu, yang hitamnya mengkilap dan titik putihnya bersinar terang, kelihatan membuka mulutnya yang besar, dalam mana terdapat empat batang caling, siap sedia untuk memagut punggung Boe Kie yang putih bersih.
Sekali dipagut, bocah itu pasti akan segera binasa. Andaikata pengemis itu bisa lantas dibinasakan dan obat pemunah bisa lantas didapatkan, masih belum tentu jiwa Boe Kia keburu ditolong dengan obat itu.
Itulah sebabnya, mengapa Lian Cioe mencegah niatan So So Dengan paras muka tidak berubah, ia bertanya: "Sebab apa tuan menawan anak itu ?"
"Sebelum aku menjawab, kau lebih dulu harus menolak perahumu sampai kira-kira delapan tombak dari tepi sungai," kata sipengemis.
Lian Cioe mengerti, bahwa sesudah perahu terpisah jauh dari tepian, Boe Kie makin sukar ditolong. Tapi karena anak itu menghadapi bencana, ia tidak dapat berbuat lain daripada menurut. Ia lalu menjemput rantai sauh dan sekali menyentak, sauhnya yang beratnya kira-kira lima puluh kati sudah melompat keluar dari permukaan air.
Melihat Lweekang Jie Jiehiap yang sangat tinggi itu, paras muka si tua agak berubah.
Dengan jantung berdebar keras, Coei San mengambil gala dan menotol tanah, sehingga perahu itu lantas saja bergerak ketengah sungai.
"Lebih jauh sedikit ?" teriak pengemis itu.
"Apa belum delapan tombak ?" tanya Coei San dengan mendongkol.
"Waktu mengangkat sauh Jie Jiehiap telah memperlihatkan Lweekang yang begitu tinggi," kata si tua sambil tertawa "Maka itu, biarpun sudah terpisah delapan tombak, aku yang rendah masih sangat kuatir,"
Apa boleh buat, Coei San mendorong pula sejauh beberapa tombak.
"Apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama tuan yang mulia ." tanya Lian Cioe sambil menyoja.
"Aku yang rendah hanyalah seorang perajurit yang tidak masuk hitungan dalam Kay pang (Partai pengemis), sehingga namaku hanya akan mengotor kuping Jie Jiehiap," jawabnya.
Melihat pengemis itu menggendong enam buah karung, Lian Cioe merasa heran, sebab seorang pengemis yang membawa karung sebanyak itu mempunyai kedudukan yang cukup tinggi. Disamping itu. sepanjang pengetahuannya, Kay pang adalah sebuah partai yang selalu melakukan perbuatan perbuatan mulia, sedang Pangcoe dari partai itu adalah sahabat karib dari Toa seekonya, Song Wan Kiauw.
Selagi ia berpikir, tiba tiba So So berkata: "Apakah, Boe san pang dari Soe coan timur sudah dipersatukan dengan Kay pang? Kalau tidak salah, dalam partai pengemis tidak terdapat orang yang seperti tuan."
Si tua mengeluatkan seruan tertahan, bahna kagetnya. Sebelum ia menjawab, So So sudah berkata pula : "Ho Loosam, kau jangan main gila. Jika kau mengganggu selembar rambut anakku, aku akan mencincang tubuh Bwee Ciok Kian !"
Pengemis itu kaget tak kepalang, sehingga paras mukanya berubah pucat. Sesaat kemudian, sesudah dapat menenteramkan hatinya, ia berkata: "In Koawnio mempunyai mata yang sangat tajam dan dapat mengenali Ho Loosam, Atas perintah Bwee Pangcoe, aku datang kemari untuk menyambut Kongcoe."
"Singkirkan ular itu !" bentak So So dengan gusar. "Hu hu! Gerombolan Boe san pang yang tiada artinya berani menyentuh kepala Peh bie kauw!"
"In Kouwnio, kau salah," bantah Ho Loosam "Sedikitpun kami tidak mempunyai niatan untuk melanggar keangkeran Peh bie kauw. Asal saja In Kouwnio sudi menjawab pertanyaanku, bukan saja aku akan segera mengembalikan Kongcoe, tapi Bwee Pangsoe sendiripun akan datang berkunjung untuk meminta maaf."
"Pertanyaan apa ?" tanya So So.
"In Kouwnio sendiri mungkin sudah mendengar, bahwa putera satu satunya dari Bwee Pang coe telah binasa didalam tangan Cia Soen." jawab nya. "Bwee Pangcoe memohon supaya Thio Ngo hiap dan In Kouwnio .... aku salah ... supaya Thio Ngo Hiap dan Thio Hoejin sudi menaruh belas kasihan dengan memberitahukan tempat bersembunyinya Cia Soen. Untuk budi yang sangat besar itu, seluruh partai akan merasa sangat berterima kasih."
So So mengerutkan alis. "Kami tak tahu " katanya.
"Kalau begitu, kami memohon supaya kalian suka mendengar dengarkan dimana adanya Cia Soen, sedang dipihak kami, kami akan merawat Kongcoe baik baik" kata pula sipengamis. "Nanti sesudah kalian mendapat tahu tempat sembunyinya Cia Soen. Bwee Pangcoe sendiri akan mengembalikan Kongcoe."
Melihat caling ular hanya terpisah beberapa dim dari punggung puteranya, hati So So berdebar debar. Jika ia dapat mengambil keputusan sendiri, ia tentu akan segera membuka rahasia. Ia menengok dan mengawasi muka suaminya. Sesudah menjadi suami isteri sepuluh tahun, is mengenal adat sang suami yang keras dan mulia. Ia tahu, bahwa apapun jua yang akan terjadi Coei San pasti tidak akan menghianati Cia Soen. Ia mengerti, bahwa jika ia membuka rahasia dan Cia Soen binasa oleh karenanya, perhubungan mereka sebagai suami isteri sudah pasti tak bisa dipertahankan lagi. Maka itulah melihat paras muka Coei San yang menyeramkan, ia terpaksa menutup mulut.
"Baiklah, kau boleh menawan anakku," kata Thio Ngohiap dengan suara nyaring. "Seorang laki-laki tak akan menjual sahabat. Ho Loosam, kau terlalu memandang rendah kepada Boe tong Cit hiap."
Si pengemis terkejut, itulah jawaban yang tidak diduga-duga. Semula ia menaksir, bahwa begitu cepat Boe Kie tertawan, Coei San dan So So pasti akan memberitahukan tempat sembunyinya Cia Soen. Dengan rasa kagum, sambil berpaling kearah Lian Cioe, ia berkata: "Jie Jiehiap, Cia Soen adalah manusia berdosa yang kedosaannya bertumpuk tumpuk bagaikan gunung. Boe tong pay selalu mengutamakan keadilan dan pendirian yang sangat dihormati dalam Rimba Persilatan. Aku mengharap Jiehiap suka membujuk Ngohiap"
"Mengenai urusan ini, aku dan Ngotee sekarang justeru ingin pulang ke Boe tong untuk melaporkannya kepada Insoe dan meminta keputusannya," kata Lian Cioe, "Tiga bulan kemudian, kami akan mengadakan pertemuan di Hong ho lauw. Aku harap Bwee Pangcoe dan tuan juga suka menghadiri pertemuan itu, supaya kita beramai bisa berunding untuk mendapatkan suatu penyelesaian yang memuaskan. Sekarang aku minta kau suka melepaskan anak itu."
Lian Cioe bicara dengan suara perlahan dari jarak belasan tombak. Tapi setiap perkataannya dapat didengar jelas oleh Ho I.oosam yang jadi kagum bukan main. "Boe tong Cit hiap yang namanya mengetarkan seluruh negeri sunguh-sungguh bukan nama kosong." katanya didalam hati. "Kali ini aku sudah menanam bibit permusuhan bagi Boe san pang. Tapi, biar bagaimanapun juga, sakit hati Bwee Pangcoe tidak bisa tidak dibalas."
Ia merangkap kedua tangannya seraya berkata: "Kalau begitu, aku memohon beribu maaf dari kalian. Tidak ada jalan lain dari pada aku mengajak Thio Kongcoe pulang ke Tongcoa."
Karena Ho Loosam merangkap kedua tangannya, maka mulut ular yang dicekal dengan salah satu tangannya jadi tepisah agak jauh dari pungung Boe Kie. Biarpun kepalanya berada didalam karung, bocah itu telah mendengar jelas semua pembicaraan. Begitu lekas ia merasa tangan sipengemis terlepas dari dirinya, bagaikan kilat ia menepuk jalanan darah Leng tay hiat, dipunggung Ho Loosam, dan dengan berbareng, ia menendang seraya melompat. Karena kuatir musuh melepaskan ular, tanpa membuka karung yang masih menutup kepalanya, ia meloncat beberapa kali deagan sekuat tanaga.
Sesudah kabur belasan tombak, barulah ia mencabut karung dari kepalanya. Ia heran sebab melihat pengemis tua itu rebah ditanah tanpa bergerak.
Sementara itu, cepat-cepat Coei San menolak perahunya ketepi sungai dan kemudian, bersama isterinya dan kakaknya, ia melompat kedaratan. Bagaikan terbang So So berlari-lari kearah puteranya, yang lalu dipeluk dengan rasa girang yang meluap-luap.
Coei San sendiri segera menghunus pedang dan membunuh kedua ular berbisa itu.
Sesudah itu, barulah ia membungkuk dan memeriksa keadaan Ho Loosam yang mulutnya terus mengeluarkan darah dan kelihatannya sedang menderita kesakitan hebat,
"Ngotee," kata Lian Cioe dengan perasaan heran, "apa mungkin tepukan Boe Kie yang begitu enteng bisa mengakibatkan luka yang begitu berat ?" Ia mengangsurkan tangan dan coba mengangkat lengan kiri situa, tapi lengan itu kaku, seperti orang yang tertotok jalanan darahnya. Melihat begitu, ia segera mengurut jalanan darah Tau tiong hiat, dibagian dada, dan Toa twie hiat, dibelakang leher Ho Loosam.
Diluar dugaan, begitu diurut, sipengemis mengeluarkan teriakan menyayat hati. "Aduh! Mau bunuh, lekas bunuh .... Jangan kau ... menyiksa!" Ia sesambat. Seluruh tubuhnya menggigil dan giginya bercetukan.
Lian Cioe kaget tak kepalang, karena dengan urutan itu, ia bermaksud untuk menolong. Tan tiong hiat ialah pusat, atau sumber dari hawa tubuh manusia, sedang Toa twie hiat adalah tempat berkumpulnya jalanan darah besar dibagian kaki tangan manusia. Maka itu, jika kedua jalanan darah sudah mengalir baik, lain lain jalanan darah yang tertutup akan terbuka kembali.
Tapi diluar dugaan, akibatnya justeru sebaliknya. Melihat Ho Loosam menderita kesakitan yang begitu hebat, Lian Cioe segera menotok jalanan darah dipundaknya untuk mengurangkan penderitaannya dan keemudian berpaling mengawasi Coei San.
Tapi Coei San pun tidak mengerti sebab musababnya. "Sumoay," katanya. "Apakah kau melukakan dia dengan jarum emas?"
"Tidak," jawabnya. "Mungkin dia kena dipagut ulamya sendiri."
Sambil menahan sakit, si tua berkata: "Tidak... anakmu yang menghantam punggungku..." Ia melirik Boe Kie dengan sorot mata heran dan takut.
So So senang hatinya. "Boe Kie," katanya dengan suara bangga, "benarkah kau sendiri yang menghajamya ? Bagus! Bagus sekali!"
"Jalan darah apa yang harus dibuka untuk menolongnya?" tanya Coei San dengan suara jengah. Ia merasa main, bahwa sebagai ayah ia tidak dapat menolong orang yang dihajar oleh puteranya sendiri, sehingga pertanyaan itu tidak langsung ditujukan kepada Boe Kie.
So So tertawa geli. "Anak," katanya. "Thia thia menyuruh kau membuka jalanan darahrnya. Tolonglah dia! Sekarang dia sudah mengena lihaynya Cia Boe Kie."
Mendengar perkataan Cia Boe Kie, Lian Cioe merasa heran. "Cia Boe Kie ?" menegasnya.
"Ya," jawab Coei San sambil mengangguk. "Siauwtee telah menyerahkan anak itu kepada Gieheng dan sedari dilahirkan ia telah mengguna kan she Cia."
Boe Kie menggelengkan kepalanya. "Aku tak bisa," katanya.
"Mengapa tak bisa?" tanya sang ayah.
"Giehoe hanya mengajar aku untuk menotok orang, tapi tidak memberitarukan cara bagaimana harus membuka totokan itu," jawabnya. Ia diam sejenak dan kemudian berkata pula: "Waktu menurunkan pelajaran itu kepadaku, Giehoe mengatakan, bahwa jika pukulan mengenai Tai-yang, Tan-tiong, Toa-twie dan Leng tay, empat jalanan darah besar, orang yang terpukul bisa lantas binasa. Aku segera menanyakan bagaimana caranya menolong orang yang terpukul. Ia nneagerutkan alis dan berselang beberapa saat, barulah ia menjawab begini: Didalam dunia, ilmu ini hanya dikenal olehku dan olehmu berdua orang. Perlu apa kau belajar cara menolongnya? Kau hanya boleh memukul musuh dengan pukutan ini. Dan kalau yang dipukul musuh, perlu apa kita menolongnya? Apakah kau mau memberi kesempatan kepadanya, supaya dibelakang hari dia bisa membalas sakit hati? Itulah jawab Giehoe terhadap pertanyaanku."
Coei San dan isterinya mengakui bahwa suara itu, memang suara Cia Soea yang tangannya kejam dan kalau membabat, selalu membabat sampai diakarnya.
Biar bagaimanapun jua, Ho Loosan seorang laki laki yang keras kepala. "Jie Jiehiap, Thio Ngohiap, dalam hal ini, yang bersalah memamg aku sendiri," katanya. "Hatiku tidak baik dam memang pantas aku mendapat pembalasan yang tidak baik. Sekarang aku memohon supaya kalian cepat cepat mengambil jiwaku, supaya aku tidak menderita terlalu lama."
Lian Cioe menggelengkan kepala. "Tidak, kedosaanmu tidak pantas mendapat hukuman mati," katanya. "Aku meminta maaf untuk keponakanku yang sudah turun tangan tanpa mengetahui berat entengnya tangan itu. Kami akan berusaha sedapat mungkin untuk menolong jiwamu," sehabis berkata begitu, ia mendukung Ho Loosam dan menaruhnya didalam gebuk perahu.
Sesudah itu ia kembali kedaratan dan bertanya kepada Boe Kie: "Apa namanya pukulan yang telah digunakan olehmu ?"
Melihat paras sang paman yang menyeramkan, bocah itu jadi ketakutan dan lantas saja menangis. "Aku bukan sengaja mau membinasakannya," jawabnya "Dia... dia mengancam aku dengan ular ... Aku takut, aku ... sangat takut ...."
Lian Cioe menghela napas. Dengan rasa cinta ia mendukung keponakannya dan mensusutan matanya. "Jiepeh tidak menyalahkan kau," katanya dengan suara halus. "Jika dia mengancam Jiepeh dengan ular, akupun akan menghajar dia."
Sesudah dibujuk dan dielus elus, barulah Boe Kie berhenti menangis "Menurut katanya Giehoe pukulan itu yalah pukulan yang sudah hilang dari Rimba Persilatan," Ia menerangkan. "Namanya Hang liong Sip pat ciang (Delapanbelas pukulan untuk menaklukkan naga)"
Begitu mendengar perkataan Hang liong Sip pat ciang, paras muka Lian Cioe berubah dan ia lalu menurunkan sibocah dari dukungannya.
Hang liong Sip pat ciang adalah ilmu silat yang sangat tersohor dari Ang Cit Kong, Pangcoe partai pengemis pada akhir jaman kerajaan Lam tong, Di samping ilmu itu Ang Cit Kong, melirik ilmu silat tongkat yang diberi nama Tah kauw Pang hoat. (Ilmu silat tongkat untuk memukul anjing ), yang juga sudah menggetarkan Rimba Persilatan dan sangat disegani oleh jago-jago pada masa itu, Tah kauw Pang hoat adalah ilmu yang hanya diturunkan kepada Pangcoe dari Kaypang dan sampai pada waktu itu masib dikenal orang. Tapi Han-liong Sip pat ciang sudah lama menghilang dari dunia persilatan.
Ilmu itu telah diturunkan oteh Ang Cit Kong kepada Kwee Ceng, tidak terdapat orang yang berbakat cukup untuk mempelajarinya. Sin tiauw Tay hiap Yo Ko adalah seorang yang mengenal macam-macam ilmu silat antaranya Hang liong Sip pat ciang, tapi lantaran belakangan satu lengannya putus ia tidak dapat menggunakan ilmu itu yang harus digunakan dengan kedua-dua tangan. Maka itulah, selama kira-kira seratus tahun, Rimba Persilatan hanya mendengar nama, tapi belum pernah melihat ilmu silat tersebut. Diluar dugaan, Boe Kie telah mendapatkannya dari Cia Soen.
"Apa benar kau memukul Ho Loosam dengan Hong liang Sip pat ciang?" mendesak Lian Cioe yang masih tidak percaya akan keterangan keponakannya.
Boe Kie mengangguk. "Menurut kata Giehoe pukulan itu diberi nama Sin liong Pa bwee (Naga sakti menyabet dengan buntutnya)." jawabnya.
Lian Cioe dan Coei San lantas saja ingat bahwa waktu menceritakan Hong liang Sip pat ciang, guru mereka memang pemah menyebutkan nama "Sin-liong Pa bwee," tapi Thio Sam Hong sendiri tidak mengenal pukulan itu. Mengingat bahwa dalam usianya yang masih begitu muda, Boe Kie sudah melukakan Ho Loosam begitu berat, keterangannya tentang Hang-liong Sip pat ciang mungkin tidak palsu.
"Waktu Boe Kie menerima pelajaran dari Gie hang, Siauwtee berdua isteri dilarang mendekat," menerangkan Coei San. "Siauwtee tak nyana Giehoe sudah menurunkan ilmu yang luar biasa itu"
"Giehoe mengatakan, bahwa ia hanya mengenal tiga dari delapanbelas pukulan itu dan ia mendapatkannya dari seorang ahli yang sudah mengasingkan diri dari dunia Kangouw." kata Boe Kie, "Giehoe juga mengatakan, ia merasa bahwa dalam perubahan perubahan ketiga pukulan itu ada sesuatu yang kurang tepat. Mungkin sekali, ahli itu sendiri belum dapat menyelami isi pukulan pukulan itu sampai kedasar dasarnya."
Jie Lian Cioe dan Thio Coei San jadi bengong. Mereka kagum bukan main akan lihaynya jago jago dijaman dulu. Cia Soen yang hanya memdapat oleh beberapa pukulan, sudah begitu hebat. Maka itu, lihaynya Ang Cit Kong dan Kwee Ceng hanya dapat dibayang bayangkan.
Antara ketiga orang itu, So So lah yang paling bunga hatinya. Sebagai seorang ibu, ia sangat bangga bahwa dalam pukulannya yang pertama puteranya yang masih begitu kecil sudah memperlihatkan kepandaian yang tinggi itu, Dalam girangnya, ia tidak memperhatikan pembicaraan antara suami dan Jiepehnya.
"Kurasa, selain Ho Loosam, Boe san pang juga mengirim lain orang untuk memyantu," kata Coei San. "Sebaiknya kita lekas lekas menyingkir dari tempat ini"
"Benar," ka'a Lian Cioe. "Aku sudah memberikan obat Tok bing sinsan kepada Ho Loosam. Harap saja obat itu dapat menolong jiwanya."
Mereka berempat lantas kembali keperahu. Napas Ho Loosam sangat lemah dan mulutnya masih mengeluarkan darah.
"Boe Kie," kata Cioe San dengan suara keren. "Kali ini, aku tidak menyalahkan kau. Lantaran adanya ancaman hebat, kau terpaksa turun tangan. Tapi lain kali, kecuali jika terlalu terdesak, tak boleh kau sembarangan bertempur. Lebih lebih, aku melarang kau menggunakan tiga pukulan dari Hang liong Sip liong itu. Kau mengerti ?"
"Baiklah. Anak tak akan melupakan pesan ayah," jawab sibocah.
Melihat paras muka ayah nya yang menyeramkan, air mata lantas saja berlinang linang dikedua matanya dan sesaat kemudian, ia lantas saja menangis keras.
Tak lama kemudian, juragan perahu sudah kembali dengan membawa arak dan daging, Lian Cioe segera memerintahkannya untuk menjalankan perahu.
Malam itu, sesudah bersantap, Lian Cioe bersila dengan tangan menekan jalanan darah Toatwie hiat dibelakang leher Ho Loosam dan kemudian mengempos Lweekangnya untuk bantu mengobat sipengemis.
So So sangat tak puas akan cara-cara Jiepehnya itu yang dianggapnya seperti nenek2. Menurut jalan pikirannya, manusia semacam Ho Loosam bukan saja tidak pantas ditolong, malah harus dilemparkan kedalam air.
Sesudah mengalirkan Lweekangnya beberapa jam, Lian Cioe merasa lelah dan Coei San lalu menggantikannya. Diwaktu fajar menyingsing, pengemis tua itu tidak mengeluarkan darah lagi dan pada mukanya mulai terdapat sinar dadu.
"Jiwamu sudah ketolongan," kata Lian Cioe dengan girang. "Hanya mungkin ilmu silatmu tidak bisa pulih kembali "
"Budi Jie-wie tak akan dilupakan olehku si orang she Ho," kata Ho Loosam. "Akupun tak ada muka untuk menemui lagi Bwee Pangcoe. Mulai dari sekarang, aku akan menyingkir dari diri pergaulan dan tidak akan berkeliaran lagi di dalam kalangan Kangouw."
Waktu perahu tiba di An keng, pengemis itu berpamitan dan berlalu.
Sesudah berpisahan sepuluh tahun dengan guru dan saudara-saudara seperguruannya, Coei San ingin sekali tiba di Boe tong secepat mungkin. Ia merasa sangat tidak sabar akan perlahannya perahu, maka sesudah melewati An keng, ia mengajukan usul untuk mengambil jalanan darat dengan menunggang kuda.
"Ngotee, kurasa kita lebih baik terus menggunakan perahu," kata sang kakak. "Biarpun lebih lambat beberapa hari, kita lebih selamat. Diwaktu ini, entah berapa banyak orang ingin menyelidik tempat sembunyinya Cia Soen."
"Dengan berjalan bersama-sama Jiepeh, apakah masih ada manusia yang berani mencegat kita ?" kata So So.
"Kalau kami tujuh saudara semua berkumpul, mungkin sekali orang akan sangsi untuk mengganggu," kata Lian Cioe. "Tapi dengan hanya bertiga, tak bisa kita menghadapi begitu banyak orang pandai. Disamping itu, tujuan kita yalah untuk menyelesaikan urusan ini secara damai. Perlu apa kita menanam lebih banyak bibit permusuhan?"
Coei San mengangguk "Tak salah apa yang di katakan Jieko" katanya.
Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Boe hiat, wilayah Oawpak. Malam itu, setibanya di Hok-tie-kouw, perahu itu melepas sauh dan bersiap untuk bermalam disitu.
Tiba-tiba Lian Cioe mendengar suara kaki kuda digili-gili dan ia mendongok keluar dari gubuk perahu. Secara kebetulan, dua penunggang kuda sedang membelokkan tunggangannya yang lalu dikaburkan kearah kota. Dengan begitu ia tidak bisa melihat muka kedua orang itu. Tapi dilihat dari gerak-geraknya yang gesit dan lincah, mereka pasti bukan sembarang orang.
Lian Cioe melirik adiknya dan berkata dengan suara perlahan: "Kurasa ditempat ini bakal terjadi sesuatu. Lebih baik kita berangkat sekarang juga."
"Baiklah," kata Coei San dengan rasa berterima kasih.
Semenjak Boe tong Cit-hiap turun gunung. dengan memiliki kepandaian tinggi dan sepak terjangnya selalu menuruti jalan yang lurus, mereka tak pernah menyingkir dari orang lain. Selama beberapa tahun yang paling belakang, nama Jie Lian Cioe naik makin tinggi, sehingga malah para Ciang boen jin dari partai-partai ternama, seperti Koen loan, Khong dan sebagainya, menaruh hormat terhadapnya. Tapi, malam itu, ia tak mau berdiam lama-lama di Hoktie kouw karena melihat bayangan dua orang yang tidak ternama. Coei San mengerti bahwa sikap sang kakak itu adalah demi keselamatan keluarganya.
Sementara itu, Lian Cioe sudah memanggil juragan perahu. Sambil mengangsurkan sepotong perak yang beratnya lima tahil, ia minta supaya perahu diberangkatkan sekarang juga. Meskipun lelah, melihat uang yang berjumlah besar itu, ia jadi girang dan mengiakan.
Malam itu, rembulan memancarkan sinarnya yang gilang gemilang. Boe Kie sudah menggeros, sedang ayah bundanya bersama sang Jiepeh minum arak dikepala perahu sambil menikmati pemandangan malam yang sangat indah itu. Dengan hati lapang, mereka minum sambil beromong-omong.
"Tak lama lagi Insoe berulang tahun yang ke seratus," kata Coei San. "Bahwa siauwtee keburu pulang untuk turut serta dalam pertemuan yang langkah itu merupakan bukti bahwa Langit menaruh belas kasihan atas diri siauwtee."
"Hanya sayang kita tidak bisa menyediakan antaran yang sepantasnya," menyambungi si isteri.
Lian Cioe tertawa seraya berkata: "Teesoe, apakah kau tahu, siapa diantara tujuh muridaya yang paling dicintai Insoe?"
"Tentu saja Jiepah," jawabnya sambil bersenyum.
Lian Cioe tertawa. "Teehoa nakal sekali," katanya. "Kau tahu, tapi kau sengaja mengatakan begitu. Diantara kami bertujuh orang, yang paling dicintai Insoe adalah suamimu yang tampan."
So So girang bukan main. "Aku tak percaya," katanya dengan paras muka berseri-seri.
"Diantara kami bertujuh setiap orang mempunyai keunggulan sendiri-sendiri," menerangkan Lien Cioe. "Toasoeko mempelajari kitab Ya keng dan sebagai manusia, ia rendah hati, sederhana besar jiwanya dan luas pemandangannya. Samtee seorang hati-hati dan pandai bekerja. Pekerjaan yang diberikan Insoe belum pernah digagalkan olehnya. Sietee berotak cerdas luar biasa. Lioktee unggul dalam ilmu pedang dan Cit tee belakangan ini telah mempelajari juga Gwakang (ilmu silat luar), sehingga ia akan mahir dalam ilmu dalam dan ilmu luar serta akan dapat menangkap tenaga keras dan tenaga lembek."
"Bagaimana dengan Jiepeh sendiri?" tanya So So.
"Aku berotak tumpul dan tak mempunyai keunggulan dalam apapun jua," jawabnya," jika Tee hoe ingin tahu juga, boleh dikatakan bahwa dalam pelajaran yang diturunkan oleh Soehoe, akulah yang paling giat mempelajarinya."
So So bertepuk tangan. "Aku memang tahu, bahwa diantara Boe tong Cit hiap, Jiepeh yang ilmu silatnya paling tinggi," katanya sambil tertawa. "Tapi Jiepeh sangat merendahkan diri dan suka mengakuinya."
"Memang, diantara kami bertujuh, memang Jie ko yang berkepandaian paling tinggi," kata Coei San. "Hai! .... Selama sepuluh tahun Siauwtee tak pernah menerima pelajaran In soe dan diwaktu ini, siauwtee pasti menduduki kursi yang paling buncit." Waktu mengucapkan kata-kata itu, suaranya bernada sedih.
"Akan tetapi, diantara kita bertujuh, kaulah yang Boen boe coan cay," kata Lian Cioe, "Tee hoe, aku sekarang ingin membuka suatu rahasia. Pada lima tahun berselang, ketika Soehoe merayakan ulang tahunnya yang kesembilan puluh lima, tiba-tiba paras muka beliau berubah sedih Sesudah menghela napas, beliau berkata: Diantara tujuh muridku, yang otaknya paling cerddas dan boen boe song coan hanyalah Coei San seorang. Aku sebenarnya mengharap, hahwa dihari kemudian ia akan bisa menjadi ahli warisku. Ah! .. Hanya sayang rejeki anak itu tipis sekali dan selama lima tahun, belum diketahui bagaimana nasibnya. Mungkin.... mungkin sekali ia sudah mendapat kecelakaan"
"Kau dengarlah, Teehoe. Apakah keliru, jika aku mengatakan, bahwa Ngotee paling disayang oleh Soehoe?"
Mendengar itu, Coei San merasa berterima kasih dan terharu, sehingga air matanya lantas saja berlinang-linang.
"Sekarang Ngotee sudah kembali dengan selamat dan pulangnya bersama-sama kalian, sudah merupakan antaran yang paling berharga untuk Soehoe," kata pula Lian Cioe.
Bicara sampai disini sekonyong konyong terdengar suara kaki kuda yang di kaburkan digili gili sungai. Kuda-kuda itu mendatangi dari sebelah timur dan menurut kearah barat. Ditengah malam yang sunyi, suaranya terdengar tegas sekali dan dari suara tindakan bisa diketahui, bahwa jumlahnya empat ekor kuda.
Lian Cioe bertiga saling mengawasi. Didalam hati mereka tahu, bahwa empat penungang kuda itu yang datang ditengah malam buta, kebanyakan mempunyai sangkut paut dengan mereka.
Meskipun mereka sungkan mencari urusan, mereka bukan orang-orang yang takut mendapat urusan. Maka itu, biarpun bercuriga, mereka tenang tenang saja dan tidak membicarakan kejaran empat pengunggang itu.
"Pada waktu aku turun gunung, Soehoe sedang menutup diri dan bersemedhi," kata pula Lian Cioe. "Menurut perhitungan, setibanya kita di Boe-tong, beliau sudah selesai."
"Dulu ayah pernah memberitahukan kepadaku, bahwa selama hidup ia hanya mengagumi Thio Cinjin dan Kian boen tie seng, empat pendeta suci dari Siauw lim-pay," kata So So. "Tahun ini Thio Cinjin sudah mencapai usia seratus tahun dan dalam keagamaan, mungkin ia tidak mempunyai tandingan lagi didunia ini. Apakah beliau sedang mempelajari ilmu untuk hidup abadi?"
"Bukan, Insoe sedang merenungkan ilmu silat," jawabnya.
So So agak kaget. "Dalamnya ilmu silat yang dimiliki beliau sudah tak dapat diukur lagi," katanya. "apa lagi yang ingin dipelajari? Apakah pada jaman ini beliau masih mempunyai tandingan?"
"Semenjak usia sembilan puluh lima tahun, saban tahun in Soe menenutup diri sembilan bulan lamanya," menerangkan Lian Cioe. "Beliau sering mengatakan, bahwa intisari daripada ilmu silat Boe tong terletak didalam kitab Kioe yang Cin keng. Hanya sayang, pada waktu Kak wan Couw soe menghafal isi kitab itu, Insoe masih terlalu muda dan sesudah lewat sekian tahun, ia sudah tidak ingat lagi seluruh isinya. Maka itulah, dalam ilmu silat kami masih terdapat kekurangan-kekurangan."
"Kioe yang Cin keng adalah warisan Tat mo Couw soe Insoe mengatakan, bahwa makin lama beliau merenungkan, makin beliau merasa, bahwa dalam ilmu silat kami masih terdapat terlalu banyak kekurangan, seolah hanya merupakan separoh dari sebuah keseluruhan. Beliau mengatakan, bahwa untuk mencapai keseluruhan itu, orang harus mendapatkan dan mempelajari Kioe im Cin keng. Hanya sayang, sedang Kioe yang Cin keng saja masih belum lengkap, dimanakah orang harus mencari Kioe im Cin keng ? Disamping itu, apakah didalam dunia benar-benar terdapat kitab Kioe im Cin keng, masih merupakan sebuah teka teki."
"Tat mo Couw soe adalah seorang luar biasa dari negeri Thian tiok (India). Dalam kecerdasan dan bakat belum tentu Insoe kalah dari Tat mo Couw soe. Maka itu, sedang Cin keng tak mungkin didapatkan, apakah Insoe sendiri tidak mampu mengubah ilmu silat yang sempurna? Pertanyaan itu tidak bisa menghilang dari otak Insoe. Maka itulah, beliau lalu menutup diri untuk mempelajari dan merenungkan ilmu silat kami guna mencapai suatu kesempurnaan."
Mendengar keterangan itu, bukan main rasa kagumnya Coei San dan So So.
"Yang turut mendengar Kak wan Couwsoe menghafal Kioe yang Cin keng ada tiga orang." Lian Cioe melanjutkan penuturannya. "Yang satu Insoe sendiri, yang kedua Boe sek Taysoe dari Siauw lim sie, sedang yang ketiga seorang wanita yaitu Couwsoe Goe bie pay, Kwee Siang Kwee Lie hiap. Kecerdasan, bakat dan kepandaian mereka berlainan satu sama lain. Yang ilmu silatnya paling tinggi pada waktu itu adalah Boe sek Taysoe, Kwee Lie hiap ialah puteri Kwee Tayhiap dan Oey Yong, Oey Pangcoe. Sebagai puterinya ahli-ahli silat kelas utama pada jaman itu, beliau sudah memiliki ilmu silat yang beraneka warna. Insoe sendiri pada waktu itu dapat dikatakan belum mengenal ilmu silat. Tapi sebab itulah ilmu silat Boe tong menjadi ahli waris yang paling bersih dari pada kitab Kioe yang Cin keng."
"Belakangan mengenai ilmu-ilmu silat Siauw Lim, Go bie dan Boe tong, orang memberi julukan Ko (tinggi) kepada Siauw lim. Pok (luas) kepada Go bie dan Soen (bersih) kepada Boe tong. Ketiga partai masing-masing mempunyai keunggulan sendiri dan juga mempunyai kekurangan kekurangan."
"Kalau begitu, Kak wan Couw soe memiliki ilmu silat yang paling tinggi pada jaman itu," kata So So.
"Tidak !" jawabnya. "Kak wan Couw soe tidak mengerti ilmu silat. Dalam kuil Siauw lim sie, ia bekerja sebagai pengurus Cong keng kok (gedung perpustakaan). Ia seorang kutu buku yang membaca segala rupa kitab dan menghafalnya. Secara kebetulan ia mendapatkan Kioe yang Cin-keng Yang lalu dibacanya dan dihafalnya. Ia sama sekali tak tahu, bahwa dalam kitab itu terdapat ilmu silat yang sangat tinggi."
Lian Cioe selanjutnya menuturkan cara bagaimana kitab itu hilang dan tidak dapat ditemukan lagi. Coei San sendiri sudah pernah mendengar cerita itu dari gurunya, tapi So So yang baru pertama kali mendengarnya, merasa ketarik bukan main.
Lian Cioe seorang pendiam dan biasanya sangat jarang bicara. Tapi sekarang, dalam kegembiraannya karena sudah bertemu pula dengan adiknya yang disangka mati, ia berbicara banyak sekali, bahkan berguyon. Sesudah bergaul belasan hari dengan So So, ia merasa, bahwa si Teehoe sebenarnya bukan manusia jahat. Ia yakin, bahwa kekejaman So So pada masa yang lampau, adalah akibat daripada suasana dan pergaulannya. Kata orang, mendekati bak (tinta) keluaran hitam, mendekati coe see (bubuk merah) berlepotan merah. Sedari kecil, apa yang dilihat dan didengar So So adalah perbuatan-perbuatan sesat dan kejam, sehingga sesudah besar, ia tidak dapat membedakan lagi apa yang benar, apa yang salah dan biasa membunuh manusia secara serampangan. Tapi sesudah menikah dengan Soeteenya, adat yang kejam itu perlahan-lahan berubah. Itulah kesimpulan Lian Cioe.
Baru saja Coei San ingin menanyakan Soehengnya tentang kemajuan yang telah dicapai oleh gurunya dalam usaha menyempurnakan ilmu silat Boe-tong, sekonyong konyong suara tindakan kuda tadi terdengar pada kali ini dari menuju ketimur dan tidak lama kemudian mereka lewat diatas gili gili dekat perahu.
Coei San agak terkejut, tapi ia tidak menggubris. "Jieko" katanya. "jika Insoe mengundang tokoh-tokoh Siauw lim dan Gobie untuk bersama2 menyempurnakan ilmu silat, kurasa ketiga partai ini sama-sama akan memperoleh keuntungan yang sangat besar."
Lian Cioe menepuk lututnya. "Kau benar !" katanya dengan bersemangat. "Perkataan Soehoe, bahwa dihari kemudian kau bakal menjadi ahli warisnya sungguh tepat sekali."
"Perkataan itu kurasa sudah dikeluarkan karena Insoe selalu mengingat Siauwtee yang tidaak diketahui kemana perginya," kate Coei San. "Bukankah seorang anak durhaka yang bergelandangan di luaran lebih dipinggirkan oleh ibunya daripada anak berbakti yang selalu berdampingan dengan sang ibu? Pada waktu ini, janganlah dibandingkan dengan Toako, Jieko dan Sieko, sedangkan dengan Lioktee dan Cit tee pun, ilmu silat Sauwtee masih belum bisa menempil."
"Bukan, tafsirannya bukan begitu," kata Lian Cioe sambil meggelengkan kepala. "Sebegitu jauh mengenai ilmu silat, memang juga Ngotea tidak bisa menandingi aku. Akan tetapi, seorang ahli waris Insoe mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk memperkembangkan ilmu silat. Insoe sering mengatakan, bahwa dalam dunia yang lebar ini, soal gemilang atau suramnya Boe tong pay sebagai partai persilatan adalah soal remeh. Soal yang penting ialah seorang ahli silat harus menunaikan tugasnya sebagai seorang anggota dari Rimba Persilatan. Jika ia bisa mempelajari menyelami rahasia ilmu silat dan kemudian menurunkan pelajarannya itu kepada orang lain, supaya ilmu silat seorang koen coe (manusia utama) berbeda dengan ilmu silat seorang Siauwjin (manusia rendah). Jika ia dapat mempersatukan pencinta-pencinta negeri untuk mengusir penjajah dan merampas pulang negeri yang sedang dijajah, maka dapatlah dikatakan, bahwa ia sudah menunaikan tugasnya yang sangat mulia. Itulah penedapat Insoe mengenai tanggung jawab seorang ahli silat. Maka itulah seorang ahli warisnya, pertama harus mempunyai batin yang luhur dan kedua harus memiliki kesadaran. Mengenai batin, kita bertujuh tiada banyak bedanya. Tapi mengenai kesadaran, Ngotee lah yang paling unggul."
Coei San menggoyangkan tangannya. "Tapi siauw tee masih tetap berpendapat, bahwa perkataan itu sudah dikeluarkan Insoe karena beliau terlalu memikirkan siauwtee," katanya dengan suara ter haru. "Andaikata benar Insoe mempunyai niat begitu, biar bagaimanapun jua, siauwtee tak akan dapat menerimanya."
Mendadak Lian Cioe berpaling kearah So So. Ia bersenyum seraya berkata: "Teehoe pergilah kau melindungi Boe Kie, supaya ia tak jadi kaget. Urusan diluar akan diurus olehku dan Ngotee."
So So memandang kedarat, tapi ia tak dapat melihat sesuatu yang luar biasa. Selagi ia bersangsi, Lian Cioe berkata pula: "Diantara pohon pohon itu bersembunyilah orang dan diantara rumput alang-alang disebelah depan pasti bersembunyi perahu-perahu musuh"
So So membuka rnatanya lebar-lebar dan mengawasi keempat penjuru, tapi ia tetap tak melihat apapun jua. Diam-diam dia menduga mata sang Jiepeh kabur.
Sekonyong konyong Lian Cioe berteriak: "Boe tong san Jie Jiehiap dan Thio Ngo hiap numpang lewat ditempat ini. Kami memohon kalian sudi memaafkan, jika kami melanggar kesopanan. Kami mengundang kalian untuk naik keperahu ini guna minum bersama-sama."
Teriakan Lian Cioe diikuti dengan suara air yang terpukul dayung dan sesaat kemudian, dari antara rumput alang-alang muncullah enam buah perahu kecil yang didayung cepat sekali dan yang kemudian berbaris dan menghadang dari satu tepi kelain tepi sungai. Dari salah sebuah perahu itu terdengar suara "uuu...uuu..." dan dilepaskan sebatang anak panah pertandaan, yang mengeluarkan suara nyaring. Hampir berbareng, dari antara gerombolan pohon pohon melompat keluar belasan orang yang ringkas dan badannya semua mengenakan pakaian warna hitam dan semua mencekal senjata. Sedang muka mereka ditutup dengan topeng kain yang berwarna hitam juga.
So So kagum tak kepalang. "Nama besar Jie peh sungguh bukan nama kosong," pikirnya. Melihat jumlah musuh yang besar cepat cepat ia masuk kedalam gubuk perahu untuk melindungi puteranya. Anak itu ternyata sudah mendusin. Sesudah merapikan pakaiannya ia berbisik "Anak kau jangan takut!"
"Sahabat dari mama yang akan berkunjung?" tanya Lian Cioe. "Boe tong Jie Jie dan Thio Ngo hiap menyampaikan salam persahabatan."
Tapi tak satu manusiapun yang muncul dari perahu-perahu itu dan pertanyaan Jiehiap tetap tidak mendapat jawaban.
"Celaka!" Lian Cioe mengeluarkan seruan tertahan dan lalu melompat keair. Ia kelahiran Kang lam dan rumah tinggalnya berdekatan dengan sungai, sehingga semenjak kecil ia sudah mahir dalam ilmu berenang.
Ia menyelam dan melihat empat orang sedang berenang mendekat, ia mengerti maksud mereka yaitu ingin membor dasar perahu supaya perahu itu karam.
Jie Lian Cioe segera bersembunyi disamping badan perahu. Begitu lekas keempat orang itu datang dekat, kedua tangannya bergerak dan dua orang sudah tertotok jalanan darahnya. Hampir berbareng ia mengirim tendangan dan jalanan darah Cit sit hiap, dipinggang orang ketiga, kena tertendang. Musuh yang keempat coba melarikan diri, tapi Lian Cioe keburu menjambret pergelangan kakinya dan lalu melontarkannya keatas perahu. Mengingat, bahwa ketiga musuhnya pasti bakal mati kalelap jika tidak ditolong, ia segera melemparkan mereka satu persatu kekepala perahu dan kemudian barulah ia sendiri meloncat keatas perahu.
Sementara itu sesudah bergulingan, musuh keempat melompat bangun dan lalu menikam dada Coei San dengan bornya. Melihat ilmu silat orang itu biasa saja, tanpa berkelit. Coei San menangkap pergelangan tangannya yang mencekal senjata kemudian menotok jalanan darah didada dengan sikutnya. Tanpa mengeluarkan teriakan, dia rubuh diatas geladak perahu.
"Diantara yang berkumpul didarat kelihatannya terdapat beberapa orang yang berkepandaian tinggi", kata Lan Cioe. "Sesudah berhadapan, tak dapat kita berlaku sungkan lagi."
Coei San mengangguk dan lalu memerintahkan juragan perahu untuk menjalankan kendaraan air itu. Karena mesti melawan arus air, jalanannya perahu perlahan sekali. Begitu berdekatan dengan enam perahu musuh, Lian Cioe mengangkat keempat tawanannya, membuka jalanan darah mereka dan lalu melemparkannya keperahu yang paling dekat. Tapi sungguh heran dari enam perahu itu sama sekali tidak terdengar suara manusia, belasan orang yang berkumpul didaratanpun tidak mengeluarkan sepatah kata, seolah-olah mereka semua gagu, sedang keempat orang yang barusan dilontarkan juga tak muncul lagi.
Tiba-tiba, selagi perahu Lian Cioe mau melewati keenam perahu itu, seorang pendayung dari perahu musuh yang paling dekat mengayun tangannya dan hampir berbareng, dengan dua kali suara ledakan, kemudi perahu Lian Cioe terbakar dan perahunya sendiri terputar badannya.
Yang dilemparkan oleh sipendayung yalah semacam dinamit yang biasa digunakan oleh para nelayan untuk mendinamit ikan. Hanya karena barang peledak itu dibuat luar biasa besar maka tenaganyapun jauh lebih bear daripada dinamit yang biasa.
Dengan paras muka tetap menunjuk ketenangan, Lian Cioe melompat keperahu musuh. Sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, nyalinya sangat besar dan sampai pada saat itu, ia masih tetap tidak bersenjata.
Kedatangan Jiehiap tidak digubris oleh sipendayung. "Siapa yang melemparkan dinamit?" bentak Lian Cioe. Tapi orang itu tidak menjawab dan lagaknya seperti orang gagu dan tuli.
Lian Cioe segera masuk kegubuk perabu, dimana terdapat dua orang laki-laki yang duduk pada sebuah meja, tapi merekapun tidak bergerak dan tidak bersuara.
Dengan mendongkol ia mencekal tengkuk salah seorang dan lalu mengankatnya tinggi-tinggi. "Hai! Kau jangan main gila!" bentaknya. tapi orang itu merarnkan kedua mata nya dan tetap menutup mulut.
Sebagai seorang kenamaan dari Rimba Persilatan, Lian Coe sungkan mengunjak kegarangan terhadap seorang yang bukan tandingannya. Ia lalu melepasakan orang itu dan pergi kebelakang perahu, dimana ia bertemu dengau Coei San dan So So yang mendukung Boe Kie.
Tiba-tiba So So berteriak "Awas! Penjahat menenggelamkan perahu!" Sesaat itu, air sudah mulai mencapai geladak perahu.
Ternyata, musuh yang berdiam diperahu itu sudah membuat persiapan dan begitu lekas Lian Cioe berempat pindah keperahu mereka, orang-orang itu lalu membuka sumbat lubang lubang di dasar perahu. Lian Cioe berempat lantas melompat keparaha yang kedua, tapi perahu itupun mulai kalam.
"Ngotee, sekarang tak bisa tidak, kita mendarat juga," katanya. Ia mengerti, bahwa musuh telah membuat keenam perahu itu sebagai papan loncatan untuk mengundang tamu-tamu naik kedaratan. Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada diatas gili-gili.
Belasan lelaki yang mengenakan pakaian hitam itu berdiri dalam garis setengah lingkaran, sehingga Lian Cioe berempat separuh terkurung. Sabagain besar diantara mereka bersenjatakan pedang sedang yang lainnya mencekal sepasang golok atau Joanpian (cambuk). Tak satupun yang membawa senjata berat.
Jiehiap berdiri tegak dengan paras muka dingin dan sepasang matanya yang bersinar terang menyapu musuh-musuh yang menghadang itu.
Mendadak, seorang musuh yang berdiri ditengah-tengah mengebas tangan kanannya dan barisan setengah lingkaran itu segera terpecah dua dan membuka jalan ditengah-tengah. Mereka berdiri dengan badan separuh membungkuk, ujung senjata mereka ditudingkan kebumi, sedang kedua tangan mereka dirangkap sebagai tanda memberi hormat. Sesudah membalas hormat, Lian Cioe bertindak maju. Begitu Jiehiap lewat sekonyong-konyong ujung kedua barisan kembali menyambung menjadi satu dan menutup jalanan keluar, sehingga Coei San, So So dan Boe Kie lantas saja terkurung.
Ngohiap tertawa terbahak-bahak. "Kalau begitu, yang dikehendaki kalian adalah aku, seorang she Thio," katanya. "Terima kasih atas perhatian kalian yang begitu besar."
Musuh yang berdiri ditengah tengah, yang rupanya menjadi pemimpin rombongan, kelihatan bersangsi. Ia menundukkan pedangnya dan sekali lagi membuka jalan.
"So So, kau jalan lebih dulu !" memerintah sang suami.
Sambil mendukung Boe Kie, si isteri segera bertindak maju.
Sekonyong-konyong selagi mau melewati kedua barisan, lima orang bergerak bagaikan kilat dan pedang mereka menuding Boe Kie. Dengan kaget So So bertindak mundur, tapi kelima musuh itu mengikuti dan pedang mereka tetap berada dalam jarak kira-kira satu kaki dari tubuh si bocah.
Lian Cioe yang sangat berwaspada sudah lantas melihat kejadian itu. Sekali menotol tanah dengan kedua kakinya, tubuhnya terbang dan masuk ke dalam kurungan musuh. Bagaikan kilat, kedua tangannya menepuk empat kali, saban tepukan mengenakan pergelangan tangan musuh yang mencekal pedang dan empat batang pedang hampir berbareng terpental ketengah udara. Sesudah itu, tangan kirinya menyambar pergelangan tangan musuh yang kelima. Begitu mencekal, ia merasa tangan musuh halus luar biasa, seperti juga tangan seorang wanita. Buru-buru ia menotok jalanan darah orang dan buru-buru pula ia melepaskan cekalannya. Tangan orang itu lantas saja lemas dan pedangnya jatuh ditanah.
Sesudah pedang mereka terlepas, kelima orang itu cepat-cepat melompat mundur.
Dilain saat, dua batang pedang menyambar Lian Cioe. Kedua senjata itu menikam lurus dari kiri dan kanan. Jiehiap lantas saja mengenali bahwa serangan itu yalah pukulan Tay mo pang see (Pasir yang rata digurun pasir) dari Koen loen pay.
Lian Cioe menunggu sampai ujung pedang hanya terpisah kira-kira tiga dim dari dadanya dan pada saat yang tepat, ia menarik sedikit dadanya kebelakang, sedang telunjuk tangan kiri dan tangan kanan menyentil badan kedua pedang itu.
Kedua sentilan itu kelihatannya tidak bertenaga, tapi sebenarnya hebat luar biasa disertai dengau Lweekang yang sangat tinggi. Menurut kebiasaan senjata lawan pasti akan terlepas. Tapi kali ini begitu telunjuknya nenyentuh badan pedang, ia merasakan sambutan dari tenaga Jioa kin (tenaga lembek), sehingga Lweekangnya kena dipunahkan. Tapi kedua musuh itu tak dapat mempertahankan diri, satu terhuyung tiga tindak dan badannya bergoyang-goyang sedang yang lain, sesudah mengeluarkan teriakan kesakitan, muntah darah.
Semenjak mencegat, tak satupun mengeluarkan suara dan teriakan itu adalah suara pertama. Sungguh heran, teriakan itu tajam dan nyaring, seperti teriakan seorang wanita.
Melihat kelihayan Lian Cioe, pemimpin rombongan mengebas tangannya dan belasan orang itu lantas saja mundur, akan kemudian menghilang di antara pohon-pohon. Lian Cioe mengawasi bayangan mereka deugan mata tajam. Ia mendapat kenyataan, bahwa hampir semuanya bertubuh langsing dan gerak-gerik mereka yang gemulai menyerupai gerak-gerik wanita.
"Jie Jie dan Thio Ngo dari Boe tong pay menghaturkan maaf kepada Thie khim Sianseng! " teriak Lian Cioe.
Orang-orang itu tidak menjawab, hanya sayup sayup terdengar tertawanya seorang wanita.
Sesudah bahaya lewat, So So menurunkan Boe Kie dari dukungannya dan sambil terus mencekal tangan puteranya, ia berkata. "Jiepeh, orang-orang itu rasanya orang perempuan. Apa mereka orang orang Koen loen pay?"
"Bukan," jawabnya "mereka orang Go bie pay."
"Go bie pay?" menegas Coei San dengan perasaan heran. "Bukankah tadi Jieko menyebut nama Thie khim Sianseng?"
Lian Cioe menghela napas, "Mereka tidak bersuara dan muka mereka ditutup dengan topeng itu semua menandakan bahwa mereka sungkan dikenali orang," katanya. "Lima pedang yang mengancam Boe Kie ialah Han bwee kiam tin (Barisan pedang bunga Bwee) dari Koen loen pay, sedang kedua orang yang menikam aku juga menggunakan pukulan Tay mo pang see data Koen loen pay. Karena mereka menyamar sebagai orang Koen loen, aku sungkan membuka rahasia mereka dan sengaja menyebutkan nama Thie khim Sianseng, Ciang boenjin dari Koen loen pay."
"Bagaimana Jiepeh tahu mereka orang Go bie pay?" tanya So So. "Apa diantaranya ada yang dikenal?"
"Tidak," jawabnya. "Dilihat dari Lweekangnya yang tidak seberapa dalam, mereka mungkin cucu cucu murid Biat coat Soe thay, Ciang boenjin Go bie pay. Dengan lain perkataan, mereka adalah murid turunan keempat dari partai tersebut. Diantara mereka, tak satupun yang dikenal aku. Tapi pada waktu mereka coba mempunahkan sentilanku dengan tenaga Jio kin, aku segera mengenali, bahwa ilmu yang digunakan lima Go bie pay. Sebagaimana kau tahu, tidaklah terlalu sukar untuk meniru pukulan-pukulan partai lain. Tapi begitu lekas seseorang menggunakan Lweekang, tak dapat tidak, topengnya terlocot."
Coei San mengangguk. "Sebenarnya mereka tak akan terluka berat, jika mereka tidak melawan dan segera melepaskan senjata waktu disentil Jieko," katanya. "Aku tahu, kalau Jieko memandang mereka semua seperti musuh, kedua bocah itu tentu sudah hilang jiwanya. Hanya aku merasa heran, mengapa hari ini mereka mencegat kita, sedang biasanya orang-orang Go bie pay selalu berlaku sungkan terhadap kita."
"Di waktu muda. Insoe pernah menerina budi Kwee Siang Liehiap Couw soe dari Go bie pay." menerangkan Lian Cioe. "Oleh karena begitu, In soe sering memesan, supaya kami jangan sampai kebentrok dengan murid-murid Go bie, supaya persahabatan lama dapat dipertahankan terus. Sesudah sentilanku mengenakan pedang, barulah aku tahu, bahwa mereka tak akan bisa bertahan. Aku ingin menarik pulang Lweekang, tapi sudah tidak keburu lagi, sehingga kedua orang itu terluka juga. Biarpun tidak disengaja, aku sudah melanggar pesanan Insoe."
So So tertawa. "Baik juga Jiepeh menyebutkan nama Thie khim Sianseng, sehingga, jika bersalah, kesalahan itu tidak ditujukan langsung terhadap Go bie pay."
Sementara itu, keenam perahu kecil sudah karam semua, sedang perahu yang ditumpangi Lian Cioe berempat sudah pergi jauh. Anak buah perahu perahu kecil itu dengan basah kuyup mulai merangkak naik digili-gili.
"Apa mereka semua orang-orang Go bie?" tanya So So.
"Bukan." bisik Lian Cioe. "Kurasa mereka orang orang Liang coan pang dari Cauw ouw."
Melihat lima batang pedang Go bie yang sangat bagus menggeletak ditanah, So So membungkuk untuk menjemputnya.
"Jangan ganggu!" melarang sang Jiepeh. "Jika dipedang itu diukir nama, dihari kemudian kita tak akan bisa menyangkal lagi. Hayolah kita meneruskan perjalanan."
Sekarang So So sudah merasa takluk terhadap Jiepeh yang mulia dan lihay itu. "Baiklah," katanya sambil berjalan dengan menuntun tangan Boe Kie.
Sesudah melewati gerombolan pohon pohon sekonyong-konyong Boe Kie berteriak dengan suara girang: "Kuda! Lihat!"
Benar saja, dibawah sebuah pohon lioe tampak tertambat tiga ekor kuda yang besar dan garang.
Cepat cepat mereka menghampiri dan didahan pohon tercantum selembar kertas. Coei San mengambil kertas itu yang tertulis perkataan seperti berikut: "Mempersembahkan tiga ekor kuda untuk menebus dosa."
"Mereka ternyata berlaku sungkan sekali terhadap kita," kata Lian Cioe. Mereka segera menunggang kuda-kuda itu dengan Boe Kie duduk di depan ibunya. Sibocah yang belum pernah menunggang kuda jadi girang tak kepalang.
"Sesudah banyak orang mengetahui gerak-gerik kita, kurasa menumpang perahu atau menumpang kuda tiada banyak bedanya," kata Coei San.
"Benar," jawab sang kakak: "Kita tentu akan menghadapi lebih banyak gelombang. Kalau bukan terlalu terpaksa, kita tidak boleh turunkan tangan terlampau berat." Ia berkata begitu, karena mengingat terlukanya kedua murid Go bie dan hatinya tetap merasa tidak enak.
Diam-diam So So merasa sangat malu. Karena kesalahan yang begitu kecil, Jiehiap sudah merasa begitu menyesal. Betapa jauh perbedaan antara dirinya sendiri yang pernah memandang jiwa manusia seperti jiwa semut dan sang Jiepeh yang sedemikian mulia hatinya. Ia merasa bahwa orang yang berdosa harus bertanggung jawab dan ia tak pantas menyukarkan Jie Lian Cioe lagi. Karena memikir begitu, ia lantas saja berkata: "Jiepeh, tujuan mereka ialah kami berdua suami istri. Sedang terhadap Jiepeh, mereka berlaku hormat sekali. Jika didepan ada rintangan lagi, biarlah teehoe yang menyambutnya lebih dulu dan jika aku kalah, barulah Jiepeh menolong."
"Ah, mengapa Teehoe berkata begitu"" kata Lian Coe. "Dengan berkata begitu, Teehoe menganggap aku seperti orang luar. Kita sekarang sudah terikat pamili, mati dan hidup haruslah bersama-sama."
So So tidak berani membantah lagi. "Terang terang mereka tahu, bahwa Jiepeh berada bersama sama kami, tapi mengapa mereka berlaku begitu ceroboh dan mengirim saja murid-murid turunan keempat yang ilmu silatnya belum seberapa?" tanyanya pula.
"Mungkin sekali karena persiapan mereka dilakukan dengan tergesa-gesa, sehingga tidak keburu memanggil orang orang lebih pandai," jawab Lian Cioe.
Karena menduga, bahwa pencegatan Go hie pay bertujuan untuk menyelidiki tempat sembunyinya Cia Soen, Coei San lantas berkata: "Baru sekarang kutahu, bahwa Gieheng bermusuhan dengan Go bie pay. Selarna berada di Peng hwee to, ia tidak pernah menyebut-nyebut itu."
"Ya, semula akupun merasa heran," kata Lian Cioe. "Go bie pay adalah sebuah partai persilatan yang menjaga keras peraturannya, sedang murid muridnya sebagian terbesar terdiri dari kaum wanita. Biat coat Soethay selamanya tidak mempermisikan murid-murid Go bie berkelara dalam dunia Kangouw. Mereka kebanyakan menjadi pendata, mengasingkan diri dari pergaulan atau menikah dan mengurus rumah tangga. Waktu Go bie pay mengirim orang untuk bertempur dangan Peh bie kauw kamipun merasa heran. Belakangan baru kami tahu latar belakangnya. Pada suatu malam Phoei Peng, Phoei Loo eng hiong, siorang jago tua dipropinsi Holan, dibunuh orang dan diatas tembok tertulis huruf-huruf yang berbunyi: Si pembunuh ialah Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen."
"Apakah Phoei Peng anggauta Go bie pay ?" tanya So So.
"Bukan," jawabnya. Sesudah berdiam beberapa saat, barulah Jie Lian Cioe memberi penjelasan: "Sebenarnya adalah kurang pantas untuk membicarakan soal-soal pribadi dari orang-orang yang tingkatannya lebih atas. Sepanjang keterangan, di waktu muda, Biat coat Soethay adalah salah seorang wanita tercantik dalam Rimba Persilatan. Belakangan, mendadak beliau mencukur rambut dan menjadi pendeta, sedang Phoei Loo enghiong memutuskan sebuah lengannya sendiri, dan sampai mati ia tidak pernah menikah."
Hampir berbareng, Coei San dan So So mengeluarkan seruan tertahan. Baru sekarang mereka tahu, bahwa Ciang boen jin Go bie pay yang tersohor itu pernah mengalami kegagalan dalam percintaan. Mereka mengerti, kalau Biat coat Soethay sedapat mungkin ingin membalas sakit hatinya orang yang dicintainya.
"Jiepeh, apakah Phoei Loo enghiong seorang baik atau seorang jahat'?" tanya Boe Kie.
"Tentu saja seorang baik," jawabnya. "Sesudah mengutungkan lengan sendiri, ia bercocok tanam, membaca kitab-kitab dan menyembunyikan diri dari pergaulan manusia."
"Hai! Perbuatan Giehoe memang sangat tidak pantas," kata Boe Kie dengan suara duka. "Ia tak boleh membunuh manusia secara serampangan saja"
Lian Cioe jadi girang sekali. Ia mengangkat anak itu dan lalu mengusap kepalanya, "Anak kau sekarang tahu, bahwa seorang manusia tidak boleh sembarangan membunuh sesama manusia" katanya dengan suara halus. "Jiepeh sungguh merasa girang. Orang yang sudah mati tidak bisa hidup kembali. Maka itu, biarpun terhadap seorang yang sangat jahat, kita masih tidak boleh segera membunuhnya. Kita harus memberi kesempatan supaya dia bisa membelok kejalanan yang lurus."
"Jiepeh, aku ingin ajukan satu permintaan, bolehkan" tanya Boe Kie.
"Permintaan apa?" menegas sang paman.
"Jika mereka mencari Giehoe, aku minta jie peh suka membujuk mereka supaya mereka tidak membinasakannya karena Giehoe sudah buta dan tidak dapat melawan mereka," kata si bocah.
Lian Cioe bersangsi. Sesudah memikir sejenak, ia menjawab: "Tak dapat aku meluluskan permintaanmu. Tapi aku berjanji, bahwa aku sendiri tak akan membunuh Giehoemu"
Boe Kie mengawasi Jiehiap dengan mata membelalak dan air matanya berlinang-linang.
Waktu fajar menyingsing, mereka tiba disebuah kota kecil, dimana mereka mengaso setengah harian dan diwaktu lohor segera meneruskan perjalanan.
Selang beberapa hari, tibalah mereka dikota Hankouw. Hari itu selang mendekati kota Anlok. Ditengah jalan mereka bertemu dengan belasan orang yang lari lintang pulang dari sebelah depan.
Begitu bertemu dengan rombongan Lian Cioe mereka berteriak-berteriak: "Balik! Balik! Jangan menuju terus! Disebelah depan serdadu Tat coe (serdadu Mongol, Goan) sedang membunuh dan merampok".
Sambil mengawasi So So, salah seorang berkata "Kau sungguh berani mati. Kalau bertemu dengan mereka, kau bakal celaka."
"Ada berapa banyak?" tanya Lian Cioe,
"Belasan orang," jawabnya dan mereka segera lari terus kejurusan timur.
Musuh terbesar dari Boe tong Cit-hiap ialah serdadu Goan yang sering berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat. Dalam mendidik murid-muridnya, Thio Sam Hong memegang peraturan keras dan selamanya melarang murid-murid itu sembarangan turun tangan. Tapi jika menghajar serdadu Goan yang sedang merampok atau membunuh rakyat, mereka bukan saja tidak ditegur malah dipuji. Maka itu, mendengar rombongan musuh hanya berjumlah belasan orang, Lian Cioe lantas saja mengeprok tunggangannya dan maju kedepan diikut oleh Coei San bertiga.
Benar saja, sesudah berjalan kira-kira tiga mereka mendengar sesambat rakyat. Belasan serdadu yang bersenjata golok dan tombak tengah mengunjuk kegarangannya dan diatas tanah sudah menggeletak beberapa mayat.
Bukan main gusarnya Coei San. Ia menyerang dan melompat dari punggung kuda. Sebelum kedua kakinya hinggap dibumi, tinjunya menghantam dada seorarg serdadu yang mau menenteng satu anak kecil. Tanpa mengeluarkan suara serdadu itu roboh ditanah. Kawannya gusar dan menikam punggung Coei San dengan tombaknya.
Coei San memutar badan dan ujung tombak hanya terpisah kurang lebih setengah kaki dari dadanya. Sambil bersenyum ia menangkap ujung senjata dan lalu mendorongnya keras-keras, sehingga gagang tombak menghantam dada serdadu itu yang lantas saja roboh pingsan.
Melihat kelihaian Coei San, sambil berteriak teriak belasan serdadu lantas saja mengurung. So So buru-buru melompat turun dari tunggangannya. Ia merampas sebatang tombak dan membinasakan dua orang musuh. Serdadu-serdadu itu jadi keder dan mereka lalu melarikan diri. Tapi sambil lari disepanjang jalan mereka masih mengunjuk kekejaman dan mrlukakan beberapa orang penduduk,
"Cegat! Cegatlah mereka!" teriak Lian Coei yang cudah meluap darahnya. Seraya berkata begitu, ia mengubar dan mencegat empat orang serdadu. Coei San dan So So pun turut mengejar dan masing-masing memotong jalanan lari dari sejumlah musuh.
Walaupun garang, serdadu Goan kebanyakan tidak memiliki ilmu silat tinggi, sehingga Coei San dan So So tidak kuatir akan keselamatan Boe Kie.
Boe Kie juga melompat turun dari punggung kuda. Melihat paman dan kedua orang tuanya sedang mengamuk diantara belasan musuh, ia kegirangan dan menepuk nepuk tangan seraya berteriak-teriak: "Bagus! Bagus!"
Sokonyong-konyong, serdadu Goan yang tadi disodok Coei San dengan gagang tombak dan roboh pingsan, melompat bangun dan memeluk Boe Kie. Si bocah, terkesiap lalu menghantam dengan pukulan Sin liong Pa bwee. Karena melihat paman dan kedua orang tuanya mengamuk tanpa mengenal kasihan lagi, ia menggunakan pukulan itu dengan seantero tenaga.
Di luar dugaan serdadu Goan itu hanya mengeluarkan suara "heh!" terlahan, badannya tidak bergenting dan dengan sekali menotol tanah dan dengan kedua kakinya, ia melompat keatas punggung kuda yang lalu dikaburkan keras-keras.
Lian Cioe, Coei San dan So So kaget tak kepalaug, cepat-cepat mereka mengubar. Dengan beberapa lompatan Jiehiap sudah menyandak dan tangan kirinya menghantam punggung serdadu itu. Tanpa menengok, serdadu itu menangkis. "Plak!", kedua tangan beradu. Lian Cioe merasa tenaga musuh dahsyat luar biasa, seolah-olah gelombang besar, sehingga dadanya menyesak, tubuhnya bergoyang-goyang dan terhuyung beberapa tindak. Tunggangan serdadu itu tak kuat bertahan, keempat kakinya bergemetaran dan dia jatuh berlutut. Sambil mendukung Boe Kie, serdadu itu melompat turun dan terus kabur dengan menggunakan ilmu ringan badan. Dalam sekejap ia sudah lari puluhan tombak jauhnya.
Melihat paras muka Lian Cioe yang pucat pasir Coei San tahu, bahwa kakak seperguruan itu telah mendapat luka yang tidak enteng.
Buru-buru in menghampiri dan memeluknya. Sementara itu, dengan nekad So So mengejar terus, tapi musuh berkepandaian tinggi, makin lama jarak antara mereka makin jauh sehingga belakargan, sesudah membelok disebuah tikungan, serdadu itu menghilang dari pemandangan. Tapi So So yang sudah kalap mengejar terus.
"Minta Teehoe balik." kata Lian Cioe dengan suara perlahan. "Kita harus..... berusaha dengan perlahan"
"Bagaimana luka Jieko?" tanya si adik sambil menikam dua serdadu yang menerjang dengan tombaknya.
"Tak apa-apa," jawabnya, "Yang paling penting panggillah Teehoe."
Karena kuatir diantara sisa serdadu itu masih terdapat orang pandai, Coei San segera mengubar kian kemari dan sesudah mengusir mereka, barulah la melompat kepunggung kuda dan menyusul isterinya.
Sesudah membedal tunggangannya belasan li, barulah ia bertemu dengan So So yang tengah berlari-lari dalam keadaan kalap dan dengan tindakan limbung, suatu tanda, bahwa nyonya muda ini sudah kehabisan tenaga. Coei San memeluknya dan menaikkannya kepunggung kuda.
Sambil menangis sedu-sedan, So So berkata "Anak kita hilang ! Tidak kecandak ..... tidak kecandak....." Tiba-tiba matanya mendelik dan ia pingsan dalam pelukan sang suami.
Karena memikir keselamatan saudara seperguruannya, cepat-cepat Coei San memutar kuda dan lari balik ketempat tadi. Jauh-jauh ia melihat tiga serdadu Goan yang bersenjata tombak sedang mendekati Lian Cioe. Biarpun Soehengnaya duduk menyender dipohon ketiga serdadu itu, yang sudah berkenalan dengan kelihayannya Jiehiap tidak berani lantas menyerang.
"Tat-coe, serahkan jiwamu!" teriak Coei San sambil menerjang dengan kaburkan tunggangannya. Dilain saat, dua diantaranya sudah roboh, sedang musuh yang ketiga lari lintang-pulang. Sambil membentak keras, Ngohiap menimpuk dengan tombaknya. Dalam kegusarannya sebab putranya diculik, Soehengnya terluka dan isterinya pingsan, ia menimpuk dengan sepenuh tenaga. Tombak itu terbang dengan mengeluarkan suara mengaung dan "jres!" serdadu itu terpaku ditanah
Sementara itu, So So sudah mendusin. "Boe Kie!", ia sesambat.
Sesudah menjalankan pernapasan beberapa lama, Lian Cioe mengambil sebutir pel Thay it Tok beng tan yang lalu ditelannya. Beberapa saat kemudian, pada mukanya terlihat sinar merah. Ia membuka matanya seraya berkata perlahan "Sungguh hebat tenaga orang itu!"
Coei San lega hatinya. Ia tahu, bahwa jiwa soe hengnya sudah terlolos dari bahaya, tapi ia masih tidak berani mengajak bicara. Perlahan-lahan Jie hiap bangun berdiri. "Apa sudah tidak kelihatan bayangan bayangan lagi?" tanyanya dengan suara perlahan.
"Jiepeh....bagaimana baiknya?' tanya si Tee hoe dengan suara parau.
"Legakan hatimu, Boe Kie tidak kurang suatu apa," jawabnya. "Orang itu berkepandaian sangat tinggi. Aku merasa pasti bahwa seorang yang berkepandaian setinggi itu tak akan mencelakakan anak kecil yang tidak berdosa."
Air mata So So kembali mengucur. "Tapi... tapi... Boe Kie sudah diculik," katanya. Lian Cioe mengangguk. Ia memeramkan kembali kedua matanya dan mengasah otak.
Sesaat kemudian, ia membuka, matanya seraya berkata: "Aku tidak dapat menebak asal usul orang itu. Jalan satu satunya kita harus menanyakan Soehoe."
So So bingung bukan main. "Jiepeh, yang paling penting kita harus memikiri daya untuk merampas pulang Boe Kie," katanya memohon.
"Asal usul orang itu dapat diselidiki belakangan"
Lian Cioe tidak menyahut, ia hanya menggeleng gelengkan kepala.
"So moay, Jieko mendapat luka berat, sedang orang itu berkepandaian begitu tinggi," kata Coei San. "Andai kata kita sekarang dapat mencarinya, kitapun tidak dapat berbuat banyak,"
"Apa kita menyudahi dengan begitu saja ?" tanya si isteri dengan suara mendongkol.
"Kita tak perlu cari dia," jawabnya. "Dialah yang pasti akan cari kita."
So So adalah seorang wanita yang sangat pintar. Hanya karena puteranya diculik, pikirannya kalut dan ia tidak dapat berpikir dengan otak dingin. Mendengar perkataan sang suami, ia tersadar dan mengerti maksud Coei San. Serdadu Goan itu memiliki kepandaian begitu tinggi, sehingga Lian Cioe sendiri sampai terluka. Dia pasti seorang tokoh Rimba Persilatan yang menyamar. Jika mau, sesudah Lian Cioe terluka, dia bisa membinasakan Coei San bertiga. Tapi dia hanya menculik Boe Kie. Dari kenyataan itu, dapatlah di tebak, bahwa tujuan orang itu ialah ingin menekan, supaya Coei San dan isterinya mau mem buka rahasia mengenai tempat sembunyinya Cia Soen.
Coei San lalu mendukung dan menaikkan Jieko nya keatas punggung kuda dan perlahan-lahan mereka meneruskan perjalanan. Setibanya di An lok, mereka menginap disebuah rumah penginapan kecil dan sesudah bersantap, mereka segera mengunci pintu.
Lian Cioe segera bersila dan mengerahkan Lweekang untuk mengobati lukanya. Coei San duduk didekatnya, sedang So So menyender disebuah kursi panjang. Kira-kira tengah malam, Lian Cioe turun dari pembaringan dan berjalan perlahan lahan, memutari kamar, untuk mengendorkan otot ototnya. "Ngotee." katanya. "Selama hidup, kecuali Soehoe sendiri, belum pernah aku bertemu dengan manusia yang memiliki Lweekang begitu hebat."
Pada waktu disodok dengan gagang tombak oleh Coei San, "serdadu" itu berlagak pingsan sehingga Coei San bertiga tidak memperhatikannya. Sekarang mereka mengingat ingat wajah dan potongan badan orang itu. Kalau tak salah, dia brewokan, tiada banyak bedanya dengan kebanyakan serdadu Goan.
"Dia menculik Boe Kie pasti dengan tujuan untuk menyelidiki Gieheng," kata So So. "Ah! Apakah anak itu akan membuka rahasia?"
"Boe Kie pasti tidak akan membuka rahasia," kata sang suami dengan suara tetap. "Kalau dia membuka rahasia, dia bukan anak kita,"
"Benar," kata si isteri. " Dia parti tidak membuka rahasia.,"
Tiba-tiba nyonya Coei San menangis pula.
"Mengapa kau menangis?" tanya sang suami.
"Kalau..... Boe Kie menutup ....... .mulut, penjahat itu pasti akan ......mempersakitinya." jawabnya terputus-putus. "Mungkin..... mungkin dia turunkan tangan beracun."
Coei San dan Lian Cioe menghela napas. "Batu kumala yang tidak digosok, tidak akan jadi barang yang berguna," kata Coei San. "Biarlah dia merasakan sedikit penderitaan. Mungkin sekali penderitaan itu banyak faedahnya dihari kemudian."
Walaupun mulutnya berkata begitu hatinya sakit sekali. Ia ingat bahwa pada saat itu Boe Kie sedang menderita siksaan atau sedang tidur nyenyak di atas pembaringan. Kalau dia sedang tidur nyenyak, dia tentu sudah membuka rahasia dan sudah menjadi manusia yang tak punya pribudi.
"Dari pada jadi manusia rendah, lebih baik dia mati," kata Coei San didalam hatinya. Ia melirik isterinya yang kelihatan berduka bukan main. Pada ke dua mata si isteri terlihat sinar mohon belas kasihan. Jantungnya memukul keras. Ia merasa. bahwa jika penjahat itu menekan So So dengan mengancam jiwa Boe Kie mungkin sekali si-isteri akan menakluk.
Ia menghela napas dan berkata "Jieko, bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa enakan ? "
Semenjak kecil, mereka berdua bersama-sama belajar silat, sehingga yang satu sudah bisa rnembaca isi hati yang lain. Melihat sikap dan mendengar pertanyaan si adik, Lian Cioe sudah mengerti maksudnya. Ia mengerti, bahwa Coei San kuatir penjahat itu akan rnenyateroni dan coba menaklukkan So So dengan menyiksa Boe Kie. "Baiklah, kita meneruskan perjalanan malam ini juga."
Sesudah membayar uang sewa kamar dan santapan, mereka segera berangkat dan berjalan dengan mengambil jalanan kecil. Mereka bukan takut mati. Yang dikuatirkan yalah penjahat itu akan menyiksa Boe Kie didepan mata mereka, untuk memaksa mereka membuka rahasia.
Mereka meneruskan perjalanan tanpa bertemu dengan rintangan lagi. Tapi So So jatuh sakit karena duka, Coei San segera menyewa dua kereta keledai untuk So So dan Lian Cioe, sedang ia sendiri melindungi dengan menunggang kuda.
Sesudah melewati Siangyang, pada suatu malam mereka menginap disebuah rumah penginapan dikota Tay-pang-liam. Baru saja Coei San mengucapkan selamat malam kepada Soehengnya dan ingin kembali kekamarnya, tiba-tiba seorang lelaki menyingkap tira daa menyelonong masuk.
Dia mengenakan baju hijau dan celana pendek, sedang tangannya menyekal cambuk, sehingga macamnya seperti seorang kusir kereta. Begitu masuk, dia mengawasi Lian Cioe dan Coei San dengan mata melotot dan sesudah tertawa dingin, lalu memutar badan berjalan keluar.
Coei San tahu, bahwa orang itu mengandung maksud tidak baik. Sikap orang itu yang kurang ajar menggusarkan sangat hatinya. Sesaat itu,
tirai kain yang didorong oleh orang itu, terayun kedepan Coei San. Ia segera menangkap ujung tirai dan sambil mengerahkan Lweekang, menimpuknya kepunggung orang itu. "Ptak !" dia terhuyung, akan kemudian roboh dilantai. Cepat-cepat dia bangun berdiri, "Penjahat-penjahat Boe-tong pay !" bentaknya, "Sedang kebinasaan sudah berada diatas kepalamu, kau masih mengunjuk keganasan !" Mulutnya mencaci, tapi kakinya lari dan dari tindakannya yang limbung, ia bukan terluka enteng.
Lian Cioe tidak mengatakan suatu apa.
"Jieko, apa tidak baik kita jalan terus?" tanya Coei San.
"Tidak!" jawab sang kakak deagan suara lantang. "Besok pagi baru kita terangkat."
Coei San mengerti jalan pikiran kakak seperguruannya dan semangatnya lantas saja meluap luap "Benar!" katanya. "Dari tempat ini, dua hari lagi kita akan tiba digunung kita. Biarpun kita tolol, tak dapat kita merosotkan derajat dan keangkeran Boe tong pay. Di bawah kaki Boe tong san, masa boleh kita lari ngiprit?"
Sang kakak bersenyum. "Sesudah orang tahu siapa kita, biarlah mereka tahu, bagaimana murid murid Boe tong menghadapi kebinasaan yang sudah berada diatas kepala," katanya dengan suara angkuh.
Lian Cioe lantas saja mengikut kekamar Coei San dimana mereka duduk bersila diatas pembaringan batu dengan berendeng pundak sambil memeramkan mata dan menjalankan pernapasan. Malam itu, tujuh delapan orang berkeliaran diluar kamar dan diatas genteng, tapi mereka tidak berani menerjang karena merasa jerih terhadap nama besarnya Boe tong pay.
Pada esokan harinya, meskipun duduk dikereta. Lian Cioe memerintahkan supaya kusir menyingkap semua tirai, sehingga ia dapat mengamat amati keadaan diseputarnya. Sesudah meninggalkan Tay pong tiam beberapa li dari sebelah timur kelihatan mengejar tiga penunggang kuda yang kemudian mengintildebelakang kereta dalam jarak belasan tombak.
Sesudah berjalan lagi beberapa li, disebelah depan menunggu empat penunggang kuda. Begitu lekas rombongan Lian Cioe lewat, mereka segera mengikuti dari belakang. Beberapa lama kemudian, jumlah "pengiring" bertambah lagi empat orang.
Kusir kereta jadi ketakutan. "Tuan, apakah mereka penjahat?" Ia tanya Coei San dengan suara perlahan.
"Jangan takut," jawab Ngohiap. "Mereka bukan mau merampas uang"
Kira kira tengah hari, jumlah yang mengikuti bertambah lagi dengan enam orang. Pakaian mereka beraneka warna, ada yang mewah dan ada yang buruk.
Mereka semua membekal senjata dan mengikuti tanpa mengeluarkan sepatah suara. Dilihat dari potongan badan mereka yang kecil, mungkin sekali mereka penduduk Tiongkok Selatan. Sesudah lewat tengah bari, jumlah mereka bertambah lagi dengan duapuluh satu orang. Beberapa antaranya yang bernyali besar, mendekati kereta sampai jarak kira-kira tiga tombak. Lian Cioe sendiri terus duduk sambil meramkan mata, seolah-olah tidak memperhatikan mereka.
Diwaktu magrib, dari sebelah depan mendatangi dua penunggang kuda, yang satu seorang tua dengan jenggotnya yang panjang, sedang yang lain seorang wanita muda yang berparas cantik. Si kakek bertangan kosong, tapi wanita itu bersenjatakan sepasang golok. Begitu tiba didepan kereta, mereka segera menghadang ditengah jalan.
Coei San naik darahnya. Sambil mengangkat tangan ia berkata: "Boe-tong Jie Jie dan Thio ngo numpang lewat dijalanan ini. Dapatkah kami menanya she dan nama tuan yang mulia?"
Orang tua itu bersenyum. "Dimana Cia Soen?" tanyanya. "Jika kau sudi memberitahukan, kami pasti tidak akan mengganggu murid2 Boe tong."
"Dalam hal ini, aku lebih dulu ingin meminta petunjuk Insoe," jawab Coei San.
"Jie Jie terluka, Thio Ngo sebatang kara." kata si tua. "Dengan sendirian, kau bukan tandingan kami." Seraya berkata begitu, ia meraba pinggangnya dan mengeluarkan sepasang Poan koan pit (Senjata yang menyerupai pit, pena Tionghoa), Senjata itu agak berbeda dengan yang biasa, karena ujungnya berbentuk kepala ular.
Coei San bergelar Gin kauw Tiat hoa dan salah sebuah senjatanya yalah Poan koan pit. Maka itu dapat dikatakan ia mengenal semua jago yang menggunakan Poan koan pit. Begitu melihat senjata si kakek, ia terkejut.
Waktu masih belajar silat, gurunya pernah cerita, banwa dinegeri Ko lee (Korea) terdapat sebuah pay yang menggunakan Poan koan pit berujung kepala ular. Silat partai itu berbeda dengan silat Tiam hiat (menotok jalan darah) yang di gunakan oleh ahli-ahli silat Tionggoan yang menggunakan poan koan pit. Silat partai itu katanya licin dan telengas. Partai tersebut dinamakan Sin liong pay (Partai Naga malaikat), sedang salah seorang tokohnya she Coan, tapi Thio Sam Hong sendiri tak tahu namanya.
Mengingat itu, ia lantas saja menyoja seraya berkata: "Bukankah Cianpwee dari Sin liong pay di Ko lee? Bolehkah aku mendapat tahu nama besar dari Coan Looy coe?"
Orang tua itu, yang bernama Coan Kian Lam, bukan lain daripada Ciangboenjin dari Sin Liong pay. Dengan memberi hadiah besar, Pangcoe Sam kang pang di Lang lam telah mengundangnya dari negeri Ko lee. Ia sebenarnya ingin merahasiakan dirinya, tapi diluar dugaan, begitu bertemu Coei San, rahasianya terbuka.
Sambil mengebas kedua pitnya, ia menjawab : "Loohoe Coan Kian Lam "
"Sin liong pay dan Rimba persilatan dari wilayah Tionggoan belum pernah berhubungan." kata Coei San "Bolehkah aku mendapat tahu, apa kesalahan Boe tong pay terhadad Coan Loo eng hiong ."
"Loohoe dan tuan memang tidak mempunyai permusuhan apapun jua." kata si tua, "Kami, orang Ko lee, juga tahu bahwa di Tionggoan terdapat Boe tong pay dengan tujuh pendekarnya yaug selalu melakukan perbuatan-perbaatan muila. Loohoe hanya ingin mengajukan satu pertanyaan dimana tempat persembunyiannya Cia Soen"
Biarpun cukup sopan, perkataannya sangat mendesak. Disamping itu, begitu lekas ia mengebas kedua senjatanya, orang-orang yang berkumpul di belakang kereta lantas saja berpencaran dan mengurung dari sebelah kejauhan. Maka itu, jadilah terang, bahwa jika mereka tidak mendapat jawaban memuaskan, satu pertempuran tidak dapat dielak kan lagi.
"Bagaimana jika aku menolak untuk menjawab?" tanya Coei San
"Thio Ngohiap memiliki kepandaian tinggi, sehingga biarpun berjumlah besar, kami tentu tidak dapat menahan kau," kata sikakek. "Tapi Jie Jiehiap telah luka dan isterimu sedang sakit. Dengan menggunakan kesempatan pada waktu orang berada dalam bahaya, kami akan menahan mereka berdua. Jika mau, Ngohiap boleh berlalu sekarang." Ia bicara dalam bahasa Tionghoa yang tidak lancar dan nadanya tajam, sehingga suaranya sangat menusuk kuping.
Mendengar kata-kata 'menggunakan kesempatan pada watu orang berada dalam bahaya' kata-kata yang sangat tidak mengenal malu, Coei San lantas saja berkata: "baik, Kalau begitu, tak bisa lain daripada aku meminta pelajaran dari Coan Loo enghiong. Tapi bagaimana, jika Coan Loo enghiong menjadi pihak yang kalah dalam pertempuran?"
"Jika aku kalah, kawan-kawanku akan mengerubuti kamu." jawabnya.
Coei San mengerti, tak guna bicara lagi. Tujuan satu satunya adalah coba membekuk Coan Kian Lam, supaya kawan-kawannya tidak berani menyerang. Ia segera melompat turun dari tunggangannya dan waktu kedua kakinya hinggap diatas bumi, tangan kirinya sudah mencekal gaetan perak yang berkepala harimau, sedang tangan kanannya memegang Poan koan pit.
"Kau tamu, maka aku mengundang kau menyerang lebih dulu," kata Ngohiap.
Coan Kian Lam juga sudah turun dari kuda nya dan sambil mengebas kedua senjatanya, ia melompat kesamping Coei San.
"Hari ini aku dan So So bertempur demi kepentingan Gie heng," pikir Coei San. "Sebagai saudara angkat, hal itu hal yang wajar. Tapi Jie ko belum pernah mengenal Gie heng, sehingga tidaklah pantas jika ia menerima hinaan karena gara-gara Gie heng." Memikir begitu, ia lantas saja mengambil suatu keputusan.
Sesaat itu, si tua sudah menotok dengan pit nya dan Coei San lalu menangkis dengan hanya menggunakan dua bagian tenaganya. Begitu kedua senjata kebentrok, badan Thio ngohiap kelihatan bergoyang goyang. Kian Lam jadi girang bukan main. Ia tak nyana pendekar Boe tong yang begitu di sohorkan, sedemikian 'empuk'. Ia segera bertekad untuk merubuhkan Ngohiap dalam pertempuran satu lawan satu supaya dalam segebrakan saja, namanya bisa naik tinggi dalam Rimba Persilatan diwilayah Tionggoan.
Sambil membela diri, Coei San memperhatikan ilmu silat musuh. la mendapat kenyataan si kakek gesit dan licin gerakannya dan caranya menotok jalan darah berbeda dengan ilmu totokan Tionggoan.
Sesudah bertempur beberapa lama, Coei San mengetahui bahwa Poan koan pit musuh yang di cekel ditangan hanya menotok jalanan jalanan darah dibagian punggung dari Leng thay hiat kebawah, sedang Poan koan pit yang disebelah kanan menotok jalanan jalanan darah dibagian pinggang dan lutut seperti Ngo kie hiat, Wie to hiat, Kie kauw biat dan lain lain,
"Soehoe pernah mengatakan, bahwa walaupun lihay, Tiamhiat dari San liong pay tidak usah ditakuti," pikirnya. "Hari ini baru aku melihat buktinya," Sesudah dapat meraba ilmu silat musuh, pembelaan diri jadi makin sederhana, karena ia hanya perlu menjaga jalanan-jalanan darah tertentu yang dicecer dengan totokan totokan.
Sesudah lewat lagi beberapa jurus, sambil membentak keras, cepat bagaikan kilat, Coei San menyerang dengan Coretan huruf "Liong" (naga) dengan gaetannya "Srt!" Ginkauw menggores jalan darah Hong say biat dilutut kanan si tua.
Seraya mengeluarkan teriakan kesakitan, Kian Lam berlutut. Seperti arus kilat, dengan menggunakan coretan huruf "Hong" (tajam ), Ngohiap monotok belasan jalanan darah, yaitu jalanan-jalanan darah yang biasa jadi bulan bulanan sikakek sendiri.
"Sudahlah! Sudahlah!" mengeluh Kian Lam. "Andaikata dia patung, aku masih tak mampu menotok belasan jalanan darahnya dalam tempo sekejap mata. Celaka sungguh! Aku bahkan masih belum pantas untuk menjadi muridnya!"
Seraya menempelkan Ginkauw di leher Kian Lam, Coei San membentak: "Tuan tuan, mundurlah! Sesudah Coan Loo eng hiong mengantar kami sampai dikaki Boe tong san, aku akan membuka jalanan darahnya dan mengembalikannya kepada kalian!" Ia merasa pasti, bahwa orang orang yang mengepung akan segera mundur.
Tapi diluar dugaan, si wanita muda mengangkat sepasang goloknya dan berteriak: "Serbu!"
"Tahan !" bantak Ngohiap. "Maju setindak lagi kakek ini akan menjadi mayat !"
Wanita itu tertawa dingin. "Serbu!" teriaknya pula. Ia mengeprak kuda dan menerjang, sedikitpun tidak menghiraukan nasib Coan Kian Lam.
Wanita itu adalah salah seorang Tocoe dari Sam kang pang dan tujuan mereka yalah menawan, Jie Lian Cioe dan So So untuk memaksa Coei San memberitahukan tempat sembunyinya Cia Soen. Coan Kian Lam seorang luar yang hanya menjadi tamu, sehingga mati hidupnya tidak begitu dihiraukan.
Coei San kaget bukan kepalang. Ia mengerti, bahwa tak ada gunanya membunuh si kakek. Sesaat itu, tujuh delapan orang sudah mengurung kereta So So, delapan sembilan musuh mengepung kereta Lian Cioe, sedang ia sendiri dikurung oleh si wanita bersama enam tujuh orang.
Selagi ia kebingungan, tiba-tiba Lian Cioe berteriak dengan suara nyaring: "Liok tee, beres kan Orang-orang itu!"
Coei San tercengang. Apa kakaknya tengah menggunakan siasat "kota kosong"?
Sekonyong- konyong ditengah udara terdengar siulan yang panjang dan nyaring. "Ngoko! Setengah mati aku memikir kau!" teriak seorang. Hampir berbareng dari atas sebuah pohon besar melompat turun satu bayangan manusia yang lantas saja menerjang sambil memutar pedang. Orang itu memang bukan lain dari pada In Lie Heng.
Hati Coei San meluap dengan kegirangan, "Liok tee !" serunya.
Beberapa orang dari Sam kam pang segera menceggat Lie Heng. Pedang Boe tong Liokhiap berkelebata kelebat dibarengi dengan suara jatuhnya sejumlah senjata, karena setiap kali pedang berkelebat ujungnya menggores jalanan darah Sin boen hiat, dipergelangan tangan musuh.
Wanita itu gusar tak kapalang dan membentak: "Siapa kau ?" Ia tak dapat bicara terus, sebab kedua goloknya hampir berbareng jatuh di tanah.
"Ilmu Sin boen Sip sam kiam yang digubah Soehoe sudah sempurna!" teriak Coei San kegirangan.
Sin boen Sip sam kiam atau "Tiga belas jurus pedang Sin boen" terdiri dari tiga belas macam jurus yang berbeda beda gerakannya, tapi setiap jurus mengarah jalanan darah Sin boen Hiat dipergelangan tangan lawan. Pada sepuluh tahun berselang, waktu Coei San berada di Boe tong san, Thio Sam Hong pernah mengutarakan niatnya untuk menggubah ilmu pedang tersebut. Tapi, karena adanya berbagai kesukaran, pada waktu itu sang guru belum berhasil mencapai maksudnya. Sekarang Coei San dapat melihat kelihayan Sin boen Sip sam kiam.
Melihat gelagat tidak baik, wanita itu berseru "Angin keras! Mundur!" Semua kawannya tantas saja kabur lintang pukang, beberapa antaranya malah tidak keburu menunggang kuda.
Sementara itu, Coei San sudah membuka jalanan darah Coan Kian Lam yang tertotok. Ia menjemput kedua Poan koan pit pecundangnya dan menyelipkannya dipinggang si kakek. Dengan kemalu maluan, si tua buru-buru berlalu.
Sesudah memasukkan pedang kedalam sarung sambil mencekal tangan kakak seperguruannya, Lie Heng berkata: "Ngoko, aku sungguh menderita dalam memikiri nasibmu!"
Sang kakak tertawa. "Liok tee, kau sudah besar sekali," katanya. Waktu mereka berpisahan, In Lie Heng baru berusia delapan belas tahun. Selang sepuluh tahun. adik yang tadinya kurus kecil itu sudah berubah menjadi pemuda jangkung yang tampan parasnya.
Sambil menuntun tangan Lie Heng, Coei San mengajak adik itu menemui isterinya. So So yang tengah menderita sakit yang tidak enteng manggut manggutkan kepala seraya bersenyum, "Lioktee!" katanya dengan suara perlahan.
"Bagus!" kata Lie Hang. "Ngoso juga she In. Aku bukan saja mendapat enso, tapi juga memperoleh kakak."
"Jieko sungguh lihay," kata Coei San. "Aku tak mimpi kau bersembunyi dipohon, tapi ia sudah mengetahuinya."
Lie Heng lantas saja menuturkan cara bagaimana ia bisa datang kesitu untuk menyambut kakaknya. Ternyata, pada waktu Siehiap Thio Siong Kee turun gunung untuk membeli barang guna perayaan ulang tahun gurunya, ia telah bertemu dengan dua orang Kangouw yang sikapnya sangat mencurigakan.
la curiga lalu menguntit mereka. Dengan mendengari pembicaraan mereka, ia tahu, bahwa Coei San sudah pulang dan sudah mempersatukan diri dengan Lian Cioe. Disamping itu, ia juga tahu, bahwa Sam kang-pang dan Ngo hong to ingin mencegat kedua saudara itu untuk menanyakan tempat sembunyinya Cia Soen.
Cepat-cepat ia pulang ke Boe tong san, tapi di tempat gurunya ia hanya bertemu dengan In Lie Heng seorang. Mereka segera turun gunung untuk menyambut kedua saudara itu. Sedikitpun mereka tidak merasa kuatir. Mereka menganggap, bahwa orang dari partai-partai kecil tidak akan bisa berbuat banyak terhadap Lian Cioe dan Coei San. Tapi karena mereka ingin sekali bertemu dengan Coei San selekas mungkin, maka mereka berjalan dengan secepat-cepatnya, mereka tak tahu tentang terlukanya Lian Cioe, sebab kedua orang kangouw itu sama sekali tidak membicarakannya.
Ditengah perjalanan Siong Kee mengusir orang pandai dari Ngo hong to, sedang tugas menghajar orang orang Sam kang pang diserahkan kepada In Lie Heng.
Lian Cioe menghela napas. "Kalau Sietee tidek berwaspada, mungkin sekali hari ini Boe tong pay ambruk namanya." katanya.
"Benar," menyambungi Coei San dengan suara jengah. "Siauwtee sendiri pasti tak akan dapat melindungi Jieko. Hai! Sesudah meninggalkan rumah perguruan sepuluh tahun lamanya kepandaian Siauwtee sungguh-sungguh kacek terlalu jauh dari saudara."
"Janganlah Ngoko berkata begitu," kata Lie Heng seraya tertawa. "Barusan Ngoko telah memperlihatkan pukulan yang sangat lihay waktu merobohkan si tua bangka dari Ko lee kok. Sesudah kau pulang, Soehoe pasti akan menurunkan berbagai ilmu kepadamu. Mengenai Sin boen Sip sam kiam, sekarang juga siauw tee bersedia untuk memberi penjelasan kepadamu."
Malam itu, mareka menginap disebuah rumah penginapan di Sian Jan touw. In Lie Heng minta tidur bersama sama Coei San. Permintaan itu disambut dengan rasa girang oleh sang kakak, yang juga merasa sangat kangen dengan adiknya itu.
Dalam runtunan Boe tong Cit hiap, Boh Seng Kok yang berusia paling muda. Tapi walaupun berusia lebib muda, lagak lagu Boh Seng Kok lebih tua dari pada Lie Heng. Semenjak dulu, Coei San sangat mencintai Lie Heng yang usianya tidak kacek seberapa dengannya dan mereka berdua biasa bergaul rapat sekali.
"Ngotee sudah mempunyai isteri," kata Lian Cioe sambil tertawa. "Jangan kau mempersarnakan dia seperti pada sepuluh tahun yang lalu. Ngotee, pulangmu sungguh kebetulan. Sesudah minum arak panjang umur dari Sohoe, kau akan segera minum arak kegirangan (arak pesta pernikahan) dari Lioktee."
Coei San girang tak kepalang. Ia menepuk nepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak. "Bagus ! Sungguh bagus. Siapa pengantin perempuannya?" tanyanya.
Paras muka si adik lantas saja berubah merah.
"Mutiara (puteri) dari Kim pian Kie Loo eng hiong di Hian yang," kata Lian Cioe.
"Bagus! Kalau Lioktee natal, Kim pian (cambuk emas) akan menghantam kepalamu." katanya sambil tertawa geli.
Lian Cioe bersenyum, tapi pada mukanya berkelebat sehelai sinar suram. "Kie Kouwnio menggunakan pedang..." katanya. "Kuharap diantara wanita-wanita bertopeng yang mencegat kita di tengah sungai, tidak terdapat Kie Kouwnio."
Coei San kagat. "Kalau begitu ia murid Go bie?" tanyanya.
Lian Cioe mengangguk seraya berkata "Waktu kita bertempur dipinggir sungai, semua anggauta rombongan Go bie berkepandaian biasa saja sehingga tak mungkin Kie Kouwnio turut serta dalam rombongan itu. Jika ia berada disitu untuk kepentingan Ngo teehoe, aku bisa berdosa terhadap Liok teehoe dan orang bisa mengatakan aku memilih kasih. Ngotee, Liok teehoe kita berparas cantik, berkepandaian tinggi dan sebagai murid dari sebuah partai yang tersohor, ia benar-benar merupakan pasangan yang setimpal dengan adik kita ...."
Mendadak ia berhenti bicara, karena tiba-tiba ia ingat bahwa In So So adalah puteri seorang pemimpin 'agama' yang sesat, sehingga dengan memuji nona Kie, seperti juga mengejek isterinya Coei San. Selagi mencari perkataan untuk memperbaiki kesalahannya, sekonyong-konyong datang seorang pelayan yang lantas saja berkata: "Jie ya, ada beberapa orang, yang mengaku sebagai sahabatmu, datang berkunjung "
"Siapa?" tanya Lian Cioe.
"Mereka memperkenalkan diri sebagai murid murid Ngo-hong-to" jawab sipelayan. "Jumlahnya enam orang."
Lian Cioe bertiga terkejut. Apakah Siong Kee yang bertanggung jawab untuk mengusir orang orang Ngo-hong-to, mendapat kecelakaan?
"Aku akan menemui mereka," kata Coei San yang kuatir keselamatan Lian Cioe yang masih belum sembuh dari lukanya.
"Undang mereka masuk," kata Jiehiap kepada si pelayan.
Beberapa lama kemudian, masuklah enam pria dan seorang wanita. Coei San dan Lie Heng berdiri disamping Lian Cioe siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan. Tapi tamu-tamu itu kelihatan berduka tercampur malu dan merekapun tidak membekal senjata.
Begitu masuk, seorang yang rupanya menjadi pemimpin dan yang berusia kira-kira empat puluh tahun, merangkap kedua tangannya dan berkata dengan sikap hormat: "Apakah kalian Jie Jiehiap, Thio Ngohiap dan In Liok hiap dari Boe-tong-pay? Aku, Ben Ceng Hooey, murid Ngo-hong-to memberi hormat."
Lian Cioe bertiga lantas sajs membalas hormat. "Beng Loosoe, selamat bertemu," kata Lian Cioe. "Kalian duduklah."
Beng Ceng Hoey tidak lantas berduduk, tapi berkata pula: "Partai kami yang berkedudukan di Ho tong, propinsi San see, hanyalah sebuah partai kecil yang tidak ada artinya. Sudah lama kami mendengar nama besarnya Thio Cinjin dan Boe tong Cit hiap, hanya sebegitu jauh, kami belum mendapat kesetempatan untuk bertemu muka. Hari ini kami tiba dikaki Boe tong san. Menurut pantas, kami haruslah naik gunung untuk menemui Thio Cinjin. Tapi mendengar, bahwa beliau sudah berusia seratus tahun dan selalu hidup dengan mengasingkan diri, kami orang-orang kasar tidak berani mengganggu ketenteraman beliau. Kalau nanti sudah pulang kegunung kami mengharap Sam wie suka memberitahukan beliau, bahwa murid-murid Ngo hong to memberi selamat dan berdoa agar beliau dikurniani dengan rejeki dan umur panjang oleh Tuhan Yang Maha kuasa."
Mendengar pemberian selamat kepada gurunya, Lian Cioe yang duduk diatas pembaringan batu sebab lukanya belum sembuh, buru-buru memegang pundak In Lie Heng dan turun dari pembaringan.
"Terima kasih atas pemberian selamat dan doa itu," katanya seraya membungkuk.
"Sehagai penduduk kampung. kami seperti kodok didalam sumur," kata pula Beng Ceng Hoey. "Kami tak tahu bagaimana luasnya langit dan lebarnya bumi. Dengan berani mati, kami datang ketempat kalian. Tapi dengan jiwa yang sangat besar, para pendekar Boe tong berbalik menolong kami, untuk itu kami berterima kasih tidak habisnya. Kedatangan kami pertama untuk menghaturkan terima kasih yang tak terhingga. Kedua untuk meminta maaf dan kami memohon agar Sam wie tidak mencatat kedosaan kami"
Sehabis berkata begitu, Beng Ceng Hoey kelihatan bingung, seolah-olah merasa takut untuk bicara terus.
"Beng Loosoe boleh bicara saja tanpa ragu ragu," kata Lian Cioe dengan manis.
