Tengkorak Maut 17 - tamat
Go siau Bi tetap tertawa tergelak, ujarnya dengan suara
tajam:
"Istri yang ditinggalkan ...nona Tonghong-Hui .. aku tak tahu bagaimana musti memanggil
dirimu, tapi yang jelas perkataanmu itu memang sangat menarik hati, mungkin manusia yang
terdiri dari batu karang pun akan ikut mengucurkan air mata setelah mendengar perkataanmu itu,
cinta sejati yang tak takut berkorban seperti ini boleh dibilang suatu cinta suci yang jarang
dijumpai dikolong langit"
"Engkau anggap aku sedang bohong? mengarang cerita kosong yang sebenarnya sama sekali
tak ada?"
"oooh...engkau tak perlu salah paham, aku hanya ingin bertanya benarkah nona adalah
pengemis cilik? sesuaikah julukan tersebut bagi diri nona? aku hanya menginginkan jawaban yang
tegas dan benar"
JILID 17 HAL. 04 S/D 07 HILANG
"Nona, sebenarnya apa maksudmu?"
"Aku hanya ingin membuktikan, apakah dalam liang kubur ini benar2 dipendam kerangka
seseorang"
Rupanya Tonghong-Hui dibuat sangsi oleh perkataan yang amat tegas itu, lama.. lama sekali ia
termenung, kemudian baru bergumam seorang diri dengan sUara lirih:
"Tidak mungkin.. tidak mungkin kalau kuburan ini kosong, akulah yang telah mengebumikan
jenasahnya disini, aku yang masukkan sendiri jenasahnya.."
Dari sikap lawannya yang amat yakin dan ber-sungguh2, Go siau Bi tahu kalau gadis itu sama
sekali tidak bohong, dengan muka serius dia segera bertanya: "Nona Tonghong, engkau tidak
salah mengubur orang lain?"
"Tidak mengkin salah, yakin se yakin2nya, bahwa dialah yang telah kukubur disini"
"Aaah.. masa dikolong langit bisa terdapat dua orang manusia berwajah sama dengan Han
siong Kie? Aku tak percaya kalau dikolong langit bakal ada dua orang manusia yang sama."
"Apa...?" engkau telah bertemu dengan seorang Han siong Kie lagi? jangan bergurau nona Go
hal itu tak mungkin bisa terjadi" seru Tonghong-Hui dengan wajah terperangah.
"Tak mungkin salah, Aku tahu dia adalah Han siong Kie dan sekarang telah berubah namanya
menjadi Malaikat penyakitan. "
Dalam pada itu, Han siong Kie sendiri ibaratnya orang yang baru saja terserang penyakit berat,
dengan lemas roboh terkapar diatas tanah, meskipun begitu ucapan mereka secara lapat2 masih
sempat menerobos masuk kedalam telinganya.
sekarang ia baru menduga, mungkin apa yang dibicarakan dengan orang yang ada maksud tadi
telah terdengar oleh Go sia uBi, tapi... mengapa dia bersikeras akan membongkar kuburan itu??"
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, terakhir pemuda itu berpikir:
"Aaah sekarang aku tahu, pastilah diapun menaruh hati kepadaku, dan mengira aku sengaja
menyaru jadi orang lain untuk membohongi dirinya, kalau begitu ia tentu sudah menaruh
perasaan salah paham atas diriku" sementara itu di gelanggang Tonghong Hui sedang berseru
kaget:
"siapa? Malaikat penyakitan? aku pernah bertemu dengan dirinya tapi masa dia adalah Han
siong Kie??"
"Jadi engkau tidak percaya?? engkau saja dapat merubah dirimu jadi pengemis cilik, masa dia
tak dapat merubah diri jadi malaikat penyakitan??"
"Maksudmu...ia .telah menyaru diri untuk mengelabuhi pandangan orang banyak?"
"siapa tahu?"
sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, bibirnya bergetar keras lalu gumamnya seorang
diri:
"Tak mungkin, hal ini tak mungkin bisa terjadi, dia sudah mati akulah yang telah menguburkan
jenasahnya disini, dengan tanganku sendiri kututup liang kubur ini"
24
"Nona Tonghong" ujar Go Siau Bi dengan nada dingin, "inginkah engkau membuktikan dengan
mata kepala sendiri, kalau apa yang kau kuucapkan sedikitpun tidak bohong?"
"Apa?? engkau akan membongkar kuburan ini.. hanya untuk membuktikan bahwa ucapanmu
tidak bohong? Gila jangan anggap perbuatan semacam itu sebagai suatu permainan"
"Oooh jangan kuatir, aku rasa tak perlu kita bongkar kuburan itu untuk mencari bukti aku
punya cara lain yang lebih mudah untuk membuktikan kebenaran dari perkataanku tadi"
"Lalu.. bagaimana caramu untuk membuktikan kebenaran dari perkataanmu tadi?" tanya
Tonghong Hui dengan perasaan ingin tahu.
Go Siau Bi tertawa misterius, tiba2 dengan paras muka sedih bercampur murung ia berpaling
kearah tempat persembunyian dari Han Siong Kie, serunya dengan suara lantang: "Han siauhiap,
bersediakah engkau untuk munculkan diri?"
Bagaikan baru saja sadar dari suatu impian, dengan tubuh kaku Han Siong Kie bangkit berdiri
lalu berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.
Tonghong Hui menjerit lengking, dengan tubuh sempoyongan dia mundur kebelakang hampir
saja ia tak percaya kalau apa yang dilihat dengan mata kepala sendiri adalah suatu kenyataan,
seseorang yang dikubur olehnya ternyata telah hidup kembali.
Dia pejamkan matanya rapat2, gadis itu tak punya keberanian untuk membuka matanya
kembali dan memandang kenyataan yang terbentang didepan mata. .
Dalam anggapannya apa yang telah terjadi hanyalah suatu impian yang aneh, dia takut setelah
sadar dari impian maka yang dia hadapi hanyalah penderitaan dan siksaan.
Han siong Kie sendiripun berdiri kaku ditempat semula tanpa berkutik barang sedikitpun juga .
Kedua belah pihak berdiri kaku dalam jarak sepuluh tombak. suatu jarak yang sangat dekat
bagi pandangan jago lihay, karena raut wajah kedua belah pihak dalam terlihat dengan amat jelas.
Paras muka Tonghong Hui berubah jadi pucat pias bakaikan mayat, badannya gemetar keras,
dengan lirih dia berbisik:
"Tidak...tidak mungkin, semuanya bukan kenyataan.. aku tidak percaya.."
Go siau Bi menghela napas panjang.
"Aaaii. nona Tonghong, bersediakah kalau kau untuk mendengarkan suatu kisah cerita??"
Tonghong Hui mengangguk, sepasang matanya masih terpejam rapat, sedangkan tubuhnya
gemetar tiada hentinya.
Go siau Bi tarik napas panjang2 dengan sedih ia mulai bercerita:
"Dalam dunia persilatan terdapat seorang jago yang sangat lihay, suatu ketika nasibnya kurang
mujur sehingga tertangkap oleh pihak lawan, ia dijebloskan kedalam penjara untuk menantikan
saat hukuman matinya tiba, setiap orang yang berada dalam penjara tersebut hanya bisa keluar
dari penjara apabila tubuhnya telah berubah jadi mayat, tapi untung jago lihay itu memiliki ilmu
Ku si tay hoat yang dapat berpura-pura mati, demikianlah dibawah bantuan orang lain akhirnya
dia pura2 mati dan digotong keluar dari penjara itu untuk dikubur secara massal, tiga hari
kemudian ia telah bangkit kembali."
"Orang yang kau ceritakan adalah dirinya?" seru Tonghong Hui sambil membentangkan
matanya lebar2.
"Benar"
"Darimana engkau bisa tahu semua kejadian tersebut dengan begitu jelas?"
"Seorang gadis berkerudung telah memberitahukan cerita tersebut kepadaku ketika rahasianya
berhasil kuketahui, dia menyebut dirinya sebagai orang yang ada maksud"
sekarang Tonghong Hui baru tahu duduknya persoalan, bagaikan baru sadar dari impian, ia
merasa jengkel dan mendongkol karena dirinya tertipu, tapi setelah berpikir sejenak kembali gadis
itu gelengkan kepalanya berulang kali. "Aku tak bisa menyalahkan dirinya, ia toh tidak tahu kalau
aku adalah..."
"Dia tidak tahu soal apa?" sela Go siau Bi dengan alis mata berkernyit. Tiba2 Tonghong Hui
menjerit lengking:
"Engkoh Kie" Dengan cepat ia lalu kedepan menghampiri sianak muda itu.
Gadis itu ingin memeluk kekasih hatinya, tetapi pemuda itu hanya berdiri dengan wajah kaku,
hal ini membuat dara tersebut terperangah dan batalkan maksudnya.
sekarang dia baru teringat, kalau kakak angkatnya Han siong Kie paling membenci kaum
wanita.. hatinya terasa sakit bagaikan di iris2, air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Lama kelamaan.. akhirnya ia tak dapat menahan diri lagi dan berseru keras:
"Engkoh Kie, ketika kita angkat saudara tempo hari, bukankah engkau pernah berjanji tak akan
tinggaikan diriku walau berada dalam keadaan apapun, masih ingatkah engkau dengan janjimu
itu?"
Paras muka Han siong Kie perlahan2 pulih kembali seperti sedia kala, dengan penuh emosi dia
mengangguk, "Aku masih ingat, adik Hui"
"Engkau masih memanggil aku sebagai Hui te (adik Hui)?" bisik Tonghong Hui.
Han siong Kie terperangah, dengan suara ter-bata2 ia menjawab:
"Soal ini soal ini., aku rasa kurang begitu tepat untuk diucapkan, buat apa.."
"Tidak kalau sebutan tidak benar maka pembicaraanpUn tak dapat berjalan dengan lancar.."
"Kita toh saudara angkat, buat apa engkau musti persoalkan sebutan belaka?"
"Tapi tapi.. aku toh seorang gadis bukan lelaki..." sela sang dara cepat.
"Aku tahu, engkau adalah searong gadis seorang gadis yang berwajah cantik"
"Engkau benci kepadaku?" Bisik Tonghong Hui agak ragu.
"Kenapa aku mesti benci dirimu?"
"Engkau pernah berkata kalau engkau paling benci terhadap kaum wanita dikolong langit"
"Tidak Engkau.... engkau terkecuali"
Dengan ujung bajunya Tonghong Hui menyeka air mata yang membasahi wajahnya, senyum
manis tersungging diujung bibirnya, sepasang biji matanya yang besar menatap wajah Han siong
Kie tanpa berkedip. dengan suara yang lembut ia berkata:
"Engkoh Kie, engkau tak akan membenci diriku bukan?"
"Aku tidak punya alasan untuk membenci kau"
"Kalau begitu engkau cinta padaku?"
Han siong Kie terkesiap. jantungnya berdebar keras, suatu perasaan aneh yang belum pernah
dialami sebelumnya menyelimuti seluruh benak dan perasaannya, hal itu membuat paras mukanya
terasa jadi panas dan berubah jadi merah padam. setelah tertegun beberapa saat lamanya ia baru
menjawab:
"Benar, aku cinta padamu aku mencintai dirimu bagaikan mencintai saudara kandungku sendiri"
senyum manis yang semula menghiasi ujung bibir Tonghong Hui seketika lenyap tak berbekas,
dengan sedih bisiknya:
"Engkoh Kie, aku merasa se-olah2 sedang mendapat satu impian yang aneh dan berliku-liku..."
"Benar kejadian yang kita alami ibarat awan diangkasa, gampang berubah menurut keadaan
disekelilingnya"
"Engkau senang karena aku adalah seorang gadis?"
"Tentang soal ini.. tentu saja bagiku tiada perbedaannya antara pria dan wanita"
Dipihak lain, Go siau Bi berdiri tertegun, semua impian indah dan lamunan manis yang semula
menyelimuti benaknya kini telah musnah tak berbekas, semua keindahan berubah jadi kesedihan,
kesengsaraan dan tekanan batin, ketika ia mengetahui kalau orang yang dicintai ternyata sudah
mempunyai pilihan hati, dara itu merasa makin pedih.
Ia pernah melelehkan air mata karena kematiannya, merasa hatinya hancur remuk karena
kepergiannya, tapi sekarang... kenyataan membuktikan bahwa dia belum mati, tapi ia tak berhasil
mendapatkan dirinya.
Dengan sedih, murung, kecewa dan putus asa, gadis itu putar badan, diam2 berlalu dari sana
tanpa mengucapkan sepatah katapun..
setelah jauh tinggalkan tempat yang menyedihkan hati, gadis itu baru teringat akan tujuan
kedatangannya kesana, ia hendak balaskan dendam bagi kematian ayahnya.. rasa dendam sakit
hati melenyapkan rasa sedih dan kecewa yang semula menyelimuti hatinya, gadis itu langsung
bergerak menuju kearah Lian huan tau,pusat kekuatan dari perkumpulan Thian che kau.
Dalam pada itu, Tonghong-Hui dengan sorot mata penuh permohonan sedang awasi wajah
kekasihnya, kemudian berkata:
"Engkoh Kie, dapatkah engkau merubah panggilanmu terhadap aku.."
Han siong Kie termenung dengan alis mata berkernyit, lama sekali dia baru menjawab:
"Aku akan menyebut kau Hui moay"
sebutan adik Hui atau Hui-moay itu sangat menyejukkan hati Tonghong Hui, senyuman kini
kembali tersungging di ujung bibirnya, ia mengira untuk selamanya tak akan berjumpa kembali
dengan Han siong Kie kekasih hatinya, tapi kenyataan berkata lain, saat ini ia telah mendengar
kekasihnya memanggil "Hui moay " kepadanya.
Han siong Kie sendiri hanya bisa ter-mangu2 sambil memandang gadis itu, tiba2 ia teringat
kembali akan asal usul dari dara manis itu, tanpa sadar sekujur badannya gemetar keras, dengan
suara berat ia segera menegur: "Adik Hui, engkau adalah anggota benteng maut?"
Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, tak sangka olehnya dalam keadaan begitu ia dapat
mengajukan pertanyaan semacam itu, dengan gugup dia mengangguk. "Benar, aa.. Apa
salahnya?"
secara tiba2 satu ingatan berkelebat pula dalam hati Tonghong Hui, paras mukanya ikut
berubah hebat, dengan hati bergidik dia mundur selangkah ke belakang kemudian menegur:
"Engkoh Kie, kenapa engkau musti menanyakan persoalan itu?"
"Aku harus tahu... bagaimanapun juga aku harus mengetahuinya.. Hui moay jawablah
sejujurnya.."
"Engkau ingin tahu?"
"Benar"
Tonghong Hui tertunduk dengan wajah sedih, siksaan batin yang hebat menyelimuti seluruh
perasaannya, sambil menggigit bibir ia menjawab: "Dia adalah ayahku"
"Apa. ? Pemilik benteng maut adalah ayahmu??"
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, kemudian kejang2, kenyataan tersebut terlalu
kejam.. terlalu sadis.. ia tak mengira kalau adik angkatnya yang disayang dan di cintai ternyata
bukan lain adalah putri dari musuh besarnya... anak gadis dari pembunuh besar yang telah
membantai selurub keluarga dan isi kampungnya..
Haruslah dia putus hubungan dengan gadis ini tidak mungkin Atau dia harus lepaskan niatnya
untuk membalas dendam?? hal ini semakin tak mungkin terjadi Diluar dugaan, Tonghong Hui yang
dicintai ternyata adalah putri dari Tengkorak maut yang dianggap sebagai datuk iblis pembawa
maut bagi dunia persilatan, suatu kejadian yang mimpipun tak pernah diduga olehnya
Untuk beberapa saat lamanya Han siong Kie berdiri mematung, ia merasa tubuhnya seolah-olah
terjerumus kedalam gua saiju yang sangat dingin, membuat sekujur badannya gemetar keras.
Paras muka Tonghong Hui pun ikut berubah-ubah menuruti perubahan sikap dari sang pemuda,
ia tahu apa yang sedang dipikirkan engkoh Kienya pada saat ini, dahulu ia tak berani berpikir
sampai kesitu, dan sekarang apa yang tak berani dipikirkan akhirnya toh berubah jadi kenyataan.
Dendam.... dendam macam apakah itu? gadis tersebut sama sekali tidak tahu.
Musuh besar dari ayahnya, tengkorak maut pemilik benteng maut tak terhitung jumlahnya, ia
tak pernah memperbolehkan orang lain untuk mencampuri urusannya. Ia merasa hatinya hancur,
dia benci atas nasib jelek yang menimpa dirinya.
Cinta. membuat dia terjerumus kelembah kehancuran, kenyataan membuat hatinya remuk
redam.
seandainya Han siong Kie benar2 telah mati, maka cinta yang bersemi dalam hatinya akan
berakhir mengikuti kematian yang menimpa dirinya, tapi ia tidak mati, suatu kejadian yang diluar
dugaan membuat si anak muda itu tetap hidup dikolong langit, kejadian ini mendatangkan rasa
kaget dan gembira baginya, tapi kemudian...yang diterima dan dirasakan hanyalah penderitaan
yang tiada berakhir.
Dengan watak yang keras dan dingin, tak mungkin ia bisa membatalkan niatnya untuk
membalas dendam, dan orang yang hendak di tuntut balas bukan lain adalah ayahnya sendiri.
Bagaimana akhirnya gadis itu tak berani berpikir lebih jauh.
setelah pelbagai perasaan dan pikiran berkecamuk dalam benaknya, akhirnya gadis itu
mengambil keputusan yang tegas: Ia tertawa sedih, lalu berkata:
"Engkoh Kie, bukankah engkau pernah berkata kepadaku, bahwa antara engkau dengan
ayahku terikat oleh dendam berdarah sebesar lautan?"
"Benar" dengan kaku Han siong Kie mengangguk.
"Dendam berdarah yang bagaimanakah itu?"
sorot mata penuh kebencian dan perasaan dendam memancarkan keluar dari balik mata Han
siong Kie sambil menggigit bibir ia menjawab: "Dia telah membunuh ayahku, membantai seluruh
isi perkampunganku.."
Tonghong Hui mundur dengan sempoyongan, sambil berusaha menahan pergolakan emosi dia
bertanya:
"Dan engkau akan membalas dendam?"
-000dewi000-
BAB 35
DENGAN penuh kepedihan Han siong Kie mengangguk.
"Adik Hui, meskipun kalau dibicarakan maka kejadian ini terasa kelewat kejam.. kelewat sadis,
tetapi mau tak mau aku harus berbuat begitu, Benteng maut akan hancur seperti
perkampunganku, darah segarr akan berceceran menodai seluruh lantai benteng tersebut"
Pucat pias seluruh wajah Tonghong-Hui, tak tahan lagi air mata jatuh bercucuran membasahi
pipinya.
"Engkoh Kie, seharusnya kita tak usah bertemu.. tak usah berkenalan.."
"Tapi ternyata kita sudah bertemu dan telah berkenalan, bahkan engkau telah angkat saudara
dengan aku"
"Engkoh Kie, aku tahu persoalan ini tak mungkin bisa diselesaikan secara baik2, tak mungkin
persoalan bisa beres seperti apa yang kita inginkan, aku... aku..."
"Apa yang kau kehendaki??"
"Menggunakan kesempatan ini, aku hendak memberitahukan sesuatu kepadamu."
"Apa yang hendak kau sampaikan kepadaku"
Air mata yang membasahi wajah Tonghong Hui semakin deras mengalir turun, dengan nada
pedih ia berbisik.
"Sejak pertama kali kita berjumpa, aku telah....aku telah...."
Han siong Kie bukan seorang manusia yang bodoh, ia tahu apa yang hendak dikatakan gadis
tersebut dan diapun tahu perkataan itu tak pernah diduga sebelumnya, walaupun begitu ia tetap
bertanya:
"Engkau telah apa?"
"Aku telah jatuh cinta kepadamu"
Han siong Kie terperanjat, jantungnya berdebar keras setelah mendengar perkataan itu, apa
yang diduga ternyata sedikitpun tak salah.
Ketika ucapan itu diutarakan keluar, Tonghong Hui tertunduk dengan wajah jengah, tapi
sebentar kemudian ia sudah menengadah kembali, sepasang matanya terbelalak lebar, dengan
suatu perasaan yang sangat aneh dia awasi wajah Han siong Kie tanpa berkedip.
sianak muda itu sendiri merasakan hatinya bingung dan pikirannya kalut, hampir saja ia tak
berani saling beradu pandangan dengan gadis itu.
Tiba2 Tonghong Hui tertawa, tertawanya amat rawan dan menyedihkan hati, dengan suara lirih
ia berkata:
"Engkoh Kie, engkau tak akan pandang rendah diriku bukan? sebab apa yang kuucapkan
barusan merupakan kesempatan terakhir bagiku untuk mengungkapkan perasaan hati yang sudah
lama terpendam dalam hati kecilku.."
"Terakhir ? kenapa terakhir?" satu alamat jelek berkelebat dalam benak Han siong Kie.
"Engkoh Kie" sahut gadis itu lirih.
JILID 17 HAL. HiLANG
"Tidak aku tak kenal kata menyesal"
"Mengapa engkau menyesali diri sendiri?"
"Adik Hui, aku tak dapat menjelaskan bagaimanakah perasaan hatiku pada saat ini" Tonghong
Hui mengangguk.
"Engkoh Kie, aku tahu antara cinta dan dendam telah melibatkan engkau kedalam suatu
keadaan yang serba sulit, bukankah engkau murung dan kesal karena menghadapi cinta yang tak
berakhir ini? tapi engkoh Kie, aku tak dapat menghindarkan diri dari penentuan takdir, siau moay
telah mempunyai satu rencana...".
"Rencana? apa rencanamu itu?"
"Tentang soal ini.. engkau tak usah bertanya, yang jelas mulai detik ini baik didunia maupun
didalam baka kita selalu bersama.. hati kita selalu bersatu.."
Rupanya Han siong Kie dapat merasakan gelagat yang kurang baik dari pembicaraan itu, buru
buru tegurnya:
"Adik Hui, apa maksudmu mengatakan begitu..?"
Paras muka Tonghong Hui yang cantik seakan2 dalam waktu singkat telah jadi layu, sambil
menahan isak tangisnya dia berkata:
"Engkoh Kie, inilah yang dinamakan nasib cinta tak dapat menghilangkan dendam, semoga saja
karena dendam jangan sampai menghilangkan rasa cinta"
Dengan sedih Han siong Kie mengawasi lawannya dalam keadaap seperti ini, apa yang bisa
dikatakan lagi?
Tonghong Hui menengadah ke udara dan menghela napas sedih, bisiknya lagi: "Engkoh Kie,
aku akan pergi.. semoga engkau dapat baik2 jaga diri"
sambil menutupi wajahnya dengan ujung baju, gadis itu putar badan dan berlalu dari sana
dengan cepatnya.
Han siong Kietak dapat berbuat apa2, dia hanya bisa memandang bayangan punggung gadis
itu lenyap dari pandangan dengan pandangan kaku, dia ingin berteriak namun tiada suara yang
mampu meluncur keluar dari mulutnya, dia ingin mengejar tapi kakinya serasa tak dapat bergerak
tinggalkan tempat itu.. dendam kesumat sedalam lautan membuat pemuda itu kehilangan
kebebasannya untuk memilih, ia tak dapat mementingkan soal cinta dan mengesampingkan soal
dendam, tapi diapun tak dapat memupuk cinta sambil mencari ayahnya menuntut balas.
Kenyataan telah menggariskan, membuat ia tak dapat bersatu dengan gadis tersebut.
Dalam sekejap mata, pemuda itu merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, hatinya terasa
amat sakit bagaikan di iris2.
selama ini Tonghong Hui telah memberikan budi dan cintanya kepada dia, cinta yang diberikan
kepadanya lebih dalam dari samudra, tapi pemuda itu tak dapat berbuat apa2, dia hanya dapat
membiarkan gadis itu pergi meninggalkan dirinya.
Tiba2..ia teringat kembali akan sesuatu, pemuda itu se-olah2 mendengar lagi perkataan
terakhir yang diucapkan Tonghong-Hui. "Semoga hati kita selalu bersatu baik dalam jagad maupun
di alam baka" sekujur tubuhnya gemetar keras, ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya.
"Aaaah pikiran itu tak benar, rupanya dia ada maksud untuk bunuh diri, aku harus menghalangi
niatnya itu" Tak kuasa lagi ia menjerit keras.
"Adik Hui. engkau tak boleh.."
sekali enjot badan, bagaitan sambaran kilat cepatnya ia bergerak menuju ke arah mana
Tonghong Hui melenyapkan diri
"Nak, kembalilah"
suara teguran itu tidak terlalu keras, namun amat mencekat hati, seketika itu juga Han siong
Kie menghentikan gerak tubuhnya.
"Nak, biarkan dia pergi, justru dengan sikapnya itu maka keadaan jauh lebih baik"
Han siong Kie dapat kenali suara itu sebagai suara dari orang yang kehilangan sukma, sekujur
badannya gemetar keras, ia merasa manusia misterius itu seakan2 sukma gentayangan, dia selalu
membayangi disekeliling tubuhnya. Dengan cepat ia berhenti dan berseru:
"cianpwee, bagaimanapun juga aku harus mengejar dirinya sampai dapat"
"Kenapa ?"
"Dia..dia.. aku kuatir kalau dia akan mengambil keputusan pendek untuk mengakhiri hidupnya."
"Aaah kejadian itu tak mungkin terjadi" suatu jawaban yang tegas dan meyakinkan. Han siong
Kie termangu2, kembali dia berkata:
"Dengan dasar apakah cianpwee mengatakan kalau dia tak mungkin akan mengambil
keputusan pendek?? "
"Meskipun dia mempunyai keinginan untuk berbuat begitu, tapi tak mungkin hal itu bisa
dilaksanakan olehnya"
"Mengapa bisa begitu?? "
"Tentang soal ini, lebih baik engkau tak usah tahu"
"Cianpwee bagaimanapun juga aku tidak dapat mempercayai perkataan dari cianpwee dan
mengorbankan dirinya dengan begitu saja"
sekali lagi dia enjotkan badan siap berlalu dari situ.
"Han siong Kie, aku larang engkau berbuat begitu" seruan ini begitu berwibawa dan se-akan2
mengandung nada perintah yang tak bisa dibantah lagi, membuat Han siong Kie tanpa sadar
harus menghentikan kembali perjalanannya.
"Apa maksud dan tujuan orang yang kehilangan sukma menghalangi dirinya untuk menyusul
gadis itu?" Apakah diapun..
Dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang, orang yang kehilangan sukma berkata:
"Nak. dengarkanlah perkataanku Janganlah timbul pikiran yang bukan bukan atas perbuatanku
ini?"
"Tapi.. ciaapwee bagaimanapunjuga aku toh tak boleh biarkan gadis itu bunuh diri tanpa
berusaha untuk menolong"
"Sudah kukatakan tadi, tak mungkin dia akan bunuh diri inilah suatu akhir yang paling baik buat
hubunganmu dengan dirinya."
"Suatu akhir yang paling baik?"
"Benar"
"Aku tahu kami berdua tak mungkin dapat bersatu, karena dendam berdarah yang ditinggalkan
generasi yang lalu telah mencintakan sebuah jurang pemisah yang sangat dalam diantara kami
berdua.."
"Aaah soal itu sih belum tentu, tapi yang jelas ada jurang pemisah lain yang jauh lebih dalam
telah memisahkan hubungan kalian berdua, dan bagaimanapun juga kalian berdua tak mungkin
bisa melewati jurang pemisah tersebut"
"Aku tidak mengerti dengan ucapan itu"
"Mengerti juga baik tak mangertipun tidak mengapa, pokoknya aku berharap agar engkau bisa
menganggap peristiwa ini sebagai kejadian yang sudah lewat, lebih baik lagi kalau engkau dapat
melupakan selama2nya"
"Benar, aku memang tidak memiliki jalan kedua yang bisa kutempuh lagi, aku memang harus
melupakan dirinya"
"Nak. sekarang kau harus segera berangkat menuju ke wilayah Lian-huan-tau untuk
menyelamatkan nyawa seseorang" ujar orang yang ka hilangan sukma kemudian.
"Menolong orang? siapa yang harus kutolong?" seru Han siong Kie terperangah.
"orang itu adalah Go siau Bi "
"Apa yang terjadi dengan dirinya??"
"Dia telah terkurung didalam wilayah Lian huan tau."
"Tapi dia toh memiliki ilmu silat yang sangat lihay, masa ia bisa terjebak.."
"Wilayah Lian huao tau merupakan daerah rawan yang diciptakan oleh alam, setelah diberi
tambahan disana sini oleh seorang yang pandai, tempat itu sudah berubah jadi sebuah barisan
yang aneh dan tangguh sekali, siapapun sulit untuk lolos dari kurungan itu dengan mudah."
"Aku yang muda sudah berulang kali menerima budi pertolongan dari nona Go, sudah
sepantasnya kalau aku berusaha untuk menyelamatkan jiwanya, sekarang juga aku akan
berangkat kesana."
"Tunggu sebentar"
"Apa yang hendak cianpwee katakan lagi?"
"Aku akan serahkan selembar peta lembah Lian huan tau kepadamu, dan engkau dapat masuk
kedalam lembah tersebut mengikuti peta itu, tapi ingat setelah berhasil menolong Go siau Bi maka
engkau harus segera mengundurkan diri, jangan terlalu lama tinggal disana dan jangan mencoba
untuk menorobos masuk kedalam markas besar perkumpulan Thian che kau"
"Kenapa??"
"sebab tujuanmu hanya menolong orang "
"Baik, aku yang muda akan turut perintah"
selembar kertas dilemparkan keudara dan melayang kearah sianak muda itu, dengan cepat Han
siong Kie menyambutnya, dia tahu itulah peta lembah Lian huan tau yang diberikan orang yang
kehilangan sukma kepadanya, tanpa diteliti lagi ia berseru. " Cianpwee, selamat tinggal aku akan
berangkat lebih dahulu."
sekali enjot badan ia langsung bergerak menuju kearah wilayah Lian huan tau, suara bentakan
gusar dan angin pukulan secara lapat2 berkumandang dari balik lembah itu.
Han Siong Kie ambil keluar peta lembah yang diberikan orang yang kehilangan sukma
kepadanya itu, setelah diteliti beberapa kali dan sebagian besar sudah teringat dalam benaknya, ia
segara mesukkan kembali peta itu kedalam saku dan dia melanjutkan perjalanan..
"sahabat, siapa kau?" tiba2 teguran nyaring berkumandang dari arah depan- "berani benar
engkau mengintip lembah Lian huan-tau kami".
Mengikuti suara teguran itu, enam sosok bayangan manusia munculkan diri didepan mulut
lembah, kemudian serentak mereka menyebarkan diri dan menghadang jalan masuknya.
Dengan pandangan mata yang amat dingin Han siong Kie menyapu sekejap keenam orang
penghadang itu, ia lihat mereka adalah enam orang pria kekar berbaju hitam yang menyoreng
pedang.
Menyaksikan musuhnya tetap membungkam, sekali lagi salah seorang diantara keenam orang
pria kekar itu menegur:
"sahabat, siapa kau? aku harap engkau bersedia menyebutkan namamu" Han siong Kie
mendengus dingin.
"Hmm cuma andalkan kedudukan kalian berenam? jangan mimpi disiang hari bolong" Tanpa
menggubris lawannya, dengan langkah lebar dia berjalan kemulut lembah.
Enam orang pria kekar itu segera membentak keras, enam bilah pedang dengan menciptakan
selarik cahaya tajam yang menyilaukan mata menghadang jalan perginya.
Han siong Kie sama sekali tidak berhenti, ia berjalan terus hingga jarak lima langkah dari
musuhnya, kemudian sambil menghimpun tenaga dia lepaskan satu pukulan yang maha dahsyat,
dua jeritan kesakitan bergema memecahkan kesunyian, dua orang pria kekar yang bergerak maju
lebih dahulu seketika terpental kebelakang dan roboh binasa.
Melihat kelihayan musuhnya, empat orang pria kekar itu jadi kaget dan ketakutan setengah
mati, buru2 mereka menyingkir ke arah samping.
Han siong Kie sama sekali tidak berhenti, dengan langkah yang cepat ia menerobos masuk
kedalam dan tinggalkan musuh-musuhnya jauh dibelakangi
Tiba2 suara bentakan nyaring kembali berkumandang memecahkan kesunyian, dari sisi jalan
lembah meluncur kembali tiga sosok bayangan manusia.
Han siong Kie segera menghentikan gerak tubuhnya dan menyapu kearah ketiga orang itu, ia
lihat orang yang berada dipaling depan adalah kupu2 warna warni Li In Hiang ketua tongcu yang
pernah dikenal, diiringi dua orang dayangnya.
Untuk beberapa saat kedua belah pihak sama berdiri terperangah tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
Mula2 Kupu warna warni Li In Hiang menunjukkan wajah yang kaget bercampur ngeri, tapi
sejenak kemudian sambil tertawa genit tegurnya nyaring. "Eei, Han sauhiap. sungguh tak
kusangka kita bakal bertemu kembali"
"Hmm Li In Hiang, engkau jangan gembira dulu" seru Han siong Kie sambil mendengus dingin.
"saat kematianmu sudah hampir tiba"
"Aduh Han sauhiap pandai benar engkau bergurau" seru Kupu2 warna warni lagi dengan sikap
yang sangat genit "diantara kita berdua toh tak pernah terikat oleh dendam ataupun sakit hati,
masa engkau hendak bunuh aku?"
"sudah terlalu banyak pemberian yang dihadiahkan perkumpulan Thian che kau kepadaku,
namun itu bukan alasanku yang terutama untuk membinasakan dirimu.."
"Bunuh aku? Hiihh..hiihh..hiihh.. membicarakan soal membunuh dalam lembah lian-huan tau..
Han sauhiap apakah engkau tidak merasa terlalu tak pandang sebelah matapun terhadap kami ?"
" Engkau anggap aku benar2 tak mampu untuk membinasakan dirimu..?"
Paras muka Kupu warna warni Li In Hiang berubah dingin membesi, alis matanya berkenyit, dia
menegur dengan ketus:
"Manusia bermuka dingin, aku kuatir kalau engkau tak dapat keluar dari sini dalam keadan
hidup"
-ooodewiooo-
BAB 36
"LI IN HIANG" ujar Han siong Kie dengan suara dingin, engkau masih ingat dengan peristiwa
terbunuhnya Go Yu Too ketua perkumpulan Pat gi- pang?"
"Tentu saja masih ingat, sebab akulah yang membinasakan orang she Go itu"
"Masih ada lagi.. kematian dari kang lam jit-koay..."
"Benar.. tepat sekali, aku semua yang bereskan jiwa mereka, tapi apa sangkut pautnya dengan
dirimu?"
"Aku mempunyai sedikit hubungan dengan putri dari ketua Pat gi pang itu, karenanya aku ingin
mewakili dirinya untuk bereskan hutang piutang tadi" Kupu warna warni Li In Hiang tertawa terkekeh2
sehabis mendengar perkataan itu. "Hiihh..hiiihh..hiiih.. bagaiimana caramu untuk bereskan
hutang piutang ini?"
Hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati tiba2 berkelebat diatas wajah Han Siong Kie
yang ganteng. dia menerjang maju kedepan lalu berkata: "Hutang darah bayar darah, aku hendak
petik batok kepalamu itu"
Kupu warna warni Li In Hiang tergetar mundur tiga langkah oleh hawa napsu membunuh yang
begitu tebal dari lawannya, sedangkan dua orang dayang itu ikut mundur beberapa langkah
kebelakang karena ngeri bercampur seram.
"Manusia bermuka dingin, engkau tak mungkin dapat melakukan perbuatan itu."
"Huuuh.. kalau tidak percaya, coba saja kelihayanku ini "
seraya berkata sianak muda itu bergerak maju kedepan dengan gerak cahaya kilat lintasan
bayangan, sekali berkelebat tahu2 tubuhnya sudah berada tepat dihadapan kupu2 warna warni Li
In Hiang, membuat beberapa orang itu menjerit kaget dan buru2 menghindarkan diri..
"Perempuan anjing, engkau hendak kabur ke mana?" hardik pemuda itu, kelima jari tangannya
bergerak cepat kedepan dan siap mencekeram tubuh musuhnya.
Cengkeraman tersebut dilepaskan dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata,
nampaknya kupu2 warna warni Li In Hiang tak akan lolos dari cengkeraman tersebut.
Disaat yang paling kritis itulah, mendadak dari arah belakang berkumandang suara desiran
angin tajam yang menyergap punggungnya.
Han siong Kie merasa amat terperanjat, ia sadar bahwa seorang jago lihay telah melepaskan
senjata rahasia kearahnya, jika ia tak menghindar niscaya tubuhnya akan terluka parah.
Dalam keadaan demikian, terpaksa ia harus tarik kembali ancamannya sambil bergerak
kesamping sejauh delapan depa dari tempat semula.
Ia temukan benda yang digunakan untuk mengancam tubuhnya tidak lebih hanya beberapa
lembar daun, tapi setelah mengetahui siapa yang lepaskan sergapan itu, tak kuasa lagi pemuda itu
berseru tertahan, pandangan matanya jadi gelap dan hampir saja ia roboh tak sadarkan diri.
Ternyata orang yang melancarkan sergapan tersebut, bukan lain adalah ibu kandungnya yang
berhati keji bagaikan ular beracun, Siang g o cantik ong cui Ing adanya.
Seluruh wajah dia nak muda itu berkerut kecang, tubuhnya gemetar keras karena harus
menahan emosi.
Menggunakan kesempatan yaag sangat baik itulah, kupu2 warna warni Li In Hiang telah
mengundurkan diri delapan depa ke belakang.
siang go cantik ong cui Ing dengan muka dingin bagaikan es berdiri tegak dihadapannya, sorot
matanya yang tajam dan menyeramkan mengawasi wajah Han Siong Kie tanpa berkedip..
sianak muda ttu merasakan hatinya remuk redam, tempo dulu ibunya pernah turun tangan keji
atas dirinya sehingga hampir saja ia mati konyol dalam penjara batu, sekarang kembali ibunya
menyergap untuk mencabut jiwanya, kejadian ini membuat darah dalam tubuhnya bergolak
keras..
Benarkah dia sebagai seorang anak harus turun tangan terhadap ibunya sendiri?
Seganas2nya harimau tak akan dia terkam anaknya sendiri, tapi ibunya, dia tega untuk
membunuh anak kandungnya sendiri, bukankah itu berarti bahwa kekejaman hatinya jauh
melebihi ganasnya harimau atau srigala??
suasana diliputi keheningan dan kesunyian, lama sekali akhirnya siang go cantik ong Ciu Ing
berkata:
"Manusia bermuka dingin, sungguh tak kusangka engkau berani mengumpankan diri kedalam
perangkap kami, tempo hari engkau berhasil meloloskan diri dari cengkeramanku, tapi sekarang..
Hmm sekalipun punya sayap jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat"
Kembali Hin siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras, ia sakit hati, pemuda itu
merasakan hatinya e akan2 diiris dengan pisau tajam, ia tak menyangka ibu kandungnya dapat
mengucapkan kata2 seperti itu... ia merasa hatinya teriuka dan sedang mengucurkan darah...
Kalau toh dia tidak menganggap dirinya sebagai anak, kenapa aku musti anggap dia sebagai
ibu?
Ingatan semacam itu berkelebat dalam benaknya, dengan suara sedih karena menahan emosi
katanya:
"Nyonya ketua, ini hari apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku?"
sekujur badan siang go cantik ong cui Ing tampak gemetar keras, suatu cahaya yang sangat
aneh terlintas di atas wajahnya, tapi hanya sebentar saja telah lenyap dari pandangan, sahutnya
dengan suara ketus:
"Manusia berwajah dingin, barang siapa berani masuk kedalam wilayah lian huan-tau, dia harus
mampus"
setiap patah kata yang meluncur keluar dari mulutnya, se akan2 anak panah yang menghujam
dalam tubuhnya:
Jeritan ngeri kembali berkumandang dalam lembah sebelah dalam, jeritan itu begitu
mengerikan sehingga mendirikan bulu roma siapapun yang mendengar.
satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han siong Kie, dia ambil keputusan untuk
membunuh kupu2 warna warni Li In Hiang lebih dahulu kemudian baru menolong Go siau Bi.
Dari jeritan ngeri yang berkumandang tiada hentinya,jelas membuktikan kalau Go siau Bi masih
terlibat dalam suatu pertarungan sengit:
sekarang.. yang menjadi masalah adalah bagaimana caranya untuk menghadapi nyonya ketua
dari perkumpulan Thian che kau yang bukan lain adalah ibu kandungnya sendiri?
Apakah dia harus bertempur melawan dirinya? saling membunuh dengan ibu kandungnya
sendiri??"
setelah termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu segera mengambil keputusan, tiba2 dia
enjotkan badan dan menerjang kearah kupu warna warni Li In Hiang yang berada kurang lebih
satu tombak dihadapan mukanya.
Tindakan ini sama sekali diluar dugaan siapapun, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat
dalam kupu warna warni Li In Hiang, tahu2 pihak musuh telah menubruk datang.
Dalam gugupnya, cepat2 dia ayunkan telapaknya untuk menangkis datangnya ancaman
tersebut.
"Duuk Blaamm" bentrokan kekerasan bergema diangkasa, jeritan kesakitan berkumandang
memilukan hati, sambil muntah darah segar kupu warna warni Li In Hiang terhantam sampai
mencelat sejauh tiga tombak dari tempat semula.
Hampir pada saat yang bersamaan, segalung angin pukulan yang tak kalah dahsyatnya
mengancam tiba dari belakang tubuh pemuda itu.
Kembali terdengar dengusan berat memecahkan kesunyian, dengan sempoyongan Han siong
Kie terdorong maju lima langkah ke depan, ia segera berpaling dan tampaklah siang go cantik ong
Cui Ing berdiri tepat dua tombak dihadapannya.
Dua orang dayang yang semula menghindarkan diri kesamping itu maju kedepan dan
memayang bangun kupu warna warni Li In Hiang yang terluka parah, kemudian tanpa banyak
bicara segera selamatkan majikannya kedalam lembah.
Han siong Kie menggertak gigi menahan emosi, dengan suara gemetar serunya: "Kaa kalau toh
engkau...ti ..tidak mengakui aku sebagai aaa... anakmu..."
"Tutup mulut" hardik siang go cantik ong Cui Ing dengan suara keras.
"Nyonya kaucu" kata Han siong Kie lagi dengan hati yang mantap. "apakah engkau hendak
paksa diriku untuk turun tangan?"
"Ehmm hmmm turun tangan ? besar amat bacotmu, engkau masih ingin berlalu dari sini dalam
keadaan hidup?"
Han siong Kie merasa amat sedih sekali denyan air mata bercucuran dia menengadah dan
berseru pedih:
"Ooooh...ayah engkau yang berada di alam baka pastilah dapat menyaksikan semuanya ini, aku
dipaksa untuk turun tangan, maafkanlah daku"
Ucapan itu sangat mengenaskan, membuat siang go cantik ong Cui Ing tanpa sadar mundur
dengan sempoyongan.
Pada saat itulah di mulut lembah kembali muncul beberapa sosok bayangan manusia, mereka
adalah lima orang kakek tua dan seorang pemuda. Pemuda itu bukan lain adalah kaucu muda Yu
sau Kun.
Bertemu dengan musuh bebuyutannya, kedua belah pihak sama2 menggeram gusar, Yu sau
Kun segera membentak keras:
"Manusia bermuka dingin, rupanya engkau datang untuk menghantar kematianmu?"
Dengan bentakan keras, tanpa banyak bicara Yu sau Kun segera melancarkan serangan2 kilat
untuk menghajar tubuh lawannya. .
Han siong Kie teramat gusar, menyaksikan datangnya ancaman itu dengan jurus Mo Mo ciang
liong atau telapak iblis menundukkan naga yang disertai tenaga pukulan sebesar sepuluh bagian,
dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaamm" sepasang telapak saling beradu menimbulkan suara ledakan yang amat dagsyat, Yu
sau Kun menjerit kesakitan sambil muntah darah segar ia roboh terkapar keatas tanah.
Han siong Kie amat benci dengan pemuda itu, melihat musuhnya roboh dengan cepat la
menerjang kemuka, telapak kirinya diayun lagi siap mencabut jiwanya.
"Jangan bunuh orang" bentak ong Cui Ing sambil bergerak maju kedepan, secepat sambaran
kilat dia lancarkan delapan buah serangan berantai.
Walaupun dalam hati kecilnya Han Siong Kie merasa amat benci dan mendendam, tapi
berhubung pihak lawan adalah ibunya sendiri, terpaksa ia harus mengundurkan diri kebelakang.
Melihat musuhnya mundur, ong cui Ing segera manfaatkan kesempatan itu sebaik2nya, dia
sambar tubuh Yu sau Kun dan melayang mundur beberapa tombak kebelakang, dari sakunya dia
ambil keluar sebutir pil dan dijejalkan kedalam mulutnya.
Dalam pada itu lima orang kakek tua yang datang bersama Yu sau Kun tadi segera turun
tangan bersama ketika dilihatnya nyonya keucu mereka mundurkan diri, serangan gencar
ditujukan keseluruh tempat berbahaya ditubuh lawan.
Han siong Kie tak akan pandang sebelah matapun terhadap lawannya, dengan jurus "Mo hwe
liau goan" atau api iblis membakar ladang, dengan suatu serangan yang cepat bagaikan kilat ia
hajar musuh2nya...
"Blaaamm Blaamm" beberapa kali bentrokan keras terjadi diudara, lima orang kakek tua
tergetar keras hingga tercerai berai keempat penjuru.
ong cui Ing membentak nyaring, untuk kedua kalinya dia lancarkan serangan kilat kearah Han
siong Kie, telapaknya berputar kian lemari dengan cepatnya, serangan2nya amat ganas dan
mengerikan, tiga pukulan beruntun mendesak pemuda itu habis2an.
sepasang mata Han siong Kie berubah jadi merah ber-api2, hawa nafsu membunuh berkobar
menyelimuti wajahnya, dengan gerak tubuh cahaya kilat lintasan bayangan dia menghindarkan diri
dari sergapan ong cui Ing, kemudian bagaikan sukma gentayangan ia balik menerjang kelima
orang kakek tua itu.
25
Sepuluh jari tangannya menyentil bersama ilmu jari Tong kim ci yang maha sakti laksana kilat
meluncur kedepan.
Jeritan ngeri berkumandang diudara dan menggetarkan empat penjuru, darah segar
membanjiri seluruh permukaan tanah, lima orang kakek tua itu dengan dada berlubang roboh
binasa diatas tanah.
ong cui Ing membentak keras, kembali ia terjang kemuka.
Selama pertarungan berlangsung, tangan kanannya tersembunyi terus dibalik bajunya, ia hanya
mengandalkan tangan kirinya yang dipentangkan bagaikan cakar untuk melayani serangan2
musuh.
Han Siong Kie berusaha menghindar kekiri berkelit kekanan, namun ia selalu gagal untuk
melepaskan diri dari pengaruh serangan musuh.
Dalam keadaan begini, kendatipun dalam hati kecilnya ia tak ingin memakai kekerasan untuk
menghadapi ibunya, namun keadaan memaksa dirinya mau tak mau harus melindungi
keselamatan sendiri.
Tiba2 dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat dengan sebuah jurus Raja iblis menyembah langit.
Jurus serangan ini merupakan salah satu diantara tiga jurus pukulan terampuh dari ilmu telapak
Mo mo ciang hoat, dewasa ini dalam dunia persilatan jarang ada orang yang mampu menerima
serangan tersebut.
Ditengah deruan angin pukulan yang memekikan telinga, bayangan telapak berlapis lapis
bagaikan bukit, dalam waktu singkat seluruh jalan darah penting ditubuh lawan sudah tercekam
dalam ancamannya.
ong Cui Ing membentak nyaring, tubuhnya berkelebat ke depan dengan suatu gerakan yang
manis, tahu2 ia telah meloloskan diri dari ancaman tersebut.
Han siong Kie merasa amat terperanjat, ia sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam yang
dimiliki perempuan ini telah mencapai taraf kesempurnaan yang begitu tinggi, untuk sesaat ia
berdiri tertegun.
Pada saat itulah, mendadak perempuan itu menggetarkan sepasang ujung bajunya kearah
depan, segulung angin pukulan yang sangat berat seketika menerjang tubuhnya.
Dari serangan yang begitu dahsyat dan mengerikan, jelaslah sudah kalau ibunya bermaksud
untuk membinasakan dirinya dalam pukulan dahsyat itu juga.
Rasa benci, gusar, mendongkol dan penasaran tercampur aduk dalam benaknya, sepasang
telapak segera diayun bersama dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya.
Angin pukulan men-deru2, pasir debu beterbangan memenuhi angkasa, kejadian ini benarbenar
nampak mengerikan-
Termakan oleh dahsyatnya angin pukulan tersebut, ong Cui Ing segera bergerak mundur enam
depa kebelakang.
Han siong Kie sendiripun tergetar mundur sehingga mundur satu langkah lebar ke belakang
dengan sempoyongan-.
ong ciu Ing tak mau melepaskan musuhnya dengan begitu saja, kembali telapak kirinya
bergerak cepat bagaikan naga beracun muncul dari dalam samudra, dengan suatu pukulan yang
maha dahsyat dia lepaskan kembali satu ancaman maut.
Han siong Kie diam2 merasa keheranan dan tak habis mengerti, mengapa pihak lawan selalu
menyerang dengan tangan sebelah belaka, tapi kenyataan tidak mengijinkan pemuda itu untuk
berpikir panjang, serangan musuh yang begitu dahsyat tahu2 sudah mengancam tiba, memaksa
dia harus menggunakan jurus bertahan dari ilmu telapak Mo Mo ciang-hoat untuk
mempertahankan dari.
ong Ciu Ing tidak mau memberi kesempatan kepada musuhnya untuk tukar napas, pukulan
yang berantai ibaratnya gulungan ombak disungai tiang kang meluncur dan menggulung datang
tiada hentinya, keadaan benar2 mengerikan.
Dalam keadaan demikian hanya ada dua pilihan bagi Han siong Kie, pertama adalah mampus
diujung telapak lawan, atau kedua melancarkan serangan balasan dengas ilmu jari Tong kim ci.
Akhirnya setelah otaknya berputar beberapa waktu dan ambil keputuran untuk memilih yang
kedua, dalam keadaan seperti ini dan tidak ingin mati konyol, karena dia masih harus
mempertahankan hidupnya guna menuntut balas. Maka dengan suara yang parau histeris
pengaruh emosi, dia membentak keras: "Apakah engkau hendak paksa aku untuk turun tangan
keji terhadap dirimu??"
ong Cui Ing sama sekali tidak menggubris teriaknya itu, malahan serangan yang dilancarkan
olehnya kian lama kian bertambah gencar, kian lama kian bertambah rapat.
Han Siong Kie benar2 terdesak sehingga hampir saja dibuat kalap olehnya, akhirnya dia
menggigit bibir, sepuluh jari tangannya disentilkan kedepan dan segulung desiran angin tajam
yang mengerikan dan dengan cepat meluncur kedepan-
Jerit kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, serangan yang semula gencar dan tiada
putusnya tiba2 sirap dan lenyap tak berbekas.
ong Cui Ing dengan paras muka pucat pias bagaikan mayat mundur kebelakang dengan
langkah sempoyongan-
Ilmu jari Tong kim ci adalah suatu ilmu sentilan yang maha dahsyat sekali, untuk menciptakan
kepandaian yang maha sakti itu Mo tiong ci mo harus mengorbankan waktu selama empat puluh
tahun lamanya, dengan tenaga dalam Han siong Kie yang hampir mendekati dua ratus tahun hasil
latihan, tentu saja keampuhannya mengerikan sekali.
Kendatipun begitu, ong Cui Ing yang termakan oleh sentilan ilmu jari tersebut sama sekali tidak
roboh, meskipun dengan telak serangan tadi mampir diatas tubuhnya, dari sini dapat
membuktikan pula bahwa tenaga dalam yarg dimiliki perempuan itupun mengerikan-
Dengan pandangan yang sedih dan penuh penderitaan Han siong Kie melihat sekejap kearah
ibunya kemudian dia putar badan dan meneruskan perjalanannya menuju kedalam lembah.
Dengan andalkan peta lembah yang dihadiahkan orang yang kehilangan sukma, tanpa
mengalami banyak kesulitan sianak muda itu berhasil masuk ketengah lembah.
sementara itu pertarungan yang berlangsung dalam lembah telah berhenti, suasana pulih
kembali dalam keheningan dan kesunyian-
Han Siong Kie merasa amat gelisah sekali, orang yang kehilangan sukma memerimtahkan
dirinya datang kesitu untuk menolong Go siau Bi, tetapi karena mendapat banyak rintangan
banyak waktu sudah terbuang dengan percuma, dia kuatir gadis itu sudah keburu tertangkap atau
dibunuh oleh lawan-
-000dewi000-
TANPA terasa sianak muda itu teringat kembali akan penjara batu dalam markas besar
perkumpulan Thian che kau, serta cara mereka untuk menghukum mati para tawanannya, tanpa
terasa hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri
Andai kata Go siau Bi benar2 sudah tertangkap. mungkin malaikat yang turun dari
khayanganpun belum tentu bisa menolong dirinya lepas dari cengkeraman musuh.
Berpikir sampai disitu, dia segera mempercepat gerakan tubuhnya meluncur kedalam lembah,
bagaikan serentetan cahaya tajam secepat kilat ia menerobosi lembah dan batuan cadas.
sepanjang perjalanan, seringkali ia berpapasan dengan jago lihay yang berlalu lalang disana,
tapi tidak seorangpun
JILID 18 HAL. 04/05 HILANG
merupakan suatu kesalahan paham belaka?
"Nona telah membinasakan hampir dua puluh orang jago lihay ku, masa darah yang mengalir
dari tubuh mereka harus mengalir dengan sia sia belaka??"
"Hmm salah paham?? kupu warna warni Li In Hiang adalah algojonya, sedang engkau ketua
perkumpulan Thian che kau adalah otak dari pembunuhan berdarah ini"
"Haaah haaah haaah jadi nona menghendaki batok kepalaku ini?" ejek ketua perkumpulan
Thian che kau sambil tertawa ter bahak2.
"Tentu saja"
"Engkau anggap apa yang kau inginkan bisa terpenuhi dengan begitu saja??"
Mendadak... dari luar gelanggang berkumandang suara jeritan lengking, diikuti sesosok
bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menerjang masuk kedalam
gelanggang.
Jeritan kaget berkumandang diempat penjuru, seluruh jago lihay perkumpulan Thian che kau
yang hadir ditengah gelanggang sama-sama mundur kebelakang dengan ketakutan, suasana
kontan jadi gaduh dan gempar sekali.
"Aaah.. manusia muka dingin"
"Manusia bermuka dinginorang
yang menerjang masuk kedalam gelanggang memang bukan lain adalah Han siong Kie,
ditangannya dia mencekal sesosok manusia.
"Blaaamm.." bayangan manusia yang berada dalam genggamannya itu segara dibanting
kedepan kaki Go siau Bi.
Ternyata ketika Han siong Kie sedang mengawasi suasana dalam gelanggang pertarungan,
tiba2 ia saksikan kupu warna warni Li In Hiang yang terluka sedang dipapah mendekati tempat
kejadian, ia jadi sangat kegirangan, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat
perempuan itu diterjang dan ditotok jalan darahnya, kemudian dibawa masuk kedalam
gelanggang.
Menyaksikan kemunculan sianak muda itu, Go siau Bi merasakan hatinya bergetar keras, dia
sama sekali tidak menyangka kalau secara tiba2 Han siong Kia bisa munculkan diri ditempat itu,
bahkan membawa
JILID 18 HAL. 08/09 HILANG
buahnya, dan semua orangpun belum pernah menyaksikan ketua mereka turun mangan
sendiri.
Ketika Go siau Bi datang untuk menuntut balas tadi, sang kaucu ternyata tampil sendiri untuk
menyelesaikan persoalan itu, dan sekarang berada didepan matanya seorang ketua tongcu yang
disegani orang ternyata dibunuh musuh tanpa ia sanggup mencegah atau menghalanginya,
kejadian ini dengan cepat menggusarkan hatinya.
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah ketua perkumpulan
Thian che kau, apa lagi setelah seorang anak buahnya dibunuh dalam keadaan yang mengerikan,
tanpa mengucapkan pepatah katapun hawa murninya dihimpun ke dalam tubuh, kemudian
sepasang telapak tangannya laksana sambaran kilat menerjang tubuh si anak muda itu.
Jarak diantara kedua belah pihak hanya terpaut beberapa depa saja, pukulan tersebut dengan
dahsyatnya segera meluncur ke depan-
Secara otomatis Han siong Kie putar telapak tangannya dan membendung datangnya ancaman
tersebut.
"Blam" ditengah benturan keras, tubuh Hen siong Kie tergetar keras sehingga mundur delapan
depa kebelakang dengan sempoyongan, darah panas bergolak dalam rongga dadanya dan hampir
saja muntah ke luar.
Go siau Bi yang menyaksikan kejadian itu segera mengerutkan dahinya, segulung angin
pukulan berpusing dengan cepat dilontarkan kedepan-
Bagaikan sesosok setan gentayangan, ketua perkumpulan Thian che-kau itu membentuk
gerakan setengah lingkaran diudara, kemudian sekali lagi dia lancarkan serangan maut kearah
Han siong Kie.
Menyaksikan kelihayannya, dia sama sekali tidak mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki
pihak lawan ternyata jauh lebih tinggi daripada apa yang dibayangkan semula, dengan cepat
langkah kakinya bergeser ke samping, sementara tubuhnya berputar seratus delapan puluh
derajat dengan sepenuh tenaga sepasang telapak tangannya didorong kedepan untuk
membendung ancaman tersebut. "Blaam.." "kembali terjadi benturan keras
JILID 18 HAL. 12/13 HILANG
boleh dibilang sama sekali tak mampu untuk mengikuti jalannya pertarungan itu dengan
seksama.
Serentetan bentakan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, Go siau Bi kena dihantam
sampai tergetar mundur beberapa tombak kebelakang.
"Blaamm. Blaamm. Blaamm." tiga benturan keras bergema saling susul menyusul, secara
beruntun Han siong Kie telah saling beradu kekerasan sebanyak tiga kali dengan ketua
perkumpulan Thian che kau.
Tiga bentrokan itu begitu lewat, dengan sempoyongan Han siong Kie tergetar mundur
beberapa langkah kebelakang, tak kuasa lagi dia muntah darah segar.
Go siau Bi membentak nyaring, melihat sianak muda itu terluka dengan cepat ia menubruk
kemuka sambil melepaskan serangan dahsyat.
"Blaaamm.." kembali benturan keras terjadi diudara, terjangan Go siau Bi berhasil digagalkan
oleh lawan, malahan tubuhnya segera terlempar ke belakang..
Ketua perkumpulan Thian che kau menyeringai seram, sepasang telapaknya diayun secara
beruntun menghajar tubuh Han siong Kie yang telah terluka...
Merasakan datangnya ancaman maut, Han siong Kie cepat menyingkir kesamping untuk
menghindar, kemudian dengan mengembangkan ilmu pukulan Mo mo ciang hoat dalam gerak
bertahan, ia kunci seluruh bagian tubuhnya dari ancaman lawan-. Ketua perkumpulan Thian che
kau tertawa seram.
"Heehhh.. heehh...heehhh.. Manusia bermuka dingin, hari ini jiwamu harus melayang
tinggalkan raga"
Pukulan hawa dingin dan pukulan hawa panas dengan suatu gerak menggunting segera
meluncur kedepan menghancurkan tubuh musuh.
Han siong Kie amat terperanjat, tergencet oleh dua macam angin pukulan yang berbeda unsur
itu, jurus serangannya segera terbendung dan rasanya tak mampu dikembangkan lagi, disaat ia
agak tertegun itulah sebuah pukulan musuh berhasil menerjang jalan darah tiong tong hiat di atas
dadanya.
Pemuda itu amat terperanjat dan merasakan sukmanya merasa melayang tinggalkan raganya,
secara otomatis telapak tangan kirinya menyanggah pukulan itu, kemudian jari tengah dan
telunjuk tangan kanannya Menyentil kemuka...
Dua gulung desiran angin serangan yang amat tajam segera meluncur kedepan dan menyerang
tubuh musuh.
"Blaaammm ....l" bentrokan nyaring bergema diangkasa diikuti terdenganya dengus kesakitan-
Han siong Kie merasakan telapak kirinya sakit sekali bagaikan tulangnya telah patah, untung
dia menyanggah pukulan musuh tepat pada saatnya sehingga jalan darab tiong tong hiat diatas
dadanya tidak terhajar telak.
Kendatipun begitu, hawa tekanan yang maha dahsyat sempat menghantam pula dadanya
keras2, sehingga membuat darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras, hampir saja ia
roboh tak sadarkan diri ke atas tanah.
Dada ketua perkumpulan Thian-che kau tak luput pula dari serangan balasan sianak muda itu,
darah segar nampak memancur keluar dari mulut luka, sentilan jari Tong kim ci yang dilepaskan
Han siong Kie disaat yang terakhir cukup membuat jago tua itu menderita luka yang amat parah.
Pada saat yang bersamaan itulah Go siau Bi menerjang maju kedepan, sebuah pukulan yang
dahsyat dilontarkan kearah ketua perkumpulan Thian che kau.
"Blaaamm ." jerit kesakitan kembali berkumandang memecahkan kesunyian, tubuh Go siau Bi
terlempar sejauh beberapa tombak dari tempat semula dan tak sanggup bangkit kembali.
Ketua perkumpulan Thian che kau sendiri pun tak kuasa menahan diri, dengan sempoyongan
dia mundur beberapa langkah ke belakang, ia berusaha untuk menjaga keseimbangan tubuhnya,
tapi ia akhirnya roboh juga keatas tanah.
Bentakan nyaring berkumandang saling susul menyusul, belasan orang jago lihay perkumpulan
Thian che kau ber sama2 maju kedepan dan menerjang musuh2 mereka yang telah terluka.
Han siong Kie bertindak cekatan, ia tak ingin mati konyol ditangan musuh2nya, dengan sigap ia
sambar tubuh Go siau Bi kemudian membawanya kabur keluar lembah.
"Perintahkan semua pos untuk menutup segenap jalan keluar dari lembah ini" hardik ketua
perkumpulan Thian che kau dengan suara nyaring.
Cahaya api berwarna merah segara meluncur keudara dan meledak diangkasa, bunga api
memancar keempat penjuru. . .
Ledakan bunga api itu merupakan tanda khusus dari perkumpulan Thian che kau untuk
memberitahukan kepada segenap anggota perkumpulan agar bersiap sedia menghadapi serangan
musuh.
semua jago lihay perkumpulan Thian che kau yang hadir dalam gelanggangpun tidak ambil
diam, mereka semua segera memencarkan diri menuju kearah mulut2 lembah yang terletak
dipelbagai tempat.
Dalam pada itu, Han siong Kie yang mengempit tubuh Go siau Bi dengan mengerahkan ilmu
gerak tubuh Kilatan cahaya lintasan bayangan meluncur kearah luar lembah.
Baru saja dia melampaui tiga buah lorong sempit yang banyak terdapat dalam lembah itu, tiba2
dari arah depan berkumandang suaara pekikan nyaring disusul angin tajam berdesiran diangkasa,
anak panah yang be-ribu2 batang banyaknya dipanahkan kearah tubuhnya dari pelbagai penjuru
yang berbeda.
serangan gencar itu menghentikan gerak tubuhnya, Han siong Kie segera memperketat
kempitannya atas tubuh Go siau Bi, sementara telapak tangan kanannya melancarkan angin
pukulan yang berlapis2 untuk menyapu bersih hujan anak panah yang diarahkan kepadanya.
Dalam waktu singkat, seluruh permukaan tanah disekeliling tempat itu sudah berserakan anak
panah setebal beberapa depa.
Kendatipun begitu, hujan anak panah masih tidak menunjukkan tanda akan berhenti malahan
kian lama kian bertambah gencar membuat setiap ruang kosong yang ada disekitar sana selalu
dipenuhi oleh desiran angin tajam.
Han Siong Kie menguatirkan keselamatan dari Go siau Bi, disamping itu harus pula
mempertahankan diri sendiri, tentu saja kian lama pemuda itu kian merasa bertambah payah.
-000dewi000-
BAB 37
PEMUDA itu sadar, apabila hujan anak panah masih berlangsung terus dalam keadaan begini,
kendatipun sapuan2 nya berhasil membuyarkan ancaman yang datang, namun lama kelamaan dia
pasti akan kehabisan tenaga dan akhirnya tak mampu mempertahankan diri.
Kedua belah sisi mulut lembah merupakan dinding tebing yang curam dan membumbung tinggi
ke angkasa. kemungkinan besar diatas tebing itupun sudah disiapkan orang, untuk menerjang
keluar dari tempat itu jelas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.
Han Siong Kie yang terjebak kedalam barisan anak panah, bukan saja tak mampu melanjutkan
perjalanannya bahkan telapak tangannya sama sekali tak dapat berhenti, setengah perminuman
teh kemudian seluruh jidatnya sudah basah oleh air keringat.
sejak menderita luka sampai saat itu, belum ada sekejap waktupun baginya untuk atur
pernapasan, apalagi menyembuhkan lukanya, karena itulah tenaga murni yang di milikinya makin
lama makin bertambah lemah..
situasi kian lama kian bertambah tegang dan kritis, bunga api bertebaran diangkasa, hujan
anak panah kini telah berubah jadi bunga api.
Han siong Kie semakin terperanjat lagi, sukmanya terasa bagaikan melayang tinggalkan
raganya, diam2 ia berbisik didalam hati: "Aduuuh celaka, anak panah berapi"
Ditengah gulungan angin pukulan yang menderu-deru, untuk sesaat anak panah berapi itu tak
mampu mendekati tubuhnya, tapi telah membakar tumpukan panah yang berserakan d iempat
penjuru, sebentar kemudian kobaran api telah bermunculan dimana-mana, disekitar tempat itupun
berubah jadi lautan api.
Melihat gelagat kurang menguntungkan Han Siong Kie sebera menghimpun sisa tenaganya
yang dimilikinya dan dilontarkan ke arah depan, kemudian badannya meluncur kearah daerah
yang tak terjangkau oleh kobaran api, dalam beberapa kali lompatan saja dia sudah berkelebat
masuk kedalam sebuah lorong lain.
setelah berada dalam lorong itu, hujan anak panahpun segera berhenti.
secara beruntun Han siong Kie memasuki beberapa buah lorong lainnya, cahaya api diarah
belakang sudah tak kelihatan lagi.
Ia menghembuskan napas dalam2, Go siau Bi yang berada dalam kenpitannya dibaringkan
keatas tanah, keadaannya pada waktu itu benar2 mengenaskan sekali.
Lian huan tau terletak disuatu daerah yang terlindung oleh bahayanya keadaan medan, bukan
saja lorong dalam lembah mempunyai cabang yang berjumlah diatas ratusan, apalagi setelah
dibangun pula oleh manusia pandai, keadaan ditempat itu jauh lebib berbahaya lagi, salah2
seorang yang terjebak di situ bisa mati konyol dengan sendirinya.
Meskipun sebelum masuk kedalam lembah orang yang kehilangan sukma telah menghadiahkan
selembar peta lembah kepadanya, dan pemuda itu sudah paham dengan peta itu, tetapi untuk
meneliti letaknya pada waktu itu serta mencari jalan keluar, dia masih butuhkan peta tersebut
untuk menelitinya lebih jauh.
Tentu saja dalam keadaan seperti itu, Han Siong Kie tidak sampai berpikir sampai kesitu,
tugasnya yang pertama sekarang adalah menyembuhkan luka yang diderita oleh Go siau Bi.
Dia sendiripun pada saat itu membutuhkan waktu untuk bersemedi dan atur pernapasan sebab
kekuatannya sudah hampir punah sama sekali karena lelahnya.
Ia sadar, andaikata sergapan muncul kembali dalam keadaan seperti ini, akibatnya niscaya
sukar dilukiskan dengan kata2.
Dalam pada itu, Go siau Bi telah sadar kembali dari pingsannya, melihat itu Han siong Kie
sangat kegirangan, buru2 tegurnya: "Nona, bagaimana dengan keadaan lukamu."
sebenarnya sejak tadi Go siau Bi telah mendusin dari pingsannya, tapi berhubung ia hendak
merasakan kehangatan tubuh sang pemuda lebih lama lagi maka ia pura2 pingsan, ketika Han
Siong Kie sedang menghadapi serangan panah tadi, diam2 ia telah menelan tiga butir pil mujarab
untuk menyembuhkan lukanya.
Kakeknya Put to sianseng adalah seorang tokoh silat yang amat lihay, tentu saja obat mujarab
yang dibuat olehnya sangat manjur sekali, tidak selang seperminum teh kemudian kekuatan
tubuhnya telah pulih kembali seperti sedia kala.
Tentu saja sampai mimpipun Han Siong Kie tidak menduga akan kecerdikan dara ayu itu, dan
lagi diapun segan untuk memikirkan persoalan tetek bengek yang tak ada gunanya itu.
Ketika mendapat pertanyaan, itu, Go siau Bi segera bangkit berdiri dan menjawab sambil
tertawa rawan:
"Aku sudah tidak apa2 lagi, bagaimana dengan Han sauhiap sendiri?"
"Aku...aku juga tidak apa2"
"oooh... aku membawa obat mujarab pemberian kakekku, bagaimana kalau Han sauhiap
menelan dua butir untuk membantu dirimu dalam usaha menyembuhkan kembali luka yang
diderita?"
Tanpa menanti jawaban, dia ambil keluar dua butir pil sebesar kacang kedelai yang berwarna
hijau dan diserahkan kepada pemuda itu.
sebenarnya Han siong Kie segan untuk menerimanya, tapi setelah teringat bahwa saat ini
mereka masih ada dimulut harimau, memulihkan kembali tenaga murninya merupakan usaha yang
terpenting, maka dengan perasaan terpaksa ia terima obat itu dan dimasukan kedalam mulutnya.
"Nona Go, kuucapkan banyak terima kasih atas pemberian itu" bisiknya. Go siau Bi
mengernyitkan alis matanya.
"Han sauhiap, dengan pertaruhkan jiwa engkau telah menolong siau moay dari ancaman jiwa,
masa hanya memberi obat saja engkau harus berterima kasih kepadaku?"
obat dari Put to tianseng itu memang sangat manjur sekali, setelah berada dalam perut,
segulung hawa panas yang kuat segera muncul ditengah pusarnya.
Tenaga dalam yang dimiliki Han siong Kie dewasa ini boleh dibilang sudah mencapai puncak
kesempurnaan, baginya bersemedi tidak melulu harus duduk. tapi berdiripun ia dapat
menghimpun tenaga sambil bersemedi, dengan cepat daya kerja obat itu disalurkan kedalam
peredaran darah dan bergabung dengan kekuatan hawa murni yang dimilikinya.
Dengan mulut membungkam Go siau Bi awasi kekasih hatinya ini, ia berdiri tak bergerak
sementara paras mukanya berubah rubah tiada menentu.
Beberapa saat kemudian, tenaga yang dimiliki Han siong Kie telah pulih kembali seperti sedia
kala, rasa sakit lenyap tak berbekas, ia segera buka mata dan memandang kearah dara ayu itu
dtngan pandangan keheranan:
"Nona Go, kenapa kakekmu mengijinkan nona untuk menempuh mara bahaya seorang diri?"
"Dendam terbunuhnya ayah bundaku tak terkirakan dalamnya, aku sebagai putrinya
mempunyai kewajiban untuk menuntut balas bagi mereka." seru Go siau Bi dengan gemas.
"Tapi.. andaikata kakekmu pun datang kemari.."
" Kakekku sudah cuci tangan mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan, karena urusan
mendiang ayahku, beliau susah payah telah terjun kembali kedunia persilatan, pemberian yang
diberi kakek selama setengah bulan kepada siau moay sudah lebih dari cukup bagiku untuk balas
dendam dengan kekuatan sendiri"
"Dan sekarang kupu warna warni Li In Hiang toh sudah menemui ajalnya ditangan mu ....?"
"Benar tapi biang keladinya toh ketua perkumpulan Thian che kau itu" Han siong Kie menghela
napas panjang.
"Aaaiii aku sama sekali tak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki ketua perkumpulan
Thian che kau sedemikian tingginya, aku jadi teringat dengan kaum persilatan yang mengatakan,
diluar langit ada langit diatas manusia pandai masih ada manusia yang lebih pandai, perkataan itu
sedikitpun tak salah"
Go siau Bi mengerutkan dahinya, sambil menggigit bibir dia berkata: "suatu ketika aku akan
datang kembali kesini" setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh: "oooh maksud
kedatangan Han sauhiap kemari adalah..."
"Aku mendapat peringatan dari orang yang kehilangan sukma cianpwee, yang mengatakan
nona berada dalam bahaya, aku sengaja datang kemari untuk membantu nona"
"oooh manusia macam apa sih orang yang kehilangan sukma itu?" tanya Go siau Bi setelah
berseru tertahan-
"Tentang soal ini aku sendiripun kurang jelas, pokoknya dia adalah seorang cianpwee yang
sangat misterius dari dunia persilatan-Selain itu, eh mm. Aku..."
"siapa lagi??"
"Istri Han sauhiap"
"Aku belum pernah menikah"
"Nona Tonghong Hui yang menyebut diri sebagai Istri yang ditinggalkan??" sambung Go siau Bi
dengan cepat.
Bagaikan disengat lebah, sekujur badan Han siong Kie bergetar keras, dengan sedih ia berbisik,
"Dia telah pergi??"
"Kenapa pergi?"
"Nona, aku harap engkau jangan mengungkat kembali persoalan itu. bersedia bukan?"
"Engkau merasa sedih hati?"
"Nona, dewasa ini kita masih berada di mulut harimau, aku harap engkau jangan menyinggung
persoalan lain"
Paras muka Go siau Bi berubah jadi agak sedih, tapi sebentar kemudian ia berseru: "Han
sauhiap, lebib baik kita terjang saja keluar"
"Terjang keluar?" tiba2 serentetan suara teguran yang amat seram bergema memecahkan
kesunyian "hmmm... h mm... selamanya belum pernah ada orang yang sanggup keluar dari
lembah lian huan tau dalam keadaan hidup"
Han Siong Kie maupun Go siau Bi smat terperanjat, dengan sorot mata yang amat tajam
mereka menyapu sekejap sekeliling tempat itu, namun tiada sesosok bayangan-manusiapun yang
ada disitu.
Dengan cepat Han Siong Kie ambil keluar peta lembah itu dari dalam sakunya, setelah diteliti
beberapa saat serunya: "Nona Go, mari ikut aku"
Dia enjotkan badan dan meluncur kearah mulut lembah yang ada disebelah kiri.
"Manusia muka dingin, seluruh lorong dalam lembah sudah tersumbat, sekalipun punya sayapengkau
tak akan bisa terbang ke luar dari tempat ini" suara menyeramkan tadi berkumandang
kembali.
Gerak tubuh dari Han Siong Kie barusan tidak lebih hanya siasat untuk memancing musuh
belaka, begitu pihak lawan berbicara diapun segera mengetahui tempat persembunyian orang itu,
berada ditengah udara badannya berputar seratus delapan puluh derajat, dengan ujung kakinya
menutul permukaan dinding lembah, sekali lagi dia melayang sepuluh tombak keatas.
Sinar matanya yang tajam dengan cepat berhasil menemukan sebuah lubang kecil di atas
dinding tersebut.
Tubuhnya segera berputar bagaikan burung walet kembali kesana, dia meluncur kearah lubang
gua diatas dinding tersebut.
"Weesss. " segulung angin pukulan yang maha dahsyat meluncur keluar dari mulut gua itu dan
langsung menghantam Han siong Kie yang masih berada diudara.
Dalam posisi berada diudara, sulit bagi Han siong Kie untuk melancarkan serangan balasan, dia
segera berjumpalitan dan bergerak membentuk setengah lingkaran busur, kemudian untuk kedua
kalinya menerjang kearah gua itu.
Kali ini dia telah bersiap sedia, sepasang telapaknya diluruskan kedepan, ber-puluh2 buah
sentilan jari yang amat gencar dipancarkan kearah dalam gua itu.
segulung angin pukulan yang amat dahsyat kembali meluncur keluar dari dalam gua, disusul
berkumandangnya serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati.
Han Siong Kie tidak dapat bertahan terlalu lama diudara, tubuhnya meluncur kembali keatas
tanah, sementara orang yang menyerang dari dalam guapun berhasil dilukai di ujung nya.
Pada saat Han siong Kie melayang kembali keatas tanah itulah, tiba2 dari kejauhan
berkumardang suara ledakan dahsyat yang amat memekikan telinga. "oooh...air bah" jerit Go siau
Bi dengan terperanjat.
Gulungan ombak setinggi puluhan tombak menggulung datang dari arah kejauhan, dengan
dahsyat dan cepatnya menggenangi seluruh lorong lembah tersebut. satu ingatan dengan cepat
berkelebat dalam benak Han siong Kie, buru2 serunya:
"Nona Go, ayoh cepat naik keatas dinding karang" la segera enjotkan badan dan melayang ke
arah lubang gua yang baru saja ditemukan itu.
Go siau Bi dengan erat menyusul dari belakang, dalam sekejap mata mereka sudah berada
dalam gua tersebut.
Dalam pada itu air bah datangnya amat cepat, sebentar kemudian seluruh lorong didalam
lembah itu sudah digenangi oleh air bah setinggi beberapa tombak.
Menyaksikan keganasan air bah tersebut tanpa sadar peluh dingin membasahi tubuh mereka
berdua, andaikata gua diatas dinding itu tidak berhasil ditemukan tepat pada saatnya, niscaya
mereka sudah mati tenggelam tergenang oleh air bah tersebut.
Lubang gua itu tidak terlalu besar dan hanya bisa dilalui oleh dua orang secara berjejer, kurang
lebih lima depa dari mulut gua roboh terkapar sesosok mayat yang bermandikan darah segar.
Rupanya orang itulah yang menegur dam melancarkan serangan kearah Han Siong Kie.
Dengan sorot mata yang tajam Han Siong Kie awasi gua tersebut, ia lihat gua itu menjorok
jauh kedalam, setelah berpikir sebentar dengan cepat ia memahami apa sebabnya ia bisa
terkurung dalam barisan hujan panah tanpa kelihatan seorang pemanahpun, rupanya dibalik
dinding tebing merupakan ruang kosong yang digunakan para penjaga untuk meronda.. diam2 ia
mengagumi juga akan kehebatan bangunan disana.
"Nona Go" ujarnya kemudian." bagaimana kalau kita ikuti lorong dalam gua ini untuk mencari
jalan keluar?"
"Baik " sahut sang gadis sambil mengangguk.
Maka berangkatlah kedua orang itu menelusurijalan gua itu, Han Siong Kie berjalan didepan
sedang Go siau Bi mengikuti dibelakang, meskipun gua itu amat gelap namun dengan
kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki dua orang itu, mereka dapat melihat ditengah
kegelapan bagaikan melihat di tempat terang.
Tidak jauh mereka memasuki gua itu, tiba2 dari arah depan berkumandang suara langkah kaki
manusia yang kian lama kian mendekat...
Dengan cekatan sepasang muda mudi itu menempel tubuhnya diatas dinding gua..
suara langkah manusia kian lama kian mendekat, enam sosok bayangan manusia muncul
dengan langkah ter-gesa2, orang yang berjalan dipaling depan membawa sebuah obor dalam
gengamannya .
Han siong Kie segera ayun telapaknya ke depan, segulung angin kencang berhembus ke depan
memadamkan api itu enam orang kawanan jago itu segera berseru kaget.
Han siong Kie tak mau membuang waktu dengan percuma, mereka segera menerjang kedepan
sambil menyebar maut Duukl duukl beberapa orang itu segera menggeletak mati tertotok jalan
darah kematiannya.
Dua orang itu melanjutkan kembali perjalanannya, setelah berbelok kesana kemari akhirnya
cahaya terang memancar dari arah depansebuah
lobang kecil muncul disisi lorong sementara lorong tersebut masih memanjang jauh
kedalam, sesosok bayangan manusia berdiri bersandar didekat mulut gua.
sentilan maut dari Han slong Kie kembali bekerja, orang itu menjerit kesakitan dan segera
putus nyawa.
"Han sauhiap" bisik Go siau Bi dengan lirih, " rupanya gua ini masih menjorok jauh kedalam
sana, apakah kita Makin masuk semakin berada didalam lembah?"
Han siong Kie mengangguk. ia melongok keluar dari mulut gua itu, tampaklah seluruh lorong
dalam lembah masih tergenang oleh air bah, sementara pada dinding tebing sebelah depan
terdapat pula sebuah mulut gua, seorang manusia berjaga-jaga dibalik gua itu. Pemuda itu
termenung dan berpikir sebentar kemudian berkata:
"Nona Go, Mari kita menyeberangi lembah ini menuju kemulut gua sebelah depan, apabila
dugaanku tidak salah kemungkinan besar didalam dinding tebing yang melingkari lembah lian
huan-tau ini terdapat liang-liang gua tempat berhubungan, kita manfaatkan saja lorong tersebut
untuk keluar dari lembah ini"
Go siau Bi sangat mengagumi kecekatan dan kecerdikan sianak muda itu, dia segera
mengangguk.
"Baik, kita laksanakan saja seperti apa yang kau katakan"
Jarak antara dinding tebing yang satu dengan dinding tebing yang lain kurang lebih lima
tombak panjangnya.
Han siong Kie berpaling dan bisiknya kepada gadis itu: "Nona Go, kita harus bertindak cepat"
Begitu selesai berbicara, tubuhnya laksana sambaran petir cepatnya telah meluncur kearah
lubang gua sebelah depan.
Penjaga didalam gua itu hanya merasakan pandangan matanya jadi kabur, sebelum ingatan
kedua berkelebat dalam benaknya, dia sudah mati tertotok. secepat kilat Go siau Bi menyusul dari
belakang.
Apa yang diduga Han siong Kie ternyata tidak meleset, dinding lembah itu ternyata kosong,
puncak berhadapan dengan puncak. itu berarti mulut gua berhadapan dengan mulut gua, setiap
beberapa langkah terdapat sebuah lubang kecil, kalau mengintip dari situ maka semua kejadian
yarg sedang berlangsung dalam lorong lembah dapat terlihat dengan jelas.
Kedua orang muda mudi itu merupakan jago persilatan yang berilmu tinggi, sepanjang jalan
menemui gua lorong dalam perut bukit, mereka tidak menjumpai kesulitan, apalagi Han song Kie
membawa peta petunjuk tentang keadaan dalam lembah tersebut, semua penjaga dan serangan
yang sudah diatur musuh bisa dihindari dengan gampang dan sederhana.
secara beruntun mereka tembusi beberapa buah lubang gua, akhirnya lembab lorong di bawah
sana sudah tak tergenang oleh air lagi, ini menunjukkan bahwa air bah itu hanya khusus
dilepaskan untuk menggenangi beberapa buah lorong jalan belaka.
Beberapa saat kemudian sampailah kedua orang itu pada jalan yang sebenarnya dibagian atas.
sementara lorong lembah kian lama kian bertambah lebar.
Mendadak.. suitan nyaring berpekik saling bersahutan, tampaknya jejak Han siong Kie dan Go
siau Bi ketahuan lagi oleh pihak musuh.
Dalam pada itu dihadapan mereka terbentang sebuah simpang pertemuan dari beberapa buah
cabang jalan, ditengahnya merupakan sebuah tanah kosong seluas beberapa hektar, bagi mereka
berdua kecuali meloncat turun kelorong bawah dan menerobos ke luar, rasanya tiada jalan lain
yang bisa di tempuh lagi.
Han siong Kie mengerutkan dahinya, dengan suara berat ia berkata:
"Tampaknya tiada jalan lain bagi kita kecuali turun kebawah, ayoh kita loncat turun"
Dua sosok bayangan manusia bagaikan sambaran kilat cepatnya segera melayang turun
ketengah gelanggang luas.
Baru saja kaki kedua orang itu menempel diatas permukaan tanah, disertai suara ledakan
dahsyat dari mulut lembah diempat penjuru memancarlah kabut putih yang amat tebal, lambat
laun kabut itu semakin tebal hingga menyelimuti disekitar tempat itu.
Go siau Bi amat terperanjat menyaksikan kehebatan dari kabut putih itu, ia lantas berseru:
"Han sauhiap. apa yang terjadi?"
Han siong Kie menggeleng dengan kebingungan.
" Entahlah, aku sendiripun tak tahu, perduli amat, ayoh kita terjang keluar dari sini"
Baru saja ia selesai berbicara, dari tengah lembah meluncur masuk sesosok bayangan manusia,
orang itu seakan2 sukma gentayangan yang muncul dari balik kabut putih, setelah makin
mendekat barulah kelihatan bahwa orang itu adalah seorang kakek tua aneh berjubah hitam yang
bermuka pucat seperti mayat dan bertubuh kaku seperti mayat hidup,
"Aaah..? kenapa makhluk tua beracun inipun sudah menggabungkan diri dengan pihak Thianche-
kau?" seru Han siong Kie tanpa terasa. Go siau Bie tertegun.
"Makhluk tua beracun? siapakah dia?"
"Tok kun, Dewa racun Yu Hoa"
"Aaah rupanya dia.. waaduh, kalau makhluk tua beracun itupun sudah muncul disini, urusan
bisa bertambah berabe ... bagaimana sekarang baiknya??"
Dalam waktu singkat kabut putih yang menyebar disekitar mulut lembah sudah menyelimuti
angkasa, kian lama kabut itu kian menebal sehingga pemandangan yang terbentang disekeliling
tempat itupun bertambah buram, hingga susah melihat kesdaan di depan-
Dewa racun Yu Hoat berdiri tegak kurang lebih lima tombak dihadapan muda mudi itu, dia
menyeringai dan tertawa seram tiada hentinya.
"Heeeh heehh heeh Manusia berwajah dingin, Lebih baik menyerah saja Ketahuilah engkau
serta bocah perempuan itu sudah menjadi katak dalam tempurung, tak mungkin dapat kabur lagi."
Ia berhenti sebentar, lalu sambil menuding kesekeliling tubuhnya ia menambahkan-
"Kabut harum pembusuk tulang telah tersebar menyelimuti seluruh lembah, sekalipun malaikat
yang turun dari kahyangan jangan mimpi bisa lolos dari cengkeramanku Heeeh heeeh... heeeh
daripada mampus secara konyol lebib baik menyerah saja tanpa melawan, ketahuilah barang siapa
terkena racun itu maka tubuhnya akan meleleh jadi segumpal air busuk ..tahukah kalian, betapa
menyeramkan dan mengerikannya keadaan itu"
"Makhluk tua beracun, jangan tekebur lebih dulu, lihatlah Nonamu segera akan cabut lebih dulu
selembar jiwa anjingmu" bentak Go siau Bi dengan marah..
Ia melejit dan menerjang kedepan, telapak tangannya diayun melancarkan pukulan berantai
yang maha dahsyat.
"Nona tunggu sebentar" tiba2 Han siong Kie berseru sambil menghadang jalan perginya.
"Ada apa? Kenapa kau halangi jalan pergiku??"
"Nona, kau musti tahu, hakekatnya seluruh tubuh makhluk tua beracun ini adalah bisa yang
mematikan, jangan sekali-kali tanganmu sampai menempel ditubuhnya, bisa jadi engkau sendiri
yang celaka"
" Kalau tidak dilawan, memangnya kita benar-benar harus menyerah kalah dan bertekuk lutut
kepada mereka??"
"Tentu saja tidak begitu, seorang pendekar sejati pantang menyarah kepada siapapun, biar
akulah yang hadapi makhluk tua yang sangat berbahaya ini"
"Masa engkau punya kepandaian khusus yang dapat digunakan untuk melawan kedahsyatan
bisanya?"
"Tentu saja aku tak punya, tapi yang pasti aku sudah pernah bergebrak melawan dia, maka
sedikit banyak aku mempunyai pengalaman dalam menghadapi dirinya"
sewaktu terjadi pertarungan perebutan pusaka tempo hari, Han siong Kie pernah terhajar oleh
pukulan berbisa dari Dewa racun Yu Hoat, tapi kenyataan membuktikan bahwa dia sama sekali
tidak merasakan gejala keracunan, sejak itu Eh pemuda kita jadi sadar bahwa tubuhnya
mempunyai daya kekuatan untuk melawan racun, dan kekuatan itu diperolehnya berkat sumber
air mukjijat bawah tanah yang pernah mencuci otot mengganti tulangnya.
Walaupun begitu, Han siong Kie tak berani sembarangan mencoba, karena resikonya terlalu
besar lain keadaannya pada saat itu, sekarang jiwanya sedang terancam bahaya, mau tak mau dia
harus menempuh bahaya untuk mencoba khasiat kekuatannya itu.
"Urusan rumah tanggamu sendiri?" tanya pengemis dari selatan dengan sepasang mata
melotot.
"Begitulah kenyataanya engkoh tua, harap engkau bisa memaklumi keadaanku ini"
"Tapi saudara cilik. tahukah engkau bahwa luka yang kau derita cukup parah?"
"Tidak menjadi soal, luka itu tak kuperhatikan sama sekali" sahut Han Siong Kie sambil tertawa
getir, "bagaimana pun ku harap kalian berdua segera tinggalkan tempat ini?" .
Baik pengemis dari selatan maupun padri dari utara sama2 adalah jago persilatan yang sudah
berpengalaman selama puluhan tahun, tentu saja segala tata cara dan tetek bengek tersebut
dipahami olehnya, mereka tahu bahwa urusan rumah tangga orang lain tidak pantas dicampuri
orang lain oleh karena itu sesudah saling berpandangan sekejap, akhirnya mereka berkata:
"Baiklah, kalau engkau sudah berkata demikian kami jadi tak baik untuk tetap berada disini.."
Berbicara sampai disitu mereka lantas putar badan dan berlalu dari sana.
"Hmm Memangnya kalian berdua hendak pergi dengan begitu saja?" tiba2 Wi It beng menegur
kembali dengan mendengus dingin.
"Ada apa?" tanya pengemis dari selatan dengan alis berkenyit. "memangnya engkau sudah
penuju dengan aku sipeminta tua?"
"Tetapi sekali ucapanmu itu aku memang penuju sekali dengan dirimu. Bukankah kamu berdua
sudah kenali ilmu Boan yo sin kang milik kaisarmu ?"
"Nah, itulah dia.. akan kuhantar kalian berdua untuk pulang kealam barat dengan kepandaian
sakti itu, dari pada hidup didunia toh kalian bakal cerewet belaka?"
Dari ucapan itu jelaslah sudah kemana Wi It beng membawa pembicaraan tersebut, rupanya
dia berhasrat untuk melenyapkan kedua orang jago itu berhubung perbuatan busuknya atas
geteja siau lim si sudah ketahuan.
Bilamana ilmu silat yang dimiliki Han siong Kie tidak terlalu lihay, tak nanti ia keluarkan ilmu
Boan yo sinkang tersebut tapi sekarang dia bertujuan lenyapkan Han siong Kie dan merampas
lencana ok kui cupay untuk menegakan kembali kewibawaannya sebagai seorang Tee kun,
terpaksa kepandaian simpanannya itu dikeluarkan. sementara itu Padri dari utara telah merangkap
tangannya sambil berkata:
"Omitohud Kalau toh sicu memang berhasrat begitu, rasanya tiada perkataan lain yang bisa
kukatakan lagi, bila ingin turun tangan silahkan saja segera turun tangan"
Pengemis dari selatan menyambung sambil tertawa tergelak:
"Haaah haaah haaah betul, memang tepat sekali ucapan tersebut, Kalau memang engkau
sudah penuju pada diriku, akupun tidak akan banyak bicara, toh aku si pengemis tua sudah bosan
hidup ... hayo ambillah nyawaku ini"
sudah tentu Han siong Kie tidak mengijinkan kedua orang tua itu terlibat dalam persoalan
perguruannya sendiri, dengan gelisah bercampur gusar dia maju dengan sempoyongan, sambil
menahan sakit dalam isi perutnya ia berseru kepada dua orang tokoh silat itu.
"Engkoh tua, locianpwe Disini sudah tak ada urusanmu lagi, aku harap kalian berdua segera
tinggalkan tempat ini"
"Eeh... memangnya engkau tidak dengar bahwa orang lain tidak mengijinkan aku berdua
tinggalkan tempat ini?" sahut pengemis dari selatan dengan mata melotot.
"Engkoh tua, loocianpwe Ketahuilah mencampuri urusan rumah tangga orang lain merupakan
pantangan terbesar bagi umat persilatan, aku minta janganlah kalian bikin hatiku jadi susah dan
serba salah"
"Kuakui kalau ucapan saudara cilik tidak salah, tapi engkau tua dan menyaksikan sendiri bahwa
situasi yang kita hadapi sekarang sama sekali berlainan, aku rasa engkau sendiripun-."
"Engkoh tua, ataukah kalian hendak menunggu sampai saudara cilikmu ini mempersilahkan
sendiri kepergianmu?" tukas anak muda itu secara tiba2.
sudah tentu maksud dari Han siong Kie mengusir dua orang sahabatnya itu bukan lantaran
apa2, maksud yang sebenarnya adalah karena dia tak tega menyaksikan kedua orang sahabatnya
ini ikut jadi korban di tangan lawan, jelas ilmu silat mereka masih belum sanggup menandingi
lawannya, bila Wi It beng berhasrat membunuh mereka jelas itu bukan pekerjaan yang terlalu
menyulitkan dirinya.
Wi It beng bukan orang bodoh, dia sendiripun tahu kalau akan maksud hati anak muda itu,
kontan dia tertawa seram.
"Haaah haah haaah Manusia berwajah dingin, lebih baik tak usah buang waktu dan tenaga
dengan percuma, ketahuilah nasibmu telah berada ditanganku, akulah yang akan menentukan
kalian semua harus mampus sekarang juga atau tetap hidup dikolong langit "
"Manusia bedebah, jangan tekebur lebih dahulu, ucapan semacam itu terlalu pagi kalau
diutarakan pada saat sekarang " hardik Han siong Kie dengan gusarnya.
sekali lagi dia ayun lencana ok kui cuipay nya ketengah udara, segenap sisa kekuatan yang
masih dimilikinya disalurkan kedalam lencana tersebut, tampaklah sekilas cahaya tajam langsung
memancar kedepan dan mencapai sejauh satu kaki dari kedudukan pemuda itu.
Gerakan ini sangat taktis dan tepat, karena gegabah dan kurang perhatian Wi It beng seketika
terkurung oleh cahaya tajam tersebut, sementara pikirannya jadi buyar, Han siong Kie telah
melancarkan serangan mautnya dengan ilmu jari Tong kim ci.
Dengus tertahan memecahkan kesunyian, tak tahan wi It beng roboh terjengkang ke atas
tanah.
Han siong Kie segera membentak keras:
"Tianglo berlima, dengarkan perintah segera perintahkan dua orang tamu ini untuk tinggalkan
gelanggang"
Lima otang tianglo itu serentak mengiakan, lima belah toya berkepala setan langsung di sapu
kedepan menggulung tubuh pengemis dari selatan dan padri dari utara.
Tentu saja Pengemis dari selatan dan padri dari utara tak ingin melibatkan diri dalam suatu
pertarungan, tanpa menunggu ke lima orang tianglo itu mendekati tubuh nya, mereka sudah
kabur tinggalkan tempat itu.
Menunggu dua orang jago tersebut sudah lenyap dari pandangan mata, Han siong Kie baru
bisa menghembuskan napas lega, dia tarik kembali lencana mustikanya dari sisi maju kedepan
untuk memeriksa keadaan luka Tee kun itu.
siapa tahu batu saja lencana nya ditarik kembali. Tiba2 Wi It beng loncat bangun kemudian
memperdengarkan suara gelak tertawanya yang amat mengerikan.
Betapa tercekatnya hati anak muda itu, dari gelak tertawa yang mengerikan itu, ia tahu bahwa
luka yang diderita pihak lawan sama sekali tidak parah.. Apa yang telah terjadi ?
Rupanya pada saat itu luka yang diderita Han siong Kie sangat parah sekali, disamping itu
diapun harus kerahkan dulu tenaga dalamnya kedalam lencana mutiara.. karena itulah meskipun
angin serangannya dapat telak ditubuh lawan, namun tenaga serangan nya lemah sekali.
Padahal sekujur badan wi It beng terlindung oleh hawa sakti Boan yo sin kang, karenanya
meskipun serangan tersebut bersarang telak di tubuh nya, namun hanya mengakibatkan sedikit
lecet saja pada kulis tubuh nya.
selama ini dia masih tak mampu untuk bangkit, ini bukan akibat dari luka tersebut melainkan
kekuatan tubuh nya lenyap sebab terpengaruh oleh sinar tajam itu.
Maka begitu Han siong Kie menarik kembali serangannya, kekuatan dalam tubuh Wi It beng
pulih kembali. serentak dia loncat bangun.
Dengan mulut mengerikan karena terpengaruh oleh hawa napsu membunuh yang berkobarkobar,
selangkah demi selangkah Wi It beng bergerak maju kedepan.
Kelima orang tianglo itu bertindak cepat melihat ketuanya terancam, serentak mereka
lintangkan toyanya didepan dada dan berdiri dibelakang anak muda itu. Han siong Kie ayun
kembali lencana nya untuk mempengaruhi kekuatan lawan-
Tapi kali ini wi It beng telah membuat persiapan, secepat petir tubuh nya menghindar
kesamping, kemudian sebuah pukulan Boan yo sinkang dilontarkan kedepan.
Desingan angin tajam memekikan telinga bagaikan gulungan ombak samudra ditengah
hembusan angin puyuh langsung menerjang tubuh Han siong Kie serta kelima orang tianglonya.
Han siong Kie berenam jadi terperanjat, tanpa berpikir panjang mereka ayun pula telapak
tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
"Blaaamm.." suatu ledakan keras menggelegar di angkasa, dengan sempoyongan kelima orang
tianglo itu terdorong mundur sampai tercerai berai ke mana2, sebaliknya Han siong Kie yang
sudah terluka termakan oleh serangan itu lukanya makin parah, sekali lagi dia muntah darah
segar.
Wi It beng memang seorang jago yang tangguh, meskipun seorang diri harus menghadapi
serangan gabungan dari enam orang, akan tetapi dia hanya dipaksa mundur sejauh tiga langkah.
Kilat tajam sorot mata Wi It beng melebihi tajamnya sembilu, tiba2 dia menyapu sekejap
sekitar hutan ditepi hutan, kemudian tegurnya dengan lantang:
"Tokoh silat dari manakah yang telah berada disitu? Kalau sudah datang mengapa tidak segera
munculkan diri?"
Mendengar seruan itu, semua jago yang ada dalam gelanggang sama2 alihkan sorot matanya
ke arah hutan-..
Gelak tawa yang menyeramkan berkumandang dari dalam hutan, menyusul mana sesosok
bayangan hijau bagaikan sukma gentayangan munculkaa diri dari hutan, begitu cepat gerak
tubuhnya hanya sekejap mata ia sudah tiba dihadapan para jago.
orang itu bukan lain adalah seorang manusia berkerudung yang memakai baju warna hijau.
Mengetahni siapa yang muncul, bergetarlah perasaan Han siong Kie, diam2 peluh dingin
membasahi tubuhnya.
Air muka Wi It beng sendiripun berubah hebat, tegurnya kemudian-"siapa engkau?"
Manusia berkerudung itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, tangan kanannya perlahan
di ayun kedepan dan tahu2 sebuah tengkorak warna merah sudah muncul di depan mata.
"Haah.. Tengkorak maut?" seru Wi It beng dengan hati tercekat.
Paras muka kelima orang tianglo serta kawanan pengawalpun berubah hebat, mereka tak
mengira kalau Tengkorak maut yang di segani tiap umat persilatan di daratan Tionggoan telah
munculkan diri dalam saat begini.
Di antara sekian banyak orang hanya Han siong Kie seorang yang tahu bahwa tengkorak maut
yang berada dihadapannya sekarang ini tak lebih hanya tengkorak maut gadungan, hatinya
bergetar keras dan paras mukanya terpengaruh oleh emosinya.
Dalam sekejap mata suasana dalam gelanggang berubah jadi hening, sepi dan tak kedengaran
sedikit suarapun-
Ditengah keheningan itulah tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, di susul
seseorang berseru kesakitan.
Dengan sempoyongan Han siong Kia mundur kebelakang, darah segar meleleh terus dari ujung
bibirnya.
Dalam sekejap mata itu pula lencana ok kui cupay telah berpindah tangan, kini benda tersebut
telah berada ditangan tengkorak maut yang lihay itu.
Tindakan dari Tengkorak maut ini sama sekali berada diluar dugaan semua orang, siapapun tak
menyangka kalau tokoh sakti itu sudi merampas ok kui cupay tanda kepercayaan dari Huan mo
kiong.
Paras muka Wi It beng berubah hebat, tubuhnya gemetar menahan emosi.
Jauh2 dari Thian lam menuju daratan Tionggoan, tujuan wi It beng adalah melenyapkan Han
siong Kie serta merampas lencana ok kui cupay yang merupakan tanda kekuasaan dari istana
Huan mo kiong, dan kini dikala lencana tersebut hampir terjatuh ke tangannya. Tahu2 sudah
dirampas oleh Tengkorak maut, bisa dibayangkan betapa gusar dan gelisahnya jago ini.
"Tengkorak maut, hayo serahkan kepadaku benda itu" hardiknya keras2.
"Heehh heehhh heehhh apanya yang serahkan kepadamu?" jengek Tengkorak maut sambil
tertawa seram.
"Apa lagi? tentu saja lencana ok kui cupay tersebut"
"Haahh haahhh haaa... Wi It beng menurut apa yang kuketahui, engkau tak lebih hanya
seorang anggota murtad dari aliran Thian lam dan lagi kedudukanmu sebagai Tee kun sudah
terhapus, memangnya lencana ini masih menjadi milikmu??"
"Tutup mulutmu, Jawab saja, mau diserahkan kembali kepadaku atau tidak ....?"
"Memangnya engkau mampu melakukan sesuatu yang luar biasa atas diriku ini? " ejek
Tengkorak maut.
"Bangsat Rupanya engkau memang sudah bosan hidup," teriak Wi It beng dengan gusarnya.
setelah membuat satu gerak melingkar di depan dada, sepasang telapak tangannya langsung
dilontarkan ketubuh Tengkorak maut, bukan saja cepat sekali serangan itu, bahkan ganas dan
keji.
"Waah.. kalau cuma mengandalkan ilmu kucing kaki tiga seperti ini masih jauh kalau ingin
merobohkan aku"
Tiba2 ia melesat kedepan sejauh dua kaki, kemudian ejeknya dengan nada sinis. . "Wi It beng,
manusia tolol sampai ketemu lain kali..."
Berbareng dengan berakhirnya ucapan tersebut, tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan
yang lebat.
Betapa murkanya Wi It beng ketika ia lihat Tengkorak maut telah berlalu dengan begitu saja, ia
berpaling dan melotot sekejap kearah Han siong Kie dan kelima orang tianglo itu dengan tatapan
benci, kemudian dengan wajah menyeringai ucapnya:
"Baik..baiklah... akan kuselesaikan kalian lebih dahulu sebelum kubikin perhitungan dengan
Tengkorak maut"
Keadaan Han siong kie ketika itu sangat lemah, jangan toh harus bertempur, untuk berdiri
sendiripun sudah tak mampu.
Lima orang tianglo itupun merasa sedih bercampur gusar, kini ketua mereka telah terluka
parah, itu berarti mereka berlima tak akan mampu menghadapi kelihayan wi It beng kendatipun
turun tangan bersama2
Dari sikap musuhnya yang begitu seram, merekapun sudah tahu bahwa musuhnya tak akan
melepaskan mereka berenam dengan begitu saja, asal mereka sudah mati maka perguruan Thian
lam pasti akan terjatuh ketangan manusia biadab ini, itu berarti pula bahwa kejayaan dan
kecermerlangan perguruan mereka harus berakhir sampai disini saja.
Walaupun sadar bahwa kepandaian mereka bukan tandingan lawan, namun mereka tak sudi
menyerah kalah dengan begitu saja, mereka bersiap sedia melakukan perlawanan hingga titik
darah yang penghabisan-
Diiringi bentakan nyaring, kelima orang tianglo itu segera putar toya kepala setannya dan
menerjang Wi It beng dengan ganas.
"Bluuk..." suatu jerit kesakitan terdengar, Liok sau tan terhajar telak oleh serangan itu hingga
mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.
Menyaksikan rekannya mati terbunuh, empat orang tianglo yang lain jadi semakin kalap.
serangan mereka semakin gencar, toya saktinya diputar sedemikian rupa sehingga Wi It beng
benar2 kena dikurung ditengah kepungan.
Kematiam rekan seperguruan yang berlangsung didepan mata membuat keempat orang tianglo
itu benar2 teramat gusar, mereka sudah bertekad untuk beradu jiwa, maka setiap serangan yang
dilancarkan Sebagian besar merupakan serangan adu jiwa yang sangat mengerikan-
Dalam waktu Singkat Wi It beng sudah di bikin keteter hebat dan kalang kabut tidak karuan,
posisinya amat terdesak sedang jiwanya terancam oleh mara bahaya.
Lambat laun Wi It beng jadi naik darah juga, ia tahu jika pertarungan dibiarkan berlangsung
terus dalam keadaan begini, niscaya wibawa dan gengsinya akan merosot.
Suatu ketika ia mendengus dingin, kemudian sambil menerjang kemuka secara beruntun dia
lancarkan delapan buah serangan berantai yang cukup gencar, hanya sesaat saja posisi diatas
angin telah terjatuh kedalam genggamannya.
Jerit kesakitan tiba2 berkumandang lagi memecahkan kesunyian, dalam suatu sergapan kllat,
Seng Thian pau tianglo kedua dari istana Huan mo-kiong ini tak sempat menghindarkan diri dari
serangan. dadanya terhajar telak sehingga ia muntah darah segar, tak ampun lagi tubuhnya
terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa.
Kematian dari rekannya yang kedua ini semakin membuat tianglo lain yang masih hidup jadi
kalap. To It hui tianglo pertama, Ang Pat siu tianglo ketiga dan Sah Jin ho tianglo kelima dengan
mata yang berapi-api dan muka menyeringai seram berulang kali membentak keras ibarat guntur
yang menggelegar di angkasa.
Tiga batang toya baja mereka dengan diputar sedemikian rupa merupakan serangkaian
bayangan serangan yang tajam dan tebal bagaikan awan yang memenuhi angkasa, di iringi
desingan tajam serentak menyergap membabat dan menghantam batok kepala musuhnya.
Ketiga orang tianglo ini sudah mata gelap dibuatnya, mereka jadi nekad dan tak takut mati,
dengan sendirinya serangan yang dilancarkan ketiga orang inipun jauh lebih dahsyat lagi.
Wi It beng tertawa terkekeh2, ia tak pandang sebelah matapun terhadap serangan2 musuhnya,
dikerubuti lima orang pun dia sanggup melakukan pembantaian apalagi sekarang musuhnya
tinggal tiga orang.. secara beruntun dia lepaskan dua belas buah pukulan dahsyat.
Begitu kedua belas buah pukulan itu dilancarkan kemuka, secara beruntun terdengarlah tiga
kali jerit kesakitan menggema diangkasa, dalam waktu singkat dari antara lima orang tianglo yang
gagah berani ada dua sudah mampus dan tiga lainnya menderita luka parah.
suasana untuk sesaat jadi hening dan sepi, kendatipun hawa napsu membunuh masih
menyelimuti seluruh angkasa dengan tebalnya.
Wi It- beng tertawa seram, muka nya menyeringai hingga Kelihatan sangat mengerikan,
selangkah demi selangkah ia maju kedepan menghampiri Han siong Kie.
Betapa gusar, benci dan penasarannya si anak muda itu, saking gelisahnya kembali dia
muntahkan darah segar, pada saat seperti ini dia sudah kehilangan tenaga untuk melawan,
padahal Wi it beng sambil tertawa seram maju semakin mendekat tampaknya kecuali meramkan
mata sambil menunggu tibanya ajal, tiada jalan lain lagi yang bisa dia lakukan. Pada detik2
terakhir inilah bayangan kematian berkecamuk dalam benaknya..
Ia teringat kembali akan dendam berdarah nya yang belum terbalas, perintah gurunya yang
belum terlaksana.
Mati bukan berarti bisa melepaskan diri dari se gala2nya, kalau ia sampai tewas dalam keadaan
demikian, maka dia akan mati dengan sepasang mata tidak terpejam.
sekarang ia mulai menyesal, menyesal apa sebabnya melayani pertarungan itu dengan
kekerasan, andaikata kelima orang tianglonya setelah ditolong maka mereka segera
mengundurkan diri, niscaya tidak beginilah keadaannya ....
Tanpa sadar peringatan dari orang yang ada maksudpun berkumandang kembali disisi
telinganya:
"...jangan lukai orang, setelah menyelamatkan jiwa kelima orang tianglo itu, segeralah berlalu
dari situ.."
Benarkah orang yang ada maksud adalah seorang manusia sakti yang bisa meramalkan semua
kejadian yang belum berlangsung?
sementara itu Wi It beng sudah berhenti kurang lebih lima depa dihadapan si anak muda itu,
telapak tangannya perlahan di angkat keudara dan siap melepaskan pukulan-..
Pada detik itulah dari tempat kejauhan tiba2 melayang tiba dua sosok bayangan manusia.
sangat kebetulan kemunculan bayangan manusia itu, Wi It beng yang telah siap melancarkan
serangannya tiba2 membataikan kembali niatnya dan menurunkan kembali telapak tangannya itu.
Yang munculkan diri ketika itu adalah dua orang kakek berbaju kuning, mereka memiliki
perawakan badan yang tinggi besar dan kekar, sepasang mata nya memancarkan cahaya tajam,
itu menandakan kalau tenaga dalam yang mereka miliki telah mencapai puncak kesempurnaan.
Begitu mencapai permukaan tanah, dua orang kakek baju kuning itu segera memberi hormat
kepada Wi It beng seraya berkata:
"Pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau khusus datang menghunjuk hormat untuk
Tee-kun"
"Kalian berdua tak usah banyak adat" kata Wi It beng sambil putar badannya "ada urusan apa
kalian datang kemari??"
"Hamba mendapat perintah dari kaucu untuk datang menghadap Tee kun, ada suatu masalah
penting yang hendak dirundingkan dengan diri Tee kun" sahut salah seorang diantara kedua orang
pelindung hukum baju kuning itu.
"Persoalan apa yang hendak kalian rundingkan??"
"Berulang kali manusia berwajah dingin menyatroni dan membuat keonaran didalam
perkumpulan kami, hingga detik ini sudah mendekati seratus orang anggota perkumpulan kami
yang telah jatuh korban ditangannya, oleh sebab itu kaucu mengusulkan agar Tee-kun bersedia
menyerahkan orang itu kepada kaucu kami, agar kami bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepada dirinya. ."
"Tentang soal ini. "
Dengan cepat pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Wi It beng, ia tahu bilamana Manusia
berwajah dingin diserahkan kepihak Thian che kau, maka tindakannya ini akan mempengaruhi
nama baik serta kewibawaan perguruannya, akan tetapi diapun merasa segan untuk bermusuhan
dengan perkumpulan itu dalam posisi yang serba tidak menguntungkan ini, toh bagaimanapun
juga tujuannya hanya melenyapkan bibit bencana dari muka bumi ?"
Kini lencana ok kui cui pay dari perguruannya sudah dirampas Tengkorak maut, itu berarti bila
dia hendak mengembangkan pengaruh perguruannya maka ia masih harus meminjam kekuatan
dan bantuan Thian che kau.. "
sesudah mempertimbangkan untung ruginya, diapun mengangguk dan menjawab nyaring.
"orang nya boleh saja kalian bawa pergi, tapi terlebih dahulu aku harus musnahkan dulu ilmu
silat yang dimilikinya"
"Terserah kebijaksanaan Tee-kun"
Han siong Kie masih sadar, dengan sendirinya diapun dapat mengikuti jalannya pembicaraan itu
dengan jelas, meskipun setiap patah kata yang diucapkan lawannya amat menusuk perasaannya,
membuat ia jadi gusar dan dadanya serasa mau meledak. akan tetapi sianak muda itu tak mampu
berbuat apa2, dia hanya pasrah pada nasib belaka.
Dalam pada itu, Wi it beng telah memutar badannya menghadap kembali kearah Han siong Kie.
setelah tertawa seram kata nya.
"Menurut peraturan sepantasnya kalau kusebut dirimu sebagai suheng.. haaahh .haaaahh..
haaahhh.. semoga saja sesaat lagi engkau dapat segera berangkat untuk berkumpul kembali
dengan toa supek dialam baka sana."
"Binatang terkutuk, aku menyesal karena tak bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepadamu!" seru Han Siong Kie dengan penuh kebencian "tapi hmm engkau tak usah keburu
bersenang hati, barang siapa tidak jujur dan tidak setia kepada perguruan, suatu ketika dia pasti
akan mati dalam keadaan mengerikan. percayalah saat ajalmu tidak terlalu lama"
"Heeehhh heeeehhh hheeeehhh suheng, sekalipun saat ajalku sebentar lagi akan tiba, sayang
seribu kali sayang engkau tak dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"sukma cousu selalu melindungi perguruannya, dia tak akan membiarkan engkau hidup lebih
lama.."
"Bangsat lebih baik tutup saja bacot anjingmu." bentak Wi It beng dengan gusar.
Dalam suatu bentakan keras dengan sodokan jari tangannya yang kaku bagaikan tombak ia
menerjang kemuka dan mengancam jalan darah cacad ditubuh sianak muda itu.
"Blaang" ditengah benturan keras yang memekikkan telinga, terdengar wi It beng mendengus
berat, dengan sempoyongan dia mundur lima langkah kebelakang.
sekalipun Han siong Kie sudah menderita luka dalam yang cukup parah namun dengan bakat
alamnya yang luar biasa serta daya tahannya yang kuat, serangan balasan yang dilepaskan dalam
keadaan terluka itu tak bisa di anggap enteng. . .
Bagi Wi It beng sendiri serangan balasan tersebut tak pernah dibayangkan sebelumnya, dia tak
menyangka dalam lukanya, pemuda itu masih sanggup melepaskan pukulan sedahsyat itu
sehabis melancarkan sebuah pukulan dengan menggunakan sisa kekuatan yang dimilikinya itu,
luka yang diderita Han Siong Kie menjadi semakin parah, dengan sempoyongan dia mundur
kebelakang, matanya jadi ber kunang2 dan kepala nya pusing tujuh keliling, darah segar kembali
muntah keluar dari mulutnya.
Dari malunya Wi It beng jadi gusar, sepasang telapak tangannya segera diayunkan berbareng
melancarkan bacokan kilat yang maha dahsyat.
Tiga orang tianglo yang menggeletak dengan menderita luka parah sempat mengikuti jalannya
peristiwa ini dengan jelas, mereka sudah meronta bangun sambil bersiap siap memberikan
pertolongan, tapi serangan lawan dilancarkan terlalu cepat, ketiga orang itu tak bisa berbuat lain
kecuali menjerit kaget
"Tee-kun, harap ampuni jiwanya, kaucu kami membutuhkan dirinya dalam keadaan hidup2"
teriak dua orang pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau hampir bersamaan waktunya.
Tapi sayang jeritannya itu agak terlambat, Di tengah jeritan kesakitan, ibarat layang-layang
yang putus benang, tubuh Han siong Kie mencelat ke udara dan meluncur kebelakang.
Mendadak satu kejadian aneh telah berlangsung didepan mata..
Dikala daya luncur dari tubuh Han siong Kie sudah habis dan badannya hampir menyentuh
tanah, tiba2 entah bagaimana caranya tiba2 tubuhnya melayang kembali keudara dan meluncur
kedalam hutan di tepi jalan raya itu..
semua jago berdiri terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya, semua orang tak mampu
ber-kata2 menyaksikan peristiwa aneh itu, hanya dalam waktu singkat tubuh Han siong Kie yang
kekar sudah melayang ke dalam hutan dan lenyap dibalik pepohonan.
sebagai jago2 silat kenamaan rasa kaget itu hanya sebentar menyelimati hati mereka, dengan
cepat orang2 itu sadar pastilah ada seorang tokoh sakti yang sedang bersembunyi disana. .
Peluh dingin mulai mengucur keluar membasahi tubuh mereka, bayangkan saja dari jarak
sejauh beberapa kaki ternyata tokoh sakti itu mampu menghisap sesosok tubuh yang kekar seperti
itu, bilamana tenaga dalam orang itu tidak sangat hebat, mampukah dia melakukan hal seperti
itu?
Belum lenyap rasa kaget yang menyelimuti hati semua orang, tiba2 pandangan mata nya jadi
kabur dan tahu2 seorang kakek tua yang tinggi besar dengan jubah panjang warna kuning,
berkaki telanjang dan berikat kepala warna perak munculkan diri ditengah gelanggang.
Perawakan tubuh kakek itu sangat tinggi besar, sekilas pandangan se-akan2 sebuah buklt kecil
yang sedang bejalan.
Manusia aneh itu mempunyai sepasang mata yang memancarkan sinar warna hijau, begitu
tajamnya sorot mata orang itu membuat setiap jago yang terpandang oleh nya segera hatinya
bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.
Setelah menjapu sekejap orang-orang itu, akhirnya sinar mata manusia aneh itu berhenti diatas
wajah Wi It beng.
Betapa pemberaninya Wi It beng tak urung mundur juga beberapa langkah ke belakang dengan
badan gemetar keras, dengan pengalaman serta kepandaian yang dimilikinya, ia tahu bahwa
manusia aneh itu bukan manusia sembarangan, ilmu silatnya boleh dibilang sudah mencapai
puncak kesempurnaan yang tak terhingga.
Sementara dia masih melamun, Manusia aneh itu sudah menegur dengan suaranya yang keras
bagaikan geledek:
"Hey bocah cilik, kalau kulihat dari kopiah emasmu, jubah sutramu serta dandananmu yang
tidak genah, tentunya engkau adalah ketua dari perguruan Thian lam bukan?"
"Bee.. betul " jawab Wi It beng dengan tubuh bergetar keras, "akulah ketua kaisar dari istana
Huan mo kiong"
"Apa ? Kaisar ? Haaah haaah haaaah kaisar ? sungguh menggelikan"
Gelak tertawa itu keras sekali membuat seluruh permukaan tanah tergetar keras, pucat pias
wajah kawanan jago yang hadir di situ, mereka merasakan darah panas bergelora dengan
hebatnya didada, bahkan Wi It beng pribadipun merasa jantungnya berdebar keras.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya dengan ketiga orang tianglo yang sedang terluka parah,
kontan mereka jatuh terduduk di atas tanah tak mampu berkutik lagi.
Untungnya manusia aneh itu hanya sebentar tertawa nya, kalau tidak cukup hanya tertawa
tergelak niscaya beberapa orang diantara mereka ada yang terluka parah.
Berdiri semua bulu kuduk digubuh Wi It beng, sambil memberanikan diri dia lantas menegur:
"Bolehkah aku tahu siapa nama besar mu?"
"Haah.. Masa engkau tidak kenal dengan aku?"
"Maaf, aku benar2 tidak kenal siapa engkau"
"Heehhh..heehh..heehh.. ketika aku masih berkelana dalam dunia persilatan, mungkin engkau
masih belum menongol dari rahim ibumu, akulah Hun si Mo ong Raja iblis pengacau jagad, sudah
pernah mendengar namaku ini"
Hun si Mo ong, suatu nama yang cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengarkan,
kontan para jago yang hadir dalam gelanggang merasakan badannya jadi lemas dan tak sanggup
berkutik lagi.
Sejak enam puluh tahun berselang jejak Hun si Mo ong secara tiba2 lenyap dari dunia
persilatan, kendatipun begitu nama besarnya selama puluhan tahun masih membekas dalam hati
setiap umat persilatan, tidaklah heran kalau semua orang masih mengenali nama besar dari tokoh
sakti tersebut.
Jago ini tersohor karena ilmu silatnya yang sangat lihay, perasaan girang ataupun gusar sukar
diketahui orang, dan perbuatannya tak pernah menuju kearah kebaikan ataupun kejahatansemua
perbuatannya hanya berdasarkan perasaan hati sendiri.
Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, jarang sekali ada jago silat yang sanggup
melayani tiga gebrakannya, maka dari itu baik jago dari golongan putih maupun jago dari
golongan hitam pada menaruh rasa jeri kepada nya
Enam puluh tahun berselang, diatas puncak Jit koan hong pada gunung Thay san telah
diselenggarakan suatu pertemuan besar para orang gagah, beratus2 orang jago persilatan kelas
satu yang ada dikolong langit telah berkumpul disana, dikala itu Hun si Mo ong hadir pula disana,
hanya cutup di dalam dua gebrakan ia telah berhasil menghajar mampus jago silat nomor satu
dikolong langit.
Atas kejadian itu para jago yang hadir disana jadi gusar hingga terjadilah pengerubutan secara
massal, akan tetapi dalam seperminum teh saja, mayat telah bergelimpangan bagaikan bukit,
darah berceceran membasahi puncak Jit koan hong...
sejak terjadinya peristiwa pembantaian ini tiba2 jejak Hun si Mo ong ikut lenyap dari peredaran
dunia persilatansungguh
tak disangka setelah menghilang selama enam puluh tahun lamanya, tiba2 Raja iblis
pengacau jagat yang lihay ini muncul kembali didalam dunia persilatan, bahkan turun tangan
menyelamatkan jiwa Manusia berwajah dingin yang terancam bahaya, peristiwa ini boleh dibilang
jauh diluar dugaan siapapun.
Tak seorangpun bisa memahami maksud dari gembong iblis ini, mereka cuma bisa berdiri
melongo sambil memandang orang itu tanpa berkata- kata. suasana jadi hening, sepi tak
seorangpun berani buka suara.
-00d0w00-
BAB 54
SESUDAH termenung beberapa saat lamanya, Hun si Mo ong kembali berkata:
" Enam puluh tahun berselang aku telah mengangkat sumpah, bahwasanya orang lain tidak
mengganggu aku, maka akupun tidak akan mengganggu orang lain. Nah Anggap saja nasib kalian
masih mujur, hayo cepat enyah dari tempat ini"
Hampir saja semua orang tidak percaya dengan pendengaran sendiri, siapa juga tak mengira
kalau Hun si Mo ong yang kejam dan lihay ternyata sudah bertobat dan tidak melakukan
pembantaian lagi.
seakan2 baru saja terlepas dari pintu neraka, kawanan jago itu segera melarikan diri terbirit2
dari sana.
Hun si Mo ong tertawa ter bahak2, menanti kawanan jago itu sudah lenyap dari pandangan,
diapun berkelebat dan lenyap dari pandangan mata.
Tak jauh dari hutan itu, Han siong Kie tampak sedang berdiri sambil bersandar di atas sebuah
dahan pohon-
Tak jauh disampingnya berdiri pula seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari turun
dari kahyangan. dia bukan lain adalah malaikat hawa dingin Mo siu ing. Pada waktu itu Mo siu ing
sedang tertawa ringan sembari berkata:
"Hey, manusia berwajah dingin Ketika berada dihutan penyeberangan pohon liu engkau telah
menyelamatkan jiwaku, dan sekarang aku telah membayar budi kebaikanmu itu, berarti pula kita
sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada siapa"
Han siong Kie sakit hati dan termenung tanpa berkata2, ia tak suka budi kebaikan dari orang
lain, terutama dari kaum wanita, tapi dalam kenyataan berulang kali dia harus menerima budi
kebaikan dari kaum perempuan, hal ini membuat ia habis daya dan tak mampu ber-kata2 lagi.
Melihat sianak muda itu membungkam, Malaikat hawa dingin Mo siu ing kembali berkata:
"Kita hanya berjumpa secara kebetulan saja, kebetulan aku dan guruku sedang berangkat
menuju kebenteng maut, dan ketika kami lewat disini kulihat engkau sedang terancam bahaya.."
"Siapa gurumu?" tanya Han siong Kie agak tertegun.
"Siapa lagi kalau bukan Hun si Mo ong??"
sekali lagi Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa dia teringat kembali
akan peristiwa dimasa lampau dimana Ang Nio cu terancam bahaya setelah dihajar sampai terluka
parah oleh Tengkorak maut gadungan, untung Hun si Mo ong muncul secara tiba2 dia membuat
Tengkorak maut gadungan melarikan diri karena ketakutan.
Ia tak mengira kalau Hun si Mo ong yang ditakuti banyak orang itu ternyata tak lain tak bukan
adalah gurunya Malaikat hawa dingin Mo siu Ing.
"Jadi gurumu adalah Hun si Mo ong ?" tanya pemuda itu lagi dengan nada kurang percaya.
"Benar, engkau tak percaya??"
"Dan kalian hendak menuju ke benteng maut??"
"Tentu saja, kami hendak pergi kesana untuk menolong suamiku "
Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak Han siong Kie, kalau toh Hun si Mo
ong adalah gurunya malaikat hawa dingin Mo siu ing, bahkan dia mampu membuat Tongkorak
maut gadungan melarikan diri ter-birit2, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silatnya pasti
tinggi sekali.
Bagaimana jadinya apabila mereka berangkat ke Benteng maut? Belum tentu Tengkorak maut
yang asli mampu menandingi kekuatan mereka, jika dia sampai mati maka bagaimana dengan
dendam sakit hatinya? bukankah harapannya akan lenyap tak berbekas?
Diam2 pemuda itu jadi panik, saat ini tenaga dalamnya belum pulih kembali jelas tak mungkin
baginya untuk membicarakan soal balas dendam, lalu mampukah dia menghalangi orang lain agar
jangan pergi dulu kesana..?
Tapi dengan cepat ia terbayang kembali betapa lihay dan aneh nya ilmu silat yang dimiliki
pemilik benteng maut. sekalipun tenaga gabungan dua orang tokoh sakti ini terhitung dahsyat,
belum tentu usaha mereka akan mencapai kesuksesan.
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 tampaklah sesosok bayangan
manusia berkelebat lewat, menyusul seorang manusia aneh yang tinggi besar telah munculkan diri
didepan mata.
"Suhu, sudah selesaikah urusanmu?" Malaikat hawa dingin Mo Siu ing segera menegur dengan
wajah berseri.
"Ehmm. Perbuatanku sangat terbatas sekali karena terikat oleh sumpahku, aku tak dapat
membunuh orang lagi, terpaksa kububarkan orang2 itu agar berlalu dari sana"
Sekarang Han siong Kie baru tahu kalau manusia aneh yang berada dihadapannya bukan lain
adalah Hun si Mo ong yang ditakuti setiap orang, ketika diketahuinya peristiwa Wi It beng sekalian
tidak sampai dibunuh mati, pemuda itu bergirang hati karena dengan begitu maka dia masih
punya harapan untuk menjatuhi hukuman yang setimpal kepada penghianat perguruannya itu.
Berpikir sampai disitu, anak muda itu segera maju kedepan dan memberi hormat kepada Hun si
Mo ong seraya berkata:
"Locianpwe, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu ini"
"Haaahhh haaahhh haaahhhjangan kau anggap peristiwa itu sebagai suatu kejadian besar" kata
Hun si Mo ong sambil tertawa tergelak, "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyelamatkan
jiwamu, oleh karena muridku pernah menerima pertolongan darimu dan dia temukan engkau
sedang terancam bahaya maka ia minta bantuanku untuk menolong, jadi anggaplah
pertolonganku bukan lantaran engkau, tapi lantaran permintaan dari muridku ini"
Berbicara sampai disini, diapun berpaling kearah Malaikat hawa dingin Mo siu Ing seraya
berkata:
"coba kau lihat, bocah ini mirip sekali dengan suhengmu Ko Su ki "
"Benar suhu.." jawab Malaikat hawa dingin sedih.
sekarang Han siong Kie baru tahu kalau pada mulanya malaikat hawa panas dan malaikat hawa
dingin adalah sesama perguruan dimana dari saudara seperguruan akhirnya mengikat diri menjadi
suami istri.
"Dia tak akan mati bukan?" terdengar Hun si Mo ong bertanya lagi.
"Tecu telah memberi sebutir Kui goan kim wan kepada nya, tecu rasa jiwa nya tidak terancam
lagi"
"Kui goan kim wan ?" seru Hun si Mo ong cepat," Hey budak cilik, engkau benar2 sangat royal,
tahukah engkau selama enam puluh tahun aku bekerja, hasilku hanya tiga butir pil Kui goan kim
wan tersebut, engkau bukan saja sudah makan sebutir, sekarang kau hadiahkan pula sebutir
kepadanya.. waah, terlalu royal"
Malaikat hawa dingin Mo siu ing tertawa jengah setelah mendengar teguran itu, cepat dia
alihkan pokok pembicaraan kesoal lain: "suhu, sekarang sudah waktunya buat kita untuk
berangkat..."
"Baik..baik.. hayo kita berangkat"
Begitulah, tanpa berbicara lagi dua orang jago silat itu segera berlalu dari hutan tersebut,
dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan-
Han siong Kie sendiripun tak mampu berkata2, dia hanya bisa memandang kepergian dua
orang itu dengan pandangan melongo.
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing yang gemar membunuh manusia ternyata rela menghadiahkan
obat Kui goan kim wan mustika perguruanya untuk menyelamatkan jiwa Han siong kie, terhadap
peristiwa itu pemuda kita merasa keheranan dan benar2 tak habis mengerti.
"Mungkinkah obat ini disebabkan karena Han siong Kie berhasil menemukan kabar berita
tentang malaikat hawa panas Ko su ki ? Mungkinkah seumpama sianak mudaitu mengenangkan
lembali dirinya akan kegagahan dan kegantengan suaminya dimasa lampau?
obat Kui goan kim wan benar2 terhitung sebutir obat yang sangat mujarab, dalam waktu
singkat bukan saja rasa sakit ditubuh sianak muda itu sudah lenyap tak berbekas bahkan hawa
murninya telah menghimpun kembali..
Dalam perkiraan si anak muda itu, sesudah kemunculan Hun si Mo ong yang disegani banyak
orang itu, maka tak akan ada manusia yang berani mendekati wilayah itu, tapi dengan tenang dia
lantas duduk bersila sambil bersemedi . Apa yang terjadi kemudian? Ternyata dugaannya itu keliru
besar.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia dengan langkah yang sangat hati- hati
sedang bergerak mendekati tempat pertapaannya.
Nun jauh dibelakang bayangan manusia itu tampaklah bayangan manusia itu sedang
membuntuti bayangan manusia yang pertama. agaknya kedua orang itu mempunyai maksud dan
tujuan yang berbeda.
Mimpipun Han siong Kie tak menyangka kalau jiwanya waktu itu kembali terancam oleh mara
bahaya, dengan kesempurnaan tenaga dalamnya ditambah pula kemujaraban pil Kui goan kiem
wan, hanya dalam waktu singgkat ia sudah berada dalam keadaan tak sadar, kabut tipis berwarna
putih mulai mengepul keluar dari ubun2nya menciptakan selapis kabut tebal diatas kepala nya.
Bila latihan ini berlangsung setengah jam lagi, niscaya luka dalam yang diderita sianak muda itu
sudah sembuh sama sekali.
Bayangan manusia itu kian lama kian mendekat dan akhirnya ia berhenti dibelakang Han siong
Kie, persis pada jarak jangkauan tangannya, siapakah bayangan itu? Dia tak lain adalah Tengkorak
maut gadungan yang berhasil merampas lencana ok kui cu pay dari tangan Han siong Kie itu.
sementara itu pemuda Han siong Kie masih belum merasakan tibanya malaikat maut yang siap
mencabut nyawanya, ia masih duduk bersemedi sambil menyembuhkan luka nya yang diderita.
Telapak tangan dari tengkorak maut gadungan telah diangkat tinggi2, ia siap melepaskan
serangan mautnya, tapi entah apa sebabnya tiba2 telapak tangan yang telah siap melancarkan
serangan maut itu diturunkan kembali, rupanya ia sedang mempertimbangkan perlukah mencabut
nyawa sianak muda itu.
Jikalau ia menginginkan nyawa anak muda itu, maka dengan suatu gerakan yang amat
sederhana, keinginannya itu pasti akan tercapai, namun dalam kenyataan ia telah membatalkan
niatnya itu, atau mungkin dibalik kesemuanya ini dia mempunyai maksud atau tujuan yang lain
Dalam pada itu bayangan manusia yang lain telah melayang pula mendekati dibelakang
Tengkorak maut gadungan, dengan gerakan tubuh yang enteng ia menyembunyikan diri
dibelakang sebuah pohon yang besar.
Gerak gerik orang itu enteng dan gesit, sedikitpun tidak menimbulkan sedikit suarapun,
malahan Tengkorak maut gadungan yang lihaypun sama sekali tidak merasa kehadirannya. dari
sini dapat dibuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki pandatang itu luar biasa hebatnya.
suasana jadi hening, sepi, akan tetapi napsu memburuh yang tebal telah menyelimuti seluruh
angkasa.
37
Kabut putih yang menyelimuti ubun2 Han siong Kie mulai menipis dan akhirnya lenyap
menyusul mana pemuda itu sadar kembali dari latihannya, baru saja dia akan bangkit berdiri..
Mendadak sebuah telapak tangan telah menempel diatas ubun2nya, menyusul seseorang
membentak dengan suara menyeramkan: "Jangan bergerak!"
Betapa terperanjatnya Han siong Kie, ia merasa sukmanya serasa melayang tinggalkan
raganya, suara itu tidak terlalu asing baginya, sebab ia kenali sebagai suara dari Tengkorak maut
gadungan.
Bisa dibayangkan sampai dimanakah rasa bergidik yang mencekam perasaan hati si anak muda
itu, dalam hati dia lantas berseru. "Mati aku Habis sudah riwayatku kali ini.."
Tengkorak maut gadungan tertawa terkekeh kekeh dengan bangganya, ia berseru:
"Bocah keparat, ada satu persoalan hendak kuajukan kepadamu, aku harap engkau bersedia
untuk menjawab dengan sejujurnya"
Sekalipun jiwanya terancam, akan tetapi Han siong Kie tak mau menyerah dengan begitu saja,
dengan wataknya yang tinggi hati dan angkuh ia tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan
orang, dengan ketus ejeknya sinis:
"Tua bangka sialan, engkau manusia pengecut. Beraninya main sergap dikala orang tidak
bersiap sedia, manusia macam apakah dirimu itu?"
"Haaahhh haaahhh haahh keparat, terserah apa yang hendak kau katakan, pokoknya asal
engkau bersedia menjawab pertanyaanku sejujurnya maka akupun bersedia pula memberi
kesempatan kepadamu untuk melangsungkan suatu pertarungan yang seadil2nya"
"Aku tak sudi dipaksa atau diancam, percuma kalau engkau hendak paksa aku untuk menjawab
pertanyaanmu itu".
"Bocah keparat, engkau jangan tekebur Ketahuilah, bila aku berniat untuk mencabut nyawamu
maka perbuatan ini bisa kulakukan dengan gampang sekali"
" Kalau memang begitu, silahkan saja turun tangan "
" Engkau tak takut mampus??"
"Hmm Aku manusia berwajah dingin tak akan sampai mengemis kehidupan kepadamu"
"Baiklah bocah keparat, anggap saja engkau memang bersemangat jantan, cuma sayang..."
"sayang kenapa??"
"Perguruan Thian- lam akan terputus ditanganmu"
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, ia tahu bila dirinya mati maka perguruan Thian lam
akan hancur berantakan, wi It beng pasti akan berbuat se wenang2 tanpa seorangpun berani
menghalangi perbuatannya itu, dan akhirnya perguruan Thian lam akan musnah dengan
sendirinya.
Pemuda itu jadi sedih dan sakit hati, tapi wataknya yang angkuh membuat anak muda itu tak
sudi tunduk kepada orang lain.
setelah termenung sejenak diapun berseru:
"Tua bangka sialan, engkau tak usah banyak bicara lagi, kalau ingin turun tangan hayo cepatlah
turun tangan"
"Jadi engkau benar2 lebih suka mampus daripada hidup??"
"Aku tak akan mengemis hidup darimu, banyak bicara tak ada gunanya ....mau turun tangan
hayo cepat turun tangan, tak usah banyak bacot lagi."
"Kalau memang begitu yaa sudahlah..."
Han siong Kie tak menggubris lawannya lagi, ia segera pejamkan matanya rapat2..
Tiba2 sekilas cahaya perak memancar ke angkasa, diiringi desingan angin tajam langsung
menyambar kearah pohon besar dihadapannya.
Tengkorak maut gadungan menjerit kaget, mendengar itu Han siong Kie membuka matanya
dan memandang kedepan.
Tampaklah sebuah lencana perak sebesar telapak tangan menempel diatas dahan pohon itu
diatas lencana terukirlah gambar matahari, rembulan dan bintang.
sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya,jeritan ngeri yang menyayatkan hati
kembali berkumandang memecahkan kesunyian. "Blaam sesosok tubuh segera tumbang keatas
tanah dan tak berkutik lagi.
Betapa terperanjatnya Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, ia lompat bangun dan
menengok kesamping, tampaklah Tengkorak maut gadungan sudah menggeletak tak bernyawa
diatas genangan darah. tujuh lembar daun pohon menancap diatas kepalanya membuat kematian
jago ampuh itu tampak mengerikan sekali.
Untuk sesaat sianak muda itu jadi tertegun dan tak mampu berkata-kata..
siapakah yang memiliki kepandaian selihay itu sehingga mampu membinasakan Tengkorak
maut gadungan??
siapa pula pemilik dari lencana perak itu??
Mungkinkah Hun si Mo ong yang telah datang ? Karena sebelum ajalnya bukankah Tengkorak
maut gadungan telah menjerit kaget??
Kecuali tokoh sakti itu, siapa lagi yang mampu membinasakan gembong iblis ini hanya didalam
sekali gebrakan belaka??
Mungkinkah lencana perak itu adalah lambang dari Hun si, Mo ong?
Pelbagai ingatan berkecamuk menjadi satu didalam benaknya, dia merasa tidak sanggup untuk
memecahkan kejadian yang sangat aneh ini, tapi ada satu hal ia merasa yakin, untuk kesekian
kalinya kembali ia lolos dari cengkeraman malaikat elmaut, sekali lagi dia lolos dari kematian
"Nak. apa yang sedang kau lamunkan?" tiba2 suara teguran yang lembut dan penuh kasih
sayang . berkumandang dari tak jauh dari sana.
Han siong Kie terkesiap, dengan cepat la kenali suara tersebut sebagai suara dari orang yang
kehilangan sukma.
"cianpwe, engkaukah itu?" cepat pemuda itu berseru.
"Nak, masa engkau tak dapat mengenali suaraku lagi?"
"sekalipun boanpwe tidak berjodoh untuk menjumpai raut wajah cianpwe, akan tetapi suara
cianpwe sudah membekas dalam benakku, budi kebaikan yang telah cianpwe berikan kepadaku
setinggi bukit dan setebal bumi, selamanya budi kebaikan ini tak akan kulupakan"
"Nak. aku tak suka mendengarkan perkataan2mu yang memandangkan balas budi ini"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah.
"Apakah cianpwe yang telah membinasakan Tengkorak maut gadungan untuk melepaskan
boanpwee dari ancaman bahaya maut??"
"Begitulah kenyataannya"
"Kesempurnaan tenaga dalam yang cianpwee miliki benar2 luar biasa sekali."
"Nak. dugaanmu itu keliru besar, bila tenaga dalamku dibandingkan dengan tenaga dalam yang
dimiliki Tengkorak maut gadungan, maka kepandaianku masih kalah setengah tingkat"
Han siong Kie tercengang dan merasa tak habis mengerti, dengan nada keheranan segera
serunya:
"Tapi..tapi toh kenyataannya dia mati dalam waktu singkat??"
"Dia bukan mati ditanganku, lebih cocok kalau dikatakan bahwa ia mati toh karena lencana
tersebut."
Han siong Kie melongo dan tak habis mengerti, ujarnya lagi: "Mati karena lencana itu ?
Boanpwe merasa tak mengerti.."
"Kemunculan lencana itu membuat konsentrasinya jadi buyar, karena itulah aku manpaatkan
kesempatan yang sangat baik itu untuk membereskan jiwanya..."
"Masa lencana itu memiliki daya pengaruh yang begitu besarnya?"
"Benar nak. engkau tidak percaya?"
"Tentu saja boanpwe percaya, apa mungkin lencana itu adalah lambang khusus milik cianpwe?"
"Bukan, dugaanmu itu keliru besar"
Han siong Kie semakin kebingungan dibuatnya, sesaat kemudian ia baru bertanya lagi:
"Bolehkah boanpwe ketahui apa nama lencana itu?"
"Thian che leng"
"Lencana Thian che? kalau begitu kan lencana ini milik perkumpulan Thian che kau?"
"Dugaanmu tepat sekali, lencana itu memang milik perkumpulan Thian che kau"
"Jadi kalau begitu, Tengkorak maut gadungan menjalankan aksinya karena mendapat perintah
dari pihak Thian che kau?"
"Boleh dikatakan begitu"
"Maksud cianpwe ucapan dari boanpwe ini tidak benar semuanya?"
"Nak. untuk saat ini lebih baik engkau tak usah mengetahui tentang persoalan ini, toh akhirnya
engkau akan menjadi paham dengan sendirinya"
Han siong Kie terbungkam untuk beberapa saat lamanya, tiba2 ia jadi teringat kembali dengan
ibunya, siang go cantik ong Cui ing, ia telah disergap oleh ibunya agar Tengkorak maut gadungan
berhasil melarikan diri, kalau ditinjau dari situ dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Tengkorak maut
gadungan adalah orangnya Thian che kau.
sekalipun begitu, kecurigaan yang mencekam dalam benaknya terasa semakin banyak, maka
kembali ujarnya:
"Aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan sangat tinggi dan luar biasa, masa
manusia selihay inipun rela menjalankan perintah dari orang lain??"
"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, dia memang lihay tapi
diatasnya toh masih ada manusia yang jauh lebih lihay??"
"Aku rasa tenaga dalam yang dimiliki Thian che kaucu tidak lebih tinggi beberapa kali lipat dari
pada kepandaian silat Tengkorak maut gadungan"
"Thian che kaucu yang pernah kau temui itu tidak lebih hanya Thian che kaucu gadungan yang
sengaja menyelimuti pandangan orang lain, kaucu yang asli sama sekali tak berada dalam
perkumpulan"
"oooh.. Tapi apa sebabnya orang ini harus menyaru sebagai tengkorak maut gadungan??"
"Kan sudah kukatakan tadi, ia mendapat perintah dari orang lain"
"Mendapat perintah siapa ? Perintah dari Thian che kaucu ?"
"Nak.. pertanyaanmu sudah terlalu banyak"
"cianpwee menganggap bahwa aku tak pantas mengajukan pertanyaan lagi??"
"Tentang soal ini ada beberapa soal diantaranya dewasa ini tak mungkin bisa kamu peroleh
jawabannya "
"Kenapa??"
"Persoalan ini termasuk pula persoalan yang tak bisa kujawab, harap engkau bisa maklum"
Tak kuasa lagi Han Siong Kie menarik napas dingin, tapi dia pantang menyerah dengan begitu
saja, kembali tanyanya:
"Kalau kutinjau dari dandanan orang yang menyaru sebagai Tengkorak maut ini bukan saja
dandanannya sama bahkan ilmu silatnya juga sama bila dibandingkan dengan yang asli maka dia
cuma kalah dalam soal kesempurnaan, bila dugaanku tak keliru semestinya antara yang asli dan
yang paisu tentu mempunyai hubungan yang sangat erat."
"Nak. aku rasa pembicaraan kita sudab cukup sampai disini dahulu, cepatlah kubur jenasah itu,
makin dalam makin baik sehingga jejaknya tidak ketahuan siapapun "
Dengan perasaan apa boleh buat Han siong Kie memandang kearah mana berasal suara dari
orang yang kehilangan sukma, kemudian mengangguk.
Diapun berjongkok dan mulai menegeledah saku Tengkorak maut gadungan, tapi hanya sesaat
kemudian paras mukanya telah berubah hebat, ia berseru tertahan:
"Nak, apa yang sedang kau cari?" terdengar orang ada maksud bertanya:
"Aku sedang mencari lencana ok kui Cu-pay dari perguruanku "
"Percuma, tak usah kau cari lagi sebab lencana itu sudah tidak ada dalam sakunya lagi"
"Sudah tidak berada dalam sakunya lagi??"
"Benar, benda itu sudah dia serahkan kepada orang lain "
"Maksudmu Thian che kaucu??"
orang yang kehilangan sukma tidak menanggapi pertanyaan itu, tapi kembali berseru:
"Cepatlah turun tangan dan kuburlah mayat itu Jangan sampai meninggalkan jejak."
"Tapi lencana itu merupakan barang mustika yang menyangkut mati hidup perguruanku, bila
cianpwee mengetahui jejaknya, tolong beritahulah kepadaku"
"Tentu saja akan kuberitahukan kepadamu tapi bukan sekarang."
Dengan sedih dan murung Han Siong Kie menghela papas panjang, dalam hati ia merasa
penasaran sekali hingga rasa mendongkolnya sukar dikendalikan, tapi ia tak berani
mengumbarnya . .
Sesudah termenung sejenak, akhirnya dia memghimpun hawa murninya kedalam telapak
tangan kanannya, kemudian dengan sekuat tenaga dibabatkan keatas tanah.
"Blaaang.." pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, sebuah liang sedalam beberapa
kakipun segera terbentuk.
Baru saja liang itu terbentuk, suara dari orang yang kehilangan sukma kembali berkumandang
datang .
"Lepaskan jubah dan kain kerudungnya, hancurkan raut wajah orang itu.."
Han siong Kie agak tertegun, tapi tugas itu segera dilaksanakan tanpa membantah.
Ketika sianak muda itu sudah menyelesaikan tugasnya, suara dari orang yang kehilangan
sukma berkumandang lagi:
"Sekarang hancurkan lambang tengkorak yang ada disakunya itu, kemudian kuburlah bersama
jubahnya diliang yang lain pendam jenasahnya kedalam liang itu, sesudah di uruk dengan tanah,
gusakan ranting pohon untuk menghilangkan jejak yang ada di permukaan tanah."
Han siong Kie sama sekali tidak tahu permainan setan apakab yang sedang dilakukan Orang
yang kehilangan sukma, dlapun tahu kalau banyak bertanya tak ada gunanya maka tanpa
mengucapkan sepatah katapun semua pekerjaan itu dilaksanakan tanpa membantah.
Dalam hati kecilnya dia hanya berpikir terus, darimana asalnya orang yang bernama orang yang
kehilangan sukma ini, ia juga tak tahu mengapa mereka berbuat begitu misterius, mengapa
berulang kali mereka memberi bantuan kepadanya. Ketika semua pekerjaan telah selesai, maka
pemuda itu bertanya lagi:
" Cianpwe, apabila aku ingin tahu darimakah cianpwe mendapatkan benda yang paling
berkuasa dari perkumpulan Thian che kau ini.."
"Ada apa?" tukas orang yang kehilangan sukma.
"Apakah cianpwe tidak bersedia untuk memberikan jawabannya?"
"Tepat sekali tebakanmu itu, untuk sementara satu pertanyaan itu tak bisa kujawab, anggaplah
pertanyaan tersebut belum tiba saatnya bagiku untuk memberitahukan kepadamu. 0oh iya, nak.
bukankah aku suruh engkau berkunjung ke benteng maut? Mengapa engkau tidak pergi ke sana?"
Mendengar pertanyaan itu, kontan saja Han siong Kie merasakan darah panas dalam dadanya
bergelora, api dendam dan benci berkecamuk dalam benaknya membuat hawa napsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya
Tanpa sadar ia teringat kembali akan diri Tonghong-Hui, setelah masuk kedalam benteng maut,
gadis itu tak pernah muncul kembali, menurut perjanjian hal ini menandakan bahwa ayahnya
adalah pembUnuh yang telah membantai keluarganya dimasa silam. Dan tentu saja dia harus
membalas dendam atas terjadinya peristiwa ngeri itu.
Pelbagai ingatan kembali berkecamuk dalam benaknya, dengan sedih bercampur pilu dia
menyahut:
"Cianpwe, aku pasti akan berkunjung kesitu, boanpwe percaya masa bagiku untuk berkunjung
kebenteng maut sebentar lagi pasti akan tiba"
"Kesempatan ? Apa maksudmu?"
"Terus terang kukatakan cianpwe, sebelum berkunjung kesitu boanpwe hendak mempelajari
dahulu sejenis ilmu silat yang maha sakti.."
"Maksudmu, bila ilmu silat yang kau latih itu berhasil kau kuasahi maka engkau akan
berkunjung ke benteng maut untuk melakukan pembalasan dendam..?"
"begitulah maksud boanpwe"
"Nak, dikala aku tak dapat memberitahukan segala sesuatunya kepadamu, aku tak mampu
mencegah engkau berbuat sesuka hatimu, tapi aku ada satu permintaan dan aku harap engkau
tidak sampai membuatku jadi kecewa."
"Ucapan cianpwe terlalu serius, apa yang hendak disampaikan? Katakanlah terus terang" "
"Apabila engkau berkunjung lagi ke benteng maut dan sebelum melakukan pembalasan
dendam, aku minta sampailah dahulu asal usulmu dan ceritakan pula kisah terjadinya
pembantaian berdarah itu dan dimanakah peristiwa tersebut telah terjadi"
"sekalipun cianpwe tidak berpesan begitu boanpwe akan melakukan juga kesemuanya itu"
"Apakah engkau menyanggupi permintaanku untuk melakukannya walaupun berada dalam
keadaan apapun?"
"Boanpwe bersedia"
Meskipun dimulut Han siong Kie lelah menyanggupi, namun hatinya merasa tercengang dan
keheranan sebelum membalas dendam tentu saja dia akan menceritakan dulu sebab musabab
terjadinya peristiwa berdarah itu, tapi mengapa orang yang kehilangan sukma berpesan secara
serius kepadanya? Apa maksud dan tujuannya?
sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi dengan nada
yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Nak. bukankah engkau merasa curiga dan tak habis mengerti? Bukannya aku sengaja berbuat
sok misterius pada hakekatnya terlalu banyak masalah yang tak boleh diungkapkan terlalu cepat,
sebab kalau tidak maka akan mengakibatkan terjadinya peristiwa yang lebih fatal, aku minta
engkau bersabar diri dan menunggu sampai tanggal mainnya?"
"Aku mengerti" sahut Han siong Kie.
-00d0w00-
BAB 55
SESUDAH berhenti sebentar orang yang kehilangan sukma kembali berkata:
"Demi engkau mau tak mau aku harus musnahkan Tengkorak maut gadungan dari muka bumi,
tapi tahukah engkau akibat dari kematiannya itu maka akan timbul pelbagai kejadian yang sukar
diramalkan mulai sekarang. Tahukah engkau didalam perkumpulan Thian che kau masih terdapat
belasan orang jago yang memiliki ilmu silat setaraf dengan kepandaian Tengkorak maut
gadungan."
Diam2 Han siong Kie menjulurkan lidahnya dengan setengah percaya setengah tidak ia berseru:
"sudah beberapa kali boanpwee menyatroni, markas besar perkumpulan Thian che kau akan
tetapi selama ini?"
"belum pernah...".
"Benar, desa ini dalam markas besar perkumpulan Thian che kau memang tidak terdapat jago2
lihay yang terlalu istimewa, tapi tahukah engkau bahwa jago2nya sama sekali tidak berada disitu?
secara beruntun mereka akan munculkan diri didalam dunia persilatan, mungkin juga dunia
persilatan sudah menghadapi saat2 kiamat, tak lama lagi perkumpulan Thian che kau akan
menumpas musuh2nya dan merajai kolong langit..."
"Nak. tugasmu sekarang terlampau berat, aku harap engkau bisa baik2 menjaga diri. Ingatlah
Engkau harus bersabar menghadapi segala persoalan apapun"
Betapapun kukuhnya Han siong Kie, ia merasa terharu juga setelah mendengar perkataan itu,
sepasang matanya jadi merah dan hampir saja air matanya jatuh bercucuran, dengan
bersungguh2 katanya:
"Nasehat dari cianpwe akan boanpwe ingat selalu didalam hati"
"Nak, sekarang engkau boleh berlalu dari sini"
sebenarnya dalam hati kccilnya Han siong Kie masih ada banyak persoalan yang hendak
ditanyakan, akan tetapi pada saat itu dia merasa tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
maka sesudah termenung sebentar akhirnya ia berkata: "Kalau memang begitu, boanpwe mohon
diri lebih dahulu"
"Engkau tak usah melalui jalan raya lagi, diantara lima orang tianglo yang setia kepadamu ada
dua sudah tewas dan tiga orang terluka parah, kini yang tewas sudah dikubur sedang yang luka
sudah pergi, lewatilah hutan sebelah depan sana, lebih cepat berlalu dari sini lebih baik"
Han siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, akan tetapi terhadap orang
yang kehilangan sukma dan putrinya, ia menaruh rasa percaya seratus persen, maka tanpa
membantah lagi sianak muda itu segera berputar kesamping kanan dan siap berlalu dari situ..
"Tunggu sebentar" tiba2 orang yang kehilangan sukma berseru kembali.
" Cianpwe, apakah masih ada persoalan lain yang hendak cianpwe sampaikan kepadaku" tanya
sianak muda itu sambil menghentikan langkah kakinya dan berpaling.
"Hampir saja aku telah melupakan suatu persoalan yang amat penting sekali."
"Ucapkanlah cianpwee, boanpwee akan mendengarkan dengan seksama"
"Apakah engkau sudah mengetahui asal usul Yu sau Kun, ketua muda perkumpulan Thian che
kau yang sebetulnya??"
satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, dia segera bertanya: "Masa dia
benar2 adalah keturunan dari susiokku Telapak naga beracun Thio Lin??"
"Tepat sekali tebakanmu itu, dia memang keturunan dari paman gurumu yang sudah tiada"
"Taa... tapi hal ini mana mungkin bisa terjadi??"
"Kenapa tak mungkin terjadi??"
"Bukankah dia sudah mewakili diriku mati didalam perkampungan keluarga Han?"
"Apakah engkau sudah menemukan jenasahnya??"
"Tentang soal ini.." Untuk sesaat Han siong Kie jadi gelagapan dengan sendirinya, "mendiang
susiokku, Telapak naga beracun Thio Lin yang memberitahukan persoalan ini kepadaku"
"Dia toh cuma tahu kejadian itu sebelum berlangsungnya peristiwa itu, ketika peristiwa
berdarah berlangsung, ia sama sekali tidak hadir dalam gelanggang"
Mendengar perkataan itu, Han siong Kie segera merasakan tubuhnya gemetar keras bagaikan
kena aliran listrik bertegangan tinggi, ia sama sekali tak menyangka kalau asal usulnya serta
peristiwa berdarah yang menimpa keluarganya dapat diketahui oleh orang yang kehilangan sukma
sejelas itu, lalu.. siapa kah sebenarnya orang itu"
Kalau memang orang yang kehilangan sukma telah mengetahui semua kejadian itu bagaikan
memandang jari tangan sendiri, kenapa ia tidak secara langsung membeberkan rahasia ini
kepadanya, tapi malahan suruh dia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya,
apakah maksud yang di kandung orang itu dibalik kesemuanya ini ?
Atau mungkin pemilik benteng maut bukan pembunuh keluarganya dan dibalik semua peristiwa
ini masih ada persoalan lain? "
Kalau memang Tengkorak maut bukan pembunuh keluarganya, mengapa Tonghong Hui tidak
muncul kembali dari bentengnya sesudah masuk kedalam benteng maut? Bukankah mereka telah
berjanji, apa bila majikan benteng maut adalah pembunuhnya maka gadis itu tak akan muncul
kembali..
Makin berpikir ia merasa makin bingung dan makin dibayangkan pikirannya semakin ruwet..
"Nak tak ada gunanya engkau banyak berpikir" terdengar orang yang kehilangan sukma
berkata lagi, "suatu saat engkau pasti akan mengetahui dengan sendirinya apa yang sudah terjadi,
aku hanya berharap agar engkau mengingat selalu bahwasanya Yu Sau kun sebenarnya adalah
Thio Sau kun, dia adalah sutemu, tapi engkaupun musti ingat bahwa rahasia ini hanya boleh
engkau ketahui didalam hati, jangan sekali2 engkau bocorkan dihadapannya, sebab kalau tidak
maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2. Nah, sekarang pergilah"
Dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti, sekali lagi Han siong Kie memandang
sekejap lencana Thian che leng yang tertempel diatas dahan pohon, akhirnya dia menjejakkan
kakinya dan berlalu dari hutan itu.
Lencana ok kui cu pay yang merupakan simbol kekuasaan rtari perguruannya kini telah
dirampas oleh Tengkorak maut gadungan dan oleh Tengkorak maut benda itu sudah diserahkan
pula ketangan orang lain, yang dimaksudkan orang lain pastilah orang2 dari Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, dalam perkumpulan Thian che kau
terdapat belasan orang jago lihay yang setaraf dengan ilmu silat Tengkorak maut gadungan,
bukankah itu berarti bahwa sukar baginya untuk merampas kembali lencana tersebut??"
Berpikir sampai disitu, ia jadi murung dan sedih.
Apa bila lencana mustika perguruannya tidak berhasil dirampas kembali dari tangan musuh,
bukankah itu berarti bahwa ia telah menjadi seorang manusia yang berdosa??"
Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam lamanya, sampailah sianak muda
itu diluar hutan- diapun meneruskan perjalananya melalui jalan raya yang terbentang lebar.
Tujuannya tetap tidak berubah, dia akan mengunjungi lembah berkabut dimana ia dan
Tonghong Hui pernah lolos dari bahaya maut, dia akan menuju ketempat yang terpencil ini untuk
mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam sarung tangan Hud jiu Poo pit, apa bila ilmu sakti itu
berhasil dipelajari maka dia akan mengunjungi benteng maut dan melakukan pembalasan
dendam.
sepanjang perjalanan pemuda ini tiada hentinya memikirkan rahasia yang berhubungan dengan
Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, perkumpulan Thian che kau masih
memiliki belasan jago yang benar2 tangguh, berita ini boleh dibilang sangat mengejutkan siapapun
juga.
Tatkala ia menyatroni wilayah Lian huan tau untuk menolong Go siau bi, beberapa kali ia telah
bertarung melawan Thian che kau, ketika itu ilmu silatnya masih belum mempu melawan
musuhnya, dan ternyata sekarang terbukti bahwa musuh tangguhnya itu hanya seseorang yang
bertugas untuk menyaru sebagai ketua itu, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat
yang dimiliki Thian che kaucu benar2 sukar diukur dengan kata2.
sementara perjalanan masih dilanjutkan, tiba2 dari balik semak belukar ia temukan ada sesosok
tubuh manusia menggeletak disitu, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, ia
berhenti dan menghampiri semak belukar itu.
Ketika diperiksa dengan seksama diketahuilah bahwa orang itu adalah seorang pendekar
pedang yang masih muda dan tampan sekali wajahnya.
Akan tetapi sesudah diperiksa dengan lebih seksama lagi, bergidiklah hatinya Han siong Kie,
ternyata pemuda tampan itu sudah berubah menjadi sesosok mayat.
Jika ditinjau sepintas lalu, orang tak akan menyangka kalau pemuda tampan itu sudah menjadi
mayat, sebab wajahnya begitu segar dan tenang, seakan-akan seseorang yang sedang tertidur
nyenyak.
Han siong Kie merasa keheranan setengah mati, apa sebabnya pendekar muda itu bisa mati
dipinggir jalan tanpa ditemukan sesuatu luka ditubuhnya? Mungkinkah kena serangan jantung?
Disekitar semak belukar itu tidak ditemukan tanda2 bekas pertarungan, dilihat dari wajahnya
jelas pemuda itu bukan mati lantaran sakit ataupUn keracUnan, kejadian ini benar2 mengherankan
sekali..
Maka Han siong Kie menghampiri mayat itu, dengan perasaan ingin tahu diperiksanya sekujur
badan mayat itu, akhirnya sesudah diteliti dengan seksama, ia temukan diatas dada mayat itu
terteralah lima buah bekas jari tangan yang sangat lembut, bentuknya seperti bunga sakura, bila
tidak dia mati dengan seksama, tanda itu pasti tak akan ditemukan.
Han song Kie lebih2 dibuat terperanjat lagi, ditinjau dari bekas kelima buah titik jari itu jelaslah
sudah bahwa disitulah letak sebab musabab kematian dari pemuda itu, sayang pengalaman dan
pengetahuannya terlalu cetek. sehingga ia tak dapat menebak siapakah yang telah melakukan
pembunuhan tersebut.
sesudah ter-mangu2 beberapa saat, akhirnya pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya
kedepan.
Entah berapa li sudah lewat, akhirnya ia temukan dua sosok mayat, sebab kematian mereka
tidak berbeda jauh dengan tanda yang ditemukan pada mayat pertama, dan lagi kedua orang
inipun terhitung pemuda2 tampan yang berusia dua puluh tahunan.
sekarang Han siong Kie baru merasakan betapa seriusnya persoalan itu, pikirnya di hati:
"siapa gerangan yang telah turun tangan sekeji ini?"
Yang aneh ternyata korban2nya adalah pemuda yang masih berusia belasan serta berwajah
tampan.
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya sampailah si anak muda itu didalam sebuah kota kecil.
setelah mencari sebuah rumah makan yang bersih, pemuda itu mencari tempat dan memesan
makanan, dari pembicaraan para tamu yang ada dalam ruangan itu, ia dengar semua orang
sedang dihebohkan oleh pembunuhan dengan tanda bunga bwe.
Han siong Kie tidak memberi komentar apa2, ia cuma mendengarkan sambil bersantap. sayang
tiada sesuatu tanda yang berhasil ditemukan olehnya dari pembicaraan itu.
sementara suasana masih gaduh dan ramai oleh pembicaraan para tamu, mendadak suasana
jadi hening dan sepi, begitu sepinya sehingga terasa aneh sekali. Han song Kie tercengang, dia
segera menengadah..
Kiranya seorang gadis yang amat cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan sedang
berjalan masuk kedalam ruangan itu, dipandang dari bayangan punggungnya, anak muda itu
segera kenali dirinya sebagai cucu perempuan dari Pat lo sianseng, Go siau bi adanya.
Kemunculan Go siau bi yang secara tiba2 ini sangat mencengangkan hati si anak muda itu, dia
hendak menyapa, tapi sebelum sepatah kata sempat meluncur keluar dari mulutnya, ia lihat ada
dua orang pemuda tampan ikut duduk disampingnya, maka niat untuk berbicarapun segera
dibatalkan.
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, ia benar2 dibikin keheranan oleh
kemunculan gadis itu.
sementara dia masih melamun, gelak tertawa yang amat merdu dan penuh dengan daya tarik
berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul gelak tertawa yang lain menggema pula dari
mulut kedua orang pemuda itu.
Han siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, ia makin keheranan lagi, ia tak menyangka Go
siau bi bisa berkumpul dengan pemuda bergajul macam begitu.
Dua orang laki2 seorang wanita muda itu bergurau sambil tertawa tergelak. sikap mereka
bukan saja begitu berani bahkan sama sekali tak ambil pusing kalau disitu masih ada tamu lain,
ternyata tak seorang tamu pun yang berani buka suara untuk menegur.
Han siong Kie memang membenci kaum wanita, tapi Go siau bi pernah melepaskan budi
kebaikan kepadanya. maka ia tak mau mencampuri urusan gadis itu sebelum duduknya persoalan
diketahui dengan jelas.
Mendadak...satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dia teringat kembali akan ketiga sosok
mayat pemuda yang ditemuinya ditepi jalan siang tadi, tak kuasa lagi sekujur badan nya
merinding, jangan-jangan
"siangkong, tambah arak?" terdengar pelayan menegur dengan suara yang lirih. Han siang Kie
melirik sekejap kearah pelayan itu lalu mengangguk.
"Tambah dua canting"
Pelayan segara menuang dua canting arak kedalam teko yang ada dimeja, menggunakan
kesempatan itu cepat Han siong Kie bertanya: "siapakah dua orang pemuda yang berada disana
itu?"
Pelayan itu kelihatan terperanjat, sambil menjulurkan lidahnya ia menyahut dengan lirih:
"Mereka dinamakan Kim kiam siong ing (sepasang pendekar pedang emas) murid partai Go bi,
siangkong Lebih baik jangan banyak bertanya, sebab kedua orang itu adalah sau cengcu dari
perkampungan Go hau san eng, terlalu besar asal usulnya". Berbicara sampai disitu buru2 ia
berlalu dari sana.
Han siong Kie tidak berbicara apa2 lagi, ia tundukkan kepalanya sambil minum arak.
Kurang lebih setengah jam kemudian, Go siau bi dan Kim kiam siang ing baru berlalu dari sana.
Cepat Han siong Kie membayar rekening nya dan ikut keluar dari rumah makan itu, ternyata
bayangan tubuh ketiga orang itu sudah lenyap tak berbekas.
Han siong Kie tertegun, tapi sesudah berpikir sebentar buru2 ia membeli rangsum kering,
kemudian berlari keluar dari kota tersebut.
satu Li baru lewat dari tepi jalan ia temukan dua sosok mayat menggeletak disitu ketika mayat
tersebut diperiksa dengan seksama, siapa lagi mereka kalau bukan Kim kiam siang ing yang belum
lama berselang baru saja tinggalkan rumah makan.
Tubuh mereka tidak terluka ataupun mengucurkan darah, cuma diatas dada masing2 orang
terteralah sebuah cap jari tangan berbentuk bunga sakura.
Betapa terperanjatnya hati Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sekarang ia dapat
membuktikan bahwa pembunuhan2 keji itu kiranya dilakukan oleh Go siau bi, akan tetapi apa
sebabnya ia bantai pemuda2 tampan itu?
Dengan perasaan tak habis mengerti pemuda itu gelengkan kepala berulang kali, akhirnya ia
melanjutkan perjalanannya kembali kedepan.
senja itu, ketika sang surya baru condong kesebelah barat, sampailah pemuda itu disuatu
tempat kurang lebih sepuluh li dari lembab In.wu.kok..
sementara si anak muda kita masih melanjutkan perjalanannya, mendadak dari balik
pepohonan tak jauh darijalan raya terdengar seorang gadis sedang tertawa cekikikan.
suara tertawa itu amat menusuk pendengaran, hal ini segera memancing perhatian sianak
muda itu, tanpa berpikir panjang Han siong Kie segera meluncur kearah depan.
Melalui celah2 pepohonan yang lebat, ia saksikan ada sepasang muda mudi sedang duduk
saling berhadapan, yang laki2 berwajah amat tampan dan berusia tujuh delapan belas tahunan,
sedang yang perempuan tak Iain adalah Go siau Bi.
Pada waktu itu dengan muka yang genit dan kerlingan mata yang menggiurkan Go siau bi
sedang main mata dengan sianak muda itu kemudian terdengar ia bertanya dengan manja:
"cantikkah wajahku ini?"
"Cantik,. cantik sekali, kecantikan wajahmu ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan"
sahut sipemuda itn dengan wajah terkesima.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Aku tak pernah berbohong, setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata2 yang sejujurnya
dan aku rasa nona pasti mengetahui sendiri bukan akan hal itu"
"ooh benarkah begitu? Ehmm. lalu apakah engkau mencintai diriku..??"
"Tentang soal ini.... tentang soal ini...." pemuda itu tampak gelagapan jadinya.
"Eeh, jangan soal ini soal itu, kalau tidak mencintai aku mengapa engkau ikuti diriku sampai
disini??"
"Apa bila nona bersedia menerima perhatianku ini, cay he... cayhe merasa sangat beruntung
sekali hidupku ini"
Go siau bi mengerdipkan sepasang matanya yang jeli kemudian sambil meliuk-liukkan
pinggulnya ia berkata genit:
"Engkau anggap wajahku cantik maka jatuh cinta dalam pandangan yang pertama. sebaliknya
ada orang yang sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap diriku, bahkan tertarikpun
tidak, coba bayangkan saja manusia macam apakah dia itu?"
"Kalau benar2 ada manusia semacam itu, sepantasnya kalau orang itu dikatakan sebagai
seorang laki2 yang punya mata tak berbiji"
"Hiiihh hiiihh hiihhh memang hebat sekali pandanganmu itu" seru Go siau bi sambil tertawa
eekikikan.
Mendadak telapak tangannya maju ke muka, kelima jari tangannya dengan lembut segera
diayunkan kearah dada pemuda itu.
Terbelalak sepasang mata anak muda itu, ia menjerit tertahan: "Nona .."
Kato nona belum habis diucapkan, tubuhnya sudah menjadi lemas dan terkapar di tanah tanpa
mengeluarkan sedikit suara pun pemuda itu sudah menemui ajalnya.
Han siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan benar2 naik darah, untuk mencegah
perbuatannya jelas tak mungkin, seluruh tububnya gemetar keras menahan emosi.
"Sungguh kejam perempuan ini, hatinya lebih kejam dari pada seekor ular beracun.." pikirnya
dihati.
Tanpa sadar pemuda itu terbayang kembali akan ibunya, siang go cantik ong cui ing yang
kejam dan tak kenal ampun.
Mereka sama2 cantiknya, sama2 kejinya, tanpa sadar rasa benci dan muak timbul dalam
benaknya, ia siap melompat keluar dari tempat persembunyiannya..
Paras muka Go siau hi dingin menyayatkan, sebelum sianak muda itu sempat munculkan diri, ia
sudah berpaling dan mendengus dingin.
"Manusia berwajah dingin, sekarang engkau boleh segera munculkan dirimu.."
Betapa terperanjatnya Han siong Kie menghadapi kejadian tersebut, mimpipun ia tak
menyangka kalau tempat persembunyiannya telah diketahui lawan, dari sini dapatlah diketahui
bahwa selama beberapa waktu belakangan ini, ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan,yang
amat pesat.
Dengan muka hijau membesi menahan amarah yang meluap. dia lompat keluar dari tempat
persembunyiannya, kemudian menegur dengan kasar:
"Nona Go, mengapa engkau lakukan pembunuhan sekeji ini?"
Rasa sedih melintas diatas wajah Go siau Bi, tapi sesaat kemudian dengan wajah benci dan
mendendam ia berseru:
"Aku rasa persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik tak usah
kau campurinya"
"Nona, kunasehati dirimu lebih baik jangan bertindak kelewat kejam, karena perbuatan
semacam itu sama sekali tiada manfaatnya bagimu"
"Haaahh..haaahh..haaahh.. mau apa kau hey manusia yang bernama Han siong Kie? Engkau
merasa tidak terima dengan perbuatan yang kulakukan ini?"
"Benar, aku memang mempunyai maksud begitu"
"Lalu apa yang hendak kau lakukan atas diriku ini?"
"Hmm Akan kubunuh engkau untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan" jawab
Han siong Kie dengan hawa napsu membunuh yang amat tebal.
"Huuh, engkau hendak membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil mencibirkan bibirnya dengan
sinis.
"Benar, akan kubunuh dirimu"
" Kalau memang begitu, kenapa tidak segera turun tangan "
"Bila kita bertemu sekali lagi dimasa mendatang,jiwamu pasti akan kucabut."
Go siau bi tertawa tergelak, dengan wajah sinis sekali dia mengejek: "Kenapa tidak kau lakukan
sekarang juga?"
"Memandang diatas wajahmu dimana engkau pernah melepaskan budi kebaikan kepadaku,
kuampuni jiwamu untuk kali ini "
Go siau bi tak dapat menahan diri lagi, ia menengadah dan tertawa tergelak dengan seramnya,
gelak tertawa itu penuh mengandung perasaan sedih, pedih dan perasaan lain yang sukar
dilukiskan dengan kata2, lama sekali ia baru berhenti.
Paras mukanya berubah jadi dingin menyeramkan, hawa napsu membunuh menyelimuti
seluruh wajahnya, dengan suara keras dia membentak:
"Han siong Kie, nonamu justru sedang mencari engkau, mengertikah engkau..?"
"Mencari aku? Mau apa engkau mencari aku ?"
"Aku hendak membunuh dirimu, kalau bukan begitu mengapa kubiarkan engkau mengikuti aku
dari rumah makan sampai kemari haaaah.. haaah.. haaahhh... ketahuilah. aku sengaja memang
mengatur kesemuanya ini agar engkau bisa terpancing kemari"
sekarang Han siong Kie baru tahu bahwa Go siau bi telah mengetahui jejaknya ketika masih
berada dirumah makan tadi, maka dengan ketus segera tegurnya: "Jadi engkau hendak
membunuh aku??"
"Benar, dan sekarang juga pembunuhan ini akan kulaksanakan"
"Kenapa engkau hendak membunuh aku?"
"Karena aku benci padamu"
"Perbuatanku yang manakah yang telah menimbulkan rasa bencimu terhadap aku?"
"Sudah, pokoknya engkau tak usah banyak bicara lagi, ini hari juga nyawamu akan kucabut"
Han siong Kie menyengir sinis.
"Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu?" ejeknya.
"Engkau tidak percaya? Bagus, mari kita buktikan bersama."
Bersamaan dengaa selesainya perkataan itu, tiba2 telapak tangannya diayun kedepan kelima
jarinya dengan disertai desingan angin tajam langsung menyerang kedepan.
Dengan gerakan Cahaya kilat lintasan bayangan Han siong Kie segera berkelit ke samping,
serunya lantang:
"Mengingat budi kebaikanmu dimasa lampau, aku akan mengalah satu jurus untuk...."
"siapa yang suruh engkau mengalah kepadaku?" teriak Go siau bi dengan penasaran.
Telapak tangannya segera diputar balik keatas, selapis cahaya hijau yang tebalpun dengan
cepat membumbung keangkasa dan meluncur kedepan. Betapa tercekatnya perasaan hati Han
siong Kie, tanpa kuasa lagi dia berseru keras: "Aaaah...ilmu pukulan Thian-tok hoa ciang.
Haruslah diketahui, ilmu pukulan Thian tok cang hoat adalah semacam ilmu pukulan darijaman
dahulu kala yang amat dahsyat, apabila pukulan tersebut menyentuh sesuatu benda, maka daya
tahannya makin besar maka daya pentalnya ikut bertambah kuat, jangankan Han siong Kie
malahan Tengkorak maut gadungan yang memiliki ilmu silat lebih lihaypun dibuat tak berdaya oleh
kehebatan pukulan itu
38
Tentu saja Han Siong Kie juga mengetahui akan lihaynya pukulan tersebut, akan tetapi dia tak
sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan seorang gadis muda, maka dari itu dia segera
menghimpun kekuatan yang dimilikinya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut dengan
keras lawan keras.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan sianak muda itu, sebelum
pukulan mereka saling beradu satu sama lainnya, mendadak Go Siau bi menarik kembali
serangannya dan bergeser mundur dua langkah kesamping.
Tampaknya ilmu silat yang dimiliki gadis itu sudah mencapai taraf pengendalian secara
sempurna, menyaksikan kehebatan lawannya Han Siong Kie makin terkesiap, disamping itu diapun
makin keheranan oleh tindak tanduk lawannya yang aneh. Karenanya sambil menarik pulang
serangannya dia lantas menegur: "Eeeeh...kenapa kau tarik kembali serangan mu??"
"Aku kuatir engkau tak sanggnp untuk menerima pukulanku ini."
"Bukankah engkau mengatakan hendak membunuh diriku?" tanya anak muda itu dengan cepat.
Pertanyaan tersebut seketika membuat paras muka Go siau Bi kembali berubah hebat, ia
mendengus dingin, tanpa berbicara lagi ilmu pukulan Thian tok clang hoat sekali lagi dilontarkan
kedepan.
Han Siong Kte menggertak giginya menahan diri, sambil mengerahkan sisa kekuatan yang
dimiliki ia tangkis datangnya serangan tersebut.
"Blaaang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga menggelegar diseluruh angkasa,
diiringi dengusan berat secara beruntun Han siong Kie mundur delapan depa ke belakang, darah
segar sempat meleleh keluar menodai ujung bibirnya.
Tengkorak maut gadungan yang lihaypun jatuh kecundang ditangan gadis ini, apalagi Han
siong Kie yang lebih cetek ilmu silatnya tentu saja dia bukan tandingan sang gadis manis itu.
Put lo sianseng memang lihay dan hebat, terbukti dalam waktu singkat ia berhasil menciptakan
seorang tokoh sakti yang begini hebatnya, bila diceritakan orang lain belum tentu mau
mempercayainya.
Berhasil dengan memukul mundur Han siong Kie, dengan suara gemas dan penuh kebencian
Go siau bi berkata:
"Manusia bermuka dingin, bukan saja wajahmu dingin, darahmu juga sudah membeku, kau
manusia yang tak punya perasaan. Nah, rasain lagi beberapa buah pukulanku" sambil membentak
nyaring, untuk kesekian kalinya dia lancarkan pukulan maut ke depan.
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan peringatan dari orang yang kehilangan sukma, dalam
hati pemuda itu lantas berpekik, "Aku tak boleh mati"
Dengan suatu gerakan yang manis dan lincah ia menghindarkan diri dari serangan maut lawan,
berhasil dengan kelitannya. sebuah jari tangan segera direntangkan lebar dan serentak menyentil
kemuka.
sepasang telapak tangan Go siau Bi bergetar kian hebat, tenaga pukulanpun semakin menebal
membuat hawa hijau hampir menyelimuti seluruh pemukaan tanah.
"criiit. criiing.." ditengah desingan angin tajam ilmu sentilan Tong kim ci yang ampuh dan tak
terkalahkan itu ternyata dapat dihajar sampai buyar oleh kekuatan lawan.
Rasa kaget yang dialami Han siong Kie sukar dilukiskan lagi dengan kata2, mimpipun ia tidak
menyangka kalau ilmu jari Tong kim ci yang paling diandalkan ternyata sama sekali tak mempan
untuk digunakan menghadapi pukulan Thian tok ciang hoat.
Hampir saja tak percaya dengan apa yang terbentang didepan mata, sebab peristiwa ini
memang tak pernah diduga olehnya.
"sambutlah sebuah pukulanku lagi. " bentak dara itu lagi dengan lantang.
Ditengah bentakan nyaring, hawa hijau yang tebal dan menyilaukan mata dengan dahsyatnya
menggulung tubuh lawan.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Han siong Kie, dengan ilmu cahaya kilat
lintasan bayangan tubuhnya mendesak maju kedepan, lalu dengan jurus Mo tiong ko ciat ( raja
iblis menyembah loteng istana) ia hajar Go siau bi dengan mengerahkan segenap tenaga dalam
yang dimilikinya.
Go siau bi tertawa dingin, sekalipun hebat dan luar biasa seranganpemuda itu namun bagi
pandangannya serangan tersebut tak ada artinya, ia berkelebat lewat dari serangan itu dengan
gerakan bagaikan sukma gentayangan, lalu sambil melepaskan lima buah pukulan berantai,
teriaknya keras:
"Manusia bermuka dingin, hari ini kau harus mampus"
Memang dahsyat dan ganas kelima buah serangan itu, angin pukulan segera men-deru2
membikin hati orang jadi keder dan ngeri rasanya..
Terdesak oleh lima buah pukulan berantai yang maha dahsyat itu, Han siong Kie terdesak hebat
dan harus mundur berulang kali ke belakang..
Go siau bi tak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk tukar napas, selesai dengan lima
buah pukulan yang pertama, ia susulkan pula dengan lima buah pukulan berikutnya.
Menghadapi desakan demi desakan yang tiada habisnya, lama kelamaan Han siong Kie jadi
penasaran juga, kali ini dia tidak menghindar ataupun berkelit, dengan sistim adu nyawa dia
sambut kelima buah pukulan itu dengan gerakan keras lawan keras.
Tergetar perasaan Go siau bi setelah menyaksikan kenekadan sianak muda itu, tapi apa mau
dikata pukulan sudah terlanjur dilancarkan , maka sambil gertak gigi ia lepaskan pukulan mautnya.
"Blang Blang " dua kali dengusan dingin menggema memecahkan kesunyian, menyusul dua
sosok bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya.
Kedua belah pihak sama2 terlempar kebelakang dengan sempoyongan, keadaan Go siau bi
masih mendingan, sekalipun darah meleleh di ujung bibirnya dan mukanya pucat pias tapi
keadaannya masib agak segar.
Berbeda sekali dengan Han siong Kie, ia harus muntah darah berulang kali, jelas isi perutnya
sudah terluka parah.
Dengan wajah menyeringai seram dan mata saling melotot penuh kegusaran, kedua belah
pihak berdiri berhadapan.
Untuk sesaat suasana dalam gelanggang jadi sepi dan hening, sunyi bukan berarti hawa nafsu
membunuh telah lenyap begitu saja, malahan setiap saat darah segar mungkin akan membasahi
lagi seluruh permukaan tanah.
Diantara lima buah pukulan yang dilancarkan Han siong Kie, ada tiga buah yang bersarang
ditubuh lawan, sebaliknya ia sendiri menerima empat buah pukulan dari musuhnya.
sebagaimana diketahui, pukulan yang dilancarkan Go siau bi mengandung hawa sakti Thian tok
sinkang yang maha dahsyat, tak heran kalau sianak muda itu menderita luka yang jauh lebih
parah daripada anak dara itu.
Mereka pernah saling tolong menolong, pernah hidup sengsara bersama bahkan Go siau bi
pernah menggunakan tubuhnya sebegai tameng untuk menyelamatkan jiwa Han siong Kie dari
ancaman Tengkorak maut gadungan, karena peristiwa itu hampir saja jiwanya melayang.
Ia telah jatuh cinta kepadanya, telah bersumpah didepan pusara ayahnya, kecuali dengan
pemuda ini dia tak akan kawin dengan siapapun juga"
Tapi kenyataannya, yang satu ada hasrat yang lain tak berminat, tumpuan harapan yang
terlintas dalam benaknya selama ini hancur dan musnah dengan begitu saja.
Kini dengan taruhan nyawa mereka saling bertempur, berusaha saling merobohkan musuhnya
dan bila perlu sekalian membinasakannya... Inikah takdir? Inikah yang dinamakan nasib.?
Cinta dapat membuat seseorang jadi sukses tapi dapat pula menghancurkan karier seseorang,
membuat watak seseorang berubah seratus delapan puluh derajat.
Dan kini Go Siau bi telah berubah ....bukan saja perubahan itu tak dipercaya oleh Han siong
Kie, bahkan dara itu sendiri juga tak kenali dirinya sendiri lagi.
Hawa napsu membunuh yang tebal masih menyelimuti seluruh wajah Go siau bi, selangkah ia
maju kedepan mendekati Han siong Kie yang berada dihadapannya.
suasana tercekam oleh ketegangan dan kengerian, sorot mata serta perhatian semua orang
sama-sama ditujukan kearah Go siau bi yang sedang maju kemuka.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Han siong Kte, ia tahu bila dirinya cuma berpeluk
tangan belaka, sehingga dara itu keburu menyerang dulu dengan Thian tok ciang hoatnya yang
lihay, niscaya jiwanya akan terancam bahaya. satu ingatan lantas melintas dalam benaknya:
"Daripada aku menanti datangnya elmaut, kenapa tidak kuserang dulu perempuan sinting itu?"
sambil membentak sepasang telapak tangannya diayun kedepan melancarkan babatan maut.
-00d0w00-
BAB 56
PUKULAN itu dilepaskan dalam keadaaa marah bercampur penasaran, bisa dibayangkan betapa
dahsyat dan luar biasanya pukulan tersebut.
Go siau bi melambung keangkasa, setelah melayang sejauh delapan depa, sekali lagi badannya
melejit kedepan kemudian menerobos masuk dari sisi Han siong Kie dan melayang turun lima depa
disamping pemuda itu.
Baik dalam menghindar maupun sewaktu melancarkan serangan, semua gerakan dilancarkan
dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Melihat ancamannya mengenai sasaran yang kosong, Han siong Kie membuyarkan pukulannya
ditengah jalan, badannya miring kesamping lalu berputar kencang, telapak tangan kiri dan ujung
jari tangan kanan sekali lagi melepaskan serangan maut kedepan.
Kabut hawa berwarna hijau seketika menyelimuti seluruh angkasa, pada saat yang bersamaan
Go siau bi melepaskan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat. Dentuman keras mengiringi
benturan dua kekuatan yang saling berlawanan itu.
Dengan sempoyongan Go siau bi mundur beberpa langkah, sedangkan Han siong Kie
mendengus tertahan dan muntah darah segar, badannya terlempar sejauh satu kaki lebih dari
tempat semula,
Go siau bi menerjang lagi kedepan dan berdiri dibelakang Han siong Kie, telapak tangannya
diayun tepat mengarah jalan darah Thian leng hiat diatas kepalanya, asal pukulan itu dilancarkan
niscaya Han siong Kie akan mampus dengan keadaan mengerikan.
"Heeehhh....heeehhh....heeehhh .. manusia she Han, apa yang hendak kau ucapkan lagi
sebagai kata-kata akhirmu" ejek dara itu dengan ketus.
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, sambil menggertak gigi jawabnya: "Tak ada katakata
lagi, mau turun tangan hayolah cepat turun tangan."
"sungguh tak ada pesan terakhir"
"Ada Aku hanya ada sepatah kata saja. yakni siapa yang menanam buah pahit dia akan
menerima pula akibatnya."
"Apa kau bilang? Heeehhh..haaahhh. haaahhh.." dara itu bagaikan orang sinting tertawa
nyaring, suaranya keras dan mengerikan membuat siapapun jadi bergidik.
" orang she Han, terus terang kuberitahukan kepadamu" serunya lagi, "aku telah tahu bahwa
peristiwa macam hari ini cepat atau lambat pasti akan terjadi, tapi kau musti ingat, sebelum ajalku
tiba, semua pria tampan yang ada dikolong langit akan kubunuh semua, tak akan kubiarkan
manusia-manusia ganteng bikin keonaran lagi di kolong langit..haaahhh..haaahhh..haaahhh."
Ditengah gelak tertawa yang kalap menyerupai orang sinting, terselip hawa napsu membunuh
yang benar-benar mengerikan.
Gusar nian Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, ia sadar dengan tenaga dalam yang
dimiliki Go siau bi sekarang, apa yang diucapkan bisa jadi benar-benar dilaksanakan, dan jikalau
apa yang di ancam benar-benar dilaksanakan maka suatu badai pembunuhan yang mengerikan
tak terelakkan lagi.
"Go siau bi" serunya kemudian dengan gemas. "sayang aku tak dapat membinasakan engkau
dengan tanganku sendiri"
"Haaahhh ....haaahhh....haaahhh..dan aku... aku gembira sekali, karena hari ini akan kubunuh
engkau dengan tanganku sendiri."
"Hmm Tak usah banyak bicara lagi. kalau ingin turun tangan hayolah cepat turun tangan"
"Kenapa musti buru-buru mati? Bagaimana dengan adik Hui yang pernah berkorban demi cinta
kasihnya kepadamu? Mungkinkah dia akan datang lagi kemari untuk mendirikan batu nisan
untukmu.."
satu ingatan melintas dalam benak Han siong Kie, sekarang ia tahu bahwa Go Siau bi telah
mempunyai niat untuk membinasakan dirinya. .
"Hehhh...heeehhh..heehhh... engkau tak usah merisaukan tentang dirinya, ia telah berangkat
mendahului diriku" ejeknya sambil tertawa dingin.
"Apa? Dia sudah mati?" seru Go siau bi dengan wajah tertegun.
"Hmm Kenapa? Kau merasa kecewa?" ejek sang pemuda. Air muka Go siau bi beberapa kali
berubah hebat, tiba2 hardiknya keras- keras:
"Han siong Kie, inginkah kau mengetahui sebab musabab sehingga aku berniat membinasakan
dirimu??"
"Aku rasa tak perlu"
"Jadi engkau telah paham?"
"Aku tak ingin memahami persoalan itu, kalau ingin membunuh silahkan turun tangan"
"Jadi engkau sama sekali tidak menyesal??"
"Haaah haaah haaaahh Han siong Kie tak kenal arti menyesal"
Telapak tangan Go siau bi mulai gemetar, rasa cinta dan benci amat mendalam hatinya dia
ingin membunuh pemuda ini lantaran dia gagal mendapatkan cinta kasihnya, maka membenci
pemuda itu, malahan membenci pula setiap pemuda tampan yang sebaya dan setanding dengan
anak muda ini.
Tapi..benarkah dara itu tega untuk membunuh kekasih hatinya ? Air mata mulai bercucuran
membasahi seluruh wajahnya.
Lama ..lama sekali suasana tetap hening, dengan tak sabar Han siong Kie menghardik:
"Hey, kenapa engkau tidak turun tangan??" Tiada jawaban tiada gerakan.
Karena tak sabar pemuda itu akhirnya bangkit dan memandang kemuka, tampaklah selembar
wajah yang murung, sedih dan penuh dengan air mata terbentang didepan mata, wajah itu sayu
dan sama sekali tiada bekas hawa napsu membunuh yang sadis.
"Itulah perempuan.... itulah namanya perempuan" pikir Han siong Kie dihati, hanya hati
perempuan yang gampang berubah, hanya sikap perempuan yang mudah jadi sedih.." sindirnya
kemudian dengan suara yang dingin dan tak enak didengar:
"Bukankah kau ingin membunuh aku? Kalau ingin membunuh, hayolah cepat laksanakan, kalau
tidak... maaf kalau aku akan berlalu dari tempat ini."
"Tunggu sebentar" tiba-tiba dara itu membentak
"Ada apa lagi?"
Disekanya air mata yang membasahi pipinya, lalu Go siau bi berseru ketus:
"Aku toh tak pernah mengatakan bahwa aku tak akan membunuh dirimu? Kenapa kau hendak
pergi?"
"Kenapa tidak cepat turun tangan ? Hayo, kalau ingin bunuh aku bunuhlah sekarang juga"
"sebelum kubantai dirimu, terlebih dahulu ada beberapa patah kata hendak kuterangkan lebih
dulu, aku harap engkau dengarkan kata2 ku ini dengan sebaik baiknya."
"Katakanlah cepat"
Perlahan Go siau bi menundukkan kepalanya karena hati yang pedih, selang sesaat kemudian ia
menengadah kembali, tampaknya dara ini telah mengambil keputusan: Katanya dengan penuh
emosi:
"Han siong Kie, masih ingatkah engkau tatkala tubuhmu tercebur kedalam sungai dan aku
berhasil menolong dirimu kemudian selama tiga hari kurawat kau sebaik-baiknya..."
"Toh sudah kukatakan, tiap budi kebaikan yang pernah kuterima, suatu ketika pasti akan
kubalas?" tukas sianak muda itu dengan nada tajam.
" Kedua kalinya, ketika aku dilukai oleh pengawal istana Huan mo kiong, engkau membawa aku
menginap disebuah rumah penginapan...."
"Waktu itu keadaan amat mendesak. tiada tindakan lain bagiku kecuali berbuat begitu"
"Tapi ingatkah kau bahwa antara laki2 dan perempuan ada batas-batasnya? setelah kita
menginap disatu kamar yang sama, bagaimana mungkin aku ..." Berbicara sampai disini tiba-tiba
ia tundukkan kepalanya rendah-rendah..
Karena pandangannya yang sempit, Han siong Ki memang membenci setiap perempuan yang
ada diseantero jagad tapi di dasar hatinya ia sebenarnya ramah dan penuh kasih sayang, diapun
memiliki api asmara dan rasa cinta, hanya perasaan hatinya itu tertekan oleh jalan pikirannya yang
keliru.
sebagai seorang pemuda yang cerdas tentu saja ia dapat menangkap arti dari kata-katanya itu
tapi si anak muda itu tak bisa berbuat banyak sebab pada hakekatnya ia tak mencintai Go siau bi,
yang ada dalam hati kecilnya cuma rasa berterima kasih serta rasa berhutang budi belaka...
Tapi sekarang tanpa disadari jantungnya berdebar keras..
sekarang ia mulai berpikir, mungkinkah dara yang cantik ini jadi kalap lantaran pinangan put lo.
sianseng terhadapnya tempo hari telah ditolak secara mentah2?
Rasa simpatik, kasihan dan iba seketika menyelimuti perasaan hatinya, ia mulai merasa kasihan
atas nasib jelek yang telah menimpa anak dara itu
"Nona, aku merasa amat menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya atas terjadinya
peristiwa itu" ia berkata dengan lembut.
"Hmm Rasa sesal yang mendalam?"
"Dengan hati yang tulus dan ikhlas aku mohon kepada nona sudilah kiranya jangan membunuh
orang lagi mulai saat ini"
"Kalau kutolak permohonanmu itu?" seru sang dara dengan ketus dan muka menyeringai.
suasana yang semula sudah tenang dan damai, kini berubah kembali jadi tegang. Paras muka Han
siong Kie berubah hebat, sahutnya cepat:
"Bila nona menampik permohonanku ..tu, terpaksa aku harus melaksanakan apa yang telah
kukatakan tadi"
"oooh. Jadi engkau akan membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil tertawa sinis.
"Betul bila kau takut peristiwa itu sampai terjadi, silahkan kau bunuh aku lebih dahulu sebab
kalau tidak, andaikata kita sampai bertemu lagi dikemudian hari, kau pasti akan kubunuh".
selapis hawa dingin yang ketus dan menyeramkan mulai menyelimuti raut wajah Go siau bi, ia
mengejek sinis:
"Huuuh.. Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu??"
"Lihat saja nanti hasilnya, apa gunanya banyak bicara yang tak ada gunanya?"
"Han siong Kie, engkau tak bisa membendung niatku ini, akan kubunuh pemuda tampan yang
ada dikolong langit hingga mereka musnah semua dari atas muka bumi.. Hmm Engkau ingin
bunuh aku ? Baiklah ini hari sengaja kau kulepaskan dirimu, akan kulihat bagaimana caramu
membunuh aku, tapi kau musti ingat, bila kita sampai bertemu muka lagi, andaikata engkau tak
dapat membunuh aku, maka akulah yang akan membinasakan dirimu"
Han siong Kie menatap sekejap kearah wajahnya dengan pandangan dingin, mulutnya tetap
membungkam.
Kalau bisa ia hendak membacok dara itu hingga mampus, rasa simpatik dan kasihan yang
muncul dalam hatinya tadi kini tersapu bersih dari lubuk hatinya.
Pemuda itu tak ingin banyak ribut lagi dengan dara tersebut, per-lahan2 dia putar badan dan
berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang kian menjauh, Go siau Bi berdiri termangu-mangu,
beberapa kali dia hendak memanggilnya..tapi setiap kali niatnya itu dibatalkan, ia merasa bagaikan
tersiksa dan terharu, sehingga akhirnya tak kuasa lagi menangislah gadis itu ter-sedu2.
Isak tangis itu sempat terdengar oleh Han siong Kie yang makin menjauh, ia agak tertegun dan
menghentikan langkahnya, tapi sesudah ragu sebentar pemuda itu lanjutkan kembali
perjalanannya kedepan. kali ini ia tidak berpaling lagi.
Dengan penuh rasa mendongkol Go siau Bi mendepak-depakan kakinya keatas tanah, serunya
berulang kali:
"suatu ketika aku pasti akan membunuh kau..tunggu saja tanggal mainnya"
Pada saat itulah, tiba2 dari tempat kejauhan berkumandang suara gonggongan anjing yang
sangat ramai.
Dengan segera Go siau Bi berpaling, begitu mengetahui apa yang tertera didepan matanya ia
jadi tercekat dan mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat.
tampaklah dua ekor anjing sebesar tubuh anak sapi berdiri disisi kiri dan kanannya pada jarak
dua kaki, giginya yang runcing menyeringai seram, matanya memancarkan sinar buas, selama
hidup belum pernah ia jumpai anjing sebuas dan sebesar ini
sementara dia masih termenung sesosok bayangan manusia kembali melayang masuk ke dalam
hutan, orang itu adalah seorang kakek bungkuk yang membawa sebuah pecut rotan yang
panjang.
Dengan sorot matanya yang beringas kakek itu menatap sekejap wajah Go siau bi, lalu
mengawasi pula pada mayat yang terkapar diatas tanah, setelah itu dia menganggak beberapa
kali.
"Hey, apa maksudmu datang kemari?" tegur Go siau bi dengan suara dalam. Kakek bungkuk itu
tertawa seram:
"Heeehhh... heehhh...heeehhhh.... Cantiknya memang cantik, cuma sayang perempuan
secantik ini tak lebih hanyalah kuntilanak yang berhati keji"
"Apa? siapa yang kau maksudkan?" teriak dara ayu itu dengan mata melotot.
"siapa lagi, tentu saja engkau"
Sepasang alis mata Go Siau bi berkenyit, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya, sambil mendengus dingin katanya:
"Hey tua bangka yang tak tahu diri, sebelum nonamu berniat membinasakan engkau, bawalah
anjing2 itu dan segera berlalulah dari tempat ini"
"Heeeh heehh . heeeh kenapa aku musti pergi ? Kedatanganku justru hendak mencari engkau"
"Mencari aku ? Siapa kau dan sebutkan namamu"
"Aku adalah Khoo Tio cu, si bungkuk she Khoo pengurus rumah tangga perkampungan oh bau
san cung, mengerti??"
Mendengar nama itu, satu ingatan terlintas dalam benak Go Slau bi, sekarang ia sudah dapat
menebak apa yang telah tarjadi, dengan wajah yang tetap tenang katanya: "Lantas ada urusan
apa kau cari aku??"
"Kedua orang sau cengcu perkampungan kami telah tewas dipinggir jalan-"
"Kalau aku yang bunuh mau apa kau?" tukas sang dara cepat.
"Bagus sekali, setelah kau memberikan pengakuan urusan makin gampang untuk diselesaikan,
darimana asal perguruanmu?"
"Huuh. Kau belum berhak untuk mengetahuinya."
Sinar mata yang bengis dan buas memancar keluar dari balik mata si bungkuk itu, begitu
bengisnya sinar mata orang itu sehingga hampir tak ada bedanya dengan kebengisan mata kedua
ekor anjingnya, membuat siapapun yang memandangnya jadi bergidik. Ia maju beberapa langkah
kedepan, lalu serunya dengan suara yang menyeramkan:
" Heeeh hh heeeh hh heeeh hh memang sekarang susah untuk memaksa kau untuk berbicara
tapi ingatlah baik-baik, suatu ketika engkau akan mengakuinya sendiri"
"Bungkuk she Khoo, nonamu tak ingin membinasakan dirimu, kalau tahu diri lebih baik
enyahlah dari sini"
"Heehhh heeehhh heeehhh kau suruh aku pergi dari sini? Lucu... benar-benar sangat lucu, kau
malah suruh aku pergi.. tahukah kau bahwa aku si bungkuk she Khoo justru tak ingin melepaskan
engkau dengan begitu saja??"
"Bangsat Jadi engkau benar2 ingin mati?"
"Yang ingin mampus bukan aku, melainkan kau sendiri"
Hawa napsu membunuh mulai menghiasi air mukanya yang putih, ia mendengus gusar telapak
tangannya diayun kedepan dan segulung hawa hijau yang mengerikan segera meluncur kedepan
melancarkan sebuah ancaman maut.
Paras muka sibungkuk she Khoo itu berubah hebat, ia agak tertegun menyaksikan datangnya
ancaman berwarna hijau itu, tampaknya sepanjang hidup, belum pernah dia jumpai ilmu
kepandaian seaneh dan setangguh ini.
"Blang " Ditengah benturan keras yang cukup memekikkan telinga, tubuh si Bungkuk she Khoe
itu mencelat sejauh delapan depa lebih dari kedudukan semula, darah panas bergolak dalam
dadanya, betapa terkesiapnya sukar dilukiskan dengan kata2.
Keistimewaan dari ilmu pukulan Thian tok ciang hoat adalah daya pantulan yang terpancar
keluar bila menyentuh pukulan itu, makin besar seseorang melancarkan serangannya maka
semakin besar pula daya pantulan yang terpancar oleh kepandaian itu.
Masih untung tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Go Siau bi tidak lebih cuma enam bagian
belaka, dan tapi Khoe Tuo cu tak sempat melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga karena
ia dibikin kaget bercampur tertegun, karena itu loloslah dia dari ancaman bahaya maut yang
sebetulnya dapat merenggut selembar jiwanya.
sudah tentu Khoe Tuo cu tidak mengenal kelihayan dari ilmu pukulan itu, betapa penasarannya
orang itu karena peristiwa yang barusan terjadi, dengan sorot mata yang bengis dia menerjang
maju lagi ke depan, sebuah pukulan yang lebih dahsyat bagaikan hembusan angin topan
menerjang ke dada lawan.
"Bangsat, rupanya engkau memang sudah bosan hidup," hardik Go siau bi denganpenuh
kegusaran-
Dengan ilmu pukulan Thian tok ciang hoat yang telah dikerahkan mencapai delapan bagian ia
sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blamm" suatu benturan dahsyat kembali menggelegar diudara, jerit ngeri yang melengking
mendesis dari mulut Khoe Tuo cu, badannya mencelat sejauh beberapa kaki dan darah segar
muntah keluar dari mulutnya.
"Bluuk" bagaikan sebuah cupu2, tubuhnya menggelinding diatas tanah setelah jatuh mencium
tanah.
Gong gongan anjing berkumandang memecahkan kesunyian, seekor anjing besar yang berada
disamping kanan tiba2 menerjang kearah dara itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Lolongan anjing yang mengerikan berkumandang menyayat kesunyian yang mencekam udara,
anjing besar itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dari tempat semula.. "Duukk" Ketika menumbuk
diatas dahan sebuah pohon besar, mampuslah anjing tersebut seketika itu juga.
Dalam pada itu Khoo Tuo cu telah bangkit dari atas tanah, ia tampak agak tertegun
menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki dara tersebut, kejadian ini sama sekali diluar
dugaannya. sebab kalau bukan seorang tokoh silat yang benar-benar berilmu tinggi tak mungkin
anjing besar itu dapat dibunuh dalam sekali pukulan belaka
Dalam terkejut dan cemasnya, bagaikan titiran angin deras cambuk rotannya diputar
sedemikian rupa mengitari angkasa.
Anjing raksasa yang berada disebelah kiri bagaikan sambaran kilat telah melancarkan tubrukan
pula kedepan.
siau bi terancam bahaya, cepat-cepat telapak tangannya dilontarkan kemuka melepaskan
pukulan maut..
Agaknya anjing besar itu sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki musuhnya sangat lihay,
berada ditengah udara tubuhnya berjumpalitan beberapa kali diudara dan menggelinding kebawah
kaki anak dara itu, moncongnya langsung menyambar kedepan dan menggigit kakinya.
semua gerakan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tak kalah cepatnya dengan seorang
jago lihay.
Bergetar keras perasaan hati Go siau bi menghadapi ancaman itu, cepat ia melejit dan
melambung keudara, dari situ telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat kebawah.
Gagal dengan gigitannya, anjing besar itu segera meluncur maju satu kaki lebih ke depan-
Tatkala Go Siau bi melayang turun kembali keatas tanah, secepat kilat sambaran anjing itu
menerkam lagi kedepan.
Kali ini tak sempat bagi Go siau bi untuk berkelit, telapak tangannya langsung dibacokkan
keatas batok kepala anjing itu..
"Guukk..guuukk.. lolongan panjang kembali menderai diudara, batok kepala anjing itu terbacok
sampai hancur jadi dua bagian, kepalanya hancur dan darah serta isi benaknya tersebar dimanamana,
anjing itu mampus seketika itu juga.. Tapi cakar anjing sebelah depannya sempat pula
mencakar paha Go Siau bi..
Rasa gatal-gatal dan kaku yang aneh segera menyerang pahanya dan perlahan-lahan bergerak
naik keatas.
Rasa kaget dan terkesiap yang menyelimuti hatinya sekarang susah dilukiskan dengan kata2, ia
tahu itulah tanda2 keracunan atau dengan perkataan lain cakar anjing itu mengandung racun yang
sangat jahat.
Dengan cepat semua jalan darah penting di tubuhnya ditutup semua, setelah menghadang
peredaran racun yang merambat lebih jauh kearah lain, dengan sorot mata yang bengis
menyeramkan, ia menerjang kearah Khoo Tuo cu habis2an.
"Blaaang" kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi
angkasa, dengan batok kepala hancur berantakan Khoo Tuo co menggeletak dalam keadaan
mengerikan-
"Perempuan rendah, pada hakekatnya engkau memang bukan manusia, hatimu keji dan tak
kenal ampun, akan kuhancurkan tubuhmu hingga lembut seperti abu."
Bersamaan dengan munculnya bentakan keras yang sangat mendadak itu, seorang kakek tua
berjubah hitam yang tinggi besar telah nelayang masuk kedalam gelanggang.
"Suiiit"" siulan lengking menggema diangkasa, menyusul belasan ekor anjing besar bagaikan air
bah, menerjang kearah tubuh Go siau Bi.
Kejut dan gelisah menyelimuti seluruh perasaan anak dara itu, ia merasa sukma serasa
melayang tinggalkan raganya karena ketakutan, gadis itu sadar bahwa ia sudah kena racun keji
dari anjing2 itu, daripada berdiam diri dan mati konyol ditangan lawan jauh lebih baik melarikan
diri tinggalkan tempat itu.
Begitu ingatan tadi melintas dalam benaknya, ia lantas melejit ke udara dan meluncur masuk
kearah hutan-
Apa mau dikata rupanya racun sudah mulai bekerja dalam tubuhnya, sepasang kakinya sudah
tak mau mendengar perintah lagi, baru saja melayang sejauh lima kaki, tubuhnya terjatuh kembali
keatas tanah. sementara kawanan anjing besar itu kembali sudah menerjang tiba dengan
hebatnya.
Antara manusia dan anjing, segera berkobarlah suatu pertarungan yang amat mengerikan-
Anjing- anjing besar itu memang tersohor karena keganasannya, bukan saja sifatnya memang
buas, cakarnya mengadung racun keji dan gerak geriknya cepat bagaikan sambaran kilat, lagipula
tak takut mati, maka setelah mendapat latihan secara khusus kehebatan mereka jauh lebih
mengerikan daripada serangan dari jago-jago silat kelas wahid.
Cemas dan marah bercampur aduk dalam benak Go siau bi, telapak tangannya diayun berulang
kali kemuka, kabut hawa hijau kembali menggulung keempat penjuru dengan dahsyatnya.
Ditengah benturan2 yang memekikan telinga, lolongan panjang berkumandang susul menyusul.
Dalam waktu singkat delapan ekor anjing yang telah binasa ditangan anak dara itu tapi sisanya
tak gentar barang sedikitpun, mereka masih melanjutkan terjangannya dengan kecepatan yang
luar biasa.
Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Go siau bi, rambutnya awut-awutan dan napasnya
tersengal-sengal, ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengatur pernapasan-
Rombongan anjing- anjing besar itu menerjang dan mundur secara beraturan, mereka saling
mengisi kekosongan yang ada dan menyerang dari tiga arah yang berlawanan, yakni arah atas
tengah dan bawah.
Tentu saja Go siau bi tak berani menyambut datangnya ancaman itu secara gegabah, sebab dia
tahu anjing-anjing itu sangat beracun pada kuku-kukunya.
sementara itu kakek berjubah hitam yang berada disamping gelanggang merasa gusar dan
sakit hati, namun ia tak berani menghentikan serangan anjing-anjing itu, sebab ia tahu betapa
sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, ia telah bersiap sedia mengorbankan anjinganjingnya
itu sebagai ganti dari kesuksesan rencananya.
setengah peminum teh kemudian, bangkai anjing telah bergeletak dimana-mana, darah serta
hancuran daging tersebar dimana-mana, keadaannya mengerikan sekali.
Dari sekian banyak anjing besar yang dibawa oleh kakek baju hitam itu, tak seekorpun yang
masih hidup pada saat ini.
Walaupun demikian, keadaan Go Siau bi sendiripun mengenaskan sekali, ia sudah kehabisan
tenaga, kakinya yang keracunan sekarang menjadi bengkak dan satu kali lipat lebih besar daripada
keadaan biasa, rasa sakit menyerang sampai kelubuk hati, sekali pun ia tahu masih ada seorang
musuh yang mengincar dirinya namun ia tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, akhirnya
gadis itu roboh dan jatuh terduduk diatas tanah.
Dengan sinar mata bengis, penuh kebuasan kakek berjubah hitam maju kedepan dengan
langkah lebar.
Go siau bi sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya, diapun menghimpun sisa
kekuatan yang dimilikinya untuk dikumpulkan pada telapak tangan kanannya.. Sambil bergerak
maju kedepan kakek baju hitam itu berkata tiada hentinya:
"Perempuan rendah, engkau telah menipu dan membunuh dua orang putra kesayanganku, ini
hari akan kusuruh kau rasakan pula siksaan yang terkeji dikolong langit, akan kusiksa kau sampai
mampus ....Hmm Sakit hati ini akan kutuntut balas beberapa kali lipat lebih dahsyat tunggulah
tibanya saat seperti itu ...."
Go Siau bi membentak keras, telapak tangan kanannya tiba-tiba diayun kedepan, lima gulung
desiran angin tajam segera meluncur keluar dan mengancam tubuh kakek itu.
Rupanya kakek baju hitam itu memang sengaja memperlambat langkah kakinya berhubung dia
harus bersiap menghadapi tibanya ancaman yang tak terduga dari pihak lawanoleh
sebab itu ketika Go Siau bi mengayunkan telapak tangannya kedepan, secepat kilat ia
berkelit kesamping, tapi toh gerakan itu teriambat setengah langkah, tangan kanannya terasa
sakit sekali hingga merasuk ketulang sumsum, tak kuasa lagi dia mendengus tertahan.
Ilmu jari Bwe hoa cuan sim ci (juri si kura penembus hati ) yang digunakan Go siau bi ini adalah
salah satu ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian toh pit kip. arah yang dituju adalah
dada musuh atau tepatnya persis diatas jantung, andaikata terkena hajaran jantung orang akan
pecah dan binasalah orang itu.
Tapi berhubung kakinya terluka sehingga banyak tenaga dalamnya berkurang maka melesetlah
serangan itu dari sasaran utamanya.
"Blam" pukulan tangan kiri yang dilepaskan kakek berjubab hitam itu dengan telak bersarang
ditubuh Go siau Bi
Ditengah dengusan yang tajam, tubuh dara itu mencelat dan bergelinding diatas tanah,
kesadarannya punah dan dara itu berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak.
Kakek tua baju hitam itu tertawa seram, secara beruntun dia menotok beberapa buah jalan
darah penting ditubuh gadis itu.
Kemudian ketika dilihatnya musuhnya sudah tercakar oleh racun anjingnya, ia ambil keluar
sebuah botol kecil dari porselen putih, diambilnya sedikit bubuk kuning dan dijejalkan kemulut Go
siau Bi, lalu mengambilpula sebagian dan dibubuhkan pada sekitar mulut luka, kemudian baru
berkata dengat nada menyeramkan: "Hmm Hmmm aku tidak akan membiarkan engkau mampus
dengan begitu saja"
Ditatapnya sekejap bangkai2 anjing itu dengan perasaan berat, akhirnya sambil mengempit
tubuh Go siau Bi, dia berlalu dari tempat kejadian-
Tatkala Go siau Bi sadar kembali dari pingsannya, ia menemukan kaki tangannya telah
dibelengu orang, tubuhnya berbaring terlentang dengan menghadap keatas, namun ia tak mampu
bergerak sementara rasa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya.
Ia membuka mata dan memeriksa keadaannya, tapi segera dara itu jadi malu bercampur gusar,
ternyata ia sedang dibelenggu di atas sebuah papan kayu dalam keadaan telanjang bulat, sehelai
benangpun tidak menempel ditubuhnya, sementara kakek baju hitam itu sedang memandang
kearahnya sambil menyeringai seram.
Disamping kakek itu berdirilah sepasang anjing besar yang sedang mencakar2 tanah sambil
memperdengarkan serentetan suara kaing-kaing yang aneh.
Dia ingin buka mulut untuk berbicara, namun tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
sadarlah dara itu bahwa jalan darah bisunya telah ditotok orang.
-00d0w00-
BAB 57-
SECARA lapat2 dara itu mulai menduga apa yang bakal terjadi serta menimpa dirinya.
Ia rela mati dan mengakhiri hidupnya lebih cepat, namun ia tak mampu untuk melakukannya,
beberapa buah jalan darah ditubuhnya tertotok. sekalipun ilmu silatnya sangat tinggi, berada
dalam keadaan seperti ini tiada sesuatu apapun yang bisa dilakukan lagi olehnya.
Tiba2 kakek berbaju hitam itu tertawa seram, suaranya sadis dan mengerikan-
" Heeeh heeeehh heeeehh perempuan rendah, aku adalah Ho Thong thian ketua
perkampungan oh hau san-cung, ingat baik2 namaku ini dan ketahuilah bahwa aku berbuat
demikian demi membalaskan dendam bagi kematian dua orang putraku"
Go Siau Bi ingin bicara namun tak mampu mengucapkan sepatah katapun, apa boleh buat?, Dia
cuma bisa berbaring dengan mata melotot penuh kegusaran. Terdengar Ho Thong thian
melanjutkan kembali kata katanya:
"Perempuan rendah, engkau telah memancing kedua orang putraku dengan kecantikan
wajahmu kemudian membunuhnya secara keji.. heeeh heeeh heeeh sekarang, saat pembalasan
telah tiba, coba pandanglah kedua ekor anjing jantan itu, dia akan menjadi suamimu sebentar lagi,
dari kedua ekor anjing jantan inilah engkau akan mendapatkan kepuasan seks yang paling nikmat,
kau akan di bikin naik kesorga oleh kedua ekor anjing ini haaah haaahh haaaahh manusia digagahi
oleh anjing, itulah acara pertunjukkan yang menarik sekali."
-00d0w00-
BETAPA terkejut dan takutnya Go siau bi sesudah mendengar ancaman itu, ia merasa
sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya, bila sampai peristiwa itu benar-benar terjadi,
inilah siksaan yang terkeji dikolong langit, seorang gadis perawan akan kehilangan kesucian
tubuhnya ditubuh seorang anjing, bahkan sekaligus akan diperkosa oleh dua ekor anjing besar
secara bersamaan, matanya jadi berkunang dan pandangannya jadi gelap akhirnya ia jatuh tak
sadarkan diri saking gusar dan mendongkolnya.
Hoo Thong thian tertawa seram, cepat ia totok jalan darah Thian kia hiat ditubuh dara itu.
sekali lagi Go siau bi sadar kembali dari pingsannya, hancur luluh perasaan hatinya, air mata
jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya yang ayu ....
"Perempuan rendah, dengarkan baik-baik kataku ini" ujar Ho Tong Thian lebib jauh "kecuali
menerima pembalasan ini, tiada cara lain yang bisa kugunakan untuk menghajar dirimu, Nah
setelah engkau menerima kepuasan seks ditubuh kedua ekor anjing jantan ini, maka engkau akan
menjadi santapan yang paling lezat bagi mereka haaah haaahh haaahh itulah pertunjukkan yang
paling surprise, sang istri yang cantik setelah digagahi akan disantap"
Dalam keadaaa seperti ini Go siau bi benar-benar kehabisan akal, mau melarikan diri jelas tak
mungkin, ingin bunuh diri juga tak mampu, tepatnya ia memang harus merasakan siksaan hidup
yang paling keji itu, diperkosa lebih dulu oleh anjing, lalu tubuhnya akan di cabik sebagai penghuni
perutnya.
Air mata dengan derasnya mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya. sekarang ia dapat
merasakan apa artinya pembalasan-.. dia mulai menyesal. "ooooh sungguh cepat pembalasan
yang tiba dan menimpa diriku" keluhnya dihati.
Bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis perawan, dia memiliki serangkaian ilmu silat
yang luar biasa, ia tak takut mati, sebab ia merasa bahwa mati hanya suatu pelepasan belaka,
pelepasan dari segala bentuk siksaan maupun penderitaan, tapi ia tak sudi mengalami siksaan
tersebut sebelum ajalnya, apa lagi siksaan yang begitu kejinya. Bila seseorang bisa putus asa,
kadang kala timbul pelbagai ingatan dalam ingatannya.
Dara itu berharap akan terjadinya suatu kejadian yang diluar dugaan, sehingga ia dapat
terhindar dari siksaan yang paling keji ini, ia rela melakukan apapun untuk membayar
pertolongannya itu, asal siksaan yang tak berperi kemanusiaan ini bisa di hindari
Gelak tertawa dari Ho Thong thian, pemilik perkampungan oh hau san ceng masih
berkumandang tiada hentinya. lengking suara tertawa yang menyerupai binatang itu bagaikan
pisau tajam yang menyayat-nyayat hatinya, membuat hatinya hancur lebur.
Tampaknya dua ekor anjing jantan itupun sudah berpengalaman dalam melaksanakan tugas
itu, dengan sorot mata yang merah membara dan mengerikan, anjing-anjing itu menatap tubuh
Go siau bi yang telanjang tanpa hentinya, sementara bunyi desiran aneh muncul dari mulutnya,
keadaan benar2 mengerikan..
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Go siau bi yang sedang menghadapi
bahaya perkosaan oleh dua ekor anjing..
sementara itu Han siong Kie telah meneruskan perjalanannya dengan langkah yang amat
lambat karena luka parah yang dideritanya akibat pertarungan melawan Go siau bi, ia tak dapat
mengerahkan tenaga sebagai mana mestinya.
39
Setengah jam kemudian, ia baru mencapai sejauh lima li dari tempat semula, lembah In wu kok
yang hendak dituju secara lapat-lapat sudah kelihatan didepan mata.
Walaupun hubungannya deagan Go Siau bi tak dapat dikatakan ada perasaan cinta, namun
perasaan persahabatan tetap ada dan oleh karena itu ia merasa sedih oleh perbuatannya,
mimpipun ia tak menyangka Go Siau bi yang halus, lembut dan berbudi sekarang telah berubah
jadi manusia lain-
Terutama kata2 dari Go Siau bi, tiap kali terbayang kembali ia lantas merasakan jantungnya
berdebar keras.
cinta memang tak dapat dipaksakan, apa lagi hatinya sudah terisi oleh perempuan lain-
Segulung desiran angin dingin berhembus lewat disamping tubuhnya, dengan terkejut Han
Siong Kie berpaling, dia tahu desiran angin itu bukan hembusan angin biasa melainkan kehadiran
seseorang manusia lain-
Pemuda itu merasa kuatir, dalam keadaan terluka parah, tak mungkin baginya melakukan
perlawanan lagi jika yang datang adalah pihak musuh.
Secepat kilat ia berpaling, seorang perempuan berkerudung tahu2 sudah berdiri dihadapannya.
orang itu siapa lagi kalau bukan orang yang ada maksud. Untuk sesaat Han Siong Kie berdiri
tertegun-
"Nona, engkau hendak pergi kemana?" tegurnya.
"Aku datang mencari engkau "
"Mencari aku? Ada urusan apa engkau mencari aku..?" pemuda itu merasa keheranan.
"Nona Go siau bi tertangkap oleh Hoo Thong thian, CengCu dari perkampungan Go hau san
Ceng"
Agak terkejut Han siong Kie mendengar kabar itu, serunya kurang percaya:
"Masa ia tertangkap? Kepandaiannya toh sangat lihay, masakah ilmu dari Hoo Thong thian luar
biasa."
"Ia keracunan lebih dulu oleh anjing raksasa, sehingga akhirnya dia tertangkap"
"oooh.. kiranya begitu"
"Apakah engkau tidak menguatirkan mati hidupnya??" kembali orang yang ada maksud
bertanya.
"Ia telah membunuh Kim kian siang ing (sepasang pendekar pedang emas) putra kesayangan
HHoo Thong thian, sewajarnya kalau sang ayah membalaskan dendam bagi kematian putranya"
"Tapi.. tahukah engkau bahwa Hoo Thong thian adalah seorang manusia durjana yang banyak
melakukan kejahatan? Begitu pula dengan anak-anaknya, mereka sering kali mengacau rakyat,
kematian mereka justru menggirangkan banyak orang"
"Nona" seru Han siong Kie dengan cepat, " apakah engkau mengerti sebab-sebab yang
mendorong ia melakukan pembantaian2 sekalipun Kim Kiam siang ing pantas dibunuh, akan tetapi
bagaimana dengan lainnya?"
orang yang ada maksud tertawa setelah mendengar perkataan itu, ia balik bertanya: "Tahukah
engkau, apa sebabnya ia sampai membunuh orang?"
"Hmm Ia sudah mengidap penyakit gila .... dan otaknya sudah sinting dan tak waras."
"Hmmmm" kali ini orang yang ada maksud mendengus dingin, " apakah ucapan itu muncul dari
lubuk hatimu??"
"Nona, apa maksudmu mengucapkan kata-kata itu?" tanya Han siong Kie tercengang.
"Go siau bi bisa sampai membunuh orang sepantasnya engkau memikul setengah dari
tanggung jawabnya "
" Kenapa..?" tanya sang pemuda dengan air muka berubah hebat.
" Karena engkau, dia telah membunuh orang"
" Karena aku ? Kenapa karena aku dia lantas main membunuh??"
"Manusia bermuka dingin" seru orang yang ada maksud dengan suara tajam " engkau tak usah
pura2 berlagak pilon, masakah engkau masih belum dapat memahami apa sebabnya ia sampai
membunuh orang?"
"Aku benar2 tidak paham"
"ooh, jadi kalau begitu engkau tidak bersedia menolong jiwanya??" Han siong Kie tertawa
dingin-
"Heeeh heeeh heeehh menolong dia ? Aku malahan sudah berkata kepadanya, bila kami
bertemu lagi dilain waktu maka aku akan membinasakan dirinya"
"Dengan dasar alasan apa engkau akan membunuhnya??"
"sebab ia telah membunuh orang dengan semena-mena"
"Ia bisa membunuh orang karena engkau, maka kaupun harus ikut bertanggung jawab atas
terjadinya peristiwa ini "
"Nona, jangan asal main tuduh saja, coba terangkanlah perkataanmu itu dengan lebih jelas lagi
"
"oleh karena engkau telah melukai hatinya, maka dia membunuh setiap pemuda yang
dijumpainya"
"Aku ? Aku telah melukai hatinya?"
"Benar "
"Dalam hal apakah aku telah melukai hatinya??"
"Masakah engkau benar2 akan suruh aku mengatakannya keluar??"
"Tak ada halangannya kalau nona hendak mengatakan"
"Sewaktu engkau dihajar oleh pemilik benteng maut sehingga tercebur kedalam sungai
kemudian jiwamu tertolong olehnya, dimana selama tiga hari engkau total berbaring diatas
pembaringannya . "
"setiap budi yang pernah kuterima tidak pernah kulupakan, suatu ketika pasti akan kubalas "
"Dalam masalah ini, persoalannya bukan manyangkut tentang soal balas budi atau tidak"
"Lalu persoalan ini menyangkut dalam hal apa??"
"Kalau seorang anak dara bersedia merawat seorang pemuda asing didalam kamar tidurnya,
bahkan tanpa canggung-canggung merawatnya, dapatkah engkau rasakan apa sebabnya ia
bersedia melakukan kesemuanya itu"
Han Siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, bukannya ia tak dapat merasakan hal ini,
melainkan ia tak bersedia untut mempertimbangkan soal tersebut. Terdengar orang yang ada
maksud berkata lebih jauh:
"Tahukah engkau bahwa Go siau bi telah bersumpah didepan pusara ayahnya bahwa dia tak
akan menikah dengan orang lain kecuali dengan kau seorang"
"Apa sangkut pautnya dengan diriku? Itu toh urusan pribadinya sendiri??"
Jawaban yang dianggap terlalu ketus ini segera membangkitkan hawa amarah dihati orang
yang ada maksud, serunya lagi:
"Aku mengerti, oleh karena engkau adalah Manusia bermuka dingin maka engkau dapat
mengatakan ucapan yang sadis dan sama sekali tidak berperasaan ini, tentunya engkau tidak lupa
bukan dengan peristiwa dalam rumah penginapan? Engkau telah memeluk tubuhnya bahkan
menginap disatu kamar."
"Aku merrpunyai niat untuk membalas budi pertolongannya, masakah perbuatanku ini keliru??"
"Engkau tidak keliru, tapi bila seseorang dara telah berdempetan dengan seorang pria, malahan
perlu dipeluk. tidur dalam satu kamar selain ia kawin dengan lelaki itu, mungkinkah dia bisa kawin
dengan orang tak lain"
"Aaaah . . Kita toh orang-orang persilatan, Bagi kita orang persilatan rasanya tak perlu
merisaukan soal tetek bengek itu"
"Itu kan pandangan segelintir orang, andaikata Go siau bi memandang berat persoalan ini, lalu
apa yang hendak kau lakukan ?"
Han siong Kie memang merasa seperti dipaksa dan ditekan untuk menerima kenyataan itu, ia
tak bisa berkutik, kecuali meringis rasanya memang ia tak bisa berbuat lain-Terdengar orang yang
ada maksud melanjutkan kembali kata-katanya:
"Aku rasa Go siau bi cukup cantik dan cukup bagus, ia pantas untuk menjadi isterimu, apalagi
kakeknya Put lo sianseng sebagai seorang tokoh persilatan ternyata mengajukan pinangan sendiri
kepadamu, tak kunyana kau malah menampik pinangannya sehingga membuat dara itu tertekan
jiwanya, padahal kau toh tahu bahwa ia mencintai dirimu? Nah, karena pelbagai alasan inilah ia
jadi sinting dan melakukan hal-hal yang diluar dugaan, coba katakanlah apakah engkau tidak
merasa ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini??"
"Maksud nona, engkau hendak memaksa ku untuk mencintai dirinya??"
"Masa ia tak pantas untuk menerima cintamu ? Dan engkau sama sekali tidak tergerak hatinya
oleh cinta kasihnya yang telah dilimpahkan padamu??" Han siong Kie membungkam, betul2
membungkam dalam seribu bahasa.
Dahulu ia memang pernah membenci seantero perempuan yang ada dijaga d, tapi sejak
hubungan cintanya dengan Tong hong Hwie, perasaan hatinya mulai terbuka, untuk pertama
kalinya ia benar-benar mencintai seorang dara, dan ia persembahkan rasa cintanya itu padanya.
Terhadap Go siau bi, meskipun tak bisa dikatakan ia memandangnya seperti memandang
perempuan lain, tapi diapun tidak mencintai dirinya.
Tiba-tiba suatu rasa menyesal dan iba tersebut dalam hati kecilnya, ia ikut merasakan
penderitaan serta kesedihan yang dialami anak gadis itu.
Tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya, maka diapun berkata dengan dingin-
"Nona, tentunya engkau masih ingat bukan dengan seseorang yang bernama Tonghong Hui?."
Tampak sekujur tubuh orang yang ada maksud bergetar keras, tapi ia menjawab dengan cepat.
"Tentu saja masih ingat, kenapa??"
"Terus terang kukatakan padamu nona, perasaan dan hatiku telah dibawa pergi olehnya"
"Bukankah ibuku pernah memperingatkan kau, bila hubunganmu dengan Tong Hong Hui
dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu tragedi" Han siong Kie tertawa
sedih.
"Mungkin tragedi telah menjadi kenyataan, tapi aku sama sekali tidak merasa menyesal"
"Sudah menjadi kenyataan? Apa maksud
JILID 28 HAL. 16/17 HILANG
kedua hal ini bisa dijadikan satu, tapi aku berpendapat bahwa cinta yang murni dan cinta yang
sesungguhnya tidak musti dipadukan dalam kehidupan yang nyata"
"Justru persoalannya bukan terletak disini"
"Maksudmu masih ada alasan serta persoalan lain yang bisa mengakibatkan terjadi tragedi
ini??"
"Memang begitulah kenyataannya"
"Kata-kata itu sangat membingungkan hati orang, apakah engkau bersedia untuk menerangkan
lebih jauh?"
"Suatu ketika engkau akan memahami dengan sendirinya, sekarang maafkanlah daku karena
aku tak dapat memberitahukan hal ini untukmu, bukannya aku sengaja berlagak sok rahasia tapi
berbicara sesungguhnya, sekarang juga engkau harus pergi menyelamatkan jiwa nona Go Siau bi,
kalau terlambat aku kuatir telah terjadi hal-hal yang luar biasa"
"Kalau toh nona telah mengetahui bahwa ia sudah tertawan oleh orang-orang dari
perkampungan oh han san ceng, mengapa kau tidak berusaha untuk menolongnya melainkan.."
"Tentu saja aku mempunyai alasan tertentu"
"Dapatkah kuketahui alasan itu?"
"Dalam perkampungan oh han san ceng telah dipelihara anjing-anjing perbatasan yang besar
dan cakarnya beracun, sedangkan engkau memiliki kekuatan anti racun, maka tugas ini tak
mungkin bisa diselesaikan oleh orang lain"
Pada hakekatnya orang yang ada maksud telah mendapat perintah dari ibunya yakni orang
yang kehilangan sukma untuk sengaja mengatur kesemuanya ini, kalau tidak karena rencana
mereka, tentu saja dengan kepandaian yang dimiliki orang yang ada maksud, Go Siau bi telah
tertolong ketika ia terluka tadi.
Sementara itu, Han siong Kie sedang tundukkan kepalanya sambil termenung beberapa saat
lamanya, kemudian sahutnya.
"Maaf nona, aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan itu"
"Jadi engkau tidak bersedia untuk menolong jiwanya ??"
"Aku tak dapat menyelamatkan jiwa sekarang, pembunuh yang pernah membantai ber-puluh2
lembar jiwa manusia yang sebenarnya sama sekali tidak berdosa "
"Di kemudian hari ia tak akan membunuh orang lagi dan aku akan menanggung hal ini bagimu,
bagaimana??"
"Tetapi... "
"Ada apa lagi?? "
"Isi perutku terluka parah, aku kuatir...."
"Aaah Kalau cuma soal itu kan gampang sekali, aku punya obat yang sangat mujarab, dengan
dasar tenaga dalam yang kau miliki, maka setelah meminumnya dalam waktu setengah
perminuman teh, seluruh kesehetananmu dapat pulih kembali seperti sedia kala"
Tidak menanti jawaban dari Han siong Kie lagi, dia ambil keluar sebiji obat sebesar kelengkeng
lalu diangsurkan kedepan-
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Han siong Kie harus menerimanya, dia berkata:
"Baiklah, memandang diatas wajah kalian ibu dan anak. aku bersedia menolong jiwanya"
Habis berkata dia masukkan obat itu ke dalam mulut, kemudian duduk bersila ditepi pohon
untuk mengatur pernapasan
Kemujaraban obat itu memang luar biasa sekali, pada hakekatnya sama sekali tidak berbeda
dengan keampuhan Kui goan kim wan dari Kun si Mo ong.
Kurang lebih setengah perminuman teh kemudian, dalam keadaan segar bugar Han siong Kie
telah melompat bangun kembali dari atas tanah.
Setelah orang yang ada maksud menunjukkan dari perkampungan oh hausan ceng, ia berpesan
pula.
"Menolong orang bagaikan menolong kebakaran, sekarang juga engkau boleh segera
berangkat. Mungkin saja kita akan bertemu kembali dilain waktu" Dengan tubuh yang enteng dia
lantas berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang berlalu, Han siong Ki cuma bisa menggeleng sambil
menghela napas panjang, akhirnya iapun berangkat menuju ke perkampungan oh hau san ceng.
Perkampungan oh hausan ceng merupakan sebuah bangunan perkampungan yang
JILID 28 HAL. 22/23 HILANG
Habis berkata, ia menutup kembali pintu ruangan dan berjalan menuju keruang tamu.
Meskipun jalan darah Go siau bi sudah tertotok. namun pendengarannya masih berjalan
normal, betapa gembira hatinya setelah mendengar kabar bahwa Manusia berwajah dingin telah
tiba diperkampungan itu.
Timbul kembali harapannya untuk melanjutkan hidup.
"Mungkinkah ia datang kemari untuk menolong aku? begitulah dia mulai berpikir, tapi
mungkinkah ia sudi menyelamatkan jiwaku? Bukankah ia telah membenci aku dan ingin
membunuh aku??"
Apalagi setelah teringat bahwa ia berada dalam keadaan telanjang bulat, dimana hampir semua
bagian rahasia tubuhnya tertera nyata, ia merasa malunya bukan kepalang, kalau bisa dia ingin
mati saja sehingga tak perlu menanggung rasa malu.
Dalam pada itu Ho Thong thian telah muncul diruang depan, ia saksikan seorang pemuda
tampan yang berwajah dingin sedang berdiri sambil bergendong tangan ditengah ruangan-ketika
sepasang mata mereka membentur satu sama lainnya, tanpa sadar seluruh tubuhnya bergidik, Ia
merasa sorot mata orang itu tajam sekali, membuat siapa pun jadi bergidik rasanya.
Tapi dia berusaha untuk menekan perasaan hatinya, sambil tertawa terbahak-bahak ia menjura
lalu berkata:
"Apakah sauhiap adalah Manusia bermuka dingin yang namanya telah menggetarkan seluruh
dunia persilatan??"
"Betul, itulah aku orangnya"
"Silahkan duduk dan minum teh "
"Tak usah, apakah engkau yang bernama Ho Cungcu??"
"Benar, boleh aku tahu apa maksud kedatangan sauhiap ke perkampungan kami ini??" Dengan
dahi berkerut Han siong Kie berkata:
"Seorang sahabatku yang bernama Go siau bi, apa bener berada dalam perkampungan ini??"
setajam sembilu sorot matanya menatap wajah orang itu, ia menanti jawaban orang itu dengan
tenang.
Terkesiap Ho Thong thian mendengar pertanyaan itu, sekarang dia baru tahu bahwa
kedatangan manusia berwajah dingin adalah disebabkan karena perempuan rendah itu, mau
membohong jelas tak mungkin, hanya untungnya ia telah mengadakan persiapan.
Maka dengan wajah berubah hebat sahutnya:
"Betul, dia memang berada didalam perkampungan ini"
"Adapun kedatanganku kemari adalah hendak mengajak cungcu untuk merundingkan persoalan
ini, apakah engkau bersedia untuk melepaskan nona itu??"
"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memenuhinya, sebab ia telah membinasakan dua
orang putraku"
"Tapi kejadian ini toh berawal dari sikap putramu yang terpikat oleh kecantikannya, dalam soal
ini nona itu tak dapat kau salahkan "
"Haaah haaah haaahh pada hakekatnya justru dialah yang telah memikat putraku dengan
kecantikan wajahnya, ditinjau dari sikapmu yang begitu paham dengan duduknya persoalan ini,
aku rasa engkau tentu mempunyai, hubungan yang luar biasa dengan Go siau bi. Nah sauhiap
berbicaralah menurut liangsimmu, berilah keadilan serta kebijaksanaan kepadaku, pantaskah aku
melakukan pembalasan dendam?"
Untuk sesaat Han siong Kie terbungkam dan tak mampu menjawab pertanyaan itu, sebab katakata
itu memang masuk diakal dan benar. Lama sekali, akhirnya ia baru berkata. "Apa yang
hendak kau lakukan atas diri nya?"
"Hutang darah harus dibayar dengan darah, hutang nyawa bayar nyawa.."
"Apakah engkau tidak merasa bahwa tindakanmu ini kelewat batas??"
"Siapa membunuh manusia diapun harus membayar dengan nyawa sendiri, masa tindakan
semacam ini kelewat batas?"
"Tapi pada hakekatnya toh putramu yang terpikat dulu oleh kecantikan nona Go dan
membuntutinya terus menerus, tindakan ini sudah pantas untuk diberi hukuman mati"
"sauhiap. apa yang kau ucapkan itu berdasarkan pengamatanmu sendiri ataukah karena
mendengar dari mulut orang?"
"Tentu saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"Jadi maksud sau hiap. engkau melarang aku untuk melakukan pembalasan dendam??"
"Bukannya begitu, aku ingin tahu dengan cara apakah engkau berhasil menangkap nona Go
siau bi??"
"Tentu saja mengandalkan kepandaian silatku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie segera tertawa terbahak-bahak nyaring sekali
suaranya.
"Haaah haaah haaaah Ho too cungcu, bukannya kupandang enteng dirimu, pada hakekatnya
kalau engkau ingin menundukkan dia dengan andalkan cara yang bersih dan jujur, maka
kepandaian silatmu masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan dirinya ?"
"oooh.. Maksud sau hiap. aku telah menggunakan cara yang licik dan tidak jujur untuk
menundukkan nona itu??"
"Begitulah maksudku, aku tidak melarang cungcu untuk membalaskan dendam bagi kematian
putramu, tapi aku harap lakukanlah duel tersebut secara jujur dan terbuka, sebab masalah ini tak
bisa diselesaikan dengan berat sebelah"
Tiba-tiba sekulum senyum licik yang sadis dan mengerikan melintas diatas wajah Ho Thong
thian, ia menjura dan berkata.
" Kalau memang begitu, bagaimana kalau sau hiap duduk dulu sambil minum teh? Aku akan
menggusur nona Go siau bi datang kemari kemudian menyelesaikan masalah ini secara adil di
depan sauhiap? Tentunya sauhiap bersedia bukan??"
oooodwoooo
BAB 58
MESKIPUN dalam hati kecilnya Han siong Kie menaruh curiga karena perubahan sikapnya yang
sangat mendadak itu, namun dia lantas berpikir didalam hati.
"Dengan andalkan kepandaian silatmu, bila engkau berani main gila dengan aku, itu berarti
engkau mencari penyakit buat diri sendiri." Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangguk.
"Baiklah, lakukan semuanya itu"
"Kalau memang begitu harap sauhiap tunggu sebentar disini"
Baru beberapa langkah Ho Thong thian berlalu, tiba-tiba pemuda itu berseru kembali.
"Eeeh.. tunggu sebentar"
"Apa yang hendak sauhiap katakan lagi??"
Dengan sorot mata yang bengis dan mengandung hawa napsu membunuh, Han siong Ki
berkata dengan sadis:
"Ho cungcu, sebelum semuanya terjadi aku hendak berkata lebih dahulu kepadamu, aku harap
janganlah engkau bermain gila dengan aku, kalau tidak . . . Hmmm Terus terang kukatakan
kepadamu, akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, dan apa yang sudah kukatakan dapat
pula kubuktikan."
Mula-mula Ho Thong thian agak tertegun, tapi dia lantas tertawa seram sambil menyahut.
"Aaaah ... sau hiap terlalu banyat curiga, masa aku adalah manusia yang lain diluar lain dihati?"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berseru keluar ruangan:
"Go Tiong hidangkan air teh dan siapkan meja perjamuan untuk tamu kita ini "
"Tak usah banyak adat, selesai urusan disini aku segera akan berlalu, tak berani banyak
mengganggu kau lagi"
Ho Thong thian tidak menanggapi ucapan itu, dia mengangguk dan berkata: "Aku akan segera
pergi mengambil nona Go siau bi seraya berkata dia lantas berjalan keluar dari ruangan itu
Tiba2 kecurigaan yang timbul dalam hati kecil Han siong Kie semakin menebal, kalau toh Go
siau bi sudah tertangkap. kenapa ia musti tunggu disitu dan anehnya kenapa tak ada orang yang
bergerak ditempat ini ?"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 terdengar suara gemuruh yang
amat keras berkumandang dari ruangan itu, menyusul mana seluruh ruangan tersebut mulai
berputar kencang.
Menghadapi kenyataan tersebut, pemuda itu baru menyadari bahwa ia sudah terjebak oleh
siasat licik musuhnya, dia berpekik di hati:
"Aduuh celaka, aku sudah tertipu oleh anjing tua itu"
Tanpa berpikir panjang lagi dia segera melejit dan meluncur keluar kearah pintu ruangan-
Tapi dalam sekejap mata itulah seluruh pintu ruangan telah tertutup rapat, dan suasana dalam
ruangan itupun berubah jadi gelap gulita sehingga kelima jari tangan sendiripun sukar terlihat.
Han siong Kie berdiri tertegun, saking gemas dan mendongkolnya dia sampai menggigit
bibirnya kencang2, mimpipun ia tak mengira karena bertindak gegabah sehingga mengakibatkan
dia terjebak oleh tipu muslihat lawan-
"criing. criing.. tiba-tiba ruangan itu tenggelam kedasar bumi, ketika Han siong Kie mengamati
dengan seksama, ternyata ia sudah terkurung dibawah sebuah penjara dalam tanah yang kuat
dan empat penjuru merupakan dinding tebal yang tak tembus hawa.
sekarang anak muda itu baru menyesal apa sebabnya tidak bertindak hati-hati setelah masuk
kedalam perkampungan, karena musti menuruti peraturan dunia persilatan, akhirnya dia harus
terjebak oleh perangkap lawan-
Dari alat jebakan yang rupanya sudah dipasang disetiap bagian ruangan dalam perkampungan
oh han san cung, dapat pula di tarik kesimpulan bahwa perkampungan ini bukanlah suatu
perkampungan baik dan pemiliknya tentu saja sebagaimana yang dikatakan orang yang ada
maksud, benar-benar merupakan manusia bejad yang licik dan banyak akal muslihatnya.
sekarang nasi sudah menjadi bubur dan menyesalpun tak ada gunanya, untuk sesaat lamanya
pemuda itu cuma bisa berdiri menjublek dengan perasaan bingung.
"Kraaakl.krassakkk.. tiba-tiba dari atas dinding muncul sebuah pintu kecil, dibalik pintu tersebut
merupakan sebuah lorong yang amat panjang.
Rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dada Han siong Kie sudah tak tertahan lagi,
dia himpun hawa murninya ke dalam telapak tangannya. ia sudah bersiap sedia bila ada musuh
yang munculkan diri maka dia akan menyeret dan membinasakan musuhnya secara keji.
Tapi apa yang terjadi? Meskipun sudah ditunggu dengan lama, namun tiada sesuatu gerakan
apapun yang muncul dihadapannya.
Sesudah ragu sejenak, akhirnya pemuda itu melangkah keluar dari pintu kecil itu dan masuk
kedalam lorong yang terbentang didepan matanya itu.
Kurang lebih tiga puluh kaki dihadapan nya muncul sebuah anak tangga batu yang menjulang
ke atas.
Yang aneh ternyata disekitar tampat itu sama sekali tidak nampak sesosok
JILID 28 HAL35/36 HILANG
Memang mengerikan sekali anjing-anjing itu, sekilas pandangan orang akan mengira anjing itu
sebagai mahluk sebangsa macan kumbang.
Ditinjau dari bentuk bangunan rumah gelap itu, anak muda itu menduga bahwa dia telah
berada diatas permukaan tanah.
"criiiing ..." sementara anak muda itu masih melamun- tiba-tiba terdengar dentingan nyaring
menggema memecahkan kesunyian, seketika ia berpaling, maka tampaklah pintu kecil dimana ia
muncul tadi tahu-tahu sudah tertutup rapat.
Agak lama pemuda itu termenung, kemudian ia bergerak menuju kepintu ruangan dan
merabanya dengan tangan-
Pintu itu terbuat dari besi baja yang sangat kuat, ketika didorong kebelakang ternyata
menimbulkan suara pantulan yang berat, ini membuktikan bahwa pintu itu terbuat dari baja yang
tebalnya mencapai satu depa lebih, besi seberat itu tak mungkin bisa didorong olehnya dengan
kepandaian yang dimilikinya saat ini. Tiba-tiba dari atas dinding besi itu muncul sebuah lubang
bulat sebesar
JILID 28 HAL. 38/39 HILANG
mata, apa gunanya mengucapkan kata-kata yang tekebur semacam itu??"
"Baiklah, kalau engkau tidak percaya, nantikanlah saat pembalasanku itu"
"Tak usah ditunggu lagi, sekarang juga akan kupertunjukkan suatu adegan yang hidup dan
segar dihadapanmu, coba lihatlah, budak rendah yang kau cintai itu sekarang dia harus membayar
semua akibat dari perbuatannya, sebelum engkaupun dicium oleh anjing2ku, dekatkanlah matamu
dengan lubang ini dan intiplah apa yang ada disini."
Dengan penuh kegusaran Han siong Kie mendekati lubang pengintip itu dan melongok
kedalam.
Tapi apa yang kemudian terlihat olehnya membuat air muka anak muda itu berobah jadi merah
padam bagaikan darah, jantungnya berdebar keras dan kemarahannya semakin memuncak.
sebuah tubuh gadis yang telanjang bulat dengan semua bagian rahasianya tertera nyata,
terikat disebuah palang kayu yang besar, sepasang paha dara itu terbentang lebar sekali dan
tangannya sudah dipentangkan lebar, hal ini membuat setiap organ tubuhnya dapat dilihat tanpa
aling2.
selama hidup belum pernah dia saksikan gadis telanjang, dan kali ini merupakan kali yang
pertama ia saksikan gadis telanjang didepan mata, saking bedebarnya hampir saja jantungnya
mau copot.
Tetapi setelah ia menegaskan bahwa dara itu tak lain adalah Go sian bi, kegusarannya sukar
terkendalikan lagi, sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar ber-api2, teriaknya
dengan keras:
"Tua bangka anjing, apa yang hendak kau lakukan atas dirinya??" Ho Thong thian tertawa
dingin.
"Heeeh heeh heeh ia telah membunuh anakku dengan mengandalkan kecantikan wajahnya,
maka sekarang akupun akan menggunakan cara yang lebih keji untuk menghukum dirinya. Coba
kau tengok kesamping, sudah kau lihat sepasang anjing jantan itu."
"Haaahh haaahh haaahh sebentar lagi akan berlangsung adegan perkosaan seorang gadis oleh
dua ekor anjing jantan.. belum pernah menyaksikan bukan? Nah, sebentar lagi akan kau saksikan
bagaimana caranya dua ekor anjing memperkosa seorang anak dara.."
saking gusar dan gemetarnya Han siong Kie sambil menggertak giginya keras2, kalau bisa detik
itu juga dia akan mencincang tubuh orang itu sehingga hancur ber-keping- keping, tapi sebuah
dinding baja yang kuat telah menghadang ditempat itu, tak mungkin baginya untuk menerobos
masuk keruangan sebelah.
Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu tragedi yang memilukan hati, kesucian seorang
anak dara ternyata harus direnggut oleh dua ekor anjing jantan..
Go siau bi sendiri meskipun jalan darahnya tertotok. namun telinganya dapat mendengar dan
matanya bisa melihat, meskipun mulutnya tak dapat berbicara, ia mendengar suara dari Han siong
Kie dan perasaan hatinya terasa amat sakit bagaikan disayat-sayat, rasa malu, gusar, benci dan
gelisah bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.
Air mata yang meleleh keluar merupakan campuran darah, seluruh kulit wajahnya berkerut
kencang, membuat wajah gadis itu berubah jadi aneh sekali.
"Bangsat tua, engkau berani bertindak keji?" bentak Han siong Kie dengan penuh kebencian,
dia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah dinding baja itu.
"Blang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga membuat seluruh dinding baja itu
bergetar sangat keras.
Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang dilepaskan si anak muda ini di dalam
gusarnya.
Ho Thong thian agak tertegun setelah menyaksikan kedahsyatan hawa pukulan lawan, paras
mukanya ikut berubah hebat, tapi sejenak kemudian dia telah berubah jadi tenang kembali,
ejeknya:
"Bocah keparat sekalipun engkau bisa membongkar jagad, jangan harap bisa merubah nasib
kalian berdua"
"Tua bangka bajingan, kalau engkau berani mengganggu seujung rambutnya, Perkampungan
oh han san ceng kuratakan dengan
JILID 28 HAL. 44/45 HILANG
sementara anjing yang satu sudah berdiri sambil siap memperkosa anak gadis tersebut, anjing
yang lain meraung dan meronta dengan sekuat tenaga, rupanya anjing itupun sudah birahi dan
ingin menuruti jejak rekannya untuk menikmati pula kehangatan tubuh manusia.
situasi betul2 amat kritis dan berbahaya, bila tiada pertolongan yang tiba pada saatnya, niscaya
gadis cantik jelita itu akan di renggut kehormatannya oleh seekor anjing..
Hampir saja anjing itu menggagahi tubuh Go siau bi ketika secara tiba tiba anjing tersebut
mendesis panjang, menyusul tubuhnya mencelat setinggi delapan depa ke udara.. Biang.." ketika
terbanting kembali keatas tanah, darah segar berhamburan dari tubuhnya dan binasalah anjing
tersebut dalam keadaan mengerikan.
Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini sangat mengejutkan hati Ho Thong thian, dengan
sukma serasa melayang tinggalkan raganya secara beruntun dia mundur beberapa lamgkah
kebelakang.
"Criiit criing " beberapa desingan angin tajam menyergap lagi kemuka.
Untung Ho Thong thian sudah mundur ke belakang, dengan begitu desiran angin serangan
tersebut tidak mengena pada sasarannya, andaikata ia tidak mengundurkan diri tadi, niscaya
dadanya sudah berlubang besar.
sekali lagi terdengar lolongan panjang yang memekikan telinga, beberapa desingan angin
serangan yang sebelumnya tertuju ketubuh Ho Thong thian itu, sekarang meluncur kearah anjing
besar yang masih dirantai itu dan menghajarnya telak. seketika anjing itu pun mampus dengan
keadaan mengerikan.
setelah menenangkan hatinya. rasa kaget dan panik berhasil diatasi oleh Ho Thong thiansekarang
dia tahu serangan tersebut muncul dari balik lubang diatas dinding tersebut, kecuali hasil
perbuatan dari manusia berwajah dingin, rasanya memang tak mungkin bisa dilakukan oleh pihak
kedua.
Maka ia lantas bergeser kesudut ruangan yang sejajar dengan lubang diatas dinding itu,
katanya sambil tertawa seram:
"Haaahhhh haaahh haaahhh bocah keparat, engkau memang lihay, tapi sayang pertunjukan
bagus harus tetap dilangsungkan, engkau tahu aku memelihara hampir seratus ekor anjing
semacam itu, tak ada artinya bagimu kematian dua ekor anjing tersebut, tapi dengan
perbuatanmu tadi engkau sudah kehilangan hak untuk menikmati pertunjukan bagus, sekarang
engkau harus terjun sendiri dalam pertunjukan yang jauh lebih menarik"
"criiing...?" tiba tiba lubang diatas dinding itu menutup secara otomatis.
Kiranya disaat yang paling kritis, Han siong Kie teringat dengan ilm ujari Tong kim ci nya yang
lihay, maka dari lubang pengintip itulah dia melancarkan serangannya untuk membinasakan kedua
ekor anjing tersebut dan kejadian ini sama sekali diluar dugaan Ho Thong thian.
setelah lubang pengintip itu tertutup, Han siong Kie semakin panik dan gelisah, sekarang bukan
saja ia terkurung dalam jebakan malahan Go siau bi semakin terancam jiwanya.
"Kraaakkk kraaakkk " bunyi gemerincing berkumandang dari arah belakang, ketika ia berpaling,
hatinya kontan jadi terperanjat rupanya terali besi disamping ruangan itu sudah dibuka dan lima
ekor anjing besar bagaikan harimau telah menyusup keluar dari kandangnya dan mengambil posisi
pengepungan.
sambil menggonggong seekor anjing besar itu laksana kilat menerjang maju kedepan. Han
siong Kie cepat bergeser kearah samping, ilmu jari Tong kim ci segera dilepaskan.
Anjing itu mendesis lengking, tubuhnya terhajar telak dan mampus seketika itu juga, sementara
empat ekor lainnya pada saat yang hampir bersamaan menerkam kedepan.
Ruangan itu luasnya cuma tiga kaki, sedangkan kedua sangkar anjing itu hampir menempati
separuhnya, sisa ruangan yang tersedia sempit sekali, dalam keadaan seperti ini sulit baginya
untuk berkelit maupun menghindar.
Untungnya Han siong Kie memiliki ilmu lintasan cahaya kilatan bayangan yang lihay bagaikan
sukma gentayangan dia bergerak kian kemari diantara terjangan-terjangan empat ekor anjing
tersebut, meskipun posisinya berbahaya namun tak sampai terancam jiwanya.
JILID 28 HAL.50/51 HILANG
lewat pintu yang sempit, tiap kali pula sianak muda itu membunuhnya dengan ilmu jari Tong
kin ci.
Dalam sekejap mata tiga ekor anjing raksasa sudah mampus dengan badan hancur.
"Crinng " tiba? pintu sangkar itu menutup dan Han siong Kie terkurung didalam sangkar
tersebut.
Namun sianak muda itu sama sekali tidak ambil pusing, dari bilik celah-celah terali besi secara
beruntun dia lancarkan beberapa sentilan mautnya. Tiga ekor anjing raksasa yang tersisa, kembali
mampus diujung telapak tangannya.
Begitulah, dalam sekejap mata ada sepuluh ekor anjing raksasa yang telah ia bunuh mati.
selesai membunuh anjing2 itu, Han siong Kie lantas mencengkeram terali besi itu karena pintu
keluarnya tertutup rapat maka dia memutuskan untuk mematahkan terali besi itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, sekali merentangkan tangannya, terali besi itu
segera melengkung dan terbukalah sebuah lubang yang cukup besar.
Pemuda itu meneborobos keluar dari sangkar tersebut, walau begitu dia belum lolos dari
kurungan sebab dinding baja masih mengurungnya dalam ruangan itu
Betapa gelisahnya pemuda itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia seperti seekor harimau
buas yang terjebak dalam kerangkeng sambil berjalan kesana kemari otaknya berputat terus untuk
mencari akal guna meloloskan diri dari kurungan.
Bagi si anak muda ini, keselamatan sendiri tidak terlalu dipentingkan, ia justru lebih
menguatirkan keselamatan Go siau bi, sekarang dia dapat memahami sampai dimanakah kekejian
Ho Thong thian, ia tahu apa yang telah diancamkan dapat dilaksanakan menjadi kenyataan-
Ho Thong thian memang sangat keji, di tinjau dari tindak tanduknya yang begitu terlatih dan
terbiasa, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah banyak perempuan yang mengalami nasib tragis
ditangannya, entah sudah berapa banyak anak perempuan yang dijadikan obyek tontonannya
diperkosa olen anjing ..
Rasa dendam, benci, marah berkecamuk dalam hatinya, hawa napsu membunuh telah
menyelimuti seluruh wajahnya. Ia bersumpah dihati bila Ho Thong thian sampai tertangkap maka
akan dibunuhnya orang itu secara keji.
sambil menahan diri pemuda itu mulai meraba dinding baja dan berusaha untuk menemukan
letak tombol rahasia ditempat itu, namun kecuali pintu rahasia tadi, tiada bekas lain yang terdapat
disitu, seakan-akan ruangan itu dibuat dari lembaran baja yang utuh.
sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru pertama kali ini dia menjumpai keadaan yang
mencemaskan hatinya, dan membuat ia jengah serta serba salah.
Hawa amarah makin memuncak. hampir saja anak muda itu tak sanggup mengendalikan diri..
Tiba-tiba pintu besi yang menghubungkan ruangan itu dengan penjara bawah tanah perlahanlahan
bergerak ke atas dan akhirmya terbukalah sebuah liang kecil.
Han siong Kie mundur tiga langkah ke belakang, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan
siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di inginkan.
sesosok makhluk aneh berbulu perlahan-lahan muncul dari lubang tadi dan meloncat keluar ....
Han siong Kie semakin terperanjat, telapak tangannya diayun kemuka melepaskan pukulan
maut.
"Hey, bocah jangan pukul aku" makhluk aneh itu berseru dengan lantang.
Han siong Kie menarik serangannya dan mundur ke belakang ternyata makhluk berbulu itu
adalah kepala manusia, dia adalah sorang manusia cebol yang gemuk dan bentuk badannya persis
seperti blingo, rambutnya telah beruban semua.
orang itu tak lain adalah Tee heng sian (Dewa berjalan dalam tanah) yang pernah merampas
pusaka Hud jiu po pit miliknya tempo hari.
Kemunculan Tee heng sian dalam keadaan semacam ini jauh diluar dugaan Han siong Kie, ia
tahu tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sangat lihay dan tindak tanduknya sangat misterius.
Dengan suara yang dingin bagaikan es, sianak muda itu segera menegur keras:
"Bukankah emgkau adalah Tee heng sian?"
Dengan tubuh yang gemuk dan gerakan yang lamban- Tee heng sian bergerak
JILID 28 HAL. 56/57 HILANG
" Untuk meneguk beberapa guci arak wangi itu, aku telah membuang waktu selama berbulan2
lamanya, dari luar perkampungan aku telah menggali sebuah lorong rahasia yang langsung
berhubungan dengan gudang arak itu."
Ter mangu2 Han siong Kie setelah mendengar ucapan tersebut, kejadian ini memang
merupakan suatu kejadian yang aneh sekali, untuk mencuri beberapa guci arak wangi, ternyata
orang itu bersedia bekerja selama ber-bulan2 lamanya. setelah tertegun sesaat diapun bertanya
lagi:
"Engkau toh tahu bahwa perkampungan oh han san ceng penuh dengan anjing2 raksasa? Masa
dengan daya penciuman anjing2 itu, jejakmu tidak sampai ketahuan ?"
"Haaah haaah haaaah kalau ingin jadi pencuri yang ulung maka pengetahuan sebagai pencuri
musti luas, tentu saja akupun tahu akan lihaynya daya penciuman anjing-anjing itu, maka sengaja
kugosokkan serbuk anti bau disekujur badanku, setelah begitu maka sekalipun anjing dari langit
juga tak akan dapat mencium bauku"
"Jadi kalau begitu, engkau bisa keluar masuk perkampungan ini dengan leluasa?"
"Itu sih tidak. meskipun aku punya serbuk anti bau, tapi aku tidak punya serbuk anti anjing,
kalau sampai terkepung anjing2 buas itu, bisa jadi mayatku akan habis disikat mereka, tentu saja
kedatanganku kemari juga menempuh bahaya"
"Kenapa engkau datang kesini dengan menempuh bahaya ?"
"Tentu saja karena engkau si bocah muda "
40
"Lantaran aku?" seru Han Siong Kie dengan wajah tercengang.
"Memang begitulah kenyataannya"
"Boleh aku tahu apa sebabnya engkau datang kemari ?"
"Mari duduklah dulu dan biarlah aku bercerita dari awal sampai akhir."
"Sekarang aku tak ada waktu" Seru Han Siong Kie dengan gelisah, "apakah engkau bersedia
memberi petunjuk kepadaku bagaimana caranya keluar dari penjara ruang baja ini??"
"Engkau ingin buru2 menolong bocah perempuan itu? " tanya Tee heng sian sambil melototkan
matanya yang aneh.
"Dari mana engkau bisa tahu?" Han siong Kie balik bertanya dengan hati terperanjat.
"Jangan gelisah dulu, aku kebetulan dapat mencuri dengar kejadian ini dari bawah tanah,
sebab tanah dibawah tempat tinggal Ho Thong thian telah kubongkar, maka semua pembicaraan
diatas kedengaran jelas dibawah, sekarang makhluk tua itu sedang merawat lukanya, untuk sesaat
dia tak mampu mengapa-apakan bocah perempuan itu lagi"
"Lhoo..kok aneh, masa Ho Thong thian sedang merawat lukanya?" tanya Han siong Kie
keheranan.
00dw00
BAB 59
"MASA membohongi kau?"
"Lantas dia luka ditangan siapa?"
"siapa lagi? Tentu saja ditangan bocah perempuan itu"
"Aaah, tidak mungkin, bukankah jalan darahnya sudah tertotok, dia sama sekali tak bisa
bergerak.."
"Hey bocah, pernahkah dengar tentang ilmu membebaskan jalan darah dengan hawa murni?
Bocah perempuan itu sudah kembali melepaskan diri dari pengaruh totokan, dan suatu serangan
kilatnya berhasil pula melukai Ho thong thian"
"sekarang gadis itu ada dimana??"
"Dia masih terkurung dalam ruangan baja sebelah ruangan ini"
JILID28 HAL. 62/63 HILANG
Begitulah, dengan Tee heng sian berjalan didepan, Han siong Kie berjalan dibelakang mereka
melewati sebuah lorong yang sangat panjang.
Ketika hampir mendekati ruang tamu dan tiga kaki dimulut penjara bawah tanah, mereka
mendekati dinding yang berada disebelah kanan, ketika sebuah papan batu sebesar dua depa di
geser kesamping, maka muncullah sebuah gua yang bisa dilewati oleh tubuh seorang manusia.
"Loo tee" kata Tee heng sian kemudian, "inilah jalan bawah tanah yang telah lo ko gali selama
ini, asal batu itu digeser kembali pada tempat semula, maka sekalipun ada dewa yang lewat disini
juga tak akan melihatnya"
-000dw000-
Han siong Kie tertarik sekali dengan keanehan watak sahabat barunya ini, ia tertawa dan
menyahut:
"Kalau mainan begitu, aku mohon diri dahulu"
"Pergilah. Aku paling benci dengan segala tata cara, ingat bocah perempuan itu tersekap dalam
rumah besi ketiga, jangan sampai salah "
Han siong Kie mengiakan, dia lantas menggeser guci arak yang dimaksudkan, disana memang
terdapat sebuah lorong yang gelap dan panjang, pemuda itu lantas menerobos keluar lewat jalan
bawah tanah itu.
seperminum teh kemudian ia sudah keluar dari lorong itu, ternyata sekarang dia sudah berada
diluar pekarangan perkampungan itu, maka sebagaimana yang dipesan, ia tutup kembali mulut
gua itu dengan rapi, kemudian baru menyerbu kedalam perkampungan
Baru saja dia melayang turun didepan dua deret bangunan baja, tiba-tiba tiga sosok bayangan
hitam dengan kecepatan bagaikan kilat telah menyambar tiba, ternyata ketiga sosok bayangan itu
adalah tiga ekor anjing yang besar.
Berada ditanah lapang yang luas Han siong Kie tak perlu menguatirkan cakar racun dari anjinganjing
itu lagi, dalam beberapa gebrakan saja ketiga ekor anjing itu sudah dibikin mampus dengan
pukulan mautnya.
suara pekikan panjang yang diperdengarkan anjing-anjing itu sebelum ajalnya, dengan Cepat
mengejutkan seluruh perkampungan.
Suara langkah kaki yang sangat ramai berkumandang memecahkan kesunyian, belasan orang
lelaki yang berdandan sebagai centeng berlarian keluar dari rumah-rumah baja itu.
Tapi setelah mengetahui siapa yang muncul, hampir sebagian besar centeng itu berdiri
tertegun, mimpipun mereka tak menyangka kalau Manusia bermuka dingin yang dikurung dalam
rumah baja telah berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat.
Padahal mereka tahu bahwa baja yang melapisi ruangan- ruangan itu tebalnya mencapai
beberapa depa, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang tinggi juga tak akan mampu untuk
menghancurkannya,
JILID29 HAL. 06/07 HILANG
untuk membunuh kawanan begundal itu, oleh sebab pihak lawan menghadang jalan perginya,
dia baru berhasrat untuk melakukan pembantaian secara keji. "Trang traanng traaang " suara
genta dibunyikan bertalu-talu.
Ber-puluh2 sosok bayangan manusia meluncur masuk kedalam gelanggang, diantara mereka
ada yang tua ada yang muda, semuanya berjumlah lima puluh orang lebih, tapi yang jelas diatas
wajah orang2 itu terlintas rasa kaget yang bukan kepalang.
setelah semua orang munculkan diri, dengan cepatnya pula Han siong Kie terkurung ditengah
gelanggang.
Menyapu wajah orang2 itu dengan pandangan dingin, Han sioog Kie berkata: "Kenapa sampai
sekarang Hoo Thong thian belum juga munculkan diri?"
Dari antara kerumunan orang banyak. tampil kedepan seorang kakek berbaju hitam, dengan
wajah bengis ia menghardik:
"Manusia bermuka dingin, apa maksudmu datang ke mari??"
"Membantai seluruh isi perkampungan ini" jawab pemuda itu dengan ketus
Ucapan yang berbau amis darah ini sangat menyolok dan menggidikkan hati semua orang,
tanpa sadar paras muka orang-orang itu berubah hebat dan bulu kuduknya pada bangun berdiri
Dengan terperanjat kakek baju hitam itu mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan
suara gemetar:
"Apa? Manusia bermuka dingin, engkau akan membantai seluruh isi perkampungan?"
"Benar, tentunya Ho Thong thian masih belum lupa bukan dengan apa yang telah kuucapkan
ketika berada dalam kurungan ruang besi tadi?"
"Tentu saja lohu tak akan lupa, dengan kata-katamu itu" berbareng dengan berkumandangnya
jawaban itu, Ho Thong thian munculkan diri ditengah gelanggang
Hawa napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah Han siong Kie sambil mendengus
dingin ia tuding Ho Thong thian serunya:
"Bangsat tua lebih bagus lagi kalau engkau memang mengingat kata-kataku itu, sekarang juga
kenyataan akan terbeber didepan mata"
Ho Thong thian memandang lawannya dengan penuh kebencian serta kelicikan:
JILID29 HAl 10/11 HILANG
bahkan cara melepaskan senjata rahasia itu pun menggunakan cara ban thian boa yu ( hujan
bunga diseluruh langit).
Han siong Kie mendengus dingin, sepasang telapak tangannya membuat gerakan lingkaran
didepan dada kemudian menolaknya kedepan.
Ditengah hembusan angin puyuh yang kencang, seluruh kilatan cahaya biru itu sudah tersapu
rontok diatas tanah.
Ho Thong thian bertindak cukup licik, berbareng dengan dilancarkannya serangan itu, dia telah
mundur sejauh dua kaki lebih dari kedudukan semula
Gonggongan anjing menderu-deru, kurang lebih dua puluh ekor anjing besar berlarian keluar
dari ruang baja dan langsung menyerbu kedalam gelanggang
semakin tebal hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Han siong Kie, dia melambung
keudara, sepasang telapak tangannya dilontarkan berbareng kedepan, sepuluh desingan ilmu jari
Tong kim ci dengan kecepatan yang luar biasa menghantam tubuh kakek baju hitam serta pria
setengah baya yang melancarkan serangan senjata rahasia itu
Dua jeritan ngeri memecahkan kesunyian, percikan darah segar berhamburan ditanah, tanpa
sempat menjerit, kakek dan pria setengah baya itu sudah mampus dengan badan berlubang.
Han siong Kie tidak berhenti sampai disitu saja, setelah menewaskan dua orang musuhnya dia
melambung keangkasa dan menubruk kearah Ho Thong thian yang sudah kabur sejauh dua kaki
dari kedudukan semula itu.
Sekarang Ho Thong thian baru merasa takut dan seperti kehilangan sukma, cepatt dia
menundukkan tubuhnya dan menggelinding sejauh beberapa kaki dari tempat itu.
Han siong Kie tidak mengira kalau seorang tokoh silat yang punya nama besar seperti Ho
Thong thian, ternyata telah melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari medan pertempuran,
sementara serangannya gagal mencapai sasaran, belasan ekor anjing besar itu sudah menerjang
tiba dengas serangannya.
Disaat Han siong Kie terkurung oleh kawanan anjing tersebut, Ho Thong thian sendiri kabur
menuju kepintu baja yang keempat, mungkin dia hendak menggunakan ruang baja ini untuk
menyembunyikan diri atau mungkin juga dia masih mempunyai rencana busuk yang lain.
Kali ini Han siong Kie bertindak cerdik, dia melambung setinggi beberapa kaki ke udara setelah
lolos dari sergapan kawanan anjing itu badannya berjumpalitan beberapa kali seperti anak panah
terlepas dari busurnya dia meluncur kearah Ho Thong thian, sepasang telapak tangannya seperti
cakar garuda mengcengkeram batok kepala lawan.
Hampir pada saat yang bersamaan, pintu besi itu terbuka dan mereka berdua masuk kedalam
ruangan baja.
"criing" secara otomatis pintu baja itu menutup dengan sendirinya.
Betapa takut dan ngerinya Hoo Thong thian tatkala dilihatnya bukan saja ia gagal untuk
melarikan diri malahan dirinya terjebak dalam satu ruangan bersama musuhnya.
Ia sadar bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, apalagi berada dalam ruangan
yang begitu sempit, mau melawanpun tak ada gunanya.
Han siong Kie sendiri sudah terlanjur membenci musuhnya ini, cepat telapak tangan kiri serta
ujung jari tangan kanannya ditolak kedepan melancarkan serangkaian pukulan gencar ketubuh
Hoo Thong thian yang sedang ketakutan.
Ho Thong thian sendiri kelabakan setengah mati menghadapi ancaman maut itu, mau
menghindar dia tak mampu, akhirnya tidak ampun lagi tubuhnya terhajar telak oleh serangan
maut itu.
sambil menjerit lengkimg dengan suara yang menyayatkan hati, tubuh Hoo Thong thian
mencelat sampai menumbuk dinding baja, dadanya seketika terhajar sampai berlubang darah
segar berhamburan membasahi seluruh lantai.
setelah musuhnya mampus, Han siong Kie baru tertegun, ia baru menyesal sekarang setelah
musuhnya dibunuh mati, bukankah dengan demikian dia terjebak pula dalam ruangan baja itu?
Bangkai keseputuh ekor anjing itu masih menggeletak ditempat semula, hanya kini bertambah
lagi dengan sesosok mayat manusia.
JILID29 HAl 16/17 HILANG
tubuhnya gemetar dengan jantungnya berdebar dan mukanya jadi merah, secara beruntun dia
mundur tiga langkah ke belakang.
sesosok tubuh yang bugil masih melingkar didalam ruang baja itu, dan dara itu tak lain adalah
Go siau bi.
Padahal menurut keterangan dari Tee heng sian jalan darah Go siau bi sudah bebas malahan
serangannya berhasil melukai Ho Thong thian, kalau toh jalan darahnya sudah bebas, kenapa ia
masih berbaring disitu dalam keadaan telanjang bulat ?
Kalau dilihat dari pintu baja yang separuh terbuka,jelas ada orang pernah memasuki ruangan
ini lalu siapakah orang itu ?
Kenapa tidak menolong Go siau bi, melainkan membiarkan dia .....
Berpikir sampai disini, tak kuasa lagi tubuhnya gemetar keras, pikirnya lebih jauh:
"Aduh celaka, jangan-jangan Go siau bi sudah mengalami...."
Karena kuatir tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu menerjang masuk ke dalam ruangan,
meskipun jantungnya
JILID 29 Hal 19 S/D 24 HILANG
merahnya sehingga tidak menetes ke bawah, ujarnya lagi dengan sedih:
"Sejak pertama kali aku bertemu dengan kau, aku telah mencintai dirimu, engkau adalah orang
pertama yang kucintai juga merupakan orang terakhir yang kucintai, sekalipun aku mencintai
dirimu dengan sepenuh hati dan aku tidak mendapatkan balasan yang sewajarnya tapi aku
memang mencintai kau, cintaku adalah cinta suci yang muncul dari lubuk hatiku, asal kau tahu aku
sudah merasa puas. Aaai . . karena pikiran yang keliru hampir saja aku melakukan kesalahan
besar, terimakasih kuucapkan kepadamu, karena engkau telah memberi kesempatan kepadaku
untuk menebus dosa-dosa itu"
Rasa cinta Han siong Kie benar-benar tersentuh oleh perkataanya itu, detik itu juga ia merasa
bersalah karena pendapatnya yang keliru ini telah menghancur lumatkan rasa cinta dirinya yang
nyata ia telah menyakiti perasaan seorang gadis yang membuat dara itu hampir saja melakukan
kesalahan besar.
"Nona, maafkanlah kesalahanku . ." bisiknya kemudian.
-000dw000-
BAB 60
Go SIAU BI segera ulapkan tangannya dan mencegah pemuda itu meneruskan kata-katanya
"Han siangkong, biarlah kusebut engkau dengan sebutan seperti yang kugunakan ketika untuk
pertama kalinya aku bertemu dengan engkau, sekarang engkau tak usah minta maaf kepadaku,
biarkanlah kejadian yang sudah lewat jadi kenangan, sekarang tegasnya mulai detik ini untuk
menebus semua dosa yang pernah kulakukan semoga engkau baik-baik menjaga diri"
Tak tahan lagi air matanya jadi berderai membasahi seluruh wajahnya yang putih dan halus.
Go siau bi telah berlalu pergi dengan membawa perasaan hatinya yang hancur.
Han siong Kie ingin memanggil dara itu tapi ia tidak berbuat demikian, pemuda itu hanya
berdiri termangu-mangu di dalam bangunan rumah baja itu.
Ia merasa bagaikan sedang bermimpi suatu impian buruk yang sebetuinya adalah kenyataan,
dengan suara yang lirih ia cuma dapat bergumam. .bergumam seorang diri dengan suara yang
lirih:
"sebenarnya apa yang kau lakukan? Benarkah tindakanku selama ini ? Ataukah tindakanku itu
keliru besar?"
Namun ia tak berhasil menemukan jawabannya.
Dengan mengorbankan segala-galanya Go siau bi berusaha untuk mendapatkan dirinya, tapi
sekarang setelah mengalami kejadian tersebut, ia telah pergi dengan keraskan hati dan telah
memutuskan perasaan cintanya.
sementara dia masih melamun, dari kejauhan terdengar serentetan jeritan ngeri berkumandang
memenuhi seluruh angkasa, jeritan tersebut segera menyadarkan kembali pemuda itu dari
lamunannya
Ia lantas menduga kalau Go siau bi sedang melaksanakan pembalasan dendamnya atas orangorang
dari perkampungan oh hau san ceng
JILID29 HAL. 28/29 HILANG
diharuskan menolong Go siau bi. Kalau toh ia dapat membuka pintu baja itu, mengapa ia tidak
membawa Go siau bi yang telanjang bulat, sebaliknya diserahkan kepadanya? Kenapa..? Kenapa ?
Pemuda itu benar-benar merasa tidak habis mengerti.
"Eeeh lo-te, aku lihat pikiranmu kurang tenang dan wajahmu gugup sekali hayo, apa yang telah
kau lakukan?" tiba tiba Tee heng sian menegur sambil tertawa cengar- cengir.
"Aku..." Han siong Kie tertawa jengah
"Dimana bocah perempuan yang telah kau tolong itu?"
"Dia... dia telah pergi"
"Pergi? Pergi seorang diri?"
Dengan sedih Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan. Tee hee sian berkata lebih
jauh.
"Tahukah engkau, kenapa orang yang ada maksud membunuh orang dan membakar
perkampungan ini?"
"Mungkin juga dia hendak melampiaskan rasa dendam dan mendongkol dari Go siau bi"
"Lalu setelah urusan disini telah selesai, kau hendak pergi kemana. ?"
Han siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
kemudian baru menjawab: "..Aku pikir hendak mengunjungi lembah in wu kok"
"Lembah In wu kok? Aneh benar nama tersebut, dimana toh letak lembah yang aneh itu?"
"Kurang lebih setengah jam lamanya dari tempat ini, lembah In wu kok adalah sebuah lembah
aneh yang terpencil sekali letaknya"
"siapa yang beri tahu kepadamu kalau lembah itu bernama in wu kok?" Han siong kie
tersenyum.
"ooh aku sendiri yang menamakan lembah tersebut, dengan sebutan lembah In wu kok, coba
lihatlah bukankah disitu penuh dengan kabut yang amat tebal?"
"Aaah saudaraku, tempat itu bukan bernama lembah In wu kok melainkan adalah Lembah
kematian yang dianggap setiap umat persilatan sebagai daerah terlarang, keseraman dan
kengerian yang menyelimuti lembah tersebut sama sekali tak kalah dengan kemisteriusan benteng
maut yang tersohor itu"
"Lembah kematian?"
Benar, lembah itu sangat berbahaya.. setiap orang yang berani memasuki lembah itu berarti
mengantar kematian diri sendiri sebab semua orang yang sudah masuk ke dalam lembah itu,
selamanya tak akan bisa munculkan diri dalam keadaan selamat"
Hebat sekali perobahan wajah Han siong Kie, untuk sesaat dia termenung lalu baru berkata:
"Semula aku masih mengira lembah itu hanya sebuah lembah terpencil yang jarang sekali
dikunjungi manusia"
"Loo te" Tiba2 Tee heng sian berkata dengan wajah serius "kalau toh engkau sama sekali tidak
kenal akan lembah kematian, mau apa kau kunjungi lembah tersebut??"
"Aku... sebenarnya aku hendak mempelajari sejenis ilmu silat didalam lembah itu"
”Kalau toh cuma ingin mempelajari sejenis ilmu silat, mengapa kau pilih tempat semacam itu??"
"Sebab aku lihat tempat itu jauh dari keramaian dunia dan jarang sekali dikunjungi manusia,
aku takut latihanku terganggu oleh kehadiran manusia lain maka aku hendak mencari tempat yang
sepi dan terpencil itu sebagai tempat latihanku"
"saudaraku kalau engkau percaya dengan kata2ku ini, lebih baik batalkan saja niatmu itu"
Masih mendingan kalau Tee heng sian tidak berkata, semakin dilarang pergi kesitu semakin
besar pula rasa ingin tahu yang timbul dalam hati Han siong Kipikirnya:
"Apa salahnya kalau aku pergi melakukau penyelidikan? Akan kulihat sebenarnya macam
apakah lembah kematian tersebut"
Tapi ia merasa tak tega untuk menolak kebaikan orang, maka ia manggut-manggut berulang
kali.
"Baiklah, aku akan pertimbangkan lagi rencana ini, terima kasih atas peringatan dari engkoh
tua, kau..."
sebelum pemuda itu menyelesaikan kata2nya Tee heng siang telah tertawa cekikikan seraya
menukas:
JILID29 HAL. 34/35 HILANG
Pemuda itu menghela napas panjang, pikirnya:
"Aaai. sayang adik Hui telah kembali kealam baka, tapi benarkah ia telah mati Bukankah orang
yang ada maksud telah berkata bahwa adik Hui tak akan mati?" Lama sekali pemuda itu
termenung, selang sesaat kemudian pikirnya lebih jauh:
"Kalau dia tidak mati, meagapa ia tak muncul kembali dari benteng mautnya, Apakah ia lupa
masih ada janji dengan aku? Lupakah dia ketidak munculannya berarti suatu bukti padaku bahwa
ayahnya adalah pembunuh keluargaku?"
setelah termanggu2 sejenak pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya memasuki lembah
itu
Kabut yang menyelimuti angkasa kian menebal, meskipun Han siong Kie memiliki ketajaman
mata yang dapat memandang pemandangan sekitar tiga kaki, namun tiada satupun yang terlihat
olehnya.
"Aneh." kembali pemuda itu membatin, menurut Tee heng sian lembah kematian adalah suatu
daerah terlarang yang sangat disegani oleh setiap umat persilatan di dunia ini, malahan katanya
siapa berani masuk maka dia tak ada harapan untuk keluar dalam keadaan selamat, kini aku
sudah lama masuk kedalam wilayah ini, kenapa tiada sesuatu apapun yang berhasil kutemui . ." "
Setelah termenung sebenter ia membatin lagi:
"Jangan-jangan berita yang tersiar dalam dunia persilatan tak bisa dipercaya kebenarannya?"
Satu li kembali sudah dilewati oleh Han siong Kie, namun tiada sesuatu apapun yang terlihat.
Akhirnya mata yang tajam itu membentur dengan sesuatu benda, mendadak saja tubuhnya
menggigil keras jantungnya berdebar tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya.
Sebuah batu besar yang penuh dengan lumut hijau terpancang di depan matanya, di atas batu
tugu itu terteralah beberapa tulisan dengan huruf yang amat besar: "PERBATASAN ANTARA MATI
DAN HIDUP
JILID 29 HAL. 38/39 HILANG
Pemuda itu celingukan memandang sekeliling tempat itu, ketika ditemukan sebuah batu cadas
kurang lebih empat kaki disamping tempat itu, cepat ia berkelebat kebelakang batu itu dan
menyembunyikan diri
sekejap mata kemudian belasan sosok bayangan manusia telah munculkan diri didepan batu
peringatan tersebut.
Rombongan itu dipimpin oleh dua orang kakek berjubah hitam sedang kan sisanya adalah dua
belas orang laki-laki yang memakai, baju ringkas warna hitam pula.
Di atas dada kedua orang kakek berjubah hitam itu masing2 bersulamkan lukisan rembulan dan
matahari dan bintang.
Begitu menyaksikan lambang yang tertera diatas dada kakek berjubah hitam itu, Han siong Kie
merasakan hatinya bergetar keras, sebab lambang tersebut tidak terlalu asing baginya, dia merasa
se-akan-akan pernah menjumpainya disuatu tempat.
setelah dipikirkan beberapa saat pemuda itu teringat kembali, ia masih ingat bagaimana orang
yang kehilangan sukma telah membunuh Tengkorak maut gadungan dengan lencana Thian Che
leng, dan di atas lencana itu terteralah lukisan Matahari, rembulan dan bintang.
Itu membuktikan pula bahwa rombongan yang barusan tiba disana tak lain adalab anak buah
dari perkUmpulan Thian Che kau.
seingatnya diantara anggota perkumpulan Thian Che kau yang pernah ditemuinya, belum
pernah ada diantara mereka yang munculkan diri dengan diatas dadanya tertera lambang
matahari rembulan serta bintang, pemuda itu mulai berpikir-pikir, jangan2 kedudukan dua orang
kakek tua itu memang sangat istimewa??
sementara itu salah seorang diantara dua orang kakek berjubah hitam itu sudah menyapu
sekejap sekeliling gelanggang, kemudian kepada rekan-rekannya dia berkata.
"saudara see bun, masakah bocah keparat itu bisa terbang kelangit atau tenggelam kedasar
bumi? Kenapa jejaknya lenyap dengan begitu saja tanpa meninggalkan bekas?" Kakek baju hitam
yang disebut saudara see bun itu menjawab:
"saudara Nyoo, menurut pandanganku mungkin saja bocah keparat itu telah mengetahui jejak
kita semua maka sengaja ia mencari tempat yang bersembunyi untuk menyembunyikan diri "
"sekalipun ia sedang bersembunyi toh penggeledahan yang kita lakukan cukup ketat, masa
pencarian ini sangat teledor sampai tempat persembunyian musuh sama sekali tidak ketahuan ?"
"Walaupun demikian kabut toh terlalu tebal disekitar tempat ini, siapa tahu kalau
penggeledahan kita memang kurang teliti ?"
"Mungkinkah mata2 kita telah salah melihat orang ?" tanya orang she Nyoo lagi.
"Aaah tidak mungkin Tanda2 yang dimiliki manusia bermuka dingin sangat istimewa sekali,
rasanya susah untuk mencari orang kedua yang memiliki ciri2 seperti dia "
Hampir saja Han siong Kie mendcngus dingin apa lagi setelah diketahui olehnya bahwa
kemunculan rombongan itu tak lain adalah sedang mencari jejaknya.
"Jangan-jangan bangsat muda itu sudah melampaui perbatasan antara hidup dan mati?"
kembali kakek she Nyoo itu mengutarakan pendapatnya. Dengan cepat kakek she see bun itu
menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aah.. soal ini tak mungkin, sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tak nanti ia bisa lolos dari
kematian bila berani melewati perbatasan ini, tak nanti dia datang hanya untuk menghantar
kematian belaka"
"Yang lebih aneh lagi, entah apa sebabnya bocah bangsat itu datang mengunjungi lembah
kematian??"
"Aku mana tahu, mungkin cuma dia seorang yang mengetahui apa tujuannya datang kemari"
"Lalu apa yang musti kita lakukan sekarang??"
"Mulut lembah sebelah depan toh sudah dijaga oleh jago2 lihay kita, mari kita lanjutkan
penggeledahannya disekitar tempat ini, aku tak percaya kalau dia sudah dapat terbang ke langit
atau menyusup kedalam tanah."
"Andaikata penggeledahan kita ini cuma sia-sia belaka??"
JILID29 HAL. 44/45 HILANG
laki-laki berpakaian ringkas itu segera menyambarkan diri dan membentuk gerakan setengah
lingkaran untuk melakukan pengepungan yang ketat.
Telapak tangan kilat see bun Lui maupun pui hunp yan Nyoo Yong serentak berpaling pula
kearah anak muda itu, dengan sinar mata berwarna hijau tajam mereka menatap musuhnya tanpa
berkedip. dari kilatan cahaya mata itu dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki kedua
orang itu benar2 sudah mencapai puncak kesempurnaan.
Agak terkejut juga Han siong Kie setelah menyaksikan kesempurnaan tenaga dalam yang
dimiliki musuhnya, namun ia tak gentar, dengan pandangan yang tak kalah dinginnya ia balas
menatap kedua orang lawannya.
"Jadi engkau yang bernama Manusia yang bermuka dingin?" tegur Tui hun pan dengan wajah
dingin.
Han siong Kie mendengus dingin. "Hmm Ucapanmu memang tepat sekali."
"Bangsat, engkau akan menyerahkan diri dengan begitu saja ataukah hendak memaksa aku
untuk turun tangan?"
"Huuh manusia macam kalian pun hendak membekuk aku" ejek sang pemuda sambil tertawa
sinis "Hmmm sebutkan dulu siapa nama kalian"
"Bocah keparat, dengarkan baik-baik kata-kata kami ini" seru see bun Li dengan cepat, "kami
berdua adalah Utusan khusus dari Thian che kau, dua jago lihay diantara sepuluh tokoh paling
tinggi kedudukannya dalam perkumpulan kami.."
"Utusan khusus Haaahh haaahh haahh aku rasa kalian toh tak lebih cuma begundal bayaran
belaka"
Ucapan itu dianggap sebagai penghinaan besar bagi dua orang kakek tua itu, betapa gusarnya
oran2 itu sukar dilukiskan dengan kata-kata.
"Bangsat, rupanya engkau sudah bosan hidup?" bentak mereka hampir bersamaan waktunya.
Dliringi bentakan nyaring see bun Lui melambung tiga kali ke tangah udara, kemudian secepat
kilat melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Han siong Kie.
serangan tersebut memang luar biasa cepatnya dan tak malu disebut bagaikan sambaran kilat,
pada saat yang
JILID29 HAL. 48/49 HILANG
Han siong Kie dengan andalkan tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan itu
melakukan inisiatip untuk menyerang gencar, sekalipun dia telah berusaha dengan segenap
kemampuan yang dimiliki, itupun hanya berhasil memaksa lawannya untuk bertarung dalam
keadaan seimbang alias sama kuat.
Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun menang kalah masih belum bisa
ditentukan.
Memang seram dan mengerikan jalannya pertarungan itu, bukan saja angin menderu dan
bahkan dunia terasa jadi gelap, membuat dua belas orang laki2 berpakaian ringkas yang ada
disamcing gelanggang diam2 merasa bergidik.
setelah berhenti sebentar untuk mengatur pernafasan, see bun Li terjun kembali ke dalam
gelanggang pertarungan, rupanya dia pun menyadari bahwa kekuatan pihak lawan terlalu
tangguh, tak mungkin salah seorang dari pada mereka berhasil menaklukkan lawannya andaikata
tidak turun tangan secara bersama:
Dengan cepat situasi dalam gelanggang pertarungan mengalami perubahan.
Dua orang tokoh sakti dengan meng andalkan kekuatan mereka yang paling top berusaha
menghancurkan lawannya, kedahsyatan angin pukulan yang mereka hasilkan benar2 mengerikan
sekali.
Dalam keadaan demikian, Han siong Kie dipaksa untuk mengambil langkah2 pertahanan,
dia mainkan ilmu Mo mo ciang hoat bagian pertahanan untuk menutup semua bagian tubuhnya
dari kemungkinan terserang musuh, kalau sebentar saja masih mendingan tapi lama kelamaan
diapun mulai terdesak hebat. sepuluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa...
Han siong Kie semakin terdesak hebat sehingga selangkah demi selangkah mundur terus
kebelakang..
satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Akhirnya pemuda itu sudah melampaui garis pemisah
yang merupakan perbatasan antara mati dan hidup,
Menyaksikan kejadian itu baik see bun Lui yang bergelar telapak tangan kilat maupun Nyoo
Yong yang berjulukan Hakim pengejar sukma sama-sama menarik kembali serangannya dan
mundur kebelakang.
Perbatasan antara mati dan hidup .. suatu wilayah angker yang tak berani dilewati oleh
siapapun.
Han siong Kio masih belum merasa kan akan hal itu, kembali ia mundur beberapa langkah
kebelakang.
sekarang Han siong Kie sudah berada satu kaki lebih dibalik garis pemisah yang disebut
perbatasan antara mati dan hidup itu, namun tiada sesuatu kejadian yang menimpa dirinya, ia
tetap utuh, sehat dan tak kekurangan sesuatu apapun.
Belasan orang jago lihay dari Thian che kau mulai menunjukan sikap kebingungan dan tidak
habis mengerti, sampai2 mereka berdiri dengan wajah melongo.
-ooodwooo-
BAB 61
LEMBAH kematian- suatu daerah terlarang yang dianggap angker serta mengerikan bagi umat
persilatan, wilayah itu dipisahkan oleh sebuah garis yang dinamakan perbatasan antara mati dan
hidup, selama banyak tahun tak seorang manusiapun sanggup melewati perbatasan tersebut
dalam keadaan hidup,
Tapi sekarang Manusia berwajah dingin telah menyeberangi perbatasan itu sejauh beberapa
kaki tanpa mengalami sesuatu kejadian apapun, kejadian ini benar merupakan sesuatu peristiwa
yang aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Tatkala pihak musuh menarik kembali serangannya tadi, tanpa terasa Han siong Kie lelah
mundur kembali beberapa langkah kebelakang, menanti ia rasakan perubahan yang aneh pada
wajah musuhnya pemuda itu baru sadar bahwa ia telah melangkah masuk ke dalam wilayah yang
tersohor karena angkernya itu.
JILID29 HAL. 54/55 HILANG
Thian che kaucu untuk menyelesaikan sendiri persoalan ini.
Diam2 Han siong Kie menguatirkan kemampuan Thian che kaucu sebab kalau ditinjau dari
kemampuan yang dimiliki kedUa orang utusan khusus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
tenaga dalam yang dimiliki ketua mereka benar- benar telah mencapai puncak kesempurnaan
yang tak terhingga, ia jadi terbayang kembali akan peristiwa dimasa lalu sewaktu dia menyerbu
wilayah Lian huan yau untuk menolong Go siau bi, ketika itu ia telah berjumpa dengan seorang
manusia barkerudung yang mangaku sebagai ketua perkumpulan tapi akhirnya ia bukti bahwa dia
tak lebih cuma penyaruan dari salah satu diantara sepuluh jago tangguh perkumpulan.
Anak muda ini mulai berpikir, mengapa Thian che kaucu tak berani munculkan diri sebaliknya
suruh orang lain untuk menyaru sebagai dirinya?" Mungkinkah dibalik semuanya ini sebetulnya
masih tersimpan rahasia lain?
Yang lebih aneh lagi, ternyata pihak Thian che kau telah mengerahkan segenap kemampuan
yang dimiliki untuk menghadapi dirinya seorang, malahan ketuanya turun tangan sendiri untuk
memimpin operasi tersebut, hal ini menandakan kalau pihak mereka memandang serius persoalan
tersebut, lalu apa sebabnya mereka bersikap drmikian?" Tiba2 Nyoo Yoong, hakim pengejar sukma
berseru dengan suara dalam:
"Bocah keparat, beranikah engkau menyeberang kemari untuk melangsungkan pertarungan
seru dengan kami?"
Han siong Kie sendiripun tak tahu apa sebabnya ia bisa menyeberangi perbatasan mati dan
hidup tanpa cedera, namun ia tahu bahwa musuh- musuhnya tak berani menyeberangi wilayah
angker itu dam selalu memanaskan hatinya agar dia menyeberang kembali ke sana. Maka sambil
tertawa dingin, ejeknya:
"Bangsat tua, kenapa bukan kalian yang menyeberang kemari? Kalau memang jantan hayolah
kemari"
Perasaan jengah dan serba kikuk muncul diatas wajah Nyoo Yong maupun see bun
JILID29 HAL. 58/59 HILANG
Nyio Yong yang sedang melayang diudara, se akan2 burung yang kena dipanah, tahu-tahu
badannya menukik ke bawah dan roboh keatas tanah. la mati secara misterlus.
Hakim pengejar sukma Nyio Yong telah tewas dihadapan rekan2nya, namun tak seorangpun
yang tahu apa sebabnya tiba2 ia mampus, jangankan mereka sekalipun Han siong Kie yang
berada beberaps depa dihadapannya juga tak melihat sebab musabab yang mengakibatkan
kematian jago lihay itu
Pucat pias wajah para jago dari Thian che kau, rata- rata mereka berdiri tertegun dengan
sukma merasa melayang tinggalkan raganya, kejadian ini sama sekali diluar dugaan semua orang.
Han siong Kie sendiripun terkejut sampai-sampai keringat dingin membasahi jidat dan
punggungnya .
Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kematian Nyio Yong yang secara tiba2 namun ia
tak tahu apa yang menyebabkan kematian musuhnye itu, untuk sesaat ia jadi tertegun dan berdiri
termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ditatapnya mayat Nyoo Yong tanpa berkedip. sementara pikirannya melayang entah sampai
dimana.
Mendadak terdengar jeritan kaget berkumandang lagi memenuhi angkasa, suatu pemandangan
yang sangat mengerikan telah berlangsung didepan mata.
Begitu mencium tanah, mayat Nyoo Yong yang masih hangat itu ternyata meleleh dan
mengalami pembusukan dengan cepat, kemudian selang sesaat mayat itu sudah hancur tinggal
tulang kerangkanya belaka.
Hampir saja Han siong Kie menjerit kaget, bulu kuduknya pada bangun berdiri, kejadian aneh
ini belum pernah ditemuinya semenjak dahulu kala, tidak sampai setengah perminum teh salah
seorang tokoh silat yang berilmu tinggi telah berobah jadi seonggokan tulang kerangka yang putih
mengkilat, bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapakah yang akan percaya bahwa
peristiwa semacam itu benar2 telah terjadi di depan mata ?
Lewat lama sekali dia ter-mangu2, setelah rasa kagetnya hilang ia baru berpaling memandang
ke belakang, pada ujung lembah tersebut ia saksikan sebuah gundukan tanah berbukit, beberapa
pohon raksasa yang amat besar tumbuh disekitar gundukan tanah itu
Di belakangnya adalah sebuah tebing dan sebuah bukit yang tinggi menjulang keangkasa
demikian tingginya bukit itu sehingga menembusi kedalam awan.
Dengan langkah yang ragu-ragu dan penuh kesangsian pemuda itu melanjutkan perjalanannya
memasuki lembah itu dan mendekati gundukan tanah yang berada didepan mata.
Beberapa kaki sebelum mencapai gundukan tanah tadi tiba2 pemuda itu berseru tertahan dan
berhenti.
Di bawah dua batang pohon raksasa berdirilah sepasang makhluk hitam putih yang
mengerikan..
Mereka sama-sama memelihara rambut yang panjang cuma yang hitam sekujur tubuhnya
berwarna hitam pekat sebaliknya yang putih luar biasa putihnya bagaikan salju.
Dengan seksama anak muda itu mengawasi beberapa saat makhluk itu, sekarang ia dapat
memastikan bahwa mereka adalah manusia, sepasang manusia aneh berwama hitam dan putih,
hatinya terasa makin bergidik,
Kedua orang itu duduk bersila saling berhadapan, ke empat buah telapak tangannya
direntangkan kedepan sejajar dengan dada, selisih jarak kedua belah pihak cuma terpaut tiga kaki.
Han siong Kin tertegun- .apa yang telah terjadi? " sekilas pandangan dua orang jago itu
bagaikan sedang mengadu tenaga dalam, tapi mirip juga sedang melatih sejenis ilmu silat.
Bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir saja ia tak percaya kalau dikolong
langit sebenarnya terdapat manusia seaneh itu, yang hitam kulitnya benar- benar hitam mengkilap
seperti tinta, apalagi jubahnya berwarna hitam pula membuat orang itu betul2 serba hitam.
sebaliknya yang putih demikian putihnya seperti sesosok mayat hidup bukan rambutnya
berwarna putih, jubah maupun sepatunya juga berwarna putih. suatu perbedaan warna yang amat
kontras sekali.
JILID29 HAL. 64 HILANG
Dua orang makhluk aneh itu tetap duduk kaku ditempat semula, mereka tidak membuka
matanya pun tidak berkutik barang sedikitpunjuga, padahal semestinya mereka tahu bahwa ada
orang yang mendekati tempat tinggal mereka, terbukti hawa khikangnya telah dipancarkan
melindungi wilayah seluas tiga kaki disekeliting tubuh mereka.
Agak penasaran Han siong Kie ketika tak mampu menerjang maju kedepan dan menghimpun
tenaga dalamnya dan secara paksa menerjang masuk kedalam lingkaran hawa khikang lawan.
Tiba2 dua orang makhluk aneh itu bersamaan waktunya menurunkan telapak tangan mereka
kemudian membuka matanya:
Empat buah sinar mata yang setajam sembilu serentak ditujukan keatas wajah Han siong Kie.
Pada saat ini tenaga dalam yang dimiliki si anak muda itu sudah mencapai dua ratus tahun hasil
latihan, walaupun begitu ketika ditatap secara tajam oleh musuhnya tak urung bergidik juga
hatinya, cepat ia hentikan langkah kakinya membalas memandang lawannya dengan sinar mata
yang tak kalah tajamnya.
Per lahan2 dua orang manusia aneh itu bangkit berdiri dari atas tanah.
sekarang Han siong Kie baru dapat melihat jelas bahwa kedua orang makhluk aneh itu adalah
seorang pria dan seorang wanita, yang laki2 berkulit hitam berambut hitam dan berjubah hitam,
keadaannya tak berbeda dengan balok kayu yang hangus bekas terbakar sedangkan yang
perempuan berambut putih berkulit putih dan berbaju putih, putih seperti batang kayu yang dilapis
saiju.
41
Begitu jelek dan menyeramkan bentuk serta potongan tubuh mereks membikin hati orang jadi
tercekat dan seram.
Han Siong kie boleh dibilang berilmu tinggi dan bernyali besar namun berada dalam keadaan
begini berdiri juga bulu kuduknya.
Mungkinkah makhluk hitam dan putih ini adalah pemilik Lembah Kematian . . ?
Ingatan tersebut melintas didalam benaknya, sementara itu sepasang makhluk aneh itu sudah
berdiri dan saling mengangguk, tiba2 mereka maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan
Han Siong Kie seraya berkata: "Hek pek siang yu menghunjuk hormat kepada majikan"
Kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Han Siong Kie secara beruntun dia mundur lima
langkah kebelakang, untuk sesaat pemuda itu tak mampu berkata2 karena tercengangnya.
Sepasang makhluk aneh yang mengaku Hek pek siang yu, sepasang siluman hitam putih ini
ternyata menyembah dihadapannya sambil menyebut majikan kepadanya, kejadian ini benar2
suatu kejadian yang sangat aneh.
"Hek pek siang yu menghunjuk hormat buat majikan" untuk kedua kalinya sepasang makhluk
aneh itu memberi hormat.
Kali ini Han siong Kie mendengar perkataan itu dengan lebih jelas lagi, sekarang ia baru tahu
bahwa dua orang makhluk aneh itu ternyata tak lain adalah Hek pek siang yu yang sudah puluhan
tahun lamanya lenyap dari permukaan bumi.
Meskipun masa berkelana Hek pek siang yu dalam dunia persilatan amat singkat, namun
pembantaian maut yang mereka lakukan tak terbilang banyaknya.
Bagi pandangan umat persilatan, kedua orang ini adalah iblis pembunuhan manusia yang tak
berkedip. banyak orang segan dan takut kepadanya.
Dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti, Han siong Kie berseru dengan gelagapan:
"Majikan-.? Aku.."
"Betul majikan, engkaulah majikan kami"jawab siluman putih dengan hormat.
sekali lagi Han siong Kie mundur selangkah lebar kebelakang, dia benar2 kebingungan:
"Bagaimana mungkin ? Bagaimana mungkin masa aku adalah majikan kalian??"
"Kami telah bersumpah barang siapa bisa melewati perbatasan mati dan hidup dalam keadaan
selamat dan orang pertama yang bisa menginjakkan kakinya di wilayah lembah Kematian, maka
dialah majikan dari kami kakak adik seperguruan berdua "
"oooh.jadi kalian adaiah suheng moay ??"
"Benar "
"Mengapa kalian hendak menganggap orang pertama yang memasuki wilayah ini sebagai
majikan?" tanya sianak muda itu lagi.
"sebab hanya orang yang berkepandaian tinggilah yang bisa tiba ditempat ini dalam keadaan
selamat, pun juga dia seoranglah yang bisa menolong kami berdua lolos dari tempat ini, selama
lima puluh tahun berselang majikan adalah orang pertama yang bisa tiba dilembah kematian ini
dalam keadaan selamat."
"Jadi kalian bukan penghuni tempat ini, melainkan adalah tawanan yang disekap di sini?".
"Benar" sepasang makhluk aneh itu mengangguk tanda membenarkan.
"Dan kalian telah disekap selama lima puluh tahun lamanya."
"Benar" untuk kesekian kalinya dua orang itu mengangguk.
"siapa yang menyekap kalian ditempat ini?"
"Pemilik benteng maut"
"Apa?" " seru Han siong Kie dengan perasaan terperanjat "jadi kalian disekap pemilik benteng
maut dalam Lembah Kematian ini"
"Begitulah kejadiannya"
"silahkan kalian berdua bangkit berdiri kemudian baru kita lanjutkan pembicaraan ini"
"Kalau begitu majikan telah mengabulkan permintaan dari kami suheng moay berdua ?" tanya
siluman putih sambil mengernyitkan sepasang alis matanya. Han siong Kie termenung dan berpikir
beberapa saat lamanya, kemudian menjawab: "Tentang soal ini..."
"Ketahuilah majikan, bahwa kami berdua sudah menunggu selama lima puluh tahun, atas
tibanya kejadian besar ini" sambung si hitam dengan cepat.
Andai kata tingkah laku Hek pek siang yu di masa talu tidak buas dan keji, niscaya sedari tadi
Han siong Kie sudah mengambil keputusan, tapi justru karena dua orang itu adalah gembong iblis
yang berbahaya, maka mau tak mau dia musti mempertimbangkan dulu permintaan mereka
sebelum akhirnya mengambil keputusan. Maka sesudah termenung sebentar ia baIik bertanya:
"Jadi tujuan kalian adalah mengharapkan agar aku bersedia membawa kalian keluar dari
lembah ini ?"
"Begitulah kira2 maksud kami"
"Apakah kalian yakin kalau aku dapat membawa kalian berdua keluar dari lembah ini ?"
"Tentang soal ini.." sepasang manusia aneh itu agak termangu sebentar, tapi kemudian
serunya "Perduli bagaimanapun juga, inilah sumpah dari kami berdua pada lima puluh tahun
berselang. kami telah bersumpah untuk menganggap orang pertama yang masuk kelembah ini
sebagai majikan kami, selama hidup kami akan menuruti perintahnya, tentang soal mau keluar
dari lembah kematian atau tidak. kesemuanya ini terserah pada kebijaksanaan majikan sendiri"
"Betul sumpah kalian adalah begitu? " Han siong Kie menegaskan lebih jauh.
"Betul "
"Dan sumpah kalian itu selamanya takkan dilanggar??"
"Selamanya kami takkan melanggar "
"Baik, aku mengabulkan permintaan kalian"
"Bolehkah kami mengetahui siapa nama majikan ?"
"Aku adalah manusia bermuka dingin Han siong Kie, ciangbunjin yang akan memerintah di
istana Huan mo kiong "
Dengan penuh rasa hormat sepasang siluman hitam putih menyembah majikannya, kemudian
bangkit berdiri
Pelbagai keheranan dan pertanyaan berkecamuk dalam benak anak muda itu, namun dia tak
tahu persoalan itu musti ditanyakan mulai dari bagian yang mana.
Menurut pengakuan sepasang siluman hitam putih, mereka telah disekap oleh pemilik benteng
maut didalam lembah kematian ini pada lima puluh tahun berselang, sedangkan menurut berita
yang tersiar dalam dunia persilatan baru tiga puluh tahun berselang Temgkorak maut munculkan
diri didunia.
Bila ia tinjau dari usia Tonghong Hui yakni putrinya, kira2 Tengkorak maut telah berusia enam
puluh tahunan lebih atau tujuh puluh tahun sekarang, mungkinkah pada lima puluh tahun
berselang ia sudah memiliki kemampuan untuk menaklukkan sepasang siluman hitam dan putih
yang tersohor karena kelihayannya?
Berpikir sampai disini, dengan wajah serius dia lantas bertanya kepada kedua orang itu:
"Benarkah kamu berdua disekap selama lima puluh tahun ditempat ini.?"
"Betul majikan"jawab siluman putih dengan Cepat.
"Dan kamu disekap oleh Pemilik benteng maut?"
"Benar!"
"Benarkah pemilik benteng maut bergelar juga Tengkorak maut?"
Mendengar pertanyaan itu sepasang makhluk aneh tersebut tampak tertegun dan keheranan:
Lama sekali siluman putih baru menjawab:
"Tengkorak maut? belum pernah kami dengar dengan sebutan nama seperti itu"
"Lalu apakah sebutan lain dari pemilik benteng maut yang menyekap kalian disini?" seru Han
siong Kie dengan sepasang alis matanya berkernyit.
"Kami berdua cuma tahu dia bernama pemilik benteng maut, yang lain sama sekali tidak tahu"
"Yaaa hal ini memang tak bisa salahkan kalian memang sudah terlalu lama kami berdua disekap
ditempat ini, jadi setelah keluar dari lembah ini kalian bersiap sedia untuk mencari balas dengan
pemilik benteng maut?"
Dengan ketakutan sepasang siluman hitam putih mundur selangkah kebelakang sahutnya:
"Tidak. .kami tidak berani berbuat demikian "
"Tidak berani ? Kenapa tidak berani ?" tanya si anak muda itu dengan perasaan tercengang.
Dengan menundukkan kepalanya siluman hitam menjawab:
"Berkat petunjuk dan bimbingan dari beliau, kami berdua dapat melepaskan diri dari dosa yang
amat berat, budi ini belum kami balas, mana berani kami menuntut balas kepadanya?"
"Bukankah kalian berdua yang mengatakan sendiri, bahwa kalian telah disekap disini oleh
pemilik benteng maut??"
"Benar, tapi perbuatannya ini boleh dibilang sebagai maksud baik dari dia orang tua"
"Maksud baik ? Apa maksud perkataanmu itu ?"
"Dia orang tua suruh kami berdiam dan hidup dilembah ini sambil menyesali perbuatan yang
telah kami lakukan selama ini, malahan mewariskan pula ilmu silatnya kepada kami" Berubah
hebat air muka Han siong Kie sehabis mendengar keterangan itu, serunya:
HAL. 14 S/D 17 HILANG
"Terima kasih atas kemurahan hati majikan "
Han siong Kie mendengus dingin ujarnya kemudian:
"Apakah aku boleh tahu apa maksud dan tujuan yang sebenarnya dari kamu berdua ketika
hendak mengangkat sumpah aneh itu dimasa lalu ?"
siluman putih menghela napas panjang setelah termenung sebentar sahutnya dengan wajah
serius:
"Panjang sekali kisahnya untuk diceritakan bagaimana kalau majikan berkunjung dulu ke rumah
kediaman hamba berdua, disitu barulah kami bercerita panjang lebar ?"
Han siong Kie berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk:
Dengan sikap yang sangat hormat Siluman putih mengiakan, bergeraklah perempuan aneh itu
menuju kearah tebing curam dibelakang gundukan tanah itu. sementara siluman hitam mengiringi
di belakang anak muda itu.
selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didalam sebuah goa yang lebar dan cukup
luas, siluman putih segera bergeser kesamping dan mempersilahkan majikannya untuk masuk
lebih dulu katanya:
"Majikan, pemilik benteng maut juga berdiam didalam gua batu ini" sambil menuding kearah
batu karang disebelah kiri lanjutnya:
"Itulah dia tempat mengasingkan diri dibalik tebing karang itu, sudah lima puluh tahun lamanya
tak pernah munculkan diri"
0000dw0000
BAB 62
MENGIKUTI arah yang ditunjukkan Han siong Kie menengadah keatas, ia lihat tebing karang itu
sangat tinggi dan tertutup kabut yang tebal maka sambil mengangguk diapun masuk kedalam goa.
Ruangan didalam gua itu sangat lebar dan kering, diantaranya terbagi pula menjadi tiga buah
goa yang agak kecil.
sesudah duduk diatas sebuah pembaringan batu dalam gua itu, sepasang siluman putih dan
hitam menghidangkan buah2an dan sayur-sayuran kemudian sambil mengambil semangkok air
bersih katanya dengan wajah bersungguh2:
"Disini tiada makanan lain silahkan majikan makan seadanya untuk mengisi perut"
Kebetulan Han siong Kie juga merasa lapar, maka tanpa sungkan2 ia menyikat makanan yang
dihidangkan untuk menangsal perut.
selesai bersantap. dia memerintahkan ke dua orang siluman itu untuk duduk lalu katanya:
"sekarang aku ingin mendengar kisah cerita kamu berdua dari awal sampai akhirnya terkurung
dilembah ini"
Sepasang siluman hitam putih itu tidak langsung menjawab, mereka saling berpandangan
sekejap. kemudian siluman hitam baru berkata dengan lembut:
"sumoay, biar akulah yang akan melaporkan kisah kejadian ini kepada majikan, tentunya
engkau tidak keberatan bukan?" siluman putih mengangguk. "Baik, suheng sajalah yang bercerita"
Perlahan-lahan siluman hitam menghadap ke arah Han siong Kie, lalu ujarnya:
"Majikan silahkan engkau mendengarkan sebuah kisah cerita yang akan kukisahkan berikut ini"
Agak bergolak perasaan hati Han siong Kie sesudah mendengar perkataan itu,pada puluhan
tahun berselang sepasang siluman putih hitam telah malang melintang dalam dunia persilatan,
setiap orang jeri dan
JILID^0 HAL. 22/23 HILANG
merasa sangat setuju dengan rencana dari gurunya itu, suatu hari ketika ketiga orang itu
sedang melakukan perjalanan diatas gunung chin nia, secara kebetulan telah mendapatkan
sepasang Bak ci "
"Bak ci?" seru Han siong Kie tak tahan, ia heran dan tidak mengerti dengan benda yang
disebutkan itu.
"Benar Bak ci adalah sejenis tumbuhan yang sangat langka sekali, bukan saja tak ternilai
harganya bahwa siapapun yang memakannya bisa awet muda dan berbadan sehat. Betapa
gembira mereka bertiga setelah mendapatkan Bak ci yang sangat berharga itu, kebetulan waktu
itu kami memang sedang menuju kebukit Chin nia untuk mencari beberapa macam bahan obat2an
sebagai kekuatan dalam latihan. Karena penemuannya ini maka kamipun lantas meninggalkan
tujuan semula dengan membawa sepasang Bak ci tersebut buru2 kami berangkat pulang ke
gunung."
Berbicara sampai disitu, kembali siluman hitam menghentikan ceriitanya, hawa napsu
membunuh yang sangat tebal tiba-tiba memancar keluar dari balik matanya dan menyelimuti
wajahnya yang hitam pekat, lanjutnya lebih jauh:
"Entah bagaimana kemudian, ternyata kabar berita tersebut telah tersiar luas keseluruh dunia
persilatan, ketika kami bertiga baru saja tiba kembali dirumah, tiba2 beratus-ratus orang jago lihay
dari golongan putih dan hitam melakukan penyerbuan secara besar-besaran, tentu saja tujuan
mereka yang terutama adalah sepasang Bak ci yang berharga itu"
" Karena tibanya bencana yang sangat mendadak ini, puluhan orang murid perguruan yang
waktu itu berkumpul dimarkas segera munculkan diri dan melakukan perlawanan, pertarungan
sengit berlangsung sepanjang malam, banyak anggota perguruan yang tewas ataupun cedera."
sekalipun ilmu silat yang dimiliki Ki Goan thong ketua perguruan Thian it bun sangat lihay
dandan berhasil membinasakan hampir lima puluh orang jago lihay yang menyerbu perguruannya,
tapi lama kelamaan sendiripUn kehabisan tenaga apalagi musuh yang harus dihadapi
HAL. 26/27 HILANG
"suheng biarlah aku yang melanjutkan bercerita"
siluman hitam mengangguk. maka siluman putih melanjutkan kembali ceritanya:
"setelah kejadian itu para jago lihay dari golongan putih maupun hitam yang ikut serta didalam
operasi tersebut melakukan pencarian dan penggeledahan secara besar2an diseluruh kolong langit
untuk menemukan jejak dua orang ahli waris dari perguruan Thian it bun, tapi rupanya mereka
hendak membasmi rumput hingga ke akar2nya sehingga tidak meninggalkan bencana dikemudian
hari. Karena penggeledahan secara besar- besaran itu, terpaksa sepasang kakak beradik
seperguruan itu melarikan diri keatas gunung yang terpencil untuk menyembunyikan diri sambil
melatih ilmu silat perguruannya. Delapan tahun kemudian mereka muncul kembali ke dalam dunia
persilatan dan melakukan pembantaian secara besar-besaran untuk menuntut balas atas sakit hati
yang telah menimpa perguruannya"
"Dan kedua orang ahli waris dari Thian it bun itu tentulah kalian berdua bukan?" seru Han siong
Kie kemudian.
"Tebakan majikan memang sangat tepat. Kedua orang itu memang tak lain adalah kami
berdua"
"Dan sepasang Bak ci tersebut telah kalian makan "
"Benar "
"Itu berarti semestinya wajah kalian tetap awet muda, kenapa sekarang malahan..."
"Maksud majikan, kenapa wajah kami berdua pada saat ini malahan berubah jadi makhluk aneh
yang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan ini ?"
"Jadi raut wajah tersebut bukan raut wajah kalian yang sebenarnya?" bukan menjaweb. Han
siong Kie malahan balik bertanya.
"Bukan, raut wajah kami yang asli tidak begini. Ketika kami sedang berlatih ilmu silat diatas
sebuah bukit, kami telah salah makan dua biji buah liar, dalam beberapa hari saja raut wajah kami
telah berubah jadi seaneh ini, oleh sebab itulah setelah turun gunung kami dianggap orang
sebagai makhluk siluman- dan dari sini pula orang lantas menyebut kami sebagai Hek pek siang
yu"
"0ooh, kiranya begitu"
"Maka dendam dan benci yang berkecamuk dalam dada kami berdua sukar dikendalikan lagi"
siluman putih melanjutkan, "maka setelah turun gunung kami mulai melakukam pembalasan
dendam, bukan saja musuh besar kami basmi bahkan keturunannya juga kami jagal secara keji,
hanya dalam sebulan saja sudah hampir seribu orang manusia yang kami bunuh, kejadian ini
segera menimbulkan rasa gusar dari umat persilatan dikolong langit, mereka bersatu padu untuk
menghadapi kami berdua.." Ia berhenti sebentar untuk tarik napas, lalu tambahnya:
"Dalam suatu pertempuran sengit yang kemudian berlangsung, kami berdua dikerubuti oleh
tiga ratus orang lebih jago2 persilatan dari seluruh pelosok dunia, keadaan kami sangat kritis dan
hampir saja jiwa kami melayang ditangan mereka, untung majikan lembah ini munculkan diri tepat
pada waktunya dan loloslah kami berdua dari ancaman bahaya maut, sejak itulah kami lantas
diboyong kelembah kematian ini dan harus berdiam disini untuk menyesali perbuatan kami selama
ini, kami memang bertobat karena beribu-ribu orang telah kami bunuh selama ini, begitulah dalam
sekejap masa lima puluh tahun sudah lewat tanpa terasa.."
"Kalau begitu sampai sekarang kalian masih belum melaksanakan perintah dari mendiang
gurumu?"
"Pesan terakhir apa?"
"Bukankah gurumu memerintahkan kepada kalian berdua untuk menikah dan menjadi suami
istri?"
siluman putih tundukkan kepalanya rendah2 dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
sedangkan siluman hitam segera menjawab:
"Tentang soal ini sampai sekarang belum kami laksanakan sebab kami berdua telah bersumpah
kecuali wajah kami dapat pulih kembali seperti sedia kala kami tak akan menikah"
Han siong Kie manggut2.
"sungguh sukar untuk melewatkan saat hidup selama lima puluh tahun lamanya tanpa
melanggar tata kesopanan, kalian memang beriman tebal... aku merasa sangat kagum..."
"Aah .. majikan terlalu memuji "
"Bagaimanakah caranya untuk memulihkan kembali raut wajah kalian yang rusak ini."
"Menurut keterangan yang diberikan majikan lembah ini kepada kami, buah liar yang telah kami
salah makan bernama Gi heng tok ko buah racun perubah wajah, dikolong langit dewasa ini hanya
ada seorang manusia yang bisa memunahkan racun buah itu dan dialah yang bisa memulihkan
kembali raut wajah kami berdua menjadi wajah yang aslinya"
"siapakah orang itu ?"
"orang itu bernama Ban tok cousu "
"Ban tok cousu ? Belum pernah aku dengar tentang nama tokoh silat ini "
"Benar, menurut keterangan yang berhasil kami kumpulkan, kemungkinan besar Ban tok cousu
sudah lama meninggalkan dunia ini, kami berharap bisa menemukan ahli warisnya"
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan seseorang yakni Tok kun Dewa racun Yu Hoa yang
sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan Thian che kau, mungkinkah dia ahli waris yang
dimaksudkan?
"Aaah,. asal persoalan ini kutanyakan kepada engkoh tua pengemis dari selatan urusan pasti
akan beres" pikirnya dihati.
Diapun tidak mengungkapkan jalan pikirannya itu, hanya ucapnya dengan hambar:
"Kalau toh di dunia ada manusia yang bernama Ban tok cousu, rasanya tidak sulit untuk
menemukan ahli warisnya. ooh iya apakah kalian mengetahui keanehan serta kemisteriusan
apakah yang telah menyelimuti lembah kematian ini sehingga suasananya seram ini?"
Dengan penuh rasa hormat siluman hitam menerangkan.
"Disekitar mulut lembah kematian tumbuh sejenis rumput beracun yang tiada taranya dikolong
langit, rumput itu bernama sip poh Pak kut cau (rumput sepuluh langkah tulang putih) sampai
dimanapun kepandaian silat yang kau miliki bila rumput itu tersentuh maka sepuluh langkah
kemudian tubuhnya akan hancur.
JILID30 HAL. 34/35 HI LANG
"ouyang cianpwe juga sangat lihay dalam ilmu meramal, dia memiliki kemampuan untuk
meramalkan kejadian yang akan datang, ketika kami berdua masuk kedalam lembah ini, untuk
pertama kalinya beliau telah meramalkan bahwa lime puluh tahun kemudian kami berdua bakal
ditolong oleh orang pertama yang memasuki lembah ini dan selanjutnya muncul kembali dalam
dunia persilatan oleh sebab rahasia itu maka kami berdua lantas bersumpah akan menganggap
orang pertama yang memasuki lembah ini adalah majikan kami" Han siong Kie berdiri tertegun
sesudah mendengar keterangan itu, pikirnya:
"Kalau toh owyang Beng memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang,
kenapa ia tak dapat meramalkan kalau orang pertama yang akan masuk kedalam lembah ini
sebenarnya tak lain adalah musuh bebuyutan dari benteng maut?" Belum habis dia berpikir tiba2
siluman hitam telah berseru lagi dengan lantang:
"ooooh ya hampir saja kelupaan, sebelum menutup diri tempo hari, ouyang cianpwe telah
meninggalkan secarik kertas yang katanya kertas itu harus di serahkan kepada orang pertama
yang memasuki lembah ini. Dan orang yang dimaksudkan itu pastilah majikan"
Habis berkata dia lantas masuk kedalam gua batu yang ada di sebelah kanan, selang sesaat
kemudian dia telah muncul kembali sambil membawa secarik kertas kuning.
Dengan sikap yang sangat hormat kertas kuning itu lantas diangsurkan ketangan Han siong Kie.
Berdebar juga hati sianak muda itu menerima kertas kuning itu, dengan jantung yang berdetak
keras dia membuka lipatan kain kuning itu dan membaca isinya.
Ternyata isi kertas ini hanya beberapa bait kata yang sama sekali tak diketahui makna artinya:
"Tipu muslihat banyak didunia, bencana timbul karena saudara yang tak akur. Disaat dendam
tertera nyata, disanalah penghianat terbasmi lenyap"
Han siong Kie termasuk seorang pemuda yang cerdas dan berotak encer, tapi meskipun ia
sudah berulang kali mengulangi kata2 dari syair tersebut, toh tak berhasil juga memecahkan arti
kata2nya itu.
Andaikata keempat bait syair tersebut benar2 memang dibuat oleh ouyang Beng pemilik
benteng maut yang pertama khusus untuk dirinya, maka bait yang pertama tak perlu diterangkan
sudah jelas artinya.
Kemudian pada bait kedua dikatakan Bencana timbul karena saudara yang tak akur, dari sini
menunjukkan bahwa bencana yang sedang berlangsung sekarang timbulnya dari dua bersaudara
yang kurang akur hubungannya satu sama lain, lalu siapakah yang dtmaksudkan sebagai saudara
yang tidak akur itu ?
Pada bait ketiga dikatakan Disaat dendam tertera nyata padahal pada saat ini dia sudah tahu
bahwa musuh besarnya adalah tengkorak maut, apanya lagi yang kurang nyata ?"
Kemudian pada bait yang terakhir digunakan kata pengkhianat siapakah penghianat tersebut ?
Teka teki, suatu teka teki yang susah untuk dipecahkan.
Mereka tak dapat menyelusuri makna dari bait syair tersebut, terpaksa Han siong Kie
menyimpan kembali kertas kuning itu kedalam sakunya dengan suara agak emosi dia bertanya:
"Benarkah tulisan ini ditinggalkan owyang Beng pada lima puluh tahun berselang?"
siluman hitam mengangguk.
"Betul majikan sejak menutup diri pada lima puluh tahun berselang beliau tak pernah
munculkan diri lagi dari tempat pertapaannya itu"
"Apakah dia mengasingkan diri dalam dinding bukit ini"
"Apakah majikan ingin-.."
"Benar, aku ingin sekali berjumpa muka dengan dia orang tua"
"Dinding tebing ini hampir boleh dibilang tegak lurus dan curam sekali, jangankan manusia
monyetpun tak mampu untuk memanjatnya, lagipula kita toh tak tahu dimanakah owyang cianpwe
mengasingkan diri, kejadian tersebut sudah terjadi setengah abad lamanya, siapa tahu beliau
sudah pulang ke alam baka"
"Betul juga perkataan ini" pikir Han siong Kie di dalam hati, "toh aku tak ada kepentingan apa2
untuk menjumpainya, buat apa musti bersusah payah ?" Maka diapun alihkan pokok pembicaraan
kesoal lain-lainnya.
"Apakah kalian berdua sudah bulatkan tekad untuk mengangkat aku sebagai Majikan mu"
"sumpah yang telah kami lakukan tak akan kami ingkari kembali" jawab sepasang siluman putih
hitam bersama .
"Aku boleh sama membawa kalian keluar dari lembah ini, tapi kalian tak usah menyebut begitu
kepadaku, aku anggap saja diriku ini adalah sobat kalian ?"
"Tidak sumpah yang telah diucapkan tak boleh diingkari lagi" jawab, kedua orang itu tegas.
"seandainya aku tidak bersedia lantas bagaimana ?" tanya Han siong Kie tiba2. sepasang
siluman hitam putih tertegun, lama sekali siluman hitam baru berkata.
"Kalau memang demikian adanya, itu berarti kami berdua sudah tak punya muka untuk muncul
kembali dalam dunia persilatan, daripada hidup menanggung derita, lebih baik membereskan
nyawa sendiri saja"
Agak lama Han siong Kie termenung, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, lalu
diapun berkata:
"Begini saja, kalau aku disebut majikan... majikan.. geli rasanya hatiku, maka biarlah aku
mengambil jalan tengah, mulai hari ini kalian akan kuterima sebagai anggota perguruan Thian
lam, dan kalian sebut aku sebagai ciangbunjin, bukankah hal ini lebih enak di dengar??"
Buru2 sepasang siluman Hitam dan Putih jatuhkan diri berlutut keatas tanah.
"Tecu menghunjuk hormat buat ciangbunjin" seru mereka hampir berbareng.
"Bangunlah, setelah keluar dari lembah ini aku akan berusaha keras untuk memunahkan racun
Gi hang tot ko yang bersarang ditubuh kalian, setelah raut wajah kalian pulih kembali seperti sedia
kala maka kalian berduapun bisa memenuhi perintah dari mendiang guru kalian "
"Terima kasih atas bantuan cianbunjin" sahut kedua orang siluman itu setelah memberi hormat
merekapun bangkit berdiri
sekarang Han siong Kie baru teringat akan tujuan kedatangannya ketempat itu, sesudah
memeriksa sebentar kedalam goa itu katanya.
"Aku membutuhkan sebuah ruang yang bagus untuk mempelajari ilmu kepandaian, setelah itu
maka kitapun akan meninggalkan tempat ini"
"Ciangbunjin"" ujar siluman putih "tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah gua alam yang
bersih dan tenang, biarlah tecu pergi membereskan gua itu"
"Baik pergilah cepat"
selang beberapa saat kemudian siluman putih telah muncul kembali didalam gua tersebut
katanya:
"silahkan ciangbunjin menuju kedalam goa itu, makanan dan minuman setiap hari tecu akan
mengaturnya buat ciangbunjin"
Dengan penuh rasa haru dan berterima kasih Han siong Kie memandang sekejap kearah
sepasang siluman itu kemudian diapun melangkah keluar dari goa itu.
Benar juga, kurang lebih sepuluh kaki dari gua tersebut terdapat sebuah goa lain yang terdiri
dari batu2 cadas berwarna putih, setelah lima kaki memasuki goa tersebut, luas goa itu mencapai
tiga kaki lebih, tempat itu memang merupakan sebuah tempat berlatih silat yang paling ideal.
Setelah sepasang siluman hitam putih minta diri, dari sakunya Han siong Kie mengambil keluar
sarung tangan Hud jiu popit dan mulai memeriksanya dengan teliti.
setelah itu pelajaran yang tertera disana mulai dibaca, diteliti, diamati dan diselami artinya.
Dalam waktu singkat semua konsentrasi dan pikirannya telah terpusat menjadi satu, ia lupa
akan segala2nya kecuali mempelajari dan menyelami arti dari pelajaran yang didapatkan itu.
Waktu berlalu dengan cepatnya, baberapa hari sudah lewat tanpa terasa.
selama ini kadang kala tiga lima hari
JILID 30 HAL. 44 S/D 47 HILANG
itu termangu2, akhirnya dengan penuh emosi mereka berseru:
"Ciangbunjin, boleh kah kami tahu apakah hari ini juga kita akan tinggalkan lembah ini?"
Han siong Kie mengangguk.
"Betul dan kalian berdua boleh segera membereskan barang2 milik kamu berdua, sekarang
juga kita akan keluar dari lembah ini"
sudah lima puluh tahun sepasang siluman itu terkurung dalam lembah tersebut, bisa
dibayangkan betapa gembiranya dua orang itu setelah akan muncul kembali dalam dunia
persilatan, tanpa banyak bicara lagi mereka kabur kembali kedalam guanya dengan wajah berseri.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata yang tajam mengawasi keadaan disekitar tempat itu,
lalu dia melompat naik ke atas sebuah dinding cadas yang besar dan tingginya mencapai sepuluh
kaki lebih, dengan bacokan telapak tangannya ia membuat sebuah lubang diatas batu tersebut,
kemudian memasukkan sarung tangan Hud jiu popit ke dalam lubang batu tadi dan setelah itu
batu cadas yang amat besar itu didorong menempel diatas dinding bukit dan menutupi bagian
yang berlubang tadi..
Dengan begitu, maka benda mustika dunia persilatanpun tersimpan untuk selamanya dalam
sebuah batu cadas raksasa yang amat besar dan berat itu, siapapun jangan harap bisa
mendapatkannya kembali.
sementara itu sepasang siluman juga sudah selesai bebenah, mereka masuk gua tempat
tinggainya selama ini, dan dengan membekal senjata andalan mereka dimasa lalu, buru2
menghampiri pemuda tersebut.
sementara itu Han siong Kie sedang memandang ujung lembah itu dengan sorot mata setajam
sembilu. katanya kemudian dengan suara dingin:
"Setelah keluar dari lembah ini, kita akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran"
"Melakukan pembunuhan?" tanya sepasang siluman dengan wajah tertegun.
"Benar, sewaktu hendak masuk lembah ini, aku telah melangsungkan pertarungan melawan
tokoh2 sakti dari perkumpulan Thian che kau, salah seorang diantara mereka yang dinamakan
utusan Thian che kau telah mampus dalam lembah ini, bila dugaanku tidak meleset, sudah pasti
mereka telah mengurung mulut lembah ini sambil menunggu kemunculanku"
JILID 30 HAL. 50/51 HILANG
Jago2 lihaynya untuk menyumbat mulut lembah tersebut, padahal sudah tiga bulan lamanya ia
berdiam dalam lembah kematian untuk mempelajari si mi sinkang yang tercantum dalam Hud jiu
popit dan sekarang terbukti bahwa musuhpun melakukan patroli selama tiga bulan disekitar
perbatasan, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa musuh memang tidak berhasrat untuk
melepaskan dirinya.
Dalam pada itu ke dua belas orang laki2 baju hitam itu telah berhasil melihat jelas keadaan
lawannya, tiba2 mereka menunjukkan wajah tercengang, kaget dan ngeri, tanpa disadari
beberapa orang itu telah mundur beberapa langkah kebelakang.
Kiranya mereka telah menyaksikan makhluk setengah manusia setengah setan yang berada di
belekang Han siong Kie, yakni Hek pek siang yu yang menyeramkan itu.
sebagai mana diketahui Hek pek-siang yu memiliki tampang yang mengerikan sekali, siapapun
yang melihat tampang itu niscaya akan bergidik dan ketakutan setengah mati.
setelah mundur sampai beberapa kaki jauhnya, kedua belas orang laki2 baju hitam itu baru
berhenti mundur, salah seorang di antaranya lantas bersuit nyaring, suitan tersebut panjang,
tajam dan menjulang jauh ke udara.
Hek pek siang yu menunjukkan sikap menghina, tiba2 mereka bertanya dengan suara dalam:
" Ciangbunjin, kawanan tikus dan kacoak ini berasal dari aliran atau perguruan mana?"
"Mereka ? siapa lagi kalau bukan anak buah dari perkumpulan Thian che kau??"
"Apa maksud mereka menunggu disini?? "
"Apa lagi? Tentu saja menunggu kemunculanku"
"Jadi kawanan manusia ini juga yang selama ini mengejar dan menyerang Ciangbunjin?"
Han siong Kie tidak menjawab, tapi dia mengangguk.
sepasang siluman hitam dan putih segera mendengus dingin, siluman hitam menyingkir
kesamping dan memberi hormat, katanya:
"ciangbunjin, berilah petunjuk kepada hamba bagaimana caranya kita harus selesaikan
kawanan babi itu?"
"Bunuh sampai ludas" jawab Han siong Kie ketus.
Ucapan tersebut ibarat bunyi terompet malaikat elmaut yang hendak mencabut nyawa
manusia, tanpa disadari dua belas orang laki2 baju hitam itu bergidik dan mengucurkan peluh
dingin, pedang mereka dipegang semakin erat, bahkan kelihatan bergetar keras, jelas orang2 itu
sudah siap melancarkan serangan.
sepasang malaikat hitam putih menjengek sinis, tiba2 mereka membentak nyaring kemudian
menerjang kearah gerombolan manusia itu.
Perlu diketahui dua belas orang laki2 baju hitam itu adalah jago2 kelas dua dalam perkumpulan
Thian che kau, mungkin nama mereka cemerlang dan disegani orang dalam dunia persilatan maka
mereka diutus untuk melakukan patroli di sepanjang perbatasan antara mati dan hidup,
Tapi sekarang, tatkala dilihatnya dua orang makhluk aneh hitam dan putih itu menerjang tiba,
serentak mereka saling berpandangan kemudian menyebarkan diri ke empat penjuru sambil
berteriak mereka putar senjata dan menyambut tibanya serangan "Haahhh haaaahh haaahhh"
"Hiiiihhh hiiiihhh hiiiihhh"
Ditengah gelak tertawa aneh yang satu keras dan yang lain lembut sepasang manusia hitam
putih telah menerkam kedalam lapisan pedang dan menyambar musuh2nya.
Jerit kesakitan, dengusan berat menjelang sekarat berkumandang dlangkasa men-cabik2
kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu.
Hancuran badan ceceran darah berhamburan menodai perrmukaan tanah, keadaan disaat itu
benar2 mengerikan-
Tapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama hanya sebentar tak sampai seperminum teh
suasana pulih kembali dalam keheningan-
Tiada manusia yang hidup lagi disitu, kecuali Han siong Kie bertiga, dua belas orang lelaki
perkasa itu kini sudah berubah adi mayat, mayat2 yang tak utuh dan berlepotan darah kental.
Hanya dalam beberapa gebrakan Hek pek-siang yu telah membereskan dua belas orang jago
Thian che kau, kelihayan tersebut cukup mengagumkan, diam2 Han siong Kie menggukkan
kepalanya berulang kali.
00d00000w00
BAB 63
SELESAI membereskan kedua belas orang musuhnya, sepasang siluman hitam putih berjalan
kembali kehadapan Han siong Kie, kemudian berkata: " Ciangbunjin, tecu berdua telah
menyelesaikan tugas ini dengan sempurna"
"Bagus" puji si anak muda itu, "mari kita tinggalkan tempat."
Ucapan itu belum habis diucapkan tiba2 dari depan sana muncul tiga sosok bayangan manusia,
cepat sekali gerak tubuh ketiga orang itu.
Han siong Kie lantas membatalkan perkataannya dengan pandangan setajam sembilu dia awasi
orang2 tersebut.
Kiranya orang yang baru datang adalah san tianjin (telapak tangan kilat) se bun Lui, salah
seorang diantara utusan Thian che kau didampingi dua orang kakek jubah hitam.
setibanya ditempat kejadian ketiga orang itu memandang sekejap mayat yang bergelimpangan
ditanah lalu berseru kaget, enam buah sorot mata secepat kilat dialihkan ke wajah Han siong Kie
bertiga.
Tatkala sinar mata mereka bertemu pandang dengan Hek pek siang yu untuk kesekian kalinya
tiga orang kakek jubah hitam itu menjerit tertahan, pucat pias wajah mereka.
Tampang aneh dari Hek pek siang yu tiada keduanya didunia ini, meskipun mereka adalah
gembong2 iblis yang sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, namun dalam sekilas
pandangan saja baik se bun Lui maupun dua orang kakek lantas mengetahui siapa gerangan
mereka itu.
Hek pek-siang yu yang disegani dan ditakuti orang ternyata masih hidup didunia bahkan berada
dalam satu rombongan dengan Han siong Kie, peristiwa ini benar2 diluar dugaan dan mengejutkan
hati siapa pun juga.
selain itu merekapun heran bahwa Han siong Kie berhasil keluar dari lembah kematian dalam
keadaan hidup walaupun sudah tiga bulan lamanya tak muncul kembali dari situ.
JILID30 HAL. 58/59 HILANG
bermaksud untuk melakukan pengejaran sesudah termenung dan berpikir sejenak, akhirnya
kepada sepasang siluman itu dia berkata: "Hayo, kitapun pergi dari sini "
Dengan gerakan cepat ia lantas berangkat lebih dulu tinggalkan tempat tersebut, Hek pek siang
yu juga tidak mengatakan apa2, dengan cepat mereka bertiga sudah jauh meninggalkan tempat
semula, mulut lembah nampak nun jauh didepan sana.
sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan seorang manusiapun, suasana hening, sepi
dan tak nampak seorang manusiapun.
setelah berhasil dengan ilmu saktinya, Han siong Kie tidak memikirkan soal2 yang lain, hanya
satu menjadi beban ingatannya selama ini yakni menuju kebenteng maut untuk membalas
dendam.
Tiga li kemudian mereka akan tiba di mulut lembah tersebut, disaat itulah mendadak terdengar
seseorang membentak keras, suaranya nyaring ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari
bolong.
"Berhenti"
Han siong Kie terperanjat, cepat dia hentikan gerak tubuhnya, ia tak tahu suara itu berasal dari
balik hutan lebat kurang lebih sepuluh kaki disisi kanannya.
Hek Pek siang yu tak dapat mengerem gerak tubuhnya yang terlanjur bergerak cepat itu,
mereka harus berlarian tiga kaki lagi sebelum berhasil mengendalikan tubuhnya dan berhenti.
"siapa?" bentak Han siong Kie kemudian dengan suara dingin.
"Aku nak. jangan gugup" sahut orang itu.
Han siong Kie semakin terperanjat, sebelum ia sempat berbuat sesuatu ibarat peluru yang
meluncur kedepan, tahu2 sepasang siluman hitam putih sudah melayang kearah mana berasalnya
suara itu.
Pelbagai ingatan dengan cepat melintas dalam benak sianak muda itu, cepat ia memburu pula
kedepan kearah mana berasalnya suara itu.
sesosok bayangan manusia tiba2 menyongsong datang dengan cepatnya karena sama sekali
tidak menduga, hampir saja saling bertumbukan satu sama lainnya
Ditengah jeritan kaget dari kedua belah pihak. orang itu melayang turun keatas permukaan
sementara Han siong Kie sendiripun cepat menahan gerakan tubuhnya.
orang itu ialah seorang perempuan, bahkan seorang perempuan berkerudung hitam meskipun
tak dapat dilihat bagaimanakah raut wajahnya, tapi Han siong Kie tahu siapakah dia.
Dalam pada itu Hek pek siang yu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah melayang
pula kedalam gelanggang, begitu mencapai tempat tersebut, serentak mereka menerjang
perempuan berkerudung itu.
42
"Mundur... jangan gegabah" bentak Han Siong Kie tiba2 dengan suara lantang.
Sepasang siluman hitam putih tercengang, cepat mereka tarik kembali serangannya dan
mundur sejauh tiga kaki dari tempat semula, dengan pandangan keheranan ditatapnya pemuda itu
tak berkedip.
"cianpwe" " kata Han Siong Kie kemudian sambil memberi hormat kepada perempuan
berkerudung itu, "maafkanlah kekasaran serta kecerobohan beanpwee"
Siapa gerangan perempuan berkerudung itu ? Dia tak lain adalah manusia misterius yang
menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma.
Tatkala mendengar suara bentakan tadi, rupanya Han siong Kie sudah tahu bahwa ia sedang
berhadapan dengan orang yang kehilangan sukma, tapi berhubung dia ingin mengetahui raut
wajah asli dari perempuan misterius itu, maka bukan saja tidak mencegah sepasang siluman untuk
menerjang ke muka, malahan dia sendiripun menyergap masuk kedalam hutan dengan
mengerahkan dua belas bagian hawa saktinya.
Dan kala ini tujuannya tercapai, perempuan misterius yang bernama orang yang kehilangan
sukma itu tak sempat menyembunyikan diri lagi.
Tapi pemuda itu merasa kecewa, sebab perempuan itu menutupi wajahnya dengan kain
kerudung hitam, akhirnya toh ia tak berhasil juga untuk melihat paras muka dari perempuan
misterius itu.
Sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata dengan lembut:
"Nak. rupanya Thian selalu melindungi engkau, akhirnya kau bisa keluar dari lembah kematian
dengan selamat"
"Terima kasih atas perhatian dari cianpwe" "sahut pemuda itu cepat-cepat.
selama mulutnya berbicara sorot matanya yang tajam mengawasi potongan badan orang yang
kehilangan sukma tanpa berkedip. diam-diam ia merasa amat kenal dengan potongan tubuh
perempuan ini, hanya ia lupa dimanakah ia pernah bertemu dengannya.
Ketika sinar matanya beralih kearah lengan baju kanannya, ia bergetar keras seperti kena listrik
tubuhnya gemetar menahan emosi:
" Itulah pengorbanan dari orang yang kehilangan sukma untuk membebaskan totokan jalan
darah pada tubuhnya, dia telah mengorbankan lengan kanannya dan lengan tersebut hingga
sekarang masih tersimpan di sakunya.
JILID 31 HAL.04 S/D 5 HILANG
lembah, carilah jalan keluar yang lain dan segeralah engkau tinggaikan tempat ini"
"sayang sudah terlambat" tiba2 serentetan suara dingin menyeramkan membelah kesunyian.
sekujur badan orang kehilangan sukma gemetar keras, secara beruntun dia mundur beberapa
langkah lebar kebelakang.
Rasa kejut yang dialami Han siong Kie pun sukar dilukiskan dengan kata2, ia percaya tenaga
dalamnya pada saat ini sangat lihay, tapi kenyataannya ada orang berhasil mendekat wilayah
sekitar lima kaki dari tempat mereka beradapun tidak dirasakan olehnya, dari sini dapat ditarik
kesimpulan sampai dimanakah kelihayan musuhnya itu.
Hek Pek siang yau sepasang siluman hitam putih juga sudah menyadari akan kelihayan
musuhnya, mereka lantas bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Dari balik popohonan lima kaki dari gelanggang, muncul tiga sosok bayangan manusia, orang
pertama adalah seorang manusia aneh berkerudung hijau, dia adalah Thian Che kaucu,
dibelakangnya mengikuti dua orang kakek jubah hitam yang mempunyai sulaman matahari,
rembulan dan bintang didadanya, salah seorang diantaranya adalah Tangan kilat see bun Lui.
Paras muka Han siong Kie berubah hebat, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya.
sikap orang yang kehilangan sukmapun amat serius, dengan suara lirih dia berbisik kepada Han
siong Kie:
"Manusia berkerudung itu adalah pemimpin dari Utusan Thian che kau, orang sebut dirinya
sebagai Cian jiu mo ong (raja iblis bertangan seribu) Tong ciao, selama ini dialah yang selalu
menyaru sebagai ketua. Hari ini, ketiga orang itu jangan sekali-kali kau lepaskan dalam keadaan
hidup, sebab bila seorang saja diantara mereka masih hidup, maka akibatnya sukar dilukiskan
dengan kata-kata" Han siong Ki mengangguk dan memberikan kesanggupannya.
Dalam pada itu, raja iblis bertangan seribu Tong ciau sudah berpaling kearah orang yang
kehilangan sukma, kemudian sambil tertawa seram ejeknya:
"Heeehhh . . heeehhh . . heeehhh. .Aku mengira siapa yang berada disini, tak tahunya adalah
kau"
Ucapan tersebut membuat Han siong Kiejadi tertegun dia lantas berpikir dihati:
"Masakah orang yang kehilangan sukma adalah anggota perkumpulan Thian che kau? Kalau
tidak kenapa orang ini mengenalinya ?"
Sementara itu orang yang kehilangan sukma telah membentak nyaring: "Tutup mutut
anjingmu"
Jelas sekali maksudnya dia tidak mengharapkan orang itu meneruskan kata-katanya lebih jauh.
Kepada Han siong Kie kembali dia berbisik,
"Ingat, jangan biarkan mereka tetap hidup, akan kubantu dirimu secara diam-diam" selesai
berkata dia lantas melejit keudara dan kabur dari tempat kejadian.
"Mau lari kemana kau ?" bentak Raja iblis bertangan seribu Teng Ciau dengan keras, secepat
kilat ia menerkam kemuka.
Han siong Kie mendengus dingin, tubuhnya bergeser setengah langkah ke samping lalu
melepaskan sebuah pukulan gencar, dalam serangan tersebut dia telah sertakan hawa sakti si mi
sinkang yang di milikinya, bukan saja tidak menimbulkan suara kekuatannya sangat mengerikan-
"Blaaang" suatu benturan nyaring menggelegar diangkasa, raja iblis bertangan seribu Teng ciau
yang sedang melakukan pengejaran segera terpental hingga mencelat sejauh delapan depa dari
tempat semula.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah, orang yang kehilangan sukma melarikan diri
dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan-
Kejadian ini sangat mengejutkan dua orang utusan Thian che kau yang lain, hampir saja
mereka menjerit kaget.
selama hidup belum pernah mereka saksikan kemampuan sedahsyat itu, dan mimpipun mereka
tak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki pemimpin utusan Thian che kaupun ternyata
pemuda itu tak mampu dihajar sampai menceat.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata setajam sembilu mengawasi manusia berkerudung itu
tanpa berkedip. mukanya seram dan penuh diliputi hawa napsu membunuh mengerikan sekali
keadaannya.
JILID 31 HAL. 12/13 HILANG
sukma bagaikan menghormati orang tua sendiri ketika didengar pihak musuh memaki orang
yang dihormati sebagai perempuan hina, kontan saja ia naik pitam.
"Tutup mulut anjingmu yang baur bentaknya, "Teng ciao tempat inilah tulang belulang kamu
bertiga akan terkubur untuk selamanya "
"Anjing cilik, kematian sudah berada didepan mata, buat apa engkau masih saja mengibul
seenaknya ?" ejek Tangan kilat se bun Lui tak kalah sengitnya.
Han siong Kie tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, dia ulapkan tangannya kepada
Hekpek siang yu lalu, serunya:
" Hantar kedua ekor anjing ini pulang keakherat, jangan biarkan mereka tetap hidup dikolong
langit "
Dengan sikap yang sangat hormat sepasang siluman mengiakan tanpa banyak bicara lagi
mereka menerjang dua orang utusan Thian che kau itu.
siluman hitam menerkam si Tangan kilat se bun Lui, sementara siluman putih menerjang
utusan Thian che kau yang lain-
Han siong Kie sendiri dengan wajah sedingin es menghampiri Raja iblis bertangan seribu,
katanya:
"Teng ciao sudah terlampau lama engkau mencicipi kehidupan didunia ini, sekarang pun
ciangbunjin akan mengirim kau untuk berpesiar keakhirat, Nah berangkatlah sekarang juga"
seraya berkata selangkah demi selangkah ia menghampiri lawannya. Suatu pertarungan sengitpun
segera berkobar dalam gelanggang.
Ilmu silat yang dimiliki dua orang utusan Thian che kau itu, memang sangat lihay, dalam
keadaan terdesak mereka harus melangsungkan pertarungan adu jiwa yang mengerikan-
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau adalah pengganti dari Thian che kaucu, tentu saja tenaga
dalamnya amat sempurna, dia hanya kalah setingkat dari kaucu sendiri
Tatkala Han siong Kie menerjang masuk kewilayah Lian huan tau dan menolong Go siau bi,
kedua belah pihak pernah terlibat dalam suatu pertempuran sengit waktu itu, kendatipun Han
siong Kie dan Go siau bi sudah bekerja sama toh bukan tandingannya juga, maka ia sama sekali
tak memandang sebelah matapun kepada musuhnya.
selama ini dia hanya menguatirkan Pertarungan dari Hekpek siang yu, seorang gembong iblis
yang sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari keramaian dunia, setelah melihat bagaimana dua
orang jago yang disegani itu bertarung melawan dua orang rekannya, diapun setengah menjadi
lega. kini dia lupa untuk mengejar orang yang kehilangan sukma, memandang Han siong Kie yang
makin mendekat, gembong iblis tersebut lantas tertawa seram, katanya:
"Manusia bermuka dingin, masih mengharapkan tidak untuk melanjutkan keturunan dan
kejayaan dari Mo tiong ci mo?"
Han siong Kie menghentikan langkahnya lalu menjawab:
"Teng ciau, tak tak usah mempersoalkan yang lain, ketahuilah... jika Thian che kaucu masih
bersembunyi terus macam kura-kura, maka manusia-manusia pengganti macam engkaulah yang
bakal sial, sebab ini hari engkau sudah pasti akan berangkat menuju ke akherat"
Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan, secepat kilat dia melancarkan tiga buah pukulan
berantai ke depansekilas
pandangan, ketiga buah serangan tersebut sama sekali tidak nampak lihay ataupun
mengerikan, tapi justru dibalik kelembutan itu terselip hawa sakti si mi sinkang yang memiliki daya
penghancur, bukan begitu saja, bahkan kecepatannya melebihi apa pun juga.
Raja iblis bertangan seribu Tong cian sedikitpun tidak jeri, telapak tangannya lantas disilangkan
didepan dada dan menangkis semua ancaman yang tiba. "Biang Blaang Blaaang " Tiga kali
benturan dahsyat menggelegar diangkasa.
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau tergetar keras dan mundur tiga langkah, rasa kejutnya
kian menjadi, dia tak menyangka hanya berpisah beberapa bulan, ternyata kekuatan tenaga yang
dimiliki musuhnya sudah meningkat sehebat itu.
Padahal ia sendiri disebut orang Raja iblis bertangan seribu, tentu saja tenaga dalam yang
dimilikinya amat sempurna, ia jadi penasaran, begitu terdesak secepat kilat ia menerkam lagi
kemuka dan secara beruntun melancarkan empat puluh delapan buah pukulan berantai.
Ke empat puluh delapan buah pukulan itu dilancarkan secara berantai, diatas
JILID 31 HAL. 18/19 HILANG
kan tandingan baginya, sungguh tak nyana baru tiga gebrakan dia sudah jatuh kecundang di
tangan Manusia bermuka dingin yang berusia dua puluh tahunan, kejadian ini segera
menimbulkan kembali sifat buasnya.
sambil membentak keras, sekali lagi ia menerjang kemuka, serangan demi serangan
dilancarkan secara bertubi-tubi, mengerikan sekali ancamannya itu.
Han siong Kie sama sekali tidak gentar, dia kembangkan permainan Mo mo ciang hoat dan
membalas serangan lawan deagaa serangan pula.
Mengerikan sekali pertarungan waktu itu, kedua belah pihak sama-sama mengeluarkan
segenap ilmu simpanan yang dimiliki, siapa pun berharap bisa menghancurkan lawannya secepat
mungkin.
Suatu ketika, mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang membelah angkasa.
si Tangan sakti se bun Lui yang hebat tak mampu menghindari sebuah sergapan kilat dari
siluman hitam, tubuhnya kontan terbacok telak dan hancurlah tubuhnya menjadi remuk seperti
berkedel, darah segar berceceran menodai permukaan tanah.
Melihat rekannya tewas, utusan Thian vhe kau yang lain jadi gugup, permainan serangannya
jadi kacau balau tak karuan-
Kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan oleh siluman putih, suatu cengkeraman kilat
berhasil menangkap bahunya, baju berikut dagingnya lantas dicomot sampai hancur sepanjang
setengah depa, darah segar bagaikan pancuran mengucur keluar tiada hentinya.
00dw00
BAB 64
BERHASIL dengan serangan yang pertama, siluman putih tidak berdiam diri sampai disitu saja,
secara beruntun dia melontarkan kembali tiga buah pukulan berantai.
Begitu tiga pukulan itu dilepaskan, untuk kesekian kalinya jerit kesakitan berkumandang
memecahkan kesunyian, sambil muntah darah segar utusan Thian che kau itu mencelat sejauh
satu kaki lebih dan tidak bangun untuk selamanya.
Raja iblis bertangan seribu Tong ciau merasa terkejut dan panik, dalam gugupnya secara
beruntun dia lepaskan beberapa buah pukulan kilat begitu Han siong Kie terdesak hebat, ia lantas
melejit dan siap melarikan diri
"Mau kabur ?" jengek Han siong Kie, "jangan mimpi hayo serahkan dulu jiwa anjingmu"
sekali berkelebat ia sudah menghadang jalan pergi raja iblis bertangan seribu itu, secara
beruntun dia lepaskan lima buah serangan berantai.
Melihat gelagat tidak menguntungkan- raja iblis bertangan seribu tak berani gegabah lagi,
timbullah niat untuk mengadu iiwa, maka tatkala serangan musuh melanda datang, bukannya
berkelit dia malahan menyongsong datangnya pukulan itu dengan pukulan.
selama pertempuran berlangsung, Han siong Kie tak bisa bertarung dengan hati lega, karena ia
kuatir kalau dua orang musuh yang sedang bertempur melawan Hek pek siang yu berhasil kabur,
ia kuatir dengan peringatan dari orang yang kehilangan sukma dimana dikatakan bila seseorang
diantara mereka berhasil kabur maka akibatnya sukar dibayangkan-
Tapi sekarang, setelah dua orang yang di kuatirkan berhasil dibikin mampus oleh sepasang
siluman, iapun tidak kuatir lagi, segenap perhatian dan tenaganya dihimpun menjadi satu untuk
melakukan sergapan sergapan maut. Lima gebrakan kemudian, Raja iblis bertangan seribu sudah
dibikin kalang
JILID 31 HAL. 24 S/D 27 HILANG
ia masih berada disini:.. aaai sukarlah untuk diketahui siapa yang bakal hidup dan siapa yang
bakal mati"
"Aaah belum tentu begitul" seru Han siong Kie dengan cepat.
"sekarang engkau adalah seorang ketua dari suatu perguruan, sebelum dendam sakit hatimu
terbalas setiap persoalan yang kau hadapi harus dipikirkan dengan otak dingin, janganlah terlalu
memburu napsu, ketahuilah ilmu silat ibaratnya samudra yang luas, dimanapun ada orang-orang
pintar yang tersembunyi, jangan disebabkan oleh luapan emosi mengakibatkan segala sesuatunya
menjadi berantakan"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan
terbata:
"Setiap nasehat dari cianpwe akan boanpwe dengarkan baik-baik, untuk selanjutnya tat akan
kulupakan lagi"
"Aaah sekarang cepatlah keluar dari lembah ini, aku kuatir bila terlambat maka akan terjadi halhal
yang tak diinginkan"
"Bukankan cianpwe lelah mengatakah bahwa disekitar mulut lembah telah ditanam obat
peledak seberat sepuluh laksa kati"
"Benar, tapi sekarang pemimpin mereka yang merupakan ketiga orang tadi sudah mati semua,
sisanya tak perlu kita takuti lagi, mesti kita bergerak dengan bersembunyi dibalik pepohonan, aku
rasa untuk sementara waktu kita masih bisa mengelabuhi mereka sebab yang tersisa cuma jagojago
kelas kambing. Kendatipun akhirnya jejak kalian berhasil ditemukan, toh pada waktu itu
kalian sudah berada disekitar mulut lembah dan wilayah yang ditanam obat peledakpun sudah
dilampaui, aku percaya dengan kemampuan ya kalian miliki tak sukar untuk kabur dari sini, Nah,
selamat jalan dan semoga berhasil"
Selesai dengan kata-katanya, orang yang kehilangan sukma lantas berkelebat masuk ke hutan
dan lenyap dibalik pepohonan yang rindang.
Dengan termangu- mangu Han Siong Kie mengawasi bayangan punggungnya yang lenyap dari
pandangan, dia menghela nafas panjang, lalu berpikir:
"Budi kebaikan yang kuterima selama ini entah sudah berapa banyak. aai, entah bagaimana
caraku untuk membalas budi kebaikannya ini?
Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, akhirnya sambil mengulapkan tangannya kepada
sepasang siluman ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya menerjang ke arah mulut lembah.
selang sesaat kemudian, mulut lembah itu sudah berada didepan mata, pepohonan yang
rindangpun sudah mencapai pada ujungnya.
Ketika mereka berada kurang lebih lima puluh kaki dari mulut lembah, serentak Han siong Kie
menancap gas dan kabur lebih cepat lagi, kepada dua orang siluman itu serunya: "Hayo kita
terjang keluar dari lembah ini secepat-cepatnya..."
Tiga sosok bayangan manusia bagaikan tiga gulung asap dengan cepatnya meluncur kearah
mulut lembah. suitan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian disusul dari belakang
mereka bergelegar suara ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.
Pasir dan batu mencelat jauh keudara, asap hitam tanah longsor berguguran disekitar tempat
itu membuat suasana ketika itu benar-benar mengerikan sekali.
Akhirnya meledak juga obat yang ditanam disekitar mulut lembah, tapi sayang terlambat
setengah langkah, Han siong Kie sudah lolos dari lingkaran bahan peledak itu.
Keadaan mulut lembah itu porak poranda keadaannya mengerikan sekali, batu cadas sebesar
gunung dan pasir berjuta-juta meter kubik berguguran kebawah dan menyambar semua lapisan
tanah disekitar situ.
Baik Han siong Kie maupun Hekpek siang yau saling berpandangan sekejap dengan mulut
melongo bergidik hati mereka, andaikata orang yang kehilangan sukma tidak memberi peringatan
lebih dahulu, niscaya mereka bertiga sudah hancur entah berwujud apa.
Bisa dibayangkan betapa gusar dan dendamnya siluman hitam menyaksikan keadaan itu, ia
berpaling ke arah pemuda kita lalu berseru: "Ciangbunjin, hutang ini...."
"Hutang kita kepada mereka tidak terbatas hanya peristiwa ini saja" tukas Han siong Kie
dengan cepat, lebih baik kita perhitungkan dikemudian hari saja, sekarang aku masih ada urusan
penting yang harus segera diselesaikan marilah kita segera pergi"
siluman putih menyapu pandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu berkata pula dengan
suara dalam:
"Ciangbunjin, tolong tanya bagaimana kita harus selesaikan anakan monyet yang bersembunyi
di sekitar tempat ini?"
"Kalau ingin mencari balas sudah sepantarnya kita bikin perhitungan dengan pemimpin mereka,
apa harganya buat kita untuk ribut dengan manusia-manusia keroco seperti mereka? Biarkanlah
mereka pergi"
selesai mengucapkan kata-kata tersebut, Han siong Kie segera berangkat meninggalkan tempat
itu diikuti Hekpek siang Yaw di belakangnya
Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah jauh tinggalkan lembah kematian, tujuan mereka
sekarang adalah benteng maut.
Inilah tugas pertama yang harus diselesaikan olehnya setelah berhasil mempelajari Ilmu sakti si
mi sinkang, dia hendak menuntut balas dan menghancurkan tengkorak maut.
Untuk menghindari kegemparan dikalangan masyarakst oleh wajah Hekpek siang yau yang lain
daripada yang lain itu, sengaja ia memerintahkan kedua orang itu untuk mengenakan kain
kerudung hitam.
Hari kedua, tatkala tengah hari menjelang tiba, mereka sudah berada ditepi sebuah sungai
yang lebar, perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri sungai tersebut.
Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba disamping sebuah bekas bangunan rumah yang kini
sudah tinggal puing-puing yang berserakan, disitulah dahulu pesanggrahan Teng to siau cut
berdiri
Terkenang kembali masa lampau, tanpa terasa Han siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya,
dengan termangu- mangu ia memandang bekas bangunan Teng to siau cut yang tinggal puingpuing
itu.
Tanpa terasa ia teringat kembali kenangan masa lampau, kenangan dikala ia terhajar oleh
pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai, bagaimana ia ditolong oleh Go siau bi dan
bagaimana pesanggrahan tersebut akhirnya dibakar oleh orang-orang Thian che kau.
Bayangan Go siau bi yang cantik jelita terpampang jelas didepan matanya, gadis itu telah jatuh
cinta kepadanya pada tatapan yang pertama, bahkan berulang kali menyatakan cinta kepadanya.
Tapi ia sama sekali tidak membalas cinta dara itu, ia tak pernah mencintai Go siau bi, sebab ia
membenci setiap perempuan yang ada didunia ini kecuali Tong hong Hui seorang.
Akhirnya pemuda itu menghela napas panjang, tiba-tiba ia merasa bahwa perbuatannya selama
ini terlalu menyinggung perasaan halus gadis itu, tapi sekarang dia sudah pergi, mungkin
selamanya tak mungkin bisa berjumps lagi.
Benarkah aku telah menghancurkan masa depan seorang gadis ? Benarkah aku bertanggung
jawab atas kejadian ini? ia mencoba untuk bertanya pada diri sendiri, tapi pemuda itu tak mampu
menjawab.
Tindakan ibunya say siang go atau siang go cantik ong cul ing meninggalkan tempat kejadian
dikala keluarganya tertimpa bencana bahkan kawin lagi dengan Thian che kaucu dirasakan
sebagai pukulan batin terberat yang pernah ia terima, kejadian ini membuat pandangannya
terhadap kaum perempuan jadi sinis dan benci.
Untunglah selama ini dia banyak berhutang budi kepada orang yang ada maksud, orang yang
kehilangan sukma, Go siau bi serta Tong hong Hui, sikap dari perempuan-perempuan inilah yang
banyak menggoyahkan cara berpikirnya yang salah itu, perasaan anti perempuan yang
dipertahankan selama ini pun lambat laun menjadi lebih tawar.
Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang puing yang berserakan serta ombak yang
memecah ditepi pantai, kian lama perasaannya kian terbuai oleh lamunan dan kenangan lama.
Hekpek siang yau tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dengan tenang mereka menunggu di
belakang ketuanya.
Tiba-tiba dari balik puing-puing yang berserakan berkumamdang suara helaan napas panjang.
Satu ingatan lantas melintas dalam benak si anak muda itu, ia tersadar kembali dari
lamunannya kepada sepasang siluman segera pesannya. " Kalian tak usah pergi kemana-mana,
nantikanlah aku disini". secepat kilat ia meluncur ke angkasa dan menerobos masuk kedalam
hutan bambu di mana helaan napas tersebut berasal.
seorang sastrawan berusia setengah baya berdiri sambil bergendong tangan ditepi sungai dekat
hutan bambu. Berdebar keras jantung Han siong Kie setelah mengetahui siapakah orang itu,
sebab tak lain adalah kakek Go siau bi, orang-orang persilatan menyebutnya sebagai Put lo
sianseng.
Han siong Kie berdiri pada jarak lima kaki dihadapan kakek tua itu, ia tak tahu apa yang harus
diucapkan dan apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini.
"Benarkah yang datang adalah Han siauhiap, ketua dari perguruan Thian lam bun? " tanpa
berpaling Put lo sianseng menegur lebih dahulu.
Han siong Kie mendekati sampai sejarak tiga kaki lalu menjura dengan hormat.
"Benar cianpwe, apakah selama ini locianpwe berada dalam keadaan sehat walafiat" sahutnya.
Perlahan-lahan put lo sianseng memutar badan sekilas sorot mata yang aneh memancar keluar
tapi sebentar saja sudah lenyap tak berbekas dengan suara dingin.
"sebetulnya lohu sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia ini, tapi sayang imanku kurang
teguh, karena tergoda oleh peristiwa keduniawian akhirnya kumuncul kembali dalam dunia
persilatan, aai.. sungguh tak nyana aku tergoda oleh suatu masalah yang akhirnya membuat diriku
tak bisa lagi berpeluk tangan belaka" Berbicara sampai disitu, kembali ia menghela napas panjang.
"Persoalan apakah yang telah membuat locianpwe jadi bingung?" tanya pemuda itu keheranan-
"Belenggu cinta dari cucu perempuanku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie lantas teringat kembali dengan peristiwa lama
ketika ia menolak pinangan dariput losianseng bagi cucu perempuannya.
"Locianpwe, apakah perkataanmu itu kau sengaja tujukan kepada diri boanpwe? " tanyanya
tanpa sadar.
sekali lagi sorot mata aneh terlintas di wajah Put to sianseng, ia menatap sekejap pemuda itu
kemudian balik bertanya: "Han sauhiap bersediakah engkau membantu diriku?"
"Persoalan apakah yang dapat boanpwe lakukan bagi locianpwe?" tanya Has siong Kie setelah
tertegun sejenak.
"sebenarnya lohu sudah mengangkat sumpah tak akan mencampuri urusan keduniawian lagi..
Aaai, tak disangka oleh karena sejilid kitab pusaka Thian tok pit kip. bukan saja putraku Go Yu to
menemui ajalnya, perkumpulan Pat Gi pang hancur berantakan dan lenyap dari dunia persilatan,
bahkan Go siau bi cucu perempuanku ini ..."
Teringat dara itu, merah padam selembar wajah Han siong Kie, sebab bagaimanapun juga dia
pernah menolak pinangan dara itu
setelah berhenti sebentar terdengar Put lo sianseng melanjutkan kembali kata-katanya:
"Didalam waktu yang amat singkat, lohu telah berhasil melatih Siau bi sehingga ilmu silatnya
mencapai tingkatan yang lihay, tujuanku adalah meminta kepadanya agar balaskan dendam bagi
kematian ayahnya serta membangun kembali perkumpulan yang telah buyar.." Berbicara sampai
disini, kembali dia berhenti.
Han siong Kie merasa hatinya sangat tidak tenang, bagainya secara lapat-lapat ia sudah merasa
bahwa bantuan yang diharapkan kakek sakti ini mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan
Go siau bi.
sementara itu paras muka Put lo sianseng sudah agak berubah, katanya kembali:
"Aaai. sebetulnya aku malu untuk membicarakan persoalan ini, tapi apa boleh buat? Mau tak
mau terpaksa harus mengatakannya juga ...siau bi telah terbelenggu oleh cinta, sekarang ia sudah
terjerumus dalam sekali, kegagalan demi kegagalan yang diterimanya selama ini telah membuat ia
jadi putus asa, sekarang siau bi telah mengambil keputusan untuk mencukur rambut menjadi
nikoh, aai, inilah suatu kejadian yang membuat perasaan hati lohu selalu tak tenang."
"Apa ? Dia mau mencukur rambut menjadi pendeta??"
"Benar, dan keputusannya ini tampaknya sudah bulat, kecuali engkau mungkin didunia ini tak
ada orang kedua yaag bisa merintangi niatnya itu lagi"
JILID 31 HAL. 40/41 HILANG
"Boleh aku tahu pada saat ini nona siau bi berada dimana ?"
"Dipintu luar kuil Bu cu an di bukit Tay hang san"
"Benar, dia minta Tay huang sinni untuk menerimanya sebagai pendeta, tapi lantaran lohu
sudah berpesan kepada sini maka ia ditolak untuk memasuki kuil tersebut, walaupun demikian
rupanya ia tidak menjadi putus asa, sudah tiga hari tiga malam ia berlutut didepan pintu kuil
tersebut "
Dari mulut boanpwe pernah mendengar tentang kelihayan Tay huang Sinni, katanya watak
nikoh itu aneh sekali, enam puluh tahun berselang dengan lencana Hud cu leng dia telah
menggetarkan sungai telaga dan memaksa orang persilatan baik dari golongan putih maupun dari
golongan hitam tunduk semua kepadanya, sungguh tak nyana dia masih hidup didunia ini?"
"Benar, Tay huang sinni itulah yang kumaksudkan, hingga kini sepuluh li disekitar bukit Tay
huang san merupakan daerah terlarang, tak seorang jago persilatanpun yang berani mendekati
tempat itu "
"Kalau memang begitu, bukankah kedatangan boanpwe."
"Dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bukan suatu persoalan yang terlampau berat
untuk menerjang masuk kedalam kuil"
"Menerjang masuk?" seru pemuda itu tercengang.
"Benar, selain menerjang masuk rasanya tiada jalan lain yang bisa kau tempuh. sebagaimana
telah kau ketahui. Tay huang sinni adalah seorang manusia aneh yang tak bisa diajak berbicara.
Kendatipun begitu aku minta kau masih ingat untuk berbicara secara baik-baik lebih dahulu
sebelum menggunakan kekerasan, bila tidak terpaksa sekali janganlah turun tangan secara
gegabah"
"Perasaan ingin tahu lantas menyelimuti hati pemuda ini, ia lantas berpikir:
" Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mencoba sampai dimanakah
kelihayan kungfu Tay huang sinni?"
Diapun mengangguk seraya menjawab: "Boanpwe akan menuruti semua pesan cianpwe"
"Bolehkah aku tahu apa tujuanmu sekarang ??"
"Boanpwe hendak berkunjung ke benteng maut untuk membuat perhitungan dengan pemilik
benteng maut tersebut"
"Membalas dendam? tentang soal ini..."
"Apakah locianpwe ada petunjuk lain?"
"Aaah tidak... tidak aku tidak ingin mengatakan sesuatu hal, setelah tiba pada saatnya engkau
akan mengetahui sendiri"
Han siong Kie melongo, ia tak tahu apa yang dimaksudkan put lo sianseng dengan katakatanya
itu?
sementara dia masih termenung put to sianseng telah melanjutkan kembali kata-katanya:
"Masalah yang kutitipkan padamu itu terlampau serius, rasanya tak boleh dibiarkan berlarutlarut,
oleh sebab kuatir kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, apakah sauhiap bersedia untuk
berkunjung dahulu kebukit Tay huang san?"
"Boanpwe turut perintah bagaimana cara nya untuk berangkat menuju bukit Tay huang san?"
"Dari sini berangkatlah keutara dua ratus li kemudian akan tiba kebukit Tay huang san, diantara
bukit yang menjulang diangkasa akan kau temui sebuah bukit gersang yang tidak bertumbuhan,
tempat itu mudah ditemukan dan aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki tidak susah
untuk mencapai tempat tujuan"
"Kalau begitu boancwe akan berangkat sekarang juga"
"Tunggu sebentar"
"Apakah locianpwe masih ada pesan lain"
"Benarkah dua orang manusia berkerudung yang mengikuti dibela kang mu itu adalah Hek pek
siang yau sepasang siluman hitam putih yang tersohor itu."
sungguh kagum Han siong Kie oleh ketajaman mata Put to sianseng, bukan saja dapat
menebak jitu asal usul dari Hek pek siang yau, malahan tanpa melihat tampang wajah merekapun
tebakannya ternyata jitu. Maka dia lantas mengangguk tanda membenarkan.
"Apakah hubungamu dengan sepasang siluman itu" kembali Put to sianseng bertanya.
"Mereka berdua sudah termasuk jadi anggota perguruanku"
JILID 31 HAL. 46/47 HILANG
"Benar, dan sekarang juga kita akan berangkat menuju ke kuil Bu cu an dibukit Tay huang san"
"Pergi ke bukit Tay huang san?" seru siluman putih dengan wajah terkesiap.
"Benar, bukit Tay huang tempat tinggal dari Tay huang sini"
"Apakah ciangbunjin hendak bermusuhan dengan pendeta perempuan itu?"
"Tidak, aku kesana untuk menyelesaikan sedikit persoalan. Tahukah kamu berdua persoalan
apa yang hendak kuselesaikan "
"Tentang soal ini tecu tak berani bertanya.."
"Kalau begitu hayo kita segera berangkat"
Begitulah tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat segera
berangkat menuju utara.
Hek pek siang yau terhitung pula sebagai jago yang tersohor pada puluhan tahun berselang,
tentu saja Tay huang sinni yang pernah malang melintang dalam sungai telaga dengan Hud cu
lengnya tidak terlampau asing bagi mereka.
sekarang setelah mengetahui bahwa tujuan mereka adalah ke bukit Tay huang san, sedikit
berdebar juga hati mereka berdua.
Namun baik siluman hitam maupun siluman putih tak berani banyak bertanya, sebab
bagaimanapun juga mereka harus mengikuti kemana perginya majikan mereka.
Untunglah ketiga orang itu adalah jago-jago silat berilmu tinggi, sekalipun tiada jalan yang
terbentang namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menembusinya .
Dua jam kemudian, mereka sudah memasuki daerah pegunungan yang terjal dan sepi.
sesudah melewati berpuluh-puluh buah bukit yang terjal, akhirnya diantara deretan bukit itu
muncullah sebuah bukit gundul yang gersang.
Kecuali beberapa titik warna hijau menghiasi bukit tersebut, hampir boleh dibilang yang tampak
hanya batu-batu cadas yang hitam dan tajam.
Han siong Kie segera menghentikan langkah kakinya, sambil menunjuk ke arah bukit gundul
nanjauh didepan sana katanya:
"Aku pikir bukit itulah yang dinamakan bukit Tay huang san?"
"Jadi ciangbunjin belum pernah berkunjung kemari?" tanya siluman hitam keheranan-
"Belum pernah, baru untuk pertama kali ini aku berkunjung kemari"
"Dahulu tecu pernah melewati tempat ini, tak salah lagi inilah bukit Tay huang san"
"Ciangbunjin, bolehkah kami tahu apa maksud ciangbunjin datang kemari?" tanya siluman putih
agak takut-takut.
"Mencari seseorang"
"Mencari orang? Ketahuilah ciangbunjin, dua li dari kaki bukit itu merupakan daerah terlarang,
setiap umat persilatan tak berani melewati wilayah tersebut dengan sembarangan"
Han siong Kie bukan orang bodoh, tentu saja ia mengetahui perasaan hati dari sepasang
siluman itu, sambil tertawa dingin katanya: "Jadi kalian merasa takut??"
"Ciangbunjin jangan berkata begitu" seru siluman hitam dengan hati gelisah, "setelah tecu
memberikan kesanggupan untuk turut serta ciangbunjin untuk selamanya, jangan toh hanya
berkunjung ke bukit Tay huang san, kendatipun harus naik kebukit golok atau terjun ke lautan api
tak nanti kami akan menolaknya"
Han siong Kie menengadah dan memandang sekejap bukit gundul diseberang sana, kemudian
katanya lagi.
"Kalian berdua tak usah ikut aku naik ke bukit itu, nantikan saja kedatanganku disini"
"Tidak Tecu tidak mau meninggalkan ciangbunjin seorang diri" serentak kedua orang siluman
itu berseru.
"Aku hendak pergi menyelesaikan suatu persoalan, kalian tak usah ikut saja. berdiamlah disini "
"Tecu berdua mana tenang membiarkan ciangbunjin pergi menempuh mara bahaya seorang
diri?"
"siapa bilang aku pergi menempuh bahaya ? Ketahuilah urusanku ini tidak menyangkut soal
dendam sakit hatipun tidak mengenai soal pembalasan budi."
"Tapi .. Ciangbungjin pasti tahu Tay Huang sini adalah seorang manusia yang berwatak aneh,
siapa berani melanggar pantangannya maka bisa mengakibatkan ...."
"Kalian berdua tak perlu kuatir, aku bisa menjaga diri dan akupun tahu bagaimana caranya
untuk menghadapi keadaan seperti itu" Dengan wajah bersungguh-sungguh siluman hitam
berkata lagi:
"Bagaimaa kalau tecu berdua mengikuti jejak ciangbunjin dari tempat kejauhan ?jadi apabila
sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tecu berdua bisa segera memberi bantuan ?"
"Tidak Tidak perlu" sahut pemuda itu tegas.
Tapi... tapi bagaimanapan juga, kami merasa tak tenang."
"Kalian berdua tetap berjaga-jaga disini, bagaimanapun juga yang terjadi disini, kalian tak boleh
bergerak secara sembarangan, perkataanku ini adalah perintah, aku minta kalian berdua jangan
mencoba untuk melanggar perintahku ini"
Buru-buru Hok pek siang yau membungkukkan badannya memberi hormat, mereka tak banyak
banyak bicara lagi.
Menyaksikan sikap kedua orang itu, Han siong Kie malahan merasa tidak tega sendiri, kembali
bisiknya dengan lembut:
"Kalian berdua tidak usah kuatir, tenangkan saja hati kalian berdua, tidak akan terjadi hal yang
diluar dugaan atas diriku ini"
seraya berkata dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan bergerak menuju
kepuncak bukit yang gundul itu
Diluaran Han siong Kie memang tampak sangat tenang, padahal dalam hatinya ia menggerutu
terus, bagaimanapun juga dia telah memasuki daerah terlarang dari seorang jago silat yang
disegani umat manusia, selain itu diapun tak tahu apakah pesan dari put lo sianseng dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya atau tidak masih merupakan suatu tanda tanya besar, ia tak
tahu apakah Go siau bi bersedia untuk mendengarkan nasehatnya atau tidak.
Menurut keterangaa dari put to sianseng sudah tiga hari tiga malam Go siau bi berlutut didepan
pintu kuil, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tekadnya sudah bulat .
"Apa yang harus diucapkan setelah berjumpa dengan gadis itu nanti?"
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, setiap kali teringat akan persoalan ini hatinya
langsung merasa tak tenang.
Belum jauh ia mendaki bukit yang gundul itu, kira-kira baru sepuluh kaki dari wilayah
perbatasan daerah terlarang, mendadak perjalanannya telah dihadang oleh seorang nikoh,
pendeta perempuan itu duduk bersila diatas sebuah batu cadas, matanya terpejam dan tubuhnya
kaku seperti arca, tampaklah betapa berwibawanya nikoh tersebut.
Cepat Han siong Kie menghentikan gerak tubuhnya, setelah tertegun sejenak diapun berpikir:
"Mungkinkah nikoh tua itu adalah Tay huang sinni yang tersohor dimana-mana itu?" sambil
merangkap tangannya memberi hormat pemuda itu menyapa: "Mohon tanya apakah sinni adalah
Tay huang sini?"
"Dia adalah guruku " sahut nikoh tua itu singkat.
sekalipun hanya beberapa patah kata saja, namun tiap patah kata diucapkan dengan sangat
nyaring dan tajam, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki nikoh ini sudah
mencapai puncak kesempurnaan yang mengagumkan.
-000dw000-
BAB 65
"BOLEH aku tahu, siapa nama gelar dari suthay ?" kembali si anak muda itu bertanya.
"Kami adalah orang yang beragama, tidak menjadi kebiasaan bagi kami untuk saling
menyebutkan nama dengan orang awam "
Ucapan tersebut dingin kaku dan singkat, malahan nikoh itu sama sekali tidak membuka
matanya barang sekejappun.
Diam-diam Han siong Kie merasa naik pitam, tapi ia tetap berusaha untuk mengendalikan hawa
amarahnya itu, sebab berulang kali Put to sianseng telah berpesan kepadanya agar jangan
memakai kekerasan, sehingga mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi
tujuan kedatangannya toh hanya berusaha menasehati Go siau bi agar membatalkan niatnya
untuk menjadi pendeta."
Maka setelah berpikir beberapa saat, dia pun berkata:
JILID 31 HAL. 56/57 HILANG
tekebur yang berani mencari gara-gara dibukit Tay huang san"
Keangkuhan dan keketusan Han siong Kie segera terpancing keluar oleh suasana yang serba
tak enak itu, dia balas mendengus.
"Hmm Aku sudah memohon dengan segala kehalusan serta mengikuti tata kesopanan aku
minta suthay jangan bersikeras untuk menampik keinginanku ini, ketahuilah setelah aku berhasil
berjumpa dengan orang yang kucari maka akupun akan segera tinggalkan tempat ini"
"Tidak bisa Lebih baik sicu segera tinggalkan tempat ini."
"Kalau suthay bersikeras untuk menampik terus kehendak hatiku, terpaksa aku akan berbuat
kurang sopan.
43
"Apa yang hendak sicu lakukan ?"
"Apa lagi? Tentu saja naik gunung mencari orang"
"Sicu, tak usahlah bersikeras untuk mencari keonaran, apakah engkau baru bersedia untuk
turun dari bukit ini setelah diusir oleh pinni dengan menggunakan kekerasan ?"
"Bagiku hanya tahu maju terus pantang mundur, tak dikenal arti mengundurkan diri sebelum
apa yang kuharapkan tercapai."
"Jadi kau ingin main kekerasan? Silahkan saja untuk mencoba. "
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan"
Begitu selesai berkata, Han siong Kie segera menjejakkan kakinya ke tanah dan melesat
kedepan.
Nikoh tua itu menggulung keluar dan menghantam tubuh sianak muda itu keras dan berat
sekali tenaga pukulan yang dilontarkan oleh pendeta perempuan itu.
Han siong Kie tak mampu untuk meneruskan langkahnya, ia dipaksa untuk melayang kembali
ketempat semula, dalam hati pemuda itu lantas berpikir:
"Muridnya saja sudah begitu lihay, apa lagi gurunya? Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki
Tay huang sinni telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa"
Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba nikoh tua itu membentak lagi:
JILID 31 HAL.60/61 HILANG
sekarang Han siong Kie tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, sepasang telapak
tangannya diayun kedepan melancarkan dua buah pukulan berantai yang maha dahsyat, dalam
seraogannya kali ini dia telah sertakan tenaga sakti si mi sinkang sebesar enam bagian.
Nikoh tua itu mendengus gusar, diapun mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut
datangnya ancaman tersebut.
"Blaaam Blaaam" dua kali benturan keras seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong
menggelegar di angkasa. Nikoh tua itu bergetar keras dan akhirnya tak mampu mempertahankan
diri ia terdesak mundur dari atas batu cadas tersebut.
Menggunakan kesempatan dikala nikoh itu terpental turun dari batu Han siong Kie segera
melejit keudara dan melayang sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula kemudian sekali menutul
permukaan tanah pemuda itu melayang kembali sejauh sepuluh kaki.
"Kawanan tikus kau akan pergi ke mana?"
mendadak seorang nikoh tua lain muncul dihadapan mukanya dan menghadang jalan pergi
sianak muda itu, sementara nikoh tua yang berada dibelakang tadi kini entah telah pergi kemana ?
Dengan tatapan tajam Han siong Kie mengamati tampang nikoh tua yang menghalang jalan
perginya ini, ia lihat alis matanya sudah memutih semua, sekalipun jauh lebih muda daripada
nikoh tua yang duduk di arca batu tadi, namun usianya sudah berada diantara enam puluh sampai
tujuh puluh tahunan.
"Sicu, hebat sekali ilmu silat yang kau miliki" tegur nikoh beralis putih itu dengan wajah
sedingin es.
"Terima kasih atas pujian dari suthay Aku tidak memiliki kepandaian apa-apa dan rasanya tak
perlu kau kagumi"
"sicu, sadarkah engkau apa akibatnya jika engkau bersikeras untuk melakukan pengacauan
diatas bukit Tay huang san ini ?"
"Apa akibatnya?" tanya pemuda itu.
"Mati. Mati dalam keadaan mengenaskan" Kontan saja Han siong Kie mengerutkan dahinya.
"suthay, janganlah kau anggap ancaman itu akan membuat aku jeri ataupun ketakutan.
Ketahuilah kedatanganku kemari adalah atas permintian dari seseorang, dan aku datang kemari
melalui tata cara dan sopan santun pada umumnya, janganlah kalian mulai dahulu dengan
permainan kekerasan"
"Tidakkah sicu tahu bahwa bukit Tay Huang san adalah suatu daerah terlarang? Suatu wilayah
yang tak boleh dilalui oleh setiap manusia asing kecuali penghuni kuil?"
"Maaf suthay, sebelum apa yang kucita- citakan tercapai, aku tidak mengenal apa artinya takut
atau mengundurkan diri ditengah jalan"
"Kalau begitu, silahkan saja untuk coba menerjang masuk dengan kekerasan .. " tantang nikoh
itu.
"Kalau terpaksa musti menggunakan kekerasan, maaf kalau aku akan bertindak lancang
-ooodwooo
SEHABIS mengucapkan kata-kata tersebut, seperti sukma gentayangan saja sianak muda itu
menerjang maju kedepan.
Meskipun pemuda itu bertindak cepat, nikoh tua itupun tidak berlambat, baru saja Han siong
Kie mencoba untuk menerobos lewat dari sisinya, tahu-tahu nikoh tua itu sudah menghadang
dihadapan mukanya sembari melancarkan tiga buah serangan berantai.
Ke tiga buah serangsn tersebut bukan saja dilancarkan secara beruntun dengan kecepatan
yang luar biasa, terasalah desingan angin puyuh yang menyertai serangan itu hebatnya luar biasa.
Terkesiap Han siong Kie menghadapi serangan sedahsyat itu, dia coba berkelit ke samping
untuk menghindar, lalu dari samping dia lepaskan sebuah serangan balasan.
Nikoh tua itu bergerak kesamping, bukan saja dengan gerakan yang enteng ia berhasil
menghindari serangan tersebut, malahan menggunakan kesempatan tersebut ke lima jari tangan
kirinya seperti jepitan baja mencengkeram urat penting dipergelangan tangan Han siong Kie,
sementara tangan kanannya dikebutkan kemuka menghajar hiatto-hiatto penting disekitar dada
bagian luar.
Cepat dalam serangan, aneh dalam jurus pukulan, kelihayan nikoh tua ini jarang di temui dalam
dunia persilatan.
selihay-lihaynya nikoh tua itu, Han siong Kie jauh lebih lihay, ia putar telapak tangan kanannya
dengan cepat, dari gerakan dia rubah serangannya menjadi gerakan mencengkeram, arah yang
diancam adalah pergelangan tangan lawan, sementara telapak tangan kirinya tidak ketinggalan, ia
putar satu lingkaran didepan dada dan menutup semua hiatto pentingnya dari ancaman.
Gagal dengan serangan kilatnya, nikoh tua itu mundur tiga langkah kebelakang, menyusul
sebuah pukulan kilat kembali dilancarkan.
Han siong Kie tak mau unjukkan kelemahan nya, dia lepaskan pula sebuah pukulan untuk
menyambut ancaman itu.
"Blaang" benturan keras tak dapat dihindari lagi, masing-masing pihak terjengkang mundur
satu langkah.
Dalam hati Han siong Kie merasa terperanjat, ia tak mengira kalau nikoh tua itu sanggup
menerima pukulan saktinya yang disertai dengan tenaga sebesar enam bagian.
Ia kaget nikoh tua itu lebih kaget sebab dalam serangannya barusan dia telah mengerahkan
tenaga sebesar sepuluh bagian, tapi nyatanya bukan saja tak berhasil merobohkan lawan, dia
sendiri yang terdesak mundur satu langkah.
Untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama tertegun, mereka sama-sama menyadari bahwa
musuh yang sedang dihadapi adalah musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Paras muka nikoh tua itu berobah hebat, jubah pendetanya yang lebar menggelembung sendiri
tanpa terhembus angin, sinar matanya berkilat dan perlahan-lahan telapak tangannya diangkat
keatas.
Meskipun Han siong Kie terperanjat dan tidak mengerti ilmu aneh apakah yang sedang
dikerahkan musuhnya namun sianak muda itu tak berani bertindak gegabah, dia pun menghimpun
hawa sakti si mi sinkang nya sebesar delapan bagian, telapak tangannya dialingkan didepan dada,
siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Sementara itu nikoh tua tadi telah mengangkat telapak tangannya sejajar dada, kemudian
didorongkan kemuka perlahan-lahan, segulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera
meluncur kedepan dan menyapu benda apa saja yang dilewatinya.
Han siong Kie memandang pukulan itu dengan serius, sepasang telapak tangannya balas
didorong kemuka dan menyambut ancaman tersebut dengan tenaga si mi sinkang sebesar
delapan bagian.
"Blaaang" ledakan keras menggelegar di angkasa, diantara suara nyaring terdengar dengus
tertahan menggema diudara, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur lima langkah, paras
mukanya pucat pias, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, peluh sebesar kacang kedelai
mengucur keluar tiada hentinya.
Han siong Kie sendiripun merasakan hatinya bergoncang keras, dia terdorong mundur satu
langkah lebar.
setelah berhenti sebentar nikoh tua itu menggigit bibir, tiba-tiba ia menerjang lagi kedepan,
sepasang telapak tangannya dengan desingan tajam disapu kembali keluar.
sapuan tersebut tampaknya saja sangat lambat pada hakekatnya cepat melebihi kilat bahkan
sudut sasarannya jauh dari keadaan biasa bukan saja disertai hawa pukulan yang aneh bahkan
membuat orang tak mampu untuk menangkis datangnya ancaman itu
Han siong Kie seketika terdesak hebat, dia mundur terus berulang kali tanpa mampu
membalas.
Bagaikan gulungan ombak sungai yang berkepanjangan serangan itu datang secara
bergelombang dan tiada putusnya, sianak muda itu mundur terus kebelakang dan akhirnya ia
terjebak disuatu batuan cadas yang tinggi dan besar, waktu itu ingin mundurpun sudah tiada jalan
lagi.
sadarlah pemuda itu bahwa keadaannya sudah keteter hebat, bila ia tidak unjukkan
kesaktiannya lagi tak nanti dia bisa menaiki bukit itu. Berpikir demikian dia lantas membentak:
"Maaf, terpaksa aku akan bertindak kasar"
Dengan jurus Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia lepaskan sebuah pukulan
dengan tenaga sebesar sepuluh bagian.
Walaupun jurus serangan ygng dipergunakan masih merupakan jurus-jurus lama, akan tetapi
setelah dia berhasil mempelajari ilmu sakti si mi sinkang, kekuatan daya serangannya ternyata
jauh berbeda.
Jerit kesakitan menggema di angkasa, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur sejauh satu
kaki lebih, darah segar mengucur keluar membasahi ujung bibirnya.
Han siong Kie tertegun, dia tak menyangka kelihayannya sudah mencapai tingkatan setinggi itu,
semua dalam keadaaa begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih jauh, serentak tubuhnya
berkelebat dan menerjang ke atas puncak bukit.
selang sesaat kemudian ia sudah mencapai seratus kaki sebelum puncak bukit, beberapa
batang pohon siong muncul didepas mata, dan d ibalik pepohonan itu tampaklah sebuah
bangunan kuil yang terbuat dari batu cadas gunung. Han siong Kie merasa semangatnya
berkobar, ia percepat gerakan larinya.
Mendadak sesosok bayangan abu-abu muncul dari balik pepohonan dan langsung menerkam
kedepan, sebelum tiba angin pukulan yang tajam sudah keburu menyapu lebih duluan-
Sungguh terkejut sianak muda itu, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki pendatang ini jauh lebih
hebat daripada dua orang nikoh yang telah dijumpai, cepat tubuhnya menukik dan membentuk
sebuah gerakan setengah busur diudara kemudian melayang turun ke muka bumi.
Bayangan abu-abu itnpun melayang turun ternyata dia adalah seorang nikoh berlengan
tunggal.
Sebelum Han siong Kie sempat buka suara, nikoh berlengan satu itu sudah menegur lebih
dahulu:
"Sicu, engkau anggap kepandaian silatmu sudah hebat maka secara beruntun kau lukai dua
orang seperguruanku dan kemudian datang mengacau bukit Tay huang san ini"
"Aku tidak bermaksud main kasar, aku memohon dengan sopan dan menuruti
JILID 32 HAL 10/11 HILANG
yang tergetar oleh terasa sinkang musuh terasa sangat sakit bagaikan mau patah, dengan
gontai ia mundur sejauh delapan depa, rasa kaget dan tercengang menghiasi seluruh wajahnya.
Kecuali gurunya, selama hidup belum pernah dijumpai musuh setangguh ini, apalagi usianya
belum dua puluh tahunan, hal ini semakin mencengangkan hatinya.
Dipihak lain Han siong Kie dibikin naik pitam oleh kejadian yang baru dialaminya, hawa sakti Si
mi sinkang lantas disalurkan mengelilingi seluruh badan, dari kejauhan dia lepaskan sebuah
pukulan dahsyat.
Nikoh berlengan tunggal itu terkesiap. cepat-cepat tangannya berputar membentuk satu
lingkaran kilat, gerakan itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikitpun-
Han siong Kie terperanjat ia merasa bahwa tenaga pukulan yang dilancarkan dengan kekuatan
sebesar delapan bagian itu mendadak punah sama sekali hingga lenyap tak berbekas.
Ia menggigit bibir, sepasang telapak tangannya sekali lagi meluncurkan serangan dengan
mengerahkan tenaga sebesar sepuluh bagian, kali ini terlihatlah pancaran cahaya aneh dari raut
wajahnya.
Nikoh berlengan tunggal ini lebih tercekat lagi hatinya, kalau orang lain tidak tahu maka hati
kecilnya jauh lebih paham dari siapapun juga untuk memunahkan daya pengaruh serangan musuh
barusan dia harus mengerahkan ilmu sakti Pay yap sin khinya hingga mencapai dua belas bagian
dengan susah payah ancaman musuh baru bisa dipunahkan, tapi sekarang musuh telah
menambahkan serangannya hingga mencapai sepuluh bagian, dia yakin bahwa kepandaian nya
tak mampu untuk membendung kedahsyatan lawan. Tampaknya nikoh berlengan tunggal itu bakal
mati konyol.
Disaat yang kritis tiba-tiba terdengar seseorang berseru nyaring dari tempat kejauhan.
"Biau hian cepat mundur, pukulan itu adalah ilmu si mi sinkang, engkau tak mampu untuk
menghadapinya"
Ucapan tersebut cukup mencengangkan hati Han siong Kie, ia tahu kalau tebakannya tidak
keliru maka orang yang baruran berbicara tak lain adalah Tay huang sinni pemilik kuil Bu cuan ini,
ia merasa bahwa kata-kata tersebut berasal dari balik kuil, kalau toh demikian adanya dari mana
nikoh sakti itu bisa mengetahui akan asal usul ilmu silatnya?"
Mungkinkah ia sudah berhasil melatih ilmu Thian sao tong, suatu kepandaian melihat jauh.
Paras muka nikoh tua yang bernama Biau hian itu berubah hebat, dia melirik sekejap kearah
Han siong Kie. kemudian putar badan dan lenyap dibalik batu-batu cadas.
Karena musuhnya telah mengundurkan diri, maka sianak muda itupun membatalkan
erangannya, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kearah puncak bukit sebelah depan sana.
"Locianpwe, boanpwe ada urusan hendak bertemu dengan cianpwe, harap engkau bersedia
memaafkan kelancanganku ini"
"Sebutkan asal usul perguraanmu " kata-kata tersebut muncul kembali dari atas puncak bukit.
"Boancwe bernama Han siong Kie, ketua dari perguruan Thian lam bun "
"Engkau adalah ketua dari istana Huan mo kiong diwilayah Thian-Iam ? Ada urusan apa datang
kemari ?"
"Boanpwe mendapat pesan dari seseorang dan sengaja datang kemari untuk mencari orang"
"siapa yang kau cari ?"
seorang nona yang bernama Go siau bi"
"siapa yang suruh engkau datang kemari ?"
"Put to sianseng, kakek dari nona Go "
"ooooh, jadi engkaulah yang bernama Manusia muka dingin Han siong Kie " sekali lagi anak
muda itu terperanjat, sahutnya cepat: "Benar, boanpwelah yang bernama Han siong Kie."
"Memandang diatas wajah Put lo sianseng aku tidak akan mempersoalkan lagi kesalahanmu
mencari gara-gara ke atas bukit kami ini. Nah Cepatlah turun dari bukit ini."
Perasaan hati yang semula sudah menjadi tenang, kini bergolak kembali, ucapan tersebut
dirasakan Han siong Kie sebagai suatu ejekan, rasa ingin menang lantas muncul kembali.
" Cianpwe, aku toh sudah mengutarakan maksud kedatanganku ? Masa sebelum tujuanku
kesampaian kau telah mengusir aku turun gunung?" serunya dengan hati tak puas.
"Aku perintahkan kepadamu untuk segera turun dari bukit ini " tiba-tiba suara dari Tay huang
sinni berubah jadi amat dingin dan ketus, bahkan ucapan tersebut diutarakan sepatah demi
sepatah kata.
sesabar-sabarnya Han siong Kie setelah diperlakukan sekasar itu diapun tak dapat menahan diri
lagi tampiknya:
"Aku datang kemari bukan untuk mendengarkan perintahmu, kalau aku tak mau turun gunung
kau mau apa?"
"Hmm Membandel" maki Tay huang sinni ketus,
" kalau begitu apa yang hendak kau lakukan ?"
"Setelah persoalan yang dititipkan pada ku telah kuselesaikan, tanpa disuruh aku bisa turun
gunung sendiri"
"Persoalan apa yang hendak kau kerjakan ditempat ini?"
"Aku ingin bertemu dengan nona Go siau bi dan bercakap-cakap sendiri dengan dirinya"
"Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah seorang pendeta beragama, aku tak ingin bersilat lidah
dengan dirimu, lebih baik cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini"
"Maaf, aku tak dapat menuruti kehendakmu itu"
"Hmm sicu, jangan kau anggap ilmu sakti si mi sinkang yang kau miliki itu adalah suatu
kelandaian sakti yang tiada tandingannya lagi dikolong langit" Agaknya Tay huang sinni mulai naik
darah oleh sikap lawannya yang keras kepala.
"Akupun sama sekali tidak berpendapat demikian, tapi bila ada orang ingin main-main
denganku, akan kubuktikan bahwa kepandaian tersebut masih lebih dari cukup bagiku untuk
mempertahankan diri"
suasana hening untuk sesaat, diantara hembusan angin bukit yang sepoi-sepoi akhirnya
terdengar Tay huang sini berkata lagi, hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut: "Sicu, aku rasa
engkau tak usah bertemu lagi dengan nona Go"
"Kenapa?" Tanya si anak muda itu cepat.
"Sebab dia tak ingin berjumpa lagi denganmu "
Jawaban ini membuat Han siong Kie membungkam, sebab inilah kejadian yang sangat tidak
diharapkan olehnya, suatu kejadian yang membuat ia jadi jengah dan merasa serba salah, tapi
haruskah ia mengundurkan diri dengan begitu saja ?
"Aku telah berjanji kepada Put to sianseng, bahwa persoalan ini akan kuselesaikan dengan
segala kemampuan yang kumiliki" pikir pemuda itu dalam hati "dan lagi akupun merasa banyak
berhutang budi kepada Go siau Bi, apakah aku harus mengundurkan diri karena persoalan ini ?
Toh Go siau bi bisa menjadi nekad adalah gara-gara karena aku ? Tatkala ingatan tersebut
terlintas dalam benaknya, pemuda itu lantas berseru:
"Dia mau berjumpa denganku atau tidak adalah urusan pribadinya sendiri, pokoknya
bagaimanapun juga aku harus bertemu dengannya "
"Hmm Engkau hendak berbuat sewenang-wenang ditempat ini ?"
"Tidak. aku tidak berbuat sewenang-wenang, aku hanya bertindak menuruti perasaan hatiku
sendiri"
"Ketahuilah wahai Han sicu, pinni bisa simpatik terhadap pengalaman serta tragedi yang
menimpa kehidupan nona Go, telah kukabulkan permintaannya itu dan sekarang akan kucukur
rambutnya menjadi nikoh, mulai detik ini ia sudah menjadi murid Buddha dan dia tak akan
menjumpai dirimu untuk selamanya."
"Tidak Tidak boleh" teriak Han siong Kie dengan setengah menggembor, paras mukanya
berubah hebat.
"Tidak boleh ? Dengan berdasarkan apa engkau melarang kebebasan orang untuk memilih dan
melakukan apa yang disukainya Haaah haaah haaah sicu, kau harus tahu kendatipun pinni telah
menjadi murid Buddha, akan tetapi aku tidak terikat oleh suatu pantangan, yakni pantangan
membunuh"
Habislah kesabaran Han siong Kie, dia mendengus penuh kemarahan, sekali menjejak
permukan tanah, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya pemuda itu melayang keatas
puncak bukit.
sewaktu tiba didepan pintu kuil ia lihat pintu gerbang tertutup rapat, seorang dara baju putih
tampak berlutut didepan pintu kuil itu tanpa bergerak. siapa lagi dara itu kalau bukan Go siau bi
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, lama-lama sekali ia menatap dara itu
kemudian bisiknya: "Nona Go "
Go siau bi tidak menjawab, ia masih tetap berlutut tak bergerak.
"Nona Go " sekali lagi anak itu muda itu memanggil dengan lemah.
-000dw000-
66
PENGALAMAN yang dialami Go siau bi memang mengenaskan, berulang kali ia menyatakan
cinta kepada pemuda pujaannya, namun setiap kali tidak mendapat tanggapan yang serius.
sejak mengalami kejadian didalam perkampungan oh han san ceng bertekadlah gadis ini untuk
cukur rambut menjadi pendeta dan menjalankan sisa hidupnya dengan mengabdikan diri kepada
sang Buddha.
Kendatipun tekadnya sudah bulat, tak dapat dipungkiri bahwa rasa cintanya terhadap Han siong
Kie telah padam terlebih lagi ia tak menyangka kalau si anak muda itu bakal datang ke bukit Tay
huang san mencari dirinya.
Untuk sesaat pikirannya jadi kacau balau tak karuan, rasa cinta yang masih membakar dalam
dadanya serasa makin bergolak dengan hebatnya.
JILID 32 HAL. 22 S/D 25 HILANG
"Apakah locianpwe adalah pemilik kuil ini ?"
"Ehmm " tiada jawaban kecuali dengusan dingin, dengusan tersebut amat ketus dan tak sedap
didengar.
sekuat tenaga Han siong Kie berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, ia bertanya:
"Sudahkah locianpwe menyanggupi permintaannya untuk mencukur rambutnya menjadi
pendeta?"
"Enmm sudah kenapa ??"
"Aku rasa dengan kedudukan cianpwe yang agung dan dihormati orang, tentunya engkau tak
akan mengingkari janji sendiri bukan ?"
"Apa maksudmu dengan perkataan itu?" tegur Tay huang sini dengan wajah berubah.
"Bukankah locianpwe telah menyanggupi permintaan put to sianseng untuk menolak
permintaan nona Go menjadi pendeta ?"
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar tanpa bisa dicegah lagi Go siau bi berpaling serta
melotot sekejap kearah sianak muda itu.
"Ehmm, memang ada kejadian seperti itu" kata Tay huang sinni tetap ketus, "tapi aku tidak
menyanggupi untuk tidak mengukurkan rambut cucunya, aku hanya setuju untuk memberi
kesempatan kepadanya untuk mempertimbangkan kembali persoalan ini"
"Tapi bukankah perbuatanmu sekarang...."
"Pinni simpatik terhadap tragedi yang menimpa dirinya dan sekarang aku sudah berubah
pikiran" tukas nikoh itu cepat.
"Apakah sudah locianpwe bayangkan akibat-akibatnya bila aku melakukan hal ini atas dirinya?"
"Bagi kami orang-orang beragama tak pernah terpikirkan apakah ada akibat atau tidak tindakan
yang kami ambil, semua persoalan kami pertimbangkan dengan keadaan berjodoh atau tidak"
"Hmm orang beragama mengutamakan belas kasihan, tindakan dari locianpwe ini ...."
"Tutup mulutmu" bentak Tay huang sinni marah "ia sudah tiga hari tiga malam berlutut didepan
pintu kuilku, apakah pinni tak boleh berbuat belas kasihan dengan memenuhi keinginannya "
Waktu itu tiba tiba Go siau b i berpaling dan berkata:
HAL. 28/29 HILANG
Memang inilah yang diharapkan Han siong Kie, sebab semenjak ia menerima pesan dari Put lo
sianseng sudah terlintas satu ingatan untuk mengadu kepandaian dengan tokoh silat itu
"Maksud Locianpwe engkau hendak mengajak aku untuk bertaruh dalam pertarungan ini?"
katanya kemudian dengan serius.
"Benar .. "
"Dan pertarungan ini adalah pertarungan atas mati dan hidup ?"
"Haah, tidak sampai seserius itu asal sudah ditentukan siapa menang siapa kalah, hal ini sudah
lebih dari cukup "
"Bagaimana setelah menang kalah dapat ditetapkan ?"
"Jika engkau yang menang maka pinni tak akan mempersoalkan kehadiranmu lagi di bukit ini,
bahkan akupun tak akan memaksa Go siau bi untuk mencukur rambut menjadi pendeta"
"Seandainya aku yang kalah ? Apa yang harus kulakukan ?"
"Kalau engkau kalah maka kau harus menyanggupi sebuah syarat yang akan pinni ajukan "
"Apa syaratmu itu ?"
"syarat itu rasanya terlampau awal bila kuutarakan pada saat ini, pokoknya tak akan merugikan
dirimu "
"Andaikata menang kalah tak dapat ditentukan? Apa yang harus kulakukan?"
"Akan kubiarkan engkau turun dari bukit ini dengan selamat "
Perasaan hati Han siong Kie bergolak keras, setelah mendengar ucapan tersebut, dia merasa
beruntung karena bisa mendapat kesempatan untuk bertarung melawan seorang tokoh silat yang
lihay. Tapi diapun kuatir bila kalah maka syarat apakah yang bakal diajukan kepadanya ?
Mampukah ia melaksanakan syarat tersebut ?
"Locianpwe, pertarungan yang bagaimana kah akan kita langsungkan? " ia bertanya kemudian.
Tay huang sinni termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya:
"Pinni telah bersumpah tak akan keluar dari pintu kuil ini barang selangkahpun, sekarang kita
berdiri dengan selisih jarak lima kaki, baiknya kalau kita masing-masing berdiri tak bergerak
ditempat:
HAL. 32 HILANG
"Han sauhiap. silahkan engkau melancarkan serangan lebih dahulu " Suatu ketika Tay huang
sinni berkata dengan wajah serius.
"Tidak. lebih baik locianpwe yang turun tangan lebih dahulu" kata Han siong Kie dengan hati
bergetar.
"Pini adalah seorang angkatan tua, tidak pantas untuk turun tangan lebih dahulu, lebih baik
sauhiap duluan"
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa boanpwe bertindak lancang . . nah, sambutlah
seranganku ini"
Dengan menghimpun hawa sakti Si mi sinkangnya mencapai sepuluh bagian, perlahan-lahan
telapak tangannya diangkat kemuka dan lantas didorong ke depan.
segulung angin pukulan yang tipis halus dan sama sekali tidak menimbulkan suara, berhembus
ketubuh lawan-
Meskipun enteng sekali pukulan itu tampaknya pada hakekatnya mengandung tenaga dahsyat
yang cukup merontokkan nyali orang.
Disaat Han siong Kie melancarkan serangan Tay huang sinni sendiripun memutar tiga kali
sepasang telapak tangannya didepan dada.
suatu getaran keras menyusu terjadinya ledakan yang memekikkan telinga Tay huang sini
hanya tergetar sedikit tubuhnya, sementara kuda-kudanya masih kelihatan kokoh sekali.
Pukulan si mi sinkang sebesar sepuluh bagian ternyata berhasil dipunahkan oleh nikoh tua itu
dengan enteng, sedikit banyak tercekat juga hati Han siong Kie, diam-diam ia menjulurkan
lidahnya.
Paras muka Tay huang sinni sendiri berubah jadi amat serius, tampaknya nikoh itu tidak
berkeyakinan dapat menangkan pertarungan ini.
orang yang kehilangan sukma sendiripun tampak sangat tegang, sampai-sampai badannya ikut
gemetar keras.
Gagal dengan serangan yang pertama, Han Siong Kie menghimpus kembali tenaganya
mencapai dua belas bagian, sambil melepaskan pukulan serunya lantang: "sambutlah seranganku
yang kedua ini"
Ketika sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan, secara lapat-lapat tampaklah asap
putih yang tipis menyertai deruan pukulan itu.
Tay huang sinni menggerakkan sepasang ujung bajunya untuk menangkis, ia membentuk
gerakan aneh didepan dadanya, selapis hawa hijau yang menggulung tebal seketika melapisi
seluruh badannya, jelas nikoh ini sudah mengerahkan ilmu Pay yap sin khinya hingga mencapai
pada puncak kehebatannya.
Cahaya putih dan cahaya hijau segera bertemu satu sama lainnya, dan tak bisa di cegah
terjadilah ledakan yang memekikkan telinga.
sekujur badan Tay huang sini gemetar keras, tubuhnya goncang bagaikan ranting pohon
terhembus angin puyuh, nyaris kedudukannya jebol dan tubuhnya terdorong maju ke depan.
Untunglah ia menggigit bibir sambil berkerut dahi, sekuat tenaga padri itu berusaha
mempertahankan diri, peluh sudah mulai membasahi seluruh badannya.
Dua jurus serangan sudah lewat tanpa menghasilkan apa-apa, sekarang tinggallah jurus yang
terakhir. pemuda itu tahu bila serangan yang ketigapun mengalami kegagalan, sudah pasti dialah
yang bakal menderita kekalahan.
Bila dipikir kembali akan kedudukan Tay huang sinni yang begitu tinggi dan terhormat, kalah
ditangan padri perempuan ini belum terhitung suatu kejadian yang memalukan, tapi Han siong Kie
mempunyai pandangan yang lain, dia harus dapat menangkan nikoh tua ini karena bagaimanapun
juga dia adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.
Dan menang kalah akan ditentukan dalam jurus serangan yang terakhir ini.
Han siong Kie mementangkan kesepuluh jari tangannya lebar-lebar, segenap hawa sakti yang
dimilikinya disalurkan kedalam jari tangan itu, ia telah mempersiapkan diri untuk melangsungkan
pertarungan yang terakhir ini dengan menggunakan ilmu jari Tong kim ci.
setajam sembilu pancaran sinar mata Tay huang sinni, dia menatap wajah pemuda itu tanpa
berkedip. sepasang telapak tangannya disilangkan didepan dada.
Akhirnya pemuda itu membentak keras, sepasang tangannya bergetar, sepuluh gulung
desingan angin jari dengan membawa suara yang memekikkan telinga langsung meluncur
kedepan-
Bersamaan dengan dilepaskannya serangan jari tangan itu, ingatan lain melintas
JILID 32 HAL. 38/39 HILANG
Dengan adanya kejadian ini, maka baru saja Han siong Kie melepaskan pukulan untuk
menangkis, tahu-tahu tenaga yang dipancarkan keluar itu telah dihisap oleh lawannya.
Mimpipun si anak muda itu tak menyangka kalau rahib tua itu bakal menggunakan taktik
"menggetar" dan menghisap hampir bersamaan waktunya, hilanglah keseimbangan.
"Aduh celaka "jeritnya dihati tak dapat dicegah lagi tubuhnya sempoyongan dan serta merta
kakinya melangkah maju. orang yang kehilangan sukma pun berkata sambil mengangguk: "Nak
engkau kalah. "
Han siong Kie tertegun, ia cuma bisa berdiri menjublak sambil membungkam dalam seribu
bahasa.
Karena kasihan pada musuhnya, ia telah menyingkirkan daya sasaran serangan Tong kim ci nya
kesamping sehingga membuang kesempatan untuk mendapat kemenangan dengan begitu saja.
sekarang kenyataan telah berbicara lain, dia telah dikalahkan dalam pertarungan tersebut,
untuk menyesalpun rasanya tak ada gunanya lagi.
"sau sicu, apakah engkau merasa bahwa pertarungan ini berlangsung tidak adil?" tiba-tiba Tay
huang sinni bertanya.
Han siong Kie tertawa jengah dan menggeleng.
"Tidak. boanpwe sama sekali tidak mempunyai pikiran semacam itu "
"Jadi engkau sudah mengaku kalah ?"
"Tentu saja, boanpwe tak akan memungkiri kekalahan yang telah kuderita ini, aku tak mau
bertolak dari kenyataan yang berada di depan mata, katakan saja apa syarat yang harus kuturuti
itu ?"
"seandainya pinni telah mengajukan syarat tersebut, dan ternyata sau sicu tidak bersedia untuk
melakukannya, apa yang musti... "
"Boanpwe tidak akan menolak semua syaratmu, sebagai seorang manusia persilatan aku akan
memegang teguh setiap janji yang telah kuucapkan" jawab pemuda itu dengan tegas. orang yang
kehilangan sukma tiba-tiba menimbrung pula:
"Atas petunjuk dari locianpwe boanpwe telah ditunjuk sebagai saksi maka setelah pertarungan
berakhir dan menang kalahpun telah ditentukan, boanpwe harap locianpwe segera mengajukan
syarat yang hendak cianpwe ajukan sehingga pertaruhan inipun bisa kita akhiri sampai disini saja .
."
sepasang mata Tay huang sinni memancarkan sinar tajam, ia memandang sekejap ke arah Han
siong Kie lalu katanya:
"Gampang dan sederhana sekali syaratku ini, aku cuma minta engkau segera menikah dengan
Go siau bi dan menjadi suami istri yang berbahagia "
Hebat sekali perubahan wajah Han siong Kie, tanpa sadar secara beruntun ia mundur lima
langkah kebelakang.
Mimpipun ia tak menyangka kalau syarat yang diajukan Tay huang sinni adalah mengenai
persoalan itu.
Pertama kali ketika ia selamatkan Go siau bi dari tangan pengawal pribadi istana Huan mo
kiong dan menginap sebuah rumah penginapan, orang yang kehilangan sukma telah menyaru
sebagai tukang obat dengan maksud menjodohkannya dengan gadis itu, kedua kalinya Put to
sianseng ajukan pinangan bagi cucu perempuannya ternyata pinangan itupun atas usul dari orang
yang kehilangan sukma.
sekarang adalah untuk ketiga kalinya peristiwa itu terjadi, temyala orang yang kehilangan
sukmalah sebagai saksinya.
sekalipun orang bodoh juga akan tahu bahwa kejadian ini bukan suatu kejadian yang
kebetulan saja, sudah pasti orang yang kehilangan sukmalah yang telah mengatur segala
sesuatunya.
Lalu apa maksudnya perempuan misterius itu mengatur segala sesuatunya itu? Apa alasannya?
Tanpa sadar sianak muda itu mengalihkan pandangan matanya kewajah orang yang kehilangan
sukma dan ingin sekali melihat mimik wajahnya pada saat itu, sayang mimik wajahnya tertutup
oleh kain kerudung berwarna hitam.
"Bagaimana sau sicu? jawablah sejujur nya" terdengar Tay huang siani bertanya.
Kacau dan bingung perasaan Han siong Kie pada saat ini tanpa disadarinya ia menyahut.
"Aku tak dapat menerima syaratmu itu "
"jadi engkau hendak menjilat ludahmu sendiri? " tegur Tay huang sinni dengan wajah serius.
Tanpa sadar si anak muda itu mundur satu langkah kebelakang dia berusaha untuk membela
diri, katanya:
"cianpwe aku minta ajukan syarat lain, tentang syaratmu yang itu aku tak dapat
menyanggupinya "
"Tidak bisa, selamanya pinni hanya akan mengajukan sebuah syarat saja, tidak nanti akan
kuulangi dengan mengajukan syarat lain"
"Tapi boanpwe benar-benar tak dapat melakukan permintaan dari locianpwe itu"
"ooh jadi engkau bermaksud untuk mengingkari janji?" ejek nikoh tua itu dengan sinis.
"Boanpwe mempunyai kesulitan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain, maafkanlah daku
locianpwe, syaratmu itu tak dapat kulaksanakan"
"jadi kau anggap Go siau bi tidak pantas untuk mendampingi dirimu sebagai seorang istri?"
"Bukan... bukan begitu maksud boanpwe, terus terang saja boanpwe katakan babwa aku..
sebenarnya aku telah..telah.."
"Apa maksudmu Katakan saja blak-blakan"
"Sebenarnya boanpwe telah serahkan hati dan tubuh boanpwe ini kepada gadis lain, dan antara
aku dengan dia telah .... telah terikat oleh tali perkawinan"
"Ada yang menjodohkan?’
"Tidak..tidak ada"
"Ada persetujuan dari orang tua?"
"Ju...juga tii... tidak ada"
"Kalau toh tidak ada kan hal itu sama sekali tidak menghalangi engkau untuk menerima
syaratku ini?"
sungguh sedih dan pedih perassan hati Han siong Kie apalagi teringat bahwa Tonghong Hui,
yang dicintainya telah tiada di dunia ini, kepedihan tersebut akhirnya tercetus keluar dengan katakata:
"Dia.... dia telah meninggal dunia"
"Kalau benar sudah mati urusan ini kan lebih gampang untuk diselesaikan? Apa yang kau
pusingkan lagi?"
"jiwa dan perasaan boanpwe telah lama terkubur bersama matinya gadis itu, pada hakekatnya
yang cianpwe lihat sekarang tak lebih hanya sesosok mayat hidup belaka, sesosok tubuh yang
tidak berperasaan dan tidak kenal arti lagi"
sekilas perasaan serba salah melintas di wajah Tay huang sinni, ia terbungkam untuk beberapa
saat lamanya, tapi selang sesaat kemudian ia telah berkata lagi dengan suara keras:
"Menurut apa yang pinni ketahui, engkau sudah pernah bersentuhan badan dengan Go siau bi,
lantaran cintanya padamu, ia rela mengasingkan diri dan hidup sebagai seorang pendeta, tidakkah
kau tergetar perasaan hatinya oleh kesungguhan serta kemurnian cinta kasihnya itu?"
"Aaai, pada hakekatnya boanpwe tidak punya ingatan untuk memikirkan persoalan yang lain"
"Tahukah engkau bahwa perbuatanmu telah menghancurkan masa depan seorang dara ?"
"Boanpwe menyesal sekali atas kejadian ini, tapi apa boleh buat lagi boanpwe tak kuasa
menerima kenyataan tersebut"
"selain itu tahukah engkau bahwa tidak berbakti ada tiga macam, dan yang paling utama
adalah tiada keturunan, apakah engkau gembira melihat keluarga Han putus keturunan?"
000dw000
BAB 67
UCAPAN tersebut bagaikan sebilah pisau belati yang menusuk kedalam ulu hati Han siong Kie,
sekujur badannys gemetar keras.
Pada hakeketnya tak pernah ia berpikir sampai kesoal itu, tapi heran mengapa Tay huang sinni
menegur dirinya dengan kata-kata semacam itu? Bukankah dia adalah seorang pendeta yang tidak
mencampuri urusan keduniawian lagi?
" Locianpwe apakah engkau hendak memaksa boanpwe untuk mengingkari janjiku terhadap
orang yang sudah tiada lagi?" katanya tiba-tiba.
orang yang kehilangan sukma yang selama ini membungkam terus mendadak menyela:
"Nak bila engkau bersedia untuk memegang janji kepada orang yang telah mati, mengapa tidak
pula kau penuhi kewajibanmu sebagai rasa baktimu pada orang tua yang telah tiada ? Kau harus
dapat membedakan mana yang serius dan mana yang tidak. toh setelah kau laksanakan
kewajibanku untuk berbakti pada orang tua, engkau masih dapat pula memenuhi janjimu kepada
orang yang telah tiada?"
"Bila aku sampai berbuat demikian, bukankah perbuatanku ini justru akan menyiksa nona Go
siau bi untuk selama-lamanya?"
"siapa bilang begitu ?"
" Cianpwe" tiba-tiba Han siong Kin menengadah dan menatap wajah perempuan misterius itu
tanpa berkedip "tolong tanya, apakah kesemuanya ini adalah hasil dari rencana locianpwe ?"
orang yang kehilangan sukma terbungkam, ia tak sanggup memberikan jawaban.
"sau sicu, apakah engkau lupa bahwa hasil ini adalah suatu hasil dari pertaruhan antara engkau
dan aku ?" Tay huang sini menyela dari samping dengan dingin
"oooh.. jadi engkau menggunakan kebahagiaan dari seorang dara sebagai bahan pertaruhan?
Pantaskah perbuatanmu itu?" seru pemuda itu marah-marah.
JILID 32 HAL. 50/51 HILANG
amat menusuk pendengarannya, terutama sebutan "ciangbunjin" yang sengaja diucapkan
dengan nada berat, lebih-lebih mengetuk perasaannya.
sebagai seorang pemuka dunia persilatan, menjadi kewajiban baginya untuk melaksanakan apa
yang telah disanggupi, tapi perkawinan adalah suatu kejadian besar, ia tak ingin berbuat secara
gegabah sehingga akhirnya harus di akhiri dengan tragedi.
44
Sementara pemuda itu masih termangu- mangu, orang yang kehilangan sukma telah berkata
lagi:
"Nak, tegakah engkau membiarkan masa depan seorang dara hancur di tanganmu?"
Sakit hati, bingung dan sedih bercampur aduk dalam perasaan hati si anak muda itu, dia tak
tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini, terutama kata-kata tentang ketidak baktian sebagai
seorang putra diantara tiga hal yang tidak berbakti, tak punya keturunan adalah tidak berbakti
yang paling utama. Benarkah dia tak akan menikah dan membiarkan orang menganggapnya
sebagai manusia yang tidak berbakti?
"Sekarang ia baru menyesal, menyesal apa sebabnya tidak menggunakan ilmu jari Tong kim ci
untuk mengalahkan musuhnya, ia tidak tega rahib itu terluka, tapi akhirnya dia sendirilah yang
rugi.
Sebagai seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia akan mengingkari janji. Kata-kata itu diucapkan
sendiri olehnya, benarkah dia harus mengingkari janji.
Sekalipun ia sadar bahwa ia terjebak oleh suatu siasat yang disusun sangat rapi, toh dia kalah
adalah suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi.
Sementara itu orang yang kehilangan sukma tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia
mendesak lebih lanjut.
"Nak, engkau sebagai putra manusia, menjadi kewajiban bagimu untuk menunjukkan
kebaktiaanmu sebagai anak manusia, sekalipun engkau dapat membalaskan dendam bagi
kematian ayahmu, belumlah lengkap kebaktianmu pada orang tua, mengertikah kau dengan katakataku
ini ? .."
Han siong Kie menggigit bibir, sahutnya:
"Apa yang cianpwe ketakan memang benar tapi sekarang aku harus membalaskan
HAL. 54 S/D 57 HILANG
sekalipun aku kawin dengan Go siau bi mungkinkah perkawinan ini bisa berakhir dengan
kebahagiaan, Akhirnya toh kita akan mengalami tragedi yang menyedihkan?"
"Bahagia atau sedih adalah urusan belakang, siapa tahu kalau kenyataannya jauh berbeda
dengan apa yang saat ini kau bayangkan?"
"Jadi maksud Cianpwe, kau memaksa Boanpwe untuk mengabulkan permintaanmu itu?"
"Yaa,angaplah perkataan ini merupakan suatu paksaan" sahut orang yang kehilangan sukma
dengan suara berat.
Han siong Kie tertegun dan tidak bicara, selang sesaat kemudian ia mengangguk. "Baik.
Boanpwe menyanggupi permintaan mu itu"
"Jadi kau menerima syarat tersebut?"
"Benar, aku menerimanya, tapi akupun mempunyai sebuah syarat"
"Apa syaratmu itu?"
" Cianpwe harus menjelaskan kepada nona Go siau bi serta kakeknya, bila dendam berdarah
berhasil boanpwe balas, waktu itulah kita baru bicarakan kembali soal cinta dan tiga tahun setelah
menikah boanpwe akan meninggalkan keluarga dan pergi jauh"
"setelah tiga tahun, apakah engkau akan bunuh diri untuk menunjukkan ketetapan hatimu pada
Tonghong Hui?" kata orang yang kehilangan sukma sampai mundur selangkah.
"Benar, kenapa ? "
"Andaikata Tonghong Hui belum meninggal dunia ?"
"Aaah, hal ini aku rasa tidak mungkin"
"Baik, kukabulkan syaratmu itu dan kita pun tentukan perjanjian ini dengan kata-katamu ini"
Berbicara sampai disini, tiba-tiba orang yang kehilangan sukma berpaling, serunya kearah batu
karang kurang lebih beberapa kaki didepan sana: "Locianpwe, silahkan mengunjukkan diri untuk
memperkuat ikatan perkawinan ini "
seorang sasterawan berusia setengah baya perlahan-lahan munculkan diri dari balik batuan
cadas.
Dia bukan lain adalah kakek Go siau bi Put to sianseng yang disegani banyak orang itu.
Han siong Kie tertegun, kemunculan tokoh silat ini semakin memperkuat dugaannya bahwa apa
yang terjadi pada saat ini adalah suatu siasat, suatu rencana besar dari orang yang kehilangan
sukma.
Tapi yang mengherankan adalah Put lo sianseng dan Tay huang sinni kedua orang tokoh silat
ini berilmu tinggi dan berkedudukan terhormat, tapi mereka bersedia untuk mendengarkan katakata
orang yang kehilangan sukma malahan bekerja sama untuk memancingnya masuk jebakan,
apa tujuan mereka?
sementara itu Put to sianseng telah berkata sambil tertawa ringan ucapnya:
"Bocah bagus, kemurunganku sudah dilenyapkan, mulai sekarang lohu bisa mengasingkan diri
dan beristirahat dengan tenang".
orang yang kehilangan sukma segera mendorong Han siong Kie untuk maju katanya:
"Bagaimana juga penghormatan tak bisa dielakkan, hayo maju dan memberilah hormat kepada
kakekmu."
Dalam hati Han siong Kie menghela napas panjang, dengan kaku dia maju beberapa langkah
dan jatuh berlutut dihadapan put to sianseng, ketika ia menyembah sebanyak tiga kali ia tak dapat
melukiskan bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, entah manis getir, kikuk atau kecewa.
Cepat Put to sianseng ulapkan tangannya seraya berkata:
" Cukup Cukup Bangunlah nak, sebelum aku pergi mengasingkan diri, ada beberapa patah kata
terlebih dahulu hendak kukatakan kepadamu, ketahuilah gurumu Mo tiong ci mo adalah sahabat
lamaku, setelah engkau mewariskan kedudukannya aku harap engkau bisa membangun kembali
perguruan Thian Lam bila melakukan segala persoalan janganlah terlalu memikirkan masalah itu
dengan pikiran yang sempit".
sekujur badan anak muda itu bergetar keras, peluh dingin membasahi tubuhnya tanpa terasa ia
teringat kembali akan apa yang diberitahukan orang yang kehilangan sukma ketika berada di
mulut lembah kematian.
Dikatakan Tee kun perguruan Thian Lam yang sekarang yaitu Wi It beng telah menjual
perguruannya kepada Thian che kau, istana Huan mo kiong telah diubah menjadi kantor cabang
Thian che kau sektor Thian lam.
JILID 32 HAL. 62/63 HILANG
Perasaan hatinya pada saat ini hampa, kosong . . sekarang Go siau bi telah menjadi calon
istrinya dengan resmi, siapakah bakal menduga sampai kesitu?
setelah tiba di kaki bukit dan menghampiri tempat perpisahannya dengan Hekpek siang yau,
mendadak pemuda itu tercekat, ternyata dua orang pembantunya telah lenyap tak berbekas.
semestinya Hekpek siang yau tidak akan meninggalkan ketuanya tanpa pamit, atau mungkin
telah terjadi sesuatu?
Han siong Kie memeriksa keadaan disekitar tempat itu dengan seksama, namun ia tak berhasil
menemukan sesuatu tanda-tanda pernah terjadinya pertarungan disana. Atau Hekpek siang yau
telah menghianatinya ?
-000dw000-
DENGAN kepandaian silat yang dimiliki sepasang siluman serta meninjau dari perbuatanperbuatan
mereka di masa lampau, bisa jadi kedua orang itu akan melakukan kejahatan lagi.
Andaikata apa yang diduga tak salah, dialah yang berdosa karena dialah yang melepaskan dua
orang gembong iblis itu dari tempat penahanannya.
Untuk sesaat lamanya Han Siong Ken berdiri tertegun, ia tak tahu apa yang musti dilakukan.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian pa muda itu mengambil keputusan, pikirnya:
"Andaikata sepasang siluman benar-benar telah menghianatinya serta melakukan kejahatan
dalam dunia persilatan, aku pasti akan melenyapkan kedua orang itu dari muka bumi".
seorang diri diapun melanjutkan perjalanan menuju kekaki bukit itu.
Dua jam kemudian pemuda itu sudah keluar dari daerah pegunungan dan melanjutkan
perjalanan melalui jalan raya.
sementara perjalanan masih dilanjutkan tiba-tiba dari arah depan meluncur datang beberapa
sosok bayangan manusia, meskipun gerakan tubuh beberapa orang itu bagaikan meteor yang
lewat, akan tetapi bagi ketajaman mata Han siong Kie bukan halangan baginya untuk mengenali
siapa gerangan mereka itu. segera teriaknya dengan suara nyaring: "Engkoh tua Tunggu sebentar,
kau akan ke mana ?"
Mendengar teriakan tersebut, berhentilah rombongan itu, ternyata mereka adalah delapan
orang pengemis dekil, orang pertama tak lain adalah Pengemis dari selatan.
"HaaaHh . . haaaHh .. haaaHh saudara cilik, rupanya kau " teriak pula pengemis dari selatan
dengan wajah berseri.
" Engkoh tua, aku lihat wajahmu murung sekali, apakah telah terjadi sesuatu atas diri mu?"
"Aaai, saudara cilik masa kau tidak mendengar bahwa perkumpulan kami sedang menghadapi
masa kiamat?" ujar pengemis tua itu sambil menghela napas panjang.
"Menghadapi masa kiamat? Kenapa?" seru si anak muda itu tertegun sambil terimangu.
"Jadi engkau tidak mendengar apa-apa tentang organisasi Kay pang kami itu?" Han siong Kie
menggelengkan kepalanya:
"sudah berbulan-bulan lamaoya siaute tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, aku tak tahu apa yang telak menimpa perkumpulan Kay pang?"
"oooh. Kalau begitu tak heran kalau engkau tidak tahu.." ujar pengemis itu.
sesudah menghela napas dan berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh: "semenjak dahulu
kala antara Thian che kau dengan Ji-pang dan sam hwe tak pernah mengadakan kontak hubungan
apa-apa, hubungan kami ibaratnya air sumur yang tidak mengganggu air sungai, tapi rasanya
pihak Thian che kau mempunyai ambisi untuk merajai dunia persilatan, secara licik mereka telah
membasmi musuh-musuh serta saingannya secara diam-diam. Pertama kali yang mengalami nasib
jelek adalah perkumpulan Pat gi pang, menyusul kemudian perkumpulan Jit yan pang. Hong te
hwe, Ang kin hwe, serta Ngo heng hwe dipaksa takluk kepada mereka dan merubah nama
menjadi kantor cabang perkumpulan Thian che kau, rupanya sekarang mereka jatuhkan
incarannya kepada pihak Kay pang, saudara cilik, kalau bukan saat kiamat perkumpulan kita sudah
tiba, apa lagi namanya"
JILID 33 HAL. 06/07 HILANG
"Akupun belum lama mendengar ini, karena setelah urusan disini selesai segera aku akan
berangkat ke Thian Lam untuk melakukan pembersihan secara besar-besaran"
"Dengan kekuatan saudara cilik seorang aku rasa . ."
"Pentolan penghianatan ini cuma seorang yaitu Wi It beng, aku percaya anak murid lain
kebanyakan cuma menganut kehendak hatinya belaka" setelah berhenti sebentar ia berkata lagi:
" Engkoh tua batas waktu yang ditentukan lencana Thian che leng masih ada berapa hari?"
"Tinggal besok sehari "
Ketika pengemis dari selatan mengucapkan kata-kata itu, tiga pengemis tua dan delapan
pengemis setengah baya yang berada dibelakagnya sama-sama menunjukkan wajah sedih dan
resah, namun tak seorangpun yang bersuara. Han siong Kie termenung dan berpikir sebentar,
kemudian bertanya: "Apa rencana engkoh tua untuk menyelesaikan persoalan yang sangat pelik
ini?"
"Aaai, aku telah menurunkan perintah untuk mengumpulkan segenap jago lihay yang berada
dikantor- kantor cabang untuk berkumpul semua dimarkas besar kami tepi pantai Pak swit ham,
yaa . . mati hidup Kay pang tergantung dalam pertarungan yang bakal berlangsung, meskipun
saat ini kami masih mempunyai satu harapan untuk menyelamatkan perkumpulan kami dari
musibah yakni mengharapkan kemunculan susiok kami song Tiat kong . tapi harapan ini tipis
sekali"
"Mengapa kalian tidak segera mengirim kabar kepada song locianpwe agar bersiap sedia?"
"Ketika tengkorak maut gadungan membuat onar dalam markas besar kami. song susiok telah
salah menganggap tengkorak gadungan sebagai tengkorak maut asli, sesudah peristiwa itu beliau
berkunjung ke benteng maut menuntut keadilan, tapi akhirnya beliau kalah ditangan pemilik
benteng maut, waktu itu susiok telah sesumbar bahwa akan muncul kembali dalam dunia
persilatan untuk selamanya, dari mana kami bisa tahu susiok kini berada dimana ? Dan bagaimana
mungkin berita itu disampaikan kalau kami tak tahu dimana beliau berada?"
"Apakah engkoh tua bersedia untuk menerima bantuan dari saudara cilikmu ini?" kata Han
siong Kie mendadak sambil menawarkan jasa baiknya.
" Kesediaanmu untuk membantu tentu saja akan kami sambut dengan senang hati" sahut
pengemis dari selatan sambil mengernyitkan alisnya yang telah memutih, "aku hanya kuatir
bantuanmu masih belum cukup untuk menolong perkumpulan kami lolos dari musibah ini, aaai...
yaa apa boleh buat, terserah bagaimana nasib akan mengaturnya nanti"
Pengemis dari selatan belum tahu kalau Han siong Kie telah berhasil mempelajari ilmu sakti si
mi sinkang, sebab berbicara dari kekuatan yang dimiliki pemuda itu di masa lampau, memang tak
mungkin ia bisa menolong Kay pang untuk lolos dari musibah.
Han siong Kie bukan orang bodoh, sudah tentu diapun dapat merasakan keraguan saudara
tuanya itu, ia tersenyum.
"Begini saja engkoh tua, kalian berangkatlah lebih dulu, bila tiba saatnya nanti, aku pasti sudah
hadir di markas besar kalian"
Pengemis dari selatan mengangguk. mereka tidak berkata apa-apa lagi, dengan begitu maka
dua bersaudara inipun kembali berpisah.
sepeninggal pengemis dari selatan beserta ketujuh orang rekannya, Han siong Kie berpikir
didalam hati, untuk menuntut balas ke benteng maut jelas sudah tak sempat lagi, maka ia
menyusun rencana untuk melaksanakan kembali usaha penuntutan balasnya sesudah
menyelamatkan Kay pang dari musibah.
-000dw000-
BAB 68
LENYAPNYA Hekpek siang yau secara misterius sangat memusingkan kepala anak muda itu, ia
merasa tak mungkin kalau kedua orang siluman itu berhianat kepadanya atau pergi tinggalkan
dirinya tanpa pamit. sebab dua orang itu telah mengakuinya sebagai majikan, itupun kerena harus
menuruti sumpah yang pernah mereka ucapkan dimasa lampau, apalagi mereka telah diterima
sebagai anggota perguruan Thian Lam bun, mustahil pikiran mereka berubah di tengah jalan.
Tapi kemana mereka telah pergi ? Celaka ditangan orang ?Jelas hal ini tak mungkin terjadi,
Ilmu silat mereka sangat lihay, siapakah yang mampu untuk merobohkan kedua orang itu"
sementara dia masih melamun, tiba-tiba sorot matanya sempat menangkap sesosok bayangan
manusia sedang berdiri ditepi sungai tak jauh dari tempat ia berada sekarang, jelas orang itu
tinggi semampai dengan potongan badan menggiurkan, jelas orang itu adalah seorang gadis dan
gadis itu terasa sangat dikenal olehnya.
Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, kontan jantungnya berdebar keras, hampir
saja pemuda itu menjerit. "Aaah Masa dia ?"
Dengan penuh emosi dan hati yang bergejolak pemuda itu meluncur ke depan, menghampiri
gadir yang tinggi semampai itu .
Makin mendekati orang itu, Han siong Kie merasa semakin yakin kalau dugaannya tidak
meleset dan akhirnya . . ia benar-benar membuktikan bahwa dugaannya tak salah gadis itu
memang tak lain dari kekasih hatinya. Tonghong hui yang dia rindukan siang malam.
Darah yang mengalir dalam tubuh pemuda itu terasa mendidih bagaikan kena listrik
bertegangan tinggi, separuh tubuhnya terasa menjadi kaku, hampir saja jantungnya melompat
keluar dari rongga dadanya.
Dengan bibir yang gemetar dan muka yang pucat, ia berdiri tertegun untuk sesaat lamanya tak
sepatah katapun mampu dia utarakan keluar.
Betapa tidak ? Tonghong-Hui yang melama ini dianggapnya telah mati ternyata masih hidup
segar bugar... dugaan dari orang yang kehilangan sukma terbukti kebenarannya, dara itu belum
mati.
Tapi aneh, sekalipun Han siong Kie sudah berada dibelakangnya, gadis itu masih tidak merasa,
ia berdiri kaku bagaikan patung, bergerak sedikitpun tidak.
Angin sungai berhembus sepoi basah mengibarkan ujung bajunya yang panjang, tubuhnya
yang tinggi semampai, lekukan tubuhnya yang menggiurkan amat menawan hati, ibaratnya
bidadari dari kahyangan gadis itu tampak agung dan cantik.
"Adik Hui" akhirnya pemuda itu memang gigil, meski suaranya lirih dan agak parau.
sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, namun ia tidak berpaling pun tidak menjawab.
suatu firasat aneh terlintas dalam benak sianak muda itu, untuk kedua kalinya kembali dia
memanggil: "..Adik Hui.."
Tonghong Hui menghela napas panjang, begitu pedih dan hampa helaan napas itu, membuat
Han siong Kie tercekat hatinya.
Menyusul helaan napas itu, ia putar badannya, sesaat wajah yang sayu terpampang didepan
mata.
Wajah itu layu, kusut dan sinar matanya telah pudar persis seperti wajah Go siau bi calon
istrinya ketika ia jumpa didepan kuil Bu cuan di bukit Tay huang san.
Han song Kie merasakan hatinya bagaikan dipagut ular berbisa, secara beruntun ia mundur tiga
langkah kebelakang.
Bagaimanakah pertanggungan jawabnya kepada gadis yang ia cinta dengan segenap jiwa
raganya? Apalagi bila ia tahu kalau Go siau bi telah menggantikan kedudukannya?
Diantara putih kepucatan yang menghiasi wajah Tonghong i-Hui terlintas semua merah
diantara pipinya, ia menatap Han siong Kie dengan pandangan hampa, mukanya begitu layu,
pedih, sukar dilukiskan dengan kata.
Mereka tidak mirip kekasih yang saling bertemu kembali, keadaan mereka waktu itu ibarat
orang asing yang saling berjumpa, tiada surprise tiada luapan cinta dan rindu, tiada pelukan
ataupun ciuman.
siapapun diantara mereka tak ada yang buka suara, mereka hanya saling menatap dengan
mulut membungkam.
Udara serasa ikut membeku mengikuti keadaan mereka yang serba kaku, serba dingin-
Perlahan-lahan Han siong Kie tundukkan kepalanya, ia tidak memiliki keberanian untuk
memandang kekasihnya lagi, sebab ia telah menjadi penghianat dari cinta, ia merasa tak punya
muka untuk bertemu lagi dengan gadis yang telah menyerahkan seluruh jiwa dan raga kepadanya.
suasana begitu sepi, hening seolah-olah dunia menjadi mati, jagad menjadi kiamat tak
seorangpun yang bersuara, hanya detak jantung mereka yang berdebar keras.
Darimana orang yang kehilangan sukma bisa tahu kalau Tonghong -Hui tidak akan mati?
Benarkah ia memiliki ilmu meramal, ilmu untuk melihat kejadian yang akan datang?.
Apa sebabnya orang yang kehilangan sukma merusak hubungannya dengan Tonghong Hui?
Benarkah jika hubungan mereka dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu
kejadiaa yang tragis?
Mengapa Tonghong Hui mengingkari janjinya ketika itu? Mengapa ia begitu tega membiarkan ia
menunggu melama dua hari dengan sia-sia ditepi sungai?
Terbukti sekarang bahwa ia tidak mati, benarkah ayahnya bukan pembunuh keluarga Han dan
keluarga Thio? Kalau bukan, tidak seharusnya gadis itu mengingkari janji.. Lama sekali, akhirnya
Tonghung-Hui buka suara, meskipun suaranya penuh kepedihan:
"Engkoh Kie, angkat kepalamu dan pandanglah aku"
Pedih hati Hansiong Kie bagaikan disayat-sayat pisau, ia mendongakkan kepalanya, meskipun
dengan perasaan menyesal dan malu..
Tatkala sepasang mata mereka bertemu satu sama lainnya, kembali pemuda itu mundur
selangkah, yang tampak olehnya adalah seraut wajah yang pucat seperti mayat,juuh berbeda
dengan raut wajahnya dalam kenangan selama ini
"Engkoh Kie, kau... kau membenci aku" kembali gadis itu berbisik lirih sekali suaranya.
"Adik Hui Aku .. aku...toh...mengapa kau mengatakan begitu ? Mengapa kau mengatakan kalau
aku membenci dirimu ?"
"Karena.... karena aku telah mengingkari janjiku sendiri kepadamu, aku tidak menepati janji"
"Adik Hui, seharusnya akulah, aai. mengapa kau tidak menepati janjimu."
"sekembalinya kedalam benteng, aku telah disekap oleh ayah, tak mungkin bagiku untuk kabur
keluar"
Han Siong Kie merasa emosi dalam dadanya bergelora, apa yang ingin diketahui olehnya
segera akan terwujud, dengan suara agak gemetar tanyanya lagi."sudah kau tanyakan soal yang
ingin kuketahui itu ?"
"sudah.." perlahan-lahan gadis itu mengangguk.
Mencorong sinar mata sianak muda itu, dia maju tiga langkah kedepan seraya bentanya lagi:
"Bagaimana jawaban ayahmu?"
"sudah dua puluh tahun lamanya ayah tak pernah meninggalkan pintu benteng barang satu
langkahpun, apakah jawaban tersebut dapat kau terima sebagai suatu keterangan yang lengkap?"
"sudah dua puluh tahun ayahmu tak pernah muncul kedalam dunia persilatan ?" Tonghong Hui
mengangguk lirih tanda membenarkan.
sungguh terkejut dan girang tak terkirakan perasaan Han siong Kie pada saat ini, dia girang
lantaran Tengkorak maut ayah Tonghong-Hui bukanlah musuh besar keluarganya, sebab peristiwa
berdarah yang menimpa perkampungan keluarga Han terjadi pada bulan sembilan tanggal
sembilan pada lima belas tahun berselang.
sekarang terbukti sudah bahwa dia dan Tonghong Hui sebenarnya tidak terpisah oleh dendam
sakit hati.
Tapi pemuda itu merasa murung, murung karena tidak tahu siapakah pembunuh keluarganya,
kemana dia harus pergi untuk mencari jejak pembunuh keluarganya itu?
Tatkala ia teringat kembali akan pernikahannya dengan Go siau bi, kembali pemuda itu
merintih... merintih penuh kedukaan serta penderitaan- "Engkoh Kie, kee... kenapa kau?" tegur
Tonghong i-Hui.
"oooh, aai tidak apa-apa, kalau toh engkau disekap oleh ayahmu, kenapa sekarang bisa muncul
lagi diluar benteng ?"
"Aku mencuri keluar secara diam-diam, mungkin selama hidup, .selama hidup aku tidak dapat
memasuki pintu benteng maut lagi "
" Kenapa?" tanya sianak muda itu dengan terperanjat:
Tonghong Hui tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya lagi:
" Engkoh Kie, apakah engkau masih... masih selalu mencintai diriku ?"
sakit rasanya hati Han Siong Ki tatkala mendengar pertanyaan itu, ia berpikir:
"Kalau kulihat dari sikap adik Hui yang begitu murung dan layu, kemungkinan besar ia sudah
mengetahui tentang peristiwaku di bukit Tay huang san, bagaimana caranya aku memberi
penjelasan ? Aaai, aku benar-benar menyesal mengapa waktu itu imanku tidak teguh ? Bila
kutolak permintaan tersebut dengan hati yang keras, tak nanti bakal terjadi peristiwa seperti hari
ini".
sementara sianak muda itu masih termenung, Tonghong Hui telah mendesak lebih lanjut.
" Engkoh Kie, hayolah katakan-.. masihkah engkau mencintai diriku ?"
"Adik Hui, percayalah kepadaku. hatiku tak akan berubah, selama-lamanya aku memang tetap
mencintaimu"
"Kau mencintai aku ? selama-lamanya mencintai diriku ?"
"Benar, selama hayat masih dikandung badan, cinta ku padamu tak akan pudar"
" Engkoh Kie, aku dapat meresapi cinta kasihmu ini dan tak akan melupakan untuk selamalamanya
. "
Ucapan tersebut segera mendatangkan firasat tak enak dihati pemuda kita, buru-buru serunya:
"Adik Hui, kau... kenapa kau...."
Tonghong Hui menggeleag dengan seduh dan tertawa rawan.
"Engkoh Kie, kau tak usah bertanya kepadaku mengapa, asalkan masih tetap mencintai aku, itu
sudah lebih dari cukup "
"Adik Hui, aku..aku..sebetulnya...."
"Engkoh Kie, manusia yang mendapat cinta murni dari seseorang adalah suatu kebahagiaan,
aku sudah merasa sangat puas Biarlah apa yang akan terjadi dikemudian hari diatur oleh takdir
dan nasib" Air mata bagaikan layang-layang putus benang mengucur keluar tiada hentinya, dan
membasahi pipi Tonghong-Hui yang pucat pasi, serta tampak menyeramkan itu.
Hancur lebur perasaan hati Han siong Kie pada waktu itu, ia merasa gemas dan benci mengapa
tak dapat segera mati sehingga dosa yang telah dilakukan bisa ditebus kembali. "Adik Hui,
mengapa kau mengatakan begitu? Mengapa ?"
Tonghong Hui tertawa rawan- dia menggeleng.
"sekalipun kuterangkan, engkau tak akan mengerti . . dan tak akan paham"
" Katakanlah padaku . . kumohon katakanlah kepadaku, mengapa ? Mengapa kau berkata
begitu?"
"Dikemudian hari engkau akan mengerti sendiri, sekalipun tidak kuterangkan sekarang, tapi kau
akan pasti paham"
Berkerut kencang raut wajah Han siong Kie yang tampan d engan penuh penderitaan katanya
lagi:
"Adik Hui, maafkanlah daku, pada hakekatnya aku... sebetulnya aku..."
"Engkoh Kie, jangan berkata begitu?" tukas Tonghong i-Hui sambil menggelengkan kepalanya
berulang kali: "kata maaf sepantasnya muncul dari mulutku aaai Apa mau dikata lagi bila takdir
telah mengatur segala sesuatunya itu bagi kita?"
"Adik Hui...."
"Duduklah engkoh Kie, bersandarlah padaku," Dengan sikap yang kaku dan gerak gerik yang
sama seperti orang kehilangan sukma Han siong Kie duduk diatas batu cadas dan bersandar diatas
tubuh gadis itu.
Tonghong Hui segera merebahkan dirinya dalam pangkuan pemuda itu serta merta Han siong
Kie merangkul tubuhnya dan mendekapaya erat-erat.
"Engkoh Kie, masih ingat ketika kita mengangkat saudara diatas batu besar ditepi sungai?
Ketika itu aku masih serupa seorang pengemis cilik"
"Aku tak akan melupakan kenangan indah itu untuk selamanya"
"Masih ingat sewaktu kau terjatuh ketangan orang-orang Thian che kau pura-pura mati dengan
ilmu Ku si tay hoat dan aku menguburkan jenasahmu serta mendirikan batu nisan dirimu?"
"Aaai, aku sangat mengharapkan bahwa kejadian itu hakekatnya adalah suatu kejadian
sebenarnya, sekarang niscaya kita sudah berbaring didalam sebuah liang..."
"Adik Hui, kau...."
"Ketika kau dihantam oleh Tengkorak maut gadungan sehingga tercebur kedalam jurang, aku
menyusulmu kedalam jurang, tapi akhirnya kita sama-sama tidak mati"
"Adik Hui, semua kenangan indah serta kenangan manis itu tak akan pudar, tak akan hilang
dari pikiranku"
"Tapi, sekarang engkoh Ki, aku menyesal aku merasa amat menyesal"
Tercekat perasaan hati Han siong Kie, ucapan dari gadis itu seakan-akan tidak teratur lagi,
mungkinkah ia sudah jadi gila?
"Adik Hui, kau ... kau perlu beristirahat, tidurlah sebentar agar pikiranmu menjadi terang
kembali."
"Tidak. aku sangat baik, pikiranku masih cukup terang"
"Ucapanmu itu .... ucapanmu iti telah menghancurkan hatiku.... melumpuhkan perasaanku"
"Bersabarlah engkoh Ki, perasaanmu itu akan hilang mengikuti berputarnya waktu "
Hembusan angin lirih berkumandang dari kejauhan, bukan hembusan angin biasa tapi ujung
baju seseorang yang tersambar angin-
Dengan cekatan dua orang itu meloncat bangun berpaling, sesosok bayangan manusia berdiri
kurang lebih lima kaki dihadapan mereka.
orang itu adalah seorang manusia aneh yang berambut panjang, tampaknya jelek dan sangat
menyeramkan,
Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, sementara Han siong Kie sendiripun merasa
terperanjat setelah mengetahui siapa yang datang, dia masih ingat manusia aneh ini adalah
penghuni benteng maut, dia pernah bertemu dengan manusia aneh ini dan seingatnya makhluk
inilah yang terus berkaok-kaok dengan suara aneh.
"siapakah orang itu adik Hui?" cepat bisiknya.
"Dia adalah siau suhengku, seorang yang bisu dan tak pandai berbicara tapi kecerdikannya luar
biasa, diapun sangat perasa, selama hidup belum pernah tinggalkan benteng.."
"Tahukah kau apa tujuannya datang kemari?"
"Tentu saja mendapat perintah dari ayah untuk mencari aku serta menggusurnya pulang
kebenteng"
"Kalau begitu biarlah ku usir dia pergi dari sini."
"Jangan...Jangan kau berbuat begitu", tiba-tiba ia melejit ke depan sambil berlarian menjauhi
pemuda itu, serunya lagi "engkoh Kie, semoga kau baik-baik menjaga diri,aku. .aku pergi dulu"
"Adik Hui, jangan pergi dulu. aku masih...."
Namun Tonghong Hui tidak menggubris lagi, bersama manusia aneh berambut panjang itu
bayangan mereka kian menjauh sehingga akhirnya lenyap dari pandangan.
Han siong Kie berdiri menjublak bagaikan sebuah patung arca ia berdiri kaku di atas sebuah
batu tanpa berkutik, untuk sesaat pemuda itu dibikin gelagapan dan tak tahu apa yang musti
dilakukan ingin sekali ia mencegah kepergiannya tapi kakinya tak pernah beranjak dari tempat
semula, tutur kata Tonghong i-Hui yang aneh dan sedih serta paras muka sang dara yang sayu
dan layu membuat pikirannya kalut dan tak tenang.
Masih banyak perkataan serta penjelasan yang hendak ia katakan kepadanya, tapi gadis itu
sudah pergi.
Menurut pengakuannya, sudah dua puluh tahun ayahnya tak pernah keluar daripintu gerbang
benteng, maka mungkinkah ucapannya jujur? Lima belas tahun berselang waktu itu usianya baru
mencapai tiga tahun, tak mungkin ia bisa tahu akan kejadian yang sebenarnya, benarkah ia
percaya akan kata-kata dari gadis itu?
Bukankah lambang tengkorak maut muncul ditempat pembantaian? Ataukah lambang itupun
palsu?
Berpikir sampai disini, dia lantas mendepakkan kakinya ke tanah seraya berseru:
"Bohong . . bohong siapa tahu kalau ia sengaja membohongi aku ? Bagaimanapun juga setelah
persoalan dari Kay pang telah ku selesaikan, aku harus berkunjung kebenteng maut"
setelah mengambil keputusan, pemuda itu menghela nafas panjang dan melanjutkan
perjalanannya menuju kuil Bu hau si di Pak swi tham, markas besar dari kaum pengemis.
suasana dimarkas besar perkumpulan Kay pang ketika itu diliputi oleh keresahan dan
kemurungan.
Mulai dari ciangbunjin sampai anggota yang terendah telah berkumpul semua disitu, jumlah
mereka mencapai dua ratus orang lebih, Waktu itu dengan wajah tegang, sedih dan marah
mereka tersebar diluar dan didalam kuil untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan
yang tak diinginkan-
Hari inilah batas waktu yang ditetapkan Thian che leng telah berakhir, dalam satu jam
mendatang bila Kay pang masih belum bersedia menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau,
maka semua anggota dalam perkumpulan itu akan dibantai secara keji.
Pemimpin para tiang lo dari Kay pang yakni Pengemis dari selatan berdiri disamping ketuanya
dengan alis mata berkernyit.
Suasana hening dan sepi, seakan-akan sernua orang sedang menantikan tibanya saat kiamat.
Ditengah keheningan malam yang mencekam seluruh jagad, tiba-tiba semua orang merasa
pandangan matanya jadi silau, tahu-tahu seorang manusia baju hitam tanpa menimbulkan sedikit
suarapun telah melayang turun ke tengah gelanggang.
Gerak tubuh orang itu sangat enteng dan cepat seolah-olah sukma gentayangan, dari sini dapat
diketahui betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang itu.
Ketua Kay pang serta keenam orang tianglonya serentak bangkit berdiri dan siap menghadapi
segala kemungkinan-
Berbareng dengan gerakan itu, kawanan jago lihay dari Kay pang yang lainpun serentak bersiap
siaga, meskipun agak tercekat perasaan hati mereka namun semangat tempur masih tetap tinggi.
orang itu adalah seorang kakek berjubah hitam dengan lambang matahari, rembulan serta
bintang diatas dadanya, tinggi kekar perawakan tubuh orang itu, cambangnya lebat dan sinar
matanya amat tajam.
setelah menyapu pandang sekejap keseluruh gelanggang, dia tertawa dingin
JILID 33 HAL. 30/31 HILANG
"HeeHh .. heeHh . . heeHh ciangbun, kuanjurkan kepadamu lebih baik berpikirlah tiga kali
sebelum mengambil keputusan, ketahuilah bahwa keputusan yang gegabah akan mengakibatkan
kehancuran total bagi pihak kalian sendiri "
"Tak usah banyak bicara, kami tak akan sudi mendengarkan perkataanmu itu"
setelah mengetahui kebulatan tekad orang, suma Hiong utusan khusus dari Thian che Kau itu
segera menarik kembali lencananya lalu sambil tertawa dingin berkata.
"Bagus Bagus Kupuji ketekadan kalian ini, terpaksa aku harus melaksanakan titah dari kaucu
kami untuk membantai kalian semua dari muka bumi "
sebelum iblis itu sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba dari luar pekarangan kuil muncul seorang
pengemis setengah baya, sambil berlarian menuju kehadapan ketuanya dia berseru: "Lapor
ciangbunjin, markas kita telah terkepung rapat."
"Aku sudah tahu, mundurlah " kata ketua kay pang seraya ulapkan tangannya. Pengemis
setengah baya itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari sana.
Dalam pada itu delapan orang jago pedang yang berada dibelakang suma Hiong telah putar
badan dan memencarkan diri jadi posisi setengah lingkaran, masing-masing pihak mencari
posisinya masing-masing dan berhadapan dengan lawan-lawannya.
sekejap mata suasana menjadi hening, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh
gelanggang.
Dengan sinar mata setajam sembilu suma Hiong menyapu pandang tiap wajah tokoh kay pang
yang hadir ditempat itu, sikapnya buas dan garang, seakan-akan dia tak pandang sebelah
matapun terhadap musuh-musuhnya ini.
Dua orang diantara enam tiang lo yang hadir disana tak dapat mengendalikan hawa amarahnya
lagi, mereka membentak keras kemudian sambil melepaskan serangan langsung menerkam
ketubuh orang itu.
suma Hiong mendengus sinis, tiba-tiba sepasang telapak tangannya direntangkan ke samping
dan menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras.
Jerit kesakitan menggelegar di angkasa, di tengah muncratnya darah segar yang menodai
permukaan tanah dua orang tiang lo itu mencelat ke belakang dan tewas seketika itu juga.
Kejadian ini sangat mengejutkan hati kawanan jago dari Kay pang, siapapun tak mengira kalau
dua orang tiang lo mereka bakal mampus dalam satu gebrakan saja ditangan orang.
Jelaslah sudah bahwa tenaga lwekang dari suma Hiong benar-benar sangat lihay dan sukar
dicarikan tandingannya, atau dengan perkataan lain sudah pasti Kay pang akan musnah dari muka
bumi ditangan orang ini.
Pengemis dari selatan amat gusar, rambut nya terasa pada berdiri seperti kawat, dia maju
kemuka, kepada ketuanya berkata:
"Bila takdir menghendaki Kay pang musnah ditangan iblis ini. siapapun tak akan dapat
menolongnya, biarlah aku si.pengemis tua berangkat satu langkah lebih duluan"- sambil
membusungkan dada, ia lantas tampil kedepan dan mendekati musuhnya. Menyaksikan
kemunculan pengemis itu. suma Hiong menjengek dingin, katanya:
"Jadi engkau yang disebut sebagai pengemis dari selatan, pemimpin para tianglo dari Kay
pang?"
"Benar" jawab pengemis itu singkat.
"Dengan kedudukan serta nama besarmu dalam tubuh Kay pang, perlukah ku beri waktu
bagimu untuk mempertimbangkan keadaan pada saat ini? Dengan senang hati akan kuberi
kesempatan yang terakhir bagimu untuk berpikir kembali"
"Tak perlu" tukas pengemis dari selatan dengan gusar "Thian che kau menganggap dirinya
besar dan agung, perbuatannya cuma mengacau dan menerbitkan keonaran dalem dunia
persilatan, saat kiamatnya tidak akan terlalu jauh"
"Kurang ajar, saudara benar-benar tak tahu diri, rupanya sebelum darah menodai seluruh
permukaan tanah, kalian tak akan sadar"
" omong kosong, lebih baik tutup saja bacot anjingmu"
suma Hiong dibuat marah oleh ucapan yang kasar itu, ia menengadah lalu tertawa dengan
suaranya nyaring dan menjulang tinggi ke angkasa membuat semua orang merasa telinganya
menjadi sakit.
Berbareng dengan berkumandangnya gelak tertawa itu delapan orang pendekar pedang yang
bersiap siaga dibelakangnya serentak berteriak keras, kemudian menerjang kearah kawanan jago
dari Kay pang yang mengurung disekitar tempat itu. Tak dapat dicegah lagi, suatu pertempuran
berdarah yang amat serupun segera berkobar.
Dengan penuh kemarahan pengemis dari selatan bersuit nyaring dan menerjang maju kemuka,
dia menyerang Suma Hiong secara bertubi-tubi.
Dalam waktu singkat, dia telah melancarkan delapan buah serangan berantai, kedelapan buah
serangan itu semuanya dilepaskan dengan disertai hawa amarah yang berkobar, bukan saja amat
dahsyat bahkan arah yang dituju semuanya adalah bagian-bagian tubuh yang mematikan.
seketika itu juga suma Hiong terdesak oleh serangan berantai itu, sehingga mundur tiga
langkah ke belaknog.
Tapi begitu pengemis dari selatan menyelesaikan ke delapan buah pukulannya, serentak suma
Hiong memperbaiki posisinya, dia tertawa seram dan secara beruntun balas melancarkan tiga
buah pukulan-
-000dw000-
BAB 69
HEBAT sekali serangan balasan dari utusan Thian che kau ini, dengan susah payah Pengemis
dari selatan berhasil menghindari serangan yang pertama dan serangan yang kedua, tapi serangan
yang ketiga tak sempat dihindari lagi, tak ampun pundaknya terhajar telak.
"Duuk" Pengemis dari selatan mendengus tertahan- sambil muntah darah segar dia mundur
beberapa langkah dengan sempoyongansuma
Hiong tertawa seram, ia tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk memperbaiki
posisinya lagi, berhastl dengan serangan yang pertama, serentak tubuhnya menerkam kedepan
dan menyusuli dengan pukulan berikutnya.
"Bangsat..... lihat serangang" ditengah keadaan yang kritis, bentakan nyaring menggetar
diangkasa, empat tiang lo yang masih berada disamping gelanggang berikut ketua mereka
bersama-sama masuk kedalam gelanggang dan mengerubuti suma Hiong yang lihay itu.
Di pihak lain pertarungan telah berkobar dimana- mana, setiap anggota Kay pang yang hadir
dalam markasnya telah diserang habis-habisan oleh lawan yang tangguh, dalam waktu singkat
dengusan tertahan suara beradunya senjata dan jerit kesakitan berkumandang silih berganti.
Pemandangan pada waktu itu mengerikan sekali, darah berceceran dimana-mana, mayatpun
bergelimpangan setinggi bukit.
Delapan orang jago dari Thian che kau itu rata-rata berilmu tinggi, setiap kali cahaya pedang
mereka berkelebat lewat seorang korban segera roboh binasa atau cedera hebat.
suma Hiong yang dikerabuti oleh empat orang tianglo dan ketua Kay pang sama sekali tidak
merasa jeri, dengan gerakan yang lincah dan pukulan pakulan yang aneh dia layani setiap
ancaman yang tertuju kearahnya.
Suatu ketika tiba-tiba ia membentak nyaring, sebuah pukulan dahsyst yang disertai dengan
deruan angin puyuh yang memekikkan telinga menyapu kedepan dan menghajar lawan-lawannya
"Blaaang.." bentaran keras tak bisa dihindari lagi, keempat orang tianglo dan ketua kay pang
itu segera terhajar sampai mencelat dan jatuh terlentang di tanah.
Melihat ketuanya terancam bahaya, pengemis dari selatan tidak menggubris lukanya sendiri
lagi, setelah menyeka noda darah di ujung bibirnya, ia meraung keras kemudian bagaikan banteng
terluka menerjang lagi ke depan.
"Sialan" maki suma Hiong dengan marah, " Hay..pengemis tua, rupanya kau memang sudah
bosan hidup, rasakanlah pukulanku ini"
45
Secepat sambaran kilat dia melepaskan lagi sebuah pukulan dahsyat ke arah depan.
Pengemis dari selatan menjerit tertahan, untuk kedua kalinya ia terhajar sampai mencelat
sejauh beberapa tombak.
Merah padam wajah keempat orang tiang lo itu, seperti orang kalap mereka melompat bangun
dan menerkam musuhnya, empat batang tongkat tah kau pangnya ibarat empat ekor naga sakti
segera menghantam tubuh iblis tersebut..
Suma Hiong tertawa dingin, ke sepuluh jari tangannya dipentangkan lebar-lebat, ketika
berkelebat ke depan, tahu-tahu ke empat batang toya peg gebuk anjing itu sudah ditangkap dua
dikanan dan dua dikiri.
Sekali menyentak kebelakang, keempat orang tiang lo itu mendengus tertahan dan mencelat
kebelakang.
Berhasil menghajar mundur, keempat tiang lo itu, Suma Hiong meneruskan terkamannya ke
depan, dengan cakar mautnya dia cengkeram tubuh ketua kay pang yang berada dihadapannya.
cepat dan diluar dugaan, cengkeraman tersebut datang keadaan tak terduga, tampak nya sang
ketua dari kay pang ini segera akan tertangkap oleh musuhnya. "Tahan" tiba-tiba serentetan
bentakan nyaring berkumandang ditengah angkasa.
Walaupun suasana dalam gelanggang ramai, oleh bentakan dan adu senjata, namun bentakan
itu amat dapat didengar oleh setiap orang dengan jelas, bahkan mereka merasakan telinganya jadi
sakit.
serentak pertempuran terhenti ditengah jalan, semua jago berdiri tertegun sambil alihkan
pandangannya ke arah mana berasalnya suara itu.
suma Hiong sendiripun diam-diam merasa terperanjat, cepat dia tarik kembali serangannya dan
melompat mundur kebelakang. Dari balik pagar pekarangan perlahan-lahan berjalan keluar
seorang pemuda tampan berwajah dingin, setajam sembilu sorot mata pemuda itu tatkala saling
beradu pandang, tanpa sadar suma Hiong mencekat mundur beberapa langkah.
Waktu its sebenarnya suma Hiong sedang merasa keheranan, ia heran mengapa kawanan jago
yang telah disiapkan disekitar kuil itu tidak munculkan diri untuk melakukan pembantaian, padahal
sebelumnya telah dibicarakan bahwa mereka harus menyerbu kedalam kuil bila mendengar gelak
tertawa nya yang keras.
Tapi sekarang setelah menyaksikan kemunculan pemuda berwajah dingin ini, suatu firasat jelek
segera muncul dalam hatinya, ia segera membentak keras: "Bocah keparat siapa kau? sebutkan
nama mu."
Pemuda itu tertawa dingin, ia tidak menjawab akan tetapi sewaktu melewati dihadapan seorang
pendekar dari Thian che kau jari tangannya lantas ditudingkan kemuka.
Jerit kesakitan yang memilukan hati berkumandang memecahkan kesunyian, darah segar
tampak muncrat keluar dari dadanya, tidak selang sesaat kemudian orang itu sudah roboh
terjengkang dan tidak bangkit lagi untuk selamanya.
"Kau .. kau adalah manusia bermuka dingin?" teriak suma Hiong dengan paras muka berubah
hebat.
"Benar, kau memang hebat dan pengetahuanmu cukup luas, ternyata akupun juga kau kenali"
Pemuda yang barusan munculkan diri ini memang tak lain adalah Han siong Kie, jago muda itu.
suma Hiong menyeringai seram, sinar matanya memancarkan cahaya buas, dengan suara yang
keras seperti geledek hardiknya:
"Manusia muka dingin, engkau bersiap-siap untuk mencampuri urusan ini?"
"Haaahhh . . haaahhh haaahhh kenapa tidak? Justrupun ciangbunjin datang kemari untuk
membantai habis kawanan iblis macam dirimu itu"
" Ciangbunjin?" jengek orang she suma itu sinis, "Heeehhh heeehhh engkau ciangbunjin dari
mana?"
"Ciangbunjin dari Thian lam bun "
"Mimpi Heeeh heeh heeeehh bocah keparat, engkau sedang bermimpi disiang hari bolong.
Thian lam bun sudah lama terhapus namanya dari muka bumi"
"Yang akan terhapus namanya dari muka bumi bukan Thian lam bun, melainkan Thian che kau
dan waktunya tak akan lama lagi "
"orang goblok sedang mengigau ditengah hari bolong "
"Kau tak percaya ?Baik... ini hari akan kuampuni selembar jiwa anjingmu, agar kau bisa
menyaksikan sendiri benar tidak perkataanku itu."
"Hanya mengandaikan kekuatanmu seorang, sayang aku tidak berjiwa sebesar kau... ini
haripun aku tak akan melepaskan dirimu "
Han siong Kie mendengus dingin, ia tidak berbicara lagi melainkan bersiul nyaring.
Berbareng dengan siulan tersebut, terlihatlah bayangan manusia saling berkelebat dalam
gelanggang, dalam waktu singkat berpuluh-puluh sosok mayat dari manusia barbaju hitam
bertumpukan ditempat itu
suma Hiong tentu saja dapat mengenali kembali mayat-mayat itu, sebab mereka tak lain adalah
jago-jago perkumpulannya yang disiapkan diluar kuil itu.
Tapi kini sudah tewas semua dalam keadaan mengerikan, kontan ia jadi terkejut dan bergidik,
begitu pula dengan ketujuh orang pendekar pedang yang masih hidup, mereka merasa sukmanya
serasa sudah mela yang tinggaikan raganya. sambil menuding kearah tumpukan mayat setinggi
bukit itu, Han siong Kie mengejek:
"suma Hiong, bukankah mayat-mayat itu adalah jenasah dari anggota perkumpulanmu? Nah,
hitunglah sendiri, semuanya berjumlah seratus dua puluh orang, coba kau hitung lagi adakah
masih ada yang kelewatan atau tidak??"
Menyeringai seram wajah suma Hiong dengan muka yang buas dan mengerikan ia berteriak:
"Manusia bermuka dingin, aku bersumpah akan mencincang tubuhmu, kemudian menghancur
lumatkan tubuhmu menjadi abu"
"Huuuh Mau mencincang aku? Cuma mengandaikan ilmu silat yang kau miliki itu? Jangan
mimpi."
Rupanya sewaktu Han siong Kie tiba ditempat kejadian., ia menyaksikan markas besar dari Kay
pang sudah dikepung rapat oleh musuh-musuhnya.
Tanpa menimbulkan suara sianak muda itu segera mengeluarkan ilmu silatnya dan menotok
mampus ke seratus dua puluh orang jago Thian che kau yang mengepung di luar kuil, setelah itu
bagaikan kelelawar dia menyusup masuk kedalam kuil.
Waktu itulah dia saksikan para tianglo dan ciangbunjin Kay pang sedang menghadapi keadaan
yang terancam, setelah memberi pesan kepada anak murid Kay pang yang berjaga-jaga di luar
kuil diapun tampilkan diri untuk menyelesaikan persoalan itu
Betapa gusar dan mendongkolnya suma Hiong setelah mengetahui bahwa rencana penyerbuan
mengalami kegagalan total, ia tahu tak mungkin baginya untuk memberi pertanggungan jawab
dihadapan kaucunya setelah mengalami kekalahan total seperti hari ini. apalagi semua anak
buahnya telah terbunuh habis.
Rasa dendam dan marahnya serta merta dilampiaskan keatas tubuh pemuda itu, sambil
menggertak gigi katanya:
" Kau tidak percaya dengan kemampuanku? Apa salahnya kalau kita buktikan bersama2"
Begitu selesai berbicara, ia menerjang ke muka dengan garang, secepat sambaran kilat secara
beruntun iblis ini melepastan tiga buah serangan berantai.
Han siong Kie tidak berusaha menghindar atau berkelit, dengan melontarkan sepasang telapak
tangannya kemuka dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaaang" suata ledakan keras yang memekikkan telinga berkumandang diudara, suma Hiong
tak sanggup menahan kedahsyatan musuhnya, secara beruntun ia terdesak mundur lima langkah
lebar.
Gelombang angin pukulan yang tersebar keempat penjuru menyapu bersih setiap benda yang
ada diseputar lima kaki dari gelanggang, bukan saja kawanan jago dari Kay pang terdesak sampai
mundur tunggang langgang, tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau yang masih hidup
pun pontang panting dibuatnya dengan muka pucat.
sungguh girang tak terkirakan pengemis dari selatan setelah melihat kedahsyatan saudaranya,
tak kuasa lagi ia berteriak keras:
"saudara cilik puas.. sungguh memuaskan.... Hajar sampai buntung bajingan itu"
setelah merasakan kedahsyatan musuhnya, kepongahan serta kejumawaan suma Hiong lenyap
tak berbekas, keadaannya pada saat ini ibarat bola yang kehilangan udara, dengan loyo
bercampur ketakutan ditatapnya pemuda itu tanpa berkedip.
Mimpipun ia tak menyangka kalau pihak musuh mempunyai kepandaian silat sedahsyat itu,
bahkan boleh dibilang tak bisa diterima dengan akal sehat, siapa yang menyangka kalau seorang
pemuda ingusan ternyata berilmu tinggi
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Han siong Kie, selangkah
demi selangkah ia maju kedepan, katanya dengan suara dingin
"Aku meminjam mulutmu untuk menyampaikan pesan kepada kaucu kalian, katakan bahwa
dalam beberapa hari mendatang aku akan berkunjung sendiri ke Lian huan tau untuk membuat
perhitungan. suruh dia bersiap sedia menyambut kedatanganku. Nah, sekarang kau boleh pergi,
aku telah berjanji untuk mengampuni jiwamu.."
sebagai seorang yang berilmu tinggi sudah tentu suma Hiong tak sudi untuk menyerah kalah
dengan begitu saja, ia membentak keras:
"Manusla bermuka dingin, kau jangan tekabur lebih dulu, sambutlah pukulanku ini."
sepasang telapak tangannya diayun kemuka secara beruntun dalam sekejap mata ia telah
melepaskan delapam serangan berantai.
semua ancaman yang dilontarkan itu menggunakan jurus serangan yang aneh dan sakti, bukan
saja jarang ditemui dikolong langit, keganasannya betul-betul mengerikan, seketika itu juga si
anak muda itu terdesak mundur sejauh lima depa kebelakang.
setelah berhasil dengan ancamannya suma Hiong tak sudi memberi kesempatan kepada
musuhnya untuk melancarkan serangan balasan, dia susulkan lagi dengan lima buah serangan
berantai.
Tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau tidak berpeluk tangan belaka, menggunakan
kesempatan yang sangat baik itu, mereka terjun pula kedalam gelanggang, untuk membantu
pemimpinnya.
Bentakan-bentakan gusar menggelegar di angkasa, dua puluh sosok bayangan manusia terjun
kedalam gelanggang dan menghadang jalan pergi ketujuh orang musuhnya, pertarungan massal
tak dapat dihindari lagi.
sementara itu suma Hiong sudah melancarkan serangan dengan jurus yang kelima, tiba-tiba
Han siong Kie berkelit kesamping dengan kecepatan yang tak terhingga, begitu berada tiga depa
disamping kalangan, keli ma jari tangan kanannya segera disodokkan kedepan-
Jerit kesakitan memecahkan kesuyian, secara beruntun suma Hiong mundur beberapa langkah
ke belakang, lengan kanannya terkulai lemas kebawah, separuh badannya basah kuyup
bermandikan darah segar.
"Suma Hiong " kembali Han Siong Kie berkata demgan ketus, " untuk kesekian kalinya kuberi
kesempatan kepadamu untuk berlalu dari sini, ketahuilah kesempatan ini adalah kesempatan yang
terakhir. bila kau tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji "
suma Hiong bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu bila kesempatan ini tidak dipergunakan
sebaik-baiknya, niscaya dia akan mati konyol ditempat itu.
setelah melotot sekejap ke arah pemuda itu, dengan pandangan penuh kebencian ia berkata:
"Manusia bermuka dingin, tunggu saja sampai tanggal mainnya"
Tanpa banyak berbicara lagi, ia menjejakkan kakinya ketanah dan melarikan diri terbirit-birit
dari sana.
Melihat pemimpinnya sudah kabur, tujuh orang jago dari Thian che kau itupun tak berani
melanjutkan pertarungan, serentak mereka memberi tanda dan memperketat serangannya,
setelah berhasil memaksa mundur lawannya, orang-orang itu melompat ke atas atap rumah dan
berusaha melarikan diri dari situ.
"Hmm Kau mau pergi kemana?" jengek Han siong Kie sinis.
Ketika sepuluh jari tangannya dilontarkan kemuka, munculah sepuluh buah desingan angin
tajam ke depan.
Jerit kesakitan berkumandang saling menyusul, dalam waktu singkat tujuh orang jago pedang
yang mencoba untuk melarikan diri itu sudah rontok ketanah bagaikan burung yang kena ketapel.
Melihat musuhnya sudah terbasmi habis, ketua Kay pang baru memburu maju sambil memberi
hormat, serunya dengan wajah bersyukur:
"oooh... sungguh beruntung Han ciangbunjin datang tepat pada saatnya, kalau bukan bantuan
ciangbunjin niscaya perkumpulan kami sudah hancur ditangan iblis itu, budi kebaikan ini tak akan
kami lupakan untuk selamanya"
Buru2 Han siong Kie balas memberi hormat sahutnya:
"Aaah, perkataan dari ciangbunjin terlampau serius, sudah sepantasnya kalau kita sebagai umat
persilatan saling membantu dikala sedang susah, apalagi perkumpulan kami termasuk salah satu
korban dari keganasan mereka, sewajarnya aku bantu kalian untuk menghadapi mereka"
Pengemis dari selatan memburu pula ke depan, walaupun dengan langkah yang gontai, noda
darah masih membekas diujung bibirnya, namun tidak mengurangi kegembiraannya, dengan
wajah berseri ia berseru:
"Haaah haaahhh haaahh saudara cilik, hayo ikut aku menuju keruang belakang, aku akan
bercakap-cakap sampai puas dengan dirimu, aku tahu engkau paling segan dengan segala macam
tata cara yang sok. ayo ikuti aku"
Han siong Kie pun mohon diri dengan ketua Kay pang beserta jago-jago lainnya, kemudian
dengan mengikuti dibelakang pengemis dari selatan mereka menyingkir keruang belakang.
Ruangan itu kecil sekali dan merupakan kamar semedi yang tak begitu luas, Han siong Kie
duduk saling berhadapan dengan saudara tuanya.
setelah hening sesaat dengan kerutkan kening pemuda itu menegur. " Engkoh tua, aku lihat
luka yang kau derita tidak enteng"
"Aah apa artinya luka seringan ini? Kejadian ini sudah merupakan suatu keberuntungan bagi
kami, andaikata saudara cilik tidak datang tepat pada waktunya niscaya perkumpulan kami sudah
mengalami kehancuran total"
Menggunakan kesempatan itu Han siong Kie teringat kembali akan beberapa persoalan, iapun
berkata:
" Engkoh tua, ada beberapa persoalan aku ingin mohon bantuanmu, apakah kau bersedia untuk
membantu?"
""Heeeh heeeh heeh dalam hal apa Katakan saja, sekalipun kau menginginkan batok kepalaku,
sekarang juga akan kupersembahkan kepala ini untukmu"
"Aah, engkoh tua memang suka bergurau, tentu saja tidak seserius itu persoalan yang hendak
kukatakan, aku cuma mengharapkan rekan rekan dari Kay pang untuk mencari jejak dari beberapa
orang bagiku, aku tahu Kay pang punya jaringan mata-mata yang luas dan hebat, mencari jejak
orang merupakan pekerjaan yang rutin"
"siapa yang hendak kau cari ? Coba katakan-"
"Ada tiga orang tiang lo dari perguruanku yang tercerai berai dalam suatu pertarungan hingga
kini tak kuketahui kabar berita mereka, maka aku mohon bantuan Kay pang untuk mencarikan
jejaknya ".
"ooh... saat ini akan segera dilaksanakan oleh anak murid kami, aku percaya jejak mereka akan
segera diketahui, siapa lagi yang hendak kau cari.."
"Hekpek siang yau, sepasang siluman yang sudah tersohor namanya semenjak enam puluh
tahun berselang "
"Hekpek siang yau? Mau apa kau cari gembong iblis yang luar biasa itu? " seru pengemis dari
selatan dengan jantung berdebar.
Han siong Kie pun menceritakan bagaimana ia menerima sepasang siluman itu menjadi anggota
seperguruannya.
sehabis mendengar kisah tersebut pengemis dari selatan baru paham dengan duduknya
persoalan, ia gelengkan kepalanya sambil berkata:
"saudara cilik, aku benar-benar merasa kagum sekali dengan kehebatanmu, tak nyana nasibmu
memang mujur dan hok ki mu besar, gampang, soal ini gampang sekali, segera akan
kuperintahkan anak muridku untuk melakukan penyelidikan"
"Selain daripada itu akupun ingin minta petunjuk tentang satu persoalan lagi."
"Aaah katakanlah sedari kapan engkau mulai belajar bicara menela-menele begitu? Hayo
utarakan saja secara blak-blakkan"
"Aku dengar dalam dunia persilatan hidup seorang tokoh silat yang ahli sekali dalam hal ilmu
beracun dan orang itu bernama Ban tok cousu, apakah tokoh silat ini masih hidup didunia ini."
"Mengapa engkau menanyakan persoalan ini"
"Racun Gi hang tok ko (buah racun berubah wujud) yang salah dimakan oleh Hekpek siang yau
katanya hanya bisa dipunlahkan oleh dia seorang, aku hendak mohonkan pengobatan bagi kedua
orang itu"
Pengemis dari selatan termenung dan berpikir sebentar, kemudian baru menyahut: "Aku rasa
kemungkinan besar dia masih hidup didunia ini"
"Jadi hanya suatu kemungkinan belaka ?"
"Benar, aku hanya bisa mengatakan mungkin, sebab kalau dihitung dengan jari tangan maka
pada tahun ini Ban tok cousu sudah berusia diatas seratus tahun, pada dua puluh tahun berselang
aku pernah mendengar orang berkata bahwa raja racun yang sangat lihay ini menetap didalam
telaga beracun..."
"Telaga beracun ?"
"Oooh, belum pernah kau dengar tentang nama telaga ini"
"Belum "sahut sianak muda itu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Luas telaga beracun ini hanya setengah hektar dan letaknya dalam lembah hek kok (lembah
hitam) yang berada dibukit Tay keng san, air telaga itu sangat beracun dan siapa saja yang
terkena air itu niscaya akan mati secara konyol. Kendatipun begitu aku tak berani memastikan
seratus persen benar, sebab sampai detik ini belum pernah kubuktikan sendiri kebenaran dari
berita ini "
"Sekalipun Ban tok cousu kebal racun dan lihay dalam menggunakan barang berbisa, toh tidak
sepantasnya kalau dia berdiam dalam air telaga itu?" kata Han siong Kie dengan terperanjat.
"Ada orang menyaksiksn dia masuk keluar dalam telaga beracun itu, apa yang sebenarnya
dikerjakan cousu selaksa racun itu tak seorangpun tahu, dengan sendirinya aku sipengemispun tak
bisa memberi jawaban atas pertanyaanmu itu"
"Dalam dunia persilatan terdapat seorang manusia yang bernama Tok kun si dewa racun Yu
Hai, apakah dia adalah ahli waris dari Ban tok cousu yang sangat lihay itu."
"Bukan"
"Bukan? Lalu dari manakah dia pelajari ilmu beracun yang amat dahsyat itu?"
"Asal mulanya Yu Hau cuma seorang Bu beng siau cut prajurit tak bernama dalam dunia
kangou, dua puluh tahun berselang tanpa sengaja ia berhasil menemukan sejilid kitab beracun
yang amat luar biasa, semenjak isi kitab itu berhasil dikuasahi olehnya tersohorlah namanya
sebagai Tok kun atau raja racun, kendatipun namanya saja memakai huruf "kun" yang berarti
orang budiman, tapi pada hakekatnya dia adalah seorang manusia durjana yang berhati busuk".
"Dia telah menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau" sela pemuda itu.
"Bukan kejadian yang aneh kalau ia berkomplot dengan mereka, toh kaum serigala hanya
berkumcul dengan serigala, masa ada serigala bergaul dengan domba ? ketua Thian Che kau
berambisi besar dan bercita-cita untuk menguasahi seluruh jagad, menjadi kaisar dalam dunia
persilatan, dengan segala daya upaya dia mengumpulkan kawanan jago dari pelbagai daerah
untuk memperkuat posisinya, kecuali beberapa perguruan dan partai kenamaan boleh dibilang
hampir semua perkumpulan dan perguruan telah dilalap habis olehnya ya.. beruntung Kay pang
dapat lolos dari musibah ini" Han siong Kie tertawa dingin -
"Heeehhh heeehhh heeehh masa kiamat dari Thian che kau tak akan terlalu lama, tunggu saja
tanggal mainnya "
"Bila kita biarkan perkumpulan itu mengembangkan sayapnya sampai dimana-mana, aku kuatir
dunia persilatan akan terjatuh semua kedalam cengkeremannya"
"Aaah. belum tentu begitu...."
Pengemis dari selatan berpaling dan menatap lekat-lekat wajah pemuda itu, bisiknya: "saudara
cilik, engkau terlalu percaya pada kemampuanmu?"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah, ia tidak mengucapkan sepatah
katapun-
Rupanya pengemis dari selatan menyadari kekhilafannya, cepat ia menambahkan:
"saudara cilik, tentunya kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa: "sebuah
balok kayu tak akan mampu menunjang sebuah rumah gedung bukan ? Aku rasa persoalan paling
penting yang harus kau lakukan pada saat ini adalah kembali ke Thian lam serta melakukan
pembersihan terhadap unsur-unsur busuk dalam tubuh perguraanmu, sebab dengan tindakan ini
bukan saja kau dapat menyelamatkan mereka-mereka yang masih setia kepadamu dan terpaksa
harus tunduk diperintah ketua yang sekarang, selain itu kaupun akan memperoleh bantuan yang
amat besar dalam usahamu menghancurkan perkumpulan Thian che kau, tak usah kuatir, setiap
saat setiap detik Kay pang selalu berdiri dibawah komandomu"
Tercekat hati Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, kata-kata dari engkoh tuanya ini
mengetuk sampai ke dalam hati sanubarinya, memang benar ucapannya, bila Wi It beng dibiarkan
berlaku sewenang-wenang tanpa ditindak. niscaya sengsaralah orang-orang yang masih setia pada
kebenaran, kelemahan dari Thian lam bun justru akan muncul dari hal-hal seperti ini."
Tapi ingatan lain cepat melimtas dalam benaknya, teringat olehnya akan suatu masalah yang
jauh lebih penting.
"Apa yang diucapkan engkoh tua memang betul" katanya kemudian dengan dahi berkerut "tapi
sekarang aku telah menjumpai sesuatu masalah yang betul-betul rumit"
" Kesulitan apa? Katakan saja asal aku mampu pasti akan kubantu untuk memecahkannya"
ucap pengemis dari selatan sambit menepuk dada sendiri
"Pertama orang yang benar-benar mengetahui asal usulku yang sebenarnya hanya lima orang
tiang lo dari sebuluh tiang lo ruang goan lo wan yang masuk daratan Tiangggoan- jadi diantara
lima orang tiang lo itu ada dua orang telah tewas dan tiga orang tak ketahuan kabar beritanya,
kedua tanda kebesaran sebagai seorang ketua yakni ok kui cupay telah terjatuh ketangan Thian
che kau, tanpa adanya tanda kepercayaan itu tak mungkin aku bisa menarik kepercayaan dari
murid-murid lainnya, tolong tanya bagaimana caraku untuk mengatasi persoalan ini?"
Mendengar ucapan tersebut terlintas rasa serba salah diwajah pengemis dari selatan, katanya
kemudian-
"Ya a, persoalan ini memang merupakan satu masalah yang pelik, bukankah pekerjaan yang
gampang untuk merebut kembali lencana ok kui cupay dari tangan orang Thian che kau, dan
lagi.."
"Kenapa? " sela sang pemuda.
"Ketua pelaksana perguruan Thian lam yang sekarang wi It beng telah menyatakan
penggabungan diri dengan perkumpulan Thian che kau, istana Huan mo kiong sudah berubah jadi
kantor cabang Thian che kau, aku kuatir kalau tanda kebesaran itu sudah terjatuh ketangan Wi It
beng, aaai... kalau sampai begitu, bukankah sekarang ia telah mempunyai kekuasaan untuk
memerintah segenap anak murid ?"
Air muka Han siong Kie berubah hebat.
"Ehmm, memang ada kemungkinan untuk terjadi peristiwa semacam ini, padahal lencana
tersebut merupakan benda tersuci dan tertinggi dalam perguruanku, siapa yang membawa benda
itu, dialah yang dipertuan, waah, urusan kan menjadi bertambah pelik"
"saudara cilik, kau jangan gelisah dulu, coba kuselidiki keadaan yang sebenarnya" pengemis tua
itu lantas bertepuk tangan tiga kali.
seorang pengemis setengah baya mengiakan dan berjalan masuk kedalam ruangan: "Tianglo,
kau orangtua ada perintah apa?" tanyanya.
"sampaikan perintahku, tanyakan kepada setiap murid yang berada disini apakah di antara
mereka ada yang mengetahui jejak dari ketiga orang tianglo dari Huan mo kiong yang berada
didaratan Tionggoan, kalau ada yang tahu segera datang memberi laporan "
"Terima perintah" sesudah memberi hormat pengemis setengah baya itupun mengundurkan diri
sepeninggal pengemis itu Han siong Kie merasa panik dan tidak tenang, ia merasa bahwa
persoalan yang sedang dihadapi sekarang memang cukup pelik, bukan saja Perintah dari gurunya
Mo tiong ci mo tak dapat diselesaikan, bahkan urusanpun berubah jadi sekacau ini, bukankah dia
akan menjadi manusia yang berdosa bagi perguruan?
Tidak selang beberapa saat kemudian pengemis setengah baya itu datang melapor:
" Lapor tiang lo ada seorang murid bagian kontrol yang bernama Tan Beng siap memberi
laporan"
"suruh dia masuk" perintah pengemis dari selatansetelah
Tan Beng masuk kedalam ruang, pengemis itupun bertanya lagi:
"Apa yang kau ketahui?"
Tan Beng memberi hormat, kemudian bukannya menjawab malahan balik bertanya:
"Yang dimaksudkan sebagai tiga orang tianglo dari Thian lam bun itu apakab tiga orang kakek
berjubah sutera dan membawa toya berkepala setan?"
"Benar " sahut Han siong Kie dengan semangat berkobar.
Pengemis dari selatan mengangguk kepada Tan Beng katanya: "Lanjutkan perkataanmu lebih
jauh"
"Tiga hari berselang ketika hamba sedang melakukan perjalanan melewati Niu kang, pernah
kusaksikan ketiga orang tianglo itu sedang melanjutkan perjalanan menuju ke arah wilayah Thian
lam."
"Baik, kau boleh mundur"
Sepeninggal Pengemas itu, Han siong Kie duduk termangu, ia merasa tak habis mengerti
kenapa ketiga orang tianglonya menuju ke wilayah Thian lam, bukankah tindakan mereka ini sama
artinya dengan menghantarkan diri kemulut harimau ? Tak nanti Wi It beng akan melepaskan
mereka bertiga dengan begitu saja.
Tanpa terasa diapan menguatirkan pula keselamatan dari kelima orang tianglonya yang masih
tertinggal diruang goan lo wan.
sebagai seorang ketua Thian lam bun, tentu saja ia tak dapat membiarkan para tianglonya
menghantarkan kematian, karena itu rencananya semula untuk berkunjung kebenteng maut dan
menyatroni lian huan tau terpaksa dibatalkan.
-000dw000-
SETELAH hening beberapa saat pengemis dari selatan bertanya pula: "saudara cilik apa
rencanamu selanjutnya?"
Han siong Kie menghela napas panjang, sahutnya dengan wajah serius:
"Terpaksa aku harus berangkat ke Thian lam, semoga saja masih sempat untuk menghadang
para tiang lo itu kembali ke sarang harimau"
".. sayang aku sipengemis tua sedang terluka, kalau tidak niscaya akan kubantu usahamu itu"
"Engkoh tua tak usah repot-repot, paling penting merawat dulu lukamu hingga sembuh" cepat
sianak muda itu menampik .
"Bagaimana kalau kupilih kan beberapa orang jago lihay dari perkumpulanku untuk menyertai
perjalanan ini?"
"Tak usah.. tak usah Maksud baik engkoh tua biarlah kuterima dalam hati saja"
"Aaah, perkataan apaan itu? Budi kebaikanmu terhadap kay pang setinggi langit, aah, jemu
untuk membicarakan soal budi, lebih baik tak usah dibicarakan lagi"
" Engkoh tua aku bermaksud untuk segera melanjutkan perjalanan mumpung masih sempat
untuk menyusul mereka"
"Ehm, begitupun ada baiknya, aku akan segera mengirim berita kilat kekantor- kantor cabang
dan menyuruh mereka menghadang jalan pergi ketiga orang tiang lo itu"
"Terima kasih atas bantuan engkoh tua"
"Juga tentang jejak dari Hekpek siang yau, aku percaya tak lama kemudian berhasil ditemukan
anak muridku, pasti akan kukirim kabar itu padamu secepatnya"
"Kalau begitu siaute mohon diri lebih dulu" ucap Han siong Kie seraya bangkit berdiri
"Selain itu.?"
"Apakah engkoh tua ingin mengucapkan sesuatu lagi??" Pengemis dari selatan mengangguk.
"Kantor cabang kami di Nio kang meliputi daerah operasi sampai wilayah Thian lam, jika kau
ada urusan minta saja bantuan dari mereka, pasti akan kupesan sendiri kepada toucunya untuk
mengabarkan berita ini kepada anak buahnya, lencana bambu ini boleh kau terima, bila ada
keperluan gunakanlah lencana ini sebagai tanda pengenal "
"Akan siaute ingat selalu dihati, baik-baiklah jaga diri engkoh tua" kata pemuda itu kemudian
setelah menerima lencana bambu itu.
"semoga kau sukses selalu"
"selamat tinggal"
Han siong Kie telah meninggalkan markas besar kay pang di kuil Bu hao si dan melanjutkan
perjalanannya menuju Thian lam.
Waktu itu fajar baru menyingsing, suara ayam berkokok memecahkan kesunyian dipagi itu.
Bintang masih tersisa di langit, angin pagi yang dingin berhembus lewat menyegarkan badan,
Han siong Kie melakukan perjalanannya dengan kecepatan penuh.
Tiga li baru lewat, ketika secara tiba-tiba sesosok bayangan manusia diantara remangremangnya
cuaca orang itu menghadang jalan perginya.
Han siong Kie merasa kaget dan mengerem gerak laju tubuhnya, tapi setelah mengetahui siapa
yang berada dihadapannya ia berseru tertahan-"Aaah nona.. rupanya kau"
Tak asing lagi orang itu bagi Han siong Kie sebab dia tak lain adalah orang yang ada maksud.
"oh masih kenal dengan aku?" sapa orang yang ada maksud sambil tertawa aneh.
"Ada urusan apa nona berdiri disini"
"Menunggu kau"
"Menunggu aku" bisik pemuda itu sambil mundur selangkah karena tercengang, "dari mana
nona bisa tahu kalau aku berada disini dan akan lewati jalan ini?"
0000d0w0000
BAB 70
"AH terlalu gampang untuk mengetahui jejakmu, bukankah jalan raya disini hanya ada satu?
Asal kami berdua masing-masing menghadang disetiap sudut jalanan ini, pastilah seorang
diantaranya kami akan berjumpa dengan kau, bukankah begitu?"
"Jadi ada orang yang bertugas menantikan kedatanganku? siapa orang kedua itu?"
"Tak perlu kau tahu"
Han siong Kie berkerut kening, selang sesaat kemudian ia bertanya pula. "Ada urusan apa nona
menunggu kedatanganku disini?"
"Boleh aku tahu dulu kemana kau akan pergi...?"
"Ke Thian lam"
"Wah kebetulan sekali, untung aku bertemu dengan kau, kalau tidak maka akibatnya amat
sukar dilukiskan dengan kata-kata"
" Kenapa?" tanya anak muda itu terkejut.
"seorang jago yang mengaku sebagai Manusia bermuka dingin dengan membawa lencana ok
koi cu pai dan memimpin tiga puluh orang jago telah berangkat ke Thian lam untuk mengambil
alih kursi kebesaran dari Wi It beng, bahkan ketiga orang tianglo dari perguruan Thian lam bun
pun menyertai dirinya.
"Manusia bermuka dingin ? Boleh aku tahu ada berapa orang manusia muta dingin didunia ini?"
tanya Han siong Kie keheranan-
"Tentu saja hanya satu"
" Kalau memang demikian, aku jadi tidak mengerti, dengan apa yang nona maksudkan?"
"Untuk mengangkangi istana Huan mo kiong, pihak Thian che kau telah mengutus seorang
utusan khususnya menuju ke Thian lam untuk mengambil oper kedudukan wi It beng, bukan saja
utusan khusus itu telah menyaru seperti kau, bahkan membawa pula lencana ok kui cu paya "
"Aah, masa telah terjadi peristiwa seperti ini?" teriak Han siong Kie terkesiap.
orang yang ada maksud segera tertawa dingin
"Memangnya aku membohongi kau, Ketahuilah, utusan khusus dari Thian che kau yang
menyamar sebagai dirimu itu bernama Thio Wi wan "
"Tadi nona mengatakan bahwa dalam rombongan ini terdapat pula tiga orang tiang lo dari
Thian lam bun serta dua puluh orang jago lihay, siapakah mereka itu?"
"Ketiga orang tianglo itu masing-masing bernama To It Hui, Ang pat siu serta san jin ho,
mereka dengan menyertai manusia muka dingin gadungan itu berangkat ke Thian lam untuk
melakukan pembersihan terhadap perguruannya."
"Masa ketiga orang tianglo itu tak dapat membedakan mana yang asli dan mana yang
gadungan?"
"Dalam tubuh perkumpulan Thian che kau terdapat aneka ragam jago yang rata-rata berilmu
tinggi, termasuk pula ilmu menyamarnya, mungkin kau sendiripun akan pangling dibuatnya"
Han siong Kie merasa darah panas dalam tubuhnya mendidih, hawa napsu membunuh
menyelimuti wajahnya, dengan penuh kebencian serunya: "Mereka harus dijagal semua"
"Siapa yang akan kau jagal"
"Semua anggota perkumpulan Thian che kau, dari ketua sampai pelayan-pelayannya"
"Urusan yang tak penting lebih baik tak usah kau bicarakan dulu, ketahuilah Thia We wan yang
menyaru sebagai dirimu dengan membawa ketiga orang tianglo dari dua puluh orang jagonya
sudah berangkat semenjak tiga hari berselang, padahal dengan kepandaian yang di miliki mereka
dalam tujuh hari saja istana Huan mo kiong sudah tercapai, kau sudah ketinggalan tiga hari. aku
kuatir tak mungkin bisa kau susul diri mereka"
Han siong Kie tidak menjawab, pikirnya dalam hati:
" Engkoh tua sudah mengirim surat kilat kepada kantor cabangnya dan memerintahkan anak
murid Kay pang menghalangi jalan pergi ketiga orang tianglo itu, tapi dengan adanya utusan dari
Thian che kau, situasi jadi makin berbahaya, aku harus segera mengejar dengan sepenuh tenaga,
siapa tahu bisa kutempuh perjalanan siang malam sebelum mereka tiba di antara Huan mo kiong,
aku bisa sampai duluan?" Berpikir sampai disini ia lantas bertanya: "Nona mendapatkan
keterangan ini dari mana?"
"Kau tak perlu tahu, pokoknya kedatangan aku kemari adalah untuk menyampaikan kabar ini
kepadamu"
"Terima kasih atas bantuan nona, kalau begitu aku akan segera melakukan perjalanan-"
"silahkan"
setelah menjura, berangkatlah Han siong Kie meninggaikan tempat itu, cepat sekali gerakan
tubuhnya, dalam sekejap mata ia sudah berada jauh sekali dari sana.
Menanti bayangan punggung pemuda itu sudah lenyap dari pandangan, orang yang ada
maksud baru menghela napas panjang, ia melepaskan kain kerudungnya sehingga tampaklah
wajahnya yang cantik, dari sakunya dia itu mengambil secarik sapu tangan dan menyeka air mata
dikelopak matanya.
Mengapa nona itu bersedih hati? Tak seorangpun yang tahu
Dalam pada itu Han siong Kie telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh Ho keng gin im nya
hingga mencapai pada puncaknya, siang malam ia menempuh perjalanan tiada hentinya, beratusratus
li sudah ditempuh dengan kecepatan penuh.
Hari ketiga, sebelum lohor pemuda itu sudah tiba dikota sik bun ki, suatu kota yang berjarak
tiga ratus li dari istana Huan mo kiong.
Dikota sik bun ki inilah kantor cabang Kay pang untuk wilayah Niu kang bermarkas.
Akan tetapi sampai waktu itu, bukan saja tiada kabar berita dari pihak kay pang, jejak ketiga
orang tianglo itupun tak ada yang tahu.
Han siong Kie semakin kuatir, ia merasa tak ada harapan lagi untuk menyusul ketiga orang
tianglonya.
Pemuda itupua sadar, jika orang yang menyaru sebagai dirinya tiba lebih dahulu di istana Huan
mo kiong dengan tampangnya yang persis seperti dirinya serta andaikan lencana ok kui cu pai,
tidak susah baginya untuk mendapat kepercayaan dari orang-orang perguruan dan bila sampai dia
mendapat kepercayaan penuh dari anggota Thian lam bun yang setia, runyamlah keadaan dan
hancurlah perguruan itu.
Denggan langkah yang lambat ia memasuki sebuah rumah makan yang memakai merek "Ing
khek ki", sambil melepaskan lelah dan menangsal perut, pemuda itu hendak menggunakan
kesempatan tersebut untuk mencari akal guna menanggulangi kejadian ini.
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Han siong Kie, mari kita bercerita kembali
setelah To It hui, Ang Pat sin dan Wi Jin ho mendapat tugas untuk mengubur jenasah seng Thian
pa dan Liok sau tan yang mati dalam pertarungan melawan gerombolan wi It beng.
setelah menyelesakan tugas menguburkan, ketiga orang tianglo ini melakukan perjalaran kian
kemari untuk mencari jejak Han siong Kie, akan tetapi jejak dari ketuanya ini lenyap tak berbekas,
mereka jadi murung tak habis mengerti.
Ditengah jalan secara kebetulan mereka mendengar kalau Wi It beng telah menjual perguruan
Thian lam bun kepada pihak Thian che kau, bahkan istana Huan mo kiong telah dirubah menjadi
kantor cabang Thian che kau untuk wilayah Thian lam.
Melihat keruntuhan yang mengancam perguruan ini, ketiga orang tianglo ini jadi marah
bercampur sedih, mereka lantas mengambil keputusan untuk berangkat ke Thian lam serta
mengumpulkan anak murid yang setia untuk bersama membasmi Wi It beng dari muka bumi.
Dalam perjalanan menuju ke Thian lam inilah, secara tak terduga ketua mereka, Han siong Kie
telah muncul dengan membawa dua puluh orang jago bersenjata lengkap. menurut keterangan
kedua culuh orang ini adalah anggota baru Thian lam bun yang baru diterimanya. sungguh
gembira sekali ketiga orang tianglo tersebut menjumpai kenyataan itu.
Mereka lebih percaya lagi setelah Ciangbun suhengnya menunjukkan tanda kebesaran ok kui
cupay, malahan mennrut pengakuan ciang bun suhengnya ini lencana tersebut berhasil dirampas
kembali setelah berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya.
Tentu saja mimpipun mereka tak menyangka kalau ciangbun suheng yang berada dihadapan
mereka ini sebetulnya adalah ciang bun suheng gadungan-
Meskipun dalam hal berbicara dan tingkah lakunya banyak hal yang mencurigakan ketiga orang
tianglo ini, tapi dengan manisnya "Han siong Kie" gadungan berhasil memberi jawaban yang
memuaskan, hal ini membuat ketiga orang tianglo itu semakin percaya.
Tatkala rombongan tiba dikota sik bun ki, anak murid Kay pang cabang wilayah Niu kang yang
baru mendapatkan surat kilat dari markas besarnya segera memberi penyambutan yang meriah,
bahkan setiap saat menanti perintah mereka.
Tindakan ini sama sekali diluar dugaan siapa pun, tentu saja perbuatan dari orang Kay pang
mencengangkan mereka.
Thia Wi wan yang menyamar sebagai Han siong Kie gadungan tidak terlampau curiga oleh
tindakan Kay pang ini sebab dalam anggapannya kaum pengemis itu sudah menggabungkan diri
dengan Thian che kau, maka segala sesuatunya ini tentulah kaucu mereka yang mengatur.
Karena itu diapun tidak memberikan reaksi apa-apa, sebaliknya menerima sambutan itu
sewajarnya.
Begitulah kesalahan paham yang terjadipada waktu itu, oleh karena kedua belah pihak tidak
mengucapkan apa-apa, tentu saja siapapun tak menyangka kalau apa yang sedang berlangsung
pada hakekatnya adalah suatu kesalah pahaman.
Kita kembali pada Han siong Kie yang asli, ketika tidak berhasil mendapatkan akal yang jitu
untuk menanggulangi kesulitan tersebut, dengan uring-uringan dia keluar dari kedai arak itu
Ditengah jalan tiba-tiba dari sisi tubuhnya terdengar seseorang berseru kaget ketika ia
berpaling ternyata orang itu adalah seorang pengemis tua yang berpakaian tambal-tambalan.
satu ingatan dengab cepat melintas dalam benaknya, ia berpikir:
"sebelum berpisah dengan engkoh tua pengemis dari selatan, ia telah berpesan kepadaku bila
ada kesulitan minta saja bantuan dari Kay pang, kenapa aku tidak mencari berita dari mereka?"
serta merta ia membuntuti kemana perginya pengemis tua itu.
sebentar kemudian mereka sudah keluar dari kota dan menuju ke tanah alas yang sepi
sebelum Han siong Kie sempat mengucapkan sesuatu, pengemis tua itu telah berpaling seraya
memberi hormat, katanya:
"Ditempat ini banyak tersebar mata-mata dari istana Huan mo kiong, sebelum rencana disusun
dengan matang, lebih baik ciangbunjin sedikit merahasiakan jejakmu"
"Rencana? Rencana apa?" tanya Han siong Kie.
Ucapan itu membuat si pengemis tua jadi terbelalak. lama sekali dia termangu sebelum
akhirnya bertanya:
"Bukankah engkau adalah Han sauhiap. ketua dari Thian lam bun ?"
"Betul"
"Maksudku lebih baik untuk sementara waktu ciangbunjin kembali dulu kedalam kuil Po cu bin,
agar supaya..."
(Bersambung ke Bagian 46)
Karya : Khu Lung
Saduran : Tjan ID
Ebook oleh : Dewi KZ dan ‘aaa”
http://kangzusi.com/ atau http:// http://dewikz.byethost22.com/
36
"Urusan rumah tanggamu sendiri?" tanya pengemis dari selatan dengan sepasang mata
melotot.
"Begitulah kenyataanya engkoh tua, harap engkau bisa memaklumi keadaanku ini"
"Tapi saudara cilik. tahukah engkau bahwa luka yang kau derita cukup parah?"
"Tidak menjadi soal, luka itu tak kuperhatikan sama sekali" sahut Han Siong Kie sambil tertawa
getir, "bagaimana pun ku harap kalian berdua segera tinggalkan tempat ini?" .
Baik pengemis dari selatan maupun padri dari utara sama2 adalah jago persilatan yang sudah
berpengalaman selama puluhan tahun, tentu saja segala tata cara dan tetek bengek tersebut
dipahami olehnya, mereka tahu bahwa urusan rumah tangga orang lain tidak pantas dicampuri
orang lain oleh karena itu sesudah saling berpandangan sekejap, akhirnya mereka berkata:
"Baiklah, kalau engkau sudah berkata demikian kami jadi tak baik untuk tetap berada disini.."
Berbicara sampai disitu mereka lantas putar badan dan berlalu dari sana.
"Hmm Memangnya kalian berdua hendak pergi dengan begitu saja?" tiba2 Wi It beng menegur
kembali dengan mendengus dingin.
"Ada apa?" tanya pengemis dari selatan dengan alis berkenyit. "memangnya engkau sudah
penuju dengan aku sipeminta tua?"
"Tetapi sekali ucapanmu itu aku memang penuju sekali dengan dirimu. Bukankah kamu berdua
sudah kenali ilmu Boan yo sin kang milik kaisarmu ?"
"Nah, itulah dia.. akan kuhantar kalian berdua untuk pulang kealam barat dengan kepandaian
sakti itu, dari pada hidup didunia toh kalian bakal cerewet belaka?"
Dari ucapan itu jelaslah sudah kemana Wi It beng membawa pembicaraan tersebut, rupanya
dia berhasrat untuk melenyapkan kedua orang jago itu berhubung perbuatan busuknya atas
geteja siau lim si sudah ketahuan.
Bilamana ilmu silat yang dimiliki Han siong Kie tidak terlalu lihay, tak nanti ia keluarkan ilmu
Boan yo sinkang tersebut tapi sekarang dia bertujuan lenyapkan Han siong Kie dan merampas
lencana ok kui cupay untuk menegakan kembali kewibawaannya sebagai seorang Tee kun,
terpaksa kepandaian simpanannya itu dikeluarkan. sementara itu Padri dari utara telah merangkap
tangannya sambil berkata:
"Omitohud Kalau toh sicu memang berhasrat begitu, rasanya tiada perkataan lain yang bisa
kukatakan lagi, bila ingin turun tangan silahkan saja segera turun tangan"
Pengemis dari selatan menyambung sambil tertawa tergelak:
"Haaah haaah haaah betul, memang tepat sekali ucapan tersebut, Kalau memang engkau
sudah penuju pada diriku, akupun tidak akan banyak bicara, toh aku si pengemis tua sudah bosan
hidup ... hayo ambillah nyawaku ini"
sudah tentu Han siong Kie tidak mengijinkan kedua orang tua itu terlibat dalam persoalan
perguruannya sendiri, dengan gelisah bercampur gusar dia maju dengan sempoyongan, sambil
menahan sakit dalam isi perutnya ia berseru kepada dua orang tokoh silat itu.
"Engkoh tua, locianpwe Disini sudah tak ada urusanmu lagi, aku harap kalian berdua segera
tinggalkan tempat ini"
"Eeh... memangnya engkau tidak dengar bahwa orang lain tidak mengijinkan aku berdua
tinggalkan tempat ini?" sahut pengemis dari selatan dengan mata melotot.
"Engkoh tua, loocianpwe Ketahuilah mencampuri urusan rumah tangga orang lain merupakan
pantangan terbesar bagi umat persilatan, aku minta janganlah kalian bikin hatiku jadi susah dan
serba salah"
"Kuakui kalau ucapan saudara cilik tidak salah, tapi engkau tua dan menyaksikan sendiri bahwa
situasi yang kita hadapi sekarang sama sekali berlainan, aku rasa engkau sendiripun-."
"Engkoh tua, ataukah kalian hendak menunggu sampai saudara cilikmu ini mempersilahkan
sendiri kepergianmu?" tukas anak muda itu secara tiba2.
sudah tentu maksud dari Han siong Kie mengusir dua orang sahabatnya itu bukan lantaran
apa2, maksud yang sebenarnya adalah karena dia tak tega menyaksikan kedua orang sahabatnya
ini ikut jadi korban di tangan lawan, jelas ilmu silat mereka masih belum sanggup menandingi
lawannya, bila Wi It beng berhasrat membunuh mereka jelas itu bukan pekerjaan yang terlalu
menyulitkan dirinya.
Wi It beng bukan orang bodoh, dia sendiripun tahu kalau akan maksud hati anak muda itu,
kontan dia tertawa seram.
"Haaah haah haaah Manusia berwajah dingin, lebih baik tak usah buang waktu dan tenaga
dengan percuma, ketahuilah nasibmu telah berada ditanganku, akulah yang akan menentukan
kalian semua harus mampus sekarang juga atau tetap hidup dikolong langit "
"Manusia bedebah, jangan tekebur lebih dahulu, ucapan semacam itu terlalu pagi kalau
diutarakan pada saat sekarang " hardik Han siong Kie dengan gusarnya.
sekali lagi dia ayun lencana ok kui cuipay nya ketengah udara, segenap sisa kekuatan yang
masih dimilikinya disalurkan kedalam lencana tersebut, tampaklah sekilas cahaya tajam langsung
memancar kedepan dan mencapai sejauh satu kaki dari kedudukan pemuda itu.
Gerakan ini sangat taktis dan tepat, karena gegabah dan kurang perhatian Wi It beng seketika
terkurung oleh cahaya tajam tersebut, sementara pikirannya jadi buyar, Han siong Kie telah
melancarkan serangan mautnya dengan ilmu jari Tong kim ci.
Dengus tertahan memecahkan kesunyian, tak tahan wi It beng roboh terjengkang ke atas
tanah.
Han siong Kie segera membentak keras:
"Tianglo berlima, dengarkan perintah segera perintahkan dua orang tamu ini untuk tinggalkan
gelanggang"
Lima otang tianglo itu serentak mengiakan, lima belah toya berkepala setan langsung di sapu
kedepan menggulung tubuh pengemis dari selatan dan padri dari utara.
Tentu saja Pengemis dari selatan dan padri dari utara tak ingin melibatkan diri dalam suatu
pertarungan, tanpa menunggu ke lima orang tianglo itu mendekati tubuh nya, mereka sudah
kabur tinggalkan tempat itu.
Menunggu dua orang jago tersebut sudah lenyap dari pandangan mata, Han siong Kie baru
bisa menghembuskan napas lega, dia tarik kembali lencana mustikanya dari sisi maju kedepan
untuk memeriksa keadaan luka Tee kun itu.
siapa tahu batu saja lencana nya ditarik kembali. Tiba2 Wi It beng loncat bangun kemudian
memperdengarkan suara gelak tertawanya yang amat mengerikan.
Betapa tercekatnya hati anak muda itu, dari gelak tertawa yang mengerikan itu, ia tahu bahwa
luka yang diderita pihak lawan sama sekali tidak parah.. Apa yang telah terjadi ?
Rupanya pada saat itu luka yang diderita Han siong Kie sangat parah sekali, disamping itu
diapun harus kerahkan dulu tenaga dalamnya kedalam lencana mutiara.. karena itulah meskipun
angin serangannya dapat telak ditubuh lawan, namun tenaga serangan nya lemah sekali.
Padahal sekujur badan wi It beng terlindung oleh hawa sakti Boan yo sin kang, karenanya
meskipun serangan tersebut bersarang telak di tubuh nya, namun hanya mengakibatkan sedikit
lecet saja pada kulis tubuh nya.
selama ini dia masih tak mampu untuk bangkit, ini bukan akibat dari luka tersebut melainkan
kekuatan tubuh nya lenyap sebab terpengaruh oleh sinar tajam itu.
Maka begitu Han siong Kie menarik kembali serangannya, kekuatan dalam tubuh Wi It beng
pulih kembali. serentak dia loncat bangun.
Dengan mulut mengerikan karena terpengaruh oleh hawa napsu membunuh yang berkobarkobar,
selangkah demi selangkah Wi It beng bergerak maju kedepan.
Kelima orang tianglo itu bertindak cepat melihat ketuanya terancam, serentak mereka
lintangkan toyanya didepan dada dan berdiri dibelakang anak muda itu. Han siong Kie ayun
kembali lencana nya untuk mempengaruhi kekuatan lawan-
Tapi kali ini wi It beng telah membuat persiapan, secepat petir tubuh nya menghindar
kesamping, kemudian sebuah pukulan Boan yo sinkang dilontarkan kedepan.
Desingan angin tajam memekikan telinga bagaikan gulungan ombak samudra ditengah
hembusan angin puyuh langsung menerjang tubuh Han siong Kie serta kelima orang tianglonya.
Han siong Kie berenam jadi terperanjat, tanpa berpikir panjang mereka ayun pula telapak
tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
"Blaaamm.." suatu ledakan keras menggelegar di angkasa, dengan sempoyongan kelima orang
tianglo itu terdorong mundur sampai tercerai berai ke mana2, sebaliknya Han siong Kie yang
sudah terluka termakan oleh serangan itu lukanya makin parah, sekali lagi dia muntah darah
segar.
Wi It beng memang seorang jago yang tangguh, meskipun seorang diri harus menghadapi
serangan gabungan dari enam orang, akan tetapi dia hanya dipaksa mundur sejauh tiga langkah.
Kilat tajam sorot mata Wi It beng melebihi tajamnya sembilu, tiba2 dia menyapu sekejap
sekitar hutan ditepi hutan, kemudian tegurnya dengan lantang:
"Tokoh silat dari manakah yang telah berada disitu? Kalau sudah datang mengapa tidak segera
munculkan diri?"
Mendengar seruan itu, semua jago yang ada dalam gelanggang sama2 alihkan sorot matanya
ke arah hutan-..
Gelak tawa yang menyeramkan berkumandang dari dalam hutan, menyusul mana sesosok
bayangan hijau bagaikan sukma gentayangan munculkaa diri dari hutan, begitu cepat gerak
tubuhnya hanya sekejap mata ia sudah tiba dihadapan para jago.
orang itu bukan lain adalah seorang manusia berkerudung yang memakai baju warna hijau.
Mengetahni siapa yang muncul, bergetarlah perasaan Han siong Kie, diam2 peluh dingin
membasahi tubuhnya.
Air muka Wi It beng sendiripun berubah hebat, tegurnya kemudian-"siapa engkau?"
Manusia berkerudung itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, tangan kanannya perlahan
di ayun kedepan dan tahu2 sebuah tengkorak warna merah sudah muncul di depan mata.
"Haah.. Tengkorak maut?" seru Wi It beng dengan hati tercekat.
Paras muka kelima orang tianglo serta kawanan pengawalpun berubah hebat, mereka tak
mengira kalau Tengkorak maut yang di segani tiap umat persilatan di daratan Tionggoan telah
munculkan diri dalam saat begini.
Di antara sekian banyak orang hanya Han siong Kie seorang yang tahu bahwa tengkorak maut
yang berada dihadapannya sekarang ini tak lebih hanya tengkorak maut gadungan, hatinya
bergetar keras dan paras mukanya terpengaruh oleh emosinya.
Dalam sekejap mata suasana dalam gelanggang berubah jadi hening, sepi dan tak kedengaran
sedikit suarapun-
Ditengah keheningan itulah tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, di susul
seseorang berseru kesakitan.
Dengan sempoyongan Han siong Kia mundur kebelakang, darah segar meleleh terus dari ujung
bibirnya.
Dalam sekejap mata itu pula lencana ok kui cupay telah berpindah tangan, kini benda tersebut
telah berada ditangan tengkorak maut yang lihay itu.
Tindakan dari Tengkorak maut ini sama sekali berada diluar dugaan semua orang, siapapun tak
menyangka kalau tokoh sakti itu sudi merampas ok kui cupay tanda kepercayaan dari Huan mo
kiong.
Paras muka Wi It beng berubah hebat, tubuhnya gemetar menahan emosi.
Jauh2 dari Thian lam menuju daratan Tionggoan, tujuan wi It beng adalah melenyapkan Han
siong Kie serta merampas lencana ok kui cupay yang merupakan tanda kekuasaan dari istana
Huan mo kiong, dan kini dikala lencana tersebut hampir terjatuh ke tangannya. Tahu2 sudah
dirampas oleh Tengkorak maut, bisa dibayangkan betapa gusar dan gelisahnya jago ini.
"Tengkorak maut, hayo serahkan kepadaku benda itu" hardiknya keras2.
"Heehh heehhh heehhh apanya yang serahkan kepadamu?" jengek Tengkorak maut sambil
tertawa seram.
"Apa lagi? tentu saja lencana ok kui cupay tersebut"
"Haahh haahhh haaa... Wi It beng menurut apa yang kuketahui, engkau tak lebih hanya
seorang anggota murtad dari aliran Thian lam dan lagi kedudukanmu sebagai Tee kun sudah
terhapus, memangnya lencana ini masih menjadi milikmu??"
"Tutup mulutmu, Jawab saja, mau diserahkan kembali kepadaku atau tidak ....?"
"Memangnya engkau mampu melakukan sesuatu yang luar biasa atas diriku ini? " ejek
Tengkorak maut.
"Bangsat Rupanya engkau memang sudah bosan hidup," teriak Wi It beng dengan gusarnya.
setelah membuat satu gerak melingkar di depan dada, sepasang telapak tangannya langsung
dilontarkan ketubuh Tengkorak maut, bukan saja cepat sekali serangan itu, bahkan ganas dan
keji.
"Waah.. kalau cuma mengandalkan ilmu kucing kaki tiga seperti ini masih jauh kalau ingin
merobohkan aku"
Tiba2 ia melesat kedepan sejauh dua kaki, kemudian ejeknya dengan nada sinis. . "Wi It beng,
manusia tolol sampai ketemu lain kali..."
Berbareng dengan berakhirnya ucapan tersebut, tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan
yang lebat.
Betapa murkanya Wi It beng ketika ia lihat Tengkorak maut telah berlalu dengan begitu saja, ia
berpaling dan melotot sekejap kearah Han siong Kie dan kelima orang tianglo itu dengan tatapan
benci, kemudian dengan wajah menyeringai ucapnya:
"Baik..baiklah... akan kuselesaikan kalian lebih dahulu sebelum kubikin perhitungan dengan
Tengkorak maut"
Keadaan Han siong kie ketika itu sangat lemah, jangan toh harus bertempur, untuk berdiri
sendiripun sudah tak mampu.
Lima orang tianglo itupun merasa sedih bercampur gusar, kini ketua mereka telah terluka
parah, itu berarti mereka berlima tak akan mampu menghadapi kelihayan wi It beng kendatipun
turun tangan bersama2
Dari sikap musuhnya yang begitu seram, merekapun sudah tahu bahwa musuhnya tak akan
melepaskan mereka berenam dengan begitu saja, asal mereka sudah mati maka perguruan Thian
lam pasti akan terjatuh ketangan manusia biadab ini, itu berarti pula bahwa kejayaan dan
kecermerlangan perguruan mereka harus berakhir sampai disini saja.
Walaupun sadar bahwa kepandaian mereka bukan tandingan lawan, namun mereka tak sudi
menyerah kalah dengan begitu saja, mereka bersiap sedia melakukan perlawanan hingga titik
darah yang penghabisan-
Diiringi bentakan nyaring, kelima orang tianglo itu segera putar toya kepala setannya dan
menerjang Wi It beng dengan ganas.
"Bluuk..." suatu jerit kesakitan terdengar, Liok sau tan terhajar telak oleh serangan itu hingga
mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.
Menyaksikan rekannya mati terbunuh, empat orang tianglo yang lain jadi semakin kalap.
serangan mereka semakin gencar, toya saktinya diputar sedemikian rupa sehingga Wi It beng
benar2 kena dikurung ditengah kepungan.
Kematiam rekan seperguruan yang berlangsung didepan mata membuat keempat orang tianglo
itu benar2 teramat gusar, mereka sudah bertekad untuk beradu jiwa, maka setiap serangan yang
dilancarkan Sebagian besar merupakan serangan adu jiwa yang sangat mengerikan-
Dalam waktu Singkat Wi It beng sudah di bikin keteter hebat dan kalang kabut tidak karuan,
posisinya amat terdesak sedang jiwanya terancam oleh mara bahaya.
Lambat laun Wi It beng jadi naik darah juga, ia tahu jika pertarungan dibiarkan berlangsung
terus dalam keadaan begini, niscaya wibawa dan gengsinya akan merosot.
Suatu ketika ia mendengus dingin, kemudian sambil menerjang kemuka secara beruntun dia
lancarkan delapan buah serangan berantai yang cukup gencar, hanya sesaat saja posisi diatas
angin telah terjatuh kedalam genggamannya.
Jerit kesakitan tiba2 berkumandang lagi memecahkan kesunyian, dalam suatu sergapan kllat,
Seng Thian pau tianglo kedua dari istana Huan mo-kiong ini tak sempat menghindarkan diri dari
serangan. dadanya terhajar telak sehingga ia muntah darah segar, tak ampun lagi tubuhnya
terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa.
Kematian dari rekannya yang kedua ini semakin membuat tianglo lain yang masih hidup jadi
kalap. To It hui tianglo pertama, Ang Pat siu tianglo ketiga dan Sah Jin ho tianglo kelima dengan
mata yang berapi-api dan muka menyeringai seram berulang kali membentak keras ibarat guntur
yang menggelegar di angkasa.
Tiga batang toya baja mereka dengan diputar sedemikian rupa merupakan serangkaian
bayangan serangan yang tajam dan tebal bagaikan awan yang memenuhi angkasa, di iringi
desingan tajam serentak menyergap membabat dan menghantam batok kepala musuhnya.
Ketiga orang tianglo ini sudah mata gelap dibuatnya, mereka jadi nekad dan tak takut mati,
dengan sendirinya serangan yang dilancarkan ketiga orang inipun jauh lebih dahsyat lagi.
Wi It beng tertawa terkekeh2, ia tak pandang sebelah matapun terhadap serangan2 musuhnya,
dikerubuti lima orang pun dia sanggup melakukan pembantaian apalagi sekarang musuhnya
tinggal tiga orang.. secara beruntun dia lepaskan dua belas buah pukulan dahsyat.
Begitu kedua belas buah pukulan itu dilancarkan kemuka, secara beruntun terdengarlah tiga
kali jerit kesakitan menggema diangkasa, dalam waktu singkat dari antara lima orang tianglo yang
gagah berani ada dua sudah mampus dan tiga lainnya menderita luka parah.
suasana untuk sesaat jadi hening dan sepi, kendatipun hawa napsu membunuh masih
menyelimuti seluruh angkasa dengan tebalnya.
Wi It- beng tertawa seram, muka nya menyeringai hingga Kelihatan sangat mengerikan,
selangkah demi selangkah ia maju kedepan menghampiri Han siong Kie.
Betapa gusar, benci dan penasarannya si anak muda itu, saking gelisahnya kembali dia
muntahkan darah segar, pada saat seperti ini dia sudah kehilangan tenaga untuk melawan,
padahal Wi it beng sambil tertawa seram maju semakin mendekat tampaknya kecuali meramkan
mata sambil menunggu tibanya ajal, tiada jalan lain lagi yang bisa dia lakukan. Pada detik2
terakhir inilah bayangan kematian berkecamuk dalam benaknya..
Ia teringat kembali akan dendam berdarah nya yang belum terbalas, perintah gurunya yang
belum terlaksana.
Mati bukan berarti bisa melepaskan diri dari se gala2nya, kalau ia sampai tewas dalam keadaan
demikian, maka dia akan mati dengan sepasang mata tidak terpejam.
sekarang ia mulai menyesal, menyesal apa sebabnya melayani pertarungan itu dengan
kekerasan, andaikata kelima orang tianglonya setelah ditolong maka mereka segera
mengundurkan diri, niscaya tidak beginilah keadaannya ....
Tanpa sadar peringatan dari orang yang ada maksudpun berkumandang kembali disisi
telinganya:
"...jangan lukai orang, setelah menyelamatkan jiwa kelima orang tianglo itu, segeralah berlalu
dari situ.."
Benarkah orang yang ada maksud adalah seorang manusia sakti yang bisa meramalkan semua
kejadian yang belum berlangsung?
sementara itu Wi It beng sudah berhenti kurang lebih lima depa dihadapan si anak muda itu,
telapak tangannya perlahan di angkat keudara dan siap melepaskan pukulan-..
Pada detik itulah dari tempat kejauhan tiba2 melayang tiba dua sosok bayangan manusia.
sangat kebetulan kemunculan bayangan manusia itu, Wi It beng yang telah siap melancarkan
serangannya tiba2 membataikan kembali niatnya dan menurunkan kembali telapak tangannya itu.
Yang munculkan diri ketika itu adalah dua orang kakek berbaju kuning, mereka memiliki
perawakan badan yang tinggi besar dan kekar, sepasang mata nya memancarkan cahaya tajam,
itu menandakan kalau tenaga dalam yang mereka miliki telah mencapai puncak kesempurnaan.
Begitu mencapai permukaan tanah, dua orang kakek baju kuning itu segera memberi hormat
kepada Wi It beng seraya berkata:
"Pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau khusus datang menghunjuk hormat untuk
Tee-kun"
"Kalian berdua tak usah banyak adat" kata Wi It beng sambil putar badannya "ada urusan apa
kalian datang kemari??"
"Hamba mendapat perintah dari kaucu untuk datang menghadap Tee kun, ada suatu masalah
penting yang hendak dirundingkan dengan diri Tee kun" sahut salah seorang diantara kedua orang
pelindung hukum baju kuning itu.
"Persoalan apa yang hendak kalian rundingkan??"
"Berulang kali manusia berwajah dingin menyatroni dan membuat keonaran didalam
perkumpulan kami, hingga detik ini sudah mendekati seratus orang anggota perkumpulan kami
yang telah jatuh korban ditangannya, oleh sebab itu kaucu mengusulkan agar Tee-kun bersedia
menyerahkan orang itu kepada kaucu kami, agar kami bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepada dirinya. ."
"Tentang soal ini. "
Dengan cepat pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Wi It beng, ia tahu bilamana Manusia
berwajah dingin diserahkan kepihak Thian che kau, maka tindakannya ini akan mempengaruhi
nama baik serta kewibawaan perguruannya, akan tetapi diapun merasa segan untuk bermusuhan
dengan perkumpulan itu dalam posisi yang serba tidak menguntungkan ini, toh bagaimanapun
juga tujuannya hanya melenyapkan bibit bencana dari muka bumi ?"
Kini lencana ok kui cui pay dari perguruannya sudah dirampas Tengkorak maut, itu berarti bila
dia hendak mengembangkan pengaruh perguruannya maka ia masih harus meminjam kekuatan
dan bantuan Thian che kau.. "
sesudah mempertimbangkan untung ruginya, diapun mengangguk dan menjawab nyaring.
"orang nya boleh saja kalian bawa pergi, tapi terlebih dahulu aku harus musnahkan dulu ilmu
silat yang dimilikinya"
"Terserah kebijaksanaan Tee-kun"
Han siong Kie masih sadar, dengan sendirinya diapun dapat mengikuti jalannya pembicaraan itu
dengan jelas, meskipun setiap patah kata yang diucapkan lawannya amat menusuk perasaannya,
membuat ia jadi gusar dan dadanya serasa mau meledak. akan tetapi sianak muda itu tak mampu
berbuat apa2, dia hanya pasrah pada nasib belaka.
Dalam pada itu, Wi it beng telah memutar badannya menghadap kembali kearah Han siong Kie.
setelah tertawa seram kata nya.
"Menurut peraturan sepantasnya kalau kusebut dirimu sebagai suheng.. haaahh .haaaahh..
haaahhh.. semoga saja sesaat lagi engkau dapat segera berangkat untuk berkumpul kembali
dengan toa supek dialam baka sana."
"Binatang terkutuk, aku menyesal karena tak bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepadamu!" seru Han Siong Kie dengan penuh kebencian "tapi hmm engkau tak usah keburu
bersenang hati, barang siapa tidak jujur dan tidak setia kepada perguruan, suatu ketika dia pasti
akan mati dalam keadaan mengerikan. percayalah saat ajalmu tidak terlalu lama"
"Heeehhh heeeehhh hheeeehhh suheng, sekalipun saat ajalku sebentar lagi akan tiba, sayang
seribu kali sayang engkau tak dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"sukma cousu selalu melindungi perguruannya, dia tak akan membiarkan engkau hidup lebih
lama.."
"Bangsat lebih baik tutup saja bacot anjingmu." bentak Wi It beng dengan gusar.
Dalam suatu bentakan keras dengan sodokan jari tangannya yang kaku bagaikan tombak ia
menerjang kemuka dan mengancam jalan darah cacad ditubuh sianak muda itu.
"Blaang" ditengah benturan keras yang memekikkan telinga, terdengar wi It beng mendengus
berat, dengan sempoyongan dia mundur lima langkah kebelakang.
sekalipun Han siong Kie sudah menderita luka dalam yang cukup parah namun dengan bakat
alamnya yang luar biasa serta daya tahannya yang kuat, serangan balasan yang dilepaskan dalam
keadaan terluka itu tak bisa di anggap enteng. . .
Bagi Wi It beng sendiri serangan balasan tersebut tak pernah dibayangkan sebelumnya, dia tak
menyangka dalam lukanya, pemuda itu masih sanggup melepaskan pukulan sedahsyat itu
sehabis melancarkan sebuah pukulan dengan menggunakan sisa kekuatan yang dimilikinya itu,
luka yang diderita Han Siong Kie menjadi semakin parah, dengan sempoyongan dia mundur
kebelakang, matanya jadi ber kunang2 dan kepala nya pusing tujuh keliling, darah segar kembali
muntah keluar dari mulutnya.
Dari malunya Wi It beng jadi gusar, sepasang telapak tangannya segera diayunkan berbareng
melancarkan bacokan kilat yang maha dahsyat.
Tiga orang tianglo yang menggeletak dengan menderita luka parah sempat mengikuti jalannya
peristiwa ini dengan jelas, mereka sudah meronta bangun sambil bersiap siap memberikan
pertolongan, tapi serangan lawan dilancarkan terlalu cepat, ketiga orang itu tak bisa berbuat lain
kecuali menjerit kaget
"Tee-kun, harap ampuni jiwanya, kaucu kami membutuhkan dirinya dalam keadaan hidup2"
teriak dua orang pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau hampir bersamaan waktunya.
Tapi sayang jeritannya itu agak terlambat, Di tengah jeritan kesakitan, ibarat layang-layang
yang putus benang, tubuh Han siong Kie mencelat ke udara dan meluncur kebelakang.
Mendadak satu kejadian aneh telah berlangsung didepan mata..
Dikala daya luncur dari tubuh Han siong Kie sudah habis dan badannya hampir menyentuh
tanah, tiba2 entah bagaimana caranya tiba2 tubuhnya melayang kembali keudara dan meluncur
kedalam hutan di tepi jalan raya itu..
semua jago berdiri terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya, semua orang tak mampu
ber-kata2 menyaksikan peristiwa aneh itu, hanya dalam waktu singkat tubuh Han siong Kie yang
kekar sudah melayang ke dalam hutan dan lenyap dibalik pepohonan.
sebagai jago2 silat kenamaan rasa kaget itu hanya sebentar menyelimati hati mereka, dengan
cepat orang2 itu sadar pastilah ada seorang tokoh sakti yang sedang bersembunyi disana. .
Peluh dingin mulai mengucur keluar membasahi tubuh mereka, bayangkan saja dari jarak
sejauh beberapa kaki ternyata tokoh sakti itu mampu menghisap sesosok tubuh yang kekar seperti
itu, bilamana tenaga dalam orang itu tidak sangat hebat, mampukah dia melakukan hal seperti
itu?
Belum lenyap rasa kaget yang menyelimuti hati semua orang, tiba2 pandangan mata nya jadi
kabur dan tahu2 seorang kakek tua yang tinggi besar dengan jubah panjang warna kuning,
berkaki telanjang dan berikat kepala warna perak munculkan diri ditengah gelanggang.
Perawakan tubuh kakek itu sangat tinggi besar, sekilas pandangan se-akan2 sebuah buklt kecil
yang sedang bejalan.
Manusia aneh itu mempunyai sepasang mata yang memancarkan sinar warna hijau, begitu
tajamnya sorot mata orang itu membuat setiap jago yang terpandang oleh nya segera hatinya
bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.
Setelah menjapu sekejap orang-orang itu, akhirnya sinar mata manusia aneh itu berhenti diatas
wajah Wi It beng.
Betapa pemberaninya Wi It beng tak urung mundur juga beberapa langkah ke belakang dengan
badan gemetar keras, dengan pengalaman serta kepandaian yang dimilikinya, ia tahu bahwa
manusia aneh itu bukan manusia sembarangan, ilmu silatnya boleh dibilang sudah mencapai
puncak kesempurnaan yang tak terhingga.
Sementara dia masih melamun, Manusia aneh itu sudah menegur dengan suaranya yang keras
bagaikan geledek:
"Hey bocah cilik, kalau kulihat dari kopiah emasmu, jubah sutramu serta dandananmu yang
tidak genah, tentunya engkau adalah ketua dari perguruan Thian lam bukan?"
"Bee.. betul " jawab Wi It beng dengan tubuh bergetar keras, "akulah ketua kaisar dari istana
Huan mo kiong"
"Apa ? Kaisar ? Haaah haaah haaaah kaisar ? sungguh menggelikan"
Gelak tertawa itu keras sekali membuat seluruh permukaan tanah tergetar keras, pucat pias
wajah kawanan jago yang hadir di situ, mereka merasakan darah panas bergelora dengan
hebatnya didada, bahkan Wi It beng pribadipun merasa jantungnya berdebar keras.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya dengan ketiga orang tianglo yang sedang terluka parah,
kontan mereka jatuh terduduk di atas tanah tak mampu berkutik lagi.
Untungnya manusia aneh itu hanya sebentar tertawa nya, kalau tidak cukup hanya tertawa
tergelak niscaya beberapa orang diantara mereka ada yang terluka parah.
Berdiri semua bulu kuduk digubuh Wi It beng, sambil memberanikan diri dia lantas menegur:
"Bolehkah aku tahu siapa nama besar mu?"
"Haah.. Masa engkau tidak kenal dengan aku?"
"Maaf, aku benar2 tidak kenal siapa engkau"
"Heehhh..heehh..heehh.. ketika aku masih berkelana dalam dunia persilatan, mungkin engkau
masih belum menongol dari rahim ibumu, akulah Hun si Mo ong Raja iblis pengacau jagad, sudah
pernah mendengar namaku ini"
Hun si Mo ong, suatu nama yang cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengarkan,
kontan para jago yang hadir dalam gelanggang merasakan badannya jadi lemas dan tak sanggup
berkutik lagi.
Sejak enam puluh tahun berselang jejak Hun si Mo ong secara tiba2 lenyap dari dunia
persilatan, kendatipun begitu nama besarnya selama puluhan tahun masih membekas dalam hati
setiap umat persilatan, tidaklah heran kalau semua orang masih mengenali nama besar dari tokoh
sakti tersebut.
Jago ini tersohor karena ilmu silatnya yang sangat lihay, perasaan girang ataupun gusar sukar
diketahui orang, dan perbuatannya tak pernah menuju kearah kebaikan ataupun kejahatansemua
perbuatannya hanya berdasarkan perasaan hati sendiri.
Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, jarang sekali ada jago silat yang sanggup
melayani tiga gebrakannya, maka dari itu baik jago dari golongan putih maupun jago dari
golongan hitam pada menaruh rasa jeri kepada nya
Enam puluh tahun berselang, diatas puncak Jit koan hong pada gunung Thay san telah
diselenggarakan suatu pertemuan besar para orang gagah, beratus2 orang jago persilatan kelas
satu yang ada dikolong langit telah berkumpul disana, dikala itu Hun si Mo ong hadir pula disana,
hanya cutup di dalam dua gebrakan ia telah berhasil menghajar mampus jago silat nomor satu
dikolong langit.
Atas kejadian itu para jago yang hadir disana jadi gusar hingga terjadilah pengerubutan secara
massal, akan tetapi dalam seperminum teh saja, mayat telah bergelimpangan bagaikan bukit,
darah berceceran membasahi puncak Jit koan hong...
sejak terjadinya peristiwa pembantaian ini tiba2 jejak Hun si Mo ong ikut lenyap dari peredaran
dunia persilatansungguh
tak disangka setelah menghilang selama enam puluh tahun lamanya, tiba2 Raja iblis
pengacau jagat yang lihay ini muncul kembali didalam dunia persilatan, bahkan turun tangan
menyelamatkan jiwa Manusia berwajah dingin yang terancam bahaya, peristiwa ini boleh dibilang
jauh diluar dugaan siapapun.
Tak seorangpun bisa memahami maksud dari gembong iblis ini, mereka cuma bisa berdiri
melongo sambil memandang orang itu tanpa berkata- kata. suasana jadi hening, sepi tak
seorangpun berani buka suara.
-00d0w00-
BAB 54
SESUDAH termenung beberapa saat lamanya, Hun si Mo ong kembali berkata:
" Enam puluh tahun berselang aku telah mengangkat sumpah, bahwasanya orang lain tidak
mengganggu aku, maka akupun tidak akan mengganggu orang lain. Nah Anggap saja nasib kalian
masih mujur, hayo cepat enyah dari tempat ini"
Hampir saja semua orang tidak percaya dengan pendengaran sendiri, siapa juga tak mengira
kalau Hun si Mo ong yang kejam dan lihay ternyata sudah bertobat dan tidak melakukan
pembantaian lagi.
seakan2 baru saja terlepas dari pintu neraka, kawanan jago itu segera melarikan diri terbirit2
dari sana.
Hun si Mo ong tertawa ter bahak2, menanti kawanan jago itu sudah lenyap dari pandangan,
diapun berkelebat dan lenyap dari pandangan mata.
Tak jauh dari hutan itu, Han siong Kie tampak sedang berdiri sambil bersandar di atas sebuah
dahan pohon-
Tak jauh disampingnya berdiri pula seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari turun
dari kahyangan. dia bukan lain adalah malaikat hawa dingin Mo siu ing. Pada waktu itu Mo siu ing
sedang tertawa ringan sembari berkata:
"Hey, manusia berwajah dingin Ketika berada dihutan penyeberangan pohon liu engkau telah
menyelamatkan jiwaku, dan sekarang aku telah membayar budi kebaikanmu itu, berarti pula kita
sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada siapa"
Han siong Kie sakit hati dan termenung tanpa berkata2, ia tak suka budi kebaikan dari orang
lain, terutama dari kaum wanita, tapi dalam kenyataan berulang kali dia harus menerima budi
kebaikan dari kaum perempuan, hal ini membuat ia habis daya dan tak mampu ber-kata2 lagi.
Melihat sianak muda itu membungkam, Malaikat hawa dingin Mo siu ing kembali berkata:
"Kita hanya berjumpa secara kebetulan saja, kebetulan aku dan guruku sedang berangkat
menuju kebenteng maut, dan ketika kami lewat disini kulihat engkau sedang terancam bahaya.."
"Siapa gurumu?" tanya Han siong Kie agak tertegun.
"Siapa lagi kalau bukan Hun si Mo ong??"
sekali lagi Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa dia teringat kembali
akan peristiwa dimasa lampau dimana Ang Nio cu terancam bahaya setelah dihajar sampai terluka
parah oleh Tengkorak maut gadungan, untung Hun si Mo ong muncul secara tiba2 dia membuat
Tengkorak maut gadungan melarikan diri karena ketakutan.
Ia tak mengira kalau Hun si Mo ong yang ditakuti banyak orang itu ternyata tak lain tak bukan
adalah gurunya Malaikat hawa dingin Mo siu Ing.
"Jadi gurumu adalah Hun si Mo ong ?" tanya pemuda itu lagi dengan nada kurang percaya.
"Benar, engkau tak percaya??"
"Dan kalian hendak menuju ke benteng maut??"
"Tentu saja, kami hendak pergi kesana untuk menolong suamiku "
Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak Han siong Kie, kalau toh Hun si Mo
ong adalah gurunya malaikat hawa dingin Mo siu ing, bahkan dia mampu membuat Tongkorak
maut gadungan melarikan diri ter-birit2, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silatnya pasti
tinggi sekali.
Bagaimana jadinya apabila mereka berangkat ke Benteng maut? Belum tentu Tengkorak maut
yang asli mampu menandingi kekuatan mereka, jika dia sampai mati maka bagaimana dengan
dendam sakit hatinya? bukankah harapannya akan lenyap tak berbekas?
Diam2 pemuda itu jadi panik, saat ini tenaga dalamnya belum pulih kembali jelas tak mungkin
baginya untuk membicarakan soal balas dendam, lalu mampukah dia menghalangi orang lain agar
jangan pergi dulu kesana..?
Tapi dengan cepat ia terbayang kembali betapa lihay dan aneh nya ilmu silat yang dimiliki
pemilik benteng maut. sekalipun tenaga gabungan dua orang tokoh sakti ini terhitung dahsyat,
belum tentu usaha mereka akan mencapai kesuksesan.
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 tampaklah sesosok bayangan
manusia berkelebat lewat, menyusul seorang manusia aneh yang tinggi besar telah munculkan diri
didepan mata.
"Suhu, sudah selesaikah urusanmu?" Malaikat hawa dingin Mo Siu ing segera menegur dengan
wajah berseri.
"Ehmm. Perbuatanku sangat terbatas sekali karena terikat oleh sumpahku, aku tak dapat
membunuh orang lagi, terpaksa kububarkan orang2 itu agar berlalu dari sana"
Sekarang Han siong Kie baru tahu kalau manusia aneh yang berada dihadapannya bukan lain
adalah Hun si Mo ong yang ditakuti setiap orang, ketika diketahuinya peristiwa Wi It beng sekalian
tidak sampai dibunuh mati, pemuda itu bergirang hati karena dengan begitu maka dia masih
punya harapan untuk menjatuhi hukuman yang setimpal kepada penghianat perguruannya itu.
Berpikir sampai disitu, anak muda itu segera maju kedepan dan memberi hormat kepada Hun si
Mo ong seraya berkata:
"Locianpwe, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu ini"
"Haaahhh haaahhh haaahhhjangan kau anggap peristiwa itu sebagai suatu kejadian besar" kata
Hun si Mo ong sambil tertawa tergelak, "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyelamatkan
jiwamu, oleh karena muridku pernah menerima pertolongan darimu dan dia temukan engkau
sedang terancam bahaya maka ia minta bantuanku untuk menolong, jadi anggaplah
pertolonganku bukan lantaran engkau, tapi lantaran permintaan dari muridku ini"
Berbicara sampai disini, diapun berpaling kearah Malaikat hawa dingin Mo siu Ing seraya
berkata:
"coba kau lihat, bocah ini mirip sekali dengan suhengmu Ko Su ki "
"Benar suhu.." jawab Malaikat hawa dingin sedih.
sekarang Han siong Kie baru tahu kalau pada mulanya malaikat hawa panas dan malaikat hawa
dingin adalah sesama perguruan dimana dari saudara seperguruan akhirnya mengikat diri menjadi
suami istri.
"Dia tak akan mati bukan?" terdengar Hun si Mo ong bertanya lagi.
"Tecu telah memberi sebutir Kui goan kim wan kepada nya, tecu rasa jiwa nya tidak terancam
lagi"
"Kui goan kim wan ?" seru Hun si Mo ong cepat," Hey budak cilik, engkau benar2 sangat royal,
tahukah engkau selama enam puluh tahun aku bekerja, hasilku hanya tiga butir pil Kui goan kim
wan tersebut, engkau bukan saja sudah makan sebutir, sekarang kau hadiahkan pula sebutir
kepadanya.. waah, terlalu royal"
Malaikat hawa dingin Mo siu ing tertawa jengah setelah mendengar teguran itu, cepat dia
alihkan pokok pembicaraan kesoal lain: "suhu, sekarang sudah waktunya buat kita untuk
berangkat..."
"Baik..baik.. hayo kita berangkat"
Begitulah, tanpa berbicara lagi dua orang jago silat itu segera berlalu dari hutan tersebut,
dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan-
Han siong Kie sendiripun tak mampu berkata2, dia hanya bisa memandang kepergian dua
orang itu dengan pandangan melongo.
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing yang gemar membunuh manusia ternyata rela menghadiahkan
obat Kui goan kim wan mustika perguruanya untuk menyelamatkan jiwa Han siong kie, terhadap
peristiwa itu pemuda kita merasa keheranan dan benar2 tak habis mengerti.
"Mungkinkah obat ini disebabkan karena Han siong Kie berhasil menemukan kabar berita
tentang malaikat hawa panas Ko su ki ? Mungkinkah seumpama sianak mudaitu mengenangkan
lembali dirinya akan kegagahan dan kegantengan suaminya dimasa lampau?
obat Kui goan kim wan benar2 terhitung sebutir obat yang sangat mujarab, dalam waktu
singkat bukan saja rasa sakit ditubuh sianak muda itu sudah lenyap tak berbekas bahkan hawa
murninya telah menghimpun kembali..
Dalam perkiraan si anak muda itu, sesudah kemunculan Hun si Mo ong yang disegani banyak
orang itu, maka tak akan ada manusia yang berani mendekati wilayah itu, tapi dengan tenang dia
lantas duduk bersila sambil bersemedi . Apa yang terjadi kemudian? Ternyata dugaannya itu keliru
besar.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia dengan langkah yang sangat hati- hati
sedang bergerak mendekati tempat pertapaannya.
Nun jauh dibelakang bayangan manusia itu tampaklah bayangan manusia itu sedang
membuntuti bayangan manusia yang pertama. agaknya kedua orang itu mempunyai maksud dan
tujuan yang berbeda.
Mimpipun Han siong Kie tak menyangka kalau jiwanya waktu itu kembali terancam oleh mara
bahaya, dengan kesempurnaan tenaga dalamnya ditambah pula kemujaraban pil Kui goan kiem
wan, hanya dalam waktu singgkat ia sudah berada dalam keadaan tak sadar, kabut tipis berwarna
putih mulai mengepul keluar dari ubun2nya menciptakan selapis kabut tebal diatas kepala nya.
Bila latihan ini berlangsung setengah jam lagi, niscaya luka dalam yang diderita sianak muda itu
sudah sembuh sama sekali.
Bayangan manusia itu kian lama kian mendekat dan akhirnya ia berhenti dibelakang Han siong
Kie, persis pada jarak jangkauan tangannya, siapakah bayangan itu? Dia tak lain adalah Tengkorak
maut gadungan yang berhasil merampas lencana ok kui cu pay dari tangan Han siong Kie itu.
sementara itu pemuda Han siong Kie masih belum merasakan tibanya malaikat maut yang siap
mencabut nyawanya, ia masih duduk bersemedi sambil menyembuhkan luka nya yang diderita.
Telapak tangan dari tengkorak maut gadungan telah diangkat tinggi2, ia siap melepaskan
serangan mautnya, tapi entah apa sebabnya tiba2 telapak tangan yang telah siap melancarkan
serangan maut itu diturunkan kembali, rupanya ia sedang mempertimbangkan perlukah mencabut
nyawa sianak muda itu.
Jikalau ia menginginkan nyawa anak muda itu, maka dengan suatu gerakan yang amat
sederhana, keinginannya itu pasti akan tercapai, namun dalam kenyataan ia telah membatalkan
niatnya itu, atau mungkin dibalik kesemuanya ini dia mempunyai maksud atau tujuan yang lain
Dalam pada itu bayangan manusia yang lain telah melayang pula mendekati dibelakang
Tengkorak maut gadungan, dengan gerakan tubuh yang enteng ia menyembunyikan diri
dibelakang sebuah pohon yang besar.
Gerak gerik orang itu enteng dan gesit, sedikitpun tidak menimbulkan sedikit suarapun,
malahan Tengkorak maut gadungan yang lihaypun sama sekali tidak merasa kehadirannya. dari
sini dapat dibuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki pandatang itu luar biasa hebatnya.
suasana jadi hening, sepi, akan tetapi napsu memburuh yang tebal telah menyelimuti seluruh
angkasa.
37
Kabut putih yang menyelimuti ubun2 Han siong Kie mulai menipis dan akhirnya lenyap
menyusul mana pemuda itu sadar kembali dari latihannya, baru saja dia akan bangkit berdiri..
Mendadak sebuah telapak tangan telah menempel diatas ubun2nya, menyusul seseorang
membentak dengan suara menyeramkan: "Jangan bergerak!"
Betapa terperanjatnya Han siong Kie, ia merasa sukmanya serasa melayang tinggalkan
raganya, suara itu tidak terlalu asing baginya, sebab ia kenali sebagai suara dari Tengkorak maut
gadungan.
Bisa dibayangkan sampai dimanakah rasa bergidik yang mencekam perasaan hati si anak muda
itu, dalam hati dia lantas berseru. "Mati aku Habis sudah riwayatku kali ini.."
Tengkorak maut gadungan tertawa terkekeh kekeh dengan bangganya, ia berseru:
"Bocah keparat, ada satu persoalan hendak kuajukan kepadamu, aku harap engkau bersedia
untuk menjawab dengan sejujurnya"
Sekalipun jiwanya terancam, akan tetapi Han siong Kie tak mau menyerah dengan begitu saja,
dengan wataknya yang tinggi hati dan angkuh ia tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan
orang, dengan ketus ejeknya sinis:
"Tua bangka sialan, engkau manusia pengecut. Beraninya main sergap dikala orang tidak
bersiap sedia, manusia macam apakah dirimu itu?"
"Haaahhh haaahhh haahh keparat, terserah apa yang hendak kau katakan, pokoknya asal
engkau bersedia menjawab pertanyaanku sejujurnya maka akupun bersedia pula memberi
kesempatan kepadamu untuk melangsungkan suatu pertarungan yang seadil2nya"
"Aku tak sudi dipaksa atau diancam, percuma kalau engkau hendak paksa aku untuk menjawab
pertanyaanmu itu".
"Bocah keparat, engkau jangan tekebur Ketahuilah, bila aku berniat untuk mencabut nyawamu
maka perbuatan ini bisa kulakukan dengan gampang sekali"
" Kalau memang begitu, silahkan saja turun tangan "
" Engkau tak takut mampus??"
"Hmm Aku manusia berwajah dingin tak akan sampai mengemis kehidupan kepadamu"
"Baiklah bocah keparat, anggap saja engkau memang bersemangat jantan, cuma sayang..."
"sayang kenapa??"
"Perguruan Thian- lam akan terputus ditanganmu"
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, ia tahu bila dirinya mati maka perguruan Thian lam
akan hancur berantakan, wi It beng pasti akan berbuat se wenang2 tanpa seorangpun berani
menghalangi perbuatannya itu, dan akhirnya perguruan Thian lam akan musnah dengan
sendirinya.
Pemuda itu jadi sedih dan sakit hati, tapi wataknya yang angkuh membuat anak muda itu tak
sudi tunduk kepada orang lain.
setelah termenung sejenak diapun berseru:
"Tua bangka sialan, engkau tak usah banyak bicara lagi, kalau ingin turun tangan hayo cepatlah
turun tangan"
"Jadi engkau benar2 lebih suka mampus daripada hidup??"
"Aku tak akan mengemis hidup darimu, banyak bicara tak ada gunanya ....mau turun tangan
hayo cepat turun tangan, tak usah banyak bacot lagi."
"Kalau memang begitu yaa sudahlah..."
Han siong Kie tak menggubris lawannya lagi, ia segera pejamkan matanya rapat2..
Tiba2 sekilas cahaya perak memancar ke angkasa, diiringi desingan angin tajam langsung
menyambar kearah pohon besar dihadapannya.
Tengkorak maut gadungan menjerit kaget, mendengar itu Han siong Kie membuka matanya
dan memandang kedepan.
Tampaklah sebuah lencana perak sebesar telapak tangan menempel diatas dahan pohon itu
diatas lencana terukirlah gambar matahari, rembulan dan bintang.
sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya,jeritan ngeri yang menyayatkan hati
kembali berkumandang memecahkan kesunyian. "Blaam sesosok tubuh segera tumbang keatas
tanah dan tak berkutik lagi.
Betapa terperanjatnya Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, ia lompat bangun dan
menengok kesamping, tampaklah Tengkorak maut gadungan sudah menggeletak tak bernyawa
diatas genangan darah. tujuh lembar daun pohon menancap diatas kepalanya membuat kematian
jago ampuh itu tampak mengerikan sekali.
Untuk sesaat sianak muda itu jadi tertegun dan tak mampu berkata-kata..
siapakah yang memiliki kepandaian selihay itu sehingga mampu membinasakan Tengkorak
maut gadungan??
siapa pula pemilik dari lencana perak itu??
Mungkinkah Hun si Mo ong yang telah datang ? Karena sebelum ajalnya bukankah Tengkorak
maut gadungan telah menjerit kaget??
Kecuali tokoh sakti itu, siapa lagi yang mampu membinasakan gembong iblis ini hanya didalam
sekali gebrakan belaka??
Mungkinkah lencana perak itu adalah lambang dari Hun si, Mo ong?
Pelbagai ingatan berkecamuk menjadi satu didalam benaknya, dia merasa tidak sanggup untuk
memecahkan kejadian yang sangat aneh ini, tapi ada satu hal ia merasa yakin, untuk kesekian
kalinya kembali ia lolos dari cengkeraman malaikat elmaut, sekali lagi dia lolos dari kematian
"Nak. apa yang sedang kau lamunkan?" tiba2 suara teguran yang lembut dan penuh kasih
sayang . berkumandang dari tak jauh dari sana.
Han siong Kie terkesiap, dengan cepat la kenali suara tersebut sebagai suara dari orang yang
kehilangan sukma.
"cianpwe, engkaukah itu?" cepat pemuda itu berseru.
"Nak, masa engkau tak dapat mengenali suaraku lagi?"
"sekalipun boanpwe tidak berjodoh untuk menjumpai raut wajah cianpwe, akan tetapi suara
cianpwe sudah membekas dalam benakku, budi kebaikan yang telah cianpwe berikan kepadaku
setinggi bukit dan setebal bumi, selamanya budi kebaikan ini tak akan kulupakan"
"Nak. aku tak suka mendengarkan perkataan2mu yang memandangkan balas budi ini"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah.
"Apakah cianpwe yang telah membinasakan Tengkorak maut gadungan untuk melepaskan
boanpwee dari ancaman bahaya maut??"
"Begitulah kenyataannya"
"Kesempurnaan tenaga dalam yang cianpwee miliki benar2 luar biasa sekali."
"Nak. dugaanmu itu keliru besar, bila tenaga dalamku dibandingkan dengan tenaga dalam yang
dimiliki Tengkorak maut gadungan, maka kepandaianku masih kalah setengah tingkat"
Han siong Kie tercengang dan merasa tak habis mengerti, dengan nada keheranan segera
serunya:
"Tapi..tapi toh kenyataannya dia mati dalam waktu singkat??"
"Dia bukan mati ditanganku, lebih cocok kalau dikatakan bahwa ia mati toh karena lencana
tersebut."
Han siong Kie melongo dan tak habis mengerti, ujarnya lagi: "Mati karena lencana itu ?
Boanpwe merasa tak mengerti.."
"Kemunculan lencana itu membuat konsentrasinya jadi buyar, karena itulah aku manpaatkan
kesempatan yang sangat baik itu untuk membereskan jiwanya..."
"Masa lencana itu memiliki daya pengaruh yang begitu besarnya?"
"Benar nak. engkau tidak percaya?"
"Tentu saja boanpwe percaya, apa mungkin lencana itu adalah lambang khusus milik cianpwe?"
"Bukan, dugaanmu itu keliru besar"
Han siong Kie semakin kebingungan dibuatnya, sesaat kemudian ia baru bertanya lagi:
"Bolehkah boanpwe ketahui apa nama lencana itu?"
"Thian che leng"
"Lencana Thian che? kalau begitu kan lencana ini milik perkumpulan Thian che kau?"
"Dugaanmu tepat sekali, lencana itu memang milik perkumpulan Thian che kau"
"Jadi kalau begitu, Tengkorak maut gadungan menjalankan aksinya karena mendapat perintah
dari pihak Thian che kau?"
"Boleh dikatakan begitu"
"Maksud cianpwe ucapan dari boanpwe ini tidak benar semuanya?"
"Nak. untuk saat ini lebih baik engkau tak usah mengetahui tentang persoalan ini, toh akhirnya
engkau akan menjadi paham dengan sendirinya"
Han siong Kie terbungkam untuk beberapa saat lamanya, tiba2 ia jadi teringat kembali dengan
ibunya, siang go cantik ong Cui ing, ia telah disergap oleh ibunya agar Tengkorak maut gadungan
berhasil melarikan diri, kalau ditinjau dari situ dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Tengkorak maut
gadungan adalah orangnya Thian che kau.
sekalipun begitu, kecurigaan yang mencekam dalam benaknya terasa semakin banyak, maka
kembali ujarnya:
"Aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan sangat tinggi dan luar biasa, masa
manusia selihay inipun rela menjalankan perintah dari orang lain??"
"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, dia memang lihay tapi
diatasnya toh masih ada manusia yang jauh lebih lihay??"
"Aku rasa tenaga dalam yang dimiliki Thian che kaucu tidak lebih tinggi beberapa kali lipat dari
pada kepandaian silat Tengkorak maut gadungan"
"Thian che kaucu yang pernah kau temui itu tidak lebih hanya Thian che kaucu gadungan yang
sengaja menyelimuti pandangan orang lain, kaucu yang asli sama sekali tak berada dalam
perkumpulan"
"oooh.. Tapi apa sebabnya orang ini harus menyaru sebagai tengkorak maut gadungan??"
"Kan sudah kukatakan tadi, ia mendapat perintah dari orang lain"
"Mendapat perintah siapa ? Perintah dari Thian che kaucu ?"
"Nak.. pertanyaanmu sudah terlalu banyak"
"cianpwee menganggap bahwa aku tak pantas mengajukan pertanyaan lagi??"
"Tentang soal ini ada beberapa soal diantaranya dewasa ini tak mungkin bisa kamu peroleh
jawabannya "
"Kenapa??"
"Persoalan ini termasuk pula persoalan yang tak bisa kujawab, harap engkau bisa maklum"
Tak kuasa lagi Han Siong Kie menarik napas dingin, tapi dia pantang menyerah dengan begitu
saja, kembali tanyanya:
"Kalau kutinjau dari dandanan orang yang menyaru sebagai Tengkorak maut ini bukan saja
dandanannya sama bahkan ilmu silatnya juga sama bila dibandingkan dengan yang asli maka dia
cuma kalah dalam soal kesempurnaan, bila dugaanku tak keliru semestinya antara yang asli dan
yang paisu tentu mempunyai hubungan yang sangat erat."
"Nak. aku rasa pembicaraan kita sudab cukup sampai disini dahulu, cepatlah kubur jenasah itu,
makin dalam makin baik sehingga jejaknya tidak ketahuan siapapun "
Dengan perasaan apa boleh buat Han siong Kie memandang kearah mana berasal suara dari
orang yang kehilangan sukma, kemudian mengangguk.
Diapun berjongkok dan mulai menegeledah saku Tengkorak maut gadungan, tapi hanya sesaat
kemudian paras mukanya telah berubah hebat, ia berseru tertahan:
"Nak, apa yang sedang kau cari?" terdengar orang ada maksud bertanya:
"Aku sedang mencari lencana ok kui Cu-pay dari perguruanku "
"Percuma, tak usah kau cari lagi sebab lencana itu sudah tidak ada dalam sakunya lagi"
"Sudah tidak berada dalam sakunya lagi??"
"Benar, benda itu sudah dia serahkan kepada orang lain "
"Maksudmu Thian che kaucu??"
orang yang kehilangan sukma tidak menanggapi pertanyaan itu, tapi kembali berseru:
"Cepatlah turun tangan dan kuburlah mayat itu Jangan sampai meninggalkan jejak."
"Tapi lencana itu merupakan barang mustika yang menyangkut mati hidup perguruanku, bila
cianpwee mengetahui jejaknya, tolong beritahulah kepadaku"
"Tentu saja akan kuberitahukan kepadamu tapi bukan sekarang."
Dengan sedih dan murung Han Siong Kie menghela papas panjang, dalam hati ia merasa
penasaran sekali hingga rasa mendongkolnya sukar dikendalikan, tapi ia tak berani
mengumbarnya . .
Sesudah termenung sejenak, akhirnya dia memghimpun hawa murninya kedalam telapak
tangan kanannya, kemudian dengan sekuat tenaga dibabatkan keatas tanah.
"Blaaang.." pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, sebuah liang sedalam beberapa
kakipun segera terbentuk.
Baru saja liang itu terbentuk, suara dari orang yang kehilangan sukma kembali berkumandang
datang .
"Lepaskan jubah dan kain kerudungnya, hancurkan raut wajah orang itu.."
Han siong Kie agak tertegun, tapi tugas itu segera dilaksanakan tanpa membantah.
Ketika sianak muda itu sudah menyelesaikan tugasnya, suara dari orang yang kehilangan
sukma berkumandang lagi:
"Sekarang hancurkan lambang tengkorak yang ada disakunya itu, kemudian kuburlah bersama
jubahnya diliang yang lain pendam jenasahnya kedalam liang itu, sesudah di uruk dengan tanah,
gusakan ranting pohon untuk menghilangkan jejak yang ada di permukaan tanah."
Han siong Kie sama sekali tidak tahu permainan setan apakab yang sedang dilakukan Orang
yang kehilangan sukma, dlapun tahu kalau banyak bertanya tak ada gunanya maka tanpa
mengucapkan sepatah katapun semua pekerjaan itu dilaksanakan tanpa membantah.
Dalam hati kecilnya dia hanya berpikir terus, darimana asalnya orang yang bernama orang yang
kehilangan sukma ini, ia juga tak tahu mengapa mereka berbuat begitu misterius, mengapa
berulang kali mereka memberi bantuan kepadanya. Ketika semua pekerjaan telah selesai, maka
pemuda itu bertanya lagi:
" Cianpwe, apabila aku ingin tahu darimakah cianpwe mendapatkan benda yang paling
berkuasa dari perkumpulan Thian che kau ini.."
"Ada apa?" tukas orang yang kehilangan sukma.
"Apakah cianpwe tidak bersedia untuk memberikan jawabannya?"
"Tepat sekali tebakanmu itu, untuk sementara satu pertanyaan itu tak bisa kujawab, anggaplah
pertanyaan tersebut belum tiba saatnya bagiku untuk memberitahukan kepadamu. 0oh iya, nak.
bukankah aku suruh engkau berkunjung ke benteng maut? Mengapa engkau tidak pergi ke sana?"
Mendengar pertanyaan itu, kontan saja Han siong Kie merasakan darah panas dalam dadanya
bergelora, api dendam dan benci berkecamuk dalam benaknya membuat hawa napsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya
Tanpa sadar ia teringat kembali akan diri Tonghong-Hui, setelah masuk kedalam benteng maut,
gadis itu tak pernah muncul kembali, menurut perjanjian hal ini menandakan bahwa ayahnya
adalah pembUnuh yang telah membantai keluarganya dimasa silam. Dan tentu saja dia harus
membalas dendam atas terjadinya peristiwa ngeri itu.
Pelbagai ingatan kembali berkecamuk dalam benaknya, dengan sedih bercampur pilu dia
menyahut:
"Cianpwe, aku pasti akan berkunjung kesitu, boanpwe percaya masa bagiku untuk berkunjung
kebenteng maut sebentar lagi pasti akan tiba"
"Kesempatan ? Apa maksudmu?"
"Terus terang kukatakan cianpwe, sebelum berkunjung kesitu boanpwe hendak mempelajari
dahulu sejenis ilmu silat yang maha sakti.."
"Maksudmu, bila ilmu silat yang kau latih itu berhasil kau kuasahi maka engkau akan
berkunjung ke benteng maut untuk melakukan pembalasan dendam..?"
"begitulah maksud boanpwe"
"Nak, dikala aku tak dapat memberitahukan segala sesuatunya kepadamu, aku tak mampu
mencegah engkau berbuat sesuka hatimu, tapi aku ada satu permintaan dan aku harap engkau
tidak sampai membuatku jadi kecewa."
"Ucapan cianpwe terlalu serius, apa yang hendak disampaikan? Katakanlah terus terang" "
"Apabila engkau berkunjung lagi ke benteng maut dan sebelum melakukan pembalasan
dendam, aku minta sampailah dahulu asal usulmu dan ceritakan pula kisah terjadinya
pembantaian berdarah itu dan dimanakah peristiwa tersebut telah terjadi"
"sekalipun cianpwe tidak berpesan begitu boanpwe akan melakukan juga kesemuanya itu"
"Apakah engkau menyanggupi permintaanku untuk melakukannya walaupun berada dalam
keadaan apapun?"
"Boanpwe bersedia"
Meskipun dimulut Han siong Kie lelah menyanggupi, namun hatinya merasa tercengang dan
keheranan sebelum membalas dendam tentu saja dia akan menceritakan dulu sebab musabab
terjadinya peristiwa berdarah itu, tapi mengapa orang yang kehilangan sukma berpesan secara
serius kepadanya? Apa maksud dan tujuannya?
sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi dengan nada
yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Nak. bukankah engkau merasa curiga dan tak habis mengerti? Bukannya aku sengaja berbuat
sok misterius pada hakekatnya terlalu banyak masalah yang tak boleh diungkapkan terlalu cepat,
sebab kalau tidak maka akan mengakibatkan terjadinya peristiwa yang lebih fatal, aku minta
engkau bersabar diri dan menunggu sampai tanggal mainnya?"
"Aku mengerti" sahut Han siong Kie.
-00d0w00-
BAB 55
SESUDAH berhenti sebentar orang yang kehilangan sukma kembali berkata:
"Demi engkau mau tak mau aku harus musnahkan Tengkorak maut gadungan dari muka bumi,
tapi tahukah engkau akibat dari kematiannya itu maka akan timbul pelbagai kejadian yang sukar
diramalkan mulai sekarang. Tahukah engkau didalam perkumpulan Thian che kau masih terdapat
belasan orang jago yang memiliki ilmu silat setaraf dengan kepandaian Tengkorak maut
gadungan."
Diam2 Han siong Kie menjulurkan lidahnya dengan setengah percaya setengah tidak ia berseru:
"sudah beberapa kali boanpwee menyatroni, markas besar perkumpulan Thian che kau akan
tetapi selama ini?"
"belum pernah...".
"Benar, desa ini dalam markas besar perkumpulan Thian che kau memang tidak terdapat jago2
lihay yang terlalu istimewa, tapi tahukah engkau bahwa jago2nya sama sekali tidak berada disitu?
secara beruntun mereka akan munculkan diri didalam dunia persilatan, mungkin juga dunia
persilatan sudah menghadapi saat2 kiamat, tak lama lagi perkumpulan Thian che kau akan
menumpas musuh2nya dan merajai kolong langit..."
"Nak. tugasmu sekarang terlampau berat, aku harap engkau bisa baik2 menjaga diri. Ingatlah
Engkau harus bersabar menghadapi segala persoalan apapun"
Betapapun kukuhnya Han siong Kie, ia merasa terharu juga setelah mendengar perkataan itu,
sepasang matanya jadi merah dan hampir saja air matanya jatuh bercucuran, dengan
bersungguh2 katanya:
"Nasehat dari cianpwe akan boanpwe ingat selalu didalam hati"
"Nak, sekarang engkau boleh berlalu dari sini"
sebenarnya dalam hati kccilnya Han siong Kie masih ada banyak persoalan yang hendak
ditanyakan, akan tetapi pada saat itu dia merasa tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
maka sesudah termenung sebentar akhirnya ia berkata: "Kalau memang begitu, boanpwe mohon
diri lebih dahulu"
"Engkau tak usah melalui jalan raya lagi, diantara lima orang tianglo yang setia kepadamu ada
dua sudah tewas dan tiga orang terluka parah, kini yang tewas sudah dikubur sedang yang luka
sudah pergi, lewatilah hutan sebelah depan sana, lebih cepat berlalu dari sini lebih baik"
Han siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, akan tetapi terhadap orang
yang kehilangan sukma dan putrinya, ia menaruh rasa percaya seratus persen, maka tanpa
membantah lagi sianak muda itu segera berputar kesamping kanan dan siap berlalu dari situ..
"Tunggu sebentar" tiba2 orang yang kehilangan sukma berseru kembali.
" Cianpwe, apakah masih ada persoalan lain yang hendak cianpwe sampaikan kepadaku" tanya
sianak muda itu sambil menghentikan langkah kakinya dan berpaling.
"Hampir saja aku telah melupakan suatu persoalan yang amat penting sekali."
"Ucapkanlah cianpwee, boanpwee akan mendengarkan dengan seksama"
"Apakah engkau sudah mengetahui asal usul Yu sau Kun, ketua muda perkumpulan Thian che
kau yang sebetulnya??"
satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, dia segera bertanya: "Masa dia
benar2 adalah keturunan dari susiokku Telapak naga beracun Thio Lin??"
"Tepat sekali tebakanmu itu, dia memang keturunan dari paman gurumu yang sudah tiada"
"Taa... tapi hal ini mana mungkin bisa terjadi??"
"Kenapa tak mungkin terjadi??"
"Bukankah dia sudah mewakili diriku mati didalam perkampungan keluarga Han?"
"Apakah engkau sudah menemukan jenasahnya??"
"Tentang soal ini.." Untuk sesaat Han siong Kie jadi gelagapan dengan sendirinya, "mendiang
susiokku, Telapak naga beracun Thio Lin yang memberitahukan persoalan ini kepadaku"
"Dia toh cuma tahu kejadian itu sebelum berlangsungnya peristiwa itu, ketika peristiwa
berdarah berlangsung, ia sama sekali tidak hadir dalam gelanggang"
Mendengar perkataan itu, Han siong Kie segera merasakan tubuhnya gemetar keras bagaikan
kena aliran listrik bertegangan tinggi, ia sama sekali tak menyangka kalau asal usulnya serta
peristiwa berdarah yang menimpa keluarganya dapat diketahui oleh orang yang kehilangan sukma
sejelas itu, lalu.. siapa kah sebenarnya orang itu"
Kalau memang orang yang kehilangan sukma telah mengetahui semua kejadian itu bagaikan
memandang jari tangan sendiri, kenapa ia tidak secara langsung membeberkan rahasia ini
kepadanya, tapi malahan suruh dia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya,
apakah maksud yang di kandung orang itu dibalik kesemuanya ini ?
Atau mungkin pemilik benteng maut bukan pembunuh keluarganya dan dibalik semua peristiwa
ini masih ada persoalan lain? "
Kalau memang Tengkorak maut bukan pembunuh keluarganya, mengapa Tonghong Hui tidak
muncul kembali dari bentengnya sesudah masuk kedalam benteng maut? Bukankah mereka telah
berjanji, apa bila majikan benteng maut adalah pembunuhnya maka gadis itu tak akan muncul
kembali..