"Terlebih dulu aku memohon janji Jiehiap, bahwa Boe tong pay tak akan menggusari kami, supaya kami bisa memberi laporan kepada soehoe," katanya.
Lian Cioe tersenyum. "Apakah kunjungan kalian untuk menyelidiki tempat bersembunyinya Kim mo Say ong Cia Soen?" tanyanya. "Kedosaan apa yang telah diperbuat Cia Soen terhadap partai kalian?"
"Saudaraku, Beng Ceng Jin, telah binasa dalam tangan Cia Soen !" jawabnya.
Lian Cioe kaget. "Oleh karena adanya kesukaran yang tidak dapat diatasi kami tidak bisa memberitahukan kalian mengenai tempatnya Cia Soen," katanya. "Tentang soal menggusari kalian, baik lah jangan disebut-sebut lagi. Kalau nanti kalian pulang dan bertemu dengan Ouw Loo yacoe, katakanlah, bahwa Jie Jie, Thio Ngo dan In Liok menanyakan kesehatan beliau."
"Kalau begitu, kami ingin meminta diri," kata Beng Ceng Hoey. "Di hari kemudian, andaikata Boe tong pay memerlukan tenaga kami, biarpun Ngo hong to bertenaga sangat kecil, murid-murid Ngo hong to pasti tak akan menolak tugas sebagai pesuruh."
Sehabis berkata begitu ia mengangkat kedua tangan, diturut oleh kelima kawannya, dan kemudian meninggalkan kamar itu.
Baru berjalan beberapa tindak, yang wanita mendadak memutar badan dan lalu berlutut dilantai, "Aku yang rendah sudah bisa mempertahankan kesucian diri berkat pertolongan para pendekar Boe tong," katanya dengan suara perlahan. "Selama hidup, aku tak akan melupakan budi yang sangat besar ini."
Biarpun sangat kepingin tahu duduknya persoalan, tapi mendengar perkataan "kesucian diri." Lian Cioe bertiga tidak berani menanya lebih jelas. Sesudah berlutut beberapa kali, ia lalu berjalan keluar untuk menyusul rombongannya.
Beberapa saat sesudah rombongan Ngo hong to berlalu, tirai mendadak tersingkap dibarengi dengan masuknya seorang yang segera menubruk dan memeluk Coei San.
"Sieko!" teriak Coei San, bagaikan kalap bahna girangnya.
Orang itu yalah Siehiap Thio Siong Kee. Sesudah berpelukan beberapa lama, Coei San berkata: "Sieko, kau sungguh pintar dan berakal budi. Kau sudah berhasil mengubah sikap orang orang Ngo-hong-to dari lawan menjadi kawan."
"Ah! itulah sudah terjadi karena kebetulan saja", sang kakak merendahkan diri.
Siong Kee lantas saja menuturkan latar belakang kejadian itu.
Wanita cantik itu seorang she Ouw, puteri kedua dari Ciangboenjin Ngo-hong-to. Suaminya ialah Beng Ceng Hoey. Kali ini, kedua suami isteri bersama empat orang Soetee dan Soetit telah datang di Ouwpak untuk menyelidiki Cia Soen. Ditengah jalan mereka bertemu dengan Tocoe Sam-kang-pang yang memberitahukan, Coei San dari Boe-tong pay mengetahui dimana adanya Kim mo Say-ong. Ouw-sie lantas saja mengusulkan untuk membekuk Coei San guna memaksakan pengakuan.
Beng Ceng Seng biasanya sangat takut isteri, tapi kali itu ia menolak. la mengatakan, bahwa murid Boe-tong-pay lihay luar biasa, dan jalan yang paling baik yalah menanyakan dengan memakai peradatan. Kalau tidak diluluskan, coba mencari daya upaya lain. Ouw-sie kukuh pada pendapatnya, ia mengatakan, bahwa jika Coei San sudah pulang ke Boe-tong-san, mereka tak akan dapat menangkapnya lagi.
Karena tidak sependapat, kedua suami isteri itu lantas saja bercekcok, sedang kawan-kawannya yang lain tidak berani campur mulut.
Ouw-sie jadi sangat gusar "Setan nyali tikus!" teriaknya. "Kan usul itu untuk membalas sakit hati saudaramu, bukan untuk kepentinganku. Hmmm! Kapan kau begitu takut terhadap murid-murid Boe tong! Andai kata dia Thio Coei San memberitahukan tempat sembunyinya Cia Soen, apakah kau mempunyai nyali untuk mencari musuhmu. Menikah dengan manusia nyali tikus benar-benar celaka besar!"
Beng Ceng Hoey tidak berani bertengkar lagi, tapi ia tetap tidak menyetujui usul isterinya untuk menggunakan song-han-yo (obat pulas) guna membekuk Coei San dan So So. Dalam gusarnya, malam itu, selagi suaminya pulas, ia menghilang.
Nyonya muda itu pergi dengan niatan membekuk Coei San dan So So supaya ia bias mengejek suaminya. Diluar dugaan, gerak geriknya diketahui oleh seorang Tocoe dari Sam kang pang. Melihat kecantikan Ouw Sie, Tocoe itu mendapat pikiran jahat dan lalu menguntit, sehingga akhirnya, bukan Coei San dan So So yang kena Bong han yo, tapi, Ouw Sie sendiri.
Siong Kee yang terus mengintip gerak-gerik keenam orang Ngo hong to, itu, lalu memberi pertolongan. Sesudah dihajar dan diperingati keras, ia mengusir Tocoe Sam kang pang itu. Pada Ouw sie, Siong Kee tidak memperkenalkan nama. Ia hanya mengatakan, bahwa ia adalah murid Boe tong Pay.
Dengan malu besar, Ouw sie kembali kepada suaminya dan menceritakan segala apa yang sudah terjadit. Dengan demikian, Boe tong pay berbalik menjadi tuan penolong.
Sesudah berdamai, mereka segera mengunjungi Lian Cioe bertiga untuk menghaturkan terima kasih dam meminta maaf. Supaya Ouw sie tidak terlalu jengah, sesudah mereka berlalu, barulah Siong Kee muncul.
"Menghajar Tocoe Sam kang pang itu memang bukan pekerjaan sukar," kata Coei San. "Tapi tindakan Sieko yang selamanya memberi kesempatan kepada orang-orang yang berdosa, sangat sesuai dengan pendirian Soehoe."
Siong Kee tertawa. "Sesudah sepuluh tahun tak bertemu, begitu bertemu Ngotee menghadiahkan topi tinggi kepadaku." katanya.
Malam itu keempat saudara seperguruan tidur disatu pembaringan dan mereka beromong-omong terus sampai pagi.
Meskipun pintar dan berakal budi, Stong Kee tidak dapat menebak siapa adanya orang yang menyamar seperti serdadu Goan, menculik Boe Kie dan melukakan Lian Cioe.
Pada esok paginya sesudah Siong Kee menemui So So, mereka lalu meneruskan perjalanan. Sesudah menginap lagi semalaman ditengah jalan, barulah mereka mulai mendekati Boe tong san.
Sesudah berpisahan sepuluh tahun. Coei San kembali kegunung itu yang menjadi tempat tinggalnya sedari kecil. Mengingat bahwa ia akan segera bertemu dengan guru dan saudara-saudaranya, biar pun isteri sakit dan anak hilang, kegirangannya melebihi rasa dukanya.
Setibanya diatas gunung mereka melihat delapan ekor kuda tertambat didepan kuil.
"Ada tamu," kata Siong Kee. "Kita masuk saja dari pintu samping."
Sambil menuntun isterinya, Coei San beramai masuk dari pintu samping. Melihat kembalinya Ngohiap, segenap penghuni kuil dari imam sampai pesuruh jadi girang bukan main. Begitu masuk, Coei San segera ingin menemui gurunya, tapi kacung yang merawat sang guru memberitahukan bahwa Thio Sam Hong masih menutup diri. Karena itu, ia hanya bisa berlutut didepan kamar sang guru.
Sesudah itu, ia pergi kekamar Jie Thay Giam. Kacung yang menjaga Jie Samhiap berkata: "Samsoe siok pules. Apakah mau dibanguni?"
Coei San menggoyangkan tangannya dan masuk kedalam kamar dengan indap-indap. Dengan hati tersayat, ia mengawasi kakak seperguruannya yang pucat dan perok mukanya, dengan kulit membungkus tulang. Keangkeran dan kegagahannya sepuluh tahun berselang sudah tak kelihatan lagi bayangan bayangannya. Mengingat pengalamannya yang dulu, bagaimana pada waktu baru naik gunung, ia telah menerima banyak pelajaran dari kakak itu, air mata Coei San lantas saja mengucur deras.
Sesudah mengawasi beberapa saat, sambil mendekap muka ia berjalan keluar. "Mana Toasoepeh dan Citsoesiok?" tanyanya kepada si kacung.
"Lagi menemani tamu di toathia (ruang besar)," jawabnya.
Ia lalu pergi keruangan belakang untuk menunggu Toasoeko dan Citsoeteenya. Tapi sesudah menunggu agak lama, kedua saudara itu belum juga muncul. Kepada seorang toojin yang membawa teh, ia menanya: "Siapa tamu itu?"
"Kelihatannya seperti orang dari Piauwkiok," jawabnya.
Sesaat kemudian, In Lie Heng yang masih sangat kangen pada saudaranya menyusul keruangan belakang dan Coei San lantas saja menanyakan asal usul tamu itu.
"Tiga orang Cong piauw tauw," jawab si adik. "Yang satu Kie Thian Pioe, Congpiauwtauw Houw-po-Piauwkiok di Kim leng, yang satu lagi In Ho Congpiauwtauw Chin-yang-Piauwkiok di Thaygoan, yang ketiga Kiong Kioe Kee, Congpiauwtauw Yan-in-Piauwkiok dikota raja."
Coei San terkejut. "Perlu apa mereka datang kemari?" tanyanya. Ia tahu, bahwa dalam kalangan Piauwkiok diwilayah Tionggoan, ketiga Piauw kiok itulah yang mempunyai nama paling besar.
In Lie Heng tertawa. "Mungkin sekali ada piauw yang kena dirampok dan si perampok sangat lihay sehingga mereka minta pertolongan Toasoeko," jawabnya.
"Ngoko, selama beberapa tahun ini. Toasoeko makin mulia sepak terjangnya. Kalau di Kong ouw terjadi sesuatu, mereka lantas pada datang menemui Toasoeko."
"Toako memarg berhati mulia seperti Budha." kata Coei San "la tak pernah merasa bosan untuk menolong sesama manusia. Hai! Sesudah berpisahan sepuluh tahun, apa Toasoeko tampak banyak lebih tua?"
Sesudah berkata begitu, hatinya seperti dibetot dan ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. "Lioik tee," katanya, "mari kita pergi kebelakang sekosol supaya aku bisa segera melihat wajah Toako dan Cit tee."
Indap-indap ia masuk ke toa thia dan mengintip dari belakang sekosol. Song Wan Kiauw dan Boh Seng Kok yang sedang duduk dikursi tuan rumah tengah bicara dengan tamu tamunya. Wan Kiauw mengenakan Jubah iman, parasnya tenang, tiada banyak bedanya seperti dulu hari, hanya rambut dibawah kundainya sudah berawarna abu abu."
Toako itu sebenarnya bukan seorang toosoe, tapi karena sang guru seorang toosoe dan juga sebab ia menetap didalain kuil, maka kalau berada di kuil, ia kebanyakan mengenakan jubah imam dan barulah menukar pakaian biasa bila turun gunung.
Tubuh Boh Seng Kok jauh lebih jangkung dan besar daripada sepuluh tahun berselang. Meskipun masih berusia muda, mukanya penuh brewok, sehingga ia kelihatannya lebih tua daripada Coei San.
Tiba tiba terdengar suara Boh Seng Kok yang keras: "Toasoekoku tidak pernah menjusta, perkataannya satu - satu. dua - dua. Apakah kalian masih tidak percaya?"
Coei San kaget. Adat Soetee itu yang berangasan ternyata belum berubah. Mengapa ia bergusar?
la lalu mengawasi ketiga tamu itu. Mereka semua berusia kurang lebih lima puluh tahun. Yang satu kelihatan angker dan garang, yang satunya lagi jangkung kurus, sedang yang ketiga yang duduk dikursi paling buncit kelihatannya seperti orang sakit. Dibelakang mereka berdiri lima orang lain, mungkin murid murid mereka.
"Kami tentu tidak bisa menyangsikan perkataan Song Toahiap," kata sijangkung kurus. "Tapi apakah kami boleh mendapat tahu, kapan Thio Ngohiap akan pulang?"
Mendengar perkataan Thio Ngohiap, Coei San terkesiap. "Apa mereka datang untuk menyelidiki Gieheng?" tanyanya didalam hati.
Sementara itu, Boh Seng Kok sudah menjawab: "Biarpun kami bertujuh berkepandaian sangat rendah, tapi dalam hal menolong sesama manusia kami selalu tidak mau ketinggalan. Kawan kawan dikalangan Kangouw telah menghadiahkan kami dengan julukan Boe tong cit hiap. Kami sebenarnya merasa malu mendapat julukan itu. Akan tetapi, sesudah terlanjur menerimanya kami lebih berhatii hati setiap tindakan kami. Thio Ngoko seorang yang halus budi pekertinya baik adatnya dan seorang yang boen boe coan cay. Maka itu, omong kosong jika Ngoko dituduh membunuh keluarga Liong boen Piauw kiok."
Sekarang baru Coei San tahu maksud kedatangan tamu-tamu itu.
"Nama besar Boe tong Cit hiap memang sudah dikenal dalam Rimba Persilatan," kata orang yang sikapnya garang, "Boh Cit hiap tak usah mengagulkan diri!"
Mendengar perkataan yang menusuk itu, Seng kok segera berkata: "Apa sebenarnya keinginan Kie Cong piauw tauw. Kau boleh bicara saja terang-terangan "
Orang itu, Kie Thian Pioe, lantas saja berkata dengan suara gusar: "Aku tidak menyangsikan, bahwa Boe tong Cit hiap omong satu-satu, omong dua-dua. Tapi, apakah pendeta suci dari Siauw lim sie berjusta? Dengan mata sendiri, pendeta Siauw lim telah menyaksikan cara bagaimana keluarga Liong boen Piauw kiok tetah binasa oleh Thio Ngo hiap...." Perkataan "hiap" diucapkan dengan suara luar biasa nyaringnya dan nadanya mengejek.
Bukan main gusarnya In Lie Heng. Selagi ia mau melompat keluar untuk menghadapi piauwsoe itu, Coei San mencekal tangannya dan mengawasinya dengan sorot mata berduka.
Si-adik tidak berani membantah. la kagum akan kesabaran kakak seperguruannya.
Dengan mata berapi, Seng Kok berkata: "Ngoko sekarang belum pulang, Boh Seng Kok dan Coei San mati hidup bersama-sama."
Boh Seng Kok bangun berdiri. "Urusannya adalah urusanku. Jika Sam wie ingin cari Coei San carilah aku. Sam wie memastikan bahwa Ngoko sesudah membunuh keluarga Liong boen Piauwkiok! Baiklah, pembunuhan itu sama juga telah dilakukan olehku sendiri. Kalau mau membalas sakit hati, balaslah kepadaku, Boh Seng Kok adalah Thio Coei San, Thio Coei San adalab Boh Seng Kok. Dalam kepintaran dan kepandaian, aku tak nempel dengan saudaraku yang kelima itu. Maka boleh dikatakan, untung besar kau bertemu dengan aku."
Kie Thian Pioe juga meluap darahnya. Ia melompat bangun seraya membentak: "Kalau tujuan kami benar untuk mengacau di Boe tong san, orang sedunia akan mentertawai kami sebagai manusia-manusia yang tak tahu diri. Akan tetapi, sakit hatinya keluarga Touw Tay Kim sehingga sekarang belum terbalas. Hal itu tak dapat ditelan oleh kami. Waktu naik kegunung, karena menghargai Thio Cinjin, kami tidak berani membekal senjata. Sekarang biarlah aku menerima kebinasaan dibawah kaki dan tangan Boh Cit hiap." Sehabis berkata begitu, dengan tindakan lebar ia berjalan ketengah ruangan.
Melihat pertempuran akan segera terjadi, Song Wan Kiauw yang sedari, tadi terus membungkam, mencekal tangan adiknya seraya berkata: "Dari tempat jauh kalian datang kemari dengan membawa tuduhan bahwa Ngotee telah membunuh keluarga Liong boen Piauwkiok. Untung juga, tak lama lagi Ngotee akan pulang. Maka itu, menurut pendapatku, sebaiknya kalian menunggu sampai Ngotee kembali dan menanyakan soal-soal itu kepadanya sendiri."
Tamu yang seperti orang sakit, pemimpin Yan in Piauwkiok Kiang Kioe Kee yang berakal budi, lantas saja berkata: "Kie Congpiauwtauw, sabar. Duduklah dulu. Memang juga, sebelum Thio Ngohiap pulang, urusan ini sukar mendapat penyelesaian yang memuaskan. Sebaiknya kita sekarang menemui Thio Cinjin untuk meminta jawaban. Beliau adalah gunung Thay san atau bintang Pak tauw dari Rimba Persilatan dan dihormati oleh segenap orang gagah. Maka itu, tak mungkin beliau melindungi diri murid sendiri tanpa melihat siapa yang benar siapa yang salah,"
Perkataan itu yang diucapkan secara sopan, lihay bukan main dan Boh Seng Kok tentu saja mengerti maksudnya. "Guruku sedang menutup diri dan sampai sekarang belum keluar " katanya. "Disamping itu, selama beberapa tahun ini, segala urusan selalu diurus oleh Toa soeko dan kecuali orang yang sangat kenamaan dalam Rimba Persilatan, Soehoe boleh dikatakan tidak pernah menerima tamu." Dengan berkata begitu, Boh Cit hap mau mengatakan, bahwa ketiga Congpiauw tauw tersebut belum cukup tinggi kedudukannya untuk berjumpa dengan Thio Sam Hong.
Tamu yang bertubuh jangkung kurus, yaitu In Ho dari Chin-yang piauwkiok, tertawa dingin: "Urusan-urusan dalam dunia memang sering terjadi secara kebetulan," katanya: "Secara kebetulan, kedatangan kami terjadi pada saat Thio Cinjin sedang menutup diri. Tapi soal tujuh puluh jiwa lebih dari keluarga Liong boen Piauwkiok sukar dielakkan dengan alasan menutup diri."
Dengan perkataan yang sangat berat itu, buru-buru Kiong Kioe Kee mengedipkan matanya.
Boh Seng Kok gusar tak kepalang. "Kau mau mengatakan, bahwa guruku menutup diri karena merasa jeri terhadap kamu?" bentaknya. In Ho tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin.
Biarpun sabar, hinaan terhadap gurunya yang sangat dihormati umum, sangat mendongkolkan hati Song Wan Kiauw. Selama banyak tahun, belum pernah ada orang berani mengucapkan kata kata kurang ajar untuk alamat Thio Sam Hong dihadapan Boe tong Cit hiap. Maka itu, ia segera berkata dengan suara perlahan.
"Sam wie adalah tamu kami dan kami tidak berlaku kurang sopan. Marilah kami mengantar kalian keluar dari kuil ini."
Seraya berkata begitu, ia mengebas dengan tangan jubahnya dan ........loh! tiga cangkir teh yang berada dihadapan Kie Thian Pioe, In Ho dan Kiong Kioe Kee serentak terbang dan kemudian perlahan-lahan turun dihadapan Wan Kiauw.
ltulah pertunjukan Lweekang yang dahsyat luar biasa. Begitu Wan Kiauw mengebas, Kie Thian Pioe bertiga merasa dada mereka menyesak, tapi sejenak kemudian, rasa sesak itu menghilang. Paras muka ketiga orang itu berubah pucat bagaikan kertas. Mereka tahu bahwa jika mau Song Toahiap dengan mudah dapat mengambil jiwa mereka seperti orang membalik telapak tangannya sendiri.
Antara mereka, Kie Thian Pioe lah yang paling polos. Sambil merangkap kedua tangannya ia berkata: "Terima kasih atas belas kasihan Song Toahiap. Kami minta permisi!"
Wan Kiauw dan Seng Kok mengantar tamunya sampai diluar kuil.
"Cukuplah, kalian tak usah mengantar lebih jauh lagi," kata Kie Thian Pioe.
"Kami menghaturkan banyak terima kasih atas kunjungan kalian," kata Wan Kiauw. "Dilain hari, kami akan balas mengunjungi pianwkiok kalian di kotaraja, Thay goan dan Kim leng."
"Itulah kehormatan yang kami tidak berani menerima." sahut Kie Thian Pioe.
Selagi mereka meagucapkan kata kata sungkan, tiba tiba datang orang setengah tua yang bertubuh kecil. "Sietee, berkenalanlah dengan ketiga sahabat ini." kata Wan Kiauw.
Sesudah diperkenalkan sambil tertawa Thio Siong Kee berkata: "Sungguh kebetulan Samwie datang di sini. Aku justru ingin menyerahkan beberapa rupa barang." la merogoh sakunya mengeluarkan tiga bungkusan kecil yang lalu di bagikan kepada ketiga tamu itu.
"Barang apa ini?" tanya Kie Thian Pioe.
"Jangan buka disini," kata Siong Kee. "Sesudah turun gunung, barulah kalian boleh membukanya."
Sesudah ketiga tamu itu berlalu, Boh Seng Kok berkata dengan tergesa-gesa: "Sieko. Mana Ngo ko? Apa ia sudah pulang?"
"Pergilah kau menemui Ngotee," kata Siong Kee seraya bersenyum. "Aku dan Toako akan menunggu kembalinya ketiga piauwsoe itu."
"Kembalinya ketiga piauwsoe?" menegas Seng Kok dengan heran. "Mengapa begitu ?" Tapi, sebab ia ingin lekas-lekas bertemu dengan Coei San tanpa menunggu jawaban, ia lantas masuk dengan berlari-lari.
Benar saja, baru Boh Cithiap masuk kedalam, Kie Thian Pioe bertiga sudah kembali dengan terburu-buru dan begitu berhadapan dengan Wan Kiauw dan Siong Kee, mereka berlutut. Wan Kiauw dan Siong Kee membalas hormat dan membangunkan ketiga orang itu.
"Kemuliaan para pendekar Boe tong baru sekarang diketahui aku, si orang she In." Kata In Ho. "Barusan aku telah mengeluarkan kata-kata yang menghina Thio Cinjin dan aku sungguh lebih hina dari pada anjing atau babi."
Sehabis berkata begitu, ia menggapelok mukanya sendiri belasan kali, sehingga jadi bengkak dan matang biru.
"In Congpiauwtiauw adalah seorang laki-laki gagah yang mempunyai cita-cita besar," kata Siong Kee. "Cita-cita untuk merampas pulang, sungai dan gunung (negara) dari tangan penjajah, mendapat sokongan sepenuhnya dan segenap orang gagah diseluruh negeri. Bantuan sekecil itu yang diberikan kami adalah selayaknya saja. Perlu apa In Congpiauwtauw berlaku sampai begitu rupa?"
"Jiwa seluruh keluargaku telah ditolong oleh Coe hiap (para pendekar)," kata pula In Ho.
"Selama lima tahun, aku seperti orang mimpi. Untuk kedosaanku, aku harap beliau suka menghajar aku, supaya hatiku jadi lebih enak."
Siong Kee tertawa. "Urusan yang sudah lewat sebaiknya jangan disebut-sebut lagi," katanya. "Andai kata Soehoe sendiri mendengar perkataan In Congpiauwtauw yang sangat mulia, beliaupun tak merasa tersinggung," Tapi In Ho yang masih merasa sangat malu, terus mencaci dirinya sendiri.
Song Wan Kiauw yang tidak mengerti duduknya persoalan, hanya mengeluarkan perkataan-perkataan merendahkan diri. Selain In Ho, Kie Thian Pioe dan Kiong Kioe Kee juga tak hentinya menghaturkan terima kasih. Menurut penglihatan Wan Kiauw, Siong Kee bersikap sangat manis dan hangat terhadap In Ho, tapi terhadap Kie dan Kiong Congpiauwtauw, ia bersikap sedang-sedang saja. Mereka bertiga memohon permisi untuk memberi hormat didepan kamar Thio Sam Hong dan menghaturkan maaf kepada Beh Sang Kok, tapi permintaan itu semua ditolak dengan manis oleh Wan Kiauw berdua.
Sesudah ketiga orang itu berlalu, Siong Kee berkata seraya menghela napas: "Biarpun mereka merasa sama sekali tidak menyebutkan soal Liong boen Piauwkiok. Dengan lain perkataan, budi tinggal budi, tapi urusan itu masih belum beres."
Baru saja Wan Kiauw ingin meminta penjelasan, Coei San sudah muncul sambil berlari-lari. Begitu berhadapan dengan kakaknya, ia berlutut seraya berkata "Toako ....."
Song Wan Kiauw halus budi pekertinya. Walaupun terhadap adik seperguruannya, apa pula dalam keadaannya ini, seperti sekarang selagi hatinya berdebaran, ia tidak dapat melupakan akal budinya itu, maka ia membalas hormat sambil berlutut juga. la pun berkata "Ngo tee, oh akhirnya kau pulang juga !"
"Ya, Toako," menyahut adik seperguruannya yang nomor lima itu.
Coei San lantas menuturkan hal ikhwalnya semenjak perpisahan mereka.
Boh Seng Kok yang tidak sabaran, menyelak: "Ngoko, ketiga piauwsoe itu sangat kurang ajar, mereka tetap menuduh kaulah yang membinasakan seantero keluarga Liong boen Piauw kiok di Lim an, kenapa kau berlaku demikian sabar dan tidak hendak pergi menghajar adat kepada mereka ?"
Mendengar itu, Coei San menghela napas, romannyn sangat berduka.
"Tentang soal, itu berliku-liku duduknya, tidak dapat dituturkan dengan sepatah dua patah kata," katanya. "Tunggu saja sampai Sha-ko sudah mendusin, nanti aku menjelaskan semua. Bahkan aku masih hendak memohon saudara-saudara membantu memikirkan suatu daya yang sempurna."
"Jangan kuatir, Ngoko," berkata In Lie Hang. "Tidak layak perbuatannya Liong boen Piauw kiok yang mengantarkan Sha-ko pulang dalam keadaan bercacad seumur hidupnya! Andai kata benar Ngoko telah membinasakan seluruh keluarga nya, itulah disebabkan kecintaan terhadap saudara sendiri. karena kemurkaanmu pada satu saat...."
"Liok tee, kau ngaco !" bentak Lian Cioe. "kalau Soehoe mendengar kata-katamu ini, pastilah kau bakal dikurung selama tiga bulan! Membinasakan seantero keluarga, tua dan muda, itu artinya memusnahkan satu rumah tangga, perbuatan demikian itu mana dapat kita lakukan ?"
Kelima orang itu lantas mengawasi Thio Coei San, roman siapa tampak sangat berduka.
"Keluarga Liong boen Piauw kiok itu, seorang pun tidak ada yang kubunuh," berkata Coei Sani selang sesaat. "Aku tidak berani melupakan ajaran Soehoe dan tidak berani juga menyeret-nyeret semua saudara."
Mendengar ini lega hati mereka. Tadinya mereka menyangsikan saudara seperguruan ini. Mereka tidak percaya saudara mereka melakukan perbuatan sangat terlengas itu. Tetapi pihak Siauw lim menuduh pasti pembunuhan itu dilakukan Coei San dan mereka itu mengatakan melihatnya dengan mata kepala sendiri, sedang ketika piauwsoe tadi datang, Coei San tidak mangajukan dirinya untuk menyangkal atau menegur mereka toh bercuriga.
Tapi sekarang, sesudah mendengar pernyataan Coei San, hati mereka lega. Mereka lantas berpikir. "Didalam urusan ini tentu ada kesulitannya, akan tetapi tidak apalah asal jangan dia yang melakukan pembunuhan. Biar bagian apapun jua, akhirnya pasti soal itu akan dapat dibikin terang dan didamaikan."
Kemudian Boh Seng Kok menanyakan tentang ketiga piauwsoe itu.
"Diantara mereka bertiga, in Ho yang omongnya kasar adalah yang perlakuannya paling baik," kata Siong Kee, "diwilayah Shoa say dan Siam say, dia sangat tersohor, Diam-diam dia telah berserikat dengan orang-orang gagah dikedua propinsi itu, dengan tujuan untuk merobohkan kerajaan Goan."
"Itulah bagus!" berseru Song Wan Kiauw berlima.
"Tidak disangka dia sedemikian bersemangat," kata Boh Seng Kok dengan rasa kagum, "dia harus dihormati dan dipuji Sieko, kau jangan bicara terus dulu, kau tunggu sampai aku sudah kembali." Setelah berkata begitu, ia pergi keluar sambil berlari lari.
Thio Siong Kee benar-benar berhenti menutur, sebaliknya ia menanyakan Coei San tentang pulau Peng hwee to.
Coei San lantas bercerita tentang si kera putih yang cerdik luar biasa, sehingga keempat saudaranya menjadi heran dan kagum.
"Sebenarnya kami berniat membawa pulang kera itu," kata Coei San pula. "Sesudah berlayar berapa hari, ia agaknya tidak biasa dengan hawa udara yang hangat, mendadak dia menerjun ke air, dan berenang kearah utara, mungkin dia niat pulang kepulau Peng hwee to."
"Sayang, sayang," kata In Lie Heng.
"Kera sedemikian kecil, tetapi begitu kuat, itulah hebat," kata Wan Kiauw.
"Mungkin kera itu bukan bangsa kera asli," Coei San mengutarakan dugaannya, "Mungkin dia berjenis tersendiri disebabkan terlahirnya di pulau yang hawa udaranya sangat luar biasa. "
Wan Kiauw mengangguk. "Mungkin," katanya. "Ditanah pegunungan dan rimba-rimba kitapun terdapat binatang binatang yang istimewa."
Selagi mereka bicara, Boh Seng Kok kembali dengan berlari-lari. "Aku telah menyusul In Piauw soe untuk menghaturkan maaf dan aku telah memujinya sebagai seorang laki-laki sejati!" katanya.
Senang saudara-saudaranya mendengar keterangan itu. Mereka memang telah menduga kemana perginya saudara itu barusan. Sebagai seorang jujur, Boh Seng Kok tak menghiraukan perjalanan maafnya itu, sebab kalau tidak, ia bakal tidak dapat tidur tenang.
"Cit tee," kata In Lie Hang, "penuturan Sieko ditunda sebab musti menantikan kau, tetapi ceritanya Ngoko tentang si kera cerdik lebih menarik hati Iagi."
"Oh, begitu?" Seng Kok berjingkrak.
Siong Kee menyelak "Rencananya In Ho itu sudah diatur rapi..."
"Sieko maaf," Seng Kok memotong, "tunggu sebentar!...."
"Dasar Cit tee!" Coei San tertawa yang terpaksa mengulangi ceritanya tentang si kera putih.
"Benar benar aneh, benar-benar aneh!" seru Seng Kok. "Nah, Sieko giliranmu!"
Siong Kee bersenyum, ia berkata: "Rencana In Ho itu sudah rapi, dia tinggal menanti harinya untuk bergerak ditiga tempat ialah Thay goan, Thay tong dan Hoen yang. Siapa tahu, diantara kawan serikat mereka, ada seorang pengkhianatnya. Tiga hari sebelum bergerak, dia telah pergi membuka rahasia kepada pihak Mongolia sambil menyerahkan juga daftar nama-nama rancana gerakan In Ho itu."
"Ah, itulah hebat!" seru Seng Kok.
"Tapi disana telah terjadi sesuatu yang kebetulan." kata Siong Kee tertawa. "Ketika itu aku berada di Thay goan, maksudku mencari Tiekoan Thay goan untuk mengajar adat kepada nya. Pada tengah malam itu, aku mendapatkan si Tiekoan asyik berbicara dengan si pengkhianat, merundingkan cara untuk membeber rahasia itu kepada kaizar serta daya untuk mengirim tentara guna menyapu bersih kawanan pencinta negara itu. Tanpa ayal lagi, aku melompat masuk dari jendela. Aku bunuh Tiekoan dan si pengkhianat, kemudian aku merampas daftar nama-nama rencana kerja itu yang terus dibawa pulang olehku ke Selatan. Di pihak In Ho, orang bingung dan berkuatir sekali karena lenyapnya daftar dan rencana mereka. Mereka mengerti, bahwa selain kuatir mereka akan gagal, juga mereka serta keluarga mereka terancam bahaya kemusnahan. Mereka lantas bekerja mengirim orang untuk memberi kisikan, agar keluarga mereka pada pergi mengumpatkan diri. Celakanya, tindakan inipun mendapat halangan, yaitu pintu kota telah ditutup dan pesuruh-pesuruh ini tidak dapat keluar dari kota."
"Besoknya pagi kekuatiran mereka ditambah dengan tersiarnya berita pembunuhan atas diri Tie koan, pembunuhan mana sangat menggemparkan, sebab pembesar negeri mengambil tindakan menutup pintu kota sambil berbareng melakukan penggledahan luas untuk mencari dan membekuk si pembunuh gelap. In Ho semua bagaikan rombongan semut di atas kwali panas. Mereka terutama berkuatir akan keselamatan semua kawan mereka dikedua propinsi. Untuk beberapa hari mereka hidup seperti tersiksa. Selama itu tidak terjadi sesuatu dan sipembunuh Tiekoanpun tidak kedapatan. Akhirnya, urusan menjadi reda. Ketika mereka mengetahui bahwa sipangkhianatpun terbunuh didalam kantor Tiakoan, mereka menduga ada pertolongan tersembunyi untuk pihak mereka. Mereka tidak tahu siapa penolong itu. Merekapun sama sekali tidak menduga aku"
"Jadi yang tadi kau serahkan pada In Ho itu ialah daftar nama-nama dan rencananya itu?"
"Benar." jawabnya.
"Bagaimana dengan Kiong Kioe Kee ?" Lie Heng tanya pula. "Bagaimana Sie ko membahtu dia ?"
"Kioo Kee cukup-tinggi ilmu silatnya, hanya dalam hal sifat, ia tidak dapat disamakan dengan In Ho," menyahuti Siong Kee, "Pada enam tahun dulu ia mengantar piauw ke propinsi Inlam. Setibanya di Koen beng is diminta bantuannya membawa barang barang permata untuk Pakkhia, harganya semua enampuluh laksa tail. Ia mesti membawanya secara diam-diam. Tiba di propinsi Kang say, is mendapat susah, ialah ditepi telaga Po yang ouw, ia dicegat dan dikepung oleh tiga anggauta Poyang Soa gie, empat orang gagah dari Po yang ouw, dan piauwnya dirampas. Meskipun dia menjual harta bendanya semua, tidak nanti Kioe Kee dapat mengganti kerugian. Inipun mengenai nama baik dari Yan in Piauw kiok yang sangat kesohor untuk wilayah utara. Karena kejadian itu, pasti perusahaan Piauw kioknya bakal roboh. Selagi berada dirumah penginapan, saking putus asa, ia nekad hendak menghabiskan jiwanya sendiri. Po yang Soe gie bukan orang Rimba Hijau, mengapa mereka merampas piauw itu? Ini pun ada sebabnya. Saudara meraka yang tertua lagi mendapat susah, saudara itu dikurung dalam penjara di kota Lam Ciang, setiap waktu bisa menjalankan hukumannya, hukuman mati. Dua kali Soe gie coba menolong. Mereka membongkar penjara, dua kalinya gagal. Akhirnya mereka terpaksa mencari uang, untuk menyogok pembesar-pembesar di Lam ciang itu, cukup asal hukuman kakak mereka diperenteng. Aku mendapat tahu perkara mereka itu, aku tahu juga bahwa Po yang Soe gie orang baik-baik. Aku lantas bekerja uptuk menolong kakak mereka, supaya piauwnya Kioe Kee dikembalikan kepada piauwsoe itu. Wajah Kioe Kee memuakkan dan cara bicaranya juga tidak menyenangkan, tetapi ia belum pernah melakukan sesuatu kejahatan dan iapun tidak pernah mengganggu rakyat, maka aku pikir, ada baiknya juga aku menolong jiwanya. Hanya dalam menolong dia, aku meminta Po yang Soe gie jangan menyebut nyebut namaku. Piauw itu dipulangkan, melainkan bungkusan sulamannya yang aku tahan. Dan barusan aku memberikan pulang bungkusan itu, maka kau tentulah telah mengerti sendiri." i
Lian Cioe mengangguk angguk.
"Bagus perbuatanmu itu, Sie tee." ia memuji. "Kiang Kioe Kee itu dapat dimaklumkan dan Po yang Soe gie juga tak ada celaannya."
"Eh, Sieko," tanya Seng Kok. "Barang apa itu yang kau serahkan pada Kie Thian Pioe?"
"itulah sembilan biji Toan hoen Gouwkong piauw," jawabnya.
Jawaban ini membuat lima saudara itu terperanjat. Untuk dunia Kang ouw, piauw itu ialah semacam senjata rahasia yang kesohor sekali. Itulah senjata yang membikin naik namanya Gouw It Beng dari Liang Cioe.
"Mengena piauw itu, aku bertindak dengan terlalu berbesar hati," Siong Kee mengakui. "Kalau sekarang aku mengingatnya, aku merasa bersyukur sekali bahwa aku telah lolos dari marabahaya. Ketika itu Kie Thian Poe mengantar piauw lewat dikota Tong kwan, diluar tahunya ia berbuat keliru terhadap satu muridnya Gouw It Beng. Dalam pertempuran, Thian Pioe merobohkan dan melukakan parah murid orang itu. Setelah kejadian, baru Thian Pioe menginsyafi bahwa ia telah menerbitkan onar. Maka lekas-lekas ia menyelesaikan tugas nya sebab ia ingin segera pulang ke Kim leng guna mengumpul kawan yang bersedia menghadapi It Beng itu. Ia baru sampai di Lok yang, ketika di sana ia dicandak It Beng. Maka tarjadilah janji ,akan bertarung besoknya di luar pintu barat kota Lok yang "
"Gouw It Beng lihay, tak ada disebawahan kita, bagaimana Kie Thian Pioe dapat menandingi dia ?" tanya In Lie Heng.
"Memang. Thian Pioe sendiri merasa bahwa ia tidak unggulan melawan musuhnya, maka itu ia minta bantuannya persaudaraan Kiauw dikota Lok yang itu," Siong Kee menerangkan. "Atas permintaan itu, pihak parsaudaraan Kiauw menjawab: Kau bukan tahu sendiri, Kie Toako, kami bukan lawan Gouw It Beng. Bukankan kau hanya menghendaki kami membantu memberikan suara saja? Baiklah, besok pagi kami pasti datang diluar kota barat itu !"
"Persaudaraan Kiauw pandai menggunakan senjata rahasia, dengan Thian Pioe dibantu meteka, artinya tiga lawan satu, mungkin It Beng dapat dilawan bingga berimbang kekuatannya," berkata Seng Kok. "Bagaimana dengan Gouw It Beng, apakan ia mempunyai kawan atau tidak ?"
"It Beng tidak punya kawan," kata Siong Kee. "Yang aneh yalah dua saudara Kiauw itu. Pagi pagi sekali besoknya Thian Pioe telah pergi kerumah mereka, terutama untuk memastikan cara menghaadapi It Beng Ketika tiba, ia bertemu dengan penjaga pintu yang berkata: Toaya dan Jieya mempuayai urusan yang penting yang mendadak, mereka telah pergi ke Tongcioe. Aku dipesan untuk memberitahukan Kie Looya agar Looya tidak usah menantikannya. Mendengar itu, Thian Pioe kaget dan mendongkol bukan main. Beberapa tahun yang lalu, tempo dua saudara Kiauw itu nampak kesukaran di Kanglam, Thian Pioe telah membantunya, tetapi sekarang, mulut mereka manis, kaki mereka ngacir. Thian Pioe menginsyafi bahaya, tetapi ia tidak mau salah janji, dari itu ia kembali kehotelnya untuk menulis pesan terakhirnya. Sesudah memesan seperlunya kepada sekalian pembantunya, seorang diri ia pergi keluar pintu kota barat."
"Semua kejadian itu tidak lolos dari mataku," Siong Kee melanjutkan setelah berhenti sejenak. "Aku sudah lantas pergi keluar pintu kota itu, Disana aku bercokol dibawah sebuah pohon. Sengaja aku menyamar sebagai seorang pengemis. Aku melihat It Beng dan Thian Pioe datang saling susul, terus mereka bertempur. Baru beberapa jurus. It Beng telah habis sabar, ia lantas menyerang dengan sebatang piauwnya yang liehay. Thian Pioe putus asa, ia meraimkan matanya menanti kebinasaan. Disaat itu aku melompat maju. Aku menanggapi piauw maut itu. It Brng kaget, heran dan gusar. Ia lantas saja menegur aku dan menanya aku orang dari partay Pengemis atau bukan. Aku tertawa saja, tidak menjawab: Dalam gusar dan penasarannya, delapan kali beruntun ia menyerang aku dengaa sepasang senjata rahasia nya itu, yang semua aku tanggapi dengan berhasil. Dia benar-henar lihay. Sedang aku, aku tidak berani menanggapi dengan menggunakan ilmu silat kita. Aku takut ia mengenali aku. Begitulah aku berpura pura pincang sebelah kakiku dan mati tanganku yang kanan, aku menggunakan saja tangan kiri, dan ilmu yang digunakan olehku ialah ilmu silat Siauw lim pay. Semua senjata itu aku bekap, hampir telapakan tanganku terluka piauw yang ke tujuh. Dia lantas membentak, menanyakan aku muridnya Siauw lim sie yang mana. Aku tetap membungkam dan berlagak tuli. Aku bicara ah an uh uh saja. It Beng mengerti bahwa ia tidak akan sanggup melawan aku, ia lantas ngeloyor pergi dengan mendongkol. Setibanya di Liangcoe, di rumahnya, seterusnya ia menutup pintu, selama beberapa tahun ini ia tidak pernah muncul lagi dalam dunia Kang ouw."
Seng Kok jujur dan polos, ia tidak mengerti sikapnya kakak seperguruan itu yang menolong Kioe Kee dan menentang It Beng. Thio Coei San sebaliknya tahu, bahwa dengan itu Siong Kee hendak meredakan permusuhan yang disebabkan pembunuhan keluarga Liong boen Piauw kiok. Houw po Piauw kiok adalah piauwkiok paling ternama uptuk Kang Lam. Untuk wilayah Utara yalah Yan in Piauwkiok, dan di Barat daya yaitu Chin yang Piauw kiok. Dengan terjadinya pembunuhan pada keluarga Liong boen Piauwkiok itu, dua yang lainnya tentulah bakal turun tangan, maka Song Kee diam-diam menumpuk perbuatan baik atau budi, yang diaturnya sedemikian rupa hingga orang tidak akan menyangka bahwa itulah usaha berencana.
"Sieko," kata Coei San akhirnya sambil menangis sesenggukan, "kita berada diantara saudara sendiri, tidak usah aku menghaturkan terima kasih lagi padamu. Semua itu ialah sembrononya iparmu, yang bertindak menuruti hawa amarahnya hingga mendatangkan bahaya besar."
Sampai disitu, tanpa tedeng aling aling, Coei San menuturkan perbuatan isterinya, So So yang menyamar menjadi ia dan sudah menyatroni dan membunuh keluarga Liong boen Piauwkiok di waktu malam. Kemudian ia menambahkan: "Sieko, bagaimana urusan ini dapat diselesaikan di kemudian hari? Aku memohon pikiranmu."
Thio Siong Kee berdiam untuk berpikir. "Aku pikir dalam urusan ini perlu kita mengundang Soehoe turun gunung, supaya Soehoe yang
memberi petunjuk," katanya. "Perkara telah terjadi, orang yang sudah mati tidak dapat hidup kembali, sedang Tee hoe sudah menginsyafi kesalahan nya dan mengubahnya. Ia sekarang bukan lagi si wanita pembunuh yang telengas. Maka itu, perlu kita mengerti maksudnya pepatah kuno: tahu bersalah dan dapat mengubahnya, itulah paling baik. Kau lihat, Toako bukankah ini benar?"
Song Wan Kiauw, yang ditanya itu, berdiam saja. Soal itu menyangkut perkara jiwanya beberapa puluh orang. Itulah perkara sangat besar, ia
ragu-ragu
"Tidak salah." Jie Lian Cioe menalangi kakak seperguruannya. Ia mengangguk.
Ketika In Lie Heng mendengar suaranya kakak she Jie ini, bukan main luga hatinya. la memang paling jeri terhadap ini kakak seperguruan
yang nomor dua, yang saking jujurnya, membenci perbuatan jahat seperti dia membenci musuhnya yang dalam segala pertimbangan tidak mengenal urusan peribadi. Tadinya ia berkuatir untuk So So, isterinya Coei San itu, iparnya. Siapa nyana, demikian singkat dan bijaksana putusannya Jieko itu.
"Benar", ia lantas turut bicara. "Kalau nanti ada orang luar yang menanyakan, Ngoko, kau jawab saja bahwa bukan kau yang membunuh mereka itu. Kau bukan mendusta, sebab memang bukan kau yang membunuhnya,"
Song Wan Kiauw melotot terhadap adik seperguruan ini, katanya: "Dengan menyangkal begitu, mana hati Ngotee bisa tenang? Kita menamakan diri kita orang-orang gagah mulia. Apakah kita bisa merasakan tenteram ?"
"Habis bagaimana ?" tanya Lie Heng;
"Menurut pikiranku, kita harus berbuat begini", berkata sang Toako. "Paling dulu kita menanti sampai selesai perayaan ulang tahun Soehoe. Setelah itu kita pergi mencari anaknya Ngotee. Habis itu pada rapat besar di Hong ho lauw kita membereskan urusannya Kim mo Say ong Cia Soen. Lalu sesudah itu, kita berenam saudara dibantu oleh Ngo tee hoe, berangkat ke Kang lam. Didalam tempo tiga tahun, kita masing-masing harus melakukan perbuatan-perbuatan baik sebanyak sepuluh macam "
"Akur! Akur!" Thio Siong Kee berseru menepuk-nepuk tangan. "Liong boen Piauwkiok kematian tujuh puluh jiwa, kita bertujuh melakukan masing-masing sepuluh rupa kebaikan. Asal kita semua bisa menolong seratus sampai duaratus orang yang bersengsara atau terfitnah, maka dengan itu dapatlah kita menebus jiwanya tujuh puluh orang yang mati kecewa itu!"
"Pikiran Toako sangat sempurna," Jie Lian Cioe memuji. "Aku percaya soehoe pun akan menyetujuinya. Kalau tidak demikian, untuk tujuhpuluh jiwa itu, Teehoe mengganti dengan satu jiwanya. Apakah artinya penggantian satu jiwa itu ?"
Coei San girang berbareng terharu.
"Nanti aku bicara padanya!" katanya. Ia maksudkan isterinya. Lantas ia lari masuk kedalam untuk menuturkan semua itu kepada So So.
Mendengar keterangan suamiana, So So menjadi bersemangat. Ia percaya lihaynya enam jago Boe tong pay itu, maka ia percaya juga yang Boe kie, anaknya, bakal dapat dicari. Ia memangnya bukan sakit berat, ia hanya bersusah hati. Sekarang ia terbuka hatinya, dan sakitnya lalu berkurang setiap hari.
===========================
Lewat beberapa hari maka tibalah Sie gwee Cap pee, tanggal delapan bulan keempat. Tanpa, bersangsi lagi, Thio Sam Hong membuka pintu kuilnya. Besok adalah hari ulang tahunnya yang ke seratus, murid-muridnya pasti bakal datang untuk merayakannya. Sebenarnya, sesudah Jie Thay Giam terluka bercacad dan Thio Coei San lenyap, ia sangat berduka. Tetapi, bahwa ia telah bisa memasuki usia seratus tahun, adalah hal yang tak dapat dilewatkan dengan begitu saja.
Selain itu, ia juga yakin, bahwa lima silatr Thay kek Sin kang sudah mencapai kesempurnaannya, itu artinya, di dalam ilmu silat, ia telah membuat suatu jasa yang tak kurang daripada jasanya Tatmo Couwsoe dari Siauw-lim-sie.
Pagi pagi Thio Sam Hong membuka kedua daun pintu kamarnya. Untuk herannya, orang yang pertama ia lihat bukan lain daripada Thio Coei San, muridnya yang telah hilang sepuluh tahun. Ia mengucek matanya, kuatir nanti keliru melihat.
Coei San sendiri sudah lantas menuju untuk menubruk gurunya itu.
"Soehoe !" serunya sambil menangis sesenggukan. Saking terharunya, ia lupa berlutut untuk menjalankan kehormatan.
Song Wan Kiauw berlima lantas turut maju. "Selamat, Soehoe !" berseru mereka. "Saudara yang kelima sudah pulang!"
Thio Sam Hong sudah berumur seratus tahun, itu artinya ia telah belajar silat dan melatihnya selama delapan puluh tahun. Ppengalamannya luas dan hatinya sudah terbuka. Akan tetapi dengan ketujuh murid muridnya ini ia bergaul sangat erat, seperti ayah dan anaknya.Mmaka begitu melihat Coei San, tak tahan ia akan rasa terharunya. Ia pun memeluk erat erat dan air matanya mengucur turun.
Segera setelah itu, keenam murid itu melayani guru mereka menyisir rambut, mencuci muka dan mulut serta berdandan, kemudian mereka duduk memasang omong. Coei San tidak berani omong perihal segala apa yang dapat memusingkan kepala, maka ia menuturkan saja mengenai pulau Peng hwee to, tentang yang indah dan menarik hati, juga perihal ia sudah menikah.
Girang guru itu mengetahui muridnya sudah beristeri. "Mana isterimu itu?" katanya. "Lekas ajak ia menemui aku!"
Coei San lantas saja berlutut didepan gurunya.
"Soehoe, muridmu bernyali besar," katanya. "Untuk menikah, dia tidak memberitahukan terlebih dulu kepada Soehoe... "
Sang guru mengurut kumisnya dan tertawa.
"Kau berada dipulau Peng hwee to selama sepuluh tahun dan tidak dapat pulang, apakah kau mesti menanti sepuluh tahun dan sesudah memberitahukan aku baru kau menikah?" katanya. "Ngaco, ngaco! Lekas bangun, tidak usah kau memohon maaf. Mana Thio Sam Hong mempunyai murid yang tidak tahu aturan!"
Tetapi Coei San tetap berlutut.
"Tapi muridmu beristerikan orang yang asal usulnya sesat," katanya pula. "Dia ..... dialah gadisnya In Kauwcoe dari Peh bie kauw ....."
Kembali guru itu mengurut kumisnya.
"Apakah halangannya itu?" katanya sambil bersenyum. "Asal kelakuan isterimu tidak ada celaannya, sudah cukup! Atau umpama kata pribadinya tidak baik, setelah dia naik kegunung kita, apakah dia tidak dapat dididik untuk menjadi baik? Pula, apa artinya Peh bie kauw? Coei San, yang terutama untuk menjadi manusia ialah jangan cupat pandangan ! Jangan kita menganggap, sebab diri kita dari golongan sejati lantas kita memandang enteng kepada lain orang! Dua huruf sejati dan sesat itu, sulit untuk dibedakannya. Murid golongan sejati juga, kalau hatinya tidak lurus, ia menjadi sesat, dan murid pihak sesat, apabila hatinya benar, dia dapat menjadi seorang koencoe!"
Bukan main girangnya Coei San. la tidak menyangka ganjalan hatinya selama sepuluh tahun itu, yang sangat menguatirkannya sekarang buyar dalam sedetik dengan kata-kata bijaksana gurunya.
Maka ia lantas berbangkit dengan wajahnya riang gembira.
"Mertuamu itu. In Kouwcoe, adalah sahabatku," kata sang guru kemudian. "Aku mengagumi ilmu silatnya. Dialah seorang laki-laki yang luar biasa. Walaupun sifatnya agak sesat, dia bukan seorang buruk. Maka kami dapat menjadi sahabat satu dengan yang lain."
Kembali kata-kata ini melegakan hati Coei San. Wan Kiauw dan yang lainnyapun berpikir: "Sungguh Soehoe sangat mencintai muridnya yang ke lima ini hingga sekalipun mertuanya, siraja iblis, dia senang menjadikannya sahabatnya."
Selagi guru dan murid-muridnya itu berbicara, seorang kacung masuk untuk menyampaikan kabar. "In Kauwcu dari Peh bie kauw mengirim orang membawa hadiah untuk Ngo soesiok!"
"Mertuamu mengirim bingkisan!" berkata Thio Sam Hong sambil tertawa "Coei san, pergi kau sambut tamu!"
"Baik soehoe !" jawab murid itu.
"Nanti aku ikut bersama !" kata In Lie Heng.
Thio Siong Kee tertawa dan berkata: "Yang mengirim bingkisan bukannya Kim pian Kie Loo enghiong. Buat apa kau repot tidak keruan?"
Mukanya Lie Heng menjadi merah tetapi ia diam saja, terus ia mengikuti Coei San.
Di toa thia, ruang depan, terlibat dua orang yang usianya sudah lanjut. Mereka berdandan sebagai bujang tetapi pakaian mereka rapi. Begitu mereka melihat Coei San, mereka maju beberapa tindak untuk memberi hormat sambil berlutut seraya berkata: "Thio Kouwya baik ! Terimalah horrnat kami In Boe Hok dan In Boe Lok!"
Coei san membalas hormat kedua orang itu dengan mengangguk.
"Silahkan koankee bangun," katanya (Koankee itu kuasa rumah). Meski begitu, ia heran dan berkata didalam hatinya: "Nama mereka ini aneh. Orang biasa memakai nama Pang An dan lain-lain sebagainya untuk bujang. Kenapa mereka memakai nama Boe Hok dan Boe Lok yang berarti tidak punya rejeki dan tidak jaya?"
Ia memandang kedua pegawai mertuanya itu, dimana terlihat olehnya pada muka In Boe Hok ada tapak bacokan golok yang panjang, dari jidat kanan turun kebawah, mengenai hidung dan bibir kiri, sedang In Boe Lok bekas diserang cacar. Terang wajah mereka buruk sekali. Usia mereka masing-masing sudah lima puluh tahuh lebih.
"Apa kedua mertuaku baik ?" tanya Coei San. "Setelah ada ketikanya, bersama nonamu aku akan pergi menjenguknya. Tidak disangka, sekarang kedua orang tua itu telah mendahului mengirim bingkisan. Bagaimana aku dapat menerimanya? Kamu baru datang dari tempat yang jauh, silahkan duduk dan minum teh."
Boe Hok dan Boe Lok tidak berani duduk. Mereka hanya menyerahkan daftar barang- barang bawaannya itu. Sikapnya sangat menghormat. Kata mereka: "Looya dan Thay thay kami mengatakan agar ini sedikit barang sukalah kouwya menerimanya tanpa dibuat tertawaan."
Mereka itu menyebut kouwya, atau baba mantu.
"Terima kasih!" berkata Coei San yang lantas membeber daftar itu, melihat mana, ia terperanjat. Ia mendapatkan belasan helai daftar dengan huruf air emas yang menyebutkan nama namanya dua ratus rupa barang yang menjadi hadiah itu, umpamanya sepasang singa-singaan kemala, sepasang burung hong batu hijau, alat tulis dari bulu serigala serta bak dan bakhinya yang istimewa. Rupanya Peh bie Kauwcoe mengetahui mantunya mengerti ilmu sastra, maka ia mengirim perabot tulis yang berhanga mahal itu. Yang lainnya tarnyata rupa pakaian, kopia, rupa-rupa perhiasan dan lain lainnya, yang lengkap sekali.
Selama itu Boe Hok telah pergi keluar untuk kembali bersama sepuluh tukang pikul yang memikul barang-barang itu.
Coei San ragu-ragu.
"Aku biasa hidup melarat dan sederhana, untuk apa semua barang mewah ini?" pikirnya. "Tapi mertuaku mengirimnya dari tempat demikian jauh. Kalau aku menampik, aku jadi berlaku tidak hormat"
Maka terpaksa ia menerimanya. Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih.
"Nona kamu habis melakukan perjalanan jauh, kesehatannya sedikit tenganggu," katanya kepada kedua pesuruh itu. "Maka itu, koankee, lebih baik kamu berdiam dulu disini untuk beberapa hari, nanti baru kamu menemui nona kamu itu,"
"Looya dan Thay thay sangat kangen kepada Kouwnio. Mereka mengharuskan kami pulang hari ini juga untuk menyampaikan balasan kabar," kata Boe Hok. "Kalau Kouwnio kurang sehat, kami hanya memohon untuk bertemu saja sebentar guna menghaturkan hormat kami, habis ltu kami segera berangkat pulang."
"Kalau begitu, harap tunggu sebentar," berkata Coei San. Ia lantas masuk, untuk menemui isterinya, guna menyampaikan warta girang.
So So girang sekali lekas lekas ia menyisir rambutnya dan berdandan, lalu ia pergi keruang samping untuk menemui kedua pegawai ayahnya itu. Ia menanyakan kesehatan orang tua serta kakaknya, setelah mana, ia minta mereka dahar dan minum dulu.
Boe Hok dan Boe Lok lantas meminta diri untuk segera berangkat pulang.
Sesaat Coei San bersangsi ataukah kedua pesuruh itu harus diberi persen, tapi ia tak punya uang. Biarpun semua uang digunung itu dikumpulkan masih belum cukup untuk menhadiahkan mereka berdua. Dasar polos, sembari tertawa, ia berkata: "Nona kalian menikah dengan orang miskin yang tidak bisa memberi persen pada kalian, harap kalian maklum saja!"
Boe Hok dan Boe Lok merendahkan diri.
"Tidak apa," kata mereka. "Kamipun tidak berani menerima. Malah kami bersyukur selalu telah dapat melihat wajahnya Boe tong Ngohiap!"
"Mereka bicara rapi sekali, mereka tentu mengerti baik ilmu surat," pikir Coei San selagi ia mengantar orang sampai dipintu. "Cukup Kouw ya. Kami hanya mengharap Kouwya dan Kouwnio lekas datang menjenguk agar Looya dan Thaythay tidak terlalu lama mengharap harap. Semua anggauta kami juga mengharap sekali dapat melihat wajah Kouwya!"
Atas itu, Coei San melainkan bersenyum.
"Ah! hampir aku lupa!" kata In Boe Lok tiba-tiba. "Hal ini perlu disampaikan kepada Kouwya. Dalam perjalanan kemari, dirumah penginapan di Siangyang kami bertemu dengan tiga piauwsioe, sambil berbicara mereka itu menyebut nyebut nama Kouwnio...."
"Oh begitu!" Kata Coey San. "Apakah kata mereka?"
"Kata yang seorang," berkata Boe Lok "Meskipun Boe tong Cit hiap telah melepas budi besar terhadap kita, akan tetapi soal jiwanya tujuh puluh lebih orang-orang Liong boen Piauw kiok tidak dapat dibikin habis secara begini saja. Bicara lebih jauh mereka mengatakan, biarpun mereka tak dapat memperhatikan lagi urusan itu tetapi mereka hendak pergi pada Sin Chio Tin Pat hong Tam Loolonghiong di kota Kay hong untuk minta biarlah jago tua itu sendiri yang berurusan dengan Kouwya."
Mendengar itu, Coei San hanya mengangguk. Ia tidak mengatakan suatu apa.
In Boe Lok merogo sakunya, mengeluarkan tiga batang bendera kecil berbentuk segitiga. Sembari mengangsurkan itu kepada Coei San dengan kedua tangannya, ia berkata pula: "Oleh karena mendengar ketiga piauwsoe itu bernyali demikian besar, berani membentur kepalan batu, maka urusan ini kami telah mengalihkan kepada Peh bie kauw."
Coei San terkejut melihat ketiga bendera tiga itu. Yang pertama bersulamkan harimau galak, kepalanya dimiringkan, mulutnya dipentang lebar, dan tubuhnya lagi nongkrong. Itulah benderanya Houw po Piauwkiok. Bendera yang kedua bergambar sulaman seekor burung ho putih lagi terbang ditengah udara, itulah benderanya Chin Yang Piauwkiok, sebab burung itu diartikan in Ho, ketua piauwkiok itu. Bendera yang ketiga yang disulam juga, sulamannya merupakan sembiIan ekor burung walet (yan). Terang itulah bendera Yan In Piauwkiok, sebab disitu ada huruf yan itu, yang berarti "walet" sedang "sembilan" walet, bilangan "sembilan" (kioe) diambil dari namanya Kiong Kioe Kee.
"Kenapa kau mengambil bendera mereka itu?" ia tanya dengan heran.
"Kouwya toh baba mantunya Peh bie kauw!" menyahut In Boe Lok. "Dan Kie Thian Pioe dan Kiong Kioe Kee ketiga orang itu makhluk-makhluk macam apa? Mereka tahu bahwa mereka hutang budi kepada Boe tong Cit hiap, kenapa mereka masih mau pergi kepada Sin chio Tin pat hong, si tua bangka she Tam di Kay hong itu? Agar si tua bangka datang berurusan dengan Kouw ya? Bukankah itu terlalu tidak pantas? Sebenarnya Looya dan Thay thay hanya menugaskan kepada kami untuk mengantar hadiah kepada Kouwya, tetapi setelah dapat mendengar kata kata ketiga orang piauwsoe itu yang kurang ajar....."
"Sebenarnya mereka tidak kurang ajar..." kata Coei San.
"Benar, sebab Kouwya sangat bijaksana dan pemurah," kata Boe Hok, "Tetapi kami yang tidak dapat menahan sabar sudah lantas membereskan mereka semuanya dan mengambil sekalian bendera mereka ini....."
Thio Coei San terkejut. Ia tahu Kie Thian Pioe bertiga adalah Piauwsee piauwsoe kenamaan. Meskipun mereka itu bukan orang Rimba Persilatan nomor satu, mereka mempunyai masing masing kepandaian sendiri sendiri. Kenapa dua orang sebawahan In Thian Ceng ini memandang mereka enteng sekali?
Umpama In Noe Hok ngoceh saja, toh bendera ketiga piauwkiok itu telah berada ditangan mereka berdua. Bukankah jangan kata mengambilnya dengan berterang, dengan jalan mencuripun sukar? Maka itu, apa mungkin mereka merobohkan tiga Piauwsoe itu dengan obat atau hio pulas?
"Bagaimana caranya bendera ini diambil dari tangan mereka?" akhirnya ia tanya.
"Ketika itu Jie tee Boe Lok menantang mereka", Boe Hok memberikan keterangan. "Tempat yang dipilih yalah pintu luar kota selatan. Mereka bertiga, kamipun bertiga."
"Pertaruhan kita yalah jikalau mereka yang kalah, mereka mesti menyerahkan bendera mereka dengan mereka mesti mengutungkan sebelah tangan sendiri serta untuk selanjutnya tidak dapat mereka menaruh kaki, sekalipun satu tindak di wilayah propinsi Ouw pak."
Coei San jadi bertambah heran. Hebat pertaruhan itu. Ia jadi semakin tidak berani memandang enteng kepada kedua Koankee itu.
"Bagaimana kemudian jadinya?" ia tanya pula.
"Kemudian tidak ada apa apa yang aneh" kata Boe Hok. "Mereka itu menyerahkan bendera mereka serta masing-masing menabas kutung lengan mereka yang kanan seraya mengatakan untuk seumur hidupnya mereka tidak akan menginjak pula wilayah Ouw pak."
Diam-diam giris hatinya Coei San. Pikirnya: "Benar-benar telengas orang-orang Peh bie kauw itu..."
Boe Hok berkata pula: "Seandainya Kouwya menganggap turun tangan kami terlalu enteng, sekarang juga kami pergi menyusul mereka, untuk mengambil kepala mereka!"
"Bukannya enteng, bahkan berat!" berkata Coei San cepat-cepat.
"Kamipun berpikir," kata Boe Hok pula. "kami datang untuk mengantar hadiah kepada Kouwya. Itu artinya girang dibalik girang, maka jikalau kami mengambil jiwa orang, itulah berarti alamat tidak baik."
"Benar, kamu memikir sempurna sekali," Coei San memuji. "Barusan kamu menyebut kamu datang bertiga, mana dia satu lagi?"
"Dialah saudara kami, In Boe Sioe," menyahut Boe Hok.
"Sesudah mengusir ketiga piauwsoe itu, kami berdua lantas berangkat kemari menjeguk kouwya, sedang saudaraku itu terus berangkat ke Kayhong. Kami kuatir situa bangka she Tam nanti keburu mendapat kabar dan lantas datang untuk banyak rewel. Ya, Boe Sioe meminta kami mewakilkan menyampaikan hormatnya kepada Kouwya."
Habis berkata, koankee itu berlutut dan mengangguk untuk memberi hormat.
Coei San membalas dengan menjura. Ia merendah dan berkata bahwa tidak dapat ia menerima kehormatan itu.
Didalam hatinya, baba mantunya Peh bie Kauwcoe lantas memikirkan jago tua Tam Soei Lay, yang oleh dua saudara Boe ini menamakan "si tua bangka she Tam". Ia bergelar Sin Chio Tin Pat Hong, artinya ia jago ilmu silat yang menggetarkan delapan penjuru negara. Ia tahu orang itu telah menjagoi selama empatputuh tahun. Dengan perginya In Boe Sioe seorang diri, ia berkuatir. Siapapun yang akan terluka diantara mereka berdua, hatinya tidak senang.
"Sudah lama aku mendengar nama Tam Soei Lay," katanya. "Ia seorang Koencoe. Maka Jiewie tolong kamu lekas pergi menyusul ke Kayhong, untuk minta toako Boe Sioe... Bukan! Untuk berbicara dengan Soei Lay. Jikalau mereka berdua sama-sama besikap keras dan jadi bentrok, itulah tidak bagus."
"Jangan Kouwya merasa kuatir", berkata Boe Lok dengan tawar. "Tua bangka she Tam itu tidak nanti berani melawan Shatee Boe Sioe. Jikalau Shatee memberitahukan dia untuk jangan usilan, pasti dia akan mendengar kata."
"Begitu?" tanya Coei San bersangsi. Ia pikir mungkin Tam Soey Lay sendiri sudah tua dan dapat berlaku sabar, tetapi bagaimana dengan orang orang didalam rumahnya? Sedikitnya Soei Lay mempunyai duapuluh murid yang sudah lihay, mana mereka jeri terhadap Boe Sioe?
Boe Hok dapat melihat roman ragu ragu dari baba mantu majikannya. Ia berkata: "Pada duapuluh tahun yang lalu, tua bangka she Tam itu ialah pecundangnya Boe Sioe. Juga ada sesuatu yang penting yang berada ditangan kami. Maka Kouwya jangan kuatir. Harap Kouwya tetap baik!" tambahnya dan bersama saudaranya ia lantas memberi hormat untuk meminta diri dan berangkat pergi.
Coei San membiarkan mereka itu berlalu. Tangannya masih memegang ketiga helai bendera piauwkiok. Pikirannya bekerja. Tadinya ia memikir untuk minta dua orang itu pergi mendengar dengar halnya Boe Kie, anaknya, tetapi berat untuk ia mengatakannya. Ia kuatir merusak nama kakaknya yang nomor dua. Maka diakhirnya, dengan ayal-ayalan ia kembali kekamarnya.
In So So duduk menyender diatas pembaringan sambil memeriksa daftar barang-barang bingkisan ayah dan ibunya. Disamping itu, ia berduka dan berkuatir untuk Boe Kie yang dibawa lari musuh. Sekarang ini entah bagaimana nasib anak itu. Ketika ia melihat suaminya masuk, ia heran melihat roman suaminya itu tidak tenang.
"Kenapa eh ?" tanyanya.
"Sebenarnya Boe Hok, Boe Lok dan Boe Sioe itu orang macam apa?" sang suami balik menanya.
Sudah 10 tahun So So menikah dengan Coei San. Ia tahu suami itu tidak menyukai Peh bie kauw, kumpulan agama yang dipimpin ayahnya. Dari itu, mengenai agamanya itu serta rumah tangganya, tidak mau ia membicarakannya, sedang suaminyapun tidak pernah menanyakannya. Maka itu, heran juga ia mendengar pertanyaan suaminya ini. Tapi ia menjawab: "Mereka bertiga, pada duapuluh tahun yang sudah adalah penjahat-penjahat besar yang telah malang melintang diwilayah barat daya. Pada suatu hari mereka kena dikepung serombongan jago, sampai mereka tidak berdaya untuk melawan atau melolos kan diri. Kebetulan ayahku lewat di situ dan melihatnya. Senang ayah melihat keberanian mereka yang tidak sudi menyerah kalah. Maka ayah lantas mengulurkan tangan, menolong mereka. Lantaran itu, mereka jadi sangat bersyukur dan mereka bersumpah bahwa seumurnya mereka rela menjadi hamba-hamba ayah. Mereka membuang she dan nama mereka. Mereka memakai nama yang sekarang: In Boe Hok, Boe Lok dan Boe Sioe. Sejak kecil aku berlaku baik kepada mereka, tidak berani aku memandang rendah. Mereka tidak diperlakukan sebagai bujang-bujang biasa. Ibu pernah memberitahukan aku, mengenai kepandaian mereka. Walaupun ahli silat yang kenamaan belum tentu gampang-gampang dapat menandingi mereka"
"Begitu!" kata Coei San yang terus menuturkan cerita Boe Kok tentang bertempuran dengan ketiga piauwsoe itu, yang benderanya dirampas serta bagaimana ketiga piauwsoe itu mengutungi lengannya sendiri.
Mendengar itu, In So So mengerutkan alis.
"Dengan berbuat begitu, mereka sebenarnya bermaksud baik," kata si isteri. "Aku tidak menyangka bahwa kelakuan orang-orang yang menyebut diri dari kalangan sejati, mirip dengan orang kaum sesat. Ngoko, urusan ini dapat menambah kepusingan untukmu. Ah, aku tidak tahu bagaimana baiknya ini diatur....."
Ia berhenti sejenak, untuk kemudian menambahkan: "Biarlah nanti setelah Boe Kie dapat dicari, kita balik lagi ke Peng Hwee to ...."
Belum lagi Coei San menanggapi kata-kata isterinya itu, diluar terdengar suara berisik dari In Lie Heng yang berseru: "Ngoko, Mari lekas! Kau ambil pit besar. Lekas kau menulis lian dan lain lainnya!" Kata-katanya itu lantas disusul dengan: "Ngo so, jangan kau menyesalkan aku yang mengajak Ngo ko keluar! Siapa suruh dia dijuluki Ginkauw Tiat hoa?"
Maka keluarlah Coei San, untuk selanjutnya lohor itu bekerja berenam, mengepalai saudara-saudaranya menghias kuil mereka, terutama untuk memajang banyak lian pilihan Song Wan Kiauw yang ditulis oleh Coei San. (peep: lian = ???)
Besoknya pagi-pagi, Wan Kiauw semua berdandan rapi dengan pakaian baru mereka. Disaat mereka hendak memayang Jie Thay Giam, untuk diajak pergi keluar memberi selamat kepada guru mereka, tiba-tiba datang satu tootong, yaitu kacung imam, yang membawa sehelai karcis nama.
Song Wan Kiauw yang menyambuti, tetapi mata Thio Siong Kee yang liehay sudah lantas membaca tulisan diatasnya, bunyinya: "Ho Thay Ciong yang muda dari Koen loen san beserta sekalian muridnya memberi selamat kepada Thio Cinjin. Semoga panjang umur sebagai gunung Selatan!" Maka heranlah ia dan lantas ia berkata: "Ketua dari Koen loen pay datang sendiri memberi hormat kepada Soeho! Ia datang dari tempat jauh selaksa ialah suatu pemberian muka terang yang tak kecil!"
Wan Kiau pun berkata: "Tetamu kita ini bukan tetamu sembarangan, harus kita minta Soe hoe sendiri yang menyambutnya!" Maka ia lantas lari masuk guna memberitahukan gurunya.
"Ciangboenjin dari Koen loen pay Ini kabarnya belum pernah datang ke Tionggoan. Maka luar biasa yang ia mendapat tahu hari ulang tahunku," berkata sang guru, yang lantas memimpin keenam muridnya melakukan penyambutan.
Ho Thay Ciong mengenakan jubah kuning, romannya ramah dan agung, agaknya tepat ia menjadi ketua sebuah partai persilatan. Ia diiringi deIapan muridnya antaranya terdapat See hoa coe serta Wie Soe Nio.
Thio Sam Hong menyambut sambil menjura dan lantas menghaturkan terima kasihnya. Song Wan Kiauw berenam memberi hormat sambil berlutut.
Ho Thay Ciong membalas hormatnya tuan rumah, sedang hormatnya Wan Kiauw beramai di balas dengan setengah kehormatan. "Nama Boe tong Liok hiap tersohor sekali, maka itu hormatmu itu tidak dapat aku menerimanya," katanya.
Tetamu itu lalu diundang keruang tengah, dimana ia dipersilahkan duduk dan disuguhkan teh.
Belum lama, satu tootong datang pula dengan selembar karcis nama. Ketika Wan Kiauw menerimanya, ternyata itulah kartu nama dari rombongan Khong tong pay.
Didalam kalangan persilatan masa itu, Siauw lim pay yang namanya paling tersohor, Koen loen pay dan Go bie pay yang kedua, baru Khong Tong pay. Maka itu, kedudukannya orang Khong tong pay ini seimbang dengan Song Wan Kiauw. Akan tetapi Thio Sam Hong manis budi, ia berbangkit seraya berkata kepada tetamunya: "Ada tetamu dari Khong tong pay, hendak aku menyambutnya, dari itu minta sudilah Ho looyoe menanti sebentar."
Ho Thay Ciong mengangguk, akan tetapi di dalam hatinya ia berkata: "Yang datang hanya orang Khong tong pay, cukup kalau mereka disambut saja oleh seorang murid....."
Tidak lama muncullah Khong tong Ngo loo bersama muridnya. Ho Thay Ciong menemui mereka itu tanpa berbangkit, ia melainkan membungkuk sambil berduduk.
Tidak lama pula datanglah lain-lain tetamu, Seperti dari partai Sin koen boen, Hay see pay, Kie keng pang, Boe san pay dan lainnya. Maka repotlah Wan Kiauw dan saudara-saudaranya. Mereka ini bermaksud bersuka-ria bersama gurunya saja. Siapa tahu telah datang demikian banyak tetamu.
Thio Sam Hong juga tidak gemar ramai-ramai. Ketika ia berulangtahun usia tujuhpuluh, delapan puluh dan sembilan puluh, ia telah memesan murid muridnya untuk jangan memberitahukan itu pada banyak orang. Maka ia tidak menyangka kali ini ia kedatangan begitu banyak tetamu, sehingga tidaklah heran, kursipun sampai kekurangan hingga terpaksa Wan Kiauw beramai menggunakan batu-batu bundar sebagai gantinya.
Semua ketua partai dapat duduk dikursi, tetapi murid murid mereka terpaksa duduk dibatu bundar itu. Untuk minum teh juga, cawan kehabisan dan sebagai gantinya dipakai mangkok nasi.
Selagi Thio Siong Kee dan Thio Coei San beara dikamar sebelah timur, sang kakak menanya adik seperguruannya: "Ngo tee, apakah kau dapat melihat sesuatu?"
"Agaknya mereka telah berdamai Iebih dulu," berkata Coei San. "Lihatlah sikap mereka di waktu mereka baru bertemu satu pada yang lain. Beberapa orang tampaknya heran tetapi terang itulah berpura-pura belaka."
"Kau benar. Mereka ini bukannya bersungguh hati datang untuk memberi selamat kepada Soehoe," kata Siong Kee kemudian.
"Memberi selamat hanya alasan. Yang benar mereka datang untuk menegur!" Kata Coei San.
"Bukan, bukan menegur." kita Siong Kee. "Perkara jiwa keluarga Liong boen Piauw kiok tidak nanti dapat mengundang Ho Thay Ciong dari Koen loen pay."
"Habis apakah itu untuk urusannya Kim mo Say ong Cia Soen ?" tanya Coei San.
Siong Kee tertawa dingin.
"Hmm! Mereka memandang terlalu enteng pada Boe tong pay!" katanya. "Walauputn mereka mengandalkan jumlah yang banyak untuk memperoleh kemenangan, apakah mereka menyangka murid-murid Boe tong pay dapat menjual sahabatnya? Ngo tee, meski Cia Soen itu jahat tak berampun, tidak nanti saudaramu membuka mulut untuk memberitahukan hal dia."
"Sieko benar. Sekarang bagaimana kita harus bertindak ?"
Siong Kee berdiam untuk berpikir. "Sekarang ini kita berhati-hati saja," sahutnya. "Cukup asal kita bersatu padu, Boe tong Cit hiap sudah kenyang menghadapi badai dan gelombang dahsyat, dari itu mana kita jeri terhadap mereka ini?"
Siong Kee tetap menyebut Boe tong Cit hiap, tujuh jago dari Boe tong pay, walaupun Jie Thay Giam telah bercacad. Ia tidak ingin gurunya sampai turun tangan, terutama sebab guru itu lagi merayakan ulang tahunnya yang keseratus. la menghibur saudaranya itu meski ia merasa urusan sulit sekali.
Selanjutnya, Wan Kiauw bertiga Jie Lian Cioe dan In Lie Heng yang melayani tetamu-tetamu di toathia, ruang besar. Mereka merasa semakin pasti bahwa sikap sekalian tetamu itu luar biasa.
Selagi orang berbicara, kembali ada kacung yang masuk dengan wartanya: 'Murid kepala dari Go bie pay, Ceng hian Soe thay, datang bersama lima Soetee dan Soemaynya untuk memberi selamat kepada Soe couw !"
Mendengar warta itu, Wan Kiauw dan Lian Cioe bersenyum. Keduanya memandang Lie Heng. Justeru itu Boh Seng Kok pun tampak masuk bersama sembilan tetamunya yang baru tiba, sedang Thio Siong Kee dan Thio Coei San baru muncul dari dalam. Mereka ini juga mendengar warta itu, mereka turut memandang Lie Heng sambil bersenyum.
Saudara she In ini menjadi merah mukanya, likat sikapnya. Tapi tanpa memperhatikan itu, Coei-San menarik tangannya Soe tee itu, untuk diajak keluar sambil tertawa, ia kata: "Mari, mari... Mari kita menyambut tetamu!"
Diluar terlihat Ceng hian Soe Thay tengah menanti bersama lima adik seperguruannnya. Bhiksuni itu berusia empatpuluh lebih, tubuhnya tinggi dan besar, romannya gagah. Ia seorang wanita, tetapi tubuhnya lebih tinggi daripada kebanyakan pria. Dari lima saudara seperguruannya, satu adalah seorang pria kurus, usia tigapuluh tahun, dua yang wanita, satu antaranya yalah Ceng hie Soe thay, yang Coei San pernah ketemukan didalam perahu ditengah laut. Dua wanita lainnya, yang satu yalah nona umur kurang lebih duapuluh tahun, yang mulutnya senantiasa tersungging senyuman, dan yang lainnya berkulit halus, tubuhnya jangkung, romannya cantik. Dia ini, terus menunduk kan kepala dan tangannya selalu membuat main ujung bajunya. Sebab ialah Nona Kie yang menjadi tunangannya In Lie Heng.
Bersama Lie Heng, Coei San menyambut tetamu dari Go bie san yang mereka pimpin masuk ke dalam. Selama itu, Lie Heng tidak berani mengawasi Siauw Hoe, tunangannya. Hanya setibanya dipaseban, selagi yang lainnya sudah berada disebelah depan, baru ia berpaling, justeru si nona pun melirik kearahnya. Dengan begitu bentroklah sinar mata mereka.
Adik seperguruan Siauw Hoe melihat langak soe cienya ini, dia berdehem, sehingga kedua muda mudi itu menjadi kemalu-maluan, keduanya lantas berpaling kelain arah. Soemoay itu tertawa geli dan berkata: "Soecie, lihat, In Soeko lebih pemaluan dari padamu!"
Hati Siong Kee lega juga karena datangnya rombongan Go Bie pay. Ia percaya, kalau sampai terjadi sesuatu, Ceng hian Soe thay tentu bakal membantu pihaknya, mengingat Nona Kie tunangannya Lie Heng.
Sedang tetamu datang begitu banyak, pihak Giok hie koan tidak bersiap siaga. Mana bisa di adakan perjamuan besar? Maka juga pihak imam ini hanya bisa menyuguhkan masing-masing tetamu semangkok nasi putih campur sayur tauwhoe dan kwacay.
Wan Kiauw berulang ulang minta maaf karena dia tidak dapat menjamu semua tetamunya lebih dari pada itu. Sebaliknya kawanan tetamu itu sembari dahar mereka saban-saban memandang ke arah luar seperti juga mereka lagi menantikan orang.
Diam diam Song Wan Kiauw dan saudara saudaranya memperhatikan gerak gerik mereka. Semua ciang boen jin atau Pangcoe tidak ada yang membekal senjara, tetapi banyak murid mereka membawa senjata. Hanya murid-murid Go bie pay, Koen loan pay dan Khong tong pay yang bertangan kosong.
Boe tong pay belum lama didirikan, di kaki gunung belum dipasang "Kay Kiam Giam", yaitu batu tanda untuk meletakkan pedang. Dengan "pedang" diartikan pelbagai macam senjata tajam. Karena itu, meskipun ada yang membawa pedang naik kegunung dan termasuk perbuatan kurang pantas, sekalian tetamu itu tidak dapat dilarang kedatangannya. Tuan rumah sendiripun tidak dapat menegur. Cuma di dalam hati merasa tidak puas. Kata Wan Kiauw didalam hatinya: "Kalian datang untuk memberi selamat pada guruku, mengapa kalian diam-diam membekal senjata?"
Ada lagi yang tidak memuaskan pihak Boe tong pay, yang membikin terlebih nyata bahwa tetamu-tetamu itu mengandung sesuatu maksud. Pelbagai bingkisan yang dibawa oleh mereka, mieshoa dan lainnya, semua barang pembelian sambil lalu disusun di kaki gunung Boe tong san, semua dibeli secara kesusu. Bingkisan semacam itu tidak saja tidak tepat untuk Thio Sam Hong, juga tidak sesuai dengan derajatnya pelbagai tetamu golongan ketua itu. Melainkan bingkisan Go bie pay yang tepat, ialah enam belas perabot kumala berikut sepotong jubah warna merah yang sekalian disulamkan seratus huruf "Sioe" (umur) pelbagai model.
Thio Sam Hong girang sekali. Ia mengucapkan terima kasih. Ia memuji kepandaian menyulam itu. Murid murid Go bie pay bukan hanya pandai silat, katanya.
Selagi gurunya itu berkata kata, Siong Kee terus berpikir: "Entah semua orang ini masih menantikan siapa lagi.... Soehoe tidak gemar akan keramaian. Maka juga sahabat-sahabat Boe tong pay tidak ada yang diundang. Kalau tidak, tidaklah kita menjadi mencil semacam ini hingga kita tidak mempunyai bala bantuan....."
Thio Sam Hong biasa merantau. Tujuh murid nya juga banyak perbuatan baiknya. Jikalau melepas undangan mendatanglah banyak sahabat yang liehay.
Jie Lian Cioe, yang berpikir seperti Siong Kee, berbisik pada adik seperguruannya itu: "Kita sudah pikir sehabis ulang tahun Soehoe, akan melepas undangan guna rapat orang gagah di Lauw teng Hong ho lauw, siapa tahu karena kita berayal, sekarang kita mengalami kegagalan ini."
Ia bermaksud didalam rapat itu memberi ketika kepada Thio Coei San untuk menjelaskan, bahwa Coei San tidak menjual sahabat agar dia bebas, atau kalau ada yang mendesaknya, pihaknya mungkin memperoleh simpati dan bantuan dari banyak hadirin lainnya. Diluar dugaan, pihak "musuh" telah mendahului, sekarang mereka meluruk datang.
"Sekarang kita cuma dapat berkelahi mati-matian," berbisik Siong Kee kemudian.
Diantara Boe tong Cit hiap, Siong Kee yang paling pandai berpikir. Setiap ada kesulitan, saban-saban ialah yang memperoleh pikiran baik. Maka itu, mendengar suaranya Soetee ini, Jie Lian Cioe kata didalam hatinya: "Sampaipun Soetee tidak berdaya, rupanya enam murid Boe tong pay harus mengucurkan darahnya diatas gunungnya ini."
Coba orang berkelahi satu demi satu, hanya Thie khiem Siang seng Ho Thay Ciong yang dapat menandingi Boe tong Liok hiap. Tetapi orang pasti akan mengepung, itu artinya bukan satu lawan duapuluh tetapi satu lawan empatpuluh.
Siong Kee menarik ujung baju Lian Cioe untuk diajak kebelakang ruang. Ia kata pada kakaknya yang nomor dua itu: "Kalau sebentar pembicaraan memuncak kesuasana buruk, kita mesti menantang satu lawan satu. Syukur kalau siasat kita ini kesampaian. Kalau tidak, terang mereka bakal main keroyok ...." Lian Cioe mengangguk.
"Dalam kesulitan ini, paling perlu kita menolong Shatee," katanya. "Kita mesti jaga hingga ia tidak terjatuh kedalam tangan musuh, supaya ia tidak menderita pula, baik bathin maupun lahir. Tugas ini aku serahkan padamu. Ngo teehoe telah sembuh tetapi ia belum pulih benar kesehatannya, maka itu kau mintalah Ngotee yang melindunginya. Untuk menyambut, tugasnya terjatuh padaku dan Toako berempat."
Siong Kee mengangguk. "baik," katanya. Ia berdiam sejenak, lantas ia berkata pula: "Mungkin ada jalan untuk kita lolos dari bahaya..."
"Apakah itu, Soetee? Biar kita mesti menerjang bahaya dulu, tidak apa."
"Aku memikir untuk menggunakan siasat, ialah kita berenam masing-masing meyerbu satu lawan" Siang Kee mengutarakan pikirannya. "Didalam satu jurus, kita mesti berhasil membekuk musuh itu agar musuh lainnya menjadi jeri dan tidak berani mendesak kita..."
Lian Cioe ragu ragu: " Yang lainnya tetntulah bakalan mengepung kita. Juga umpamanya kita berhasil, masih ...."
"Dalam saat berbahaya begini, jangan pikir banyak banyak," kata Siong Kee. "Kita gunakan saja jurus cengkeraman naga Liong jiauw Ciat hoe cioe!"
"Hari ini hari ulang tahun Soehoe," kata Lian Cioe, "artinya hari ini hari baik. Apakah tidak terlalu telengas untuk menggunakan jurus itu?"
Jago Boe tong yang nomor dua itu bersangsi oleh kerena ia mengenal baik jurusnya itu, semacam jurus Kim na Coei hoat atau menangkap tangan sedang Liong jiauw Ciat hoat cioe itu berarti "kuku naga memutuskan." Itulah jurus paling lihay dalam Boe tong pay. Ketika Lian Cioe berhasil dengan jurus itu, ia masih kurang puas. Sebahnya ialah kalau musuh lihay, masih dapat meloloskan tangannya dari tangkapan, maka dengan kecerdikannya, ia mengolahnya. Dan ia berhasil menambah itu, menciptakan duabelas jurus hubungannya.
Dalam memilih murid, Thio Sam Hong memperhatikan juga kecerdasan setiap murid. Maka itu murid-muridnya dapat menggunakan otak mereka, dimana perlu mereka bisa mengubah ilmu silat yang diajarkan gurunya untuk disempurnakan. Ketika Lian Cioe berhasil dengan ciptaannya, ia menjalankan itu didepan gurunya. Sang guru cuma mengangguk, tidak mengiakan juga tidak menolak. Melihat sikap guru itu Lima Cioe tahu rupanya masih ada cacad dalam ciptaannya itu, ia lantas meyakinkan terus. Selang beberapa bulan, kembali ia mempertunjukkannya didepan gurunya. Kali ini Thio Sam Hong menghela napas dan berkata:"Lian Cioe, ciptaanmu ini jauh lebih lihay dari pada jurus yang aku ajarkan, hanya sambaranmu pata pinggang tidak peduli siapa yang menjadi korban, dia bakal terluka didalam hingga putus daya turunannya. Apakah kau menganggap ajaranku, yaitu ilmu silat sejati masih kurang, hingga kau menghendaki jurus yang membikin, hanya dengan satu serangan, lawan lantas tidak berkutik pula?"
Mendengar perunturan itu. Lian Coe mengeluaran keringat dingin, ia bergidik seorang diri.
Seberapa hari selewat itu, Thio Sam Hong mengumpulkan ketujuh muridnya dan bicara kepada mereka tentang ciptaan Lian Cioe itu, kemudian dia menambahkan: "Ciptaan Lian Cioe yang menjadi duabelas jurus berkat ketekunannya adalah suatu ilmu pukulan yang istimewa. Kalau ilmu itu dibuang karena kata-kataku satu orang, itulah sayang, maka itu kamu pergilah belajar pada Lian Cioe, untuk mempelajari itu, supaya masing-masing bisa menggunakannya. Aku melainkan hendak memesan, kecuali kalau bertemu saat mati hidup, janganlah itu sembarang dipakai. Sekarang di bawah nama Liong Jiauw itu, aku menambahkan dua huruf 'Ciat hoe', yang berarti 'menutup pintu'. Ingatlah kamu, akibatnya serangan pukulan ini dapat membuat musuh putus turunannya, jadi inilah jurus yang mematikan!"
Semua murid itu menerima baik pesanan guru mereka. Maka yang enam lantas belajar pada Lian Cioe. Mereka telah meyakinkan ilmu itu, tetapi mereka belum pernah menggunakannya, sebab mereka taat kepada pesan guru mereka. Adalah sekarang ini, karena keadaan sangat berbahaya, Siong Kee mengajukan pikirannya itu yang membuat si orang she Jie ragu-ragu.
"Memang dengan terkena serangan kita, lawan bakal putus turunannya," kata Siong Kee kemudian. "tetapi kita masih mempunyai jalan lain. Ialah kita mencari lawan dalam dirinya seorang pendeta imam, atau kalau tidak, kita hajar lawan-lawan yang usianya sudah tujuh atau delapanpuluh tahun.
Mendengar itu, Lian Cioe tertawa. "Sungguh cerdik kau, Soetee!" Ia memuji. "Memang pendeta atau imam tidak bakal mempunyai anak!"
Sampai disitu, mereka sudah mencapai persetujuan, maka keduanya lantas mencari empat saudara yang lainnya, untuk mengisik, supaya mereka masing-masing menghadapi satu lawan yang tangguh atau kenamaan. Tanda untuk turun tangan, ialah kalau Thio Siong Kee sudah berseru.
Jie Lian Cioe sendiri sudah lantas memilih bakal mangsanya yaitu anggauta paling tua dari Khong tong Ngo too, sedang Thio Coei San mengincar See hoa coe dari Koen loen pay.
Habis orang bersantap, semua mangkuk, sumpit dan cawan lantas dibenahkan. Setelah itu Thio Siong Kee, dengan suaranya yang terang dan lancar, lalu berpidato. Dia kata: '"Cianpwee serta para sahabat! Hari ini hari peringatan ulang tahun guru kami memasuki usia seratus tahun. Atas kunjungan Cianpwee dan sahabat sekalian, kami sangat bersyukur, hanya kami mohon dimaafkan untuk pelayanan yang tidak sempurna ini. Sebenarnya guru kami hendak mengundang para Cianpwee dan sahabat untuk pertemuan di Hong ho lauw, untuk minum bersama hingga puas, dari itu pelayanan bari ini biarlah diperbaiki kelak, dikemudian hari."
"Hari inipun saudara seperguruan kami, Thio Coei San, baru saja kembali dari perjalanan jauh yang memakan waktu sepuluh tahun. Dia belum sempat menuturkan kepada guru kami tentang parjalanan dan pengalamannya itu. Inilah di sebabkan pesta ulang tahun guru kami ini. Maka itu, kalau umpama dalam suasana begini kita berbicarakan tentang budi atau permusuhan kaum Rimba Persilatan, itulah tidak dapat, itulah juga alamat tidak bagus."
"Dengan begitu maksud para Cianpwee dan sahabat datang memberi selamat lantas dengan sendirinya berubah menjadi hal yang tidak-tidak. Maksud baik itu berubah menjadi masud buruk. Oleh karena itu, tuan-tuan, setelah tuan tuan datang ke Boe tong pai, mari aku yang rendah mengundang tuan-tuan melihat-lihat gunung ini bagian depan dan belakangnya."
Hebat siasatnya Siong Kee. Pertama-tama ia telah lantas menyumbat mulut orang. Dengan itu ia mau mengatakan, orang pastilah bermaksud bermusuh jika hendak membicarakan urusan Cia Soen dan Liong boen Piauw kiok. Sebab hari itu, hari pesta ulang tahun, adalah hari baik.
Sekalian tetamu itu mendaki gunung Boe tong san untuk bicara, untuk mendesak menanyakan dimana adanya Kim mo Say ong Cia Soen. Tapi nama Boe tong pay angker sekali. Tidak ada yang berani memulai. Siapa yang mengajukan diri, berarti dialah yang mengundang permusuhan. Sebaliknya, untuk segera menyerang sendiri juga tidak ada yang berani memulai. Itupun berarti, siapa maju paling dulu, ada harapan dialah yang celaka paling dulu juga. Maka itu tidak ada yang mau menjadi musuh Boe tong pay serta tidak sudi juga menjadi korban pertama. Mereka itu saling mengawasi satu pada yang lain.
Dengan sendirinya suasana menjadi tegang tidak keruan junterungannya.
Akibatnya See hoa coe dari Koen loen pay berbangkit untuk bicara. Ia bukannya menerima undangan Siong Kee, hanya berkata nyaring: "Thio Sie hiap, tidak usah kau mengatakan sesuatu yang artinya lain. Kita terang-terang tidak melakukan apa apa yang gelap. Kita mau bicara dengan mementang jendela lebar-lebar! Kali ini kami datang kemari dengan maksud, pertama tama yalah untuk memberi selamat kepada Thio Cinjin. Yang kedua yaitu guna mencari tahu tentang dimana beradanya Cia Soen sekarang ini."
Boh Seng Kok sudah lama sekali menahan hatinya. Mendengar perkataannya Sea hoa coe, ia tidak dapat pula menguasai dirinya.
"Bagus! Kiranya begitu!" katanya dengan tertawa dingin. "Tidak heran ! Tidak heran."
See hoa coe mendelik. "Apa yang tidak heran ?" tanyanya bengis.
Dengan nyaring Seng Kok berkata: "Tidak heran sebab mulanya aku menyangka tuan-tuan datang kemari untuk memberi selamat kepada guru. Tetapi ditubuh kamu masing-matsng disembunyikan senjata tajam. Mulanya aku heran sekali, di dalam hatiku aku bertanya tanya apakah tuan-tuan hendak menghadiahkan senjata tajam kepada guruku? Sekarang barulah terang duduknya hal! Kiranya bingkisan ini bingkisan macam begini!"
See hoa coe menjadi mendongkol sekali. Ia menepuk-nepuk tubuhnya, terus ia meloloskan jubahnya.
"Bok Cit hiap lihatlah biar terang!" ia berseru. "Kau masih muda sekall, jangan kau menyembur orang dengan darah! Lihatlah tubuhku ini! Siapakah yang menyembunyikan senjata tajam?"
"Bagus! Memang tidak ada!" berkata Seng Kok dengan tertawa. Dengan sebat, dengan jari tangannya ia sodok dua orang yang berada disamping, Ketika ia menarik, putuslah tali baju dua orang itu, karena mana dengan menerbitkan suara nyaring berisik jatuhlah dua batang golok pendek yang berkilauan. Mereka benar telah menyembunyikan senjata disebelah dalam bajunya itu.
Menyaksikan itu, banyak hadirin yang air mukanya menjadi berubah.
"Benar!" See hoa coe berseru. Sekarang ini ia tidak main pernik lagi. "Thio Ngo hiap jikalau kau tidak menunjukkan kami dimana adanya Cia Soen, maka entah kita bakal menggerakkan golok atau pedang!"
Thio Siong Kee tengah menantikan ketika untuk mengasi dengar seruan. Ia melihat ketikanya itu telah sampai. Hanya disaat itu hendak membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar suara pujian "Omie too hoed!" yang datangnya dari arah luar pintu. Suara itu tegas sekali dan halus nadanya masuk ketelinga orang. Suara itu datang dari tempat jauh akan tetapi seperti dari sampingnya setiap orang.
Thio Sam Hong yang semenjak tadi berdiam saja lantas berkata: "Kiranya Kong tie Siansoe dari Siauw Lim pay datang! Lekas sambut!"
Ketika itu dipintu luar lantas terdengar pula suara: "Hong thio Kong boen dari Siauw lim sie dengan mengajak soeteenya, Kong tie dan Kong seng serta murid muridnya memujikan agar Thio Cinjin panjang umur!"
Kong boen bersama Kong tie dan Kong-seng adalah tiga diantara pendeta-pendeta kenamaan dari Siauw lim-sie. Oleh karena saudara mereka yang tertua, Kong-Kian, telah berpulang ke Tanah Barat (meninggal) sekarang tinggal mereka saja. Karena kedatangan mereka yang tiba tiba itu batal lah Siong Kee berseru. Pula lantas ia mengerti, dengan datangnya ketiga pendeta Siauw lim-sie ini, gagallah rencananya untuk menyengap lawan.
Ho Thay Ciong dari Koen loen pay sudah lantas menyambut dengan berkata: "Sudah lama aku mendengar nama besar dari keempat pendeta berilmu dari Siauw lim-sie. Sekarang kita dapat bertemu di sini, aku merasa beruntung sekali. Dengan begini berarti juga tidaklah sia sia belaka kedatanganku kemari!"
Dari luar lantas terdengar satu suara dalam, suatu tanda bahwa yang mengeluarkannya yalah seorang yang usianya telah lanjut. Katanya: "Tuan tentunya Ho Sianseng yang menjadi Ciangboenjin dari Koen-loen-pay. Maka aku berbahagia sekali dengan pertemuan ini. Thio Cinjin, aku sipendeta tua telah datang terlambat untuk memberi selamat padamu, itulah perbuatan kurang hormat, maaf !"
Atas itu Thio Sam Hong berkata, dengan merendah: "Hari ini di Boe tong san telah berkumpul hanyak tetamu tetamu ku yang mulia. Aku girang sekali! Aku si imam hanya berhasil hidup sampai umur seratus tahun. Bagaimana aku berani membuat Soehoe yang agung datang kemari.... "
Sembari berkata begitu, ia mengajak murid muridnya pergi kepintu untuk menyambut tetamu tetamunya yang dipandang suci itu dan dihormati nya.
Kedatangan rombongan Siauw-lim pay ini luar biasa. Pihak mereka dengan pihak Boe tong-pay tuan rumah, bicara dari jarak yang jauh. Kedua pihak sudah menggunakan suara dari tenaga dalam. Mereka masih terpisah jauh tetapi mereka bagaikan lagi bicara berhadapan.
Ceng hian Soethay dari Go bie pay kalah mahir tenaga dalamnya. Dia tidak berani campur bicara. Yang lain-lain terlebih pula sampai hati mereka ciut dan malu sendirinya.
Ketika Thio Sam Hong dan murid-muridnya muncul diluar, rombongan Siauw-lim-pay, yang jalannya perlahan, baru sampai didepan pintu. Ketiga pendeta tua itu datang bersama sembilan murid mereka yang telah memasuki usia pertengahan.
Kong-boen Taysoe beralis putih yang panjang sampai turun kematanya, hingga dia mirip dengan Tiang-bie Loo-han, arhat yang alisnya panjang. Kong-seng bertubuh besar dan romannya gagah. Adalah Kong-tie yang beroman meringis dan mulutnya monyong kebawah. Melihat romannya Kong-tie ini, Siong Kee heran, hingga dia berpikir; "Aku dapat melihat wajah orang, siapa beroman seperti pendeta ini, kalau dia bukan umurnya pendek, pasti dia mati celaka, maka heran, kenapa dia dapat berumur panjang dan dihormati banyak orang? Mungkinkah ilmu khoamia dari aku masih sangat terbatas?"
Thio Sam Hong dan Kong-boen semua adalah guru-guru silat ternama dan asalnya satu golongan. Akan tetapi mereka belum pernah mengenal satu dengan lain. Didalam hal umur, Sam Hong lebih tua kira-kira tiga atau empat puluh tahun. Ia berasal dari Siauw lim sie, karena gurunya yalah Kak wan Taysoe. Ia berderajat atau bertingkat dua lipat lebih tinggi daripada Kong boen bertiga. Hanya ia tidak menjadi pendeta dan masuknya menjadi murid Siauw lim sie pun tanpa upacara resmi. Ia cuma murid perseorangan dari Kak wan. Karena ini, pertemuan dengan Kong boen bertiga dilakukan sebagai orang-orang dari sesama derajat dan tingkat. Karenanya, Wan Kiauw dan saudara saudaranya menjadi berada ditingkat sebelah
bawah tetamu-tetamu itu.
Setelah kedua pihak saling memberi hormat, Sam Hong mengundang sekalian tetamunya ke dalam dimana mereka itu bertenau dengan Ho Thay Ciong dan Ceng hian Soethay sekalian.
Kong boen halus gerak geriknya. Ia memberi hormat sekalipun terhadap anak-anak muda.
Habis minum teh, Kong boen berkata: "Thio Cinjin, menurut usia dan tingkat loolap adlah pihak yang lebih muda. Akan tetapi mengingat kedudukan Boe tong dan Siauw lim sederajat, dan loolap justeru menjadi Ciangboenjin dan Siauw lim pay, harap kau mengijinkan loolap bicara terus terang dan sukalah loolap diberi maaf."
Thio Sam Hong dapat menduga maksud orang. Karena ia memang jujur, ia lantas berkata "Sam wie yang suci, apakah kedatangan Sam wie ini untuk Thio Coei San, muridku yang nomor lima?"