Makin berpikir ia merasa makin bingung dan makin dibayangkan pikirannya semakin ruwet..
"Nak tak ada gunanya engkau banyak berpikir" terdengar orang yang kehilangan sukma
berkata lagi, "suatu saat engkau pasti akan mengetahui dengan sendirinya apa yang sudah terjadi,
aku hanya berharap agar engkau mengingat selalu bahwasanya Yu Sau kun sebenarnya adalah
Thio Sau kun, dia adalah sutemu, tapi engkaupun musti ingat bahwa rahasia ini hanya boleh
engkau ketahui didalam hati, jangan sekali2 engkau bocorkan dihadapannya, sebab kalau tidak
maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2. Nah, sekarang pergilah"
Dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti, sekali lagi Han siong Kie memandang
sekejap lencana Thian che leng yang tertempel diatas dahan pohon, akhirnya dia menjejakkan
kakinya dan berlalu dari hutan itu.
Lencana ok kui cu pay yang merupakan simbol kekuasaan rtari perguruannya kini telah
dirampas oleh Tengkorak maut gadungan dan oleh Tengkorak maut benda itu sudah diserahkan
pula ketangan orang lain, yang dimaksudkan orang lain pastilah orang2 dari Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, dalam perkumpulan Thian che kau
terdapat belasan orang jago lihay yang setaraf dengan ilmu silat Tengkorak maut gadungan,
bukankah itu berarti bahwa sukar baginya untuk merampas kembali lencana tersebut??"
Berpikir sampai disitu, ia jadi murung dan sedih.
Apa bila lencana mustika perguruannya tidak berhasil dirampas kembali dari tangan musuh,
bukankah itu berarti bahwa ia telah menjadi seorang manusia yang berdosa??"
Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam lamanya, sampailah sianak muda
itu diluar hutan- diapun meneruskan perjalananya melalui jalan raya yang terbentang lebar.
Tujuannya tetap tidak berubah, dia akan mengunjungi lembah berkabut dimana ia dan
Tonghong Hui pernah lolos dari bahaya maut, dia akan menuju ketempat yang terpencil ini untuk
mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam sarung tangan Hud jiu Poo pit, apa bila ilmu sakti itu
berhasil dipelajari maka dia akan mengunjungi benteng maut dan melakukan pembalasan
dendam.
sepanjang perjalanan pemuda ini tiada hentinya memikirkan rahasia yang berhubungan dengan
Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, perkumpulan Thian che kau masih
memiliki belasan jago yang benar2 tangguh, berita ini boleh dibilang sangat mengejutkan siapapun
juga.
Tatkala ia menyatroni wilayah Lian huan tau untuk menolong Go siau bi, beberapa kali ia telah
bertarung melawan Thian che kau, ketika itu ilmu silatnya masih belum mempu melawan
musuhnya, dan ternyata sekarang terbukti bahwa musuh tangguhnya itu hanya seseorang yang
bertugas untuk menyaru sebagai ketua itu, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat
yang dimiliki Thian che kaucu benar2 sukar diukur dengan kata2.
sementara perjalanan masih dilanjutkan, tiba2 dari balik semak belukar ia temukan ada sesosok
tubuh manusia menggeletak disitu, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, ia
berhenti dan menghampiri semak belukar itu.
Ketika diperiksa dengan seksama diketahuilah bahwa orang itu adalah seorang pendekar
pedang yang masih muda dan tampan sekali wajahnya.
Akan tetapi sesudah diperiksa dengan lebih seksama lagi, bergidiklah hatinya Han siong Kie,
ternyata pemuda tampan itu sudah berubah menjadi sesosok mayat.
Jika ditinjau sepintas lalu, orang tak akan menyangka kalau pemuda tampan itu sudah menjadi
mayat, sebab wajahnya begitu segar dan tenang, seakan-akan seseorang yang sedang tertidur
nyenyak.
Han siong Kie merasa keheranan setengah mati, apa sebabnya pendekar muda itu bisa mati
dipinggir jalan tanpa ditemukan sesuatu luka ditubuhnya? Mungkinkah kena serangan jantung?
Disekitar semak belukar itu tidak ditemukan tanda2 bekas pertarungan, dilihat dari wajahnya
jelas pemuda itu bukan mati lantaran sakit ataupUn keracUnan, kejadian ini benar2 mengherankan
sekali..
Maka Han siong Kie menghampiri mayat itu, dengan perasaan ingin tahu diperiksanya sekujur
badan mayat itu, akhirnya sesudah diteliti dengan seksama, ia temukan diatas dada mayat itu
terteralah lima buah bekas jari tangan yang sangat lembut, bentuknya seperti bunga sakura, bila
tidak dia mati dengan seksama, tanda itu pasti tak akan ditemukan.
Han song Kie lebih2 dibuat terperanjat lagi, ditinjau dari bekas kelima buah titik jari itu jelaslah
sudah bahwa disitulah letak sebab musabab kematian dari pemuda itu, sayang pengalaman dan
pengetahuannya terlalu cetek. sehingga ia tak dapat menebak siapakah yang telah melakukan
pembunuhan tersebut.
sesudah ter-mangu2 beberapa saat, akhirnya pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya
kedepan.
Entah berapa li sudah lewat, akhirnya ia temukan dua sosok mayat, sebab kematian mereka
tidak berbeda jauh dengan tanda yang ditemukan pada mayat pertama, dan lagi kedua orang
inipun terhitung pemuda2 tampan yang berusia dua puluh tahunan.
sekarang Han siong Kie baru merasakan betapa seriusnya persoalan itu, pikirnya di hati:
"siapa gerangan yang telah turun tangan sekeji ini?"
Yang aneh ternyata korban2nya adalah pemuda yang masih berusia belasan serta berwajah
tampan.
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya sampailah si anak muda itu didalam sebuah kota kecil.
setelah mencari sebuah rumah makan yang bersih, pemuda itu mencari tempat dan memesan
makanan, dari pembicaraan para tamu yang ada dalam ruangan itu, ia dengar semua orang
sedang dihebohkan oleh pembunuhan dengan tanda bunga bwe.
Han siong Kie tidak memberi komentar apa2, ia cuma mendengarkan sambil bersantap. sayang
tiada sesuatu tanda yang berhasil ditemukan olehnya dari pembicaraan itu.
sementara suasana masih gaduh dan ramai oleh pembicaraan para tamu, mendadak suasana
jadi hening dan sepi, begitu sepinya sehingga terasa aneh sekali. Han song Kie tercengang, dia
segera menengadah..
Kiranya seorang gadis yang amat cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan sedang
berjalan masuk kedalam ruangan itu, dipandang dari bayangan punggungnya, anak muda itu
segera kenali dirinya sebagai cucu perempuan dari Pat lo sianseng, Go siau bi adanya.
Kemunculan Go siau bi yang secara tiba2 ini sangat mencengangkan hati si anak muda itu, dia
hendak menyapa, tapi sebelum sepatah kata sempat meluncur keluar dari mulutnya, ia lihat ada
dua orang pemuda tampan ikut duduk disampingnya, maka niat untuk berbicarapun segera
dibatalkan.
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, ia benar2 dibikin keheranan oleh
kemunculan gadis itu.
sementara dia masih melamun, gelak tertawa yang amat merdu dan penuh dengan daya tarik
berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul gelak tertawa yang lain menggema pula dari
mulut kedua orang pemuda itu.
Han siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, ia makin keheranan lagi, ia tak menyangka Go
siau bi bisa berkumpul dengan pemuda bergajul macam begitu.
Dua orang laki2 seorang wanita muda itu bergurau sambil tertawa tergelak. sikap mereka
bukan saja begitu berani bahkan sama sekali tak ambil pusing kalau disitu masih ada tamu lain,
ternyata tak seorang tamu pun yang berani buka suara untuk menegur.
Han siong Kie memang membenci kaum wanita, tapi Go siau bi pernah melepaskan budi
kebaikan kepadanya. maka ia tak mau mencampuri urusan gadis itu sebelum duduknya persoalan
diketahui dengan jelas.
Mendadak...satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dia teringat kembali akan ketiga sosok
mayat pemuda yang ditemuinya ditepi jalan siang tadi, tak kuasa lagi sekujur badan nya
merinding, jangan-jangan
"siangkong, tambah arak?" terdengar pelayan menegur dengan suara yang lirih. Han siang Kie
melirik sekejap kearah pelayan itu lalu mengangguk.
"Tambah dua canting"
Pelayan segara menuang dua canting arak kedalam teko yang ada dimeja, menggunakan
kesempatan itu cepat Han siong Kie bertanya: "siapakah dua orang pemuda yang berada disana
itu?"
Pelayan itu kelihatan terperanjat, sambil menjulurkan lidahnya ia menyahut dengan lirih:
"Mereka dinamakan Kim kiam siong ing (sepasang pendekar pedang emas) murid partai Go bi,
siangkong Lebih baik jangan banyak bertanya, sebab kedua orang itu adalah sau cengcu dari
perkampungan Go hau san eng, terlalu besar asal usulnya". Berbicara sampai disitu buru2 ia
berlalu dari sana.
Han siong Kie tidak berbicara apa2 lagi, ia tundukkan kepalanya sambil minum arak.
Kurang lebih setengah jam kemudian, Go siau bi dan Kim kiam siang ing baru berlalu dari sana.
Cepat Han siong Kie membayar rekening nya dan ikut keluar dari rumah makan itu, ternyata
bayangan tubuh ketiga orang itu sudah lenyap tak berbekas.
Han siong Kie tertegun, tapi sesudah berpikir sebentar buru2 ia membeli rangsum kering,
kemudian berlari keluar dari kota tersebut.
satu Li baru lewat dari tepi jalan ia temukan dua sosok mayat menggeletak disitu ketika mayat
tersebut diperiksa dengan seksama, siapa lagi mereka kalau bukan Kim kiam siang ing yang belum
lama berselang baru saja tinggalkan rumah makan.
Tubuh mereka tidak terluka ataupun mengucurkan darah, cuma diatas dada masing2 orang
terteralah sebuah cap jari tangan berbentuk bunga sakura.
Betapa terperanjatnya hati Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sekarang ia dapat
membuktikan bahwa pembunuhan2 keji itu kiranya dilakukan oleh Go siau bi, akan tetapi apa
sebabnya ia bantai pemuda2 tampan itu?
Dengan perasaan tak habis mengerti pemuda itu gelengkan kepala berulang kali, akhirnya ia
melanjutkan perjalanannya kembali kedepan.
senja itu, ketika sang surya baru condong kesebelah barat, sampailah pemuda itu disuatu
tempat kurang lebih sepuluh li dari lembab In.wu.kok..
sementara si anak muda kita masih melanjutkan perjalanannya, mendadak dari balik
pepohonan tak jauh darijalan raya terdengar seorang gadis sedang tertawa cekikikan.
suara tertawa itu amat menusuk pendengaran, hal ini segera memancing perhatian sianak
muda itu, tanpa berpikir panjang Han siong Kie segera meluncur kearah depan.
Melalui celah2 pepohonan yang lebat, ia saksikan ada sepasang muda mudi sedang duduk
saling berhadapan, yang laki2 berwajah amat tampan dan berusia tujuh delapan belas tahunan,
sedang yang perempuan tak Iain adalah Go siau Bi.
Pada waktu itu dengan muka yang genit dan kerlingan mata yang menggiurkan Go siau bi
sedang main mata dengan sianak muda itu kemudian terdengar ia bertanya dengan manja:
"cantikkah wajahku ini?"
"Cantik,. cantik sekali, kecantikan wajahmu ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan"
sahut sipemuda itn dengan wajah terkesima.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Aku tak pernah berbohong, setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata2 yang sejujurnya
dan aku rasa nona pasti mengetahui sendiri bukan akan hal itu"
"ooh benarkah begitu? Ehmm. lalu apakah engkau mencintai diriku..??"
"Tentang soal ini.... tentang soal ini...." pemuda itu tampak gelagapan jadinya.
"Eeh, jangan soal ini soal itu, kalau tidak mencintai aku mengapa engkau ikuti diriku sampai
disini??"
"Apa bila nona bersedia menerima perhatianku ini, cay he... cayhe merasa sangat beruntung
sekali hidupku ini"
Go siau bi mengerdipkan sepasang matanya yang jeli kemudian sambil meliuk-liukkan
pinggulnya ia berkata genit:
"Engkau anggap wajahku cantik maka jatuh cinta dalam pandangan yang pertama. sebaliknya
ada orang yang sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap diriku, bahkan tertarikpun
tidak, coba bayangkan saja manusia macam apakah dia itu?"
"Kalau benar2 ada manusia semacam itu, sepantasnya kalau orang itu dikatakan sebagai
seorang laki2 yang punya mata tak berbiji"
"Hiiihh hiiihh hiihhh memang hebat sekali pandanganmu itu" seru Go siau bi sambil tertawa
eekikikan.
Mendadak telapak tangannya maju ke muka, kelima jari tangannya dengan lembut segera
diayunkan kearah dada pemuda itu.
Terbelalak sepasang mata anak muda itu, ia menjerit tertahan: "Nona .."
Kato nona belum habis diucapkan, tubuhnya sudah menjadi lemas dan terkapar di tanah tanpa
mengeluarkan sedikit suara pun pemuda itu sudah menemui ajalnya.
Han siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan benar2 naik darah, untuk mencegah
perbuatannya jelas tak mungkin, seluruh tububnya gemetar keras menahan emosi.
"Sungguh kejam perempuan ini, hatinya lebih kejam dari pada seekor ular beracun.." pikirnya
dihati.
Tanpa sadar pemuda itu terbayang kembali akan ibunya, siang go cantik ong cui ing yang
kejam dan tak kenal ampun.
Mereka sama2 cantiknya, sama2 kejinya, tanpa sadar rasa benci dan muak timbul dalam
benaknya, ia siap melompat keluar dari tempat persembunyiannya..
Paras muka Go siau hi dingin menyayatkan, sebelum sianak muda itu sempat munculkan diri, ia
sudah berpaling dan mendengus dingin.
"Manusia berwajah dingin, sekarang engkau boleh segera munculkan dirimu.."
Betapa terperanjatnya Han siong Kie menghadapi kejadian tersebut, mimpipun ia tak
menyangka kalau tempat persembunyiannya telah diketahui lawan, dari sini dapatlah diketahui
bahwa selama beberapa waktu belakangan ini, ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan,yang
amat pesat.
Dengan muka hijau membesi menahan amarah yang meluap. dia lompat keluar dari tempat
persembunyiannya, kemudian menegur dengan kasar:
"Nona Go, mengapa engkau lakukan pembunuhan sekeji ini?"
Rasa sedih melintas diatas wajah Go siau Bi, tapi sesaat kemudian dengan wajah benci dan
mendendam ia berseru:
"Aku rasa persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik tak usah
kau campurinya"
"Nona, kunasehati dirimu lebih baik jangan bertindak kelewat kejam, karena perbuatan
semacam itu sama sekali tiada manfaatnya bagimu"
"Haaahh..haaahh..haaahh.. mau apa kau hey manusia yang bernama Han siong Kie? Engkau
merasa tidak terima dengan perbuatan yang kulakukan ini?"
"Benar, aku memang mempunyai maksud begitu"
"Lalu apa yang hendak kau lakukan atas diriku ini?"
"Hmm Akan kubunuh engkau untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan" jawab
Han siong Kie dengan hawa napsu membunuh yang amat tebal.
"Huuh, engkau hendak membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil mencibirkan bibirnya dengan
sinis.
"Benar, akan kubunuh dirimu"
" Kalau memang begitu, kenapa tidak segera turun tangan "
"Bila kita bertemu sekali lagi dimasa mendatang,jiwamu pasti akan kucabut."
Go siau bi tertawa tergelak, dengan wajah sinis sekali dia mengejek: "Kenapa tidak kau lakukan
sekarang juga?"
"Memandang diatas wajahmu dimana engkau pernah melepaskan budi kebaikan kepadaku,
kuampuni jiwamu untuk kali ini "
Go siau bi tak dapat menahan diri lagi, ia menengadah dan tertawa tergelak dengan seramnya,
gelak tertawa itu penuh mengandung perasaan sedih, pedih dan perasaan lain yang sukar
dilukiskan dengan kata2, lama sekali ia baru berhenti.
Paras mukanya berubah jadi dingin menyeramkan, hawa napsu membunuh menyelimuti
seluruh wajahnya, dengan suara keras dia membentak:
"Han siong Kie, nonamu justru sedang mencari engkau, mengertikah engkau..?"
"Mencari aku? Mau apa engkau mencari aku ?"
"Aku hendak membunuh dirimu, kalau bukan begitu mengapa kubiarkan engkau mengikuti aku
dari rumah makan sampai kemari haaaah.. haaah.. haaahhh... ketahuilah. aku sengaja memang
mengatur kesemuanya ini agar engkau bisa terpancing kemari"
sekarang Han siong Kie baru tahu bahwa Go siau bi telah mengetahui jejaknya ketika masih
berada dirumah makan tadi, maka dengan ketus segera tegurnya: "Jadi engkau hendak
membunuh aku??"
"Benar, dan sekarang juga pembunuhan ini akan kulaksanakan"
"Kenapa engkau hendak membunuh aku?"
"Karena aku benci padamu"
"Perbuatanku yang manakah yang telah menimbulkan rasa bencimu terhadap aku?"
"Sudah, pokoknya engkau tak usah banyak bicara lagi, ini hari juga nyawamu akan kucabut"
Han siong Kie menyengir sinis.
"Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu?" ejeknya.
"Engkau tidak percaya? Bagus, mari kita buktikan bersama."
Bersamaan dengaa selesainya perkataan itu, tiba2 telapak tangannya diayun kedepan kelima
jarinya dengan disertai desingan angin tajam langsung menyerang kedepan.
Dengan gerakan Cahaya kilat lintasan bayangan Han siong Kie segera berkelit ke samping,
serunya lantang:
"Mengingat budi kebaikanmu dimasa lampau, aku akan mengalah satu jurus untuk...."
"siapa yang suruh engkau mengalah kepadaku?" teriak Go siau bi dengan penasaran.
Telapak tangannya segera diputar balik keatas, selapis cahaya hijau yang tebalpun dengan
cepat membumbung keangkasa dan meluncur kedepan. Betapa tercekatnya perasaan hati Han
siong Kie, tanpa kuasa lagi dia berseru keras: "Aaaah...ilmu pukulan Thian-tok hoa ciang.
Haruslah diketahui, ilmu pukulan Thian tok cang hoat adalah semacam ilmu pukulan darijaman
dahulu kala yang amat dahsyat, apabila pukulan tersebut menyentuh sesuatu benda, maka daya
tahannya makin besar maka daya pentalnya ikut bertambah kuat, jangankan Han siong Kie
malahan Tengkorak maut gadungan yang memiliki ilmu silat lebih lihaypun dibuat tak berdaya oleh
kehebatan pukulan itu
38
Tentu saja Han Siong Kie juga mengetahui akan lihaynya pukulan tersebut, akan tetapi dia tak
sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan seorang gadis muda, maka dari itu dia segera
menghimpun kekuatan yang dimilikinya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut dengan
keras lawan keras.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan sianak muda itu, sebelum
pukulan mereka saling beradu satu sama lainnya, mendadak Go Siau bi menarik kembali
serangannya dan bergeser mundur dua langkah kesamping.
Tampaknya ilmu silat yang dimiliki gadis itu sudah mencapai taraf pengendalian secara
sempurna, menyaksikan kehebatan lawannya Han Siong Kie makin terkesiap, disamping itu diapun
makin keheranan oleh tindak tanduk lawannya yang aneh. Karenanya sambil menarik pulang
serangannya dia lantas menegur: "Eeeeh...kenapa kau tarik kembali serangan mu??"
"Aku kuatir engkau tak sanggnp untuk menerima pukulanku ini."
"Bukankah engkau mengatakan hendak membunuh diriku?" tanya anak muda itu dengan cepat.
Pertanyaan tersebut seketika membuat paras muka Go siau Bi kembali berubah hebat, ia
mendengus dingin, tanpa berbicara lagi ilmu pukulan Thian tok clang hoat sekali lagi dilontarkan
kedepan.
Han Siong Kte menggertak giginya menahan diri, sambil mengerahkan sisa kekuatan yang
dimiliki ia tangkis datangnya serangan tersebut.
"Blaaang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga menggelegar diseluruh angkasa,
diiringi dengusan berat secara beruntun Han siong Kie mundur delapan depa ke belakang, darah
segar sempat meleleh keluar menodai ujung bibirnya.
Tengkorak maut gadungan yang lihaypun jatuh kecundang ditangan gadis ini, apalagi Han
siong Kie yang lebih cetek ilmu silatnya tentu saja dia bukan tandingan sang gadis manis itu.
Put lo sianseng memang lihay dan hebat, terbukti dalam waktu singkat ia berhasil menciptakan
seorang tokoh sakti yang begini hebatnya, bila diceritakan orang lain belum tentu mau
mempercayainya.
Berhasil dengan memukul mundur Han siong Kie, dengan suara gemas dan penuh kebencian
Go siau bi berkata:
"Manusia bermuka dingin, bukan saja wajahmu dingin, darahmu juga sudah membeku, kau
manusia yang tak punya perasaan. Nah, rasain lagi beberapa buah pukulanku" sambil membentak
nyaring, untuk kesekian kalinya dia lancarkan pukulan maut ke depan.
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan peringatan dari orang yang kehilangan sukma, dalam
hati pemuda itu lantas berpekik, "Aku tak boleh mati"
Dengan suatu gerakan yang manis dan lincah ia menghindarkan diri dari serangan maut lawan,
berhasil dengan kelitannya. sebuah jari tangan segera direntangkan lebar dan serentak menyentil
kemuka.
sepasang telapak tangan Go siau Bi bergetar kian hebat, tenaga pukulanpun semakin menebal
membuat hawa hijau hampir menyelimuti seluruh pemukaan tanah.
"criiit. criiing.." ditengah desingan angin tajam ilmu sentilan Tong kim ci yang ampuh dan tak
terkalahkan itu ternyata dapat dihajar sampai buyar oleh kekuatan lawan.
Rasa kaget yang dialami Han siong Kie sukar dilukiskan lagi dengan kata2, mimpipun ia tidak
menyangka kalau ilmu jari Tong kim ci yang paling diandalkan ternyata sama sekali tak mempan
untuk digunakan menghadapi pukulan Thian tok ciang hoat.
Hampir saja tak percaya dengan apa yang terbentang didepan mata, sebab peristiwa ini
memang tak pernah diduga olehnya.
"sambutlah sebuah pukulanku lagi. " bentak dara itu lagi dengan lantang.
Ditengah bentakan nyaring, hawa hijau yang tebal dan menyilaukan mata dengan dahsyatnya
menggulung tubuh lawan.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Han siong Kie, dengan ilmu cahaya kilat
lintasan bayangan tubuhnya mendesak maju kedepan, lalu dengan jurus Mo tiong ko ciat ( raja
iblis menyembah loteng istana) ia hajar Go siau bi dengan mengerahkan segenap tenaga dalam
yang dimilikinya.
Go siau bi tertawa dingin, sekalipun hebat dan luar biasa seranganpemuda itu namun bagi
pandangannya serangan tersebut tak ada artinya, ia berkelebat lewat dari serangan itu dengan
gerakan bagaikan sukma gentayangan, lalu sambil melepaskan lima buah pukulan berantai,
teriaknya keras:
"Manusia bermuka dingin, hari ini kau harus mampus"
Memang dahsyat dan ganas kelima buah serangan itu, angin pukulan segera men-deru2
membikin hati orang jadi keder dan ngeri rasanya..
Terdesak oleh lima buah pukulan berantai yang maha dahsyat itu, Han siong Kie terdesak hebat
dan harus mundur berulang kali ke belakang..
Go siau bi tak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk tukar napas, selesai dengan lima
buah pukulan yang pertama, ia susulkan pula dengan lima buah pukulan berikutnya.
Menghadapi desakan demi desakan yang tiada habisnya, lama kelamaan Han siong Kie jadi
penasaran juga, kali ini dia tidak menghindar ataupun berkelit, dengan sistim adu nyawa dia
sambut kelima buah pukulan itu dengan gerakan keras lawan keras.
Tergetar perasaan Go siau bi setelah menyaksikan kenekadan sianak muda itu, tapi apa mau
dikata pukulan sudah terlanjur dilancarkan , maka sambil gertak gigi ia lepaskan pukulan mautnya.
"Blang Blang " dua kali dengusan dingin menggema memecahkan kesunyian, menyusul dua
sosok bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya.
Kedua belah pihak sama2 terlempar kebelakang dengan sempoyongan, keadaan Go siau bi
masih mendingan, sekalipun darah meleleh di ujung bibirnya dan mukanya pucat pias tapi
keadaannya masib agak segar.
Berbeda sekali dengan Han siong Kie, ia harus muntah darah berulang kali, jelas isi perutnya
sudah terluka parah.
Dengan wajah menyeringai seram dan mata saling melotot penuh kegusaran, kedua belah
pihak berdiri berhadapan.
Untuk sesaat suasana dalam gelanggang jadi sepi dan hening, sunyi bukan berarti hawa nafsu
membunuh telah lenyap begitu saja, malahan setiap saat darah segar mungkin akan membasahi
lagi seluruh permukaan tanah.
Diantara lima buah pukulan yang dilancarkan Han siong Kie, ada tiga buah yang bersarang
ditubuh lawan, sebaliknya ia sendiri menerima empat buah pukulan dari musuhnya.
sebagaimana diketahui, pukulan yang dilancarkan Go siau bi mengandung hawa sakti Thian tok
sinkang yang maha dahsyat, tak heran kalau sianak muda itu menderita luka yang jauh lebih
parah daripada anak dara itu.
Mereka pernah saling tolong menolong, pernah hidup sengsara bersama bahkan Go siau bi
pernah menggunakan tubuhnya sebegai tameng untuk menyelamatkan jiwa Han siong Kie dari
ancaman Tengkorak maut gadungan, karena peristiwa itu hampir saja jiwanya melayang.
Ia telah jatuh cinta kepadanya, telah bersumpah didepan pusara ayahnya, kecuali dengan
pemuda ini dia tak akan kawin dengan siapapun juga"
Tapi kenyataannya, yang satu ada hasrat yang lain tak berminat, tumpuan harapan yang
terlintas dalam benaknya selama ini hancur dan musnah dengan begitu saja.
Kini dengan taruhan nyawa mereka saling bertempur, berusaha saling merobohkan musuhnya
dan bila perlu sekalian membinasakannya... Inikah takdir? Inikah yang dinamakan nasib.?
Cinta dapat membuat seseorang jadi sukses tapi dapat pula menghancurkan karier seseorang,
membuat watak seseorang berubah seratus delapan puluh derajat.
Dan kini Go Siau bi telah berubah ....bukan saja perubahan itu tak dipercaya oleh Han siong
Kie, bahkan dara itu sendiri juga tak kenali dirinya sendiri lagi.
Hawa napsu membunuh yang tebal masih menyelimuti seluruh wajah Go siau bi, selangkah ia
maju kedepan mendekati Han siong Kie yang berada dihadapannya.
suasana tercekam oleh ketegangan dan kengerian, sorot mata serta perhatian semua orang
sama-sama ditujukan kearah Go siau bi yang sedang maju kemuka.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Han siong Kte, ia tahu bila dirinya cuma berpeluk
tangan belaka, sehingga dara itu keburu menyerang dulu dengan Thian tok ciang hoatnya yang
lihay, niscaya jiwanya akan terancam bahaya. satu ingatan lantas melintas dalam benaknya:
"Daripada aku menanti datangnya elmaut, kenapa tidak kuserang dulu perempuan sinting itu?"
sambil membentak sepasang telapak tangannya diayun kedepan melancarkan babatan maut.
-00d0w00-
BAB 56
PUKULAN itu dilepaskan dalam keadaaa marah bercampur penasaran, bisa dibayangkan betapa
dahsyat dan luar biasanya pukulan tersebut.
Go siau bi melambung keangkasa, setelah melayang sejauh delapan depa, sekali lagi badannya
melejit kedepan kemudian menerobos masuk dari sisi Han siong Kie dan melayang turun lima depa
disamping pemuda itu.
Baik dalam menghindar maupun sewaktu melancarkan serangan, semua gerakan dilancarkan
dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Melihat ancamannya mengenai sasaran yang kosong, Han siong Kie membuyarkan pukulannya
ditengah jalan, badannya miring kesamping lalu berputar kencang, telapak tangan kiri dan ujung
jari tangan kanan sekali lagi melepaskan serangan maut kedepan.
Kabut hawa berwarna hijau seketika menyelimuti seluruh angkasa, pada saat yang bersamaan
Go siau bi melepaskan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat. Dentuman keras mengiringi
benturan dua kekuatan yang saling berlawanan itu.
Dengan sempoyongan Go siau bi mundur beberpa langkah, sedangkan Han siong Kie
mendengus tertahan dan muntah darah segar, badannya terlempar sejauh satu kaki lebih dari
tempat semula,
Go siau bi menerjang lagi kedepan dan berdiri dibelakang Han siong Kie, telapak tangannya
diayun tepat mengarah jalan darah Thian leng hiat diatas kepalanya, asal pukulan itu dilancarkan
niscaya Han siong Kie akan mampus dengan keadaan mengerikan.
"Heeehhh....heeehhh....heeehhh .. manusia she Han, apa yang hendak kau ucapkan lagi
sebagai kata-kata akhirmu" ejek dara itu dengan ketus.
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, sambil menggertak gigi jawabnya: "Tak ada katakata
lagi, mau turun tangan hayolah cepat turun tangan."
"sungguh tak ada pesan terakhir"
"Ada Aku hanya ada sepatah kata saja. yakni siapa yang menanam buah pahit dia akan
menerima pula akibatnya."
"Apa kau bilang? Heeehhh..haaahhh. haaahhh.." dara itu bagaikan orang sinting tertawa
nyaring, suaranya keras dan mengerikan membuat siapapun jadi bergidik.
" orang she Han, terus terang kuberitahukan kepadamu" serunya lagi, "aku telah tahu bahwa
peristiwa macam hari ini cepat atau lambat pasti akan terjadi, tapi kau musti ingat, sebelum ajalku
tiba, semua pria tampan yang ada dikolong langit akan kubunuh semua, tak akan kubiarkan
manusia-manusia ganteng bikin keonaran lagi di kolong langit..haaahhh..haaahhh..haaahhh."
Ditengah gelak tertawa yang kalap menyerupai orang sinting, terselip hawa napsu membunuh
yang benar-benar mengerikan.
Gusar nian Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, ia sadar dengan tenaga dalam yang
dimiliki Go siau bi sekarang, apa yang diucapkan bisa jadi benar-benar dilaksanakan, dan jikalau
apa yang di ancam benar-benar dilaksanakan maka suatu badai pembunuhan yang mengerikan
tak terelakkan lagi.
"Go siau bi" serunya kemudian dengan gemas. "sayang aku tak dapat membinasakan engkau
dengan tanganku sendiri"
"Haaahhh ....haaahhh....haaahhh..dan aku... aku gembira sekali, karena hari ini akan kubunuh
engkau dengan tanganku sendiri."
"Hmm Tak usah banyak bicara lagi. kalau ingin turun tangan hayolah cepat turun tangan"
"Kenapa musti buru-buru mati? Bagaimana dengan adik Hui yang pernah berkorban demi cinta
kasihnya kepadamu? Mungkinkah dia akan datang lagi kemari untuk mendirikan batu nisan
untukmu.."
satu ingatan melintas dalam benak Han siong Kie, sekarang ia tahu bahwa Go Siau bi telah
mempunyai niat untuk membinasakan dirinya. .
"Hehhh...heeehhh..heehhh... engkau tak usah merisaukan tentang dirinya, ia telah berangkat
mendahului diriku" ejeknya sambil tertawa dingin.
"Apa? Dia sudah mati?" seru Go siau bi dengan wajah tertegun.
"Hmm Kenapa? Kau merasa kecewa?" ejek sang pemuda. Air muka Go siau bi beberapa kali
berubah hebat, tiba2 hardiknya keras- keras:
"Han siong Kie, inginkah kau mengetahui sebab musabab sehingga aku berniat membinasakan
dirimu??"
"Aku rasa tak perlu"
"Jadi engkau telah paham?"
"Aku tak ingin memahami persoalan itu, kalau ingin membunuh silahkan turun tangan"
"Jadi engkau sama sekali tidak menyesal??"
"Haaah haaah haaaahh Han siong Kie tak kenal arti menyesal"
Telapak tangan Go siau bi mulai gemetar, rasa cinta dan benci amat mendalam hatinya dia
ingin membunuh pemuda ini lantaran dia gagal mendapatkan cinta kasihnya, maka membenci
pemuda itu, malahan membenci pula setiap pemuda tampan yang sebaya dan setanding dengan
anak muda ini.
Tapi..benarkah dara itu tega untuk membunuh kekasih hatinya ? Air mata mulai bercucuran
membasahi seluruh wajahnya.
Lama ..lama sekali suasana tetap hening, dengan tak sabar Han siong Kie menghardik:
"Hey, kenapa engkau tidak turun tangan??" Tiada jawaban tiada gerakan.
Karena tak sabar pemuda itu akhirnya bangkit dan memandang kemuka, tampaklah selembar
wajah yang murung, sedih dan penuh dengan air mata terbentang didepan mata, wajah itu sayu
dan sama sekali tiada bekas hawa napsu membunuh yang sadis.
"Itulah perempuan.... itulah namanya perempuan" pikir Han siong Kie dihati, hanya hati
perempuan yang gampang berubah, hanya sikap perempuan yang mudah jadi sedih.." sindirnya
kemudian dengan suara yang dingin dan tak enak didengar:
"Bukankah kau ingin membunuh aku? Kalau ingin membunuh, hayolah cepat laksanakan, kalau
tidak... maaf kalau aku akan berlalu dari tempat ini."
"Tunggu sebentar" tiba-tiba dara itu membentak
"Ada apa lagi?"
Disekanya air mata yang membasahi pipinya, lalu Go siau bi berseru ketus:
"Aku toh tak pernah mengatakan bahwa aku tak akan membunuh dirimu? Kenapa kau hendak
pergi?"
"Kenapa tidak cepat turun tangan ? Hayo, kalau ingin bunuh aku bunuhlah sekarang juga"
"sebelum kubantai dirimu, terlebih dahulu ada beberapa patah kata hendak kuterangkan lebih
dulu, aku harap engkau dengarkan kata2 ku ini dengan sebaik baiknya."
"Katakanlah cepat"
Perlahan Go siau bi menundukkan kepalanya karena hati yang pedih, selang sesaat kemudian ia
menengadah kembali, tampaknya dara ini telah mengambil keputusan: Katanya dengan penuh
emosi:
"Han siong Kie, masih ingatkah engkau tatkala tubuhmu tercebur kedalam sungai dan aku
berhasil menolong dirimu kemudian selama tiga hari kurawat kau sebaik-baiknya..."
"Toh sudah kukatakan, tiap budi kebaikan yang pernah kuterima, suatu ketika pasti akan
kubalas?" tukas sianak muda itu dengan nada tajam.
" Kedua kalinya, ketika aku dilukai oleh pengawal istana Huan mo kiong, engkau membawa aku
menginap disebuah rumah penginapan...."
"Waktu itu keadaan amat mendesak. tiada tindakan lain bagiku kecuali berbuat begitu"
"Tapi ingatkah kau bahwa antara laki2 dan perempuan ada batas-batasnya? setelah kita
menginap disatu kamar yang sama, bagaimana mungkin aku ..." Berbicara sampai disini tiba-tiba
ia tundukkan kepalanya rendah-rendah..
Karena pandangannya yang sempit, Han siong Ki memang membenci setiap perempuan yang
ada diseantero jagad tapi di dasar hatinya ia sebenarnya ramah dan penuh kasih sayang, diapun
memiliki api asmara dan rasa cinta, hanya perasaan hatinya itu tertekan oleh jalan pikirannya yang
keliru.
sebagai seorang pemuda yang cerdas tentu saja ia dapat menangkap arti dari kata-katanya itu
tapi si anak muda itu tak bisa berbuat banyak sebab pada hakekatnya ia tak mencintai Go siau bi,
yang ada dalam hati kecilnya cuma rasa berterima kasih serta rasa berhutang budi belaka...
Tapi sekarang tanpa disadari jantungnya berdebar keras..
sekarang ia mulai berpikir, mungkinkah dara yang cantik ini jadi kalap lantaran pinangan put lo.
sianseng terhadapnya tempo hari telah ditolak secara mentah2?
Rasa simpatik, kasihan dan iba seketika menyelimuti perasaan hatinya, ia mulai merasa kasihan
atas nasib jelek yang telah menimpa anak dara itu
"Nona, aku merasa amat menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya atas terjadinya
peristiwa itu" ia berkata dengan lembut.
"Hmm Rasa sesal yang mendalam?"
"Dengan hati yang tulus dan ikhlas aku mohon kepada nona sudilah kiranya jangan membunuh
orang lagi mulai saat ini"
"Kalau kutolak permohonanmu itu?" seru sang dara dengan ketus dan muka menyeringai.
suasana yang semula sudah tenang dan damai, kini berubah kembali jadi tegang. Paras muka Han
siong Kie berubah hebat, sahutnya cepat:
"Bila nona menampik permohonanku ..tu, terpaksa aku harus melaksanakan apa yang telah
kukatakan tadi"
"oooh. Jadi engkau akan membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil tertawa sinis.
"Betul bila kau takut peristiwa itu sampai terjadi, silahkan kau bunuh aku lebih dahulu sebab
kalau tidak, andaikata kita sampai bertemu lagi dikemudian hari, kau pasti akan kubunuh".
selapis hawa dingin yang ketus dan menyeramkan mulai menyelimuti raut wajah Go siau bi, ia
mengejek sinis:
"Huuuh.. Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu??"
"Lihat saja nanti hasilnya, apa gunanya banyak bicara yang tak ada gunanya?"
"Han siong Kie, engkau tak bisa membendung niatku ini, akan kubunuh pemuda tampan yang
ada dikolong langit hingga mereka musnah semua dari atas muka bumi.. Hmm Engkau ingin
bunuh aku ? Baiklah ini hari sengaja kau kulepaskan dirimu, akan kulihat bagaimana caramu
membunuh aku, tapi kau musti ingat, bila kita sampai bertemu muka lagi, andaikata engkau tak
dapat membunuh aku, maka akulah yang akan membinasakan dirimu"
Han siong Kie menatap sekejap kearah wajahnya dengan pandangan dingin, mulutnya tetap
membungkam.
Kalau bisa ia hendak membacok dara itu hingga mampus, rasa simpatik dan kasihan yang
muncul dalam hatinya tadi kini tersapu bersih dari lubuk hatinya.
Pemuda itu tak ingin banyak ribut lagi dengan dara tersebut, per-lahan2 dia putar badan dan
berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang kian menjauh, Go siau Bi berdiri termangu-mangu,
beberapa kali dia hendak memanggilnya..tapi setiap kali niatnya itu dibatalkan, ia merasa bagaikan
tersiksa dan terharu, sehingga akhirnya tak kuasa lagi menangislah gadis itu ter-sedu2.
Isak tangis itu sempat terdengar oleh Han siong Kie yang makin menjauh, ia agak tertegun dan
menghentikan langkahnya, tapi sesudah ragu sebentar pemuda itu lanjutkan kembali
perjalanannya kedepan. kali ini ia tidak berpaling lagi.
Dengan penuh rasa mendongkol Go siau Bi mendepak-depakan kakinya keatas tanah, serunya
berulang kali:
"suatu ketika aku pasti akan membunuh kau..tunggu saja tanggal mainnya"
Pada saat itulah, tiba2 dari tempat kejauhan berkumandang suara gonggongan anjing yang
sangat ramai.
Dengan segera Go siau Bi berpaling, begitu mengetahui apa yang tertera didepan matanya ia
jadi tercekat dan mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat.
tampaklah dua ekor anjing sebesar tubuh anak sapi berdiri disisi kiri dan kanannya pada jarak
dua kaki, giginya yang runcing menyeringai seram, matanya memancarkan sinar buas, selama
hidup belum pernah ia jumpai anjing sebuas dan sebesar ini
sementara dia masih termenung sesosok bayangan manusia kembali melayang masuk ke dalam
hutan, orang itu adalah seorang kakek bungkuk yang membawa sebuah pecut rotan yang
panjang.
Dengan sorot matanya yang beringas kakek itu menatap sekejap wajah Go siau bi, lalu
mengawasi pula pada mayat yang terkapar diatas tanah, setelah itu dia menganggak beberapa
kali.
"Hey, apa maksudmu datang kemari?" tegur Go siau bi dengan suara dalam. Kakek bungkuk itu
tertawa seram:
"Heeehhh... heehhh...heeehhhh.... Cantiknya memang cantik, cuma sayang perempuan
secantik ini tak lebih hanyalah kuntilanak yang berhati keji"
"Apa? siapa yang kau maksudkan?" teriak dara ayu itu dengan mata melotot.
"siapa lagi, tentu saja engkau"
Sepasang alis mata Go Siau bi berkenyit, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya, sambil mendengus dingin katanya:
"Hey tua bangka yang tak tahu diri, sebelum nonamu berniat membinasakan engkau, bawalah
anjing2 itu dan segera berlalulah dari tempat ini"
"Heeeh heehh . heeeh kenapa aku musti pergi ? Kedatanganku justru hendak mencari engkau"
"Mencari aku ? Siapa kau dan sebutkan namamu"
"Aku adalah Khoo Tio cu, si bungkuk she Khoo pengurus rumah tangga perkampungan oh bau
san cung, mengerti??"
Mendengar nama itu, satu ingatan terlintas dalam benak Go Slau bi, sekarang ia sudah dapat
menebak apa yang telah tarjadi, dengan wajah yang tetap tenang katanya: "Lantas ada urusan
apa kau cari aku??"
"Kedua orang sau cengcu perkampungan kami telah tewas dipinggir jalan-"
"Kalau aku yang bunuh mau apa kau?" tukas sang dara cepat.
"Bagus sekali, setelah kau memberikan pengakuan urusan makin gampang untuk diselesaikan,
darimana asal perguruanmu?"
"Huuh. Kau belum berhak untuk mengetahuinya."
Sinar mata yang bengis dan buas memancar keluar dari balik mata si bungkuk itu, begitu
bengisnya sinar mata orang itu sehingga hampir tak ada bedanya dengan kebengisan mata kedua
ekor anjingnya, membuat siapapun yang memandangnya jadi bergidik. Ia maju beberapa langkah
kedepan, lalu serunya dengan suara yang menyeramkan:
" Heeeh hh heeeh hh heeeh hh memang sekarang susah untuk memaksa kau untuk berbicara
tapi ingatlah baik-baik, suatu ketika engkau akan mengakuinya sendiri"
"Bungkuk she Khoo, nonamu tak ingin membinasakan dirimu, kalau tahu diri lebih baik
enyahlah dari sini"
"Heehhh heeehhh heeehhh kau suruh aku pergi dari sini? Lucu... benar-benar sangat lucu, kau
malah suruh aku pergi.. tahukah kau bahwa aku si bungkuk she Khoo justru tak ingin melepaskan
engkau dengan begitu saja??"
"Bangsat Jadi engkau benar2 ingin mati?"
"Yang ingin mampus bukan aku, melainkan kau sendiri"
Hawa napsu membunuh mulai menghiasi air mukanya yang putih, ia mendengus gusar telapak
tangannya diayun kedepan dan segulung hawa hijau yang mengerikan segera meluncur kedepan
melancarkan sebuah ancaman maut.
Paras muka sibungkuk she Khoo itu berubah hebat, ia agak tertegun menyaksikan datangnya
ancaman berwarna hijau itu, tampaknya sepanjang hidup, belum pernah dia jumpai ilmu
kepandaian seaneh dan setangguh ini.
"Blang " Ditengah benturan keras yang cukup memekikkan telinga, tubuh si Bungkuk she Khoe
itu mencelat sejauh delapan depa lebih dari kedudukan semula, darah panas bergolak dalam
dadanya, betapa terkesiapnya sukar dilukiskan dengan kata2.
Keistimewaan dari ilmu pukulan Thian tok ciang hoat adalah daya pantulan yang terpancar
keluar bila menyentuh pukulan itu, makin besar seseorang melancarkan serangannya maka
semakin besar pula daya pantulan yang terpancar oleh kepandaian itu.
Masih untung tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Go Siau bi tidak lebih cuma enam bagian
belaka, dan tapi Khoe Tuo cu tak sempat melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga karena
ia dibikin kaget bercampur tertegun, karena itu loloslah dia dari ancaman bahaya maut yang
sebetulnya dapat merenggut selembar jiwanya.
sudah tentu Khoe Tuo cu tidak mengenal kelihayan dari ilmu pukulan itu, betapa penasarannya
orang itu karena peristiwa yang barusan terjadi, dengan sorot mata yang bengis dia menerjang
maju lagi ke depan, sebuah pukulan yang lebih dahsyat bagaikan hembusan angin topan
menerjang ke dada lawan.
"Bangsat, rupanya engkau memang sudah bosan hidup," hardik Go siau bi denganpenuh
kegusaran-
Dengan ilmu pukulan Thian tok ciang hoat yang telah dikerahkan mencapai delapan bagian ia
sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blamm" suatu benturan dahsyat kembali menggelegar diudara, jerit ngeri yang melengking
mendesis dari mulut Khoe Tuo cu, badannya mencelat sejauh beberapa kaki dan darah segar
muntah keluar dari mulutnya.
"Bluuk" bagaikan sebuah cupu2, tubuhnya menggelinding diatas tanah setelah jatuh mencium
tanah.
Gong gongan anjing berkumandang memecahkan kesunyian, seekor anjing besar yang berada
disamping kanan tiba2 menerjang kearah dara itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Lolongan anjing yang mengerikan berkumandang menyayat kesunyian yang mencekam udara,
anjing besar itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dari tempat semula.. "Duukk" Ketika menumbuk
diatas dahan sebuah pohon besar, mampuslah anjing tersebut seketika itu juga.
Dalam pada itu Khoo Tuo cu telah bangkit dari atas tanah, ia tampak agak tertegun
menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki dara tersebut, kejadian ini sama sekali diluar
dugaannya. sebab kalau bukan seorang tokoh silat yang benar-benar berilmu tinggi tak mungkin
anjing besar itu dapat dibunuh dalam sekali pukulan belaka
Dalam terkejut dan cemasnya, bagaikan titiran angin deras cambuk rotannya diputar
sedemikian rupa mengitari angkasa.
Anjing raksasa yang berada disebelah kiri bagaikan sambaran kilat telah melancarkan tubrukan
pula kedepan.
siau bi terancam bahaya, cepat-cepat telapak tangannya dilontarkan kemuka melepaskan
pukulan maut..
Agaknya anjing besar itu sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki musuhnya sangat lihay,
berada ditengah udara tubuhnya berjumpalitan beberapa kali diudara dan menggelinding kebawah
kaki anak dara itu, moncongnya langsung menyambar kedepan dan menggigit kakinya.
semua gerakan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tak kalah cepatnya dengan seorang
jago lihay.
Bergetar keras perasaan hati Go siau bi menghadapi ancaman itu, cepat ia melejit dan
melambung keudara, dari situ telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat kebawah.
Gagal dengan gigitannya, anjing besar itu segera meluncur maju satu kaki lebih ke depan-
Tatkala Go Siau bi melayang turun kembali keatas tanah, secepat kilat sambaran anjing itu
menerkam lagi kedepan.
Kali ini tak sempat bagi Go siau bi untuk berkelit, telapak tangannya langsung dibacokkan
keatas batok kepala anjing itu..
"Guukk..guuukk.. lolongan panjang kembali menderai diudara, batok kepala anjing itu terbacok
sampai hancur jadi dua bagian, kepalanya hancur dan darah serta isi benaknya tersebar dimanamana,
anjing itu mampus seketika itu juga.. Tapi cakar anjing sebelah depannya sempat pula
mencakar paha Go Siau bi..
Rasa gatal-gatal dan kaku yang aneh segera menyerang pahanya dan perlahan-lahan bergerak
naik keatas.
Rasa kaget dan terkesiap yang menyelimuti hatinya sekarang susah dilukiskan dengan kata2, ia
tahu itulah tanda2 keracunan atau dengan perkataan lain cakar anjing itu mengandung racun yang
sangat jahat.
Dengan cepat semua jalan darah penting di tubuhnya ditutup semua, setelah menghadang
peredaran racun yang merambat lebih jauh kearah lain, dengan sorot mata yang bengis
menyeramkan, ia menerjang kearah Khoo Tuo cu habis2an.
"Blaaang" kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi
angkasa, dengan batok kepala hancur berantakan Khoo Tuo co menggeletak dalam keadaan
mengerikan-
"Perempuan rendah, pada hakekatnya engkau memang bukan manusia, hatimu keji dan tak
kenal ampun, akan kuhancurkan tubuhmu hingga lembut seperti abu."
Bersamaan dengan munculnya bentakan keras yang sangat mendadak itu, seorang kakek tua
berjubah hitam yang tinggi besar telah nelayang masuk kedalam gelanggang.
"Suiiit"" siulan lengking menggema diangkasa, menyusul belasan ekor anjing besar bagaikan air
bah, menerjang kearah tubuh Go siau Bi.
Kejut dan gelisah menyelimuti seluruh perasaan anak dara itu, ia merasa sukma serasa
melayang tinggalkan raganya karena ketakutan, gadis itu sadar bahwa ia sudah kena racun keji
dari anjing2 itu, daripada berdiam diri dan mati konyol ditangan lawan jauh lebih baik melarikan
diri tinggalkan tempat itu.
Begitu ingatan tadi melintas dalam benaknya, ia lantas melejit ke udara dan meluncur masuk
kearah hutan-
Apa mau dikata rupanya racun sudah mulai bekerja dalam tubuhnya, sepasang kakinya sudah
tak mau mendengar perintah lagi, baru saja melayang sejauh lima kaki, tubuhnya terjatuh kembali
keatas tanah. sementara kawanan anjing besar itu kembali sudah menerjang tiba dengan
hebatnya.
Antara manusia dan anjing, segera berkobarlah suatu pertarungan yang amat mengerikan-
Anjing- anjing besar itu memang tersohor karena keganasannya, bukan saja sifatnya memang
buas, cakarnya mengadung racun keji dan gerak geriknya cepat bagaikan sambaran kilat, lagipula
tak takut mati, maka setelah mendapat latihan secara khusus kehebatan mereka jauh lebih
mengerikan daripada serangan dari jago-jago silat kelas wahid.
Cemas dan marah bercampur aduk dalam benak Go siau bi, telapak tangannya diayun berulang
kali kemuka, kabut hawa hijau kembali menggulung keempat penjuru dengan dahsyatnya.
Ditengah benturan2 yang memekikan telinga, lolongan panjang berkumandang susul menyusul.
Dalam waktu singkat delapan ekor anjing yang telah binasa ditangan anak dara itu tapi sisanya
tak gentar barang sedikitpun, mereka masih melanjutkan terjangannya dengan kecepatan yang
luar biasa.
Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Go siau bi, rambutnya awut-awutan dan napasnya
tersengal-sengal, ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengatur pernapasan-
Rombongan anjing- anjing besar itu menerjang dan mundur secara beraturan, mereka saling
mengisi kekosongan yang ada dan menyerang dari tiga arah yang berlawanan, yakni arah atas
tengah dan bawah.
Tentu saja Go siau bi tak berani menyambut datangnya ancaman itu secara gegabah, sebab dia
tahu anjing-anjing itu sangat beracun pada kuku-kukunya.
sementara itu kakek berjubah hitam yang berada disamping gelanggang merasa gusar dan
sakit hati, namun ia tak berani menghentikan serangan anjing-anjing itu, sebab ia tahu betapa
sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, ia telah bersiap sedia mengorbankan anjinganjingnya
itu sebagai ganti dari kesuksesan rencananya.
setengah peminum teh kemudian, bangkai anjing telah bergeletak dimana-mana, darah serta
hancuran daging tersebar dimana-mana, keadaannya mengerikan sekali.
Dari sekian banyak anjing besar yang dibawa oleh kakek baju hitam itu, tak seekorpun yang
masih hidup pada saat ini.
Walaupun demikian, keadaan Go Siau bi sendiripun mengenaskan sekali, ia sudah kehabisan
tenaga, kakinya yang keracunan sekarang menjadi bengkak dan satu kali lipat lebih besar daripada
keadaan biasa, rasa sakit menyerang sampai kelubuk hati, sekali pun ia tahu masih ada seorang
musuh yang mengincar dirinya namun ia tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, akhirnya
gadis itu roboh dan jatuh terduduk diatas tanah.
Dengan sinar mata bengis, penuh kebuasan kakek berjubah hitam maju kedepan dengan
langkah lebar.
Go siau bi sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya, diapun menghimpun sisa
kekuatan yang dimilikinya untuk dikumpulkan pada telapak tangan kanannya.. Sambil bergerak
maju kedepan kakek baju hitam itu berkata tiada hentinya:
"Perempuan rendah, engkau telah menipu dan membunuh dua orang putra kesayanganku, ini
hari akan kusuruh kau rasakan pula siksaan yang terkeji dikolong langit, akan kusiksa kau sampai
mampus ....Hmm Sakit hati ini akan kutuntut balas beberapa kali lipat lebih dahsyat tunggulah
tibanya saat seperti itu ...."
Go Siau bi membentak keras, telapak tangan kanannya tiba-tiba diayun kedepan, lima gulung
desiran angin tajam segera meluncur keluar dan mengancam tubuh kakek itu.
Rupanya kakek baju hitam itu memang sengaja memperlambat langkah kakinya berhubung dia
harus bersiap menghadapi tibanya ancaman yang tak terduga dari pihak lawanoleh
sebab itu ketika Go Siau bi mengayunkan telapak tangannya kedepan, secepat kilat ia
berkelit kesamping, tapi toh gerakan itu teriambat setengah langkah, tangan kanannya terasa
sakit sekali hingga merasuk ketulang sumsum, tak kuasa lagi dia mendengus tertahan.
Ilmu jari Bwe hoa cuan sim ci (juri si kura penembus hati ) yang digunakan Go siau bi ini adalah
salah satu ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian toh pit kip. arah yang dituju adalah
dada musuh atau tepatnya persis diatas jantung, andaikata terkena hajaran jantung orang akan
pecah dan binasalah orang itu.
Tapi berhubung kakinya terluka sehingga banyak tenaga dalamnya berkurang maka melesetlah
serangan itu dari sasaran utamanya.
"Blam" pukulan tangan kiri yang dilepaskan kakek berjubab hitam itu dengan telak bersarang
ditubuh Go siau Bi
Ditengah dengusan yang tajam, tubuh dara itu mencelat dan bergelinding diatas tanah,
kesadarannya punah dan dara itu berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak.
Kakek tua baju hitam itu tertawa seram, secara beruntun dia menotok beberapa buah jalan
darah penting ditubuh gadis itu.
Kemudian ketika dilihatnya musuhnya sudah tercakar oleh racun anjingnya, ia ambil keluar
sebuah botol kecil dari porselen putih, diambilnya sedikit bubuk kuning dan dijejalkan kemulut Go
siau Bi, lalu mengambilpula sebagian dan dibubuhkan pada sekitar mulut luka, kemudian baru
berkata dengat nada menyeramkan: "Hmm Hmmm aku tidak akan membiarkan engkau mampus
dengan begitu saja"
Ditatapnya sekejap bangkai2 anjing itu dengan perasaan berat, akhirnya sambil mengempit
tubuh Go siau Bi, dia berlalu dari tempat kejadian-
Tatkala Go siau Bi sadar kembali dari pingsannya, ia menemukan kaki tangannya telah
dibelengu orang, tubuhnya berbaring terlentang dengan menghadap keatas, namun ia tak mampu
bergerak sementara rasa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya.
Ia membuka mata dan memeriksa keadaannya, tapi segera dara itu jadi malu bercampur gusar,
ternyata ia sedang dibelenggu di atas sebuah papan kayu dalam keadaan telanjang bulat, sehelai
benangpun tidak menempel ditubuhnya, sementara kakek baju hitam itu sedang memandang
kearahnya sambil menyeringai seram.
Disamping kakek itu berdirilah sepasang anjing besar yang sedang mencakar2 tanah sambil
memperdengarkan serentetan suara kaing-kaing yang aneh.
Dia ingin buka mulut untuk berbicara, namun tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
sadarlah dara itu bahwa jalan darah bisunya telah ditotok orang.
-00d0w00-
BAB 57-
SECARA lapat2 dara itu mulai menduga apa yang bakal terjadi serta menimpa dirinya.
Ia rela mati dan mengakhiri hidupnya lebih cepat, namun ia tak mampu untuk melakukannya,
beberapa buah jalan darah ditubuhnya tertotok. sekalipun ilmu silatnya sangat tinggi, berada
dalam keadaan seperti ini tiada sesuatu apapun yang bisa dilakukan lagi olehnya.
Tiba2 kakek berbaju hitam itu tertawa seram, suaranya sadis dan mengerikan-
" Heeeh heeeehh heeeehh perempuan rendah, aku adalah Ho Thong thian ketua
perkampungan oh hau san-cung, ingat baik2 namaku ini dan ketahuilah bahwa aku berbuat
demikian demi membalaskan dendam bagi kematian dua orang putraku"
Go Siau Bi ingin bicara namun tak mampu mengucapkan sepatah katapun, apa boleh buat?, Dia
cuma bisa berbaring dengan mata melotot penuh kegusaran. Terdengar Ho Thong thian
melanjutkan kembali kata katanya:
"Perempuan rendah, engkau telah memancing kedua orang putraku dengan kecantikan
wajahmu kemudian membunuhnya secara keji.. heeeh heeeh heeeh sekarang, saat pembalasan
telah tiba, coba pandanglah kedua ekor anjing jantan itu, dia akan menjadi suamimu sebentar lagi,
dari kedua ekor anjing jantan inilah engkau akan mendapatkan kepuasan seks yang paling nikmat,
kau akan di bikin naik kesorga oleh kedua ekor anjing ini haaah haaahh haaaahh manusia digagahi
oleh anjing, itulah acara pertunjukkan yang menarik sekali."
-00d0w00-
BETAPA terkejut dan takutnya Go siau bi sesudah mendengar ancaman itu, ia merasa
sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya, bila sampai peristiwa itu benar-benar terjadi,
inilah siksaan yang terkeji dikolong langit, seorang gadis perawan akan kehilangan kesucian
tubuhnya ditubuh seorang anjing, bahkan sekaligus akan diperkosa oleh dua ekor anjing besar
secara bersamaan, matanya jadi berkunang dan pandangannya jadi gelap akhirnya ia jatuh tak
sadarkan diri saking gusar dan mendongkolnya.
Hoo Thong thian tertawa seram, cepat ia totok jalan darah Thian kia hiat ditubuh dara itu.
sekali lagi Go siau bi sadar kembali dari pingsannya, hancur luluh perasaan hatinya, air mata
jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya yang ayu ....
"Perempuan rendah, dengarkan baik-baik kataku ini" ujar Ho Tong Thian lebib jauh "kecuali
menerima pembalasan ini, tiada cara lain yang bisa kugunakan untuk menghajar dirimu, Nah
setelah engkau menerima kepuasan seks ditubuh kedua ekor anjing jantan ini, maka engkau akan
menjadi santapan yang paling lezat bagi mereka haaah haaahh haaahh itulah pertunjukkan yang
paling surprise, sang istri yang cantik setelah digagahi akan disantap"
Dalam keadaaa seperti ini Go siau bi benar-benar kehabisan akal, mau melarikan diri jelas tak
mungkin, ingin bunuh diri juga tak mampu, tepatnya ia memang harus merasakan siksaan hidup
yang paling keji itu, diperkosa lebih dulu oleh anjing, lalu tubuhnya akan di cabik sebagai penghuni
perutnya.
Air mata dengan derasnya mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya. sekarang ia dapat
merasakan apa artinya pembalasan-.. dia mulai menyesal. "ooooh sungguh cepat pembalasan
yang tiba dan menimpa diriku" keluhnya dihati.
Bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis perawan, dia memiliki serangkaian ilmu silat
yang luar biasa, ia tak takut mati, sebab ia merasa bahwa mati hanya suatu pelepasan belaka,
pelepasan dari segala bentuk siksaan maupun penderitaan, tapi ia tak sudi mengalami siksaan
tersebut sebelum ajalnya, apa lagi siksaan yang begitu kejinya. Bila seseorang bisa putus asa,
kadang kala timbul pelbagai ingatan dalam ingatannya.
Dara itu berharap akan terjadinya suatu kejadian yang diluar dugaan, sehingga ia dapat
terhindar dari siksaan yang paling keji ini, ia rela melakukan apapun untuk membayar
pertolongannya itu, asal siksaan yang tak berperi kemanusiaan ini bisa di hindari
Gelak tertawa dari Ho Thong thian, pemilik perkampungan oh hau san ceng masih
berkumandang tiada hentinya. lengking suara tertawa yang menyerupai binatang itu bagaikan
pisau tajam yang menyayat-nyayat hatinya, membuat hatinya hancur lebur.
Tampaknya dua ekor anjing jantan itupun sudah berpengalaman dalam melaksanakan tugas
itu, dengan sorot mata yang merah membara dan mengerikan, anjing-anjing itu menatap tubuh
Go siau bi yang telanjang tanpa hentinya, sementara bunyi desiran aneh muncul dari mulutnya,
keadaan benar2 mengerikan..
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Go siau bi yang sedang menghadapi
bahaya perkosaan oleh dua ekor anjing..
sementara itu Han siong Kie telah meneruskan perjalanannya dengan langkah yang amat
lambat karena luka parah yang dideritanya akibat pertarungan melawan Go siau bi, ia tak dapat
mengerahkan tenaga sebagai mana mestinya.
39
Setengah jam kemudian, ia baru mencapai sejauh lima li dari tempat semula, lembah In wu kok
yang hendak dituju secara lapat-lapat sudah kelihatan didepan mata.
Walaupun hubungannya deagan Go Siau bi tak dapat dikatakan ada perasaan cinta, namun
perasaan persahabatan tetap ada dan oleh karena itu ia merasa sedih oleh perbuatannya,
mimpipun ia tak menyangka Go Siau bi yang halus, lembut dan berbudi sekarang telah berubah
jadi manusia lain-
Terutama kata2 dari Go Siau bi, tiap kali terbayang kembali ia lantas merasakan jantungnya
berdebar keras.
cinta memang tak dapat dipaksakan, apa lagi hatinya sudah terisi oleh perempuan lain-
Segulung desiran angin dingin berhembus lewat disamping tubuhnya, dengan terkejut Han
Siong Kie berpaling, dia tahu desiran angin itu bukan hembusan angin biasa melainkan kehadiran
seseorang manusia lain-
Pemuda itu merasa kuatir, dalam keadaan terluka parah, tak mungkin baginya melakukan
perlawanan lagi jika yang datang adalah pihak musuh.
Secepat kilat ia berpaling, seorang perempuan berkerudung tahu2 sudah berdiri dihadapannya.
orang itu siapa lagi kalau bukan orang yang ada maksud. Untuk sesaat Han Siong Kie berdiri
tertegun-
"Nona, engkau hendak pergi kemana?" tegurnya.
"Aku datang mencari engkau "
"Mencari aku? Ada urusan apa engkau mencari aku..?" pemuda itu merasa keheranan.
"Nona Go siau bi tertangkap oleh Hoo Thong thian, CengCu dari perkampungan Go hau san
Ceng"
Agak terkejut Han siong Kie mendengar kabar itu, serunya kurang percaya:
"Masa ia tertangkap? Kepandaiannya toh sangat lihay, masakah ilmu dari Hoo Thong thian luar
biasa."
"Ia keracunan lebih dulu oleh anjing raksasa, sehingga akhirnya dia tertangkap"
"oooh.. kiranya begitu"
"Apakah engkau tidak menguatirkan mati hidupnya??" kembali orang yang ada maksud
bertanya.
"Ia telah membunuh Kim kian siang ing (sepasang pendekar pedang emas) putra kesayangan
HHoo Thong thian, sewajarnya kalau sang ayah membalaskan dendam bagi kematian putranya"
"Tapi.. tahukah engkau bahwa Hoo Thong thian adalah seorang manusia durjana yang banyak
melakukan kejahatan? Begitu pula dengan anak-anaknya, mereka sering kali mengacau rakyat,
kematian mereka justru menggirangkan banyak orang"
"Nona" seru Han siong Kie dengan cepat, " apakah engkau mengerti sebab-sebab yang
mendorong ia melakukan pembantaian2 sekalipun Kim Kiam siang ing pantas dibunuh, akan tetapi
bagaimana dengan lainnya?"
orang yang ada maksud tertawa setelah mendengar perkataan itu, ia balik bertanya: "Tahukah
engkau, apa sebabnya ia sampai membunuh orang?"
"Hmm Ia sudah mengidap penyakit gila .... dan otaknya sudah sinting dan tak waras."
"Hmmmm" kali ini orang yang ada maksud mendengus dingin, " apakah ucapan itu muncul dari
lubuk hatimu??"
"Nona, apa maksudmu mengucapkan kata-kata itu?" tanya Han siong Kie tercengang.
"Go siau bi bisa sampai membunuh orang sepantasnya engkau memikul setengah dari
tanggung jawabnya "
" Kenapa..?" tanya sang pemuda dengan air muka berubah hebat.
" Karena engkau, dia telah membunuh orang"
" Karena aku ? Kenapa karena aku dia lantas main membunuh??"
"Manusia bermuka dingin" seru orang yang ada maksud dengan suara tajam " engkau tak usah
pura2 berlagak pilon, masakah engkau masih belum dapat memahami apa sebabnya ia sampai
membunuh orang?"
"Aku benar2 tidak paham"
"ooh, jadi kalau begitu engkau tidak bersedia menolong jiwanya??" Han siong Kie tertawa
dingin-
"Heeeh heeeh heeehh menolong dia ? Aku malahan sudah berkata kepadanya, bila kami
bertemu lagi dilain waktu maka aku akan membinasakan dirinya"
"Dengan dasar alasan apa engkau akan membunuhnya??"
"sebab ia telah membunuh orang dengan semena-mena"
"Ia bisa membunuh orang karena engkau, maka kaupun harus ikut bertanggung jawab atas
terjadinya peristiwa ini "
"Nona, jangan asal main tuduh saja, coba terangkanlah perkataanmu itu dengan lebih jelas lagi
"
"oleh karena engkau telah melukai hatinya, maka dia membunuh setiap pemuda yang
dijumpainya"
"Aku ? Aku telah melukai hatinya?"
"Benar "
"Dalam hal apakah aku telah melukai hatinya??"
"Masakah engkau benar2 akan suruh aku mengatakannya keluar??"
"Tak ada halangannya kalau nona hendak mengatakan"
"Sewaktu engkau dihajar oleh pemilik benteng maut sehingga tercebur kedalam sungai
kemudian jiwamu tertolong olehnya, dimana selama tiga hari engkau total berbaring diatas
pembaringannya . "
"setiap budi yang pernah kuterima tidak pernah kulupakan, suatu ketika pasti akan kubalas "
"Dalam masalah ini, persoalannya bukan manyangkut tentang soal balas budi atau tidak"
"Lalu persoalan ini menyangkut dalam hal apa??"
"Kalau seorang anak dara bersedia merawat seorang pemuda asing didalam kamar tidurnya,
bahkan tanpa canggung-canggung merawatnya, dapatkah engkau rasakan apa sebabnya ia
bersedia melakukan kesemuanya itu"
Han Siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, bukannya ia tak dapat merasakan hal ini,
melainkan ia tak bersedia untut mempertimbangkan soal tersebut. Terdengar orang yang ada
maksud berkata lebih jauh:
"Tahukah engkau bahwa Go siau bi telah bersumpah didepan pusara ayahnya bahwa dia tak
akan menikah dengan orang lain kecuali dengan kau seorang"
"Apa sangkut pautnya dengan diriku? Itu toh urusan pribadinya sendiri??"
Jawaban yang dianggap terlalu ketus ini segera membangkitkan hawa amarah dihati orang
yang ada maksud, serunya lagi:
"Aku mengerti, oleh karena engkau adalah Manusia bermuka dingin maka engkau dapat
mengatakan ucapan yang sadis dan sama sekali tidak berperasaan ini, tentunya engkau tidak lupa
bukan dengan peristiwa dalam rumah penginapan? Engkau telah memeluk tubuhnya bahkan
menginap disatu kamar."
"Aku merrpunyai niat untuk membalas budi pertolongannya, masakah perbuatanku ini keliru??"
"Engkau tidak keliru, tapi bila seseorang dara telah berdempetan dengan seorang pria, malahan
perlu dipeluk. tidur dalam satu kamar selain ia kawin dengan lelaki itu, mungkinkah dia bisa kawin
dengan orang tak lain"
"Aaaah . . Kita toh orang-orang persilatan, Bagi kita orang persilatan rasanya tak perlu
merisaukan soal tetek bengek itu"
"Itu kan pandangan segelintir orang, andaikata Go siau bi memandang berat persoalan ini, lalu
apa yang hendak kau lakukan ?"
Han siong Kie memang merasa seperti dipaksa dan ditekan untuk menerima kenyataan itu, ia
tak bisa berkutik, kecuali meringis rasanya memang ia tak bisa berbuat lain-Terdengar orang yang
ada maksud melanjutkan kembali kata-katanya:
"Aku rasa Go siau bi cukup cantik dan cukup bagus, ia pantas untuk menjadi isterimu, apalagi
kakeknya Put lo sianseng sebagai seorang tokoh persilatan ternyata mengajukan pinangan sendiri
kepadamu, tak kunyana kau malah menampik pinangannya sehingga membuat dara itu tertekan
jiwanya, padahal kau toh tahu bahwa ia mencintai dirimu? Nah, karena pelbagai alasan inilah ia
jadi sinting dan melakukan hal-hal yang diluar dugaan, coba katakanlah apakah engkau tidak
merasa ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini??"
"Maksud nona, engkau hendak memaksa ku untuk mencintai dirinya??"
"Masa ia tak pantas untuk menerima cintamu ? Dan engkau sama sekali tidak tergerak hatinya
oleh cinta kasihnya yang telah dilimpahkan padamu??" Han siong Kie membungkam, betul2
membungkam dalam seribu bahasa.
Dahulu ia memang pernah membenci seantero perempuan yang ada dijaga d, tapi sejak
hubungan cintanya dengan Tong hong Hwie, perasaan hatinya mulai terbuka, untuk pertama
kalinya ia benar-benar mencintai seorang dara, dan ia persembahkan rasa cintanya itu padanya.
Terhadap Go siau bi, meskipun tak bisa dikatakan ia memandangnya seperti memandang
perempuan lain, tapi diapun tidak mencintai dirinya.
Tiba-tiba suatu rasa menyesal dan iba tersebut dalam hati kecilnya, ia ikut merasakan
penderitaan serta kesedihan yang dialami anak gadis itu.
Tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya, maka diapun berkata dengan dingin-
"Nona, tentunya engkau masih ingat bukan dengan seseorang yang bernama Tonghong Hui?."
Tampak sekujur tubuh orang yang ada maksud bergetar keras, tapi ia menjawab dengan cepat.
"Tentu saja masih ingat, kenapa??"
"Terus terang kukatakan padamu nona, perasaan dan hatiku telah dibawa pergi olehnya"
"Bukankah ibuku pernah memperingatkan kau, bila hubunganmu dengan Tong Hong Hui
dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu tragedi" Han siong Kie tertawa
sedih.
"Mungkin tragedi telah menjadi kenyataan, tapi aku sama sekali tidak merasa menyesal"
"Sudah menjadi kenyataan? Apa maksud
JILID 28 HAL. 16/17 HILANG
kedua hal ini bisa dijadikan satu, tapi aku berpendapat bahwa cinta yang murni dan cinta yang
sesungguhnya tidak musti dipadukan dalam kehidupan yang nyata"
"Justru persoalannya bukan terletak disini"
"Maksudmu masih ada alasan serta persoalan lain yang bisa mengakibatkan terjadi tragedi
ini??"
"Memang begitulah kenyataannya"
"Kata-kata itu sangat membingungkan hati orang, apakah engkau bersedia untuk menerangkan
lebih jauh?"
"Suatu ketika engkau akan memahami dengan sendirinya, sekarang maafkanlah daku karena
aku tak dapat memberitahukan hal ini untukmu, bukannya aku sengaja berlagak sok rahasia tapi
berbicara sesungguhnya, sekarang juga engkau harus pergi menyelamatkan jiwa nona Go Siau bi,
kalau terlambat aku kuatir telah terjadi hal-hal yang luar biasa"
"Kalau toh nona telah mengetahui bahwa ia sudah tertawan oleh orang-orang dari
perkampungan oh han san ceng, mengapa kau tidak berusaha untuk menolongnya melainkan.."
"Tentu saja aku mempunyai alasan tertentu"
"Dapatkah kuketahui alasan itu?"
"Dalam perkampungan oh han san ceng telah dipelihara anjing-anjing perbatasan yang besar
dan cakarnya beracun, sedangkan engkau memiliki kekuatan anti racun, maka tugas ini tak
mungkin bisa diselesaikan oleh orang lain"
Pada hakekatnya orang yang ada maksud telah mendapat perintah dari ibunya yakni orang
yang kehilangan sukma untuk sengaja mengatur kesemuanya ini, kalau tidak karena rencana
mereka, tentu saja dengan kepandaian yang dimiliki orang yang ada maksud, Go Siau bi telah
tertolong ketika ia terluka tadi.
Sementara itu, Han siong Kie sedang tundukkan kepalanya sambil termenung beberapa saat
lamanya, kemudian sahutnya.
"Maaf nona, aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan itu"
"Jadi engkau tidak bersedia untuk menolong jiwanya ??"
"Aku tak dapat menyelamatkan jiwa sekarang, pembunuh yang pernah membantai ber-puluh2
lembar jiwa manusia yang sebenarnya sama sekali tidak berdosa "
"Di kemudian hari ia tak akan membunuh orang lagi dan aku akan menanggung hal ini bagimu,
bagaimana??"
"Tetapi... "
"Ada apa lagi?? "
"Isi perutku terluka parah, aku kuatir...."
"Aaah Kalau cuma soal itu kan gampang sekali, aku punya obat yang sangat mujarab, dengan
dasar tenaga dalam yang kau miliki, maka setelah meminumnya dalam waktu setengah
perminuman teh, seluruh kesehetananmu dapat pulih kembali seperti sedia kala"
Tidak menanti jawaban dari Han siong Kie lagi, dia ambil keluar sebiji obat sebesar kelengkeng
lalu diangsurkan kedepan-
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Han siong Kie harus menerimanya, dia berkata:
"Baiklah, memandang diatas wajah kalian ibu dan anak. aku bersedia menolong jiwanya"
Habis berkata dia masukkan obat itu ke dalam mulut, kemudian duduk bersila ditepi pohon
untuk mengatur pernapasan
Kemujaraban obat itu memang luar biasa sekali, pada hakekatnya sama sekali tidak berbeda
dengan keampuhan Kui goan kim wan dari Kun si Mo ong.
Kurang lebih setengah perminuman teh kemudian, dalam keadaan segar bugar Han siong Kie
telah melompat bangun kembali dari atas tanah.
Setelah orang yang ada maksud menunjukkan dari perkampungan oh hausan ceng, ia berpesan
pula.
"Menolong orang bagaikan menolong kebakaran, sekarang juga engkau boleh segera
berangkat. Mungkin saja kita akan bertemu kembali dilain waktu" Dengan tubuh yang enteng dia
lantas berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang berlalu, Han siong Ki cuma bisa menggeleng sambil
menghela napas panjang, akhirnya iapun berangkat menuju ke perkampungan oh hau san ceng.
Perkampungan oh hausan ceng merupakan sebuah bangunan perkampungan yang
JILID 28 HAL. 22/23 HILANG
Habis berkata, ia menutup kembali pintu ruangan dan berjalan menuju keruang tamu.
Meskipun jalan darah Go siau bi sudah tertotok. namun pendengarannya masih berjalan
normal, betapa gembira hatinya setelah mendengar kabar bahwa Manusia berwajah dingin telah
tiba diperkampungan itu.
Timbul kembali harapannya untuk melanjutkan hidup.
"Mungkinkah ia datang kemari untuk menolong aku? begitulah dia mulai berpikir, tapi
mungkinkah ia sudi menyelamatkan jiwaku? Bukankah ia telah membenci aku dan ingin
membunuh aku??"
Apalagi setelah teringat bahwa ia berada dalam keadaan telanjang bulat, dimana hampir semua
bagian rahasia tubuhnya tertera nyata, ia merasa malunya bukan kepalang, kalau bisa dia ingin
mati saja sehingga tak perlu menanggung rasa malu.
Dalam pada itu Ho Thong thian telah muncul diruang depan, ia saksikan seorang pemuda
tampan yang berwajah dingin sedang berdiri sambil bergendong tangan ditengah ruangan-ketika
sepasang mata mereka membentur satu sama lainnya, tanpa sadar seluruh tubuhnya bergidik, Ia
merasa sorot mata orang itu tajam sekali, membuat siapa pun jadi bergidik rasanya.
Tapi dia berusaha untuk menekan perasaan hatinya, sambil tertawa terbahak-bahak ia menjura
lalu berkata:
"Apakah sauhiap adalah Manusia bermuka dingin yang namanya telah menggetarkan seluruh
dunia persilatan??"
"Betul, itulah aku orangnya"
"Silahkan duduk dan minum teh "
"Tak usah, apakah engkau yang bernama Ho Cungcu??"
"Benar, boleh aku tahu apa maksud kedatangan sauhiap ke perkampungan kami ini??" Dengan
dahi berkerut Han siong Kie berkata:
"Seorang sahabatku yang bernama Go siau bi, apa bener berada dalam perkampungan ini??"
setajam sembilu sorot matanya menatap wajah orang itu, ia menanti jawaban orang itu dengan
tenang.
Terkesiap Ho Thong thian mendengar pertanyaan itu, sekarang dia baru tahu bahwa
kedatangan manusia berwajah dingin adalah disebabkan karena perempuan rendah itu, mau
membohong jelas tak mungkin, hanya untungnya ia telah mengadakan persiapan.
Maka dengan wajah berubah hebat sahutnya:
"Betul, dia memang berada didalam perkampungan ini"
"Adapun kedatanganku kemari adalah hendak mengajak cungcu untuk merundingkan persoalan
ini, apakah engkau bersedia untuk melepaskan nona itu??"
"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memenuhinya, sebab ia telah membinasakan dua
orang putraku"
"Tapi kejadian ini toh berawal dari sikap putramu yang terpikat oleh kecantikannya, dalam soal
ini nona itu tak dapat kau salahkan "
"Haaah haaah haaahh pada hakekatnya justru dialah yang telah memikat putraku dengan
kecantikan wajahnya, ditinjau dari sikapmu yang begitu paham dengan duduknya persoalan ini,
aku rasa engkau tentu mempunyai, hubungan yang luar biasa dengan Go siau bi. Nah sauhiap
berbicaralah menurut liangsimmu, berilah keadilan serta kebijaksanaan kepadaku, pantaskah aku
melakukan pembalasan dendam?"
Untuk sesaat Han siong Kie terbungkam dan tak mampu menjawab pertanyaan itu, sebab katakata
itu memang masuk diakal dan benar. Lama sekali, akhirnya ia baru berkata. "Apa yang
hendak kau lakukan atas diri nya?"
"Hutang darah harus dibayar dengan darah, hutang nyawa bayar nyawa.."
"Apakah engkau tidak merasa bahwa tindakanmu ini kelewat batas??"
"Siapa membunuh manusia diapun harus membayar dengan nyawa sendiri, masa tindakan
semacam ini kelewat batas?"
"Tapi pada hakekatnya toh putramu yang terpikat dulu oleh kecantikan nona Go dan
membuntutinya terus menerus, tindakan ini sudah pantas untuk diberi hukuman mati"
"sauhiap. apa yang kau ucapkan itu berdasarkan pengamatanmu sendiri ataukah karena
mendengar dari mulut orang?"
"Tentu saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"Jadi maksud sau hiap. engkau melarang aku untuk melakukan pembalasan dendam??"
"Bukannya begitu, aku ingin tahu dengan cara apakah engkau berhasil menangkap nona Go
siau bi??"
"Tentu saja mengandalkan kepandaian silatku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie segera tertawa terbahak-bahak nyaring sekali
suaranya.
"Haaah haaah haaaah Ho too cungcu, bukannya kupandang enteng dirimu, pada hakekatnya
kalau engkau ingin menundukkan dia dengan andalkan cara yang bersih dan jujur, maka
kepandaian silatmu masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan dirinya ?"
"oooh.. Maksud sau hiap. aku telah menggunakan cara yang licik dan tidak jujur untuk
menundukkan nona itu??"
"Begitulah maksudku, aku tidak melarang cungcu untuk membalaskan dendam bagi kematian
putramu, tapi aku harap lakukanlah duel tersebut secara jujur dan terbuka, sebab masalah ini tak
bisa diselesaikan dengan berat sebelah"
Tiba-tiba sekulum senyum licik yang sadis dan mengerikan melintas diatas wajah Ho Thong
thian, ia menjura dan berkata.
" Kalau memang begitu, bagaimana kalau sau hiap duduk dulu sambil minum teh? Aku akan
menggusur nona Go siau bi datang kemari kemudian menyelesaikan masalah ini secara adil di
depan sauhiap? Tentunya sauhiap bersedia bukan??"
oooodwoooo
BAB 58
MESKIPUN dalam hati kecilnya Han siong Kie menaruh curiga karena perubahan sikapnya yang
sangat mendadak itu, namun dia lantas berpikir didalam hati.
"Dengan andalkan kepandaian silatmu, bila engkau berani main gila dengan aku, itu berarti
engkau mencari penyakit buat diri sendiri." Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangguk.
"Baiklah, lakukan semuanya itu"
"Kalau memang begitu harap sauhiap tunggu sebentar disini"
Baru beberapa langkah Ho Thong thian berlalu, tiba-tiba pemuda itu berseru kembali.
"Eeeh.. tunggu sebentar"
"Apa yang hendak sauhiap katakan lagi??"
Dengan sorot mata yang bengis dan mengandung hawa napsu membunuh, Han siong Ki
berkata dengan sadis:
"Ho cungcu, sebelum semuanya terjadi aku hendak berkata lebih dahulu kepadamu, aku harap
janganlah engkau bermain gila dengan aku, kalau tidak . . . Hmmm Terus terang kukatakan
kepadamu, akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, dan apa yang sudah kukatakan dapat
pula kubuktikan."
Mula-mula Ho Thong thian agak tertegun, tapi dia lantas tertawa seram sambil menyahut.
"Aaaah ... sau hiap terlalu banyat curiga, masa aku adalah manusia yang lain diluar lain dihati?"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berseru keluar ruangan:
"Go Tiong hidangkan air teh dan siapkan meja perjamuan untuk tamu kita ini "
"Tak usah banyak adat, selesai urusan disini aku segera akan berlalu, tak berani banyak
mengganggu kau lagi"
Ho Thong thian tidak menanggapi ucapan itu, dia mengangguk dan berkata: "Aku akan segera
pergi mengambil nona Go siau bi seraya berkata dia lantas berjalan keluar dari ruangan itu
Tiba2 kecurigaan yang timbul dalam hati kecil Han siong Kie semakin menebal, kalau toh Go
siau bi sudah tertangkap. kenapa ia musti tunggu disitu dan anehnya kenapa tak ada orang yang
bergerak ditempat ini ?"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 terdengar suara gemuruh yang
amat keras berkumandang dari ruangan itu, menyusul mana seluruh ruangan tersebut mulai
berputar kencang.
Menghadapi kenyataan tersebut, pemuda itu baru menyadari bahwa ia sudah terjebak oleh
siasat licik musuhnya, dia berpekik di hati:
"Aduuh celaka, aku sudah tertipu oleh anjing tua itu"
Tanpa berpikir panjang lagi dia segera melejit dan meluncur keluar kearah pintu ruangan-
Tapi dalam sekejap mata itulah seluruh pintu ruangan telah tertutup rapat, dan suasana dalam
ruangan itupun berubah jadi gelap gulita sehingga kelima jari tangan sendiripun sukar terlihat.
Han siong Kie berdiri tertegun, saking gemas dan mendongkolnya dia sampai menggigit
bibirnya kencang2, mimpipun ia tak mengira karena bertindak gegabah sehingga mengakibatkan
dia terjebak oleh tipu muslihat lawan-
"criing. criing.. tiba-tiba ruangan itu tenggelam kedasar bumi, ketika Han siong Kie mengamati
dengan seksama, ternyata ia sudah terkurung dibawah sebuah penjara dalam tanah yang kuat
dan empat penjuru merupakan dinding tebal yang tak tembus hawa.
sekarang anak muda itu baru menyesal apa sebabnya tidak bertindak hati-hati setelah masuk
kedalam perkampungan, karena musti menuruti peraturan dunia persilatan, akhirnya dia harus
terjebak oleh perangkap lawan-
Dari alat jebakan yang rupanya sudah dipasang disetiap bagian ruangan dalam perkampungan
oh han san cung, dapat pula di tarik kesimpulan bahwa perkampungan ini bukanlah suatu
perkampungan baik dan pemiliknya tentu saja sebagaimana yang dikatakan orang yang ada
maksud, benar-benar merupakan manusia bejad yang licik dan banyak akal muslihatnya.
sekarang nasi sudah menjadi bubur dan menyesalpun tak ada gunanya, untuk sesaat lamanya
pemuda itu cuma bisa berdiri menjublek dengan perasaan bingung.
"Kraaakl.krassakkk.. tiba-tiba dari atas dinding muncul sebuah pintu kecil, dibalik pintu tersebut
merupakan sebuah lorong yang amat panjang.
Rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dada Han siong Kie sudah tak tertahan lagi,
dia himpun hawa murninya ke dalam telapak tangannya. ia sudah bersiap sedia bila ada musuh
yang munculkan diri maka dia akan menyeret dan membinasakan musuhnya secara keji.
Tapi apa yang terjadi? Meskipun sudah ditunggu dengan lama, namun tiada sesuatu gerakan
apapun yang muncul dihadapannya.
Sesudah ragu sejenak, akhirnya pemuda itu melangkah keluar dari pintu kecil itu dan masuk
kedalam lorong yang terbentang didepan matanya itu.
Kurang lebih tiga puluh kaki dihadapan nya muncul sebuah anak tangga batu yang menjulang
ke atas.
Yang aneh ternyata disekitar tampat itu sama sekali tidak nampak sesosok
JILID 28 HAL35/36 HILANG
Memang mengerikan sekali anjing-anjing itu, sekilas pandangan orang akan mengira anjing itu
sebagai mahluk sebangsa macan kumbang.
Ditinjau dari bentuk bangunan rumah gelap itu, anak muda itu menduga bahwa dia telah
berada diatas permukaan tanah.
"criiiing ..." sementara anak muda itu masih melamun- tiba-tiba terdengar dentingan nyaring
menggema memecahkan kesunyian, seketika ia berpaling, maka tampaklah pintu kecil dimana ia
muncul tadi tahu-tahu sudah tertutup rapat.
Agak lama pemuda itu termenung, kemudian ia bergerak menuju kepintu ruangan dan
merabanya dengan tangan-
Pintu itu terbuat dari besi baja yang sangat kuat, ketika didorong kebelakang ternyata
menimbulkan suara pantulan yang berat, ini membuktikan bahwa pintu itu terbuat dari baja yang
tebalnya mencapai satu depa lebih, besi seberat itu tak mungkin bisa didorong olehnya dengan
kepandaian yang dimilikinya saat ini. Tiba-tiba dari atas dinding besi itu muncul sebuah lubang
bulat sebesar
JILID 28 HAL. 38/39 HILANG
mata, apa gunanya mengucapkan kata-kata yang tekebur semacam itu??"
"Baiklah, kalau engkau tidak percaya, nantikanlah saat pembalasanku itu"
"Tak usah ditunggu lagi, sekarang juga akan kupertunjukkan suatu adegan yang hidup dan
segar dihadapanmu, coba lihatlah, budak rendah yang kau cintai itu sekarang dia harus membayar
semua akibat dari perbuatannya, sebelum engkaupun dicium oleh anjing2ku, dekatkanlah matamu
dengan lubang ini dan intiplah apa yang ada disini."
Dengan penuh kegusaran Han siong Kie mendekati lubang pengintip itu dan melongok
kedalam.
Tapi apa yang kemudian terlihat olehnya membuat air muka anak muda itu berobah jadi merah
padam bagaikan darah, jantungnya berdebar keras dan kemarahannya semakin memuncak.
sebuah tubuh gadis yang telanjang bulat dengan semua bagian rahasianya tertera nyata,
terikat disebuah palang kayu yang besar, sepasang paha dara itu terbentang lebar sekali dan
tangannya sudah dipentangkan lebar, hal ini membuat setiap organ tubuhnya dapat dilihat tanpa
aling2.
selama hidup belum pernah dia saksikan gadis telanjang, dan kali ini merupakan kali yang
pertama ia saksikan gadis telanjang didepan mata, saking bedebarnya hampir saja jantungnya
mau copot.
Tetapi setelah ia menegaskan bahwa dara itu tak lain adalah Go sian bi, kegusarannya sukar
terkendalikan lagi, sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar ber-api2, teriaknya
dengan keras:
"Tua bangka anjing, apa yang hendak kau lakukan atas dirinya??" Ho Thong thian tertawa
dingin.
"Heeeh heeh heeh ia telah membunuh anakku dengan mengandalkan kecantikan wajahnya,
maka sekarang akupun akan menggunakan cara yang lebih keji untuk menghukum dirinya. Coba
kau tengok kesamping, sudah kau lihat sepasang anjing jantan itu."
"Haaahh haaahh haaahh sebentar lagi akan berlangsung adegan perkosaan seorang gadis oleh
dua ekor anjing jantan.. belum pernah menyaksikan bukan? Nah, sebentar lagi akan kau saksikan
bagaimana caranya dua ekor anjing memperkosa seorang anak dara.."
saking gusar dan gemetarnya Han siong Kie sambil menggertak giginya keras2, kalau bisa detik
itu juga dia akan mencincang tubuh orang itu sehingga hancur ber-keping- keping, tapi sebuah
dinding baja yang kuat telah menghadang ditempat itu, tak mungkin baginya untuk menerobos
masuk keruangan sebelah.
Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu tragedi yang memilukan hati, kesucian seorang
anak dara ternyata harus direnggut oleh dua ekor anjing jantan..
Go siau bi sendiri meskipun jalan darahnya tertotok. namun telinganya dapat mendengar dan
matanya bisa melihat, meskipun mulutnya tak dapat berbicara, ia mendengar suara dari Han siong
Kie dan perasaan hatinya terasa amat sakit bagaikan disayat-sayat, rasa malu, gusar, benci dan
gelisah bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.
Air mata yang meleleh keluar merupakan campuran darah, seluruh kulit wajahnya berkerut
kencang, membuat wajah gadis itu berubah jadi aneh sekali.
"Bangsat tua, engkau berani bertindak keji?" bentak Han siong Kie dengan penuh kebencian,
dia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah dinding baja itu.
"Blang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga membuat seluruh dinding baja itu
bergetar sangat keras.
Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang dilepaskan si anak muda ini di dalam
gusarnya.
Ho Thong thian agak tertegun setelah menyaksikan kedahsyatan hawa pukulan lawan, paras
mukanya ikut berubah hebat, tapi sejenak kemudian dia telah berubah jadi tenang kembali,
ejeknya:
"Bocah keparat sekalipun engkau bisa membongkar jagad, jangan harap bisa merubah nasib
kalian berdua"
"Tua bangka bajingan, kalau engkau berani mengganggu seujung rambutnya, Perkampungan
oh han san ceng kuratakan dengan
JILID 28 HAL. 44/45 HILANG
sementara anjing yang satu sudah berdiri sambil siap memperkosa anak gadis tersebut, anjing
yang lain meraung dan meronta dengan sekuat tenaga, rupanya anjing itupun sudah birahi dan
ingin menuruti jejak rekannya untuk menikmati pula kehangatan tubuh manusia.
situasi betul2 amat kritis dan berbahaya, bila tiada pertolongan yang tiba pada saatnya, niscaya
gadis cantik jelita itu akan di renggut kehormatannya oleh seekor anjing..
Hampir saja anjing itu menggagahi tubuh Go siau bi ketika secara tiba tiba anjing tersebut
mendesis panjang, menyusul tubuhnya mencelat setinggi delapan depa ke udara.. Biang.." ketika
terbanting kembali keatas tanah, darah segar berhamburan dari tubuhnya dan binasalah anjing
tersebut dalam keadaan mengerikan.
Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini sangat mengejutkan hati Ho Thong thian, dengan
sukma serasa melayang tinggalkan raganya secara beruntun dia mundur beberapa lamgkah
kebelakang.
"Criiit criing " beberapa desingan angin tajam menyergap lagi kemuka.
Untung Ho Thong thian sudah mundur ke belakang, dengan begitu desiran angin serangan
tersebut tidak mengena pada sasarannya, andaikata ia tidak mengundurkan diri tadi, niscaya
dadanya sudah berlubang besar.
sekali lagi terdengar lolongan panjang yang memekikan telinga, beberapa desingan angin
serangan yang sebelumnya tertuju ketubuh Ho Thong thian itu, sekarang meluncur kearah anjing
besar yang masih dirantai itu dan menghajarnya telak. seketika anjing itu pun mampus dengan
keadaan mengerikan.
setelah menenangkan hatinya. rasa kaget dan panik berhasil diatasi oleh Ho Thong thiansekarang
dia tahu serangan tersebut muncul dari balik lubang diatas dinding tersebut, kecuali hasil
perbuatan dari manusia berwajah dingin, rasanya memang tak mungkin bisa dilakukan oleh pihak
kedua.
Maka ia lantas bergeser kesudut ruangan yang sejajar dengan lubang diatas dinding itu,
katanya sambil tertawa seram:
"Haaahhhh haaahh haaahhh bocah keparat, engkau memang lihay, tapi sayang pertunjukan
bagus harus tetap dilangsungkan, engkau tahu aku memelihara hampir seratus ekor anjing
semacam itu, tak ada artinya bagimu kematian dua ekor anjing tersebut, tapi dengan
perbuatanmu tadi engkau sudah kehilangan hak untuk menikmati pertunjukan bagus, sekarang
engkau harus terjun sendiri dalam pertunjukan yang jauh lebih menarik"
"criiing...?" tiba tiba lubang diatas dinding itu menutup secara otomatis.
Kiranya disaat yang paling kritis, Han siong Kie teringat dengan ilm ujari Tong kim ci nya yang
lihay, maka dari lubang pengintip itulah dia melancarkan serangannya untuk membinasakan kedua
ekor anjing tersebut dan kejadian ini sama sekali diluar dugaan Ho Thong thian.
setelah lubang pengintip itu tertutup, Han siong Kie semakin panik dan gelisah, sekarang bukan
saja ia terkurung dalam jebakan malahan Go siau bi semakin terancam jiwanya.
"Kraaakkk kraaakkk " bunyi gemerincing berkumandang dari arah belakang, ketika ia berpaling,
hatinya kontan jadi terperanjat rupanya terali besi disamping ruangan itu sudah dibuka dan lima
ekor anjing besar bagaikan harimau telah menyusup keluar dari kandangnya dan mengambil posisi
pengepungan.
sambil menggonggong seekor anjing besar itu laksana kilat menerjang maju kedepan. Han
siong Kie cepat bergeser kearah samping, ilmu jari Tong kim ci segera dilepaskan.
Anjing itu mendesis lengking, tubuhnya terhajar telak dan mampus seketika itu juga, sementara
empat ekor lainnya pada saat yang hampir bersamaan menerkam kedepan.
Ruangan itu luasnya cuma tiga kaki, sedangkan kedua sangkar anjing itu hampir menempati
separuhnya, sisa ruangan yang tersedia sempit sekali, dalam keadaan seperti ini sulit baginya
untuk berkelit maupun menghindar.
Untungnya Han siong Kie memiliki ilmu lintasan cahaya kilatan bayangan yang lihay bagaikan
sukma gentayangan dia bergerak kian kemari diantara terjangan-terjangan empat ekor anjing
tersebut, meskipun posisinya berbahaya namun tak sampai terancam jiwanya.
JILID 28 HAL.50/51 HILANG
lewat pintu yang sempit, tiap kali pula sianak muda itu membunuhnya dengan ilmu jari Tong
kin ci.
Dalam sekejap mata tiga ekor anjing raksasa sudah mampus dengan badan hancur.
"Crinng " tiba? pintu sangkar itu menutup dan Han siong Kie terkurung didalam sangkar
tersebut.
Namun sianak muda itu sama sekali tidak ambil pusing, dari bilik celah-celah terali besi secara
beruntun dia lancarkan beberapa sentilan mautnya. Tiga ekor anjing raksasa yang tersisa, kembali
mampus diujung telapak tangannya.
Begitulah, dalam sekejap mata ada sepuluh ekor anjing raksasa yang telah ia bunuh mati.
selesai membunuh anjing2 itu, Han siong Kie lantas mencengkeram terali besi itu karena pintu
keluarnya tertutup rapat maka dia memutuskan untuk mematahkan terali besi itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, sekali merentangkan tangannya, terali besi itu
segera melengkung dan terbukalah sebuah lubang yang cukup besar.
Pemuda itu meneborobos keluar dari sangkar tersebut, walau begitu dia belum lolos dari
kurungan sebab dinding baja masih mengurungnya dalam ruangan itu
Betapa gelisahnya pemuda itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia seperti seekor harimau
buas yang terjebak dalam kerangkeng sambil berjalan kesana kemari otaknya berputat terus untuk
mencari akal guna meloloskan diri dari kurungan.
Bagi si anak muda ini, keselamatan sendiri tidak terlalu dipentingkan, ia justru lebih
menguatirkan keselamatan Go siau bi, sekarang dia dapat memahami sampai dimanakah kekejian
Ho Thong thian, ia tahu apa yang telah diancamkan dapat dilaksanakan menjadi kenyataan-
Ho Thong thian memang sangat keji, di tinjau dari tindak tanduknya yang begitu terlatih dan
terbiasa, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah banyak perempuan yang mengalami nasib tragis
ditangannya, entah sudah berapa banyak anak perempuan yang dijadikan obyek tontonannya
diperkosa olen anjing ..
Rasa dendam, benci, marah berkecamuk dalam hatinya, hawa napsu membunuh telah
menyelimuti seluruh wajahnya. Ia bersumpah dihati bila Ho Thong thian sampai tertangkap maka
akan dibunuhnya orang itu secara keji.
sambil menahan diri pemuda itu mulai meraba dinding baja dan berusaha untuk menemukan
letak tombol rahasia ditempat itu, namun kecuali pintu rahasia tadi, tiada bekas lain yang terdapat
disitu, seakan-akan ruangan itu dibuat dari lembaran baja yang utuh.
sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru pertama kali ini dia menjumpai keadaan yang
mencemaskan hatinya, dan membuat ia jengah serta serba salah.
Hawa amarah makin memuncak. hampir saja anak muda itu tak sanggup mengendalikan diri..
Tiba-tiba pintu besi yang menghubungkan ruangan itu dengan penjara bawah tanah perlahanlahan
bergerak ke atas dan akhirmya terbukalah sebuah liang kecil.
Han siong Kie mundur tiga langkah ke belakang, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan
siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di inginkan.
sesosok makhluk aneh berbulu perlahan-lahan muncul dari lubang tadi dan meloncat keluar ....
Han siong Kie semakin terperanjat, telapak tangannya diayun kemuka melepaskan pukulan
maut.
"Hey, bocah jangan pukul aku" makhluk aneh itu berseru dengan lantang.
Han siong Kie menarik serangannya dan mundur ke belakang ternyata makhluk berbulu itu
adalah kepala manusia, dia adalah sorang manusia cebol yang gemuk dan bentuk badannya persis
seperti blingo, rambutnya telah beruban semua.
orang itu tak lain adalah Tee heng sian (Dewa berjalan dalam tanah) yang pernah merampas
pusaka Hud jiu po pit miliknya tempo hari.
Kemunculan Tee heng sian dalam keadaan semacam ini jauh diluar dugaan Han siong Kie, ia
tahu tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sangat lihay dan tindak tanduknya sangat misterius.
Dengan suara yang dingin bagaikan es, sianak muda itu segera menegur keras:
"Bukankah emgkau adalah Tee heng sian?"
Dengan tubuh yang gemuk dan gerakan yang lamban- Tee heng sian bergerak
JILID 28 HAL. 56/57 HILANG
" Untuk meneguk beberapa guci arak wangi itu, aku telah membuang waktu selama berbulan2
lamanya, dari luar perkampungan aku telah menggali sebuah lorong rahasia yang langsung
berhubungan dengan gudang arak itu."
Ter mangu2 Han siong Kie setelah mendengar ucapan tersebut, kejadian ini memang
merupakan suatu kejadian yang aneh sekali, untuk mencuri beberapa guci arak wangi, ternyata
orang itu bersedia bekerja selama ber-bulan2 lamanya. setelah tertegun sesaat diapun bertanya
lagi:
"Engkau toh tahu bahwa perkampungan oh han san ceng penuh dengan anjing2 raksasa? Masa
dengan daya penciuman anjing2 itu, jejakmu tidak sampai ketahuan ?"
"Haaah haaah haaaah kalau ingin jadi pencuri yang ulung maka pengetahuan sebagai pencuri
musti luas, tentu saja akupun tahu akan lihaynya daya penciuman anjing-anjing itu, maka sengaja
kugosokkan serbuk anti bau disekujur badanku, setelah begitu maka sekalipun anjing dari langit
juga tak akan dapat mencium bauku"
"Jadi kalau begitu, engkau bisa keluar masuk perkampungan ini dengan leluasa?"
"Itu sih tidak. meskipun aku punya serbuk anti bau, tapi aku tidak punya serbuk anti anjing,
kalau sampai terkepung anjing2 buas itu, bisa jadi mayatku akan habis disikat mereka, tentu saja
kedatanganku kemari juga menempuh bahaya"
"Kenapa engkau datang kesini dengan menempuh bahaya ?"
"Tentu saja karena engkau si bocah muda "
40
"Lantaran aku?" seru Han Siong Kie dengan wajah tercengang.
"Memang begitulah kenyataannya"
"Boleh aku tahu apa sebabnya engkau datang kemari ?"
"Mari duduklah dulu dan biarlah aku bercerita dari awal sampai akhir."
"Sekarang aku tak ada waktu" Seru Han Siong Kie dengan gelisah, "apakah engkau bersedia
memberi petunjuk kepadaku bagaimana caranya keluar dari penjara ruang baja ini??"
"Engkau ingin buru2 menolong bocah perempuan itu? " tanya Tee heng sian sambil melototkan
matanya yang aneh.
"Dari mana engkau bisa tahu?" Han siong Kie balik bertanya dengan hati terperanjat.
"Jangan gelisah dulu, aku kebetulan dapat mencuri dengar kejadian ini dari bawah tanah,
sebab tanah dibawah tempat tinggal Ho Thong thian telah kubongkar, maka semua pembicaraan
diatas kedengaran jelas dibawah, sekarang makhluk tua itu sedang merawat lukanya, untuk sesaat
dia tak mampu mengapa-apakan bocah perempuan itu lagi"
"Lhoo..kok aneh, masa Ho Thong thian sedang merawat lukanya?" tanya Han siong Kie
keheranan.
00dw00
BAB 59
"MASA membohongi kau?"
"Lantas dia luka ditangan siapa?"
"siapa lagi? Tentu saja ditangan bocah perempuan itu"
"Aaah, tidak mungkin, bukankah jalan darahnya sudah tertotok, dia sama sekali tak bisa
bergerak.."
"Hey bocah, pernahkah dengar tentang ilmu membebaskan jalan darah dengan hawa murni?
Bocah perempuan itu sudah kembali melepaskan diri dari pengaruh totokan, dan suatu serangan
kilatnya berhasil pula melukai Ho thong thian"
"sekarang gadis itu ada dimana??"
"Dia masih terkurung dalam ruangan baja sebelah ruangan ini"
JILID28 HAL. 62/63 HILANG
Begitulah, dengan Tee heng sian berjalan didepan, Han siong Kie berjalan dibelakang mereka
melewati sebuah lorong yang sangat panjang.
Ketika hampir mendekati ruang tamu dan tiga kaki dimulut penjara bawah tanah, mereka
mendekati dinding yang berada disebelah kanan, ketika sebuah papan batu sebesar dua depa di
geser kesamping, maka muncullah sebuah gua yang bisa dilewati oleh tubuh seorang manusia.
"Loo tee" kata Tee heng sian kemudian, "inilah jalan bawah tanah yang telah lo ko gali selama
ini, asal batu itu digeser kembali pada tempat semula, maka sekalipun ada dewa yang lewat disini
juga tak akan melihatnya"
-000dw000-
Han siong Kie tertarik sekali dengan keanehan watak sahabat barunya ini, ia tertawa dan
menyahut:
"Kalau mainan begitu, aku mohon diri dahulu"
"Pergilah. Aku paling benci dengan segala tata cara, ingat bocah perempuan itu tersekap dalam
rumah besi ketiga, jangan sampai salah "
Han siong Kie mengiakan, dia lantas menggeser guci arak yang dimaksudkan, disana memang
terdapat sebuah lorong yang gelap dan panjang, pemuda itu lantas menerobos keluar lewat jalan
bawah tanah itu.
seperminum teh kemudian ia sudah keluar dari lorong itu, ternyata sekarang dia sudah berada
diluar pekarangan perkampungan itu, maka sebagaimana yang dipesan, ia tutup kembali mulut
gua itu dengan rapi, kemudian baru menyerbu kedalam perkampungan
Baru saja dia melayang turun didepan dua deret bangunan baja, tiba-tiba tiga sosok bayangan
hitam dengan kecepatan bagaikan kilat telah menyambar tiba, ternyata ketiga sosok bayangan itu
adalah tiga ekor anjing yang besar.
Berada ditanah lapang yang luas Han siong Kie tak perlu menguatirkan cakar racun dari anjinganjing
itu lagi, dalam beberapa gebrakan saja ketiga ekor anjing itu sudah dibikin mampus dengan
pukulan mautnya.
suara pekikan panjang yang diperdengarkan anjing-anjing itu sebelum ajalnya, dengan Cepat
mengejutkan seluruh perkampungan.
Suara langkah kaki yang sangat ramai berkumandang memecahkan kesunyian, belasan orang
lelaki yang berdandan sebagai centeng berlarian keluar dari rumah-rumah baja itu.
Tapi setelah mengetahui siapa yang muncul, hampir sebagian besar centeng itu berdiri
tertegun, mimpipun mereka tak menyangka kalau Manusia bermuka dingin yang dikurung dalam
rumah baja telah berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat.
Padahal mereka tahu bahwa baja yang melapisi ruangan- ruangan itu tebalnya mencapai
beberapa depa, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang tinggi juga tak akan mampu untuk
menghancurkannya,
JILID29 HAL. 06/07 HILANG
untuk membunuh kawanan begundal itu, oleh sebab pihak lawan menghadang jalan perginya,
dia baru berhasrat untuk melakukan pembantaian secara keji. "Trang traanng traaang " suara
genta dibunyikan bertalu-talu.
Ber-puluh2 sosok bayangan manusia meluncur masuk kedalam gelanggang, diantara mereka
ada yang tua ada yang muda, semuanya berjumlah lima puluh orang lebih, tapi yang jelas diatas
wajah orang2 itu terlintas rasa kaget yang bukan kepalang.
setelah semua orang munculkan diri, dengan cepatnya pula Han siong Kie terkurung ditengah
gelanggang.
Menyapu wajah orang2 itu dengan pandangan dingin, Han sioog Kie berkata: "Kenapa sampai
sekarang Hoo Thong thian belum juga munculkan diri?"
Dari antara kerumunan orang banyak. tampil kedepan seorang kakek berbaju hitam, dengan
wajah bengis ia menghardik:
"Manusia bermuka dingin, apa maksudmu datang ke mari??"
"Membantai seluruh isi perkampungan ini" jawab pemuda itu dengan ketus
Ucapan yang berbau amis darah ini sangat menyolok dan menggidikkan hati semua orang,
tanpa sadar paras muka orang-orang itu berubah hebat dan bulu kuduknya pada bangun berdiri
Dengan terperanjat kakek baju hitam itu mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan
suara gemetar:
"Apa? Manusia bermuka dingin, engkau akan membantai seluruh isi perkampungan?"
"Benar, tentunya Ho Thong thian masih belum lupa bukan dengan apa yang telah kuucapkan
ketika berada dalam kurungan ruang besi tadi?"
"Tentu saja lohu tak akan lupa, dengan kata-katamu itu" berbareng dengan berkumandangnya
jawaban itu, Ho Thong thian munculkan diri ditengah gelanggang
Hawa napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah Han siong Kie sambil mendengus
dingin ia tuding Ho Thong thian serunya:
"Bangsat tua lebih bagus lagi kalau engkau memang mengingat kata-kataku itu, sekarang juga
kenyataan akan terbeber didepan mata"
Ho Thong thian memandang lawannya dengan penuh kebencian serta kelicikan:
JILID29 HAl 10/11 HILANG
bahkan cara melepaskan senjata rahasia itu pun menggunakan cara ban thian boa yu ( hujan
bunga diseluruh langit).
Han siong Kie mendengus dingin, sepasang telapak tangannya membuat gerakan lingkaran
didepan dada kemudian menolaknya kedepan.
Ditengah hembusan angin puyuh yang kencang, seluruh kilatan cahaya biru itu sudah tersapu
rontok diatas tanah.
Ho Thong thian bertindak cukup licik, berbareng dengan dilancarkannya serangan itu, dia telah
mundur sejauh dua kaki lebih dari kedudukan semula
Gonggongan anjing menderu-deru, kurang lebih dua puluh ekor anjing besar berlarian keluar
dari ruang baja dan langsung menyerbu kedalam gelanggang
semakin tebal hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Han siong Kie, dia melambung
keudara, sepasang telapak tangannya dilontarkan berbareng kedepan, sepuluh desingan ilmu jari
Tong kim ci dengan kecepatan yang luar biasa menghantam tubuh kakek baju hitam serta pria
setengah baya yang melancarkan serangan senjata rahasia itu
Dua jeritan ngeri memecahkan kesunyian, percikan darah segar berhamburan ditanah, tanpa
sempat menjerit, kakek dan pria setengah baya itu sudah mampus dengan badan berlubang.
Han siong Kie tidak berhenti sampai disitu saja, setelah menewaskan dua orang musuhnya dia
melambung keangkasa dan menubruk kearah Ho Thong thian yang sudah kabur sejauh dua kaki
dari kedudukan semula itu.
Sekarang Ho Thong thian baru merasa takut dan seperti kehilangan sukma, cepatt dia
menundukkan tubuhnya dan menggelinding sejauh beberapa kaki dari tempat itu.
Han siong Kie tidak mengira kalau seorang tokoh silat yang punya nama besar seperti Ho
Thong thian, ternyata telah melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari medan pertempuran,
sementara serangannya gagal mencapai sasaran, belasan ekor anjing besar itu sudah menerjang
tiba dengas serangannya.
Disaat Han siong Kie terkurung oleh kawanan anjing tersebut, Ho Thong thian sendiri kabur
menuju kepintu baja yang keempat, mungkin dia hendak menggunakan ruang baja ini untuk
menyembunyikan diri atau mungkin juga dia masih mempunyai rencana busuk yang lain.
Kali ini Han siong Kie bertindak cerdik, dia melambung setinggi beberapa kaki ke udara setelah
lolos dari sergapan kawanan anjing itu badannya berjumpalitan beberapa kali seperti anak panah
terlepas dari busurnya dia meluncur kearah Ho Thong thian, sepasang telapak tangannya seperti
cakar garuda mengcengkeram batok kepala lawan.
Hampir pada saat yang bersamaan, pintu besi itu terbuka dan mereka berdua masuk kedalam
ruangan baja.
"criing" secara otomatis pintu baja itu menutup dengan sendirinya.
Betapa takut dan ngerinya Hoo Thong thian tatkala dilihatnya bukan saja ia gagal untuk
melarikan diri malahan dirinya terjebak dalam satu ruangan bersama musuhnya.
Ia sadar bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, apalagi berada dalam ruangan
yang begitu sempit, mau melawanpun tak ada gunanya.
Han siong Kie sendiri sudah terlanjur membenci musuhnya ini, cepat telapak tangan kiri serta
ujung jari tangan kanannya ditolak kedepan melancarkan serangkaian pukulan gencar ketubuh
Hoo Thong thian yang sedang ketakutan.
Ho Thong thian sendiri kelabakan setengah mati menghadapi ancaman maut itu, mau
menghindar dia tak mampu, akhirnya tidak ampun lagi tubuhnya terhajar telak oleh serangan
maut itu.
sambil menjerit lengkimg dengan suara yang menyayatkan hati, tubuh Hoo Thong thian
mencelat sampai menumbuk dinding baja, dadanya seketika terhajar sampai berlubang darah
segar berhamburan membasahi seluruh lantai.
setelah musuhnya mampus, Han siong Kie baru tertegun, ia baru menyesal sekarang setelah
musuhnya dibunuh mati, bukankah dengan demikian dia terjebak pula dalam ruangan baja itu?
Bangkai keseputuh ekor anjing itu masih menggeletak ditempat semula, hanya kini bertambah
lagi dengan sesosok mayat manusia.
JILID29 HAl 16/17 HILANG
tubuhnya gemetar dengan jantungnya berdebar dan mukanya jadi merah, secara beruntun dia
mundur tiga langkah ke belakang.
sesosok tubuh yang bugil masih melingkar didalam ruang baja itu, dan dara itu tak lain adalah
Go siau bi.
Padahal menurut keterangan dari Tee heng sian jalan darah Go siau bi sudah bebas malahan
serangannya berhasil melukai Ho Thong thian, kalau toh jalan darahnya sudah bebas, kenapa ia
masih berbaring disitu dalam keadaan telanjang bulat ?
Kalau dilihat dari pintu baja yang separuh terbuka,jelas ada orang pernah memasuki ruangan
ini lalu siapakah orang itu ?
Kenapa tidak menolong Go siau bi, melainkan membiarkan dia .....
Berpikir sampai disini, tak kuasa lagi tubuhnya gemetar keras, pikirnya lebih jauh:
"Aduh celaka, jangan-jangan Go siau bi sudah mengalami...."
Karena kuatir tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu menerjang masuk ke dalam ruangan,
meskipun jantungnya
JILID 29 Hal 19 S/D 24 HILANG
merahnya sehingga tidak menetes ke bawah, ujarnya lagi dengan sedih:
"Sejak pertama kali aku bertemu dengan kau, aku telah mencintai dirimu, engkau adalah orang
pertama yang kucintai juga merupakan orang terakhir yang kucintai, sekalipun aku mencintai
dirimu dengan sepenuh hati dan aku tidak mendapatkan balasan yang sewajarnya tapi aku
memang mencintai kau, cintaku adalah cinta suci yang muncul dari lubuk hatiku, asal kau tahu aku
sudah merasa puas. Aaai . . karena pikiran yang keliru hampir saja aku melakukan kesalahan
besar, terimakasih kuucapkan kepadamu, karena engkau telah memberi kesempatan kepadaku
untuk menebus dosa-dosa itu"
Rasa cinta Han siong Kie benar-benar tersentuh oleh perkataanya itu, detik itu juga ia merasa
bersalah karena pendapatnya yang keliru ini telah menghancur lumatkan rasa cinta dirinya yang
nyata ia telah menyakiti perasaan seorang gadis yang membuat dara itu hampir saja melakukan
kesalahan besar.
"Nona, maafkanlah kesalahanku . ." bisiknya kemudian.
-000dw000-
BAB 60
Go SIAU BI segera ulapkan tangannya dan mencegah pemuda itu meneruskan kata-katanya
"Han siangkong, biarlah kusebut engkau dengan sebutan seperti yang kugunakan ketika untuk
pertama kalinya aku bertemu dengan engkau, sekarang engkau tak usah minta maaf kepadaku,
biarkanlah kejadian yang sudah lewat jadi kenangan, sekarang tegasnya mulai detik ini untuk
menebus semua dosa yang pernah kulakukan semoga engkau baik-baik menjaga diri"
Tak tahan lagi air matanya jadi berderai membasahi seluruh wajahnya yang putih dan halus.
Go siau bi telah berlalu pergi dengan membawa perasaan hatinya yang hancur.
Han siong Kie ingin memanggil dara itu tapi ia tidak berbuat demikian, pemuda itu hanya
berdiri termangu-mangu di dalam bangunan rumah baja itu.
Ia merasa bagaikan sedang bermimpi suatu impian buruk yang sebetuinya adalah kenyataan,
dengan suara yang lirih ia cuma dapat bergumam. .bergumam seorang diri dengan suara yang
lirih:
"sebenarnya apa yang kau lakukan? Benarkah tindakanku selama ini ? Ataukah tindakanku itu
keliru besar?"
Namun ia tak berhasil menemukan jawabannya.
Dengan mengorbankan segala-galanya Go siau bi berusaha untuk mendapatkan dirinya, tapi
sekarang setelah mengalami kejadian tersebut, ia telah pergi dengan keraskan hati dan telah
memutuskan perasaan cintanya.
sementara dia masih melamun, dari kejauhan terdengar serentetan jeritan ngeri berkumandang
memenuhi seluruh angkasa, jeritan tersebut segera menyadarkan kembali pemuda itu dari
lamunannya
Ia lantas menduga kalau Go siau bi sedang melaksanakan pembalasan dendamnya atas orangorang
dari perkampungan oh hau san ceng
JILID29 HAL. 28/29 HILANG
diharuskan menolong Go siau bi. Kalau toh ia dapat membuka pintu baja itu, mengapa ia tidak
membawa Go siau bi yang telanjang bulat, sebaliknya diserahkan kepadanya? Kenapa..? Kenapa ?
Pemuda itu benar-benar merasa tidak habis mengerti.
"Eeeh lo-te, aku lihat pikiranmu kurang tenang dan wajahmu gugup sekali hayo, apa yang telah
kau lakukan?" tiba tiba Tee heng sian menegur sambil tertawa cengar- cengir.
"Aku..." Han siong Kie tertawa jengah
"Dimana bocah perempuan yang telah kau tolong itu?"
"Dia... dia telah pergi"
"Pergi? Pergi seorang diri?"
Dengan sedih Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan. Tee hee sian berkata lebih
jauh.
"Tahukah engkau, kenapa orang yang ada maksud membunuh orang dan membakar
perkampungan ini?"
"Mungkin juga dia hendak melampiaskan rasa dendam dan mendongkol dari Go siau bi"
"Lalu setelah urusan disini telah selesai, kau hendak pergi kemana. ?"
Han siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
kemudian baru menjawab: "..Aku pikir hendak mengunjungi lembah in wu kok"
"Lembah In wu kok? Aneh benar nama tersebut, dimana toh letak lembah yang aneh itu?"
"Kurang lebih setengah jam lamanya dari tempat ini, lembah In wu kok adalah sebuah lembah
aneh yang terpencil sekali letaknya"
"siapa yang beri tahu kepadamu kalau lembah itu bernama in wu kok?" Han siong kie
tersenyum.
"ooh aku sendiri yang menamakan lembah tersebut, dengan sebutan lembah In wu kok, coba
lihatlah bukankah disitu penuh dengan kabut yang amat tebal?"
"Aaah saudaraku, tempat itu bukan bernama lembah In wu kok melainkan adalah Lembah
kematian yang dianggap setiap umat persilatan sebagai daerah terlarang, keseraman dan
kengerian yang menyelimuti lembah tersebut sama sekali tak kalah dengan kemisteriusan benteng
maut yang tersohor itu"
"Lembah kematian?"
Benar, lembah itu sangat berbahaya.. setiap orang yang berani memasuki lembah itu berarti
mengantar kematian diri sendiri sebab semua orang yang sudah masuk ke dalam lembah itu,
selamanya tak akan bisa munculkan diri dalam keadaan selamat"
Hebat sekali perobahan wajah Han siong Kie, untuk sesaat dia termenung lalu baru berkata:
"Semula aku masih mengira lembah itu hanya sebuah lembah terpencil yang jarang sekali
dikunjungi manusia"
"Loo te" Tiba2 Tee heng sian berkata dengan wajah serius "kalau toh engkau sama sekali tidak
kenal akan lembah kematian, mau apa kau kunjungi lembah tersebut??"
"Aku... sebenarnya aku hendak mempelajari sejenis ilmu silat didalam lembah itu"
”Kalau toh cuma ingin mempelajari sejenis ilmu silat, mengapa kau pilih tempat semacam itu??"
"Sebab aku lihat tempat itu jauh dari keramaian dunia dan jarang sekali dikunjungi manusia,
aku takut latihanku terganggu oleh kehadiran manusia lain maka aku hendak mencari tempat yang
sepi dan terpencil itu sebagai tempat latihanku"
"saudaraku kalau engkau percaya dengan kata2ku ini, lebih baik batalkan saja niatmu itu"
Masih mendingan kalau Tee heng sian tidak berkata, semakin dilarang pergi kesitu semakin
besar pula rasa ingin tahu yang timbul dalam hati Han siong Kipikirnya:
"Apa salahnya kalau aku pergi melakukau penyelidikan? Akan kulihat sebenarnya macam
apakah lembah kematian tersebut"
Tapi ia merasa tak tega untuk menolak kebaikan orang, maka ia manggut-manggut berulang
kali.
"Baiklah, aku akan pertimbangkan lagi rencana ini, terima kasih atas peringatan dari engkoh
tua, kau..."
sebelum pemuda itu menyelesaikan kata2nya Tee heng siang telah tertawa cekikikan seraya
menukas:
JILID29 HAL. 34/35 HILANG
Pemuda itu menghela napas panjang, pikirnya:
"Aaai. sayang adik Hui telah kembali kealam baka, tapi benarkah ia telah mati Bukankah orang
yang ada maksud telah berkata bahwa adik Hui tak akan mati?" Lama sekali pemuda itu
termenung, selang sesaat kemudian pikirnya lebih jauh:
"Kalau dia tidak mati, meagapa ia tak muncul kembali dari benteng mautnya, Apakah ia lupa
masih ada janji dengan aku? Lupakah dia ketidak munculannya berarti suatu bukti padaku bahwa
ayahnya adalah pembunuh keluargaku?"
setelah termanggu2 sejenak pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya memasuki lembah
itu
Kabut yang menyelimuti angkasa kian menebal, meskipun Han siong Kie memiliki ketajaman
mata yang dapat memandang pemandangan sekitar tiga kaki, namun tiada satupun yang terlihat
olehnya.
"Aneh." kembali pemuda itu membatin, menurut Tee heng sian lembah kematian adalah suatu
daerah terlarang yang sangat disegani oleh setiap umat persilatan di dunia ini, malahan katanya
siapa berani masuk maka dia tak ada harapan untuk keluar dalam keadaan selamat, kini aku
sudah lama masuk kedalam wilayah ini, kenapa tiada sesuatu apapun yang berhasil kutemui . ." "
Setelah termenung sebenter ia membatin lagi:
"Jangan-jangan berita yang tersiar dalam dunia persilatan tak bisa dipercaya kebenarannya?"
Satu li kembali sudah dilewati oleh Han siong Kie, namun tiada sesuatu apapun yang terlihat.
Akhirnya mata yang tajam itu membentur dengan sesuatu benda, mendadak saja tubuhnya
menggigil keras jantungnya berdebar tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya.
Sebuah batu besar yang penuh dengan lumut hijau terpancang di depan matanya, di atas batu
tugu itu terteralah beberapa tulisan dengan huruf yang amat besar: "PERBATASAN ANTARA MATI
DAN HIDUP
JILID 29 HAL. 38/39 HILANG
Pemuda itu celingukan memandang sekeliling tempat itu, ketika ditemukan sebuah batu cadas
kurang lebih empat kaki disamping tempat itu, cepat ia berkelebat kebelakang batu itu dan
menyembunyikan diri
sekejap mata kemudian belasan sosok bayangan manusia telah munculkan diri didepan batu
peringatan tersebut.
Rombongan itu dipimpin oleh dua orang kakek berjubah hitam sedang kan sisanya adalah dua
belas orang laki-laki yang memakai, baju ringkas warna hitam pula.
Di atas dada kedua orang kakek berjubah hitam itu masing2 bersulamkan lukisan rembulan dan
matahari dan bintang.
Begitu menyaksikan lambang yang tertera diatas dada kakek berjubah hitam itu, Han siong Kie
merasakan hatinya bergetar keras, sebab lambang tersebut tidak terlalu asing baginya, dia merasa
se-akan-akan pernah menjumpainya disuatu tempat.
setelah dipikirkan beberapa saat pemuda itu teringat kembali, ia masih ingat bagaimana orang
yang kehilangan sukma telah membunuh Tengkorak maut gadungan dengan lencana Thian Che
leng, dan di atas lencana itu terteralah lukisan Matahari, rembulan dan bintang.
Itu membuktikan pula bahwa rombongan yang barusan tiba disana tak lain adalab anak buah
dari perkUmpulan Thian Che kau.
seingatnya diantara anggota perkumpulan Thian Che kau yang pernah ditemuinya, belum
pernah ada diantara mereka yang munculkan diri dengan diatas dadanya tertera lambang
matahari rembulan serta bintang, pemuda itu mulai berpikir-pikir, jangan2 kedudukan dua orang
kakek tua itu memang sangat istimewa??
sementara itu salah seorang diantara dua orang kakek berjubah hitam itu sudah menyapu
sekejap sekeliling gelanggang, kemudian kepada rekan-rekannya dia berkata.
"saudara see bun, masakah bocah keparat itu bisa terbang kelangit atau tenggelam kedasar
bumi? Kenapa jejaknya lenyap dengan begitu saja tanpa meninggalkan bekas?" Kakek baju hitam
yang disebut saudara see bun itu menjawab:
"saudara Nyoo, menurut pandanganku mungkin saja bocah keparat itu telah mengetahui jejak
kita semua maka sengaja ia mencari tempat yang bersembunyi untuk menyembunyikan diri "
"sekalipun ia sedang bersembunyi toh penggeledahan yang kita lakukan cukup ketat, masa
pencarian ini sangat teledor sampai tempat persembunyian musuh sama sekali tidak ketahuan ?"
"Walaupun demikian kabut toh terlalu tebal disekitar tempat ini, siapa tahu kalau
penggeledahan kita memang kurang teliti ?"
"Mungkinkah mata2 kita telah salah melihat orang ?" tanya orang she Nyoo lagi.
"Aaah tidak mungkin Tanda2 yang dimiliki manusia bermuka dingin sangat istimewa sekali,
rasanya susah untuk mencari orang kedua yang memiliki ciri2 seperti dia "
Hampir saja Han siong Kie mendcngus dingin apa lagi setelah diketahui olehnya bahwa
kemunculan rombongan itu tak lain adalah sedang mencari jejaknya.
"Jangan-jangan bangsat muda itu sudah melampaui perbatasan antara hidup dan mati?"
kembali kakek she Nyoo itu mengutarakan pendapatnya. Dengan cepat kakek she see bun itu
menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aah.. soal ini tak mungkin, sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tak nanti ia bisa lolos dari
kematian bila berani melewati perbatasan ini, tak nanti dia datang hanya untuk menghantar
kematian belaka"
"Yang lebih aneh lagi, entah apa sebabnya bocah bangsat itu datang mengunjungi lembah
kematian??"
"Aku mana tahu, mungkin cuma dia seorang yang mengetahui apa tujuannya datang kemari"
"Lalu apa yang musti kita lakukan sekarang??"
"Mulut lembah sebelah depan toh sudah dijaga oleh jago2 lihay kita, mari kita lanjutkan
penggeledahannya disekitar tempat ini, aku tak percaya kalau dia sudah dapat terbang ke langit
atau menyusup kedalam tanah."
"Andaikata penggeledahan kita ini cuma sia-sia belaka??"
JILID29 HAL. 44/45 HILANG
laki-laki berpakaian ringkas itu segera menyambarkan diri dan membentuk gerakan setengah
lingkaran untuk melakukan pengepungan yang ketat.
Telapak tangan kilat see bun Lui maupun pui hunp yan Nyoo Yong serentak berpaling pula
kearah anak muda itu, dengan sinar mata berwarna hijau tajam mereka menatap musuhnya tanpa
berkedip. dari kilatan cahaya mata itu dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki kedua
orang itu benar2 sudah mencapai puncak kesempurnaan.
Agak terkejut juga Han siong Kie setelah menyaksikan kesempurnaan tenaga dalam yang
dimiliki musuhnya, namun ia tak gentar, dengan pandangan yang tak kalah dinginnya ia balas
menatap kedua orang lawannya.
"Jadi engkau yang bernama Manusia yang bermuka dingin?" tegur Tui hun pan dengan wajah
dingin.
Han siong Kie mendengus dingin. "Hmm Ucapanmu memang tepat sekali."
"Bangsat, engkau akan menyerahkan diri dengan begitu saja ataukah hendak memaksa aku
untuk turun tangan?"
"Huuh manusia macam kalian pun hendak membekuk aku" ejek sang pemuda sambil tertawa
sinis "Hmmm sebutkan dulu siapa nama kalian"
"Bocah keparat, dengarkan baik-baik kata-kata kami ini" seru see bun Li dengan cepat, "kami
berdua adalah Utusan khusus dari Thian che kau, dua jago lihay diantara sepuluh tokoh paling
tinggi kedudukannya dalam perkumpulan kami.."
"Utusan khusus Haaahh haaahh haahh aku rasa kalian toh tak lebih cuma begundal bayaran
belaka"
Ucapan itu dianggap sebagai penghinaan besar bagi dua orang kakek tua itu, betapa gusarnya
oran2 itu sukar dilukiskan dengan kata-kata.
"Bangsat, rupanya engkau sudah bosan hidup?" bentak mereka hampir bersamaan waktunya.
Dliringi bentakan nyaring see bun Lui melambung tiga kali ke tangah udara, kemudian secepat
kilat melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Han siong Kie.
serangan tersebut memang luar biasa cepatnya dan tak malu disebut bagaikan sambaran kilat,
pada saat yang
JILID29 HAL. 48/49 HILANG
Han siong Kie dengan andalkan tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan itu
melakukan inisiatip untuk menyerang gencar, sekalipun dia telah berusaha dengan segenap
kemampuan yang dimiliki, itupun hanya berhasil memaksa lawannya untuk bertarung dalam
keadaan seimbang alias sama kuat.
Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun menang kalah masih belum bisa
ditentukan.
Memang seram dan mengerikan jalannya pertarungan itu, bukan saja angin menderu dan
bahkan dunia terasa jadi gelap, membuat dua belas orang laki2 berpakaian ringkas yang ada
disamcing gelanggang diam2 merasa bergidik.
setelah berhenti sebentar untuk mengatur pernafasan, see bun Li terjun kembali ke dalam
gelanggang pertarungan, rupanya dia pun menyadari bahwa kekuatan pihak lawan terlalu
tangguh, tak mungkin salah seorang dari pada mereka berhasil menaklukkan lawannya andaikata
tidak turun tangan secara bersama:
Dengan cepat situasi dalam gelanggang pertarungan mengalami perubahan.
Dua orang tokoh sakti dengan meng andalkan kekuatan mereka yang paling top berusaha
menghancurkan lawannya, kedahsyatan angin pukulan yang mereka hasilkan benar2 mengerikan
sekali.
Dalam keadaan demikian, Han siong Kie dipaksa untuk mengambil langkah2 pertahanan,
dia mainkan ilmu Mo mo ciang hoat bagian pertahanan untuk menutup semua bagian tubuhnya
dari kemungkinan terserang musuh, kalau sebentar saja masih mendingan tapi lama kelamaan
diapun mulai terdesak hebat. sepuluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa...
Han siong Kie semakin terdesak hebat sehingga selangkah demi selangkah mundur terus
kebelakang..
satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Akhirnya pemuda itu sudah melampaui garis pemisah
yang merupakan perbatasan antara mati dan hidup,
Menyaksikan kejadian itu baik see bun Lui yang bergelar telapak tangan kilat maupun Nyoo
Yong yang berjulukan Hakim pengejar sukma sama-sama menarik kembali serangannya dan
mundur kebelakang.
Perbatasan antara mati dan hidup .. suatu wilayah angker yang tak berani dilewati oleh
siapapun.
Han siong Kio masih belum merasa kan akan hal itu, kembali ia mundur beberapa langkah
kebelakang.
sekarang Han siong Kie sudah berada satu kaki lebih dibalik garis pemisah yang disebut
perbatasan antara mati dan hidup itu, namun tiada sesuatu kejadian yang menimpa dirinya, ia
tetap utuh, sehat dan tak kekurangan sesuatu apapun.
Belasan orang jago lihay dari Thian che kau mulai menunjukan sikap kebingungan dan tidak
habis mengerti, sampai2 mereka berdiri dengan wajah melongo.
-ooodwooo-
BAB 61
LEMBAH kematian- suatu daerah terlarang yang dianggap angker serta mengerikan bagi umat
persilatan, wilayah itu dipisahkan oleh sebuah garis yang dinamakan perbatasan antara mati dan
hidup, selama banyak tahun tak seorang manusiapun sanggup melewati perbatasan tersebut
dalam keadaan hidup,
Tapi sekarang Manusia berwajah dingin telah menyeberangi perbatasan itu sejauh beberapa
kaki tanpa mengalami sesuatu kejadian apapun, kejadian ini benar merupakan sesuatu peristiwa
yang aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Tatkala pihak musuh menarik kembali serangannya tadi, tanpa terasa Han siong Kie lelah
mundur kembali beberapa langkah kebelakang, menanti ia rasakan perubahan yang aneh pada
wajah musuhnya pemuda itu baru sadar bahwa ia telah melangkah masuk ke dalam wilayah yang
tersohor karena angkernya itu.
JILID29 HAL. 54/55 HILANG
Thian che kaucu untuk menyelesaikan sendiri persoalan ini.
Diam2 Han siong Kie menguatirkan kemampuan Thian che kaucu sebab kalau ditinjau dari
kemampuan yang dimiliki kedUa orang utusan khusus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
tenaga dalam yang dimiliki ketua mereka benar- benar telah mencapai puncak kesempurnaan
yang tak terhingga, ia jadi terbayang kembali akan peristiwa dimasa lalu sewaktu dia menyerbu
wilayah Lian huan yau untuk menolong Go siau bi, ketika itu ia telah berjumpa dengan seorang
manusia barkerudung yang mangaku sebagai ketua perkumpulan tapi akhirnya ia bukti bahwa dia
tak lebih cuma penyaruan dari salah satu diantara sepuluh jago tangguh perkumpulan.
Anak muda ini mulai berpikir, mengapa Thian che kaucu tak berani munculkan diri sebaliknya
suruh orang lain untuk menyaru sebagai dirinya?" Mungkinkah dibalik semuanya ini sebetulnya
masih tersimpan rahasia lain?
Yang lebih aneh lagi, ternyata pihak Thian che kau telah mengerahkan segenap kemampuan
yang dimiliki untuk menghadapi dirinya seorang, malahan ketuanya turun tangan sendiri untuk
memimpin operasi tersebut, hal ini menandakan kalau pihak mereka memandang serius persoalan
tersebut, lalu apa sebabnya mereka bersikap drmikian?" Tiba2 Nyoo Yoong, hakim pengejar sukma
berseru dengan suara dalam:
"Bocah keparat, beranikah engkau menyeberang kemari untuk melangsungkan pertarungan
seru dengan kami?"
Han siong Kie sendiripun tak tahu apa sebabnya ia bisa menyeberangi perbatasan mati dan
hidup tanpa cedera, namun ia tahu bahwa musuh- musuhnya tak berani menyeberangi wilayah
angker itu dam selalu memanaskan hatinya agar dia menyeberang kembali ke sana. Maka sambil
tertawa dingin, ejeknya:
"Bangsat tua, kenapa bukan kalian yang menyeberang kemari? Kalau memang jantan hayolah
kemari"
Perasaan jengah dan serba kikuk muncul diatas wajah Nyoo Yong maupun see bun
JILID29 HAL. 58/59 HILANG
Nyio Yong yang sedang melayang diudara, se akan2 burung yang kena dipanah, tahu-tahu
badannya menukik ke bawah dan roboh keatas tanah. la mati secara misterlus.
Hakim pengejar sukma Nyio Yong telah tewas dihadapan rekan2nya, namun tak seorangpun
yang tahu apa sebabnya tiba2 ia mampus, jangankan mereka sekalipun Han siong Kie yang
berada beberaps depa dihadapannya juga tak melihat sebab musabab yang mengakibatkan
kematian jago lihay itu
Pucat pias wajah para jago dari Thian che kau, rata- rata mereka berdiri tertegun dengan
sukma merasa melayang tinggalkan raganya, kejadian ini sama sekali diluar dugaan semua orang.
Han siong Kie sendiripun terkejut sampai-sampai keringat dingin membasahi jidat dan
punggungnya .
Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kematian Nyio Yong yang secara tiba2 namun ia
tak tahu apa yang menyebabkan kematian musuhnye itu, untuk sesaat ia jadi tertegun dan berdiri
termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ditatapnya mayat Nyoo Yong tanpa berkedip. sementara pikirannya melayang entah sampai
dimana.
Mendadak terdengar jeritan kaget berkumandang lagi memenuhi angkasa, suatu pemandangan
yang sangat mengerikan telah berlangsung didepan mata.
Begitu mencium tanah, mayat Nyoo Yong yang masih hangat itu ternyata meleleh dan
mengalami pembusukan dengan cepat, kemudian selang sesaat mayat itu sudah hancur tinggal
tulang kerangkanya belaka.
Hampir saja Han siong Kie menjerit kaget, bulu kuduknya pada bangun berdiri, kejadian aneh
ini belum pernah ditemuinya semenjak dahulu kala, tidak sampai setengah perminum teh salah
seorang tokoh silat yang berilmu tinggi telah berobah jadi seonggokan tulang kerangka yang putih
mengkilat, bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapakah yang akan percaya bahwa
peristiwa semacam itu benar2 telah terjadi di depan mata ?
Lewat lama sekali dia ter-mangu2, setelah rasa kagetnya hilang ia baru berpaling memandang
ke belakang, pada ujung lembah tersebut ia saksikan sebuah gundukan tanah berbukit, beberapa
pohon raksasa yang amat besar tumbuh disekitar gundukan tanah itu
Di belakangnya adalah sebuah tebing dan sebuah bukit yang tinggi menjulang keangkasa
demikian tingginya bukit itu sehingga menembusi kedalam awan.
Dengan langkah yang ragu-ragu dan penuh kesangsian pemuda itu melanjutkan perjalanannya
memasuki lembah itu dan mendekati gundukan tanah yang berada didepan mata.
Beberapa kaki sebelum mencapai gundukan tanah tadi tiba2 pemuda itu berseru tertahan dan
berhenti.
Di bawah dua batang pohon raksasa berdirilah sepasang makhluk hitam putih yang
mengerikan..
Mereka sama-sama memelihara rambut yang panjang cuma yang hitam sekujur tubuhnya
berwarna hitam pekat sebaliknya yang putih luar biasa putihnya bagaikan salju.
Dengan seksama anak muda itu mengawasi beberapa saat makhluk itu, sekarang ia dapat
memastikan bahwa mereka adalah manusia, sepasang manusia aneh berwama hitam dan putih,
hatinya terasa makin bergidik,
Kedua orang itu duduk bersila saling berhadapan, ke empat buah telapak tangannya
direntangkan kedepan sejajar dengan dada, selisih jarak kedua belah pihak cuma terpaut tiga kaki.
Han siong Kin tertegun- .apa yang telah terjadi? " sekilas pandangan dua orang jago itu
bagaikan sedang mengadu tenaga dalam, tapi mirip juga sedang melatih sejenis ilmu silat.
Bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir saja ia tak percaya kalau dikolong
langit sebenarnya terdapat manusia seaneh itu, yang hitam kulitnya benar- benar hitam mengkilap
seperti tinta, apalagi jubahnya berwarna hitam pula membuat orang itu betul2 serba hitam.
sebaliknya yang putih demikian putihnya seperti sesosok mayat hidup bukan rambutnya
berwarna putih, jubah maupun sepatunya juga berwarna putih. suatu perbedaan warna yang amat
kontras sekali.
JILID29 HAL. 64 HILANG
Dua orang makhluk aneh itu tetap duduk kaku ditempat semula, mereka tidak membuka
matanya pun tidak berkutik barang sedikitpunjuga, padahal semestinya mereka tahu bahwa ada
orang yang mendekati tempat tinggal mereka, terbukti hawa khikangnya telah dipancarkan
melindungi wilayah seluas tiga kaki disekeliting tubuh mereka.
Agak penasaran Han siong Kie ketika tak mampu menerjang maju kedepan dan menghimpun
tenaga dalamnya dan secara paksa menerjang masuk kedalam lingkaran hawa khikang lawan.
Tiba2 dua orang makhluk aneh itu bersamaan waktunya menurunkan telapak tangan mereka
kemudian membuka matanya:
Empat buah sinar mata yang setajam sembilu serentak ditujukan keatas wajah Han siong Kie.
Pada saat ini tenaga dalam yang dimiliki si anak muda itu sudah mencapai dua ratus tahun hasil
latihan, walaupun begitu ketika ditatap secara tajam oleh musuhnya tak urung bergidik juga
hatinya, cepat ia hentikan langkah kakinya membalas memandang lawannya dengan sinar mata
yang tak kalah tajamnya.
Per lahan2 dua orang manusia aneh itu bangkit berdiri dari atas tanah.
sekarang Han siong Kie baru dapat melihat jelas bahwa kedua orang makhluk aneh itu adalah
seorang pria dan seorang wanita, yang laki2 berkulit hitam berambut hitam dan berjubah hitam,
keadaannya tak berbeda dengan balok kayu yang hangus bekas terbakar sedangkan yang
perempuan berambut putih berkulit putih dan berbaju putih, putih seperti batang kayu yang dilapis
saiju.
41
Begitu jelek dan menyeramkan bentuk serta potongan tubuh mereks membikin hati orang jadi
tercekat dan seram.
Han Siong kie boleh dibilang berilmu tinggi dan bernyali besar namun berada dalam keadaan
begini berdiri juga bulu kuduknya.
Mungkinkah makhluk hitam dan putih ini adalah pemilik Lembah Kematian . . ?
Ingatan tersebut melintas didalam benaknya, sementara itu sepasang makhluk aneh itu sudah
berdiri dan saling mengangguk, tiba2 mereka maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan
Han Siong Kie seraya berkata: "Hek pek siang yu menghunjuk hormat kepada majikan"
Kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Han Siong Kie secara beruntun dia mundur lima
langkah kebelakang, untuk sesaat pemuda itu tak mampu berkata2 karena tercengangnya.
Sepasang makhluk aneh yang mengaku Hek pek siang yu, sepasang siluman hitam putih ini
ternyata menyembah dihadapannya sambil menyebut majikan kepadanya, kejadian ini benar2
suatu kejadian yang sangat aneh.
"Hek pek siang yu menghunjuk hormat buat majikan" untuk kedua kalinya sepasang makhluk
aneh itu memberi hormat.
Kali ini Han siong Kie mendengar perkataan itu dengan lebih jelas lagi, sekarang ia baru tahu
bahwa dua orang makhluk aneh itu ternyata tak lain adalah Hek pek siang yu yang sudah puluhan
tahun lamanya lenyap dari permukaan bumi.
Meskipun masa berkelana Hek pek siang yu dalam dunia persilatan amat singkat, namun
pembantaian maut yang mereka lakukan tak terbilang banyaknya.
Bagi pandangan umat persilatan, kedua orang ini adalah iblis pembunuhan manusia yang tak
berkedip. banyak orang segan dan takut kepadanya.
Dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti, Han siong Kie berseru dengan gelagapan:
"Majikan-.? Aku.."
"Betul majikan, engkaulah majikan kami"jawab siluman putih dengan hormat.
sekali lagi Han siong Kie mundur selangkah lebar kebelakang, dia benar2 kebingungan:
"Bagaimana mungkin ? Bagaimana mungkin masa aku adalah majikan kalian??"
"Kami telah bersumpah barang siapa bisa melewati perbatasan mati dan hidup dalam keadaan
selamat dan orang pertama yang bisa menginjakkan kakinya di wilayah lembah Kematian, maka
dialah majikan dari kami kakak adik seperguruan berdua "
"oooh.jadi kalian adaiah suheng moay ??"
"Benar "
"Mengapa kalian hendak menganggap orang pertama yang memasuki wilayah ini sebagai
majikan?" tanya sianak muda itu lagi.
"sebab hanya orang yang berkepandaian tinggilah yang bisa tiba ditempat ini dalam keadaan
selamat, pun juga dia seoranglah yang bisa menolong kami berdua lolos dari tempat ini, selama
lima puluh tahun berselang majikan adalah orang pertama yang bisa tiba dilembah kematian ini
dalam keadaan selamat."
"Jadi kalian bukan penghuni tempat ini, melainkan adalah tawanan yang disekap di sini?".
"Benar" sepasang makhluk aneh itu mengangguk tanda membenarkan.
"Dan kalian telah disekap selama lima puluh tahun lamanya."
"Benar" untuk kesekian kalinya dua orang itu mengangguk.
"siapa yang menyekap kalian ditempat ini?"
"Pemilik benteng maut"
"Apa?" " seru Han siong Kie dengan perasaan terperanjat "jadi kalian disekap pemilik benteng
maut dalam Lembah Kematian ini"
"Begitulah kejadiannya"
"silahkan kalian berdua bangkit berdiri kemudian baru kita lanjutkan pembicaraan ini"
"Kalau begitu majikan telah mengabulkan permintaan dari kami suheng moay berdua ?" tanya
siluman putih sambil mengernyitkan sepasang alis matanya. Han siong Kie termenung dan berpikir
beberapa saat lamanya, kemudian menjawab: "Tentang soal ini..."
"Ketahuilah majikan, bahwa kami berdua sudah menunggu selama lima puluh tahun, atas
tibanya kejadian besar ini" sambung si hitam dengan cepat.
Andai kata tingkah laku Hek pek siang yu di masa talu tidak buas dan keji, niscaya sedari tadi
Han siong Kie sudah mengambil keputusan, tapi justru karena dua orang itu adalah gembong iblis
yang berbahaya, maka mau tak mau dia musti mempertimbangkan dulu permintaan mereka
sebelum akhirnya mengambil keputusan. Maka sesudah termenung sebentar ia baIik bertanya:
"Jadi tujuan kalian adalah mengharapkan agar aku bersedia membawa kalian keluar dari
lembah ini ?"
"Begitulah kira2 maksud kami"
"Apakah kalian yakin kalau aku dapat membawa kalian berdua keluar dari lembah ini ?"
"Tentang soal ini.." sepasang manusia aneh itu agak termangu sebentar, tapi kemudian
serunya "Perduli bagaimanapun juga, inilah sumpah dari kami berdua pada lima puluh tahun
berselang. kami telah bersumpah untuk menganggap orang pertama yang masuk kelembah ini
sebagai majikan kami, selama hidup kami akan menuruti perintahnya, tentang soal mau keluar
dari lembah kematian atau tidak. kesemuanya ini terserah pada kebijaksanaan majikan sendiri"
"Betul sumpah kalian adalah begitu? " Han siong Kie menegaskan lebih jauh.
"Betul "
"Dan sumpah kalian itu selamanya takkan dilanggar??"
"Selamanya kami takkan melanggar "
"Baik, aku mengabulkan permintaan kalian"
"Bolehkah kami mengetahui siapa nama majikan ?"
"Aku adalah manusia bermuka dingin Han siong Kie, ciangbunjin yang akan memerintah di
istana Huan mo kiong "
Dengan penuh rasa hormat sepasang siluman hitam putih menyembah majikannya, kemudian
bangkit berdiri
Pelbagai keheranan dan pertanyaan berkecamuk dalam benak anak muda itu, namun dia tak
tahu persoalan itu musti ditanyakan mulai dari bagian yang mana.
Menurut pengakuan sepasang siluman hitam putih, mereka telah disekap oleh pemilik benteng
maut didalam lembah kematian ini pada lima puluh tahun berselang, sedangkan menurut berita
yang tersiar dalam dunia persilatan baru tiga puluh tahun berselang Temgkorak maut munculkan
diri didunia.
Bila ia tinjau dari usia Tonghong Hui yakni putrinya, kira2 Tengkorak maut telah berusia enam
puluh tahunan lebih atau tujuh puluh tahun sekarang, mungkinkah pada lima puluh tahun
berselang ia sudah memiliki kemampuan untuk menaklukkan sepasang siluman hitam dan putih
yang tersohor karena kelihayannya?
Berpikir sampai disini, dengan wajah serius dia lantas bertanya kepada kedua orang itu:
"Benarkah kamu berdua disekap selama lima puluh tahun ditempat ini.?"
"Betul majikan"jawab siluman putih dengan Cepat.
"Dan kamu disekap oleh Pemilik benteng maut?"
"Benar!"
"Benarkah pemilik benteng maut bergelar juga Tengkorak maut?"
Mendengar pertanyaan itu sepasang makhluk aneh tersebut tampak tertegun dan keheranan:
Lama sekali siluman putih baru menjawab:
"Tengkorak maut? belum pernah kami dengar dengan sebutan nama seperti itu"
"Lalu apakah sebutan lain dari pemilik benteng maut yang menyekap kalian disini?" seru Han
siong Kie dengan sepasang alis matanya berkernyit.
"Kami berdua cuma tahu dia bernama pemilik benteng maut, yang lain sama sekali tidak tahu"
"Yaaa hal ini memang tak bisa salahkan kalian memang sudah terlalu lama kami berdua disekap
ditempat ini, jadi setelah keluar dari lembah ini kalian bersiap sedia untuk mencari balas dengan
pemilik benteng maut?"
Dengan ketakutan sepasang siluman hitam putih mundur selangkah kebelakang sahutnya:
"Tidak. .kami tidak berani berbuat demikian "
"Tidak berani ? Kenapa tidak berani ?" tanya si anak muda itu dengan perasaan tercengang.
Dengan menundukkan kepalanya siluman hitam menjawab:
"Berkat petunjuk dan bimbingan dari beliau, kami berdua dapat melepaskan diri dari dosa yang
amat berat, budi ini belum kami balas, mana berani kami menuntut balas kepadanya?"
"Bukankah kalian berdua yang mengatakan sendiri, bahwa kalian telah disekap disini oleh
pemilik benteng maut??"
"Benar, tapi perbuatannya ini boleh dibilang sebagai maksud baik dari dia orang tua"
"Maksud baik ? Apa maksud perkataanmu itu ?"
"Dia orang tua suruh kami berdiam dan hidup dilembah ini sambil menyesali perbuatan yang
telah kami lakukan selama ini, malahan mewariskan pula ilmu silatnya kepada kami" Berubah
hebat air muka Han siong Kie sehabis mendengar keterangan itu, serunya:
HAL. 14 S/D 17 HILANG
"Terima kasih atas kemurahan hati majikan "
Han siong Kie mendengus dingin ujarnya kemudian:
"Apakah aku boleh tahu apa maksud dan tujuan yang sebenarnya dari kamu berdua ketika
hendak mengangkat sumpah aneh itu dimasa lalu ?"
siluman putih menghela napas panjang setelah termenung sebentar sahutnya dengan wajah
serius:
"Panjang sekali kisahnya untuk diceritakan bagaimana kalau majikan berkunjung dulu ke rumah
kediaman hamba berdua, disitu barulah kami bercerita panjang lebar ?"
Han siong Kie berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk:
Dengan sikap yang sangat hormat Siluman putih mengiakan, bergeraklah perempuan aneh itu
menuju kearah tebing curam dibelakang gundukan tanah itu. sementara siluman hitam mengiringi
di belakang anak muda itu.
selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didalam sebuah goa yang lebar dan cukup
luas, siluman putih segera bergeser kesamping dan mempersilahkan majikannya untuk masuk
lebih dulu katanya:
"Majikan, pemilik benteng maut juga berdiam didalam gua batu ini" sambil menuding kearah
batu karang disebelah kiri lanjutnya:
"Itulah dia tempat mengasingkan diri dibalik tebing karang itu, sudah lima puluh tahun lamanya
tak pernah munculkan diri"
0000dw0000
BAB 62
MENGIKUTI arah yang ditunjukkan Han siong Kie menengadah keatas, ia lihat tebing karang itu
sangat tinggi dan tertutup kabut yang tebal maka sambil mengangguk diapun masuk kedalam goa.
Ruangan didalam gua itu sangat lebar dan kering, diantaranya terbagi pula menjadi tiga buah
goa yang agak kecil.
sesudah duduk diatas sebuah pembaringan batu dalam gua itu, sepasang siluman putih dan
hitam menghidangkan buah2an dan sayur-sayuran kemudian sambil mengambil semangkok air
bersih katanya dengan wajah bersungguh2:
"Disini tiada makanan lain silahkan majikan makan seadanya untuk mengisi perut"
Kebetulan Han siong Kie juga merasa lapar, maka tanpa sungkan2 ia menyikat makanan yang
dihidangkan untuk menangsal perut.
selesai bersantap. dia memerintahkan ke dua orang siluman itu untuk duduk lalu katanya:
"sekarang aku ingin mendengar kisah cerita kamu berdua dari awal sampai akhirnya terkurung
dilembah ini"
Sepasang siluman hitam putih itu tidak langsung menjawab, mereka saling berpandangan
sekejap. kemudian siluman hitam baru berkata dengan lembut:
"sumoay, biar akulah yang akan melaporkan kisah kejadian ini kepada majikan, tentunya
engkau tidak keberatan bukan?" siluman putih mengangguk. "Baik, suheng sajalah yang bercerita"
Perlahan-lahan siluman hitam menghadap ke arah Han siong Kie, lalu ujarnya:
"Majikan silahkan engkau mendengarkan sebuah kisah cerita yang akan kukisahkan berikut ini"
Agak bergolak perasaan hati Han siong Kie sesudah mendengar perkataan itu,pada puluhan
tahun berselang sepasang siluman putih hitam telah malang melintang dalam dunia persilatan,
setiap orang jeri dan
JILID^0 HAL. 22/23 HILANG
merasa sangat setuju dengan rencana dari gurunya itu, suatu hari ketika ketiga orang itu
sedang melakukan perjalanan diatas gunung chin nia, secara kebetulan telah mendapatkan
sepasang Bak ci "
"Bak ci?" seru Han siong Kie tak tahan, ia heran dan tidak mengerti dengan benda yang
disebutkan itu.
"Benar Bak ci adalah sejenis tumbuhan yang sangat langka sekali, bukan saja tak ternilai
harganya bahwa siapapun yang memakannya bisa awet muda dan berbadan sehat. Betapa
gembira mereka bertiga setelah mendapatkan Bak ci yang sangat berharga itu, kebetulan waktu
itu kami memang sedang menuju kebukit Chin nia untuk mencari beberapa macam bahan obat2an
sebagai kekuatan dalam latihan. Karena penemuannya ini maka kamipun lantas meninggalkan
tujuan semula dengan membawa sepasang Bak ci tersebut buru2 kami berangkat pulang ke
gunung."
Berbicara sampai disitu, kembali siluman hitam menghentikan ceriitanya, hawa napsu
membunuh yang sangat tebal tiba-tiba memancar keluar dari balik matanya dan menyelimuti
wajahnya yang hitam pekat, lanjutnya lebih jauh:
"Entah bagaimana kemudian, ternyata kabar berita tersebut telah tersiar luas keseluruh dunia
persilatan, ketika kami bertiga baru saja tiba kembali dirumah, tiba2 beratus-ratus orang jago lihay
dari golongan putih dan hitam melakukan penyerbuan secara besar-besaran, tentu saja tujuan
mereka yang terutama adalah sepasang Bak ci yang berharga itu"
" Karena tibanya bencana yang sangat mendadak ini, puluhan orang murid perguruan yang
waktu itu berkumpul dimarkas segera munculkan diri dan melakukan perlawanan, pertarungan
sengit berlangsung sepanjang malam, banyak anggota perguruan yang tewas ataupun cedera."
sekalipun ilmu silat yang dimiliki Ki Goan thong ketua perguruan Thian it bun sangat lihay
dandan berhasil membinasakan hampir lima puluh orang jago lihay yang menyerbu perguruannya,
tapi lama kelamaan sendiripUn kehabisan tenaga apalagi musuh yang harus dihadapi
HAL. 26/27 HILANG
"suheng biarlah aku yang melanjutkan bercerita"
siluman hitam mengangguk. maka siluman putih melanjutkan kembali ceritanya:
"setelah kejadian itu para jago lihay dari golongan putih maupun hitam yang ikut serta didalam
operasi tersebut melakukan pencarian dan penggeledahan secara besar2an diseluruh kolong langit
untuk menemukan jejak dua orang ahli waris dari perguruan Thian it bun, tapi rupanya mereka
hendak membasmi rumput hingga ke akar2nya sehingga tidak meninggalkan bencana dikemudian
hari. Karena penggeledahan secara besar- besaran itu, terpaksa sepasang kakak beradik
seperguruan itu melarikan diri keatas gunung yang terpencil untuk menyembunyikan diri sambil
melatih ilmu silat perguruannya. Delapan tahun kemudian mereka muncul kembali ke dalam dunia
persilatan dan melakukan pembantaian secara besar-besaran untuk menuntut balas atas sakit hati
yang telah menimpa perguruannya"
"Dan kedua orang ahli waris dari Thian it bun itu tentulah kalian berdua bukan?" seru Han siong
Kie kemudian.
"Tebakan majikan memang sangat tepat. Kedua orang itu memang tak lain adalah kami
berdua"
"Dan sepasang Bak ci tersebut telah kalian makan "
"Benar "
"Itu berarti semestinya wajah kalian tetap awet muda, kenapa sekarang malahan..."
"Maksud majikan, kenapa wajah kami berdua pada saat ini malahan berubah jadi makhluk aneh
yang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan ini ?"
"Jadi raut wajah tersebut bukan raut wajah kalian yang sebenarnya?" bukan menjaweb. Han
siong Kie malahan balik bertanya.
"Bukan, raut wajah kami yang asli tidak begini. Ketika kami sedang berlatih ilmu silat diatas
sebuah bukit, kami telah salah makan dua biji buah liar, dalam beberapa hari saja raut wajah kami
telah berubah jadi seaneh ini, oleh sebab itulah setelah turun gunung kami dianggap orang
sebagai makhluk siluman- dan dari sini pula orang lantas menyebut kami sebagai Hek pek siang
yu"
"0ooh, kiranya begitu"
"Maka dendam dan benci yang berkecamuk dalam dada kami berdua sukar dikendalikan lagi"
siluman putih melanjutkan, "maka setelah turun gunung kami mulai melakukam pembalasan
dendam, bukan saja musuh besar kami basmi bahkan keturunannya juga kami jagal secara keji,
hanya dalam sebulan saja sudah hampir seribu orang manusia yang kami bunuh, kejadian ini
segera menimbulkan rasa gusar dari umat persilatan dikolong langit, mereka bersatu padu untuk
menghadapi kami berdua.." Ia berhenti sebentar untuk tarik napas, lalu tambahnya:
"Dalam suatu pertempuran sengit yang kemudian berlangsung, kami berdua dikerubuti oleh
tiga ratus orang lebih jago2 persilatan dari seluruh pelosok dunia, keadaan kami sangat kritis dan
hampir saja jiwa kami melayang ditangan mereka, untung majikan lembah ini munculkan diri tepat
pada waktunya dan loloslah kami berdua dari ancaman bahaya maut, sejak itulah kami lantas
diboyong kelembah kematian ini dan harus berdiam disini untuk menyesali perbuatan kami selama
ini, kami memang bertobat karena beribu-ribu orang telah kami bunuh selama ini, begitulah dalam
sekejap masa lima puluh tahun sudah lewat tanpa terasa.."
"Kalau begitu sampai sekarang kalian masih belum melaksanakan perintah dari mendiang
gurumu?"
"Pesan terakhir apa?"
"Bukankah gurumu memerintahkan kepada kalian berdua untuk menikah dan menjadi suami
istri?"
siluman putih tundukkan kepalanya rendah2 dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
sedangkan siluman hitam segera menjawab:
"Tentang soal ini sampai sekarang belum kami laksanakan sebab kami berdua telah bersumpah
kecuali wajah kami dapat pulih kembali seperti sedia kala kami tak akan menikah"
Han siong Kie manggut2.
"sungguh sukar untuk melewatkan saat hidup selama lima puluh tahun lamanya tanpa
melanggar tata kesopanan, kalian memang beriman tebal... aku merasa sangat kagum..."
"Aah .. majikan terlalu memuji "
"Bagaimanakah caranya untuk memulihkan kembali raut wajah kalian yang rusak ini."
"Menurut keterangan yang diberikan majikan lembah ini kepada kami, buah liar yang telah kami
salah makan bernama Gi heng tok ko buah racun perubah wajah, dikolong langit dewasa ini hanya
ada seorang manusia yang bisa memunahkan racun buah itu dan dialah yang bisa memulihkan
kembali raut wajah kami berdua menjadi wajah yang aslinya"
"siapakah orang itu ?"
"orang itu bernama Ban tok cousu "
"Ban tok cousu ? Belum pernah aku dengar tentang nama tokoh silat ini "
"Benar, menurut keterangan yang berhasil kami kumpulkan, kemungkinan besar Ban tok cousu
sudah lama meninggalkan dunia ini, kami berharap bisa menemukan ahli warisnya"
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan seseorang yakni Tok kun Dewa racun Yu Hoa yang
sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan Thian che kau, mungkinkah dia ahli waris yang
dimaksudkan?
"Aaah,. asal persoalan ini kutanyakan kepada engkoh tua pengemis dari selatan urusan pasti
akan beres" pikirnya dihati.
Diapun tidak mengungkapkan jalan pikirannya itu, hanya ucapnya dengan hambar:
"Kalau toh di dunia ada manusia yang bernama Ban tok cousu, rasanya tidak sulit untuk
menemukan ahli warisnya. ooh iya apakah kalian mengetahui keanehan serta kemisteriusan
apakah yang telah menyelimuti lembah kematian ini sehingga suasananya seram ini?"
Dengan penuh rasa hormat siluman hitam menerangkan.
"Disekitar mulut lembah kematian tumbuh sejenis rumput beracun yang tiada taranya dikolong
langit, rumput itu bernama sip poh Pak kut cau (rumput sepuluh langkah tulang putih) sampai
dimanapun kepandaian silat yang kau miliki bila rumput itu tersentuh maka sepuluh langkah
kemudian tubuhnya akan hancur.
JILID30 HAL. 34/35 HI LANG
"ouyang cianpwe juga sangat lihay dalam ilmu meramal, dia memiliki kemampuan untuk
meramalkan kejadian yang akan datang, ketika kami berdua masuk kedalam lembah ini, untuk
pertama kalinya beliau telah meramalkan bahwa lime puluh tahun kemudian kami berdua bakal
ditolong oleh orang pertama yang memasuki lembah ini dan selanjutnya muncul kembali dalam
dunia persilatan oleh sebab rahasia itu maka kami berdua lantas bersumpah akan menganggap
orang pertama yang memasuki lembah ini adalah majikan kami" Han siong Kie berdiri tertegun
sesudah mendengar keterangan itu, pikirnya:
"Kalau toh owyang Beng memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang,
kenapa ia tak dapat meramalkan kalau orang pertama yang akan masuk kedalam lembah ini
sebenarnya tak lain adalah musuh bebuyutan dari benteng maut?" Belum habis dia berpikir tiba2
siluman hitam telah berseru lagi dengan lantang:
"ooooh ya hampir saja kelupaan, sebelum menutup diri tempo hari, ouyang cianpwe telah
meninggalkan secarik kertas yang katanya kertas itu harus di serahkan kepada orang pertama
yang memasuki lembah ini. Dan orang yang dimaksudkan itu pastilah majikan"
Habis berkata dia lantas masuk kedalam gua batu yang ada di sebelah kanan, selang sesaat
kemudian dia telah muncul kembali sambil membawa secarik kertas kuning.
Dengan sikap yang sangat hormat kertas kuning itu lantas diangsurkan ketangan Han siong Kie.
Berdebar juga hati sianak muda itu menerima kertas kuning itu, dengan jantung yang berdetak
keras dia membuka lipatan kain kuning itu dan membaca isinya.
Ternyata isi kertas ini hanya beberapa bait kata yang sama sekali tak diketahui makna artinya:
"Tipu muslihat banyak didunia, bencana timbul karena saudara yang tak akur. Disaat dendam
tertera nyata, disanalah penghianat terbasmi lenyap"
Han siong Kie termasuk seorang pemuda yang cerdas dan berotak encer, tapi meskipun ia
sudah berulang kali mengulangi kata2 dari syair tersebut, toh tak berhasil juga memecahkan arti
kata2nya itu.
Andaikata keempat bait syair tersebut benar2 memang dibuat oleh ouyang Beng pemilik
benteng maut yang pertama khusus untuk dirinya, maka bait yang pertama tak perlu diterangkan
sudah jelas artinya.
Kemudian pada bait kedua dikatakan Bencana timbul karena saudara yang tak akur, dari sini
menunjukkan bahwa bencana yang sedang berlangsung sekarang timbulnya dari dua bersaudara
yang kurang akur hubungannya satu sama lain, lalu siapakah yang dtmaksudkan sebagai saudara
yang tidak akur itu ?
Pada bait ketiga dikatakan Disaat dendam tertera nyata padahal pada saat ini dia sudah tahu
bahwa musuh besarnya adalah tengkorak maut, apanya lagi yang kurang nyata ?"
Kemudian pada bait yang terakhir digunakan kata pengkhianat siapakah penghianat tersebut ?
Teka teki, suatu teka teki yang susah untuk dipecahkan.
Mereka tak dapat menyelusuri makna dari bait syair tersebut, terpaksa Han siong Kie
menyimpan kembali kertas kuning itu kedalam sakunya dengan suara agak emosi dia bertanya:
"Benarkah tulisan ini ditinggalkan owyang Beng pada lima puluh tahun berselang?"
siluman hitam mengangguk.
"Betul majikan sejak menutup diri pada lima puluh tahun berselang beliau tak pernah
munculkan diri lagi dari tempat pertapaannya itu"
"Apakah dia mengasingkan diri dalam dinding bukit ini"
"Apakah majikan ingin-.."
"Benar, aku ingin sekali berjumpa muka dengan dia orang tua"
"Dinding tebing ini hampir boleh dibilang tegak lurus dan curam sekali, jangankan manusia
monyetpun tak mampu untuk memanjatnya, lagipula kita toh tak tahu dimanakah owyang cianpwe
mengasingkan diri, kejadian tersebut sudah terjadi setengah abad lamanya, siapa tahu beliau
sudah pulang ke alam baka"
"Betul juga perkataan ini" pikir Han siong Kie di dalam hati, "toh aku tak ada kepentingan apa2
untuk menjumpainya, buat apa musti bersusah payah ?" Maka diapun alihkan pokok pembicaraan
kesoal lain-lainnya.
"Apakah kalian berdua sudah bulatkan tekad untuk mengangkat aku sebagai Majikan mu"
"sumpah yang telah kami lakukan tak akan kami ingkari kembali" jawab sepasang siluman putih
hitam bersama .
"Aku boleh sama membawa kalian keluar dari lembah ini, tapi kalian tak usah menyebut begitu
kepadaku, aku anggap saja diriku ini adalah sobat kalian ?"
"Tidak sumpah yang telah diucapkan tak boleh diingkari lagi" jawab, kedua orang itu tegas.
"seandainya aku tidak bersedia lantas bagaimana ?" tanya Han siong Kie tiba2. sepasang
siluman hitam putih tertegun, lama sekali siluman hitam baru berkata.
"Kalau memang demikian adanya, itu berarti kami berdua sudah tak punya muka untuk muncul
kembali dalam dunia persilatan, daripada hidup menanggung derita, lebih baik membereskan
nyawa sendiri saja"
Agak lama Han siong Kie termenung, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, lalu
diapun berkata:
"Begini saja, kalau aku disebut majikan... majikan.. geli rasanya hatiku, maka biarlah aku
mengambil jalan tengah, mulai hari ini kalian akan kuterima sebagai anggota perguruan Thian
lam, dan kalian sebut aku sebagai ciangbunjin, bukankah hal ini lebih enak di dengar??"
Buru2 sepasang siluman Hitam dan Putih jatuhkan diri berlutut keatas tanah.
"Tecu menghunjuk hormat buat ciangbunjin" seru mereka hampir berbareng.
"Bangunlah, setelah keluar dari lembah ini aku akan berusaha keras untuk memunahkan racun
Gi hang tot ko yang bersarang ditubuh kalian, setelah raut wajah kalian pulih kembali seperti sedia
kala maka kalian berduapun bisa memenuhi perintah dari mendiang guru kalian "
"Terima kasih atas bantuan cianbunjin" sahut kedua orang siluman itu setelah memberi hormat
merekapun bangkit berdiri
sekarang Han siong Kie baru teringat akan tujuan kedatangannya ketempat itu, sesudah
memeriksa sebentar kedalam goa itu katanya.
"Aku membutuhkan sebuah ruang yang bagus untuk mempelajari ilmu kepandaian, setelah itu
maka kitapun akan meninggalkan tempat ini"
"Ciangbunjin"" ujar siluman putih "tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah gua alam yang
bersih dan tenang, biarlah tecu pergi membereskan gua itu"
"Baik pergilah cepat"
selang beberapa saat kemudian siluman putih telah muncul kembali didalam gua tersebut
katanya:
"silahkan ciangbunjin menuju kedalam goa itu, makanan dan minuman setiap hari tecu akan
mengaturnya buat ciangbunjin"
Dengan penuh rasa haru dan berterima kasih Han siong Kie memandang sekejap kearah
sepasang siluman itu kemudian diapun melangkah keluar dari goa itu.
Benar juga, kurang lebih sepuluh kaki dari gua tersebut terdapat sebuah goa lain yang terdiri
dari batu2 cadas berwarna putih, setelah lima kaki memasuki goa tersebut, luas goa itu mencapai
tiga kaki lebih, tempat itu memang merupakan sebuah tempat berlatih silat yang paling ideal.
Setelah sepasang siluman hitam putih minta diri, dari sakunya Han siong Kie mengambil keluar
sarung tangan Hud jiu popit dan mulai memeriksanya dengan teliti.
setelah itu pelajaran yang tertera disana mulai dibaca, diteliti, diamati dan diselami artinya.
Dalam waktu singkat semua konsentrasi dan pikirannya telah terpusat menjadi satu, ia lupa
akan segala2nya kecuali mempelajari dan menyelami arti dari pelajaran yang didapatkan itu.
Waktu berlalu dengan cepatnya, baberapa hari sudah lewat tanpa terasa.
selama ini kadang kala tiga lima hari
JILID 30 HAL. 44 S/D 47 HILANG
itu termangu2, akhirnya dengan penuh emosi mereka berseru:
"Ciangbunjin, boleh kah kami tahu apakah hari ini juga kita akan tinggalkan lembah ini?"
Han siong Kie mengangguk.
"Betul dan kalian berdua boleh segera membereskan barang2 milik kamu berdua, sekarang
juga kita akan keluar dari lembah ini"
sudah lima puluh tahun sepasang siluman itu terkurung dalam lembah tersebut, bisa
dibayangkan betapa gembiranya dua orang itu setelah akan muncul kembali dalam dunia
persilatan, tanpa banyak bicara lagi mereka kabur kembali kedalam guanya dengan wajah berseri.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata yang tajam mengawasi keadaan disekitar tempat itu,
lalu dia melompat naik ke atas sebuah dinding cadas yang besar dan tingginya mencapai sepuluh
kaki lebih, dengan bacokan telapak tangannya ia membuat sebuah lubang diatas batu tersebut,
kemudian memasukkan sarung tangan Hud jiu popit ke dalam lubang batu tadi dan setelah itu
batu cadas yang amat besar itu didorong menempel diatas dinding bukit dan menutupi bagian
yang berlubang tadi..
Dengan begitu, maka benda mustika dunia persilatanpun tersimpan untuk selamanya dalam
sebuah batu cadas raksasa yang amat besar dan berat itu, siapapun jangan harap bisa
mendapatkannya kembali.
sementara itu sepasang siluman juga sudah selesai bebenah, mereka masuk gua tempat
tinggainya selama ini, dan dengan membekal senjata andalan mereka dimasa lalu, buru2
menghampiri pemuda tersebut.
sementara itu Han siong Kie sedang memandang ujung lembah itu dengan sorot mata setajam
sembilu. katanya kemudian dengan suara dingin:
"Setelah keluar dari lembah ini, kita akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran"
"Melakukan pembunuhan?" tanya sepasang siluman dengan wajah tertegun.
"Benar, sewaktu hendak masuk lembah ini, aku telah melangsungkan pertarungan melawan
tokoh2 sakti dari perkumpulan Thian che kau, salah seorang diantara mereka yang dinamakan
utusan Thian che kau telah mampus dalam lembah ini, bila dugaanku tidak meleset, sudah pasti
mereka telah mengurung mulut lembah ini sambil menunggu kemunculanku"
JILID 30 HAL. 50/51 HILANG
Jago2 lihaynya untuk menyumbat mulut lembah tersebut, padahal sudah tiga bulan lamanya ia
berdiam dalam lembah kematian untuk mempelajari si mi sinkang yang tercantum dalam Hud jiu
popit dan sekarang terbukti bahwa musuhpun melakukan patroli selama tiga bulan disekitar
perbatasan, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa musuh memang tidak berhasrat untuk
melepaskan dirinya.
Dalam pada itu ke dua belas orang laki2 baju hitam itu telah berhasil melihat jelas keadaan
lawannya, tiba2 mereka menunjukkan wajah tercengang, kaget dan ngeri, tanpa disadari
beberapa orang itu telah mundur beberapa langkah kebelakang.
Kiranya mereka telah menyaksikan makhluk setengah manusia setengah setan yang berada di
belekang Han siong Kie, yakni Hek pek siang yu yang menyeramkan itu.
sebagai mana diketahui Hek pek-siang yu memiliki tampang yang mengerikan sekali, siapapun
yang melihat tampang itu niscaya akan bergidik dan ketakutan setengah mati.
setelah mundur sampai beberapa kaki jauhnya, kedua belas orang laki2 baju hitam itu baru
berhenti mundur, salah seorang di antaranya lantas bersuit nyaring, suitan tersebut panjang,
tajam dan menjulang jauh ke udara.
Hek pek siang yu menunjukkan sikap menghina, tiba2 mereka bertanya dengan suara dalam:
" Ciangbunjin, kawanan tikus dan kacoak ini berasal dari aliran atau perguruan mana?"
"Mereka ? siapa lagi kalau bukan anak buah dari perkumpulan Thian che kau??"
"Apa maksud mereka menunggu disini?? "
"Apa lagi? Tentu saja menunggu kemunculanku"
"Jadi kawanan manusia ini juga yang selama ini mengejar dan menyerang Ciangbunjin?"
Han siong Kie tidak menjawab, tapi dia mengangguk.
sepasang siluman hitam dan putih segera mendengus dingin, siluman hitam menyingkir
kesamping dan memberi hormat, katanya:
"ciangbunjin, berilah petunjuk kepada hamba bagaimana caranya kita harus selesaikan
kawanan babi itu?"
"Bunuh sampai ludas" jawab Han siong Kie ketus.
Ucapan tersebut ibarat bunyi terompet malaikat elmaut yang hendak mencabut nyawa
manusia, tanpa disadari dua belas orang laki2 baju hitam itu bergidik dan mengucurkan peluh
dingin, pedang mereka dipegang semakin erat, bahkan kelihatan bergetar keras, jelas orang2 itu
sudah siap melancarkan serangan.
sepasang malaikat hitam putih menjengek sinis, tiba2 mereka membentak nyaring kemudian
menerjang kearah gerombolan manusia itu.
Perlu diketahui dua belas orang laki2 baju hitam itu adalah jago2 kelas dua dalam perkumpulan
Thian che kau, mungkin nama mereka cemerlang dan disegani orang dalam dunia persilatan maka
mereka diutus untuk melakukan patroli di sepanjang perbatasan antara mati dan hidup,
Tapi sekarang, tatkala dilihatnya dua orang makhluk aneh hitam dan putih itu menerjang tiba,
serentak mereka saling berpandangan kemudian menyebarkan diri ke empat penjuru sambil
berteriak mereka putar senjata dan menyambut tibanya serangan "Haahhh haaaahh haaahhh"
"Hiiiihhh hiiiihhh hiiiihhh"
Ditengah gelak tertawa aneh yang satu keras dan yang lain lembut sepasang manusia hitam
putih telah menerkam kedalam lapisan pedang dan menyambar musuh2nya.
Jerit kesakitan, dengusan berat menjelang sekarat berkumandang dlangkasa men-cabik2
kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu.
Hancuran badan ceceran darah berhamburan menodai perrmukaan tanah, keadaan disaat itu
benar2 mengerikan-
Tapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama hanya sebentar tak sampai seperminum teh
suasana pulih kembali dalam keheningan-
Tiada manusia yang hidup lagi disitu, kecuali Han siong Kie bertiga, dua belas orang lelaki
perkasa itu kini sudah berubah adi mayat, mayat2 yang tak utuh dan berlepotan darah kental.
Hanya dalam beberapa gebrakan Hek pek-siang yu telah membereskan dua belas orang jago
Thian che kau, kelihayan tersebut cukup mengagumkan, diam2 Han siong Kie menggukkan
kepalanya berulang kali.
00d00000w00
BAB 63
SELESAI membereskan kedua belas orang musuhnya, sepasang siluman hitam putih berjalan
kembali kehadapan Han siong Kie, kemudian berkata: " Ciangbunjin, tecu berdua telah
menyelesaikan tugas ini dengan sempurna"
"Bagus" puji si anak muda itu, "mari kita tinggalkan tempat."
Ucapan itu belum habis diucapkan tiba2 dari depan sana muncul tiga sosok bayangan manusia,
cepat sekali gerak tubuh ketiga orang itu.
Han siong Kie lantas membatalkan perkataannya dengan pandangan setajam sembilu dia awasi
orang2 tersebut.
Kiranya orang yang baru datang adalah san tianjin (telapak tangan kilat) se bun Lui, salah
seorang diantara utusan Thian che kau didampingi dua orang kakek jubah hitam.
setibanya ditempat kejadian ketiga orang itu memandang sekejap mayat yang bergelimpangan
ditanah lalu berseru kaget, enam buah sorot mata secepat kilat dialihkan ke wajah Han siong Kie
bertiga.
Tatkala sinar mata mereka bertemu pandang dengan Hek pek siang yu untuk kesekian kalinya
tiga orang kakek jubah hitam itu menjerit tertahan, pucat pias wajah mereka.
Tampang aneh dari Hek pek siang yu tiada keduanya didunia ini, meskipun mereka adalah
gembong2 iblis yang sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, namun dalam sekilas
pandangan saja baik se bun Lui maupun dua orang kakek lantas mengetahui siapa gerangan
mereka itu.
Hek pek-siang yu yang disegani dan ditakuti orang ternyata masih hidup didunia bahkan berada
dalam satu rombongan dengan Han siong Kie, peristiwa ini benar2 diluar dugaan dan mengejutkan
hati siapa pun juga.
selain itu merekapun heran bahwa Han siong Kie berhasil keluar dari lembah kematian dalam
keadaan hidup walaupun sudah tiga bulan lamanya tak muncul kembali dari situ.
JILID30 HAL. 58/59 HILANG
bermaksud untuk melakukan pengejaran sesudah termenung dan berpikir sejenak, akhirnya
kepada sepasang siluman itu dia berkata: "Hayo, kitapun pergi dari sini "
Dengan gerakan cepat ia lantas berangkat lebih dulu tinggalkan tempat tersebut, Hek pek siang
yu juga tidak mengatakan apa2, dengan cepat mereka bertiga sudah jauh meninggalkan tempat
semula, mulut lembah nampak nun jauh didepan sana.
sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan seorang manusiapun, suasana hening, sepi
dan tak nampak seorang manusiapun.
setelah berhasil dengan ilmu saktinya, Han siong Kie tidak memikirkan soal2 yang lain, hanya
satu menjadi beban ingatannya selama ini yakni menuju kebenteng maut untuk membalas
dendam.
Tiga li kemudian mereka akan tiba di mulut lembah tersebut, disaat itulah mendadak terdengar
seseorang membentak keras, suaranya nyaring ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari
bolong.
"Berhenti"
Han siong Kie terperanjat, cepat dia hentikan gerak tubuhnya, ia tak tahu suara itu berasal dari
balik hutan lebat kurang lebih sepuluh kaki disisi kanannya.
Hek Pek siang yu tak dapat mengerem gerak tubuhnya yang terlanjur bergerak cepat itu,
mereka harus berlarian tiga kaki lagi sebelum berhasil mengendalikan tubuhnya dan berhenti.
"siapa?" bentak Han siong Kie kemudian dengan suara dingin.
"Aku nak. jangan gugup" sahut orang itu.
Han siong Kie semakin terperanjat, sebelum ia sempat berbuat sesuatu ibarat peluru yang
meluncur kedepan, tahu2 sepasang siluman hitam putih sudah melayang kearah mana berasalnya
suara itu.
Pelbagai ingatan dengan cepat melintas dalam benak sianak muda itu, cepat ia memburu pula
kedepan kearah mana berasalnya suara itu.
sesosok bayangan manusia tiba2 menyongsong datang dengan cepatnya karena sama sekali
tidak menduga, hampir saja saling bertumbukan satu sama lainnya
Ditengah jeritan kaget dari kedua belah pihak. orang itu melayang turun keatas permukaan
sementara Han siong Kie sendiripun cepat menahan gerakan tubuhnya.
orang itu ialah seorang perempuan, bahkan seorang perempuan berkerudung hitam meskipun
tak dapat dilihat bagaimanakah raut wajahnya, tapi Han siong Kie tahu siapakah dia.
Dalam pada itu Hek pek siang yu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah melayang
pula kedalam gelanggang, begitu mencapai tempat tersebut, serentak mereka menerjang
perempuan berkerudung itu.
42
"Mundur... jangan gegabah" bentak Han Siong Kie tiba2 dengan suara lantang.
Sepasang siluman hitam putih tercengang, cepat mereka tarik kembali serangannya dan
mundur sejauh tiga kaki dari tempat semula, dengan pandangan keheranan ditatapnya pemuda itu
tak berkedip.
"cianpwe" " kata Han Siong Kie kemudian sambil memberi hormat kepada perempuan
berkerudung itu, "maafkanlah kekasaran serta kecerobohan beanpwee"
Siapa gerangan perempuan berkerudung itu ? Dia tak lain adalah manusia misterius yang
menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma.
Tatkala mendengar suara bentakan tadi, rupanya Han siong Kie sudah tahu bahwa ia sedang
berhadapan dengan orang yang kehilangan sukma, tapi berhubung dia ingin mengetahui raut
wajah asli dari perempuan misterius itu, maka bukan saja tidak mencegah sepasang siluman untuk
menerjang ke muka, malahan dia sendiripun menyergap masuk kedalam hutan dengan
mengerahkan dua belas bagian hawa saktinya.
Dan kala ini tujuannya tercapai, perempuan misterius yang bernama orang yang kehilangan
sukma itu tak sempat menyembunyikan diri lagi.
Tapi pemuda itu merasa kecewa, sebab perempuan itu menutupi wajahnya dengan kain
kerudung hitam, akhirnya toh ia tak berhasil juga untuk melihat paras muka dari perempuan
misterius itu.
Sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata dengan lembut:
"Nak. rupanya Thian selalu melindungi engkau, akhirnya kau bisa keluar dari lembah kematian
dengan selamat"
"Terima kasih atas perhatian dari cianpwe" "sahut pemuda itu cepat-cepat.
selama mulutnya berbicara sorot matanya yang tajam mengawasi potongan badan orang yang
kehilangan sukma tanpa berkedip. diam-diam ia merasa amat kenal dengan potongan tubuh
perempuan ini, hanya ia lupa dimanakah ia pernah bertemu dengannya.
Ketika sinar matanya beralih kearah lengan baju kanannya, ia bergetar keras seperti kena listrik
tubuhnya gemetar menahan emosi:
" Itulah pengorbanan dari orang yang kehilangan sukma untuk membebaskan totokan jalan
darah pada tubuhnya, dia telah mengorbankan lengan kanannya dan lengan tersebut hingga
sekarang masih tersimpan di sakunya.
JILID 31 HAL.04 S/D 5 HILANG
lembah, carilah jalan keluar yang lain dan segeralah engkau tinggaikan tempat ini"
"sayang sudah terlambat" tiba2 serentetan suara dingin menyeramkan membelah kesunyian.
sekujur badan orang kehilangan sukma gemetar keras, secara beruntun dia mundur beberapa
langkah lebar kebelakang.
Rasa kejut yang dialami Han siong Kie pun sukar dilukiskan dengan kata2, ia percaya tenaga
dalamnya pada saat ini sangat lihay, tapi kenyataannya ada orang berhasil mendekat wilayah
sekitar lima kaki dari tempat mereka beradapun tidak dirasakan olehnya, dari sini dapat ditarik
kesimpulan sampai dimanakah kelihayan musuhnya itu.
Hek Pek siang yau sepasang siluman hitam putih juga sudah menyadari akan kelihayan
musuhnya, mereka lantas bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Dari balik popohonan lima kaki dari gelanggang, muncul tiga sosok bayangan manusia, orang
pertama adalah seorang manusia aneh berkerudung hijau, dia adalah Thian Che kaucu,
dibelakangnya mengikuti dua orang kakek jubah hitam yang mempunyai sulaman matahari,
rembulan dan bintang didadanya, salah seorang diantaranya adalah Tangan kilat see bun Lui.
Paras muka Han siong Kie berubah hebat, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya.
sikap orang yang kehilangan sukmapun amat serius, dengan suara lirih dia berbisik kepada Han
siong Kie:
"Manusia berkerudung itu adalah pemimpin dari Utusan Thian che kau, orang sebut dirinya
sebagai Cian jiu mo ong (raja iblis bertangan seribu) Tong ciao, selama ini dialah yang selalu
menyaru sebagai ketua. Hari ini, ketiga orang itu jangan sekali-kali kau lepaskan dalam keadaan
hidup, sebab bila seorang saja diantara mereka masih hidup, maka akibatnya sukar dilukiskan
dengan kata-kata" Han siong Ki mengangguk dan memberikan kesanggupannya.
Dalam pada itu, raja iblis bertangan seribu Tong ciau sudah berpaling kearah orang yang
kehilangan sukma, kemudian sambil tertawa seram ejeknya:
"Heeehhh . . heeehhh . . heeehhh. .Aku mengira siapa yang berada disini, tak tahunya adalah
kau"
Ucapan tersebut membuat Han siong Kiejadi tertegun dia lantas berpikir dihati:
"Masakah orang yang kehilangan sukma adalah anggota perkumpulan Thian che kau? Kalau
tidak kenapa orang ini mengenalinya ?"
Sementara itu orang yang kehilangan sukma telah membentak nyaring: "Tutup mutut
anjingmu"
Jelas sekali maksudnya dia tidak mengharapkan orang itu meneruskan kata-katanya lebih jauh.
Kepada Han siong Kie kembali dia berbisik,
"Ingat, jangan biarkan mereka tetap hidup, akan kubantu dirimu secara diam-diam" selesai
berkata dia lantas melejit keudara dan kabur dari tempat kejadian.
"Mau lari kemana kau ?" bentak Raja iblis bertangan seribu Teng Ciau dengan keras, secepat
kilat ia menerkam kemuka.
Han siong Kie mendengus dingin, tubuhnya bergeser setengah langkah ke samping lalu
melepaskan sebuah pukulan gencar, dalam serangan tersebut dia telah sertakan hawa sakti si mi
sinkang yang di milikinya, bukan saja tidak menimbulkan suara kekuatannya sangat mengerikan-
"Blaaang" suatu benturan nyaring menggelegar diangkasa, raja iblis bertangan seribu Teng ciau
yang sedang melakukan pengejaran segera terpental hingga mencelat sejauh delapan depa dari
tempat semula.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah, orang yang kehilangan sukma melarikan diri
dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan-
Kejadian ini sangat mengejutkan dua orang utusan Thian che kau yang lain, hampir saja
mereka menjerit kaget.
selama hidup belum pernah mereka saksikan kemampuan sedahsyat itu, dan mimpipun mereka
tak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki pemimpin utusan Thian che kaupun ternyata
pemuda itu tak mampu dihajar sampai menceat.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata setajam sembilu mengawasi manusia berkerudung itu
tanpa berkedip. mukanya seram dan penuh diliputi hawa napsu membunuh mengerikan sekali
keadaannya.
JILID 31 HAL. 12/13 HILANG
sukma bagaikan menghormati orang tua sendiri ketika didengar pihak musuh memaki orang
yang dihormati sebagai perempuan hina, kontan saja ia naik pitam.
"Tutup mulut anjingmu yang baur bentaknya, "Teng ciao tempat inilah tulang belulang kamu
bertiga akan terkubur untuk selamanya "
"Anjing cilik, kematian sudah berada didepan mata, buat apa engkau masih saja mengibul
seenaknya ?" ejek Tangan kilat se bun Lui tak kalah sengitnya.
Han siong Kie tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, dia ulapkan tangannya kepada
Hekpek siang yu lalu, serunya:
" Hantar kedua ekor anjing ini pulang keakherat, jangan biarkan mereka tetap hidup dikolong
langit "
Dengan sikap yang sangat hormat sepasang siluman mengiakan tanpa banyak bicara lagi
mereka menerjang dua orang utusan Thian che kau itu.
siluman hitam menerkam si Tangan kilat se bun Lui, sementara siluman putih menerjang
utusan Thian che kau yang lain-
Han siong Kie sendiri dengan wajah sedingin es menghampiri Raja iblis bertangan seribu,
katanya:
"Teng ciao sudah terlampau lama engkau mencicipi kehidupan didunia ini, sekarang pun
ciangbunjin akan mengirim kau untuk berpesiar keakhirat, Nah berangkatlah sekarang juga"
seraya berkata selangkah demi selangkah ia menghampiri lawannya. Suatu pertarungan sengitpun
segera berkobar dalam gelanggang.
Ilmu silat yang dimiliki dua orang utusan Thian che kau itu, memang sangat lihay, dalam
keadaan terdesak mereka harus melangsungkan pertarungan adu jiwa yang mengerikan-
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau adalah pengganti dari Thian che kaucu, tentu saja tenaga
dalamnya amat sempurna, dia hanya kalah setingkat dari kaucu sendiri
Tatkala Han siong Kie menerjang masuk kewilayah Lian huan tau dan menolong Go siau bi,
kedua belah pihak pernah terlibat dalam suatu pertempuran sengit waktu itu, kendatipun Han
siong Kie dan Go siau bi sudah bekerja sama toh bukan tandingannya juga, maka ia sama sekali
tak memandang sebelah matapun kepada musuhnya.
selama ini dia hanya menguatirkan Pertarungan dari Hekpek siang yu, seorang gembong iblis
yang sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari keramaian dunia, setelah melihat bagaimana dua
orang jago yang disegani itu bertarung melawan dua orang rekannya, diapun setengah menjadi
lega. kini dia lupa untuk mengejar orang yang kehilangan sukma, memandang Han siong Kie yang
makin mendekat, gembong iblis tersebut lantas tertawa seram, katanya:
"Manusia bermuka dingin, masih mengharapkan tidak untuk melanjutkan keturunan dan
kejayaan dari Mo tiong ci mo?"
Han siong Kie menghentikan langkahnya lalu menjawab:
"Teng ciau, tak tak usah mempersoalkan yang lain, ketahuilah... jika Thian che kaucu masih
bersembunyi terus macam kura-kura, maka manusia-manusia pengganti macam engkaulah yang
bakal sial, sebab ini hari engkau sudah pasti akan berangkat menuju ke akherat"
Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan, secepat kilat dia melancarkan tiga buah pukulan
berantai ke depansekilas
pandangan, ketiga buah serangan tersebut sama sekali tidak nampak lihay ataupun
mengerikan, tapi justru dibalik kelembutan itu terselip hawa sakti si mi sinkang yang memiliki daya
penghancur, bukan begitu saja, bahkan kecepatannya melebihi apa pun juga.
Raja iblis bertangan seribu Tong cian sedikitpun tidak jeri, telapak tangannya lantas disilangkan
didepan dada dan menangkis semua ancaman yang tiba. "Biang Blaang Blaaang " Tiga kali
benturan dahsyat menggelegar diangkasa.
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau tergetar keras dan mundur tiga langkah, rasa kejutnya
kian menjadi, dia tak menyangka hanya berpisah beberapa bulan, ternyata kekuatan tenaga yang
dimiliki musuhnya sudah meningkat sehebat itu.
Padahal ia sendiri disebut orang Raja iblis bertangan seribu, tentu saja tenaga dalam yang
dimilikinya amat sempurna, ia jadi penasaran, begitu terdesak secepat kilat ia menerkam lagi
kemuka dan secara beruntun melancarkan empat puluh delapan buah pukulan berantai.
Ke empat puluh delapan buah pukulan itu dilancarkan secara berantai, diatas
JILID 31 HAL. 18/19 HILANG
kan tandingan baginya, sungguh tak nyana baru tiga gebrakan dia sudah jatuh kecundang di
tangan Manusia bermuka dingin yang berusia dua puluh tahunan, kejadian ini segera
menimbulkan kembali sifat buasnya.
sambil membentak keras, sekali lagi ia menerjang kemuka, serangan demi serangan
dilancarkan secara bertubi-tubi, mengerikan sekali ancamannya itu.
Han siong Kie sama sekali tidak gentar, dia kembangkan permainan Mo mo ciang hoat dan
membalas serangan lawan deagaa serangan pula.
Mengerikan sekali pertarungan waktu itu, kedua belah pihak sama-sama mengeluarkan
segenap ilmu simpanan yang dimiliki, siapa pun berharap bisa menghancurkan lawannya secepat
mungkin.
Suatu ketika, mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang membelah angkasa.
si Tangan sakti se bun Lui yang hebat tak mampu menghindari sebuah sergapan kilat dari
siluman hitam, tubuhnya kontan terbacok telak dan hancurlah tubuhnya menjadi remuk seperti
berkedel, darah segar berceceran menodai permukaan tanah.
Melihat rekannya tewas, utusan Thian vhe kau yang lain jadi gugup, permainan serangannya
jadi kacau balau tak karuan-
Kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan oleh siluman putih, suatu cengkeraman kilat
berhasil menangkap bahunya, baju berikut dagingnya lantas dicomot sampai hancur sepanjang
setengah depa, darah segar bagaikan pancuran mengucur keluar tiada hentinya.
00dw00
BAB 64
BERHASIL dengan serangan yang pertama, siluman putih tidak berdiam diri sampai disitu saja,
secara beruntun dia melontarkan kembali tiga buah pukulan berantai.
Begitu tiga pukulan itu dilepaskan, untuk kesekian kalinya jerit kesakitan berkumandang
memecahkan kesunyian, sambil muntah darah segar utusan Thian che kau itu mencelat sejauh
satu kaki lebih dan tidak bangun untuk selamanya.
Raja iblis bertangan seribu Tong ciau merasa terkejut dan panik, dalam gugupnya secara
beruntun dia lepaskan beberapa buah pukulan kilat begitu Han siong Kie terdesak hebat, ia lantas
melejit dan siap melarikan diri
"Mau kabur ?" jengek Han siong Kie, "jangan mimpi hayo serahkan dulu jiwa anjingmu"
sekali berkelebat ia sudah menghadang jalan pergi raja iblis bertangan seribu itu, secara
beruntun dia lepaskan lima buah serangan berantai.
Melihat gelagat tidak menguntungkan- raja iblis bertangan seribu tak berani gegabah lagi,
timbullah niat untuk mengadu iiwa, maka tatkala serangan musuh melanda datang, bukannya
berkelit dia malahan menyongsong datangnya pukulan itu dengan pukulan.
selama pertempuran berlangsung, Han siong Kie tak bisa bertarung dengan hati lega, karena ia
kuatir kalau dua orang musuh yang sedang bertempur melawan Hek pek siang yu berhasil kabur,
ia kuatir dengan peringatan dari orang yang kehilangan sukma dimana dikatakan bila seseorang
diantara mereka berhasil kabur maka akibatnya sukar dibayangkan-
Tapi sekarang, setelah dua orang yang di kuatirkan berhasil dibikin mampus oleh sepasang
siluman, iapun tidak kuatir lagi, segenap perhatian dan tenaganya dihimpun menjadi satu untuk
melakukan sergapan sergapan maut. Lima gebrakan kemudian, Raja iblis bertangan seribu sudah
dibikin kalang
JILID 31 HAL. 24 S/D 27 HILANG
ia masih berada disini:.. aaai sukarlah untuk diketahui siapa yang bakal hidup dan siapa yang
bakal mati"
"Aaah belum tentu begitul" seru Han siong Kie dengan cepat.
"sekarang engkau adalah seorang ketua dari suatu perguruan, sebelum dendam sakit hatimu
terbalas setiap persoalan yang kau hadapi harus dipikirkan dengan otak dingin, janganlah terlalu
memburu napsu, ketahuilah ilmu silat ibaratnya samudra yang luas, dimanapun ada orang-orang
pintar yang tersembunyi, jangan disebabkan oleh luapan emosi mengakibatkan segala sesuatunya
menjadi berantakan"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan
terbata:
"Setiap nasehat dari cianpwe akan boanpwe dengarkan baik-baik, untuk selanjutnya tat akan
kulupakan lagi"
"Aaah sekarang cepatlah keluar dari lembah ini, aku kuatir bila terlambat maka akan terjadi halhal
yang tak diinginkan"
"Bukankan cianpwe lelah mengatakah bahwa disekitar mulut lembah telah ditanam obat
peledak seberat sepuluh laksa kati"
"Benar, tapi sekarang pemimpin mereka yang merupakan ketiga orang tadi sudah mati semua,
sisanya tak perlu kita takuti lagi, mesti kita bergerak dengan bersembunyi dibalik pepohonan, aku
rasa untuk sementara waktu kita masih bisa mengelabuhi mereka sebab yang tersisa cuma jagojago
kelas kambing. Kendatipun akhirnya jejak kalian berhasil ditemukan, toh pada waktu itu
kalian sudah berada disekitar mulut lembah dan wilayah yang ditanam obat peledakpun sudah
dilampaui, aku percaya dengan kemampuan ya kalian miliki tak sukar untuk kabur dari sini, Nah,
selamat jalan dan semoga berhasil"
Selesai dengan kata-katanya, orang yang kehilangan sukma lantas berkelebat masuk ke hutan
dan lenyap dibalik pepohonan yang rindang.
Dengan termangu- mangu Han Siong Kie mengawasi bayangan punggungnya yang lenyap dari
pandangan, dia menghela nafas panjang, lalu berpikir:
"Budi kebaikan yang kuterima selama ini entah sudah berapa banyak. aai, entah bagaimana
caraku untuk membalas budi kebaikannya ini?
Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, akhirnya sambil mengulapkan tangannya kepada
sepasang siluman ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya menerjang ke arah mulut lembah.
selang sesaat kemudian, mulut lembah itu sudah berada didepan mata, pepohonan yang
rindangpun sudah mencapai pada ujungnya.
Ketika mereka berada kurang lebih lima puluh kaki dari mulut lembah, serentak Han siong Kie
menancap gas dan kabur lebih cepat lagi, kepada dua orang siluman itu serunya: "Hayo kita
terjang keluar dari lembah ini secepat-cepatnya..."
Tiga sosok bayangan manusia bagaikan tiga gulung asap dengan cepatnya meluncur kearah
mulut lembah. suitan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian disusul dari belakang
mereka bergelegar suara ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.
Pasir dan batu mencelat jauh keudara, asap hitam tanah longsor berguguran disekitar tempat
itu membuat suasana ketika itu benar-benar mengerikan sekali.
Akhirnya meledak juga obat yang ditanam disekitar mulut lembah, tapi sayang terlambat
setengah langkah, Han siong Kie sudah lolos dari lingkaran bahan peledak itu.
Keadaan mulut lembah itu porak poranda keadaannya mengerikan sekali, batu cadas sebesar
gunung dan pasir berjuta-juta meter kubik berguguran kebawah dan menyambar semua lapisan
tanah disekitar situ.
Baik Han siong Kie maupun Hekpek siang yau saling berpandangan sekejap dengan mulut
melongo bergidik hati mereka, andaikata orang yang kehilangan sukma tidak memberi peringatan
lebih dahulu, niscaya mereka bertiga sudah hancur entah berwujud apa.
Bisa dibayangkan betapa gusar dan dendamnya siluman hitam menyaksikan keadaan itu, ia
berpaling ke arah pemuda kita lalu berseru: "Ciangbunjin, hutang ini...."
"Hutang kita kepada mereka tidak terbatas hanya peristiwa ini saja" tukas Han siong Kie
dengan cepat, lebih baik kita perhitungkan dikemudian hari saja, sekarang aku masih ada urusan
penting yang harus segera diselesaikan marilah kita segera pergi"
siluman putih menyapu pandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu berkata pula dengan
suara dalam:
"Ciangbunjin, tolong tanya bagaimana kita harus selesaikan anakan monyet yang bersembunyi
di sekitar tempat ini?"
"Kalau ingin mencari balas sudah sepantarnya kita bikin perhitungan dengan pemimpin mereka,
apa harganya buat kita untuk ribut dengan manusia-manusia keroco seperti mereka? Biarkanlah
mereka pergi"
selesai mengucapkan kata-kata tersebut, Han siong Kie segera berangkat meninggalkan tempat
itu diikuti Hekpek siang Yaw di belakangnya
Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah jauh tinggalkan lembah kematian, tujuan mereka
sekarang adalah benteng maut.
Inilah tugas pertama yang harus diselesaikan olehnya setelah berhasil mempelajari Ilmu sakti si
mi sinkang, dia hendak menuntut balas dan menghancurkan tengkorak maut.
Untuk menghindari kegemparan dikalangan masyarakst oleh wajah Hekpek siang yau yang lain
daripada yang lain itu, sengaja ia memerintahkan kedua orang itu untuk mengenakan kain
kerudung hitam.
Hari kedua, tatkala tengah hari menjelang tiba, mereka sudah berada ditepi sebuah sungai
yang lebar, perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri sungai tersebut.
Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba disamping sebuah bekas bangunan rumah yang kini
sudah tinggal puing-puing yang berserakan, disitulah dahulu pesanggrahan Teng to siau cut
berdiri
Terkenang kembali masa lampau, tanpa terasa Han siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya,
dengan termangu- mangu ia memandang bekas bangunan Teng to siau cut yang tinggal puingpuing
itu.
Tanpa terasa ia teringat kembali kenangan masa lampau, kenangan dikala ia terhajar oleh
pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai, bagaimana ia ditolong oleh Go siau bi dan
bagaimana pesanggrahan tersebut akhirnya dibakar oleh orang-orang Thian che kau.
Bayangan Go siau bi yang cantik jelita terpampang jelas didepan matanya, gadis itu telah jatuh
cinta kepadanya pada tatapan yang pertama, bahkan berulang kali menyatakan cinta kepadanya.
Tapi ia sama sekali tidak membalas cinta dara itu, ia tak pernah mencintai Go siau bi, sebab ia
membenci setiap perempuan yang ada didunia ini kecuali Tong hong Hui seorang.
Akhirnya pemuda itu menghela napas panjang, tiba-tiba ia merasa bahwa perbuatannya selama
ini terlalu menyinggung perasaan halus gadis itu, tapi sekarang dia sudah pergi, mungkin
selamanya tak mungkin bisa berjumps lagi.
Benarkah aku telah menghancurkan masa depan seorang gadis ? Benarkah aku bertanggung
jawab atas kejadian ini? ia mencoba untuk bertanya pada diri sendiri, tapi pemuda itu tak mampu
menjawab.
Tindakan ibunya say siang go atau siang go cantik ong cul ing meninggalkan tempat kejadian
dikala keluarganya tertimpa bencana bahkan kawin lagi dengan Thian che kaucu dirasakan
sebagai pukulan batin terberat yang pernah ia terima, kejadian ini membuat pandangannya
terhadap kaum perempuan jadi sinis dan benci.
Untunglah selama ini dia banyak berhutang budi kepada orang yang ada maksud, orang yang
kehilangan sukma, Go siau bi serta Tong hong Hui, sikap dari perempuan-perempuan inilah yang
banyak menggoyahkan cara berpikirnya yang salah itu, perasaan anti perempuan yang
dipertahankan selama ini pun lambat laun menjadi lebih tawar.
Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang puing yang berserakan serta ombak yang
memecah ditepi pantai, kian lama perasaannya kian terbuai oleh lamunan dan kenangan lama.
Hekpek siang yau tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dengan tenang mereka menunggu di
belakang ketuanya.
Tiba-tiba dari balik puing-puing yang berserakan berkumamdang suara helaan napas panjang.
Satu ingatan lantas melintas dalam benak si anak muda itu, ia tersadar kembali dari
lamunannya kepada sepasang siluman segera pesannya. " Kalian tak usah pergi kemana-mana,
nantikanlah aku disini". secepat kilat ia meluncur ke angkasa dan menerobos masuk kedalam
hutan bambu di mana helaan napas tersebut berasal.
seorang sastrawan berusia setengah baya berdiri sambil bergendong tangan ditepi sungai dekat
hutan bambu. Berdebar keras jantung Han siong Kie setelah mengetahui siapakah orang itu,
sebab tak lain adalah kakek Go siau bi, orang-orang persilatan menyebutnya sebagai Put lo
sianseng.
Han siong Kie berdiri pada jarak lima kaki dihadapan kakek tua itu, ia tak tahu apa yang harus
diucapkan dan apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini.
"Benarkah yang datang adalah Han siauhiap, ketua dari perguruan Thian lam bun? " tanpa
berpaling Put lo sianseng menegur lebih dahulu.
Han siong Kie mendekati sampai sejarak tiga kaki lalu menjura dengan hormat.
"Benar cianpwe, apakah selama ini locianpwe berada dalam keadaan sehat walafiat" sahutnya.
Perlahan-lahan put lo sianseng memutar badan sekilas sorot mata yang aneh memancar keluar
tapi sebentar saja sudah lenyap tak berbekas dengan suara dingin.
"sebetulnya lohu sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia ini, tapi sayang imanku kurang
teguh, karena tergoda oleh peristiwa keduniawian akhirnya kumuncul kembali dalam dunia
persilatan, aai.. sungguh tak nyana aku tergoda oleh suatu masalah yang akhirnya membuat diriku
tak bisa lagi berpeluk tangan belaka" Berbicara sampai disitu, kembali ia menghela napas panjang.
"Persoalan apakah yang telah membuat locianpwe jadi bingung?" tanya pemuda itu keheranan-
"Belenggu cinta dari cucu perempuanku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie lantas teringat kembali dengan peristiwa lama
ketika ia menolak pinangan dariput losianseng bagi cucu perempuannya.
"Locianpwe, apakah perkataanmu itu kau sengaja tujukan kepada diri boanpwe? " tanyanya
tanpa sadar.
sekali lagi sorot mata aneh terlintas di wajah Put to sianseng, ia menatap sekejap pemuda itu
kemudian balik bertanya: "Han sauhiap bersediakah engkau membantu diriku?"
"Persoalan apakah yang dapat boanpwe lakukan bagi locianpwe?" tanya Has siong Kie setelah
tertegun sejenak.
"sebenarnya lohu sudah mengangkat sumpah tak akan mencampuri urusan keduniawian lagi..
Aaai, tak disangka oleh karena sejilid kitab pusaka Thian tok pit kip. bukan saja putraku Go Yu to
menemui ajalnya, perkumpulan Pat Gi pang hancur berantakan dan lenyap dari dunia persilatan,
bahkan Go siau bi cucu perempuanku ini ..."
Teringat dara itu, merah padam selembar wajah Han siong Kie, sebab bagaimanapun juga dia
pernah menolak pinangan dara itu
setelah berhenti sebentar terdengar Put lo sianseng melanjutkan kembali kata-katanya:
"Didalam waktu yang amat singkat, lohu telah berhasil melatih Siau bi sehingga ilmu silatnya
mencapai tingkatan yang lihay, tujuanku adalah meminta kepadanya agar balaskan dendam bagi
kematian ayahnya serta membangun kembali perkumpulan yang telah buyar.." Berbicara sampai
disini, kembali dia berhenti.
Han siong Kie merasa hatinya sangat tidak tenang, bagainya secara lapat-lapat ia sudah merasa
bahwa bantuan yang diharapkan kakek sakti ini mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan
Go siau bi.
sementara itu paras muka Put lo sianseng sudah agak berubah, katanya kembali:
"Aaai. sebetulnya aku malu untuk membicarakan persoalan ini, tapi apa boleh buat? Mau tak
mau terpaksa harus mengatakannya juga ...siau bi telah terbelenggu oleh cinta, sekarang ia sudah
terjerumus dalam sekali, kegagalan demi kegagalan yang diterimanya selama ini telah membuat ia
jadi putus asa, sekarang siau bi telah mengambil keputusan untuk mencukur rambut menjadi
nikoh, aai, inilah suatu kejadian yang membuat perasaan hati lohu selalu tak tenang."
"Apa ? Dia mau mencukur rambut menjadi pendeta??"
"Benar, dan keputusannya ini tampaknya sudah bulat, kecuali engkau mungkin didunia ini tak
ada orang kedua yaag bisa merintangi niatnya itu lagi"
JILID 31 HAL. 40/41 HILANG
"Boleh aku tahu pada saat ini nona siau bi berada dimana ?"
"Dipintu luar kuil Bu cu an di bukit Tay hang san"
"Benar, dia minta Tay huang sinni untuk menerimanya sebagai pendeta, tapi lantaran lohu
sudah berpesan kepada sini maka ia ditolak untuk memasuki kuil tersebut, walaupun demikian
rupanya ia tidak menjadi putus asa, sudah tiga hari tiga malam ia berlutut didepan pintu kuil
tersebut "
Dari mulut boanpwe pernah mendengar tentang kelihayan Tay huang Sinni, katanya watak
nikoh itu aneh sekali, enam puluh tahun berselang dengan lencana Hud cu leng dia telah
menggetarkan sungai telaga dan memaksa orang persilatan baik dari golongan putih maupun dari
golongan hitam tunduk semua kepadanya, sungguh tak nyana dia masih hidup didunia ini?"
"Benar, Tay huang sinni itulah yang kumaksudkan, hingga kini sepuluh li disekitar bukit Tay
huang san merupakan daerah terlarang, tak seorang jago persilatanpun yang berani mendekati
tempat itu "
"Kalau memang begitu, bukankah kedatangan boanpwe."
"Dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bukan suatu persoalan yang terlampau berat
untuk menerjang masuk kedalam kuil"
"Menerjang masuk?" seru pemuda itu tercengang.
"Benar, selain menerjang masuk rasanya tiada jalan lain yang bisa kau tempuh. sebagaimana
telah kau ketahui. Tay huang sinni adalah seorang manusia aneh yang tak bisa diajak berbicara.
Kendatipun begitu aku minta kau masih ingat untuk berbicara secara baik-baik lebih dahulu
sebelum menggunakan kekerasan, bila tidak terpaksa sekali janganlah turun tangan secara
gegabah"
"Perasaan ingin tahu lantas menyelimuti hati pemuda ini, ia lantas berpikir:
" Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mencoba sampai dimanakah
kelihayan kungfu Tay huang sinni?"
Diapun mengangguk seraya menjawab: "Boanpwe akan menuruti semua pesan cianpwe"
"Bolehkah aku tahu apa tujuanmu sekarang ??"
"Boanpwe hendak berkunjung ke benteng maut untuk membuat perhitungan dengan pemilik
benteng maut tersebut"
"Membalas dendam? tentang soal ini..."
"Apakah locianpwe ada petunjuk lain?"
"Aaah tidak... tidak aku tidak ingin mengatakan sesuatu hal, setelah tiba pada saatnya engkau
akan mengetahui sendiri"
Han siong Kie melongo, ia tak tahu apa yang dimaksudkan put lo sianseng dengan katakatanya
itu?
sementara dia masih termenung put to sianseng telah melanjutkan kembali kata-katanya:
"Masalah yang kutitipkan padamu itu terlampau serius, rasanya tak boleh dibiarkan berlarutlarut,
oleh sebab kuatir kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, apakah sauhiap bersedia untuk
berkunjung dahulu kebukit Tay huang san?"
"Boanpwe turut perintah bagaimana cara nya untuk berangkat menuju bukit Tay huang san?"
"Dari sini berangkatlah keutara dua ratus li kemudian akan tiba kebukit Tay huang san, diantara
bukit yang menjulang diangkasa akan kau temui sebuah bukit gersang yang tidak bertumbuhan,
tempat itu mudah ditemukan dan aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki tidak susah
untuk mencapai tempat tujuan"
"Kalau begitu boancwe akan berangkat sekarang juga"
"Tunggu sebentar"
"Apakah locianpwe masih ada pesan lain"
"Benarkah dua orang manusia berkerudung yang mengikuti dibela kang mu itu adalah Hek pek
siang yau sepasang siluman hitam putih yang tersohor itu."
sungguh kagum Han siong Kie oleh ketajaman mata Put to sianseng, bukan saja dapat
menebak jitu asal usul dari Hek pek siang yau, malahan tanpa melihat tampang wajah merekapun
tebakannya ternyata jitu. Maka dia lantas mengangguk tanda membenarkan.
"Apakah hubungamu dengan sepasang siluman itu" kembali Put to sianseng bertanya.
"Mereka berdua sudah termasuk jadi anggota perguruanku"
JILID 31 HAL. 46/47 HILANG
"Benar, dan sekarang juga kita akan berangkat menuju ke kuil Bu cu an dibukit Tay huang san"
"Pergi ke bukit Tay huang san?" seru siluman putih dengan wajah terkesiap.
"Benar, bukit Tay huang tempat tinggal dari Tay huang sini"
"Apakah ciangbunjin hendak bermusuhan dengan pendeta perempuan itu?"
"Tidak, aku kesana untuk menyelesaikan sedikit persoalan. Tahukah kamu berdua persoalan
apa yang hendak kuselesaikan "
"Tentang soal ini tecu tak berani bertanya.."
"Kalau begitu hayo kita segera berangkat"
Begitulah tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat segera
berangkat menuju utara.
Hek pek siang yau terhitung pula sebagai jago yang tersohor pada puluhan tahun berselang,
tentu saja Tay huang sinni yang pernah malang melintang dalam sungai telaga dengan Hud cu
lengnya tidak terlampau asing bagi mereka.
sekarang setelah mengetahui bahwa tujuan mereka adalah ke bukit Tay huang san, sedikit
berdebar juga hati mereka berdua.
Namun baik siluman hitam maupun siluman putih tak berani banyak bertanya, sebab
bagaimanapun juga mereka harus mengikuti kemana perginya majikan mereka.
Untunglah ketiga orang itu adalah jago-jago silat berilmu tinggi, sekalipun tiada jalan yang
terbentang namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menembusinya .
Dua jam kemudian, mereka sudah memasuki daerah pegunungan yang terjal dan sepi.
sesudah melewati berpuluh-puluh buah bukit yang terjal, akhirnya diantara deretan bukit itu
muncullah sebuah bukit gundul yang gersang.
Kecuali beberapa titik warna hijau menghiasi bukit tersebut, hampir boleh dibilang yang tampak
hanya batu-batu cadas yang hitam dan tajam.
Han siong Kie segera menghentikan langkah kakinya, sambil menunjuk ke arah bukit gundul
nanjauh didepan sana katanya:
"Aku pikir bukit itulah yang dinamakan bukit Tay huang san?"
"Jadi ciangbunjin belum pernah berkunjung kemari?" tanya siluman hitam keheranan-
"Belum pernah, baru untuk pertama kali ini aku berkunjung kemari"
"Dahulu tecu pernah melewati tempat ini, tak salah lagi inilah bukit Tay huang san"
"Ciangbunjin, bolehkah kami tahu apa maksud ciangbunjin datang kemari?" tanya siluman putih
agak takut-takut.
"Mencari seseorang"
"Mencari orang? Ketahuilah ciangbunjin, dua li dari kaki bukit itu merupakan daerah terlarang,
setiap umat persilatan tak berani melewati wilayah tersebut dengan sembarangan"
Han siong Kie bukan orang bodoh, tentu saja ia mengetahui perasaan hati dari sepasang
siluman itu, sambil tertawa dingin katanya: "Jadi kalian merasa takut??"
"Ciangbunjin jangan berkata begitu" seru siluman hitam dengan hati gelisah, "setelah tecu
memberikan kesanggupan untuk turut serta ciangbunjin untuk selamanya, jangan toh hanya
berkunjung ke bukit Tay huang san, kendatipun harus naik kebukit golok atau terjun ke lautan api
tak nanti kami akan menolaknya"
Han siong Kie menengadah dan memandang sekejap bukit gundul diseberang sana, kemudian
katanya lagi.
"Kalian berdua tak usah ikut aku naik ke bukit itu, nantikan saja kedatanganku disini"
"Tidak Tecu tidak mau meninggalkan ciangbunjin seorang diri" serentak kedua orang siluman
itu berseru.
"Aku hendak pergi menyelesaikan suatu persoalan, kalian tak usah ikut saja. berdiamlah disini "
"Tecu berdua mana tenang membiarkan ciangbunjin pergi menempuh mara bahaya seorang
diri?"
"siapa bilang aku pergi menempuh bahaya ? Ketahuilah urusanku ini tidak menyangkut soal
dendam sakit hatipun tidak mengenai soal pembalasan budi."
"Tapi .. Ciangbungjin pasti tahu Tay Huang sini adalah seorang manusia yang berwatak aneh,
siapa berani melanggar pantangannya maka bisa mengakibatkan ...."
"Kalian berdua tak perlu kuatir, aku bisa menjaga diri dan akupun tahu bagaimana caranya
untuk menghadapi keadaan seperti itu" Dengan wajah bersungguh-sungguh siluman hitam
berkata lagi:
"Bagaimaa kalau tecu berdua mengikuti jejak ciangbunjin dari tempat kejauhan ?jadi apabila
sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tecu berdua bisa segera memberi bantuan ?"
"Tidak Tidak perlu" sahut pemuda itu tegas.
Tapi... tapi bagaimanapan juga, kami merasa tak tenang."
"Kalian berdua tetap berjaga-jaga disini, bagaimanapun juga yang terjadi disini, kalian tak boleh
bergerak secara sembarangan, perkataanku ini adalah perintah, aku minta kalian berdua jangan
mencoba untuk melanggar perintahku ini"
Buru-buru Hok pek siang yau membungkukkan badannya memberi hormat, mereka tak banyak
banyak bicara lagi.
Menyaksikan sikap kedua orang itu, Han siong Kie malahan merasa tidak tega sendiri, kembali
bisiknya dengan lembut:
"Kalian berdua tidak usah kuatir, tenangkan saja hati kalian berdua, tidak akan terjadi hal yang
diluar dugaan atas diriku ini"
seraya berkata dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan bergerak menuju
kepuncak bukit yang gundul itu
Diluaran Han siong Kie memang tampak sangat tenang, padahal dalam hatinya ia menggerutu
terus, bagaimanapun juga dia telah memasuki daerah terlarang dari seorang jago silat yang
disegani umat manusia, selain itu diapun tak tahu apakah pesan dari put lo sianseng dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya atau tidak masih merupakan suatu tanda tanya besar, ia tak
tahu apakah Go siau bi bersedia untuk mendengarkan nasehatnya atau tidak.
Menurut keterangaa dari put to sianseng sudah tiga hari tiga malam Go siau bi berlutut didepan
pintu kuil, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tekadnya sudah bulat .
"Apa yang harus diucapkan setelah berjumpa dengan gadis itu nanti?"
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, setiap kali teringat akan persoalan ini hatinya
langsung merasa tak tenang.
Belum jauh ia mendaki bukit yang gundul itu, kira-kira baru sepuluh kaki dari wilayah
perbatasan daerah terlarang, mendadak perjalanannya telah dihadang oleh seorang nikoh,
pendeta perempuan itu duduk bersila diatas sebuah batu cadas, matanya terpejam dan tubuhnya
kaku seperti arca, tampaklah betapa berwibawanya nikoh tersebut.
Cepat Han siong Kie menghentikan gerak tubuhnya, setelah tertegun sejenak diapun berpikir:
"Mungkinkah nikoh tua itu adalah Tay huang sinni yang tersohor dimana-mana itu?" sambil
merangkap tangannya memberi hormat pemuda itu menyapa: "Mohon tanya apakah sinni adalah
Tay huang sini?"
"Dia adalah guruku " sahut nikoh tua itu singkat.
sekalipun hanya beberapa patah kata saja, namun tiap patah kata diucapkan dengan sangat
nyaring dan tajam, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki nikoh ini sudah
mencapai puncak kesempurnaan yang mengagumkan.
-000dw000-
BAB 65
"BOLEH aku tahu, siapa nama gelar dari suthay ?" kembali si anak muda itu bertanya.
"Kami adalah orang yang beragama, tidak menjadi kebiasaan bagi kami untuk saling
menyebutkan nama dengan orang awam "
Ucapan tersebut dingin kaku dan singkat, malahan nikoh itu sama sekali tidak membuka
matanya barang sekejappun.
Diam-diam Han siong Kie merasa naik pitam, tapi ia tetap berusaha untuk mengendalikan hawa
amarahnya itu, sebab berulang kali Put to sianseng telah berpesan kepadanya agar jangan
memakai kekerasan, sehingga mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi
tujuan kedatangannya toh hanya berusaha menasehati Go siau bi agar membatalkan niatnya
untuk menjadi pendeta."
Maka setelah berpikir beberapa saat, dia pun berkata:
JILID 31 HAL. 56/57 HILANG
tekebur yang berani mencari gara-gara dibukit Tay huang san"
Keangkuhan dan keketusan Han siong Kie segera terpancing keluar oleh suasana yang serba
tak enak itu, dia balas mendengus.
"Hmm Aku sudah memohon dengan segala kehalusan serta mengikuti tata kesopanan aku
minta suthay jangan bersikeras untuk menampik keinginanku ini, ketahuilah setelah aku berhasil
berjumpa dengan orang yang kucari maka akupun akan segera tinggalkan tempat ini"
"Tidak bisa Lebih baik sicu segera tinggalkan tempat ini."
"Kalau suthay bersikeras untuk menampik terus kehendak hatiku, terpaksa aku akan berbuat
kurang sopan.
43
"Apa yang hendak sicu lakukan ?"
"Apa lagi? Tentu saja naik gunung mencari orang"
"Sicu, tak usahlah bersikeras untuk mencari keonaran, apakah engkau baru bersedia untuk
turun dari bukit ini setelah diusir oleh pinni dengan menggunakan kekerasan ?"
"Bagiku hanya tahu maju terus pantang mundur, tak dikenal arti mengundurkan diri sebelum
apa yang kuharapkan tercapai."
"Jadi kau ingin main kekerasan? Silahkan saja untuk mencoba. "
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan"
Begitu selesai berkata, Han siong Kie segera menjejakkan kakinya ke tanah dan melesat
kedepan.
Nikoh tua itu menggulung keluar dan menghantam tubuh sianak muda itu keras dan berat
sekali tenaga pukulan yang dilontarkan oleh pendeta perempuan itu.
Han siong Kie tak mampu untuk meneruskan langkahnya, ia dipaksa untuk melayang kembali
ketempat semula, dalam hati pemuda itu lantas berpikir:
"Muridnya saja sudah begitu lihay, apa lagi gurunya? Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki
Tay huang sinni telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa"
Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba nikoh tua itu membentak lagi:
JILID 31 HAL.60/61 HILANG
sekarang Han siong Kie tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, sepasang telapak
tangannya diayun kedepan melancarkan dua buah pukulan berantai yang maha dahsyat, dalam
seraogannya kali ini dia telah sertakan tenaga sakti si mi sinkang sebesar enam bagian.
Nikoh tua itu mendengus gusar, diapun mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut
datangnya ancaman tersebut.
"Blaaam Blaaam" dua kali benturan keras seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong
menggelegar di angkasa. Nikoh tua itu bergetar keras dan akhirnya tak mampu mempertahankan
diri ia terdesak mundur dari atas batu cadas tersebut.
Menggunakan kesempatan dikala nikoh itu terpental turun dari batu Han siong Kie segera
melejit keudara dan melayang sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula kemudian sekali menutul
permukaan tanah pemuda itu melayang kembali sejauh sepuluh kaki.
"Kawanan tikus kau akan pergi ke mana?"
mendadak seorang nikoh tua lain muncul dihadapan mukanya dan menghadang jalan pergi
sianak muda itu, sementara nikoh tua yang berada dibelakang tadi kini entah telah pergi kemana ?
Dengan tatapan tajam Han siong Kie mengamati tampang nikoh tua yang menghalang jalan
perginya ini, ia lihat alis matanya sudah memutih semua, sekalipun jauh lebih muda daripada
nikoh tua yang duduk di arca batu tadi, namun usianya sudah berada diantara enam puluh sampai
tujuh puluh tahunan.
"Sicu, hebat sekali ilmu silat yang kau miliki" tegur nikoh beralis putih itu dengan wajah
sedingin es.
"Terima kasih atas pujian dari suthay Aku tidak memiliki kepandaian apa-apa dan rasanya tak
perlu kau kagumi"
"sicu, sadarkah engkau apa akibatnya jika engkau bersikeras untuk melakukan pengacauan
diatas bukit Tay huang san ini ?"
"Apa akibatnya?" tanya pemuda itu.
"Mati. Mati dalam keadaan mengenaskan" Kontan saja Han siong Kie mengerutkan dahinya.
"suthay, janganlah kau anggap ancaman itu akan membuat aku jeri ataupun ketakutan.
Ketahuilah kedatanganku kemari adalah atas permintian dari seseorang, dan aku datang kemari
melalui tata cara dan sopan santun pada umumnya, janganlah kalian mulai dahulu dengan
permainan kekerasan"
"Tidakkah sicu tahu bahwa bukit Tay Huang san adalah suatu daerah terlarang? Suatu wilayah
yang tak boleh dilalui oleh setiap manusia asing kecuali penghuni kuil?"
"Maaf suthay, sebelum apa yang kucita- citakan tercapai, aku tidak mengenal apa artinya takut
atau mengundurkan diri ditengah jalan"
"Kalau begitu, silahkan saja untuk coba menerjang masuk dengan kekerasan .. " tantang nikoh
itu.
"Kalau terpaksa musti menggunakan kekerasan, maaf kalau aku akan bertindak lancang
-ooodwooo
SEHABIS mengucapkan kata-kata tersebut, seperti sukma gentayangan saja sianak muda itu
menerjang maju kedepan.
Meskipun pemuda itu bertindak cepat, nikoh tua itupun tidak berlambat, baru saja Han siong
Kie mencoba untuk menerobos lewat dari sisinya, tahu-tahu nikoh tua itu sudah menghadang
dihadapan mukanya sembari melancarkan tiga buah serangan berantai.
Ke tiga buah serangsn tersebut bukan saja dilancarkan secara beruntun dengan kecepatan
yang luar biasa, terasalah desingan angin puyuh yang menyertai serangan itu hebatnya luar biasa.
Terkesiap Han siong Kie menghadapi serangan sedahsyat itu, dia coba berkelit ke samping
untuk menghindar, lalu dari samping dia lepaskan sebuah serangan balasan.
Nikoh tua itu bergerak kesamping, bukan saja dengan gerakan yang enteng ia berhasil
menghindari serangan tersebut, malahan menggunakan kesempatan tersebut ke lima jari tangan
kirinya seperti jepitan baja mencengkeram urat penting dipergelangan tangan Han siong Kie,
sementara tangan kanannya dikebutkan kemuka menghajar hiatto-hiatto penting disekitar dada
bagian luar.
Cepat dalam serangan, aneh dalam jurus pukulan, kelihayan nikoh tua ini jarang di temui dalam
dunia persilatan.
selihay-lihaynya nikoh tua itu, Han siong Kie jauh lebih lihay, ia putar telapak tangan kanannya
dengan cepat, dari gerakan dia rubah serangannya menjadi gerakan mencengkeram, arah yang
diancam adalah pergelangan tangan lawan, sementara telapak tangan kirinya tidak ketinggalan, ia
putar satu lingkaran didepan dada dan menutup semua hiatto pentingnya dari ancaman.
Gagal dengan serangan kilatnya, nikoh tua itu mundur tiga langkah kebelakang, menyusul
sebuah pukulan kilat kembali dilancarkan.
Han siong Kie tak mau unjukkan kelemahan nya, dia lepaskan pula sebuah pukulan untuk
menyambut ancaman itu.
"Blaang" benturan keras tak dapat dihindari lagi, masing-masing pihak terjengkang mundur
satu langkah.
Dalam hati Han siong Kie merasa terperanjat, ia tak mengira kalau nikoh tua itu sanggup
menerima pukulan saktinya yang disertai dengan tenaga sebesar enam bagian.
Ia kaget nikoh tua itu lebih kaget sebab dalam serangannya barusan dia telah mengerahkan
tenaga sebesar sepuluh bagian, tapi nyatanya bukan saja tak berhasil merobohkan lawan, dia
sendiri yang terdesak mundur satu langkah.
Untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama tertegun, mereka sama-sama menyadari bahwa
musuh yang sedang dihadapi adalah musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Paras muka nikoh tua itu berobah hebat, jubah pendetanya yang lebar menggelembung sendiri
tanpa terhembus angin, sinar matanya berkilat dan perlahan-lahan telapak tangannya diangkat
keatas.
Meskipun Han siong Kie terperanjat dan tidak mengerti ilmu aneh apakah yang sedang
dikerahkan musuhnya namun sianak muda itu tak berani bertindak gegabah, dia pun menghimpun
hawa sakti si mi sinkang nya sebesar delapan bagian, telapak tangannya dialingkan didepan dada,
siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Sementara itu nikoh tua tadi telah mengangkat telapak tangannya sejajar dada, kemudian
didorongkan kemuka perlahan-lahan, segulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera
meluncur kedepan dan menyapu benda apa saja yang dilewatinya.
Han siong Kie memandang pukulan itu dengan serius, sepasang telapak tangannya balas
didorong kemuka dan menyambut ancaman tersebut dengan tenaga si mi sinkang sebesar
delapan bagian.
"Blaaang" ledakan keras menggelegar di angkasa, diantara suara nyaring terdengar dengus
tertahan menggema diudara, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur lima langkah, paras
mukanya pucat pias, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, peluh sebesar kacang kedelai
mengucur keluar tiada hentinya.
Han siong Kie sendiripun merasakan hatinya bergoncang keras, dia terdorong mundur satu
langkah lebar.
setelah berhenti sebentar nikoh tua itu menggigit bibir, tiba-tiba ia menerjang lagi kedepan,
sepasang telapak tangannya dengan desingan tajam disapu kembali keluar.
sapuan tersebut tampaknya saja sangat lambat pada hakekatnya cepat melebihi kilat bahkan
sudut sasarannya jauh dari keadaan biasa bukan saja disertai hawa pukulan yang aneh bahkan
membuat orang tak mampu untuk menangkis datangnya ancaman itu
Han siong Kie seketika terdesak hebat, dia mundur terus berulang kali tanpa mampu
membalas.
Bagaikan gulungan ombak sungai yang berkepanjangan serangan itu datang secara
bergelombang dan tiada putusnya, sianak muda itu mundur terus kebelakang dan akhirnya ia
terjebak disuatu batuan cadas yang tinggi dan besar, waktu itu ingin mundurpun sudah tiada jalan
lagi.
sadarlah pemuda itu bahwa keadaannya sudah keteter hebat, bila ia tidak unjukkan
kesaktiannya lagi tak nanti dia bisa menaiki bukit itu. Berpikir demikian dia lantas membentak:
"Maaf, terpaksa aku akan bertindak kasar"
Dengan jurus Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia lepaskan sebuah pukulan
dengan tenaga sebesar sepuluh bagian.
Walaupun jurus serangan ygng dipergunakan masih merupakan jurus-jurus lama, akan tetapi
setelah dia berhasil mempelajari ilmu sakti si mi sinkang, kekuatan daya serangannya ternyata
jauh berbeda.
Jerit kesakitan menggema di angkasa, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur sejauh satu
kaki lebih, darah segar mengucur keluar membasahi ujung bibirnya.
Han siong Kie tertegun, dia tak menyangka kelihayannya sudah mencapai tingkatan setinggi itu,
semua dalam keadaaa begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih jauh, serentak tubuhnya
berkelebat dan menerjang ke atas puncak bukit.
selang sesaat kemudian ia sudah mencapai seratus kaki sebelum puncak bukit, beberapa
batang pohon siong muncul didepas mata, dan d ibalik pepohonan itu tampaklah sebuah
bangunan kuil yang terbuat dari batu cadas gunung. Han siong Kie merasa semangatnya
berkobar, ia percepat gerakan larinya.
Mendadak sesosok bayangan abu-abu muncul dari balik pepohonan dan langsung menerkam
kedepan, sebelum tiba angin pukulan yang tajam sudah keburu menyapu lebih duluan-
Sungguh terkejut sianak muda itu, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki pendatang ini jauh lebih
hebat daripada dua orang nikoh yang telah dijumpai, cepat tubuhnya menukik dan membentuk
sebuah gerakan setengah busur diudara kemudian melayang turun ke muka bumi.
Bayangan abu-abu itnpun melayang turun ternyata dia adalah seorang nikoh berlengan
tunggal.
Sebelum Han siong Kie sempat buka suara, nikoh berlengan satu itu sudah menegur lebih
dahulu:
"Sicu, engkau anggap kepandaian silatmu sudah hebat maka secara beruntun kau lukai dua
orang seperguruanku dan kemudian datang mengacau bukit Tay huang san ini"
"Aku tidak bermaksud main kasar, aku memohon dengan sopan dan menuruti
JILID 32 HAL 10/11 HILANG
yang tergetar oleh terasa sinkang musuh terasa sangat sakit bagaikan mau patah, dengan
gontai ia mundur sejauh delapan depa, rasa kaget dan tercengang menghiasi seluruh wajahnya.
Kecuali gurunya, selama hidup belum pernah dijumpai musuh setangguh ini, apalagi usianya
belum dua puluh tahunan, hal ini semakin mencengangkan hatinya.
Dipihak lain Han siong Kie dibikin naik pitam oleh kejadian yang baru dialaminya, hawa sakti Si
mi sinkang lantas disalurkan mengelilingi seluruh badan, dari kejauhan dia lepaskan sebuah
pukulan dahsyat.
Nikoh berlengan tunggal itu terkesiap. cepat-cepat tangannya berputar membentuk satu
lingkaran kilat, gerakan itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikitpun-
Han siong Kie terperanjat ia merasa bahwa tenaga pukulan yang dilancarkan dengan kekuatan
sebesar delapan bagian itu mendadak punah sama sekali hingga lenyap tak berbekas.
Ia menggigit bibir, sepasang telapak tangannya sekali lagi meluncurkan serangan dengan
mengerahkan tenaga sebesar sepuluh bagian, kali ini terlihatlah pancaran cahaya aneh dari raut
wajahnya.
Nikoh berlengan tunggal ini lebih tercekat lagi hatinya, kalau orang lain tidak tahu maka hati
kecilnya jauh lebih paham dari siapapun juga untuk memunahkan daya pengaruh serangan musuh
barusan dia harus mengerahkan ilmu sakti Pay yap sin khinya hingga mencapai dua belas bagian
dengan susah payah ancaman musuh baru bisa dipunahkan, tapi sekarang musuh telah
menambahkan serangannya hingga mencapai sepuluh bagian, dia yakin bahwa kepandaian nya
tak mampu untuk membendung kedahsyatan lawan. Tampaknya nikoh berlengan tunggal itu bakal
mati konyol.
Disaat yang kritis tiba-tiba terdengar seseorang berseru nyaring dari tempat kejauhan.
"Biau hian cepat mundur, pukulan itu adalah ilmu si mi sinkang, engkau tak mampu untuk
menghadapinya"
Ucapan tersebut cukup mencengangkan hati Han siong Kie, ia tahu kalau tebakannya tidak
keliru maka orang yang baruran berbicara tak lain adalah Tay huang sinni pemilik kuil Bu cuan ini,
ia merasa bahwa kata-kata tersebut berasal dari balik kuil, kalau toh demikian adanya dari mana
nikoh sakti itu bisa mengetahui akan asal usul ilmu silatnya?"
Mungkinkah ia sudah berhasil melatih ilmu Thian sao tong, suatu kepandaian melihat jauh.
Paras muka nikoh tua yang bernama Biau hian itu berubah hebat, dia melirik sekejap kearah
Han siong Kie. kemudian putar badan dan lenyap dibalik batu-batu cadas.
Karena musuhnya telah mengundurkan diri, maka sianak muda itupun membatalkan
erangannya, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kearah puncak bukit sebelah depan sana.
"Locianpwe, boanpwe ada urusan hendak bertemu dengan cianpwe, harap engkau bersedia
memaafkan kelancanganku ini"
"Sebutkan asal usul perguraanmu " kata-kata tersebut muncul kembali dari atas puncak bukit.
"Boancwe bernama Han siong Kie, ketua dari perguruan Thian lam bun "
"Engkau adalah ketua dari istana Huan mo kiong diwilayah Thian-Iam ? Ada urusan apa datang
kemari ?"
"Boanpwe mendapat pesan dari seseorang dan sengaja datang kemari untuk mencari orang"
"siapa yang kau cari ?"
seorang nona yang bernama Go siau bi"
"siapa yang suruh engkau datang kemari ?"
"Put to sianseng, kakek dari nona Go "
"ooooh, jadi engkaulah yang bernama Manusia muka dingin Han siong Kie " sekali lagi anak
muda itu terperanjat, sahutnya cepat: "Benar, boanpwelah yang bernama Han siong Kie."
"Memandang diatas wajah Put lo sianseng aku tidak akan mempersoalkan lagi kesalahanmu
mencari gara-gara ke atas bukit kami ini. Nah Cepatlah turun dari bukit ini."
Perasaan hati yang semula sudah menjadi tenang, kini bergolak kembali, ucapan tersebut
dirasakan Han siong Kie sebagai suatu ejekan, rasa ingin menang lantas muncul kembali.
" Cianpwe, aku toh sudah mengutarakan maksud kedatanganku ? Masa sebelum tujuanku
kesampaian kau telah mengusir aku turun gunung?" serunya dengan hati tak puas.
"Aku perintahkan kepadamu untuk segera turun dari bukit ini " tiba-tiba suara dari Tay huang
sinni berubah jadi amat dingin dan ketus, bahkan ucapan tersebut diutarakan sepatah demi
sepatah kata.
sesabar-sabarnya Han siong Kie setelah diperlakukan sekasar itu diapun tak dapat menahan diri
lagi tampiknya:
"Aku datang kemari bukan untuk mendengarkan perintahmu, kalau aku tak mau turun gunung
kau mau apa?"
"Hmm Membandel" maki Tay huang sinni ketus,
" kalau begitu apa yang hendak kau lakukan ?"
"Setelah persoalan yang dititipkan pada ku telah kuselesaikan, tanpa disuruh aku bisa turun
gunung sendiri"
"Persoalan apa yang hendak kau kerjakan ditempat ini?"
"Aku ingin bertemu dengan nona Go siau bi dan bercakap-cakap sendiri dengan dirinya"
"Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah seorang pendeta beragama, aku tak ingin bersilat lidah
dengan dirimu, lebih baik cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini"
"Maaf, aku tak dapat menuruti kehendakmu itu"
"Hmm sicu, jangan kau anggap ilmu sakti si mi sinkang yang kau miliki itu adalah suatu
kelandaian sakti yang tiada tandingannya lagi dikolong langit" Agaknya Tay huang sinni mulai naik
darah oleh sikap lawannya yang keras kepala.
"Akupun sama sekali tidak berpendapat demikian, tapi bila ada orang ingin main-main
denganku, akan kubuktikan bahwa kepandaian tersebut masih lebih dari cukup bagiku untuk
mempertahankan diri"
suasana hening untuk sesaat, diantara hembusan angin bukit yang sepoi-sepoi akhirnya
terdengar Tay huang sini berkata lagi, hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut: "Sicu, aku rasa
engkau tak usah bertemu lagi dengan nona Go"
"Kenapa?" Tanya si anak muda itu cepat.
"Sebab dia tak ingin berjumpa lagi denganmu "
Jawaban ini membuat Han siong Kie membungkam, sebab inilah kejadian yang sangat tidak
diharapkan olehnya, suatu kejadian yang membuat ia jadi jengah dan merasa serba salah, tapi
haruskah ia mengundurkan diri dengan begitu saja ?
"Aku telah berjanji kepada Put to sianseng, bahwa persoalan ini akan kuselesaikan dengan
segala kemampuan yang kumiliki" pikir pemuda itu dalam hati "dan lagi akupun merasa banyak
berhutang budi kepada Go siau Bi, apakah aku harus mengundurkan diri karena persoalan ini ?
Toh Go siau bi bisa menjadi nekad adalah gara-gara karena aku ? Tatkala ingatan tersebut
terlintas dalam benaknya, pemuda itu lantas berseru:
"Dia mau berjumpa denganku atau tidak adalah urusan pribadinya sendiri, pokoknya
bagaimanapun juga aku harus bertemu dengannya "
"Hmm Engkau hendak berbuat sewenang-wenang ditempat ini ?"
"Tidak. aku tidak berbuat sewenang-wenang, aku hanya bertindak menuruti perasaan hatiku
sendiri"
"Ketahuilah wahai Han sicu, pinni bisa simpatik terhadap pengalaman serta tragedi yang
menimpa kehidupan nona Go, telah kukabulkan permintaannya itu dan sekarang akan kucukur
rambutnya menjadi nikoh, mulai detik ini ia sudah menjadi murid Buddha dan dia tak akan
menjumpai dirimu untuk selamanya."
"Tidak Tidak boleh" teriak Han siong Kie dengan setengah menggembor, paras mukanya
berubah hebat.
"Tidak boleh ? Dengan berdasarkan apa engkau melarang kebebasan orang untuk memilih dan
melakukan apa yang disukainya Haaah haaah haaah sicu, kau harus tahu kendatipun pinni telah
menjadi murid Buddha, akan tetapi aku tidak terikat oleh suatu pantangan, yakni pantangan
membunuh"
Habislah kesabaran Han siong Kie, dia mendengus penuh kemarahan, sekali menjejak
permukan tanah, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya pemuda itu melayang keatas
puncak bukit.
sewaktu tiba didepan pintu kuil ia lihat pintu gerbang tertutup rapat, seorang dara baju putih
tampak berlutut didepan pintu kuil itu tanpa bergerak. siapa lagi dara itu kalau bukan Go siau bi
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, lama-lama sekali ia menatap dara itu
kemudian bisiknya: "Nona Go "
Go siau bi tidak menjawab, ia masih tetap berlutut tak bergerak.
"Nona Go " sekali lagi anak itu muda itu memanggil dengan lemah.
-000dw000-
66
PENGALAMAN yang dialami Go siau bi memang mengenaskan, berulang kali ia menyatakan
cinta kepada pemuda pujaannya, namun setiap kali tidak mendapat tanggapan yang serius.
sejak mengalami kejadian didalam perkampungan oh han san ceng bertekadlah gadis ini untuk
cukur rambut menjadi pendeta dan menjalankan sisa hidupnya dengan mengabdikan diri kepada
sang Buddha.
Kendatipun tekadnya sudah bulat, tak dapat dipungkiri bahwa rasa cintanya terhadap Han siong
Kie telah padam terlebih lagi ia tak menyangka kalau si anak muda itu bakal datang ke bukit Tay
huang san mencari dirinya.
Untuk sesaat pikirannya jadi kacau balau tak karuan, rasa cinta yang masih membakar dalam
dadanya serasa makin bergolak dengan hebatnya.
JILID 32 HAL. 22 S/D 25 HILANG
"Apakah locianpwe adalah pemilik kuil ini ?"
"Ehmm " tiada jawaban kecuali dengusan dingin, dengusan tersebut amat ketus dan tak sedap
didengar.
sekuat tenaga Han siong Kie berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, ia bertanya:
"Sudahkah locianpwe menyanggupi permintaannya untuk mencukur rambutnya menjadi
pendeta?"
"Enmm sudah kenapa ??"
"Aku rasa dengan kedudukan cianpwe yang agung dan dihormati orang, tentunya engkau tak
akan mengingkari janji sendiri bukan ?"
"Apa maksudmu dengan perkataan itu?" tegur Tay huang sini dengan wajah berubah.
"Bukankah locianpwe telah menyanggupi permintaan put to sianseng untuk menolak
permintaan nona Go menjadi pendeta ?"
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar tanpa bisa dicegah lagi Go siau bi berpaling serta
melotot sekejap kearah sianak muda itu.
"Ehmm, memang ada kejadian seperti itu" kata Tay huang sinni tetap ketus, "tapi aku tidak
menyanggupi untuk tidak mengukurkan rambut cucunya, aku hanya setuju untuk memberi
kesempatan kepadanya untuk mempertimbangkan kembali persoalan ini"
"Tapi bukankah perbuatanmu sekarang...."
"Pinni simpatik terhadap tragedi yang menimpa dirinya dan sekarang aku sudah berubah
pikiran" tukas nikoh itu cepat.
"Apakah sudah locianpwe bayangkan akibat-akibatnya bila aku melakukan hal ini atas dirinya?"
"Bagi kami orang-orang beragama tak pernah terpikirkan apakah ada akibat atau tidak tindakan
yang kami ambil, semua persoalan kami pertimbangkan dengan keadaan berjodoh atau tidak"
"Hmm orang beragama mengutamakan belas kasihan, tindakan dari locianpwe ini ...."
"Tutup mulutmu" bentak Tay huang sinni marah "ia sudah tiga hari tiga malam berlutut didepan
pintu kuilku, apakah pinni tak boleh berbuat belas kasihan dengan memenuhi keinginannya "
Waktu itu tiba tiba Go siau b i berpaling dan berkata:
HAL. 28/29 HILANG
Memang inilah yang diharapkan Han siong Kie, sebab semenjak ia menerima pesan dari Put lo
sianseng sudah terlintas satu ingatan untuk mengadu kepandaian dengan tokoh silat itu
"Maksud Locianpwe engkau hendak mengajak aku untuk bertaruh dalam pertarungan ini?"
katanya kemudian dengan serius.
"Benar .. "
"Dan pertarungan ini adalah pertarungan atas mati dan hidup ?"
"Haah, tidak sampai seserius itu asal sudah ditentukan siapa menang siapa kalah, hal ini sudah
lebih dari cukup "
"Bagaimana setelah menang kalah dapat ditetapkan ?"
"Jika engkau yang menang maka pinni tak akan mempersoalkan kehadiranmu lagi di bukit ini,
bahkan akupun tak akan memaksa Go siau bi untuk mencukur rambut menjadi pendeta"
"Seandainya aku yang kalah ? Apa yang harus kulakukan ?"
"Kalau engkau kalah maka kau harus menyanggupi sebuah syarat yang akan pinni ajukan "
"Apa syaratmu itu ?"
"syarat itu rasanya terlampau awal bila kuutarakan pada saat ini, pokoknya tak akan merugikan
dirimu "
"Andaikata menang kalah tak dapat ditentukan? Apa yang harus kulakukan?"
"Akan kubiarkan engkau turun dari bukit ini dengan selamat "
Perasaan hati Han siong Kie bergolak keras, setelah mendengar ucapan tersebut, dia merasa
beruntung karena bisa mendapat kesempatan untuk bertarung melawan seorang tokoh silat yang
lihay. Tapi diapun kuatir bila kalah maka syarat apakah yang bakal diajukan kepadanya ?
Mampukah ia melaksanakan syarat tersebut ?
"Locianpwe, pertarungan yang bagaimana kah akan kita langsungkan? " ia bertanya kemudian.
Tay huang sinni termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya:
"Pinni telah bersumpah tak akan keluar dari pintu kuil ini barang selangkahpun, sekarang kita
berdiri dengan selisih jarak lima kaki, baiknya kalau kita masing-masing berdiri tak bergerak
ditempat:
HAL. 32 HILANG
"Han sauhiap. silahkan engkau melancarkan serangan lebih dahulu " Suatu ketika Tay huang
sinni berkata dengan wajah serius.
"Tidak. lebih baik locianpwe yang turun tangan lebih dahulu" kata Han siong Kie dengan hati
bergetar.
"Pini adalah seorang angkatan tua, tidak pantas untuk turun tangan lebih dahulu, lebih baik
sauhiap duluan"
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa boanpwe bertindak lancang . . nah, sambutlah
seranganku ini"
Dengan menghimpun hawa sakti Si mi sinkangnya mencapai sepuluh bagian, perlahan-lahan
telapak tangannya diangkat kemuka dan lantas didorong ke depan.
segulung angin pukulan yang tipis halus dan sama sekali tidak menimbulkan suara, berhembus
ketubuh lawan-
Meskipun enteng sekali pukulan itu tampaknya pada hakekatnya mengandung tenaga dahsyat
yang cukup merontokkan nyali orang.
Disaat Han siong Kie melancarkan serangan Tay huang sinni sendiripun memutar tiga kali
sepasang telapak tangannya didepan dada.
suatu getaran keras menyusu terjadinya ledakan yang memekikkan telinga Tay huang sini
hanya tergetar sedikit tubuhnya, sementara kuda-kudanya masih kelihatan kokoh sekali.
Pukulan si mi sinkang sebesar sepuluh bagian ternyata berhasil dipunahkan oleh nikoh tua itu
dengan enteng, sedikit banyak tercekat juga hati Han siong Kie, diam-diam ia menjulurkan
lidahnya.
Paras muka Tay huang sinni sendiri berubah jadi amat serius, tampaknya nikoh itu tidak
berkeyakinan dapat menangkan pertarungan ini.
orang yang kehilangan sukma sendiripun tampak sangat tegang, sampai-sampai badannya ikut
gemetar keras.
Gagal dengan serangan yang pertama, Han Siong Kie menghimpus kembali tenaganya
mencapai dua belas bagian, sambil melepaskan pukulan serunya lantang: "sambutlah seranganku
yang kedua ini"
Ketika sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan, secara lapat-lapat tampaklah asap
putih yang tipis menyertai deruan pukulan itu.
Tay huang sinni menggerakkan sepasang ujung bajunya untuk menangkis, ia membentuk
gerakan aneh didepan dadanya, selapis hawa hijau yang menggulung tebal seketika melapisi
seluruh badannya, jelas nikoh ini sudah mengerahkan ilmu Pay yap sin khinya hingga mencapai
pada puncak kehebatannya.
Cahaya putih dan cahaya hijau segera bertemu satu sama lainnya, dan tak bisa di cegah
terjadilah ledakan yang memekikkan telinga.
sekujur badan Tay huang sini gemetar keras, tubuhnya goncang bagaikan ranting pohon
terhembus angin puyuh, nyaris kedudukannya jebol dan tubuhnya terdorong maju ke depan.
Untunglah ia menggigit bibir sambil berkerut dahi, sekuat tenaga padri itu berusaha
mempertahankan diri, peluh sudah mulai membasahi seluruh badannya.
Dua jurus serangan sudah lewat tanpa menghasilkan apa-apa, sekarang tinggallah jurus yang
terakhir. pemuda itu tahu bila serangan yang ketigapun mengalami kegagalan, sudah pasti dialah
yang bakal menderita kekalahan.
Bila dipikir kembali akan kedudukan Tay huang sinni yang begitu tinggi dan terhormat, kalah
ditangan padri perempuan ini belum terhitung suatu kejadian yang memalukan, tapi Han siong Kie
mempunyai pandangan yang lain, dia harus dapat menangkan nikoh tua ini karena bagaimanapun
juga dia adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.
Dan menang kalah akan ditentukan dalam jurus serangan yang terakhir ini.
Han siong Kie mementangkan kesepuluh jari tangannya lebar-lebar, segenap hawa sakti yang
dimilikinya disalurkan kedalam jari tangan itu, ia telah mempersiapkan diri untuk melangsungkan
pertarungan yang terakhir ini dengan menggunakan ilmu jari Tong kim ci.
setajam sembilu pancaran sinar mata Tay huang sinni, dia menatap wajah pemuda itu tanpa
berkedip. sepasang telapak tangannya disilangkan didepan dada.
Akhirnya pemuda itu membentak keras, sepasang tangannya bergetar, sepuluh gulung
desingan angin jari dengan membawa suara yang memekikkan telinga langsung meluncur
kedepan-
Bersamaan dengan dilepaskannya serangan jari tangan itu, ingatan lain melintas
JILID 32 HAL. 38/39 HILANG
Dengan adanya kejadian ini, maka baru saja Han siong Kie melepaskan pukulan untuk
menangkis, tahu-tahu tenaga yang dipancarkan keluar itu telah dihisap oleh lawannya.
Mimpipun si anak muda itu tak menyangka kalau rahib tua itu bakal menggunakan taktik
"menggetar" dan menghisap hampir bersamaan waktunya, hilanglah keseimbangan.
"Aduh celaka "jeritnya dihati tak dapat dicegah lagi tubuhnya sempoyongan dan serta merta
kakinya melangkah maju. orang yang kehilangan sukma pun berkata sambil mengangguk: "Nak
engkau kalah. "
Han siong Kie tertegun, ia cuma bisa berdiri menjublak sambil membungkam dalam seribu
bahasa.
Karena kasihan pada musuhnya, ia telah menyingkirkan daya sasaran serangan Tong kim ci nya
kesamping sehingga membuang kesempatan untuk mendapat kemenangan dengan begitu saja.
sekarang kenyataan telah berbicara lain, dia telah dikalahkan dalam pertarungan tersebut,
untuk menyesalpun rasanya tak ada gunanya lagi.
"sau sicu, apakah engkau merasa bahwa pertarungan ini berlangsung tidak adil?" tiba-tiba Tay
huang sinni bertanya.
Han siong Kie tertawa jengah dan menggeleng.
"Tidak. boanpwe sama sekali tidak mempunyai pikiran semacam itu "
"Jadi engkau sudah mengaku kalah ?"
"Tentu saja, boanpwe tak akan memungkiri kekalahan yang telah kuderita ini, aku tak mau
bertolak dari kenyataan yang berada di depan mata, katakan saja apa syarat yang harus kuturuti
itu ?"
"seandainya pinni telah mengajukan syarat tersebut, dan ternyata sau sicu tidak bersedia untuk
melakukannya, apa yang musti... "
"Boanpwe tidak akan menolak semua syaratmu, sebagai seorang manusia persilatan aku akan
memegang teguh setiap janji yang telah kuucapkan" jawab pemuda itu dengan tegas. orang yang
kehilangan sukma tiba-tiba menimbrung pula:
"Atas petunjuk dari locianpwe boanpwe telah ditunjuk sebagai saksi maka setelah pertarungan
berakhir dan menang kalahpun telah ditentukan, boanpwe harap locianpwe segera mengajukan
syarat yang hendak cianpwe ajukan sehingga pertaruhan inipun bisa kita akhiri sampai disini saja .
."
sepasang mata Tay huang sinni memancarkan sinar tajam, ia memandang sekejap ke arah Han
siong Kie lalu katanya:
"Gampang dan sederhana sekali syaratku ini, aku cuma minta engkau segera menikah dengan
Go siau bi dan menjadi suami istri yang berbahagia "
Hebat sekali perubahan wajah Han siong Kie, tanpa sadar secara beruntun ia mundur lima
langkah kebelakang.
Mimpipun ia tak menyangka kalau syarat yang diajukan Tay huang sinni adalah mengenai
persoalan itu.
Pertama kali ketika ia selamatkan Go siau bi dari tangan pengawal pribadi istana Huan mo
kiong dan menginap sebuah rumah penginapan, orang yang kehilangan sukma telah menyaru
sebagai tukang obat dengan maksud menjodohkannya dengan gadis itu, kedua kalinya Put to
sianseng ajukan pinangan bagi cucu perempuannya ternyata pinangan itupun atas usul dari orang
yang kehilangan sukma.
sekarang adalah untuk ketiga kalinya peristiwa itu terjadi, temyala orang yang kehilangan
sukmalah sebagai saksinya.
sekalipun orang bodoh juga akan tahu bahwa kejadian ini bukan suatu kejadian yang
kebetulan saja, sudah pasti orang yang kehilangan sukmalah yang telah mengatur segala
sesuatunya.
Lalu apa maksudnya perempuan misterius itu mengatur segala sesuatunya itu? Apa alasannya?
Tanpa sadar sianak muda itu mengalihkan pandangan matanya kewajah orang yang kehilangan
sukma dan ingin sekali melihat mimik wajahnya pada saat itu, sayang mimik wajahnya tertutup
oleh kain kerudung berwarna hitam.
"Bagaimana sau sicu? jawablah sejujur nya" terdengar Tay huang siani bertanya.
Kacau dan bingung perasaan Han siong Kie pada saat ini tanpa disadarinya ia menyahut.
"Aku tak dapat menerima syaratmu itu "
"jadi engkau hendak menjilat ludahmu sendiri? " tegur Tay huang sinni dengan wajah serius.
Tanpa sadar si anak muda itu mundur satu langkah kebelakang dia berusaha untuk membela
diri, katanya:
"cianpwe aku minta ajukan syarat lain, tentang syaratmu yang itu aku tak dapat
menyanggupinya "
"Tidak bisa, selamanya pinni hanya akan mengajukan sebuah syarat saja, tidak nanti akan
kuulangi dengan mengajukan syarat lain"
"Tapi boanpwe benar-benar tak dapat melakukan permintaan dari locianpwe itu"
"ooh jadi engkau bermaksud untuk mengingkari janji?" ejek nikoh tua itu dengan sinis.
"Boanpwe mempunyai kesulitan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain, maafkanlah daku
locianpwe, syaratmu itu tak dapat kulaksanakan"
"jadi kau anggap Go siau bi tidak pantas untuk mendampingi dirimu sebagai seorang istri?"
"Bukan... bukan begitu maksud boanpwe, terus terang saja boanpwe katakan babwa aku..
sebenarnya aku telah..telah.."
"Apa maksudmu Katakan saja blak-blakan"
"Sebenarnya boanpwe telah serahkan hati dan tubuh boanpwe ini kepada gadis lain, dan antara
aku dengan dia telah .... telah terikat oleh tali perkawinan"
"Ada yang menjodohkan?’
"Tidak..tidak ada"
"Ada persetujuan dari orang tua?"
"Ju...juga tii... tidak ada"
"Kalau toh tidak ada kan hal itu sama sekali tidak menghalangi engkau untuk menerima
syaratku ini?"
sungguh sedih dan pedih perassan hati Han siong Kie apalagi teringat bahwa Tonghong Hui,
yang dicintainya telah tiada di dunia ini, kepedihan tersebut akhirnya tercetus keluar dengan katakata:
"Dia.... dia telah meninggal dunia"
"Kalau benar sudah mati urusan ini kan lebih gampang untuk diselesaikan? Apa yang kau
pusingkan lagi?"
"jiwa dan perasaan boanpwe telah lama terkubur bersama matinya gadis itu, pada hakekatnya
yang cianpwe lihat sekarang tak lebih hanya sesosok mayat hidup belaka, sesosok tubuh yang
tidak berperasaan dan tidak kenal arti lagi"
sekilas perasaan serba salah melintas di wajah Tay huang sinni, ia terbungkam untuk beberapa
saat lamanya, tapi selang sesaat kemudian ia telah berkata lagi dengan suara keras:
"Menurut apa yang pinni ketahui, engkau sudah pernah bersentuhan badan dengan Go siau bi,
lantaran cintanya padamu, ia rela mengasingkan diri dan hidup sebagai seorang pendeta, tidakkah
kau tergetar perasaan hatinya oleh kesungguhan serta kemurnian cinta kasihnya itu?"
"Aaai, pada hakekatnya boanpwe tidak punya ingatan untuk memikirkan persoalan yang lain"
"Tahukah engkau bahwa perbuatanmu telah menghancurkan masa depan seorang dara ?"
"Boanpwe menyesal sekali atas kejadian ini, tapi apa boleh buat lagi boanpwe tak kuasa
menerima kenyataan tersebut"
"selain itu tahukah engkau bahwa tidak berbakti ada tiga macam, dan yang paling utama
adalah tiada keturunan, apakah engkau gembira melihat keluarga Han putus keturunan?"
000dw000
BAB 67
UCAPAN tersebut bagaikan sebilah pisau belati yang menusuk kedalam ulu hati Han siong Kie,
sekujur badannys gemetar keras.
Pada hakeketnya tak pernah ia berpikir sampai kesoal itu, tapi heran mengapa Tay huang sinni
menegur dirinya dengan kata-kata semacam itu? Bukankah dia adalah seorang pendeta yang tidak
mencampuri urusan keduniawian lagi?
" Locianpwe apakah engkau hendak memaksa boanpwe untuk mengingkari janjiku terhadap
orang yang sudah tiada lagi?" katanya tiba-tiba.
orang yang kehilangan sukma yang selama ini membungkam terus mendadak menyela:
"Nak bila engkau bersedia untuk memegang janji kepada orang yang telah mati, mengapa tidak
pula kau penuhi kewajibanmu sebagai rasa baktimu pada orang tua yang telah tiada ? Kau harus
dapat membedakan mana yang serius dan mana yang tidak. toh setelah kau laksanakan
kewajibanku untuk berbakti pada orang tua, engkau masih dapat pula memenuhi janjimu kepada
orang yang telah tiada?"
"Bila aku sampai berbuat demikian, bukankah perbuatanku ini justru akan menyiksa nona Go
siau bi untuk selama-lamanya?"
"siapa bilang begitu ?"
" Cianpwe" tiba-tiba Han siong Kin menengadah dan menatap wajah perempuan misterius itu
tanpa berkedip "tolong tanya, apakah kesemuanya ini adalah hasil dari rencana locianpwe ?"
orang yang kehilangan sukma terbungkam, ia tak sanggup memberikan jawaban.
"sau sicu, apakah engkau lupa bahwa hasil ini adalah suatu hasil dari pertaruhan antara engkau
dan aku ?" Tay huang sini menyela dari samping dengan dingin
"oooh.. jadi engkau menggunakan kebahagiaan dari seorang dara sebagai bahan pertaruhan?
Pantaskah perbuatanmu itu?" seru pemuda itu marah-marah.
JILID 32 HAL. 50/51 HILANG
amat menusuk pendengarannya, terutama sebutan "ciangbunjin" yang sengaja diucapkan
dengan nada berat, lebih-lebih mengetuk perasaannya.
sebagai seorang pemuka dunia persilatan, menjadi kewajiban baginya untuk melaksanakan apa
yang telah disanggupi, tapi perkawinan adalah suatu kejadian besar, ia tak ingin berbuat secara
gegabah sehingga akhirnya harus di akhiri dengan tragedi.
44
Sementara pemuda itu masih termangu- mangu, orang yang kehilangan sukma telah berkata
lagi:
"Nak, tegakah engkau membiarkan masa depan seorang dara hancur di tanganmu?"
Sakit hati, bingung dan sedih bercampur aduk dalam perasaan hati si anak muda itu, dia tak
tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini, terutama kata-kata tentang ketidak baktian sebagai
seorang putra diantara tiga hal yang tidak berbakti, tak punya keturunan adalah tidak berbakti
yang paling utama. Benarkah dia tak akan menikah dan membiarkan orang menganggapnya
sebagai manusia yang tidak berbakti?
"Sekarang ia baru menyesal, menyesal apa sebabnya tidak menggunakan ilmu jari Tong kim ci
untuk mengalahkan musuhnya, ia tidak tega rahib itu terluka, tapi akhirnya dia sendirilah yang
rugi.
Sebagai seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia akan mengingkari janji. Kata-kata itu diucapkan
sendiri olehnya, benarkah dia harus mengingkari janji.
Sekalipun ia sadar bahwa ia terjebak oleh suatu siasat yang disusun sangat rapi, toh dia kalah
adalah suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi.
Sementara itu orang yang kehilangan sukma tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia
mendesak lebih lanjut.
"Nak, engkau sebagai putra manusia, menjadi kewajiban bagimu untuk menunjukkan
kebaktiaanmu sebagai anak manusia, sekalipun engkau dapat membalaskan dendam bagi
kematian ayahmu, belumlah lengkap kebaktianmu pada orang tua, mengertikah kau dengan katakataku
ini ? .."
Han siong Kie menggigit bibir, sahutnya:
"Apa yang cianpwe ketakan memang benar tapi sekarang aku harus membalaskan
HAL. 54 S/D 57 HILANG
sekalipun aku kawin dengan Go siau bi mungkinkah perkawinan ini bisa berakhir dengan
kebahagiaan, Akhirnya toh kita akan mengalami tragedi yang menyedihkan?"
"Bahagia atau sedih adalah urusan belakang, siapa tahu kalau kenyataannya jauh berbeda
dengan apa yang saat ini kau bayangkan?"
"Jadi maksud Cianpwe, kau memaksa Boanpwe untuk mengabulkan permintaanmu itu?"
"Yaa,angaplah perkataan ini merupakan suatu paksaan" sahut orang yang kehilangan sukma
dengan suara berat.
Han siong Kie tertegun dan tidak bicara, selang sesaat kemudian ia mengangguk. "Baik.
Boanpwe menyanggupi permintaan mu itu"
"Jadi kau menerima syarat tersebut?"
"Benar, aku menerimanya, tapi akupun mempunyai sebuah syarat"
"Apa syaratmu itu?"
" Cianpwe harus menjelaskan kepada nona Go siau bi serta kakeknya, bila dendam berdarah
berhasil boanpwe balas, waktu itulah kita baru bicarakan kembali soal cinta dan tiga tahun setelah
menikah boanpwe akan meninggalkan keluarga dan pergi jauh"
"setelah tiga tahun, apakah engkau akan bunuh diri untuk menunjukkan ketetapan hatimu pada
Tonghong Hui?" kata orang yang kehilangan sukma sampai mundur selangkah.
"Benar, kenapa ? "
"Andaikata Tonghong Hui belum meninggal dunia ?"
"Aaah, hal ini aku rasa tidak mungkin"
"Baik, kukabulkan syaratmu itu dan kita pun tentukan perjanjian ini dengan kata-katamu ini"
Berbicara sampai disini, tiba-tiba orang yang kehilangan sukma berpaling, serunya kearah batu
karang kurang lebih beberapa kaki didepan sana: "Locianpwe, silahkan mengunjukkan diri untuk
memperkuat ikatan perkawinan ini "
seorang sasterawan berusia setengah baya perlahan-lahan munculkan diri dari balik batuan
cadas.
Dia bukan lain adalah kakek Go siau bi Put to sianseng yang disegani banyak orang itu.
Han siong Kie tertegun, kemunculan tokoh silat ini semakin memperkuat dugaannya bahwa apa
yang terjadi pada saat ini adalah suatu siasat, suatu rencana besar dari orang yang kehilangan
sukma.
Tapi yang mengherankan adalah Put lo sianseng dan Tay huang sinni kedua orang tokoh silat
ini berilmu tinggi dan berkedudukan terhormat, tapi mereka bersedia untuk mendengarkan katakata
orang yang kehilangan sukma malahan bekerja sama untuk memancingnya masuk jebakan,
apa tujuan mereka?
sementara itu Put to sianseng telah berkata sambil tertawa ringan ucapnya:
"Bocah bagus, kemurunganku sudah dilenyapkan, mulai sekarang lohu bisa mengasingkan diri
dan beristirahat dengan tenang".
orang yang kehilangan sukma segera mendorong Han siong Kie untuk maju katanya:
"Bagaimana juga penghormatan tak bisa dielakkan, hayo maju dan memberilah hormat kepada
kakekmu."
Dalam hati Han siong Kie menghela napas panjang, dengan kaku dia maju beberapa langkah
dan jatuh berlutut dihadapan put to sianseng, ketika ia menyembah sebanyak tiga kali ia tak dapat
melukiskan bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, entah manis getir, kikuk atau kecewa.
Cepat Put to sianseng ulapkan tangannya seraya berkata:
" Cukup Cukup Bangunlah nak, sebelum aku pergi mengasingkan diri, ada beberapa patah kata
terlebih dahulu hendak kukatakan kepadamu, ketahuilah gurumu Mo tiong ci mo adalah sahabat
lamaku, setelah engkau mewariskan kedudukannya aku harap engkau bisa membangun kembali
perguruan Thian Lam bila melakukan segala persoalan janganlah terlalu memikirkan masalah itu
dengan pikiran yang sempit".
sekujur badan anak muda itu bergetar keras, peluh dingin membasahi tubuhnya tanpa terasa ia
teringat kembali akan apa yang diberitahukan orang yang kehilangan sukma ketika berada di
mulut lembah kematian.
Dikatakan Tee kun perguruan Thian Lam yang sekarang yaitu Wi It beng telah menjual
perguruannya kepada Thian che kau, istana Huan mo kiong telah diubah menjadi kantor cabang
Thian che kau sektor Thian lam.
JILID 32 HAL. 62/63 HILANG
Perasaan hatinya pada saat ini hampa, kosong . . sekarang Go siau bi telah menjadi calon
istrinya dengan resmi, siapakah bakal menduga sampai kesitu?
setelah tiba di kaki bukit dan menghampiri tempat perpisahannya dengan Hekpek siang yau,
mendadak pemuda itu tercekat, ternyata dua orang pembantunya telah lenyap tak berbekas.
semestinya Hekpek siang yau tidak akan meninggalkan ketuanya tanpa pamit, atau mungkin
telah terjadi sesuatu?
Han siong Kie memeriksa keadaan disekitar tempat itu dengan seksama, namun ia tak berhasil
menemukan sesuatu tanda-tanda pernah terjadinya pertarungan disana. Atau Hekpek siang yau
telah menghianatinya ?
-000dw000-
DENGAN kepandaian silat yang dimiliki sepasang siluman serta meninjau dari perbuatanperbuatan
mereka di masa lampau, bisa jadi kedua orang itu akan melakukan kejahatan lagi.
Andaikata apa yang diduga tak salah, dialah yang berdosa karena dialah yang melepaskan dua
orang gembong iblis itu dari tempat penahanannya.
Untuk sesaat lamanya Han Siong Ken berdiri tertegun, ia tak tahu apa yang musti dilakukan.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian pa muda itu mengambil keputusan, pikirnya:
"Andaikata sepasang siluman benar-benar telah menghianatinya serta melakukan kejahatan
dalam dunia persilatan, aku pasti akan melenyapkan kedua orang itu dari muka bumi".
seorang diri diapun melanjutkan perjalanan menuju kekaki bukit itu.
Dua jam kemudian pemuda itu sudah keluar dari daerah pegunungan dan melanjutkan
perjalanan melalui jalan raya.
sementara perjalanan masih dilanjutkan tiba-tiba dari arah depan meluncur datang beberapa
sosok bayangan manusia, meskipun gerakan tubuh beberapa orang itu bagaikan meteor yang
lewat, akan tetapi bagi ketajaman mata Han siong Kie bukan halangan baginya untuk mengenali
siapa gerangan mereka itu. segera teriaknya dengan suara nyaring: "Engkoh tua Tunggu sebentar,
kau akan ke mana ?"
Mendengar teriakan tersebut, berhentilah rombongan itu, ternyata mereka adalah delapan
orang pengemis dekil, orang pertama tak lain adalah Pengemis dari selatan.
"HaaaHh . . haaaHh .. haaaHh saudara cilik, rupanya kau " teriak pula pengemis dari selatan
dengan wajah berseri.
" Engkoh tua, aku lihat wajahmu murung sekali, apakah telah terjadi sesuatu atas diri mu?"
"Aaai, saudara cilik masa kau tidak mendengar bahwa perkumpulan kami sedang menghadapi
masa kiamat?" ujar pengemis tua itu sambil menghela napas panjang.
"Menghadapi masa kiamat? Kenapa?" seru si anak muda itu tertegun sambil terimangu.
"Jadi engkau tidak mendengar apa-apa tentang organisasi Kay pang kami itu?" Han siong Kie
menggelengkan kepalanya:
"sudah berbulan-bulan lamaoya siaute tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, aku tak tahu apa yang telak menimpa perkumpulan Kay pang?"
"oooh. Kalau begitu tak heran kalau engkau tidak tahu.." ujar pengemis itu.
sesudah menghela napas dan berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh: "semenjak dahulu
kala antara Thian che kau dengan Ji-pang dan sam hwe tak pernah mengadakan kontak hubungan
apa-apa, hubungan kami ibaratnya air sumur yang tidak mengganggu air sungai, tapi rasanya
pihak Thian che kau mempunyai ambisi untuk merajai dunia persilatan, secara licik mereka telah
membasmi musuh-musuh serta saingannya secara diam-diam. Pertama kali yang mengalami nasib
jelek adalah perkumpulan Pat gi pang, menyusul kemudian perkumpulan Jit yan pang. Hong te
hwe, Ang kin hwe, serta Ngo heng hwe dipaksa takluk kepada mereka dan merubah nama
menjadi kantor cabang perkumpulan Thian che kau, rupanya sekarang mereka jatuhkan
incarannya kepada pihak Kay pang, saudara cilik, kalau bukan saat kiamat perkumpulan kita sudah
tiba, apa lagi namanya"
JILID 33 HAL. 06/07 HILANG
"Akupun belum lama mendengar ini, karena setelah urusan disini selesai segera aku akan
berangkat ke Thian Lam untuk melakukan pembersihan secara besar-besaran"
"Dengan kekuatan saudara cilik seorang aku rasa . ."
"Pentolan penghianatan ini cuma seorang yaitu Wi It beng, aku percaya anak murid lain
kebanyakan cuma menganut kehendak hatinya belaka" setelah berhenti sebentar ia berkata lagi:
" Engkoh tua batas waktu yang ditentukan lencana Thian che leng masih ada berapa hari?"
"Tinggal besok sehari "
Ketika pengemis dari selatan mengucapkan kata-kata itu, tiga pengemis tua dan delapan
pengemis setengah baya yang berada dibelakagnya sama-sama menunjukkan wajah sedih dan
resah, namun tak seorangpun yang bersuara. Han siong Kie termenung dan berpikir sebentar,
kemudian bertanya: "Apa rencana engkoh tua untuk menyelesaikan persoalan yang sangat pelik
ini?"
"Aaai, aku telah menurunkan perintah untuk mengumpulkan segenap jago lihay yang berada
dikantor- kantor cabang untuk berkumpul semua dimarkas besar kami tepi pantai Pak swit ham,
yaa . . mati hidup Kay pang tergantung dalam pertarungan yang bakal berlangsung, meskipun
saat ini kami masih mempunyai satu harapan untuk menyelamatkan perkumpulan kami dari
musibah yakni mengharapkan kemunculan susiok kami song Tiat kong . tapi harapan ini tipis
sekali"
"Mengapa kalian tidak segera mengirim kabar kepada song locianpwe agar bersiap sedia?"
"Ketika tengkorak maut gadungan membuat onar dalam markas besar kami. song susiok telah
salah menganggap tengkorak gadungan sebagai tengkorak maut asli, sesudah peristiwa itu beliau
berkunjung ke benteng maut menuntut keadilan, tapi akhirnya beliau kalah ditangan pemilik
benteng maut, waktu itu susiok telah sesumbar bahwa akan muncul kembali dalam dunia
persilatan untuk selamanya, dari mana kami bisa tahu susiok kini berada dimana ? Dan bagaimana
mungkin berita itu disampaikan kalau kami tak tahu dimana beliau berada?"
"Apakah engkoh tua bersedia untuk menerima bantuan dari saudara cilikmu ini?" kata Han
siong Kie mendadak sambil menawarkan jasa baiknya.
" Kesediaanmu untuk membantu tentu saja akan kami sambut dengan senang hati" sahut
pengemis dari selatan sambil mengernyitkan alisnya yang telah memutih, "aku hanya kuatir
bantuanmu masih belum cukup untuk menolong perkumpulan kami lolos dari musibah ini, aaai...
yaa apa boleh buat, terserah bagaimana nasib akan mengaturnya nanti"
Pengemis dari selatan belum tahu kalau Han siong Kie telah berhasil mempelajari ilmu sakti si
mi sinkang, sebab berbicara dari kekuatan yang dimiliki pemuda itu di masa lampau, memang tak
mungkin ia bisa menolong Kay pang untuk lolos dari musibah.
Han siong Kie bukan orang bodoh, sudah tentu diapun dapat merasakan keraguan saudara
tuanya itu, ia tersenyum.
"Begini saja engkoh tua, kalian berangkatlah lebih dulu, bila tiba saatnya nanti, aku pasti sudah
hadir di markas besar kalian"
Pengemis dari selatan mengangguk. mereka tidak berkata apa-apa lagi, dengan begitu maka
dua bersaudara inipun kembali berpisah.
sepeninggal pengemis dari selatan beserta ketujuh orang rekannya, Han siong Kie berpikir
didalam hati, untuk menuntut balas ke benteng maut jelas sudah tak sempat lagi, maka ia
menyusun rencana untuk melaksanakan kembali usaha penuntutan balasnya sesudah
menyelamatkan Kay pang dari musibah.
-000dw000-
BAB 68
LENYAPNYA Hekpek siang yau secara misterius sangat memusingkan kepala anak muda itu, ia
merasa tak mungkin kalau kedua orang siluman itu berhianat kepadanya atau pergi tinggalkan
dirinya tanpa pamit. sebab dua orang itu telah mengakuinya sebagai majikan, itupun kerena harus
menuruti sumpah yang pernah mereka ucapkan dimasa lampau, apalagi mereka telah diterima
sebagai anggota perguruan Thian Lam bun, mustahil pikiran mereka berubah di tengah jalan.
Tapi kemana mereka telah pergi ? Celaka ditangan orang ?Jelas hal ini tak mungkin terjadi,
Ilmu silat mereka sangat lihay, siapakah yang mampu untuk merobohkan kedua orang itu"
sementara dia masih melamun, tiba-tiba sorot matanya sempat menangkap sesosok bayangan
manusia sedang berdiri ditepi sungai tak jauh dari tempat ia berada sekarang, jelas orang itu
tinggi semampai dengan potongan badan menggiurkan, jelas orang itu adalah seorang gadis dan
gadis itu terasa sangat dikenal olehnya.
Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, kontan jantungnya berdebar keras, hampir
saja pemuda itu menjerit. "Aaah Masa dia ?"
Dengan penuh emosi dan hati yang bergejolak pemuda itu meluncur ke depan, menghampiri
gadir yang tinggi semampai itu .
Makin mendekati orang itu, Han siong Kie merasa semakin yakin kalau dugaannya tidak
meleset dan akhirnya . . ia benar-benar membuktikan bahwa dugaannya tak salah gadis itu
memang tak lain dari kekasih hatinya. Tonghong hui yang dia rindukan siang malam.
Darah yang mengalir dalam tubuh pemuda itu terasa mendidih bagaikan kena listrik
bertegangan tinggi, separuh tubuhnya terasa menjadi kaku, hampir saja jantungnya melompat
keluar dari rongga dadanya.
Dengan bibir yang gemetar dan muka yang pucat, ia berdiri tertegun untuk sesaat lamanya tak
sepatah katapun mampu dia utarakan keluar.
Betapa tidak ? Tonghong-Hui yang melama ini dianggapnya telah mati ternyata masih hidup
segar bugar... dugaan dari orang yang kehilangan sukma terbukti kebenarannya, dara itu belum
mati.
Tapi aneh, sekalipun Han siong Kie sudah berada dibelakangnya, gadis itu masih tidak merasa,
ia berdiri kaku bagaikan patung, bergerak sedikitpun tidak.
Angin sungai berhembus sepoi basah mengibarkan ujung bajunya yang panjang, tubuhnya
yang tinggi semampai, lekukan tubuhnya yang menggiurkan amat menawan hati, ibaratnya
bidadari dari kahyangan gadis itu tampak agung dan cantik.
"Adik Hui" akhirnya pemuda itu memang gigil, meski suaranya lirih dan agak parau.
sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, namun ia tidak berpaling pun tidak menjawab.
suatu firasat aneh terlintas dalam benak sianak muda itu, untuk kedua kalinya kembali dia
memanggil: "..Adik Hui.."
Tonghong Hui menghela napas panjang, begitu pedih dan hampa helaan napas itu, membuat
Han siong Kie tercekat hatinya.
Menyusul helaan napas itu, ia putar badannya, sesaat wajah yang sayu terpampang didepan
mata.
Wajah itu layu, kusut dan sinar matanya telah pudar persis seperti wajah Go siau bi calon
istrinya ketika ia jumpa didepan kuil Bu cuan di bukit Tay huang san.
Han song Kie merasakan hatinya bagaikan dipagut ular berbisa, secara beruntun ia mundur tiga
langkah kebelakang.
Bagaimanakah pertanggungan jawabnya kepada gadis yang ia cinta dengan segenap jiwa
raganya? Apalagi bila ia tahu kalau Go siau bi telah menggantikan kedudukannya?
Diantara putih kepucatan yang menghiasi wajah Tonghong i-Hui terlintas semua merah
diantara pipinya, ia menatap Han siong Kie dengan pandangan hampa, mukanya begitu layu,
pedih, sukar dilukiskan dengan kata.
Mereka tidak mirip kekasih yang saling bertemu kembali, keadaan mereka waktu itu ibarat
orang asing yang saling berjumpa, tiada surprise tiada luapan cinta dan rindu, tiada pelukan
ataupun ciuman.
siapapun diantara mereka tak ada yang buka suara, mereka hanya saling menatap dengan
mulut membungkam.
Udara serasa ikut membeku mengikuti keadaan mereka yang serba kaku, serba dingin-
Perlahan-lahan Han siong Kie tundukkan kepalanya, ia tidak memiliki keberanian untuk
memandang kekasihnya lagi, sebab ia telah menjadi penghianat dari cinta, ia merasa tak punya
muka untuk bertemu lagi dengan gadis yang telah menyerahkan seluruh jiwa dan raga kepadanya.
suasana begitu sepi, hening seolah-olah dunia menjadi mati, jagad menjadi kiamat tak
seorangpun yang bersuara, hanya detak jantung mereka yang berdebar keras.
Darimana orang yang kehilangan sukma bisa tahu kalau Tonghong -Hui tidak akan mati?
Benarkah ia memiliki ilmu meramal, ilmu untuk melihat kejadian yang akan datang?.
Apa sebabnya orang yang kehilangan sukma merusak hubungannya dengan Tonghong Hui?
Benarkah jika hubungan mereka dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu
kejadiaa yang tragis?
Mengapa Tonghong Hui mengingkari janjinya ketika itu? Mengapa ia begitu tega membiarkan ia
menunggu melama dua hari dengan sia-sia ditepi sungai?
Terbukti sekarang bahwa ia tidak mati, benarkah ayahnya bukan pembunuh keluarga Han dan
keluarga Thio? Kalau bukan, tidak seharusnya gadis itu mengingkari janji.. Lama sekali, akhirnya
Tonghung-Hui buka suara, meskipun suaranya penuh kepedihan:
"Engkoh Kie, angkat kepalamu dan pandanglah aku"
Pedih hati Hansiong Kie bagaikan disayat-sayat pisau, ia mendongakkan kepalanya, meskipun
dengan perasaan menyesal dan malu..
Tatkala sepasang mata mereka bertemu satu sama lainnya, kembali pemuda itu mundur
selangkah, yang tampak olehnya adalah seraut wajah yang pucat seperti mayat,juuh berbeda
dengan raut wajahnya dalam kenangan selama ini
"Engkoh Kie, kau... kau membenci aku" kembali gadis itu berbisik lirih sekali suaranya.
"Adik Hui Aku .. aku...toh...mengapa kau mengatakan begitu ? Mengapa kau mengatakan kalau
aku membenci dirimu ?"
"Karena.... karena aku telah mengingkari janjiku sendiri kepadamu, aku tidak menepati janji"
"Adik Hui, seharusnya akulah, aai. mengapa kau tidak menepati janjimu."
"sekembalinya kedalam benteng, aku telah disekap oleh ayah, tak mungkin bagiku untuk kabur
keluar"
Han Siong Kie merasa emosi dalam dadanya bergelora, apa yang ingin diketahui olehnya
segera akan terwujud, dengan suara agak gemetar tanyanya lagi."sudah kau tanyakan soal yang
ingin kuketahui itu ?"
"sudah.." perlahan-lahan gadis itu mengangguk.
Mencorong sinar mata sianak muda itu, dia maju tiga langkah kedepan seraya bentanya lagi:
"Bagaimana jawaban ayahmu?"
"sudah dua puluh tahun lamanya ayah tak pernah meninggalkan pintu benteng barang satu
langkahpun, apakah jawaban tersebut dapat kau terima sebagai suatu keterangan yang lengkap?"
"sudah dua puluh tahun ayahmu tak pernah muncul kedalam dunia persilatan ?" Tonghong Hui
mengangguk lirih tanda membenarkan.
sungguh terkejut dan girang tak terkirakan perasaan Han siong Kie pada saat ini, dia girang
lantaran Tengkorak maut ayah Tonghong-Hui bukanlah musuh besar keluarganya, sebab peristiwa
berdarah yang menimpa perkampungan keluarga Han terjadi pada bulan sembilan tanggal
sembilan pada lima belas tahun berselang.
sekarang terbukti sudah bahwa dia dan Tonghong Hui sebenarnya tidak terpisah oleh dendam
sakit hati.
Tapi pemuda itu merasa murung, murung karena tidak tahu siapakah pembunuh keluarganya,
kemana dia harus pergi untuk mencari jejak pembunuh keluarganya itu?
Tatkala ia teringat kembali akan pernikahannya dengan Go siau bi, kembali pemuda itu
merintih... merintih penuh kedukaan serta penderitaan- "Engkoh Kie, kee... kenapa kau?" tegur
Tonghong i-Hui.
"oooh, aai tidak apa-apa, kalau toh engkau disekap oleh ayahmu, kenapa sekarang bisa muncul
lagi diluar benteng ?"
"Aku mencuri keluar secara diam-diam, mungkin selama hidup, .selama hidup aku tidak dapat
memasuki pintu benteng maut lagi "
" Kenapa?" tanya sianak muda itu dengan terperanjat:
Tonghong Hui tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya lagi:
" Engkoh Kie, apakah engkau masih... masih selalu mencintai diriku ?"
sakit rasanya hati Han Siong Ki tatkala mendengar pertanyaan itu, ia berpikir:
"Kalau kulihat dari sikap adik Hui yang begitu murung dan layu, kemungkinan besar ia sudah
mengetahui tentang peristiwaku di bukit Tay huang san, bagaimana caranya aku memberi
penjelasan ? Aaai, aku benar-benar menyesal mengapa waktu itu imanku tidak teguh ? Bila
kutolak permintaan tersebut dengan hati yang keras, tak nanti bakal terjadi peristiwa seperti hari
ini".
sementara sianak muda itu masih termenung, Tonghong Hui telah mendesak lebih lanjut.
" Engkoh Kie, hayolah katakan-.. masihkah engkau mencintai diriku ?"
"Adik Hui, percayalah kepadaku. hatiku tak akan berubah, selama-lamanya aku memang tetap
mencintaimu"
"Kau mencintai aku ? selama-lamanya mencintai diriku ?"
"Benar, selama hayat masih dikandung badan, cinta ku padamu tak akan pudar"
" Engkoh Kie, aku dapat meresapi cinta kasihmu ini dan tak akan melupakan untuk selamalamanya
. "
Ucapan tersebut segera mendatangkan firasat tak enak dihati pemuda kita, buru-buru serunya:
"Adik Hui, kau... kenapa kau...."
Tonghong Hui menggeleag dengan seduh dan tertawa rawan.
"Engkoh Kie, kau tak usah bertanya kepadaku mengapa, asalkan masih tetap mencintai aku, itu
sudah lebih dari cukup "
"Adik Hui, aku..aku..sebetulnya...."
"Engkoh Kie, manusia yang mendapat cinta murni dari seseorang adalah suatu kebahagiaan,
aku sudah merasa sangat puas Biarlah apa yang akan terjadi dikemudian hari diatur oleh takdir
dan nasib" Air mata bagaikan layang-layang putus benang mengucur keluar tiada hentinya, dan
membasahi pipi Tonghong-Hui yang pucat pasi, serta tampak menyeramkan itu.
Hancur lebur perasaan hati Han siong Kie pada waktu itu, ia merasa gemas dan benci mengapa
tak dapat segera mati sehingga dosa yang telah dilakukan bisa ditebus kembali. "Adik Hui,
mengapa kau mengatakan begitu? Mengapa ?"
Tonghong Hui tertawa rawan- dia menggeleng.
"sekalipun kuterangkan, engkau tak akan mengerti . . dan tak akan paham"
" Katakanlah padaku . . kumohon katakanlah kepadaku, mengapa ? Mengapa kau berkata
begitu?"
"Dikemudian hari engkau akan mengerti sendiri, sekalipun tidak kuterangkan sekarang, tapi kau
akan pasti paham"
Berkerut kencang raut wajah Han siong Kie yang tampan d engan penuh penderitaan katanya
lagi:
"Adik Hui, maafkanlah daku, pada hakekatnya aku... sebetulnya aku..."
"Engkoh Kie, jangan berkata begitu?" tukas Tonghong i-Hui sambil menggelengkan kepalanya
berulang kali: "kata maaf sepantasnya muncul dari mulutku aaai Apa mau dikata lagi bila takdir
telah mengatur segala sesuatunya itu bagi kita?"
"Adik Hui...."
"Duduklah engkoh Kie, bersandarlah padaku," Dengan sikap yang kaku dan gerak gerik yang
sama seperti orang kehilangan sukma Han siong Kie duduk diatas batu cadas dan bersandar diatas
tubuh gadis itu.
Tonghong Hui segera merebahkan dirinya dalam pangkuan pemuda itu serta merta Han siong
Kie merangkul tubuhnya dan mendekapaya erat-erat.
"Engkoh Kie, masih ingat ketika kita mengangkat saudara diatas batu besar ditepi sungai?
Ketika itu aku masih serupa seorang pengemis cilik"
"Aku tak akan melupakan kenangan indah itu untuk selamanya"
"Masih ingat sewaktu kau terjatuh ketangan orang-orang Thian che kau pura-pura mati dengan
ilmu Ku si tay hoat dan aku menguburkan jenasahmu serta mendirikan batu nisan dirimu?"
"Aaai, aku sangat mengharapkan bahwa kejadian itu hakekatnya adalah suatu kejadian
sebenarnya, sekarang niscaya kita sudah berbaring didalam sebuah liang..."
"Adik Hui, kau...."
"Ketika kau dihantam oleh Tengkorak maut gadungan sehingga tercebur kedalam jurang, aku
menyusulmu kedalam jurang, tapi akhirnya kita sama-sama tidak mati"
"Adik Hui, semua kenangan indah serta kenangan manis itu tak akan pudar, tak akan hilang
dari pikiranku"
"Tapi, sekarang engkoh Ki, aku menyesal aku merasa amat menyesal"
Tercekat perasaan hati Han siong Kie, ucapan dari gadis itu seakan-akan tidak teratur lagi,
mungkinkah ia sudah jadi gila?
"Adik Hui, kau ... kau perlu beristirahat, tidurlah sebentar agar pikiranmu menjadi terang
kembali."
"Tidak. aku sangat baik, pikiranku masih cukup terang"
"Ucapanmu itu .... ucapanmu iti telah menghancurkan hatiku.... melumpuhkan perasaanku"
"Bersabarlah engkoh Ki, perasaanmu itu akan hilang mengikuti berputarnya waktu "
Hembusan angin lirih berkumandang dari kejauhan, bukan hembusan angin biasa tapi ujung
baju seseorang yang tersambar angin-
Dengan cekatan dua orang itu meloncat bangun berpaling, sesosok bayangan manusia berdiri
kurang lebih lima kaki dihadapan mereka.
orang itu adalah seorang manusia aneh yang berambut panjang, tampaknya jelek dan sangat
menyeramkan,
Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, sementara Han siong Kie sendiripun merasa
terperanjat setelah mengetahui siapa yang datang, dia masih ingat manusia aneh ini adalah
penghuni benteng maut, dia pernah bertemu dengan manusia aneh ini dan seingatnya makhluk
inilah yang terus berkaok-kaok dengan suara aneh.
"siapakah orang itu adik Hui?" cepat bisiknya.
"Dia adalah siau suhengku, seorang yang bisu dan tak pandai berbicara tapi kecerdikannya luar
biasa, diapun sangat perasa, selama hidup belum pernah tinggalkan benteng.."
"Tahukah kau apa tujuannya datang kemari?"
"Tentu saja mendapat perintah dari ayah untuk mencari aku serta menggusurnya pulang
kebenteng"
"Kalau begitu biarlah ku usir dia pergi dari sini."
"Jangan...Jangan kau berbuat begitu", tiba-tiba ia melejit ke depan sambil berlarian menjauhi
pemuda itu, serunya lagi "engkoh Kie, semoga kau baik-baik menjaga diri,aku. .aku pergi dulu"
"Adik Hui, jangan pergi dulu. aku masih...."
Namun Tonghong Hui tidak menggubris lagi, bersama manusia aneh berambut panjang itu
bayangan mereka kian menjauh sehingga akhirnya lenyap dari pandangan.
Han siong Kie berdiri menjublak bagaikan sebuah patung arca ia berdiri kaku di atas sebuah
batu tanpa berkutik, untuk sesaat pemuda itu dibikin gelagapan dan tak tahu apa yang musti
dilakukan ingin sekali ia mencegah kepergiannya tapi kakinya tak pernah beranjak dari tempat
semula, tutur kata Tonghong i-Hui yang aneh dan sedih serta paras muka sang dara yang sayu
dan layu membuat pikirannya kalut dan tak tenang.
Masih banyak perkataan serta penjelasan yang hendak ia katakan kepadanya, tapi gadis itu
sudah pergi.
Menurut pengakuannya, sudah dua puluh tahun ayahnya tak pernah keluar daripintu gerbang
benteng, maka mungkinkah ucapannya jujur? Lima belas tahun berselang waktu itu usianya baru
mencapai tiga tahun, tak mungkin ia bisa tahu akan kejadian yang sebenarnya, benarkah ia
percaya akan kata-kata dari gadis itu?
Bukankah lambang tengkorak maut muncul ditempat pembantaian? Ataukah lambang itupun
palsu?
Berpikir sampai disini, dia lantas mendepakkan kakinya ke tanah seraya berseru:
"Bohong . . bohong siapa tahu kalau ia sengaja membohongi aku ? Bagaimanapun juga setelah
persoalan dari Kay pang telah ku selesaikan, aku harus berkunjung kebenteng maut"
setelah mengambil keputusan, pemuda itu menghela nafas panjang dan melanjutkan
perjalanannya menuju kuil Bu hau si di Pak swi tham, markas besar dari kaum pengemis.
suasana dimarkas besar perkumpulan Kay pang ketika itu diliputi oleh keresahan dan
kemurungan.
Mulai dari ciangbunjin sampai anggota yang terendah telah berkumpul semua disitu, jumlah
mereka mencapai dua ratus orang lebih, Waktu itu dengan wajah tegang, sedih dan marah
mereka tersebar diluar dan didalam kuil untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan
yang tak diinginkan-
Hari inilah batas waktu yang ditetapkan Thian che leng telah berakhir, dalam satu jam
mendatang bila Kay pang masih belum bersedia menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau,
maka semua anggota dalam perkumpulan itu akan dibantai secara keji.
Pemimpin para tiang lo dari Kay pang yakni Pengemis dari selatan berdiri disamping ketuanya
dengan alis mata berkernyit.
Suasana hening dan sepi, seakan-akan sernua orang sedang menantikan tibanya saat kiamat.
Ditengah keheningan malam yang mencekam seluruh jagad, tiba-tiba semua orang merasa
pandangan matanya jadi silau, tahu-tahu seorang manusia baju hitam tanpa menimbulkan sedikit
suarapun telah melayang turun ke tengah gelanggang.
Gerak tubuh orang itu sangat enteng dan cepat seolah-olah sukma gentayangan, dari sini dapat
diketahui betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang itu.
Ketua Kay pang serta keenam orang tianglonya serentak bangkit berdiri dan siap menghadapi
segala kemungkinan-
Berbareng dengan gerakan itu, kawanan jago lihay dari Kay pang yang lainpun serentak bersiap
siaga, meskipun agak tercekat perasaan hati mereka namun semangat tempur masih tetap tinggi.
orang itu adalah seorang kakek berjubah hitam dengan lambang matahari, rembulan serta
bintang diatas dadanya, tinggi kekar perawakan tubuh orang itu, cambangnya lebat dan sinar
matanya amat tajam.
setelah menyapu pandang sekejap keseluruh gelanggang, dia tertawa dingin
JILID 33 HAL. 30/31 HILANG
"HeeHh .. heeHh . . heeHh ciangbun, kuanjurkan kepadamu lebih baik berpikirlah tiga kali
sebelum mengambil keputusan, ketahuilah bahwa keputusan yang gegabah akan mengakibatkan
kehancuran total bagi pihak kalian sendiri "
"Tak usah banyak bicara, kami tak akan sudi mendengarkan perkataanmu itu"
setelah mengetahui kebulatan tekad orang, suma Hiong utusan khusus dari Thian che Kau itu
segera menarik kembali lencananya lalu sambil tertawa dingin berkata.
"Bagus Bagus Kupuji ketekadan kalian ini, terpaksa aku harus melaksanakan titah dari kaucu
kami untuk membantai kalian semua dari muka bumi "
sebelum iblis itu sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba dari luar pekarangan kuil muncul seorang
pengemis setengah baya, sambil berlarian menuju kehadapan ketuanya dia berseru: "Lapor
ciangbunjin, markas kita telah terkepung rapat."
"Aku sudah tahu, mundurlah " kata ketua kay pang seraya ulapkan tangannya. Pengemis
setengah baya itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari sana.
Dalam pada itu delapan orang jago pedang yang berada dibelakang suma Hiong telah putar
badan dan memencarkan diri jadi posisi setengah lingkaran, masing-masing pihak mencari
posisinya masing-masing dan berhadapan dengan lawan-lawannya.
sekejap mata suasana menjadi hening, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh
gelanggang.
Dengan sinar mata setajam sembilu suma Hiong menyapu pandang tiap wajah tokoh kay pang
yang hadir ditempat itu, sikapnya buas dan garang, seakan-akan dia tak pandang sebelah
matapun terhadap musuh-musuhnya ini.
Dua orang diantara enam tiang lo yang hadir disana tak dapat mengendalikan hawa amarahnya
lagi, mereka membentak keras kemudian sambil melepaskan serangan langsung menerkam
ketubuh orang itu.
suma Hiong mendengus sinis, tiba-tiba sepasang telapak tangannya direntangkan ke samping
dan menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras.
Jerit kesakitan menggelegar di angkasa, di tengah muncratnya darah segar yang menodai
permukaan tanah dua orang tiang lo itu mencelat ke belakang dan tewas seketika itu juga.
Kejadian ini sangat mengejutkan hati kawanan jago dari Kay pang, siapapun tak mengira kalau
dua orang tiang lo mereka bakal mampus dalam satu gebrakan saja ditangan orang.
Jelaslah sudah bahwa tenaga lwekang dari suma Hiong benar-benar sangat lihay dan sukar
dicarikan tandingannya, atau dengan perkataan lain sudah pasti Kay pang akan musnah dari muka
bumi ditangan orang ini.
Pengemis dari selatan amat gusar, rambut nya terasa pada berdiri seperti kawat, dia maju
kemuka, kepada ketuanya berkata:
"Bila takdir menghendaki Kay pang musnah ditangan iblis ini. siapapun tak akan dapat
menolongnya, biarlah aku si.pengemis tua berangkat satu langkah lebih duluan"- sambil
membusungkan dada, ia lantas tampil kedepan dan mendekati musuhnya. Menyaksikan
kemunculan pengemis itu. suma Hiong menjengek dingin, katanya:
"Jadi engkau yang disebut sebagai pengemis dari selatan, pemimpin para tianglo dari Kay
pang?"
"Benar" jawab pengemis itu singkat.
"Dengan kedudukan serta nama besarmu dalam tubuh Kay pang, perlukah ku beri waktu
bagimu untuk mempertimbangkan keadaan pada saat ini? Dengan senang hati akan kuberi
kesempatan yang terakhir bagimu untuk berpikir kembali"
"Tak perlu" tukas pengemis dari selatan dengan gusar "Thian che kau menganggap dirinya
besar dan agung, perbuatannya cuma mengacau dan menerbitkan keonaran dalem dunia
persilatan, saat kiamatnya tidak akan terlalu jauh"
"Kurang ajar, saudara benar-benar tak tahu diri, rupanya sebelum darah menodai seluruh
permukaan tanah, kalian tak akan sadar"
" omong kosong, lebih baik tutup saja bacot anjingmu"
suma Hiong dibuat marah oleh ucapan yang kasar itu, ia menengadah lalu tertawa dengan
suaranya nyaring dan menjulang tinggi ke angkasa membuat semua orang merasa telinganya
menjadi sakit.
Berbareng dengan berkumandangnya gelak tertawa itu delapan orang pendekar pedang yang
bersiap siaga dibelakangnya serentak berteriak keras, kemudian menerjang kearah kawanan jago
dari Kay pang yang mengurung disekitar tempat itu. Tak dapat dicegah lagi, suatu pertempuran
berdarah yang amat serupun segera berkobar.
Dengan penuh kemarahan pengemis dari selatan bersuit nyaring dan menerjang maju kemuka,
dia menyerang Suma Hiong secara bertubi-tubi.
Dalam waktu singkat, dia telah melancarkan delapan buah serangan berantai, kedelapan buah
serangan itu semuanya dilepaskan dengan disertai hawa amarah yang berkobar, bukan saja amat
dahsyat bahkan arah yang dituju semuanya adalah bagian-bagian tubuh yang mematikan.
seketika itu juga suma Hiong terdesak oleh serangan berantai itu, sehingga mundur tiga
langkah ke belaknog.
Tapi begitu pengemis dari selatan menyelesaikan ke delapan buah pukulannya, serentak suma
Hiong memperbaiki posisinya, dia tertawa seram dan secara beruntun balas melancarkan tiga
buah pukulan-
-000dw000-
BAB 69
HEBAT sekali serangan balasan dari utusan Thian che kau ini, dengan susah payah Pengemis
dari selatan berhasil menghindari serangan yang pertama dan serangan yang kedua, tapi serangan
yang ketiga tak sempat dihindari lagi, tak ampun pundaknya terhajar telak.
"Duuk" Pengemis dari selatan mendengus tertahan- sambil muntah darah segar dia mundur
beberapa langkah dengan sempoyongansuma
Hiong tertawa seram, ia tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk memperbaiki
posisinya lagi, berhastl dengan serangan yang pertama, serentak tubuhnya menerkam kedepan
dan menyusuli dengan pukulan berikutnya.
"Bangsat..... lihat serangang" ditengah keadaan yang kritis, bentakan nyaring menggetar
diangkasa, empat tiang lo yang masih berada disamping gelanggang berikut ketua mereka
bersama-sama masuk kedalam gelanggang dan mengerubuti suma Hiong yang lihay itu.
Di pihak lain pertarungan telah berkobar dimana- mana, setiap anggota Kay pang yang hadir
dalam markasnya telah diserang habis-habisan oleh lawan yang tangguh, dalam waktu singkat
dengusan tertahan suara beradunya senjata dan jerit kesakitan berkumandang silih berganti.
Pemandangan pada waktu itu mengerikan sekali, darah berceceran dimana-mana, mayatpun
bergelimpangan setinggi bukit.
Delapan orang jago dari Thian che kau itu rata-rata berilmu tinggi, setiap kali cahaya pedang
mereka berkelebat lewat seorang korban segera roboh binasa atau cedera hebat.
suma Hiong yang dikerabuti oleh empat orang tianglo dan ketua Kay pang sama sekali tidak
merasa jeri, dengan gerakan yang lincah dan pukulan pakulan yang aneh dia layani setiap
ancaman yang tertuju kearahnya.
Suatu ketika tiba-tiba ia membentak nyaring, sebuah pukulan dahsyst yang disertai dengan
deruan angin puyuh yang memekikkan telinga menyapu kedepan dan menghajar lawan-lawannya
"Blaaang.." bentaran keras tak bisa dihindari lagi, keempat orang tianglo dan ketua kay pang
itu segera terhajar sampai mencelat dan jatuh terlentang di tanah.
Melihat ketuanya terancam bahaya, pengemis dari selatan tidak menggubris lukanya sendiri
lagi, setelah menyeka noda darah di ujung bibirnya, ia meraung keras kemudian bagaikan banteng
terluka menerjang lagi ke depan.
"Sialan" maki suma Hiong dengan marah, " Hay..pengemis tua, rupanya kau memang sudah
bosan hidup, rasakanlah pukulanku ini"
45
Secepat sambaran kilat dia melepaskan lagi sebuah pukulan dahsyat ke arah depan.
Pengemis dari selatan menjerit tertahan, untuk kedua kalinya ia terhajar sampai mencelat
sejauh beberapa tombak.
Merah padam wajah keempat orang tiang lo itu, seperti orang kalap mereka melompat bangun
dan menerkam musuhnya, empat batang tongkat tah kau pangnya ibarat empat ekor naga sakti
segera menghantam tubuh iblis tersebut..
Suma Hiong tertawa dingin, ke sepuluh jari tangannya dipentangkan lebar-lebat, ketika
berkelebat ke depan, tahu-tahu ke empat batang toya peg gebuk anjing itu sudah ditangkap dua
dikanan dan dua dikiri.
Sekali menyentak kebelakang, keempat orang tiang lo itu mendengus tertahan dan mencelat
kebelakang.
Berhasil menghajar mundur, keempat tiang lo itu, Suma Hiong meneruskan terkamannya ke
depan, dengan cakar mautnya dia cengkeram tubuh ketua kay pang yang berada dihadapannya.
cepat dan diluar dugaan, cengkeraman tersebut datang keadaan tak terduga, tampak nya sang
ketua dari kay pang ini segera akan tertangkap oleh musuhnya. "Tahan" tiba-tiba serentetan
bentakan nyaring berkumandang ditengah angkasa.
Walaupun suasana dalam gelanggang ramai, oleh bentakan dan adu senjata, namun bentakan
itu amat dapat didengar oleh setiap orang dengan jelas, bahkan mereka merasakan telinganya jadi
sakit.
serentak pertempuran terhenti ditengah jalan, semua jago berdiri tertegun sambil alihkan
pandangannya ke arah mana berasalnya suara itu.
suma Hiong sendiripun diam-diam merasa terperanjat, cepat dia tarik kembali serangannya dan
melompat mundur kebelakang. Dari balik pagar pekarangan perlahan-lahan berjalan keluar
seorang pemuda tampan berwajah dingin, setajam sembilu sorot mata pemuda itu tatkala saling
beradu pandang, tanpa sadar suma Hiong mencekat mundur beberapa langkah.
Waktu its sebenarnya suma Hiong sedang merasa keheranan, ia heran mengapa kawanan jago
yang telah disiapkan disekitar kuil itu tidak munculkan diri untuk melakukan pembantaian, padahal
sebelumnya telah dibicarakan bahwa mereka harus menyerbu kedalam kuil bila mendengar gelak
tertawa nya yang keras.
Tapi sekarang setelah menyaksikan kemunculan pemuda berwajah dingin ini, suatu firasat jelek
segera muncul dalam hatinya, ia segera membentak keras: "Bocah keparat siapa kau? sebutkan
nama mu."
Pemuda itu tertawa dingin, ia tidak menjawab akan tetapi sewaktu melewati dihadapan seorang
pendekar dari Thian che kau jari tangannya lantas ditudingkan kemuka.
Jerit kesakitan yang memilukan hati berkumandang memecahkan kesunyian, darah segar
tampak muncrat keluar dari dadanya, tidak selang sesaat kemudian orang itu sudah roboh
terjengkang dan tidak bangkit lagi untuk selamanya.
"Kau .. kau adalah manusia bermuka dingin?" teriak suma Hiong dengan paras muka berubah
hebat.
"Benar, kau memang hebat dan pengetahuanmu cukup luas, ternyata akupun juga kau kenali"
Pemuda yang barusan munculkan diri ini memang tak lain adalah Han siong Kie, jago muda itu.
suma Hiong menyeringai seram, sinar matanya memancarkan cahaya buas, dengan suara yang
keras seperti geledek hardiknya:
"Manusia muka dingin, engkau bersiap-siap untuk mencampuri urusan ini?"
"Haaahhh . . haaahhh haaahhh kenapa tidak? Justrupun ciangbunjin datang kemari untuk
membantai habis kawanan iblis macam dirimu itu"
" Ciangbunjin?" jengek orang she suma itu sinis, "Heeehhh heeehhh engkau ciangbunjin dari
mana?"
"Ciangbunjin dari Thian lam bun "
"Mimpi Heeeh heeh heeeehh bocah keparat, engkau sedang bermimpi disiang hari bolong.
Thian lam bun sudah lama terhapus namanya dari muka bumi"
"Yang akan terhapus namanya dari muka bumi bukan Thian lam bun, melainkan Thian che kau
dan waktunya tak akan lama lagi "
"orang goblok sedang mengigau ditengah hari bolong "
"Kau tak percaya ?Baik... ini hari akan kuampuni selembar jiwa anjingmu, agar kau bisa
menyaksikan sendiri benar tidak perkataanku itu."
"Hanya mengandaikan kekuatanmu seorang, sayang aku tidak berjiwa sebesar kau... ini
haripun aku tak akan melepaskan dirimu "
Han siong Kie mendengus dingin, ia tidak berbicara lagi melainkan bersiul nyaring.
Berbareng dengan siulan tersebut, terlihatlah bayangan manusia saling berkelebat dalam
gelanggang, dalam waktu singkat berpuluh-puluh sosok mayat dari manusia barbaju hitam
bertumpukan ditempat itu
suma Hiong tentu saja dapat mengenali kembali mayat-mayat itu, sebab mereka tak lain adalah
jago-jago perkumpulannya yang disiapkan diluar kuil itu.
Tapi kini sudah tewas semua dalam keadaan mengerikan, kontan ia jadi terkejut dan bergidik,
begitu pula dengan ketujuh orang pendekar pedang yang masih hidup, mereka merasa sukmanya
serasa sudah mela yang tinggaikan raganya. sambil menuding kearah tumpukan mayat setinggi
bukit itu, Han siong Kie mengejek:
"suma Hiong, bukankah mayat-mayat itu adalah jenasah dari anggota perkumpulanmu? Nah,
hitunglah sendiri, semuanya berjumlah seratus dua puluh orang, coba kau hitung lagi adakah
masih ada yang kelewatan atau tidak??"
Menyeringai seram wajah suma Hiong dengan muka yang buas dan mengerikan ia berteriak:
"Manusia bermuka dingin, aku bersumpah akan mencincang tubuhmu, kemudian menghancur
lumatkan tubuhmu menjadi abu"
"Huuuh Mau mencincang aku? Cuma mengandaikan ilmu silat yang kau miliki itu? Jangan
mimpi."
Rupanya sewaktu Han siong Kie tiba ditempat kejadian., ia menyaksikan markas besar dari Kay
pang sudah dikepung rapat oleh musuh-musuhnya.
Tanpa menimbulkan suara sianak muda itu segera mengeluarkan ilmu silatnya dan menotok
mampus ke seratus dua puluh orang jago Thian che kau yang mengepung di luar kuil, setelah itu
bagaikan kelelawar dia menyusup masuk kedalam kuil.
Waktu itulah dia saksikan para tianglo dan ciangbunjin Kay pang sedang menghadapi keadaan
yang terancam, setelah memberi pesan kepada anak murid Kay pang yang berjaga-jaga di luar
kuil diapun tampilkan diri untuk menyelesaikan persoalan itu
Betapa gusar dan mendongkolnya suma Hiong setelah mengetahui bahwa rencana penyerbuan
mengalami kegagalan total, ia tahu tak mungkin baginya untuk memberi pertanggungan jawab
dihadapan kaucunya setelah mengalami kekalahan total seperti hari ini. apalagi semua anak
buahnya telah terbunuh habis.
Rasa dendam dan marahnya serta merta dilampiaskan keatas tubuh pemuda itu, sambil
menggertak gigi katanya:
" Kau tidak percaya dengan kemampuanku? Apa salahnya kalau kita buktikan bersama2"
Begitu selesai berbicara, ia menerjang ke muka dengan garang, secepat sambaran kilat secara
beruntun iblis ini melepastan tiga buah serangan berantai.
Han siong Kie tidak berusaha menghindar atau berkelit, dengan melontarkan sepasang telapak
tangannya kemuka dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaaang" suata ledakan keras yang memekikkan telinga berkumandang diudara, suma Hiong
tak sanggup menahan kedahsyatan musuhnya, secara beruntun ia terdesak mundur lima langkah
lebar.
Gelombang angin pukulan yang tersebar keempat penjuru menyapu bersih setiap benda yang
ada diseputar lima kaki dari gelanggang, bukan saja kawanan jago dari Kay pang terdesak sampai
mundur tunggang langgang, tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau yang masih hidup
pun pontang panting dibuatnya dengan muka pucat.
sungguh girang tak terkirakan pengemis dari selatan setelah melihat kedahsyatan saudaranya,
tak kuasa lagi ia berteriak keras:
"saudara cilik puas.. sungguh memuaskan.... Hajar sampai buntung bajingan itu"
setelah merasakan kedahsyatan musuhnya, kepongahan serta kejumawaan suma Hiong lenyap
tak berbekas, keadaannya pada saat ini ibarat bola yang kehilangan udara, dengan loyo
bercampur ketakutan ditatapnya pemuda itu tanpa berkedip.
Mimpipun ia tak menyangka kalau pihak musuh mempunyai kepandaian silat sedahsyat itu,
bahkan boleh dibilang tak bisa diterima dengan akal sehat, siapa yang menyangka kalau seorang
pemuda ingusan ternyata berilmu tinggi
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Han siong Kie, selangkah
demi selangkah ia maju kedepan, katanya dengan suara dingin
"Aku meminjam mulutmu untuk menyampaikan pesan kepada kaucu kalian, katakan bahwa
dalam beberapa hari mendatang aku akan berkunjung sendiri ke Lian huan tau untuk membuat
perhitungan. suruh dia bersiap sedia menyambut kedatanganku. Nah, sekarang kau boleh pergi,
aku telah berjanji untuk mengampuni jiwamu.."
sebagai seorang yang berilmu tinggi sudah tentu suma Hiong tak sudi untuk menyerah kalah
dengan begitu saja, ia membentak keras:
"Manusla bermuka dingin, kau jangan tekabur lebih dulu, sambutlah pukulanku ini."
sepasang telapak tangannya diayun kemuka secara beruntun dalam sekejap mata ia telah
melepaskan delapam serangan berantai.
semua ancaman yang dilontarkan itu menggunakan jurus serangan yang aneh dan sakti, bukan
saja jarang ditemui dikolong langit, keganasannya betul-betul mengerikan, seketika itu juga si
anak muda itu terdesak mundur sejauh lima depa kebelakang.
setelah berhasil dengan ancamannya suma Hiong tak sudi memberi kesempatan kepada
musuhnya untuk melancarkan serangan balasan, dia susulkan lagi dengan lima buah serangan
berantai.
Tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau tidak berpeluk tangan belaka, menggunakan
kesempatan yang sangat baik itu, mereka terjun pula kedalam gelanggang, untuk membantu
pemimpinnya.
Bentakan-bentakan gusar menggelegar di angkasa, dua puluh sosok bayangan manusia terjun
kedalam gelanggang dan menghadang jalan pergi ketujuh orang musuhnya, pertarungan massal
tak dapat dihindari lagi.
sementara itu suma Hiong sudah melancarkan serangan dengan jurus yang kelima, tiba-tiba
Han siong Kie berkelit kesamping dengan kecepatan yang tak terhingga, begitu berada tiga depa
disamping kalangan, keli ma jari tangan kanannya segera disodokkan kedepan-
Jerit kesakitan memecahkan kesuyian, secara beruntun suma Hiong mundur beberapa langkah
ke belakang, lengan kanannya terkulai lemas kebawah, separuh badannya basah kuyup
bermandikan darah segar.
"Suma Hiong " kembali Han Siong Kie berkata demgan ketus, " untuk kesekian kalinya kuberi
kesempatan kepadamu untuk berlalu dari sini, ketahuilah kesempatan ini adalah kesempatan yang
terakhir. bila kau tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji "
suma Hiong bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu bila kesempatan ini tidak dipergunakan
sebaik-baiknya, niscaya dia akan mati konyol ditempat itu.
setelah melotot sekejap ke arah pemuda itu, dengan pandangan penuh kebencian ia berkata:
"Manusia bermuka dingin, tunggu saja sampai tanggal mainnya"
Tanpa banyak berbicara lagi, ia menjejakkan kakinya ketanah dan melarikan diri terbirit-birit
dari sana.
Melihat pemimpinnya sudah kabur, tujuh orang jago dari Thian che kau itupun tak berani
melanjutkan pertarungan, serentak mereka memberi tanda dan memperketat serangannya,
setelah berhasil memaksa mundur lawannya, orang-orang itu melompat ke atas atap rumah dan
berusaha melarikan diri dari situ.
"Hmm Kau mau pergi kemana?" jengek Han siong Kie sinis.
Ketika sepuluh jari tangannya dilontarkan kemuka, munculah sepuluh buah desingan angin
tajam ke depan.
Jerit kesakitan berkumandang saling menyusul, dalam waktu singkat tujuh orang jago pedang
yang mencoba untuk melarikan diri itu sudah rontok ketanah bagaikan burung yang kena ketapel.
Melihat musuhnya sudah terbasmi habis, ketua Kay pang baru memburu maju sambil memberi
hormat, serunya dengan wajah bersyukur:
"oooh... sungguh beruntung Han ciangbunjin datang tepat pada saatnya, kalau bukan bantuan
ciangbunjin niscaya perkumpulan kami sudah hancur ditangan iblis itu, budi kebaikan ini tak akan
kami lupakan untuk selamanya"
Buru2 Han siong Kie balas memberi hormat sahutnya:
"Aaah, perkataan dari ciangbunjin terlampau serius, sudah sepantasnya kalau kita sebagai umat
persilatan saling membantu dikala sedang susah, apalagi perkumpulan kami termasuk salah satu
korban dari keganasan mereka, sewajarnya aku bantu kalian untuk menghadapi mereka"
Pengemis dari selatan memburu pula ke depan, walaupun dengan langkah yang gontai, noda
darah masih membekas diujung bibirnya, namun tidak mengurangi kegembiraannya, dengan
wajah berseri ia berseru:
"Haaah haaahhh haaahh saudara cilik, hayo ikut aku menuju keruang belakang, aku akan
bercakap-cakap sampai puas dengan dirimu, aku tahu engkau paling segan dengan segala macam
tata cara yang sok. ayo ikuti aku"
Han siong Kie pun mohon diri dengan ketua Kay pang beserta jago-jago lainnya, kemudian
dengan mengikuti dibelakang pengemis dari selatan mereka menyingkir keruang belakang.
Ruangan itu kecil sekali dan merupakan kamar semedi yang tak begitu luas, Han siong Kie
duduk saling berhadapan dengan saudara tuanya.
setelah hening sesaat dengan kerutkan kening pemuda itu menegur. " Engkoh tua, aku lihat
luka yang kau derita tidak enteng"
"Aah apa artinya luka seringan ini? Kejadian ini sudah merupakan suatu keberuntungan bagi
kami, andaikata saudara cilik tidak datang tepat pada waktunya niscaya perkumpulan kami sudah
mengalami kehancuran total"
Menggunakan kesempatan itu Han siong Kie teringat kembali akan beberapa persoalan, iapun
berkata:
" Engkoh tua, ada beberapa persoalan aku ingin mohon bantuanmu, apakah kau bersedia untuk
membantu?"
""Heeeh heeeh heeh dalam hal apa Katakan saja, sekalipun kau menginginkan batok kepalaku,
sekarang juga akan kupersembahkan kepala ini untukmu"
"Aah, engkoh tua memang suka bergurau, tentu saja tidak seserius itu persoalan yang hendak
kukatakan, aku cuma mengharapkan rekan rekan dari Kay pang untuk mencari jejak dari beberapa
orang bagiku, aku tahu Kay pang punya jaringan mata-mata yang luas dan hebat, mencari jejak
orang merupakan pekerjaan yang rutin"
"siapa yang hendak kau cari ? Coba katakan-"
"Ada tiga orang tiang lo dari perguruanku yang tercerai berai dalam suatu pertarungan hingga
kini tak kuketahui kabar berita mereka, maka aku mohon bantuan Kay pang untuk mencarikan
jejaknya ".
"ooh... saat ini akan segera dilaksanakan oleh anak murid kami, aku percaya jejak mereka akan
segera diketahui, siapa lagi yang hendak kau cari.."
"Hekpek siang yau, sepasang siluman yang sudah tersohor namanya semenjak enam puluh
tahun berselang "
"Hekpek siang yau? Mau apa kau cari gembong iblis yang luar biasa itu? " seru pengemis dari
selatan dengan jantung berdebar.
Han siong Kie pun menceritakan bagaimana ia menerima sepasang siluman itu menjadi anggota
seperguruannya.
sehabis mendengar kisah tersebut pengemis dari selatan baru paham dengan duduknya
persoalan, ia gelengkan kepalanya sambil berkata:
"saudara cilik, aku benar-benar merasa kagum sekali dengan kehebatanmu, tak nyana nasibmu
memang mujur dan hok ki mu besar, gampang, soal ini gampang sekali, segera akan
kuperintahkan anak muridku untuk melakukan penyelidikan"
"Selain daripada itu akupun ingin minta petunjuk tentang satu persoalan lagi."
"Aaah katakanlah sedari kapan engkau mulai belajar bicara menela-menele begitu? Hayo
utarakan saja secara blak-blakkan"
"Aku dengar dalam dunia persilatan hidup seorang tokoh silat yang ahli sekali dalam hal ilmu
beracun dan orang itu bernama Ban tok cousu, apakah tokoh silat ini masih hidup didunia ini."
"Mengapa engkau menanyakan persoalan ini"
"Racun Gi hang tok ko (buah racun berubah wujud) yang salah dimakan oleh Hekpek siang yau
katanya hanya bisa dipunlahkan oleh dia seorang, aku hendak mohonkan pengobatan bagi kedua
orang itu"
Pengemis dari selatan termenung dan berpikir sebentar, kemudian baru menyahut: "Aku rasa
kemungkinan besar dia masih hidup didunia ini"
"Jadi hanya suatu kemungkinan belaka ?"
"Benar, aku hanya bisa mengatakan mungkin, sebab kalau dihitung dengan jari tangan maka
pada tahun ini Ban tok cousu sudah berusia diatas seratus tahun, pada dua puluh tahun berselang
aku pernah mendengar orang berkata bahwa raja racun yang sangat lihay ini menetap didalam
telaga beracun..."
"Telaga beracun ?"
"Oooh, belum pernah kau dengar tentang nama telaga ini"
"Belum "sahut sianak muda itu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Luas telaga beracun ini hanya setengah hektar dan letaknya dalam lembah hek kok (lembah
hitam) yang berada dibukit Tay keng san, air telaga itu sangat beracun dan siapa saja yang
terkena air itu niscaya akan mati secara konyol. Kendatipun begitu aku tak berani memastikan
seratus persen benar, sebab sampai detik ini belum pernah kubuktikan sendiri kebenaran dari
berita ini "
"Sekalipun Ban tok cousu kebal racun dan lihay dalam menggunakan barang berbisa, toh tidak
sepantasnya kalau dia berdiam dalam air telaga itu?" kata Han siong Kie dengan terperanjat.
"Ada orang menyaksiksn dia masuk keluar dalam telaga beracun itu, apa yang sebenarnya
dikerjakan cousu selaksa racun itu tak seorangpun tahu, dengan sendirinya aku sipengemispun tak
bisa memberi jawaban atas pertanyaanmu itu"
"Dalam dunia persilatan terdapat seorang manusia yang bernama Tok kun si dewa racun Yu
Hai, apakah dia adalah ahli waris dari Ban tok cousu yang sangat lihay itu."
"Bukan"
"Bukan? Lalu dari manakah dia pelajari ilmu beracun yang amat dahsyat itu?"
"Asal mulanya Yu Hau cuma seorang Bu beng siau cut prajurit tak bernama dalam dunia
kangou, dua puluh tahun berselang tanpa sengaja ia berhasil menemukan sejilid kitab beracun
yang amat luar biasa, semenjak isi kitab itu berhasil dikuasahi olehnya tersohorlah namanya
sebagai Tok kun atau raja racun, kendatipun namanya saja memakai huruf "kun" yang berarti
orang budiman, tapi pada hakekatnya dia adalah seorang manusia durjana yang berhati busuk".
"Dia telah menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau" sela pemuda itu.
"Bukan kejadian yang aneh kalau ia berkomplot dengan mereka, toh kaum serigala hanya
berkumcul dengan serigala, masa ada serigala bergaul dengan domba ? ketua Thian Che kau
berambisi besar dan bercita-cita untuk menguasahi seluruh jagad, menjadi kaisar dalam dunia
persilatan, dengan segala daya upaya dia mengumpulkan kawanan jago dari pelbagai daerah
untuk memperkuat posisinya, kecuali beberapa perguruan dan partai kenamaan boleh dibilang
hampir semua perkumpulan dan perguruan telah dilalap habis olehnya ya.. beruntung Kay pang
dapat lolos dari musibah ini" Han siong Kie tertawa dingin -
"Heeehhh heeehhh heeehh masa kiamat dari Thian che kau tak akan terlalu lama, tunggu saja
tanggal mainnya "
"Bila kita biarkan perkumpulan itu mengembangkan sayapnya sampai dimana-mana, aku kuatir
dunia persilatan akan terjatuh semua kedalam cengkeremannya"
"Aaah. belum tentu begitu...."
Pengemis dari selatan berpaling dan menatap lekat-lekat wajah pemuda itu, bisiknya: "saudara
cilik, engkau terlalu percaya pada kemampuanmu?"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah, ia tidak mengucapkan sepatah
katapun-
Rupanya pengemis dari selatan menyadari kekhilafannya, cepat ia menambahkan:
"saudara cilik, tentunya kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa: "sebuah
balok kayu tak akan mampu menunjang sebuah rumah gedung bukan ? Aku rasa persoalan paling
penting yang harus kau lakukan pada saat ini adalah kembali ke Thian lam serta melakukan
pembersihan terhadap unsur-unsur busuk dalam tubuh perguraanmu, sebab dengan tindakan ini
bukan saja kau dapat menyelamatkan mereka-mereka yang masih setia kepadamu dan terpaksa
harus tunduk diperintah ketua yang sekarang, selain itu kaupun akan memperoleh bantuan yang
amat besar dalam usahamu menghancurkan perkumpulan Thian che kau, tak usah kuatir, setiap
saat setiap detik Kay pang selalu berdiri dibawah komandomu"
Tercekat hati Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, kata-kata dari engkoh tuanya ini
mengetuk sampai ke dalam hati sanubarinya, memang benar ucapannya, bila Wi It beng dibiarkan
berlaku sewenang-wenang tanpa ditindak. niscaya sengsaralah orang-orang yang masih setia pada
kebenaran, kelemahan dari Thian lam bun justru akan muncul dari hal-hal seperti ini."
Tapi ingatan lain cepat melimtas dalam benaknya, teringat olehnya akan suatu masalah yang
jauh lebih penting.
"Apa yang diucapkan engkoh tua memang betul" katanya kemudian dengan dahi berkerut "tapi
sekarang aku telah menjumpai sesuatu masalah yang betul-betul rumit"
" Kesulitan apa? Katakan saja asal aku mampu pasti akan kubantu untuk memecahkannya"
ucap pengemis dari selatan sambit menepuk dada sendiri
"Pertama orang yang benar-benar mengetahui asal usulku yang sebenarnya hanya lima orang
tiang lo dari sebuluh tiang lo ruang goan lo wan yang masuk daratan Tiangggoan- jadi diantara
lima orang tiang lo itu ada dua orang telah tewas dan tiga orang tak ketahuan kabar beritanya,
kedua tanda kebesaran sebagai seorang ketua yakni ok kui cupay telah terjatuh ketangan Thian
che kau, tanpa adanya tanda kepercayaan itu tak mungkin aku bisa menarik kepercayaan dari
murid-murid lainnya, tolong tanya bagaimana caraku untuk mengatasi persoalan ini?"
Mendengar ucapan tersebut terlintas rasa serba salah diwajah pengemis dari selatan, katanya
kemudian-
"Ya a, persoalan ini memang merupakan satu masalah yang pelik, bukankah pekerjaan yang
gampang untuk merebut kembali lencana ok kui cupay dari tangan orang Thian che kau, dan
lagi.."
"Kenapa? " sela sang pemuda.
"Ketua pelaksana perguruan Thian lam yang sekarang wi It beng telah menyatakan
penggabungan diri dengan perkumpulan Thian che kau, istana Huan mo kiong sudah berubah jadi
kantor cabang Thian che kau, aku kuatir kalau tanda kebesaran itu sudah terjatuh ketangan Wi It
beng, aaai... kalau sampai begitu, bukankah sekarang ia telah mempunyai kekuasaan untuk
memerintah segenap anak murid ?"
Air muka Han siong Kie berubah hebat.
"Ehmm, memang ada kemungkinan untuk terjadi peristiwa semacam ini, padahal lencana
tersebut merupakan benda tersuci dan tertinggi dalam perguruanku, siapa yang membawa benda
itu, dialah yang dipertuan, waah, urusan kan menjadi bertambah pelik"
"saudara cilik, kau jangan gelisah dulu, coba kuselidiki keadaan yang sebenarnya" pengemis tua
itu lantas bertepuk tangan tiga kali.
seorang pengemis setengah baya mengiakan dan berjalan masuk kedalam ruangan: "Tianglo,
kau orangtua ada perintah apa?" tanyanya.
"sampaikan perintahku, tanyakan kepada setiap murid yang berada disini apakah di antara
mereka ada yang mengetahui jejak dari ketiga orang tianglo dari Huan mo kiong yang berada
didaratan Tionggoan, kalau ada yang tahu segera datang memberi laporan "
"Terima perintah" sesudah memberi hormat pengemis setengah baya itupun mengundurkan diri
sepeninggal pengemis itu Han siong Kie merasa panik dan tidak tenang, ia merasa bahwa
persoalan yang sedang dihadapi sekarang memang cukup pelik, bukan saja Perintah dari gurunya
Mo tiong ci mo tak dapat diselesaikan, bahkan urusanpun berubah jadi sekacau ini, bukankah dia
akan menjadi manusia yang berdosa bagi perguruan?
Tidak selang beberapa saat kemudian pengemis setengah baya itu datang melapor:
" Lapor tiang lo ada seorang murid bagian kontrol yang bernama Tan Beng siap memberi
laporan"
"suruh dia masuk" perintah pengemis dari selatansetelah
Tan Beng masuk kedalam ruang, pengemis itupun bertanya lagi:
"Apa yang kau ketahui?"
Tan Beng memberi hormat, kemudian bukannya menjawab malahan balik bertanya:
"Yang dimaksudkan sebagai tiga orang tianglo dari Thian lam bun itu apakab tiga orang kakek
berjubah sutera dan membawa toya berkepala setan?"
"Benar " sahut Han siong Kie dengan semangat berkobar.
Pengemis dari selatan mengangguk kepada Tan Beng katanya: "Lanjutkan perkataanmu lebih
jauh"
"Tiga hari berselang ketika hamba sedang melakukan perjalanan melewati Niu kang, pernah
kusaksikan ketiga orang tianglo itu sedang melanjutkan perjalanan menuju ke arah wilayah Thian
lam."
"Baik, kau boleh mundur"
Sepeninggal Pengemas itu, Han siong Kie duduk termangu, ia merasa tak habis mengerti
kenapa ketiga orang tianglonya menuju ke wilayah Thian lam, bukankah tindakan mereka ini sama
artinya dengan menghantarkan diri kemulut harimau ? Tak nanti Wi It beng akan melepaskan
mereka bertiga dengan begitu saja.
Tanpa terasa diapan menguatirkan pula keselamatan dari kelima orang tianglonya yang masih
tertinggal diruang goan lo wan.
sebagai seorang ketua Thian lam bun, tentu saja ia tak dapat membiarkan para tianglonya
menghantarkan kematian, karena itu rencananya semula untuk berkunjung kebenteng maut dan
menyatroni lian huan tau terpaksa dibatalkan.
-000dw000-
SETELAH hening beberapa saat pengemis dari selatan bertanya pula: "saudara cilik apa
rencanamu selanjutnya?"
Han siong Kie menghela napas panjang, sahutnya dengan wajah serius:
"Terpaksa aku harus berangkat ke Thian lam, semoga saja masih sempat untuk menghadang
para tiang lo itu kembali ke sarang harimau"
".. sayang aku sipengemis tua sedang terluka, kalau tidak niscaya akan kubantu usahamu itu"
"Engkoh tua tak usah repot-repot, paling penting merawat dulu lukamu hingga sembuh" cepat
sianak muda itu menampik .
"Bagaimana kalau kupilih kan beberapa orang jago lihay dari perkumpulanku untuk menyertai
perjalanan ini?"
"Tak usah.. tak usah Maksud baik engkoh tua biarlah kuterima dalam hati saja"
"Aaah, perkataan apaan itu? Budi kebaikanmu terhadap kay pang setinggi langit, aah, jemu
untuk membicarakan soal budi, lebih baik tak usah dibicarakan lagi"
" Engkoh tua aku bermaksud untuk segera melanjutkan perjalanan mumpung masih sempat
untuk menyusul mereka"
"Ehm, begitupun ada baiknya, aku akan segera mengirim berita kilat kekantor- kantor cabang
dan menyuruh mereka menghadang jalan pergi ketiga orang tiang lo itu"
"Terima kasih atas bantuan engkoh tua"
"Juga tentang jejak dari Hekpek siang yau, aku percaya tak lama kemudian berhasil ditemukan
anak muridku, pasti akan kukirim kabar itu padamu secepatnya"
"Kalau begitu siaute mohon diri lebih dulu" ucap Han siong Kie seraya bangkit berdiri
"Selain itu.?"
"Apakah engkoh tua ingin mengucapkan sesuatu lagi??" Pengemis dari selatan mengangguk.
"Kantor cabang kami di Nio kang meliputi daerah operasi sampai wilayah Thian lam, jika kau
ada urusan minta saja bantuan dari mereka, pasti akan kupesan sendiri kepada toucunya untuk
mengabarkan berita ini kepada anak buahnya, lencana bambu ini boleh kau terima, bila ada
keperluan gunakanlah lencana ini sebagai tanda pengenal "
"Akan siaute ingat selalu dihati, baik-baiklah jaga diri engkoh tua" kata pemuda itu kemudian
setelah menerima lencana bambu itu.
"semoga kau sukses selalu"
"selamat tinggal"
Han siong Kie telah meninggalkan markas besar kay pang di kuil Bu hao si dan melanjutkan
perjalanannya menuju Thian lam.
Waktu itu fajar baru menyingsing, suara ayam berkokok memecahkan kesunyian dipagi itu.
Bintang masih tersisa di langit, angin pagi yang dingin berhembus lewat menyegarkan badan,
Han siong Kie melakukan perjalanannya dengan kecepatan penuh.
Tiga li baru lewat, ketika secara tiba-tiba sesosok bayangan manusia diantara remangremangnya
cuaca orang itu menghadang jalan perginya.
Han siong Kie merasa kaget dan mengerem gerak laju tubuhnya, tapi setelah mengetahui siapa
yang berada dihadapannya ia berseru tertahan-"Aaah nona.. rupanya kau"
Tak asing lagi orang itu bagi Han siong Kie sebab dia tak lain adalah orang yang ada maksud.
"oh masih kenal dengan aku?" sapa orang yang ada maksud sambil tertawa aneh.
"Ada urusan apa nona berdiri disini"
"Menunggu kau"
"Menunggu aku" bisik pemuda itu sambil mundur selangkah karena tercengang, "dari mana
nona bisa tahu kalau aku berada disini dan akan lewati jalan ini?"
0000d0w0000
BAB 70
"AH terlalu gampang untuk mengetahui jejakmu, bukankah jalan raya disini hanya ada satu?
Asal kami berdua masing-masing menghadang disetiap sudut jalanan ini, pastilah seorang
diantaranya kami akan berjumpa dengan kau, bukankah begitu?"
"Jadi ada orang yang bertugas menantikan kedatanganku? siapa orang kedua itu?"
"Tak perlu kau tahu"
Han siong Kie berkerut kening, selang sesaat kemudian ia bertanya pula. "Ada urusan apa nona
menunggu kedatanganku disini?"
"Boleh aku tahu dulu kemana kau akan pergi...?"
"Ke Thian lam"
"Wah kebetulan sekali, untung aku bertemu dengan kau, kalau tidak maka akibatnya amat
sukar dilukiskan dengan kata-kata"
" Kenapa?" tanya anak muda itu terkejut.
"seorang jago yang mengaku sebagai Manusia bermuka dingin dengan membawa lencana ok
koi cu pai dan memimpin tiga puluh orang jago telah berangkat ke Thian lam untuk mengambil
alih kursi kebesaran dari Wi It beng, bahkan ketiga orang tianglo dari perguruan Thian lam bun
pun menyertai dirinya.
"Manusia bermuka dingin ? Boleh aku tahu ada berapa orang manusia muta dingin didunia ini?"
tanya Han siong Kie keheranan-
"Tentu saja hanya satu"
" Kalau memang demikian, aku jadi tidak mengerti, dengan apa yang nona maksudkan?"
"Untuk mengangkangi istana Huan mo kiong, pihak Thian che kau telah mengutus seorang
utusan khususnya menuju ke Thian lam untuk mengambil oper kedudukan wi It beng, bukan saja
utusan khusus itu telah menyaru seperti kau, bahkan membawa pula lencana ok kui cu paya "
"Aah, masa telah terjadi peristiwa seperti ini?" teriak Han siong Kie terkesiap.
orang yang ada maksud segera tertawa dingin
"Memangnya aku membohongi kau, Ketahuilah, utusan khusus dari Thian che kau yang
menyamar sebagai dirimu itu bernama Thio Wi wan "
"Tadi nona mengatakan bahwa dalam rombongan ini terdapat pula tiga orang tiang lo dari
Thian lam bun serta dua puluh orang jago lihay, siapakah mereka itu?"
"Ketiga orang tianglo itu masing-masing bernama To It Hui, Ang pat siu serta san jin ho,
mereka dengan menyertai manusia muka dingin gadungan itu berangkat ke Thian lam untuk
melakukan pembersihan terhadap perguruannya."
"Masa ketiga orang tianglo itu tak dapat membedakan mana yang asli dan mana yang
gadungan?"
"Dalam tubuh perkumpulan Thian che kau terdapat aneka ragam jago yang rata-rata berilmu
tinggi, termasuk pula ilmu menyamarnya, mungkin kau sendiripun akan pangling dibuatnya"
Han siong Kie merasa darah panas dalam tubuhnya mendidih, hawa napsu membunuh
menyelimuti wajahnya, dengan penuh kebencian serunya: "Mereka harus dijagal semua"
"Siapa yang akan kau jagal"
"Semua anggota perkumpulan Thian che kau, dari ketua sampai pelayan-pelayannya"
"Urusan yang tak penting lebih baik tak usah kau bicarakan dulu, ketahuilah Thia We wan yang
menyaru sebagai dirimu dengan membawa ketiga orang tianglo dari dua puluh orang jagonya
sudah berangkat semenjak tiga hari berselang, padahal dengan kepandaian yang di miliki mereka
dalam tujuh hari saja istana Huan mo kiong sudah tercapai, kau sudah ketinggalan tiga hari. aku
kuatir tak mungkin bisa kau susul diri mereka"
Han siong Kie tidak menjawab, pikirnya dalam hati:
" Engkoh tua sudah mengirim surat kilat kepada kantor cabangnya dan memerintahkan anak
murid Kay pang menghalangi jalan pergi ketiga orang tianglo itu, tapi dengan adanya utusan dari
Thian che kau, situasi jadi makin berbahaya, aku harus segera mengejar dengan sepenuh tenaga,
siapa tahu bisa kutempuh perjalanan siang malam sebelum mereka tiba di antara Huan mo kiong,
aku bisa sampai duluan?" Berpikir sampai disini ia lantas bertanya: "Nona mendapatkan
keterangan ini dari mana?"
"Kau tak perlu tahu, pokoknya kedatangan aku kemari adalah untuk menyampaikan kabar ini
kepadamu"
"Terima kasih atas bantuan nona, kalau begitu aku akan segera melakukan perjalanan-"
"silahkan"
setelah menjura, berangkatlah Han siong Kie meninggaikan tempat itu, cepat sekali gerakan
tubuhnya, dalam sekejap mata ia sudah berada jauh sekali dari sana.
Menanti bayangan punggung pemuda itu sudah lenyap dari pandangan, orang yang ada
maksud baru menghela napas panjang, ia melepaskan kain kerudungnya sehingga tampaklah
wajahnya yang cantik, dari sakunya dia itu mengambil secarik sapu tangan dan menyeka air mata
dikelopak matanya.
Mengapa nona itu bersedih hati? Tak seorangpun yang tahu
Dalam pada itu Han siong Kie telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh Ho keng gin im nya
hingga mencapai pada puncaknya, siang malam ia menempuh perjalanan tiada hentinya, beratusratus
li sudah ditempuh dengan kecepatan penuh.
Hari ketiga, sebelum lohor pemuda itu sudah tiba dikota sik bun ki, suatu kota yang berjarak
tiga ratus li dari istana Huan mo kiong.
Dikota sik bun ki inilah kantor cabang Kay pang untuk wilayah Niu kang bermarkas.
Akan tetapi sampai waktu itu, bukan saja tiada kabar berita dari pihak kay pang, jejak ketiga
orang tianglo itupun tak ada yang tahu.
Han siong Kie semakin kuatir, ia merasa tak ada harapan lagi untuk menyusul ketiga orang
tianglonya.
Pemuda itupua sadar, jika orang yang menyaru sebagai dirinya tiba lebih dahulu di istana Huan
mo kiong dengan tampangnya yang persis seperti dirinya serta andaikan lencana ok kui cu pai,
tidak susah baginya untuk mendapat kepercayaan dari orang-orang perguruan dan bila sampai dia
mendapat kepercayaan penuh dari anggota Thian lam bun yang setia, runyamlah keadaan dan
hancurlah perguruan itu.
Denggan langkah yang lambat ia memasuki sebuah rumah makan yang memakai merek "Ing
khek ki", sambil melepaskan lelah dan menangsal perut, pemuda itu hendak menggunakan
kesempatan tersebut untuk mencari akal guna menanggulangi kejadian ini.
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Han siong Kie, mari kita bercerita kembali
setelah To It hui, Ang Pat sin dan Wi Jin ho mendapat tugas untuk mengubur jenasah seng Thian
pa dan Liok sau tan yang mati dalam pertarungan melawan gerombolan wi It beng.
setelah menyelesakan tugas menguburkan, ketiga orang tianglo ini melakukan perjalaran kian
kemari untuk mencari jejak Han siong Kie, akan tetapi jejak dari ketuanya ini lenyap tak berbekas,
mereka jadi murung tak habis mengerti.
Ditengah jalan secara kebetulan mereka mendengar kalau Wi It beng telah menjual perguruan
Thian lam bun kepada pihak Thian che kau, bahkan istana Huan mo kiong telah dirubah menjadi
kantor cabang Thian che kau untuk wilayah Thian lam.
Melihat keruntuhan yang mengancam perguruan ini, ketiga orang tianglo ini jadi marah
bercampur sedih, mereka lantas mengambil keputusan untuk berangkat ke Thian lam serta
mengumpulkan anak murid yang setia untuk bersama membasmi Wi It beng dari muka bumi.
Dalam perjalanan menuju ke Thian lam inilah, secara tak terduga ketua mereka, Han siong Kie
telah muncul dengan membawa dua puluh orang jago bersenjata lengkap. menurut keterangan
kedua culuh orang ini adalah anggota baru Thian lam bun yang baru diterimanya. sungguh
gembira sekali ketiga orang tianglo tersebut menjumpai kenyataan itu.
Mereka lebih percaya lagi setelah Ciangbun suhengnya menunjukkan tanda kebesaran ok kui
cupay, malahan mennrut pengakuan ciang bun suhengnya ini lencana tersebut berhasil dirampas
kembali setelah berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya.
Tentu saja mimpipun mereka tak menyangka kalau ciangbun suheng yang berada dihadapan
mereka ini sebetulnya adalah ciang bun suheng gadungan-
Meskipun dalam hal berbicara dan tingkah lakunya banyak hal yang mencurigakan ketiga orang
tianglo ini, tapi dengan manisnya "Han siong Kie" gadungan berhasil memberi jawaban yang
memuaskan, hal ini membuat ketiga orang tianglo itu semakin percaya.
Tatkala rombongan tiba dikota sik bun ki, anak murid Kay pang cabang wilayah Niu kang yang
baru mendapatkan surat kilat dari markas besarnya segera memberi penyambutan yang meriah,
bahkan setiap saat menanti perintah mereka.
Tindakan ini sama sekali diluar dugaan siapa pun, tentu saja perbuatan dari orang Kay pang
mencengangkan mereka.
Thia Wi wan yang menyamar sebagai Han siong Kie gadungan tidak terlampau curiga oleh
tindakan Kay pang ini sebab dalam anggapannya kaum pengemis itu sudah menggabungkan diri
dengan Thian che kau, maka segala sesuatunya ini tentulah kaucu mereka yang mengatur.
Karena itu diapun tidak memberikan reaksi apa-apa, sebaliknya menerima sambutan itu
sewajarnya.
Begitulah kesalahan paham yang terjadipada waktu itu, oleh karena kedua belah pihak tidak
mengucapkan apa-apa, tentu saja siapapun tak menyangka kalau apa yang sedang berlangsung
pada hakekatnya adalah suatu kesalah pahaman.
Kita kembali pada Han siong Kie yang asli, ketika tidak berhasil mendapatkan akal yang jitu
untuk menanggulangi kesulitan tersebut, dengan uring-uringan dia keluar dari kedai arak itu
Ditengah jalan tiba-tiba dari sisi tubuhnya terdengar seseorang berseru kaget ketika ia
berpaling ternyata orang itu adalah seorang pengemis tua yang berpakaian tambal-tambalan.
satu ingatan dengab cepat melintas dalam benaknya, ia berpikir:
"sebelum berpisah dengan engkoh tua pengemis dari selatan, ia telah berpesan kepadaku bila
ada kesulitan minta saja bantuan dari Kay pang, kenapa aku tidak mencari berita dari mereka?"
serta merta ia membuntuti kemana perginya pengemis tua itu.
sebentar kemudian mereka sudah keluar dari kota dan menuju ke tanah alas yang sepi
sebelum Han siong Kie sempat mengucapkan sesuatu, pengemis tua itu telah berpaling seraya
memberi hormat, katanya:
"Ditempat ini banyak tersebar mata-mata dari istana Huan mo kiong, sebelum rencana disusun
dengan matang, lebih baik ciangbunjin sedikit merahasiakan jejakmu"
"Rencana? Rencana apa?" tanya Han siong Kie.
Ucapan itu membuat si pengemis tua jadi terbelalak. lama sekali dia termangu sebelum
akhirnya bertanya:
"Bukankah engkau adalah Han sauhiap. ketua dari Thian lam bun ?"
"Betul"
"Maksudku lebih baik untuk sementara waktu ciangbunjin kembali dulu kedalam kuil Po cu bin,
agar supaya..."
(Bersambung ke Bagian 46)
"Urusan rumah tanggamu sendiri?" tanya pengemis dari selatan dengan sepasang mata
melotot.
"Begitulah kenyataanya engkoh tua, harap engkau bisa memaklumi keadaanku ini"
"Tapi saudara cilik. tahukah engkau bahwa luka yang kau derita cukup parah?"
"Tidak menjadi soal, luka itu tak kuperhatikan sama sekali" sahut Han Siong Kie sambil tertawa
getir, "bagaimana pun ku harap kalian berdua segera tinggalkan tempat ini?" .
Baik pengemis dari selatan maupun padri dari utara sama2 adalah jago persilatan yang sudah
berpengalaman selama puluhan tahun, tentu saja segala tata cara dan tetek bengek tersebut
dipahami olehnya, mereka tahu bahwa urusan rumah tangga orang lain tidak pantas dicampuri
orang lain oleh karena itu sesudah saling berpandangan sekejap, akhirnya mereka berkata:
"Baiklah, kalau engkau sudah berkata demikian kami jadi tak baik untuk tetap berada disini.."
Berbicara sampai disitu mereka lantas putar badan dan berlalu dari sana.
"Hmm Memangnya kalian berdua hendak pergi dengan begitu saja?" tiba2 Wi It beng menegur
kembali dengan mendengus dingin.
"Ada apa?" tanya pengemis dari selatan dengan alis berkenyit. "memangnya engkau sudah
penuju dengan aku sipeminta tua?"
"Tetapi sekali ucapanmu itu aku memang penuju sekali dengan dirimu. Bukankah kamu berdua
sudah kenali ilmu Boan yo sin kang milik kaisarmu ?"
"Nah, itulah dia.. akan kuhantar kalian berdua untuk pulang kealam barat dengan kepandaian
sakti itu, dari pada hidup didunia toh kalian bakal cerewet belaka?"
Dari ucapan itu jelaslah sudah kemana Wi It beng membawa pembicaraan tersebut, rupanya
dia berhasrat untuk melenyapkan kedua orang jago itu berhubung perbuatan busuknya atas
geteja siau lim si sudah ketahuan.
Bilamana ilmu silat yang dimiliki Han siong Kie tidak terlalu lihay, tak nanti ia keluarkan ilmu
Boan yo sinkang tersebut tapi sekarang dia bertujuan lenyapkan Han siong Kie dan merampas
lencana ok kui cupay untuk menegakan kembali kewibawaannya sebagai seorang Tee kun,
terpaksa kepandaian simpanannya itu dikeluarkan. sementara itu Padri dari utara telah merangkap
tangannya sambil berkata:
"Omitohud Kalau toh sicu memang berhasrat begitu, rasanya tiada perkataan lain yang bisa
kukatakan lagi, bila ingin turun tangan silahkan saja segera turun tangan"
Pengemis dari selatan menyambung sambil tertawa tergelak:
"Haaah haaah haaah betul, memang tepat sekali ucapan tersebut, Kalau memang engkau
sudah penuju pada diriku, akupun tidak akan banyak bicara, toh aku si pengemis tua sudah bosan
hidup ... hayo ambillah nyawaku ini"
sudah tentu Han siong Kie tidak mengijinkan kedua orang tua itu terlibat dalam persoalan
perguruannya sendiri, dengan gelisah bercampur gusar dia maju dengan sempoyongan, sambil
menahan sakit dalam isi perutnya ia berseru kepada dua orang tokoh silat itu.
"Engkoh tua, locianpwe Disini sudah tak ada urusanmu lagi, aku harap kalian berdua segera
tinggalkan tempat ini"
"Eeh... memangnya engkau tidak dengar bahwa orang lain tidak mengijinkan aku berdua
tinggalkan tempat ini?" sahut pengemis dari selatan dengan mata melotot.
"Engkoh tua, loocianpwe Ketahuilah mencampuri urusan rumah tangga orang lain merupakan
pantangan terbesar bagi umat persilatan, aku minta janganlah kalian bikin hatiku jadi susah dan
serba salah"
"Kuakui kalau ucapan saudara cilik tidak salah, tapi engkau tua dan menyaksikan sendiri bahwa
situasi yang kita hadapi sekarang sama sekali berlainan, aku rasa engkau sendiripun-."
"Engkoh tua, ataukah kalian hendak menunggu sampai saudara cilikmu ini mempersilahkan
sendiri kepergianmu?" tukas anak muda itu secara tiba2.
sudah tentu maksud dari Han siong Kie mengusir dua orang sahabatnya itu bukan lantaran
apa2, maksud yang sebenarnya adalah karena dia tak tega menyaksikan kedua orang sahabatnya
ini ikut jadi korban di tangan lawan, jelas ilmu silat mereka masih belum sanggup menandingi
lawannya, bila Wi It beng berhasrat membunuh mereka jelas itu bukan pekerjaan yang terlalu
menyulitkan dirinya.
Wi It beng bukan orang bodoh, dia sendiripun tahu kalau akan maksud hati anak muda itu,
kontan dia tertawa seram.
"Haaah haah haaah Manusia berwajah dingin, lebih baik tak usah buang waktu dan tenaga
dengan percuma, ketahuilah nasibmu telah berada ditanganku, akulah yang akan menentukan
kalian semua harus mampus sekarang juga atau tetap hidup dikolong langit "
"Manusia bedebah, jangan tekebur lebih dahulu, ucapan semacam itu terlalu pagi kalau
diutarakan pada saat sekarang " hardik Han siong Kie dengan gusarnya.
sekali lagi dia ayun lencana ok kui cuipay nya ketengah udara, segenap sisa kekuatan yang
masih dimilikinya disalurkan kedalam lencana tersebut, tampaklah sekilas cahaya tajam langsung
memancar kedepan dan mencapai sejauh satu kaki dari kedudukan pemuda itu.
Gerakan ini sangat taktis dan tepat, karena gegabah dan kurang perhatian Wi It beng seketika
terkurung oleh cahaya tajam tersebut, sementara pikirannya jadi buyar, Han siong Kie telah
melancarkan serangan mautnya dengan ilmu jari Tong kim ci.
Dengus tertahan memecahkan kesunyian, tak tahan wi It beng roboh terjengkang ke atas
tanah.
Han siong Kie segera membentak keras:
"Tianglo berlima, dengarkan perintah segera perintahkan dua orang tamu ini untuk tinggalkan
gelanggang"
Lima otang tianglo itu serentak mengiakan, lima belah toya berkepala setan langsung di sapu
kedepan menggulung tubuh pengemis dari selatan dan padri dari utara.
Tentu saja Pengemis dari selatan dan padri dari utara tak ingin melibatkan diri dalam suatu
pertarungan, tanpa menunggu ke lima orang tianglo itu mendekati tubuh nya, mereka sudah
kabur tinggalkan tempat itu.
Menunggu dua orang jago tersebut sudah lenyap dari pandangan mata, Han siong Kie baru
bisa menghembuskan napas lega, dia tarik kembali lencana mustikanya dari sisi maju kedepan
untuk memeriksa keadaan luka Tee kun itu.
siapa tahu batu saja lencana nya ditarik kembali. Tiba2 Wi It beng loncat bangun kemudian
memperdengarkan suara gelak tertawanya yang amat mengerikan.
Betapa tercekatnya hati anak muda itu, dari gelak tertawa yang mengerikan itu, ia tahu bahwa
luka yang diderita pihak lawan sama sekali tidak parah.. Apa yang telah terjadi ?
Rupanya pada saat itu luka yang diderita Han siong Kie sangat parah sekali, disamping itu
diapun harus kerahkan dulu tenaga dalamnya kedalam lencana mutiara.. karena itulah meskipun
angin serangannya dapat telak ditubuh lawan, namun tenaga serangan nya lemah sekali.
Padahal sekujur badan wi It beng terlindung oleh hawa sakti Boan yo sin kang, karenanya
meskipun serangan tersebut bersarang telak di tubuh nya, namun hanya mengakibatkan sedikit
lecet saja pada kulis tubuh nya.
selama ini dia masih tak mampu untuk bangkit, ini bukan akibat dari luka tersebut melainkan
kekuatan tubuh nya lenyap sebab terpengaruh oleh sinar tajam itu.
Maka begitu Han siong Kie menarik kembali serangannya, kekuatan dalam tubuh Wi It beng
pulih kembali. serentak dia loncat bangun.
Dengan mulut mengerikan karena terpengaruh oleh hawa napsu membunuh yang berkobarkobar,
selangkah demi selangkah Wi It beng bergerak maju kedepan.
Kelima orang tianglo itu bertindak cepat melihat ketuanya terancam, serentak mereka
lintangkan toyanya didepan dada dan berdiri dibelakang anak muda itu. Han siong Kie ayun
kembali lencana nya untuk mempengaruhi kekuatan lawan-
Tapi kali ini wi It beng telah membuat persiapan, secepat petir tubuh nya menghindar
kesamping, kemudian sebuah pukulan Boan yo sinkang dilontarkan kedepan.
Desingan angin tajam memekikan telinga bagaikan gulungan ombak samudra ditengah
hembusan angin puyuh langsung menerjang tubuh Han siong Kie serta kelima orang tianglonya.
Han siong Kie berenam jadi terperanjat, tanpa berpikir panjang mereka ayun pula telapak
tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
"Blaaamm.." suatu ledakan keras menggelegar di angkasa, dengan sempoyongan kelima orang
tianglo itu terdorong mundur sampai tercerai berai ke mana2, sebaliknya Han siong Kie yang
sudah terluka termakan oleh serangan itu lukanya makin parah, sekali lagi dia muntah darah
segar.
Wi It beng memang seorang jago yang tangguh, meskipun seorang diri harus menghadapi
serangan gabungan dari enam orang, akan tetapi dia hanya dipaksa mundur sejauh tiga langkah.
Kilat tajam sorot mata Wi It beng melebihi tajamnya sembilu, tiba2 dia menyapu sekejap
sekitar hutan ditepi hutan, kemudian tegurnya dengan lantang:
"Tokoh silat dari manakah yang telah berada disitu? Kalau sudah datang mengapa tidak segera
munculkan diri?"
Mendengar seruan itu, semua jago yang ada dalam gelanggang sama2 alihkan sorot matanya
ke arah hutan-..
Gelak tawa yang menyeramkan berkumandang dari dalam hutan, menyusul mana sesosok
bayangan hijau bagaikan sukma gentayangan munculkaa diri dari hutan, begitu cepat gerak
tubuhnya hanya sekejap mata ia sudah tiba dihadapan para jago.
orang itu bukan lain adalah seorang manusia berkerudung yang memakai baju warna hijau.
Mengetahni siapa yang muncul, bergetarlah perasaan Han siong Kie, diam2 peluh dingin
membasahi tubuhnya.
Air muka Wi It beng sendiripun berubah hebat, tegurnya kemudian-"siapa engkau?"
Manusia berkerudung itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, tangan kanannya perlahan
di ayun kedepan dan tahu2 sebuah tengkorak warna merah sudah muncul di depan mata.
"Haah.. Tengkorak maut?" seru Wi It beng dengan hati tercekat.
Paras muka kelima orang tianglo serta kawanan pengawalpun berubah hebat, mereka tak
mengira kalau Tengkorak maut yang di segani tiap umat persilatan di daratan Tionggoan telah
munculkan diri dalam saat begini.
Di antara sekian banyak orang hanya Han siong Kie seorang yang tahu bahwa tengkorak maut
yang berada dihadapannya sekarang ini tak lebih hanya tengkorak maut gadungan, hatinya
bergetar keras dan paras mukanya terpengaruh oleh emosinya.
Dalam sekejap mata suasana dalam gelanggang berubah jadi hening, sepi dan tak kedengaran
sedikit suarapun-
Ditengah keheningan itulah tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, di susul
seseorang berseru kesakitan.
Dengan sempoyongan Han siong Kia mundur kebelakang, darah segar meleleh terus dari ujung
bibirnya.
Dalam sekejap mata itu pula lencana ok kui cupay telah berpindah tangan, kini benda tersebut
telah berada ditangan tengkorak maut yang lihay itu.
Tindakan dari Tengkorak maut ini sama sekali berada diluar dugaan semua orang, siapapun tak
menyangka kalau tokoh sakti itu sudi merampas ok kui cupay tanda kepercayaan dari Huan mo
kiong.
Paras muka Wi It beng berubah hebat, tubuhnya gemetar menahan emosi.
Jauh2 dari Thian lam menuju daratan Tionggoan, tujuan wi It beng adalah melenyapkan Han
siong Kie serta merampas lencana ok kui cupay yang merupakan tanda kekuasaan dari istana
Huan mo kiong, dan kini dikala lencana tersebut hampir terjatuh ke tangannya. Tahu2 sudah
dirampas oleh Tengkorak maut, bisa dibayangkan betapa gusar dan gelisahnya jago ini.
"Tengkorak maut, hayo serahkan kepadaku benda itu" hardiknya keras2.
"Heehh heehhh heehhh apanya yang serahkan kepadamu?" jengek Tengkorak maut sambil
tertawa seram.
"Apa lagi? tentu saja lencana ok kui cupay tersebut"
"Haahh haahhh haaa... Wi It beng menurut apa yang kuketahui, engkau tak lebih hanya
seorang anggota murtad dari aliran Thian lam dan lagi kedudukanmu sebagai Tee kun sudah
terhapus, memangnya lencana ini masih menjadi milikmu??"
"Tutup mulutmu, Jawab saja, mau diserahkan kembali kepadaku atau tidak ....?"
"Memangnya engkau mampu melakukan sesuatu yang luar biasa atas diriku ini? " ejek
Tengkorak maut.
"Bangsat Rupanya engkau memang sudah bosan hidup," teriak Wi It beng dengan gusarnya.
setelah membuat satu gerak melingkar di depan dada, sepasang telapak tangannya langsung
dilontarkan ketubuh Tengkorak maut, bukan saja cepat sekali serangan itu, bahkan ganas dan
keji.
"Waah.. kalau cuma mengandalkan ilmu kucing kaki tiga seperti ini masih jauh kalau ingin
merobohkan aku"
Tiba2 ia melesat kedepan sejauh dua kaki, kemudian ejeknya dengan nada sinis. . "Wi It beng,
manusia tolol sampai ketemu lain kali..."
Berbareng dengan berakhirnya ucapan tersebut, tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan
yang lebat.
Betapa murkanya Wi It beng ketika ia lihat Tengkorak maut telah berlalu dengan begitu saja, ia
berpaling dan melotot sekejap kearah Han siong Kie dan kelima orang tianglo itu dengan tatapan
benci, kemudian dengan wajah menyeringai ucapnya:
"Baik..baiklah... akan kuselesaikan kalian lebih dahulu sebelum kubikin perhitungan dengan
Tengkorak maut"
Keadaan Han siong kie ketika itu sangat lemah, jangan toh harus bertempur, untuk berdiri
sendiripun sudah tak mampu.
Lima orang tianglo itupun merasa sedih bercampur gusar, kini ketua mereka telah terluka
parah, itu berarti mereka berlima tak akan mampu menghadapi kelihayan wi It beng kendatipun
turun tangan bersama2
Dari sikap musuhnya yang begitu seram, merekapun sudah tahu bahwa musuhnya tak akan
melepaskan mereka berenam dengan begitu saja, asal mereka sudah mati maka perguruan Thian
lam pasti akan terjatuh ketangan manusia biadab ini, itu berarti pula bahwa kejayaan dan
kecermerlangan perguruan mereka harus berakhir sampai disini saja.
Walaupun sadar bahwa kepandaian mereka bukan tandingan lawan, namun mereka tak sudi
menyerah kalah dengan begitu saja, mereka bersiap sedia melakukan perlawanan hingga titik
darah yang penghabisan-
Diiringi bentakan nyaring, kelima orang tianglo itu segera putar toya kepala setannya dan
menerjang Wi It beng dengan ganas.
"Bluuk..." suatu jerit kesakitan terdengar, Liok sau tan terhajar telak oleh serangan itu hingga
mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.
Menyaksikan rekannya mati terbunuh, empat orang tianglo yang lain jadi semakin kalap.
serangan mereka semakin gencar, toya saktinya diputar sedemikian rupa sehingga Wi It beng
benar2 kena dikurung ditengah kepungan.
Kematiam rekan seperguruan yang berlangsung didepan mata membuat keempat orang tianglo
itu benar2 teramat gusar, mereka sudah bertekad untuk beradu jiwa, maka setiap serangan yang
dilancarkan Sebagian besar merupakan serangan adu jiwa yang sangat mengerikan-
Dalam waktu Singkat Wi It beng sudah di bikin keteter hebat dan kalang kabut tidak karuan,
posisinya amat terdesak sedang jiwanya terancam oleh mara bahaya.
Lambat laun Wi It beng jadi naik darah juga, ia tahu jika pertarungan dibiarkan berlangsung
terus dalam keadaan begini, niscaya wibawa dan gengsinya akan merosot.
Suatu ketika ia mendengus dingin, kemudian sambil menerjang kemuka secara beruntun dia
lancarkan delapan buah serangan berantai yang cukup gencar, hanya sesaat saja posisi diatas
angin telah terjatuh kedalam genggamannya.
Jerit kesakitan tiba2 berkumandang lagi memecahkan kesunyian, dalam suatu sergapan kllat,
Seng Thian pau tianglo kedua dari istana Huan mo-kiong ini tak sempat menghindarkan diri dari
serangan. dadanya terhajar telak sehingga ia muntah darah segar, tak ampun lagi tubuhnya
terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa.
Kematian dari rekannya yang kedua ini semakin membuat tianglo lain yang masih hidup jadi
kalap. To It hui tianglo pertama, Ang Pat siu tianglo ketiga dan Sah Jin ho tianglo kelima dengan
mata yang berapi-api dan muka menyeringai seram berulang kali membentak keras ibarat guntur
yang menggelegar di angkasa.
Tiga batang toya baja mereka dengan diputar sedemikian rupa merupakan serangkaian
bayangan serangan yang tajam dan tebal bagaikan awan yang memenuhi angkasa, di iringi
desingan tajam serentak menyergap membabat dan menghantam batok kepala musuhnya.
Ketiga orang tianglo ini sudah mata gelap dibuatnya, mereka jadi nekad dan tak takut mati,
dengan sendirinya serangan yang dilancarkan ketiga orang inipun jauh lebih dahsyat lagi.
Wi It beng tertawa terkekeh2, ia tak pandang sebelah matapun terhadap serangan2 musuhnya,
dikerubuti lima orang pun dia sanggup melakukan pembantaian apalagi sekarang musuhnya
tinggal tiga orang.. secara beruntun dia lepaskan dua belas buah pukulan dahsyat.
Begitu kedua belas buah pukulan itu dilancarkan kemuka, secara beruntun terdengarlah tiga
kali jerit kesakitan menggema diangkasa, dalam waktu singkat dari antara lima orang tianglo yang
gagah berani ada dua sudah mampus dan tiga lainnya menderita luka parah.
suasana untuk sesaat jadi hening dan sepi, kendatipun hawa napsu membunuh masih
menyelimuti seluruh angkasa dengan tebalnya.
Wi It- beng tertawa seram, muka nya menyeringai hingga Kelihatan sangat mengerikan,
selangkah demi selangkah ia maju kedepan menghampiri Han siong Kie.
Betapa gusar, benci dan penasarannya si anak muda itu, saking gelisahnya kembali dia
muntahkan darah segar, pada saat seperti ini dia sudah kehilangan tenaga untuk melawan,
padahal Wi it beng sambil tertawa seram maju semakin mendekat tampaknya kecuali meramkan
mata sambil menunggu tibanya ajal, tiada jalan lain lagi yang bisa dia lakukan. Pada detik2
terakhir inilah bayangan kematian berkecamuk dalam benaknya..
Ia teringat kembali akan dendam berdarah nya yang belum terbalas, perintah gurunya yang
belum terlaksana.
Mati bukan berarti bisa melepaskan diri dari se gala2nya, kalau ia sampai tewas dalam keadaan
demikian, maka dia akan mati dengan sepasang mata tidak terpejam.
sekarang ia mulai menyesal, menyesal apa sebabnya melayani pertarungan itu dengan
kekerasan, andaikata kelima orang tianglonya setelah ditolong maka mereka segera
mengundurkan diri, niscaya tidak beginilah keadaannya ....
Tanpa sadar peringatan dari orang yang ada maksudpun berkumandang kembali disisi
telinganya:
"...jangan lukai orang, setelah menyelamatkan jiwa kelima orang tianglo itu, segeralah berlalu
dari situ.."
Benarkah orang yang ada maksud adalah seorang manusia sakti yang bisa meramalkan semua
kejadian yang belum berlangsung?
sementara itu Wi It beng sudah berhenti kurang lebih lima depa dihadapan si anak muda itu,
telapak tangannya perlahan di angkat keudara dan siap melepaskan pukulan-..
Pada detik itulah dari tempat kejauhan tiba2 melayang tiba dua sosok bayangan manusia.
sangat kebetulan kemunculan bayangan manusia itu, Wi It beng yang telah siap melancarkan
serangannya tiba2 membataikan kembali niatnya dan menurunkan kembali telapak tangannya itu.
Yang munculkan diri ketika itu adalah dua orang kakek berbaju kuning, mereka memiliki
perawakan badan yang tinggi besar dan kekar, sepasang mata nya memancarkan cahaya tajam,
itu menandakan kalau tenaga dalam yang mereka miliki telah mencapai puncak kesempurnaan.
Begitu mencapai permukaan tanah, dua orang kakek baju kuning itu segera memberi hormat
kepada Wi It beng seraya berkata:
"Pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau khusus datang menghunjuk hormat untuk
Tee-kun"
"Kalian berdua tak usah banyak adat" kata Wi It beng sambil putar badannya "ada urusan apa
kalian datang kemari??"
"Hamba mendapat perintah dari kaucu untuk datang menghadap Tee kun, ada suatu masalah
penting yang hendak dirundingkan dengan diri Tee kun" sahut salah seorang diantara kedua orang
pelindung hukum baju kuning itu.
"Persoalan apa yang hendak kalian rundingkan??"
"Berulang kali manusia berwajah dingin menyatroni dan membuat keonaran didalam
perkumpulan kami, hingga detik ini sudah mendekati seratus orang anggota perkumpulan kami
yang telah jatuh korban ditangannya, oleh sebab itu kaucu mengusulkan agar Tee-kun bersedia
menyerahkan orang itu kepada kaucu kami, agar kami bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepada dirinya. ."
"Tentang soal ini. "
Dengan cepat pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Wi It beng, ia tahu bilamana Manusia
berwajah dingin diserahkan kepihak Thian che kau, maka tindakannya ini akan mempengaruhi
nama baik serta kewibawaan perguruannya, akan tetapi diapun merasa segan untuk bermusuhan
dengan perkumpulan itu dalam posisi yang serba tidak menguntungkan ini, toh bagaimanapun
juga tujuannya hanya melenyapkan bibit bencana dari muka bumi ?"
Kini lencana ok kui cui pay dari perguruannya sudah dirampas Tengkorak maut, itu berarti bila
dia hendak mengembangkan pengaruh perguruannya maka ia masih harus meminjam kekuatan
dan bantuan Thian che kau.. "
sesudah mempertimbangkan untung ruginya, diapun mengangguk dan menjawab nyaring.
"orang nya boleh saja kalian bawa pergi, tapi terlebih dahulu aku harus musnahkan dulu ilmu
silat yang dimilikinya"
"Terserah kebijaksanaan Tee-kun"
Han siong Kie masih sadar, dengan sendirinya diapun dapat mengikuti jalannya pembicaraan itu
dengan jelas, meskipun setiap patah kata yang diucapkan lawannya amat menusuk perasaannya,
membuat ia jadi gusar dan dadanya serasa mau meledak. akan tetapi sianak muda itu tak mampu
berbuat apa2, dia hanya pasrah pada nasib belaka.
Dalam pada itu, Wi it beng telah memutar badannya menghadap kembali kearah Han siong Kie.
setelah tertawa seram kata nya.
"Menurut peraturan sepantasnya kalau kusebut dirimu sebagai suheng.. haaahh .haaaahh..
haaahhh.. semoga saja sesaat lagi engkau dapat segera berangkat untuk berkumpul kembali
dengan toa supek dialam baka sana."
"Binatang terkutuk, aku menyesal karena tak bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepadamu!" seru Han Siong Kie dengan penuh kebencian "tapi hmm engkau tak usah keburu
bersenang hati, barang siapa tidak jujur dan tidak setia kepada perguruan, suatu ketika dia pasti
akan mati dalam keadaan mengerikan. percayalah saat ajalmu tidak terlalu lama"
"Heeehhh heeeehhh hheeeehhh suheng, sekalipun saat ajalku sebentar lagi akan tiba, sayang
seribu kali sayang engkau tak dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"sukma cousu selalu melindungi perguruannya, dia tak akan membiarkan engkau hidup lebih
lama.."
"Bangsat lebih baik tutup saja bacot anjingmu." bentak Wi It beng dengan gusar.
Dalam suatu bentakan keras dengan sodokan jari tangannya yang kaku bagaikan tombak ia
menerjang kemuka dan mengancam jalan darah cacad ditubuh sianak muda itu.
"Blaang" ditengah benturan keras yang memekikkan telinga, terdengar wi It beng mendengus
berat, dengan sempoyongan dia mundur lima langkah kebelakang.
sekalipun Han siong Kie sudah menderita luka dalam yang cukup parah namun dengan bakat
alamnya yang luar biasa serta daya tahannya yang kuat, serangan balasan yang dilepaskan dalam
keadaan terluka itu tak bisa di anggap enteng. . .
Bagi Wi It beng sendiri serangan balasan tersebut tak pernah dibayangkan sebelumnya, dia tak
menyangka dalam lukanya, pemuda itu masih sanggup melepaskan pukulan sedahsyat itu
sehabis melancarkan sebuah pukulan dengan menggunakan sisa kekuatan yang dimilikinya itu,
luka yang diderita Han Siong Kie menjadi semakin parah, dengan sempoyongan dia mundur
kebelakang, matanya jadi ber kunang2 dan kepala nya pusing tujuh keliling, darah segar kembali
muntah keluar dari mulutnya.
Dari malunya Wi It beng jadi gusar, sepasang telapak tangannya segera diayunkan berbareng
melancarkan bacokan kilat yang maha dahsyat.
Tiga orang tianglo yang menggeletak dengan menderita luka parah sempat mengikuti jalannya
peristiwa ini dengan jelas, mereka sudah meronta bangun sambil bersiap siap memberikan
pertolongan, tapi serangan lawan dilancarkan terlalu cepat, ketiga orang itu tak bisa berbuat lain
kecuali menjerit kaget
"Tee-kun, harap ampuni jiwanya, kaucu kami membutuhkan dirinya dalam keadaan hidup2"
teriak dua orang pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau hampir bersamaan waktunya.
Tapi sayang jeritannya itu agak terlambat, Di tengah jeritan kesakitan, ibarat layang-layang
yang putus benang, tubuh Han siong Kie mencelat ke udara dan meluncur kebelakang.
Mendadak satu kejadian aneh telah berlangsung didepan mata..
Dikala daya luncur dari tubuh Han siong Kie sudah habis dan badannya hampir menyentuh
tanah, tiba2 entah bagaimana caranya tiba2 tubuhnya melayang kembali keudara dan meluncur
kedalam hutan di tepi jalan raya itu..
semua jago berdiri terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya, semua orang tak mampu
ber-kata2 menyaksikan peristiwa aneh itu, hanya dalam waktu singkat tubuh Han siong Kie yang
kekar sudah melayang ke dalam hutan dan lenyap dibalik pepohonan.
sebagai jago2 silat kenamaan rasa kaget itu hanya sebentar menyelimati hati mereka, dengan
cepat orang2 itu sadar pastilah ada seorang tokoh sakti yang sedang bersembunyi disana. .
Peluh dingin mulai mengucur keluar membasahi tubuh mereka, bayangkan saja dari jarak
sejauh beberapa kaki ternyata tokoh sakti itu mampu menghisap sesosok tubuh yang kekar seperti
itu, bilamana tenaga dalam orang itu tidak sangat hebat, mampukah dia melakukan hal seperti
itu?
Belum lenyap rasa kaget yang menyelimuti hati semua orang, tiba2 pandangan mata nya jadi
kabur dan tahu2 seorang kakek tua yang tinggi besar dengan jubah panjang warna kuning,
berkaki telanjang dan berikat kepala warna perak munculkan diri ditengah gelanggang.
Perawakan tubuh kakek itu sangat tinggi besar, sekilas pandangan se-akan2 sebuah buklt kecil
yang sedang bejalan.
Manusia aneh itu mempunyai sepasang mata yang memancarkan sinar warna hijau, begitu
tajamnya sorot mata orang itu membuat setiap jago yang terpandang oleh nya segera hatinya
bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.
Setelah menjapu sekejap orang-orang itu, akhirnya sinar mata manusia aneh itu berhenti diatas
wajah Wi It beng.
Betapa pemberaninya Wi It beng tak urung mundur juga beberapa langkah ke belakang dengan
badan gemetar keras, dengan pengalaman serta kepandaian yang dimilikinya, ia tahu bahwa
manusia aneh itu bukan manusia sembarangan, ilmu silatnya boleh dibilang sudah mencapai
puncak kesempurnaan yang tak terhingga.
Sementara dia masih melamun, Manusia aneh itu sudah menegur dengan suaranya yang keras
bagaikan geledek:
"Hey bocah cilik, kalau kulihat dari kopiah emasmu, jubah sutramu serta dandananmu yang
tidak genah, tentunya engkau adalah ketua dari perguruan Thian lam bukan?"
"Bee.. betul " jawab Wi It beng dengan tubuh bergetar keras, "akulah ketua kaisar dari istana
Huan mo kiong"
"Apa ? Kaisar ? Haaah haaah haaaah kaisar ? sungguh menggelikan"
Gelak tertawa itu keras sekali membuat seluruh permukaan tanah tergetar keras, pucat pias
wajah kawanan jago yang hadir di situ, mereka merasakan darah panas bergelora dengan
hebatnya didada, bahkan Wi It beng pribadipun merasa jantungnya berdebar keras.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya dengan ketiga orang tianglo yang sedang terluka parah,
kontan mereka jatuh terduduk di atas tanah tak mampu berkutik lagi.
Untungnya manusia aneh itu hanya sebentar tertawa nya, kalau tidak cukup hanya tertawa
tergelak niscaya beberapa orang diantara mereka ada yang terluka parah.
Berdiri semua bulu kuduk digubuh Wi It beng, sambil memberanikan diri dia lantas menegur:
"Bolehkah aku tahu siapa nama besar mu?"
"Haah.. Masa engkau tidak kenal dengan aku?"
"Maaf, aku benar2 tidak kenal siapa engkau"
"Heehhh..heehh..heehh.. ketika aku masih berkelana dalam dunia persilatan, mungkin engkau
masih belum menongol dari rahim ibumu, akulah Hun si Mo ong Raja iblis pengacau jagad, sudah
pernah mendengar namaku ini"
Hun si Mo ong, suatu nama yang cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengarkan,
kontan para jago yang hadir dalam gelanggang merasakan badannya jadi lemas dan tak sanggup
berkutik lagi.
Sejak enam puluh tahun berselang jejak Hun si Mo ong secara tiba2 lenyap dari dunia
persilatan, kendatipun begitu nama besarnya selama puluhan tahun masih membekas dalam hati
setiap umat persilatan, tidaklah heran kalau semua orang masih mengenali nama besar dari tokoh
sakti tersebut.
Jago ini tersohor karena ilmu silatnya yang sangat lihay, perasaan girang ataupun gusar sukar
diketahui orang, dan perbuatannya tak pernah menuju kearah kebaikan ataupun kejahatansemua
perbuatannya hanya berdasarkan perasaan hati sendiri.
Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, jarang sekali ada jago silat yang sanggup
melayani tiga gebrakannya, maka dari itu baik jago dari golongan putih maupun jago dari
golongan hitam pada menaruh rasa jeri kepada nya
Enam puluh tahun berselang, diatas puncak Jit koan hong pada gunung Thay san telah
diselenggarakan suatu pertemuan besar para orang gagah, beratus2 orang jago persilatan kelas
satu yang ada dikolong langit telah berkumpul disana, dikala itu Hun si Mo ong hadir pula disana,
hanya cutup di dalam dua gebrakan ia telah berhasil menghajar mampus jago silat nomor satu
dikolong langit.
Atas kejadian itu para jago yang hadir disana jadi gusar hingga terjadilah pengerubutan secara
massal, akan tetapi dalam seperminum teh saja, mayat telah bergelimpangan bagaikan bukit,
darah berceceran membasahi puncak Jit koan hong...
sejak terjadinya peristiwa pembantaian ini tiba2 jejak Hun si Mo ong ikut lenyap dari peredaran
dunia persilatansungguh
tak disangka setelah menghilang selama enam puluh tahun lamanya, tiba2 Raja iblis
pengacau jagat yang lihay ini muncul kembali didalam dunia persilatan, bahkan turun tangan
menyelamatkan jiwa Manusia berwajah dingin yang terancam bahaya, peristiwa ini boleh dibilang
jauh diluar dugaan siapapun.
Tak seorangpun bisa memahami maksud dari gembong iblis ini, mereka cuma bisa berdiri
melongo sambil memandang orang itu tanpa berkata- kata. suasana jadi hening, sepi tak
seorangpun berani buka suara.
-00d0w00-
BAB 54
SESUDAH termenung beberapa saat lamanya, Hun si Mo ong kembali berkata:
" Enam puluh tahun berselang aku telah mengangkat sumpah, bahwasanya orang lain tidak
mengganggu aku, maka akupun tidak akan mengganggu orang lain. Nah Anggap saja nasib kalian
masih mujur, hayo cepat enyah dari tempat ini"
Hampir saja semua orang tidak percaya dengan pendengaran sendiri, siapa juga tak mengira
kalau Hun si Mo ong yang kejam dan lihay ternyata sudah bertobat dan tidak melakukan
pembantaian lagi.
seakan2 baru saja terlepas dari pintu neraka, kawanan jago itu segera melarikan diri terbirit2
dari sana.
Hun si Mo ong tertawa ter bahak2, menanti kawanan jago itu sudah lenyap dari pandangan,
diapun berkelebat dan lenyap dari pandangan mata.
Tak jauh dari hutan itu, Han siong Kie tampak sedang berdiri sambil bersandar di atas sebuah
dahan pohon-
Tak jauh disampingnya berdiri pula seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari turun
dari kahyangan. dia bukan lain adalah malaikat hawa dingin Mo siu ing. Pada waktu itu Mo siu ing
sedang tertawa ringan sembari berkata:
"Hey, manusia berwajah dingin Ketika berada dihutan penyeberangan pohon liu engkau telah
menyelamatkan jiwaku, dan sekarang aku telah membayar budi kebaikanmu itu, berarti pula kita
sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada siapa"
Han siong Kie sakit hati dan termenung tanpa berkata2, ia tak suka budi kebaikan dari orang
lain, terutama dari kaum wanita, tapi dalam kenyataan berulang kali dia harus menerima budi
kebaikan dari kaum perempuan, hal ini membuat ia habis daya dan tak mampu ber-kata2 lagi.
Melihat sianak muda itu membungkam, Malaikat hawa dingin Mo siu ing kembali berkata:
"Kita hanya berjumpa secara kebetulan saja, kebetulan aku dan guruku sedang berangkat
menuju kebenteng maut, dan ketika kami lewat disini kulihat engkau sedang terancam bahaya.."
"Siapa gurumu?" tanya Han siong Kie agak tertegun.
"Siapa lagi kalau bukan Hun si Mo ong??"
sekali lagi Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa dia teringat kembali
akan peristiwa dimasa lampau dimana Ang Nio cu terancam bahaya setelah dihajar sampai terluka
parah oleh Tengkorak maut gadungan, untung Hun si Mo ong muncul secara tiba2 dia membuat
Tengkorak maut gadungan melarikan diri karena ketakutan.
Ia tak mengira kalau Hun si Mo ong yang ditakuti banyak orang itu ternyata tak lain tak bukan
adalah gurunya Malaikat hawa dingin Mo siu Ing.
"Jadi gurumu adalah Hun si Mo ong ?" tanya pemuda itu lagi dengan nada kurang percaya.
"Benar, engkau tak percaya??"
"Dan kalian hendak menuju ke benteng maut??"
"Tentu saja, kami hendak pergi kesana untuk menolong suamiku "
Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak Han siong Kie, kalau toh Hun si Mo
ong adalah gurunya malaikat hawa dingin Mo siu ing, bahkan dia mampu membuat Tongkorak
maut gadungan melarikan diri ter-birit2, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silatnya pasti
tinggi sekali.
Bagaimana jadinya apabila mereka berangkat ke Benteng maut? Belum tentu Tengkorak maut
yang asli mampu menandingi kekuatan mereka, jika dia sampai mati maka bagaimana dengan
dendam sakit hatinya? bukankah harapannya akan lenyap tak berbekas?
Diam2 pemuda itu jadi panik, saat ini tenaga dalamnya belum pulih kembali jelas tak mungkin
baginya untuk membicarakan soal balas dendam, lalu mampukah dia menghalangi orang lain agar
jangan pergi dulu kesana..?
Tapi dengan cepat ia terbayang kembali betapa lihay dan aneh nya ilmu silat yang dimiliki
pemilik benteng maut. sekalipun tenaga gabungan dua orang tokoh sakti ini terhitung dahsyat,
belum tentu usaha mereka akan mencapai kesuksesan.
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 tampaklah sesosok bayangan
manusia berkelebat lewat, menyusul seorang manusia aneh yang tinggi besar telah munculkan diri
didepan mata.
"Suhu, sudah selesaikah urusanmu?" Malaikat hawa dingin Mo Siu ing segera menegur dengan
wajah berseri.
"Ehmm. Perbuatanku sangat terbatas sekali karena terikat oleh sumpahku, aku tak dapat
membunuh orang lagi, terpaksa kububarkan orang2 itu agar berlalu dari sana"
Sekarang Han siong Kie baru tahu kalau manusia aneh yang berada dihadapannya bukan lain
adalah Hun si Mo ong yang ditakuti setiap orang, ketika diketahuinya peristiwa Wi It beng sekalian
tidak sampai dibunuh mati, pemuda itu bergirang hati karena dengan begitu maka dia masih
punya harapan untuk menjatuhi hukuman yang setimpal kepada penghianat perguruannya itu.
Berpikir sampai disitu, anak muda itu segera maju kedepan dan memberi hormat kepada Hun si
Mo ong seraya berkata:
"Locianpwe, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu ini"
"Haaahhh haaahhh haaahhhjangan kau anggap peristiwa itu sebagai suatu kejadian besar" kata
Hun si Mo ong sambil tertawa tergelak, "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyelamatkan
jiwamu, oleh karena muridku pernah menerima pertolongan darimu dan dia temukan engkau
sedang terancam bahaya maka ia minta bantuanku untuk menolong, jadi anggaplah
pertolonganku bukan lantaran engkau, tapi lantaran permintaan dari muridku ini"
Berbicara sampai disini, diapun berpaling kearah Malaikat hawa dingin Mo siu Ing seraya
berkata:
"coba kau lihat, bocah ini mirip sekali dengan suhengmu Ko Su ki "
"Benar suhu.." jawab Malaikat hawa dingin sedih.
sekarang Han siong Kie baru tahu kalau pada mulanya malaikat hawa panas dan malaikat hawa
dingin adalah sesama perguruan dimana dari saudara seperguruan akhirnya mengikat diri menjadi
suami istri.
"Dia tak akan mati bukan?" terdengar Hun si Mo ong bertanya lagi.
"Tecu telah memberi sebutir Kui goan kim wan kepada nya, tecu rasa jiwa nya tidak terancam
lagi"
"Kui goan kim wan ?" seru Hun si Mo ong cepat," Hey budak cilik, engkau benar2 sangat royal,
tahukah engkau selama enam puluh tahun aku bekerja, hasilku hanya tiga butir pil Kui goan kim
wan tersebut, engkau bukan saja sudah makan sebutir, sekarang kau hadiahkan pula sebutir
kepadanya.. waah, terlalu royal"
Malaikat hawa dingin Mo siu ing tertawa jengah setelah mendengar teguran itu, cepat dia
alihkan pokok pembicaraan kesoal lain: "suhu, sekarang sudah waktunya buat kita untuk
berangkat..."
"Baik..baik.. hayo kita berangkat"
Begitulah, tanpa berbicara lagi dua orang jago silat itu segera berlalu dari hutan tersebut,
dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan-
Han siong Kie sendiripun tak mampu berkata2, dia hanya bisa memandang kepergian dua
orang itu dengan pandangan melongo.
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing yang gemar membunuh manusia ternyata rela menghadiahkan
obat Kui goan kim wan mustika perguruanya untuk menyelamatkan jiwa Han siong kie, terhadap
peristiwa itu pemuda kita merasa keheranan dan benar2 tak habis mengerti.
"Mungkinkah obat ini disebabkan karena Han siong Kie berhasil menemukan kabar berita
tentang malaikat hawa panas Ko su ki ? Mungkinkah seumpama sianak mudaitu mengenangkan
lembali dirinya akan kegagahan dan kegantengan suaminya dimasa lampau?
obat Kui goan kim wan benar2 terhitung sebutir obat yang sangat mujarab, dalam waktu
singkat bukan saja rasa sakit ditubuh sianak muda itu sudah lenyap tak berbekas bahkan hawa
murninya telah menghimpun kembali..
Dalam perkiraan si anak muda itu, sesudah kemunculan Hun si Mo ong yang disegani banyak
orang itu, maka tak akan ada manusia yang berani mendekati wilayah itu, tapi dengan tenang dia
lantas duduk bersila sambil bersemedi . Apa yang terjadi kemudian? Ternyata dugaannya itu keliru
besar.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia dengan langkah yang sangat hati- hati
sedang bergerak mendekati tempat pertapaannya.
Nun jauh dibelakang bayangan manusia itu tampaklah bayangan manusia itu sedang
membuntuti bayangan manusia yang pertama. agaknya kedua orang itu mempunyai maksud dan
tujuan yang berbeda.
Mimpipun Han siong Kie tak menyangka kalau jiwanya waktu itu kembali terancam oleh mara
bahaya, dengan kesempurnaan tenaga dalamnya ditambah pula kemujaraban pil Kui goan kiem
wan, hanya dalam waktu singgkat ia sudah berada dalam keadaan tak sadar, kabut tipis berwarna
putih mulai mengepul keluar dari ubun2nya menciptakan selapis kabut tebal diatas kepala nya.
Bila latihan ini berlangsung setengah jam lagi, niscaya luka dalam yang diderita sianak muda itu
sudah sembuh sama sekali.
Bayangan manusia itu kian lama kian mendekat dan akhirnya ia berhenti dibelakang Han siong
Kie, persis pada jarak jangkauan tangannya, siapakah bayangan itu? Dia tak lain adalah Tengkorak
maut gadungan yang berhasil merampas lencana ok kui cu pay dari tangan Han siong Kie itu.
sementara itu pemuda Han siong Kie masih belum merasakan tibanya malaikat maut yang siap
mencabut nyawanya, ia masih duduk bersemedi sambil menyembuhkan luka nya yang diderita.
Telapak tangan dari tengkorak maut gadungan telah diangkat tinggi2, ia siap melepaskan
serangan mautnya, tapi entah apa sebabnya tiba2 telapak tangan yang telah siap melancarkan
serangan maut itu diturunkan kembali, rupanya ia sedang mempertimbangkan perlukah mencabut
nyawa sianak muda itu.
Jikalau ia menginginkan nyawa anak muda itu, maka dengan suatu gerakan yang amat
sederhana, keinginannya itu pasti akan tercapai, namun dalam kenyataan ia telah membatalkan
niatnya itu, atau mungkin dibalik kesemuanya ini dia mempunyai maksud atau tujuan yang lain
Dalam pada itu bayangan manusia yang lain telah melayang pula mendekati dibelakang
Tengkorak maut gadungan, dengan gerakan tubuh yang enteng ia menyembunyikan diri
dibelakang sebuah pohon yang besar.
Gerak gerik orang itu enteng dan gesit, sedikitpun tidak menimbulkan sedikit suarapun,
malahan Tengkorak maut gadungan yang lihaypun sama sekali tidak merasa kehadirannya. dari
sini dapat dibuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki pandatang itu luar biasa hebatnya.
suasana jadi hening, sepi, akan tetapi napsu memburuh yang tebal telah menyelimuti seluruh
angkasa.
37
Kabut putih yang menyelimuti ubun2 Han siong Kie mulai menipis dan akhirnya lenyap
menyusul mana pemuda itu sadar kembali dari latihannya, baru saja dia akan bangkit berdiri..
Mendadak sebuah telapak tangan telah menempel diatas ubun2nya, menyusul seseorang
membentak dengan suara menyeramkan: "Jangan bergerak!"
Betapa terperanjatnya Han siong Kie, ia merasa sukmanya serasa melayang tinggalkan
raganya, suara itu tidak terlalu asing baginya, sebab ia kenali sebagai suara dari Tengkorak maut
gadungan.
Bisa dibayangkan sampai dimanakah rasa bergidik yang mencekam perasaan hati si anak muda
itu, dalam hati dia lantas berseru. "Mati aku Habis sudah riwayatku kali ini.."
Tengkorak maut gadungan tertawa terkekeh kekeh dengan bangganya, ia berseru:
"Bocah keparat, ada satu persoalan hendak kuajukan kepadamu, aku harap engkau bersedia
untuk menjawab dengan sejujurnya"
Sekalipun jiwanya terancam, akan tetapi Han siong Kie tak mau menyerah dengan begitu saja,
dengan wataknya yang tinggi hati dan angkuh ia tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan
orang, dengan ketus ejeknya sinis:
"Tua bangka sialan, engkau manusia pengecut. Beraninya main sergap dikala orang tidak
bersiap sedia, manusia macam apakah dirimu itu?"
"Haaahhh haaahhh haahh keparat, terserah apa yang hendak kau katakan, pokoknya asal
engkau bersedia menjawab pertanyaanku sejujurnya maka akupun bersedia pula memberi
kesempatan kepadamu untuk melangsungkan suatu pertarungan yang seadil2nya"
"Aku tak sudi dipaksa atau diancam, percuma kalau engkau hendak paksa aku untuk menjawab
pertanyaanmu itu".
"Bocah keparat, engkau jangan tekebur Ketahuilah, bila aku berniat untuk mencabut nyawamu
maka perbuatan ini bisa kulakukan dengan gampang sekali"
" Kalau memang begitu, silahkan saja turun tangan "
" Engkau tak takut mampus??"
"Hmm Aku manusia berwajah dingin tak akan sampai mengemis kehidupan kepadamu"
"Baiklah bocah keparat, anggap saja engkau memang bersemangat jantan, cuma sayang..."
"sayang kenapa??"
"Perguruan Thian- lam akan terputus ditanganmu"
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, ia tahu bila dirinya mati maka perguruan Thian lam
akan hancur berantakan, wi It beng pasti akan berbuat se wenang2 tanpa seorangpun berani
menghalangi perbuatannya itu, dan akhirnya perguruan Thian lam akan musnah dengan
sendirinya.
Pemuda itu jadi sedih dan sakit hati, tapi wataknya yang angkuh membuat anak muda itu tak
sudi tunduk kepada orang lain.
setelah termenung sejenak diapun berseru:
"Tua bangka sialan, engkau tak usah banyak bicara lagi, kalau ingin turun tangan hayo cepatlah
turun tangan"
"Jadi engkau benar2 lebih suka mampus daripada hidup??"
"Aku tak akan mengemis hidup darimu, banyak bicara tak ada gunanya ....mau turun tangan
hayo cepat turun tangan, tak usah banyak bacot lagi."
"Kalau memang begitu yaa sudahlah..."
Han siong Kie tak menggubris lawannya lagi, ia segera pejamkan matanya rapat2..
Tiba2 sekilas cahaya perak memancar ke angkasa, diiringi desingan angin tajam langsung
menyambar kearah pohon besar dihadapannya.
Tengkorak maut gadungan menjerit kaget, mendengar itu Han siong Kie membuka matanya
dan memandang kedepan.
Tampaklah sebuah lencana perak sebesar telapak tangan menempel diatas dahan pohon itu
diatas lencana terukirlah gambar matahari, rembulan dan bintang.
sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya,jeritan ngeri yang menyayatkan hati
kembali berkumandang memecahkan kesunyian. "Blaam sesosok tubuh segera tumbang keatas
tanah dan tak berkutik lagi.
Betapa terperanjatnya Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, ia lompat bangun dan
menengok kesamping, tampaklah Tengkorak maut gadungan sudah menggeletak tak bernyawa
diatas genangan darah. tujuh lembar daun pohon menancap diatas kepalanya membuat kematian
jago ampuh itu tampak mengerikan sekali.
Untuk sesaat sianak muda itu jadi tertegun dan tak mampu berkata-kata..
siapakah yang memiliki kepandaian selihay itu sehingga mampu membinasakan Tengkorak
maut gadungan??
siapa pula pemilik dari lencana perak itu??
Mungkinkah Hun si Mo ong yang telah datang ? Karena sebelum ajalnya bukankah Tengkorak
maut gadungan telah menjerit kaget??
Kecuali tokoh sakti itu, siapa lagi yang mampu membinasakan gembong iblis ini hanya didalam
sekali gebrakan belaka??
Mungkinkah lencana perak itu adalah lambang dari Hun si, Mo ong?
Pelbagai ingatan berkecamuk menjadi satu didalam benaknya, dia merasa tidak sanggup untuk
memecahkan kejadian yang sangat aneh ini, tapi ada satu hal ia merasa yakin, untuk kesekian
kalinya kembali ia lolos dari cengkeraman malaikat elmaut, sekali lagi dia lolos dari kematian
"Nak. apa yang sedang kau lamunkan?" tiba2 suara teguran yang lembut dan penuh kasih
sayang . berkumandang dari tak jauh dari sana.
Han siong Kie terkesiap, dengan cepat la kenali suara tersebut sebagai suara dari orang yang
kehilangan sukma.
"cianpwe, engkaukah itu?" cepat pemuda itu berseru.
"Nak, masa engkau tak dapat mengenali suaraku lagi?"
"sekalipun boanpwe tidak berjodoh untuk menjumpai raut wajah cianpwe, akan tetapi suara
cianpwe sudah membekas dalam benakku, budi kebaikan yang telah cianpwe berikan kepadaku
setinggi bukit dan setebal bumi, selamanya budi kebaikan ini tak akan kulupakan"
"Nak. aku tak suka mendengarkan perkataan2mu yang memandangkan balas budi ini"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah.
"Apakah cianpwe yang telah membinasakan Tengkorak maut gadungan untuk melepaskan
boanpwee dari ancaman bahaya maut??"
"Begitulah kenyataannya"
"Kesempurnaan tenaga dalam yang cianpwee miliki benar2 luar biasa sekali."
"Nak. dugaanmu itu keliru besar, bila tenaga dalamku dibandingkan dengan tenaga dalam yang
dimiliki Tengkorak maut gadungan, maka kepandaianku masih kalah setengah tingkat"
Han siong Kie tercengang dan merasa tak habis mengerti, dengan nada keheranan segera
serunya:
"Tapi..tapi toh kenyataannya dia mati dalam waktu singkat??"
"Dia bukan mati ditanganku, lebih cocok kalau dikatakan bahwa ia mati toh karena lencana
tersebut."
Han siong Kie melongo dan tak habis mengerti, ujarnya lagi: "Mati karena lencana itu ?
Boanpwe merasa tak mengerti.."
"Kemunculan lencana itu membuat konsentrasinya jadi buyar, karena itulah aku manpaatkan
kesempatan yang sangat baik itu untuk membereskan jiwanya..."
"Masa lencana itu memiliki daya pengaruh yang begitu besarnya?"
"Benar nak. engkau tidak percaya?"
"Tentu saja boanpwe percaya, apa mungkin lencana itu adalah lambang khusus milik cianpwe?"
"Bukan, dugaanmu itu keliru besar"
Han siong Kie semakin kebingungan dibuatnya, sesaat kemudian ia baru bertanya lagi:
"Bolehkah boanpwe ketahui apa nama lencana itu?"
"Thian che leng"
"Lencana Thian che? kalau begitu kan lencana ini milik perkumpulan Thian che kau?"
"Dugaanmu tepat sekali, lencana itu memang milik perkumpulan Thian che kau"
"Jadi kalau begitu, Tengkorak maut gadungan menjalankan aksinya karena mendapat perintah
dari pihak Thian che kau?"
"Boleh dikatakan begitu"
"Maksud cianpwe ucapan dari boanpwe ini tidak benar semuanya?"
"Nak. untuk saat ini lebih baik engkau tak usah mengetahui tentang persoalan ini, toh akhirnya
engkau akan menjadi paham dengan sendirinya"
Han siong Kie terbungkam untuk beberapa saat lamanya, tiba2 ia jadi teringat kembali dengan
ibunya, siang go cantik ong Cui ing, ia telah disergap oleh ibunya agar Tengkorak maut gadungan
berhasil melarikan diri, kalau ditinjau dari situ dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Tengkorak maut
gadungan adalah orangnya Thian che kau.
sekalipun begitu, kecurigaan yang mencekam dalam benaknya terasa semakin banyak, maka
kembali ujarnya:
"Aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan sangat tinggi dan luar biasa, masa
manusia selihay inipun rela menjalankan perintah dari orang lain??"
"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, dia memang lihay tapi
diatasnya toh masih ada manusia yang jauh lebih lihay??"
"Aku rasa tenaga dalam yang dimiliki Thian che kaucu tidak lebih tinggi beberapa kali lipat dari
pada kepandaian silat Tengkorak maut gadungan"
"Thian che kaucu yang pernah kau temui itu tidak lebih hanya Thian che kaucu gadungan yang
sengaja menyelimuti pandangan orang lain, kaucu yang asli sama sekali tak berada dalam
perkumpulan"
"oooh.. Tapi apa sebabnya orang ini harus menyaru sebagai tengkorak maut gadungan??"
"Kan sudah kukatakan tadi, ia mendapat perintah dari orang lain"
"Mendapat perintah siapa ? Perintah dari Thian che kaucu ?"
"Nak.. pertanyaanmu sudah terlalu banyak"
"cianpwee menganggap bahwa aku tak pantas mengajukan pertanyaan lagi??"
"Tentang soal ini ada beberapa soal diantaranya dewasa ini tak mungkin bisa kamu peroleh
jawabannya "
"Kenapa??"
"Persoalan ini termasuk pula persoalan yang tak bisa kujawab, harap engkau bisa maklum"
Tak kuasa lagi Han Siong Kie menarik napas dingin, tapi dia pantang menyerah dengan begitu
saja, kembali tanyanya:
"Kalau kutinjau dari dandanan orang yang menyaru sebagai Tengkorak maut ini bukan saja
dandanannya sama bahkan ilmu silatnya juga sama bila dibandingkan dengan yang asli maka dia
cuma kalah dalam soal kesempurnaan, bila dugaanku tak keliru semestinya antara yang asli dan
yang paisu tentu mempunyai hubungan yang sangat erat."
"Nak. aku rasa pembicaraan kita sudab cukup sampai disini dahulu, cepatlah kubur jenasah itu,
makin dalam makin baik sehingga jejaknya tidak ketahuan siapapun "
Dengan perasaan apa boleh buat Han siong Kie memandang kearah mana berasal suara dari
orang yang kehilangan sukma, kemudian mengangguk.
Diapun berjongkok dan mulai menegeledah saku Tengkorak maut gadungan, tapi hanya sesaat
kemudian paras mukanya telah berubah hebat, ia berseru tertahan:
"Nak, apa yang sedang kau cari?" terdengar orang ada maksud bertanya:
"Aku sedang mencari lencana ok kui Cu-pay dari perguruanku "
"Percuma, tak usah kau cari lagi sebab lencana itu sudah tidak ada dalam sakunya lagi"
"Sudah tidak berada dalam sakunya lagi??"
"Benar, benda itu sudah dia serahkan kepada orang lain "
"Maksudmu Thian che kaucu??"
orang yang kehilangan sukma tidak menanggapi pertanyaan itu, tapi kembali berseru:
"Cepatlah turun tangan dan kuburlah mayat itu Jangan sampai meninggalkan jejak."
"Tapi lencana itu merupakan barang mustika yang menyangkut mati hidup perguruanku, bila
cianpwee mengetahui jejaknya, tolong beritahulah kepadaku"
"Tentu saja akan kuberitahukan kepadamu tapi bukan sekarang."
Dengan sedih dan murung Han Siong Kie menghela papas panjang, dalam hati ia merasa
penasaran sekali hingga rasa mendongkolnya sukar dikendalikan, tapi ia tak berani
mengumbarnya . .
Sesudah termenung sejenak, akhirnya dia memghimpun hawa murninya kedalam telapak
tangan kanannya, kemudian dengan sekuat tenaga dibabatkan keatas tanah.
"Blaaang.." pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, sebuah liang sedalam beberapa
kakipun segera terbentuk.
Baru saja liang itu terbentuk, suara dari orang yang kehilangan sukma kembali berkumandang
datang .
"Lepaskan jubah dan kain kerudungnya, hancurkan raut wajah orang itu.."
Han siong Kie agak tertegun, tapi tugas itu segera dilaksanakan tanpa membantah.
Ketika sianak muda itu sudah menyelesaikan tugasnya, suara dari orang yang kehilangan
sukma berkumandang lagi:
"Sekarang hancurkan lambang tengkorak yang ada disakunya itu, kemudian kuburlah bersama
jubahnya diliang yang lain pendam jenasahnya kedalam liang itu, sesudah di uruk dengan tanah,
gusakan ranting pohon untuk menghilangkan jejak yang ada di permukaan tanah."
Han siong Kie sama sekali tidak tahu permainan setan apakab yang sedang dilakukan Orang
yang kehilangan sukma, dlapun tahu kalau banyak bertanya tak ada gunanya maka tanpa
mengucapkan sepatah katapun semua pekerjaan itu dilaksanakan tanpa membantah.
Dalam hati kecilnya dia hanya berpikir terus, darimana asalnya orang yang bernama orang yang
kehilangan sukma ini, ia juga tak tahu mengapa mereka berbuat begitu misterius, mengapa
berulang kali mereka memberi bantuan kepadanya. Ketika semua pekerjaan telah selesai, maka
pemuda itu bertanya lagi:
" Cianpwe, apabila aku ingin tahu darimakah cianpwe mendapatkan benda yang paling
berkuasa dari perkumpulan Thian che kau ini.."
"Ada apa?" tukas orang yang kehilangan sukma.
"Apakah cianpwe tidak bersedia untuk memberikan jawabannya?"
"Tepat sekali tebakanmu itu, untuk sementara satu pertanyaan itu tak bisa kujawab, anggaplah
pertanyaan tersebut belum tiba saatnya bagiku untuk memberitahukan kepadamu. 0oh iya, nak.
bukankah aku suruh engkau berkunjung ke benteng maut? Mengapa engkau tidak pergi ke sana?"
Mendengar pertanyaan itu, kontan saja Han siong Kie merasakan darah panas dalam dadanya
bergelora, api dendam dan benci berkecamuk dalam benaknya membuat hawa napsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya
Tanpa sadar ia teringat kembali akan diri Tonghong-Hui, setelah masuk kedalam benteng maut,
gadis itu tak pernah muncul kembali, menurut perjanjian hal ini menandakan bahwa ayahnya
adalah pembUnuh yang telah membantai keluarganya dimasa silam. Dan tentu saja dia harus
membalas dendam atas terjadinya peristiwa ngeri itu.
Pelbagai ingatan kembali berkecamuk dalam benaknya, dengan sedih bercampur pilu dia
menyahut:
"Cianpwe, aku pasti akan berkunjung kesitu, boanpwe percaya masa bagiku untuk berkunjung
kebenteng maut sebentar lagi pasti akan tiba"
"Kesempatan ? Apa maksudmu?"
"Terus terang kukatakan cianpwe, sebelum berkunjung kesitu boanpwe hendak mempelajari
dahulu sejenis ilmu silat yang maha sakti.."
"Maksudmu, bila ilmu silat yang kau latih itu berhasil kau kuasahi maka engkau akan
berkunjung ke benteng maut untuk melakukan pembalasan dendam..?"
"begitulah maksud boanpwe"
"Nak, dikala aku tak dapat memberitahukan segala sesuatunya kepadamu, aku tak mampu
mencegah engkau berbuat sesuka hatimu, tapi aku ada satu permintaan dan aku harap engkau
tidak sampai membuatku jadi kecewa."
"Ucapan cianpwe terlalu serius, apa yang hendak disampaikan? Katakanlah terus terang" "
"Apabila engkau berkunjung lagi ke benteng maut dan sebelum melakukan pembalasan
dendam, aku minta sampailah dahulu asal usulmu dan ceritakan pula kisah terjadinya
pembantaian berdarah itu dan dimanakah peristiwa tersebut telah terjadi"
"sekalipun cianpwe tidak berpesan begitu boanpwe akan melakukan juga kesemuanya itu"
"Apakah engkau menyanggupi permintaanku untuk melakukannya walaupun berada dalam
keadaan apapun?"
"Boanpwe bersedia"
Meskipun dimulut Han siong Kie lelah menyanggupi, namun hatinya merasa tercengang dan
keheranan sebelum membalas dendam tentu saja dia akan menceritakan dulu sebab musabab
terjadinya peristiwa berdarah itu, tapi mengapa orang yang kehilangan sukma berpesan secara
serius kepadanya? Apa maksud dan tujuannya?
sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi dengan nada
yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Nak. bukankah engkau merasa curiga dan tak habis mengerti? Bukannya aku sengaja berbuat
sok misterius pada hakekatnya terlalu banyak masalah yang tak boleh diungkapkan terlalu cepat,
sebab kalau tidak maka akan mengakibatkan terjadinya peristiwa yang lebih fatal, aku minta
engkau bersabar diri dan menunggu sampai tanggal mainnya?"
"Aku mengerti" sahut Han siong Kie.
-00d0w00-
BAB 55
SESUDAH berhenti sebentar orang yang kehilangan sukma kembali berkata:
"Demi engkau mau tak mau aku harus musnahkan Tengkorak maut gadungan dari muka bumi,
tapi tahukah engkau akibat dari kematiannya itu maka akan timbul pelbagai kejadian yang sukar
diramalkan mulai sekarang. Tahukah engkau didalam perkumpulan Thian che kau masih terdapat
belasan orang jago yang memiliki ilmu silat setaraf dengan kepandaian Tengkorak maut
gadungan."
Diam2 Han siong Kie menjulurkan lidahnya dengan setengah percaya setengah tidak ia berseru:
"sudah beberapa kali boanpwee menyatroni, markas besar perkumpulan Thian che kau akan
tetapi selama ini?"
"belum pernah...".
"Benar, desa ini dalam markas besar perkumpulan Thian che kau memang tidak terdapat jago2
lihay yang terlalu istimewa, tapi tahukah engkau bahwa jago2nya sama sekali tidak berada disitu?
secara beruntun mereka akan munculkan diri didalam dunia persilatan, mungkin juga dunia
persilatan sudah menghadapi saat2 kiamat, tak lama lagi perkumpulan Thian che kau akan
menumpas musuh2nya dan merajai kolong langit..."
"Nak. tugasmu sekarang terlampau berat, aku harap engkau bisa baik2 menjaga diri. Ingatlah
Engkau harus bersabar menghadapi segala persoalan apapun"
Betapapun kukuhnya Han siong Kie, ia merasa terharu juga setelah mendengar perkataan itu,
sepasang matanya jadi merah dan hampir saja air matanya jatuh bercucuran, dengan
bersungguh2 katanya:
"Nasehat dari cianpwe akan boanpwe ingat selalu didalam hati"
"Nak, sekarang engkau boleh berlalu dari sini"
sebenarnya dalam hati kccilnya Han siong Kie masih ada banyak persoalan yang hendak
ditanyakan, akan tetapi pada saat itu dia merasa tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
maka sesudah termenung sebentar akhirnya ia berkata: "Kalau memang begitu, boanpwe mohon
diri lebih dahulu"
"Engkau tak usah melalui jalan raya lagi, diantara lima orang tianglo yang setia kepadamu ada
dua sudah tewas dan tiga orang terluka parah, kini yang tewas sudah dikubur sedang yang luka
sudah pergi, lewatilah hutan sebelah depan sana, lebih cepat berlalu dari sini lebih baik"
Han siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, akan tetapi terhadap orang
yang kehilangan sukma dan putrinya, ia menaruh rasa percaya seratus persen, maka tanpa
membantah lagi sianak muda itu segera berputar kesamping kanan dan siap berlalu dari situ..
"Tunggu sebentar" tiba2 orang yang kehilangan sukma berseru kembali.
" Cianpwe, apakah masih ada persoalan lain yang hendak cianpwe sampaikan kepadaku" tanya
sianak muda itu sambil menghentikan langkah kakinya dan berpaling.
"Hampir saja aku telah melupakan suatu persoalan yang amat penting sekali."
"Ucapkanlah cianpwee, boanpwee akan mendengarkan dengan seksama"
"Apakah engkau sudah mengetahui asal usul Yu sau Kun, ketua muda perkumpulan Thian che
kau yang sebetulnya??"
satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, dia segera bertanya: "Masa dia
benar2 adalah keturunan dari susiokku Telapak naga beracun Thio Lin??"
"Tepat sekali tebakanmu itu, dia memang keturunan dari paman gurumu yang sudah tiada"
"Taa... tapi hal ini mana mungkin bisa terjadi??"
"Kenapa tak mungkin terjadi??"
"Bukankah dia sudah mewakili diriku mati didalam perkampungan keluarga Han?"
"Apakah engkau sudah menemukan jenasahnya??"
"Tentang soal ini.." Untuk sesaat Han siong Kie jadi gelagapan dengan sendirinya, "mendiang
susiokku, Telapak naga beracun Thio Lin yang memberitahukan persoalan ini kepadaku"
"Dia toh cuma tahu kejadian itu sebelum berlangsungnya peristiwa itu, ketika peristiwa
berdarah berlangsung, ia sama sekali tidak hadir dalam gelanggang"
Mendengar perkataan itu, Han siong Kie segera merasakan tubuhnya gemetar keras bagaikan
kena aliran listrik bertegangan tinggi, ia sama sekali tak menyangka kalau asal usulnya serta
peristiwa berdarah yang menimpa keluarganya dapat diketahui oleh orang yang kehilangan sukma
sejelas itu, lalu.. siapa kah sebenarnya orang itu"
Kalau memang orang yang kehilangan sukma telah mengetahui semua kejadian itu bagaikan
memandang jari tangan sendiri, kenapa ia tidak secara langsung membeberkan rahasia ini
kepadanya, tapi malahan suruh dia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya,
apakah maksud yang di kandung orang itu dibalik kesemuanya ini ?
Atau mungkin pemilik benteng maut bukan pembunuh keluarganya dan dibalik semua peristiwa
ini masih ada persoalan lain? "
Kalau memang Tengkorak maut bukan pembunuh keluarganya, mengapa Tonghong Hui tidak
muncul kembali dari bentengnya sesudah masuk kedalam benteng maut? Bukankah mereka telah
berjanji, apa bila majikan benteng maut adalah pembunuhnya maka gadis itu tak akan muncul
kembali..
Makin berpikir ia merasa makin bingung dan makin dibayangkan pikirannya semakin ruwet..
"Nak tak ada gunanya engkau banyak berpikir" terdengar orang yang kehilangan sukma
berkata lagi, "suatu saat engkau pasti akan mengetahui dengan sendirinya apa yang sudah terjadi,
aku hanya berharap agar engkau mengingat selalu bahwasanya Yu Sau kun sebenarnya adalah
Thio Sau kun, dia adalah sutemu, tapi engkaupun musti ingat bahwa rahasia ini hanya boleh
engkau ketahui didalam hati, jangan sekali2 engkau bocorkan dihadapannya, sebab kalau tidak
maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2. Nah, sekarang pergilah"
Dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti, sekali lagi Han siong Kie memandang
sekejap lencana Thian che leng yang tertempel diatas dahan pohon, akhirnya dia menjejakkan
kakinya dan berlalu dari hutan itu.
Lencana ok kui cu pay yang merupakan simbol kekuasaan rtari perguruannya kini telah
dirampas oleh Tengkorak maut gadungan dan oleh Tengkorak maut benda itu sudah diserahkan
pula ketangan orang lain, yang dimaksudkan orang lain pastilah orang2 dari Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, dalam perkumpulan Thian che kau
terdapat belasan orang jago lihay yang setaraf dengan ilmu silat Tengkorak maut gadungan,
bukankah itu berarti bahwa sukar baginya untuk merampas kembali lencana tersebut??"
Berpikir sampai disitu, ia jadi murung dan sedih.
Apa bila lencana mustika perguruannya tidak berhasil dirampas kembali dari tangan musuh,
bukankah itu berarti bahwa ia telah menjadi seorang manusia yang berdosa??"
Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam lamanya, sampailah sianak muda
itu diluar hutan- diapun meneruskan perjalananya melalui jalan raya yang terbentang lebar.
Tujuannya tetap tidak berubah, dia akan mengunjungi lembah berkabut dimana ia dan
Tonghong Hui pernah lolos dari bahaya maut, dia akan menuju ketempat yang terpencil ini untuk
mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam sarung tangan Hud jiu Poo pit, apa bila ilmu sakti itu
berhasil dipelajari maka dia akan mengunjungi benteng maut dan melakukan pembalasan
dendam.
sepanjang perjalanan pemuda ini tiada hentinya memikirkan rahasia yang berhubungan dengan
Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, perkumpulan Thian che kau masih
memiliki belasan jago yang benar2 tangguh, berita ini boleh dibilang sangat mengejutkan siapapun
juga.
Tatkala ia menyatroni wilayah Lian huan tau untuk menolong Go siau bi, beberapa kali ia telah
bertarung melawan Thian che kau, ketika itu ilmu silatnya masih belum mempu melawan
musuhnya, dan ternyata sekarang terbukti bahwa musuh tangguhnya itu hanya seseorang yang
bertugas untuk menyaru sebagai ketua itu, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat
yang dimiliki Thian che kaucu benar2 sukar diukur dengan kata2.
sementara perjalanan masih dilanjutkan, tiba2 dari balik semak belukar ia temukan ada sesosok
tubuh manusia menggeletak disitu, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, ia
berhenti dan menghampiri semak belukar itu.
Ketika diperiksa dengan seksama diketahuilah bahwa orang itu adalah seorang pendekar
pedang yang masih muda dan tampan sekali wajahnya.
Akan tetapi sesudah diperiksa dengan lebih seksama lagi, bergidiklah hatinya Han siong Kie,
ternyata pemuda tampan itu sudah berubah menjadi sesosok mayat.
Jika ditinjau sepintas lalu, orang tak akan menyangka kalau pemuda tampan itu sudah menjadi
mayat, sebab wajahnya begitu segar dan tenang, seakan-akan seseorang yang sedang tertidur
nyenyak.
Han siong Kie merasa keheranan setengah mati, apa sebabnya pendekar muda itu bisa mati
dipinggir jalan tanpa ditemukan sesuatu luka ditubuhnya? Mungkinkah kena serangan jantung?
Disekitar semak belukar itu tidak ditemukan tanda2 bekas pertarungan, dilihat dari wajahnya
jelas pemuda itu bukan mati lantaran sakit ataupUn keracUnan, kejadian ini benar2 mengherankan
sekali..
Maka Han siong Kie menghampiri mayat itu, dengan perasaan ingin tahu diperiksanya sekujur
badan mayat itu, akhirnya sesudah diteliti dengan seksama, ia temukan diatas dada mayat itu
terteralah lima buah bekas jari tangan yang sangat lembut, bentuknya seperti bunga sakura, bila
tidak dia mati dengan seksama, tanda itu pasti tak akan ditemukan.
Han song Kie lebih2 dibuat terperanjat lagi, ditinjau dari bekas kelima buah titik jari itu jelaslah
sudah bahwa disitulah letak sebab musabab kematian dari pemuda itu, sayang pengalaman dan
pengetahuannya terlalu cetek. sehingga ia tak dapat menebak siapakah yang telah melakukan
pembunuhan tersebut.
sesudah ter-mangu2 beberapa saat, akhirnya pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya
kedepan.
Entah berapa li sudah lewat, akhirnya ia temukan dua sosok mayat, sebab kematian mereka
tidak berbeda jauh dengan tanda yang ditemukan pada mayat pertama, dan lagi kedua orang
inipun terhitung pemuda2 tampan yang berusia dua puluh tahunan.
sekarang Han siong Kie baru merasakan betapa seriusnya persoalan itu, pikirnya di hati:
"siapa gerangan yang telah turun tangan sekeji ini?"
Yang aneh ternyata korban2nya adalah pemuda yang masih berusia belasan serta berwajah
tampan.
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya sampailah si anak muda itu didalam sebuah kota kecil.
setelah mencari sebuah rumah makan yang bersih, pemuda itu mencari tempat dan memesan
makanan, dari pembicaraan para tamu yang ada dalam ruangan itu, ia dengar semua orang
sedang dihebohkan oleh pembunuhan dengan tanda bunga bwe.
Han siong Kie tidak memberi komentar apa2, ia cuma mendengarkan sambil bersantap. sayang
tiada sesuatu tanda yang berhasil ditemukan olehnya dari pembicaraan itu.
sementara suasana masih gaduh dan ramai oleh pembicaraan para tamu, mendadak suasana
jadi hening dan sepi, begitu sepinya sehingga terasa aneh sekali. Han song Kie tercengang, dia
segera menengadah..
Kiranya seorang gadis yang amat cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan sedang
berjalan masuk kedalam ruangan itu, dipandang dari bayangan punggungnya, anak muda itu
segera kenali dirinya sebagai cucu perempuan dari Pat lo sianseng, Go siau bi adanya.
Kemunculan Go siau bi yang secara tiba2 ini sangat mencengangkan hati si anak muda itu, dia
hendak menyapa, tapi sebelum sepatah kata sempat meluncur keluar dari mulutnya, ia lihat ada
dua orang pemuda tampan ikut duduk disampingnya, maka niat untuk berbicarapun segera
dibatalkan.
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, ia benar2 dibikin keheranan oleh
kemunculan gadis itu.
sementara dia masih melamun, gelak tertawa yang amat merdu dan penuh dengan daya tarik
berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul gelak tertawa yang lain menggema pula dari
mulut kedua orang pemuda itu.
Han siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, ia makin keheranan lagi, ia tak menyangka Go
siau bi bisa berkumpul dengan pemuda bergajul macam begitu.
Dua orang laki2 seorang wanita muda itu bergurau sambil tertawa tergelak. sikap mereka
bukan saja begitu berani bahkan sama sekali tak ambil pusing kalau disitu masih ada tamu lain,
ternyata tak seorang tamu pun yang berani buka suara untuk menegur.
Han siong Kie memang membenci kaum wanita, tapi Go siau bi pernah melepaskan budi
kebaikan kepadanya. maka ia tak mau mencampuri urusan gadis itu sebelum duduknya persoalan
diketahui dengan jelas.
Mendadak...satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dia teringat kembali akan ketiga sosok
mayat pemuda yang ditemuinya ditepi jalan siang tadi, tak kuasa lagi sekujur badan nya
merinding, jangan-jangan
"siangkong, tambah arak?" terdengar pelayan menegur dengan suara yang lirih. Han siang Kie
melirik sekejap kearah pelayan itu lalu mengangguk.
"Tambah dua canting"
Pelayan segara menuang dua canting arak kedalam teko yang ada dimeja, menggunakan
kesempatan itu cepat Han siong Kie bertanya: "siapakah dua orang pemuda yang berada disana
itu?"
Pelayan itu kelihatan terperanjat, sambil menjulurkan lidahnya ia menyahut dengan lirih:
"Mereka dinamakan Kim kiam siong ing (sepasang pendekar pedang emas) murid partai Go bi,
siangkong Lebih baik jangan banyak bertanya, sebab kedua orang itu adalah sau cengcu dari
perkampungan Go hau san eng, terlalu besar asal usulnya". Berbicara sampai disitu buru2 ia
berlalu dari sana.
Han siong Kie tidak berbicara apa2 lagi, ia tundukkan kepalanya sambil minum arak.
Kurang lebih setengah jam kemudian, Go siau bi dan Kim kiam siang ing baru berlalu dari sana.
Cepat Han siong Kie membayar rekening nya dan ikut keluar dari rumah makan itu, ternyata
bayangan tubuh ketiga orang itu sudah lenyap tak berbekas.
Han siong Kie tertegun, tapi sesudah berpikir sebentar buru2 ia membeli rangsum kering,
kemudian berlari keluar dari kota tersebut.
satu Li baru lewat dari tepi jalan ia temukan dua sosok mayat menggeletak disitu ketika mayat
tersebut diperiksa dengan seksama, siapa lagi mereka kalau bukan Kim kiam siang ing yang belum
lama berselang baru saja tinggalkan rumah makan.
Tubuh mereka tidak terluka ataupun mengucurkan darah, cuma diatas dada masing2 orang
terteralah sebuah cap jari tangan berbentuk bunga sakura.
Betapa terperanjatnya hati Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sekarang ia dapat
membuktikan bahwa pembunuhan2 keji itu kiranya dilakukan oleh Go siau bi, akan tetapi apa
sebabnya ia bantai pemuda2 tampan itu?
Dengan perasaan tak habis mengerti pemuda itu gelengkan kepala berulang kali, akhirnya ia
melanjutkan perjalanannya kembali kedepan.
senja itu, ketika sang surya baru condong kesebelah barat, sampailah pemuda itu disuatu
tempat kurang lebih sepuluh li dari lembab In.wu.kok..
sementara si anak muda kita masih melanjutkan perjalanannya, mendadak dari balik
pepohonan tak jauh darijalan raya terdengar seorang gadis sedang tertawa cekikikan.
suara tertawa itu amat menusuk pendengaran, hal ini segera memancing perhatian sianak
muda itu, tanpa berpikir panjang Han siong Kie segera meluncur kearah depan.
Melalui celah2 pepohonan yang lebat, ia saksikan ada sepasang muda mudi sedang duduk
saling berhadapan, yang laki2 berwajah amat tampan dan berusia tujuh delapan belas tahunan,
sedang yang perempuan tak Iain adalah Go siau Bi.
Pada waktu itu dengan muka yang genit dan kerlingan mata yang menggiurkan Go siau bi
sedang main mata dengan sianak muda itu kemudian terdengar ia bertanya dengan manja:
"cantikkah wajahku ini?"
"Cantik,. cantik sekali, kecantikan wajahmu ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan"
sahut sipemuda itn dengan wajah terkesima.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Aku tak pernah berbohong, setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata2 yang sejujurnya
dan aku rasa nona pasti mengetahui sendiri bukan akan hal itu"
"ooh benarkah begitu? Ehmm. lalu apakah engkau mencintai diriku..??"
"Tentang soal ini.... tentang soal ini...." pemuda itu tampak gelagapan jadinya.
"Eeh, jangan soal ini soal itu, kalau tidak mencintai aku mengapa engkau ikuti diriku sampai
disini??"
"Apa bila nona bersedia menerima perhatianku ini, cay he... cayhe merasa sangat beruntung
sekali hidupku ini"
Go siau bi mengerdipkan sepasang matanya yang jeli kemudian sambil meliuk-liukkan
pinggulnya ia berkata genit:
"Engkau anggap wajahku cantik maka jatuh cinta dalam pandangan yang pertama. sebaliknya
ada orang yang sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap diriku, bahkan tertarikpun
tidak, coba bayangkan saja manusia macam apakah dia itu?"
"Kalau benar2 ada manusia semacam itu, sepantasnya kalau orang itu dikatakan sebagai
seorang laki2 yang punya mata tak berbiji"
"Hiiihh hiiihh hiihhh memang hebat sekali pandanganmu itu" seru Go siau bi sambil tertawa
eekikikan.
Mendadak telapak tangannya maju ke muka, kelima jari tangannya dengan lembut segera
diayunkan kearah dada pemuda itu.
Terbelalak sepasang mata anak muda itu, ia menjerit tertahan: "Nona .."
Kato nona belum habis diucapkan, tubuhnya sudah menjadi lemas dan terkapar di tanah tanpa
mengeluarkan sedikit suara pun pemuda itu sudah menemui ajalnya.
Han siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan benar2 naik darah, untuk mencegah
perbuatannya jelas tak mungkin, seluruh tububnya gemetar keras menahan emosi.
"Sungguh kejam perempuan ini, hatinya lebih kejam dari pada seekor ular beracun.." pikirnya
dihati.
Tanpa sadar pemuda itu terbayang kembali akan ibunya, siang go cantik ong cui ing yang
kejam dan tak kenal ampun.
Mereka sama2 cantiknya, sama2 kejinya, tanpa sadar rasa benci dan muak timbul dalam
benaknya, ia siap melompat keluar dari tempat persembunyiannya..
Paras muka Go siau hi dingin menyayatkan, sebelum sianak muda itu sempat munculkan diri, ia
sudah berpaling dan mendengus dingin.
"Manusia berwajah dingin, sekarang engkau boleh segera munculkan dirimu.."
Betapa terperanjatnya Han siong Kie menghadapi kejadian tersebut, mimpipun ia tak
menyangka kalau tempat persembunyiannya telah diketahui lawan, dari sini dapatlah diketahui
bahwa selama beberapa waktu belakangan ini, ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan,yang
amat pesat.
Dengan muka hijau membesi menahan amarah yang meluap. dia lompat keluar dari tempat
persembunyiannya, kemudian menegur dengan kasar:
"Nona Go, mengapa engkau lakukan pembunuhan sekeji ini?"
Rasa sedih melintas diatas wajah Go siau Bi, tapi sesaat kemudian dengan wajah benci dan
mendendam ia berseru:
"Aku rasa persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik tak usah
kau campurinya"
"Nona, kunasehati dirimu lebih baik jangan bertindak kelewat kejam, karena perbuatan
semacam itu sama sekali tiada manfaatnya bagimu"
"Haaahh..haaahh..haaahh.. mau apa kau hey manusia yang bernama Han siong Kie? Engkau
merasa tidak terima dengan perbuatan yang kulakukan ini?"
"Benar, aku memang mempunyai maksud begitu"
"Lalu apa yang hendak kau lakukan atas diriku ini?"
"Hmm Akan kubunuh engkau untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan" jawab
Han siong Kie dengan hawa napsu membunuh yang amat tebal.
"Huuh, engkau hendak membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil mencibirkan bibirnya dengan
sinis.
"Benar, akan kubunuh dirimu"
" Kalau memang begitu, kenapa tidak segera turun tangan "
"Bila kita bertemu sekali lagi dimasa mendatang,jiwamu pasti akan kucabut."
Go siau bi tertawa tergelak, dengan wajah sinis sekali dia mengejek: "Kenapa tidak kau lakukan
sekarang juga?"
"Memandang diatas wajahmu dimana engkau pernah melepaskan budi kebaikan kepadaku,
kuampuni jiwamu untuk kali ini "
Go siau bi tak dapat menahan diri lagi, ia menengadah dan tertawa tergelak dengan seramnya,
gelak tertawa itu penuh mengandung perasaan sedih, pedih dan perasaan lain yang sukar
dilukiskan dengan kata2, lama sekali ia baru berhenti.
Paras mukanya berubah jadi dingin menyeramkan, hawa napsu membunuh menyelimuti
seluruh wajahnya, dengan suara keras dia membentak:
"Han siong Kie, nonamu justru sedang mencari engkau, mengertikah engkau..?"
"Mencari aku? Mau apa engkau mencari aku ?"
"Aku hendak membunuh dirimu, kalau bukan begitu mengapa kubiarkan engkau mengikuti aku
dari rumah makan sampai kemari haaaah.. haaah.. haaahhh... ketahuilah. aku sengaja memang
mengatur kesemuanya ini agar engkau bisa terpancing kemari"
sekarang Han siong Kie baru tahu bahwa Go siau bi telah mengetahui jejaknya ketika masih
berada dirumah makan tadi, maka dengan ketus segera tegurnya: "Jadi engkau hendak
membunuh aku??"
"Benar, dan sekarang juga pembunuhan ini akan kulaksanakan"
"Kenapa engkau hendak membunuh aku?"
"Karena aku benci padamu"
"Perbuatanku yang manakah yang telah menimbulkan rasa bencimu terhadap aku?"
"Sudah, pokoknya engkau tak usah banyak bicara lagi, ini hari juga nyawamu akan kucabut"
Han siong Kie menyengir sinis.
"Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu?" ejeknya.
"Engkau tidak percaya? Bagus, mari kita buktikan bersama."
Bersamaan dengaa selesainya perkataan itu, tiba2 telapak tangannya diayun kedepan kelima
jarinya dengan disertai desingan angin tajam langsung menyerang kedepan.
Dengan gerakan Cahaya kilat lintasan bayangan Han siong Kie segera berkelit ke samping,
serunya lantang:
"Mengingat budi kebaikanmu dimasa lampau, aku akan mengalah satu jurus untuk...."
"siapa yang suruh engkau mengalah kepadaku?" teriak Go siau bi dengan penasaran.
Telapak tangannya segera diputar balik keatas, selapis cahaya hijau yang tebalpun dengan
cepat membumbung keangkasa dan meluncur kedepan. Betapa tercekatnya perasaan hati Han
siong Kie, tanpa kuasa lagi dia berseru keras: "Aaaah...ilmu pukulan Thian-tok hoa ciang.
Haruslah diketahui, ilmu pukulan Thian tok cang hoat adalah semacam ilmu pukulan darijaman
dahulu kala yang amat dahsyat, apabila pukulan tersebut menyentuh sesuatu benda, maka daya
tahannya makin besar maka daya pentalnya ikut bertambah kuat, jangankan Han siong Kie
malahan Tengkorak maut gadungan yang memiliki ilmu silat lebih lihaypun dibuat tak berdaya oleh
kehebatan pukulan itu
38
Tentu saja Han Siong Kie juga mengetahui akan lihaynya pukulan tersebut, akan tetapi dia tak
sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan seorang gadis muda, maka dari itu dia segera
menghimpun kekuatan yang dimilikinya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut dengan
keras lawan keras.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan sianak muda itu, sebelum
pukulan mereka saling beradu satu sama lainnya, mendadak Go Siau bi menarik kembali
serangannya dan bergeser mundur dua langkah kesamping.
Tampaknya ilmu silat yang dimiliki gadis itu sudah mencapai taraf pengendalian secara
sempurna, menyaksikan kehebatan lawannya Han Siong Kie makin terkesiap, disamping itu diapun
makin keheranan oleh tindak tanduk lawannya yang aneh. Karenanya sambil menarik pulang
serangannya dia lantas menegur: "Eeeeh...kenapa kau tarik kembali serangan mu??"
"Aku kuatir engkau tak sanggnp untuk menerima pukulanku ini."
"Bukankah engkau mengatakan hendak membunuh diriku?" tanya anak muda itu dengan cepat.
Pertanyaan tersebut seketika membuat paras muka Go siau Bi kembali berubah hebat, ia
mendengus dingin, tanpa berbicara lagi ilmu pukulan Thian tok clang hoat sekali lagi dilontarkan
kedepan.
Han Siong Kte menggertak giginya menahan diri, sambil mengerahkan sisa kekuatan yang
dimiliki ia tangkis datangnya serangan tersebut.
"Blaaang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga menggelegar diseluruh angkasa,
diiringi dengusan berat secara beruntun Han siong Kie mundur delapan depa ke belakang, darah
segar sempat meleleh keluar menodai ujung bibirnya.
Tengkorak maut gadungan yang lihaypun jatuh kecundang ditangan gadis ini, apalagi Han
siong Kie yang lebih cetek ilmu silatnya tentu saja dia bukan tandingan sang gadis manis itu.
Put lo sianseng memang lihay dan hebat, terbukti dalam waktu singkat ia berhasil menciptakan
seorang tokoh sakti yang begini hebatnya, bila diceritakan orang lain belum tentu mau
mempercayainya.
Berhasil dengan memukul mundur Han siong Kie, dengan suara gemas dan penuh kebencian
Go siau bi berkata:
"Manusia bermuka dingin, bukan saja wajahmu dingin, darahmu juga sudah membeku, kau
manusia yang tak punya perasaan. Nah, rasain lagi beberapa buah pukulanku" sambil membentak
nyaring, untuk kesekian kalinya dia lancarkan pukulan maut ke depan.
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan peringatan dari orang yang kehilangan sukma, dalam
hati pemuda itu lantas berpekik, "Aku tak boleh mati"
Dengan suatu gerakan yang manis dan lincah ia menghindarkan diri dari serangan maut lawan,
berhasil dengan kelitannya. sebuah jari tangan segera direntangkan lebar dan serentak menyentil
kemuka.
sepasang telapak tangan Go siau Bi bergetar kian hebat, tenaga pukulanpun semakin menebal
membuat hawa hijau hampir menyelimuti seluruh pemukaan tanah.
"criiit. criiing.." ditengah desingan angin tajam ilmu sentilan Tong kim ci yang ampuh dan tak
terkalahkan itu ternyata dapat dihajar sampai buyar oleh kekuatan lawan.
Rasa kaget yang dialami Han siong Kie sukar dilukiskan lagi dengan kata2, mimpipun ia tidak
menyangka kalau ilmu jari Tong kim ci yang paling diandalkan ternyata sama sekali tak mempan
untuk digunakan menghadapi pukulan Thian tok ciang hoat.
Hampir saja tak percaya dengan apa yang terbentang didepan mata, sebab peristiwa ini
memang tak pernah diduga olehnya.
"sambutlah sebuah pukulanku lagi. " bentak dara itu lagi dengan lantang.
Ditengah bentakan nyaring, hawa hijau yang tebal dan menyilaukan mata dengan dahsyatnya
menggulung tubuh lawan.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Han siong Kie, dengan ilmu cahaya kilat
lintasan bayangan tubuhnya mendesak maju kedepan, lalu dengan jurus Mo tiong ko ciat ( raja
iblis menyembah loteng istana) ia hajar Go siau bi dengan mengerahkan segenap tenaga dalam
yang dimilikinya.
Go siau bi tertawa dingin, sekalipun hebat dan luar biasa seranganpemuda itu namun bagi
pandangannya serangan tersebut tak ada artinya, ia berkelebat lewat dari serangan itu dengan
gerakan bagaikan sukma gentayangan, lalu sambil melepaskan lima buah pukulan berantai,
teriaknya keras:
"Manusia bermuka dingin, hari ini kau harus mampus"
Memang dahsyat dan ganas kelima buah serangan itu, angin pukulan segera men-deru2
membikin hati orang jadi keder dan ngeri rasanya..
Terdesak oleh lima buah pukulan berantai yang maha dahsyat itu, Han siong Kie terdesak hebat
dan harus mundur berulang kali ke belakang..
Go siau bi tak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk tukar napas, selesai dengan lima
buah pukulan yang pertama, ia susulkan pula dengan lima buah pukulan berikutnya.
Menghadapi desakan demi desakan yang tiada habisnya, lama kelamaan Han siong Kie jadi
penasaran juga, kali ini dia tidak menghindar ataupun berkelit, dengan sistim adu nyawa dia
sambut kelima buah pukulan itu dengan gerakan keras lawan keras.
Tergetar perasaan Go siau bi setelah menyaksikan kenekadan sianak muda itu, tapi apa mau
dikata pukulan sudah terlanjur dilancarkan , maka sambil gertak gigi ia lepaskan pukulan mautnya.
"Blang Blang " dua kali dengusan dingin menggema memecahkan kesunyian, menyusul dua
sosok bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya.
Kedua belah pihak sama2 terlempar kebelakang dengan sempoyongan, keadaan Go siau bi
masih mendingan, sekalipun darah meleleh di ujung bibirnya dan mukanya pucat pias tapi
keadaannya masib agak segar.
Berbeda sekali dengan Han siong Kie, ia harus muntah darah berulang kali, jelas isi perutnya
sudah terluka parah.
Dengan wajah menyeringai seram dan mata saling melotot penuh kegusaran, kedua belah
pihak berdiri berhadapan.
Untuk sesaat suasana dalam gelanggang jadi sepi dan hening, sunyi bukan berarti hawa nafsu
membunuh telah lenyap begitu saja, malahan setiap saat darah segar mungkin akan membasahi
lagi seluruh permukaan tanah.
Diantara lima buah pukulan yang dilancarkan Han siong Kie, ada tiga buah yang bersarang
ditubuh lawan, sebaliknya ia sendiri menerima empat buah pukulan dari musuhnya.
sebagaimana diketahui, pukulan yang dilancarkan Go siau bi mengandung hawa sakti Thian tok
sinkang yang maha dahsyat, tak heran kalau sianak muda itu menderita luka yang jauh lebih
parah daripada anak dara itu.
Mereka pernah saling tolong menolong, pernah hidup sengsara bersama bahkan Go siau bi
pernah menggunakan tubuhnya sebegai tameng untuk menyelamatkan jiwa Han siong Kie dari
ancaman Tengkorak maut gadungan, karena peristiwa itu hampir saja jiwanya melayang.
Ia telah jatuh cinta kepadanya, telah bersumpah didepan pusara ayahnya, kecuali dengan
pemuda ini dia tak akan kawin dengan siapapun juga"
Tapi kenyataannya, yang satu ada hasrat yang lain tak berminat, tumpuan harapan yang
terlintas dalam benaknya selama ini hancur dan musnah dengan begitu saja.
Kini dengan taruhan nyawa mereka saling bertempur, berusaha saling merobohkan musuhnya
dan bila perlu sekalian membinasakannya... Inikah takdir? Inikah yang dinamakan nasib.?
Cinta dapat membuat seseorang jadi sukses tapi dapat pula menghancurkan karier seseorang,
membuat watak seseorang berubah seratus delapan puluh derajat.
Dan kini Go Siau bi telah berubah ....bukan saja perubahan itu tak dipercaya oleh Han siong
Kie, bahkan dara itu sendiri juga tak kenali dirinya sendiri lagi.
Hawa napsu membunuh yang tebal masih menyelimuti seluruh wajah Go siau bi, selangkah ia
maju kedepan mendekati Han siong Kie yang berada dihadapannya.
suasana tercekam oleh ketegangan dan kengerian, sorot mata serta perhatian semua orang
sama-sama ditujukan kearah Go siau bi yang sedang maju kemuka.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Han siong Kte, ia tahu bila dirinya cuma berpeluk
tangan belaka, sehingga dara itu keburu menyerang dulu dengan Thian tok ciang hoatnya yang
lihay, niscaya jiwanya akan terancam bahaya. satu ingatan lantas melintas dalam benaknya:
"Daripada aku menanti datangnya elmaut, kenapa tidak kuserang dulu perempuan sinting itu?"
sambil membentak sepasang telapak tangannya diayun kedepan melancarkan babatan maut.
-00d0w00-
BAB 56
PUKULAN itu dilepaskan dalam keadaaa marah bercampur penasaran, bisa dibayangkan betapa
dahsyat dan luar biasanya pukulan tersebut.
Go siau bi melambung keangkasa, setelah melayang sejauh delapan depa, sekali lagi badannya
melejit kedepan kemudian menerobos masuk dari sisi Han siong Kie dan melayang turun lima depa
disamping pemuda itu.
Baik dalam menghindar maupun sewaktu melancarkan serangan, semua gerakan dilancarkan
dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Melihat ancamannya mengenai sasaran yang kosong, Han siong Kie membuyarkan pukulannya
ditengah jalan, badannya miring kesamping lalu berputar kencang, telapak tangan kiri dan ujung
jari tangan kanan sekali lagi melepaskan serangan maut kedepan.
Kabut hawa berwarna hijau seketika menyelimuti seluruh angkasa, pada saat yang bersamaan
Go siau bi melepaskan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat. Dentuman keras mengiringi
benturan dua kekuatan yang saling berlawanan itu.
Dengan sempoyongan Go siau bi mundur beberpa langkah, sedangkan Han siong Kie
mendengus tertahan dan muntah darah segar, badannya terlempar sejauh satu kaki lebih dari
tempat semula,
Go siau bi menerjang lagi kedepan dan berdiri dibelakang Han siong Kie, telapak tangannya
diayun tepat mengarah jalan darah Thian leng hiat diatas kepalanya, asal pukulan itu dilancarkan
niscaya Han siong Kie akan mampus dengan keadaan mengerikan.
"Heeehhh....heeehhh....heeehhh .. manusia she Han, apa yang hendak kau ucapkan lagi
sebagai kata-kata akhirmu" ejek dara itu dengan ketus.
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, sambil menggertak gigi jawabnya: "Tak ada katakata
lagi, mau turun tangan hayolah cepat turun tangan."
"sungguh tak ada pesan terakhir"
"Ada Aku hanya ada sepatah kata saja. yakni siapa yang menanam buah pahit dia akan
menerima pula akibatnya."
"Apa kau bilang? Heeehhh..haaahhh. haaahhh.." dara itu bagaikan orang sinting tertawa
nyaring, suaranya keras dan mengerikan membuat siapapun jadi bergidik.
" orang she Han, terus terang kuberitahukan kepadamu" serunya lagi, "aku telah tahu bahwa
peristiwa macam hari ini cepat atau lambat pasti akan terjadi, tapi kau musti ingat, sebelum ajalku
tiba, semua pria tampan yang ada dikolong langit akan kubunuh semua, tak akan kubiarkan
manusia-manusia ganteng bikin keonaran lagi di kolong langit..haaahhh..haaahhh..haaahhh."
Ditengah gelak tertawa yang kalap menyerupai orang sinting, terselip hawa napsu membunuh
yang benar-benar mengerikan.
Gusar nian Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, ia sadar dengan tenaga dalam yang
dimiliki Go siau bi sekarang, apa yang diucapkan bisa jadi benar-benar dilaksanakan, dan jikalau
apa yang di ancam benar-benar dilaksanakan maka suatu badai pembunuhan yang mengerikan
tak terelakkan lagi.
"Go siau bi" serunya kemudian dengan gemas. "sayang aku tak dapat membinasakan engkau
dengan tanganku sendiri"
"Haaahhh ....haaahhh....haaahhh..dan aku... aku gembira sekali, karena hari ini akan kubunuh
engkau dengan tanganku sendiri."
"Hmm Tak usah banyak bicara lagi. kalau ingin turun tangan hayolah cepat turun tangan"
"Kenapa musti buru-buru mati? Bagaimana dengan adik Hui yang pernah berkorban demi cinta
kasihnya kepadamu? Mungkinkah dia akan datang lagi kemari untuk mendirikan batu nisan
untukmu.."
satu ingatan melintas dalam benak Han siong Kie, sekarang ia tahu bahwa Go Siau bi telah
mempunyai niat untuk membinasakan dirinya. .
"Hehhh...heeehhh..heehhh... engkau tak usah merisaukan tentang dirinya, ia telah berangkat
mendahului diriku" ejeknya sambil tertawa dingin.
"Apa? Dia sudah mati?" seru Go siau bi dengan wajah tertegun.
"Hmm Kenapa? Kau merasa kecewa?" ejek sang pemuda. Air muka Go siau bi beberapa kali
berubah hebat, tiba2 hardiknya keras- keras:
"Han siong Kie, inginkah kau mengetahui sebab musabab sehingga aku berniat membinasakan
dirimu??"
"Aku rasa tak perlu"
"Jadi engkau telah paham?"
"Aku tak ingin memahami persoalan itu, kalau ingin membunuh silahkan turun tangan"
"Jadi engkau sama sekali tidak menyesal??"
"Haaah haaah haaaahh Han siong Kie tak kenal arti menyesal"
Telapak tangan Go siau bi mulai gemetar, rasa cinta dan benci amat mendalam hatinya dia
ingin membunuh pemuda ini lantaran dia gagal mendapatkan cinta kasihnya, maka membenci
pemuda itu, malahan membenci pula setiap pemuda tampan yang sebaya dan setanding dengan
anak muda ini.
Tapi..benarkah dara itu tega untuk membunuh kekasih hatinya ? Air mata mulai bercucuran
membasahi seluruh wajahnya.
Lama ..lama sekali suasana tetap hening, dengan tak sabar Han siong Kie menghardik:
"Hey, kenapa engkau tidak turun tangan??" Tiada jawaban tiada gerakan.
Karena tak sabar pemuda itu akhirnya bangkit dan memandang kemuka, tampaklah selembar
wajah yang murung, sedih dan penuh dengan air mata terbentang didepan mata, wajah itu sayu
dan sama sekali tiada bekas hawa napsu membunuh yang sadis.
"Itulah perempuan.... itulah namanya perempuan" pikir Han siong Kie dihati, hanya hati
perempuan yang gampang berubah, hanya sikap perempuan yang mudah jadi sedih.." sindirnya
kemudian dengan suara yang dingin dan tak enak didengar:
"Bukankah kau ingin membunuh aku? Kalau ingin membunuh, hayolah cepat laksanakan, kalau
tidak... maaf kalau aku akan berlalu dari tempat ini."
"Tunggu sebentar" tiba-tiba dara itu membentak
"Ada apa lagi?"
Disekanya air mata yang membasahi pipinya, lalu Go siau bi berseru ketus:
"Aku toh tak pernah mengatakan bahwa aku tak akan membunuh dirimu? Kenapa kau hendak
pergi?"
"Kenapa tidak cepat turun tangan ? Hayo, kalau ingin bunuh aku bunuhlah sekarang juga"
"sebelum kubantai dirimu, terlebih dahulu ada beberapa patah kata hendak kuterangkan lebih
dulu, aku harap engkau dengarkan kata2 ku ini dengan sebaik baiknya."
"Katakanlah cepat"
Perlahan Go siau bi menundukkan kepalanya karena hati yang pedih, selang sesaat kemudian ia
menengadah kembali, tampaknya dara ini telah mengambil keputusan: Katanya dengan penuh
emosi:
"Han siong Kie, masih ingatkah engkau tatkala tubuhmu tercebur kedalam sungai dan aku
berhasil menolong dirimu kemudian selama tiga hari kurawat kau sebaik-baiknya..."
"Toh sudah kukatakan, tiap budi kebaikan yang pernah kuterima, suatu ketika pasti akan
kubalas?" tukas sianak muda itu dengan nada tajam.
" Kedua kalinya, ketika aku dilukai oleh pengawal istana Huan mo kiong, engkau membawa aku
menginap disebuah rumah penginapan...."
"Waktu itu keadaan amat mendesak. tiada tindakan lain bagiku kecuali berbuat begitu"
"Tapi ingatkah kau bahwa antara laki2 dan perempuan ada batas-batasnya? setelah kita
menginap disatu kamar yang sama, bagaimana mungkin aku ..." Berbicara sampai disini tiba-tiba
ia tundukkan kepalanya rendah-rendah..
Karena pandangannya yang sempit, Han siong Ki memang membenci setiap perempuan yang
ada diseantero jagad tapi di dasar hatinya ia sebenarnya ramah dan penuh kasih sayang, diapun
memiliki api asmara dan rasa cinta, hanya perasaan hatinya itu tertekan oleh jalan pikirannya yang
keliru.
sebagai seorang pemuda yang cerdas tentu saja ia dapat menangkap arti dari kata-katanya itu
tapi si anak muda itu tak bisa berbuat banyak sebab pada hakekatnya ia tak mencintai Go siau bi,
yang ada dalam hati kecilnya cuma rasa berterima kasih serta rasa berhutang budi belaka...
Tapi sekarang tanpa disadari jantungnya berdebar keras..
sekarang ia mulai berpikir, mungkinkah dara yang cantik ini jadi kalap lantaran pinangan put lo.
sianseng terhadapnya tempo hari telah ditolak secara mentah2?
Rasa simpatik, kasihan dan iba seketika menyelimuti perasaan hatinya, ia mulai merasa kasihan
atas nasib jelek yang telah menimpa anak dara itu
"Nona, aku merasa amat menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya atas terjadinya
peristiwa itu" ia berkata dengan lembut.
"Hmm Rasa sesal yang mendalam?"
"Dengan hati yang tulus dan ikhlas aku mohon kepada nona sudilah kiranya jangan membunuh
orang lagi mulai saat ini"
"Kalau kutolak permohonanmu itu?" seru sang dara dengan ketus dan muka menyeringai.
suasana yang semula sudah tenang dan damai, kini berubah kembali jadi tegang. Paras muka Han
siong Kie berubah hebat, sahutnya cepat:
"Bila nona menampik permohonanku ..tu, terpaksa aku harus melaksanakan apa yang telah
kukatakan tadi"
"oooh. Jadi engkau akan membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil tertawa sinis.
"Betul bila kau takut peristiwa itu sampai terjadi, silahkan kau bunuh aku lebih dahulu sebab
kalau tidak, andaikata kita sampai bertemu lagi dikemudian hari, kau pasti akan kubunuh".
selapis hawa dingin yang ketus dan menyeramkan mulai menyelimuti raut wajah Go siau bi, ia
mengejek sinis:
"Huuuh.. Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu??"
"Lihat saja nanti hasilnya, apa gunanya banyak bicara yang tak ada gunanya?"
"Han siong Kie, engkau tak bisa membendung niatku ini, akan kubunuh pemuda tampan yang
ada dikolong langit hingga mereka musnah semua dari atas muka bumi.. Hmm Engkau ingin
bunuh aku ? Baiklah ini hari sengaja kau kulepaskan dirimu, akan kulihat bagaimana caramu
membunuh aku, tapi kau musti ingat, bila kita sampai bertemu muka lagi, andaikata engkau tak
dapat membunuh aku, maka akulah yang akan membinasakan dirimu"
Han siong Kie menatap sekejap kearah wajahnya dengan pandangan dingin, mulutnya tetap
membungkam.
Kalau bisa ia hendak membacok dara itu hingga mampus, rasa simpatik dan kasihan yang
muncul dalam hatinya tadi kini tersapu bersih dari lubuk hatinya.
Pemuda itu tak ingin banyak ribut lagi dengan dara tersebut, per-lahan2 dia putar badan dan
berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang kian menjauh, Go siau Bi berdiri termangu-mangu,
beberapa kali dia hendak memanggilnya..tapi setiap kali niatnya itu dibatalkan, ia merasa bagaikan
tersiksa dan terharu, sehingga akhirnya tak kuasa lagi menangislah gadis itu ter-sedu2.
Isak tangis itu sempat terdengar oleh Han siong Kie yang makin menjauh, ia agak tertegun dan
menghentikan langkahnya, tapi sesudah ragu sebentar pemuda itu lanjutkan kembali
perjalanannya kedepan. kali ini ia tidak berpaling lagi.
Dengan penuh rasa mendongkol Go siau Bi mendepak-depakan kakinya keatas tanah, serunya
berulang kali:
"suatu ketika aku pasti akan membunuh kau..tunggu saja tanggal mainnya"
Pada saat itulah, tiba2 dari tempat kejauhan berkumandang suara gonggongan anjing yang
sangat ramai.
Dengan segera Go siau Bi berpaling, begitu mengetahui apa yang tertera didepan matanya ia
jadi tercekat dan mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat.
tampaklah dua ekor anjing sebesar tubuh anak sapi berdiri disisi kiri dan kanannya pada jarak
dua kaki, giginya yang runcing menyeringai seram, matanya memancarkan sinar buas, selama
hidup belum pernah ia jumpai anjing sebuas dan sebesar ini
sementara dia masih termenung sesosok bayangan manusia kembali melayang masuk ke dalam
hutan, orang itu adalah seorang kakek bungkuk yang membawa sebuah pecut rotan yang
panjang.
Dengan sorot matanya yang beringas kakek itu menatap sekejap wajah Go siau bi, lalu
mengawasi pula pada mayat yang terkapar diatas tanah, setelah itu dia menganggak beberapa
kali.
"Hey, apa maksudmu datang kemari?" tegur Go siau bi dengan suara dalam. Kakek bungkuk itu
tertawa seram:
"Heeehhh... heehhh...heeehhhh.... Cantiknya memang cantik, cuma sayang perempuan
secantik ini tak lebih hanyalah kuntilanak yang berhati keji"
"Apa? siapa yang kau maksudkan?" teriak dara ayu itu dengan mata melotot.
"siapa lagi, tentu saja engkau"
Sepasang alis mata Go Siau bi berkenyit, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya, sambil mendengus dingin katanya:
"Hey tua bangka yang tak tahu diri, sebelum nonamu berniat membinasakan engkau, bawalah
anjing2 itu dan segera berlalulah dari tempat ini"
"Heeeh heehh . heeeh kenapa aku musti pergi ? Kedatanganku justru hendak mencari engkau"
"Mencari aku ? Siapa kau dan sebutkan namamu"
"Aku adalah Khoo Tio cu, si bungkuk she Khoo pengurus rumah tangga perkampungan oh bau
san cung, mengerti??"
Mendengar nama itu, satu ingatan terlintas dalam benak Go Slau bi, sekarang ia sudah dapat
menebak apa yang telah tarjadi, dengan wajah yang tetap tenang katanya: "Lantas ada urusan
apa kau cari aku??"
"Kedua orang sau cengcu perkampungan kami telah tewas dipinggir jalan-"
"Kalau aku yang bunuh mau apa kau?" tukas sang dara cepat.
"Bagus sekali, setelah kau memberikan pengakuan urusan makin gampang untuk diselesaikan,
darimana asal perguruanmu?"
"Huuh. Kau belum berhak untuk mengetahuinya."
Sinar mata yang bengis dan buas memancar keluar dari balik mata si bungkuk itu, begitu
bengisnya sinar mata orang itu sehingga hampir tak ada bedanya dengan kebengisan mata kedua
ekor anjingnya, membuat siapapun yang memandangnya jadi bergidik. Ia maju beberapa langkah
kedepan, lalu serunya dengan suara yang menyeramkan:
" Heeeh hh heeeh hh heeeh hh memang sekarang susah untuk memaksa kau untuk berbicara
tapi ingatlah baik-baik, suatu ketika engkau akan mengakuinya sendiri"
"Bungkuk she Khoo, nonamu tak ingin membinasakan dirimu, kalau tahu diri lebih baik
enyahlah dari sini"
"Heehhh heeehhh heeehhh kau suruh aku pergi dari sini? Lucu... benar-benar sangat lucu, kau
malah suruh aku pergi.. tahukah kau bahwa aku si bungkuk she Khoo justru tak ingin melepaskan
engkau dengan begitu saja??"
"Bangsat Jadi engkau benar2 ingin mati?"
"Yang ingin mampus bukan aku, melainkan kau sendiri"
Hawa napsu membunuh mulai menghiasi air mukanya yang putih, ia mendengus gusar telapak
tangannya diayun kedepan dan segulung hawa hijau yang mengerikan segera meluncur kedepan
melancarkan sebuah ancaman maut.
Paras muka sibungkuk she Khoo itu berubah hebat, ia agak tertegun menyaksikan datangnya
ancaman berwarna hijau itu, tampaknya sepanjang hidup, belum pernah dia jumpai ilmu
kepandaian seaneh dan setangguh ini.
"Blang " Ditengah benturan keras yang cukup memekikkan telinga, tubuh si Bungkuk she Khoe
itu mencelat sejauh delapan depa lebih dari kedudukan semula, darah panas bergolak dalam
dadanya, betapa terkesiapnya sukar dilukiskan dengan kata2.
Keistimewaan dari ilmu pukulan Thian tok ciang hoat adalah daya pantulan yang terpancar
keluar bila menyentuh pukulan itu, makin besar seseorang melancarkan serangannya maka
semakin besar pula daya pantulan yang terpancar oleh kepandaian itu.
Masih untung tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Go Siau bi tidak lebih cuma enam bagian
belaka, dan tapi Khoe Tuo cu tak sempat melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga karena
ia dibikin kaget bercampur tertegun, karena itu loloslah dia dari ancaman bahaya maut yang
sebetulnya dapat merenggut selembar jiwanya.
sudah tentu Khoe Tuo cu tidak mengenal kelihayan dari ilmu pukulan itu, betapa penasarannya
orang itu karena peristiwa yang barusan terjadi, dengan sorot mata yang bengis dia menerjang
maju lagi ke depan, sebuah pukulan yang lebih dahsyat bagaikan hembusan angin topan
menerjang ke dada lawan.
"Bangsat, rupanya engkau memang sudah bosan hidup," hardik Go siau bi denganpenuh
kegusaran-
Dengan ilmu pukulan Thian tok ciang hoat yang telah dikerahkan mencapai delapan bagian ia
sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blamm" suatu benturan dahsyat kembali menggelegar diudara, jerit ngeri yang melengking
mendesis dari mulut Khoe Tuo cu, badannya mencelat sejauh beberapa kaki dan darah segar
muntah keluar dari mulutnya.
"Bluuk" bagaikan sebuah cupu2, tubuhnya menggelinding diatas tanah setelah jatuh mencium
tanah.
Gong gongan anjing berkumandang memecahkan kesunyian, seekor anjing besar yang berada
disamping kanan tiba2 menerjang kearah dara itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Lolongan anjing yang mengerikan berkumandang menyayat kesunyian yang mencekam udara,
anjing besar itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dari tempat semula.. "Duukk" Ketika menumbuk
diatas dahan sebuah pohon besar, mampuslah anjing tersebut seketika itu juga.
Dalam pada itu Khoo Tuo cu telah bangkit dari atas tanah, ia tampak agak tertegun
menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki dara tersebut, kejadian ini sama sekali diluar
dugaannya. sebab kalau bukan seorang tokoh silat yang benar-benar berilmu tinggi tak mungkin
anjing besar itu dapat dibunuh dalam sekali pukulan belaka
Dalam terkejut dan cemasnya, bagaikan titiran angin deras cambuk rotannya diputar
sedemikian rupa mengitari angkasa.
Anjing raksasa yang berada disebelah kiri bagaikan sambaran kilat telah melancarkan tubrukan
pula kedepan.
siau bi terancam bahaya, cepat-cepat telapak tangannya dilontarkan kemuka melepaskan
pukulan maut..
Agaknya anjing besar itu sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki musuhnya sangat lihay,
berada ditengah udara tubuhnya berjumpalitan beberapa kali diudara dan menggelinding kebawah
kaki anak dara itu, moncongnya langsung menyambar kedepan dan menggigit kakinya.
semua gerakan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tak kalah cepatnya dengan seorang
jago lihay.
Bergetar keras perasaan hati Go siau bi menghadapi ancaman itu, cepat ia melejit dan
melambung keudara, dari situ telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat kebawah.
Gagal dengan gigitannya, anjing besar itu segera meluncur maju satu kaki lebih ke depan-
Tatkala Go Siau bi melayang turun kembali keatas tanah, secepat kilat sambaran anjing itu
menerkam lagi kedepan.
Kali ini tak sempat bagi Go siau bi untuk berkelit, telapak tangannya langsung dibacokkan
keatas batok kepala anjing itu..
"Guukk..guuukk.. lolongan panjang kembali menderai diudara, batok kepala anjing itu terbacok
sampai hancur jadi dua bagian, kepalanya hancur dan darah serta isi benaknya tersebar dimanamana,
anjing itu mampus seketika itu juga.. Tapi cakar anjing sebelah depannya sempat pula
mencakar paha Go Siau bi..
Rasa gatal-gatal dan kaku yang aneh segera menyerang pahanya dan perlahan-lahan bergerak
naik keatas.
Rasa kaget dan terkesiap yang menyelimuti hatinya sekarang susah dilukiskan dengan kata2, ia
tahu itulah tanda2 keracunan atau dengan perkataan lain cakar anjing itu mengandung racun yang
sangat jahat.
Dengan cepat semua jalan darah penting di tubuhnya ditutup semua, setelah menghadang
peredaran racun yang merambat lebih jauh kearah lain, dengan sorot mata yang bengis
menyeramkan, ia menerjang kearah Khoo Tuo cu habis2an.
"Blaaang" kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi
angkasa, dengan batok kepala hancur berantakan Khoo Tuo co menggeletak dalam keadaan
mengerikan-
"Perempuan rendah, pada hakekatnya engkau memang bukan manusia, hatimu keji dan tak
kenal ampun, akan kuhancurkan tubuhmu hingga lembut seperti abu."
Bersamaan dengan munculnya bentakan keras yang sangat mendadak itu, seorang kakek tua
berjubah hitam yang tinggi besar telah nelayang masuk kedalam gelanggang.
"Suiiit"" siulan lengking menggema diangkasa, menyusul belasan ekor anjing besar bagaikan air
bah, menerjang kearah tubuh Go siau Bi.
Kejut dan gelisah menyelimuti seluruh perasaan anak dara itu, ia merasa sukma serasa
melayang tinggalkan raganya karena ketakutan, gadis itu sadar bahwa ia sudah kena racun keji
dari anjing2 itu, daripada berdiam diri dan mati konyol ditangan lawan jauh lebih baik melarikan
diri tinggalkan tempat itu.
Begitu ingatan tadi melintas dalam benaknya, ia lantas melejit ke udara dan meluncur masuk
kearah hutan-
Apa mau dikata rupanya racun sudah mulai bekerja dalam tubuhnya, sepasang kakinya sudah
tak mau mendengar perintah lagi, baru saja melayang sejauh lima kaki, tubuhnya terjatuh kembali
keatas tanah. sementara kawanan anjing besar itu kembali sudah menerjang tiba dengan
hebatnya.
Antara manusia dan anjing, segera berkobarlah suatu pertarungan yang amat mengerikan-
Anjing- anjing besar itu memang tersohor karena keganasannya, bukan saja sifatnya memang
buas, cakarnya mengadung racun keji dan gerak geriknya cepat bagaikan sambaran kilat, lagipula
tak takut mati, maka setelah mendapat latihan secara khusus kehebatan mereka jauh lebih
mengerikan daripada serangan dari jago-jago silat kelas wahid.
Cemas dan marah bercampur aduk dalam benak Go siau bi, telapak tangannya diayun berulang
kali kemuka, kabut hawa hijau kembali menggulung keempat penjuru dengan dahsyatnya.
Ditengah benturan2 yang memekikan telinga, lolongan panjang berkumandang susul menyusul.
Dalam waktu singkat delapan ekor anjing yang telah binasa ditangan anak dara itu tapi sisanya
tak gentar barang sedikitpun, mereka masih melanjutkan terjangannya dengan kecepatan yang
luar biasa.
Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Go siau bi, rambutnya awut-awutan dan napasnya
tersengal-sengal, ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengatur pernapasan-
Rombongan anjing- anjing besar itu menerjang dan mundur secara beraturan, mereka saling
mengisi kekosongan yang ada dan menyerang dari tiga arah yang berlawanan, yakni arah atas
tengah dan bawah.
Tentu saja Go siau bi tak berani menyambut datangnya ancaman itu secara gegabah, sebab dia
tahu anjing-anjing itu sangat beracun pada kuku-kukunya.
sementara itu kakek berjubah hitam yang berada disamping gelanggang merasa gusar dan
sakit hati, namun ia tak berani menghentikan serangan anjing-anjing itu, sebab ia tahu betapa
sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, ia telah bersiap sedia mengorbankan anjinganjingnya
itu sebagai ganti dari kesuksesan rencananya.
setengah peminum teh kemudian, bangkai anjing telah bergeletak dimana-mana, darah serta
hancuran daging tersebar dimana-mana, keadaannya mengerikan sekali.
Dari sekian banyak anjing besar yang dibawa oleh kakek baju hitam itu, tak seekorpun yang
masih hidup pada saat ini.
Walaupun demikian, keadaan Go Siau bi sendiripun mengenaskan sekali, ia sudah kehabisan
tenaga, kakinya yang keracunan sekarang menjadi bengkak dan satu kali lipat lebih besar daripada
keadaan biasa, rasa sakit menyerang sampai kelubuk hati, sekali pun ia tahu masih ada seorang
musuh yang mengincar dirinya namun ia tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, akhirnya
gadis itu roboh dan jatuh terduduk diatas tanah.
Dengan sinar mata bengis, penuh kebuasan kakek berjubah hitam maju kedepan dengan
langkah lebar.
Go siau bi sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya, diapun menghimpun sisa
kekuatan yang dimilikinya untuk dikumpulkan pada telapak tangan kanannya.. Sambil bergerak
maju kedepan kakek baju hitam itu berkata tiada hentinya:
"Perempuan rendah, engkau telah menipu dan membunuh dua orang putra kesayanganku, ini
hari akan kusuruh kau rasakan pula siksaan yang terkeji dikolong langit, akan kusiksa kau sampai
mampus ....Hmm Sakit hati ini akan kutuntut balas beberapa kali lipat lebih dahsyat tunggulah
tibanya saat seperti itu ...."
Go Siau bi membentak keras, telapak tangan kanannya tiba-tiba diayun kedepan, lima gulung
desiran angin tajam segera meluncur keluar dan mengancam tubuh kakek itu.
Rupanya kakek baju hitam itu memang sengaja memperlambat langkah kakinya berhubung dia
harus bersiap menghadapi tibanya ancaman yang tak terduga dari pihak lawanoleh
sebab itu ketika Go Siau bi mengayunkan telapak tangannya kedepan, secepat kilat ia
berkelit kesamping, tapi toh gerakan itu teriambat setengah langkah, tangan kanannya terasa
sakit sekali hingga merasuk ketulang sumsum, tak kuasa lagi dia mendengus tertahan.
Ilmu jari Bwe hoa cuan sim ci (juri si kura penembus hati ) yang digunakan Go siau bi ini adalah
salah satu ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian toh pit kip. arah yang dituju adalah
dada musuh atau tepatnya persis diatas jantung, andaikata terkena hajaran jantung orang akan
pecah dan binasalah orang itu.
Tapi berhubung kakinya terluka sehingga banyak tenaga dalamnya berkurang maka melesetlah
serangan itu dari sasaran utamanya.
"Blam" pukulan tangan kiri yang dilepaskan kakek berjubab hitam itu dengan telak bersarang
ditubuh Go siau Bi
Ditengah dengusan yang tajam, tubuh dara itu mencelat dan bergelinding diatas tanah,
kesadarannya punah dan dara itu berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak.
Kakek tua baju hitam itu tertawa seram, secara beruntun dia menotok beberapa buah jalan
darah penting ditubuh gadis itu.
Kemudian ketika dilihatnya musuhnya sudah tercakar oleh racun anjingnya, ia ambil keluar
sebuah botol kecil dari porselen putih, diambilnya sedikit bubuk kuning dan dijejalkan kemulut Go
siau Bi, lalu mengambilpula sebagian dan dibubuhkan pada sekitar mulut luka, kemudian baru
berkata dengat nada menyeramkan: "Hmm Hmmm aku tidak akan membiarkan engkau mampus
dengan begitu saja"
Ditatapnya sekejap bangkai2 anjing itu dengan perasaan berat, akhirnya sambil mengempit
tubuh Go siau Bi, dia berlalu dari tempat kejadian-
Tatkala Go siau Bi sadar kembali dari pingsannya, ia menemukan kaki tangannya telah
dibelengu orang, tubuhnya berbaring terlentang dengan menghadap keatas, namun ia tak mampu
bergerak sementara rasa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya.
Ia membuka mata dan memeriksa keadaannya, tapi segera dara itu jadi malu bercampur gusar,
ternyata ia sedang dibelenggu di atas sebuah papan kayu dalam keadaan telanjang bulat, sehelai
benangpun tidak menempel ditubuhnya, sementara kakek baju hitam itu sedang memandang
kearahnya sambil menyeringai seram.
Disamping kakek itu berdirilah sepasang anjing besar yang sedang mencakar2 tanah sambil
memperdengarkan serentetan suara kaing-kaing yang aneh.
Dia ingin buka mulut untuk berbicara, namun tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
sadarlah dara itu bahwa jalan darah bisunya telah ditotok orang.
-00d0w00-
BAB 57-
SECARA lapat2 dara itu mulai menduga apa yang bakal terjadi serta menimpa dirinya.
Ia rela mati dan mengakhiri hidupnya lebih cepat, namun ia tak mampu untuk melakukannya,
beberapa buah jalan darah ditubuhnya tertotok. sekalipun ilmu silatnya sangat tinggi, berada
dalam keadaan seperti ini tiada sesuatu apapun yang bisa dilakukan lagi olehnya.
Tiba2 kakek berbaju hitam itu tertawa seram, suaranya sadis dan mengerikan-
" Heeeh heeeehh heeeehh perempuan rendah, aku adalah Ho Thong thian ketua
perkampungan oh hau san-cung, ingat baik2 namaku ini dan ketahuilah bahwa aku berbuat
demikian demi membalaskan dendam bagi kematian dua orang putraku"
Go Siau Bi ingin bicara namun tak mampu mengucapkan sepatah katapun, apa boleh buat?, Dia
cuma bisa berbaring dengan mata melotot penuh kegusaran. Terdengar Ho Thong thian
melanjutkan kembali kata katanya:
"Perempuan rendah, engkau telah memancing kedua orang putraku dengan kecantikan
wajahmu kemudian membunuhnya secara keji.. heeeh heeeh heeeh sekarang, saat pembalasan
telah tiba, coba pandanglah kedua ekor anjing jantan itu, dia akan menjadi suamimu sebentar lagi,
dari kedua ekor anjing jantan inilah engkau akan mendapatkan kepuasan seks yang paling nikmat,
kau akan di bikin naik kesorga oleh kedua ekor anjing ini haaah haaahh haaaahh manusia digagahi
oleh anjing, itulah acara pertunjukkan yang menarik sekali."
-00d0w00-
BETAPA terkejut dan takutnya Go siau bi sesudah mendengar ancaman itu, ia merasa
sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya, bila sampai peristiwa itu benar-benar terjadi,
inilah siksaan yang terkeji dikolong langit, seorang gadis perawan akan kehilangan kesucian
tubuhnya ditubuh seorang anjing, bahkan sekaligus akan diperkosa oleh dua ekor anjing besar
secara bersamaan, matanya jadi berkunang dan pandangannya jadi gelap akhirnya ia jatuh tak
sadarkan diri saking gusar dan mendongkolnya.
Hoo Thong thian tertawa seram, cepat ia totok jalan darah Thian kia hiat ditubuh dara itu.
sekali lagi Go siau bi sadar kembali dari pingsannya, hancur luluh perasaan hatinya, air mata
jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya yang ayu ....
"Perempuan rendah, dengarkan baik-baik kataku ini" ujar Ho Tong Thian lebib jauh "kecuali
menerima pembalasan ini, tiada cara lain yang bisa kugunakan untuk menghajar dirimu, Nah
setelah engkau menerima kepuasan seks ditubuh kedua ekor anjing jantan ini, maka engkau akan
menjadi santapan yang paling lezat bagi mereka haaah haaahh haaahh itulah pertunjukkan yang
paling surprise, sang istri yang cantik setelah digagahi akan disantap"
Dalam keadaaa seperti ini Go siau bi benar-benar kehabisan akal, mau melarikan diri jelas tak
mungkin, ingin bunuh diri juga tak mampu, tepatnya ia memang harus merasakan siksaan hidup
yang paling keji itu, diperkosa lebih dulu oleh anjing, lalu tubuhnya akan di cabik sebagai penghuni
perutnya.
Air mata dengan derasnya mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya. sekarang ia dapat
merasakan apa artinya pembalasan-.. dia mulai menyesal. "ooooh sungguh cepat pembalasan
yang tiba dan menimpa diriku" keluhnya dihati.
Bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis perawan, dia memiliki serangkaian ilmu silat
yang luar biasa, ia tak takut mati, sebab ia merasa bahwa mati hanya suatu pelepasan belaka,
pelepasan dari segala bentuk siksaan maupun penderitaan, tapi ia tak sudi mengalami siksaan
tersebut sebelum ajalnya, apa lagi siksaan yang begitu kejinya. Bila seseorang bisa putus asa,
kadang kala timbul pelbagai ingatan dalam ingatannya.
Dara itu berharap akan terjadinya suatu kejadian yang diluar dugaan, sehingga ia dapat
terhindar dari siksaan yang paling keji ini, ia rela melakukan apapun untuk membayar
pertolongannya itu, asal siksaan yang tak berperi kemanusiaan ini bisa di hindari
Gelak tertawa dari Ho Thong thian, pemilik perkampungan oh hau san ceng masih
berkumandang tiada hentinya. lengking suara tertawa yang menyerupai binatang itu bagaikan
pisau tajam yang menyayat-nyayat hatinya, membuat hatinya hancur lebur.
Tampaknya dua ekor anjing jantan itupun sudah berpengalaman dalam melaksanakan tugas
itu, dengan sorot mata yang merah membara dan mengerikan, anjing-anjing itu menatap tubuh
Go siau bi yang telanjang tanpa hentinya, sementara bunyi desiran aneh muncul dari mulutnya,
keadaan benar2 mengerikan..
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Go siau bi yang sedang menghadapi
bahaya perkosaan oleh dua ekor anjing..
sementara itu Han siong Kie telah meneruskan perjalanannya dengan langkah yang amat
lambat karena luka parah yang dideritanya akibat pertarungan melawan Go siau bi, ia tak dapat
mengerahkan tenaga sebagai mana mestinya.
39
Setengah jam kemudian, ia baru mencapai sejauh lima li dari tempat semula, lembah In wu kok
yang hendak dituju secara lapat-lapat sudah kelihatan didepan mata.
Walaupun hubungannya deagan Go Siau bi tak dapat dikatakan ada perasaan cinta, namun
perasaan persahabatan tetap ada dan oleh karena itu ia merasa sedih oleh perbuatannya,
mimpipun ia tak menyangka Go Siau bi yang halus, lembut dan berbudi sekarang telah berubah
jadi manusia lain-
Terutama kata2 dari Go Siau bi, tiap kali terbayang kembali ia lantas merasakan jantungnya
berdebar keras.
cinta memang tak dapat dipaksakan, apa lagi hatinya sudah terisi oleh perempuan lain-
Segulung desiran angin dingin berhembus lewat disamping tubuhnya, dengan terkejut Han
Siong Kie berpaling, dia tahu desiran angin itu bukan hembusan angin biasa melainkan kehadiran
seseorang manusia lain-
Pemuda itu merasa kuatir, dalam keadaan terluka parah, tak mungkin baginya melakukan
perlawanan lagi jika yang datang adalah pihak musuh.
Secepat kilat ia berpaling, seorang perempuan berkerudung tahu2 sudah berdiri dihadapannya.
orang itu siapa lagi kalau bukan orang yang ada maksud. Untuk sesaat Han Siong Kie berdiri
tertegun-
"Nona, engkau hendak pergi kemana?" tegurnya.
"Aku datang mencari engkau "
"Mencari aku? Ada urusan apa engkau mencari aku..?" pemuda itu merasa keheranan.
"Nona Go siau bi tertangkap oleh Hoo Thong thian, CengCu dari perkampungan Go hau san
Ceng"
Agak terkejut Han siong Kie mendengar kabar itu, serunya kurang percaya:
"Masa ia tertangkap? Kepandaiannya toh sangat lihay, masakah ilmu dari Hoo Thong thian luar
biasa."
"Ia keracunan lebih dulu oleh anjing raksasa, sehingga akhirnya dia tertangkap"
"oooh.. kiranya begitu"
"Apakah engkau tidak menguatirkan mati hidupnya??" kembali orang yang ada maksud
bertanya.
"Ia telah membunuh Kim kian siang ing (sepasang pendekar pedang emas) putra kesayangan
HHoo Thong thian, sewajarnya kalau sang ayah membalaskan dendam bagi kematian putranya"
"Tapi.. tahukah engkau bahwa Hoo Thong thian adalah seorang manusia durjana yang banyak
melakukan kejahatan? Begitu pula dengan anak-anaknya, mereka sering kali mengacau rakyat,
kematian mereka justru menggirangkan banyak orang"
"Nona" seru Han siong Kie dengan cepat, " apakah engkau mengerti sebab-sebab yang
mendorong ia melakukan pembantaian2 sekalipun Kim Kiam siang ing pantas dibunuh, akan tetapi
bagaimana dengan lainnya?"
orang yang ada maksud tertawa setelah mendengar perkataan itu, ia balik bertanya: "Tahukah
engkau, apa sebabnya ia sampai membunuh orang?"
"Hmm Ia sudah mengidap penyakit gila .... dan otaknya sudah sinting dan tak waras."
"Hmmmm" kali ini orang yang ada maksud mendengus dingin, " apakah ucapan itu muncul dari
lubuk hatimu??"
"Nona, apa maksudmu mengucapkan kata-kata itu?" tanya Han siong Kie tercengang.
"Go siau bi bisa sampai membunuh orang sepantasnya engkau memikul setengah dari
tanggung jawabnya "
" Kenapa..?" tanya sang pemuda dengan air muka berubah hebat.
" Karena engkau, dia telah membunuh orang"
" Karena aku ? Kenapa karena aku dia lantas main membunuh??"
"Manusia bermuka dingin" seru orang yang ada maksud dengan suara tajam " engkau tak usah
pura2 berlagak pilon, masakah engkau masih belum dapat memahami apa sebabnya ia sampai
membunuh orang?"
"Aku benar2 tidak paham"
"ooh, jadi kalau begitu engkau tidak bersedia menolong jiwanya??" Han siong Kie tertawa
dingin-
"Heeeh heeeh heeehh menolong dia ? Aku malahan sudah berkata kepadanya, bila kami
bertemu lagi dilain waktu maka aku akan membinasakan dirinya"
"Dengan dasar alasan apa engkau akan membunuhnya??"
"sebab ia telah membunuh orang dengan semena-mena"
"Ia bisa membunuh orang karena engkau, maka kaupun harus ikut bertanggung jawab atas
terjadinya peristiwa ini "
"Nona, jangan asal main tuduh saja, coba terangkanlah perkataanmu itu dengan lebih jelas lagi
"
"oleh karena engkau telah melukai hatinya, maka dia membunuh setiap pemuda yang
dijumpainya"
"Aku ? Aku telah melukai hatinya?"
"Benar "
"Dalam hal apakah aku telah melukai hatinya??"
"Masakah engkau benar2 akan suruh aku mengatakannya keluar??"
"Tak ada halangannya kalau nona hendak mengatakan"
"Sewaktu engkau dihajar oleh pemilik benteng maut sehingga tercebur kedalam sungai
kemudian jiwamu tertolong olehnya, dimana selama tiga hari engkau total berbaring diatas
pembaringannya . "
"setiap budi yang pernah kuterima tidak pernah kulupakan, suatu ketika pasti akan kubalas "
"Dalam masalah ini, persoalannya bukan manyangkut tentang soal balas budi atau tidak"
"Lalu persoalan ini menyangkut dalam hal apa??"
"Kalau seorang anak dara bersedia merawat seorang pemuda asing didalam kamar tidurnya,
bahkan tanpa canggung-canggung merawatnya, dapatkah engkau rasakan apa sebabnya ia
bersedia melakukan kesemuanya itu"
Han Siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, bukannya ia tak dapat merasakan hal ini,
melainkan ia tak bersedia untut mempertimbangkan soal tersebut. Terdengar orang yang ada
maksud berkata lebih jauh:
"Tahukah engkau bahwa Go siau bi telah bersumpah didepan pusara ayahnya bahwa dia tak
akan menikah dengan orang lain kecuali dengan kau seorang"
"Apa sangkut pautnya dengan diriku? Itu toh urusan pribadinya sendiri??"
Jawaban yang dianggap terlalu ketus ini segera membangkitkan hawa amarah dihati orang
yang ada maksud, serunya lagi:
"Aku mengerti, oleh karena engkau adalah Manusia bermuka dingin maka engkau dapat
mengatakan ucapan yang sadis dan sama sekali tidak berperasaan ini, tentunya engkau tidak lupa
bukan dengan peristiwa dalam rumah penginapan? Engkau telah memeluk tubuhnya bahkan
menginap disatu kamar."
"Aku merrpunyai niat untuk membalas budi pertolongannya, masakah perbuatanku ini keliru??"
"Engkau tidak keliru, tapi bila seseorang dara telah berdempetan dengan seorang pria, malahan
perlu dipeluk. tidur dalam satu kamar selain ia kawin dengan lelaki itu, mungkinkah dia bisa kawin
dengan orang tak lain"
"Aaaah . . Kita toh orang-orang persilatan, Bagi kita orang persilatan rasanya tak perlu
merisaukan soal tetek bengek itu"
"Itu kan pandangan segelintir orang, andaikata Go siau bi memandang berat persoalan ini, lalu
apa yang hendak kau lakukan ?"
Han siong Kie memang merasa seperti dipaksa dan ditekan untuk menerima kenyataan itu, ia
tak bisa berkutik, kecuali meringis rasanya memang ia tak bisa berbuat lain-Terdengar orang yang
ada maksud melanjutkan kembali kata-katanya:
"Aku rasa Go siau bi cukup cantik dan cukup bagus, ia pantas untuk menjadi isterimu, apalagi
kakeknya Put lo sianseng sebagai seorang tokoh persilatan ternyata mengajukan pinangan sendiri
kepadamu, tak kunyana kau malah menampik pinangannya sehingga membuat dara itu tertekan
jiwanya, padahal kau toh tahu bahwa ia mencintai dirimu? Nah, karena pelbagai alasan inilah ia
jadi sinting dan melakukan hal-hal yang diluar dugaan, coba katakanlah apakah engkau tidak
merasa ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini??"
"Maksud nona, engkau hendak memaksa ku untuk mencintai dirinya??"
"Masa ia tak pantas untuk menerima cintamu ? Dan engkau sama sekali tidak tergerak hatinya
oleh cinta kasihnya yang telah dilimpahkan padamu??" Han siong Kie membungkam, betul2
membungkam dalam seribu bahasa.
Dahulu ia memang pernah membenci seantero perempuan yang ada dijaga d, tapi sejak
hubungan cintanya dengan Tong hong Hwie, perasaan hatinya mulai terbuka, untuk pertama
kalinya ia benar-benar mencintai seorang dara, dan ia persembahkan rasa cintanya itu padanya.
Terhadap Go siau bi, meskipun tak bisa dikatakan ia memandangnya seperti memandang
perempuan lain, tapi diapun tidak mencintai dirinya.
Tiba-tiba suatu rasa menyesal dan iba tersebut dalam hati kecilnya, ia ikut merasakan
penderitaan serta kesedihan yang dialami anak gadis itu.
Tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya, maka diapun berkata dengan dingin-
"Nona, tentunya engkau masih ingat bukan dengan seseorang yang bernama Tonghong Hui?."
Tampak sekujur tubuh orang yang ada maksud bergetar keras, tapi ia menjawab dengan cepat.
"Tentu saja masih ingat, kenapa??"
"Terus terang kukatakan padamu nona, perasaan dan hatiku telah dibawa pergi olehnya"
"Bukankah ibuku pernah memperingatkan kau, bila hubunganmu dengan Tong Hong Hui
dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu tragedi" Han siong Kie tertawa
sedih.
"Mungkin tragedi telah menjadi kenyataan, tapi aku sama sekali tidak merasa menyesal"
"Sudah menjadi kenyataan? Apa maksud
JILID 28 HAL. 16/17 HILANG
kedua hal ini bisa dijadikan satu, tapi aku berpendapat bahwa cinta yang murni dan cinta yang
sesungguhnya tidak musti dipadukan dalam kehidupan yang nyata"
"Justru persoalannya bukan terletak disini"
"Maksudmu masih ada alasan serta persoalan lain yang bisa mengakibatkan terjadi tragedi
ini??"
"Memang begitulah kenyataannya"
"Kata-kata itu sangat membingungkan hati orang, apakah engkau bersedia untuk menerangkan
lebih jauh?"
"Suatu ketika engkau akan memahami dengan sendirinya, sekarang maafkanlah daku karena
aku tak dapat memberitahukan hal ini untukmu, bukannya aku sengaja berlagak sok rahasia tapi
berbicara sesungguhnya, sekarang juga engkau harus pergi menyelamatkan jiwa nona Go Siau bi,
kalau terlambat aku kuatir telah terjadi hal-hal yang luar biasa"
"Kalau toh nona telah mengetahui bahwa ia sudah tertawan oleh orang-orang dari
perkampungan oh han san ceng, mengapa kau tidak berusaha untuk menolongnya melainkan.."
"Tentu saja aku mempunyai alasan tertentu"
"Dapatkah kuketahui alasan itu?"
"Dalam perkampungan oh han san ceng telah dipelihara anjing-anjing perbatasan yang besar
dan cakarnya beracun, sedangkan engkau memiliki kekuatan anti racun, maka tugas ini tak
mungkin bisa diselesaikan oleh orang lain"
Pada hakekatnya orang yang ada maksud telah mendapat perintah dari ibunya yakni orang
yang kehilangan sukma untuk sengaja mengatur kesemuanya ini, kalau tidak karena rencana
mereka, tentu saja dengan kepandaian yang dimiliki orang yang ada maksud, Go Siau bi telah
tertolong ketika ia terluka tadi.
Sementara itu, Han siong Kie sedang tundukkan kepalanya sambil termenung beberapa saat
lamanya, kemudian sahutnya.
"Maaf nona, aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan itu"
"Jadi engkau tidak bersedia untuk menolong jiwanya ??"
"Aku tak dapat menyelamatkan jiwa sekarang, pembunuh yang pernah membantai ber-puluh2
lembar jiwa manusia yang sebenarnya sama sekali tidak berdosa "
"Di kemudian hari ia tak akan membunuh orang lagi dan aku akan menanggung hal ini bagimu,
bagaimana??"
"Tetapi... "
"Ada apa lagi?? "
"Isi perutku terluka parah, aku kuatir...."
"Aaah Kalau cuma soal itu kan gampang sekali, aku punya obat yang sangat mujarab, dengan
dasar tenaga dalam yang kau miliki, maka setelah meminumnya dalam waktu setengah
perminuman teh, seluruh kesehetananmu dapat pulih kembali seperti sedia kala"
Tidak menanti jawaban dari Han siong Kie lagi, dia ambil keluar sebiji obat sebesar kelengkeng
lalu diangsurkan kedepan-
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Han siong Kie harus menerimanya, dia berkata:
"Baiklah, memandang diatas wajah kalian ibu dan anak. aku bersedia menolong jiwanya"
Habis berkata dia masukkan obat itu ke dalam mulut, kemudian duduk bersila ditepi pohon
untuk mengatur pernapasan
Kemujaraban obat itu memang luar biasa sekali, pada hakekatnya sama sekali tidak berbeda
dengan keampuhan Kui goan kim wan dari Kun si Mo ong.
Kurang lebih setengah perminuman teh kemudian, dalam keadaan segar bugar Han siong Kie
telah melompat bangun kembali dari atas tanah.
Setelah orang yang ada maksud menunjukkan dari perkampungan oh hausan ceng, ia berpesan
pula.
"Menolong orang bagaikan menolong kebakaran, sekarang juga engkau boleh segera
berangkat. Mungkin saja kita akan bertemu kembali dilain waktu" Dengan tubuh yang enteng dia
lantas berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang berlalu, Han siong Ki cuma bisa menggeleng sambil
menghela napas panjang, akhirnya iapun berangkat menuju ke perkampungan oh hau san ceng.
Perkampungan oh hausan ceng merupakan sebuah bangunan perkampungan yang
JILID 28 HAL. 22/23 HILANG
Habis berkata, ia menutup kembali pintu ruangan dan berjalan menuju keruang tamu.
Meskipun jalan darah Go siau bi sudah tertotok. namun pendengarannya masih berjalan
normal, betapa gembira hatinya setelah mendengar kabar bahwa Manusia berwajah dingin telah
tiba diperkampungan itu.
Timbul kembali harapannya untuk melanjutkan hidup.
"Mungkinkah ia datang kemari untuk menolong aku? begitulah dia mulai berpikir, tapi
mungkinkah ia sudi menyelamatkan jiwaku? Bukankah ia telah membenci aku dan ingin
membunuh aku??"
Apalagi setelah teringat bahwa ia berada dalam keadaan telanjang bulat, dimana hampir semua
bagian rahasia tubuhnya tertera nyata, ia merasa malunya bukan kepalang, kalau bisa dia ingin
mati saja sehingga tak perlu menanggung rasa malu.
Dalam pada itu Ho Thong thian telah muncul diruang depan, ia saksikan seorang pemuda
tampan yang berwajah dingin sedang berdiri sambil bergendong tangan ditengah ruangan-ketika
sepasang mata mereka membentur satu sama lainnya, tanpa sadar seluruh tubuhnya bergidik, Ia
merasa sorot mata orang itu tajam sekali, membuat siapa pun jadi bergidik rasanya.
Tapi dia berusaha untuk menekan perasaan hatinya, sambil tertawa terbahak-bahak ia menjura
lalu berkata:
"Apakah sauhiap adalah Manusia bermuka dingin yang namanya telah menggetarkan seluruh
dunia persilatan??"
"Betul, itulah aku orangnya"
"Silahkan duduk dan minum teh "
"Tak usah, apakah engkau yang bernama Ho Cungcu??"
"Benar, boleh aku tahu apa maksud kedatangan sauhiap ke perkampungan kami ini??" Dengan
dahi berkerut Han siong Kie berkata:
"Seorang sahabatku yang bernama Go siau bi, apa bener berada dalam perkampungan ini??"
setajam sembilu sorot matanya menatap wajah orang itu, ia menanti jawaban orang itu dengan
tenang.
Terkesiap Ho Thong thian mendengar pertanyaan itu, sekarang dia baru tahu bahwa
kedatangan manusia berwajah dingin adalah disebabkan karena perempuan rendah itu, mau
membohong jelas tak mungkin, hanya untungnya ia telah mengadakan persiapan.
Maka dengan wajah berubah hebat sahutnya:
"Betul, dia memang berada didalam perkampungan ini"
"Adapun kedatanganku kemari adalah hendak mengajak cungcu untuk merundingkan persoalan
ini, apakah engkau bersedia untuk melepaskan nona itu??"
"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memenuhinya, sebab ia telah membinasakan dua
orang putraku"
"Tapi kejadian ini toh berawal dari sikap putramu yang terpikat oleh kecantikannya, dalam soal
ini nona itu tak dapat kau salahkan "
"Haaah haaah haaahh pada hakekatnya justru dialah yang telah memikat putraku dengan
kecantikan wajahnya, ditinjau dari sikapmu yang begitu paham dengan duduknya persoalan ini,
aku rasa engkau tentu mempunyai, hubungan yang luar biasa dengan Go siau bi. Nah sauhiap
berbicaralah menurut liangsimmu, berilah keadilan serta kebijaksanaan kepadaku, pantaskah aku
melakukan pembalasan dendam?"
Untuk sesaat Han siong Kie terbungkam dan tak mampu menjawab pertanyaan itu, sebab katakata
itu memang masuk diakal dan benar. Lama sekali, akhirnya ia baru berkata. "Apa yang
hendak kau lakukan atas diri nya?"
"Hutang darah harus dibayar dengan darah, hutang nyawa bayar nyawa.."
"Apakah engkau tidak merasa bahwa tindakanmu ini kelewat batas??"
"Siapa membunuh manusia diapun harus membayar dengan nyawa sendiri, masa tindakan
semacam ini kelewat batas?"
"Tapi pada hakekatnya toh putramu yang terpikat dulu oleh kecantikan nona Go dan
membuntutinya terus menerus, tindakan ini sudah pantas untuk diberi hukuman mati"
"sauhiap. apa yang kau ucapkan itu berdasarkan pengamatanmu sendiri ataukah karena
mendengar dari mulut orang?"
"Tentu saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"Jadi maksud sau hiap. engkau melarang aku untuk melakukan pembalasan dendam??"
"Bukannya begitu, aku ingin tahu dengan cara apakah engkau berhasil menangkap nona Go
siau bi??"
"Tentu saja mengandalkan kepandaian silatku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie segera tertawa terbahak-bahak nyaring sekali
suaranya.
"Haaah haaah haaaah Ho too cungcu, bukannya kupandang enteng dirimu, pada hakekatnya
kalau engkau ingin menundukkan dia dengan andalkan cara yang bersih dan jujur, maka
kepandaian silatmu masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan dirinya ?"
"oooh.. Maksud sau hiap. aku telah menggunakan cara yang licik dan tidak jujur untuk
menundukkan nona itu??"
"Begitulah maksudku, aku tidak melarang cungcu untuk membalaskan dendam bagi kematian
putramu, tapi aku harap lakukanlah duel tersebut secara jujur dan terbuka, sebab masalah ini tak
bisa diselesaikan dengan berat sebelah"
Tiba-tiba sekulum senyum licik yang sadis dan mengerikan melintas diatas wajah Ho Thong
thian, ia menjura dan berkata.
" Kalau memang begitu, bagaimana kalau sau hiap duduk dulu sambil minum teh? Aku akan
menggusur nona Go siau bi datang kemari kemudian menyelesaikan masalah ini secara adil di
depan sauhiap? Tentunya sauhiap bersedia bukan??"
oooodwoooo
BAB 58
MESKIPUN dalam hati kecilnya Han siong Kie menaruh curiga karena perubahan sikapnya yang
sangat mendadak itu, namun dia lantas berpikir didalam hati.
"Dengan andalkan kepandaian silatmu, bila engkau berani main gila dengan aku, itu berarti
engkau mencari penyakit buat diri sendiri." Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangguk.
"Baiklah, lakukan semuanya itu"
"Kalau memang begitu harap sauhiap tunggu sebentar disini"
Baru beberapa langkah Ho Thong thian berlalu, tiba-tiba pemuda itu berseru kembali.
"Eeeh.. tunggu sebentar"
"Apa yang hendak sauhiap katakan lagi??"
Dengan sorot mata yang bengis dan mengandung hawa napsu membunuh, Han siong Ki
berkata dengan sadis:
"Ho cungcu, sebelum semuanya terjadi aku hendak berkata lebih dahulu kepadamu, aku harap
janganlah engkau bermain gila dengan aku, kalau tidak . . . Hmmm Terus terang kukatakan
kepadamu, akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, dan apa yang sudah kukatakan dapat
pula kubuktikan."
Mula-mula Ho Thong thian agak tertegun, tapi dia lantas tertawa seram sambil menyahut.
"Aaaah ... sau hiap terlalu banyat curiga, masa aku adalah manusia yang lain diluar lain dihati?"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berseru keluar ruangan:
"Go Tiong hidangkan air teh dan siapkan meja perjamuan untuk tamu kita ini "
"Tak usah banyak adat, selesai urusan disini aku segera akan berlalu, tak berani banyak
mengganggu kau lagi"
Ho Thong thian tidak menanggapi ucapan itu, dia mengangguk dan berkata: "Aku akan segera
pergi mengambil nona Go siau bi seraya berkata dia lantas berjalan keluar dari ruangan itu
Tiba2 kecurigaan yang timbul dalam hati kecil Han siong Kie semakin menebal, kalau toh Go
siau bi sudah tertangkap. kenapa ia musti tunggu disitu dan anehnya kenapa tak ada orang yang
bergerak ditempat ini ?"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 terdengar suara gemuruh yang
amat keras berkumandang dari ruangan itu, menyusul mana seluruh ruangan tersebut mulai
berputar kencang.
Menghadapi kenyataan tersebut, pemuda itu baru menyadari bahwa ia sudah terjebak oleh
siasat licik musuhnya, dia berpekik di hati:
"Aduuh celaka, aku sudah tertipu oleh anjing tua itu"
Tanpa berpikir panjang lagi dia segera melejit dan meluncur keluar kearah pintu ruangan-
Tapi dalam sekejap mata itulah seluruh pintu ruangan telah tertutup rapat, dan suasana dalam
ruangan itupun berubah jadi gelap gulita sehingga kelima jari tangan sendiripun sukar terlihat.
Han siong Kie berdiri tertegun, saking gemas dan mendongkolnya dia sampai menggigit
bibirnya kencang2, mimpipun ia tak mengira karena bertindak gegabah sehingga mengakibatkan
dia terjebak oleh tipu muslihat lawan-
"criing. criing.. tiba-tiba ruangan itu tenggelam kedasar bumi, ketika Han siong Kie mengamati
dengan seksama, ternyata ia sudah terkurung dibawah sebuah penjara dalam tanah yang kuat
dan empat penjuru merupakan dinding tebal yang tak tembus hawa.
sekarang anak muda itu baru menyesal apa sebabnya tidak bertindak hati-hati setelah masuk
kedalam perkampungan, karena musti menuruti peraturan dunia persilatan, akhirnya dia harus
terjebak oleh perangkap lawan-
Dari alat jebakan yang rupanya sudah dipasang disetiap bagian ruangan dalam perkampungan
oh han san cung, dapat pula di tarik kesimpulan bahwa perkampungan ini bukanlah suatu
perkampungan baik dan pemiliknya tentu saja sebagaimana yang dikatakan orang yang ada
maksud, benar-benar merupakan manusia bejad yang licik dan banyak akal muslihatnya.
sekarang nasi sudah menjadi bubur dan menyesalpun tak ada gunanya, untuk sesaat lamanya
pemuda itu cuma bisa berdiri menjublek dengan perasaan bingung.
"Kraaakl.krassakkk.. tiba-tiba dari atas dinding muncul sebuah pintu kecil, dibalik pintu tersebut
merupakan sebuah lorong yang amat panjang.
Rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dada Han siong Kie sudah tak tertahan lagi,
dia himpun hawa murninya ke dalam telapak tangannya. ia sudah bersiap sedia bila ada musuh
yang munculkan diri maka dia akan menyeret dan membinasakan musuhnya secara keji.
Tapi apa yang terjadi? Meskipun sudah ditunggu dengan lama, namun tiada sesuatu gerakan
apapun yang muncul dihadapannya.
Sesudah ragu sejenak, akhirnya pemuda itu melangkah keluar dari pintu kecil itu dan masuk
kedalam lorong yang terbentang didepan matanya itu.
Kurang lebih tiga puluh kaki dihadapan nya muncul sebuah anak tangga batu yang menjulang
ke atas.
Yang aneh ternyata disekitar tampat itu sama sekali tidak nampak sesosok
JILID 28 HAL35/36 HILANG
Memang mengerikan sekali anjing-anjing itu, sekilas pandangan orang akan mengira anjing itu
sebagai mahluk sebangsa macan kumbang.
Ditinjau dari bentuk bangunan rumah gelap itu, anak muda itu menduga bahwa dia telah
berada diatas permukaan tanah.
"criiiing ..." sementara anak muda itu masih melamun- tiba-tiba terdengar dentingan nyaring
menggema memecahkan kesunyian, seketika ia berpaling, maka tampaklah pintu kecil dimana ia
muncul tadi tahu-tahu sudah tertutup rapat.
Agak lama pemuda itu termenung, kemudian ia bergerak menuju kepintu ruangan dan
merabanya dengan tangan-
Pintu itu terbuat dari besi baja yang sangat kuat, ketika didorong kebelakang ternyata
menimbulkan suara pantulan yang berat, ini membuktikan bahwa pintu itu terbuat dari baja yang
tebalnya mencapai satu depa lebih, besi seberat itu tak mungkin bisa didorong olehnya dengan
kepandaian yang dimilikinya saat ini. Tiba-tiba dari atas dinding besi itu muncul sebuah lubang
bulat sebesar
JILID 28 HAL. 38/39 HILANG
mata, apa gunanya mengucapkan kata-kata yang tekebur semacam itu??"
"Baiklah, kalau engkau tidak percaya, nantikanlah saat pembalasanku itu"
"Tak usah ditunggu lagi, sekarang juga akan kupertunjukkan suatu adegan yang hidup dan
segar dihadapanmu, coba lihatlah, budak rendah yang kau cintai itu sekarang dia harus membayar
semua akibat dari perbuatannya, sebelum engkaupun dicium oleh anjing2ku, dekatkanlah matamu
dengan lubang ini dan intiplah apa yang ada disini."
Dengan penuh kegusaran Han siong Kie mendekati lubang pengintip itu dan melongok
kedalam.
Tapi apa yang kemudian terlihat olehnya membuat air muka anak muda itu berobah jadi merah
padam bagaikan darah, jantungnya berdebar keras dan kemarahannya semakin memuncak.
sebuah tubuh gadis yang telanjang bulat dengan semua bagian rahasianya tertera nyata,
terikat disebuah palang kayu yang besar, sepasang paha dara itu terbentang lebar sekali dan
tangannya sudah dipentangkan lebar, hal ini membuat setiap organ tubuhnya dapat dilihat tanpa
aling2.
selama hidup belum pernah dia saksikan gadis telanjang, dan kali ini merupakan kali yang
pertama ia saksikan gadis telanjang didepan mata, saking bedebarnya hampir saja jantungnya
mau copot.
Tetapi setelah ia menegaskan bahwa dara itu tak lain adalah Go sian bi, kegusarannya sukar
terkendalikan lagi, sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar ber-api2, teriaknya
dengan keras:
"Tua bangka anjing, apa yang hendak kau lakukan atas dirinya??" Ho Thong thian tertawa
dingin.
"Heeeh heeh heeh ia telah membunuh anakku dengan mengandalkan kecantikan wajahnya,
maka sekarang akupun akan menggunakan cara yang lebih keji untuk menghukum dirinya. Coba
kau tengok kesamping, sudah kau lihat sepasang anjing jantan itu."
"Haaahh haaahh haaahh sebentar lagi akan berlangsung adegan perkosaan seorang gadis oleh
dua ekor anjing jantan.. belum pernah menyaksikan bukan? Nah, sebentar lagi akan kau saksikan
bagaimana caranya dua ekor anjing memperkosa seorang anak dara.."
saking gusar dan gemetarnya Han siong Kie sambil menggertak giginya keras2, kalau bisa detik
itu juga dia akan mencincang tubuh orang itu sehingga hancur ber-keping- keping, tapi sebuah
dinding baja yang kuat telah menghadang ditempat itu, tak mungkin baginya untuk menerobos
masuk keruangan sebelah.
Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu tragedi yang memilukan hati, kesucian seorang
anak dara ternyata harus direnggut oleh dua ekor anjing jantan..
Go siau bi sendiri meskipun jalan darahnya tertotok. namun telinganya dapat mendengar dan
matanya bisa melihat, meskipun mulutnya tak dapat berbicara, ia mendengar suara dari Han siong
Kie dan perasaan hatinya terasa amat sakit bagaikan disayat-sayat, rasa malu, gusar, benci dan
gelisah bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.
Air mata yang meleleh keluar merupakan campuran darah, seluruh kulit wajahnya berkerut
kencang, membuat wajah gadis itu berubah jadi aneh sekali.
"Bangsat tua, engkau berani bertindak keji?" bentak Han siong Kie dengan penuh kebencian,
dia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah dinding baja itu.
"Blang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga membuat seluruh dinding baja itu
bergetar sangat keras.
Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang dilepaskan si anak muda ini di dalam
gusarnya.
Ho Thong thian agak tertegun setelah menyaksikan kedahsyatan hawa pukulan lawan, paras
mukanya ikut berubah hebat, tapi sejenak kemudian dia telah berubah jadi tenang kembali,
ejeknya:
"Bocah keparat sekalipun engkau bisa membongkar jagad, jangan harap bisa merubah nasib
kalian berdua"
"Tua bangka bajingan, kalau engkau berani mengganggu seujung rambutnya, Perkampungan
oh han san ceng kuratakan dengan
JILID 28 HAL. 44/45 HILANG
sementara anjing yang satu sudah berdiri sambil siap memperkosa anak gadis tersebut, anjing
yang lain meraung dan meronta dengan sekuat tenaga, rupanya anjing itupun sudah birahi dan
ingin menuruti jejak rekannya untuk menikmati pula kehangatan tubuh manusia.
situasi betul2 amat kritis dan berbahaya, bila tiada pertolongan yang tiba pada saatnya, niscaya
gadis cantik jelita itu akan di renggut kehormatannya oleh seekor anjing..
Hampir saja anjing itu menggagahi tubuh Go siau bi ketika secara tiba tiba anjing tersebut
mendesis panjang, menyusul tubuhnya mencelat setinggi delapan depa ke udara.. Biang.." ketika
terbanting kembali keatas tanah, darah segar berhamburan dari tubuhnya dan binasalah anjing
tersebut dalam keadaan mengerikan.
Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini sangat mengejutkan hati Ho Thong thian, dengan
sukma serasa melayang tinggalkan raganya secara beruntun dia mundur beberapa lamgkah
kebelakang.
"Criiit criing " beberapa desingan angin tajam menyergap lagi kemuka.
Untung Ho Thong thian sudah mundur ke belakang, dengan begitu desiran angin serangan
tersebut tidak mengena pada sasarannya, andaikata ia tidak mengundurkan diri tadi, niscaya
dadanya sudah berlubang besar.
sekali lagi terdengar lolongan panjang yang memekikan telinga, beberapa desingan angin
serangan yang sebelumnya tertuju ketubuh Ho Thong thian itu, sekarang meluncur kearah anjing
besar yang masih dirantai itu dan menghajarnya telak. seketika anjing itu pun mampus dengan
keadaan mengerikan.
setelah menenangkan hatinya. rasa kaget dan panik berhasil diatasi oleh Ho Thong thiansekarang
dia tahu serangan tersebut muncul dari balik lubang diatas dinding tersebut, kecuali hasil
perbuatan dari manusia berwajah dingin, rasanya memang tak mungkin bisa dilakukan oleh pihak
kedua.
Maka ia lantas bergeser kesudut ruangan yang sejajar dengan lubang diatas dinding itu,
katanya sambil tertawa seram:
"Haaahhhh haaahh haaahhh bocah keparat, engkau memang lihay, tapi sayang pertunjukan
bagus harus tetap dilangsungkan, engkau tahu aku memelihara hampir seratus ekor anjing
semacam itu, tak ada artinya bagimu kematian dua ekor anjing tersebut, tapi dengan
perbuatanmu tadi engkau sudah kehilangan hak untuk menikmati pertunjukan bagus, sekarang
engkau harus terjun sendiri dalam pertunjukan yang jauh lebih menarik"
"criiing...?" tiba tiba lubang diatas dinding itu menutup secara otomatis.
Kiranya disaat yang paling kritis, Han siong Kie teringat dengan ilm ujari Tong kim ci nya yang
lihay, maka dari lubang pengintip itulah dia melancarkan serangannya untuk membinasakan kedua
ekor anjing tersebut dan kejadian ini sama sekali diluar dugaan Ho Thong thian.
setelah lubang pengintip itu tertutup, Han siong Kie semakin panik dan gelisah, sekarang bukan
saja ia terkurung dalam jebakan malahan Go siau bi semakin terancam jiwanya.
"Kraaakkk kraaakkk " bunyi gemerincing berkumandang dari arah belakang, ketika ia berpaling,
hatinya kontan jadi terperanjat rupanya terali besi disamping ruangan itu sudah dibuka dan lima
ekor anjing besar bagaikan harimau telah menyusup keluar dari kandangnya dan mengambil posisi
pengepungan.
sambil menggonggong seekor anjing besar itu laksana kilat menerjang maju kedepan. Han
siong Kie cepat bergeser kearah samping, ilmu jari Tong kim ci segera dilepaskan.
Anjing itu mendesis lengking, tubuhnya terhajar telak dan mampus seketika itu juga, sementara
empat ekor lainnya pada saat yang hampir bersamaan menerkam kedepan.
Ruangan itu luasnya cuma tiga kaki, sedangkan kedua sangkar anjing itu hampir menempati
separuhnya, sisa ruangan yang tersedia sempit sekali, dalam keadaan seperti ini sulit baginya
untuk berkelit maupun menghindar.
Untungnya Han siong Kie memiliki ilmu lintasan cahaya kilatan bayangan yang lihay bagaikan
sukma gentayangan dia bergerak kian kemari diantara terjangan-terjangan empat ekor anjing
tersebut, meskipun posisinya berbahaya namun tak sampai terancam jiwanya.
JILID 28 HAL.50/51 HILANG
lewat pintu yang sempit, tiap kali pula sianak muda itu membunuhnya dengan ilmu jari Tong
kin ci.
Dalam sekejap mata tiga ekor anjing raksasa sudah mampus dengan badan hancur.
"Crinng " tiba? pintu sangkar itu menutup dan Han siong Kie terkurung didalam sangkar
tersebut.
Namun sianak muda itu sama sekali tidak ambil pusing, dari bilik celah-celah terali besi secara
beruntun dia lancarkan beberapa sentilan mautnya. Tiga ekor anjing raksasa yang tersisa, kembali
mampus diujung telapak tangannya.
Begitulah, dalam sekejap mata ada sepuluh ekor anjing raksasa yang telah ia bunuh mati.
selesai membunuh anjing2 itu, Han siong Kie lantas mencengkeram terali besi itu karena pintu
keluarnya tertutup rapat maka dia memutuskan untuk mematahkan terali besi itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, sekali merentangkan tangannya, terali besi itu
segera melengkung dan terbukalah sebuah lubang yang cukup besar.
Pemuda itu meneborobos keluar dari sangkar tersebut, walau begitu dia belum lolos dari
kurungan sebab dinding baja masih mengurungnya dalam ruangan itu
Betapa gelisahnya pemuda itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia seperti seekor harimau
buas yang terjebak dalam kerangkeng sambil berjalan kesana kemari otaknya berputat terus untuk
mencari akal guna meloloskan diri dari kurungan.
Bagi si anak muda ini, keselamatan sendiri tidak terlalu dipentingkan, ia justru lebih
menguatirkan keselamatan Go siau bi, sekarang dia dapat memahami sampai dimanakah kekejian
Ho Thong thian, ia tahu apa yang telah diancamkan dapat dilaksanakan menjadi kenyataan-
Ho Thong thian memang sangat keji, di tinjau dari tindak tanduknya yang begitu terlatih dan
terbiasa, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah banyak perempuan yang mengalami nasib tragis
ditangannya, entah sudah berapa banyak anak perempuan yang dijadikan obyek tontonannya
diperkosa olen anjing ..
Rasa dendam, benci, marah berkecamuk dalam hatinya, hawa napsu membunuh telah
menyelimuti seluruh wajahnya. Ia bersumpah dihati bila Ho Thong thian sampai tertangkap maka
akan dibunuhnya orang itu secara keji.
sambil menahan diri pemuda itu mulai meraba dinding baja dan berusaha untuk menemukan
letak tombol rahasia ditempat itu, namun kecuali pintu rahasia tadi, tiada bekas lain yang terdapat
disitu, seakan-akan ruangan itu dibuat dari lembaran baja yang utuh.
sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru pertama kali ini dia menjumpai keadaan yang
mencemaskan hatinya, dan membuat ia jengah serta serba salah.
Hawa amarah makin memuncak. hampir saja anak muda itu tak sanggup mengendalikan diri..
Tiba-tiba pintu besi yang menghubungkan ruangan itu dengan penjara bawah tanah perlahanlahan
bergerak ke atas dan akhirmya terbukalah sebuah liang kecil.
Han siong Kie mundur tiga langkah ke belakang, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan
siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di inginkan.
sesosok makhluk aneh berbulu perlahan-lahan muncul dari lubang tadi dan meloncat keluar ....
Han siong Kie semakin terperanjat, telapak tangannya diayun kemuka melepaskan pukulan
maut.
"Hey, bocah jangan pukul aku" makhluk aneh itu berseru dengan lantang.
Han siong Kie menarik serangannya dan mundur ke belakang ternyata makhluk berbulu itu
adalah kepala manusia, dia adalah sorang manusia cebol yang gemuk dan bentuk badannya persis
seperti blingo, rambutnya telah beruban semua.
orang itu tak lain adalah Tee heng sian (Dewa berjalan dalam tanah) yang pernah merampas
pusaka Hud jiu po pit miliknya tempo hari.
Kemunculan Tee heng sian dalam keadaan semacam ini jauh diluar dugaan Han siong Kie, ia
tahu tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sangat lihay dan tindak tanduknya sangat misterius.
Dengan suara yang dingin bagaikan es, sianak muda itu segera menegur keras:
"Bukankah emgkau adalah Tee heng sian?"
Dengan tubuh yang gemuk dan gerakan yang lamban- Tee heng sian bergerak
JILID 28 HAL. 56/57 HILANG
" Untuk meneguk beberapa guci arak wangi itu, aku telah membuang waktu selama berbulan2
lamanya, dari luar perkampungan aku telah menggali sebuah lorong rahasia yang langsung
berhubungan dengan gudang arak itu."
Ter mangu2 Han siong Kie setelah mendengar ucapan tersebut, kejadian ini memang
merupakan suatu kejadian yang aneh sekali, untuk mencuri beberapa guci arak wangi, ternyata
orang itu bersedia bekerja selama ber-bulan2 lamanya. setelah tertegun sesaat diapun bertanya
lagi:
"Engkau toh tahu bahwa perkampungan oh han san ceng penuh dengan anjing2 raksasa? Masa
dengan daya penciuman anjing2 itu, jejakmu tidak sampai ketahuan ?"
"Haaah haaah haaaah kalau ingin jadi pencuri yang ulung maka pengetahuan sebagai pencuri
musti luas, tentu saja akupun tahu akan lihaynya daya penciuman anjing-anjing itu, maka sengaja
kugosokkan serbuk anti bau disekujur badanku, setelah begitu maka sekalipun anjing dari langit
juga tak akan dapat mencium bauku"
"Jadi kalau begitu, engkau bisa keluar masuk perkampungan ini dengan leluasa?"
"Itu sih tidak. meskipun aku punya serbuk anti bau, tapi aku tidak punya serbuk anti anjing,
kalau sampai terkepung anjing2 buas itu, bisa jadi mayatku akan habis disikat mereka, tentu saja
kedatanganku kemari juga menempuh bahaya"
"Kenapa engkau datang kesini dengan menempuh bahaya ?"
"Tentu saja karena engkau si bocah muda "
40
"Lantaran aku?" seru Han Siong Kie dengan wajah tercengang.
"Memang begitulah kenyataannya"
"Boleh aku tahu apa sebabnya engkau datang kemari ?"
"Mari duduklah dulu dan biarlah aku bercerita dari awal sampai akhir."
"Sekarang aku tak ada waktu" Seru Han Siong Kie dengan gelisah, "apakah engkau bersedia
memberi petunjuk kepadaku bagaimana caranya keluar dari penjara ruang baja ini??"
"Engkau ingin buru2 menolong bocah perempuan itu? " tanya Tee heng sian sambil melototkan
matanya yang aneh.
"Dari mana engkau bisa tahu?" Han siong Kie balik bertanya dengan hati terperanjat.
"Jangan gelisah dulu, aku kebetulan dapat mencuri dengar kejadian ini dari bawah tanah,
sebab tanah dibawah tempat tinggal Ho Thong thian telah kubongkar, maka semua pembicaraan
diatas kedengaran jelas dibawah, sekarang makhluk tua itu sedang merawat lukanya, untuk sesaat
dia tak mampu mengapa-apakan bocah perempuan itu lagi"
"Lhoo..kok aneh, masa Ho Thong thian sedang merawat lukanya?" tanya Han siong Kie
keheranan.
00dw00
BAB 59
"MASA membohongi kau?"
"Lantas dia luka ditangan siapa?"
"siapa lagi? Tentu saja ditangan bocah perempuan itu"
"Aaah, tidak mungkin, bukankah jalan darahnya sudah tertotok, dia sama sekali tak bisa
bergerak.."
"Hey bocah, pernahkah dengar tentang ilmu membebaskan jalan darah dengan hawa murni?
Bocah perempuan itu sudah kembali melepaskan diri dari pengaruh totokan, dan suatu serangan
kilatnya berhasil pula melukai Ho thong thian"
"sekarang gadis itu ada dimana??"
"Dia masih terkurung dalam ruangan baja sebelah ruangan ini"
JILID28 HAL. 62/63 HILANG
Begitulah, dengan Tee heng sian berjalan didepan, Han siong Kie berjalan dibelakang mereka
melewati sebuah lorong yang sangat panjang.
Ketika hampir mendekati ruang tamu dan tiga kaki dimulut penjara bawah tanah, mereka
mendekati dinding yang berada disebelah kanan, ketika sebuah papan batu sebesar dua depa di
geser kesamping, maka muncullah sebuah gua yang bisa dilewati oleh tubuh seorang manusia.
"Loo tee" kata Tee heng sian kemudian, "inilah jalan bawah tanah yang telah lo ko gali selama
ini, asal batu itu digeser kembali pada tempat semula, maka sekalipun ada dewa yang lewat disini
juga tak akan melihatnya"
-000dw000-
Han siong Kie tertarik sekali dengan keanehan watak sahabat barunya ini, ia tertawa dan
menyahut:
"Kalau mainan begitu, aku mohon diri dahulu"
"Pergilah. Aku paling benci dengan segala tata cara, ingat bocah perempuan itu tersekap dalam
rumah besi ketiga, jangan sampai salah "
Han siong Kie mengiakan, dia lantas menggeser guci arak yang dimaksudkan, disana memang
terdapat sebuah lorong yang gelap dan panjang, pemuda itu lantas menerobos keluar lewat jalan
bawah tanah itu.
seperminum teh kemudian ia sudah keluar dari lorong itu, ternyata sekarang dia sudah berada
diluar pekarangan perkampungan itu, maka sebagaimana yang dipesan, ia tutup kembali mulut
gua itu dengan rapi, kemudian baru menyerbu kedalam perkampungan
Baru saja dia melayang turun didepan dua deret bangunan baja, tiba-tiba tiga sosok bayangan
hitam dengan kecepatan bagaikan kilat telah menyambar tiba, ternyata ketiga sosok bayangan itu
adalah tiga ekor anjing yang besar.
Berada ditanah lapang yang luas Han siong Kie tak perlu menguatirkan cakar racun dari anjinganjing
itu lagi, dalam beberapa gebrakan saja ketiga ekor anjing itu sudah dibikin mampus dengan
pukulan mautnya.
suara pekikan panjang yang diperdengarkan anjing-anjing itu sebelum ajalnya, dengan Cepat
mengejutkan seluruh perkampungan.
Suara langkah kaki yang sangat ramai berkumandang memecahkan kesunyian, belasan orang
lelaki yang berdandan sebagai centeng berlarian keluar dari rumah-rumah baja itu.
Tapi setelah mengetahui siapa yang muncul, hampir sebagian besar centeng itu berdiri
tertegun, mimpipun mereka tak menyangka kalau Manusia bermuka dingin yang dikurung dalam
rumah baja telah berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat.
Padahal mereka tahu bahwa baja yang melapisi ruangan- ruangan itu tebalnya mencapai
beberapa depa, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang tinggi juga tak akan mampu untuk
menghancurkannya,
JILID29 HAL. 06/07 HILANG
untuk membunuh kawanan begundal itu, oleh sebab pihak lawan menghadang jalan perginya,
dia baru berhasrat untuk melakukan pembantaian secara keji. "Trang traanng traaang " suara
genta dibunyikan bertalu-talu.
Ber-puluh2 sosok bayangan manusia meluncur masuk kedalam gelanggang, diantara mereka
ada yang tua ada yang muda, semuanya berjumlah lima puluh orang lebih, tapi yang jelas diatas
wajah orang2 itu terlintas rasa kaget yang bukan kepalang.
setelah semua orang munculkan diri, dengan cepatnya pula Han siong Kie terkurung ditengah
gelanggang.
Menyapu wajah orang2 itu dengan pandangan dingin, Han sioog Kie berkata: "Kenapa sampai
sekarang Hoo Thong thian belum juga munculkan diri?"
Dari antara kerumunan orang banyak. tampil kedepan seorang kakek berbaju hitam, dengan
wajah bengis ia menghardik:
"Manusia bermuka dingin, apa maksudmu datang ke mari??"
"Membantai seluruh isi perkampungan ini" jawab pemuda itu dengan ketus
Ucapan yang berbau amis darah ini sangat menyolok dan menggidikkan hati semua orang,
tanpa sadar paras muka orang-orang itu berubah hebat dan bulu kuduknya pada bangun berdiri
Dengan terperanjat kakek baju hitam itu mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan
suara gemetar:
"Apa? Manusia bermuka dingin, engkau akan membantai seluruh isi perkampungan?"
"Benar, tentunya Ho Thong thian masih belum lupa bukan dengan apa yang telah kuucapkan
ketika berada dalam kurungan ruang besi tadi?"
"Tentu saja lohu tak akan lupa, dengan kata-katamu itu" berbareng dengan berkumandangnya
jawaban itu, Ho Thong thian munculkan diri ditengah gelanggang
Hawa napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah Han siong Kie sambil mendengus
dingin ia tuding Ho Thong thian serunya:
"Bangsat tua lebih bagus lagi kalau engkau memang mengingat kata-kataku itu, sekarang juga
kenyataan akan terbeber didepan mata"
Ho Thong thian memandang lawannya dengan penuh kebencian serta kelicikan:
JILID29 HAl 10/11 HILANG
bahkan cara melepaskan senjata rahasia itu pun menggunakan cara ban thian boa yu ( hujan
bunga diseluruh langit).
Han siong Kie mendengus dingin, sepasang telapak tangannya membuat gerakan lingkaran
didepan dada kemudian menolaknya kedepan.
Ditengah hembusan angin puyuh yang kencang, seluruh kilatan cahaya biru itu sudah tersapu
rontok diatas tanah.
Ho Thong thian bertindak cukup licik, berbareng dengan dilancarkannya serangan itu, dia telah
mundur sejauh dua kaki lebih dari kedudukan semula
Gonggongan anjing menderu-deru, kurang lebih dua puluh ekor anjing besar berlarian keluar
dari ruang baja dan langsung menyerbu kedalam gelanggang
semakin tebal hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Han siong Kie, dia melambung
keudara, sepasang telapak tangannya dilontarkan berbareng kedepan, sepuluh desingan ilmu jari
Tong kim ci dengan kecepatan yang luar biasa menghantam tubuh kakek baju hitam serta pria
setengah baya yang melancarkan serangan senjata rahasia itu
Dua jeritan ngeri memecahkan kesunyian, percikan darah segar berhamburan ditanah, tanpa
sempat menjerit, kakek dan pria setengah baya itu sudah mampus dengan badan berlubang.
Han siong Kie tidak berhenti sampai disitu saja, setelah menewaskan dua orang musuhnya dia
melambung keangkasa dan menubruk kearah Ho Thong thian yang sudah kabur sejauh dua kaki
dari kedudukan semula itu.
Sekarang Ho Thong thian baru merasa takut dan seperti kehilangan sukma, cepatt dia
menundukkan tubuhnya dan menggelinding sejauh beberapa kaki dari tempat itu.
Han siong Kie tidak mengira kalau seorang tokoh silat yang punya nama besar seperti Ho
Thong thian, ternyata telah melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari medan pertempuran,
sementara serangannya gagal mencapai sasaran, belasan ekor anjing besar itu sudah menerjang
tiba dengas serangannya.
Disaat Han siong Kie terkurung oleh kawanan anjing tersebut, Ho Thong thian sendiri kabur
menuju kepintu baja yang keempat, mungkin dia hendak menggunakan ruang baja ini untuk
menyembunyikan diri atau mungkin juga dia masih mempunyai rencana busuk yang lain.
Kali ini Han siong Kie bertindak cerdik, dia melambung setinggi beberapa kaki ke udara setelah
lolos dari sergapan kawanan anjing itu badannya berjumpalitan beberapa kali seperti anak panah
terlepas dari busurnya dia meluncur kearah Ho Thong thian, sepasang telapak tangannya seperti
cakar garuda mengcengkeram batok kepala lawan.
Hampir pada saat yang bersamaan, pintu besi itu terbuka dan mereka berdua masuk kedalam
ruangan baja.
"criing" secara otomatis pintu baja itu menutup dengan sendirinya.
Betapa takut dan ngerinya Hoo Thong thian tatkala dilihatnya bukan saja ia gagal untuk
melarikan diri malahan dirinya terjebak dalam satu ruangan bersama musuhnya.
Ia sadar bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, apalagi berada dalam ruangan
yang begitu sempit, mau melawanpun tak ada gunanya.
Han siong Kie sendiri sudah terlanjur membenci musuhnya ini, cepat telapak tangan kiri serta
ujung jari tangan kanannya ditolak kedepan melancarkan serangkaian pukulan gencar ketubuh
Hoo Thong thian yang sedang ketakutan.
Ho Thong thian sendiri kelabakan setengah mati menghadapi ancaman maut itu, mau
menghindar dia tak mampu, akhirnya tidak ampun lagi tubuhnya terhajar telak oleh serangan
maut itu.
sambil menjerit lengkimg dengan suara yang menyayatkan hati, tubuh Hoo Thong thian
mencelat sampai menumbuk dinding baja, dadanya seketika terhajar sampai berlubang darah
segar berhamburan membasahi seluruh lantai.
setelah musuhnya mampus, Han siong Kie baru tertegun, ia baru menyesal sekarang setelah
musuhnya dibunuh mati, bukankah dengan demikian dia terjebak pula dalam ruangan baja itu?
Bangkai keseputuh ekor anjing itu masih menggeletak ditempat semula, hanya kini bertambah
lagi dengan sesosok mayat manusia.
JILID29 HAl 16/17 HILANG
tubuhnya gemetar dengan jantungnya berdebar dan mukanya jadi merah, secara beruntun dia
mundur tiga langkah ke belakang.
sesosok tubuh yang bugil masih melingkar didalam ruang baja itu, dan dara itu tak lain adalah
Go siau bi.
Padahal menurut keterangan dari Tee heng sian jalan darah Go siau bi sudah bebas malahan
serangannya berhasil melukai Ho Thong thian, kalau toh jalan darahnya sudah bebas, kenapa ia
masih berbaring disitu dalam keadaan telanjang bulat ?
Kalau dilihat dari pintu baja yang separuh terbuka,jelas ada orang pernah memasuki ruangan
ini lalu siapakah orang itu ?
Kenapa tidak menolong Go siau bi, melainkan membiarkan dia .....
Berpikir sampai disini, tak kuasa lagi tubuhnya gemetar keras, pikirnya lebih jauh:
"Aduh celaka, jangan-jangan Go siau bi sudah mengalami...."
Karena kuatir tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu menerjang masuk ke dalam ruangan,
meskipun jantungnya
JILID 29 Hal 19 S/D 24 HILANG
merahnya sehingga tidak menetes ke bawah, ujarnya lagi dengan sedih:
"Sejak pertama kali aku bertemu dengan kau, aku telah mencintai dirimu, engkau adalah orang
pertama yang kucintai juga merupakan orang terakhir yang kucintai, sekalipun aku mencintai
dirimu dengan sepenuh hati dan aku tidak mendapatkan balasan yang sewajarnya tapi aku
memang mencintai kau, cintaku adalah cinta suci yang muncul dari lubuk hatiku, asal kau tahu aku
sudah merasa puas. Aaai . . karena pikiran yang keliru hampir saja aku melakukan kesalahan
besar, terimakasih kuucapkan kepadamu, karena engkau telah memberi kesempatan kepadaku
untuk menebus dosa-dosa itu"
Rasa cinta Han siong Kie benar-benar tersentuh oleh perkataanya itu, detik itu juga ia merasa
bersalah karena pendapatnya yang keliru ini telah menghancur lumatkan rasa cinta dirinya yang
nyata ia telah menyakiti perasaan seorang gadis yang membuat dara itu hampir saja melakukan
kesalahan besar.
"Nona, maafkanlah kesalahanku . ." bisiknya kemudian.
-000dw000-
BAB 60
Go SIAU BI segera ulapkan tangannya dan mencegah pemuda itu meneruskan kata-katanya
"Han siangkong, biarlah kusebut engkau dengan sebutan seperti yang kugunakan ketika untuk
pertama kalinya aku bertemu dengan engkau, sekarang engkau tak usah minta maaf kepadaku,
biarkanlah kejadian yang sudah lewat jadi kenangan, sekarang tegasnya mulai detik ini untuk
menebus semua dosa yang pernah kulakukan semoga engkau baik-baik menjaga diri"
Tak tahan lagi air matanya jadi berderai membasahi seluruh wajahnya yang putih dan halus.
Go siau bi telah berlalu pergi dengan membawa perasaan hatinya yang hancur.
Han siong Kie ingin memanggil dara itu tapi ia tidak berbuat demikian, pemuda itu hanya
berdiri termangu-mangu di dalam bangunan rumah baja itu.
Ia merasa bagaikan sedang bermimpi suatu impian buruk yang sebetuinya adalah kenyataan,
dengan suara yang lirih ia cuma dapat bergumam. .bergumam seorang diri dengan suara yang
lirih:
"sebenarnya apa yang kau lakukan? Benarkah tindakanku selama ini ? Ataukah tindakanku itu
keliru besar?"
Namun ia tak berhasil menemukan jawabannya.
Dengan mengorbankan segala-galanya Go siau bi berusaha untuk mendapatkan dirinya, tapi
sekarang setelah mengalami kejadian tersebut, ia telah pergi dengan keraskan hati dan telah
memutuskan perasaan cintanya.
sementara dia masih melamun, dari kejauhan terdengar serentetan jeritan ngeri berkumandang
memenuhi seluruh angkasa, jeritan tersebut segera menyadarkan kembali pemuda itu dari
lamunannya
Ia lantas menduga kalau Go siau bi sedang melaksanakan pembalasan dendamnya atas orangorang
dari perkampungan oh hau san ceng
JILID29 HAL. 28/29 HILANG
diharuskan menolong Go siau bi. Kalau toh ia dapat membuka pintu baja itu, mengapa ia tidak
membawa Go siau bi yang telanjang bulat, sebaliknya diserahkan kepadanya? Kenapa..? Kenapa ?
Pemuda itu benar-benar merasa tidak habis mengerti.
"Eeeh lo-te, aku lihat pikiranmu kurang tenang dan wajahmu gugup sekali hayo, apa yang telah
kau lakukan?" tiba tiba Tee heng sian menegur sambil tertawa cengar- cengir.
"Aku..." Han siong Kie tertawa jengah
"Dimana bocah perempuan yang telah kau tolong itu?"
"Dia... dia telah pergi"
"Pergi? Pergi seorang diri?"
Dengan sedih Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan. Tee hee sian berkata lebih
jauh.
"Tahukah engkau, kenapa orang yang ada maksud membunuh orang dan membakar
perkampungan ini?"
"Mungkin juga dia hendak melampiaskan rasa dendam dan mendongkol dari Go siau bi"
"Lalu setelah urusan disini telah selesai, kau hendak pergi kemana. ?"
Han siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
kemudian baru menjawab: "..Aku pikir hendak mengunjungi lembah in wu kok"
"Lembah In wu kok? Aneh benar nama tersebut, dimana toh letak lembah yang aneh itu?"
"Kurang lebih setengah jam lamanya dari tempat ini, lembah In wu kok adalah sebuah lembah
aneh yang terpencil sekali letaknya"
"siapa yang beri tahu kepadamu kalau lembah itu bernama in wu kok?" Han siong kie
tersenyum.
"ooh aku sendiri yang menamakan lembah tersebut, dengan sebutan lembah In wu kok, coba
lihatlah bukankah disitu penuh dengan kabut yang amat tebal?"
"Aaah saudaraku, tempat itu bukan bernama lembah In wu kok melainkan adalah Lembah
kematian yang dianggap setiap umat persilatan sebagai daerah terlarang, keseraman dan
kengerian yang menyelimuti lembah tersebut sama sekali tak kalah dengan kemisteriusan benteng
maut yang tersohor itu"
"Lembah kematian?"
Benar, lembah itu sangat berbahaya.. setiap orang yang berani memasuki lembah itu berarti
mengantar kematian diri sendiri sebab semua orang yang sudah masuk ke dalam lembah itu,
selamanya tak akan bisa munculkan diri dalam keadaan selamat"
Hebat sekali perobahan wajah Han siong Kie, untuk sesaat dia termenung lalu baru berkata:
"Semula aku masih mengira lembah itu hanya sebuah lembah terpencil yang jarang sekali
dikunjungi manusia"
"Loo te" Tiba2 Tee heng sian berkata dengan wajah serius "kalau toh engkau sama sekali tidak
kenal akan lembah kematian, mau apa kau kunjungi lembah tersebut??"
"Aku... sebenarnya aku hendak mempelajari sejenis ilmu silat didalam lembah itu"
”Kalau toh cuma ingin mempelajari sejenis ilmu silat, mengapa kau pilih tempat semacam itu??"
"Sebab aku lihat tempat itu jauh dari keramaian dunia dan jarang sekali dikunjungi manusia,
aku takut latihanku terganggu oleh kehadiran manusia lain maka aku hendak mencari tempat yang
sepi dan terpencil itu sebagai tempat latihanku"
"saudaraku kalau engkau percaya dengan kata2ku ini, lebih baik batalkan saja niatmu itu"
Masih mendingan kalau Tee heng sian tidak berkata, semakin dilarang pergi kesitu semakin
besar pula rasa ingin tahu yang timbul dalam hati Han siong Kipikirnya:
"Apa salahnya kalau aku pergi melakukau penyelidikan? Akan kulihat sebenarnya macam
apakah lembah kematian tersebut"
Tapi ia merasa tak tega untuk menolak kebaikan orang, maka ia manggut-manggut berulang
kali.
"Baiklah, aku akan pertimbangkan lagi rencana ini, terima kasih atas peringatan dari engkoh
tua, kau..."
sebelum pemuda itu menyelesaikan kata2nya Tee heng siang telah tertawa cekikikan seraya
menukas:
JILID29 HAL. 34/35 HILANG
Pemuda itu menghela napas panjang, pikirnya:
"Aaai. sayang adik Hui telah kembali kealam baka, tapi benarkah ia telah mati Bukankah orang
yang ada maksud telah berkata bahwa adik Hui tak akan mati?" Lama sekali pemuda itu
termenung, selang sesaat kemudian pikirnya lebih jauh:
"Kalau dia tidak mati, meagapa ia tak muncul kembali dari benteng mautnya, Apakah ia lupa
masih ada janji dengan aku? Lupakah dia ketidak munculannya berarti suatu bukti padaku bahwa
ayahnya adalah pembunuh keluargaku?"
setelah termanggu2 sejenak pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya memasuki lembah
itu
Kabut yang menyelimuti angkasa kian menebal, meskipun Han siong Kie memiliki ketajaman
mata yang dapat memandang pemandangan sekitar tiga kaki, namun tiada satupun yang terlihat
olehnya.
"Aneh." kembali pemuda itu membatin, menurut Tee heng sian lembah kematian adalah suatu
daerah terlarang yang sangat disegani oleh setiap umat persilatan di dunia ini, malahan katanya
siapa berani masuk maka dia tak ada harapan untuk keluar dalam keadaan selamat, kini aku
sudah lama masuk kedalam wilayah ini, kenapa tiada sesuatu apapun yang berhasil kutemui . ." "
Setelah termenung sebenter ia membatin lagi:
"Jangan-jangan berita yang tersiar dalam dunia persilatan tak bisa dipercaya kebenarannya?"
Satu li kembali sudah dilewati oleh Han siong Kie, namun tiada sesuatu apapun yang terlihat.
Akhirnya mata yang tajam itu membentur dengan sesuatu benda, mendadak saja tubuhnya
menggigil keras jantungnya berdebar tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya.
Sebuah batu besar yang penuh dengan lumut hijau terpancang di depan matanya, di atas batu
tugu itu terteralah beberapa tulisan dengan huruf yang amat besar: "PERBATASAN ANTARA MATI
DAN HIDUP
JILID 29 HAL. 38/39 HILANG
Pemuda itu celingukan memandang sekeliling tempat itu, ketika ditemukan sebuah batu cadas
kurang lebih empat kaki disamping tempat itu, cepat ia berkelebat kebelakang batu itu dan
menyembunyikan diri
sekejap mata kemudian belasan sosok bayangan manusia telah munculkan diri didepan batu
peringatan tersebut.
Rombongan itu dipimpin oleh dua orang kakek berjubah hitam sedang kan sisanya adalah dua
belas orang laki-laki yang memakai, baju ringkas warna hitam pula.
Di atas dada kedua orang kakek berjubah hitam itu masing2 bersulamkan lukisan rembulan dan
matahari dan bintang.
Begitu menyaksikan lambang yang tertera diatas dada kakek berjubah hitam itu, Han siong Kie
merasakan hatinya bergetar keras, sebab lambang tersebut tidak terlalu asing baginya, dia merasa
se-akan-akan pernah menjumpainya disuatu tempat.
setelah dipikirkan beberapa saat pemuda itu teringat kembali, ia masih ingat bagaimana orang
yang kehilangan sukma telah membunuh Tengkorak maut gadungan dengan lencana Thian Che
leng, dan di atas lencana itu terteralah lukisan Matahari, rembulan dan bintang.
Itu membuktikan pula bahwa rombongan yang barusan tiba disana tak lain adalab anak buah
dari perkUmpulan Thian Che kau.
seingatnya diantara anggota perkumpulan Thian Che kau yang pernah ditemuinya, belum
pernah ada diantara mereka yang munculkan diri dengan diatas dadanya tertera lambang
matahari rembulan serta bintang, pemuda itu mulai berpikir-pikir, jangan2 kedudukan dua orang
kakek tua itu memang sangat istimewa??
sementara itu salah seorang diantara dua orang kakek berjubah hitam itu sudah menyapu
sekejap sekeliling gelanggang, kemudian kepada rekan-rekannya dia berkata.
"saudara see bun, masakah bocah keparat itu bisa terbang kelangit atau tenggelam kedasar
bumi? Kenapa jejaknya lenyap dengan begitu saja tanpa meninggalkan bekas?" Kakek baju hitam
yang disebut saudara see bun itu menjawab:
"saudara Nyoo, menurut pandanganku mungkin saja bocah keparat itu telah mengetahui jejak
kita semua maka sengaja ia mencari tempat yang bersembunyi untuk menyembunyikan diri "
"sekalipun ia sedang bersembunyi toh penggeledahan yang kita lakukan cukup ketat, masa
pencarian ini sangat teledor sampai tempat persembunyian musuh sama sekali tidak ketahuan ?"
"Walaupun demikian kabut toh terlalu tebal disekitar tempat ini, siapa tahu kalau
penggeledahan kita memang kurang teliti ?"
"Mungkinkah mata2 kita telah salah melihat orang ?" tanya orang she Nyoo lagi.
"Aaah tidak mungkin Tanda2 yang dimiliki manusia bermuka dingin sangat istimewa sekali,
rasanya susah untuk mencari orang kedua yang memiliki ciri2 seperti dia "
Hampir saja Han siong Kie mendcngus dingin apa lagi setelah diketahui olehnya bahwa
kemunculan rombongan itu tak lain adalah sedang mencari jejaknya.
"Jangan-jangan bangsat muda itu sudah melampaui perbatasan antara hidup dan mati?"
kembali kakek she Nyoo itu mengutarakan pendapatnya. Dengan cepat kakek she see bun itu
menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aah.. soal ini tak mungkin, sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tak nanti ia bisa lolos dari
kematian bila berani melewati perbatasan ini, tak nanti dia datang hanya untuk menghantar
kematian belaka"
"Yang lebih aneh lagi, entah apa sebabnya bocah bangsat itu datang mengunjungi lembah
kematian??"
"Aku mana tahu, mungkin cuma dia seorang yang mengetahui apa tujuannya datang kemari"
"Lalu apa yang musti kita lakukan sekarang??"
"Mulut lembah sebelah depan toh sudah dijaga oleh jago2 lihay kita, mari kita lanjutkan
penggeledahannya disekitar tempat ini, aku tak percaya kalau dia sudah dapat terbang ke langit
atau menyusup kedalam tanah."
"Andaikata penggeledahan kita ini cuma sia-sia belaka??"
JILID29 HAL. 44/45 HILANG
laki-laki berpakaian ringkas itu segera menyambarkan diri dan membentuk gerakan setengah
lingkaran untuk melakukan pengepungan yang ketat.
Telapak tangan kilat see bun Lui maupun pui hunp yan Nyoo Yong serentak berpaling pula
kearah anak muda itu, dengan sinar mata berwarna hijau tajam mereka menatap musuhnya tanpa
berkedip. dari kilatan cahaya mata itu dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki kedua
orang itu benar2 sudah mencapai puncak kesempurnaan.
Agak terkejut juga Han siong Kie setelah menyaksikan kesempurnaan tenaga dalam yang
dimiliki musuhnya, namun ia tak gentar, dengan pandangan yang tak kalah dinginnya ia balas
menatap kedua orang lawannya.
"Jadi engkau yang bernama Manusia yang bermuka dingin?" tegur Tui hun pan dengan wajah
dingin.
Han siong Kie mendengus dingin. "Hmm Ucapanmu memang tepat sekali."
"Bangsat, engkau akan menyerahkan diri dengan begitu saja ataukah hendak memaksa aku
untuk turun tangan?"
"Huuh manusia macam kalian pun hendak membekuk aku" ejek sang pemuda sambil tertawa
sinis "Hmmm sebutkan dulu siapa nama kalian"
"Bocah keparat, dengarkan baik-baik kata-kata kami ini" seru see bun Li dengan cepat, "kami
berdua adalah Utusan khusus dari Thian che kau, dua jago lihay diantara sepuluh tokoh paling
tinggi kedudukannya dalam perkumpulan kami.."
"Utusan khusus Haaahh haaahh haahh aku rasa kalian toh tak lebih cuma begundal bayaran
belaka"
Ucapan itu dianggap sebagai penghinaan besar bagi dua orang kakek tua itu, betapa gusarnya
oran2 itu sukar dilukiskan dengan kata-kata.
"Bangsat, rupanya engkau sudah bosan hidup?" bentak mereka hampir bersamaan waktunya.
Dliringi bentakan nyaring see bun Lui melambung tiga kali ke tangah udara, kemudian secepat
kilat melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Han siong Kie.
serangan tersebut memang luar biasa cepatnya dan tak malu disebut bagaikan sambaran kilat,
pada saat yang
JILID29 HAL. 48/49 HILANG
Han siong Kie dengan andalkan tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan itu
melakukan inisiatip untuk menyerang gencar, sekalipun dia telah berusaha dengan segenap
kemampuan yang dimiliki, itupun hanya berhasil memaksa lawannya untuk bertarung dalam
keadaan seimbang alias sama kuat.
Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun menang kalah masih belum bisa
ditentukan.
Memang seram dan mengerikan jalannya pertarungan itu, bukan saja angin menderu dan
bahkan dunia terasa jadi gelap, membuat dua belas orang laki2 berpakaian ringkas yang ada
disamcing gelanggang diam2 merasa bergidik.
setelah berhenti sebentar untuk mengatur pernafasan, see bun Li terjun kembali ke dalam
gelanggang pertarungan, rupanya dia pun menyadari bahwa kekuatan pihak lawan terlalu
tangguh, tak mungkin salah seorang dari pada mereka berhasil menaklukkan lawannya andaikata
tidak turun tangan secara bersama:
Dengan cepat situasi dalam gelanggang pertarungan mengalami perubahan.
Dua orang tokoh sakti dengan meng andalkan kekuatan mereka yang paling top berusaha
menghancurkan lawannya, kedahsyatan angin pukulan yang mereka hasilkan benar2 mengerikan
sekali.
Dalam keadaan demikian, Han siong Kie dipaksa untuk mengambil langkah2 pertahanan,
dia mainkan ilmu Mo mo ciang hoat bagian pertahanan untuk menutup semua bagian tubuhnya
dari kemungkinan terserang musuh, kalau sebentar saja masih mendingan tapi lama kelamaan
diapun mulai terdesak hebat. sepuluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa...
Han siong Kie semakin terdesak hebat sehingga selangkah demi selangkah mundur terus
kebelakang..
satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Akhirnya pemuda itu sudah melampaui garis pemisah
yang merupakan perbatasan antara mati dan hidup,
Menyaksikan kejadian itu baik see bun Lui yang bergelar telapak tangan kilat maupun Nyoo
Yong yang berjulukan Hakim pengejar sukma sama-sama menarik kembali serangannya dan
mundur kebelakang.
Perbatasan antara mati dan hidup .. suatu wilayah angker yang tak berani dilewati oleh
siapapun.
Han siong Kio masih belum merasa kan akan hal itu, kembali ia mundur beberapa langkah
kebelakang.
sekarang Han siong Kie sudah berada satu kaki lebih dibalik garis pemisah yang disebut
perbatasan antara mati dan hidup itu, namun tiada sesuatu kejadian yang menimpa dirinya, ia
tetap utuh, sehat dan tak kekurangan sesuatu apapun.
Belasan orang jago lihay dari Thian che kau mulai menunjukan sikap kebingungan dan tidak
habis mengerti, sampai2 mereka berdiri dengan wajah melongo.
-ooodwooo-
BAB 61
LEMBAH kematian- suatu daerah terlarang yang dianggap angker serta mengerikan bagi umat
persilatan, wilayah itu dipisahkan oleh sebuah garis yang dinamakan perbatasan antara mati dan
hidup, selama banyak tahun tak seorang manusiapun sanggup melewati perbatasan tersebut
dalam keadaan hidup,
Tapi sekarang Manusia berwajah dingin telah menyeberangi perbatasan itu sejauh beberapa
kaki tanpa mengalami sesuatu kejadian apapun, kejadian ini benar merupakan sesuatu peristiwa
yang aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Tatkala pihak musuh menarik kembali serangannya tadi, tanpa terasa Han siong Kie lelah
mundur kembali beberapa langkah kebelakang, menanti ia rasakan perubahan yang aneh pada
wajah musuhnya pemuda itu baru sadar bahwa ia telah melangkah masuk ke dalam wilayah yang
tersohor karena angkernya itu.
JILID29 HAL. 54/55 HILANG
Thian che kaucu untuk menyelesaikan sendiri persoalan ini.
Diam2 Han siong Kie menguatirkan kemampuan Thian che kaucu sebab kalau ditinjau dari
kemampuan yang dimiliki kedUa orang utusan khusus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
tenaga dalam yang dimiliki ketua mereka benar- benar telah mencapai puncak kesempurnaan
yang tak terhingga, ia jadi terbayang kembali akan peristiwa dimasa lalu sewaktu dia menyerbu
wilayah Lian huan yau untuk menolong Go siau bi, ketika itu ia telah berjumpa dengan seorang
manusia barkerudung yang mangaku sebagai ketua perkumpulan tapi akhirnya ia bukti bahwa dia
tak lebih cuma penyaruan dari salah satu diantara sepuluh jago tangguh perkumpulan.
Anak muda ini mulai berpikir, mengapa Thian che kaucu tak berani munculkan diri sebaliknya
suruh orang lain untuk menyaru sebagai dirinya?" Mungkinkah dibalik semuanya ini sebetulnya
masih tersimpan rahasia lain?
Yang lebih aneh lagi, ternyata pihak Thian che kau telah mengerahkan segenap kemampuan
yang dimiliki untuk menghadapi dirinya seorang, malahan ketuanya turun tangan sendiri untuk
memimpin operasi tersebut, hal ini menandakan kalau pihak mereka memandang serius persoalan
tersebut, lalu apa sebabnya mereka bersikap drmikian?" Tiba2 Nyoo Yoong, hakim pengejar sukma
berseru dengan suara dalam:
"Bocah keparat, beranikah engkau menyeberang kemari untuk melangsungkan pertarungan
seru dengan kami?"
Han siong Kie sendiripun tak tahu apa sebabnya ia bisa menyeberangi perbatasan mati dan
hidup tanpa cedera, namun ia tahu bahwa musuh- musuhnya tak berani menyeberangi wilayah
angker itu dam selalu memanaskan hatinya agar dia menyeberang kembali ke sana. Maka sambil
tertawa dingin, ejeknya:
"Bangsat tua, kenapa bukan kalian yang menyeberang kemari? Kalau memang jantan hayolah
kemari"
Perasaan jengah dan serba kikuk muncul diatas wajah Nyoo Yong maupun see bun
JILID29 HAL. 58/59 HILANG
Nyio Yong yang sedang melayang diudara, se akan2 burung yang kena dipanah, tahu-tahu
badannya menukik ke bawah dan roboh keatas tanah. la mati secara misterlus.
Hakim pengejar sukma Nyio Yong telah tewas dihadapan rekan2nya, namun tak seorangpun
yang tahu apa sebabnya tiba2 ia mampus, jangankan mereka sekalipun Han siong Kie yang
berada beberaps depa dihadapannya juga tak melihat sebab musabab yang mengakibatkan
kematian jago lihay itu
Pucat pias wajah para jago dari Thian che kau, rata- rata mereka berdiri tertegun dengan
sukma merasa melayang tinggalkan raganya, kejadian ini sama sekali diluar dugaan semua orang.
Han siong Kie sendiripun terkejut sampai-sampai keringat dingin membasahi jidat dan
punggungnya .
Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kematian Nyio Yong yang secara tiba2 namun ia
tak tahu apa yang menyebabkan kematian musuhnye itu, untuk sesaat ia jadi tertegun dan berdiri
termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ditatapnya mayat Nyoo Yong tanpa berkedip. sementara pikirannya melayang entah sampai
dimana.
Mendadak terdengar jeritan kaget berkumandang lagi memenuhi angkasa, suatu pemandangan
yang sangat mengerikan telah berlangsung didepan mata.
Begitu mencium tanah, mayat Nyoo Yong yang masih hangat itu ternyata meleleh dan
mengalami pembusukan dengan cepat, kemudian selang sesaat mayat itu sudah hancur tinggal
tulang kerangkanya belaka.
Hampir saja Han siong Kie menjerit kaget, bulu kuduknya pada bangun berdiri, kejadian aneh
ini belum pernah ditemuinya semenjak dahulu kala, tidak sampai setengah perminum teh salah
seorang tokoh silat yang berilmu tinggi telah berobah jadi seonggokan tulang kerangka yang putih
mengkilat, bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapakah yang akan percaya bahwa
peristiwa semacam itu benar2 telah terjadi di depan mata ?
Lewat lama sekali dia ter-mangu2, setelah rasa kagetnya hilang ia baru berpaling memandang
ke belakang, pada ujung lembah tersebut ia saksikan sebuah gundukan tanah berbukit, beberapa
pohon raksasa yang amat besar tumbuh disekitar gundukan tanah itu
Di belakangnya adalah sebuah tebing dan sebuah bukit yang tinggi menjulang keangkasa
demikian tingginya bukit itu sehingga menembusi kedalam awan.
Dengan langkah yang ragu-ragu dan penuh kesangsian pemuda itu melanjutkan perjalanannya
memasuki lembah itu dan mendekati gundukan tanah yang berada didepan mata.
Beberapa kaki sebelum mencapai gundukan tanah tadi tiba2 pemuda itu berseru tertahan dan
berhenti.
Di bawah dua batang pohon raksasa berdirilah sepasang makhluk hitam putih yang
mengerikan..
Mereka sama-sama memelihara rambut yang panjang cuma yang hitam sekujur tubuhnya
berwarna hitam pekat sebaliknya yang putih luar biasa putihnya bagaikan salju.
Dengan seksama anak muda itu mengawasi beberapa saat makhluk itu, sekarang ia dapat
memastikan bahwa mereka adalah manusia, sepasang manusia aneh berwama hitam dan putih,
hatinya terasa makin bergidik,
Kedua orang itu duduk bersila saling berhadapan, ke empat buah telapak tangannya
direntangkan kedepan sejajar dengan dada, selisih jarak kedua belah pihak cuma terpaut tiga kaki.
Han siong Kin tertegun- .apa yang telah terjadi? " sekilas pandangan dua orang jago itu
bagaikan sedang mengadu tenaga dalam, tapi mirip juga sedang melatih sejenis ilmu silat.
Bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir saja ia tak percaya kalau dikolong
langit sebenarnya terdapat manusia seaneh itu, yang hitam kulitnya benar- benar hitam mengkilap
seperti tinta, apalagi jubahnya berwarna hitam pula membuat orang itu betul2 serba hitam.
sebaliknya yang putih demikian putihnya seperti sesosok mayat hidup bukan rambutnya
berwarna putih, jubah maupun sepatunya juga berwarna putih. suatu perbedaan warna yang amat
kontras sekali.
JILID29 HAL. 64 HILANG
Dua orang makhluk aneh itu tetap duduk kaku ditempat semula, mereka tidak membuka
matanya pun tidak berkutik barang sedikitpunjuga, padahal semestinya mereka tahu bahwa ada
orang yang mendekati tempat tinggal mereka, terbukti hawa khikangnya telah dipancarkan
melindungi wilayah seluas tiga kaki disekeliting tubuh mereka.
Agak penasaran Han siong Kie ketika tak mampu menerjang maju kedepan dan menghimpun
tenaga dalamnya dan secara paksa menerjang masuk kedalam lingkaran hawa khikang lawan.
Tiba2 dua orang makhluk aneh itu bersamaan waktunya menurunkan telapak tangan mereka
kemudian membuka matanya:
Empat buah sinar mata yang setajam sembilu serentak ditujukan keatas wajah Han siong Kie.
Pada saat ini tenaga dalam yang dimiliki si anak muda itu sudah mencapai dua ratus tahun hasil
latihan, walaupun begitu ketika ditatap secara tajam oleh musuhnya tak urung bergidik juga
hatinya, cepat ia hentikan langkah kakinya membalas memandang lawannya dengan sinar mata
yang tak kalah tajamnya.
Per lahan2 dua orang manusia aneh itu bangkit berdiri dari atas tanah.
sekarang Han siong Kie baru dapat melihat jelas bahwa kedua orang makhluk aneh itu adalah
seorang pria dan seorang wanita, yang laki2 berkulit hitam berambut hitam dan berjubah hitam,
keadaannya tak berbeda dengan balok kayu yang hangus bekas terbakar sedangkan yang
perempuan berambut putih berkulit putih dan berbaju putih, putih seperti batang kayu yang dilapis
saiju.
41
Begitu jelek dan menyeramkan bentuk serta potongan tubuh mereks membikin hati orang jadi
tercekat dan seram.
Han Siong kie boleh dibilang berilmu tinggi dan bernyali besar namun berada dalam keadaan
begini berdiri juga bulu kuduknya.
Mungkinkah makhluk hitam dan putih ini adalah pemilik Lembah Kematian . . ?
Ingatan tersebut melintas didalam benaknya, sementara itu sepasang makhluk aneh itu sudah
berdiri dan saling mengangguk, tiba2 mereka maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan
Han Siong Kie seraya berkata: "Hek pek siang yu menghunjuk hormat kepada majikan"
Kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Han Siong Kie secara beruntun dia mundur lima
langkah kebelakang, untuk sesaat pemuda itu tak mampu berkata2 karena tercengangnya.
Sepasang makhluk aneh yang mengaku Hek pek siang yu, sepasang siluman hitam putih ini
ternyata menyembah dihadapannya sambil menyebut majikan kepadanya, kejadian ini benar2
suatu kejadian yang sangat aneh.
"Hek pek siang yu menghunjuk hormat buat majikan" untuk kedua kalinya sepasang makhluk
aneh itu memberi hormat.
Kali ini Han siong Kie mendengar perkataan itu dengan lebih jelas lagi, sekarang ia baru tahu
bahwa dua orang makhluk aneh itu ternyata tak lain adalah Hek pek siang yu yang sudah puluhan
tahun lamanya lenyap dari permukaan bumi.
Meskipun masa berkelana Hek pek siang yu dalam dunia persilatan amat singkat, namun
pembantaian maut yang mereka lakukan tak terbilang banyaknya.
Bagi pandangan umat persilatan, kedua orang ini adalah iblis pembunuhan manusia yang tak
berkedip. banyak orang segan dan takut kepadanya.
Dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti, Han siong Kie berseru dengan gelagapan:
"Majikan-.? Aku.."
"Betul majikan, engkaulah majikan kami"jawab siluman putih dengan hormat.
sekali lagi Han siong Kie mundur selangkah lebar kebelakang, dia benar2 kebingungan:
"Bagaimana mungkin ? Bagaimana mungkin masa aku adalah majikan kalian??"
"Kami telah bersumpah barang siapa bisa melewati perbatasan mati dan hidup dalam keadaan
selamat dan orang pertama yang bisa menginjakkan kakinya di wilayah lembah Kematian, maka
dialah majikan dari kami kakak adik seperguruan berdua "
"oooh.jadi kalian adaiah suheng moay ??"
"Benar "
"Mengapa kalian hendak menganggap orang pertama yang memasuki wilayah ini sebagai
majikan?" tanya sianak muda itu lagi.
"sebab hanya orang yang berkepandaian tinggilah yang bisa tiba ditempat ini dalam keadaan
selamat, pun juga dia seoranglah yang bisa menolong kami berdua lolos dari tempat ini, selama
lima puluh tahun berselang majikan adalah orang pertama yang bisa tiba dilembah kematian ini
dalam keadaan selamat."
"Jadi kalian bukan penghuni tempat ini, melainkan adalah tawanan yang disekap di sini?".
"Benar" sepasang makhluk aneh itu mengangguk tanda membenarkan.
"Dan kalian telah disekap selama lima puluh tahun lamanya."
"Benar" untuk kesekian kalinya dua orang itu mengangguk.
"siapa yang menyekap kalian ditempat ini?"
"Pemilik benteng maut"
"Apa?" " seru Han siong Kie dengan perasaan terperanjat "jadi kalian disekap pemilik benteng
maut dalam Lembah Kematian ini"
"Begitulah kejadiannya"
"silahkan kalian berdua bangkit berdiri kemudian baru kita lanjutkan pembicaraan ini"
"Kalau begitu majikan telah mengabulkan permintaan dari kami suheng moay berdua ?" tanya
siluman putih sambil mengernyitkan sepasang alis matanya. Han siong Kie termenung dan berpikir
beberapa saat lamanya, kemudian menjawab: "Tentang soal ini..."
"Ketahuilah majikan, bahwa kami berdua sudah menunggu selama lima puluh tahun, atas
tibanya kejadian besar ini" sambung si hitam dengan cepat.
Andai kata tingkah laku Hek pek siang yu di masa talu tidak buas dan keji, niscaya sedari tadi
Han siong Kie sudah mengambil keputusan, tapi justru karena dua orang itu adalah gembong iblis
yang berbahaya, maka mau tak mau dia musti mempertimbangkan dulu permintaan mereka
sebelum akhirnya mengambil keputusan. Maka sesudah termenung sebentar ia baIik bertanya:
"Jadi tujuan kalian adalah mengharapkan agar aku bersedia membawa kalian keluar dari
lembah ini ?"
"Begitulah kira2 maksud kami"
"Apakah kalian yakin kalau aku dapat membawa kalian berdua keluar dari lembah ini ?"
"Tentang soal ini.." sepasang manusia aneh itu agak termangu sebentar, tapi kemudian
serunya "Perduli bagaimanapun juga, inilah sumpah dari kami berdua pada lima puluh tahun
berselang. kami telah bersumpah untuk menganggap orang pertama yang masuk kelembah ini
sebagai majikan kami, selama hidup kami akan menuruti perintahnya, tentang soal mau keluar
dari lembah kematian atau tidak. kesemuanya ini terserah pada kebijaksanaan majikan sendiri"
"Betul sumpah kalian adalah begitu? " Han siong Kie menegaskan lebih jauh.
"Betul "
"Dan sumpah kalian itu selamanya takkan dilanggar??"
"Selamanya kami takkan melanggar "
"Baik, aku mengabulkan permintaan kalian"
"Bolehkah kami mengetahui siapa nama majikan ?"
"Aku adalah manusia bermuka dingin Han siong Kie, ciangbunjin yang akan memerintah di
istana Huan mo kiong "
Dengan penuh rasa hormat sepasang siluman hitam putih menyembah majikannya, kemudian
bangkit berdiri
Pelbagai keheranan dan pertanyaan berkecamuk dalam benak anak muda itu, namun dia tak
tahu persoalan itu musti ditanyakan mulai dari bagian yang mana.
Menurut pengakuan sepasang siluman hitam putih, mereka telah disekap oleh pemilik benteng
maut didalam lembah kematian ini pada lima puluh tahun berselang, sedangkan menurut berita
yang tersiar dalam dunia persilatan baru tiga puluh tahun berselang Temgkorak maut munculkan
diri didunia.
Bila ia tinjau dari usia Tonghong Hui yakni putrinya, kira2 Tengkorak maut telah berusia enam
puluh tahunan lebih atau tujuh puluh tahun sekarang, mungkinkah pada lima puluh tahun
berselang ia sudah memiliki kemampuan untuk menaklukkan sepasang siluman hitam dan putih
yang tersohor karena kelihayannya?
Berpikir sampai disini, dengan wajah serius dia lantas bertanya kepada kedua orang itu:
"Benarkah kamu berdua disekap selama lima puluh tahun ditempat ini.?"
"Betul majikan"jawab siluman putih dengan Cepat.
"Dan kamu disekap oleh Pemilik benteng maut?"
"Benar!"
"Benarkah pemilik benteng maut bergelar juga Tengkorak maut?"
Mendengar pertanyaan itu sepasang makhluk aneh tersebut tampak tertegun dan keheranan:
Lama sekali siluman putih baru menjawab:
"Tengkorak maut? belum pernah kami dengar dengan sebutan nama seperti itu"
"Lalu apakah sebutan lain dari pemilik benteng maut yang menyekap kalian disini?" seru Han
siong Kie dengan sepasang alis matanya berkernyit.
"Kami berdua cuma tahu dia bernama pemilik benteng maut, yang lain sama sekali tidak tahu"
"Yaaa hal ini memang tak bisa salahkan kalian memang sudah terlalu lama kami berdua disekap
ditempat ini, jadi setelah keluar dari lembah ini kalian bersiap sedia untuk mencari balas dengan
pemilik benteng maut?"
Dengan ketakutan sepasang siluman hitam putih mundur selangkah kebelakang sahutnya:
"Tidak. .kami tidak berani berbuat demikian "
"Tidak berani ? Kenapa tidak berani ?" tanya si anak muda itu dengan perasaan tercengang.
Dengan menundukkan kepalanya siluman hitam menjawab:
"Berkat petunjuk dan bimbingan dari beliau, kami berdua dapat melepaskan diri dari dosa yang
amat berat, budi ini belum kami balas, mana berani kami menuntut balas kepadanya?"
"Bukankah kalian berdua yang mengatakan sendiri, bahwa kalian telah disekap disini oleh
pemilik benteng maut??"
"Benar, tapi perbuatannya ini boleh dibilang sebagai maksud baik dari dia orang tua"
"Maksud baik ? Apa maksud perkataanmu itu ?"
"Dia orang tua suruh kami berdiam dan hidup dilembah ini sambil menyesali perbuatan yang
telah kami lakukan selama ini, malahan mewariskan pula ilmu silatnya kepada kami" Berubah
hebat air muka Han siong Kie sehabis mendengar keterangan itu, serunya:
HAL. 14 S/D 17 HILANG
"Terima kasih atas kemurahan hati majikan "
Han siong Kie mendengus dingin ujarnya kemudian:
"Apakah aku boleh tahu apa maksud dan tujuan yang sebenarnya dari kamu berdua ketika
hendak mengangkat sumpah aneh itu dimasa lalu ?"
siluman putih menghela napas panjang setelah termenung sebentar sahutnya dengan wajah
serius:
"Panjang sekali kisahnya untuk diceritakan bagaimana kalau majikan berkunjung dulu ke rumah
kediaman hamba berdua, disitu barulah kami bercerita panjang lebar ?"
Han siong Kie berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk:
Dengan sikap yang sangat hormat Siluman putih mengiakan, bergeraklah perempuan aneh itu
menuju kearah tebing curam dibelakang gundukan tanah itu. sementara siluman hitam mengiringi
di belakang anak muda itu.
selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didalam sebuah goa yang lebar dan cukup
luas, siluman putih segera bergeser kesamping dan mempersilahkan majikannya untuk masuk
lebih dulu katanya:
"Majikan, pemilik benteng maut juga berdiam didalam gua batu ini" sambil menuding kearah
batu karang disebelah kiri lanjutnya:
"Itulah dia tempat mengasingkan diri dibalik tebing karang itu, sudah lima puluh tahun lamanya
tak pernah munculkan diri"
0000dw0000
BAB 62
MENGIKUTI arah yang ditunjukkan Han siong Kie menengadah keatas, ia lihat tebing karang itu
sangat tinggi dan tertutup kabut yang tebal maka sambil mengangguk diapun masuk kedalam goa.
Ruangan didalam gua itu sangat lebar dan kering, diantaranya terbagi pula menjadi tiga buah
goa yang agak kecil.
sesudah duduk diatas sebuah pembaringan batu dalam gua itu, sepasang siluman putih dan
hitam menghidangkan buah2an dan sayur-sayuran kemudian sambil mengambil semangkok air
bersih katanya dengan wajah bersungguh2:
"Disini tiada makanan lain silahkan majikan makan seadanya untuk mengisi perut"
Kebetulan Han siong Kie juga merasa lapar, maka tanpa sungkan2 ia menyikat makanan yang
dihidangkan untuk menangsal perut.
selesai bersantap. dia memerintahkan ke dua orang siluman itu untuk duduk lalu katanya:
"sekarang aku ingin mendengar kisah cerita kamu berdua dari awal sampai akhirnya terkurung
dilembah ini"
Sepasang siluman hitam putih itu tidak langsung menjawab, mereka saling berpandangan
sekejap. kemudian siluman hitam baru berkata dengan lembut:
"sumoay, biar akulah yang akan melaporkan kisah kejadian ini kepada majikan, tentunya
engkau tidak keberatan bukan?" siluman putih mengangguk. "Baik, suheng sajalah yang bercerita"
Perlahan-lahan siluman hitam menghadap ke arah Han siong Kie, lalu ujarnya:
"Majikan silahkan engkau mendengarkan sebuah kisah cerita yang akan kukisahkan berikut ini"
Agak bergolak perasaan hati Han siong Kie sesudah mendengar perkataan itu,pada puluhan
tahun berselang sepasang siluman putih hitam telah malang melintang dalam dunia persilatan,
setiap orang jeri dan
JILID^0 HAL. 22/23 HILANG
merasa sangat setuju dengan rencana dari gurunya itu, suatu hari ketika ketiga orang itu
sedang melakukan perjalanan diatas gunung chin nia, secara kebetulan telah mendapatkan
sepasang Bak ci "
"Bak ci?" seru Han siong Kie tak tahan, ia heran dan tidak mengerti dengan benda yang
disebutkan itu.
"Benar Bak ci adalah sejenis tumbuhan yang sangat langka sekali, bukan saja tak ternilai
harganya bahwa siapapun yang memakannya bisa awet muda dan berbadan sehat. Betapa
gembira mereka bertiga setelah mendapatkan Bak ci yang sangat berharga itu, kebetulan waktu
itu kami memang sedang menuju kebukit Chin nia untuk mencari beberapa macam bahan obat2an
sebagai kekuatan dalam latihan. Karena penemuannya ini maka kamipun lantas meninggalkan
tujuan semula dengan membawa sepasang Bak ci tersebut buru2 kami berangkat pulang ke
gunung."