" Benar", menjawab Kong boen. "Ada urusan yang hendak didamaikan dengan Thio Ngo hiap"
"Pertama yaitu halnya Thio Ngo hiap sudah membinasakan tujuh puluh dua jiwa keluanga Liong boen Piauwkiok serta enam jiwa murid Siauw lim sie. Bagaimana harus diputuskan mengenai tujuh puluh delapan jiwa itu? Yang kedua yaitu mengenai Soeheng kami, Kong kian Taysoe. Ialah seorang yang pemurah dan bijaksana, seumurnya belum pernah ia ribut dengan siapapun juga tetapi ia telah dicelakai Kim mo Say ong Cia Soen hingga ia mati secara sangat menyedihkan. Kami mendengar Thio Ngo-hiap mengetahui dimana beradanya Cia Soen itu, maka kami mohon sukalah Ngo hiap memberikan petunjuknya. Pasti kami dari Siauw lim sie akan mengingat budi itu."
Mendengar itu, Thio Coei San lantas berbangkit tanpa menanti gurunya bicara. Ia berkata tegas: "Kong-boen Taysoe, tujuh puluh delapan jiwa keluanga Liong boen Piauwkiok dan pendeta Siauw lim sie yang dimaksudkan itu bukannya dibunuh olehku. Seumur hidupku, Coei San telah menerima budi dan ajaran guruku yang berbudi luhur. Walau pun aku bodoh, tidak berani aku mendusta. Hanya halnya siapa siapa yang telah menyebabkan lenyapnya tujuh puluh delapan jiwa itu, dapat aku terangkan bahwa aku mengetahui orangnya. Cumalah tidak ingin aku memberitahukannya. Inilah jawabanku untuk urusan yang pertama itu. Mengenai urusan yang kedua, kematiannya Kong kian Taysoe, siapapun di kolong langit ini tidak ada yang tidak merasa berduka akan tetapi Cia Soen itu yalah sahabat dan saudara angkatku, maka hal dimana beradanya dia sekarang, meski aku ketahui, tak dapat aku menerangkan. Kita kaum Rimba Persilatan, kita paling mengutamakan kehormatan. Dari itu aku Thio Coei San, leherku boleh kutung dan darahku boleh muncrat, tetapi alamatnya kakat angkatku itu tidak bisa aku menerangkannya. Urusanku ini tidak ada sangkut pautnya dengan guruku yang berbudi luhur, juga tidak ada hubungannya sama sekalian saudaraku sepenguruan. Jadi semua itu aku yang bertanggung jawab sendiri. Terserah kepada Taysoe bila hendak membinasakan aku, silahkan turun tangan! Aku si orang she Thio, seumurku aku belum pernah aku melakukan sesuatu yang dapat membikin malu guruku, juga belum pernah aku lancang membunuh seorang baik-baik. Jikalau tuan-tuan hendak memaksa aku melakukan perbuatan tidak terhormat, bagianku yalah mati, lain tidak!"
Coei San bicara dengan bersemangat sekali hingga Kong boen memuji: "Omie toohoed!" dan berpikir: "Mendengar suaranya, ia tidak mendusta. Bagaimana sekarang"
Justeru ruang sunyi, dari luar jendela terdengar suara bocah memanggil. "Ayah!"
Coei Sin terkejut. Ia mengenali suara anaknya.
"Boe Kie, kau pulang!" serunya. Dan ia berlompat untuk lari keluar.
Dua orang masing-masing dari Boe san pay dan Sin koen boen yang berdiri dimuka pintu, menduga orang hendak melarikan diri. Sambil membentak "Kau hendak lari ke mana?" mereka mengulur tangannya, mencekuk.
Coei San keras memikirkan anaknya. Ia mementang kedua tangannya, maka dua perintang itu lantas terpental ke samping kiri dan kanan dan roboh tenguling. Ketika ia telah melompat keluar jendela, di situ ia tidak melihat suatu apa.
"Boe Kie!! Boe Kie!" ia terus memanggil berulang ulang kali.
Tidak ada penyahutan.
Dari dalam memburu belasan orang. Apabila mereka mendapatkan orang bukannya lari, merera berdiri diam mengawasi saja.
"Boe Kie ! Boe Kie !" Coei San memanggil manggil lagi.
Tetapi ia tidak memperoleh jawaban, sebaliknya, sejenak kemudian, disitu muncul In So So. Isteri itu baru sembuh dan berada diruangan dalam ketika ia mendengar suaminya memanggil manggil anak mereka.
"Boe Kie pulang?" tanya isteri ini kegirangan.
"Barusan aku seperti mendengar suaranya. Ketika aku memburu keluar, aku tidak melihatnya." sahut sang suami.
So So kecele.
"Mungkin disebabkan kau terlalu memikirannya, barusan kau salah mendengar." katanya perlahan,
Coei San berdiam, lalu ia menggelengkan kepana nya dengan keras.
"Terang aku mendengarnya," katanya. "Pergilah kau masuk!"
Coei San kuatir isterinya bertemu sama sekalian tetamu dan nanti ada ekornya. Seberlalunya isteri itu, ia kembali ke dalam, terus ia memberi hormat pada Koen boen seraya meminta maaf untuk kepergiannya barusan tanpa perkenan lagi.
"Siancay, siancay!" Kong tie memuji, "Thio Ngohiap demikian menyayang anak. Kau sampai seperti lupa ingatan. Maka itu. begitu banyak jiwa yang dicelakai Cia Soen, apakah mereka itu tidak mempunyai ayah atau ibu, isteri atau anak ?"
Pendeta itu bertubuh kecil dan kurus akan tetapi suaranya nyaring bagaikan genta, menderu ditelinga para hadirin. Coei San lagi kalut pikirannya, ia tidak memberikan penyahutannya.
Kong boen mengawasi kedua soeteenya, Kong tie dan Kong sang mengangguk. Maka ia lantas menghadapi tuan rumah dan berkata: "Thio Cinjin, bagaimana urusan ini hendak diputuskan, kami memohon petunjuk Cinjin saja."
"Muridku tidak mempunyai kepandaian apa-apa. Walaupun demikian tidaklah nanti dia berani memperdayai gurunya," berkata Sam Hong. "Maka itu, aku percaya tidak nanti dia berani mendustakan samwie. Seperti dia katakan, jiwanya orang-orang Liong boen Piauwkiok serta murid-muridmu itu bukanlah dia yang membunuhnya. Sedang tentang tempat kediamannya Cia Soen sudah terang dia tidak hendak memberitahukannya."
Kong tie tertawa dingin.
"Tetapi ada orang yang melihat dengan matanya sendiri Thio Ngo hiap membunuh murid murid kami itu!" katanya mengejek. "Mustahilah murid-murid Boe tong pay tidak dapat mendusta tetapi murid Siauw lim pay dapat."
Dia lantas mengibas dengan tangan kirinya dan dua pendeta usia pertengahan dibelakangnya lantas maju kedepan
Dibelakang dua pendeta ini mengintil seorang pendeta lain tetapi sebab ia bertubuh kecil dan kate tubuhnya itu teraling dan tidak segera terlihat. Tiga-tiga mereka picak mata kanannya. Mereka bukan lain daripada Goan sim, Goan im dan Goan hiap, ketiga pendeta Siauw lim pay yang ditepi telaga di Lim an telah terhajar jarum emasnya in So So.
Coei San telah melihat mereka itu dan mengenalinya. Ia menduga pasti mereka bakal dijadikan saksi untuk peristiwa ditepi telaga Seeouw itu. Sekarang dugaannya itu jitu. Ia tidak takut. Ialah bukan si pembunuh, si pembunuh adalah So So yang telah menjadi isterinya. Bagaimana ia bisa tidak melindungi isterinya itu? Hanya, bagaimana ia harus melindunginya ?
Diantara tiga pendeta itu yang bernama berhuruf 'Goan', Goan im yang tabiatnya paling keras. Sebenarnya menurut adatnya, begitu bertemu Coei San, ingin ia menerjang. Tetapi karena ada gurunya, ia menahan sewot. Sekarang setelah gurunya memanggil, ia lantas muncul untuk terus berkata: "Thio Coei San, ditepi telaga See ouw di Lim an, kau telah menerjang Hoei bong dengan jarummu. Jarum mana masuk dari mulut, mengambil jiwanya! Aku melihat itu dengan mataku sendiri! Apakah aku memfitaah kau? Dan mata kanan kamipun disarang jarum beracun itu. Apakah kau masih hendak menyangkal?"
Didalam keadaan seperti itu, Coei San mesti menyangkal terus. Ia kata: "Kami dari kaum Boe tong pay, benar kami mempelajari senjata rahasia dan jumlah macamnya bukan sedikit. Akan tetapi semua itu sebangsa piauw dan panah tangan! Kami bertujuh sudah lama sering merantau, cobalah tanya, apa pernah ada yang melihat kami menggunakan jarum, baik jarum emas maupun jarum perak? Maka tentang jarum beracun tak usah disebut-sebut lagi!"
Dunia Rimba Persilatan memang tahu golongan Boe tong pay golongan lurus, maka itu banyak yang tidak percaya bahwa Thio Coei San menggunai jarum jahat seperti itu. Tidak demikian dengan Goan im yang menjadi sangat gusar.
"Apakah kau tetap menyangkal"" dia membentak: "Bersama-sama soetee Goan giap aku melihat sendiri kau menyerang Hoei hong dengan jarum. Jikalau itu bukannya kau, habis siapakah?"
"Aku tahu siapa dia, tetapi aku tidak hendak memberitahukan kepada kamu!" menyahut Coei San. "Apakah kau kira murid-murid Boe tong pay dapat kau main paksa "
Coei San pandai bicara. Ia membuatnya darah Goan im meluap. Maka itu, adu mulut mereka berkesudahan dari unggul si pendeta jatuh dibawah angin.
"Goan im Soeheng," Thio Siong Kee turut bicara," tentang siapa sebenarnya yang membinasakan murid-murid Siauw lim itu, untuk sekarang ini sulit buat dibikin terang. Akan tetapi Soe heng kami, Jie Thay Giam, terang sudah telah dilakukan dengan Kim kong cie dari Siauw Lim pay! Maka itu kebetulan sekali kunjungan tuan tuan semua, sekarang aku mohon menanya, sebenarnya siapakah yang telah melukai Sam soe heng kami itu?"
"Itulah bukan aku," Goan sim menyangkal cepat.
"Aku juga tahu bukannya kau!" kata Siong Kee tertawa dingin. "Aku juga tidak percaya kau mampu meyakinkan ilmu itu!"
Ia berdiam sejenak, lalu melanjuti: "Jikalau Soeheng kami itu bertubuh sehat dan ia bertempur dengan orang partaimu yang kosen secara laki-laki, kalau ia sampai dilukakan dengan Kim kong cie, harus disesalkan saja kepandaiannya belum sempurna. Kalau pertempuran sampai terjadi orang terluka atau binasa apa mau dibilang lagi? Orang toh tidak biasanya membuat perjanjian sebelum pertandingan dimulai untuk mempertanggungkan keselamatan bulu atau rambutnya? "
" Akan tetapi Soeheng kami itu justeru lagi menderita sakit berat, tubuhnya tidak dapat digerakkan. Justeru begitu tuan pendeta itu sudah menggunakan pukulan Kim kong cie. Dia memaksa Soehengku menerangkan tentang golok mustika To liong to!"
Sampai disitu, dengan mengeraskan suaranya, Siong Kee menambahkan: "ilmu silat Siauw lim pay telah menjagoi dikolong langit ini, Siauw lim pay telah menjadi jago Rimba Persilatan. Dari itu apa perlunya dia menghendaki juga golok mustika itu? Di sebelah itu, golok tersebut pernah dilihat satu kali oleh Soehengku itu! Kenyataannya ia telah dipaksa, bukankah perbuatan itu terlalu kejam? Jie Thay Giam mempunyai juga sedikit nama dalam Kang Ouw. Ia biasa melakukan perbuatan perbuatan mulis. Dengan begitu ia jadinya pernah melakukan jasa jasa baik untuk kaum Rimba Persilatan. Tetapi sekarang ia dianiaya pihak Siauw lim pay hingga ia bercacad seumur hidupnya. Untuk sepuluh tahun ia rebah saja diatas pembaringan. Maka itu sekarang kami mau memohon pertimbangan dari tiga Taysoe yang mulia"
Urusan terlukanya Jie Thay Giam dan kebinasaan keluarga Liong boen Piauw kiok itu telah menjadi bahan perselisihan selama sepuluh tahun. Hanya karena lenyapnya Thio Coei San suami isteri perkara tinggal tengantung. Sekarang pihak Siauw lim pay menimbulkannya pula dan Thio Siong Kee menggunakan ketikanya akan turut menggugatnya.
"Tentang itu pernah loolap menyelidiki," berkata Kong boen. "Loolap telah memeriksa sekalian murid Siauw lim sie, tapi tidak ada satupun yang melakukan penganiayan itu."
Mendengar jawaban itu, Thio Siong Kee merogo sakunya. untuk mengeluarkan sepotong emas goan po. Pada uang itu ada tapak jari tangan. Sambil menunjuki itu, ia berkata dengan nyaring: "baiklah semua orang gagah dikolong langat ini mengetahui. Orang yang menyiksa Soeheng kami itu yatah pendeta Siauw lim pay yang tapak jati tangannya berada diatas uang goanpo ini ! Kecuali dengan Kim kong cie, ada partai mana lagi yang dapat membikin tanda diatas uang seperti ini?
Goan-im bertiga menuduh Thio Coei San hanya dengan kata-kata. Sekarang Siong Kee membalas dengan ada buktinya, inilah hebat.
"Siancay, siancay!" memuji Kong boen Taysoe: "Diantara orang partai kami yang meyakinkan Kim kong cie, kecuali kami bertiga cuma lima Tiang Loo dari Tat mo tong. Akan tetapi, kelima Tiang loo itu tidak pernah keluar dari kuil kami lamanya sudah tiga sampai empat puluh tahun. Maka dari itu cara bagaimana mereka dapat melukai Jie Sam Hiap?"
Mendengar itu, Boh Seng Kok menyelak: "Barusan Taysoe tidak percaya perkataannya Ngo Soeko kami. Taysoe mengatakannya omong disatu pihak saja. Habis bagaimana sekarang, apakah kata kata Taysoe juga bukan hanya kata kata sepihak?"
Kong boen sabar luar biasa, walaupun ditanggapi demikian rupa, ia tidak menjadi gusar.
"Jikalau Boh Cit hiap tidak percaya loolap, ya apa boleh buat!" katanya.
"Mana berani boanpwee tidak percaya Taysoe?" berkata Seng Kok. "Hanyalah didalam dunia ini segala sesuatu gampang sekali berubab, sukar untuk menerkanya dan segala yang benar dan tidak benar tak dapat dipastikan. Tuan tuan cuma ketahui beberapa pendeta Siauw lim pay itu telah terbinasa ditangan Soeheng kami. Sebaliknya kami menyatakan, Sam Soeheng dianiaya pihak Siauw lim pay. Siapa tahu jikalau didalam perkara ini ada sesuatu yang tersembunyi? Maka kalau menurut Cianpwee urusan harus diurus dengan sabar, supaya tidak mengganggu persahabatan diantara kedua partai. Jikalau kita bertindak sembrono, kemudian dibelakang hari urusan dapat dibikin terang, bukankah kita akan menyesal sesudah kasep."
"Boh Cit hiap benar," berkata Kong boen mengangguk.
Sedang saudaranya itu berlaku demikian sabar, Kong tie berteriak dengan mendadak: "Habis apa kah sakit hatinya Soeheng Kong kian dapat dibiarkan saja? Thio Ngohiap, urusan Liongboen Piauw kiok untuk sementara boleh kita biarkan saja, tetapi tentang Cia Soen si jahat itu, itulah lain! Mengenai dia itu, hari ini kami menghendaki kau memberitahukannya biarpun kau tidak suka, kau mesti bicara juga!"
Song Wan Kiauw membungkam sekian lama. Sekarang ia melihat suasana tegang, terpaksa ia campur bicara. Ia kata nyaring "Jikalau golok mustika itu tidak ada ditangannya Cia Soen, apa kah Taysoe tetap begini bernafsu hendak mengetahui dimana beradanya dia?"
Kata kata itu singkat tetapi maksudnya dalam sekali. Kong tie telah ditegur dan dituduh ingin memiliki golok mustika itu.
Kong tie menjadi gusar sekali. Tangannya menepuk meja! Maka celakalah meja itu yang menjadi hancur! Tapi inipun menandakan lihaynya tangan itu. Ia sampai terkejut sendirinya. Tapi ia lagi murka, ia tidak menghiraukannya. Ia bahkan berkata nyaring: "Sudah lama kami mendengar yang ilmu silatnya Thio Cinjin asalnya dari Siauw lim pay. Bahwa orang Rimba Persilatan mengatakan, hijau itu asalnya dari biru, tetapi yang hijau akhirnya menjadi lebih menang dari pada biru. Kamipun sudah lama mengaguminya, hanya kami tidak lagi tahu sampai dimana kebenarannya pembilangan itu. Apakah itu tidak melebihkan dari kenyataan hari itu? Hari ini dihadapan orang orang gagah diseluruh negara ini, ingin aku belajar kenal. Aku mengharap tidaklah Cinjin pelit untuk mengajarnya!"
Perkataan itu mengejutkan orang banyak berbareng menarik hati. Thio Sam Hong menjagoi pada tujuh puluh tahun yang lampau. Orang-orang sepantarannya yang pernah bertempur dengannya sudah pada mati. Jadi sekarang ini belum ada yang mengetahui sampai dimana lihaynya dia. Kecuali tujuh muridnya, belum pernah ada yang menyaksikan ia bersilat. Hanya dengan melihat dari kegagahannya Song Wan Kiauw bertujuh, bisalah ditaksir kelihayannya itu. Kali ini orang-orang mendengar ketua Boe tong pay itu ditantang, semua orang menjadi gembira, rata rata ingin menyaksikan pertempurannya jago jago utama.
Semua mata lantas saja diarahkan kepada Thio Sam Hong. Semua orang ingin sekali mendengar tantangan itu diterima atau tidak. Tapi orang mendapatkan orang tua itu melainkan hanya bersenyum. Sekali tidak menolak tetapi juga tidak menerima.
"Ilmu silat Thio Cinjin sangat lihay. Dikolong langit ini tidak ada tandingannya," berkata Kong boen Taysoe. "Begitu juga kami ketiga pendeta dari Siauw lim sie. Kami bukannya tandingannya Cinjin, hanyalah sekarang, keadaan memaksa sekali! Perselisihan diantara murid kedua pihak, jikalau tidak dibereskan dengan kekuatan tenaga, untuk memastikan siapa kuat dan siapa lemah, sungguh sukar untuk diselesaikan. Maka itu kami bertiga menjadi tidak tau diri, kami bersedia bekerja sama bertiga meminta Cinjin sukalah memberi pengajaran kepada kami. Cinjin berderajat dua tingkat lebib tinggi dari pada kami. Jikalau kita bertempur satu lawan satu, itu artinya terhadap Cinjin kami berlaku sangat tidak hormat!"
Kata-kata ini didengar orang banyak, mereka itu pada berkata didalam hatinya: "Perkataanmu sangat merendah, enak dldengarnya, tetapi itu artinya tiga melawan satu! Thio Sam Hong boleh liehay sekali, tetapi sekarang ia sudah berusia seratus tahun. Tenaganya tentu telah berkurang banyak sekali. Maka itu, dapatkah ia melayani tiga jago dari Siauw lim sie itu ?"
Song Wan Kiauw sudah lantas berbangkit. "Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun guruku. Mana dapat hari ini orang mengadu kepandaian ?" katanya.
Mendengar sampai disitu para hadirin menduga Boe tong pay takut menyambut tantangan. Tapi orang belum bicara habis, Wan Kiauw berkata terus: "Laginya benar seperti kata Kongboen Taysoe barusan. Tingkat derajat diantara guruku dan Taysoe bertiga berlainan, tidak seimbang. Jikalau pertempuran sampal terjadi, bukankah itu sama dengan yang tua menghina yang muda? Akan tetapi Siauw lim pay sudah menantang. Boe tong pay tidak dapat tidak menyambutnya. Pepatah membilang, kalau ada urusan, sang murid mengurusnya. Maka itu sekarang baiklah diatur begini, kami tujuh murid dari Boe tong pay, kami akan melawan dua belas pendeta lihay dari Siauw lim pay!"
Orang gempar sendirinya mendengar jawaban berani dari Wan kiauw ini. Itulah bukan menyambut tantangan belaka bahkan berbalik menantang.
Kong boen, Kong tie,dan Kong Seng datang ke Boe tong san dengan mengajak masing masing tiga murid. Dari itu jumlah mereka menjadi dua belas, dan ialah jumlah yang ditantang murid Boe tong pay itu. Oleh karena Wan Kiauw menyebut jumlah tujuh, orang menjadi heran. Bukankah Jie Thay Giam telah bercacad dan jumlah mereka menjadi tinggal enam orang. Enam lawan dua belas, itu sama artinya satu melawan dua. Bukankah dengan begitu dengan sendirinya Song Wan Kiauw menjadi telah mengangkat harga diri Boe tong pay?
Kelihatannya Song Wan Kiauw menyerbu bahaya dengan kata katanya itu. Memang juga, terpaksa ia bersikap demikian. Tapi sikapnya ini telah diperhitungkan. Ia tahu baik Kong boen bertiga liehay melebihkan semua saudaranya. Kalau satu lawan satu, hanya ia seorang yang dapat menandinginya secara berimbang. Jie Thay Giam bercacad, sedang Jie Lian Cioe baru sembuh. Tapi kalau mereka melawan dua belas orang, ia tahu sembilan murid tiga pendeta itu tidak harus dijerikan. Maka namanya saja enam lawan dua belas, kenyataannya enam lawan tiga.
Kong tie Taysoe ketahui maksud hatinya Wan Kiauw. Ia mengeluarkan suara dihidung. Ia kata: "Jikalau Thio Cinjin sendiri tidak sudi memberi pelajaran, baiklah, biar kami bertiga saja yang melawan tiga diantara keenam tuan dari Boe-tong pay. Dalam tiga pertandingan, siapa yang. menang dua kali dialah yang menang."
Thio Siong Kee dapat membade hati orang. Ia menggantikan kakaknya berbicara. Ia kata: "Jikalau Kong-tie Taysoe menghendaki juga satu lawan satu, baiklah, dari kita tujuh saudara, Shako Jie Thay Giam tidak dapat turun dari pembaringan sebab ia telah dianiaya oleh pendeta Siauw lim sie. Meskipun begitu, tidak ada satu diantara kita berenam yang sudi ketinggalan. Maka baiklah kita bertempur dalam enam rombongan saja. Yalah enam murid Boe-tong-pay melawan enam pendeta gagah dari Siauw lim-pay, dan siapa yang menang dalam empat pertandingan, dialah yang menang."
"Benar begitu!" Boh Seng Kok turut bicara, "Jikalau pihak Boe-tong-pay yang kalah, Thio Ngoko akan memberitahukan tentang Kim mo Say ong Cia Soen. Dia akan memberitahukan kepada Hongthio dari Siauw-lim-sie. Umpama kata pihak Siauw-lim-pay yang mengalah, maka kami minta Taysoe bertiga lantas mengajak semua sababat ini, yang namanya saja datang untuk memberikan selamat ulang tahun kepada guruku, tetapi sebenarnya hendak mencari gara-gara, untuk turun dari gunung ini!"
Seng Kok mengatakan demikian sebab ia bisa mengerti maksud Siong Kee. Dengan enam lawan enam, sudah terang Boe tong pay bakal tidak kalah. Ia ketahui baik sekali kakaknya yang nomor satu dan nomor dua dapat menandingi ketiga musuh yang libay itu, tetapi ketiga murid mereka itu pasti bakal kena dikalahkan.
Kong-tie Taysoe cerdik, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak sempurna, itulah tidak sempurna!" katanya. Ia berkata begitu, lantas ia berhenti, tidak mau menjelaskan 'tidak sempurna' nya itu.
Thio Siong Kee berkata pula: "Taysoe bertiga menantang guru kami, katanya kamu mau bertanding tiga lawan satu. Setelah kami enam orang Boe tong pay bersedia melawan duabelas pendeta Siauw lim-pay, Kong-tie Taysoe menghendaki satu lawan satu. Kami menerima baik, tetapi Tay soe bilang tidak sempurna. Sekarang begini saja, biar boanpwee seorang diri melawan tiga pendeta yang lihay. Bukankah ini sempurna? Jikalau Taysoe bertiga dapat menghajar aku sampai mati, itu arti nya Siauw lim-pay yang menang! Tidaklah itu bagus?"
Mukanya Kong-tie menjadi berubah. Hebat ejekan itu.
Tapi Kong Seng tertawa terbabak-babak, berulang kali dia memuji: "Siancay ! Siancay!"
Semenjak datangnya, pendeta ini belum pernah membuka mulutnya. Inilah yang pertama kali. Lalu ia menambahkan: "Soeheng berdua, Thio Sie hiap ini mau bersendirian melawan kami bertiga, mari kami maju bersama!"
Pendeta ini lihay ilmu silatnya, tetapi ia tidak menginsafi ejekannya Siong Kee itu.
"Jangan banyak omong, Soetee!" Kong boen mencegah. Kemudian ia berpaling kepada Song Wan Kiauw dan berkata: "Begini saja ! Kami enam pendeta Siauw lim melawan enam jago Boe tong, menang atau kalah diputuskan dengan ini satu kali pukul. "
"Bukannya enam orang dari Boe tong melainkan tujuh!" berkata Wan Kiauw.
Kong tie Taysoe terkejut.
"Jadi kalau begitu Thio Cinjin bakat turun tangan juga ?" tanyanya.
"Taysoe keliru," sahut Wan Kiauw. "Orang orang dengan siapa guru kami pernah bertempur semua sudah tidak ada lagi dalam dunia karena itu mana bisa lagi guru kami melakukan pertempuran? Sedang tentang Jie Shatee kami, dia bercacad, dia tidak dapat bengerak, dia juga tidak punya murid. Tetapi meski demikian, persaudaraan kami bertujuh sangat erat. Kami mau hidup dan mati bersama. Dari itu disaat mati hidup seperti ini, mana dapat kami berpeluk tangan menonton saja dipinggiran? Maka itu, untuk gantinya, aku hendak minta dia mencari wakil. Untuk ini biarlah dia diberi ketika untuk memberi petunjuk kepada wakilnya itu. Dengan begitu, tujuh murid Boe tong pay menempur pendeta-pendeta dari Siauw lim pay! Untuk pihak taysoe, maju tujuh baik, maju duabelas baik juga, untuk kami tidak ada halangannya!"
Kong boan heran. Ia berpikir: "Sebegitu jauh yang aku tahu dipihak Boe tong pay kecuali Thio Cinjin dan tujuh muridnya, tidak ada lagi yang lihay. Maka sekarang dia mau mencari wakil mana dapat? Kalau mereka minta bantuan dari lain partai, itu bukan lagi namanya partai Boe tong pay Mengucapkan begini sebagai pelabi saja untuk memegang nama baiknya Boe tong Cit hiap ..."
Maka ia lantas mengangguk dan menyambut: "Baiklah, tujuh pendeta Siauw lim akan melawan tujuh jago Boe tong!"
Dipihak Boe tong pay, Jie Lian Cioe, Thio Siong Kee dapat membade maksudnya Toako mereka. Thio Sam Hong mempunyai semacam ilmu silat istimewa yang diberi nama "Cit boe Cit cay tin" yalah semacam warisan, untuk mana tujuh orang meski bertempur bersatu padu melayani musuh. Ilmu itu didapatkan Thio Sam Hong karena ilham yang muncul setelah ia melihat sesuatu.
Pujaan Boe tong pay yalah Cin Boe Tay tee, Pacungnya Tay tee didampingi oleh dua panglimanya, yalah Koe Ciang koen, dan Coa Ciang koen, malaikat kura-kura dan ular. Kedua Ciang koen ini berkedudukan demikian rupa hingga mirip dengan letaknya Coa san dan Koe san. Gunung Ular dan Gunung Kura-kura di sungai Tiangkang dan sungai Hansoei. Sifatnya ular yalah lincah, dan sifatnya kura-kura pendiam. Ular dan kura kuranya Cin Boe Tay tee justeru mencakup ke dua sifat itu. Maka setelah mendapat ilham itu segera Thio Sam Hong pergi ke Han yang untuk memandang kedua Gunung Ular dan kura-kura itu, mengawasi terus-terusan. Ia membayangi bagaimana Gunung Ular bagaikan berlegot-legot, dan Gunung Kura-kura numprak tegak dan agung.
Lantas setelah itu, ia melamuni ilmu silat yang hendak diciptakan itu. Hebat usahanya Sam Hong ini. Ia berdiri ditepi sungai selama tiga hari dan tiga malam tanpa minum dan dahar. Dipagi hari keempat, ia menyaksikan munculnya Sang Surya yang merah marong. Mendadak ia sadar. Lantas ia tertawa lebar dan terus berangkat pulang ke Boe tong san untuk selanjutnya mengumpulkan tujuh muridnya untuk mengajar mereka ilmu silat istimewa itu.
Ilmu sitat itu mempunyali keistimewaan sendiri-sendiri bila digunakan oleh satu orang. Kalau dengan dua orang, maka mereka berdua dapat saling membantu, baik maju baik mundur Kalau bertiga, maka itu menjadi terlebih hebat pula, hebatnya seperti tiga melawan empat orang liehay.
Dengan rajin ketujuh murid itu belajar. Merekat menyakirkannya dengan sungguh-sungguh. Mereka telah memperoleh hasil berlipat ganda. Umpama empat dapat melawan delapan, lima dapat melawan enambelas, enam dapat melawan tiga puluh dua, dan tujuh dapat melawan enampuluh empat.
Dijaman itu, orang lihay cuma berjumlah kira kira tigapuluh orang. Mereka pun terpecah diantara pelbagai partai dan golongan sejati dan sesat. Maka kalau terjadi bertempuran, mereka tidak dapat besatu. Maka itu Cinboe Cit cay tin jadi merupakan semacam barisan.
Sekarang, Song Wan Kiauw menghadapi lawan tangguh. Ia ingat ilmu silat itu.
"Sekarang aku minta Taysoe suka menanti sebentar," kemudian ia kata pada Kong boen beramai. "Kami hendak menemui Jie Samtee untuk minta ia memilih wakilnya untuk menambah jumlah kami yang kurang satu."
Habis berkata, kakak sepenguruan itu mengedipkan mata pada lima saudaranya, lalu mereka memberi hormat pada guru mereka, terus mereka mengundurkan diri keperdalaman.
"Toako," kata Seng Kok yang lantas mendahului membuka mulut: "mari kita lawan pendeta pendeta Siauw lim itu dengan Cin cay tin supaya mereka menginsafi lihaynya ilmu silat Boe tong pay. Hanya siapakah yang bakal menggantikan
Shako?"
"Hal itu kita putuskan dengan suara kita yang terbanyak," kata Wan Kiauw mengangguk. "Sekarang kita semua jangan bicara. Kita menulis satu nama ditelapak tangan kita. Nanti kita lihat siapa pilihan kita beramai"
"Bagus!" seru Seng Kok yang sangat setuju. Ia lantas mengambil pit dan menyerahkannya kepada kakak yang tertua itu.
Wan Kiauw menulis satu nama lalu dia membekap tangannya itu. Pitnya ia serahkan pada Lian Cioe. Si adik lantas menulis ditelapakan tangannya. Demikian seterusnya mereka berenam.
"Sekarang mari buka sama-sama!" kata Wan Kiauw kemudian.
Segera ternyata Wan Kiauw bersama Lian Cioe dan Siong Kee menulis "Ngo Teehoe," artinya ipar mereka, isteri Coei San. Coei San sendiri menulis nama So so, isterinya. Seng Kok pun menulis "Ngo so," artinya isteri Coei San juga.
In Lie Hong yang paling belakang. Dia tidak membuka telapak tangannya, cuma mukanya yang merah.
"Heran!" kata Seng Kok. "Apanya yang aneh?" Lantas ia memaksa membuka kepalan kakaknya itu.
Ternyata saudara she In ini menulis "Nona Kie" yalah tunangannya.
Coei San terharu. Ia menggenggam tangan adik seperguraan itu, sedang mulutnya mengucap: "Oh, Lioktee"
Semua orang mengetahui mengapa Lie Hang sampai menulis nama tunangannya itu. Ini adalah disebabkan karena ia mengasihani In So So yang belum lagi pulih benar kesehatannya, yang pada pikirnya tak seharusnya berkelahi mati-matian. Seng Kok hendak menggoda, tapi Coei San lekas mencegah dengan kedipan mata.
"Karena semua sudah setuju Tee hoe, Ngotee, pergilah kau undang isterimu datang kemari," kata Wan Kiauw.
Coei San menurut. Ia segera pergi kekamarnya dan mengundang isterinya itu dengan sekalian menjelaskan duduk persoalan.
"Semua orang orang Liong boen Piauwkiok dan Hoei hong beramai, akulah yang membinasakannya", kata So So. "Ketika aku melakukan hal itu, aku belum berkenalan sama Ngo-ko. Maka itu urusan itu tidak selayaknya menyeret-nyeret Boe tong-pay. Baiklah aku menyuruh saja semua pendeta itu mencari Peh bie-kauw yalah ayahku untuk mereka membuat perhitungan disana."
"Teehoe, perkara telah terjadi. Kita tidak mestinya berhitungan," kata Siong Kee. "Laginya aku telah melihat jelas: katanya mereka itu datang untuk urusan Liong boen Piauw-kiok. Itu melainkan alasan yang benar yalah untuk urusannya Cia Soen. Mereka berpegangan kepada permusuhan, tapi sebenarnya mereka mencari golok mustika To-liong-to!"
"Sieko betul!" kata Seng Kok. "Memang benar mereka mencari golok mustika itu. Maka biar bagaimana, mereka pasti tanya dimana tempat berdiamnya Cia Soen sekarang ini."
"Memang demikian adanya." kata Coei San. "Kong-kian sendiri yang memberitahukan Cia Soen saudara-angkatku itu, bahwa didalam golok To liong-to itu ada tersimpan semacam ilmu silat yang dapat membikin orang menjagoi dikolong langit ini. Kong-kian ketahui itu, mesti Kong boen, Kong-tie dan Kong-seng mengetahuinya juga."
"Jikalau begitu, terserah kepada kalian," kata So So akhirnya. "Hanya ilmu silatku masih rendah sekali, didalam tempo pendek ini, mana dapat aku memahami Cin boe Cit tay tin?"
"Itulah gampang," berkata Wan Kiauw. "Sebenarnya dengan kita berlima melawan tujuh pendeta, kita merasa pasti bakal menang. Jikalau toh meminta bantuan kau, Teehoe, itulah sebab kita mendengar lihaynya senjata rahasiamu yang berupa jarum. Kita mengharap kapan perlu, agar kau membantu kita. Dengan begitupun pastilah Shatee bakal jadi terhibur hatinya"
Wan Kiauw benar. Ia memang memberati Jie Thay Giam yang tidak bisa turut bertempur hingga saudara itu pasti akan menyesal sekali. sedang penggunaan "tin" itu, inilah yang pertama kalinya. Bagaimana terhiburnya Thay Giam umpama kata dia bisa turut mengambil bagian dan mereka menang.
In So So cerdas, ia lantas mengerti.
"Baik!" katanya. "Sekarang juga aku pergi kepada Shako untuk minta petunjuknya. Aku hanya kuatir nanti tidak dapat memahaminya dengan baik."
"Jangan kuatir, enso" kata In Lie Hang: "Itu lah gampang asal kau mengingat baik baik letak kedudukanmu dan gerakan kaki. Umpama kata kau mendadak lupa, kamipun dapat menyadarkan kau."
Karena ini, bertujuh mereka pergi kekamar Jie Thay Giam.
Semenjak pulang ke gunung, beberapa kali sudah Thio Coei San menemui kakak sepenguruannya itu, tapi untuk In So So, inilah yang pertama kali, sebab gangguan kesehatannya mencegah dia lantas menemui iparnya itu.
Melihat si nona muda cantik, gerak geriknya halus, Thay Giam merasa senang. Tetapi ketika ia mendengar keterangannya Wan Kiauw hal datangnya musuh pendeta Siauw lim pay yang mau di lawan dengan Cin boe Cit cay tin, untuk mana ia harus diwakili oleh So So, ia terharu dan berduka sekali. Pedih hatinya. Tentu sekali ia menyesatkan sangat cacadnya hingga ia tidak dapat membantu semua saudaranya itu. Tapi ia kuat hatinya. Ia tertawa. Sembari bersenyum, ia kata pada So So: "Teehoe, Shapeh tidak dapat memberikan apa apa padamu untuk pertemuan pertama kali ini sebab kesusu. Maka baiklah, nanti aku mengajar kau tentang 'tin' kita itu. Nanti sesudah musuh mundur, akan kulatih kau terlebih jauh agar kau paham semuanya."
So So girang sekali.
"Terima kasih, Shapeh." ucapnya.
Inilah pertama kali Thay Giam mendengar suara iparnya itu. Ia agaknya terkejut sekali, segera ia menatap muka orang. Otaknyapun bekerja, memikirkan sesuatu yang telah dilupakan. Wajahnya menunjuk rasa heran yang luar biasa.
Coei Sanpun heran.
"Shako, apakah kau merasa tubuhmu tidak enak?" tanyanya.
Thay Giam tidak menyahut, dari menatap ia bengong. Matanya mendelong kedepan. Mata itu bersinar sangat tajam. Sekarang terlihat juga perubahan air mukanya yang menandakan ia menderita dan penasaran.
Habis memandang saudaranya itu, Coei San berpaling pada isterinya. Juga isteri itu berubah air mukanya. So So nampaknya sangat berkuatir dan Song Wan Kiauw dan yang lainnya juga turut merasa heran. Bergantian mereka mengawasi saudara mereka itu serta sang ipar. Hati mereka tidak tenang lagi.
Kamar menjadi sangat sunyi. Semua hati orang berdebaran.
Selagi berdiam itu, Thay Giam nampak napasnya memburu, mukanya yang pucat bersemu merah.
"Ngo teehoe, coba kemari," katanya perlahan. "Mari aku lihat kau....."
Tubuh So So bengemeteran, ia tidak berani menghampiri, sebaliknya tangannya menyambar tangan suaminya.
Kamar menjadi sunyi pula.
Selang sesaat, terdengar Thay Giam menghela napas.
"Kau tidak sudi datang tidak apa," katanya pula. "Dulu, hari itupun aku tidak melihat wajahmu. Teehoe, aku minta sukalah kau menyebutkan kata kataku ini: Pertama, aku minta Congpiauw tauw sendiri yang mengantarkannya. Kedua, dari Lim an sampai di Sang yang, di propinsi Ouwpak, kau harus berjalan siang hari dan malam, supaya piauw bisa mencapai tempat tujuannya dalam tempo sepuluh hari. Syarat ketiga, kalau terjadi sedikit kesalahan saja, huh! huh! jangankan jiwa Cong piauw tauw sendiri, sedangkan ayam dan anjing dari Liong boen Piauwkiok pun tak akan terluput dari kebinasaan !"
Thay Giam bicara dengan perlahan, tetapi mendengar itu orang pada mengeluarkan peluh di punggungnya.
So So maju satu tindak.
"Shapeh, kau benar-benar hebat!" katanya. "Kau dapat mengenali suaraku.. Memang itu hari, didalam kantor Liong boen Piauwtiok, orang yang memesan Touw Thay Kim mengantarkan kau ke Boe tong san yalah adikmu adanya."
"Terima kasih untuk kebaikan hatimu Teehoe."
"Kemudian pihak Liong boen Piauw kiok itu telah membuat kegagalan ditengah jalan," So So berkata pula. "Kegagalan itu menyebabkan kau menjadi bersengsara begini rupa. Karena itu adikmu ini telah membunuh habis semua keluarga Liong boen Piuaw kiok itu."
"Demikian rupa kau berlaku untukku, kenapa kah?" tanya Thay Giam dingin.
Wajah So So menjadi guram. Ia menghela napas panjang.
"Shapeh, perkara telah berjalan sampai sebegini jauh. Tidak dapatlah aku menyembunyikan apa-apa lagi," katanya kemudian. "Hanya terlebih dulu hendak aku menjelaskan. semua-muanya Coei San tidak tahu menahu. Aku kuatir ... aku takut..... Setelah dia mengetahui itu, selanjutnya dia bakal tidak memperdulikan lagi padaku."
"Jikalau begitu, tak usahlah kau menyebutnya lagi." kata Thay Giam. "Aku telah bercacad begini rupa, urusan yang sudah-sudah tidak usah ditimbulkan pula. Kejadian itu tidak perlu mengganggu kamu sebagai suami isteri. Nah, kamu pergilah! Boe tong Liok hiap melawan pendeta-pendeta dari Siauw lim pay kemenangannya sudah dapat dipastikan. Jadi tak usahlah aku mendapat nama kosong"
Karena lukanya itu, sebab keangkuhannya, Thay Giam tidak pernah mengeluh atau mengutarakan penasarannya. Bahkan bicarapun ia tak dapat, tapi setelah dirawat sungguh sungguh oleh gurunya selama sepuluh tahun, perlahan-lahan ia bisa juga bicara. Hanya mengenai urusannya itu atas pengalamannya, ia tetap menutup mulut.
Maka itu ini hari, yalah disaat ini, kira-kiranya itu membikin semua saudaranya menjadi kaget dan heran, akan akhirnya semuanya berduka, bahkan ln Lie Heng lantas menangis.
"Shapeh, sebenarnya kau telah mendapat atau menduga dari siang-siang," berkata So So pula, "melulu karena kau berat kepada Coei San sebagai Soeteemu, kau menahan sabar. Kau tidak sudi bicara. Memang itu hari disungai Cian tong, yang sembunyi didalam perahu, yang melukakan kau dengan jarum, yalah adikmu ini ...."
Coei San terkejut.
"So So!" serunya. "Benarkah itu? Kau ...... mengapa kau tidak memberitahukan itu padaku?"
"Biang keladi segala kejadian dan orang yang mencelakai Soehengmu ini yalah So So isterimu ini. Cara bagaimana aku berani menerangkannya?" sahut sang isteri. "Shako, orang yang melukai kau dengan paku Cit seng teng, yang memperdayakan golok To liong to dari tanganmu, dialah kakakku sendiri, In Ya Ong... Kami dari Peh bie kauw tidak bermusuhan dengan kamu dari Boe tong pay. Setelah kami mendapatkan golok mustika itu, sedang kamipun menghargai kau sebagai seorang gagah sejati. Maka kami telah menugaskan Liong boen Piauw kiok mengantarkan kau pulang ke Boe tong san. Perihal peristiwa ditengah jalan, sungguh aku tidak duga sama sekali."
Tubuh Coei San menggigil keras, matanya seperti menghamburkan marong. Ia lantas menuding isterinya:
"Kau.... kau mendustai aku hebat sekali!" katanya nyaring.
Mendadak Jie Thay Giam berseru keras, lantas tubuhnya mencelat dari atas pembaringannya dan roboh. Tubuh itu jatuh dipapan pembaringan hingga papan itu tak kuat menahannya dan ambruk. Thay Giam sendiri terus pingsan.
Menampak semua itu, So So menghunus pedang dipinggangnya. Ia membalik itu gagangnya pedang. Ia angsurkan pada suaminya.
"Ngo ko," katanya. "Sudah sepuluh tahun kita menjadi suami isteri, aku bersyukur sekali untuk kecintaanmu. Maka kalau sekarang aku mati, aku puas. Aku tidak menyesal. Dari itu kau tikamlah aku supaya dengan begitu kau dapat melindungi dan mempertahankan kehormatannya Boe tong Cit hiap..... "
Coei San menyambuti pedang isterinya hendak ia meneruskan menikam dada isterinya. Mendadak ia ingat akan cinta kasih mereka selama sepuluh tahun. Hatinya menjadi lemah. Segala apa lantas berbayang didepan matanya itu. Untuk sejenak ia menjublak, diakhirnya ia berteriak, lalu ia lari keluar dari kamar, menuju kedepan !
So So dan Wan Kiauw semua tidak tahu apa yang bakal dilakukan. Mereka lari menyusul.
Mereka dapat melihat Coei San pergi keruangan besar untuk lantas berlutut didepan gurunya untuk mengangguk angguk beberapa kali seraya berkata "Soehoe, kesalahanku telah menjadi begini hingga tidak dapat ditarik pulang lagi. Maka itu muridmu hanya memohon satu hal....."
Thio Sam Hong tidak tahu apa yang telah terjadi. Karena ia sabar ia berkata dengan tenang: "Apakah itu? Kau sebutkanlah! Pasti gurumu tidak akan menampik."
Coei San mengangguk pula tiga kali.
"Terima kasih, Soehoo," katanya. "Muridmu ada mempunyai seorang anak laki laki, ialah anak satu satunya. Dia sekarang masih berada didalam tangannya orang jahat. Maka itu muridmu mohon sukalah Soehoe menolongnya dari tangan iblis itu, kemudian tolong Soehoe merawatnya hingga dia menjadi besar."
Habis berkata begitu, Coei San memutar tubuh kearah Kong boen Taysoe dan lain tetamu terhitung Ceng hian Soe thay dari Go bie pay. Dengan nyaring ia berkata: "Segala kesalahan, aku Thio Coei San yang melakukannya. Sebagai seorang laki laki, aku sendiri juga yang menanggungnya. Maka itu sekarang hendak aku membuat tuan tuan puas!"
Kata kata itu diakhiri dengan tebasan pedang nya kepada lehernya, hingga darahnya lantas muncrat dan tubuhnya roboh binasa.
Thio Sam Hong kaget bukun main. Ia melompat untuk menolong. Bersama ia melompat juga Jie Lian Cioe, Thio Siong kie dan In Lie Heng. Semua mereka pada berseru.
Berbareng dengan mereka berempat, ada lima orang lain yang turut melompat maju, akan tetapi mereka telah dibikin terpental dengan sampokan guru dan tiga muridnya. Justeru karena ini, mereka ini terlambat, Coei San keburu membunuh diri dan tubuhnya roboh.
Song Wan Kiauw, Boh Seng Kok dan In So So muncul paling belakang.
Justeru itu, dari luar jendela terdengar teriakan: "Ayah! Ayah!" Suara yang kedua kali itu tertahan seperti keluar dari mulut yang lantas tersumbat.
Hanya sekelebatan saja, Thio Sam Hong sudah mencelat keluar jendela, hingga ia dapat melihat seorang laki laki dengan dandanan seragam tentara Mongolia memeluki seorang bocah umur delapan atau sembilan tahun, bocah mana dibekap mulutnya tetapi ia coba meronta.
Hatinya Sam Hong tengah sakit dan pedih, maka itu tanpa berpikir lagi, ia membentak orang Mongolia itu: "Kau masuk kedalam !"
Orang itu tidak menurut perintah, bahkan dia menggerakkan sebelah kakinya untuk menjejak tanah, guna melompat naik keatas genteng. Selagi menjejak, ia mendak sedikit, si bocah tetap dipeluk. Tapi ia tidak dapat berlompat. Tubuhnya di rasakan berat. Thio Sam Hong yang telah melompat kepadanya, telah menekan pundaknya !
Kaget orang itu, rupanya dia mengerti gelagat, tanpa membuka suara, dia bertindak kedalam, hingga batallah dia hendak melarikan diri.
Bocah itu memang Boe Kie, puteranya Coei San dan So So. Ia telah ditotok urat gagunya. Akan tetapi ia pernah mengikuti Cia Soen belajar silat. Ia telah memperoleh kemajuan luar biasa, maka juga tidak lama habis ditotok, ia dapat dengan sendirinya membebaskan diri. Ia melihat ayahnya membunuh diri. Ia kaget luar biasa dan berteriak memanggil manggil ayahnya itu, atas mana ia segera dibekap pula, sampai kakek gurunya datang menolongnya.
In So So karam hatinya melihat suaminya membunuh diri. Meski begitu, mendapatkan anaknya, kegirangannya muncul juga, maka segera ia menghampirkan, tetapi perkataannya yang pertama ialah pertanyaan ini: "Anak, kau toh tidak menyebutkan tentang dimana adanya ayah angkatmu"
"Biarnya dia bunuh mati padaku, tidak nanti aku beritahu!" sahut si anak.
"Oh, anak yang baik", seru sang ibu, "Mari aku memelukmu!"
"Serahkan anak itu!" Sam Hong memerintah orang Mongolia.
Orang itu menurut, tanpa bersuara, ia menyerahkan si bocah kepada ibunya.
Boe Kie nelusup dalam rangkulan ibunya. "Ibu," katanya, "Siapa yang memaksa ayah membunuh diri?"
"Disini ada begini banyak orang," menyahut sang ibu. "Merekalah yang naik kegunung ini dan memaksakan kematian ayahmu!"
Matanya Boe Kie lantas menyapu, dari kiri dan kekanan. Dia masih kecil akan tetapi sinar matanya tajam sekali. Sinar mata itu mengsandung kebencian dan kemarahan hebat, hingga siapa yang sinar matanya bentrok, hatinya terkesiap.
"Boe Kie, berjanjilah kepada ibumu!" kata So So
"Titahkan, ibu!" sang anak menjawab.
"Kau jangan terburu napsu menuntut balas" katanya. "Kau harus sabar. Perlahan-lahan saja kau menantikan, asal seorang jua jangan diberi lolos...."
Mendengar itu, orang pada merasakan tubuhnya bergidik, punggungnya dingin sendirinya.
"Baik, ibu!" Boe Kie menjawab. "Aku akan menantikan dengan perlahan-lahan, seorang jua aku tidak akan kasih lolos!"
Tubuh si nyonya tiba-tiba menggigil.
"Anak," katanya, "karena ayahmu sudah mati, baiklah kita menyebutkan tempat kediamannya ayahmu itu, supaya mereka ini mendapat tahu..."
"Jangan, ibu, jangan!" Boe Kie mencegah. Tapi So So tidak memperdulikannya.
"Kong boen Taysoe, mari!" katanya. "Aku hanya akan memberitahukan pada kau seorang. Mari kupingmu, akan aku bisiki...."
Semua orang heran. Inilah diluar dugaan mereka.
"Siancay ! Siancay!" Kong boen memuji. "Nyonya yang budiman, coba kau bicara tadian sedikit, pastilah Thio Ngo hiap tidak usah binasa...."
Ia lantas menghampiri So So untuk membungkuk memasang kupingnya.
Nyonya Coei San menggerakkan kedua bibirnya, tetapi suaranya tidak terdengar.
"Apa?" Kong boen tanya.
"Kim mo Say ong Cia Soen, dia bersembunyi di...." kata So So. Kata "bersembunyi di" itu diucapkan sangat perlahan dan samar samar hingga sukar terdengar tegas.
"Apa!" pendeta dari Siauw lim sie itu menegas.
"Ya, dia bersembunyi disana, pergilah kau mencari sendiri." So So berkafa pula.
"Aku tidak mendengar nyata !" kata Kong boen yang menjadi gelisah sendirinya.
"Aku hanya bisa memberitahukan secara demikian maka pergilah kau kesana. Kau akan mendapatkannya sendiri...." katanya pula.
Habis itu, ibu ini merangkul anaknya untuk berbisik: "Anak, setelah dewasa nanti, jagalah dirimu agar tidak diperdayakan wanita! Makin seorang cantik dan manis dilihat, makin dia pandai memperdayakan orang ...."
Kupingnya ibu itu ditaruh ditelinga puteranya. Ia menambahkan: "Aku tidak membilangi si pendata. aku cuma mendustakan dia!"
Lalu ia tertawa sendirinya, tertawa sedih.
"Nyonya yang baik!" Kong-boen berseru.
Sekonyong-konyong rangkulannya So So terlepas dengan sendirinya. Tubuhnya terhuyung, terus roboh celentang. Maka terlihatlah didadanya tertancapnya sebilah pisau belati. Karena selagi merangkul Boe Kie, puteranya, pisau belatinya sudah dipasang, dari itu tidak ada seorang juga yang melihat ia membunuh diri.
Boe Kie menubruk tubuh ibunya. "Ibu! Ibu!" ia memanggil-manggilnya. Tapi sang ibu telah lantas putus jiwanya.
Kedukaan Boa Kie melampaui batas, sampai ia tidak dapat menangis. Ia mencabut pisau belati dari dada ibunya, ia mencekal pisau yang berlumuran darah itu. Sambil memegangnya, ia memandang Kong boen Taysoe. Ia tanya dengan dingin: "Kaukah yang membunuh ibuku? Benar atau tidak?"
Kong-boen terperanjat. Kematiannya sinyonya sampai membuatnya menjublak. Biar bagaimana juga, ia adalah seorang Ciang boen jin, maka hatinya terharu juga menyaksikan sekaligus dua peristiwa berdarah yang terjadi secara beruntun dan menyayatkan hati itu.
Tanpa merasa, ia mundur setindak.
"Bukan....... bukan aku....... " katanya menyangkal. "Dia membunuh diri..."
Air matanya Boe Kie mengembang, tetapi ia mencoba menahan mengucurnya itu. Ia kata dalam hatinya: "Aku tidak boleh menangis! Aku tidak boleh menangis! Aku tidak boleh mengasi lihat mereka ini aku menangis!"
Dengan tangan mencekal keras pisau belati berdarah itu, bocah ini lantas bertindak, dari kiri ruangan terus kesebelah kanan. Dia berjalan dengan tindakan perlahan, matanya mengawasi tajam pada semua hadirin itu yang berjumlah tiga-ratus orang lebih untuk mengenali mereka satu demi satu, sedang dibatok kepalanya teringat pesan ibu nya barusan: " ... perlahan-lahan saja kau menantikan, asal saja seorang juga jangan diberi lolos!"
Memang yang mendaki gunung Boe tong san itu, kalau bukannya ketua partai atau perkumpulan, tentu ahli silat dan bahwa mereka berani mengunjungi kuilnya Thio Sam Hong, menyatakan keberanian mereka. Akan tetapi sekarang, ditatap Boe Kie demikian rupa, hati mereka terkesiap dan mencelos. Jantung mereka berdenyutan memukul keras ..."
Akhir-akhirnya Kong boen Taysoe berbatuk batuk perlahan.
"Thio Cinjin," katanya, "peristiwa ini.... ah....sungguh diluar dugaan.... Thio Ngo hiap suami isteri telah menutup mata sendirinya. Maka itu semua urusan yang telah lampau, baiklah dibikin habis saja. Sekarang kami meminta diri"
Pendeta itu lantas memberi hormat.
Thio Sam Hong membalas hormat itu. "Maaf, tidak dapat aku mengantar sampai jauh" katanya tawar.
Semua pendeta Siauw lim sie itu lantas bergerak untuk berlalu.
Mendadak In Lie Heng berseru bengis: "...kamu telah memaksa kematiannya saudaraku ....." Tapi ia segera berhenti sendirinya, karena ia lantas ingat Ngoko telah membunuh diri sebab ia malu kepada Shako. Mereka ini tidak ada sangkut pautnya. Maka ia tidak melanjuti menegur, sebaiknya ia menubruk tubuhnya Coei San dan menangis menggerung-gerung.
Semua orang menjadi merasa tidak enak hati. Lantas mereka menghampiri Thio Sam Hong untuk pamitan, sedang didalam hati mereka, mereka berpikir: "Perkara ini hebat sekali, Boe tong pay tentulah tidak mau sudahan dengan gampang gampang...."
Hanya Song Wan Kiauw yang mengantar semua tetamunya sampai diluar pintu. Selama itu mata nya sudah merah, ketika kemudian ia memutar tubuh, air matanya lantas nerobos keluar, sedang kupingnya mendengar tangisan riuh dan memedihkan dari ruangan dalam.
Rombongan Go bie pay yang paling belakang meminta diri. Kie Siauw Hoe melihat In Lie Heng menangis demikian sedih, matanya menjadi merah sendirinya, lupa malu atau likat, ia menghampiri pemuda itu.
"Liok ko, aku mau pengi," katanya perlahan sekali, "Kau..... kau rawatiah dirimu baik baik."
Dengan air mata masih mengembang, In Lie Heng mengangkat kepalanya akan memandang si nona. Karena air matanya itu matanya seperti kabur. Ia masih sesenggukan ketika ia berkata. "Kamu..... kamu kaum Go bie pay apakah kamupun datang untuk menyeterukan Ngoko ?"
"Bukan," menyahut Siauw Hoe cepat. "Hanya guruku mau meminta saudara Thio suka mengunjuk alamatnya Cia Soen."
Boe Kie mendengar pembicaraan itu, mendadak ia menyeletuk: "Ibuku sudah memberitahukan itu kepada si pendeta, pergi kau tanya dia saja! Jikalau pendeta itu tidak sudi memberi tahu, pergi kamu rewel dengan mereka !"
Dalam kedukaannya, anak ini sudah mengerti maksud ibunya
"Kau anak yang baik," berkata Kie Siauw Hoe. "Paman In mu tentulah akan bisa merawati kau terus ...."
Dengan kata katanya ini si nona mau maksudkan ia dan In Lie Heng pasti nanti memandang dia sebagai anak sendiri.
Kemudian ia meloloskan rantai emasnya dari lehernya. Ia memasuki itu kekepalanya Boo Kie seraya berkata dengan halus : "Ini untukmu ..."
Mendadak Boe Kie melompat sambil membentak: "Aku tidak menghendaki barang musuh!"
Nona Kie berdiri menjublak likat, tangannya tetap memegangi kalungnya itu.
"Kamu lekas pergi !" kata Boe Kie berteriak. "Aku hendak menangis! Seperginya semua musuh, baru aku menangis!"
"Anak, kami bukan musuhmu," kata Kie Siauw Hoe perlahan.
Boe Kie menggertak gigi. Mendadak ia berkata sengit: "Semakin wanita cantik, semakin dia pandai menipu orang!"
Mukanya Kie Siatiw Hoe menjadi merah semua, hampir ia menangis. Wajahnja Ceng hian Soethay menjadi guram.
"Soemoay, buat apa banyak bicara sama anak kecil !" katanya. "Mari kita pergi!"
Boe Kie mengawasi, ia menanti sampai Kie Siauw hoe semua sudah lenyap dari pintu ruang itu, baru ia hendak menangis, atau tiba tiba napasnya berhenti berjalan, tubuhnya roboh terkulai.
Jie Lian Cioe terkejut. Ia lompat menubruk, untuk membangunkannya. Ia menyangka, saking sedihnya, anak ini jadi pingsan. Ia kata. "Anak, kau menangislah!" Iapun lantas mengurut tubuh si bocah.
Luar biala keadaannya Boe Kie. Ia tidak siuman, bahkan sebaliknya tubuhnya menjadi dingin bagaikan es. Melainkan dari hidungnya menghembuskan napas yang lemah sekali.
Lian Cioe terus mengurut, tapi ia tetap tidak tersadar.
Sekarang Wan Kiauw semua menjadi kaget.
"Anak ini keras hatinya, iapun telah mengerti segala apa." berkata Thio Sam Hong menghela napas. Ia lantas menekan jalan darah Leng thay hiat dipunggung anak itu untuk menyalurkan hawanya sendiri ketubuh si anak.
Menurut tenaganya Thio Sam Hong, orang luka bagaimana berat juga, asal jiwanya belum putus, asal dia menyalurkan hawanya, dia bakal mendusin dari pingsannya dan keadaannya lantas menjadi baikan. Akan tetapi tidak demikian dengan Boe Kie. Anak ini mengasi lihat akibat yang luar biasa. Mukanya lantas berubah jadi pucat menjadi biru, dari biru menjadi unggu, dan tubuhnyapun bengemetaran. Ketika jidatnya diraba, jidat itu dingin seperti es. Maka kagetlah kakek guru ini. Lekas-lekas ia masuki tangannya kedalam baju di punggung untuk meraba-raba. Disitu ada satu bagian yang mengeluarkan hawa panas, sedang disekitarnya semua dingin sekali. Kalau bukannya Sam Hong, mungkin dia turut kedinginan juga.
"Wan Kiauw, lekas cari itu Tartar yang tadi membawa anak ini kemari!" guru ini menitahkan muridnya.
"Aku turut?" berkata Lian Cioe yang pun turut pengi.
Ketika tadi orang bingung, tanpa ketahuan, orang Mongolia itu telah mengangkat kakinya. Thio Sam Hong sendiri sampai lupa memperhati kan dia.
Sam Hong lantas merobek baju Boe Kin, untuk memeriksa tubuhnya yang berkulit halus dan putih. Dipunggung kedapatan tapak dari lima jari tangan, tapak mana bersemu hijau tua dan berbahaya. Ketika diraba, tapak itu mengeluarkan hawa panas sekali. Dilain pihak, disekitar, semua nya berhawa dingin. Pantaslah, karenanya, Boe Kie pingsan bagaikan mayat.
Wan Kiauw dan Lian Cioe kembali dengan cepat dengan laporannya bahwa siorang Mongolia tidak kedapatan, bahwa mereka telah mencari dengan sia sia.Mereka inipun menjadi kaget sekali melihat tapak tangan dipunggung Boe Kie.
Thio Sam Hoag mengerutkan alisnya. Tampaknya ia menyesal ketika mengucapkan katanya: "Aku telah menyangka tigapuluh tahun yang lalu, dengan matinya Pek soe Tauwto, maka lenyaplah sudah ini ilmu Hian beng Sin cieng yang lihay luar biasa. Siapa sangka sebenarnya masih ada orang yang mempunyai kepandaian itu"
Wan Kiauw kaget bukan main.
"Jadi anak ini terluka dengan ilmu Hian beng Sin ciang?" tanyanya. Ia berusia paling tinggi dan ketahui perihal ilmu pukulan tangan kosong itu, Tangan Malaikat Air, Lian Cioe dan yang lain nya, mendengar pun belum.
"Warnanya tapak jari ini yalah tanda utama dari pukulan jahat itu" Thio Sam Hong menerangkan.
"Soehoe perlu obat apa?" tanya In Lie Heng: "Nanti aku lantas ambil."
Guru itu menghela napas. Ia tidak menyahut, hanya kedua mata mengucarkan air. Ia mengangkat tubuh Boe Kie untuk di rangkul erat-erat, sedang matanya mengawasi mayat Coei San.
Ia kata: "Coei San, Coei San ! Kau mengangkat aku menjadi guru. Ketika kau mau pulang, kau menitipkan anakmu ini padaku, akan tetapi aku aku tidak sanggup melindungi anakmu ini! Maka apakah artinya aku hidup sampai umur seratus tahun? Apakah gunanya Boe tong pay terkenal di seluruh jagat? Lebin baik aku mati saja ...."
Wan Kiauw semua kaget tidak terkira. Semenjak mengikuti guru ini, mereka selalu mendapatkan si guru bergembira. Belum pernah ia bersusah hati atau berputus asa seperti ini.
"Soehoe, benarkah anak ini tidak dapat ditolong lagi ?" tanya Lie Heng penasaran.
Sam Hong memeluk terus tubuh Boe Kie. Ia berjalan mundar-mandir diruang itu.
"Kecuali .... kecuali guruku Kak-wan hidup pula dan ia mengajar aku seluruh kitab Kioe yang Cin keng ....."
Semua murid Thio Sam Hong kaget. Semuanya berdiam. Kak wan Tay soe telah menutup mata pada delapan puluh tahun yang lampau. Mana dapat ia hidup pula? Itu artinya, Bor Kie tidak bisa ditolong lagi....
"Soehoe," kata Lion Cioe tiba tiba "Aku ingat orang Mongolia tadi. Dengannya pernah aku beradu tangan. Memang tangannya lihay sekali, jarang orang selihay dia. Tanganku telah terluka karena beradu tangan itu, tetapi sekarang tanganku telah sembuh seantengnya, rasanya bakal tidak ada akibatnya lebih jauh..."
"Didalam hal itu kau mengandal kepada nama besar Boe tong Cit hiap," berkata sang guru "Hian beng Sin Ciang itu luar biasa. Kalau melukai orang, celakalah korbannya. Sebaliknya, kalau dia kalah tenaga dalam, dia bakal terluka sendirinya. Ketika dia beradu tangan dengan kau, mungkin dia tidak bersungguh hati, rupanya dia jeri. Maka ingat, kalau lain kali. kau bertemu dia, berhati-hatilah."
Lian Cioe bergidik sendirinya.
"Jadi dia jeri kepada tenaga dalamku? Dia jadi tidak menggunakan seantero ilmunya yang liehay itu," pikirnya. "Coba lain kali dia bertemu pula denganku, tentu dia tidak akan memberi ampun lagi ...."
Keenam orang itu berdiam. Sekonyong-konyong terdengar jeritan Boe Kie: "Ayah, ayah, aduh sakit!" Dan ia membalas merangkul Thio Sam Hong keras-keras, kepalanya diselusupkan di dada si imam tua.
Hati Sam Hong menggetar. Ia sangat menyayang anak itu. Dengan mengertak gigi ia berkata: "Mari kita gunakan semua tenaga kita untuk menolong bocah ini. Sampai berapa lama lagi dia dapat hidup, terserah kepada kemurahan hati Thian"
Ia lantas mengawasi mayat Coei San, air mata turun bercucuran ia berkata: "Coei San, Coei San, oh, bagaimana sengsara anakmu ini!"
Kemudian ia bertindak kedalam, membawa bocah itu ke kamarnya sendiri, setelah meletakkan tubuh orang ia menotok berulang ulang delapan macam jalan darahnya.
Setelah ditotok pergi datang itu, tubuh Boe Kie tidak bergemetaran lebih jauh, hanya warna kulit mukanya, warna ungu itu, sudah menjadi bertambah gelap. Sam Hong tahu baik sekali, bila warna itu berubah menjadi hitam, habislah sudah jiwa bocah yang malang ini. Maka ia lekas-lekas meloloskan semua pakaian Boe Kie, dan membuka jubahnya sendiri, lalu punggung si anak ditempel rapat rapat pada dadanya sendiri.
Ketika itu diluar, Song Wan Kiauw beramai mengurus mayat Thio Coei San dan In So So. Kemudian Jie Lian Cioe bersama Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok bertiga menyusul guru mereka hingga mereka melihat sepak terjang guru itu, yang tengah mengerahkan tenaga dalamnya menurut ilmu "Soen-yang Boe kek kang" untuk menyedot hawa dingin dari tubuh Boe Kie. Seumurnya Thio Sam Hong tidak menikah, maka sampai usianya seratus tahun, dia tetap perjaka sejati, karena mana juga dia berhasil meyakinkan ilmu tenaga dalamnya itu yang istimewa. Hanya ilmu itu luar biasa sekali, kalau salah penggunaannya dapat mencelakakan diri sendiri.
Menyaksikan itu, ketiga murid ini berdebatati hatJnya. Mereka menguatirkan gurunya. Yang di kuatirkan, karena sudah tinggi usianya, tenaganya mungkin telah berkurang tanpa diketahui.
Selang setengah jam terlihat muka Thio Sam Hong berwarna semu hijau dan sepuluh jari tangannya bengemetaran.
Kemudian guru itu membuka matanya dan berkata: "Lian Cioe mari kau gantikan aku. Kalau kau sudah tidak sanggup, lekas suruh Siong Kee menggantikannya. Ingat, jangan kau memaksakan diri."
Lian Cioe meloloskan jubahnya, menyambuti Boe Kie, untuk dipeluk erat erat. Begitu tubuh mereka beradu, ia merasakan hawa dingin, seakan akan ia memeluk sebalok es. Maka ia berkata "Cit tee, lekas kau suruh orang menyalakan beberapa dapur, makin marong apinya makin balik!"
Demikian, dengan mengandalkan tenaga dalam mereka, guru dan murid-muridnya itu menolong Boe Kie, si bocah keturunan satu-satunya dari Coei San dan So So. Disini terlihat nyata perbedaan tingkat tenaga dalam antara guru dan murid itu. Seng Kok tidak dapat bertahan lama-lama seperti saudara-saudaranya, ia hanya kuat bertahan selama sepanasnya air teh didalam cangkir, sedang Wan Kiauw kuat bertahan selama dua batang hii. Ketika In Lie Heng yang menggantikan, seketika itu dia menjerit dan tubuhnya menggigil.
"Mari serahkan Boe Kie padaku!" kata Sam Hong kaget. "Pergi kau bersamadhi!"
Ternyata Lie Heng menjadi lemah karena ia lah yang mendaratkan pukulan batin paling hebat karena kematian Coei San itu, hingga ia tidak dapat menguasai diri.
Usaha merampas jiwa Boe Kie dari tangan maut ini dilanjutkan terus dengan bergantian selama tiga hari dan tiga malam, maka bisalah dimengerti hebatnya penderitaan mereka.
Syukurnya yalah, hawa dingin ditubuh Boe Kie mulai berkurang, yang berarti juga berkurangnya racun dari Hian beng Sin ciang. Baru dihari ke empat, mereka dapat senggang sedikit, untuk beristirahat dan tidur. Sedang pada hari kedelapan, pembagian giliran dapat diatur lebih rapi, yalah seorang dapat menolong bergantian setiap dua jam. Dengan begitu, mereka bisa beristiahat dengan baik dan teratur.
Boe Kie memperoleh kemajuan, hawa dinginnya berkurang setiap hari. Ingatannya pun bertambah sadar, bahkan ia dapat dahar sedikit-sedikit. Semua orang berlega hati. Itulah bertanda bahwa anak ini akan dapat ditolong. Maka bukan kepalang kagetnya orang ketika tiba pada hari yang ketigapuluh enam, Lian Cioe yang pertama mengetahui datangnya perubahan luar biasa mendapatkan bahwa hawa dingin ditubuh Boe Kie tidak dapat disedot pula. Lian Cioe heran, ia menyangka bahwa tenaganya sendiri yang sudah habis, maka ia memberitahukan gurunya.
Thio Sam Hong segera mencoba sendiri, iapun gagal. Semua orang menjadi gelisah lagi. Lima hari dan lima malam mereka mencoba terus, tetapi hasilnya tetap tidak ada.
"Thay soe hoe," berkata Boe Kie yang masih tetap sadar, "tangan dan kakiku telah terasakan hangat, hanya embun-embunanku, hati dan perut ku bertambah dingin..."
Didalam hatinya, Thio Sam Hong kaget bukan
"Lukamu telah sembuh banyak," ia berkata meaghibur.
"Kamipun rasanya tidak usah selalu harus mendampingimu. Pergilah kau rebahkan diri sebentar dipembaringanku."
"baik, thaysoehoe," kata bocah itu.
Boe Kie terus berlutut didepan kakek gurunya, begitupun didepan Wan Kiauw berlima, untuk manggut-manggut beberapa kali. Ia berkata pula: "Thay soehoe bersama paman semua telah menolong jiwa Boe Kie, maka selanjutnya Boe Kie mohon diajarkan ilmu silat supaya Boe Kie dapat membalaskan sakit hati ayah dan ibu kelak"
Sam Hong mengajak semua muridnya keruang dalam, disini ia berkata kepada mereka itu: "Hawa dingin sudah masuk ke embun-embunan, hati dan perut, tak tertolong dengan tenaga luar. Kelihatannya sia sia belaka pengorbanan kita selama hampir empat puluh hari. Kenapa bisa terjadi begini, sungguh aku tidak mengerti...."
Semua orang mengasah otak, tapi sesudah sekian lama, belum juga ada yang bisa menebak sebab musababnya perubahan itu. Jika mau dikatakan, bahwa Soen yang Boe kek kang tidak dapat mengusir hawa dingin itu, mengapa ilmu tersebut memperlihatkan kefaedahannya selama tiga puluh enam hari dan baru gagal pada hari ke tiga puluh tujuh?
Mengapa sedang lain-lain bagian tubuhnya hangat hanya di embun-embunan, hati, dan tantian (perut, tiga dim dibawah pusar) yang dingin luar biasa?
Selang beberapa saat lagi, tiba-tiba Jie Lian Cioe berkata: "Soehoe, apa tidak bisa jadi, sesudah kena pukulan Hian beng Sin ciang, Boe Kie mengerahkan Lweekang untuk melawannya dan karena salah menggunakan tenaga dalam, racun dingin itu dan tenaga dalamnya melekat satu sama lain, sehingga tidak dapat disedot lagi?"
Sam Hong menggelengkan kepala. "Tak mungkin," jawabnya. "Andai kata Coei San telah mengajarnya, anak yang masih begitu kecil pasti tidak mempunyai Lweekang yang begitu berarti."
"Soehoe keliru," membantah Lian Cioe. "Tenaga dalam Boe Kie tidak lemah." Ia segera menceritakan, cara bagaimana dengan pukuan Sin Liong Pa bwee, bocah itu telah merobohkan seorang murid dari Boe san pang.
Sang guru menepuk lututnya. "Benar, kau benar!" katanya. "Anak ini tentu sudah mempelajari ilmu silatnya Kim mo Say ong Cia Soen yang aneh aneh. Kalau Lweakangnya diperoleh dari Coei San, sehingga ia memiliki tenaga dalam dari partai kita sendiri, maka pengobatan dengan Soen yang Boe kek kang sudah pasti akan mempercepat kesembuhannya dan tak mungkin akan timbul perubahan yang sangat luar biasa, Tapi .... ilmu silat apakah yang dimiliki Cia Soen?"
Ia segera kembali kekamar Boe Kie dan berkata: "Nak, Thay soe hoe ingin menyelidiki ilmu silat mu. Cobalah kau memukul aku tiga kali."
"Aku tidak berani memukul Thay soehoe," kata Boe Kie.
Sang kakek guru bersenyum. "Jika kau tidak memukul, cara bagaimana aku bisa mendapat tahu cetek dalamnya ilmu silatmu?" katanya. "Sebelum mengetahui itu, tak dapat aku menurunkan pelajaran yang lebih tinggi. Pukullah dengan seantero tenaga."
"Kalau begitu baiklah," kata si bocah. "Tapi Thay soehoe jangan membalas."
"Jangan kuatir," kata Sam Hong.
Boe Kie lantas saja miringkan badannya, tangan kanannya dari atas menyabet kebawah, kesebelah kiri. Itulah pukulan Kian liong Cay tian (Melihat naga disawah) dari Hang liong Sip pat ciang. Sang kakek guru segera menyambut dengan tangan kirinya dan tenaga pukulan si bocah lantas saja punah.
Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya. "Tidak jelek," katanya.
Begitu lekas pukulan pertama punah, Boe Kie memutar tubuh dan lalu menyabet pula dengan telapak tangannya, dengan jurus Sin liong Pa bwee. Sam Hong menyambutnya dengan tangan kanan dan untuk kedua kalinya, pukulan Boe Kie punah seperti masuk kedalam laut.
"Bagus!" memuji sang kakek guru. "Bahwa anak sekecil kau bisa mempunyai tenaga yang sebesar itu, sungguh-sungguh luar biasa."
Paras muka si bocah berubah merah. "Thay soehoe, sudahlah! Aku tak mau memukul lagi"
"Kedua pukulanmu sangat bagus, coba lagi satu kali," memerintah Sam Hong.
Boe Kie segera membuat sebuah lingkaran dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya mendorong kedepan. Itulah pukulan Kang liong Yoe hwie (Penyesalan sang naga) dari Hang liong Sip pat ciang.
Waktu menyambutnya, Sam Hong merasa bahwa pukulan itu tidak selihay dua pukulan yang lebih dulu. Ia menggelengkan kepala seraya berkata: "Pukulan ini kurang bagus. Mungkin kau belum mahir."
"Bukan, bukan aku, tapi Giehoe yang belum mahir," membantah Boe Kim. "Gie hoe telah mengatakan, bahwa Hang liong sip pat ciang adalah salah satu ilmu pukulan yang terlihay didalam dunia. Sayang, ia hanya mengenal sebagian kecil saja. Giehoe juga mengatakan, bahwa ia sendiri masih belum dapat menyelami intisari dari pada Kang liong Yoe hwie, tapi ia mengajarkannya juga kepadaku, dengan pengharapan bahwa dikemudian hari aku sendiri bisa menyelaminya."
Sam Hang mengangguk "Ya." katanya. "sekarang aku mengerti. Tapi dalam pertempuran, tak boleh kau menggunakan pukulan itu, karena kau sendiri bisa celaka."
"Thay soehoe, aku memohon kau untuk mengajar aku ilmu silat itu," kata Boe Kie.
"Aku sandiri tak mampu," jawabnya. "Semenjak jaman Kwee Ceng, Kwee Thayhiap, membela kota Siangyang, kecuali Kwee Tayhiap sendiri, ilmu silat itu sudah menghilang dari Rimba Persilatan." Sesudah itu ia lalu menanyakan semua ilmu yang sudah dipelajari Boe Kie dan anak itu menerangkan sejelas-jelasnya.
Sesudah mendengar habis, Sam Hong merasa kagum akan luasnya pengetahuan Cia Soen. Dapat dikatakan, bahwa ia mengenal semua ilmu silat yang terdapat dalam Rimba Persilatan. Hanya sayang, ia tidak menyelami ilmu-ilmu itu sampai didasarnya, akan kemudian mengubah ilmu silatnya sendiri, seperti lazimnya diperbuat oleh guru-guru besar. Oleh karena begitu, biarpun ilmunya beraneka warna tak satupun yang dipelajari sampai dipuncaknya. Tak usah dikatakan lagi, bahwa dalam usia yang semuda itu, Boe Kie belum bisa mewarisi kepandaian ayah angkatnya. Apa yang sudah dilakukannya yalah menghafal kitab kitab dan Kouw koat (teori) dari macam-macam ilmu silat. Ia menghafal dengan lancar sekali. Beberapa macam ilmu silat bahkan belum pernah didengar oleh Sam Hong sendiri.
Dalam tekadnya yang bulat untnk membalas sakit hati terhadap Seng Koen, Cia Soen telah membinasakan banyak jago dari berbagai partai atau golongan persilatan. Saban kali membunuh orang, ia selalu merampas kitab ilmu silat yang dimilik oleh korbannya itu, supaya kalau belakangan ia mesti bertempur dengan kawan-kawan sikorban. Ia sudah mengenal ilmu silat musuhnya. Itulah sebabnya mengapa ia memiliki ilmu silat yang begitu banyak corak ragamnya dan ilmu-ilmu itu semua diturunkan kepada Boe Kie.
Tapi Boe Kie hanya mempelajari teori dan tidak mengenal prakteknya. Ia belum bisa bersilat berdasarkan teori itu dan masih gelap akan perubahan-perubahan yang tersebut dalam Kouw koat itu.
Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya. Ia mengerti, bahwa dengan berbuat begitu, Cia Soen memperlihatkan cintanya yang tidak terbatas terhadap anak pungutnya. Cia Soen tahu, bahwa dalam tempo beberapa tahun, Boe Kie tak akan bisa mempelejari semua ilmu silatnya.
Sang tempo sudah sangat mendesak, karena Boe Kie mesti segera pulang ke Tionggoan. Maka ia sudah menurunkan semua Kouw koat, dengan pengharapan bahwa dikemudian hari, dengan dibantu kecerdasannya, anak itu bisa mengerti sendiri teori-teori yang sudah dihapalnya.
Sesudah menyambut tiga pukulan Boe Kie, Sam Hong tahu, bahwa tenaga dalam bocah tidak murni. Sebagai akibatnya, Lweekang dingin dari Hian beng Sin ciang tidak dapat disedot keluar lagi.
Dengan hati masgul kakek guru itu duduk terpekur sambil mengasah otak. Selang sekian lama, ia berkata dengan suara perlahan: "Untuk mengeluarkan racun itu, orang lain tidak akan dapat membantunya lagi. Jalan satu-satunya, ia harus melatih diri dengan Lweekang tertinggi dari Kioe yang Cin keng. Tapi sayang sungguh, bahwa pada waktu mendiang guruku yaitu Kak wan Taysoe, menghafal kitab tersebut, aku masih sangat muda dan tidak bisa ingat seanteronya. Biarpun sudah berulang kali aku menutup diri merenungkannya sekian lama, belum juga aku dapat menyelami seluruhnya. Sekarang, karena tiada jalan lain, biarlah ia berlatih sendiri dengan apa yang aku mampu. Jika ia bisa hidup lebih lama satu hari, biarlah ia hidup lebih lama satu hari."
Sesudah itu, ia segera mengajar Boe Kie dengan Kouw koat dan cara berlatih dari Kioe yang Cin-kang (Ilmu senjata dari Kioe yang). Ilmu itu, yang kelihatannya sederhana, sangat dalam dan banyak sekali perubahannya. Dengan menjalankan pernapasan menurut peraturan yang sudan ditetapkan, Cin kie (Hawa murni) yang hangat dari tantian mengalir keberbagai jalan darah dan kemudian kembali dan berkumpul pula sekitar tantian. Pengaliran "Hawa murni" dari tantian ketantian merupakan satu putaran dan putaran itu diulang dan di ulang lagi.
Sesudah selesai satu putaran, orang yang berlatih lantas saja merasa seluruh tubuhnya nyaman luar biasa. "Hawa-murni" itu yang melayang-layang dan mengalir bagaikan asap rokok dinamakan juga In-Oen Cie kie (Hawa ungu dari Langit dan Bumi). Jika latihan seseorang sudah capai tingkat yang tinggi, In oen Cie-kie bisa mengusir racun dingin ditatian dan diberbagai jalan darah. Dalam Rimba Persilatan, azas-azas Lweekang dari berbaggai partai itu tidak banyak bedanya. Yang berbeda yalah cara berlatihnya. Sebegitu jauh mengenai tenaga, Boetong Sin-hoat dari Thio Sam Hong jarang tandingannya didalam dunia.
Sesudah berlatih dua tahun lebih, Boe Kie sudah dapat mengumpulkan banyak juga In oen Cin Kie ditantiannya. Tapi karena racun dingin terlampau hebat, maka kehangatan dari "Hawa murni" itu tidak berhasil mengusirnya. Sebaliknya dari pada sembuh, sinar hijau dimukanya kian hari kian tua dan setiap kali racun dingin itu mengamuk, ia menderita bukan main.
Selama dua tahun, Thio Sam Hong memeras tenaga dan pikiran untuk mengajar, menilik dan merawat cucu muridnya itu. Song Wan Kiauw dan saudara-saudara sepenguruannya telah menjelajah keberbagai tempat untuk mencari obat obatan yang mujarab dan langka terdapat di dalam dunia. Mereka membawa pulang Jin som yang sudah berusia lebih seratus tahun, Sioe ouw, Hok leng dari Soat san dan sebagainya untuk diberikan kepada bocah itu. Tapi semua obat-obatan itu bagaikan batu yang dilemparkan kedalam lautan. Makin hari anak itu jadi makin kurus dan pucat.
Guna menyenangkan orang-orang yang mencintainya, Boe Kie selalu memaksakan diri untuk bergembira. Tapi sang kakek guru dan paman-paman itu merasa, bahwa turunan tunggal dari Thio Coei San sudah tak dapat ditolong lagi.
Selagi repot mengobati lukanya, tokoh-tokoh Boe tong pay tak punya tempo lagi untuk mencari musuh-musuh yang telah mencelakakan Jie Thay Giam dan Boe Kie. Selama dua tahun itu, Kauw coe Peh bie kauw, In Thian Ceng, berulang kali mengirim utusan untuk menengok cucu luarnya dan menghadiahkan banyak barang-barang berharga. Tapi mengingat bahwa secara tidak langsung Jie Thay Giam dan Thio Coei San celaka dalam tangan Peh bie kauw, pendekar-pendekar Boe tong selalu mengirim pulang barang-barang itu. Bahkan satu kali Boh Seng Kok menghajar juga utusan In Thian Ceng. Mulai waktu itu, In Thian Ceng tidak pernah mengirim orang lagi.
Tanpa terasa hari perayaan Tiong cioe tiba kembali. Menurut kebiasaan, Thio Sam Hong dan murid muridnya merayakan hari itu. Tapi pada kali sebelum mereka duduk dimeja perjamuan, penyakit Boe Kie mendadak kambuh lagi. Selebar mukanya bersinar hijau dan tubuhnya menggigil. Sebab kuatir merusak kegembiraan kakek guru dan paman-pamannya, sambil mengertak gigi, ia coba mempertahankan diri. Tapi gejala kumatnya penyakit sudah tentu tidak dapat disembunyikan. Dengan penuh rasa cinta, In Lie Heng mendukung keponakan itu kekamarnya, menyelimutinya dan membuat satu perapian.
Tiba tiba Thio Sam Hong berkata: "Besok bersama Boe Kie, aku akan pergi ke Siauw lim sie di Siongsan"
Semua murid Thio Sam Hong tertegun. Mereka mengerti, bahwa dalam keadaan mendesak dan karena cintanya terhadap si cucu murid, guru itu rela menundukkan kepala dihadapan Siaum Lim sie untuk meminta pertolongan.
Mereka mengerti bahwa sang guru mengharap, dengan Kioe yang Cin keng yang lengkap, jiwa Boe Kie akan bisa ditolong. Sebagaimana diketahui, kioe yang Cin keng yang dimiliki Thio Sam Hong masih ada kekurangannya.
Dua tahun berselang, waktu Thio Sam Hong merayakan hari ulang tahunnya yang keseratus, perhubungan antara Siauw lim dan Boe tong telah menjadi retak. Dengan kedudukannya sebagai seorang guru besar dari sebuah partai ternama, kepergian Thio Sam Hong ke Siauw lim sie untuk meminta pertolongan, sungguh akan menurunkan derajat Boe tong pay. Akan tetapi, demi cinta yang tidak mengenal batas, guru besar itu telah menyampingkan segala nama kosong. Sesudah tertegun, semua muridnya menghela napas dengan rasa kagum akan kebesaran jiwa sang guru.
Sebenarnya, Go bie paypun mengenal sebagian Kioe yang Cin-keng. Akin tetapi, Biat coat Soe thay sungkan menemui orang luar. Beberapa kali, Sam Hong telah memerintahkan in Lie Heng membawa suratnya ke gunung Go bie san. Tapi pendeta wanita itu tidak menggubris dan memulangkan surat surat itu, tanpa dibuka. Maka itulah jalan satu-satunya yang masih terbuka yalah minta pertolongan Siauw Lim sie.
Sam Hong mengerti, bahwa jika ia cuma mengutus murid-muridnya ke Siauw lim sie, Kong-boen Taysoe beramai pasti tidak akan meladeni. Dari sebab itu, ia telah mengambil keputusan untuk pergi sendiri.
Demikianlah, perjamuan itu diliputi dengan kemasgulan dan sesudah meneguk beberapa cawan arak, mereka lalu bubar.
Pada keesokan barinya, pagi-pagi benar guru itu berangkat dengan mengajak Boe Kie, diantar oleh muridnya sampai dikaki gunung. Song Wan Kiauw dan saudara saudaranya sebenarnya ingin turut serta, tetapi dilarang karena Sam Hong kuatir datangnya banyak orang akan menimbulkan kecurigaan bagi pihak Siauw lim.
Dengan masing-masing menunggang keledai, si kakek dan si bocah menuju ke arah utara. Jarak antara Siauw Lim dan Boe-tong, dua pusat persilatan pada jaman itu, tidak terlalu jauh. Dari Boe-tong-san Ouw-pak utara, ke Siong-san di Ho lam barat, hanya memerlukan pelayaran beberapa hari. Sesudah menyeberangi sungai Han soe di Loo ho kow, mereka tiba di Lam yang. Terus menuju ke utara sampai di Nie-coo dan sesudah membelok kearah barat, tibalah mereka digunung Siong san.
Sesudah mendaki Siauw sit san, mereka menambat keledai didahan pohon dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Sambil berjalan, Sam Hong ingat kejadian pada delapanpuluh tahun lebih yang lalu, kapan dengan memikul dua tahang
mendiang gurunya, Kak wan Taysoe mengajak ia dan Kwee Siang melarikan diri dari Siauw Lim sie. Kejadian itu sudah hampir seabad, tapi seolah olah baru terjadi kemarin. Ia menghela napas dan hatinya terharu bukan main, karena diluar semua perhitungan, hari ini ia kembali ketempat dulu. Ia mengawasi puncak-puncak gunung dan kuil Siauw lim sie yang tiada berbeda seperti ada delapanpuluh tahun berselang. Tapi orang orang yang dicintainya yaitu Kak wan dan Kwee Siang, sudah tidak ada lagi didalam dunia.
Tak lama kemudian, mereka tiba di pendopo Lip soat teng. Kebetulan, dua pendeta kelihatan mendatangi. Sam Hong menghampiri dan sesudah memberi hormat, ia berkata: "Aku minta pertolongan soehoe (tuan pendeta) untuk melaporkan kepada Hong thio Taysoe (kepala kuil), bahwa Thio Sam Hong minta bertemu."
Mendengar nama "Thio Sam Hong," kedua pendeta itu terkejut. Dengan mata membelalak, mereka mengawasi kakek itu yang bertubuh tinggi besar, berambut dan berjenggot putih, sedang mukanya yang bersemu merah selalu bersenyum-senyum. Dilain saat, mereka tercengang karena orang yang mengaku bernama Thio Sam Hong itu, mengenakan jubah imam yang mesum.
Mereka tak tahu, bahwa guru besar itu memang seorang sembarangan, sembarangan cara-caranya dan sembarangan pula dalam berpakaiannya. Maka itulah, dibelakangnya sejumlah orang Kangouw menyulukinya sebagai "Tah-tah Toojin" (si imam mesum) dan ada juga orang yang menamakadnya "Thio Tah-tah"
Melihat begitu, kedua pendeta itu agak kurang percaya. "Apa kau Thio ....Thio Cinjin dari Boe tong pay?" tanya salah seorang.
Sam Hong tertawa. "Apa ada Thio Sam Hong palsu?" tanyanya.
Mendengar jawaban itu yang bernada guyon-guyon dan sama sekali bebas dari keangkeran seorang guru besar dari sebuah partai persilatan yang besar, sipendeta makin tidak percaya.
"Apa kau tidak main main ?" tanyanya pula.
Sam Hong kembali tertawa. "Apakah Thio Sam Hong berharga sedemikian besar, sehingga ia mesti dipalsukan?" tanyanya pula.
Dengan penuh kesangsian, kedua pendeta itu berlari-lari kearah kuil untuk melaporkan. Sesudah lewat sekian lama, pintu ditengah kuil terbuka dan Hong thio Kong boen Taysoe muncul bersama-sama Kong tie dan Kong seng. Dibelakang mereka mengikuti lima orang pendeta tua yang mengenakan jubah pertapaan warna kuning muda. Sam Hong tahu, bahwa mereka, adalah anggauta angqauta dari Tat mo ih dan tingkatan mereka mungkin lebih tinggi daripada Kong boen dan saudara saudara sepenguruannya. Mereka itu biasanya menyembunyikan diri didalam kuil untuk mempelajari dan merenungkan ilmu silat Siauw lim sie. Sebegitu jauh, anggauta-anggauta tat mo ih tidak pernah mencampuri urusan lain. Tapi sekarang, rupanya karena mendengar kedatangan orang orang Boe tong pay, Kong boen sudah merasa perlu untuk mengajak kelima tetua itu.
Sam Hong segera bertindak keluar dari pendopo Lip soat teng dan sambil memberi hormat, ia berkata: "Siauwtoo merasa berat untuk menerima sambutan dari para Taysoe." (Siauwtoo - Aku si imam kecil)
Kong boen dan yang lain-lain segera merangkap tangan.
"Kedatangan Thio Cinjin diluar dugaan siauwceng (aku sipendeta kecil)," kata Kong boen. "'Apakah maksud kedatangan Cinjin?"
"Ingin minta pertolongan." jawabnya.
"Duduklah, duduklah," mengundang Kong boen. Sesudah duduk dipendopo itu dan disuguhkan teh, didalam hati, Sam Hong merasa mendongkol, "Biar bagaimanapun juga, aku adalah guru besar dari sebuah partai," pikirnya. "Tingkatanku lebih tinggi daripada kamu. Mengapa kamu tidak mengundang aku masuk dikuil?" Tapi sebagai manusia yang sembarangan dan terbuka, perlakuan yang kurang pantas itu tidak dibuat pikiran olehnya.
Tapi Kong boen sendiri rupanya sudah merasakan adanya ketidak pantasan. Katanya: "Menurut adat istiadat, kami harus mengundang Thio Cin jin masuk kedalam kuil. Tapi hal itu tidak dapat dilakukan, karena dulu, diwaktu muda, Thio cin jin pernah meninggalkan Siauw lim sie tanpa pamitan. Peraturan kuil kami, yang sudah dipertahankan selama ratusan tahun, tentulah juga diketahui Thio Cinjin. Setiap murid yang melarikan diri atau murid yang berkhianat, seumur hidupnya tidak dipermisikan menginjak lagi kuil kami. Menurut peraturan itu, siapa yang melanggarnya harus di kutungkan kakinya."
Thio Sam Hong tertawa terbahak bahak. "Oh, begitu " katanya. "Memang benar, waktu masih kecil, Siauwtoo pernah berdiam di Siauw lim sie dan merawat Kak wan Taysoe. Akan tetapi, apa yang dilakukan Siauwtoo hanyalah menyapu lantai dan masak air. Siauwtoo belum pernah mencukur rambut dan juga belum pernah mengangkat guru. Maka itu, pada hakekatnya orang tidak dapat mengatakan, bahwa Siauwtoo adalah murid Siauw lim sie."
Kong tie tertawa dingin. "Tapi tidak dapat disangkal bahwa ilmu silat Thio Cinjin adalah curian dari Siauw Lim sie," katanya.
Darah guru besar itu lantas saja naik, tapi di lain saat, ia dapat memulihkan ketenangannya. Pikirnya: "Biarpun ilmu silat Boe tong adalah hasil jerih payahku selama empat puluh tahun, tapi jika mau diusut sumbernya, memang juga bersumber dari Siauw lim sie. Jika Kak wan Taysoe tidak menghadiahkan aku dengan sepasang Loohan besi, mungkin sekali aku tak akan bisa menjadi seorang ahli silat. Maka itu kalau dikatakan ilmu silatku bersumber dari Siauw lim sie, pernyataan itu tidak terlalu salah."
Memikir begitu, ia lantas saja berkata: "Kedatangan Siauwtoo justeru untuk persoalan itu."
Kong boen dan Kong tie saling mengawasi. "Aku mohon Thio Cinjin suka menjelaskannya." Kata Kong boen.
"Barusan Kong tie Taysoe mengatakan, bahwa ilmu silat Siauwtoo didapat dari Siauw lim sie," menerangkan Sam Hong. "Pernyataan itu adalah benar. Dulu, Siauwtoo telah merawat Kak wan Taysoe dan beliau telah menurunkan ilmu dari kitab Kioe yang Cin keng yang ditulis sendiri oleh Tat mn Loocauw kepadaku. Akan tetapi, karena pada waktu itu Siauwtoo masih kecil, maka apa yang didapatkan masih banyak kekurangannya dan hal itu merupakan penyesalan besar dalam hatiku. Waktu Kak wan Taysoe menghafal Cin keng, ada tiga orang yang mendengarnya. Yang satu adalah pendiri Go bie pay, Kwee Siang Liehiap, yang lain Boe Sek Siansoe dan yang ketiga yalah Siauwtoo sendiri. Karena berusia paling muda, berotak paling timpul dan waktu itu Siauwtoo belum pernah belajar silat, maka ape yang didapatkan Siauwtoo paling sedikit."
"Wungkin sekali tidak sedemikian," kata Kong tie dengan suara dingin. "Sedari kecil Thio Cin jin merawat Kak wan. Selama beberapa tahun itu, apa tidak bisa jadi diam-diam Kak wan telah menurunkan banyak ilmu silat kepada Thio Cinjin? Sekarang, nama Boe tong pay menggetarkan seluruh jagat dan menurut pendapatku, semua itu yalah hadiah dari Kak wan."
Tingkatan Kak wan Taysoe Iebih tinggi tiga tingkat daripada Kong tie. Menutut pantas, ia harus menggunakan istilah "Toa soesiok couw." Akan tetapi, lantaran Kak wan meninggalkan Siauw lim sie di tengah jalan dan namanya sudah dicoret, maka dalam pembicaraan, Kong tie sudah tidak menggunakan istilah yang menghormat. Tapi Thio Sam Hong sendiri buru-buru bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk "Budi Siansoe (mendiang guru) yang sangat besar, selalu tak dapat dilupakan Siauwtoo." Sikapnya itu yalah untuk menghormat mendiang gurunya.
Diantara empat Seng ceng (pendeta suci) dari Siauw lim sie, yang berhati paling mulia yalah Kong kian Taysoe. Hanya sayang siang-siang ia sudah meninggal dunia. Kong boen seorang pintar dan bijaksana, rasa girang dan gusarnya jarang diutarakan pada paras mukanya. Kong seng seorang sembrono dan polos sering sering bertindak atau berbicara seenaknya saja. Antara mereka itu Kong tie lah yang berpemandangan paling sempit.
Sering-sering Kong tie merasa mendongkol, karena didalam Rimba Persilatan, nama Boe tong sudah berendeng dengan Siauw Lim, sedang menurut anggapannya, ilmu silat Boe tong adalah "curian" dari Siauw lim sie.
Kunjungan Sam Hong pada hari itu dianggapnya bertujuan untuk membalas sakit hati Thio Coei San. Disamping itu, masih ada lain hal yang dibuat ganjalan olehnya. Sebagaimana diketahui sebelum membunuh diri, In So So telah berlagak membisiki sembunyinya Cia Soen dikuping Kong boen. Siasat itu siasat sangat beracun. Selama dua tahun, tiada henti hentinya jago-jago Rimba Persilatan mengunjungi Siauw Lim sie untuk menanyakan dimana adanya Cia Soen. Kong boen bersumpah keras keras bahwa ia tidak tahu. Tapi pada hari itu, diruang besar "Giok hie koan", semua mata juga telah melihat, bahwa So So telah membisikkan sesuatu dikupingnya. Siapa yang mau percaya keterangan Kong boen?
Selama dua tahun, sebab gara-gara itu, banyak pertempuran telah terjadi. Tamu-tamu banyak yang binasa atau terluka, tapi pihak Siauw lim pun tidak bebas dari kerusakan. Dan kalau di hitung hitung, menurut pendapat Kong tie yang menanam bibit penyakit yalah Boe tong pay.
Sekarang, diluar dugaan Thio Sam Hong datang sendiri. Dapat dimengerti, jika Kong tie sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik itu untuk melampiaskan rasa mendongkolnya. "Thio Cinjin sudah mengaku, bahwa ilmu silat Boe tong adalah titian dari Siauw lim sir," katanya pula. "Hanya sayang pengakuan itu tidak didengar oleh lain orang."
Tapi, walaupun diejek, Sam Hong tenang luar biasa. "Ilmu-ilmu silat dikolong langit sebenarnya bersumber satu," katanya dengan suara sabar. "Selama ratusan, selama ribuan tahun, tokoh-tokoh Rimba Persilatan memperkembangkan, memperbaiki dan menambal kekurangan-kekurangan yang terdapat dalm ilmu-ilmu silat. Maka itu, diwaktu sekarang, sukarlah dikatakan ilmu silat mana yang benar-benar merupakan sumber dari semua ilmu silat. Tapi, bahwa Siauw lim pay merupakan pemimpin dari Rimba Persilatan, adalah kenyataan yang diakui oleli semua orang. Hari ini, kedatangan Siauwtoo justeru karena mengagumi ilmu silat dari partai kalian. Siauwtoo mengakui kekurangan sendiri, makanya ingin minta pelajaran dari para Taysoe.."
Kong boen dan yang lain-lain terkejut. Mereka menafsirkan, bahwa kata-kata "meminta pelajaran" sebagai suatu tantangan. Paras muka mereka lantas saja berubah dan untuk beberapa saat, keadaan sunyi. Akhirnya, yang bicara paling dulu adalah Kong seng, sisembrono. "Baiklah, toosoe tua," katanya "Jika kau mau menjajal kepandaian kami, akupun tidak takut."
"Kalian hendaknya jangan salah mengerti " kata Sam Hong cepat-cepat, "Siauwtoo mengatakan mau minta pelajaran, dan pernyataan itu adalah hal yang sesungguhnya. Dalam mempelajari Kioe yang Cin keng yang diturunkan oleh Siansoe, ada banyak bagian yang belum siauwtoo ketahui. Jika kalian sudi mengajar bagian bagian yang kurang itu, siauwtoo akan merasa berterima kasih tidak habisnya." Sesudah berkata begitu, ia bangun berdiri dan membungkuk.
Pernyataan Thio Sam Hong mengejutkan semua orang. Thio Sam Hong adalah pendiri partai yang ilmu silatnya tersohor di seluruh jagat. Sesudah mencapai usia seratus tahun lebih, baik nama dan kepandaian maupun tingkatan, pada jaman itu tiada orang yang bisa merendenginya. Maka itu, adalah suatu keanehan, bahwa guru besar itu meminta pelajaran dari pendeta-pendeta Siauw lim sie.
Kong boen buru-buru bangun berdiri dan membalas hormat. "Thio Cinjin, janganlah Cinjin ber guyon guyon," katanya. "Kami adalah orang-oiang yang tingkatannya rendah dan pelajarannya cetek. Bagaimana kami bisa memberi pelajaran?"
Sam Hong mengerti, bahwa pernyataannya terlalu aneh. Maka itu ia lantas saja menceriterakan sejelas-jelasnya duduknya persoalan. Ia menandaskan, bahwa kedatangannya itu yalah untuk menolong jiwa Boe Kie. la mengatakan bahwa ia bersedia memberitahukan pihak Siauw lim segala pelajaran yang telah diperolehnya dari Kioe yang Cin keng dengan harapan, bahwa pihak Siauw lim sudi memberitahukannya bagian bagian Kioe yang Cin keng yang belum dimengerti olehnya.