Berbicara sampai disitu, kembali siluman hitam menghentikan ceriitanya, hawa napsu
membunuh yang sangat tebal tiba-tiba memancar keluar dari balik matanya dan menyelimuti
wajahnya yang hitam pekat, lanjutnya lebih jauh:
"Entah bagaimana kemudian, ternyata kabar berita tersebut telah tersiar luas keseluruh dunia
persilatan, ketika kami bertiga baru saja tiba kembali dirumah, tiba2 beratus-ratus orang jago lihay
dari golongan putih dan hitam melakukan penyerbuan secara besar-besaran, tentu saja tujuan
mereka yang terutama adalah sepasang Bak ci yang berharga itu"
" Karena tibanya bencana yang sangat mendadak ini, puluhan orang murid perguruan yang
waktu itu berkumpul dimarkas segera munculkan diri dan melakukan perlawanan, pertarungan
sengit berlangsung sepanjang malam, banyak anggota perguruan yang tewas ataupun cedera."
sekalipun ilmu silat yang dimiliki Ki Goan thong ketua perguruan Thian it bun sangat lihay
dandan berhasil membinasakan hampir lima puluh orang jago lihay yang menyerbu perguruannya,
tapi lama kelamaan sendiripUn kehabisan tenaga apalagi musuh yang harus dihadapi
HAL. 26/27 HILANG
"suheng biarlah aku yang melanjutkan bercerita"
siluman hitam mengangguk. maka siluman putih melanjutkan kembali ceritanya:
"setelah kejadian itu para jago lihay dari golongan putih maupun hitam yang ikut serta didalam
operasi tersebut melakukan pencarian dan penggeledahan secara besar2an diseluruh kolong langit
untuk menemukan jejak dua orang ahli waris dari perguruan Thian it bun, tapi rupanya mereka
hendak membasmi rumput hingga ke akar2nya sehingga tidak meninggalkan bencana dikemudian
hari. Karena penggeledahan secara besar- besaran itu, terpaksa sepasang kakak beradik
seperguruan itu melarikan diri keatas gunung yang terpencil untuk menyembunyikan diri sambil
melatih ilmu silat perguruannya. Delapan tahun kemudian mereka muncul kembali ke dalam dunia
persilatan dan melakukan pembantaian secara besar-besaran untuk menuntut balas atas sakit hati
yang telah menimpa perguruannya"
"Dan kedua orang ahli waris dari Thian it bun itu tentulah kalian berdua bukan?" seru Han siong
Kie kemudian.
"Tebakan majikan memang sangat tepat. Kedua orang itu memang tak lain adalah kami
berdua"
"Dan sepasang Bak ci tersebut telah kalian makan "
"Benar "
"Itu berarti semestinya wajah kalian tetap awet muda, kenapa sekarang malahan..."
"Maksud majikan, kenapa wajah kami berdua pada saat ini malahan berubah jadi makhluk aneh
yang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan ini ?"
"Jadi raut wajah tersebut bukan raut wajah kalian yang sebenarnya?" bukan menjaweb. Han
siong Kie malahan balik bertanya.
"Bukan, raut wajah kami yang asli tidak begini. Ketika kami sedang berlatih ilmu silat diatas
sebuah bukit, kami telah salah makan dua biji buah liar, dalam beberapa hari saja raut wajah kami
telah berubah jadi seaneh ini, oleh sebab itulah setelah turun gunung kami dianggap orang
sebagai makhluk siluman- dan dari sini pula orang lantas menyebut kami sebagai Hek pek siang
yu"
"0ooh, kiranya begitu"
"Maka dendam dan benci yang berkecamuk dalam dada kami berdua sukar dikendalikan lagi"
siluman putih melanjutkan, "maka setelah turun gunung kami mulai melakukam pembalasan
dendam, bukan saja musuh besar kami basmi bahkan keturunannya juga kami jagal secara keji,
hanya dalam sebulan saja sudah hampir seribu orang manusia yang kami bunuh, kejadian ini
segera menimbulkan rasa gusar dari umat persilatan dikolong langit, mereka bersatu padu untuk
menghadapi kami berdua.." Ia berhenti sebentar untuk tarik napas, lalu tambahnya:
"Dalam suatu pertempuran sengit yang kemudian berlangsung, kami berdua dikerubuti oleh
tiga ratus orang lebih jago2 persilatan dari seluruh pelosok dunia, keadaan kami sangat kritis dan
hampir saja jiwa kami melayang ditangan mereka, untung majikan lembah ini munculkan diri tepat
pada waktunya dan loloslah kami berdua dari ancaman bahaya maut, sejak itulah kami lantas
diboyong kelembah kematian ini dan harus berdiam disini untuk menyesali perbuatan kami selama
ini, kami memang bertobat karena beribu-ribu orang telah kami bunuh selama ini, begitulah dalam
sekejap masa lima puluh tahun sudah lewat tanpa terasa.."
"Kalau begitu sampai sekarang kalian masih belum melaksanakan perintah dari mendiang
gurumu?"
"Pesan terakhir apa?"
"Bukankah gurumu memerintahkan kepada kalian berdua untuk menikah dan menjadi suami
istri?"
siluman putih tundukkan kepalanya rendah2 dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
sedangkan siluman hitam segera menjawab:
"Tentang soal ini sampai sekarang belum kami laksanakan sebab kami berdua telah bersumpah
kecuali wajah kami dapat pulih kembali seperti sedia kala kami tak akan menikah"
Han siong Kie manggut2.
"sungguh sukar untuk melewatkan saat hidup selama lima puluh tahun lamanya tanpa
melanggar tata kesopanan, kalian memang beriman tebal... aku merasa sangat kagum..."
"Aah .. majikan terlalu memuji "
"Bagaimanakah caranya untuk memulihkan kembali raut wajah kalian yang rusak ini."
"Menurut keterangan yang diberikan majikan lembah ini kepada kami, buah liar yang telah kami
salah makan bernama Gi heng tok ko buah racun perubah wajah, dikolong langit dewasa ini hanya
ada seorang manusia yang bisa memunahkan racun buah itu dan dialah yang bisa memulihkan
kembali raut wajah kami berdua menjadi wajah yang aslinya"
"siapakah orang itu ?"
"orang itu bernama Ban tok cousu "
"Ban tok cousu ? Belum pernah aku dengar tentang nama tokoh silat ini "
"Benar, menurut keterangan yang berhasil kami kumpulkan, kemungkinan besar Ban tok cousu
sudah lama meninggalkan dunia ini, kami berharap bisa menemukan ahli warisnya"
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan seseorang yakni Tok kun Dewa racun Yu Hoa yang
sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan Thian che kau, mungkinkah dia ahli waris yang
dimaksudkan?
"Aaah,. asal persoalan ini kutanyakan kepada engkoh tua pengemis dari selatan urusan pasti
akan beres" pikirnya dihati.
Diapun tidak mengungkapkan jalan pikirannya itu, hanya ucapnya dengan hambar:
"Kalau toh di dunia ada manusia yang bernama Ban tok cousu, rasanya tidak sulit untuk
menemukan ahli warisnya. ooh iya apakah kalian mengetahui keanehan serta kemisteriusan
apakah yang telah menyelimuti lembah kematian ini sehingga suasananya seram ini?"
Dengan penuh rasa hormat siluman hitam menerangkan.
"Disekitar mulut lembah kematian tumbuh sejenis rumput beracun yang tiada taranya dikolong
langit, rumput itu bernama sip poh Pak kut cau (rumput sepuluh langkah tulang putih) sampai
dimanapun kepandaian silat yang kau miliki bila rumput itu tersentuh maka sepuluh langkah
kemudian tubuhnya akan hancur.
JILID30 HAL. 34/35 HI LANG
"ouyang cianpwe juga sangat lihay dalam ilmu meramal, dia memiliki kemampuan untuk
meramalkan kejadian yang akan datang, ketika kami berdua masuk kedalam lembah ini, untuk
pertama kalinya beliau telah meramalkan bahwa lime puluh tahun kemudian kami berdua bakal
ditolong oleh orang pertama yang memasuki lembah ini dan selanjutnya muncul kembali dalam
dunia persilatan oleh sebab rahasia itu maka kami berdua lantas bersumpah akan menganggap
orang pertama yang memasuki lembah ini adalah majikan kami" Han siong Kie berdiri tertegun
sesudah mendengar keterangan itu, pikirnya:
"Kalau toh owyang Beng memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang,
kenapa ia tak dapat meramalkan kalau orang pertama yang akan masuk kedalam lembah ini
sebenarnya tak lain adalah musuh bebuyutan dari benteng maut?" Belum habis dia berpikir tiba2
siluman hitam telah berseru lagi dengan lantang:
"ooooh ya hampir saja kelupaan, sebelum menutup diri tempo hari, ouyang cianpwe telah
meninggalkan secarik kertas yang katanya kertas itu harus di serahkan kepada orang pertama
yang memasuki lembah ini. Dan orang yang dimaksudkan itu pastilah majikan"
Habis berkata dia lantas masuk kedalam gua batu yang ada di sebelah kanan, selang sesaat
kemudian dia telah muncul kembali sambil membawa secarik kertas kuning.
Dengan sikap yang sangat hormat kertas kuning itu lantas diangsurkan ketangan Han siong Kie.
Berdebar juga hati sianak muda itu menerima kertas kuning itu, dengan jantung yang berdetak
keras dia membuka lipatan kain kuning itu dan membaca isinya.
Ternyata isi kertas ini hanya beberapa bait kata yang sama sekali tak diketahui makna artinya:
"Tipu muslihat banyak didunia, bencana timbul karena saudara yang tak akur. Disaat dendam
tertera nyata, disanalah penghianat terbasmi lenyap"
Han siong Kie termasuk seorang pemuda yang cerdas dan berotak encer, tapi meskipun ia
sudah berulang kali mengulangi kata2 dari syair tersebut, toh tak berhasil juga memecahkan arti
kata2nya itu.
Andaikata keempat bait syair tersebut benar2 memang dibuat oleh ouyang Beng pemilik
benteng maut yang pertama khusus untuk dirinya, maka bait yang pertama tak perlu diterangkan
sudah jelas artinya.
Kemudian pada bait kedua dikatakan Bencana timbul karena saudara yang tak akur, dari sini
menunjukkan bahwa bencana yang sedang berlangsung sekarang timbulnya dari dua bersaudara
yang kurang akur hubungannya satu sama lain, lalu siapakah yang dtmaksudkan sebagai saudara
yang tidak akur itu ?
Pada bait ketiga dikatakan Disaat dendam tertera nyata padahal pada saat ini dia sudah tahu
bahwa musuh besarnya adalah tengkorak maut, apanya lagi yang kurang nyata ?"
Kemudian pada bait yang terakhir digunakan kata pengkhianat siapakah penghianat tersebut ?
Teka teki, suatu teka teki yang susah untuk dipecahkan.
Mereka tak dapat menyelusuri makna dari bait syair tersebut, terpaksa Han siong Kie
menyimpan kembali kertas kuning itu kedalam sakunya dengan suara agak emosi dia bertanya:
"Benarkah tulisan ini ditinggalkan owyang Beng pada lima puluh tahun berselang?"
siluman hitam mengangguk.
"Betul majikan sejak menutup diri pada lima puluh tahun berselang beliau tak pernah
munculkan diri lagi dari tempat pertapaannya itu"
"Apakah dia mengasingkan diri dalam dinding bukit ini"
"Apakah majikan ingin-.."
"Benar, aku ingin sekali berjumpa muka dengan dia orang tua"
"Dinding tebing ini hampir boleh dibilang tegak lurus dan curam sekali, jangankan manusia
monyetpun tak mampu untuk memanjatnya, lagipula kita toh tak tahu dimanakah owyang cianpwe
mengasingkan diri, kejadian tersebut sudah terjadi setengah abad lamanya, siapa tahu beliau
sudah pulang ke alam baka"
"Betul juga perkataan ini" pikir Han siong Kie di dalam hati, "toh aku tak ada kepentingan apa2
untuk menjumpainya, buat apa musti bersusah payah ?" Maka diapun alihkan pokok pembicaraan
kesoal lain-lainnya.
"Apakah kalian berdua sudah bulatkan tekad untuk mengangkat aku sebagai Majikan mu"
"sumpah yang telah kami lakukan tak akan kami ingkari kembali" jawab sepasang siluman putih
hitam bersama .
"Aku boleh sama membawa kalian keluar dari lembah ini, tapi kalian tak usah menyebut begitu
kepadaku, aku anggap saja diriku ini adalah sobat kalian ?"
"Tidak sumpah yang telah diucapkan tak boleh diingkari lagi" jawab, kedua orang itu tegas.
"seandainya aku tidak bersedia lantas bagaimana ?" tanya Han siong Kie tiba2. sepasang
siluman hitam putih tertegun, lama sekali siluman hitam baru berkata.
"Kalau memang demikian adanya, itu berarti kami berdua sudah tak punya muka untuk muncul
kembali dalam dunia persilatan, daripada hidup menanggung derita, lebih baik membereskan
nyawa sendiri saja"
Agak lama Han siong Kie termenung, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, lalu
diapun berkata:
"Begini saja, kalau aku disebut majikan... majikan.. geli rasanya hatiku, maka biarlah aku
mengambil jalan tengah, mulai hari ini kalian akan kuterima sebagai anggota perguruan Thian
lam, dan kalian sebut aku sebagai ciangbunjin, bukankah hal ini lebih enak di dengar??"
Buru2 sepasang siluman Hitam dan Putih jatuhkan diri berlutut keatas tanah.
"Tecu menghunjuk hormat buat ciangbunjin" seru mereka hampir berbareng.
"Bangunlah, setelah keluar dari lembah ini aku akan berusaha keras untuk memunahkan racun
Gi hang tot ko yang bersarang ditubuh kalian, setelah raut wajah kalian pulih kembali seperti sedia
kala maka kalian berduapun bisa memenuhi perintah dari mendiang guru kalian "
"Terima kasih atas bantuan cianbunjin" sahut kedua orang siluman itu setelah memberi hormat
merekapun bangkit berdiri
sekarang Han siong Kie baru teringat akan tujuan kedatangannya ketempat itu, sesudah
memeriksa sebentar kedalam goa itu katanya.
"Aku membutuhkan sebuah ruang yang bagus untuk mempelajari ilmu kepandaian, setelah itu
maka kitapun akan meninggalkan tempat ini"
"Ciangbunjin"" ujar siluman putih "tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah gua alam yang
bersih dan tenang, biarlah tecu pergi membereskan gua itu"
"Baik pergilah cepat"
selang beberapa saat kemudian siluman putih telah muncul kembali didalam gua tersebut
katanya:
"silahkan ciangbunjin menuju kedalam goa itu, makanan dan minuman setiap hari tecu akan
mengaturnya buat ciangbunjin"
Dengan penuh rasa haru dan berterima kasih Han siong Kie memandang sekejap kearah
sepasang siluman itu kemudian diapun melangkah keluar dari goa itu.
Benar juga, kurang lebih sepuluh kaki dari gua tersebut terdapat sebuah goa lain yang terdiri
dari batu2 cadas berwarna putih, setelah lima kaki memasuki goa tersebut, luas goa itu mencapai
tiga kaki lebih, tempat itu memang merupakan sebuah tempat berlatih silat yang paling ideal.
Setelah sepasang siluman hitam putih minta diri, dari sakunya Han siong Kie mengambil keluar
sarung tangan Hud jiu popit dan mulai memeriksanya dengan teliti.
setelah itu pelajaran yang tertera disana mulai dibaca, diteliti, diamati dan diselami artinya.
Dalam waktu singkat semua konsentrasi dan pikirannya telah terpusat menjadi satu, ia lupa
akan segala2nya kecuali mempelajari dan menyelami arti dari pelajaran yang didapatkan itu.
Waktu berlalu dengan cepatnya, baberapa hari sudah lewat tanpa terasa.
selama ini kadang kala tiga lima hari
JILID 30 HAL. 44 S/D 47 HILANG
itu termangu2, akhirnya dengan penuh emosi mereka berseru:
"Ciangbunjin, boleh kah kami tahu apakah hari ini juga kita akan tinggalkan lembah ini?"
Han siong Kie mengangguk.
"Betul dan kalian berdua boleh segera membereskan barang2 milik kamu berdua, sekarang
juga kita akan keluar dari lembah ini"
sudah lima puluh tahun sepasang siluman itu terkurung dalam lembah tersebut, bisa
dibayangkan betapa gembiranya dua orang itu setelah akan muncul kembali dalam dunia
persilatan, tanpa banyak bicara lagi mereka kabur kembali kedalam guanya dengan wajah berseri.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata yang tajam mengawasi keadaan disekitar tempat itu,
lalu dia melompat naik ke atas sebuah dinding cadas yang besar dan tingginya mencapai sepuluh
kaki lebih, dengan bacokan telapak tangannya ia membuat sebuah lubang diatas batu tersebut,
kemudian memasukkan sarung tangan Hud jiu popit ke dalam lubang batu tadi dan setelah itu
batu cadas yang amat besar itu didorong menempel diatas dinding bukit dan menutupi bagian
yang berlubang tadi..
Dengan begitu, maka benda mustika dunia persilatanpun tersimpan untuk selamanya dalam
sebuah batu cadas raksasa yang amat besar dan berat itu, siapapun jangan harap bisa
mendapatkannya kembali.
sementara itu sepasang siluman juga sudah selesai bebenah, mereka masuk gua tempat
tinggainya selama ini, dan dengan membekal senjata andalan mereka dimasa lalu, buru2
menghampiri pemuda tersebut.
sementara itu Han siong Kie sedang memandang ujung lembah itu dengan sorot mata setajam
sembilu. katanya kemudian dengan suara dingin:
"Setelah keluar dari lembah ini, kita akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran"
"Melakukan pembunuhan?" tanya sepasang siluman dengan wajah tertegun.
"Benar, sewaktu hendak masuk lembah ini, aku telah melangsungkan pertarungan melawan
tokoh2 sakti dari perkumpulan Thian che kau, salah seorang diantara mereka yang dinamakan
utusan Thian che kau telah mampus dalam lembah ini, bila dugaanku tidak meleset, sudah pasti
mereka telah mengurung mulut lembah ini sambil menunggu kemunculanku"
JILID 30 HAL. 50/51 HILANG
Jago2 lihaynya untuk menyumbat mulut lembah tersebut, padahal sudah tiga bulan lamanya ia
berdiam dalam lembah kematian untuk mempelajari si mi sinkang yang tercantum dalam Hud jiu
popit dan sekarang terbukti bahwa musuhpun melakukan patroli selama tiga bulan disekitar
perbatasan, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa musuh memang tidak berhasrat untuk
melepaskan dirinya.
Dalam pada itu ke dua belas orang laki2 baju hitam itu telah berhasil melihat jelas keadaan
lawannya, tiba2 mereka menunjukkan wajah tercengang, kaget dan ngeri, tanpa disadari
beberapa orang itu telah mundur beberapa langkah kebelakang.
Kiranya mereka telah menyaksikan makhluk setengah manusia setengah setan yang berada di
belekang Han siong Kie, yakni Hek pek siang yu yang menyeramkan itu.
sebagai mana diketahui Hek pek-siang yu memiliki tampang yang mengerikan sekali, siapapun
yang melihat tampang itu niscaya akan bergidik dan ketakutan setengah mati.
setelah mundur sampai beberapa kaki jauhnya, kedua belas orang laki2 baju hitam itu baru
berhenti mundur, salah seorang di antaranya lantas bersuit nyaring, suitan tersebut panjang,
tajam dan menjulang jauh ke udara.
Hek pek siang yu menunjukkan sikap menghina, tiba2 mereka bertanya dengan suara dalam:
" Ciangbunjin, kawanan tikus dan kacoak ini berasal dari aliran atau perguruan mana?"
"Mereka ? siapa lagi kalau bukan anak buah dari perkumpulan Thian che kau??"
"Apa maksud mereka menunggu disini?? "
"Apa lagi? Tentu saja menunggu kemunculanku"
"Jadi kawanan manusia ini juga yang selama ini mengejar dan menyerang Ciangbunjin?"
Han siong Kie tidak menjawab, tapi dia mengangguk.
sepasang siluman hitam dan putih segera mendengus dingin, siluman hitam menyingkir
kesamping dan memberi hormat, katanya:
"ciangbunjin, berilah petunjuk kepada hamba bagaimana caranya kita harus selesaikan
kawanan babi itu?"
"Bunuh sampai ludas" jawab Han siong Kie ketus.
Ucapan tersebut ibarat bunyi terompet malaikat elmaut yang hendak mencabut nyawa
manusia, tanpa disadari dua belas orang laki2 baju hitam itu bergidik dan mengucurkan peluh
dingin, pedang mereka dipegang semakin erat, bahkan kelihatan bergetar keras, jelas orang2 itu
sudah siap melancarkan serangan.
sepasang malaikat hitam putih menjengek sinis, tiba2 mereka membentak nyaring kemudian
menerjang kearah gerombolan manusia itu.
Perlu diketahui dua belas orang laki2 baju hitam itu adalah jago2 kelas dua dalam perkumpulan
Thian che kau, mungkin nama mereka cemerlang dan disegani orang dalam dunia persilatan maka
mereka diutus untuk melakukan patroli di sepanjang perbatasan antara mati dan hidup,
Tapi sekarang, tatkala dilihatnya dua orang makhluk aneh hitam dan putih itu menerjang tiba,
serentak mereka saling berpandangan kemudian menyebarkan diri ke empat penjuru sambil
berteriak mereka putar senjata dan menyambut tibanya serangan "Haahhh haaaahh haaahhh"
"Hiiiihhh hiiiihhh hiiiihhh"
Ditengah gelak tertawa aneh yang satu keras dan yang lain lembut sepasang manusia hitam
putih telah menerkam kedalam lapisan pedang dan menyambar musuh2nya.
Jerit kesakitan, dengusan berat menjelang sekarat berkumandang dlangkasa men-cabik2
kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu.
Hancuran badan ceceran darah berhamburan menodai perrmukaan tanah, keadaan disaat itu
benar2 mengerikan-
Tapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama hanya sebentar tak sampai seperminum teh
suasana pulih kembali dalam keheningan-
Tiada manusia yang hidup lagi disitu, kecuali Han siong Kie bertiga, dua belas orang lelaki
perkasa itu kini sudah berubah adi mayat, mayat2 yang tak utuh dan berlepotan darah kental.
Hanya dalam beberapa gebrakan Hek pek-siang yu telah membereskan dua belas orang jago
Thian che kau, kelihayan tersebut cukup mengagumkan, diam2 Han siong Kie menggukkan
kepalanya berulang kali.
00d00000w00
BAB 63
SELESAI membereskan kedua belas orang musuhnya, sepasang siluman hitam putih berjalan
kembali kehadapan Han siong Kie, kemudian berkata: " Ciangbunjin, tecu berdua telah
menyelesaikan tugas ini dengan sempurna"
"Bagus" puji si anak muda itu, "mari kita tinggalkan tempat."
Ucapan itu belum habis diucapkan tiba2 dari depan sana muncul tiga sosok bayangan manusia,
cepat sekali gerak tubuh ketiga orang itu.
Han siong Kie lantas membatalkan perkataannya dengan pandangan setajam sembilu dia awasi
orang2 tersebut.
Kiranya orang yang baru datang adalah san tianjin (telapak tangan kilat) se bun Lui, salah
seorang diantara utusan Thian che kau didampingi dua orang kakek jubah hitam.
setibanya ditempat kejadian ketiga orang itu memandang sekejap mayat yang bergelimpangan
ditanah lalu berseru kaget, enam buah sorot mata secepat kilat dialihkan ke wajah Han siong Kie
bertiga.
Tatkala sinar mata mereka bertemu pandang dengan Hek pek siang yu untuk kesekian kalinya
tiga orang kakek jubah hitam itu menjerit tertahan, pucat pias wajah mereka.
Tampang aneh dari Hek pek siang yu tiada keduanya didunia ini, meskipun mereka adalah
gembong2 iblis yang sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, namun dalam sekilas
pandangan saja baik se bun Lui maupun dua orang kakek lantas mengetahui siapa gerangan
mereka itu.
Hek pek-siang yu yang disegani dan ditakuti orang ternyata masih hidup didunia bahkan berada
dalam satu rombongan dengan Han siong Kie, peristiwa ini benar2 diluar dugaan dan mengejutkan
hati siapa pun juga.
selain itu merekapun heran bahwa Han siong Kie berhasil keluar dari lembah kematian dalam
keadaan hidup walaupun sudah tiga bulan lamanya tak muncul kembali dari situ.
JILID30 HAL. 58/59 HILANG
bermaksud untuk melakukan pengejaran sesudah termenung dan berpikir sejenak, akhirnya
kepada sepasang siluman itu dia berkata: "Hayo, kitapun pergi dari sini "
Dengan gerakan cepat ia lantas berangkat lebih dulu tinggalkan tempat tersebut, Hek pek siang
yu juga tidak mengatakan apa2, dengan cepat mereka bertiga sudah jauh meninggalkan tempat
semula, mulut lembah nampak nun jauh didepan sana.
sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan seorang manusiapun, suasana hening, sepi
dan tak nampak seorang manusiapun.
setelah berhasil dengan ilmu saktinya, Han siong Kie tidak memikirkan soal2 yang lain, hanya
satu menjadi beban ingatannya selama ini yakni menuju kebenteng maut untuk membalas
dendam.
Tiga li kemudian mereka akan tiba di mulut lembah tersebut, disaat itulah mendadak terdengar
seseorang membentak keras, suaranya nyaring ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari
bolong.
"Berhenti"
Han siong Kie terperanjat, cepat dia hentikan gerak tubuhnya, ia tak tahu suara itu berasal dari
balik hutan lebat kurang lebih sepuluh kaki disisi kanannya.
Hek Pek siang yu tak dapat mengerem gerak tubuhnya yang terlanjur bergerak cepat itu,
mereka harus berlarian tiga kaki lagi sebelum berhasil mengendalikan tubuhnya dan berhenti.
"siapa?" bentak Han siong Kie kemudian dengan suara dingin.
"Aku nak. jangan gugup" sahut orang itu.
Han siong Kie semakin terperanjat, sebelum ia sempat berbuat sesuatu ibarat peluru yang
meluncur kedepan, tahu2 sepasang siluman hitam putih sudah melayang kearah mana berasalnya
suara itu.
Pelbagai ingatan dengan cepat melintas dalam benak sianak muda itu, cepat ia memburu pula
kedepan kearah mana berasalnya suara itu.
sesosok bayangan manusia tiba2 menyongsong datang dengan cepatnya karena sama sekali
tidak menduga, hampir saja saling bertumbukan satu sama lainnya
Ditengah jeritan kaget dari kedua belah pihak. orang itu melayang turun keatas permukaan
sementara Han siong Kie sendiripun cepat menahan gerakan tubuhnya.
orang itu ialah seorang perempuan, bahkan seorang perempuan berkerudung hitam meskipun
tak dapat dilihat bagaimanakah raut wajahnya, tapi Han siong Kie tahu siapakah dia.
Dalam pada itu Hek pek siang yu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah melayang
pula kedalam gelanggang, begitu mencapai tempat tersebut, serentak mereka menerjang
perempuan berkerudung itu.
42
"Mundur... jangan gegabah" bentak Han Siong Kie tiba2 dengan suara lantang.
Sepasang siluman hitam putih tercengang, cepat mereka tarik kembali serangannya dan
mundur sejauh tiga kaki dari tempat semula, dengan pandangan keheranan ditatapnya pemuda itu
tak berkedip.
"cianpwe" " kata Han Siong Kie kemudian sambil memberi hormat kepada perempuan
berkerudung itu, "maafkanlah kekasaran serta kecerobohan beanpwee"
Siapa gerangan perempuan berkerudung itu ? Dia tak lain adalah manusia misterius yang
menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma.
Tatkala mendengar suara bentakan tadi, rupanya Han siong Kie sudah tahu bahwa ia sedang
berhadapan dengan orang yang kehilangan sukma, tapi berhubung dia ingin mengetahui raut
wajah asli dari perempuan misterius itu, maka bukan saja tidak mencegah sepasang siluman untuk
menerjang ke muka, malahan dia sendiripun menyergap masuk kedalam hutan dengan
mengerahkan dua belas bagian hawa saktinya.
Dan kala ini tujuannya tercapai, perempuan misterius yang bernama orang yang kehilangan
sukma itu tak sempat menyembunyikan diri lagi.
Tapi pemuda itu merasa kecewa, sebab perempuan itu menutupi wajahnya dengan kain
kerudung hitam, akhirnya toh ia tak berhasil juga untuk melihat paras muka dari perempuan
misterius itu.
Sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata dengan lembut:
"Nak. rupanya Thian selalu melindungi engkau, akhirnya kau bisa keluar dari lembah kematian
dengan selamat"
"Terima kasih atas perhatian dari cianpwe" "sahut pemuda itu cepat-cepat.
selama mulutnya berbicara sorot matanya yang tajam mengawasi potongan badan orang yang
kehilangan sukma tanpa berkedip. diam-diam ia merasa amat kenal dengan potongan tubuh
perempuan ini, hanya ia lupa dimanakah ia pernah bertemu dengannya.
Ketika sinar matanya beralih kearah lengan baju kanannya, ia bergetar keras seperti kena listrik
tubuhnya gemetar menahan emosi:
" Itulah pengorbanan dari orang yang kehilangan sukma untuk membebaskan totokan jalan
darah pada tubuhnya, dia telah mengorbankan lengan kanannya dan lengan tersebut hingga
sekarang masih tersimpan di sakunya.
JILID 31 HAL.04 S/D 5 HILANG
lembah, carilah jalan keluar yang lain dan segeralah engkau tinggaikan tempat ini"
"sayang sudah terlambat" tiba2 serentetan suara dingin menyeramkan membelah kesunyian.
sekujur badan orang kehilangan sukma gemetar keras, secara beruntun dia mundur beberapa
langkah lebar kebelakang.
Rasa kejut yang dialami Han siong Kie pun sukar dilukiskan dengan kata2, ia percaya tenaga
dalamnya pada saat ini sangat lihay, tapi kenyataannya ada orang berhasil mendekat wilayah
sekitar lima kaki dari tempat mereka beradapun tidak dirasakan olehnya, dari sini dapat ditarik
kesimpulan sampai dimanakah kelihayan musuhnya itu.
Hek Pek siang yau sepasang siluman hitam putih juga sudah menyadari akan kelihayan
musuhnya, mereka lantas bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Dari balik popohonan lima kaki dari gelanggang, muncul tiga sosok bayangan manusia, orang
pertama adalah seorang manusia aneh berkerudung hijau, dia adalah Thian Che kaucu,
dibelakangnya mengikuti dua orang kakek jubah hitam yang mempunyai sulaman matahari,
rembulan dan bintang didadanya, salah seorang diantaranya adalah Tangan kilat see bun Lui.
Paras muka Han siong Kie berubah hebat, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya.
sikap orang yang kehilangan sukmapun amat serius, dengan suara lirih dia berbisik kepada Han
siong Kie:
"Manusia berkerudung itu adalah pemimpin dari Utusan Thian che kau, orang sebut dirinya
sebagai Cian jiu mo ong (raja iblis bertangan seribu) Tong ciao, selama ini dialah yang selalu
menyaru sebagai ketua. Hari ini, ketiga orang itu jangan sekali-kali kau lepaskan dalam keadaan
hidup, sebab bila seorang saja diantara mereka masih hidup, maka akibatnya sukar dilukiskan
dengan kata-kata" Han siong Ki mengangguk dan memberikan kesanggupannya.
Dalam pada itu, raja iblis bertangan seribu Tong ciau sudah berpaling kearah orang yang
kehilangan sukma, kemudian sambil tertawa seram ejeknya:
"Heeehhh . . heeehhh . . heeehhh. .Aku mengira siapa yang berada disini, tak tahunya adalah
kau"
Ucapan tersebut membuat Han siong Kiejadi tertegun dia lantas berpikir dihati:
"Masakah orang yang kehilangan sukma adalah anggota perkumpulan Thian che kau? Kalau
tidak kenapa orang ini mengenalinya ?"
Sementara itu orang yang kehilangan sukma telah membentak nyaring: "Tutup mutut
anjingmu"
Jelas sekali maksudnya dia tidak mengharapkan orang itu meneruskan kata-katanya lebih jauh.
Kepada Han siong Kie kembali dia berbisik,
"Ingat, jangan biarkan mereka tetap hidup, akan kubantu dirimu secara diam-diam" selesai
berkata dia lantas melejit keudara dan kabur dari tempat kejadian.
"Mau lari kemana kau ?" bentak Raja iblis bertangan seribu Teng Ciau dengan keras, secepat
kilat ia menerkam kemuka.
Han siong Kie mendengus dingin, tubuhnya bergeser setengah langkah ke samping lalu
melepaskan sebuah pukulan gencar, dalam serangan tersebut dia telah sertakan hawa sakti si mi
sinkang yang di milikinya, bukan saja tidak menimbulkan suara kekuatannya sangat mengerikan-
"Blaaang" suatu benturan nyaring menggelegar diangkasa, raja iblis bertangan seribu Teng ciau
yang sedang melakukan pengejaran segera terpental hingga mencelat sejauh delapan depa dari
tempat semula.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah, orang yang kehilangan sukma melarikan diri
dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan-
Kejadian ini sangat mengejutkan dua orang utusan Thian che kau yang lain, hampir saja
mereka menjerit kaget.
selama hidup belum pernah mereka saksikan kemampuan sedahsyat itu, dan mimpipun mereka
tak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki pemimpin utusan Thian che kaupun ternyata
pemuda itu tak mampu dihajar sampai menceat.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata setajam sembilu mengawasi manusia berkerudung itu
tanpa berkedip. mukanya seram dan penuh diliputi hawa napsu membunuh mengerikan sekali
keadaannya.
JILID 31 HAL. 12/13 HILANG
sukma bagaikan menghormati orang tua sendiri ketika didengar pihak musuh memaki orang
yang dihormati sebagai perempuan hina, kontan saja ia naik pitam.
"Tutup mulut anjingmu yang baur bentaknya, "Teng ciao tempat inilah tulang belulang kamu
bertiga akan terkubur untuk selamanya "
"Anjing cilik, kematian sudah berada didepan mata, buat apa engkau masih saja mengibul
seenaknya ?" ejek Tangan kilat se bun Lui tak kalah sengitnya.
Han siong Kie tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, dia ulapkan tangannya kepada
Hekpek siang yu lalu, serunya:
" Hantar kedua ekor anjing ini pulang keakherat, jangan biarkan mereka tetap hidup dikolong
langit "
Dengan sikap yang sangat hormat sepasang siluman mengiakan tanpa banyak bicara lagi
mereka menerjang dua orang utusan Thian che kau itu.
siluman hitam menerkam si Tangan kilat se bun Lui, sementara siluman putih menerjang
utusan Thian che kau yang lain-
Han siong Kie sendiri dengan wajah sedingin es menghampiri Raja iblis bertangan seribu,
katanya:
"Teng ciao sudah terlampau lama engkau mencicipi kehidupan didunia ini, sekarang pun
ciangbunjin akan mengirim kau untuk berpesiar keakhirat, Nah berangkatlah sekarang juga"
seraya berkata selangkah demi selangkah ia menghampiri lawannya. Suatu pertarungan sengitpun
segera berkobar dalam gelanggang.
Ilmu silat yang dimiliki dua orang utusan Thian che kau itu, memang sangat lihay, dalam
keadaan terdesak mereka harus melangsungkan pertarungan adu jiwa yang mengerikan-
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau adalah pengganti dari Thian che kaucu, tentu saja tenaga
dalamnya amat sempurna, dia hanya kalah setingkat dari kaucu sendiri
Tatkala Han siong Kie menerjang masuk kewilayah Lian huan tau dan menolong Go siau bi,
kedua belah pihak pernah terlibat dalam suatu pertempuran sengit waktu itu, kendatipun Han
siong Kie dan Go siau bi sudah bekerja sama toh bukan tandingannya juga, maka ia sama sekali
tak memandang sebelah matapun kepada musuhnya.
selama ini dia hanya menguatirkan Pertarungan dari Hekpek siang yu, seorang gembong iblis
yang sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari keramaian dunia, setelah melihat bagaimana dua
orang jago yang disegani itu bertarung melawan dua orang rekannya, diapun setengah menjadi
lega. kini dia lupa untuk mengejar orang yang kehilangan sukma, memandang Han siong Kie yang
makin mendekat, gembong iblis tersebut lantas tertawa seram, katanya:
"Manusia bermuka dingin, masih mengharapkan tidak untuk melanjutkan keturunan dan
kejayaan dari Mo tiong ci mo?"
Han siong Kie menghentikan langkahnya lalu menjawab:
"Teng ciau, tak tak usah mempersoalkan yang lain, ketahuilah... jika Thian che kaucu masih
bersembunyi terus macam kura-kura, maka manusia-manusia pengganti macam engkaulah yang
bakal sial, sebab ini hari engkau sudah pasti akan berangkat menuju ke akherat"
Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan, secepat kilat dia melancarkan tiga buah pukulan
berantai ke depansekilas
pandangan, ketiga buah serangan tersebut sama sekali tidak nampak lihay ataupun
mengerikan, tapi justru dibalik kelembutan itu terselip hawa sakti si mi sinkang yang memiliki daya
penghancur, bukan begitu saja, bahkan kecepatannya melebihi apa pun juga.
Raja iblis bertangan seribu Tong cian sedikitpun tidak jeri, telapak tangannya lantas disilangkan
didepan dada dan menangkis semua ancaman yang tiba. "Biang Blaang Blaaang " Tiga kali
benturan dahsyat menggelegar diangkasa.
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau tergetar keras dan mundur tiga langkah, rasa kejutnya
kian menjadi, dia tak menyangka hanya berpisah beberapa bulan, ternyata kekuatan tenaga yang
dimiliki musuhnya sudah meningkat sehebat itu.
Padahal ia sendiri disebut orang Raja iblis bertangan seribu, tentu saja tenaga dalam yang
dimilikinya amat sempurna, ia jadi penasaran, begitu terdesak secepat kilat ia menerkam lagi
kemuka dan secara beruntun melancarkan empat puluh delapan buah pukulan berantai.
Ke empat puluh delapan buah pukulan itu dilancarkan secara berantai, diatas
JILID 31 HAL. 18/19 HILANG
kan tandingan baginya, sungguh tak nyana baru tiga gebrakan dia sudah jatuh kecundang di
tangan Manusia bermuka dingin yang berusia dua puluh tahunan, kejadian ini segera
menimbulkan kembali sifat buasnya.
sambil membentak keras, sekali lagi ia menerjang kemuka, serangan demi serangan
dilancarkan secara bertubi-tubi, mengerikan sekali ancamannya itu.
Han siong Kie sama sekali tidak gentar, dia kembangkan permainan Mo mo ciang hoat dan
membalas serangan lawan deagaa serangan pula.
Mengerikan sekali pertarungan waktu itu, kedua belah pihak sama-sama mengeluarkan
segenap ilmu simpanan yang dimiliki, siapa pun berharap bisa menghancurkan lawannya secepat
mungkin.
Suatu ketika, mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang membelah angkasa.
si Tangan sakti se bun Lui yang hebat tak mampu menghindari sebuah sergapan kilat dari
siluman hitam, tubuhnya kontan terbacok telak dan hancurlah tubuhnya menjadi remuk seperti
berkedel, darah segar berceceran menodai permukaan tanah.
Melihat rekannya tewas, utusan Thian vhe kau yang lain jadi gugup, permainan serangannya
jadi kacau balau tak karuan-
Kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan oleh siluman putih, suatu cengkeraman kilat
berhasil menangkap bahunya, baju berikut dagingnya lantas dicomot sampai hancur sepanjang
setengah depa, darah segar bagaikan pancuran mengucur keluar tiada hentinya.
00dw00
BAB 64
BERHASIL dengan serangan yang pertama, siluman putih tidak berdiam diri sampai disitu saja,
secara beruntun dia melontarkan kembali tiga buah pukulan berantai.
Begitu tiga pukulan itu dilepaskan, untuk kesekian kalinya jerit kesakitan berkumandang
memecahkan kesunyian, sambil muntah darah segar utusan Thian che kau itu mencelat sejauh
satu kaki lebih dan tidak bangun untuk selamanya.
Raja iblis bertangan seribu Tong ciau merasa terkejut dan panik, dalam gugupnya secara
beruntun dia lepaskan beberapa buah pukulan kilat begitu Han siong Kie terdesak hebat, ia lantas
melejit dan siap melarikan diri
"Mau kabur ?" jengek Han siong Kie, "jangan mimpi hayo serahkan dulu jiwa anjingmu"
sekali berkelebat ia sudah menghadang jalan pergi raja iblis bertangan seribu itu, secara
beruntun dia lepaskan lima buah serangan berantai.
Melihat gelagat tidak menguntungkan- raja iblis bertangan seribu tak berani gegabah lagi,
timbullah niat untuk mengadu iiwa, maka tatkala serangan musuh melanda datang, bukannya
berkelit dia malahan menyongsong datangnya pukulan itu dengan pukulan.
selama pertempuran berlangsung, Han siong Kie tak bisa bertarung dengan hati lega, karena ia
kuatir kalau dua orang musuh yang sedang bertempur melawan Hek pek siang yu berhasil kabur,
ia kuatir dengan peringatan dari orang yang kehilangan sukma dimana dikatakan bila seseorang
diantara mereka berhasil kabur maka akibatnya sukar dibayangkan-
Tapi sekarang, setelah dua orang yang di kuatirkan berhasil dibikin mampus oleh sepasang
siluman, iapun tidak kuatir lagi, segenap perhatian dan tenaganya dihimpun menjadi satu untuk
melakukan sergapan sergapan maut. Lima gebrakan kemudian, Raja iblis bertangan seribu sudah
dibikin kalang
JILID 31 HAL. 24 S/D 27 HILANG
ia masih berada disini:.. aaai sukarlah untuk diketahui siapa yang bakal hidup dan siapa yang
bakal mati"
"Aaah belum tentu begitul" seru Han siong Kie dengan cepat.
"sekarang engkau adalah seorang ketua dari suatu perguruan, sebelum dendam sakit hatimu
terbalas setiap persoalan yang kau hadapi harus dipikirkan dengan otak dingin, janganlah terlalu
memburu napsu, ketahuilah ilmu silat ibaratnya samudra yang luas, dimanapun ada orang-orang
pintar yang tersembunyi, jangan disebabkan oleh luapan emosi mengakibatkan segala sesuatunya
menjadi berantakan"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan
terbata:
"Setiap nasehat dari cianpwe akan boanpwe dengarkan baik-baik, untuk selanjutnya tat akan
kulupakan lagi"
"Aaah sekarang cepatlah keluar dari lembah ini, aku kuatir bila terlambat maka akan terjadi halhal
yang tak diinginkan"
"Bukankan cianpwe lelah mengatakah bahwa disekitar mulut lembah telah ditanam obat
peledak seberat sepuluh laksa kati"
"Benar, tapi sekarang pemimpin mereka yang merupakan ketiga orang tadi sudah mati semua,
sisanya tak perlu kita takuti lagi, mesti kita bergerak dengan bersembunyi dibalik pepohonan, aku
rasa untuk sementara waktu kita masih bisa mengelabuhi mereka sebab yang tersisa cuma jagojago
kelas kambing. Kendatipun akhirnya jejak kalian berhasil ditemukan, toh pada waktu itu
kalian sudah berada disekitar mulut lembah dan wilayah yang ditanam obat peledakpun sudah
dilampaui, aku percaya dengan kemampuan ya kalian miliki tak sukar untuk kabur dari sini, Nah,
selamat jalan dan semoga berhasil"
Selesai dengan kata-katanya, orang yang kehilangan sukma lantas berkelebat masuk ke hutan
dan lenyap dibalik pepohonan yang rindang.
Dengan termangu- mangu Han Siong Kie mengawasi bayangan punggungnya yang lenyap dari
pandangan, dia menghela nafas panjang, lalu berpikir:
"Budi kebaikan yang kuterima selama ini entah sudah berapa banyak. aai, entah bagaimana
caraku untuk membalas budi kebaikannya ini?
Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, akhirnya sambil mengulapkan tangannya kepada
sepasang siluman ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya menerjang ke arah mulut lembah.
selang sesaat kemudian, mulut lembah itu sudah berada didepan mata, pepohonan yang
rindangpun sudah mencapai pada ujungnya.
Ketika mereka berada kurang lebih lima puluh kaki dari mulut lembah, serentak Han siong Kie
menancap gas dan kabur lebih cepat lagi, kepada dua orang siluman itu serunya: "Hayo kita
terjang keluar dari lembah ini secepat-cepatnya..."
Tiga sosok bayangan manusia bagaikan tiga gulung asap dengan cepatnya meluncur kearah
mulut lembah. suitan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian disusul dari belakang
mereka bergelegar suara ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.
Pasir dan batu mencelat jauh keudara, asap hitam tanah longsor berguguran disekitar tempat
itu membuat suasana ketika itu benar-benar mengerikan sekali.
Akhirnya meledak juga obat yang ditanam disekitar mulut lembah, tapi sayang terlambat
setengah langkah, Han siong Kie sudah lolos dari lingkaran bahan peledak itu.
Keadaan mulut lembah itu porak poranda keadaannya mengerikan sekali, batu cadas sebesar
gunung dan pasir berjuta-juta meter kubik berguguran kebawah dan menyambar semua lapisan
tanah disekitar situ.
Baik Han siong Kie maupun Hekpek siang yau saling berpandangan sekejap dengan mulut
melongo bergidik hati mereka, andaikata orang yang kehilangan sukma tidak memberi peringatan
lebih dahulu, niscaya mereka bertiga sudah hancur entah berwujud apa.
Bisa dibayangkan betapa gusar dan dendamnya siluman hitam menyaksikan keadaan itu, ia
berpaling ke arah pemuda kita lalu berseru: "Ciangbunjin, hutang ini...."
"Hutang kita kepada mereka tidak terbatas hanya peristiwa ini saja" tukas Han siong Kie
dengan cepat, lebih baik kita perhitungkan dikemudian hari saja, sekarang aku masih ada urusan
penting yang harus segera diselesaikan marilah kita segera pergi"
siluman putih menyapu pandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu berkata pula dengan
suara dalam:
"Ciangbunjin, tolong tanya bagaimana kita harus selesaikan anakan monyet yang bersembunyi
di sekitar tempat ini?"
"Kalau ingin mencari balas sudah sepantarnya kita bikin perhitungan dengan pemimpin mereka,
apa harganya buat kita untuk ribut dengan manusia-manusia keroco seperti mereka? Biarkanlah
mereka pergi"
selesai mengucapkan kata-kata tersebut, Han siong Kie segera berangkat meninggalkan tempat
itu diikuti Hekpek siang Yaw di belakangnya
Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah jauh tinggalkan lembah kematian, tujuan mereka
sekarang adalah benteng maut.
Inilah tugas pertama yang harus diselesaikan olehnya setelah berhasil mempelajari Ilmu sakti si
mi sinkang, dia hendak menuntut balas dan menghancurkan tengkorak maut.
Untuk menghindari kegemparan dikalangan masyarakst oleh wajah Hekpek siang yau yang lain
daripada yang lain itu, sengaja ia memerintahkan kedua orang itu untuk mengenakan kain
kerudung hitam.
Hari kedua, tatkala tengah hari menjelang tiba, mereka sudah berada ditepi sebuah sungai
yang lebar, perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri sungai tersebut.
Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba disamping sebuah bekas bangunan rumah yang kini
sudah tinggal puing-puing yang berserakan, disitulah dahulu pesanggrahan Teng to siau cut
berdiri
Terkenang kembali masa lampau, tanpa terasa Han siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya,
dengan termangu- mangu ia memandang bekas bangunan Teng to siau cut yang tinggal puingpuing
itu.
Tanpa terasa ia teringat kembali kenangan masa lampau, kenangan dikala ia terhajar oleh
pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai, bagaimana ia ditolong oleh Go siau bi dan
bagaimana pesanggrahan tersebut akhirnya dibakar oleh orang-orang Thian che kau.
Bayangan Go siau bi yang cantik jelita terpampang jelas didepan matanya, gadis itu telah jatuh
cinta kepadanya pada tatapan yang pertama, bahkan berulang kali menyatakan cinta kepadanya.
Tapi ia sama sekali tidak membalas cinta dara itu, ia tak pernah mencintai Go siau bi, sebab ia
membenci setiap perempuan yang ada didunia ini kecuali Tong hong Hui seorang.
Akhirnya pemuda itu menghela napas panjang, tiba-tiba ia merasa bahwa perbuatannya selama
ini terlalu menyinggung perasaan halus gadis itu, tapi sekarang dia sudah pergi, mungkin
selamanya tak mungkin bisa berjumps lagi.
Benarkah aku telah menghancurkan masa depan seorang gadis ? Benarkah aku bertanggung
jawab atas kejadian ini? ia mencoba untuk bertanya pada diri sendiri, tapi pemuda itu tak mampu
menjawab.
Tindakan ibunya say siang go atau siang go cantik ong cul ing meninggalkan tempat kejadian
dikala keluarganya tertimpa bencana bahkan kawin lagi dengan Thian che kaucu dirasakan
sebagai pukulan batin terberat yang pernah ia terima, kejadian ini membuat pandangannya
terhadap kaum perempuan jadi sinis dan benci.
Untunglah selama ini dia banyak berhutang budi kepada orang yang ada maksud, orang yang
kehilangan sukma, Go siau bi serta Tong hong Hui, sikap dari perempuan-perempuan inilah yang
banyak menggoyahkan cara berpikirnya yang salah itu, perasaan anti perempuan yang
dipertahankan selama ini pun lambat laun menjadi lebih tawar.
Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang puing yang berserakan serta ombak yang
memecah ditepi pantai, kian lama perasaannya kian terbuai oleh lamunan dan kenangan lama.
Hekpek siang yau tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dengan tenang mereka menunggu di
belakang ketuanya.
Tiba-tiba dari balik puing-puing yang berserakan berkumamdang suara helaan napas panjang.
Satu ingatan lantas melintas dalam benak si anak muda itu, ia tersadar kembali dari
lamunannya kepada sepasang siluman segera pesannya. " Kalian tak usah pergi kemana-mana,
nantikanlah aku disini". secepat kilat ia meluncur ke angkasa dan menerobos masuk kedalam
hutan bambu di mana helaan napas tersebut berasal.
seorang sastrawan berusia setengah baya berdiri sambil bergendong tangan ditepi sungai dekat
hutan bambu. Berdebar keras jantung Han siong Kie setelah mengetahui siapakah orang itu,
sebab tak lain adalah kakek Go siau bi, orang-orang persilatan menyebutnya sebagai Put lo
sianseng.
Han siong Kie berdiri pada jarak lima kaki dihadapan kakek tua itu, ia tak tahu apa yang harus
diucapkan dan apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini.
"Benarkah yang datang adalah Han siauhiap, ketua dari perguruan Thian lam bun? " tanpa
berpaling Put lo sianseng menegur lebih dahulu.
Han siong Kie mendekati sampai sejarak tiga kaki lalu menjura dengan hormat.
"Benar cianpwe, apakah selama ini locianpwe berada dalam keadaan sehat walafiat" sahutnya.
Perlahan-lahan put lo sianseng memutar badan sekilas sorot mata yang aneh memancar keluar
tapi sebentar saja sudah lenyap tak berbekas dengan suara dingin.
"sebetulnya lohu sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia ini, tapi sayang imanku kurang
teguh, karena tergoda oleh peristiwa keduniawian akhirnya kumuncul kembali dalam dunia
persilatan, aai.. sungguh tak nyana aku tergoda oleh suatu masalah yang akhirnya membuat diriku
tak bisa lagi berpeluk tangan belaka" Berbicara sampai disitu, kembali ia menghela napas panjang.
"Persoalan apakah yang telah membuat locianpwe jadi bingung?" tanya pemuda itu keheranan-
"Belenggu cinta dari cucu perempuanku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie lantas teringat kembali dengan peristiwa lama
ketika ia menolak pinangan dariput losianseng bagi cucu perempuannya.
"Locianpwe, apakah perkataanmu itu kau sengaja tujukan kepada diri boanpwe? " tanyanya
tanpa sadar.
sekali lagi sorot mata aneh terlintas di wajah Put to sianseng, ia menatap sekejap pemuda itu
kemudian balik bertanya: "Han sauhiap bersediakah engkau membantu diriku?"
"Persoalan apakah yang dapat boanpwe lakukan bagi locianpwe?" tanya Has siong Kie setelah
tertegun sejenak.
"sebenarnya lohu sudah mengangkat sumpah tak akan mencampuri urusan keduniawian lagi..
Aaai, tak disangka oleh karena sejilid kitab pusaka Thian tok pit kip. bukan saja putraku Go Yu to
menemui ajalnya, perkumpulan Pat Gi pang hancur berantakan dan lenyap dari dunia persilatan,
bahkan Go siau bi cucu perempuanku ini ..."
Teringat dara itu, merah padam selembar wajah Han siong Kie, sebab bagaimanapun juga dia
pernah menolak pinangan dara itu
setelah berhenti sebentar terdengar Put lo sianseng melanjutkan kembali kata-katanya:
"Didalam waktu yang amat singkat, lohu telah berhasil melatih Siau bi sehingga ilmu silatnya
mencapai tingkatan yang lihay, tujuanku adalah meminta kepadanya agar balaskan dendam bagi
kematian ayahnya serta membangun kembali perkumpulan yang telah buyar.." Berbicara sampai
disini, kembali dia berhenti.
Han siong Kie merasa hatinya sangat tidak tenang, bagainya secara lapat-lapat ia sudah merasa
bahwa bantuan yang diharapkan kakek sakti ini mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan
Go siau bi.
sementara itu paras muka Put lo sianseng sudah agak berubah, katanya kembali:
"Aaai. sebetulnya aku malu untuk membicarakan persoalan ini, tapi apa boleh buat? Mau tak
mau terpaksa harus mengatakannya juga ...siau bi telah terbelenggu oleh cinta, sekarang ia sudah
terjerumus dalam sekali, kegagalan demi kegagalan yang diterimanya selama ini telah membuat ia
jadi putus asa, sekarang siau bi telah mengambil keputusan untuk mencukur rambut menjadi
nikoh, aai, inilah suatu kejadian yang membuat perasaan hati lohu selalu tak tenang."
"Apa ? Dia mau mencukur rambut menjadi pendeta??"
"Benar, dan keputusannya ini tampaknya sudah bulat, kecuali engkau mungkin didunia ini tak
ada orang kedua yaag bisa merintangi niatnya itu lagi"
JILID 31 HAL. 40/41 HILANG
"Boleh aku tahu pada saat ini nona siau bi berada dimana ?"
"Dipintu luar kuil Bu cu an di bukit Tay hang san"
"Benar, dia minta Tay huang sinni untuk menerimanya sebagai pendeta, tapi lantaran lohu
sudah berpesan kepada sini maka ia ditolak untuk memasuki kuil tersebut, walaupun demikian
rupanya ia tidak menjadi putus asa, sudah tiga hari tiga malam ia berlutut didepan pintu kuil
tersebut "
Dari mulut boanpwe pernah mendengar tentang kelihayan Tay huang Sinni, katanya watak
nikoh itu aneh sekali, enam puluh tahun berselang dengan lencana Hud cu leng dia telah
menggetarkan sungai telaga dan memaksa orang persilatan baik dari golongan putih maupun dari
golongan hitam tunduk semua kepadanya, sungguh tak nyana dia masih hidup didunia ini?"
"Benar, Tay huang sinni itulah yang kumaksudkan, hingga kini sepuluh li disekitar bukit Tay
huang san merupakan daerah terlarang, tak seorang jago persilatanpun yang berani mendekati
tempat itu "
"Kalau memang begitu, bukankah kedatangan boanpwe."
"Dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bukan suatu persoalan yang terlampau berat
untuk menerjang masuk kedalam kuil"
"Menerjang masuk?" seru pemuda itu tercengang.
"Benar, selain menerjang masuk rasanya tiada jalan lain yang bisa kau tempuh. sebagaimana
telah kau ketahui. Tay huang sinni adalah seorang manusia aneh yang tak bisa diajak berbicara.
Kendatipun begitu aku minta kau masih ingat untuk berbicara secara baik-baik lebih dahulu
sebelum menggunakan kekerasan, bila tidak terpaksa sekali janganlah turun tangan secara
gegabah"
"Perasaan ingin tahu lantas menyelimuti hati pemuda ini, ia lantas berpikir:
" Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mencoba sampai dimanakah
kelihayan kungfu Tay huang sinni?"
Diapun mengangguk seraya menjawab: "Boanpwe akan menuruti semua pesan cianpwe"
"Bolehkah aku tahu apa tujuanmu sekarang ??"
"Boanpwe hendak berkunjung ke benteng maut untuk membuat perhitungan dengan pemilik
benteng maut tersebut"
"Membalas dendam? tentang soal ini..."
"Apakah locianpwe ada petunjuk lain?"
"Aaah tidak... tidak aku tidak ingin mengatakan sesuatu hal, setelah tiba pada saatnya engkau
akan mengetahui sendiri"
Han siong Kie melongo, ia tak tahu apa yang dimaksudkan put lo sianseng dengan katakatanya
itu?
sementara dia masih termenung put to sianseng telah melanjutkan kembali kata-katanya:
"Masalah yang kutitipkan padamu itu terlampau serius, rasanya tak boleh dibiarkan berlarutlarut,
oleh sebab kuatir kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, apakah sauhiap bersedia untuk
berkunjung dahulu kebukit Tay huang san?"
"Boanpwe turut perintah bagaimana cara nya untuk berangkat menuju bukit Tay huang san?"
"Dari sini berangkatlah keutara dua ratus li kemudian akan tiba kebukit Tay huang san, diantara
bukit yang menjulang diangkasa akan kau temui sebuah bukit gersang yang tidak bertumbuhan,
tempat itu mudah ditemukan dan aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki tidak susah
untuk mencapai tempat tujuan"
"Kalau begitu boancwe akan berangkat sekarang juga"
"Tunggu sebentar"
"Apakah locianpwe masih ada pesan lain"
"Benarkah dua orang manusia berkerudung yang mengikuti dibela kang mu itu adalah Hek pek
siang yau sepasang siluman hitam putih yang tersohor itu."
sungguh kagum Han siong Kie oleh ketajaman mata Put to sianseng, bukan saja dapat
menebak jitu asal usul dari Hek pek siang yau, malahan tanpa melihat tampang wajah merekapun
tebakannya ternyata jitu. Maka dia lantas mengangguk tanda membenarkan.
"Apakah hubungamu dengan sepasang siluman itu" kembali Put to sianseng bertanya.
"Mereka berdua sudah termasuk jadi anggota perguruanku"
JILID 31 HAL. 46/47 HILANG
"Benar, dan sekarang juga kita akan berangkat menuju ke kuil Bu cu an dibukit Tay huang san"
"Pergi ke bukit Tay huang san?" seru siluman putih dengan wajah terkesiap.
"Benar, bukit Tay huang tempat tinggal dari Tay huang sini"
"Apakah ciangbunjin hendak bermusuhan dengan pendeta perempuan itu?"
"Tidak, aku kesana untuk menyelesaikan sedikit persoalan. Tahukah kamu berdua persoalan
apa yang hendak kuselesaikan "
"Tentang soal ini tecu tak berani bertanya.."
"Kalau begitu hayo kita segera berangkat"
Begitulah tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat segera
berangkat menuju utara.
Hek pek siang yau terhitung pula sebagai jago yang tersohor pada puluhan tahun berselang,
tentu saja Tay huang sinni yang pernah malang melintang dalam sungai telaga dengan Hud cu
lengnya tidak terlampau asing bagi mereka.
sekarang setelah mengetahui bahwa tujuan mereka adalah ke bukit Tay huang san, sedikit
berdebar juga hati mereka berdua.
Namun baik siluman hitam maupun siluman putih tak berani banyak bertanya, sebab
bagaimanapun juga mereka harus mengikuti kemana perginya majikan mereka.
Untunglah ketiga orang itu adalah jago-jago silat berilmu tinggi, sekalipun tiada jalan yang
terbentang namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menembusinya .
Dua jam kemudian, mereka sudah memasuki daerah pegunungan yang terjal dan sepi.
sesudah melewati berpuluh-puluh buah bukit yang terjal, akhirnya diantara deretan bukit itu
muncullah sebuah bukit gundul yang gersang.
Kecuali beberapa titik warna hijau menghiasi bukit tersebut, hampir boleh dibilang yang tampak
hanya batu-batu cadas yang hitam dan tajam.
Han siong Kie segera menghentikan langkah kakinya, sambil menunjuk ke arah bukit gundul
nanjauh didepan sana katanya:
"Aku pikir bukit itulah yang dinamakan bukit Tay huang san?"
"Jadi ciangbunjin belum pernah berkunjung kemari?" tanya siluman hitam keheranan-
"Belum pernah, baru untuk pertama kali ini aku berkunjung kemari"
"Dahulu tecu pernah melewati tempat ini, tak salah lagi inilah bukit Tay huang san"
"Ciangbunjin, bolehkah kami tahu apa maksud ciangbunjin datang kemari?" tanya siluman putih
agak takut-takut.
"Mencari seseorang"
"Mencari orang? Ketahuilah ciangbunjin, dua li dari kaki bukit itu merupakan daerah terlarang,
setiap umat persilatan tak berani melewati wilayah tersebut dengan sembarangan"
Han siong Kie bukan orang bodoh, tentu saja ia mengetahui perasaan hati dari sepasang
siluman itu, sambil tertawa dingin katanya: "Jadi kalian merasa takut??"
"Ciangbunjin jangan berkata begitu" seru siluman hitam dengan hati gelisah, "setelah tecu
memberikan kesanggupan untuk turut serta ciangbunjin untuk selamanya, jangan toh hanya
berkunjung ke bukit Tay huang san, kendatipun harus naik kebukit golok atau terjun ke lautan api
tak nanti kami akan menolaknya"
Han siong Kie menengadah dan memandang sekejap bukit gundul diseberang sana, kemudian
katanya lagi.
"Kalian berdua tak usah ikut aku naik ke bukit itu, nantikan saja kedatanganku disini"
"Tidak Tecu tidak mau meninggalkan ciangbunjin seorang diri" serentak kedua orang siluman
itu berseru.
"Aku hendak pergi menyelesaikan suatu persoalan, kalian tak usah ikut saja. berdiamlah disini "
"Tecu berdua mana tenang membiarkan ciangbunjin pergi menempuh mara bahaya seorang
diri?"
"siapa bilang aku pergi menempuh bahaya ? Ketahuilah urusanku ini tidak menyangkut soal
dendam sakit hatipun tidak mengenai soal pembalasan budi."
"Tapi .. Ciangbungjin pasti tahu Tay Huang sini adalah seorang manusia yang berwatak aneh,
siapa berani melanggar pantangannya maka bisa mengakibatkan ...."
"Kalian berdua tak perlu kuatir, aku bisa menjaga diri dan akupun tahu bagaimana caranya
untuk menghadapi keadaan seperti itu" Dengan wajah bersungguh-sungguh siluman hitam
berkata lagi:
"Bagaimaa kalau tecu berdua mengikuti jejak ciangbunjin dari tempat kejauhan ?jadi apabila
sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tecu berdua bisa segera memberi bantuan ?"
"Tidak Tidak perlu" sahut pemuda itu tegas.
Tapi... tapi bagaimanapan juga, kami merasa tak tenang."
"Kalian berdua tetap berjaga-jaga disini, bagaimanapun juga yang terjadi disini, kalian tak boleh
bergerak secara sembarangan, perkataanku ini adalah perintah, aku minta kalian berdua jangan
mencoba untuk melanggar perintahku ini"
Buru-buru Hok pek siang yau membungkukkan badannya memberi hormat, mereka tak banyak
banyak bicara lagi.
Menyaksikan sikap kedua orang itu, Han siong Kie malahan merasa tidak tega sendiri, kembali
bisiknya dengan lembut:
"Kalian berdua tidak usah kuatir, tenangkan saja hati kalian berdua, tidak akan terjadi hal yang
diluar dugaan atas diriku ini"
seraya berkata dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan bergerak menuju
kepuncak bukit yang gundul itu
Diluaran Han siong Kie memang tampak sangat tenang, padahal dalam hatinya ia menggerutu
terus, bagaimanapun juga dia telah memasuki daerah terlarang dari seorang jago silat yang
disegani umat manusia, selain itu diapun tak tahu apakah pesan dari put lo sianseng dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya atau tidak masih merupakan suatu tanda tanya besar, ia tak
tahu apakah Go siau bi bersedia untuk mendengarkan nasehatnya atau tidak.
Menurut keterangaa dari put to sianseng sudah tiga hari tiga malam Go siau bi berlutut didepan
pintu kuil, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tekadnya sudah bulat .
"Apa yang harus diucapkan setelah berjumpa dengan gadis itu nanti?"
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, setiap kali teringat akan persoalan ini hatinya
langsung merasa tak tenang.
Belum jauh ia mendaki bukit yang gundul itu, kira-kira baru sepuluh kaki dari wilayah
perbatasan daerah terlarang, mendadak perjalanannya telah dihadang oleh seorang nikoh,
pendeta perempuan itu duduk bersila diatas sebuah batu cadas, matanya terpejam dan tubuhnya
kaku seperti arca, tampaklah betapa berwibawanya nikoh tersebut.
Cepat Han siong Kie menghentikan gerak tubuhnya, setelah tertegun sejenak diapun berpikir:
"Mungkinkah nikoh tua itu adalah Tay huang sinni yang tersohor dimana-mana itu?" sambil
merangkap tangannya memberi hormat pemuda itu menyapa: "Mohon tanya apakah sinni adalah
Tay huang sini?"
"Dia adalah guruku " sahut nikoh tua itu singkat.
sekalipun hanya beberapa patah kata saja, namun tiap patah kata diucapkan dengan sangat
nyaring dan tajam, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki nikoh ini sudah
mencapai puncak kesempurnaan yang mengagumkan.
-000dw000-
BAB 65
"BOLEH aku tahu, siapa nama gelar dari suthay ?" kembali si anak muda itu bertanya.
"Kami adalah orang yang beragama, tidak menjadi kebiasaan bagi kami untuk saling
menyebutkan nama dengan orang awam "
Ucapan tersebut dingin kaku dan singkat, malahan nikoh itu sama sekali tidak membuka
matanya barang sekejappun.
Diam-diam Han siong Kie merasa naik pitam, tapi ia tetap berusaha untuk mengendalikan hawa
amarahnya itu, sebab berulang kali Put to sianseng telah berpesan kepadanya agar jangan
memakai kekerasan, sehingga mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi
tujuan kedatangannya toh hanya berusaha menasehati Go siau bi agar membatalkan niatnya
untuk menjadi pendeta."
Maka setelah berpikir beberapa saat, dia pun berkata:
JILID 31 HAL. 56/57 HILANG
tekebur yang berani mencari gara-gara dibukit Tay huang san"
Keangkuhan dan keketusan Han siong Kie segera terpancing keluar oleh suasana yang serba
tak enak itu, dia balas mendengus.
"Hmm Aku sudah memohon dengan segala kehalusan serta mengikuti tata kesopanan aku
minta suthay jangan bersikeras untuk menampik keinginanku ini, ketahuilah setelah aku berhasil
berjumpa dengan orang yang kucari maka akupun akan segera tinggalkan tempat ini"
"Tidak bisa Lebih baik sicu segera tinggalkan tempat ini."
"Kalau suthay bersikeras untuk menampik terus kehendak hatiku, terpaksa aku akan berbuat
kurang sopan.
43
"Apa yang hendak sicu lakukan ?"
"Apa lagi? Tentu saja naik gunung mencari orang"
"Sicu, tak usahlah bersikeras untuk mencari keonaran, apakah engkau baru bersedia untuk
turun dari bukit ini setelah diusir oleh pinni dengan menggunakan kekerasan ?"
"Bagiku hanya tahu maju terus pantang mundur, tak dikenal arti mengundurkan diri sebelum
apa yang kuharapkan tercapai."
"Jadi kau ingin main kekerasan? Silahkan saja untuk mencoba. "
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan"
Begitu selesai berkata, Han siong Kie segera menjejakkan kakinya ke tanah dan melesat
kedepan.
Nikoh tua itu menggulung keluar dan menghantam tubuh sianak muda itu keras dan berat
sekali tenaga pukulan yang dilontarkan oleh pendeta perempuan itu.
Han siong Kie tak mampu untuk meneruskan langkahnya, ia dipaksa untuk melayang kembali
ketempat semula, dalam hati pemuda itu lantas berpikir:
"Muridnya saja sudah begitu lihay, apa lagi gurunya? Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki
Tay huang sinni telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa"
Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba nikoh tua itu membentak lagi:
JILID 31 HAL.60/61 HILANG
sekarang Han siong Kie tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, sepasang telapak
tangannya diayun kedepan melancarkan dua buah pukulan berantai yang maha dahsyat, dalam
seraogannya kali ini dia telah sertakan tenaga sakti si mi sinkang sebesar enam bagian.
Nikoh tua itu mendengus gusar, diapun mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut
datangnya ancaman tersebut.
"Blaaam Blaaam" dua kali benturan keras seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong
menggelegar di angkasa. Nikoh tua itu bergetar keras dan akhirnya tak mampu mempertahankan
diri ia terdesak mundur dari atas batu cadas tersebut.
Menggunakan kesempatan dikala nikoh itu terpental turun dari batu Han siong Kie segera
melejit keudara dan melayang sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula kemudian sekali menutul
permukaan tanah pemuda itu melayang kembali sejauh sepuluh kaki.
"Kawanan tikus kau akan pergi ke mana?"
mendadak seorang nikoh tua lain muncul dihadapan mukanya dan menghadang jalan pergi
sianak muda itu, sementara nikoh tua yang berada dibelakang tadi kini entah telah pergi kemana ?
Dengan tatapan tajam Han siong Kie mengamati tampang nikoh tua yang menghalang jalan
perginya ini, ia lihat alis matanya sudah memutih semua, sekalipun jauh lebih muda daripada
nikoh tua yang duduk di arca batu tadi, namun usianya sudah berada diantara enam puluh sampai
tujuh puluh tahunan.
"Sicu, hebat sekali ilmu silat yang kau miliki" tegur nikoh beralis putih itu dengan wajah
sedingin es.
"Terima kasih atas pujian dari suthay Aku tidak memiliki kepandaian apa-apa dan rasanya tak
perlu kau kagumi"
"sicu, sadarkah engkau apa akibatnya jika engkau bersikeras untuk melakukan pengacauan
diatas bukit Tay huang san ini ?"
"Apa akibatnya?" tanya pemuda itu.
"Mati. Mati dalam keadaan mengenaskan" Kontan saja Han siong Kie mengerutkan dahinya.
"suthay, janganlah kau anggap ancaman itu akan membuat aku jeri ataupun ketakutan.
Ketahuilah kedatanganku kemari adalah atas permintian dari seseorang, dan aku datang kemari
melalui tata cara dan sopan santun pada umumnya, janganlah kalian mulai dahulu dengan
permainan kekerasan"
"Tidakkah sicu tahu bahwa bukit Tay Huang san adalah suatu daerah terlarang? Suatu wilayah
yang tak boleh dilalui oleh setiap manusia asing kecuali penghuni kuil?"
"Maaf suthay, sebelum apa yang kucita- citakan tercapai, aku tidak mengenal apa artinya takut
atau mengundurkan diri ditengah jalan"
"Kalau begitu, silahkan saja untuk coba menerjang masuk dengan kekerasan .. " tantang nikoh
itu.
"Kalau terpaksa musti menggunakan kekerasan, maaf kalau aku akan bertindak lancang
-ooodwooo
SEHABIS mengucapkan kata-kata tersebut, seperti sukma gentayangan saja sianak muda itu
menerjang maju kedepan.
Meskipun pemuda itu bertindak cepat, nikoh tua itupun tidak berlambat, baru saja Han siong
Kie mencoba untuk menerobos lewat dari sisinya, tahu-tahu nikoh tua itu sudah menghadang
dihadapan mukanya sembari melancarkan tiga buah serangan berantai.
Ke tiga buah serangsn tersebut bukan saja dilancarkan secara beruntun dengan kecepatan
yang luar biasa, terasalah desingan angin puyuh yang menyertai serangan itu hebatnya luar biasa.
Terkesiap Han siong Kie menghadapi serangan sedahsyat itu, dia coba berkelit ke samping
untuk menghindar, lalu dari samping dia lepaskan sebuah serangan balasan.
Nikoh tua itu bergerak kesamping, bukan saja dengan gerakan yang enteng ia berhasil
menghindari serangan tersebut, malahan menggunakan kesempatan tersebut ke lima jari tangan
kirinya seperti jepitan baja mencengkeram urat penting dipergelangan tangan Han siong Kie,
sementara tangan kanannya dikebutkan kemuka menghajar hiatto-hiatto penting disekitar dada
bagian luar.
Cepat dalam serangan, aneh dalam jurus pukulan, kelihayan nikoh tua ini jarang di temui dalam
dunia persilatan.
selihay-lihaynya nikoh tua itu, Han siong Kie jauh lebih lihay, ia putar telapak tangan kanannya
dengan cepat, dari gerakan dia rubah serangannya menjadi gerakan mencengkeram, arah yang
diancam adalah pergelangan tangan lawan, sementara telapak tangan kirinya tidak ketinggalan, ia
putar satu lingkaran didepan dada dan menutup semua hiatto pentingnya dari ancaman.
Gagal dengan serangan kilatnya, nikoh tua itu mundur tiga langkah kebelakang, menyusul
sebuah pukulan kilat kembali dilancarkan.
Han siong Kie tak mau unjukkan kelemahan nya, dia lepaskan pula sebuah pukulan untuk
menyambut ancaman itu.
"Blaang" benturan keras tak dapat dihindari lagi, masing-masing pihak terjengkang mundur
satu langkah.
Dalam hati Han siong Kie merasa terperanjat, ia tak mengira kalau nikoh tua itu sanggup
menerima pukulan saktinya yang disertai dengan tenaga sebesar enam bagian.
Ia kaget nikoh tua itu lebih kaget sebab dalam serangannya barusan dia telah mengerahkan
tenaga sebesar sepuluh bagian, tapi nyatanya bukan saja tak berhasil merobohkan lawan, dia
sendiri yang terdesak mundur satu langkah.
Untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama tertegun, mereka sama-sama menyadari bahwa
musuh yang sedang dihadapi adalah musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Paras muka nikoh tua itu berobah hebat, jubah pendetanya yang lebar menggelembung sendiri
tanpa terhembus angin, sinar matanya berkilat dan perlahan-lahan telapak tangannya diangkat
keatas.
Meskipun Han siong Kie terperanjat dan tidak mengerti ilmu aneh apakah yang sedang
dikerahkan musuhnya namun sianak muda itu tak berani bertindak gegabah, dia pun menghimpun
hawa sakti si mi sinkang nya sebesar delapan bagian, telapak tangannya dialingkan didepan dada,
siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Sementara itu nikoh tua tadi telah mengangkat telapak tangannya sejajar dada, kemudian
didorongkan kemuka perlahan-lahan, segulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera
meluncur kedepan dan menyapu benda apa saja yang dilewatinya.
Han siong Kie memandang pukulan itu dengan serius, sepasang telapak tangannya balas
didorong kemuka dan menyambut ancaman tersebut dengan tenaga si mi sinkang sebesar
delapan bagian.
"Blaaang" ledakan keras menggelegar di angkasa, diantara suara nyaring terdengar dengus
tertahan menggema diudara, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur lima langkah, paras
mukanya pucat pias, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, peluh sebesar kacang kedelai
mengucur keluar tiada hentinya.
Han siong Kie sendiripun merasakan hatinya bergoncang keras, dia terdorong mundur satu
langkah lebar.
setelah berhenti sebentar nikoh tua itu menggigit bibir, tiba-tiba ia menerjang lagi kedepan,
sepasang telapak tangannya dengan desingan tajam disapu kembali keluar.
sapuan tersebut tampaknya saja sangat lambat pada hakekatnya cepat melebihi kilat bahkan
sudut sasarannya jauh dari keadaan biasa bukan saja disertai hawa pukulan yang aneh bahkan
membuat orang tak mampu untuk menangkis datangnya ancaman itu
Han siong Kie seketika terdesak hebat, dia mundur terus berulang kali tanpa mampu
membalas.
Bagaikan gulungan ombak sungai yang berkepanjangan serangan itu datang secara
bergelombang dan tiada putusnya, sianak muda itu mundur terus kebelakang dan akhirnya ia
terjebak disuatu batuan cadas yang tinggi dan besar, waktu itu ingin mundurpun sudah tiada jalan
lagi.
sadarlah pemuda itu bahwa keadaannya sudah keteter hebat, bila ia tidak unjukkan
kesaktiannya lagi tak nanti dia bisa menaiki bukit itu. Berpikir demikian dia lantas membentak:
"Maaf, terpaksa aku akan bertindak kasar"
Dengan jurus Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia lepaskan sebuah pukulan
dengan tenaga sebesar sepuluh bagian.
Walaupun jurus serangan ygng dipergunakan masih merupakan jurus-jurus lama, akan tetapi
setelah dia berhasil mempelajari ilmu sakti si mi sinkang, kekuatan daya serangannya ternyata
jauh berbeda.
Jerit kesakitan menggema di angkasa, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur sejauh satu
kaki lebih, darah segar mengucur keluar membasahi ujung bibirnya.
Han siong Kie tertegun, dia tak menyangka kelihayannya sudah mencapai tingkatan setinggi itu,
semua dalam keadaaa begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih jauh, serentak tubuhnya
berkelebat dan menerjang ke atas puncak bukit.
selang sesaat kemudian ia sudah mencapai seratus kaki sebelum puncak bukit, beberapa
batang pohon siong muncul didepas mata, dan d ibalik pepohonan itu tampaklah sebuah
bangunan kuil yang terbuat dari batu cadas gunung. Han siong Kie merasa semangatnya
berkobar, ia percepat gerakan larinya.
Mendadak sesosok bayangan abu-abu muncul dari balik pepohonan dan langsung menerkam
kedepan, sebelum tiba angin pukulan yang tajam sudah keburu menyapu lebih duluan-
Sungguh terkejut sianak muda itu, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki pendatang ini jauh lebih
hebat daripada dua orang nikoh yang telah dijumpai, cepat tubuhnya menukik dan membentuk
sebuah gerakan setengah busur diudara kemudian melayang turun ke muka bumi.
Bayangan abu-abu itnpun melayang turun ternyata dia adalah seorang nikoh berlengan
tunggal.
Sebelum Han siong Kie sempat buka suara, nikoh berlengan satu itu sudah menegur lebih
dahulu:
"Sicu, engkau anggap kepandaian silatmu sudah hebat maka secara beruntun kau lukai dua
orang seperguruanku dan kemudian datang mengacau bukit Tay huang san ini"
"Aku tidak bermaksud main kasar, aku memohon dengan sopan dan menuruti
JILID 32 HAL 10/11 HILANG
yang tergetar oleh terasa sinkang musuh terasa sangat sakit bagaikan mau patah, dengan
gontai ia mundur sejauh delapan depa, rasa kaget dan tercengang menghiasi seluruh wajahnya.
Kecuali gurunya, selama hidup belum pernah dijumpai musuh setangguh ini, apalagi usianya
belum dua puluh tahunan, hal ini semakin mencengangkan hatinya.
Dipihak lain Han siong Kie dibikin naik pitam oleh kejadian yang baru dialaminya, hawa sakti Si
mi sinkang lantas disalurkan mengelilingi seluruh badan, dari kejauhan dia lepaskan sebuah
pukulan dahsyat.
Nikoh berlengan tunggal itu terkesiap. cepat-cepat tangannya berputar membentuk satu
lingkaran kilat, gerakan itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikitpun-
Han siong Kie terperanjat ia merasa bahwa tenaga pukulan yang dilancarkan dengan kekuatan
sebesar delapan bagian itu mendadak punah sama sekali hingga lenyap tak berbekas.
Ia menggigit bibir, sepasang telapak tangannya sekali lagi meluncurkan serangan dengan
mengerahkan tenaga sebesar sepuluh bagian, kali ini terlihatlah pancaran cahaya aneh dari raut
wajahnya.
Nikoh berlengan tunggal ini lebih tercekat lagi hatinya, kalau orang lain tidak tahu maka hati
kecilnya jauh lebih paham dari siapapun juga untuk memunahkan daya pengaruh serangan musuh
barusan dia harus mengerahkan ilmu sakti Pay yap sin khinya hingga mencapai dua belas bagian
dengan susah payah ancaman musuh baru bisa dipunahkan, tapi sekarang musuh telah
menambahkan serangannya hingga mencapai sepuluh bagian, dia yakin bahwa kepandaian nya
tak mampu untuk membendung kedahsyatan lawan. Tampaknya nikoh berlengan tunggal itu bakal
mati konyol.
Disaat yang kritis tiba-tiba terdengar seseorang berseru nyaring dari tempat kejauhan.
"Biau hian cepat mundur, pukulan itu adalah ilmu si mi sinkang, engkau tak mampu untuk
menghadapinya"
Ucapan tersebut cukup mencengangkan hati Han siong Kie, ia tahu kalau tebakannya tidak
keliru maka orang yang baruran berbicara tak lain adalah Tay huang sinni pemilik kuil Bu cuan ini,
ia merasa bahwa kata-kata tersebut berasal dari balik kuil, kalau toh demikian adanya dari mana
nikoh sakti itu bisa mengetahui akan asal usul ilmu silatnya?"
Mungkinkah ia sudah berhasil melatih ilmu Thian sao tong, suatu kepandaian melihat jauh.
Paras muka nikoh tua yang bernama Biau hian itu berubah hebat, dia melirik sekejap kearah
Han siong Kie. kemudian putar badan dan lenyap dibalik batu-batu cadas.
Karena musuhnya telah mengundurkan diri, maka sianak muda itupun membatalkan
erangannya, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kearah puncak bukit sebelah depan sana.
"Locianpwe, boanpwe ada urusan hendak bertemu dengan cianpwe, harap engkau bersedia
memaafkan kelancanganku ini"
"Sebutkan asal usul perguraanmu " kata-kata tersebut muncul kembali dari atas puncak bukit.
"Boancwe bernama Han siong Kie, ketua dari perguruan Thian lam bun "
"Engkau adalah ketua dari istana Huan mo kiong diwilayah Thian-Iam ? Ada urusan apa datang
kemari ?"
"Boanpwe mendapat pesan dari seseorang dan sengaja datang kemari untuk mencari orang"
"siapa yang kau cari ?"
seorang nona yang bernama Go siau bi"
"siapa yang suruh engkau datang kemari ?"
"Put to sianseng, kakek dari nona Go "
"ooooh, jadi engkaulah yang bernama Manusia muka dingin Han siong Kie " sekali lagi anak
muda itu terperanjat, sahutnya cepat: "Benar, boanpwelah yang bernama Han siong Kie."
"Memandang diatas wajah Put lo sianseng aku tidak akan mempersoalkan lagi kesalahanmu
mencari gara-gara ke atas bukit kami ini. Nah Cepatlah turun dari bukit ini."
Perasaan hati yang semula sudah menjadi tenang, kini bergolak kembali, ucapan tersebut
dirasakan Han siong Kie sebagai suatu ejekan, rasa ingin menang lantas muncul kembali.
" Cianpwe, aku toh sudah mengutarakan maksud kedatanganku ? Masa sebelum tujuanku
kesampaian kau telah mengusir aku turun gunung?" serunya dengan hati tak puas.
"Aku perintahkan kepadamu untuk segera turun dari bukit ini " tiba-tiba suara dari Tay huang
sinni berubah jadi amat dingin dan ketus, bahkan ucapan tersebut diutarakan sepatah demi
sepatah kata.
sesabar-sabarnya Han siong Kie setelah diperlakukan sekasar itu diapun tak dapat menahan diri
lagi tampiknya:
"Aku datang kemari bukan untuk mendengarkan perintahmu, kalau aku tak mau turun gunung
kau mau apa?"
"Hmm Membandel" maki Tay huang sinni ketus,
" kalau begitu apa yang hendak kau lakukan ?"
"Setelah persoalan yang dititipkan pada ku telah kuselesaikan, tanpa disuruh aku bisa turun
gunung sendiri"
"Persoalan apa yang hendak kau kerjakan ditempat ini?"
"Aku ingin bertemu dengan nona Go siau bi dan bercakap-cakap sendiri dengan dirinya"
"Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah seorang pendeta beragama, aku tak ingin bersilat lidah
dengan dirimu, lebih baik cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini"
"Maaf, aku tak dapat menuruti kehendakmu itu"
"Hmm sicu, jangan kau anggap ilmu sakti si mi sinkang yang kau miliki itu adalah suatu
kelandaian sakti yang tiada tandingannya lagi dikolong langit" Agaknya Tay huang sinni mulai naik
darah oleh sikap lawannya yang keras kepala.
"Akupun sama sekali tidak berpendapat demikian, tapi bila ada orang ingin main-main
denganku, akan kubuktikan bahwa kepandaian tersebut masih lebih dari cukup bagiku untuk
mempertahankan diri"
suasana hening untuk sesaat, diantara hembusan angin bukit yang sepoi-sepoi akhirnya
terdengar Tay huang sini berkata lagi, hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut: "Sicu, aku rasa
engkau tak usah bertemu lagi dengan nona Go"
"Kenapa?" Tanya si anak muda itu cepat.
"Sebab dia tak ingin berjumpa lagi denganmu "
Jawaban ini membuat Han siong Kie membungkam, sebab inilah kejadian yang sangat tidak
diharapkan olehnya, suatu kejadian yang membuat ia jadi jengah dan merasa serba salah, tapi
haruskah ia mengundurkan diri dengan begitu saja ?
"Aku telah berjanji kepada Put to sianseng, bahwa persoalan ini akan kuselesaikan dengan
segala kemampuan yang kumiliki" pikir pemuda itu dalam hati "dan lagi akupun merasa banyak
berhutang budi kepada Go siau Bi, apakah aku harus mengundurkan diri karena persoalan ini ?
Toh Go siau bi bisa menjadi nekad adalah gara-gara karena aku ? Tatkala ingatan tersebut
terlintas dalam benaknya, pemuda itu lantas berseru:
"Dia mau berjumpa denganku atau tidak adalah urusan pribadinya sendiri, pokoknya
bagaimanapun juga aku harus bertemu dengannya "
"Hmm Engkau hendak berbuat sewenang-wenang ditempat ini ?"
"Tidak. aku tidak berbuat sewenang-wenang, aku hanya bertindak menuruti perasaan hatiku
sendiri"
"Ketahuilah wahai Han sicu, pinni bisa simpatik terhadap pengalaman serta tragedi yang
menimpa kehidupan nona Go, telah kukabulkan permintaannya itu dan sekarang akan kucukur
rambutnya menjadi nikoh, mulai detik ini ia sudah menjadi murid Buddha dan dia tak akan
menjumpai dirimu untuk selamanya."
"Tidak Tidak boleh" teriak Han siong Kie dengan setengah menggembor, paras mukanya
berubah hebat.
"Tidak boleh ? Dengan berdasarkan apa engkau melarang kebebasan orang untuk memilih dan
melakukan apa yang disukainya Haaah haaah haaah sicu, kau harus tahu kendatipun pinni telah
menjadi murid Buddha, akan tetapi aku tidak terikat oleh suatu pantangan, yakni pantangan
membunuh"
Habislah kesabaran Han siong Kie, dia mendengus penuh kemarahan, sekali menjejak
permukan tanah, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya pemuda itu melayang keatas
puncak bukit.
sewaktu tiba didepan pintu kuil ia lihat pintu gerbang tertutup rapat, seorang dara baju putih
tampak berlutut didepan pintu kuil itu tanpa bergerak. siapa lagi dara itu kalau bukan Go siau bi
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, lama-lama sekali ia menatap dara itu
kemudian bisiknya: "Nona Go "
Go siau bi tidak menjawab, ia masih tetap berlutut tak bergerak.
"Nona Go " sekali lagi anak itu muda itu memanggil dengan lemah.
-000dw000-
66
PENGALAMAN yang dialami Go siau bi memang mengenaskan, berulang kali ia menyatakan
cinta kepada pemuda pujaannya, namun setiap kali tidak mendapat tanggapan yang serius.
sejak mengalami kejadian didalam perkampungan oh han san ceng bertekadlah gadis ini untuk
cukur rambut menjadi pendeta dan menjalankan sisa hidupnya dengan mengabdikan diri kepada
sang Buddha.
Kendatipun tekadnya sudah bulat, tak dapat dipungkiri bahwa rasa cintanya terhadap Han siong
Kie telah padam terlebih lagi ia tak menyangka kalau si anak muda itu bakal datang ke bukit Tay
huang san mencari dirinya.
Untuk sesaat pikirannya jadi kacau balau tak karuan, rasa cinta yang masih membakar dalam
dadanya serasa makin bergolak dengan hebatnya.
JILID 32 HAL. 22 S/D 25 HILANG
"Apakah locianpwe adalah pemilik kuil ini ?"
"Ehmm " tiada jawaban kecuali dengusan dingin, dengusan tersebut amat ketus dan tak sedap
didengar.
sekuat tenaga Han siong Kie berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, ia bertanya:
"Sudahkah locianpwe menyanggupi permintaannya untuk mencukur rambutnya menjadi
pendeta?"
"Enmm sudah kenapa ??"
"Aku rasa dengan kedudukan cianpwe yang agung dan dihormati orang, tentunya engkau tak
akan mengingkari janji sendiri bukan ?"
"Apa maksudmu dengan perkataan itu?" tegur Tay huang sini dengan wajah berubah.
"Bukankah locianpwe telah menyanggupi permintaan put to sianseng untuk menolak
permintaan nona Go menjadi pendeta ?"
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar tanpa bisa dicegah lagi Go siau bi berpaling serta
melotot sekejap kearah sianak muda itu.
"Ehmm, memang ada kejadian seperti itu" kata Tay huang sinni tetap ketus, "tapi aku tidak
menyanggupi untuk tidak mengukurkan rambut cucunya, aku hanya setuju untuk memberi
kesempatan kepadanya untuk mempertimbangkan kembali persoalan ini"
"Tapi bukankah perbuatanmu sekarang...."
"Pinni simpatik terhadap tragedi yang menimpa dirinya dan sekarang aku sudah berubah
pikiran" tukas nikoh itu cepat.
"Apakah sudah locianpwe bayangkan akibat-akibatnya bila aku melakukan hal ini atas dirinya?"
"Bagi kami orang-orang beragama tak pernah terpikirkan apakah ada akibat atau tidak tindakan
yang kami ambil, semua persoalan kami pertimbangkan dengan keadaan berjodoh atau tidak"
"Hmm orang beragama mengutamakan belas kasihan, tindakan dari locianpwe ini ...."
"Tutup mulutmu" bentak Tay huang sinni marah "ia sudah tiga hari tiga malam berlutut didepan
pintu kuilku, apakah pinni tak boleh berbuat belas kasihan dengan memenuhi keinginannya "
Waktu itu tiba tiba Go siau b i berpaling dan berkata:
HAL. 28/29 HILANG
Memang inilah yang diharapkan Han siong Kie, sebab semenjak ia menerima pesan dari Put lo
sianseng sudah terlintas satu ingatan untuk mengadu kepandaian dengan tokoh silat itu
"Maksud Locianpwe engkau hendak mengajak aku untuk bertaruh dalam pertarungan ini?"
katanya kemudian dengan serius.
"Benar .. "
"Dan pertarungan ini adalah pertarungan atas mati dan hidup ?"
"Haah, tidak sampai seserius itu asal sudah ditentukan siapa menang siapa kalah, hal ini sudah
lebih dari cukup "
"Bagaimana setelah menang kalah dapat ditetapkan ?"
"Jika engkau yang menang maka pinni tak akan mempersoalkan kehadiranmu lagi di bukit ini,
bahkan akupun tak akan memaksa Go siau bi untuk mencukur rambut menjadi pendeta"
"Seandainya aku yang kalah ? Apa yang harus kulakukan ?"
"Kalau engkau kalah maka kau harus menyanggupi sebuah syarat yang akan pinni ajukan "
"Apa syaratmu itu ?"
"syarat itu rasanya terlampau awal bila kuutarakan pada saat ini, pokoknya tak akan merugikan
dirimu "
"Andaikata menang kalah tak dapat ditentukan? Apa yang harus kulakukan?"
"Akan kubiarkan engkau turun dari bukit ini dengan selamat "
Perasaan hati Han siong Kie bergolak keras, setelah mendengar ucapan tersebut, dia merasa
beruntung karena bisa mendapat kesempatan untuk bertarung melawan seorang tokoh silat yang
lihay. Tapi diapun kuatir bila kalah maka syarat apakah yang bakal diajukan kepadanya ?
Mampukah ia melaksanakan syarat tersebut ?
"Locianpwe, pertarungan yang bagaimana kah akan kita langsungkan? " ia bertanya kemudian.
Tay huang sinni termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya:
"Pinni telah bersumpah tak akan keluar dari pintu kuil ini barang selangkahpun, sekarang kita
berdiri dengan selisih jarak lima kaki, baiknya kalau kita masing-masing berdiri tak bergerak
ditempat:
HAL. 32 HILANG
"Han sauhiap. silahkan engkau melancarkan serangan lebih dahulu " Suatu ketika Tay huang
sinni berkata dengan wajah serius.
"Tidak. lebih baik locianpwe yang turun tangan lebih dahulu" kata Han siong Kie dengan hati
bergetar.
"Pini adalah seorang angkatan tua, tidak pantas untuk turun tangan lebih dahulu, lebih baik
sauhiap duluan"
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa boanpwe bertindak lancang . . nah, sambutlah
seranganku ini"
Dengan menghimpun hawa sakti Si mi sinkangnya mencapai sepuluh bagian, perlahan-lahan
telapak tangannya diangkat kemuka dan lantas didorong ke depan.
segulung angin pukulan yang tipis halus dan sama sekali tidak menimbulkan suara, berhembus
ketubuh lawan-
Meskipun enteng sekali pukulan itu tampaknya pada hakekatnya mengandung tenaga dahsyat
yang cukup merontokkan nyali orang.
Disaat Han siong Kie melancarkan serangan Tay huang sinni sendiripun memutar tiga kali
sepasang telapak tangannya didepan dada.
suatu getaran keras menyusu terjadinya ledakan yang memekikkan telinga Tay huang sini
hanya tergetar sedikit tubuhnya, sementara kuda-kudanya masih kelihatan kokoh sekali.
Pukulan si mi sinkang sebesar sepuluh bagian ternyata berhasil dipunahkan oleh nikoh tua itu
dengan enteng, sedikit banyak tercekat juga hati Han siong Kie, diam-diam ia menjulurkan
lidahnya.
Paras muka Tay huang sinni sendiri berubah jadi amat serius, tampaknya nikoh itu tidak
berkeyakinan dapat menangkan pertarungan ini.
orang yang kehilangan sukma sendiripun tampak sangat tegang, sampai-sampai badannya ikut
gemetar keras.
Gagal dengan serangan yang pertama, Han Siong Kie menghimpus kembali tenaganya
mencapai dua belas bagian, sambil melepaskan pukulan serunya lantang: "sambutlah seranganku
yang kedua ini"
Ketika sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan, secara lapat-lapat tampaklah asap
putih yang tipis menyertai deruan pukulan itu.
Tay huang sinni menggerakkan sepasang ujung bajunya untuk menangkis, ia membentuk
gerakan aneh didepan dadanya, selapis hawa hijau yang menggulung tebal seketika melapisi
seluruh badannya, jelas nikoh ini sudah mengerahkan ilmu Pay yap sin khinya hingga mencapai
pada puncak kehebatannya.
Cahaya putih dan cahaya hijau segera bertemu satu sama lainnya, dan tak bisa di cegah
terjadilah ledakan yang memekikkan telinga.
sekujur badan Tay huang sini gemetar keras, tubuhnya goncang bagaikan ranting pohon
terhembus angin puyuh, nyaris kedudukannya jebol dan tubuhnya terdorong maju ke depan.
Untunglah ia menggigit bibir sambil berkerut dahi, sekuat tenaga padri itu berusaha
mempertahankan diri, peluh sudah mulai membasahi seluruh badannya.
Dua jurus serangan sudah lewat tanpa menghasilkan apa-apa, sekarang tinggallah jurus yang
terakhir. pemuda itu tahu bila serangan yang ketigapun mengalami kegagalan, sudah pasti dialah
yang bakal menderita kekalahan.
Bila dipikir kembali akan kedudukan Tay huang sinni yang begitu tinggi dan terhormat, kalah
ditangan padri perempuan ini belum terhitung suatu kejadian yang memalukan, tapi Han siong Kie
mempunyai pandangan yang lain, dia harus dapat menangkan nikoh tua ini karena bagaimanapun
juga dia adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.
Dan menang kalah akan ditentukan dalam jurus serangan yang terakhir ini.
Han siong Kie mementangkan kesepuluh jari tangannya lebar-lebar, segenap hawa sakti yang
dimilikinya disalurkan kedalam jari tangan itu, ia telah mempersiapkan diri untuk melangsungkan
pertarungan yang terakhir ini dengan menggunakan ilmu jari Tong kim ci.
setajam sembilu pancaran sinar mata Tay huang sinni, dia menatap wajah pemuda itu tanpa
berkedip. sepasang telapak tangannya disilangkan didepan dada.
Akhirnya pemuda itu membentak keras, sepasang tangannya bergetar, sepuluh gulung
desingan angin jari dengan membawa suara yang memekikkan telinga langsung meluncur
kedepan-
Bersamaan dengan dilepaskannya serangan jari tangan itu, ingatan lain melintas
JILID 32 HAL. 38/39 HILANG
Dengan adanya kejadian ini, maka baru saja Han siong Kie melepaskan pukulan untuk
menangkis, tahu-tahu tenaga yang dipancarkan keluar itu telah dihisap oleh lawannya.
Mimpipun si anak muda itu tak menyangka kalau rahib tua itu bakal menggunakan taktik
"menggetar" dan menghisap hampir bersamaan waktunya, hilanglah keseimbangan.
"Aduh celaka "jeritnya dihati tak dapat dicegah lagi tubuhnya sempoyongan dan serta merta
kakinya melangkah maju. orang yang kehilangan sukma pun berkata sambil mengangguk: "Nak
engkau kalah. "
Han siong Kie tertegun, ia cuma bisa berdiri menjublak sambil membungkam dalam seribu
bahasa.
Karena kasihan pada musuhnya, ia telah menyingkirkan daya sasaran serangan Tong kim ci nya
kesamping sehingga membuang kesempatan untuk mendapat kemenangan dengan begitu saja.
sekarang kenyataan telah berbicara lain, dia telah dikalahkan dalam pertarungan tersebut,
untuk menyesalpun rasanya tak ada gunanya lagi.
"sau sicu, apakah engkau merasa bahwa pertarungan ini berlangsung tidak adil?" tiba-tiba Tay
huang sinni bertanya.
Han siong Kie tertawa jengah dan menggeleng.
"Tidak. boanpwe sama sekali tidak mempunyai pikiran semacam itu "
"Jadi engkau sudah mengaku kalah ?"
"Tentu saja, boanpwe tak akan memungkiri kekalahan yang telah kuderita ini, aku tak mau
bertolak dari kenyataan yang berada di depan mata, katakan saja apa syarat yang harus kuturuti
itu ?"
"seandainya pinni telah mengajukan syarat tersebut, dan ternyata sau sicu tidak bersedia untuk
melakukannya, apa yang musti... "
"Boanpwe tidak akan menolak semua syaratmu, sebagai seorang manusia persilatan aku akan
memegang teguh setiap janji yang telah kuucapkan" jawab pemuda itu dengan tegas. orang yang
kehilangan sukma tiba-tiba menimbrung pula:
"Atas petunjuk dari locianpwe boanpwe telah ditunjuk sebagai saksi maka setelah pertarungan
berakhir dan menang kalahpun telah ditentukan, boanpwe harap locianpwe segera mengajukan
syarat yang hendak cianpwe ajukan sehingga pertaruhan inipun bisa kita akhiri sampai disini saja .
."
sepasang mata Tay huang sinni memancarkan sinar tajam, ia memandang sekejap ke arah Han
siong Kie lalu katanya:
"Gampang dan sederhana sekali syaratku ini, aku cuma minta engkau segera menikah dengan
Go siau bi dan menjadi suami istri yang berbahagia "
Hebat sekali perubahan wajah Han siong Kie, tanpa sadar secara beruntun ia mundur lima
langkah kebelakang.
Mimpipun ia tak menyangka kalau syarat yang diajukan Tay huang sinni adalah mengenai
persoalan itu.
Pertama kali ketika ia selamatkan Go siau bi dari tangan pengawal pribadi istana Huan mo
kiong dan menginap sebuah rumah penginapan, orang yang kehilangan sukma telah menyaru
sebagai tukang obat dengan maksud menjodohkannya dengan gadis itu, kedua kalinya Put to
sianseng ajukan pinangan bagi cucu perempuannya ternyata pinangan itupun atas usul dari orang
yang kehilangan sukma.
sekarang adalah untuk ketiga kalinya peristiwa itu terjadi, temyala orang yang kehilangan
sukmalah sebagai saksinya.
sekalipun orang bodoh juga akan tahu bahwa kejadian ini bukan suatu kejadian yang
kebetulan saja, sudah pasti orang yang kehilangan sukmalah yang telah mengatur segala
sesuatunya.
Lalu apa maksudnya perempuan misterius itu mengatur segala sesuatunya itu? Apa alasannya?
Tanpa sadar sianak muda itu mengalihkan pandangan matanya kewajah orang yang kehilangan
sukma dan ingin sekali melihat mimik wajahnya pada saat itu, sayang mimik wajahnya tertutup
oleh kain kerudung berwarna hitam.
"Bagaimana sau sicu? jawablah sejujur nya" terdengar Tay huang siani bertanya.
Kacau dan bingung perasaan Han siong Kie pada saat ini tanpa disadarinya ia menyahut.
"Aku tak dapat menerima syaratmu itu "
"jadi engkau hendak menjilat ludahmu sendiri? " tegur Tay huang sinni dengan wajah serius.
Tanpa sadar si anak muda itu mundur satu langkah kebelakang dia berusaha untuk membela
diri, katanya:
"cianpwe aku minta ajukan syarat lain, tentang syaratmu yang itu aku tak dapat
menyanggupinya "
"Tidak bisa, selamanya pinni hanya akan mengajukan sebuah syarat saja, tidak nanti akan
kuulangi dengan mengajukan syarat lain"
"Tapi boanpwe benar-benar tak dapat melakukan permintaan dari locianpwe itu"
"ooh jadi engkau bermaksud untuk mengingkari janji?" ejek nikoh tua itu dengan sinis.
"Boanpwe mempunyai kesulitan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain, maafkanlah daku
locianpwe, syaratmu itu tak dapat kulaksanakan"
"jadi kau anggap Go siau bi tidak pantas untuk mendampingi dirimu sebagai seorang istri?"
"Bukan... bukan begitu maksud boanpwe, terus terang saja boanpwe katakan babwa aku..
sebenarnya aku telah..telah.."
"Apa maksudmu Katakan saja blak-blakan"
"Sebenarnya boanpwe telah serahkan hati dan tubuh boanpwe ini kepada gadis lain, dan antara
aku dengan dia telah .... telah terikat oleh tali perkawinan"
"Ada yang menjodohkan?’
"Tidak..tidak ada"
"Ada persetujuan dari orang tua?"
"Ju...juga tii... tidak ada"
"Kalau toh tidak ada kan hal itu sama sekali tidak menghalangi engkau untuk menerima
syaratku ini?"
sungguh sedih dan pedih perassan hati Han siong Kie apalagi teringat bahwa Tonghong Hui,
yang dicintainya telah tiada di dunia ini, kepedihan tersebut akhirnya tercetus keluar dengan katakata:
"Dia.... dia telah meninggal dunia"
"Kalau benar sudah mati urusan ini kan lebih gampang untuk diselesaikan? Apa yang kau
pusingkan lagi?"
"jiwa dan perasaan boanpwe telah lama terkubur bersama matinya gadis itu, pada hakekatnya
yang cianpwe lihat sekarang tak lebih hanya sesosok mayat hidup belaka, sesosok tubuh yang
tidak berperasaan dan tidak kenal arti lagi"
sekilas perasaan serba salah melintas di wajah Tay huang sinni, ia terbungkam untuk beberapa
saat lamanya, tapi selang sesaat kemudian ia telah berkata lagi dengan suara keras:
"Menurut apa yang pinni ketahui, engkau sudah pernah bersentuhan badan dengan Go siau bi,
lantaran cintanya padamu, ia rela mengasingkan diri dan hidup sebagai seorang pendeta, tidakkah
kau tergetar perasaan hatinya oleh kesungguhan serta kemurnian cinta kasihnya itu?"
"Aaai, pada hakekatnya boanpwe tidak punya ingatan untuk memikirkan persoalan yang lain"
"Tahukah engkau bahwa perbuatanmu telah menghancurkan masa depan seorang dara ?"
"Boanpwe menyesal sekali atas kejadian ini, tapi apa boleh buat lagi boanpwe tak kuasa
menerima kenyataan tersebut"
"selain itu tahukah engkau bahwa tidak berbakti ada tiga macam, dan yang paling utama
adalah tiada keturunan, apakah engkau gembira melihat keluarga Han putus keturunan?"
000dw000
BAB 67
UCAPAN tersebut bagaikan sebilah pisau belati yang menusuk kedalam ulu hati Han siong Kie,
sekujur badannys gemetar keras.
Pada hakeketnya tak pernah ia berpikir sampai kesoal itu, tapi heran mengapa Tay huang sinni
menegur dirinya dengan kata-kata semacam itu? Bukankah dia adalah seorang pendeta yang tidak
mencampuri urusan keduniawian lagi?
" Locianpwe apakah engkau hendak memaksa boanpwe untuk mengingkari janjiku terhadap
orang yang sudah tiada lagi?" katanya tiba-tiba.
orang yang kehilangan sukma yang selama ini membungkam terus mendadak menyela:
"Nak bila engkau bersedia untuk memegang janji kepada orang yang telah mati, mengapa tidak
pula kau penuhi kewajibanmu sebagai rasa baktimu pada orang tua yang telah tiada ? Kau harus
dapat membedakan mana yang serius dan mana yang tidak. toh setelah kau laksanakan
kewajibanku untuk berbakti pada orang tua, engkau masih dapat pula memenuhi janjimu kepada
orang yang telah tiada?"
"Bila aku sampai berbuat demikian, bukankah perbuatanku ini justru akan menyiksa nona Go
siau bi untuk selama-lamanya?"
"siapa bilang begitu ?"
" Cianpwe" tiba-tiba Han siong Kin menengadah dan menatap wajah perempuan misterius itu
tanpa berkedip "tolong tanya, apakah kesemuanya ini adalah hasil dari rencana locianpwe ?"
orang yang kehilangan sukma terbungkam, ia tak sanggup memberikan jawaban.
"sau sicu, apakah engkau lupa bahwa hasil ini adalah suatu hasil dari pertaruhan antara engkau
dan aku ?" Tay huang sini menyela dari samping dengan dingin
"oooh.. jadi engkau menggunakan kebahagiaan dari seorang dara sebagai bahan pertaruhan?
Pantaskah perbuatanmu itu?" seru pemuda itu marah-marah.
JILID 32 HAL. 50/51 HILANG
amat menusuk pendengarannya, terutama sebutan "ciangbunjin" yang sengaja diucapkan
dengan nada berat, lebih-lebih mengetuk perasaannya.
sebagai seorang pemuka dunia persilatan, menjadi kewajiban baginya untuk melaksanakan apa
yang telah disanggupi, tapi perkawinan adalah suatu kejadian besar, ia tak ingin berbuat secara
gegabah sehingga akhirnya harus di akhiri dengan tragedi.
44
Sementara pemuda itu masih termangu- mangu, orang yang kehilangan sukma telah berkata
lagi:
"Nak, tegakah engkau membiarkan masa depan seorang dara hancur di tanganmu?"
Sakit hati, bingung dan sedih bercampur aduk dalam perasaan hati si anak muda itu, dia tak
tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini, terutama kata-kata tentang ketidak baktian sebagai
seorang putra diantara tiga hal yang tidak berbakti, tak punya keturunan adalah tidak berbakti
yang paling utama. Benarkah dia tak akan menikah dan membiarkan orang menganggapnya
sebagai manusia yang tidak berbakti?
"Sekarang ia baru menyesal, menyesal apa sebabnya tidak menggunakan ilmu jari Tong kim ci
untuk mengalahkan musuhnya, ia tidak tega rahib itu terluka, tapi akhirnya dia sendirilah yang
rugi.
Sebagai seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia akan mengingkari janji. Kata-kata itu diucapkan
sendiri olehnya, benarkah dia harus mengingkari janji.
Sekalipun ia sadar bahwa ia terjebak oleh suatu siasat yang disusun sangat rapi, toh dia kalah
adalah suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi.
Sementara itu orang yang kehilangan sukma tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia
mendesak lebih lanjut.
"Nak, engkau sebagai putra manusia, menjadi kewajiban bagimu untuk menunjukkan
kebaktiaanmu sebagai anak manusia, sekalipun engkau dapat membalaskan dendam bagi
kematian ayahmu, belumlah lengkap kebaktianmu pada orang tua, mengertikah kau dengan katakataku
ini ? .."
Han siong Kie menggigit bibir, sahutnya:
"Apa yang cianpwe ketakan memang benar tapi sekarang aku harus membalaskan
HAL. 54 S/D 57 HILANG
sekalipun aku kawin dengan Go siau bi mungkinkah perkawinan ini bisa berakhir dengan
kebahagiaan, Akhirnya toh kita akan mengalami tragedi yang menyedihkan?"
"Bahagia atau sedih adalah urusan belakang, siapa tahu kalau kenyataannya jauh berbeda
dengan apa yang saat ini kau bayangkan?"
"Jadi maksud Cianpwe, kau memaksa Boanpwe untuk mengabulkan permintaanmu itu?"
"Yaa,angaplah perkataan ini merupakan suatu paksaan" sahut orang yang kehilangan sukma
dengan suara berat.
Han siong Kie tertegun dan tidak bicara, selang sesaat kemudian ia mengangguk. "Baik.
Boanpwe menyanggupi permintaan mu itu"
"Jadi kau menerima syarat tersebut?"
"Benar, aku menerimanya, tapi akupun mempunyai sebuah syarat"
"Apa syaratmu itu?"
" Cianpwe harus menjelaskan kepada nona Go siau bi serta kakeknya, bila dendam berdarah
berhasil boanpwe balas, waktu itulah kita baru bicarakan kembali soal cinta dan tiga tahun setelah
menikah boanpwe akan meninggalkan keluarga dan pergi jauh"
"setelah tiga tahun, apakah engkau akan bunuh diri untuk menunjukkan ketetapan hatimu pada
Tonghong Hui?" kata orang yang kehilangan sukma sampai mundur selangkah.
"Benar, kenapa ? "
"Andaikata Tonghong Hui belum meninggal dunia ?"
"Aaah, hal ini aku rasa tidak mungkin"
"Baik, kukabulkan syaratmu itu dan kita pun tentukan perjanjian ini dengan kata-katamu ini"
Berbicara sampai disini, tiba-tiba orang yang kehilangan sukma berpaling, serunya kearah batu
karang kurang lebih beberapa kaki didepan sana: "Locianpwe, silahkan mengunjukkan diri untuk
memperkuat ikatan perkawinan ini "
seorang sasterawan berusia setengah baya perlahan-lahan munculkan diri dari balik batuan
cadas.
Dia bukan lain adalah kakek Go siau bi Put to sianseng yang disegani banyak orang itu.
Han siong Kie tertegun, kemunculan tokoh silat ini semakin memperkuat dugaannya bahwa apa
yang terjadi pada saat ini adalah suatu siasat, suatu rencana besar dari orang yang kehilangan
sukma.
Tapi yang mengherankan adalah Put lo sianseng dan Tay huang sinni kedua orang tokoh silat
ini berilmu tinggi dan berkedudukan terhormat, tapi mereka bersedia untuk mendengarkan katakata
orang yang kehilangan sukma malahan bekerja sama untuk memancingnya masuk jebakan,
apa tujuan mereka?
sementara itu Put to sianseng telah berkata sambil tertawa ringan ucapnya:
"Bocah bagus, kemurunganku sudah dilenyapkan, mulai sekarang lohu bisa mengasingkan diri
dan beristirahat dengan tenang".
orang yang kehilangan sukma segera mendorong Han siong Kie untuk maju katanya:
"Bagaimana juga penghormatan tak bisa dielakkan, hayo maju dan memberilah hormat kepada
kakekmu."
Dalam hati Han siong Kie menghela napas panjang, dengan kaku dia maju beberapa langkah
dan jatuh berlutut dihadapan put to sianseng, ketika ia menyembah sebanyak tiga kali ia tak dapat
melukiskan bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, entah manis getir, kikuk atau kecewa.
Cepat Put to sianseng ulapkan tangannya seraya berkata:
" Cukup Cukup Bangunlah nak, sebelum aku pergi mengasingkan diri, ada beberapa patah kata
terlebih dahulu hendak kukatakan kepadamu, ketahuilah gurumu Mo tiong ci mo adalah sahabat
lamaku, setelah engkau mewariskan kedudukannya aku harap engkau bisa membangun kembali
perguruan Thian Lam bila melakukan segala persoalan janganlah terlalu memikirkan masalah itu
dengan pikiran yang sempit".
sekujur badan anak muda itu bergetar keras, peluh dingin membasahi tubuhnya tanpa terasa ia
teringat kembali akan apa yang diberitahukan orang yang kehilangan sukma ketika berada di
mulut lembah kematian.
Dikatakan Tee kun perguruan Thian Lam yang sekarang yaitu Wi It beng telah menjual
perguruannya kepada Thian che kau, istana Huan mo kiong telah diubah menjadi kantor cabang
Thian che kau sektor Thian lam.
JILID 32 HAL. 62/63 HILANG
Perasaan hatinya pada saat ini hampa, kosong . . sekarang Go siau bi telah menjadi calon
istrinya dengan resmi, siapakah bakal menduga sampai kesitu?
setelah tiba di kaki bukit dan menghampiri tempat perpisahannya dengan Hekpek siang yau,
mendadak pemuda itu tercekat, ternyata dua orang pembantunya telah lenyap tak berbekas.
semestinya Hekpek siang yau tidak akan meninggalkan ketuanya tanpa pamit, atau mungkin
telah terjadi sesuatu?
Han siong Kie memeriksa keadaan disekitar tempat itu dengan seksama, namun ia tak berhasil
menemukan sesuatu tanda-tanda pernah terjadinya pertarungan disana. Atau Hekpek siang yau
telah menghianatinya ?
-000dw000-
DENGAN kepandaian silat yang dimiliki sepasang siluman serta meninjau dari perbuatanperbuatan
mereka di masa lampau, bisa jadi kedua orang itu akan melakukan kejahatan lagi.
Andaikata apa yang diduga tak salah, dialah yang berdosa karena dialah yang melepaskan dua
orang gembong iblis itu dari tempat penahanannya.
Untuk sesaat lamanya Han Siong Ken berdiri tertegun, ia tak tahu apa yang musti dilakukan.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian pa muda itu mengambil keputusan, pikirnya:
"Andaikata sepasang siluman benar-benar telah menghianatinya serta melakukan kejahatan
dalam dunia persilatan, aku pasti akan melenyapkan kedua orang itu dari muka bumi".
seorang diri diapun melanjutkan perjalanan menuju kekaki bukit itu.
Dua jam kemudian pemuda itu sudah keluar dari daerah pegunungan dan melanjutkan
perjalanan melalui jalan raya.
sementara perjalanan masih dilanjutkan tiba-tiba dari arah depan meluncur datang beberapa
sosok bayangan manusia, meskipun gerakan tubuh beberapa orang itu bagaikan meteor yang
lewat, akan tetapi bagi ketajaman mata Han siong Kie bukan halangan baginya untuk mengenali
siapa gerangan mereka itu. segera teriaknya dengan suara nyaring: "Engkoh tua Tunggu sebentar,
kau akan ke mana ?"
Mendengar teriakan tersebut, berhentilah rombongan itu, ternyata mereka adalah delapan
orang pengemis dekil, orang pertama tak lain adalah Pengemis dari selatan.
"HaaaHh . . haaaHh .. haaaHh saudara cilik, rupanya kau " teriak pula pengemis dari selatan
dengan wajah berseri.
" Engkoh tua, aku lihat wajahmu murung sekali, apakah telah terjadi sesuatu atas diri mu?"
"Aaai, saudara cilik masa kau tidak mendengar bahwa perkumpulan kami sedang menghadapi
masa kiamat?" ujar pengemis tua itu sambil menghela napas panjang.
"Menghadapi masa kiamat? Kenapa?" seru si anak muda itu tertegun sambil terimangu.
"Jadi engkau tidak mendengar apa-apa tentang organisasi Kay pang kami itu?" Han siong Kie
menggelengkan kepalanya:
"sudah berbulan-bulan lamaoya siaute tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, aku tak tahu apa yang telak menimpa perkumpulan Kay pang?"
"oooh. Kalau begitu tak heran kalau engkau tidak tahu.." ujar pengemis itu.
sesudah menghela napas dan berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh: "semenjak dahulu
kala antara Thian che kau dengan Ji-pang dan sam hwe tak pernah mengadakan kontak hubungan
apa-apa, hubungan kami ibaratnya air sumur yang tidak mengganggu air sungai, tapi rasanya
pihak Thian che kau mempunyai ambisi untuk merajai dunia persilatan, secara licik mereka telah
membasmi musuh-musuh serta saingannya secara diam-diam. Pertama kali yang mengalami nasib
jelek adalah perkumpulan Pat gi pang, menyusul kemudian perkumpulan Jit yan pang. Hong te
hwe, Ang kin hwe, serta Ngo heng hwe dipaksa takluk kepada mereka dan merubah nama
menjadi kantor cabang perkumpulan Thian che kau, rupanya sekarang mereka jatuhkan
incarannya kepada pihak Kay pang, saudara cilik, kalau bukan saat kiamat perkumpulan kita sudah
tiba, apa lagi namanya"
JILID 33 HAL. 06/07 HILANG
"Akupun belum lama mendengar ini, karena setelah urusan disini selesai segera aku akan
berangkat ke Thian Lam untuk melakukan pembersihan secara besar-besaran"
"Dengan kekuatan saudara cilik seorang aku rasa . ."
"Pentolan penghianatan ini cuma seorang yaitu Wi It beng, aku percaya anak murid lain
kebanyakan cuma menganut kehendak hatinya belaka" setelah berhenti sebentar ia berkata lagi:
" Engkoh tua batas waktu yang ditentukan lencana Thian che leng masih ada berapa hari?"
"Tinggal besok sehari "
Ketika pengemis dari selatan mengucapkan kata-kata itu, tiga pengemis tua dan delapan
pengemis setengah baya yang berada dibelakagnya sama-sama menunjukkan wajah sedih dan
resah, namun tak seorangpun yang bersuara. Han siong Kie termenung dan berpikir sebentar,
kemudian bertanya: "Apa rencana engkoh tua untuk menyelesaikan persoalan yang sangat pelik
ini?"
"Aaai, aku telah menurunkan perintah untuk mengumpulkan segenap jago lihay yang berada
dikantor- kantor cabang untuk berkumpul semua dimarkas besar kami tepi pantai Pak swit ham,
yaa . . mati hidup Kay pang tergantung dalam pertarungan yang bakal berlangsung, meskipun
saat ini kami masih mempunyai satu harapan untuk menyelamatkan perkumpulan kami dari
musibah yakni mengharapkan kemunculan susiok kami song Tiat kong . tapi harapan ini tipis
sekali"
"Mengapa kalian tidak segera mengirim kabar kepada song locianpwe agar bersiap sedia?"
"Ketika tengkorak maut gadungan membuat onar dalam markas besar kami. song susiok telah
salah menganggap tengkorak gadungan sebagai tengkorak maut asli, sesudah peristiwa itu beliau
berkunjung ke benteng maut menuntut keadilan, tapi akhirnya beliau kalah ditangan pemilik
benteng maut, waktu itu susiok telah sesumbar bahwa akan muncul kembali dalam dunia
persilatan untuk selamanya, dari mana kami bisa tahu susiok kini berada dimana ? Dan bagaimana
mungkin berita itu disampaikan kalau kami tak tahu dimana beliau berada?"
"Apakah engkoh tua bersedia untuk menerima bantuan dari saudara cilikmu ini?" kata Han
siong Kie mendadak sambil menawarkan jasa baiknya.
" Kesediaanmu untuk membantu tentu saja akan kami sambut dengan senang hati" sahut
pengemis dari selatan sambil mengernyitkan alisnya yang telah memutih, "aku hanya kuatir
bantuanmu masih belum cukup untuk menolong perkumpulan kami lolos dari musibah ini, aaai...
yaa apa boleh buat, terserah bagaimana nasib akan mengaturnya nanti"
Pengemis dari selatan belum tahu kalau Han siong Kie telah berhasil mempelajari ilmu sakti si
mi sinkang, sebab berbicara dari kekuatan yang dimiliki pemuda itu di masa lampau, memang tak
mungkin ia bisa menolong Kay pang untuk lolos dari musibah.
Han siong Kie bukan orang bodoh, sudah tentu diapun dapat merasakan keraguan saudara
tuanya itu, ia tersenyum.
"Begini saja engkoh tua, kalian berangkatlah lebih dulu, bila tiba saatnya nanti, aku pasti sudah
hadir di markas besar kalian"
Pengemis dari selatan mengangguk. mereka tidak berkata apa-apa lagi, dengan begitu maka
dua bersaudara inipun kembali berpisah.
sepeninggal pengemis dari selatan beserta ketujuh orang rekannya, Han siong Kie berpikir
didalam hati, untuk menuntut balas ke benteng maut jelas sudah tak sempat lagi, maka ia
menyusun rencana untuk melaksanakan kembali usaha penuntutan balasnya sesudah
menyelamatkan Kay pang dari musibah.
-000dw000-
BAB 68
LENYAPNYA Hekpek siang yau secara misterius sangat memusingkan kepala anak muda itu, ia
merasa tak mungkin kalau kedua orang siluman itu berhianat kepadanya atau pergi tinggalkan
dirinya tanpa pamit. sebab dua orang itu telah mengakuinya sebagai majikan, itupun kerena harus
menuruti sumpah yang pernah mereka ucapkan dimasa lampau, apalagi mereka telah diterima
sebagai anggota perguruan Thian Lam bun, mustahil pikiran mereka berubah di tengah jalan.
Tapi kemana mereka telah pergi ? Celaka ditangan orang ?Jelas hal ini tak mungkin terjadi,
Ilmu silat mereka sangat lihay, siapakah yang mampu untuk merobohkan kedua orang itu"
sementara dia masih melamun, tiba-tiba sorot matanya sempat menangkap sesosok bayangan
manusia sedang berdiri ditepi sungai tak jauh dari tempat ia berada sekarang, jelas orang itu
tinggi semampai dengan potongan badan menggiurkan, jelas orang itu adalah seorang gadis dan
gadis itu terasa sangat dikenal olehnya.
Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, kontan jantungnya berdebar keras, hampir
saja pemuda itu menjerit. "Aaah Masa dia ?"
Dengan penuh emosi dan hati yang bergejolak pemuda itu meluncur ke depan, menghampiri
gadir yang tinggi semampai itu .
Makin mendekati orang itu, Han siong Kie merasa semakin yakin kalau dugaannya tidak
meleset dan akhirnya . . ia benar-benar membuktikan bahwa dugaannya tak salah gadis itu
memang tak lain dari kekasih hatinya. Tonghong hui yang dia rindukan siang malam.
Darah yang mengalir dalam tubuh pemuda itu terasa mendidih bagaikan kena listrik
bertegangan tinggi, separuh tubuhnya terasa menjadi kaku, hampir saja jantungnya melompat
keluar dari rongga dadanya.
Dengan bibir yang gemetar dan muka yang pucat, ia berdiri tertegun untuk sesaat lamanya tak
sepatah katapun mampu dia utarakan keluar.
Betapa tidak ? Tonghong-Hui yang melama ini dianggapnya telah mati ternyata masih hidup
segar bugar... dugaan dari orang yang kehilangan sukma terbukti kebenarannya, dara itu belum
mati.
Tapi aneh, sekalipun Han siong Kie sudah berada dibelakangnya, gadis itu masih tidak merasa,
ia berdiri kaku bagaikan patung, bergerak sedikitpun tidak.
Angin sungai berhembus sepoi basah mengibarkan ujung bajunya yang panjang, tubuhnya
yang tinggi semampai, lekukan tubuhnya yang menggiurkan amat menawan hati, ibaratnya
bidadari dari kahyangan gadis itu tampak agung dan cantik.
"Adik Hui" akhirnya pemuda itu memang gigil, meski suaranya lirih dan agak parau.
sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, namun ia tidak berpaling pun tidak menjawab.
suatu firasat aneh terlintas dalam benak sianak muda itu, untuk kedua kalinya kembali dia
memanggil: "..Adik Hui.."
Tonghong Hui menghela napas panjang, begitu pedih dan hampa helaan napas itu, membuat
Han siong Kie tercekat hatinya.
Menyusul helaan napas itu, ia putar badannya, sesaat wajah yang sayu terpampang didepan
mata.
Wajah itu layu, kusut dan sinar matanya telah pudar persis seperti wajah Go siau bi calon
istrinya ketika ia jumpa didepan kuil Bu cuan di bukit Tay huang san.
Han song Kie merasakan hatinya bagaikan dipagut ular berbisa, secara beruntun ia mundur tiga
langkah kebelakang.
Bagaimanakah pertanggungan jawabnya kepada gadis yang ia cinta dengan segenap jiwa
raganya? Apalagi bila ia tahu kalau Go siau bi telah menggantikan kedudukannya?
Diantara putih kepucatan yang menghiasi wajah Tonghong i-Hui terlintas semua merah
diantara pipinya, ia menatap Han siong Kie dengan pandangan hampa, mukanya begitu layu,
pedih, sukar dilukiskan dengan kata.
Mereka tidak mirip kekasih yang saling bertemu kembali, keadaan mereka waktu itu ibarat
orang asing yang saling berjumpa, tiada surprise tiada luapan cinta dan rindu, tiada pelukan
ataupun ciuman.
siapapun diantara mereka tak ada yang buka suara, mereka hanya saling menatap dengan
mulut membungkam.
Udara serasa ikut membeku mengikuti keadaan mereka yang serba kaku, serba dingin-
Perlahan-lahan Han siong Kie tundukkan kepalanya, ia tidak memiliki keberanian untuk
memandang kekasihnya lagi, sebab ia telah menjadi penghianat dari cinta, ia merasa tak punya
muka untuk bertemu lagi dengan gadis yang telah menyerahkan seluruh jiwa dan raga kepadanya.
suasana begitu sepi, hening seolah-olah dunia menjadi mati, jagad menjadi kiamat tak
seorangpun yang bersuara, hanya detak jantung mereka yang berdebar keras.
Darimana orang yang kehilangan sukma bisa tahu kalau Tonghong -Hui tidak akan mati?
Benarkah ia memiliki ilmu meramal, ilmu untuk melihat kejadian yang akan datang?.
Apa sebabnya orang yang kehilangan sukma merusak hubungannya dengan Tonghong Hui?
Benarkah jika hubungan mereka dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu
kejadiaa yang tragis?
Mengapa Tonghong Hui mengingkari janjinya ketika itu? Mengapa ia begitu tega membiarkan ia
menunggu melama dua hari dengan sia-sia ditepi sungai?
Terbukti sekarang bahwa ia tidak mati, benarkah ayahnya bukan pembunuh keluarga Han dan
keluarga Thio? Kalau bukan, tidak seharusnya gadis itu mengingkari janji.. Lama sekali, akhirnya
Tonghung-Hui buka suara, meskipun suaranya penuh kepedihan:
"Engkoh Kie, angkat kepalamu dan pandanglah aku"
Pedih hati Hansiong Kie bagaikan disayat-sayat pisau, ia mendongakkan kepalanya, meskipun
dengan perasaan menyesal dan malu..
Tatkala sepasang mata mereka bertemu satu sama lainnya, kembali pemuda itu mundur
selangkah, yang tampak olehnya adalah seraut wajah yang pucat seperti mayat,juuh berbeda
dengan raut wajahnya dalam kenangan selama ini
"Engkoh Kie, kau... kau membenci aku" kembali gadis itu berbisik lirih sekali suaranya.
"Adik Hui Aku .. aku...toh...mengapa kau mengatakan begitu ? Mengapa kau mengatakan kalau
aku membenci dirimu ?"
"Karena.... karena aku telah mengingkari janjiku sendiri kepadamu, aku tidak menepati janji"
"Adik Hui, seharusnya akulah, aai. mengapa kau tidak menepati janjimu."
"sekembalinya kedalam benteng, aku telah disekap oleh ayah, tak mungkin bagiku untuk kabur
keluar"
Han Siong Kie merasa emosi dalam dadanya bergelora, apa yang ingin diketahui olehnya
segera akan terwujud, dengan suara agak gemetar tanyanya lagi."sudah kau tanyakan soal yang
ingin kuketahui itu ?"
"sudah.." perlahan-lahan gadis itu mengangguk.
Mencorong sinar mata sianak muda itu, dia maju tiga langkah kedepan seraya bentanya lagi:
"Bagaimana jawaban ayahmu?"
"sudah dua puluh tahun lamanya ayah tak pernah meninggalkan pintu benteng barang satu
langkahpun, apakah jawaban tersebut dapat kau terima sebagai suatu keterangan yang lengkap?"
"sudah dua puluh tahun ayahmu tak pernah muncul kedalam dunia persilatan ?" Tonghong Hui
mengangguk lirih tanda membenarkan.
sungguh terkejut dan girang tak terkirakan perasaan Han siong Kie pada saat ini, dia girang
lantaran Tengkorak maut ayah Tonghong-Hui bukanlah musuh besar keluarganya, sebab peristiwa
berdarah yang menimpa perkampungan keluarga Han terjadi pada bulan sembilan tanggal
sembilan pada lima belas tahun berselang.
sekarang terbukti sudah bahwa dia dan Tonghong Hui sebenarnya tidak terpisah oleh dendam
sakit hati.
Tapi pemuda itu merasa murung, murung karena tidak tahu siapakah pembunuh keluarganya,
kemana dia harus pergi untuk mencari jejak pembunuh keluarganya itu?
Tatkala ia teringat kembali akan pernikahannya dengan Go siau bi, kembali pemuda itu
merintih... merintih penuh kedukaan serta penderitaan- "Engkoh Kie, kee... kenapa kau?" tegur
Tonghong i-Hui.
"oooh, aai tidak apa-apa, kalau toh engkau disekap oleh ayahmu, kenapa sekarang bisa muncul
lagi diluar benteng ?"
"Aku mencuri keluar secara diam-diam, mungkin selama hidup, .selama hidup aku tidak dapat
memasuki pintu benteng maut lagi "
" Kenapa?" tanya sianak muda itu dengan terperanjat:
Tonghong Hui tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya lagi:
" Engkoh Kie, apakah engkau masih... masih selalu mencintai diriku ?"
sakit rasanya hati Han Siong Ki tatkala mendengar pertanyaan itu, ia berpikir:
"Kalau kulihat dari sikap adik Hui yang begitu murung dan layu, kemungkinan besar ia sudah
mengetahui tentang peristiwaku di bukit Tay huang san, bagaimana caranya aku memberi
penjelasan ? Aaai, aku benar-benar menyesal mengapa waktu itu imanku tidak teguh ? Bila
kutolak permintaan tersebut dengan hati yang keras, tak nanti bakal terjadi peristiwa seperti hari
ini".
sementara sianak muda itu masih termenung, Tonghong Hui telah mendesak lebih lanjut.
" Engkoh Kie, hayolah katakan-.. masihkah engkau mencintai diriku ?"
"Adik Hui, percayalah kepadaku. hatiku tak akan berubah, selama-lamanya aku memang tetap
mencintaimu"
"Kau mencintai aku ? selama-lamanya mencintai diriku ?"
"Benar, selama hayat masih dikandung badan, cinta ku padamu tak akan pudar"
" Engkoh Kie, aku dapat meresapi cinta kasihmu ini dan tak akan melupakan untuk selamalamanya
. "
Ucapan tersebut segera mendatangkan firasat tak enak dihati pemuda kita, buru-buru serunya:
"Adik Hui, kau... kenapa kau...."
Tonghong Hui menggeleag dengan seduh dan tertawa rawan.
"Engkoh Kie, kau tak usah bertanya kepadaku mengapa, asalkan masih tetap mencintai aku, itu
sudah lebih dari cukup "
"Adik Hui, aku..aku..sebetulnya...."
"Engkoh Kie, manusia yang mendapat cinta murni dari seseorang adalah suatu kebahagiaan,
aku sudah merasa sangat puas Biarlah apa yang akan terjadi dikemudian hari diatur oleh takdir
dan nasib" Air mata bagaikan layang-layang putus benang mengucur keluar tiada hentinya, dan
membasahi pipi Tonghong-Hui yang pucat pasi, serta tampak menyeramkan itu.
Hancur lebur perasaan hati Han siong Kie pada waktu itu, ia merasa gemas dan benci mengapa
tak dapat segera mati sehingga dosa yang telah dilakukan bisa ditebus kembali. "Adik Hui,
mengapa kau mengatakan begitu? Mengapa ?"
Tonghong Hui tertawa rawan- dia menggeleng.
"sekalipun kuterangkan, engkau tak akan mengerti . . dan tak akan paham"
" Katakanlah padaku . . kumohon katakanlah kepadaku, mengapa ? Mengapa kau berkata
begitu?"
"Dikemudian hari engkau akan mengerti sendiri, sekalipun tidak kuterangkan sekarang, tapi kau
akan pasti paham"
Berkerut kencang raut wajah Han siong Kie yang tampan d engan penuh penderitaan katanya
lagi:
"Adik Hui, maafkanlah daku, pada hakekatnya aku... sebetulnya aku..."
"Engkoh Kie, jangan berkata begitu?" tukas Tonghong i-Hui sambil menggelengkan kepalanya
berulang kali: "kata maaf sepantasnya muncul dari mulutku aaai Apa mau dikata lagi bila takdir
telah mengatur segala sesuatunya itu bagi kita?"
"Adik Hui...."
"Duduklah engkoh Kie, bersandarlah padaku," Dengan sikap yang kaku dan gerak gerik yang
sama seperti orang kehilangan sukma Han siong Kie duduk diatas batu cadas dan bersandar diatas
tubuh gadis itu.
Tonghong Hui segera merebahkan dirinya dalam pangkuan pemuda itu serta merta Han siong
Kie merangkul tubuhnya dan mendekapaya erat-erat.
"Engkoh Kie, masih ingat ketika kita mengangkat saudara diatas batu besar ditepi sungai?
Ketika itu aku masih serupa seorang pengemis cilik"
"Aku tak akan melupakan kenangan indah itu untuk selamanya"
"Masih ingat sewaktu kau terjatuh ketangan orang-orang Thian che kau pura-pura mati dengan
ilmu Ku si tay hoat dan aku menguburkan jenasahmu serta mendirikan batu nisan dirimu?"
"Aaai, aku sangat mengharapkan bahwa kejadian itu hakekatnya adalah suatu kejadian
sebenarnya, sekarang niscaya kita sudah berbaring didalam sebuah liang..."
"Adik Hui, kau...."
"Ketika kau dihantam oleh Tengkorak maut gadungan sehingga tercebur kedalam jurang, aku
menyusulmu kedalam jurang, tapi akhirnya kita sama-sama tidak mati"
"Adik Hui, semua kenangan indah serta kenangan manis itu tak akan pudar, tak akan hilang
dari pikiranku"
"Tapi, sekarang engkoh Ki, aku menyesal aku merasa amat menyesal"
Tercekat perasaan hati Han siong Kie, ucapan dari gadis itu seakan-akan tidak teratur lagi,
mungkinkah ia sudah jadi gila?
"Adik Hui, kau ... kau perlu beristirahat, tidurlah sebentar agar pikiranmu menjadi terang
kembali."
"Tidak. aku sangat baik, pikiranku masih cukup terang"
"Ucapanmu itu .... ucapanmu iti telah menghancurkan hatiku.... melumpuhkan perasaanku"
"Bersabarlah engkoh Ki, perasaanmu itu akan hilang mengikuti berputarnya waktu "
Hembusan angin lirih berkumandang dari kejauhan, bukan hembusan angin biasa tapi ujung
baju seseorang yang tersambar angin-
Dengan cekatan dua orang itu meloncat bangun berpaling, sesosok bayangan manusia berdiri
kurang lebih lima kaki dihadapan mereka.
orang itu adalah seorang manusia aneh yang berambut panjang, tampaknya jelek dan sangat
menyeramkan,
Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, sementara Han siong Kie sendiripun merasa
terperanjat setelah mengetahui siapa yang datang, dia masih ingat manusia aneh ini adalah
penghuni benteng maut, dia pernah bertemu dengan manusia aneh ini dan seingatnya makhluk
inilah yang terus berkaok-kaok dengan suara aneh.
"siapakah orang itu adik Hui?" cepat bisiknya.
"Dia adalah siau suhengku, seorang yang bisu dan tak pandai berbicara tapi kecerdikannya luar
biasa, diapun sangat perasa, selama hidup belum pernah tinggalkan benteng.."
"Tahukah kau apa tujuannya datang kemari?"
"Tentu saja mendapat perintah dari ayah untuk mencari aku serta menggusurnya pulang
kebenteng"
"Kalau begitu biarlah ku usir dia pergi dari sini."
"Jangan...Jangan kau berbuat begitu", tiba-tiba ia melejit ke depan sambil berlarian menjauhi
pemuda itu, serunya lagi "engkoh Kie, semoga kau baik-baik menjaga diri,aku. .aku pergi dulu"
"Adik Hui, jangan pergi dulu. aku masih...."
Namun Tonghong Hui tidak menggubris lagi, bersama manusia aneh berambut panjang itu
bayangan mereka kian menjauh sehingga akhirnya lenyap dari pandangan.
Han siong Kie berdiri menjublak bagaikan sebuah patung arca ia berdiri kaku di atas sebuah
batu tanpa berkutik, untuk sesaat pemuda itu dibikin gelagapan dan tak tahu apa yang musti
dilakukan ingin sekali ia mencegah kepergiannya tapi kakinya tak pernah beranjak dari tempat
semula, tutur kata Tonghong i-Hui yang aneh dan sedih serta paras muka sang dara yang sayu
dan layu membuat pikirannya kalut dan tak tenang.
Masih banyak perkataan serta penjelasan yang hendak ia katakan kepadanya, tapi gadis itu
sudah pergi.
Menurut pengakuannya, sudah dua puluh tahun ayahnya tak pernah keluar daripintu gerbang
benteng, maka mungkinkah ucapannya jujur? Lima belas tahun berselang waktu itu usianya baru
mencapai tiga tahun, tak mungkin ia bisa tahu akan kejadian yang sebenarnya, benarkah ia
percaya akan kata-kata dari gadis itu?
Bukankah lambang tengkorak maut muncul ditempat pembantaian? Ataukah lambang itupun
palsu?
Berpikir sampai disini, dia lantas mendepakkan kakinya ke tanah seraya berseru:
"Bohong . . bohong siapa tahu kalau ia sengaja membohongi aku ? Bagaimanapun juga setelah
persoalan dari Kay pang telah ku selesaikan, aku harus berkunjung kebenteng maut"
setelah mengambil keputusan, pemuda itu menghela nafas panjang dan melanjutkan
perjalanannya menuju kuil Bu hau si di Pak swi tham, markas besar dari kaum pengemis.
suasana dimarkas besar perkumpulan Kay pang ketika itu diliputi oleh keresahan dan
kemurungan.
Mulai dari ciangbunjin sampai anggota yang terendah telah berkumpul semua disitu, jumlah
mereka mencapai dua ratus orang lebih, Waktu itu dengan wajah tegang, sedih dan marah
mereka tersebar diluar dan didalam kuil untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan
yang tak diinginkan-
Hari inilah batas waktu yang ditetapkan Thian che leng telah berakhir, dalam satu jam
mendatang bila Kay pang masih belum bersedia menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau,
maka semua anggota dalam perkumpulan itu akan dibantai secara keji.
Pemimpin para tiang lo dari Kay pang yakni Pengemis dari selatan berdiri disamping ketuanya
dengan alis mata berkernyit.
Suasana hening dan sepi, seakan-akan sernua orang sedang menantikan tibanya saat kiamat.
Ditengah keheningan malam yang mencekam seluruh jagad, tiba-tiba semua orang merasa
pandangan matanya jadi silau, tahu-tahu seorang manusia baju hitam tanpa menimbulkan sedikit
suarapun telah melayang turun ke tengah gelanggang.
Gerak tubuh orang itu sangat enteng dan cepat seolah-olah sukma gentayangan, dari sini dapat
diketahui betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang itu.
Ketua Kay pang serta keenam orang tianglonya serentak bangkit berdiri dan siap menghadapi
segala kemungkinan-
Berbareng dengan gerakan itu, kawanan jago lihay dari Kay pang yang lainpun serentak bersiap
siaga, meskipun agak tercekat perasaan hati mereka namun semangat tempur masih tetap tinggi.
orang itu adalah seorang kakek berjubah hitam dengan lambang matahari, rembulan serta
bintang diatas dadanya, tinggi kekar perawakan tubuh orang itu, cambangnya lebat dan sinar
matanya amat tajam.
setelah menyapu pandang sekejap keseluruh gelanggang, dia tertawa dingin
JILID 33 HAL. 30/31 HILANG
"HeeHh .. heeHh . . heeHh ciangbun, kuanjurkan kepadamu lebih baik berpikirlah tiga kali
sebelum mengambil keputusan, ketahuilah bahwa keputusan yang gegabah akan mengakibatkan
kehancuran total bagi pihak kalian sendiri "
"Tak usah banyak bicara, kami tak akan sudi mendengarkan perkataanmu itu"
setelah mengetahui kebulatan tekad orang, suma Hiong utusan khusus dari Thian che Kau itu
segera menarik kembali lencananya lalu sambil tertawa dingin berkata.
"Bagus Bagus Kupuji ketekadan kalian ini, terpaksa aku harus melaksanakan titah dari kaucu
kami untuk membantai kalian semua dari muka bumi "
sebelum iblis itu sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba dari luar pekarangan kuil muncul seorang
pengemis setengah baya, sambil berlarian menuju kehadapan ketuanya dia berseru: "Lapor
ciangbunjin, markas kita telah terkepung rapat."
"Aku sudah tahu, mundurlah " kata ketua kay pang seraya ulapkan tangannya. Pengemis
setengah baya itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari sana.
Dalam pada itu delapan orang jago pedang yang berada dibelakang suma Hiong telah putar
badan dan memencarkan diri jadi posisi setengah lingkaran, masing-masing pihak mencari
posisinya masing-masing dan berhadapan dengan lawan-lawannya.
sekejap mata suasana menjadi hening, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh
gelanggang.
Dengan sinar mata setajam sembilu suma Hiong menyapu pandang tiap wajah tokoh kay pang
yang hadir ditempat itu, sikapnya buas dan garang, seakan-akan dia tak pandang sebelah
matapun terhadap musuh-musuhnya ini.
Dua orang diantara enam tiang lo yang hadir disana tak dapat mengendalikan hawa amarahnya
lagi, mereka membentak keras kemudian sambil melepaskan serangan langsung menerkam
ketubuh orang itu.
suma Hiong mendengus sinis, tiba-tiba sepasang telapak tangannya direntangkan ke samping
dan menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras.
Jerit kesakitan menggelegar di angkasa, di tengah muncratnya darah segar yang menodai
permukaan tanah dua orang tiang lo itu mencelat ke belakang dan tewas seketika itu juga.
Kejadian ini sangat mengejutkan hati kawanan jago dari Kay pang, siapapun tak mengira kalau
dua orang tiang lo mereka bakal mampus dalam satu gebrakan saja ditangan orang.
Jelaslah sudah bahwa tenaga lwekang dari suma Hiong benar-benar sangat lihay dan sukar
dicarikan tandingannya, atau dengan perkataan lain sudah pasti Kay pang akan musnah dari muka
bumi ditangan orang ini.
Pengemis dari selatan amat gusar, rambut nya terasa pada berdiri seperti kawat, dia maju
kemuka, kepada ketuanya berkata:
"Bila takdir menghendaki Kay pang musnah ditangan iblis ini. siapapun tak akan dapat
menolongnya, biarlah aku si.pengemis tua berangkat satu langkah lebih duluan"- sambil
membusungkan dada, ia lantas tampil kedepan dan mendekati musuhnya. Menyaksikan
kemunculan pengemis itu. suma Hiong menjengek dingin, katanya:
"Jadi engkau yang disebut sebagai pengemis dari selatan, pemimpin para tianglo dari Kay
pang?"
"Benar" jawab pengemis itu singkat.
"Dengan kedudukan serta nama besarmu dalam tubuh Kay pang, perlukah ku beri waktu
bagimu untuk mempertimbangkan keadaan pada saat ini? Dengan senang hati akan kuberi
kesempatan yang terakhir bagimu untuk berpikir kembali"
"Tak perlu" tukas pengemis dari selatan dengan gusar "Thian che kau menganggap dirinya
besar dan agung, perbuatannya cuma mengacau dan menerbitkan keonaran dalem dunia
persilatan, saat kiamatnya tidak akan terlalu jauh"
"Kurang ajar, saudara benar-benar tak tahu diri, rupanya sebelum darah menodai seluruh
permukaan tanah, kalian tak akan sadar"
" omong kosong, lebih baik tutup saja bacot anjingmu"
suma Hiong dibuat marah oleh ucapan yang kasar itu, ia menengadah lalu tertawa dengan
suaranya nyaring dan menjulang tinggi ke angkasa membuat semua orang merasa telinganya
menjadi sakit.
Berbareng dengan berkumandangnya gelak tertawa itu delapan orang pendekar pedang yang
bersiap siaga dibelakangnya serentak berteriak keras, kemudian menerjang kearah kawanan jago
dari Kay pang yang mengurung disekitar tempat itu. Tak dapat dicegah lagi, suatu pertempuran
berdarah yang amat serupun segera berkobar.
Dengan penuh kemarahan pengemis dari selatan bersuit nyaring dan menerjang maju kemuka,
dia menyerang Suma Hiong secara bertubi-tubi.
Dalam waktu singkat, dia telah melancarkan delapan buah serangan berantai, kedelapan buah
serangan itu semuanya dilepaskan dengan disertai hawa amarah yang berkobar, bukan saja amat
dahsyat bahkan arah yang dituju semuanya adalah bagian-bagian tubuh yang mematikan.
seketika itu juga suma Hiong terdesak oleh serangan berantai itu, sehingga mundur tiga
langkah ke belaknog.
Tapi begitu pengemis dari selatan menyelesaikan ke delapan buah pukulannya, serentak suma
Hiong memperbaiki posisinya, dia tertawa seram dan secara beruntun balas melancarkan tiga
buah pukulan-
-000dw000-
BAB 69
HEBAT sekali serangan balasan dari utusan Thian che kau ini, dengan susah payah Pengemis
dari selatan berhasil menghindari serangan yang pertama dan serangan yang kedua, tapi serangan
yang ketiga tak sempat dihindari lagi, tak ampun pundaknya terhajar telak.
"Duuk" Pengemis dari selatan mendengus tertahan- sambil muntah darah segar dia mundur
beberapa langkah dengan sempoyongansuma
Hiong tertawa seram, ia tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk memperbaiki
posisinya lagi, berhastl dengan serangan yang pertama, serentak tubuhnya menerkam kedepan
dan menyusuli dengan pukulan berikutnya.
"Bangsat..... lihat serangang" ditengah keadaan yang kritis, bentakan nyaring menggetar
diangkasa, empat tiang lo yang masih berada disamping gelanggang berikut ketua mereka
bersama-sama masuk kedalam gelanggang dan mengerubuti suma Hiong yang lihay itu.
Di pihak lain pertarungan telah berkobar dimana- mana, setiap anggota Kay pang yang hadir
dalam markasnya telah diserang habis-habisan oleh lawan yang tangguh, dalam waktu singkat
dengusan tertahan suara beradunya senjata dan jerit kesakitan berkumandang silih berganti.
Pemandangan pada waktu itu mengerikan sekali, darah berceceran dimana-mana, mayatpun
bergelimpangan setinggi bukit.
Delapan orang jago dari Thian che kau itu rata-rata berilmu tinggi, setiap kali cahaya pedang
mereka berkelebat lewat seorang korban segera roboh binasa atau cedera hebat.
suma Hiong yang dikerabuti oleh empat orang tianglo dan ketua Kay pang sama sekali tidak
merasa jeri, dengan gerakan yang lincah dan pukulan pakulan yang aneh dia layani setiap
ancaman yang tertuju kearahnya.
Suatu ketika tiba-tiba ia membentak nyaring, sebuah pukulan dahsyst yang disertai dengan
deruan angin puyuh yang memekikkan telinga menyapu kedepan dan menghajar lawan-lawannya
"Blaaang.." bentaran keras tak bisa dihindari lagi, keempat orang tianglo dan ketua kay pang
itu segera terhajar sampai mencelat dan jatuh terlentang di tanah.
Melihat ketuanya terancam bahaya, pengemis dari selatan tidak menggubris lukanya sendiri
lagi, setelah menyeka noda darah di ujung bibirnya, ia meraung keras kemudian bagaikan banteng
terluka menerjang lagi ke depan.
"Sialan" maki suma Hiong dengan marah, " Hay..pengemis tua, rupanya kau memang sudah
bosan hidup, rasakanlah pukulanku ini"
45
Secepat sambaran kilat dia melepaskan lagi sebuah pukulan dahsyat ke arah depan.
Pengemis dari selatan menjerit tertahan, untuk kedua kalinya ia terhajar sampai mencelat
sejauh beberapa tombak.
Merah padam wajah keempat orang tiang lo itu, seperti orang kalap mereka melompat bangun
dan menerkam musuhnya, empat batang tongkat tah kau pangnya ibarat empat ekor naga sakti
segera menghantam tubuh iblis tersebut..
Suma Hiong tertawa dingin, ke sepuluh jari tangannya dipentangkan lebar-lebat, ketika
berkelebat ke depan, tahu-tahu ke empat batang toya peg gebuk anjing itu sudah ditangkap dua
dikanan dan dua dikiri.
Sekali menyentak kebelakang, keempat orang tiang lo itu mendengus tertahan dan mencelat
kebelakang.
Berhasil menghajar mundur, keempat tiang lo itu, Suma Hiong meneruskan terkamannya ke
depan, dengan cakar mautnya dia cengkeram tubuh ketua kay pang yang berada dihadapannya.
cepat dan diluar dugaan, cengkeraman tersebut datang keadaan tak terduga, tampak nya sang
ketua dari kay pang ini segera akan tertangkap oleh musuhnya. "Tahan" tiba-tiba serentetan
bentakan nyaring berkumandang ditengah angkasa.
Walaupun suasana dalam gelanggang ramai, oleh bentakan dan adu senjata, namun bentakan
itu amat dapat didengar oleh setiap orang dengan jelas, bahkan mereka merasakan telinganya jadi
sakit.
serentak pertempuran terhenti ditengah jalan, semua jago berdiri tertegun sambil alihkan
pandangannya ke arah mana berasalnya suara itu.
suma Hiong sendiripun diam-diam merasa terperanjat, cepat dia tarik kembali serangannya dan
melompat mundur kebelakang. Dari balik pagar pekarangan perlahan-lahan berjalan keluar
seorang pemuda tampan berwajah dingin, setajam sembilu sorot mata pemuda itu tatkala saling
beradu pandang, tanpa sadar suma Hiong mencekat mundur beberapa langkah.
Waktu its sebenarnya suma Hiong sedang merasa keheranan, ia heran mengapa kawanan jago
yang telah disiapkan disekitar kuil itu tidak munculkan diri untuk melakukan pembantaian, padahal
sebelumnya telah dibicarakan bahwa mereka harus menyerbu kedalam kuil bila mendengar gelak
tertawa nya yang keras.
Tapi sekarang setelah menyaksikan kemunculan pemuda berwajah dingin ini, suatu firasat jelek
segera muncul dalam hatinya, ia segera membentak keras: "Bocah keparat siapa kau? sebutkan
nama mu."
Pemuda itu tertawa dingin, ia tidak menjawab akan tetapi sewaktu melewati dihadapan seorang
pendekar dari Thian che kau jari tangannya lantas ditudingkan kemuka.
Jerit kesakitan yang memilukan hati berkumandang memecahkan kesunyian, darah segar
tampak muncrat keluar dari dadanya, tidak selang sesaat kemudian orang itu sudah roboh
terjengkang dan tidak bangkit lagi untuk selamanya.
"Kau .. kau adalah manusia bermuka dingin?" teriak suma Hiong dengan paras muka berubah
hebat.
"Benar, kau memang hebat dan pengetahuanmu cukup luas, ternyata akupun juga kau kenali"
Pemuda yang barusan munculkan diri ini memang tak lain adalah Han siong Kie, jago muda itu.
suma Hiong menyeringai seram, sinar matanya memancarkan cahaya buas, dengan suara yang
keras seperti geledek hardiknya:
"Manusia muka dingin, engkau bersiap-siap untuk mencampuri urusan ini?"
"Haaahhh . . haaahhh haaahhh kenapa tidak? Justrupun ciangbunjin datang kemari untuk
membantai habis kawanan iblis macam dirimu itu"
" Ciangbunjin?" jengek orang she suma itu sinis, "Heeehhh heeehhh engkau ciangbunjin dari
mana?"
"Ciangbunjin dari Thian lam bun "
"Mimpi Heeeh heeh heeeehh bocah keparat, engkau sedang bermimpi disiang hari bolong.
Thian lam bun sudah lama terhapus namanya dari muka bumi"
"Yang akan terhapus namanya dari muka bumi bukan Thian lam bun, melainkan Thian che kau
dan waktunya tak akan lama lagi "
"orang goblok sedang mengigau ditengah hari bolong "
"Kau tak percaya ?Baik... ini hari akan kuampuni selembar jiwa anjingmu, agar kau bisa
menyaksikan sendiri benar tidak perkataanku itu."
"Hanya mengandaikan kekuatanmu seorang, sayang aku tidak berjiwa sebesar kau... ini
haripun aku tak akan melepaskan dirimu "
Han siong Kie mendengus dingin, ia tidak berbicara lagi melainkan bersiul nyaring.
Berbareng dengan siulan tersebut, terlihatlah bayangan manusia saling berkelebat dalam
gelanggang, dalam waktu singkat berpuluh-puluh sosok mayat dari manusia barbaju hitam
bertumpukan ditempat itu
suma Hiong tentu saja dapat mengenali kembali mayat-mayat itu, sebab mereka tak lain adalah
jago-jago perkumpulannya yang disiapkan diluar kuil itu.
Tapi kini sudah tewas semua dalam keadaan mengerikan, kontan ia jadi terkejut dan bergidik,
begitu pula dengan ketujuh orang pendekar pedang yang masih hidup, mereka merasa sukmanya
serasa sudah mela yang tinggaikan raganya. sambil menuding kearah tumpukan mayat setinggi
bukit itu, Han siong Kie mengejek:
"suma Hiong, bukankah mayat-mayat itu adalah jenasah dari anggota perkumpulanmu? Nah,
hitunglah sendiri, semuanya berjumlah seratus dua puluh orang, coba kau hitung lagi adakah
masih ada yang kelewatan atau tidak??"
Menyeringai seram wajah suma Hiong dengan muka yang buas dan mengerikan ia berteriak:
"Manusia bermuka dingin, aku bersumpah akan mencincang tubuhmu, kemudian menghancur
lumatkan tubuhmu menjadi abu"
"Huuuh Mau mencincang aku? Cuma mengandaikan ilmu silat yang kau miliki itu? Jangan
mimpi."
Rupanya sewaktu Han siong Kie tiba ditempat kejadian., ia menyaksikan markas besar dari Kay
pang sudah dikepung rapat oleh musuh-musuhnya.
Tanpa menimbulkan suara sianak muda itu segera mengeluarkan ilmu silatnya dan menotok
mampus ke seratus dua puluh orang jago Thian che kau yang mengepung di luar kuil, setelah itu
bagaikan kelelawar dia menyusup masuk kedalam kuil.
Waktu itulah dia saksikan para tianglo dan ciangbunjin Kay pang sedang menghadapi keadaan
yang terancam, setelah memberi pesan kepada anak murid Kay pang yang berjaga-jaga di luar
kuil diapun tampilkan diri untuk menyelesaikan persoalan itu
Betapa gusar dan mendongkolnya suma Hiong setelah mengetahui bahwa rencana penyerbuan
mengalami kegagalan total, ia tahu tak mungkin baginya untuk memberi pertanggungan jawab
dihadapan kaucunya setelah mengalami kekalahan total seperti hari ini. apalagi semua anak
buahnya telah terbunuh habis.
Rasa dendam dan marahnya serta merta dilampiaskan keatas tubuh pemuda itu, sambil
menggertak gigi katanya:
" Kau tidak percaya dengan kemampuanku? Apa salahnya kalau kita buktikan bersama2"
Begitu selesai berbicara, ia menerjang ke muka dengan garang, secepat sambaran kilat secara
beruntun iblis ini melepastan tiga buah serangan berantai.
Han siong Kie tidak berusaha menghindar atau berkelit, dengan melontarkan sepasang telapak
tangannya kemuka dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaaang" suata ledakan keras yang memekikkan telinga berkumandang diudara, suma Hiong
tak sanggup menahan kedahsyatan musuhnya, secara beruntun ia terdesak mundur lima langkah
lebar.
Gelombang angin pukulan yang tersebar keempat penjuru menyapu bersih setiap benda yang
ada diseputar lima kaki dari gelanggang, bukan saja kawanan jago dari Kay pang terdesak sampai
mundur tunggang langgang, tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau yang masih hidup
pun pontang panting dibuatnya dengan muka pucat.
sungguh girang tak terkirakan pengemis dari selatan setelah melihat kedahsyatan saudaranya,
tak kuasa lagi ia berteriak keras:
"saudara cilik puas.. sungguh memuaskan.... Hajar sampai buntung bajingan itu"
setelah merasakan kedahsyatan musuhnya, kepongahan serta kejumawaan suma Hiong lenyap
tak berbekas, keadaannya pada saat ini ibarat bola yang kehilangan udara, dengan loyo
bercampur ketakutan ditatapnya pemuda itu tanpa berkedip.
Mimpipun ia tak menyangka kalau pihak musuh mempunyai kepandaian silat sedahsyat itu,
bahkan boleh dibilang tak bisa diterima dengan akal sehat, siapa yang menyangka kalau seorang
pemuda ingusan ternyata berilmu tinggi
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Han siong Kie, selangkah
demi selangkah ia maju kedepan, katanya dengan suara dingin
"Aku meminjam mulutmu untuk menyampaikan pesan kepada kaucu kalian, katakan bahwa
dalam beberapa hari mendatang aku akan berkunjung sendiri ke Lian huan tau untuk membuat
perhitungan. suruh dia bersiap sedia menyambut kedatanganku. Nah, sekarang kau boleh pergi,
aku telah berjanji untuk mengampuni jiwamu.."
sebagai seorang yang berilmu tinggi sudah tentu suma Hiong tak sudi untuk menyerah kalah
dengan begitu saja, ia membentak keras:
"Manusla bermuka dingin, kau jangan tekabur lebih dulu, sambutlah pukulanku ini."
sepasang telapak tangannya diayun kemuka secara beruntun dalam sekejap mata ia telah
melepaskan delapam serangan berantai.
semua ancaman yang dilontarkan itu menggunakan jurus serangan yang aneh dan sakti, bukan
saja jarang ditemui dikolong langit, keganasannya betul-betul mengerikan, seketika itu juga si
anak muda itu terdesak mundur sejauh lima depa kebelakang.
setelah berhasil dengan ancamannya suma Hiong tak sudi memberi kesempatan kepada
musuhnya untuk melancarkan serangan balasan, dia susulkan lagi dengan lima buah serangan
berantai.
Tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau tidak berpeluk tangan belaka, menggunakan
kesempatan yang sangat baik itu, mereka terjun pula kedalam gelanggang, untuk membantu
pemimpinnya.
Bentakan-bentakan gusar menggelegar di angkasa, dua puluh sosok bayangan manusia terjun
kedalam gelanggang dan menghadang jalan pergi ketujuh orang musuhnya, pertarungan massal
tak dapat dihindari lagi.
sementara itu suma Hiong sudah melancarkan serangan dengan jurus yang kelima, tiba-tiba
Han siong Kie berkelit kesamping dengan kecepatan yang tak terhingga, begitu berada tiga depa
disamping kalangan, keli ma jari tangan kanannya segera disodokkan kedepan-
Jerit kesakitan memecahkan kesuyian, secara beruntun suma Hiong mundur beberapa langkah
ke belakang, lengan kanannya terkulai lemas kebawah, separuh badannya basah kuyup
bermandikan darah segar.
"Suma Hiong " kembali Han Siong Kie berkata demgan ketus, " untuk kesekian kalinya kuberi
kesempatan kepadamu untuk berlalu dari sini, ketahuilah kesempatan ini adalah kesempatan yang
terakhir. bila kau tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji "
suma Hiong bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu bila kesempatan ini tidak dipergunakan
sebaik-baiknya, niscaya dia akan mati konyol ditempat itu.
setelah melotot sekejap ke arah pemuda itu, dengan pandangan penuh kebencian ia berkata:
"Manusia bermuka dingin, tunggu saja sampai tanggal mainnya"
Tanpa banyak berbicara lagi, ia menjejakkan kakinya ketanah dan melarikan diri terbirit-birit
dari sana.
Melihat pemimpinnya sudah kabur, tujuh orang jago dari Thian che kau itupun tak berani
melanjutkan pertarungan, serentak mereka memberi tanda dan memperketat serangannya,
setelah berhasil memaksa mundur lawannya, orang-orang itu melompat ke atas atap rumah dan
berusaha melarikan diri dari situ.
"Hmm Kau mau pergi kemana?" jengek Han siong Kie sinis.
Ketika sepuluh jari tangannya dilontarkan kemuka, munculah sepuluh buah desingan angin
tajam ke depan.
Jerit kesakitan berkumandang saling menyusul, dalam waktu singkat tujuh orang jago pedang
yang mencoba untuk melarikan diri itu sudah rontok ketanah bagaikan burung yang kena ketapel.
Melihat musuhnya sudah terbasmi habis, ketua Kay pang baru memburu maju sambil memberi
hormat, serunya dengan wajah bersyukur:
"oooh... sungguh beruntung Han ciangbunjin datang tepat pada saatnya, kalau bukan bantuan
ciangbunjin niscaya perkumpulan kami sudah hancur ditangan iblis itu, budi kebaikan ini tak akan
kami lupakan untuk selamanya"
Buru2 Han siong Kie balas memberi hormat sahutnya:
"Aaah, perkataan dari ciangbunjin terlampau serius, sudah sepantasnya kalau kita sebagai umat
persilatan saling membantu dikala sedang susah, apalagi perkumpulan kami termasuk salah satu
korban dari keganasan mereka, sewajarnya aku bantu kalian untuk menghadapi mereka"
Pengemis dari selatan memburu pula ke depan, walaupun dengan langkah yang gontai, noda
darah masih membekas diujung bibirnya, namun tidak mengurangi kegembiraannya, dengan
wajah berseri ia berseru:
"Haaah haaahhh haaahh saudara cilik, hayo ikut aku menuju keruang belakang, aku akan
bercakap-cakap sampai puas dengan dirimu, aku tahu engkau paling segan dengan segala macam
tata cara yang sok. ayo ikuti aku"
Han siong Kie pun mohon diri dengan ketua Kay pang beserta jago-jago lainnya, kemudian
dengan mengikuti dibelakang pengemis dari selatan mereka menyingkir keruang belakang.
Ruangan itu kecil sekali dan merupakan kamar semedi yang tak begitu luas, Han siong Kie
duduk saling berhadapan dengan saudara tuanya.
setelah hening sesaat dengan kerutkan kening pemuda itu menegur. " Engkoh tua, aku lihat
luka yang kau derita tidak enteng"
"Aah apa artinya luka seringan ini? Kejadian ini sudah merupakan suatu keberuntungan bagi
kami, andaikata saudara cilik tidak datang tepat pada waktunya niscaya perkumpulan kami sudah
mengalami kehancuran total"
Menggunakan kesempatan itu Han siong Kie teringat kembali akan beberapa persoalan, iapun
berkata:
" Engkoh tua, ada beberapa persoalan aku ingin mohon bantuanmu, apakah kau bersedia untuk
membantu?"
""Heeeh heeeh heeh dalam hal apa Katakan saja, sekalipun kau menginginkan batok kepalaku,
sekarang juga akan kupersembahkan kepala ini untukmu"
"Aah, engkoh tua memang suka bergurau, tentu saja tidak seserius itu persoalan yang hendak
kukatakan, aku cuma mengharapkan rekan rekan dari Kay pang untuk mencari jejak dari beberapa
orang bagiku, aku tahu Kay pang punya jaringan mata-mata yang luas dan hebat, mencari jejak
orang merupakan pekerjaan yang rutin"
"siapa yang hendak kau cari ? Coba katakan-"
"Ada tiga orang tiang lo dari perguruanku yang tercerai berai dalam suatu pertarungan hingga
kini tak kuketahui kabar berita mereka, maka aku mohon bantuan Kay pang untuk mencarikan
jejaknya ".
"ooh... saat ini akan segera dilaksanakan oleh anak murid kami, aku percaya jejak mereka akan
segera diketahui, siapa lagi yang hendak kau cari.."
"Hekpek siang yau, sepasang siluman yang sudah tersohor namanya semenjak enam puluh
tahun berselang "
"Hekpek siang yau? Mau apa kau cari gembong iblis yang luar biasa itu? " seru pengemis dari
selatan dengan jantung berdebar.
Han siong Kie pun menceritakan bagaimana ia menerima sepasang siluman itu menjadi anggota
seperguruannya.
sehabis mendengar kisah tersebut pengemis dari selatan baru paham dengan duduknya
persoalan, ia gelengkan kepalanya sambil berkata:
"saudara cilik, aku benar-benar merasa kagum sekali dengan kehebatanmu, tak nyana nasibmu
memang mujur dan hok ki mu besar, gampang, soal ini gampang sekali, segera akan
kuperintahkan anak muridku untuk melakukan penyelidikan"
"Selain daripada itu akupun ingin minta petunjuk tentang satu persoalan lagi."
"Aaah katakanlah sedari kapan engkau mulai belajar bicara menela-menele begitu? Hayo
utarakan saja secara blak-blakkan"
"Aku dengar dalam dunia persilatan hidup seorang tokoh silat yang ahli sekali dalam hal ilmu
beracun dan orang itu bernama Ban tok cousu, apakah tokoh silat ini masih hidup didunia ini."
"Mengapa engkau menanyakan persoalan ini"
"Racun Gi hang tok ko (buah racun berubah wujud) yang salah dimakan oleh Hekpek siang yau
katanya hanya bisa dipunlahkan oleh dia seorang, aku hendak mohonkan pengobatan bagi kedua
orang itu"
Pengemis dari selatan termenung dan berpikir sebentar, kemudian baru menyahut: "Aku rasa
kemungkinan besar dia masih hidup didunia ini"
"Jadi hanya suatu kemungkinan belaka ?"
"Benar, aku hanya bisa mengatakan mungkin, sebab kalau dihitung dengan jari tangan maka
pada tahun ini Ban tok cousu sudah berusia diatas seratus tahun, pada dua puluh tahun berselang
aku pernah mendengar orang berkata bahwa raja racun yang sangat lihay ini menetap didalam
telaga beracun..."
"Telaga beracun ?"
"Oooh, belum pernah kau dengar tentang nama telaga ini"
"Belum "sahut sianak muda itu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Luas telaga beracun ini hanya setengah hektar dan letaknya dalam lembah hek kok (lembah
hitam) yang berada dibukit Tay keng san, air telaga itu sangat beracun dan siapa saja yang
terkena air itu niscaya akan mati secara konyol. Kendatipun begitu aku tak berani memastikan
seratus persen benar, sebab sampai detik ini belum pernah kubuktikan sendiri kebenaran dari
berita ini "
"Sekalipun Ban tok cousu kebal racun dan lihay dalam menggunakan barang berbisa, toh tidak
sepantasnya kalau dia berdiam dalam air telaga itu?" kata Han siong Kie dengan terperanjat.
"Ada orang menyaksiksn dia masuk keluar dalam telaga beracun itu, apa yang sebenarnya
dikerjakan cousu selaksa racun itu tak seorangpun tahu, dengan sendirinya aku sipengemispun tak
bisa memberi jawaban atas pertanyaanmu itu"
"Dalam dunia persilatan terdapat seorang manusia yang bernama Tok kun si dewa racun Yu
Hai, apakah dia adalah ahli waris dari Ban tok cousu yang sangat lihay itu."
"Bukan"
"Bukan? Lalu dari manakah dia pelajari ilmu beracun yang amat dahsyat itu?"
"Asal mulanya Yu Hau cuma seorang Bu beng siau cut prajurit tak bernama dalam dunia
kangou, dua puluh tahun berselang tanpa sengaja ia berhasil menemukan sejilid kitab beracun
yang amat luar biasa, semenjak isi kitab itu berhasil dikuasahi olehnya tersohorlah namanya
sebagai Tok kun atau raja racun, kendatipun namanya saja memakai huruf "kun" yang berarti
orang budiman, tapi pada hakekatnya dia adalah seorang manusia durjana yang berhati busuk".
"Dia telah menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau" sela pemuda itu.
"Bukan kejadian yang aneh kalau ia berkomplot dengan mereka, toh kaum serigala hanya
berkumcul dengan serigala, masa ada serigala bergaul dengan domba ? ketua Thian Che kau
berambisi besar dan bercita-cita untuk menguasahi seluruh jagad, menjadi kaisar dalam dunia
persilatan, dengan segala daya upaya dia mengumpulkan kawanan jago dari pelbagai daerah
untuk memperkuat posisinya, kecuali beberapa perguruan dan partai kenamaan boleh dibilang
hampir semua perkumpulan dan perguruan telah dilalap habis olehnya ya.. beruntung Kay pang
dapat lolos dari musibah ini" Han siong Kie tertawa dingin -
"Heeehhh heeehhh heeehh masa kiamat dari Thian che kau tak akan terlalu lama, tunggu saja
tanggal mainnya "
"Bila kita biarkan perkumpulan itu mengembangkan sayapnya sampai dimana-mana, aku kuatir
dunia persilatan akan terjatuh semua kedalam cengkeremannya"
"Aaah. belum tentu begitu...."
Pengemis dari selatan berpaling dan menatap lekat-lekat wajah pemuda itu, bisiknya: "saudara
cilik, engkau terlalu percaya pada kemampuanmu?"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah, ia tidak mengucapkan sepatah
katapun-
Rupanya pengemis dari selatan menyadari kekhilafannya, cepat ia menambahkan:
"saudara cilik, tentunya kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa: "sebuah
balok kayu tak akan mampu menunjang sebuah rumah gedung bukan ? Aku rasa persoalan paling
penting yang harus kau lakukan pada saat ini adalah kembali ke Thian lam serta melakukan
pembersihan terhadap unsur-unsur busuk dalam tubuh perguraanmu, sebab dengan tindakan ini
bukan saja kau dapat menyelamatkan mereka-mereka yang masih setia kepadamu dan terpaksa
harus tunduk diperintah ketua yang sekarang, selain itu kaupun akan memperoleh bantuan yang
amat besar dalam usahamu menghancurkan perkumpulan Thian che kau, tak usah kuatir, setiap
saat setiap detik Kay pang selalu berdiri dibawah komandomu"
Tercekat hati Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, kata-kata dari engkoh tuanya ini
mengetuk sampai ke dalam hati sanubarinya, memang benar ucapannya, bila Wi It beng dibiarkan
berlaku sewenang-wenang tanpa ditindak. niscaya sengsaralah orang-orang yang masih setia pada
kebenaran, kelemahan dari Thian lam bun justru akan muncul dari hal-hal seperti ini."
Tapi ingatan lain cepat melimtas dalam benaknya, teringat olehnya akan suatu masalah yang
jauh lebih penting.
"Apa yang diucapkan engkoh tua memang betul" katanya kemudian dengan dahi berkerut "tapi
sekarang aku telah menjumpai sesuatu masalah yang betul-betul rumit"
" Kesulitan apa? Katakan saja asal aku mampu pasti akan kubantu untuk memecahkannya"
ucap pengemis dari selatan sambit menepuk dada sendiri
"Pertama orang yang benar-benar mengetahui asal usulku yang sebenarnya hanya lima orang
tiang lo dari sebuluh tiang lo ruang goan lo wan yang masuk daratan Tiangggoan- jadi diantara
lima orang tiang lo itu ada dua orang telah tewas dan tiga orang tak ketahuan kabar beritanya,
kedua tanda kebesaran sebagai seorang ketua yakni ok kui cupay telah terjatuh ketangan Thian
che kau, tanpa adanya tanda kepercayaan itu tak mungkin aku bisa menarik kepercayaan dari
murid-murid lainnya, tolong tanya bagaimana caraku untuk mengatasi persoalan ini?"
Mendengar ucapan tersebut terlintas rasa serba salah diwajah pengemis dari selatan, katanya
kemudian-
"Ya a, persoalan ini memang merupakan satu masalah yang pelik, bukankah pekerjaan yang
gampang untuk merebut kembali lencana ok kui cupay dari tangan orang Thian che kau, dan
lagi.."
"Kenapa? " sela sang pemuda.
"Ketua pelaksana perguruan Thian lam yang sekarang wi It beng telah menyatakan
penggabungan diri dengan perkumpulan Thian che kau, istana Huan mo kiong sudah berubah jadi
kantor cabang Thian che kau, aku kuatir kalau tanda kebesaran itu sudah terjatuh ketangan Wi It
beng, aaai... kalau sampai begitu, bukankah sekarang ia telah mempunyai kekuasaan untuk
memerintah segenap anak murid ?"
Air muka Han siong Kie berubah hebat.
"Ehmm, memang ada kemungkinan untuk terjadi peristiwa semacam ini, padahal lencana
tersebut merupakan benda tersuci dan tertinggi dalam perguruanku, siapa yang membawa benda
itu, dialah yang dipertuan, waah, urusan kan menjadi bertambah pelik"
"saudara cilik, kau jangan gelisah dulu, coba kuselidiki keadaan yang sebenarnya" pengemis tua
itu lantas bertepuk tangan tiga kali.
seorang pengemis setengah baya mengiakan dan berjalan masuk kedalam ruangan: "Tianglo,
kau orangtua ada perintah apa?" tanyanya.
"sampaikan perintahku, tanyakan kepada setiap murid yang berada disini apakah di antara
mereka ada yang mengetahui jejak dari ketiga orang tianglo dari Huan mo kiong yang berada
didaratan Tionggoan, kalau ada yang tahu segera datang memberi laporan "
"Terima perintah" sesudah memberi hormat pengemis setengah baya itupun mengundurkan diri
sepeninggal pengemis itu Han siong Kie merasa panik dan tidak tenang, ia merasa bahwa
persoalan yang sedang dihadapi sekarang memang cukup pelik, bukan saja Perintah dari gurunya
Mo tiong ci mo tak dapat diselesaikan, bahkan urusanpun berubah jadi sekacau ini, bukankah dia
akan menjadi manusia yang berdosa bagi perguruan?
Tidak selang beberapa saat kemudian pengemis setengah baya itu datang melapor:
" Lapor tiang lo ada seorang murid bagian kontrol yang bernama Tan Beng siap memberi
laporan"
"suruh dia masuk" perintah pengemis dari selatansetelah
Tan Beng masuk kedalam ruang, pengemis itupun bertanya lagi:
"Apa yang kau ketahui?"
Tan Beng memberi hormat, kemudian bukannya menjawab malahan balik bertanya:
"Yang dimaksudkan sebagai tiga orang tianglo dari Thian lam bun itu apakab tiga orang kakek
berjubah sutera dan membawa toya berkepala setan?"
"Benar " sahut Han siong Kie dengan semangat berkobar.
Pengemis dari selatan mengangguk kepada Tan Beng katanya: "Lanjutkan perkataanmu lebih
jauh"
"Tiga hari berselang ketika hamba sedang melakukan perjalanan melewati Niu kang, pernah
kusaksikan ketiga orang tianglo itu sedang melanjutkan perjalanan menuju ke arah wilayah Thian
lam."
"Baik, kau boleh mundur"
Sepeninggal Pengemas itu, Han siong Kie duduk termangu, ia merasa tak habis mengerti
kenapa ketiga orang tianglonya menuju ke wilayah Thian lam, bukankah tindakan mereka ini sama
artinya dengan menghantarkan diri kemulut harimau ? Tak nanti Wi It beng akan melepaskan
mereka bertiga dengan begitu saja.
Tanpa terasa diapan menguatirkan pula keselamatan dari kelima orang tianglonya yang masih
tertinggal diruang goan lo wan.
sebagai seorang ketua Thian lam bun, tentu saja ia tak dapat membiarkan para tianglonya
menghantarkan kematian, karena itu rencananya semula untuk berkunjung kebenteng maut dan
menyatroni lian huan tau terpaksa dibatalkan.
-000dw000-
SETELAH hening beberapa saat pengemis dari selatan bertanya pula: "saudara cilik apa
rencanamu selanjutnya?"
Han siong Kie menghela napas panjang, sahutnya dengan wajah serius:
"Terpaksa aku harus berangkat ke Thian lam, semoga saja masih sempat untuk menghadang
para tiang lo itu kembali ke sarang harimau"
".. sayang aku sipengemis tua sedang terluka, kalau tidak niscaya akan kubantu usahamu itu"
"Engkoh tua tak usah repot-repot, paling penting merawat dulu lukamu hingga sembuh" cepat
sianak muda itu menampik .
"Bagaimana kalau kupilih kan beberapa orang jago lihay dari perkumpulanku untuk menyertai
perjalanan ini?"
"Tak usah.. tak usah Maksud baik engkoh tua biarlah kuterima dalam hati saja"
"Aaah, perkataan apaan itu? Budi kebaikanmu terhadap kay pang setinggi langit, aah, jemu
untuk membicarakan soal budi, lebih baik tak usah dibicarakan lagi"
" Engkoh tua aku bermaksud untuk segera melanjutkan perjalanan mumpung masih sempat
untuk menyusul mereka"
"Ehm, begitupun ada baiknya, aku akan segera mengirim berita kilat kekantor- kantor cabang
dan menyuruh mereka menghadang jalan pergi ketiga orang tiang lo itu"
"Terima kasih atas bantuan engkoh tua"
"Juga tentang jejak dari Hekpek siang yau, aku percaya tak lama kemudian berhasil ditemukan
anak muridku, pasti akan kukirim kabar itu padamu secepatnya"
"Kalau begitu siaute mohon diri lebih dulu" ucap Han siong Kie seraya bangkit berdiri
"Selain itu.?"
"Apakah engkoh tua ingin mengucapkan sesuatu lagi??" Pengemis dari selatan mengangguk.
"Kantor cabang kami di Nio kang meliputi daerah operasi sampai wilayah Thian lam, jika kau
ada urusan minta saja bantuan dari mereka, pasti akan kupesan sendiri kepada toucunya untuk
mengabarkan berita ini kepada anak buahnya, lencana bambu ini boleh kau terima, bila ada
keperluan gunakanlah lencana ini sebagai tanda pengenal "
"Akan siaute ingat selalu dihati, baik-baiklah jaga diri engkoh tua" kata pemuda itu kemudian
setelah menerima lencana bambu itu.
"semoga kau sukses selalu"
"selamat tinggal"
Han siong Kie telah meninggalkan markas besar kay pang di kuil Bu hao si dan melanjutkan
perjalanannya menuju Thian lam.
Waktu itu fajar baru menyingsing, suara ayam berkokok memecahkan kesunyian dipagi itu.
Bintang masih tersisa di langit, angin pagi yang dingin berhembus lewat menyegarkan badan,
Han siong Kie melakukan perjalanannya dengan kecepatan penuh.
Tiga li baru lewat, ketika secara tiba-tiba sesosok bayangan manusia diantara remangremangnya
cuaca orang itu menghadang jalan perginya.
Han siong Kie merasa kaget dan mengerem gerak laju tubuhnya, tapi setelah mengetahui siapa
yang berada dihadapannya ia berseru tertahan-"Aaah nona.. rupanya kau"
Tak asing lagi orang itu bagi Han siong Kie sebab dia tak lain adalah orang yang ada maksud.
"oh masih kenal dengan aku?" sapa orang yang ada maksud sambil tertawa aneh.
"Ada urusan apa nona berdiri disini"
"Menunggu kau"
"Menunggu aku" bisik pemuda itu sambil mundur selangkah karena tercengang, "dari mana
nona bisa tahu kalau aku berada disini dan akan lewati jalan ini?"
0000d0w0000
BAB 70
"AH terlalu gampang untuk mengetahui jejakmu, bukankah jalan raya disini hanya ada satu?
Asal kami berdua masing-masing menghadang disetiap sudut jalanan ini, pastilah seorang
diantaranya kami akan berjumpa dengan kau, bukankah begitu?"
"Jadi ada orang yang bertugas menantikan kedatanganku? siapa orang kedua itu?"
"Tak perlu kau tahu"
Han siong Kie berkerut kening, selang sesaat kemudian ia bertanya pula. "Ada urusan apa nona
menunggu kedatanganku disini?"
"Boleh aku tahu dulu kemana kau akan pergi...?"
"Ke Thian lam"
"Wah kebetulan sekali, untung aku bertemu dengan kau, kalau tidak maka akibatnya amat
sukar dilukiskan dengan kata-kata"
" Kenapa?" tanya anak muda itu terkejut.
"seorang jago yang mengaku sebagai Manusia bermuka dingin dengan membawa lencana ok
koi cu pai dan memimpin tiga puluh orang jago telah berangkat ke Thian lam untuk mengambil
alih kursi kebesaran dari Wi It beng, bahkan ketiga orang tianglo dari perguruan Thian lam bun
pun menyertai dirinya.
"Manusia bermuka dingin ? Boleh aku tahu ada berapa orang manusia muta dingin didunia ini?"
tanya Han siong Kie keheranan-
"Tentu saja hanya satu"
" Kalau memang demikian, aku jadi tidak mengerti, dengan apa yang nona maksudkan?"
"Untuk mengangkangi istana Huan mo kiong, pihak Thian che kau telah mengutus seorang
utusan khususnya menuju ke Thian lam untuk mengambil oper kedudukan wi It beng, bukan saja
utusan khusus itu telah menyaru seperti kau, bahkan membawa pula lencana ok kui cu paya "
"Aah, masa telah terjadi peristiwa seperti ini?" teriak Han siong Kie terkesiap.
orang yang ada maksud segera tertawa dingin
"Memangnya aku membohongi kau, Ketahuilah, utusan khusus dari Thian che kau yang
menyamar sebagai dirimu itu bernama Thio Wi wan "
"Tadi nona mengatakan bahwa dalam rombongan ini terdapat pula tiga orang tiang lo dari
Thian lam bun serta dua puluh orang jago lihay, siapakah mereka itu?"
"Ketiga orang tianglo itu masing-masing bernama To It Hui, Ang pat siu serta san jin ho,
mereka dengan menyertai manusia muka dingin gadungan itu berangkat ke Thian lam untuk
melakukan pembersihan terhadap perguruannya."
"Masa ketiga orang tianglo itu tak dapat membedakan mana yang asli dan mana yang
gadungan?"
"Dalam tubuh perkumpulan Thian che kau terdapat aneka ragam jago yang rata-rata berilmu
tinggi, termasuk pula ilmu menyamarnya, mungkin kau sendiripun akan pangling dibuatnya"
Han siong Kie merasa darah panas dalam tubuhnya mendidih, hawa napsu membunuh
menyelimuti wajahnya, dengan penuh kebencian serunya: "Mereka harus dijagal semua"
"Siapa yang akan kau jagal"
"Semua anggota perkumpulan Thian che kau, dari ketua sampai pelayan-pelayannya"
"Urusan yang tak penting lebih baik tak usah kau bicarakan dulu, ketahuilah Thia We wan yang
menyaru sebagai dirimu dengan membawa ketiga orang tianglo dari dua puluh orang jagonya
sudah berangkat semenjak tiga hari berselang, padahal dengan kepandaian yang di miliki mereka
dalam tujuh hari saja istana Huan mo kiong sudah tercapai, kau sudah ketinggalan tiga hari. aku
kuatir tak mungkin bisa kau susul diri mereka"
Han siong Kie tidak menjawab, pikirnya dalam hati:
" Engkoh tua sudah mengirim surat kilat kepada kantor cabangnya dan memerintahkan anak
murid Kay pang menghalangi jalan pergi ketiga orang tianglo itu, tapi dengan adanya utusan dari
Thian che kau, situasi jadi makin berbahaya, aku harus segera mengejar dengan sepenuh tenaga,
siapa tahu bisa kutempuh perjalanan siang malam sebelum mereka tiba di antara Huan mo kiong,
aku bisa sampai duluan?" Berpikir sampai disini ia lantas bertanya: "Nona mendapatkan
keterangan ini dari mana?"
"Kau tak perlu tahu, pokoknya kedatangan aku kemari adalah untuk menyampaikan kabar ini
kepadamu"
"Terima kasih atas bantuan nona, kalau begitu aku akan segera melakukan perjalanan-"
"silahkan"
setelah menjura, berangkatlah Han siong Kie meninggaikan tempat itu, cepat sekali gerakan
tubuhnya, dalam sekejap mata ia sudah berada jauh sekali dari sana.
Menanti bayangan punggung pemuda itu sudah lenyap dari pandangan, orang yang ada
maksud baru menghela napas panjang, ia melepaskan kain kerudungnya sehingga tampaklah
wajahnya yang cantik, dari sakunya dia itu mengambil secarik sapu tangan dan menyeka air mata
dikelopak matanya.
Mengapa nona itu bersedih hati? Tak seorangpun yang tahu
Dalam pada itu Han siong Kie telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh Ho keng gin im nya
hingga mencapai pada puncaknya, siang malam ia menempuh perjalanan tiada hentinya, beratusratus
li sudah ditempuh dengan kecepatan penuh.
Hari ketiga, sebelum lohor pemuda itu sudah tiba dikota sik bun ki, suatu kota yang berjarak
tiga ratus li dari istana Huan mo kiong.
Dikota sik bun ki inilah kantor cabang Kay pang untuk wilayah Niu kang bermarkas.
Akan tetapi sampai waktu itu, bukan saja tiada kabar berita dari pihak kay pang, jejak ketiga
orang tianglo itupun tak ada yang tahu.
Han siong Kie semakin kuatir, ia merasa tak ada harapan lagi untuk menyusul ketiga orang
tianglonya.
Pemuda itupua sadar, jika orang yang menyaru sebagai dirinya tiba lebih dahulu di istana Huan
mo kiong dengan tampangnya yang persis seperti dirinya serta andaikan lencana ok kui cu pai,
tidak susah baginya untuk mendapat kepercayaan dari orang-orang perguruan dan bila sampai dia
mendapat kepercayaan penuh dari anggota Thian lam bun yang setia, runyamlah keadaan dan
hancurlah perguruan itu.
Denggan langkah yang lambat ia memasuki sebuah rumah makan yang memakai merek "Ing
khek ki", sambil melepaskan lelah dan menangsal perut, pemuda itu hendak menggunakan
kesempatan tersebut untuk mencari akal guna menanggulangi kejadian ini.
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Han siong Kie, mari kita bercerita kembali
setelah To It hui, Ang Pat sin dan Wi Jin ho mendapat tugas untuk mengubur jenasah seng Thian
pa dan Liok sau tan yang mati dalam pertarungan melawan gerombolan wi It beng.
setelah menyelesakan tugas menguburkan, ketiga orang tianglo ini melakukan perjalaran kian
kemari untuk mencari jejak Han siong Kie, akan tetapi jejak dari ketuanya ini lenyap tak berbekas,
mereka jadi murung tak habis mengerti.
Ditengah jalan secara kebetulan mereka mendengar kalau Wi It beng telah menjual perguruan
Thian lam bun kepada pihak Thian che kau, bahkan istana Huan mo kiong telah dirubah menjadi
kantor cabang Thian che kau untuk wilayah Thian lam.
Melihat keruntuhan yang mengancam perguruan ini, ketiga orang tianglo ini jadi marah
bercampur sedih, mereka lantas mengambil keputusan untuk berangkat ke Thian lam serta
mengumpulkan anak murid yang setia untuk bersama membasmi Wi It beng dari muka bumi.
Dalam perjalanan menuju ke Thian lam inilah, secara tak terduga ketua mereka, Han siong Kie
telah muncul dengan membawa dua puluh orang jago bersenjata lengkap. menurut keterangan
kedua culuh orang ini adalah anggota baru Thian lam bun yang baru diterimanya. sungguh
gembira sekali ketiga orang tianglo tersebut menjumpai kenyataan itu.
Mereka lebih percaya lagi setelah Ciangbun suhengnya menunjukkan tanda kebesaran ok kui
cupay, malahan mennrut pengakuan ciang bun suhengnya ini lencana tersebut berhasil dirampas
kembali setelah berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya.
Tentu saja mimpipun mereka tak menyangka kalau ciangbun suheng yang berada dihadapan
mereka ini sebetulnya adalah ciang bun suheng gadungan-
Meskipun dalam hal berbicara dan tingkah lakunya banyak hal yang mencurigakan ketiga orang
tianglo ini, tapi dengan manisnya "Han siong Kie" gadungan berhasil memberi jawaban yang
memuaskan, hal ini membuat ketiga orang tianglo itu semakin percaya.
Tatkala rombongan tiba dikota sik bun ki, anak murid Kay pang cabang wilayah Niu kang yang
baru mendapatkan surat kilat dari markas besarnya segera memberi penyambutan yang meriah,
bahkan setiap saat menanti perintah mereka.
Tindakan ini sama sekali diluar dugaan siapa pun, tentu saja perbuatan dari orang Kay pang
mencengangkan mereka.
Thia Wi wan yang menyamar sebagai Han siong Kie gadungan tidak terlampau curiga oleh
tindakan Kay pang ini sebab dalam anggapannya kaum pengemis itu sudah menggabungkan diri
dengan Thian che kau, maka segala sesuatunya ini tentulah kaucu mereka yang mengatur.
Karena itu diapun tidak memberikan reaksi apa-apa, sebaliknya menerima sambutan itu
sewajarnya.
Begitulah kesalahan paham yang terjadipada waktu itu, oleh karena kedua belah pihak tidak
mengucapkan apa-apa, tentu saja siapapun tak menyangka kalau apa yang sedang berlangsung
pada hakekatnya adalah suatu kesalah pahaman.
Kita kembali pada Han siong Kie yang asli, ketika tidak berhasil mendapatkan akal yang jitu
untuk menanggulangi kesulitan tersebut, dengan uring-uringan dia keluar dari kedai arak itu
Ditengah jalan tiba-tiba dari sisi tubuhnya terdengar seseorang berseru kaget ketika ia
berpaling ternyata orang itu adalah seorang pengemis tua yang berpakaian tambal-tambalan.
satu ingatan dengab cepat melintas dalam benaknya, ia berpikir:
"sebelum berpisah dengan engkoh tua pengemis dari selatan, ia telah berpesan kepadaku bila
ada kesulitan minta saja bantuan dari Kay pang, kenapa aku tidak mencari berita dari mereka?"
serta merta ia membuntuti kemana perginya pengemis tua itu.
sebentar kemudian mereka sudah keluar dari kota dan menuju ke tanah alas yang sepi
sebelum Han siong Kie sempat mengucapkan sesuatu, pengemis tua itu telah berpaling seraya
memberi hormat, katanya:
"Ditempat ini banyak tersebar mata-mata dari istana Huan mo kiong, sebelum rencana disusun
dengan matang, lebih baik ciangbunjin sedikit merahasiakan jejakmu"
"Rencana? Rencana apa?" tanya Han siong Kie.
Ucapan itu membuat si pengemis tua jadi terbelalak. lama sekali dia termangu sebelum
akhirnya bertanya:
"Bukankah engkau adalah Han sauhiap. ketua dari Thian lam bun ?"
"Betul"
"Maksudku lebih baik untuk sementara waktu ciangbunjin kembali dulu kedalam kuil Po cu bin,
agar supaya..."
(Bersambung ke Bagian 46)
Karya : Khu Lung
Saduran : Tjan ID
Ebook oleh : Dewi KZ dan ‘aaa”
http://kangzusi.com/ atau http:// http://dewikz.byethost22.com/
36
"Urusan rumah tanggamu sendiri?" tanya pengemis dari selatan dengan sepasang mata
melotot.
"Begitulah kenyataanya engkoh tua, harap engkau bisa memaklumi keadaanku ini"
"Tapi saudara cilik. tahukah engkau bahwa luka yang kau derita cukup parah?"
"Tidak menjadi soal, luka itu tak kuperhatikan sama sekali" sahut Han Siong Kie sambil tertawa
getir, "bagaimana pun ku harap kalian berdua segera tinggalkan tempat ini?" .
Baik pengemis dari selatan maupun padri dari utara sama2 adalah jago persilatan yang sudah
berpengalaman selama puluhan tahun, tentu saja segala tata cara dan tetek bengek tersebut
dipahami olehnya, mereka tahu bahwa urusan rumah tangga orang lain tidak pantas dicampuri
orang lain oleh karena itu sesudah saling berpandangan sekejap, akhirnya mereka berkata:
"Baiklah, kalau engkau sudah berkata demikian kami jadi tak baik untuk tetap berada disini.."
Berbicara sampai disitu mereka lantas putar badan dan berlalu dari sana.
"Hmm Memangnya kalian berdua hendak pergi dengan begitu saja?" tiba2 Wi It beng menegur
kembali dengan mendengus dingin.
"Ada apa?" tanya pengemis dari selatan dengan alis berkenyit. "memangnya engkau sudah
penuju dengan aku sipeminta tua?"
"Tetapi sekali ucapanmu itu aku memang penuju sekali dengan dirimu. Bukankah kamu berdua
sudah kenali ilmu Boan yo sin kang milik kaisarmu ?"
"Nah, itulah dia.. akan kuhantar kalian berdua untuk pulang kealam barat dengan kepandaian
sakti itu, dari pada hidup didunia toh kalian bakal cerewet belaka?"
Dari ucapan itu jelaslah sudah kemana Wi It beng membawa pembicaraan tersebut, rupanya
dia berhasrat untuk melenyapkan kedua orang jago itu berhubung perbuatan busuknya atas
geteja siau lim si sudah ketahuan.
Bilamana ilmu silat yang dimiliki Han siong Kie tidak terlalu lihay, tak nanti ia keluarkan ilmu
Boan yo sinkang tersebut tapi sekarang dia bertujuan lenyapkan Han siong Kie dan merampas
lencana ok kui cupay untuk menegakan kembali kewibawaannya sebagai seorang Tee kun,
terpaksa kepandaian simpanannya itu dikeluarkan. sementara itu Padri dari utara telah merangkap
tangannya sambil berkata:
"Omitohud Kalau toh sicu memang berhasrat begitu, rasanya tiada perkataan lain yang bisa
kukatakan lagi, bila ingin turun tangan silahkan saja segera turun tangan"
Pengemis dari selatan menyambung sambil tertawa tergelak:
"Haaah haaah haaah betul, memang tepat sekali ucapan tersebut, Kalau memang engkau
sudah penuju pada diriku, akupun tidak akan banyak bicara, toh aku si pengemis tua sudah bosan
hidup ... hayo ambillah nyawaku ini"
sudah tentu Han siong Kie tidak mengijinkan kedua orang tua itu terlibat dalam persoalan
perguruannya sendiri, dengan gelisah bercampur gusar dia maju dengan sempoyongan, sambil
menahan sakit dalam isi perutnya ia berseru kepada dua orang tokoh silat itu.
"Engkoh tua, locianpwe Disini sudah tak ada urusanmu lagi, aku harap kalian berdua segera
tinggalkan tempat ini"
"Eeh... memangnya engkau tidak dengar bahwa orang lain tidak mengijinkan aku berdua
tinggalkan tempat ini?" sahut pengemis dari selatan dengan mata melotot.
"Engkoh tua, loocianpwe Ketahuilah mencampuri urusan rumah tangga orang lain merupakan
pantangan terbesar bagi umat persilatan, aku minta janganlah kalian bikin hatiku jadi susah dan
serba salah"
"Kuakui kalau ucapan saudara cilik tidak salah, tapi engkau tua dan menyaksikan sendiri bahwa
situasi yang kita hadapi sekarang sama sekali berlainan, aku rasa engkau sendiripun-."
"Engkoh tua, ataukah kalian hendak menunggu sampai saudara cilikmu ini mempersilahkan
sendiri kepergianmu?" tukas anak muda itu secara tiba2.
sudah tentu maksud dari Han siong Kie mengusir dua orang sahabatnya itu bukan lantaran
apa2, maksud yang sebenarnya adalah karena dia tak tega menyaksikan kedua orang sahabatnya
ini ikut jadi korban di tangan lawan, jelas ilmu silat mereka masih belum sanggup menandingi
lawannya, bila Wi It beng berhasrat membunuh mereka jelas itu bukan pekerjaan yang terlalu
menyulitkan dirinya.
Wi It beng bukan orang bodoh, dia sendiripun tahu kalau akan maksud hati anak muda itu,
kontan dia tertawa seram.
"Haaah haah haaah Manusia berwajah dingin, lebih baik tak usah buang waktu dan tenaga
dengan percuma, ketahuilah nasibmu telah berada ditanganku, akulah yang akan menentukan
kalian semua harus mampus sekarang juga atau tetap hidup dikolong langit "
"Manusia bedebah, jangan tekebur lebih dahulu, ucapan semacam itu terlalu pagi kalau
diutarakan pada saat sekarang " hardik Han siong Kie dengan gusarnya.
sekali lagi dia ayun lencana ok kui cuipay nya ketengah udara, segenap sisa kekuatan yang
masih dimilikinya disalurkan kedalam lencana tersebut, tampaklah sekilas cahaya tajam langsung
memancar kedepan dan mencapai sejauh satu kaki dari kedudukan pemuda itu.
Gerakan ini sangat taktis dan tepat, karena gegabah dan kurang perhatian Wi It beng seketika
terkurung oleh cahaya tajam tersebut, sementara pikirannya jadi buyar, Han siong Kie telah
melancarkan serangan mautnya dengan ilmu jari Tong kim ci.
Dengus tertahan memecahkan kesunyian, tak tahan wi It beng roboh terjengkang ke atas
tanah.
Han siong Kie segera membentak keras:
"Tianglo berlima, dengarkan perintah segera perintahkan dua orang tamu ini untuk tinggalkan
gelanggang"
Lima otang tianglo itu serentak mengiakan, lima belah toya berkepala setan langsung di sapu
kedepan menggulung tubuh pengemis dari selatan dan padri dari utara.
Tentu saja Pengemis dari selatan dan padri dari utara tak ingin melibatkan diri dalam suatu
pertarungan, tanpa menunggu ke lima orang tianglo itu mendekati tubuh nya, mereka sudah
kabur tinggalkan tempat itu.
Menunggu dua orang jago tersebut sudah lenyap dari pandangan mata, Han siong Kie baru
bisa menghembuskan napas lega, dia tarik kembali lencana mustikanya dari sisi maju kedepan
untuk memeriksa keadaan luka Tee kun itu.
siapa tahu batu saja lencana nya ditarik kembali. Tiba2 Wi It beng loncat bangun kemudian
memperdengarkan suara gelak tertawanya yang amat mengerikan.
Betapa tercekatnya hati anak muda itu, dari gelak tertawa yang mengerikan itu, ia tahu bahwa
luka yang diderita pihak lawan sama sekali tidak parah.. Apa yang telah terjadi ?
Rupanya pada saat itu luka yang diderita Han siong Kie sangat parah sekali, disamping itu
diapun harus kerahkan dulu tenaga dalamnya kedalam lencana mutiara.. karena itulah meskipun
angin serangannya dapat telak ditubuh lawan, namun tenaga serangan nya lemah sekali.
Padahal sekujur badan wi It beng terlindung oleh hawa sakti Boan yo sin kang, karenanya
meskipun serangan tersebut bersarang telak di tubuh nya, namun hanya mengakibatkan sedikit
lecet saja pada kulis tubuh nya.
selama ini dia masih tak mampu untuk bangkit, ini bukan akibat dari luka tersebut melainkan
kekuatan tubuh nya lenyap sebab terpengaruh oleh sinar tajam itu.
Maka begitu Han siong Kie menarik kembali serangannya, kekuatan dalam tubuh Wi It beng
pulih kembali. serentak dia loncat bangun.
Dengan mulut mengerikan karena terpengaruh oleh hawa napsu membunuh yang berkobarkobar,
selangkah demi selangkah Wi It beng bergerak maju kedepan.
Kelima orang tianglo itu bertindak cepat melihat ketuanya terancam, serentak mereka
lintangkan toyanya didepan dada dan berdiri dibelakang anak muda itu. Han siong Kie ayun
kembali lencana nya untuk mempengaruhi kekuatan lawan-
Tapi kali ini wi It beng telah membuat persiapan, secepat petir tubuh nya menghindar
kesamping, kemudian sebuah pukulan Boan yo sinkang dilontarkan kedepan.
Desingan angin tajam memekikan telinga bagaikan gulungan ombak samudra ditengah
hembusan angin puyuh langsung menerjang tubuh Han siong Kie serta kelima orang tianglonya.
Han siong Kie berenam jadi terperanjat, tanpa berpikir panjang mereka ayun pula telapak
tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
"Blaaamm.." suatu ledakan keras menggelegar di angkasa, dengan sempoyongan kelima orang
tianglo itu terdorong mundur sampai tercerai berai ke mana2, sebaliknya Han siong Kie yang
sudah terluka termakan oleh serangan itu lukanya makin parah, sekali lagi dia muntah darah
segar.
Wi It beng memang seorang jago yang tangguh, meskipun seorang diri harus menghadapi
serangan gabungan dari enam orang, akan tetapi dia hanya dipaksa mundur sejauh tiga langkah.
Kilat tajam sorot mata Wi It beng melebihi tajamnya sembilu, tiba2 dia menyapu sekejap
sekitar hutan ditepi hutan, kemudian tegurnya dengan lantang:
"Tokoh silat dari manakah yang telah berada disitu? Kalau sudah datang mengapa tidak segera
munculkan diri?"
Mendengar seruan itu, semua jago yang ada dalam gelanggang sama2 alihkan sorot matanya
ke arah hutan-..
Gelak tawa yang menyeramkan berkumandang dari dalam hutan, menyusul mana sesosok
bayangan hijau bagaikan sukma gentayangan munculkaa diri dari hutan, begitu cepat gerak
tubuhnya hanya sekejap mata ia sudah tiba dihadapan para jago.
orang itu bukan lain adalah seorang manusia berkerudung yang memakai baju warna hijau.
Mengetahni siapa yang muncul, bergetarlah perasaan Han siong Kie, diam2 peluh dingin
membasahi tubuhnya.
Air muka Wi It beng sendiripun berubah hebat, tegurnya kemudian-"siapa engkau?"
Manusia berkerudung itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, tangan kanannya perlahan
di ayun kedepan dan tahu2 sebuah tengkorak warna merah sudah muncul di depan mata.
"Haah.. Tengkorak maut?" seru Wi It beng dengan hati tercekat.
Paras muka kelima orang tianglo serta kawanan pengawalpun berubah hebat, mereka tak
mengira kalau Tengkorak maut yang di segani tiap umat persilatan di daratan Tionggoan telah
munculkan diri dalam saat begini.
Di antara sekian banyak orang hanya Han siong Kie seorang yang tahu bahwa tengkorak maut
yang berada dihadapannya sekarang ini tak lebih hanya tengkorak maut gadungan, hatinya
bergetar keras dan paras mukanya terpengaruh oleh emosinya.
Dalam sekejap mata suasana dalam gelanggang berubah jadi hening, sepi dan tak kedengaran
sedikit suarapun-
Ditengah keheningan itulah tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, di susul
seseorang berseru kesakitan.
Dengan sempoyongan Han siong Kia mundur kebelakang, darah segar meleleh terus dari ujung
bibirnya.
Dalam sekejap mata itu pula lencana ok kui cupay telah berpindah tangan, kini benda tersebut
telah berada ditangan tengkorak maut yang lihay itu.
Tindakan dari Tengkorak maut ini sama sekali berada diluar dugaan semua orang, siapapun tak
menyangka kalau tokoh sakti itu sudi merampas ok kui cupay tanda kepercayaan dari Huan mo
kiong.
Paras muka Wi It beng berubah hebat, tubuhnya gemetar menahan emosi.
Jauh2 dari Thian lam menuju daratan Tionggoan, tujuan wi It beng adalah melenyapkan Han
siong Kie serta merampas lencana ok kui cupay yang merupakan tanda kekuasaan dari istana
Huan mo kiong, dan kini dikala lencana tersebut hampir terjatuh ke tangannya. Tahu2 sudah
dirampas oleh Tengkorak maut, bisa dibayangkan betapa gusar dan gelisahnya jago ini.
"Tengkorak maut, hayo serahkan kepadaku benda itu" hardiknya keras2.
"Heehh heehhh heehhh apanya yang serahkan kepadamu?" jengek Tengkorak maut sambil
tertawa seram.
"Apa lagi? tentu saja lencana ok kui cupay tersebut"
"Haahh haahhh haaa... Wi It beng menurut apa yang kuketahui, engkau tak lebih hanya
seorang anggota murtad dari aliran Thian lam dan lagi kedudukanmu sebagai Tee kun sudah
terhapus, memangnya lencana ini masih menjadi milikmu??"
"Tutup mulutmu, Jawab saja, mau diserahkan kembali kepadaku atau tidak ....?"
"Memangnya engkau mampu melakukan sesuatu yang luar biasa atas diriku ini? " ejek
Tengkorak maut.
"Bangsat Rupanya engkau memang sudah bosan hidup," teriak Wi It beng dengan gusarnya.
setelah membuat satu gerak melingkar di depan dada, sepasang telapak tangannya langsung
dilontarkan ketubuh Tengkorak maut, bukan saja cepat sekali serangan itu, bahkan ganas dan
keji.
"Waah.. kalau cuma mengandalkan ilmu kucing kaki tiga seperti ini masih jauh kalau ingin
merobohkan aku"
Tiba2 ia melesat kedepan sejauh dua kaki, kemudian ejeknya dengan nada sinis. . "Wi It beng,
manusia tolol sampai ketemu lain kali..."
Berbareng dengan berakhirnya ucapan tersebut, tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan
yang lebat.
Betapa murkanya Wi It beng ketika ia lihat Tengkorak maut telah berlalu dengan begitu saja, ia
berpaling dan melotot sekejap kearah Han siong Kie dan kelima orang tianglo itu dengan tatapan
benci, kemudian dengan wajah menyeringai ucapnya:
"Baik..baiklah... akan kuselesaikan kalian lebih dahulu sebelum kubikin perhitungan dengan
Tengkorak maut"
Keadaan Han siong kie ketika itu sangat lemah, jangan toh harus bertempur, untuk berdiri
sendiripun sudah tak mampu.
Lima orang tianglo itupun merasa sedih bercampur gusar, kini ketua mereka telah terluka
parah, itu berarti mereka berlima tak akan mampu menghadapi kelihayan wi It beng kendatipun
turun tangan bersama2
Dari sikap musuhnya yang begitu seram, merekapun sudah tahu bahwa musuhnya tak akan
melepaskan mereka berenam dengan begitu saja, asal mereka sudah mati maka perguruan Thian
lam pasti akan terjatuh ketangan manusia biadab ini, itu berarti pula bahwa kejayaan dan
kecermerlangan perguruan mereka harus berakhir sampai disini saja.
Walaupun sadar bahwa kepandaian mereka bukan tandingan lawan, namun mereka tak sudi
menyerah kalah dengan begitu saja, mereka bersiap sedia melakukan perlawanan hingga titik
darah yang penghabisan-
Diiringi bentakan nyaring, kelima orang tianglo itu segera putar toya kepala setannya dan
menerjang Wi It beng dengan ganas.
"Bluuk..." suatu jerit kesakitan terdengar, Liok sau tan terhajar telak oleh serangan itu hingga
mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.
Menyaksikan rekannya mati terbunuh, empat orang tianglo yang lain jadi semakin kalap.
serangan mereka semakin gencar, toya saktinya diputar sedemikian rupa sehingga Wi It beng
benar2 kena dikurung ditengah kepungan.
Kematiam rekan seperguruan yang berlangsung didepan mata membuat keempat orang tianglo
itu benar2 teramat gusar, mereka sudah bertekad untuk beradu jiwa, maka setiap serangan yang
dilancarkan Sebagian besar merupakan serangan adu jiwa yang sangat mengerikan-
Dalam waktu Singkat Wi It beng sudah di bikin keteter hebat dan kalang kabut tidak karuan,
posisinya amat terdesak sedang jiwanya terancam oleh mara bahaya.
Lambat laun Wi It beng jadi naik darah juga, ia tahu jika pertarungan dibiarkan berlangsung
terus dalam keadaan begini, niscaya wibawa dan gengsinya akan merosot.
Suatu ketika ia mendengus dingin, kemudian sambil menerjang kemuka secara beruntun dia
lancarkan delapan buah serangan berantai yang cukup gencar, hanya sesaat saja posisi diatas
angin telah terjatuh kedalam genggamannya.
Jerit kesakitan tiba2 berkumandang lagi memecahkan kesunyian, dalam suatu sergapan kllat,
Seng Thian pau tianglo kedua dari istana Huan mo-kiong ini tak sempat menghindarkan diri dari
serangan. dadanya terhajar telak sehingga ia muntah darah segar, tak ampun lagi tubuhnya
terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa.
Kematian dari rekannya yang kedua ini semakin membuat tianglo lain yang masih hidup jadi
kalap. To It hui tianglo pertama, Ang Pat siu tianglo ketiga dan Sah Jin ho tianglo kelima dengan
mata yang berapi-api dan muka menyeringai seram berulang kali membentak keras ibarat guntur
yang menggelegar di angkasa.
Tiga batang toya baja mereka dengan diputar sedemikian rupa merupakan serangkaian
bayangan serangan yang tajam dan tebal bagaikan awan yang memenuhi angkasa, di iringi
desingan tajam serentak menyergap membabat dan menghantam batok kepala musuhnya.
Ketiga orang tianglo ini sudah mata gelap dibuatnya, mereka jadi nekad dan tak takut mati,
dengan sendirinya serangan yang dilancarkan ketiga orang inipun jauh lebih dahsyat lagi.
Wi It beng tertawa terkekeh2, ia tak pandang sebelah matapun terhadap serangan2 musuhnya,
dikerubuti lima orang pun dia sanggup melakukan pembantaian apalagi sekarang musuhnya
tinggal tiga orang.. secara beruntun dia lepaskan dua belas buah pukulan dahsyat.
Begitu kedua belas buah pukulan itu dilancarkan kemuka, secara beruntun terdengarlah tiga
kali jerit kesakitan menggema diangkasa, dalam waktu singkat dari antara lima orang tianglo yang
gagah berani ada dua sudah mampus dan tiga lainnya menderita luka parah.
suasana untuk sesaat jadi hening dan sepi, kendatipun hawa napsu membunuh masih
menyelimuti seluruh angkasa dengan tebalnya.
Wi It- beng tertawa seram, muka nya menyeringai hingga Kelihatan sangat mengerikan,
selangkah demi selangkah ia maju kedepan menghampiri Han siong Kie.
Betapa gusar, benci dan penasarannya si anak muda itu, saking gelisahnya kembali dia
muntahkan darah segar, pada saat seperti ini dia sudah kehilangan tenaga untuk melawan,
padahal Wi it beng sambil tertawa seram maju semakin mendekat tampaknya kecuali meramkan
mata sambil menunggu tibanya ajal, tiada jalan lain lagi yang bisa dia lakukan. Pada detik2
terakhir inilah bayangan kematian berkecamuk dalam benaknya..
Ia teringat kembali akan dendam berdarah nya yang belum terbalas, perintah gurunya yang
belum terlaksana.
Mati bukan berarti bisa melepaskan diri dari se gala2nya, kalau ia sampai tewas dalam keadaan
demikian, maka dia akan mati dengan sepasang mata tidak terpejam.
sekarang ia mulai menyesal, menyesal apa sebabnya melayani pertarungan itu dengan
kekerasan, andaikata kelima orang tianglonya setelah ditolong maka mereka segera
mengundurkan diri, niscaya tidak beginilah keadaannya ....
Tanpa sadar peringatan dari orang yang ada maksudpun berkumandang kembali disisi
telinganya:
"...jangan lukai orang, setelah menyelamatkan jiwa kelima orang tianglo itu, segeralah berlalu
dari situ.."
Benarkah orang yang ada maksud adalah seorang manusia sakti yang bisa meramalkan semua
kejadian yang belum berlangsung?
sementara itu Wi It beng sudah berhenti kurang lebih lima depa dihadapan si anak muda itu,
telapak tangannya perlahan di angkat keudara dan siap melepaskan pukulan-..
Pada detik itulah dari tempat kejauhan tiba2 melayang tiba dua sosok bayangan manusia.
sangat kebetulan kemunculan bayangan manusia itu, Wi It beng yang telah siap melancarkan
serangannya tiba2 membataikan kembali niatnya dan menurunkan kembali telapak tangannya itu.
Yang munculkan diri ketika itu adalah dua orang kakek berbaju kuning, mereka memiliki
perawakan badan yang tinggi besar dan kekar, sepasang mata nya memancarkan cahaya tajam,
itu menandakan kalau tenaga dalam yang mereka miliki telah mencapai puncak kesempurnaan.
Begitu mencapai permukaan tanah, dua orang kakek baju kuning itu segera memberi hormat
kepada Wi It beng seraya berkata:
"Pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau khusus datang menghunjuk hormat untuk
Tee-kun"
"Kalian berdua tak usah banyak adat" kata Wi It beng sambil putar badannya "ada urusan apa
kalian datang kemari??"
"Hamba mendapat perintah dari kaucu untuk datang menghadap Tee kun, ada suatu masalah
penting yang hendak dirundingkan dengan diri Tee kun" sahut salah seorang diantara kedua orang
pelindung hukum baju kuning itu.
"Persoalan apa yang hendak kalian rundingkan??"
"Berulang kali manusia berwajah dingin menyatroni dan membuat keonaran didalam
perkumpulan kami, hingga detik ini sudah mendekati seratus orang anggota perkumpulan kami
yang telah jatuh korban ditangannya, oleh sebab itu kaucu mengusulkan agar Tee-kun bersedia
menyerahkan orang itu kepada kaucu kami, agar kami bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepada dirinya. ."
"Tentang soal ini. "
Dengan cepat pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Wi It beng, ia tahu bilamana Manusia
berwajah dingin diserahkan kepihak Thian che kau, maka tindakannya ini akan mempengaruhi
nama baik serta kewibawaan perguruannya, akan tetapi diapun merasa segan untuk bermusuhan
dengan perkumpulan itu dalam posisi yang serba tidak menguntungkan ini, toh bagaimanapun
juga tujuannya hanya melenyapkan bibit bencana dari muka bumi ?"
Kini lencana ok kui cui pay dari perguruannya sudah dirampas Tengkorak maut, itu berarti bila
dia hendak mengembangkan pengaruh perguruannya maka ia masih harus meminjam kekuatan
dan bantuan Thian che kau.. "
sesudah mempertimbangkan untung ruginya, diapun mengangguk dan menjawab nyaring.
"orang nya boleh saja kalian bawa pergi, tapi terlebih dahulu aku harus musnahkan dulu ilmu
silat yang dimilikinya"
"Terserah kebijaksanaan Tee-kun"
Han siong Kie masih sadar, dengan sendirinya diapun dapat mengikuti jalannya pembicaraan itu
dengan jelas, meskipun setiap patah kata yang diucapkan lawannya amat menusuk perasaannya,
membuat ia jadi gusar dan dadanya serasa mau meledak. akan tetapi sianak muda itu tak mampu
berbuat apa2, dia hanya pasrah pada nasib belaka.
Dalam pada itu, Wi it beng telah memutar badannya menghadap kembali kearah Han siong Kie.
setelah tertawa seram kata nya.
"Menurut peraturan sepantasnya kalau kusebut dirimu sebagai suheng.. haaahh .haaaahh..
haaahhh.. semoga saja sesaat lagi engkau dapat segera berangkat untuk berkumpul kembali
dengan toa supek dialam baka sana."
"Binatang terkutuk, aku menyesal karena tak bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepadamu!" seru Han Siong Kie dengan penuh kebencian "tapi hmm engkau tak usah keburu
bersenang hati, barang siapa tidak jujur dan tidak setia kepada perguruan, suatu ketika dia pasti
akan mati dalam keadaan mengerikan. percayalah saat ajalmu tidak terlalu lama"
"Heeehhh heeeehhh hheeeehhh suheng, sekalipun saat ajalku sebentar lagi akan tiba, sayang
seribu kali sayang engkau tak dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"sukma cousu selalu melindungi perguruannya, dia tak akan membiarkan engkau hidup lebih
lama.."
"Bangsat lebih baik tutup saja bacot anjingmu." bentak Wi It beng dengan gusar.
Dalam suatu bentakan keras dengan sodokan jari tangannya yang kaku bagaikan tombak ia
menerjang kemuka dan mengancam jalan darah cacad ditubuh sianak muda itu.
"Blaang" ditengah benturan keras yang memekikkan telinga, terdengar wi It beng mendengus
berat, dengan sempoyongan dia mundur lima langkah kebelakang.
sekalipun Han siong Kie sudah menderita luka dalam yang cukup parah namun dengan bakat
alamnya yang luar biasa serta daya tahannya yang kuat, serangan balasan yang dilepaskan dalam
keadaan terluka itu tak bisa di anggap enteng. . .
Bagi Wi It beng sendiri serangan balasan tersebut tak pernah dibayangkan sebelumnya, dia tak
menyangka dalam lukanya, pemuda itu masih sanggup melepaskan pukulan sedahsyat itu
sehabis melancarkan sebuah pukulan dengan menggunakan sisa kekuatan yang dimilikinya itu,
luka yang diderita Han Siong Kie menjadi semakin parah, dengan sempoyongan dia mundur
kebelakang, matanya jadi ber kunang2 dan kepala nya pusing tujuh keliling, darah segar kembali
muntah keluar dari mulutnya.
Dari malunya Wi It beng jadi gusar, sepasang telapak tangannya segera diayunkan berbareng
melancarkan bacokan kilat yang maha dahsyat.
Tiga orang tianglo yang menggeletak dengan menderita luka parah sempat mengikuti jalannya
peristiwa ini dengan jelas, mereka sudah meronta bangun sambil bersiap siap memberikan
pertolongan, tapi serangan lawan dilancarkan terlalu cepat, ketiga orang itu tak bisa berbuat lain
kecuali menjerit kaget
"Tee-kun, harap ampuni jiwanya, kaucu kami membutuhkan dirinya dalam keadaan hidup2"
teriak dua orang pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau hampir bersamaan waktunya.
Tapi sayang jeritannya itu agak terlambat, Di tengah jeritan kesakitan, ibarat layang-layang
yang putus benang, tubuh Han siong Kie mencelat ke udara dan meluncur kebelakang.
Mendadak satu kejadian aneh telah berlangsung didepan mata..
Dikala daya luncur dari tubuh Han siong Kie sudah habis dan badannya hampir menyentuh
tanah, tiba2 entah bagaimana caranya tiba2 tubuhnya melayang kembali keudara dan meluncur
kedalam hutan di tepi jalan raya itu..
semua jago berdiri terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya, semua orang tak mampu
ber-kata2 menyaksikan peristiwa aneh itu, hanya dalam waktu singkat tubuh Han siong Kie yang
kekar sudah melayang ke dalam hutan dan lenyap dibalik pepohonan.
sebagai jago2 silat kenamaan rasa kaget itu hanya sebentar menyelimati hati mereka, dengan
cepat orang2 itu sadar pastilah ada seorang tokoh sakti yang sedang bersembunyi disana. .
Peluh dingin mulai mengucur keluar membasahi tubuh mereka, bayangkan saja dari jarak
sejauh beberapa kaki ternyata tokoh sakti itu mampu menghisap sesosok tubuh yang kekar seperti
itu, bilamana tenaga dalam orang itu tidak sangat hebat, mampukah dia melakukan hal seperti
itu?
Belum lenyap rasa kaget yang menyelimuti hati semua orang, tiba2 pandangan mata nya jadi
kabur dan tahu2 seorang kakek tua yang tinggi besar dengan jubah panjang warna kuning,
berkaki telanjang dan berikat kepala warna perak munculkan diri ditengah gelanggang.
Perawakan tubuh kakek itu sangat tinggi besar, sekilas pandangan se-akan2 sebuah buklt kecil
yang sedang bejalan.
Manusia aneh itu mempunyai sepasang mata yang memancarkan sinar warna hijau, begitu
tajamnya sorot mata orang itu membuat setiap jago yang terpandang oleh nya segera hatinya
bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.
Setelah menjapu sekejap orang-orang itu, akhirnya sinar mata manusia aneh itu berhenti diatas
wajah Wi It beng.
Betapa pemberaninya Wi It beng tak urung mundur juga beberapa langkah ke belakang dengan
badan gemetar keras, dengan pengalaman serta kepandaian yang dimilikinya, ia tahu bahwa
manusia aneh itu bukan manusia sembarangan, ilmu silatnya boleh dibilang sudah mencapai
puncak kesempurnaan yang tak terhingga.
Sementara dia masih melamun, Manusia aneh itu sudah menegur dengan suaranya yang keras
bagaikan geledek:
"Hey bocah cilik, kalau kulihat dari kopiah emasmu, jubah sutramu serta dandananmu yang
tidak genah, tentunya engkau adalah ketua dari perguruan Thian lam bukan?"
"Bee.. betul " jawab Wi It beng dengan tubuh bergetar keras, "akulah ketua kaisar dari istana
Huan mo kiong"
"Apa ? Kaisar ? Haaah haaah haaaah kaisar ? sungguh menggelikan"
Gelak tertawa itu keras sekali membuat seluruh permukaan tanah tergetar keras, pucat pias
wajah kawanan jago yang hadir di situ, mereka merasakan darah panas bergelora dengan
hebatnya didada, bahkan Wi It beng pribadipun merasa jantungnya berdebar keras.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya dengan ketiga orang tianglo yang sedang terluka parah,
kontan mereka jatuh terduduk di atas tanah tak mampu berkutik lagi.
Untungnya manusia aneh itu hanya sebentar tertawa nya, kalau tidak cukup hanya tertawa
tergelak niscaya beberapa orang diantara mereka ada yang terluka parah.
Berdiri semua bulu kuduk digubuh Wi It beng, sambil memberanikan diri dia lantas menegur:
"Bolehkah aku tahu siapa nama besar mu?"
"Haah.. Masa engkau tidak kenal dengan aku?"
"Maaf, aku benar2 tidak kenal siapa engkau"
"Heehhh..heehh..heehh.. ketika aku masih berkelana dalam dunia persilatan, mungkin engkau
masih belum menongol dari rahim ibumu, akulah Hun si Mo ong Raja iblis pengacau jagad, sudah
pernah mendengar namaku ini"
Hun si Mo ong, suatu nama yang cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengarkan,
kontan para jago yang hadir dalam gelanggang merasakan badannya jadi lemas dan tak sanggup
berkutik lagi.
Sejak enam puluh tahun berselang jejak Hun si Mo ong secara tiba2 lenyap dari dunia
persilatan, kendatipun begitu nama besarnya selama puluhan tahun masih membekas dalam hati
setiap umat persilatan, tidaklah heran kalau semua orang masih mengenali nama besar dari tokoh
sakti tersebut.
Jago ini tersohor karena ilmu silatnya yang sangat lihay, perasaan girang ataupun gusar sukar
diketahui orang, dan perbuatannya tak pernah menuju kearah kebaikan ataupun kejahatansemua
perbuatannya hanya berdasarkan perasaan hati sendiri.
Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, jarang sekali ada jago silat yang sanggup
melayani tiga gebrakannya, maka dari itu baik jago dari golongan putih maupun jago dari
golongan hitam pada menaruh rasa jeri kepada nya
Enam puluh tahun berselang, diatas puncak Jit koan hong pada gunung Thay san telah
diselenggarakan suatu pertemuan besar para orang gagah, beratus2 orang jago persilatan kelas
satu yang ada dikolong langit telah berkumpul disana, dikala itu Hun si Mo ong hadir pula disana,
hanya cutup di dalam dua gebrakan ia telah berhasil menghajar mampus jago silat nomor satu
dikolong langit.
Atas kejadian itu para jago yang hadir disana jadi gusar hingga terjadilah pengerubutan secara
massal, akan tetapi dalam seperminum teh saja, mayat telah bergelimpangan bagaikan bukit,
darah berceceran membasahi puncak Jit koan hong...
sejak terjadinya peristiwa pembantaian ini tiba2 jejak Hun si Mo ong ikut lenyap dari peredaran
dunia persilatansungguh
tak disangka setelah menghilang selama enam puluh tahun lamanya, tiba2 Raja iblis
pengacau jagat yang lihay ini muncul kembali didalam dunia persilatan, bahkan turun tangan
menyelamatkan jiwa Manusia berwajah dingin yang terancam bahaya, peristiwa ini boleh dibilang
jauh diluar dugaan siapapun.
Tak seorangpun bisa memahami maksud dari gembong iblis ini, mereka cuma bisa berdiri
melongo sambil memandang orang itu tanpa berkata- kata. suasana jadi hening, sepi tak
seorangpun berani buka suara.
-00d0w00-
BAB 54
SESUDAH termenung beberapa saat lamanya, Hun si Mo ong kembali berkata:
" Enam puluh tahun berselang aku telah mengangkat sumpah, bahwasanya orang lain tidak
mengganggu aku, maka akupun tidak akan mengganggu orang lain. Nah Anggap saja nasib kalian
masih mujur, hayo cepat enyah dari tempat ini"
Hampir saja semua orang tidak percaya dengan pendengaran sendiri, siapa juga tak mengira
kalau Hun si Mo ong yang kejam dan lihay ternyata sudah bertobat dan tidak melakukan
pembantaian lagi.
seakan2 baru saja terlepas dari pintu neraka, kawanan jago itu segera melarikan diri terbirit2
dari sana.
Hun si Mo ong tertawa ter bahak2, menanti kawanan jago itu sudah lenyap dari pandangan,
diapun berkelebat dan lenyap dari pandangan mata.
Tak jauh dari hutan itu, Han siong Kie tampak sedang berdiri sambil bersandar di atas sebuah
dahan pohon-
Tak jauh disampingnya berdiri pula seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari turun
dari kahyangan. dia bukan lain adalah malaikat hawa dingin Mo siu ing. Pada waktu itu Mo siu ing
sedang tertawa ringan sembari berkata:
"Hey, manusia berwajah dingin Ketika berada dihutan penyeberangan pohon liu engkau telah
menyelamatkan jiwaku, dan sekarang aku telah membayar budi kebaikanmu itu, berarti pula kita
sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada siapa"
Han siong Kie sakit hati dan termenung tanpa berkata2, ia tak suka budi kebaikan dari orang
lain, terutama dari kaum wanita, tapi dalam kenyataan berulang kali dia harus menerima budi
kebaikan dari kaum perempuan, hal ini membuat ia habis daya dan tak mampu ber-kata2 lagi.
Melihat sianak muda itu membungkam, Malaikat hawa dingin Mo siu ing kembali berkata:
"Kita hanya berjumpa secara kebetulan saja, kebetulan aku dan guruku sedang berangkat
menuju kebenteng maut, dan ketika kami lewat disini kulihat engkau sedang terancam bahaya.."
"Siapa gurumu?" tanya Han siong Kie agak tertegun.
"Siapa lagi kalau bukan Hun si Mo ong??"
sekali lagi Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa dia teringat kembali
akan peristiwa dimasa lampau dimana Ang Nio cu terancam bahaya setelah dihajar sampai terluka
parah oleh Tengkorak maut gadungan, untung Hun si Mo ong muncul secara tiba2 dia membuat
Tengkorak maut gadungan melarikan diri karena ketakutan.
Ia tak mengira kalau Hun si Mo ong yang ditakuti banyak orang itu ternyata tak lain tak bukan
adalah gurunya Malaikat hawa dingin Mo siu Ing.
"Jadi gurumu adalah Hun si Mo ong ?" tanya pemuda itu lagi dengan nada kurang percaya.
"Benar, engkau tak percaya??"
"Dan kalian hendak menuju ke benteng maut??"
"Tentu saja, kami hendak pergi kesana untuk menolong suamiku "
Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak Han siong Kie, kalau toh Hun si Mo
ong adalah gurunya malaikat hawa dingin Mo siu ing, bahkan dia mampu membuat Tongkorak
maut gadungan melarikan diri ter-birit2, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silatnya pasti
tinggi sekali.
Bagaimana jadinya apabila mereka berangkat ke Benteng maut? Belum tentu Tengkorak maut
yang asli mampu menandingi kekuatan mereka, jika dia sampai mati maka bagaimana dengan
dendam sakit hatinya? bukankah harapannya akan lenyap tak berbekas?
Diam2 pemuda itu jadi panik, saat ini tenaga dalamnya belum pulih kembali jelas tak mungkin
baginya untuk membicarakan soal balas dendam, lalu mampukah dia menghalangi orang lain agar
jangan pergi dulu kesana..?
Tapi dengan cepat ia terbayang kembali betapa lihay dan aneh nya ilmu silat yang dimiliki
pemilik benteng maut. sekalipun tenaga gabungan dua orang tokoh sakti ini terhitung dahsyat,
belum tentu usaha mereka akan mencapai kesuksesan.
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 tampaklah sesosok bayangan
manusia berkelebat lewat, menyusul seorang manusia aneh yang tinggi besar telah munculkan diri
didepan mata.
"Suhu, sudah selesaikah urusanmu?" Malaikat hawa dingin Mo Siu ing segera menegur dengan
wajah berseri.
"Ehmm. Perbuatanku sangat terbatas sekali karena terikat oleh sumpahku, aku tak dapat
membunuh orang lagi, terpaksa kububarkan orang2 itu agar berlalu dari sana"
Sekarang Han siong Kie baru tahu kalau manusia aneh yang berada dihadapannya bukan lain
adalah Hun si Mo ong yang ditakuti setiap orang, ketika diketahuinya peristiwa Wi It beng sekalian
tidak sampai dibunuh mati, pemuda itu bergirang hati karena dengan begitu maka dia masih
punya harapan untuk menjatuhi hukuman yang setimpal kepada penghianat perguruannya itu.
Berpikir sampai disitu, anak muda itu segera maju kedepan dan memberi hormat kepada Hun si
Mo ong seraya berkata:
"Locianpwe, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu ini"
"Haaahhh haaahhh haaahhhjangan kau anggap peristiwa itu sebagai suatu kejadian besar" kata
Hun si Mo ong sambil tertawa tergelak, "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyelamatkan
jiwamu, oleh karena muridku pernah menerima pertolongan darimu dan dia temukan engkau
sedang terancam bahaya maka ia minta bantuanku untuk menolong, jadi anggaplah
pertolonganku bukan lantaran engkau, tapi lantaran permintaan dari muridku ini"
Berbicara sampai disini, diapun berpaling kearah Malaikat hawa dingin Mo siu Ing seraya
berkata:
"coba kau lihat, bocah ini mirip sekali dengan suhengmu Ko Su ki "
"Benar suhu.." jawab Malaikat hawa dingin sedih.
sekarang Han siong Kie baru tahu kalau pada mulanya malaikat hawa panas dan malaikat hawa
dingin adalah sesama perguruan dimana dari saudara seperguruan akhirnya mengikat diri menjadi
suami istri.
"Dia tak akan mati bukan?" terdengar Hun si Mo ong bertanya lagi.
"Tecu telah memberi sebutir Kui goan kim wan kepada nya, tecu rasa jiwa nya tidak terancam
lagi"
"Kui goan kim wan ?" seru Hun si Mo ong cepat," Hey budak cilik, engkau benar2 sangat royal,
tahukah engkau selama enam puluh tahun aku bekerja, hasilku hanya tiga butir pil Kui goan kim
wan tersebut, engkau bukan saja sudah makan sebutir, sekarang kau hadiahkan pula sebutir
kepadanya.. waah, terlalu royal"
Malaikat hawa dingin Mo siu ing tertawa jengah setelah mendengar teguran itu, cepat dia
alihkan pokok pembicaraan kesoal lain: "suhu, sekarang sudah waktunya buat kita untuk
berangkat..."
"Baik..baik.. hayo kita berangkat"
Begitulah, tanpa berbicara lagi dua orang jago silat itu segera berlalu dari hutan tersebut,
dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan-
Han siong Kie sendiripun tak mampu berkata2, dia hanya bisa memandang kepergian dua
orang itu dengan pandangan melongo.
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing yang gemar membunuh manusia ternyata rela menghadiahkan
obat Kui goan kim wan mustika perguruanya untuk menyelamatkan jiwa Han siong kie, terhadap
peristiwa itu pemuda kita merasa keheranan dan benar2 tak habis mengerti.
"Mungkinkah obat ini disebabkan karena Han siong Kie berhasil menemukan kabar berita
tentang malaikat hawa panas Ko su ki ? Mungkinkah seumpama sianak mudaitu mengenangkan
lembali dirinya akan kegagahan dan kegantengan suaminya dimasa lampau?
obat Kui goan kim wan benar2 terhitung sebutir obat yang sangat mujarab, dalam waktu
singkat bukan saja rasa sakit ditubuh sianak muda itu sudah lenyap tak berbekas bahkan hawa
murninya telah menghimpun kembali..
Dalam perkiraan si anak muda itu, sesudah kemunculan Hun si Mo ong yang disegani banyak
orang itu, maka tak akan ada manusia yang berani mendekati wilayah itu, tapi dengan tenang dia
lantas duduk bersila sambil bersemedi . Apa yang terjadi kemudian? Ternyata dugaannya itu keliru
besar.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia dengan langkah yang sangat hati- hati
sedang bergerak mendekati tempat pertapaannya.
Nun jauh dibelakang bayangan manusia itu tampaklah bayangan manusia itu sedang
membuntuti bayangan manusia yang pertama. agaknya kedua orang itu mempunyai maksud dan
tujuan yang berbeda.
Mimpipun Han siong Kie tak menyangka kalau jiwanya waktu itu kembali terancam oleh mara
bahaya, dengan kesempurnaan tenaga dalamnya ditambah pula kemujaraban pil Kui goan kiem
wan, hanya dalam waktu singgkat ia sudah berada dalam keadaan tak sadar, kabut tipis berwarna
putih mulai mengepul keluar dari ubun2nya menciptakan selapis kabut tebal diatas kepala nya.
Bila latihan ini berlangsung setengah jam lagi, niscaya luka dalam yang diderita sianak muda itu
sudah sembuh sama sekali.
Bayangan manusia itu kian lama kian mendekat dan akhirnya ia berhenti dibelakang Han siong
Kie, persis pada jarak jangkauan tangannya, siapakah bayangan itu? Dia tak lain adalah Tengkorak
maut gadungan yang berhasil merampas lencana ok kui cu pay dari tangan Han siong Kie itu.
sementara itu pemuda Han siong Kie masih belum merasakan tibanya malaikat maut yang siap
mencabut nyawanya, ia masih duduk bersemedi sambil menyembuhkan luka nya yang diderita.
Telapak tangan dari tengkorak maut gadungan telah diangkat tinggi2, ia siap melepaskan
serangan mautnya, tapi entah apa sebabnya tiba2 telapak tangan yang telah siap melancarkan
serangan maut itu diturunkan kembali, rupanya ia sedang mempertimbangkan perlukah mencabut
nyawa sianak muda itu.
Jikalau ia menginginkan nyawa anak muda itu, maka dengan suatu gerakan yang amat
sederhana, keinginannya itu pasti akan tercapai, namun dalam kenyataan ia telah membatalkan
niatnya itu, atau mungkin dibalik kesemuanya ini dia mempunyai maksud atau tujuan yang lain
Dalam pada itu bayangan manusia yang lain telah melayang pula mendekati dibelakang
Tengkorak maut gadungan, dengan gerakan tubuh yang enteng ia menyembunyikan diri
dibelakang sebuah pohon yang besar.
Gerak gerik orang itu enteng dan gesit, sedikitpun tidak menimbulkan sedikit suarapun,
malahan Tengkorak maut gadungan yang lihaypun sama sekali tidak merasa kehadirannya. dari
sini dapat dibuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki pandatang itu luar biasa hebatnya.
suasana jadi hening, sepi, akan tetapi napsu memburuh yang tebal telah menyelimuti seluruh
angkasa.
37
Kabut putih yang menyelimuti ubun2 Han siong Kie mulai menipis dan akhirnya lenyap
menyusul mana pemuda itu sadar kembali dari latihannya, baru saja dia akan bangkit berdiri..
Mendadak sebuah telapak tangan telah menempel diatas ubun2nya, menyusul seseorang
membentak dengan suara menyeramkan: "Jangan bergerak!"
Betapa terperanjatnya Han siong Kie, ia merasa sukmanya serasa melayang tinggalkan
raganya, suara itu tidak terlalu asing baginya, sebab ia kenali sebagai suara dari Tengkorak maut
gadungan.
Bisa dibayangkan sampai dimanakah rasa bergidik yang mencekam perasaan hati si anak muda
itu, dalam hati dia lantas berseru. "Mati aku Habis sudah riwayatku kali ini.."
Tengkorak maut gadungan tertawa terkekeh kekeh dengan bangganya, ia berseru:
"Bocah keparat, ada satu persoalan hendak kuajukan kepadamu, aku harap engkau bersedia
untuk menjawab dengan sejujurnya"
Sekalipun jiwanya terancam, akan tetapi Han siong Kie tak mau menyerah dengan begitu saja,
dengan wataknya yang tinggi hati dan angkuh ia tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan
orang, dengan ketus ejeknya sinis:
"Tua bangka sialan, engkau manusia pengecut. Beraninya main sergap dikala orang tidak
bersiap sedia, manusia macam apakah dirimu itu?"
"Haaahhh haaahhh haahh keparat, terserah apa yang hendak kau katakan, pokoknya asal
engkau bersedia menjawab pertanyaanku sejujurnya maka akupun bersedia pula memberi
kesempatan kepadamu untuk melangsungkan suatu pertarungan yang seadil2nya"
"Aku tak sudi dipaksa atau diancam, percuma kalau engkau hendak paksa aku untuk menjawab
pertanyaanmu itu".
"Bocah keparat, engkau jangan tekebur Ketahuilah, bila aku berniat untuk mencabut nyawamu
maka perbuatan ini bisa kulakukan dengan gampang sekali"
" Kalau memang begitu, silahkan saja turun tangan "
" Engkau tak takut mampus??"
"Hmm Aku manusia berwajah dingin tak akan sampai mengemis kehidupan kepadamu"
"Baiklah bocah keparat, anggap saja engkau memang bersemangat jantan, cuma sayang..."
"sayang kenapa??"
"Perguruan Thian- lam akan terputus ditanganmu"
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, ia tahu bila dirinya mati maka perguruan Thian lam
akan hancur berantakan, wi It beng pasti akan berbuat se wenang2 tanpa seorangpun berani
menghalangi perbuatannya itu, dan akhirnya perguruan Thian lam akan musnah dengan
sendirinya.
Pemuda itu jadi sedih dan sakit hati, tapi wataknya yang angkuh membuat anak muda itu tak
sudi tunduk kepada orang lain.
setelah termenung sejenak diapun berseru:
"Tua bangka sialan, engkau tak usah banyak bicara lagi, kalau ingin turun tangan hayo cepatlah
turun tangan"
"Jadi engkau benar2 lebih suka mampus daripada hidup??"
"Aku tak akan mengemis hidup darimu, banyak bicara tak ada gunanya ....mau turun tangan
hayo cepat turun tangan, tak usah banyak bacot lagi."
"Kalau memang begitu yaa sudahlah..."
Han siong Kie tak menggubris lawannya lagi, ia segera pejamkan matanya rapat2..
Tiba2 sekilas cahaya perak memancar ke angkasa, diiringi desingan angin tajam langsung
menyambar kearah pohon besar dihadapannya.
Tengkorak maut gadungan menjerit kaget, mendengar itu Han siong Kie membuka matanya
dan memandang kedepan.
Tampaklah sebuah lencana perak sebesar telapak tangan menempel diatas dahan pohon itu
diatas lencana terukirlah gambar matahari, rembulan dan bintang.
sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya,jeritan ngeri yang menyayatkan hati
kembali berkumandang memecahkan kesunyian. "Blaam sesosok tubuh segera tumbang keatas
tanah dan tak berkutik lagi.
Betapa terperanjatnya Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, ia lompat bangun dan
menengok kesamping, tampaklah Tengkorak maut gadungan sudah menggeletak tak bernyawa
diatas genangan darah. tujuh lembar daun pohon menancap diatas kepalanya membuat kematian
jago ampuh itu tampak mengerikan sekali.
Untuk sesaat sianak muda itu jadi tertegun dan tak mampu berkata-kata..
siapakah yang memiliki kepandaian selihay itu sehingga mampu membinasakan Tengkorak
maut gadungan??
siapa pula pemilik dari lencana perak itu??
Mungkinkah Hun si Mo ong yang telah datang ? Karena sebelum ajalnya bukankah Tengkorak
maut gadungan telah menjerit kaget??
Kecuali tokoh sakti itu, siapa lagi yang mampu membinasakan gembong iblis ini hanya didalam
sekali gebrakan belaka??
Mungkinkah lencana perak itu adalah lambang dari Hun si, Mo ong?
Pelbagai ingatan berkecamuk menjadi satu didalam benaknya, dia merasa tidak sanggup untuk
memecahkan kejadian yang sangat aneh ini, tapi ada satu hal ia merasa yakin, untuk kesekian
kalinya kembali ia lolos dari cengkeraman malaikat elmaut, sekali lagi dia lolos dari kematian
"Nak. apa yang sedang kau lamunkan?" tiba2 suara teguran yang lembut dan penuh kasih
sayang . berkumandang dari tak jauh dari sana.
Han siong Kie terkesiap, dengan cepat la kenali suara tersebut sebagai suara dari orang yang
kehilangan sukma.
"cianpwe, engkaukah itu?" cepat pemuda itu berseru.
"Nak, masa engkau tak dapat mengenali suaraku lagi?"
"sekalipun boanpwe tidak berjodoh untuk menjumpai raut wajah cianpwe, akan tetapi suara
cianpwe sudah membekas dalam benakku, budi kebaikan yang telah cianpwe berikan kepadaku
setinggi bukit dan setebal bumi, selamanya budi kebaikan ini tak akan kulupakan"
"Nak. aku tak suka mendengarkan perkataan2mu yang memandangkan balas budi ini"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah.
"Apakah cianpwe yang telah membinasakan Tengkorak maut gadungan untuk melepaskan
boanpwee dari ancaman bahaya maut??"
"Begitulah kenyataannya"
"Kesempurnaan tenaga dalam yang cianpwee miliki benar2 luar biasa sekali."
"Nak. dugaanmu itu keliru besar, bila tenaga dalamku dibandingkan dengan tenaga dalam yang
dimiliki Tengkorak maut gadungan, maka kepandaianku masih kalah setengah tingkat"
Han siong Kie tercengang dan merasa tak habis mengerti, dengan nada keheranan segera
serunya:
"Tapi..tapi toh kenyataannya dia mati dalam waktu singkat??"
"Dia bukan mati ditanganku, lebih cocok kalau dikatakan bahwa ia mati toh karena lencana
tersebut."
Han siong Kie melongo dan tak habis mengerti, ujarnya lagi: "Mati karena lencana itu ?
Boanpwe merasa tak mengerti.."
"Kemunculan lencana itu membuat konsentrasinya jadi buyar, karena itulah aku manpaatkan
kesempatan yang sangat baik itu untuk membereskan jiwanya..."
"Masa lencana itu memiliki daya pengaruh yang begitu besarnya?"
"Benar nak. engkau tidak percaya?"
"Tentu saja boanpwe percaya, apa mungkin lencana itu adalah lambang khusus milik cianpwe?"
"Bukan, dugaanmu itu keliru besar"
Han siong Kie semakin kebingungan dibuatnya, sesaat kemudian ia baru bertanya lagi:
"Bolehkah boanpwe ketahui apa nama lencana itu?"
"Thian che leng"
"Lencana Thian che? kalau begitu kan lencana ini milik perkumpulan Thian che kau?"
"Dugaanmu tepat sekali, lencana itu memang milik perkumpulan Thian che kau"
"Jadi kalau begitu, Tengkorak maut gadungan menjalankan aksinya karena mendapat perintah
dari pihak Thian che kau?"
"Boleh dikatakan begitu"
"Maksud cianpwe ucapan dari boanpwe ini tidak benar semuanya?"
"Nak. untuk saat ini lebih baik engkau tak usah mengetahui tentang persoalan ini, toh akhirnya
engkau akan menjadi paham dengan sendirinya"
Han siong Kie terbungkam untuk beberapa saat lamanya, tiba2 ia jadi teringat kembali dengan
ibunya, siang go cantik ong Cui ing, ia telah disergap oleh ibunya agar Tengkorak maut gadungan
berhasil melarikan diri, kalau ditinjau dari situ dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Tengkorak maut
gadungan adalah orangnya Thian che kau.
sekalipun begitu, kecurigaan yang mencekam dalam benaknya terasa semakin banyak, maka
kembali ujarnya:
"Aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan sangat tinggi dan luar biasa, masa
manusia selihay inipun rela menjalankan perintah dari orang lain??"
"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, dia memang lihay tapi
diatasnya toh masih ada manusia yang jauh lebih lihay??"
"Aku rasa tenaga dalam yang dimiliki Thian che kaucu tidak lebih tinggi beberapa kali lipat dari
pada kepandaian silat Tengkorak maut gadungan"
"Thian che kaucu yang pernah kau temui itu tidak lebih hanya Thian che kaucu gadungan yang
sengaja menyelimuti pandangan orang lain, kaucu yang asli sama sekali tak berada dalam
perkumpulan"
"oooh.. Tapi apa sebabnya orang ini harus menyaru sebagai tengkorak maut gadungan??"
"Kan sudah kukatakan tadi, ia mendapat perintah dari orang lain"
"Mendapat perintah siapa ? Perintah dari Thian che kaucu ?"
"Nak.. pertanyaanmu sudah terlalu banyak"
"cianpwee menganggap bahwa aku tak pantas mengajukan pertanyaan lagi??"
"Tentang soal ini ada beberapa soal diantaranya dewasa ini tak mungkin bisa kamu peroleh
jawabannya "
"Kenapa??"
"Persoalan ini termasuk pula persoalan yang tak bisa kujawab, harap engkau bisa maklum"
Tak kuasa lagi Han Siong Kie menarik napas dingin, tapi dia pantang menyerah dengan begitu
saja, kembali tanyanya:
"Kalau kutinjau dari dandanan orang yang menyaru sebagai Tengkorak maut ini bukan saja
dandanannya sama bahkan ilmu silatnya juga sama bila dibandingkan dengan yang asli maka dia
cuma kalah dalam soal kesempurnaan, bila dugaanku tak keliru semestinya antara yang asli dan
yang paisu tentu mempunyai hubungan yang sangat erat."
"Nak. aku rasa pembicaraan kita sudab cukup sampai disini dahulu, cepatlah kubur jenasah itu,
makin dalam makin baik sehingga jejaknya tidak ketahuan siapapun "
Dengan perasaan apa boleh buat Han siong Kie memandang kearah mana berasal suara dari
orang yang kehilangan sukma, kemudian mengangguk.
Diapun berjongkok dan mulai menegeledah saku Tengkorak maut gadungan, tapi hanya sesaat
kemudian paras mukanya telah berubah hebat, ia berseru tertahan:
"Nak, apa yang sedang kau cari?" terdengar orang ada maksud bertanya:
"Aku sedang mencari lencana ok kui Cu-pay dari perguruanku "
"Percuma, tak usah kau cari lagi sebab lencana itu sudah tidak ada dalam sakunya lagi"
"Sudah tidak berada dalam sakunya lagi??"
"Benar, benda itu sudah dia serahkan kepada orang lain "
"Maksudmu Thian che kaucu??"
orang yang kehilangan sukma tidak menanggapi pertanyaan itu, tapi kembali berseru:
"Cepatlah turun tangan dan kuburlah mayat itu Jangan sampai meninggalkan jejak."
"Tapi lencana itu merupakan barang mustika yang menyangkut mati hidup perguruanku, bila
cianpwee mengetahui jejaknya, tolong beritahulah kepadaku"
"Tentu saja akan kuberitahukan kepadamu tapi bukan sekarang."
Dengan sedih dan murung Han Siong Kie menghela papas panjang, dalam hati ia merasa
penasaran sekali hingga rasa mendongkolnya sukar dikendalikan, tapi ia tak berani
mengumbarnya . .
Sesudah termenung sejenak, akhirnya dia memghimpun hawa murninya kedalam telapak
tangan kanannya, kemudian dengan sekuat tenaga dibabatkan keatas tanah.
"Blaaang.." pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, sebuah liang sedalam beberapa
kakipun segera terbentuk.
Baru saja liang itu terbentuk, suara dari orang yang kehilangan sukma kembali berkumandang
datang .
"Lepaskan jubah dan kain kerudungnya, hancurkan raut wajah orang itu.."
Han siong Kie agak tertegun, tapi tugas itu segera dilaksanakan tanpa membantah.
Ketika sianak muda itu sudah menyelesaikan tugasnya, suara dari orang yang kehilangan
sukma berkumandang lagi:
"Sekarang hancurkan lambang tengkorak yang ada disakunya itu, kemudian kuburlah bersama
jubahnya diliang yang lain pendam jenasahnya kedalam liang itu, sesudah di uruk dengan tanah,
gusakan ranting pohon untuk menghilangkan jejak yang ada di permukaan tanah."
Han siong Kie sama sekali tidak tahu permainan setan apakab yang sedang dilakukan Orang
yang kehilangan sukma, dlapun tahu kalau banyak bertanya tak ada gunanya maka tanpa
mengucapkan sepatah katapun semua pekerjaan itu dilaksanakan tanpa membantah.
Dalam hati kecilnya dia hanya berpikir terus, darimana asalnya orang yang bernama orang yang
kehilangan sukma ini, ia juga tak tahu mengapa mereka berbuat begitu misterius, mengapa
berulang kali mereka memberi bantuan kepadanya. Ketika semua pekerjaan telah selesai, maka
pemuda itu bertanya lagi:
" Cianpwe, apabila aku ingin tahu darimakah cianpwe mendapatkan benda yang paling
berkuasa dari perkumpulan Thian che kau ini.."
"Ada apa?" tukas orang yang kehilangan sukma.
"Apakah cianpwe tidak bersedia untuk memberikan jawabannya?"
"Tepat sekali tebakanmu itu, untuk sementara satu pertanyaan itu tak bisa kujawab, anggaplah
pertanyaan tersebut belum tiba saatnya bagiku untuk memberitahukan kepadamu. 0oh iya, nak.
bukankah aku suruh engkau berkunjung ke benteng maut? Mengapa engkau tidak pergi ke sana?"
Mendengar pertanyaan itu, kontan saja Han siong Kie merasakan darah panas dalam dadanya
bergelora, api dendam dan benci berkecamuk dalam benaknya membuat hawa napsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya
Tanpa sadar ia teringat kembali akan diri Tonghong-Hui, setelah masuk kedalam benteng maut,
gadis itu tak pernah muncul kembali, menurut perjanjian hal ini menandakan bahwa ayahnya
adalah pembUnuh yang telah membantai keluarganya dimasa silam. Dan tentu saja dia harus
membalas dendam atas terjadinya peristiwa ngeri itu.
Pelbagai ingatan kembali berkecamuk dalam benaknya, dengan sedih bercampur pilu dia
menyahut:
"Cianpwe, aku pasti akan berkunjung kesitu, boanpwe percaya masa bagiku untuk berkunjung
kebenteng maut sebentar lagi pasti akan tiba"
"Kesempatan ? Apa maksudmu?"
"Terus terang kukatakan cianpwe, sebelum berkunjung kesitu boanpwe hendak mempelajari
dahulu sejenis ilmu silat yang maha sakti.."
"Maksudmu, bila ilmu silat yang kau latih itu berhasil kau kuasahi maka engkau akan
berkunjung ke benteng maut untuk melakukan pembalasan dendam..?"
"begitulah maksud boanpwe"
"Nak, dikala aku tak dapat memberitahukan segala sesuatunya kepadamu, aku tak mampu
mencegah engkau berbuat sesuka hatimu, tapi aku ada satu permintaan dan aku harap engkau
tidak sampai membuatku jadi kecewa."
"Ucapan cianpwe terlalu serius, apa yang hendak disampaikan? Katakanlah terus terang" "
"Apabila engkau berkunjung lagi ke benteng maut dan sebelum melakukan pembalasan
dendam, aku minta sampailah dahulu asal usulmu dan ceritakan pula kisah terjadinya
pembantaian berdarah itu dan dimanakah peristiwa tersebut telah terjadi"
"sekalipun cianpwe tidak berpesan begitu boanpwe akan melakukan juga kesemuanya itu"
"Apakah engkau menyanggupi permintaanku untuk melakukannya walaupun berada dalam
keadaan apapun?"
"Boanpwe bersedia"
Meskipun dimulut Han siong Kie lelah menyanggupi, namun hatinya merasa tercengang dan
keheranan sebelum membalas dendam tentu saja dia akan menceritakan dulu sebab musabab
terjadinya peristiwa berdarah itu, tapi mengapa orang yang kehilangan sukma berpesan secara
serius kepadanya? Apa maksud dan tujuannya?
sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi dengan nada
yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Nak. bukankah engkau merasa curiga dan tak habis mengerti? Bukannya aku sengaja berbuat
sok misterius pada hakekatnya terlalu banyak masalah yang tak boleh diungkapkan terlalu cepat,
sebab kalau tidak maka akan mengakibatkan terjadinya peristiwa yang lebih fatal, aku minta
engkau bersabar diri dan menunggu sampai tanggal mainnya?"
"Aku mengerti" sahut Han siong Kie.
-00d0w00-
BAB 55
SESUDAH berhenti sebentar orang yang kehilangan sukma kembali berkata:
"Demi engkau mau tak mau aku harus musnahkan Tengkorak maut gadungan dari muka bumi,
tapi tahukah engkau akibat dari kematiannya itu maka akan timbul pelbagai kejadian yang sukar
diramalkan mulai sekarang. Tahukah engkau didalam perkumpulan Thian che kau masih terdapat
belasan orang jago yang memiliki ilmu silat setaraf dengan kepandaian Tengkorak maut
gadungan."
Diam2 Han siong Kie menjulurkan lidahnya dengan setengah percaya setengah tidak ia berseru:
"sudah beberapa kali boanpwee menyatroni, markas besar perkumpulan Thian che kau akan
tetapi selama ini?"
"belum pernah...".
"Benar, desa ini dalam markas besar perkumpulan Thian che kau memang tidak terdapat jago2
lihay yang terlalu istimewa, tapi tahukah engkau bahwa jago2nya sama sekali tidak berada disitu?
secara beruntun mereka akan munculkan diri didalam dunia persilatan, mungkin juga dunia
persilatan sudah menghadapi saat2 kiamat, tak lama lagi perkumpulan Thian che kau akan
menumpas musuh2nya dan merajai kolong langit..."
"Nak. tugasmu sekarang terlampau berat, aku harap engkau bisa baik2 menjaga diri. Ingatlah
Engkau harus bersabar menghadapi segala persoalan apapun"
Betapapun kukuhnya Han siong Kie, ia merasa terharu juga setelah mendengar perkataan itu,
sepasang matanya jadi merah dan hampir saja air matanya jatuh bercucuran, dengan
bersungguh2 katanya:
"Nasehat dari cianpwe akan boanpwe ingat selalu didalam hati"
"Nak, sekarang engkau boleh berlalu dari sini"
sebenarnya dalam hati kccilnya Han siong Kie masih ada banyak persoalan yang hendak
ditanyakan, akan tetapi pada saat itu dia merasa tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
maka sesudah termenung sebentar akhirnya ia berkata: "Kalau memang begitu, boanpwe mohon
diri lebih dahulu"
"Engkau tak usah melalui jalan raya lagi, diantara lima orang tianglo yang setia kepadamu ada
dua sudah tewas dan tiga orang terluka parah, kini yang tewas sudah dikubur sedang yang luka
sudah pergi, lewatilah hutan sebelah depan sana, lebih cepat berlalu dari sini lebih baik"
Han siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, akan tetapi terhadap orang
yang kehilangan sukma dan putrinya, ia menaruh rasa percaya seratus persen, maka tanpa
membantah lagi sianak muda itu segera berputar kesamping kanan dan siap berlalu dari situ..
"Tunggu sebentar" tiba2 orang yang kehilangan sukma berseru kembali.
" Cianpwe, apakah masih ada persoalan lain yang hendak cianpwe sampaikan kepadaku" tanya
sianak muda itu sambil menghentikan langkah kakinya dan berpaling.
"Hampir saja aku telah melupakan suatu persoalan yang amat penting sekali."
"Ucapkanlah cianpwee, boanpwee akan mendengarkan dengan seksama"
"Apakah engkau sudah mengetahui asal usul Yu sau Kun, ketua muda perkumpulan Thian che
kau yang sebetulnya??"
satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, dia segera bertanya: "Masa dia
benar2 adalah keturunan dari susiokku Telapak naga beracun Thio Lin??"
"Tepat sekali tebakanmu itu, dia memang keturunan dari paman gurumu yang sudah tiada"
"Taa... tapi hal ini mana mungkin bisa terjadi??"
"Kenapa tak mungkin terjadi??"
"Bukankah dia sudah mewakili diriku mati didalam perkampungan keluarga Han?"
"Apakah engkau sudah menemukan jenasahnya??"
"Tentang soal ini.." Untuk sesaat Han siong Kie jadi gelagapan dengan sendirinya, "mendiang
susiokku, Telapak naga beracun Thio Lin yang memberitahukan persoalan ini kepadaku"
"Dia toh cuma tahu kejadian itu sebelum berlangsungnya peristiwa itu, ketika peristiwa
berdarah berlangsung, ia sama sekali tidak hadir dalam gelanggang"
Mendengar perkataan itu, Han siong Kie segera merasakan tubuhnya gemetar keras bagaikan
kena aliran listrik bertegangan tinggi, ia sama sekali tak menyangka kalau asal usulnya serta
peristiwa berdarah yang menimpa keluarganya dapat diketahui oleh orang yang kehilangan sukma
sejelas itu, lalu.. siapa kah sebenarnya orang itu"
Kalau memang orang yang kehilangan sukma telah mengetahui semua kejadian itu bagaikan
memandang jari tangan sendiri, kenapa ia tidak secara langsung membeberkan rahasia ini
kepadanya, tapi malahan suruh dia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya,
apakah maksud yang di kandung orang itu dibalik kesemuanya ini ?
Atau mungkin pemilik benteng maut bukan pembunuh keluarganya dan dibalik semua peristiwa
ini masih ada persoalan lain? "
Kalau memang Tengkorak maut bukan pembunuh keluarganya, mengapa Tonghong Hui tidak
muncul kembali dari bentengnya sesudah masuk kedalam benteng maut? Bukankah mereka telah
berjanji, apa bila majikan benteng maut adalah pembunuhnya maka gadis itu tak akan muncul
kembali..
Makin berpikir ia merasa makin bingung dan makin dibayangkan pikirannya semakin ruwet..
"Nak tak ada gunanya engkau banyak berpikir" terdengar orang yang kehilangan sukma
berkata lagi, "suatu saat engkau pasti akan mengetahui dengan sendirinya apa yang sudah terjadi,
aku hanya berharap agar engkau mengingat selalu bahwasanya Yu Sau kun sebenarnya adalah
Thio Sau kun, dia adalah sutemu, tapi engkaupun musti ingat bahwa rahasia ini hanya boleh
engkau ketahui didalam hati, jangan sekali2 engkau bocorkan dihadapannya, sebab kalau tidak
maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2. Nah, sekarang pergilah"
Dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti, sekali lagi Han siong Kie memandang
sekejap lencana Thian che leng yang tertempel diatas dahan pohon, akhirnya dia menjejakkan
kakinya dan berlalu dari hutan itu.
Lencana ok kui cu pay yang merupakan simbol kekuasaan rtari perguruannya kini telah
dirampas oleh Tengkorak maut gadungan dan oleh Tengkorak maut benda itu sudah diserahkan
pula ketangan orang lain, yang dimaksudkan orang lain pastilah orang2 dari Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, dalam perkumpulan Thian che kau
terdapat belasan orang jago lihay yang setaraf dengan ilmu silat Tengkorak maut gadungan,
bukankah itu berarti bahwa sukar baginya untuk merampas kembali lencana tersebut??"
Berpikir sampai disitu, ia jadi murung dan sedih.
Apa bila lencana mustika perguruannya tidak berhasil dirampas kembali dari tangan musuh,
bukankah itu berarti bahwa ia telah menjadi seorang manusia yang berdosa??"
Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam lamanya, sampailah sianak muda
itu diluar hutan- diapun meneruskan perjalananya melalui jalan raya yang terbentang lebar.
Tujuannya tetap tidak berubah, dia akan mengunjungi lembah berkabut dimana ia dan
Tonghong Hui pernah lolos dari bahaya maut, dia akan menuju ketempat yang terpencil ini untuk
mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam sarung tangan Hud jiu Poo pit, apa bila ilmu sakti itu
berhasil dipelajari maka dia akan mengunjungi benteng maut dan melakukan pembalasan
dendam.
sepanjang perjalanan pemuda ini tiada hentinya memikirkan rahasia yang berhubungan dengan
Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, perkumpulan Thian che kau masih
memiliki belasan jago yang benar2 tangguh, berita ini boleh dibilang sangat mengejutkan siapapun
juga.
Tatkala ia menyatroni wilayah Lian huan tau untuk menolong Go siau bi, beberapa kali ia telah
bertarung melawan Thian che kau, ketika itu ilmu silatnya masih belum mempu melawan
musuhnya, dan ternyata sekarang terbukti bahwa musuh tangguhnya itu hanya seseorang yang
bertugas untuk menyaru sebagai ketua itu, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat
yang dimiliki Thian che kaucu benar2 sukar diukur dengan kata2.
sementara perjalanan masih dilanjutkan, tiba2 dari balik semak belukar ia temukan ada sesosok
tubuh manusia menggeletak disitu, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, ia
berhenti dan menghampiri semak belukar itu.
Ketika diperiksa dengan seksama diketahuilah bahwa orang itu adalah seorang pendekar
pedang yang masih muda dan tampan sekali wajahnya.
Akan tetapi sesudah diperiksa dengan lebih seksama lagi, bergidiklah hatinya Han siong Kie,
ternyata pemuda tampan itu sudah berubah menjadi sesosok mayat.
Jika ditinjau sepintas lalu, orang tak akan menyangka kalau pemuda tampan itu sudah menjadi
mayat, sebab wajahnya begitu segar dan tenang, seakan-akan seseorang yang sedang tertidur
nyenyak.
Han siong Kie merasa keheranan setengah mati, apa sebabnya pendekar muda itu bisa mati
dipinggir jalan tanpa ditemukan sesuatu luka ditubuhnya? Mungkinkah kena serangan jantung?
Disekitar semak belukar itu tidak ditemukan tanda2 bekas pertarungan, dilihat dari wajahnya
jelas pemuda itu bukan mati lantaran sakit ataupUn keracUnan, kejadian ini benar2 mengherankan
sekali..
Maka Han siong Kie menghampiri mayat itu, dengan perasaan ingin tahu diperiksanya sekujur
badan mayat itu, akhirnya sesudah diteliti dengan seksama, ia temukan diatas dada mayat itu
terteralah lima buah bekas jari tangan yang sangat lembut, bentuknya seperti bunga sakura, bila
tidak dia mati dengan seksama, tanda itu pasti tak akan ditemukan.
Han song Kie lebih2 dibuat terperanjat lagi, ditinjau dari bekas kelima buah titik jari itu jelaslah
sudah bahwa disitulah letak sebab musabab kematian dari pemuda itu, sayang pengalaman dan
pengetahuannya terlalu cetek. sehingga ia tak dapat menebak siapakah yang telah melakukan
pembunuhan tersebut.
sesudah ter-mangu2 beberapa saat, akhirnya pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya
kedepan.
Entah berapa li sudah lewat, akhirnya ia temukan dua sosok mayat, sebab kematian mereka
tidak berbeda jauh dengan tanda yang ditemukan pada mayat pertama, dan lagi kedua orang
inipun terhitung pemuda2 tampan yang berusia dua puluh tahunan.
sekarang Han siong Kie baru merasakan betapa seriusnya persoalan itu, pikirnya di hati:
"siapa gerangan yang telah turun tangan sekeji ini?"
Yang aneh ternyata korban2nya adalah pemuda yang masih berusia belasan serta berwajah
tampan.
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya sampailah si anak muda itu didalam sebuah kota kecil.
setelah mencari sebuah rumah makan yang bersih, pemuda itu mencari tempat dan memesan
makanan, dari pembicaraan para tamu yang ada dalam ruangan itu, ia dengar semua orang
sedang dihebohkan oleh pembunuhan dengan tanda bunga bwe.
Han siong Kie tidak memberi komentar apa2, ia cuma mendengarkan sambil bersantap. sayang
tiada sesuatu tanda yang berhasil ditemukan olehnya dari pembicaraan itu.
sementara suasana masih gaduh dan ramai oleh pembicaraan para tamu, mendadak suasana
jadi hening dan sepi, begitu sepinya sehingga terasa aneh sekali. Han song Kie tercengang, dia
segera menengadah..
Kiranya seorang gadis yang amat cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan sedang
berjalan masuk kedalam ruangan itu, dipandang dari bayangan punggungnya, anak muda itu
segera kenali dirinya sebagai cucu perempuan dari Pat lo sianseng, Go siau bi adanya.
Kemunculan Go siau bi yang secara tiba2 ini sangat mencengangkan hati si anak muda itu, dia
hendak menyapa, tapi sebelum sepatah kata sempat meluncur keluar dari mulutnya, ia lihat ada
dua orang pemuda tampan ikut duduk disampingnya, maka niat untuk berbicarapun segera
dibatalkan.
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, ia benar2 dibikin keheranan oleh
kemunculan gadis itu.
sementara dia masih melamun, gelak tertawa yang amat merdu dan penuh dengan daya tarik
berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul gelak tertawa yang lain menggema pula dari
mulut kedua orang pemuda itu.
Han siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, ia makin keheranan lagi, ia tak menyangka Go
siau bi bisa berkumpul dengan pemuda bergajul macam begitu.
Dua orang laki2 seorang wanita muda itu bergurau sambil tertawa tergelak. sikap mereka
bukan saja begitu berani bahkan sama sekali tak ambil pusing kalau disitu masih ada tamu lain,
ternyata tak seorang tamu pun yang berani buka suara untuk menegur.
Han siong Kie memang membenci kaum wanita, tapi Go siau bi pernah melepaskan budi
kebaikan kepadanya. maka ia tak mau mencampuri urusan gadis itu sebelum duduknya persoalan
diketahui dengan jelas.
Mendadak...satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dia teringat kembali akan ketiga sosok
mayat pemuda yang ditemuinya ditepi jalan siang tadi, tak kuasa lagi sekujur badan nya
merinding, jangan-jangan
"siangkong, tambah arak?" terdengar pelayan menegur dengan suara yang lirih. Han siang Kie
melirik sekejap kearah pelayan itu lalu mengangguk.
"Tambah dua canting"
Pelayan segara menuang dua canting arak kedalam teko yang ada dimeja, menggunakan
kesempatan itu cepat Han siong Kie bertanya: "siapakah dua orang pemuda yang berada disana
itu?"
Pelayan itu kelihatan terperanjat, sambil menjulurkan lidahnya ia menyahut dengan lirih:
"Mereka dinamakan Kim kiam siong ing (sepasang pendekar pedang emas) murid partai Go bi,
siangkong Lebih baik jangan banyak bertanya, sebab kedua orang itu adalah sau cengcu dari
perkampungan Go hau san eng, terlalu besar asal usulnya". Berbicara sampai disitu buru2 ia
berlalu dari sana.
Han siong Kie tidak berbicara apa2 lagi, ia tundukkan kepalanya sambil minum arak.
Kurang lebih setengah jam kemudian, Go siau bi dan Kim kiam siang ing baru berlalu dari sana.
Cepat Han siong Kie membayar rekening nya dan ikut keluar dari rumah makan itu, ternyata
bayangan tubuh ketiga orang itu sudah lenyap tak berbekas.
Han siong Kie tertegun, tapi sesudah berpikir sebentar buru2 ia membeli rangsum kering,
kemudian berlari keluar dari kota tersebut.
satu Li baru lewat dari tepi jalan ia temukan dua sosok mayat menggeletak disitu ketika mayat
tersebut diperiksa dengan seksama, siapa lagi mereka kalau bukan Kim kiam siang ing yang belum
lama berselang baru saja tinggalkan rumah makan.
Tubuh mereka tidak terluka ataupun mengucurkan darah, cuma diatas dada masing2 orang
terteralah sebuah cap jari tangan berbentuk bunga sakura.
Betapa terperanjatnya hati Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sekarang ia dapat
membuktikan bahwa pembunuhan2 keji itu kiranya dilakukan oleh Go siau bi, akan tetapi apa
sebabnya ia bantai pemuda2 tampan itu?
Dengan perasaan tak habis mengerti pemuda itu gelengkan kepala berulang kali, akhirnya ia
melanjutkan perjalanannya kembali kedepan.
senja itu, ketika sang surya baru condong kesebelah barat, sampailah pemuda itu disuatu
tempat kurang lebih sepuluh li dari lembab In.wu.kok..
sementara si anak muda kita masih melanjutkan perjalanannya, mendadak dari balik
pepohonan tak jauh darijalan raya terdengar seorang gadis sedang tertawa cekikikan.
suara tertawa itu amat menusuk pendengaran, hal ini segera memancing perhatian sianak
muda itu, tanpa berpikir panjang Han siong Kie segera meluncur kearah depan.
Melalui celah2 pepohonan yang lebat, ia saksikan ada sepasang muda mudi sedang duduk
saling berhadapan, yang laki2 berwajah amat tampan dan berusia tujuh delapan belas tahunan,
sedang yang perempuan tak Iain adalah Go siau Bi.
Pada waktu itu dengan muka yang genit dan kerlingan mata yang menggiurkan Go siau bi
sedang main mata dengan sianak muda itu kemudian terdengar ia bertanya dengan manja:
"cantikkah wajahku ini?"
"Cantik,. cantik sekali, kecantikan wajahmu ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan"
sahut sipemuda itn dengan wajah terkesima.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Aku tak pernah berbohong, setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata2 yang sejujurnya
dan aku rasa nona pasti mengetahui sendiri bukan akan hal itu"
"ooh benarkah begitu? Ehmm. lalu apakah engkau mencintai diriku..??"
"Tentang soal ini.... tentang soal ini...." pemuda itu tampak gelagapan jadinya.
"Eeh, jangan soal ini soal itu, kalau tidak mencintai aku mengapa engkau ikuti diriku sampai
disini??"
"Apa bila nona bersedia menerima perhatianku ini, cay he... cayhe merasa sangat beruntung
sekali hidupku ini"
Go siau bi mengerdipkan sepasang matanya yang jeli kemudian sambil meliuk-liukkan
pinggulnya ia berkata genit:
"Engkau anggap wajahku cantik maka jatuh cinta dalam pandangan yang pertama. sebaliknya
ada orang yang sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap diriku, bahkan tertarikpun
tidak, coba bayangkan saja manusia macam apakah dia itu?"
"Kalau benar2 ada manusia semacam itu, sepantasnya kalau orang itu dikatakan sebagai
seorang laki2 yang punya mata tak berbiji"
"Hiiihh hiiihh hiihhh memang hebat sekali pandanganmu itu" seru Go siau bi sambil tertawa
eekikikan.
Mendadak telapak tangannya maju ke muka, kelima jari tangannya dengan lembut segera
diayunkan kearah dada pemuda itu.
Terbelalak sepasang mata anak muda itu, ia menjerit tertahan: "Nona .."
Kato nona belum habis diucapkan, tubuhnya sudah menjadi lemas dan terkapar di tanah tanpa
mengeluarkan sedikit suara pun pemuda itu sudah menemui ajalnya.
Han siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan benar2 naik darah, untuk mencegah
perbuatannya jelas tak mungkin, seluruh tububnya gemetar keras menahan emosi.
"Sungguh kejam perempuan ini, hatinya lebih kejam dari pada seekor ular beracun.." pikirnya
dihati.
Tanpa sadar pemuda itu terbayang kembali akan ibunya, siang go cantik ong cui ing yang
kejam dan tak kenal ampun.
Mereka sama2 cantiknya, sama2 kejinya, tanpa sadar rasa benci dan muak timbul dalam
benaknya, ia siap melompat keluar dari tempat persembunyiannya..
Paras muka Go siau hi dingin menyayatkan, sebelum sianak muda itu sempat munculkan diri, ia
sudah berpaling dan mendengus dingin.
"Manusia berwajah dingin, sekarang engkau boleh segera munculkan dirimu.."
Betapa terperanjatnya Han siong Kie menghadapi kejadian tersebut, mimpipun ia tak
menyangka kalau tempat persembunyiannya telah diketahui lawan, dari sini dapatlah diketahui
bahwa selama beberapa waktu belakangan ini, ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan,yang
amat pesat.
Dengan muka hijau membesi menahan amarah yang meluap. dia lompat keluar dari tempat
persembunyiannya, kemudian menegur dengan kasar:
"Nona Go, mengapa engkau lakukan pembunuhan sekeji ini?"
Rasa sedih melintas diatas wajah Go siau Bi, tapi sesaat kemudian dengan wajah benci dan
mendendam ia berseru:
"Aku rasa persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik tak usah
kau campurinya"
"Nona, kunasehati dirimu lebih baik jangan bertindak kelewat kejam, karena perbuatan
semacam itu sama sekali tiada manfaatnya bagimu"
"Haaahh..haaahh..haaahh.. mau apa kau hey manusia yang bernama Han siong Kie? Engkau
merasa tidak terima dengan perbuatan yang kulakukan ini?"
"Benar, aku memang mempunyai maksud begitu"
"Lalu apa yang hendak kau lakukan atas diriku ini?"
"Hmm Akan kubunuh engkau untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan" jawab
Han siong Kie dengan hawa napsu membunuh yang amat tebal.
"Huuh, engkau hendak membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil mencibirkan bibirnya dengan
sinis.
"Benar, akan kubunuh dirimu"
" Kalau memang begitu, kenapa tidak segera turun tangan "
"Bila kita bertemu sekali lagi dimasa mendatang,jiwamu pasti akan kucabut."
Go siau bi tertawa tergelak, dengan wajah sinis sekali dia mengejek: "Kenapa tidak kau lakukan
sekarang juga?"
"Memandang diatas wajahmu dimana engkau pernah melepaskan budi kebaikan kepadaku,
kuampuni jiwamu untuk kali ini "
Go siau bi tak dapat menahan diri lagi, ia menengadah dan tertawa tergelak dengan seramnya,
gelak tertawa itu penuh mengandung perasaan sedih, pedih dan perasaan lain yang sukar
dilukiskan dengan kata2, lama sekali ia baru berhenti.
Paras mukanya berubah jadi dingin menyeramkan, hawa napsu membunuh menyelimuti
seluruh wajahnya, dengan suara keras dia membentak:
"Han siong Kie, nonamu justru sedang mencari engkau, mengertikah engkau..?"
"Mencari aku? Mau apa engkau mencari aku ?"
"Aku hendak membunuh dirimu, kalau bukan begitu mengapa kubiarkan engkau mengikuti aku
dari rumah makan sampai kemari haaaah.. haaah.. haaahhh... ketahuilah. aku sengaja memang
mengatur kesemuanya ini agar engkau bisa terpancing kemari"
sekarang Han siong Kie baru tahu bahwa Go siau bi telah mengetahui jejaknya ketika masih
berada dirumah makan tadi, maka dengan ketus segera tegurnya: "Jadi engkau hendak
membunuh aku??"
"Benar, dan sekarang juga pembunuhan ini akan kulaksanakan"
"Kenapa engkau hendak membunuh aku?"
"Karena aku benci padamu"
"Perbuatanku yang manakah yang telah menimbulkan rasa bencimu terhadap aku?"
"Sudah, pokoknya engkau tak usah banyak bicara lagi, ini hari juga nyawamu akan kucabut"
Han siong Kie menyengir sinis.
"Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu?" ejeknya.
"Engkau tidak percaya? Bagus, mari kita buktikan bersama."
Bersamaan dengaa selesainya perkataan itu, tiba2 telapak tangannya diayun kedepan kelima
jarinya dengan disertai desingan angin tajam langsung menyerang kedepan.
Dengan gerakan Cahaya kilat lintasan bayangan Han siong Kie segera berkelit ke samping,
serunya lantang:
"Mengingat budi kebaikanmu dimasa lampau, aku akan mengalah satu jurus untuk...."
"siapa yang suruh engkau mengalah kepadaku?" teriak Go siau bi dengan penasaran.
Telapak tangannya segera diputar balik keatas, selapis cahaya hijau yang tebalpun dengan
cepat membumbung keangkasa dan meluncur kedepan. Betapa tercekatnya perasaan hati Han
siong Kie, tanpa kuasa lagi dia berseru keras: "Aaaah...ilmu pukulan Thian-tok hoa ciang.
Haruslah diketahui, ilmu pukulan Thian tok cang hoat adalah semacam ilmu pukulan darijaman
dahulu kala yang amat dahsyat, apabila pukulan tersebut menyentuh sesuatu benda, maka daya
tahannya makin besar maka daya pentalnya ikut bertambah kuat, jangankan Han siong Kie
malahan Tengkorak maut gadungan yang memiliki ilmu silat lebih lihaypun dibuat tak berdaya oleh
kehebatan pukulan itu
38
Tentu saja Han Siong Kie juga mengetahui akan lihaynya pukulan tersebut, akan tetapi dia tak
sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan seorang gadis muda, maka dari itu dia segera
menghimpun kekuatan yang dimilikinya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut dengan
keras lawan keras.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan sianak muda itu, sebelum
pukulan mereka saling beradu satu sama lainnya, mendadak Go Siau bi menarik kembali
serangannya dan bergeser mundur dua langkah kesamping.
Tampaknya ilmu silat yang dimiliki gadis itu sudah mencapai taraf pengendalian secara
sempurna, menyaksikan kehebatan lawannya Han Siong Kie makin terkesiap, disamping itu diapun
makin keheranan oleh tindak tanduk lawannya yang aneh. Karenanya sambil menarik pulang
serangannya dia lantas menegur: "Eeeeh...kenapa kau tarik kembali serangan mu??"
"Aku kuatir engkau tak sanggnp untuk menerima pukulanku ini."
"Bukankah engkau mengatakan hendak membunuh diriku?" tanya anak muda itu dengan cepat.
Pertanyaan tersebut seketika membuat paras muka Go siau Bi kembali berubah hebat, ia
mendengus dingin, tanpa berbicara lagi ilmu pukulan Thian tok clang hoat sekali lagi dilontarkan
kedepan.
Han Siong Kte menggertak giginya menahan diri, sambil mengerahkan sisa kekuatan yang
dimiliki ia tangkis datangnya serangan tersebut.
"Blaaang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga menggelegar diseluruh angkasa,
diiringi dengusan berat secara beruntun Han siong Kie mundur delapan depa ke belakang, darah
segar sempat meleleh keluar menodai ujung bibirnya.
Tengkorak maut gadungan yang lihaypun jatuh kecundang ditangan gadis ini, apalagi Han
siong Kie yang lebih cetek ilmu silatnya tentu saja dia bukan tandingan sang gadis manis itu.
Put lo sianseng memang lihay dan hebat, terbukti dalam waktu singkat ia berhasil menciptakan
seorang tokoh sakti yang begini hebatnya, bila diceritakan orang lain belum tentu mau
mempercayainya.
Berhasil dengan memukul mundur Han siong Kie, dengan suara gemas dan penuh kebencian
Go siau bi berkata:
"Manusia bermuka dingin, bukan saja wajahmu dingin, darahmu juga sudah membeku, kau
manusia yang tak punya perasaan. Nah, rasain lagi beberapa buah pukulanku" sambil membentak
nyaring, untuk kesekian kalinya dia lancarkan pukulan maut ke depan.
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan peringatan dari orang yang kehilangan sukma, dalam
hati pemuda itu lantas berpekik, "Aku tak boleh mati"
Dengan suatu gerakan yang manis dan lincah ia menghindarkan diri dari serangan maut lawan,
berhasil dengan kelitannya. sebuah jari tangan segera direntangkan lebar dan serentak menyentil
kemuka.
sepasang telapak tangan Go siau Bi bergetar kian hebat, tenaga pukulanpun semakin menebal
membuat hawa hijau hampir menyelimuti seluruh pemukaan tanah.
"criiit. criiing.." ditengah desingan angin tajam ilmu sentilan Tong kim ci yang ampuh dan tak
terkalahkan itu ternyata dapat dihajar sampai buyar oleh kekuatan lawan.
Rasa kaget yang dialami Han siong Kie sukar dilukiskan lagi dengan kata2, mimpipun ia tidak
menyangka kalau ilmu jari Tong kim ci yang paling diandalkan ternyata sama sekali tak mempan
untuk digunakan menghadapi pukulan Thian tok ciang hoat.
Hampir saja tak percaya dengan apa yang terbentang didepan mata, sebab peristiwa ini
memang tak pernah diduga olehnya.
"sambutlah sebuah pukulanku lagi. " bentak dara itu lagi dengan lantang.
Ditengah bentakan nyaring, hawa hijau yang tebal dan menyilaukan mata dengan dahsyatnya
menggulung tubuh lawan.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Han siong Kie, dengan ilmu cahaya kilat
lintasan bayangan tubuhnya mendesak maju kedepan, lalu dengan jurus Mo tiong ko ciat ( raja
iblis menyembah loteng istana) ia hajar Go siau bi dengan mengerahkan segenap tenaga dalam
yang dimilikinya.
Go siau bi tertawa dingin, sekalipun hebat dan luar biasa seranganpemuda itu namun bagi
pandangannya serangan tersebut tak ada artinya, ia berkelebat lewat dari serangan itu dengan
gerakan bagaikan sukma gentayangan, lalu sambil melepaskan lima buah pukulan berantai,
teriaknya keras:
"Manusia bermuka dingin, hari ini kau harus mampus"
Memang dahsyat dan ganas kelima buah serangan itu, angin pukulan segera men-deru2
membikin hati orang jadi keder dan ngeri rasanya..
Terdesak oleh lima buah pukulan berantai yang maha dahsyat itu, Han siong Kie terdesak hebat
dan harus mundur berulang kali ke belakang..
Go siau bi tak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk tukar napas, selesai dengan lima
buah pukulan yang pertama, ia susulkan pula dengan lima buah pukulan berikutnya.
Menghadapi desakan demi desakan yang tiada habisnya, lama kelamaan Han siong Kie jadi
penasaran juga, kali ini dia tidak menghindar ataupun berkelit, dengan sistim adu nyawa dia
sambut kelima buah pukulan itu dengan gerakan keras lawan keras.
Tergetar perasaan Go siau bi setelah menyaksikan kenekadan sianak muda itu, tapi apa mau
dikata pukulan sudah terlanjur dilancarkan , maka sambil gertak gigi ia lepaskan pukulan mautnya.
"Blang Blang " dua kali dengusan dingin menggema memecahkan kesunyian, menyusul dua
sosok bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya.
Kedua belah pihak sama2 terlempar kebelakang dengan sempoyongan, keadaan Go siau bi
masih mendingan, sekalipun darah meleleh di ujung bibirnya dan mukanya pucat pias tapi
keadaannya masib agak segar.
Berbeda sekali dengan Han siong Kie, ia harus muntah darah berulang kali, jelas isi perutnya
sudah terluka parah.
Dengan wajah menyeringai seram dan mata saling melotot penuh kegusaran, kedua belah
pihak berdiri berhadapan.
Untuk sesaat suasana dalam gelanggang jadi sepi dan hening, sunyi bukan berarti hawa nafsu
membunuh telah lenyap begitu saja, malahan setiap saat darah segar mungkin akan membasahi
lagi seluruh permukaan tanah.
Diantara lima buah pukulan yang dilancarkan Han siong Kie, ada tiga buah yang bersarang
ditubuh lawan, sebaliknya ia sendiri menerima empat buah pukulan dari musuhnya.
sebagaimana diketahui, pukulan yang dilancarkan Go siau bi mengandung hawa sakti Thian tok
sinkang yang maha dahsyat, tak heran kalau sianak muda itu menderita luka yang jauh lebih
parah daripada anak dara itu.
Mereka pernah saling tolong menolong, pernah hidup sengsara bersama bahkan Go siau bi
pernah menggunakan tubuhnya sebegai tameng untuk menyelamatkan jiwa Han siong Kie dari
ancaman Tengkorak maut gadungan, karena peristiwa itu hampir saja jiwanya melayang.
Ia telah jatuh cinta kepadanya, telah bersumpah didepan pusara ayahnya, kecuali dengan
pemuda ini dia tak akan kawin dengan siapapun juga"
Tapi kenyataannya, yang satu ada hasrat yang lain tak berminat, tumpuan harapan yang
terlintas dalam benaknya selama ini hancur dan musnah dengan begitu saja.
Kini dengan taruhan nyawa mereka saling bertempur, berusaha saling merobohkan musuhnya
dan bila perlu sekalian membinasakannya... Inikah takdir? Inikah yang dinamakan nasib.?
Cinta dapat membuat seseorang jadi sukses tapi dapat pula menghancurkan karier seseorang,
membuat watak seseorang berubah seratus delapan puluh derajat.
Dan kini Go Siau bi telah berubah ....bukan saja perubahan itu tak dipercaya oleh Han siong
Kie, bahkan dara itu sendiri juga tak kenali dirinya sendiri lagi.
Hawa napsu membunuh yang tebal masih menyelimuti seluruh wajah Go siau bi, selangkah ia
maju kedepan mendekati Han siong Kie yang berada dihadapannya.
suasana tercekam oleh ketegangan dan kengerian, sorot mata serta perhatian semua orang
sama-sama ditujukan kearah Go siau bi yang sedang maju kemuka.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Han siong Kte, ia tahu bila dirinya cuma berpeluk
tangan belaka, sehingga dara itu keburu menyerang dulu dengan Thian tok ciang hoatnya yang
lihay, niscaya jiwanya akan terancam bahaya. satu ingatan lantas melintas dalam benaknya:
"Daripada aku menanti datangnya elmaut, kenapa tidak kuserang dulu perempuan sinting itu?"
sambil membentak sepasang telapak tangannya diayun kedepan melancarkan babatan maut.
-00d0w00-
BAB 56
PUKULAN itu dilepaskan dalam keadaaa marah bercampur penasaran, bisa dibayangkan betapa
dahsyat dan luar biasanya pukulan tersebut.
Go siau bi melambung keangkasa, setelah melayang sejauh delapan depa, sekali lagi badannya
melejit kedepan kemudian menerobos masuk dari sisi Han siong Kie dan melayang turun lima depa
disamping pemuda itu.
Baik dalam menghindar maupun sewaktu melancarkan serangan, semua gerakan dilancarkan
dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Melihat ancamannya mengenai sasaran yang kosong, Han siong Kie membuyarkan pukulannya
ditengah jalan, badannya miring kesamping lalu berputar kencang, telapak tangan kiri dan ujung
jari tangan kanan sekali lagi melepaskan serangan maut kedepan.
Kabut hawa berwarna hijau seketika menyelimuti seluruh angkasa, pada saat yang bersamaan
Go siau bi melepaskan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat. Dentuman keras mengiringi
benturan dua kekuatan yang saling berlawanan itu.
Dengan sempoyongan Go siau bi mundur beberpa langkah, sedangkan Han siong Kie
mendengus tertahan dan muntah darah segar, badannya terlempar sejauh satu kaki lebih dari
tempat semula,
Go siau bi menerjang lagi kedepan dan berdiri dibelakang Han siong Kie, telapak tangannya
diayun tepat mengarah jalan darah Thian leng hiat diatas kepalanya, asal pukulan itu dilancarkan
niscaya Han siong Kie akan mampus dengan keadaan mengerikan.
"Heeehhh....heeehhh....heeehhh .. manusia she Han, apa yang hendak kau ucapkan lagi
sebagai kata-kata akhirmu" ejek dara itu dengan ketus.
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, sambil menggertak gigi jawabnya: "Tak ada katakata
lagi, mau turun tangan hayolah cepat turun tangan."
"sungguh tak ada pesan terakhir"
"Ada Aku hanya ada sepatah kata saja. yakni siapa yang menanam buah pahit dia akan
menerima pula akibatnya."
"Apa kau bilang? Heeehhh..haaahhh. haaahhh.." dara itu bagaikan orang sinting tertawa
nyaring, suaranya keras dan mengerikan membuat siapapun jadi bergidik.
" orang she Han, terus terang kuberitahukan kepadamu" serunya lagi, "aku telah tahu bahwa
peristiwa macam hari ini cepat atau lambat pasti akan terjadi, tapi kau musti ingat, sebelum ajalku
tiba, semua pria tampan yang ada dikolong langit akan kubunuh semua, tak akan kubiarkan
manusia-manusia ganteng bikin keonaran lagi di kolong langit..haaahhh..haaahhh..haaahhh."
Ditengah gelak tertawa yang kalap menyerupai orang sinting, terselip hawa napsu membunuh
yang benar-benar mengerikan.
Gusar nian Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, ia sadar dengan tenaga dalam yang
dimiliki Go siau bi sekarang, apa yang diucapkan bisa jadi benar-benar dilaksanakan, dan jikalau
apa yang di ancam benar-benar dilaksanakan maka suatu badai pembunuhan yang mengerikan
tak terelakkan lagi.
"Go siau bi" serunya kemudian dengan gemas. "sayang aku tak dapat membinasakan engkau
dengan tanganku sendiri"
"Haaahhh ....haaahhh....haaahhh..dan aku... aku gembira sekali, karena hari ini akan kubunuh
engkau dengan tanganku sendiri."
"Hmm Tak usah banyak bicara lagi. kalau ingin turun tangan hayolah cepat turun tangan"
"Kenapa musti buru-buru mati? Bagaimana dengan adik Hui yang pernah berkorban demi cinta
kasihnya kepadamu? Mungkinkah dia akan datang lagi kemari untuk mendirikan batu nisan
untukmu.."
satu ingatan melintas dalam benak Han siong Kie, sekarang ia tahu bahwa Go Siau bi telah
mempunyai niat untuk membinasakan dirinya. .
"Hehhh...heeehhh..heehhh... engkau tak usah merisaukan tentang dirinya, ia telah berangkat
mendahului diriku" ejeknya sambil tertawa dingin.
"Apa? Dia sudah mati?" seru Go siau bi dengan wajah tertegun.
"Hmm Kenapa? Kau merasa kecewa?" ejek sang pemuda. Air muka Go siau bi beberapa kali
berubah hebat, tiba2 hardiknya keras- keras:
"Han siong Kie, inginkah kau mengetahui sebab musabab sehingga aku berniat membinasakan
dirimu??"
"Aku rasa tak perlu"
"Jadi engkau telah paham?"
"Aku tak ingin memahami persoalan itu, kalau ingin membunuh silahkan turun tangan"
"Jadi engkau sama sekali tidak menyesal??"
"Haaah haaah haaaahh Han siong Kie tak kenal arti menyesal"
Telapak tangan Go siau bi mulai gemetar, rasa cinta dan benci amat mendalam hatinya dia
ingin membunuh pemuda ini lantaran dia gagal mendapatkan cinta kasihnya, maka membenci
pemuda itu, malahan membenci pula setiap pemuda tampan yang sebaya dan setanding dengan
anak muda ini.
Tapi..benarkah dara itu tega untuk membunuh kekasih hatinya ? Air mata mulai bercucuran
membasahi seluruh wajahnya.
Lama ..lama sekali suasana tetap hening, dengan tak sabar Han siong Kie menghardik:
"Hey, kenapa engkau tidak turun tangan??" Tiada jawaban tiada gerakan.
Karena tak sabar pemuda itu akhirnya bangkit dan memandang kemuka, tampaklah selembar
wajah yang murung, sedih dan penuh dengan air mata terbentang didepan mata, wajah itu sayu
dan sama sekali tiada bekas hawa napsu membunuh yang sadis.
"Itulah perempuan.... itulah namanya perempuan" pikir Han siong Kie dihati, hanya hati
perempuan yang gampang berubah, hanya sikap perempuan yang mudah jadi sedih.." sindirnya
kemudian dengan suara yang dingin dan tak enak didengar:
"Bukankah kau ingin membunuh aku? Kalau ingin membunuh, hayolah cepat laksanakan, kalau
tidak... maaf kalau aku akan berlalu dari tempat ini."
"Tunggu sebentar" tiba-tiba dara itu membentak
"Ada apa lagi?"
Disekanya air mata yang membasahi pipinya, lalu Go siau bi berseru ketus:
"Aku toh tak pernah mengatakan bahwa aku tak akan membunuh dirimu? Kenapa kau hendak
pergi?"
"Kenapa tidak cepat turun tangan ? Hayo, kalau ingin bunuh aku bunuhlah sekarang juga"
"sebelum kubantai dirimu, terlebih dahulu ada beberapa patah kata hendak kuterangkan lebih
dulu, aku harap engkau dengarkan kata2 ku ini dengan sebaik baiknya."
"Katakanlah cepat"
Perlahan Go siau bi menundukkan kepalanya karena hati yang pedih, selang sesaat kemudian ia
menengadah kembali, tampaknya dara ini telah mengambil keputusan: Katanya dengan penuh
emosi:
"Han siong Kie, masih ingatkah engkau tatkala tubuhmu tercebur kedalam sungai dan aku
berhasil menolong dirimu kemudian selama tiga hari kurawat kau sebaik-baiknya..."
"Toh sudah kukatakan, tiap budi kebaikan yang pernah kuterima, suatu ketika pasti akan
kubalas?" tukas sianak muda itu dengan nada tajam.
" Kedua kalinya, ketika aku dilukai oleh pengawal istana Huan mo kiong, engkau membawa aku
menginap disebuah rumah penginapan...."
"Waktu itu keadaan amat mendesak. tiada tindakan lain bagiku kecuali berbuat begitu"
"Tapi ingatkah kau bahwa antara laki2 dan perempuan ada batas-batasnya? setelah kita
menginap disatu kamar yang sama, bagaimana mungkin aku ..." Berbicara sampai disini tiba-tiba
ia tundukkan kepalanya rendah-rendah..
Karena pandangannya yang sempit, Han siong Ki memang membenci setiap perempuan yang
ada diseantero jagad tapi di dasar hatinya ia sebenarnya ramah dan penuh kasih sayang, diapun
memiliki api asmara dan rasa cinta, hanya perasaan hatinya itu tertekan oleh jalan pikirannya yang
keliru.
sebagai seorang pemuda yang cerdas tentu saja ia dapat menangkap arti dari kata-katanya itu
tapi si anak muda itu tak bisa berbuat banyak sebab pada hakekatnya ia tak mencintai Go siau bi,
yang ada dalam hati kecilnya cuma rasa berterima kasih serta rasa berhutang budi belaka...
Tapi sekarang tanpa disadari jantungnya berdebar keras..
sekarang ia mulai berpikir, mungkinkah dara yang cantik ini jadi kalap lantaran pinangan put lo.
sianseng terhadapnya tempo hari telah ditolak secara mentah2?
Rasa simpatik, kasihan dan iba seketika menyelimuti perasaan hatinya, ia mulai merasa kasihan
atas nasib jelek yang telah menimpa anak dara itu
"Nona, aku merasa amat menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya atas terjadinya
peristiwa itu" ia berkata dengan lembut.
"Hmm Rasa sesal yang mendalam?"
"Dengan hati yang tulus dan ikhlas aku mohon kepada nona sudilah kiranya jangan membunuh
orang lagi mulai saat ini"
"Kalau kutolak permohonanmu itu?" seru sang dara dengan ketus dan muka menyeringai.
suasana yang semula sudah tenang dan damai, kini berubah kembali jadi tegang. Paras muka Han
siong Kie berubah hebat, sahutnya cepat:
"Bila nona menampik permohonanku ..tu, terpaksa aku harus melaksanakan apa yang telah
kukatakan tadi"
"oooh. Jadi engkau akan membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil tertawa sinis.
"Betul bila kau takut peristiwa itu sampai terjadi, silahkan kau bunuh aku lebih dahulu sebab
kalau tidak, andaikata kita sampai bertemu lagi dikemudian hari, kau pasti akan kubunuh".
selapis hawa dingin yang ketus dan menyeramkan mulai menyelimuti raut wajah Go siau bi, ia
mengejek sinis:
"Huuuh.. Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu??"
"Lihat saja nanti hasilnya, apa gunanya banyak bicara yang tak ada gunanya?"
"Han siong Kie, engkau tak bisa membendung niatku ini, akan kubunuh pemuda tampan yang
ada dikolong langit hingga mereka musnah semua dari atas muka bumi.. Hmm Engkau ingin
bunuh aku ? Baiklah ini hari sengaja kau kulepaskan dirimu, akan kulihat bagaimana caramu
membunuh aku, tapi kau musti ingat, bila kita sampai bertemu muka lagi, andaikata engkau tak
dapat membunuh aku, maka akulah yang akan membinasakan dirimu"
Han siong Kie menatap sekejap kearah wajahnya dengan pandangan dingin, mulutnya tetap
membungkam.
Kalau bisa ia hendak membacok dara itu hingga mampus, rasa simpatik dan kasihan yang
muncul dalam hatinya tadi kini tersapu bersih dari lubuk hatinya.
Pemuda itu tak ingin banyak ribut lagi dengan dara tersebut, per-lahan2 dia putar badan dan
berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang kian menjauh, Go siau Bi berdiri termangu-mangu,
beberapa kali dia hendak memanggilnya..tapi setiap kali niatnya itu dibatalkan, ia merasa bagaikan
tersiksa dan terharu, sehingga akhirnya tak kuasa lagi menangislah gadis itu ter-sedu2.
Isak tangis itu sempat terdengar oleh Han siong Kie yang makin menjauh, ia agak tertegun dan
menghentikan langkahnya, tapi sesudah ragu sebentar pemuda itu lanjutkan kembali
perjalanannya kedepan. kali ini ia tidak berpaling lagi.
Dengan penuh rasa mendongkol Go siau Bi mendepak-depakan kakinya keatas tanah, serunya
berulang kali:
"suatu ketika aku pasti akan membunuh kau..tunggu saja tanggal mainnya"
Pada saat itulah, tiba2 dari tempat kejauhan berkumandang suara gonggongan anjing yang
sangat ramai.
Dengan segera Go siau Bi berpaling, begitu mengetahui apa yang tertera didepan matanya ia
jadi tercekat dan mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat.
tampaklah dua ekor anjing sebesar tubuh anak sapi berdiri disisi kiri dan kanannya pada jarak
dua kaki, giginya yang runcing menyeringai seram, matanya memancarkan sinar buas, selama
hidup belum pernah ia jumpai anjing sebuas dan sebesar ini
sementara dia masih termenung sesosok bayangan manusia kembali melayang masuk ke dalam
hutan, orang itu adalah seorang kakek bungkuk yang membawa sebuah pecut rotan yang
panjang.
Dengan sorot matanya yang beringas kakek itu menatap sekejap wajah Go siau bi, lalu
mengawasi pula pada mayat yang terkapar diatas tanah, setelah itu dia menganggak beberapa
kali.
"Hey, apa maksudmu datang kemari?" tegur Go siau bi dengan suara dalam. Kakek bungkuk itu
tertawa seram:
"Heeehhh... heehhh...heeehhhh.... Cantiknya memang cantik, cuma sayang perempuan
secantik ini tak lebih hanyalah kuntilanak yang berhati keji"
"Apa? siapa yang kau maksudkan?" teriak dara ayu itu dengan mata melotot.
"siapa lagi, tentu saja engkau"
Sepasang alis mata Go Siau bi berkenyit, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya, sambil mendengus dingin katanya:
"Hey tua bangka yang tak tahu diri, sebelum nonamu berniat membinasakan engkau, bawalah
anjing2 itu dan segera berlalulah dari tempat ini"
"Heeeh heehh . heeeh kenapa aku musti pergi ? Kedatanganku justru hendak mencari engkau"
"Mencari aku ? Siapa kau dan sebutkan namamu"
"Aku adalah Khoo Tio cu, si bungkuk she Khoo pengurus rumah tangga perkampungan oh bau
san cung, mengerti??"
Mendengar nama itu, satu ingatan terlintas dalam benak Go Slau bi, sekarang ia sudah dapat
menebak apa yang telah tarjadi, dengan wajah yang tetap tenang katanya: "Lantas ada urusan
apa kau cari aku??"
"Kedua orang sau cengcu perkampungan kami telah tewas dipinggir jalan-"
"Kalau aku yang bunuh mau apa kau?" tukas sang dara cepat.
"Bagus sekali, setelah kau memberikan pengakuan urusan makin gampang untuk diselesaikan,
darimana asal perguruanmu?"
"Huuh. Kau belum berhak untuk mengetahuinya."
Sinar mata yang bengis dan buas memancar keluar dari balik mata si bungkuk itu, begitu
bengisnya sinar mata orang itu sehingga hampir tak ada bedanya dengan kebengisan mata kedua
ekor anjingnya, membuat siapapun yang memandangnya jadi bergidik. Ia maju beberapa langkah
kedepan, lalu serunya dengan suara yang menyeramkan:
" Heeeh hh heeeh hh heeeh hh memang sekarang susah untuk memaksa kau untuk berbicara
tapi ingatlah baik-baik, suatu ketika engkau akan mengakuinya sendiri"
"Bungkuk she Khoo, nonamu tak ingin membinasakan dirimu, kalau tahu diri lebih baik
enyahlah dari sini"
"Heehhh heeehhh heeehhh kau suruh aku pergi dari sini? Lucu... benar-benar sangat lucu, kau
malah suruh aku pergi.. tahukah kau bahwa aku si bungkuk she Khoo justru tak ingin melepaskan
engkau dengan begitu saja??"
"Bangsat Jadi engkau benar2 ingin mati?"
"Yang ingin mampus bukan aku, melainkan kau sendiri"
Hawa napsu membunuh mulai menghiasi air mukanya yang putih, ia mendengus gusar telapak
tangannya diayun kedepan dan segulung hawa hijau yang mengerikan segera meluncur kedepan
melancarkan sebuah ancaman maut.
Paras muka sibungkuk she Khoo itu berubah hebat, ia agak tertegun menyaksikan datangnya
ancaman berwarna hijau itu, tampaknya sepanjang hidup, belum pernah dia jumpai ilmu
kepandaian seaneh dan setangguh ini.
"Blang " Ditengah benturan keras yang cukup memekikkan telinga, tubuh si Bungkuk she Khoe
itu mencelat sejauh delapan depa lebih dari kedudukan semula, darah panas bergolak dalam
dadanya, betapa terkesiapnya sukar dilukiskan dengan kata2.
Keistimewaan dari ilmu pukulan Thian tok ciang hoat adalah daya pantulan yang terpancar
keluar bila menyentuh pukulan itu, makin besar seseorang melancarkan serangannya maka
semakin besar pula daya pantulan yang terpancar oleh kepandaian itu.
Masih untung tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Go Siau bi tidak lebih cuma enam bagian
belaka, dan tapi Khoe Tuo cu tak sempat melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga karena
ia dibikin kaget bercampur tertegun, karena itu loloslah dia dari ancaman bahaya maut yang
sebetulnya dapat merenggut selembar jiwanya.
sudah tentu Khoe Tuo cu tidak mengenal kelihayan dari ilmu pukulan itu, betapa penasarannya
orang itu karena peristiwa yang barusan terjadi, dengan sorot mata yang bengis dia menerjang
maju lagi ke depan, sebuah pukulan yang lebih dahsyat bagaikan hembusan angin topan
menerjang ke dada lawan.
"Bangsat, rupanya engkau memang sudah bosan hidup," hardik Go siau bi denganpenuh
kegusaran-
Dengan ilmu pukulan Thian tok ciang hoat yang telah dikerahkan mencapai delapan bagian ia
sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blamm" suatu benturan dahsyat kembali menggelegar diudara, jerit ngeri yang melengking
mendesis dari mulut Khoe Tuo cu, badannya mencelat sejauh beberapa kaki dan darah segar
muntah keluar dari mulutnya.
"Bluuk" bagaikan sebuah cupu2, tubuhnya menggelinding diatas tanah setelah jatuh mencium
tanah.
Gong gongan anjing berkumandang memecahkan kesunyian, seekor anjing besar yang berada
disamping kanan tiba2 menerjang kearah dara itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Lolongan anjing yang mengerikan berkumandang menyayat kesunyian yang mencekam udara,
anjing besar itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dari tempat semula.. "Duukk" Ketika menumbuk
diatas dahan sebuah pohon besar, mampuslah anjing tersebut seketika itu juga.
Dalam pada itu Khoo Tuo cu telah bangkit dari atas tanah, ia tampak agak tertegun
menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki dara tersebut, kejadian ini sama sekali diluar
dugaannya. sebab kalau bukan seorang tokoh silat yang benar-benar berilmu tinggi tak mungkin
anjing besar itu dapat dibunuh dalam sekali pukulan belaka
Dalam terkejut dan cemasnya, bagaikan titiran angin deras cambuk rotannya diputar
sedemikian rupa mengitari angkasa.
Anjing raksasa yang berada disebelah kiri bagaikan sambaran kilat telah melancarkan tubrukan
pula kedepan.
siau bi terancam bahaya, cepat-cepat telapak tangannya dilontarkan kemuka melepaskan
pukulan maut..
Agaknya anjing besar itu sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki musuhnya sangat lihay,
berada ditengah udara tubuhnya berjumpalitan beberapa kali diudara dan menggelinding kebawah
kaki anak dara itu, moncongnya langsung menyambar kedepan dan menggigit kakinya.
semua gerakan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tak kalah cepatnya dengan seorang
jago lihay.
Bergetar keras perasaan hati Go siau bi menghadapi ancaman itu, cepat ia melejit dan
melambung keudara, dari situ telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat kebawah.
Gagal dengan gigitannya, anjing besar itu segera meluncur maju satu kaki lebih ke depan-
Tatkala Go Siau bi melayang turun kembali keatas tanah, secepat kilat sambaran anjing itu
menerkam lagi kedepan.
Kali ini tak sempat bagi Go siau bi untuk berkelit, telapak tangannya langsung dibacokkan
keatas batok kepala anjing itu..
"Guukk..guuukk.. lolongan panjang kembali menderai diudara, batok kepala anjing itu terbacok
sampai hancur jadi dua bagian, kepalanya hancur dan darah serta isi benaknya tersebar dimanamana,
anjing itu mampus seketika itu juga.. Tapi cakar anjing sebelah depannya sempat pula
mencakar paha Go Siau bi..
Rasa gatal-gatal dan kaku yang aneh segera menyerang pahanya dan perlahan-lahan bergerak
naik keatas.
Rasa kaget dan terkesiap yang menyelimuti hatinya sekarang susah dilukiskan dengan kata2, ia
tahu itulah tanda2 keracunan atau dengan perkataan lain cakar anjing itu mengandung racun yang
sangat jahat.
Dengan cepat semua jalan darah penting di tubuhnya ditutup semua, setelah menghadang
peredaran racun yang merambat lebih jauh kearah lain, dengan sorot mata yang bengis
menyeramkan, ia menerjang kearah Khoo Tuo cu habis2an.
"Blaaang" kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi
angkasa, dengan batok kepala hancur berantakan Khoo Tuo co menggeletak dalam keadaan
mengerikan-
"Perempuan rendah, pada hakekatnya engkau memang bukan manusia, hatimu keji dan tak
kenal ampun, akan kuhancurkan tubuhmu hingga lembut seperti abu."
Bersamaan dengan munculnya bentakan keras yang sangat mendadak itu, seorang kakek tua
berjubah hitam yang tinggi besar telah nelayang masuk kedalam gelanggang.
"Suiiit"" siulan lengking menggema diangkasa, menyusul belasan ekor anjing besar bagaikan air
bah, menerjang kearah tubuh Go siau Bi.
Kejut dan gelisah menyelimuti seluruh perasaan anak dara itu, ia merasa sukma serasa
melayang tinggalkan raganya karena ketakutan, gadis itu sadar bahwa ia sudah kena racun keji
dari anjing2 itu, daripada berdiam diri dan mati konyol ditangan lawan jauh lebih baik melarikan
diri tinggalkan tempat itu.
Begitu ingatan tadi melintas dalam benaknya, ia lantas melejit ke udara dan meluncur masuk
kearah hutan-
Apa mau dikata rupanya racun sudah mulai bekerja dalam tubuhnya, sepasang kakinya sudah
tak mau mendengar perintah lagi, baru saja melayang sejauh lima kaki, tubuhnya terjatuh kembali
keatas tanah. sementara kawanan anjing besar itu kembali sudah menerjang tiba dengan
hebatnya.
Antara manusia dan anjing, segera berkobarlah suatu pertarungan yang amat mengerikan-
Anjing- anjing besar itu memang tersohor karena keganasannya, bukan saja sifatnya memang
buas, cakarnya mengadung racun keji dan gerak geriknya cepat bagaikan sambaran kilat, lagipula
tak takut mati, maka setelah mendapat latihan secara khusus kehebatan mereka jauh lebih
mengerikan daripada serangan dari jago-jago silat kelas wahid.
Cemas dan marah bercampur aduk dalam benak Go siau bi, telapak tangannya diayun berulang
kali kemuka, kabut hawa hijau kembali menggulung keempat penjuru dengan dahsyatnya.
Ditengah benturan2 yang memekikan telinga, lolongan panjang berkumandang susul menyusul.
Dalam waktu singkat delapan ekor anjing yang telah binasa ditangan anak dara itu tapi sisanya
tak gentar barang sedikitpun, mereka masih melanjutkan terjangannya dengan kecepatan yang
luar biasa.
Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Go siau bi, rambutnya awut-awutan dan napasnya
tersengal-sengal, ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengatur pernapasan-
Rombongan anjing- anjing besar itu menerjang dan mundur secara beraturan, mereka saling
mengisi kekosongan yang ada dan menyerang dari tiga arah yang berlawanan, yakni arah atas
tengah dan bawah.
Tentu saja Go siau bi tak berani menyambut datangnya ancaman itu secara gegabah, sebab dia
tahu anjing-anjing itu sangat beracun pada kuku-kukunya.
sementara itu kakek berjubah hitam yang berada disamping gelanggang merasa gusar dan
sakit hati, namun ia tak berani menghentikan serangan anjing-anjing itu, sebab ia tahu betapa
sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, ia telah bersiap sedia mengorbankan anjinganjingnya
itu sebagai ganti dari kesuksesan rencananya.
setengah peminum teh kemudian, bangkai anjing telah bergeletak dimana-mana, darah serta
hancuran daging tersebar dimana-mana, keadaannya mengerikan sekali.
Dari sekian banyak anjing besar yang dibawa oleh kakek baju hitam itu, tak seekorpun yang
masih hidup pada saat ini.
Walaupun demikian, keadaan Go Siau bi sendiripun mengenaskan sekali, ia sudah kehabisan
tenaga, kakinya yang keracunan sekarang menjadi bengkak dan satu kali lipat lebih besar daripada
keadaan biasa, rasa sakit menyerang sampai kelubuk hati, sekali pun ia tahu masih ada seorang
musuh yang mengincar dirinya namun ia tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, akhirnya
gadis itu roboh dan jatuh terduduk diatas tanah.
Dengan sinar mata bengis, penuh kebuasan kakek berjubah hitam maju kedepan dengan
langkah lebar.
Go siau bi sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya, diapun menghimpun sisa
kekuatan yang dimilikinya untuk dikumpulkan pada telapak tangan kanannya.. Sambil bergerak
maju kedepan kakek baju hitam itu berkata tiada hentinya:
"Perempuan rendah, engkau telah menipu dan membunuh dua orang putra kesayanganku, ini
hari akan kusuruh kau rasakan pula siksaan yang terkeji dikolong langit, akan kusiksa kau sampai
mampus ....Hmm Sakit hati ini akan kutuntut balas beberapa kali lipat lebih dahsyat tunggulah
tibanya saat seperti itu ...."
Go Siau bi membentak keras, telapak tangan kanannya tiba-tiba diayun kedepan, lima gulung
desiran angin tajam segera meluncur keluar dan mengancam tubuh kakek itu.
Rupanya kakek baju hitam itu memang sengaja memperlambat langkah kakinya berhubung dia
harus bersiap menghadapi tibanya ancaman yang tak terduga dari pihak lawanoleh
sebab itu ketika Go Siau bi mengayunkan telapak tangannya kedepan, secepat kilat ia
berkelit kesamping, tapi toh gerakan itu teriambat setengah langkah, tangan kanannya terasa
sakit sekali hingga merasuk ketulang sumsum, tak kuasa lagi dia mendengus tertahan.
Ilmu jari Bwe hoa cuan sim ci (juri si kura penembus hati ) yang digunakan Go siau bi ini adalah
salah satu ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian toh pit kip. arah yang dituju adalah
dada musuh atau tepatnya persis diatas jantung, andaikata terkena hajaran jantung orang akan
pecah dan binasalah orang itu.
Tapi berhubung kakinya terluka sehingga banyak tenaga dalamnya berkurang maka melesetlah
serangan itu dari sasaran utamanya.
"Blam" pukulan tangan kiri yang dilepaskan kakek berjubab hitam itu dengan telak bersarang
ditubuh Go siau Bi
Ditengah dengusan yang tajam, tubuh dara itu mencelat dan bergelinding diatas tanah,
kesadarannya punah dan dara itu berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak.
Kakek tua baju hitam itu tertawa seram, secara beruntun dia menotok beberapa buah jalan
darah penting ditubuh gadis itu.
Kemudian ketika dilihatnya musuhnya sudah tercakar oleh racun anjingnya, ia ambil keluar
sebuah botol kecil dari porselen putih, diambilnya sedikit bubuk kuning dan dijejalkan kemulut Go
siau Bi, lalu mengambilpula sebagian dan dibubuhkan pada sekitar mulut luka, kemudian baru
berkata dengat nada menyeramkan: "Hmm Hmmm aku tidak akan membiarkan engkau mampus
dengan begitu saja"
Ditatapnya sekejap bangkai2 anjing itu dengan perasaan berat, akhirnya sambil mengempit
tubuh Go siau Bi, dia berlalu dari tempat kejadian-
Tatkala Go siau Bi sadar kembali dari pingsannya, ia menemukan kaki tangannya telah
dibelengu orang, tubuhnya berbaring terlentang dengan menghadap keatas, namun ia tak mampu
bergerak sementara rasa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya.
Ia membuka mata dan memeriksa keadaannya, tapi segera dara itu jadi malu bercampur gusar,
ternyata ia sedang dibelenggu di atas sebuah papan kayu dalam keadaan telanjang bulat, sehelai
benangpun tidak menempel ditubuhnya, sementara kakek baju hitam itu sedang memandang
kearahnya sambil menyeringai seram.
Disamping kakek itu berdirilah sepasang anjing besar yang sedang mencakar2 tanah sambil
memperdengarkan serentetan suara kaing-kaing yang aneh.
Dia ingin buka mulut untuk berbicara, namun tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
sadarlah dara itu bahwa jalan darah bisunya telah ditotok orang.
-00d0w00-
BAB 57-
SECARA lapat2 dara itu mulai menduga apa yang bakal terjadi serta menimpa dirinya.
Ia rela mati dan mengakhiri hidupnya lebih cepat, namun ia tak mampu untuk melakukannya,
beberapa buah jalan darah ditubuhnya tertotok. sekalipun ilmu silatnya sangat tinggi, berada
dalam keadaan seperti ini tiada sesuatu apapun yang bisa dilakukan lagi olehnya.
Tiba2 kakek berbaju hitam itu tertawa seram, suaranya sadis dan mengerikan-
" Heeeh heeeehh heeeehh perempuan rendah, aku adalah Ho Thong thian ketua
perkampungan oh hau san-cung, ingat baik2 namaku ini dan ketahuilah bahwa aku berbuat
demikian demi membalaskan dendam bagi kematian dua orang putraku"
Go Siau Bi ingin bicara namun tak mampu mengucapkan sepatah katapun, apa boleh buat?, Dia
cuma bisa berbaring dengan mata melotot penuh kegusaran. Terdengar Ho Thong thian
melanjutkan kembali kata katanya:
"Perempuan rendah, engkau telah memancing kedua orang putraku dengan kecantikan
wajahmu kemudian membunuhnya secara keji.. heeeh heeeh heeeh sekarang, saat pembalasan
telah tiba, coba pandanglah kedua ekor anjing jantan itu, dia akan menjadi suamimu sebentar lagi,
dari kedua ekor anjing jantan inilah engkau akan mendapatkan kepuasan seks yang paling nikmat,
kau akan di bikin naik kesorga oleh kedua ekor anjing ini haaah haaahh haaaahh manusia digagahi
oleh anjing, itulah acara pertunjukkan yang menarik sekali."
-00d0w00-
BETAPA terkejut dan takutnya Go siau bi sesudah mendengar ancaman itu, ia merasa
sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya, bila sampai peristiwa itu benar-benar terjadi,
inilah siksaan yang terkeji dikolong langit, seorang gadis perawan akan kehilangan kesucian
tubuhnya ditubuh seorang anjing, bahkan sekaligus akan diperkosa oleh dua ekor anjing besar
secara bersamaan, matanya jadi berkunang dan pandangannya jadi gelap akhirnya ia jatuh tak
sadarkan diri saking gusar dan mendongkolnya.
Hoo Thong thian tertawa seram, cepat ia totok jalan darah Thian kia hiat ditubuh dara itu.
sekali lagi Go siau bi sadar kembali dari pingsannya, hancur luluh perasaan hatinya, air mata
jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya yang ayu ....
"Perempuan rendah, dengarkan baik-baik kataku ini" ujar Ho Tong Thian lebib jauh "kecuali
menerima pembalasan ini, tiada cara lain yang bisa kugunakan untuk menghajar dirimu, Nah
setelah engkau menerima kepuasan seks ditubuh kedua ekor anjing jantan ini, maka engkau akan
menjadi santapan yang paling lezat bagi mereka haaah haaahh haaahh itulah pertunjukkan yang
paling surprise, sang istri yang cantik setelah digagahi akan disantap"
Dalam keadaaa seperti ini Go siau bi benar-benar kehabisan akal, mau melarikan diri jelas tak
mungkin, ingin bunuh diri juga tak mampu, tepatnya ia memang harus merasakan siksaan hidup
yang paling keji itu, diperkosa lebih dulu oleh anjing, lalu tubuhnya akan di cabik sebagai penghuni
perutnya.
Air mata dengan derasnya mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya. sekarang ia dapat
merasakan apa artinya pembalasan-.. dia mulai menyesal. "ooooh sungguh cepat pembalasan
yang tiba dan menimpa diriku" keluhnya dihati.
Bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis perawan, dia memiliki serangkaian ilmu silat
yang luar biasa, ia tak takut mati, sebab ia merasa bahwa mati hanya suatu pelepasan belaka,
pelepasan dari segala bentuk siksaan maupun penderitaan, tapi ia tak sudi mengalami siksaan
tersebut sebelum ajalnya, apa lagi siksaan yang begitu kejinya. Bila seseorang bisa putus asa,
kadang kala timbul pelbagai ingatan dalam ingatannya.
Dara itu berharap akan terjadinya suatu kejadian yang diluar dugaan, sehingga ia dapat
terhindar dari siksaan yang paling keji ini, ia rela melakukan apapun untuk membayar
pertolongannya itu, asal siksaan yang tak berperi kemanusiaan ini bisa di hindari
Gelak tertawa dari Ho Thong thian, pemilik perkampungan oh hau san ceng masih
berkumandang tiada hentinya. lengking suara tertawa yang menyerupai binatang itu bagaikan
pisau tajam yang menyayat-nyayat hatinya, membuat hatinya hancur lebur.
Tampaknya dua ekor anjing jantan itupun sudah berpengalaman dalam melaksanakan tugas
itu, dengan sorot mata yang merah membara dan mengerikan, anjing-anjing itu menatap tubuh
Go siau bi yang telanjang tanpa hentinya, sementara bunyi desiran aneh muncul dari mulutnya,
keadaan benar2 mengerikan..
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Go siau bi yang sedang menghadapi
bahaya perkosaan oleh dua ekor anjing..
sementara itu Han siong Kie telah meneruskan perjalanannya dengan langkah yang amat
lambat karena luka parah yang dideritanya akibat pertarungan melawan Go siau bi, ia tak dapat
mengerahkan tenaga sebagai mana mestinya.
39
Setengah jam kemudian, ia baru mencapai sejauh lima li dari tempat semula, lembah In wu kok
yang hendak dituju secara lapat-lapat sudah kelihatan didepan mata.
Walaupun hubungannya deagan Go Siau bi tak dapat dikatakan ada perasaan cinta, namun
perasaan persahabatan tetap ada dan oleh karena itu ia merasa sedih oleh perbuatannya,
mimpipun ia tak menyangka Go Siau bi yang halus, lembut dan berbudi sekarang telah berubah
jadi manusia lain-
Terutama kata2 dari Go Siau bi, tiap kali terbayang kembali ia lantas merasakan jantungnya
berdebar keras.
cinta memang tak dapat dipaksakan, apa lagi hatinya sudah terisi oleh perempuan lain-
Segulung desiran angin dingin berhembus lewat disamping tubuhnya, dengan terkejut Han
Siong Kie berpaling, dia tahu desiran angin itu bukan hembusan angin biasa melainkan kehadiran
seseorang manusia lain-
Pemuda itu merasa kuatir, dalam keadaan terluka parah, tak mungkin baginya melakukan
perlawanan lagi jika yang datang adalah pihak musuh.
Secepat kilat ia berpaling, seorang perempuan berkerudung tahu2 sudah berdiri dihadapannya.
orang itu siapa lagi kalau bukan orang yang ada maksud. Untuk sesaat Han Siong Kie berdiri
tertegun-
"Nona, engkau hendak pergi kemana?" tegurnya.
"Aku datang mencari engkau "
"Mencari aku? Ada urusan apa engkau mencari aku..?" pemuda itu merasa keheranan.
"Nona Go siau bi tertangkap oleh Hoo Thong thian, CengCu dari perkampungan Go hau san
Ceng"
Agak terkejut Han siong Kie mendengar kabar itu, serunya kurang percaya:
"Masa ia tertangkap? Kepandaiannya toh sangat lihay, masakah ilmu dari Hoo Thong thian luar
biasa."
"Ia keracunan lebih dulu oleh anjing raksasa, sehingga akhirnya dia tertangkap"
"oooh.. kiranya begitu"
"Apakah engkau tidak menguatirkan mati hidupnya??" kembali orang yang ada maksud
bertanya.
"Ia telah membunuh Kim kian siang ing (sepasang pendekar pedang emas) putra kesayangan
HHoo Thong thian, sewajarnya kalau sang ayah membalaskan dendam bagi kematian putranya"
"Tapi.. tahukah engkau bahwa Hoo Thong thian adalah seorang manusia durjana yang banyak
melakukan kejahatan? Begitu pula dengan anak-anaknya, mereka sering kali mengacau rakyat,
kematian mereka justru menggirangkan banyak orang"
"Nona" seru Han siong Kie dengan cepat, " apakah engkau mengerti sebab-sebab yang
mendorong ia melakukan pembantaian2 sekalipun Kim Kiam siang ing pantas dibunuh, akan tetapi
bagaimana dengan lainnya?"
orang yang ada maksud tertawa setelah mendengar perkataan itu, ia balik bertanya: "Tahukah
engkau, apa sebabnya ia sampai membunuh orang?"
"Hmm Ia sudah mengidap penyakit gila .... dan otaknya sudah sinting dan tak waras."
"Hmmmm" kali ini orang yang ada maksud mendengus dingin, " apakah ucapan itu muncul dari
lubuk hatimu??"
"Nona, apa maksudmu mengucapkan kata-kata itu?" tanya Han siong Kie tercengang.
"Go siau bi bisa sampai membunuh orang sepantasnya engkau memikul setengah dari
tanggung jawabnya "
" Kenapa..?" tanya sang pemuda dengan air muka berubah hebat.
" Karena engkau, dia telah membunuh orang"
" Karena aku ? Kenapa karena aku dia lantas main membunuh??"
"Manusia bermuka dingin" seru orang yang ada maksud dengan suara tajam " engkau tak usah
pura2 berlagak pilon, masakah engkau masih belum dapat memahami apa sebabnya ia sampai
membunuh orang?"
"Aku benar2 tidak paham"
"ooh, jadi kalau begitu engkau tidak bersedia menolong jiwanya??" Han siong Kie tertawa
dingin-
"Heeeh heeeh heeehh menolong dia ? Aku malahan sudah berkata kepadanya, bila kami
bertemu lagi dilain waktu maka aku akan membinasakan dirinya"
"Dengan dasar alasan apa engkau akan membunuhnya??"
"sebab ia telah membunuh orang dengan semena-mena"
"Ia bisa membunuh orang karena engkau, maka kaupun harus ikut bertanggung jawab atas
terjadinya peristiwa ini "
"Nona, jangan asal main tuduh saja, coba terangkanlah perkataanmu itu dengan lebih jelas lagi
"
"oleh karena engkau telah melukai hatinya, maka dia membunuh setiap pemuda yang
dijumpainya"
"Aku ? Aku telah melukai hatinya?"
"Benar "
"Dalam hal apakah aku telah melukai hatinya??"
"Masakah engkau benar2 akan suruh aku mengatakannya keluar??"
"Tak ada halangannya kalau nona hendak mengatakan"
"Sewaktu engkau dihajar oleh pemilik benteng maut sehingga tercebur kedalam sungai
kemudian jiwamu tertolong olehnya, dimana selama tiga hari engkau total berbaring diatas
pembaringannya . "
"setiap budi yang pernah kuterima tidak pernah kulupakan, suatu ketika pasti akan kubalas "
"Dalam masalah ini, persoalannya bukan manyangkut tentang soal balas budi atau tidak"
"Lalu persoalan ini menyangkut dalam hal apa??"
"Kalau seorang anak dara bersedia merawat seorang pemuda asing didalam kamar tidurnya,
bahkan tanpa canggung-canggung merawatnya, dapatkah engkau rasakan apa sebabnya ia
bersedia melakukan kesemuanya itu"
Han Siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, bukannya ia tak dapat merasakan hal ini,
melainkan ia tak bersedia untut mempertimbangkan soal tersebut. Terdengar orang yang ada
maksud berkata lebih jauh:
"Tahukah engkau bahwa Go siau bi telah bersumpah didepan pusara ayahnya bahwa dia tak
akan menikah dengan orang lain kecuali dengan kau seorang"
"Apa sangkut pautnya dengan diriku? Itu toh urusan pribadinya sendiri??"
Jawaban yang dianggap terlalu ketus ini segera membangkitkan hawa amarah dihati orang
yang ada maksud, serunya lagi:
"Aku mengerti, oleh karena engkau adalah Manusia bermuka dingin maka engkau dapat
mengatakan ucapan yang sadis dan sama sekali tidak berperasaan ini, tentunya engkau tidak lupa
bukan dengan peristiwa dalam rumah penginapan? Engkau telah memeluk tubuhnya bahkan
menginap disatu kamar."
"Aku merrpunyai niat untuk membalas budi pertolongannya, masakah perbuatanku ini keliru??"
"Engkau tidak keliru, tapi bila seseorang dara telah berdempetan dengan seorang pria, malahan
perlu dipeluk. tidur dalam satu kamar selain ia kawin dengan lelaki itu, mungkinkah dia bisa kawin
dengan orang tak lain"
"Aaaah . . Kita toh orang-orang persilatan, Bagi kita orang persilatan rasanya tak perlu
merisaukan soal tetek bengek itu"
"Itu kan pandangan segelintir orang, andaikata Go siau bi memandang berat persoalan ini, lalu
apa yang hendak kau lakukan ?"
Han siong Kie memang merasa seperti dipaksa dan ditekan untuk menerima kenyataan itu, ia
tak bisa berkutik, kecuali meringis rasanya memang ia tak bisa berbuat lain-Terdengar orang yang
ada maksud melanjutkan kembali kata-katanya:
"Aku rasa Go siau bi cukup cantik dan cukup bagus, ia pantas untuk menjadi isterimu, apalagi
kakeknya Put lo sianseng sebagai seorang tokoh persilatan ternyata mengajukan pinangan sendiri
kepadamu, tak kunyana kau malah menampik pinangannya sehingga membuat dara itu tertekan
jiwanya, padahal kau toh tahu bahwa ia mencintai dirimu? Nah, karena pelbagai alasan inilah ia
jadi sinting dan melakukan hal-hal yang diluar dugaan, coba katakanlah apakah engkau tidak
merasa ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini??"
"Maksud nona, engkau hendak memaksa ku untuk mencintai dirinya??"
"Masa ia tak pantas untuk menerima cintamu ? Dan engkau sama sekali tidak tergerak hatinya
oleh cinta kasihnya yang telah dilimpahkan padamu??" Han siong Kie membungkam, betul2
membungkam dalam seribu bahasa.
Dahulu ia memang pernah membenci seantero perempuan yang ada dijaga d, tapi sejak
hubungan cintanya dengan Tong hong Hwie, perasaan hatinya mulai terbuka, untuk pertama
kalinya ia benar-benar mencintai seorang dara, dan ia persembahkan rasa cintanya itu padanya.
Terhadap Go siau bi, meskipun tak bisa dikatakan ia memandangnya seperti memandang
perempuan lain, tapi diapun tidak mencintai dirinya.
Tiba-tiba suatu rasa menyesal dan iba tersebut dalam hati kecilnya, ia ikut merasakan
penderitaan serta kesedihan yang dialami anak gadis itu.
Tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya, maka diapun berkata dengan dingin-
"Nona, tentunya engkau masih ingat bukan dengan seseorang yang bernama Tonghong Hui?."
Tampak sekujur tubuh orang yang ada maksud bergetar keras, tapi ia menjawab dengan cepat.
"Tentu saja masih ingat, kenapa??"
"Terus terang kukatakan padamu nona, perasaan dan hatiku telah dibawa pergi olehnya"
"Bukankah ibuku pernah memperingatkan kau, bila hubunganmu dengan Tong Hong Hui
dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu tragedi" Han siong Kie tertawa
sedih.
"Mungkin tragedi telah menjadi kenyataan, tapi aku sama sekali tidak merasa menyesal"
"Sudah menjadi kenyataan? Apa maksud
JILID 28 HAL. 16/17 HILANG
kedua hal ini bisa dijadikan satu, tapi aku berpendapat bahwa cinta yang murni dan cinta yang
sesungguhnya tidak musti dipadukan dalam kehidupan yang nyata"
"Justru persoalannya bukan terletak disini"
"Maksudmu masih ada alasan serta persoalan lain yang bisa mengakibatkan terjadi tragedi
ini??"
"Memang begitulah kenyataannya"
"Kata-kata itu sangat membingungkan hati orang, apakah engkau bersedia untuk menerangkan
lebih jauh?"
"Suatu ketika engkau akan memahami dengan sendirinya, sekarang maafkanlah daku karena
aku tak dapat memberitahukan hal ini untukmu, bukannya aku sengaja berlagak sok rahasia tapi
berbicara sesungguhnya, sekarang juga engkau harus pergi menyelamatkan jiwa nona Go Siau bi,
kalau terlambat aku kuatir telah terjadi hal-hal yang luar biasa"
"Kalau toh nona telah mengetahui bahwa ia sudah tertawan oleh orang-orang dari
perkampungan oh han san ceng, mengapa kau tidak berusaha untuk menolongnya melainkan.."
"Tentu saja aku mempunyai alasan tertentu"
"Dapatkah kuketahui alasan itu?"
"Dalam perkampungan oh han san ceng telah dipelihara anjing-anjing perbatasan yang besar
dan cakarnya beracun, sedangkan engkau memiliki kekuatan anti racun, maka tugas ini tak
mungkin bisa diselesaikan oleh orang lain"
Pada hakekatnya orang yang ada maksud telah mendapat perintah dari ibunya yakni orang
yang kehilangan sukma untuk sengaja mengatur kesemuanya ini, kalau tidak karena rencana
mereka, tentu saja dengan kepandaian yang dimiliki orang yang ada maksud, Go Siau bi telah
tertolong ketika ia terluka tadi.
Sementara itu, Han siong Kie sedang tundukkan kepalanya sambil termenung beberapa saat
lamanya, kemudian sahutnya.
"Maaf nona, aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan itu"
"Jadi engkau tidak bersedia untuk menolong jiwanya ??"
"Aku tak dapat menyelamatkan jiwa sekarang, pembunuh yang pernah membantai ber-puluh2
lembar jiwa manusia yang sebenarnya sama sekali tidak berdosa "
"Di kemudian hari ia tak akan membunuh orang lagi dan aku akan menanggung hal ini bagimu,
bagaimana??"
"Tetapi... "
"Ada apa lagi?? "
"Isi perutku terluka parah, aku kuatir...."
"Aaah Kalau cuma soal itu kan gampang sekali, aku punya obat yang sangat mujarab, dengan
dasar tenaga dalam yang kau miliki, maka setelah meminumnya dalam waktu setengah
perminuman teh, seluruh kesehetananmu dapat pulih kembali seperti sedia kala"
Tidak menanti jawaban dari Han siong Kie lagi, dia ambil keluar sebiji obat sebesar kelengkeng
lalu diangsurkan kedepan-
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Han siong Kie harus menerimanya, dia berkata:
"Baiklah, memandang diatas wajah kalian ibu dan anak. aku bersedia menolong jiwanya"
Habis berkata dia masukkan obat itu ke dalam mulut, kemudian duduk bersila ditepi pohon
untuk mengatur pernapasan
Kemujaraban obat itu memang luar biasa sekali, pada hakekatnya sama sekali tidak berbeda
dengan keampuhan Kui goan kim wan dari Kun si Mo ong.
Kurang lebih setengah perminuman teh kemudian, dalam keadaan segar bugar Han siong Kie
telah melompat bangun kembali dari atas tanah.
Setelah orang yang ada maksud menunjukkan dari perkampungan oh hausan ceng, ia berpesan
pula.
"Menolong orang bagaikan menolong kebakaran, sekarang juga engkau boleh segera
berangkat. Mungkin saja kita akan bertemu kembali dilain waktu" Dengan tubuh yang enteng dia
lantas berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang berlalu, Han siong Ki cuma bisa menggeleng sambil
menghela napas panjang, akhirnya iapun berangkat menuju ke perkampungan oh hau san ceng.
Perkampungan oh hausan ceng merupakan sebuah bangunan perkampungan yang
JILID 28 HAL. 22/23 HILANG
Habis berkata, ia menutup kembali pintu ruangan dan berjalan menuju keruang tamu.
Meskipun jalan darah Go siau bi sudah tertotok. namun pendengarannya masih berjalan
normal, betapa gembira hatinya setelah mendengar kabar bahwa Manusia berwajah dingin telah
tiba diperkampungan itu.
Timbul kembali harapannya untuk melanjutkan hidup.
"Mungkinkah ia datang kemari untuk menolong aku? begitulah dia mulai berpikir, tapi
mungkinkah ia sudi menyelamatkan jiwaku? Bukankah ia telah membenci aku dan ingin
membunuh aku??"
Apalagi setelah teringat bahwa ia berada dalam keadaan telanjang bulat, dimana hampir semua
bagian rahasia tubuhnya tertera nyata, ia merasa malunya bukan kepalang, kalau bisa dia ingin
mati saja sehingga tak perlu menanggung rasa malu.
Dalam pada itu Ho Thong thian telah muncul diruang depan, ia saksikan seorang pemuda
tampan yang berwajah dingin sedang berdiri sambil bergendong tangan ditengah ruangan-ketika
sepasang mata mereka membentur satu sama lainnya, tanpa sadar seluruh tubuhnya bergidik, Ia
merasa sorot mata orang itu tajam sekali, membuat siapa pun jadi bergidik rasanya.
Tapi dia berusaha untuk menekan perasaan hatinya, sambil tertawa terbahak-bahak ia menjura
lalu berkata:
"Apakah sauhiap adalah Manusia bermuka dingin yang namanya telah menggetarkan seluruh
dunia persilatan??"
"Betul, itulah aku orangnya"
"Silahkan duduk dan minum teh "
"Tak usah, apakah engkau yang bernama Ho Cungcu??"
"Benar, boleh aku tahu apa maksud kedatangan sauhiap ke perkampungan kami ini??" Dengan
dahi berkerut Han siong Kie berkata:
"Seorang sahabatku yang bernama Go siau bi, apa bener berada dalam perkampungan ini??"
setajam sembilu sorot matanya menatap wajah orang itu, ia menanti jawaban orang itu dengan
tenang.
Terkesiap Ho Thong thian mendengar pertanyaan itu, sekarang dia baru tahu bahwa
kedatangan manusia berwajah dingin adalah disebabkan karena perempuan rendah itu, mau
membohong jelas tak mungkin, hanya untungnya ia telah mengadakan persiapan.
Maka dengan wajah berubah hebat sahutnya:
"Betul, dia memang berada didalam perkampungan ini"
"Adapun kedatanganku kemari adalah hendak mengajak cungcu untuk merundingkan persoalan
ini, apakah engkau bersedia untuk melepaskan nona itu??"
"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memenuhinya, sebab ia telah membinasakan dua
orang putraku"
"Tapi kejadian ini toh berawal dari sikap putramu yang terpikat oleh kecantikannya, dalam soal
ini nona itu tak dapat kau salahkan "
"Haaah haaah haaahh pada hakekatnya justru dialah yang telah memikat putraku dengan
kecantikan wajahnya, ditinjau dari sikapmu yang begitu paham dengan duduknya persoalan ini,
aku rasa engkau tentu mempunyai, hubungan yang luar biasa dengan Go siau bi. Nah sauhiap
berbicaralah menurut liangsimmu, berilah keadilan serta kebijaksanaan kepadaku, pantaskah aku
melakukan pembalasan dendam?"
Untuk sesaat Han siong Kie terbungkam dan tak mampu menjawab pertanyaan itu, sebab katakata
itu memang masuk diakal dan benar. Lama sekali, akhirnya ia baru berkata. "Apa yang
hendak kau lakukan atas diri nya?"
"Hutang darah harus dibayar dengan darah, hutang nyawa bayar nyawa.."
"Apakah engkau tidak merasa bahwa tindakanmu ini kelewat batas??"
"Siapa membunuh manusia diapun harus membayar dengan nyawa sendiri, masa tindakan
semacam ini kelewat batas?"
"Tapi pada hakekatnya toh putramu yang terpikat dulu oleh kecantikan nona Go dan
membuntutinya terus menerus, tindakan ini sudah pantas untuk diberi hukuman mati"
"sauhiap. apa yang kau ucapkan itu berdasarkan pengamatanmu sendiri ataukah karena
mendengar dari mulut orang?"
"Tentu saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"Jadi maksud sau hiap. engkau melarang aku untuk melakukan pembalasan dendam??"
"Bukannya begitu, aku ingin tahu dengan cara apakah engkau berhasil menangkap nona Go
siau bi??"
"Tentu saja mengandalkan kepandaian silatku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie segera tertawa terbahak-bahak nyaring sekali
suaranya.
"Haaah haaah haaaah Ho too cungcu, bukannya kupandang enteng dirimu, pada hakekatnya
kalau engkau ingin menundukkan dia dengan andalkan cara yang bersih dan jujur, maka
kepandaian silatmu masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan dirinya ?"
"oooh.. Maksud sau hiap. aku telah menggunakan cara yang licik dan tidak jujur untuk
menundukkan nona itu??"
"Begitulah maksudku, aku tidak melarang cungcu untuk membalaskan dendam bagi kematian
putramu, tapi aku harap lakukanlah duel tersebut secara jujur dan terbuka, sebab masalah ini tak
bisa diselesaikan dengan berat sebelah"
Tiba-tiba sekulum senyum licik yang sadis dan mengerikan melintas diatas wajah Ho Thong
thian, ia menjura dan berkata.
" Kalau memang begitu, bagaimana kalau sau hiap duduk dulu sambil minum teh? Aku akan
menggusur nona Go siau bi datang kemari kemudian menyelesaikan masalah ini secara adil di
depan sauhiap? Tentunya sauhiap bersedia bukan??"
oooodwoooo
BAB 58
MESKIPUN dalam hati kecilnya Han siong Kie menaruh curiga karena perubahan sikapnya yang
sangat mendadak itu, namun dia lantas berpikir didalam hati.
"Dengan andalkan kepandaian silatmu, bila engkau berani main gila dengan aku, itu berarti
engkau mencari penyakit buat diri sendiri." Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangguk.
"Baiklah, lakukan semuanya itu"
"Kalau memang begitu harap sauhiap tunggu sebentar disini"
Baru beberapa langkah Ho Thong thian berlalu, tiba-tiba pemuda itu berseru kembali.
"Eeeh.. tunggu sebentar"
"Apa yang hendak sauhiap katakan lagi??"
Dengan sorot mata yang bengis dan mengandung hawa napsu membunuh, Han siong Ki
berkata dengan sadis:
"Ho cungcu, sebelum semuanya terjadi aku hendak berkata lebih dahulu kepadamu, aku harap
janganlah engkau bermain gila dengan aku, kalau tidak . . . Hmmm Terus terang kukatakan
kepadamu, akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, dan apa yang sudah kukatakan dapat
pula kubuktikan."
Mula-mula Ho Thong thian agak tertegun, tapi dia lantas tertawa seram sambil menyahut.
"Aaaah ... sau hiap terlalu banyat curiga, masa aku adalah manusia yang lain diluar lain dihati?"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berseru keluar ruangan:
"Go Tiong hidangkan air teh dan siapkan meja perjamuan untuk tamu kita ini "
"Tak usah banyak adat, selesai urusan disini aku segera akan berlalu, tak berani banyak
mengganggu kau lagi"
Ho Thong thian tidak menanggapi ucapan itu, dia mengangguk dan berkata: "Aku akan segera
pergi mengambil nona Go siau bi seraya berkata dia lantas berjalan keluar dari ruangan itu
Tiba2 kecurigaan yang timbul dalam hati kecil Han siong Kie semakin menebal, kalau toh Go
siau bi sudah tertangkap. kenapa ia musti tunggu disitu dan anehnya kenapa tak ada orang yang
bergerak ditempat ini ?"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 terdengar suara gemuruh yang
amat keras berkumandang dari ruangan itu, menyusul mana seluruh ruangan tersebut mulai
berputar kencang.
Menghadapi kenyataan tersebut, pemuda itu baru menyadari bahwa ia sudah terjebak oleh
siasat licik musuhnya, dia berpekik di hati:
"Aduuh celaka, aku sudah tertipu oleh anjing tua itu"
Tanpa berpikir panjang lagi dia segera melejit dan meluncur keluar kearah pintu ruangan-
Tapi dalam sekejap mata itulah seluruh pintu ruangan telah tertutup rapat, dan suasana dalam
ruangan itupun berubah jadi gelap gulita sehingga kelima jari tangan sendiripun sukar terlihat.
Han siong Kie berdiri tertegun, saking gemas dan mendongkolnya dia sampai menggigit
bibirnya kencang2, mimpipun ia tak mengira karena bertindak gegabah sehingga mengakibatkan
dia terjebak oleh tipu muslihat lawan-
"criing. criing.. tiba-tiba ruangan itu tenggelam kedasar bumi, ketika Han siong Kie mengamati
dengan seksama, ternyata ia sudah terkurung dibawah sebuah penjara dalam tanah yang kuat
dan empat penjuru merupakan dinding tebal yang tak tembus hawa.
sekarang anak muda itu baru menyesal apa sebabnya tidak bertindak hati-hati setelah masuk
kedalam perkampungan, karena musti menuruti peraturan dunia persilatan, akhirnya dia harus
terjebak oleh perangkap lawan-
Dari alat jebakan yang rupanya sudah dipasang disetiap bagian ruangan dalam perkampungan
oh han san cung, dapat pula di tarik kesimpulan bahwa perkampungan ini bukanlah suatu
perkampungan baik dan pemiliknya tentu saja sebagaimana yang dikatakan orang yang ada
maksud, benar-benar merupakan manusia bejad yang licik dan banyak akal muslihatnya.
sekarang nasi sudah menjadi bubur dan menyesalpun tak ada gunanya, untuk sesaat lamanya
pemuda itu cuma bisa berdiri menjublek dengan perasaan bingung.
"Kraaakl.krassakkk.. tiba-tiba dari atas dinding muncul sebuah pintu kecil, dibalik pintu tersebut
merupakan sebuah lorong yang amat panjang.
Rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dada Han siong Kie sudah tak tertahan lagi,
dia himpun hawa murninya ke dalam telapak tangannya. ia sudah bersiap sedia bila ada musuh
yang munculkan diri maka dia akan menyeret dan membinasakan musuhnya secara keji.
Tapi apa yang terjadi? Meskipun sudah ditunggu dengan lama, namun tiada sesuatu gerakan
apapun yang muncul dihadapannya.
Sesudah ragu sejenak, akhirnya pemuda itu melangkah keluar dari pintu kecil itu dan masuk
kedalam lorong yang terbentang didepan matanya itu.
Kurang lebih tiga puluh kaki dihadapan nya muncul sebuah anak tangga batu yang menjulang
ke atas.
Yang aneh ternyata disekitar tampat itu sama sekali tidak nampak sesosok
JILID 28 HAL35/36 HILANG
Memang mengerikan sekali anjing-anjing itu, sekilas pandangan orang akan mengira anjing itu
sebagai mahluk sebangsa macan kumbang.
Ditinjau dari bentuk bangunan rumah gelap itu, anak muda itu menduga bahwa dia telah
berada diatas permukaan tanah.
"criiiing ..." sementara anak muda itu masih melamun- tiba-tiba terdengar dentingan nyaring
menggema memecahkan kesunyian, seketika ia berpaling, maka tampaklah pintu kecil dimana ia
muncul tadi tahu-tahu sudah tertutup rapat.
Agak lama pemuda itu termenung, kemudian ia bergerak menuju kepintu ruangan dan
merabanya dengan tangan-
Pintu itu terbuat dari besi baja yang sangat kuat, ketika didorong kebelakang ternyata
menimbulkan suara pantulan yang berat, ini membuktikan bahwa pintu itu terbuat dari baja yang
tebalnya mencapai satu depa lebih, besi seberat itu tak mungkin bisa didorong olehnya dengan
kepandaian yang dimilikinya saat ini. Tiba-tiba dari atas dinding besi itu muncul sebuah lubang
bulat sebesar
JILID 28 HAL. 38/39 HILANG
mata, apa gunanya mengucapkan kata-kata yang tekebur semacam itu??"
"Baiklah, kalau engkau tidak percaya, nantikanlah saat pembalasanku itu"
"Tak usah ditunggu lagi, sekarang juga akan kupertunjukkan suatu adegan yang hidup dan
segar dihadapanmu, coba lihatlah, budak rendah yang kau cintai itu sekarang dia harus membayar
semua akibat dari perbuatannya, sebelum engkaupun dicium oleh anjing2ku, dekatkanlah matamu
dengan lubang ini dan intiplah apa yang ada disini."
Dengan penuh kegusaran Han siong Kie mendekati lubang pengintip itu dan melongok
kedalam.
Tapi apa yang kemudian terlihat olehnya membuat air muka anak muda itu berobah jadi merah
padam bagaikan darah, jantungnya berdebar keras dan kemarahannya semakin memuncak.
sebuah tubuh gadis yang telanjang bulat dengan semua bagian rahasianya tertera nyata,
terikat disebuah palang kayu yang besar, sepasang paha dara itu terbentang lebar sekali dan
tangannya sudah dipentangkan lebar, hal ini membuat setiap organ tubuhnya dapat dilihat tanpa
aling2.
selama hidup belum pernah dia saksikan gadis telanjang, dan kali ini merupakan kali yang
pertama ia saksikan gadis telanjang didepan mata, saking bedebarnya hampir saja jantungnya
mau copot.
Tetapi setelah ia menegaskan bahwa dara itu tak lain adalah Go sian bi, kegusarannya sukar
terkendalikan lagi, sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar ber-api2, teriaknya
dengan keras:
"Tua bangka anjing, apa yang hendak kau lakukan atas dirinya??" Ho Thong thian tertawa
dingin.
"Heeeh heeh heeh ia telah membunuh anakku dengan mengandalkan kecantikan wajahnya,
maka sekarang akupun akan menggunakan cara yang lebih keji untuk menghukum dirinya. Coba
kau tengok kesamping, sudah kau lihat sepasang anjing jantan itu."
"Haaahh haaahh haaahh sebentar lagi akan berlangsung adegan perkosaan seorang gadis oleh
dua ekor anjing jantan.. belum pernah menyaksikan bukan? Nah, sebentar lagi akan kau saksikan
bagaimana caranya dua ekor anjing memperkosa seorang anak dara.."
saking gusar dan gemetarnya Han siong Kie sambil menggertak giginya keras2, kalau bisa detik
itu juga dia akan mencincang tubuh orang itu sehingga hancur ber-keping- keping, tapi sebuah
dinding baja yang kuat telah menghadang ditempat itu, tak mungkin baginya untuk menerobos
masuk keruangan sebelah.
Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu tragedi yang memilukan hati, kesucian seorang
anak dara ternyata harus direnggut oleh dua ekor anjing jantan..
Go siau bi sendiri meskipun jalan darahnya tertotok. namun telinganya dapat mendengar dan
matanya bisa melihat, meskipun mulutnya tak dapat berbicara, ia mendengar suara dari Han siong
Kie dan perasaan hatinya terasa amat sakit bagaikan disayat-sayat, rasa malu, gusar, benci dan
gelisah bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.
Air mata yang meleleh keluar merupakan campuran darah, seluruh kulit wajahnya berkerut
kencang, membuat wajah gadis itu berubah jadi aneh sekali.
"Bangsat tua, engkau berani bertindak keji?" bentak Han siong Kie dengan penuh kebencian,
dia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah dinding baja itu.
"Blang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga membuat seluruh dinding baja itu
bergetar sangat keras.
Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang dilepaskan si anak muda ini di dalam
gusarnya.
Ho Thong thian agak tertegun setelah menyaksikan kedahsyatan hawa pukulan lawan, paras
mukanya ikut berubah hebat, tapi sejenak kemudian dia telah berubah jadi tenang kembali,
ejeknya:
"Bocah keparat sekalipun engkau bisa membongkar jagad, jangan harap bisa merubah nasib
kalian berdua"
"Tua bangka bajingan, kalau engkau berani mengganggu seujung rambutnya, Perkampungan
oh han san ceng kuratakan dengan
JILID 28 HAL. 44/45 HILANG
sementara anjing yang satu sudah berdiri sambil siap memperkosa anak gadis tersebut, anjing
yang lain meraung dan meronta dengan sekuat tenaga, rupanya anjing itupun sudah birahi dan
ingin menuruti jejak rekannya untuk menikmati pula kehangatan tubuh manusia.
situasi betul2 amat kritis dan berbahaya, bila tiada pertolongan yang tiba pada saatnya, niscaya
gadis cantik jelita itu akan di renggut kehormatannya oleh seekor anjing..
Hampir saja anjing itu menggagahi tubuh Go siau bi ketika secara tiba tiba anjing tersebut
mendesis panjang, menyusul tubuhnya mencelat setinggi delapan depa ke udara.. Biang.." ketika
terbanting kembali keatas tanah, darah segar berhamburan dari tubuhnya dan binasalah anjing
tersebut dalam keadaan mengerikan.
Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini sangat mengejutkan hati Ho Thong thian, dengan
sukma serasa melayang tinggalkan raganya secara beruntun dia mundur beberapa lamgkah
kebelakang.
"Criiit criing " beberapa desingan angin tajam menyergap lagi kemuka.
Untung Ho Thong thian sudah mundur ke belakang, dengan begitu desiran angin serangan
tersebut tidak mengena pada sasarannya, andaikata ia tidak mengundurkan diri tadi, niscaya
dadanya sudah berlubang besar.
sekali lagi terdengar lolongan panjang yang memekikan telinga, beberapa desingan angin
serangan yang sebelumnya tertuju ketubuh Ho Thong thian itu, sekarang meluncur kearah anjing
besar yang masih dirantai itu dan menghajarnya telak. seketika anjing itu pun mampus dengan
keadaan mengerikan.
setelah menenangkan hatinya. rasa kaget dan panik berhasil diatasi oleh Ho Thong thiansekarang
dia tahu serangan tersebut muncul dari balik lubang diatas dinding tersebut, kecuali hasil
perbuatan dari manusia berwajah dingin, rasanya memang tak mungkin bisa dilakukan oleh pihak
kedua.
Maka ia lantas bergeser kesudut ruangan yang sejajar dengan lubang diatas dinding itu,
katanya sambil tertawa seram:
"Haaahhhh haaahh haaahhh bocah keparat, engkau memang lihay, tapi sayang pertunjukan
bagus harus tetap dilangsungkan, engkau tahu aku memelihara hampir seratus ekor anjing
semacam itu, tak ada artinya bagimu kematian dua ekor anjing tersebut, tapi dengan
perbuatanmu tadi engkau sudah kehilangan hak untuk menikmati pertunjukan bagus, sekarang
engkau harus terjun sendiri dalam pertunjukan yang jauh lebih menarik"
"criiing...?" tiba tiba lubang diatas dinding itu menutup secara otomatis.
Kiranya disaat yang paling kritis, Han siong Kie teringat dengan ilm ujari Tong kim ci nya yang
lihay, maka dari lubang pengintip itulah dia melancarkan serangannya untuk membinasakan kedua
ekor anjing tersebut dan kejadian ini sama sekali diluar dugaan Ho Thong thian.
setelah lubang pengintip itu tertutup, Han siong Kie semakin panik dan gelisah, sekarang bukan
saja ia terkurung dalam jebakan malahan Go siau bi semakin terancam jiwanya.
"Kraaakkk kraaakkk " bunyi gemerincing berkumandang dari arah belakang, ketika ia berpaling,
hatinya kontan jadi terperanjat rupanya terali besi disamping ruangan itu sudah dibuka dan lima
ekor anjing besar bagaikan harimau telah menyusup keluar dari kandangnya dan mengambil posisi
pengepungan.
sambil menggonggong seekor anjing besar itu laksana kilat menerjang maju kedepan. Han
siong Kie cepat bergeser kearah samping, ilmu jari Tong kim ci segera dilepaskan.
Anjing itu mendesis lengking, tubuhnya terhajar telak dan mampus seketika itu juga, sementara
empat ekor lainnya pada saat yang hampir bersamaan menerkam kedepan.
Ruangan itu luasnya cuma tiga kaki, sedangkan kedua sangkar anjing itu hampir menempati
separuhnya, sisa ruangan yang tersedia sempit sekali, dalam keadaan seperti ini sulit baginya
untuk berkelit maupun menghindar.
Untungnya Han siong Kie memiliki ilmu lintasan cahaya kilatan bayangan yang lihay bagaikan
sukma gentayangan dia bergerak kian kemari diantara terjangan-terjangan empat ekor anjing
tersebut, meskipun posisinya berbahaya namun tak sampai terancam jiwanya.
JILID 28 HAL.50/51 HILANG
lewat pintu yang sempit, tiap kali pula sianak muda itu membunuhnya dengan ilmu jari Tong
kin ci.
Dalam sekejap mata tiga ekor anjing raksasa sudah mampus dengan badan hancur.
"Crinng " tiba? pintu sangkar itu menutup dan Han siong Kie terkurung didalam sangkar
tersebut.
Namun sianak muda itu sama sekali tidak ambil pusing, dari bilik celah-celah terali besi secara
beruntun dia lancarkan beberapa sentilan mautnya. Tiga ekor anjing raksasa yang tersisa, kembali
mampus diujung telapak tangannya.
Begitulah, dalam sekejap mata ada sepuluh ekor anjing raksasa yang telah ia bunuh mati.
selesai membunuh anjing2 itu, Han siong Kie lantas mencengkeram terali besi itu karena pintu
keluarnya tertutup rapat maka dia memutuskan untuk mematahkan terali besi itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, sekali merentangkan tangannya, terali besi itu
segera melengkung dan terbukalah sebuah lubang yang cukup besar.
Pemuda itu meneborobos keluar dari sangkar tersebut, walau begitu dia belum lolos dari
kurungan sebab dinding baja masih mengurungnya dalam ruangan itu
Betapa gelisahnya pemuda itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia seperti seekor harimau
buas yang terjebak dalam kerangkeng sambil berjalan kesana kemari otaknya berputat terus untuk
mencari akal guna meloloskan diri dari kurungan.
Bagi si anak muda ini, keselamatan sendiri tidak terlalu dipentingkan, ia justru lebih
menguatirkan keselamatan Go siau bi, sekarang dia dapat memahami sampai dimanakah kekejian
Ho Thong thian, ia tahu apa yang telah diancamkan dapat dilaksanakan menjadi kenyataan-
Ho Thong thian memang sangat keji, di tinjau dari tindak tanduknya yang begitu terlatih dan
terbiasa, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah banyak perempuan yang mengalami nasib tragis
ditangannya, entah sudah berapa banyak anak perempuan yang dijadikan obyek tontonannya
diperkosa olen anjing ..
Rasa dendam, benci, marah berkecamuk dalam hatinya, hawa napsu membunuh telah
menyelimuti seluruh wajahnya. Ia bersumpah dihati bila Ho Thong thian sampai tertangkap maka
akan dibunuhnya orang itu secara keji.
sambil menahan diri pemuda itu mulai meraba dinding baja dan berusaha untuk menemukan
letak tombol rahasia ditempat itu, namun kecuali pintu rahasia tadi, tiada bekas lain yang terdapat
disitu, seakan-akan ruangan itu dibuat dari lembaran baja yang utuh.
sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru pertama kali ini dia menjumpai keadaan yang
mencemaskan hatinya, dan membuat ia jengah serta serba salah.
Hawa amarah makin memuncak. hampir saja anak muda itu tak sanggup mengendalikan diri..
Tiba-tiba pintu besi yang menghubungkan ruangan itu dengan penjara bawah tanah perlahanlahan
bergerak ke atas dan akhirmya terbukalah sebuah liang kecil.
Han siong Kie mundur tiga langkah ke belakang, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan
siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di inginkan.
sesosok makhluk aneh berbulu perlahan-lahan muncul dari lubang tadi dan meloncat keluar ....
Han siong Kie semakin terperanjat, telapak tangannya diayun kemuka melepaskan pukulan
maut.
"Hey, bocah jangan pukul aku" makhluk aneh itu berseru dengan lantang.
Han siong Kie menarik serangannya dan mundur ke belakang ternyata makhluk berbulu itu
adalah kepala manusia, dia adalah sorang manusia cebol yang gemuk dan bentuk badannya persis
seperti blingo, rambutnya telah beruban semua.
orang itu tak lain adalah Tee heng sian (Dewa berjalan dalam tanah) yang pernah merampas
pusaka Hud jiu po pit miliknya tempo hari.
Kemunculan Tee heng sian dalam keadaan semacam ini jauh diluar dugaan Han siong Kie, ia
tahu tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sangat lihay dan tindak tanduknya sangat misterius.
Dengan suara yang dingin bagaikan es, sianak muda itu segera menegur keras:
"Bukankah emgkau adalah Tee heng sian?"
Dengan tubuh yang gemuk dan gerakan yang lamban- Tee heng sian bergerak
JILID 28 HAL. 56/57 HILANG
" Untuk meneguk beberapa guci arak wangi itu, aku telah membuang waktu selama berbulan2
lamanya, dari luar perkampungan aku telah menggali sebuah lorong rahasia yang langsung
berhubungan dengan gudang arak itu."
Ter mangu2 Han siong Kie setelah mendengar ucapan tersebut, kejadian ini memang
merupakan suatu kejadian yang aneh sekali, untuk mencuri beberapa guci arak wangi, ternyata
orang itu bersedia bekerja selama ber-bulan2 lamanya. setelah tertegun sesaat diapun bertanya
lagi:
"Engkau toh tahu bahwa perkampungan oh han san ceng penuh dengan anjing2 raksasa? Masa
dengan daya penciuman anjing2 itu, jejakmu tidak sampai ketahuan ?"
"Haaah haaah haaaah kalau ingin jadi pencuri yang ulung maka pengetahuan sebagai pencuri
musti luas, tentu saja akupun tahu akan lihaynya daya penciuman anjing-anjing itu, maka sengaja
kugosokkan serbuk anti bau disekujur badanku, setelah begitu maka sekalipun anjing dari langit
juga tak akan dapat mencium bauku"
"Jadi kalau begitu, engkau bisa keluar masuk perkampungan ini dengan leluasa?"
"Itu sih tidak. meskipun aku punya serbuk anti bau, tapi aku tidak punya serbuk anti anjing,
kalau sampai terkepung anjing2 buas itu, bisa jadi mayatku akan habis disikat mereka, tentu saja
kedatanganku kemari juga menempuh bahaya"
"Kenapa engkau datang kesini dengan menempuh bahaya ?"
"Tentu saja karena engkau si bocah muda "
40
"Lantaran aku?" seru Han Siong Kie dengan wajah tercengang.
"Memang begitulah kenyataannya"
"Boleh aku tahu apa sebabnya engkau datang kemari ?"
"Mari duduklah dulu dan biarlah aku bercerita dari awal sampai akhir."
"Sekarang aku tak ada waktu" Seru Han Siong Kie dengan gelisah, "apakah engkau bersedia
memberi petunjuk kepadaku bagaimana caranya keluar dari penjara ruang baja ini??"
"Engkau ingin buru2 menolong bocah perempuan itu? " tanya Tee heng sian sambil melototkan
matanya yang aneh.
"Dari mana engkau bisa tahu?" Han siong Kie balik bertanya dengan hati terperanjat.
"Jangan gelisah dulu, aku kebetulan dapat mencuri dengar kejadian ini dari bawah tanah,
sebab tanah dibawah tempat tinggal Ho Thong thian telah kubongkar, maka semua pembicaraan
diatas kedengaran jelas dibawah, sekarang makhluk tua itu sedang merawat lukanya, untuk sesaat
dia tak mampu mengapa-apakan bocah perempuan itu lagi"
"Lhoo..kok aneh, masa Ho Thong thian sedang merawat lukanya?" tanya Han siong Kie
keheranan.
00dw00
BAB 59
"MASA membohongi kau?"
"Lantas dia luka ditangan siapa?"
"siapa lagi? Tentu saja ditangan bocah perempuan itu"
"Aaah, tidak mungkin, bukankah jalan darahnya sudah tertotok, dia sama sekali tak bisa
bergerak.."
"Hey bocah, pernahkah dengar tentang ilmu membebaskan jalan darah dengan hawa murni?
Bocah perempuan itu sudah kembali melepaskan diri dari pengaruh totokan, dan suatu serangan
kilatnya berhasil pula melukai Ho thong thian"
"sekarang gadis itu ada dimana??"
"Dia masih terkurung dalam ruangan baja sebelah ruangan ini"
JILID28 HAL. 62/63 HILANG
Begitulah, dengan Tee heng sian berjalan didepan, Han siong Kie berjalan dibelakang mereka
melewati sebuah lorong yang sangat panjang.
Ketika hampir mendekati ruang tamu dan tiga kaki dimulut penjara bawah tanah, mereka
mendekati dinding yang berada disebelah kanan, ketika sebuah papan batu sebesar dua depa di
geser kesamping, maka muncullah sebuah gua yang bisa dilewati oleh tubuh seorang manusia.
"Loo tee" kata Tee heng sian kemudian, "inilah jalan bawah tanah yang telah lo ko gali selama
ini, asal batu itu digeser kembali pada tempat semula, maka sekalipun ada dewa yang lewat disini
juga tak akan melihatnya"
-000dw000-
Han siong Kie tertarik sekali dengan keanehan watak sahabat barunya ini, ia tertawa dan
menyahut:
"Kalau mainan begitu, aku mohon diri dahulu"
"Pergilah. Aku paling benci dengan segala tata cara, ingat bocah perempuan itu tersekap dalam
rumah besi ketiga, jangan sampai salah "
Han siong Kie mengiakan, dia lantas menggeser guci arak yang dimaksudkan, disana memang
terdapat sebuah lorong yang gelap dan panjang, pemuda itu lantas menerobos keluar lewat jalan
bawah tanah itu.
seperminum teh kemudian ia sudah keluar dari lorong itu, ternyata sekarang dia sudah berada
diluar pekarangan perkampungan itu, maka sebagaimana yang dipesan, ia tutup kembali mulut
gua itu dengan rapi, kemudian baru menyerbu kedalam perkampungan
Baru saja dia melayang turun didepan dua deret bangunan baja, tiba-tiba tiga sosok bayangan
hitam dengan kecepatan bagaikan kilat telah menyambar tiba, ternyata ketiga sosok bayangan itu
adalah tiga ekor anjing yang besar.
Berada ditanah lapang yang luas Han siong Kie tak perlu menguatirkan cakar racun dari anjinganjing
itu lagi, dalam beberapa gebrakan saja ketiga ekor anjing itu sudah dibikin mampus dengan
pukulan mautnya.
suara pekikan panjang yang diperdengarkan anjing-anjing itu sebelum ajalnya, dengan Cepat
mengejutkan seluruh perkampungan.
Suara langkah kaki yang sangat ramai berkumandang memecahkan kesunyian, belasan orang
lelaki yang berdandan sebagai centeng berlarian keluar dari rumah-rumah baja itu.
Tapi setelah mengetahui siapa yang muncul, hampir sebagian besar centeng itu berdiri
tertegun, mimpipun mereka tak menyangka kalau Manusia bermuka dingin yang dikurung dalam
rumah baja telah berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat.
Padahal mereka tahu bahwa baja yang melapisi ruangan- ruangan itu tebalnya mencapai
beberapa depa, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang tinggi juga tak akan mampu untuk
menghancurkannya,
JILID29 HAL. 06/07 HILANG
untuk membunuh kawanan begundal itu, oleh sebab pihak lawan menghadang jalan perginya,
dia baru berhasrat untuk melakukan pembantaian secara keji. "Trang traanng traaang " suara
genta dibunyikan bertalu-talu.
Ber-puluh2 sosok bayangan manusia meluncur masuk kedalam gelanggang, diantara mereka
ada yang tua ada yang muda, semuanya berjumlah lima puluh orang lebih, tapi yang jelas diatas
wajah orang2 itu terlintas rasa kaget yang bukan kepalang.
setelah semua orang munculkan diri, dengan cepatnya pula Han siong Kie terkurung ditengah
gelanggang.
Menyapu wajah orang2 itu dengan pandangan dingin, Han sioog Kie berkata: "Kenapa sampai
sekarang Hoo Thong thian belum juga munculkan diri?"
Dari antara kerumunan orang banyak. tampil kedepan seorang kakek berbaju hitam, dengan
wajah bengis ia menghardik:
"Manusia bermuka dingin, apa maksudmu datang ke mari??"
"Membantai seluruh isi perkampungan ini" jawab pemuda itu dengan ketus
Ucapan yang berbau amis darah ini sangat menyolok dan menggidikkan hati semua orang,
tanpa sadar paras muka orang-orang itu berubah hebat dan bulu kuduknya pada bangun berdiri
Dengan terperanjat kakek baju hitam itu mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan
suara gemetar:
"Apa? Manusia bermuka dingin, engkau akan membantai seluruh isi perkampungan?"
"Benar, tentunya Ho Thong thian masih belum lupa bukan dengan apa yang telah kuucapkan
ketika berada dalam kurungan ruang besi tadi?"
"Tentu saja lohu tak akan lupa, dengan kata-katamu itu" berbareng dengan berkumandangnya
jawaban itu, Ho Thong thian munculkan diri ditengah gelanggang
Hawa napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah Han siong Kie sambil mendengus
dingin ia tuding Ho Thong thian serunya:
"Bangsat tua lebih bagus lagi kalau engkau memang mengingat kata-kataku itu, sekarang juga
kenyataan akan terbeber didepan mata"
Ho Thong thian memandang lawannya dengan penuh kebencian serta kelicikan:
JILID29 HAl 10/11 HILANG
bahkan cara melepaskan senjata rahasia itu pun menggunakan cara ban thian boa yu ( hujan
bunga diseluruh langit).
Han siong Kie mendengus dingin, sepasang telapak tangannya membuat gerakan lingkaran
didepan dada kemudian menolaknya kedepan.
Ditengah hembusan angin puyuh yang kencang, seluruh kilatan cahaya biru itu sudah tersapu
rontok diatas tanah.
Ho Thong thian bertindak cukup licik, berbareng dengan dilancarkannya serangan itu, dia telah
mundur sejauh dua kaki lebih dari kedudukan semula
Gonggongan anjing menderu-deru, kurang lebih dua puluh ekor anjing besar berlarian keluar
dari ruang baja dan langsung menyerbu kedalam gelanggang
semakin tebal hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Han siong Kie, dia melambung
keudara, sepasang telapak tangannya dilontarkan berbareng kedepan, sepuluh desingan ilmu jari
Tong kim ci dengan kecepatan yang luar biasa menghantam tubuh kakek baju hitam serta pria
setengah baya yang melancarkan serangan senjata rahasia itu
Dua jeritan ngeri memecahkan kesunyian, percikan darah segar berhamburan ditanah, tanpa
sempat menjerit, kakek dan pria setengah baya itu sudah mampus dengan badan berlubang.
Han siong Kie tidak berhenti sampai disitu saja, setelah menewaskan dua orang musuhnya dia
melambung keangkasa dan menubruk kearah Ho Thong thian yang sudah kabur sejauh dua kaki
dari kedudukan semula itu.
Sekarang Ho Thong thian baru merasa takut dan seperti kehilangan sukma, cepatt dia
menundukkan tubuhnya dan menggelinding sejauh beberapa kaki dari tempat itu.
Han siong Kie tidak mengira kalau seorang tokoh silat yang punya nama besar seperti Ho
Thong thian, ternyata telah melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari medan pertempuran,
sementara serangannya gagal mencapai sasaran, belasan ekor anjing besar itu sudah menerjang
tiba dengas serangannya.
Disaat Han siong Kie terkurung oleh kawanan anjing tersebut, Ho Thong thian sendiri kabur
menuju kepintu baja yang keempat, mungkin dia hendak menggunakan ruang baja ini untuk
menyembunyikan diri atau mungkin juga dia masih mempunyai rencana busuk yang lain.
Kali ini Han siong Kie bertindak cerdik, dia melambung setinggi beberapa kaki ke udara setelah
lolos dari sergapan kawanan anjing itu badannya berjumpalitan beberapa kali seperti anak panah
terlepas dari busurnya dia meluncur kearah Ho Thong thian, sepasang telapak tangannya seperti
cakar garuda mengcengkeram batok kepala lawan.
Hampir pada saat yang bersamaan, pintu besi itu terbuka dan mereka berdua masuk kedalam
ruangan baja.
"criing" secara otomatis pintu baja itu menutup dengan sendirinya.
Betapa takut dan ngerinya Hoo Thong thian tatkala dilihatnya bukan saja ia gagal untuk
melarikan diri malahan dirinya terjebak dalam satu ruangan bersama musuhnya.
Ia sadar bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, apalagi berada dalam ruangan
yang begitu sempit, mau melawanpun tak ada gunanya.
Han siong Kie sendiri sudah terlanjur membenci musuhnya ini, cepat telapak tangan kiri serta
ujung jari tangan kanannya ditolak kedepan melancarkan serangkaian pukulan gencar ketubuh
Hoo Thong thian yang sedang ketakutan.
Ho Thong thian sendiri kelabakan setengah mati menghadapi ancaman maut itu, mau
menghindar dia tak mampu, akhirnya tidak ampun lagi tubuhnya terhajar telak oleh serangan
maut itu.
sambil menjerit lengkimg dengan suara yang menyayatkan hati, tubuh Hoo Thong thian
mencelat sampai menumbuk dinding baja, dadanya seketika terhajar sampai berlubang darah
segar berhamburan membasahi seluruh lantai.
setelah musuhnya mampus, Han siong Kie baru tertegun, ia baru menyesal sekarang setelah
musuhnya dibunuh mati, bukankah dengan demikian dia terjebak pula dalam ruangan baja itu?
Bangkai keseputuh ekor anjing itu masih menggeletak ditempat semula, hanya kini bertambah
lagi dengan sesosok mayat manusia.
JILID29 HAl 16/17 HILANG
tubuhnya gemetar dengan jantungnya berdebar dan mukanya jadi merah, secara beruntun dia
mundur tiga langkah ke belakang.
sesosok tubuh yang bugil masih melingkar didalam ruang baja itu, dan dara itu tak lain adalah
Go siau bi.
Padahal menurut keterangan dari Tee heng sian jalan darah Go siau bi sudah bebas malahan
serangannya berhasil melukai Ho Thong thian, kalau toh jalan darahnya sudah bebas, kenapa ia
masih berbaring disitu dalam keadaan telanjang bulat ?
Kalau dilihat dari pintu baja yang separuh terbuka,jelas ada orang pernah memasuki ruangan
ini lalu siapakah orang itu ?
Kenapa tidak menolong Go siau bi, melainkan membiarkan dia .....
Berpikir sampai disini, tak kuasa lagi tubuhnya gemetar keras, pikirnya lebih jauh:
"Aduh celaka, jangan-jangan Go siau bi sudah mengalami...."
Karena kuatir tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu menerjang masuk ke dalam ruangan,
meskipun jantungnya
JILID 29 Hal 19 S/D 24 HILANG
merahnya sehingga tidak menetes ke bawah, ujarnya lagi dengan sedih:
"Sejak pertama kali aku bertemu dengan kau, aku telah mencintai dirimu, engkau adalah orang
pertama yang kucintai juga merupakan orang terakhir yang kucintai, sekalipun aku mencintai
dirimu dengan sepenuh hati dan aku tidak mendapatkan balasan yang sewajarnya tapi aku
memang mencintai kau, cintaku adalah cinta suci yang muncul dari lubuk hatiku, asal kau tahu aku
sudah merasa puas. Aaai . . karena pikiran yang keliru hampir saja aku melakukan kesalahan
besar, terimakasih kuucapkan kepadamu, karena engkau telah memberi kesempatan kepadaku
untuk menebus dosa-dosa itu"
Rasa cinta Han siong Kie benar-benar tersentuh oleh perkataanya itu, detik itu juga ia merasa
bersalah karena pendapatnya yang keliru ini telah menghancur lumatkan rasa cinta dirinya yang
nyata ia telah menyakiti perasaan seorang gadis yang membuat dara itu hampir saja melakukan
kesalahan besar.
"Nona, maafkanlah kesalahanku . ." bisiknya kemudian.
-000dw000-
BAB 60
Go SIAU BI segera ulapkan tangannya dan mencegah pemuda itu meneruskan kata-katanya
"Han siangkong, biarlah kusebut engkau dengan sebutan seperti yang kugunakan ketika untuk
pertama kalinya aku bertemu dengan engkau, sekarang engkau tak usah minta maaf kepadaku,
biarkanlah kejadian yang sudah lewat jadi kenangan, sekarang tegasnya mulai detik ini untuk
menebus semua dosa yang pernah kulakukan semoga engkau baik-baik menjaga diri"
Tak tahan lagi air matanya jadi berderai membasahi seluruh wajahnya yang putih dan halus.
Go siau bi telah berlalu pergi dengan membawa perasaan hatinya yang hancur.
Han siong Kie ingin memanggil dara itu tapi ia tidak berbuat demikian, pemuda itu hanya
berdiri termangu-mangu di dalam bangunan rumah baja itu.
Ia merasa bagaikan sedang bermimpi suatu impian buruk yang sebetuinya adalah kenyataan,
dengan suara yang lirih ia cuma dapat bergumam. .bergumam seorang diri dengan suara yang
lirih:
"sebenarnya apa yang kau lakukan? Benarkah tindakanku selama ini ? Ataukah tindakanku itu
keliru besar?"
Namun ia tak berhasil menemukan jawabannya.
Dengan mengorbankan segala-galanya Go siau bi berusaha untuk mendapatkan dirinya, tapi
sekarang setelah mengalami kejadian tersebut, ia telah pergi dengan keraskan hati dan telah
memutuskan perasaan cintanya.
sementara dia masih melamun, dari kejauhan terdengar serentetan jeritan ngeri berkumandang
memenuhi seluruh angkasa, jeritan tersebut segera menyadarkan kembali pemuda itu dari
lamunannya
Ia lantas menduga kalau Go siau bi sedang melaksanakan pembalasan dendamnya atas orangorang
dari perkampungan oh hau san ceng
JILID29 HAL. 28/29 HILANG
diharuskan menolong Go siau bi. Kalau toh ia dapat membuka pintu baja itu, mengapa ia tidak
membawa Go siau bi yang telanjang bulat, sebaliknya diserahkan kepadanya? Kenapa..? Kenapa ?
Pemuda itu benar-benar merasa tidak habis mengerti.
"Eeeh lo-te, aku lihat pikiranmu kurang tenang dan wajahmu gugup sekali hayo, apa yang telah
kau lakukan?" tiba tiba Tee heng sian menegur sambil tertawa cengar- cengir.
"Aku..." Han siong Kie tertawa jengah
"Dimana bocah perempuan yang telah kau tolong itu?"
"Dia... dia telah pergi"
"Pergi? Pergi seorang diri?"
Dengan sedih Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan. Tee hee sian berkata lebih
jauh.
"Tahukah engkau, kenapa orang yang ada maksud membunuh orang dan membakar
perkampungan ini?"
"Mungkin juga dia hendak melampiaskan rasa dendam dan mendongkol dari Go siau bi"
"Lalu setelah urusan disini telah selesai, kau hendak pergi kemana. ?"
Han siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
kemudian baru menjawab: "..Aku pikir hendak mengunjungi lembah in wu kok"
"Lembah In wu kok? Aneh benar nama tersebut, dimana toh letak lembah yang aneh itu?"
"Kurang lebih setengah jam lamanya dari tempat ini, lembah In wu kok adalah sebuah lembah
aneh yang terpencil sekali letaknya"
"siapa yang beri tahu kepadamu kalau lembah itu bernama in wu kok?" Han siong kie
tersenyum.
"ooh aku sendiri yang menamakan lembah tersebut, dengan sebutan lembah In wu kok, coba
lihatlah bukankah disitu penuh dengan kabut yang amat tebal?"
"Aaah saudaraku, tempat itu bukan bernama lembah In wu kok melainkan adalah Lembah
kematian yang dianggap setiap umat persilatan sebagai daerah terlarang, keseraman dan
kengerian yang menyelimuti lembah tersebut sama sekali tak kalah dengan kemisteriusan benteng
maut yang tersohor itu"
"Lembah kematian?"
Benar, lembah itu sangat berbahaya.. setiap orang yang berani memasuki lembah itu berarti
mengantar kematian diri sendiri sebab semua orang yang sudah masuk ke dalam lembah itu,
selamanya tak akan bisa munculkan diri dalam keadaan selamat"
Hebat sekali perobahan wajah Han siong Kie, untuk sesaat dia termenung lalu baru berkata:
"Semula aku masih mengira lembah itu hanya sebuah lembah terpencil yang jarang sekali
dikunjungi manusia"
"Loo te" Tiba2 Tee heng sian berkata dengan wajah serius "kalau toh engkau sama sekali tidak
kenal akan lembah kematian, mau apa kau kunjungi lembah tersebut??"
"Aku... sebenarnya aku hendak mempelajari sejenis ilmu silat didalam lembah itu"
”Kalau toh cuma ingin mempelajari sejenis ilmu silat, mengapa kau pilih tempat semacam itu??"
"Sebab aku lihat tempat itu jauh dari keramaian dunia dan jarang sekali dikunjungi manusia,
aku takut latihanku terganggu oleh kehadiran manusia lain maka aku hendak mencari tempat yang
sepi dan terpencil itu sebagai tempat latihanku"
"saudaraku kalau engkau percaya dengan kata2ku ini, lebih baik batalkan saja niatmu itu"
Masih mendingan kalau Tee heng sian tidak berkata, semakin dilarang pergi kesitu semakin
besar pula rasa ingin tahu yang timbul dalam hati Han siong Kipikirnya:
"Apa salahnya kalau aku pergi melakukau penyelidikan? Akan kulihat sebenarnya macam
apakah lembah kematian tersebut"
Tapi ia merasa tak tega untuk menolak kebaikan orang, maka ia manggut-manggut berulang
kali.
"Baiklah, aku akan pertimbangkan lagi rencana ini, terima kasih atas peringatan dari engkoh
tua, kau..."
sebelum pemuda itu menyelesaikan kata2nya Tee heng siang telah tertawa cekikikan seraya
menukas:
JILID29 HAL. 34/35 HILANG
Pemuda itu menghela napas panjang, pikirnya:
"Aaai. sayang adik Hui telah kembali kealam baka, tapi benarkah ia telah mati Bukankah orang
yang ada maksud telah berkata bahwa adik Hui tak akan mati?" Lama sekali pemuda itu
termenung, selang sesaat kemudian pikirnya lebih jauh:
"Kalau dia tidak mati, meagapa ia tak muncul kembali dari benteng mautnya, Apakah ia lupa
masih ada janji dengan aku? Lupakah dia ketidak munculannya berarti suatu bukti padaku bahwa
ayahnya adalah pembunuh keluargaku?"
setelah termanggu2 sejenak pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya memasuki lembah
itu
Kabut yang menyelimuti angkasa kian menebal, meskipun Han siong Kie memiliki ketajaman
mata yang dapat memandang pemandangan sekitar tiga kaki, namun tiada satupun yang terlihat
olehnya.
"Aneh." kembali pemuda itu membatin, menurut Tee heng sian lembah kematian adalah suatu
daerah terlarang yang sangat disegani oleh setiap umat persilatan di dunia ini, malahan katanya
siapa berani masuk maka dia tak ada harapan untuk keluar dalam keadaan selamat, kini aku
sudah lama masuk kedalam wilayah ini, kenapa tiada sesuatu apapun yang berhasil kutemui . ." "
Setelah termenung sebenter ia membatin lagi:
"Jangan-jangan berita yang tersiar dalam dunia persilatan tak bisa dipercaya kebenarannya?"
Satu li kembali sudah dilewati oleh Han siong Kie, namun tiada sesuatu apapun yang terlihat.
Akhirnya mata yang tajam itu membentur dengan sesuatu benda, mendadak saja tubuhnya
menggigil keras jantungnya berdebar tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya.
Sebuah batu besar yang penuh dengan lumut hijau terpancang di depan matanya, di atas batu
tugu itu terteralah beberapa tulisan dengan huruf yang amat besar: "PERBATASAN ANTARA MATI
DAN HIDUP
JILID 29 HAL. 38/39 HILANG
Pemuda itu celingukan memandang sekeliling tempat itu, ketika ditemukan sebuah batu cadas
kurang lebih empat kaki disamping tempat itu, cepat ia berkelebat kebelakang batu itu dan
menyembunyikan diri
sekejap mata kemudian belasan sosok bayangan manusia telah munculkan diri didepan batu
peringatan tersebut.
Rombongan itu dipimpin oleh dua orang kakek berjubah hitam sedang kan sisanya adalah dua
belas orang laki-laki yang memakai, baju ringkas warna hitam pula.
Di atas dada kedua orang kakek berjubah hitam itu masing2 bersulamkan lukisan rembulan dan
matahari dan bintang.
Begitu menyaksikan lambang yang tertera diatas dada kakek berjubah hitam itu, Han siong Kie
merasakan hatinya bergetar keras, sebab lambang tersebut tidak terlalu asing baginya, dia merasa
se-akan-akan pernah menjumpainya disuatu tempat.
setelah dipikirkan beberapa saat pemuda itu teringat kembali, ia masih ingat bagaimana orang
yang kehilangan sukma telah membunuh Tengkorak maut gadungan dengan lencana Thian Che
leng, dan di atas lencana itu terteralah lukisan Matahari, rembulan dan bintang.
Itu membuktikan pula bahwa rombongan yang barusan tiba disana tak lain adalab anak buah
dari perkUmpulan Thian Che kau.
seingatnya diantara anggota perkumpulan Thian Che kau yang pernah ditemuinya, belum
pernah ada diantara mereka yang munculkan diri dengan diatas dadanya tertera lambang
matahari rembulan serta bintang, pemuda itu mulai berpikir-pikir, jangan2 kedudukan dua orang
kakek tua itu memang sangat istimewa??
sementara itu salah seorang diantara dua orang kakek berjubah hitam itu sudah menyapu
sekejap sekeliling gelanggang, kemudian kepada rekan-rekannya dia berkata.
"saudara see bun, masakah bocah keparat itu bisa terbang kelangit atau tenggelam kedasar
bumi? Kenapa jejaknya lenyap dengan begitu saja tanpa meninggalkan bekas?" Kakek baju hitam
yang disebut saudara see bun itu menjawab:
"saudara Nyoo, menurut pandanganku mungkin saja bocah keparat itu telah mengetahui jejak
kita semua maka sengaja ia mencari tempat yang bersembunyi untuk menyembunyikan diri "
"sekalipun ia sedang bersembunyi toh penggeledahan yang kita lakukan cukup ketat, masa
pencarian ini sangat teledor sampai tempat persembunyian musuh sama sekali tidak ketahuan ?"
"Walaupun demikian kabut toh terlalu tebal disekitar tempat ini, siapa tahu kalau
penggeledahan kita memang kurang teliti ?"
"Mungkinkah mata2 kita telah salah melihat orang ?" tanya orang she Nyoo lagi.
"Aaah tidak mungkin Tanda2 yang dimiliki manusia bermuka dingin sangat istimewa sekali,
rasanya susah untuk mencari orang kedua yang memiliki ciri2 seperti dia "
Hampir saja Han siong Kie mendcngus dingin apa lagi setelah diketahui olehnya bahwa
kemunculan rombongan itu tak lain adalah sedang mencari jejaknya.
"Jangan-jangan bangsat muda itu sudah melampaui perbatasan antara hidup dan mati?"
kembali kakek she Nyoo itu mengutarakan pendapatnya. Dengan cepat kakek she see bun itu
menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aah.. soal ini tak mungkin, sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tak nanti ia bisa lolos dari
kematian bila berani melewati perbatasan ini, tak nanti dia datang hanya untuk menghantar
kematian belaka"
"Yang lebih aneh lagi, entah apa sebabnya bocah bangsat itu datang mengunjungi lembah
kematian??"
"Aku mana tahu, mungkin cuma dia seorang yang mengetahui apa tujuannya datang kemari"
"Lalu apa yang musti kita lakukan sekarang??"
"Mulut lembah sebelah depan toh sudah dijaga oleh jago2 lihay kita, mari kita lanjutkan
penggeledahannya disekitar tempat ini, aku tak percaya kalau dia sudah dapat terbang ke langit
atau menyusup kedalam tanah."
"Andaikata penggeledahan kita ini cuma sia-sia belaka??"
JILID29 HAL. 44/45 HILANG
laki-laki berpakaian ringkas itu segera menyambarkan diri dan membentuk gerakan setengah
lingkaran untuk melakukan pengepungan yang ketat.
Telapak tangan kilat see bun Lui maupun pui hunp yan Nyoo Yong serentak berpaling pula
kearah anak muda itu, dengan sinar mata berwarna hijau tajam mereka menatap musuhnya tanpa
berkedip. dari kilatan cahaya mata itu dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki kedua
orang itu benar2 sudah mencapai puncak kesempurnaan.
Agak terkejut juga Han siong Kie setelah menyaksikan kesempurnaan tenaga dalam yang
dimiliki musuhnya, namun ia tak gentar, dengan pandangan yang tak kalah dinginnya ia balas
menatap kedua orang lawannya.
"Jadi engkau yang bernama Manusia yang bermuka dingin?" tegur Tui hun pan dengan wajah
dingin.
Han siong Kie mendengus dingin. "Hmm Ucapanmu memang tepat sekali."
"Bangsat, engkau akan menyerahkan diri dengan begitu saja ataukah hendak memaksa aku
untuk turun tangan?"
"Huuh manusia macam kalian pun hendak membekuk aku" ejek sang pemuda sambil tertawa
sinis "Hmmm sebutkan dulu siapa nama kalian"
"Bocah keparat, dengarkan baik-baik kata-kata kami ini" seru see bun Li dengan cepat, "kami
berdua adalah Utusan khusus dari Thian che kau, dua jago lihay diantara sepuluh tokoh paling
tinggi kedudukannya dalam perkumpulan kami.."
"Utusan khusus Haaahh haaahh haahh aku rasa kalian toh tak lebih cuma begundal bayaran
belaka"
Ucapan itu dianggap sebagai penghinaan besar bagi dua orang kakek tua itu, betapa gusarnya
oran2 itu sukar dilukiskan dengan kata-kata.
"Bangsat, rupanya engkau sudah bosan hidup?" bentak mereka hampir bersamaan waktunya.
Dliringi bentakan nyaring see bun Lui melambung tiga kali ke tangah udara, kemudian secepat
kilat melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Han siong Kie.
serangan tersebut memang luar biasa cepatnya dan tak malu disebut bagaikan sambaran kilat,
pada saat yang
JILID29 HAL. 48/49 HILANG
Han siong Kie dengan andalkan tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan itu
melakukan inisiatip untuk menyerang gencar, sekalipun dia telah berusaha dengan segenap
kemampuan yang dimiliki, itupun hanya berhasil memaksa lawannya untuk bertarung dalam
keadaan seimbang alias sama kuat.
Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun menang kalah masih belum bisa
ditentukan.
Memang seram dan mengerikan jalannya pertarungan itu, bukan saja angin menderu dan
bahkan dunia terasa jadi gelap, membuat dua belas orang laki2 berpakaian ringkas yang ada
disamcing gelanggang diam2 merasa bergidik.
setelah berhenti sebentar untuk mengatur pernafasan, see bun Li terjun kembali ke dalam
gelanggang pertarungan, rupanya dia pun menyadari bahwa kekuatan pihak lawan terlalu
tangguh, tak mungkin salah seorang dari pada mereka berhasil menaklukkan lawannya andaikata
tidak turun tangan secara bersama:
Dengan cepat situasi dalam gelanggang pertarungan mengalami perubahan.
Dua orang tokoh sakti dengan meng andalkan kekuatan mereka yang paling top berusaha
menghancurkan lawannya, kedahsyatan angin pukulan yang mereka hasilkan benar2 mengerikan
sekali.
Dalam keadaan demikian, Han siong Kie dipaksa untuk mengambil langkah2 pertahanan,
dia mainkan ilmu Mo mo ciang hoat bagian pertahanan untuk menutup semua bagian tubuhnya
dari kemungkinan terserang musuh, kalau sebentar saja masih mendingan tapi lama kelamaan
diapun mulai terdesak hebat. sepuluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa...
Han siong Kie semakin terdesak hebat sehingga selangkah demi selangkah mundur terus
kebelakang..
satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Akhirnya pemuda itu sudah melampaui garis pemisah
yang merupakan perbatasan antara mati dan hidup,
Menyaksikan kejadian itu baik see bun Lui yang bergelar telapak tangan kilat maupun Nyoo
Yong yang berjulukan Hakim pengejar sukma sama-sama menarik kembali serangannya dan
mundur kebelakang.
Perbatasan antara mati dan hidup .. suatu wilayah angker yang tak berani dilewati oleh
siapapun.
Han siong Kio masih belum merasa kan akan hal itu, kembali ia mundur beberapa langkah
kebelakang.
sekarang Han siong Kie sudah berada satu kaki lebih dibalik garis pemisah yang disebut
perbatasan antara mati dan hidup itu, namun tiada sesuatu kejadian yang menimpa dirinya, ia
tetap utuh, sehat dan tak kekurangan sesuatu apapun.
Belasan orang jago lihay dari Thian che kau mulai menunjukan sikap kebingungan dan tidak
habis mengerti, sampai2 mereka berdiri dengan wajah melongo.
-ooodwooo-
BAB 61
LEMBAH kematian- suatu daerah terlarang yang dianggap angker serta mengerikan bagi umat
persilatan, wilayah itu dipisahkan oleh sebuah garis yang dinamakan perbatasan antara mati dan
hidup, selama banyak tahun tak seorang manusiapun sanggup melewati perbatasan tersebut
dalam keadaan hidup,
Tapi sekarang Manusia berwajah dingin telah menyeberangi perbatasan itu sejauh beberapa
kaki tanpa mengalami sesuatu kejadian apapun, kejadian ini benar merupakan sesuatu peristiwa
yang aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Tatkala pihak musuh menarik kembali serangannya tadi, tanpa terasa Han siong Kie lelah
mundur kembali beberapa langkah kebelakang, menanti ia rasakan perubahan yang aneh pada
wajah musuhnya pemuda itu baru sadar bahwa ia telah melangkah masuk ke dalam wilayah yang
tersohor karena angkernya itu.
JILID29 HAL. 54/55 HILANG
Thian che kaucu untuk menyelesaikan sendiri persoalan ini.
Diam2 Han siong Kie menguatirkan kemampuan Thian che kaucu sebab kalau ditinjau dari
kemampuan yang dimiliki kedUa orang utusan khusus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
tenaga dalam yang dimiliki ketua mereka benar- benar telah mencapai puncak kesempurnaan
yang tak terhingga, ia jadi terbayang kembali akan peristiwa dimasa lalu sewaktu dia menyerbu
wilayah Lian huan yau untuk menolong Go siau bi, ketika itu ia telah berjumpa dengan seorang
manusia barkerudung yang mangaku sebagai ketua perkumpulan tapi akhirnya ia bukti bahwa dia
tak lebih cuma penyaruan dari salah satu diantara sepuluh jago tangguh perkumpulan.
Anak muda ini mulai berpikir, mengapa Thian che kaucu tak berani munculkan diri sebaliknya
suruh orang lain untuk menyaru sebagai dirinya?" Mungkinkah dibalik semuanya ini sebetulnya
masih tersimpan rahasia lain?
Yang lebih aneh lagi, ternyata pihak Thian che kau telah mengerahkan segenap kemampuan
yang dimiliki untuk menghadapi dirinya seorang, malahan ketuanya turun tangan sendiri untuk
memimpin operasi tersebut, hal ini menandakan kalau pihak mereka memandang serius persoalan
tersebut, lalu apa sebabnya mereka bersikap drmikian?" Tiba2 Nyoo Yoong, hakim pengejar sukma
berseru dengan suara dalam:
"Bocah keparat, beranikah engkau menyeberang kemari untuk melangsungkan pertarungan
seru dengan kami?"
Han siong Kie sendiripun tak tahu apa sebabnya ia bisa menyeberangi perbatasan mati dan
hidup tanpa cedera, namun ia tahu bahwa musuh- musuhnya tak berani menyeberangi wilayah
angker itu dam selalu memanaskan hatinya agar dia menyeberang kembali ke sana. Maka sambil
tertawa dingin, ejeknya:
"Bangsat tua, kenapa bukan kalian yang menyeberang kemari? Kalau memang jantan hayolah
kemari"
Perasaan jengah dan serba kikuk muncul diatas wajah Nyoo Yong maupun see bun
JILID29 HAL. 58/59 HILANG
Nyio Yong yang sedang melayang diudara, se akan2 burung yang kena dipanah, tahu-tahu
badannya menukik ke bawah dan roboh keatas tanah. la mati secara misterlus.
Hakim pengejar sukma Nyio Yong telah tewas dihadapan rekan2nya, namun tak seorangpun
yang tahu apa sebabnya tiba2 ia mampus, jangankan mereka sekalipun Han siong Kie yang
berada beberaps depa dihadapannya juga tak melihat sebab musabab yang mengakibatkan
kematian jago lihay itu
Pucat pias wajah para jago dari Thian che kau, rata- rata mereka berdiri tertegun dengan
sukma merasa melayang tinggalkan raganya, kejadian ini sama sekali diluar dugaan semua orang.
Han siong Kie sendiripun terkejut sampai-sampai keringat dingin membasahi jidat dan
punggungnya .
Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kematian Nyio Yong yang secara tiba2 namun ia
tak tahu apa yang menyebabkan kematian musuhnye itu, untuk sesaat ia jadi tertegun dan berdiri
termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ditatapnya mayat Nyoo Yong tanpa berkedip. sementara pikirannya melayang entah sampai
dimana.
Mendadak terdengar jeritan kaget berkumandang lagi memenuhi angkasa, suatu pemandangan
yang sangat mengerikan telah berlangsung didepan mata.
Begitu mencium tanah, mayat Nyoo Yong yang masih hangat itu ternyata meleleh dan
mengalami pembusukan dengan cepat, kemudian selang sesaat mayat itu sudah hancur tinggal
tulang kerangkanya belaka.
Hampir saja Han siong Kie menjerit kaget, bulu kuduknya pada bangun berdiri, kejadian aneh
ini belum pernah ditemuinya semenjak dahulu kala, tidak sampai setengah perminum teh salah
seorang tokoh silat yang berilmu tinggi telah berobah jadi seonggokan tulang kerangka yang putih
mengkilat, bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapakah yang akan percaya bahwa
peristiwa semacam itu benar2 telah terjadi di depan mata ?
Lewat lama sekali dia ter-mangu2, setelah rasa kagetnya hilang ia baru berpaling memandang
ke belakang, pada ujung lembah tersebut ia saksikan sebuah gundukan tanah berbukit, beberapa
pohon raksasa yang amat besar tumbuh disekitar gundukan tanah itu
Di belakangnya adalah sebuah tebing dan sebuah bukit yang tinggi menjulang keangkasa
demikian tingginya bukit itu sehingga menembusi kedalam awan.
Dengan langkah yang ragu-ragu dan penuh kesangsian pemuda itu melanjutkan perjalanannya
memasuki lembah itu dan mendekati gundukan tanah yang berada didepan mata.
Beberapa kaki sebelum mencapai gundukan tanah tadi tiba2 pemuda itu berseru tertahan dan
berhenti.
Di bawah dua batang pohon raksasa berdirilah sepasang makhluk hitam putih yang
mengerikan..
Mereka sama-sama memelihara rambut yang panjang cuma yang hitam sekujur tubuhnya
berwarna hitam pekat sebaliknya yang putih luar biasa putihnya bagaikan salju.
Dengan seksama anak muda itu mengawasi beberapa saat makhluk itu, sekarang ia dapat
memastikan bahwa mereka adalah manusia, sepasang manusia aneh berwama hitam dan putih,
hatinya terasa makin bergidik,
Kedua orang itu duduk bersila saling berhadapan, ke empat buah telapak tangannya
direntangkan kedepan sejajar dengan dada, selisih jarak kedua belah pihak cuma terpaut tiga kaki.
Han siong Kin tertegun- .apa yang telah terjadi? " sekilas pandangan dua orang jago itu
bagaikan sedang mengadu tenaga dalam, tapi mirip juga sedang melatih sejenis ilmu silat.
Bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir saja ia tak percaya kalau dikolong
langit sebenarnya terdapat manusia seaneh itu, yang hitam kulitnya benar- benar hitam mengkilap
seperti tinta, apalagi jubahnya berwarna hitam pula membuat orang itu betul2 serba hitam.
sebaliknya yang putih demikian putihnya seperti sesosok mayat hidup bukan rambutnya
berwarna putih, jubah maupun sepatunya juga berwarna putih. suatu perbedaan warna yang amat
kontras sekali.
JILID29 HAL. 64 HILANG
Dua orang makhluk aneh itu tetap duduk kaku ditempat semula, mereka tidak membuka
matanya pun tidak berkutik barang sedikitpunjuga, padahal semestinya mereka tahu bahwa ada
orang yang mendekati tempat tinggal mereka, terbukti hawa khikangnya telah dipancarkan
melindungi wilayah seluas tiga kaki disekeliting tubuh mereka.
Agak penasaran Han siong Kie ketika tak mampu menerjang maju kedepan dan menghimpun
tenaga dalamnya dan secara paksa menerjang masuk kedalam lingkaran hawa khikang lawan.
Tiba2 dua orang makhluk aneh itu bersamaan waktunya menurunkan telapak tangan mereka
kemudian membuka matanya:
Empat buah sinar mata yang setajam sembilu serentak ditujukan keatas wajah Han siong Kie.
Pada saat ini tenaga dalam yang dimiliki si anak muda itu sudah mencapai dua ratus tahun hasil
latihan, walaupun begitu ketika ditatap secara tajam oleh musuhnya tak urung bergidik juga
hatinya, cepat ia hentikan langkah kakinya membalas memandang lawannya dengan sinar mata
yang tak kalah tajamnya.
Per lahan2 dua orang manusia aneh itu bangkit berdiri dari atas tanah.
sekarang Han siong Kie baru dapat melihat jelas bahwa kedua orang makhluk aneh itu adalah
seorang pria dan seorang wanita, yang laki2 berkulit hitam berambut hitam dan berjubah hitam,
keadaannya tak berbeda dengan balok kayu yang hangus bekas terbakar sedangkan yang
perempuan berambut putih berkulit putih dan berbaju putih, putih seperti batang kayu yang dilapis
saiju.
41
Begitu jelek dan menyeramkan bentuk serta potongan tubuh mereks membikin hati orang jadi
tercekat dan seram.
Han Siong kie boleh dibilang berilmu tinggi dan bernyali besar namun berada dalam keadaan
begini berdiri juga bulu kuduknya.
Mungkinkah makhluk hitam dan putih ini adalah pemilik Lembah Kematian . . ?
Ingatan tersebut melintas didalam benaknya, sementara itu sepasang makhluk aneh itu sudah
berdiri dan saling mengangguk, tiba2 mereka maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan
Han Siong Kie seraya berkata: "Hek pek siang yu menghunjuk hormat kepada majikan"
Kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Han Siong Kie secara beruntun dia mundur lima
langkah kebelakang, untuk sesaat pemuda itu tak mampu berkata2 karena tercengangnya.
Sepasang makhluk aneh yang mengaku Hek pek siang yu, sepasang siluman hitam putih ini
ternyata menyembah dihadapannya sambil menyebut majikan kepadanya, kejadian ini benar2
suatu kejadian yang sangat aneh.
"Hek pek siang yu menghunjuk hormat buat majikan" untuk kedua kalinya sepasang makhluk
aneh itu memberi hormat.
Kali ini Han siong Kie mendengar perkataan itu dengan lebih jelas lagi, sekarang ia baru tahu
bahwa dua orang makhluk aneh itu ternyata tak lain adalah Hek pek siang yu yang sudah puluhan
tahun lamanya lenyap dari permukaan bumi.
Meskipun masa berkelana Hek pek siang yu dalam dunia persilatan amat singkat, namun
pembantaian maut yang mereka lakukan tak terbilang banyaknya.
Bagi pandangan umat persilatan, kedua orang ini adalah iblis pembunuhan manusia yang tak
berkedip. banyak orang segan dan takut kepadanya.
Dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti, Han siong Kie berseru dengan gelagapan:
"Majikan-.? Aku.."
"Betul majikan, engkaulah majikan kami"jawab siluman putih dengan hormat.
sekali lagi Han siong Kie mundur selangkah lebar kebelakang, dia benar2 kebingungan:
"Bagaimana mungkin ? Bagaimana mungkin masa aku adalah majikan kalian??"
"Kami telah bersumpah barang siapa bisa melewati perbatasan mati dan hidup dalam keadaan
selamat dan orang pertama yang bisa menginjakkan kakinya di wilayah lembah Kematian, maka
dialah majikan dari kami kakak adik seperguruan berdua "
"oooh.jadi kalian adaiah suheng moay ??"
"Benar "
"Mengapa kalian hendak menganggap orang pertama yang memasuki wilayah ini sebagai
majikan?" tanya sianak muda itu lagi.
"sebab hanya orang yang berkepandaian tinggilah yang bisa tiba ditempat ini dalam keadaan
selamat, pun juga dia seoranglah yang bisa menolong kami berdua lolos dari tempat ini, selama
lima puluh tahun berselang majikan adalah orang pertama yang bisa tiba dilembah kematian ini
dalam keadaan selamat."
"Jadi kalian bukan penghuni tempat ini, melainkan adalah tawanan yang disekap di sini?".
"Benar" sepasang makhluk aneh itu mengangguk tanda membenarkan.
"Dan kalian telah disekap selama lima puluh tahun lamanya."
"Benar" untuk kesekian kalinya dua orang itu mengangguk.
"siapa yang menyekap kalian ditempat ini?"
"Pemilik benteng maut"
"Apa?" " seru Han siong Kie dengan perasaan terperanjat "jadi kalian disekap pemilik benteng
maut dalam Lembah Kematian ini"
"Begitulah kejadiannya"
"silahkan kalian berdua bangkit berdiri kemudian baru kita lanjutkan pembicaraan ini"
"Kalau begitu majikan telah mengabulkan permintaan dari kami suheng moay berdua ?" tanya
siluman putih sambil mengernyitkan sepasang alis matanya. Han siong Kie termenung dan berpikir
beberapa saat lamanya, kemudian menjawab: "Tentang soal ini..."
"Ketahuilah majikan, bahwa kami berdua sudah menunggu selama lima puluh tahun, atas
tibanya kejadian besar ini" sambung si hitam dengan cepat.
Andai kata tingkah laku Hek pek siang yu di masa talu tidak buas dan keji, niscaya sedari tadi
Han siong Kie sudah mengambil keputusan, tapi justru karena dua orang itu adalah gembong iblis
yang berbahaya, maka mau tak mau dia musti mempertimbangkan dulu permintaan mereka
sebelum akhirnya mengambil keputusan. Maka sesudah termenung sebentar ia baIik bertanya:
"Jadi tujuan kalian adalah mengharapkan agar aku bersedia membawa kalian keluar dari
lembah ini ?"
"Begitulah kira2 maksud kami"
"Apakah kalian yakin kalau aku dapat membawa kalian berdua keluar dari lembah ini ?"
"Tentang soal ini.." sepasang manusia aneh itu agak termangu sebentar, tapi kemudian
serunya "Perduli bagaimanapun juga, inilah sumpah dari kami berdua pada lima puluh tahun
berselang. kami telah bersumpah untuk menganggap orang pertama yang masuk kelembah ini
sebagai majikan kami, selama hidup kami akan menuruti perintahnya, tentang soal mau keluar
dari lembah kematian atau tidak. kesemuanya ini terserah pada kebijaksanaan majikan sendiri"
"Betul sumpah kalian adalah begitu? " Han siong Kie menegaskan lebih jauh.
"Betul "
"Dan sumpah kalian itu selamanya takkan dilanggar??"
"Selamanya kami takkan melanggar "
"Baik, aku mengabulkan permintaan kalian"
"Bolehkah kami mengetahui siapa nama majikan ?"
"Aku adalah manusia bermuka dingin Han siong Kie, ciangbunjin yang akan memerintah di
istana Huan mo kiong "
Dengan penuh rasa hormat sepasang siluman hitam putih menyembah majikannya, kemudian
bangkit berdiri
Pelbagai keheranan dan pertanyaan berkecamuk dalam benak anak muda itu, namun dia tak
tahu persoalan itu musti ditanyakan mulai dari bagian yang mana.
Menurut pengakuan sepasang siluman hitam putih, mereka telah disekap oleh pemilik benteng
maut didalam lembah kematian ini pada lima puluh tahun berselang, sedangkan menurut berita
yang tersiar dalam dunia persilatan baru tiga puluh tahun berselang Temgkorak maut munculkan
diri didunia.
Bila ia tinjau dari usia Tonghong Hui yakni putrinya, kira2 Tengkorak maut telah berusia enam
puluh tahunan lebih atau tujuh puluh tahun sekarang, mungkinkah pada lima puluh tahun
berselang ia sudah memiliki kemampuan untuk menaklukkan sepasang siluman hitam dan putih
yang tersohor karena kelihayannya?
Berpikir sampai disini, dengan wajah serius dia lantas bertanya kepada kedua orang itu:
"Benarkah kamu berdua disekap selama lima puluh tahun ditempat ini.?"
"Betul majikan"jawab siluman putih dengan Cepat.
"Dan kamu disekap oleh Pemilik benteng maut?"
"Benar!"
"Benarkah pemilik benteng maut bergelar juga Tengkorak maut?"
Mendengar pertanyaan itu sepasang makhluk aneh tersebut tampak tertegun dan keheranan:
Lama sekali siluman putih baru menjawab:
"Tengkorak maut? belum pernah kami dengar dengan sebutan nama seperti itu"
"Lalu apakah sebutan lain dari pemilik benteng maut yang menyekap kalian disini?" seru Han
siong Kie dengan sepasang alis matanya berkernyit.
"Kami berdua cuma tahu dia bernama pemilik benteng maut, yang lain sama sekali tidak tahu"
"Yaaa hal ini memang tak bisa salahkan kalian memang sudah terlalu lama kami berdua disekap
ditempat ini, jadi setelah keluar dari lembah ini kalian bersiap sedia untuk mencari balas dengan
pemilik benteng maut?"
Dengan ketakutan sepasang siluman hitam putih mundur selangkah kebelakang sahutnya:
"Tidak. .kami tidak berani berbuat demikian "
"Tidak berani ? Kenapa tidak berani ?" tanya si anak muda itu dengan perasaan tercengang.
Dengan menundukkan kepalanya siluman hitam menjawab:
"Berkat petunjuk dan bimbingan dari beliau, kami berdua dapat melepaskan diri dari dosa yang
amat berat, budi ini belum kami balas, mana berani kami menuntut balas kepadanya?"
"Bukankah kalian berdua yang mengatakan sendiri, bahwa kalian telah disekap disini oleh
pemilik benteng maut??"
"Benar, tapi perbuatannya ini boleh dibilang sebagai maksud baik dari dia orang tua"
"Maksud baik ? Apa maksud perkataanmu itu ?"
"Dia orang tua suruh kami berdiam dan hidup dilembah ini sambil menyesali perbuatan yang
telah kami lakukan selama ini, malahan mewariskan pula ilmu silatnya kepada kami" Berubah
hebat air muka Han siong Kie sehabis mendengar keterangan itu, serunya:
HAL. 14 S/D 17 HILANG
"Terima kasih atas kemurahan hati majikan "
Han siong Kie mendengus dingin ujarnya kemudian:
"Apakah aku boleh tahu apa maksud dan tujuan yang sebenarnya dari kamu berdua ketika
hendak mengangkat sumpah aneh itu dimasa lalu ?"
siluman putih menghela napas panjang setelah termenung sebentar sahutnya dengan wajah
serius:
"Panjang sekali kisahnya untuk diceritakan bagaimana kalau majikan berkunjung dulu ke rumah
kediaman hamba berdua, disitu barulah kami bercerita panjang lebar ?"
Han siong Kie berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk:
Dengan sikap yang sangat hormat Siluman putih mengiakan, bergeraklah perempuan aneh itu
menuju kearah tebing curam dibelakang gundukan tanah itu. sementara siluman hitam mengiringi
di belakang anak muda itu.
selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didalam sebuah goa yang lebar dan cukup
luas, siluman putih segera bergeser kesamping dan mempersilahkan majikannya untuk masuk
lebih dulu katanya:
"Majikan, pemilik benteng maut juga berdiam didalam gua batu ini" sambil menuding kearah
batu karang disebelah kiri lanjutnya:
"Itulah dia tempat mengasingkan diri dibalik tebing karang itu, sudah lima puluh tahun lamanya
tak pernah munculkan diri"
0000dw0000
BAB 62
MENGIKUTI arah yang ditunjukkan Han siong Kie menengadah keatas, ia lihat tebing karang itu
sangat tinggi dan tertutup kabut yang tebal maka sambil mengangguk diapun masuk kedalam goa.
Ruangan didalam gua itu sangat lebar dan kering, diantaranya terbagi pula menjadi tiga buah
goa yang agak kecil.
sesudah duduk diatas sebuah pembaringan batu dalam gua itu, sepasang siluman putih dan
hitam menghidangkan buah2an dan sayur-sayuran kemudian sambil mengambil semangkok air
bersih katanya dengan wajah bersungguh2:
"Disini tiada makanan lain silahkan majikan makan seadanya untuk mengisi perut"
Kebetulan Han siong Kie juga merasa lapar, maka tanpa sungkan2 ia menyikat makanan yang
dihidangkan untuk menangsal perut.
selesai bersantap. dia memerintahkan ke dua orang siluman itu untuk duduk lalu katanya:
"sekarang aku ingin mendengar kisah cerita kamu berdua dari awal sampai akhirnya terkurung
dilembah ini"
Sepasang siluman hitam putih itu tidak langsung menjawab, mereka saling berpandangan
sekejap. kemudian siluman hitam baru berkata dengan lembut:
"sumoay, biar akulah yang akan melaporkan kisah kejadian ini kepada majikan, tentunya
engkau tidak keberatan bukan?" siluman putih mengangguk. "Baik, suheng sajalah yang bercerita"
Perlahan-lahan siluman hitam menghadap ke arah Han siong Kie, lalu ujarnya:
"Majikan silahkan engkau mendengarkan sebuah kisah cerita yang akan kukisahkan berikut ini"
Agak bergolak perasaan hati Han siong Kie sesudah mendengar perkataan itu,pada puluhan
tahun berselang sepasang siluman putih hitam telah malang melintang dalam dunia persilatan,
setiap orang jeri dan
JILID^0 HAL. 22/23 HILANG
merasa sangat setuju dengan rencana dari gurunya itu, suatu hari ketika ketiga orang itu
sedang melakukan perjalanan diatas gunung chin nia, secara kebetulan telah mendapatkan
sepasang Bak ci "
"Bak ci?" seru Han siong Kie tak tahan, ia heran dan tidak mengerti dengan benda yang
disebutkan itu.
"Benar Bak ci adalah sejenis tumbuhan yang sangat langka sekali, bukan saja tak ternilai
harganya bahwa siapapun yang memakannya bisa awet muda dan berbadan sehat. Betapa
gembira mereka bertiga setelah mendapatkan Bak ci yang sangat berharga itu, kebetulan waktu
itu kami memang sedang menuju kebukit Chin nia untuk mencari beberapa macam bahan obat2an
sebagai kekuatan dalam latihan. Karena penemuannya ini maka kamipun lantas meninggalkan
tujuan semula dengan membawa sepasang Bak ci tersebut buru2 kami berangkat pulang ke
gunung."
Berbicara sampai disitu, kembali siluman hitam menghentikan ceriitanya, hawa napsu
membunuh yang sangat tebal tiba-tiba memancar keluar dari balik matanya dan menyelimuti
wajahnya yang hitam pekat, lanjutnya lebih jauh:
"Entah bagaimana kemudian, ternyata kabar berita tersebut telah tersiar luas keseluruh dunia
persilatan, ketika kami bertiga baru saja tiba kembali dirumah, tiba2 beratus-ratus orang jago lihay
dari golongan putih dan hitam melakukan penyerbuan secara besar-besaran, tentu saja tujuan
mereka yang terutama adalah sepasang Bak ci yang berharga itu"
" Karena tibanya bencana yang sangat mendadak ini, puluhan orang murid perguruan yang
waktu itu berkumpul dimarkas segera munculkan diri dan melakukan perlawanan, pertarungan
sengit berlangsung sepanjang malam, banyak anggota perguruan yang tewas ataupun cedera."
sekalipun ilmu silat yang dimiliki Ki Goan thong ketua perguruan Thian it bun sangat lihay
dandan berhasil membinasakan hampir lima puluh orang jago lihay yang menyerbu perguruannya,
tapi lama kelamaan sendiripUn kehabisan tenaga apalagi musuh yang harus dihadapi
HAL. 26/27 HILANG
"suheng biarlah aku yang melanjutkan bercerita"
siluman hitam mengangguk. maka siluman putih melanjutkan kembali ceritanya:
"setelah kejadian itu para jago lihay dari golongan putih maupun hitam yang ikut serta didalam
operasi tersebut melakukan pencarian dan penggeledahan secara besar2an diseluruh kolong langit
untuk menemukan jejak dua orang ahli waris dari perguruan Thian it bun, tapi rupanya mereka
hendak membasmi rumput hingga ke akar2nya sehingga tidak meninggalkan bencana dikemudian
hari. Karena penggeledahan secara besar- besaran itu, terpaksa sepasang kakak beradik
seperguruan itu melarikan diri keatas gunung yang terpencil untuk menyembunyikan diri sambil
melatih ilmu silat perguruannya. Delapan tahun kemudian mereka muncul kembali ke dalam dunia
persilatan dan melakukan pembantaian secara besar-besaran untuk menuntut balas atas sakit hati
yang telah menimpa perguruannya"
"Dan kedua orang ahli waris dari Thian it bun itu tentulah kalian berdua bukan?" seru Han siong
Kie kemudian.
"Tebakan majikan memang sangat tepat. Kedua orang itu memang tak lain adalah kami
berdua"
"Dan sepasang Bak ci tersebut telah kalian makan "
"Benar "
"Itu berarti semestinya wajah kalian tetap awet muda, kenapa sekarang malahan..."
"Maksud majikan, kenapa wajah kami berdua pada saat ini malahan berubah jadi makhluk aneh
yang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan ini ?"
"Jadi raut wajah tersebut bukan raut wajah kalian yang sebenarnya?" bukan menjaweb. Han
siong Kie malahan balik bertanya.
"Bukan, raut wajah kami yang asli tidak begini. Ketika kami sedang berlatih ilmu silat diatas
sebuah bukit, kami telah salah makan dua biji buah liar, dalam beberapa hari saja raut wajah kami
telah berubah jadi seaneh ini, oleh sebab itulah setelah turun gunung kami dianggap orang
sebagai makhluk siluman- dan dari sini pula orang lantas menyebut kami sebagai Hek pek siang
yu"
"0ooh, kiranya begitu"
"Maka dendam dan benci yang berkecamuk dalam dada kami berdua sukar dikendalikan lagi"
siluman putih melanjutkan, "maka setelah turun gunung kami mulai melakukam pembalasan
dendam, bukan saja musuh besar kami basmi bahkan keturunannya juga kami jagal secara keji,
hanya dalam sebulan saja sudah hampir seribu orang manusia yang kami bunuh, kejadian ini
segera menimbulkan rasa gusar dari umat persilatan dikolong langit, mereka bersatu padu untuk
menghadapi kami berdua.." Ia berhenti sebentar untuk tarik napas, lalu tambahnya:
"Dalam suatu pertempuran sengit yang kemudian berlangsung, kami berdua dikerubuti oleh
tiga ratus orang lebih jago2 persilatan dari seluruh pelosok dunia, keadaan kami sangat kritis dan
hampir saja jiwa kami melayang ditangan mereka, untung majikan lembah ini munculkan diri tepat
pada waktunya dan loloslah kami berdua dari ancaman bahaya maut, sejak itulah kami lantas
diboyong kelembah kematian ini dan harus berdiam disini untuk menyesali perbuatan kami selama
ini, kami memang bertobat karena beribu-ribu orang telah kami bunuh selama ini, begitulah dalam
sekejap masa lima puluh tahun sudah lewat tanpa terasa.."
"Kalau begitu sampai sekarang kalian masih belum melaksanakan perintah dari mendiang
gurumu?"
"Pesan terakhir apa?"
"Bukankah gurumu memerintahkan kepada kalian berdua untuk menikah dan menjadi suami
istri?"
siluman putih tundukkan kepalanya rendah2 dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
sedangkan siluman hitam segera menjawab:
"Tentang soal ini sampai sekarang belum kami laksanakan sebab kami berdua telah bersumpah
kecuali wajah kami dapat pulih kembali seperti sedia kala kami tak akan menikah"
Han siong Kie manggut2.
"sungguh sukar untuk melewatkan saat hidup selama lima puluh tahun lamanya tanpa
melanggar tata kesopanan, kalian memang beriman tebal... aku merasa sangat kagum..."
"Aah .. majikan terlalu memuji "
"Bagaimanakah caranya untuk memulihkan kembali raut wajah kalian yang rusak ini."
"Menurut keterangan yang diberikan majikan lembah ini kepada kami, buah liar yang telah kami
salah makan bernama Gi heng tok ko buah racun perubah wajah, dikolong langit dewasa ini hanya
ada seorang manusia yang bisa memunahkan racun buah itu dan dialah yang bisa memulihkan
kembali raut wajah kami berdua menjadi wajah yang aslinya"
"siapakah orang itu ?"
"orang itu bernama Ban tok cousu "
"Ban tok cousu ? Belum pernah aku dengar tentang nama tokoh silat ini "
"Benar, menurut keterangan yang berhasil kami kumpulkan, kemungkinan besar Ban tok cousu
sudah lama meninggalkan dunia ini, kami berharap bisa menemukan ahli warisnya"
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan seseorang yakni Tok kun Dewa racun Yu Hoa yang
sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan Thian che kau, mungkinkah dia ahli waris yang
dimaksudkan?
"Aaah,. asal persoalan ini kutanyakan kepada engkoh tua pengemis dari selatan urusan pasti
akan beres" pikirnya dihati.
Diapun tidak mengungkapkan jalan pikirannya itu, hanya ucapnya dengan hambar:
"Kalau toh di dunia ada manusia yang bernama Ban tok cousu, rasanya tidak sulit untuk
menemukan ahli warisnya. ooh iya apakah kalian mengetahui keanehan serta kemisteriusan
apakah yang telah menyelimuti lembah kematian ini sehingga suasananya seram ini?"
Dengan penuh rasa hormat siluman hitam menerangkan.
"Disekitar mulut lembah kematian tumbuh sejenis rumput beracun yang tiada taranya dikolong
langit, rumput itu bernama sip poh Pak kut cau (rumput sepuluh langkah tulang putih) sampai
dimanapun kepandaian silat yang kau miliki bila rumput itu tersentuh maka sepuluh langkah
kemudian tubuhnya akan hancur.
JILID30 HAL. 34/35 HI LANG
"ouyang cianpwe juga sangat lihay dalam ilmu meramal, dia memiliki kemampuan untuk
meramalkan kejadian yang akan datang, ketika kami berdua masuk kedalam lembah ini, untuk
pertama kalinya beliau telah meramalkan bahwa lime puluh tahun kemudian kami berdua bakal
ditolong oleh orang pertama yang memasuki lembah ini dan selanjutnya muncul kembali dalam
dunia persilatan oleh sebab rahasia itu maka kami berdua lantas bersumpah akan menganggap
orang pertama yang memasuki lembah ini adalah majikan kami" Han siong Kie berdiri tertegun
sesudah mendengar keterangan itu, pikirnya:
"Kalau toh owyang Beng memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang,
kenapa ia tak dapat meramalkan kalau orang pertama yang akan masuk kedalam lembah ini
sebenarnya tak lain adalah musuh bebuyutan dari benteng maut?" Belum habis dia berpikir tiba2
siluman hitam telah berseru lagi dengan lantang:
"ooooh ya hampir saja kelupaan, sebelum menutup diri tempo hari, ouyang cianpwe telah
meninggalkan secarik kertas yang katanya kertas itu harus di serahkan kepada orang pertama
yang memasuki lembah ini. Dan orang yang dimaksudkan itu pastilah majikan"
Habis berkata dia lantas masuk kedalam gua batu yang ada di sebelah kanan, selang sesaat
kemudian dia telah muncul kembali sambil membawa secarik kertas kuning.
Dengan sikap yang sangat hormat kertas kuning itu lantas diangsurkan ketangan Han siong Kie.
Berdebar juga hati sianak muda itu menerima kertas kuning itu, dengan jantung yang berdetak
keras dia membuka lipatan kain kuning itu dan membaca isinya.
Ternyata isi kertas ini hanya beberapa bait kata yang sama sekali tak diketahui makna artinya:
"Tipu muslihat banyak didunia, bencana timbul karena saudara yang tak akur. Disaat dendam
tertera nyata, disanalah penghianat terbasmi lenyap"
Han siong Kie termasuk seorang pemuda yang cerdas dan berotak encer, tapi meskipun ia
sudah berulang kali mengulangi kata2 dari syair tersebut, toh tak berhasil juga memecahkan arti
kata2nya itu.
Andaikata keempat bait syair tersebut benar2 memang dibuat oleh ouyang Beng pemilik
benteng maut yang pertama khusus untuk dirinya, maka bait yang pertama tak perlu diterangkan
sudah jelas artinya.
Kemudian pada bait kedua dikatakan Bencana timbul karena saudara yang tak akur, dari sini
menunjukkan bahwa bencana yang sedang berlangsung sekarang timbulnya dari dua bersaudara
yang kurang akur hubungannya satu sama lain, lalu siapakah yang dtmaksudkan sebagai saudara
yang tidak akur itu ?
Pada bait ketiga dikatakan Disaat dendam tertera nyata padahal pada saat ini dia sudah tahu
bahwa musuh besarnya adalah tengkorak maut, apanya lagi yang kurang nyata ?"
Kemudian pada bait yang terakhir digunakan kata pengkhianat siapakah penghianat tersebut ?
Teka teki, suatu teka teki yang susah untuk dipecahkan.
Mereka tak dapat menyelusuri makna dari bait syair tersebut, terpaksa Han siong Kie
menyimpan kembali kertas kuning itu kedalam sakunya dengan suara agak emosi dia bertanya:
"Benarkah tulisan ini ditinggalkan owyang Beng pada lima puluh tahun berselang?"
siluman hitam mengangguk.
"Betul majikan sejak menutup diri pada lima puluh tahun berselang beliau tak pernah
munculkan diri lagi dari tempat pertapaannya itu"
"Apakah dia mengasingkan diri dalam dinding bukit ini"
"Apakah majikan ingin-.."
"Benar, aku ingin sekali berjumpa muka dengan dia orang tua"
"Dinding tebing ini hampir boleh dibilang tegak lurus dan curam sekali, jangankan manusia
monyetpun tak mampu untuk memanjatnya, lagipula kita toh tak tahu dimanakah owyang cianpwe
mengasingkan diri, kejadian tersebut sudah terjadi setengah abad lamanya, siapa tahu beliau
sudah pulang ke alam baka"
"Betul juga perkataan ini" pikir Han siong Kie di dalam hati, "toh aku tak ada kepentingan apa2
untuk menjumpainya, buat apa musti bersusah payah ?" Maka diapun alihkan pokok pembicaraan
kesoal lain-lainnya.
"Apakah kalian berdua sudah bulatkan tekad untuk mengangkat aku sebagai Majikan mu"
"sumpah yang telah kami lakukan tak akan kami ingkari kembali" jawab sepasang siluman putih
hitam bersama .
"Aku boleh sama membawa kalian keluar dari lembah ini, tapi kalian tak usah menyebut begitu
kepadaku, aku anggap saja diriku ini adalah sobat kalian ?"
"Tidak sumpah yang telah diucapkan tak boleh diingkari lagi" jawab, kedua orang itu tegas.
"seandainya aku tidak bersedia lantas bagaimana ?" tanya Han siong Kie tiba2. sepasang
siluman hitam putih tertegun, lama sekali siluman hitam baru berkata.
"Kalau memang demikian adanya, itu berarti kami berdua sudah tak punya muka untuk muncul
kembali dalam dunia persilatan, daripada hidup menanggung derita, lebih baik membereskan
nyawa sendiri saja"
Agak lama Han siong Kie termenung, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, lalu
diapun berkata:
"Begini saja, kalau aku disebut majikan... majikan.. geli rasanya hatiku, maka biarlah aku
mengambil jalan tengah, mulai hari ini kalian akan kuterima sebagai anggota perguruan Thian
lam, dan kalian sebut aku sebagai ciangbunjin, bukankah hal ini lebih enak di dengar??"
Buru2 sepasang siluman Hitam dan Putih jatuhkan diri berlutut keatas tanah.
"Tecu menghunjuk hormat buat ciangbunjin" seru mereka hampir berbareng.
"Bangunlah, setelah keluar dari lembah ini aku akan berusaha keras untuk memunahkan racun
Gi hang tot ko yang bersarang ditubuh kalian, setelah raut wajah kalian pulih kembali seperti sedia
kala maka kalian berduapun bisa memenuhi perintah dari mendiang guru kalian "
"Terima kasih atas bantuan cianbunjin" sahut kedua orang siluman itu setelah memberi hormat
merekapun bangkit berdiri
sekarang Han siong Kie baru teringat akan tujuan kedatangannya ketempat itu, sesudah
memeriksa sebentar kedalam goa itu katanya.
"Aku membutuhkan sebuah ruang yang bagus untuk mempelajari ilmu kepandaian, setelah itu
maka kitapun akan meninggalkan tempat ini"
"Ciangbunjin"" ujar siluman putih "tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah gua alam yang
bersih dan tenang, biarlah tecu pergi membereskan gua itu"
"Baik pergilah cepat"
selang beberapa saat kemudian siluman putih telah muncul kembali didalam gua tersebut
katanya:
"silahkan ciangbunjin menuju kedalam goa itu, makanan dan minuman setiap hari tecu akan
mengaturnya buat ciangbunjin"
Dengan penuh rasa haru dan berterima kasih Han siong Kie memandang sekejap kearah
sepasang siluman itu kemudian diapun melangkah keluar dari goa itu.
Benar juga, kurang lebih sepuluh kaki dari gua tersebut terdapat sebuah goa lain yang terdiri
dari batu2 cadas berwarna putih, setelah lima kaki memasuki goa tersebut, luas goa itu mencapai
tiga kaki lebih, tempat itu memang merupakan sebuah tempat berlatih silat yang paling ideal.
Setelah sepasang siluman hitam putih minta diri, dari sakunya Han siong Kie mengambil keluar
sarung tangan Hud jiu popit dan mulai memeriksanya dengan teliti.
setelah itu pelajaran yang tertera disana mulai dibaca, diteliti, diamati dan diselami artinya.
Dalam waktu singkat semua konsentrasi dan pikirannya telah terpusat menjadi satu, ia lupa
akan segala2nya kecuali mempelajari dan menyelami arti dari pelajaran yang didapatkan itu.
Waktu berlalu dengan cepatnya, baberapa hari sudah lewat tanpa terasa.
selama ini kadang kala tiga lima hari
JILID 30 HAL. 44 S/D 47 HILANG
itu termangu2, akhirnya dengan penuh emosi mereka berseru:
"Ciangbunjin, boleh kah kami tahu apakah hari ini juga kita akan tinggalkan lembah ini?"
Han siong Kie mengangguk.
"Betul dan kalian berdua boleh segera membereskan barang2 milik kamu berdua, sekarang
juga kita akan keluar dari lembah ini"
sudah lima puluh tahun sepasang siluman itu terkurung dalam lembah tersebut, bisa
dibayangkan betapa gembiranya dua orang itu setelah akan muncul kembali dalam dunia
persilatan, tanpa banyak bicara lagi mereka kabur kembali kedalam guanya dengan wajah berseri.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata yang tajam mengawasi keadaan disekitar tempat itu,
lalu dia melompat naik ke atas sebuah dinding cadas yang besar dan tingginya mencapai sepuluh
kaki lebih, dengan bacokan telapak tangannya ia membuat sebuah lubang diatas batu tersebut,
kemudian memasukkan sarung tangan Hud jiu popit ke dalam lubang batu tadi dan setelah itu
batu cadas yang amat besar itu didorong menempel diatas dinding bukit dan menutupi bagian
yang berlubang tadi..
Dengan begitu, maka benda mustika dunia persilatanpun tersimpan untuk selamanya dalam
sebuah batu cadas raksasa yang amat besar dan berat itu, siapapun jangan harap bisa
mendapatkannya kembali.
sementara itu sepasang siluman juga sudah selesai bebenah, mereka masuk gua tempat
tinggainya selama ini, dan dengan membekal senjata andalan mereka dimasa lalu, buru2
menghampiri pemuda tersebut.
sementara itu Han siong Kie sedang memandang ujung lembah itu dengan sorot mata setajam
sembilu. katanya kemudian dengan suara dingin:
"Setelah keluar dari lembah ini, kita akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran"
"Melakukan pembunuhan?" tanya sepasang siluman dengan wajah tertegun.
"Benar, sewaktu hendak masuk lembah ini, aku telah melangsungkan pertarungan melawan
tokoh2 sakti dari perkumpulan Thian che kau, salah seorang diantara mereka yang dinamakan
utusan Thian che kau telah mampus dalam lembah ini, bila dugaanku tidak meleset, sudah pasti
mereka telah mengurung mulut lembah ini sambil menunggu kemunculanku"
JILID 30 HAL. 50/51 HILANG
Jago2 lihaynya untuk menyumbat mulut lembah tersebut, padahal sudah tiga bulan lamanya ia
berdiam dalam lembah kematian untuk mempelajari si mi sinkang yang tercantum dalam Hud jiu
popit dan sekarang terbukti bahwa musuhpun melakukan patroli selama tiga bulan disekitar
perbatasan, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa musuh memang tidak berhasrat untuk
melepaskan dirinya.
Dalam pada itu ke dua belas orang laki2 baju hitam itu telah berhasil melihat jelas keadaan
lawannya, tiba2 mereka menunjukkan wajah tercengang, kaget dan ngeri, tanpa disadari
beberapa orang itu telah mundur beberapa langkah kebelakang.
Kiranya mereka telah menyaksikan makhluk setengah manusia setengah setan yang berada di
belekang Han siong Kie, yakni Hek pek siang yu yang menyeramkan itu.
sebagai mana diketahui Hek pek-siang yu memiliki tampang yang mengerikan sekali, siapapun
yang melihat tampang itu niscaya akan bergidik dan ketakutan setengah mati.
setelah mundur sampai beberapa kaki jauhnya, kedua belas orang laki2 baju hitam itu baru
berhenti mundur, salah seorang di antaranya lantas bersuit nyaring, suitan tersebut panjang,
tajam dan menjulang jauh ke udara.
Hek pek siang yu menunjukkan sikap menghina, tiba2 mereka bertanya dengan suara dalam:
" Ciangbunjin, kawanan tikus dan kacoak ini berasal dari aliran atau perguruan mana?"
"Mereka ? siapa lagi kalau bukan anak buah dari perkumpulan Thian che kau??"
"Apa maksud mereka menunggu disini?? "
"Apa lagi? Tentu saja menunggu kemunculanku"
"Jadi kawanan manusia ini juga yang selama ini mengejar dan menyerang Ciangbunjin?"
Han siong Kie tidak menjawab, tapi dia mengangguk.
sepasang siluman hitam dan putih segera mendengus dingin, siluman hitam menyingkir
kesamping dan memberi hormat, katanya:
"ciangbunjin, berilah petunjuk kepada hamba bagaimana caranya kita harus selesaikan
kawanan babi itu?"
"Bunuh sampai ludas" jawab Han siong Kie ketus.
Ucapan tersebut ibarat bunyi terompet malaikat elmaut yang hendak mencabut nyawa
manusia, tanpa disadari dua belas orang laki2 baju hitam itu bergidik dan mengucurkan peluh
dingin, pedang mereka dipegang semakin erat, bahkan kelihatan bergetar keras, jelas orang2 itu
sudah siap melancarkan serangan.
sepasang malaikat hitam putih menjengek sinis, tiba2 mereka membentak nyaring kemudian
menerjang kearah gerombolan manusia itu.
Perlu diketahui dua belas orang laki2 baju hitam itu adalah jago2 kelas dua dalam perkumpulan
Thian che kau, mungkin nama mereka cemerlang dan disegani orang dalam dunia persilatan maka
mereka diutus untuk melakukan patroli di sepanjang perbatasan antara mati dan hidup,
Tapi sekarang, tatkala dilihatnya dua orang makhluk aneh hitam dan putih itu menerjang tiba,
serentak mereka saling berpandangan kemudian menyebarkan diri ke empat penjuru sambil
berteriak mereka putar senjata dan menyambut tibanya serangan "Haahhh haaaahh haaahhh"
"Hiiiihhh hiiiihhh hiiiihhh"
Ditengah gelak tertawa aneh yang satu keras dan yang lain lembut sepasang manusia hitam
putih telah menerkam kedalam lapisan pedang dan menyambar musuh2nya.
Jerit kesakitan, dengusan berat menjelang sekarat berkumandang dlangkasa men-cabik2
kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu.
Hancuran badan ceceran darah berhamburan menodai perrmukaan tanah, keadaan disaat itu
benar2 mengerikan-
Tapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama hanya sebentar tak sampai seperminum teh
suasana pulih kembali dalam keheningan-
Tiada manusia yang hidup lagi disitu, kecuali Han siong Kie bertiga, dua belas orang lelaki
perkasa itu kini sudah berubah adi mayat, mayat2 yang tak utuh dan berlepotan darah kental.
Hanya dalam beberapa gebrakan Hek pek-siang yu telah membereskan dua belas orang jago
Thian che kau, kelihayan tersebut cukup mengagumkan, diam2 Han siong Kie menggukkan
kepalanya berulang kali.
00d00000w00
BAB 63
SELESAI membereskan kedua belas orang musuhnya, sepasang siluman hitam putih berjalan
kembali kehadapan Han siong Kie, kemudian berkata: " Ciangbunjin, tecu berdua telah
menyelesaikan tugas ini dengan sempurna"
"Bagus" puji si anak muda itu, "mari kita tinggalkan tempat."
Ucapan itu belum habis diucapkan tiba2 dari depan sana muncul tiga sosok bayangan manusia,
cepat sekali gerak tubuh ketiga orang itu.
Han siong Kie lantas membatalkan perkataannya dengan pandangan setajam sembilu dia awasi
orang2 tersebut.
Kiranya orang yang baru datang adalah san tianjin (telapak tangan kilat) se bun Lui, salah
seorang diantara utusan Thian che kau didampingi dua orang kakek jubah hitam.
setibanya ditempat kejadian ketiga orang itu memandang sekejap mayat yang bergelimpangan
ditanah lalu berseru kaget, enam buah sorot mata secepat kilat dialihkan ke wajah Han siong Kie
bertiga.
Tatkala sinar mata mereka bertemu pandang dengan Hek pek siang yu untuk kesekian kalinya
tiga orang kakek jubah hitam itu menjerit tertahan, pucat pias wajah mereka.
Tampang aneh dari Hek pek siang yu tiada keduanya didunia ini, meskipun mereka adalah
gembong2 iblis yang sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, namun dalam sekilas
pandangan saja baik se bun Lui maupun dua orang kakek lantas mengetahui siapa gerangan
mereka itu.
Hek pek-siang yu yang disegani dan ditakuti orang ternyata masih hidup didunia bahkan berada
dalam satu rombongan dengan Han siong Kie, peristiwa ini benar2 diluar dugaan dan mengejutkan
hati siapa pun juga.
selain itu merekapun heran bahwa Han siong Kie berhasil keluar dari lembah kematian dalam
keadaan hidup walaupun sudah tiga bulan lamanya tak muncul kembali dari situ.
JILID30 HAL. 58/59 HILANG
bermaksud untuk melakukan pengejaran sesudah termenung dan berpikir sejenak, akhirnya
kepada sepasang siluman itu dia berkata: "Hayo, kitapun pergi dari sini "
Dengan gerakan cepat ia lantas berangkat lebih dulu tinggalkan tempat tersebut, Hek pek siang
yu juga tidak mengatakan apa2, dengan cepat mereka bertiga sudah jauh meninggalkan tempat
semula, mulut lembah nampak nun jauh didepan sana.
sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan seorang manusiapun, suasana hening, sepi
dan tak nampak seorang manusiapun.
setelah berhasil dengan ilmu saktinya, Han siong Kie tidak memikirkan soal2 yang lain, hanya
satu menjadi beban ingatannya selama ini yakni menuju kebenteng maut untuk membalas
dendam.
Tiga li kemudian mereka akan tiba di mulut lembah tersebut, disaat itulah mendadak terdengar
seseorang membentak keras, suaranya nyaring ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari
bolong.
"Berhenti"
Han siong Kie terperanjat, cepat dia hentikan gerak tubuhnya, ia tak tahu suara itu berasal dari
balik hutan lebat kurang lebih sepuluh kaki disisi kanannya.
Hek Pek siang yu tak dapat mengerem gerak tubuhnya yang terlanjur bergerak cepat itu,
mereka harus berlarian tiga kaki lagi sebelum berhasil mengendalikan tubuhnya dan berhenti.
"siapa?" bentak Han siong Kie kemudian dengan suara dingin.
"Aku nak. jangan gugup" sahut orang itu.
Han siong Kie semakin terperanjat, sebelum ia sempat berbuat sesuatu ibarat peluru yang
meluncur kedepan, tahu2 sepasang siluman hitam putih sudah melayang kearah mana berasalnya
suara itu.
Pelbagai ingatan dengan cepat melintas dalam benak sianak muda itu, cepat ia memburu pula
kedepan kearah mana berasalnya suara itu.
sesosok bayangan manusia tiba2 menyongsong datang dengan cepatnya karena sama sekali
tidak menduga, hampir saja saling bertumbukan satu sama lainnya
Ditengah jeritan kaget dari kedua belah pihak. orang itu melayang turun keatas permukaan
sementara Han siong Kie sendiripun cepat menahan gerakan tubuhnya.
orang itu ialah seorang perempuan, bahkan seorang perempuan berkerudung hitam meskipun
tak dapat dilihat bagaimanakah raut wajahnya, tapi Han siong Kie tahu siapakah dia.
Dalam pada itu Hek pek siang yu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah melayang
pula kedalam gelanggang, begitu mencapai tempat tersebut, serentak mereka menerjang
perempuan berkerudung itu.
42
"Mundur... jangan gegabah" bentak Han Siong Kie tiba2 dengan suara lantang.
Sepasang siluman hitam putih tercengang, cepat mereka tarik kembali serangannya dan
mundur sejauh tiga kaki dari tempat semula, dengan pandangan keheranan ditatapnya pemuda itu
tak berkedip.
"cianpwe" " kata Han Siong Kie kemudian sambil memberi hormat kepada perempuan
berkerudung itu, "maafkanlah kekasaran serta kecerobohan beanpwee"
Siapa gerangan perempuan berkerudung itu ? Dia tak lain adalah manusia misterius yang
menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma.
Tatkala mendengar suara bentakan tadi, rupanya Han siong Kie sudah tahu bahwa ia sedang
berhadapan dengan orang yang kehilangan sukma, tapi berhubung dia ingin mengetahui raut
wajah asli dari perempuan misterius itu, maka bukan saja tidak mencegah sepasang siluman untuk
menerjang ke muka, malahan dia sendiripun menyergap masuk kedalam hutan dengan
mengerahkan dua belas bagian hawa saktinya.
Dan kala ini tujuannya tercapai, perempuan misterius yang bernama orang yang kehilangan
sukma itu tak sempat menyembunyikan diri lagi.
Tapi pemuda itu merasa kecewa, sebab perempuan itu menutupi wajahnya dengan kain
kerudung hitam, akhirnya toh ia tak berhasil juga untuk melihat paras muka dari perempuan
misterius itu.
Sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata dengan lembut:
"Nak. rupanya Thian selalu melindungi engkau, akhirnya kau bisa keluar dari lembah kematian
dengan selamat"
"Terima kasih atas perhatian dari cianpwe" "sahut pemuda itu cepat-cepat.
selama mulutnya berbicara sorot matanya yang tajam mengawasi potongan badan orang yang
kehilangan sukma tanpa berkedip. diam-diam ia merasa amat kenal dengan potongan tubuh
perempuan ini, hanya ia lupa dimanakah ia pernah bertemu dengannya.
Ketika sinar matanya beralih kearah lengan baju kanannya, ia bergetar keras seperti kena listrik
tubuhnya gemetar menahan emosi:
" Itulah pengorbanan dari orang yang kehilangan sukma untuk membebaskan totokan jalan
darah pada tubuhnya, dia telah mengorbankan lengan kanannya dan lengan tersebut hingga
sekarang masih tersimpan di sakunya.
JILID 31 HAL.04 S/D 5 HILANG
lembah, carilah jalan keluar yang lain dan segeralah engkau tinggaikan tempat ini"
"sayang sudah terlambat" tiba2 serentetan suara dingin menyeramkan membelah kesunyian.
sekujur badan orang kehilangan sukma gemetar keras, secara beruntun dia mundur beberapa
langkah lebar kebelakang.
Rasa kejut yang dialami Han siong Kie pun sukar dilukiskan dengan kata2, ia percaya tenaga
dalamnya pada saat ini sangat lihay, tapi kenyataannya ada orang berhasil mendekat wilayah
sekitar lima kaki dari tempat mereka beradapun tidak dirasakan olehnya, dari sini dapat ditarik
kesimpulan sampai dimanakah kelihayan musuhnya itu.
Hek Pek siang yau sepasang siluman hitam putih juga sudah menyadari akan kelihayan
musuhnya, mereka lantas bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Dari balik popohonan lima kaki dari gelanggang, muncul tiga sosok bayangan manusia, orang
pertama adalah seorang manusia aneh berkerudung hijau, dia adalah Thian Che kaucu,
dibelakangnya mengikuti dua orang kakek jubah hitam yang mempunyai sulaman matahari,
rembulan dan bintang didadanya, salah seorang diantaranya adalah Tangan kilat see bun Lui.
Paras muka Han siong Kie berubah hebat, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya.
sikap orang yang kehilangan sukmapun amat serius, dengan suara lirih dia berbisik kepada Han
siong Kie:
"Manusia berkerudung itu adalah pemimpin dari Utusan Thian che kau, orang sebut dirinya
sebagai Cian jiu mo ong (raja iblis bertangan seribu) Tong ciao, selama ini dialah yang selalu
menyaru sebagai ketua. Hari ini, ketiga orang itu jangan sekali-kali kau lepaskan dalam keadaan
hidup, sebab bila seorang saja diantara mereka masih hidup, maka akibatnya sukar dilukiskan
dengan kata-kata" Han siong Ki mengangguk dan memberikan kesanggupannya.
Dalam pada itu, raja iblis bertangan seribu Tong ciau sudah berpaling kearah orang yang
kehilangan sukma, kemudian sambil tertawa seram ejeknya:
"Heeehhh . . heeehhh . . heeehhh. .Aku mengira siapa yang berada disini, tak tahunya adalah
kau"
Ucapan tersebut membuat Han siong Kiejadi tertegun dia lantas berpikir dihati:
"Masakah orang yang kehilangan sukma adalah anggota perkumpulan Thian che kau? Kalau
tidak kenapa orang ini mengenalinya ?"
Sementara itu orang yang kehilangan sukma telah membentak nyaring: "Tutup mutut
anjingmu"
Jelas sekali maksudnya dia tidak mengharapkan orang itu meneruskan kata-katanya lebih jauh.
Kepada Han siong Kie kembali dia berbisik,
"Ingat, jangan biarkan mereka tetap hidup, akan kubantu dirimu secara diam-diam" selesai
berkata dia lantas melejit keudara dan kabur dari tempat kejadian.
"Mau lari kemana kau ?" bentak Raja iblis bertangan seribu Teng Ciau dengan keras, secepat
kilat ia menerkam kemuka.
Han siong Kie mendengus dingin, tubuhnya bergeser setengah langkah ke samping lalu
melepaskan sebuah pukulan gencar, dalam serangan tersebut dia telah sertakan hawa sakti si mi
sinkang yang di milikinya, bukan saja tidak menimbulkan suara kekuatannya sangat mengerikan-
"Blaaang" suatu benturan nyaring menggelegar diangkasa, raja iblis bertangan seribu Teng ciau
yang sedang melakukan pengejaran segera terpental hingga mencelat sejauh delapan depa dari
tempat semula.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah, orang yang kehilangan sukma melarikan diri
dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan-
Kejadian ini sangat mengejutkan dua orang utusan Thian che kau yang lain, hampir saja
mereka menjerit kaget.
selama hidup belum pernah mereka saksikan kemampuan sedahsyat itu, dan mimpipun mereka
tak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki pemimpin utusan Thian che kaupun ternyata
pemuda itu tak mampu dihajar sampai menceat.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata setajam sembilu mengawasi manusia berkerudung itu
tanpa berkedip. mukanya seram dan penuh diliputi hawa napsu membunuh mengerikan sekali
keadaannya.
JILID 31 HAL. 12/13 HILANG
sukma bagaikan menghormati orang tua sendiri ketika didengar pihak musuh memaki orang
yang dihormati sebagai perempuan hina, kontan saja ia naik pitam.
"Tutup mulut anjingmu yang baur bentaknya, "Teng ciao tempat inilah tulang belulang kamu
bertiga akan terkubur untuk selamanya "
"Anjing cilik, kematian sudah berada didepan mata, buat apa engkau masih saja mengibul
seenaknya ?" ejek Tangan kilat se bun Lui tak kalah sengitnya.
Han siong Kie tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, dia ulapkan tangannya kepada
Hekpek siang yu lalu, serunya:
" Hantar kedua ekor anjing ini pulang keakherat, jangan biarkan mereka tetap hidup dikolong
langit "
Dengan sikap yang sangat hormat sepasang siluman mengiakan tanpa banyak bicara lagi
mereka menerjang dua orang utusan Thian che kau itu.
siluman hitam menerkam si Tangan kilat se bun Lui, sementara siluman putih menerjang
utusan Thian che kau yang lain-
Han siong Kie sendiri dengan wajah sedingin es menghampiri Raja iblis bertangan seribu,
katanya:
"Teng ciao sudah terlampau lama engkau mencicipi kehidupan didunia ini, sekarang pun
ciangbunjin akan mengirim kau untuk berpesiar keakhirat, Nah berangkatlah sekarang juga"
seraya berkata selangkah demi selangkah ia menghampiri lawannya. Suatu pertarungan sengitpun
segera berkobar dalam gelanggang.
Ilmu silat yang dimiliki dua orang utusan Thian che kau itu, memang sangat lihay, dalam
keadaan terdesak mereka harus melangsungkan pertarungan adu jiwa yang mengerikan-
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau adalah pengganti dari Thian che kaucu, tentu saja tenaga
dalamnya amat sempurna, dia hanya kalah setingkat dari kaucu sendiri
Tatkala Han siong Kie menerjang masuk kewilayah Lian huan tau dan menolong Go siau bi,
kedua belah pihak pernah terlibat dalam suatu pertempuran sengit waktu itu, kendatipun Han
siong Kie dan Go siau bi sudah bekerja sama toh bukan tandingannya juga, maka ia sama sekali
tak memandang sebelah matapun kepada musuhnya.
selama ini dia hanya menguatirkan Pertarungan dari Hekpek siang yu, seorang gembong iblis
yang sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari keramaian dunia, setelah melihat bagaimana dua
orang jago yang disegani itu bertarung melawan dua orang rekannya, diapun setengah menjadi
lega. kini dia lupa untuk mengejar orang yang kehilangan sukma, memandang Han siong Kie yang
makin mendekat, gembong iblis tersebut lantas tertawa seram, katanya:
"Manusia bermuka dingin, masih mengharapkan tidak untuk melanjutkan keturunan dan
kejayaan dari Mo tiong ci mo?"
Han siong Kie menghentikan langkahnya lalu menjawab:
"Teng ciau, tak tak usah mempersoalkan yang lain, ketahuilah... jika Thian che kaucu masih
bersembunyi terus macam kura-kura, maka manusia-manusia pengganti macam engkaulah yang
bakal sial, sebab ini hari engkau sudah pasti akan berangkat menuju ke akherat"
Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan, secepat kilat dia melancarkan tiga buah pukulan
berantai ke depansekilas
pandangan, ketiga buah serangan tersebut sama sekali tidak nampak lihay ataupun
mengerikan, tapi justru dibalik kelembutan itu terselip hawa sakti si mi sinkang yang memiliki daya
penghancur, bukan begitu saja, bahkan kecepatannya melebihi apa pun juga.
Raja iblis bertangan seribu Tong cian sedikitpun tidak jeri, telapak tangannya lantas disilangkan
didepan dada dan menangkis semua ancaman yang tiba. "Biang Blaang Blaaang " Tiga kali
benturan dahsyat menggelegar diangkasa.
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau tergetar keras dan mundur tiga langkah, rasa kejutnya
kian menjadi, dia tak menyangka hanya berpisah beberapa bulan, ternyata kekuatan tenaga yang
dimiliki musuhnya sudah meningkat sehebat itu.
Padahal ia sendiri disebut orang Raja iblis bertangan seribu, tentu saja tenaga dalam yang
dimilikinya amat sempurna, ia jadi penasaran, begitu terdesak secepat kilat ia menerkam lagi
kemuka dan secara beruntun melancarkan empat puluh delapan buah pukulan berantai.
Ke empat puluh delapan buah pukulan itu dilancarkan secara berantai, diatas
JILID 31 HAL. 18/19 HILANG
kan tandingan baginya, sungguh tak nyana baru tiga gebrakan dia sudah jatuh kecundang di
tangan Manusia bermuka dingin yang berusia dua puluh tahunan, kejadian ini segera
menimbulkan kembali sifat buasnya.
sambil membentak keras, sekali lagi ia menerjang kemuka, serangan demi serangan
dilancarkan secara bertubi-tubi, mengerikan sekali ancamannya itu.
Han siong Kie sama sekali tidak gentar, dia kembangkan permainan Mo mo ciang hoat dan
membalas serangan lawan deagaa serangan pula.
Mengerikan sekali pertarungan waktu itu, kedua belah pihak sama-sama mengeluarkan
segenap ilmu simpanan yang dimiliki, siapa pun berharap bisa menghancurkan lawannya secepat
mungkin.
Suatu ketika, mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang membelah angkasa.
si Tangan sakti se bun Lui yang hebat tak mampu menghindari sebuah sergapan kilat dari
siluman hitam, tubuhnya kontan terbacok telak dan hancurlah tubuhnya menjadi remuk seperti
berkedel, darah segar berceceran menodai permukaan tanah.
Melihat rekannya tewas, utusan Thian vhe kau yang lain jadi gugup, permainan serangannya
jadi kacau balau tak karuan-
Kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan oleh siluman putih, suatu cengkeraman kilat
berhasil menangkap bahunya, baju berikut dagingnya lantas dicomot sampai hancur sepanjang
setengah depa, darah segar bagaikan pancuran mengucur keluar tiada hentinya.
00dw00
BAB 64
BERHASIL dengan serangan yang pertama, siluman putih tidak berdiam diri sampai disitu saja,
secara beruntun dia melontarkan kembali tiga buah pukulan berantai.
Begitu tiga pukulan itu dilepaskan, untuk kesekian kalinya jerit kesakitan berkumandang
memecahkan kesunyian, sambil muntah darah segar utusan Thian che kau itu mencelat sejauh
satu kaki lebih dan tidak bangun untuk selamanya.
Raja iblis bertangan seribu Tong ciau merasa terkejut dan panik, dalam gugupnya secara
beruntun dia lepaskan beberapa buah pukulan kilat begitu Han siong Kie terdesak hebat, ia lantas
melejit dan siap melarikan diri
"Mau kabur ?" jengek Han siong Kie, "jangan mimpi hayo serahkan dulu jiwa anjingmu"
sekali berkelebat ia sudah menghadang jalan pergi raja iblis bertangan seribu itu, secara
beruntun dia lepaskan lima buah serangan berantai.
Melihat gelagat tidak menguntungkan- raja iblis bertangan seribu tak berani gegabah lagi,
timbullah niat untuk mengadu iiwa, maka tatkala serangan musuh melanda datang, bukannya
berkelit dia malahan menyongsong datangnya pukulan itu dengan pukulan.
selama pertempuran berlangsung, Han siong Kie tak bisa bertarung dengan hati lega, karena ia
kuatir kalau dua orang musuh yang sedang bertempur melawan Hek pek siang yu berhasil kabur,
ia kuatir dengan peringatan dari orang yang kehilangan sukma dimana dikatakan bila seseorang
diantara mereka berhasil kabur maka akibatnya sukar dibayangkan-
Tapi sekarang, setelah dua orang yang di kuatirkan berhasil dibikin mampus oleh sepasang
siluman, iapun tidak kuatir lagi, segenap perhatian dan tenaganya dihimpun menjadi satu untuk
melakukan sergapan sergapan maut. Lima gebrakan kemudian, Raja iblis bertangan seribu sudah
dibikin kalang
JILID 31 HAL. 24 S/D 27 HILANG
ia masih berada disini:.. aaai sukarlah untuk diketahui siapa yang bakal hidup dan siapa yang
bakal mati"
"Aaah belum tentu begitul" seru Han siong Kie dengan cepat.
"sekarang engkau adalah seorang ketua dari suatu perguruan, sebelum dendam sakit hatimu
terbalas setiap persoalan yang kau hadapi harus dipikirkan dengan otak dingin, janganlah terlalu
memburu napsu, ketahuilah ilmu silat ibaratnya samudra yang luas, dimanapun ada orang-orang
pintar yang tersembunyi, jangan disebabkan oleh luapan emosi mengakibatkan segala sesuatunya
menjadi berantakan"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan
terbata:
"Setiap nasehat dari cianpwe akan boanpwe dengarkan baik-baik, untuk selanjutnya tat akan
kulupakan lagi"
"Aaah sekarang cepatlah keluar dari lembah ini, aku kuatir bila terlambat maka akan terjadi halhal
yang tak diinginkan"
"Bukankan cianpwe lelah mengatakah bahwa disekitar mulut lembah telah ditanam obat
peledak seberat sepuluh laksa kati"
"Benar, tapi sekarang pemimpin mereka yang merupakan ketiga orang tadi sudah mati semua,
sisanya tak perlu kita takuti lagi, mesti kita bergerak dengan bersembunyi dibalik pepohonan, aku
rasa untuk sementara waktu kita masih bisa mengelabuhi mereka sebab yang tersisa cuma jagojago
kelas kambing. Kendatipun akhirnya jejak kalian berhasil ditemukan, toh pada waktu itu
kalian sudah berada disekitar mulut lembah dan wilayah yang ditanam obat peledakpun sudah
dilampaui, aku percaya dengan kemampuan ya kalian miliki tak sukar untuk kabur dari sini, Nah,
selamat jalan dan semoga berhasil"
Selesai dengan kata-katanya, orang yang kehilangan sukma lantas berkelebat masuk ke hutan
dan lenyap dibalik pepohonan yang rindang.
Dengan termangu- mangu Han Siong Kie mengawasi bayangan punggungnya yang lenyap dari
pandangan, dia menghela nafas panjang, lalu berpikir:
"Budi kebaikan yang kuterima selama ini entah sudah berapa banyak. aai, entah bagaimana
caraku untuk membalas budi kebaikannya ini?
Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, akhirnya sambil mengulapkan tangannya kepada
sepasang siluman ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya menerjang ke arah mulut lembah.
selang sesaat kemudian, mulut lembah itu sudah berada didepan mata, pepohonan yang
rindangpun sudah mencapai pada ujungnya.
Ketika mereka berada kurang lebih lima puluh kaki dari mulut lembah, serentak Han siong Kie
menancap gas dan kabur lebih cepat lagi, kepada dua orang siluman itu serunya: "Hayo kita
terjang keluar dari lembah ini secepat-cepatnya..."
Tiga sosok bayangan manusia bagaikan tiga gulung asap dengan cepatnya meluncur kearah
mulut lembah. suitan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian disusul dari belakang
mereka bergelegar suara ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.
Pasir dan batu mencelat jauh keudara, asap hitam tanah longsor berguguran disekitar tempat
itu membuat suasana ketika itu benar-benar mengerikan sekali.
Akhirnya meledak juga obat yang ditanam disekitar mulut lembah, tapi sayang terlambat
setengah langkah, Han siong Kie sudah lolos dari lingkaran bahan peledak itu.
Keadaan mulut lembah itu porak poranda keadaannya mengerikan sekali, batu cadas sebesar
gunung dan pasir berjuta-juta meter kubik berguguran kebawah dan menyambar semua lapisan
tanah disekitar situ.
Baik Han siong Kie maupun Hekpek siang yau saling berpandangan sekejap dengan mulut
melongo bergidik hati mereka, andaikata orang yang kehilangan sukma tidak memberi peringatan
lebih dahulu, niscaya mereka bertiga sudah hancur entah berwujud apa.
Bisa dibayangkan betapa gusar dan dendamnya siluman hitam menyaksikan keadaan itu, ia
berpaling ke arah pemuda kita lalu berseru: "Ciangbunjin, hutang ini...."
"Hutang kita kepada mereka tidak terbatas hanya peristiwa ini saja" tukas Han siong Kie
dengan cepat, lebih baik kita perhitungkan dikemudian hari saja, sekarang aku masih ada urusan
penting yang harus segera diselesaikan marilah kita segera pergi"
siluman putih menyapu pandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu berkata pula dengan
suara dalam:
"Ciangbunjin, tolong tanya bagaimana kita harus selesaikan anakan monyet yang bersembunyi
di sekitar tempat ini?"
"Kalau ingin mencari balas sudah sepantarnya kita bikin perhitungan dengan pemimpin mereka,
apa harganya buat kita untuk ribut dengan manusia-manusia keroco seperti mereka? Biarkanlah
mereka pergi"
selesai mengucapkan kata-kata tersebut, Han siong Kie segera berangkat meninggalkan tempat
itu diikuti Hekpek siang Yaw di belakangnya
Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah jauh tinggalkan lembah kematian, tujuan mereka
sekarang adalah benteng maut.
Inilah tugas pertama yang harus diselesaikan olehnya setelah berhasil mempelajari Ilmu sakti si
mi sinkang, dia hendak menuntut balas dan menghancurkan tengkorak maut.
Untuk menghindari kegemparan dikalangan masyarakst oleh wajah Hekpek siang yau yang lain
daripada yang lain itu, sengaja ia memerintahkan kedua orang itu untuk mengenakan kain
kerudung hitam.
Hari kedua, tatkala tengah hari menjelang tiba, mereka sudah berada ditepi sebuah sungai
yang lebar, perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri sungai tersebut.
Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba disamping sebuah bekas bangunan rumah yang kini
sudah tinggal puing-puing yang berserakan, disitulah dahulu pesanggrahan Teng to siau cut
berdiri
Terkenang kembali masa lampau, tanpa terasa Han siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya,
dengan termangu- mangu ia memandang bekas bangunan Teng to siau cut yang tinggal puingpuing
itu.
Tanpa terasa ia teringat kembali kenangan masa lampau, kenangan dikala ia terhajar oleh
pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai, bagaimana ia ditolong oleh Go siau bi dan
bagaimana pesanggrahan tersebut akhirnya dibakar oleh orang-orang Thian che kau.
Bayangan Go siau bi yang cantik jelita terpampang jelas didepan matanya, gadis itu telah jatuh
cinta kepadanya pada tatapan yang pertama, bahkan berulang kali menyatakan cinta kepadanya.
Tapi ia sama sekali tidak membalas cinta dara itu, ia tak pernah mencintai Go siau bi, sebab ia
membenci setiap perempuan yang ada didunia ini kecuali Tong hong Hui seorang.
Akhirnya pemuda itu menghela napas panjang, tiba-tiba ia merasa bahwa perbuatannya selama
ini terlalu menyinggung perasaan halus gadis itu, tapi sekarang dia sudah pergi, mungkin
selamanya tak mungkin bisa berjumps lagi.
Benarkah aku telah menghancurkan masa depan seorang gadis ? Benarkah aku bertanggung
jawab atas kejadian ini? ia mencoba untuk bertanya pada diri sendiri, tapi pemuda itu tak mampu
menjawab.
Tindakan ibunya say siang go atau siang go cantik ong cul ing meninggalkan tempat kejadian
dikala keluarganya tertimpa bencana bahkan kawin lagi dengan Thian che kaucu dirasakan
sebagai pukulan batin terberat yang pernah ia terima, kejadian ini membuat pandangannya
terhadap kaum perempuan jadi sinis dan benci.
Untunglah selama ini dia banyak berhutang budi kepada orang yang ada maksud, orang yang
kehilangan sukma, Go siau bi serta Tong hong Hui, sikap dari perempuan-perempuan inilah yang
banyak menggoyahkan cara berpikirnya yang salah itu, perasaan anti perempuan yang
dipertahankan selama ini pun lambat laun menjadi lebih tawar.
Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang puing yang berserakan serta ombak yang
memecah ditepi pantai, kian lama perasaannya kian terbuai oleh lamunan dan kenangan lama.
Hekpek siang yau tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dengan tenang mereka menunggu di
belakang ketuanya.
Tiba-tiba dari balik puing-puing yang berserakan berkumamdang suara helaan napas panjang.
Satu ingatan lantas melintas dalam benak si anak muda itu, ia tersadar kembali dari
lamunannya kepada sepasang siluman segera pesannya. " Kalian tak usah pergi kemana-mana,
nantikanlah aku disini". secepat kilat ia meluncur ke angkasa dan menerobos masuk kedalam
hutan bambu di mana helaan napas tersebut berasal.
seorang sastrawan berusia setengah baya berdiri sambil bergendong tangan ditepi sungai dekat
hutan bambu. Berdebar keras jantung Han siong Kie setelah mengetahui siapakah orang itu,
sebab tak lain adalah kakek Go siau bi, orang-orang persilatan menyebutnya sebagai Put lo
sianseng.
Han siong Kie berdiri pada jarak lima kaki dihadapan kakek tua itu, ia tak tahu apa yang harus
diucapkan dan apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini.
"Benarkah yang datang adalah Han siauhiap, ketua dari perguruan Thian lam bun? " tanpa
berpaling Put lo sianseng menegur lebih dahulu.
Han siong Kie mendekati sampai sejarak tiga kaki lalu menjura dengan hormat.
"Benar cianpwe, apakah selama ini locianpwe berada dalam keadaan sehat walafiat" sahutnya.
Perlahan-lahan put lo sianseng memutar badan sekilas sorot mata yang aneh memancar keluar
tapi sebentar saja sudah lenyap tak berbekas dengan suara dingin.
"sebetulnya lohu sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia ini, tapi sayang imanku kurang
teguh, karena tergoda oleh peristiwa keduniawian akhirnya kumuncul kembali dalam dunia
persilatan, aai.. sungguh tak nyana aku tergoda oleh suatu masalah yang akhirnya membuat diriku
tak bisa lagi berpeluk tangan belaka" Berbicara sampai disitu, kembali ia menghela napas panjang.
"Persoalan apakah yang telah membuat locianpwe jadi bingung?" tanya pemuda itu keheranan-
"Belenggu cinta dari cucu perempuanku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie lantas teringat kembali dengan peristiwa lama
ketika ia menolak pinangan dariput losianseng bagi cucu perempuannya.
"Locianpwe, apakah perkataanmu itu kau sengaja tujukan kepada diri boanpwe? " tanyanya
tanpa sadar.
sekali lagi sorot mata aneh terlintas di wajah Put to sianseng, ia menatap sekejap pemuda itu
kemudian balik bertanya: "Han sauhiap bersediakah engkau membantu diriku?"
"Persoalan apakah yang dapat boanpwe lakukan bagi locianpwe?" tanya Has siong Kie setelah
tertegun sejenak.
"sebenarnya lohu sudah mengangkat sumpah tak akan mencampuri urusan keduniawian lagi..
Aaai, tak disangka oleh karena sejilid kitab pusaka Thian tok pit kip. bukan saja putraku Go Yu to
menemui ajalnya, perkumpulan Pat Gi pang hancur berantakan dan lenyap dari dunia persilatan,
bahkan Go siau bi cucu perempuanku ini ..."
Teringat dara itu, merah padam selembar wajah Han siong Kie, sebab bagaimanapun juga dia
pernah menolak pinangan dara itu
setelah berhenti sebentar terdengar Put lo sianseng melanjutkan kembali kata-katanya:
"Didalam waktu yang amat singkat, lohu telah berhasil melatih Siau bi sehingga ilmu silatnya
mencapai tingkatan yang lihay, tujuanku adalah meminta kepadanya agar balaskan dendam bagi
kematian ayahnya serta membangun kembali perkumpulan yang telah buyar.." Berbicara sampai
disini, kembali dia berhenti.
Han siong Kie merasa hatinya sangat tidak tenang, bagainya secara lapat-lapat ia sudah merasa
bahwa bantuan yang diharapkan kakek sakti ini mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan
Go siau bi.
sementara itu paras muka Put lo sianseng sudah agak berubah, katanya kembali:
"Aaai. sebetulnya aku malu untuk membicarakan persoalan ini, tapi apa boleh buat? Mau tak
mau terpaksa harus mengatakannya juga ...siau bi telah terbelenggu oleh cinta, sekarang ia sudah
terjerumus dalam sekali, kegagalan demi kegagalan yang diterimanya selama ini telah membuat ia
jadi putus asa, sekarang siau bi telah mengambil keputusan untuk mencukur rambut menjadi
nikoh, aai, inilah suatu kejadian yang membuat perasaan hati lohu selalu tak tenang."
"Apa ? Dia mau mencukur rambut menjadi pendeta??"
"Benar, dan keputusannya ini tampaknya sudah bulat, kecuali engkau mungkin didunia ini tak
ada orang kedua yaag bisa merintangi niatnya itu lagi"
JILID 31 HAL. 40/41 HILANG
"Boleh aku tahu pada saat ini nona siau bi berada dimana ?"
"Dipintu luar kuil Bu cu an di bukit Tay hang san"
"Benar, dia minta Tay huang sinni untuk menerimanya sebagai pendeta, tapi lantaran lohu
sudah berpesan kepada sini maka ia ditolak untuk memasuki kuil tersebut, walaupun demikian
rupanya ia tidak menjadi putus asa, sudah tiga hari tiga malam ia berlutut didepan pintu kuil
tersebut "
Dari mulut boanpwe pernah mendengar tentang kelihayan Tay huang Sinni, katanya watak
nikoh itu aneh sekali, enam puluh tahun berselang dengan lencana Hud cu leng dia telah
menggetarkan sungai telaga dan memaksa orang persilatan baik dari golongan putih maupun dari
golongan hitam tunduk semua kepadanya, sungguh tak nyana dia masih hidup didunia ini?"
"Benar, Tay huang sinni itulah yang kumaksudkan, hingga kini sepuluh li disekitar bukit Tay
huang san merupakan daerah terlarang, tak seorang jago persilatanpun yang berani mendekati
tempat itu "
"Kalau memang begitu, bukankah kedatangan boanpwe."
"Dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bukan suatu persoalan yang terlampau berat
untuk menerjang masuk kedalam kuil"
"Menerjang masuk?" seru pemuda itu tercengang.
"Benar, selain menerjang masuk rasanya tiada jalan lain yang bisa kau tempuh. sebagaimana
telah kau ketahui. Tay huang sinni adalah seorang manusia aneh yang tak bisa diajak berbicara.
Kendatipun begitu aku minta kau masih ingat untuk berbicara secara baik-baik lebih dahulu
sebelum menggunakan kekerasan, bila tidak terpaksa sekali janganlah turun tangan secara
gegabah"
"Perasaan ingin tahu lantas menyelimuti hati pemuda ini, ia lantas berpikir:
" Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mencoba sampai dimanakah
kelihayan kungfu Tay huang sinni?"
Diapun mengangguk seraya menjawab: "Boanpwe akan menuruti semua pesan cianpwe"
"Bolehkah aku tahu apa tujuanmu sekarang ??"
"Boanpwe hendak berkunjung ke benteng maut untuk membuat perhitungan dengan pemilik
benteng maut tersebut"
"Membalas dendam? tentang soal ini..."
"Apakah locianpwe ada petunjuk lain?"
"Aaah tidak... tidak aku tidak ingin mengatakan sesuatu hal, setelah tiba pada saatnya engkau
akan mengetahui sendiri"
Han siong Kie melongo, ia tak tahu apa yang dimaksudkan put lo sianseng dengan katakatanya
itu?
sementara dia masih termenung put to sianseng telah melanjutkan kembali kata-katanya:
"Masalah yang kutitipkan padamu itu terlampau serius, rasanya tak boleh dibiarkan berlarutlarut,
oleh sebab kuatir kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, apakah sauhiap bersedia untuk
berkunjung dahulu kebukit Tay huang san?"
"Boanpwe turut perintah bagaimana cara nya untuk berangkat menuju bukit Tay huang san?"
"Dari sini berangkatlah keutara dua ratus li kemudian akan tiba kebukit Tay huang san, diantara
bukit yang menjulang diangkasa akan kau temui sebuah bukit gersang yang tidak bertumbuhan,
tempat itu mudah ditemukan dan aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki tidak susah
untuk mencapai tempat tujuan"
"Kalau begitu boancwe akan berangkat sekarang juga"
"Tunggu sebentar"
"Apakah locianpwe masih ada pesan lain"
"Benarkah dua orang manusia berkerudung yang mengikuti dibela kang mu itu adalah Hek pek
siang yau sepasang siluman hitam putih yang tersohor itu."
sungguh kagum Han siong Kie oleh ketajaman mata Put to sianseng, bukan saja dapat
menebak jitu asal usul dari Hek pek siang yau, malahan tanpa melihat tampang wajah merekapun
tebakannya ternyata jitu. Maka dia lantas mengangguk tanda membenarkan.
"Apakah hubungamu dengan sepasang siluman itu" kembali Put to sianseng bertanya.
"Mereka berdua sudah termasuk jadi anggota perguruanku"
JILID 31 HAL. 46/47 HILANG
"Benar, dan sekarang juga kita akan berangkat menuju ke kuil Bu cu an dibukit Tay huang san"
"Pergi ke bukit Tay huang san?" seru siluman putih dengan wajah terkesiap.
"Benar, bukit Tay huang tempat tinggal dari Tay huang sini"
"Apakah ciangbunjin hendak bermusuhan dengan pendeta perempuan itu?"
"Tidak, aku kesana untuk menyelesaikan sedikit persoalan. Tahukah kamu berdua persoalan
apa yang hendak kuselesaikan "
"Tentang soal ini tecu tak berani bertanya.."
"Kalau begitu hayo kita segera berangkat"
Begitulah tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat segera
berangkat menuju utara.
Hek pek siang yau terhitung pula sebagai jago yang tersohor pada puluhan tahun berselang,
tentu saja Tay huang sinni yang pernah malang melintang dalam sungai telaga dengan Hud cu
lengnya tidak terlampau asing bagi mereka.
sekarang setelah mengetahui bahwa tujuan mereka adalah ke bukit Tay huang san, sedikit
berdebar juga hati mereka berdua.
Namun baik siluman hitam maupun siluman putih tak berani banyak bertanya, sebab
bagaimanapun juga mereka harus mengikuti kemana perginya majikan mereka.
Untunglah ketiga orang itu adalah jago-jago silat berilmu tinggi, sekalipun tiada jalan yang
terbentang namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menembusinya .
Dua jam kemudian, mereka sudah memasuki daerah pegunungan yang terjal dan sepi.
sesudah melewati berpuluh-puluh buah bukit yang terjal, akhirnya diantara deretan bukit itu
muncullah sebuah bukit gundul yang gersang.
Kecuali beberapa titik warna hijau menghiasi bukit tersebut, hampir boleh dibilang yang tampak
hanya batu-batu cadas yang hitam dan tajam.
Han siong Kie segera menghentikan langkah kakinya, sambil menunjuk ke arah bukit gundul
nanjauh didepan sana katanya:
"Aku pikir bukit itulah yang dinamakan bukit Tay huang san?"
"Jadi ciangbunjin belum pernah berkunjung kemari?" tanya siluman hitam keheranan-
"Belum pernah, baru untuk pertama kali ini aku berkunjung kemari"
"Dahulu tecu pernah melewati tempat ini, tak salah lagi inilah bukit Tay huang san"
"Ciangbunjin, bolehkah kami tahu apa maksud ciangbunjin datang kemari?" tanya siluman putih
agak takut-takut.
"Mencari seseorang"
"Mencari orang? Ketahuilah ciangbunjin, dua li dari kaki bukit itu merupakan daerah terlarang,
setiap umat persilatan tak berani melewati wilayah tersebut dengan sembarangan"
Han siong Kie bukan orang bodoh, tentu saja ia mengetahui perasaan hati dari sepasang
siluman itu, sambil tertawa dingin katanya: "Jadi kalian merasa takut??"
"Ciangbunjin jangan berkata begitu" seru siluman hitam dengan hati gelisah, "setelah tecu
memberikan kesanggupan untuk turut serta ciangbunjin untuk selamanya, jangan toh hanya
berkunjung ke bukit Tay huang san, kendatipun harus naik kebukit golok atau terjun ke lautan api
tak nanti kami akan menolaknya"
Han siong Kie menengadah dan memandang sekejap bukit gundul diseberang sana, kemudian
katanya lagi.
"Kalian berdua tak usah ikut aku naik ke bukit itu, nantikan saja kedatanganku disini"
"Tidak Tecu tidak mau meninggalkan ciangbunjin seorang diri" serentak kedua orang siluman
itu berseru.
"Aku hendak pergi menyelesaikan suatu persoalan, kalian tak usah ikut saja. berdiamlah disini "
"Tecu berdua mana tenang membiarkan ciangbunjin pergi menempuh mara bahaya seorang
diri?"
"siapa bilang aku pergi menempuh bahaya ? Ketahuilah urusanku ini tidak menyangkut soal
dendam sakit hatipun tidak mengenai soal pembalasan budi."
"Tapi .. Ciangbungjin pasti tahu Tay Huang sini adalah seorang manusia yang berwatak aneh,
siapa berani melanggar pantangannya maka bisa mengakibatkan ...."
"Kalian berdua tak perlu kuatir, aku bisa menjaga diri dan akupun tahu bagaimana caranya
untuk menghadapi keadaan seperti itu" Dengan wajah bersungguh-sungguh siluman hitam
berkata lagi:
"Bagaimaa kalau tecu berdua mengikuti jejak ciangbunjin dari tempat kejauhan ?jadi apabila
sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tecu berdua bisa segera memberi bantuan ?"
"Tidak Tidak perlu" sahut pemuda itu tegas.
Tapi... tapi bagaimanapan juga, kami merasa tak tenang."
"Kalian berdua tetap berjaga-jaga disini, bagaimanapun juga yang terjadi disini, kalian tak boleh
bergerak secara sembarangan, perkataanku ini adalah perintah, aku minta kalian berdua jangan
mencoba untuk melanggar perintahku ini"
Buru-buru Hok pek siang yau membungkukkan badannya memberi hormat, mereka tak banyak
banyak bicara lagi.
Menyaksikan sikap kedua orang itu, Han siong Kie malahan merasa tidak tega sendiri, kembali
bisiknya dengan lembut:
"Kalian berdua tidak usah kuatir, tenangkan saja hati kalian berdua, tidak akan terjadi hal yang
diluar dugaan atas diriku ini"
seraya berkata dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan bergerak menuju
kepuncak bukit yang gundul itu
Diluaran Han siong Kie memang tampak sangat tenang, padahal dalam hatinya ia menggerutu
terus, bagaimanapun juga dia telah memasuki daerah terlarang dari seorang jago silat yang
disegani umat manusia, selain itu diapun tak tahu apakah pesan dari put lo sianseng dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya atau tidak masih merupakan suatu tanda tanya besar, ia tak
tahu apakah Go siau bi bersedia untuk mendengarkan nasehatnya atau tidak.
Menurut keterangaa dari put to sianseng sudah tiga hari tiga malam Go siau bi berlutut didepan
pintu kuil, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tekadnya sudah bulat .
"Apa yang harus diucapkan setelah berjumpa dengan gadis itu nanti?"
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, setiap kali teringat akan persoalan ini hatinya
langsung merasa tak tenang.
Belum jauh ia mendaki bukit yang gundul itu, kira-kira baru sepuluh kaki dari wilayah
perbatasan daerah terlarang, mendadak perjalanannya telah dihadang oleh seorang nikoh,
pendeta perempuan itu duduk bersila diatas sebuah batu cadas, matanya terpejam dan tubuhnya
kaku seperti arca, tampaklah betapa berwibawanya nikoh tersebut.
Cepat Han siong Kie menghentikan gerak tubuhnya, setelah tertegun sejenak diapun berpikir:
"Mungkinkah nikoh tua itu adalah Tay huang sinni yang tersohor dimana-mana itu?" sambil
merangkap tangannya memberi hormat pemuda itu menyapa: "Mohon tanya apakah sinni adalah
Tay huang sini?"
"Dia adalah guruku " sahut nikoh tua itu singkat.
sekalipun hanya beberapa patah kata saja, namun tiap patah kata diucapkan dengan sangat
nyaring dan tajam, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki nikoh ini sudah
mencapai puncak kesempurnaan yang mengagumkan.
-000dw000-
BAB 65
"BOLEH aku tahu, siapa nama gelar dari suthay ?" kembali si anak muda itu bertanya.
"Kami adalah orang yang beragama, tidak menjadi kebiasaan bagi kami untuk saling
menyebutkan nama dengan orang awam "
Ucapan tersebut dingin kaku dan singkat, malahan nikoh itu sama sekali tidak membuka
matanya barang sekejappun.
Diam-diam Han siong Kie merasa naik pitam, tapi ia tetap berusaha untuk mengendalikan hawa
amarahnya itu, sebab berulang kali Put to sianseng telah berpesan kepadanya agar jangan
memakai kekerasan, sehingga mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi
tujuan kedatangannya toh hanya berusaha menasehati Go siau bi agar membatalkan niatnya
untuk menjadi pendeta."
Maka setelah berpikir beberapa saat, dia pun berkata:
JILID 31 HAL. 56/57 HILANG
tekebur yang berani mencari gara-gara dibukit Tay huang san"
Keangkuhan dan keketusan Han siong Kie segera terpancing keluar oleh suasana yang serba
tak enak itu, dia balas mendengus.
"Hmm Aku sudah memohon dengan segala kehalusan serta mengikuti tata kesopanan aku
minta suthay jangan bersikeras untuk menampik keinginanku ini, ketahuilah setelah aku berhasil
berjumpa dengan orang yang kucari maka akupun akan segera tinggalkan tempat ini"
"Tidak bisa Lebih baik sicu segera tinggalkan tempat ini."
"Kalau suthay bersikeras untuk menampik terus kehendak hatiku, terpaksa aku akan berbuat
kurang sopan.
43
"Apa yang hendak sicu lakukan ?"
"Apa lagi? Tentu saja naik gunung mencari orang"
"Sicu, tak usahlah bersikeras untuk mencari keonaran, apakah engkau baru bersedia untuk
turun dari bukit ini setelah diusir oleh pinni dengan menggunakan kekerasan ?"
"Bagiku hanya tahu maju terus pantang mundur, tak dikenal arti mengundurkan diri sebelum
apa yang kuharapkan tercapai."
"Jadi kau ingin main kekerasan? Silahkan saja untuk mencoba. "
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan"
Begitu selesai berkata, Han siong Kie segera menjejakkan kakinya ke tanah dan melesat
kedepan.
Nikoh tua itu menggulung keluar dan menghantam tubuh sianak muda itu keras dan berat
sekali tenaga pukulan yang dilontarkan oleh pendeta perempuan itu.
Han siong Kie tak mampu untuk meneruskan langkahnya, ia dipaksa untuk melayang kembali
ketempat semula, dalam hati pemuda itu lantas berpikir:
"Muridnya saja sudah begitu lihay, apa lagi gurunya? Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki
Tay huang sinni telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa"
Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba nikoh tua itu membentak lagi:
JILID 31 HAL.60/61 HILANG
sekarang Han siong Kie tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, sepasang telapak
tangannya diayun kedepan melancarkan dua buah pukulan berantai yang maha dahsyat, dalam
seraogannya kali ini dia telah sertakan tenaga sakti si mi sinkang sebesar enam bagian.
Nikoh tua itu mendengus gusar, diapun mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut
datangnya ancaman tersebut.
"Blaaam Blaaam" dua kali benturan keras seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong
menggelegar di angkasa. Nikoh tua itu bergetar keras dan akhirnya tak mampu mempertahankan
diri ia terdesak mundur dari atas batu cadas tersebut.
Menggunakan kesempatan dikala nikoh itu terpental turun dari batu Han siong Kie segera
melejit keudara dan melayang sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula kemudian sekali menutul
permukaan tanah pemuda itu melayang kembali sejauh sepuluh kaki.
"Kawanan tikus kau akan pergi ke mana?"
mendadak seorang nikoh tua lain muncul dihadapan mukanya dan menghadang jalan pergi
sianak muda itu, sementara nikoh tua yang berada dibelakang tadi kini entah telah pergi kemana ?
Dengan tatapan tajam Han siong Kie mengamati tampang nikoh tua yang menghalang jalan
perginya ini, ia lihat alis matanya sudah memutih semua, sekalipun jauh lebih muda daripada
nikoh tua yang duduk di arca batu tadi, namun usianya sudah berada diantara enam puluh sampai
tujuh puluh tahunan.
"Sicu, hebat sekali ilmu silat yang kau miliki" tegur nikoh beralis putih itu dengan wajah
sedingin es.
"Terima kasih atas pujian dari suthay Aku tidak memiliki kepandaian apa-apa dan rasanya tak
perlu kau kagumi"
"sicu, sadarkah engkau apa akibatnya jika engkau bersikeras untuk melakukan pengacauan
diatas bukit Tay huang san ini ?"
"Apa akibatnya?" tanya pemuda itu.
"Mati. Mati dalam keadaan mengenaskan" Kontan saja Han siong Kie mengerutkan dahinya.
"suthay, janganlah kau anggap ancaman itu akan membuat aku jeri ataupun ketakutan.
Ketahuilah kedatanganku kemari adalah atas permintian dari seseorang, dan aku datang kemari
melalui tata cara dan sopan santun pada umumnya, janganlah kalian mulai dahulu dengan
permainan kekerasan"
"Tidakkah sicu tahu bahwa bukit Tay Huang san adalah suatu daerah terlarang? Suatu wilayah
yang tak boleh dilalui oleh setiap manusia asing kecuali penghuni kuil?"
"Maaf suthay, sebelum apa yang kucita- citakan tercapai, aku tidak mengenal apa artinya takut
atau mengundurkan diri ditengah jalan"
"Kalau begitu, silahkan saja untuk coba menerjang masuk dengan kekerasan .. " tantang nikoh
itu.
"Kalau terpaksa musti menggunakan kekerasan, maaf kalau aku akan bertindak lancang
-ooodwooo
SEHABIS mengucapkan kata-kata tersebut, seperti sukma gentayangan saja sianak muda itu
menerjang maju kedepan.
Meskipun pemuda itu bertindak cepat, nikoh tua itupun tidak berlambat, baru saja Han siong
Kie mencoba untuk menerobos lewat dari sisinya, tahu-tahu nikoh tua itu sudah menghadang
dihadapan mukanya sembari melancarkan tiga buah serangan berantai.
Ke tiga buah serangsn tersebut bukan saja dilancarkan secara beruntun dengan kecepatan
yang luar biasa, terasalah desingan angin puyuh yang menyertai serangan itu hebatnya luar biasa.
Terkesiap Han siong Kie menghadapi serangan sedahsyat itu, dia coba berkelit ke samping
untuk menghindar, lalu dari samping dia lepaskan sebuah serangan balasan.
Nikoh tua itu bergerak kesamping, bukan saja dengan gerakan yang enteng ia berhasil
menghindari serangan tersebut, malahan menggunakan kesempatan tersebut ke lima jari tangan
kirinya seperti jepitan baja mencengkeram urat penting dipergelangan tangan Han siong Kie,
sementara tangan kanannya dikebutkan kemuka menghajar hiatto-hiatto penting disekitar dada
bagian luar.
Cepat dalam serangan, aneh dalam jurus pukulan, kelihayan nikoh tua ini jarang di temui dalam
dunia persilatan.
selihay-lihaynya nikoh tua itu, Han siong Kie jauh lebih lihay, ia putar telapak tangan kanannya
dengan cepat, dari gerakan dia rubah serangannya menjadi gerakan mencengkeram, arah yang
diancam adalah pergelangan tangan lawan, sementara telapak tangan kirinya tidak ketinggalan, ia
putar satu lingkaran didepan dada dan menutup semua hiatto pentingnya dari ancaman.
Gagal dengan serangan kilatnya, nikoh tua itu mundur tiga langkah kebelakang, menyusul
sebuah pukulan kilat kembali dilancarkan.
Han siong Kie tak mau unjukkan kelemahan nya, dia lepaskan pula sebuah pukulan untuk
menyambut ancaman itu.
"Blaang" benturan keras tak dapat dihindari lagi, masing-masing pihak terjengkang mundur
satu langkah.
Dalam hati Han siong Kie merasa terperanjat, ia tak mengira kalau nikoh tua itu sanggup
menerima pukulan saktinya yang disertai dengan tenaga sebesar enam bagian.
Ia kaget nikoh tua itu lebih kaget sebab dalam serangannya barusan dia telah mengerahkan
tenaga sebesar sepuluh bagian, tapi nyatanya bukan saja tak berhasil merobohkan lawan, dia
sendiri yang terdesak mundur satu langkah.
Untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama tertegun, mereka sama-sama menyadari bahwa
musuh yang sedang dihadapi adalah musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Paras muka nikoh tua itu berobah hebat, jubah pendetanya yang lebar menggelembung sendiri
tanpa terhembus angin, sinar matanya berkilat dan perlahan-lahan telapak tangannya diangkat
keatas.
Meskipun Han siong Kie terperanjat dan tidak mengerti ilmu aneh apakah yang sedang
dikerahkan musuhnya namun sianak muda itu tak berani bertindak gegabah, dia pun menghimpun
hawa sakti si mi sinkang nya sebesar delapan bagian, telapak tangannya dialingkan didepan dada,
siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Sementara itu nikoh tua tadi telah mengangkat telapak tangannya sejajar dada, kemudian
didorongkan kemuka perlahan-lahan, segulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera
meluncur kedepan dan menyapu benda apa saja yang dilewatinya.
Han siong Kie memandang pukulan itu dengan serius, sepasang telapak tangannya balas
didorong kemuka dan menyambut ancaman tersebut dengan tenaga si mi sinkang sebesar
delapan bagian.
"Blaaang" ledakan keras menggelegar di angkasa, diantara suara nyaring terdengar dengus
tertahan menggema diudara, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur lima langkah, paras
mukanya pucat pias, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, peluh sebesar kacang kedelai
mengucur keluar tiada hentinya.
Han siong Kie sendiripun merasakan hatinya bergoncang keras, dia terdorong mundur satu
langkah lebar.
setelah berhenti sebentar nikoh tua itu menggigit bibir, tiba-tiba ia menerjang lagi kedepan,
sepasang telapak tangannya dengan desingan tajam disapu kembali keluar.
sapuan tersebut tampaknya saja sangat lambat pada hakekatnya cepat melebihi kilat bahkan
sudut sasarannya jauh dari keadaan biasa bukan saja disertai hawa pukulan yang aneh bahkan
membuat orang tak mampu untuk menangkis datangnya ancaman itu
Han siong Kie seketika terdesak hebat, dia mundur terus berulang kali tanpa mampu
membalas.
Bagaikan gulungan ombak sungai yang berkepanjangan serangan itu datang secara
bergelombang dan tiada putusnya, sianak muda itu mundur terus kebelakang dan akhirnya ia
terjebak disuatu batuan cadas yang tinggi dan besar, waktu itu ingin mundurpun sudah tiada jalan
lagi.
sadarlah pemuda itu bahwa keadaannya sudah keteter hebat, bila ia tidak unjukkan
kesaktiannya lagi tak nanti dia bisa menaiki bukit itu. Berpikir demikian dia lantas membentak:
"Maaf, terpaksa aku akan bertindak kasar"
Dengan jurus Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia lepaskan sebuah pukulan
dengan tenaga sebesar sepuluh bagian.
Walaupun jurus serangan ygng dipergunakan masih merupakan jurus-jurus lama, akan tetapi
setelah dia berhasil mempelajari ilmu sakti si mi sinkang, kekuatan daya serangannya ternyata
jauh berbeda.
Jerit kesakitan menggema di angkasa, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur sejauh satu
kaki lebih, darah segar mengucur keluar membasahi ujung bibirnya.
Han siong Kie tertegun, dia tak menyangka kelihayannya sudah mencapai tingkatan setinggi itu,
semua dalam keadaaa begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih jauh, serentak tubuhnya
berkelebat dan menerjang ke atas puncak bukit.
selang sesaat kemudian ia sudah mencapai seratus kaki sebelum puncak bukit, beberapa
batang pohon siong muncul didepas mata, dan d ibalik pepohonan itu tampaklah sebuah
bangunan kuil yang terbuat dari batu cadas gunung. Han siong Kie merasa semangatnya
berkobar, ia percepat gerakan larinya.
Mendadak sesosok bayangan abu-abu muncul dari balik pepohonan dan langsung menerkam
kedepan, sebelum tiba angin pukulan yang tajam sudah keburu menyapu lebih duluan-
Sungguh terkejut sianak muda itu, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki pendatang ini jauh lebih
hebat daripada dua orang nikoh yang telah dijumpai, cepat tubuhnya menukik dan membentuk
sebuah gerakan setengah busur diudara kemudian melayang turun ke muka bumi.
Bayangan abu-abu itnpun melayang turun ternyata dia adalah seorang nikoh berlengan
tunggal.
Sebelum Han siong Kie sempat buka suara, nikoh berlengan satu itu sudah menegur lebih
dahulu:
"Sicu, engkau anggap kepandaian silatmu sudah hebat maka secara beruntun kau lukai dua
orang seperguruanku dan kemudian datang mengacau bukit Tay huang san ini"
"Aku tidak bermaksud main kasar, aku memohon dengan sopan dan menuruti
JILID 32 HAL 10/11 HILANG
yang tergetar oleh terasa sinkang musuh terasa sangat sakit bagaikan mau patah, dengan
gontai ia mundur sejauh delapan depa, rasa kaget dan tercengang menghiasi seluruh wajahnya.
Kecuali gurunya, selama hidup belum pernah dijumpai musuh setangguh ini, apalagi usianya
belum dua puluh tahunan, hal ini semakin mencengangkan hatinya.
Dipihak lain Han siong Kie dibikin naik pitam oleh kejadian yang baru dialaminya, hawa sakti Si
mi sinkang lantas disalurkan mengelilingi seluruh badan, dari kejauhan dia lepaskan sebuah
pukulan dahsyat.
Nikoh berlengan tunggal itu terkesiap. cepat-cepat tangannya berputar membentuk satu
lingkaran kilat, gerakan itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikitpun-
Han siong Kie terperanjat ia merasa bahwa tenaga pukulan yang dilancarkan dengan kekuatan
sebesar delapan bagian itu mendadak punah sama sekali hingga lenyap tak berbekas.
Ia menggigit bibir, sepasang telapak tangannya sekali lagi meluncurkan serangan dengan
mengerahkan tenaga sebesar sepuluh bagian, kali ini terlihatlah pancaran cahaya aneh dari raut
wajahnya.
Nikoh berlengan tunggal ini lebih tercekat lagi hatinya, kalau orang lain tidak tahu maka hati
kecilnya jauh lebih paham dari siapapun juga untuk memunahkan daya pengaruh serangan musuh
barusan dia harus mengerahkan ilmu sakti Pay yap sin khinya hingga mencapai dua belas bagian
dengan susah payah ancaman musuh baru bisa dipunahkan, tapi sekarang musuh telah
menambahkan serangannya hingga mencapai sepuluh bagian, dia yakin bahwa kepandaian nya
tak mampu untuk membendung kedahsyatan lawan. Tampaknya nikoh berlengan tunggal itu bakal
mati konyol.
Disaat yang kritis tiba-tiba terdengar seseorang berseru nyaring dari tempat kejauhan.
"Biau hian cepat mundur, pukulan itu adalah ilmu si mi sinkang, engkau tak mampu untuk
menghadapinya"
Ucapan tersebut cukup mencengangkan hati Han siong Kie, ia tahu kalau tebakannya tidak
keliru maka orang yang baruran berbicara tak lain adalah Tay huang sinni pemilik kuil Bu cuan ini,
ia merasa bahwa kata-kata tersebut berasal dari balik kuil, kalau toh demikian adanya dari mana
nikoh sakti itu bisa mengetahui akan asal usul ilmu silatnya?"
Mungkinkah ia sudah berhasil melatih ilmu Thian sao tong, suatu kepandaian melihat jauh.
Paras muka nikoh tua yang bernama Biau hian itu berubah hebat, dia melirik sekejap kearah
Han siong Kie. kemudian putar badan dan lenyap dibalik batu-batu cadas.
Karena musuhnya telah mengundurkan diri, maka sianak muda itupun membatalkan
erangannya, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kearah puncak bukit sebelah depan sana.
"Locianpwe, boanpwe ada urusan hendak bertemu dengan cianpwe, harap engkau bersedia
memaafkan kelancanganku ini"
"Sebutkan asal usul perguraanmu " kata-kata tersebut muncul kembali dari atas puncak bukit.
"Boancwe bernama Han siong Kie, ketua dari perguruan Thian lam bun "
"Engkau adalah ketua dari istana Huan mo kiong diwilayah Thian-Iam ? Ada urusan apa datang
kemari ?"
"Boanpwe mendapat pesan dari seseorang dan sengaja datang kemari untuk mencari orang"
"siapa yang kau cari ?"
seorang nona yang bernama Go siau bi"
"siapa yang suruh engkau datang kemari ?"
"Put to sianseng, kakek dari nona Go "
"ooooh, jadi engkaulah yang bernama Manusia muka dingin Han siong Kie " sekali lagi anak
muda itu terperanjat, sahutnya cepat: "Benar, boanpwelah yang bernama Han siong Kie."
"Memandang diatas wajah Put lo sianseng aku tidak akan mempersoalkan lagi kesalahanmu
mencari gara-gara ke atas bukit kami ini. Nah Cepatlah turun dari bukit ini."
Perasaan hati yang semula sudah menjadi tenang, kini bergolak kembali, ucapan tersebut
dirasakan Han siong Kie sebagai suatu ejekan, rasa ingin menang lantas muncul kembali.
" Cianpwe, aku toh sudah mengutarakan maksud kedatanganku ? Masa sebelum tujuanku
kesampaian kau telah mengusir aku turun gunung?" serunya dengan hati tak puas.
"Aku perintahkan kepadamu untuk segera turun dari bukit ini " tiba-tiba suara dari Tay huang
sinni berubah jadi amat dingin dan ketus, bahkan ucapan tersebut diutarakan sepatah demi
sepatah kata.
sesabar-sabarnya Han siong Kie setelah diperlakukan sekasar itu diapun tak dapat menahan diri
lagi tampiknya:
"Aku datang kemari bukan untuk mendengarkan perintahmu, kalau aku tak mau turun gunung
kau mau apa?"
"Hmm Membandel" maki Tay huang sinni ketus,
" kalau begitu apa yang hendak kau lakukan ?"
"Setelah persoalan yang dititipkan pada ku telah kuselesaikan, tanpa disuruh aku bisa turun
gunung sendiri"
"Persoalan apa yang hendak kau kerjakan ditempat ini?"
"Aku ingin bertemu dengan nona Go siau bi dan bercakap-cakap sendiri dengan dirinya"
"Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah seorang pendeta beragama, aku tak ingin bersilat lidah
dengan dirimu, lebih baik cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini"
"Maaf, aku tak dapat menuruti kehendakmu itu"
"Hmm sicu, jangan kau anggap ilmu sakti si mi sinkang yang kau miliki itu adalah suatu
kelandaian sakti yang tiada tandingannya lagi dikolong langit" Agaknya Tay huang sinni mulai naik
darah oleh sikap lawannya yang keras kepala.
"Akupun sama sekali tidak berpendapat demikian, tapi bila ada orang ingin main-main
denganku, akan kubuktikan bahwa kepandaian tersebut masih lebih dari cukup bagiku untuk
mempertahankan diri"
suasana hening untuk sesaat, diantara hembusan angin bukit yang sepoi-sepoi akhirnya
terdengar Tay huang sini berkata lagi, hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut: "Sicu, aku rasa
engkau tak usah bertemu lagi dengan nona Go"
"Kenapa?" Tanya si anak muda itu cepat.
"Sebab dia tak ingin berjumpa lagi denganmu "
Jawaban ini membuat Han siong Kie membungkam, sebab inilah kejadian yang sangat tidak
diharapkan olehnya, suatu kejadian yang membuat ia jadi jengah dan merasa serba salah, tapi
haruskah ia mengundurkan diri dengan begitu saja ?
"Aku telah berjanji kepada Put to sianseng, bahwa persoalan ini akan kuselesaikan dengan
segala kemampuan yang kumiliki" pikir pemuda itu dalam hati "dan lagi akupun merasa banyak
berhutang budi kepada Go siau Bi, apakah aku harus mengundurkan diri karena persoalan ini ?
Toh Go siau bi bisa menjadi nekad adalah gara-gara karena aku ? Tatkala ingatan tersebut
terlintas dalam benaknya, pemuda itu lantas berseru:
"Dia mau berjumpa denganku atau tidak adalah urusan pribadinya sendiri, pokoknya
bagaimanapun juga aku harus bertemu dengannya "
"Hmm Engkau hendak berbuat sewenang-wenang ditempat ini ?"
"Tidak. aku tidak berbuat sewenang-wenang, aku hanya bertindak menuruti perasaan hatiku
sendiri"
"Ketahuilah wahai Han sicu, pinni bisa simpatik terhadap pengalaman serta tragedi yang
menimpa kehidupan nona Go, telah kukabulkan permintaannya itu dan sekarang akan kucukur
rambutnya menjadi nikoh, mulai detik ini ia sudah menjadi murid Buddha dan dia tak akan
menjumpai dirimu untuk selamanya."
"Tidak Tidak boleh" teriak Han siong Kie dengan setengah menggembor, paras mukanya
berubah hebat.
"Tidak boleh ? Dengan berdasarkan apa engkau melarang kebebasan orang untuk memilih dan
melakukan apa yang disukainya Haaah haaah haaah sicu, kau harus tahu kendatipun pinni telah
menjadi murid Buddha, akan tetapi aku tidak terikat oleh suatu pantangan, yakni pantangan
membunuh"
Habislah kesabaran Han siong Kie, dia mendengus penuh kemarahan, sekali menjejak
permukan tanah, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya pemuda itu melayang keatas
puncak bukit.
sewaktu tiba didepan pintu kuil ia lihat pintu gerbang tertutup rapat, seorang dara baju putih
tampak berlutut didepan pintu kuil itu tanpa bergerak. siapa lagi dara itu kalau bukan Go siau bi
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, lama-lama sekali ia menatap dara itu
kemudian bisiknya: "Nona Go "
Go siau bi tidak menjawab, ia masih tetap berlutut tak bergerak.
"Nona Go " sekali lagi anak itu muda itu memanggil dengan lemah.
-000dw000-
66
PENGALAMAN yang dialami Go siau bi memang mengenaskan, berulang kali ia menyatakan
cinta kepada pemuda pujaannya, namun setiap kali tidak mendapat tanggapan yang serius.
sejak mengalami kejadian didalam perkampungan oh han san ceng bertekadlah gadis ini untuk
cukur rambut menjadi pendeta dan menjalankan sisa hidupnya dengan mengabdikan diri kepada
sang Buddha.
Kendatipun tekadnya sudah bulat, tak dapat dipungkiri bahwa rasa cintanya terhadap Han siong
Kie telah padam terlebih lagi ia tak menyangka kalau si anak muda itu bakal datang ke bukit Tay
huang san mencari dirinya.
Untuk sesaat pikirannya jadi kacau balau tak karuan, rasa cinta yang masih membakar dalam
dadanya serasa makin bergolak dengan hebatnya.
JILID 32 HAL. 22 S/D 25 HILANG
"Apakah locianpwe adalah pemilik kuil ini ?"
"Ehmm " tiada jawaban kecuali dengusan dingin, dengusan tersebut amat ketus dan tak sedap
didengar.
sekuat tenaga Han siong Kie berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, ia bertanya:
"Sudahkah locianpwe menyanggupi permintaannya untuk mencukur rambutnya menjadi
pendeta?"
"Enmm sudah kenapa ??"
"Aku rasa dengan kedudukan cianpwe yang agung dan dihormati orang, tentunya engkau tak
akan mengingkari janji sendiri bukan ?"
"Apa maksudmu dengan perkataan itu?" tegur Tay huang sini dengan wajah berubah.
"Bukankah locianpwe telah menyanggupi permintaan put to sianseng untuk menolak
permintaan nona Go menjadi pendeta ?"
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar tanpa bisa dicegah lagi Go siau bi berpaling serta
melotot sekejap kearah sianak muda itu.
"Ehmm, memang ada kejadian seperti itu" kata Tay huang sinni tetap ketus, "tapi aku tidak
menyanggupi untuk tidak mengukurkan rambut cucunya, aku hanya setuju untuk memberi
kesempatan kepadanya untuk mempertimbangkan kembali persoalan ini"
"Tapi bukankah perbuatanmu sekarang...."
"Pinni simpatik terhadap tragedi yang menimpa dirinya dan sekarang aku sudah berubah
pikiran" tukas nikoh itu cepat.
"Apakah sudah locianpwe bayangkan akibat-akibatnya bila aku melakukan hal ini atas dirinya?"
"Bagi kami orang-orang beragama tak pernah terpikirkan apakah ada akibat atau tidak tindakan
yang kami ambil, semua persoalan kami pertimbangkan dengan keadaan berjodoh atau tidak"
"Hmm orang beragama mengutamakan belas kasihan, tindakan dari locianpwe ini ...."
"Tutup mulutmu" bentak Tay huang sinni marah "ia sudah tiga hari tiga malam berlutut didepan
pintu kuilku, apakah pinni tak boleh berbuat belas kasihan dengan memenuhi keinginannya "
Waktu itu tiba tiba Go siau b i berpaling dan berkata:
HAL. 28/29 HILANG
Memang inilah yang diharapkan Han siong Kie, sebab semenjak ia menerima pesan dari Put lo
sianseng sudah terlintas satu ingatan untuk mengadu kepandaian dengan tokoh silat itu
"Maksud Locianpwe engkau hendak mengajak aku untuk bertaruh dalam pertarungan ini?"
katanya kemudian dengan serius.
"Benar .. "
"Dan pertarungan ini adalah pertarungan atas mati dan hidup ?"
"Haah, tidak sampai seserius itu asal sudah ditentukan siapa menang siapa kalah, hal ini sudah
lebih dari cukup "
"Bagaimana setelah menang kalah dapat ditetapkan ?"
"Jika engkau yang menang maka pinni tak akan mempersoalkan kehadiranmu lagi di bukit ini,
bahkan akupun tak akan memaksa Go siau bi untuk mencukur rambut menjadi pendeta"
"Seandainya aku yang kalah ? Apa yang harus kulakukan ?"
"Kalau engkau kalah maka kau harus menyanggupi sebuah syarat yang akan pinni ajukan "
"Apa syaratmu itu ?"
"syarat itu rasanya terlampau awal bila kuutarakan pada saat ini, pokoknya tak akan merugikan
dirimu "
"Andaikata menang kalah tak dapat ditentukan? Apa yang harus kulakukan?"
"Akan kubiarkan engkau turun dari bukit ini dengan selamat "
Perasaan hati Han siong Kie bergolak keras, setelah mendengar ucapan tersebut, dia merasa
beruntung karena bisa mendapat kesempatan untuk bertarung melawan seorang tokoh silat yang
lihay. Tapi diapun kuatir bila kalah maka syarat apakah yang bakal diajukan kepadanya ?
Mampukah ia melaksanakan syarat tersebut ?
"Locianpwe, pertarungan yang bagaimana kah akan kita langsungkan? " ia bertanya kemudian.
Tay huang sinni termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya:
"Pinni telah bersumpah tak akan keluar dari pintu kuil ini barang selangkahpun, sekarang kita
berdiri dengan selisih jarak lima kaki, baiknya kalau kita masing-masing berdiri tak bergerak
ditempat:
HAL. 32 HILANG
"Han sauhiap. silahkan engkau melancarkan serangan lebih dahulu " Suatu ketika Tay huang
sinni berkata dengan wajah serius.
"Tidak. lebih baik locianpwe yang turun tangan lebih dahulu" kata Han siong Kie dengan hati
bergetar.
"Pini adalah seorang angkatan tua, tidak pantas untuk turun tangan lebih dahulu, lebih baik
sauhiap duluan"
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa boanpwe bertindak lancang . . nah, sambutlah
seranganku ini"
Dengan menghimpun hawa sakti Si mi sinkangnya mencapai sepuluh bagian, perlahan-lahan
telapak tangannya diangkat kemuka dan lantas didorong ke depan.
segulung angin pukulan yang tipis halus dan sama sekali tidak menimbulkan suara, berhembus
ketubuh lawan-
Meskipun enteng sekali pukulan itu tampaknya pada hakekatnya mengandung tenaga dahsyat
yang cukup merontokkan nyali orang.
Disaat Han siong Kie melancarkan serangan Tay huang sinni sendiripun memutar tiga kali
sepasang telapak tangannya didepan dada.
suatu getaran keras menyusu terjadinya ledakan yang memekikkan telinga Tay huang sini
hanya tergetar sedikit tubuhnya, sementara kuda-kudanya masih kelihatan kokoh sekali.
Pukulan si mi sinkang sebesar sepuluh bagian ternyata berhasil dipunahkan oleh nikoh tua itu
dengan enteng, sedikit banyak tercekat juga hati Han siong Kie, diam-diam ia menjulurkan
lidahnya.
Paras muka Tay huang sinni sendiri berubah jadi amat serius, tampaknya nikoh itu tidak
berkeyakinan dapat menangkan pertarungan ini.
orang yang kehilangan sukma sendiripun tampak sangat tegang, sampai-sampai badannya ikut
gemetar keras.
Gagal dengan serangan yang pertama, Han Siong Kie menghimpus kembali tenaganya
mencapai dua belas bagian, sambil melepaskan pukulan serunya lantang: "sambutlah seranganku
yang kedua ini"
Ketika sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan, secara lapat-lapat tampaklah asap
putih yang tipis menyertai deruan pukulan itu.
Tay huang sinni menggerakkan sepasang ujung bajunya untuk menangkis, ia membentuk
gerakan aneh didepan dadanya, selapis hawa hijau yang menggulung tebal seketika melapisi
seluruh badannya, jelas nikoh ini sudah mengerahkan ilmu Pay yap sin khinya hingga mencapai
pada puncak kehebatannya.
Cahaya putih dan cahaya hijau segera bertemu satu sama lainnya, dan tak bisa di cegah
terjadilah ledakan yang memekikkan telinga.
sekujur badan Tay huang sini gemetar keras, tubuhnya goncang bagaikan ranting pohon
terhembus angin puyuh, nyaris kedudukannya jebol dan tubuhnya terdorong maju ke depan.
Untunglah ia menggigit bibir sambil berkerut dahi, sekuat tenaga padri itu berusaha
mempertahankan diri, peluh sudah mulai membasahi seluruh badannya.
Dua jurus serangan sudah lewat tanpa menghasilkan apa-apa, sekarang tinggallah jurus yang
terakhir. pemuda itu tahu bila serangan yang ketigapun mengalami kegagalan, sudah pasti dialah
yang bakal menderita kekalahan.
Bila dipikir kembali akan kedudukan Tay huang sinni yang begitu tinggi dan terhormat, kalah
ditangan padri perempuan ini belum terhitung suatu kejadian yang memalukan, tapi Han siong Kie
mempunyai pandangan yang lain, dia harus dapat menangkan nikoh tua ini karena bagaimanapun
juga dia adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.
Dan menang kalah akan ditentukan dalam jurus serangan yang terakhir ini.
Han siong Kie mementangkan kesepuluh jari tangannya lebar-lebar, segenap hawa sakti yang
dimilikinya disalurkan kedalam jari tangan itu, ia telah mempersiapkan diri untuk melangsungkan
pertarungan yang terakhir ini dengan menggunakan ilmu jari Tong kim ci.
setajam sembilu pancaran sinar mata Tay huang sinni, dia menatap wajah pemuda itu tanpa
berkedip. sepasang telapak tangannya disilangkan didepan dada.
Akhirnya pemuda itu membentak keras, sepasang tangannya bergetar, sepuluh gulung
desingan angin jari dengan membawa suara yang memekikkan telinga langsung meluncur
kedepan-
Bersamaan dengan dilepaskannya serangan jari tangan itu, ingatan lain melintas
JILID 32 HAL. 38/39 HILANG
Dengan adanya kejadian ini, maka baru saja Han siong Kie melepaskan pukulan untuk
menangkis, tahu-tahu tenaga yang dipancarkan keluar itu telah dihisap oleh lawannya.
Mimpipun si anak muda itu tak menyangka kalau rahib tua itu bakal menggunakan taktik
"menggetar" dan menghisap hampir bersamaan waktunya, hilanglah keseimbangan.
"Aduh celaka "jeritnya dihati tak dapat dicegah lagi tubuhnya sempoyongan dan serta merta
kakinya melangkah maju. orang yang kehilangan sukma pun berkata sambil mengangguk: "Nak
engkau kalah. "
Han siong Kie tertegun, ia cuma bisa berdiri menjublak sambil membungkam dalam seribu
bahasa.
Karena kasihan pada musuhnya, ia telah menyingkirkan daya sasaran serangan Tong kim ci nya
kesamping sehingga membuang kesempatan untuk mendapat kemenangan dengan begitu saja.
sekarang kenyataan telah berbicara lain, dia telah dikalahkan dalam pertarungan tersebut,
untuk menyesalpun rasanya tak ada gunanya lagi.
"sau sicu, apakah engkau merasa bahwa pertarungan ini berlangsung tidak adil?" tiba-tiba Tay
huang sinni bertanya.
Han siong Kie tertawa jengah dan menggeleng.
"Tidak. boanpwe sama sekali tidak mempunyai pikiran semacam itu "
"Jadi engkau sudah mengaku kalah ?"
"Tentu saja, boanpwe tak akan memungkiri kekalahan yang telah kuderita ini, aku tak mau
bertolak dari kenyataan yang berada di depan mata, katakan saja apa syarat yang harus kuturuti
itu ?"
"seandainya pinni telah mengajukan syarat tersebut, dan ternyata sau sicu tidak bersedia untuk
melakukannya, apa yang musti... "
"Boanpwe tidak akan menolak semua syaratmu, sebagai seorang manusia persilatan aku akan
memegang teguh setiap janji yang telah kuucapkan" jawab pemuda itu dengan tegas. orang yang
kehilangan sukma tiba-tiba menimbrung pula:
"Atas petunjuk dari locianpwe boanpwe telah ditunjuk sebagai saksi maka setelah pertarungan
berakhir dan menang kalahpun telah ditentukan, boanpwe harap locianpwe segera mengajukan
syarat yang hendak cianpwe ajukan sehingga pertaruhan inipun bisa kita akhiri sampai disini saja .
."
sepasang mata Tay huang sinni memancarkan sinar tajam, ia memandang sekejap ke arah Han
siong Kie lalu katanya:
"Gampang dan sederhana sekali syaratku ini, aku cuma minta engkau segera menikah dengan
Go siau bi dan menjadi suami istri yang berbahagia "
Hebat sekali perubahan wajah Han siong Kie, tanpa sadar secara beruntun ia mundur lima
langkah kebelakang.
Mimpipun ia tak menyangka kalau syarat yang diajukan Tay huang sinni adalah mengenai
persoalan itu.
Pertama kali ketika ia selamatkan Go siau bi dari tangan pengawal pribadi istana Huan mo
kiong dan menginap sebuah rumah penginapan, orang yang kehilangan sukma telah menyaru
sebagai tukang obat dengan maksud menjodohkannya dengan gadis itu, kedua kalinya Put to
sianseng ajukan pinangan bagi cucu perempuannya ternyata pinangan itupun atas usul dari orang
yang kehilangan sukma.
sekarang adalah untuk ketiga kalinya peristiwa itu terjadi, temyala orang yang kehilangan
sukmalah sebagai saksinya.
sekalipun orang bodoh juga akan tahu bahwa kejadian ini bukan suatu kejadian yang
kebetulan saja, sudah pasti orang yang kehilangan sukmalah yang telah mengatur segala
sesuatunya.
Lalu apa maksudnya perempuan misterius itu mengatur segala sesuatunya itu? Apa alasannya?
Tanpa sadar sianak muda itu mengalihkan pandangan matanya kewajah orang yang kehilangan
sukma dan ingin sekali melihat mimik wajahnya pada saat itu, sayang mimik wajahnya tertutup
oleh kain kerudung berwarna hitam.
"Bagaimana sau sicu? jawablah sejujur nya" terdengar Tay huang siani bertanya.
Kacau dan bingung perasaan Han siong Kie pada saat ini tanpa disadarinya ia menyahut.
"Aku tak dapat menerima syaratmu itu "
"jadi engkau hendak menjilat ludahmu sendiri? " tegur Tay huang sinni dengan wajah serius.
Tanpa sadar si anak muda itu mundur satu langkah kebelakang dia berusaha untuk membela
diri, katanya:
"cianpwe aku minta ajukan syarat lain, tentang syaratmu yang itu aku tak dapat
menyanggupinya "
"Tidak bisa, selamanya pinni hanya akan mengajukan sebuah syarat saja, tidak nanti akan
kuulangi dengan mengajukan syarat lain"
"Tapi boanpwe benar-benar tak dapat melakukan permintaan dari locianpwe itu"
"ooh jadi engkau bermaksud untuk mengingkari janji?" ejek nikoh tua itu dengan sinis.
"Boanpwe mempunyai kesulitan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain, maafkanlah daku
locianpwe, syaratmu itu tak dapat kulaksanakan"
"jadi kau anggap Go siau bi tidak pantas untuk mendampingi dirimu sebagai seorang istri?"
"Bukan... bukan begitu maksud boanpwe, terus terang saja boanpwe katakan babwa aku..
sebenarnya aku telah..telah.."
"Apa maksudmu Katakan saja blak-blakan"
"Sebenarnya boanpwe telah serahkan hati dan tubuh boanpwe ini kepada gadis lain, dan antara
aku dengan dia telah .... telah terikat oleh tali perkawinan"
"Ada yang menjodohkan?’
"Tidak..tidak ada"
"Ada persetujuan dari orang tua?"
"Ju...juga tii... tidak ada"
"Kalau toh tidak ada kan hal itu sama sekali tidak menghalangi engkau untuk menerima
syaratku ini?"
sungguh sedih dan pedih perassan hati Han siong Kie apalagi teringat bahwa Tonghong Hui,
yang dicintainya telah tiada di dunia ini, kepedihan tersebut akhirnya tercetus keluar dengan katakata:
"Dia.... dia telah meninggal dunia"
"Kalau benar sudah mati urusan ini kan lebih gampang untuk diselesaikan? Apa yang kau
pusingkan lagi?"
"jiwa dan perasaan boanpwe telah lama terkubur bersama matinya gadis itu, pada hakekatnya
yang cianpwe lihat sekarang tak lebih hanya sesosok mayat hidup belaka, sesosok tubuh yang
tidak berperasaan dan tidak kenal arti lagi"
sekilas perasaan serba salah melintas di wajah Tay huang sinni, ia terbungkam untuk beberapa
saat lamanya, tapi selang sesaat kemudian ia telah berkata lagi dengan suara keras:
"Menurut apa yang pinni ketahui, engkau sudah pernah bersentuhan badan dengan Go siau bi,
lantaran cintanya padamu, ia rela mengasingkan diri dan hidup sebagai seorang pendeta, tidakkah
kau tergetar perasaan hatinya oleh kesungguhan serta kemurnian cinta kasihnya itu?"
"Aaai, pada hakekatnya boanpwe tidak punya ingatan untuk memikirkan persoalan yang lain"
"Tahukah engkau bahwa perbuatanmu telah menghancurkan masa depan seorang dara ?"
"Boanpwe menyesal sekali atas kejadian ini, tapi apa boleh buat lagi boanpwe tak kuasa
menerima kenyataan tersebut"
"selain itu tahukah engkau bahwa tidak berbakti ada tiga macam, dan yang paling utama
adalah tiada keturunan, apakah engkau gembira melihat keluarga Han putus keturunan?"
000dw000
BAB 67
UCAPAN tersebut bagaikan sebilah pisau belati yang menusuk kedalam ulu hati Han siong Kie,
sekujur badannys gemetar keras.
Pada hakeketnya tak pernah ia berpikir sampai kesoal itu, tapi heran mengapa Tay huang sinni
menegur dirinya dengan kata-kata semacam itu? Bukankah dia adalah seorang pendeta yang tidak
mencampuri urusan keduniawian lagi?
" Locianpwe apakah engkau hendak memaksa boanpwe untuk mengingkari janjiku terhadap
orang yang sudah tiada lagi?" katanya tiba-tiba.
orang yang kehilangan sukma yang selama ini membungkam terus mendadak menyela:
"Nak bila engkau bersedia untuk memegang janji kepada orang yang telah mati, mengapa tidak
pula kau penuhi kewajibanmu sebagai rasa baktimu pada orang tua yang telah tiada ? Kau harus
dapat membedakan mana yang serius dan mana yang tidak. toh setelah kau laksanakan
kewajibanku untuk berbakti pada orang tua, engkau masih dapat pula memenuhi janjimu kepada
orang yang telah tiada?"
"Bila aku sampai berbuat demikian, bukankah perbuatanku ini justru akan menyiksa nona Go
siau bi untuk selama-lamanya?"
"siapa bilang begitu ?"
" Cianpwe" tiba-tiba Han siong Kin menengadah dan menatap wajah perempuan misterius itu
tanpa berkedip "tolong tanya, apakah kesemuanya ini adalah hasil dari rencana locianpwe ?"
orang yang kehilangan sukma terbungkam, ia tak sanggup memberikan jawaban.
"sau sicu, apakah engkau lupa bahwa hasil ini adalah suatu hasil dari pertaruhan antara engkau
dan aku ?" Tay huang sini menyela dari samping dengan dingin
"oooh.. jadi engkau menggunakan kebahagiaan dari seorang dara sebagai bahan pertaruhan?
Pantaskah perbuatanmu itu?" seru pemuda itu marah-marah.
JILID 32 HAL. 50/51 HILANG
amat menusuk pendengarannya, terutama sebutan "ciangbunjin" yang sengaja diucapkan
dengan nada berat, lebih-lebih mengetuk perasaannya.
sebagai seorang pemuka dunia persilatan, menjadi kewajiban baginya untuk melaksanakan apa
yang telah disanggupi, tapi perkawinan adalah suatu kejadian besar, ia tak ingin berbuat secara
gegabah sehingga akhirnya harus di akhiri dengan tragedi.
44
Sementara pemuda itu masih termangu- mangu, orang yang kehilangan sukma telah berkata
lagi:
"Nak, tegakah engkau membiarkan masa depan seorang dara hancur di tanganmu?"
Sakit hati, bingung dan sedih bercampur aduk dalam perasaan hati si anak muda itu, dia tak
tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini, terutama kata-kata tentang ketidak baktian sebagai
seorang putra diantara tiga hal yang tidak berbakti, tak punya keturunan adalah tidak berbakti
yang paling utama. Benarkah dia tak akan menikah dan membiarkan orang menganggapnya
sebagai manusia yang tidak berbakti?
"Sekarang ia baru menyesal, menyesal apa sebabnya tidak menggunakan ilmu jari Tong kim ci
untuk mengalahkan musuhnya, ia tidak tega rahib itu terluka, tapi akhirnya dia sendirilah yang
rugi.
Sebagai seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia akan mengingkari janji. Kata-kata itu diucapkan
sendiri olehnya, benarkah dia harus mengingkari janji.
Sekalipun ia sadar bahwa ia terjebak oleh suatu siasat yang disusun sangat rapi, toh dia kalah
adalah suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi.
Sementara itu orang yang kehilangan sukma tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia
mendesak lebih lanjut.
"Nak, engkau sebagai putra manusia, menjadi kewajiban bagimu untuk menunjukkan
kebaktiaanmu sebagai anak manusia, sekalipun engkau dapat membalaskan dendam bagi
kematian ayahmu, belumlah lengkap kebaktianmu pada orang tua, mengertikah kau dengan katakataku
ini ? .."
Han siong Kie menggigit bibir, sahutnya:
"Apa yang cianpwe ketakan memang benar tapi sekarang aku harus membalaskan
HAL. 54 S/D 57 HILANG
sekalipun aku kawin dengan Go siau bi mungkinkah perkawinan ini bisa berakhir dengan
kebahagiaan, Akhirnya toh kita akan mengalami tragedi yang menyedihkan?"
"Bahagia atau sedih adalah urusan belakang, siapa tahu kalau kenyataannya jauh berbeda
dengan apa yang saat ini kau bayangkan?"
"Jadi maksud Cianpwe, kau memaksa Boanpwe untuk mengabulkan permintaanmu itu?"
"Yaa,angaplah perkataan ini merupakan suatu paksaan" sahut orang yang kehilangan sukma
dengan suara berat.
Han siong Kie tertegun dan tidak bicara, selang sesaat kemudian ia mengangguk. "Baik.
Boanpwe menyanggupi permintaan mu itu"
"Jadi kau menerima syarat tersebut?"
"Benar, aku menerimanya, tapi akupun mempunyai sebuah syarat"
"Apa syaratmu itu?"
" Cianpwe harus menjelaskan kepada nona Go siau bi serta kakeknya, bila dendam berdarah
berhasil boanpwe balas, waktu itulah kita baru bicarakan kembali soal cinta dan tiga tahun setelah
menikah boanpwe akan meninggalkan keluarga dan pergi jauh"
"setelah tiga tahun, apakah engkau akan bunuh diri untuk menunjukkan ketetapan hatimu pada
Tonghong Hui?" kata orang yang kehilangan sukma sampai mundur selangkah.
"Benar, kenapa ? "
"Andaikata Tonghong Hui belum meninggal dunia ?"
"Aaah, hal ini aku rasa tidak mungkin"
"Baik, kukabulkan syaratmu itu dan kita pun tentukan perjanjian ini dengan kata-katamu ini"
Berbicara sampai disini, tiba-tiba orang yang kehilangan sukma berpaling, serunya kearah batu
karang kurang lebih beberapa kaki didepan sana: "Locianpwe, silahkan mengunjukkan diri untuk
memperkuat ikatan perkawinan ini "
seorang sasterawan berusia setengah baya perlahan-lahan munculkan diri dari balik batuan
cadas.
Dia bukan lain adalah kakek Go siau bi Put to sianseng yang disegani banyak orang itu.
Han siong Kie tertegun, kemunculan tokoh silat ini semakin memperkuat dugaannya bahwa apa
yang terjadi pada saat ini adalah suatu siasat, suatu rencana besar dari orang yang kehilangan
sukma.
Tapi yang mengherankan adalah Put lo sianseng dan Tay huang sinni kedua orang tokoh silat
ini berilmu tinggi dan berkedudukan terhormat, tapi mereka bersedia untuk mendengarkan katakata
orang yang kehilangan sukma malahan bekerja sama untuk memancingnya masuk jebakan,
apa tujuan mereka?
sementara itu Put to sianseng telah berkata sambil tertawa ringan ucapnya:
"Bocah bagus, kemurunganku sudah dilenyapkan, mulai sekarang lohu bisa mengasingkan diri
dan beristirahat dengan tenang".
orang yang kehilangan sukma segera mendorong Han siong Kie untuk maju katanya:
"Bagaimana juga penghormatan tak bisa dielakkan, hayo maju dan memberilah hormat kepada
kakekmu."
Dalam hati Han siong Kie menghela napas panjang, dengan kaku dia maju beberapa langkah
dan jatuh berlutut dihadapan put to sianseng, ketika ia menyembah sebanyak tiga kali ia tak dapat
melukiskan bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, entah manis getir, kikuk atau kecewa.
Cepat Put to sianseng ulapkan tangannya seraya berkata:
" Cukup Cukup Bangunlah nak, sebelum aku pergi mengasingkan diri, ada beberapa patah kata
terlebih dahulu hendak kukatakan kepadamu, ketahuilah gurumu Mo tiong ci mo adalah sahabat
lamaku, setelah engkau mewariskan kedudukannya aku harap engkau bisa membangun kembali
perguruan Thian Lam bila melakukan segala persoalan janganlah terlalu memikirkan masalah itu
dengan pikiran yang sempit".
sekujur badan anak muda itu bergetar keras, peluh dingin membasahi tubuhnya tanpa terasa ia
teringat kembali akan apa yang diberitahukan orang yang kehilangan sukma ketika berada di
mulut lembah kematian.
Dikatakan Tee kun perguruan Thian Lam yang sekarang yaitu Wi It beng telah menjual
perguruannya kepada Thian che kau, istana Huan mo kiong telah diubah menjadi kantor cabang
Thian che kau sektor Thian lam.
JILID 32 HAL. 62/63 HILANG
Perasaan hatinya pada saat ini hampa, kosong . . sekarang Go siau bi telah menjadi calon
istrinya dengan resmi, siapakah bakal menduga sampai kesitu?
setelah tiba di kaki bukit dan menghampiri tempat perpisahannya dengan Hekpek siang yau,
mendadak pemuda itu tercekat, ternyata dua orang pembantunya telah lenyap tak berbekas.
semestinya Hekpek siang yau tidak akan meninggalkan ketuanya tanpa pamit, atau mungkin
telah terjadi sesuatu?
Han siong Kie memeriksa keadaan disekitar tempat itu dengan seksama, namun ia tak berhasil
menemukan sesuatu tanda-tanda pernah terjadinya pertarungan disana. Atau Hekpek siang yau
telah menghianatinya ?
-000dw000-
DENGAN kepandaian silat yang dimiliki sepasang siluman serta meninjau dari perbuatanperbuatan
mereka di masa lampau, bisa jadi kedua orang itu akan melakukan kejahatan lagi.
Andaikata apa yang diduga tak salah, dialah yang berdosa karena dialah yang melepaskan dua
orang gembong iblis itu dari tempat penahanannya.
Untuk sesaat lamanya Han Siong Ken berdiri tertegun, ia tak tahu apa yang musti dilakukan.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian pa muda itu mengambil keputusan, pikirnya:
"Andaikata sepasang siluman benar-benar telah menghianatinya serta melakukan kejahatan
dalam dunia persilatan, aku pasti akan melenyapkan kedua orang itu dari muka bumi".
seorang diri diapun melanjutkan perjalanan menuju kekaki bukit itu.
Dua jam kemudian pemuda itu sudah keluar dari daerah pegunungan dan melanjutkan
perjalanan melalui jalan raya.
sementara perjalanan masih dilanjutkan tiba-tiba dari arah depan meluncur datang beberapa
sosok bayangan manusia, meskipun gerakan tubuh beberapa orang itu bagaikan meteor yang
lewat, akan tetapi bagi ketajaman mata Han siong Kie bukan halangan baginya untuk mengenali
siapa gerangan mereka itu. segera teriaknya dengan suara nyaring: "Engkoh tua Tunggu sebentar,
kau akan ke mana ?"
Mendengar teriakan tersebut, berhentilah rombongan itu, ternyata mereka adalah delapan
orang pengemis dekil, orang pertama tak lain adalah Pengemis dari selatan.
"HaaaHh . . haaaHh .. haaaHh saudara cilik, rupanya kau " teriak pula pengemis dari selatan
dengan wajah berseri.
" Engkoh tua, aku lihat wajahmu murung sekali, apakah telah terjadi sesuatu atas diri mu?"
"Aaai, saudara cilik masa kau tidak mendengar bahwa perkumpulan kami sedang menghadapi
masa kiamat?" ujar pengemis tua itu sambil menghela napas panjang.
"Menghadapi masa kiamat? Kenapa?" seru si anak muda itu tertegun sambil terimangu.
"Jadi engkau tidak mendengar apa-apa tentang organisasi Kay pang kami itu?" Han siong Kie
menggelengkan kepalanya:
"sudah berbulan-bulan lamaoya siaute tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, aku tak tahu apa yang telak menimpa perkumpulan Kay pang?"
"oooh. Kalau begitu tak heran kalau engkau tidak tahu.." ujar pengemis itu.
sesudah menghela napas dan berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh: "semenjak dahulu
kala antara Thian che kau dengan Ji-pang dan sam hwe tak pernah mengadakan kontak hubungan
apa-apa, hubungan kami ibaratnya air sumur yang tidak mengganggu air sungai, tapi rasanya
pihak Thian che kau mempunyai ambisi untuk merajai dunia persilatan, secara licik mereka telah
membasmi musuh-musuh serta saingannya secara diam-diam. Pertama kali yang mengalami nasib
jelek adalah perkumpulan Pat gi pang, menyusul kemudian perkumpulan Jit yan pang. Hong te
hwe, Ang kin hwe, serta Ngo heng hwe dipaksa takluk kepada mereka dan merubah nama
menjadi kantor cabang perkumpulan Thian che kau, rupanya sekarang mereka jatuhkan
incarannya kepada pihak Kay pang, saudara cilik, kalau bukan saat kiamat perkumpulan kita sudah
tiba, apa lagi namanya"
JILID 33 HAL. 06/07 HILANG
"Akupun belum lama mendengar ini, karena setelah urusan disini selesai segera aku akan
berangkat ke Thian Lam untuk melakukan pembersihan secara besar-besaran"
"Dengan kekuatan saudara cilik seorang aku rasa . ."
"Pentolan penghianatan ini cuma seorang yaitu Wi It beng, aku percaya anak murid lain
kebanyakan cuma menganut kehendak hatinya belaka" setelah berhenti sebentar ia berkata lagi:
" Engkoh tua batas waktu yang ditentukan lencana Thian che leng masih ada berapa hari?"
"Tinggal besok sehari "
Ketika pengemis dari selatan mengucapkan kata-kata itu, tiga pengemis tua dan delapan
pengemis setengah baya yang berada dibelakagnya sama-sama menunjukkan wajah sedih dan
resah, namun tak seorangpun yang bersuara. Han siong Kie termenung dan berpikir sebentar,
kemudian bertanya: "Apa rencana engkoh tua untuk menyelesaikan persoalan yang sangat pelik
ini?"
"Aaai, aku telah menurunkan perintah untuk mengumpulkan segenap jago lihay yang berada
dikantor- kantor cabang untuk berkumpul semua dimarkas besar kami tepi pantai Pak swit ham,
yaa . . mati hidup Kay pang tergantung dalam pertarungan yang bakal berlangsung, meskipun
saat ini kami masih mempunyai satu harapan untuk menyelamatkan perkumpulan kami dari
musibah yakni mengharapkan kemunculan susiok kami song Tiat kong . tapi harapan ini tipis
sekali"
"Mengapa kalian tidak segera mengirim kabar kepada song locianpwe agar bersiap sedia?"
"Ketika tengkorak maut gadungan membuat onar dalam markas besar kami. song susiok telah
salah menganggap tengkorak gadungan sebagai tengkorak maut asli, sesudah peristiwa itu beliau
berkunjung ke benteng maut menuntut keadilan, tapi akhirnya beliau kalah ditangan pemilik
benteng maut, waktu itu susiok telah sesumbar bahwa akan muncul kembali dalam dunia
persilatan untuk selamanya, dari mana kami bisa tahu susiok kini berada dimana ? Dan bagaimana
mungkin berita itu disampaikan kalau kami tak tahu dimana beliau berada?"
"Apakah engkoh tua bersedia untuk menerima bantuan dari saudara cilikmu ini?" kata Han
siong Kie mendadak sambil menawarkan jasa baiknya.
" Kesediaanmu untuk membantu tentu saja akan kami sambut dengan senang hati" sahut
pengemis dari selatan sambil mengernyitkan alisnya yang telah memutih, "aku hanya kuatir
bantuanmu masih belum cukup untuk menolong perkumpulan kami lolos dari musibah ini, aaai...
yaa apa boleh buat, terserah bagaimana nasib akan mengaturnya nanti"
Pengemis dari selatan belum tahu kalau Han siong Kie telah berhasil mempelajari ilmu sakti si
mi sinkang, sebab berbicara dari kekuatan yang dimiliki pemuda itu di masa lampau, memang tak
mungkin ia bisa menolong Kay pang untuk lolos dari musibah.
Han siong Kie bukan orang bodoh, sudah tentu diapun dapat merasakan keraguan saudara
tuanya itu, ia tersenyum.
"Begini saja engkoh tua, kalian berangkatlah lebih dulu, bila tiba saatnya nanti, aku pasti sudah
hadir di markas besar kalian"
Pengemis dari selatan mengangguk. mereka tidak berkata apa-apa lagi, dengan begitu maka
dua bersaudara inipun kembali berpisah.
sepeninggal pengemis dari selatan beserta ketujuh orang rekannya, Han siong Kie berpikir
didalam hati, untuk menuntut balas ke benteng maut jelas sudah tak sempat lagi, maka ia
menyusun rencana untuk melaksanakan kembali usaha penuntutan balasnya sesudah
menyelamatkan Kay pang dari musibah.
-000dw000-
BAB 68
LENYAPNYA Hekpek siang yau secara misterius sangat memusingkan kepala anak muda itu, ia
merasa tak mungkin kalau kedua orang siluman itu berhianat kepadanya atau pergi tinggalkan
dirinya tanpa pamit. sebab dua orang itu telah mengakuinya sebagai majikan, itupun kerena harus
menuruti sumpah yang pernah mereka ucapkan dimasa lampau, apalagi mereka telah diterima
sebagai anggota perguruan Thian Lam bun, mustahil pikiran mereka berubah di tengah jalan.
Tapi kemana mereka telah pergi ? Celaka ditangan orang ?Jelas hal ini tak mungkin terjadi,
Ilmu silat mereka sangat lihay, siapakah yang mampu untuk merobohkan kedua orang itu"
sementara dia masih melamun, tiba-tiba sorot matanya sempat menangkap sesosok bayangan
manusia sedang berdiri ditepi sungai tak jauh dari tempat ia berada sekarang, jelas orang itu
tinggi semampai dengan potongan badan menggiurkan, jelas orang itu adalah seorang gadis dan
gadis itu terasa sangat dikenal olehnya.
Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, kontan jantungnya berdebar keras, hampir
saja pemuda itu menjerit. "Aaah Masa dia ?"
Dengan penuh emosi dan hati yang bergejolak pemuda itu meluncur ke depan, menghampiri
gadir yang tinggi semampai itu .
Makin mendekati orang itu, Han siong Kie merasa semakin yakin kalau dugaannya tidak
meleset dan akhirnya . . ia benar-benar membuktikan bahwa dugaannya tak salah gadis itu
memang tak lain dari kekasih hatinya. Tonghong hui yang dia rindukan siang malam.
Darah yang mengalir dalam tubuh pemuda itu terasa mendidih bagaikan kena listrik
bertegangan tinggi, separuh tubuhnya terasa menjadi kaku, hampir saja jantungnya melompat
keluar dari rongga dadanya.
Dengan bibir yang gemetar dan muka yang pucat, ia berdiri tertegun untuk sesaat lamanya tak
sepatah katapun mampu dia utarakan keluar.
Betapa tidak ? Tonghong-Hui yang melama ini dianggapnya telah mati ternyata masih hidup
segar bugar... dugaan dari orang yang kehilangan sukma terbukti kebenarannya, dara itu belum
mati.
Tapi aneh, sekalipun Han siong Kie sudah berada dibelakangnya, gadis itu masih tidak merasa,
ia berdiri kaku bagaikan patung, bergerak sedikitpun tidak.
Angin sungai berhembus sepoi basah mengibarkan ujung bajunya yang panjang, tubuhnya
yang tinggi semampai, lekukan tubuhnya yang menggiurkan amat menawan hati, ibaratnya
bidadari dari kahyangan gadis itu tampak agung dan cantik.
"Adik Hui" akhirnya pemuda itu memang gigil, meski suaranya lirih dan agak parau.
sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, namun ia tidak berpaling pun tidak menjawab.
suatu firasat aneh terlintas dalam benak sianak muda itu, untuk kedua kalinya kembali dia
memanggil: "..Adik Hui.."
Tonghong Hui menghela napas panjang, begitu pedih dan hampa helaan napas itu, membuat
Han siong Kie tercekat hatinya.
Menyusul helaan napas itu, ia putar badannya, sesaat wajah yang sayu terpampang didepan
mata.
Wajah itu layu, kusut dan sinar matanya telah pudar persis seperti wajah Go siau bi calon
istrinya ketika ia jumpa didepan kuil Bu cuan di bukit Tay huang san.
Han song Kie merasakan hatinya bagaikan dipagut ular berbisa, secara beruntun ia mundur tiga
langkah kebelakang.
Bagaimanakah pertanggungan jawabnya kepada gadis yang ia cinta dengan segenap jiwa
raganya? Apalagi bila ia tahu kalau Go siau bi telah menggantikan kedudukannya?
Diantara putih kepucatan yang menghiasi wajah Tonghong i-Hui terlintas semua merah
diantara pipinya, ia menatap Han siong Kie dengan pandangan hampa, mukanya begitu layu,
pedih, sukar dilukiskan dengan kata.
Mereka tidak mirip kekasih yang saling bertemu kembali, keadaan mereka waktu itu ibarat
orang asing yang saling berjumpa, tiada surprise tiada luapan cinta dan rindu, tiada pelukan
ataupun ciuman.
siapapun diantara mereka tak ada yang buka suara, mereka hanya saling menatap dengan
mulut membungkam.
Udara serasa ikut membeku mengikuti keadaan mereka yang serba kaku, serba dingin-
Perlahan-lahan Han siong Kie tundukkan kepalanya, ia tidak memiliki keberanian untuk
memandang kekasihnya lagi, sebab ia telah menjadi penghianat dari cinta, ia merasa tak punya
muka untuk bertemu lagi dengan gadis yang telah menyerahkan seluruh jiwa dan raga kepadanya.
suasana begitu sepi, hening seolah-olah dunia menjadi mati, jagad menjadi kiamat tak
seorangpun yang bersuara, hanya detak jantung mereka yang berdebar keras.
Darimana orang yang kehilangan sukma bisa tahu kalau Tonghong -Hui tidak akan mati?
Benarkah ia memiliki ilmu meramal, ilmu untuk melihat kejadian yang akan datang?.
Apa sebabnya orang yang kehilangan sukma merusak hubungannya dengan Tonghong Hui?
Benarkah jika hubungan mereka dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu
kejadiaa yang tragis?
Mengapa Tonghong Hui mengingkari janjinya ketika itu? Mengapa ia begitu tega membiarkan ia
menunggu melama dua hari dengan sia-sia ditepi sungai?
Terbukti sekarang bahwa ia tidak mati, benarkah ayahnya bukan pembunuh keluarga Han dan
keluarga Thio? Kalau bukan, tidak seharusnya gadis itu mengingkari janji.. Lama sekali, akhirnya
Tonghung-Hui buka suara, meskipun suaranya penuh kepedihan:
"Engkoh Kie, angkat kepalamu dan pandanglah aku"
Pedih hati Hansiong Kie bagaikan disayat-sayat pisau, ia mendongakkan kepalanya, meskipun
dengan perasaan menyesal dan malu..
Tatkala sepasang mata mereka bertemu satu sama lainnya, kembali pemuda itu mundur
selangkah, yang tampak olehnya adalah seraut wajah yang pucat seperti mayat,juuh berbeda
dengan raut wajahnya dalam kenangan selama ini
"Engkoh Kie, kau... kau membenci aku" kembali gadis itu berbisik lirih sekali suaranya.
"Adik Hui Aku .. aku...toh...mengapa kau mengatakan begitu ? Mengapa kau mengatakan kalau
aku membenci dirimu ?"
"Karena.... karena aku telah mengingkari janjiku sendiri kepadamu, aku tidak menepati janji"
"Adik Hui, seharusnya akulah, aai. mengapa kau tidak menepati janjimu."
"sekembalinya kedalam benteng, aku telah disekap oleh ayah, tak mungkin bagiku untuk kabur
keluar"
Han Siong Kie merasa emosi dalam dadanya bergelora, apa yang ingin diketahui olehnya
segera akan terwujud, dengan suara agak gemetar tanyanya lagi."sudah kau tanyakan soal yang
ingin kuketahui itu ?"
"sudah.." perlahan-lahan gadis itu mengangguk.
Mencorong sinar mata sianak muda itu, dia maju tiga langkah kedepan seraya bentanya lagi:
"Bagaimana jawaban ayahmu?"
"sudah dua puluh tahun lamanya ayah tak pernah meninggalkan pintu benteng barang satu
langkahpun, apakah jawaban tersebut dapat kau terima sebagai suatu keterangan yang lengkap?"
"sudah dua puluh tahun ayahmu tak pernah muncul kedalam dunia persilatan ?" Tonghong Hui
mengangguk lirih tanda membenarkan.
sungguh terkejut dan girang tak terkirakan perasaan Han siong Kie pada saat ini, dia girang
lantaran Tengkorak maut ayah Tonghong-Hui bukanlah musuh besar keluarganya, sebab peristiwa
berdarah yang menimpa perkampungan keluarga Han terjadi pada bulan sembilan tanggal
sembilan pada lima belas tahun berselang.
sekarang terbukti sudah bahwa dia dan Tonghong Hui sebenarnya tidak terpisah oleh dendam
sakit hati.
Tapi pemuda itu merasa murung, murung karena tidak tahu siapakah pembunuh keluarganya,
kemana dia harus pergi untuk mencari jejak pembunuh keluarganya itu?
Tatkala ia teringat kembali akan pernikahannya dengan Go siau bi, kembali pemuda itu
merintih... merintih penuh kedukaan serta penderitaan- "Engkoh Kie, kee... kenapa kau?" tegur
Tonghong i-Hui.
"oooh, aai tidak apa-apa, kalau toh engkau disekap oleh ayahmu, kenapa sekarang bisa muncul
lagi diluar benteng ?"
"Aku mencuri keluar secara diam-diam, mungkin selama hidup, .selama hidup aku tidak dapat
memasuki pintu benteng maut lagi "
" Kenapa?" tanya sianak muda itu dengan terperanjat:
Tonghong Hui tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya lagi:
" Engkoh Kie, apakah engkau masih... masih selalu mencintai diriku ?"
sakit rasanya hati Han Siong Ki tatkala mendengar pertanyaan itu, ia berpikir:
"Kalau kulihat dari sikap adik Hui yang begitu murung dan layu, kemungkinan besar ia sudah
mengetahui tentang peristiwaku di bukit Tay huang san, bagaimana caranya aku memberi
penjelasan ? Aaai, aku benar-benar menyesal mengapa waktu itu imanku tidak teguh ? Bila
kutolak permintaan tersebut dengan hati yang keras, tak nanti bakal terjadi peristiwa seperti hari
ini".
sementara sianak muda itu masih termenung, Tonghong Hui telah mendesak lebih lanjut.
" Engkoh Kie, hayolah katakan-.. masihkah engkau mencintai diriku ?"
"Adik Hui, percayalah kepadaku. hatiku tak akan berubah, selama-lamanya aku memang tetap
mencintaimu"
"Kau mencintai aku ? selama-lamanya mencintai diriku ?"
"Benar, selama hayat masih dikandung badan, cinta ku padamu tak akan pudar"
" Engkoh Kie, aku dapat meresapi cinta kasihmu ini dan tak akan melupakan untuk selamalamanya
. "
Ucapan tersebut segera mendatangkan firasat tak enak dihati pemuda kita, buru-buru serunya:
"Adik Hui, kau... kenapa kau...."
Tonghong Hui menggeleag dengan seduh dan tertawa rawan.
"Engkoh Kie, kau tak usah bertanya kepadaku mengapa, asalkan masih tetap mencintai aku, itu
sudah lebih dari cukup "
"Adik Hui, aku..aku..sebetulnya...."
"Engkoh Kie, manusia yang mendapat cinta murni dari seseorang adalah suatu kebahagiaan,
aku sudah merasa sangat puas Biarlah apa yang akan terjadi dikemudian hari diatur oleh takdir
dan nasib" Air mata bagaikan layang-layang putus benang mengucur keluar tiada hentinya, dan
membasahi pipi Tonghong-Hui yang pucat pasi, serta tampak menyeramkan itu.
Hancur lebur perasaan hati Han siong Kie pada waktu itu, ia merasa gemas dan benci mengapa
tak dapat segera mati sehingga dosa yang telah dilakukan bisa ditebus kembali. "Adik Hui,
mengapa kau mengatakan begitu? Mengapa ?"
Tonghong Hui tertawa rawan- dia menggeleng.
"sekalipun kuterangkan, engkau tak akan mengerti . . dan tak akan paham"
" Katakanlah padaku . . kumohon katakanlah kepadaku, mengapa ? Mengapa kau berkata
begitu?"
"Dikemudian hari engkau akan mengerti sendiri, sekalipun tidak kuterangkan sekarang, tapi kau
akan pasti paham"
Berkerut kencang raut wajah Han siong Kie yang tampan d engan penuh penderitaan katanya
lagi:
"Adik Hui, maafkanlah daku, pada hakekatnya aku... sebetulnya aku..."
"Engkoh Kie, jangan berkata begitu?" tukas Tonghong i-Hui sambil menggelengkan kepalanya
berulang kali: "kata maaf sepantasnya muncul dari mulutku aaai Apa mau dikata lagi bila takdir
telah mengatur segala sesuatunya itu bagi kita?"
"Adik Hui...."
"Duduklah engkoh Kie, bersandarlah padaku," Dengan sikap yang kaku dan gerak gerik yang
sama seperti orang kehilangan sukma Han siong Kie duduk diatas batu cadas dan bersandar diatas
tubuh gadis itu.
Tonghong Hui segera merebahkan dirinya dalam pangkuan pemuda itu serta merta Han siong
Kie merangkul tubuhnya dan mendekapaya erat-erat.
"Engkoh Kie, masih ingat ketika kita mengangkat saudara diatas batu besar ditepi sungai?
Ketika itu aku masih serupa seorang pengemis cilik"
"Aku tak akan melupakan kenangan indah itu untuk selamanya"
"Masih ingat sewaktu kau terjatuh ketangan orang-orang Thian che kau pura-pura mati dengan
ilmu Ku si tay hoat dan aku menguburkan jenasahmu serta mendirikan batu nisan dirimu?"
"Aaai, aku sangat mengharapkan bahwa kejadian itu hakekatnya adalah suatu kejadian
sebenarnya, sekarang niscaya kita sudah berbaring didalam sebuah liang..."
"Adik Hui, kau...."
"Ketika kau dihantam oleh Tengkorak maut gadungan sehingga tercebur kedalam jurang, aku
menyusulmu kedalam jurang, tapi akhirnya kita sama-sama tidak mati"
"Adik Hui, semua kenangan indah serta kenangan manis itu tak akan pudar, tak akan hilang
dari pikiranku"
"Tapi, sekarang engkoh Ki, aku menyesal aku merasa amat menyesal"
Tercekat perasaan hati Han siong Kie, ucapan dari gadis itu seakan-akan tidak teratur lagi,
mungkinkah ia sudah jadi gila?
"Adik Hui, kau ... kau perlu beristirahat, tidurlah sebentar agar pikiranmu menjadi terang
kembali."
"Tidak. aku sangat baik, pikiranku masih cukup terang"
"Ucapanmu itu .... ucapanmu iti telah menghancurkan hatiku.... melumpuhkan perasaanku"
"Bersabarlah engkoh Ki, perasaanmu itu akan hilang mengikuti berputarnya waktu "
Hembusan angin lirih berkumandang dari kejauhan, bukan hembusan angin biasa tapi ujung
baju seseorang yang tersambar angin-
Dengan cekatan dua orang itu meloncat bangun berpaling, sesosok bayangan manusia berdiri
kurang lebih lima kaki dihadapan mereka.
orang itu adalah seorang manusia aneh yang berambut panjang, tampaknya jelek dan sangat
menyeramkan,
Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, sementara Han siong Kie sendiripun merasa
terperanjat setelah mengetahui siapa yang datang, dia masih ingat manusia aneh ini adalah
penghuni benteng maut, dia pernah bertemu dengan manusia aneh ini dan seingatnya makhluk
inilah yang terus berkaok-kaok dengan suara aneh.
"siapakah orang itu adik Hui?" cepat bisiknya.
"Dia adalah siau suhengku, seorang yang bisu dan tak pandai berbicara tapi kecerdikannya luar
biasa, diapun sangat perasa, selama hidup belum pernah tinggalkan benteng.."
"Tahukah kau apa tujuannya datang kemari?"
"Tentu saja mendapat perintah dari ayah untuk mencari aku serta menggusurnya pulang
kebenteng"
"Kalau begitu biarlah ku usir dia pergi dari sini."
"Jangan...Jangan kau berbuat begitu", tiba-tiba ia melejit ke depan sambil berlarian menjauhi
pemuda itu, serunya lagi "engkoh Kie, semoga kau baik-baik menjaga diri,aku. .aku pergi dulu"
"Adik Hui, jangan pergi dulu. aku masih...."
Namun Tonghong Hui tidak menggubris lagi, bersama manusia aneh berambut panjang itu
bayangan mereka kian menjauh sehingga akhirnya lenyap dari pandangan.
Han siong Kie berdiri menjublak bagaikan sebuah patung arca ia berdiri kaku di atas sebuah
batu tanpa berkutik, untuk sesaat pemuda itu dibikin gelagapan dan tak tahu apa yang musti
dilakukan ingin sekali ia mencegah kepergiannya tapi kakinya tak pernah beranjak dari tempat
semula, tutur kata Tonghong i-Hui yang aneh dan sedih serta paras muka sang dara yang sayu
dan layu membuat pikirannya kalut dan tak tenang.
Masih banyak perkataan serta penjelasan yang hendak ia katakan kepadanya, tapi gadis itu
sudah pergi.
Menurut pengakuannya, sudah dua puluh tahun ayahnya tak pernah keluar daripintu gerbang
benteng, maka mungkinkah ucapannya jujur? Lima belas tahun berselang waktu itu usianya baru
mencapai tiga tahun, tak mungkin ia bisa tahu akan kejadian yang sebenarnya, benarkah ia
"Istri yang ditinggalkan ...nona Tonghong-Hui .. aku tak tahu bagaimana musti memanggil
dirimu, tapi yang jelas perkataanmu itu memang sangat menarik hati, mungkin manusia yang
terdiri dari batu karang pun akan ikut mengucurkan air mata setelah mendengar perkataanmu itu,
cinta sejati yang tak takut berkorban seperti ini boleh dibilang suatu cinta suci yang jarang
dijumpai dikolong langit"
"Engkau anggap aku sedang bohong? mengarang cerita kosong yang sebenarnya sama sekali
tak ada?"
"oooh...engkau tak perlu salah paham, aku hanya ingin bertanya benarkah nona adalah
pengemis cilik? sesuaikah julukan tersebut bagi diri nona? aku hanya menginginkan jawaban yang
tegas dan benar"
JILID 17 HAL. 04 S/D 07 HILANG
"Nona, sebenarnya apa maksudmu?"
"Aku hanya ingin membuktikan, apakah dalam liang kubur ini benar2 dipendam kerangka
seseorang"
Rupanya Tonghong-Hui dibuat sangsi oleh perkataan yang amat tegas itu, lama.. lama sekali ia
termenung, kemudian baru bergumam seorang diri dengan sUara lirih:
"Tidak mungkin.. tidak mungkin kalau kuburan ini kosong, akulah yang telah mengebumikan
jenasahnya disini, aku yang masukkan sendiri jenasahnya.."
Dari sikap lawannya yang amat yakin dan ber-sungguh2, Go siau Bi tahu kalau gadis itu sama
sekali tidak bohong, dengan muka serius dia segera bertanya: "Nona Tonghong, engkau tidak
salah mengubur orang lain?"
"Tidak mengkin salah, yakin se yakin2nya, bahwa dialah yang telah kukubur disini"
"Aaah.. masa dikolong langit bisa terdapat dua orang manusia berwajah sama dengan Han
siong Kie? Aku tak percaya kalau dikolong langit bakal ada dua orang manusia yang sama."
"Apa...?" engkau telah bertemu dengan seorang Han siong Kie lagi? jangan bergurau nona Go
hal itu tak mungkin bisa terjadi" seru Tonghong-Hui dengan wajah terperangah.
"Tak mungkin salah, Aku tahu dia adalah Han siong Kie dan sekarang telah berubah namanya
menjadi Malaikat penyakitan. "
Dalam pada itu, Han siong Kie sendiri ibaratnya orang yang baru saja terserang penyakit berat,
dengan lemas roboh terkapar diatas tanah, meskipun begitu ucapan mereka secara lapat2 masih
sempat menerobos masuk kedalam telinganya.
sekarang ia baru menduga, mungkin apa yang dibicarakan dengan orang yang ada maksud tadi
telah terdengar oleh Go sia uBi, tapi... mengapa dia bersikeras akan membongkar kuburan itu??"
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, terakhir pemuda itu berpikir:
"Aaah sekarang aku tahu, pastilah diapun menaruh hati kepadaku, dan mengira aku sengaja
menyaru jadi orang lain untuk membohongi dirinya, kalau begitu ia tentu sudah menaruh
perasaan salah paham atas diriku" sementara itu di gelanggang Tonghong Hui sedang berseru
kaget:
"siapa? Malaikat penyakitan? aku pernah bertemu dengan dirinya tapi masa dia adalah Han
siong Kie??"
"Jadi engkau tidak percaya?? engkau saja dapat merubah dirimu jadi pengemis cilik, masa dia
tak dapat merubah diri jadi malaikat penyakitan??"
"Maksudmu...ia .telah menyaru diri untuk mengelabuhi pandangan orang banyak?"
"siapa tahu?"
sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, bibirnya bergetar keras lalu gumamnya seorang
diri:
"Tak mungkin, hal ini tak mungkin bisa terjadi, dia sudah mati akulah yang telah menguburkan
jenasahnya disini, dengan tanganku sendiri kututup liang kubur ini"
24
"Nona Tonghong" ujar Go Siau Bi dengan nada dingin, "inginkah engkau membuktikan dengan
mata kepala sendiri, kalau apa yang kau kuucapkan sedikitpun tidak bohong?"
"Apa?? engkau akan membongkar kuburan ini.. hanya untuk membuktikan bahwa ucapanmu
tidak bohong? Gila jangan anggap perbuatan semacam itu sebagai suatu permainan"
"Oooh jangan kuatir, aku rasa tak perlu kita bongkar kuburan itu untuk mencari bukti aku
punya cara lain yang lebih mudah untuk membuktikan kebenaran dari perkataanku tadi"
"Lalu.. bagaimana caramu untuk membuktikan kebenaran dari perkataanmu tadi?" tanya
Tonghong Hui dengan perasaan ingin tahu.
Go Siau Bi tertawa misterius, tiba2 dengan paras muka sedih bercampur murung ia berpaling
kearah tempat persembunyian dari Han Siong Kie, serunya dengan suara lantang: "Han siauhiap,
bersediakah engkau untuk munculkan diri?"
Bagaikan baru saja sadar dari suatu impian, dengan tubuh kaku Han Siong Kie bangkit berdiri
lalu berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.
Tonghong Hui menjerit lengking, dengan tubuh sempoyongan dia mundur kebelakang hampir
saja ia tak percaya kalau apa yang dilihat dengan mata kepala sendiri adalah suatu kenyataan,
seseorang yang dikubur olehnya ternyata telah hidup kembali.
Dia pejamkan matanya rapat2, gadis itu tak punya keberanian untuk membuka matanya
kembali dan memandang kenyataan yang terbentang didepan mata. .
Dalam anggapannya apa yang telah terjadi hanyalah suatu impian yang aneh, dia takut setelah
sadar dari impian maka yang dia hadapi hanyalah penderitaan dan siksaan.
Han siong Kie sendiripun berdiri kaku ditempat semula tanpa berkutik barang sedikitpun juga .
Kedua belah pihak berdiri kaku dalam jarak sepuluh tombak. suatu jarak yang sangat dekat
bagi pandangan jago lihay, karena raut wajah kedua belah pihak dalam terlihat dengan amat jelas.
Paras muka Tonghong Hui berubah jadi pucat pias bakaikan mayat, badannya gemetar keras,
dengan lirih dia berbisik:
"Tidak...tidak mungkin, semuanya bukan kenyataan.. aku tidak percaya.."
Go siau Bi menghela napas panjang.
"Aaaii. nona Tonghong, bersediakah kalau kau untuk mendengarkan suatu kisah cerita??"
Tonghong Hui mengangguk, sepasang matanya masih terpejam rapat, sedangkan tubuhnya
gemetar tiada hentinya.
Go siau Bi tarik napas panjang2 dengan sedih ia mulai bercerita:
"Dalam dunia persilatan terdapat seorang jago yang sangat lihay, suatu ketika nasibnya kurang
mujur sehingga tertangkap oleh pihak lawan, ia dijebloskan kedalam penjara untuk menantikan
saat hukuman matinya tiba, setiap orang yang berada dalam penjara tersebut hanya bisa keluar
dari penjara apabila tubuhnya telah berubah jadi mayat, tapi untung jago lihay itu memiliki ilmu
Ku si tay hoat yang dapat berpura-pura mati, demikianlah dibawah bantuan orang lain akhirnya
dia pura2 mati dan digotong keluar dari penjara itu untuk dikubur secara massal, tiga hari
kemudian ia telah bangkit kembali."
"Orang yang kau ceritakan adalah dirinya?" seru Tonghong Hui sambil membentangkan
matanya lebar2.
"Benar"
"Darimana engkau bisa tahu semua kejadian tersebut dengan begitu jelas?"
"Seorang gadis berkerudung telah memberitahukan cerita tersebut kepadaku ketika rahasianya
berhasil kuketahui, dia menyebut dirinya sebagai orang yang ada maksud"
sekarang Tonghong Hui baru tahu duduknya persoalan, bagaikan baru sadar dari impian, ia
merasa jengkel dan mendongkol karena dirinya tertipu, tapi setelah berpikir sejenak kembali gadis
itu gelengkan kepalanya berulang kali. "Aku tak bisa menyalahkan dirinya, ia toh tidak tahu kalau
aku adalah..."
"Dia tidak tahu soal apa?" sela Go siau Bi dengan alis mata berkernyit. Tiba2 Tonghong Hui
menjerit lengking:
"Engkoh Kie" Dengan cepat ia lalu kedepan menghampiri sianak muda itu.
Gadis itu ingin memeluk kekasih hatinya, tetapi pemuda itu hanya berdiri dengan wajah kaku,
hal ini membuat dara tersebut terperangah dan batalkan maksudnya.
sekarang dia baru teringat, kalau kakak angkatnya Han siong Kie paling membenci kaum
wanita.. hatinya terasa sakit bagaikan di iris2, air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Lama kelamaan.. akhirnya ia tak dapat menahan diri lagi dan berseru keras:
"Engkoh Kie, ketika kita angkat saudara tempo hari, bukankah engkau pernah berjanji tak akan
tinggaikan diriku walau berada dalam keadaan apapun, masih ingatkah engkau dengan janjimu
itu?"
Paras muka Han siong Kie perlahan2 pulih kembali seperti sedia kala, dengan penuh emosi dia
mengangguk, "Aku masih ingat, adik Hui"
"Engkau masih memanggil aku sebagai Hui te (adik Hui)?" bisik Tonghong Hui.
Han siong Kie terperangah, dengan suara ter-bata2 ia menjawab:
"Soal ini soal ini., aku rasa kurang begitu tepat untuk diucapkan, buat apa.."
"Tidak kalau sebutan tidak benar maka pembicaraanpUn tak dapat berjalan dengan lancar.."
"Kita toh saudara angkat, buat apa engkau musti persoalkan sebutan belaka?"
"Tapi tapi.. aku toh seorang gadis bukan lelaki..." sela sang dara cepat.
"Aku tahu, engkau adalah searong gadis seorang gadis yang berwajah cantik"
"Engkau benci kepadaku?" Bisik Tonghong Hui agak ragu.
"Kenapa aku mesti benci dirimu?"
"Engkau pernah berkata kalau engkau paling benci terhadap kaum wanita dikolong langit"
"Tidak Engkau.... engkau terkecuali"
Dengan ujung bajunya Tonghong Hui menyeka air mata yang membasahi wajahnya, senyum
manis tersungging diujung bibirnya, sepasang biji matanya yang besar menatap wajah Han siong
Kie tanpa berkedip. dengan suara yang lembut ia berkata:
"Engkoh Kie, engkau tak akan membenci diriku bukan?"
"Aku tidak punya alasan untuk membenci kau"
"Kalau begitu engkau cinta padaku?"
Han siong Kie terkesiap. jantungnya berdebar keras, suatu perasaan aneh yang belum pernah
dialami sebelumnya menyelimuti seluruh benak dan perasaannya, hal itu membuat paras mukanya
terasa jadi panas dan berubah jadi merah padam. setelah tertegun beberapa saat lamanya ia baru
menjawab:
"Benar, aku cinta padamu aku mencintai dirimu bagaikan mencintai saudara kandungku sendiri"
senyum manis yang semula menghiasi ujung bibir Tonghong Hui seketika lenyap tak berbekas,
dengan sedih bisiknya:
"Engkoh Kie, aku merasa se-olah2 sedang mendapat satu impian yang aneh dan berliku-liku..."
"Benar kejadian yang kita alami ibarat awan diangkasa, gampang berubah menurut keadaan
disekelilingnya"
"Engkau senang karena aku adalah seorang gadis?"
"Tentang soal ini.. tentu saja bagiku tiada perbedaannya antara pria dan wanita"
Dipihak lain, Go siau Bi berdiri tertegun, semua impian indah dan lamunan manis yang semula
menyelimuti benaknya kini telah musnah tak berbekas, semua keindahan berubah jadi kesedihan,
kesengsaraan dan tekanan batin, ketika ia mengetahui kalau orang yang dicintai ternyata sudah
mempunyai pilihan hati, dara itu merasa makin pedih.
Ia pernah melelehkan air mata karena kematiannya, merasa hatinya hancur remuk karena
kepergiannya, tapi sekarang... kenyataan membuktikan bahwa dia belum mati, tapi ia tak berhasil
mendapatkan dirinya.
Dengan sedih, murung, kecewa dan putus asa, gadis itu putar badan, diam2 berlalu dari sana
tanpa mengucapkan sepatah katapun..
setelah jauh tinggalkan tempat yang menyedihkan hati, gadis itu baru teringat akan tujuan
kedatangannya kesana, ia hendak balaskan dendam bagi kematian ayahnya.. rasa dendam sakit
hati melenyapkan rasa sedih dan kecewa yang semula menyelimuti hatinya, gadis itu langsung
bergerak menuju kearah Lian huan tau,pusat kekuatan dari perkumpulan Thian che kau.
Dalam pada itu, Tonghong-Hui dengan sorot mata penuh permohonan sedang awasi wajah
kekasihnya, kemudian berkata:
"Engkoh Kie, dapatkah engkau merubah panggilanmu terhadap aku.."
Han siong Kie termenung dengan alis mata berkernyit, lama sekali dia baru menjawab:
"Aku akan menyebut kau Hui moay"
sebutan adik Hui atau Hui-moay itu sangat menyejukkan hati Tonghong Hui, senyuman kini
kembali tersungging di ujung bibirnya, ia mengira untuk selamanya tak akan berjumpa kembali
dengan Han siong Kie kekasih hatinya, tapi kenyataan berkata lain, saat ini ia telah mendengar
kekasihnya memanggil "Hui moay " kepadanya.
Han siong Kie sendiri hanya bisa ter-mangu2 sambil memandang gadis itu, tiba2 ia teringat
kembali akan asal usul dari dara manis itu, tanpa sadar sekujur badannya gemetar keras, dengan
suara berat ia segera menegur: "Adik Hui, engkau adalah anggota benteng maut?"
Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, tak sangka olehnya dalam keadaan begitu ia dapat
mengajukan pertanyaan semacam itu, dengan gugup dia mengangguk. "Benar, aa.. Apa
salahnya?"
secara tiba2 satu ingatan berkelebat pula dalam hati Tonghong Hui, paras mukanya ikut
berubah hebat, dengan hati bergidik dia mundur selangkah ke belakang kemudian menegur:
"Engkoh Kie, kenapa engkau musti menanyakan persoalan itu?"
"Aku harus tahu... bagaimanapun juga aku harus mengetahuinya.. Hui moay jawablah
sejujurnya.."
"Engkau ingin tahu?"
"Benar"
Tonghong Hui tertunduk dengan wajah sedih, siksaan batin yang hebat menyelimuti seluruh
perasaannya, sambil menggigit bibir ia menjawab: "Dia adalah ayahku"
"Apa. ? Pemilik benteng maut adalah ayahmu??"
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, kemudian kejang2, kenyataan tersebut terlalu
kejam.. terlalu sadis.. ia tak mengira kalau adik angkatnya yang disayang dan di cintai ternyata
bukan lain adalah putri dari musuh besarnya... anak gadis dari pembunuh besar yang telah
membantai selurub keluarga dan isi kampungnya..
Haruslah dia putus hubungan dengan gadis ini tidak mungkin Atau dia harus lepaskan niatnya
untuk membalas dendam?? hal ini semakin tak mungkin terjadi Diluar dugaan, Tonghong Hui yang
dicintai ternyata adalah putri dari Tengkorak maut yang dianggap sebagai datuk iblis pembawa
maut bagi dunia persilatan, suatu kejadian yang mimpipun tak pernah diduga olehnya
Untuk beberapa saat lamanya Han siong Kie berdiri mematung, ia merasa tubuhnya seolah-olah
terjerumus kedalam gua saiju yang sangat dingin, membuat sekujur badannya gemetar keras.
Paras muka Tonghong Hui pun ikut berubah-ubah menuruti perubahan sikap dari sang pemuda,
ia tahu apa yang sedang dipikirkan engkoh Kienya pada saat ini, dahulu ia tak berani berpikir
sampai kesitu, dan sekarang apa yang tak berani dipikirkan akhirnya toh berubah jadi kenyataan.
Dendam.... dendam macam apakah itu? gadis tersebut sama sekali tidak tahu.
Musuh besar dari ayahnya, tengkorak maut pemilik benteng maut tak terhitung jumlahnya, ia
tak pernah memperbolehkan orang lain untuk mencampuri urusannya. Ia merasa hatinya hancur,
dia benci atas nasib jelek yang menimpa dirinya.
Cinta. membuat dia terjerumus kelembah kehancuran, kenyataan membuat hatinya remuk
redam.
seandainya Han siong Kie benar2 telah mati, maka cinta yang bersemi dalam hatinya akan
berakhir mengikuti kematian yang menimpa dirinya, tapi ia tidak mati, suatu kejadian yang diluar
dugaan membuat si anak muda itu tetap hidup dikolong langit, kejadian ini mendatangkan rasa
kaget dan gembira baginya, tapi kemudian...yang diterima dan dirasakan hanyalah penderitaan
yang tiada berakhir.
Dengan watak yang keras dan dingin, tak mungkin ia bisa membatalkan niatnya untuk
membalas dendam, dan orang yang hendak di tuntut balas bukan lain adalah ayahnya sendiri.
Bagaimana akhirnya gadis itu tak berani berpikir lebih jauh.
setelah pelbagai perasaan dan pikiran berkecamuk dalam benaknya, akhirnya gadis itu
mengambil keputusan yang tegas: Ia tertawa sedih, lalu berkata:
"Engkoh Kie, bukankah engkau pernah berkata kepadaku, bahwa antara engkau dengan
ayahku terikat oleh dendam berdarah sebesar lautan?"
"Benar" dengan kaku Han siong Kie mengangguk.
"Dendam berdarah yang bagaimanakah itu?"
sorot mata penuh kebencian dan perasaan dendam memancarkan keluar dari balik mata Han
siong Kie sambil menggigit bibir ia menjawab: "Dia telah membunuh ayahku, membantai seluruh
isi perkampunganku.."