Sesudah berpikir agak Iama, Kong boen berkata: "Semenjak ribuan tahun, diantara tujuhpuluh dua macam ilmu silat Siauw lim sie, belum pernah ada seorang murid yang berhasil mempelajari lebih daripada duabelas macam."
"Ilmu yang dimiliki Thio Cinjin memang ilmu yang sangat luar biasa. Akan tetapi, ilmu silat yang diwariskan oleh leluhur partai kami dengan sesungguhnya sudah terlalu banyak, sehingga, untuk mempelajari sepersepuluhnya saja, sudah tidak gampang. Thio Cinjin menyatakan bersedia untuk menukar ilmu dengan partai kami dan untuk kesudian itu, kami merasa berterima kasih. Tapi jika dipandang dari sudut kami, kami sebenarnya tak perlu menambah ilmu, sebab kami sendiri sudah memiliki terlampau banyak."
Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula: "Ilmu silat Boe tong bersumber dari Siauw lim. Jika hari ini kedua belah pihak tukar menukar ilmu, maka dikemudian hari, orang orang yang tidak tahu duduknya persoalan, akan mengatakan, bahwa meskipun ilmu silat Boe tong bersumber dari Siauw lim, Siauw lim pay pun pernah memperoleh pelajaran dari Thio Cinjin. Sebagai Ciang boenjin dari Siauw lim pay, desas desus yang semacam itu benar-benar tidak bisa di pertanggung jawabkan oleh Siauw ceng."
Diam-diam Sam Hong menghela napas. Ia merasa menyesal, bahwa Kong boen Taysoe, salah seorang dari empat pendeta suci, bisa mempunyai pemandangan yang sedemikian sempit. Akan tetapi karena kedatangannya adalah untuk meminta bantuan orang, maka sebisa-bisanya ia menahan sabar dan tidak menegur. "Sam wie adalah Seng Ceng (Pendeta suci), selalu menaruh belas kasihan terhadap segenap umat manusia" Katanya dengan suara memohon: " Jiwa anak ini tergantung atas selembar rambut. Maka itu, dengan mengingat welas asihnya Sang Buddha, siauwtoo memohon pertolongan dan untuk itu, siauwtoo berterima kasih tidak habisnya."
Kong tie tertawa dingin. "Benar, memang benar seorang beribadat harus menaruh belas kasihan kepada, ummat manusia," katanya dengan tawar. "Tapi berapa banyak murid Siauw lim telah binasa didalam tangan Thio Coei San Thio Ngo hiap dan isterinya? Karena mereka berdua sudah membunuh diri sendiri, kamipun tidak mau menarik panjang urusan ini. Kalau mau ditarik panjang, kalau kami mau bersendirian, bahwa satu jiwa harus dibayar dengan satu jiwa pula, maka anak inipun harus diserahkan untuk membayar hutang."
Semenjak tadi, Boe Kie yang berdiri disamping kakek gurunya sudah naik darah. Sebegitu jauh, sedapat dapatnya ia menekan hawa amarahtnya. Sekarang begitu mendengar disebutkanaya ayah ibunya, ia tak bisa menahan sabar lagi.
"Thay soecouw," katanya dengan suara nyaring, "hweeshio hweeshio ini telah melaksanakan kematiannya ayah dan ibuku. Aku lebih suka lantas mati sekarang daripada memohon pertolongan mereka!"
"Diam!" bentak Sam Hong. "Dihadapan orang orang tua, tak boleh kau ngaco-belo. Kematian ayah dan ibumu tiada sangkut pautnya dengan pendeta pendeta suci itu."
Boe Kie tidak berani membuka mulut lagi. Tapi sebagai seorang yang beradaat angkuh, diam-diam ia mengambil keputusan untuk menolak pertolongan para pendeta itu, andaikata pertolongan itu mau diberikan.
Selagi Sam Hong menohon dan memohon lagi, tiba-tiba terdengar suara tindakan kuda dan lima orang penunggang kuda kelihatan mendatangi. Orang yang berjalan paling depan bertubuh tinggi besar dan beroman garang, macamnya seperti satu pagoda besi. Begitu tiba didepan Lip soat teng, ia menahan les dan berseru: "Bagus!"
Teriakan "bagus!" itu bagaikan suara halilintar, sehingga semua orang terkejut.
Sambil mengawasi Kong boen, orang itu berkata: "Bwee Ciok Kian dari Boe san pang ingin bertemu dengan Hong thio Siauw lim Sie. Harap kalian sudi melaporkannya."
Kata kata itu yang diucapkan secara biasa, kedengaran sangat keras dan menusuk telinga. Rupanya, sebab memiliki suara keras yang wajar, ditambah dengan daya Lweekang, maka suaranya begitu hebat.
Mendengar nama Bwee Ciok Kian, Boe Kie lantas saja ingat peristiwa yang dialaminya pada dua tahun berselang, yaitu waktu ia menghajar Ho Losam yang telah mengancamnya dengan ulat berbisa. Melihat kegarangan orang itu, ia lalu bersembunyi dibelakang sang kakek guru, karena kuatir dikenali.
Kong boen mengerutkan alis. Ia yakin, bahwa tujuan Bwee Ciok Kian adaiah untuk menyelidiki tempat sembunyinya Cia Soen. Mengingat begitu, ia jadi lebih mendongkol terhadap Coei San dan isterinya yang dianggapnya sudah menyebar bibit penyakit. "Ada urusan apa tuan mencari Hong thio kuil kami?"
Bwee Ciok Kian segera melompat turun dari tunggangannya, dan menjawab seraya merangkap kedua tangannya: "Aku ingin menyelidiki kediamannya seorang."
"Seorang, pendeta tidak mencampuri urusan luar, ia hanya membaca kitab dan bersembahyang," kata Kong tie. "Jika Bwee Pangcoe ingin menyelidiki kediaman seseorang, Siauw lim sie bukan tempatnya."
"Bolehkah aku mendapat tahu, siapa adanya Taysoe ?" tanya Ciok Kian.
"She dan nama adalah sesuatu yang berada di luar badan dan seseorang boleh menggunakan ilmu apapun jua," jawab Kong tie secara menyimpang.
"Hai! Nama saja Taysoe sungkan memberitahukan," kata Bwee Ciok Kian dengan suara keras. "Kalau begitu, perjalananku ke Siong san percuma saja."
Mendadak Kong tie mendapat serupa pikiran "Belum tentu percuma." katanya. "Bukankah Pangcoe ingin menyelidiki tempat kediaman Kim mo Say ong Cia Soen ?"
"Benar, puteraku yang sulung telah dibinasakan oleh Cia Soen" jawabnya, "Jika Taysoe dapat memberi petunjuk, segenap anggauta Boe san pang akan berterima kasih tidak habisnya."
"Kedatangan Pangcoe dihari ini dan diwaktu ini adalah kebetulan sekali," kata Kong tie. "Jika datang kemarin atau datang besok, kedatangan Pangcoe akan percuma saja"
Mendengar itu, bukan main girangnya Bwee Ciok Kian. "Terima kasih atas petunjuk Tay-soe." katanya.
"Dalam dunia hanya seorang yang tahu tempat bersembunyinya Kim mo Say ong Cia Soen," kata Kong tie dengan suara perlahan "Orang itu yalah saudara kecil yang berdiri disitu. Dia adalah putera dari Thio Coei San, Thio Ngohiap, dari Boe tong pay." Seraya berkata begitu, ia menuding Boe Kie.
Waktu Bwee Ciok Kian baru datang, Boe Kie ketakutan dan bersembunyi dibelakang Thio Sam Hong. Tapi sekarang, melihat bahaya sudah tidak dapat dielakkan lagi dan juga mendengar disebutkannya nama ayahnya, ia jadi nekat. Ia merasa, bahwa sikap pengecut sangat menurunkan keangkeran mendiang ayahnya. Ia segera maju ke depan seraya berkata: "Bwee Pangcoe, kau sungguh tidak mengenal malu !"
Semua orang terkesiap. Siapapun juga tak pernah menduga, bahwa bocah kurus kering itu mempunyai nyali yang begitu besar.
"Bocah ! Apa kau mau mampus!" bentak Bwee Ciok Kian.
Boe Kie keder, tapi sambil mengempos semangat, ia berkata: "Dua tahun lebih yang lalu kau telah menyuruh seorang yang barnama Ho Loosam menyamar sebagai murid Kay pang dan Ho Loosam itu telah coba menawan aku. Benarkah begitu? Mengapa kau menggunakan nama Kay pang ? Benar-benar kau tidak mengenal malu!"
Paras muka Bwee Ciok Kian merah padam. Ia mengangkat tangannya, dan lalu menggaplok Boe Kie. Sebab kuatir membinasakan si bocah, ia hanya menggunakan sebagian tenaganya, tapi biarpun begitu, tenaganya yang memang besar sudah pasti tak akan dapat disambut oleh anak itu.
Boe Kie ingin melompat mundur, tapi sudah tidak keburu lagi sebab tenaga telapak tangan Bwee Ciok Kian sudah "menutup" seluruh tubuhnya dan napasnya lantas saja menyesak. Karena tiada jalan, ia terpaksa mengangkat tangannya untuk menangkis.
Mendadak, ia merasa dari punggungnya masuk semacam hawa yang halus dan hangat. Sesaat itu tangannya sudah kebentrok dengan tangan Bwee Pangcoe. "Plak!" tubuh Bwee Ciok Kian terhuyung tiga tindak dan sesudah mengerahkan tenaga Ciang kin toei, barulah ia bisa berdiri tetap.
Bukan main rasa gusar dan malunya Bwee Pangcoe. Mukanya yang merah padam berubah seperti warna hati babi. Dengan mata seolah-olah mengeluarkan api, ia menacap wajah Boe Kie.
Waktu Ho Loosam melaporkan kecelakaan yang menimpa atas dirinya, ia tidak mau percaya. Sekarangpun, bahkan sesudah mengalaminya sendiri, Ia masih tidak percaya, bahwa bocah seperti Boe Kie mempunyai tenaga yang begitu hebat. Tafsiran satu-satunya yalah anak itu memiliki ilmu siluman.
Tapi para pendeta suci dari Siauw lim sie mengerti sebab musabab dari kejadian yang aneh itu. Mereka tahu, bahwa Thio Sam Hong telah membantu cucu muridnya dengan ilmu Kat tee Coan kang (ilmu mengoperkan tenaga). Dengan menggunakan ilmu tersebut, tangan Boe Kie menyerupai sebatang tongkat yang, digunakan oleh Thio Sam Hong untuk menangkis serangan lawan. Kat tee Coan kang bukan ilmu yang terlalu sukar dipelajari. Tapi penggunaan yang begitu bagus, sehingga tidak dapat dilihat lawan, sungguh-sungguh luar biasa. Diam-diam ketiga pendeta suci mengakui, bahwa mereka tidak mampu melakuan apa yang dilakukan oleh Thio Sam Hong.
Dilain saat, Bwee Ciok Kian sudab membentak pula: "Setan kecil! Sambut lagi pukulanku !" Ia mengempos semangat dan menghantam dada Boe Kie dengan sepenuh tenaga. Sambaran tenaga itu sedemikian hebat, sehingga pakaian semua orang jadi bergoyang-goyang. Para pendeta yang kena disambar angin pukulan, merasa dada mereka menyesak dan buru-buru mengarahkan Lwee kang untuk memunahkan tenaga itu.
Selama beberapa tahun Thio Sam Hong menutup diri untuk merenungkan ilmu silat dan Ilmu Thay kek kang, yang digubahnya sendiri sangat berbeda dengan Lweekang dari partai mana pun jua. Ia menggunakan kelemahan untuk melawan kekerasan, yang diam untuk menindas yang bergerak, yang sedikit untuk merebohkan yang banyak, yang kecil untuk menjatuhkan yang besar dan apa yang paling diutamakan yalah ilmu "meminjam tenaga, memukul tenaga."
Melihat pukulan Bwee Ciok Kian yang sehebat itu, Sam Hong jadi mendongkol. "Kau sungguh kejam," katanya didalam hati. "Terhadap anak yang masih begitu kecil, kau turunkan tangan yang begitu berat. Jika aku tidak berada disini, bukan kah Boe Kie akan bancur luluh?" Buru-buru ia menempelkan telapak tangannya dipunggung Boe Kie dan suatu daya Lweekang yang mahal dahsyat, yang dipatahkan dari latihan hampir seratus tahun, lantas saja menerobos masuk kedalam tubuh si bocah.
Sementara itu, Boe Kie sudah menyambut pukulan si raksasa dengan mengangkat tangan kanan nya mendorong dengan tangan kirinya, yaitu dengan menggunakan jurus Kian liong Cay tian
"Plak!". kedua lengan tangan kebentrok, disusul dengan, "aaah!", teriakan Bwee Ciok Kian yang tubuhnya terpental keluar bagaikan layangan putus. Sebelum orang tahu apa yang terjadi, badan si raksasa sudah jatuh diatas cabang pohon siong tua yang tingginya kira-kira lima tombak dari muka bumi. Begitu jatuh, si raksasa melupakan malu dan berteriak-teriak dengan ketakutan.
Meskipun hebat tenaga Sam Hom adalah tenaga "lembek", sehingga Bwee Ciok Kian tak terluka sedikitpun jua. Tapi ia tidak berani melompat turun, karena tidak mengerti ilmunya mengentengkan badan. Maka itu dengan jantung berdebar keras, ia memeluk cabang pohon itu erat-erat.
Semua orang menyaksikan kejadian itu dengan rasa heran bercampur geli. Dua orang sebawahan Bwee Pangcoe yang mahir dalam ilmu ringan badan, lantas saja bergerak untuk menolong pemimpinnya.
Sementara itu, Sam Hong kelihatan bicara bisik bisik dikuping Boe Kie yang manggut-manggutkan kepalanya. Si bocah lantas saja menjemput sebutir batu kecil dan lalu menyentilnya kearah cabang pohon yang sedang dipeluk Bwee Pangcoe. Batu itu terbang dengan mengeluarkan bunyi mengaung, "Tak".... cabang yang dipeluk si raksasa patah dan tubuhnya yang seperti pagoda besi segera ambruk kebawah! Boe Kie melompat dan menepuk punggung si korban.
Waktu melayang jatuh, Ciok Kian merasa pasti, bahwa ia akan terluka berat. Tapi diluar dugaan, ia dipapaki dengan tepukan dan badannya lantas ngapung lagi keatas. Selagi melayang kebawah untuk kedua kalinya, ia berniat menggunakan gerakan Lee hie hoan sin (Ikan gabus membalik badan) agar ia bisa hinggap ditanah diatas kedua kakinya. Tapi heran sungguh, tepukan Boe Kie membuat kaki tangannya lemas semua, sedikitpun tak dapat digerakkan. Demikianlah, ia jatuh ambruk dan sesudah itu, barulah ia dapat merangkak bangun.
Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa itu semua adalah perbuatan Thio Sam Hong. Begitu bangun terdiri, ia mengangkat kedua tangannya seraya berkata: "Enghiong kecil, aku merasa takluk terhadapmu." Sehabis berkata begitu, buruburu ia menyemplak kudanya dan mengajak orang orangnya turun gunung secepat-cepatnya.
Kong boen dan yang lain-lain kaget tak kepalang. Sudah lama mendengar kelihayan Thio Sam Hong, tapi baru sekarang mereka menyaksikannya dan apa yang barusan dipertunjukkan oleh pendiri Boe tong pay itu adalah lebih hebat dari pada dugaan maka. Kong boen sebenarnya tak sudi saling menukar ilmu, tapi sesudah melihat kelihayan Sam Hong, ia berkata dalam hatinya: "Biar pun aku berlatih lima puluh tahun lagi, aku tak akan dapat menandinginya. Ia ternyata memiliki ilmu yang luar biasa, ia berkepandaian jauh Iebih tinggi dari pada aku, sehingga kalau toh aku tukar-menukar dengannya, aku tak rugi."
Memikir begitu, in lantas saja bertanya: "Thio Cinjin, apakah ilmu Kat te Coan kang itu didapat dari Kioe yang Cin keng?"
"Bukan," jawabnya. llmu ini dinamakan Thay kek kang, adalah ciptaan Siauwtoo. Aku yang telah menggubahnya dengan semacam ilmu pukulan yang diberi nama Thay kek loan Sip sam sit (Tigabelas jurus ilmu pukulan Thay kek) dan ilmu pukulan itu tiada sangkut pautnya dengan Kioe yang Cin keng. Manakala Thaysoe sudah menolong cucu muridku, aku tidak akan berlaku pelit dan bersedia untuk merundingkan ilmu pukulan itu bersama-sama kalian."
Kong boen melirik Kong tie yang lantas saja mengangguk. "Kalau begitu, baiklah," katanya, "Kami akan membuka rahasia Kioe yang Cin keng kepada Thio Kongcoe. Akan tetapi, kami hanya menurunkan ilmu itu kepada Thio Kongcoe seorang dan Thio Kongcoe tidak dapat mengajarkannya lagi kepada siapapun jua. Disamping itu, Thio Kongcoe juga tidak boleh menggunakan ilmu tersebut untuk bertempur dengan murid-muridnya Siauw Iim sie. Dalam kedua perjanjian ini, kamimenuntut sumpah yang berat dari Thio Kong coe"
Thio Sam Hong jadi girang sekali. "Boe Kie, kedua syarat itu boleh diterima baik," katanya, "Ayolah, kau boleh bersumpah !"
Tapi anak itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mau bersumpah dan akupun tak sudi belajar ilmu mereka," katanya.
Sang kakek guru terkejut, tapi ia lantas saja mengerti perasaan anak itu. Ia tahu, bahwa Boe Kie beradat keras dan lebih suka mati daripada memohon-mohon di hadapan musuhnya. Maka itu, ia lantas saja menuntun anak itu dan mengajaknya keluar Lip soat teng.
Sesudah terpisah agak jauh dari pendeta-pendeta Siauw lim tie, ia berkata: "Anak, waktu mau berangkat, kau sudah berjanji akan menerima pelajaran dari Siauw lim pay. Mengapa sekarang ini kau justeru melanggar janji?"
"Mereka ingin aku bersumpah untuk tidak menggunakan ilmu Kioe yang Cin keng terhadap murid-murid Siauw lim sie," jawabnya. "dengan adanya sumpah itu, cara bagaimana dibelakang hari aku bisa membalas dendam sakit hatinya kedua orang tuaku"
"Kalau sekarang ini kau menolak pelajaran Kioe yang Cin keng, dalam tempo setahun, kau akan meninggal dunia," kata sang kakek guru. "Sesudah mati, bagaimana kau bisa menuntut balas? Didalam dunia terdapat banyak sekali ilmu silat yang sangat lihay. Jika nanti kau sudah berhasil, kau bisa membales sakit hati dengan menggunakan ilmu silat yang lain. Tak perlu kau menggunakan ilmu Kioe yang Cin keng. Kalau sudah mencapai puncak ke sempurnaan, ilmu manapun jua cukup untuk membalas sakit hatimu."
Sesudah memikir sejenak, Boe Kie berkata "Baiklah, aku turut perintah Thay soehoe." Mereka segera kembali ke Lip soat teng. Boe Kie lantas saja menekuk lutut dan berkata dengan suara nyaring: "Hari ini teecoe Thio Boe Kie menerima pelajaran Kioe yang Cin keng dari pendeta suci Siauw lim pay, dengan tujuan untuk mengobati luka. Teecoe berjanji tidak akan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain dan juga tidak akan menggunakan ilmu itu untuk bertempur dengan murid-murid Siauw lim sie. Kalau teecoe melanggar janji, biarlah teecoe mati membunuh diri sendiri, seperti apa yang dilakukan oleh ayah dan ibuku."
Sebagaimana diketahui, pada waktu baru terlahir, Boe Kie telah diberikan kepada Cia Soen dan ia menggunakan she Cia. Coei San dan isteri nya ingin menunggu putera yang kedua guna menyambung turunan koluanga Thio. Sesudah kedua suami isteri itu binasa dan mereka tak punya anak yang lain, maka atas anjuran Lian Cioe, Lie Heng dan lain-lain paman, Boe Kie menggunakan lagi she Thio.
Sesudah bersumpah, Boe Kie bangun berdiri.
"Dibelakang hari aku akan menggunakan lain ilmu untuk membasmi hweeshio-hweeshio itu," pikirnya dengan mendongkol.
Kong boen Thaysoe lantas saja merangkap kedua tangannya dan memuji: "Siancay, siancay Siauw siecoe (tuan kecil) telah bersumpah terlampau berat!" Ia berpaling kearah Thio Sam Hong dan berkata pula: "Kami akan mengajak Siauw sie coe kedalam kuil untuk memberikan pelajaran Sin kang. Tapi bagaimana dengan Thay kek Sip sam sit?"
"Aku minta kertas dan perabot tulis, dan di sini serta sekarang juga aku akan menulis Thay kek sip sam sit serta bagian-bagian Kioe yang Cinkeng yang dikenal olehku," jawabnya.
"Kalau begitu, baiklah," kata Kong boen yang lalu memberi hormat dan kemudian bersama yang lainnya, kembali kekuil dengan mengajak Boe kie.
Sambil berjalan, bukan main rasa mendongkolnya Boe Kie. "Kioe yang kang Boe tong belum tentu kalah dari Kioe yang kang Siauw lim" Pikirnya. "Kalau Thay Soehoe hanya menukar Kioe yang kang dengan Kioe yang kang, itu baru namanya adil. Tapi kamu mau ditambahkan juga dengan Thay kek koen Sip sam sit. Di samping itu, sesudah mempelajari Kioe yang kang Boe tong, kamu boleh turunkan ilmu itu kepada orang lain dan juga boleh menggunakannya terhadap murid murid Boe tong. Tapi pihak Boe tong tidak boleh. Inilah sangat tidak adil. Karena gara garaku seorang, Song Soepeh, Jie Soepeh dan yang lain-lain tidak akan bisa mengangkat kepala lagi. Hai! Bagaimana baiknya ?" la sangat berduka, tapi ia tidak berani membantah perintah sang kakek guru.
Setibanya di dalam kuil, Kong boen mengantar kan Boe Kie kesebuah kamar kecil. "Siauw Siecoo mengasolah disini," katanya. "Aku akan segera mengirim orang untuk mengajar ilmu kepadamu." Sehabis berkata begitu, ia mengebas dangan tangan jubahnya dan jalanan darah Sweehiat (jalanan darah yang jika tertotok menyebabkan tidur pulas) Boe Kie lantas saja tertotok.
Kong boen Taysoe adalab salah seorang dari empat pendeta suci dari Siauw lim sie. Tak usah dikatakan lagi, ia memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Begitu tertotok jalan darahnya, Boe Kie segera pulas dan menurut perhitungan, ia baru akan tersadar empat jam kemudian. Tapi Kong boen tak tahu, bahwa anak itu memiliki Lweekang luar biasa yang diturunkan oleh Cia Soen. Dan karena adanya Lweekang itu kedudukan jalan darahnya bisa berpindah-pindah. Dua tahun berselang, pada waktu ia dibawa oleb penculik yang menyamar sebagai serdadu Goan, jalan darah Ah hiatnya (jalan darah gagu) telah ditotok. Tapi toh, ia masih dapat berteriak "ayah!" Sekarangpun demikian. Baru pulas beberapa saat, ia sudah tersadar kemball.
Sesudah ingatannya pulih, ia mendengar suara Kong tie yang berkata: "Thio Tah tah adalah guru besar dari sebuah partai sehingga kalau dia sudah menyanggupi, ilmu yang ditulisnya pasti tidak palsu. Andaikata dia sengaja tidak menulis terang, sesudah mempelajarinya, aku merasa pasti kita akan mengerti."
Kecurigaan Boe Kie lantas saja timbul. Ia kuatir kalau-kalau pendeta-pendeta itu mau berlaku licik. Maka itu, ia lantas saja memeramkan kedua matanya dan pura-pura pulas.
Tapi kecurigaan itu sebenarnya tidaklah perlu. Biarpun perhubungan antara Siauw lim dan Boe tong sudah agak renggang, tapi Kong boen, Kong tie dan Kong seng adalah pendeta suci yang tak akan merusak nama baik Siauw lim sie dengan akal bulus.
"Thay kek Sip sam sit dan Boe tong Kioe yang kang yang ditulis Thio Sam Hong sudah pasti tak palsu," kata Kong boen. "Akan tetapi, kita sendiri belum pernah mempelajari Siauw lim Kioe yang kang. Apakah untuk kepentingan orang luar, kita harus memohon-mohon dihadapan Goan tin?"
Boe Kie kaget. la tidak pernah menduga bahwa pendeta pendeta suci itu belum pernah mempelajari Siauw lim Kioe yang kang. Kekuatirannya lantas saja timbul. Ia kuatir mereka turunkan ilmu palsu.
Sementara itu, Kong tie sudah berkata pula: "Soeheng, kau adalah Ciang boen Hong thio (pemimpin partai dan pemimpin kuil). Maka itu, menurut pendapatku, perintahmu tak dibantah oleh Goan tin, tindakanmu ini adalah untuk memperkaya Siauw lim pay dan bukan guna kepentingan sendiri."
Kong Soen menghela napas. "Kalau Kong Kian Soeheng masih hidup, kita boleh tak usah menhadapi kesukaran ini," katanya dengan suara meyesal. Sesudah berhenti sejenak, ia berkata pula "Sam soetee, pergilah kau membawa Sek thungku (tongkat timah) dan memberi perintah kepada Goan tin, supaya ia turunkan ilmu Kioe yang kang kepada pemuda she Thio itu."
"Baiklah," kata Kong tie.
Sebagaimana diketahui, waktu dulu Kak wan menghafal Kioe yang Cin keng ada tiga orang yang mendengarnya, yaitu Thio Sam Hong, Kwee Siang dan Boe sek Siansoe. Belakangan Kioe yang kang yang diperkembangkan oleh Thio Sam Hong dinamakan Boe tong Kioe yang kang, yang diperkembangkan Kwee Siang dikenal sebegai Go bie Kioe yang kang, sedang yang diperkembangkan oleh Boe sek Siansoe yalah Siauw lim Kioe yang kang.
Karena sangat sulit, maka dalam tiap partai hanya beberapa orang saja yang mewarisi ilmu itu. Dalam kalangan Siauw lim sie, tak pernah ada seorang pun yang memiliki tujuh puluh dua macam ilmu silat. Jumlah yang mempelajari Siauw lim Kioe yang kang lebih sedikit lagi. Dari jaman Boe sek sampai pada Kong kian, dalam setiap turunan hanyalah seorang saja yang belajar dalam ilmu tersebut. Mengapa? Karena, di samping memiliki banyak sekali ilmu, murid-murid Siauw Lim sie selalu menganggap Kak wan Taysoe sebagai murid pemburon, sehingga biarpun Kioe yang kang sangat tinggi mutunya, sedikit sekali yang suka mempelajarinya.
Hanya untuk menjaga supaya ilmu itu tidak menjadi hilang, maka pada setiap turunan selalu ada seorang murid yang mempelajarinya.
Pada jaman itu didalam kalangan Siauw lim sie hanya murid penutup (murid yang diterima paling belakang) dari Kong kian Taysoe yang mengerti Siauw Lim Kioe yang kang. Tapi murid itu, yang bernama Goan tin, aneh sekali adatnya. Ia tidak persudi keluar dari kamarnya dan kecuali tiga pendeta suci, tak seorangpun dalam kuil yang di ladeni olehnya.
Menurut kebiasaan, setiap tahun murid-murid Siauw lim sie dijajal kepandaiannya oleh ketiga pendeta suci. Semua murid mengambil bagian. Hanya Goan tin seorang yang saban-saban mengatakan sakit, entah benar, entah bohong, sehingga oleh karenanya, tak seorangpun yang tahu cetek dalamnya kepandaiannya. Dan sekarang, karena Kioe yang kang hanya dimiliki Goan tin seorang dan harus diturunkan olehnya kepada Boe Kie, tidaklah heran kalau Kong boen bertiga merasa sangsi.
Beberapa saat kemudian Kong tie kembali dan berKata Goan tin sungguh aneh. Dia mengatakan, bahwa sesudah mengabdi pada Sang Buddha, ia juga tidak mau bertemu dangan orang luar, tapi karena Hong thio sudah mengeluarkan perintah, maka ia bersedia untuk mengajar ilmu dengan cara Kay tiang Coan tang (Mengajar ilmu dengan teraling tirai).
"Sesukanyalah," kata Kong boen. "Soetee, bawalah pemuda ini kepada Goan tin. Sesudah itu, perintah pengurus dapur mengantarkan sebuah meja perjamuan ke Lip soat teng. Biar bagaimanapun jua, Thio Sam Hong adalah pemimpin dari sebuah partai besar dan kita tidak boleh tidak berlaku hormat."
Sementara itu, Boe Kie terus berlagak pulas. Sesudah lewat sekian lama, barulah datang seorang pendeta kecil yang membawa makanan dan sesudah ia selesai bersantap, pendeta itu lantas saja berkata: "Siauwsiecoe, ikutlah aku."
"Kemana?" tanyanya.
"Hong thio memerintahkan aku membawamu kepada seseorang."
"Kepada siapa ?" tanya lagi Boe Kie.
"Hong thio memesan supaya aku jangan banyak bicara." jawabnya.
Boe Kie mengeluarkan suara dihidung. Diam diam ia mentertawai Kong boen bertiga, sebab ia sendiri sudah tahu, bahwa ia bakal dibawa kepada Goan tin Hweshio.
Tanpa menanya lagi, ia lalu mengikuti pendeta kecil itu. Sesudah melewati belasan gedung dan banyak pekarangan, sehingga Boe Kie merasa sangat kagum akan luas dan megahnya Siauw lim sie, barulah mereka tiba disebuah bangunan kecil yang dikurung dengan pohon pohon siong dan pek. Sambil berdiri didepan tirai pintu, pendeta kecil
itu berseru: "Siauwsiecoe sudah tiba!"
"Masuk," demikian terdengar suara seseorang.
Boe Kie lantas saja mendorong pintu dan bertindak masuk, sedang si pendeta kecil lalu mengunci pintu.
Si bocah mengawasi kesekitarnya. Kamar itu ternyata sebuah kamar kosong. Kecuali selembar tikar ditengah tengah, tidak terdapat apapun jua.
Sesudah mendengar bahwa Goan tin akan memberi pelajaran dengan cara "Kay tiang Coan kang", ia menduga bahwa dalam kamar itu dipasang semacam tirai. Di luar dugaan, kamar itu bukan saja kosong melompong, tapi juga tidak mempunyai lain pintu sehingga tak dapat ditebak dari mana datangnya suara manusia yang barusan. Selagi ia terheran-heran tiba-tiba terdengar pula suara itu: "Duduk! Dengarlah aku segera menghafal Siauw lim Kioe yang kang. Aku hanya akan menghafal satu kali. Terserah kepadamu, berapa banyak yang bisa diingat olehmu. Hong thio telah memerintahkan aku memberi pelajaran itu kepadamu. Aku menurut perintah. Tapi apa kau mengerti atau tidak adalah urusanmu sendiri."
Boe Kie memasang kuping. Sekarang barulah ia tahu bahwa suara itu datang dari tembok sebelah dan Goan tin hweeshio berdiam dikamar sebelah. Pada hakekatnya, mengirim dari alingan tembok bukan kepandaian luar biasa. Siapapun jua dapat melakukannya. Apa yang luar biasa yalah suara Goan tin kedengarannya tegas sekali, seperti juga ia bicara berhadap hadapan. "Lweekang pendeta itu sungguh hebat," kata Boe Kie didalam hati.
Sesaat kemudian, oraag itu berkata perlahan lahan: "Tubuh berdiri tegak, kedua tangan yang dirangkapkan ditaruh didada, hawa tenang, semangat dipusatkan, hati tenteram, paras muka mengunjuk sikap menghormat. Inilah jurus pertama yang dinamakan Wie hok Yan couw (Wie Hok mempersembahkan gada). Ingatlah!"
Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula : "Kedua tumit kaki ditancapkan diatas bumi. Kedua tangan dipentang keluar dengan rata. Hati tenang hawa tentaram mata membelalak mengawasi kedepan mulut ternganga. Ini jurus kedua, Hoen tan Hang mo couw ( Memikul gada untuk menakluki siluman ). Kau ingatlah."
Seterusnya ia menghafal jurus ketiga, keempat kelima sampai pada jurus keduabelas. Mengenai jurus keduabelas, ia berkata: "Jurus ini dinamakan Tiauw wie Yauw tauw (Mengibas buntut, menggoyang kepala), dengan Kouwkoat seperti berikut: Lutut lurut, lengan dilonjorkan, mendorong dengan tangan sehingga mengenakan bumi. Mata membelalak, menggoyangkan kepala, semangat dipusatkan sehingga menjadi satu. Sesudah itu melempangkan tubuh dan menjejak tanah dengan kaki, mengendurkan bahu, memanjangkan lengan, menyabet tujuh kali kekiri kanan dan sekarang sudah selesai Ilmu Kioe yang Ie kin, dikolong langit tiada tandingan."
Hampir berbareng dengan perkataan "dikolong langit tiada tandingan", ia membentak: "Siapa mencuri mendengar diluar? Masuk!"
"Brak!" pintu terpental dan sesosok tubuh manusia jatuh ngusruk. Orang itu bukan lain daripada si pendeta kecil yang tadi mengantar Boe Kie kekamar itu. Dia jatuh meringkuk, kedua matanya meram dan pada mukanya terlihat rasa sakit yang hebat. Boe Kie terkejut buru-buru ia menghampiri untuk membangunkannya.
"Kau urus saja urusanmu sendiri," kata orang dikamar sebelah, "Sekarang kau memerlukan semua kekuatan otakmu untuk mengingat-ingat Kouw koat yang barusan dihafal olehlu. Tidak dapat kau memecah perhatianmu."
"Dua belas jurus itu sudah diingat olehku seanteronya," kata si bocah.
"Apa benar? Coba kau hafal," kata Goan tin. Di dengar dari nada suaranya, ia merasa heran bukan main.
Boe Kie lantas saja menghafal Kouw koat yang barusan diturunkan kepadanya, dari jurus pertama Wie hok Hian couw sampai Tiauw wie Yauw tauw, jurus kedua belas. Benar saja, dalam hafalan itu, tak satu perkataanpun yang salah.
Untuk sejenak Goan tin tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Waktu menerima perintah Kong boen untuk mengajarkan Kioe yang kang kepada orang luar, ia mendongkol dan jika mungkin, ia tentu sudah menolak. Akan tetapi, peraturan dalam kuil Siauw lim sie selalu dipegang keras dan perintah seorang Hong thio, merangkap Ciangboenjin, tidak boleh dilanggar. Di samping itu, perintah Kong boen hanya berbunyi "mengajar anak itu" dan bukan "mengajar anak itu sampai dia paham". Maka itu, menurut anggapannya, jika ia menghafal Kouw koat cepat-cepat, paling banyak si bocah
akan ingat satu dua perkataan. Tapi diluar semua perhitungannya, Boe Kie sudah berhasil memasukkan Kouw koat selengkapnya kedalam otaknya. Ia merasa kagum bukan main, karena kecerdasan dan bakat yang begitu luar biasa sungguh jarang terdapat dalam dunia ini.
Melihat si pendeta kecil terus meringkuk dilantai, Boe Kie merasa sangat tidak tega dan segera bertanya: "Siansoe, apakah kedosaannya Siauw soehoe ini ?"
"Dia mencuri dengar pelajaran tadi dari luar pintu," jawabnya, tawar. "Aku telah menggunakan Kim kong Sian ciang untuk mengajar adat kepada nya. Jangan kuatir. Dalam beberapa saat, ia akan sembuh kembali." Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi. "Aku tak tahu, mengapa Hong thio memerintahkan aku memberi pelajaran Kioe yang Sin kang kepadamu. Aku tidak tahu siapa namamu dan kaupun tak usah tanya namaku. Aku tidak tahu ilmu apa yang sudah pernah dipelajari olehmu. Akan tetapi, aku merasa kagum akan kepintaranmu. kemudian hari, kau mempunyai harapan yang tidak terbatas. Maka itu, aku berniat untuk membantu kau, untuk membuka Kie king Pat meh (pembuluh darah) diseluruh tubuhmu, supaya kalau nanti kau berlatih dengan Kioe yang Sin kang, kau tidak usah mengalami banyak kesukaran."
Sebelum Boe Kie sempat menjawab, mendadak tembok berlubang dan dua lengan muncul dari lubang itu! Boe Kie kaget tak kepalang, ia mencelat dari tempat duduknya dan berseru dengan suara tertahan: "Kau ...kau!..." Itulah kenyataan yang terlalu mustahil ! Tapi, dengan matanya sendiri, ia menyaksikan, bahwa tembok yang tebal itu sudah berlubang karena sodokan tangan Goan tin, seolah-olah tembok tidak lebih daripada tahu yang empuk.
"Tempelkan kedua telapak tanganmu dengan telapak tanganku." memerintah Goan tin. "Aku tidak tahu she dan namamu, akupun tidak tahu kau murid siapa. Hari ini kita bertemu dan jodoh kita habis sampai disini."
Tahu maksud orang yang sangat baik. Pandangan Boe Kie terhadap Goan tin lantas berubah. "Terima kasih atas bantuan Siansoe," katanya seraya melonjorkan tangannya dan menempelkan telapak tangannya ketangan si orang aneh.
"Kendurkan tulang tulang dan otot-otot dalam tubuhmu dan bebaskan pikiranmu dari segala ingatan," kata pula Goan tin.
"Baiklah," kata Boe Kie. Sesaat kemudian, dari kedua telapak tangan Goan tin keluar semacam hawa hangat yang terus menembus ketelapak tangannya, terus naik kelengan dan bahu. Hawa itu halus bagaikan selembar benang, tapi ia dapat merasakan nyata sekali dan perlahan-lahan hawa tersebut masuk kepembuluh darah.
Jika menemui rintangan dan tidak dapat segera menembus, bawa itu berubah lemas dan menerjang berulang-ulang sehingga rintangan ditembuskan. Sesudah lewat delapan pembunuh darah besar hawa itu makin cepat jalannya hingga Boe Kie merasa matanya berkunang-kunang, kepalanya terputar-putar dan berapa kali, ia seperti mau jatuh tenguling.
Akan tetapi dari telapak tangan si orang aneh keluar semacam tenaga menyedot, sehingga telapak tangan Boe Kie melekat keras pada telapak tangan Goan tin dan ia tak sampai tenguling. Dilain saat, ia merasakan seluruh badannya seperti dibakar. Kalau mungkin, ia tentu sudah kabur dan membuka baju untuk menerjun kedalam lautan es disekitar Pang hweeto.
Sesudah lewat sekian lama, bawa panas itu meninggalkan tubuhnya dan kembali ketelapak tangan Goan tin. Sesudah menarik pulang kedua lengannya dari lubang itu, Goan tin berkata dengan suara dingin : "Kau pergilah!"
Boe Kie melongok melalui lubang itu, tapi yang dilihatnya hanya kegelapan. Mengingat budi si orang aneh, ia lantas saja berkata: "Terimakasih banyak atas budi Siansoe yang sangat besar."
Sehabis berkata begitu, ia menekuk kedua lututnya. Mendadak lengan Goan tin muncul lagi di lubang itu dan mengibasnya. Hampir berbareng, tubuh Boe Kie terpentaI dan jatuh diluar pintu. Orang itu ternyata sungkan menerima kehormatan si bocah.
"Pergi kau beritahukan Hong thio, bahwa pelajaran Kioe yang Sin kang telah diturunkan semua kepada Siauw siecoe, juga bahwa Siauwsiecoe mempunyai peringatan yang sangat kuat dan semua pelajaran itu sudah diingat olehnya."
"Baiklah," kata si pendeta kecil yang sudah tersadar dan dengan muka pucat lalu berjalan keluar dari kamar itu.
Boe Kie mengikuti dan mereka berdua lantas saja meninggalkan kuil. Diberbagai ruangan mereka bertemu dengan banyak pendeta yang semua berjalan dengan menundukkan kepala dan tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Didalam kuil terdapat ribuan orang, tapi suasana tetap tenang dan sunyi. Boe Kie merasa kagum dan berkata dalam hatinya: "Memang pantas sekali jika Siauw lim sie dikenal sebagai pemimpin dari Rimba Persilatan." Jika dibandingkan dengan keadaan di kuil Siauw lim sie, Giok hie koan seolah-olah sebuah pasar, dimana semua orang bergerak dan berbicara secara bebas dan merdeka. Hal ini sudah terjadi karena, pertama, agama Tookauw memang menganjurkan hidup bebas, dan kedua, sebab Thio Sam Hong sendiri seorang yang beradat sederhana dan sembarangan.
Setibanya mereka di Lip soat teng, Thio Sam Hong sudah menulis tigapuluh lembar lebih tapi masih menulis terus.
Melihat kerelaan dan pengorbanan guru besar itu Boe Kie merasa terharu, dan dengan air mata berlinang linang, ia berseru: "Thay soehoe!"
Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata: "Kioe yang kang Cap jie sit sudah seluruhnya diturunkan kepada anak oleh Siansoe,"
Sang kakek guru girang. "Bagus," katanya sambil tertawa.
Sesudah menulis lagi beberapa lama, Thio Sam Hong sudah menyelesaikan apa yang mau ditulisnya. Pendeta yang melayani segera balik kekuil untuk memberi laporan dan tidak lama kemudian, Kong boen, Kong tie dan Kong seng datang di Lip soat teng, diikuti oleh seorang pemuda yang berusia kira-kira duapuluh lima tahun. Pemuda itu mengenakan thungsha (jubah panjang) dan ia ternyata seorang murid Siauw lim sie yang tidak menyukur rambut.
Thio Sam Hong merasa heran. Ia tahu bahwa menurut peraturan Siauw Lim sie, sebelum lulus seorang murid bukan pendeta tidak boleh keluar dari pintu kuil. Bagi seorang biasa masuk di Siauw lim sie bukan gampang, tapi keluar dari kuil itu lebih sukar lagi. Apa maksudnya Kong boen mengajak seorang murid bukan pendeta? Tanpa merasa, ia mengawasi pemuda itu yang jangkung kurus, panjang lengannya dan pendek kakinya, sedang kedua matanya bersinar terang, sehingga tidak dapat ditebak, bahwa ia memiliki kecerdasan otak yang luar biasa.
"Kami telah membuat Thio Cinjin banyak capai," kata Kong boen sambil merangkap kedua tangannya.
Sam Hong bersenyum. "Terima kasih atas belas kasihan Hong thio Soe heng, sehingga jiwa anak ini bisa ditolong," jawabnya sambil membungkuk. Sehabis berkata begitu, ia menyodorkan tiga puluh lembar tulisan itu dan lalu berkata pula: "Thay kek boen dan Sip sam sit dan Boe tong Kioe yang kang semua sudah ditulis disini. Aku harap Sam wie Soeheng suka memberi petunjuk petunjuk dan bahwa aku sudah berani memperlihatkan kebodohanku dihadapan kalian, kuharap kalian jangan mentertawai."
Kong boen menyambuti dan tanpa melihat lagi, ia segera menyerahkan tulisan itu kepada pemuda yang berdiri dibelakangnya. Si pemuda segera membacanya dengan teliti, selembar demi selembar.
Sambil mencekal tangan Boe Kie, Sam Hong segera meminta diri.
"Dalam kedatangan kalian, loolap sebenarnya harus mengundang kalian berdiam disini beberapa hari, dan bahwa loolap tidak dapat berbuat begini hatiku merasa sangat tidak enak." kata Kong boen. "Maka sebagai gantinya loolap hanya bisa mengundang Thio Cinjin meneguk tiga cawan arak untuk mengunjuk hormat kami." Pendeta arak dan kedua orang berilmu itu lantas saja ber sama-sama mengeringkan tiga cawan dengan beruntun.
Sesudah itu Kong been, Kong tie dan Kong seng pun turut memberi selamat jalan dengan tiga cawan arak.
Sesudah selesai, Sam Hong dan Boe Kie segera memberi hormat dan memutar badan untuk berlalu. Sebelum bertindak, sekonyong-konyong pemuda jangkung kurus itu berkata: "Soepeh, ilmu silat yang ditulis Thio Cinjin tidak berbeda dengan pelajaran kita. Semua yang telah dibaca olehku, aku sudah belajar dari Soehoe."
Sam Hong terkejut.
"Omong kosong !" bentak Kong been, "Thay kek Sip sam sit adalah mustika Boe tong pay yang digubah oleh Thio Cinjin sendiri. Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa kau sudah pernah belajar ilmu itu?"
Si pemuda segera menyerahkan tulisan Thio Sam Hong itu kepada Kong boen dan berkata: "Soepeh lihat saja sendiri."
Kong boen menyambuti dan lalu membalik-balik beberapa lembar dan kemudian menyerahkannya kepada Kong tie dan Kong seng. Kedua pendeta itu juga membalik-balik beberapa lembar. "Soeheng, benar saja ilmu ini masih termasuk dalam lingkungan ilmu Siauw lim sie," katanya dengan suara perlahan.
Sam Hong kaget bercampur gusar. Thay kek Sip sam sit adalah hasil jerih payahnya selama tigapuluh tahun dan baru pada tahun yang lalu, ilmu itu menjadi sempurna. Intisari daripada ilmu itu ialah dengan kelemahan melawan kekerasan, dengan bergerak lebih dulu. Azas-azas tersebut justeru sebaliknya daripada azas azas ilmu silat Siauw lim sie. Disamping itu, walaupun bersumber dari Kioe yang Cin keng gubahan Tat mo Loo couw, Boe tong Kioe yang kang sudah ditambah dengan banyak perobahan yang keluar dari otaknya Sam Hong. Maka itulah, mendengar kata-kata si pemuda dan Kong tie, guru besar itu jadi sangat mendongkol. Tapi dilain saat, ia sudah dapat menebak sebab musabab dari sikap Siauw lim. Ia mengerti, bahwa ia kuatir dikatakan menerima pelajaran dari Bee tong pay maka pendeta-pendeta suci itu sudah mengeluarkan siasat tersebut.
Sementara itu, sambil mengangsurkan tulisan tulisan itu kepada Sam Hong, Kong boen berkata: "limu silat Boe tong bersumber dari Siauw Lim. Benar saja, apa yang ditulis Thio Cinjin tidak banyak bedanya dari ilmu silat kami."
Sam Hong tertawa. "Apa yang telah ditulis oleh si orang she Thio, sedikitpun aku tidak merasa menyesal," katanya. "Aku mengerti bahwa ilmuku itu sangat cetek dan tidak berharga. Jika Samwie tidak memerlukannya, sebaiknya dibuang saja." Ia tidak menyambuti gabungan kertas itu yang diangsurkan kepadanya.
"Dari kata-katamu, Thio Cinjin, rupanya kau tidak percaya akan pengutaraan kami itu," kata Kong tie. Ia berpaling kepada si pemuda seraya berkata pula: "Yoe Liang, coba kau halal Thay kek Sip sam sit dan Kioe yang kang yang diturunkan olehku kepadamu "
"Baiklah," jawab pemuda itu yang lantas saja menghafal tulisan Sam Hong selengkapnya, sehuruf pun tidak ada yang ketinggalan.
"Thay soehoe, orang itu menghafal dengan membaca tulisanmu," Boe Kie menyelak. "Dan sekarang mereka mengatakan, ilmu Thay soehoe tiada berbeda dengan ilmu mereka. Sungguh tak mengenal malu"
Sam Hongpun tahu. Ia tertawa besar dan sambil mengawasi pemuda itu, ia berkata: "Selagi ketiga pendeta suci mengajak aku minum arak, tuan sudah menghafalkan dua macam ilmu silatku. Kepintaran dan kecerdasan itu tidak dimiliki Sam Hong. Boleh aku mendapat tahu she dan nama tuan yang besar?"
"Cianpwee jangan memuji begitu tinggi," jawabnya. "Boanpwee she Tan, bernama Yoe Liang."
"Saudara Tan," kata pula guru besar itu dengan suara sungguh-sungguh. "Dengan kecerdasanmu, apapun jua yang dipelajari olehmu pasti akan berhasil. Aku hanya mengharap, kau jangan mengambil jalan yang salah. Dengan menggunakan kesempatan ini, aku ingin mempersembahkan kata-kata seperti berikut: Dengan kejujuran kita memperlakukan orang lain, dengan kerendahan hati, kita membatasi diri."
Melihat sinar mata orang tua itu yang tajam bagaikan pisau, Yoe Liang bergidik. Tapi dilain saat ia menjadi mendongkol dan berkata dengan suara kaku: "Terima kasih atas petunjuk Thio Cinjin. Tapi Boanpwee adalah murid Siauw lim dan boan pwee mempunyai Soepeh, Soehoe dan Soesiok untuk mengajar boanpwe."
"Benar," kata Sam Hong sambil tertawa. "Memang aku si tua yang terlalu rewel."
Sesaat itu, Kong tie mengangsurkan gabungan kertas itu. Hampir berbareng dengan itu si pendeta terhuyung dan Yoe Liang yang berdiri didampingnya segera coba memeluknya. Tapi tenaga Kong tie besar luar biasa dan pemuda itu yang kena didorong, lantas saja terpental keluar pendopo dan jatuh ditanah.
Dalam mengirim Lweekang itu, Sam Hong hanya menggunakan sebagian tenaganya dan ia memang tidak berniat jahat. Maka itu, begitu mengerahkan Lweekang kebagian kakinya, Kong tie sudah bisa berdiri tegah. Sam Hong bersenyum seraya berkata: "Itulah ilmu dari Thay kek Sip sam sit. Sekarang terbukti, bahwa walaupun kalian berdua paham akan ilmu itu, tapi kalian belum mempunyai tempo untuk berlatih. Selamat tinggal !" Dengan sekali mengibas tangan, diudara beterbanganlah kepingan-kepingan kertas yang sangat halus, yaitu kertas yang berisi ilmu Thai kek dan Boe tong Kioe yang kang. Sambil menuntun tangan Boe Kie, tanpa menengok lagi ia meninggalkan Siauw sit sat.
Kong boen bertiga saling mengawasi dengatl mulut ternganga. Mereka merasa kagum dan takluk akan kepandaian orang tua itu. Disamping itu, merekapun merasa agak menyesal. "Ilmu itu begitu lihay," kata Kong boen didalam hati."Apa Yoe Liang sudah menghafakan seanteronya? Jika satu huruf saja yang kelupaan, Siauw lim akan menderita kerugian besar."
Malam itu didalam rumah penginapan Sam Hong menyuruh Boe Kie berlatih menurut Kouw koat yang diturunkan oleh Goan tin. Karena tidak ingin mendengar dan melihat cara berlatihnya si bocah, ia sendiri tidur disebuah kamar lain. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, jika ia melihat cara bersemedhi dan gerak-gerakannya serta mendengar jalan pernapasan cucu muridnya itu, ia sudah bisa mengetahui rahasia Siauw lim Kioe yang-kang.
Selama berada dalam perjalanan pulang, iapun belum pernah menanyakan kemajuan Boe Kie. Meskipun ketiga pendeta suci Siauw lim pay berpemandangan agak sempit, akan tetapi mereka adalah orang-orang ternama dalam kalangan Rimba persilatan sehingga ia percaya, mereka tidak akan memberi pelajaran palsu.
Berselang beberapa hari, paras muka Boe kita sudah berubah agak merah sehingga sang kakek guru jadi merasa girang sekali. Sam Hong tahu, bahwa Boe Kie sudah memiliki Kioe yang kang dari Boe tong dan Siauw lim yang saling menambah kekurangan masing-masing. Ia percaya penuh, bahwa kedua macam Kioe yang kang itu akan cukup kuat untuk mengusir racun dingin Hianbeng Sin ciang yang mengeram dalam tubuh si bocah.
Hari itu, mereka tiba ditepi sungai Han soei dan lalu menyewa perahu untuk menyeberang.
Dengan rasa terharu, Sam Hong ingat pengalamannya yang lampau. Ia ingat kesengsaraan dulu, pada waktu ia kabur dari Siauw lim sie dan mau menyeberang sungai itu. Waktu usianya tidak banyak berbeda dengan usia Boe Kie sekarang.
Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa pada akhirnya ia bisa menjadi pendiri Boe tong pay yang sekarang berdiri berendeng dengan Siauw lim pay. Keadaan Boe Kie dihari ini lebih bagus dan lebih unggul daripada diwaktu dulu. Ia percaya, bahwa dikemudian hari, kedudukan bocah itu akan lebih tinggi daripadanya. Mengingat begitu, tanpa ia merasa ia bersenyum dan hatinya bunga.
Mendadak, lamunannya disadarkan oleh teriakan Boe Kie: "Thay soehoe!.... Aku....aku..:." Suaranya bergemetaran dan mukanya pucat pasi. Sam Hong terkesiap. Muka anak itu merah dan pada warna kemerah-merahan itu terdapat sinar hijau. "Thay soehoe!" teriak Boe kie. "Aku....aku tak tahan!" Badannya bergoyang-goyang.
Dengan cepat tangan kiri sang kakek guru mencekal pengelangan tangan Boe Kie sedang telapak tangan kanannya ditempekan dijalan darah Leng-tay hiat dipunggung si bocah. Tapi begitu lekas ia mengirim tenaga dalam untuk membantu Boe Kie melawan racun dingin itu, sekali lagi ia terkesiap karena Lweekangnya lantas saja menerobos masuk ke Kie keng Pat meh. Boe Kie mengeluarkan teriakan menyayat hati dan lalu pingsan.
Kaget orang tua itu bagaikan disambar halilintar. Buru-buru ia menotok untuk menutup dua belas Thay hiat dibadan Boe Kie.
"Mengapa Kie keng Pat meh terbuka?" tanyanya didalam hati. "Dengan terbukanya pembuluh darah, racun bisa lantas masuk kedalam isi perut dan kalau sudah masuk disitu maka sudah tentu tak akan bisa dibuyarkan lagi."
Sesudah berusia lebih dari satu abad dan sesudah ilmunya menecapai puncak kesempurnaan, guru besar itu tenang luar biasa. Tapi kali ini, ia tak dapat mempertahankan ketenangannya. Jantungnya berdebar keras dan keringat dingin mengucur dari dahinya "Apa bisa jadi, Siauw lim Kioe yang kang sedemikian hebat, sehingga dalam beberapa hari saja ilmu itu sudah dapat membuka pembuluh darah ?" Ia tanya lagi dirinya sendiri. "Tidak mungkin! Pasti tidak mungkin ! Lie Heng dan Seng Kok sudah berlatih belasan tahun, tapi latihan itu masih belum cukup untuk membuka pembuluh darah."
Dengan Lweekangnya yang sangat tinggi, jikamau, Sam Hong bisa membantu kedua muridnya untuk membuka Kie-keng pat-meh. Akan tetapi, dalam memberi pelajaran, ia selalu berpendirian bahwa sesuatu yang didapat dengan latihan sendiri adalah lebih berhanga daripada yang diperoleh atas bantuan orang. Dalam mengajar semua muridnya dia tak mau tergesa-gesa. Ia membiarkan murid murid itu berlatih sendiri dan maju dengan per lahan tapi tentu.
Waktu itu, perahu yang ditumpangi mereka tiba ditengah tengah sungai dan karena terdampar ombak, kendaraan air yang kecil itu terombang ambing kian kemari tiada bedanya seperti hati Thio Sam Hong yang bergoncang keras.
Beberapa saat kemudian, Boe Kie tersadar. Sesudah keduabelas Tayhiatnya ditotok, racun dingin tidak bisa masuk kedalam isi perutnya, akan tetapi, karena itu, ia tak dapat menggerakkan badan.
Sekarang Sam Hong tidak menggubris lagi soal pantas atau tidak pantas.
"Nak, bagaimana isi Siauw lim Kioe yang kang yang diturunkan kepadamu?" tanyanya. "Mengapa semua pembuluh darahmu jadi terbuka?"
"Yang membuka yalah Goan tin Siansoe," jawabnya. "Ia mengatakan bahwa ia membantu supaya aku bisa berhasil terlebih siang dalam latihan Kioe yang Sin kang."
"Tapi bagaimana ia jadi membantu kau?" tanya Sam Hong, tergesa-gesa.
Boe Kie segera menceriterakan cara bagaimana ia mendengar pembicaraan antara Kong boen dan Kong tie, cara bagaimana Goan tin memberi pelajaran dengan teraling tembok dan cara bagaimana pendeta aneh itu sudah membantunya dalam membuka Kie keng Pat mah.
Untuk beberapa lama sang kakek guru tidak mengeluarkan sepatah kata. "Kalau pembuluh darahmu perlu dibuka dengan segera, apakah aku tidak dapat melakukan itu?" katanya dengan suara perlahan. "Apa maksud baik atau sengaja dia bermaksud jahat?"
"Goan tin Siansoe telah mengatakan berulang ulang bahwa ia tak tahu she dan namaku, ia tak tahu rumah perguruanku dan akupun tidak perlu tahu she dan namanya," menerangkan Boe Kie.
"Goan tin .... Goan tin ...." Sam Hong berkata, seperti pada dirinya sendiri, "Belum ... belum pernah aku mendengar nama begitu diantara jago-jago Siauw lim sie. Hm ... Ia tak tahu namamu, tak mengenal partaimu. Kalau begitu, ia tak tahu perhubungan antara aku dan kau. Kalau begitu, bantuannya itu, keluar dari hati yang baik."
Sesudah berkata itu, Sam Hong lalu menanyakan Kouw koat Siauw Lim Kioe yang kang. Boe Kie lantas saja menghafal, mulai dari jurus Wie hok Hian couw. Baru saja ia menghafal sampai jurus ketiga. Ciang to Thian boen (Dengan telapak tangan menyangga pintu langit), sang kakek guru sudah berkata: "Cukup! Tak usah kau menghafal terus. Tujuanku hanyalah untuk mengetahui tulen palsunya ilmu yang diturunkan kepadamu. Mulai dari sekarang, kau tidak boleh memberitahukan Siauw lim Kioe yang Sin kang kepada siapapun jua. Kau mesti ingat, bahwa kau tidak boleh melanggar sumpahmu yang sangat berat
"Baik," jawabnya sambil mengawasi muka sang kakek guru, karena Sam Hong telah mengucapkau kata-kata itu dengan suara gemetar. Ia melihat bahwa dalam kedua mata orang tua itu mengembang air. Sebagai seorang yang sangat pintar, ia mengerti, bahwa sang kakek guru sudah tak punya harapan untuk menolong jiwanya lagi.
Mendadak, serupa ingatan berkelebat dalam otaknya. "Thay Soehoe," katanya: "Apakah aku masih bisa bertahan dan bisa pulang ke Boe tong san dengan masih bernyawa?"
"Jangan kau berkata begitu," jawab guru besar itu sambil menahan mengucurnya air mata. "Biar bagaimanapun jua, Thay soehoe akan berdaya untuk menolong jiwamu "
"Kalau aku masih bisa bertemu muka dengan Jie Shapeh, aku sudah merasa puas," kata pula Boe Kie.
"Mengapa begitu?" tanya sang kakek guru.
"Sebab sesudah tidak bisa hidup, anak ingin membuka rahasia Siauw lim Kioe yang kang ke pada Jie Shapeh" jawabnya.
"Anak mengharap supaya dengan menggunakan Kioe yang kang dari Boe tong dan Siauw lim, Shapeh akan dapat menyembuhkan kaki tangannya yang bercacad. Sesuai dengan sumpah anak akan menggorok leher sendiri seperti yang telah dilakukan ayah, supaya dengan begitu, anak dapat menebus sebaglan kecil dari ke dosaan ibu."
Bukan main rasa kaget dan terharunya Sam Hong. Tak pernah ia menduga, bahwa bocah sekecil Boe Kie bisa mempunyai pikiran begitu: "Ah ! ... Jangan kau .... bicara .... yang tidak-tidak." katanya dengan suara parau.
"Hari itu, aku sudah mengerti duduknya persoalan," kata Boe Kie. "Dengan menggunakan jarum beracun, ibu telah melukakan Jie Shapeh sehingga Shapeh bercacad untuk seumur hidupnya. Itulah sebabnya, mengapa ayah telah. . .."
Sam Hong tak dapat mempertahankan diri lagi. Air matanya lantas saja mengucur deras, sehingga membasahi jubah pertapaannya. "Kau. .... kau tak boleh....memikir yang tidak-tidak." katanya sambil menangis sedu-sedan. Sesaat kemudian, sesudah menenteramkan hatinya, ia berkata pula dengan suara angker: "Seorang laki laki harus berjalan dijalanan lurus. Kau sudah berjanji, dengan disertai sumpah berat, untuk tidak memberitahukan pelajaran Siauw lim Kioe yang kang kepada siapapun jua. Janji itu harus dipegang sampai pada akhirnya. Andaikata benar kau bakal mati, aku juga tidak boleh berlaku licik."
Boe Kie terkejut. Ia mengawasi sang kakek guru dengan mulut ternganga, akan kemudian manggut kan kepalanya.
Semenjak kecil sehingga pulang ke Tionggoan, Boe Kie hidup bersama-sama kedua orang tua dan ayah angkatnya, So So dan Cia Soen, memang bukan manusia yang bersih, tapi bahkan Coei San sendiri belum pernah memberi pelajaran bathin kepadanya. Maka itulah, ia belum mengerti soal kehormatan dalam Rimba Persilatan. Sekarang untuk pertama kali, ia menerima nasehat dari kakek gurunya.
Dilain saat, Sam Hong berkata pula dalam hatinya: "Sesudah tahu, bahwa jiwanya tidak bakal tertolong lagi, anak itu rela membunuh diri guna menolong Thay Giam. Jiwa yang sedemikian adalah sesuai dengan jiwa seorang pendekar Rimba Persilatan."
Memikir begitu, ia lantas berniat memberi sedikit pujian kepada Boe Kie, tapi, belum sampai ia membuka mulut, sudah terdengar teriakan seseorang: "Hentikan perahu! Serahkan anak itu! Kalau kau tidak menurut, jangan katakan aku kejam." suara itu nyaring luar biasa, suatu pertanda bahwa orang yang berteriak memiliki Lweekang yang sangat tinggi.
Sam Hong bersenyum lebar. "Siapa yang bernyali begitu besar. berani memerintahkan aku menyerahkau cucu muridku ?" katanya didalam hati.
Ia mendongak dan melihat sebuah perahu kecil yang didayung oleh seorang lelaki brewokan dan dengan badannya, orang itu melindungi dua orang anak kecil, satu lelaki dan satu perempuan. Dibelakang perahu kecil itu mengejar sebuah perahu yang lebih besar, yang ditumpangi oleh empat orang-orang Hoan ceng (Pendeta bukan golongan Han) dan tujuh delapan perwira Mongol yang mendayung perahu.
Lelaki brewokan itu bertenaga sangat besar dan perahunya laju pesat sekali. Tapi perahu yang mengejar didayung oleh orang yang jumlahnya jauh terlebih banyak, sehingga makin lama jarak antara kedua perahu itu jadi semakin pendek.
Beberapa saat kemudian, tampak ke empat Hoan ceng dan perwira-perwira Mongol itu mulai melepaskan anak panah.
Sekarang Sam Hong tahu, bahwa yang dimaui oleh orang-orang itu adalah kedua anak kecil yang dilindungi oleh si orang brewokan. Selama hidup, ia paling benci serdadu-serdadu Mongol yang berbuat sewenang-wenang terhadap orang Han dan seketika itu juga, didalam hatinya timbut niatan untuk menolong. Tapi ia segera mengurung kan niatannya itu, karena ia sendiri harus melindungi Boe Kie yang sedang menderita penyakit berat. Disamping itu, jarak antara perabunya dan kedua perahu yang sedang ubar-ubaran itu masih terlalu jauh, sehingga biarpun ingin, ia tak akan keburu menolong mereka.
Tapi dilain saat terjadi perkembangan yang di luar dugaan. Dengan tangan kiri tetap mendayung perahu, tangan kanan si brewok mengibas anak anak panah yang menyambar dengan penggayuh yang satunya lagi. Tanpa merasa, Sam Hong bersorak dan berkata dalam hatinya: "Orang itu memiliki kepandaian luar biasa. Cara bagaimana aku bisa mengawasi kecelakaan yang menimpa dirinya seorang gagah dengan berpeluk tangan?" Ia lantas saja berpaling kepada situkang perahu seraya berkata: "Coan kee (tukang perahu), dayunglah perahumu kearah kedua perahu itu!"
Si tukang perahu kaget tak kepalang. Sambil mengawasi si kakek dengan mata membelalak ia berkata : "Loo too ya... kau ... kau ... jangan guyon-guyon!"
Melihat keadaan sudah mendesak, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Sam Hong menyentak dayung dan dengan sekali menggayuh, kepala perahu sudah terputar.
Sekonyong-konyong terdengar teriakan menyayat hati. Teriakan itu keluar dari mulutnya salah seorang anak yang lelaki yang punggungnya tertancap sebatang anak panah.
Dalam kagetnya, si brewok membungkuk untuk memeriksa luka anak laki-laki tersebut itu, dan selagi ia membungkuk, dua batang anak panah mengenakan pundak dan punggungnya. Ia mengeluar kan teriakan tertahan. Badannya bengoyang-goyang dan dayung yang dicekalnya jatuh ke air, sehingga perahunya lantas saja berhenti. Sesaat kemudian perahu yang mengejar sudah menyandak dan semua pengejar Ialu melompat keperahu si brewok. Tapi dia laki-laki sejati. Biarpun dikurung oleh begitu banyak. musuh, secara nekat-nekatan in melawan dengan tangan kosong,
"Orang gagah, jangan takut !" teriak Thio Sam Hong. "Aku akan datang menolong kau!" Sambil menggenjot tubuhnya, ia melontarkan dua lembar papan ke air, kaki kirinya menotol papan pertama, kaki kanannya papan kedua dan bagaikan seekor burung raksasa, ia hinggap diatas perahu. Selagi ia melompat, dua orang perwira dengan berbareng melepaskan anak panah, tapi kedua anak panah itu terpental dengan kibasan tangan. Begitu lekas kedua kakinya menginjak geladak perahu, ia menghantam dengan telapak tangan kirinya dan dua Hoan ceng, terpental setombak lebih, akan kemudian tercebur didalam air. Melihat kelihayan si kakek, semua orang kaget bukan main; "Bangsat tua! Mau apa kau?" bentak perwira yang memimpin rombongan.
"Anjing Tat coe !" Sam Hong balas mencaci. "Lagi - lagi kamu mencelakakan rakyat baik baik. Pergi!'
"Kau tahu siapa mereka?" tanya si perwira. "Mereka adalah anak-anaknya penghianat dari Mokauw (agama siluman). Hong siang telah mengeluarkan firman untuk membekuk mereka!"
Mendengar "penghianat dari Mokauw", Thio Sam Hong rupanya terkejut juga. "Apakah mereka orang-orangnya Tincoe Cioe Coe Ong?" Tanyanya didalam hati. Ia menengok kepada sibrewok dan bertanya: "Apa benar?"
Dengan tubuh berlumpuran darah dan sambil memeluk mayat anak lelaki itu, ia menangis dan berkata: "Siauwcoekong (majikan kecil)... Siauw coekong binasa dipanah oleh meraka.. "
Si kakek jadi makin kaget. "Apakah anak itu puteranya Cioe Coe Ong?" tanyanya pula.
"Benar," jawabnya "Aku sudah gagal menunaikan tugasku. Biarlah aku mati bersama sama".
Perlahan-lahan ia menaruh mayat di atas geladak perahu dan kemudian menubruk perwira Mongol itu. Tapi, sebab lukanya terlalu berat dan kedua anak panah itu belum dicabut dari pundak dan punggungnya, maka begitu melompat, ia roboh kembali. Nona kecil itu, yang lengannya tertancap sebatang anak panah, menangis dan sesambat: "Koko! Koko !... "
Didalam hati, Sam Hong merasa menyesal bahwa ia sudah mencampuri urusannya Cioe Coe Ong. Akan tetapi, karena sudah terlanjur, ia tak bisa mundur ditengah jalan. Maka itu, ia menengok kepada siperwira dan berkata: "Anak itu sudah binasa dan mereka berdua telah mendapat luka berat, sehingga tak lama lagi merekapun akan turut binasa. Kalian sudah berpahala besar. Pergilah!"
"Tidak bisa!" kata perwira itu. "Kami mesti memenggal kepala ketiga orang itu."
"Perlu apa kalian berlaku begitu kejam ?" kata pula Sam Hong.
"Siapa kau? Mengapa kau berani campur campur arusan kami ?" tanya siperwira dengan aseran.
Sam Hong tertawa. "Siapa yang bisa menolong sesama manusia, haruslah dia menolong," jawabnya. "Segala urusan dikolong langit boleh dicampuri oleh manusia di kolong langit."
Perwira itu melirik kawan-kawannya. "Siapa adanya Tootiang dan di mana letak kuil mu?" tanyanya.
Mendadak, dua perwira lain mengangkat golok dan menyabet pundak Sam Hong. Kedua senjata itu menyambar bagaikan kilat dan di atas perahu yang sempit, sungguh sukar untuk mengelakkannya. Tapi dengan hanya sekali miringkan badan, guru besar itu sudah kelit senjata musuh. Hampir berbareng, Sam Hong mengeluarkan kedua tangannya yang lalu ditempelkan di punggung kedua penyerang itu. "Pergilah !" Bentaknya seraya mendorong dan tubuh kedua perwira itu lantas saja "terbang", akan kemudian jatuh di atas perahu mereka sendiri.
Sesudah puluhan tahun Sam Hong belum pernah bertempur dan hari ini ia sebenarnya menghadapi jago-jago pilihan dari kaizar Mongol. Semua jago itu kaget tak kepalang, sebab pihak mereka sedikitpun tak dapat berkutik.
Mendadak, seperti orang ingat sesuatu, pemimpin rombongan menatap wajah Sam Hong dengan mulut ternganga dan kemudian berkata dengan suara putus-putus: "Kau ... kau .. apa kau bukan ..."
"Aku adalah seorang yang biasa membunuh Tat coe," kata sikakek seraya mengibas dengan lengan jubahnya.
Hampir berbarengan semua orang itu merasakan satu sambaran angin dan dada mereka menyesak, sehingga mereka tidak dapat mengetuarkan sepatah katapun. Dilain saat, dengan muka pucat mereka berdulu dulu meninggalkan perahu itu dan sesudah menolong kedua Hoan ceng yang tercebur diair, mereka kabur secepat mungkin dengan ramai-ramai mendayung perahu.
Melihat sibrewok dan nona cilik itu dilukakan dengan anak panah beracun, Sam Hong segera mengeluarkan obat pemunah racun. Sesudah itu ia mendayung perahu kecil Itu, mendekati perahunya sendiri. Baru saja ia mau memapah sibrewok untuk berpindah keperahunya, orang itu sudah melompat dengan memeluk mayat dan tangan lain menyekel tangan si nona kecil.
Sam Hong manggut-manggutkan kepala. "Benar-benar laki-laki sejati," pujinya. "Meskipun sudah menderita luka berat, ia tetap menunjuk kesetiaan kepada majikan kecilnya. Aku tak merasa menyesal sudah menolongnya."
Ia sendiri lalu melompat balik keperahunya, dimana ia segera mencabut anak panah yang menancap ditubuh si brewok dan si gadis cilik. Sesudah menaruh obat luka dan membalut luka itu,
Sam Hong tidak lantas mendarat, karena ia menghadapi keadaan yang agak sukar. Boe Kie yang kedua belas Thay hiatnya ditotok, tidak bisa berjalan sendiri, sedang si brewok dan sinona kecil itu adalah pemburonan yang sedang dicari oleh kaki tangan kaizar Mongol. Jika mereka menginap di Loa ho kouw, Sam Hong merasa agak berat untuk melindungi tiga orang itu. Sesudah mengasah otak beberapa saat, ia merogoh saku bajunya, dan ia mengeluarkan beberara tahil perak yang lalu diserahkan kepada si tukang perahu.
"Saudara" katanya sambil bersenyum. "Aku ingin meminta pertolonganmu untuk membawa mereka ke Thay peng tiam supaya mereka bisa menginap disitu."
Si tukang perahu sebenarnya sangat ketakutan tapi melihat jumlah uang yang begitu besar, ia lantas saja manggut-manggut kepala.
Si brewok buru-buru berlutut diatas geladak perahu dan berkata: "Budi Loo tooya yang sangat besar tak akan dapat dibelas oleh Siang Gie Coen."
Sam Hong membangunkan orang itu seraya berkata "Siang Enghiong, tak usah, tak usah kau jalankan peradatan besar."
Tiba-tiba ia terkejut, sebab waktu tangannya menyentuh tangan Siang Gie Coen, ia merasa tangan itu dingin luar biasa. "Siang Enghiong apakah kau mendapat luka di dalam badan ?" tanyanya.
"Benar", jawabnya sambil mengangguk. "Dengan membawa kedua majikan kecil ini, Siauw jin (aku yang rendah) berangkat dari Sin yang untuk pergi ke Selatan. Di sepanjang jalan empat kali siauwjin bertempur dengan kuku garuda (kaki tangan kaizar) yang dikirim oleh Tatcoe. Dada dan punggungku telah terkena pukulan seorang Hoan ceng."
Sam Hong segera memeriksa nadi Siang Gie Coen dan mendapat kenyataan, bahwa denyutan nadi sudah lemah sekali. Kemudian ia membuka baju si brewok dan begitu melihat lukanya, ia terkejut, karena luka itu sudah bengkak dan sangat berat. Ia mengerti, bahwa tanpa memiliki kekuatan badan yang luar biasa, Siang Gie Coen tentu sudah tidak dapat bertahan lagi. Ia segera mempersilahkan Gie Coen mengaso digubuk perahu dan melarangnya banyak bicara.
Mereka tiba di Thay pang kiam diwaktu malam. Sam Hong lantas saja pergi ke kota untuk membeli obat-obatan yang kemudian segera dimasak dan diberikan kepada Siang Gie Coen dan sinona kecil.
Gadis itu, yang baru berusia kira-kira sepuluh tahun dan yang paras mukanya mengunjuk, bahwa sesudah besar ia bakal jadi seorang wanita yang luar biasa cantik, duduk terpaku disamping mayat kakaknya. Melihat begitu, Sam Hong merasa kasihan dan menanya dengan suara lemah lembut: "Nona, siapa namamu?"
"Aku, Cioe Tit Jiak", jawabnya. "Bolehkah aku mendapat tahu nama Too tiang?"
Rasa simpathi guru besar itu jadi makin besar karena dalam kedukaannya, anak itu masih tetap agung dan sopan. "Aku, Thio Sam Hong." jawabnya.
"Ah!" demikian terdengar teriakan Siang Gie Coen yang lantas bangun duduk. "Kalau begitu Tootiang adalah Thio Cinjin dari Boe tong san! Tak heran jika Tootiang memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Aku merasa sangat beruntung, bahwa hari ini aku bisa bertemu muka dengan Sian tiang (dewa)"
"Jangan gunakan istilah dewa", kata si kakek seraya bersenyum. "Aku hanya berumur lebih panjang dari manusia kebanyakan Siang Enghiong, tidurlah. Jangan banyak bergerak supaya lukamu tidak terbuka lagi."
Melihat kegagahan Siang Gie Coen dan sopan santunnya Cioe Tit Jiak, Sam Hong merasa senang sekali. Tapi begitu mengingat bahwa mereka itu adalah orang-orang dari golongan sesat, hatinya lantas saja berubah dingin. "Jie wie mendapat luka berat dan tidak boleh banyak bicara." katanya dengan suara tawar.
Dulu, Thio Sam Hong sebenarnya tidak begitu menghiraukan perbedaan antara golongan sesat dan lurus. lapun pernah mengatakan kepada Coei San, bahwa "ceng" (lurus besar) dan "sia" (sesat kotor) sukar dibedakan. Kalau berhati tidak baik, murid murid dari partai lurus bersih bisa melakukan perbuatan jahat, sedang murid-murid dari partai yang katanya sesat kotor dapat melakukan perbuatan mulia, jika hati mereka bersih. Ia juga pernah mengatakan, biarpun angkuh dan beradat aneh, In Thian Ceng dari Peh bie kauw adalah laki laki yang bertanggung jawab atas segala perbuatan nya.
Akan tetapi, semenjak Coei San membunuh diri ia membenci Peh bie Kauw. Ia menganggap, bahwa kebinasaan Coei San dan kecelakaan Jie Thay Giam adalah gara-gara Peh bie kauw. Walaupun ia masih dapat menahan sabar dan tidak menuntut balas terhadap In Thian Ceng, tapi didalam hatinya sudah terdapat kebencian yang sangat terhadap partai golongan "sesat".
Cioe Coe Ong adalah murid terutama golongan Bie lek cong dari "agama" sesat. Beberapa tahun yang lalu. Cioe Coe Ong telah memberontak di Wan cioe dan mengangkat dirinya sendiri menjadi "kaizar", dengan kerajaan yang dinamakan "Cioe". Tapi bala tentaranya telah dibasmi habis oleh tentara Goan, dan ia sendiri ditangkap dan di hukum mati.
Bie lek cong dan Peh bie kauw mempunyai hubungan erat. Waktu Cioe Coe Ong memberontak, In Thian Ceng telah memberi banyak bantuan dari Ciat kang timur.
Bahwa Thio Sam Hong sudah menolong Siang Gie Coen dan Cioe Tit Jiak, adalah karena didorong oleh rasa kesatriaan dan juga sebab pada waktu turun tangan, ia masih belum tahu siapa adanya mereka itu.
Sekarang, mengingat nasib dua orang muridnya, tanpa merasa ia menghela napas panjang. Tak lama kemudian, si tukang perahu sudah selasai masak dan menaruh empat macam makanan dengan daging ayam, daging babi, ikan dan sayur, bersama sebakul nasi dan diatas sebuah meja kecil.
Sam Hong segera menyilakan kedua tamunya makan lebih dulu, sebab ia sendiri ingin manyuapkan Boe Kie yang tidak bisa bergerak. Atas pertanyaan Siang Gie Coen, ia menerangkan sebab musababnya.
Karena hatinya berduka, Boe Kie tidak bisa makan banyak. Baru saja menelan satu dua suap, ia sudah menggeleng-gelengkan kepala.
Tiba tiba Tit Jiak mengambil mangkok nasi dan sumpit dari tangan Sam Hong. "Too tiang, kau makan lebih dulu. Biar aku saja yang menyuapkan Toako," katanya.
"Aku sudah kenyang," kata Boe Kie.
"Toako, jika kau tak mau makan, Too tiang jadi kesal dan iapun tidak akan mau makan," kata si nona dengan halus. "Apa kau tega membiarkan orang tua itu kelaparan?"
Boe Kie merasa perkataan gadis itu ada benarnya juga. Maka, waktu Tit Jiak mengangsurkan sendok nasi kemulutnya, ia lalu membuka mulut data memakannya. Dengan hati-hati, si nona kecil mencabut tulang-tulang ikan dan ayam dan pada setiap sendok nasi, ia menambahkan kuah daging, sehingga menimbulkan napsu makan dan tidak lama kemudian, Boe Kie sudah menghabiskan semangkok nasi.
Melihat begitu, Sam Hong merasa terhibur, Diam-diam ia merasa bahwa dalam sakitnya yang begitu berat, Boe Kie memang harus dirawat oleh seorang wanita yang halus budi pekertinya. Semeatara itu, Siang Gie Coen makan dengan bernapsu. Ia telah menghabiskan semangkok sayur dan empat mangkok nasi, tapi daging dan ikan tidak disentuh olehnya.
Dilain pihak, meskipun ia seorang toosoe, Sam Hong sendiri makan makanan berjiwa. Melihat nafsu makan Siang Gie Coen, ia segera menawarkan daging dan ikan kepada tamunya itu.
"Thio Cinjin," kata si brewok, "Sebagai orang yang memuja Po sat, aku tidak makan makanan berjiwa."
"Ah ! Aku lupa," kata Sam Hong.
Dalam kalangan "agama siluman", peraturan paling dipegang keras sekali. Anggauta "agama" itu setiap hari hanya diperbolehkan makan satu kali dan dilarang makan makanan berjiwa. Peraturan itu sudah berjalan sedari jaman kerajaan Tong. Oleh sebab sepanjang masa pemerintah selalu berusaha untuk membasminya, sedang orang-orang Rimba persilatan juga memandangnya rendah, maka anggauta-anggauta "agama" sesat sangat berhati hati dalam segala sepak terjangnya. Mereka tidak makan makanan berjiwa karena dilarang "agama" nya tapi terhadap dunia luar, mereka selalu mengatakan, bahwa mereka ciacay (hanya makan sayur sayur) sebab menyembah Po sat atau Sang Buddha. Mereka tidak berani mengakui siapa sebenarnya mereka.
"Thio Cinjin, kau adalah penolong jiwaku," kata Siang Gie Coen sesudah selesai bersantap. "Sesudah kau tahu siapa adanya aku, akupun tak perlu menggunakan tedeng-tedeng lagi. Aku adalah seorang anggauta Beng kauw yang mengabdi kepada Beng coen. Agama kami dibenci oleb kerajaan, dipandang rendah oleh partai-partai persilatan yang lurus dan bahkan diejek oleh orang-orang "sejalan hitam" (kawanan perampok). Tapi Thio Cinjia sendiri, malah sesudah mengetahui asal usul kami, masih rela menyodorkan tangan untuk menolong kami. Budi yang sangat besar itu tak akan dapat dibalas."
Pemimpin besar dari "agama" sesat itu dinamakan "Mo-ni", sedang para penganut memanggitnya dengan panggilan "Beng coen". Mereka menamakan "agama" mereka sebagai "Beng kauw." (Agama terang), sedang orang luar memberi nama "Mo kauw" atau Agama siluman.
Sam Hong mengawasi Gie Coen dengan mata tajam dan berkata: "Siang Enghiong...."
"Lo too ya," memutus Gie Coen, "janganlah kau menggunakan kata-kata enghiong. Panggil saja namaku, Gie Coen."
"Baiklah," kata guru besar itu sambil mengangguk. "Gie Coen, berapa usiamu sekarang?"
"Baru masuk duapuluh tahun," jawabnya.
Sam Hong mengawasi pemuda itu. Ia kelihatannya banyak lebih tua lantaran berewoknya yang tebal. Dari suara dan gerak-geriknya, ia memang masih muda sekali.
Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya. "Kau baru saja masuk usia dewasa, masih muda sekali," katanya. "Biarpun kau sudah masuk kedalam agama sesat, masih belum terlalu dalam. Jika kau mau memutar kepala, masih belum terlambat. Aku ingin mempersembahkankan dengan beberapa perkataan dan aku harap kau tidak menjadi gusar."
"Ajaran Tootiang tentulah juga berharga seperti emas dan batu kumala," kata pemuda itu sambil membungkuk. "Mana bisa aku merasa gusar?"
"Baiklah", kata guru besar itu. "Aku ingin menasehati supaya kau cepat-cepat mencuci hari dan mengubah muka supaya kau segera meninggalkan agama yang sesat itu. Manakala kau tidak mencela Boe tong pay yang ilmunya cetek, aku akan memerintahkan supaya muridku yang kepala, yaitu Song Wan Kiauw, menerima kau sebegai murid. Dihari kamudian kau akan bisa mengangkat muka dan tidak seorangpun berani memandang rendah lagi kepadamu."
Song Wan Kiauw adalah kepala dari Boe tong cit hiap dan namanya telah menggetarkan seluruh Rimba Persilatan. Bagi ahli silat yang biasa untuk menemuinya saja, sudah bukan gampang. Dalam beberapa tahun yang belakangan, baru Boe tong Cit hiap mulai menerima murid. Tapi dalam penerimaan murid itu selalu dilakukan pemilihan dan penyaringan yang sangat keras. Hanyalah orang orang yang berbakat dan beradat baik barulah di terima menjadi anggauta Boe tong pay. Siang Gie Coen adalah seorang anggauta "agama" sesat. yang dipandang jijik oleh masyarakat seumumnya. Maka itu tawaran Thio Sam Hong merupakan juga rezeki luar biasa pemuda itu.
Tapi, diluar dugaan, Gie Coen menjawab dengan sikap hormat: "Bahwa aku, Siang Gie Coen telah mendapat penghargaan yang begitu tinggi dari Thio Cinjin, bukan main rasa terima kasihku. Akan tetapi, sesudah menjadi anggauta Beng kauw seumur hidup aku tak berani membelakangi agamaku itu"
Sam Hong coba membujuk lagi, tetapi pemuda itu tetap menolak dengan hormat dan tegas. beberapa saat kemudian, dengan rasa menyesal, ia lalu mendukung Boe Kie seraya berkata: "Kalau begitu, biarlah kita berpisahan disini saja," Dalam kata-kata perpisahan itu, ia malah tidak mengucapkan perkataan, "sampai bertemu lagi," yang lazimnya digunakan.
Sebelum tuan penolong itu meninggalkan perahu, sekali lagi Siang Gie Coen menghaturkan terima kasih dengan berlutut.
"Thio Toako," kata si nona cilik kepada Boe Kie, "setiap hari kau harus makan kenyang kenyang, supaya Loo too-ya jangan jengkel."
Air mata Boe Kie lantas saja mengembang dan dengan suara putus-putus ia menjawab: "Terima kasih untuk kebaikanmu.... Tapi aku hanya bisa makan nasi beberapa hari saja."
Bukan main rasa dukanya kakek guru itu. Ia mengangkat lengannya dan menggunakan tangan jubah untuk menyusut air mata cucu muridnya.
"Apa?" menegas Tit Jiak dengan suara kaget "Kau...kau..."
"Nona kecil, hatimu sangat mulia," kata Sam Hong, "Aku mendoakan supaya dibelakang hari kau jalan dijalanan yang lurus"
"Terima kasih atas nasehat Loo too-ya," jawab Cioe Tit Jiak.
"Thio Cinjin," tiba-tiba Gie Coen berkata, "kau memiliki Lweekang dan kepandaian yang sangat tinggi. Biarpun luka saudara kecil itu sangat berat, aku percaya kau akan dapat menyembuhkannya."
"Benar," kata Sam Hong yang tanpa dilihat Boe Kie, sudah menggoyangkan tangan kirinya sebagai keterangan kepada Gie Coen, bahwa lukanya bocah itu tidak dapat diobati lagi.
Gie Coen terkejut. "Thio Cinjin," katanya pula, "aku sendiri telah mendapat luka yang sangat berat dan sekarang aku justeru ingin meminta pertolongan dari seorang tabib malaikat. Mengapa Thio Cinjin tidak mau mencoba-coba?"
Thio Sam Hong menundukkan kepala. "Semua pembuluh darahnya telah terbuka, sehingga racun dingin bisa membuyar dan masuk kedalam perutnya," katanya dengan suara perlahan. "ia tidak akan dapat disembuhkan dengan memakai obat biasa dan didalam dunia, tak seorangpun bisa mengobatinya."
"Tapi," kata Siang Gie Coan, "tabib malaikat yang dimaksudkan olehku memiliki kepandaian luar biasa tinggi, sehingga kata orang ia malah mampu menghidupkan mayat."
Sam Hong terkejut dan mendadak saja, ia ingat satu orang. "Apakah yang dimaksudkan olehmu bukan Tiap-kok Ie sian?" tanyanya.
"Benar," jawabnya. "Kalau begitu, Tootiang pun mengenal Ouw Soepehku."
Guru besar itu kelihatan agak bersangsi. Memang sudah lama ia mendengar nama Tiap kok le Sian Ouw Ceng Goe yang dipandang rendah oleh orang Rimba Persilatan. Ia mempunyai adat yang sangat aneh. Kalau orang yang sakit atau terluka anggauta "agama"nya, ia segera menolongnya dengan sepenuh tenaga tanpa mau menerima bayaran apapun jua. Tapi, kalau yang memohon pertolongan bukan pengikut "agama", biarpun dibayar dengan laksaan tail emas, ia tak akan meladeni.
"Aku lebih suka Boe Kie mati dari pada menyerahkan nya kepada orang dari agama sesat itu," katanya didalam hati.
Melihat kesangsian Sam Hong, pemuda itu dapat menebak apa yang dipikirnya dan ia lantas saja berkata: "Thio Cinjin, meskipun Ouw Soepeh biasanya menolak untuk mengobati orang luar, tapi karena Thio Cinjin telah menolong jiwa Cioe Kouw nio, ia pasti akan membuat kecualian. Andaikata ia menolak, Gie Coen pasti tak mau mengerti."
Sam Hong menghela napas dan berkata dengan suara duka: "Mengenai kepandaian Ouw Sinshe, sudah lama aku mendengarnya. Hanya sayangnya, racun dingin yang mengeram didalam tubuh Boe Kie sekarang ini tidak akan dapat disembuhkan dengan obat biasa...."
"Thio Cinjin!" teriak Gie Coen. "Mengapa kau begitu bersangsi? Kalau diobati oleh Soepehku, paling banyak saudara kecil itu tidak sembuh. Kalau kekiri mati, kekananpun mati, perlu apa Tootiang memikir panjang?"
Sebagai orang yang beradat polos, ia bicara segala apa yang berkelebat diotaknya.
Mendengar "kekiri mati, kekananpun mati", hati guru besar itu bergoncang keras. "Apa yang dikatakan olehnya memang tidak salah," pikirnya. "Menurut penglihatanku, paling banyak Boe Kie bisa bertahan dalam tempo sebulan lagi." Mengingat begitu, ia lantas saja berkata: "Gie Coen, baiklah, aku minta pertolonganmu. Akan tetapi, sebelum pertolongan diberikan, aku ingin menjelaskan terlebih dulu, bahwa Sinshe tidak boleh membujuk atau memaksa Boe Kie masuk kedalam agama kalian. Disamping itu, jika Boe Kie benar menjadi sembuh, Boe tong pay tidak menanggung budi agama kalian."
"Thio Cinjin," kata Gie Coen, "dengan berkata begitu, kau jadi memandang terlalu rendah kepada orang-orang kami." Ia berpaling kepada Cioe Tit Jiak dan berkata puta: "Cioe Kauwnio, aku ingin kau mengikut Thio Cinjin untuk sementara waktu. Apa kau suka?"
Sebelum si nona menjawab, Sam Hong sudah mendahului: "Apa?"
"Aku tahu bahwa Thio Cinjin tidak suka pergi kepada Ouw Soepehku," kata Gie Coen. "Dapat dimengerti, bahwa lurus dan sesat tidak bisa berdiri berendeng. Thio Cinjin adalah seorang guru besar pada jaman ini. Cara bagaimana Thio
Cinjin bisa meminta pertolongan dari seorang anggauta agama sesat? Disamping itu, adat Ouw Soepeh juga aneh sekali. Jika ia bertemu dengan Thio Cinjin, mungkin sekali Ia tidak berlaku sopan santun, sehingga pertemuan itu bisa berakibat sebaliknya daripada apa yang diharap. Maka itu, menurut pendapatku, sebaiknya saudara Thio dibawa olehku sendiri. Tapi, akupun mengerti, bahwa Thio Cinjin merasa sangsi untuk menyerahkan saudara Thio kepadaku. Maka itulah, aku minta Cioe Kouwnio berdiam di Boe tong san untuk sementara waktu. Nanti, sesudah saudara Thio sembuh, aku akan mengantarkannya ke Boe tong san dan sekalian mengambil pulang Cioe Kouwnio. Dengan perkataan yang lebih tegas, aku ingin minta Cioe Kauwnio mengikut Thio Cinjin untuk dijadikan semacam tanggungan."
Dalam pergaulannya selama puluhan tahun, Thio Sam Hong selalu berterus terang dan menaruh kepercayaan kepada orang-orang Rimba Persilatan. Akan tetapi, Thio Boe Kie adalah turunan tunggal dari muridnya yang tercinta, sehingga memang benar ia sangat bersangsi untuk menyerahkannya kepada seorang dari kalangan "agama" sesat.
Sebelumnya guru besar itu sempat menjawab, Siang Gie Coen sudah berkata pula "Cioe Cie Ong, Cioe Toako, adalah seorang yang bener-benar luhur pribudinya. Sesudah gagal dalam gerakannya di Sin yan, duapuluh tiga anggauta keluanganya telah dibinasakan oleh Tat-coe. Bahkan ibu Toako yang sudah berusia tujuhpuluh delapan tahun, tidak luput dari kebinasaan. Sesudah bertempur mati-matian, barulah aku dapat menolong seorang putera dan seorang putrinya. Tak dinyana, Siauw kongcoe telah binasa terpanah musuh sehingga Kauwnio merupakan turunan yang satu-satunya dari Ciao Toako. Sebagai salah seorang pemimpin Beng kauw, Cioe Toako mempunyai banyak musuh. Bukan saja Tat coe, tapi musuh musuh lainnya pun akan menyukarkan Thio Cinjin jika mereka tahu, bahwa Cioe Kauwnio berada di Boe tong..."
Tanpa merasa Sam Hong tertawa. Sebelum ia menyanggupi untuk menerima Cioe Tit Jiak, pemuda yang polos itu sudah memperingatkannya. Ia berdiri bengong beberapa saat. Memang juga, lain jalan tidak ada, kekiri mati, kekananpun mati, jalan satu-satunya yalah mencoba coba kepandaian Tiap-kok Ie sian. Mengingat begitu, ia lantas saja berkata: "Gie Coen baiklah. Aku akan merawat Cioe Kauwnio baik baik dan kaupun harus merawat Boe Kie sebaik baiknya. Sesudah anak itu sembuh, kuharap kau lekas-lekas datang di Boe tong san."
"Thio Cinjin tak usah kuatir," jawabnya dengan suara lantang. "Aku pasti akan menunaikan tugas dengan sepenuh tenaga"
Sehabis berkata begitu, ia melompat kedarat dan membuat sebuah lubang ditanah dengan ujung golok, kemudian, sesudah membuka semua pakaian yang menempel dimayat majikan kecilnya, ia lalu menguburnya dalam keadaan telanjang.
Sesudah itu, bersama Cioe Tit Jiak, ia memberi hormat didepan kuburan. Nona Cioe menangis sedih, sedang ia sendiri berdiri tegak sambil menahan mengucurnya air mata.
Mayat bocah itu dikubur dalam keadaan telanjang adalah sesuai dengan kebiasaan Bang kauw. Menurut "agama" itu, seorang manusia yang dilahirkan kedalam dunia dengan tidak memakai pakaian, haruslah berpulang ke alam baka dalam keadaan begitu juga. Sam Hong yang tidak tahu sebab musabab penguburan yang aneh itu, hanya menhela napas dengan perasaan, bahwa sepak terjang orang-orang "agama" sesat benar-benar sesat.
Pada keesokan paginya, sambil menuntun Tit Jiak, guru besar itu berpisahan dengan Gie Coen dan Boe Kie. Semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia, Boe Kie menganggap sang kakek guru seperti kakeknya sendiri. Sekarang secara mendadak kakek guru itu meninggalkannya, sehingga tanpa tertahan lagi, air matanya mengucur deras.
"Boe Kie," kata Sam Hong sambil mengusap usap kepala anak itu. "Sesudah kau sembuh Siang Toako akan membawa kau pulang ke Boe tong. Kita hanya berpisahan untuk beberapa bulan dan kau tak perlu bersusah hati."
Anak itu yang kaki tangannya sudah tidak bisa bergerak akibat totokan sang kakek guru, hanya manggut-manggutkan kepala, sedang air matanya mengucur.
Melihat begitu, nona Cioe segera kembali keperahu. Ia mengeluarkan sehelai sapu tangan kecil dari sakunya dan lalu menyusut air mata Boo Kie. Ia bersenyum dan sesudah memasukkan sapu tangan itu ditangan baju Boe Kie, barulah ia melompat balik kedarat.
Hati Sam Hong bergoncang. "Nona kecil itu, sangat cantik dan dihari kemudian, ia pasti akan menjadi seorang wanita yang ayu luar biasa," pikirnya. "Sesudah Boe Kie sembuh, aku tidak boleh membiarkan mereka bertemu muka lagi. Jika mereka sampai saling menyinta, hikayat Coei San mungkin akan terulang lagi."
Dengan hati duka, Boe Kie mengawasi bayangan sang kakek guru yang menuju ke arah barat sambil menuntun tangan nona Cioe, yang tidak berhentinya mengulap-ulapkan tangan, sehingga bayangannya menghilang diautara pohon-pohon.
Sesaat itu, hati si bocah mencelos, benar-benar ia merasa hidup sebatang kara dalam dunia yang lebar ini dan air matanya kembali mengucur.
Gie Coen mengerutkan alis. "Saudara Thio, berapa usiamu?" tanyanya.
"Dua belas tahun," jawabnya.
"Hm... " Gie Coen mengeluarkan suara di hidung. "Usia dua belas tahun bukan anak anak lagi. Apa kau tak malu, menangis? Waktu aku berusia duabelas tahun, aku sudah menerima pukulan ratusan kali, tapi tidak setetes air mata keluar dari mataku. Seorang laki-laki sejati hanya boleh mengucurkan darah, tak boleh mengucurkan air mata. Kalau kau terus menangis seperti bayi, aku akan hajar kau."
Melihat kegarangan si brewok, Boe Kie jadi agak keder. "Baru saja Thay soehoe pergi, kau sudah begitu galak." pikirnya. "Entah berapa besar kesengsaraan yang bakal diderita olehku." Mengingat begitu, ia lantas saja berkata dengan suara nyaring. "Aku menangis karena merasa sedih harus berpisahan dengan Thay soehoe. Aku belum pernah menangis sebab pukulan. Mau pukul boleh kau pukul. Kalau hari ini kau memukul aku satu kali, dihari kemudian nanti aku akan membalas sepuluh kali."
Gie Coen tertawa terbahak-bahak, "Bagus! Bagus !" katanya. "Itulah perkataan seorang laki laki. Kau begitu liehay, tak berani aku memukul kau."
"Mengapa ? Aku sedikitpun tidak bisa bergerak," kata si bocah.
"Kalau hari ini aku memukul kau, dikemudian hari, sesudah kau memiliki kepandaian tinggi, bagaimana aku kuat menerima sepuluh kali pukulanmu ?" jawabnya.
Boe Kie tertawa. Ia merasa bahwa meskipun garang, Siang Toako bukan seorang jahat.
Dengan mengunakan perahu, mereka menuju ke Han kouw dan sesudah tiba di Han kouw, Gie Coen menyewa lain perahu dan berlayar kealiran sebelah bawah dari Tiangkang timur.
Tiap kok, atau selat kupu kupu, tempat tinggal Tiap kok Ie sian terletak di pinggir telaga Lie san ouw, sebelah utara propinsi An hoei. Sebagaimana diketahui, dari Han kouw sampai di Kioe kang, sungai Tiang kang mengalir kejurusan tenggara. Sesudah melewati Kioe kang, sungai itu membelok kearah timur laut dan masuk ke propinsi An hoei.
Boe Kie berlayar dengan perasaan duka. Ia ingat bahwa pada dua tahun berselang, ia pernah berlayar di sungai Tiangkang bersama sama kedua orangtuanya dan pa man Jie Lian Cioe. Selama dalam pelayaran, ia gembira bukan main, tetapi sekarang, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia secara mengenaskan, kaki tangannya tidak bisa bergerak dan ia sendiri berada dalam rawatan seorang sahabat baru dalam perjalanan untuk memohon pertolongan kepada seorang aneh. Antara kedua pelayaran itu terdapat perbedaan seperti langit dan bumi. Ia bersedih, tapi sebisa bisa ia menahan mengucurnya air mata, karena kuatir ditertawai olen Siang Toakoo.
Setiap hari, pada Coe sie (antara jam 11 malam dan jam 1 lewat tengah malam) dan Ngo sie (antara jam 1 siang sampai jam 1 lohor), racun dingin mengamuk dalam tubuhnya. Sambil mengertak gigi dan menggigit bibir, ia menahan sakit, sehingga bibirnya sampai tertuka akibat gigitan. Di samping itu, makin hari serangan racun makin hebat.
Pada suatu hari mereka tiba di Kwa po, sebelah bawah Cip keng (sekarang Nan king). Dengan mendukung Boe Kie, Gie Coen mendarat dan lalu menyewa kereta untuk meneruskan perjalanan ke utara. Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Beng Kong, di sebelah timur Hong yang.
Gie Coen tahu bahwa Soepehnya yang beradat aneh itu paling tidak senang tempat tinggalnya di ketahui orang. Maka itu, pada waktu kereta berada dalam jarak kira-kira dua puluh li dari Lie san ouw, ia segera turun dari kereta dan sambil menggendong Boe Kie, lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.
Tapi diluar dugaannya, baru saja ia berjalan kurang lebih satu li badannya lemas dan napasnya tersengal-sengal. Ia terkejut dan mengerti, bahwa itulah akibat dari luka yang dideritanya karena pukulan im ciang dari dua pendeta asing.
Boe Kie merasa sangat tidak tega. "Siang Toa ko." katanya. "Jalan saja perlahan-lahan. Jangau kau merusak badan."
"Celaka sungguh!" kata Gie Coan dengan gusar. "Menurut kebiasaan, sekali lari aku bisa melalui seratus li. Apakah pukulan kedua pendeta bangsat itu sedemikian hebat, sehingga aku tidak dapat berjalan lagi?" Dengan amarah yang meluap-luap ia berjalan terus. Baru jalan puluhan tombak, ia merasa tulang-tulangnya seperti mau copot. Tapi Siang Gie Coen seorang keras kepala dan keras hati. Sambil mengertak gigi, ia maju terus, setindak demi setindak.
Dengan kemajuan yang sangat lambat itu, sampai malam barulah mereka melalui separuh perjalanan. Jalanan gunung yang berbelit belit dan turun naik menambah penderitaan pemuda itu.
Akhirnya, waktu tiba disebuah hutan ia tak dapat bertahan lagi. Perlahan-lahan ia menaruh Boe Kie diatas tanah dan kemudian, ia merebahkan diri untuk mengaso. Ia mengeluarkan kue phia dari sakunya dan membagi kue itu kepada Boe Kie untuk menangsal perut.