Tonghong Hui mundur dengan sempoyongan, sambil berusaha menahan pergolakan emosi dia
bertanya:
"Dan engkau akan membalas dendam?"
-000dewi000-
BAB 35
DENGAN penuh kepedihan Han siong Kie mengangguk.
"Adik Hui, meskipun kalau dibicarakan maka kejadian ini terasa kelewat kejam.. kelewat sadis,
tetapi mau tak mau aku harus berbuat begitu, Benteng maut akan hancur seperti
perkampunganku, darah segarr akan berceceran menodai seluruh lantai benteng tersebut"
Pucat pias seluruh wajah Tonghong-Hui, tak tahan lagi air mata jatuh bercucuran membasahi
pipinya.
"Engkoh Kie, seharusnya kita tak usah bertemu.. tak usah berkenalan.."
"Tapi ternyata kita sudah bertemu dan telah berkenalan, bahkan engkau telah angkat saudara
dengan aku"
"Engkoh Kie, aku tahu persoalan ini tak mungkin bisa diselesaikan secara baik2, tak mungkin
persoalan bisa beres seperti apa yang kita inginkan, aku... aku..."
"Apa yang kau kehendaki??"
"Menggunakan kesempatan ini, aku hendak memberitahukan sesuatu kepadamu."
"Apa yang hendak kau sampaikan kepadaku"
Air mata yang membasahi wajah Tonghong Hui semakin deras mengalir turun, dengan nada
pedih ia berbisik.
"Sejak pertama kali kita berjumpa, aku telah....aku telah...."
Han siong Kie bukan seorang manusia yang bodoh, ia tahu apa yang hendak dikatakan gadis
tersebut dan diapun tahu perkataan itu tak pernah diduga sebelumnya, walaupun begitu ia tetap
bertanya:
"Engkau telah apa?"
"Aku telah jatuh cinta kepadamu"
Han siong Kie terperanjat, jantungnya berdebar keras setelah mendengar perkataan itu, apa
yang diduga ternyata sedikitpun tak salah.
Ketika ucapan itu diutarakan keluar, Tonghong Hui tertunduk dengan wajah jengah, tapi
sebentar kemudian ia sudah menengadah kembali, sepasang matanya terbelalak lebar, dengan
suatu perasaan yang sangat aneh dia awasi wajah Han siong Kie tanpa berkedip.
sianak muda itu sendiri merasakan hatinya bingung dan pikirannya kalut, hampir saja ia tak
berani saling beradu pandangan dengan gadis itu.
Tiba2 Tonghong Hui tertawa, tertawanya amat rawan dan menyedihkan hati, dengan suara lirih
ia berkata:
"Engkoh Kie, engkau tak akan pandang rendah diriku bukan? sebab apa yang kuucapkan
barusan merupakan kesempatan terakhir bagiku untuk mengungkapkan perasaan hati yang sudah
lama terpendam dalam hati kecilku.."
"Terakhir ? kenapa terakhir?" satu alamat jelek berkelebat dalam benak Han siong Kie.
"Engkoh Kie" sahut gadis itu lirih.
JILID 17 HAL. HiLANG
"Tidak aku tak kenal kata menyesal"
"Mengapa engkau menyesali diri sendiri?"
"Adik Hui, aku tak dapat menjelaskan bagaimanakah perasaan hatiku pada saat ini" Tonghong
Hui mengangguk.
"Engkoh Kie, aku tahu antara cinta dan dendam telah melibatkan engkau kedalam suatu
keadaan yang serba sulit, bukankah engkau murung dan kesal karena menghadapi cinta yang tak
berakhir ini? tapi engkoh Kie, aku tak dapat menghindarkan diri dari penentuan takdir, siau moay
telah mempunyai satu rencana...".
"Rencana? apa rencanamu itu?"
"Tentang soal ini.. engkau tak usah bertanya, yang jelas mulai detik ini baik didunia maupun
didalam baka kita selalu bersama.. hati kita selalu bersatu.."
Rupanya Han siong Kie dapat merasakan gelagat yang kurang baik dari pembicaraan itu, buru
buru tegurnya:
"Adik Hui, apa maksudmu mengatakan begitu..?"
Paras muka Tonghong Hui yang cantik seakan2 dalam waktu singkat telah jadi layu, sambil
menahan isak tangisnya dia berkata:
"Engkoh Kie, inilah yang dinamakan nasib cinta tak dapat menghilangkan dendam, semoga saja
karena dendam jangan sampai menghilangkan rasa cinta"
Dengan sedih Han siong Kie mengawasi lawannya dalam keadaap seperti ini, apa yang bisa
dikatakan lagi?
Tonghong Hui menengadah ke udara dan menghela napas sedih, bisiknya lagi: "Engkoh Kie,
aku akan pergi.. semoga engkau dapat baik2 jaga diri"
sambil menutupi wajahnya dengan ujung baju, gadis itu putar badan dan berlalu dari sana
dengan cepatnya.
Han siong Kietak dapat berbuat apa2, dia hanya bisa memandang bayangan punggung gadis
itu lenyap dari pandangan dengan pandangan kaku, dia ingin berteriak namun tiada suara yang
mampu meluncur keluar dari mulutnya, dia ingin mengejar tapi kakinya serasa tak dapat bergerak
tinggalkan tempat itu.. dendam kesumat sedalam lautan membuat pemuda itu kehilangan
kebebasannya untuk memilih, ia tak dapat mementingkan soal cinta dan mengesampingkan soal
dendam, tapi diapun tak dapat memupuk cinta sambil mencari ayahnya menuntut balas.
Kenyataan telah menggariskan, membuat ia tak dapat bersatu dengan gadis tersebut.
Dalam sekejap mata, pemuda itu merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, hatinya terasa
amat sakit bagaikan di iris2.
selama ini Tonghong Hui telah memberikan budi dan cintanya kepada dia, cinta yang diberikan
kepadanya lebih dalam dari samudra, tapi pemuda itu tak dapat berbuat apa2, dia hanya dapat
membiarkan gadis itu pergi meninggalkan dirinya.
Tiba2..ia teringat kembali akan sesuatu, pemuda itu se-olah2 mendengar lagi perkataan
terakhir yang diucapkan Tonghong-Hui. "Semoga hati kita selalu bersatu baik dalam jagad maupun
di alam baka" sekujur tubuhnya gemetar keras, ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya.
"Aaaah pikiran itu tak benar, rupanya dia ada maksud untuk bunuh diri, aku harus menghalangi
niatnya itu" Tak kuasa lagi ia menjerit keras.
"Adik Hui. engkau tak boleh.."
sekali enjot badan, bagaitan sambaran kilat cepatnya ia bergerak menuju ke arah mana
Tonghong Hui melenyapkan diri
"Nak, kembalilah"
suara teguran itu tidak terlalu keras, namun amat mencekat hati, seketika itu juga Han siong
Kie menghentikan gerak tubuhnya.
"Nak, biarkan dia pergi, justru dengan sikapnya itu maka keadaan jauh lebih baik"
Han siong Kie dapat kenali suara itu sebagai suara dari orang yang kehilangan sukma, sekujur
badannya gemetar keras, ia merasa manusia misterius itu seakan2 sukma gentayangan, dia selalu
membayangi disekeliling tubuhnya. Dengan cepat ia berhenti dan berseru:
"cianpwee, bagaimanapun juga aku harus mengejar dirinya sampai dapat"
"Kenapa ?"
"Dia..dia.. aku kuatir kalau dia akan mengambil keputusan pendek untuk mengakhiri hidupnya."
"Aaah kejadian itu tak mungkin terjadi" suatu jawaban yang tegas dan meyakinkan. Han siong
Kie termangu2, kembali dia berkata:
"Dengan dasar apakah cianpwee mengatakan kalau dia tak mungkin akan mengambil
keputusan pendek?? "
"Meskipun dia mempunyai keinginan untuk berbuat begitu, tapi tak mungkin hal itu bisa
dilaksanakan olehnya"
"Mengapa bisa begitu?? "
"Tentang soal ini, lebih baik engkau tak usah tahu"
"Cianpwee bagaimanapun juga aku tidak dapat mempercayai perkataan dari cianpwee dan
mengorbankan dirinya dengan begitu saja"
sekali lagi dia enjotkan badan siap berlalu dari situ.
"Han siong Kie, aku larang engkau berbuat begitu" seruan ini begitu berwibawa dan se-akan2
mengandung nada perintah yang tak bisa dibantah lagi, membuat Han siong Kie tanpa sadar
harus menghentikan kembali perjalanannya.
"Apa maksud dan tujuan orang yang kehilangan sukma menghalangi dirinya untuk menyusul
gadis itu?" Apakah diapun..
Dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang, orang yang kehilangan sukma berkata:
"Nak. dengarkanlah perkataanku Janganlah timbul pikiran yang bukan bukan atas perbuatanku
ini?"
"Tapi.. ciaapwee bagaimanapunjuga aku toh tak boleh biarkan gadis itu bunuh diri tanpa
berusaha untuk menolong"
"Sudah kukatakan tadi, tak mungkin dia akan bunuh diri inilah suatu akhir yang paling baik buat
hubunganmu dengan dirinya."
"Suatu akhir yang paling baik?"
"Benar"
"Aku tahu kami berdua tak mungkin dapat bersatu, karena dendam berdarah yang ditinggalkan
generasi yang lalu telah mencintakan sebuah jurang pemisah yang sangat dalam diantara kami
berdua.."
"Aaah soal itu sih belum tentu, tapi yang jelas ada jurang pemisah lain yang jauh lebih dalam
telah memisahkan hubungan kalian berdua, dan bagaimanapun juga kalian berdua tak mungkin
bisa melewati jurang pemisah tersebut"
"Aku tidak mengerti dengan ucapan itu"
"Mengerti juga baik tak mangertipun tidak mengapa, pokoknya aku berharap agar engkau bisa
menganggap peristiwa ini sebagai kejadian yang sudah lewat, lebih baik lagi kalau engkau dapat
melupakan selama2nya"
"Benar, aku memang tidak memiliki jalan kedua yang bisa kutempuh lagi, aku memang harus
melupakan dirinya"
"Nak. sekarang kau harus segera berangkat menuju ke wilayah Lian-huan-tau untuk
menyelamatkan nyawa seseorang" ujar orang yang ka hilangan sukma kemudian.
"Menolong orang? siapa yang harus kutolong?" seru Han siong Kie terperangah.
"orang itu adalah Go siau Bi "
"Apa yang terjadi dengan dirinya??"
"Dia telah terkurung didalam wilayah Lian huan tau."
"Tapi dia toh memiliki ilmu silat yang sangat lihay, masa ia bisa terjebak.."
"Wilayah Lian huao tau merupakan daerah rawan yang diciptakan oleh alam, setelah diberi
tambahan disana sini oleh seorang yang pandai, tempat itu sudah berubah jadi sebuah barisan
yang aneh dan tangguh sekali, siapapun sulit untuk lolos dari kurungan itu dengan mudah."
"Aku yang muda sudah berulang kali menerima budi pertolongan dari nona Go, sudah
sepantasnya kalau aku berusaha untuk menyelamatkan jiwanya, sekarang juga aku akan
berangkat kesana."
"Tunggu sebentar"
"Apa yang hendak cianpwee katakan lagi?"
"Aku akan serahkan selembar peta lembah Lian huan tau kepadamu, dan engkau dapat masuk
kedalam lembah tersebut mengikuti peta itu, tapi ingat setelah berhasil menolong Go siau Bi maka
engkau harus segera mengundurkan diri, jangan terlalu lama tinggal disana dan jangan mencoba
untuk menorobos masuk kedalam markas besar perkumpulan Thian che kau"
"Kenapa??"
"sebab tujuanmu hanya menolong orang "
"Baik, aku yang muda akan turut perintah"
selembar kertas dilemparkan keudara dan melayang kearah sianak muda itu, dengan cepat Han
siong Kie menyambutnya, dia tahu itulah peta lembah Lian huan tau yang diberikan orang yang
kehilangan sukma kepadanya, tanpa diteliti lagi ia berseru. " Cianpwee, selamat tinggal aku akan
berangkat lebih dahulu."
sekali enjot badan ia langsung bergerak menuju kearah wilayah Lian huan tau, suara bentakan
gusar dan angin pukulan secara lapat2 berkumandang dari balik lembah itu.
Han Siong Kie ambil keluar peta lembah yang diberikan orang yang kehilangan sukma
kepadanya itu, setelah diteliti beberapa kali dan sebagian besar sudah teringat dalam benaknya, ia
segara mesukkan kembali peta itu kedalam saku dan dia melanjutkan perjalanan..
"sahabat, siapa kau?" tiba2 teguran nyaring berkumandang dari arah depan- "berani benar
engkau mengintip lembah Lian huan-tau kami".
Mengikuti suara teguran itu, enam sosok bayangan manusia munculkan diri didepan mulut
lembah, kemudian serentak mereka menyebarkan diri dan menghadang jalan masuknya.
Dengan pandangan mata yang amat dingin Han siong Kie menyapu sekejap keenam orang
penghadang itu, ia lihat mereka adalah enam orang pria kekar berbaju hitam yang menyoreng
pedang.
Menyaksikan musuhnya tetap membungkam, sekali lagi salah seorang diantara keenam orang
pria kekar itu menegur:
"sahabat, siapa kau? aku harap engkau bersedia menyebutkan namamu" Han siong Kie
mendengus dingin.
"Hmm cuma andalkan kedudukan kalian berenam? jangan mimpi disiang hari bolong" Tanpa
menggubris lawannya, dengan langkah lebar dia berjalan kemulut lembah.
Enam orang pria kekar itu segera membentak keras, enam bilah pedang dengan menciptakan
selarik cahaya tajam yang menyilaukan mata menghadang jalan perginya.
Han siong Kie sama sekali tidak berhenti, ia berjalan terus hingga jarak lima langkah dari
musuhnya, kemudian sambil menghimpun tenaga dia lepaskan satu pukulan yang maha dahsyat,
dua jeritan kesakitan bergema memecahkan kesunyian, dua orang pria kekar yang bergerak maju
lebih dahulu seketika terpental kebelakang dan roboh binasa.
Melihat kelihayan musuhnya, empat orang pria kekar itu jadi kaget dan ketakutan setengah
mati, buru2 mereka menyingkir ke arah samping.
Han siong Kie sama sekali tidak berhenti, dengan langkah yang cepat ia menerobos masuk
kedalam dan tinggalkan musuh-musuhnya jauh dibelakangi
Tiba2 suara bentakan nyaring kembali berkumandang memecahkan kesunyian, dari sisi jalan
lembah meluncur kembali tiga sosok bayangan manusia.
Han siong Kie segera menghentikan gerak tubuhnya dan menyapu kearah ketiga orang itu, ia
lihat orang yang berada dipaling depan adalah kupu2 warna warni Li In Hiang ketua tongcu yang
pernah dikenal, diiringi dua orang dayangnya.
Untuk beberapa saat kedua belah pihak sama berdiri terperangah tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
Mula2 Kupu warna warni Li In Hiang menunjukkan wajah yang kaget bercampur ngeri, tapi
sejenak kemudian sambil tertawa genit tegurnya nyaring. "Eei, Han sauhiap. sungguh tak
kusangka kita bakal bertemu kembali"
"Hmm Li In Hiang, engkau jangan gembira dulu" seru Han siong Kie sambil mendengus dingin.
"saat kematianmu sudah hampir tiba"
"Aduh Han sauhiap pandai benar engkau bergurau" seru Kupu2 warna warni lagi dengan sikap
yang sangat genit "diantara kita berdua toh tak pernah terikat oleh dendam ataupun sakit hati,
masa engkau hendak bunuh aku?"
"sudah terlalu banyak pemberian yang dihadiahkan perkumpulan Thian che kau kepadaku,
namun itu bukan alasanku yang terutama untuk membinasakan dirimu.."
"Bunuh aku? Hiihh..hiihh..hiihh.. membicarakan soal membunuh dalam lembah lian-huan tau..
Han sauhiap apakah engkau tidak merasa terlalu tak pandang sebelah matapun terhadap kami ?"
" Engkau anggap aku benar2 tak mampu untuk membinasakan dirimu..?"
Paras muka Kupu warna warni Li In Hiang berubah dingin membesi, alis matanya berkenyit, dia
menegur dengan ketus:
"Manusia bermuka dingin, aku kuatir kalau engkau tak dapat keluar dari sini dalam keadan
hidup"
-ooodewiooo-
BAB 36
"LI IN HIANG" ujar Han siong Kie dengan suara dingin, engkau masih ingat dengan peristiwa
terbunuhnya Go Yu Too ketua perkumpulan Pat gi- pang?"
"Tentu saja masih ingat, sebab akulah yang membinasakan orang she Go itu"
"Masih ada lagi.. kematian dari kang lam jit-koay..."
"Benar.. tepat sekali, aku semua yang bereskan jiwa mereka, tapi apa sangkut pautnya dengan
dirimu?"
"Aku mempunyai sedikit hubungan dengan putri dari ketua Pat gi pang itu, karenanya aku ingin
mewakili dirinya untuk bereskan hutang piutang tadi" Kupu warna warni Li In Hiang tertawa terkekeh2
sehabis mendengar perkataan itu. "Hiihh..hiiihh..hiiih.. bagaiimana caramu untuk bereskan
hutang piutang ini?"
Hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati tiba2 berkelebat diatas wajah Han Siong Kie
yang ganteng. dia menerjang maju kedepan lalu berkata: "Hutang darah bayar darah, aku hendak
petik batok kepalamu itu"
Kupu warna warni Li In Hiang tergetar mundur tiga langkah oleh hawa napsu membunuh yang
begitu tebal dari lawannya, sedangkan dua orang dayang itu ikut mundur beberapa langkah
kebelakang karena ngeri bercampur seram.
"Manusia bermuka dingin, engkau tak mungkin dapat melakukan perbuatan itu."
"Huuuh.. kalau tidak percaya, coba saja kelihayanku ini "
seraya berkata sianak muda itu bergerak maju kedepan dengan gerak cahaya kilat lintasan
bayangan, sekali berkelebat tahu2 tubuhnya sudah berada tepat dihadapan kupu2 warna warni Li
In Hiang, membuat beberapa orang itu menjerit kaget dan buru2 menghindarkan diri..
"Perempuan anjing, engkau hendak kabur ke mana?" hardik pemuda itu, kelima jari tangannya
bergerak cepat kedepan dan siap mencekeram tubuh musuhnya.
Cengkeraman tersebut dilepaskan dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata,
nampaknya kupu2 warna warni Li In Hiang tak akan lolos dari cengkeraman tersebut.
Disaat yang paling kritis itulah, mendadak dari arah belakang berkumandang suara desiran
angin tajam yang menyergap punggungnya.
Han siong Kie merasa amat terperanjat, ia sadar bahwa seorang jago lihay telah melepaskan
senjata rahasia kearahnya, jika ia tak menghindar niscaya tubuhnya akan terluka parah.
Dalam keadaan demikian, terpaksa ia harus tarik kembali ancamannya sambil bergerak
kesamping sejauh delapan depa dari tempat semula.
Ia temukan benda yang digunakan untuk mengancam tubuhnya tidak lebih hanya beberapa
lembar daun, tapi setelah mengetahui siapa yang lepaskan sergapan itu, tak kuasa lagi pemuda itu
berseru tertahan, pandangan matanya jadi gelap dan hampir saja ia roboh tak sadarkan diri.
Ternyata orang yang melancarkan sergapan tersebut, bukan lain adalah ibu kandungnya yang
berhati keji bagaikan ular beracun, Siang g o cantik ong cui Ing adanya.
Seluruh wajah dia nak muda itu berkerut kecang, tubuhnya gemetar keras karena harus
menahan emosi.
Menggunakan kesempatan yaag sangat baik itulah, kupu2 warna warni Li In Hiang telah
mengundurkan diri delapan depa ke belakang.
siang go cantik ong cui Ing dengan muka dingin bagaikan es berdiri tegak dihadapannya, sorot
matanya yang tajam dan menyeramkan mengawasi wajah Han Siong Kie tanpa berkedip..
sianak muda ttu merasakan hatinya remuk redam, tempo dulu ibunya pernah turun tangan keji
atas dirinya sehingga hampir saja ia mati konyol dalam penjara batu, sekarang kembali ibunya
menyergap untuk mencabut jiwanya, kejadian ini membuat darah dalam tubuhnya bergolak
keras..
Benarkah dia sebagai seorang anak harus turun tangan terhadap ibunya sendiri?
Seganas2nya harimau tak akan dia terkam anaknya sendiri, tapi ibunya, dia tega untuk
membunuh anak kandungnya sendiri, bukankah itu berarti bahwa kekejaman hatinya jauh
melebihi ganasnya harimau atau srigala??
suasana diliputi keheningan dan kesunyian, lama sekali akhirnya siang go cantik ong Ciu Ing
berkata:
"Manusia bermuka dingin, sungguh tak kusangka engkau berani mengumpankan diri kedalam
perangkap kami, tempo hari engkau berhasil meloloskan diri dari cengkeramanku, tapi sekarang..
Hmm sekalipun punya sayap jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat"
Kembali Hin siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras, ia sakit hati, pemuda itu
merasakan hatinya e akan2 diiris dengan pisau tajam, ia tak menyangka ibu kandungnya dapat
mengucapkan kata2 seperti itu... ia merasa hatinya teriuka dan sedang mengucurkan darah...
Kalau toh dia tidak menganggap dirinya sebagai anak, kenapa aku musti anggap dia sebagai
ibu?
Ingatan semacam itu berkelebat dalam benaknya, dengan suara sedih karena menahan emosi
katanya:
"Nyonya ketua, ini hari apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku?"
sekujur badan siang go cantik ong cui Ing tampak gemetar keras, suatu cahaya yang sangat
aneh terlintas di atas wajahnya, tapi hanya sebentar saja telah lenyap dari pandangan, sahutnya
dengan suara ketus:
"Manusia berwajah dingin, barang siapa berani masuk kedalam wilayah lian huan-tau, dia harus
mampus"
setiap patah kata yang meluncur keluar dari mulutnya, se akan2 anak panah yang menghujam
dalam tubuhnya:
Jeritan ngeri kembali berkumandang dalam lembah sebelah dalam, jeritan itu begitu
mengerikan sehingga mendirikan bulu roma siapapun yang mendengar.
satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han siong Kie, dia ambil keputusan untuk
membunuh kupu2 warna warni Li In Hiang lebih dahulu kemudian baru menolong Go siau Bi.
Dari jeritan ngeri yang berkumandang tiada hentinya,jelas membuktikan kalau Go siau Bi masih
terlibat dalam suatu pertarungan sengit:
sekarang.. yang menjadi masalah adalah bagaimana caranya untuk menghadapi nyonya ketua
dari perkumpulan Thian che kau yang bukan lain adalah ibu kandungnya sendiri?
Apakah dia harus bertempur melawan dirinya? saling membunuh dengan ibu kandungnya
sendiri??"
setelah termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu segera mengambil keputusan, tiba2 dia
enjotkan badan dan menerjang kearah kupu warna warni Li In Hiang yang berada kurang lebih
satu tombak dihadapan mukanya.
Tindakan ini sama sekali diluar dugaan siapapun, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat
dalam kupu warna warni Li In Hiang, tahu2 pihak musuh telah menubruk datang.
Dalam gugupnya, cepat2 dia ayunkan telapaknya untuk menangkis datangnya ancaman
tersebut.
"Duuk Blaamm" bentrokan kekerasan bergema diangkasa, jeritan kesakitan berkumandang
memilukan hati, sambil muntah darah segar kupu warna warni Li In Hiang terhantam sampai
mencelat sejauh tiga tombak dari tempat semula.
Hampir pada saat yang bersamaan, segalung angin pukulan yang tak kalah dahsyatnya
mengancam tiba dari belakang tubuh pemuda itu.
Kembali terdengar dengusan berat memecahkan kesunyian, dengan sempoyongan Han siong
Kie terdorong maju lima langkah ke depan, ia segera berpaling dan tampaklah siang go cantik ong
Cui Ing berdiri tepat dua tombak dihadapannya.
Dua orang dayang yang semula menghindarkan diri kesamping itu maju kedepan dan
memayang bangun kupu warna warni Li In Hiang yang terluka parah, kemudian tanpa banyak
bicara segera selamatkan majikannya kedalam lembah.
Han siong Kie menggertak gigi menahan emosi, dengan suara gemetar serunya: "Kaa kalau toh
engkau...ti ..tidak mengakui aku sebagai aaa... anakmu..."
"Tutup mulut" hardik siang go cantik ong Cui Ing dengan suara keras.
"Nyonya kaucu" kata Han siong Kie lagi dengan hati yang mantap. "apakah engkau hendak
paksa diriku untuk turun tangan?"
"Ehmm hmmm turun tangan ? besar amat bacotmu, engkau masih ingin berlalu dari sini dalam
keadaan hidup?"
Han siong Kie merasa amat sedih sekali denyan air mata bercucuran dia menengadah dan
berseru pedih:
"Ooooh...ayah engkau yang berada di alam baka pastilah dapat menyaksikan semuanya ini, aku
dipaksa untuk turun tangan, maafkanlah daku"
Ucapan itu sangat mengenaskan, membuat siang go cantik ong Cui Ing tanpa sadar mundur
dengan sempoyongan.
Pada saat itulah di mulut lembah kembali muncul beberapa sosok bayangan manusia, mereka
adalah lima orang kakek tua dan seorang pemuda. Pemuda itu bukan lain adalah kaucu muda Yu
sau Kun.
Bertemu dengan musuh bebuyutannya, kedua belah pihak sama2 menggeram gusar, Yu sau
Kun segera membentak keras:
"Manusia bermuka dingin, rupanya engkau datang untuk menghantar kematianmu?"
Dengan bentakan keras, tanpa banyak bicara Yu sau Kun segera melancarkan serangan2 kilat
untuk menghajar tubuh lawannya. .
Han siong Kie teramat gusar, menyaksikan datangnya ancaman itu dengan jurus Mo Mo ciang
liong atau telapak iblis menundukkan naga yang disertai tenaga pukulan sebesar sepuluh bagian,
dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaamm" sepasang telapak saling beradu menimbulkan suara ledakan yang amat dagsyat, Yu
sau Kun menjerit kesakitan sambil muntah darah segar ia roboh terkapar keatas tanah.
Han siong Kie amat benci dengan pemuda itu, melihat musuhnya roboh dengan cepat la
menerjang kemuka, telapak kirinya diayun lagi siap mencabut jiwanya.
"Jangan bunuh orang" bentak ong Cui Ing sambil bergerak maju kedepan, secepat sambaran
kilat dia lancarkan delapan buah serangan berantai.
Walaupun dalam hati kecilnya Han Siong Kie merasa amat benci dan mendendam, tapi
berhubung pihak lawan adalah ibunya sendiri, terpaksa ia harus mengundurkan diri kebelakang.
Melihat musuhnya mundur, ong cui Ing segera manfaatkan kesempatan itu sebaik2nya, dia
sambar tubuh Yu sau Kun dan melayang mundur beberapa tombak kebelakang, dari sakunya dia
ambil keluar sebutir pil dan dijejalkan kedalam mulutnya.
Dalam pada itu lima orang kakek tua yang datang bersama Yu sau Kun tadi segera turun
tangan bersama ketika dilihatnya nyonya keucu mereka mundurkan diri, serangan gencar
ditujukan keseluruh tempat berbahaya ditubuh lawan.
Han siong Kie tak akan pandang sebelah matapun terhadap lawannya, dengan jurus "Mo hwe
liau goan" atau api iblis membakar ladang, dengan suatu serangan yang cepat bagaikan kilat ia
hajar musuh2nya...
"Blaaamm Blaamm" beberapa kali bentrokan keras terjadi diudara, lima orang kakek tua
tergetar keras hingga tercerai berai keempat penjuru.
ong cui Ing membentak nyaring, untuk kedua kalinya dia lancarkan serangan kilat kearah Han
siong Kie, telapaknya berputar kian lemari dengan cepatnya, serangan2nya amat ganas dan
mengerikan, tiga pukulan beruntun mendesak pemuda itu habis2an.
sepasang mata Han siong Kie berubah jadi merah ber-api2, hawa nafsu membunuh berkobar
menyelimuti wajahnya, dengan gerak tubuh cahaya kilat lintasan bayangan dia menghindarkan diri
dari sergapan ong cui Ing, kemudian bagaikan sukma gentayangan ia balik menerjang kelima
orang kakek tua itu.
25
Sepuluh jari tangannya menyentil bersama ilmu jari Tong kim ci yang maha sakti laksana kilat
meluncur kedepan.
Jeritan ngeri berkumandang diudara dan menggetarkan empat penjuru, darah segar
membanjiri seluruh permukaan tanah, lima orang kakek tua itu dengan dada berlubang roboh
binasa diatas tanah.
ong cui Ing membentak keras, kembali ia terjang kemuka.
Selama pertarungan berlangsung, tangan kanannya tersembunyi terus dibalik bajunya, ia hanya
mengandalkan tangan kirinya yang dipentangkan bagaikan cakar untuk melayani serangan2
musuh.
Han Siong Kie berusaha menghindar kekiri berkelit kekanan, namun ia selalu gagal untuk
melepaskan diri dari pengaruh serangan musuh.
Dalam keadaan begini, kendatipun dalam hati kecilnya ia tak ingin memakai kekerasan untuk
menghadapi ibunya, namun keadaan memaksa dirinya mau tak mau harus melindungi
keselamatan sendiri.
Tiba2 dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat dengan sebuah jurus Raja iblis menyembah langit.
Jurus serangan ini merupakan salah satu diantara tiga jurus pukulan terampuh dari ilmu telapak
Mo mo ciang hoat, dewasa ini dalam dunia persilatan jarang ada orang yang mampu menerima
serangan tersebut.
Ditengah deruan angin pukulan yang memekikan telinga, bayangan telapak berlapis lapis
bagaikan bukit, dalam waktu singkat seluruh jalan darah penting ditubuh lawan sudah tercekam
dalam ancamannya.
ong Cui Ing membentak nyaring, tubuhnya berkelebat ke depan dengan suatu gerakan yang
manis, tahu2 ia telah meloloskan diri dari ancaman tersebut.
Han siong Kie merasa amat terperanjat, ia sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam yang
dimiliki perempuan ini telah mencapai taraf kesempurnaan yang begitu tinggi, untuk sesaat ia
berdiri tertegun.
Pada saat itulah, mendadak perempuan itu menggetarkan sepasang ujung bajunya kearah
depan, segulung angin pukulan yang sangat berat seketika menerjang tubuhnya.
Dari serangan yang begitu dahsyat dan mengerikan, jelaslah sudah kalau ibunya bermaksud
untuk membinasakan dirinya dalam pukulan dahsyat itu juga.
Rasa benci, gusar, mendongkol dan penasaran tercampur aduk dalam benaknya, sepasang
telapak segera diayun bersama dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya.
Angin pukulan men-deru2, pasir debu beterbangan memenuhi angkasa, kejadian ini benarbenar
nampak mengerikan-
Termakan oleh dahsyatnya angin pukulan tersebut, ong Cui Ing segera bergerak mundur enam
depa kebelakang.
Han siong Kie sendiripun tergetar mundur sehingga mundur satu langkah lebar ke belakang
dengan sempoyongan-.
ong ciu Ing tak mau melepaskan musuhnya dengan begitu saja, kembali telapak kirinya
bergerak cepat bagaikan naga beracun muncul dari dalam samudra, dengan suatu pukulan yang
maha dahsyat dia lepaskan kembali satu ancaman maut.
Han siong Kie diam2 merasa keheranan dan tak habis mengerti, mengapa pihak lawan selalu
menyerang dengan tangan sebelah belaka, tapi kenyataan tidak mengijinkan pemuda itu untuk
berpikir panjang, serangan musuh yang begitu dahsyat tahu2 sudah mengancam tiba, memaksa
dia harus menggunakan jurus bertahan dari ilmu telapak Mo Mo ciang-hoat untuk
mempertahankan dari.
ong Ciu Ing tidak mau memberi kesempatan kepada musuhnya untuk tukar napas, pukulan
yang berantai ibaratnya gulungan ombak disungai tiang kang meluncur dan menggulung datang
tiada hentinya, keadaan benar2 mengerikan.
Dalam keadaan demikian hanya ada dua pilihan bagi Han siong Kie, pertama adalah mampus
diujung telapak lawan, atau kedua melancarkan serangan balasan dengas ilmu jari Tong kim ci.
Akhirnya setelah otaknya berputar beberapa waktu dan ambil keputuran untuk memilih yang
kedua, dalam keadaan seperti ini dan tidak ingin mati konyol, karena dia masih harus
mempertahankan hidupnya guna menuntut balas. Maka dengan suara yang parau histeris
pengaruh emosi, dia membentak keras: "Apakah engkau hendak paksa aku untuk turun tangan
keji terhadap dirimu??"
ong Cui Ing sama sekali tidak menggubris teriaknya itu, malahan serangan yang dilancarkan
olehnya kian lama kian bertambah gencar, kian lama kian bertambah rapat.
Han Siong Kie benar2 terdesak sehingga hampir saja dibuat kalap olehnya, akhirnya dia
menggigit bibir, sepuluh jari tangannya disentilkan kedepan dan segulung desiran angin tajam
yang mengerikan dan dengan cepat meluncur kedepan-
Jerit kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, serangan yang semula gencar dan tiada
putusnya tiba2 sirap dan lenyap tak berbekas.
ong Cui Ing dengan paras muka pucat pias bagaikan mayat mundur kebelakang dengan
langkah sempoyongan-
Ilmu jari Tong kim ci adalah suatu ilmu sentilan yang maha dahsyat sekali, untuk menciptakan
kepandaian yang maha sakti itu Mo tiong ci mo harus mengorbankan waktu selama empat puluh
tahun lamanya, dengan tenaga dalam Han siong Kie yang hampir mendekati dua ratus tahun hasil
latihan, tentu saja keampuhannya mengerikan sekali.
Kendatipun begitu, ong Cui Ing yang termakan oleh sentilan ilmu jari tersebut sama sekali tidak
roboh, meskipun dengan telak serangan tadi mampir diatas tubuhnya, dari sini dapat
membuktikan pula bahwa tenaga dalam yarg dimiliki perempuan itupun mengerikan-
Dengan pandangan yang sedih dan penuh penderitaan Han siong Kie melihat sekejap kearah
ibunya kemudian dia putar badan dan meneruskan perjalanannya menuju kedalam lembah.
Dengan andalkan peta lembah yang dihadiahkan orang yang kehilangan sukma, tanpa
mengalami banyak kesulitan sianak muda itu berhasil masuk ketengah lembah.
sementara itu pertarungan yang berlangsung dalam lembah telah berhenti, suasana pulih
kembali dalam keheningan dan kesunyian-
Han Siong Kie merasa amat gelisah sekali, orang yang kehilangan sukma memerimtahkan
dirinya datang kesitu untuk menolong Go siau Bi, tetapi karena mendapat banyak rintangan
banyak waktu sudah terbuang dengan percuma, dia kuatir gadis itu sudah keburu tertangkap atau
dibunuh oleh lawan-
-000dewi000-
TANPA terasa sianak muda itu teringat kembali akan penjara batu dalam markas besar
perkumpulan Thian che kau, serta cara mereka untuk menghukum mati para tawanannya, tanpa
terasa hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri
Andai kata Go siau Bi benar2 sudah tertangkap. mungkin malaikat yang turun dari
khayanganpun belum tentu bisa menolong dirinya lepas dari cengkeraman musuh.
Berpikir sampai disitu, dia segera mempercepat gerakan tubuhnya meluncur kedalam lembah,
bagaikan serentetan cahaya tajam secepat kilat ia menerobosi lembah dan batuan cadas.
sepanjang perjalanan, seringkali ia berpapasan dengan jago lihay yang berlalu lalang disana,
tapi tidak seorangpun
JILID 18 HAL. 04/05 HILANG
merupakan suatu kesalahan paham belaka?
"Nona telah membinasakan hampir dua puluh orang jago lihay ku, masa darah yang mengalir
dari tubuh mereka harus mengalir dengan sia sia belaka??"
"Hmm salah paham?? kupu warna warni Li In Hiang adalah algojonya, sedang engkau ketua
perkumpulan Thian che kau adalah otak dari pembunuhan berdarah ini"
"Haaah haaah haaah jadi nona menghendaki batok kepalaku ini?" ejek ketua perkumpulan
Thian che kau sambil tertawa ter bahak2.
"Tentu saja"
"Engkau anggap apa yang kau inginkan bisa terpenuhi dengan begitu saja??"
Mendadak... dari luar gelanggang berkumandang suara jeritan lengking, diikuti sesosok
bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menerjang masuk kedalam
gelanggang.
Jeritan kaget berkumandang diempat penjuru, seluruh jago lihay perkumpulan Thian che kau
yang hadir ditengah gelanggang sama-sama mundur kebelakang dengan ketakutan, suasana
kontan jadi gaduh dan gempar sekali.
"Aaah.. manusia muka dingin"
"Manusia bermuka dinginorang
yang menerjang masuk kedalam gelanggang memang bukan lain adalah Han siong Kie,
ditangannya dia mencekal sesosok manusia.
"Blaaamm.." bayangan manusia yang berada dalam genggamannya itu segara dibanting
kedepan kaki Go siau Bi.
Ternyata ketika Han siong Kie sedang mengawasi suasana dalam gelanggang pertarungan,
tiba2 ia saksikan kupu warna warni Li In Hiang yang terluka sedang dipapah mendekati tempat
kejadian, ia jadi sangat kegirangan, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat
perempuan itu diterjang dan ditotok jalan darahnya, kemudian dibawa masuk kedalam
gelanggang.
Menyaksikan kemunculan sianak muda itu, Go siau Bi merasakan hatinya bergetar keras, dia
sama sekali tidak menyangka kalau secara tiba2 Han siong Kia bisa munculkan diri ditempat itu,
bahkan membawa
JILID 18 HAL. 08/09 HILANG
buahnya, dan semua orangpun belum pernah menyaksikan ketua mereka turun mangan
sendiri.
Ketika Go siau Bi datang untuk menuntut balas tadi, sang kaucu ternyata tampil sendiri untuk
menyelesaikan persoalan itu, dan sekarang berada didepan matanya seorang ketua tongcu yang
disegani orang ternyata dibunuh musuh tanpa ia sanggup mencegah atau menghalanginya,
kejadian ini dengan cepat menggusarkan hatinya.
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah ketua perkumpulan
Thian che kau, apa lagi setelah seorang anak buahnya dibunuh dalam keadaan yang mengerikan,
tanpa mengucapkan pepatah katapun hawa murninya dihimpun ke dalam tubuh, kemudian
sepasang telapak tangannya laksana sambaran kilat menerjang tubuh si anak muda itu.
Jarak diantara kedua belah pihak hanya terpaut beberapa depa saja, pukulan tersebut dengan
dahsyatnya segera meluncur ke depan-
Secara otomatis Han siong Kie putar telapak tangannya dan membendung datangnya ancaman
tersebut.
"Blam" ditengah benturan keras, tubuh Hen siong Kie tergetar keras sehingga mundur delapan
depa kebelakang dengan sempoyongan, darah panas bergolak dalam rongga dadanya dan hampir
saja muntah ke luar.
Go siau Bi yang menyaksikan kejadian itu segera mengerutkan dahinya, segulung angin
pukulan berpusing dengan cepat dilontarkan kedepan-
Bagaikan sesosok setan gentayangan, ketua perkumpulan Thian che-kau itu membentuk
gerakan setengah lingkaran diudara, kemudian sekali lagi dia lancarkan serangan maut kearah
Han siong Kie.
Menyaksikan kelihayannya, dia sama sekali tidak mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki
pihak lawan ternyata jauh lebih tinggi daripada apa yang dibayangkan semula, dengan cepat
langkah kakinya bergeser ke samping, sementara tubuhnya berputar seratus delapan puluh
derajat dengan sepenuh tenaga sepasang telapak tangannya didorong kedepan untuk
membendung ancaman tersebut. "Blaam.." "kembali terjadi benturan keras
JILID 18 HAL. 12/13 HILANG
boleh dibilang sama sekali tak mampu untuk mengikuti jalannya pertarungan itu dengan
seksama.
Serentetan bentakan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, Go siau Bi kena dihantam
sampai tergetar mundur beberapa tombak kebelakang.
"Blaamm. Blaamm. Blaamm." tiga benturan keras bergema saling susul menyusul, secara
beruntun Han siong Kie telah saling beradu kekerasan sebanyak tiga kali dengan ketua
perkumpulan Thian che kau.
Tiga bentrokan itu begitu lewat, dengan sempoyongan Han siong Kie tergetar mundur
beberapa langkah kebelakang, tak kuasa lagi dia muntah darah segar.
Go siau Bi membentak nyaring, melihat sianak muda itu terluka dengan cepat ia menubruk
kemuka sambil melepaskan serangan dahsyat.
"Blaaamm.." kembali benturan keras terjadi diudara, terjangan Go siau Bi berhasil digagalkan
oleh lawan, malahan tubuhnya segera terlempar ke belakang..
Ketua perkumpulan Thian che kau menyeringai seram, sepasang telapaknya diayun secara
beruntun menghajar tubuh Han siong Kie yang telah terluka...
Merasakan datangnya ancaman maut, Han siong Kie cepat menyingkir kesamping untuk
menghindar, kemudian dengan mengembangkan ilmu pukulan Mo mo ciang hoat dalam gerak
bertahan, ia kunci seluruh bagian tubuhnya dari ancaman lawan-. Ketua perkumpulan Thian che
kau tertawa seram.
"Heehhh.. heehh...heehhh.. Manusia bermuka dingin, hari ini jiwamu harus melayang
tinggalkan raga"
Pukulan hawa dingin dan pukulan hawa panas dengan suatu gerak menggunting segera
meluncur kedepan menghancurkan tubuh musuh.
Han siong Kie amat terperanjat, tergencet oleh dua macam angin pukulan yang berbeda unsur
itu, jurus serangannya segera terbendung dan rasanya tak mampu dikembangkan lagi, disaat ia
agak tertegun itulah sebuah pukulan musuh berhasil menerjang jalan darah tiong tong hiat di atas
dadanya.
Pemuda itu amat terperanjat dan merasakan sukmanya merasa melayang tinggalkan raganya,
secara otomatis telapak tangan kirinya menyanggah pukulan itu, kemudian jari tengah dan
telunjuk tangan kanannya Menyentil kemuka...
Dua gulung desiran angin serangan yang amat tajam segera meluncur kedepan dan menyerang
tubuh musuh.
"Blaaammm ....l" bentrokan nyaring bergema diangkasa diikuti terdenganya dengus kesakitan-
Han siong Kie merasakan telapak kirinya sakit sekali bagaikan tulangnya telah patah, untung
dia menyanggah pukulan musuh tepat pada saatnya sehingga jalan darab tiong tong hiat diatas
dadanya tidak terhajar telak.
Kendatipun begitu, hawa tekanan yang maha dahsyat sempat menghantam pula dadanya
keras2, sehingga membuat darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras, hampir saja ia
roboh tak sadarkan diri ke atas tanah.
Dada ketua perkumpulan Thian-che kau tak luput pula dari serangan balasan sianak muda itu,
darah segar nampak memancur keluar dari mulut luka, sentilan jari Tong kim ci yang dilepaskan
Han siong Kie disaat yang terakhir cukup membuat jago tua itu menderita luka yang amat parah.
Pada saat yang bersamaan itulah Go siau Bi menerjang maju kedepan, sebuah pukulan yang
dahsyat dilontarkan kearah ketua perkumpulan Thian che kau.
"Blaaamm ." jerit kesakitan kembali berkumandang memecahkan kesunyian, tubuh Go siau Bi
terlempar sejauh beberapa tombak dari tempat semula dan tak sanggup bangkit kembali.
Ketua perkumpulan Thian che kau sendiri pun tak kuasa menahan diri, dengan sempoyongan
dia mundur beberapa langkah ke belakang, ia berusaha untuk menjaga keseimbangan tubuhnya,
tapi ia akhirnya roboh juga keatas tanah.
Bentakan nyaring berkumandang saling susul menyusul, belasan orang jago lihay perkumpulan
Thian che kau ber sama2 maju kedepan dan menerjang musuh2 mereka yang telah terluka.
Han siong Kie bertindak cekatan, ia tak ingin mati konyol ditangan musuh2nya, dengan sigap ia
sambar tubuh Go siau Bi kemudian membawanya kabur keluar lembah.
"Perintahkan semua pos untuk menutup segenap jalan keluar dari lembah ini" hardik ketua
perkumpulan Thian che kau dengan suara nyaring.
Cahaya api berwarna merah segara meluncur keudara dan meledak diangkasa, bunga api
memancar keempat penjuru. . .
Ledakan bunga api itu merupakan tanda khusus dari perkumpulan Thian che kau untuk
memberitahukan kepada segenap anggota perkumpulan agar bersiap sedia menghadapi serangan
musuh.
semua jago lihay perkumpulan Thian che kau yang hadir dalam gelanggangpun tidak ambil
diam, mereka semua segera memencarkan diri menuju kearah mulut2 lembah yang terletak
dipelbagai tempat.
Dalam pada itu, Han siong Kie yang mengempit tubuh Go siau Bi dengan mengerahkan ilmu
gerak tubuh Kilatan cahaya lintasan bayangan meluncur kearah luar lembah.
Baru saja dia melampaui tiga buah lorong sempit yang banyak terdapat dalam lembah itu, tiba2
dari arah depan berkumandang suaara pekikan nyaring disusul angin tajam berdesiran diangkasa,
anak panah yang be-ribu2 batang banyaknya dipanahkan kearah tubuhnya dari pelbagai penjuru
yang berbeda.
serangan gencar itu menghentikan gerak tubuhnya, Han siong Kie segera memperketat
kempitannya atas tubuh Go siau Bi, sementara telapak tangan kanannya melancarkan angin
pukulan yang berlapis2 untuk menyapu bersih hujan anak panah yang diarahkan kepadanya.
Dalam waktu singkat, seluruh permukaan tanah disekeliling tempat itu sudah berserakan anak
panah setebal beberapa depa.
Kendatipun begitu, hujan anak panah masih tidak menunjukkan tanda akan berhenti malahan
kian lama kian bertambah gencar membuat setiap ruang kosong yang ada disekitar sana selalu
dipenuhi oleh desiran angin tajam.
Han Siong Kie menguatirkan keselamatan dari Go siau Bi, disamping itu harus pula
mempertahankan diri sendiri, tentu saja kian lama pemuda itu kian merasa bertambah payah.
-000dewi000-
BAB 37
PEMUDA itu sadar, apabila hujan anak panah masih berlangsung terus dalam keadaan begini,
kendatipun sapuan2 nya berhasil membuyarkan ancaman yang datang, namun lama kelamaan dia
pasti akan kehabisan tenaga dan akhirnya tak mampu mempertahankan diri.
Kedua belah sisi mulut lembah merupakan dinding tebing yang curam dan membumbung tinggi
ke angkasa. kemungkinan besar diatas tebing itupun sudah disiapkan orang, untuk menerjang
keluar dari tempat itu jelas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.
Han Siong Kie yang terjebak kedalam barisan anak panah, bukan saja tak mampu melanjutkan
perjalanannya bahkan telapak tangannya sama sekali tak dapat berhenti, setengah perminuman
teh kemudian seluruh jidatnya sudah basah oleh air keringat.
sejak menderita luka sampai saat itu, belum ada sekejap waktupun baginya untuk atur
pernapasan, apalagi menyembuhkan lukanya, karena itulah tenaga murni yang di milikinya makin
lama makin bertambah lemah..
situasi kian lama kian bertambah tegang dan kritis, bunga api bertebaran diangkasa, hujan
anak panah kini telah berubah jadi bunga api.
Han siong Kie semakin terperanjat lagi, sukmanya terasa bagaikan melayang tinggalkan
raganya, diam2 ia berbisik didalam hati: "Aduuuh celaka, anak panah berapi"
Ditengah gulungan angin pukulan yang menderu-deru, untuk sesaat anak panah berapi itu tak
mampu mendekati tubuhnya, tapi telah membakar tumpukan panah yang berserakan d iempat
penjuru, sebentar kemudian kobaran api telah bermunculan dimana-mana, disekitar tempat itupun
berubah jadi lautan api.
Melihat gelagat kurang menguntungkan Han Siong Kie sebera menghimpun sisa tenaganya
yang dimilikinya dan dilontarkan ke arah depan, kemudian badannya meluncur kearah daerah
yang tak terjangkau oleh kobaran api, dalam beberapa kali lompatan saja dia sudah berkelebat
masuk kedalam sebuah lorong lain.
setelah berada dalam lorong itu, hujan anak panahpun segera berhenti.
secara beruntun Han siong Kie memasuki beberapa buah lorong lainnya, cahaya api diarah
belakang sudah tak kelihatan lagi.
Ia menghembuskan napas dalam2, Go siau Bi yang berada dalam kenpitannya dibaringkan
keatas tanah, keadaannya pada waktu itu benar2 mengenaskan sekali.
Lian huan tau terletak disuatu daerah yang terlindung oleh bahayanya keadaan medan, bukan
saja lorong dalam lembah mempunyai cabang yang berjumlah diatas ratusan, apalagi setelah
dibangun pula oleh manusia pandai, keadaan ditempat itu jauh lebib berbahaya lagi, salah2
seorang yang terjebak di situ bisa mati konyol dengan sendirinya.
Meskipun sebelum masuk kedalam lembah orang yang kehilangan sukma telah menghadiahkan
selembar peta lembah kepadanya, dan pemuda itu sudah paham dengan peta itu, tetapi untuk
meneliti letaknya pada waktu itu serta mencari jalan keluar, dia masih butuhkan peta tersebut
untuk menelitinya lebih jauh.
Tentu saja dalam keadaan seperti itu, Han Siong Kie tidak sampai berpikir sampai kesitu,
tugasnya yang pertama sekarang adalah menyembuhkan luka yang diderita oleh Go siau Bi.
Dia sendiripun pada saat itu membutuhkan waktu untuk bersemedi dan atur pernapasan sebab
kekuatannya sudah hampir punah sama sekali karena lelahnya.
Ia sadar, andaikata sergapan muncul kembali dalam keadaan seperti ini, akibatnya niscaya
sukar dilukiskan dengan kata2.
Dalam pada itu, Go siau Bi telah sadar kembali dari pingsannya, melihat itu Han siong Kie
sangat kegirangan, buru2 tegurnya: "Nona, bagaimana dengan keadaan lukamu."
sebenarnya sejak tadi Go siau Bi telah mendusin dari pingsannya, tapi berhubung ia hendak
merasakan kehangatan tubuh sang pemuda lebih lama lagi maka ia pura2 pingsan, ketika Han
Siong Kie sedang menghadapi serangan panah tadi, diam2 ia telah menelan tiga butir pil mujarab
untuk menyembuhkan lukanya.
Kakeknya Put to sianseng adalah seorang tokoh silat yang amat lihay, tentu saja obat mujarab
yang dibuat olehnya sangat manjur sekali, tidak selang seperminum teh kemudian kekuatan
tubuhnya telah pulih kembali seperti sedia kala.
Tentu saja sampai mimpipun Han Siong Kie tidak menduga akan kecerdikan dara ayu itu, dan
lagi diapun segan untuk memikirkan persoalan tetek bengek yang tak ada gunanya itu.
Ketika mendapat pertanyaan, itu, Go siau Bi segera bangkit berdiri dan menjawab sambil
tertawa rawan:
"Aku sudah tidak apa2 lagi, bagaimana dengan Han sauhiap sendiri?"
"Aku...aku juga tidak apa2"
"oooh... aku membawa obat mujarab pemberian kakekku, bagaimana kalau Han sauhiap
menelan dua butir untuk membantu dirimu dalam usaha menyembuhkan kembali luka yang
diderita?"
Tanpa menanti jawaban, dia ambil keluar dua butir pil sebesar kacang kedelai yang berwarna
hijau dan diserahkan kepada pemuda itu.
sebenarnya Han siong Kie segan untuk menerimanya, tapi setelah teringat bahwa saat ini
mereka masih ada dimulut harimau, memulihkan kembali tenaga murninya merupakan usaha yang
terpenting, maka dengan perasaan terpaksa ia terima obat itu dan dimasukan kedalam mulutnya.
"Nona Go, kuucapkan banyak terima kasih atas pemberian itu" bisiknya. Go siau Bi
mengernyitkan alis matanya.
"Han sauhiap, dengan pertaruhkan jiwa engkau telah menolong siau moay dari ancaman jiwa,
masa hanya memberi obat saja engkau harus berterima kasih kepadaku?"
obat dari Put to tianseng itu memang sangat manjur sekali, setelah berada dalam perut,
segulung hawa panas yang kuat segera muncul ditengah pusarnya.
Tenaga dalam yang dimiliki Han siong Kie dewasa ini boleh dibilang sudah mencapai puncak
kesempurnaan, baginya bersemedi tidak melulu harus duduk. tapi berdiripun ia dapat
menghimpun tenaga sambil bersemedi, dengan cepat daya kerja obat itu disalurkan kedalam
peredaran darah dan bergabung dengan kekuatan hawa murni yang dimilikinya.
Dengan mulut membungkam Go siau Bi awasi kekasih hatinya ini, ia berdiri tak bergerak
sementara paras mukanya berubah rubah tiada menentu.
Beberapa saat kemudian, tenaga yang dimiliki Han siong Kie telah pulih kembali seperti sedia
kala, rasa sakit lenyap tak berbekas, ia segera buka mata dan memandang kearah dara ayu itu
dtngan pandangan keheranan:
"Nona Go, kenapa kakekmu mengijinkan nona untuk menempuh mara bahaya seorang diri?"
"Dendam terbunuhnya ayah bundaku tak terkirakan dalamnya, aku sebagai putrinya
mempunyai kewajiban untuk menuntut balas bagi mereka." seru Go siau Bi dengan gemas.
"Tapi.. andaikata kakekmu pun datang kemari.."
" Kakekku sudah cuci tangan mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan, karena urusan
mendiang ayahku, beliau susah payah telah terjun kembali kedunia persilatan, pemberian yang
diberi kakek selama setengah bulan kepada siau moay sudah lebih dari cukup bagiku untuk balas
dendam dengan kekuatan sendiri"
"Dan sekarang kupu warna warni Li In Hiang toh sudah menemui ajalnya ditangan mu ....?"
"Benar tapi biang keladinya toh ketua perkumpulan Thian che kau itu" Han siong Kie menghela
napas panjang.
"Aaaiii aku sama sekali tak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki ketua perkumpulan
Thian che kau sedemikian tingginya, aku jadi teringat dengan kaum persilatan yang mengatakan,
diluar langit ada langit diatas manusia pandai masih ada manusia yang lebih pandai, perkataan itu
sedikitpun tak salah"
Go siau Bi mengerutkan dahinya, sambil menggigit bibir dia berkata: "suatu ketika aku akan
datang kembali kesini" setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh: "oooh maksud
kedatangan Han sauhiap kemari adalah..."
"Aku mendapat peringatan dari orang yang kehilangan sukma cianpwee, yang mengatakan
nona berada dalam bahaya, aku sengaja datang kemari untuk membantu nona"
"oooh manusia macam apa sih orang yang kehilangan sukma itu?" tanya Go siau Bi setelah
berseru tertahan-
"Tentang soal ini aku sendiripun kurang jelas, pokoknya dia adalah seorang cianpwee yang
sangat misterius dari dunia persilatan-Selain itu, eh mm. Aku..."
"siapa lagi??"
"Istri Han sauhiap"
"Aku belum pernah menikah"
"Nona Tonghong Hui yang menyebut diri sebagai Istri yang ditinggalkan??" sambung Go siau Bi
dengan cepat.
Bagaikan disengat lebah, sekujur badan Han siong Kie bergetar keras, dengan sedih ia berbisik,
"Dia telah pergi??"
"Kenapa pergi?"
"Nona, aku harap engkau jangan mengungkat kembali persoalan itu. bersedia bukan?"
"Engkau merasa sedih hati?"
"Nona, dewasa ini kita masih berada di mulut harimau, aku harap engkau jangan menyinggung
persoalan lain"
Paras muka Go siau Bi berubah jadi agak sedih, tapi sebentar kemudian ia berseru: "Han
sauhiap, lebib baik kita terjang saja keluar"
"Terjang keluar?" tiba2 serentetan suara teguran yang amat seram bergema memecahkan
kesunyian "hmmm... h mm... selamanya belum pernah ada orang yang sanggup keluar dari
lembah lian huan tau dalam keadaan hidup"
Han Siong Kie maupun Go siau Bi smat terperanjat, dengan sorot mata yang amat tajam
mereka menyapu sekejap sekeliling tempat itu, namun tiada sesosok bayangan-manusiapun yang
ada disitu.
Dengan cepat Han Siong Kie ambil keluar peta lembah itu dari dalam sakunya, setelah diteliti
beberapa saat serunya: "Nona Go, mari ikut aku"
Dia enjotkan badan dan meluncur kearah mulut lembah yang ada disebelah kiri.
"Manusia muka dingin, seluruh lorong dalam lembah sudah tersumbat, sekalipun punya sayapengkau
tak akan bisa terbang ke luar dari tempat ini" suara menyeramkan tadi berkumandang
kembali.
Gerak tubuh dari Han Siong Kie barusan tidak lebih hanya siasat untuk memancing musuh
belaka, begitu pihak lawan berbicara diapun segera mengetahui tempat persembunyian orang itu,
berada ditengah udara badannya berputar seratus delapan puluh derajat, dengan ujung kakinya
menutul permukaan dinding lembah, sekali lagi dia melayang sepuluh tombak keatas.
Sinar matanya yang tajam dengan cepat berhasil menemukan sebuah lubang kecil di atas
dinding tersebut.
Tubuhnya segera berputar bagaikan burung walet kembali kesana, dia meluncur kearah lubang
gua diatas dinding tersebut.
"Weesss. " segulung angin pukulan yang maha dahsyat meluncur keluar dari mulut gua itu dan
langsung menghantam Han siong Kie yang masih berada diudara.
Dalam posisi berada diudara, sulit bagi Han siong Kie untuk melancarkan serangan balasan, dia
segera berjumpalitan dan bergerak membentuk setengah lingkaran busur, kemudian untuk kedua
kalinya menerjang kearah gua itu.
Kali ini dia telah bersiap sedia, sepasang telapaknya diluruskan kedepan, ber-puluh2 buah
sentilan jari yang amat gencar dipancarkan kearah dalam gua itu.
segulung angin pukulan yang amat dahsyat kembali meluncur keluar dari dalam gua, disusul
berkumandangnya serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati.
Han Siong Kie tidak dapat bertahan terlalu lama diudara, tubuhnya meluncur kembali keatas
tanah, sementara orang yang menyerang dari dalam guapun berhasil dilukai di ujung nya.
Pada saat Han siong Kie melayang kembali keatas tanah itulah, tiba2 dari kejauhan
berkumardang suara ledakan dahsyat yang amat memekikan telinga. "oooh...air bah" jerit Go siau
Bi dengan terperanjat.
Gulungan ombak setinggi puluhan tombak menggulung datang dari arah kejauhan, dengan
dahsyat dan cepatnya menggenangi seluruh lorong lembah tersebut. satu ingatan dengan cepat
berkelebat dalam benak Han siong Kie, buru2 serunya:
"Nona Go, ayoh cepat naik keatas dinding karang" la segera enjotkan badan dan melayang ke
arah lubang gua yang baru saja ditemukan itu.
Go siau Bi dengan erat menyusul dari belakang, dalam sekejap mata mereka sudah berada
dalam gua tersebut.
Dalam pada itu air bah datangnya amat cepat, sebentar kemudian seluruh lorong didalam
lembah itu sudah digenangi oleh air bah setinggi beberapa tombak.
Menyaksikan keganasan air bah tersebut tanpa sadar peluh dingin membasahi tubuh mereka
berdua, andaikata gua diatas dinding itu tidak berhasil ditemukan tepat pada saatnya, niscaya
mereka sudah mati tenggelam tergenang oleh air bah tersebut.
Lubang gua itu tidak terlalu besar dan hanya bisa dilalui oleh dua orang secara berjejer, kurang
lebih lima depa dari mulut gua roboh terkapar sesosok mayat yang bermandikan darah segar.
Rupanya orang itulah yang menegur dam melancarkan serangan kearah Han Siong Kie.
Dengan sorot mata yang tajam Han Siong Kie awasi gua tersebut, ia lihat gua itu menjorok
jauh kedalam, setelah berpikir sebentar dengan cepat ia memahami apa sebabnya ia bisa
terkurung dalam barisan hujan panah tanpa kelihatan seorang pemanahpun, rupanya dibalik
dinding tebing merupakan ruang kosong yang digunakan para penjaga untuk meronda.. diam2 ia
mengagumi juga akan kehebatan bangunan disana.
"Nona Go" ujarnya kemudian." bagaimana kalau kita ikuti lorong dalam gua ini untuk mencari
jalan keluar?"
"Baik " sahut sang gadis sambil mengangguk.
Maka berangkatlah kedua orang itu menelusurijalan gua itu, Han Siong Kie berjalan didepan
sedang Go siau Bi mengikuti dibelakang, meskipun gua itu amat gelap namun dengan
kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki dua orang itu, mereka dapat melihat ditengah
kegelapan bagaikan melihat di tempat terang.
Tidak jauh mereka memasuki gua itu, tiba2 dari arah depan berkumandang suara langkah kaki
manusia yang kian lama kian mendekat...
Dengan cekatan sepasang muda mudi itu menempel tubuhnya diatas dinding gua..
suara langkah manusia kian lama kian mendekat, enam sosok bayangan manusia muncul
dengan langkah ter-gesa2, orang yang berjalan dipaling depan membawa sebuah obor dalam
gengamannya .
Han siong Kie segera ayun telapaknya ke depan, segulung angin kencang berhembus ke depan
memadamkan api itu enam orang kawanan jago itu segera berseru kaget.
Han siong Kie tak mau membuang waktu dengan percuma, mereka segera menerjang kedepan
sambil menyebar maut Duukl duukl beberapa orang itu segera menggeletak mati tertotok jalan
darah kematiannya.
Dua orang itu melanjutkan kembali perjalanannya, setelah berbelok kesana kemari akhirnya
cahaya terang memancar dari arah depansebuah
lobang kecil muncul disisi lorong sementara lorong tersebut masih memanjang jauh
kedalam, sesosok bayangan manusia berdiri bersandar didekat mulut gua.
sentilan maut dari Han slong Kie kembali bekerja, orang itu menjerit kesakitan dan segera
putus nyawa.
"Han sauhiap" bisik Go siau Bi dengan lirih, " rupanya gua ini masih menjorok jauh kedalam
sana, apakah kita Makin masuk semakin berada didalam lembah?"
Han siong Kie mengangguk. ia melongok keluar dari mulut gua itu, tampaklah seluruh lorong
dalam lembah masih tergenang oleh air bah, sementara pada dinding tebing sebelah depan
terdapat pula sebuah mulut gua, seorang manusia berjaga-jaga dibalik gua itu. Pemuda itu
termenung dan berpikir sebentar kemudian berkata:
"Nona Go, Mari kita menyeberangi lembah ini menuju kemulut gua sebelah depan, apabila
dugaanku tidak salah kemungkinan besar didalam dinding tebing yang melingkari lembah lian
huan-tau ini terdapat liang-liang gua tempat berhubungan, kita manfaatkan saja lorong tersebut
untuk keluar dari lembah ini"
Go siau Bi sangat mengagumi kecekatan dan kecerdikan sianak muda itu, dia segera
mengangguk.
"Baik, kita laksanakan saja seperti apa yang kau katakan"
Jarak antara dinding tebing yang satu dengan dinding tebing yang lain kurang lebih lima
tombak panjangnya.
Han siong Kie berpaling dan bisiknya kepada gadis itu: "Nona Go, kita harus bertindak cepat"
Begitu selesai berbicara, tubuhnya laksana sambaran petir cepatnya telah meluncur kearah
lubang gua sebelah depan.
Penjaga didalam gua itu hanya merasakan pandangan matanya jadi kabur, sebelum ingatan
kedua berkelebat dalam benaknya, dia sudah mati tertotok. secepat kilat Go siau Bi menyusul dari
belakang.
Apa yang diduga Han siong Kie ternyata tidak meleset, dinding lembah itu ternyata kosong,
puncak berhadapan dengan puncak. itu berarti mulut gua berhadapan dengan mulut gua, setiap
beberapa langkah terdapat sebuah lubang kecil, kalau mengintip dari situ maka semua kejadian
yarg sedang berlangsung dalam lorong lembah dapat terlihat dengan jelas.
Kedua orang muda mudi itu merupakan jago persilatan yang berilmu tinggi, sepanjang jalan
menemui gua lorong dalam perut bukit, mereka tidak menjumpai kesulitan, apalagi Han song Kie
membawa peta petunjuk tentang keadaan dalam lembah tersebut, semua penjaga dan serangan
yang sudah diatur musuh bisa dihindari dengan gampang dan sederhana.
secara beruntun mereka tembusi beberapa buah lubang gua, akhirnya lembab lorong di bawah
sana sudah tak tergenang oleh air lagi, ini menunjukkan bahwa air bah itu hanya khusus
dilepaskan untuk menggenangi beberapa buah lorong jalan belaka.
Beberapa saat kemudian sampailah kedua orang itu pada jalan yang sebenarnya dibagian atas.
sementara lorong lembah kian lama kian bertambah lebar.
Mendadak.. suitan nyaring berpekik saling bersahutan, tampaknya jejak Han siong Kie dan Go
siau Bi ketahuan lagi oleh pihak musuh.
Dalam pada itu dihadapan mereka terbentang sebuah simpang pertemuan dari beberapa buah
cabang jalan, ditengahnya merupakan sebuah tanah kosong seluas beberapa hektar, bagi mereka
berdua kecuali meloncat turun kelorong bawah dan menerobos ke luar, rasanya tiada jalan lain
yang bisa di tempuh lagi.
Han siong Kie mengerutkan dahinya, dengan suara berat ia berkata:
"Tampaknya tiada jalan lain bagi kita kecuali turun kebawah, ayoh kita loncat turun"
Dua sosok bayangan manusia bagaikan sambaran kilat cepatnya segera melayang turun
ketengah gelanggang luas.
Baru saja kaki kedua orang itu menempel diatas permukaan tanah, disertai suara ledakan
dahsyat dari mulut lembah diempat penjuru memancarlah kabut putih yang amat tebal, lambat
laun kabut itu semakin tebal hingga menyelimuti disekitar tempat itu.
Go siau Bi amat terperanjat menyaksikan kehebatan dari kabut putih itu, ia lantas berseru:
"Han sauhiap. apa yang terjadi?"
Han siong Kie menggeleng dengan kebingungan.
" Entahlah, aku sendiripun tak tahu, perduli amat, ayoh kita terjang keluar dari sini"
Baru saja ia selesai berbicara, dari tengah lembah meluncur masuk sesosok bayangan manusia,
orang itu seakan2 sukma gentayangan yang muncul dari balik kabut putih, setelah makin
mendekat barulah kelihatan bahwa orang itu adalah seorang kakek tua aneh berjubah hitam yang
bermuka pucat seperti mayat dan bertubuh kaku seperti mayat hidup,
"Aaah..? kenapa makhluk tua beracun inipun sudah menggabungkan diri dengan pihak Thianche-
kau?" seru Han siong Kie tanpa terasa. Go siau Bie tertegun.
"Makhluk tua beracun? siapakah dia?"
"Tok kun, Dewa racun Yu Hoa"
"Aaah rupanya dia.. waaduh, kalau makhluk tua beracun itupun sudah muncul disini, urusan
bisa bertambah berabe ... bagaimana sekarang baiknya??"
Dalam waktu singkat kabut putih yang menyebar disekitar mulut lembah sudah menyelimuti
angkasa, kian lama kabut itu kian menebal sehingga pemandangan yang terbentang disekeliling
tempat itupun bertambah buram, hingga susah melihat kesdaan di depan-
Dewa racun Yu Hoat berdiri tegak kurang lebih lima tombak dihadapan muda mudi itu, dia
menyeringai dan tertawa seram tiada hentinya.
"Heeeh heehh heeh Manusia berwajah dingin, Lebih baik menyerah saja Ketahuilah engkau
serta bocah perempuan itu sudah menjadi katak dalam tempurung, tak mungkin dapat kabur lagi."
Ia berhenti sebentar, lalu sambil menuding kesekeliling tubuhnya ia menambahkan-
"Kabut harum pembusuk tulang telah tersebar menyelimuti seluruh lembah, sekalipun malaikat
yang turun dari kahyangan jangan mimpi bisa lolos dari cengkeramanku Heeeh heeeh... heeeh
daripada mampus secara konyol lebib baik menyerah saja tanpa melawan, ketahuilah barang siapa
terkena racun itu maka tubuhnya akan meleleh jadi segumpal air busuk ..tahukah kalian, betapa
menyeramkan dan mengerikannya keadaan itu"
"Makhluk tua beracun, jangan tekebur lebih dulu, lihatlah Nonamu segera akan cabut lebih dulu
selembar jiwa anjingmu" bentak Go siau Bi dengan marah..
Ia melejit dan menerjang kedepan, telapak tangannya diayun melancarkan pukulan berantai
yang maha dahsyat.
"Nona tunggu sebentar" tiba2 Han siong Kie berseru sambil menghadang jalan perginya.
"Ada apa? Kenapa kau halangi jalan pergiku??"
"Nona, kau musti tahu, hakekatnya seluruh tubuh makhluk tua beracun ini adalah bisa yang
mematikan, jangan sekali-kali tanganmu sampai menempel ditubuhnya, bisa jadi engkau sendiri
yang celaka"
" Kalau tidak dilawan, memangnya kita benar-benar harus menyerah kalah dan bertekuk lutut
kepada mereka??"
"Tentu saja tidak begitu, seorang pendekar sejati pantang menyarah kepada siapapun, biar
akulah yang hadapi makhluk tua yang sangat berbahaya ini"
"Masa engkau punya kepandaian khusus yang dapat digunakan untuk melawan kedahsyatan
bisanya?"
"Tentu saja aku tak punya, tapi yang pasti aku sudah pernah bergebrak melawan dia, maka
sedikit banyak aku mempunyai pengalaman dalam menghadapi dirinya"
sewaktu terjadi pertarungan perebutan pusaka tempo hari, Han siong Kie pernah terhajar oleh
pukulan berbisa dari Dewa racun Yu Hoat, tapi kenyataan membuktikan bahwa dia sama sekali
tidak merasakan gejala keracunan, sejak itu Eh pemuda kita jadi sadar bahwa tubuhnya
mempunyai daya kekuatan untuk melawan racun, dan kekuatan itu diperolehnya berkat sumber
air mukjijat bawah tanah yang pernah mencuci otot mengganti tulangnya.
Walaupun begitu, Han siong Kie tak berani sembarangan mencoba, karena resikonya terlalu
besar lain keadaannya pada saat itu, sekarang jiwanya sedang terancam bahaya, mau tak mau dia
harus menempuh bahaya untuk mencoba khasiat kekuatannya itu.
"Urusan rumah tanggamu sendiri?" tanya pengemis dari selatan dengan sepasang mata
melotot.
"Begitulah kenyataanya engkoh tua, harap engkau bisa memaklumi keadaanku ini"
"Tapi saudara cilik. tahukah engkau bahwa luka yang kau derita cukup parah?"
"Tidak menjadi soal, luka itu tak kuperhatikan sama sekali" sahut Han Siong Kie sambil tertawa
getir, "bagaimana pun ku harap kalian berdua segera tinggalkan tempat ini?" .
Baik pengemis dari selatan maupun padri dari utara sama2 adalah jago persilatan yang sudah
berpengalaman selama puluhan tahun, tentu saja segala tata cara dan tetek bengek tersebut
dipahami olehnya, mereka tahu bahwa urusan rumah tangga orang lain tidak pantas dicampuri
orang lain oleh karena itu sesudah saling berpandangan sekejap, akhirnya mereka berkata:
"Baiklah, kalau engkau sudah berkata demikian kami jadi tak baik untuk tetap berada disini.."
Berbicara sampai disitu mereka lantas putar badan dan berlalu dari sana.
"Hmm Memangnya kalian berdua hendak pergi dengan begitu saja?" tiba2 Wi It beng menegur
kembali dengan mendengus dingin.
"Ada apa?" tanya pengemis dari selatan dengan alis berkenyit. "memangnya engkau sudah
penuju dengan aku sipeminta tua?"
"Tetapi sekali ucapanmu itu aku memang penuju sekali dengan dirimu. Bukankah kamu berdua
sudah kenali ilmu Boan yo sin kang milik kaisarmu ?"
"Nah, itulah dia.. akan kuhantar kalian berdua untuk pulang kealam barat dengan kepandaian
sakti itu, dari pada hidup didunia toh kalian bakal cerewet belaka?"
Dari ucapan itu jelaslah sudah kemana Wi It beng membawa pembicaraan tersebut, rupanya
dia berhasrat untuk melenyapkan kedua orang jago itu berhubung perbuatan busuknya atas
geteja siau lim si sudah ketahuan.
Bilamana ilmu silat yang dimiliki Han siong Kie tidak terlalu lihay, tak nanti ia keluarkan ilmu
Boan yo sinkang tersebut tapi sekarang dia bertujuan lenyapkan Han siong Kie dan merampas
lencana ok kui cupay untuk menegakan kembali kewibawaannya sebagai seorang Tee kun,
terpaksa kepandaian simpanannya itu dikeluarkan. sementara itu Padri dari utara telah merangkap
tangannya sambil berkata:
"Omitohud Kalau toh sicu memang berhasrat begitu, rasanya tiada perkataan lain yang bisa
kukatakan lagi, bila ingin turun tangan silahkan saja segera turun tangan"
Pengemis dari selatan menyambung sambil tertawa tergelak:
"Haaah haaah haaah betul, memang tepat sekali ucapan tersebut, Kalau memang engkau
sudah penuju pada diriku, akupun tidak akan banyak bicara, toh aku si pengemis tua sudah bosan
hidup ... hayo ambillah nyawaku ini"
sudah tentu Han siong Kie tidak mengijinkan kedua orang tua itu terlibat dalam persoalan
perguruannya sendiri, dengan gelisah bercampur gusar dia maju dengan sempoyongan, sambil
menahan sakit dalam isi perutnya ia berseru kepada dua orang tokoh silat itu.
"Engkoh tua, locianpwe Disini sudah tak ada urusanmu lagi, aku harap kalian berdua segera
tinggalkan tempat ini"
"Eeh... memangnya engkau tidak dengar bahwa orang lain tidak mengijinkan aku berdua
tinggalkan tempat ini?" sahut pengemis dari selatan dengan mata melotot.
"Engkoh tua, loocianpwe Ketahuilah mencampuri urusan rumah tangga orang lain merupakan
pantangan terbesar bagi umat persilatan, aku minta janganlah kalian bikin hatiku jadi susah dan
serba salah"
"Kuakui kalau ucapan saudara cilik tidak salah, tapi engkau tua dan menyaksikan sendiri bahwa
situasi yang kita hadapi sekarang sama sekali berlainan, aku rasa engkau sendiripun-."
"Engkoh tua, ataukah kalian hendak menunggu sampai saudara cilikmu ini mempersilahkan
sendiri kepergianmu?" tukas anak muda itu secara tiba2.
sudah tentu maksud dari Han siong Kie mengusir dua orang sahabatnya itu bukan lantaran
apa2, maksud yang sebenarnya adalah karena dia tak tega menyaksikan kedua orang sahabatnya
ini ikut jadi korban di tangan lawan, jelas ilmu silat mereka masih belum sanggup menandingi
lawannya, bila Wi It beng berhasrat membunuh mereka jelas itu bukan pekerjaan yang terlalu
menyulitkan dirinya.
Wi It beng bukan orang bodoh, dia sendiripun tahu kalau akan maksud hati anak muda itu,
kontan dia tertawa seram.
"Haaah haah haaah Manusia berwajah dingin, lebih baik tak usah buang waktu dan tenaga
dengan percuma, ketahuilah nasibmu telah berada ditanganku, akulah yang akan menentukan
kalian semua harus mampus sekarang juga atau tetap hidup dikolong langit "
"Manusia bedebah, jangan tekebur lebih dahulu, ucapan semacam itu terlalu pagi kalau
diutarakan pada saat sekarang " hardik Han siong Kie dengan gusarnya.
sekali lagi dia ayun lencana ok kui cuipay nya ketengah udara, segenap sisa kekuatan yang
masih dimilikinya disalurkan kedalam lencana tersebut, tampaklah sekilas cahaya tajam langsung
memancar kedepan dan mencapai sejauh satu kaki dari kedudukan pemuda itu.
Gerakan ini sangat taktis dan tepat, karena gegabah dan kurang perhatian Wi It beng seketika
terkurung oleh cahaya tajam tersebut, sementara pikirannya jadi buyar, Han siong Kie telah
melancarkan serangan mautnya dengan ilmu jari Tong kim ci.
Dengus tertahan memecahkan kesunyian, tak tahan wi It beng roboh terjengkang ke atas
tanah.
Han siong Kie segera membentak keras:
"Tianglo berlima, dengarkan perintah segera perintahkan dua orang tamu ini untuk tinggalkan
gelanggang"
Lima otang tianglo itu serentak mengiakan, lima belah toya berkepala setan langsung di sapu
kedepan menggulung tubuh pengemis dari selatan dan padri dari utara.
Tentu saja Pengemis dari selatan dan padri dari utara tak ingin melibatkan diri dalam suatu
pertarungan, tanpa menunggu ke lima orang tianglo itu mendekati tubuh nya, mereka sudah
kabur tinggalkan tempat itu.
Menunggu dua orang jago tersebut sudah lenyap dari pandangan mata, Han siong Kie baru
bisa menghembuskan napas lega, dia tarik kembali lencana mustikanya dari sisi maju kedepan
untuk memeriksa keadaan luka Tee kun itu.
siapa tahu batu saja lencana nya ditarik kembali. Tiba2 Wi It beng loncat bangun kemudian
memperdengarkan suara gelak tertawanya yang amat mengerikan.
Betapa tercekatnya hati anak muda itu, dari gelak tertawa yang mengerikan itu, ia tahu bahwa
luka yang diderita pihak lawan sama sekali tidak parah.. Apa yang telah terjadi ?
Rupanya pada saat itu luka yang diderita Han siong Kie sangat parah sekali, disamping itu
diapun harus kerahkan dulu tenaga dalamnya kedalam lencana mutiara.. karena itulah meskipun
angin serangannya dapat telak ditubuh lawan, namun tenaga serangan nya lemah sekali.
Padahal sekujur badan wi It beng terlindung oleh hawa sakti Boan yo sin kang, karenanya
meskipun serangan tersebut bersarang telak di tubuh nya, namun hanya mengakibatkan sedikit
lecet saja pada kulis tubuh nya.
selama ini dia masih tak mampu untuk bangkit, ini bukan akibat dari luka tersebut melainkan
kekuatan tubuh nya lenyap sebab terpengaruh oleh sinar tajam itu.
Maka begitu Han siong Kie menarik kembali serangannya, kekuatan dalam tubuh Wi It beng
pulih kembali. serentak dia loncat bangun.
Dengan mulut mengerikan karena terpengaruh oleh hawa napsu membunuh yang berkobarkobar,
selangkah demi selangkah Wi It beng bergerak maju kedepan.
Kelima orang tianglo itu bertindak cepat melihat ketuanya terancam, serentak mereka
lintangkan toyanya didepan dada dan berdiri dibelakang anak muda itu. Han siong Kie ayun
kembali lencana nya untuk mempengaruhi kekuatan lawan-
Tapi kali ini wi It beng telah membuat persiapan, secepat petir tubuh nya menghindar
kesamping, kemudian sebuah pukulan Boan yo sinkang dilontarkan kedepan.
Desingan angin tajam memekikan telinga bagaikan gulungan ombak samudra ditengah
hembusan angin puyuh langsung menerjang tubuh Han siong Kie serta kelima orang tianglonya.
Han siong Kie berenam jadi terperanjat, tanpa berpikir panjang mereka ayun pula telapak
tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
"Blaaamm.." suatu ledakan keras menggelegar di angkasa, dengan sempoyongan kelima orang
tianglo itu terdorong mundur sampai tercerai berai ke mana2, sebaliknya Han siong Kie yang
sudah terluka termakan oleh serangan itu lukanya makin parah, sekali lagi dia muntah darah
segar.
Wi It beng memang seorang jago yang tangguh, meskipun seorang diri harus menghadapi
serangan gabungan dari enam orang, akan tetapi dia hanya dipaksa mundur sejauh tiga langkah.
Kilat tajam sorot mata Wi It beng melebihi tajamnya sembilu, tiba2 dia menyapu sekejap
sekitar hutan ditepi hutan, kemudian tegurnya dengan lantang:
"Tokoh silat dari manakah yang telah berada disitu? Kalau sudah datang mengapa tidak segera
munculkan diri?"
Mendengar seruan itu, semua jago yang ada dalam gelanggang sama2 alihkan sorot matanya
ke arah hutan-..
Gelak tawa yang menyeramkan berkumandang dari dalam hutan, menyusul mana sesosok
bayangan hijau bagaikan sukma gentayangan munculkaa diri dari hutan, begitu cepat gerak
tubuhnya hanya sekejap mata ia sudah tiba dihadapan para jago.
orang itu bukan lain adalah seorang manusia berkerudung yang memakai baju warna hijau.
Mengetahni siapa yang muncul, bergetarlah perasaan Han siong Kie, diam2 peluh dingin
membasahi tubuhnya.
Air muka Wi It beng sendiripun berubah hebat, tegurnya kemudian-"siapa engkau?"
Manusia berkerudung itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, tangan kanannya perlahan
di ayun kedepan dan tahu2 sebuah tengkorak warna merah sudah muncul di depan mata.
"Haah.. Tengkorak maut?" seru Wi It beng dengan hati tercekat.
Paras muka kelima orang tianglo serta kawanan pengawalpun berubah hebat, mereka tak
mengira kalau Tengkorak maut yang di segani tiap umat persilatan di daratan Tionggoan telah
munculkan diri dalam saat begini.
Di antara sekian banyak orang hanya Han siong Kie seorang yang tahu bahwa tengkorak maut
yang berada dihadapannya sekarang ini tak lebih hanya tengkorak maut gadungan, hatinya
bergetar keras dan paras mukanya terpengaruh oleh emosinya.
Dalam sekejap mata suasana dalam gelanggang berubah jadi hening, sepi dan tak kedengaran
sedikit suarapun-
Ditengah keheningan itulah tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, di susul
seseorang berseru kesakitan.
Dengan sempoyongan Han siong Kia mundur kebelakang, darah segar meleleh terus dari ujung
bibirnya.
Dalam sekejap mata itu pula lencana ok kui cupay telah berpindah tangan, kini benda tersebut
telah berada ditangan tengkorak maut yang lihay itu.
Tindakan dari Tengkorak maut ini sama sekali berada diluar dugaan semua orang, siapapun tak
menyangka kalau tokoh sakti itu sudi merampas ok kui cupay tanda kepercayaan dari Huan mo
kiong.
Paras muka Wi It beng berubah hebat, tubuhnya gemetar menahan emosi.
Jauh2 dari Thian lam menuju daratan Tionggoan, tujuan wi It beng adalah melenyapkan Han
siong Kie serta merampas lencana ok kui cupay yang merupakan tanda kekuasaan dari istana
Huan mo kiong, dan kini dikala lencana tersebut hampir terjatuh ke tangannya. Tahu2 sudah
dirampas oleh Tengkorak maut, bisa dibayangkan betapa gusar dan gelisahnya jago ini.
"Tengkorak maut, hayo serahkan kepadaku benda itu" hardiknya keras2.
"Heehh heehhh heehhh apanya yang serahkan kepadamu?" jengek Tengkorak maut sambil
tertawa seram.
"Apa lagi? tentu saja lencana ok kui cupay tersebut"
"Haahh haahhh haaa... Wi It beng menurut apa yang kuketahui, engkau tak lebih hanya
seorang anggota murtad dari aliran Thian lam dan lagi kedudukanmu sebagai Tee kun sudah
terhapus, memangnya lencana ini masih menjadi milikmu??"
"Tutup mulutmu, Jawab saja, mau diserahkan kembali kepadaku atau tidak ....?"
"Memangnya engkau mampu melakukan sesuatu yang luar biasa atas diriku ini? " ejek
Tengkorak maut.
"Bangsat Rupanya engkau memang sudah bosan hidup," teriak Wi It beng dengan gusarnya.
setelah membuat satu gerak melingkar di depan dada, sepasang telapak tangannya langsung
dilontarkan ketubuh Tengkorak maut, bukan saja cepat sekali serangan itu, bahkan ganas dan
keji.
"Waah.. kalau cuma mengandalkan ilmu kucing kaki tiga seperti ini masih jauh kalau ingin
merobohkan aku"
Tiba2 ia melesat kedepan sejauh dua kaki, kemudian ejeknya dengan nada sinis. . "Wi It beng,
manusia tolol sampai ketemu lain kali..."
Berbareng dengan berakhirnya ucapan tersebut, tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan
yang lebat.
Betapa murkanya Wi It beng ketika ia lihat Tengkorak maut telah berlalu dengan begitu saja, ia
berpaling dan melotot sekejap kearah Han siong Kie dan kelima orang tianglo itu dengan tatapan
benci, kemudian dengan wajah menyeringai ucapnya:
"Baik..baiklah... akan kuselesaikan kalian lebih dahulu sebelum kubikin perhitungan dengan
Tengkorak maut"
Keadaan Han siong kie ketika itu sangat lemah, jangan toh harus bertempur, untuk berdiri
sendiripun sudah tak mampu.
Lima orang tianglo itupun merasa sedih bercampur gusar, kini ketua mereka telah terluka
parah, itu berarti mereka berlima tak akan mampu menghadapi kelihayan wi It beng kendatipun
turun tangan bersama2
Dari sikap musuhnya yang begitu seram, merekapun sudah tahu bahwa musuhnya tak akan
melepaskan mereka berenam dengan begitu saja, asal mereka sudah mati maka perguruan Thian
lam pasti akan terjatuh ketangan manusia biadab ini, itu berarti pula bahwa kejayaan dan
kecermerlangan perguruan mereka harus berakhir sampai disini saja.
Walaupun sadar bahwa kepandaian mereka bukan tandingan lawan, namun mereka tak sudi
menyerah kalah dengan begitu saja, mereka bersiap sedia melakukan perlawanan hingga titik
darah yang penghabisan-
Diiringi bentakan nyaring, kelima orang tianglo itu segera putar toya kepala setannya dan
menerjang Wi It beng dengan ganas.
"Bluuk..." suatu jerit kesakitan terdengar, Liok sau tan terhajar telak oleh serangan itu hingga
mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.
Menyaksikan rekannya mati terbunuh, empat orang tianglo yang lain jadi semakin kalap.
serangan mereka semakin gencar, toya saktinya diputar sedemikian rupa sehingga Wi It beng
benar2 kena dikurung ditengah kepungan.
Kematiam rekan seperguruan yang berlangsung didepan mata membuat keempat orang tianglo
itu benar2 teramat gusar, mereka sudah bertekad untuk beradu jiwa, maka setiap serangan yang
dilancarkan Sebagian besar merupakan serangan adu jiwa yang sangat mengerikan-
Dalam waktu Singkat Wi It beng sudah di bikin keteter hebat dan kalang kabut tidak karuan,
posisinya amat terdesak sedang jiwanya terancam oleh mara bahaya.
Lambat laun Wi It beng jadi naik darah juga, ia tahu jika pertarungan dibiarkan berlangsung
terus dalam keadaan begini, niscaya wibawa dan gengsinya akan merosot.
Suatu ketika ia mendengus dingin, kemudian sambil menerjang kemuka secara beruntun dia
lancarkan delapan buah serangan berantai yang cukup gencar, hanya sesaat saja posisi diatas
angin telah terjatuh kedalam genggamannya.
Jerit kesakitan tiba2 berkumandang lagi memecahkan kesunyian, dalam suatu sergapan kllat,
Seng Thian pau tianglo kedua dari istana Huan mo-kiong ini tak sempat menghindarkan diri dari
serangan. dadanya terhajar telak sehingga ia muntah darah segar, tak ampun lagi tubuhnya
terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa.
Kematian dari rekannya yang kedua ini semakin membuat tianglo lain yang masih hidup jadi
kalap. To It hui tianglo pertama, Ang Pat siu tianglo ketiga dan Sah Jin ho tianglo kelima dengan
mata yang berapi-api dan muka menyeringai seram berulang kali membentak keras ibarat guntur
yang menggelegar di angkasa.
Tiga batang toya baja mereka dengan diputar sedemikian rupa merupakan serangkaian
bayangan serangan yang tajam dan tebal bagaikan awan yang memenuhi angkasa, di iringi
desingan tajam serentak menyergap membabat dan menghantam batok kepala musuhnya.
Ketiga orang tianglo ini sudah mata gelap dibuatnya, mereka jadi nekad dan tak takut mati,
dengan sendirinya serangan yang dilancarkan ketiga orang inipun jauh lebih dahsyat lagi.
Wi It beng tertawa terkekeh2, ia tak pandang sebelah matapun terhadap serangan2 musuhnya,
dikerubuti lima orang pun dia sanggup melakukan pembantaian apalagi sekarang musuhnya
tinggal tiga orang.. secara beruntun dia lepaskan dua belas buah pukulan dahsyat.
Begitu kedua belas buah pukulan itu dilancarkan kemuka, secara beruntun terdengarlah tiga
kali jerit kesakitan menggema diangkasa, dalam waktu singkat dari antara lima orang tianglo yang
gagah berani ada dua sudah mampus dan tiga lainnya menderita luka parah.
suasana untuk sesaat jadi hening dan sepi, kendatipun hawa napsu membunuh masih
menyelimuti seluruh angkasa dengan tebalnya.
Wi It- beng tertawa seram, muka nya menyeringai hingga Kelihatan sangat mengerikan,
selangkah demi selangkah ia maju kedepan menghampiri Han siong Kie.
Betapa gusar, benci dan penasarannya si anak muda itu, saking gelisahnya kembali dia
muntahkan darah segar, pada saat seperti ini dia sudah kehilangan tenaga untuk melawan,
padahal Wi it beng sambil tertawa seram maju semakin mendekat tampaknya kecuali meramkan
mata sambil menunggu tibanya ajal, tiada jalan lain lagi yang bisa dia lakukan. Pada detik2
terakhir inilah bayangan kematian berkecamuk dalam benaknya..
Ia teringat kembali akan dendam berdarah nya yang belum terbalas, perintah gurunya yang
belum terlaksana.
Mati bukan berarti bisa melepaskan diri dari se gala2nya, kalau ia sampai tewas dalam keadaan
demikian, maka dia akan mati dengan sepasang mata tidak terpejam.
sekarang ia mulai menyesal, menyesal apa sebabnya melayani pertarungan itu dengan
kekerasan, andaikata kelima orang tianglonya setelah ditolong maka mereka segera
mengundurkan diri, niscaya tidak beginilah keadaannya ....
Tanpa sadar peringatan dari orang yang ada maksudpun berkumandang kembali disisi
telinganya:
"...jangan lukai orang, setelah menyelamatkan jiwa kelima orang tianglo itu, segeralah berlalu
dari situ.."
Benarkah orang yang ada maksud adalah seorang manusia sakti yang bisa meramalkan semua
kejadian yang belum berlangsung?
sementara itu Wi It beng sudah berhenti kurang lebih lima depa dihadapan si anak muda itu,
telapak tangannya perlahan di angkat keudara dan siap melepaskan pukulan-..
Pada detik itulah dari tempat kejauhan tiba2 melayang tiba dua sosok bayangan manusia.
sangat kebetulan kemunculan bayangan manusia itu, Wi It beng yang telah siap melancarkan
serangannya tiba2 membataikan kembali niatnya dan menurunkan kembali telapak tangannya itu.
Yang munculkan diri ketika itu adalah dua orang kakek berbaju kuning, mereka memiliki
perawakan badan yang tinggi besar dan kekar, sepasang mata nya memancarkan cahaya tajam,
itu menandakan kalau tenaga dalam yang mereka miliki telah mencapai puncak kesempurnaan.
Begitu mencapai permukaan tanah, dua orang kakek baju kuning itu segera memberi hormat
kepada Wi It beng seraya berkata:
"Pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau khusus datang menghunjuk hormat untuk
Tee-kun"
"Kalian berdua tak usah banyak adat" kata Wi It beng sambil putar badannya "ada urusan apa
kalian datang kemari??"
"Hamba mendapat perintah dari kaucu untuk datang menghadap Tee kun, ada suatu masalah
penting yang hendak dirundingkan dengan diri Tee kun" sahut salah seorang diantara kedua orang
pelindung hukum baju kuning itu.
"Persoalan apa yang hendak kalian rundingkan??"
"Berulang kali manusia berwajah dingin menyatroni dan membuat keonaran didalam
perkumpulan kami, hingga detik ini sudah mendekati seratus orang anggota perkumpulan kami
yang telah jatuh korban ditangannya, oleh sebab itu kaucu mengusulkan agar Tee-kun bersedia
menyerahkan orang itu kepada kaucu kami, agar kami bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepada dirinya. ."
"Tentang soal ini. "
Dengan cepat pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Wi It beng, ia tahu bilamana Manusia
berwajah dingin diserahkan kepihak Thian che kau, maka tindakannya ini akan mempengaruhi
nama baik serta kewibawaan perguruannya, akan tetapi diapun merasa segan untuk bermusuhan
dengan perkumpulan itu dalam posisi yang serba tidak menguntungkan ini, toh bagaimanapun
juga tujuannya hanya melenyapkan bibit bencana dari muka bumi ?"
Kini lencana ok kui cui pay dari perguruannya sudah dirampas Tengkorak maut, itu berarti bila
dia hendak mengembangkan pengaruh perguruannya maka ia masih harus meminjam kekuatan
dan bantuan Thian che kau.. "
sesudah mempertimbangkan untung ruginya, diapun mengangguk dan menjawab nyaring.
"orang nya boleh saja kalian bawa pergi, tapi terlebih dahulu aku harus musnahkan dulu ilmu
silat yang dimilikinya"
"Terserah kebijaksanaan Tee-kun"
Han siong Kie masih sadar, dengan sendirinya diapun dapat mengikuti jalannya pembicaraan itu
dengan jelas, meskipun setiap patah kata yang diucapkan lawannya amat menusuk perasaannya,
membuat ia jadi gusar dan dadanya serasa mau meledak. akan tetapi sianak muda itu tak mampu
berbuat apa2, dia hanya pasrah pada nasib belaka.
Dalam pada itu, Wi it beng telah memutar badannya menghadap kembali kearah Han siong Kie.
setelah tertawa seram kata nya.
"Menurut peraturan sepantasnya kalau kusebut dirimu sebagai suheng.. haaahh .haaaahh..
haaahhh.. semoga saja sesaat lagi engkau dapat segera berangkat untuk berkumpul kembali
dengan toa supek dialam baka sana."
"Binatang terkutuk, aku menyesal karena tak bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepadamu!" seru Han Siong Kie dengan penuh kebencian "tapi hmm engkau tak usah keburu
bersenang hati, barang siapa tidak jujur dan tidak setia kepada perguruan, suatu ketika dia pasti
akan mati dalam keadaan mengerikan. percayalah saat ajalmu tidak terlalu lama"
"Heeehhh heeeehhh hheeeehhh suheng, sekalipun saat ajalku sebentar lagi akan tiba, sayang
seribu kali sayang engkau tak dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"sukma cousu selalu melindungi perguruannya, dia tak akan membiarkan engkau hidup lebih
lama.."
"Bangsat lebih baik tutup saja bacot anjingmu." bentak Wi It beng dengan gusar.
Dalam suatu bentakan keras dengan sodokan jari tangannya yang kaku bagaikan tombak ia
menerjang kemuka dan mengancam jalan darah cacad ditubuh sianak muda itu.
"Blaang" ditengah benturan keras yang memekikkan telinga, terdengar wi It beng mendengus
berat, dengan sempoyongan dia mundur lima langkah kebelakang.
sekalipun Han siong Kie sudah menderita luka dalam yang cukup parah namun dengan bakat
alamnya yang luar biasa serta daya tahannya yang kuat, serangan balasan yang dilepaskan dalam
keadaan terluka itu tak bisa di anggap enteng. . .
Bagi Wi It beng sendiri serangan balasan tersebut tak pernah dibayangkan sebelumnya, dia tak
menyangka dalam lukanya, pemuda itu masih sanggup melepaskan pukulan sedahsyat itu
sehabis melancarkan sebuah pukulan dengan menggunakan sisa kekuatan yang dimilikinya itu,
luka yang diderita Han Siong Kie menjadi semakin parah, dengan sempoyongan dia mundur
kebelakang, matanya jadi ber kunang2 dan kepala nya pusing tujuh keliling, darah segar kembali
muntah keluar dari mulutnya.
Dari malunya Wi It beng jadi gusar, sepasang telapak tangannya segera diayunkan berbareng
melancarkan bacokan kilat yang maha dahsyat.
Tiga orang tianglo yang menggeletak dengan menderita luka parah sempat mengikuti jalannya
peristiwa ini dengan jelas, mereka sudah meronta bangun sambil bersiap siap memberikan
pertolongan, tapi serangan lawan dilancarkan terlalu cepat, ketiga orang itu tak bisa berbuat lain
kecuali menjerit kaget
"Tee-kun, harap ampuni jiwanya, kaucu kami membutuhkan dirinya dalam keadaan hidup2"
teriak dua orang pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau hampir bersamaan waktunya.
Tapi sayang jeritannya itu agak terlambat, Di tengah jeritan kesakitan, ibarat layang-layang
yang putus benang, tubuh Han siong Kie mencelat ke udara dan meluncur kebelakang.
Mendadak satu kejadian aneh telah berlangsung didepan mata..
Dikala daya luncur dari tubuh Han siong Kie sudah habis dan badannya hampir menyentuh
tanah, tiba2 entah bagaimana caranya tiba2 tubuhnya melayang kembali keudara dan meluncur
kedalam hutan di tepi jalan raya itu..
semua jago berdiri terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya, semua orang tak mampu
ber-kata2 menyaksikan peristiwa aneh itu, hanya dalam waktu singkat tubuh Han siong Kie yang
kekar sudah melayang ke dalam hutan dan lenyap dibalik pepohonan.
sebagai jago2 silat kenamaan rasa kaget itu hanya sebentar menyelimati hati mereka, dengan
cepat orang2 itu sadar pastilah ada seorang tokoh sakti yang sedang bersembunyi disana. .
Peluh dingin mulai mengucur keluar membasahi tubuh mereka, bayangkan saja dari jarak
sejauh beberapa kaki ternyata tokoh sakti itu mampu menghisap sesosok tubuh yang kekar seperti
itu, bilamana tenaga dalam orang itu tidak sangat hebat, mampukah dia melakukan hal seperti
itu?
Belum lenyap rasa kaget yang menyelimuti hati semua orang, tiba2 pandangan mata nya jadi
kabur dan tahu2 seorang kakek tua yang tinggi besar dengan jubah panjang warna kuning,
berkaki telanjang dan berikat kepala warna perak munculkan diri ditengah gelanggang.
Perawakan tubuh kakek itu sangat tinggi besar, sekilas pandangan se-akan2 sebuah buklt kecil
yang sedang bejalan.
Manusia aneh itu mempunyai sepasang mata yang memancarkan sinar warna hijau, begitu
tajamnya sorot mata orang itu membuat setiap jago yang terpandang oleh nya segera hatinya
bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.
Setelah menjapu sekejap orang-orang itu, akhirnya sinar mata manusia aneh itu berhenti diatas
wajah Wi It beng.
Betapa pemberaninya Wi It beng tak urung mundur juga beberapa langkah ke belakang dengan
badan gemetar keras, dengan pengalaman serta kepandaian yang dimilikinya, ia tahu bahwa
manusia aneh itu bukan manusia sembarangan, ilmu silatnya boleh dibilang sudah mencapai
puncak kesempurnaan yang tak terhingga.
Sementara dia masih melamun, Manusia aneh itu sudah menegur dengan suaranya yang keras
bagaikan geledek:
"Hey bocah cilik, kalau kulihat dari kopiah emasmu, jubah sutramu serta dandananmu yang
tidak genah, tentunya engkau adalah ketua dari perguruan Thian lam bukan?"
"Bee.. betul " jawab Wi It beng dengan tubuh bergetar keras, "akulah ketua kaisar dari istana
Huan mo kiong"
"Apa ? Kaisar ? Haaah haaah haaaah kaisar ? sungguh menggelikan"
Gelak tertawa itu keras sekali membuat seluruh permukaan tanah tergetar keras, pucat pias
wajah kawanan jago yang hadir di situ, mereka merasakan darah panas bergelora dengan
hebatnya didada, bahkan Wi It beng pribadipun merasa jantungnya berdebar keras.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya dengan ketiga orang tianglo yang sedang terluka parah,
kontan mereka jatuh terduduk di atas tanah tak mampu berkutik lagi.
Untungnya manusia aneh itu hanya sebentar tertawa nya, kalau tidak cukup hanya tertawa
tergelak niscaya beberapa orang diantara mereka ada yang terluka parah.
Berdiri semua bulu kuduk digubuh Wi It beng, sambil memberanikan diri dia lantas menegur:
"Bolehkah aku tahu siapa nama besar mu?"
"Haah.. Masa engkau tidak kenal dengan aku?"
"Maaf, aku benar2 tidak kenal siapa engkau"
"Heehhh..heehh..heehh.. ketika aku masih berkelana dalam dunia persilatan, mungkin engkau
masih belum menongol dari rahim ibumu, akulah Hun si Mo ong Raja iblis pengacau jagad, sudah
pernah mendengar namaku ini"
Hun si Mo ong, suatu nama yang cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengarkan,
kontan para jago yang hadir dalam gelanggang merasakan badannya jadi lemas dan tak sanggup
berkutik lagi.
Sejak enam puluh tahun berselang jejak Hun si Mo ong secara tiba2 lenyap dari dunia
persilatan, kendatipun begitu nama besarnya selama puluhan tahun masih membekas dalam hati
setiap umat persilatan, tidaklah heran kalau semua orang masih mengenali nama besar dari tokoh
sakti tersebut.
Jago ini tersohor karena ilmu silatnya yang sangat lihay, perasaan girang ataupun gusar sukar
diketahui orang, dan perbuatannya tak pernah menuju kearah kebaikan ataupun kejahatansemua
perbuatannya hanya berdasarkan perasaan hati sendiri.
Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, jarang sekali ada jago silat yang sanggup
melayani tiga gebrakannya, maka dari itu baik jago dari golongan putih maupun jago dari
golongan hitam pada menaruh rasa jeri kepada nya
Enam puluh tahun berselang, diatas puncak Jit koan hong pada gunung Thay san telah
diselenggarakan suatu pertemuan besar para orang gagah, beratus2 orang jago persilatan kelas
satu yang ada dikolong langit telah berkumpul disana, dikala itu Hun si Mo ong hadir pula disana,
hanya cutup di dalam dua gebrakan ia telah berhasil menghajar mampus jago silat nomor satu
dikolong langit.
Atas kejadian itu para jago yang hadir disana jadi gusar hingga terjadilah pengerubutan secara
massal, akan tetapi dalam seperminum teh saja, mayat telah bergelimpangan bagaikan bukit,
darah berceceran membasahi puncak Jit koan hong...
sejak terjadinya peristiwa pembantaian ini tiba2 jejak Hun si Mo ong ikut lenyap dari peredaran
dunia persilatansungguh
tak disangka setelah menghilang selama enam puluh tahun lamanya, tiba2 Raja iblis
pengacau jagat yang lihay ini muncul kembali didalam dunia persilatan, bahkan turun tangan
menyelamatkan jiwa Manusia berwajah dingin yang terancam bahaya, peristiwa ini boleh dibilang
jauh diluar dugaan siapapun.
Tak seorangpun bisa memahami maksud dari gembong iblis ini, mereka cuma bisa berdiri
melongo sambil memandang orang itu tanpa berkata- kata. suasana jadi hening, sepi tak
seorangpun berani buka suara.
-00d0w00-
BAB 54
SESUDAH termenung beberapa saat lamanya, Hun si Mo ong kembali berkata:
" Enam puluh tahun berselang aku telah mengangkat sumpah, bahwasanya orang lain tidak
mengganggu aku, maka akupun tidak akan mengganggu orang lain. Nah Anggap saja nasib kalian
masih mujur, hayo cepat enyah dari tempat ini"
Hampir saja semua orang tidak percaya dengan pendengaran sendiri, siapa juga tak mengira
kalau Hun si Mo ong yang kejam dan lihay ternyata sudah bertobat dan tidak melakukan
pembantaian lagi.
seakan2 baru saja terlepas dari pintu neraka, kawanan jago itu segera melarikan diri terbirit2
dari sana.
Hun si Mo ong tertawa ter bahak2, menanti kawanan jago itu sudah lenyap dari pandangan,
diapun berkelebat dan lenyap dari pandangan mata.
Tak jauh dari hutan itu, Han siong Kie tampak sedang berdiri sambil bersandar di atas sebuah
dahan pohon-
Tak jauh disampingnya berdiri pula seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari turun
dari kahyangan. dia bukan lain adalah malaikat hawa dingin Mo siu ing. Pada waktu itu Mo siu ing
sedang tertawa ringan sembari berkata:
"Hey, manusia berwajah dingin Ketika berada dihutan penyeberangan pohon liu engkau telah
menyelamatkan jiwaku, dan sekarang aku telah membayar budi kebaikanmu itu, berarti pula kita
sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada siapa"
Han siong Kie sakit hati dan termenung tanpa berkata2, ia tak suka budi kebaikan dari orang
lain, terutama dari kaum wanita, tapi dalam kenyataan berulang kali dia harus menerima budi
kebaikan dari kaum perempuan, hal ini membuat ia habis daya dan tak mampu ber-kata2 lagi.
Melihat sianak muda itu membungkam, Malaikat hawa dingin Mo siu ing kembali berkata:
"Kita hanya berjumpa secara kebetulan saja, kebetulan aku dan guruku sedang berangkat
menuju kebenteng maut, dan ketika kami lewat disini kulihat engkau sedang terancam bahaya.."
"Siapa gurumu?" tanya Han siong Kie agak tertegun.
"Siapa lagi kalau bukan Hun si Mo ong??"
sekali lagi Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa dia teringat kembali
akan peristiwa dimasa lampau dimana Ang Nio cu terancam bahaya setelah dihajar sampai terluka
parah oleh Tengkorak maut gadungan, untung Hun si Mo ong muncul secara tiba2 dia membuat
Tengkorak maut gadungan melarikan diri karena ketakutan.
Ia tak mengira kalau Hun si Mo ong yang ditakuti banyak orang itu ternyata tak lain tak bukan
adalah gurunya Malaikat hawa dingin Mo siu Ing.
"Jadi gurumu adalah Hun si Mo ong ?" tanya pemuda itu lagi dengan nada kurang percaya.
"Benar, engkau tak percaya??"
"Dan kalian hendak menuju ke benteng maut??"
"Tentu saja, kami hendak pergi kesana untuk menolong suamiku "
Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak Han siong Kie, kalau toh Hun si Mo
ong adalah gurunya malaikat hawa dingin Mo siu ing, bahkan dia mampu membuat Tongkorak
maut gadungan melarikan diri ter-birit2, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silatnya pasti
tinggi sekali.
Bagaimana jadinya apabila mereka berangkat ke Benteng maut? Belum tentu Tengkorak maut
yang asli mampu menandingi kekuatan mereka, jika dia sampai mati maka bagaimana dengan
dendam sakit hatinya? bukankah harapannya akan lenyap tak berbekas?
Diam2 pemuda itu jadi panik, saat ini tenaga dalamnya belum pulih kembali jelas tak mungkin
baginya untuk membicarakan soal balas dendam, lalu mampukah dia menghalangi orang lain agar
jangan pergi dulu kesana..?
Tapi dengan cepat ia terbayang kembali betapa lihay dan aneh nya ilmu silat yang dimiliki
pemilik benteng maut. sekalipun tenaga gabungan dua orang tokoh sakti ini terhitung dahsyat,
belum tentu usaha mereka akan mencapai kesuksesan.
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 tampaklah sesosok bayangan
manusia berkelebat lewat, menyusul seorang manusia aneh yang tinggi besar telah munculkan diri
didepan mata.
"Suhu, sudah selesaikah urusanmu?" Malaikat hawa dingin Mo Siu ing segera menegur dengan
wajah berseri.
"Ehmm. Perbuatanku sangat terbatas sekali karena terikat oleh sumpahku, aku tak dapat
membunuh orang lagi, terpaksa kububarkan orang2 itu agar berlalu dari sana"
Sekarang Han siong Kie baru tahu kalau manusia aneh yang berada dihadapannya bukan lain
adalah Hun si Mo ong yang ditakuti setiap orang, ketika diketahuinya peristiwa Wi It beng sekalian
tidak sampai dibunuh mati, pemuda itu bergirang hati karena dengan begitu maka dia masih
punya harapan untuk menjatuhi hukuman yang setimpal kepada penghianat perguruannya itu.
Berpikir sampai disitu, anak muda itu segera maju kedepan dan memberi hormat kepada Hun si
Mo ong seraya berkata:
"Locianpwe, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu ini"
"Haaahhh haaahhh haaahhhjangan kau anggap peristiwa itu sebagai suatu kejadian besar" kata
Hun si Mo ong sambil tertawa tergelak, "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyelamatkan
jiwamu, oleh karena muridku pernah menerima pertolongan darimu dan dia temukan engkau
sedang terancam bahaya maka ia minta bantuanku untuk menolong, jadi anggaplah
pertolonganku bukan lantaran engkau, tapi lantaran permintaan dari muridku ini"
Berbicara sampai disini, diapun berpaling kearah Malaikat hawa dingin Mo siu Ing seraya
berkata:
"coba kau lihat, bocah ini mirip sekali dengan suhengmu Ko Su ki "
"Benar suhu.." jawab Malaikat hawa dingin sedih.
sekarang Han siong Kie baru tahu kalau pada mulanya malaikat hawa panas dan malaikat hawa
dingin adalah sesama perguruan dimana dari saudara seperguruan akhirnya mengikat diri menjadi
suami istri.
"Dia tak akan mati bukan?" terdengar Hun si Mo ong bertanya lagi.
"Tecu telah memberi sebutir Kui goan kim wan kepada nya, tecu rasa jiwa nya tidak terancam
lagi"
"Kui goan kim wan ?" seru Hun si Mo ong cepat," Hey budak cilik, engkau benar2 sangat royal,
tahukah engkau selama enam puluh tahun aku bekerja, hasilku hanya tiga butir pil Kui goan kim
wan tersebut, engkau bukan saja sudah makan sebutir, sekarang kau hadiahkan pula sebutir
kepadanya.. waah, terlalu royal"
Malaikat hawa dingin Mo siu ing tertawa jengah setelah mendengar teguran itu, cepat dia
alihkan pokok pembicaraan kesoal lain: "suhu, sekarang sudah waktunya buat kita untuk
berangkat..."
"Baik..baik.. hayo kita berangkat"
Begitulah, tanpa berbicara lagi dua orang jago silat itu segera berlalu dari hutan tersebut,
dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan-
Han siong Kie sendiripun tak mampu berkata2, dia hanya bisa memandang kepergian dua
orang itu dengan pandangan melongo.
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing yang gemar membunuh manusia ternyata rela menghadiahkan
obat Kui goan kim wan mustika perguruanya untuk menyelamatkan jiwa Han siong kie, terhadap
peristiwa itu pemuda kita merasa keheranan dan benar2 tak habis mengerti.
"Mungkinkah obat ini disebabkan karena Han siong Kie berhasil menemukan kabar berita
tentang malaikat hawa panas Ko su ki ? Mungkinkah seumpama sianak mudaitu mengenangkan
lembali dirinya akan kegagahan dan kegantengan suaminya dimasa lampau?
obat Kui goan kim wan benar2 terhitung sebutir obat yang sangat mujarab, dalam waktu
singkat bukan saja rasa sakit ditubuh sianak muda itu sudah lenyap tak berbekas bahkan hawa
murninya telah menghimpun kembali..
Dalam perkiraan si anak muda itu, sesudah kemunculan Hun si Mo ong yang disegani banyak
orang itu, maka tak akan ada manusia yang berani mendekati wilayah itu, tapi dengan tenang dia
lantas duduk bersila sambil bersemedi . Apa yang terjadi kemudian? Ternyata dugaannya itu keliru
besar.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia dengan langkah yang sangat hati- hati
sedang bergerak mendekati tempat pertapaannya.
Nun jauh dibelakang bayangan manusia itu tampaklah bayangan manusia itu sedang
membuntuti bayangan manusia yang pertama. agaknya kedua orang itu mempunyai maksud dan
tujuan yang berbeda.
Mimpipun Han siong Kie tak menyangka kalau jiwanya waktu itu kembali terancam oleh mara
bahaya, dengan kesempurnaan tenaga dalamnya ditambah pula kemujaraban pil Kui goan kiem
wan, hanya dalam waktu singgkat ia sudah berada dalam keadaan tak sadar, kabut tipis berwarna
putih mulai mengepul keluar dari ubun2nya menciptakan selapis kabut tebal diatas kepala nya.
Bila latihan ini berlangsung setengah jam lagi, niscaya luka dalam yang diderita sianak muda itu
sudah sembuh sama sekali.
Bayangan manusia itu kian lama kian mendekat dan akhirnya ia berhenti dibelakang Han siong
Kie, persis pada jarak jangkauan tangannya, siapakah bayangan itu? Dia tak lain adalah Tengkorak
maut gadungan yang berhasil merampas lencana ok kui cu pay dari tangan Han siong Kie itu.
sementara itu pemuda Han siong Kie masih belum merasakan tibanya malaikat maut yang siap
mencabut nyawanya, ia masih duduk bersemedi sambil menyembuhkan luka nya yang diderita.
Telapak tangan dari tengkorak maut gadungan telah diangkat tinggi2, ia siap melepaskan
serangan mautnya, tapi entah apa sebabnya tiba2 telapak tangan yang telah siap melancarkan
serangan maut itu diturunkan kembali, rupanya ia sedang mempertimbangkan perlukah mencabut
nyawa sianak muda itu.
Jikalau ia menginginkan nyawa anak muda itu, maka dengan suatu gerakan yang amat
sederhana, keinginannya itu pasti akan tercapai, namun dalam kenyataan ia telah membatalkan
niatnya itu, atau mungkin dibalik kesemuanya ini dia mempunyai maksud atau tujuan yang lain
Dalam pada itu bayangan manusia yang lain telah melayang pula mendekati dibelakang
Tengkorak maut gadungan, dengan gerakan tubuh yang enteng ia menyembunyikan diri
dibelakang sebuah pohon yang besar.
Gerak gerik orang itu enteng dan gesit, sedikitpun tidak menimbulkan sedikit suarapun,
malahan Tengkorak maut gadungan yang lihaypun sama sekali tidak merasa kehadirannya. dari
sini dapat dibuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki pandatang itu luar biasa hebatnya.
suasana jadi hening, sepi, akan tetapi napsu memburuh yang tebal telah menyelimuti seluruh
angkasa.
37
Kabut putih yang menyelimuti ubun2 Han siong Kie mulai menipis dan akhirnya lenyap
menyusul mana pemuda itu sadar kembali dari latihannya, baru saja dia akan bangkit berdiri..
Mendadak sebuah telapak tangan telah menempel diatas ubun2nya, menyusul seseorang
membentak dengan suara menyeramkan: "Jangan bergerak!"
Betapa terperanjatnya Han siong Kie, ia merasa sukmanya serasa melayang tinggalkan
raganya, suara itu tidak terlalu asing baginya, sebab ia kenali sebagai suara dari Tengkorak maut
gadungan.
Bisa dibayangkan sampai dimanakah rasa bergidik yang mencekam perasaan hati si anak muda
itu, dalam hati dia lantas berseru. "Mati aku Habis sudah riwayatku kali ini.."
Tengkorak maut gadungan tertawa terkekeh kekeh dengan bangganya, ia berseru:
"Bocah keparat, ada satu persoalan hendak kuajukan kepadamu, aku harap engkau bersedia
untuk menjawab dengan sejujurnya"
Sekalipun jiwanya terancam, akan tetapi Han siong Kie tak mau menyerah dengan begitu saja,
dengan wataknya yang tinggi hati dan angkuh ia tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan
orang, dengan ketus ejeknya sinis:
"Tua bangka sialan, engkau manusia pengecut. Beraninya main sergap dikala orang tidak
bersiap sedia, manusia macam apakah dirimu itu?"
"Haaahhh haaahhh haahh keparat, terserah apa yang hendak kau katakan, pokoknya asal
engkau bersedia menjawab pertanyaanku sejujurnya maka akupun bersedia pula memberi
kesempatan kepadamu untuk melangsungkan suatu pertarungan yang seadil2nya"
"Aku tak sudi dipaksa atau diancam, percuma kalau engkau hendak paksa aku untuk menjawab
pertanyaanmu itu".
"Bocah keparat, engkau jangan tekebur Ketahuilah, bila aku berniat untuk mencabut nyawamu
maka perbuatan ini bisa kulakukan dengan gampang sekali"
" Kalau memang begitu, silahkan saja turun tangan "
" Engkau tak takut mampus??"
"Hmm Aku manusia berwajah dingin tak akan sampai mengemis kehidupan kepadamu"
"Baiklah bocah keparat, anggap saja engkau memang bersemangat jantan, cuma sayang..."
"sayang kenapa??"
"Perguruan Thian- lam akan terputus ditanganmu"
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, ia tahu bila dirinya mati maka perguruan Thian lam
akan hancur berantakan, wi It beng pasti akan berbuat se wenang2 tanpa seorangpun berani
menghalangi perbuatannya itu, dan akhirnya perguruan Thian lam akan musnah dengan
sendirinya.
Pemuda itu jadi sedih dan sakit hati, tapi wataknya yang angkuh membuat anak muda itu tak
sudi tunduk kepada orang lain.
setelah termenung sejenak diapun berseru:
"Tua bangka sialan, engkau tak usah banyak bicara lagi, kalau ingin turun tangan hayo cepatlah
turun tangan"
"Jadi engkau benar2 lebih suka mampus daripada hidup??"
"Aku tak akan mengemis hidup darimu, banyak bicara tak ada gunanya ....mau turun tangan
hayo cepat turun tangan, tak usah banyak bacot lagi."
"Kalau memang begitu yaa sudahlah..."
Han siong Kie tak menggubris lawannya lagi, ia segera pejamkan matanya rapat2..
Tiba2 sekilas cahaya perak memancar ke angkasa, diiringi desingan angin tajam langsung
menyambar kearah pohon besar dihadapannya.
Tengkorak maut gadungan menjerit kaget, mendengar itu Han siong Kie membuka matanya
dan memandang kedepan.
Tampaklah sebuah lencana perak sebesar telapak tangan menempel diatas dahan pohon itu
diatas lencana terukirlah gambar matahari, rembulan dan bintang.
sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya,jeritan ngeri yang menyayatkan hati
kembali berkumandang memecahkan kesunyian. "Blaam sesosok tubuh segera tumbang keatas
tanah dan tak berkutik lagi.
Betapa terperanjatnya Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, ia lompat bangun dan
menengok kesamping, tampaklah Tengkorak maut gadungan sudah menggeletak tak bernyawa
diatas genangan darah. tujuh lembar daun pohon menancap diatas kepalanya membuat kematian
jago ampuh itu tampak mengerikan sekali.
Untuk sesaat sianak muda itu jadi tertegun dan tak mampu berkata-kata..
siapakah yang memiliki kepandaian selihay itu sehingga mampu membinasakan Tengkorak
maut gadungan??
siapa pula pemilik dari lencana perak itu??
Mungkinkah Hun si Mo ong yang telah datang ? Karena sebelum ajalnya bukankah Tengkorak
maut gadungan telah menjerit kaget??
Kecuali tokoh sakti itu, siapa lagi yang mampu membinasakan gembong iblis ini hanya didalam
sekali gebrakan belaka??
Mungkinkah lencana perak itu adalah lambang dari Hun si, Mo ong?
Pelbagai ingatan berkecamuk menjadi satu didalam benaknya, dia merasa tidak sanggup untuk
memecahkan kejadian yang sangat aneh ini, tapi ada satu hal ia merasa yakin, untuk kesekian
kalinya kembali ia lolos dari cengkeraman malaikat elmaut, sekali lagi dia lolos dari kematian
"Nak. apa yang sedang kau lamunkan?" tiba2 suara teguran yang lembut dan penuh kasih
sayang . berkumandang dari tak jauh dari sana.
Han siong Kie terkesiap, dengan cepat la kenali suara tersebut sebagai suara dari orang yang
kehilangan sukma.
"cianpwe, engkaukah itu?" cepat pemuda itu berseru.
"Nak, masa engkau tak dapat mengenali suaraku lagi?"
"sekalipun boanpwe tidak berjodoh untuk menjumpai raut wajah cianpwe, akan tetapi suara
cianpwe sudah membekas dalam benakku, budi kebaikan yang telah cianpwe berikan kepadaku
setinggi bukit dan setebal bumi, selamanya budi kebaikan ini tak akan kulupakan"
"Nak. aku tak suka mendengarkan perkataan2mu yang memandangkan balas budi ini"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah.
"Apakah cianpwe yang telah membinasakan Tengkorak maut gadungan untuk melepaskan
boanpwee dari ancaman bahaya maut??"
"Begitulah kenyataannya"
"Kesempurnaan tenaga dalam yang cianpwee miliki benar2 luar biasa sekali."
"Nak. dugaanmu itu keliru besar, bila tenaga dalamku dibandingkan dengan tenaga dalam yang
dimiliki Tengkorak maut gadungan, maka kepandaianku masih kalah setengah tingkat"
Han siong Kie tercengang dan merasa tak habis mengerti, dengan nada keheranan segera
serunya:
"Tapi..tapi toh kenyataannya dia mati dalam waktu singkat??"
"Dia bukan mati ditanganku, lebih cocok kalau dikatakan bahwa ia mati toh karena lencana
tersebut."
Han siong Kie melongo dan tak habis mengerti, ujarnya lagi: "Mati karena lencana itu ?
Boanpwe merasa tak mengerti.."
"Kemunculan lencana itu membuat konsentrasinya jadi buyar, karena itulah aku manpaatkan
kesempatan yang sangat baik itu untuk membereskan jiwanya..."
"Masa lencana itu memiliki daya pengaruh yang begitu besarnya?"
"Benar nak. engkau tidak percaya?"
"Tentu saja boanpwe percaya, apa mungkin lencana itu adalah lambang khusus milik cianpwe?"
"Bukan, dugaanmu itu keliru besar"
Han siong Kie semakin kebingungan dibuatnya, sesaat kemudian ia baru bertanya lagi:
"Bolehkah boanpwe ketahui apa nama lencana itu?"
"Thian che leng"
"Lencana Thian che? kalau begitu kan lencana ini milik perkumpulan Thian che kau?"
"Dugaanmu tepat sekali, lencana itu memang milik perkumpulan Thian che kau"
"Jadi kalau begitu, Tengkorak maut gadungan menjalankan aksinya karena mendapat perintah
dari pihak Thian che kau?"
"Boleh dikatakan begitu"
"Maksud cianpwe ucapan dari boanpwe ini tidak benar semuanya?"
"Nak. untuk saat ini lebih baik engkau tak usah mengetahui tentang persoalan ini, toh akhirnya
engkau akan menjadi paham dengan sendirinya"
Han siong Kie terbungkam untuk beberapa saat lamanya, tiba2 ia jadi teringat kembali dengan
ibunya, siang go cantik ong Cui ing, ia telah disergap oleh ibunya agar Tengkorak maut gadungan
berhasil melarikan diri, kalau ditinjau dari situ dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Tengkorak maut
gadungan adalah orangnya Thian che kau.
sekalipun begitu, kecurigaan yang mencekam dalam benaknya terasa semakin banyak, maka
kembali ujarnya:
"Aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan sangat tinggi dan luar biasa, masa
manusia selihay inipun rela menjalankan perintah dari orang lain??"
"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, dia memang lihay tapi
diatasnya toh masih ada manusia yang jauh lebih lihay??"
"Aku rasa tenaga dalam yang dimiliki Thian che kaucu tidak lebih tinggi beberapa kali lipat dari
pada kepandaian silat Tengkorak maut gadungan"
"Thian che kaucu yang pernah kau temui itu tidak lebih hanya Thian che kaucu gadungan yang
sengaja menyelimuti pandangan orang lain, kaucu yang asli sama sekali tak berada dalam
perkumpulan"
"oooh.. Tapi apa sebabnya orang ini harus menyaru sebagai tengkorak maut gadungan??"
"Kan sudah kukatakan tadi, ia mendapat perintah dari orang lain"
"Mendapat perintah siapa ? Perintah dari Thian che kaucu ?"
"Nak.. pertanyaanmu sudah terlalu banyak"
"cianpwee menganggap bahwa aku tak pantas mengajukan pertanyaan lagi??"
"Tentang soal ini ada beberapa soal diantaranya dewasa ini tak mungkin bisa kamu peroleh
jawabannya "
"Kenapa??"
"Persoalan ini termasuk pula persoalan yang tak bisa kujawab, harap engkau bisa maklum"
Tak kuasa lagi Han Siong Kie menarik napas dingin, tapi dia pantang menyerah dengan begitu
saja, kembali tanyanya:
"Kalau kutinjau dari dandanan orang yang menyaru sebagai Tengkorak maut ini bukan saja
dandanannya sama bahkan ilmu silatnya juga sama bila dibandingkan dengan yang asli maka dia
cuma kalah dalam soal kesempurnaan, bila dugaanku tak keliru semestinya antara yang asli dan
yang paisu tentu mempunyai hubungan yang sangat erat."
"Nak. aku rasa pembicaraan kita sudab cukup sampai disini dahulu, cepatlah kubur jenasah itu,
makin dalam makin baik sehingga jejaknya tidak ketahuan siapapun "
Dengan perasaan apa boleh buat Han siong Kie memandang kearah mana berasal suara dari
orang yang kehilangan sukma, kemudian mengangguk.
Diapun berjongkok dan mulai menegeledah saku Tengkorak maut gadungan, tapi hanya sesaat
kemudian paras mukanya telah berubah hebat, ia berseru tertahan:
"Nak, apa yang sedang kau cari?" terdengar orang ada maksud bertanya:
"Aku sedang mencari lencana ok kui Cu-pay dari perguruanku "
"Percuma, tak usah kau cari lagi sebab lencana itu sudah tidak ada dalam sakunya lagi"
"Sudah tidak berada dalam sakunya lagi??"
"Benar, benda itu sudah dia serahkan kepada orang lain "
"Maksudmu Thian che kaucu??"
orang yang kehilangan sukma tidak menanggapi pertanyaan itu, tapi kembali berseru:
"Cepatlah turun tangan dan kuburlah mayat itu Jangan sampai meninggalkan jejak."
"Tapi lencana itu merupakan barang mustika yang menyangkut mati hidup perguruanku, bila
cianpwee mengetahui jejaknya, tolong beritahulah kepadaku"
"Tentu saja akan kuberitahukan kepadamu tapi bukan sekarang."
Dengan sedih dan murung Han Siong Kie menghela papas panjang, dalam hati ia merasa
penasaran sekali hingga rasa mendongkolnya sukar dikendalikan, tapi ia tak berani
mengumbarnya . .
Sesudah termenung sejenak, akhirnya dia memghimpun hawa murninya kedalam telapak
tangan kanannya, kemudian dengan sekuat tenaga dibabatkan keatas tanah.
"Blaaang.." pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, sebuah liang sedalam beberapa
kakipun segera terbentuk.
Baru saja liang itu terbentuk, suara dari orang yang kehilangan sukma kembali berkumandang
datang .
"Lepaskan jubah dan kain kerudungnya, hancurkan raut wajah orang itu.."
Han siong Kie agak tertegun, tapi tugas itu segera dilaksanakan tanpa membantah.
Ketika sianak muda itu sudah menyelesaikan tugasnya, suara dari orang yang kehilangan
sukma berkumandang lagi:
"Sekarang hancurkan lambang tengkorak yang ada disakunya itu, kemudian kuburlah bersama
jubahnya diliang yang lain pendam jenasahnya kedalam liang itu, sesudah di uruk dengan tanah,
gusakan ranting pohon untuk menghilangkan jejak yang ada di permukaan tanah."
Han siong Kie sama sekali tidak tahu permainan setan apakab yang sedang dilakukan Orang
yang kehilangan sukma, dlapun tahu kalau banyak bertanya tak ada gunanya maka tanpa
mengucapkan sepatah katapun semua pekerjaan itu dilaksanakan tanpa membantah.
Dalam hati kecilnya dia hanya berpikir terus, darimana asalnya orang yang bernama orang yang
kehilangan sukma ini, ia juga tak tahu mengapa mereka berbuat begitu misterius, mengapa
berulang kali mereka memberi bantuan kepadanya. Ketika semua pekerjaan telah selesai, maka
pemuda itu bertanya lagi:
" Cianpwe, apabila aku ingin tahu darimakah cianpwe mendapatkan benda yang paling
berkuasa dari perkumpulan Thian che kau ini.."
"Ada apa?" tukas orang yang kehilangan sukma.
"Apakah cianpwe tidak bersedia untuk memberikan jawabannya?"
"Tepat sekali tebakanmu itu, untuk sementara satu pertanyaan itu tak bisa kujawab, anggaplah
pertanyaan tersebut belum tiba saatnya bagiku untuk memberitahukan kepadamu. 0oh iya, nak.
bukankah aku suruh engkau berkunjung ke benteng maut? Mengapa engkau tidak pergi ke sana?"
Mendengar pertanyaan itu, kontan saja Han siong Kie merasakan darah panas dalam dadanya
bergelora, api dendam dan benci berkecamuk dalam benaknya membuat hawa napsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya
Tanpa sadar ia teringat kembali akan diri Tonghong-Hui, setelah masuk kedalam benteng maut,
gadis itu tak pernah muncul kembali, menurut perjanjian hal ini menandakan bahwa ayahnya
adalah pembUnuh yang telah membantai keluarganya dimasa silam. Dan tentu saja dia harus
membalas dendam atas terjadinya peristiwa ngeri itu.
Pelbagai ingatan kembali berkecamuk dalam benaknya, dengan sedih bercampur pilu dia
menyahut:
"Cianpwe, aku pasti akan berkunjung kesitu, boanpwe percaya masa bagiku untuk berkunjung
kebenteng maut sebentar lagi pasti akan tiba"
"Kesempatan ? Apa maksudmu?"
"Terus terang kukatakan cianpwe, sebelum berkunjung kesitu boanpwe hendak mempelajari
dahulu sejenis ilmu silat yang maha sakti.."
"Maksudmu, bila ilmu silat yang kau latih itu berhasil kau kuasahi maka engkau akan
berkunjung ke benteng maut untuk melakukan pembalasan dendam..?"
"begitulah maksud boanpwe"
"Nak, dikala aku tak dapat memberitahukan segala sesuatunya kepadamu, aku tak mampu
mencegah engkau berbuat sesuka hatimu, tapi aku ada satu permintaan dan aku harap engkau
tidak sampai membuatku jadi kecewa."
"Ucapan cianpwe terlalu serius, apa yang hendak disampaikan? Katakanlah terus terang" "
"Apabila engkau berkunjung lagi ke benteng maut dan sebelum melakukan pembalasan
dendam, aku minta sampailah dahulu asal usulmu dan ceritakan pula kisah terjadinya
pembantaian berdarah itu dan dimanakah peristiwa tersebut telah terjadi"
"sekalipun cianpwe tidak berpesan begitu boanpwe akan melakukan juga kesemuanya itu"
"Apakah engkau menyanggupi permintaanku untuk melakukannya walaupun berada dalam
keadaan apapun?"
"Boanpwe bersedia"
Meskipun dimulut Han siong Kie lelah menyanggupi, namun hatinya merasa tercengang dan
keheranan sebelum membalas dendam tentu saja dia akan menceritakan dulu sebab musabab
terjadinya peristiwa berdarah itu, tapi mengapa orang yang kehilangan sukma berpesan secara
serius kepadanya? Apa maksud dan tujuannya?
sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi dengan nada
yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Nak. bukankah engkau merasa curiga dan tak habis mengerti? Bukannya aku sengaja berbuat
sok misterius pada hakekatnya terlalu banyak masalah yang tak boleh diungkapkan terlalu cepat,
sebab kalau tidak maka akan mengakibatkan terjadinya peristiwa yang lebih fatal, aku minta
engkau bersabar diri dan menunggu sampai tanggal mainnya?"
"Aku mengerti" sahut Han siong Kie.
-00d0w00-
BAB 55
SESUDAH berhenti sebentar orang yang kehilangan sukma kembali berkata:
"Demi engkau mau tak mau aku harus musnahkan Tengkorak maut gadungan dari muka bumi,
tapi tahukah engkau akibat dari kematiannya itu maka akan timbul pelbagai kejadian yang sukar
diramalkan mulai sekarang. Tahukah engkau didalam perkumpulan Thian che kau masih terdapat
belasan orang jago yang memiliki ilmu silat setaraf dengan kepandaian Tengkorak maut
gadungan."
Diam2 Han siong Kie menjulurkan lidahnya dengan setengah percaya setengah tidak ia berseru:
"sudah beberapa kali boanpwee menyatroni, markas besar perkumpulan Thian che kau akan
tetapi selama ini?"
"belum pernah...".
"Benar, desa ini dalam markas besar perkumpulan Thian che kau memang tidak terdapat jago2
lihay yang terlalu istimewa, tapi tahukah engkau bahwa jago2nya sama sekali tidak berada disitu?
secara beruntun mereka akan munculkan diri didalam dunia persilatan, mungkin juga dunia
persilatan sudah menghadapi saat2 kiamat, tak lama lagi perkumpulan Thian che kau akan
menumpas musuh2nya dan merajai kolong langit..."
"Nak. tugasmu sekarang terlampau berat, aku harap engkau bisa baik2 menjaga diri. Ingatlah
Engkau harus bersabar menghadapi segala persoalan apapun"
Betapapun kukuhnya Han siong Kie, ia merasa terharu juga setelah mendengar perkataan itu,
sepasang matanya jadi merah dan hampir saja air matanya jatuh bercucuran, dengan
bersungguh2 katanya:
"Nasehat dari cianpwe akan boanpwe ingat selalu didalam hati"
"Nak, sekarang engkau boleh berlalu dari sini"
sebenarnya dalam hati kccilnya Han siong Kie masih ada banyak persoalan yang hendak
ditanyakan, akan tetapi pada saat itu dia merasa tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
maka sesudah termenung sebentar akhirnya ia berkata: "Kalau memang begitu, boanpwe mohon
diri lebih dahulu"
"Engkau tak usah melalui jalan raya lagi, diantara lima orang tianglo yang setia kepadamu ada
dua sudah tewas dan tiga orang terluka parah, kini yang tewas sudah dikubur sedang yang luka
sudah pergi, lewatilah hutan sebelah depan sana, lebih cepat berlalu dari sini lebih baik"
Han siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, akan tetapi terhadap orang
yang kehilangan sukma dan putrinya, ia menaruh rasa percaya seratus persen, maka tanpa
membantah lagi sianak muda itu segera berputar kesamping kanan dan siap berlalu dari situ..
"Tunggu sebentar" tiba2 orang yang kehilangan sukma berseru kembali.
" Cianpwe, apakah masih ada persoalan lain yang hendak cianpwe sampaikan kepadaku" tanya
sianak muda itu sambil menghentikan langkah kakinya dan berpaling.
"Hampir saja aku telah melupakan suatu persoalan yang amat penting sekali."
"Ucapkanlah cianpwee, boanpwee akan mendengarkan dengan seksama"
"Apakah engkau sudah mengetahui asal usul Yu sau Kun, ketua muda perkumpulan Thian che
kau yang sebetulnya??"
satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, dia segera bertanya: "Masa dia
benar2 adalah keturunan dari susiokku Telapak naga beracun Thio Lin??"
"Tepat sekali tebakanmu itu, dia memang keturunan dari paman gurumu yang sudah tiada"
"Taa... tapi hal ini mana mungkin bisa terjadi??"
"Kenapa tak mungkin terjadi??"
"Bukankah dia sudah mewakili diriku mati didalam perkampungan keluarga Han?"
"Apakah engkau sudah menemukan jenasahnya??"
"Tentang soal ini.." Untuk sesaat Han siong Kie jadi gelagapan dengan sendirinya, "mendiang
susiokku, Telapak naga beracun Thio Lin yang memberitahukan persoalan ini kepadaku"
"Dia toh cuma tahu kejadian itu sebelum berlangsungnya peristiwa itu, ketika peristiwa
berdarah berlangsung, ia sama sekali tidak hadir dalam gelanggang"
Mendengar perkataan itu, Han siong Kie segera merasakan tubuhnya gemetar keras bagaikan
kena aliran listrik bertegangan tinggi, ia sama sekali tak menyangka kalau asal usulnya serta
peristiwa berdarah yang menimpa keluarganya dapat diketahui oleh orang yang kehilangan sukma
sejelas itu, lalu.. siapa kah sebenarnya orang itu"
Kalau memang orang yang kehilangan sukma telah mengetahui semua kejadian itu bagaikan
memandang jari tangan sendiri, kenapa ia tidak secara langsung membeberkan rahasia ini
kepadanya, tapi malahan suruh dia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya,
apakah maksud yang di kandung orang itu dibalik kesemuanya ini ?
Atau mungkin pemilik benteng maut bukan pembunuh keluarganya dan dibalik semua peristiwa
ini masih ada persoalan lain? "
Kalau memang Tengkorak maut bukan pembunuh keluarganya, mengapa Tonghong Hui tidak
muncul kembali dari bentengnya sesudah masuk kedalam benteng maut? Bukankah mereka telah
berjanji, apa bila majikan benteng maut adalah pembunuhnya maka gadis itu tak akan muncul
kembali..
Makin berpikir ia merasa makin bingung dan makin dibayangkan pikirannya semakin ruwet..
"Nak tak ada gunanya engkau banyak berpikir" terdengar orang yang kehilangan sukma
berkata lagi, "suatu saat engkau pasti akan mengetahui dengan sendirinya apa yang sudah terjadi,
aku hanya berharap agar engkau mengingat selalu bahwasanya Yu Sau kun sebenarnya adalah
Thio Sau kun, dia adalah sutemu, tapi engkaupun musti ingat bahwa rahasia ini hanya boleh
engkau ketahui didalam hati, jangan sekali2 engkau bocorkan dihadapannya, sebab kalau tidak
maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2. Nah, sekarang pergilah"
Dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti, sekali lagi Han siong Kie memandang
sekejap lencana Thian che leng yang tertempel diatas dahan pohon, akhirnya dia menjejakkan
kakinya dan berlalu dari hutan itu.
Lencana ok kui cu pay yang merupakan simbol kekuasaan rtari perguruannya kini telah
dirampas oleh Tengkorak maut gadungan dan oleh Tengkorak maut benda itu sudah diserahkan
pula ketangan orang lain, yang dimaksudkan orang lain pastilah orang2 dari Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, dalam perkumpulan Thian che kau
terdapat belasan orang jago lihay yang setaraf dengan ilmu silat Tengkorak maut gadungan,
bukankah itu berarti bahwa sukar baginya untuk merampas kembali lencana tersebut??"
Berpikir sampai disitu, ia jadi murung dan sedih.
Apa bila lencana mustika perguruannya tidak berhasil dirampas kembali dari tangan musuh,
bukankah itu berarti bahwa ia telah menjadi seorang manusia yang berdosa??"
Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam lamanya, sampailah sianak muda
itu diluar hutan- diapun meneruskan perjalananya melalui jalan raya yang terbentang lebar.
Tujuannya tetap tidak berubah, dia akan mengunjungi lembah berkabut dimana ia dan
Tonghong Hui pernah lolos dari bahaya maut, dia akan menuju ketempat yang terpencil ini untuk
mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam sarung tangan Hud jiu Poo pit, apa bila ilmu sakti itu
berhasil dipelajari maka dia akan mengunjungi benteng maut dan melakukan pembalasan
dendam.
sepanjang perjalanan pemuda ini tiada hentinya memikirkan rahasia yang berhubungan dengan
Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, perkumpulan Thian che kau masih
memiliki belasan jago yang benar2 tangguh, berita ini boleh dibilang sangat mengejutkan siapapun
juga.
Tatkala ia menyatroni wilayah Lian huan tau untuk menolong Go siau bi, beberapa kali ia telah
bertarung melawan Thian che kau, ketika itu ilmu silatnya masih belum mempu melawan
musuhnya, dan ternyata sekarang terbukti bahwa musuh tangguhnya itu hanya seseorang yang
bertugas untuk menyaru sebagai ketua itu, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat
yang dimiliki Thian che kaucu benar2 sukar diukur dengan kata2.
sementara perjalanan masih dilanjutkan, tiba2 dari balik semak belukar ia temukan ada sesosok
tubuh manusia menggeletak disitu, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, ia
berhenti dan menghampiri semak belukar itu.
Ketika diperiksa dengan seksama diketahuilah bahwa orang itu adalah seorang pendekar
pedang yang masih muda dan tampan sekali wajahnya.
Akan tetapi sesudah diperiksa dengan lebih seksama lagi, bergidiklah hatinya Han siong Kie,
ternyata pemuda tampan itu sudah berubah menjadi sesosok mayat.
Jika ditinjau sepintas lalu, orang tak akan menyangka kalau pemuda tampan itu sudah menjadi
mayat, sebab wajahnya begitu segar dan tenang, seakan-akan seseorang yang sedang tertidur
nyenyak.
Han siong Kie merasa keheranan setengah mati, apa sebabnya pendekar muda itu bisa mati
dipinggir jalan tanpa ditemukan sesuatu luka ditubuhnya? Mungkinkah kena serangan jantung?
Disekitar semak belukar itu tidak ditemukan tanda2 bekas pertarungan, dilihat dari wajahnya
jelas pemuda itu bukan mati lantaran sakit ataupUn keracUnan, kejadian ini benar2 mengherankan
sekali..
Maka Han siong Kie menghampiri mayat itu, dengan perasaan ingin tahu diperiksanya sekujur
badan mayat itu, akhirnya sesudah diteliti dengan seksama, ia temukan diatas dada mayat itu
terteralah lima buah bekas jari tangan yang sangat lembut, bentuknya seperti bunga sakura, bila
tidak dia mati dengan seksama, tanda itu pasti tak akan ditemukan.
Han song Kie lebih2 dibuat terperanjat lagi, ditinjau dari bekas kelima buah titik jari itu jelaslah
sudah bahwa disitulah letak sebab musabab kematian dari pemuda itu, sayang pengalaman dan
pengetahuannya terlalu cetek. sehingga ia tak dapat menebak siapakah yang telah melakukan
pembunuhan tersebut.
sesudah ter-mangu2 beberapa saat, akhirnya pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya
kedepan.
Entah berapa li sudah lewat, akhirnya ia temukan dua sosok mayat, sebab kematian mereka
tidak berbeda jauh dengan tanda yang ditemukan pada mayat pertama, dan lagi kedua orang
inipun terhitung pemuda2 tampan yang berusia dua puluh tahunan.
sekarang Han siong Kie baru merasakan betapa seriusnya persoalan itu, pikirnya di hati:
"siapa gerangan yang telah turun tangan sekeji ini?"
Yang aneh ternyata korban2nya adalah pemuda yang masih berusia belasan serta berwajah
tampan.
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya sampailah si anak muda itu didalam sebuah kota kecil.
setelah mencari sebuah rumah makan yang bersih, pemuda itu mencari tempat dan memesan
makanan, dari pembicaraan para tamu yang ada dalam ruangan itu, ia dengar semua orang
sedang dihebohkan oleh pembunuhan dengan tanda bunga bwe.
Han siong Kie tidak memberi komentar apa2, ia cuma mendengarkan sambil bersantap. sayang
tiada sesuatu tanda yang berhasil ditemukan olehnya dari pembicaraan itu.
sementara suasana masih gaduh dan ramai oleh pembicaraan para tamu, mendadak suasana
jadi hening dan sepi, begitu sepinya sehingga terasa aneh sekali. Han song Kie tercengang, dia
segera menengadah..
Kiranya seorang gadis yang amat cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan sedang
berjalan masuk kedalam ruangan itu, dipandang dari bayangan punggungnya, anak muda itu
segera kenali dirinya sebagai cucu perempuan dari Pat lo sianseng, Go siau bi adanya.
Kemunculan Go siau bi yang secara tiba2 ini sangat mencengangkan hati si anak muda itu, dia
hendak menyapa, tapi sebelum sepatah kata sempat meluncur keluar dari mulutnya, ia lihat ada
dua orang pemuda tampan ikut duduk disampingnya, maka niat untuk berbicarapun segera
dibatalkan.
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, ia benar2 dibikin keheranan oleh
kemunculan gadis itu.
sementara dia masih melamun, gelak tertawa yang amat merdu dan penuh dengan daya tarik
berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul gelak tertawa yang lain menggema pula dari
mulut kedua orang pemuda itu.
Han siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, ia makin keheranan lagi, ia tak menyangka Go
siau bi bisa berkumpul dengan pemuda bergajul macam begitu.
Dua orang laki2 seorang wanita muda itu bergurau sambil tertawa tergelak. sikap mereka
bukan saja begitu berani bahkan sama sekali tak ambil pusing kalau disitu masih ada tamu lain,
ternyata tak seorang tamu pun yang berani buka suara untuk menegur.
Han siong Kie memang membenci kaum wanita, tapi Go siau bi pernah melepaskan budi
kebaikan kepadanya. maka ia tak mau mencampuri urusan gadis itu sebelum duduknya persoalan
diketahui dengan jelas.
Mendadak...satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dia teringat kembali akan ketiga sosok
mayat pemuda yang ditemuinya ditepi jalan siang tadi, tak kuasa lagi sekujur badan nya
merinding, jangan-jangan
"siangkong, tambah arak?" terdengar pelayan menegur dengan suara yang lirih. Han siang Kie
melirik sekejap kearah pelayan itu lalu mengangguk.
"Tambah dua canting"
Pelayan segara menuang dua canting arak kedalam teko yang ada dimeja, menggunakan
kesempatan itu cepat Han siong Kie bertanya: "siapakah dua orang pemuda yang berada disana
itu?"
Pelayan itu kelihatan terperanjat, sambil menjulurkan lidahnya ia menyahut dengan lirih:
"Mereka dinamakan Kim kiam siong ing (sepasang pendekar pedang emas) murid partai Go bi,
siangkong Lebih baik jangan banyak bertanya, sebab kedua orang itu adalah sau cengcu dari
perkampungan Go hau san eng, terlalu besar asal usulnya". Berbicara sampai disitu buru2 ia
berlalu dari sana.
Han siong Kie tidak berbicara apa2 lagi, ia tundukkan kepalanya sambil minum arak.
Kurang lebih setengah jam kemudian, Go siau bi dan Kim kiam siang ing baru berlalu dari sana.
Cepat Han siong Kie membayar rekening nya dan ikut keluar dari rumah makan itu, ternyata
bayangan tubuh ketiga orang itu sudah lenyap tak berbekas.
Han siong Kie tertegun, tapi sesudah berpikir sebentar buru2 ia membeli rangsum kering,
kemudian berlari keluar dari kota tersebut.
satu Li baru lewat dari tepi jalan ia temukan dua sosok mayat menggeletak disitu ketika mayat
tersebut diperiksa dengan seksama, siapa lagi mereka kalau bukan Kim kiam siang ing yang belum
lama berselang baru saja tinggalkan rumah makan.
Tubuh mereka tidak terluka ataupun mengucurkan darah, cuma diatas dada masing2 orang
terteralah sebuah cap jari tangan berbentuk bunga sakura.
Betapa terperanjatnya hati Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sekarang ia dapat
membuktikan bahwa pembunuhan2 keji itu kiranya dilakukan oleh Go siau bi, akan tetapi apa
sebabnya ia bantai pemuda2 tampan itu?
Dengan perasaan tak habis mengerti pemuda itu gelengkan kepala berulang kali, akhirnya ia
melanjutkan perjalanannya kembali kedepan.
senja itu, ketika sang surya baru condong kesebelah barat, sampailah pemuda itu disuatu
tempat kurang lebih sepuluh li dari lembab In.wu.kok..
sementara si anak muda kita masih melanjutkan perjalanannya, mendadak dari balik
pepohonan tak jauh darijalan raya terdengar seorang gadis sedang tertawa cekikikan.
suara tertawa itu amat menusuk pendengaran, hal ini segera memancing perhatian sianak
muda itu, tanpa berpikir panjang Han siong Kie segera meluncur kearah depan.
Melalui celah2 pepohonan yang lebat, ia saksikan ada sepasang muda mudi sedang duduk
saling berhadapan, yang laki2 berwajah amat tampan dan berusia tujuh delapan belas tahunan,
sedang yang perempuan tak Iain adalah Go siau Bi.
Pada waktu itu dengan muka yang genit dan kerlingan mata yang menggiurkan Go siau bi
sedang main mata dengan sianak muda itu kemudian terdengar ia bertanya dengan manja:
"cantikkah wajahku ini?"
"Cantik,. cantik sekali, kecantikan wajahmu ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan"
sahut sipemuda itn dengan wajah terkesima.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Aku tak pernah berbohong, setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata2 yang sejujurnya
dan aku rasa nona pasti mengetahui sendiri bukan akan hal itu"
"ooh benarkah begitu? Ehmm. lalu apakah engkau mencintai diriku..??"
"Tentang soal ini.... tentang soal ini...." pemuda itu tampak gelagapan jadinya.
"Eeh, jangan soal ini soal itu, kalau tidak mencintai aku mengapa engkau ikuti diriku sampai
disini??"
"Apa bila nona bersedia menerima perhatianku ini, cay he... cayhe merasa sangat beruntung
sekali hidupku ini"
Go siau bi mengerdipkan sepasang matanya yang jeli kemudian sambil meliuk-liukkan
pinggulnya ia berkata genit:
"Engkau anggap wajahku cantik maka jatuh cinta dalam pandangan yang pertama. sebaliknya
ada orang yang sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap diriku, bahkan tertarikpun
tidak, coba bayangkan saja manusia macam apakah dia itu?"
"Kalau benar2 ada manusia semacam itu, sepantasnya kalau orang itu dikatakan sebagai
seorang laki2 yang punya mata tak berbiji"
"Hiiihh hiiihh hiihhh memang hebat sekali pandanganmu itu" seru Go siau bi sambil tertawa
eekikikan.
Mendadak telapak tangannya maju ke muka, kelima jari tangannya dengan lembut segera
diayunkan kearah dada pemuda itu.
Terbelalak sepasang mata anak muda itu, ia menjerit tertahan: "Nona .."
Kato nona belum habis diucapkan, tubuhnya sudah menjadi lemas dan terkapar di tanah tanpa
mengeluarkan sedikit suara pun pemuda itu sudah menemui ajalnya.
Han siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan benar2 naik darah, untuk mencegah
perbuatannya jelas tak mungkin, seluruh tububnya gemetar keras menahan emosi.
"Sungguh kejam perempuan ini, hatinya lebih kejam dari pada seekor ular beracun.." pikirnya
dihati.
Tanpa sadar pemuda itu terbayang kembali akan ibunya, siang go cantik ong cui ing yang
kejam dan tak kenal ampun.
Mereka sama2 cantiknya, sama2 kejinya, tanpa sadar rasa benci dan muak timbul dalam
benaknya, ia siap melompat keluar dari tempat persembunyiannya..
Paras muka Go siau hi dingin menyayatkan, sebelum sianak muda itu sempat munculkan diri, ia
sudah berpaling dan mendengus dingin.
"Manusia berwajah dingin, sekarang engkau boleh segera munculkan dirimu.."
Betapa terperanjatnya Han siong Kie menghadapi kejadian tersebut, mimpipun ia tak
menyangka kalau tempat persembunyiannya telah diketahui lawan, dari sini dapatlah diketahui
bahwa selama beberapa waktu belakangan ini, ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan,yang
amat pesat.
Dengan muka hijau membesi menahan amarah yang meluap. dia lompat keluar dari tempat
persembunyiannya, kemudian menegur dengan kasar:
"Nona Go, mengapa engkau lakukan pembunuhan sekeji ini?"
Rasa sedih melintas diatas wajah Go siau Bi, tapi sesaat kemudian dengan wajah benci dan
mendendam ia berseru:
"Aku rasa persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik tak usah
kau campurinya"
"Nona, kunasehati dirimu lebih baik jangan bertindak kelewat kejam, karena perbuatan
semacam itu sama sekali tiada manfaatnya bagimu"
"Haaahh..haaahh..haaahh.. mau apa kau hey manusia yang bernama Han siong Kie? Engkau
merasa tidak terima dengan perbuatan yang kulakukan ini?"
"Benar, aku memang mempunyai maksud begitu"
"Lalu apa yang hendak kau lakukan atas diriku ini?"
"Hmm Akan kubunuh engkau untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan" jawab
Han siong Kie dengan hawa napsu membunuh yang amat tebal.
"Huuh, engkau hendak membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil mencibirkan bibirnya dengan
sinis.
"Benar, akan kubunuh dirimu"
" Kalau memang begitu, kenapa tidak segera turun tangan "
"Bila kita bertemu sekali lagi dimasa mendatang,jiwamu pasti akan kucabut."
Go siau bi tertawa tergelak, dengan wajah sinis sekali dia mengejek: "Kenapa tidak kau lakukan
sekarang juga?"
"Memandang diatas wajahmu dimana engkau pernah melepaskan budi kebaikan kepadaku,
kuampuni jiwamu untuk kali ini "
Go siau bi tak dapat menahan diri lagi, ia menengadah dan tertawa tergelak dengan seramnya,
gelak tertawa itu penuh mengandung perasaan sedih, pedih dan perasaan lain yang sukar
dilukiskan dengan kata2, lama sekali ia baru berhenti.
Paras mukanya berubah jadi dingin menyeramkan, hawa napsu membunuh menyelimuti
seluruh wajahnya, dengan suara keras dia membentak:
"Han siong Kie, nonamu justru sedang mencari engkau, mengertikah engkau..?"
"Mencari aku? Mau apa engkau mencari aku ?"
"Aku hendak membunuh dirimu, kalau bukan begitu mengapa kubiarkan engkau mengikuti aku
dari rumah makan sampai kemari haaaah.. haaah.. haaahhh... ketahuilah. aku sengaja memang
mengatur kesemuanya ini agar engkau bisa terpancing kemari"
sekarang Han siong Kie baru tahu bahwa Go siau bi telah mengetahui jejaknya ketika masih
berada dirumah makan tadi, maka dengan ketus segera tegurnya: "Jadi engkau hendak
membunuh aku??"
"Benar, dan sekarang juga pembunuhan ini akan kulaksanakan"
"Kenapa engkau hendak membunuh aku?"
"Karena aku benci padamu"
"Perbuatanku yang manakah yang telah menimbulkan rasa bencimu terhadap aku?"
"Sudah, pokoknya engkau tak usah banyak bicara lagi, ini hari juga nyawamu akan kucabut"
Han siong Kie menyengir sinis.
"Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu?" ejeknya.
"Engkau tidak percaya? Bagus, mari kita buktikan bersama."
Bersamaan dengaa selesainya perkataan itu, tiba2 telapak tangannya diayun kedepan kelima
jarinya dengan disertai desingan angin tajam langsung menyerang kedepan.
Dengan gerakan Cahaya kilat lintasan bayangan Han siong Kie segera berkelit ke samping,
serunya lantang:
"Mengingat budi kebaikanmu dimasa lampau, aku akan mengalah satu jurus untuk...."
"siapa yang suruh engkau mengalah kepadaku?" teriak Go siau bi dengan penasaran.
Telapak tangannya segera diputar balik keatas, selapis cahaya hijau yang tebalpun dengan
cepat membumbung keangkasa dan meluncur kedepan. Betapa tercekatnya perasaan hati Han
siong Kie, tanpa kuasa lagi dia berseru keras: "Aaaah...ilmu pukulan Thian-tok hoa ciang.
Haruslah diketahui, ilmu pukulan Thian tok cang hoat adalah semacam ilmu pukulan darijaman
dahulu kala yang amat dahsyat, apabila pukulan tersebut menyentuh sesuatu benda, maka daya
tahannya makin besar maka daya pentalnya ikut bertambah kuat, jangankan Han siong Kie
malahan Tengkorak maut gadungan yang memiliki ilmu silat lebih lihaypun dibuat tak berdaya oleh
kehebatan pukulan itu
38
Tentu saja Han Siong Kie juga mengetahui akan lihaynya pukulan tersebut, akan tetapi dia tak
sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan seorang gadis muda, maka dari itu dia segera
menghimpun kekuatan yang dimilikinya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut dengan
keras lawan keras.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan sianak muda itu, sebelum
pukulan mereka saling beradu satu sama lainnya, mendadak Go Siau bi menarik kembali
serangannya dan bergeser mundur dua langkah kesamping.
Tampaknya ilmu silat yang dimiliki gadis itu sudah mencapai taraf pengendalian secara
sempurna, menyaksikan kehebatan lawannya Han Siong Kie makin terkesiap, disamping itu diapun
makin keheranan oleh tindak tanduk lawannya yang aneh. Karenanya sambil menarik pulang
serangannya dia lantas menegur: "Eeeeh...kenapa kau tarik kembali serangan mu??"
"Aku kuatir engkau tak sanggnp untuk menerima pukulanku ini."
"Bukankah engkau mengatakan hendak membunuh diriku?" tanya anak muda itu dengan cepat.
Pertanyaan tersebut seketika membuat paras muka Go siau Bi kembali berubah hebat, ia
mendengus dingin, tanpa berbicara lagi ilmu pukulan Thian tok clang hoat sekali lagi dilontarkan
kedepan.
Han Siong Kte menggertak giginya menahan diri, sambil mengerahkan sisa kekuatan yang
dimiliki ia tangkis datangnya serangan tersebut.
"Blaaang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga menggelegar diseluruh angkasa,
diiringi dengusan berat secara beruntun Han siong Kie mundur delapan depa ke belakang, darah
segar sempat meleleh keluar menodai ujung bibirnya.
Tengkorak maut gadungan yang lihaypun jatuh kecundang ditangan gadis ini, apalagi Han
siong Kie yang lebih cetek ilmu silatnya tentu saja dia bukan tandingan sang gadis manis itu.
Put lo sianseng memang lihay dan hebat, terbukti dalam waktu singkat ia berhasil menciptakan
seorang tokoh sakti yang begini hebatnya, bila diceritakan orang lain belum tentu mau
mempercayainya.
Berhasil dengan memukul mundur Han siong Kie, dengan suara gemas dan penuh kebencian
Go siau bi berkata:
"Manusia bermuka dingin, bukan saja wajahmu dingin, darahmu juga sudah membeku, kau
manusia yang tak punya perasaan. Nah, rasain lagi beberapa buah pukulanku" sambil membentak
nyaring, untuk kesekian kalinya dia lancarkan pukulan maut ke depan.
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan peringatan dari orang yang kehilangan sukma, dalam
hati pemuda itu lantas berpekik, "Aku tak boleh mati"
Dengan suatu gerakan yang manis dan lincah ia menghindarkan diri dari serangan maut lawan,
berhasil dengan kelitannya. sebuah jari tangan segera direntangkan lebar dan serentak menyentil
kemuka.
sepasang telapak tangan Go siau Bi bergetar kian hebat, tenaga pukulanpun semakin menebal
membuat hawa hijau hampir menyelimuti seluruh pemukaan tanah.
"criiit. criiing.." ditengah desingan angin tajam ilmu sentilan Tong kim ci yang ampuh dan tak
terkalahkan itu ternyata dapat dihajar sampai buyar oleh kekuatan lawan.
Rasa kaget yang dialami Han siong Kie sukar dilukiskan lagi dengan kata2, mimpipun ia tidak
menyangka kalau ilmu jari Tong kim ci yang paling diandalkan ternyata sama sekali tak mempan
untuk digunakan menghadapi pukulan Thian tok ciang hoat.
Hampir saja tak percaya dengan apa yang terbentang didepan mata, sebab peristiwa ini
memang tak pernah diduga olehnya.
"sambutlah sebuah pukulanku lagi. " bentak dara itu lagi dengan lantang.
Ditengah bentakan nyaring, hawa hijau yang tebal dan menyilaukan mata dengan dahsyatnya
menggulung tubuh lawan.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Han siong Kie, dengan ilmu cahaya kilat
lintasan bayangan tubuhnya mendesak maju kedepan, lalu dengan jurus Mo tiong ko ciat ( raja
iblis menyembah loteng istana) ia hajar Go siau bi dengan mengerahkan segenap tenaga dalam
yang dimilikinya.
Go siau bi tertawa dingin, sekalipun hebat dan luar biasa seranganpemuda itu namun bagi
pandangannya serangan tersebut tak ada artinya, ia berkelebat lewat dari serangan itu dengan
gerakan bagaikan sukma gentayangan, lalu sambil melepaskan lima buah pukulan berantai,
teriaknya keras:
"Manusia bermuka dingin, hari ini kau harus mampus"
Memang dahsyat dan ganas kelima buah serangan itu, angin pukulan segera men-deru2
membikin hati orang jadi keder dan ngeri rasanya..
Terdesak oleh lima buah pukulan berantai yang maha dahsyat itu, Han siong Kie terdesak hebat
dan harus mundur berulang kali ke belakang..
Go siau bi tak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk tukar napas, selesai dengan lima
buah pukulan yang pertama, ia susulkan pula dengan lima buah pukulan berikutnya.
Menghadapi desakan demi desakan yang tiada habisnya, lama kelamaan Han siong Kie jadi
penasaran juga, kali ini dia tidak menghindar ataupun berkelit, dengan sistim adu nyawa dia
sambut kelima buah pukulan itu dengan gerakan keras lawan keras.
Tergetar perasaan Go siau bi setelah menyaksikan kenekadan sianak muda itu, tapi apa mau
dikata pukulan sudah terlanjur dilancarkan , maka sambil gertak gigi ia lepaskan pukulan mautnya.
"Blang Blang " dua kali dengusan dingin menggema memecahkan kesunyian, menyusul dua
sosok bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya.
Kedua belah pihak sama2 terlempar kebelakang dengan sempoyongan, keadaan Go siau bi
masih mendingan, sekalipun darah meleleh di ujung bibirnya dan mukanya pucat pias tapi
keadaannya masib agak segar.
Berbeda sekali dengan Han siong Kie, ia harus muntah darah berulang kali, jelas isi perutnya
sudah terluka parah.
Dengan wajah menyeringai seram dan mata saling melotot penuh kegusaran, kedua belah
pihak berdiri berhadapan.
Untuk sesaat suasana dalam gelanggang jadi sepi dan hening, sunyi bukan berarti hawa nafsu
membunuh telah lenyap begitu saja, malahan setiap saat darah segar mungkin akan membasahi
lagi seluruh permukaan tanah.
Diantara lima buah pukulan yang dilancarkan Han siong Kie, ada tiga buah yang bersarang
ditubuh lawan, sebaliknya ia sendiri menerima empat buah pukulan dari musuhnya.
sebagaimana diketahui, pukulan yang dilancarkan Go siau bi mengandung hawa sakti Thian tok
sinkang yang maha dahsyat, tak heran kalau sianak muda itu menderita luka yang jauh lebih
parah daripada anak dara itu.
Mereka pernah saling tolong menolong, pernah hidup sengsara bersama bahkan Go siau bi
pernah menggunakan tubuhnya sebegai tameng untuk menyelamatkan jiwa Han siong Kie dari
ancaman Tengkorak maut gadungan, karena peristiwa itu hampir saja jiwanya melayang.
Ia telah jatuh cinta kepadanya, telah bersumpah didepan pusara ayahnya, kecuali dengan
pemuda ini dia tak akan kawin dengan siapapun juga"
Tapi kenyataannya, yang satu ada hasrat yang lain tak berminat, tumpuan harapan yang
terlintas dalam benaknya selama ini hancur dan musnah dengan begitu saja.
Kini dengan taruhan nyawa mereka saling bertempur, berusaha saling merobohkan musuhnya
dan bila perlu sekalian membinasakannya... Inikah takdir? Inikah yang dinamakan nasib.?
Cinta dapat membuat seseorang jadi sukses tapi dapat pula menghancurkan karier seseorang,
membuat watak seseorang berubah seratus delapan puluh derajat.
Dan kini Go Siau bi telah berubah ....bukan saja perubahan itu tak dipercaya oleh Han siong
Kie, bahkan dara itu sendiri juga tak kenali dirinya sendiri lagi.
Hawa napsu membunuh yang tebal masih menyelimuti seluruh wajah Go siau bi, selangkah ia
maju kedepan mendekati Han siong Kie yang berada dihadapannya.
suasana tercekam oleh ketegangan dan kengerian, sorot mata serta perhatian semua orang
sama-sama ditujukan kearah Go siau bi yang sedang maju kemuka.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Han siong Kte, ia tahu bila dirinya cuma berpeluk
tangan belaka, sehingga dara itu keburu menyerang dulu dengan Thian tok ciang hoatnya yang
lihay, niscaya jiwanya akan terancam bahaya. satu ingatan lantas melintas dalam benaknya:
"Daripada aku menanti datangnya elmaut, kenapa tidak kuserang dulu perempuan sinting itu?"
sambil membentak sepasang telapak tangannya diayun kedepan melancarkan babatan maut.
-00d0w00-
BAB 56
PUKULAN itu dilepaskan dalam keadaaa marah bercampur penasaran, bisa dibayangkan betapa
dahsyat dan luar biasanya pukulan tersebut.
Go siau bi melambung keangkasa, setelah melayang sejauh delapan depa, sekali lagi badannya
melejit kedepan kemudian menerobos masuk dari sisi Han siong Kie dan melayang turun lima depa
disamping pemuda itu.
Baik dalam menghindar maupun sewaktu melancarkan serangan, semua gerakan dilancarkan
dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Melihat ancamannya mengenai sasaran yang kosong, Han siong Kie membuyarkan pukulannya
ditengah jalan, badannya miring kesamping lalu berputar kencang, telapak tangan kiri dan ujung
jari tangan kanan sekali lagi melepaskan serangan maut kedepan.
Kabut hawa berwarna hijau seketika menyelimuti seluruh angkasa, pada saat yang bersamaan
Go siau bi melepaskan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat. Dentuman keras mengiringi
benturan dua kekuatan yang saling berlawanan itu.
Dengan sempoyongan Go siau bi mundur beberpa langkah, sedangkan Han siong Kie
mendengus tertahan dan muntah darah segar, badannya terlempar sejauh satu kaki lebih dari
tempat semula,
Go siau bi menerjang lagi kedepan dan berdiri dibelakang Han siong Kie, telapak tangannya
diayun tepat mengarah jalan darah Thian leng hiat diatas kepalanya, asal pukulan itu dilancarkan
niscaya Han siong Kie akan mampus dengan keadaan mengerikan.
"Heeehhh....heeehhh....heeehhh .. manusia she Han, apa yang hendak kau ucapkan lagi
sebagai kata-kata akhirmu" ejek dara itu dengan ketus.
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, sambil menggertak gigi jawabnya: "Tak ada katakata
lagi, mau turun tangan hayolah cepat turun tangan."
"sungguh tak ada pesan terakhir"
"Ada Aku hanya ada sepatah kata saja. yakni siapa yang menanam buah pahit dia akan
menerima pula akibatnya."
"Apa kau bilang? Heeehhh..haaahhh. haaahhh.." dara itu bagaikan orang sinting tertawa
nyaring, suaranya keras dan mengerikan membuat siapapun jadi bergidik.
" orang she Han, terus terang kuberitahukan kepadamu" serunya lagi, "aku telah tahu bahwa
peristiwa macam hari ini cepat atau lambat pasti akan terjadi, tapi kau musti ingat, sebelum ajalku
tiba, semua pria tampan yang ada dikolong langit akan kubunuh semua, tak akan kubiarkan
manusia-manusia ganteng bikin keonaran lagi di kolong langit..haaahhh..haaahhh..haaahhh."
Ditengah gelak tertawa yang kalap menyerupai orang sinting, terselip hawa napsu membunuh
yang benar-benar mengerikan.
Gusar nian Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, ia sadar dengan tenaga dalam yang
dimiliki Go siau bi sekarang, apa yang diucapkan bisa jadi benar-benar dilaksanakan, dan jikalau
apa yang di ancam benar-benar dilaksanakan maka suatu badai pembunuhan yang mengerikan
tak terelakkan lagi.
"Go siau bi" serunya kemudian dengan gemas. "sayang aku tak dapat membinasakan engkau
dengan tanganku sendiri"
"Haaahhh ....haaahhh....haaahhh..dan aku... aku gembira sekali, karena hari ini akan kubunuh
engkau dengan tanganku sendiri."
"Hmm Tak usah banyak bicara lagi. kalau ingin turun tangan hayolah cepat turun tangan"
"Kenapa musti buru-buru mati? Bagaimana dengan adik Hui yang pernah berkorban demi cinta
kasihnya kepadamu? Mungkinkah dia akan datang lagi kemari untuk mendirikan batu nisan
untukmu.."
satu ingatan melintas dalam benak Han siong Kie, sekarang ia tahu bahwa Go Siau bi telah
mempunyai niat untuk membinasakan dirinya. .
"Hehhh...heeehhh..heehhh... engkau tak usah merisaukan tentang dirinya, ia telah berangkat
mendahului diriku" ejeknya sambil tertawa dingin.
"Apa? Dia sudah mati?" seru Go siau bi dengan wajah tertegun.
"Hmm Kenapa? Kau merasa kecewa?" ejek sang pemuda. Air muka Go siau bi beberapa kali
berubah hebat, tiba2 hardiknya keras- keras:
"Han siong Kie, inginkah kau mengetahui sebab musabab sehingga aku berniat membinasakan
dirimu??"
"Aku rasa tak perlu"
"Jadi engkau telah paham?"
"Aku tak ingin memahami persoalan itu, kalau ingin membunuh silahkan turun tangan"
"Jadi engkau sama sekali tidak menyesal??"
"Haaah haaah haaaahh Han siong Kie tak kenal arti menyesal"
Telapak tangan Go siau bi mulai gemetar, rasa cinta dan benci amat mendalam hatinya dia
ingin membunuh pemuda ini lantaran dia gagal mendapatkan cinta kasihnya, maka membenci
pemuda itu, malahan membenci pula setiap pemuda tampan yang sebaya dan setanding dengan
anak muda ini.
Tapi..benarkah dara itu tega untuk membunuh kekasih hatinya ? Air mata mulai bercucuran
membasahi seluruh wajahnya.
Lama ..lama sekali suasana tetap hening, dengan tak sabar Han siong Kie menghardik:
"Hey, kenapa engkau tidak turun tangan??" Tiada jawaban tiada gerakan.
Karena tak sabar pemuda itu akhirnya bangkit dan memandang kemuka, tampaklah selembar
wajah yang murung, sedih dan penuh dengan air mata terbentang didepan mata, wajah itu sayu
dan sama sekali tiada bekas hawa napsu membunuh yang sadis.
"Itulah perempuan.... itulah namanya perempuan" pikir Han siong Kie dihati, hanya hati
perempuan yang gampang berubah, hanya sikap perempuan yang mudah jadi sedih.." sindirnya
kemudian dengan suara yang dingin dan tak enak didengar:
"Bukankah kau ingin membunuh aku? Kalau ingin membunuh, hayolah cepat laksanakan, kalau
tidak... maaf kalau aku akan berlalu dari tempat ini."
"Tunggu sebentar" tiba-tiba dara itu membentak
"Ada apa lagi?"
Disekanya air mata yang membasahi pipinya, lalu Go siau bi berseru ketus:
"Aku toh tak pernah mengatakan bahwa aku tak akan membunuh dirimu? Kenapa kau hendak
pergi?"
"Kenapa tidak cepat turun tangan ? Hayo, kalau ingin bunuh aku bunuhlah sekarang juga"
"sebelum kubantai dirimu, terlebih dahulu ada beberapa patah kata hendak kuterangkan lebih
dulu, aku harap engkau dengarkan kata2 ku ini dengan sebaik baiknya."
"Katakanlah cepat"
Perlahan Go siau bi menundukkan kepalanya karena hati yang pedih, selang sesaat kemudian ia
menengadah kembali, tampaknya dara ini telah mengambil keputusan: Katanya dengan penuh
emosi:
"Han siong Kie, masih ingatkah engkau tatkala tubuhmu tercebur kedalam sungai dan aku
berhasil menolong dirimu kemudian selama tiga hari kurawat kau sebaik-baiknya..."
"Toh sudah kukatakan, tiap budi kebaikan yang pernah kuterima, suatu ketika pasti akan
kubalas?" tukas sianak muda itu dengan nada tajam.
" Kedua kalinya, ketika aku dilukai oleh pengawal istana Huan mo kiong, engkau membawa aku
menginap disebuah rumah penginapan...."
"Waktu itu keadaan amat mendesak. tiada tindakan lain bagiku kecuali berbuat begitu"
"Tapi ingatkah kau bahwa antara laki2 dan perempuan ada batas-batasnya? setelah kita
menginap disatu kamar yang sama, bagaimana mungkin aku ..." Berbicara sampai disini tiba-tiba
ia tundukkan kepalanya rendah-rendah..
Karena pandangannya yang sempit, Han siong Ki memang membenci setiap perempuan yang
ada diseantero jagad tapi di dasar hatinya ia sebenarnya ramah dan penuh kasih sayang, diapun
memiliki api asmara dan rasa cinta, hanya perasaan hatinya itu tertekan oleh jalan pikirannya yang
keliru.
sebagai seorang pemuda yang cerdas tentu saja ia dapat menangkap arti dari kata-katanya itu
tapi si anak muda itu tak bisa berbuat banyak sebab pada hakekatnya ia tak mencintai Go siau bi,
yang ada dalam hati kecilnya cuma rasa berterima kasih serta rasa berhutang budi belaka...
Tapi sekarang tanpa disadari jantungnya berdebar keras..
sekarang ia mulai berpikir, mungkinkah dara yang cantik ini jadi kalap lantaran pinangan put lo.
sianseng terhadapnya tempo hari telah ditolak secara mentah2?
Rasa simpatik, kasihan dan iba seketika menyelimuti perasaan hatinya, ia mulai merasa kasihan
atas nasib jelek yang telah menimpa anak dara itu
"Nona, aku merasa amat menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya atas terjadinya
peristiwa itu" ia berkata dengan lembut.
"Hmm Rasa sesal yang mendalam?"
"Dengan hati yang tulus dan ikhlas aku mohon kepada nona sudilah kiranya jangan membunuh
orang lagi mulai saat ini"
"Kalau kutolak permohonanmu itu?" seru sang dara dengan ketus dan muka menyeringai.
suasana yang semula sudah tenang dan damai, kini berubah kembali jadi tegang. Paras muka Han
siong Kie berubah hebat, sahutnya cepat:
"Bila nona menampik permohonanku ..tu, terpaksa aku harus melaksanakan apa yang telah
kukatakan tadi"
"oooh. Jadi engkau akan membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil tertawa sinis.
"Betul bila kau takut peristiwa itu sampai terjadi, silahkan kau bunuh aku lebih dahulu sebab
kalau tidak, andaikata kita sampai bertemu lagi dikemudian hari, kau pasti akan kubunuh".
selapis hawa dingin yang ketus dan menyeramkan mulai menyelimuti raut wajah Go siau bi, ia
mengejek sinis:
"Huuuh.. Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu??"
"Lihat saja nanti hasilnya, apa gunanya banyak bicara yang tak ada gunanya?"
"Han siong Kie, engkau tak bisa membendung niatku ini, akan kubunuh pemuda tampan yang
ada dikolong langit hingga mereka musnah semua dari atas muka bumi.. Hmm Engkau ingin
bunuh aku ? Baiklah ini hari sengaja kau kulepaskan dirimu, akan kulihat bagaimana caramu
membunuh aku, tapi kau musti ingat, bila kita sampai bertemu muka lagi, andaikata engkau tak
dapat membunuh aku, maka akulah yang akan membinasakan dirimu"
Han siong Kie menatap sekejap kearah wajahnya dengan pandangan dingin, mulutnya tetap
membungkam.
Kalau bisa ia hendak membacok dara itu hingga mampus, rasa simpatik dan kasihan yang
muncul dalam hatinya tadi kini tersapu bersih dari lubuk hatinya.
Pemuda itu tak ingin banyak ribut lagi dengan dara tersebut, per-lahan2 dia putar badan dan
berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang kian menjauh, Go siau Bi berdiri termangu-mangu,
beberapa kali dia hendak memanggilnya..tapi setiap kali niatnya itu dibatalkan, ia merasa bagaikan
tersiksa dan terharu, sehingga akhirnya tak kuasa lagi menangislah gadis itu ter-sedu2.
Isak tangis itu sempat terdengar oleh Han siong Kie yang makin menjauh, ia agak tertegun dan
menghentikan langkahnya, tapi sesudah ragu sebentar pemuda itu lanjutkan kembali
perjalanannya kedepan. kali ini ia tidak berpaling lagi.
Dengan penuh rasa mendongkol Go siau Bi mendepak-depakan kakinya keatas tanah, serunya
berulang kali:
"suatu ketika aku pasti akan membunuh kau..tunggu saja tanggal mainnya"
Pada saat itulah, tiba2 dari tempat kejauhan berkumandang suara gonggongan anjing yang
sangat ramai.
Dengan segera Go siau Bi berpaling, begitu mengetahui apa yang tertera didepan matanya ia
jadi tercekat dan mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat.
tampaklah dua ekor anjing sebesar tubuh anak sapi berdiri disisi kiri dan kanannya pada jarak
dua kaki, giginya yang runcing menyeringai seram, matanya memancarkan sinar buas, selama
hidup belum pernah ia jumpai anjing sebuas dan sebesar ini
sementara dia masih termenung sesosok bayangan manusia kembali melayang masuk ke dalam
hutan, orang itu adalah seorang kakek bungkuk yang membawa sebuah pecut rotan yang
panjang.
Dengan sorot matanya yang beringas kakek itu menatap sekejap wajah Go siau bi, lalu
mengawasi pula pada mayat yang terkapar diatas tanah, setelah itu dia menganggak beberapa
kali.
"Hey, apa maksudmu datang kemari?" tegur Go siau bi dengan suara dalam. Kakek bungkuk itu
tertawa seram:
"Heeehhh... heehhh...heeehhhh.... Cantiknya memang cantik, cuma sayang perempuan
secantik ini tak lebih hanyalah kuntilanak yang berhati keji"
"Apa? siapa yang kau maksudkan?" teriak dara ayu itu dengan mata melotot.
"siapa lagi, tentu saja engkau"
Sepasang alis mata Go Siau bi berkenyit, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya, sambil mendengus dingin katanya:
"Hey tua bangka yang tak tahu diri, sebelum nonamu berniat membinasakan engkau, bawalah
anjing2 itu dan segera berlalulah dari tempat ini"
"Heeeh heehh . heeeh kenapa aku musti pergi ? Kedatanganku justru hendak mencari engkau"
"Mencari aku ? Siapa kau dan sebutkan namamu"
"Aku adalah Khoo Tio cu, si bungkuk she Khoo pengurus rumah tangga perkampungan oh bau
san cung, mengerti??"
Mendengar nama itu, satu ingatan terlintas dalam benak Go Slau bi, sekarang ia sudah dapat
menebak apa yang telah tarjadi, dengan wajah yang tetap tenang katanya: "Lantas ada urusan
apa kau cari aku??"
"Kedua orang sau cengcu perkampungan kami telah tewas dipinggir jalan-"
"Kalau aku yang bunuh mau apa kau?" tukas sang dara cepat.
"Bagus sekali, setelah kau memberikan pengakuan urusan makin gampang untuk diselesaikan,
darimana asal perguruanmu?"
"Huuh. Kau belum berhak untuk mengetahuinya."
Sinar mata yang bengis dan buas memancar keluar dari balik mata si bungkuk itu, begitu
bengisnya sinar mata orang itu sehingga hampir tak ada bedanya dengan kebengisan mata kedua
ekor anjingnya, membuat siapapun yang memandangnya jadi bergidik. Ia maju beberapa langkah
kedepan, lalu serunya dengan suara yang menyeramkan:
" Heeeh hh heeeh hh heeeh hh memang sekarang susah untuk memaksa kau untuk berbicara
tapi ingatlah baik-baik, suatu ketika engkau akan mengakuinya sendiri"
"Bungkuk she Khoo, nonamu tak ingin membinasakan dirimu, kalau tahu diri lebih baik
enyahlah dari sini"
"Heehhh heeehhh heeehhh kau suruh aku pergi dari sini? Lucu... benar-benar sangat lucu, kau
malah suruh aku pergi.. tahukah kau bahwa aku si bungkuk she Khoo justru tak ingin melepaskan
engkau dengan begitu saja??"
"Bangsat Jadi engkau benar2 ingin mati?"
"Yang ingin mampus bukan aku, melainkan kau sendiri"
Hawa napsu membunuh mulai menghiasi air mukanya yang putih, ia mendengus gusar telapak
tangannya diayun kedepan dan segulung hawa hijau yang mengerikan segera meluncur kedepan
melancarkan sebuah ancaman maut.
Paras muka sibungkuk she Khoo itu berubah hebat, ia agak tertegun menyaksikan datangnya
ancaman berwarna hijau itu, tampaknya sepanjang hidup, belum pernah dia jumpai ilmu
kepandaian seaneh dan setangguh ini.
"Blang " Ditengah benturan keras yang cukup memekikkan telinga, tubuh si Bungkuk she Khoe
itu mencelat sejauh delapan depa lebih dari kedudukan semula, darah panas bergolak dalam
dadanya, betapa terkesiapnya sukar dilukiskan dengan kata2.
Keistimewaan dari ilmu pukulan Thian tok ciang hoat adalah daya pantulan yang terpancar
keluar bila menyentuh pukulan itu, makin besar seseorang melancarkan serangannya maka
semakin besar pula daya pantulan yang terpancar oleh kepandaian itu.
Masih untung tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Go Siau bi tidak lebih cuma enam bagian
belaka, dan tapi Khoe Tuo cu tak sempat melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga karena
ia dibikin kaget bercampur tertegun, karena itu loloslah dia dari ancaman bahaya maut yang
sebetulnya dapat merenggut selembar jiwanya.
sudah tentu Khoe Tuo cu tidak mengenal kelihayan dari ilmu pukulan itu, betapa penasarannya
orang itu karena peristiwa yang barusan terjadi, dengan sorot mata yang bengis dia menerjang
maju lagi ke depan, sebuah pukulan yang lebih dahsyat bagaikan hembusan angin topan
menerjang ke dada lawan.
"Bangsat, rupanya engkau memang sudah bosan hidup," hardik Go siau bi denganpenuh
kegusaran-
Dengan ilmu pukulan Thian tok ciang hoat yang telah dikerahkan mencapai delapan bagian ia
sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blamm" suatu benturan dahsyat kembali menggelegar diudara, jerit ngeri yang melengking
mendesis dari mulut Khoe Tuo cu, badannya mencelat sejauh beberapa kaki dan darah segar
muntah keluar dari mulutnya.
"Bluuk" bagaikan sebuah cupu2, tubuhnya menggelinding diatas tanah setelah jatuh mencium
tanah.
Gong gongan anjing berkumandang memecahkan kesunyian, seekor anjing besar yang berada
disamping kanan tiba2 menerjang kearah dara itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Lolongan anjing yang mengerikan berkumandang menyayat kesunyian yang mencekam udara,
anjing besar itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dari tempat semula.. "Duukk" Ketika menumbuk
diatas dahan sebuah pohon besar, mampuslah anjing tersebut seketika itu juga.
Dalam pada itu Khoo Tuo cu telah bangkit dari atas tanah, ia tampak agak tertegun
menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki dara tersebut, kejadian ini sama sekali diluar
dugaannya. sebab kalau bukan seorang tokoh silat yang benar-benar berilmu tinggi tak mungkin
anjing besar itu dapat dibunuh dalam sekali pukulan belaka
Dalam terkejut dan cemasnya, bagaikan titiran angin deras cambuk rotannya diputar
sedemikian rupa mengitari angkasa.
Anjing raksasa yang berada disebelah kiri bagaikan sambaran kilat telah melancarkan tubrukan
pula kedepan.
siau bi terancam bahaya, cepat-cepat telapak tangannya dilontarkan kemuka melepaskan
pukulan maut..
Agaknya anjing besar itu sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki musuhnya sangat lihay,
berada ditengah udara tubuhnya berjumpalitan beberapa kali diudara dan menggelinding kebawah
kaki anak dara itu, moncongnya langsung menyambar kedepan dan menggigit kakinya.
semua gerakan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tak kalah cepatnya dengan seorang
jago lihay.
Bergetar keras perasaan hati Go siau bi menghadapi ancaman itu, cepat ia melejit dan
melambung keudara, dari situ telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat kebawah.
Gagal dengan gigitannya, anjing besar itu segera meluncur maju satu kaki lebih ke depan-
Tatkala Go Siau bi melayang turun kembali keatas tanah, secepat kilat sambaran anjing itu
menerkam lagi kedepan.
Kali ini tak sempat bagi Go siau bi untuk berkelit, telapak tangannya langsung dibacokkan
keatas batok kepala anjing itu..
"Guukk..guuukk.. lolongan panjang kembali menderai diudara, batok kepala anjing itu terbacok
sampai hancur jadi dua bagian, kepalanya hancur dan darah serta isi benaknya tersebar dimanamana,
anjing itu mampus seketika itu juga.. Tapi cakar anjing sebelah depannya sempat pula
mencakar paha Go Siau bi..
Rasa gatal-gatal dan kaku yang aneh segera menyerang pahanya dan perlahan-lahan bergerak
naik keatas.
Rasa kaget dan terkesiap yang menyelimuti hatinya sekarang susah dilukiskan dengan kata2, ia
tahu itulah tanda2 keracunan atau dengan perkataan lain cakar anjing itu mengandung racun yang
sangat jahat.
Dengan cepat semua jalan darah penting di tubuhnya ditutup semua, setelah menghadang
peredaran racun yang merambat lebih jauh kearah lain, dengan sorot mata yang bengis
menyeramkan, ia menerjang kearah Khoo Tuo cu habis2an.
"Blaaang" kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi
angkasa, dengan batok kepala hancur berantakan Khoo Tuo co menggeletak dalam keadaan
mengerikan-
"Perempuan rendah, pada hakekatnya engkau memang bukan manusia, hatimu keji dan tak
kenal ampun, akan kuhancurkan tubuhmu hingga lembut seperti abu."
Bersamaan dengan munculnya bentakan keras yang sangat mendadak itu, seorang kakek tua
berjubah hitam yang tinggi besar telah nelayang masuk kedalam gelanggang.
"Suiiit"" siulan lengking menggema diangkasa, menyusul belasan ekor anjing besar bagaikan air
bah, menerjang kearah tubuh Go siau Bi.
Kejut dan gelisah menyelimuti seluruh perasaan anak dara itu, ia merasa sukma serasa
melayang tinggalkan raganya karena ketakutan, gadis itu sadar bahwa ia sudah kena racun keji
dari anjing2 itu, daripada berdiam diri dan mati konyol ditangan lawan jauh lebih baik melarikan
diri tinggalkan tempat itu.
Begitu ingatan tadi melintas dalam benaknya, ia lantas melejit ke udara dan meluncur masuk
kearah hutan-
Apa mau dikata rupanya racun sudah mulai bekerja dalam tubuhnya, sepasang kakinya sudah
tak mau mendengar perintah lagi, baru saja melayang sejauh lima kaki, tubuhnya terjatuh kembali
keatas tanah. sementara kawanan anjing besar itu kembali sudah menerjang tiba dengan
hebatnya.
Antara manusia dan anjing, segera berkobarlah suatu pertarungan yang amat mengerikan-
Anjing- anjing besar itu memang tersohor karena keganasannya, bukan saja sifatnya memang
buas, cakarnya mengadung racun keji dan gerak geriknya cepat bagaikan sambaran kilat, lagipula
tak takut mati, maka setelah mendapat latihan secara khusus kehebatan mereka jauh lebih
mengerikan daripada serangan dari jago-jago silat kelas wahid.
Cemas dan marah bercampur aduk dalam benak Go siau bi, telapak tangannya diayun berulang
kali kemuka, kabut hawa hijau kembali menggulung keempat penjuru dengan dahsyatnya.
Ditengah benturan2 yang memekikan telinga, lolongan panjang berkumandang susul menyusul.
Dalam waktu singkat delapan ekor anjing yang telah binasa ditangan anak dara itu tapi sisanya
tak gentar barang sedikitpun, mereka masih melanjutkan terjangannya dengan kecepatan yang
luar biasa.
Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Go siau bi, rambutnya awut-awutan dan napasnya
tersengal-sengal, ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengatur pernapasan-
Rombongan anjing- anjing besar itu menerjang dan mundur secara beraturan, mereka saling
mengisi kekosongan yang ada dan menyerang dari tiga arah yang berlawanan, yakni arah atas
tengah dan bawah.
Tentu saja Go siau bi tak berani menyambut datangnya ancaman itu secara gegabah, sebab dia
tahu anjing-anjing itu sangat beracun pada kuku-kukunya.
sementara itu kakek berjubah hitam yang berada disamping gelanggang merasa gusar dan
sakit hati, namun ia tak berani menghentikan serangan anjing-anjing itu, sebab ia tahu betapa
sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, ia telah bersiap sedia mengorbankan anjinganjingnya
itu sebagai ganti dari kesuksesan rencananya.
setengah peminum teh kemudian, bangkai anjing telah bergeletak dimana-mana, darah serta
hancuran daging tersebar dimana-mana, keadaannya mengerikan sekali.
Dari sekian banyak anjing besar yang dibawa oleh kakek baju hitam itu, tak seekorpun yang
masih hidup pada saat ini.
Walaupun demikian, keadaan Go Siau bi sendiripun mengenaskan sekali, ia sudah kehabisan
tenaga, kakinya yang keracunan sekarang menjadi bengkak dan satu kali lipat lebih besar daripada
keadaan biasa, rasa sakit menyerang sampai kelubuk hati, sekali pun ia tahu masih ada seorang
musuh yang mengincar dirinya namun ia tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, akhirnya
gadis itu roboh dan jatuh terduduk diatas tanah.
Dengan sinar mata bengis, penuh kebuasan kakek berjubah hitam maju kedepan dengan
langkah lebar.
Go siau bi sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya, diapun menghimpun sisa
kekuatan yang dimilikinya untuk dikumpulkan pada telapak tangan kanannya.. Sambil bergerak
maju kedepan kakek baju hitam itu berkata tiada hentinya:
"Perempuan rendah, engkau telah menipu dan membunuh dua orang putra kesayanganku, ini
hari akan kusuruh kau rasakan pula siksaan yang terkeji dikolong langit, akan kusiksa kau sampai
mampus ....Hmm Sakit hati ini akan kutuntut balas beberapa kali lipat lebih dahsyat tunggulah
tibanya saat seperti itu ...."
Go Siau bi membentak keras, telapak tangan kanannya tiba-tiba diayun kedepan, lima gulung
desiran angin tajam segera meluncur keluar dan mengancam tubuh kakek itu.
Rupanya kakek baju hitam itu memang sengaja memperlambat langkah kakinya berhubung dia
harus bersiap menghadapi tibanya ancaman yang tak terduga dari pihak lawanoleh
sebab itu ketika Go Siau bi mengayunkan telapak tangannya kedepan, secepat kilat ia
berkelit kesamping, tapi toh gerakan itu teriambat setengah langkah, tangan kanannya terasa
sakit sekali hingga merasuk ketulang sumsum, tak kuasa lagi dia mendengus tertahan.
Ilmu jari Bwe hoa cuan sim ci (juri si kura penembus hati ) yang digunakan Go siau bi ini adalah
salah satu ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian toh pit kip. arah yang dituju adalah
dada musuh atau tepatnya persis diatas jantung, andaikata terkena hajaran jantung orang akan
pecah dan binasalah orang itu.
Tapi berhubung kakinya terluka sehingga banyak tenaga dalamnya berkurang maka melesetlah
serangan itu dari sasaran utamanya.
"Blam" pukulan tangan kiri yang dilepaskan kakek berjubab hitam itu dengan telak bersarang
ditubuh Go siau Bi
Ditengah dengusan yang tajam, tubuh dara itu mencelat dan bergelinding diatas tanah,
kesadarannya punah dan dara itu berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak.
Kakek tua baju hitam itu tertawa seram, secara beruntun dia menotok beberapa buah jalan
darah penting ditubuh gadis itu.
Kemudian ketika dilihatnya musuhnya sudah tercakar oleh racun anjingnya, ia ambil keluar
sebuah botol kecil dari porselen putih, diambilnya sedikit bubuk kuning dan dijejalkan kemulut Go
siau Bi, lalu mengambilpula sebagian dan dibubuhkan pada sekitar mulut luka, kemudian baru
berkata dengat nada menyeramkan: "Hmm Hmmm aku tidak akan membiarkan engkau mampus
dengan begitu saja"
Ditatapnya sekejap bangkai2 anjing itu dengan perasaan berat, akhirnya sambil mengempit
tubuh Go siau Bi, dia berlalu dari tempat kejadian-
Tatkala Go siau Bi sadar kembali dari pingsannya, ia menemukan kaki tangannya telah
dibelengu orang, tubuhnya berbaring terlentang dengan menghadap keatas, namun ia tak mampu
bergerak sementara rasa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya.
Ia membuka mata dan memeriksa keadaannya, tapi segera dara itu jadi malu bercampur gusar,
ternyata ia sedang dibelenggu di atas sebuah papan kayu dalam keadaan telanjang bulat, sehelai
benangpun tidak menempel ditubuhnya, sementara kakek baju hitam itu sedang memandang
kearahnya sambil menyeringai seram.
Disamping kakek itu berdirilah sepasang anjing besar yang sedang mencakar2 tanah sambil
memperdengarkan serentetan suara kaing-kaing yang aneh.
Dia ingin buka mulut untuk berbicara, namun tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
sadarlah dara itu bahwa jalan darah bisunya telah ditotok orang.
-00d0w00-
BAB 57-
SECARA lapat2 dara itu mulai menduga apa yang bakal terjadi serta menimpa dirinya.
Ia rela mati dan mengakhiri hidupnya lebih cepat, namun ia tak mampu untuk melakukannya,
beberapa buah jalan darah ditubuhnya tertotok. sekalipun ilmu silatnya sangat tinggi, berada
dalam keadaan seperti ini tiada sesuatu apapun yang bisa dilakukan lagi olehnya.
Tiba2 kakek berbaju hitam itu tertawa seram, suaranya sadis dan mengerikan-
" Heeeh heeeehh heeeehh perempuan rendah, aku adalah Ho Thong thian ketua
perkampungan oh hau san-cung, ingat baik2 namaku ini dan ketahuilah bahwa aku berbuat
demikian demi membalaskan dendam bagi kematian dua orang putraku"
Go Siau Bi ingin bicara namun tak mampu mengucapkan sepatah katapun, apa boleh buat?, Dia
cuma bisa berbaring dengan mata melotot penuh kegusaran. Terdengar Ho Thong thian
melanjutkan kembali kata katanya:
"Perempuan rendah, engkau telah memancing kedua orang putraku dengan kecantikan
wajahmu kemudian membunuhnya secara keji.. heeeh heeeh heeeh sekarang, saat pembalasan
telah tiba, coba pandanglah kedua ekor anjing jantan itu, dia akan menjadi suamimu sebentar lagi,
dari kedua ekor anjing jantan inilah engkau akan mendapatkan kepuasan seks yang paling nikmat,
kau akan di bikin naik kesorga oleh kedua ekor anjing ini haaah haaahh haaaahh manusia digagahi
oleh anjing, itulah acara pertunjukkan yang menarik sekali."
-00d0w00-
BETAPA terkejut dan takutnya Go siau bi sesudah mendengar ancaman itu, ia merasa
sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya, bila sampai peristiwa itu benar-benar terjadi,
inilah siksaan yang terkeji dikolong langit, seorang gadis perawan akan kehilangan kesucian
tubuhnya ditubuh seorang anjing, bahkan sekaligus akan diperkosa oleh dua ekor anjing besar
secara bersamaan, matanya jadi berkunang dan pandangannya jadi gelap akhirnya ia jatuh tak
sadarkan diri saking gusar dan mendongkolnya.
Hoo Thong thian tertawa seram, cepat ia totok jalan darah Thian kia hiat ditubuh dara itu.
sekali lagi Go siau bi sadar kembali dari pingsannya, hancur luluh perasaan hatinya, air mata
jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya yang ayu ....
"Perempuan rendah, dengarkan baik-baik kataku ini" ujar Ho Tong Thian lebib jauh "kecuali
menerima pembalasan ini, tiada cara lain yang bisa kugunakan untuk menghajar dirimu, Nah
setelah engkau menerima kepuasan seks ditubuh kedua ekor anjing jantan ini, maka engkau akan
menjadi santapan yang paling lezat bagi mereka haaah haaahh haaahh itulah pertunjukkan yang
paling surprise, sang istri yang cantik setelah digagahi akan disantap"
Dalam keadaaa seperti ini Go siau bi benar-benar kehabisan akal, mau melarikan diri jelas tak
mungkin, ingin bunuh diri juga tak mampu, tepatnya ia memang harus merasakan siksaan hidup
yang paling keji itu, diperkosa lebih dulu oleh anjing, lalu tubuhnya akan di cabik sebagai penghuni
perutnya.
Air mata dengan derasnya mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya. sekarang ia dapat
merasakan apa artinya pembalasan-.. dia mulai menyesal. "ooooh sungguh cepat pembalasan
yang tiba dan menimpa diriku" keluhnya dihati.
Bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis perawan, dia memiliki serangkaian ilmu silat
yang luar biasa, ia tak takut mati, sebab ia merasa bahwa mati hanya suatu pelepasan belaka,
pelepasan dari segala bentuk siksaan maupun penderitaan, tapi ia tak sudi mengalami siksaan
tersebut sebelum ajalnya, apa lagi siksaan yang begitu kejinya. Bila seseorang bisa putus asa,
kadang kala timbul pelbagai ingatan dalam ingatannya.
Dara itu berharap akan terjadinya suatu kejadian yang diluar dugaan, sehingga ia dapat
terhindar dari siksaan yang paling keji ini, ia rela melakukan apapun untuk membayar
pertolongannya itu, asal siksaan yang tak berperi kemanusiaan ini bisa di hindari
Gelak tertawa dari Ho Thong thian, pemilik perkampungan oh hau san ceng masih
berkumandang tiada hentinya. lengking suara tertawa yang menyerupai binatang itu bagaikan
pisau tajam yang menyayat-nyayat hatinya, membuat hatinya hancur lebur.
Tampaknya dua ekor anjing jantan itupun sudah berpengalaman dalam melaksanakan tugas
itu, dengan sorot mata yang merah membara dan mengerikan, anjing-anjing itu menatap tubuh
Go siau bi yang telanjang tanpa hentinya, sementara bunyi desiran aneh muncul dari mulutnya,
keadaan benar2 mengerikan..
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Go siau bi yang sedang menghadapi
bahaya perkosaan oleh dua ekor anjing..
sementara itu Han siong Kie telah meneruskan perjalanannya dengan langkah yang amat
lambat karena luka parah yang dideritanya akibat pertarungan melawan Go siau bi, ia tak dapat
mengerahkan tenaga sebagai mana mestinya.
39
Setengah jam kemudian, ia baru mencapai sejauh lima li dari tempat semula, lembah In wu kok
yang hendak dituju secara lapat-lapat sudah kelihatan didepan mata.
Walaupun hubungannya deagan Go Siau bi tak dapat dikatakan ada perasaan cinta, namun
perasaan persahabatan tetap ada dan oleh karena itu ia merasa sedih oleh perbuatannya,
mimpipun ia tak menyangka Go Siau bi yang halus, lembut dan berbudi sekarang telah berubah
jadi manusia lain-
Terutama kata2 dari Go Siau bi, tiap kali terbayang kembali ia lantas merasakan jantungnya
berdebar keras.
cinta memang tak dapat dipaksakan, apa lagi hatinya sudah terisi oleh perempuan lain-
Segulung desiran angin dingin berhembus lewat disamping tubuhnya, dengan terkejut Han
Siong Kie berpaling, dia tahu desiran angin itu bukan hembusan angin biasa melainkan kehadiran
seseorang manusia lain-
Pemuda itu merasa kuatir, dalam keadaan terluka parah, tak mungkin baginya melakukan
perlawanan lagi jika yang datang adalah pihak musuh.
Secepat kilat ia berpaling, seorang perempuan berkerudung tahu2 sudah berdiri dihadapannya.
orang itu siapa lagi kalau bukan orang yang ada maksud. Untuk sesaat Han Siong Kie berdiri
tertegun-
"Nona, engkau hendak pergi kemana?" tegurnya.
"Aku datang mencari engkau "
"Mencari aku? Ada urusan apa engkau mencari aku..?" pemuda itu merasa keheranan.
"Nona Go siau bi tertangkap oleh Hoo Thong thian, CengCu dari perkampungan Go hau san
Ceng"
Agak terkejut Han siong Kie mendengar kabar itu, serunya kurang percaya:
"Masa ia tertangkap? Kepandaiannya toh sangat lihay, masakah ilmu dari Hoo Thong thian luar
biasa."
"Ia keracunan lebih dulu oleh anjing raksasa, sehingga akhirnya dia tertangkap"
"oooh.. kiranya begitu"
"Apakah engkau tidak menguatirkan mati hidupnya??" kembali orang yang ada maksud
bertanya.
"Ia telah membunuh Kim kian siang ing (sepasang pendekar pedang emas) putra kesayangan
HHoo Thong thian, sewajarnya kalau sang ayah membalaskan dendam bagi kematian putranya"
"Tapi.. tahukah engkau bahwa Hoo Thong thian adalah seorang manusia durjana yang banyak
melakukan kejahatan? Begitu pula dengan anak-anaknya, mereka sering kali mengacau rakyat,
kematian mereka justru menggirangkan banyak orang"
"Nona" seru Han siong Kie dengan cepat, " apakah engkau mengerti sebab-sebab yang
mendorong ia melakukan pembantaian2 sekalipun Kim Kiam siang ing pantas dibunuh, akan tetapi
bagaimana dengan lainnya?"
orang yang ada maksud tertawa setelah mendengar perkataan itu, ia balik bertanya: "Tahukah
engkau, apa sebabnya ia sampai membunuh orang?"
"Hmm Ia sudah mengidap penyakit gila .... dan otaknya sudah sinting dan tak waras."
"Hmmmm" kali ini orang yang ada maksud mendengus dingin, " apakah ucapan itu muncul dari
lubuk hatimu??"
"Nona, apa maksudmu mengucapkan kata-kata itu?" tanya Han siong Kie tercengang.
"Go siau bi bisa sampai membunuh orang sepantasnya engkau memikul setengah dari
tanggung jawabnya "
" Kenapa..?" tanya sang pemuda dengan air muka berubah hebat.
" Karena engkau, dia telah membunuh orang"
" Karena aku ? Kenapa karena aku dia lantas main membunuh??"
"Manusia bermuka dingin" seru orang yang ada maksud dengan suara tajam " engkau tak usah
pura2 berlagak pilon, masakah engkau masih belum dapat memahami apa sebabnya ia sampai
membunuh orang?"
"Aku benar2 tidak paham"
"ooh, jadi kalau begitu engkau tidak bersedia menolong jiwanya??" Han siong Kie tertawa
dingin-
"Heeeh heeeh heeehh menolong dia ? Aku malahan sudah berkata kepadanya, bila kami
bertemu lagi dilain waktu maka aku akan membinasakan dirinya"
"Dengan dasar alasan apa engkau akan membunuhnya??"
"sebab ia telah membunuh orang dengan semena-mena"
"Ia bisa membunuh orang karena engkau, maka kaupun harus ikut bertanggung jawab atas
terjadinya peristiwa ini "
"Nona, jangan asal main tuduh saja, coba terangkanlah perkataanmu itu dengan lebih jelas lagi
"
"oleh karena engkau telah melukai hatinya, maka dia membunuh setiap pemuda yang
dijumpainya"
"Aku ? Aku telah melukai hatinya?"
"Benar "
"Dalam hal apakah aku telah melukai hatinya??"
"Masakah engkau benar2 akan suruh aku mengatakannya keluar??"
"Tak ada halangannya kalau nona hendak mengatakan"
"Sewaktu engkau dihajar oleh pemilik benteng maut sehingga tercebur kedalam sungai
kemudian jiwamu tertolong olehnya, dimana selama tiga hari engkau total berbaring diatas
pembaringannya . "
"setiap budi yang pernah kuterima tidak pernah kulupakan, suatu ketika pasti akan kubalas "
"Dalam masalah ini, persoalannya bukan manyangkut tentang soal balas budi atau tidak"
"Lalu persoalan ini menyangkut dalam hal apa??"
"Kalau seorang anak dara bersedia merawat seorang pemuda asing didalam kamar tidurnya,
bahkan tanpa canggung-canggung merawatnya, dapatkah engkau rasakan apa sebabnya ia
bersedia melakukan kesemuanya itu"
Han Siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, bukannya ia tak dapat merasakan hal ini,
melainkan ia tak bersedia untut mempertimbangkan soal tersebut. Terdengar orang yang ada
maksud berkata lebih jauh:
"Tahukah engkau bahwa Go siau bi telah bersumpah didepan pusara ayahnya bahwa dia tak
akan menikah dengan orang lain kecuali dengan kau seorang"
"Apa sangkut pautnya dengan diriku? Itu toh urusan pribadinya sendiri??"
Jawaban yang dianggap terlalu ketus ini segera membangkitkan hawa amarah dihati orang
yang ada maksud, serunya lagi:
"Aku mengerti, oleh karena engkau adalah Manusia bermuka dingin maka engkau dapat
mengatakan ucapan yang sadis dan sama sekali tidak berperasaan ini, tentunya engkau tidak lupa
bukan dengan peristiwa dalam rumah penginapan? Engkau telah memeluk tubuhnya bahkan
menginap disatu kamar."
"Aku merrpunyai niat untuk membalas budi pertolongannya, masakah perbuatanku ini keliru??"
"Engkau tidak keliru, tapi bila seseorang dara telah berdempetan dengan seorang pria, malahan
perlu dipeluk. tidur dalam satu kamar selain ia kawin dengan lelaki itu, mungkinkah dia bisa kawin
dengan orang tak lain"
"Aaaah . . Kita toh orang-orang persilatan, Bagi kita orang persilatan rasanya tak perlu
merisaukan soal tetek bengek itu"
"Itu kan pandangan segelintir orang, andaikata Go siau bi memandang berat persoalan ini, lalu
apa yang hendak kau lakukan ?"
Han siong Kie memang merasa seperti dipaksa dan ditekan untuk menerima kenyataan itu, ia
tak bisa berkutik, kecuali meringis rasanya memang ia tak bisa berbuat lain-Terdengar orang yang
ada maksud melanjutkan kembali kata-katanya:
"Aku rasa Go siau bi cukup cantik dan cukup bagus, ia pantas untuk menjadi isterimu, apalagi
kakeknya Put lo sianseng sebagai seorang tokoh persilatan ternyata mengajukan pinangan sendiri
kepadamu, tak kunyana kau malah menampik pinangannya sehingga membuat dara itu tertekan
jiwanya, padahal kau toh tahu bahwa ia mencintai dirimu? Nah, karena pelbagai alasan inilah ia
jadi sinting dan melakukan hal-hal yang diluar dugaan, coba katakanlah apakah engkau tidak
merasa ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini??"
"Maksud nona, engkau hendak memaksa ku untuk mencintai dirinya??"
"Masa ia tak pantas untuk menerima cintamu ? Dan engkau sama sekali tidak tergerak hatinya
oleh cinta kasihnya yang telah dilimpahkan padamu??" Han siong Kie membungkam, betul2
membungkam dalam seribu bahasa.
Dahulu ia memang pernah membenci seantero perempuan yang ada dijaga d, tapi sejak
hubungan cintanya dengan Tong hong Hwie, perasaan hatinya mulai terbuka, untuk pertama
kalinya ia benar-benar mencintai seorang dara, dan ia persembahkan rasa cintanya itu padanya.
Terhadap Go siau bi, meskipun tak bisa dikatakan ia memandangnya seperti memandang
perempuan lain, tapi diapun tidak mencintai dirinya.
Tiba-tiba suatu rasa menyesal dan iba tersebut dalam hati kecilnya, ia ikut merasakan
penderitaan serta kesedihan yang dialami anak gadis itu.
Tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya, maka diapun berkata dengan dingin-
"Nona, tentunya engkau masih ingat bukan dengan seseorang yang bernama Tonghong Hui?."
Tampak sekujur tubuh orang yang ada maksud bergetar keras, tapi ia menjawab dengan cepat.
"Tentu saja masih ingat, kenapa??"
"Terus terang kukatakan padamu nona, perasaan dan hatiku telah dibawa pergi olehnya"
"Bukankah ibuku pernah memperingatkan kau, bila hubunganmu dengan Tong Hong Hui
dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu tragedi" Han siong Kie tertawa
sedih.
"Mungkin tragedi telah menjadi kenyataan, tapi aku sama sekali tidak merasa menyesal"
"Sudah menjadi kenyataan? Apa maksud
JILID 28 HAL. 16/17 HILANG
kedua hal ini bisa dijadikan satu, tapi aku berpendapat bahwa cinta yang murni dan cinta yang
sesungguhnya tidak musti dipadukan dalam kehidupan yang nyata"
"Justru persoalannya bukan terletak disini"
"Maksudmu masih ada alasan serta persoalan lain yang bisa mengakibatkan terjadi tragedi
ini??"
"Memang begitulah kenyataannya"
"Kata-kata itu sangat membingungkan hati orang, apakah engkau bersedia untuk menerangkan
lebih jauh?"
"Suatu ketika engkau akan memahami dengan sendirinya, sekarang maafkanlah daku karena
aku tak dapat memberitahukan hal ini untukmu, bukannya aku sengaja berlagak sok rahasia tapi
berbicara sesungguhnya, sekarang juga engkau harus pergi menyelamatkan jiwa nona Go Siau bi,
kalau terlambat aku kuatir telah terjadi hal-hal yang luar biasa"
"Kalau toh nona telah mengetahui bahwa ia sudah tertawan oleh orang-orang dari
perkampungan oh han san ceng, mengapa kau tidak berusaha untuk menolongnya melainkan.."
"Tentu saja aku mempunyai alasan tertentu"
"Dapatkah kuketahui alasan itu?"
"Dalam perkampungan oh han san ceng telah dipelihara anjing-anjing perbatasan yang besar
dan cakarnya beracun, sedangkan engkau memiliki kekuatan anti racun, maka tugas ini tak
mungkin bisa diselesaikan oleh orang lain"
Pada hakekatnya orang yang ada maksud telah mendapat perintah dari ibunya yakni orang
yang kehilangan sukma untuk sengaja mengatur kesemuanya ini, kalau tidak karena rencana
mereka, tentu saja dengan kepandaian yang dimiliki orang yang ada maksud, Go Siau bi telah
tertolong ketika ia terluka tadi.
Sementara itu, Han siong Kie sedang tundukkan kepalanya sambil termenung beberapa saat
lamanya, kemudian sahutnya.
"Maaf nona, aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan itu"
"Jadi engkau tidak bersedia untuk menolong jiwanya ??"
"Aku tak dapat menyelamatkan jiwa sekarang, pembunuh yang pernah membantai ber-puluh2
lembar jiwa manusia yang sebenarnya sama sekali tidak berdosa "
"Di kemudian hari ia tak akan membunuh orang lagi dan aku akan menanggung hal ini bagimu,
bagaimana??"
"Tetapi... "
"Ada apa lagi?? "
"Isi perutku terluka parah, aku kuatir...."
"Aaah Kalau cuma soal itu kan gampang sekali, aku punya obat yang sangat mujarab, dengan
dasar tenaga dalam yang kau miliki, maka setelah meminumnya dalam waktu setengah
perminuman teh, seluruh kesehetananmu dapat pulih kembali seperti sedia kala"
Tidak menanti jawaban dari Han siong Kie lagi, dia ambil keluar sebiji obat sebesar kelengkeng
lalu diangsurkan kedepan-
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Han siong Kie harus menerimanya, dia berkata:
"Baiklah, memandang diatas wajah kalian ibu dan anak. aku bersedia menolong jiwanya"
Habis berkata dia masukkan obat itu ke dalam mulut, kemudian duduk bersila ditepi pohon
untuk mengatur pernapasan
Kemujaraban obat itu memang luar biasa sekali, pada hakekatnya sama sekali tidak berbeda
dengan keampuhan Kui goan kim wan dari Kun si Mo ong.
Kurang lebih setengah perminuman teh kemudian, dalam keadaan segar bugar Han siong Kie
telah melompat bangun kembali dari atas tanah.
Setelah orang yang ada maksud menunjukkan dari perkampungan oh hausan ceng, ia berpesan
pula.
"Menolong orang bagaikan menolong kebakaran, sekarang juga engkau boleh segera
berangkat. Mungkin saja kita akan bertemu kembali dilain waktu" Dengan tubuh yang enteng dia
lantas berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang berlalu, Han siong Ki cuma bisa menggeleng sambil
menghela napas panjang, akhirnya iapun berangkat menuju ke perkampungan oh hau san ceng.
Perkampungan oh hausan ceng merupakan sebuah bangunan perkampungan yang
JILID 28 HAL. 22/23 HILANG
Habis berkata, ia menutup kembali pintu ruangan dan berjalan menuju keruang tamu.
Meskipun jalan darah Go siau bi sudah tertotok. namun pendengarannya masih berjalan
normal, betapa gembira hatinya setelah mendengar kabar bahwa Manusia berwajah dingin telah
tiba diperkampungan itu.
Timbul kembali harapannya untuk melanjutkan hidup.
"Mungkinkah ia datang kemari untuk menolong aku? begitulah dia mulai berpikir, tapi
mungkinkah ia sudi menyelamatkan jiwaku? Bukankah ia telah membenci aku dan ingin
membunuh aku??"
Apalagi setelah teringat bahwa ia berada dalam keadaan telanjang bulat, dimana hampir semua
bagian rahasia tubuhnya tertera nyata, ia merasa malunya bukan kepalang, kalau bisa dia ingin
mati saja sehingga tak perlu menanggung rasa malu.
Dalam pada itu Ho Thong thian telah muncul diruang depan, ia saksikan seorang pemuda
tampan yang berwajah dingin sedang berdiri sambil bergendong tangan ditengah ruangan-ketika
sepasang mata mereka membentur satu sama lainnya, tanpa sadar seluruh tubuhnya bergidik, Ia
merasa sorot mata orang itu tajam sekali, membuat siapa pun jadi bergidik rasanya.
Tapi dia berusaha untuk menekan perasaan hatinya, sambil tertawa terbahak-bahak ia menjura
lalu berkata:
"Apakah sauhiap adalah Manusia bermuka dingin yang namanya telah menggetarkan seluruh
dunia persilatan??"
"Betul, itulah aku orangnya"
"Silahkan duduk dan minum teh "
"Tak usah, apakah engkau yang bernama Ho Cungcu??"
"Benar, boleh aku tahu apa maksud kedatangan sauhiap ke perkampungan kami ini??" Dengan
dahi berkerut Han siong Kie berkata:
"Seorang sahabatku yang bernama Go siau bi, apa bener berada dalam perkampungan ini??"
setajam sembilu sorot matanya menatap wajah orang itu, ia menanti jawaban orang itu dengan
tenang.
Terkesiap Ho Thong thian mendengar pertanyaan itu, sekarang dia baru tahu bahwa
kedatangan manusia berwajah dingin adalah disebabkan karena perempuan rendah itu, mau
membohong jelas tak mungkin, hanya untungnya ia telah mengadakan persiapan.
Maka dengan wajah berubah hebat sahutnya:
"Betul, dia memang berada didalam perkampungan ini"
"Adapun kedatanganku kemari adalah hendak mengajak cungcu untuk merundingkan persoalan
ini, apakah engkau bersedia untuk melepaskan nona itu??"
"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memenuhinya, sebab ia telah membinasakan dua
orang putraku"
"Tapi kejadian ini toh berawal dari sikap putramu yang terpikat oleh kecantikannya, dalam soal
ini nona itu tak dapat kau salahkan "
"Haaah haaah haaahh pada hakekatnya justru dialah yang telah memikat putraku dengan
kecantikan wajahnya, ditinjau dari sikapmu yang begitu paham dengan duduknya persoalan ini,
aku rasa engkau tentu mempunyai, hubungan yang luar biasa dengan Go siau bi. Nah sauhiap
berbicaralah menurut liangsimmu, berilah keadilan serta kebijaksanaan kepadaku, pantaskah aku
melakukan pembalasan dendam?"
Untuk sesaat Han siong Kie terbungkam dan tak mampu menjawab pertanyaan itu, sebab katakata
itu memang masuk diakal dan benar. Lama sekali, akhirnya ia baru berkata. "Apa yang
hendak kau lakukan atas diri nya?"
"Hutang darah harus dibayar dengan darah, hutang nyawa bayar nyawa.."
"Apakah engkau tidak merasa bahwa tindakanmu ini kelewat batas??"
"Siapa membunuh manusia diapun harus membayar dengan nyawa sendiri, masa tindakan
semacam ini kelewat batas?"
"Tapi pada hakekatnya toh putramu yang terpikat dulu oleh kecantikan nona Go dan
membuntutinya terus menerus, tindakan ini sudah pantas untuk diberi hukuman mati"
"sauhiap. apa yang kau ucapkan itu berdasarkan pengamatanmu sendiri ataukah karena
mendengar dari mulut orang?"
"Tentu saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"Jadi maksud sau hiap. engkau melarang aku untuk melakukan pembalasan dendam??"
"Bukannya begitu, aku ingin tahu dengan cara apakah engkau berhasil menangkap nona Go
siau bi??"
"Tentu saja mengandalkan kepandaian silatku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie segera tertawa terbahak-bahak nyaring sekali
suaranya.
"Haaah haaah haaaah Ho too cungcu, bukannya kupandang enteng dirimu, pada hakekatnya
kalau engkau ingin menundukkan dia dengan andalkan cara yang bersih dan jujur, maka
kepandaian silatmu masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan dirinya ?"
"oooh.. Maksud sau hiap. aku telah menggunakan cara yang licik dan tidak jujur untuk
menundukkan nona itu??"
"Begitulah maksudku, aku tidak melarang cungcu untuk membalaskan dendam bagi kematian
putramu, tapi aku harap lakukanlah duel tersebut secara jujur dan terbuka, sebab masalah ini tak
bisa diselesaikan dengan berat sebelah"
Tiba-tiba sekulum senyum licik yang sadis dan mengerikan melintas diatas wajah Ho Thong
thian, ia menjura dan berkata.
" Kalau memang begitu, bagaimana kalau sau hiap duduk dulu sambil minum teh? Aku akan
menggusur nona Go siau bi datang kemari kemudian menyelesaikan masalah ini secara adil di
depan sauhiap? Tentunya sauhiap bersedia bukan??"
oooodwoooo
BAB 58
MESKIPUN dalam hati kecilnya Han siong Kie menaruh curiga karena perubahan sikapnya yang
sangat mendadak itu, namun dia lantas berpikir didalam hati.
"Dengan andalkan kepandaian silatmu, bila engkau berani main gila dengan aku, itu berarti
engkau mencari penyakit buat diri sendiri." Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangguk.
"Baiklah, lakukan semuanya itu"
"Kalau memang begitu harap sauhiap tunggu sebentar disini"
Baru beberapa langkah Ho Thong thian berlalu, tiba-tiba pemuda itu berseru kembali.
"Eeeh.. tunggu sebentar"
"Apa yang hendak sauhiap katakan lagi??"
Dengan sorot mata yang bengis dan mengandung hawa napsu membunuh, Han siong Ki
berkata dengan sadis:
"Ho cungcu, sebelum semuanya terjadi aku hendak berkata lebih dahulu kepadamu, aku harap
janganlah engkau bermain gila dengan aku, kalau tidak . . . Hmmm Terus terang kukatakan
kepadamu, akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, dan apa yang sudah kukatakan dapat
pula kubuktikan."
Mula-mula Ho Thong thian agak tertegun, tapi dia lantas tertawa seram sambil menyahut.
"Aaaah ... sau hiap terlalu banyat curiga, masa aku adalah manusia yang lain diluar lain dihati?"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berseru keluar ruangan:
"Go Tiong hidangkan air teh dan siapkan meja perjamuan untuk tamu kita ini "
"Tak usah banyak adat, selesai urusan disini aku segera akan berlalu, tak berani banyak
mengganggu kau lagi"
Ho Thong thian tidak menanggapi ucapan itu, dia mengangguk dan berkata: "Aku akan segera
pergi mengambil nona Go siau bi seraya berkata dia lantas berjalan keluar dari ruangan itu
Tiba2 kecurigaan yang timbul dalam hati kecil Han siong Kie semakin menebal, kalau toh Go
siau bi sudah tertangkap. kenapa ia musti tunggu disitu dan anehnya kenapa tak ada orang yang
bergerak ditempat ini ?"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 terdengar suara gemuruh yang
amat keras berkumandang dari ruangan itu, menyusul mana seluruh ruangan tersebut mulai
berputar kencang.
Menghadapi kenyataan tersebut, pemuda itu baru menyadari bahwa ia sudah terjebak oleh
siasat licik musuhnya, dia berpekik di hati:
"Aduuh celaka, aku sudah tertipu oleh anjing tua itu"
Tanpa berpikir panjang lagi dia segera melejit dan meluncur keluar kearah pintu ruangan-
Tapi dalam sekejap mata itulah seluruh pintu ruangan telah tertutup rapat, dan suasana dalam
ruangan itupun berubah jadi gelap gulita sehingga kelima jari tangan sendiripun sukar terlihat.
Han siong Kie berdiri tertegun, saking gemas dan mendongkolnya dia sampai menggigit
bibirnya kencang2, mimpipun ia tak mengira karena bertindak gegabah sehingga mengakibatkan
dia terjebak oleh tipu muslihat lawan-
"criing. criing.. tiba-tiba ruangan itu tenggelam kedasar bumi, ketika Han siong Kie mengamati
dengan seksama, ternyata ia sudah terkurung dibawah sebuah penjara dalam tanah yang kuat
dan empat penjuru merupakan dinding tebal yang tak tembus hawa.
sekarang anak muda itu baru menyesal apa sebabnya tidak bertindak hati-hati setelah masuk
kedalam perkampungan, karena musti menuruti peraturan dunia persilatan, akhirnya dia harus
terjebak oleh perangkap lawan-
Dari alat jebakan yang rupanya sudah dipasang disetiap bagian ruangan dalam perkampungan
oh han san cung, dapat pula di tarik kesimpulan bahwa perkampungan ini bukanlah suatu
perkampungan baik dan pemiliknya tentu saja sebagaimana yang dikatakan orang yang ada
maksud, benar-benar merupakan manusia bejad yang licik dan banyak akal muslihatnya.
sekarang nasi sudah menjadi bubur dan menyesalpun tak ada gunanya, untuk sesaat lamanya
pemuda itu cuma bisa berdiri menjublek dengan perasaan bingung.
"Kraaakl.krassakkk.. tiba-tiba dari atas dinding muncul sebuah pintu kecil, dibalik pintu tersebut
merupakan sebuah lorong yang amat panjang.
Rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dada Han siong Kie sudah tak tertahan lagi,
dia himpun hawa murninya ke dalam telapak tangannya. ia sudah bersiap sedia bila ada musuh
yang munculkan diri maka dia akan menyeret dan membinasakan musuhnya secara keji.
Tapi apa yang terjadi? Meskipun sudah ditunggu dengan lama, namun tiada sesuatu gerakan
apapun yang muncul dihadapannya.
Sesudah ragu sejenak, akhirnya pemuda itu melangkah keluar dari pintu kecil itu dan masuk
kedalam lorong yang terbentang didepan matanya itu.
Kurang lebih tiga puluh kaki dihadapan nya muncul sebuah anak tangga batu yang menjulang
ke atas.
Yang aneh ternyata disekitar tampat itu sama sekali tidak nampak sesosok
JILID 28 HAL35/36 HILANG
Memang mengerikan sekali anjing-anjing itu, sekilas pandangan orang akan mengira anjing itu
sebagai mahluk sebangsa macan kumbang.
Ditinjau dari bentuk bangunan rumah gelap itu, anak muda itu menduga bahwa dia telah
berada diatas permukaan tanah.
"criiiing ..." sementara anak muda itu masih melamun- tiba-tiba terdengar dentingan nyaring
menggema memecahkan kesunyian, seketika ia berpaling, maka tampaklah pintu kecil dimana ia
muncul tadi tahu-tahu sudah tertutup rapat.
Agak lama pemuda itu termenung, kemudian ia bergerak menuju kepintu ruangan dan
merabanya dengan tangan-
Pintu itu terbuat dari besi baja yang sangat kuat, ketika didorong kebelakang ternyata
menimbulkan suara pantulan yang berat, ini membuktikan bahwa pintu itu terbuat dari baja yang
tebalnya mencapai satu depa lebih, besi seberat itu tak mungkin bisa didorong olehnya dengan
kepandaian yang dimilikinya saat ini. Tiba-tiba dari atas dinding besi itu muncul sebuah lubang
bulat sebesar
JILID 28 HAL. 38/39 HILANG
mata, apa gunanya mengucapkan kata-kata yang tekebur semacam itu??"
"Baiklah, kalau engkau tidak percaya, nantikanlah saat pembalasanku itu"
"Tak usah ditunggu lagi, sekarang juga akan kupertunjukkan suatu adegan yang hidup dan
segar dihadapanmu, coba lihatlah, budak rendah yang kau cintai itu sekarang dia harus membayar
semua akibat dari perbuatannya, sebelum engkaupun dicium oleh anjing2ku, dekatkanlah matamu
dengan lubang ini dan intiplah apa yang ada disini."
Dengan penuh kegusaran Han siong Kie mendekati lubang pengintip itu dan melongok
kedalam.
Tapi apa yang kemudian terlihat olehnya membuat air muka anak muda itu berobah jadi merah
padam bagaikan darah, jantungnya berdebar keras dan kemarahannya semakin memuncak.
sebuah tubuh gadis yang telanjang bulat dengan semua bagian rahasianya tertera nyata,
terikat disebuah palang kayu yang besar, sepasang paha dara itu terbentang lebar sekali dan
tangannya sudah dipentangkan lebar, hal ini membuat setiap organ tubuhnya dapat dilihat tanpa
aling2.
selama hidup belum pernah dia saksikan gadis telanjang, dan kali ini merupakan kali yang
pertama ia saksikan gadis telanjang didepan mata, saking bedebarnya hampir saja jantungnya
mau copot.
Tetapi setelah ia menegaskan bahwa dara itu tak lain adalah Go sian bi, kegusarannya sukar
terkendalikan lagi, sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar ber-api2, teriaknya
dengan keras:
"Tua bangka anjing, apa yang hendak kau lakukan atas dirinya??" Ho Thong thian tertawa
dingin.
"Heeeh heeh heeh ia telah membunuh anakku dengan mengandalkan kecantikan wajahnya,
maka sekarang akupun akan menggunakan cara yang lebih keji untuk menghukum dirinya. Coba
kau tengok kesamping, sudah kau lihat sepasang anjing jantan itu."
"Haaahh haaahh haaahh sebentar lagi akan berlangsung adegan perkosaan seorang gadis oleh
dua ekor anjing jantan.. belum pernah menyaksikan bukan? Nah, sebentar lagi akan kau saksikan
bagaimana caranya dua ekor anjing memperkosa seorang anak dara.."
saking gusar dan gemetarnya Han siong Kie sambil menggertak giginya keras2, kalau bisa detik
itu juga dia akan mencincang tubuh orang itu sehingga hancur ber-keping- keping, tapi sebuah
dinding baja yang kuat telah menghadang ditempat itu, tak mungkin baginya untuk menerobos
masuk keruangan sebelah.
Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu tragedi yang memilukan hati, kesucian seorang
anak dara ternyata harus direnggut oleh dua ekor anjing jantan..
Go siau bi sendiri meskipun jalan darahnya tertotok. namun telinganya dapat mendengar dan
matanya bisa melihat, meskipun mulutnya tak dapat berbicara, ia mendengar suara dari Han siong
Kie dan perasaan hatinya terasa amat sakit bagaikan disayat-sayat, rasa malu, gusar, benci dan
gelisah bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.
Air mata yang meleleh keluar merupakan campuran darah, seluruh kulit wajahnya berkerut
kencang, membuat wajah gadis itu berubah jadi aneh sekali.
"Bangsat tua, engkau berani bertindak keji?" bentak Han siong Kie dengan penuh kebencian,
dia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah dinding baja itu.
"Blang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga membuat seluruh dinding baja itu
bergetar sangat keras.
Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang dilepaskan si anak muda ini di dalam
gusarnya.
Ho Thong thian agak tertegun setelah menyaksikan kedahsyatan hawa pukulan lawan, paras
mukanya ikut berubah hebat, tapi sejenak kemudian dia telah berubah jadi tenang kembali,
ejeknya:
"Bocah keparat sekalipun engkau bisa membongkar jagad, jangan harap bisa merubah nasib
kalian berdua"
"Tua bangka bajingan, kalau engkau berani mengganggu seujung rambutnya, Perkampungan
oh han san ceng kuratakan dengan
JILID 28 HAL. 44/45 HILANG
sementara anjing yang satu sudah berdiri sambil siap memperkosa anak gadis tersebut, anjing
yang lain meraung dan meronta dengan sekuat tenaga, rupanya anjing itupun sudah birahi dan
ingin menuruti jejak rekannya untuk menikmati pula kehangatan tubuh manusia.
situasi betul2 amat kritis dan berbahaya, bila tiada pertolongan yang tiba pada saatnya, niscaya
gadis cantik jelita itu akan di renggut kehormatannya oleh seekor anjing..
Hampir saja anjing itu menggagahi tubuh Go siau bi ketika secara tiba tiba anjing tersebut
mendesis panjang, menyusul tubuhnya mencelat setinggi delapan depa ke udara.. Biang.." ketika
terbanting kembali keatas tanah, darah segar berhamburan dari tubuhnya dan binasalah anjing
tersebut dalam keadaan mengerikan.
Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini sangat mengejutkan hati Ho Thong thian, dengan
sukma serasa melayang tinggalkan raganya secara beruntun dia mundur beberapa lamgkah
kebelakang.
"Criiit criing " beberapa desingan angin tajam menyergap lagi kemuka.
Untung Ho Thong thian sudah mundur ke belakang, dengan begitu desiran angin serangan
tersebut tidak mengena pada sasarannya, andaikata ia tidak mengundurkan diri tadi, niscaya
dadanya sudah berlubang besar.
sekali lagi terdengar lolongan panjang yang memekikan telinga, beberapa desingan angin
serangan yang sebelumnya tertuju ketubuh Ho Thong thian itu, sekarang meluncur kearah anjing
besar yang masih dirantai itu dan menghajarnya telak. seketika anjing itu pun mampus dengan
keadaan mengerikan.
setelah menenangkan hatinya. rasa kaget dan panik berhasil diatasi oleh Ho Thong thiansekarang
dia tahu serangan tersebut muncul dari balik lubang diatas dinding tersebut, kecuali hasil
perbuatan dari manusia berwajah dingin, rasanya memang tak mungkin bisa dilakukan oleh pihak
kedua.
Maka ia lantas bergeser kesudut ruangan yang sejajar dengan lubang diatas dinding itu,
katanya sambil tertawa seram:
"Haaahhhh haaahh haaahhh bocah keparat, engkau memang lihay, tapi sayang pertunjukan
bagus harus tetap dilangsungkan, engkau tahu aku memelihara hampir seratus ekor anjing
semacam itu, tak ada artinya bagimu kematian dua ekor anjing tersebut, tapi dengan
perbuatanmu tadi engkau sudah kehilangan hak untuk menikmati pertunjukan bagus, sekarang
engkau harus terjun sendiri dalam pertunjukan yang jauh lebih menarik"
"criiing...?" tiba tiba lubang diatas dinding itu menutup secara otomatis.
Kiranya disaat yang paling kritis, Han siong Kie teringat dengan ilm ujari Tong kim ci nya yang
lihay, maka dari lubang pengintip itulah dia melancarkan serangannya untuk membinasakan kedua
ekor anjing tersebut dan kejadian ini sama sekali diluar dugaan Ho Thong thian.
setelah lubang pengintip itu tertutup, Han siong Kie semakin panik dan gelisah, sekarang bukan
saja ia terkurung dalam jebakan malahan Go siau bi semakin terancam jiwanya.
"Kraaakkk kraaakkk " bunyi gemerincing berkumandang dari arah belakang, ketika ia berpaling,
hatinya kontan jadi terperanjat rupanya terali besi disamping ruangan itu sudah dibuka dan lima
ekor anjing besar bagaikan harimau telah menyusup keluar dari kandangnya dan mengambil posisi
pengepungan.
sambil menggonggong seekor anjing besar itu laksana kilat menerjang maju kedepan. Han
siong Kie cepat bergeser kearah samping, ilmu jari Tong kim ci segera dilepaskan.
Anjing itu mendesis lengking, tubuhnya terhajar telak dan mampus seketika itu juga, sementara
empat ekor lainnya pada saat yang hampir bersamaan menerkam kedepan.
Ruangan itu luasnya cuma tiga kaki, sedangkan kedua sangkar anjing itu hampir menempati
separuhnya, sisa ruangan yang tersedia sempit sekali, dalam keadaan seperti ini sulit baginya
untuk berkelit maupun menghindar.
Untungnya Han siong Kie memiliki ilmu lintasan cahaya kilatan bayangan yang lihay bagaikan
sukma gentayangan dia bergerak kian kemari diantara terjangan-terjangan empat ekor anjing
tersebut, meskipun posisinya berbahaya namun tak sampai terancam jiwanya.
JILID 28 HAL.50/51 HILANG
lewat pintu yang sempit, tiap kali pula sianak muda itu membunuhnya dengan ilmu jari Tong
kin ci.
Dalam sekejap mata tiga ekor anjing raksasa sudah mampus dengan badan hancur.
"Crinng " tiba? pintu sangkar itu menutup dan Han siong Kie terkurung didalam sangkar
tersebut.
Namun sianak muda itu sama sekali tidak ambil pusing, dari bilik celah-celah terali besi secara
beruntun dia lancarkan beberapa sentilan mautnya. Tiga ekor anjing raksasa yang tersisa, kembali
mampus diujung telapak tangannya.
Begitulah, dalam sekejap mata ada sepuluh ekor anjing raksasa yang telah ia bunuh mati.
selesai membunuh anjing2 itu, Han siong Kie lantas mencengkeram terali besi itu karena pintu
keluarnya tertutup rapat maka dia memutuskan untuk mematahkan terali besi itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, sekali merentangkan tangannya, terali besi itu
segera melengkung dan terbukalah sebuah lubang yang cukup besar.
Pemuda itu meneborobos keluar dari sangkar tersebut, walau begitu dia belum lolos dari
kurungan sebab dinding baja masih mengurungnya dalam ruangan itu
Betapa gelisahnya pemuda itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia seperti seekor harimau
buas yang terjebak dalam kerangkeng sambil berjalan kesana kemari otaknya berputat terus untuk
mencari akal guna meloloskan diri dari kurungan.
Bagi si anak muda ini, keselamatan sendiri tidak terlalu dipentingkan, ia justru lebih
menguatirkan keselamatan Go siau bi, sekarang dia dapat memahami sampai dimanakah kekejian
Ho Thong thian, ia tahu apa yang telah diancamkan dapat dilaksanakan menjadi kenyataan-
Ho Thong thian memang sangat keji, di tinjau dari tindak tanduknya yang begitu terlatih dan
terbiasa, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah banyak perempuan yang mengalami nasib tragis
ditangannya, entah sudah berapa banyak anak perempuan yang dijadikan obyek tontonannya
diperkosa olen anjing ..
Rasa dendam, benci, marah berkecamuk dalam hatinya, hawa napsu membunuh telah
menyelimuti seluruh wajahnya. Ia bersumpah dihati bila Ho Thong thian sampai tertangkap maka
akan dibunuhnya orang itu secara keji.
sambil menahan diri pemuda itu mulai meraba dinding baja dan berusaha untuk menemukan
letak tombol rahasia ditempat itu, namun kecuali pintu rahasia tadi, tiada bekas lain yang terdapat
disitu, seakan-akan ruangan itu dibuat dari lembaran baja yang utuh.
sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru pertama kali ini dia menjumpai keadaan yang
mencemaskan hatinya, dan membuat ia jengah serta serba salah.
Hawa amarah makin memuncak. hampir saja anak muda itu tak sanggup mengendalikan diri..
Tiba-tiba pintu besi yang menghubungkan ruangan itu dengan penjara bawah tanah perlahanlahan
bergerak ke atas dan akhirmya terbukalah sebuah liang kecil.
Han siong Kie mundur tiga langkah ke belakang, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan
siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di inginkan.
sesosok makhluk aneh berbulu perlahan-lahan muncul dari lubang tadi dan meloncat keluar ....
Han siong Kie semakin terperanjat, telapak tangannya diayun kemuka melepaskan pukulan
maut.
"Hey, bocah jangan pukul aku" makhluk aneh itu berseru dengan lantang.
Han siong Kie menarik serangannya dan mundur ke belakang ternyata makhluk berbulu itu
adalah kepala manusia, dia adalah sorang manusia cebol yang gemuk dan bentuk badannya persis
seperti blingo, rambutnya telah beruban semua.
orang itu tak lain adalah Tee heng sian (Dewa berjalan dalam tanah) yang pernah merampas
pusaka Hud jiu po pit miliknya tempo hari.
Kemunculan Tee heng sian dalam keadaan semacam ini jauh diluar dugaan Han siong Kie, ia
tahu tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sangat lihay dan tindak tanduknya sangat misterius.
Dengan suara yang dingin bagaikan es, sianak muda itu segera menegur keras:
"Bukankah emgkau adalah Tee heng sian?"
Dengan tubuh yang gemuk dan gerakan yang lamban- Tee heng sian bergerak
JILID 28 HAL. 56/57 HILANG
" Untuk meneguk beberapa guci arak wangi itu, aku telah membuang waktu selama berbulan2
lamanya, dari luar perkampungan aku telah menggali sebuah lorong rahasia yang langsung
berhubungan dengan gudang arak itu."
Ter mangu2 Han siong Kie setelah mendengar ucapan tersebut, kejadian ini memang
merupakan suatu kejadian yang aneh sekali, untuk mencuri beberapa guci arak wangi, ternyata
orang itu bersedia bekerja selama ber-bulan2 lamanya. setelah tertegun sesaat diapun bertanya
lagi:
"Engkau toh tahu bahwa perkampungan oh han san ceng penuh dengan anjing2 raksasa? Masa
dengan daya penciuman anjing2 itu, jejakmu tidak sampai ketahuan ?"
"Haaah haaah haaaah kalau ingin jadi pencuri yang ulung maka pengetahuan sebagai pencuri
musti luas, tentu saja akupun tahu akan lihaynya daya penciuman anjing-anjing itu, maka sengaja
kugosokkan serbuk anti bau disekujur badanku, setelah begitu maka sekalipun anjing dari langit
juga tak akan dapat mencium bauku"
"Jadi kalau begitu, engkau bisa keluar masuk perkampungan ini dengan leluasa?"
"Itu sih tidak. meskipun aku punya serbuk anti bau, tapi aku tidak punya serbuk anti anjing,
kalau sampai terkepung anjing2 buas itu, bisa jadi mayatku akan habis disikat mereka, tentu saja
kedatanganku kemari juga menempuh bahaya"
"Kenapa engkau datang kesini dengan menempuh bahaya ?"
"Tentu saja karena engkau si bocah muda "
40
"Lantaran aku?" seru Han Siong Kie dengan wajah tercengang.
"Memang begitulah kenyataannya"
"Boleh aku tahu apa sebabnya engkau datang kemari ?"
"Mari duduklah dulu dan biarlah aku bercerita dari awal sampai akhir."
"Sekarang aku tak ada waktu" Seru Han Siong Kie dengan gelisah, "apakah engkau bersedia
memberi petunjuk kepadaku bagaimana caranya keluar dari penjara ruang baja ini??"
"Engkau ingin buru2 menolong bocah perempuan itu? " tanya Tee heng sian sambil melototkan
matanya yang aneh.
"Dari mana engkau bisa tahu?" Han siong Kie balik bertanya dengan hati terperanjat.
"Jangan gelisah dulu, aku kebetulan dapat mencuri dengar kejadian ini dari bawah tanah,
sebab tanah dibawah tempat tinggal Ho Thong thian telah kubongkar, maka semua pembicaraan
diatas kedengaran jelas dibawah, sekarang makhluk tua itu sedang merawat lukanya, untuk sesaat
dia tak mampu mengapa-apakan bocah perempuan itu lagi"
"Lhoo..kok aneh, masa Ho Thong thian sedang merawat lukanya?" tanya Han siong Kie
keheranan.
00dw00
BAB 59
"MASA membohongi kau?"
"Lantas dia luka ditangan siapa?"
"siapa lagi? Tentu saja ditangan bocah perempuan itu"
"Aaah, tidak mungkin, bukankah jalan darahnya sudah tertotok, dia sama sekali tak bisa
bergerak.."
"Hey bocah, pernahkah dengar tentang ilmu membebaskan jalan darah dengan hawa murni?
Bocah perempuan itu sudah kembali melepaskan diri dari pengaruh totokan, dan suatu serangan
kilatnya berhasil pula melukai Ho thong thian"
"sekarang gadis itu ada dimana??"
"Dia masih terkurung dalam ruangan baja sebelah ruangan ini"
JILID28 HAL. 62/63 HILANG
Begitulah, dengan Tee heng sian berjalan didepan, Han siong Kie berjalan dibelakang mereka
melewati sebuah lorong yang sangat panjang.
Ketika hampir mendekati ruang tamu dan tiga kaki dimulut penjara bawah tanah, mereka
mendekati dinding yang berada disebelah kanan, ketika sebuah papan batu sebesar dua depa di
geser kesamping, maka muncullah sebuah gua yang bisa dilewati oleh tubuh seorang manusia.
"Loo tee" kata Tee heng sian kemudian, "inilah jalan bawah tanah yang telah lo ko gali selama
ini, asal batu itu digeser kembali pada tempat semula, maka sekalipun ada dewa yang lewat disini
juga tak akan melihatnya"
-000dw000-
Han siong Kie tertarik sekali dengan keanehan watak sahabat barunya ini, ia tertawa dan
menyahut:
"Kalau mainan begitu, aku mohon diri dahulu"
"Pergilah. Aku paling benci dengan segala tata cara, ingat bocah perempuan itu tersekap dalam
rumah besi ketiga, jangan sampai salah "
Han siong Kie mengiakan, dia lantas menggeser guci arak yang dimaksudkan, disana memang
terdapat sebuah lorong yang gelap dan panjang, pemuda itu lantas menerobos keluar lewat jalan
bawah tanah itu.
seperminum teh kemudian ia sudah keluar dari lorong itu, ternyata sekarang dia sudah berada
diluar pekarangan perkampungan itu, maka sebagaimana yang dipesan, ia tutup kembali mulut
gua itu dengan rapi, kemudian baru menyerbu kedalam perkampungan
Baru saja dia melayang turun didepan dua deret bangunan baja, tiba-tiba tiga sosok bayangan
hitam dengan kecepatan bagaikan kilat telah menyambar tiba, ternyata ketiga sosok bayangan itu
adalah tiga ekor anjing yang besar.
Berada ditanah lapang yang luas Han siong Kie tak perlu menguatirkan cakar racun dari anjinganjing
itu lagi, dalam beberapa gebrakan saja ketiga ekor anjing itu sudah dibikin mampus dengan
pukulan mautnya.
suara pekikan panjang yang diperdengarkan anjing-anjing itu sebelum ajalnya, dengan Cepat
mengejutkan seluruh perkampungan.
Suara langkah kaki yang sangat ramai berkumandang memecahkan kesunyian, belasan orang
lelaki yang berdandan sebagai centeng berlarian keluar dari rumah-rumah baja itu.
Tapi setelah mengetahui siapa yang muncul, hampir sebagian besar centeng itu berdiri
tertegun, mimpipun mereka tak menyangka kalau Manusia bermuka dingin yang dikurung dalam
rumah baja telah berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat.
Padahal mereka tahu bahwa baja yang melapisi ruangan- ruangan itu tebalnya mencapai
beberapa depa, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang tinggi juga tak akan mampu untuk
menghancurkannya,
JILID29 HAL. 06/07 HILANG
untuk membunuh kawanan begundal itu, oleh sebab pihak lawan menghadang jalan perginya,
dia baru berhasrat untuk melakukan pembantaian secara keji. "Trang traanng traaang " suara
genta dibunyikan bertalu-talu.
Ber-puluh2 sosok bayangan manusia meluncur masuk kedalam gelanggang, diantara mereka
ada yang tua ada yang muda, semuanya berjumlah lima puluh orang lebih, tapi yang jelas diatas
wajah orang2 itu terlintas rasa kaget yang bukan kepalang.
setelah semua orang munculkan diri, dengan cepatnya pula Han siong Kie terkurung ditengah
gelanggang.
Menyapu wajah orang2 itu dengan pandangan dingin, Han sioog Kie berkata: "Kenapa sampai
sekarang Hoo Thong thian belum juga munculkan diri?"
Dari antara kerumunan orang banyak. tampil kedepan seorang kakek berbaju hitam, dengan
wajah bengis ia menghardik:
"Manusia bermuka dingin, apa maksudmu datang ke mari??"
"Membantai seluruh isi perkampungan ini" jawab pemuda itu dengan ketus
Ucapan yang berbau amis darah ini sangat menyolok dan menggidikkan hati semua orang,
tanpa sadar paras muka orang-orang itu berubah hebat dan bulu kuduknya pada bangun berdiri
Dengan terperanjat kakek baju hitam itu mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan
suara gemetar:
"Apa? Manusia bermuka dingin, engkau akan membantai seluruh isi perkampungan?"
"Benar, tentunya Ho Thong thian masih belum lupa bukan dengan apa yang telah kuucapkan
ketika berada dalam kurungan ruang besi tadi?"
"Tentu saja lohu tak akan lupa, dengan kata-katamu itu" berbareng dengan berkumandangnya
jawaban itu, Ho Thong thian munculkan diri ditengah gelanggang
Hawa napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah Han siong Kie sambil mendengus
dingin ia tuding Ho Thong thian serunya:
"Bangsat tua lebih bagus lagi kalau engkau memang mengingat kata-kataku itu, sekarang juga
kenyataan akan terbeber didepan mata"
Ho Thong thian memandang lawannya dengan penuh kebencian serta kelicikan:
JILID29 HAl 10/11 HILANG
bahkan cara melepaskan senjata rahasia itu pun menggunakan cara ban thian boa yu ( hujan
bunga diseluruh langit).
Han siong Kie mendengus dingin, sepasang telapak tangannya membuat gerakan lingkaran
didepan dada kemudian menolaknya kedepan.
Ditengah hembusan angin puyuh yang kencang, seluruh kilatan cahaya biru itu sudah tersapu
rontok diatas tanah.
Ho Thong thian bertindak cukup licik, berbareng dengan dilancarkannya serangan itu, dia telah
mundur sejauh dua kaki lebih dari kedudukan semula
Gonggongan anjing menderu-deru, kurang lebih dua puluh ekor anjing besar berlarian keluar
dari ruang baja dan langsung menyerbu kedalam gelanggang
semakin tebal hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Han siong Kie, dia melambung
keudara, sepasang telapak tangannya dilontarkan berbareng kedepan, sepuluh desingan ilmu jari
Tong kim ci dengan kecepatan yang luar biasa menghantam tubuh kakek baju hitam serta pria
setengah baya yang melancarkan serangan senjata rahasia itu
Dua jeritan ngeri memecahkan kesunyian, percikan darah segar berhamburan ditanah, tanpa
sempat menjerit, kakek dan pria setengah baya itu sudah mampus dengan badan berlubang.
Han siong Kie tidak berhenti sampai disitu saja, setelah menewaskan dua orang musuhnya dia
melambung keangkasa dan menubruk kearah Ho Thong thian yang sudah kabur sejauh dua kaki
dari kedudukan semula itu.
Sekarang Ho Thong thian baru merasa takut dan seperti kehilangan sukma, cepatt dia
menundukkan tubuhnya dan menggelinding sejauh beberapa kaki dari tempat itu.
Han siong Kie tidak mengira kalau seorang tokoh silat yang punya nama besar seperti Ho
Thong thian, ternyata telah melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari medan pertempuran,
sementara serangannya gagal mencapai sasaran, belasan ekor anjing besar itu sudah menerjang
tiba dengas serangannya.
Disaat Han siong Kie terkurung oleh kawanan anjing tersebut, Ho Thong thian sendiri kabur
menuju kepintu baja yang keempat, mungkin dia hendak menggunakan ruang baja ini untuk
menyembunyikan diri atau mungkin juga dia masih mempunyai rencana busuk yang lain.
Kali ini Han siong Kie bertindak cerdik, dia melambung setinggi beberapa kaki ke udara setelah
lolos dari sergapan kawanan anjing itu badannya berjumpalitan beberapa kali seperti anak panah
terlepas dari busurnya dia meluncur kearah Ho Thong thian, sepasang telapak tangannya seperti
cakar garuda mengcengkeram batok kepala lawan.
Hampir pada saat yang bersamaan, pintu besi itu terbuka dan mereka berdua masuk kedalam
ruangan baja.
"criing" secara otomatis pintu baja itu menutup dengan sendirinya.
Betapa takut dan ngerinya Hoo Thong thian tatkala dilihatnya bukan saja ia gagal untuk
melarikan diri malahan dirinya terjebak dalam satu ruangan bersama musuhnya.
Ia sadar bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, apalagi berada dalam ruangan
yang begitu sempit, mau melawanpun tak ada gunanya.
Han siong Kie sendiri sudah terlanjur membenci musuhnya ini, cepat telapak tangan kiri serta
ujung jari tangan kanannya ditolak kedepan melancarkan serangkaian pukulan gencar ketubuh
Hoo Thong thian yang sedang ketakutan.
Ho Thong thian sendiri kelabakan setengah mati menghadapi ancaman maut itu, mau
menghindar dia tak mampu, akhirnya tidak ampun lagi tubuhnya terhajar telak oleh serangan
maut itu.
sambil menjerit lengkimg dengan suara yang menyayatkan hati, tubuh Hoo Thong thian
mencelat sampai menumbuk dinding baja, dadanya seketika terhajar sampai berlubang darah
segar berhamburan membasahi seluruh lantai.
setelah musuhnya mampus, Han siong Kie baru tertegun, ia baru menyesal sekarang setelah
musuhnya dibunuh mati, bukankah dengan demikian dia terjebak pula dalam ruangan baja itu?
Bangkai keseputuh ekor anjing itu masih menggeletak ditempat semula, hanya kini bertambah
lagi dengan sesosok mayat manusia.
JILID29 HAl 16/17 HILANG
tubuhnya gemetar dengan jantungnya berdebar dan mukanya jadi merah, secara beruntun dia
mundur tiga langkah ke belakang.
sesosok tubuh yang bugil masih melingkar didalam ruang baja itu, dan dara itu tak lain adalah
Go siau bi.
Padahal menurut keterangan dari Tee heng sian jalan darah Go siau bi sudah bebas malahan
serangannya berhasil melukai Ho Thong thian, kalau toh jalan darahnya sudah bebas, kenapa ia
masih berbaring disitu dalam keadaan telanjang bulat ?
Kalau dilihat dari pintu baja yang separuh terbuka,jelas ada orang pernah memasuki ruangan
ini lalu siapakah orang itu ?
Kenapa tidak menolong Go siau bi, melainkan membiarkan dia .....
Berpikir sampai disini, tak kuasa lagi tubuhnya gemetar keras, pikirnya lebih jauh:
"Aduh celaka, jangan-jangan Go siau bi sudah mengalami...."
Karena kuatir tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu menerjang masuk ke dalam ruangan,
meskipun jantungnya
JILID 29 Hal 19 S/D 24 HILANG
merahnya sehingga tidak menetes ke bawah, ujarnya lagi dengan sedih:
"Sejak pertama kali aku bertemu dengan kau, aku telah mencintai dirimu, engkau adalah orang
pertama yang kucintai juga merupakan orang terakhir yang kucintai, sekalipun aku mencintai
dirimu dengan sepenuh hati dan aku tidak mendapatkan balasan yang sewajarnya tapi aku
memang mencintai kau, cintaku adalah cinta suci yang muncul dari lubuk hatiku, asal kau tahu aku
sudah merasa puas. Aaai . . karena pikiran yang keliru hampir saja aku melakukan kesalahan
besar, terimakasih kuucapkan kepadamu, karena engkau telah memberi kesempatan kepadaku
untuk menebus dosa-dosa itu"
Rasa cinta Han siong Kie benar-benar tersentuh oleh perkataanya itu, detik itu juga ia merasa
bersalah karena pendapatnya yang keliru ini telah menghancur lumatkan rasa cinta dirinya yang
nyata ia telah menyakiti perasaan seorang gadis yang membuat dara itu hampir saja melakukan
kesalahan besar.
"Nona, maafkanlah kesalahanku . ." bisiknya kemudian.
-000dw000-
BAB 60
Go SIAU BI segera ulapkan tangannya dan mencegah pemuda itu meneruskan kata-katanya
"Han siangkong, biarlah kusebut engkau dengan sebutan seperti yang kugunakan ketika untuk
pertama kalinya aku bertemu dengan engkau, sekarang engkau tak usah minta maaf kepadaku,
biarkanlah kejadian yang sudah lewat jadi kenangan, sekarang tegasnya mulai detik ini untuk
menebus semua dosa yang pernah kulakukan semoga engkau baik-baik menjaga diri"
Tak tahan lagi air matanya jadi berderai membasahi seluruh wajahnya yang putih dan halus.
Go siau bi telah berlalu pergi dengan membawa perasaan hatinya yang hancur.
Han siong Kie ingin memanggil dara itu tapi ia tidak berbuat demikian, pemuda itu hanya
berdiri termangu-mangu di dalam bangunan rumah baja itu.
Ia merasa bagaikan sedang bermimpi suatu impian buruk yang sebetuinya adalah kenyataan,
dengan suara yang lirih ia cuma dapat bergumam. .bergumam seorang diri dengan suara yang
lirih:
"sebenarnya apa yang kau lakukan? Benarkah tindakanku selama ini ? Ataukah tindakanku itu
keliru besar?"
Namun ia tak berhasil menemukan jawabannya.
Dengan mengorbankan segala-galanya Go siau bi berusaha untuk mendapatkan dirinya, tapi
sekarang setelah mengalami kejadian tersebut, ia telah pergi dengan keraskan hati dan telah
memutuskan perasaan cintanya.
sementara dia masih melamun, dari kejauhan terdengar serentetan jeritan ngeri berkumandang
memenuhi seluruh angkasa, jeritan tersebut segera menyadarkan kembali pemuda itu dari
lamunannya
Ia lantas menduga kalau Go siau bi sedang melaksanakan pembalasan dendamnya atas orangorang
dari perkampungan oh hau san ceng
JILID29 HAL. 28/29 HILANG
diharuskan menolong Go siau bi. Kalau toh ia dapat membuka pintu baja itu, mengapa ia tidak
membawa Go siau bi yang telanjang bulat, sebaliknya diserahkan kepadanya? Kenapa..? Kenapa ?
Pemuda itu benar-benar merasa tidak habis mengerti.
"Eeeh lo-te, aku lihat pikiranmu kurang tenang dan wajahmu gugup sekali hayo, apa yang telah
kau lakukan?" tiba tiba Tee heng sian menegur sambil tertawa cengar- cengir.
"Aku..." Han siong Kie tertawa jengah
"Dimana bocah perempuan yang telah kau tolong itu?"
"Dia... dia telah pergi"
"Pergi? Pergi seorang diri?"
Dengan sedih Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan. Tee hee sian berkata lebih
jauh.
"Tahukah engkau, kenapa orang yang ada maksud membunuh orang dan membakar
perkampungan ini?"
"Mungkin juga dia hendak melampiaskan rasa dendam dan mendongkol dari Go siau bi"
"Lalu setelah urusan disini telah selesai, kau hendak pergi kemana. ?"
Han siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
kemudian baru menjawab: "..Aku pikir hendak mengunjungi lembah in wu kok"
"Lembah In wu kok? Aneh benar nama tersebut, dimana toh letak lembah yang aneh itu?"
"Kurang lebih setengah jam lamanya dari tempat ini, lembah In wu kok adalah sebuah lembah
aneh yang terpencil sekali letaknya"
"siapa yang beri tahu kepadamu kalau lembah itu bernama in wu kok?" Han siong kie
tersenyum.
"ooh aku sendiri yang menamakan lembah tersebut, dengan sebutan lembah In wu kok, coba
lihatlah bukankah disitu penuh dengan kabut yang amat tebal?"
"Aaah saudaraku, tempat itu bukan bernama lembah In wu kok melainkan adalah Lembah
kematian yang dianggap setiap umat persilatan sebagai daerah terlarang, keseraman dan
kengerian yang menyelimuti lembah tersebut sama sekali tak kalah dengan kemisteriusan benteng
maut yang tersohor itu"
"Lembah kematian?"
Benar, lembah itu sangat berbahaya.. setiap orang yang berani memasuki lembah itu berarti
mengantar kematian diri sendiri sebab semua orang yang sudah masuk ke dalam lembah itu,
selamanya tak akan bisa munculkan diri dalam keadaan selamat"
Hebat sekali perobahan wajah Han siong Kie, untuk sesaat dia termenung lalu baru berkata:
"Semula aku masih mengira lembah itu hanya sebuah lembah terpencil yang jarang sekali
dikunjungi manusia"
"Loo te" Tiba2 Tee heng sian berkata dengan wajah serius "kalau toh engkau sama sekali tidak
kenal akan lembah kematian, mau apa kau kunjungi lembah tersebut??"
"Aku... sebenarnya aku hendak mempelajari sejenis ilmu silat didalam lembah itu"
”Kalau toh cuma ingin mempelajari sejenis ilmu silat, mengapa kau pilih tempat semacam itu??"
"Sebab aku lihat tempat itu jauh dari keramaian dunia dan jarang sekali dikunjungi manusia,
aku takut latihanku terganggu oleh kehadiran manusia lain maka aku hendak mencari tempat yang
sepi dan terpencil itu sebagai tempat latihanku"
"saudaraku kalau engkau percaya dengan kata2ku ini, lebih baik batalkan saja niatmu itu"
Masih mendingan kalau Tee heng sian tidak berkata, semakin dilarang pergi kesitu semakin
besar pula rasa ingin tahu yang timbul dalam hati Han siong Kipikirnya:
"Apa salahnya kalau aku pergi melakukau penyelidikan? Akan kulihat sebenarnya macam
apakah lembah kematian tersebut"
Tapi ia merasa tak tega untuk menolak kebaikan orang, maka ia manggut-manggut berulang
kali.
"Baiklah, aku akan pertimbangkan lagi rencana ini, terima kasih atas peringatan dari engkoh
tua, kau..."
sebelum pemuda itu menyelesaikan kata2nya Tee heng siang telah tertawa cekikikan seraya
menukas:
JILID29 HAL. 34/35 HILANG
Pemuda itu menghela napas panjang, pikirnya:
"Aaai. sayang adik Hui telah kembali kealam baka, tapi benarkah ia telah mati Bukankah orang
yang ada maksud telah berkata bahwa adik Hui tak akan mati?" Lama sekali pemuda itu
termenung, selang sesaat kemudian pikirnya lebih jauh:
"Kalau dia tidak mati, meagapa ia tak muncul kembali dari benteng mautnya, Apakah ia lupa
masih ada janji dengan aku? Lupakah dia ketidak munculannya berarti suatu bukti padaku bahwa
ayahnya adalah pembunuh keluargaku?"
setelah termanggu2 sejenak pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya memasuki lembah
itu
Kabut yang menyelimuti angkasa kian menebal, meskipun Han siong Kie memiliki ketajaman
mata yang dapat memandang pemandangan sekitar tiga kaki, namun tiada satupun yang terlihat
olehnya.
"Aneh." kembali pemuda itu membatin, menurut Tee heng sian lembah kematian adalah suatu
daerah terlarang yang sangat disegani oleh setiap umat persilatan di dunia ini, malahan katanya
siapa berani masuk maka dia tak ada harapan untuk keluar dalam keadaan selamat, kini aku
sudah lama masuk kedalam wilayah ini, kenapa tiada sesuatu apapun yang berhasil kutemui . ." "
Setelah termenung sebenter ia membatin lagi:
"Jangan-jangan berita yang tersiar dalam dunia persilatan tak bisa dipercaya kebenarannya?"
Satu li kembali sudah dilewati oleh Han siong Kie, namun tiada sesuatu apapun yang terlihat.
Akhirnya mata yang tajam itu membentur dengan sesuatu benda, mendadak saja tubuhnya
menggigil keras jantungnya berdebar tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya.
Sebuah batu besar yang penuh dengan lumut hijau terpancang di depan matanya, di atas batu
tugu itu terteralah beberapa tulisan dengan huruf yang amat besar: "PERBATASAN ANTARA MATI
DAN HIDUP
JILID 29 HAL. 38/39 HILANG
Pemuda itu celingukan memandang sekeliling tempat itu, ketika ditemukan sebuah batu cadas
kurang lebih empat kaki disamping tempat itu, cepat ia berkelebat kebelakang batu itu dan
menyembunyikan diri
sekejap mata kemudian belasan sosok bayangan manusia telah munculkan diri didepan batu
peringatan tersebut.
Rombongan itu dipimpin oleh dua orang kakek berjubah hitam sedang kan sisanya adalah dua
belas orang laki-laki yang memakai, baju ringkas warna hitam pula.
Di atas dada kedua orang kakek berjubah hitam itu masing2 bersulamkan lukisan rembulan dan
matahari dan bintang.
Begitu menyaksikan lambang yang tertera diatas dada kakek berjubah hitam itu, Han siong Kie
merasakan hatinya bergetar keras, sebab lambang tersebut tidak terlalu asing baginya, dia merasa
se-akan-akan pernah menjumpainya disuatu tempat.
setelah dipikirkan beberapa saat pemuda itu teringat kembali, ia masih ingat bagaimana orang
yang kehilangan sukma telah membunuh Tengkorak maut gadungan dengan lencana Thian Che
leng, dan di atas lencana itu terteralah lukisan Matahari, rembulan dan bintang.
Itu membuktikan pula bahwa rombongan yang barusan tiba disana tak lain adalab anak buah
dari perkUmpulan Thian Che kau.
seingatnya diantara anggota perkumpulan Thian Che kau yang pernah ditemuinya, belum
pernah ada diantara mereka yang munculkan diri dengan diatas dadanya tertera lambang
matahari rembulan serta bintang, pemuda itu mulai berpikir-pikir, jangan2 kedudukan dua orang
kakek tua itu memang sangat istimewa??
sementara itu salah seorang diantara dua orang kakek berjubah hitam itu sudah menyapu
sekejap sekeliling gelanggang, kemudian kepada rekan-rekannya dia berkata.
"saudara see bun, masakah bocah keparat itu bisa terbang kelangit atau tenggelam kedasar
bumi? Kenapa jejaknya lenyap dengan begitu saja tanpa meninggalkan bekas?" Kakek baju hitam
yang disebut saudara see bun itu menjawab:
"saudara Nyoo, menurut pandanganku mungkin saja bocah keparat itu telah mengetahui jejak
kita semua maka sengaja ia mencari tempat yang bersembunyi untuk menyembunyikan diri "
"sekalipun ia sedang bersembunyi toh penggeledahan yang kita lakukan cukup ketat, masa
pencarian ini sangat teledor sampai tempat persembunyian musuh sama sekali tidak ketahuan ?"
"Walaupun demikian kabut toh terlalu tebal disekitar tempat ini, siapa tahu kalau
penggeledahan kita memang kurang teliti ?"
"Mungkinkah mata2 kita telah salah melihat orang ?" tanya orang she Nyoo lagi.
"Aaah tidak mungkin Tanda2 yang dimiliki manusia bermuka dingin sangat istimewa sekali,
rasanya susah untuk mencari orang kedua yang memiliki ciri2 seperti dia "
Hampir saja Han siong Kie mendcngus dingin apa lagi setelah diketahui olehnya bahwa
kemunculan rombongan itu tak lain adalah sedang mencari jejaknya.
"Jangan-jangan bangsat muda itu sudah melampaui perbatasan antara hidup dan mati?"
kembali kakek she Nyoo itu mengutarakan pendapatnya. Dengan cepat kakek she see bun itu
menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aah.. soal ini tak mungkin, sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tak nanti ia bisa lolos dari
kematian bila berani melewati perbatasan ini, tak nanti dia datang hanya untuk menghantar
kematian belaka"
"Yang lebih aneh lagi, entah apa sebabnya bocah bangsat itu datang mengunjungi lembah
kematian??"
"Aku mana tahu, mungkin cuma dia seorang yang mengetahui apa tujuannya datang kemari"
"Lalu apa yang musti kita lakukan sekarang??"
"Mulut lembah sebelah depan toh sudah dijaga oleh jago2 lihay kita, mari kita lanjutkan
penggeledahannya disekitar tempat ini, aku tak percaya kalau dia sudah dapat terbang ke langit
atau menyusup kedalam tanah."
"Andaikata penggeledahan kita ini cuma sia-sia belaka??"
JILID29 HAL. 44/45 HILANG
laki-laki berpakaian ringkas itu segera menyambarkan diri dan membentuk gerakan setengah
lingkaran untuk melakukan pengepungan yang ketat.
Telapak tangan kilat see bun Lui maupun pui hunp yan Nyoo Yong serentak berpaling pula
kearah anak muda itu, dengan sinar mata berwarna hijau tajam mereka menatap musuhnya tanpa
berkedip. dari kilatan cahaya mata itu dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki kedua
orang itu benar2 sudah mencapai puncak kesempurnaan.
Agak terkejut juga Han siong Kie setelah menyaksikan kesempurnaan tenaga dalam yang
dimiliki musuhnya, namun ia tak gentar, dengan pandangan yang tak kalah dinginnya ia balas
menatap kedua orang lawannya.
"Jadi engkau yang bernama Manusia yang bermuka dingin?" tegur Tui hun pan dengan wajah
dingin.
Han siong Kie mendengus dingin. "Hmm Ucapanmu memang tepat sekali."
"Bangsat, engkau akan menyerahkan diri dengan begitu saja ataukah hendak memaksa aku
untuk turun tangan?"
"Huuh manusia macam kalian pun hendak membekuk aku" ejek sang pemuda sambil tertawa
sinis "Hmmm sebutkan dulu siapa nama kalian"
"Bocah keparat, dengarkan baik-baik kata-kata kami ini" seru see bun Li dengan cepat, "kami
berdua adalah Utusan khusus dari Thian che kau, dua jago lihay diantara sepuluh tokoh paling
tinggi kedudukannya dalam perkumpulan kami.."
"Utusan khusus Haaahh haaahh haahh aku rasa kalian toh tak lebih cuma begundal bayaran
belaka"
Ucapan itu dianggap sebagai penghinaan besar bagi dua orang kakek tua itu, betapa gusarnya
oran2 itu sukar dilukiskan dengan kata-kata.
"Bangsat, rupanya engkau sudah bosan hidup?" bentak mereka hampir bersamaan waktunya.
Dliringi bentakan nyaring see bun Lui melambung tiga kali ke tangah udara, kemudian secepat
kilat melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Han siong Kie.
serangan tersebut memang luar biasa cepatnya dan tak malu disebut bagaikan sambaran kilat,
pada saat yang
JILID29 HAL. 48/49 HILANG
Han siong Kie dengan andalkan tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan itu
melakukan inisiatip untuk menyerang gencar, sekalipun dia telah berusaha dengan segenap
kemampuan yang dimiliki, itupun hanya berhasil memaksa lawannya untuk bertarung dalam
keadaan seimbang alias sama kuat.
Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun menang kalah masih belum bisa
ditentukan.
Memang seram dan mengerikan jalannya pertarungan itu, bukan saja angin menderu dan
bahkan dunia terasa jadi gelap, membuat dua belas orang laki2 berpakaian ringkas yang ada
disamcing gelanggang diam2 merasa bergidik.
setelah berhenti sebentar untuk mengatur pernafasan, see bun Li terjun kembali ke dalam
gelanggang pertarungan, rupanya dia pun menyadari bahwa kekuatan pihak lawan terlalu
tangguh, tak mungkin salah seorang dari pada mereka berhasil menaklukkan lawannya andaikata
tidak turun tangan secara bersama:
Dengan cepat situasi dalam gelanggang pertarungan mengalami perubahan.
Dua orang tokoh sakti dengan meng andalkan kekuatan mereka yang paling top berusaha
menghancurkan lawannya, kedahsyatan angin pukulan yang mereka hasilkan benar2 mengerikan
sekali.
Dalam keadaan demikian, Han siong Kie dipaksa untuk mengambil langkah2 pertahanan,
dia mainkan ilmu Mo mo ciang hoat bagian pertahanan untuk menutup semua bagian tubuhnya
dari kemungkinan terserang musuh, kalau sebentar saja masih mendingan tapi lama kelamaan
diapun mulai terdesak hebat. sepuluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa...
Han siong Kie semakin terdesak hebat sehingga selangkah demi selangkah mundur terus
kebelakang..
satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Akhirnya pemuda itu sudah melampaui garis pemisah
yang merupakan perbatasan antara mati dan hidup,
Menyaksikan kejadian itu baik see bun Lui yang bergelar telapak tangan kilat maupun Nyoo
Yong yang berjulukan Hakim pengejar sukma sama-sama menarik kembali serangannya dan
mundur kebelakang.
Perbatasan antara mati dan hidup .. suatu wilayah angker yang tak berani dilewati oleh
siapapun.
Han siong Kio masih belum merasa kan akan hal itu, kembali ia mundur beberapa langkah
kebelakang.
sekarang Han siong Kie sudah berada satu kaki lebih dibalik garis pemisah yang disebut
perbatasan antara mati dan hidup itu, namun tiada sesuatu kejadian yang menimpa dirinya, ia
tetap utuh, sehat dan tak kekurangan sesuatu apapun.
Belasan orang jago lihay dari Thian che kau mulai menunjukan sikap kebingungan dan tidak
habis mengerti, sampai2 mereka berdiri dengan wajah melongo.
-ooodwooo-
BAB 61
LEMBAH kematian- suatu daerah terlarang yang dianggap angker serta mengerikan bagi umat
persilatan, wilayah itu dipisahkan oleh sebuah garis yang dinamakan perbatasan antara mati dan
hidup, selama banyak tahun tak seorang manusiapun sanggup melewati perbatasan tersebut
dalam keadaan hidup,
Tapi sekarang Manusia berwajah dingin telah menyeberangi perbatasan itu sejauh beberapa
kaki tanpa mengalami sesuatu kejadian apapun, kejadian ini benar merupakan sesuatu peristiwa
yang aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Tatkala pihak musuh menarik kembali serangannya tadi, tanpa terasa Han siong Kie lelah
mundur kembali beberapa langkah kebelakang, menanti ia rasakan perubahan yang aneh pada
wajah musuhnya pemuda itu baru sadar bahwa ia telah melangkah masuk ke dalam wilayah yang
tersohor karena angkernya itu.
JILID29 HAL. 54/55 HILANG
Thian che kaucu untuk menyelesaikan sendiri persoalan ini.
Diam2 Han siong Kie menguatirkan kemampuan Thian che kaucu sebab kalau ditinjau dari
kemampuan yang dimiliki kedUa orang utusan khusus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
tenaga dalam yang dimiliki ketua mereka benar- benar telah mencapai puncak kesempurnaan
yang tak terhingga, ia jadi terbayang kembali akan peristiwa dimasa lalu sewaktu dia menyerbu
wilayah Lian huan yau untuk menolong Go siau bi, ketika itu ia telah berjumpa dengan seorang
manusia barkerudung yang mangaku sebagai ketua perkumpulan tapi akhirnya ia bukti bahwa dia
tak lebih cuma penyaruan dari salah satu diantara sepuluh jago tangguh perkumpulan.
Anak muda ini mulai berpikir, mengapa Thian che kaucu tak berani munculkan diri sebaliknya
suruh orang lain untuk menyaru sebagai dirinya?" Mungkinkah dibalik semuanya ini sebetulnya
masih tersimpan rahasia lain?
Yang lebih aneh lagi, ternyata pihak Thian che kau telah mengerahkan segenap kemampuan
yang dimiliki untuk menghadapi dirinya seorang, malahan ketuanya turun tangan sendiri untuk
memimpin operasi tersebut, hal ini menandakan kalau pihak mereka memandang serius persoalan
tersebut, lalu apa sebabnya mereka bersikap drmikian?" Tiba2 Nyoo Yoong, hakim pengejar sukma
berseru dengan suara dalam:
"Bocah keparat, beranikah engkau menyeberang kemari untuk melangsungkan pertarungan
seru dengan kami?"
Han siong Kie sendiripun tak tahu apa sebabnya ia bisa menyeberangi perbatasan mati dan
hidup tanpa cedera, namun ia tahu bahwa musuh- musuhnya tak berani menyeberangi wilayah
angker itu dam selalu memanaskan hatinya agar dia menyeberang kembali ke sana. Maka sambil
tertawa dingin, ejeknya:
"Bangsat tua, kenapa bukan kalian yang menyeberang kemari? Kalau memang jantan hayolah
kemari"
Perasaan jengah dan serba kikuk muncul diatas wajah Nyoo Yong maupun see bun
JILID29 HAL. 58/59 HILANG
Nyio Yong yang sedang melayang diudara, se akan2 burung yang kena dipanah, tahu-tahu
badannya menukik ke bawah dan roboh keatas tanah. la mati secara misterlus.
Hakim pengejar sukma Nyio Yong telah tewas dihadapan rekan2nya, namun tak seorangpun
yang tahu apa sebabnya tiba2 ia mampus, jangankan mereka sekalipun Han siong Kie yang
berada beberaps depa dihadapannya juga tak melihat sebab musabab yang mengakibatkan
kematian jago lihay itu
Pucat pias wajah para jago dari Thian che kau, rata- rata mereka berdiri tertegun dengan
sukma merasa melayang tinggalkan raganya, kejadian ini sama sekali diluar dugaan semua orang.
Han siong Kie sendiripun terkejut sampai-sampai keringat dingin membasahi jidat dan
punggungnya .
Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kematian Nyio Yong yang secara tiba2 namun ia
tak tahu apa yang menyebabkan kematian musuhnye itu, untuk sesaat ia jadi tertegun dan berdiri
termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ditatapnya mayat Nyoo Yong tanpa berkedip. sementara pikirannya melayang entah sampai
dimana.
Mendadak terdengar jeritan kaget berkumandang lagi memenuhi angkasa, suatu pemandangan
yang sangat mengerikan telah berlangsung didepan mata.
Begitu mencium tanah, mayat Nyoo Yong yang masih hangat itu ternyata meleleh dan
mengalami pembusukan dengan cepat, kemudian selang sesaat mayat itu sudah hancur tinggal
tulang kerangkanya belaka.
Hampir saja Han siong Kie menjerit kaget, bulu kuduknya pada bangun berdiri, kejadian aneh
ini belum pernah ditemuinya semenjak dahulu kala, tidak sampai setengah perminum teh salah
seorang tokoh silat yang berilmu tinggi telah berobah jadi seonggokan tulang kerangka yang putih
mengkilat, bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapakah yang akan percaya bahwa
peristiwa semacam itu benar2 telah terjadi di depan mata ?
Lewat lama sekali dia ter-mangu2, setelah rasa kagetnya hilang ia baru berpaling memandang
ke belakang, pada ujung lembah tersebut ia saksikan sebuah gundukan tanah berbukit, beberapa
pohon raksasa yang amat besar tumbuh disekitar gundukan tanah itu
Di belakangnya adalah sebuah tebing dan sebuah bukit yang tinggi menjulang keangkasa
demikian tingginya bukit itu sehingga menembusi kedalam awan.
Dengan langkah yang ragu-ragu dan penuh kesangsian pemuda itu melanjutkan perjalanannya
memasuki lembah itu dan mendekati gundukan tanah yang berada didepan mata.
Beberapa kaki sebelum mencapai gundukan tanah tadi tiba2 pemuda itu berseru tertahan dan
berhenti.
Di bawah dua batang pohon raksasa berdirilah sepasang makhluk hitam putih yang
mengerikan..
Mereka sama-sama memelihara rambut yang panjang cuma yang hitam sekujur tubuhnya
berwarna hitam pekat sebaliknya yang putih luar biasa putihnya bagaikan salju.
Dengan seksama anak muda itu mengawasi beberapa saat makhluk itu, sekarang ia dapat
memastikan bahwa mereka adalah manusia, sepasang manusia aneh berwama hitam dan putih,
hatinya terasa makin bergidik,
Kedua orang itu duduk bersila saling berhadapan, ke empat buah telapak tangannya
direntangkan kedepan sejajar dengan dada, selisih jarak kedua belah pihak cuma terpaut tiga kaki.
Han siong Kin tertegun- .apa yang telah terjadi? " sekilas pandangan dua orang jago itu
bagaikan sedang mengadu tenaga dalam, tapi mirip juga sedang melatih sejenis ilmu silat.
Bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir saja ia tak percaya kalau dikolong
langit sebenarnya terdapat manusia seaneh itu, yang hitam kulitnya benar- benar hitam mengkilap
seperti tinta, apalagi jubahnya berwarna hitam pula membuat orang itu betul2 serba hitam.
sebaliknya yang putih demikian putihnya seperti sesosok mayat hidup bukan rambutnya
berwarna putih, jubah maupun sepatunya juga berwarna putih. suatu perbedaan warna yang amat
kontras sekali.
JILID29 HAL. 64 HILANG
Dua orang makhluk aneh itu tetap duduk kaku ditempat semula, mereka tidak membuka
matanya pun tidak berkutik barang sedikitpunjuga, padahal semestinya mereka tahu bahwa ada
orang yang mendekati tempat tinggal mereka, terbukti hawa khikangnya telah dipancarkan
melindungi wilayah seluas tiga kaki disekeliting tubuh mereka.
Agak penasaran Han siong Kie ketika tak mampu menerjang maju kedepan dan menghimpun
tenaga dalamnya dan secara paksa menerjang masuk kedalam lingkaran hawa khikang lawan.
Tiba2 dua orang makhluk aneh itu bersamaan waktunya menurunkan telapak tangan mereka
kemudian membuka matanya:
Empat buah sinar mata yang setajam sembilu serentak ditujukan keatas wajah Han siong Kie.
Pada saat ini tenaga dalam yang dimiliki si anak muda itu sudah mencapai dua ratus tahun hasil
latihan, walaupun begitu ketika ditatap secara tajam oleh musuhnya tak urung bergidik juga
hatinya, cepat ia hentikan langkah kakinya membalas memandang lawannya dengan sinar mata
yang tak kalah tajamnya.
Per lahan2 dua orang manusia aneh itu bangkit berdiri dari atas tanah.
sekarang Han siong Kie baru dapat melihat jelas bahwa kedua orang makhluk aneh itu adalah
seorang pria dan seorang wanita, yang laki2 berkulit hitam berambut hitam dan berjubah hitam,
keadaannya tak berbeda dengan balok kayu yang hangus bekas terbakar sedangkan yang
perempuan berambut putih berkulit putih dan berbaju putih, putih seperti batang kayu yang dilapis
saiju.
41
Begitu jelek dan menyeramkan bentuk serta potongan tubuh mereks membikin hati orang jadi
tercekat dan seram.
Han Siong kie boleh dibilang berilmu tinggi dan bernyali besar namun berada dalam keadaan
begini berdiri juga bulu kuduknya.
Mungkinkah makhluk hitam dan putih ini adalah pemilik Lembah Kematian . . ?
Ingatan tersebut melintas didalam benaknya, sementara itu sepasang makhluk aneh itu sudah
berdiri dan saling mengangguk, tiba2 mereka maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan
Han Siong Kie seraya berkata: "Hek pek siang yu menghunjuk hormat kepada majikan"
Kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Han Siong Kie secara beruntun dia mundur lima
langkah kebelakang, untuk sesaat pemuda itu tak mampu berkata2 karena tercengangnya.
Sepasang makhluk aneh yang mengaku Hek pek siang yu, sepasang siluman hitam putih ini
ternyata menyembah dihadapannya sambil menyebut majikan kepadanya, kejadian ini benar2
suatu kejadian yang sangat aneh.
"Hek pek siang yu menghunjuk hormat buat majikan" untuk kedua kalinya sepasang makhluk
aneh itu memberi hormat.
Kali ini Han siong Kie mendengar perkataan itu dengan lebih jelas lagi, sekarang ia baru tahu
bahwa dua orang makhluk aneh itu ternyata tak lain adalah Hek pek siang yu yang sudah puluhan
tahun lamanya lenyap dari permukaan bumi.
Meskipun masa berkelana Hek pek siang yu dalam dunia persilatan amat singkat, namun
pembantaian maut yang mereka lakukan tak terbilang banyaknya.
Bagi pandangan umat persilatan, kedua orang ini adalah iblis pembunuhan manusia yang tak
berkedip. banyak orang segan dan takut kepadanya.
Dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti, Han siong Kie berseru dengan gelagapan:
"Majikan-.? Aku.."
"Betul majikan, engkaulah majikan kami"jawab siluman putih dengan hormat.
sekali lagi Han siong Kie mundur selangkah lebar kebelakang, dia benar2 kebingungan:
"Bagaimana mungkin ? Bagaimana mungkin masa aku adalah majikan kalian??"
"Kami telah bersumpah barang siapa bisa melewati perbatasan mati dan hidup dalam keadaan
selamat dan orang pertama yang bisa menginjakkan kakinya di wilayah lembah Kematian, maka
dialah majikan dari kami kakak adik seperguruan berdua "
"oooh.jadi kalian adaiah suheng moay ??"
"Benar "
"Mengapa kalian hendak menganggap orang pertama yang memasuki wilayah ini sebagai
majikan?" tanya sianak muda itu lagi.
"sebab hanya orang yang berkepandaian tinggilah yang bisa tiba ditempat ini dalam keadaan
selamat, pun juga dia seoranglah yang bisa menolong kami berdua lolos dari tempat ini, selama
lima puluh tahun berselang majikan adalah orang pertama yang bisa tiba dilembah kematian ini
dalam keadaan selamat."
"Jadi kalian bukan penghuni tempat ini, melainkan adalah tawanan yang disekap di sini?".
"Benar" sepasang makhluk aneh itu mengangguk tanda membenarkan.
"Dan kalian telah disekap selama lima puluh tahun lamanya."
"Benar" untuk kesekian kalinya dua orang itu mengangguk.
"siapa yang menyekap kalian ditempat ini?"
"Pemilik benteng maut"
"Apa?" " seru Han siong Kie dengan perasaan terperanjat "jadi kalian disekap pemilik benteng
maut dalam Lembah Kematian ini"
"Begitulah kejadiannya"
"silahkan kalian berdua bangkit berdiri kemudian baru kita lanjutkan pembicaraan ini"
"Kalau begitu majikan telah mengabulkan permintaan dari kami suheng moay berdua ?" tanya
siluman putih sambil mengernyitkan sepasang alis matanya. Han siong Kie termenung dan berpikir
beberapa saat lamanya, kemudian menjawab: "Tentang soal ini..."
"Ketahuilah majikan, bahwa kami berdua sudah menunggu selama lima puluh tahun, atas
tibanya kejadian besar ini" sambung si hitam dengan cepat.
Andai kata tingkah laku Hek pek siang yu di masa talu tidak buas dan keji, niscaya sedari tadi
Han siong Kie sudah mengambil keputusan, tapi justru karena dua orang itu adalah gembong iblis
yang berbahaya, maka mau tak mau dia musti mempertimbangkan dulu permintaan mereka
sebelum akhirnya mengambil keputusan. Maka sesudah termenung sebentar ia baIik bertanya:
"Jadi tujuan kalian adalah mengharapkan agar aku bersedia membawa kalian keluar dari
lembah ini ?"
"Begitulah kira2 maksud kami"
"Apakah kalian yakin kalau aku dapat membawa kalian berdua keluar dari lembah ini ?"
"Tentang soal ini.." sepasang manusia aneh itu agak termangu sebentar, tapi kemudian
serunya "Perduli bagaimanapun juga, inilah sumpah dari kami berdua pada lima puluh tahun
berselang. kami telah bersumpah untuk menganggap orang pertama yang masuk kelembah ini
sebagai majikan kami, selama hidup kami akan menuruti perintahnya, tentang soal mau keluar
dari lembah kematian atau tidak. kesemuanya ini terserah pada kebijaksanaan majikan sendiri"
"Betul sumpah kalian adalah begitu? " Han siong Kie menegaskan lebih jauh.
"Betul "
"Dan sumpah kalian itu selamanya takkan dilanggar??"