Sesudah mengaso kira-kira setengah jam, Gie Coen bangun berdiri untuk meneruskan perjalanan, tapi Boe yang merasa kasihan terhadapnya, berkeras untuk mengaso semalaman dihutan itu. Sesudah berpikir sejenak, ia merasa pendirian si bocah ada benarnya juga. Andaikata, mereka bisa tiba dirumah Ouw Ceng Goe pada malam itu, sang Soepeh yang beradat aneh mungkin bergusar karena diganggu tidurnya dan kalau dia bergusar, mungkin sekali dia akan menolak untuk mengobati. Memikir begitu, ia lantas saja menyetujui usul Boe Kie.
Mereka tidur dengan menyender dikaki sebuah pohon besar. Kira-kira tengah malain, racun dingin mengamuk lagi dan Boe Kie memanggil keras. Karena sungkan mengganggu Gie Coen yang sudah capai lelah, ia menahan sakit sambil menggigit bibir.
Selagi ia bergulat melawan racun dingin itu, sekonyong-konyong terdengar suara beradunya senjata, disusul dengan suara bentakan seorang: "Mau lari kemana kau?"
Bentakan, disusul pula dengan teriakan beberapa orang lain.
"Cegat ditimur ! Cepat ! Supaya dia masuk kehutan!"
"Bangsat gundul itu tidak boleh dilepaskan ! Cegat!"
Hampir berbareng terdengar tindakan sejumlah orang yang menuju kearah hutan.
Dengan kaget Siang Gie Coen tersadar. Satu tangannya segera menghunus golok, lain tangan mendukung Boe Kie, siap sedia untuk melarikan diri sambil bertempur.
"Siang Toako, kurasa mereka bukan maui kita," bisik Boe Kie.
Gie Coen mengangguk. Di dalam hati ia sudah mengambil keputusan, bahwa meskipun mesti membuang jiwa, ia akan coba melindungi keselamatan bocah itu. Hanya ia merasa menyesal, bahwa sesudahb mendapat luka, ilmu silatnya sekarang sudah musnah seanteronya.
Mereka mengintip dari belakang sebuah pohon besar. Mereka melihat berkelebat-kelebatnya bayangan orang tujuh delapan orang sedang mengurung dan mengerubuti satu orang. Karena gelap, mereka tak tahu siapa adanya orang-orang itu. Mereka hanya tahu, bahwa orang yang dikepungnya melawan dengan tangan kosong dan bahwa orang itu lihay luar biasa, sehingga biarpun dikerubuti, ia masih dapat membela diri secara bagus sekali.
Sesudah bertempur beberapa lama, setindak demi setindak, orang-orang itu mendekati tempat bersembunyinya Gie Coen berdua. Pada waktu sang rembulan muncul dari alingan awan hitam mereka melihat, bahwa orang yang dikepung yalah seorang pendeta yang berusia kira-kita lima puluh tahun, tubuhnya kurus jangkung data mengenakan jubah pertapaan serba putih. Dipihak pengepung terdapat pendeta, imam, seorang lelaki yang memakai pakaian koan kee (pengurus rumah tangga) dan dua orang perempuan. Makin lama Gie Coen makin merasa heran. Delepan pengurung itu masing masing memiliki kepandaian tinggi. Dua orang pendeta yang satu bersenjata Sian thung dan yang lain memegang golok menyerang dengan pukulan-pukulan yang disertai sambaran angin dahsyat, sehingga daun-daun pohon meluruk jatuh kebawah.
Si imam, toosoe yang bersenjatakan pedang panjang, aneh gerak-gerakannya. Sebentar ia melompat kekiri, sebentar kekanan. Sedang pedangnya yang menggetar tak henti-hentinya mengeluarkan sinar berkeredepan.
Lelaki yang berpakaian seperti koan kee, kate kecil tubuhnya. berguling-guling ditanah dan menyerang bagian bawah sipendeta jubah putih dengan menggunakan ilmu golok Tee tong To hoat. Kedua goloknya terputar putar bagaikan sebuah bola yang menggelinding di tanah.
Kedua wanita itu, yang bertubuh langsing dan masing masing mencekal sebatang pedang, juga menyerang dengan pukulan pukulan yang sangat lihay.
Selagi bertempur hebat, salah seorang wanita mendadak memutar badan, sehingga separuh mukanya disoroti sinar rembulan.
"Kie Kouwnio!" seru Boe Kie dengan suara tertahan. Wanita itu bukan lain daripada Kie Siauw Hoe, tunangan In Lie Heng. Tadi melihat pendeta si jubah putih dikerubuti oleh begitu banyak orang, Boe kie merasa mendongkol terhadap pihak pengepung. Tapi sekarang sesudah melihat Kie Siauw Hoe, pandangannya berubah dan ia menganggap, bahwa pendeta itu manusia jahat.
"Delapan orang mengerubuti satu orang, terlalu tak mengenal malu." Gie Coen berkata seorang diri. "Siapa mereka?"
"Yang wanita dari Go bie pay," bisik Boe Kie, "Hm... dua pendeta itu orang Siauw Lim sie." Sesudah mengawasi pertempuran beberapa saat, dia berkata pula "Si toosoe orang Koen loan pay. Lihatlah! Pukulan Tay mo Hoei soe (Tay mo Hoe see artinya Pasir beterbangan di gurun pasir) itu sungguh amat hebat. Itulah pukulan simpanan dari Koen loen pay. Tapi siapakah lelaki yang menggunakan ilmu silat Tee tong To hoat?"
"Apa bukan dari Khong tong pay ?" tanya si brewok.
"Bukan," jawabnya. "Dalam Tee tong to hoat Khong thong pay, orang halus menggunakan sebatang golok yang dicekal di tangan karan, dan sebatang toya ditangan kiri. Orang itu menggunakan sepasang golok."
Mendengar keterangan si bocah, Siang Gie Coen merasa kagum. "Setiap murid Boe tong benar-benar berpengetahuan luas," pikirnya. Tapi ia tak tahu bahwa pengetahuan itu didapat Boe Kie bukan dari Boe tong tapi dari ayah angkatnya.
Sebagaimana diketahui, di dalam tekad untuk membalas sakit hatinya, Cia Soen telah mempelajari hampir semua ilmu-ilmu silat yapg dikenal didalam Rimba Persilatan.
Pertempuran berlangsung terus dengan hebatnya, akan tetapi pendeta jubah putih itu masih tetap dapat mempertahankan diri. Tubuhnya berkelebat kelebat bagaikan kilat, tenaganya dahsyat luar biasa, sedang gerakan tangannya hampir tak bisa dilihat tegas, karena terlampau cepat.
Tiba-tiba terdengar bentakan salah seorang: "Gunakan senjata rahasia !"
Si kate kecil dan si imam lantas saja melompat keluar dari gelanggang pertempuran, disusul dengan menyambarnya nyambrnya peluru serta Hoei to (golok terbang) ke arah si pendeta. Diserang secara begitu, dia mulai keteter.
"Pheng Hweeshio !" bentak si imam. "Kami bukan maui jiwamu, perlu apa kau nekad-nekadan? Serahkan Pek Kwie Sioe dan kita akan berpisahan sebagai sahabat."
Siang Gie Coen terkesiap, "Pheng Hweeshio" bisiknya.
Boe Kie pun tidak kurang kagetnya. Waktu berada dalam perjalanan pulaing ke Boe tong bersama kedua orang tuanya dan Jie Lian Cioe ia pernah mendengar, bahwa Pek Kwie Sioe adalah orang Peh bie kauw satu satunya yang bisa pulang dengan selamat dari pulau Ong poan San. Dan murid murid Koen loan juga terlolos dari kebinasaan, tapi mereka hilang ingatan karena teriakan Cia Soen. Maka itu, selama belasan tahun, dalam pertempuran dangan Peh bie kauw tujuan jago-jago berbagai partai adalah untuk mendesak supaya Pek Kwie Sioe memberitahukan dimana adanya Cia Soen
"Apakah Pheng Hweeshio segolongan dengan ibuku?" tanya Boe Kie didalam hati.
Sementara itu, Pheng Hweeshio sudah menjawab dengan suara Iantang: "Pak Tancoe sudah dilukakan berat oleh kamu. Jangankan aku dan dia-masih sama-sama orang-orang segolongan, terhadap orang luar sekalipun, aku tak bisa mengawasi kebinasaan dengan berpeluk tangan."
"Omong apa kau!" bentak si imam. "Mengawasi kebinasaan dengan berpeluk tangan? Kau tahu, tujuan kami bukan mengnendaki jiwanya. Kami hanya menyelidiki tempat bersembunyinya seorang."
"Kalau kamu mau menyelidiki dimana adanya Cia Soen, mengapa kamu tidak mau pergi kepada Hong thio Siauw lim sie?" tanya si pendeta.
"Tutup bacotmu!" bentak si pendeta Siauw lim. "Apa kau tidak tahu, bahwa itu hanya tipu busuk dari perempuan siluman In So So?"
Mendengar disebutkannya nama mendiang ibunya, Boe Kie merasa bangga agak bercampur duka."Hm .... sesudah meninggal dunia, ibu masih bisa membuat kalian semua pusing kepala," katanya di dalam hati
Sambil bicara, pertempuran berlangsung terus dengan dahsyatnya. Si toosoe mengajak, bicara dengan tujuan untuk memecah pemusatan pikiran Pheng Hweeshio. Tapi pendeta itu yang cerdas otaknya dan tinggi ilmu silatnya, tidak kena diakali. Biarpun mulutnya bicara, kewaspadaannya sedikitpun tidak jadi berkurang. Tapi, karena jumlah musuh terlalu besar dan musuh-musuh itu pun bukan sembarang orang, maka ia tetap tidak berhasil dalam usahanya untuk menerjang keluar dari kepungan.
Sekonyong-konyong, si imam yang melepaskan senjata rahasia dengan berdiri diluar gelanggang, berteriak: "Celaka! Senjata rahasia habis!" berbareng dengan teriakan itu, semua kawannya menggulingkan diri ditanah dan lima batang golok terbang menyambar bagaikan kilat. Ternyata kata kata "senjata rahasia habis" adalah semacaan isyarat supaya semua orang bergulingan untuk menyingkirkan diri dari sambaran lima batang Hoeito yang menyambar dalam bentuk bunga bwee.
Dalam keadaan biasa, dengan menundukkan kepala, membungkuk, melompat kedepan atau menjengkangkan diri, Pheng Hweeshio akan dapat mengelakkan lima golok itu yang menyambar dadanya. Tapi sekarang, sebab sambil bergulingan, keenam musuhnya juga menyerang dengan senjata mereka, maka bagian bawah badannya tertutup semua.
Boe Kie mencelos hatinya.
Mendadak tubuh Pheng Hweeshio meleset keatas kira-kira setombak tingginya, dan lima buah golok terbang lewat di bawah kakinya. Tapi, meskipun senjata rahasia sudah dielakkan, Sianthung dan golok kedua pendeta Siauw lim serta pedang dari toesoe Koen loan pay sudah manyambar lututnya dengan berbareng. Sesaat itu tubuh Pheng Hwee shio masih di tengah udara, sehingga, mau tidak mau, ia terpaksa menggunakan pukulan yang berbahaya dan membinasakan.
"Ptak!", telapak tangan kirinya menghantam kepala seorang pendeta Siauw lim dan dengan sekali menjambret, tangan kanannya sudah merampas golok pendeta itu, yang lalu digunakan untuk menangkis Sianthung. Dengan meminjam tenaga dari bentrokan kedua senjata itu, badannya "terbang" beberapa tombak jauhnya. Pendeta Siauw lim yang ditepuk kepalanya, sudah binasa seketika itu juga. Sambil berteriak-teriak, tujuh kawannya mengubar Pheng Hweeshio.
Di lain saat, badan Pheng Hweeshio kelihataan bergoyang-goyang, hampir-hampir jatuh terguling, dan ketujuh musuhnya lantas saja mengurung.
Sambil memutar Sianthung, si pendeta Siauw lim menerjang dan berteriak "Pheng Hweeshio! Kau membinasakan Soeteeku. Mari kita mengadu jiwa !"
"Lututnya sudah kena Sia wie kauw (Gaetan buntut kalajengking. semacam senjata rahasia) !" teriak si toosoe Koen loen. "Tak lama lagi, dia akan mampus keracunan!"
Benar saja, tindakan Pheng Hweeshio kelihatan limbung dan perlawanannya terhadap si pendenta Siauw lim, sudah kalut.
"Celaka!" bisik Siang Gie Coen. "Ia adalah guru Cioe Toako. Bagaimana aku harus menolongnya?"
Boe Kie tahu, bahwa si brewok adalah manusia yang tidak bisa menonton kecelakaan kawan sambil berpeluk tangan. Biarpun dirinya sendiri terluka berat, ia masih mau menolong orang. Andai kata ia sampai menerjang keluar, ia hanya akan mengantarkan jiwa dengan cuma-cuma. Tiba-tiba Boe Kie mendapatkan serupa ingatan dan ia lantas saja berkata: "Siang Toako, kau ingin menolong Pheng Hweeshio bukan?"
"Tidak bisa tidak ditolong!" jawabnya. "Ia kena senjata beracun, Tapi, aku sendiri .... aku sendiri ...."
"Aku mempunyai serupa daya untuk memulihkan tenagamu," memutus si bocah. "Kau akan bisa bertahan selama setengah jam, tapi dengan demikian, kau akan merusak tenaga dalammu."
Sesudah mendengar keterangan si bocah mengenai limu silat berbagai partai, Gie Coen percaya, bahwa anak yang sangat pintar itu adalah murid istimewa dari Thio Sam Hong, sehingga ia tidak menyangsikan omongan itu.
"Untuk menolong jiwa manusia, aku rela merusak tenaga dalamku sendiri."
"Ambillah dua butir batu yang tajam," bisik Boe Kie.
Gie Coen segera melakukan apa yang diminta. "Apa ini boleh?" tanyanya sambil mengangsurkan kedua batu itu.
"Boleh," jawab si bocah sambil mengangguk. "Dengan tajamnya batu, totoklah samping pahamu, dibawah pinggang."
"Disini?" tanya Gie Coen sambil menunjuk samping pahanya.
"Lebih bawah sedikit," kata si bocah. "Ya! benar disitu. Kesebelah dikit, setengah coan. Bagus! Nah, sekarang totoklah."
Si berewok lantas saja menotok paha kanannya dengan batu itu dan hampir berbareng, ia merasa pahanya kesemutan.
"Inilah ilmu yang dinamakan Tie sin Tah hiat hoat (ilmu menotok jalan darah untuk mempertinggi semangat)," menerangkan Boe Kie. "Totoklah paha kirimu."
Si berewok agak bersangsi. Walaupun belum pernah belajar, ia tahu bahwa dalam Rimba Persilatan terdapat ilmu Tiam hiat yang dapat melumpuhkan anggauta badan manusia. Akan tetapi, meskipun mengingat itu, ia tetap percaya omongan Boe Kie, karena menurut anggapannya, sebagai sebuah partai persilatan yang namanya menggetarkan dunia, Boe tong pay tentunya juga mempunyai cara-cara yang lain dari pada yang lain. Demikianlah, ia segera menotok lagi pada paha kirinya.
Tapi, di luar dugaan, begitu paha kirinya tertotok, separuh badannya, mulai dari pinggang ke bawah, tidak dapat digerakkan pula.
Sementara itu, sesudah melompat beberapa tombak jauhnya, Pheng Hweeshio lalu roboh di tanah.
"Saudara Thio!" kata si brewok dengan bingung. "Mengapa.... badanku seperti mati separoh ?"
Boe Kie tertawa geli di dalam hati, karena Siang Gie Coen sudah tertipu, tapi ia pura pura kaget dan mengeluarkan seruan tertahan: "Celaka! Kau tidak mengerti Tiam hiat, mungkin sekali kau salah dalam menggunakan tenaga. Tunggulah sebentar."
Siang Gie Coen bukan seorang tolol. Di lain saat ia sudah mengerti, bahwa ia terjebak oleh muslihat si bocah nakal. Tapi iapun tahu, bahwa dengan berbuat begitu, Boe Kie bermaksud baik sekali. Ia tidak dapat berbuat lain daripada menghela napas dengan perasaan mendongkol tercampur geli.
Pheng Hweeshio menggeletak di tanah tanpa bengerak, seolah olah ia sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan. Akan tetapi biarpun begitu, musuh musuhnya masih belum berani mendekati.
"Kouw Soetee, cobalah kau menimpuk lagi dengan dua buah golok terbangmu, untuk mencoba-coba," kata si toosoe Koen loen pay.
Too jin yang dipanggil "Kouw Soetee," segera mengayun tangan kanannya dan dua Hoeito menyambar, yang satu menancap di pundak kanan Pheng Hweeshio, sedang yang lain mengenakan paha kirinya. Tapi pendeta jubah putih itu tetap tidak bergerak, suatu bukti, bahwa dia benar benar sudah binasa.
"Sayang ! Sayang dia sudah mati," kata si too soe Koen loen. "Sekarang sukar diselidiki, dimana dia menyembunyikan Pek Kwie Sioe."
Semua lalu mendekati "mayat" Pheng Hweesio.
Mendadak, mendadakan saja, terdengar Suara "plak... plak.... plak ...." lima kali beruntun, dan lima orang roboh terguling! Hampir berbareng, dengan semangat bergelora, Pheng Hweeshio bangun berdiri, dengan pundak dan paha masih tertancap golok.
Ternyata, sesudah kena senjata beracun dan yakin, bahwa jiwanya tidak akan dapat ditolong lagi, Pheng Hweesio lalu pura-pura mati. Begitu lawannya mendekati, ia segera menghantam lima orang musuh lelaki dengan pukulan Ngoheng ciang. Ia sengaja mengampuni dua orang lawan wanita, yaitu Kie Siauw Hoe dan Soecienya yang bernamar Teng Bin Koen.
Dalam kagetnya, kedua murid Go bie pay itu melompat mundur. Mereka melihat, bahwa kelima kawannya muntahkan darah dan dua antaranya yang Lweekangnya agak lemah, sudah jatuh berlutut. Sesudah mengeluarkan banyak tenaga, tubuh Pheng Hweeshio pun bergoyang-goyang.
"Teng Kouwnio, Kie Kouwnio!" teriak si too soe Koen loen. "Tikamlah bangsat gundul itu!"
Antara sembilan orang yang tadi bertempur, seorang pendeta Siauw lim sudah binasa, sedang Pheng Hweeshio dan lima lawannya mendapat luka berat, sehingga hanya Teng Bin Koen dan Kie Siauw Hoe yang tidak kurang suatu apa.
Mendengar teriakan si toosoe Koen loen, Teng Bin Koen segera mengangkat pedang dan menyabet kaki si pendeta.
Pheng Hweeshio mengeluh. "Karena merasa kasihan terhadap orang perempuan, aku tidak berlalu kejam terhadap kamu, tapi tidak dinyana, rasa kasihanku berbalik mencelakakan diriku sendiri" katanya didalam hati. Ia meramkan kedua matanya untuk menunggu kebinasaan.
Tiba-tiba terdengar suara "trang!" suara benturan senjata. Pheng Hweeshio membuka mata dan mendapat kenyataan, bahwa yang menolongnya ialah Kie Siauw Hoe.
"Eh, mengapa kau begitu?" tanya Teng Bin Koen dengan kaget.
Nona Kie tertawa. "Soecie," katanya. "Pheng Hweeshio tidak berlaku kejam terhadap kita dan kitapun tidak boleh membunuh dia."
"Aku juga bukan mau mengambil jiwanya," kata Teng Bin Koen. "Aku hanya ingin memaksa supaya dia memberitahukan tempat sembunyinya Pek Kwie Sioe."
"Dia telah keracunan hebat, paling dulu kita harus memunahkan racun itu," kata Kie Siauw Hoe seraya mendekati si toosoe Koen loen dan berkata: "Saudara See leng, berikanlah obat pemunah Sie wie kauw kepadaku."
Too ho (nama sebagai orang pertapaan) dari toojin itu ialah See leng coe, sedang toojin yang melepaskan golok terbang bernama See ciat coe dan mereka kedua duanya adik sepenguruan See hoa coe.
"Belenggu dulu padanya," kata See leng coe. "Hweeshio ltu banyak akal bulusnya...." Ia bicara dengan napas tersengal-sengal karena pukulan Ngo beng ciang telah membuatnya terluka berat.
Kie Siauw Hoe mengangguk dan sesudah mengambil seutas tambang, ia menghampiri Pheng Hweeshio. "Pheng Taysoe" katanya dengan suara lemah lembut, "aku mohon maaf untuk kekurangan ajarku."
Karena tak ada jalan lain, mau tak mau si pendeta membiarkan kaki tangarnya dibelenggu.
Sesudah itu barulah See leng coe mengeluarkan obat yang lalu diserahkan kepada nona Kie dengan memberitahukan juga cara-cara menggunakannya. Siauw Hoe lalu mencabut dua Hoeito yang menancap dipundak dan paha Pheng Hweeshio dan kemudian menaruh obat dilubang-lubang.
"Pheng Hweeshio!" bentak Teng Bin Koen. "Soe moyku berhati murah dan sudah menotong jiwamu. Sekarang beritahukanlah dimana adanya Pek Kwie Sioe."
Peng Hweeshio tertawa terbahak-bahak. "Teng Kouwnio," katanya, "dengan berkata begitu, kau memandang aku terlalu rendah. Thio Ngohiap dari Boe tong pay lebih suka bunuh diri daripada memberitahukan tempat tinggal saudara angkatnya. Pribudi Thio Ngohiap yang luhur itu dikagumi sungguh oleh Pheng Eng Giok. Maka itu biarpun aku bukan seorang ternama, aku ingin mengikut perbuatan Thio Ngohiap."
Mendengar itu, bukan main rasa bangganya Boe Kie. Kematian Coei San sangat disayangkan oleh orang-orang Rimba Persilatan dan mereka menganggap, bahwa kebinasaan Thio Ngohiap adalah karena menikah dengan seorang wanita "siluman" dari partai yang sesat. Sebagai anak yang cerdas, Boe Kie tahu, bahwa dalam omong omong antara kakek guru dan para pamannya, mereka sangat berduka akan kematian ayahnya, tetapi mendongkol terhadap mendiang ibunya. Tapi dari semua pembicaraan yang pernah didengarnya, belum pernah ada seorang yang mengutarakan rasa hormat begitu besar terbadap ayahnya seperti pengutaraan Pheng Hweeshio.
Teng Bin Koen tertawa dingin. "Dengan menikah dengan perempuan siluman, Thio Coei San seperti juga sudah buta matanya," katanya. "Dia sendiri juga yang rela menjadi seorang hina dina. Apa orang begitu pantas dibuat contoh? Boe tong pay...."
"Soecie!" memutus Kie Siauw Hoe.
"Jangan kuatir," kata sang kakak sepenguruan "Aku tak akan menyeret nama In Liok hiap," Ia mengibas pedangnya yang lalu ditudingkan kemata kanan si pendeta. "Kalau kau tidak bicara, lebih dulu kutusuk mata kananmu." Ia mengancam dengan suara bengis. "Kemudian kutikam mata kirimu. Sesudah itu, kusodok kuping kanan dan kuping kirimu dan akhirnya kupapas hidungmu. Tapi kau tak usah kuatir. Biar bagaimanapun juga, aku tak akan mengambil jiwamu." Ujung pedang yang berkilauan dan menggetar tak hentinya itu hanya terpisah setengah dim dari mata kanan Pheng Hweeshio.
Tetapi Pheng Hweeshio sedikitpun tidak menjadi gentar. Dengan mata tak berkedip, ia berkata: "Sudah lama kudengar, bahwa Biat coat Soethay dari Go bie pay seorang kejam. Sekarang aku mendapat kenyataan, bahwa si murid tidak banyak berbeda dengan sang guru. Hari ini Pheng Eng Giok sudah jatuh kedalam tanganmu dan kau boleh berbuat sesukamu."
"Bangsat gundul!" teriak Teng Bin Koen. "Kau berani menghina guruku?" Dengan sekali mendorong pedangnya, mata kanan Pheng Hweeshio sudah menjadi buta dan kemudian ia menempelkan ujung pedang dikelopak mata kiri si pendeta.
Tapi pendeta itu tertawa terbabak-babak sedang mata kirinya yang terbuka lebar menatap muka musuhnya. Ditatap begitu, dengan sinar mata yang berkeredepan, jantung Teng Bin Koen memukul keras. "Kepala gundul !" bentaknya pula. "Aku sungguh tak mengerti akan sikapmu. Kau bukan anggauta Peh bie kauw, tapi mengapa kau rela membuang jiwamu untuk manusia seperti Pek Kwie Sioe ?"
"Biarpun aku menerangkan kepadamu tentang cara-caranya seorang kesatria, kau tentu tak akan mengerti." jawabnya dengan suara duka.
Melihat paras muka si pendeta yang seolah-olah memandang rendah kepadanya, Teng Bin Koen meluap darahnya dan sekali lagi ia menggerakkan pedang untuk menusuk mata kiri Pheng Hweeshio.
Dengan cepat Kie Siauw Hoe menangkis dengan senjatanya. "Soecie. Dia keras kepala dan biar bagaimanapun jua, ia pasti tidak akan membuka mulut," katanya. "Meskipun dibinasakan tiada guna nya."
"Dia mencaci Soehoe sebagai seorang kejam, maka biarlah dia menyaksikan kekejamanku." kata Teng Bin Koen. "Siluman Mo kauw semacam dia hanya bisa mencelakakan manusia baik-baik. Maka itu, jikalau kita menyingkirkannya dari muka bumi ini berarti kita terbuat baik terhadap sesama manusia,"
"Tapi tidak bisa disangkal, bahwa dia seorang gagah yang tidak takut mati," Siauw Hoe coba membujuk lagi. "Soecie, menurut pendapatku, sebaiknya kita memberi ampun kepadanja."
"Tidak bisa !" bentak sang kakak sepenguruan "Dua Soeheng dari Siauw lim pay yang satu binasa, satu terluka. Sedang dua Tootiang dari Koen loen Pay mendapat luka barat, sedang dua saudara dari Hay see pay terluka lebih hebat juga. Apa tangannya tidak cukup kejam ? Sekarang biarlah aku menusuk mata kirinya. Sesudah itu, baru kita menanyakan lagi tempat sembunyinya Pek Kwie Sioe."
Sehabis berkata begitu, bagaikan kilat pedangnya lantas menyambar mata kiri Pheng Hweeshio.
Sekali lagi Kie Siauw Hoe menangkis pedang Soecienya. "Soecie," katanya dengan suara memohon. "Dia sudah tidak bisa melawan lagi dan jika kita menganiaya dia, aku kuatir partai kita akin mendapat nama jelek dalam Rimba Persilatan."
Teng Bin Koen mendelik. "Minggir! Jangan perdulikan aku," bentaknya.
Kie Siauw Hoe kelihatan bingung dan berkata pula: "Soecie.... "
"Jangan rewel!" Memutus Bin Koen. "Kalau kau menganggap aku sebagai kakak seperguruan, kau harus mendengar omonganku."'
"Baiklah," kata nona Kie.
Sekali lagi pedang Teng Bin Koen menyambar mata kiri Pheng Hweeshio. Kali ini ia menggunakan tiga bagian tenaga Lweekang. Iapun mengerakkan tenaga dalam. "Trang!" kedua senjata kebentrok dan kedua saudari sepenguruan terhuyung beberapa tindak.
Teng Bin Koen marah besar, "Soemoay !" bentaknya. "beberapa kali dengan mati-matian kau melindungi pendeta siluman itu. Apa sebenarnya maksudmu ?"
Kie Siauw Hoe tertawa, "Aku hanya ingin meminta supaya Soecie jangan menganiayanya." jawabnya dengan sabar, "Jikalau kita ingin menyelidiki dimana tempat sembunyinya Pek Kwie Sioe, kita hanya bisa menanyakan nanti secara perlahan lahan."
Teng Bin Koen tertawa dingin. "Huh ! Apakah kau kira aku tak tahu jalan pikiranmu ?" tanyanya dengan nada mengejek. "Berapa kali In Liokhiap dari Boe tong pay mendesak supaya kau menikah dengannya. Mengapa kau selalu menolak dengan memberikan rupa-rupa alasan? Waktu ayahmu turut mendesak, mengapa kau kabur dari rumahmu ?"
"Soecie itu adalah urusan soemoay pribadi," kata nona Kie "Mengapa Soecie jadi menyebut nyebut hal itu ?"
Sang kakak mengeluarkan suara dihidung. "kita sama tahu." katanya. "Di hadapan orang luar, memang kurang baik jika aku membuka topengmu. Huh! Badanmu berada di Go bie, tapi hatimu di pihak Mo kauw !"
Mendengar perkataan itu, Siauw Hoe gusar tak kepalang, sehingga paras mukanya berubah pucat. "Aku selalu menghormati kau sebagai seorang kakak dan belum pernah aku berbuat kesalahan terhadapmu," katanya dengan suara gemetar "Tapi mengapa hari ini kau menghina aku sedemikian hebat?"
"Kalau benar-benar hatimu tidak condong, kepada Mo kauw, coba tusaklah mata kiri pendeta siluman itu." kata Teng Bin Koen.
"Soecie," kata nona Kie dengan suara duka. "Sebagaimana kau tahu, semenjak jaman Siauw ong-sia Kwee Soecouw (Kwee Siang), di dalam partai kita terdapat banyak sekali wanita yang tidak mau menikah seumur hidupnya. Oleh karena mengagumi kemuliaan mendiang guru besar kita, siauwmoaypun telah mengambil keputusan untuk tidak menikah. Siauwmoay menganggap, hal itu hal yang lumrah saja. Mengapa Soecie mendesak begitu hebat ?"
"Sudah! Aku tak suka dengar segala omonganmu!" bentak Bien Koen. "Jika kau tidak mau menikam mata pendeta siluman itu, aku akan mencopoti topengmu."
Mendengar ancaman itu, Siauw Hoe kelihatannya tak berani berkeras lagi. "Soecie," katanya dengan suara halus, "aku memohon kepadamu, soecie, dengan mengingat kecintaan antara sesama saudara sepenguruan, janganlah kau mendesak aku terlalu hebat."
Wanita she Teng itu tertawa. "Aku bukan memaksa kau mengerjakan pekerjaan yang sulit," katanya, "Sebagaimana kau tahu, Soehoe telah memerintahkan kita untuk menyelidiki tempat bersembunyinya Kim mo Say ong Cie Soen. Sekarang, pendeta itu adalah orang satu-satunya yang bisa memberi penerangan kepada kita, tapi dia bukan saja sungkan membantu kita, malah sudah melukakan juga kawan-kawan kita. Kalau aku menikam mata kanannya dan kau menikam mata kirinya, bukankah merupakan suatu hal yang sangat wajar ? Mengapa kau merasa segan tidak mau turun tangan ?"
"Hati siauw moay lembek, tidak bisa turun tangan," jawabnya.
"Apa? Hatimu lembek ?" menyindir Teng Bin Koen.
"Soehoe sering memuji kau sebagai murid yang ilmu pedangnya hebat dan adatnya keras. Sangat menyerupai adat soehoe sehingga beliau mempunyai niatan untuk mengangkat kau sebagai akhliwarisnya. Mana boleh hatimu lembek ?"
Apabila dua saudara bertengkar, maka hal itu akan sangat membingungkan orang-orang yang mendengarkannya, karena mereka tak mengetahui sebab musabab yang sebenarnya dari percekcokan antara keduanya. Sesudah mendengar perkataan Teng Bin Koen yang paling belakangan, barulah mereka bisa meraba-raba. Rupanya, Ciang boen jin Go Bie pay Biat coat Soethay sangat menyayang Kie Siauw Hoe dan berniat untuk mengangkat murid itu menjadi ahli warisnya. Hal ini kelihatannya sudah menimbulkan rasa jelus dalam hati Teng Bin Koen yang entah sudah memegang rahasia apa dari adik sepenguruannya sekarang ingin menghilangkan muka nona Kie di hadapan orang banyak.
Boe Kie yang menyaksikan kejadian itu dari tempat bersembunyinya, merasa gusar sekali. Ia ingat perlakuan nona Kie yang sangat baik terhadapnya pada hari itu, pada harian kedua orang tuanya membunuh diri. Ia bergusar dan berduka. Kalau dapat, ia ingin sekali menerjang keluar dan menggaplok muka si wanita she Teng yang tidak mengenal kasihan.
"Kie Soemoay, aku ingin mengajukan Iagi satu pertanyaan," kata Teng Bin Koen. "Pada tiga tahun berselang, Soehoe telah mengumpulkan semua murid dipuncak Kim teng, dipuncak gunung Go bie san dengan maksud untuk mengajar ilmu pedang Bit kiam dan Coat kiam kepada semua saudara sepenguruan kita. Coba jawab. Kenapa kau tidak hadir dalam pertemuan besar itu? Mengapa beliau jadi begitu gusar sehingga beliau mematahkan pedangnya sendiri dan mengatakan bahwa dunia tidak akan mengenal lagi kedua ilmu pedang itu?"
"Ketika itu, siauwmoay tiba-tiba mendapat sakit berat di Kam cioe, sehingga tak bisa bangun," jawabnya. "Hal ini siauwmoay sudah memberitahukan kepada Soehoe. Mengapa Soecie menanyakan pedang itu?"
Teng Bin Koen tertawa dingin. "Hmm!" ia mengeluarkan suara dihidung. "Kau bisa memperdayai Soehoe, tapi tak dapat mengabui aku. Aku masih ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Tapi jika kau menikam mata si kepala gundul, pertanyaan itu tidak diajukan olehku."
Kie Siauw Hoe menundukkan kepala. Ia berduka bukan main. "Soecie," katanya dengan suara perlahan, "apakah kau tidak ingat Iagi kecintaan antara sesama saudara sepenguruan?"
"Kau mau tikam atau tidak?" tanya sang kakak dengan bengis
"Soecie, kau tak usah kuatir," kata nona Kie dangan suara memohon. "Andaikata aku mau di jadikan ahliwaris oleh Soehoe, aku tentu akan menolak."
"Bagus" bentak Tang Bin Koen dengan gusar. "Dengan berkata begitu, kau seperti juga mau mengatakan, bahwa aku menerima budimu yang besar. Cobalah kau unjuk. Dibagian mana yang aku kalah dari kau? Aku tidak perlu menerima budimu ! Tidak perlu kau mengalah! Eh! Katakan sekarang. Kau mau tikam atau tidak?"
"Jika Siauwmoay bersalah, Soecie boleh menegur atau menjatuhkan hukuman dan Siauwmoay akan menerimanya dengan segala senang hati," kata Siauw Hoe. "Disini terdapat sahabat-sahabat dari lain partai, sehingga kumohon Soecie jangan mendesak terlalu...." berkata sampai disitu, ia tidak dapat meneruskan perkataannya, karena air matanya sudah mulai mengucur.
Teng Bin Koen tertawa dingin. "Huh! Jangan kau berlagak sedih, sedang didalam hati kau mencaci aku," ejeknya. "Pada tiga tahun yang lalu, apa benar-benar kau mendapat sakit di Lam cioe? Perkataan dapat memang tak salah, tapi bukan mendapat sakit, hanya mendapat anak !"
Mendengar kata-kata yang sehebat itu, Kie Siauw Hoe mengeluarkan teriakan menyayat hati. Ia memutar badan dan terus kabur sekeras-kerasnya. Tapi Teng Bin Koen juga sudah menduga lebih dulu, lantas saja mengubar dan mencegatnya
"Soemoay, lebih baik kau tikam mata kiri pendeta siluman itu," katanya sambil mengibas pedang. "Jika kau tetap membantah, aku akan menanya siapa adanya ayah anak itu dan aku akan menanya, mengapa sebagai murid dari sebuah partai yang lurus bersih, kau melindungi seorang pendeta siluman dari agama Mokauw secara begitu mati-matian"
"Kau .... kau .... minggir!" bentak nona Kie dengan napas tersengal-sengal.
Sambil menudingkan pedang didada adik seperguruan itu, Teng Bin Koen membentak: "Jawab pertanyaanku: Dimana kau titip bayimu ? Kau adalah tunangan In Lie heng, In Liokhiap, tapi mengapa kau melahirkan anak ?"
Kata kata itu, mengejutkan semua orang. Bahkan Boe Kie yang masih kecil juga merasa, bahwat Kie Siauw Hoe telah dituduh melakukan perbuatan hebat yang menyinggung kehormatan In Lie Heng.
Paras muka nona Kie berubah pucat bagaikan kertas dan ia menerjang untuk coba meloloskan diri. Diluar dugaannya, Teng Bin Koen membuktikan ancamannya. Dengan sekali menyodok, pedangnya amblas di lengan Siauw Hoe, sehingga ujung pedang mengenakan tulang. Sambil menahan sakit, nona Kie terpaksa menghunus senjatanya dengan tangan kiri.
"Soecie," katanya dengan suara parau, "jikalau kau mendesak terus, aku terpaksa akan berlaku kurang ajar."
Teng Bin Koen merasa, bahwa sesudah ia membuka rahasia si adik sepenguruan, tentu akan berusaha untuk membinasakannya guna menutup mulutnya. Maka itu, dengan mengetahui, bahwa bekal ilmu silatnya masih kalah dari Siauw Hoe, dia segera mengambil suatu keputusan untuk turun tangan lebih dulu. Sesudah menikam lengan si adik dalam serangan susulan, ia menusuk kempungan Siauw Hoe.
Melihat Soecienya menyerang pula dengan pukulan yang membinasakan, sambil menahan sakit, nona Kie menangkis dengan pedang yang dicekal dalam tangan kirinya. Di lain saat mereka sudah bertempur seru dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepat.
Semua orang yang ada di situ adalah ahli-ahli silat yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi, karena semua sudah mendapat luka berat, mereka tak berdaya untuk memisahkannya. Diam-diam mereka merasa kagum akan lihaynya ilmu pedang Go bie pay, yang dikenal sebagai salah satu dari empat partai besar dalam Rimba Persilatan.
Kie Siauw Hoe bertempur dengan lengan kanan terus mengucurkan darah.
Beberapa kali Kie Siauw Hoe menerjang dengan pukulan hebat, dalam usaha untuk mundurkan Soecienya supaya ia bisa melarikan diri, tapi usahanya selalu gagal. Ia gagal karena tidak biasa menggunakan pedang dengan tangan kiri dan juga karena, sesudah mengeluarkan banyak darah, tenaganya berkurang. Untung juga, Teng Bin Koen selamanya merasa jerih terhadap adik seperguruannya, sehingga ia tidak berani terlalu mendesak. Ia berkelahi dengan hati-hati sekali sambil menunggu lelahnya Siauw Hoe. Memang juga, makin lama tindakan nona Kie jadi makin limbung dan gerakan-gerakannya makin lambat. Sesudah lewat beberapa jurus lagi, lengan kanan Siauw Hoe kembali tertikam dan darah mengucur makin deras.
"Kie Koauwnio!" tiba-tiba Pheng Eng Giok berteriak. "Tikamlah mataku! Kie Kouwnio, budimu yang sangat besar tak akan dapat dibalas oleb Pheng Eng Giok !"
Memang juga, rasa terima kasihnya Pheng Hweeshio tidak dapat dilukiskan lagi. Bahwa, dengan menempuh bahaya Siauw Hoe melindungi seorang musuh, sudah merupakan suatu perbuatan yang sukar dilakukan.
Dan dalam usaha untuk melindungi musuh, ia telah dicaci dengan kata-kata yang menodakan nama baik seorang wanita, nama baik yang dipandang lebih penting daripada jiwa.
Tapi kalau sekarang Siauw Hoe menurut perintah dan menusuk mata Pheng Hweesbio, Teng Bin Koen juga tak akan memberi ampun kepadanya. Kakak seperguruan itu mengerti bahwa kalau sekarang dia tidak membinasakan si adik seperguruan ia seperti juga menanam bibit penyakit untuk dikemudikan hari.
Teng Bin Koen menyerang Siauw Hoe. Pheng Hweeshio yang melihat itu segera berteriak "Teng Bin Koen. kau sungguh manusia tak kenai malu! Tak heran jika orang Kang ouw memberi gelaran Tok chioe Boe yam kepadamu. Sekarang aku menyaksikan dengan mata sendiri, bahwa hatimu benar jahat seperti ular dan kalajengking. Huh ! Mukamu jelek seperti muka Boe yam! Jika semua wanita separti kau, semua lelaki dunia tentu buru-buru mencukur rambut !"
Sebenarnya, biarpun tidak bias disebut cantik, Teng Bin Koen bukan seorang wanita yang jelek. Pheng Hweeshio sudah sengaja mencaci begitu dan memberi gelaran "Tok chioe Boe yam" kepadanya untuk menolong Kie Siauw Hoe. Ia tahu bahwa seorang wanita bisa mata gelap, jika disinggung kejelekan mukanya. Ia mengharap supaya dalam gusarnya, Teng Bin Koen membunuh ia sendiri dan Kie Siauw Hoe bisa mendapat kesempatan untuk melarikan diri.
Tapi wanita she Teng itu ternyata bukan manusia tolol. Ia berpendapat, bahwa sesudah membinasakan adik seperguruannya, ia masih mempunyai banyak tempo untuk mengambil jiwa pendeta itu. Maka itulah, tanpa meladeni cacian orang, ia terus menyerang dengan hebat.
"Dalam dunia Kang ouw, siapakah yang tak tahu kesucian Kie Liehiap," teriak pula Pheng Hweeshio. "Teng Bin Koen, sekarang aku mau membuka rahasiamu. Kaulah, manusia muka jelek, yang sebenarnya maui In Lie Heng ! Karena In Liokhiap tidak meladeni, kau memfitnah Kie Liehiap. Ha ha ha! Tulang pipimu begitu tinggi ! Mulutmu sebesar panci! Kulitmu kering dan kuning, sedang badanmu kurus jangkung seperti gala jemuran! Ha ha ha ! In Liokhiap yang begitu tampan mana mau mengambil kau sebagai isterinya? Kau sebenarnya harus lebih sering berkaca ...."
Meskipun pintar, Teng Bin Koen kalap juga. Mendengar sampai disitu, ia tidak dapat mempertahankan ketenangannya lagi. Ia melompat sambil mengayun pedang yang diturunkan kemulut Pheng Hweeshio.
Memang benar tulang pipi nona Teng agak tinggi, mulutnya agak besar, kulitnya agak hitam sedang badannya agak jangkung. Tapi kekurangan-kekurangan itu, yang tidak banyak, tidak terlihat nyata, jika tidak diperhatikan.
Tapi Pheng Hweeshio yang bermata tajam sudah bisa melihat itu semua dan ia lalu mengejek secara berlebih-lebihan. Apa yang membuat Teng Bin Koen kalap ialah disebut-sebutnya nama In Lie Heng, yang belum pernah dikenal olehnya.
Mendadak dari dalam hutan berkelebat satu bayangan manusia yang sambil membentak keras, mengadang didepan Pheng Hweeshio, sehingga pedang Teng Bin Koen yang tengah menyambar menancap tepat dilehernya. Hampir berbareng tangan orang itu menghantam dan "buk!" mengenakan dada Teng Bin Koen yang lantas saja terhuyung beberapa tindak dan mulutnya memuntahkan darah. Pedang yang dilepaskan oleh nona Teng tetap menancap dileher orang itu yang rupanya sudah tak bisa hidup lebih lama lagi.
See Leng coo maju dua tindak dan mengawasi orang itu. "Pek Kwie Sioe" teriaknya.
Orang itu memang Pek Kwie Sioe, Tancoe dari Hian boe tan.
Sesudah terluka berat, ia mendapat tahu, bahwa untuk melindungi dirinya, Pheng Hweeshio telah dikepung oleh orang-orang Siauw lim, Koen loan, Go bie dan Hay see pay. Maka itu, dengan sekuat tenaga ia datang ketempat pertempuran dan menggantikan Hweeshio itu untuk menerima tikaman Teng Bin Koen. Tapi pukulannya yang terakhir masih hebat luar biasa, sehingga beberapa tulang rusuk Teng Bin Koen menjadi patah.
Sesudah menenteramkar hatinya. Kie Siauw Hoe lalu merobek tangan bajunya untuk membalut luka dilengannya dan kemudian, dengan pedangnya, ia memutuskan tambang yang membelenggu kaki tangan Pheng Hweeshio. Sesudah itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia memutar badan dan berjalan pergi.
"Kie Kouwnio, tahan!" seru si pendeta, "Terimalah hormatnya Pheng Hweeshio."
Buru-buru Kie Slauw Hoe melompat kesamping untuk menolak pemberian hormat pendeta itu yang berlutut ditanah.
Begitu bangun berdiri si pendeta segera menjemput pedang See long coe dan berkata: "Manusia yang sudah merusak nama baik Kie Kouw nio tidak boleh dibiarkan hidup terus."
Seraya berkata begitu, ia mengayun pedang dan menikam tenggorokan Teng Bin Koen.
Bagaikan kilat nona Kie menangkis pedang itu. "Dia adalah kakak seperguruanku," katanya "Biarpun dia tidak menyintai aku, aku sendiri tak bisa tidak mengenal pribudi."
"Kalau sekarang tidak dibunuh, dibelakang hari dia bisa menyebabkan munculnya banyak kesukaran bagi Kie Kouwnio," kata si pendeta.
Air mata Siauw Hoe lantas saja mengucur. "Aku seorang wanita yang bernasib paling buruk dalam dunia ini," katanya dengan suara sedih: "Biarlah, biarlah aku menyerahkan saja segala apa kepada nasib. Pheng Soehoe, jangan kau melukakan Soe cieku!"
"Perintah Kie Lihiap sudah tentu tidak akan dilanggar olehku," kata Pheng Hweeshio sambil membungkuk.
"Soecie, kuharap kau bisa menjaga diri baik baik" kata Kie Siauw Hoe dengan suara perlahan-lahan kemudian, sesudah memasukkan pedangnya kedalam sarung, ia segera berlalu tanpa menengok lagi.
Sesudah nona Kie pergi jauh, Pheng Hweeshio segera berkata kepada See leng coe dan yang lain lain : "Aku siorang she Pheng sebenarnya tidak mempunyai permusuhan apapun jua dengan kamu sekalian. Akan tetapi, fitnah hebat yang dilontar kan oleh si perempuan she Teng telah didengar oleh kamu semua. Kalau cerita ini sampai tersiar diluaran, bagaimana Kie Kouwnio bisa berdiri terus diatas bumi ini? Maka itu, tak bisa aku membiarkan kamu hidup terus. Hal ini sudah terjadi lantaran terpaksa dan aku harap kamu jangan menyalahkan aku."
Sehabis berkata begitu, dengan beruntun ia menikam See leng coe, See ciat coe, seorang pendeta Siauw lim dan dua jago Hay see pay. Kemudian barulah ia menggores muka Teng Bin Koen dengan pedangnya, sehingga wanita she Teng itu menjadi kalap, tapi tidak bisa berbuat banyak, karena ia sudah terluka hebat. "Bangsat gundut !" teriaknya. "Jangan kau menyiksa aku ! Bunuhlah !"
Pheng Hweeshio tertawa nyaring: "Aku tidak berani membunuh perempuan jelek yang kulitnya kering dan mulutnya lebar," ejeknya. "Kalau kau mampus aku kuatir begitu lekas rohmu masuk di akhirat, berlaksa laksa setan akan kabur kedunia sebab ketakutan. Akupun kuatir Giam Loo Ong berak-berak bahna kagetnya !"
Sehabis berkata begitu, ia tertawa nyaring dan melemparkan pedang ditanah dan sesudah menanggul mayat Pek Kwie Sioe, ia menangis keras akan kemudian berlalu dengan tindakan cepat.
Untuk beberapa lama Teng Bin Koen mengaso dengan napas tersengal-sengal. Kemudian deegan menggunakan sarung pedang sebagai tongkat, iapun berlalu dengan tindakan limbung.
Peristiwa yang hebat itu telah disaksikan semua oleh Siang Gie Coen dan Boe Kie. Sesudah Teng Bin Koen berlalu, barulah mereka menarik napas lega.
"Siang Toako," kata Boe Kie. "Kie Kouwnio adalah tunangan In Lioksiok. Perempuan she Teng itu mengatakan, mendapat anak. Siang Toako, bagaimana pendapatmu, apa benar atau tidak'?"
"Dia omong kosong, jangan dipercaya!" jawabnya.
"Benar!" kata Boe Kie. "Kalau bertemu In Liok siok, aku akan memberitahukan kekurang ajaran perempuan she Teng itu, supaya Lioksiok bisa menghajarnya."
"Jangan! Jangan !" cegah Gie Coen tergesa gesa. "Hal itu kau sekali-kali tidak boleh memberitahukan In Lioksiok. Kau mengerti!"
"mengapa?" tanya si bocah.
"Omongan-omongan yang tidak sedap itu tidak boleh diberitahukan kepada siapapun juga," jawabnya. "Ingatlah. Kau tidak boleh bicara dengan siapapun juga."
Boe Kie mengangguk sambil mengawasi muka Gie Coen. Beberapa saat kemudian, ia berkata pula: "Siang Toako, apa kau kuatir tuduhan Teng Bin Koen suatu kenyataan ?"
Gie Coen menghela napas. "Tak tahu," jawabnya.
Pada keesokan paginyaq jalanan darah Gie Coen yang tertotok terbuka sendirinya dan ia lalu mendukung Boe Kie, siap sedia untuk meneruskan perjalanan. Sambil mengawasi mayat mayat yang menggeletak ditanah, ia berkata didalam hati: "Sesudah belasan tahun, Cia Soen menghilang, tapi karena gara-garanya, orang-orang Rimba Persilatan masih terus mengorbankan jiwa. Hai! Sampai kapan urusan ini baru menjadi beres ?"
Sesudah banyak mengasoh, sebagian tenaga Gie Coen pulih kembali. Rasa sakit dalam badannya banyak berkurang dan ia bisa berjalan terlebih cepat. Sesudah melalui beberapa li mereka bertemu jalanan raya. Gie Coen agak terkejut. "Ouw Soe peh berdiam di tempat yang sepi. tapi mengapa aku bertemu dengan jalanan raya?" tanyanya di dalam hati. "Apa nyasar?"
Baru saja ia mau mencari penduduk dusun untuk menanyakan, tiba tiba terdengar suara tindakan kuda dan empat orang serdadu Mongol mengubar dari belakang. "Lekas jalan! Lekas jalan!" teriak mereka sambil mengacung acungkan senjata seolah olah menggebah binatang.
"Tak dinyana aku mesti mati ditempat ini," mengeluh Gie Coen. Karena lukanya, ilmu silatnya sudah musnah semua. Sekarang ia malah tidak dapat melawan seorang serdadu Mongol biasa.
Maka itu sambil menahan amarah, ia terpaksa berjalan terus.
Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan sejumlah penduduk yang juga digiring oleh serdadu serdadu Mongol. Dalam hati mereka lantas saja muncul sedikit harapan. Sekarang ternyata, bahwa serdadu-serdadu itu sedang memperlihatkan kekejamannya terhadap rakyat jelata dan bukan mereka yang dijadikan bulan-bulanan.
Melihat bahaya, Boe Kie segera berbisik: "Siang Toako, lekas kau berlagak jatuh dan buang golokmu."
Gie Coen tersadar. Sesudah berjalan beberapa tindak lagi, ia pura-pura terpeleset dan menggulingkan diri dirumput sambil melepaskan golok yang disisipkan dipinggangnya. Sesudah itu, ia merangkak bangun dan berjalan lagi dengan napas tersengal sengal. Selagi ia lewat didepan seorang perwira Mongol, seorang Han yang jadi juru bahasa berteriak: "Bangsat! Kau sungguh tidak tahu adat. Lekas berlutut dihadapan Tayjin!"
Mengingat Cioe Coe Ong serumah tangga telah dibinasakan oleh tentara Mongol, darah Siang Gie Coen lantas saja naik tinggi dan biarpun mesti mati, ia tak sudi menekuk lutut. Ia jalan terus dengan berlagak tuli. Seorang serdadu Mongol mengudak dan menyapu kakinya sehingga ia jatuh terguling.
"She apa kau?" bentak si juru bahasa.
Sebelum Gie Coen sempat memberi jawaban, Boe Kie sudah mendahului berkata: "She Cia, dia kakakku"
Serdadu itu lalu menendang punggung Boe Kie seraya membentak: "Pergi!"
Bukan main gusarnya Gie Coen. Sambil merangkak bangun, ia bersumpah didalam hati, bahwa sebegitu lama ia masih hidup, ia akan berusaha dengan seantero tenaganya untuk mengusir bangsa Mongol dari daerah Tionggoan. Dalam keadaan tidak berdaya, buru-buru ia mendukung pula Boe Kie dan berlalu cepat-cepat. Baru berjalan beberapa puluh tombak, tiba tiba mereka mendengar teriakan teriakan menyayat hati. Mereka menengok dan melihat puluhan rakyat sedang dibunuh oleh tentara Mongol.
Sepanjang sejarah, selama penjajahan kerajaan Goan (Mongol), rakyat banyak memberontak. Belakangan, seorang pembesar tinggi Mongol telah mengeluarkan perintah untuk membunuh orang orang Han, yang she Thio, Ong, Lauw, Lie dan Tio. Semuanya lima she. Pada jaman itu, orang she Thio, Ong, Lauw dan Lie yang paling banyak terdapat di Tionggoan, sedang she Tio adalah she dari kaizar-kaizar Song. Maka itu, menurut jalan pikiran si pembesar Mongol, bangsa Han akan runtuh semangatnya jika orang-orang dari kelima she itu dibunuh. Untung juga, perintah yang sangat kejam itu cepat diketahui oleh kaizar Mongol yang segera mengeluarkan larangannya. Tapi sementara itu, banyak juga orang Han yang dibunuh mati.
Gie Coen tidak berani berdiam lama lama lagi dan lalu berjalan secepat cepatnya. Sesudah melalui beberapa mereka bertemu dengan seorang penjual kayu bakar dan mereka lalu menanyakan dimana letaknya Ouw tiap kok. Orang itu meng gelengkan kepala. Tapi Gie Coen segera mengetahui, bahwa Soepehnya mesti berdiam disekitar tempat itu.
Dengan sabar ia lantas saja mencari-cari. Di sepanjang jalan mereka melihat ratusan macam bunga yang menghiasi daerah pegunungan itu. Tapi sesudah menyaksikan peristiwa yang menyedihkan itu, mereka tak punya kegembiraan Iagi untuk menikmati pemandangan alam yang sangat indah.
Sesudah membelok dibeberapa tikungan, disebelah depan menghadang sebuah tembok gunung dan jalanan putus disitu. Selagi mereka kebingungan, mendadak muncul beberapa ekor kupu-kupu yang terbang masuk kesebuah gerombolan pohon-pohon kembang.
"Tempat ini dinamakan Ouw tiap kok, atau Selat Kupu-kupu," kata Boe Kie. "Apa tidak baik kita mengikuti kupu-kupu itu?"
"Baiklah," kata Gie Coen yang lalu turut masuk kegerombolan pohon itu.
Sesudah melewati gerombolan pohon bunga, mereka bertemu dengan sebuah jalanan kecil yang tertutup rumput hijau. Setelah berjalan beberapa jauh, jumlah kupu kupu yang beterbangan disekitar situ jadi makin banyak. Hidung mereka mengendus harumnya bunga-bunga. Kembang-kembang yang tumbuh disekitar situ sangat berbeda dengan apa yang terlihat ditempat lain. Makin jauh mereka maju kupu-kupu makin tidak takut manusia. Mereka terbang mendekati seolah olah menyambut kedatangan tamu-tamu dan hinggap dikepala, dipundak, dilengan Gie Coen dan Boe Kie.
Gie Coen dan Boe Kie jadi bersemangat, karena mereka tahu, bahwa mereka sudah berada dalam selat Ouw tiap kok.
Lewat tengah hari, mereka melihat tujuh-delapan rumah gubuk dipinggir sebuah solokan yang airnya`jernih. Didepan, dibelakang dan dikiri kanan setiap gubuk ada dikurung dengan kebun kembang yang terawat baik.
Gie Coen berlari-lari kedepan gubuk-gubuk itu dan berkata dengan suara menghormat: "Teecoe Siang Gie Coen ingin berjumpa dengan Ouw Soepeh."
Selang beberapa saat, dari sebuah gubuk keluar seorang kacung yang berkata: "Masuklah."
Sambil mendukung Boe Kie, Gie Coen segera bertindak masuk. Disatu sudut dari ruangan tengah kelihatan berdiri seorang lelaki setengah tua yang berparas agung. Ia ternyata sedang menilik seorang kacung yang lagi memasak obat. Seluruh ruangan itu penuh dengan macam-macam daun obat yang aneh aneh. Buru-buru Gie Coen menaruh Boe Kie diatas kursi dan lalu berlutut di hadapan orang itu,
"Ouw Soepeh, Gie Coen memberi hormat," katanya.
Boe Kie mengawasi orang itu yang tentulah juga bukan lain daripada Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe.
Tabib malaikat itu manggut-manggutkan kepalanya dan berkata : "Urusan Cioe Coe Ong, aku sudah tahu. Itulah nasib. Mungkin sekali, rejeki Tatcoe masih belum habis dan agama kita belum sampai waktunya untuk bisa memperoleh kemakmuran"
Sehabis berkata begitu, ia memegang nadi Gie Coen dan membuka baju pemuda itu. Sambil mengawasi dada si berewok, ia berkata: "Kau kena pukulan Ciat sim ciang dari Hoan ceng. Pada hakekatnya, pukulan itu tidak sukar di obati. Tapi sesudah terpukul, kau menggunakan terlalu banyak tenaga, sehingga hawa dingin menyerang jantungmu dan sebagai akibatnya, aku memerlukan agak lebih banyak tempo untuk menyembuhkannya." Sesudah memberi penjelasan, ia meraba-raba sekujur badan Gie Coen.
"Dengan siapa kau bertempur tadi malam?" tanya Ceng Goe secara tiba-tiba. "Dengan murid Boe tong pay?"
"Tidak," jawabnya.
Sang paman segera meraba-raba kedua paha Si brewok. Sekonyong-konyong paras mukanya berubah dan membentak: "Gie Coen! Tujuh delapan tahun kita tidak pernah bertemu muka. Sekali bertemu, kau coba memperdayai Soepehmu. Sudahlah! Aku tidak bisa mengobati lukamu. Pergi!"
Gie Coen jadi bingung. "Ouw Soepeh," katanya, "mana berani aku mendustai kau? Dengan sesungguhnya, sepanjang malam aku tidak pernah bertempur dengan siapapun jua. Tenagaku sudah habis semua. Andaikata aku ingin, akupun tidak bisa berkelahi!"
"Omong kosong!" bentak sang paman guru "Terang-terang, Hoan tiauw hiat dikedua pahamu telah ditotok orang. Dan totokan itu dilakukan dengan ilmu menotok dari Boe tong pay. Tempo nya yalah antara Coe sie dan Tio sie," (Coe sie antara jam 11 malam dan jam 1. Tio sie Antara jam 1 dan jam 3 pagi).
Mendadak si brewok tertawa. "Ah ! Kalau begitu, yang dimaksudkan Soepeh yalah jalanan darah yang ditotok olehku sendiri," katanya. Dengan ringkas ia lalu menceritakan kejadian semalam.
Waktu Gie Coen menuturkan cara bagaimana ia sudah diabui Boe Kie, Ceng Goe melirik bocah itu dan waktu ia menceritakan cara bagaimana mata kanan Pheng Hweeshio telah ditusuk oleh Teng Bin Koen, sang paman guru menghela napas berulang ulang dan berkata: "Pheng Eng Giok Hweeshio adalah seorang gagah sejati dari agama kita. Biarpun kita tidak segolongan dengan dia, tapi kita harus mengaku, bahwa dia itu seorang manusia yang jarang terdapat dalam dunia ini. Kalau begitu ditusuk, ia bisa segera datang kepadaku, mungkin sekali mata kanannya tidak sampai menjadi buta. Tapi sekarang sudah tidak dapat diobati lagi."
Ia menengok kepada Boe Kie dan berkata pula: "Dari mana kau belajar ilmu Tiam Toat Boe tong pay?"
"Soepeh." kata Gie Coen, "saudara kecil itu adalah putera Thio Ngohiap dari Boe tong pay."
Ouw Ceng Goe kaget dan paras makanya lantas saja berubah gusar. "Murid Boe tong pay?" la menegas, "Perlu apa kau membawa dia kemari?"
Gie Coen lantas saja menuturkan cara bagaimans Thio Sam Hong telah menolong dia dan puteri Cioe Coe Ong waktu mereka diubar-ubar oleh kaki tangannya kaizar Goan disungai Han soei. Sesudah selesai bercerita, ia akhirnya berkata: "Sesudah menanggung budi yang begitu besar teecoe memohon supaya Soepeh suka membuat kecualian dan sudilah Soepeh menolong jiwa saudara kecil ini."
Sang paman guru mengeluarkan suara dihidung, "Gie Coen, kau sungguh seorang yang royal dengan janji-janjimu," ejeknya. "Hem.... yang ditolong Thio Sam Hong adalah kau, bukan aku. Lagi kapan aku pernah membuat kecualian dalam kebiasaanku?"
Gie Coen segera berlutut dan manggutkan kepalanya berulang-ulang. "Soepeh." katanya, "ayah saudara kecil itu adalah seorang laki-laki sejati yang lebih suka menggorok leher dari pada menjual sahabat. Dia sendiri, meskipun masih kecil, mempunyai jiwa seorang kesatria. Teeeoe menjamin, bahwa dia seorang baik."
"Apa? Orang baik?" Ceng Goe mengejek pula. "Ada berapa banyak orang baik dalam dunia? Kalau dia bukan murid Boe tong pay, masih tidak apa. Dia murid sebuah partai yang lurus bersih, mengapa dia harus meminta pertolongan dari agama sesat ?"
"Ibu saudara Thio adalah puteri Peh bie Eng ong In Kauwcoe," kata Gie Coen. "Dengan demikian, dapatlah dikatakan, separuh badannya adalah dari agama kita."
Mendengar keterangan itu, hati Ouw Ceng Goe tergerak juga: "Oh, begitu. Kau bangunlah." kataanya, "Dia putera In So So dari Peh bie kauw. Kalau begitu lain urusan." Ia lalu mendekati Boe Kie dan berkata dengan suara hangat. "Anak, aku selamanya mentaati peraturan bahwa aku tidak akan menolong orang orang dari partai lurus bersih. Ibumu adalah anggauta dari agama kita. Tapi sebelum mengobati, aku ingin kau berjanji, bahwa sesudah sembih, kau harus pulang ketempat kakekmu, yaitu Peh bie Eng ong ln Kauwcoe, dan kau harus masuk kedalam agama Peh bie kauw. Dengan lain perkataan, kau harus meninggalkan partai Boe tong pay"
Sebelum Boe Kie menjawab, Gie Coen sudah mendahului. "Soepeh, hal itu tidak bisa kejadian. Sebelum menyerahkan saudara Thio kepada Teecoe, Thio Sam Hong Thio Cinjin sudah mengatakan terang terangan, bahwa kita tidak boleh memaksa dia masuk kedalam agama kita dan juga andaikata dia sembuh, Boe tong pay tidak menanggung budi dari agama kita"
Kedua mata Ouw Ceng Goe lantas saja mendelik dan darahnya naik, "Huh ! Manusia apa Thio Sam Hong !" bentaknya. "Dia begitu memandang rendah kepada kita, perlu apa kau membantu dia. Anak, bagaimana keputusanmu sendiri ?"
Boe Kie mengerti bahwa ia sedang menghadapi soal mati atau hidap. Sesudah kakek gurunya tidak berdaya untuk menolong harapan satu-satu nya ialah Ouw Ceng Goe. la tahu, kalau ia tidak dapat meluluskan apa yang diminta oleh Tiap kok Ie Sian, jiwanya pasti tak akan bisa ditolong lagi. Ia sendiri sebenarnya masih tak tahu apa kejelekan atau kebusukan "agama" sesat yang begitu di benci oleh sang kakek guru dan semua paman pamannya. Tapi karena ia sangat mencintai dan menghormati kakek gurunya, maka ia lantas saja mengambil keputusan, bahwa ia lebih baik mati dari pada melanggar pesanan orang tua itu.
Tanpa bersangsi lagi, dengan suara lantang ia menjawab. "Ouw Sinshe, ibuku ialah Hio coe dari Peh bie kauw dan aku pribadi menganggap bahwa Peb bie kauw adalah agama baik. Akan tetapi, sebab Thay soehoe melarang aku masuk kedalam Mo kauw dan aku sendiri sudah menyanggupi, maka sebagai laki laki, tak dapat aku menarik pulang janjiku itu. Jika kau tak sudi mengobati aku, akupun tidak bisa berbuat apa apa. Kalau lantaran takut mati, aku menurut apa yang diminta olehmu, maka aku akan menjadi seorang manusia yang tidak mempunyai kepercayaan, dan dari pada jadi manusia semacam itu, lebih baik aku berpulang ke alam baka."
Ouw Ceng Goe mendongkol bukan main. "Gie Coen," katanya. "Bawa, dia pergi! Didalam rumah Ouw Ceng Goe tidak boleh ada orang mati lantaran sakit."
Gie Coen jadi bingung. Ia mengenal benar adat Soepehnya Jika ia telah berkata "tidak", perkataannya tidak bisa diubah lagi.
"Saudara kecil," katanya dengan suara membujuk. "Biarpun Mo kauw agak berbeda dengan partai-partai yang lurus bersih, akan tetapi, semenjak jaman kerajaan Tong sampai sekarang, dalam kalangan kami setiap turunan selalu muncul orang gagah sejati. Apa pula kakek luarmu adalah Kauwcoe dari Peh bie kauw sedang ibumu sendiri Hio coe dari agama tersebut. Saudara kecil, luluskanlah permintaan Ouw Soepeh. Di hari kemudian aku akan bertanggung jawab dihadapan Thio Cinjin."
"Baiklah," kata Boe Kie. "Siang Toako, ketuklah tulang punggungku yang kedelapan dan ketiga belas dengan kuku jarimu, ketuklah beberapa kali"
Gie Coen menjadi girang dan lalu melakukan apa yang diminta. Di luar dugaannya begitu kedua tulang punggungnya diketuk, si bocah lantas saja menggerakkan kedua kakinya. Ia bangun berdiri seraya berkata kepadanya "Siang Toako. Kau telah berbuat apa yang kau bisa. Dibelakang hari Thay Soehoe tak bisa menyesalkan kau." Ia memutar badan dan berjalan keluar dengan tindakan lebar.
Si brewok kaget. "Mau kemana kau?" teriaknya.
"Kalau aku mati di Ouw tiap kok, bukankah nama Tiap kok Ie sian akan menjadi rusak?" jawabnya. Sambil berkata begitu, ia kabur dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Ouw Ceng Goe tertawa dingin. "Nama Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe sudah kesohor di kolong langit." katanya. "Bukan baru satu orang yang roboh binasa diluar rumahnya." (Kian sie Poet kioe artinya Melihat kebinasaan tetap tidak menolong).
Tanpa menghiraukan perkataan Soepehnya, Gie Coen segera mengubar. Mereka kedua duanya sama sama mendapat luka, tapi luka Cie Goan banyak lebih enteng dan tenaganya pun banyak lebih besar. Maka itu, dalam beberapa saat saja ia sudah bisa menyandak Boe Kie yang lalu dipeluknya dan dibawa balik kerumah paman guruya.
Dengan kedua tangan belum bisa bergerak, si bocah tidak berdaya lagi.
"Ouw Soepeh apa benar benar kau tidak mau menolong?" tanya Gie Coen dengan napas tersengal sengal.
"Apa kau tidak tahu, bahwa aku bergelar Kian sie Poet kioe?" Sang paman balas menanya. "Perlu apa kau melit melit?"
"Tapi apakah Soepeh bersedia untuk mengobati luka didalam tubuhku?" tanya pula Siang Gie Coen.
"Tentu." jawabnya.
"Bagus!" kata si brewok girang. "'Teecoe telah berjanji kepada Thio Cinjin nntuk menolong saudara kecil ini. Sesudah memberi janji itu, tee coe tak mau orang-orang partai sana mengatakan bahwa murid-murid Mo kauw tidak boleh dipercaya. Maka itu, begini saja, Teecoe tak usah di obati oleh Soepeh, tapi teecoe memohon supaya Soepeh sudi mengobati saudara kecil dengan demikian, satu ditukar dengan satu dan Soepeh tidak jadi rugi."
"Kau tahu bagaimana hebatnya Ciat sim ciang ?" tanya sang paman guru dengan paras sunguh-sungguh. "Sesudah kena pukulan itu, jika didalam tempo tujuh hari, kau mendapat pertolongan seorang tabib kelas satu, maka lukamu akan menjadi sembuh. Sesudah lewat tujuh hari, hanya jiwamu yang dapat ditolong, sedang ilmu silatmu akan musna seanteronya. Sesudah lewat empat belas hari, tak satu tabibpun yang akan bisa menolong jiwamu."
"Ya, itulah karena meskipun melihat kebinasaan, Soepeh tidak sudi menolong," jawabnya, "Teecoe rela mati dan takkan merasa menyesal."
"Aku tak sudi ditolong olehmu!" teriak Boe Kie. "Tak sudi! Kau mengerti?" la menengok kearah siberewok dan berkata: "Siang Toako, apa kah kau rasa Boe Kie manusia rendah? Kau menukar jiwamu dengan jiwaku. Andaikan aku hidup, aku akan hidup menderita. Tak bisa ada kejadian begitu !"
Gie Coen adalah laki-laki tulen. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia membuka tali pinggangnya yang lalu digunakan untuk membelenggu kaki tangan Boe Kie dan kemudian mengikatkan kesebuah kursi.
"Lepas ! Lepas !" teriak bocah itu. "Kalau kau tidak lepas, aku akan mencaci."
Si berewok tidak menggubris.
"Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe!" teriak Boe Kie. "Kau sungguh seperti kerbau tolol! Kau lebih rendah daripada binatang. Aku sedih, bahwa didalam Mo kauw terdapat manusia yang tidak bersifat manusia. Dan kau masih begitu tak mengenal malu, kau masih ada muka untuk membujuk aku masuk kedalam agamamu. Entah dosa apa yang ditumpuk oleh delapan belas leluhurmu, sehingga pada akhirnya, mereka mendapat turunan seperti kau, manusia yang lebih rendah dari pada anjing dan babi !"
Sesudah selesai mengikat Boe Kie, Gie Coen segera berkata : "Ouw Soepeh, saudara Thio, selamat tinggal! Aku sekarang ingin mencari tabib."
"Di seluruh propinsi An hoei tidak terdapat tabib yang pandai," kata Ceng Goa. "Dan didalam tujuh hari, belum tentu kau bisa keluar dari propinsi ini."
Si brewok tertawa terbahak-bahak. "Aku mempunyai Soepeh melihat kebinasaan, tak sudi menolong," katanya. "Dan kau mempunyai Soetit (keponakan murid) yang tidak mengenal mampus." Seraya berkata begitu, dengar tindakan lebar ia berjalan keluar.
"Ouw Ceng Goe !" bentak Boe Kie. "Kalau kau tidak mengobati Siang Toako, satu hari kau pasti akan binasa didalam tanganku ! Aku...aku.."
Ia tidak dapat meneruskan perkataannya, karena ia sudah pingsan.
Ceng Goe mengeluarkan suara dihidung. "Tak perlu kau mampus diluar rumahku," katanya seraya mengambil sebatang daun obat yang lain di timpukkan kearah Gie Coen. Batang daun obat itu menyambar bagaikan kilat dan mengenakan tepat dilutut si berewok, yang tanpa mengeluarkan suara, segera roboh terguling dan tidak bisa bangun lagi.
Memang aneh sungguh adat Ouw Ceng Coe. Kalau dia kata "tidak" tetap tidak, kalau dia "mau", dia tetap mau. Perkataan Boe Kie yang paling belakang, yakni aneaman "kalau kau tidak mengobati Siang Toako, satu hari kau pasti akan binasa didalam tanganku", agak mengejutkan hatinya. Melihat kegagahan Boe Kie dan mengingat bahwa anak itu murid Thio Sam Hong, ia merasa bahwa ancaman itu bukan ancaman kosong. Ia seorang yang sangat berhati-hati. Sesudah memikir sejenak berkata dalam hatinya: "Biarlah, kedua-duanya tidak ditolong olehku. Perduli apa jika di Ouw tiap kok bertambah dengan dua setan penasaran"
Sesudah menimpuk Gie Coen, ia segera membuka ikatan Boe Kie dan mencekal kedua pergelangan tangan anak itu untuk dilontarkan sejauh jauhnya keluar.
Mendadak Ceng Goe terkejut, karena denyutan nadi si bocah sangat luar biasa. Ia segera memeriksa lebih teliti dan rasa kagetnya bertambah tambah.
"Apakah bocah sekecil dia sudah bisa membuka Kie keng Pat meh" tanyanya dalam hati. "Puluhan tahun aku berlatih, tapi belum dapat aku membuka pembuluh darahku. Oh, aku tahu! Tak salah lagi, inilah akibat bantuan Thio Sam Hong. Dia rupanya sangat sayang bocah itu dan rela mengorbankan sebagian Lweekangnya."
Ia lalu membuka pakaian Boe Kie dan memeriksa seluruh badannya. Sesudah itu, ia menekan tantian, dada, embun-embunan dan hati si bocah. Akhirnya ia tertawa dingin seraya berkata : "Thio Sam Hong berlagak pintar, tapi dia jadi bodoh. Lantaran menyayang, dia mencelakakan cucu muridnya. Jikalau Kie keng Pat meh anak ini belum terbuka, jiwanya masih dapat ditolong. Tapi sekarang, racun dingin sudah buyar dan masuk ke dalam isi perutnya. Kecuali dewa, manusia biasa tak berdaya lagi. Huh huh! Kata orang, Boe tong Thio Sam Hong berkepandaian luar biasa tinggi. Tapi menurut penglihatanku, dia goblok berlapis dungu."
Beberaga saat kemudian, Boe Kie tersadar, dan melihat Ouw Ceng Goe sedang mengawasi api dapur obat dengan mata membelalak, sedangkan Siang Gie Coen masih juga menggeletak di jalanan berumput, diluar rumah. Keadaan begitu sunyi senyap untuk beberapa lama, tak seorangpun membuka mulut.
Ouw Ceng Goe adalah seorang tabib yang telah mencurahkan seluruh penghidupannya untuk mempelajari ilmu ketabiban. Kalau dia senang dengan mudah dia dapat menyembuhkan penyakit yang aneh-aneh. Oleh karena itu, ia mendapat gelaran "Ie sian," atau "Tabib Dewa."
Tapi, ia sekarang menghadapi racun yang sangat langka, yaitu racun dingin dari pukulan Hian beng Sin ciang. Apa yang lebih luar biasa lagi, yalah pembuluh darah dari orang yang terkena racun itu, terbuka semuanya, sehingga racun tersebut sudah masuk kedalam perutnya.
Sebagaimana diketahui, dalam dunia ini, orang orang sangat sukar mendapat lawan yang setimpal. Seorang ahli catur jempoan sukar mendapat lawan yang seimbang. Jika menemui lawan begitu, ia bisa lupa makan dan lupa tidur. Seorang ahli hitung juga pasti tak akan menyerah kalah sebelum dapat memecahkan teka teki hitungan yang sulit. Hal yang sama sekarang dihadapi oleh Ouw Ceng Coe. Penyakit Boe Kie merupakan tantangan baginya. Ia sungkan mengobati Boe Kie tapi tantangan itu terlalu hebat untuk bisa dielakkan dengan begitu saja.
Tanpa merasa, ia mengasah otak, Beberapa lama, ia mengasah otak, tanpa berbasil. Akhirnya dengan geregetan, ia berkata didalam hatinya: "Baiklah. Lebih dulu aku akan menyembuhkan penyakitnya. Aku pasti bisa menyembuhkannya. Sesudah dia sembuh, masih banyak tempo untuk membinasakannya."
Sesudah memeras pikiran sejam lebih, ia mengeluarkan dua belas kepingan kecil tembaga dari sakunya. Sambil mengerahkan Lweekang, ia menancapkan kepingan-kepingan logam tembaga itu di Tiongkie hiat (sebelah bawah tantian), di Thian touw hiat (sebelah bawah leher), di Cian keng hiat (dipundak) dan dilain lain jalan darah disekujur badan Boe Kie. Sesudah kepingan tembaga itu ditancapkan, maka duabelas Keng siang meh terputus hubungannya dengan Kie keng Pat meh. Keng siang meh ialah hati, paru paru, nyali ginjal, usus besar, usus kecil dan lain lain, ialah dua belas macam isi perut dalam tubuh manusia.
Sesudah Keng siang meh terputus hubungannya dengan Kie keng Pat meh, maka racun dingin yang sudah masuk kedalam isi perut Boe Kie tidak bisa naik lagi kepembuluh darah dan untuk sementara, tidak berbahaya lagi.
Sesudah membuka semua jalanan darah yang tertotok di kaki tangan Boe Kie, dengan menggunakan batang rumput Tin ngay, Ouw Ceng Goe lalu membakar In boen hiat dan Tiang hoe hiat dipundak sibocah. Kemudian, ia lalu membakar berbagai jalanan darah dari lengan sampai dijempol tangan, seperti Thian hoe hiat, Hiap pek hiat, Cek tek hiat dan sebagainya. Setiap pembakaran disaban jalanan darah mengurangi racun dingin yang mengeram dalam isi perut Boe Kie. Tapi cara itu, yaitu menggunakan hawa panas untuk melawan hawa dingin, menimbulkan kesakitan luar biasa dan penderitaan Boe Kie lebih hebat dari pada waktu mengamuknya racun dingin itu.
Tanpa mengenal kasihan, si tabib malaikat membakar terus dengan batang Tin ngay yang menyala nyala. Sesudah selang beberapa lama, tubuh si bocah penuh dengan totol totolan hitam akibat pembakaran itu.
Boe Kie yang keras kepala sedikitpun sungkan memperlihatkan kelemahannya. Jangankan berterlak kesakitan, merintihpun tidak. Sebaliknya dari itu, ia masih bisa bicara dengan sang tabib sambil bersenyum senyum.
Meskipun tidak mengerti ilmu ketabiban, tetapi sesudah belajar ilmu Tiam hiat dari Cia soen, ia paham akan letaknya berbagai jalanan darah disekujur badan manusia. Maka itu, waktu Ouw Ceng Goe bicara tentang soal ketabiban sambil membakar jalanan darahnya, sedikit-sedikit ia masih bisa melayaninya, Kadang kadang berdasarkan pengetahuannya akan ilmu Tiam hiat, ia malah memberi tafsiran atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Hal ini menggembirakan sangat hati Tiap kok Ie sian. Sebagaimana diketahui, ia hidup menyendiri disebuah selat yang terpencil dari dunia luar. Manusia yang mengawaninya hanya kacung kacung yang membantunya mencari daun obat atau memasak obat. Maka dapatlah dimengerti kalau sekarang kegembiraannya timbul sebab ia bisa bicara dengan seorang yang kelihatannya mengerti akan apa yang dibentangkan olehnya.
Setelah beberapa ratus jalanan darah yang bersangkut paut dengan Keng sian meh selesai di bakar, siang sudah berganti dengan malam. Tak lama kemudian, seorang kacung membawa nasi dan sayur yang lalu ditaruh diatas meja dan kemudian ia membawa juga barang santapan keluar rumah untuk diberikan kepada Siang Gie Coen yang masih terus menggeletak diatas rumput.
Malam itu si berewok tidur diudara terbuka. Waktu tiba temponya untuk mengaso, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Boe Kie berjalan keluar rumah dan membaringkan dirinya diatas rumput, disamping Toako, sebagai tanda bahwa ia bersamaan nasib dengan si berewok.
Ouw Ceng Goe tidak memperdulikan, ia malah berlagak tidak melihat perbuatan Boe Kie. Tapi didalam hati, diam-diam ia merasa heran dam kagum akan cara-caranya bocah cilik Itu.
Pada keesokan harinya, si tabib malaikat menggunakan tempo setengah hari untuk membakar "hiat" dari Kie keng Pat meh. Keng siang meh adalah seperti sungai yang terus mengalir tak henti-hentinya, sedang Kie keng Pat meh seolah-olah telaga atau lautan yang menerima semua aliran itu. Maka itu, usaha untuk mengusir racun dingin yang berkumpul di Kie keng Pat meh banyak sukar daripada usaha mengusir racun itu dari Keng Pat meh.
Sesudah selesai membakar berbagal "hiat" dari Kie keng pat meh, Ceng Goe segera memerintahkan kacungnya memasak semacam ramuan obat yang kemudian lalu diberikan kepada Boe Kie. Obat itu dingin sifatnya dan dalam usaha babak kedua itu ia menggunakan dingin membasmi dingin. Sehabis makan obat itu, Boe Kie mengigil hebat, tapi sesudah serangan itu mereda, ia merasakan badannya banyak lebih baik, lebih nyaman dan lebih segar.
Di waktu lohor si tabib malaikat meneruskan usahanya dengan menusuk berbagai jalanan darah Boe Kie dengan mengunakan jarum emas. Selagi diobati dengan rupa rupa daya Boe Kie coba membujuk Ceng Goe, supaya dia suka mengobati Gie Coen, tapi orang aneh itu tidak meladeni dan hanya berkata: "Gelar Tiap kok ie sian untukku sebenarnya kurang tepat dan aku tidak menyuka julukan itu. Gelar Kian sie Poet kioe barulah menyenangkan hatiku."
Sambil berkata begitu, ia menusuk Ngo kit hiat, diantara pinggang dan paha dengan jarum emas nya. Jalanan darah itu adalah tempat bertemunya Siauw yang dan Tay yang.
"Tay meh dalam tubuh manusia merupakan pembuluh darah yang paling aneh," kata Boe Kie. "Ouw Sinshe, apa kau tahu bahwa ada beberapa orang yang tidak mempunyai Tay meh ?"
Ceng Goe kaget. "Omong kosong ! Tak bisa jadi!" bentaknya.
Memang benar, Boe Kie hanya bicara sembarangan. Tapi ia berkata pula. "Ouw Sinshe, dunia ini luas sekali dan didalam dunia terdapat banyak yang aneh aneh. Apalagi menurut katanya orang, Tay meh sebenarnya tidak memegang peranan penting dalam tubuh manusia."
"Aku mengakui, bahwa Tay meh adalah pembuluh darah yang agak aneh," kata sitabib. "Tapi jutsa besar, jika orang mengatakan, babwa Tay meh tidak berguna besar. Dalam dunia terdapat banyak tabib tolol yang tidak mengerti kegunaan dan pentingnya Tay meh. Aku mempunyai sejilid Kitab Tay meh. Kau bacalah sendiri,"
Ia segera masuk kedalam dan keluar lagi dengan membawa sejilid Buku tipis yang ditulis dengan tulisan tangannya sendiri, dan lalu menyerabkan kepada si bocah.
Boe Kie membuka halaman yang pertama, dimana tertulis seperti berikut: "Dua belas Keng siang meh dan Kie keng cit meh semua mengalir dari atas kebawah. Hanya Tay meh yang terletak di samping kempungan, mengalir dengan memutari pinggang, seperti juga sehelai ikatan pinggang. Dalam beberapa kitab pengobatan terdapat keterangan, bahwa Tay meh mempunyai empat hiat atau enam hiat. Itu semua salah. Tay meh sebenarnya mempunyai sepuluh hiat, dua di antaranya kadang kadang muncul, kadang kadang menghilang, sehingga sukar sekali dapat diraba"
Boe Kie membaca terus dengan teliti dan diam diam mengingat-ingat semua apa yang dibacanya.
Tiba-tiba ia teringat peristiwa Tan Yoe Liang yang coba mengabui kakek gurunya. Kitab Tay meh itu tidak seberapa banyak isinya dan apa yang tertulis didalamnya ternyata sangat mudah dimengerti, sehingga jika dibandingkan dengan Kouw koat ilmu silat, kitab tersebut sepuluh kali lebih mudah dihafal.
Sesudah selesai membaca, si bocah lalu mengembalikan kitab itu kepada Ouw Ceng Gee. "Kitab itu sudah pernah dibaca olehku," katanya dengan suara tawar. Pada waktu berusia tigapuluh tahun, Thay soehoe pernah menulis Coe hak Tay meh Jip boen Cian swee, yang bersamaan isinya dengan hubungan itu. Entah Thay soehoe yang menelad (peep: what is menelad?" keteranganmu atau kau yang menyontoh gubahan Thay soehoe,"
Ouw Ceng Goe tercengang, akan kemudian marah besar. "Tahun ini aku baru berusia lima puluh satu tahun," katanya didalam hati. "Kau mengatakan, bahwa Thio Sam Hong menulis buku itu waktu ia berusia tiga puluh tahun dan karena ia sekarang sudah berumur seratus tahun lebih, maka ia menulis itu pada tujuhpuluh tahun berselang. Dengan lain perkataan lagi, akulah yang sudah mencuri buah kalamnya Thio Sam Hong. Kurang ajar! Kitab Tay-meh itu adalah hasil jerih-pajahku dan belum pernah didapat oleh siapapun jua dalam dunia ini. Kurang ajar ! Kau mengatakan Coe hak Tay meh Jip boen Cian swee, sudah 'Coe hak', 'Jip boen', sudah 'Jip boen', 'Cian swee' lagi! Kunyuk kecil ini benar-benar kurang ajar!" (Coe hak, artinya pelajaran permulaan, Jip boen adalah pendahuluan, Cian swee berarti perundingan yang cetek, tidak mendalam).
Dalam gusarnya, ia menancapkan jarum emas dalam-dalam di pinggir jalanan darah, sehingga darah lantas saja keluar berketel ketel. Boe Kie kesakitan, hampir-hampir ia berteriak, tapi sambil menggigit bibir, ia menahan rasa sakit itu. "Kalau kau tidak percaya, biarlah aku menghafal Coe hak Tay meh Jip boen Cian swee itu, yang digubah oleh Thay Soehoe," katanya dengan tenang.
"Baiklah !" bentak Ceng Goe. "Kalau salah sehuruf saja, tahu sendiri, aku akan segera mengambil jiwamu "
Selama di Pheng hwee to, semenjak berusia tima tahun, Boe Kie telah dipaksa menghafal Kouw koat ilmu silat oleh ayah angkatnya. Salah sedikit saja, ia digaplok oleh ayah angkat yang galak itu. Maka itulah, sesudah berlatih selama lima tahun, ia boleh dikatakan sudah menjadi ahli dalam ilmu menghafal. Akan tetapi, mendengar ancaman Ouw Ceng Goe in keder juga. Ia yakin, bahwa orang aneh itu dapat membuktikan ancamannya. Diam diam ia merasa menyesal, bahwa ia berguyon guyon secara melampaui batas. Tapi sekarang ia sudah tidak bisa mundur lagi. Sambil mengempos semangat untuk mengumpulkan semua tenaga otak nya, ia mulai menghafal dengan suara nyaring :
"Duabelas Keng siang meh dan Kie keng Cit meh semua mengalir dari atas kebawah. Hanya Tay meh, yang terletak disamping kempungan, mengalir memutari pinggang, seperti sehelai ikatan pinggang..."
Makin lama, ia makin bersemangat dam akhirnya ia mendapat menyelesaikan hafalan itu dengan sempurna.
Bukan main kagetnya Ceng Goa. Untuk beberapa saat, ia mengawasi si bocah dengan mata membelalak. "Sungguh luar biasa" pikirnya. "Anak itu mempunyai bakat Kwee bak poet bong, Manusia yang seperti dia sukar dicari keduanya didalam dunia," Kwee bak poet bong artinya begitu melihat tidak bisa lupa Iagi.). Ia tak tahu, bahwa dalam kuil Siauw lim sie terdapat Tan Yoe Liang yang kecerdasannya tidak berada di sebelah bawah Boe Kie.
Sesudah hilang kagetnya, tanpa merasa ia memuji: "Pintar! Kau sungguh pintar !" Sehabis berkata begitu, ia segera menusuk sepuluh "hiat" dari Tay meh Boe Kie dengan jarum emasnya.
Sehabis mengaso sebentar, Ceng Goe mendapat ingatan untuk mencoba lagi. "Disamping kitab Tay meh, aku memiliki kitab Coe ngo Ciam cie keng," katanya. "Coba kau lihat. Apakah Thio Sim Hong juga sudah pernah menggubah kitab yang seperti itu ?"
Ia segera masuk kedalam dan keluar lagi dengan membawa 12 jilid kitab tulisan tangan.
Boe Kie segera membalik-balik lembarannya. Setiap halamannya penuh huruf-huruf kecil yang menerangkan kedudukan jalanan darah, beratnya timbangan obat, waktu dan cetek dalamnya tusukan jarum emas. Semua diterangkan dengan jelas sekali, "Untuk membaca dua belas jilid sedikitnya memerlukan tempo tiga atau empat hari," pikirnya.
"Bagaimana aku dapat menghafal dalam tempo cepat? Biarlah aku coba saja mencari ilmu untuk mengobati luka Siang Toako." Dengan cepat ia membalik-balik lembaran kitab-kitab itu dengan hanya memperhatikan judulnya. Waktu memeriksa jilid kesembilan, dibagian Ciang siang Cie hoat (Cara mengobati luka pukulan telapak tangan), ia melihat petunjuk-petunjuk untuk mengobati luka Tiat see ciang, Tok ciang, Kay san ciang dan sebagainya. Waktu ia meneliti lagi sampai di halaman seratus delapanpuluh, barulah ia bertemu dengan cara pengobatan luka terkena pukulan Ciat sim ciang.
Ia jadi sangat girang. Ia lalu membaca dan mempelajari apa yang tertulis disitu. Ia mendapat kenyataan bahwa keterangan mengenai pukulan itu diberikan jelas sekali, tapi cara mengobatinya sangat sederhana dan ringkas. Mengenai itu hanya ditulis seperti berikut "Turun tangan mulai dari Cie kiong hiat, Tiong tseg hiat. Koan goan hiat dan Thian tie hiat. Sesudah itu, memberi obat dengan melihat perubahan Im yang dan Ngoheng, meninjau lima hawa udara yaitu: dingin, panas, kering, basah dan angin dan memperlihatkan lima perasaan girang, gusar, jengkel, banyak pikiran dan bersemangat dari si sakit."
Dalam ilmu pengobatan Tionghoa terdapat banyak perubahan dan tidak ada peraturan yang tentu. Untuk mengobati serupa penyakit si tabib biasa memberi obat dengan memperhatikan hawa udara, siang atau malam, lelaki atau perempuan, besar atau keci dan sebagainya.
Sementara itu, sesudah membaca beberapa kali, Boe Kie berkata dalam hatinya: "Yang paling penting yalah coba menolong Siang Toako. Aku tidak boleh mengejek tabib malaikat ini."
Di bagian terakhir Ciang siang Cie hoat, ada tertulis Hian beng Sin ciang. Kehebatan pukulan itu diterangkan jelas, tapi dibagian cara pengobatan tertulis: "Tidak ada."
Ia lalu menutup kitab itu dan dengan sikap hormat menaruhnya diatas meja. "Dalam ilmu silat, Ouw Sinshe tidak dapat menandingi Tay soehoe, tetapi di dalam ilmu ketabiban, Tay Soe hoe tidak bisa melawan Ouw Sinshe," katanya, "Coe ngo ciam cie keng luas dan dalam, Tay Soehoe tak akan dapat menggubah kitab seperti itu. Akan tetapi, mengenai pengobatan pukulan telapak tangan, apa yang dipelajari Ouw Sinshe belum dapat melampaui pelajaran Tay Soehoe."
Sehabis berkata begitu, ia segera menghafal Ciang Siang Cie hiat yang terdiri dari mengobati seratus lebih macam pukulan telapak tangan, dan dalam menghafal itu, tidak sehuruf pun yang salah atau ketinggalan. Akhirnya ia berkata: "Luka boanpwee akibat pukulan Hian beng Sin ciang tak dapat diobati oleh Tay soehoe. Mungkin sekali Ouw Sinshepun tidak berdaya"
Ouw Ceng Goe tertawa dingin. "Tak usah kau memanaskan hatiku," katanya. "Kau saksikan saja sendiri apa benar aku tidak berdaya. Tapi sesudah aku menyembuhkan kau, belum tentu kau bisa hidup lama."
Walaupun Boe Kie pintar luar biasa, ia tidak mengerti maksud sebenarnya dari perkataan si tabib yang ingin membinasakannya sesudah menyembuhkannya, supaya sesuai dengan kebiasaannya, bahwa ia tidak pernah menolong orang yang diluar lingkungan "agama" sesat.
Dengan tujuan satu-satunya untuk menolong Siang Gie Coen. sibocah lantas saja berkata: "Ouw Sinshe, jika boanpwee tidak bisa hidup lama, boanpwee ingin sekali bisa membaca lagi kitab Coe ngo Ciam cie keng yang sangat luar biasa itu."
Ouw Ceng Goe tidak lantas menjawab. Sesudah menimbang sejenak, ia menganggap tidak halangan jika ia meluluskan permintaan itu, sebab biar bagaimana juapun, bocah itu tidak akan bisa keluar dari Ouw tiap kok dengan masih bernyawa.
Ia mengangguk seraya berkata "Boleh, kau boleh membaca sesukamu."
Biarpun adatnya aneh, tidak dapat disangkat lagi bahwa Ouw Ceng Goe adalah salah seorang manusia luar biasa yang berkepandaian tinggi dan berpengetahuan luas. Hanya sesudah masuk kedalam "agama" sesat, ia membenci manusia biasa dan lebih membenci lagi orang orang Rimba Persilatan yang menjadi anggauta dari partai-partai lurus bersih. Makin lama, adatnya jadi makin aneh dan ia hidup menyendiri ditempat yang terpencil. Tapi, sebagai manusia biasa kadang-kadang ia merasa manyesal, bahwa ia tidak mempunyai kawan untuk bersama-sama merundingkan atau mempelajari ilmu ketabiban dan iapun merasa sangat kesepian. Oleh sabab itu, maka kedatangan Boe Kie, yang sangat pintar dan yang kagum akan kepandaiannya, pada hakekatnya menyenangkan hatinya yang kosong sunyi.
Sesudah mendapat perkenan, siang malam Boe Kie mempelajari isi kitab-kitab Ceng Goe. Sering sering ia lupa makan dan lupa tidur. Ia bukan saja membaca belasan macam kitab yang ditulis oleh Ouw Ceng Goe sendiri, tapi juga banyak kitab lain, sepetti Oay Tee Lweekang, Hoa To, Lwee ciauw touw, Cian kim ek dan sebagainya. Tujuan si bocah yang sesungguhnya, tidak dapat ditebak oleh Ouw Ceng Gee yang menganggap, bahwa karena tidak mengerti kitab gubahannya sendiri, maka Boe Kie yang sungkan menanya secara langsung, sudah membongkar kitab-kitab ketabiban kuno untuk mencari penjelasannya.
Beberapa hari telah lewat. Selama beberapa hari itu, Boe Kie telah bisa menghafal banyak kitab, akan tetapi, ilmu pengobatan yang dalam dan luas mana bisa dipahamkannya dalam beberapa hari saja? Ia menghitung hitung dan ternyata ia sudah berdiam di Ouw tiap kok enam hari lamanya.
Ia jadi bingung. Menurut katanya Ouw Ceng Goe, jika didalam tempo tujuh hari, Cie Coen bisa mendapat pertolongan tabib yang pandai, maka lukanya akan sembuh seanteronya. Jika lewat tujuh hari, andaikata bisa sembuh, ilmu silat Gie Coen akan musnah semuanya. Dan sekarang, si berewok sudah menggeletak diluar rumah enam hari enam malam lamanya. Apakah ia akan bisa menolong jiwa Siang Toako?
Hari itu turun hujan besar dan Gie Coen separuh terendam diair, tapi sang paman guru tak menghiraukannya. Melihat begitu, Boe Kie mendongkol bukan main dan didalam hati, ia mencaci si tabib malaikat yang berhati kejam.
Malamnya hujan turun makin besar. Kilat menyambar nyambar, diiringi guntur dan petir yang menggetarkan bumi. Boe Kie tak bisa mempertahankan diri lagi. Sambil mengertak gigi, ia berkata dalam hatinya. "Biarpun aku mesti membunuh Siang Toako, tak dapat aku mengawasi penderitaannya dengan berpeluk tangan." Dari laci obat Ouw Ceng Goe, ia segera mengambil delapan batang jarum emas dan lalu menghampiri Gie Coen.
"Siang Toako," katanya dengan suara parau, "Selama beberapa hari siauwtee telah mempelajari kitab-kitab Ouw Sinshe dan biarpun belum mengerti benar, tapi karena keadaan memaksa, siauwtee ingin coba menggunakan jarum untuk mengobati Toako. Andaikata terjadi kejadian yang tidak di harapkan, siauwteepun tidak bisa hidup sendirian dalam dunia ini."
Gie Coen tertawa terbabak bahak. "Saudara kecil jangan kau mengatakan begitu," katanya. "Lekas gunakan jarum itu. Kalau kau berhasil, Soe peh akan merasa malu sekali. Andaikata aku mati, aku memang lebih suka mati daripada berendam dikobakan ini."
Dengan tangan gemetar Boe Kie mencari jalan darah Gie Coen dan kemudian menancapkan sebatang jarum emas di Koan goan hiat. Tapi, begitu ditacapkan, jarum itu bengkok dan tidak bisa masuk terus ke dalam daging.
Hal ini bisa dimengerti, karena bukan saja si bocah belum pemah menggunakan jarum tersebut, tapi jarum itupun lemas luar biasa, sehingga untuk memasukkannya ke dalam daging, orang harus menggunakan Lweekang yang tinggi. Boe Kie terpaksa mencabutnya lagi. Menurut biasa, jika jarum masuk tepat di jalanan darah, darah tidak keluar. Tapi sekarang, sebab si bocah menusuk salah, maka begitu jarum tercabut, darah Gio Coen lantas saja keluar berketel-ketel. Koan goan hiat yang terletak dikempungan manusia, merupakan salah satu "hiat" yang paling berbahaya. Melihat darah merembas keluar tak hentinya, Boe Kie jadi bingung.
Sekonyong-konyong di belakangnya terdengar suara orang tertawa berkakakan. Ia menengok dan melihat Ouw Ceng Goe yang berdiri sambil menggendong tangan, dengan paras muka berseri seri.
"Ouw Sinshe," kata Boe Kie dengan suara bingung. "Koan goan hiat Siang Toako mengeluarkan darah. Bagaimana baiknya ?"
"Tentu saja aku tahu bagaimana baiknya," jawabnya. "Tapi perlu apa aku memberitahukan kau ?"
"Ouw Sinshe, mengapa kau begitu kejam?" kata Boe Kie dengan suara keras: "Begini saja. Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa. Tolonglah Siang Toako. Sesudah kau menolong, aku akan segera binasa dihadapanmu."
"Kalau aku kata tidak, tetap tidak," kata Ceng Goe dengan suara tawar. "Aku hanya Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe. Aku bukan Boe siang (setan yang biasa membetot jiwa orang). Kalau kau mampus, sedikitpun tiada sangkut pautnya dengan aku. Andaikata sepuluh Boe Kie mati, akupun tidak akan menolong satu Siang Gie Coen."
Boe Kie mengerti, tiada gunanya ia memohon mohon lagi. Ia tahu, bahwa ia tak akan bisa menggunakan jarum emas itu yang terlampau lemas. Mencari jarum baja atau jarum besi sudah tidak keburu lagi.
Sesudah memikir sejenak, buru buru ia mematahkan sebatang bambu. Dengan menggunakan pisau, ia membuat beberapa biting bambu dan kemudian, tanpa memikir lagi ia menancapkannya di Cie kiong, Siong tong, Koen goan dan Tian tie hiat.
Sesaat kemudian Gie Coen muntahkan darah hitam beberapa kali.
Boe Kie jadi bingung. Sesudah menusuk jalanan darah orang, ia tak tahu apa penyakitnya jadi lebih enteng atau lebih berat. Ia mengawasi muka Ouw Ceng Goe dan melihat, bahwa, meskipun sikapnya acuh tak acuh, paras muka sitabib malaikat menunjuk rasa kagum. Ia sekarang tabu, bahwa usahanya yang pertama telah berhasil dan hatinya girang.
Buru-buru ia masuk kedalam rumah dan sambil membaca beberapa kitab, ia mengasah otak untuk coba menulis surat obat. Ia tahu obat apa bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit apa, tapi ia belum pemah melihat macamnya obat itu dan juga tidak mengerti, berapa banyak si sakit barus diberikan. Sesudah berpikir beberapa lama dengan nekat ia lalu menulis surat obat yang lalu diserahkan kepada sikacung tukang masak obat dengan berkata: "Masaklah obat ini"
Si kacung membawa surat obat itu kepada majikannya dan menanya, apakah ia boleh turut perintah Boe Kie. Ceng Goe mengeluarkan suara dihidung dan berkata pada dirinya sendiri: "Hmm ! Benar benar gila !" Ia berpaling kepada kacungnya dan berkata: "Boleh. Masaklah obat menurut timbangannya. Kalau dia tidak mati, benar-benar rejekinya besar."
Boe Kie mongerti apa maksudnya perkataan itu.
Cepat-cepat ia merebut pulang surat obat itu, mengurangkan timbangannya dan kemudian baru menyerahkannya kembali kepada si kacung.
Sesudah dimasak, Boe Kie membawa obat itu kepada Gie Coen dan berkata dengau air mata berlinang-linang: "Siang Toako, minumlah obat ini. Apa untung, apa celaka, siauwtee sendiri tak tahu"
"Bagus! Bagus!" kata siberewok sambil tertawa "Inilah yang dikatakan, tabib buta mengobati kuda picek." Sambil meramkan mata ia segera minum habis semangkok obat itu.
Malam itu Gie Coen menggelisah. Ia merasa perutnya seperti disayat pisau dan dari mulutnya terus mengeluarkan darah. Tanpa menghiraukan hujan dan hawa dingin, semalaman suntuk Boe Kie menemani sisakit. Pada esokan paginya, hujan berhenti dan darah yang dimuntahkan Gie Coen makin lama jadi makin sedikit. Warna darah juga berubah, dari hitam menjadi ungu, dari ungu berubah merah.
"Saudara kecil," kata Siang Gie Coen dengan girang. "Obatmu teryata tidak membinasakan manusia. Aku merasa badanku banyak lebih enak, lebih nyaman."
"Bagaimana? Obat siauwtee boleh juga bukan?" kata sibocah sambil menyengir.
"Lebih dari boleh juga!" memuji Gie Coen. "Hanya obatmu mungkin terlalu keras, perutku seperti diiris-iris pisau."
"Ya, mungkin terlalu keras," kata Boe Kie dengan rasa jengah.
Sebenarnya, obat yang diberikan oleh Boe Kie kepada Gie Coen bukan hanya terlalu keras, tapi beberapa lipat kali terlalu keras. Kalau Gie Coen tidak mempunyai badan yang sangat kuat, siang siang ia sudah binasa.
Sesudah membersihkan badan, Ouw Ceng Goe berjalan keluar. Melihat paras muka Siang Gie Coen ia terkesiap. Ia tak nyana, bahwa Boe Kie benar-benar sudah berhasil menyembuhkan luka si borewok.
Sementara itu, sibocah sudah menulis surat obat untuk menguatkan badan dan lain menyerahkannya kepada sikacung untuk dimasak.
Ia memasukkan segala macam obat kuat, seperti Jinsom, Lok jiong, Souw ouw dan sebagainya. Dalam rumah Ouw Ceng Goe terdapat rupa rupa obat, dari yang paling murah sampai yang paling mahal harganya. Sesudah minum obat kuat enam tujuh hari beruntun, bukan saja kesehatannya, tapi kepandaian silat Gie Coen juga sudah pulih kembali.
Beberapa hari kemudian, ia berkata begini kepada Boe Kie: "Saudara kecil, lukaku sudah sembuh Sekarang saja kita berpisahan "
Selama kurang lebih sebulan Boe Kie telah berkawan dengan pemuda itu dan mereka berdua sama-sama merasakan banyak penderitaan. Mereka telah menjadi seperti saudara kandung dan dapatlah dimengerti, jika sibocah merasa sedih waktu mendengar perkataan sang kakak. Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Ia hanya mengangguk dengan air mata berlinang-linang.
"Saudara kecil, jangan kau bersusah hati," membujuk Gie Coen. "TIga bulan kemudian, aku akan kembali untuk menengokmu. Kalau racun dingin sudah diusir bersih dari badanmu, aku akan segera mengantarkan kau pulang ke Boe tong."
Ia masuk kedalam rumah dan berlutut dihadapan Ouw Ceng Goe. "Ouw Soepeh," katanya, "sekarang teecoe sudah sembuh sama sekali. Biarpun benar saudara Thio yang mengobati, akan tetapi, pengobatan itu diberikan berdasarkan petunjuk kitab kitab Ouw Soepeh. Disamping itu, teecoe juga telah menghabiskan banyak sekali obat-obatan Soepeh yang berhanga mahal. Untuk itu semua, teecoe hanya bisa menghaturkan banyak-banyak terima kasih."
Sang paman guru manggut manggutkan kepalanya. "Tak apa," katanya. "Lukamu memang sudah sembuh, hanya sayang, usiamu berkurang dengan tigapuluh tahun."
Gie Coen tidak mengerti. "Apa yang dimaksudkan Soepeh ?" tanyanya,
"Dilihat dari kekuatan badanmu, paling sedikit kau bisa hidup sampai usia delapanpuluh tahun," menerangkan sang paman guru. "Tapi karena bocah itu membuat kesalahan dalam memberi obat dan membuat kesalahan pula waktu menusuk jalanan darahmu, maka, setiap kali bertemu delapan musim hujan angin, sekujur badanmu akan dirasakan sakit. Menurut taksiranku, kau hanya bisa berusia sampai lima puluh tahun."
Si berewok tertawa terbabak-bahak. "Ouw Soe peh," katanya dengan suara lantang, "jika seorang laki-laki bisa menolong sesama manusia dan mengabdi kepada negara, berusia sampai empat puluh tahun saja kurasa sudah cukup. Jika seorang hidup tanpa tujuan, maka biarpun ia bisa berumur seratus tahun, hidupnya percuma saja."
Ceng Goe tidak mengatakan suatu apa, ia hanya mengangguk beberapa kali.
Boe Kie mengantar Gie Coen sampai dimulut selat Ouw tiap kok den kemudian mereka berpisahan sesudah memeras banyak air mata. Sambil mengawasi bayangan si barewok yang makin lama jadi makin jauh, Boe Kie bertekad untuk mempelajari ilmu pengobatan, supaya dibelakang hari ia dapat memulihkan usia Gie Coen, yang menurut katanya Ouw Ceng Goa, akan berkurang tigapuluh tahun.
Setiap hari dengan telaten, Ceng Goe menggunakan jarum emas dan memberi obat untuk mengusir semua racun dingin yang masih mengeram dalam tubuh sibocah. Sementara itu, diwaktu luang, Boe Kie tidak menyia-nyiakan tempo. Tanpa kenal capai, ia membaca dan mempelajari kitab kitab ketabiban. Jika ada bagian yang tidak dimengerti, ia memohon petunjuk dari Ouw Ceng Goe yang memberinya dengan segala senang hati. Perlahan-lahan tabib malaikat itu mulai merasa suka terhadap sibocah pintar itu. sekali hatinya terbuka, tanpa sangsi-sangsi, ia memberi segala pelajaran yang dimilikinya.
Kadang-kadang bocah itu mengajukan pertanyaan mengenai hal-hal yang belum pemah dipikir olehnya sendiri. Rasa kagum orang tua itu terhadap Boe Kie jadi makin besar.
Semula, ia berminat membinasakan Boe Kie begitu lekas lukanya sembuh. Tapi sekarang ia merasa, bahwa jika sibocah binasa, ia akan hidup kesepian. Maka itulah, waktu memberi obat, ia sengaja mengurangkan timbangannya untuk menunda penyembuhan dan penunda pula kebinasaan anak itu.
Sesudah lewat satu dua bulan, dengan rasa heran Ceng Goe mendapat kenyataan, bahwa sesudah menggunakan rupa-rupa cara, ia masih belum juga bisa mengusir racun dingin yang berkumpul di Sam cauw. Belasan hari ia memeras pikiran dan bekerja keras, tapi hasilnya nihil sehingga rambutnya bertambah uban. ( Samcouw -Hormon).
Pada suatu hari, sambil menghela napas ia berkata: "Ilmu silat Thay soehoemu sangat tinggi, tapi dalam ilmu ketabiban, ia mencelakakan kau. Sesudah kau kena pukulan Hian beng Sin ciang, ia membuka Kie keng Pat mehmu. Betul-betul gila!"
"Bukan, bukan Thay soehoe yang membuka pembuluh darahku,"membantah Boe Kie. Sesudah berkumpul dengan Ouw Ceng Goe beberapa bulan, ia merasa bahwa meskipun beradat aneh, tabib melaikat itu bukan manusia jahat. Maka itu, tanpa diminta, ia lantas saja meneceritakan riwayat hidupnya. Ia juga menuturkan pengalamannya dikuil Siauw lim sie, ketika ia datang untuk belajar Siauw lim Kioe yang kang.
Sesudah menunduk beberapa saat, tiba-tiba saja Ceng Goe menepuk paha dan berkata: "Boe Kie, pendeta Siauw lim itu pasti dengan sengaja mencelakakan kau !"
Si bocah terkejut. "Aku belum pernah mengenalnya, ada perlu apa dia harus mencelakakan aku?" tanyanya.
"Hal........ hal ini sungguh aneh," kata pula Ceng Goa. "Coba kau ceritakan terlebih jelas semua pengalamanmu di Siauw sit san."
Boe Kie menurut dan lantas saja mengulang penuturannya secara lebib jelas.
Tiap kok Ie sian tampak berjalan mundar mandir sambil menggendong kedua tangannya. Sekonyong konyong ia berteriak: "Tidak bisa salah lagi. Pendeta itu memang sengaja mencelakakan kau. Thay soehoemu tidak mengerti ilmu ketabiban dan juga ia adalah seorang yang sangat percaya segala manusia. Maka itu, ia tidak bercuriga. Coba kau pikir, Goan tin adalah seorang yang mahir dalam ilmu Siauw lim Kioe yang kang dan ia juga bisa membantu kau dalam membuka Kie keng Pat mehmu. Dengan lain perkataan, ia sudah memiliki Lweekang sangat tinggi. Maka itu, begitu lekas kedua telapak tangannya menempel dengan telapak tanganmu, ia pasti tahu, bahwa dalam tubuhmu mengeram racun dingin. Tapi, ia malah sengaja membuka pembuluh darahmu. Apakah, dengan begitu, ia bukan sengaja mencelakakan kau?"
"Tapi, dari sebelum menobloskan tembok, ia memang sudah berniat untuk bantu membuka Kie keng pat mehku," kata Boe Kie. "Waktu ia belum tahu, bahwa aku kena pukulan Hian beng Sin ciang."
Ceng Goe geleng gelengkan kepalanya. "Sebab apa Goan tin mau mencelakakan kau, aku masih belum tahu," katanya. "Kau mengatakan, bahwa sebab belum pernah kenal satu sama lain, maka tak mungkin ia mencelakakan kau. Akan tetapi, kau harus ingat, bahwa kau sudah belajar Siauw Lim Kioe yang kang, yang mungkin dianggap olehnya sebagai miliknya sendiri. Hal ini sudah cukup untuk menimbulkan niatan membunuh kau di dalam hatinya"
"Menurut katanya Thay Soehoe Siauw lim sie dan Boe tong adalah pemimpin dari partai partai yang lurus bersih" kata Boe Kie. "Menurut pendapatku biarpun dalam kuil Siauw lim sie terdapat orang orang yang berpemandangan sempit, akan tetapi, mereka pasti tidak akan bertindak secara begitu hina dina. Apa pula Thay soehoe sendiri telah menyerahkan Thay kek Sip sam sit dan Boe tong kioe yang kang kepada mereka sebagai penukaran. Dalam hal ini pada hakekatnya pihak Siauw lim yang lebih untung."
Ouw Ceng Goe tertawa dingin. "Lurus bersih!", menegasnya. "Apakah ayah dan ibumu bukan didesak sehingga binasa oleh orang orang dari partai lurus bersih? Dengan menganggap, bahwa mereka putih bersih, mereka berlaku sangat kejam terhadap orang orang dari partai yang dianggapnya sesat. Padahal, orang orang partai lurus bersih belum tentu baik semuanya, sedang orang dari partai sesat belum tentu jahat seanteronya."
Kata kata itu menyentuh hati Boe Kie. Ia ingat, bahwa yang mendesak hebat sehingga mengakibatkan binasanya kedua orang tuanya, sebagian besar terdiri dari orang orang partai lurus bersih, seperti Siauw lim, Koen loan dan Khong tong pay. Bahkan paman pamannya dari Boe tong pay telah menyaksikan pembunuhan diri kedua orang tuanya dengan berpeluk tangan. Memang benar mereka berduka, akan tetapi, didalam hati menganggap bahwa binasanya kedua orang tuanya adalah kebinasaan yang sepantasnya. Pendapat itu sudah lama sekali terkandung dalam lubuk hatinya, tapi sebegitu jauh, ia belum pernah berani mengatakan secara terang terangan. Sekarang, begitu mendengar perkataan Ouw Ceng Goe, ia menggigil dan menangis keras.
"Ya, dunia memang begitu," kata Ceng Goe dengan suara tawar. "Baru menemui satu soal saja, kau sudah menangis. Jika kau tidak mati hari ini, dihari kemudian kau bakal mengalami banyak sekali kejadian kejadian yang dapat mengucurkan air matamu.
Boe Kie buru buru menyusut air matanya: "Kau mengatakan, bahwa kau belum pernah melihat muka Goan tin," kata pula si tabib malaikat "Tapi bagimana kau tahu, bahwa dia tidak mengenal kau? Suara orang dapat diubah bahkan muka masih bisa diubah. Dia tidak mau menemui kau. Hal ini saja sudah menerbitkan kecurigaan. Kau mengatakan, bahwa tanpa sebab, seseorang pasti takkan mencelakakan kau. Apa kau tahu pasti, bahwa aku tidak ingin membunuh kau? Biarlah aku berterus terang. Karena melihat penyakitmu sangat aneh, maka aku sudah mau berusaha untuk mengobati kau. Tapi berbareng dengan itu, akupun telah mengambil keputusan, bahwa begitu lekas kau sembuh, aku akan segera mengambil jiwamu!"
Boe Kie bergidik. Ia mengerti, bahwa apa yang dikatakan oleh si orang aneh tidak mudah dapat dirubah lagi. Ia menghela napas seraya berkata. "Racun dingin dalam tubuhku tak dapat diusir keluar lagi seanteronya. Tanpa kau turun tangan, aku akau mati sendiri. Hai! Manusia di dunia agaknya merasa senang jika melihat orang lain celaka atau mati. Bukankah orang yang belajar silat bertujuan untuk membunuh sesama manusia?"
Ouw Ceng Goe mendongak dan dengan mata membelakak ia mengawasi langit. Sesudah lewat kian lama, ia berkata dengan suara parau: "Di waktu masih muda aku mempelajari ilmu ketabiban dengan tekad untuk menolong sesama manusia. Akan tetapi, orang-orang yang ditolong berbalik mencelakakan aku. Aku pernah menolong jiwa seorang yang mendapat tujuhbelas lubang luka bacokan. Dia sebenarnya sudah mesti mati. Tiga hari tiga malam aku tidak tidur dan dengan seantero kepandaian, aku berhasil menyembuhkannya. Belakangan aku mengangkat saudara dengannya. Tak dinyana, ia akhimya membinasakan adik perempuanku, adik kandungku. Siapa dia? Dia sekarang seorang tokoh besar yang namanya besar pula dari sebuah partai lurus bersih."
Dengan rasa kasihan, Boe Kie mengawasi muka Ceng Goe yang diliputi dengan sinar kedukaan. "Kalau begitu ia mendapat gelaran Kian sie poet kioe karena ia telah mengalami kejadian hebat," katanya didalam hati. Darahnya lantas saja meluap dan ia menanya: "Siapa adanya manusia binatang itu? Mengapa kau tidak cari padanya untuk membalas sakit hati?"
"Pada waktu mau meninggal dunia, "adikku telah memaksa aku bersumpah, bahwa aku tak akan coba membalas sakit hati," jawabnya, "Lebih gila lagi, ia minta aku berjanji bahwa kalau manusia itu berada dalam bahaya, aku mesti menolong. Dapat dimengerti jika aku menolak tuntutan itu. Tapi, sebelum aku meluluskan adikku tidak akan mati dengan mata meram. Hati Adikku....hatinya terlalu mulia. Akhirnya aku tak dapat tidak meluluskan permintaannya yang paling penghabisan itu." Sehabis berkata begitu air matanya berlinang-linang.
Baru sekarang Boe Kie insyaf, bahwa Ouw Ceng Goe bukan manusia yang tak punya perasaan. Tak bisa salah, antara saudara angkatnya dan adik perempuannya mempunyai hubungan yang sangat erat, kalau bukan suami isteri, tentulah juga sepasang kecintaan.
Tiba-tiba Ceng Goe berkata dengan suara keras "Ingatlah apa yang dikatakan olehku, tak boleh kau menyebut-nyebut lagi dihadapanku. Jika kau membocorkan pembicaraan ini kepada orang lain, aku akan membuat kau hidup tidak, matipun tidak."
Boe Kie sebenarnya ingin menjawab dengan beberapa perkataan tajam, tapi ia segera mengurungkan niatnya, karena ia merasa bahwa pada hakekatnya Ouw Ceng Goe adalah seorang yang harus dikasihani. "Baiklah, aku berjanji tak akan bicara lagi mengenai hal itu." katanya.
Tabib malaikat itu kemudian mengusap-ngusap rambut si bocah dan berkata sesudah menghela napas berulang-ulang: "Kasihan! Kasihan!" Sehabis berkata begitu, ia masuk keruang dalam.
Sesudah terjadi pembicaraan diatas, berulang kali Ceng Goe memeriksa tubuh Boe Kie dan siang malam is mengasah otak, tapi ia tidak mendapat jalan untuk membasmi racun dingin yang sudah masuk kedalam Sam ciauw. Ia sekarang yakin, bahwa biarpun ia berusaha sebisa bisa dengan menggunakan ilmu pengobatan yang paling tinggi, paling banyak ia bisa-bisa memperpanjang umur si bocah dengan beberapa tahun saja.
Sementara itu, karena berada dipergunungan yang sepi, Boe Kie merupakan seorang kawan yang sangat menyenangkan, maka diwaktu-waktu luang Ceng Goe memberi petunjuk dan pelajaran ilmu ketabiban kepada si bocah yang terus belajar dengan rajin dan tak mengenal capai.
Melihat kecerdasan bocah itu yang dalam tempo singkat sudah dapat memahami kitab-kitab Oey te Ha mo keng, See hong Coe beng tong Cie keng, Tay peng seng Hoei hong dan sebagainya, Ceng Goe menghela napas seraya berkata: "Dengan kecerdasanmu, dibantu olehku sendiri, sebelum berusia duabelas tahun, kau sudah akan hisa merendengi Hoa To atau Pian Ciak. Hanya sayang ....sungguh sayang!"
Ia merasa sayang, karena dengan berusia pendek, semua kecerdasan dan kepandaian itu, tiada gunanya. Tapi Boe Kie mempunyai lain tujuan. Ia belajar ilmu ketabiban dengan tekad untuk memulihkan usia Siang Gie Coen yang menurut Ouw Ceng Goe, akan berkurang dengan tigapuluh tahun.
Hari berlalu laksana terbang dan tanpa terasa, dua tahun sudah berselang, Boe Kie sekarang sudah berusia empat belas tahun. Selama dua tabuh itu beberapa kali Gie Coen datang menengoknya. Ia memberitahukan, bahwa Thio Sam Hong memperkenankannya, untuk berdiam lebih lama di Ouw tiap kok, sampai racun dingin dalam tubuhnya dapat dibasmi seluruhnya. Ia juga menyampaikan warta bahwa makin lima orang Mongol jadi ganas, bahwa rakyat menderita dan permusuhan antara partai lurus bersih dan partai sesat makin menghebat dan jumlah manusia yang menjadi korban makin meningkat.
Setiap kali datang di Ouw tiap kok, Siang Gie Coen berdiam beberapa hari dan kemudian pergi lagi. Pada kedatangannya yang terakhir, Boe Kie telah mendapat kemajuan pesat dalam pelajaran ilmu ketabiban. Ia memeriksa nadi Siang Gie Coen dan kemudian menulis obat yang lalu diberikan kepada si berewok dengan pesanan bahwa ia harus sering-sering minum obat itu. Gie Coen menghaturkan banyak terima kasih dan lalu memasukkan surat obat itu kedalam sakunya.
Kali ini, dalam kamar paman gurunya, Gie Coen beromong-omong dengan orang tua itu sehingga jauh malam. Malam itu dia tidak bisa tidur dan gelisah. Boe Kie merasa heran. Si berewok tidak begitu akur dengan paman gurunya. Mengapa ia bicara begitu lama? Boe Kie menduga, bahwa didalam kalangan Mo kauw timbul gelombang dan sebab ia sendiri bukan anggauta "agama" itu, maka ia tidak mau menyelidiki.
Esok paginya, Gie Coen berpamitan dan Boe Kie mengantarnya sampai dimulut selat. "Saudara." kata si berewok waktu mereka berpisahan, "dalam beberapa hari ini seorang musuh yang sangat lihay akan menyateroni Ouw Soepeh. Sebenarnya aku ingin mengajak kau pergi kelain tempat untuk sementara waktu, akan tetapi Ouw Soepeh mengatakan, bahwa musuh itu tak akan bisa berbuat banyak. Ia mengatakan, aku tak usah takut. Tapi aku harap, kau suka berlaku hati-hati."
"Musuh siapa?" tanya Boe Kie.
"Akupun tak tahu," jawabnya. "Aku mendengar Warta itu ditengah jalan dan buru-buru aku datang kemari untuk memberitahukan Ouw Soepeh. Saudara, Ouw Soepeh seorang pintar yang sangat berhati-hati. Kalau ia mengatakan tak usah kuatir, ia tentu sudah mempunyai pegangan. Hanya aku yang masih berkuatir."
Melihat kecintaan si berewok terhadap dirinya, Boe Kie merasa sangat terharu dan sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, mereka lalu berpisahan.
Sekembalinya dirumah Ceng Goe, ia melihat orang tua itu tenang—tenang saja. Beberapa kali ia coba menanya, tapi pertanyaan selalu diputuskan ditengah jalan.
Enam tujuh hari telah lewat dengan tenang. Malam itu, selagi Boe Kia membaca sejilid kitab obat, mendadak ia merasa kepalanya berat dan badannya lelah. Ia lantas saja naik kepembaringan. Esok harinya, ketika tersadar, ia merasa kepalanya sakit sekali. Ia segera pengi kebelakang untuk mengambil obat. Tapi, baru berjalan puluhan tindak, ia mendapat kenyataan, bahwa ia baru tersadar diwaktu lohor. "Mengapa aku tidur begitu lama? Apa aku sakit?" tanyanya didalam hati.
Ia segera memegang nadi, tapi ketukan nadi tidak mengunjuk hal yang luar biasa. ia jadi semakin kaget. Apakah racun dingin itu mengamuk dan ia sudah mendekati ajalnya?
Buru buru ia mencari Ouc Ceng Goe, tapi orang tua itu tidak kelihatan hidungnya. Selama beberapa hari ia selalu berkuatir dan sekarang karena orang tua itu tidak berada didalam rumah, sambil berlari lari i apergi kekebun untuk mencarinya. Di kebun ia bertemu dengan seorang kacung yang sedang mencangkul tanah. "Mana Ouw Sinshe?" tanyanya.
"Apa ia tidak berada dikamarnya?" si kacung balas menanya. "Baru saja aku membawa teh. Ouw Sinshe memesan supaya ia tidak diganggu". Boe Kie tertawa. "Aku benar tolol." katanya didalam hati dan lalu kembali kerumah.
Waktu tiba di depan kamar Ceng Goe, ia melihat pintu dikunci. Mengingat perkataan sikacung ia tidak berani mengetuk dan hanya batuk-batuk beberapa kali.
"Boe Kie," kata orang tua itu, "hari ini badanku kurang enak. Leherku sakit. Kau belajar saja sendiri."
"Baiklah," jawabnya. Sesaat kemudian, sebab kuatir penyakit orang tua itu lebih berat, ia berkata: "SinShe, boleh kuperiksa lehermu?"
"Tak usah," Jawabnya dengan suara dalam. "Aku sendiri sudah memeriksa dari kaaa. Tak apa apa. Aku sendiri sudah minum obat."
Malam itu, waktu kacung membawa nasi, Boe Kie turut masuk kekamar Ceng Goe. Ia melihat, bahwa muka orang tua itu yang rebah dipembaringan pucat pasi. Ia kaget. "Apakah semalam, selagi aku tidur, musuh sudah datang menyatroni?" tanyanya dalam hati. "Mungkin sekali, biarpun berhasil mengusirnya, Ouw Sinshe sendiri terluka berat."
Begitu melihat Boe Kie, Ceng Goe mengibas tangannya. "Pergi!" bentaknya. "Kau tahu aku sakit apa? Sakit cacar."
Si bocah mengawasi dan benar saja, tangan dan muka orang tua itu penuh dengan titik-titik hebat. Kalau salah pengobatannya, orang bisa mati, atau sedikitnya bakal bermuka bopeng. Tapi mengingat Ceng Goe seorang tabib malaikat, ia tidak merasa kuatir. Hatinya lega sebab ia yakin, bahwa orang tua itu bukan dilukakan musuh.
"Kau dan si kacung tidak boleh masuk lagi kedalam kamarku," kata pula Ceng Goe. "Semua perabot makan, sesudah digunakan olehku, harus diseduh dengan air panas. Kau tidak boleh menggunakan itu....hm..." Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi. "Boe Kie, begini saja. Menyingkirlah dari Ouw tiap kok untuk sementara waktu. kau boleh menumpang di salah sebuah rumah penduduk kira kira setengah bulan. Aku kuatir kau ketularan cacar!"
"Tidak!" kata si bocah. "Sinshe sedang sakit, kalau aku pergi, siapa yang harus merawatmu. Biar bagaimanapun jua, aku lebih mengenal ilmu pengobatan dari pada kedu akacung itu."
"Tapi lebih baik kau menyingkir," kata orang tua itu. Ia membujuk beberapa kali, tapi si bocah tetap pada pendiriannya. Akhirnya Ceng Goe berkata: "Baiklah. Tapi biar bagaimanapun jua, aku melarang kau masuk lagi kekamarku"
Tiga hari telah lewat. Setiap pagi dan malam Boe Kie selalu menanyakan kesehatan orang tua itu dari luar kamar. Ia mendapat kenyataan bahwa biarpun suara Ceng Goe masih agak parau, tapi semangatnya sudah cukup baik dan nafsu makannyapun bertambah besar. Setiap kali, dari dalam kamar, Ceng Goe menyebutkan nama nama obat dan timbangannya yang harus dimasak untuknya oleh sikacung.
Pada hari keempat, diwaktu lohor, Boe Kie membaca bagian Soe Kie Tauw sia Tay Loen (Perundingan mengenai peranan empat hawa dalam memperkuat semangat) dari Oey Tee Lwee keng (Kitab obat obatan dari Kaizar Oey Teng). Di bagian itu antara lain tertulis seperti berikut:
"Maka itulah, seorang pandai tidak mengobati penyakit, tapi menjaga supaya penyakit itu jangan sampai timbul. Ia tidak membereskan kekacauan, tapi menjaga jangan sampai kekacauan muncul. Inilah jalan yang paling baik. Kalau menunggu sampai penyakit timbul dan baru mengobatinya, sampai kekacauan muncul dan baru mengobatinya, sampai kekacauan muncul dan baru membereskannya, maka usaha itu adalah seperti menggali sumur sesudah haus atau membuat senjata sesudah menghadapi musuh. Apakah itu bukan sudah terlambat ?"
Tanpa merasa, Boe Kie mengangguk beberapa kali. "Memang sudah terlambat, kalau menggali sumur sesudah haus dan membuat senjata sesudah berhadapan dengan musuh," katanya didalam hati. "Membereskan negara sesudah terbit kekacauan juga sudah terlambat. Biarpun andaikata keamanan dapat dipulihkan, akan tetapi negara tetap mendapat kerugian. Mengobati penyakit juga tiada bedanya. Lebih baik menjaga sebelum penyakit mengamuk dari pada mengobati sesudah penyakit itu menjadi berat," Ia ingat dibagian lain dari kitab tersebut terdapat kata kata seperti berikut:
"Seorang tabib yang pandai, paling senang mengobati kulit dan bulu, kemudian mengobati otot otot, lalu mengobati urat urat, dan akhirnya baru mengobati isi perut. Jika ia harus mengobati isi perut, maka kemungkinan sembuhnya si sakit hanya separuh separuh."
"Benar, memang benar apa yang dikatakan dalam kitab itu," pikir Boe Kie. "Seorang tabib pandai selalu mengobati pada waktu penyakit baru saja muncul. Kalau penyakit sudab masuk ke isi perut biar bagaimana pandaipun jua, ia tidak mempunyai pegangan lagi. Seperti aku, racun sudah masuk ke dalam isi perutku. Keadaanku sudah sembilan bagian mati dan hanya satu bagian hidup."
Selagi memikir begitu, tiba tiba terdengar suara tindakan kuda. Boe Kie buru buru menutup bukunya dan berbangkit. Ia bingung sebab kuatir kedatangan musuh. Sambil berlari lari ia pengi kekamar Ceng Goe. "Ouw Sinshe," katanya. "Kudengar suara tindakan bebrapa ekor kuda yang masuk ke selat ini. Bagaimana baiknya?"
Sebeleum orang tua itu keburu menjawab, kuda kuda itu yang ternyata bisa lari luar biasa cepatnya, sudah tiba didepan rumah.
"Sesama orang Rimba Persilatan mohon bertemu dengan Ie Sian Ouw Sinshe!" demikian terdengar teriakan seorang. "Kami ingin memohon belas kasih Ouw Sinshe untuk mengobati penyakit"
Mendengar itu, hati Boe Kie agak lega. Ia bertindak keluar dan melihat seorang bermuka hitam berdiri didepan pintu. Tangan orang itu menuntun tiga ekor kuda. Di punggung dua diantara hewan hewan itu kelihatan rebah dua orang yang pakaiannya berlepotan darah. Penunggang kuda itu sendiri berdiri dengan kepala dibalut dengan kain putih bernoda darah, sedang tangan kanannya dimasukkan dalam selembar kain yang diikatkan keleher. Di lihat dari romannya, iapun mendapat luka yang tidak enteng.
"Kedatangan kalian sungguh sangat tidak kebetulan," kata Boe Kie. "Ouw Sinshe sedang sakit dan tidak bisa bangun. Harap kalian suka cari lain tabib saja."
"Celaka!" kata orang itu dengan suara kaget. "Kami melalui perjalanan ratusan li dengan harapan bisa mendapat pertolongan Ie sian"
"Ouw Sinshe mendapat sakit cacar," Boe Kie menerangkan. "Dalam beberapa hari ini, keadaannya sangat buruk. Inilah suatu kenyataan dan aku tidak berjusta."
Orang itu menghela napas. "Kami bertiga adalah saudara seperguruan dan kami mendapat luka yang sangat berat," katanya dengan suara duka. "Kalau tidak ditolong Ie sian, kami pasti akan meninggal dunia. Kuharap saudara suka melaporkan kepada Ouw Sinshe."
"Kalau begitu, bolehkah aku tahu she dan nama Toako yang mulia?" tanya Boe Kie.
"Nama kami tidak cukup berharga untuk disebut-sebut," jawabnya. "Tolong beritahukan saja bahwa murid-murid Sian-ie Ciang-boen dari Hoa San-pay memohon pertolongan." Sehabis berkata begitu, badannya bengoyang-goyang, paras mukanya jadi lebih pucat dan mulutnya agak terbuka seperti mau muntahkan darah.
Boe Kie melompat dan menotok beberapa jalan darah di dada dan punggung orang itu. Begitu tertotok, darah yang sudah meluap turun kembali dan orang itu merasa dadanya agak lega.
Melihat kepandaian si bocah, ia kelihatan kaget dan kagum.
Boe Kie segera masuk kedalam, "Sinshe," katanya. "di luar menunggu tiga orang yang mendapat luka berat dan minta pertolonganmu. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah murid-murid dari Sian ie Ciang boen Hoa-san-pay."
Ouw Ceng Goe mengeluarkan suara "ih!" dan kemudian, ia berteriak dengan gusar: "Tidak! Tidak! Usir mereka!"
"Baiklah," kata Boe Kie yang dengan cepat lalu berjalan keluar.
"Ouw Sinshe tak bisa menemui kalian karena penyakitnya masih belum mendingan," kata Boe Kie. "Harap kalian suka memaafkan."
Orang itu mengerutkan alis. Selagi ia mau memohon lagi, tiba-tiba salah seorang yang bertubuh kurus kecil dan rebah diatas punggung kuda mengangkat kepalanya dan mengayun tangannya. Hampir berbareng sehelai sinar emas menyambar dan serupa benda jatuh di atas meja di dalam rumah.
"Saudara, bawalah bunga emas itu kepada Kian sie poet kioe," kata si kurus. "Beritahukanlah bahwa kami bertiga telah dilukakan oleh majikan dari bunga emas itu. Dia akan segera mencari le sian sendiri. Jika Kian sie Poet kioe suka mengobati kami, sesudah sembuh kami akan tetap berdiam disini untuk bantu melawan musuh. Biarpun kepandaian kami tidak berarti, tapi masih merupakan tiga tenaga bantuan"
Boe Kie menghampiri meja. Ia melihat, bahwa senjata rahasia itu menyerupai sekuntum bunga bwee yang terbuat dari pada emas tulen, dengan sari bunga dibuat dari perak putih, sehingga Kim hoa (bunga emas) itu indah sekali kelibatannya. Boe Kie mengulurkan tangan dan coba menjemputnya, tapi diluar dugaan bunga emas itu menancap dimeja dan ia tidak dapat mencabutnya lagi. Dengan mengunakan jepitan obat, barulah ia berhasil. "Orang kurus itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi, tapi dia masih kena dilukakan oleh majikan bunga emas itu." pikirnya, "Siang Toako mengatakan bahwa seorang musuh akan menyatroni Ouw Sinshe. Mungkin sekali musuh Ouw Sinshe adalah orang itu." Sambil mambawa senjata rahasia tersebut, ia segrera masuk dan menyampaikan perkataan si kurus kepada Ouw Ceng Goe.
"Coba aku lihat," kata orang tua itu.
Boe Kie menolak pintu dan menyingkap tirai. Kamar itu sangat gelap. Seorang yang kena penyakit cacar memang takut dengan sinar terang, maka pintu dan jendela kamar itu ditutup dengan tirai. Ia melihat muka Ouw Ceng Goe ditutup dengan kain dan hanya kedua matanya yang bisa dilihat orang. Hati Boe Kie berdebaran. Bagaimana macamnya bisul bisul dimuka orang tua itu. Apa sesudah sembuh, dia bakal bopeng?
"Taruh bunga emas itu diatas meja dan lekas keluar," perintah si tabib malaikat.
Boe Kie menurut.
"Mati hidup mereka bertiga tiada sangkut paut nya dengan aku," demikian terdengar suara Tiap kok ie sian, "Soal mati hidupku juga tak usah diributi mereka." "Ptak!", bunga emas itu terbang keluar sesudah menobloskan tirai dan kemudian jatuh ditanah.
Biarpun daun bunga dari senjata rahasia itu sangat tipis dan tajam, tapi karena tirai adalah lemas dan alot, maka dicobloskannya kain jang tebal itu mengejutkan Boe Kie. Selama berdiam dua tahun dirumah Tiap kok Ie sian, Boe Kie belum pernah melihat ilmu silat orang tua itu. Baru sekarang ia mendapat bukti, bahwa si tabib malaikat juga memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.
Ia menjemput Kim hoa itu dan menghampiri lelaki yang kurus itu. Sambil menggelengkan kepala,
ia berkata. "Sakitnya Ouw Sianshe sangat berat."
Mendadak dari sebelah kejauhan terdengar suara roda kereta yang tengah memasuki selat Ouw tiap kok. Perkataan Boe Kie terhenti dan semua orang memasang kuping.
Kereta itu cepat sekali jalannya, dan tak lama kemudian sudah berada diluar rumah. Dari dalam kereta keluarlah seorang pemuda yaug kuning kulit mukanya sambil melompat. Begitu turun ia mendukung seorang kakek yang gundul kepalanya "Apa Tiap kok Ie sian Ouw Sinshe ada?" tanyanya. "Murid Khong tong pay. . . ." Baru ia ber kata begitu, badannya bergoyang goyang dan ia lalu roboh bersama sama si kakek. Dua ekor kuda yang menarik kereta, yang mulutnya mengeluarkan busa, juga berlutut dengan berbareng. Rupanya kedua binatang itu kehabisan tenaga.
Melihat romannya dua orang itu, tanpa ditanya lagi ketahuanlah sudah bahwa mereka itu baru saja melakukan perjalanan cepat satu sampai dua ratus li tanpa beristirahat ditengah jalan. Sudah begitu Boe Kie pun mendengar di sebutnya "Murid murid Khong Tong pay", maka ingatlah ia akan halnya, diantara orang-orang yang memaksakan kematian ayah dan ibunya diatas gunung Boe tong san ada tianglo atau tertua dari partai itu. Ia melihat si orang tua kepala gundul lantang yang disebut Seng Cioe Ka Lam Kao Ciat. Orang tua ini tidak hadir digunung ketika itu, akan tetapi mau ia menduga bahwa dia ini mestinya bukan manusia baik baik. Karena itu ingin ia menolak mereka itu atau ia segera melihat munculnya lagi empat atau lima orang ada yang dingkluk-dingkluk sambil memegangi tongkat, ada yang saling menuntun, dan semua mereka itu mempunyai luka-luka di tubuh mereka. Ia mengerutkan alisnya. Tidak menanti sampai mereka itu datang dekat, ia lantas berkata nyaring: "Ouw Sinshe kena penyakit cacar, karena dirinya sendiri belum tentu dapat ditolong, ia jadinya tidak dapat mengobati kalian, tuan-tuan! Maka itu, silahkan tuan-tuan sekalian lekas mencari lain tabib saja supaya kamu tidak digagalkan luka luka kau" (Pep: this paragraph does not make any sense)
Sementara itu, orang orang itu yang berjumlah berlima sudah datang dekat. Nyata mereka itn mengenakan pakaian yang bagus bagus, mereka mirip dengan saudagar saudagar besar, melainkan muka mereka semua pucat pasi, bagaikan kertas putih polos, sedikit juga tidak ada sinar darahnya. Ditubuh mereka tidak tampak tanda tanda bekas luka, dari itu teranglah sudah bahwa mereka mendapat luka-luka hebat didalam.
Orang yang berjalan dimuka, yang tubuhnya jangkung dan gemuk, mengangguk terhadap Kan Ciat serta si pria kurus dan kecil, atas mana, mereka itu saling menyeringai.
Jadinya, tiga rombongan orang itu, semua kenal satu dengan lain.
Boe kie heran, tertarik rasa ingin tahunya.
"Apakah kamu semua terlukanya si pemilik bungga emas?" ia tanya.
"Benar." menjawab si gemuk, yang terus berpaling kepada Kan Ciat, untuk menanya: "Saudara Kan, apakah kau telah bertemu sama Ouw Sinshe?"
Kan Ciat nuenggeleng kepala, "Saudara Nio, mukamu lebih terang. Mungkin kau dapat mengundang Ouw Sinsbe," katanya
"Siapakah itu si pemilik bunga emas?" tanya Boe Kie menyelak. "Kenapa dia demikian galak?"
"Saudara kecil," berkata orang yang dipanggii saudara Nio oleh Kan Ciat tanpa dia menjawab pertanyaan si anak tanggung, "tolong kau menyampaikan kepada Ouw Sinshe bahwa aku si orang she Nio dari Toko Emas Goan Sang di Boe hoe telah datang dari tempat yang jauh memohon berobat"
Si orang yang muntah darah hidup, yang tiba paling dulu, menduga Boe Kio muda sekali tetapi bukannya sembarangan orang, maka dia bertanya: "Saudara kecil, kau she apa? Apakah hubungan sama Ouw Sinshe?"
"Aku juga pasien dari Ouw Sinshe." Boe Kie menyahut. "Sudah dua tahun lebih Ouw Sinshe mengobati aku. Aku masih belum sembuh betul, Ouw Sinshe telah membilang, dia tidak dapat mengobati. Maka itu, sudah pasti dia tidak bakal mengobatinya. Karenanya, tidak ada gunanya untuk kamu berdiam lama-lama disini."
Selagi mereka berbicara, dengan beruntun kembali datang empat orang. Ada yang naik kereta, ada yang menunggang kuda, dan mereka ini juga datang untuk minta ditolong diobati, mereka memintanya dengan sangat.
Boe Kie menjadi heran sekali hingga ia berpikir. "Lembah Ouw tiap kok ini sepi luar biasa. Kecuali orang-orang partai agama sesat, orang Kang-ouw juga sedikit yang sekali mengetahuinya. Maka itu mereka ini yalah orang-orang Khong Tong pay dan lainnya, yang bukan kaum sesat. Kenapa mereka berbareng pada datang kemari untuk berobat? Pula, kenapa mereka juga terluka berbareng? Dan itu pemilik bunga emas, dia lihay sekali! Untuknya jikalau dia mau mengambil jiwa mereka ini, itulah bukan pekerjaan sulit. Kenapa dia justeru melukai orang orang ini hebat begini macam?"
Di antara semua orang itu, yang berjumlah empat belas, ada yang pandai bicara, ada yang diam saja, tetapi mereka semua bersatu hati tak mau mengangkat kaki walaupun mereka sudah ditolak. Ketika itu sudah magrib, mereka seperti memenuhi sebuah ruang.
Kacung tukang masak nasi sudah lantas menyajikan barang makanannya Boe Kie, dan Boe Kie tanpa sungkan lagi lantas berdahar seorang diri. Kemudian ia duduk menghadapi meja dan dengan terangnya pelita, ia membaca buku tentang ilmu ketabiban. Semua orang itu ia tidak ambil peduli. Ia telah berpikir. "Aku telah dapat mempelajari ilmu tabib dari Ouw Sinshe, maka itu akupun boleh mempelajari ilmunya, melihat kematian tidak menolong."
Malam telah tiba. Malam itu sunyi sekali. Didalam rumah gubuk itu tidak terdengar suara apa apa lagi kecuali suara Boe Me membalik balik halaman bukunya serta suara bernapas keras dari mereka yang terluka. Justeru suasana sedang sunyi sunyinya itu, dari luar gubuk terdengar tindakan kaki dari dua orang.
Boe Kie heran. Ia lantas_mengangkat kepalanya. Ia memasang kuping. Tindakan tadi perlahan, selagi mendekati, semakin perlahan terdengarnya. Terang orang lagi menghampirkan kerumah gubuk.
Tak lama, atau lantas terdengar suara yang halus tetapi terang. "Ibu, disana ada sinar api di dalam rumah. Kita sudah sampai!"
Didengar dari suaranya itu, orang itu mestinya seorang anak kecil.
"Anak, kau capai atau tidak?" lalu terdengar suara lain, lebih keras tetapi toh dari seorang wanita juga.
"Aku tidak capai." sahut si anak barusan. "Ibu jikalau tabib sudah mengobati kau, kau tentunya tidak sakit lagi."
Si wanita terdengar menjawab. "Ya... Tapi entahlah dia suka menolong atau tidak!"
Hati Boe Kie tergerak.
"Ah, rasanya aku kenal baik suara ini ..." pikirnya. "Rupanya dia Nona Kie Siauw Hoe."
"Pasti tabib akan mengobati ibu," kata pula si anak perempuan. "Jangan kuatir. Apakah nyeri ibu sudah mendingan?"
"Sedikit mendingan?" menyahut si nyonya yang dipanggil ibu itu. "Ah, anak yang bersengsara......"
Mendengar pula suara orang itu, Boe Kie tak sangsi lagi. Ia lantas lompat keambang pintu.
"Toh Kie Kouwkouw disana", ia menanya "Apakah kaupun terluka?"
Lalu dibawah terangnya sang Puteri Malam ia melihat seorang wanita yang sebelah tangannya menuntun seorang nona kecil, seorang anak perempuan juga. Wanita itu yang dipanggil Kouwkouw, atau bibi, benarlah Kie Siauw Hoe adanya. Akan tetapi Siauw Hoe tidak mengenalinya sebab ketika diatas gunung Boe tong san mereka bertemu, Boe Kie baru berumur sepuluh tahun, dan sekarang, sang waktu sudah lewat lima tahun.
"Kau... kau... " tanyanya heran.
"Kouwkouw, kau telah tidak mengenali aku, bukan?" kata Boe Kie, "Aku Thio Boe Kie. Ketika dulu hari di Boe tong san ayah dan ibuku membunuh diri, aku melihat kau."
Siauw Hoe berseru saking herannya. Inilah ia sama sekali tidak menyangka. Berbareng dengan itu, ia menjadi kaget sendirinya dan likat. Ia seorang nona yang belum menikah, membawa-bawa seorang anak perempuan.... Sekarang ia berhadapan dengan Boe Kie, keponakan dari In Lie Heng bakal suaminya itu. Sebagai bocah tanggung, Boe Kie tentulah sulit untuk diberi penjeasan tentang keganjilan itu. Maka mukanya menjadi merah. Karena ia lagi terluka serta lukanya bukan enteng, kagetnya itu membuat tubuhnya terhuyung.
Anak perempuan itu, yang umurnya baru enam atau tujuh tahun, melihat ibunya mau jatuh, ia lantas menjambret tangannya, akan tetapi ia bertenaga lemah, ia dapat berbuat apa?
Boe Kie melihat Siauw Hoe mau jatuh, karena mana si nona cilikpun bakal roboh juga, ia lantas menahan pundaknya bibi itu.
"Kouwkouw, silahkan masuk kedalam untuk beristirahat," ia mengundang. Ia berkata begitu ia toh memimpin orang masuk kedalam ruang. Karena ini, dengan pertolongan cahaya api, ia lantas melihat luka si bibi, luka dipundak kiri dan dibahu kanan, bekas golok atau pedang. Melihat darah yang menembus dari balutan, luka itu mestinya parah. Pula si nona merintih beberapa kali, tandanya hebat menahan rasa nyerinya.
Mendengar rintihan atau batuk-batuk si nona, Boe Kie mengerti hebatnya luka si bibi. Didalam halnya ilmu ketabiban, sekarang ini Boe Kie telah dapat melawan sembarang "tabib kenamaan". Suara batuk itu menadakan si nona telah mendapat goncangan pada pinggiran peparunya yang kiri.
"Kouwkouw," katanya, "tangan kananmu telah bentrok sama tangan orang dan karena itu kau terluka pada bagian peparumu they im hie." Ia berkata begitu, tetapi tanpa menanti jawaban, ia lantas mengeluarkan tujuh batang jarum emas. Dengan itu, tanpa membukai baju si nona, ia menusuk ditujuh jalan darah in-boen dipundak, hoa kay di dada cie-tek dan lain-lain.
Kepandaian dari Boe Kie ini sekarang beda jauh dari waktu dulu hari ia mengobati Siang Gie Coen. Selama dua tahun ia belajar dibawah pimpinan Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe, ia sudah mendapat kemajuan pesat. Penghalang satu satunya yalah usianya yang masih terlalu muda. Jadi kalau dibandingkan dengan gurunya, ia masih ketinggalan jauh sekali. Hanya didalam ilmu menusuk jalanan darah dengan jarum emas saja, ia sudah mendapatkan tujuh atau delapan bagiannya.
Kie Siauw Hoe melihat anak tanggung itu mengambil jarum, ia tidak tahu apa perlunya itu, maka ia heran dan kagum ketika tahu-tahu dia telah ditusuk berulang-ulang secara demikian hebat dan tepat. Begitu lekas sudah ditusuk, ia merasakan dadanya tidak terlalu sesak lagi.
"Anak yang baik!" Ia berseru dalam girangnya "Aku tidak sangka kau berada disini dan juga telah dapat mempelajari ilmu tabib begini sempurna!"
Siauw Hoe lantas ingat kejadian di Boe tong san itu hari, ketika ia menghadapi Thio Coei San dan In So So, suami isteri itu, saling beegantian membunuh diri, hingga mayat mereka dipeluki Boe Kie. Ia merasa terharu sekali, ia berkasihan terhadap anak itu, maka ia telah membujuk dan menghiburinya seraya memberikan juga kalungnya yang terbuat daripada emas. Hanya ketika itu Boe Kie sudah menampik pemberian itu sebab dia lagi sangat berduka dan gusar, hingga dia memandang semua tetamu yang hadir disitu adalah musuh-musuh yang mendesak kebinasaan ayah dan ibunya. Atas penampikan itu, Siauw Hoe jadi malu sekali, tetapi ia tidak dapat berbuat apa apa. Kemudian pikiran Boe Kie berubah. Inilah disebabkan ketika dia terlukakan serangam ilmu Hian beng Sin ciang, dia sudah ditolong mati matian oleh In Lie Heng, yang sudah mengorbankan banyak tenaga dalamnya. Perto1ongan itu dia ingat betul. Dia merasa berhutang budi, Maka juga, karena mengingat budinya In Lie Heng dia menjadi ingat juga kebaikan Ki Siauw Hoe dan untuk membalas budinya si paman guru, pantas dia memberikan kesan baik terhadap si tunangan si paman. Semakin usianya bertambah semakin dia dapat berpikir, membedakan yang benar dan yang salah. Dia juga ingat tempo dulu kala ,sekalian paman gurunya telah membicarkan persoalan minta Go bie pay bekerja sama menentang musuh. Jadi Go bie pay bukanlah musuh utama bahkan sama sekali bukanlah musuh Boe tong pay.
Pada dua tahun dulu, ketika Boe Kie bertemu sama Siang Gie Coen di diluar rimba, disana is menyaksikan Kie Siauw Hoe menolongi Pheng Hweeshio. Perbuatan mulia nona itu membikin ia beranggapan si nona ialah orang baik. Hanya sekarang ini ia belum dapat memikir kenapa Siauw Hoe, si bibi yang belum menikah, telah mempunyai anak perempuan umur lebih daripada lima tahun itu . . . .
Cuma Siauw Hoe yang lihat sendirinya.
Selama ini Boe Kie dapat melihat jelas anaknya bibi itu. Nona cilik itu berdiri diam disisi ibunya. Dia masih kecil tetapi nyata dia cantik sekali. Sepasang alisnya bagaikan dilukis, sepasang matanya hitam dan celi, dan dengan mata tajam mengawasi padanya.
"Ibu, apakah anak ini sitabib?" kemudian anak itu berbisik dikuping ibunya. "Apakah rasa nyeri ibu sudah baik?"
Mendengar panggilan "Ibu" mukanya Siauw Hoe menjadi merah pula, tak dapat ia mencegah jengahnya.
"Inilah kakakmu, kakak Boe Kie," ia menyahuti. "Ayah kakakmu ini ialah sahabat ibumu. Kemudian ia meneruskan pada Boe Kie, perlahan "Dia... dia bernama Poet Hwie...." Ia berhenti pula sejenak. "Dia she Yo.... Yo Poet Hwie..."
Boe Kie girang, dia tertawa.
"Bagus!" dia berseru. "Aku Thio Boe Kie dan kau Yo Poet Hwie!"
Senang Siauw Hoe melihat sikap wajar dari Boe Kie, tak sedikit juga sikap si anak yang hendak menegur kepadanya. Hatinya menjadi lega.
"Anak, kepandaian kakakmu hebat," ia kata pada anaknya. "Sekarang ini rasa nyeriku sudah berkurang"
Poet Hwie memainkan matanya yang celi itu. Ia mengawasi ibunya, terus ia mengawasi Boe Kie. Sekonyong-konyong ia maju kepada bocah didepannya, untuk merangkul, untuk mencium pipinya.
Bukan main terkejutnya Boe Kie.
Nona Poet Hwie ini adatnya sangat polos dan wajar. Sedari masih kecil sekali, kecuali ibu dan pengasuhnya, ia tidak pernah bertemu sama lain orang. Sekarang ibunya terluka parah, mereka pun dalam kesukaran besar, sekarang ia menyaksikan Boe Kie menolongi ibunya itu yang nyerinya menjadi ringan sekali. Ia bersyukur bukan main. Adalah kebiasaannya, kalau ia mengutarakan kegirangan dan rasa syukurnya, suka ia berlompat kepada mereka, untuk memeluk atau merangkul, untuk mencium pipi mereka. Kebiasaan ini sekarang ia melakukannya terhadap Boe Kie tanpa malu.
"Hus!" Siauw Hoe berseru. "Jangan begitu Hwie-jie Kakak Boe Kie tidak senang nanti!"
Poet Hwie mementang kedua matanya, ia heran.
"Apakah kau tidak senang padaku?" ia tanya Boe Kie. "Kenapa aku tidak boleh berlaku baik kepadamu?"
Boe Kie tertawa.
"Aku girang!" sambutnya. "Aku suka berbuat baik terhadapmu!" Dan ia membalas mencium pipi yang halus dari nona cilik itu.
Poet Hwie girang bukan main, ia menepuk nepuk tangan.
"Hai, tabib kecil, lekas kau obati ibu, supaya ibu sembuh seluruhnya!" ia berseru. "Nanti aku cium pula padamu!"
Tidak kepalang girangnya Boe Kie mendapatkan orang demikian manja dan lincah. Selama belasan tahun hidupnya, ia telah bergaul sama banyak orang, tetapi mereka itu adalah paman pamannya dan Siang Gie Coen juga masih lebih tua delapan tahun daripadanya. Didalam perahu ia pernah bertemu sama Coe Tit Jiak, akan tetapi pertemuan itu sangat pendek, belum ada satu hari mereka sudah mesti berpisah pula. Jadi belum pernah ia bergaul sama sahabat-sahabat cilik sebayanya. Maka itu, mendapati nona ini, ia berpikir. "Jikalau aku mempunyai adik benar sekecil ini, yang begini menarik hati, pastilah aku sering mengajak dia pergi bermain-main...."
Dalam usia empat belas tahun, anak yatim piatu ini masih kekanak-kanakan. Ia kehilangan ketikanya untuk bermain-main seperti anak-anak yang kebanyakan.
Sementara itu Kie Siauw Hoe telah menyaksikan semua hadirin yang pada terluka. Ia merasa malu untuk mendahului mereka.
"Tuan-tuan ini datang terlebih dulu daripada aku, pergi kau periksa mereka lebih dulu," ia kata pada Boe Kie. Ia tidak ketahui duduknya hal. "Sekarang ini sakitpun berkurang banyak."
"Mereka datang untuk berobat kepada Ouw Sin she," Boe Kie mengasi tahu. "Cuma sekarang ini Ouw Sinshe sendiri lagi sakit. Mana dia bisa mengobati orang? Mereka tidak mau berlalu, maka itu biarlah mereka terus menunggu. Kouwkouw, kau bukannya mencari Sinshe, jikalau kau percaya keponakanmu ini, mari sini, biar aku periksa lebih jauh lukamu. Sudah lama juga aku berdiam di sini, tentang luka-luka aku mengetahui sedikit."
Sebenarnya Kie Siauw Hoe yang mendapat suatu petunjuk, datang ke lembah ini untuk mencari Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe. Ia datang dengan serapa maksud dengan Kan Ciat beramai itu.
Maka itu, melihat keadaannya Kan Ciat semua, ia heran siapa tahu duduknya hal sederhana saja. Ia lantas mengerti bahwa Ouw Ceng Goe tidak berniat menolongi mereka itu. Tapi mengenai Boe Kie, kepercayaannya lantas muncul. Bukankah ia telah ditusuk berulang-ulang dan sekarang rasa nyerinya telah berkurang banyak? Ia jadi tidak boleh memandang enteng kepada usia bocah ini.
"Baiklah." katanya kemudian. "Aku terima kasih padamu ! Tidak apa tabib besar tidak mau mengobati aku, asal ada kau si tabib kecil..."
Boe Kie lantas minta bibi itu masuk ke kamar samping dimana ia lantas bekerja. Lebih dulu ia guntingi bajunya si bibi dibagian tubuhnya yang terluka. Ia mendapatkan tiga luka bacokan golok dibahu, sambungan pundaknya telah menggeser dari tempatnya. Di lengan juga ada tulang yang remuk. Di matanya tabib yang kebanyakan, luka luka itu ialah luka luka yang sukar untuk di obati, tetapi dimata muridnya Ouw Ceng Goe, itulah luka luka biasa. Maka Boe Kie lebih dulu menyambung rapi dulu, tulang yang berkisar itu, habis mana ia memborehkan obat. Kemudian lagi, ia membuat surat obat, yang obatnya ia suruh kacung memasaknya matang. Ia belum biasa membalut luka tapi toh, walaupun rada lambat, dapat menyelesaikan juga tugas ketabibannya itu.
"Kouwkouw, sekarang silahkan kau beristirahat dulu," katanya akhirnya. "Sebentar, setelah habis kekuatan baal dari obat ini, kau akan merasa sakit luar biasa."
"Terima kasih!" menyahut bibi itu.
Boe Kie pergi ke kamar obat untuk mencari buah ongoo dan buah heng. Ia bawa itu untuk dikasihkan pada Poet Hwie. Ketika ia kembali, si nona sudah tidur menyender kepada ibunya sebab dia telah tidak tidur satu malaman. Dari itu ia masuki saja buah buahan itu ke dalam saku sinona. Lantas ia kembali ke depan.
Pria yang muntah darah itu, orang Hoa san pay, lantas berbangkit. Ia menjura dalam terhadap si anak tanggung.
"Siauw Sinshe." katanya. Ia memanggil "Siauw Sinshe" atau tabib kecil. "Oleh karena Ouw Sin she lagi sakit, kau saja yang menolong mengobati kami. Pasti kami akan sangat bersyukur terhadap mu..."
Boe Kie mengawasi orang itu dan kawan kawannya. Sebenarnya semenjak ia belajar ilmu kecuali mengobati Siang Gie Coen dan Kie Siauw Hoe ini, belum pernah ia mencoba terlebih jauh kepandaiannya itu. Akan tetapi ia ingat kata katanya Ouw Sinshe, ia menguasai dirinya.
"Rumah ini rumah Ouw Sinshe," ia berkata. "Dan aku sendiri, adalah orang yang menderita sakit yang berada dibawah rawatannya, mana berani aku melancangi tuan rumah ?"
Orang Hoa San Pay itu mengawasi si bocah, ia seperti dapat membade hati orang.
"Memang umumnya, seorang tabib kenamaan mesti telah berusia lima atau enam puluh tahun." ia berkata untuk mengumpak, "Maka itu luar biasa Siauw Sinshe, yang usianya masih muda sekali tetapi kepandaiannya kau sangat langka. Maka itu. Sinshe, aku mohon sukalah kau menolongi kami?"
Si orang terokmok she Nio yang romannya seperti hartawan turut bicara.
"Kami empat belas orang, didalam kalangan kang ouw, kami mempunyai juga sedikit nama," katanya, "Maka itu, jikalau kami dapat ditolong oleh Siauw Sinshe, setelah kami pulang nanti, pasti kami akan menguwarkan kepandaian Sinshe ini supaya namanya menjadi kesohor hingga di dalam satu malam, kau akan jadi terkenal diseluruh negeri!"
Dasar masih terlalu muda, dan tidak punya pengalaman, Boe Kie tertarik kata-kata yang mengumpak-umpak itu, hatinya menjadi girang.
"Apakah bagusnya nama kesohor diseluruh negeri ?" katanya. "Ouw Sinshe sendiri tidak dapat menolong kalian, apalagi aku ? Apakah yang aku bisa bikin ? Agaknya luka kamu bukannya enteng, maka begini saja, aku akan membantu meringankan rasa nyerimu"
Lantas ia mengambil obat obatan guna memberi pertolongannya. Ketika ia sudah melihat luka orang orang itu, ia menjadi heran. Nyata, setiap luka itu beda satu dari lain, semuanya luka luka biasa.
Belum pernah Ouw Ceng Goe mengajari ia tentang bermacam macam luka semacam ini. Ada seorang yang rupanya telah dipaksa menelan beberapa puluh batang jarum, ada orang perutnya tengoncang, tergempur tenaga dalam, ada yang beberapa jalan darahnya telah terlukakan racikan pisau. Semua itu menandakan, si pembuat luka juga mengerti itu tabib baik sekali. Semua itu ialah luka luka yang sangat sukar diobatinya. Ada lagi orang yang pinggiran peparunya terpaku hingga tak hentinya dia batuk batuk dan mengeluarkan darah, ada pula orang yang tulang tulang iganya pada patah tetapi luka itu tidak mengganggu peparu atau jantungnya. Seorang lagi terkutungkan kedua ujung tangannya lalu tangan tangan yang buntung itu, yang kiri ditaruh kebahu kanan, yang kanan ditaruh dibahu kiri. Masih ada pula yang bengkak selurub tubuhnya seperti bekas dipagut kelabang atau binatang berbisa lainnya.
"Semua luka mereka luar biasa. Tidak satu juga yang aku bisa obati," pikirnya. "Orang yang membuatnya luka itu hebat sekali, dia liehay. Kenapa dia menyiksa orang sampai begini?"
Karena memikir begini, ia menjadi ingat luka nya Kie Siauw Hoe.
"Luka bibi terlihat biasa saja, apakah bibipun mendapat luka di dalam ?" pikirnya pula kaget. "Kalau tidak, mengapa bibi seorang yang dikecualikan?"
Lekas lekas ia meninggalkan Kan Ciat semua. Ia lari kedalam. Segera ia memeriksa nadinya Siauw Hoe. Ia menjadi kaget. Ia mendapatkan nadi si bibi bergerak gerak, sebentar keras, sebentar kendor, atau sebentar lagi jalannya lurus dan serat bergantian. Pasti itu disebabkan sesuatu dari dalam tubuh. Ia kaget sebab ia tidak mengerti akan perubahan itu.
Keempat belas orang itu aneh lukanya, ia tidak memikirkannya. Diantara mereka itu ada orang Khong tong pay, yang ada sangkut pautnya dengan kebinasaan ayah dan ibunya, jikalau mereka tersiksa, pantaslah juga. Akan tetapi Kie Siauw Hoe, bibinya ini, tidak dapat ia tidak menolongnya. Maka lekas-lekas ia pergi ke kamarnya Ouw Ceng Goe,
"Sinshe! Apa sinshe sudah tidur ?" ia tanya perlahan.
"Ada apa?" ia mendapat jawaban. "Tidak peduli siapa, aku tidak akan mengobatinya!"
"Ya, sinshe. Hanya luka mereka itu, semuanya luka yang aneh-aneh ...."
Boe Kie lantas saja menurunkan tentang semua luka itu.
Ouw Ceng Goa, yang teraling dengan sekosol mendengari. Kalau ada yang ia tidak mengerti ia menanya tegas, untuk itu. Boa Kie mesti pergi keluar kepada orang-orang yang luka itu, untuk memeriksa pula selanjutnya untuk ia memberikan jawabannya yang terang kepada Tiap kok Ie sian. Oleh karena ini, setengah jam tempo dibutuhkan untuk mendapat tahu jelas lukanya semua limabelas orang itu berikut Siauw Hoe.
Beberapa kali Ouw Sinshe mengasih dengar suara tidak terang, agaknya ia terang berpikir, banyak kemudian, ia kata "Hm semua luka itu tidak akan dapat menyulitkan aku ! "
Belum lagi Boe Kie sempat menanya, tiba-tiba ada orang yang bersuara di belakangnya katanya: "Ouw Sinshe, pemilik bunga emas itu telah membilangi aku, untuk aku menyampaikan kepada kau. Dia bilang. "Kecewa kau dipanggil Tiap kok Ie sian, sebab limabelas macam luka ini, aku menduga tidak satu yang kau sanggup sembuhkan." Haha ! Benar-benar sekarang kau menyembunyikan diri, kau berpura-pura sakit!"
Boe Kie berpaling. Ia mengenali si orang tua berkepala lanang Seng Cioe Ka lam Kan Ciat dari Khong tong pay. Tadinya ia menyangka rambut orang rontok wajar, kemudian ia mendapat tahu, rambut itu rontok sebab kepalanya si gundul pernah dilabur obat yang sifatnya keras oleh sipemilik bunga emas atau Kim hoa hingga rambutnya habis. Bahkan sisa obat beracun menempel dan menembusi kulit, hingga selanjutnya kepala menjadi gatal terus-terusan, hingga ada kekuatiran, selewatnya beberapa hari, racun yang jahat itu nanti menyerang polo atau otak, hingga orang bisa menjadi gila. Sekarangpun kedua tangannya dirantai oleh kawan-kawannya, supaya tidak dapat menggaruk, kalau tidak, tidak nanti dia dapat melawan rasa gatalnya itu.
Atas kata-kata jago Khong tong pay itu, Ouw Ceng Goe kata dengan tawar: "Untukku, aku dapat menyembuhkan syukur, tidak dapatpun tidak apa. Ringkasnya, aku tidak mau mengobati kau! Aku lihat kau masih dapat hidup sampai tujuh atau delapan hari lagi, karena itu baiklah kau lekas pulang untuk menemui isteri dan anak anakmu, orang sedalam rumah tangga ! Apa perlunya kau banyak omong di sini? Apakah faedah nya itu ?"
Kan Ciat menggoyang goyangkan kepalanya. Selagi mendongkol, berduka dan berkuatir, rasa gatalnya menyerang hebat sekali. Karena ia tidak bisa menggaruk, ia membenturkan kepalanya berulang ulang kepada tembok, sedang kedua tangannya, yang digerak-gerakkan, mendatangkan suara berkelontrangan yang berisik. Dan terdengar jelas napasnya yang memburu.
"Ouw Sinshe, orang yang menggunakan bunga emas itu, siang atau malam, bakal datang kemari!" Ia berkata dengan sengit. "Aku juga telah melihat bahwa kaupun tidak bakalan mati secara baik, maka itu, aku pikir baiklah kita bergabung bekerja sama melawan dia. Bukankah ada terlebih baik begitu dari pada kau nantikan kematianmu dengan tidak berdaya?"
"Jikalau kamu semua masih dapat melawan dia, siang siang kamu telah membunuh mampus padanya," kata Ouw Ceng Goe "Apakah perlunya aku mendapatkan lima belas kantong nasi yang tidak mempunyai guna?"
Kan Ciat menjadi putus asa. Dari omong keras, ia menjadi merendah, memohon pertolongan tabib pandai itu. Tetapi Ouw Ceng Goe sudah bertekad dengan keputusannya, bahwa ia tidak mau ambil perduli.
Akhirnya Kan Ciat menjadi gusar, hingga ia berjingkrakan.
"Baiklah!" serunya saking nekad "Ke kiri dan ke kanan toh bakal mampus, maka kalau benar benar musti mampus, baiklah, aku akan menggunakan api membakar kandang anjingmu ini. Kami yang biasa memasuki golok putih bersih dan mengeluarkan golok berdarah merah, biar kami membikin terjungkal kau. pendeta bangsat! Biarlah kita sama sama mengantarkan jiwa kita di tempat ini!"
Saat itu, dari luar masuk lagi seorang lain, yaitu orang yang ditolong Boe Kie waktu mau muntahkan darah. Melihat kekalapan Kan Ciat ia meraba pinggang dan mengeluarkan sebatang Go bie Kong-cek (senjata semacam pusut). Sambil monotol dada Kan Ciat dengan pusutnya, ia berkata : "Kau berdosa terhadap Ouw Cianpwee, dan aku si-orang she Sie, merasa sangat tidak enak. Kau ingin yang masuk pisau putih, yang keluar pisau merah? Baiklah! Aku akan mengiringi keinginanmu."
Ilmu silat Kan Ciat sebenarnya tebih tingga daripada si orang she Sie. Tapi karena kedua tangannya diikat dengan rantai besi, maka ia tak melawan dan hanya mengawasi dengan mata membelalak.
"Ouw Cianpwee," kata si orang she Sie dengan suara nyaring, "boanpwee Sie Kong Wan murid Sian ia Sianseng dari Hoan san memberi hormat." Seraya berkata begitu, ia menekuk lutut dan manggutkan kepala empat kali.
Melihat begitu, dalam hati Kan Ciat lantas saja timbul sedikit harapan. Ouw Ceng Goe yang tidak dapat dipaksa dengan kekerasan, mungkin dapat ditataki dengan kelembekan.
Sesudahnya menjalankan peradatan besar, Sie Kong Wan berkata pula: "Kami sungguh bernasib sial, karena justeru pada waktu kami memerlukan pertolongan, Ouw Siashe sakit. Tapi kami tahu, bahwa disini terdapat seorang saudara kecil yang mempunyai kepandaian tinggi dalam ilmu pengobatan. Maka itu, kami memohon Ouw Cianpwee suka memberi permisi supaya saudara kecil itu mengobati luka kami yang sangat luar biasa. Dikolong langit, kecuali murid Tiap kok le Sian tiada orang lain yang dapat menyembuh kan luka kami."
"Anak itu bernama Thio Boe Kie," kata si tabib malaikat dengan suara tawar. "Dia putera Thio Sam Hong. Aku Ouw Ceng Goe manusia jahat dari agama siluman tak ada sangkut pautnya dengan murid dari partai yang lurus bersih. Dia sendiri kena racun dingin dan meminta pertolonganku, Tapi aku sudah bersumpah, bahwa kecuali anggota Beng kauw, anak she thio itu tak sudi menjadi anggauta agama kami, mana biasa aku menolongnya?"
Hati Sie Kong Wan mencelos. Semula ia menduga, Boe Kie murid Tiap kok Ie sian.
Sesudah berdiam sejenak, si tabib berkata pala. "Mengapa kamu tidak mau lantas berlalu dari situ? Huh-huh! Apa kamu kira aku akan merasa kasihan? Tanyakanlah anak itu. Tanya dia berapa lama dia sudah berdiam dirumahku."
Sie Kong Wan dan Kan Ciat lantas saja mengawasi Boe Kie yang lalu mengacungkan dua jari tangannya.
"Duapuluh hari?" tanya Sie Kong Wan.
"Dua tahun dua bulan tepat" jawabnya.
Kan Ciat dan Sie Kong Wan merasa kepala mereka seperti disiram air es. Mereka saling mengawasi dengan mulut ternganga.
"Biarpun dia berdiam disini sepuluh tahun, aku tetap tidak menolongnya," kata Ceng Goa, "Hanya sayang didalam tempo satu tahun, racun dingin yang mengeram dalam isi perutnya akan mengamuk, sehingga biar bagaimanapun jua, dia tak bisa hidup setahun lagi. Aku pernah bersumpah dihadapan leluhur agama kami, bahwa biarpun ayah sendiri, biarpun anak kandungku sendiri, aku tetap tak akan menolong, jika ia bukan murid Beng keuw."
Dengan putus harapan Kan Cat dan Sie Kong Wan menghela napes berulang-ulang. Tapi baru saja mereka mau berjalan keluar, tiba-tiba Ouw Ceng Goe berkata "Bocah Boe tong pay itu mengerti juga sedikit ilmu pengobatan. Meskipun ilmu pengobatan Boe tong tidak dapat menandingi ilmu ketabiban Beng kauw, kurasa dia tidak akan membinasakan kamu dengan pengobatan yang keliru. Apa dia suka monolong atau tidak, bukan urusanku"
Sie Kong Wan agak terkelut. Didengar dari pada suaranya, si tabib malaikat seperti juga memberi isyarat supaya Boe Kie memberikan pertolongan. Maka itu, ia lantas saja berkata: "Jika Thio Siauw hiap sudi menolong, kami mempunyai haranan lagi untuk bisa hidup terus."
"Bukan urusanku!" bentak Ceng Goa. "Boe Kie kau dengarlah. Aku melarang kau mengobati mereka dalam rumahku. Kalau kamu tidak berada dalam rumah ini, aku tidak perduli."
Kan Ciat dan Sie Kong Wan kaget dan heran. Mereka sungguh tak mengerti apa maksudnya si tabib malaikat yang beradat aneh.
Tapi Boe Kie yang sangat pintar lantas saja tahu apa maunya Ceng Goe. "Kalian jangan mengganggu Ouw Sinshe yang sedang sakit," katanya. "Ikutlah aku."
Mereka lalu mengikutt Boe Kie keruang depan.
"Pengetahuanku tentang ilmu ketabiban sebenarnya sangat cetek dan luka kalian sangat luar biasa," kata si bocah. "Maka itu.. aku tidak mempunyai pegangan, apa aku akan berhasil atau tidak. Jika kalian percaya dan rela diobati olehku, bolehlah aku mencoba-coba. Tapi aku tidak bertanggung jawab akan keselamatan jiwa kalian."
Waktu itu, mereka sedang menderita hebat. Rasa sakit gatal, meluang dan kesemutan tercampur menjadi satu. Mereka mau mati tidak bisa mau hidup pun tidak dapat. Maka itu, begitu mendengar perkataan Boe Kie, mereka segera menyetujui untuk menerima pertolongan bocah itu dengan rela hati.
Sesudah mendapat jawaban, Boe Kie lalu berkata pula: "Sebagaimana kalian tahu, Ouw Sinshe tidak mengijinkan aku mengobati kalian didalam rumahnya. Ia merasa kuatir, bahwa kalian mati disini, nama harumnya sebagai Ie Sian (tabib malaikat) akan ternoda. Maka itu, marilah kita keluar."
Mendengar perkataan Boe Kie, mereka bersangsi. Apakah kepandaiannya seorang anak-anak yang baru berusia belasan tahun? Kalau dia salah mengobati, tentu penderitaan akan ditambah dengan penderitaan lain. Tapi Kan Ciat sudah lantas berteriak. "Kulit kepalaku gatal bukan main. Saudara kecil, kau boleh mengobati aku lebih dulu."
Sehabis berkata begitu, ia segera bertindak keluar.
Boe Kie memikir sejenak dan lalu masuk kekamar obat, dimana dia mengambil Lam seng, Hong-hong, Pek tit, Thiam ma, Kiang ho, Pek hoe coe, Cie souw dan lain-lain, semuanya belasan macam bahan obat. Sesudah itu, ia memerintahkan seorang kacung mengilingnya dan mencampurnya dengan sedikit arak untuk membuat koyo yang lalu ditempelkan dikepala Kan Ciat yang gundul.
Begitu kena, dia mengeluarkan teriakan kesakitan dan melompat-lompat. "Aduh! Aduh!" teriaknya. "Sakit sungguh... tapi... tapi... mendingan daripada gatal." Sambil mengertak gigi, ia berlari lari dan berteriak-teriak seperti seorang edan. Beberapa lama kemudian, kecepatan larinya jadi terlebih perlahan dan teriakannya mereda. "Enakan... mendingan,.." katanya dengan napas tersengal sengal. "Bocah itu memiliki kepandaian lumayan.... eh, salah! Thio Siauw hiap, kau memiliki ilmu yang sangat tinggi dan aku merasa sangat berterima kasih sekali kepadamu!"
Melihat hasil itu, semua orang segera memohon pertolongan Boe Kie. Diantara mereka yang paling menderita adalah seorang yang terus bergulingan ditanah sambil mencekal perut. Dia ternyata telah dipaksa untuk menelan tiga puluh lebih lintah hidup yang sekarang menghisap darahnya didalam perut. Untung juga Boe Kie segera ingat, bahwa dalam salah sebuah kitab, ia pernah membaca lintah dalam harus ditaklukkan dengan madu.
Buru-buru ia memerintankan seorang kacung mengambil semangkok madu yang lalu di berikan kepada orang itu. Dan sekali lagi ia berhasil. Dengan demikian, ia terus bekerja keras sehingga fajar menyingsing.
Tak lama kemudian, Kie Sianw Hoe dan putrinya keluar dari kamar. Melihat Boe Kie masih repot mengobati orang, Siauw Hoe segera memberi bantuan apa yang ia bisa.
Delasan orang ini sebenarnya jago-jago yang pernah malang-melintang dalam dunia Kangouw, tapi sekarang mereka jadi jinak sekali. Dengan sabar mereka menunggu giliran dan tak berani membantah apa yang dikatakan oleh si bocah.
Antara mereka hanya Yo Poet Hwie yang bebas dari rasa jengkel atau bingung. Sambil mengunyah buah angco ia berlari lari kian kemari untuk menangkap kupu-kupu yang berterbangan didalam kebun.
Sesudah lewat tengah hari barulah Boe Kie mulai mengobati luka diluar. Dengan dibantu Siauw Hoe ia menghentikan keluarnya darah, memberi obat untuk meredakan rasa sakit, membalut luka dan sebagainya. Sesudah selesai, ia segera pergi mengasoh dalam kamarnya.
Baru saja pulas beberapa jam, ia disadarkan oleh suara ribut ribut. Buru-buru ia bangun dan pergi keluar untuk menengok para penderita. Ternyata keadaan sebagian penderita itu cukup memuaskan tapi keadaan yang sebagian lagi berbalik menghebat. Boe Kie jadi bingung, ia tak tahu apa yang harus diperbuat.
Akhirnya, karena tidak berdaya, ia terpaksa menemui Ouw Ceng Goe dan menceritakan keadaan mereka.
"Mereka bukan anggauta Bang kauw, perduli apa mereka mampus," kata Tiap kok Ie sian dengan suara tawar.
Mendadak Boe Me mendapat serupa ingatan dan ia lantas saja berkata: "Andaikata ada seorang murid Beng kauw yang sedangkan diluar badannya tidak terdapat luka, perutnya kembung bengkak, warna kulitnya hitam biru dan terus menerus berada dalam keadaan pingsan, cara bagaimana Sinshe akan mengobatinya?"
"Kalau benar dia murid Beng kauw, aku akan mengobatinya dengan menggunakan San ka, Liong bwee, Ang hoa, Seng tee, Leng sian, To Ouw " kata Ceng Goe. "Obat-obatan itu aku masak dengan arak encer dan kemudian menambahkannya dengan sedikit To pian. Sesudah minum godokan tersebut si sakit akan buang buang air dan mengeluarkan darah beracun dari kotorannya."
"Ouw Sinshe bagaimana aku akan berbuat jika kuping kiri seorang muiid Beng kauw dituangi timah cair, kuping kanan dituangi dengan air perak dan kedua matanya dilabur dengan cat, sehingga ia menderita kesakitan hebat dan matanya tak bisa melihat lagi"' tanya pula si bocah. (Air perak = Air raksa)
Ouw Ceng Goe naik darah. "Siapa berani berlaku begitu kejam terhadap murid Beng kauw?" bentaknya.
"Musuhnya itu memang kejam luar biasa," kata Boe Kie. "Tapi menurut pendapatku, yang paling perlu yalah mengobati lebih dulu dan kemudian barulah kita menanyakan siapa adanya musuh itu."
Sesudah memikir sejenak, Tiap kok Ie sian ber kata: "Kalau dia memang murid Beng kauw, aku akan menuang air perak kedalam kuping kiri nya. Timah akan lumer dan bercampur dengan air perak, sehingga cairan itu akan mengalir ke luar dari kupingnya. Kemudian, aku akan memasukkan jarum emas kedalam kuping kanannya. Air perak akan menempel pada jarum itu yang dengan perlahan bisa ditarik keluar. Mengenai cat yang masuk dikedua matanya, kurasa akan dapat dipunahkan dengan kepiting yang ditumbuk hancur dan kemudian dibalut pada matanya itu."
Demikianlah, untuk setiap luka yang aneh, Boe Kie meminta pertolongan Ouw Ceng Goe dengan menggunakan nama "murid Beng kauw" dan sang tabibpun memberikan bantuannya dengan segala senang hati. Jika lukanya terlampau aneh dan si penderita tidak jadi mendingan dengan pertolongan pertama, Boe Kie segera menanyakan lagi pendapat Tiap-kok Ie-sian yang lalu mengasah otak dan mencoba pula dengan lain cara pengobatan. Sesudah berselang lima enam hari, semua orang dapat dikatakan sudah mulai sembuh seluruhnya.
Luka yang diderita Kie Siauw Hoe adalah luka di dalam, tercampur dengan racun. Tenaga pukulan musuh sudah melukakan perutnya, sedang racunpun sudah masuk kedalam tubuhnya. Sesudah memeriksa dengan teliti, Boe Kie segera memberi obat pemunah racun kepadanya dan selang beberapa hari, keadaannya sudah banyak baik.
Sementara itu, para penderita telah mendirikan sebuah gubuk di depan rumah Ouw Ceng Goe dan mereka tidur menggeletak di tanah dengan hanya dialaskan dengan rumput kering. Beberapa tombak dari gubuk itu, Kie Siauw Hoe juga membuat sebuah gubuk yang lebih kecil untuk ia dan puterinya.
Boe Me capai dan lelah. Tapi ia sangat bergembira dan bersemangat, karena ia bukan saja bisa menolong sesama manusia, tapi juga sudah memperoleh resep-resep mujijat dan cara-cara pengobatan yang biasa dari Tiap kok Ie sian.
Tapi pagi itu ia kaget bukan main, sebab waktu bertemu dengan Kie Siauw Hoe, ia melihat sinar hitam pada alis nona Kie. Apa penyakitnya kumat lagi? Apa racun mengamuk pula? Cepat-cepat ia memeriksa nadi Siauw Hoe. Sesudah itu, ia mencampur ludah Siauw Hoe dengan bubuk obat Pek hap san dan begitu lekas melihat campuran itu, ia bisa lantas memberi kepastian bahwa benar racun mengamuk lagi.
Ia mengasah otak mati matian, tapi tidak bisa memecahkan sebab musabab dari perubahan itu. Maka itu, ia selalu meminta pertolongan Ouw Ceng Goe yang segera memberitahukan lain cara pengobatan kepadanya. Benar saja, sesudah diobati menurut petunjuk baru itu, keadaan Siauw Hoe jadi terlebih baik.
Tapi, sungguh heran, sehabis Siauw Hoe, perubahan luar biasa mendadak datang kepada dirinya Kan Ciat. Kepala gundulnya yang sudah mulai sembuh mendadak borokan lagi dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Perubahan itu terjadi silih berganti atas dirinya kelimabelas orang itu: yang satu mendingan, yang lain menghebat lagi penyakitnya.!
Boe Kie bingung bukan main. Ia pergi menemui Tiap kok Ia sian dan menuturkad kejadian yang luar biasa itu. "Sebab musabab dari perubahan itu yalah karena luka mereka sangat aneh, berbeda dengan luka biasa," menerangkan sang tabib malaikat. "Kalau mereka dapat disembuhkan oleb tabib biasa, tak perlu mereka datang kemari."
Malam itu Boa Kie tak bisa pules. Ia berduka dan coba memecahkan teka-teki yang rumit "Perubahan penyakit itu adalah kejadian biasa," pikirnya. "Tapi walaupun begitu tak bisa jadi semua penderita itu mengalami perubahan sampai berkali-kali, sebentar baik, sebentar hebat," Ia gelisah dan bergolak gulik diatas pembaringan.
Kira-kira tengah maiam, tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki yang sangat enteng dan lewat didepan kamarnya. Ia melompat bangun dam mengintip dari cela-cela jendela. Ia melihat berkelebatnya bayangan manusia yang segera menghilang dibelakang pohon kuil. Dilihat dari pakaian dan gerak-geriknya orang itu bulan lain dari pada Ouw Ceng Goe.
"Eh-eh! .. Mengapa Ouw Sinahe berkeliaran ditengah malam buta?" tanyanya didalam hati. "Apa cacarnya sudah sembuh?" Sesaat kemudian, ia melihat masuknya Tiap kok Ie sian kedalam gubuk Kie Siauw Hoe. Jantungnya berdebar keras dan jiwa kesatrianya tampil kemuka. "Apa dia mau menganiaya atau menghina Kie Kouw kouw?" tanyanya pada diri sendiri. "Meskipun aku bukan tandingannya, tak dapat aku mengawasi dengan berpeluk tangan. Ia melompat keluar jendela dan indap indap, ia mendekatii gubuk Kie Siauw hoe.
Gubuk tersebut yang terbuat dari alang-alang hanya untuk menedeng angin dan embun, didalamnya kosong melompong, tiada sekosol, tiada aling aling apapun jua. Dengan hati bergoncang, Boe Kie mengintip dari belakang gubuk. Ia melihat sang bibi bersama puterinya sedang pulas nyenyak diatas setumpuk rumput rumput kering.
Sekonyong Ouw Ceng Goe merogo saku dan mengeluarkan sebutir pel, yang lalu dicemplungkan kedalam mangkok obat Siauw Hoe. Sesudah itu ia memutar badan dan terus berjalan keluar. Sekelebatan Boe Kie melihat, bahwa muka orang tua itu masih ditutup dengan topeng kain hijau.
Boe Kie mengeluarkan keringat dingin. Baru sekarang ia tahu, bahwa Ouw Ceng Goe lah yang sudah menaruh racun, sehingga para penderita tak bisa menjadi sembuh.
Sesudah keluar dari gubuk Siauw Hoe, Ceng Goe masuk kegubuk yang lain, dimana dia berdiam agak lama. Boe Kie mengerti, bahwa untuk meracuni keempatbelas orang dengan racun yang berbeda-beda, si tua memerlukan tempo yang lebih banyak. Dilain saat si bocah sudah masuk kedalam gubuk dan mencium mangkok obat Siauw Hoe. Di dalam mangkok terisi godokan Pat sian thung dan ia telah memesan supaya begitu bangun tidur, Kouw-kouw segera minum obat itu. Tapi sekarang godokan itu mengeluarkan bau-bauan yang masuk hidung. Sekonyong-konyong terdengar pula suara tindakan kaki. Buru buru Boe Kie merebahkan diri diatas tanah. Ia tahu, bahwa Ouw Ceng Goe sudah kembali kekamar tidurnya.
Sesudah menunggu beberapa lama, ia segera menaruh mangkuk obat keluar dari gubuk itu. "Kie Kouw-kouw! Kie Kouw-kouw!" ia memanggil manggil dengan suara perlahan.
Sebagai seorang ahli silat, menurut pantas Siauw Hoe mudah tersadar, tapi sesudah si bocah memanggil berulang-ulang, ia masih pulas terus. Karena terpaksa, Boe Kie lalu masuk pula dan menggoyang-goyangkan badan bibinya berulang kali. Dengan kaget Siauw Hoe tersadar. "Siapa?" tanyanya.
"Kouw-kouw, aku.... " bisiknya. "Mari kita keluar."
Siauw Hoe mengerti, bahwa kedatangan Boe Kie ditengah malam tentulah disebabkan oleh kejadian penting. Perlahan-lahan ia menarik lengannya yang ditandalkan dibawah kepala puterinya dan kemudian keluar dari gubuknya bersama sama si bocah.
"Kie Kouw-kouw," bisik Boe Kie, "orang telah menaruh racun dimangkok obatmu. Buanglah obat itu, tapi jagalah, jangan sampai diketahui orang. Besok aku akan memberi penjelasan kepadamu"
Siauw Hoe manggutkan kepalanya dan Boe Kie segera kembali kekamarnya. Karena kuatir ketahuan, ia masuk dengan melompati jendela.
Pada esokan paginya, sesudah sarapan. Boe Kie mengajak Yo Poet Hwie pergi menangkap kupu kupu. Mereka berlari lari, makin lama makin jauh dari rumah Ouw Ceng Goe. Siauw Hoe yang mengerti maksud si bocah, lantas saja mengikuti dari belakang. Selama beberapa bari, Boe Kie sering bermain-main dengan sinona ciiik, sehingga perginya ketiga orang itu sama sekali tak menimbulkan kecurigaan.
Sesudah melalui kira kira satu li mereka tiba disatu tanjakan gunung. Boe Kie menghentikan tindakannya dan segera duduk diatas rumput, sedang Siauw Hoe segera berkata kepada puterinya: "Poet-jie sekarang jangan mengubar kupu kupu lagi. Pergi petik bunga-bunga dan buatlah tiga buah topi bunga untuk kita bertiga. Si nona kecil jadi girang sekali dan sambil tertawa nyaring, ia berlari-lari untuk mencari bunga.
"Kouw kouw," Boe Kie mulai, "apakah kau mempunyai permusuhan dengan Ouw Ceng Goe? Dialah yang sudah menaruh racun kedalam mangkok obatmu."
Siauw Hoe terkejut. "Aku belum pernah mengenal Ouw Ceng Goe dan sehingga hari ini aku belum pernah bertemu muka dengannya," jawabnya. Ia berdiam sejenak seperti orang sedang berpikir dan kemudian berkata pu1a. "Saban kali bicara mengenai Ouw Sinshe, Thia thia (ayah) dan Soehoe selalu mengatakan, bahwa dia adalah seorang tabib nomor satu didalam dunia pada jaman ini. Merekapun tidak mengenal Ouw Sinshe. Aku sungguh tidak mengerti, mengapa Ouw Sinshe coba mencelakakan aku."
Sibocah lalu menuturkan kejadian semalam dan menambahkan. "Dalam godokan Pat sian thung itu, aku mengendus bau rumput Pat sian co dan Touw koet koen yang sangat tajam. Kedua daun obat itu memang dapat mengobati luka, tapi racun nya sangat hebat dan tidak boleh digunakan terlalu banyak."
"Selain begitu, sifat kedua daun obat tersebut juga bertentangan dengan delapan macam obat yang terdapat dalam Pat sian thung. Maka itu biarpun tidak membahayakan jiwa, luka Kouw kouw jadi makin sukar disembuhkannya."
Siauw Hoe bersenyum. "Kau mengatakan bahwa Ouw Sinshe juga meracuni empat belas penderita yang lain," katanya. "Hal ini lebih mengherankan lagi. Terhadap aku, kita dapat mengandalkan saja, bahwa secara tidak disengaja, ayah atau Go bie pay pernah menyinggung Ouw Sinshe. Tapi bagaimana terhadap yang lainnya? Apa mungkin keempat belas orang itu semuanya berdosa terhadap Ouw Sinshe?"
Boe Kie mengangouk. "Memang! Memang sangat mengherankan," katanya sambil menghela napas. "Kie Kouwkouw, selat Ouw tiap kok adalah sebuah tempat yang mencil dan tidak banyak diketahui orang. Cara bagaimana kau dan yang lain-lain bisa datang kemari? Siapa adanya Kim hoa Coe jin (Majikan Bunga emas) yang telah melukakan kau? Urusan ini sebenarnya tiada sangkut pautnya dengan aku dan menurut pantas, aku sebenarnya tidak boleh menanya melit-melit. Akan tetapi, karena persoalan berbelit-belit, maka aku harap kau tidak menjadi kecil hatinya"
Paras mukanya Siauw Hoe lantas saja berubah merah. Ia mengerti maksud si bocah yang rupa rupanya kuatir, bahwa pertanyaan itu akan menyentuh persoalan puterinya. Persoalan mengapa sebelum menikah ia sudah mempunyai anak. Sesudah memikir sejenak, ia berkata dengan suara parau. "Kau sudah menolong jiwaku, tak dapat aku menyembunyikan sesuatu terhadapmu. Disamping itu, meskipun masih kanak-kanak, kau memperlakukan aku dan Poet jie luar biasa baik. Baiklah, aku akan menceritakan segala penderitaanku kepadamu, orang satu-satunya didalam dunia yang boleh mendengar rahasiaku."
Sehabis berkata begitu, air matanya mengucur. Ia mengambil saputangan dan sesudah menyusut air mata, ia berkata pula, "Sedari aku kebentrok dengan seorang kakak seperguruan pada dua tahun lebih yang lalu, aku tidak berani menemui Soe hoe lagi... aku tidak berani pulang..."
"Hmm! Teng Bin Koen! ...... Kouwkouw kau tidak usah takut," kata Boe Kie.
"Bagaimana kau tau?" tanya Siauw Hoe dengan rasa terkejut dan heran.
Boe Me segera memberitahukan, bahwa pada malam itu, bersama Siang Gie Coen ia telah menyaksikan peristiwa menolong Pheng Hweeshio.
Siauw Hoe menghela napas. "Memang.... rahasia memang tak mungkin ditutup," katanya.
"Kouwkouw, kau tak usah terlalu berduka." kata Boe Kie, "In Lioksiok adalah seorang baik. Kalau kau tidak suka menikah dengannya, urusan itu bukan urusan yang terlalu besar. Begini saja, kalau bertemu dengan Lioksiok, aku akan memberitahukannya, bahwa kau tidak suka menikah dan dia merdeka untuk mencari lain isteri!"
Mendengar perkataan yang polos-jujur itu, yang keluar dari otak sederhana, Siauw Hoe tertawa getir. "Anak," katanya dengan suara bergemetar. "Percayalah, bahwa aku bukan sengaja berbuat kedosaan terhadap pamanmu. Waktu itu aku...aku.... tidak ada lain jalan.... dan akupun sudah merasa menyesal sekali...." Ia tidak meneruskan perkataannya dan air matanya kembali mengucur.
Ia mengawasi si bocah dan berkata dalam hatinya "Anak ini masih suci bersih, bagaikan selembar kertas putih. Ah Lebih baik aku tidak menceriterakan segala hal percintaan kepadanya. Apa pula urusan pribadi ini tiada sangkut pautnya dengan dia." Memikir begitu, ia lantas saja berkata : "Sesudah bercekcok dengan Teng Soecie, dengan membawa Poet jie aku bertani dan hidup mengasingkan diri disuatu tempat yang terpisah kira-kira tiga ratus lie disebelah barat Ouw tiap kok ini. Selama dua tahun lebih aku hanya bergaul dengan kaum petani dan aku dapat melewati hari dengan tidak banyak pikiran. Setengah bulan yang lalu, aku mengajak Poet jie kekota untuk membeli kain guna pakaian anakku itu. Di luar dugaan, di atas sebuah tembok, secara kebetulan aku melihat gambar sebuah lingkaran Hoed kong (lingkaran sinar Buddha yang suci) dan sebatang pedang."
"Itulah tanda rahasia memanggil kawan dari partai Go bie pay. Aku binguog dan sangat bersangsi. Sesudah menimbang-nimbang aku menganggap, bahwa meskipun aku telah kebentrok dengan Teng Soecie, tapi aku belum pernah me lakukan perbuatan yang menghina guru atau menghianati partai. Disamping itu, bentrokan tersebut juga tak ada sangkut pautnya dengan Soehoe dan lain-lain saudara seperguruan. Tanda itu mungkim diberikan oleh salah seorang saudara seperguruanku yang tengah menghadapi bahaya besar dan jika benar begitu, aku merasa tidak pantas untuk berpeluk tangan. Demikianlah, dengan menuruti petunjuk dari tanda rahasia itu, aku pergi ke Hong yang."
"Di kota Hong yang aku kembali melihat tanda itu yang memberi petunjuk, supaya kawan-kawan datang di rumah makan Lim hway kok. Sudah ketelanjuran datang, aku segera menyusul kesitu. Ternyata dalam rumah makan sudah berkumpul tujuh delapan orang, antaranya terdapat Seng cioe Ka lam Kan ciat dari Khong tong pay, Sie Kong Wan dari Hwa san pay dan lain-lain. Anggauta Goe bie pay hanya aku seorang. Aku mengenal Kan Ciat dan Sie Kong Wan dan lalu menanyakan sebab musabab dari berkumpulnya mereka dirumah makan itu. Mereka memberitahukan, bahwa mereka datang karena melihat tanda rahasia partainya, tapi seperti juga aku mereka tak tahu sebab musabab dari panggilan itu. Sehari suntuk kami menunggu tapi tak ada yang datang lagi. Pada esokan harinya, dengan beruntun datang pula beberapa orang lain, ada orang Sin koen boen, ada orang Siauw lim pay bagian selatan dan lain lain. Mereka juga mengatakan bahwa kedatangan mereka adalah karena melihat tanda rahasia. Tak satupun diantara mereka yang mendapat urusan secara langsung. Semua orang heran dan bercuriga. Apa tidak bisa jadi kami semua tengah dipermainkan oleh seorang musuh?"
"Ketika itu, diloteng rumah makan berkumpul lima belas orang dari sembilan buah partai. Tanda rahasia setiap partai bukan saja berbeda satu sama lain, tapi juga sangat dirahasiakan, sehingga kalau bukan murid partai yang tersangkut, seorang luar tentu tak mengerti artinya tanda itu. Jika seseorang ingin main gila, apakah ia bisa tahu tanda rahasia dari sembilan partai? Mengingat bahwa aku membawa Poet jie dan kalau bisa, aku tak mau anak itu menghadapi bahaya dan mengingat puta bahwa panggilan itu bukan tantaran saudara seperguruanku ada yang tengah menghadapi bencana besar, maka aku segera mengambil keputusan untuk pulang saja. Tapi baru saja aku mau turun tangan, tiba-tiba ditangga loteng terdengar suara keras, seperti juga undakan tangga dipukul orang dengan menggunakan toya. Suara itu disusul denggn suara batuk-batuk dan seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua, mendaki undakan tangga. Ia naik setindak demi setindak sambil batuk-batuk dan kelihatannya lelah sekali. Disampingnya terdapat seorang nona kecil yang berusia kira kira dua belas tahun dan yang memapah si nenek."
"Melihat nenek yang sudah bagitu tigggi usianya dan juga kelihatannya sedang sakit, aku segera minggir, supaya ia bisa naik lebih dulu. Nona kecil itu ternyata cantik sekali, meskipun usianya masih sangat muda, belum pernah aku melihat wanita yang seayu dia, sehingga tanpa merasa aku mengawasinya beberapa kali. Tangan kanan si nenek mencekal sebatang tongkat dari kayu Pek bok dan dari pakaiannya, ia seperti juga seorang wanita miskin. Tangan kirinya memegang serenceng biji tasbih yang mengeluarkan sinar kuning berkilauan. Ketika aku memperhatikan, rencengan itu ternyata bukan biji biji tasbih, tapi bunga bunga bwee yang terbuat dari pada emas tulen..."
"Aha!" memutus Boe Kie. "Perempuan tuaa itu tidak bisa lain dari pada majikan Kim hoa."
"Benar. Tapi pada waktu itu, siapakah yang bisa menduga jelek kepadanya?" kata Siauw Hoe. Sehabis berkata begitu, ia merogoh saku dan mengeluarkan sekuntum bunga bwee emas yang menyerupai Kim Hoa yang pernah diserahkan kepada Ceng Goe oleh Boa Kie.
Si bocah tertegun. Tadinya ia menduga, bahwa Kim hoa Coe jie adalah saorang lelaki yang bertubuh tinggi besar dan bermuka menakutkan. Tak dinyana, majikan bunga emas itu hanyalah seorang nenek tua.
"Sesudah berada di atas loteng, nenek itu kembali batuk batuk. Siauw Hoe melanjutkan penuturannya, "Sinona cilik berbisik: "Popo makan obat ya?" Sinenek mengangguk dan nona kecil itu selanjutnya sudah mengeluarkan sebutir yo-wan dari dalam sebuah peles kristal.
Sambil mengunyah yo-wan, nenek itu berkata. "O mie to hoed..... O mie to hoed ..." Dengan mata separuh tertutup, ia mengawasi kami dan berkata pula dengan suara perlahan: "Hm ... hanya lima belas orang. Coba tanya, apakah orang Koen loen pay dan Boe tong pay sudah pada datang semuanya?"
"Kedatangan kedua wanita itu tidak diperhatikan oleh kami. Tapi, begitu sinenek mengucapkan perkataan itu, beberapa orang yang kupingnya lebih tajam segera menengok dan mengawasinya. Melihat nenek itu, hati mereka lega dan menganggap mereka salah dengar.
"Tiba-tiba si nona cilik berkata dengan suara nyaring: "Hai! Popoku menanya kepada kalian. Apakah orang-orang Koen loen pay dan Boe tong pay sudah pada datang semuanya?"
Semua orang terkejut, untuk sejenak mereka tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Sesaat kemudian, barulah Kan Ciat berkata: "Adik kecil, apa katamu?" Jawab nona itu: "Popoku menanya: Mengapa ia tidak melihat murid Boe tong dan Koen loen?" Alis Kan Ciat berkerut dan lalu menanya pula "Siapa kalian ?"
"Nenek itu kembali batuk-batuk sambil membungkuk-bungkuk. Mendadak.... mendadak saja, aku merasa semacam angin menyambar dadaku, entah dari mana. Sambaran itu hebat luar biasa dan buru buru aku mengibaskan tangan untuk menangkis. Tiba tiba aku merasa dadaku menyesak, darahku bergolak golak, kedua lututku lemas dan aku jatuh duduk sambil muntahkan darah."
"Dalam keadaan setengah pingsan, aku melihat badan si nenek bergrrak gerak, ia menggaplok atau meninju seraya batuk batuk tak hentinya. Dalam sekejap, empat belas orang sudah rebah di atas loteng Kecepatan bergeraknya dan hebatnya tenaganya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Seumur hidup, belum pernah kulihat manusia yang bisa bergerak begitu cepat dan mempunyai tenaga Lweekang yang sedemikian hebat. Di antara kami, sejurus pun tak ada yang mampu melawan. Kalau bukan tertotok jalan darah, isi perut mereka terluka karena pukulan Lweekang."
"Tiba-tiba si nenek mengayun tangan kirinya dan lima belas bunga emas menyambar kebahu atau tangan kelimabelas orang. Kali ini dia tidak mencelakakan orang, sebab meskipun limabelas bunga emas itu mengenai tepat pada sasarannya, tak seorangpun yang mendapat luka. Sesudah itu, dia memutar tubuh dan dengan dipapah oleh si nona kecil, ia berkata "O mie to hoed! O mie to hoed !" Tanpa menengok lagi mereka turun kebawah loteng. Beberapa saat kemudian, kami men dengar suara totokan tongkat ditanah, diseling seling dengan suara batuk-batuk"
Bicara sampai disitu, Yo Poet Hwie mendatangi dengan tangan mencekal sebuah karangan bunga yang merupakan topi. Sambil tertawa ha ha hi hi, ia berkata. "bu, kau pakailah topi ini," dengan sikap aleman, ia lalu menaruh topi bunga itu dikepala sang ibu.
Siauw Hoe tertawa sambil manggut manggutkan kepalanya dan kemudian melanjutkan penuturannya. "Kami semua rebah diatas papan loteng tanpa berkutik, sebagian pingsan, sebagian bernapas sengal-sengal dan sebagian pula merintih dengan perlahan...."
"Ibu," memutus Poet Hwie. "Apakah kau sedang menceritakan perempuan jahat itu ? Jangan! Aku takut."
"Nak," kata sang ibu sambil bersenyum, "Pergilah kau memetik bunga lagi dan buatlah sebuah topi untuk kakak Boe Kie"
Poet Hwie mengawasi Boe Kie. "Waena apa yang kau suka ?" tanyanya.
"Merah dan campur sedikit dengan warna putih, lebih besar topinya lebih baik lagi," jawabnya.
"Sebesar ini?" tanyanya pula si nona sambil membuat sebuah lingkaran dengan kedua tangannyaa.
"Ya, sebesar itu," jawabnya.
Poet Hwie segera berlari-lari dengan menepuk nepuk tangan sambil tertawa-tawa. "Kalau sudah jadi kau harus memakainya !" teriaknya.
"Beberapa lama kemudian, dalam keadaan lupa ingat, aku melihat belasan orang naik keloteng,"' Siauw Hoe melanjutkan penuturannya. "Mereke itu adalah pelayan, tukang masak dan pengurus rumah makan. Mereka menggotong kami kedapur. Tak usah dikatakan lagi, Poet jie ketakutan setengah mati dan sambil menangis keras, ia mengikuti orang-orang yang menggotong aku. Setibanya didapur, si pengurus rumah makan membaca tulisan diselembar kertas. Seraya menuding Kan Ciat, ia memerintah: Labur koyo dikepalanya. Seorang pelayan segera membuka sebuah kotak koyo dan melebur isinya dikepala Kan Ciat. Sesudah itu, sambil membaca pula tulisan itu, dia menuding seorang lain dan berkata: Putuskan tangan kanannya dan tempelkan lengan itu dikaki kirinya! Siksaan itu lantas saja dijalankan oleh dua orang pelayan. Waktu giliranku tiba, untung juga aku tidak mendapat hukuman aneh. Aku hanya diperintah minum semangkoh air yang rasanya manis. Aku mengerti, bahwa air itu tentu mengandung racun, tapi aku tidak berdaya."
"Sesudah kami semua mendapat hukuman yang luar biasa, si pengurus rumah makan berkata. "Kamu semua sudah mendapat luka yang tak mungkin disembuhkan lagi. Tak seorangpun diantara kamu yang bisa hidup sepuluh hari atau setengah bulan lagi. Tapi pemilik bunga emas mengatakan, bahwa ia sama sekali tidak bermusuhan dengan kamu. Maka itu, ia menaruh rasa belas kasihan dan membuka suatu jalan hidup untuk kamu. Sekarang pergilah kamu lekas-lekas ke Ouw tiap kok yang terletak ditepi telaga Lie san Ouw dan mintalah pertolongan dari Ouw Ceng Goe yang bergelar Tiap kok Ie sian. Kalau dia sudi menotong, maka kamu semua ada harapan hidup, tapi manakala dia menolak, dalam dunia tak ada orang yang bisa menolong kamu lagi. Tapi Ouw Ceng Goe mempunyai lain julukan, yaitu Kian sie Poet kioe. Kalau kamu tidak berusaha mati matian, dia pasti tak akan mengulurkan tangan. Jika kamu bertemu dengan Ouw Ceng Goe katakanlah bahwa tak lama lagi Kim hoa Coejin aku akan mencari dia dan dia harus siang siang mempersiapkan penguburan mayatnya sendiri. Sesudah berkata begitu dia segera menyediakan kerata dan kudakuda, memberi petunjuk mengenai jalanan yang harus diambil, dan kemudian mengusir kami."
Boe Kie mendengari cerita itu dengan mata tidak berkedip. "Kie Kouwkouw," katanya, "Didengar dari penuturanmu, pengurus Lim hway kok, tukang masak dan pelayan-pelayannya semua kaki tangan perempuan jahat itu,"
"Akupun menduga begitu," kata Siauw Hoe. "Si pengurus rumah makan memerintahkan dijalankannya siksaan itu menurut surat catatan yang rasanya ditinggalkan oleh perempuan kejam itu. Tapi dalam peristiwa terdapat beberapa teka teki yang sehingga sekarang masih belum dapat dipecahkan olehku. Mengapa nenek itu melakukan perbuatan yang begitu kejam? Kalau dia mendendam sakit hati dan mau mengambil jiwa kami, dia dapat melakukannya dengan mudah sekali. Jika dia hanya ingin menyiksa orang orang dengan rupa-rupa jalan yang kejam mengapa dia mengirim kami kepada Ouw Sinshe ? Dia mengatakan bahwa tak lama lagi dia akan mencari Ouw Sinshe untuk membalas sakit hati, Apakah penyiksaannya terhadap kami hanya untuk menjajal kepandaiannya Ouw Sinshe?"
Boe Kie menundukkan kepala, memikir sejenak, ia berkata. "Menurut katanya Siang Gie Coen Toako, Ouw Sinshe mempunyai seorang musuh yang akan datang untuk membalas sakit hati. Musuh itulah Kim hoa Coejie. Menurut pantas Ouw Sinshe seharusnya mengobati kalian dengan sungguh hati, supaya kalian bisa membantu dia dalam menghadapi musuh berat itu. Sesuai dengan julukan Kian sie Poet kioe, ia menolak untuk mengobati. Tapi mengapa, sesudah menolak, ia memberi berbagai resep kepadaku dan mengajarkan aku macam macam cara pengobatan untuk menolong kalian? Resep obat itu manjur sekali. Tapi mengapa ditengah malam buta ia menggerayang dan memberi racun kepada kalian? Ah! Sikap Ouw Sinshe sungguh aneh? Dalam peristiwa ini muncul banyak cangkriman yang tak akan bisa ditembus olehku."
Lama sekali mereka berunding, tapi mereka tak juga dapat menebak artinya banyak teka teki itu.
Tak lama kemudian, Poet Hwie kembali dengan sebuah topi bunga yang lalu ditaruhnya diatas kepala Boe Kie dan kemudian pergi lagi untuk membuat topinya sendiri.
"Kie kouwkouw," kata pula Boe Kie. "Mulai dari sekarang kau tidak boleh minum apapun juga kecuali jika obat itu diberikan olehku sendiri. Diwaktu malam sebaiknya kau siap sedia dengan senjata untuk menjaga sesuatu yang tidak
diinginkan. Sekarang kau masih belum boleh pulang karena aku masih perlu memberi obat untuk menyembuhkan luka didalam badanmu. Begitu lekas lukamu tidak berbahaya lagi, kau harus buru buru pulang dengan membawa Poet Hwie."
Siauw Hoe mengangguk dengan rasa sangat ber terima kasih. "Manusia she Ouw itu sungguh aneh dan hatinya sukar ditebak," katanya, "Boe Kie, akupun merasa kuatir akan keselamatanmu jika kau berdiam lama-lama disini. Lebih baik kita menyingkir bersama sama."
Boe Kie yang dikuatirkan keselamatannya jika berada lama-lama di lembah Ouw-tiap-kok sudah menyatakan kesediaannya untuk ikut menyingkir dari lembah itu bersama-sama Kie Siauw Hoe dan puterinya.
"Boe kie," kata Kin Siauw Hoe, "bila kau mau ikut dengan aku, kita boleh jalan bersama sama. Aku sendiri akan segera pergi menemui soehoe ke Go bie san. Kalau nasib baik dan beliau tidak mendengar hasutan Soecieku, maka untukmu masih ada sedikit harapan hidup karena beliau memang mempunyai niatan untuk menurunkan semua kepandaiannya kepadaku, bahkan akan mengambil aku sebagai ahil warisnya. Manakala niatan itu dilaksanakan, beliau terutama tentu akan menurunkan Go bie Kioe yang kang kepadaku. Selanjutnya aku bisa ajarkan ilmu itu kepadamu. Dengan memiliki Go bie Kioe yang kang, kau bisa menggabungkannya dsngan Siauwlim dan Boe tong Kioe yang kang sehingga rasanya racun dingin Hian beng Sin ciang bisa dengan gampang terusir keluar dari badanmu. Tapi, aih..., sesudah aku melakukan perbuatan yang tidak panta, mana aku ada muka untuk bertemu lagi dengan Soehoe? Mana bisa belia mengangkat aku menjadi ahli warisnya lagi?"
Semula sang bibi bicara dengan semangat berapi-api karena memikiri penyakit yang diderita Boe Kie. Tapi, manakala teringat olehnya akan dirinya yang telah ternoda, ia jadi tampak bermuram durja.
Melihat paras sang bibi yang sangat berduka, Boe Kie segera menghibur: "Kie Kouw kouw, kau tak usah bersedih. Ouw Sinshe mengatakan bahwa paling lama aku hanya bisa hidup setahun lagi. Akupun sering memeriksa keadaan badanku dan aku yakin, bahwa apa yang dikatakan Ouw Sinshe bukan omong kosong. Andaikata gurumu mengajar Go bie Kioe yang kang kepadamu, kurasa kaupun tak akan keburu menolong aku. Memang benar juga, jalan yang paling baik adalah kita menyingkir sekarang juga. Tapi dalam cara mengobati lukamu, masih ada beberapa bagian yang belum begitu terang bagiku. Untuk itu, aku masih perlu minta petunjuk Ouw Sinshe,"
SiauwHoe tertawa dan menanya: "Apa tak bisa jadi ia akan sengaja memberi petunjuk yang salah. Kau tidak boleh lupa, bahwa ia sudah berusaha untuk meracuni aku."
"Tidak, kurasa ia tak akan berbuat sedemikian," membantah Boe Kie. "Sebegitu jauh, obat-obat atau cara mengobati yang diberikan oleh Ouw Sinshe, sangat mustajab dan tepat. Disamping itu, akupun dapat membedakan jika ia sengaja memberikan obat yang salah. Dan.... inilah justeru yang aku tidak mengerti!"
Sesaat itu, Poet Hwie sudah kembali dengan kepala memakai topi rangkaian bunga. Mereka bertiga sudah mempunyai topi, perundinganpun sudah selesai dan mereka lalu kembali kerumah Ouw Ceng Goe.
Malam itu, Boe Kie tak bisa pulas lagi. Kira kira tengah malam Ouw Ceng Goe menggerayang lagi kegubuk Siauw Hoe, gubuk Kan Ciat dan kawan-kawannya untuk menaruh racun.
Tiga hari telah lewat tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Karena tidak pernah kena racun lagi, kesehatan Siauw Hoe pulih dengan cepat. Keadaan Sie Kong Wan dan yang lain-lain masih tetap seperti biasa, sebentar mendingan, sebentar hebat. Beberapa orang sudah mulai mengeluh dan mengatakan, bahwa kepandaian Boe Kie masih terlalu rendah, tapi si bocah tidak menggubris.
Malam itu, sambil berbaring dipembaringan, Boe Kie berkata dalam hatinya: "Sesudah lewat malam ini, aku sudah mengikut Kie Kouw-kouw menyingkirkan diri. Karena racun dalam tubuhku tak bisa dipunahkan, lebih baik aku tidak pulang ke Boe tong, supaya Thay soe-hoe dan paman paman jangan berubah hati. Aku akan pergi ketempat yang sepi dan mati dengan diam-diam."
Mengingat bahwa ia akan segera meninggalkan Ouw tiap kok, hatinya terharu. Walaupun Ceng Goe beradat aneh, ia telah memperlakukannya baik sekali dan selama kurang lebih dua tahun, orang tua itu menurunkan banyak ilmu ketabiban kepadanya. Sesudah berkumpul begitu lama, di dalami hatinya sudah bersemi rasa cinta terhadap orang tua itu.
Maka itu, perlahan-lahan ia bangun, dan pergi kekamar si tabib malaikat dan menanyakan kesehatan orang tua itu dari luar kamar. Tiba-tiba ia ingat bahwa Kim Hoa Coe jin akan segera menyateroni. Apa Ouw Sinshe mampu melawan perempuan jahat itu? Ia merasa kasihan dan segara berkata "Ouw Sinshe, kau sudah berdiam di Ouw tiap kok begini lama, apa kau tidak merasa sebal? Mengapa kau tidak mau pergi pelesir ketempat lain?"
Ceng Goe terkejut. "Aku sedang sakit, mana bisa aku pergi ketempat lain?" jawabnya.
"Tapi Sinshe dapat mengunakan kereta," kata pula Boe Kie. "Dengan menutup jendela kereta dengan tirai supaya tidak masuk angin, kau bisa pergi kemanapun juga"
Tiap kok Ie sian menghela napas. "Anak hatimu mulia sekali," ia memuji. "Dunia sedemikin lebar, dimanapun sama saja. Bagaimana keadaanmu selama beberapa hari ini? Bagaimana dadamu? Apakah hawa dingin masih bergolak di tantianmu?"
"Makin lama hawa itu makin bertambah", jawabnya. "Sudahlah! Biarkan saja. Aka toh sudah tak bisa ditolong lagi."
Untuk beberapa saat Ceng Goe tidak mengatakan suatu apa. "Anak, sekarang aku ingin memberi obat yang akan bisa menolong jiwamu," katanya. "Gunakanlah Tong kwie, Wan cie, Seng tee, Tok ho dan Hong hong, lima macam. Ditengah malam, minumlah obat itu cepat-cepat, dengan menggunakan Coan san ka sebagai penuntun."
Boe Kie kaget. Lima macam bahan obat itu sama sekali tiada sangkut pautnya dengan penyakit yang dideritanya. Bukan saja begitu, sifat kelima macam bahan obat itu malah berbahaya untuk dirinya. Ditambah dengan Coan san ka, bahaya itu jadi makin besar.
"Sinshe, berapa timbangannya?" tanyanya dengan rasa heran.
"Jangan rewel!" bentak Ceng Goe dengan suara gusar. "Aku sudah memberitahukan kau. Sudah cukup. Pergi!"
Si bocah gusar. Semenjak berdiam di Ouw tiap kok, orang tua itu memperlakukannya secara sopan-santun dan mereka sering kali merundingkan soal ketabiban sebagai sahabat. Tak dinyana, hari ini Ceng Goe berlaku begitu kasar terhadapnya. Dengan rasa mendongkol, ia kembali kekamarnya.
Sambil bergulik-gulik dipembaringan ia berkata di dalam hati, "Dengan baik hati aku menasehati supaya kau menyingkir, tapi aku berbalik di hina olehmu. Hm ! ... Kau juga coba memberi obat yang tidak-tidak kepadaku. Apa kau kira aku akan kena diakali?".
Makin lama hatinya jadi makin panas. Ia tak mengerti mengapa si tua begitu berani mati dan memberikannya resep obat yang begitu gila-gilaan. Beberapa lama kemudian, ia merasa lelah dan maramkan kedua matanya. Mendadak, dalam keadaan layap layap, serupa ingatan berkelebat dalam otaknya. Ah! Tong kwie, Wan cie, resep tanpa diberi timbangan obatnya... Dalam dunia tak ada resep yang sedemikian. Aha! Apa tak bisa jadi Tong kwie dimaksudkan kay tong kwie kie? Mungkin! (Tong kwie adalah namanya serupa obat. Tapi "Tong kwie" atau "kay tong kwie kie" juga berarti "harus pulang" )
Sesudah memikir beberapa saat, tiba-tiba ia melompat bangun dan berkata dalam hatinya. "Benar! Resep itu mengandung maksud lain. Dengan Wan cie, ia rupanya ingin menyuruh aku 'cie cay wan hang' (ingatan berada ditempat jauh) atau dengan lain perkataan, ia ingin aku 'ko hoei wan coew' (pergi ketempat yang jauh). Ia menyebutnya Seng tee (tanah hidup) dan Tok ho (hidup sendirian). Mungkin sekali, Seng tee berarti 'Seng louw' (jalanan hidup) dan sesudah mengambil jalanan hidup barulah aku bisa 'hidup sendirian'. Apa arti Hong hang (menjawab angin)? Ouw Sin she maksudkan supaya aku menutup rahasja, jangan sampai 'membocorkan angin'."
"Obat itu harus diminum cepat-cepat diwaktu tengah malam buta dengan menggunakan Coan san ka sebagai penuntun. 'Cepat cepat', 'tengah malam buta', 'Coan san ka' .... Apakah Ouw Sinshd maksudkan, bahwa aku harus cepat-cepat kabur ditengah malam buta dengan menembus jalanan gunung dan tidak boleh mengambil jalanan raya? Tak salah! Itulah tentu maksud yang sebenarnya." (Coan san ka berarti tenggiling. Arti huruf`-huruf itu sendiri ialah 'menembus gunung').
Berpikir begitu, ia segera menghampiri pintu. Sebelumnya membukanya, ia merendek. "Sekarangi musuh belum tiba, tapi mengapa Ouw Sinshe tidak memberitahukan aku secara teang-terangan?" tanyanya didalam hati. "Mengapa ia mengeluarkan cangkeriman itu? Kalau aku tidak dapat menebaknya, bukankah aku bisa celaka? Ah! Sekarang sudah lewat tengah malam, aku mesti menyingkir secepat mungkin."
Walaupun baru berusia belasan tahun, Boe Kie sudah mempunyai jiwa ksatria. Ia ingin segera menyingkir, tapi ia memikiri nasib Ouw Sinshe. Di lain saat ia ingat, bahwa si tabib malaikat tentu lah juga sudah mempunyai pegangan untuk melawan musuh karena sesudah tahu bakal datangnya musuh itu, ia tetap tidak mau menyingkir. Tapi biar bagaimanapun juga, meskipun Ceng Goe sudah memesan supaya ia menutup rahasia, ia tak bisa tidak menolong Siauw Hoe dan puterinya.
Perlahan-lahan ia keluar dari kamarnya dan pergi ke gubuk Siauw Hoe. Ia menepuk-nepuk tangan seraya memanggil manggil dengan suara perlahan. "Kie Kouwkouw .... Kie Kouwkouw ..... bangun!"
Siauw Hoe tersadar "Siapa? Boe Kie ?" tanyanya.
Sesaat itu, sekonyong konyong si bocah merasa sambaran angin yang sangat halus dipunggungnya dan baru saja ia memutar badan, pundak dan pinggangnya sudah kesemutan dan ia roboh tanpa berkutik lagi. Gerakan penyerang itu cepat luar biasa. Di lain saat, iapun sudah merobohkan Siauw Hoe dengan totokan. Dengan bantuan sinar bulan sisir, Boe Kie melihat, bahwa orang itu mengenakan topeng kain hijau.
Ouw Ceng Goe!
Sedang berbagai pertanyaan berkelebat-kelebat dalam otak Boe Kie, tangan kiri si tabib malaikat sudah mencengkeram pipi Siauw Hoe untuk memaksanya membuka mulut, sedang tangan kanannya coba memasukkan sebutir yo wan.
Sebelum pel itu masuk kedalam mulutnya, Siauw Hoe sudah mengendus bebauan yang sangat tak enak. Ia mengerti, bahwa pel itu adalah racun yang sangat hebat, tapi ia tidak berdaya, kaki tangannya tidak bisa bergerak lagi.
Dengan sorot mata putus harapan, ia mengawasi puterinya. "Poet jie !" ia mengeluh di dalam hati. "Ibumu bernasib celaka, kaupun jelek peruntungan. Mulai dari sekarang, ibumu tak bisa merawatmu lagi."
Tiba tiba pada detik yang sangat berbahaya, Boe Kie melompat bangun. Orang itu kaget dan menengok, tapi punggungnya sudah dihantam Boe Kie dengan sekuat tenaga.
Ternyata, sesudah ditotok jalanan darah pada pundak dan pinggangnya, untuk sementara Boe Kie rebah dengan tidak berdaya. Tapi, sebagai ahli waris Cia Soen, selang beberapa saat, ia berhasil membuka jalan darahnya dengan menggunakan Lweekang. Ia melompat bangun dan pada detik yang sangat genting, ia menghantam jalanan darah Kin soe hiat dipunggung Ouw Ceng Goe dengan pukulan Sin liong Pa bwee, yaitu salah satu jurus dari Hang liong Sip pat ciang. Meskipun ia hanya mengenal bagian kulit dari pukulan itu, tapi karena jurus tersebut adalah jurus yang sangat luar biasa dan juga sebab Ouw Ceng Goe sama sekali tidak menduga bakal dibokong cara begitu, maka, begitu lekas pukulan Boe Kie mengenai Kin soe hiat, ia roboh tanpa mengeluarkan suara.
Berbareng dengan robohnya, topeng kain tersingkap separuh dan begitu melihat, Boe Kie mengeluarkan teriakan tertahan. "Ah !"
Mengapa?
Karena muka itu bukan muka Ouw Ceng Goe, tapi muka seorang wanita setengah tua yang berparas cantik.
"Siapa kau?" bentak Boe Kie.
Sesudah terpukul, wanita itu merasakan kesakitan hebat, mukanya pucat pasi, sehingga ia tidak dapat menjawab pertanyaan si bocah.
Buru-buru Boe Kie membuka jalanan darah Kie Siauw Hoe dan berkata. "Kie Kouwkouw, tempelkan ujung pedangmu didadanya, supaya dia tidak bisa berkutik. Aku mau menengok Ouw Sinshe." Ia berkuatir akan keselamatannya Ouw Ceng Goe. Ia menduga bahwa wanita itu adalah konco Kim hoa Coe jin. Jika perempuan jahat itu keburu datang, maka dia dan Siauw Hce serta puterinya pasti akan celaka.
Dengan lari seperti terbang ia pergi ke kamar Ceng Goa dan tanpa banyak rewal, ia memukul pintu yang lantas saja terpentang.
"Ouw Sinshe!" teriaknya, tapi tak ada jawaban. Ia segera mengeluarkan bahan api dan menyulut lilin. Kasur terbuka, tapi orang tua itu tak kelihatan bayang - bayangannya. Melihat kamar itu kosong, hatinya agak lega, karena ia semula menduga bahwa Ouw Ceng Goe sudah dibinasakan. "Ouw Sinshe rupanya diculik musuh," pikirnya.
Baru saja ia mau keluar, di bawah ranjang tiba tiba terdengar suara helaan napas. Ia segera mengangkat ciak-tak (tempat tancapan lilin) dan menyuluhi kolong ranjang. Ia girang bukan main, karena melihat Ouw Ceng Goe rebah disitu dengan kaki tangan terikat. "Ouw Sinshe, jangan khawatir!" katanya dan lalu merangkak ke kolong ranjang untuk menyeretnya keluar.
Ternyata, orang tua itu tidak bisa bicara sebab mulutnya disumbat dengan buah toh dan Boe Kie segera mengorek keluar buah itu. Waktu mau membuka ikatan, ia mendapat kenyataan, kaki tangan Ceng Goe diikat dengan tambang urat kerbau, sehingga ia tidak dapat memutuskannya dan lalu mecari pisau.
"Mana perempuan itu?" Tanya Ceng Goe selagi Boe Kie mau memotong tambang.
"Jangan kuatir, ia sudah ditakluki dan tak akan bisa lari," jawabnya.
"Jangan putuskan dulu tambang ini!" Kata Ceng Goe tergesa. "Lekas bawa dia kemari. Lekas kalau terlambat, aku kuatir tak keburu lagi."
Boe Kie heran. "Mengapa begitu?" tanyanya
"Lekas bawa dia kemari!" bentak orang tua "Tidak!.... Begini saja. Lebih dulu, berikan padanya tiga butir Goe hong Hiat ciat tan. Ambillah dari laci ketiga. Lekas...! Lekas .." Ia berkata begitu dengan paras muka bingung dan pucat.
Boe Kie tahu, bahWa Goe hong Hiat ciat tan adalah pel untuk memunahkan racun dan dibuat dengan menggunakan macam-macam bahan yang sangat mahal harganya. Untuk memunahkan racun yarg sangat hebat, sebutir saja sudah lebih dari cukup. Tapi Ouw Ceng Goe menyuruhnya untuk memberikan tiga butir. Siapa wanita itu?
Ia heran tak kepalang, tapi melihat sikap orang tua itu, ia tidak berani menanya melit-melit. Buru buru ia mengambil pel itu dan berlari-lari ke gubuk Siauw Hoe.
"Lekas telan!" bentaknya sambil menyodorkan tiga butir Goe hong Hiat ciat tan kepada tawanannya.
"Pergi! Aku tak perlu dengan pertolonganmu!" teriak wanita itu. Begitu mengendus bau Goe hong Hiat ciat tan, ia lantas saja mengetahui, bahwa Boe Kie datang dengan membawa obat.
"Ouw Sinshe yang menyuruh aku membawa obat ini," kata Boe Kie dengan mendongkol.
"Pergi!... pergi!..pergi....!" teriak pula wanita itu. Sesudah kena pukulan Boe Kie, teriakannya lemah sekali.
Si bocah bingung dan hanya bisa menebak-nebak. Ia menduga, bahwa waktu mengikat Ceng Goe wanita itu kena senjata racun. Untuk korek keterangan mengenal musuhnya, Tiap kok Ie sian rupanya sengaja memberi obat pemunah kepadanya. Memikir begitu, ia lantas saja menotok jalanan darah Kian tin hiat, sehingga wanita itu tak bisa melawan dan kemudian memasukkan tiga butir pel itu kedalam mulutnya.
Karena suara ribut-ribut, Poet Hwie mendusin dan mengawasi wanita itu dengan perasaan heran.
"Kouw-kouw mari kita membawa dia kepada Ouw Sinshe," kata Boe Kie. Mereka lantas saja mencekal tangan wanita itu yang lalu diseret ke kamar Tiap kok Ie sian.
Begitu mereka masuk, Ouw Ceng Goe menanya "Sudah makan obat?"
"Sudah," jawab Boe Kie.
Paras muka Ceng Goe jadi lebih tenang dan Boe Kie segera memotong tambang yang mengikat kaki tangannya. Sesudah kaki tangannya merdeka, Tian kok Ie sian segera menghampiri wanita itu, membuka kelopak matanya dam memegang nadinya.
"Eh...eh!" katanya dengan suara kaget, "Mengapa kau mendapat luka? Siapa yang sudah melukakan kau?"
Wanita itu menjebi. "Tanya muridmu!" bentaknya.
Ouw Ceng Goe memutar badannya dan menanya Boe Kie : "Apa kau yang memukul?"
"Benar," jawabnya, "waktu dia mau....."
Plok! Plok!
Orang tua itu menggaplok Boe Kie keras keras, sehingga mata si bocah berkunang kunang.
Siauw Hoe menghunus pedang dan membentak: "Kurang ajar!" Tapi, tanpa menghiraukannya, Ceng Goe lalu menanya wanita itu: "Bagaimana rasanya dadamu? Aku pasti akan menyembuhkan kau." Sikap dan perkataannya berbeda jauh, bagaikan langit dan bumi dengan kebiasaan Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe. Tapi si wanita tetap tidak mengubris dan terus bersikap tawar.
Dengan rasa heran yang sangat besar, Boe Kie mengawasi kejadian itu sambil mengusap-usap pipinya yang bengkak.
Dengan sikap menyayang Tiap kok Ie sian lalu membuka jalanan darah si wanita, mengurut-urutnya, mengambil beberapa macam daun obat yang lalu dimasukkan kedalam mulut wanita itu, memondongnya dan menaruhnya diatas pembaringan, akan kemudian menyelimutinya dengan selimut tebal. Semua itu dilakukan si-tua secara lemah lembut dan penuh kecintaan.
Boe Kie menggeleng-gelengkan kepala. Benar benar otaknya pusing.
Sesudah berdiri beberapa saat didepan pembaringan, Ceng Goe berkata dengan suara halus: "Sekarang selain racun, kaupun mendapat luka. Jika aku dapat menyembuhkan, kita jangan menjajal-jalal kepandaian lagi."
Wanita itu tertaWa. "Apa artinya luka ini?" katanya. "Tapi apakah kau tahu, racun apa yang ditelan olehku? Jika kau bisa menyembuhkan aku, aku akan mengaku kalah. Hm! .... Tetapi belum tentu kepandaian Ie sian (tabib malaikat atau tabib dewa) bisa menandingi kepandaian Tok sian (si dewi racun)." Sehabis berkata begitu, ia bersenyum dan senyumnya itu menggairahkan.
Dalam usia belasan tahun, Boe Kie belum mengerti soal percintaan. Tapi biarpun begitu, ia bisa merasakan, bahwa diantara kedua orang tua itu terdapat kasih sayang yang tiada batasnya.
"Semenjak sepuluh tahun berselarg, aku sudah mengatakan, bahwa Ie Sian tak akan bisa menandingi Tok sian." kata Ceng Goe. "Tapi kau tak percaya. Kau terlalu suka menjajal ilmu. Aku sungglth tidak mengerti, mengapa kau begitu gila sehingga kau meracuni diri sendiri. Sekarang aku mengharap, bahwa Ia sian akan menang dari Tok Sian. Jika aku gagal, akupun tak sudi hidup sendirian didalam dunia."
Wanita itu bersenyum pula. "Jika aku meracuni orang lain, kau bisa berlagak kalah." katanya. "Ha ha!... Dengan meracuni diri sendiri, kau tentu akan mengeluarkan seantero kepandaianmu."
Ceng Goe mengusap-ngusap rambut wanita itu dan berkata deagan suara nyaring: "Hatiku sangat berkuatir. Sudahlah ! Jangan kau bicara banyak banyak. Meramkan matamu dan mengaso. Tapi ingatlah. kalau dengan diam-diam kau mengerahkan Lweekang untuk mencelakakan diri sendiri, kau berbuat curang dalam pertandingan ilmu ini."
"Aku tidak begitu rendah," kata wanita itu sambil tertawa. Ia segera memeramkan kedua matanya dan pada bibirnya tersungging senyuman.
Untuk beberapa saat, kamar itu sunyi-senyap. Siauw Hoe dan Boe Kie menyaksikan itu semua dengan mata membelalak. Tiba-tiba Tiap kok Ie sian memutar badan dan menyoja kepada Boe Kie. "Saudara kecil," katanya, "dalam kebingungan aku telah berbuat kesalahan terhadapmu. Aku harap kau sudi memaafkan."
"Sedikitpun aku tidak mengerti, apa artinya ini semua," kata Si bocah dengan mendongkol.
Sekonyong-konyong si tua mengangkat tangan kanannya dan menggapelok dua kali pipi seniri keras-keras. "Saudara, kecil," katanya Pula. "Kau adalah tuan penolongku. Hanya karena aku sangat memikiri keselamnatan isteriku, maka aku sudah berbuat kedosaan terhadapmu."
"Dia..... dia isterimu?" menegas si bocah dengan suara heran.
Ceng Goe mengangguk, "Benar, dia isteriku!" jawabnya.
Melihat sikap orang tua itu dan mendengar bahwa wanita itu adalah isterinya, semua kedongkolan Boe Kie lantas menghilang.
Ceng Goe mengambil kursi dan lalu mempersilakan Siauw Hoe dan Boe Kie duduk, "Kalian tentu merasa heran melihat kejadian dihari ini." katanya, "Baiklah! Aku akan menceritakan latar belakangnya tanpa tedeng tedeng. Isteriku seorang she Ong namanya Lan Kouw. Kami berdua adalah saudara seperguruan. Pada waktu kami masih berada dalam rumah perguruan, disamping belajar ilmu silat, aku mempelajari ilmu ketabiban, sedang dia mempelajari Tok soet (ilmu menggunakan racun). Menurut pendapatnya, tujuan belajar ilmu silat adalah untuk membunuh orang dan tujuan Tok soet juga untuk membunuh orang. Boe soet (Ilmu silat) dan Tok soet merupakan dua macam ilmu yang berdiri berendeng. Maka itu, jika seorang mahir dalam Boe soet dan Tok soet, maka kepandaiannya bertambah dengan satu kali lipat. Ilmu ketabiban adalah untuk menolong manusia, sehingga pada hakekatnya, ilmu ketabiban dan ilmu silat bertentangan satu sama lain. Itulah jalan pikiran isteriku. Tapi karena bakatku terletak dalam ilmu ketabiban, aku tak dapat mengubah kesukaan itu."
"Meskipun apa yang dipelajari kami berdua, perhubungan kami sangat erat dan diantara kami telah timbul perasaan cinta. Belakangan, Soehoe telah menikahkan kami berdua. Perlahan-lahan nama kami mulai terkenal dalam dunia kangouw, sehingga banyak orang memberi gelaran Ie Sian kepadaku dan julukan Tok Sian kepada isteriku. Kepandaiannya dalam soal racun sungguh-sungguh lihay. Ia sudah melebihi kepandaian Soehoe sendiri dan mungkin sekali didalam dunia sukar dicari tandingannya. Bahwa dia telah medapat gelaran Sian atau Dewi, merupakan bukti nyata dari kepandaiannya.
"Dasar aku yang tolol, yang bertindak tanpa dipikir lagi. Berapa kali isteriku telah meracuni orang, dan orang itu telah datang kepadaku untuk meminta pertolongan. Tanpa memikir panjang aku segera menolong mereka. Pada waktu itu hatiku malah merasa senang. Sedikitpun aku tidak merasa bahwa tindakanku itu sangat menyinggung perasaan isteriku. Aku sama sekali tak ingat, bahwa jika menyembuhkan orang yang diracuni olehnya, maka itu berarti bahwa kepandaian Ie sian adalah lebih unggul dari pada Tok sian"
Siauw Hoe menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas. Sepasang suami isteri itu benar benar manusia aneh.
Sementara itu Ceng Goe melanjutkan penuturannya. "Isteriku sangat mencintai aku. Di dalam dunia sukar dicari tandingannya. Tapi aku sendiri? Dengan di dorong oleh napsu mau menang, berulang kali aku menyinggung perasaannya. Cobalah kalian pikir. Meskipun dia patung, satu waktu dia bisa habis kesabarannya. Akhirnya aku tersadar. Aku bersumpah, bahwa aku tak akan menolong lagi orang yang telah diracuni olehnya. Lantaran begitu, lama-lama orang memberi gelaran Kian sie Poet kioe atau melihat kebinasaan tak sudi menolong padaku. Melihat aku berubah, isterikupun merasa senang. Tapi baru saja beberapa tahun aku mengambil jalan yang benar, muncullah peristiwa adik perempuanku."
"Kehormatan adikku telah dilanggar oleh bangsat Sian Ie Thong dari Hwa san pay dan akhirnya binasa dalam tangannya. Tapi, samoai pada detik mau menghembuskan napasnya yang penghabisan, adikku masih mencintai bangsat itu. Pesannya yang terakhir supaya aku berjanji, bahwa selama hidup aku akan menolongnya, jika ia memerlukan pertolongan. Karena melihat adikku tidak akan mati dengan mata meram jika aku tidak meluluskan permintaannya, maka mau tidak mau, dengan hati penasaran, aku terpaksa memberikan janjiku itu."
"Diluar tahuku, isteriku telah menaruh racun yang sangat hebat dibadan Sian Ie Thong. Racun itu yang jalannya sangat perlahan, akan merusak seluruh tubuh bangsat yang sesudah menderita hebat selama tiga tahun, akan mampus dengan dagingnya membusuk. Sian Ie Tong mengetahui janjiku yang diberikan kepada adikku. Begitu melihat keadaannya berbahaya, ia segera meminta pertolongan kepadaku. Hai!.. Otakku benar-benar pusing. Kalau aku menolong, aku menyinggung isteri sendiri. Kalau tidak menolong aku melanggar janji."
"Sian Ie Tong adalah Ciangboenjin Hwa san pay. Ilmu silatnya tinggi dan dalam kalangan kangouw, ia dikenal sebagai seorang pendekar," kata Siauw Hoe. "Sungguh tak dinyana dia sebenarnya manusia rendah. Ouw Sinshe sesudah adikmu binasa dalam tangannya, kaupun tak perlu menolong dia. Apa pula adikmu yang sudah meninggal dunia tidak tahu lagi urusan itu."
"Tidak!" membantah Boe Kie. "Kie Kouwkouw, kau salah. Roh seorang yang sudah meninggal dunia masih bisa mengetahui apa yang terjadi didalam dunia," Waktu mengatakan begitu ia ingat kedua orang tuanya. Ia mengharap supaya roh ayah dan ibunya masih tetap berada dilam baka dan nanti kalau ia sendiri menginggal dunia, ia akan bisa berkumpul lagi dengan kedua orang itu.
Tiap kok ie sian menghela napas. "Apa yang terjadi dialam baka tidak diketahui oleh manusia," katanya.
"Pada waktu itu, jalan pikiranku adalah begini: jika aku berdosa terhadap isteriku, dialam kemudian aku masih dapat memperbaikinya. Tapi jika aku melanggar janji ... hai!... Selama hidupnya, adikku selalu menderita... Bagaimana aka tega untuk menyakiti rohnya?"
"Demikianlah, dengan menggunakan seluruh kepandaian, aku akhirnya berhasil menyembubkan sibangsat Sian Ie thong. Isteriku tidak ribut-tibut lagi, ia hanya berkata dengan suara dingin: Bagus. Kepandaian Tiap kok ie sian Ouw Ceng Goe benar-benar tinggi. Tapi Tok Sian Ong Lan Kauw tak sudi menakluk. Sekarang marilah kita menjajal ilmu, untuk mendapat keputusan, Ie Sian atau Tok sian yang lebih tingggi! Mati matian aku memohon maaf, tapi ia tidak meladeni."
"Beberapa tahun isteriku memperdalami ilmunya dan telah maracuni beberapa orang Kangouw yang ternama.Sesudah meracuni, ia memberi petunjuk supaya orang-orang itu datang kepadaku. Tok soet isteriku ternyata sudah banyak lebih lihay, sehingga tempo-tempo aku tidak mendapat jalan untuk mengobati orang yang kena racunnya. Ditambah lagi dengan rasa sungkan untuk membangkitkan amarah isteriku, maka dalam menghadapi keracunan yang hebat, sudah gagal satu dua kali, aku menghentikan usahaku dan mengatakan saja bahwa aku tak mampu menolong lagi."
"Tapi diluar dugaan, sikapku bahkan menambah kegusarannya. Ia menuduh bahwa aku sudah memandang rendah kepadanya dan bahwa aku sudah sengaja tidak mau mengeluarkan seantero kepandaianku. Dengan gusar ia meninggalkan Ouw tiap kok dan mengatakan bahwa biar apapun yang terjadi, ia takkan kembali kepadaku."
"Selama berada diluar, berulang kali ia meracuni orang dan menyuruh orang-orang itu datang kepadaku. Kependaiannya makin tinggi, sehingga tempo-tempo aku tak tahu, siapa yang sudah meracuni penderita yang meminta pertolonganku. Dalam menghadapi penderita yang seperti itu, dengan menganggap, bahwa dia bukan diracuni oleh isteriku, kadang-kadang aku memberi pertolongan dan menyembuhkannya. Belakangan baru kutahu, bahwa orang itu sebenarnya telah diracuni oleh isteriku. Demikianlah perhubungan kita jadi makin renggang."
"Namaku Ceng Coe, atau Kerbau Hijau, sebenarnya lebih tepat jika nama itu diganti dengan 'Kerbau Tolol'. Entah kebaikan apa yang sudah kuperbuat, sehingga aku dicintai oleh seorang wanita begitu mulia seperti isteriku itu dan hanyalah karena ketololanku, maka ia telah meninggalkan rumah dan hidup terlunta-lunta di luaran. Mengingat bahayanya dunia Kangouw, setiap saat, setiap detik, hatiku selalu memikiri keselamatannya"
Berkata sampai disitu, paras muka Tiap kok Ie sian kelihatan berduka sekali.
Siauw Hoe melirik Ong Lan Houw yang rebah dipembaringan. "Didalam dunia, siapa yang berani melanggar Ouw Hoejin?" katanya dalam hati. "Sudah bagus kalau orang lain tidak dilanggar olehnya. Sungguh lucu! Ouw Sinshe kelihatannya sangat takut pada isterinya."
Sesudah berdiam sejenak, Ceng Goe berkata pula: "Pada tujuh tahun berselang, sepasang suami isteri yang sudah berusia lanjut kena racun hebat dan mereka datang disini untuk meminta pertolongan. Mereka adalah majikan pulau Leng coa to, di laut Tong hay. Mereka memiliki ilmu silat yang luar biasa dan tingkatan merekapun tinggi sekali. Puluhan tahun berselang, nama Kim Hoa Popo dan Gin yap Sianseng menggetarkan Rimba Persilatan."
"Aku tidak berani lantas menolak secara tegas. Tapi cobalah kalian pikir, cara bagaimana aku berani membuat kesalahan lagi? Aku lalu memeriksa nadi mereka dan mengatakan, bahwa Gin-yap Sianseng sudah tak dapat diobati lagi, sedang kim-hoa Popo hanya kena racun enteng dan ia akan bisa menyembuhkan dirinya dengan menggunakan Lweekang sendiri. Aku diberitahukan, bahwa yang meracuni mereka adalah seorang Pek to pay (Partai Unta putih) yang sangat lihay di wilayah See hek (Wilayah barat) dan tiada sangkut pautnya dengan isteriku. Tapi sesudah sesumbar bahwa selain anggauta Beng kauw, aku tak akan menolong orang lagi, maka aku tak bisa menjilat ludah sendiri hanya karena yang minta tolong orang jempolan. Nyonya tua itu memohon mohon supaya aku suka menolong seorang saja, yaitu suaminya, dan untuk itu, ia menjanjikan hadiah yang sangat besar. Kalian harus mengetahui
bahwa di dalam Rimba persilatan, Gin yap sian seng dan Kim hoa Popo sangat cemerlang dan bahwa mereka sudah mau membuka mulut untuk meminta pertolonganku, bagiku sudah merupakan muka yang sangat besar (kehormatan besar). Tapi demi kepentingan kami berdua suami isteri aku tetap tidak mau menolong."
"Untung juga mereka tidak menggunakan kekerasan. Sesudah yakin tak ada harapan, mereka pergi dengan perasaan duka. Aku mengerti bahwa karena penolakan-penolakanku untuk mengobati orang, aku sudah menanam banyak bibit permu suhan. Tapi kecintaan dan kerukunan antara aku dan isteriku masih lebih panting daripada kepentingan orang lain. Bagaimana pendapat kalian? Bukankah pendirian itu pendirian benar?"
Siauw Hoe dan Boe Kie membungkam, tapi didalam hati mereka tentu saja sangat tidak menyetujui pendirian yang gila itu.
Sementara itu, Ouw Ceng Goe sudah berkata pula: "Waktu Gie Coen datang kesini paling belakang ia mengatakan bahwa di tengah jalan dia bertemu dengan seorang nenek yang memberitahukan bahwa, sesuai dengan dugaanku, Gin Yap Sian seng sudah meninggal dunia karena racun itu. Sesudah Gie Coen berlalu, isteriku mendadak pulang. Melihat Boe Kie, ia segera menggunakan bie-yo (obat tidur), sehingga saudara kecil pules nyenyak semalam suntuk."
"Ah! Kalau begitu kerjaan Ong Lan Kouw," kata si bocah didalam hati. "Hari itu aku menduga, bahwa aku sakit."
Sesudah melirik isterinya, Ceng Goe melanjutkan penuturannya: "Pulangnya isteriku tentu saja sangat menggirangkan. Iapun sudah mendengar bahwa Kim-Hoa Popo telah datang lagi di Tiong goan, sehingga biarpun masih mendongkol terhadapku, buru-buru ia pulang untuk memberitahukan hal itu kepadaku. Atas kemauannya, aku berpura-pura sakit cacar dan menolak untuk menemui orang. Kami mengunci diri di dalam kamar dan memikiri siasat untuk menghadapi Kim Hoa Popo. Ilmu silat nyonya tua itu terlalu lihay, sehingga tak mungkin kami melarikan diri. Tapi ia mempunyai adat yang aneh. Jika ia ingin membunuh seseorang, serangannya dibatasi dalam tiga kali. Kalau orang itu bisa menyelamatkan diri dari ke tiga tiga kali serangannya, maka ia akan mengampuninya."
"Selang beberapa hari kemudian datanglah Sie Kong Wan, Kan Ciat, kau sendiri, Kie Kouwnio dan yang lain-lainnya sampai limabelas orang."
"Begitu mendengar luka kalian, aku segera mengetahui, bahwa Kim Hoa Popo sengaja mau mencoba-coba aku, apakah aku masih tetap pada pendirianku, yaitu tidak mau menolong siapapun jua, kecuali murid Beng kauw. Luka kelima belas orang itu rata-rata luka yang sangat aneh. Aku adalah seorang yang keranjingan ilmu ketabiban. Begitu melihat luka atau penyakit aneh, tanganku lantas saja gatal dan ingin menjajal kepandaianku. Sekarang Kim Hoa Popo mengirim bukan satu, tapi Limabelas orang. Kalian dapatlah membayangkan perasaanku. Tapi akupun mengerti maksud nenek itu, jika ada seseorang saja yang diobati olehku, celakalah aku. Ia pasti akan menyiksa aku ratusan kali lipat lebih hebat daripada orang yang diobati itu. Lantaran begitu, sambil menahan keinginan hati, aku tetap berpeluk tangan. Belakangan sesudah Boe Kie menanyakan pendapatku andaikata orang yang terluka adalah seorang murid Beng kauw, barulah aku memberi petunjuk. Tapi aku sangat berhati-hati dan sengaja menerangkan, bahwa Boe Kie adalah murid Boe tong pay dan tidak bersangkut paut dengan diriku."
"Melihat bahwa dengan pertolongan Boe Kie, urang-orang itu mulai sembuh dengan cepat, Lan Houw kembali merasa tidak senang. Setiap maim, diam-diam ia menaruh racun dipiring mangkok mereka. Dengan demikian, lagi-lagi ia bermaksud untuk mengadu kepandaian denganku. Kelimabelas orang itu rata rata adalah jago-jago Rimba Persilatan. Bagaimana ia bisa menyateroni tanpa diketahui? Sebelum menyebar racun, lebih dulu ia menggunakan Obat tidur."
Siauw Hoe dan Boe Kie saling mengawasi. Sekarang baru mereka mengerti, mengapa pada malam itu, Siauw Hoe begitu sukar disadarkan, sehingga Boe Kie sampai perlu menggoyang-goyangkan badannya.
"Selama beberapa hari ini, kesehatan Kie Kouw nio pulih dengan cepat, seperti juga racun isteriku tidak mempan lagi," kata pula Ceng Goa. "Sesudah menyelidiki, ia mengerti bahwa rahasianya sudah diketahui Boe Kie, maka ia segera mengambil keputusan untuk mengambil jiwa Boe Kie. Hai!... Kata orang sungai dan gunung lebih mudah diubah daripada adat manusia. Aku harus mengakui, bahwa aku, Ouw Ceng Goe tidak cukup setia kepada isteriku. Sebenarnya aku sudah mengambil keputusan uatuk berpeluk tangan, tapi karena Boe Kie telah menasehati aku supaya aku menyingkir ketempat lain, maka hatiku lantas saja menjadi lemah. Aku segera memberi resep istimewa padanya dengan menyebutkan Tong wie, Wan sie, Tok ho dan beberapa macam obat lain. Aku tidak dapat bicara terus terang, karena Tan Kouw berada ddampingku."
"Tapi isteriku adalah seorang yang sangat cerdas dan juga mengenal ilmu ketabiban. Mendengar resep yang gila itu, sesudah mengasah otak beberapa lama, ia segera dapat menangkap maksudku yang sebenarnya. Ia lalu mengikat kaki tanganku dan mengambil beberapa macam racun yang lalu ditelannya. "Soeko," katanya. "Aku dan kau sudah menjadi suami isteri selama dua puluh tahun lebih. Lautan bisa kering, batu bisa haneur, tapi kecintaan kita tak akan bisa berubah. Tapi kau selamanya memandang rendah kepada Tok toetku. Setiap orang yang diracuni olehku, selalu dapat di tolong olehmu. Sekarang aku sendiri menelan racun. Jika kau dapat menolong jiwaku aku takluk terhadapmu. Bukan main rasa kagetku, berulang ulang aku minta ampun dan mengaku kalah. Tapi ia lalu menyumbat mulutku dengan buah tho, sehingga aku tidak dapat bicara lagi. Kejadian selanjutnya sudah diketahui kalian. Hai! .... Boe Kie, kau berdosa terhadapku. Kau membalas kebaikan dengan kejahatan. Aku menasehati kau untuk menyingkirkan tapi kau berbalik melukakan isteriku yang tercinta." seraya berkata begitu ia menggeleng-gelengkan kepala.
Siauw Hoe dan Boe Kie saling mengawasi tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata. Mereka mendongkol tercampur geli. Sedang suami isteri itu benar benar aneh dan sukar dicari tandingannya didalam dunia selebar ini. Karena rasa cinta yang besar Ouw Ceng Goe takut terhadap isterinya. Dilain pihak, Ong Lan Kouw terus menindih suaminya dan akhirnya ia bahkan meracuni diri sendri.
Sesudah menggelengkan kepala, Tiap kok ie sian berkata pula: "Cobalah kalian pikir: Apa yang harus diperbuat olehku? Kalau sekarang aku berhasil menyembuhkannya, itu akan berarti, bahwa kepandaianku lebih unggul dari pada kepandaiannya dan Lan Kouw tentu akan tetap merasa kurang senang. Jika aku gagal, jiwanya melayang. Hai! Aku mengharap Kim hoa Popo cepat-cepat datang supaya aku lekas-lekas mampus agar jangan merasakan penderitaan ini lebih lama lagi."
Tiba tiba serupa ingatan berkelebat dalam otak Boe Kie. "Racun apa yang ditelan Soebo?" to nyanya. "Bagaimana mengobatinya?" (Soebo-Isteri dari seorang guru). Sambil berkata begitu, ia menggoyang-goyangkan tangan, sebagai isyarat supaya Ceng Goe tidak menjawab dengan sebenarnya.
Ceng Goe melirik isterinya yang sedang tidur menghadap kedalam. Sebagai seorang yang sangat pintar, ia segera mengerti maksud bocah itu.
"Selama beberapa tahun kepandaian isteriku sudah maju jauh, sehingga aku tidak dapat menebak racun apa yang ditelannya," jawabnya. "Dan sebelum mengetahui racunnya, aka tentu tak dapat mengobatinya."
Selagi orang tua itu menjawab pertanyaannya, dengan jari tangan Boe Kie menulis huruf-huruf yang berbunyi begini diatas meja: "Beritahukanlah aku dengan tulisan". Selagi menulis, mulutny berkata. "Kalau begitu Soebo tak bisa diobati lagi"
"Isteriku sendiri pasti tahu cara mempunahkan racun itu," kata Ceng Goa. "Tapi aku mengenal adatnya. Biarpun mati, ia tak nanti memberitahukan kepada kita." Waktu berkata begitu, dengan telunjuknya ia menulis diatas meja. Racun Sam ciong Sam co. Sam ciong ialah kelabang, ular tanah dan laba-lain beracun, Sam co terdiri dari Cin po co, Toan chung co dan Siauw houw koen. Sesudah itu ia menulis juga resep obat. (Sam ciong Tiga macam binatang. Sam-co Tiga macam rumput).
Boe Kie mengangguk dan lalu menulis pula diatas meja: "Kau telanlah Sam ciong Sam co. Sesudah kau meracuni diri sendiri, aku yang akan menolong"
Tiap kok Ie sian terkejut, tapi ia segera dapat menangkap maksud Boe Kir. "Jalan ini sangat berbahaya," pikirnya. "Tapi karena tak ada lain jalan biarlah aku mencoba secara untung untungan."
Sementata itu Boe Kie sudah berkata pula. "Ouw Sinshe, dengan memiliki kepandaian yang begitu tinggi, apakah bisa jadi kau tak tahu racun apa yang sudah ditelan Soebo?"
"Menurut dugaanku, ia telah menelan racun Sam ciong Sam-co," jawabnya. "Sam ciong bersifat "im" (dingin), sedang Sam-co besifat "yang" (panas). Jangankan sampai enam macam, satu macam saja sudah sukar untuk diobati. Jika aku menggunakan obat yang sangatnya panas untuk mempunahkan racun binatang yang bersifat dingin, maka racun rumput yang panas akan menjadi jadi. Dan begitu juga sebaliknya. Tubuh manusia yang terdiri dari darah daging, tak akan bisa bertahan terhadap enam rupa racun yang hebat itu." Ia mengibas tangannya dan berkata pula: "Kalian pergilah! Manakala Lan Kouw binasa, akupun tak bisa hidup sendirian didalam dunia."
"Kami harap Sinshe bisa menyayang diri dan coba membujuk Soebo," kata Boe Kie.
Ceng Goe menghela napas. "Kalau dia bisa di bujuk, kejadian hari ini boleh tak usah terjadi," Jawabnya dengan suara putus harapan.
Siauw Hoe dan Boe Kie lantas saja meninggalkan kamar itu.
Sesudah mereka berlalu, Tiap kok Ie sian segera menotok jalanan darah, dipinggangnya dan pinggang isterinya. "Soe-moay," katanya dengan suara parau, "suamimu tak mempunyai kemampuan dan tak dapat memunahkan racun Sam ciong Sam co. Jalan satu-satunya yalah mengikuti kau kedunia baka untuk menyambung perjodohan kita," ia merogoh saku isterinya dan mengeluarkan beberapa bungkus obat, yang sesuai dengan dugaannya, berisi Sam ciong Sam co.
Karena ditotok, tubuh Lan Kouw tidak bisa berkutik, tapi mulutnya masih bisa bicara. "Soeko, tak boleh kau makan racun!" teriaknya dengan kaget.
Sang suami tidak meladeni. Ia membuka bungkusan bubuk racun yang lalu dimasukkan kedalam mulutnya dan ditelan dengan bantuan air.
Paras muka Lan Kouw pucat pasti. "Soeko?" jeritnya. "Kau gila! Mengapa begitu banyak? Racun sebanyak itu dapat membinasakan tiga manusia."
Tiap kok Ie skin tertawa dingin. Ia duduk menyender dikursi disamping kepala ranjang. Sesaat kemudian, perutnya seperti disayat ratusan pisau dan ia mengerti, bahwa Toan-chung co (Rumput memutuskan usus) sudah mulai bekerja. Tak lama lagi, lima racun yang lain juga turut mengamuk dan penderitaan Ceng Goe tak mungkin dilukiskan dengan perkataan.
"Soeko! Racun itu ada pemunahnya!" teriak Lan Kouw.
Sang suami menggigil, giginya bercatrukan dan ia berkata sambil menggelengkan kepala : "Aku... tak....percaya...."
"Lekas makan Giok liong Souw hap san!" teriak si isteri. "Gunakan jarum untuk membuyarkan racun!"
"Apa gunanya?" kata Ceng Goe.
Sekarang nyonya itu menangis, "Racun yang ditelan olehku sangat sedikit," katanya: "Kau makan terlalu banyak. Oh Soeko!... Lekaslah tolong jiwamu.... Kalau terlambat.... tak keburu lagi...."
"Aku mencintai kau dengan segenap jiwa," kata sang suami. "Tapi kau sendiri tak hentinya mengajak aku mengadu ilmu. Aku merasa, hidup lebih lama tiada artinya .... aduh!: ... aduh!! Ia bukan berpura-pura, ketika itu racun ular dan lawa lawa sudah mulai menyerang jantung. Badannya bergoyang-goyang dan dilain detik, ia sudah tak ingat orang.
Semua kejadian itu didengar jelas oleh Siauw Hoe dan Boe Kie yang menunggu diluar pintu. "Soeko! Soeko!" Lan Kouw sesambat. "Akulah yang bersalah... Kau tidak boleh mati....aku tak akan mengajak kau mengadu ilmu lagi"
Sekarang Boe Kie menganggap bahwa sudah tiba waktunya untuk ia turun tangan. Ia menerobos masuk dan bertanya: "Soebo... lekas! Lekas! beritahukan cara menolong Soehoe!"
Lan Kouw girang tak kepalang. "Lekas berikan Giok liong Souw hap san kepadanya!" teriaknya. "Lekas! Ambil jarum emas dan tusuklah jalan darah Yong coan hiat dan kioe bwee hiat dan cepat!"
Pada detik itu, diluar kamar sekonyong-konyong terdengar suara batuk-batuk. Ditengah malam buta, suara itu membangunkan bulu roma. Kie Siauw Hoe melompat masuk, paras mukanya pucat bagaikan kettas. Sambil melompat, ia berkata dengan suara heran :"Kim Hoa Popo...."
Hampir berbareng dengan perkataan popo tirai bergoyang dan diambang pintu berdiri seorang nenek yang tangannya mencekal satu nona cilik yang berparas sangat cantik.
Nenek itu memang bukan lain daripada Majikan Pulau Leng coa to, Kim Hoa Popo. Melihat Ceng Goe mencekal perut dengan paras muka bersemu hitam dan berada dalam keadaan pingsan, ia terkejut dan bertanya: "Ada apa?"
Lan Kouw menangis keras, "Soeko! Soeko!" jeritnya. "Mengapa kau meracuni diri sendiri?"
Kedatangan Kim Hoa Popo di wilayah Tiong goan mengandung dua maksud. Pertama untuk mencari musuh yang telah meracuni suaminya dan kedua untuk memberi hukuman kepada Ouw Ceng Goe.. Tak dinyana, ia bertemu Tiap kok Ie sian yang sudah hampir mati. Sebagai seorang ahli dalam ilmu menggunakan racun, begitu melihat paras muka Ceng Goe dan Lan Kouw, ia mengetahui, bahwa jiwa mereka sukar untuk di tolong lagi. Ia menduga, bahwa Ceng Goa sudah menelan racun karena takut hukuman yang mungkin dijatuhkan olehnya dan dengan adanya dugaan itu, rasa sakit hatinya lagtas saja menghilang. Ia menghela napas dan sambil menarik tangan si nona cilik, ia berjalan keluar. Dilain saat, suara batuk batuk terdengar diluar rumah, dalam jarak puluhan tombak. Kecepatan bergeraknya nenek sungguh sukar dicari tandingannya.
Sesudah Kim hoa Popo berlalu, Boe Kie meraba dada Ceng Goe yang jantungnya masih mengetuk dengan perlahan.
Buru-buru ia mengambil Giok long Souw hap san yang lalu dicekukkan kemulut orang tua itu dan kemudian mengambil jarum emas untuk menusuk Yong coan hiat dan Kioe bwee hiat, supaya hawa beracun bisa keluar dari lubang tusukan. Sesudah menolong sang Soehoe, barulah ia menolong Soebo.
Setengah jam kemudian, perlahan-lahan Tiap kok ie sian tersadar. Rasa syukur dilukiskan, ia menaagis dan berkata "Saudara kecil! kau adalah tuan penolong kami yang sudah menolong jiwa kami berdua."
"Sekarang kalian boleh tak usah berkuatir lagi." kata Boe Kie. "Kim hoa Popo yang menduga kalian pasti akan binasa, sudah berlalu tanpa mengatakan sepatah kata"
"Tapi aku masih tetap berkuatir," kata sang Soebo. "Kim hoa Popo adaiah seorang yang sangat berhati-hati. Biarpun hari ini ia sudah pergi, dilain hari ia pasti akan datang pula untuk menyelidiki. Kami berdua harus menyingkirkan diri. Saudara kecil, aku ingin meminta pertolonganmu. Buatlah dua buah kuburan kosong dan tulisilah nama kami diatas batu nisan." Si bocah mengangguk sebagai tanda ia akan melakuknn permintaan itu.
Ceng One dan Lan Kouw segera berkemas dan malam itu juga, dengan menumpang sebuah kereta keledai, mereka berangkat meninggalkan Ouw tiap kok. Boe Kie mengantar mereka sampai di mulut selat. Sesudah berkumpul dua tahun lebih dan sekarang meski berpisahan secara mendadak, Ceng Goe dan Boe Kie merasa sangat terharu. Sambil mengangsutkan sejilid buku tulisan tangan kepada si bocah, orang tua itu berkata. "Boe Kie, semua pelajaranku sudah tercatat dalam buku ini. Aku menghadiahkannya kepadamu. Aku merasa sangat menyesal bahwa racun Hian beng Sin ciang dalam tubuhmu masih belum dapat disingkirkan. Aku mengharap, bahwa sesudah mempelajari buku ini, kau sendiri akan mendapat jalan untuk mempunah racun itu. Dengan berkah Tuhan, dihari kemudian kita masih bisa bertemu lagi"
Sambil menghaturkan banyak terima kasih, Boe Kie menerima hadiah itu.
"Boe Kie," kata Lan Kouw, "kau bukan saja sudah menolong jiwa kami, tapi juga sudah mengakurkan kami berdua suami isteri. Menurut pantas, akupun harus memberikan semua pelajaran kepadamu.. Hanya sayang apa yang dipelajari olehku ada ilmu ilmu meracuni manusia yang tiada faedahnya. Aku hanya dapat memohon pada Tuhan Yang Maha Esa, supaya kau sembuh dalam tempo agar dihari kemudian aku masih bisa membalas sedikit budimu."
Demikianlah, dengun rasa duka, mereka berpisahan.
Sesudah kereta itu tak kelihatan bayangan-bayanganya lagi, barulah Boe Kie kembali kerumah Ceng Goe yang sudah kosong. Pada esokan paginya, ia segera membuat dua buah kuburan disamping rumah dan kemudian memanggil tukang batu untuk mendirikan bong pay (batu nisan). Diatas sebuah bong pay tertulis. "Kuburan Tiap kok Ie sian, Ouw Sinshe, Ceng Goe", sedang dilain bong pay tertulis. "Kuburan Nyonya Ouw, Ong sie"
Kan Ciat, Sie Kong Wan dan yang lain-lain percaya, bahwa kedua suami isteri itu telah meninggal dunia karena sakit cacar.
Sesudah pengacaunya berlalu, dengan diobati Boe Kie, semua orang sembuh dengan cepat sekali. Dalam sepuluh hari, mereka semua sudah berlalu dengan menghaturkan banyak terima kasih.
Selama beberapa hari, Boe Kie memusatkan seluruh perhatiannya kepada buku yang diberikan oleh Tiap kok ie sian. Ia mendapat kenyataan bahwa isi buku itu benar-benar hebat, berisi resep-resep luar biasa dan macam-macam cara untuk mengobati berbagai penyakit yang aneh-aneh. Sungguh tak malu Ouw Ceng Goe mendapat gelaran Ie sian. Tapi sesudah mempelajari delapan sembilan hari, ia masih juga belum dapat membaca Keterangan tentang cara mengusir racun Hian beng Sin ciang. Ia memikir bulak-balik, mengasah otak Siang malam, tapi tetap tidak berhasil. Ia jadi putus harapan.
Hari itu, dengan perasaan tertindih ia jalan jalan diluar rumah. Sambil mengawasi keduaku kuburan kosong itu, ia berkata dalam hatinya: "Setahun lagi, siapakah yang akan mengubur mayat ku?" Mengingat begitu, hatinya sedih dan air mata nya mengucur.
Sekonyong-konyong dibelakangnya terdengar suara batuk-batuk. Ia kaget, dan memutar badannya. Orang yang berdiri dibelakangnya ternyata bukan lain daripada Kim hoa Popo yang sedang mencekal tangan sigadis kecil
"Anak kecil, pernah apakah kau dengan Ouw Ceng Goe?" tanya si nenek. "Mengapa kau menangis didepan kuburannya ?"
Jawab Boe Kie. "Aku kena racun Hian beng Sin ciang . . . ."
Si nenek mengangsurkan tangannya dan memegang nadi Boe Kie. "Siapa yang memukul kau?" tanyanya dengan suara heran.
Boe Kie menggelengkan kepala. "Entahlah," Jawabnya. "Orang itu menyamar seperti seorang perwira Mongol. Aku tak tahu siapa adanya dia. Aku datang kemari untuk meminta pertolongan Ouw Sinshe, tapi ia tak sudi menolong. Sekarang ia meninggal dunia dan penyakitku tentu tak dapat diobati lagi. Itulah sebabnya mengapa aku menangis."
Melihat paras muka si bocah yang sangat tampan dan gerak geriknya yang menarik. Kim hoa Popo merasa kasihan sehingga ia menghela napas panjang dan berkata." Sayang, sungguh sayang!"
Dua tahun yang lalu, waktu baru diberitahukan bahwa racun Hian beng Sin ciang sukat diobati, Boe Kie ketakutan. Belakangan, sesudah berbagai usaha gagal, ia putus harapan dan jadi nekad. Ia sudah tidak memikiri lagi soal mati dan hidupnya. Maka itu, mendengar perkataan si nenak, ia tertawa dingin dan berkata. "Mati atau hidup tak bisa diminta secara paksa. Apakah seseorang yang serakah yang ingin hidup terus menerus bukan seorang yang sedang mabuk ? Entahlah. Apakah seseorang yang takut mati bukan seperti seorang kanak-kanak yang kesasar dan tidak mengenal jalan pulang? Entahlah. Apakah seseorang yang sudah meninggal dunia tidak merasa menyesal bahwa ia dahulu ingin sekali dilahirkan didalam dunia? Inipun tak diketahui olehku,"
Si nenek terkesiap. Untuk sementara ia tidak mengeluarkan sepatah kata dan coba memecahkan maksud perkatan si bocah.
Kata-kata itu adalah petikan dari kitab Lam hoa keng gubahan Cong coe -Chuang tse-. Sebagai mana diketahui Thio Sam Hong menganut agama Too kauw tapi ketujuh muridnya tidak turut memeluk agama tersebut. Meskipun begitu, mereka terus mempelajari Lam Hoa keng semasak-masak nya.
Waktu berada di pulau Peng bwee to, karena tak ada buku dan perabot tulis, Thio Coei San mengajar ilmu surat kepada puteranya dengan menulis huruf diatas tanah. Antara lain, ia telah menyuruh anaknya menghafal kitab Lam-hoa-keng. Kata-kata yang dikutip Boe Kie mengandung makna yang seperti berikut: Hidup belum tentu senang dan mati belum tentu menderita, sehingga pada hakekatnya hidup atau mati tidak banyak perbedaannya. Seseorang yang hidup di dunia seperti sedang mimpi dan kalau ia mati, ia seperti tersadar dari mimpinya. Mungkin sekali, sesudah mati, rohnya menyesal mengapa dahulu dia hidup di dalam dunia dan mengapa dia tidak mati terlebih siang. Demikianlah kira-kira arti perkataan itu.
Sebagai seorang bocah, Boe Kie sebenarnya belum mengerti soal mati atau hidup. Tapi karena selama kurang lebih empat tahun setiap hari ia berada antara mati dan hidup, maka sedikit banyak ia dapat menyelami juga arti perkataan Cong coe. Tanpa merasa, ia mengharap supaya sesudah mati, ia akan berada ditempat yang bahagia, supaya ia bisa berkumpul lagi dengan roh kedua orang tuanya, sehingga kematiannya banyak lebih menyenangkan dari pada hidup sebatangkara didalam dunia yang lebar ini.
Bagi Kim Hoa Popn, perkata itu telah mengingatkannya kepada sang suami yang sudah almarhum. Puluhan tahun, dengan penuh kecintaan mereka bersuami isteri. Tiba-tiba pada suatu hari, sang suami yang tercinta telah berpulang kealam baka, seperti seorang pelancong yang pulang ke negeri sendiri. Mengingat begitu, didalam hatinya segera muncul satu pertanyaan: "Apakah kebinasaan suami itu bukan kejadian yang tidak terlalu jelek?"
Dengan perasaan heran si nona cilik yang berdiri disamping Kim Hoa Popo mengawasi muka si nenek dan kemudian melirik Boe Kie. Ia tidak mengerti perkataan Boe Kie dan juga tidak mengerti mengapa neneknya bengong terlongong longong.
Beberapa saat kemudian, Kim Hoa Popo menghela napas dan berkata: "Soal mati atau hidup tak bisa diketahui manusia. Biarpun kematian belum tentu merupakan suatu kejadian yang menakuti, tapi pada umumnya manusia takut mati. Benar! Manusia tidak bisa meminta secara paksa. Pada akhirnya, satu hari semua manusia akan mati. Akan tetapi, jika bisa hidup satu hari lebih lama, orang lebih suka hidup satu hari lebih lama!"
Melihat sikap dan perkataan si nenek yang lemah-lembut, hati si bocah jadi tenang tenteram. Sesudah menyaksikan lukanya kelima belas orang dan rasa takutnya Ouw Ceng Goa, Boe Kie menganggap nenek itu sebagai memedi kejam. Tapi sekarang, melihat paras Kim hoa Popo yang penuh kecintaan dan sikapnya yang ramah tamah, ia merasa, bahwa si nenek menyayangnya dengan setulus hati, sehingga dengan demikian rasa takutnya banyak berkurang.
"Nak," kata pula nenek itu, "Siapakah ayahmu dan dimana ia sekarang?"
Tanpa tedeng-tedeng, secara ringkas Boe Kie segera memberi jawaban dan menuturkan sebab musabab sehingga dia berada di Ouw tiap kok.
"Kalau begitu kau adalab putera Boe tong Thio Ngohiap," kata Kim hoa Popo dengan suara heran. "Menurut pendapatku orang itu melukakan kau dengan Hian beng Sin ciang karena dia ingin memaksa kau memberitahukan tempat sembunyinya Cia Soen. Bukankah begitu ?"
"Benar" Jawab Boe Kie. "Dia telah menyiksa aku dengan berbagai cara, tapi aku tetap membungkam."
"Tapi apa kau tahu dimana adanya Cia Soen ?" tanya pula si nenek.
"Kim mo Say ong adalah ayah angkatku." jawabnya "Tapi biar bagaimanapun jua, aku tak akan memberitahukan kepada siapapun jua."
Mendadak si nenek membalik tangannya dan mencekal kedua tangan Boe Kie yang lalu dipijit keras-keras. Si bocah berteriak keras, matanya berkurang kunang. Pijitan itu bukan saja hebat, tapi dari tangan si nenek juga keluar semacam hawa dingin yang menyerang dadanya. Hawa dingin itu berbeda dengea hawa Hian beng Sin ciang, tapi sama hebatnya.
"Anak baik," kata Kim Hoa Popo, "Beritahukanlah dimana adanya Cia Soen? Sesudah kau memberitahukan, aku akan mengusir racun dari tubuhmu dan juga akan memberikan semacam ilmu silat yang tiada keduanya kepadamu."
Sambil menahan sakit, Boe Kie menjawab dengan suara tetap. "Kedua orang tuaku telah mengorbankan jiwa karena tidak mau menjual sahabat. Kim Hoa Popo, apakah kau memandang aku sebagai manusia yang bisa menjual ayah ibunya?"
Si nenek bersenyum, "Bagus ! Bagus!", katanya: "Kau sungguh seorang anak yang baik?"
"Popo, mengapa kau tidak menuang air perak kedalam kupingku?" tanya si bocah dengan berani: "Mengapa kau tidak memaksa aku menelan jarum? Huh huh ! Dulu, waktu masih kecil, aku sudah tak takut segala siksaan. Apalagi sekarang?"
Kim hoa Popo tertawa terbahak-bahak. "Kau sudah besar anak, memang kau sudah besar," katanya. "Ha ha ha...ho ho ho ..."Sehabis tertawa, ia batuk-batuk, banyak lebih hebat dari biasanya, sehingga si nona cilik menumbuk-numbuk punggungnya dan memberikan sebutir yowan kepada nya.
Sesudah berhenti batuk-batuk, perlahan-lahan si nenek meletakan cekalannya, pada pergelangan tangan Boe Kie yang bekas dicekal terpeta tapak jari tangan yang berwarna ungu-hitam.
Si nona cilik melirik Boe Kin seraya berkata "Lekas menghatur terima kasih kepada Popo yang sudah mengampuni jiwamu."
Boe Kie mengeluarkan suara dihidung. "Kalau segera dibunuh, mungkin sekali aku lebih senang," katanya. "Perlu apa menghaturkan terima kasih?"
Alis si nona berkerut. "Kau terlalu kepala batu." katanya. "Sudahlah! Aku tak akan memperdulikan kau lagi." Ia memutar badan, tapi diam-diam ia melirik Boe Kie lagi.
Si nenek bersenyum. "A lee," katanya, "dipulau kita, kau seorang diri, tak punya kawan. Apa tidak baik kalau kita bawa dia kesana, supaya dia bisa menemani kau? Hanya adatnya tidak begitu bagus."
Si nona yang dipanggil "A-lee" menepuk-nepuk tangan dan berkata dengan girang. "Bagus kita bawa dia kesana. Kalau dia membandel, bukankah Popo bisa mencari jalan untuk menaklukinya?"
Mendengar pembicaraan itu, Boe Kie jadi bingung.
Si nenek manggut-manggutkan kepalanya seraya berkata. "Kau ikut aku. Lebih dulu kita cari seorang dan aku ingin melakukan suatu pekerjaan. Sesudah itu, kita pulang ke pulau Leng coa to."
"Tidak! Kamu bukan orang baik-baik." kata Boe Kie dengan gusar.
Si nenek bersenyum. "Kau sungguh goblok," katanya, "Di pulau kami, kau bisa mendapatkan apapun jua. Makanan yang lezat, tempat bermain, pemandangan indah yang belum pernah dilihat oleh mu. Anak baik, sudahlah, kau jangan rewel dan ikutlah Popo."
Tiba-tiba Boe hie memutar badan dan terus lari. Tapi baru dua tiga tindak, si nenek sudah menghadang didepannya. "Nak, kau tak akan bisa melarikan diri." katanya dengan suara lemah lembut. "Ikutilah aku baik-baik, jangan sampai di paksa."
Boe Kie melompat dan kabur kejurusan lain tapi seperti juga tadi, baru setindak dua, Kim Hoa Popo sudah mencegat pula. Dengan gusar Boe Kie meninju. Si nenek mengegos sambil meniup tinja yang menyambar. Di tiup begitu, Boe Kie merasa tangannya seperti disayat pisau.
Sekonyong-konyong terdengar teriakan nyaring. "Boe Kie Koko !" Suara itu ialah suara Yo Poet Hwie yang muncul dari dalam hutan sambil berlari-lari, diikuti oleh ibunya dari belakang.
Melihat Kim Hoa Popo, paras muka Siauw Hoe lantas raja berubah pucat. Tapi dengan memberanikan hati, ia berkata dengan suara gemetar: "Popo, kau tidak akan mencelakakan anak-anak kecil bukan ?"
Si nenek mendelik. "Kau masih belum mati?" tanyanya dengan suara dingin, "Jangan campur campur urusanku. Mari... Mari... Aku mau lihat, mengapa kau belum mati."
Siauw Hoe sebenarnya berhati tabah. Tapi dalam menghadapi lawan berat dan karena memikirkan keselamatan puterinya, ia sungkan menerjang bahaya.
Maka itu, seraya menarik tangan puterinya, ia mundur setindak. "Boe Kie kemari," katanya dengan suara perlahan.
Baru saja Boe Kie mau bergerak, si nona cilik sudah menjambret lengannya dan menyengkeram jalan darah Sam yang hiat, sehingga separoh badannya tidak dapat berkutik lagi, "Diam!" bentak gadis kecil itu.
Boe Kie kaget, gusar dan heran," Celaka" ia mengeluh. "Ilmu apa yang digunakan perempuan kecil ini ?"
Sekonyong-konyong terdengar suara yang nyaring dan tajam. "Siauw Hoe, mengapa nyalimu begitu kecil ? Mau mendekati, dekatilah!"
Siauw Hoe kaget bercampur girang, "Soehoe!" teriaknya, tapi tidak mendapat jawaban. Sesaat kemudian, disebelah kejauhan muncul seorang nio kouw (pendeta perempuan) yang mengenakan jubah pertapaan warna abu-abu dan mendatangi dengan tindakan perlahan. Pendeta itu bukan lain dari pada Ciang boenjin Go bie pay, dan di belakang mengikuti dua orang murid.
Bahwa dari tempat yang begitu jauh, ia bisa melihat begitu tegas dan bisa mengirim suara yang begitu nyaring merupakan bukti dari kelihayan pendata tersebut. Biat coat Soethay, yang namanya dikenal oleh semua jago Rimba Persilatan, bukan saja jarang turun gunung, tapi juga jarang menemui manusia. Kalau ia masih menolak untuk menemui seorang berilmu seperti Thio Sam Hong lain tak usah dibicarakan lagi.
Sesudah datang dekat, in ternyata berusia setengah tua, kurang lebih empat puluh lima tahun sedang paras mukanya dapat dikatakan elok hanya sayang kedua alisnya terlalu turun kebawah sehingga muka yang cantik itu agak menyerupai muka setan Tiauw sie kwi (setan penggantungan) diatas panggung wayang.
Siauw Hoe menyambut dengan berlutut seraya berkata. "Soehoe, apa kau baik ?"
"Belum mampus dirongrong olehmu," jawabnya.
Siauw Hoe tidak berani bangun. Mendengar suara tertawa dingin dari Teng Bin Koen yang berdiri dibelakang gurunya, ia segera mengetahui, bahwa kakak seperguruannya itu sudah bicara banyak tentang dirinya dihadapan sang guru. Jantungnya memukul keras dan keringat dingin keluar dari dahinya.
"Nenek itu telah memanggil kau untuk melihat mengapa kau belum mati," kata Biat coat Soe thay. "Pergilah, dekati dia!"
"Baik.. " kata si murid yang lalu bangun berdiri dan menghampiri si nenek. "Kim Hoa Popo," katanya. "Guruku sudah datang. Jangan kau berlaku galak lagi."
Kim hoa Popo batuk-batuk. Ia melirik Biat coat Soethay dan manggut-manggukkan kepalanya. "Hm! Kau Ciang boenjin Go bie pay," katanya. "Benar, aku sudah memukul muridmu. Habis, mau apa kau ?"
"Bagus," jawabnya. "Mau pukul, boleh pukul lagi. Biarpun dia mati, tak ada sangkut pautnya denganku."
Hati Siauw Hoe seperti disayat pisau, "Soehoe!" teriaknya dengan suara parau, sedang air matanya mulai mengucur.
Biat coat Soethay biasanya dikenal sebagai seorang yang selalu mengeloni muridnya, meskipun murid itu berbuat kesalahan. Sekarang, dengan mengeluarkan perkataan itu terang-terangan ia mengunjuk, bahwa ia sudah tidak menganggap Siauw Hoe sebagai muridnya lagi.
"Dengan Go bie pay aku tidak mempunyai permusuhan." kata Kim hoa Popo. "Sesudah memukul sekali, cukuplah. A-lee, mari kita pergi !"
Sehabis betkata begitu, perlahan-lahan ia memutar badan.
Melihat cara-cara si nenek yang dianggapnya kurang ajar, Teng Bin Koen yang belum mengenal kelihayan Kim hoa Popo, lantas saja naik darah.
Dengan sekali melompat, ia sudah menghadang dihadapan nenek itu, "Tak tahu adat!" bentaknya. "Apa kau mau pergi dengan begitu saja, tanpa mengeluarkan sepatah perkataan sopan?" Seraya barkata begitu, ia mencekal gagang pedang dan sikapnya galak sekali.
Tangan si nenek bergerak dan dengan dua jeriji, dia memijit sarung pedang Teng Bin Koen. "Kau mengancam orang dengan besi rongsokkan!" Katanya sambil tertawa.
Teng Bin Kaoen jadi lebih gusar dan lalu menarik pedangnya, tapi heran sungguh, pedang itu tak dapat dihunus.
A lee tertawa geli. "Besi rosokan sudah berkarat," katanya.
Teng Bin koen coba mencabut lagi dangan menambah tenaga, tapi pedang itu tetap melekat pada sarungnya. Ia tak tahu, bahwa karena dipijit, sarung pedang pecah dan melesak kedatam, sehingga badan pedang tergencet keras.
Paras muka Teng Bin koen lantas saja berubah merah. Ia merasa jengah dan tak tahu harus berbuat apa. Biat coat Soethay maju setindak dengan tiga jari tangan, ia menjepit gagang pedang dan sekali menyentak, sarung itu pecah dan pedangnya terhunus keluar. "Pedang ini memang bukan senjata mustika, tapi juga bukan besi rongsokan," katanya dengan suara mendongkol. "Kim hoa Popo, mengapa kau tidak berdiam di pulau Leng coa to dan menyateroni wilayah Tiong goan?"
Melihat kepandaian nie kouw, si nenek terkejut. "Pendeta itu besar namanya dan ternyata ia memang memiliki kepandaian tinggi," katanya didalam hati. "Baiklah aku coba menjajal ilmunya."
Ia lantas saja berkata sambil tertawa: "Suami ku sudah meninggal dunia dan di pulau kami, aku merasa sangat kesepian. Maka itu, aku pergi pesiar, kalau-kalau ada seorang hweeshio atau toesoe yang cocok untuk dijadikan kawan" dengan berkata begitu menyebut hweeshio dan toesoe, ia mengejek Biat coat. Ia seolah-olah mau mengatakan, bahwa sebagai seorang pendeta perempuan, Biat coat Soethay tidak pantas berkelana diluaran.
Paras muka nie kouw itu, yang beradat keras dan tidak pernah guyon-guyog, lantas saja berubah. Kedua alisnya makin turun kebawah. Sambil mengibas pedang, ia membentak : "Keluarkan senjatamu!"
Semenjak berguru, murid-murid Goe bie belum pernah melihat guru mereka bertempur. Antara ketiga murid itu, adalah Kie Siauw Hoe yang sangat berkuatir akan keselamatan sang guru, karena ia sudah menyaksikan kelihayan Kim hoa Popo.
Sementara itu, Boe Kie, yang lengannya dicekal A-lee, sudah coba meronta seraya membentak: "Lepaskan! Perlu apa kau pegang aku?" A lee melirik Kie Siauw Hoe yang kelihatannya ingin bergerak untuk memberi pertolongan. Ia melepas cekalannya dan berkata: "Diam disini. Aku mau lihat apa kau bisa lari."
Mendengar tantangan, Kim Hoa Popo tertawa: "Dulu, ilmu pedang Kwee Siang, Kwee Liehiap, leluhur Goe bie pay, memang telah menggetarkan dunia persilatan," katanya. "Tapi sesudah turun kepada murid dan cucu muridnya, berapa bagian yang masih ketinggalan?"
"Biarpun hanya ketinggalan sebagian, tapi sudah cukup untuk menyapu bersih segala kawanan siluman," jawab Biat coat dengan mendongkol.
Untuk sejenak si nenek mengawasi ujung pedang dan mendadak ia menotol badan pedang lawan dengan tongkatnya. Tentu saja Biat coat tidak mempermisikan pedangnya ditotol begitu rupa. Sekali bergerak, ia sudah menikam pundak si nenek, yang sambil batuk-batut, lantas saja menyapu dengan tongkatnya. Seraya menarik pulang senjatanya, Biat coat melompat dan bagaikan kilat, ia sudah berada dibelakang Kim Hoa Popo. Sebelum kakinya hinggap ditanah, pedangnya sudah menyambar, tapi si-nenek sendiri, tanpa memutar badan, sudah berhasil menangkis dengan tongkatnya.
Kedua wanita itu adalah jago jago kelas utama dalam Rimba Persilatan. Baru saja bergebrak tiga empat jurus, mereka mengetahui, bahwa hari itu mereka mendapat lawan setanding. Sekonyong-konyong terdengat suara "trang!" dan pedang Biat coat patah dua. Semua orang, kecuali A-lee, terkesiap. Mereka memandang rendah tongkat si nenek, sehingga mereka menduga, bahwa patahnya pedang adalah akibat Lweekang Kim hoa Popo yang sangat tinggi. Tapi si-nenek dan si-pendeta sama-sama tahu bahwa patahnya pedang itu bukan lantaran keunggulan Lweekang, tapi sebab luar biasanya tongkat itu yang terbuat daripada San ouw kim, hasil laut diperairan pulau Leng coa to.
San-ouw-kim adalah semacam logam istimewa yang merupakan campuran dari beberapa macam logam dan batu karang, sesudah berada didalam air berlaksa tahun lamanya, logam itu keras dan berat luar biasa, sehingga bisa memutuskan baja dan menghancur leburkan batu.
Karena mengetahui, bahwa patahnya pedang bukan sebab lawannya kalah, maka sebagai seorang yang berkedudukan tinggi, Kim Hoa Popo tidak mendesak. Sambil batuk-batuk, ia menuggu. Di lain pihak, sebab kuatir guru mereka terluka. Kie Siauw Hoe dan kedua saudari seperguruannya buru-buru mendekati Biat coat Soethay.
Sementara itu, Ah lee dan Boe Kie sudah bertengkar lagi. Si nona cilik yang sangat nakal tiba tiba mencekal pula peegelangan tangan Boe Kie. "Lihatlah, kau tidak akan bisa terlepas dari tanganku." katanya.
Begitu pergelangan tangannya tercekal. Boe Kie kembali merasa separuh badannya lemas. Ia bingung dan gusar dan lalu coba menendang. A lee mencekal lebih keras sambil mengerahkan Lwee kang, sehingga kaki Boe Kie tidak bisa diangkat tinggi. "Lepas! Mau lepas tidak?" teriaknya.
"Tidak! Mau apa kau?" jawab si nona. Mendadak Boe Kie menunduk dan lalu menggigit tangan A lee.
"Aduh!" teriak si nona yang terpaksa melepaskan cengkeramannya, tapi tangan kirinya lalu menyambar muka si bocah. Boe Kie coba melompat mundur, tapi tidak keburu lagi dan mukanya sudah tercakar. Dilain pihak, tangan A lee mengeluarkan darah akibat gigitan.
Kim Hoa Popo tidak menghiraukan kedua anak yang sedang bertengkar itu. Dalam menghadapi lawan berat, ia tak dapat memecah perhatiannya. Dilain saat, sambil melemparkan potongan pedang, Biat coat Soethay berkata "Pedang itu pedang muridku dan ternyata tidak cukup kuat untuk menahan seranganmu." Seraya berkata begitu, ia membuka sebuah kantong yang tergantung dipudaknya dan mengeluarkan sebatang pedang tua yang panjangnya empat kaki. Sebelum dihunus, dari sarung pedang sudah terlihat sehelai sinar hijau sehingga dapat diduga, bahwa senjata itu senjata luar biasa.
Kim Hoa Popo melirik dan melihat, bahwa pada sarung pedang itu terdapat dua huruf emas huruf kuno yang berbunyi: "Ie thian". Ia terkesiap dan berseru tanpa merasa: "Ie thian kiam!"
Biat coat mengangguk. "Benar, inilah Ie thian kiam!" katanya.
Sesaat itu, dalam otak si nenek berkelebat kata-kata yang sudah lama tersiar didalam Rimba Persilatan: "Boe lim cie coen, po-to-to-liong, hauw leng thia hee, boh kam poet ciong ie thian poet coet, swee-ie-ceng hong." (Yang termulia dalam Rimba Persilatan, golok mustika Membunuh naga, perintahnya dikolong langit, tiada manusia yang berani tidak menurut, Ie thian tidak keluar, siapa lagi yang berani melawan ketajamannya.) Ia mengawasi senjata mustika itu dan berkata dengan suara yang hampir tidak kedengaran: "Kalau begitu, Ie thian kiam, jatuh kedalam tangan Go bie pay."
"Sambutlah!" bentak Biat coat seraya menotol dada si nenek dengan sarung pedang. Ia menyerang tanpa menghunus ie thian kiam. Kim ho Popo menangkis dengan tongkatnya. Begitu kedua senjata kebentrok, terdengarlah suara "brt!" dan.. loh! tongkat San ouw kiam putus jadi dua potong!
Si nenek kaget tidak kepalang. Sebelum dihunus, Ie thian kiam sudah begitu hebat! Ia mengawasi senjata lawan dan berkata dengan suara perlahan: "Biat coat Soethay, bolehkah aku melihat mata pedang itu?"
"Tidak bisa!" jawabnya dengan suara yang menyeramkan. "Begitu terhunus, pedang tidak boleh dimasukkan kedalam sarungnya lagi sebelum minum darah!"
Untuk beberapa saat, tanpa mengeluarkan sepatah kata, kedua jago betina itu saling mengawasi. Dalam beberapa jurus tadi, mereka sudah mengadu Lweekang yang telah dilatih sela puluhan tahun. Si nenek tahu bahwa tenaga dalam Biat coat masih kalah setingkat dari Lweekangnya, tapi cetek dalamnya ilmu pedang pendeta itu masih belum dapat diukur olehnya. Tapivsebagal pemimpin Go bie pay, ia tentu memiliki kepandaian luar biasa dan ditambah dengan Ie thian kiam, ia sungguh bukan lawan yang enteng. Memikir begitu, sambil batuk-batuk ia memutar badan dan lalu berjalan pergi seraya menuntun tangan si nona cilik.
Ketiga murid Go bie pay tak tahu, bahwa pedang guru mereka adalah Ie thian kiam yang sudah lama menghilang dari Rimba Persilatan. Mereka hanya merasa girang, bahwa guru mereka sudah memperoleh kemenangan. "Soehoe," kata Teng Bin Koen, "Nenek itu tidak bisa melihat gunung Thaysan dan sudah berani bertempur melawan Soehoe. Sekarang dia baru tahu kelihayan Soehoe."
Biat coat mengawasi murid itu yang coba mengumpaknya. "Di kemudian hari, begitu lekas mendengar suara batuk-batuknya, kamu mesti lekas lekas menyingkir." katanya dengan suara sungguh. Ia mengatakan begitu sebab meskipun berhasil memutuskan senjata lawan, ia tahu bahwa Lweekang nenek itu lebih unggul dari pada tenaga dalamnya. Tadi, waktu ia menotol dengan sarung pedsang, ia menyertai juga dengan tenaga Go bie kioe yang kang yang sudah dilatihnya selama tiga puluh tahun. Tapi tenaga yang hebat itu seperti amblas di dalam lautan dan tubuh si nenek sedikit run tidak bergeming.
Sesaat kemudian, dengan paras muka yang sangat menyeramkan Biat coat berkata. "Siauw Hoe kemari!" Ia berjalan kegubuk Ouw Ceng Goe dengan diikuti oleh ketiga muridnya.
"Ibu!" teriak Yo Poet Hwie sambil mengudak ibunya.
Siauw Hoe mengerti, bahwa kedatangan gutunya adalah untuk "membersihkan" rumah perguruan dan meskipun ia sangat disayang, kali ini ia tidak bisa terlolos dari hukuman. Maka itu, dengan suara membujuk ia segera berkata kepada puterinya "Tidak boleh, kau tidak boleh masuk. Kau pergilah bermain."
Boe Kie mengawasi masuknya Biat coat kedalam rumah Ceng Gor sambil berkata didalam hati: "Perempuan she Teng itu sangat jahat dan dia pasti akan coba mencelakakan Kie Kouwkouw. Peristiwa dimalam itu telah disaksikan olehku dan pihak yang bersalah adalah siperempuan she Teng. Biarlah, kalau dia bicara yang tidak-tidak aku akan maju untuk membela Kie Kouwkouw." Memikir begitu ia lantas saja bersembunyi dibelakang rumah.
Untuk beberapa saat keadaan sunyi-sunyi saja. Akhirnya terdengar suara Biat coat. "Siauw Hoe, kau ceritakanlah."
"Soehoo... aku... aku... "
"Bin Koen, coba kau ajukan pertanyaan," memerintah sang guru.
"Soe moay, dalam partai kita, apakah bunyinya larangan ketiga ?" tanya Bin Koen.
"Dilarang berjina," jawabnya.
"Benar.. Larangan keenam?"
"Dilarang berpihak kepada orang luar dan mengkhianati rumah perguruan sendiri."
"Apa hukumannya jika orang melanggar larangan itu?"
Siauw Hoe tidak menjawab. Ia menengok kepada gurunya dan berkata. "Soehoe, dalam hal ini ada sesuatu yang sukar dikatakan olehku."
"Disini tak ada orang luar, kau bicaralah terus terang," kata Biat coat.
Siauw Hoe mengerti, bahwa ia sedang menghadapi kebinasaan den sekarang ia tak dapat menyembunyikan apapun jua. Maka itu, ia lantas saja berkata. "Soehoe, pada enam tahun berselang, Soe Hoe telah memerintahkan kami, delapan orang saudara seperguruan turun tangan untuk menyelidiki tempat bersembunyinya Cia Soen. Pada suatu hari, teecoe (murid) tiba di Tay soe po. Ditengah jalan, teecoe bertemu dengan seorang pria setengah tua, usianya kira-kira empat puluh tahun yang mengenakan baju putih. Dia selalu menguntit toecoe. Teecoe menginap dirumah penginapan, dia turut menginap disitu, teecoe makan dia makan, teecoe jalan, ia turut jalan. Semula teecoe tidak menghiraukannya, tapi belakangan, karena merasa tak tahan, teecoe lalu menegurnya. Tapi dia menjawab seperti orang otak miring. Sebab gusar, teecoe menghunus pedang lalu menikamnya. Dia tidak membawa senjata, tetapi diluar dugaanku, ilmu silatnya amat tinggi dan dalam dua tiga jurus, dia sudah merampas senjata teecoe."
"Dengan bingung, teecoe kabur dan diapun tidak mengejar. Pada keesokan paginya, waktu mendusin dari tidur dalam sebuah kamar penginapan, dengan kaget dan heran, teecoe mendapat kenyataan bahwa pedang teecoe menggeletak disamping bantal kepala. Ketika teecoe meninggalkan rumah penginapan itu, orang itu mengikuti lagi. Teecoe mengerti, bahwa teecoe tidak dapat menggunakan kekerasan dan lalu menegurnya dengam kata-kata yang tajam. Teecoe mengatakan, bahwa dia harus mengenal kesopanan dan bahwa partai Go bie pay bukan partai yang boleh dibuat permainan.
Biat coat manggut-manggutkan kepalanya, seperti juga ia menyetujui perkataan murid itu.
Sesudah berdiam sejenak, Siauw Hoe melanjut kan penuturannya. "Orang-orang itu tertawa tawa dan berkata: "Ilmu silat seorang yang sudah terpecah menjadi partai ini dan partai itu, dengan sendirinya sudah merosot. Kalau nona suka mengikuti aku, aku akan memperlihatkan bahwa dalam ilmu silat masih terdapat lain dunia yang berbeda dengan dunia mu."
Biat coat Soethay adalah seorang yang sempit pandangannya. Seumur hidup ia mempelajari ilmu silat dengan mengasingkan diri sehingga pengetahuannya mengenai dunia luar sangat terbatas. Mendengar keterangan Siauw Hoe, ia lantas saja merasa ketarik dan berkata. "Kalau begitu kau boleh coba mengikuti dia dan coba menyelidiki ilmu apa yang dimilikinya."
Paras muka si murid berubah merah. "Soehoe, dia seorang yang belum dikenal, bagaimana teecoe bisa mengikutinya ?"
"Aha! Kau benar!" kata sang guru, "Kau segera usir dia bukan?"
"Dengan rupa-rupa jalan teecoe coba menyingkirkan diri, tapi selalu tidak berhasil," jawabnya "Akhirnya teecoe tertawan..... Teecoe bernasib sial sehingga bertemu dengan musuh penitisan yang lampau ..... " Berkata sampai disitu, suaranya makin perlahan.
"Habis bagaimana?" mendesak Biat coat.
"Teecoe tidak bisa melawan dan kehormatan teecoe telah dirusak olehnya," Jawabnya dengan suara hampir tidak kedengaran. "Ia menilik tee coe dengan sangat keras, sehingga percobaan teecoe untuk bunuh diri selalu gagal. Beberapa bulan kemudian, seorang musuhnya menyatroni dan dengan menggunakan kesempatan itu, teecoe baru
bisa kabur. Teecoe hamil, tapi tidak berani memberitahukan Soehoe dan belakangan teecoe melahirkan seorang anak perempuan dengan diam diam."
"Apa kautidak berjusta?" tanya sang guru dengan bengis.
"Biarpun mesti mati berlaksa kali, teecoe tak akan berani berjusta " jawabnya.
Untuk beberapa lama Biat coat menundukkan kepala. Akhirnya ia berkata. "Kasihan! Siauw Hoe, kau sangat tidak beruntung. Dalam hal ini, bukan kau yang bersalah."
Mendengar perkataan sang guru, Teng Koen sangat mendongkol. Ia mendapat lain bukti, bahwa sang guru sangat menyayang adik seperguruan itu. Dengan sorot mata membenci ia melirik Siauw Hoe.
Sesudah menghela napas Biat coat bertanya. "Sekarang bagaimana pikiranmu? Apa yang mau dilakukan olehmu ?"
Air mata Siauw Hoe mengucur deras. "Atas kemauan ayah, teecoe telah ditunangkan dengan In Liok ya dari Boe tong pay," jawahnya dengan suara parau. "Sesudah kejadian itu, pernikahan tak akan dapat dilangsungkan lagi. Teecoe hanya ingin memohon permisi Soehoe supaya teecoe boleh mencukur rambut untuk menjadi pendeta."
Sang guru menggelengkan kepala. "Itupun bukan jalan yang sempurna," jawabnya. "Siapa namanya lelaki itu ?"
Siauw Hoe menunduk dan menjawab dengan suara perlahan. "Dia she Yo, namanya Siauw"
Mendadak, mendadak saja, Biat coat mencelat dari kursinya, dengan jubahnya dikibarkan, sehingga meja terlempar.
Boe Kie terkesiap, sedang ketiga murid Go bie pay itupun tak kurang kaget nya.
"Yo Siauw!" teriak Biat coat Soethay, "Apakah dia Yo Siauw, si raja siluman dari agama Beng Kauw, yang menamakan diri sebagai Kong beng Soe cia ?" (Kong beng Soe cia - Utusan Terang benderang)
"Dia... dia memang orang Beng kauw," jawab Siauw Hoe dengan suara gemetar. "Dia..... dia kelihatannya ....... mempunyai.... mempunyai kedudukan tinggi dalam agama itu."
Muka Biat coat merah padam. "Dimana dia?" bentaknya pula, "Aku mau cari dia!"
"Menurut keterangannya, dia bertempat tinggai dipuncak Co bong hong dipegunungan Koen loen san," jawabnya, "Tempat tinggalnya itu hanya di beritahukan kepada teecoe seorang. Tiada orang lain yang mengetahuinya. Soehoe, apa dia musuh partai kita?"
"HMm!" Biat coat mengeluarkan suara dihidung, "Bukan hanya musuh besar dari partai kita, Toa soepehmu, Kouw hung Coen cia dan pentolan Koen loen pay, Yoe liong coe, mati karena memedi Yo Siauw."
Siauw Hoe ketakutan, tapi dalam rasa, takut itu berecampur dengan rasa bangga. Kouw bong Coe cia dan Yoe liong coe adalah jago-jago Bu lim yang namanya tersohor, Tapi mereka mati karena "dia".
Murid murid Go bie mengetahui, bahwa guru mereka dan Toasoepeh Kouw bong Coen cia adalah dua murid terutama dari sang Soe Couw, tapi mereka tak tahu, bahwa diwaktu muda, kedua orang itu saling mencinta dan sesudah Kouw bong Coe cia meninggal dunia, barulah Biat coat mencukur rambut.
Biat coat mendongak mengawasi langit dan mulutnya mencaci. "Bangsat Yo Siauw...... sekarang kau jatuh juga kedalam tanganku!" Tiba-tiba ia putar tubuh seraya berkata. "Baiklah! Kau mempunyai banyak kedosaan: menyerahkan diri kepadanya dan melindungi Pheng Hweeshio, berdosa terhadap kakak seperguruan, menjustai guru, diam-diam memelihara anak. Itu semua bisa diampuni olehku. Sekarang aku ingin memerintahkan kau melakukan sesuatu tugas. Sesudah berhasil, kau boleh kembali ke Go bie san dan aku akan mengangkat kau sebagai ahli waris, mewariskan Ie thian kiam kepadamu dan kemudian hari kau akan menjadi Ciang boenjin dari partai kita!"
Semua orang kaget, lebih lebih Teng Bin Koen Yang lantas saja timbul rasa jelusnya dan menganggap bahwa sang guru sangat memilih kasih.
"Biarpun mesti masuk kedalam lautan api, teecoe tak akan menolak perintah Soehoe," kata Siauw Hoe. "Tapi karena sudah bercacad, teecoe tidak berani memikir untuk menjadi seorang ahli waris."
"Ikut aku!" kata sang guru seraya menarik tangan Siauw Hoe dan bertindak keluar. Mereka mendaki sebuah tanjakan dan berhenti diatas sebidang tanah rumput.
Boe Kie tidak mengerti apa maunya pendeta itu. Dengan berdiri ditempat tinggi sesudah mengawasi keempat panjuru, barulah Biat coat menarik tangan Siauw Hoe dan bicara dikuping muridnya ini. Apa yang dikatakannya tentu saja rahasia besar, sehingga kedua orang muridnya yang lain tidak diperbolehkan turut mendengar.
Dengan mata tidak berkesip, Boe Kie terus mengawasi mereka. Sesudah menundukkan kepala beberapa lama, Siauw Hoe kelihatan menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan sikap yang pasti. Boe Kie mengerti bahwa sang bibi telah menolak perintah Biat coat. Sesaat kemudian, si pendeta mengangkat tangan kirinya, tapi tangan itu berhenti diudara dan ia bicara lagi rupanya sedang coba membujuk pula. Jantung Boe Kie memukul keras. Siauw Hoe kelihatan berlutut dan kepalanya tetap digeleng-gelengkan. Tiba-tiba tangan Biat coat turun menghantam batok kepala muridnya, yang lantas saja roboh terguling. Hati Boe Kie mencelos... bukan main rasa dukanya.
Sekonyong-konyong terdengar suara tertawa nyaring, suara Yo Poet Hwie yang menubruk punggung Boe Kie. "Aha! Sekarang aku berhasil menangkap kau!" teriak si cilik.
Dengan cepat Boe Kie mencekal tangan si nona dan menutup mulutnya. "Sst! Jangan ribut," bisiknya. Melihat muka sang kakak yang pucat pasi, si nona jadi kaget dan ketakutan.
Biat coat kembali kerumah Ceng Goe dengan cepat sekali. "Bin Koen, binasakan anak haram itu," ia memerintah. "Jangan tinggalkan bibit penyakit."
Sesudah adik seperguruannya dihukum, biarpun hatinya senang, Bin Koen merasa agak takut. Mendengar perintah itu, ia segera berjalan pergi untuk mencari Poet Hwie.
Sambil memeluk si none, Boe Kie menyembunyikan diri diantara rumput alang-alang yang tinggi. Dengan berbisik ia minta supaya Poet Hwi jangan bersuara dan menyerahkan segala apa kepada putusan Tuhan. Untung juga, sesudah mencari cari beberapa lama, Bin Koen tidak ingat kepada rumput tinggi yang bisa digunakan sebagai tempat bersembunyi. Baru saja ia mau menyelidiki terlebih teliti, gurunya sudah mencaci: "Manusia goblok! Anak kecil saja kau tak mampu cari."
Murid Biat coat yang satunya lagi, Pwee Kim Gie namanya, mempunyai hubungan baik dengan Siauw Hoe. Melihat kekejaman sang guru ia merasa sangat tak tega. Maka itu, ia lantas saja berkata: "Soehoe, tadi kulihat anak itu lari keluar selat." Ia tahu, bahwa jika diberitahukan begitu, sang guru, yang beradat sabaran, tentu tidak mau berabe untuk mencari terlebih jauh. Ia merasa, bahwa sebagai anak yatim piatu yang baru berusia lima enam tahun, Poet Hwie belum tentu bisa hidup terus. Tapi biar bagaimana jua, mati lapar atau mati diterkam binatang buas ada lebih baik daripada mati ditikam Teng Bin Koen.
"Mangapa kau tidak beritahukan sedari tadi?" tanya Biat coat dengan mendongkol. Dengan menggunakan ilmu ringan badan, ia segera berlari-lari keluar selat, dengan diikuti oleh kedua muridnya. Poet Hwie yang tak tahu, bahwa ia baru saja terlolos dari lubang jarum, mengawasi Boe Kie dengan mata penuh pertanyaan.
Sesudah tindakan ketiga orang itu tidak terdengar lagi, sambil menuntun Poet Hwie, Boe Kie berlari-lari mendaki tanjakan. "Boe Kie Koko, orang jahat sudah pergi semua bukan?" tanyanya sambil tertawa. "Kau mau mengajak aku bermain-main diatas gunung, bukan?"
Boe Kie tidak menjawab. Melihat Poet Hwie sudah lelah, tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia mendukungnya dan terus lari secepat mungkin kearah Kie Siauw Hoe yang menggeletak diatas tanah. Sesudah dekat, barulah Poet Hwie melihat ibunya. Ia meronta turun dari dukungan Boe Kie dan kemudian menubruk ibunya. "Ibu! Ibu!..,." teriaknya.
Boe Kie buru-buru berlutut dan memeriksa ke adaan sang bibi. Napas Siauw Hoe tinggal sekali kali dan batok kepalanya remuk, sehingga biarpun ditolong dewa, ia tak akan bisa hidup terus.
Perlahan-lahan Siauw Hoe membuka kedua matanya. Melihat puterinya dan Boe Kie, matanya berlinang air dan bibirnya bergerak. Ia mau bicara, tapi tak sepatah perkataan bisa keluar dari mulut nya. Boe Kie segera mengeluarkan jarum emas dan menusuk jalan darah Sinteng, Gin tong dan Sin wie. Semangat Siauw Hoe terbangun dan ia berkata dengan suara lemah: "Aku memohon.... memohon....supaya kau mengantarkan Poet Hwie kepada ayahnya...". Lengan kirinya meraba dada, seperti mau mengeluarkan sesuatu, tapi mendadak ia berkelejat dan menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Sambil menangis keras Poet Hwie memeluk jenazah ibunya. "Ibu!...ibu!.... Mengapa kau?.... sakit?...." ia sesambat.
Hati Boe Kie seperti disayat ratusan pisau. Ia ingat, bahwa ia sendiri pernah menangis begitu sambil memeluk jenazah kedua orang tuanya. Tanpa merasa, air mata mengalir turun dikedua pipinya.
Sesudah kenyang memeras air mata Boe Kie ingat pesan sang bibi dan segera mengambil keputusan untuk menunaikan tugas itu. Ia hanya tahu bahwa orang itu bertempat tinggal dipuncak Co bong hong, dipegunungan Koen loan san. Ia tak tahu dimana adanya gunung itu yang sebenarnya berada dalam jarak berlaksa li. Dilain saat, ia juga ingat, bahwa sebelum meninggal dunia, sang bibi meraba dada, seperti mau mengeluarkan sesuatu. Ia lantas saja meraba leher Siauw Hoe dan mengeluarkan sepotong Kiat (??) pay (lembaran besi) yang atasnya diukir gambar setan yang menyeringai dan mengangkat cakarnya. Pay tersebut digantung dileher Siauw Hoe dengan selembar tali.
Boe Kie tak tahu apa adanya benda itu, tapi ia lalu membukanya dan kemudian menggantungnya dileher Poet Hwie. Sesudah itu, ia mengambil cangkul menggali sebuah lubang dan lalu menguburkan jenazah Siauw Hoe. Ketika itu karena lelah, Poet Hwie sudah pulas. Waktu si nona cilik tersadar, dengan berbagai akal ia coba membujuknya, antara lain ia mengatakan, bahwa sang ibu telah terbang kelangit dan nanti, sesudah sekian lama akan kembali didunia. Dasar anak kecil, si nona akhirnya dapat juga dilabui.
Malam itu, sesudah masak nasi dan makan secara sembarangan, Boe Kie yang sudah terlalu capai, tidur pulas dengan nyenyak sekali. Pada kepaginya, setelah membuntal pakalan dalam dua buntalan kecil, ia mengajak Poet Hwie untuk memberi selamat tinggal dan memohon keberkahan. Sesudah itu, kedua yatim piatu berjalan keluar dari Oaw tiap kok....
Boe Kie sama sekali tidak bersenjata. Semula ia ingin membawa potongan tongkat San ouw kim, tapi dicari-cari, tidak ketemu dan ia menduga, bahwa potongan senjata itu telah dibawa oleh Teng Bin koen. Mengenai bekal, ia hanya mempunyai tujuh delapan tahil perak yang diambilnya dari buntalan Kie Siauw Hoe. Ia tak tahu di mana adanya Koen loen san. Ia hanya menduga, bahwa gunung itu jauh sekali dan uang sebegitu tentulah sangat tidak mencukupi. Tapi apakah yang dapat diperbuat olehnya?
Sesudah berjalan setengah hari, barulah mereka keluar dari selat Ouw tiap kok. Karena Poet Hwi masih sangat kecil, mereka maju dengan lambat sekali. Sebentar mengaso, sebentar jalan lagi. Pada malam,itu mereka berada di delam hutan dan diantara kegelapan malam, mereka mendengar macam-macam binatang burung hantu. Poet Hwie ketakutan dan mulai menangis keras. Boe Kie juga takut, tapi dalam keadaan, begitu mau tidak mau ia terpaksa harus membesarkan hati. Tiba tiba ia malihat sebuah guha. Hatinya jadi girang benar, dan sambil menuntun Poet Hwie, ia masuk ke dalam guha itu. Dengan kedua tangan ia menekap kuping si nona supaya dia tidak mendengar suara-suara yang menakutkan.
Dengan menahan rasa lapar, haus dan takut, kedua anak itu melewati sang malam. Pada keesokan paginya, Boe Kie mencari bebuahan hutan untuk menangsal perut dan kemudian mereka meneruskan perjalanan. Di waktu magrib, selagi enak-enak berjalan, sekonyong-konyong poet Hwie berteriak dan tangannya menuding sebuah pohon. Boe Kie menengok. Ia terkasiap dan sambil menarik tangan Poet Hwie, ia segera lari. Yang dilihat mereka adalah dua mayat yang menggelantung di pohon itu. Baru saja belasan tombak, kaki Boe Kie tersandung batu dan roboh terguling. Waktu merangkak bangun, dengan memberanikan hati, ia menengok kepohon dan tanpa merasa ia berteriak. "Ouw Sinshe!" Waktu ia menengok, secara kebetulan angin meniup dan mayat itu terputar, sehingga mukanya menghadapi Boe Kie yang segera mengenali bahwa muka itu adalah muka Ouw Ceng Goe. Yang satunya lagi adalah mayat wanita dan dilihat dari pakainnya, dia pasti bukan lain dari pada Ong Lan Kouw. Dalam cuaca yang sudah hampir gelap, pemandangan itu sungguh menyeramkan dan bulu roma Boe Kie bangun semua.
Sesudah bangun berdiri, si bocah berkata didalam hatinya: "Tidak boleb, aku tidak boleh menjadi seorang pengecut."
Setindak demi setindak, ia maju dan mendekati. Dari sebelah kejauhan ada dilihatnya sinar keemas emasan dipipi kedua mayat itu. Sesudah didekati, sinar itu ternyata keluar dari bunga emas. "Ah! Ouw Sinhe dan Soe bo tidak terlolos dari tangan Kim-Hoa popo", ia mengeluh. Kereta yang ditumpangi mereka berada dalam sebuah selokan dalam keadaan hancur, sedang bangkai keledaipun terdapat dalam selokan itu.
Malam itu Boe Kie dan poet Hwie tidur dibawah pohon. Kira-kira tengah malam mereka disadarkan oleh bunyi binatang. Dibawah sinar rembulan, mereka melihat lima enam ekor anjing hutan sedang menggerogoti bangkai keledai. Dengan hati berdebar-debar, buru-buru Boe Kie mendukung Poet Hwie dan memanjat sebuah pohon. Anjing-anjing itu coba mengudak dan kemudian jalan berputar putar dibawah pohon. Sedang beberapa lama beberapa lama, barulah mereka meninggalkan pohon itu dan berpesta pora lagi dengan daging keledai. Pada esokan paginya, barulah kawanan binatang itu berlalu.
Sesudah anjing-anjing itu pergi jauh, Boe Kie baru berani turun. Ia segera membuka tambang dan menurunkan jenazah suami isteri Ouw Ceng Goe. Tiba-tiba terdengar suara "plak" dan dari atas jatuh sejilid buku. Boe Kie segera menyambutnya dan diatas buku itu, buku tulisan tangan, tertulis seperti berikut: "Tok soet Tay coan" (Kitab lengkap mengenai racun).
Boe Kie membalik-balikkan lembaran yang penuh dengan huruf-huruf kecil. Buku itu menjelaskan sifatnya macam-macam binatang beracun, burung beracun, kutu beracun, rumput beracun, dari yang biasa sampai yang aneh aneh. Cara mengganakannya dan cara mempunahkannya. Sesudah memasukkannya ke dalam saku, dia kemudian mengubur jenazah suami-istri Ouw Ceng Goe dengan menumpuk batu-batu tanah dan rumput diatasnya. Sesudah selesai dan memberi hormat dengan berlutut beberapa kali, sambil menuntun tangan Poet Hwie, ia segera meneruskan perjalanannya.
Diwaktu lohor mereka bertemu dengan jalan raya dan tak lama kemudian, mereka tiba disebuah kota kecil. Mereka lalu mencari rumah makan, atau warung untuk menangsal perut. Tapi sungguh heran, semua rumah tiada penghuninya dan kota kecil itu sunyi senyap bagaikan kuburan. Dengan apa boleh buat, mereka berjalan terus.
Waktu itu adalah musim rontok, yaitu musim panen, tapi apa yang tertampak disawah sawah yang tanahnya kering melela hanyalah rumput alang alang. Boe Kie bingung karena ia tidak mengerti apa artinya itu semua. Kawan yang satu-satunya, tidak bisa diajak berdamai. Bahwa dengan menahan lapar si noni cilik masih bisa berjalan terus, sudah dapat dikatakan mujur.
Berjalan sampai sore, mereka tiba disebuah hutan. Tiba-tiba Boe Kie melihat mengepulnya asap. Ia merasa girang sekali, sebab sedari keluar dari selat Ouw tiap kok, baru sekarang ia melihat asap yang berarti adanya mauusia. Buru-buru mereka menuju kearah asap itu.
Waktu sudah berdekatan, mereka melihat lima orang lelaki yang pakaiannya compang-camping badannya kurus kering dan mukanya pucat pasi, sedang berduduk disekitar sebuab perapian dan diatas api terdapat sebuah kuali yang apinya bergolak-golak seperti sedang memasak sesuatu.
Begitu melihat Boe Kie dan Poet Hwie, paras muka mereka berubah terang. Dengan serentak mereka berbangkit. "Bagus! Bocah, mari sini!", kata salah seorang sambil menggapai.
"Kami sangat lapar sekali dan ingin meminta sedikit makanan," kata Boe Kie, "Sebagai tanda terima kasih, kami akan memberi sedikit uang perak."
"Kau mempunyai uang? Coba keluarkan," kata yang seorang.
Boe Kie merogoh saku dan mengeluarkan sepotong perak.
Sambil membetot potongan perak itu, dia bertanya. "Mana orang tuamu?"
"Kami hanya berdua, tak mempunyai lain kawan," Jawab Boe Kie.
Kelima lelaki itu tertawa terbahak-bahak dan saling mengawasi satu sama lain.
Karena didorong rasa lapar, Boe Kie melongok kedalam kuali. Begitu melihat, hatinya mencelos karena apa yang dimasak mereka hanyalah daun-daun akar, dan sedikit ubi-ubian.
Sambil menyeringai, salah seorang mencekal tangan Poet Hwie dan berkata "Kambing ini gemuk sekali. Malam ini kita bisa makan kenyang!"
"Ya! Yang lelaki bisa ditunda sampai besok." menyambungi kawannya.
Tak kepalang kagetnya Boe Kie. "Kau.... kau..... mau.... makan daging manusia?" tanyanya terputus-putus.
Seorang yang bertuhub jangkung menyeringai dan berkata dengan suara dalam: "Sudah tiga bulan aku tak permih makan nasi. Daripada mampus ada lebih baik makan, daging manusia." seraya berkata begitu, ia menjambret leher Boe Kie.
Boe Kie mengegos, tangan kirinya menangkis, tangan kanannya menepuk pinggang orang itu. Semejak kecil, ia telah belajar silat di bawah pimpinan Kim-mo Say-ong Cia Soen dan kemudiau dia juga mempelajari ilmu silat dari Boe-tong pay. Meskipun selama dua tahun lebih ia tidak berlatih silat karena repot mempelajari ilmu ketabiban, tetapi apa yang sudah dipelajarinya adalah ilmu-ilmu silat kelas satu di dalam Rimba Persilatan. Maka itu, tepukan tersebut, yang cukup hebat untuk merobohkan ahli silat biasa, tentu saja tak dapat ditahan oleh lelaki itu. Tanpa mengeluarkan suara, dia terpelanting tanpa betkutik lagi.
Seorang kawannya menubruk dan coba menancapkan pisaunya kedada Boe Kie. Bagaikan kilat Boe Kie menendang dengan kaki kanannya, dan pisau itu terbang ke tengah udara. Ia menendang dengan tendangan Wan yo Lian hoan toei yang saling susul dan sesudah kaki kirinya mampir dijanggut orang itu yang lantas saja jatuh terjengkang. Sesudah merobohkan dua orang, buru-buru ia menghampiri Poet Hwie yang sudah mulai menangis.
Tiba-tiba ia meresakan angin dibelakangnya dan dua orang menubruk punggungnya. Dengan sekali berkelit, kedua penyerang itu menubruk tempat kosong. Dengan cepat la menjambret leher baju mereka dan lalu menggentuskan kepala mereka. Waktu dilepaskan, mereka roboh dalam keadaan pingsan.
Sekarang hanya ketinggalan seorang saja. Biarpun empat kawannya sudah dijatuhkan, ia kelihatannya tidak merasa jerih dan sambil menghunus golok, io menerjang. Melihat senjata tajam, sedang ia sendiri bertangan kosong Boe Kie jadi keder, tapi dengan mengepos kesana kesini ia berhasil menyelamatkan diri dari tiga bacokan. Dalam bacokan keempat, orang itu menggunakan seantero tenaganya. Dengan cepat Boe Kie berkelit dan ia membacok angin. Apa celaka, karena terlalu bernapsu dan menyerang dengan seluruh tenaga, ia terhuyung dan jatuh terguling. Tanpa menyia nyiakan kesempatan baik, Boe Kie menendang dengan menggunakan ilmu meminjam tenaga sehingga tubuh orang itu terpental dan jatuh kedalam kuali yang airnya bergolak-golak.
Jika Boe Kie diperintah untuk bertempur melawan lima orang itu, ia pasti tak akan berani. Biarpun sedari kecil ia sudah belajar silat, ia masih belum tahu kepandaiannya sendiri. Kalau bukan sedang menghadapi bahaya besar, ia tentu tak akan berlaku nekat. Sesudah merobohkan lima orang itu, ia tercengang dan setelah semangatnya berkumpul kembali, ia merasa sangat girang.
Baru saja hatinya tenteram, tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki dan beberapa orang masuk kedalam hutan. Mendengar suara manusia, Poet Hwie yang belum hilang takutnya lantas saja menubruk dan memeluk Boe Kie erat-erat. Begitu melihat orang orang yang mendatangi, Boe Kie jadi girang. "Kan Toaya! Sie Toaya!" serunya.
Ternyata, antara mereka itu yang terdiri dari lima orang, yang satu adalah Kan Ciat dan yang situ lagi Sie Kong Wan bersama dua saudara seperguruannya. Mereka berempat telah disembuhkan Bor Kie waktu terlika akibat pukulan Kim-Hoa Popo. Orang yang kelima adalah seorang pemuda yang barusan kira-kira duapuluh tahun dan berparas angker. Dengan pemuda itu, Boe Kie belum, pernah bertemu muka.
Kan Ciat mengawasi dan berkata. "Saudara Thio, kau juga berada disini? mengapa orang itu?" Seraya menanya, dia menuding kelima orang yang rebah ditanah.
Dengan suara mendongkol, Boe Kie lalu menceriterakan apa yang sudah terjadi. Sebagai penutup ia berkata: "Celaka sungguh! Mereka mau coba makan kami berdua. Untung juga aku berhasil merobohkannya."
Selagi Boo Kie bicara,Kan Ciat mengawasi Poet Hwie dengan sorot mata luar biasa dan berkata dengan suara perlahan: "Lima hari lima malam tak pernah menelan sebutir nasi... hanya gegares kulit pohon dan rumput.... Hmmm! Dagingnya begitu montok ..... " Melihat sinar mata kelaparan, seolah-olah sinar mata anjing hutan yang sangat menakuti, Boe Kie terkejut dan buru-buru ia memeluk Poet Hwie.
"Mana ibunya?" tanya Sie Kong Wan.
"Kie Lie hiap pergi membeli beras," jawab Boe Kie.
Apa mau Poet Hwie menyelak: "Bukan! Ibu telah terbang kelangit!"
Kan Ciat dan Sie Kong Wan menyeringai.
Mereka tahu, bahwa itu berarti Kie Siauw Hoe sudah meninggal dunia.
Sie Kong Wan tertawa dingin. "Beli beras?" tanyanya dengan nada mengejek, "jikalau bisa mendapatkan sebutir beras dalam jarak lima ratus li di sekitar tempat ini, kau betul-betul pintar"
Dengan lirikan mata, Kan Ciat memberi isyarat kepada Sie Kong Wan. Tiba-tiba mereka melompat dengan berbareng, Kan Ciat mencekal kedua tangan Boe Kie, sedang Sie Kong Wan memeluk Poet Hwie.
Boe Kie terkesiap. "E-eh Mau apa kamu?", tanyanya.
"Di seluruh Hong yang hoe semua manusia kelaparan," jawab Kan Ciat. "Dalam menghadapi kebinasaan, kami harus menolong diri sendiri. Nona itu bukan sanak familimu. Dia dapat menyambung jiwa kami...."
"Manusis celaka!" caci Boe Ka dengan kegusaran yang meluap-luap. "Kamu, manusia-manusia yang menamakan diri sendiri sebagai orang orang Rimba Persilatan, tapi mau melakukan perbuatan terkutuk itu? Sungguh memalukan! Apa kamu tidak merasa malu, menjadi manusia sehina itu?"
Dalam laparnya memang Kan Ciat sudah tidak mengenal malu. Mendengar cacian pedas ia jadi gusar dan lalu menggaplok muka Boe Kie keras. "Binatang! Kaupun akan mengalami nasib seperti dia!" bentaknya.
Bagaikan kalap Boe Kie meronta-ronta, tapi Seng cioe Ka lam adalah seorang ahli sitat dan cekalannya keras bagaikan besi. Kedua soeteenya Sie Kong Wan segera mengambil tambang yang lalu digunakan untuk mengikat kedua anak itu.
Sesudah dibelenggu, Boe Kie menghela napas. Ia merasa bahwa hari ini ia akan menyusul kedua orang tuanya di alam baka. Dalam gusarnya, ia merasa menyesal, bahwa ia sudah menolong jiwanya keempat manusia itu.
"Binatang kecil" caci Kan Ciat. "Kau sudah mengobati lukaku dan didalam hatimu kau sekarang pasti sedang mengutuk aku."
"Manusia hina-dina!" teriak Boe Kie, "Kamu membalas kebaikan dengan kejahatan. Kalau tidak ditolong aku, sekarang kamu sudah berada dilobang kubur."
"Saudard Thio." kata Sie Kong Wan sambil bersenyum senyum, "kau sudah menolong kami dan untuk itu kami merasa berhutang budi. Tapi sekaranq kami sedang menghadapi kebinasaan karena lapar. Kalau mau menolong, kau harus menolong sampai diakhirnya. Dan kamu sekarang sekali lagi kami memerlukan pertolonganmu.
Keganasan Kan Ciat sudah menyeramkan, tapi kekejatnan Sie Kong Wan yang mengunjuk ketelengasannya sambil tertawa-tawa lebih menyeramkan lagi. Boe Kie jadi nekat dan berteriak: "Aku adalah murid Boe tong, sedang adikku muid Go-bie-pay. Kebinasaan kami berdua tidak menjadi soal. Tapi apakah kamu kira lima pendekar Boe-tong dan Biat-coat Soetbay akan menyudahi perbuatanmu dengan begitu saja?"
Kan Ciat terkejut. Ia merasa bahwa ancaman bocah itu bukan ancaman kosong, sebab Boetong pay dan Gobie pay memang tidak boleh dibuat permainan.
Tetapi Sie Kong Wan tertawa terbahak bahak. "Kejadian di hari ini diketahui oleh Langit, oleh Bumi, oleh kau dan oleh aku. Bocah! Sesudah kau berada dalam perut kami kau boleh mengatakan kepada Thio Sam Hong."
Kan Ciat turut tertawa dengan sinting. "Kau benar, kau benar," katanya. "Saudara Thio, untuk menolong jiwa, kami sesungguhnya tak dapat berbuat lain." Sehabis berkata begitu, ia berpaling kepada kedua soetenya Sie Kong Wan dan membentak: "Mengapa kamu berdiri seperti patung? Pergi ambil air dan cari kayu bakar!"
Kedua orang itu mengangguk dan lalu berjalan pergi.
"Sie Toaya," kata Boe Kie dengan suara memohon, "jikalau kalian mau juga makan daging manusia, makanlah dagingku saja seorang. Aku memohon supaya kamu suka membebaskan adik kecil itu. Kalau permintaanku dilulusi, biarpun mati aku tak akan merasa menyesal."
"Mengapa begitu?" tanya si manusia she Sie.
"Karena pada waktu mau menutup mata, ibunya telah meminta pertolonganku supaya aku mengantarkan dia kepada ayahnya," jawab Boe Kie. "Kan Toaya, dengan makan aku seorang kurasa kamu sudah cukup kenyang dan besok kamu bisa membeli kerbau atau kambing untuk dijadikan barang santapan selaajutnya. Kan Toaya, Sie Toaya, ampunilah adikku itu."
Melihat kesatriaan bocah itu, mau tak mau hati Kan Ciat tergerak juga, ia mengawasi Sie Kong Wan dan bertanya: "Bagaimana pikiranmu?"
"Ini soal kecil," jawabnya. "Tapi kalau rahasia ini bocor, dikemudian hari kite berabe sekali. Song Wan Kiauw, Jie Lian Coe dan yang lain-lain tentu akan cari kita. Wan Toako, jika kau mempunyai jalan untuk menghadapi mereka, aku tidak berkeberatan."
"Tak salah", kata Kan Ciat sambil mengangguk. "Aku sungguh tolol. Aku tidak memikir apa yang mungkin terjadi dihari kemudian."
Sesaat itu, seorang Hwa san pay sudah kembali dengan membawa air dikuali. Boe Kie mengerti, bahwa bahaya sudah sangat dekat. "Poet Hwie moay-moay," katanya. "kau bersumpahlah, bahwa kau tak akan menceritakan kejadian dihari ini kepada siapapun jua."
Tapi anak itu yang belum mengerti apapun jua lantas saja menangis keras. Ia sama sekali tidak tahu bahwa kakak itu sedang menawarkan jiwa sendiri untuk menolongnya.
Pemuda yang tidak dikenal Boe Kie, yang parasnya angker, terus duduk ditanah tanpa mengeluarkan sepatah kata. Sekarang Kan Ciat mengawasinya dan berkata: "Cie Siauw Sie, kalau mau turut makan daging kambing, kau harus bekerja."
"Baik," kata pemuda itu sambil mencabut sebilah golok pendek dari pinggangnya. Sesudah menggigit goloknya, ia mengangkat Boe Kie dan Poet Hwie dan lalu berjalan kearah satu sungai kecil, Boe Kie meronta-ronta dan mencaci kalang kabutan, tapi dia tidak meladeni.
Tapi baru saja ia ber jalan belasan tindak, Sie Kong Wan mendadak berteriak: "Cie Siauw Sie! Disini saja!"
Siauw Sie berjalan terus, "Disungai lebih baik," jawabnya dengan suara tidak terang, sebab giginya sedang menggigit golok.
"Disini! Aku kata disini, disini!" teriak pula Sie Kong Wan. Ternyata manusia she Sie itu lihay juga otaknya. Melihat sianar mata dan sikap pemuda itu yang agak luar biasa, ia bercuriga.
Sekonyong konyong Siauw Sia berteriak. "Lekas lari" Ia melepaskan kedua anak itu ditanah dan memotong tambang yang mengikat tangan mereka.
"Terima kasih untuk budimu yang sangat besar," kata Boe Kie seraya menarik tangan Poet Hwie dan lalu lari sekeras-kerasnys.
Sambil berteriak, Kan Ciat dan Sie Kong Wan mengubar. "Tahan!" bentak Siauw Sia sambil menghadang ditengah jalan.
Melibat pemuda itu berdiri dengan sikap angker sambil melintangkan goloknya, kedua manusia itu agak jeri. "Minggir kau!" bentak Kan Ciat.
"kita adalah orang-orang Kangouw yang harus mempunyai rasa kesatriaan," kata Siauw Sia. "Apa kamu tidak merasa malu kalau kamu mencelakakan anak kecil itu?"
"Jangan rewel!" teriak Kong Wan dengan gusar. "Dalam kelaparan, aku akan gegares siapa pun jua." Ia menggapai kedua soeteenya dan berteriak pula: "Ubar mereka!"
Sementara itu, melihat Poet Hwie tidak bisa lari cepat. Boe Kie lalu mendukungnya dan kabur sekuat tenaga. Tapi apa mau dikata, sebagai seorang anak tanggung, ditambah dengan beban yang berat, ia tidak dapat secepat orang dewasa. Sebelum keluar dari hutan itu, mereka sudah dicandak oleh kedua murid Hwa san pay. Buru-buru Boe Kie menurunkan si nona dari dukungan dan dengan nekat ia menyerang kedua pengejarnya. Pukulannya yang pertama ditangkis oleh salah seorang. "Plak!" badannya terhuyung beberapa tindak.
"Bangsat cilik! Lihay juga kau!" bentak orang itu yang merasakan beratnya pukulan si bocah. Dengan berbareng mereka menghunus golok dan berlangsunglah pertempuran ganjil. Dua orang dewasa yang bersenjata mengerubuti seorang anak yang bertangan kosong. Ketika itu, Boe Kie sudah tidak memikiri jiwanya lagi, sambil mengegos dan melompat kian kemari, ia berteriak-teriak menyuruh Poet Hwie lekas-lekas melarikan diri.
Dilain pihak, Siauw Sia pun sudah dikepung oleh Kan Ciat dan Sie Kong Wan. Baru bergebrak beberapa jurus, ia sudah keteter. Selang beberapa jurus lagi golok Ken Ciat mampir dilututnya yang lantas saja mengucurkan darah. Ia mengerti, bahwa dilanjutkannya pertempuran akan berarti kebinasaannya. Maka itu, sesudah menimpuk Sie Kong Wan dengan goloknya, ia melompat dan terus kabur. Sie Kong Wan berkelit dan golok itu jatuh ditanah.
Sambil berlari, Siauw Sia berteriak: "Saudara Thio, jangan takut. Aku pergi untuk mengambil bala bantuan."
Kan Ciat dan Sie Kong Wan lantas saja menyusul kedua kawannya dan dengan mudah mereka menawan pula kedua anak itu, yang lalu diikat lagi kedua tangannya.
Kan Ciat mengawasi Sie Kong Wan dengan mata mendelik. "Orang she Cie itu bukan manusia baik," katanya dengan mendongkol. "Bagaimana dia berjalan bersama-sama kamu?"
"Kami kertemu ditengah jalan," jawab Sie Kong Wan. "Siapa tahu dia orang baik atau orang jahat? Menurut katanya, dia she Cie bernama Tat. Kau jangan percaya omongannya. Sekarang sudah hampir malam. Dari mana dia mau mengambil bala bantuan?"
"Kalau didengar dari suaranya, dia penduduk Hong-yang," menyelak seorang Soetee Sie Kong Wan, "Biarpun dia membawa semua penduduk kampung, kita tidak usah takut."
"Penduduk Hong-yang?" menegasi Kan Ciat sambil menyeringai. "Ha ha! Jangankan berkelahi berjalanpun mereka sudah tak mampu. Hayolah Aku sudah kuat menahan rasa lapar." Mereka segera kembali keperapian.
Sesudah tertangkap lagi, Boe Kie dihajar babak belur, pakaiannya robek dan isi sakunya terserak ditanah. Tiba-tiba matanya tertumbuk dengan sejilid buku yang kertasnya kuning dan karena di tiup agin, lembaran buku itu terbuka. Buku itu ialah Tok Soei Tay coan milik Ong Lan Kouw. Ia sekarang sudah tidak memikir untuk hidup dan memperdulikan apapun jua.
Sesudah mikir begini setengah mati, begitutupun tiada jalan hidup, Boe Kie malah jadi tenang. Pada saat pikirannya bersih itulah, secara tidak disengaja matanya melirik pula ke lembaran buku itu, dan secara kebetulan pula halaman yang terbuka adalah bagian rumput2 beracun. Hatinya tertarik juga dan ia lalu membacanya. Pada bagian itu secara jelas diterangkan bentuk, bau warna, sifat dan cara memunahkannya macam rumput2 beracun.
Sesudah membaca beberapa saat, ia menghela napas. Ia ingat, bahwa beberapa detik lagi, ia akan berkumpul dengan roh orang tuanya.
Sekonyong2, waktu melirik kesebelah kiri, matanya tertumbuk pula dengan segundukan rumput yg berwarna sangat menyolok indah, segar dan mengkilap. Mendadak saja, dalam otak nya berkelebat serupa ingatan.
“Apa tak bisa jadi rumput beracun? Menurut buku ini, rumput yg mengandung racun indah warnanya. Kalauy benar rumput itu rumput beracun, jiwa Poet Hwie moay moay masih bisa ditolong.” Pada saat itu ia sudah tidk memikir untuk menyelamatkan jiwa sendiri. Dengan masih mengeramnya racun dingin didalam tubunya, anmdaikata hari ini ia selamat, paling banyak ia hanya bisa hidup beberapa bulan lagi., Apa yg dipikirnya ialah usahan menolong Poet Hwie, guna memenuhi permintaan mendiang Kie Siauw Hoe.
Dengan perlahan ia menggulingkan badan kearah rumput itu. Karena kedua tangannya terikat kebelakang, ia lalu membelakangi rumput itu dan kemudian mencabutnya. Sungguh untung, gerak geriknya itu tidak diperhatikan oelh musuh2nya yg sedang diserang dengan rasa lapar dan tengah memusatkan perhatiannya keapda air yg hamper mendidih. Sekonyong konyong ia melompat bangun dan sambil mengawasi kejurusan larinya Cie Tang ia berseru, “Cie Taoko, banyak sungguh temanmyu! Tolong! Tolong!”
Dengan terkejut, Kan Ciat dan tiga kawannya segera menghunus senjata. Mereka mengawasi kea rah yg diawasi Boe Kie. Dengan menggunakan kesempatan itu, Boe Kie mundur dua tindak dan melepaskan segabung rumput yang dicekalnya kedalam kuali.
Melihat tidak ada manusia, Kan Ciat mencaci” Bangsat! Kau boleh berteriak sekali lagi, sekuatmu! Tak ada manusia yang akan menolong kau.”
“Hayolah, perlu apa banyak2 bicara,” kata Sie Long Wan yg sudah merasa tidak sabaran.
“Sie Tonya, aku haus,” kata Boe Kie dengan suara memohon. “Tolong berikan semangkok air panas untukku. Sesudah mati, setanku tak akan mengganggu kau.”
“Baiklah,” jawabnya sambil menyeringai. Ia lalu menyendok semangkuk dari dalam kuali dan mengangsurkannya ke mulut si bocah.
Sebelum mangkok menempel pada bibirnya Boe Kie sudah berseru, “Aduh! Wangi sungguh apa yg dimasak?”
Boe Kie tidak berdusta. Rumput yg tadi di cemplungkannya kedalam kuali tanpa diketahui orang, memang mengeluarkan bebauan sangat harum yg diendus juga oleh Kan Ciat dan kawan2nya. Sesudah kelaparan beberapa hari, bau harum itu membangkitkan napsu makan memperhebat rasa lapar mereka. Oleh karena begitu, sebaliknya dari memberikan kepada si bocah, KongWan lalu menceguk sendiri “kuwah” rumput itu. Astaga, benar2 sedap!, katanya ia segera menyendok semangkok lagi dan menghirupnya dengan bernapsu.
Kan CIat mendongkol bukan main. Ia melompat dan merebut mangkok itu lalu digunakan untuk menyendok “kuah” harum dan segera meminumnya. Dengan beruntung ia menghabiskan 3 mangkok penuh. Kedua soeteenya Sie Kong Wan pun masing2 minum 2 mangkot. Sesudah menderita kelaparan berhari hari “kuah” yang hangat itu mendatangkan perasaan nyaman dan mereka mengusap usap perut sambil menyeringai. Kan Ciat yang masih merasa tidak puas lalu mengambil rumputnya dari dalam kuali dan sesudah mengunyah cepat2 segara menelannya. Diantara mereka tak seorangpun yg menanya dari mana datangnya rumput itu.
“Nah! Sekarang kita boleh bekerja dengan semangat,” kata Kan Ciat sambil ketawa lebar. Sinar matanya lanta saja mengeluarkan sorot kepuasan dan dengan mencekal golok, ia menghampiri Poet Hwie.
Melihat rumput itu belum mengeluarkan akibat suatu apa, Boe Kie menarik kesimpulan bahwa rumput tersebut bukan rumput beracun.
“Habislah jiwaku!” ia mengeluh.
Tapi, baru saja Kan Ciat mengkah dua tindak mendadak ia berteriak “aduh!” sambil memegang perut. Di lain detik, badannya bergoyang goyang dan ia roboh berguling ditanah.
“Kan heng, mengapa kau?” tanya Sie Kong Wan sambil menghampiri dan coba membangunkannya. Tapi sekali membungkuk, ia tak dapat melempangkan pinggannya lagi! Ia terjungkal kesamping si orang she Kan tanpa berkutik lagi. Dua orang murid Hwa San Pay yang lain bahkan tanpa mengeluarkan suara.
“Oh Langit! Oh Bumi! Terima kasih atas pertolonganmu!” teriak Boe Kie dengna suara parau sedang air mata mengalir turun di pipinya.
Dengan bergulingan ia mendekati dan menjemput golok yg jatuh dari tanan Kan Ciat dan kemudia menggunakannya untuk memutuskan tambang yg mengikat tangan Poet Hwe. Sesudah tangannya bebas si nona lalu coba menolong kakaknya dan ia baru berhasil sesudah melukakan tangan Boe Kie di dua tempat.
Tak usah menceritakan lagi kegirangan kedua anak itu, sesudah berpeluk2an beberapa lama barulah Boe Kie nengok mayak Kan Ciat dan kawan2nya. Ternyata muka mereka berwarna hitam dan otot2 pada menonjol keluar, sehingga kelihatannya menakuti sekali. “Racun bisa mencelakakan manusia, tp jg bisa menolong manusa baik,” kata Boe Kie dalam hati. Ia lalu mengambil pulang Tok beot Tay coan dan memasukkannya kedalam saku, dengan niatan untuk mempelajarinya di hari kemudian.
Dengan saling menggandeng tangan, kedua anak itu berjalan keluar dari hutan yg menyeramkan. Baru saja mereka mau mencari jalanan se-konyong2 disebelah timur terlihat obor2 dan tujuh delapan orang yg membawa rupa2 senjata kelihatan mendatangi. Merek ketakutan dan buru2 menyembunyikan diri di rumput2 tinggi.
Tak lama kemudian reroton itu sudah tiba didekat tempat persembunyian kedua anak itu. Yang berjalan didepat Cie Tat yg membawa tombak panjang. Sambil mengangkat obor tinggi2. Ia berteriak, “Hei manusia2 binatang! Lekas keluar untuk terima binasa!” Mereka masuk kedalam hutan dan begitu melihat mayat2 itu, mereka kaget bukan main.
“Saudara Thio! Saudara Thio!” teriak Cie Tat, “Dimana kau? Kamu datang untuk menolong kalian.”
Sekarang Boe Kie tahu, bahwa kedatangan mereka adalah untuk memberi pertolongan. Hatinya terharu dan dengan air mata berlinang2, ia melompat keluar dari rumput alang2. Dengan menuntun tangan Poet Hwie, ia berlari2 menghampiri rombongan penolong itu.
“Cie Tako! Aku berada disini,” serunya.
Cie Tat girang tak kepalang, sambil memeluk si bocah. Ia berkata, “Saudara Thio, jangan diantara anak2, sedangakan diantara orang2 dewasapun jarang terdapat manusia yang mempunyai jiwa kesatria seluhur kau. Aku sungguh berkuatir. Aku kuatir kau sudah menjadi kurbannya manusia2 itu. Tapi orang baik selalu mendapat pembalasan baik.” Ia menanyakan cara bagaimana Kan Ciat dan kawan2nya binasa dan Boe Kie lalu memberikan keterangna sejelas2nya. Mendengar it, semua orang merasa kagum dan memuji kepintaran si bocah.
“Berapa saudara ini adalah sahabat2ku sedari kecil,” kata Cie Tat. “Hari ini kai menyembelih seekor kerbau dan mereka sedang memasaknya di kelenteng Hong kan-sie. Begitu aku meminta pertolongan, mereka segera mengikut aku. Tapi kami datang terlambat dan sungguh syukur kau sudah bisa menolong diri sendiri.” Sehabis berkata begitu, ia segara memperkenalkan sahabat2nya itu. Seorang yg mukanya persegi dan kupingnya lebar she-Thong bernama Ho yang paras mukanya angker, she-Tong bernama Jie yang bermuka hita dan bertubung jangkung, she-Hoa bernama In, dan orang kulitnya bersih adalah kakak beradik sang kaka she gouw bernama Liang, si-adik Gouw Tin dan akhirnya seorang pendeta yg mukanya jelek dan matanya dalam, tp bersinar sangat tajam. “Yang ini adalah Coe Taoke,” katanya. “Ia bernama Goan Coang dan sekrang menjadi pendeta di kelenteng Hong kak sie.”
Dia “jadi pendeta bebas” menyambungi Hoa In seraya tertawa. “Dia tidak membaca kitab suci, pekerjaannya hanyalah minum arak dan daging”.
Melihat paras muka Coe Goan Ciang, Poet Hwie ketakukan dan lalu bersembunyi dibelakang Boe Kie.
“Adik kecil, jangan takut,” kata si pendeta.
“Aku makan daging, tapi tidak makan daging manusia”.
“Hayolah masakan kita rasanya sudah matang,” mengajak Thong Ho.
“Siauw moay-moay, mari aku gendong kau,” kata Hoa In seraya berjongkok dan sesudah menggendong Peot Hwie, ia seraya berjalan lebih dulu dengan tindakan lebar. Melihat cara2 mereka yg polos dan bebas, Boe Kie merasa girang.
Sesudah berjalan empat lima li, tibalah mereka di sebuah kelenteng. Begitu masuk diruangan sembahyang, hidung mereka segera mengendus bebahuan sedap dari masakan daging kerbau (xp)
“Sudah matang!” seru Gauw Liang
“Saudara Thio, kau tunggu disini,” kata Cie Tat. “Kami akan membawa masakan itu kemari.
Boe Kie dan Poet Hwie segera duduk diatas tikar, sedang Coe Goan Ciang dan kawan2 nya masuk kedalam. Beberapa saat kemudian, mereka kembali dengan membawa piring yang penuh daging dan sepoci arak putih. Tanpa menyia2kan tempo, mereka segera makan minum dengan gembira didepan patung Posat.
“Kie Tako,” kata Hoa In sambil mengunyah daging, “peraturan agama kita semuanya bagus. Hanya sayang ada larangan makan daging dan ini aku tidak begitu setuju.
Boe Kie terkejut. “Ah! Kalau begitu mereka orang2 Bengkauw,” katanya di dalam hati.
“Tujuan dari agama kita adalah berbuat kebaikan dan membasmi kejahatan,” kata Cie Tat. “Larangan makan daging hanya merupakan larang yg terakhir. Sekarang ini tak ada beras dan ak ada sayur, apa kita lebih baik mati kelaparan?”
“Cie Taoko benar!” kata Teng Jie sambil menepuk lutut. “Hayo makanlah sepuas hatimu jangan terlalu rewel.”
Selagi enak makan tiba2 terdengar tindakan kaki dan pintu depan digedor, Thong Ho melompat bangun, “Celaka! Orang uta Wang gwee datang mencari kerbau,” bisiknya.
Pindtu didorong keras2 dan disusul dengan masuknya yang berbadan keras dan muka bengis “Aha! Benar saja kerbau Wang gwee digegares kamu!” Teriak seseorang melompat dan menyekel tangan Coe Goan Ciang.
“Pendeta bangsat!” cacai yg satunya lagi “Kami akan menyerahkan kamu kepada tiekoan supaya dihajar mampus.”
Coe Goan Ciang tertawa. “Kalian jangan menuduh sembarangan,” katanya. “Mana bisa jadi aku mencuri kerbau? Sebagai seorang pertapaan aku tak boleh makan daging.”
“Apa itu bukan daging kerbau?” bentak seorang sambil menuding sisa makanan.
Sambil memberi isyarat kepada kawan2nya dengan lirikan mata, Coe Goan Ciang tertawa pula seraya berkata. “Siapa kata itu daging kerbau.” Selagi si pendeta memberi jawaban Gouw Liang dan Gouw Tin berjalan kebelakang kedua tukang pacul itu dan dengan sekali membentak, mereka melompat mencekal tangan kedua orang itu, yg tidak dapat berkutik lagi.
Sambil mencabut pisau panjang dari pinggangnya, si pendeta berkata, “Untuk bicara sebenar2nya, yg dimakan kami bukan daging kerbau, tapi daging manusia. Sekarang rahasia sudah diketahui kamu. Maka itu, untuk menutup mulut kamu, jalan satu2nya ialah makan jg dagingmu,” sehabis berkata begitu, ia membuka baju salah seorang dan menggorehkan pisaunya didada orang.
Kedua tukang pukul itu ketakutan setengah mati dan lalu me-mohon2 ampun. Si pendeta bersenyum. Ia menjemput dua potong daging dan lalu memasukkan kedalam mulut mereka. “Telan!” bentaknya. Tanpa mengunyah lagi, mereka segera menelannya.
Sesudah itu Coe Goan Ciang pergi ke dapur dan mengambil secekel bulu kerbau yg juga lalu dimasukkan kedalam mulut kedua tukan pukul itu “Telan!” bentaknya pula. Karena takut mati, sambil berjengit2 mereka terpaksa menurut perintah.
Goan Ciang tertawa terbahak2. “Nah sekarang kamu boleh mengadu kepada majikanmu.” Katanya. “Kamu boleh melaporkan, bahwa yg gegaras kerbanya yalah kamu. Huh huh!... dihadapan pembesar negeri, aku akan balas menuduh kau. Aku akan menuntut supaya perutmu dibelek. Semua orang akan lihat, bahwa kamu bukan saja sudah gegares dagingnya, tp jg sudah menelan bulu kerbau!” Seraya berkata begitu, ia menggoreskan pula pisaunya dipunggung orang itu yg menggigil karena ketakutan.
Kedua saudara Gouw tertawa berkakakan. Dengan berbareng mereka menendang pantat, kedua tukang pukul itu yang lantas saja terpental keluar dari ruangan sembahyang.
Setelah kaki tangan Thio Wan-gwe diusir, mereka melanjutkan makan minum. Sambil menangsal perut, mereka membicarakan kekejamanan hartwan itu yang sering sekali berbuat sewenang2 terhadap penduduk kampung. Kali ini kedua tukang pukul itu membentur tembok dan mereka pasti tidak berani memberi laporan kepada majikannya. Boe Kie merasa geli dan kagum. “Biarpun mukanya jelek, pendeta she Coe itu lihay sekali,” pikirnya.
Dalam makan minum itu, kawan2 Cie Tat memperlakukan Bie Kie bukan seperti anak2 biasa. Setelah mendengar kesatriaan si-bocah yang rela mengorbankan jiwanya sendiri untuk menolong sesama manusia, mereka menghormati anak itu yg dianggapnya sebagai seorang sahabat yg berharga.
Sesudah makan kenyang, tiba2 Teng Ji menghela napas. Hai! Sudah lama sekali bangsa Han ditindas oleh penjajah asing,” katanya.
“Sampai kapan bencana kelaparan ini baru bisa lewat?”
“Hampir separuh penduduk Hong yang sudah mati kelaparan,” kata Hoa In. “Kurasa dilain tempat pun keadaan tidak lebih baik. Daripada mati konyol, lebih baik kita mengadu jiwa dengan Pat-coe,” (Pat coe – Orang Mongol yang pada waktu itu berkuasa di Tiongkok).
“Benar!” teriak Cie Tat. “Sungguh kecewa jika sebagai laki2 sejati tidak bisa menolong sesama manusia yg memerlukan pertolongan.”
“Tak salah,” menyambungi Tong Ho. “Kita pun tengah menghadapi kebinasaan. Hari ini kita bisa makan kenyang karena berhasil mencuri kerbau. Apa besok kita bisa mencuri lagi?”
Makin bicara mereka makin sengit dan makin hebat mencaci penjajah.
“Sudahlah!” kata Coe Cian Ciang. “Kita mencaci Tat Coe disini, tapi selembar rambut Tat Coe tidan bergeming. Jika kau benar-benar lelaki tulen, mari kita membunuh Tat Coe!”
Dengan serentak Thong Ho dan yang lain2 melompat bangun. “Bagus! Mari… ,mari…………..”teriak mereka.
“Coe Taoko,” Cie Tat ”Kau berusia paling tua dan semua bersedia untuk mendenar segala perintahmu.”
Coa Cian Ciang tidak menolak, “Mulai hari ini kita sama2 hidup dan sama2 mati,” katanya. “Ada rejiki sama2 makan ada bahaya sama2 tanggung.” Mereka mengangkat cawan lalu meneguk kering isinya. Sesudah itu, mereka menghunus golok membacok ujung meja sebagai sumpah setia kawan.
Poei Hwei yg tak tahu apa artinya itu semua, jadi ketakutan dan memeluk Boe Kie.
“Thay soehoe memesan supaya aku tidak bergaul dengan orang2 Beng Kauw,” kata Boe Kie dalam hati. “Tetapi perbuatan beberapa orang Beng Kauw seperti Siang Goe Goen Taoko, Cie Taoko dan kawan2nya, banyak lebih mulia daripada sepak terjang manusi2 seperti Kan Ciat dan Sie Kong Wan yang menjadi anggota dari partai2 jurus bersih”. Thio Sam Hong adalah orang yang paling dihormatinya. Tapi sekarang sesudah mendapat pengalaman pahit getir, didalam hati kecilnya ia merasa, bahwa pandangan orang tua itu tidak tepat seluruhnya. “Tapi biar bagaimana jua, aku tidak dapat melanggar pesanan Thay soehoe,” pikirnya.
“Seseorang gagah tidak menjilat ludah sendiri.” Kata Coe Coan Ciang. “Sekarang sesudah makan kenyang, kita boleh lantas bertindak. Hari ini Thio Wan gwee mengadakan pesta dalam gedungnya untuk menjamu Tat-coe. Mari kita binasakan mereka!”
“Bagus!” teriak kawan2nya
“Tahan dulu!” kata Cie Tat yang lalu menggambil keranjang kecil dan mengisinya dengan daging kerbau. Kemudian sambil mengangsurkan keranjang itu kepada Boe Kie, ia berkata
“Saudara Thio, kau masih terlalu kecil dan tidak bisa mengikuti kami. Kami tak punya apapun jua dan hanya memberikan daging ini kepada kalian. Kalau masih hidup, dibelakangan hari kita masih bisa bertemu pula dan bisa makan minum lagi bersama sama seperti hari ini.”
Boe Kie menyambuti keranjang itu dan berkata dengan suara terharu.
“Aku mengharapkan kalian bisa segera berhasil membinasakan dan mengusir semua Tat Coe, supaya rakyat dikolong dunia bisa hidup senang.”
Mendengar perkataan itu, Coe Goan Ciang dan kawan2nya merasa terkejut.
“Saudara Thio apa yang dikatakan olehmu benar sekali,” kata pendeta itu.
“Sampai bertemu lagi,” sehabis berkata begitu, dengan menenteng senjata bersama lawan2nya, ia segera meninggalkan Hong-kak-sie.
“Kalau tidak membwa anak kecil, akupun akan turut mereka,” kata Boe Kie didalam hati.
“Mereka hanya bertujuh orang dan mereka pasti tak kan bisa melawan kaki tangan Thio Wan Geew Tat Coe yang berjumlah besar. Mungkin sekali orang2 Thio wan Geew akan menyerang kesini. Kelenteng ini akan berbahaya, memikir begitu dengan membawa keranjang daging dan menuntun tangan Poet Hwie, ia segera meninggalkan kelenteng Hong Kak Sie.
Sesudah jalan lima enam lie, disebelah utara mereka melihat sinar api yang berkobar kobar Boe Kie mengerti bahwa kebakaran itu akibat serangan Coe Gian Ciang dan kawan2nya dan ia merasa girang.
Penderita kedua anak itu suka ditutukan satu persatu. Untung juga mungkin karena kedua orangtuanya adalah ahli2 silat, Poet Hwie mempunya benda yang kuat sehingga ia dapat bertahan dalam perjalanan yang penuh kesengsaraan itu. Kadang2 ia “masuk angin” tapi begitu diberi obat, yaitu rambut2 yg dipetik Boe Kie, ia sudah sembuh kembali.
Dengan berjalan sambil sebentar2 berhenti untuk mengaso, didalam suatu hari paling banyak mereka bisa melalu duapuluh li. Kira2 setengah bulan barulah mereka tiba di wilayah propinsi Ho Lam, yang keadaannya tidak lebih baik dari propinsi Anhoei. Diamna mana mereka bertemu dnegan rakyat yg kelaparan.
Untuk menyambung jiwa Boe Kie membuat busur dan anak panah guna memanah burung2 dan binatang2 kecil. Dengan mengandalkan ilmu silatnyam, ia berhasil dalam usaanya itu. Demikianlah, biarpun sengsara mereka masih bisa maju teus sehari kenyang,s ehari lapar. Syukur juga, disepanjang jalan mereka tidak pernah bertemu dengan tentara Mongol atau penjahat2 yg berkepandaian tinggi. Bangsat2 kecil yang mau coba menggangu dengan mudah dapat dirobohkan oleh Boe Kie.
Pada suatu hari mereka bertemu dengan seorang kakek dan dalam omong2 Boe Kie menanyakan dimana letaknya puncah Co Bong Hong, gunung Koen Lun San.
Kakek itu kelihatannya kaget sekali. Dengan mata membelah ia mengawasi Boe Kie dan beberapa saat kemudia, barulah ia berkata, “Saudara kecil, dair sini ke Koen Loen San orang harus melewati perjalanan lebih dari sepuluh laksa li. Menurut katanya orang, hanya Tong Ceng (Tong taycie) yang pernah melewati gunung itu. Saudara kecil jangan kau memikir yang tidak2. Dimana rumahmu? Lekas pulang!”
Boe Kie terkejut. “Kalau begitu jauh, aku terpaksa membatalkan perjalanan kesitu dan paling baik aku pergi ke Boe-Tong san untuk berdiam2 dengan Thay soehoe,” katanya didalam hati. Tapi di lain saat, ia mendapat pikiran lain. “Sesudah menerima baik permintaan orang, biarpun sukar, tak bisa aku mundur ditengah jalan. Apapula waktu hidupku sudah tidak berapa lama lagi. Jika aku berayal dan kuburu mati, sehingga aku tak dapat memenuhi janji di alam baka, tak ada muka untuk menemu Kie KouwKouw.” Memikir begitu, tanpa bicara lagi dengan si kakek, ia menarik tangan Poet Hwie dan lalu meneruskan perjalanan.
Sesudah berjalan kurang lebih dua puluh haru lagi, pakaian mereka sudah rombeng semua. Sebab kurang makan, muka mereka makin pucal dan badan makin kuru. Penderitaan Boe Kie bahkan ditambah dengan rewelnya si adik yang sering2 menangis dan memanggil2 ibunya. Dengan rupa2 akal, ia membujuk anak itu yg dicintainya seperti saudara kandung sendiri.
Sesudah menyeberang sungai Coe ma ho, bahwa udara jadi semakin dingin, karena pada wkatuitu sudah masuk permulaan musim dingin. Dengah hanya menggenakan pakaian tipis, terutama diwaktu malam, mereka serin gmenggigil kedinginan. Satu ketuika, sebab melihat Poet Hwie bergemetaran hebat, Boe Kie membuka bajunya dna memberikannya kepada si adik.
“Boe Kie koko, apa kau sendiri tidak dingin?” tanya Poet Hwie.
“Tidak aku malah kepanasan.” Jawabnya sambil melompat2 supaya darah mengalir lebih cepat dan badannya jadi lebih hangat.
“Kau sungguh baik!” kata si adik dengan suara perlahan. “Kau sendiri kedinginan, tapi kau menyerahkan bajumu kepadaku”. Mendengar perkataan itu, gerakan dari seorang dewasa, Boe Kie tercengang.
Sesaat itu, tiba2 terdengar suara bentrokan senjata, dengan suara tindakan kaki. “Bangsat!” teriak seorang wanita “Kau kena paku Seng-boen-teng yang beracun, makin kau lari, makin cepat bekerjanya racun”.
Buru2 Boe Kie menarik tangan Poet Hwie dan melompat kedalam rumput alang2 yang tumbuh di pinggir jalan. Hampir berbareng, seorang lelaki yg berusia tiga puluh tahun lewat bagaikan terbang, sedang beberapa tombak di belakangnya mengikut seorang wanita ygn tangannya mencekal sepasang golok., Walaupun larinya cepat, tindakan lelaki itu limbung dan mendadak ia roboh terjengkang.
Wanita itu menghampiri dan berkata sambil tertawa. “Bangsat! Akhirnya kau jatuh jg kedalam tanganku.”
Sekonyong2 diluar dugaan, lelaku itu melompat bangun dan menghantan dengan dua tangannya. “Plak!” pukulannya mengenai tepat di dada si wanita. Pukulan yg dikirim dengan nekat hebat luar biasa, sehingga wanita itu lantas saja terguling, sedang sepasang goloknya terlempar ditanah.
Dengan napas tersengal sengal, lelaki itu mencabut sebatang paku dari pundaknya. “Keluarkan obat pemunah!” bentaknya.
“Kau bunuh saja aku!” kata si wanita. “Ku tak punya obat pemunah”
Sambil menempelkan ujung golok, yg dicekal di tangan kiri, dileher wanita itu, lelaki itu lalu menggeledah saku orang dengan tangan kanannya. Benar saja ia tak mendapatkan apa yg dicarinya.
Wanita itu tertawa dingin, “Waktu Soehoe memerintahkan kami untuk menangkap kau, ia telah memberi senjata rahasia beracun, tapi tidak membekali obat pemunah”, katanya. “Sesudah jatuh kedalam tanganmu, aku tak memikir untuk hidup. Tapi kaupun jangan harap bisa ketolongan.”
Lelaki itu gusang tak kepalang. Dengan geregetan ia menancapkan Song-boen-teng beracun di pundak orang dan membentak, “Kau juga harus turut merasakan enaknya paku ini! Kamu, orang2 Koen-loen-pay…” Ia tak dapat meneruskan perkataannya dan roboh ditanah.
Wanita itu mencoba merangkak bangun, tapi lukanya terlalu hebat dan “uah!” ia memuntahkan darah.
Demikianlah kedua musuh itu, yang sama2 terluka berat, rebah dengan napas memburu.
Sesusah mendapat pengalaman pahit dair manusia2 seperti Kan Ciat dan kawan2nya, Boe Kie sekarang sangat hati2 terhadap orang2 Kang-ouw. Ia terus menyembunyikan diri dan tak berani keluar.
Sesaat kemudian, lelaki itu menghela napas dan berkata, “Hari ini aku Souw Hie Cie binasa di Coe-ma-tiam tanpa tahu apa kesalahan terhadap Koe Leon Pay. Celaka sungguh. Benar2 aku mati penasaran. Ciam Kouw Nio, bolehkah aku memohon keteranganmu?”
Wanita itu adalah seorang she Ciam bernama Coen. Ia tahu, bahwa paku Song-boen-teng dari gurunya mengandung racun yang amat hebat dan mereka berdua akan binasa bersama sama. Mengingat itu ia terduka sangat dan berkata dengan suara perlahan. “Siapa suruh kau mengintip waktu guruku sedang berlatih ilmu pedang. It pit kiam sangan dirahasiakan oleh Soe Hoe. Jangankan orang luar sedangkan muridnya sendiri bisa dikorek kedua biji matanya, kalau murid itu berani melihat latihannya tanpa permisi.”
“Ah!” Souw Hie Cie mengeluarkan suara tertahan dan kemudian mencaci. “Bangsat! Tua bangka sudah mau mampus!”
“Kurang ajar kau!” bentak Ciam Coen, “Sedang ajalmu sudah hampir tiba, kau masih berani mencaci guruku”.
“Kalau aku mau mencaci, mau apa kau?” kata Hie Cie dengan gusar. “Apakah aku tidak mempunyai alasan untuk merasa penasaran? Waktu lewat di Pek-goe-san, secara tidak sengaja, kulihat gurumu sedang bersilat dengan menggunakan pedang. Sebab merasa ketarik, aku berhenti dan menonton. Apakah aku mempunyai kepintaran yang luar biasa, sehingga sekali melihat aku sudah bisa memahami Leong heng It pit kiam? Andaikata aku memiliki kecerdasan yang begitu tinggi, kamu semua beberapa murid Koen leon pay, sudah pasti takkan bisa mengalahkan aku. Ciam Kow nio, aku ingin memberitahukan kau secara terang2an, bahwa menurut pendapatku, gurumu, Thie kim Sian seng adalah manusia yang pandangannya terlalu sempit dan jiwanya terlampau kecil. Andaikata … ciam Kouwnio, andaikata benar aku sudah berhasil mencuri satu dua jurus dari Liong heng It pit kiam, kedosaanku tidaklah begitu besar, sehingga aku mesti menerima hukuman mati”.
Ciam Coen tak bisa mengeluarkan sepatah kata. Dalam hati kecilnya, ia pun merasa, bahwa sang guru terlalu kecil jiwanya. Begitu lekas mengetahui, bahwa pemuda itu telah mencuri lihat latihannya, ia segera memerintahan enam muridnya, untuk mengubui dan membinasakan “pencuri” itu, sehingga sebagai akibatnya mereka berdua menghadapi kebinasaan bersama sama. Cian coen yakin, bahwa pengakuan pemuda itu yang diberikan pada saat hampir menghembuskan napas yang penghabisan, sudah pasti bukan keterangan justa.
Suaw Hie Cie menghela napas dan berkata lagi. “Dia telah memberikan senjata rahasia beracun kepadamu, tapi tidak membekali obat pemunahnya. Dalam rimba persilatan, mana ada orang begitu gila? Bangsat…”
“Souw Toako,” kata Ciam Coen dengan suara halus, “Siaow moay merasa menyesal, bahwa siauw moay telah mencelakakan kau. Bagus juga sebagai hukuman siaw moay akan mengantar kau pulang ke alam baqa. Inilah yang dinamakan nasib. Apakah yang siauw moay merasa lebih menyesal ialah dalam peristiwa ini, siauw moay menyeret toaso dan putra putrimu”.
“Istriku sudah menutup mata pada dua tahun berselang dengan meninggalkan dua anak, satu laku dan satu perempuan,” kata Souw Hie Cie. “Besok mereka akan jadi anak yatim piatu”
“Apakah dirumahmu masih ada orang lain yang bisa merawat anak2 itu?” tanya nona Ciam.
“Mereka dirawat oleh nsoku (nsoku – istri kakak lelaki).” Jawabnya. “Nao hebat adanya dan licik sifatnya., Sebegitu lama aku masih hidup, ia masih takuti aku. Hai! Mulai besok kedua anakku itu akan sangat menderita.”
Ciam Coen yang berhati lembek lantas saja mengucurkan airmata. “Ini semua adalah karea gara2ku” katanya dengan suara parau.
“Tapi kau tidak boleh disalahkan,” kata Hie Cie. “Kau telah menerima perintah gurumu dan kau tidak dapat menolak perintah itu. Kaupun tidka mempunyai permusuhan apapun jg denganku. Sebenar2nya, sesudah kena senjata beracun, aku harus menerima nasib. Perlu apa aku memukul kau dan juga melukakan kau dengan senjata beracun? Andai kata aku tidak berbuat begitu, sebagai seorang yang berhati mulia kau tentu tidak nolong melihat2 kedua anakku yang bernasib buruk itu.”
Nona Ciam tertawa getir. “Aku adalah penjahat yang membinasakan kau,” katanya. “Bagaimana kau bisa menamakan aku sebagai seorang yang berhati mulia?”
“Aku tidak menyalahkan kau, benar2 akut tidak menyalahkan kau,” kata Hie Cie.
Demikianlah kedua orang yang tadi bertempur matian dan saling berusaha untuk mengambil jiwa pihak lawan, sekarang saling menghibur!
Sesudah mendengar pembicaraan itu, Boe Kie merasa bahwa mereka bukan manusia jahat. Dalam hatiny lantas saja timbul rasa kasihan, lebih lagi terhadap Souw Hie Cie yang mampunyai dua anak yang masih mengeluarkan rawatan. Mengingat penderitaannya sendiri sebagai yatim piatu rasa kasihannya jadi lebih besar dan sambil menarik tangan Poet Hie ia segera bertidak keluar dari alang2.
Andai aku bisa memutar kembali
Waktu yang t’lah berjalan
‘Tuk kembali bersama didirimu slamanya
Bukan maksud hati membawa dirimu
Masuk terlalu jauh
Ke dalam kisah cinta yang tak mungkin terjadi
Dan aku tak punya hati untuk menyakiti dirimu
Dan aku tak punya hati ‘tuk mencintai
Dirimu yang s’lalu mencintai diriku
Walau kau tahu diriku masih bersamanya
Apakah yang Siauw Moay merasa lebih menyesal ialah dalam peristiwa ini, Siauw Moay menyeret toaso dan putra putrimu”.
“Isteriku sudha menutup mata pada dua tahun berselang dengan meninggalkan dua anak, satu lelaki dan stu perempuan,” kata Souw Hie Cie. “Besok, mereka akan jadi anak yatim piatu”.
“Apakah di rumahmu masih ada orang lain yang bisa merawat anak-anak itu?” tanya nona Ciam.
“Mereka dirawat oleh nsoku (nsoku – isteri kakak lelaki),” jawabnya. “Nso hebat adatnya dan licik sifatnya. Sebegitu lama aku masih hidup, ia masih takuti aku. Hai! Mulai besok kedua anakku itu akan sangat menderita”.
Ciam Coen yang berhati lembek lantas saja mengucurkan air mata. “Ini semua adalah karena gara-garaku” katanya dengan suara parau.
“Tapi kau tidak boleh disalahkan,” kata Hie Cie. Kau telah menerima perintah gurumu dan kau tidak dapat menolak perintah itu. Kaupun tidak mempunyai permusuhan apapun juga denganku. Sebenar-benarnya, sesudah kena senjata beracun, aku harus menerima nasib. Perlu apa aku memukul kau dan juga melakukan kau dengan senjata beracun? Andai kata aku tidak berbuat begitu, sebagai seorang yang berhati mulia kau tentu bisa nolong melihat-lihat kedua anakku yang bernasib buruk itu”.
Nona Ciam tertawa getir. “Aku adalah penjahat yang membinasakan kau,” katanya. “Bagaimana kau bisa menamakan aku sebagai seorang yang berhati mulia?”
“Aku tidak menyalahkan kau, benar-benar aku tidak menyalahkan kau,” kata Hie Cie.
Demikianlah kedua orang yang tadi bertempur matian dan saling berusaha untuk mengambil jiwa pihak lawan, sekarang saling menghibur!
Sesudah mendengar pembicaraan itu, Boe Kie merasa bahwa mereka bukan manusia jahat. Dalam hatinya lantas saja timbul rasa kasihan, lebih lagi terhadap Souw Hie Cie yang mempunyai dua orang anak yang masih mengeluarkan rawatan. Mengingat penderitaannya sendiri sebagai anak yatim piatu rasa kasihannya jadi lebih besar dan sambil menarik tangan Poet Hie ia segera bertindak keluar dari alang-alang.
“Cian Kouwhio, racun apa yang digunakan pada senjata rahasia itu?” tanyanya.
Melihat munculnya kedua anak itu, Hie Cie dan Ciam Coen merasa heran. Dan mendengar pertanyaan Boe Kie, mereka jadi lebih heran lagi. “Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan dan luka kalian mungkin sekali bukan tidak dapat diobati,” kata pula Boe Kie.
“Akupun tak tahu racun apa yang digunakan,” jawab nona Ciam. “Lukanya tidak sakit, tapi gatal bukan main. Menurut katanya Soehoe, orang yang kena Soeng-boen teng hanya bisa hidup dalam tempo empat jam.”
“Bolehkah aku periksa luka kalian?” tanya Boe Kie.
Tapi manakah mereka percaya bocah itu bisa mengobati luka beracun? Dengan pakaian robek, badan kurus kering dan muka pucat Boe Kie dan Poet Hwie kelihatannya seperti pengemis kecil. “Sudahlah, kau jangan rewel. Pergilah! Jangan mengganggu kami.”
Boe Kie tidka meladeni. Ia menjemput paku Soen-boen teng dari atas tanah dan mengendus bau harum dari serupa bunga anggrek.
Dalam hari-hari yang belakangan setiap mempunyai tempo yang luang, Boe Kie selalu membaca dan mempelajari Tok-boet Tay coan peninggalan Ong Lan Kouw. Dalam kitab itu berisi keterangan lengkap mengenai ribuan macam racun itu yang aneh-aneh dan cara mengobatinya. Maka itulah begitu mengendus bau racun itu, ia segera mengetahui bahwa yang melekat pada paku Song-boen teng adalah racun bunga To-lo hijau. Bau bunga itu sebenarnya berbau amis sehingga orang dapat memakannya sebanyak mungkin tanpa bahaya apapun jua. Tapi begitu lekas bercampur darah, peti bunga itu lantas saja berubah menjadi racun yang sangat hebat, sedang baunya yang amis juga berubah menjadi harum. “Inilah racun bunga To-lo hijau,” kata Boe Kie.
Ciam Coen memang tidak tahu racun apa yang digunakan pada paku itu, tapi ia tahu, bahwa dalam taman bunga gurunya ditanam banyak sekali pohon bunga To-lo hijau.
“Eh, bagaimana kau tahu?” tanyanya dengan heran. Bunga To-lo hijau adalah tumbuh-tuimbuhan yang langka dan hanya terdapat di wilayah Barat (See-hek). Di daerah Tionggoan sebegitu jauh belum pernah terdapat pohon bunga tersebut.
Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Aku tahu” katanya sambil menarik tangan Poet Hwie dan berkata pula. “Hayolah, kita pergi.”
“Saudara kecil,” kata nona Ciam cepat. “Jika kau bisa mengobati, tolonglah jiwa kami berdua.”
Boe Kie memang ingin menolong, tapi mendadak ia ingat perbuatan Kan Ciat dan Sie Kong Wan, sehingga ia mengambil keputusan untuk membatalkan niatnya itu.
“Tuan kecil,” kata Souw Hie Cie, “Mataku tidak berbiji dan aku tidak bisa mengenali seorang pandai. Kuharap kau sudi memaafkan.”
“Baiklah!” kata Boe Kie. “Aku akan mencoba-coba.” Seraya berkata begitu ia menotok jalan darah Tan-tiong-hiat di iga kiri dan kanan untuk meringankan rasa sakitnya Ciam Coen dibagian dada akibat pukulan Souw Hie CIe. “Bunga To-lo hijau baru menjadi racun kalau bercampur dengan darah,” menerangkan Boe Kie. “Sekarang aku minta kalian saling menghisap luka itu untuk membuang racun yang sudah bercampur dengan darah.”
Hie Cie dan Ciam Coen merasa jengah. Tapi untuk menolong jiwa, mereka segera menyampingkan perasaan malu dan lalu melakukan apa yang dikatakan si bocah.
Sementara itu, Boe Kie sendiri lalu mencari tiga macam daun obat yang lalu dihancurkan dan diborehi diluka itu. “Tiga macam rumput ini dapat menahan bekerjanya racun,” ia menerangkan. “Sekarang mari kita pergi ke kota untuk mencari rumah obat. Aku akan menulis surat obat guna menyembuhkan luka kalian.”
Souw Hie Cie dan Ciam Coen girang tak kepalang. Begitu diborehi daun obat, luka mereka yang semula gatal bukan main, lantas saja adem rasanya dan kaki tangan mereka pun tidak begitu kaku lagi dan dapat digerakkan. Tak henti-hentinya mereka menghaturkan terima kasih. Mereka segera mematahkan ranting pohon dan dengan menggunakannya sebagai tongkat, mereka berjalan kejurusan barat dengan mengajak Boe Kie dan Poet Hwie.
Sambil berjalan Ciam Coen menanya siapa guru Boe Kie, tetapi si bocah sungkan memberitahukan dan mengatakan saja, bahwa sedari kecil ia memang sudah mengerti ilmu pengobatan. Sesudah berjalan satu jam lebih, mereka tiba di kota See-ho-tiam dan sesudah mendapat kamar di rumah penginapan, Boe Kie lalu menulis surat obat dan menyuruh seorang pelayan untuk membelinya.
Tahun itu daerah Holam barat tidak kena bencana kelaparan dan keadaan kota See-ho-tiam masih seperti biasa. Sesudah obat dibeli, Boe Kie lalu memasaknya dan memberikannya kepada Souw Hie Cie dan Ciam Coen. Tiga hari menginap dalam penginapan itu dan setiap hari si bocah menukar obat. Obat makan dan obat pakai. Pada hari keempat semua racun yang mengeram dalam tubuh Hie Cie dan Ciam Coen sudah dapat diusir.
Tentu saja mereka merasa sangat berterima kasih. Mereka menanyakan ke mana kedua anak itu mau pergi dan Boe Kie lalu memberitahukann bahwa tujuan mereka adalah puncak Coe-bong heng di pegunungan Koen-loen-san.
“Souw Toako,” kata si nona. “Jiwa kita ditolong oleh saudara kecil ini. Ta[o urusanmu masih belum dapat diselesaikan. Kelima kakak seperguruanku masih terus mencari-cari kau dan kalau bertemu dengan mereka, kau bisa celaka. Apakah kau suka mengikut aku pergi ke Koen-loen-san?”
Hie Cie kaget. “Ke Koen-loen-san?” ia menegas.
“Benar,” jawabnya. “Kita berdua menemui guruku dan memberitahukan, bahwa kau tidak mencuri ilmu pdang Liung heng It-pit-kiam, sejuruspun kau tidka mampu. Dalam urusan ini sebegitu lama guruku belum menyudahi, jiwamu selalu masih berada dalam bahaya.”
Hie Cie merasa sangat mendongkol. “Koen-loen-pay terlalu menghina orang,” katanya. “Secara kebetulan aku hanya melihat gurumu bersilat untuk sekejap mata, tapi untuk kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahan hampir-hampir jiwaku melayang. Ah! Benar-benar keterlaluan.”
“Souw Toako,” kata nona Ciam dnegan suara lemah lembut. “Cobalah kau piker kesukaran Siauw Moay dalam hal ini. Kalau kau saja yang memberitahukan Soehoe pasti tak percaya dan Siauw Moay akan mendapat hukuman. SIauw Moay dihukum tak menjadi soal. Tapi jika kelima saudara seperguruanku sampai salah tangan dan mencelakakanmu8, Siauw Moay tentu akan merasa tidak enak sekali.”
Sesudah menghadapi kematian bersama-sama dan setelah bergaul beberapa hari, dalam hati kedua orang muda itu sudah timbul perasaan yang wajar, yaitu perasaan cinta. Mendengar bujukan si nona yang sangat beralasan, kegusaran Hie Cie lantas saja mereda. Di dalam hati iapun mengakui kebenaran perkataan Ciam Coen. Sebegitu lama persoalan ini belum dapat diselesaikan langsung dengan Thie Khim Sianseng, sebegitu lama jiwanya terancam bahaya.
Melihat Hie Cie masih membungkam, nona Ciam berkata pula. “Begini saja. Sekarang kau ikut aku ke Kun lun san. Sesudah itu, jika kau mempunyai urusan penting yang harus diselesaikan, Siauw Moay akan menemani kau untuk membereskannya. Bagaimana pikiranmu?”
Hie Cie jadi girang. “Baiklah,” katanya. “Tapi apakah gurumu akan percaya keteranganku?”
“Soehoe sangat menyayang aku,” jawab si nona. “Kalau aku memohon, ia pasti takkan mencelakakan kau.”
Mendengar perkataan-perkataan nona Ciam, Hie Cie segera mengetahui, bahwa gadis itu sudha jatuh cinta kepadanya. Diam-diam ia bergirang dan merasa sangat beruntung. Ia berpaling kepada Boe Kie seraya berkata, “Saudara kecil, mari kita ke Koen loen san beramai-ramai. Di jalan kita takkan merasa kesepian.”
“Koen loen san ribuan mil panjangnya dengan puncak-puncak yang tak terhitung beberapa banyaknya,” kata Ciam Coen. “Aku sendiri tak tahu di mana letak Coe-bong-heng. Tapi kita bisa menyelidiki perlahan-lahan dan aku merasa pasti, kita akan dapat menemukannya.”
Pada keesokan harinya, Hie Cie menyewa sebuah kereta untuk Boe Kie dan Poet Hwie sedang ia sendiri bersama nona Ciam mengikuti dengan menunggang kuda. Setibanya di sebuah kota besar, Ciam Coen membeli pakaian baru untuk kedua anak itu. Sesudah menukar pakaian yang pantas, Boe Kie berubah menjadi seorang anak tanggung yang berparas tampan dan angker, Poet Hwie seorang gadis cilik yang ayu dan jelita. Sesudah dapat makan dan ngaso cukup, perlahan-lahan badan mereka menjadi lebih gemuk.
Makin hari hawa udara makin dingin. Dengan melindungi Hie Cie dan Ciam Coen, perjalanan berlangsung dengan licin, tanpa menemui halangan apapun jua. Sesudah tiba di Seek hek Koen-loen yang besar dan angker itu berada di depan mata. Mereka berjalan terus dengna banyak derita, karena harus melalui gurun pasir dalam hawa udara yang sangat dingin.
Pada suatu hari, mereka tiba di Sam seng youw (Lembah tiga malaikat) dari Koen loen san. Begitu masuk di dalam lembah, mereka melihat pohon-pohon luar biasa dan mengendus bau harum yang tak kurang anehnya. Souw Hie Cie, Boe Kie dan Poet Hwie merasa kagum bukan main. Mereka tak pernah menduga, bahwa di lembah itu terdapat pemandangan yang sedemikian indah seolah-olah di dalam surga. Di samping itu, hawanyapun tak begitu dingin, karena gunung-gunung yang mengitarinya menahan masuknya hawa dingin.
Dahulu, pendiri Koe-loen pay yaitu Ciok Too yang bergelar Koen-loen Sam-seng telah menggunakan tempo bertahun-tahun untuk memperindah lembah itu yang belakangan dikenal sebagai Sam-seng youw. Ia memerintahkan murid-muridnya pergi ke berbagai tempat di sebelah barat sampai di India untuk mencari pohon-pohon dan pohon-pohon bunga yang aneh-aneh untuk ditanam di lembah tersebut.
Sesudah melewati lembah tersebut Ciam Coen lalu mengajak mereka ke Thia khimkie tempat tinggalnya Thiem khim Sianseng Ho Thay Ciong. Begitu masuk, ia bertemu dengan beberapa saudara seperguruan yang paras mukanya mengunuk rasa bingung dan ketakutan. Mereka mengunjuk dan tak mengeluarkan sepatah kata Ciam Coen kaget. “Ada apa?” tanyanya dalam hati.
Sambil menarik tangannya seorang adik seperguruan ia bertanya. “Apa Soehoe ada?”
Sebelum Soemoay itu menjawab, ia sudah mendengar cacian gurunya yang memaki sambil menepuk-nepuk meja. “Semua tong nasi,” teriaknya. “Belum pernah ada pekerjaan yang diurus beres oleh kamu?”
“Soehoe lagi keluar adatnya,” bisik nona Ciam kepada Souw Hie Cie. “Kita jangan nubruk paku. Besok saja kita menjumpai beliau”.
Tapi sebelum mereka keburu mengundurkan diri, tiba-tiba Ho Thay Ciong berseru. “Apa Coen-jie? Mengapa kau tidak lantas menghadap kepadaku? Ada apa kau kasak kusuk? Apa kau sudah mengambil kepalanya bangsat Souw itu?”
Paras muka Ciam Coen lantas saja berubah pucat. Buru-buru ia masuk dan berlutut di hadapan gurunya.
“Coen Jie, apakah kau sudha menunaikan tugasmu?” tanya sang guru.
“Orang she Souw itu sekarang berada di luar,” jawabnya dengan suara gemetar. “Dia sengaja datang kemari untuk meminta ampun. Dia mengatakan bahwa dia seorang tolol dan secara tidak sengaja dia sudah menonton waktu Soehoe berlatih. Tapi dia kata, kiamhoat kita sangat tinggi, sehingga meskipun sudah melihatnya, dia tidak mendapat keuntungan jua dan setengah juruspun tak dapat menirunya.”
Sebagai seorang murid yang sudah lama berguru, Ciam Coen mengenal adapt sang Soehoe yang merasa sangat bangga karena kepandaiannya sendiri. Oleh karena begitu, ia sengaja mengemukakan rasa kagum Souw Hie Cie terhadap kiamhoat Koen-loen-pay. Si nona mengharap supaya dalam girangnya dan sang guru akan mengampuni pemuda ini.
Dalam keadaan biasa, mungkin sekali Hou Thay Ciong akan menerima “topi tinggi” itu dengan segala senang hati. Tapi hari itu ia sedang murung tak dapat digembirakan dengan pujian belaka. Sambil mengeluarkan suara dihidung, ia berkata. “Bagus! Kau telah bekerja baik sekali. Penjarakan orang she Souw itu dalam kamar batu di gunung belakang. Aku akan menjatuhkan hukuman belakangan.”
Melihat gurunya sedang marah-marah, nona Ciam tidak berani banyak bicara. “Baiklah,” katanya sesudah berdiam sejenak, ia bertanya. “Apa para Soebo baik? Aku ingin pergi ke belakang untuk memberi hormat.” (Soebo-istrinya guru)
Ciam Coen sudah menggunakan istilah “para Soebo” karena Ho Thay Ciang mempunyai tak kurang dari lima istri-gundik dan yang paling disayang olehnya adalah gundik yang kelima. Untuk menolong jiwa Souw Hie Cie, si nona berniat pergi menemui Soebo kelima itu untuk meminta pertolongan.
Di luar dugaan, begitu mendengar pertanyaan muridnya, paras Ho Thay Ciong lantas saja berubah sedih dan sesudah menghela napas panjang ia berkata. “Memang ada baiknya jika kau pergi menemui Ngo-kouw. Dia sakit berat. Untung kau pulang siang-siang sehingga masih keburu bertemu muka dengannya.”
Nona Ciam terkejut. “Ngo-kouw sakit? Sakit apa?” tanyanya.
Sekali lagi sang guru menghela napas. “Sungguh bagus kalau kutahu sakit apa,” katanya.
“Sudah tujuh tabib yang terkenal pandai di undang olehku, tapi tak satupun yang tahu dia sakit apa. Sekujur badannya bengkak…hai!....” Ia menggelengkan kepala dan berkata lagi dengan suara mendongkol. “Aku mempunyai begitu banyak murid, tapi tak satupun yang berguna. Aku memerintah mereka pergi ke gunung Tiang-pekpsan untuk mencari Loo-san Jie-som, tetapi sesudah pergi dua bulan, seorangpun belum pulang. Aku menyuruh mereka pergi mencari Soat-lian. Sie ouw dan lain-lain obat penolong jiwa semua kembali dengan tangan kosong.”
Ciam Coen mengerti bahwa sang guru mengeluarkan kata-kata itu hanya untuk melampiaskan kedongkolannya. Untuk pergi ke Tiang pek san, orang harus melalui perjalanan berlaksa li.
Mana bisa mereka pulang cepat-cepat? Andaikata mereka sudah tiba di gunung itu, belum tentu mereka berhasil mencari Loo san – Jie som. Mengenai Soat-lian, Sie-ouw dan lain-lain obat mujijat, sekalipun dicari selama seratus tahun, belum tentu orang bisa berhasil. Memikir begitu, ia rasa bingung dan berkuatir akan keselamatan Souw Hie Cie, Ho Thay Ciong menyayangi gundiknya yang kelima seperti menyayangi jiwa sendiri. Kalau nyonya itu tidak dapat disembuhkan, dia tentu akan menumplek kedongkolannya di atas kepala orang lain. Tapi si nona tidak berani mengeluarkan sepatah kata.
Untuk sekian kalinya, Ho Thay Ciong menghela napas. “Dengan menggunakan Lweekang aku telah memeriksa pembuluh darahnya, tapi sedikitpun aku tidak menemui sesuatu yang luar biasa katanya. “Huh, huh! Kalau jiwa Ngo kouw tidak tertolong, aku akan memampuskan semua tabib goblok dalam dunia ini!”
“Coba kutengok padanya,” kata Ciam Coen.
“Baiklah mari sama-sama,” jawab sang guru.
Mereka lalu pergi ke kamar nyonya muda itu. Begitu masuk, si nona mengendus bau obat-obatan yang sangat keras. Ia menyingkap kelambu dan melihat Soebo rebah di ranjang dengan muka seperti Tie Pat Kay (Siluman babi), matanya kecil dalam seolah tidak bisa dibuka lagi. Napasnya tersengal-sengal bagaikan alat penutup api.
Ngo kouw adalah seorang wanita yang sangat cantik. Kalau tak cantik manakah Ho Thay Ciong menyayanginya? Tapi sekarang mukanya seperti mukanya memedi yang menakuti. Melihat begitu Ciam Coen juga menghela napas.
“Panggil tabib-tabib goblok itu!” bentak Ho Thay Ciong.
Seorang nenek yang menjadi pelayan dalam kamar si sakit, lantas saja keluar dan beberapa saat kemudian, ia kembali bersama tujuh orang tabib yang masuk dengan diiringi suara berkerincingnya rantai besi. Ternyata, mereka diikuti satu sama lain dengan rantai besi dan dilihat dari muka mereka yang pucat pasi, mereka pasti sudah banyak menderita. Mereka adalah tabib-tabib ternama di propinsi Soe-coan, In lam dan Kam siok, yang telah diundang, dengan baik atau dengan paksa, oleh murid-muridnya Ho Thay Ciong. Tapi tak satupun dapat menyembuhkan, gundik yang disayang itu. Bukan saja tak dapat menyembuhkan, bahkan pendapat mereka mengenai sebab musebab penyakit itu pun berbeda. Ho Thay Ciong telah mengancam bahwa jika Ngo kouw mati, ketujuh “tabib-tabib goblok” itu akan dikubur hidup-hidup. Mereka sudah memeras otak dan memberi macam-macam obat, tapi penyakit Ngo kouw tidak jadi mendingan. Setiap kali memeriksa penyakit nyonya itu, mereka tidak habis-habisnya dan saling menyalahkan. Yang satu menuduh yang lain sebagai manusia goblok. Kali ini tidak berbeda. Sesudah memeriksa nyonya itu, mereka segera tarik urat.
Ho Thay Ciong jadi gusar dan ia mencaci sambil berteriak-teriak.
Mendadak, serupa ingatan berkelabat dalam otak Ciam Coen. “Soehoe,” katanya, “Dari Holam teecoe membawa seorang tabib, yang biarpun usianya masih muda, kepandaiannya banyak lebih tinggi daripada tabib-tabib itu.”
Sang guru girang. “Mengapa kau tidak memberitahukan terlebih siang,” katanya tergesa-gesa. “Lekas…lekas undang padanya.”
Nona Ciam segera keluar dari kamar dan tak lama kemudian, ia kembali bersama Boe Kie. Begitu melihat wajah Ho Thay Ciong, Boe Kie segera ingat bahwa orang tua itu adalah salah seorang yang sudah turut merekan, sehingga kedua orang tuanya membunuh diri. Mengingat peristiwa hebat itu, darahnya lantas saja naik.
Tapi Thie Kim Sianseng sendiri tentu saja tidak mengenalinya. Sesudah berselang beberapa tahun, muka si bocah sudah banyak berubah. Dengan perasaan ia mengawasi Boe Kie yang baru berusia kira-kira lima belas tahun. Rasa sangat itu bercampur juga dengna rasa mndongkol karena si bocah bukan saja tidka menjalankan peradatan dengan berlutut, bahkan sikapnya tawar dan agung-agungan. Tapi ia tidak menghiraukan semua itu. “Apa dia tabib yang dipujikan olehmu?” tanyanya sambil mengawasi muridnya.
“Benar,” jawab si nona. “Saudara kecil in mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.”
Ho Thay Ciong mengeluarkan suara di hidung. Ia tak percaya.
“Waktu teecoe kena racun bunga To-lo hijau saudara kecil inilah yang mengobati teecoe,” menerangkan Ciam Coen. Sekali ini sang guru terkesiap. Racun bunga To lo hijau adalah racun yang sangat lihai menurut anggapannya, tanpa obat pemunah yang diberikan olehnya sendiri, siapa yang kena pasti akan mati. Kalu benar bocah itu bisa memunahkan racun tersebut ia benar-benar lihay. Maka dari itu, sambil menatap wajah Boe Kie, ia bertanya dengan suara manis. “Anak muda, benarkah kau bisa mengobati penyakit?”
Mengingat nasib kedua orang tuanya, Boe Kie membenci si tua itu. Tapi pada hakekatnya ia memiliki sifat-sifat mulia dan ia seorang yang mudah melupakan segala sakit hati. Kalau tidak memiliki sifat yang baik itu, mana mau ia mengobati orang-orang seperti Kan Ciat dan Sie Kong Wan? Ia merasa, bahwa Koen loen pay mempunyai andil sebagai partai yang turut menjadi gara-gara dari kebinasaan orang tuanya. Tapi ia adalah seorang yang tidak bisa menonton kebinasaan tanpa mengulurkan tangan. Maka itulah, ia sudah menolong Ciam Coen, seorang murid Koen loen pay, dan Souw Hie Cie. Sekarang mendengar pertanyaan si tua, meskipun hatinya gusar, ia manggutkan kepalanya.
Begitu masuk, ia mengendus bau luar biasa. Sesaat kemudian, ia merasa bau itu berubah-ubah sebentar keras, sebentar hilang. Ia mendekati mengawasi muka si sakit dan memegang nadinya. Mendadak ia mengeluarkan sebatang jarum emas yang lain ditusukkan di muka Ngo kouw yang bengkak seperti labu.
Ho Thay Ciong terkejut. “Bikin apa kau?” bentaknya serta mengangsurkan tangan untuk menjambret Boe Kie, tapi bocah itu sudah mencabut jarumnya. Ternyata bekas tusukan jarum sama sekali tidak mengeluarkan darah atau cair. Boe Kie lalu mencium-cium jarum itu dan manggut-manggutkan kepalanya. Sehingga dalam hati Thie Kim Sianseng timbul harapan baru. “Saudara…saudara kecil,” katanya. Apakah ada harapan?” Bahwa sebagai seorang pemimpin sebuah partai persilatan, ia sudah menggunakan istilah “saudara kecil” merupakan bukti, bahwa ia berlaku hormat terhadap si bocah.
Tapi Boe Kie tidak menyahut. Sekonyong-konyong ia merangkak ke kolong ranjang dan sesudah memeriksa kolong ranjang itu beberapa saat, barulah ia keluar lagi. Kemudian ia membuka jendela dan mengawasi pohon-pohon bunga yang ditanam di dalam taman. Mendadak ia melompat dan keluar dari jendela lalu berdiri tegak sambil memandang pohon-pohon di sekitarnya, seolah-olah ia sedang menikmati bunga-bunga yang beraneka warna dan harum baunya.
Ho Thay Ciong mendongkol. Karena sangat mencintai gundiknya itu, maka ia sudah memerintahkan muridnya untuk menanam pohon-pohon bunga yang luar biasa dan mahal harganya di luar jendela kamar Ngo kouw. Sekarang, ia sedang mengharap-harap pertolongan selekas mungkin, sebaliknya dari menolong, si tabib cilik membuang-buang waktu dengan mengawasi pohon-pohon bunga itu. Bagaimana ia tak jadi mengeluh?
Sesudah berdiri beberapa lama, Boe Kie kembali manggut-manggutkan kepalanya, ia balik ke kamar.
“Penyakit itu masih dapat diobati, tapi aku tak sudi mengobatinya,” katanya dengan suara kaku. “Ciam Kouwnio, aku mau pergi”.
“Saudara Thio, kumohon pertolonganmu,” kata nona Ciam. “Kalau kau bisa menolong Ngo kouw, segenap anggota Koen loen pay, dari atas sampai di bawah, akan merasa sangat berterima kasih. Saudara Thio, tolonglah”.
Boe Kie menggelengkan kepalanya sambil menuding Ho Thay Ciong, ia berkata, “Dia, Thie Kim Sianseng, turut mengambil pada bagian waktu sejumlah manusia kejam memaksa kedua orang tuaku membunuh diri. Perlu apa aku menolong jiwa gundiknya?”
Ho Thay Ciong terkesiap. “Saudara kecil, kau she apa?” tanyanya. “Siapa ayah dan ibumu?”
“Aku she Thio,” jawabnya dengan suara tawar.
“Mendiang ayahku adalah murid kelima dari Boe tong pay”.
Si tua jadi lebih kaget lagi. Baru sekarang ia tahu, bahwa anak tanggung itu puteranya Thio Coei San. Buru-buru ia mencoba dan berkata.
“Saudara Thio, pada waktu ayahmu masih hidup, aku bersahabat baik dengannya. Bahwa ia telah membunuh diri sudah sangat mendukakan hatiku…”
“Setelah kedua orang tuamu meninggal dunia, beberapa kali Soehoe menangis”. Ciam Coen menambah dusta gurunya. Beliau sering mengatakan bahwa mendiang ayahmu adalah sahabatnya yang paling akrab”.
Boe Kie bersangsi, ia setengah percaya, setengah tidak. Tapi, sebagaimana telah dikatakan, ia adalah seorang yang mudah melupakan sakit hati lama. Maka itu, lantas saja berkata, “Hoe jin (nyonya) bukan mendapat penyakit aneh. Ia kena racun dari Kim gin Hiat”.
“Ular Kim gin Hiat?” tegas guru dan murid itu hampir berbarengan. Mereka kaget dan heran, karena nama ular itu belum pernah didengar mereka.
“Benar,” jawabnya. “Akupun belum pernah melihat ular itu. Aku menarik kesimpulan itu karena muka Hoejin, lihatlah apa di situ terdapat luka gigitan yang sangat kecil”.
Ho Thay Ciong buru-buru menyingkap selimut yang menutupi tubuh Ngo kouw dan menarik jari kakinya. Benar saja di setiap ujung jari kaki terdapat luka besar yang berwarna hitam. Karena terlalu kecil, jika tidak diperhatikan, luka itu tidak kelihatan.
Melihat begitu, si tua tidak menyangsikan lagi kepandaian Boe Kie. “Benar, benar,” katanya, “Setiap ujung jari kakinya benar terluka. Saudara kecil kau sungguh pandai. Sesudah mengetahui sebab musebab penyakit itu, saudara kecil pasti dapat menyembuhkannya. Sesudah dia sembuh aku akan memberi hadiah yang besar”. Ia berpaling kepada tujuh tabib tolol itu dan membentak, “Kamu semua manusia tolol! Tabib goblok!”
“Penyakit Hoejin memang luar biasa dan kita tak dapat menyalahkan mereka,” kata Boe Kie, “Ho Sianseng biarkanlah mereka pulang saja!”
“Baik, baik,” kata si tua. “Sesudah saudara kecil berada di sini, memang perlu apa tabib-tabib goblok itu berdiam lebih lama lagi? Coen jin, berikan seratus tail perak kepada setiap orang dan suruh mereka pergi segera”.
Ketujuh tabib itu girang bukan main dan sesudah menerima hadiah, cepat-cepat mereka berlalu.
“Coba suruh beberapa bujang menggeser ranjang Hoe jin,” kata Boe Kie. “Di bawah kaki ranjang terdapat dua lubang kecil dan lubang itu adalah tempat keluar masuknya ular Kim gin Hiat”.
Tanpa meminta bantuan lagi, Ho Thay Ciong segera mencekal kaki ranjang yang lalu digesernya. Sesuai seperti yang dikatakan Boe Kie, di bawahnya terdapat lubang kecil.
Si tua girang bercampur gusar. “Lekas ambil belirang dan api!” teriaknya, “Begitu dia keluar aku akan cincang!”
Boe Kie menggoyangkan tangannya. “Tak boleh, tak boleh begitu,” katanya. “Racun yang mengeram di dalam badan Hoejin harus dipunahkan oelh ular itu juga. Kalau kau bunuh Hoejin tak dapat disembuhkan lagi!”
“Oh begitu?” kata si tua dengan rasa heran.
“Mengapa begitu?”
“Ho Sianseng,” terang si bocah sambil menunjuk taman bunga yang berada di luar jendela. “Penyakit Hoejin karena gara-gara delapan pot bunga anggrek Leng cie lan itu”.
“Leng cie lan?” tegas Ho Thay Ciong.
Baru sekarang ia tahu, anggrek itu Leng cie lan namanya. “Karna tahu aku suka menanam bunga, seorang sahabat yang datang dari wilayah Barat, See hek, dan yang membawa delapan pot bunga itu, sudah menghadiahkannya kepada aku. Bunga itu sangat indah dan harum. Hm!...Aku tak tahu dia bibit penyakit”.
“Menurut katanya kitab ilmu ketabiban, Leng cie lan berubi, yang bentuknya bundar seperti bola, warnanya merah api dan di dalam ubi itu terdapat racun yang sangat hebat,” Boe Kie melanjutkan keterangannya, “Cobalah gali”.
Ketika itu, semua Koen loen pay sudah tahu bahwa Boe Kie sedang coba mengobati penyakit Ngo kouw yang luar biasa.
Murid-murid lelaki tidak berani masuk, tapi keenam murid perempuan sudah berada dalam kamar itu. Begitu mendengar keterangan Boe Kie dua antaranya lantas saja mengambil cangkul dan menggali sebuah pot. Benar saja ubi pohon anggrek itu bundar dan warnanya merah. Karena tahu beracun, mereka tidak berani menyentuhnya.
“Sekarang aku minta kalian menggali semua pohon anggrek itu dan taruh ubinya dalam sebuah mangkok kayu,” kata si bocah pula. “Tambahkan delapan biji telur ayam dan semangkok darah ayam. Pukul campuran itu sampai menjadi hancur. Tapi yang mengerjakannya harus berhati-hati, harus menjaga sampai campuran itu tidak mengenai kulit.”
Ciam Coen bersama dua orang saudara seperguruannya lantas saja bertindak keluar untuk melakukan apa yang diminta. Sesudah itu, Boe Kie minta juga dua buah bumbung bambu dan sebatang tongkat bambu.
Tak lama kemudian, ubi Leng cie land an campurannya sudah dipukul menjadi cairan kental. Boe Kie segera menuang cairan itu di lantai dan membuat sebuah lingkaran. Pada lingkaran itu ditinggalkan sebuah lubang yang lebarnya kira-kira dua dim. Sambil mengawasi semua orang, ia berkata, “Kalau sebentar terjadi kejadian luar biasa, kuharap kalian jangan bersuara supaya ular itu tidak menjadi kaget dan menggigit kalian. Harap kalian menutup hidung dengan kapas.” Semua orang lantas saja menuntut, sedang racun lalu menutup hidungnya dengan sedikit kapas.
Sesudah itu, ia mengambil api dan membakar daun-daun Ling cie lan di samping lubang. Kira-kira minuman teh, dari lubang sebelah kiri keluar seekor ular yang badannya merah dan di kepalanya terdapat semacam topi daging yang berwarna emas. Ular itu ternyata mempunyai empat kaki dan panjang badannya kira-kira delapan dim. Baru saja Kim koan Hiat coa (ular darah topi emas) keluar, dari lubang sebelah kanan kembali muncul seekor ular lain yang badannya lebih pendek dan topi dagingnya berwarna perak. Ular yang belakangan dinamakan Gin koan Hiat coa, ular darah topi perak. Sepasang ular itu dinamakan Kim gin Hiat coa yaitu ular darah emas perak.
Sambil menahan napas, Ho Thay Ciong dan murid-muridnya mengawasi kedua binatang itu. Mereka tahu, bahwa kalau ular-ular itu sampai lari, penyakit Nog kouw sukar disembuhkan lagi.
Kedua ular itu saling mendekati dan mengeluarkan lidah mereka, yang bertopi emas menjilat punggung ular yang bertopi perak, sedang yang bertopi perakpun menjilat punggung yang bertopi emas. Sambil menunjukkan sikap saling mencintai itu. Perlahan-lahan mereka saling mendekati lingkaran.Buru2 Boe Kie memasang kedua bumbung bambu dilubang lingkaran dan dengan tongkat bambu, ia menggebrak buntut Gin-koan Hiat-coa. Sekali berkelebat ular itu sudah masuk kedalam bumbung. Kim-koan Hiat-coa masuk ikut masuk, tapi karena bumbung itu kecil, dan hanya memuat seekor ular dia tidak berhasil. Tiba2 ia mengeluarkan suara nyaring luar biasa. Boe Kie segera mencekal bumbung yang lain dan menggebrak pula buntut si topi emas yang sekali lompat, sudah masuk ke dalam bumbung. Si bocah lalu mengambil sumbat kayu dan menyumbat lubang bumbung.
Sedari Kim-gin Hiat-coa keluar, semua orang mengamati dengan menahan nafas dan jantung berdebar. Sesudah Boe Kie menutup bumbung, barulah barulah mereka bernafas lega.
“Coba masak air dan cuci lantai sampai bersih, supaya racun Leng cie lan tidak ketinggalan” kata si bocah. Enam murid perempuan lantas mengiakan dan tak lama kemudian lantai sudah di cuci dengan air panas.
Sesudah itu, Boe Kie minta supaya semua jendela dan pintu ditutup rapat dan ia minta pula Toet hong, Beng pan, Thay Hong, Kam co dan beberapa bahan obat lain yang harus digiling halus dan dicampur kapur.
Campuran ini lalu dimasukkan kedalam bumbung Gin-koan Hiat-coa. Ular itu lantas saja mengeluarkan suara nyaring, disambut oleh si topi emas. Boe Kie lalu mencabut sumbat bumbung Kim-koa Hiat-coa yang lantas saja keluar dan jalan memutari bumbung si topi perak. Dari gerak-geriknya, ia kelihatan dalam kebingungan. Tiba2 ia naik ke atas ranjang dan menyelinap ke dalam selimut Ngo kouw.
Ho Thay Ciong terkesinap, hampir saja berteriak, tapi Boe Kie keburu mengoyang2kan tangannya.Sambil tersenyum si bocah menyingkap selimut dan ternyata ular itu sudah menggigit ujung jeriji kaki Ngo kouw. “Dia akan menghisap racun dalam tubuh Hoejin,” katanya dengan paras muka girang.
Makin lama ular itu makin besar dan kira2 semakanan nasi, dia sudah lebih besar berlipat ganda, sedang topinya bersinar terang. Tak lama kemudian dia turun dari ranjang, dan Boe Kie lalu mencabut sumbat bumbung Gin-koan Hiat-coa. Si topi emas lantas saja memuntahkan darah beracun kedalam topi perak.
“Cukuplah !” kata si bocah. “Setiap hari mereka menghisap dua kali. Sesudah itu akan menulis surat obat untuk menghilangkan bengkak dan menguatkan badan. Dalam sepuluh hari Hoejin akan sembuh seanteronya.”
Tak kepalang girangnya Hoe Thay Ciong yang lalu mengajak Boe Kie ke kamar buku. “Saudara kecil kau mempunyai kepandaian seperti malaikat.” Katanya. “ Tapi apakah aku boleh tahu latar belakang dari kejadian ini?”.
“Menurut Kitab Tok Boet Tay Coan, dalam urutan racun, Kim-gin Hiat-coa jatuh nomor tiga puluh tujuh,” menerangkan si bocah. “Biarpun mereka bukan termasuk binatang beracun terlihay, tapi mereka mempunyai satu keistimew