"Selamanya kami takkan melanggar "
"Baik, aku mengabulkan permintaan kalian"
"Bolehkah kami mengetahui siapa nama majikan ?"
"Aku adalah manusia bermuka dingin Han siong Kie, ciangbunjin yang akan memerintah di
istana Huan mo kiong "
Dengan penuh rasa hormat sepasang siluman hitam putih menyembah majikannya, kemudian
bangkit berdiri
Pelbagai keheranan dan pertanyaan berkecamuk dalam benak anak muda itu, namun dia tak
tahu persoalan itu musti ditanyakan mulai dari bagian yang mana.
Menurut pengakuan sepasang siluman hitam putih, mereka telah disekap oleh pemilik benteng
maut didalam lembah kematian ini pada lima puluh tahun berselang, sedangkan menurut berita
yang tersiar dalam dunia persilatan baru tiga puluh tahun berselang Temgkorak maut munculkan
diri didunia.
Bila ia tinjau dari usia Tonghong Hui yakni putrinya, kira2 Tengkorak maut telah berusia enam
puluh tahunan lebih atau tujuh puluh tahun sekarang, mungkinkah pada lima puluh tahun
berselang ia sudah memiliki kemampuan untuk menaklukkan sepasang siluman hitam dan putih
yang tersohor karena kelihayannya?
Berpikir sampai disini, dengan wajah serius dia lantas bertanya kepada kedua orang itu:
"Benarkah kamu berdua disekap selama lima puluh tahun ditempat ini.?"
"Betul majikan"jawab siluman putih dengan Cepat.
"Dan kamu disekap oleh Pemilik benteng maut?"
"Benar!"
"Benarkah pemilik benteng maut bergelar juga Tengkorak maut?"
Mendengar pertanyaan itu sepasang makhluk aneh tersebut tampak tertegun dan keheranan:
Lama sekali siluman putih baru menjawab:
"Tengkorak maut? belum pernah kami dengar dengan sebutan nama seperti itu"
"Lalu apakah sebutan lain dari pemilik benteng maut yang menyekap kalian disini?" seru Han
siong Kie dengan sepasang alis matanya berkernyit.
"Kami berdua cuma tahu dia bernama pemilik benteng maut, yang lain sama sekali tidak tahu"
"Yaaa hal ini memang tak bisa salahkan kalian memang sudah terlalu lama kami berdua disekap
ditempat ini, jadi setelah keluar dari lembah ini kalian bersiap sedia untuk mencari balas dengan
pemilik benteng maut?"
Dengan ketakutan sepasang siluman hitam putih mundur selangkah kebelakang sahutnya:
"Tidak. .kami tidak berani berbuat demikian "
"Tidak berani ? Kenapa tidak berani ?" tanya si anak muda itu dengan perasaan tercengang.
Dengan menundukkan kepalanya siluman hitam menjawab:
"Berkat petunjuk dan bimbingan dari beliau, kami berdua dapat melepaskan diri dari dosa yang
amat berat, budi ini belum kami balas, mana berani kami menuntut balas kepadanya?"
"Bukankah kalian berdua yang mengatakan sendiri, bahwa kalian telah disekap disini oleh
pemilik benteng maut??"
"Benar, tapi perbuatannya ini boleh dibilang sebagai maksud baik dari dia orang tua"
"Maksud baik ? Apa maksud perkataanmu itu ?"
"Dia orang tua suruh kami berdiam dan hidup dilembah ini sambil menyesali perbuatan yang
telah kami lakukan selama ini, malahan mewariskan pula ilmu silatnya kepada kami" Berubah
hebat air muka Han siong Kie sehabis mendengar keterangan itu, serunya:
HAL. 14 S/D 17 HILANG
"Terima kasih atas kemurahan hati majikan "
Han siong Kie mendengus dingin ujarnya kemudian:
"Apakah aku boleh tahu apa maksud dan tujuan yang sebenarnya dari kamu berdua ketika
hendak mengangkat sumpah aneh itu dimasa lalu ?"
siluman putih menghela napas panjang setelah termenung sebentar sahutnya dengan wajah
serius:
"Panjang sekali kisahnya untuk diceritakan bagaimana kalau majikan berkunjung dulu ke rumah
kediaman hamba berdua, disitu barulah kami bercerita panjang lebar ?"
Han siong Kie berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk:
Dengan sikap yang sangat hormat Siluman putih mengiakan, bergeraklah perempuan aneh itu
menuju kearah tebing curam dibelakang gundukan tanah itu. sementara siluman hitam mengiringi
di belakang anak muda itu.
selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didalam sebuah goa yang lebar dan cukup
luas, siluman putih segera bergeser kesamping dan mempersilahkan majikannya untuk masuk
lebih dulu katanya:
"Majikan, pemilik benteng maut juga berdiam didalam gua batu ini" sambil menuding kearah
batu karang disebelah kiri lanjutnya:
"Itulah dia tempat mengasingkan diri dibalik tebing karang itu, sudah lima puluh tahun lamanya
tak pernah munculkan diri"
0000dw0000
BAB 62
MENGIKUTI arah yang ditunjukkan Han siong Kie menengadah keatas, ia lihat tebing karang itu
sangat tinggi dan tertutup kabut yang tebal maka sambil mengangguk diapun masuk kedalam goa.
Ruangan didalam gua itu sangat lebar dan kering, diantaranya terbagi pula menjadi tiga buah
goa yang agak kecil.
sesudah duduk diatas sebuah pembaringan batu dalam gua itu, sepasang siluman putih dan
hitam menghidangkan buah2an dan sayur-sayuran kemudian sambil mengambil semangkok air
bersih katanya dengan wajah bersungguh2:
"Disini tiada makanan lain silahkan majikan makan seadanya untuk mengisi perut"
Kebetulan Han siong Kie juga merasa lapar, maka tanpa sungkan2 ia menyikat makanan yang
dihidangkan untuk menangsal perut.
selesai bersantap. dia memerintahkan ke dua orang siluman itu untuk duduk lalu katanya:
"sekarang aku ingin mendengar kisah cerita kamu berdua dari awal sampai akhirnya terkurung
dilembah ini"
Sepasang siluman hitam putih itu tidak langsung menjawab, mereka saling berpandangan
sekejap. kemudian siluman hitam baru berkata dengan lembut:
"sumoay, biar akulah yang akan melaporkan kisah kejadian ini kepada majikan, tentunya
engkau tidak keberatan bukan?" siluman putih mengangguk. "Baik, suheng sajalah yang bercerita"
Perlahan-lahan siluman hitam menghadap ke arah Han siong Kie, lalu ujarnya:
"Majikan silahkan engkau mendengarkan sebuah kisah cerita yang akan kukisahkan berikut ini"
Agak bergolak perasaan hati Han siong Kie sesudah mendengar perkataan itu,pada puluhan
tahun berselang sepasang siluman putih hitam telah malang melintang dalam dunia persilatan,
setiap orang jeri dan
JILID^0 HAL. 22/23 HILANG
merasa sangat setuju dengan rencana dari gurunya itu, suatu hari ketika ketiga orang itu
sedang melakukan perjalanan diatas gunung chin nia, secara kebetulan telah mendapatkan
sepasang Bak ci "
"Bak ci?" seru Han siong Kie tak tahan, ia heran dan tidak mengerti dengan benda yang
disebutkan itu.
"Benar Bak ci adalah sejenis tumbuhan yang sangat langka sekali, bukan saja tak ternilai
harganya bahwa siapapun yang memakannya bisa awet muda dan berbadan sehat. Betapa
gembira mereka bertiga setelah mendapatkan Bak ci yang sangat berharga itu, kebetulan waktu
itu kami memang sedang menuju kebukit Chin nia untuk mencari beberapa macam bahan obat2an
sebagai kekuatan dalam latihan. Karena penemuannya ini maka kamipun lantas meninggalkan
tujuan semula dengan membawa sepasang Bak ci tersebut buru2 kami berangkat pulang ke
gunung."
Berbicara sampai disitu, kembali siluman hitam menghentikan ceriitanya, hawa napsu
membunuh yang sangat tebal tiba-tiba memancar keluar dari balik matanya dan menyelimuti
wajahnya yang hitam pekat, lanjutnya lebih jauh:
"Entah bagaimana kemudian, ternyata kabar berita tersebut telah tersiar luas keseluruh dunia
persilatan, ketika kami bertiga baru saja tiba kembali dirumah, tiba2 beratus-ratus orang jago lihay
dari golongan putih dan hitam melakukan penyerbuan secara besar-besaran, tentu saja tujuan
mereka yang terutama adalah sepasang Bak ci yang berharga itu"
" Karena tibanya bencana yang sangat mendadak ini, puluhan orang murid perguruan yang
waktu itu berkumpul dimarkas segera munculkan diri dan melakukan perlawanan, pertarungan
sengit berlangsung sepanjang malam, banyak anggota perguruan yang tewas ataupun cedera."
sekalipun ilmu silat yang dimiliki Ki Goan thong ketua perguruan Thian it bun sangat lihay
dandan berhasil membinasakan hampir lima puluh orang jago lihay yang menyerbu perguruannya,
tapi lama kelamaan sendiripUn kehabisan tenaga apalagi musuh yang harus dihadapi
HAL. 26/27 HILANG
"suheng biarlah aku yang melanjutkan bercerita"
siluman hitam mengangguk. maka siluman putih melanjutkan kembali ceritanya:
"setelah kejadian itu para jago lihay dari golongan putih maupun hitam yang ikut serta didalam
operasi tersebut melakukan pencarian dan penggeledahan secara besar2an diseluruh kolong langit
untuk menemukan jejak dua orang ahli waris dari perguruan Thian it bun, tapi rupanya mereka
hendak membasmi rumput hingga ke akar2nya sehingga tidak meninggalkan bencana dikemudian
hari. Karena penggeledahan secara besar- besaran itu, terpaksa sepasang kakak beradik
seperguruan itu melarikan diri keatas gunung yang terpencil untuk menyembunyikan diri sambil
melatih ilmu silat perguruannya. Delapan tahun kemudian mereka muncul kembali ke dalam dunia
persilatan dan melakukan pembantaian secara besar-besaran untuk menuntut balas atas sakit hati
yang telah menimpa perguruannya"
"Dan kedua orang ahli waris dari Thian it bun itu tentulah kalian berdua bukan?" seru Han siong
Kie kemudian.
"Tebakan majikan memang sangat tepat. Kedua orang itu memang tak lain adalah kami
berdua"
"Dan sepasang Bak ci tersebut telah kalian makan "
"Benar "
"Itu berarti semestinya wajah kalian tetap awet muda, kenapa sekarang malahan..."
"Maksud majikan, kenapa wajah kami berdua pada saat ini malahan berubah jadi makhluk aneh
yang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan ini ?"
"Jadi raut wajah tersebut bukan raut wajah kalian yang sebenarnya?" bukan menjaweb. Han
siong Kie malahan balik bertanya.
"Bukan, raut wajah kami yang asli tidak begini. Ketika kami sedang berlatih ilmu silat diatas
sebuah bukit, kami telah salah makan dua biji buah liar, dalam beberapa hari saja raut wajah kami
telah berubah jadi seaneh ini, oleh sebab itulah setelah turun gunung kami dianggap orang
sebagai makhluk siluman- dan dari sini pula orang lantas menyebut kami sebagai Hek pek siang
yu"
"0ooh, kiranya begitu"
"Maka dendam dan benci yang berkecamuk dalam dada kami berdua sukar dikendalikan lagi"
siluman putih melanjutkan, "maka setelah turun gunung kami mulai melakukam pembalasan
dendam, bukan saja musuh besar kami basmi bahkan keturunannya juga kami jagal secara keji,
hanya dalam sebulan saja sudah hampir seribu orang manusia yang kami bunuh, kejadian ini
segera menimbulkan rasa gusar dari umat persilatan dikolong langit, mereka bersatu padu untuk
menghadapi kami berdua.." Ia berhenti sebentar untuk tarik napas, lalu tambahnya:
"Dalam suatu pertempuran sengit yang kemudian berlangsung, kami berdua dikerubuti oleh
tiga ratus orang lebih jago2 persilatan dari seluruh pelosok dunia, keadaan kami sangat kritis dan
hampir saja jiwa kami melayang ditangan mereka, untung majikan lembah ini munculkan diri tepat
pada waktunya dan loloslah kami berdua dari ancaman bahaya maut, sejak itulah kami lantas
diboyong kelembah kematian ini dan harus berdiam disini untuk menyesali perbuatan kami selama
ini, kami memang bertobat karena beribu-ribu orang telah kami bunuh selama ini, begitulah dalam
sekejap masa lima puluh tahun sudah lewat tanpa terasa.."
"Kalau begitu sampai sekarang kalian masih belum melaksanakan perintah dari mendiang
gurumu?"
"Pesan terakhir apa?"
"Bukankah gurumu memerintahkan kepada kalian berdua untuk menikah dan menjadi suami
istri?"
siluman putih tundukkan kepalanya rendah2 dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
sedangkan siluman hitam segera menjawab:
"Tentang soal ini sampai sekarang belum kami laksanakan sebab kami berdua telah bersumpah
kecuali wajah kami dapat pulih kembali seperti sedia kala kami tak akan menikah"
Han siong Kie manggut2.
"sungguh sukar untuk melewatkan saat hidup selama lima puluh tahun lamanya tanpa
melanggar tata kesopanan, kalian memang beriman tebal... aku merasa sangat kagum..."
"Aah .. majikan terlalu memuji "
"Bagaimanakah caranya untuk memulihkan kembali raut wajah kalian yang rusak ini."
"Menurut keterangan yang diberikan majikan lembah ini kepada kami, buah liar yang telah kami
salah makan bernama Gi heng tok ko buah racun perubah wajah, dikolong langit dewasa ini hanya
ada seorang manusia yang bisa memunahkan racun buah itu dan dialah yang bisa memulihkan
kembali raut wajah kami berdua menjadi wajah yang aslinya"
"siapakah orang itu ?"
"orang itu bernama Ban tok cousu "
"Ban tok cousu ? Belum pernah aku dengar tentang nama tokoh silat ini "
"Benar, menurut keterangan yang berhasil kami kumpulkan, kemungkinan besar Ban tok cousu
sudah lama meninggalkan dunia ini, kami berharap bisa menemukan ahli warisnya"
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan seseorang yakni Tok kun Dewa racun Yu Hoa yang
sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan Thian che kau, mungkinkah dia ahli waris yang
dimaksudkan?
"Aaah,. asal persoalan ini kutanyakan kepada engkoh tua pengemis dari selatan urusan pasti
akan beres" pikirnya dihati.
Diapun tidak mengungkapkan jalan pikirannya itu, hanya ucapnya dengan hambar:
"Kalau toh di dunia ada manusia yang bernama Ban tok cousu, rasanya tidak sulit untuk
menemukan ahli warisnya. ooh iya apakah kalian mengetahui keanehan serta kemisteriusan
apakah yang telah menyelimuti lembah kematian ini sehingga suasananya seram ini?"
Dengan penuh rasa hormat siluman hitam menerangkan.
"Disekitar mulut lembah kematian tumbuh sejenis rumput beracun yang tiada taranya dikolong
langit, rumput itu bernama sip poh Pak kut cau (rumput sepuluh langkah tulang putih) sampai
dimanapun kepandaian silat yang kau miliki bila rumput itu tersentuh maka sepuluh langkah
kemudian tubuhnya akan hancur.
JILID30 HAL. 34/35 HI LANG
"ouyang cianpwe juga sangat lihay dalam ilmu meramal, dia memiliki kemampuan untuk
meramalkan kejadian yang akan datang, ketika kami berdua masuk kedalam lembah ini, untuk
pertama kalinya beliau telah meramalkan bahwa lime puluh tahun kemudian kami berdua bakal
ditolong oleh orang pertama yang memasuki lembah ini dan selanjutnya muncul kembali dalam
dunia persilatan oleh sebab rahasia itu maka kami berdua lantas bersumpah akan menganggap
orang pertama yang memasuki lembah ini adalah majikan kami" Han siong Kie berdiri tertegun
sesudah mendengar keterangan itu, pikirnya:
"Kalau toh owyang Beng memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang,
kenapa ia tak dapat meramalkan kalau orang pertama yang akan masuk kedalam lembah ini
sebenarnya tak lain adalah musuh bebuyutan dari benteng maut?" Belum habis dia berpikir tiba2
siluman hitam telah berseru lagi dengan lantang:
"ooooh ya hampir saja kelupaan, sebelum menutup diri tempo hari, ouyang cianpwe telah
meninggalkan secarik kertas yang katanya kertas itu harus di serahkan kepada orang pertama
yang memasuki lembah ini. Dan orang yang dimaksudkan itu pastilah majikan"
Habis berkata dia lantas masuk kedalam gua batu yang ada di sebelah kanan, selang sesaat
kemudian dia telah muncul kembali sambil membawa secarik kertas kuning.
Dengan sikap yang sangat hormat kertas kuning itu lantas diangsurkan ketangan Han siong Kie.
Berdebar juga hati sianak muda itu menerima kertas kuning itu, dengan jantung yang berdetak
keras dia membuka lipatan kain kuning itu dan membaca isinya.
Ternyata isi kertas ini hanya beberapa bait kata yang sama sekali tak diketahui makna artinya:
"Tipu muslihat banyak didunia, bencana timbul karena saudara yang tak akur. Disaat dendam
tertera nyata, disanalah penghianat terbasmi lenyap"
Han siong Kie termasuk seorang pemuda yang cerdas dan berotak encer, tapi meskipun ia
sudah berulang kali mengulangi kata2 dari syair tersebut, toh tak berhasil juga memecahkan arti
kata2nya itu.
Andaikata keempat bait syair tersebut benar2 memang dibuat oleh ouyang Beng pemilik
benteng maut yang pertama khusus untuk dirinya, maka bait yang pertama tak perlu diterangkan
sudah jelas artinya.
Kemudian pada bait kedua dikatakan Bencana timbul karena saudara yang tak akur, dari sini
menunjukkan bahwa bencana yang sedang berlangsung sekarang timbulnya dari dua bersaudara
yang kurang akur hubungannya satu sama lain, lalu siapakah yang dtmaksudkan sebagai saudara
yang tidak akur itu ?
Pada bait ketiga dikatakan Disaat dendam tertera nyata padahal pada saat ini dia sudah tahu
bahwa musuh besarnya adalah tengkorak maut, apanya lagi yang kurang nyata ?"
Kemudian pada bait yang terakhir digunakan kata pengkhianat siapakah penghianat tersebut ?
Teka teki, suatu teka teki yang susah untuk dipecahkan.
Mereka tak dapat menyelusuri makna dari bait syair tersebut, terpaksa Han siong Kie
menyimpan kembali kertas kuning itu kedalam sakunya dengan suara agak emosi dia bertanya:
"Benarkah tulisan ini ditinggalkan owyang Beng pada lima puluh tahun berselang?"
siluman hitam mengangguk.
"Betul majikan sejak menutup diri pada lima puluh tahun berselang beliau tak pernah
munculkan diri lagi dari tempat pertapaannya itu"
"Apakah dia mengasingkan diri dalam dinding bukit ini"
"Apakah majikan ingin-.."
"Benar, aku ingin sekali berjumpa muka dengan dia orang tua"
"Dinding tebing ini hampir boleh dibilang tegak lurus dan curam sekali, jangankan manusia
monyetpun tak mampu untuk memanjatnya, lagipula kita toh tak tahu dimanakah owyang cianpwe
mengasingkan diri, kejadian tersebut sudah terjadi setengah abad lamanya, siapa tahu beliau
sudah pulang ke alam baka"
"Betul juga perkataan ini" pikir Han siong Kie di dalam hati, "toh aku tak ada kepentingan apa2
untuk menjumpainya, buat apa musti bersusah payah ?" Maka diapun alihkan pokok pembicaraan
kesoal lain-lainnya.
"Apakah kalian berdua sudah bulatkan tekad untuk mengangkat aku sebagai Majikan mu"
"sumpah yang telah kami lakukan tak akan kami ingkari kembali" jawab sepasang siluman putih
hitam bersama .
"Aku boleh sama membawa kalian keluar dari lembah ini, tapi kalian tak usah menyebut begitu
kepadaku, aku anggap saja diriku ini adalah sobat kalian ?"
"Tidak sumpah yang telah diucapkan tak boleh diingkari lagi" jawab, kedua orang itu tegas.
"seandainya aku tidak bersedia lantas bagaimana ?" tanya Han siong Kie tiba2. sepasang
siluman hitam putih tertegun, lama sekali siluman hitam baru berkata.
"Kalau memang demikian adanya, itu berarti kami berdua sudah tak punya muka untuk muncul
kembali dalam dunia persilatan, daripada hidup menanggung derita, lebih baik membereskan
nyawa sendiri saja"
Agak lama Han siong Kie termenung, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, lalu
diapun berkata:
"Begini saja, kalau aku disebut majikan... majikan.. geli rasanya hatiku, maka biarlah aku
mengambil jalan tengah, mulai hari ini kalian akan kuterima sebagai anggota perguruan Thian
lam, dan kalian sebut aku sebagai ciangbunjin, bukankah hal ini lebih enak di dengar??"
Buru2 sepasang siluman Hitam dan Putih jatuhkan diri berlutut keatas tanah.
"Tecu menghunjuk hormat buat ciangbunjin" seru mereka hampir berbareng.
"Bangunlah, setelah keluar dari lembah ini aku akan berusaha keras untuk memunahkan racun
Gi hang tot ko yang bersarang ditubuh kalian, setelah raut wajah kalian pulih kembali seperti sedia
kala maka kalian berduapun bisa memenuhi perintah dari mendiang guru kalian "
"Terima kasih atas bantuan cianbunjin" sahut kedua orang siluman itu setelah memberi hormat
merekapun bangkit berdiri
sekarang Han siong Kie baru teringat akan tujuan kedatangannya ketempat itu, sesudah
memeriksa sebentar kedalam goa itu katanya.
"Aku membutuhkan sebuah ruang yang bagus untuk mempelajari ilmu kepandaian, setelah itu
maka kitapun akan meninggalkan tempat ini"
"Ciangbunjin"" ujar siluman putih "tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah gua alam yang
bersih dan tenang, biarlah tecu pergi membereskan gua itu"
"Baik pergilah cepat"
selang beberapa saat kemudian siluman putih telah muncul kembali didalam gua tersebut
katanya:
"silahkan ciangbunjin menuju kedalam goa itu, makanan dan minuman setiap hari tecu akan
mengaturnya buat ciangbunjin"
Dengan penuh rasa haru dan berterima kasih Han siong Kie memandang sekejap kearah
sepasang siluman itu kemudian diapun melangkah keluar dari goa itu.
Benar juga, kurang lebih sepuluh kaki dari gua tersebut terdapat sebuah goa lain yang terdiri
dari batu2 cadas berwarna putih, setelah lima kaki memasuki goa tersebut, luas goa itu mencapai
tiga kaki lebih, tempat itu memang merupakan sebuah tempat berlatih silat yang paling ideal.
Setelah sepasang siluman hitam putih minta diri, dari sakunya Han siong Kie mengambil keluar
sarung tangan Hud jiu popit dan mulai memeriksanya dengan teliti.
setelah itu pelajaran yang tertera disana mulai dibaca, diteliti, diamati dan diselami artinya.
Dalam waktu singkat semua konsentrasi dan pikirannya telah terpusat menjadi satu, ia lupa
akan segala2nya kecuali mempelajari dan menyelami arti dari pelajaran yang didapatkan itu.
Waktu berlalu dengan cepatnya, baberapa hari sudah lewat tanpa terasa.
selama ini kadang kala tiga lima hari
JILID 30 HAL. 44 S/D 47 HILANG
itu termangu2, akhirnya dengan penuh emosi mereka berseru:
"Ciangbunjin, boleh kah kami tahu apakah hari ini juga kita akan tinggalkan lembah ini?"
Han siong Kie mengangguk.
"Betul dan kalian berdua boleh segera membereskan barang2 milik kamu berdua, sekarang
juga kita akan keluar dari lembah ini"
sudah lima puluh tahun sepasang siluman itu terkurung dalam lembah tersebut, bisa
dibayangkan betapa gembiranya dua orang itu setelah akan muncul kembali dalam dunia
persilatan, tanpa banyak bicara lagi mereka kabur kembali kedalam guanya dengan wajah berseri.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata yang tajam mengawasi keadaan disekitar tempat itu,
lalu dia melompat naik ke atas sebuah dinding cadas yang besar dan tingginya mencapai sepuluh
kaki lebih, dengan bacokan telapak tangannya ia membuat sebuah lubang diatas batu tersebut,
kemudian memasukkan sarung tangan Hud jiu popit ke dalam lubang batu tadi dan setelah itu
batu cadas yang amat besar itu didorong menempel diatas dinding bukit dan menutupi bagian
yang berlubang tadi..
Dengan begitu, maka benda mustika dunia persilatanpun tersimpan untuk selamanya dalam
sebuah batu cadas raksasa yang amat besar dan berat itu, siapapun jangan harap bisa
mendapatkannya kembali.
sementara itu sepasang siluman juga sudah selesai bebenah, mereka masuk gua tempat
tinggainya selama ini, dan dengan membekal senjata andalan mereka dimasa lalu, buru2
menghampiri pemuda tersebut.
sementara itu Han siong Kie sedang memandang ujung lembah itu dengan sorot mata setajam
sembilu. katanya kemudian dengan suara dingin:
"Setelah keluar dari lembah ini, kita akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran"
"Melakukan pembunuhan?" tanya sepasang siluman dengan wajah tertegun.
"Benar, sewaktu hendak masuk lembah ini, aku telah melangsungkan pertarungan melawan
tokoh2 sakti dari perkumpulan Thian che kau, salah seorang diantara mereka yang dinamakan
utusan Thian che kau telah mampus dalam lembah ini, bila dugaanku tidak meleset, sudah pasti
mereka telah mengurung mulut lembah ini sambil menunggu kemunculanku"
JILID 30 HAL. 50/51 HILANG
Jago2 lihaynya untuk menyumbat mulut lembah tersebut, padahal sudah tiga bulan lamanya ia
berdiam dalam lembah kematian untuk mempelajari si mi sinkang yang tercantum dalam Hud jiu
popit dan sekarang terbukti bahwa musuhpun melakukan patroli selama tiga bulan disekitar
perbatasan, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa musuh memang tidak berhasrat untuk
melepaskan dirinya.
Dalam pada itu ke dua belas orang laki2 baju hitam itu telah berhasil melihat jelas keadaan
lawannya, tiba2 mereka menunjukkan wajah tercengang, kaget dan ngeri, tanpa disadari
beberapa orang itu telah mundur beberapa langkah kebelakang.
Kiranya mereka telah menyaksikan makhluk setengah manusia setengah setan yang berada di
belekang Han siong Kie, yakni Hek pek siang yu yang menyeramkan itu.
sebagai mana diketahui Hek pek-siang yu memiliki tampang yang mengerikan sekali, siapapun
yang melihat tampang itu niscaya akan bergidik dan ketakutan setengah mati.
setelah mundur sampai beberapa kaki jauhnya, kedua belas orang laki2 baju hitam itu baru
berhenti mundur, salah seorang di antaranya lantas bersuit nyaring, suitan tersebut panjang,
tajam dan menjulang jauh ke udara.
Hek pek siang yu menunjukkan sikap menghina, tiba2 mereka bertanya dengan suara dalam:
" Ciangbunjin, kawanan tikus dan kacoak ini berasal dari aliran atau perguruan mana?"
"Mereka ? siapa lagi kalau bukan anak buah dari perkumpulan Thian che kau??"
"Apa maksud mereka menunggu disini?? "
"Apa lagi? Tentu saja menunggu kemunculanku"
"Jadi kawanan manusia ini juga yang selama ini mengejar dan menyerang Ciangbunjin?"
Han siong Kie tidak menjawab, tapi dia mengangguk.
sepasang siluman hitam dan putih segera mendengus dingin, siluman hitam menyingkir
kesamping dan memberi hormat, katanya:
"ciangbunjin, berilah petunjuk kepada hamba bagaimana caranya kita harus selesaikan
kawanan babi itu?"
"Bunuh sampai ludas" jawab Han siong Kie ketus.
Ucapan tersebut ibarat bunyi terompet malaikat elmaut yang hendak mencabut nyawa
manusia, tanpa disadari dua belas orang laki2 baju hitam itu bergidik dan mengucurkan peluh
dingin, pedang mereka dipegang semakin erat, bahkan kelihatan bergetar keras, jelas orang2 itu
sudah siap melancarkan serangan.
sepasang malaikat hitam putih menjengek sinis, tiba2 mereka membentak nyaring kemudian
menerjang kearah gerombolan manusia itu.
Perlu diketahui dua belas orang laki2 baju hitam itu adalah jago2 kelas dua dalam perkumpulan
Thian che kau, mungkin nama mereka cemerlang dan disegani orang dalam dunia persilatan maka
mereka diutus untuk melakukan patroli di sepanjang perbatasan antara mati dan hidup,
Tapi sekarang, tatkala dilihatnya dua orang makhluk aneh hitam dan putih itu menerjang tiba,
serentak mereka saling berpandangan kemudian menyebarkan diri ke empat penjuru sambil
berteriak mereka putar senjata dan menyambut tibanya serangan "Haahhh haaaahh haaahhh"
"Hiiiihhh hiiiihhh hiiiihhh"
Ditengah gelak tertawa aneh yang satu keras dan yang lain lembut sepasang manusia hitam
putih telah menerkam kedalam lapisan pedang dan menyambar musuh2nya.
Jerit kesakitan, dengusan berat menjelang sekarat berkumandang dlangkasa men-cabik2
kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu.
Hancuran badan ceceran darah berhamburan menodai perrmukaan tanah, keadaan disaat itu
benar2 mengerikan-
Tapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama hanya sebentar tak sampai seperminum teh
suasana pulih kembali dalam keheningan-
Tiada manusia yang hidup lagi disitu, kecuali Han siong Kie bertiga, dua belas orang lelaki
perkasa itu kini sudah berubah adi mayat, mayat2 yang tak utuh dan berlepotan darah kental.
Hanya dalam beberapa gebrakan Hek pek-siang yu telah membereskan dua belas orang jago
Thian che kau, kelihayan tersebut cukup mengagumkan, diam2 Han siong Kie menggukkan
kepalanya berulang kali.
00d00000w00
BAB 63
SELESAI membereskan kedua belas orang musuhnya, sepasang siluman hitam putih berjalan
kembali kehadapan Han siong Kie, kemudian berkata: " Ciangbunjin, tecu berdua telah
menyelesaikan tugas ini dengan sempurna"
"Bagus" puji si anak muda itu, "mari kita tinggalkan tempat."
Ucapan itu belum habis diucapkan tiba2 dari depan sana muncul tiga sosok bayangan manusia,
cepat sekali gerak tubuh ketiga orang itu.
Han siong Kie lantas membatalkan perkataannya dengan pandangan setajam sembilu dia awasi
orang2 tersebut.
Kiranya orang yang baru datang adalah san tianjin (telapak tangan kilat) se bun Lui, salah
seorang diantara utusan Thian che kau didampingi dua orang kakek jubah hitam.
setibanya ditempat kejadian ketiga orang itu memandang sekejap mayat yang bergelimpangan
ditanah lalu berseru kaget, enam buah sorot mata secepat kilat dialihkan ke wajah Han siong Kie
bertiga.
Tatkala sinar mata mereka bertemu pandang dengan Hek pek siang yu untuk kesekian kalinya
tiga orang kakek jubah hitam itu menjerit tertahan, pucat pias wajah mereka.
Tampang aneh dari Hek pek siang yu tiada keduanya didunia ini, meskipun mereka adalah
gembong2 iblis yang sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, namun dalam sekilas
pandangan saja baik se bun Lui maupun dua orang kakek lantas mengetahui siapa gerangan
mereka itu.
Hek pek-siang yu yang disegani dan ditakuti orang ternyata masih hidup didunia bahkan berada
dalam satu rombongan dengan Han siong Kie, peristiwa ini benar2 diluar dugaan dan mengejutkan
hati siapa pun juga.
selain itu merekapun heran bahwa Han siong Kie berhasil keluar dari lembah kematian dalam
keadaan hidup walaupun sudah tiga bulan lamanya tak muncul kembali dari situ.
JILID30 HAL. 58/59 HILANG
bermaksud untuk melakukan pengejaran sesudah termenung dan berpikir sejenak, akhirnya
kepada sepasang siluman itu dia berkata: "Hayo, kitapun pergi dari sini "
Dengan gerakan cepat ia lantas berangkat lebih dulu tinggalkan tempat tersebut, Hek pek siang
yu juga tidak mengatakan apa2, dengan cepat mereka bertiga sudah jauh meninggalkan tempat
semula, mulut lembah nampak nun jauh didepan sana.
sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan seorang manusiapun, suasana hening, sepi
dan tak nampak seorang manusiapun.
setelah berhasil dengan ilmu saktinya, Han siong Kie tidak memikirkan soal2 yang lain, hanya
satu menjadi beban ingatannya selama ini yakni menuju kebenteng maut untuk membalas
dendam.
Tiga li kemudian mereka akan tiba di mulut lembah tersebut, disaat itulah mendadak terdengar
seseorang membentak keras, suaranya nyaring ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari
bolong.
"Berhenti"
Han siong Kie terperanjat, cepat dia hentikan gerak tubuhnya, ia tak tahu suara itu berasal dari
balik hutan lebat kurang lebih sepuluh kaki disisi kanannya.
Hek Pek siang yu tak dapat mengerem gerak tubuhnya yang terlanjur bergerak cepat itu,
mereka harus berlarian tiga kaki lagi sebelum berhasil mengendalikan tubuhnya dan berhenti.
"siapa?" bentak Han siong Kie kemudian dengan suara dingin.
"Aku nak. jangan gugup" sahut orang itu.
Han siong Kie semakin terperanjat, sebelum ia sempat berbuat sesuatu ibarat peluru yang
meluncur kedepan, tahu2 sepasang siluman hitam putih sudah melayang kearah mana berasalnya
suara itu.
Pelbagai ingatan dengan cepat melintas dalam benak sianak muda itu, cepat ia memburu pula
kedepan kearah mana berasalnya suara itu.
sesosok bayangan manusia tiba2 menyongsong datang dengan cepatnya karena sama sekali
tidak menduga, hampir saja saling bertumbukan satu sama lainnya
Ditengah jeritan kaget dari kedua belah pihak. orang itu melayang turun keatas permukaan
sementara Han siong Kie sendiripun cepat menahan gerakan tubuhnya.
orang itu ialah seorang perempuan, bahkan seorang perempuan berkerudung hitam meskipun
tak dapat dilihat bagaimanakah raut wajahnya, tapi Han siong Kie tahu siapakah dia.
Dalam pada itu Hek pek siang yu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah melayang
pula kedalam gelanggang, begitu mencapai tempat tersebut, serentak mereka menerjang
perempuan berkerudung itu.
42
"Mundur... jangan gegabah" bentak Han Siong Kie tiba2 dengan suara lantang.
Sepasang siluman hitam putih tercengang, cepat mereka tarik kembali serangannya dan
mundur sejauh tiga kaki dari tempat semula, dengan pandangan keheranan ditatapnya pemuda itu
tak berkedip.
"cianpwe" " kata Han Siong Kie kemudian sambil memberi hormat kepada perempuan
berkerudung itu, "maafkanlah kekasaran serta kecerobohan beanpwee"
Siapa gerangan perempuan berkerudung itu ? Dia tak lain adalah manusia misterius yang
menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma.
Tatkala mendengar suara bentakan tadi, rupanya Han siong Kie sudah tahu bahwa ia sedang
berhadapan dengan orang yang kehilangan sukma, tapi berhubung dia ingin mengetahui raut
wajah asli dari perempuan misterius itu, maka bukan saja tidak mencegah sepasang siluman untuk
menerjang ke muka, malahan dia sendiripun menyergap masuk kedalam hutan dengan
mengerahkan dua belas bagian hawa saktinya.
Dan kala ini tujuannya tercapai, perempuan misterius yang bernama orang yang kehilangan
sukma itu tak sempat menyembunyikan diri lagi.
Tapi pemuda itu merasa kecewa, sebab perempuan itu menutupi wajahnya dengan kain
kerudung hitam, akhirnya toh ia tak berhasil juga untuk melihat paras muka dari perempuan
misterius itu.
Sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata dengan lembut:
"Nak. rupanya Thian selalu melindungi engkau, akhirnya kau bisa keluar dari lembah kematian
dengan selamat"
"Terima kasih atas perhatian dari cianpwe" "sahut pemuda itu cepat-cepat.
selama mulutnya berbicara sorot matanya yang tajam mengawasi potongan badan orang yang
kehilangan sukma tanpa berkedip. diam-diam ia merasa amat kenal dengan potongan tubuh
perempuan ini, hanya ia lupa dimanakah ia pernah bertemu dengannya.
Ketika sinar matanya beralih kearah lengan baju kanannya, ia bergetar keras seperti kena listrik
tubuhnya gemetar menahan emosi:
" Itulah pengorbanan dari orang yang kehilangan sukma untuk membebaskan totokan jalan
darah pada tubuhnya, dia telah mengorbankan lengan kanannya dan lengan tersebut hingga
sekarang masih tersimpan di sakunya.
JILID 31 HAL.04 S/D 5 HILANG
lembah, carilah jalan keluar yang lain dan segeralah engkau tinggaikan tempat ini"
"sayang sudah terlambat" tiba2 serentetan suara dingin menyeramkan membelah kesunyian.
sekujur badan orang kehilangan sukma gemetar keras, secara beruntun dia mundur beberapa
langkah lebar kebelakang.
Rasa kejut yang dialami Han siong Kie pun sukar dilukiskan dengan kata2, ia percaya tenaga
dalamnya pada saat ini sangat lihay, tapi kenyataannya ada orang berhasil mendekat wilayah
sekitar lima kaki dari tempat mereka beradapun tidak dirasakan olehnya, dari sini dapat ditarik
kesimpulan sampai dimanakah kelihayan musuhnya itu.
Hek Pek siang yau sepasang siluman hitam putih juga sudah menyadari akan kelihayan
musuhnya, mereka lantas bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Dari balik popohonan lima kaki dari gelanggang, muncul tiga sosok bayangan manusia, orang
pertama adalah seorang manusia aneh berkerudung hijau, dia adalah Thian Che kaucu,
dibelakangnya mengikuti dua orang kakek jubah hitam yang mempunyai sulaman matahari,
rembulan dan bintang didadanya, salah seorang diantaranya adalah Tangan kilat see bun Lui.
Paras muka Han siong Kie berubah hebat, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya.
sikap orang yang kehilangan sukmapun amat serius, dengan suara lirih dia berbisik kepada Han
siong Kie:
"Manusia berkerudung itu adalah pemimpin dari Utusan Thian che kau, orang sebut dirinya
sebagai Cian jiu mo ong (raja iblis bertangan seribu) Tong ciao, selama ini dialah yang selalu
menyaru sebagai ketua. Hari ini, ketiga orang itu jangan sekali-kali kau lepaskan dalam keadaan
hidup, sebab bila seorang saja diantara mereka masih hidup, maka akibatnya sukar dilukiskan
dengan kata-kata" Han siong Ki mengangguk dan memberikan kesanggupannya.
Dalam pada itu, raja iblis bertangan seribu Tong ciau sudah berpaling kearah orang yang
kehilangan sukma, kemudian sambil tertawa seram ejeknya:
"Heeehhh . . heeehhh . . heeehhh. .Aku mengira siapa yang berada disini, tak tahunya adalah
kau"
Ucapan tersebut membuat Han siong Kiejadi tertegun dia lantas berpikir dihati:
"Masakah orang yang kehilangan sukma adalah anggota perkumpulan Thian che kau? Kalau
tidak kenapa orang ini mengenalinya ?"
Sementara itu orang yang kehilangan sukma telah membentak nyaring: "Tutup mutut
anjingmu"
Jelas sekali maksudnya dia tidak mengharapkan orang itu meneruskan kata-katanya lebih jauh.
Kepada Han siong Kie kembali dia berbisik,
"Ingat, jangan biarkan mereka tetap hidup, akan kubantu dirimu secara diam-diam" selesai
berkata dia lantas melejit keudara dan kabur dari tempat kejadian.
"Mau lari kemana kau ?" bentak Raja iblis bertangan seribu Teng Ciau dengan keras, secepat
kilat ia menerkam kemuka.
Han siong Kie mendengus dingin, tubuhnya bergeser setengah langkah ke samping lalu
melepaskan sebuah pukulan gencar, dalam serangan tersebut dia telah sertakan hawa sakti si mi
sinkang yang di milikinya, bukan saja tidak menimbulkan suara kekuatannya sangat mengerikan-
"Blaaang" suatu benturan nyaring menggelegar diangkasa, raja iblis bertangan seribu Teng ciau
yang sedang melakukan pengejaran segera terpental hingga mencelat sejauh delapan depa dari
tempat semula.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah, orang yang kehilangan sukma melarikan diri
dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan-
Kejadian ini sangat mengejutkan dua orang utusan Thian che kau yang lain, hampir saja
mereka menjerit kaget.
selama hidup belum pernah mereka saksikan kemampuan sedahsyat itu, dan mimpipun mereka
tak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki pemimpin utusan Thian che kaupun ternyata
pemuda itu tak mampu dihajar sampai menceat.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata setajam sembilu mengawasi manusia berkerudung itu
tanpa berkedip. mukanya seram dan penuh diliputi hawa napsu membunuh mengerikan sekali
keadaannya.
JILID 31 HAL. 12/13 HILANG
sukma bagaikan menghormati orang tua sendiri ketika didengar pihak musuh memaki orang
yang dihormati sebagai perempuan hina, kontan saja ia naik pitam.
"Tutup mulut anjingmu yang baur bentaknya, "Teng ciao tempat inilah tulang belulang kamu
bertiga akan terkubur untuk selamanya "
"Anjing cilik, kematian sudah berada didepan mata, buat apa engkau masih saja mengibul
seenaknya ?" ejek Tangan kilat se bun Lui tak kalah sengitnya.
Han siong Kie tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, dia ulapkan tangannya kepada
Hekpek siang yu lalu, serunya:
" Hantar kedua ekor anjing ini pulang keakherat, jangan biarkan mereka tetap hidup dikolong
langit "
Dengan sikap yang sangat hormat sepasang siluman mengiakan tanpa banyak bicara lagi
mereka menerjang dua orang utusan Thian che kau itu.
siluman hitam menerkam si Tangan kilat se bun Lui, sementara siluman putih menerjang
utusan Thian che kau yang lain-
Han siong Kie sendiri dengan wajah sedingin es menghampiri Raja iblis bertangan seribu,
katanya:
"Teng ciao sudah terlampau lama engkau mencicipi kehidupan didunia ini, sekarang pun
ciangbunjin akan mengirim kau untuk berpesiar keakhirat, Nah berangkatlah sekarang juga"
seraya berkata selangkah demi selangkah ia menghampiri lawannya. Suatu pertarungan sengitpun
segera berkobar dalam gelanggang.
Ilmu silat yang dimiliki dua orang utusan Thian che kau itu, memang sangat lihay, dalam
keadaan terdesak mereka harus melangsungkan pertarungan adu jiwa yang mengerikan-
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau adalah pengganti dari Thian che kaucu, tentu saja tenaga
dalamnya amat sempurna, dia hanya kalah setingkat dari kaucu sendiri
Tatkala Han siong Kie menerjang masuk kewilayah Lian huan tau dan menolong Go siau bi,
kedua belah pihak pernah terlibat dalam suatu pertempuran sengit waktu itu, kendatipun Han
siong Kie dan Go siau bi sudah bekerja sama toh bukan tandingannya juga, maka ia sama sekali
tak memandang sebelah matapun kepada musuhnya.
selama ini dia hanya menguatirkan Pertarungan dari Hekpek siang yu, seorang gembong iblis
yang sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari keramaian dunia, setelah melihat bagaimana dua
orang jago yang disegani itu bertarung melawan dua orang rekannya, diapun setengah menjadi
lega. kini dia lupa untuk mengejar orang yang kehilangan sukma, memandang Han siong Kie yang
makin mendekat, gembong iblis tersebut lantas tertawa seram, katanya:
"Manusia bermuka dingin, masih mengharapkan tidak untuk melanjutkan keturunan dan
kejayaan dari Mo tiong ci mo?"
Han siong Kie menghentikan langkahnya lalu menjawab:
"Teng ciau, tak tak usah mempersoalkan yang lain, ketahuilah... jika Thian che kaucu masih
bersembunyi terus macam kura-kura, maka manusia-manusia pengganti macam engkaulah yang
bakal sial, sebab ini hari engkau sudah pasti akan berangkat menuju ke akherat"
Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan, secepat kilat dia melancarkan tiga buah pukulan
berantai ke depansekilas
pandangan, ketiga buah serangan tersebut sama sekali tidak nampak lihay ataupun
mengerikan, tapi justru dibalik kelembutan itu terselip hawa sakti si mi sinkang yang memiliki daya
penghancur, bukan begitu saja, bahkan kecepatannya melebihi apa pun juga.
Raja iblis bertangan seribu Tong cian sedikitpun tidak jeri, telapak tangannya lantas disilangkan
didepan dada dan menangkis semua ancaman yang tiba. "Biang Blaang Blaaang " Tiga kali
benturan dahsyat menggelegar diangkasa.
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau tergetar keras dan mundur tiga langkah, rasa kejutnya
kian menjadi, dia tak menyangka hanya berpisah beberapa bulan, ternyata kekuatan tenaga yang
dimiliki musuhnya sudah meningkat sehebat itu.
Padahal ia sendiri disebut orang Raja iblis bertangan seribu, tentu saja tenaga dalam yang
dimilikinya amat sempurna, ia jadi penasaran, begitu terdesak secepat kilat ia menerkam lagi
kemuka dan secara beruntun melancarkan empat puluh delapan buah pukulan berantai.
Ke empat puluh delapan buah pukulan itu dilancarkan secara berantai, diatas
JILID 31 HAL. 18/19 HILANG
kan tandingan baginya, sungguh tak nyana baru tiga gebrakan dia sudah jatuh kecundang di
tangan Manusia bermuka dingin yang berusia dua puluh tahunan, kejadian ini segera
menimbulkan kembali sifat buasnya.
sambil membentak keras, sekali lagi ia menerjang kemuka, serangan demi serangan
dilancarkan secara bertubi-tubi, mengerikan sekali ancamannya itu.
Han siong Kie sama sekali tidak gentar, dia kembangkan permainan Mo mo ciang hoat dan
membalas serangan lawan deagaa serangan pula.
Mengerikan sekali pertarungan waktu itu, kedua belah pihak sama-sama mengeluarkan
segenap ilmu simpanan yang dimiliki, siapa pun berharap bisa menghancurkan lawannya secepat
mungkin.
Suatu ketika, mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang membelah angkasa.
si Tangan sakti se bun Lui yang hebat tak mampu menghindari sebuah sergapan kilat dari
siluman hitam, tubuhnya kontan terbacok telak dan hancurlah tubuhnya menjadi remuk seperti
berkedel, darah segar berceceran menodai permukaan tanah.
Melihat rekannya tewas, utusan Thian vhe kau yang lain jadi gugup, permainan serangannya
jadi kacau balau tak karuan-
Kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan oleh siluman putih, suatu cengkeraman kilat
berhasil menangkap bahunya, baju berikut dagingnya lantas dicomot sampai hancur sepanjang
setengah depa, darah segar bagaikan pancuran mengucur keluar tiada hentinya.
00dw00
BAB 64
BERHASIL dengan serangan yang pertama, siluman putih tidak berdiam diri sampai disitu saja,
secara beruntun dia melontarkan kembali tiga buah pukulan berantai.
Begitu tiga pukulan itu dilepaskan, untuk kesekian kalinya jerit kesakitan berkumandang
memecahkan kesunyian, sambil muntah darah segar utusan Thian che kau itu mencelat sejauh
satu kaki lebih dan tidak bangun untuk selamanya.
Raja iblis bertangan seribu Tong ciau merasa terkejut dan panik, dalam gugupnya secara
beruntun dia lepaskan beberapa buah pukulan kilat begitu Han siong Kie terdesak hebat, ia lantas
melejit dan siap melarikan diri
"Mau kabur ?" jengek Han siong Kie, "jangan mimpi hayo serahkan dulu jiwa anjingmu"
sekali berkelebat ia sudah menghadang jalan pergi raja iblis bertangan seribu itu, secara
beruntun dia lepaskan lima buah serangan berantai.
Melihat gelagat tidak menguntungkan- raja iblis bertangan seribu tak berani gegabah lagi,
timbullah niat untuk mengadu iiwa, maka tatkala serangan musuh melanda datang, bukannya
berkelit dia malahan menyongsong datangnya pukulan itu dengan pukulan.
selama pertempuran berlangsung, Han siong Kie tak bisa bertarung dengan hati lega, karena ia
kuatir kalau dua orang musuh yang sedang bertempur melawan Hek pek siang yu berhasil kabur,
ia kuatir dengan peringatan dari orang yang kehilangan sukma dimana dikatakan bila seseorang
diantara mereka berhasil kabur maka akibatnya sukar dibayangkan-
Tapi sekarang, setelah dua orang yang di kuatirkan berhasil dibikin mampus oleh sepasang
siluman, iapun tidak kuatir lagi, segenap perhatian dan tenaganya dihimpun menjadi satu untuk
melakukan sergapan sergapan maut. Lima gebrakan kemudian, Raja iblis bertangan seribu sudah
dibikin kalang
JILID 31 HAL. 24 S/D 27 HILANG
ia masih berada disini:.. aaai sukarlah untuk diketahui siapa yang bakal hidup dan siapa yang
bakal mati"
"Aaah belum tentu begitul" seru Han siong Kie dengan cepat.
"sekarang engkau adalah seorang ketua dari suatu perguruan, sebelum dendam sakit hatimu
terbalas setiap persoalan yang kau hadapi harus dipikirkan dengan otak dingin, janganlah terlalu
memburu napsu, ketahuilah ilmu silat ibaratnya samudra yang luas, dimanapun ada orang-orang
pintar yang tersembunyi, jangan disebabkan oleh luapan emosi mengakibatkan segala sesuatunya
menjadi berantakan"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan
terbata:
"Setiap nasehat dari cianpwe akan boanpwe dengarkan baik-baik, untuk selanjutnya tat akan
kulupakan lagi"
"Aaah sekarang cepatlah keluar dari lembah ini, aku kuatir bila terlambat maka akan terjadi halhal
yang tak diinginkan"
"Bukankan cianpwe lelah mengatakah bahwa disekitar mulut lembah telah ditanam obat
peledak seberat sepuluh laksa kati"
"Benar, tapi sekarang pemimpin mereka yang merupakan ketiga orang tadi sudah mati semua,
sisanya tak perlu kita takuti lagi, mesti kita bergerak dengan bersembunyi dibalik pepohonan, aku
rasa untuk sementara waktu kita masih bisa mengelabuhi mereka sebab yang tersisa cuma jagojago
kelas kambing. Kendatipun akhirnya jejak kalian berhasil ditemukan, toh pada waktu itu
kalian sudah berada disekitar mulut lembah dan wilayah yang ditanam obat peledakpun sudah
dilampaui, aku percaya dengan kemampuan ya kalian miliki tak sukar untuk kabur dari sini, Nah,
selamat jalan dan semoga berhasil"
Selesai dengan kata-katanya, orang yang kehilangan sukma lantas berkelebat masuk ke hutan
dan lenyap dibalik pepohonan yang rindang.
Dengan termangu- mangu Han Siong Kie mengawasi bayangan punggungnya yang lenyap dari
pandangan, dia menghela nafas panjang, lalu berpikir:
"Budi kebaikan yang kuterima selama ini entah sudah berapa banyak. aai, entah bagaimana
caraku untuk membalas budi kebaikannya ini?
Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, akhirnya sambil mengulapkan tangannya kepada
sepasang siluman ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya menerjang ke arah mulut lembah.
selang sesaat kemudian, mulut lembah itu sudah berada didepan mata, pepohonan yang
rindangpun sudah mencapai pada ujungnya.
Ketika mereka berada kurang lebih lima puluh kaki dari mulut lembah, serentak Han siong Kie
menancap gas dan kabur lebih cepat lagi, kepada dua orang siluman itu serunya: "Hayo kita
terjang keluar dari lembah ini secepat-cepatnya..."
Tiga sosok bayangan manusia bagaikan tiga gulung asap dengan cepatnya meluncur kearah
mulut lembah. suitan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian disusul dari belakang
mereka bergelegar suara ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.
Pasir dan batu mencelat jauh keudara, asap hitam tanah longsor berguguran disekitar tempat
itu membuat suasana ketika itu benar-benar mengerikan sekali.
Akhirnya meledak juga obat yang ditanam disekitar mulut lembah, tapi sayang terlambat
setengah langkah, Han siong Kie sudah lolos dari lingkaran bahan peledak itu.
Keadaan mulut lembah itu porak poranda keadaannya mengerikan sekali, batu cadas sebesar
gunung dan pasir berjuta-juta meter kubik berguguran kebawah dan menyambar semua lapisan
tanah disekitar situ.
Baik Han siong Kie maupun Hekpek siang yau saling berpandangan sekejap dengan mulut
melongo bergidik hati mereka, andaikata orang yang kehilangan sukma tidak memberi peringatan
lebih dahulu, niscaya mereka bertiga sudah hancur entah berwujud apa.
Bisa dibayangkan betapa gusar dan dendamnya siluman hitam menyaksikan keadaan itu, ia
berpaling ke arah pemuda kita lalu berseru: "Ciangbunjin, hutang ini...."
"Hutang kita kepada mereka tidak terbatas hanya peristiwa ini saja" tukas Han siong Kie
dengan cepat, lebih baik kita perhitungkan dikemudian hari saja, sekarang aku masih ada urusan
penting yang harus segera diselesaikan marilah kita segera pergi"
siluman putih menyapu pandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu berkata pula dengan
suara dalam:
"Ciangbunjin, tolong tanya bagaimana kita harus selesaikan anakan monyet yang bersembunyi
di sekitar tempat ini?"
"Kalau ingin mencari balas sudah sepantarnya kita bikin perhitungan dengan pemimpin mereka,
apa harganya buat kita untuk ribut dengan manusia-manusia keroco seperti mereka? Biarkanlah
mereka pergi"
selesai mengucapkan kata-kata tersebut, Han siong Kie segera berangkat meninggalkan tempat
itu diikuti Hekpek siang Yaw di belakangnya
Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah jauh tinggalkan lembah kematian, tujuan mereka
sekarang adalah benteng maut.
Inilah tugas pertama yang harus diselesaikan olehnya setelah berhasil mempelajari Ilmu sakti si
mi sinkang, dia hendak menuntut balas dan menghancurkan tengkorak maut.
Untuk menghindari kegemparan dikalangan masyarakst oleh wajah Hekpek siang yau yang lain
daripada yang lain itu, sengaja ia memerintahkan kedua orang itu untuk mengenakan kain
kerudung hitam.
Hari kedua, tatkala tengah hari menjelang tiba, mereka sudah berada ditepi sebuah sungai
yang lebar, perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri sungai tersebut.
Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba disamping sebuah bekas bangunan rumah yang kini
sudah tinggal puing-puing yang berserakan, disitulah dahulu pesanggrahan Teng to siau cut
berdiri
Terkenang kembali masa lampau, tanpa terasa Han siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya,
dengan termangu- mangu ia memandang bekas bangunan Teng to siau cut yang tinggal puingpuing
itu.
Tanpa terasa ia teringat kembali kenangan masa lampau, kenangan dikala ia terhajar oleh
pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai, bagaimana ia ditolong oleh Go siau bi dan
bagaimana pesanggrahan tersebut akhirnya dibakar oleh orang-orang Thian che kau.
Bayangan Go siau bi yang cantik jelita terpampang jelas didepan matanya, gadis itu telah jatuh
cinta kepadanya pada tatapan yang pertama, bahkan berulang kali menyatakan cinta kepadanya.
Tapi ia sama sekali tidak membalas cinta dara itu, ia tak pernah mencintai Go siau bi, sebab ia
membenci setiap perempuan yang ada didunia ini kecuali Tong hong Hui seorang.
Akhirnya pemuda itu menghela napas panjang, tiba-tiba ia merasa bahwa perbuatannya selama
ini terlalu menyinggung perasaan halus gadis itu, tapi sekarang dia sudah pergi, mungkin
selamanya tak mungkin bisa berjumps lagi.
Benarkah aku telah menghancurkan masa depan seorang gadis ? Benarkah aku bertanggung
jawab atas kejadian ini? ia mencoba untuk bertanya pada diri sendiri, tapi pemuda itu tak mampu
menjawab.
Tindakan ibunya say siang go atau siang go cantik ong cul ing meninggalkan tempat kejadian
dikala keluarganya tertimpa bencana bahkan kawin lagi dengan Thian che kaucu dirasakan
sebagai pukulan batin terberat yang pernah ia terima, kejadian ini membuat pandangannya
terhadap kaum perempuan jadi sinis dan benci.
Untunglah selama ini dia banyak berhutang budi kepada orang yang ada maksud, orang yang
kehilangan sukma, Go siau bi serta Tong hong Hui, sikap dari perempuan-perempuan inilah yang
banyak menggoyahkan cara berpikirnya yang salah itu, perasaan anti perempuan yang
dipertahankan selama ini pun lambat laun menjadi lebih tawar.
Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang puing yang berserakan serta ombak yang
memecah ditepi pantai, kian lama perasaannya kian terbuai oleh lamunan dan kenangan lama.
Hekpek siang yau tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dengan tenang mereka menunggu di
belakang ketuanya.
Tiba-tiba dari balik puing-puing yang berserakan berkumamdang suara helaan napas panjang.
Satu ingatan lantas melintas dalam benak si anak muda itu, ia tersadar kembali dari
lamunannya kepada sepasang siluman segera pesannya. " Kalian tak usah pergi kemana-mana,
nantikanlah aku disini". secepat kilat ia meluncur ke angkasa dan menerobos masuk kedalam
hutan bambu di mana helaan napas tersebut berasal.
seorang sastrawan berusia setengah baya berdiri sambil bergendong tangan ditepi sungai dekat
hutan bambu. Berdebar keras jantung Han siong Kie setelah mengetahui siapakah orang itu,
sebab tak lain adalah kakek Go siau bi, orang-orang persilatan menyebutnya sebagai Put lo
sianseng.
Han siong Kie berdiri pada jarak lima kaki dihadapan kakek tua itu, ia tak tahu apa yang harus
diucapkan dan apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini.
"Benarkah yang datang adalah Han siauhiap, ketua dari perguruan Thian lam bun? " tanpa
berpaling Put lo sianseng menegur lebih dahulu.
Han siong Kie mendekati sampai sejarak tiga kaki lalu menjura dengan hormat.
"Benar cianpwe, apakah selama ini locianpwe berada dalam keadaan sehat walafiat" sahutnya.
Perlahan-lahan put lo sianseng memutar badan sekilas sorot mata yang aneh memancar keluar
tapi sebentar saja sudah lenyap tak berbekas dengan suara dingin.
"sebetulnya lohu sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia ini, tapi sayang imanku kurang
teguh, karena tergoda oleh peristiwa keduniawian akhirnya kumuncul kembali dalam dunia
persilatan, aai.. sungguh tak nyana aku tergoda oleh suatu masalah yang akhirnya membuat diriku
tak bisa lagi berpeluk tangan belaka" Berbicara sampai disitu, kembali ia menghela napas panjang.
"Persoalan apakah yang telah membuat locianpwe jadi bingung?" tanya pemuda itu keheranan-
"Belenggu cinta dari cucu perempuanku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie lantas teringat kembali dengan peristiwa lama
ketika ia menolak pinangan dariput losianseng bagi cucu perempuannya.
"Locianpwe, apakah perkataanmu itu kau sengaja tujukan kepada diri boanpwe? " tanyanya
tanpa sadar.
sekali lagi sorot mata aneh terlintas di wajah Put to sianseng, ia menatap sekejap pemuda itu
kemudian balik bertanya: "Han sauhiap bersediakah engkau membantu diriku?"
"Persoalan apakah yang dapat boanpwe lakukan bagi locianpwe?" tanya Has siong Kie setelah
tertegun sejenak.
"sebenarnya lohu sudah mengangkat sumpah tak akan mencampuri urusan keduniawian lagi..
Aaai, tak disangka oleh karena sejilid kitab pusaka Thian tok pit kip. bukan saja putraku Go Yu to
menemui ajalnya, perkumpulan Pat Gi pang hancur berantakan dan lenyap dari dunia persilatan,
bahkan Go siau bi cucu perempuanku ini ..."
Teringat dara itu, merah padam selembar wajah Han siong Kie, sebab bagaimanapun juga dia
pernah menolak pinangan dara itu
setelah berhenti sebentar terdengar Put lo sianseng melanjutkan kembali kata-katanya:
"Didalam waktu yang amat singkat, lohu telah berhasil melatih Siau bi sehingga ilmu silatnya
mencapai tingkatan yang lihay, tujuanku adalah meminta kepadanya agar balaskan dendam bagi
kematian ayahnya serta membangun kembali perkumpulan yang telah buyar.." Berbicara sampai
disini, kembali dia berhenti.
Han siong Kie merasa hatinya sangat tidak tenang, bagainya secara lapat-lapat ia sudah merasa
bahwa bantuan yang diharapkan kakek sakti ini mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan
Go siau bi.
sementara itu paras muka Put lo sianseng sudah agak berubah, katanya kembali:
"Aaai. sebetulnya aku malu untuk membicarakan persoalan ini, tapi apa boleh buat? Mau tak
mau terpaksa harus mengatakannya juga ...siau bi telah terbelenggu oleh cinta, sekarang ia sudah
terjerumus dalam sekali, kegagalan demi kegagalan yang diterimanya selama ini telah membuat ia
jadi putus asa, sekarang siau bi telah mengambil keputusan untuk mencukur rambut menjadi
nikoh, aai, inilah suatu kejadian yang membuat perasaan hati lohu selalu tak tenang."
"Apa ? Dia mau mencukur rambut menjadi pendeta??"
"Benar, dan keputusannya ini tampaknya sudah bulat, kecuali engkau mungkin didunia ini tak
ada orang kedua yaag bisa merintangi niatnya itu lagi"
JILID 31 HAL. 40/41 HILANG
"Boleh aku tahu pada saat ini nona siau bi berada dimana ?"
"Dipintu luar kuil Bu cu an di bukit Tay hang san"
"Benar, dia minta Tay huang sinni untuk menerimanya sebagai pendeta, tapi lantaran lohu
sudah berpesan kepada sini maka ia ditolak untuk memasuki kuil tersebut, walaupun demikian
rupanya ia tidak menjadi putus asa, sudah tiga hari tiga malam ia berlutut didepan pintu kuil
tersebut "
Dari mulut boanpwe pernah mendengar tentang kelihayan Tay huang Sinni, katanya watak
nikoh itu aneh sekali, enam puluh tahun berselang dengan lencana Hud cu leng dia telah
menggetarkan sungai telaga dan memaksa orang persilatan baik dari golongan putih maupun dari
golongan hitam tunduk semua kepadanya, sungguh tak nyana dia masih hidup didunia ini?"
"Benar, Tay huang sinni itulah yang kumaksudkan, hingga kini sepuluh li disekitar bukit Tay
huang san merupakan daerah terlarang, tak seorang jago persilatanpun yang berani mendekati
tempat itu "
"Kalau memang begitu, bukankah kedatangan boanpwe."
"Dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bukan suatu persoalan yang terlampau berat
untuk menerjang masuk kedalam kuil"
"Menerjang masuk?" seru pemuda itu tercengang.
"Benar, selain menerjang masuk rasanya tiada jalan lain yang bisa kau tempuh. sebagaimana
telah kau ketahui. Tay huang sinni adalah seorang manusia aneh yang tak bisa diajak berbicara.
Kendatipun begitu aku minta kau masih ingat untuk berbicara secara baik-baik lebih dahulu
sebelum menggunakan kekerasan, bila tidak terpaksa sekali janganlah turun tangan secara
gegabah"
"Perasaan ingin tahu lantas menyelimuti hati pemuda ini, ia lantas berpikir:
" Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mencoba sampai dimanakah
kelihayan kungfu Tay huang sinni?"
Diapun mengangguk seraya menjawab: "Boanpwe akan menuruti semua pesan cianpwe"
"Bolehkah aku tahu apa tujuanmu sekarang ??"
"Boanpwe hendak berkunjung ke benteng maut untuk membuat perhitungan dengan pemilik
benteng maut tersebut"
"Membalas dendam? tentang soal ini..."
"Apakah locianpwe ada petunjuk lain?"
"Aaah tidak... tidak aku tidak ingin mengatakan sesuatu hal, setelah tiba pada saatnya engkau
akan mengetahui sendiri"
Han siong Kie melongo, ia tak tahu apa yang dimaksudkan put lo sianseng dengan katakatanya
itu?
sementara dia masih termenung put to sianseng telah melanjutkan kembali kata-katanya:
"Masalah yang kutitipkan padamu itu terlampau serius, rasanya tak boleh dibiarkan berlarutlarut,
oleh sebab kuatir kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, apakah sauhiap bersedia untuk
berkunjung dahulu kebukit Tay huang san?"
"Boanpwe turut perintah bagaimana cara nya untuk berangkat menuju bukit Tay huang san?"
"Dari sini berangkatlah keutara dua ratus li kemudian akan tiba kebukit Tay huang san, diantara
bukit yang menjulang diangkasa akan kau temui sebuah bukit gersang yang tidak bertumbuhan,
tempat itu mudah ditemukan dan aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki tidak susah
untuk mencapai tempat tujuan"
"Kalau begitu boancwe akan berangkat sekarang juga"
"Tunggu sebentar"
"Apakah locianpwe masih ada pesan lain"
"Benarkah dua orang manusia berkerudung yang mengikuti dibela kang mu itu adalah Hek pek
siang yau sepasang siluman hitam putih yang tersohor itu."
sungguh kagum Han siong Kie oleh ketajaman mata Put to sianseng, bukan saja dapat
menebak jitu asal usul dari Hek pek siang yau, malahan tanpa melihat tampang wajah merekapun
tebakannya ternyata jitu. Maka dia lantas mengangguk tanda membenarkan.
"Apakah hubungamu dengan sepasang siluman itu" kembali Put to sianseng bertanya.
"Mereka berdua sudah termasuk jadi anggota perguruanku"
JILID 31 HAL. 46/47 HILANG
"Benar, dan sekarang juga kita akan berangkat menuju ke kuil Bu cu an dibukit Tay huang san"
"Pergi ke bukit Tay huang san?" seru siluman putih dengan wajah terkesiap.
"Benar, bukit Tay huang tempat tinggal dari Tay huang sini"
"Apakah ciangbunjin hendak bermusuhan dengan pendeta perempuan itu?"
"Tidak, aku kesana untuk menyelesaikan sedikit persoalan. Tahukah kamu berdua persoalan
apa yang hendak kuselesaikan "
"Tentang soal ini tecu tak berani bertanya.."
"Kalau begitu hayo kita segera berangkat"
Begitulah tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat segera
berangkat menuju utara.
Hek pek siang yau terhitung pula sebagai jago yang tersohor pada puluhan tahun berselang,
tentu saja Tay huang sinni yang pernah malang melintang dalam sungai telaga dengan Hud cu
lengnya tidak terlampau asing bagi mereka.
sekarang setelah mengetahui bahwa tujuan mereka adalah ke bukit Tay huang san, sedikit
berdebar juga hati mereka berdua.
Namun baik siluman hitam maupun siluman putih tak berani banyak bertanya, sebab
bagaimanapun juga mereka harus mengikuti kemana perginya majikan mereka.
Untunglah ketiga orang itu adalah jago-jago silat berilmu tinggi, sekalipun tiada jalan yang
terbentang namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menembusinya .
Dua jam kemudian, mereka sudah memasuki daerah pegunungan yang terjal dan sepi.
sesudah melewati berpuluh-puluh buah bukit yang terjal, akhirnya diantara deretan bukit itu
muncullah sebuah bukit gundul yang gersang.
Kecuali beberapa titik warna hijau menghiasi bukit tersebut, hampir boleh dibilang yang tampak
hanya batu-batu cadas yang hitam dan tajam.
Han siong Kie segera menghentikan langkah kakinya, sambil menunjuk ke arah bukit gundul
nanjauh didepan sana katanya:
"Aku pikir bukit itulah yang dinamakan bukit Tay huang san?"
"Jadi ciangbunjin belum pernah berkunjung kemari?" tanya siluman hitam keheranan-
"Belum pernah, baru untuk pertama kali ini aku berkunjung kemari"
"Dahulu tecu pernah melewati tempat ini, tak salah lagi inilah bukit Tay huang san"
"Ciangbunjin, bolehkah kami tahu apa maksud ciangbunjin datang kemari?" tanya siluman putih
agak takut-takut.
"Mencari seseorang"
"Mencari orang? Ketahuilah ciangbunjin, dua li dari kaki bukit itu merupakan daerah terlarang,
setiap umat persilatan tak berani melewati wilayah tersebut dengan sembarangan"
Han siong Kie bukan orang bodoh, tentu saja ia mengetahui perasaan hati dari sepasang
siluman itu, sambil tertawa dingin katanya: "Jadi kalian merasa takut??"
"Ciangbunjin jangan berkata begitu" seru siluman hitam dengan hati gelisah, "setelah tecu
memberikan kesanggupan untuk turut serta ciangbunjin untuk selamanya, jangan toh hanya
berkunjung ke bukit Tay huang san, kendatipun harus naik kebukit golok atau terjun ke lautan api
tak nanti kami akan menolaknya"
Han siong Kie menengadah dan memandang sekejap bukit gundul diseberang sana, kemudian
katanya lagi.
"Kalian berdua tak usah ikut aku naik ke bukit itu, nantikan saja kedatanganku disini"
"Tidak Tecu tidak mau meninggalkan ciangbunjin seorang diri" serentak kedua orang siluman
itu berseru.
"Aku hendak pergi menyelesaikan suatu persoalan, kalian tak usah ikut saja. berdiamlah disini "
"Tecu berdua mana tenang membiarkan ciangbunjin pergi menempuh mara bahaya seorang
diri?"
"siapa bilang aku pergi menempuh bahaya ? Ketahuilah urusanku ini tidak menyangkut soal
dendam sakit hatipun tidak mengenai soal pembalasan budi."
"Tapi .. Ciangbungjin pasti tahu Tay Huang sini adalah seorang manusia yang berwatak aneh,
siapa berani melanggar pantangannya maka bisa mengakibatkan ...."
"Kalian berdua tak perlu kuatir, aku bisa menjaga diri dan akupun tahu bagaimana caranya
untuk menghadapi keadaan seperti itu" Dengan wajah bersungguh-sungguh siluman hitam
berkata lagi:
"Bagaimaa kalau tecu berdua mengikuti jejak ciangbunjin dari tempat kejauhan ?jadi apabila
sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tecu berdua bisa segera memberi bantuan ?"
"Tidak Tidak perlu" sahut pemuda itu tegas.
Tapi... tapi bagaimanapan juga, kami merasa tak tenang."
"Kalian berdua tetap berjaga-jaga disini, bagaimanapun juga yang terjadi disini, kalian tak boleh
bergerak secara sembarangan, perkataanku ini adalah perintah, aku minta kalian berdua jangan
mencoba untuk melanggar perintahku ini"
Buru-buru Hok pek siang yau membungkukkan badannya memberi hormat, mereka tak banyak
banyak bicara lagi.
Menyaksikan sikap kedua orang itu, Han siong Kie malahan merasa tidak tega sendiri, kembali
bisiknya dengan lembut:
"Kalian berdua tidak usah kuatir, tenangkan saja hati kalian berdua, tidak akan terjadi hal yang
diluar dugaan atas diriku ini"
seraya berkata dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan bergerak menuju
kepuncak bukit yang gundul itu
Diluaran Han siong Kie memang tampak sangat tenang, padahal dalam hatinya ia menggerutu
terus, bagaimanapun juga dia telah memasuki daerah terlarang dari seorang jago silat yang
disegani umat manusia, selain itu diapun tak tahu apakah pesan dari put lo sianseng dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya atau tidak masih merupakan suatu tanda tanya besar, ia tak
tahu apakah Go siau bi bersedia untuk mendengarkan nasehatnya atau tidak.
Menurut keterangaa dari put to sianseng sudah tiga hari tiga malam Go siau bi berlutut didepan
pintu kuil, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tekadnya sudah bulat .
"Apa yang harus diucapkan setelah berjumpa dengan gadis itu nanti?"
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, setiap kali teringat akan persoalan ini hatinya
langsung merasa tak tenang.
Belum jauh ia mendaki bukit yang gundul itu, kira-kira baru sepuluh kaki dari wilayah
perbatasan daerah terlarang, mendadak perjalanannya telah dihadang oleh seorang nikoh,
pendeta perempuan itu duduk bersila diatas sebuah batu cadas, matanya terpejam dan tubuhnya
kaku seperti arca, tampaklah betapa berwibawanya nikoh tersebut.
Cepat Han siong Kie menghentikan gerak tubuhnya, setelah tertegun sejenak diapun berpikir:
"Mungkinkah nikoh tua itu adalah Tay huang sinni yang tersohor dimana-mana itu?" sambil
merangkap tangannya memberi hormat pemuda itu menyapa: "Mohon tanya apakah sinni adalah
Tay huang sini?"
"Dia adalah guruku " sahut nikoh tua itu singkat.
sekalipun hanya beberapa patah kata saja, namun tiap patah kata diucapkan dengan sangat
nyaring dan tajam, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki nikoh ini sudah
mencapai puncak kesempurnaan yang mengagumkan.
-000dw000-
BAB 65
"BOLEH aku tahu, siapa nama gelar dari suthay ?" kembali si anak muda itu bertanya.
"Kami adalah orang yang beragama, tidak menjadi kebiasaan bagi kami untuk saling
menyebutkan nama dengan orang awam "
Ucapan tersebut dingin kaku dan singkat, malahan nikoh itu sama sekali tidak membuka
matanya barang sekejappun.
Diam-diam Han siong Kie merasa naik pitam, tapi ia tetap berusaha untuk mengendalikan hawa
amarahnya itu, sebab berulang kali Put to sianseng telah berpesan kepadanya agar jangan
memakai kekerasan, sehingga mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi
tujuan kedatangannya toh hanya berusaha menasehati Go siau bi agar membatalkan niatnya
untuk menjadi pendeta."
Maka setelah berpikir beberapa saat, dia pun berkata:
JILID 31 HAL. 56/57 HILANG
tekebur yang berani mencari gara-gara dibukit Tay huang san"
Keangkuhan dan keketusan Han siong Kie segera terpancing keluar oleh suasana yang serba
tak enak itu, dia balas mendengus.
"Hmm Aku sudah memohon dengan segala kehalusan serta mengikuti tata kesopanan aku
minta suthay jangan bersikeras untuk menampik keinginanku ini, ketahuilah setelah aku berhasil
berjumpa dengan orang yang kucari maka akupun akan segera tinggalkan tempat ini"
"Tidak bisa Lebih baik sicu segera tinggalkan tempat ini."
"Kalau suthay bersikeras untuk menampik terus kehendak hatiku, terpaksa aku akan berbuat
kurang sopan.
43
"Apa yang hendak sicu lakukan ?"
"Apa lagi? Tentu saja naik gunung mencari orang"
"Sicu, tak usahlah bersikeras untuk mencari keonaran, apakah engkau baru bersedia untuk
turun dari bukit ini setelah diusir oleh pinni dengan menggunakan kekerasan ?"
"Bagiku hanya tahu maju terus pantang mundur, tak dikenal arti mengundurkan diri sebelum
apa yang kuharapkan tercapai."
"Jadi kau ingin main kekerasan? Silahkan saja untuk mencoba. "
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan"
Begitu selesai berkata, Han siong Kie segera menjejakkan kakinya ke tanah dan melesat
kedepan.
Nikoh tua itu menggulung keluar dan menghantam tubuh sianak muda itu keras dan berat
sekali tenaga pukulan yang dilontarkan oleh pendeta perempuan itu.
Han siong Kie tak mampu untuk meneruskan langkahnya, ia dipaksa untuk melayang kembali
ketempat semula, dalam hati pemuda itu lantas berpikir:
"Muridnya saja sudah begitu lihay, apa lagi gurunya? Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki
Tay huang sinni telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa"
Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba nikoh tua itu membentak lagi:
JILID 31 HAL.60/61 HILANG
sekarang Han siong Kie tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, sepasang telapak
tangannya diayun kedepan melancarkan dua buah pukulan berantai yang maha dahsyat, dalam
seraogannya kali ini dia telah sertakan tenaga sakti si mi sinkang sebesar enam bagian.
Nikoh tua itu mendengus gusar, diapun mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut
datangnya ancaman tersebut.
"Blaaam Blaaam" dua kali benturan keras seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong
menggelegar di angkasa. Nikoh tua itu bergetar keras dan akhirnya tak mampu mempertahankan
diri ia terdesak mundur dari atas batu cadas tersebut.
Menggunakan kesempatan dikala nikoh itu terpental turun dari batu Han siong Kie segera
melejit keudara dan melayang sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula kemudian sekali menutul
permukaan tanah pemuda itu melayang kembali sejauh sepuluh kaki.
"Kawanan tikus kau akan pergi ke mana?"
mendadak seorang nikoh tua lain muncul dihadapan mukanya dan menghadang jalan pergi
sianak muda itu, sementara nikoh tua yang berada dibelakang tadi kini entah telah pergi kemana ?
Dengan tatapan tajam Han siong Kie mengamati tampang nikoh tua yang menghalang jalan
perginya ini, ia lihat alis matanya sudah memutih semua, sekalipun jauh lebih muda daripada
nikoh tua yang duduk di arca batu tadi, namun usianya sudah berada diantara enam puluh sampai
tujuh puluh tahunan.
"Sicu, hebat sekali ilmu silat yang kau miliki" tegur nikoh beralis putih itu dengan wajah
sedingin es.
"Terima kasih atas pujian dari suthay Aku tidak memiliki kepandaian apa-apa dan rasanya tak
perlu kau kagumi"
"sicu, sadarkah engkau apa akibatnya jika engkau bersikeras untuk melakukan pengacauan
diatas bukit Tay huang san ini ?"
"Apa akibatnya?" tanya pemuda itu.
"Mati. Mati dalam keadaan mengenaskan" Kontan saja Han siong Kie mengerutkan dahinya.
"suthay, janganlah kau anggap ancaman itu akan membuat aku jeri ataupun ketakutan.
Ketahuilah kedatanganku kemari adalah atas permintian dari seseorang, dan aku datang kemari
melalui tata cara dan sopan santun pada umumnya, janganlah kalian mulai dahulu dengan
permainan kekerasan"
"Tidakkah sicu tahu bahwa bukit Tay Huang san adalah suatu daerah terlarang? Suatu wilayah
yang tak boleh dilalui oleh setiap manusia asing kecuali penghuni kuil?"
"Maaf suthay, sebelum apa yang kucita- citakan tercapai, aku tidak mengenal apa artinya takut
atau mengundurkan diri ditengah jalan"
"Kalau begitu, silahkan saja untuk coba menerjang masuk dengan kekerasan .. " tantang nikoh
itu.
"Kalau terpaksa musti menggunakan kekerasan, maaf kalau aku akan bertindak lancang
-ooodwooo
SEHABIS mengucapkan kata-kata tersebut, seperti sukma gentayangan saja sianak muda itu
menerjang maju kedepan.
Meskipun pemuda itu bertindak cepat, nikoh tua itupun tidak berlambat, baru saja Han siong
Kie mencoba untuk menerobos lewat dari sisinya, tahu-tahu nikoh tua itu sudah menghadang
dihadapan mukanya sembari melancarkan tiga buah serangan berantai.
Ke tiga buah serangsn tersebut bukan saja dilancarkan secara beruntun dengan kecepatan
yang luar biasa, terasalah desingan angin puyuh yang menyertai serangan itu hebatnya luar biasa.
Terkesiap Han siong Kie menghadapi serangan sedahsyat itu, dia coba berkelit ke samping
untuk menghindar, lalu dari samping dia lepaskan sebuah serangan balasan.
Nikoh tua itu bergerak kesamping, bukan saja dengan gerakan yang enteng ia berhasil
menghindari serangan tersebut, malahan menggunakan kesempatan tersebut ke lima jari tangan
kirinya seperti jepitan baja mencengkeram urat penting dipergelangan tangan Han siong Kie,
sementara tangan kanannya dikebutkan kemuka menghajar hiatto-hiatto penting disekitar dada
bagian luar.
Cepat dalam serangan, aneh dalam jurus pukulan, kelihayan nikoh tua ini jarang di temui dalam
dunia persilatan.
selihay-lihaynya nikoh tua itu, Han siong Kie jauh lebih lihay, ia putar telapak tangan kanannya
dengan cepat, dari gerakan dia rubah serangannya menjadi gerakan mencengkeram, arah yang
diancam adalah pergelangan tangan lawan, sementara telapak tangan kirinya tidak ketinggalan, ia
putar satu lingkaran didepan dada dan menutup semua hiatto pentingnya dari ancaman.
Gagal dengan serangan kilatnya, nikoh tua itu mundur tiga langkah kebelakang, menyusul
sebuah pukulan kilat kembali dilancarkan.
Han siong Kie tak mau unjukkan kelemahan nya, dia lepaskan pula sebuah pukulan untuk
menyambut ancaman itu.
"Blaang" benturan keras tak dapat dihindari lagi, masing-masing pihak terjengkang mundur
satu langkah.
Dalam hati Han siong Kie merasa terperanjat, ia tak mengira kalau nikoh tua itu sanggup
menerima pukulan saktinya yang disertai dengan tenaga sebesar enam bagian.
Ia kaget nikoh tua itu lebih kaget sebab dalam serangannya barusan dia telah mengerahkan
tenaga sebesar sepuluh bagian, tapi nyatanya bukan saja tak berhasil merobohkan lawan, dia
sendiri yang terdesak mundur satu langkah.
Untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama tertegun, mereka sama-sama menyadari bahwa
musuh yang sedang dihadapi adalah musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Paras muka nikoh tua itu berobah hebat, jubah pendetanya yang lebar menggelembung sendiri
tanpa terhembus angin, sinar matanya berkilat dan perlahan-lahan telapak tangannya diangkat
keatas.
Meskipun Han siong Kie terperanjat dan tidak mengerti ilmu aneh apakah yang sedang
dikerahkan musuhnya namun sianak muda itu tak berani bertindak gegabah, dia pun menghimpun
hawa sakti si mi sinkang nya sebesar delapan bagian, telapak tangannya dialingkan didepan dada,
siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Sementara itu nikoh tua tadi telah mengangkat telapak tangannya sejajar dada, kemudian
didorongkan kemuka perlahan-lahan, segulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera
meluncur kedepan dan menyapu benda apa saja yang dilewatinya.
Han siong Kie memandang pukulan itu dengan serius, sepasang telapak tangannya balas
didorong kemuka dan menyambut ancaman tersebut dengan tenaga si mi sinkang sebesar
delapan bagian.
"Blaaang" ledakan keras menggelegar di angkasa, diantara suara nyaring terdengar dengus
tertahan menggema diudara, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur lima langkah, paras
mukanya pucat pias, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, peluh sebesar kacang kedelai
mengucur keluar tiada hentinya.
Han siong Kie sendiripun merasakan hatinya bergoncang keras, dia terdorong mundur satu
langkah lebar.
setelah berhenti sebentar nikoh tua itu menggigit bibir, tiba-tiba ia menerjang lagi kedepan,
sepasang telapak tangannya dengan desingan tajam disapu kembali keluar.
sapuan tersebut tampaknya saja sangat lambat pada hakekatnya cepat melebihi kilat bahkan
sudut sasarannya jauh dari keadaan biasa bukan saja disertai hawa pukulan yang aneh bahkan
membuat orang tak mampu untuk menangkis datangnya ancaman itu
Han siong Kie seketika terdesak hebat, dia mundur terus berulang kali tanpa mampu
membalas.
Bagaikan gulungan ombak sungai yang berkepanjangan serangan itu datang secara
bergelombang dan tiada putusnya, sianak muda itu mundur terus kebelakang dan akhirnya ia
terjebak disuatu batuan cadas yang tinggi dan besar, waktu itu ingin mundurpun sudah tiada jalan
lagi.
sadarlah pemuda itu bahwa keadaannya sudah keteter hebat, bila ia tidak unjukkan
kesaktiannya lagi tak nanti dia bisa menaiki bukit itu. Berpikir demikian dia lantas membentak:
"Maaf, terpaksa aku akan bertindak kasar"
Dengan jurus Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia lepaskan sebuah pukulan
dengan tenaga sebesar sepuluh bagian.
Walaupun jurus serangan ygng dipergunakan masih merupakan jurus-jurus lama, akan tetapi
setelah dia berhasil mempelajari ilmu sakti si mi sinkang, kekuatan daya serangannya ternyata
jauh berbeda.
Jerit kesakitan menggema di angkasa, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur sejauh satu
kaki lebih, darah segar mengucur keluar membasahi ujung bibirnya.
Han siong Kie tertegun, dia tak menyangka kelihayannya sudah mencapai tingkatan setinggi itu,
semua dalam keadaaa begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih jauh, serentak tubuhnya
berkelebat dan menerjang ke atas puncak bukit.
selang sesaat kemudian ia sudah mencapai seratus kaki sebelum puncak bukit, beberapa
batang pohon siong muncul didepas mata, dan d ibalik pepohonan itu tampaklah sebuah
bangunan kuil yang terbuat dari batu cadas gunung. Han siong Kie merasa semangatnya
berkobar, ia percepat gerakan larinya.
Mendadak sesosok bayangan abu-abu muncul dari balik pepohonan dan langsung menerkam
kedepan, sebelum tiba angin pukulan yang tajam sudah keburu menyapu lebih duluan-
Sungguh terkejut sianak muda itu, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki pendatang ini jauh lebih
hebat daripada dua orang nikoh yang telah dijumpai, cepat tubuhnya menukik dan membentuk
sebuah gerakan setengah busur diudara kemudian melayang turun ke muka bumi.
Bayangan abu-abu itnpun melayang turun ternyata dia adalah seorang nikoh berlengan
tunggal.
Sebelum Han siong Kie sempat buka suara, nikoh berlengan satu itu sudah menegur lebih
dahulu:
"Sicu, engkau anggap kepandaian silatmu sudah hebat maka secara beruntun kau lukai dua
orang seperguruanku dan kemudian datang mengacau bukit Tay huang san ini"
"Aku tidak bermaksud main kasar, aku memohon dengan sopan dan menuruti
JILID 32 HAL 10/11 HILANG
yang tergetar oleh terasa sinkang musuh terasa sangat sakit bagaikan mau patah, dengan
gontai ia mundur sejauh delapan depa, rasa kaget dan tercengang menghiasi seluruh wajahnya.
Kecuali gurunya, selama hidup belum pernah dijumpai musuh setangguh ini, apalagi usianya
belum dua puluh tahunan, hal ini semakin mencengangkan hatinya.
Dipihak lain Han siong Kie dibikin naik pitam oleh kejadian yang baru dialaminya, hawa sakti Si
mi sinkang lantas disalurkan mengelilingi seluruh badan, dari kejauhan dia lepaskan sebuah
pukulan dahsyat.
Nikoh berlengan tunggal itu terkesiap. cepat-cepat tangannya berputar membentuk satu
lingkaran kilat, gerakan itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikitpun-
Han siong Kie terperanjat ia merasa bahwa tenaga pukulan yang dilancarkan dengan kekuatan
sebesar delapan bagian itu mendadak punah sama sekali hingga lenyap tak berbekas.
Ia menggigit bibir, sepasang telapak tangannya sekali lagi meluncurkan serangan dengan
mengerahkan tenaga sebesar sepuluh bagian, kali ini terlihatlah pancaran cahaya aneh dari raut
wajahnya.
Nikoh berlengan tunggal ini lebih tercekat lagi hatinya, kalau orang lain tidak tahu maka hati
kecilnya jauh lebih paham dari siapapun juga untuk memunahkan daya pengaruh serangan musuh
barusan dia harus mengerahkan ilmu sakti Pay yap sin khinya hingga mencapai dua belas bagian
dengan susah payah ancaman musuh baru bisa dipunahkan, tapi sekarang musuh telah
menambahkan serangannya hingga mencapai sepuluh bagian, dia yakin bahwa kepandaian nya
tak mampu untuk membendung kedahsyatan lawan. Tampaknya nikoh berlengan tunggal itu bakal
mati konyol.
Disaat yang kritis tiba-tiba terdengar seseorang berseru nyaring dari tempat kejauhan.
"Biau hian cepat mundur, pukulan itu adalah ilmu si mi sinkang, engkau tak mampu untuk
menghadapinya"
Ucapan tersebut cukup mencengangkan hati Han siong Kie, ia tahu kalau tebakannya tidak
keliru maka orang yang baruran berbicara tak lain adalah Tay huang sinni pemilik kuil Bu cuan ini,
ia merasa bahwa kata-kata tersebut berasal dari balik kuil, kalau toh demikian adanya dari mana
nikoh sakti itu bisa mengetahui akan asal usul ilmu silatnya?"
Mungkinkah ia sudah berhasil melatih ilmu Thian sao tong, suatu kepandaian melihat jauh.
Paras muka nikoh tua yang bernama Biau hian itu berubah hebat, dia melirik sekejap kearah
Han siong Kie. kemudian putar badan dan lenyap dibalik batu-batu cadas.
Karena musuhnya telah mengundurkan diri, maka sianak muda itupun membatalkan
erangannya, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kearah puncak bukit sebelah depan sana.
"Locianpwe, boanpwe ada urusan hendak bertemu dengan cianpwe, harap engkau bersedia
memaafkan kelancanganku ini"
"Sebutkan asal usul perguraanmu " kata-kata tersebut muncul kembali dari atas puncak bukit.
"Boancwe bernama Han siong Kie, ketua dari perguruan Thian lam bun "
"Engkau adalah ketua dari istana Huan mo kiong diwilayah Thian-Iam ? Ada urusan apa datang
kemari ?"
"Boanpwe mendapat pesan dari seseorang dan sengaja datang kemari untuk mencari orang"
"siapa yang kau cari ?"
seorang nona yang bernama Go siau bi"
"siapa yang suruh engkau datang kemari ?"
"Put to sianseng, kakek dari nona Go "
"ooooh, jadi engkaulah yang bernama Manusia muka dingin Han siong Kie " sekali lagi anak
muda itu terperanjat, sahutnya cepat: "Benar, boanpwelah yang bernama Han siong Kie."
"Memandang diatas wajah Put lo sianseng aku tidak akan mempersoalkan lagi kesalahanmu
mencari gara-gara ke atas bukit kami ini. Nah Cepatlah turun dari bukit ini."
Perasaan hati yang semula sudah menjadi tenang, kini bergolak kembali, ucapan tersebut
dirasakan Han siong Kie sebagai suatu ejekan, rasa ingin menang lantas muncul kembali.
" Cianpwe, aku toh sudah mengutarakan maksud kedatanganku ? Masa sebelum tujuanku
kesampaian kau telah mengusir aku turun gunung?" serunya dengan hati tak puas.
"Aku perintahkan kepadamu untuk segera turun dari bukit ini " tiba-tiba suara dari Tay huang
sinni berubah jadi amat dingin dan ketus, bahkan ucapan tersebut diutarakan sepatah demi
sepatah kata.
sesabar-sabarnya Han siong Kie setelah diperlakukan sekasar itu diapun tak dapat menahan diri
lagi tampiknya:
"Aku datang kemari bukan untuk mendengarkan perintahmu, kalau aku tak mau turun gunung
kau mau apa?"
"Hmm Membandel" maki Tay huang sinni ketus,
" kalau begitu apa yang hendak kau lakukan ?"
"Setelah persoalan yang dititipkan pada ku telah kuselesaikan, tanpa disuruh aku bisa turun
gunung sendiri"
"Persoalan apa yang hendak kau kerjakan ditempat ini?"
"Aku ingin bertemu dengan nona Go siau bi dan bercakap-cakap sendiri dengan dirinya"
"Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah seorang pendeta beragama, aku tak ingin bersilat lidah
dengan dirimu, lebih baik cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini"
"Maaf, aku tak dapat menuruti kehendakmu itu"
"Hmm sicu, jangan kau anggap ilmu sakti si mi sinkang yang kau miliki itu adalah suatu
kelandaian sakti yang tiada tandingannya lagi dikolong langit" Agaknya Tay huang sinni mulai naik
darah oleh sikap lawannya yang keras kepala.
"Akupun sama sekali tidak berpendapat demikian, tapi bila ada orang ingin main-main
denganku, akan kubuktikan bahwa kepandaian tersebut masih lebih dari cukup bagiku untuk
mempertahankan diri"
suasana hening untuk sesaat, diantara hembusan angin bukit yang sepoi-sepoi akhirnya
terdengar Tay huang sini berkata lagi, hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut: "Sicu, aku rasa
engkau tak usah bertemu lagi dengan nona Go"
"Kenapa?" Tanya si anak muda itu cepat.
"Sebab dia tak ingin berjumpa lagi denganmu "
Jawaban ini membuat Han siong Kie membungkam, sebab inilah kejadian yang sangat tidak
diharapkan olehnya, suatu kejadian yang membuat ia jadi jengah dan merasa serba salah, tapi
haruskah ia mengundurkan diri dengan begitu saja ?
"Aku telah berjanji kepada Put to sianseng, bahwa persoalan ini akan kuselesaikan dengan
segala kemampuan yang kumiliki" pikir pemuda itu dalam hati "dan lagi akupun merasa banyak
berhutang budi kepada Go siau Bi, apakah aku harus mengundurkan diri karena persoalan ini ?
Toh Go siau bi bisa menjadi nekad adalah gara-gara karena aku ? Tatkala ingatan tersebut
terlintas dalam benaknya, pemuda itu lantas berseru:
"Dia mau berjumpa denganku atau tidak adalah urusan pribadinya sendiri, pokoknya
bagaimanapun juga aku harus bertemu dengannya "
"Hmm Engkau hendak berbuat sewenang-wenang ditempat ini ?"
"Tidak. aku tidak berbuat sewenang-wenang, aku hanya bertindak menuruti perasaan hatiku
sendiri"
"Ketahuilah wahai Han sicu, pinni bisa simpatik terhadap pengalaman serta tragedi yang
menimpa kehidupan nona Go, telah kukabulkan permintaannya itu dan sekarang akan kucukur
rambutnya menjadi nikoh, mulai detik ini ia sudah menjadi murid Buddha dan dia tak akan
menjumpai dirimu untuk selamanya."
"Tidak Tidak boleh" teriak Han siong Kie dengan setengah menggembor, paras mukanya
berubah hebat.
"Tidak boleh ? Dengan berdasarkan apa engkau melarang kebebasan orang untuk memilih dan
melakukan apa yang disukainya Haaah haaah haaah sicu, kau harus tahu kendatipun pinni telah
menjadi murid Buddha, akan tetapi aku tidak terikat oleh suatu pantangan, yakni pantangan
membunuh"
Habislah kesabaran Han siong Kie, dia mendengus penuh kemarahan, sekali menjejak
permukan tanah, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya pemuda itu melayang keatas
puncak bukit.
sewaktu tiba didepan pintu kuil ia lihat pintu gerbang tertutup rapat, seorang dara baju putih
tampak berlutut didepan pintu kuil itu tanpa bergerak. siapa lagi dara itu kalau bukan Go siau bi
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, lama-lama sekali ia menatap dara itu
kemudian bisiknya: "Nona Go "
Go siau bi tidak menjawab, ia masih tetap berlutut tak bergerak.
"Nona Go " sekali lagi anak itu muda itu memanggil dengan lemah.
-000dw000-
66
PENGALAMAN yang dialami Go siau bi memang mengenaskan, berulang kali ia menyatakan
cinta kepada pemuda pujaannya, namun setiap kali tidak mendapat tanggapan yang serius.
sejak mengalami kejadian didalam perkampungan oh han san ceng bertekadlah gadis ini untuk
cukur rambut menjadi pendeta dan menjalankan sisa hidupnya dengan mengabdikan diri kepada
sang Buddha.
Kendatipun tekadnya sudah bulat, tak dapat dipungkiri bahwa rasa cintanya terhadap Han siong
Kie telah padam terlebih lagi ia tak menyangka kalau si anak muda itu bakal datang ke bukit Tay
huang san mencari dirinya.
Untuk sesaat pikirannya jadi kacau balau tak karuan, rasa cinta yang masih membakar dalam
dadanya serasa makin bergolak dengan hebatnya.
JILID 32 HAL. 22 S/D 25 HILANG
"Apakah locianpwe adalah pemilik kuil ini ?"
"Ehmm " tiada jawaban kecuali dengusan dingin, dengusan tersebut amat ketus dan tak sedap
didengar.
sekuat tenaga Han siong Kie berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, ia bertanya:
"Sudahkah locianpwe menyanggupi permintaannya untuk mencukur rambutnya menjadi
pendeta?"
"Enmm sudah kenapa ??"
"Aku rasa dengan kedudukan cianpwe yang agung dan dihormati orang, tentunya engkau tak
akan mengingkari janji sendiri bukan ?"
"Apa maksudmu dengan perkataan itu?" tegur Tay huang sini dengan wajah berubah.
"Bukankah locianpwe telah menyanggupi permintaan put to sianseng untuk menolak
permintaan nona Go menjadi pendeta ?"
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar tanpa bisa dicegah lagi Go siau bi berpaling serta
melotot sekejap kearah sianak muda itu.
"Ehmm, memang ada kejadian seperti itu" kata Tay huang sinni tetap ketus, "tapi aku tidak
menyanggupi untuk tidak mengukurkan rambut cucunya, aku hanya setuju untuk memberi
kesempatan kepadanya untuk mempertimbangkan kembali persoalan ini"
"Tapi bukankah perbuatanmu sekarang...."
"Pinni simpatik terhadap tragedi yang menimpa dirinya dan sekarang aku sudah berubah
pikiran" tukas nikoh itu cepat.
"Apakah sudah locianpwe bayangkan akibat-akibatnya bila aku melakukan hal ini atas dirinya?"
"Bagi kami orang-orang beragama tak pernah terpikirkan apakah ada akibat atau tidak tindakan
yang kami ambil, semua persoalan kami pertimbangkan dengan keadaan berjodoh atau tidak"
"Hmm orang beragama mengutamakan belas kasihan, tindakan dari locianpwe ini ...."
"Tutup mulutmu" bentak Tay huang sinni marah "ia sudah tiga hari tiga malam berlutut didepan
pintu kuilku, apakah pinni tak boleh berbuat belas kasihan dengan memenuhi keinginannya "
Waktu itu tiba tiba Go siau b i berpaling dan berkata:
HAL. 28/29 HILANG
Memang inilah yang diharapkan Han siong Kie, sebab semenjak ia menerima pesan dari Put lo
sianseng sudah terlintas satu ingatan untuk mengadu kepandaian dengan tokoh silat itu
"Maksud Locianpwe engkau hendak mengajak aku untuk bertaruh dalam pertarungan ini?"
katanya kemudian dengan serius.
"Benar .. "
"Dan pertarungan ini adalah pertarungan atas mati dan hidup ?"
"Haah, tidak sampai seserius itu asal sudah ditentukan siapa menang siapa kalah, hal ini sudah
lebih dari cukup "
"Bagaimana setelah menang kalah dapat ditetapkan ?"
"Jika engkau yang menang maka pinni tak akan mempersoalkan kehadiranmu lagi di bukit ini,
bahkan akupun tak akan memaksa Go siau bi untuk mencukur rambut menjadi pendeta"
"Seandainya aku yang kalah ? Apa yang harus kulakukan ?"
"Kalau engkau kalah maka kau harus menyanggupi sebuah syarat yang akan pinni ajukan "
"Apa syaratmu itu ?"
"syarat itu rasanya terlampau awal bila kuutarakan pada saat ini, pokoknya tak akan merugikan
dirimu "
"Andaikata menang kalah tak dapat ditentukan? Apa yang harus kulakukan?"
"Akan kubiarkan engkau turun dari bukit ini dengan selamat "
Perasaan hati Han siong Kie bergolak keras, setelah mendengar ucapan tersebut, dia merasa
beruntung karena bisa mendapat kesempatan untuk bertarung melawan seorang tokoh silat yang
lihay. Tapi diapun kuatir bila kalah maka syarat apakah yang bakal diajukan kepadanya ?
Mampukah ia melaksanakan syarat tersebut ?
"Locianpwe, pertarungan yang bagaimana kah akan kita langsungkan? " ia bertanya kemudian.
Tay huang sinni termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya:
"Pinni telah bersumpah tak akan keluar dari pintu kuil ini barang selangkahpun, sekarang kita
berdiri dengan selisih jarak lima kaki, baiknya kalau kita masing-masing berdiri tak bergerak
ditempat:
HAL. 32 HILANG
"Han sauhiap. silahkan engkau melancarkan serangan lebih dahulu " Suatu ketika Tay huang
sinni berkata dengan wajah serius.
"Tidak. lebih baik locianpwe yang turun tangan lebih dahulu" kata Han siong Kie dengan hati
bergetar.
"Pini adalah seorang angkatan tua, tidak pantas untuk turun tangan lebih dahulu, lebih baik
sauhiap duluan"
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa boanpwe bertindak lancang . . nah, sambutlah
seranganku ini"
Dengan menghimpun hawa sakti Si mi sinkangnya mencapai sepuluh bagian, perlahan-lahan
telapak tangannya diangkat kemuka dan lantas didorong ke depan.
segulung angin pukulan yang tipis halus dan sama sekali tidak menimbulkan suara, berhembus
ketubuh lawan-
Meskipun enteng sekali pukulan itu tampaknya pada hakekatnya mengandung tenaga dahsyat
yang cukup merontokkan nyali orang.
Disaat Han siong Kie melancarkan serangan Tay huang sinni sendiripun memutar tiga kali
sepasang telapak tangannya didepan dada.
suatu getaran keras menyusu terjadinya ledakan yang memekikkan telinga Tay huang sini
hanya tergetar sedikit tubuhnya, sementara kuda-kudanya masih kelihatan kokoh sekali.
Pukulan si mi sinkang sebesar sepuluh bagian ternyata berhasil dipunahkan oleh nikoh tua itu
dengan enteng, sedikit banyak tercekat juga hati Han siong Kie, diam-diam ia menjulurkan
lidahnya.
Paras muka Tay huang sinni sendiri berubah jadi amat serius, tampaknya nikoh itu tidak
berkeyakinan dapat menangkan pertarungan ini.
orang yang kehilangan sukma sendiripun tampak sangat tegang, sampai-sampai badannya ikut
gemetar keras.
Gagal dengan serangan yang pertama, Han Siong Kie menghimpus kembali tenaganya
mencapai dua belas bagian, sambil melepaskan pukulan serunya lantang: "sambutlah seranganku
yang kedua ini"
Ketika sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan, secara lapat-lapat tampaklah asap
putih yang tipis menyertai deruan pukulan itu.
Tay huang sinni menggerakkan sepasang ujung bajunya untuk menangkis, ia membentuk
gerakan aneh didepan dadanya, selapis hawa hijau yang menggulung tebal seketika melapisi
seluruh badannya, jelas nikoh ini sudah mengerahkan ilmu Pay yap sin khinya hingga mencapai
pada puncak kehebatannya.
Cahaya putih dan cahaya hijau segera bertemu satu sama lainnya, dan tak bisa di cegah
terjadilah ledakan yang memekikkan telinga.
sekujur badan Tay huang sini gemetar keras, tubuhnya goncang bagaikan ranting pohon
terhembus angin puyuh, nyaris kedudukannya jebol dan tubuhnya terdorong maju ke depan.
Untunglah ia menggigit bibir sambil berkerut dahi, sekuat tenaga padri itu berusaha
mempertahankan diri, peluh sudah mulai membasahi seluruh badannya.
Dua jurus serangan sudah lewat tanpa menghasilkan apa-apa, sekarang tinggallah jurus yang
terakhir. pemuda itu tahu bila serangan yang ketigapun mengalami kegagalan, sudah pasti dialah
yang bakal menderita kekalahan.
Bila dipikir kembali akan kedudukan Tay huang sinni yang begitu tinggi dan terhormat, kalah
ditangan padri perempuan ini belum terhitung suatu kejadian yang memalukan, tapi Han siong Kie
mempunyai pandangan yang lain, dia harus dapat menangkan nikoh tua ini karena bagaimanapun
juga dia adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.
Dan menang kalah akan ditentukan dalam jurus serangan yang terakhir ini.
Han siong Kie mementangkan kesepuluh jari tangannya lebar-lebar, segenap hawa sakti yang
dimilikinya disalurkan kedalam jari tangan itu, ia telah mempersiapkan diri untuk melangsungkan
pertarungan yang terakhir ini dengan menggunakan ilmu jari Tong kim ci.
setajam sembilu pancaran sinar mata Tay huang sinni, dia menatap wajah pemuda itu tanpa
berkedip. sepasang telapak tangannya disilangkan didepan dada.
Akhirnya pemuda itu membentak keras, sepasang tangannya bergetar, sepuluh gulung
desingan angin jari dengan membawa suara yang memekikkan telinga langsung meluncur
kedepan-
Bersamaan dengan dilepaskannya serangan jari tangan itu, ingatan lain melintas
JILID 32 HAL. 38/39 HILANG
Dengan adanya kejadian ini, maka baru saja Han siong Kie melepaskan pukulan untuk
menangkis, tahu-tahu tenaga yang dipancarkan keluar itu telah dihisap oleh lawannya.
Mimpipun si anak muda itu tak menyangka kalau rahib tua itu bakal menggunakan taktik
"menggetar" dan menghisap hampir bersamaan waktunya, hilanglah keseimbangan.
"Aduh celaka "jeritnya dihati tak dapat dicegah lagi tubuhnya sempoyongan dan serta merta
kakinya melangkah maju. orang yang kehilangan sukma pun berkata sambil mengangguk: "Nak
engkau kalah. "
Han siong Kie tertegun, ia cuma bisa berdiri menjublak sambil membungkam dalam seribu
bahasa.
Karena kasihan pada musuhnya, ia telah menyingkirkan daya sasaran serangan Tong kim ci nya
kesamping sehingga membuang kesempatan untuk mendapat kemenangan dengan begitu saja.
sekarang kenyataan telah berbicara lain, dia telah dikalahkan dalam pertarungan tersebut,
untuk menyesalpun rasanya tak ada gunanya lagi.
"sau sicu, apakah engkau merasa bahwa pertarungan ini berlangsung tidak adil?" tiba-tiba Tay
huang sinni bertanya.
Han siong Kie tertawa jengah dan menggeleng.
"Tidak. boanpwe sama sekali tidak mempunyai pikiran semacam itu "
"Jadi engkau sudah mengaku kalah ?"
"Tentu saja, boanpwe tak akan memungkiri kekalahan yang telah kuderita ini, aku tak mau
bertolak dari kenyataan yang berada di depan mata, katakan saja apa syarat yang harus kuturuti
itu ?"
"seandainya pinni telah mengajukan syarat tersebut, dan ternyata sau sicu tidak bersedia untuk
melakukannya, apa yang musti... "
"Boanpwe tidak akan menolak semua syaratmu, sebagai seorang manusia persilatan aku akan
memegang teguh setiap janji yang telah kuucapkan" jawab pemuda itu dengan tegas. orang yang
kehilangan sukma tiba-tiba menimbrung pula:
"Atas petunjuk dari locianpwe boanpwe telah ditunjuk sebagai saksi maka setelah pertarungan
berakhir dan menang kalahpun telah ditentukan, boanpwe harap locianpwe segera mengajukan
syarat yang hendak cianpwe ajukan sehingga pertaruhan inipun bisa kita akhiri sampai disini saja .
."
sepasang mata Tay huang sinni memancarkan sinar tajam, ia memandang sekejap ke arah Han
siong Kie lalu katanya:
"Gampang dan sederhana sekali syaratku ini, aku cuma minta engkau segera menikah dengan
Go siau bi dan menjadi suami istri yang berbahagia "
Hebat sekali perubahan wajah Han siong Kie, tanpa sadar secara beruntun ia mundur lima
langkah kebelakang.
Mimpipun ia tak menyangka kalau syarat yang diajukan Tay huang sinni adalah mengenai
persoalan itu.
Pertama kali ketika ia selamatkan Go siau bi dari tangan pengawal pribadi istana Huan mo
kiong dan menginap sebuah rumah penginapan, orang yang kehilangan sukma telah menyaru
sebagai tukang obat dengan maksud menjodohkannya dengan gadis itu, kedua kalinya Put to
sianseng ajukan pinangan bagi cucu perempuannya ternyata pinangan itupun atas usul dari orang
yang kehilangan sukma.
sekarang adalah untuk ketiga kalinya peristiwa itu terjadi, temyala orang yang kehilangan
sukmalah sebagai saksinya.
sekalipun orang bodoh juga akan tahu bahwa kejadian ini bukan suatu kejadian yang
kebetulan saja, sudah pasti orang yang kehilangan sukmalah yang telah mengatur segala
sesuatunya.
Lalu apa maksudnya perempuan misterius itu mengatur segala sesuatunya itu? Apa alasannya?
Tanpa sadar sianak muda itu mengalihkan pandangan matanya kewajah orang yang kehilangan
sukma dan ingin sekali melihat mimik wajahnya pada saat itu, sayang mimik wajahnya tertutup
oleh kain kerudung berwarna hitam.
"Bagaimana sau sicu? jawablah sejujur nya" terdengar Tay huang siani bertanya.
Kacau dan bingung perasaan Han siong Kie pada saat ini tanpa disadarinya ia menyahut.
"Aku tak dapat menerima syaratmu itu "
"jadi engkau hendak menjilat ludahmu sendiri? " tegur Tay huang sinni dengan wajah serius.
Tanpa sadar si anak muda itu mundur satu langkah kebelakang dia berusaha untuk membela
diri, katanya:
"cianpwe aku minta ajukan syarat lain, tentang syaratmu yang itu aku tak dapat
menyanggupinya "
"Tidak bisa, selamanya pinni hanya akan mengajukan sebuah syarat saja, tidak nanti akan
kuulangi dengan mengajukan syarat lain"
"Tapi boanpwe benar-benar tak dapat melakukan permintaan dari locianpwe itu"
"ooh jadi engkau bermaksud untuk mengingkari janji?" ejek nikoh tua itu dengan sinis.
"Boanpwe mempunyai kesulitan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain, maafkanlah daku
locianpwe, syaratmu itu tak dapat kulaksanakan"
"jadi kau anggap Go siau bi tidak pantas untuk mendampingi dirimu sebagai seorang istri?"
"Bukan... bukan begitu maksud boanpwe, terus terang saja boanpwe katakan babwa aku..
sebenarnya aku telah..telah.."
"Apa maksudmu Katakan saja blak-blakan"
"Sebenarnya boanpwe telah serahkan hati dan tubuh boanpwe ini kepada gadis lain, dan antara
aku dengan dia telah .... telah terikat oleh tali perkawinan"
"Ada yang menjodohkan?’
"Tidak..tidak ada"
"Ada persetujuan dari orang tua?"
"Ju...juga tii... tidak ada"
"Kalau toh tidak ada kan hal itu sama sekali tidak menghalangi engkau untuk menerima
syaratku ini?"
sungguh sedih dan pedih perassan hati Han siong Kie apalagi teringat bahwa Tonghong Hui,
yang dicintainya telah tiada di dunia ini, kepedihan tersebut akhirnya tercetus keluar dengan katakata:
"Dia.... dia telah meninggal dunia"
"Kalau benar sudah mati urusan ini kan lebih gampang untuk diselesaikan? Apa yang kau
pusingkan lagi?"
"jiwa dan perasaan boanpwe telah lama terkubur bersama matinya gadis itu, pada hakekatnya
yang cianpwe lihat sekarang tak lebih hanya sesosok mayat hidup belaka, sesosok tubuh yang
tidak berperasaan dan tidak kenal arti lagi"
sekilas perasaan serba salah melintas di wajah Tay huang sinni, ia terbungkam untuk beberapa
saat lamanya, tapi selang sesaat kemudian ia telah berkata lagi dengan suara keras:
"Menurut apa yang pinni ketahui, engkau sudah pernah bersentuhan badan dengan Go siau bi,
lantaran cintanya padamu, ia rela mengasingkan diri dan hidup sebagai seorang pendeta, tidakkah
kau tergetar perasaan hatinya oleh kesungguhan serta kemurnian cinta kasihnya itu?"
"Aaai, pada hakekatnya boanpwe tidak punya ingatan untuk memikirkan persoalan yang lain"
"Tahukah engkau bahwa perbuatanmu telah menghancurkan masa depan seorang dara ?"
"Boanpwe menyesal sekali atas kejadian ini, tapi apa boleh buat lagi boanpwe tak kuasa
menerima kenyataan tersebut"
"selain itu tahukah engkau bahwa tidak berbakti ada tiga macam, dan yang paling utama
adalah tiada keturunan, apakah engkau gembira melihat keluarga Han putus keturunan?"
000dw000
BAB 67
UCAPAN tersebut bagaikan sebilah pisau belati yang menusuk kedalam ulu hati Han siong Kie,
sekujur badannys gemetar keras.
Pada hakeketnya tak pernah ia berpikir sampai kesoal itu, tapi heran mengapa Tay huang sinni
menegur dirinya dengan kata-kata semacam itu? Bukankah dia adalah seorang pendeta yang tidak
mencampuri urusan keduniawian lagi?
" Locianpwe apakah engkau hendak memaksa boanpwe untuk mengingkari janjiku terhadap
orang yang sudah tiada lagi?" katanya tiba-tiba.
orang yang kehilangan sukma yang selama ini membungkam terus mendadak menyela:
"Nak bila engkau bersedia untuk memegang janji kepada orang yang telah mati, mengapa tidak
pula kau penuhi kewajibanmu sebagai rasa baktimu pada orang tua yang telah tiada ? Kau harus
dapat membedakan mana yang serius dan mana yang tidak. toh setelah kau laksanakan
kewajibanku untuk berbakti pada orang tua, engkau masih dapat pula memenuhi janjimu kepada
orang yang telah tiada?"
"Bila aku sampai berbuat demikian, bukankah perbuatanku ini justru akan menyiksa nona Go
siau bi untuk selama-lamanya?"
"siapa bilang begitu ?"
" Cianpwe" tiba-tiba Han siong Kin menengadah dan menatap wajah perempuan misterius itu
tanpa berkedip "tolong tanya, apakah kesemuanya ini adalah hasil dari rencana locianpwe ?"
orang yang kehilangan sukma terbungkam, ia tak sanggup memberikan jawaban.
"sau sicu, apakah engkau lupa bahwa hasil ini adalah suatu hasil dari pertaruhan antara engkau
dan aku ?" Tay huang sini menyela dari samping dengan dingin
"oooh.. jadi engkau menggunakan kebahagiaan dari seorang dara sebagai bahan pertaruhan?
Pantaskah perbuatanmu itu?" seru pemuda itu marah-marah.
JILID 32 HAL. 50/51 HILANG
amat menusuk pendengarannya, terutama sebutan "ciangbunjin" yang sengaja diucapkan
dengan nada berat, lebih-lebih mengetuk perasaannya.
sebagai seorang pemuka dunia persilatan, menjadi kewajiban baginya untuk melaksanakan apa
yang telah disanggupi, tapi perkawinan adalah suatu kejadian besar, ia tak ingin berbuat secara
gegabah sehingga akhirnya harus di akhiri dengan tragedi.
44
Sementara pemuda itu masih termangu- mangu, orang yang kehilangan sukma telah berkata
lagi:
"Nak, tegakah engkau membiarkan masa depan seorang dara hancur di tanganmu?"
Sakit hati, bingung dan sedih bercampur aduk dalam perasaan hati si anak muda itu, dia tak
tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini, terutama kata-kata tentang ketidak baktian sebagai
seorang putra diantara tiga hal yang tidak berbakti, tak punya keturunan adalah tidak berbakti
yang paling utama. Benarkah dia tak akan menikah dan membiarkan orang menganggapnya
sebagai manusia yang tidak berbakti?
"Sekarang ia baru menyesal, menyesal apa sebabnya tidak menggunakan ilmu jari Tong kim ci
untuk mengalahkan musuhnya, ia tidak tega rahib itu terluka, tapi akhirnya dia sendirilah yang
rugi.
Sebagai seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia akan mengingkari janji. Kata-kata itu diucapkan
sendiri olehnya, benarkah dia harus mengingkari janji.
Sekalipun ia sadar bahwa ia terjebak oleh suatu siasat yang disusun sangat rapi, toh dia kalah
adalah suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi.
Sementara itu orang yang kehilangan sukma tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia
mendesak lebih lanjut.
"Nak, engkau sebagai putra manusia, menjadi kewajiban bagimu untuk menunjukkan
kebaktiaanmu sebagai anak manusia, sekalipun engkau dapat membalaskan dendam bagi
kematian ayahmu, belumlah lengkap kebaktianmu pada orang tua, mengertikah kau dengan katakataku
ini ? .."
Han siong Kie menggigit bibir, sahutnya:
"Apa yang cianpwe ketakan memang benar tapi sekarang aku harus membalaskan
HAL. 54 S/D 57 HILANG
sekalipun aku kawin dengan Go siau bi mungkinkah perkawinan ini bisa berakhir dengan
kebahagiaan, Akhirnya toh kita akan mengalami tragedi yang menyedihkan?"
"Bahagia atau sedih adalah urusan belakang, siapa tahu kalau kenyataannya jauh berbeda
dengan apa yang saat ini kau bayangkan?"
"Jadi maksud Cianpwe, kau memaksa Boanpwe untuk mengabulkan permintaanmu itu?"
"Yaa,angaplah perkataan ini merupakan suatu paksaan" sahut orang yang kehilangan sukma
dengan suara berat.
Han siong Kie tertegun dan tidak bicara, selang sesaat kemudian ia mengangguk. "Baik.
Boanpwe menyanggupi permintaan mu itu"
"Jadi kau menerima syarat tersebut?"
"Benar, aku menerimanya, tapi akupun mempunyai sebuah syarat"
"Apa syaratmu itu?"
" Cianpwe harus menjelaskan kepada nona Go siau bi serta kakeknya, bila dendam berdarah
berhasil boanpwe balas, waktu itulah kita baru bicarakan kembali soal cinta dan tiga tahun setelah
menikah boanpwe akan meninggalkan keluarga dan pergi jauh"
"setelah tiga tahun, apakah engkau akan bunuh diri untuk menunjukkan ketetapan hatimu pada
Tonghong Hui?" kata orang yang kehilangan sukma sampai mundur selangkah.
"Benar, kenapa ? "
"Andaikata Tonghong Hui belum meninggal dunia ?"
"Aaah, hal ini aku rasa tidak mungkin"
"Baik, kukabulkan syaratmu itu dan kita pun tentukan perjanjian ini dengan kata-katamu ini"
Berbicara sampai disini, tiba-tiba orang yang kehilangan sukma berpaling, serunya kearah batu
karang kurang lebih beberapa kaki didepan sana: "Locianpwe, silahkan mengunjukkan diri untuk
memperkuat ikatan perkawinan ini "
seorang sasterawan berusia setengah baya perlahan-lahan munculkan diri dari balik batuan
cadas.
Dia bukan lain adalah kakek Go siau bi Put to sianseng yang disegani banyak orang itu.
Han siong Kie tertegun, kemunculan tokoh silat ini semakin memperkuat dugaannya bahwa apa
yang terjadi pada saat ini adalah suatu siasat, suatu rencana besar dari orang yang kehilangan
sukma.
Tapi yang mengherankan adalah Put lo sianseng dan Tay huang sinni kedua orang tokoh silat
ini berilmu tinggi dan berkedudukan terhormat, tapi mereka bersedia untuk mendengarkan katakata
orang yang kehilangan sukma malahan bekerja sama untuk memancingnya masuk jebakan,
apa tujuan mereka?
sementara itu Put to sianseng telah berkata sambil tertawa ringan ucapnya:
"Bocah bagus, kemurunganku sudah dilenyapkan, mulai sekarang lohu bisa mengasingkan diri
dan beristirahat dengan tenang".
orang yang kehilangan sukma segera mendorong Han siong Kie untuk maju katanya:
"Bagaimana juga penghormatan tak bisa dielakkan, hayo maju dan memberilah hormat kepada
kakekmu."
Dalam hati Han siong Kie menghela napas panjang, dengan kaku dia maju beberapa langkah
dan jatuh berlutut dihadapan put to sianseng, ketika ia menyembah sebanyak tiga kali ia tak dapat
melukiskan bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, entah manis getir, kikuk atau kecewa.
Cepat Put to sianseng ulapkan tangannya seraya berkata:
" Cukup Cukup Bangunlah nak, sebelum aku pergi mengasingkan diri, ada beberapa patah kata
terlebih dahulu hendak kukatakan kepadamu, ketahuilah gurumu Mo tiong ci mo adalah sahabat
lamaku, setelah engkau mewariskan kedudukannya aku harap engkau bisa membangun kembali
perguruan Thian Lam bila melakukan segala persoalan janganlah terlalu memikirkan masalah itu
dengan pikiran yang sempit".
sekujur badan anak muda itu bergetar keras, peluh dingin membasahi tubuhnya tanpa terasa ia
teringat kembali akan apa yang diberitahukan orang yang kehilangan sukma ketika berada di
mulut lembah kematian.
Dikatakan Tee kun perguruan Thian Lam yang sekarang yaitu Wi It beng telah menjual
perguruannya kepada Thian che kau, istana Huan mo kiong telah diubah menjadi kantor cabang
Thian che kau sektor Thian lam.
JILID 32 HAL. 62/63 HILANG
Perasaan hatinya pada saat ini hampa, kosong . . sekarang Go siau bi telah menjadi calon
istrinya dengan resmi, siapakah bakal menduga sampai kesitu?
setelah tiba di kaki bukit dan menghampiri tempat perpisahannya dengan Hekpek siang yau,
mendadak pemuda itu tercekat, ternyata dua orang pembantunya telah lenyap tak berbekas.
semestinya Hekpek siang yau tidak akan meninggalkan ketuanya tanpa pamit, atau mungkin
telah terjadi sesuatu?
Han siong Kie memeriksa keadaan disekitar tempat itu dengan seksama, namun ia tak berhasil
menemukan sesuatu tanda-tanda pernah terjadinya pertarungan disana. Atau Hekpek siang yau
telah menghianatinya ?
-000dw000-
DENGAN kepandaian silat yang dimiliki sepasang siluman serta meninjau dari perbuatanperbuatan
mereka di masa lampau, bisa jadi kedua orang itu akan melakukan kejahatan lagi.
Andaikata apa yang diduga tak salah, dialah yang berdosa karena dialah yang melepaskan dua
orang gembong iblis itu dari tempat penahanannya.
Untuk sesaat lamanya Han Siong Ken berdiri tertegun, ia tak tahu apa yang musti dilakukan.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian pa muda itu mengambil keputusan, pikirnya:
"Andaikata sepasang siluman benar-benar telah menghianatinya serta melakukan kejahatan
dalam dunia persilatan, aku pasti akan melenyapkan kedua orang itu dari muka bumi".
seorang diri diapun melanjutkan perjalanan menuju kekaki bukit itu.
Dua jam kemudian pemuda itu sudah keluar dari daerah pegunungan dan melanjutkan
perjalanan melalui jalan raya.
sementara perjalanan masih dilanjutkan tiba-tiba dari arah depan meluncur datang beberapa
sosok bayangan manusia, meskipun gerakan tubuh beberapa orang itu bagaikan meteor yang
lewat, akan tetapi bagi ketajaman mata Han siong Kie bukan halangan baginya untuk mengenali
siapa gerangan mereka itu. segera teriaknya dengan suara nyaring: "Engkoh tua Tunggu sebentar,
kau akan ke mana ?"
Mendengar teriakan tersebut, berhentilah rombongan itu, ternyata mereka adalah delapan
orang pengemis dekil, orang pertama tak lain adalah Pengemis dari selatan.
"HaaaHh . . haaaHh .. haaaHh saudara cilik, rupanya kau " teriak pula pengemis dari selatan
dengan wajah berseri.
" Engkoh tua, aku lihat wajahmu murung sekali, apakah telah terjadi sesuatu atas diri mu?"
"Aaai, saudara cilik masa kau tidak mendengar bahwa perkumpulan kami sedang menghadapi
masa kiamat?" ujar pengemis tua itu sambil menghela napas panjang.
"Menghadapi masa kiamat? Kenapa?" seru si anak muda itu tertegun sambil terimangu.
"Jadi engkau tidak mendengar apa-apa tentang organisasi Kay pang kami itu?" Han siong Kie
menggelengkan kepalanya:
"sudah berbulan-bulan lamaoya siaute tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, aku tak tahu apa yang telak menimpa perkumpulan Kay pang?"
"oooh. Kalau begitu tak heran kalau engkau tidak tahu.." ujar pengemis itu.
sesudah menghela napas dan berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh: "semenjak dahulu
kala antara Thian che kau dengan Ji-pang dan sam hwe tak pernah mengadakan kontak hubungan
apa-apa, hubungan kami ibaratnya air sumur yang tidak mengganggu air sungai, tapi rasanya
pihak Thian che kau mempunyai ambisi untuk merajai dunia persilatan, secara licik mereka telah
membasmi musuh-musuh serta saingannya secara diam-diam. Pertama kali yang mengalami nasib
jelek adalah perkumpulan Pat gi pang, menyusul kemudian perkumpulan Jit yan pang. Hong te
hwe, Ang kin hwe, serta Ngo heng hwe dipaksa takluk kepada mereka dan merubah nama
menjadi kantor cabang perkumpulan Thian che kau, rupanya sekarang mereka jatuhkan
incarannya kepada pihak Kay pang, saudara cilik, kalau bukan saat kiamat perkumpulan kita sudah
tiba, apa lagi namanya"
JILID 33 HAL. 06/07 HILANG
"Akupun belum lama mendengar ini, karena setelah urusan disini selesai segera aku akan
berangkat ke Thian Lam untuk melakukan pembersihan secara besar-besaran"
"Dengan kekuatan saudara cilik seorang aku rasa . ."
"Pentolan penghianatan ini cuma seorang yaitu Wi It beng, aku percaya anak murid lain
kebanyakan cuma menganut kehendak hatinya belaka" setelah berhenti sebentar ia berkata lagi:
" Engkoh tua batas waktu yang ditentukan lencana Thian che leng masih ada berapa hari?"
"Tinggal besok sehari "
Ketika pengemis dari selatan mengucapkan kata-kata itu, tiga pengemis tua dan delapan
pengemis setengah baya yang berada dibelakagnya sama-sama menunjukkan wajah sedih dan
resah, namun tak seorangpun yang bersuara. Han siong Kie termenung dan berpikir sebentar,
kemudian bertanya: "Apa rencana engkoh tua untuk menyelesaikan persoalan yang sangat pelik
ini?"
"Aaai, aku telah menurunkan perintah untuk mengumpulkan segenap jago lihay yang berada
dikantor- kantor cabang untuk berkumpul semua dimarkas besar kami tepi pantai Pak swit ham,
yaa . . mati hidup Kay pang tergantung dalam pertarungan yang bakal berlangsung, meskipun
saat ini kami masih mempunyai satu harapan untuk menyelamatkan perkumpulan kami dari
musibah yakni mengharapkan kemunculan susiok kami song Tiat kong . tapi harapan ini tipis
sekali"
"Mengapa kalian tidak segera mengirim kabar kepada song locianpwe agar bersiap sedia?"
"Ketika tengkorak maut gadungan membuat onar dalam markas besar kami. song susiok telah
salah menganggap tengkorak gadungan sebagai tengkorak maut asli, sesudah peristiwa itu beliau
berkunjung ke benteng maut menuntut keadilan, tapi akhirnya beliau kalah ditangan pemilik
benteng maut, waktu itu susiok telah sesumbar bahwa akan muncul kembali dalam dunia
persilatan untuk selamanya, dari mana kami bisa tahu susiok kini berada dimana ? Dan bagaimana
mungkin berita itu disampaikan kalau kami tak tahu dimana beliau berada?"
"Apakah engkoh tua bersedia untuk menerima bantuan dari saudara cilikmu ini?" kata Han
siong Kie mendadak sambil menawarkan jasa baiknya.
" Kesediaanmu untuk membantu tentu saja akan kami sambut dengan senang hati" sahut
pengemis dari selatan sambil mengernyitkan alisnya yang telah memutih, "aku hanya kuatir
bantuanmu masih belum cukup untuk menolong perkumpulan kami lolos dari musibah ini, aaai...
yaa apa boleh buat, terserah bagaimana nasib akan mengaturnya nanti"
Pengemis dari selatan belum tahu kalau Han siong Kie telah berhasil mempelajari ilmu sakti si
mi sinkang, sebab berbicara dari kekuatan yang dimiliki pemuda itu di masa lampau, memang tak
mungkin ia bisa menolong Kay pang untuk lolos dari musibah.
Han siong Kie bukan orang bodoh, sudah tentu diapun dapat merasakan keraguan saudara
tuanya itu, ia tersenyum.
"Begini saja engkoh tua, kalian berangkatlah lebih dulu, bila tiba saatnya nanti, aku pasti sudah
hadir di markas besar kalian"
Pengemis dari selatan mengangguk. mereka tidak berkata apa-apa lagi, dengan begitu maka
dua bersaudara inipun kembali berpisah.
sepeninggal pengemis dari selatan beserta ketujuh orang rekannya, Han siong Kie berpikir
didalam hati, untuk menuntut balas ke benteng maut jelas sudah tak sempat lagi, maka ia
menyusun rencana untuk melaksanakan kembali usaha penuntutan balasnya sesudah
menyelamatkan Kay pang dari musibah.
-000dw000-
BAB 68
LENYAPNYA Hekpek siang yau secara misterius sangat memusingkan kepala anak muda itu, ia
merasa tak mungkin kalau kedua orang siluman itu berhianat kepadanya atau pergi tinggalkan
dirinya tanpa pamit. sebab dua orang itu telah mengakuinya sebagai majikan, itupun kerena harus
menuruti sumpah yang pernah mereka ucapkan dimasa lampau, apalagi mereka telah diterima
sebagai anggota perguruan Thian Lam bun, mustahil pikiran mereka berubah di tengah jalan.
Tapi kemana mereka telah pergi ? Celaka ditangan orang ?Jelas hal ini tak mungkin terjadi,
Ilmu silat mereka sangat lihay, siapakah yang mampu untuk merobohkan kedua orang itu"
sementara dia masih melamun, tiba-tiba sorot matanya sempat menangkap sesosok bayangan
manusia sedang berdiri ditepi sungai tak jauh dari tempat ia berada sekarang, jelas orang itu
tinggi semampai dengan potongan badan menggiurkan, jelas orang itu adalah seorang gadis dan
gadis itu terasa sangat dikenal olehnya.
Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, kontan jantungnya berdebar keras, hampir
saja pemuda itu menjerit. "Aaah Masa dia ?"
Dengan penuh emosi dan hati yang bergejolak pemuda itu meluncur ke depan, menghampiri
gadir yang tinggi semampai itu .
Makin mendekati orang itu, Han siong Kie merasa semakin yakin kalau dugaannya tidak
meleset dan akhirnya . . ia benar-benar membuktikan bahwa dugaannya tak salah gadis itu
memang tak lain dari kekasih hatinya. Tonghong hui yang dia rindukan siang malam.
Darah yang mengalir dalam tubuh pemuda itu terasa mendidih bagaikan kena listrik
bertegangan tinggi, separuh tubuhnya terasa menjadi kaku, hampir saja jantungnya melompat
keluar dari rongga dadanya.
Dengan bibir yang gemetar dan muka yang pucat, ia berdiri tertegun untuk sesaat lamanya tak
sepatah katapun mampu dia utarakan keluar.
Betapa tidak ? Tonghong-Hui yang melama ini dianggapnya telah mati ternyata masih hidup
segar bugar... dugaan dari orang yang kehilangan sukma terbukti kebenarannya, dara itu belum
mati.
Tapi aneh, sekalipun Han siong Kie sudah berada dibelakangnya, gadis itu masih tidak merasa,
ia berdiri kaku bagaikan patung, bergerak sedikitpun tidak.
Angin sungai berhembus sepoi basah mengibarkan ujung bajunya yang panjang, tubuhnya
yang tinggi semampai, lekukan tubuhnya yang menggiurkan amat menawan hati, ibaratnya
bidadari dari kahyangan gadis itu tampak agung dan cantik.
"Adik Hui" akhirnya pemuda itu memang gigil, meski suaranya lirih dan agak parau.
sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, namun ia tidak berpaling pun tidak menjawab.
suatu firasat aneh terlintas dalam benak sianak muda itu, untuk kedua kalinya kembali dia
memanggil: "..Adik Hui.."
Tonghong Hui menghela napas panjang, begitu pedih dan hampa helaan napas itu, membuat
Han siong Kie tercekat hatinya.
Menyusul helaan napas itu, ia putar badannya, sesaat wajah yang sayu terpampang didepan
mata.
Wajah itu layu, kusut dan sinar matanya telah pudar persis seperti wajah Go siau bi calon
istrinya ketika ia jumpa didepan kuil Bu cuan di bukit Tay huang san.
Han song Kie merasakan hatinya bagaikan dipagut ular berbisa, secara beruntun ia mundur tiga
langkah kebelakang.
Bagaimanakah pertanggungan jawabnya kepada gadis yang ia cinta dengan segenap jiwa
raganya? Apalagi bila ia tahu kalau Go siau bi telah menggantikan kedudukannya?
Diantara putih kepucatan yang menghiasi wajah Tonghong i-Hui terlintas semua merah
diantara pipinya, ia menatap Han siong Kie dengan pandangan hampa, mukanya begitu layu,
pedih, sukar dilukiskan dengan kata.
Mereka tidak mirip kekasih yang saling bertemu kembali, keadaan mereka waktu itu ibarat
orang asing yang saling berjumpa, tiada surprise tiada luapan cinta dan rindu, tiada pelukan
ataupun ciuman.
siapapun diantara mereka tak ada yang buka suara, mereka hanya saling menatap dengan
mulut membungkam.
Udara serasa ikut membeku mengikuti keadaan mereka yang serba kaku, serba dingin-
Perlahan-lahan Han siong Kie tundukkan kepalanya, ia tidak memiliki keberanian untuk
memandang kekasihnya lagi, sebab ia telah menjadi penghianat dari cinta, ia merasa tak punya
muka untuk bertemu lagi dengan gadis yang telah menyerahkan seluruh jiwa dan raga kepadanya.
suasana begitu sepi, hening seolah-olah dunia menjadi mati, jagad menjadi kiamat tak
seorangpun yang bersuara, hanya detak jantung mereka yang berdebar keras.
Darimana orang yang kehilangan sukma bisa tahu kalau Tonghong -Hui tidak akan mati?
Benarkah ia memiliki ilmu meramal, ilmu untuk melihat kejadian yang akan datang?.
Apa sebabnya orang yang kehilangan sukma merusak hubungannya dengan Tonghong Hui?
Benarkah jika hubungan mereka dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu
kejadiaa yang tragis?
Mengapa Tonghong Hui mengingkari janjinya ketika itu? Mengapa ia begitu tega membiarkan ia
menunggu melama dua hari dengan sia-sia ditepi sungai?
Terbukti sekarang bahwa ia tidak mati, benarkah ayahnya bukan pembunuh keluarga Han dan
keluarga Thio? Kalau bukan, tidak seharusnya gadis itu mengingkari janji.. Lama sekali, akhirnya
Tonghung-Hui buka suara, meskipun suaranya penuh kepedihan:
"Engkoh Kie, angkat kepalamu dan pandanglah aku"
Pedih hati Hansiong Kie bagaikan disayat-sayat pisau, ia mendongakkan kepalanya, meskipun
dengan perasaan menyesal dan malu..
Tatkala sepasang mata mereka bertemu satu sama lainnya, kembali pemuda itu mundur
selangkah, yang tampak olehnya adalah seraut wajah yang pucat seperti mayat,juuh berbeda
dengan raut wajahnya dalam kenangan selama ini
"Engkoh Kie, kau... kau membenci aku" kembali gadis itu berbisik lirih sekali suaranya.
"Adik Hui Aku .. aku...toh...mengapa kau mengatakan begitu ? Mengapa kau mengatakan kalau
aku membenci dirimu ?"
"Karena.... karena aku telah mengingkari janjiku sendiri kepadamu, aku tidak menepati janji"
"Adik Hui, seharusnya akulah, aai. mengapa kau tidak menepati janjimu."
"sekembalinya kedalam benteng, aku telah disekap oleh ayah, tak mungkin bagiku untuk kabur
keluar"
Han Siong Kie merasa emosi dalam dadanya bergelora, apa yang ingin diketahui olehnya
segera akan terwujud, dengan suara agak gemetar tanyanya lagi."sudah kau tanyakan soal yang
ingin kuketahui itu ?"
"sudah.." perlahan-lahan gadis itu mengangguk.
Mencorong sinar mata sianak muda itu, dia maju tiga langkah kedepan seraya bentanya lagi:
"Bagaimana jawaban ayahmu?"
"sudah dua puluh tahun lamanya ayah tak pernah meninggalkan pintu benteng barang satu
langkahpun, apakah jawaban tersebut dapat kau terima sebagai suatu keterangan yang lengkap?"
"sudah dua puluh tahun ayahmu tak pernah muncul kedalam dunia persilatan ?" Tonghong Hui
mengangguk lirih tanda membenarkan.
sungguh terkejut dan girang tak terkirakan perasaan Han siong Kie pada saat ini, dia girang
lantaran Tengkorak maut ayah Tonghong-Hui bukanlah musuh besar keluarganya, sebab peristiwa
berdarah yang menimpa perkampungan keluarga Han terjadi pada bulan sembilan tanggal
sembilan pada lima belas tahun berselang.
sekarang terbukti sudah bahwa dia dan Tonghong Hui sebenarnya tidak terpisah oleh dendam
sakit hati.
Tapi pemuda itu merasa murung, murung karena tidak tahu siapakah pembunuh keluarganya,
kemana dia harus pergi untuk mencari jejak pembunuh keluarganya itu?
Tatkala ia teringat kembali akan pernikahannya dengan Go siau bi, kembali pemuda itu
merintih... merintih penuh kedukaan serta penderitaan- "Engkoh Kie, kee... kenapa kau?" tegur
Tonghong i-Hui.
"oooh, aai tidak apa-apa, kalau toh engkau disekap oleh ayahmu, kenapa sekarang bisa muncul
lagi diluar benteng ?"
"Aku mencuri keluar secara diam-diam, mungkin selama hidup, .selama hidup aku tidak dapat
memasuki pintu benteng maut lagi "
" Kenapa?" tanya sianak muda itu dengan terperanjat:
Tonghong Hui tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya lagi:
" Engkoh Kie, apakah engkau masih... masih selalu mencintai diriku ?"
sakit rasanya hati Han Siong Ki tatkala mendengar pertanyaan itu, ia berpikir:
"Kalau kulihat dari sikap adik Hui yang begitu murung dan layu, kemungkinan besar ia sudah
mengetahui tentang peristiwaku di bukit Tay huang san, bagaimana caranya aku memberi
penjelasan ? Aaai, aku benar-benar menyesal mengapa waktu itu imanku tidak teguh ? Bila
kutolak permintaan tersebut dengan hati yang keras, tak nanti bakal terjadi peristiwa seperti hari
ini".
sementara sianak muda itu masih termenung, Tonghong Hui telah mendesak lebih lanjut.
" Engkoh Kie, hayolah katakan-.. masihkah engkau mencintai diriku ?"
"Adik Hui, percayalah kepadaku. hatiku tak akan berubah, selama-lamanya aku memang tetap
mencintaimu"
"Kau mencintai aku ? selama-lamanya mencintai diriku ?"
"Benar, selama hayat masih dikandung badan, cinta ku padamu tak akan pudar"
" Engkoh Kie, aku dapat meresapi cinta kasihmu ini dan tak akan melupakan untuk selamalamanya
. "
Ucapan tersebut segera mendatangkan firasat tak enak dihati pemuda kita, buru-buru serunya:
"Adik Hui, kau... kenapa kau...."
Tonghong Hui menggeleag dengan seduh dan tertawa rawan.
"Engkoh Kie, kau tak usah bertanya kepadaku mengapa, asalkan masih tetap mencintai aku, itu
sudah lebih dari cukup "
"Adik Hui, aku..aku..sebetulnya...."
"Engkoh Kie, manusia yang mendapat cinta murni dari seseorang adalah suatu kebahagiaan,
aku sudah merasa sangat puas Biarlah apa yang akan terjadi dikemudian hari diatur oleh takdir
dan nasib" Air mata bagaikan layang-layang putus benang mengucur keluar tiada hentinya, dan
membasahi pipi Tonghong-Hui yang pucat pasi, serta tampak menyeramkan itu.
Hancur lebur perasaan hati Han siong Kie pada waktu itu, ia merasa gemas dan benci mengapa
tak dapat segera mati sehingga dosa yang telah dilakukan bisa ditebus kembali. "Adik Hui,
mengapa kau mengatakan begitu? Mengapa ?"
Tonghong Hui tertawa rawan- dia menggeleng.
"sekalipun kuterangkan, engkau tak akan mengerti . . dan tak akan paham"
" Katakanlah padaku . . kumohon katakanlah kepadaku, mengapa ? Mengapa kau berkata
begitu?"
"Dikemudian hari engkau akan mengerti sendiri, sekalipun tidak kuterangkan sekarang, tapi kau
akan pasti paham"
Berkerut kencang raut wajah Han siong Kie yang tampan d engan penuh penderitaan katanya
lagi:
"Adik Hui, maafkanlah daku, pada hakekatnya aku... sebetulnya aku..."
"Engkoh Kie, jangan berkata begitu?" tukas Tonghong i-Hui sambil menggelengkan kepalanya
berulang kali: "kata maaf sepantasnya muncul dari mulutku aaai Apa mau dikata lagi bila takdir
telah mengatur segala sesuatunya itu bagi kita?"
"Adik Hui...."
"Duduklah engkoh Kie, bersandarlah padaku," Dengan sikap yang kaku dan gerak gerik yang
sama seperti orang kehilangan sukma Han siong Kie duduk diatas batu cadas dan bersandar diatas
tubuh gadis itu.
Tonghong Hui segera merebahkan dirinya dalam pangkuan pemuda itu serta merta Han siong
Kie merangkul tubuhnya dan mendekapaya erat-erat.
"Engkoh Kie, masih ingat ketika kita mengangkat saudara diatas batu besar ditepi sungai?
Ketika itu aku masih serupa seorang pengemis cilik"
"Aku tak akan melupakan kenangan indah itu untuk selamanya"
"Masih ingat sewaktu kau terjatuh ketangan orang-orang Thian che kau pura-pura mati dengan
ilmu Ku si tay hoat dan aku menguburkan jenasahmu serta mendirikan batu nisan dirimu?"
"Aaai, aku sangat mengharapkan bahwa kejadian itu hakekatnya adalah suatu kejadian
sebenarnya, sekarang niscaya kita sudah berbaring didalam sebuah liang..."
"Adik Hui, kau...."
"Ketika kau dihantam oleh Tengkorak maut gadungan sehingga tercebur kedalam jurang, aku
menyusulmu kedalam jurang, tapi akhirnya kita sama-sama tidak mati"
"Adik Hui, semua kenangan indah serta kenangan manis itu tak akan pudar, tak akan hilang
dari pikiranku"
"Tapi, sekarang engkoh Ki, aku menyesal aku merasa amat menyesal"
Tercekat perasaan hati Han siong Kie, ucapan dari gadis itu seakan-akan tidak teratur lagi,
mungkinkah ia sudah jadi gila?
"Adik Hui, kau ... kau perlu beristirahat, tidurlah sebentar agar pikiranmu menjadi terang
kembali."
"Tidak. aku sangat baik, pikiranku masih cukup terang"
"Ucapanmu itu .... ucapanmu iti telah menghancurkan hatiku.... melumpuhkan perasaanku"
"Bersabarlah engkoh Ki, perasaanmu itu akan hilang mengikuti berputarnya waktu "
Hembusan angin lirih berkumandang dari kejauhan, bukan hembusan angin biasa tapi ujung
baju seseorang yang tersambar angin-
Dengan cekatan dua orang itu meloncat bangun berpaling, sesosok bayangan manusia berdiri
kurang lebih lima kaki dihadapan mereka.
orang itu adalah seorang manusia aneh yang berambut panjang, tampaknya jelek dan sangat
menyeramkan,
Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, sementara Han siong Kie sendiripun merasa
terperanjat setelah mengetahui siapa yang datang, dia masih ingat manusia aneh ini adalah
penghuni benteng maut, dia pernah bertemu dengan manusia aneh ini dan seingatnya makhluk
inilah yang terus berkaok-kaok dengan suara aneh.
"siapakah orang itu adik Hui?" cepat bisiknya.
"Dia adalah siau suhengku, seorang yang bisu dan tak pandai berbicara tapi kecerdikannya luar
biasa, diapun sangat perasa, selama hidup belum pernah tinggalkan benteng.."
"Tahukah kau apa tujuannya datang kemari?"
"Tentu saja mendapat perintah dari ayah untuk mencari aku serta menggusurnya pulang
kebenteng"
"Kalau begitu biarlah ku usir dia pergi dari sini."
"Jangan...Jangan kau berbuat begitu", tiba-tiba ia melejit ke depan sambil berlarian menjauhi
pemuda itu, serunya lagi "engkoh Kie, semoga kau baik-baik menjaga diri,aku. .aku pergi dulu"
"Adik Hui, jangan pergi dulu. aku masih...."
Namun Tonghong Hui tidak menggubris lagi, bersama manusia aneh berambut panjang itu
bayangan mereka kian menjauh sehingga akhirnya lenyap dari pandangan.
Han siong Kie berdiri menjublak bagaikan sebuah patung arca ia berdiri kaku di atas sebuah
batu tanpa berkutik, untuk sesaat pemuda itu dibikin gelagapan dan tak tahu apa yang musti
dilakukan ingin sekali ia mencegah kepergiannya tapi kakinya tak pernah beranjak dari tempat
semula, tutur kata Tonghong i-Hui yang aneh dan sedih serta paras muka sang dara yang sayu
dan layu membuat pikirannya kalut dan tak tenang.
Masih banyak perkataan serta penjelasan yang hendak ia katakan kepadanya, tapi gadis itu
sudah pergi.
Menurut pengakuannya, sudah dua puluh tahun ayahnya tak pernah keluar daripintu gerbang
benteng, maka mungkinkah ucapannya jujur? Lima belas tahun berselang waktu itu usianya baru
mencapai tiga tahun, tak mungkin ia bisa tahu akan kejadian yang sebenarnya, benarkah ia
percaya akan kata-kata dari gadis itu?
Bukankah lambang tengkorak maut muncul ditempat pembantaian? Ataukah lambang itupun
palsu?
Berpikir sampai disini, dia lantas mendepakkan kakinya ke tanah seraya berseru:
"Bohong . . bohong siapa tahu kalau ia sengaja membohongi aku ? Bagaimanapun juga setelah
persoalan dari Kay pang telah ku selesaikan, aku harus berkunjung kebenteng maut"
setelah mengambil keputusan, pemuda itu menghela nafas panjang dan melanjutkan
perjalanannya menuju kuil Bu hau si di Pak swi tham, markas besar dari kaum pengemis.
suasana dimarkas besar perkumpulan Kay pang ketika itu diliputi oleh keresahan dan
kemurungan.
Mulai dari ciangbunjin sampai anggota yang terendah telah berkumpul semua disitu, jumlah
mereka mencapai dua ratus orang lebih, Waktu itu dengan wajah tegang, sedih dan marah
mereka tersebar diluar dan didalam kuil untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan
yang tak diinginkan-
Hari inilah batas waktu yang ditetapkan Thian che leng telah berakhir, dalam satu jam
mendatang bila Kay pang masih belum bersedia menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau,
maka semua anggota dalam perkumpulan itu akan dibantai secara keji.
Pemimpin para tiang lo dari Kay pang yakni Pengemis dari selatan berdiri disamping ketuanya
dengan alis mata berkernyit.
Suasana hening dan sepi, seakan-akan sernua orang sedang menantikan tibanya saat kiamat.
Ditengah keheningan malam yang mencekam seluruh jagad, tiba-tiba semua orang merasa
pandangan matanya jadi silau, tahu-tahu seorang manusia baju hitam tanpa menimbulkan sedikit
suarapun telah melayang turun ke tengah gelanggang.
Gerak tubuh orang itu sangat enteng dan cepat seolah-olah sukma gentayangan, dari sini dapat
diketahui betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang itu.
Ketua Kay pang serta keenam orang tianglonya serentak bangkit berdiri dan siap menghadapi
segala kemungkinan-
Berbareng dengan gerakan itu, kawanan jago lihay dari Kay pang yang lainpun serentak bersiap
siaga, meskipun agak tercekat perasaan hati mereka namun semangat tempur masih tetap tinggi.
orang itu adalah seorang kakek berjubah hitam dengan lambang matahari, rembulan serta
bintang diatas dadanya, tinggi kekar perawakan tubuh orang itu, cambangnya lebat dan sinar
matanya amat tajam.
setelah menyapu pandang sekejap keseluruh gelanggang, dia tertawa dingin
JILID 33 HAL. 30/31 HILANG
"HeeHh .. heeHh . . heeHh ciangbun, kuanjurkan kepadamu lebih baik berpikirlah tiga kali
sebelum mengambil keputusan, ketahuilah bahwa keputusan yang gegabah akan mengakibatkan
kehancuran total bagi pihak kalian sendiri "
"Tak usah banyak bicara, kami tak akan sudi mendengarkan perkataanmu itu"
setelah mengetahui kebulatan tekad orang, suma Hiong utusan khusus dari Thian che Kau itu
segera menarik kembali lencananya lalu sambil tertawa dingin berkata.
"Bagus Bagus Kupuji ketekadan kalian ini, terpaksa aku harus melaksanakan titah dari kaucu
kami untuk membantai kalian semua dari muka bumi "
sebelum iblis itu sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba dari luar pekarangan kuil muncul seorang
pengemis setengah baya, sambil berlarian menuju kehadapan ketuanya dia berseru: "Lapor
ciangbunjin, markas kita telah terkepung rapat."
"Aku sudah tahu, mundurlah " kata ketua kay pang seraya ulapkan tangannya. Pengemis
setengah baya itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari sana.
Dalam pada itu delapan orang jago pedang yang berada dibelakang suma Hiong telah putar
badan dan memencarkan diri jadi posisi setengah lingkaran, masing-masing pihak mencari
posisinya masing-masing dan berhadapan dengan lawan-lawannya.
sekejap mata suasana menjadi hening, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh
gelanggang.
Dengan sinar mata setajam sembilu suma Hiong menyapu pandang tiap wajah tokoh kay pang
yang hadir ditempat itu, sikapnya buas dan garang, seakan-akan dia tak pandang sebelah
matapun terhadap musuh-musuhnya ini.
Dua orang diantara enam tiang lo yang hadir disana tak dapat mengendalikan hawa amarahnya
lagi, mereka membentak keras kemudian sambil melepaskan serangan langsung menerkam
ketubuh orang itu.
suma Hiong mendengus sinis, tiba-tiba sepasang telapak tangannya direntangkan ke samping
dan menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras.
Jerit kesakitan menggelegar di angkasa, di tengah muncratnya darah segar yang menodai
permukaan tanah dua orang tiang lo itu mencelat ke belakang dan tewas seketika itu juga.
Kejadian ini sangat mengejutkan hati kawanan jago dari Kay pang, siapapun tak mengira kalau
dua orang tiang lo mereka bakal mampus dalam satu gebrakan saja ditangan orang.
Jelaslah sudah bahwa tenaga lwekang dari suma Hiong benar-benar sangat lihay dan sukar
dicarikan tandingannya, atau dengan perkataan lain sudah pasti Kay pang akan musnah dari muka
bumi ditangan orang ini.
Pengemis dari selatan amat gusar, rambut nya terasa pada berdiri seperti kawat, dia maju
kemuka, kepada ketuanya berkata:
"Bila takdir menghendaki Kay pang musnah ditangan iblis ini. siapapun tak akan dapat
menolongnya, biarlah aku si.pengemis tua berangkat satu langkah lebih duluan"- sambil
membusungkan dada, ia lantas tampil kedepan dan mendekati musuhnya. Menyaksikan
kemunculan pengemis itu. suma Hiong menjengek dingin, katanya:
"Jadi engkau yang disebut sebagai pengemis dari selatan, pemimpin para tianglo dari Kay
pang?"
"Benar" jawab pengemis itu singkat.
"Dengan kedudukan serta nama besarmu dalam tubuh Kay pang, perlukah ku beri waktu
bagimu untuk mempertimbangkan keadaan pada saat ini? Dengan senang hati akan kuberi
kesempatan yang terakhir bagimu untuk berpikir kembali"
"Tak perlu" tukas pengemis dari selatan dengan gusar "Thian che kau menganggap dirinya
besar dan agung, perbuatannya cuma mengacau dan menerbitkan keonaran dalem dunia
persilatan, saat kiamatnya tidak akan terlalu jauh"
"Kurang ajar, saudara benar-benar tak tahu diri, rupanya sebelum darah menodai seluruh
permukaan tanah, kalian tak akan sadar"
" omong kosong, lebih baik tutup saja bacot anjingmu"
suma Hiong dibuat marah oleh ucapan yang kasar itu, ia menengadah lalu tertawa dengan
suaranya nyaring dan menjulang tinggi ke angkasa membuat semua orang merasa telinganya
menjadi sakit.
Berbareng dengan berkumandangnya gelak tertawa itu delapan orang pendekar pedang yang
bersiap siaga dibelakangnya serentak berteriak keras, kemudian menerjang kearah kawanan jago
dari Kay pang yang mengurung disekitar tempat itu. Tak dapat dicegah lagi, suatu pertempuran
berdarah yang amat serupun segera berkobar.
Dengan penuh kemarahan pengemis dari selatan bersuit nyaring dan menerjang maju kemuka,
dia menyerang Suma Hiong secara bertubi-tubi.
Dalam waktu singkat, dia telah melancarkan delapan buah serangan berantai, kedelapan buah
serangan itu semuanya dilepaskan dengan disertai hawa amarah yang berkobar, bukan saja amat
dahsyat bahkan arah yang dituju semuanya adalah bagian-bagian tubuh yang mematikan.
seketika itu juga suma Hiong terdesak oleh serangan berantai itu, sehingga mundur tiga
langkah ke belaknog.
Tapi begitu pengemis dari selatan menyelesaikan ke delapan buah pukulannya, serentak suma
Hiong memperbaiki posisinya, dia tertawa seram dan secara beruntun balas melancarkan tiga
buah pukulan-
-000dw000-
BAB 69
HEBAT sekali serangan balasan dari utusan Thian che kau ini, dengan susah payah Pengemis
dari selatan berhasil menghindari serangan yang pertama dan serangan yang kedua, tapi serangan
yang ketiga tak sempat dihindari lagi, tak ampun pundaknya terhajar telak.
"Duuk" Pengemis dari selatan mendengus tertahan- sambil muntah darah segar dia mundur
beberapa langkah dengan sempoyongansuma
Hiong tertawa seram, ia tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk memperbaiki
posisinya lagi, berhastl dengan serangan yang pertama, serentak tubuhnya menerkam kedepan
dan menyusuli dengan pukulan berikutnya.
"Bangsat..... lihat serangang" ditengah keadaan yang kritis, bentakan nyaring menggetar
diangkasa, empat tiang lo yang masih berada disamping gelanggang berikut ketua mereka
bersama-sama masuk kedalam gelanggang dan mengerubuti suma Hiong yang lihay itu.
Di pihak lain pertarungan telah berkobar dimana- mana, setiap anggota Kay pang yang hadir
dalam markasnya telah diserang habis-habisan oleh lawan yang tangguh, dalam waktu singkat
dengusan tertahan suara beradunya senjata dan jerit kesakitan berkumandang silih berganti.
Pemandangan pada waktu itu mengerikan sekali, darah berceceran dimana-mana, mayatpun
bergelimpangan setinggi bukit.
Delapan orang jago dari Thian che kau itu rata-rata berilmu tinggi, setiap kali cahaya pedang
mereka berkelebat lewat seorang korban segera roboh binasa atau cedera hebat.
suma Hiong yang dikerabuti oleh empat orang tianglo dan ketua Kay pang sama sekali tidak
merasa jeri, dengan gerakan yang lincah dan pukulan pakulan yang aneh dia layani setiap
ancaman yang tertuju kearahnya.
Suatu ketika tiba-tiba ia membentak nyaring, sebuah pukulan dahsyst yang disertai dengan
deruan angin puyuh yang memekikkan telinga menyapu kedepan dan menghajar lawan-lawannya
"Blaaang.." bentaran keras tak bisa dihindari lagi, keempat orang tianglo dan ketua kay pang
itu segera terhajar sampai mencelat dan jatuh terlentang di tanah.
Melihat ketuanya terancam bahaya, pengemis dari selatan tidak menggubris lukanya sendiri
lagi, setelah menyeka noda darah di ujung bibirnya, ia meraung keras kemudian bagaikan banteng
terluka menerjang lagi ke depan.
"Sialan" maki suma Hiong dengan marah, " Hay..pengemis tua, rupanya kau memang sudah
bosan hidup, rasakanlah pukulanku ini"
45
Secepat sambaran kilat dia melepaskan lagi sebuah pukulan dahsyat ke arah depan.
Pengemis dari selatan menjerit tertahan, untuk kedua kalinya ia terhajar sampai mencelat
sejauh beberapa tombak.
Merah padam wajah keempat orang tiang lo itu, seperti orang kalap mereka melompat bangun
dan menerkam musuhnya, empat batang tongkat tah kau pangnya ibarat empat ekor naga sakti
segera menghantam tubuh iblis tersebut..
Suma Hiong tertawa dingin, ke sepuluh jari tangannya dipentangkan lebar-lebat, ketika
berkelebat ke depan, tahu-tahu ke empat batang toya peg gebuk anjing itu sudah ditangkap dua
dikanan dan dua dikiri.
Sekali menyentak kebelakang, keempat orang tiang lo itu mendengus tertahan dan mencelat
kebelakang.
Berhasil menghajar mundur, keempat tiang lo itu, Suma Hiong meneruskan terkamannya ke
depan, dengan cakar mautnya dia cengkeram tubuh ketua kay pang yang berada dihadapannya.
cepat dan diluar dugaan, cengkeraman tersebut datang keadaan tak terduga, tampak nya sang
ketua dari kay pang ini segera akan tertangkap oleh musuhnya. "Tahan" tiba-tiba serentetan
bentakan nyaring berkumandang ditengah angkasa.
Walaupun suasana dalam gelanggang ramai, oleh bentakan dan adu senjata, namun bentakan
itu amat dapat didengar oleh setiap orang dengan jelas, bahkan mereka merasakan telinganya jadi
sakit.
serentak pertempuran terhenti ditengah jalan, semua jago berdiri tertegun sambil alihkan
pandangannya ke arah mana berasalnya suara itu.
suma Hiong sendiripun diam-diam merasa terperanjat, cepat dia tarik kembali serangannya dan
melompat mundur kebelakang. Dari balik pagar pekarangan perlahan-lahan berjalan keluar
seorang pemuda tampan berwajah dingin, setajam sembilu sorot mata pemuda itu tatkala saling
beradu pandang, tanpa sadar suma Hiong mencekat mundur beberapa langkah.
Waktu its sebenarnya suma Hiong sedang merasa keheranan, ia heran mengapa kawanan jago
yang telah disiapkan disekitar kuil itu tidak munculkan diri untuk melakukan pembantaian, padahal
sebelumnya telah dibicarakan bahwa mereka harus menyerbu kedalam kuil bila mendengar gelak
tertawa nya yang keras.
Tapi sekarang setelah menyaksikan kemunculan pemuda berwajah dingin ini, suatu firasat jelek
segera muncul dalam hatinya, ia segera membentak keras: "Bocah keparat siapa kau? sebutkan
nama mu."
Pemuda itu tertawa dingin, ia tidak menjawab akan tetapi sewaktu melewati dihadapan seorang
pendekar dari Thian che kau jari tangannya lantas ditudingkan kemuka.
Jerit kesakitan yang memilukan hati berkumandang memecahkan kesunyian, darah segar
tampak muncrat keluar dari dadanya, tidak selang sesaat kemudian orang itu sudah roboh
terjengkang dan tidak bangkit lagi untuk selamanya.
"Kau .. kau adalah manusia bermuka dingin?" teriak suma Hiong dengan paras muka berubah
hebat.
"Benar, kau memang hebat dan pengetahuanmu cukup luas, ternyata akupun juga kau kenali"
Pemuda yang barusan munculkan diri ini memang tak lain adalah Han siong Kie, jago muda itu.
suma Hiong menyeringai seram, sinar matanya memancarkan cahaya buas, dengan suara yang
keras seperti geledek hardiknya:
"Manusia muka dingin, engkau bersiap-siap untuk mencampuri urusan ini?"
"Haaahhh . . haaahhh haaahhh kenapa tidak? Justrupun ciangbunjin datang kemari untuk
membantai habis kawanan iblis macam dirimu itu"
" Ciangbunjin?" jengek orang she suma itu sinis, "Heeehhh heeehhh engkau ciangbunjin dari
mana?"
"Ciangbunjin dari Thian lam bun "
"Mimpi Heeeh heeh heeeehh bocah keparat, engkau sedang bermimpi disiang hari bolong.
Thian lam bun sudah lama terhapus namanya dari muka bumi"
"Yang akan terhapus namanya dari muka bumi bukan Thian lam bun, melainkan Thian che kau
dan waktunya tak akan lama lagi "
"orang goblok sedang mengigau ditengah hari bolong "
"Kau tak percaya ?Baik... ini hari akan kuampuni selembar jiwa anjingmu, agar kau bisa
menyaksikan sendiri benar tidak perkataanku itu."
"Hanya mengandaikan kekuatanmu seorang, sayang aku tidak berjiwa sebesar kau... ini
haripun aku tak akan melepaskan dirimu "
Han siong Kie mendengus dingin, ia tidak berbicara lagi melainkan bersiul nyaring.
Berbareng dengan siulan tersebut, terlihatlah bayangan manusia saling berkelebat dalam
gelanggang, dalam waktu singkat berpuluh-puluh sosok mayat dari manusia barbaju hitam
bertumpukan ditempat itu
suma Hiong tentu saja dapat mengenali kembali mayat-mayat itu, sebab mereka tak lain adalah
jago-jago perkumpulannya yang disiapkan diluar kuil itu.
Tapi kini sudah tewas semua dalam keadaan mengerikan, kontan ia jadi terkejut dan bergidik,
begitu pula dengan ketujuh orang pendekar pedang yang masih hidup, mereka merasa sukmanya
serasa sudah mela yang tinggaikan raganya. sambil menuding kearah tumpukan mayat setinggi
bukit itu, Han siong Kie mengejek:
"suma Hiong, bukankah mayat-mayat itu adalah jenasah dari anggota perkumpulanmu? Nah,
hitunglah sendiri, semuanya berjumlah seratus dua puluh orang, coba kau hitung lagi adakah
masih ada yang kelewatan atau tidak??"
Menyeringai seram wajah suma Hiong dengan muka yang buas dan mengerikan ia berteriak:
"Manusia bermuka dingin, aku bersumpah akan mencincang tubuhmu, kemudian menghancur
lumatkan tubuhmu menjadi abu"
"Huuuh Mau mencincang aku? Cuma mengandaikan ilmu silat yang kau miliki itu? Jangan
mimpi."
Rupanya sewaktu Han siong Kie tiba ditempat kejadian., ia menyaksikan markas besar dari Kay
pang sudah dikepung rapat oleh musuh-musuhnya.
Tanpa menimbulkan suara sianak muda itu segera mengeluarkan ilmu silatnya dan menotok
mampus ke seratus dua puluh orang jago Thian che kau yang mengepung di luar kuil, setelah itu
bagaikan kelelawar dia menyusup masuk kedalam kuil.
Waktu itulah dia saksikan para tianglo dan ciangbunjin Kay pang sedang menghadapi keadaan
yang terancam, setelah memberi pesan kepada anak murid Kay pang yang berjaga-jaga di luar
kuil diapun tampilkan diri untuk menyelesaikan persoalan itu
Betapa gusar dan mendongkolnya suma Hiong setelah mengetahui bahwa rencana penyerbuan
mengalami kegagalan total, ia tahu tak mungkin baginya untuk memberi pertanggungan jawab
dihadapan kaucunya setelah mengalami kekalahan total seperti hari ini. apalagi semua anak
buahnya telah terbunuh habis.
Rasa dendam dan marahnya serta merta dilampiaskan keatas tubuh pemuda itu, sambil
menggertak gigi katanya:
" Kau tidak percaya dengan kemampuanku? Apa salahnya kalau kita buktikan bersama2"
Begitu selesai berbicara, ia menerjang ke muka dengan garang, secepat sambaran kilat secara
beruntun iblis ini melepastan tiga buah serangan berantai.
Han siong Kie tidak berusaha menghindar atau berkelit, dengan melontarkan sepasang telapak
tangannya kemuka dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaaang" suata ledakan keras yang memekikkan telinga berkumandang diudara, suma Hiong
tak sanggup menahan kedahsyatan musuhnya, secara beruntun ia terdesak mundur lima langkah
lebar.
Gelombang angin pukulan yang tersebar keempat penjuru menyapu bersih setiap benda yang
ada diseputar lima kaki dari gelanggang, bukan saja kawanan jago dari Kay pang terdesak sampai
mundur tunggang langgang, tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau yang masih hidup
pun pontang panting dibuatnya dengan muka pucat.
sungguh girang tak terkirakan pengemis dari selatan setelah melihat kedahsyatan saudaranya,
tak kuasa lagi ia berteriak keras:
"saudara cilik puas.. sungguh memuaskan.... Hajar sampai buntung bajingan itu"
setelah merasakan kedahsyatan musuhnya, kepongahan serta kejumawaan suma Hiong lenyap
tak berbekas, keadaannya pada saat ini ibarat bola yang kehilangan udara, dengan loyo
bercampur ketakutan ditatapnya pemuda itu tanpa berkedip.
Mimpipun ia tak menyangka kalau pihak musuh mempunyai kepandaian silat sedahsyat itu,
bahkan boleh dibilang tak bisa diterima dengan akal sehat, siapa yang menyangka kalau seorang
pemuda ingusan ternyata berilmu tinggi
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Han siong Kie, selangkah
demi selangkah ia maju kedepan, katanya dengan suara dingin
"Aku meminjam mulutmu untuk menyampaikan pesan kepada kaucu kalian, katakan bahwa
dalam beberapa hari mendatang aku akan berkunjung sendiri ke Lian huan tau untuk membuat
perhitungan. suruh dia bersiap sedia menyambut kedatanganku. Nah, sekarang kau boleh pergi,
aku telah berjanji untuk mengampuni jiwamu.."
sebagai seorang yang berilmu tinggi sudah tentu suma Hiong tak sudi untuk menyerah kalah
dengan begitu saja, ia membentak keras:
"Manusla bermuka dingin, kau jangan tekabur lebih dulu, sambutlah pukulanku ini."
sepasang telapak tangannya diayun kemuka secara beruntun dalam sekejap mata ia telah
melepaskan delapam serangan berantai.
semua ancaman yang dilontarkan itu menggunakan jurus serangan yang aneh dan sakti, bukan
saja jarang ditemui dikolong langit, keganasannya betul-betul mengerikan, seketika itu juga si
anak muda itu terdesak mundur sejauh lima depa kebelakang.
setelah berhasil dengan ancamannya suma Hiong tak sudi memberi kesempatan kepada
musuhnya untuk melancarkan serangan balasan, dia susulkan lagi dengan lima buah serangan
berantai.
Tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau tidak berpeluk tangan belaka, menggunakan
kesempatan yang sangat baik itu, mereka terjun pula kedalam gelanggang, untuk membantu
pemimpinnya.
Bentakan-bentakan gusar menggelegar di angkasa, dua puluh sosok bayangan manusia terjun
kedalam gelanggang dan menghadang jalan pergi ketujuh orang musuhnya, pertarungan massal
tak dapat dihindari lagi.
sementara itu suma Hiong sudah melancarkan serangan dengan jurus yang kelima, tiba-tiba
Han siong Kie berkelit kesamping dengan kecepatan yang tak terhingga, begitu berada tiga depa
disamping kalangan, keli ma jari tangan kanannya segera disodokkan kedepan-
Jerit kesakitan memecahkan kesuyian, secara beruntun suma Hiong mundur beberapa langkah
ke belakang, lengan kanannya terkulai lemas kebawah, separuh badannya basah kuyup
bermandikan darah segar.
"Suma Hiong " kembali Han Siong Kie berkata demgan ketus, " untuk kesekian kalinya kuberi
kesempatan kepadamu untuk berlalu dari sini, ketahuilah kesempatan ini adalah kesempatan yang
terakhir. bila kau tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji "
suma Hiong bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu bila kesempatan ini tidak dipergunakan
sebaik-baiknya, niscaya dia akan mati konyol ditempat itu.
setelah melotot sekejap ke arah pemuda itu, dengan pandangan penuh kebencian ia berkata:
"Manusia bermuka dingin, tunggu saja sampai tanggal mainnya"
Tanpa banyak berbicara lagi, ia menjejakkan kakinya ketanah dan melarikan diri terbirit-birit
dari sana.
Melihat pemimpinnya sudah kabur, tujuh orang jago dari Thian che kau itupun tak berani
melanjutkan pertarungan, serentak mereka memberi tanda dan memperketat serangannya,
setelah berhasil memaksa mundur lawannya, orang-orang itu melompat ke atas atap rumah dan
berusaha melarikan diri dari situ.
"Hmm Kau mau pergi kemana?" jengek Han siong Kie sinis.
Ketika sepuluh jari tangannya dilontarkan kemuka, munculah sepuluh buah desingan angin
tajam ke depan.
Jerit kesakitan berkumandang saling menyusul, dalam waktu singkat tujuh orang jago pedang
yang mencoba untuk melarikan diri itu sudah rontok ketanah bagaikan burung yang kena ketapel.
Melihat musuhnya sudah terbasmi habis, ketua Kay pang baru memburu maju sambil memberi
hormat, serunya dengan wajah bersyukur:
"oooh... sungguh beruntung Han ciangbunjin datang tepat pada saatnya, kalau bukan bantuan
ciangbunjin niscaya perkumpulan kami sudah hancur ditangan iblis itu, budi kebaikan ini tak akan
kami lupakan untuk selamanya"
Buru2 Han siong Kie balas memberi hormat sahutnya:
"Aaah, perkataan dari ciangbunjin terlampau serius, sudah sepantasnya kalau kita sebagai umat
persilatan saling membantu dikala sedang susah, apalagi perkumpulan kami termasuk salah satu
korban dari keganasan mereka, sewajarnya aku bantu kalian untuk menghadapi mereka"
Pengemis dari selatan memburu pula ke depan, walaupun dengan langkah yang gontai, noda
darah masih membekas diujung bibirnya, namun tidak mengurangi kegembiraannya, dengan
wajah berseri ia berseru:
"Haaah haaahhh haaahh saudara cilik, hayo ikut aku menuju keruang belakang, aku akan
bercakap-cakap sampai puas dengan dirimu, aku tahu engkau paling segan dengan segala macam
tata cara yang sok. ayo ikuti aku"
Han siong Kie pun mohon diri dengan ketua Kay pang beserta jago-jago lainnya, kemudian
dengan mengikuti dibelakang pengemis dari selatan mereka menyingkir keruang belakang.
Ruangan itu kecil sekali dan merupakan kamar semedi yang tak begitu luas, Han siong Kie
duduk saling berhadapan dengan saudara tuanya.
setelah hening sesaat dengan kerutkan kening pemuda itu menegur. " Engkoh tua, aku lihat
luka yang kau derita tidak enteng"
"Aah apa artinya luka seringan ini? Kejadian ini sudah merupakan suatu keberuntungan bagi
kami, andaikata saudara cilik tidak datang tepat pada waktunya niscaya perkumpulan kami sudah
mengalami kehancuran total"
Menggunakan kesempatan itu Han siong Kie teringat kembali akan beberapa persoalan, iapun
berkata:
" Engkoh tua, ada beberapa persoalan aku ingin mohon bantuanmu, apakah kau bersedia untuk
membantu?"
""Heeeh heeeh heeh dalam hal apa Katakan saja, sekalipun kau menginginkan batok kepalaku,
sekarang juga akan kupersembahkan kepala ini untukmu"
"Aah, engkoh tua memang suka bergurau, tentu saja tidak seserius itu persoalan yang hendak
kukatakan, aku cuma mengharapkan rekan rekan dari Kay pang untuk mencari jejak dari beberapa
orang bagiku, aku tahu Kay pang punya jaringan mata-mata yang luas dan hebat, mencari jejak
orang merupakan pekerjaan yang rutin"
"siapa yang hendak kau cari ? Coba katakan-"
"Ada tiga orang tiang lo dari perguruanku yang tercerai berai dalam suatu pertarungan hingga
kini tak kuketahui kabar berita mereka, maka aku mohon bantuan Kay pang untuk mencarikan
jejaknya ".
"ooh... saat ini akan segera dilaksanakan oleh anak murid kami, aku percaya jejak mereka akan
segera diketahui, siapa lagi yang hendak kau cari.."
"Hekpek siang yau, sepasang siluman yang sudah tersohor namanya semenjak enam puluh
tahun berselang "
"Hekpek siang yau? Mau apa kau cari gembong iblis yang luar biasa itu? " seru pengemis dari
selatan dengan jantung berdebar.
Han siong Kie pun menceritakan bagaimana ia menerima sepasang siluman itu menjadi anggota
seperguruannya.
sehabis mendengar kisah tersebut pengemis dari selatan baru paham dengan duduknya
persoalan, ia gelengkan kepalanya sambil berkata:
"saudara cilik, aku benar-benar merasa kagum sekali dengan kehebatanmu, tak nyana nasibmu
memang mujur dan hok ki mu besar, gampang, soal ini gampang sekali, segera akan
kuperintahkan anak muridku untuk melakukan penyelidikan"
"Selain daripada itu akupun ingin minta petunjuk tentang satu persoalan lagi."
"Aaah katakanlah sedari kapan engkau mulai belajar bicara menela-menele begitu? Hayo
utarakan saja secara blak-blakkan"
"Aku dengar dalam dunia persilatan hidup seorang tokoh silat yang ahli sekali dalam hal ilmu
beracun dan orang itu bernama Ban tok cousu, apakah tokoh silat ini masih hidup didunia ini."
"Mengapa engkau menanyakan persoalan ini"
"Racun Gi hang tok ko (buah racun berubah wujud) yang salah dimakan oleh Hekpek siang yau
katanya hanya bisa dipunlahkan oleh dia seorang, aku hendak mohonkan pengobatan bagi kedua
orang itu"
Pengemis dari selatan termenung dan berpikir sebentar, kemudian baru menyahut: "Aku rasa
kemungkinan besar dia masih hidup didunia ini"
"Jadi hanya suatu kemungkinan belaka ?"
"Benar, aku hanya bisa mengatakan mungkin, sebab kalau dihitung dengan jari tangan maka
pada tahun ini Ban tok cousu sudah berusia diatas seratus tahun, pada dua puluh tahun berselang
aku pernah mendengar orang berkata bahwa raja racun yang sangat lihay ini menetap didalam
telaga beracun..."
"Telaga beracun ?"
"Oooh, belum pernah kau dengar tentang nama telaga ini"
"Belum "sahut sianak muda itu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Luas telaga beracun ini hanya setengah hektar dan letaknya dalam lembah hek kok (lembah
hitam) yang berada dibukit Tay keng san, air telaga itu sangat beracun dan siapa saja yang
terkena air itu niscaya akan mati secara konyol. Kendatipun begitu aku tak berani memastikan
seratus persen benar, sebab sampai detik ini belum pernah kubuktikan sendiri kebenaran dari
berita ini "
"Sekalipun Ban tok cousu kebal racun dan lihay dalam menggunakan barang berbisa, toh tidak
sepantasnya kalau dia berdiam dalam air telaga itu?" kata Han siong Kie dengan terperanjat.
"Ada orang menyaksiksn dia masuk keluar dalam telaga beracun itu, apa yang sebenarnya
dikerjakan cousu selaksa racun itu tak seorangpun tahu, dengan sendirinya aku sipengemispun tak
bisa memberi jawaban atas pertanyaanmu itu"
"Dalam dunia persilatan terdapat seorang manusia yang bernama Tok kun si dewa racun Yu
Hai, apakah dia adalah ahli waris dari Ban tok cousu yang sangat lihay itu."
"Bukan"
"Bukan? Lalu dari manakah dia pelajari ilmu beracun yang amat dahsyat itu?"
"Asal mulanya Yu Hau cuma seorang Bu beng siau cut prajurit tak bernama dalam dunia
kangou, dua puluh tahun berselang tanpa sengaja ia berhasil menemukan sejilid kitab beracun
yang amat luar biasa, semenjak isi kitab itu berhasil dikuasahi olehnya tersohorlah namanya
sebagai Tok kun atau raja racun, kendatipun namanya saja memakai huruf "kun" yang berarti
orang budiman, tapi pada hakekatnya dia adalah seorang manusia durjana yang berhati busuk".
"Dia telah menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau" sela pemuda itu.
"Bukan kejadian yang aneh kalau ia berkomplot dengan mereka, toh kaum serigala hanya
berkumcul dengan serigala, masa ada serigala bergaul dengan domba ? ketua Thian Che kau
berambisi besar dan bercita-cita untuk menguasahi seluruh jagad, menjadi kaisar dalam dunia
persilatan, dengan segala daya upaya dia mengumpulkan kawanan jago dari pelbagai daerah
untuk memperkuat posisinya, kecuali beberapa perguruan dan partai kenamaan boleh dibilang
hampir semua perkumpulan dan perguruan telah dilalap habis olehnya ya.. beruntung Kay pang
dapat lolos dari musibah ini" Han siong Kie tertawa dingin -
"Heeehhh heeehhh heeehh masa kiamat dari Thian che kau tak akan terlalu lama, tunggu saja
tanggal mainnya "
"Bila kita biarkan perkumpulan itu mengembangkan sayapnya sampai dimana-mana, aku kuatir
dunia persilatan akan terjatuh semua kedalam cengkeremannya"
"Aaah. belum tentu begitu...."
Pengemis dari selatan berpaling dan menatap lekat-lekat wajah pemuda itu, bisiknya: "saudara
cilik, engkau terlalu percaya pada kemampuanmu?"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah, ia tidak mengucapkan sepatah
katapun-
Rupanya pengemis dari selatan menyadari kekhilafannya, cepat ia menambahkan:
"saudara cilik, tentunya kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa: "sebuah
balok kayu tak akan mampu menunjang sebuah rumah gedung bukan ? Aku rasa persoalan paling
penting yang harus kau lakukan pada saat ini adalah kembali ke Thian lam serta melakukan
pembersihan terhadap unsur-unsur busuk dalam tubuh perguraanmu, sebab dengan tindakan ini
bukan saja kau dapat menyelamatkan mereka-mereka yang masih setia kepadamu dan terpaksa
harus tunduk diperintah ketua yang sekarang, selain itu kaupun akan memperoleh bantuan yang
amat besar dalam usahamu menghancurkan perkumpulan Thian che kau, tak usah kuatir, setiap
saat setiap detik Kay pang selalu berdiri dibawah komandomu"
Tercekat hati Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, kata-kata dari engkoh tuanya ini
mengetuk sampai ke dalam hati sanubarinya, memang benar ucapannya, bila Wi It beng dibiarkan
berlaku sewenang-wenang tanpa ditindak. niscaya sengsaralah orang-orang yang masih setia pada
kebenaran, kelemahan dari Thian lam bun justru akan muncul dari hal-hal seperti ini."
Tapi ingatan lain cepat melimtas dalam benaknya, teringat olehnya akan suatu masalah yang
jauh lebih penting.
"Apa yang diucapkan engkoh tua memang betul" katanya kemudian dengan dahi berkerut "tapi
sekarang aku telah menjumpai sesuatu masalah yang betul-betul rumit"
" Kesulitan apa? Katakan saja asal aku mampu pasti akan kubantu untuk memecahkannya"
ucap pengemis dari selatan sambit menepuk dada sendiri
"Pertama orang yang benar-benar mengetahui asal usulku yang sebenarnya hanya lima orang
tiang lo dari sebuluh tiang lo ruang goan lo wan yang masuk daratan Tiangggoan- jadi diantara
lima orang tiang lo itu ada dua orang telah tewas dan tiga orang tak ketahuan kabar beritanya,
kedua tanda kebesaran sebagai seorang ketua yakni ok kui cupay telah terjatuh ketangan Thian
che kau, tanpa adanya tanda kepercayaan itu tak mungkin aku bisa menarik kepercayaan dari
murid-murid lainnya, tolong tanya bagaimana caraku untuk mengatasi persoalan ini?"
Mendengar ucapan tersebut terlintas rasa serba salah diwajah pengemis dari selatan, katanya
kemudian-
"Ya a, persoalan ini memang merupakan satu masalah yang pelik, bukankah pekerjaan yang
gampang untuk merebut kembali lencana ok kui cupay dari tangan orang Thian che kau, dan
lagi.."
"Kenapa? " sela sang pemuda.
"Ketua pelaksana perguruan Thian lam yang sekarang wi It beng telah menyatakan
penggabungan diri dengan perkumpulan Thian che kau, istana Huan mo kiong sudah berubah jadi
kantor cabang Thian che kau, aku kuatir kalau tanda kebesaran itu sudah terjatuh ketangan Wi It
beng, aaai... kalau sampai begitu, bukankah sekarang ia telah mempunyai kekuasaan untuk
memerintah segenap anak murid ?"
Air muka Han siong Kie berubah hebat.
"Ehmm, memang ada kemungkinan untuk terjadi peristiwa semacam ini, padahal lencana
tersebut merupakan benda tersuci dan tertinggi dalam perguruanku, siapa yang membawa benda
itu, dialah yang dipertuan, waah, urusan kan menjadi bertambah pelik"
"saudara cilik, kau jangan gelisah dulu, coba kuselidiki keadaan yang sebenarnya" pengemis tua
itu lantas bertepuk tangan tiga kali.
seorang pengemis setengah baya mengiakan dan berjalan masuk kedalam ruangan: "Tianglo,
kau orangtua ada perintah apa?" tanyanya.
"sampaikan perintahku, tanyakan kepada setiap murid yang berada disini apakah di antara
mereka ada yang mengetahui jejak dari ketiga orang tianglo dari Huan mo kiong yang berada
didaratan Tionggoan, kalau ada yang tahu segera datang memberi laporan "
"Terima perintah" sesudah memberi hormat pengemis setengah baya itupun mengundurkan diri
sepeninggal pengemis itu Han siong Kie merasa panik dan tidak tenang, ia merasa bahwa
persoalan yang sedang dihadapi sekarang memang cukup pelik, bukan saja Perintah dari gurunya
Mo tiong ci mo tak dapat diselesaikan, bahkan urusanpun berubah jadi sekacau ini, bukankah dia
akan menjadi manusia yang berdosa bagi perguruan?
Tidak selang beberapa saat kemudian pengemis setengah baya itu datang melapor:
" Lapor tiang lo ada seorang murid bagian kontrol yang bernama Tan Beng siap memberi
laporan"
"suruh dia masuk" perintah pengemis dari selatansetelah
Tan Beng masuk kedalam ruang, pengemis itupun bertanya lagi:
"Apa yang kau ketahui?"
Tan Beng memberi hormat, kemudian bukannya menjawab malahan balik bertanya:
"Yang dimaksudkan sebagai tiga orang tianglo dari Thian lam bun itu apakab tiga orang kakek
berjubah sutera dan membawa toya berkepala setan?"
"Benar " sahut Han siong Kie dengan semangat berkobar.
Pengemis dari selatan mengangguk kepada Tan Beng katanya: "Lanjutkan perkataanmu lebih
jauh"
"Tiga hari berselang ketika hamba sedang melakukan perjalanan melewati Niu kang, pernah
kusaksikan ketiga orang tianglo itu sedang melanjutkan perjalanan menuju ke arah wilayah Thian
lam."
"Baik, kau boleh mundur"
Sepeninggal Pengemas itu, Han siong Kie duduk termangu, ia merasa tak habis mengerti
kenapa ketiga orang tianglonya menuju ke wilayah Thian lam, bukankah tindakan mereka ini sama
artinya dengan menghantarkan diri kemulut harimau ? Tak nanti Wi It beng akan melepaskan
mereka bertiga dengan begitu saja.
Tanpa terasa diapan menguatirkan pula keselamatan dari kelima orang tianglonya yang masih
tertinggal diruang goan lo wan.
sebagai seorang ketua Thian lam bun, tentu saja ia tak dapat membiarkan para tianglonya
menghantarkan kematian, karena itu rencananya semula untuk berkunjung kebenteng maut dan
menyatroni lian huan tau terpaksa dibatalkan.
-000dw000-
SETELAH hening beberapa saat pengemis dari selatan bertanya pula: "saudara cilik apa
rencanamu selanjutnya?"
Han siong Kie menghela napas panjang, sahutnya dengan wajah serius:
"Terpaksa aku harus berangkat ke Thian lam, semoga saja masih sempat untuk menghadang
para tiang lo itu kembali ke sarang harimau"
".. sayang aku sipengemis tua sedang terluka, kalau tidak niscaya akan kubantu usahamu itu"
"Engkoh tua tak usah repot-repot, paling penting merawat dulu lukamu hingga sembuh" cepat
sianak muda itu menampik .
"Bagaimana kalau kupilih kan beberapa orang jago lihay dari perkumpulanku untuk menyertai
perjalanan ini?"
"Tak usah.. tak usah Maksud baik engkoh tua biarlah kuterima dalam hati saja"
"Aaah, perkataan apaan itu? Budi kebaikanmu terhadap kay pang setinggi langit, aah, jemu
untuk membicarakan soal budi, lebih baik tak usah dibicarakan lagi"
" Engkoh tua aku bermaksud untuk segera melanjutkan perjalanan mumpung masih sempat
untuk menyusul mereka"
"Ehm, begitupun ada baiknya, aku akan segera mengirim berita kilat kekantor- kantor cabang
dan menyuruh mereka menghadang jalan pergi ketiga orang tiang lo itu"
"Terima kasih atas bantuan engkoh tua"
"Juga tentang jejak dari Hekpek siang yau, aku percaya tak lama kemudian berhasil ditemukan
anak muridku, pasti akan kukirim kabar itu padamu secepatnya"
"Kalau begitu siaute mohon diri lebih dulu" ucap Han siong Kie seraya bangkit berdiri
"Selain itu.?"
"Apakah engkoh tua ingin mengucapkan sesuatu lagi??" Pengemis dari selatan mengangguk.
"Kantor cabang kami di Nio kang meliputi daerah operasi sampai wilayah Thian lam, jika kau
ada urusan minta saja bantuan dari mereka, pasti akan kupesan sendiri kepada toucunya untuk
mengabarkan berita ini kepada anak buahnya, lencana bambu ini boleh kau terima, bila ada
keperluan gunakanlah lencana ini sebagai tanda pengenal "
"Akan siaute ingat selalu dihati, baik-baiklah jaga diri engkoh tua" kata pemuda itu kemudian
setelah menerima lencana bambu itu.
"semoga kau sukses selalu"
"selamat tinggal"
Han siong Kie telah meninggalkan markas besar kay pang di kuil Bu hao si dan melanjutkan
perjalanannya menuju Thian lam.
Waktu itu fajar baru menyingsing, suara ayam berkokok memecahkan kesunyian dipagi itu.
Bintang masih tersisa di langit, angin pagi yang dingin berhembus lewat menyegarkan badan,
Han siong Kie melakukan perjalanannya dengan kecepatan penuh.
Tiga li baru lewat, ketika secara tiba-tiba sesosok bayangan manusia diantara remangremangnya
cuaca orang itu menghadang jalan perginya.
Han siong Kie merasa kaget dan mengerem gerak laju tubuhnya, tapi setelah mengetahui siapa
yang berada dihadapannya ia berseru tertahan-"Aaah nona.. rupanya kau"
Tak asing lagi orang itu bagi Han siong Kie sebab dia tak lain adalah orang yang ada maksud.
"oh masih kenal dengan aku?" sapa orang yang ada maksud sambil tertawa aneh.
"Ada urusan apa nona berdiri disini"
"Menunggu kau"
"Menunggu aku" bisik pemuda itu sambil mundur selangkah karena tercengang, "dari mana
nona bisa tahu kalau aku berada disini dan akan lewati jalan ini?"
0000d0w0000
BAB 70
"AH terlalu gampang untuk mengetahui jejakmu, bukankah jalan raya disini hanya ada satu?
Asal kami berdua masing-masing menghadang disetiap sudut jalanan ini, pastilah seorang
diantaranya kami akan berjumpa dengan kau, bukankah begitu?"
"Jadi ada orang yang bertugas menantikan kedatanganku? siapa orang kedua itu?"
"Tak perlu kau tahu"
Han siong Kie berkerut kening, selang sesaat kemudian ia bertanya pula. "Ada urusan apa nona
menunggu kedatanganku disini?"
"Boleh aku tahu dulu kemana kau akan pergi...?"
"Ke Thian lam"
"Wah kebetulan sekali, untung aku bertemu dengan kau, kalau tidak maka akibatnya amat
sukar dilukiskan dengan kata-kata"
" Kenapa?" tanya anak muda itu terkejut.
"seorang jago yang mengaku sebagai Manusia bermuka dingin dengan membawa lencana ok
koi cu pai dan memimpin tiga puluh orang jago telah berangkat ke Thian lam untuk mengambil
alih kursi kebesaran dari Wi It beng, bahkan ketiga orang tianglo dari perguruan Thian lam bun
pun menyertai dirinya.
"Manusia bermuka dingin ? Boleh aku tahu ada berapa orang manusia muta dingin didunia ini?"
tanya Han siong Kie keheranan-
"Tentu saja hanya satu"
" Kalau memang demikian, aku jadi tidak mengerti, dengan apa yang nona maksudkan?"
"Untuk mengangkangi istana Huan mo kiong, pihak Thian che kau telah mengutus seorang
utusan khususnya menuju ke Thian lam untuk mengambil oper kedudukan wi It beng, bukan saja
utusan khusus itu telah menyaru seperti kau, bahkan membawa pula lencana ok kui cu paya "
"Aah, masa telah terjadi peristiwa seperti ini?" teriak Han siong Kie terkesiap.
orang yang ada maksud segera tertawa dingin
"Memangnya aku membohongi kau, Ketahuilah, utusan khusus dari Thian che kau yang
menyamar sebagai dirimu itu bernama Thio Wi wan "
"Tadi nona mengatakan bahwa dalam rombongan ini terdapat pula tiga orang tiang lo dari
Thian lam bun serta dua puluh orang jago lihay, siapakah mereka itu?"
"Ketiga orang tianglo itu masing-masing bernama To It Hui, Ang pat siu serta san jin ho,
mereka dengan menyertai manusia muka dingin gadungan itu berangkat ke Thian lam untuk
melakukan pembersihan terhadap perguruannya."
"Masa ketiga orang tianglo itu tak dapat membedakan mana yang asli dan mana yang
gadungan?"
"Dalam tubuh perkumpulan Thian che kau terdapat aneka ragam jago yang rata-rata berilmu
tinggi, termasuk pula ilmu menyamarnya, mungkin kau sendiripun akan pangling dibuatnya"
Han siong Kie merasa darah panas dalam tubuhnya mendidih, hawa napsu membunuh
menyelimuti wajahnya, dengan penuh kebencian serunya: "Mereka harus dijagal semua"
"Siapa yang akan kau jagal"
"Semua anggota perkumpulan Thian che kau, dari ketua sampai pelayan-pelayannya"
"Urusan yang tak penting lebih baik tak usah kau bicarakan dulu, ketahuilah Thia We wan yang
menyaru sebagai dirimu dengan membawa ketiga orang tianglo dari dua puluh orang jagonya
sudah berangkat semenjak tiga hari berselang, padahal dengan kepandaian yang di miliki mereka
dalam tujuh hari saja istana Huan mo kiong sudah tercapai, kau sudah ketinggalan tiga hari. aku
kuatir tak mungkin bisa kau susul diri mereka"
Han siong Kie tidak menjawab, pikirnya dalam hati:
" Engkoh tua sudah mengirim surat kilat kepada kantor cabangnya dan memerintahkan anak
murid Kay pang menghalangi jalan pergi ketiga orang tianglo itu, tapi dengan adanya utusan dari
Thian che kau, situasi jadi makin berbahaya, aku harus segera mengejar dengan sepenuh tenaga,
siapa tahu bisa kutempuh perjalanan siang malam sebelum mereka tiba di antara Huan mo kiong,
aku bisa sampai duluan?" Berpikir sampai disini ia lantas bertanya: "Nona mendapatkan
keterangan ini dari mana?"
"Kau tak perlu tahu, pokoknya kedatangan aku kemari adalah untuk menyampaikan kabar ini
kepadamu"
"Terima kasih atas bantuan nona, kalau begitu aku akan segera melakukan perjalanan-"
"silahkan"
setelah menjura, berangkatlah Han siong Kie meninggaikan tempat itu, cepat sekali gerakan
tubuhnya, dalam sekejap mata ia sudah berada jauh sekali dari sana.
Menanti bayangan punggung pemuda itu sudah lenyap dari pandangan, orang yang ada
maksud baru menghela napas panjang, ia melepaskan kain kerudungnya sehingga tampaklah
wajahnya yang cantik, dari sakunya dia itu mengambil secarik sapu tangan dan menyeka air mata
dikelopak matanya.
Mengapa nona itu bersedih hati? Tak seorangpun yang tahu
Dalam pada itu Han siong Kie telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh Ho keng gin im nya
hingga mencapai pada puncaknya, siang malam ia menempuh perjalanan tiada hentinya, beratusratus
li sudah ditempuh dengan kecepatan penuh.
Hari ketiga, sebelum lohor pemuda itu sudah tiba dikota sik bun ki, suatu kota yang berjarak
tiga ratus li dari istana Huan mo kiong.
Dikota sik bun ki inilah kantor cabang Kay pang untuk wilayah Niu kang bermarkas.
Akan tetapi sampai waktu itu, bukan saja tiada kabar berita dari pihak kay pang, jejak ketiga
orang tianglo itupun tak ada yang tahu.
Han siong Kie semakin kuatir, ia merasa tak ada harapan lagi untuk menyusul ketiga orang
tianglonya.
Pemuda itupua sadar, jika orang yang menyaru sebagai dirinya tiba lebih dahulu di istana Huan
mo kiong dengan tampangnya yang persis seperti dirinya serta andaikan lencana ok kui cu pai,
tidak susah baginya untuk mendapat kepercayaan dari orang-orang perguruan dan bila sampai dia
mendapat kepercayaan penuh dari anggota Thian lam bun yang setia, runyamlah keadaan dan
hancurlah perguruan itu.
Denggan langkah yang lambat ia memasuki sebuah rumah makan yang memakai merek "Ing
khek ki", sambil melepaskan lelah dan menangsal perut, pemuda itu hendak menggunakan
kesempatan tersebut untuk mencari akal guna menanggulangi kejadian ini.
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Han siong Kie, mari kita bercerita kembali
setelah To It hui, Ang Pat sin dan Wi Jin ho mendapat tugas untuk mengubur jenasah seng Thian
pa dan Liok sau tan yang mati dalam pertarungan melawan gerombolan wi It beng.
setelah menyelesakan tugas menguburkan, ketiga orang tianglo ini melakukan perjalaran kian
kemari untuk mencari jejak Han siong Kie, akan tetapi jejak dari ketuanya ini lenyap tak berbekas,
mereka jadi murung tak habis mengerti.
Ditengah jalan secara kebetulan mereka mendengar kalau Wi It beng telah menjual perguruan
Thian lam bun kepada pihak Thian che kau, bahkan istana Huan mo kiong telah dirubah menjadi
kantor cabang Thian che kau untuk wilayah Thian lam.
Melihat keruntuhan yang mengancam perguruan ini, ketiga orang tianglo ini jadi marah
bercampur sedih, mereka lantas mengambil keputusan untuk berangkat ke Thian lam serta
mengumpulkan anak murid yang setia untuk bersama membasmi Wi It beng dari muka bumi.
Dalam perjalanan menuju ke Thian lam inilah, secara tak terduga ketua mereka, Han siong Kie
telah muncul dengan membawa dua puluh orang jago bersenjata lengkap. menurut keterangan
kedua culuh orang ini adalah anggota baru Thian lam bun yang baru diterimanya. sungguh
gembira sekali ketiga orang tianglo tersebut menjumpai kenyataan itu.
Mereka lebih percaya lagi setelah Ciangbun suhengnya menunjukkan tanda kebesaran ok kui
cupay, malahan mennrut pengakuan ciang bun suhengnya ini lencana tersebut berhasil dirampas
kembali setelah berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya.
Tentu saja mimpipun mereka tak menyangka kalau ciangbun suheng yang berada dihadapan
mereka ini sebetulnya adalah ciang bun suheng gadungan-
Meskipun dalam hal berbicara dan tingkah lakunya banyak hal yang mencurigakan ketiga orang
tianglo ini, tapi dengan manisnya "Han siong Kie" gadungan berhasil memberi jawaban yang
memuaskan, hal ini membuat ketiga orang tianglo itu semakin percaya.
Tatkala rombongan tiba dikota sik bun ki, anak murid Kay pang cabang wilayah Niu kang yang
baru mendapatkan surat kilat dari markas besarnya segera memberi penyambutan yang meriah,
bahkan setiap saat menanti perintah mereka.
Tindakan ini sama sekali diluar dugaan siapa pun, tentu saja perbuatan dari orang Kay pang
mencengangkan mereka.
Thia Wi wan yang menyamar sebagai Han siong Kie gadungan tidak terlampau curiga oleh
tindakan Kay pang ini sebab dalam anggapannya kaum pengemis itu sudah menggabungkan diri
dengan Thian che kau, maka segala sesuatunya ini tentulah kaucu mereka yang mengatur.
Karena itu diapun tidak memberikan reaksi apa-apa, sebaliknya menerima sambutan itu
sewajarnya.
Begitulah kesalahan paham yang terjadipada waktu itu, oleh karena kedua belah pihak tidak
mengucapkan apa-apa, tentu saja siapapun tak menyangka kalau apa yang sedang berlangsung
pada hakekatnya adalah suatu kesalah pahaman.
Kita kembali pada Han siong Kie yang asli, ketika tidak berhasil mendapatkan akal yang jitu
untuk menanggulangi kesulitan tersebut, dengan uring-uringan dia keluar dari kedai arak itu
Ditengah jalan tiba-tiba dari sisi tubuhnya terdengar seseorang berseru kaget ketika ia
berpaling ternyata orang itu adalah seorang pengemis tua yang berpakaian tambal-tambalan.
satu ingatan dengab cepat melintas dalam benaknya, ia berpikir:
"sebelum berpisah dengan engkoh tua pengemis dari selatan, ia telah berpesan kepadaku bila
ada kesulitan minta saja bantuan dari Kay pang, kenapa aku tidak mencari berita dari mereka?"
serta merta ia membuntuti kemana perginya pengemis tua itu.
sebentar kemudian mereka sudah keluar dari kota dan menuju ke tanah alas yang sepi
sebelum Han siong Kie sempat mengucapkan sesuatu, pengemis tua itu telah berpaling seraya
memberi hormat, katanya:
"Ditempat ini banyak tersebar mata-mata dari istana Huan mo kiong, sebelum rencana disusun
dengan matang, lebih baik ciangbunjin sedikit merahasiakan jejakmu"
"Rencana? Rencana apa?" tanya Han siong Kie.
Ucapan itu membuat si pengemis tua jadi terbelalak. lama sekali dia termangu sebelum
akhirnya bertanya:
"Bukankah engkau adalah Han sauhiap. ketua dari Thian lam bun ?"
"Betul"
"Maksudku lebih baik untuk sementara waktu ciangbunjin kembali dulu kedalam kuil Po cu bin,
agar supaya..."
(Bersambung ke Bagian 46)
Karya : Khu Lung
Saduran : Tjan ID
Ebook oleh : Dewi KZ dan ‘aaa”
http://kangzusi.com/ atau http:// http://dewikz.byethost22.com/
36
"Urusan rumah tanggamu sendiri?" tanya pengemis dari selatan dengan sepasang mata
melotot.
"Begitulah kenyataanya engkoh tua, harap engkau bisa memaklumi keadaanku ini"
"Tapi saudara cilik. tahukah engkau bahwa luka yang kau derita cukup parah?"
"Tidak menjadi soal, luka itu tak kuperhatikan sama sekali" sahut Han Siong Kie sambil tertawa
getir, "bagaimana pun ku harap kalian berdua segera tinggalkan tempat ini?" .
Baik pengemis dari selatan maupun padri dari utara sama2 adalah jago persilatan yang sudah
berpengalaman selama puluhan tahun, tentu saja segala tata cara dan tetek bengek tersebut
dipahami olehnya, mereka tahu bahwa urusan rumah tangga orang lain tidak pantas dicampuri
orang lain oleh karena itu sesudah saling berpandangan sekejap, akhirnya mereka berkata:
"Baiklah, kalau engkau sudah berkata demikian kami jadi tak baik untuk tetap berada disini.."
Berbicara sampai disitu mereka lantas putar badan dan berlalu dari sana.
"Hmm Memangnya kalian berdua hendak pergi dengan begitu saja?" tiba2 Wi It beng menegur
kembali dengan mendengus dingin.
"Ada apa?" tanya pengemis dari selatan dengan alis berkenyit. "memangnya engkau sudah
penuju dengan aku sipeminta tua?"
"Tetapi sekali ucapanmu itu aku memang penuju sekali dengan dirimu. Bukankah kamu berdua
sudah kenali ilmu Boan yo sin kang milik kaisarmu ?"
"Nah, itulah dia.. akan kuhantar kalian berdua untuk pulang kealam barat dengan kepandaian
sakti itu, dari pada hidup didunia toh kalian bakal cerewet belaka?"
Dari ucapan itu jelaslah sudah kemana Wi It beng membawa pembicaraan tersebut, rupanya
dia berhasrat untuk melenyapkan kedua orang jago itu berhubung perbuatan busuknya atas
geteja siau lim si sudah ketahuan.
Bilamana ilmu silat yang dimiliki Han siong Kie tidak terlalu lihay, tak nanti ia keluarkan ilmu
Boan yo sinkang tersebut tapi sekarang dia bertujuan lenyapkan Han siong Kie dan merampas
lencana ok kui cupay untuk menegakan kembali kewibawaannya sebagai seorang Tee kun,
terpaksa kepandaian simpanannya itu dikeluarkan. sementara itu Padri dari utara telah merangkap
tangannya sambil berkata:
"Omitohud Kalau toh sicu memang berhasrat begitu, rasanya tiada perkataan lain yang bisa
kukatakan lagi, bila ingin turun tangan silahkan saja segera turun tangan"
Pengemis dari selatan menyambung sambil tertawa tergelak:
"Haaah haaah haaah betul, memang tepat sekali ucapan tersebut, Kalau memang engkau
sudah penuju pada diriku, akupun tidak akan banyak bicara, toh aku si pengemis tua sudah bosan
hidup ... hayo ambillah nyawaku ini"
sudah tentu Han siong Kie tidak mengijinkan kedua orang tua itu terlibat dalam persoalan
perguruannya sendiri, dengan gelisah bercampur gusar dia maju dengan sempoyongan, sambil
menahan sakit dalam isi perutnya ia berseru kepada dua orang tokoh silat itu.
"Engkoh tua, locianpwe Disini sudah tak ada urusanmu lagi, aku harap kalian berdua segera
tinggalkan tempat ini"
"Eeh... memangnya engkau tidak dengar bahwa orang lain tidak mengijinkan aku berdua
tinggalkan tempat ini?" sahut pengemis dari selatan dengan mata melotot.
"Engkoh tua, loocianpwe Ketahuilah mencampuri urusan rumah tangga orang lain merupakan
pantangan terbesar bagi umat persilatan, aku minta janganlah kalian bikin hatiku jadi susah dan
serba salah"
"Kuakui kalau ucapan saudara cilik tidak salah, tapi engkau tua dan menyaksikan sendiri bahwa
situasi yang kita hadapi sekarang sama sekali berlainan, aku rasa engkau sendiripun-."
"Engkoh tua, ataukah kalian hendak menunggu sampai saudara cilikmu ini mempersilahkan
sendiri kepergianmu?" tukas anak muda itu secara tiba2.
sudah tentu maksud dari Han siong Kie mengusir dua orang sahabatnya itu bukan lantaran
apa2, maksud yang sebenarnya adalah karena dia tak tega menyaksikan kedua orang sahabatnya
ini ikut jadi korban di tangan lawan, jelas ilmu silat mereka masih belum sanggup menandingi
lawannya, bila Wi It beng berhasrat membunuh mereka jelas itu bukan pekerjaan yang terlalu
menyulitkan dirinya.
Wi It beng bukan orang bodoh, dia sendiripun tahu kalau akan maksud hati anak muda itu,
kontan dia tertawa seram.
"Haaah haah haaah Manusia berwajah dingin, lebih baik tak usah buang waktu dan tenaga
dengan percuma, ketahuilah nasibmu telah berada ditanganku, akulah yang akan menentukan
kalian semua harus mampus sekarang juga atau tetap hidup dikolong langit "
"Manusia bedebah, jangan tekebur lebih dahulu, ucapan semacam itu terlalu pagi kalau
diutarakan pada saat sekarang " hardik Han siong Kie dengan gusarnya.
sekali lagi dia ayun lencana ok kui cuipay nya ketengah udara, segenap sisa kekuatan yang
masih dimilikinya disalurkan kedalam lencana tersebut, tampaklah sekilas cahaya tajam langsung
memancar kedepan dan mencapai sejauh satu kaki dari kedudukan pemuda itu.
Gerakan ini sangat taktis dan tepat, karena gegabah dan kurang perhatian Wi It beng seketika
terkurung oleh cahaya tajam tersebut, sementara pikirannya jadi buyar, Han siong Kie telah
melancarkan serangan mautnya dengan ilmu jari Tong kim ci.
Dengus tertahan memecahkan kesunyian, tak tahan wi It beng roboh terjengkang ke atas
tanah.
Han siong Kie segera membentak keras:
"Tianglo berlima, dengarkan perintah segera perintahkan dua orang tamu ini untuk tinggalkan
gelanggang"
Lima otang tianglo itu serentak mengiakan, lima belah toya berkepala setan langsung di sapu
kedepan menggulung tubuh pengemis dari selatan dan padri dari utara.
Tentu saja Pengemis dari selatan dan padri dari utara tak ingin melibatkan diri dalam suatu
pertarungan, tanpa menunggu ke lima orang tianglo itu mendekati tubuh nya, mereka sudah
kabur tinggalkan tempat itu.
Menunggu dua orang jago tersebut sudah lenyap dari pandangan mata, Han siong Kie baru
bisa menghembuskan napas lega, dia tarik kembali lencana mustikanya dari sisi maju kedepan
untuk memeriksa keadaan luka Tee kun itu.
siapa tahu batu saja lencana nya ditarik kembali. Tiba2 Wi It beng loncat bangun kemudian
memperdengarkan suara gelak tertawanya yang amat mengerikan.
Betapa tercekatnya hati anak muda itu, dari gelak tertawa yang mengerikan itu, ia tahu bahwa
luka yang diderita pihak lawan sama sekali tidak parah.. Apa yang telah terjadi ?
Rupanya pada saat itu luka yang diderita Han siong Kie sangat parah sekali, disamping itu
diapun harus kerahkan dulu tenaga dalamnya kedalam lencana mutiara.. karena itulah meskipun
angin serangannya dapat telak ditubuh lawan, namun tenaga serangan nya lemah sekali.
Padahal sekujur badan wi It beng terlindung oleh hawa sakti Boan yo sin kang, karenanya
meskipun serangan tersebut bersarang telak di tubuh nya, namun hanya mengakibatkan sedikit
lecet saja pada kulis tubuh nya.
selama ini dia masih tak mampu untuk bangkit, ini bukan akibat dari luka tersebut melainkan
kekuatan tubuh nya lenyap sebab terpengaruh oleh sinar tajam itu.
Maka begitu Han siong Kie menarik kembali serangannya, kekuatan dalam tubuh Wi It beng
pulih kembali. serentak dia loncat bangun.
Dengan mulut mengerikan karena terpengaruh oleh hawa napsu membunuh yang berkobarkobar,
selangkah demi selangkah Wi It beng bergerak maju kedepan.
Kelima orang tianglo itu bertindak cepat melihat ketuanya terancam, serentak mereka
lintangkan toyanya didepan dada dan berdiri dibelakang anak muda itu. Han siong Kie ayun
kembali lencana nya untuk mempengaruhi kekuatan lawan-
Tapi kali ini wi It beng telah membuat persiapan, secepat petir tubuh nya menghindar
kesamping, kemudian sebuah pukulan Boan yo sinkang dilontarkan kedepan.
Desingan angin tajam memekikan telinga bagaikan gulungan ombak samudra ditengah
hembusan angin puyuh langsung menerjang tubuh Han siong Kie serta kelima orang tianglonya.
Han siong Kie berenam jadi terperanjat, tanpa berpikir panjang mereka ayun pula telapak
tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
"Blaaamm.." suatu ledakan keras menggelegar di angkasa, dengan sempoyongan kelima orang
tianglo itu terdorong mundur sampai tercerai berai ke mana2, sebaliknya Han siong Kie yang
sudah terluka termakan oleh serangan itu lukanya makin parah, sekali lagi dia muntah darah
segar.
Wi It beng memang seorang jago yang tangguh, meskipun seorang diri harus menghadapi
serangan gabungan dari enam orang, akan tetapi dia hanya dipaksa mundur sejauh tiga langkah.
Kilat tajam sorot mata Wi It beng melebihi tajamnya sembilu, tiba2 dia menyapu sekejap
sekitar hutan ditepi hutan, kemudian tegurnya dengan lantang:
"Tokoh silat dari manakah yang telah berada disitu? Kalau sudah datang mengapa tidak segera
munculkan diri?"
Mendengar seruan itu, semua jago yang ada dalam gelanggang sama2 alihkan sorot matanya
ke arah hutan-..
Gelak tawa yang menyeramkan berkumandang dari dalam hutan, menyusul mana sesosok
bayangan hijau bagaikan sukma gentayangan munculkaa diri dari hutan, begitu cepat gerak
tubuhnya hanya sekejap mata ia sudah tiba dihadapan para jago.
orang itu bukan lain adalah seorang manusia berkerudung yang memakai baju warna hijau.
Mengetahni siapa yang muncul, bergetarlah perasaan Han siong Kie, diam2 peluh dingin
membasahi tubuhnya.
Air muka Wi It beng sendiripun berubah hebat, tegurnya kemudian-"siapa engkau?"
Manusia berkerudung itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, tangan kanannya perlahan
di ayun kedepan dan tahu2 sebuah tengkorak warna merah sudah muncul di depan mata.
"Haah.. Tengkorak maut?" seru Wi It beng dengan hati tercekat.
Paras muka kelima orang tianglo serta kawanan pengawalpun berubah hebat, mereka tak
mengira kalau Tengkorak maut yang di segani tiap umat persilatan di daratan Tionggoan telah
munculkan diri dalam saat begini.
Di antara sekian banyak orang hanya Han siong Kie seorang yang tahu bahwa tengkorak maut
yang berada dihadapannya sekarang ini tak lebih hanya tengkorak maut gadungan, hatinya
bergetar keras dan paras mukanya terpengaruh oleh emosinya.
Dalam sekejap mata suasana dalam gelanggang berubah jadi hening, sepi dan tak kedengaran
sedikit suarapun-
Ditengah keheningan itulah tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, di susul
seseorang berseru kesakitan.
Dengan sempoyongan Han siong Kia mundur kebelakang, darah segar meleleh terus dari ujung
bibirnya.
Dalam sekejap mata itu pula lencana ok kui cupay telah berpindah tangan, kini benda tersebut
telah berada ditangan tengkorak maut yang lihay itu.
Tindakan dari Tengkorak maut ini sama sekali berada diluar dugaan semua orang, siapapun tak
menyangka kalau tokoh sakti itu sudi merampas ok kui cupay tanda kepercayaan dari Huan mo
kiong.
Paras muka Wi It beng berubah hebat, tubuhnya gemetar menahan emosi.
Jauh2 dari Thian lam menuju daratan Tionggoan, tujuan wi It beng adalah melenyapkan Han
siong Kie serta merampas lencana ok kui cupay yang merupakan tanda kekuasaan dari istana
Huan mo kiong, dan kini dikala lencana tersebut hampir terjatuh ke tangannya. Tahu2 sudah
dirampas oleh Tengkorak maut, bisa dibayangkan betapa gusar dan gelisahnya jago ini.
"Tengkorak maut, hayo serahkan kepadaku benda itu" hardiknya keras2.
"Heehh heehhh heehhh apanya yang serahkan kepadamu?" jengek Tengkorak maut sambil
tertawa seram.
"Apa lagi? tentu saja lencana ok kui cupay tersebut"
"Haahh haahhh haaa... Wi It beng menurut apa yang kuketahui, engkau tak lebih hanya
seorang anggota murtad dari aliran Thian lam dan lagi kedudukanmu sebagai Tee kun sudah
terhapus, memangnya lencana ini masih menjadi milikmu??"
"Tutup mulutmu, Jawab saja, mau diserahkan kembali kepadaku atau tidak ....?"
"Memangnya engkau mampu melakukan sesuatu yang luar biasa atas diriku ini? " ejek
Tengkorak maut.
"Bangsat Rupanya engkau memang sudah bosan hidup," teriak Wi It beng dengan gusarnya.
setelah membuat satu gerak melingkar di depan dada, sepasang telapak tangannya langsung
dilontarkan ketubuh Tengkorak maut, bukan saja cepat sekali serangan itu, bahkan ganas dan
keji.
"Waah.. kalau cuma mengandalkan ilmu kucing kaki tiga seperti ini masih jauh kalau ingin
merobohkan aku"
Tiba2 ia melesat kedepan sejauh dua kaki, kemudian ejeknya dengan nada sinis. . "Wi It beng,
manusia tolol sampai ketemu lain kali..."
Berbareng dengan berakhirnya ucapan tersebut, tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan
yang lebat.
Betapa murkanya Wi It beng ketika ia lihat Tengkorak maut telah berlalu dengan begitu saja, ia
berpaling dan melotot sekejap kearah Han siong Kie dan kelima orang tianglo itu dengan tatapan
benci, kemudian dengan wajah menyeringai ucapnya:
"Baik..baiklah... akan kuselesaikan kalian lebih dahulu sebelum kubikin perhitungan dengan
Tengkorak maut"
Keadaan Han siong kie ketika itu sangat lemah, jangan toh harus bertempur, untuk berdiri
sendiripun sudah tak mampu.
Lima orang tianglo itupun merasa sedih bercampur gusar, kini ketua mereka telah terluka
parah, itu berarti mereka berlima tak akan mampu menghadapi kelihayan wi It beng kendatipun
turun tangan bersama2
Dari sikap musuhnya yang begitu seram, merekapun sudah tahu bahwa musuhnya tak akan
melepaskan mereka berenam dengan begitu saja, asal mereka sudah mati maka perguruan Thian
lam pasti akan terjatuh ketangan manusia biadab ini, itu berarti pula bahwa kejayaan dan
kecermerlangan perguruan mereka harus berakhir sampai disini saja.
Walaupun sadar bahwa kepandaian mereka bukan tandingan lawan, namun mereka tak sudi
menyerah kalah dengan begitu saja, mereka bersiap sedia melakukan perlawanan hingga titik
darah yang penghabisan-
Diiringi bentakan nyaring, kelima orang tianglo itu segera putar toya kepala setannya dan
menerjang Wi It beng dengan ganas.
"Bluuk..." suatu jerit kesakitan terdengar, Liok sau tan terhajar telak oleh serangan itu hingga
mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.
Menyaksikan rekannya mati terbunuh, empat orang tianglo yang lain jadi semakin kalap.
serangan mereka semakin gencar, toya saktinya diputar sedemikian rupa sehingga Wi It beng
benar2 kena dikurung ditengah kepungan.
Kematiam rekan seperguruan yang berlangsung didepan mata membuat keempat orang tianglo
itu benar2 teramat gusar, mereka sudah bertekad untuk beradu jiwa, maka setiap serangan yang
dilancarkan Sebagian besar merupakan serangan adu jiwa yang sangat mengerikan-
Dalam waktu Singkat Wi It beng sudah di bikin keteter hebat dan kalang kabut tidak karuan,
posisinya amat terdesak sedang jiwanya terancam oleh mara bahaya.
Lambat laun Wi It beng jadi naik darah juga, ia tahu jika pertarungan dibiarkan berlangsung
terus dalam keadaan begini, niscaya wibawa dan gengsinya akan merosot.
Suatu ketika ia mendengus dingin, kemudian sambil menerjang kemuka secara beruntun dia
lancarkan delapan buah serangan berantai yang cukup gencar, hanya sesaat saja posisi diatas
angin telah terjatuh kedalam genggamannya.
Jerit kesakitan tiba2 berkumandang lagi memecahkan kesunyian, dalam suatu sergapan kllat,
Seng Thian pau tianglo kedua dari istana Huan mo-kiong ini tak sempat menghindarkan diri dari
serangan. dadanya terhajar telak sehingga ia muntah darah segar, tak ampun lagi tubuhnya
terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa.
Kematian dari rekannya yang kedua ini semakin membuat tianglo lain yang masih hidup jadi
kalap. To It hui tianglo pertama, Ang Pat siu tianglo ketiga dan Sah Jin ho tianglo kelima dengan
mata yang berapi-api dan muka menyeringai seram berulang kali membentak keras ibarat guntur
yang menggelegar di angkasa.
Tiga batang toya baja mereka dengan diputar sedemikian rupa merupakan serangkaian
bayangan serangan yang tajam dan tebal bagaikan awan yang memenuhi angkasa, di iringi
desingan tajam serentak menyergap membabat dan menghantam batok kepala musuhnya.
Ketiga orang tianglo ini sudah mata gelap dibuatnya, mereka jadi nekad dan tak takut mati,
dengan sendirinya serangan yang dilancarkan ketiga orang inipun jauh lebih dahsyat lagi.
Wi It beng tertawa terkekeh2, ia tak pandang sebelah matapun terhadap serangan2 musuhnya,
dikerubuti lima orang pun dia sanggup melakukan pembantaian apalagi sekarang musuhnya
tinggal tiga orang.. secara beruntun dia lepaskan dua belas buah pukulan dahsyat.
Begitu kedua belas buah pukulan itu dilancarkan kemuka, secara beruntun terdengarlah tiga
kali jerit kesakitan menggema diangkasa, dalam waktu singkat dari antara lima orang tianglo yang
gagah berani ada dua sudah mampus dan tiga lainnya menderita luka parah.
suasana untuk sesaat jadi hening dan sepi, kendatipun hawa napsu membunuh masih
menyelimuti seluruh angkasa dengan tebalnya.
Wi It- beng tertawa seram, muka nya menyeringai hingga Kelihatan sangat mengerikan,
selangkah demi selangkah ia maju kedepan menghampiri Han siong Kie.
Betapa gusar, benci dan penasarannya si anak muda itu, saking gelisahnya kembali dia
muntahkan darah segar, pada saat seperti ini dia sudah kehilangan tenaga untuk melawan,
padahal Wi it beng sambil tertawa seram maju semakin mendekat tampaknya kecuali meramkan
mata sambil menunggu tibanya ajal, tiada jalan lain lagi yang bisa dia lakukan. Pada detik2
terakhir inilah bayangan kematian berkecamuk dalam benaknya..
Ia teringat kembali akan dendam berdarah nya yang belum terbalas, perintah gurunya yang
belum terlaksana.
Mati bukan berarti bisa melepaskan diri dari se gala2nya, kalau ia sampai tewas dalam keadaan
demikian, maka dia akan mati dengan sepasang mata tidak terpejam.
sekarang ia mulai menyesal, menyesal apa sebabnya melayani pertarungan itu dengan
kekerasan, andaikata kelima orang tianglonya setelah ditolong maka mereka segera
mengundurkan diri, niscaya tidak beginilah keadaannya ....
Tanpa sadar peringatan dari orang yang ada maksudpun berkumandang kembali disisi
telinganya:
"...jangan lukai orang, setelah menyelamatkan jiwa kelima orang tianglo itu, segeralah berlalu
dari situ.."
Benarkah orang yang ada maksud adalah seorang manusia sakti yang bisa meramalkan semua
kejadian yang belum berlangsung?
sementara itu Wi It beng sudah berhenti kurang lebih lima depa dihadapan si anak muda itu,
telapak tangannya perlahan di angkat keudara dan siap melepaskan pukulan-..
Pada detik itulah dari tempat kejauhan tiba2 melayang tiba dua sosok bayangan manusia.
sangat kebetulan kemunculan bayangan manusia itu, Wi It beng yang telah siap melancarkan
serangannya tiba2 membataikan kembali niatnya dan menurunkan kembali telapak tangannya itu.
Yang munculkan diri ketika itu adalah dua orang kakek berbaju kuning, mereka memiliki
perawakan badan yang tinggi besar dan kekar, sepasang mata nya memancarkan cahaya tajam,
itu menandakan kalau tenaga dalam yang mereka miliki telah mencapai puncak kesempurnaan.
Begitu mencapai permukaan tanah, dua orang kakek baju kuning itu segera memberi hormat
kepada Wi It beng seraya berkata:
"Pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau khusus datang menghunjuk hormat untuk
Tee-kun"
"Kalian berdua tak usah banyak adat" kata Wi It beng sambil putar badannya "ada urusan apa
kalian datang kemari??"
"Hamba mendapat perintah dari kaucu untuk datang menghadap Tee kun, ada suatu masalah
penting yang hendak dirundingkan dengan diri Tee kun" sahut salah seorang diantara kedua orang
pelindung hukum baju kuning itu.
"Persoalan apa yang hendak kalian rundingkan??"
"Berulang kali manusia berwajah dingin menyatroni dan membuat keonaran didalam
perkumpulan kami, hingga detik ini sudah mendekati seratus orang anggota perkumpulan kami
yang telah jatuh korban ditangannya, oleh sebab itu kaucu mengusulkan agar Tee-kun bersedia
menyerahkan orang itu kepada kaucu kami, agar kami bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepada dirinya. ."
"Tentang soal ini. "
Dengan cepat pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Wi It beng, ia tahu bilamana Manusia
berwajah dingin diserahkan kepihak Thian che kau, maka tindakannya ini akan mempengaruhi
nama baik serta kewibawaan perguruannya, akan tetapi diapun merasa segan untuk bermusuhan
dengan perkumpulan itu dalam posisi yang serba tidak menguntungkan ini, toh bagaimanapun
juga tujuannya hanya melenyapkan bibit bencana dari muka bumi ?"
Kini lencana ok kui cui pay dari perguruannya sudah dirampas Tengkorak maut, itu berarti bila
dia hendak mengembangkan pengaruh perguruannya maka ia masih harus meminjam kekuatan
dan bantuan Thian che kau.. "
sesudah mempertimbangkan untung ruginya, diapun mengangguk dan menjawab nyaring.
"orang nya boleh saja kalian bawa pergi, tapi terlebih dahulu aku harus musnahkan dulu ilmu
silat yang dimilikinya"
"Terserah kebijaksanaan Tee-kun"
Han siong Kie masih sadar, dengan sendirinya diapun dapat mengikuti jalannya pembicaraan itu
dengan jelas, meskipun setiap patah kata yang diucapkan lawannya amat menusuk perasaannya,
membuat ia jadi gusar dan dadanya serasa mau meledak. akan tetapi sianak muda itu tak mampu
berbuat apa2, dia hanya pasrah pada nasib belaka.
Dalam pada itu, Wi it beng telah memutar badannya menghadap kembali kearah Han siong Kie.
setelah tertawa seram kata nya.
"Menurut peraturan sepantasnya kalau kusebut dirimu sebagai suheng.. haaahh .haaaahh..
haaahhh.. semoga saja sesaat lagi engkau dapat segera berangkat untuk berkumpul kembali
dengan toa supek dialam baka sana."
"Binatang terkutuk, aku menyesal karena tak bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepadamu!" seru Han Siong Kie dengan penuh kebencian "tapi hmm engkau tak usah keburu
bersenang hati, barang siapa tidak jujur dan tidak setia kepada perguruan, suatu ketika dia pasti
akan mati dalam keadaan mengerikan. percayalah saat ajalmu tidak terlalu lama"
"Heeehhh heeeehhh hheeeehhh suheng, sekalipun saat ajalku sebentar lagi akan tiba, sayang
seribu kali sayang engkau tak dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"sukma cousu selalu melindungi perguruannya, dia tak akan membiarkan engkau hidup lebih
lama.."
"Bangsat lebih baik tutup saja bacot anjingmu." bentak Wi It beng dengan gusar.
Dalam suatu bentakan keras dengan sodokan jari tangannya yang kaku bagaikan tombak ia
menerjang kemuka dan mengancam jalan darah cacad ditubuh sianak muda itu.
"Blaang" ditengah benturan keras yang memekikkan telinga, terdengar wi It beng mendengus
berat, dengan sempoyongan dia mundur lima langkah kebelakang.
sekalipun Han siong Kie sudah menderita luka dalam yang cukup parah namun dengan bakat
alamnya yang luar biasa serta daya tahannya yang kuat, serangan balasan yang dilepaskan dalam
keadaan terluka itu tak bisa di anggap enteng. . .
Bagi Wi It beng sendiri serangan balasan tersebut tak pernah dibayangkan sebelumnya, dia tak
menyangka dalam lukanya, pemuda itu masih sanggup melepaskan pukulan sedahsyat itu
sehabis melancarkan sebuah pukulan dengan menggunakan sisa kekuatan yang dimilikinya itu,
luka yang diderita Han Siong Kie menjadi semakin parah, dengan sempoyongan dia mundur
kebelakang, matanya jadi ber kunang2 dan kepala nya pusing tujuh keliling, darah segar kembali
muntah keluar dari mulutnya.
Dari malunya Wi It beng jadi gusar, sepasang telapak tangannya segera diayunkan berbareng
melancarkan bacokan kilat yang maha dahsyat.
Tiga orang tianglo yang menggeletak dengan menderita luka parah sempat mengikuti jalannya
peristiwa ini dengan jelas, mereka sudah meronta bangun sambil bersiap siap memberikan
pertolongan, tapi serangan lawan dilancarkan terlalu cepat, ketiga orang itu tak bisa berbuat lain
kecuali menjerit kaget
"Tee-kun, harap ampuni jiwanya, kaucu kami membutuhkan dirinya dalam keadaan hidup2"
teriak dua orang pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau hampir bersamaan waktunya.
Tapi sayang jeritannya itu agak terlambat, Di tengah jeritan kesakitan, ibarat layang-layang
yang putus benang, tubuh Han siong Kie mencelat ke udara dan meluncur kebelakang.
Mendadak satu kejadian aneh telah berlangsung didepan mata..
Dikala daya luncur dari tubuh Han siong Kie sudah habis dan badannya hampir menyentuh
tanah, tiba2 entah bagaimana caranya tiba2 tubuhnya melayang kembali keudara dan meluncur
kedalam hutan di tepi jalan raya itu..
semua jago berdiri terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya, semua orang tak mampu
ber-kata2 menyaksikan peristiwa aneh itu, hanya dalam waktu singkat tubuh Han siong Kie yang
kekar sudah melayang ke dalam hutan dan lenyap dibalik pepohonan.
sebagai jago2 silat kenamaan rasa kaget itu hanya sebentar menyelimati hati mereka, dengan
cepat orang2 itu sadar pastilah ada seorang tokoh sakti yang sedang bersembunyi disana. .
Peluh dingin mulai mengucur keluar membasahi tubuh mereka, bayangkan saja dari jarak
sejauh beberapa kaki ternyata tokoh sakti itu mampu menghisap sesosok tubuh yang kekar seperti
itu, bilamana tenaga dalam orang itu tidak sangat hebat, mampukah dia melakukan hal seperti
itu?
Belum lenyap rasa kaget yang menyelimuti hati semua orang, tiba2 pandangan mata nya jadi
kabur dan tahu2 seorang kakek tua yang tinggi besar dengan jubah panjang warna kuning,
berkaki telanjang dan berikat kepala warna perak munculkan diri ditengah gelanggang.
Perawakan tubuh kakek itu sangat tinggi besar, sekilas pandangan se-akan2 sebuah buklt kecil
yang sedang bejalan.
Manusia aneh itu mempunyai sepasang mata yang memancarkan sinar warna hijau, begitu
tajamnya sorot mata orang itu membuat setiap jago yang terpandang oleh nya segera hatinya
bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.
Setelah menjapu sekejap orang-orang itu, akhirnya sinar mata manusia aneh itu berhenti diatas
wajah Wi It beng.
Betapa pemberaninya Wi It beng tak urung mundur juga beberapa langkah ke belakang dengan
badan gemetar keras, dengan pengalaman serta kepandaian yang dimilikinya, ia tahu bahwa
manusia aneh itu bukan manusia sembarangan, ilmu silatnya boleh dibilang sudah mencapai
puncak kesempurnaan yang tak terhingga.
Sementara dia masih melamun, Manusia aneh itu sudah menegur dengan suaranya yang keras
bagaikan geledek:
"Hey bocah cilik, kalau kulihat dari kopiah emasmu, jubah sutramu serta dandananmu yang
tidak genah, tentunya engkau adalah ketua dari perguruan Thian lam bukan?"
"Bee.. betul " jawab Wi It beng dengan tubuh bergetar keras, "akulah ketua kaisar dari istana
Huan mo kiong"
"Apa ? Kaisar ? Haaah haaah haaaah kaisar ? sungguh menggelikan"
Gelak tertawa itu keras sekali membuat seluruh permukaan tanah tergetar keras, pucat pias
wajah kawanan jago yang hadir di situ, mereka merasakan darah panas bergelora dengan
hebatnya didada, bahkan Wi It beng pribadipun merasa jantungnya berdebar keras.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya dengan ketiga orang tianglo yang sedang terluka parah,
kontan mereka jatuh terduduk di atas tanah tak mampu berkutik lagi.
Untungnya manusia aneh itu hanya sebentar tertawa nya, kalau tidak cukup hanya tertawa
tergelak niscaya beberapa orang diantara mereka ada yang terluka parah.
Berdiri semua bulu kuduk digubuh Wi It beng, sambil memberanikan diri dia lantas menegur:
"Bolehkah aku tahu siapa nama besar mu?"
"Haah.. Masa engkau tidak kenal dengan aku?"
"Maaf, aku benar2 tidak kenal siapa engkau"
"Heehhh..heehh..heehh.. ketika aku masih berkelana dalam dunia persilatan, mungkin engkau
masih belum menongol dari rahim ibumu, akulah Hun si Mo ong Raja iblis pengacau jagad, sudah
pernah mendengar namaku ini"
Hun si Mo ong, suatu nama yang cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengarkan,
kontan para jago yang hadir dalam gelanggang merasakan badannya jadi lemas dan tak sanggup
berkutik lagi.
Sejak enam puluh tahun berselang jejak Hun si Mo ong secara tiba2 lenyap dari dunia
persilatan, kendatipun begitu nama besarnya selama puluhan tahun masih membekas dalam hati
setiap umat persilatan, tidaklah heran kalau semua orang masih mengenali nama besar dari tokoh
sakti tersebut.
Jago ini tersohor karena ilmu silatnya yang sangat lihay, perasaan girang ataupun gusar sukar
diketahui orang, dan perbuatannya tak pernah menuju kearah kebaikan ataupun kejahatansemua
perbuatannya hanya berdasarkan perasaan hati sendiri.
Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, jarang sekali ada jago silat yang sanggup
melayani tiga gebrakannya, maka dari itu baik jago dari golongan putih maupun jago dari
golongan hitam pada menaruh rasa jeri kepada nya
Enam puluh tahun berselang, diatas puncak Jit koan hong pada gunung Thay san telah
diselenggarakan suatu pertemuan besar para orang gagah, beratus2 orang jago persilatan kelas
satu yang ada dikolong langit telah berkumpul disana, dikala itu Hun si Mo ong hadir pula disana,
hanya cutup di dalam dua gebrakan ia telah berhasil menghajar mampus jago silat nomor satu
dikolong langit.
Atas kejadian itu para jago yang hadir disana jadi gusar hingga terjadilah pengerubutan secara
massal, akan tetapi dalam seperminum teh saja, mayat telah bergelimpangan bagaikan bukit,
darah berceceran membasahi puncak Jit koan hong...
sejak terjadinya peristiwa pembantaian ini tiba2 jejak Hun si Mo ong ikut lenyap dari peredaran
dunia persilatansungguh
tak disangka setelah menghilang selama enam puluh tahun lamanya, tiba2 Raja iblis
pengacau jagat yang lihay ini muncul kembali didalam dunia persilatan, bahkan turun tangan
menyelamatkan jiwa Manusia berwajah dingin yang terancam bahaya, peristiwa ini boleh dibilang
jauh diluar dugaan siapapun.
Tak seorangpun bisa memahami maksud dari gembong iblis ini, mereka cuma bisa berdiri
melongo sambil memandang orang itu tanpa berkata- kata. suasana jadi hening, sepi tak
seorangpun berani buka suara.
-00d0w00-
BAB 54
SESUDAH termenung beberapa saat lamanya, Hun si Mo ong kembali berkata:
" Enam puluh tahun berselang aku telah mengangkat sumpah, bahwasanya orang lain tidak
mengganggu aku, maka akupun tidak akan mengganggu orang lain. Nah Anggap saja nasib kalian
masih mujur, hayo cepat enyah dari tempat ini"
Hampir saja semua orang tidak percaya dengan pendengaran sendiri, siapa juga tak mengira
kalau Hun si Mo ong yang kejam dan lihay ternyata sudah bertobat dan tidak melakukan
pembantaian lagi.
seakan2 baru saja terlepas dari pintu neraka, kawanan jago itu segera melarikan diri terbirit2
dari sana.
Hun si Mo ong tertawa ter bahak2, menanti kawanan jago itu sudah lenyap dari pandangan,
diapun berkelebat dan lenyap dari pandangan mata.
Tak jauh dari hutan itu, Han siong Kie tampak sedang berdiri sambil bersandar di atas sebuah
dahan pohon-
Tak jauh disampingnya berdiri pula seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari turun
dari kahyangan. dia bukan lain adalah malaikat hawa dingin Mo siu ing. Pada waktu itu Mo siu ing
sedang tertawa ringan sembari berkata:
"Hey, manusia berwajah dingin Ketika berada dihutan penyeberangan pohon liu engkau telah
menyelamatkan jiwaku, dan sekarang aku telah membayar budi kebaikanmu itu, berarti pula kita
sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada siapa"
Han siong Kie sakit hati dan termenung tanpa berkata2, ia tak suka budi kebaikan dari orang
lain, terutama dari kaum wanita, tapi dalam kenyataan berulang kali dia harus menerima budi
kebaikan dari kaum perempuan, hal ini membuat ia habis daya dan tak mampu ber-kata2 lagi.
Melihat sianak muda itu membungkam, Malaikat hawa dingin Mo siu ing kembali berkata:
"Kita hanya berjumpa secara kebetulan saja, kebetulan aku dan guruku sedang berangkat
menuju kebenteng maut, dan ketika kami lewat disini kulihat engkau sedang terancam bahaya.."
"Siapa gurumu?" tanya Han siong Kie agak tertegun.
"Siapa lagi kalau bukan Hun si Mo ong??"
sekali lagi Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa dia teringat kembali
akan peristiwa dimasa lampau dimana Ang Nio cu terancam bahaya setelah dihajar sampai terluka
parah oleh Tengkorak maut gadungan, untung Hun si Mo ong muncul secara tiba2 dia membuat
Tengkorak maut gadungan melarikan diri karena ketakutan.
Ia tak mengira kalau Hun si Mo ong yang ditakuti banyak orang itu ternyata tak lain tak bukan
adalah gurunya Malaikat hawa dingin Mo siu Ing.
"Jadi gurumu adalah Hun si Mo ong ?" tanya pemuda itu lagi dengan nada kurang percaya.
"Benar, engkau tak percaya??"
"Dan kalian hendak menuju ke benteng maut??"
"Tentu saja, kami hendak pergi kesana untuk menolong suamiku "
Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak Han siong Kie, kalau toh Hun si Mo
ong adalah gurunya malaikat hawa dingin Mo siu ing, bahkan dia mampu membuat Tongkorak
maut gadungan melarikan diri ter-birit2, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silatnya pasti
tinggi sekali.
Bagaimana jadinya apabila mereka berangkat ke Benteng maut? Belum tentu Tengkorak maut
yang asli mampu menandingi kekuatan mereka, jika dia sampai mati maka bagaimana dengan
dendam sakit hatinya? bukankah harapannya akan lenyap tak berbekas?
Diam2 pemuda itu jadi panik, saat ini tenaga dalamnya belum pulih kembali jelas tak mungkin
baginya untuk membicarakan soal balas dendam, lalu mampukah dia menghalangi orang lain agar
jangan pergi dulu kesana..?
Tapi dengan cepat ia terbayang kembali betapa lihay dan aneh nya ilmu silat yang dimiliki
pemilik benteng maut. sekalipun tenaga gabungan dua orang tokoh sakti ini terhitung dahsyat,
belum tentu usaha mereka akan mencapai kesuksesan.
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 tampaklah sesosok bayangan
manusia berkelebat lewat, menyusul seorang manusia aneh yang tinggi besar telah munculkan diri
didepan mata.
"Suhu, sudah selesaikah urusanmu?" Malaikat hawa dingin Mo Siu ing segera menegur dengan
wajah berseri.
"Ehmm. Perbuatanku sangat terbatas sekali karena terikat oleh sumpahku, aku tak dapat
membunuh orang lagi, terpaksa kububarkan orang2 itu agar berlalu dari sana"
Sekarang Han siong Kie baru tahu kalau manusia aneh yang berada dihadapannya bukan lain
adalah Hun si Mo ong yang ditakuti setiap orang, ketika diketahuinya peristiwa Wi It beng sekalian
tidak sampai dibunuh mati, pemuda itu bergirang hati karena dengan begitu maka dia masih
punya harapan untuk menjatuhi hukuman yang setimpal kepada penghianat perguruannya itu.
Berpikir sampai disitu, anak muda itu segera maju kedepan dan memberi hormat kepada Hun si
Mo ong seraya berkata:
"Locianpwe, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu ini"
"Haaahhh haaahhh haaahhhjangan kau anggap peristiwa itu sebagai suatu kejadian besar" kata
Hun si Mo ong sambil tertawa tergelak, "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyelamatkan
jiwamu, oleh karena muridku pernah menerima pertolongan darimu dan dia temukan engkau
sedang terancam bahaya maka ia minta bantuanku untuk menolong, jadi anggaplah
pertolonganku bukan lantaran engkau, tapi lantaran permintaan dari muridku ini"
Berbicara sampai disini, diapun berpaling kearah Malaikat hawa dingin Mo siu Ing seraya
berkata:
"coba kau lihat, bocah ini mirip sekali dengan suhengmu Ko Su ki "
"Benar suhu.." jawab Malaikat hawa dingin sedih.
sekarang Han siong Kie baru tahu kalau pada mulanya malaikat hawa panas dan malaikat hawa
dingin adalah sesama perguruan dimana dari saudara seperguruan akhirnya mengikat diri menjadi
suami istri.
"Dia tak akan mati bukan?" terdengar Hun si Mo ong bertanya lagi.
"Tecu telah memberi sebutir Kui goan kim wan kepada nya, tecu rasa jiwa nya tidak terancam
lagi"
"Kui goan kim wan ?" seru Hun si Mo ong cepat," Hey budak cilik, engkau benar2 sangat royal,
tahukah engkau selama enam puluh tahun aku bekerja, hasilku hanya tiga butir pil Kui goan kim
wan tersebut, engkau bukan saja sudah makan sebutir, sekarang kau hadiahkan pula sebutir
kepadanya.. waah, terlalu royal"
Malaikat hawa dingin Mo siu ing tertawa jengah setelah mendengar teguran itu, cepat dia
alihkan pokok pembicaraan kesoal lain: "suhu, sekarang sudah waktunya buat kita untuk
berangkat..."
"Baik..baik.. hayo kita berangkat"
Begitulah, tanpa berbicara lagi dua orang jago silat itu segera berlalu dari hutan tersebut,
dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan-
Han siong Kie sendiripun tak mampu berkata2, dia hanya bisa memandang kepergian dua
orang itu dengan pandangan melongo.
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing yang gemar membunuh manusia ternyata rela menghadiahkan
obat Kui goan kim wan mustika perguruanya untuk menyelamatkan jiwa Han siong kie, terhadap
peristiwa itu pemuda kita merasa keheranan dan benar2 tak habis mengerti.
"Mungkinkah obat ini disebabkan karena Han siong Kie berhasil menemukan kabar berita
tentang malaikat hawa panas Ko su ki ? Mungkinkah seumpama sianak mudaitu mengenangkan
lembali dirinya akan kegagahan dan kegantengan suaminya dimasa lampau?
obat Kui goan kim wan benar2 terhitung sebutir obat yang sangat mujarab, dalam waktu
singkat bukan saja rasa sakit ditubuh sianak muda itu sudah lenyap tak berbekas bahkan hawa
murninya telah menghimpun kembali..
Dalam perkiraan si anak muda itu, sesudah kemunculan Hun si Mo ong yang disegani banyak
orang itu, maka tak akan ada manusia yang berani mendekati wilayah itu, tapi dengan tenang dia
lantas duduk bersila sambil bersemedi . Apa yang terjadi kemudian? Ternyata dugaannya itu keliru
besar.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia dengan langkah yang sangat hati- hati
sedang bergerak mendekati tempat pertapaannya.
Nun jauh dibelakang bayangan manusia itu tampaklah bayangan manusia itu sedang
membuntuti bayangan manusia yang pertama. agaknya kedua orang itu mempunyai maksud dan
tujuan yang berbeda.
Mimpipun Han siong Kie tak menyangka kalau jiwanya waktu itu kembali terancam oleh mara
bahaya, dengan kesempurnaan tenaga dalamnya ditambah pula kemujaraban pil Kui goan kiem
wan, hanya dalam waktu singgkat ia sudah berada dalam keadaan tak sadar, kabut tipis berwarna
putih mulai mengepul keluar dari ubun2nya menciptakan selapis kabut tebal diatas kepala nya.
Bila latihan ini berlangsung setengah jam lagi, niscaya luka dalam yang diderita sianak muda itu
sudah sembuh sama sekali.
Bayangan manusia itu kian lama kian mendekat dan akhirnya ia berhenti dibelakang Han siong
Kie, persis pada jarak jangkauan tangannya, siapakah bayangan itu? Dia tak lain adalah Tengkorak
maut gadungan yang berhasil merampas lencana ok kui cu pay dari tangan Han siong Kie itu.
sementara itu pemuda Han siong Kie masih belum merasakan tibanya malaikat maut yang siap
mencabut nyawanya, ia masih duduk bersemedi sambil menyembuhkan luka nya yang diderita.
Telapak tangan dari tengkorak maut gadungan telah diangkat tinggi2, ia siap melepaskan
serangan mautnya, tapi entah apa sebabnya tiba2 telapak tangan yang telah siap melancarkan
serangan maut itu diturunkan kembali, rupanya ia sedang mempertimbangkan perlukah mencabut
nyawa sianak muda itu.
Jikalau ia menginginkan nyawa anak muda itu, maka dengan suatu gerakan yang amat
sederhana, keinginannya itu pasti akan tercapai, namun dalam kenyataan ia telah membatalkan
niatnya itu, atau mungkin dibalik kesemuanya ini dia mempunyai maksud atau tujuan yang lain
Dalam pada itu bayangan manusia yang lain telah melayang pula mendekati dibelakang
Tengkorak maut gadungan, dengan gerakan tubuh yang enteng ia menyembunyikan diri
dibelakang sebuah pohon yang besar.
Gerak gerik orang itu enteng dan gesit, sedikitpun tidak menimbulkan sedikit suarapun,
malahan Tengkorak maut gadungan yang lihaypun sama sekali tidak merasa kehadirannya. dari
sini dapat dibuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki pandatang itu luar biasa hebatnya.
suasana jadi hening, sepi, akan tetapi napsu memburuh yang tebal telah menyelimuti seluruh
angkasa.
37
Kabut putih yang menyelimuti ubun2 Han siong Kie mulai menipis dan akhirnya lenyap
menyusul mana pemuda itu sadar kembali dari latihannya, baru saja dia akan bangkit berdiri..
Mendadak sebuah telapak tangan telah menempel diatas ubun2nya, menyusul seseorang
membentak dengan suara menyeramkan: "Jangan bergerak!"
Betapa terperanjatnya Han siong Kie, ia merasa sukmanya serasa melayang tinggalkan
raganya, suara itu tidak terlalu asing baginya, sebab ia kenali sebagai suara dari Tengkorak maut
gadungan.
Bisa dibayangkan sampai dimanakah rasa bergidik yang mencekam perasaan hati si anak muda
itu, dalam hati dia lantas berseru. "Mati aku Habis sudah riwayatku kali ini.."
Tengkorak maut gadungan tertawa terkekeh kekeh dengan bangganya, ia berseru:
"Bocah keparat, ada satu persoalan hendak kuajukan kepadamu, aku harap engkau bersedia
untuk menjawab dengan sejujurnya"
Sekalipun jiwanya terancam, akan tetapi Han siong Kie tak mau menyerah dengan begitu saja,
dengan wataknya yang tinggi hati dan angkuh ia tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan
orang, dengan ketus ejeknya sinis:
"Tua bangka sialan, engkau manusia pengecut. Beraninya main sergap dikala orang tidak
bersiap sedia, manusia macam apakah dirimu itu?"
"Haaahhh haaahhh haahh keparat, terserah apa yang hendak kau katakan, pokoknya asal
engkau bersedia menjawab pertanyaanku sejujurnya maka akupun bersedia pula memberi
kesempatan kepadamu untuk melangsungkan suatu pertarungan yang seadil2nya"
"Aku tak sudi dipaksa atau diancam, percuma kalau engkau hendak paksa aku untuk menjawab
pertanyaanmu itu".
"Bocah keparat, engkau jangan tekebur Ketahuilah, bila aku berniat untuk mencabut nyawamu
maka perbuatan ini bisa kulakukan dengan gampang sekali"
" Kalau memang begitu, silahkan saja turun tangan "
" Engkau tak takut mampus??"
"Hmm Aku manusia berwajah dingin tak akan sampai mengemis kehidupan kepadamu"
"Baiklah bocah keparat, anggap saja engkau memang bersemangat jantan, cuma sayang..."
"sayang kenapa??"
"Perguruan Thian- lam akan terputus ditanganmu"
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, ia tahu bila dirinya mati maka perguruan Thian lam
akan hancur berantakan, wi It beng pasti akan berbuat se wenang2 tanpa seorangpun berani
menghalangi perbuatannya itu, dan akhirnya perguruan Thian lam akan musnah dengan
sendirinya.
Pemuda itu jadi sedih dan sakit hati, tapi wataknya yang angkuh membuat anak muda itu tak
sudi tunduk kepada orang lain.
setelah termenung sejenak diapun berseru:
"Tua bangka sialan, engkau tak usah banyak bicara lagi, kalau ingin turun tangan hayo cepatlah
turun tangan"
"Jadi engkau benar2 lebih suka mampus daripada hidup??"
"Aku tak akan mengemis hidup darimu, banyak bicara tak ada gunanya ....mau turun tangan
hayo cepat turun tangan, tak usah banyak bacot lagi."
"Kalau memang begitu yaa sudahlah..."
Han siong Kie tak menggubris lawannya lagi, ia segera pejamkan matanya rapat2..
Tiba2 sekilas cahaya perak memancar ke angkasa, diiringi desingan angin tajam langsung
menyambar kearah pohon besar dihadapannya.
Tengkorak maut gadungan menjerit kaget, mendengar itu Han siong Kie membuka matanya
dan memandang kedepan.
Tampaklah sebuah lencana perak sebesar telapak tangan menempel diatas dahan pohon itu
diatas lencana terukirlah gambar matahari, rembulan dan bintang.
sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya,jeritan ngeri yang menyayatkan hati
kembali berkumandang memecahkan kesunyian. "Blaam sesosok tubuh segera tumbang keatas
tanah dan tak berkutik lagi.
Betapa terperanjatnya Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, ia lompat bangun dan
menengok kesamping, tampaklah Tengkorak maut gadungan sudah menggeletak tak bernyawa
diatas genangan darah. tujuh lembar daun pohon menancap diatas kepalanya membuat kematian
jago ampuh itu tampak mengerikan sekali.
Untuk sesaat sianak muda itu jadi tertegun dan tak mampu berkata-kata..
siapakah yang memiliki kepandaian selihay itu sehingga mampu membinasakan Tengkorak
maut gadungan??
siapa pula pemilik dari lencana perak itu??
Mungkinkah Hun si Mo ong yang telah datang ? Karena sebelum ajalnya bukankah Tengkorak
maut gadungan telah menjerit kaget??
Kecuali tokoh sakti itu, siapa lagi yang mampu membinasakan gembong iblis ini hanya didalam
sekali gebrakan belaka??
Mungkinkah lencana perak itu adalah lambang dari Hun si, Mo ong?
Pelbagai ingatan berkecamuk menjadi satu didalam benaknya, dia merasa tidak sanggup untuk
memecahkan kejadian yang sangat aneh ini, tapi ada satu hal ia merasa yakin, untuk kesekian
kalinya kembali ia lolos dari cengkeraman malaikat elmaut, sekali lagi dia lolos dari kematian
"Nak. apa yang sedang kau lamunkan?" tiba2 suara teguran yang lembut dan penuh kasih
sayang . berkumandang dari tak jauh dari sana.
Han siong Kie terkesiap, dengan cepat la kenali suara tersebut sebagai suara dari orang yang
kehilangan sukma.
"cianpwe, engkaukah itu?" cepat pemuda itu berseru.
"Nak, masa engkau tak dapat mengenali suaraku lagi?"
"sekalipun boanpwe tidak berjodoh untuk menjumpai raut wajah cianpwe, akan tetapi suara
cianpwe sudah membekas dalam benakku, budi kebaikan yang telah cianpwe berikan kepadaku
setinggi bukit dan setebal bumi, selamanya budi kebaikan ini tak akan kulupakan"
"Nak. aku tak suka mendengarkan perkataan2mu yang memandangkan balas budi ini"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah.
"Apakah cianpwe yang telah membinasakan Tengkorak maut gadungan untuk melepaskan
boanpwee dari ancaman bahaya maut??"
"Begitulah kenyataannya"
"Kesempurnaan tenaga dalam yang cianpwee miliki benar2 luar biasa sekali."
"Nak. dugaanmu itu keliru besar, bila tenaga dalamku dibandingkan dengan tenaga dalam yang
dimiliki Tengkorak maut gadungan, maka kepandaianku masih kalah setengah tingkat"
Han siong Kie tercengang dan merasa tak habis mengerti, dengan nada keheranan segera
serunya:
"Tapi..tapi toh kenyataannya dia mati dalam waktu singkat??"
"Dia bukan mati ditanganku, lebih cocok kalau dikatakan bahwa ia mati toh karena lencana
tersebut."
Han siong Kie melongo dan tak habis mengerti, ujarnya lagi: "Mati karena lencana itu ?
Boanpwe merasa tak mengerti.."
"Kemunculan lencana itu membuat konsentrasinya jadi buyar, karena itulah aku manpaatkan
kesempatan yang sangat baik itu untuk membereskan jiwanya..."
"Masa lencana itu memiliki daya pengaruh yang begitu besarnya?"
"Benar nak. engkau tidak percaya?"
"Tentu saja boanpwe percaya, apa mungkin lencana itu adalah lambang khusus milik cianpwe?"
"Bukan, dugaanmu itu keliru besar"
Han siong Kie semakin kebingungan dibuatnya, sesaat kemudian ia baru bertanya lagi:
"Bolehkah boanpwe ketahui apa nama lencana itu?"
"Thian che leng"
"Lencana Thian che? kalau begitu kan lencana ini milik perkumpulan Thian che kau?"
"Dugaanmu tepat sekali, lencana itu memang milik perkumpulan Thian che kau"
"Jadi kalau begitu, Tengkorak maut gadungan menjalankan aksinya karena mendapat perintah
dari pihak Thian che kau?"
"Boleh dikatakan begitu"
"Maksud cianpwe ucapan dari boanpwe ini tidak benar semuanya?"
"Nak. untuk saat ini lebih baik engkau tak usah mengetahui tentang persoalan ini, toh akhirnya
engkau akan menjadi paham dengan sendirinya"
Han siong Kie terbungkam untuk beberapa saat lamanya, tiba2 ia jadi teringat kembali dengan
ibunya, siang go cantik ong Cui ing, ia telah disergap oleh ibunya agar Tengkorak maut gadungan
berhasil melarikan diri, kalau ditinjau dari situ dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Tengkorak maut
gadungan adalah orangnya Thian che kau.
sekalipun begitu, kecurigaan yang mencekam dalam benaknya terasa semakin banyak, maka
kembali ujarnya:
"Aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan sangat tinggi dan luar biasa, masa
manusia selihay inipun rela menjalankan perintah dari orang lain??"
"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, dia memang lihay tapi
diatasnya toh masih ada manusia yang jauh lebih lihay??"
"Aku rasa tenaga dalam yang dimiliki Thian che kaucu tidak lebih tinggi beberapa kali lipat dari
pada kepandaian silat Tengkorak maut gadungan"
"Thian che kaucu yang pernah kau temui itu tidak lebih hanya Thian che kaucu gadungan yang
sengaja menyelimuti pandangan orang lain, kaucu yang asli sama sekali tak berada dalam
perkumpulan"
"oooh.. Tapi apa sebabnya orang ini harus menyaru sebagai tengkorak maut gadungan??"
"Kan sudah kukatakan tadi, ia mendapat perintah dari orang lain"
"Mendapat perintah siapa ? Perintah dari Thian che kaucu ?"
"Nak.. pertanyaanmu sudah terlalu banyak"
"cianpwee menganggap bahwa aku tak pantas mengajukan pertanyaan lagi??"
"Tentang soal ini ada beberapa soal diantaranya dewasa ini tak mungkin bisa kamu peroleh
jawabannya "
"Kenapa??"
"Persoalan ini termasuk pula persoalan yang tak bisa kujawab, harap engkau bisa maklum"
Tak kuasa lagi Han Siong Kie menarik napas dingin, tapi dia pantang menyerah dengan begitu
saja, kembali tanyanya:
"Kalau kutinjau dari dandanan orang yang menyaru sebagai Tengkorak maut ini bukan saja
dandanannya sama bahkan ilmu silatnya juga sama bila dibandingkan dengan yang asli maka dia
cuma kalah dalam soal kesempurnaan, bila dugaanku tak keliru semestinya antara yang asli dan
yang paisu tentu mempunyai hubungan yang sangat erat."
"Nak. aku rasa pembicaraan kita sudab cukup sampai disini dahulu, cepatlah kubur jenasah itu,
makin dalam makin baik sehingga jejaknya tidak ketahuan siapapun "
Dengan perasaan apa boleh buat Han siong Kie memandang kearah mana berasal suara dari
orang yang kehilangan sukma, kemudian mengangguk.
Diapun berjongkok dan mulai menegeledah saku Tengkorak maut gadungan, tapi hanya sesaat
kemudian paras mukanya telah berubah hebat, ia berseru tertahan:
"Nak, apa yang sedang kau cari?" terdengar orang ada maksud bertanya:
"Aku sedang mencari lencana ok kui Cu-pay dari perguruanku "
"Percuma, tak usah kau cari lagi sebab lencana itu sudah tidak ada dalam sakunya lagi"
"Sudah tidak berada dalam sakunya lagi??"
"Benar, benda itu sudah dia serahkan kepada orang lain "
"Maksudmu Thian che kaucu??"
orang yang kehilangan sukma tidak menanggapi pertanyaan itu, tapi kembali berseru:
"Cepatlah turun tangan dan kuburlah mayat itu Jangan sampai meninggalkan jejak."
"Tapi lencana itu merupakan barang mustika yang menyangkut mati hidup perguruanku, bila
cianpwee mengetahui jejaknya, tolong beritahulah kepadaku"
"Tentu saja akan kuberitahukan kepadamu tapi bukan sekarang."
Dengan sedih dan murung Han Siong Kie menghela papas panjang, dalam hati ia merasa
penasaran sekali hingga rasa mendongkolnya sukar dikendalikan, tapi ia tak berani
mengumbarnya . .
Sesudah termenung sejenak, akhirnya dia memghimpun hawa murninya kedalam telapak
tangan kanannya, kemudian dengan sekuat tenaga dibabatkan keatas tanah.
"Blaaang.." pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, sebuah liang sedalam beberapa
kakipun segera terbentuk.
Baru saja liang itu terbentuk, suara dari orang yang kehilangan sukma kembali berkumandang
datang .
"Lepaskan jubah dan kain kerudungnya, hancurkan raut wajah orang itu.."
Han siong Kie agak tertegun, tapi tugas itu segera dilaksanakan tanpa membantah.
Ketika sianak muda itu sudah menyelesaikan tugasnya, suara dari orang yang kehilangan
sukma berkumandang lagi:
"Sekarang hancurkan lambang tengkorak yang ada disakunya itu, kemudian kuburlah bersama
jubahnya diliang yang lain pendam jenasahnya kedalam liang itu, sesudah di uruk dengan tanah,
gusakan ranting pohon untuk menghilangkan jejak yang ada di permukaan tanah."
Han siong Kie sama sekali tidak tahu permainan setan apakab yang sedang dilakukan Orang
yang kehilangan sukma, dlapun tahu kalau banyak bertanya tak ada gunanya maka tanpa
mengucapkan sepatah katapun semua pekerjaan itu dilaksanakan tanpa membantah.
Dalam hati kecilnya dia hanya berpikir terus, darimana asalnya orang yang bernama orang yang
kehilangan sukma ini, ia juga tak tahu mengapa mereka berbuat begitu misterius, mengapa
berulang kali mereka memberi bantuan kepadanya. Ketika semua pekerjaan telah selesai, maka
pemuda itu bertanya lagi:
" Cianpwe, apabila aku ingin tahu darimakah cianpwe mendapatkan benda yang paling
berkuasa dari perkumpulan Thian che kau ini.."
"Ada apa?" tukas orang yang kehilangan sukma.
"Apakah cianpwe tidak bersedia untuk memberikan jawabannya?"
"Tepat sekali tebakanmu itu, untuk sementara satu pertanyaan itu tak bisa kujawab, anggaplah
pertanyaan tersebut belum tiba saatnya bagiku untuk memberitahukan kepadamu. 0oh iya, nak.
bukankah aku suruh engkau berkunjung ke benteng maut? Mengapa engkau tidak pergi ke sana?"
Mendengar pertanyaan itu, kontan saja Han siong Kie merasakan darah panas dalam dadanya
bergelora, api dendam dan benci berkecamuk dalam benaknya membuat hawa napsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya
Tanpa sadar ia teringat kembali akan diri Tonghong-Hui, setelah masuk kedalam benteng maut,
gadis itu tak pernah muncul kembali, menurut perjanjian hal ini menandakan bahwa ayahnya
adalah pembUnuh yang telah membantai keluarganya dimasa silam. Dan tentu saja dia harus
membalas dendam atas terjadinya peristiwa ngeri itu.
Pelbagai ingatan kembali berkecamuk dalam benaknya, dengan sedih bercampur pilu dia
menyahut:
"Cianpwe, aku pasti akan berkunjung kesitu, boanpwe percaya masa bagiku untuk berkunjung
kebenteng maut sebentar lagi pasti akan tiba"
"Kesempatan ? Apa maksudmu?"
"Terus terang kukatakan cianpwe, sebelum berkunjung kesitu boanpwe hendak mempelajari
dahulu sejenis ilmu silat yang maha sakti.."
"Maksudmu, bila ilmu silat yang kau latih itu berhasil kau kuasahi maka engkau akan
berkunjung ke benteng maut untuk melakukan pembalasan dendam..?"
"begitulah maksud boanpwe"
"Nak, dikala aku tak dapat memberitahukan segala sesuatunya kepadamu, aku tak mampu
mencegah engkau berbuat sesuka hatimu, tapi aku ada satu permintaan dan aku harap engkau
tidak sampai membuatku jadi kecewa."
"Ucapan cianpwe terlalu serius, apa yang hendak disampaikan? Katakanlah terus terang" "
"Apabila engkau berkunjung lagi ke benteng maut dan sebelum melakukan pembalasan
dendam, aku minta sampailah dahulu asal usulmu dan ceritakan pula kisah terjadinya
pembantaian berdarah itu dan dimanakah peristiwa tersebut telah terjadi"
"sekalipun cianpwe tidak berpesan begitu boanpwe akan melakukan juga kesemuanya itu"
"Apakah engkau menyanggupi permintaanku untuk melakukannya walaupun berada dalam
keadaan apapun?"
"Boanpwe bersedia"
Meskipun dimulut Han siong Kie lelah menyanggupi, namun hatinya merasa tercengang dan
keheranan sebelum membalas dendam tentu saja dia akan menceritakan dulu sebab musabab
terjadinya peristiwa berdarah itu, tapi mengapa orang yang kehilangan sukma berpesan secara
serius kepadanya? Apa maksud dan tujuannya?
sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi dengan nada
yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Nak. bukankah engkau merasa curiga dan tak habis mengerti? Bukannya aku sengaja berbuat
sok misterius pada hakekatnya terlalu banyak masalah yang tak boleh diungkapkan terlalu cepat,
sebab kalau tidak maka akan mengakibatkan terjadinya peristiwa yang lebih fatal, aku minta
engkau bersabar diri dan menunggu sampai tanggal mainnya?"
"Aku mengerti" sahut Han siong Kie.
-00d0w00-
BAB 55
SESUDAH berhenti sebentar orang yang kehilangan sukma kembali berkata:
"Demi engkau mau tak mau aku harus musnahkan Tengkorak maut gadungan dari muka bumi,
tapi tahukah engkau akibat dari kematiannya itu maka akan timbul pelbagai kejadian yang sukar
diramalkan mulai sekarang. Tahukah engkau didalam perkumpulan Thian che kau masih terdapat
belasan orang jago yang memiliki ilmu silat setaraf dengan kepandaian Tengkorak maut
gadungan."
Diam2 Han siong Kie menjulurkan lidahnya dengan setengah percaya setengah tidak ia berseru:
"sudah beberapa kali boanpwee menyatroni, markas besar perkumpulan Thian che kau akan
tetapi selama ini?"
"belum pernah...".
"Benar, desa ini dalam markas besar perkumpulan Thian che kau memang tidak terdapat jago2
lihay yang terlalu istimewa, tapi tahukah engkau bahwa jago2nya sama sekali tidak berada disitu?
secara beruntun mereka akan munculkan diri didalam dunia persilatan, mungkin juga dunia
persilatan sudah menghadapi saat2 kiamat, tak lama lagi perkumpulan Thian che kau akan
menumpas musuh2nya dan merajai kolong langit..."
"Nak. tugasmu sekarang terlampau berat, aku harap engkau bisa baik2 menjaga diri. Ingatlah
Engkau harus bersabar menghadapi segala persoalan apapun"
Betapapun kukuhnya Han siong Kie, ia merasa terharu juga setelah mendengar perkataan itu,
sepasang matanya jadi merah dan hampir saja air matanya jatuh bercucuran, dengan
bersungguh2 katanya:
"Nasehat dari cianpwe akan boanpwe ingat selalu didalam hati"
"Nak, sekarang engkau boleh berlalu dari sini"
sebenarnya dalam hati kccilnya Han siong Kie masih ada banyak persoalan yang hendak
ditanyakan, akan tetapi pada saat itu dia merasa tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
maka sesudah termenung sebentar akhirnya ia berkata: "Kalau memang begitu, boanpwe mohon
diri lebih dahulu"
"Engkau tak usah melalui jalan raya lagi, diantara lima orang tianglo yang setia kepadamu ada
dua sudah tewas dan tiga orang terluka parah, kini yang tewas sudah dikubur sedang yang luka
sudah pergi, lewatilah hutan sebelah depan sana, lebih cepat berlalu dari sini lebih baik"
Han siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, akan tetapi terhadap orang
yang kehilangan sukma dan putrinya, ia menaruh rasa percaya seratus persen, maka tanpa
membantah lagi sianak muda itu segera berputar kesamping kanan dan siap berlalu dari situ..
"Tunggu sebentar" tiba2 orang yang kehilangan sukma berseru kembali.
" Cianpwe, apakah masih ada persoalan lain yang hendak cianpwe sampaikan kepadaku" tanya
sianak muda itu sambil menghentikan langkah kakinya dan berpaling.
"Hampir saja aku telah melupakan suatu persoalan yang amat penting sekali."
"Ucapkanlah cianpwee, boanpwee akan mendengarkan dengan seksama"
"Apakah engkau sudah mengetahui asal usul Yu sau Kun, ketua muda perkumpulan Thian che
kau yang sebetulnya??"
satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, dia segera bertanya: "Masa dia
benar2 adalah keturunan dari susiokku Telapak naga beracun Thio Lin??"
"Tepat sekali tebakanmu itu, dia memang keturunan dari paman gurumu yang sudah tiada"
"Taa... tapi hal ini mana mungkin bisa terjadi??"
"Kenapa tak mungkin terjadi??"
"Bukankah dia sudah mewakili diriku mati didalam perkampungan keluarga Han?"
"Apakah engkau sudah menemukan jenasahnya??"
"Tentang soal ini.." Untuk sesaat Han siong Kie jadi gelagapan dengan sendirinya, "mendiang
susiokku, Telapak naga beracun Thio Lin yang memberitahukan persoalan ini kepadaku"
"Dia toh cuma tahu kejadian itu sebelum berlangsungnya peristiwa itu, ketika peristiwa
berdarah berlangsung, ia sama sekali tidak hadir dalam gelanggang"
Mendengar perkataan itu, Han siong Kie segera merasakan tubuhnya gemetar keras bagaikan
kena aliran listrik bertegangan tinggi, ia sama sekali tak menyangka kalau asal usulnya serta
peristiwa berdarah yang menimpa keluarganya dapat diketahui oleh orang yang kehilangan sukma
sejelas itu, lalu.. siapa kah sebenarnya orang itu"
Kalau memang orang yang kehilangan sukma telah mengetahui semua kejadian itu bagaikan
memandang jari tangan sendiri, kenapa ia tidak secara langsung membeberkan rahasia ini
kepadanya, tapi malahan suruh dia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya,
apakah maksud yang di kandung orang itu dibalik kesemuanya ini ?
Atau mungkin pemilik benteng maut bukan pembunuh keluarganya dan dibalik semua peristiwa
ini masih ada persoalan lain? "
Kalau memang Tengkorak maut bukan pembunuh keluarganya, mengapa Tonghong Hui tidak
muncul kembali dari bentengnya sesudah masuk kedalam benteng maut? Bukankah mereka telah
berjanji, apa bila majikan benteng maut adalah pembunuhnya maka gadis itu tak akan muncul
kembali..
Makin berpikir ia merasa makin bingung dan makin dibayangkan pikirannya semakin ruwet..
"Nak tak ada gunanya engkau banyak berpikir" terdengar orang yang kehilangan sukma
berkata lagi, "suatu saat engkau pasti akan mengetahui dengan sendirinya apa yang sudah terjadi,
aku hanya berharap agar engkau mengingat selalu bahwasanya Yu Sau kun sebenarnya adalah
Thio Sau kun, dia adalah sutemu, tapi engkaupun musti ingat bahwa rahasia ini hanya boleh
engkau ketahui didalam hati, jangan sekali2 engkau bocorkan dihadapannya, sebab kalau tidak
maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2. Nah, sekarang pergilah"
Dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti, sekali lagi Han siong Kie memandang
sekejap lencana Thian che leng yang tertempel diatas dahan pohon, akhirnya dia menjejakkan
kakinya dan berlalu dari hutan itu.
Lencana ok kui cu pay yang merupakan simbol kekuasaan rtari perguruannya kini telah
dirampas oleh Tengkorak maut gadungan dan oleh Tengkorak maut benda itu sudah diserahkan
pula ketangan orang lain, yang dimaksudkan orang lain pastilah orang2 dari Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, dalam perkumpulan Thian che kau
terdapat belasan orang jago lihay yang setaraf dengan ilmu silat Tengkorak maut gadungan,
bukankah itu berarti bahwa sukar baginya untuk merampas kembali lencana tersebut??"
Berpikir sampai disitu, ia jadi murung dan sedih.
Apa bila lencana mustika perguruannya tidak berhasil dirampas kembali dari tangan musuh,
bukankah itu berarti bahwa ia telah menjadi seorang manusia yang berdosa??"
Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam lamanya, sampailah sianak muda
itu diluar hutan- diapun meneruskan perjalananya melalui jalan raya yang terbentang lebar.
Tujuannya tetap tidak berubah, dia akan mengunjungi lembah berkabut dimana ia dan
Tonghong Hui pernah lolos dari bahaya maut, dia akan menuju ketempat yang terpencil ini untuk
mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam sarung tangan Hud jiu Poo pit, apa bila ilmu sakti itu
berhasil dipelajari maka dia akan mengunjungi benteng maut dan melakukan pembalasan
dendam.
sepanjang perjalanan pemuda ini tiada hentinya memikirkan rahasia yang berhubungan dengan
Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, perkumpulan Thian che kau masih
memiliki belasan jago yang benar2 tangguh, berita ini boleh dibilang sangat mengejutkan siapapun
juga.
Tatkala ia menyatroni wilayah Lian huan tau untuk menolong Go siau bi, beberapa kali ia telah
bertarung melawan Thian che kau, ketika itu ilmu silatnya masih belum mempu melawan
musuhnya, dan ternyata sekarang terbukti bahwa musuh tangguhnya itu hanya seseorang yang
bertugas untuk menyaru sebagai ketua itu, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat
yang dimiliki Thian che kaucu benar2 sukar diukur dengan kata2.
sementara perjalanan masih dilanjutkan, tiba2 dari balik semak belukar ia temukan ada sesosok
tubuh manusia menggeletak disitu, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, ia
berhenti dan menghampiri semak belukar itu.
Ketika diperiksa dengan seksama diketahuilah bahwa orang itu adalah seorang pendekar
pedang yang masih muda dan tampan sekali wajahnya.
Akan tetapi sesudah diperiksa dengan lebih seksama lagi, bergidiklah hatinya Han siong Kie,
ternyata pemuda tampan itu sudah berubah menjadi sesosok mayat.
Jika ditinjau sepintas lalu, orang tak akan menyangka kalau pemuda tampan itu sudah menjadi
mayat, sebab wajahnya begitu segar dan tenang, seakan-akan seseorang yang sedang tertidur
nyenyak.
Han siong Kie merasa keheranan setengah mati, apa sebabnya pendekar muda itu bisa mati
dipinggir jalan tanpa ditemukan sesuatu luka ditubuhnya? Mungkinkah kena serangan jantung?
Disekitar semak belukar itu tidak ditemukan tanda2 bekas pertarungan, dilihat dari wajahnya
jelas pemuda itu bukan mati lantaran sakit ataupUn keracUnan, kejadian ini benar2 mengherankan
sekali..
Maka Han siong Kie menghampiri mayat itu, dengan perasaan ingin tahu diperiksanya sekujur
badan mayat itu, akhirnya sesudah diteliti dengan seksama, ia temukan diatas dada mayat itu
terteralah lima buah bekas jari tangan yang sangat lembut, bentuknya seperti bunga sakura, bila
tidak dia mati dengan seksama, tanda itu pasti tak akan ditemukan.
Han song Kie lebih2 dibuat terperanjat lagi, ditinjau dari bekas kelima buah titik jari itu jelaslah
sudah bahwa disitulah letak sebab musabab kematian dari pemuda itu, sayang pengalaman dan
pengetahuannya terlalu cetek. sehingga ia tak dapat menebak siapakah yang telah melakukan
pembunuhan tersebut.
sesudah ter-mangu2 beberapa saat, akhirnya pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya
kedepan.
Entah berapa li sudah lewat, akhirnya ia temukan dua sosok mayat, sebab kematian mereka
tidak berbeda jauh dengan tanda yang ditemukan pada mayat pertama, dan lagi kedua orang
inipun terhitung pemuda2 tampan yang berusia dua puluh tahunan.
sekarang Han siong Kie baru merasakan betapa seriusnya persoalan itu, pikirnya di hati:
"siapa gerangan yang telah turun tangan sekeji ini?"
Yang aneh ternyata korban2nya adalah pemuda yang masih berusia belasan serta berwajah
tampan.
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya sampailah si anak muda itu didalam sebuah kota kecil.
setelah mencari sebuah rumah makan yang bersih, pemuda itu mencari tempat dan memesan
makanan, dari pembicaraan para tamu yang ada dalam ruangan itu, ia dengar semua orang
sedang dihebohkan oleh pembunuhan dengan tanda bunga bwe.
Han siong Kie tidak memberi komentar apa2, ia cuma mendengarkan sambil bersantap. sayang
tiada sesuatu tanda yang berhasil ditemukan olehnya dari pembicaraan itu.
sementara suasana masih gaduh dan ramai oleh pembicaraan para tamu, mendadak suasana
jadi hening dan sepi, begitu sepinya sehingga terasa aneh sekali. Han song Kie tercengang, dia
segera menengadah..
Kiranya seorang gadis yang amat cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan sedang
berjalan masuk kedalam ruangan itu, dipandang dari bayangan punggungnya, anak muda itu
segera kenali dirinya sebagai cucu perempuan dari Pat lo sianseng, Go siau bi adanya.
Kemunculan Go siau bi yang secara tiba2 ini sangat mencengangkan hati si anak muda itu, dia
hendak menyapa, tapi sebelum sepatah kata sempat meluncur keluar dari mulutnya, ia lihat ada
dua orang pemuda tampan ikut duduk disampingnya, maka niat untuk berbicarapun segera
dibatalkan.
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, ia benar2 dibikin keheranan oleh
kemunculan gadis itu.
sementara dia masih melamun, gelak tertawa yang amat merdu dan penuh dengan daya tarik
berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul gelak tertawa yang lain menggema pula dari
mulut kedua orang pemuda itu.
Han siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, ia makin keheranan lagi, ia tak menyangka Go
siau bi bisa berkumpul dengan pemuda bergajul macam begitu.
Dua orang laki2 seorang wanita muda itu bergurau sambil tertawa tergelak. sikap mereka
bukan saja begitu berani bahkan sama sekali tak ambil pusing kalau disitu masih ada tamu lain,
ternyata tak seorang tamu pun yang berani buka suara untuk menegur.
Han siong Kie memang membenci kaum wanita, tapi Go siau bi pernah melepaskan budi
kebaikan kepadanya. maka ia tak mau mencampuri urusan gadis itu sebelum duduknya persoalan
diketahui dengan jelas.
Mendadak...satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dia teringat kembali akan ketiga sosok
mayat pemuda yang ditemuinya ditepi jalan siang tadi, tak kuasa lagi sekujur badan nya
merinding, jangan-jangan
"siangkong, tambah arak?" terdengar pelayan menegur dengan suara yang lirih. Han siang Kie
melirik sekejap kearah pelayan itu lalu mengangguk.
"Tambah dua canting"
Pelayan segara menuang dua canting arak kedalam teko yang ada dimeja, menggunakan
kesempatan itu cepat Han siong Kie bertanya: "siapakah dua orang pemuda yang berada disana
itu?"
Pelayan itu kelihatan terperanjat, sambil menjulurkan lidahnya ia menyahut dengan lirih:
"Mereka dinamakan Kim kiam siong ing (sepasang pendekar pedang emas) murid partai Go bi,
siangkong Lebih baik jangan banyak bertanya, sebab kedua orang itu adalah sau cengcu dari
perkampungan Go hau san eng, terlalu besar asal usulnya". Berbicara sampai disitu buru2 ia
berlalu dari sana.
Han siong Kie tidak berbicara apa2 lagi, ia tundukkan kepalanya sambil minum arak.
Kurang lebih setengah jam kemudian, Go siau bi dan Kim kiam siang ing baru berlalu dari sana.
Cepat Han siong Kie membayar rekening nya dan ikut keluar dari rumah makan itu, ternyata
bayangan tubuh ketiga orang itu sudah lenyap tak berbekas.
Han siong Kie tertegun, tapi sesudah berpikir sebentar buru2 ia membeli rangsum kering,
kemudian berlari keluar dari kota tersebut.
satu Li baru lewat dari tepi jalan ia temukan dua sosok mayat menggeletak disitu ketika mayat
tersebut diperiksa dengan seksama, siapa lagi mereka kalau bukan Kim kiam siang ing yang belum
lama berselang baru saja tinggalkan rumah makan.
Tubuh mereka tidak terluka ataupun mengucurkan darah, cuma diatas dada masing2 orang
terteralah sebuah cap jari tangan berbentuk bunga sakura.
Betapa terperanjatnya hati Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sekarang ia dapat
membuktikan bahwa pembunuhan2 keji itu kiranya dilakukan oleh Go siau bi, akan tetapi apa
sebabnya ia bantai pemuda2 tampan itu?
Dengan perasaan tak habis mengerti pemuda itu gelengkan kepala berulang kali, akhirnya ia
melanjutkan perjalanannya kembali kedepan.
senja itu, ketika sang surya baru condong kesebelah barat, sampailah pemuda itu disuatu
tempat kurang lebih sepuluh li dari lembab In.wu.kok..
sementara si anak muda kita masih melanjutkan perjalanannya, mendadak dari balik
pepohonan tak jauh darijalan raya terdengar seorang gadis sedang tertawa cekikikan.
suara tertawa itu amat menusuk pendengaran, hal ini segera memancing perhatian sianak
muda itu, tanpa berpikir panjang Han siong Kie segera meluncur kearah depan.
Melalui celah2 pepohonan yang lebat, ia saksikan ada sepasang muda mudi sedang duduk
saling berhadapan, yang laki2 berwajah amat tampan dan berusia tujuh delapan belas tahunan,
sedang yang perempuan tak Iain adalah Go siau Bi.
Pada waktu itu dengan muka yang genit dan kerlingan mata yang menggiurkan Go siau bi
sedang main mata dengan sianak muda itu kemudian terdengar ia bertanya dengan manja:
"cantikkah wajahku ini?"
"Cantik,. cantik sekali, kecantikan wajahmu ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan"
sahut sipemuda itn dengan wajah terkesima.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Aku tak pernah berbohong, setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata2 yang sejujurnya
dan aku rasa nona pasti mengetahui sendiri bukan akan hal itu"
"ooh benarkah begitu? Ehmm. lalu apakah engkau mencintai diriku..??"
"Tentang soal ini.... tentang soal ini...." pemuda itu tampak gelagapan jadinya.
"Eeh, jangan soal ini soal itu, kalau tidak mencintai aku mengapa engkau ikuti diriku sampai
disini??"
"Apa bila nona bersedia menerima perhatianku ini, cay he... cayhe merasa sangat beruntung
sekali hidupku ini"
Go siau bi mengerdipkan sepasang matanya yang jeli kemudian sambil meliuk-liukkan
pinggulnya ia berkata genit:
"Engkau anggap wajahku cantik maka jatuh cinta dalam pandangan yang pertama. sebaliknya
ada orang yang sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap diriku, bahkan tertarikpun
tidak, coba bayangkan saja manusia macam apakah dia itu?"
"Kalau benar2 ada manusia semacam itu, sepantasnya kalau orang itu dikatakan sebagai
seorang laki2 yang punya mata tak berbiji"
"Hiiihh hiiihh hiihhh memang hebat sekali pandanganmu itu" seru Go siau bi sambil tertawa
eekikikan.
Mendadak telapak tangannya maju ke muka, kelima jari tangannya dengan lembut segera
diayunkan kearah dada pemuda itu.
Terbelalak sepasang mata anak muda itu, ia menjerit tertahan: "Nona .."
Kato nona belum habis diucapkan, tubuhnya sudah menjadi lemas dan terkapar di tanah tanpa
mengeluarkan sedikit suara pun pemuda itu sudah menemui ajalnya.
Han siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan benar2 naik darah, untuk mencegah
perbuatannya jelas tak mungkin, seluruh tububnya gemetar keras menahan emosi.
"Sungguh kejam perempuan ini, hatinya lebih kejam dari pada seekor ular beracun.." pikirnya
dihati.
Tanpa sadar pemuda itu terbayang kembali akan ibunya, siang go cantik ong cui ing yang
kejam dan tak kenal ampun.
Mereka sama2 cantiknya, sama2 kejinya, tanpa sadar rasa benci dan muak timbul dalam
benaknya, ia siap melompat keluar dari tempat persembunyiannya..
Paras muka Go siau hi dingin menyayatkan, sebelum sianak muda itu sempat munculkan diri, ia
sudah berpaling dan mendengus dingin.
"Manusia berwajah dingin, sekarang engkau boleh segera munculkan dirimu.."
Betapa terperanjatnya Han siong Kie menghadapi kejadian tersebut, mimpipun ia tak
menyangka kalau tempat persembunyiannya telah diketahui lawan, dari sini dapatlah diketahui
bahwa selama beberapa waktu belakangan ini, ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan,yang
amat pesat.
Dengan muka hijau membesi menahan amarah yang meluap. dia lompat keluar dari tempat
persembunyiannya, kemudian menegur dengan kasar:
"Nona Go, mengapa engkau lakukan pembunuhan sekeji ini?"
Rasa sedih melintas diatas wajah Go siau Bi, tapi sesaat kemudian dengan wajah benci dan
mendendam ia berseru:
"Aku rasa persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik tak usah
kau campurinya"
"Nona, kunasehati dirimu lebih baik jangan bertindak kelewat kejam, karena perbuatan
semacam itu sama sekali tiada manfaatnya bagimu"
"Haaahh..haaahh..haaahh.. mau apa kau hey manusia yang bernama Han siong Kie? Engkau
merasa tidak terima dengan perbuatan yang kulakukan ini?"
"Benar, aku memang mempunyai maksud begitu"
"Lalu apa yang hendak kau lakukan atas diriku ini?"
"Hmm Akan kubunuh engkau untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan" jawab
Han siong Kie dengan hawa napsu membunuh yang amat tebal.
"Huuh, engkau hendak membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil mencibirkan bibirnya dengan
sinis.
"Benar, akan kubunuh dirimu"
" Kalau memang begitu, kenapa tidak segera turun tangan "
"Bila kita bertemu sekali lagi dimasa mendatang,jiwamu pasti akan kucabut."
Go siau bi tertawa tergelak, dengan wajah sinis sekali dia mengejek: "Kenapa tidak kau lakukan
sekarang juga?"
"Memandang diatas wajahmu dimana engkau pernah melepaskan budi kebaikan kepadaku,
kuampuni jiwamu untuk kali ini "
Go siau bi tak dapat menahan diri lagi, ia menengadah dan tertawa tergelak dengan seramnya,
gelak tertawa itu penuh mengandung perasaan sedih, pedih dan perasaan lain yang sukar
dilukiskan dengan kata2, lama sekali ia baru berhenti.
Paras mukanya berubah jadi dingin menyeramkan, hawa napsu membunuh menyelimuti
seluruh wajahnya, dengan suara keras dia membentak:
"Han siong Kie, nonamu justru sedang mencari engkau, mengertikah engkau..?"
"Mencari aku? Mau apa engkau mencari aku ?"
"Aku hendak membunuh dirimu, kalau bukan begitu mengapa kubiarkan engkau mengikuti aku
dari rumah makan sampai kemari haaaah.. haaah.. haaahhh... ketahuilah. aku sengaja memang
mengatur kesemuanya ini agar engkau bisa terpancing kemari"
sekarang Han siong Kie baru tahu bahwa Go siau bi telah mengetahui jejaknya ketika masih
berada dirumah makan tadi, maka dengan ketus segera tegurnya: "Jadi engkau hendak
membunuh aku??"
"Benar, dan sekarang juga pembunuhan ini akan kulaksanakan"
"Kenapa engkau hendak membunuh aku?"
"Karena aku benci padamu"
"Perbuatanku yang manakah yang telah menimbulkan rasa bencimu terhadap aku?"
"Sudah, pokoknya engkau tak usah banyak bicara lagi, ini hari juga nyawamu akan kucabut"
Han siong Kie menyengir sinis.
"Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu?" ejeknya.
"Engkau tidak percaya? Bagus, mari kita buktikan bersama."
Bersamaan dengaa selesainya perkataan itu, tiba2 telapak tangannya diayun kedepan kelima
jarinya dengan disertai desingan angin tajam langsung menyerang kedepan.
Dengan gerakan Cahaya kilat lintasan bayangan Han siong Kie segera berkelit ke samping,
serunya lantang:
"Mengingat budi kebaikanmu dimasa lampau, aku akan mengalah satu jurus untuk...."
"siapa yang suruh engkau mengalah kepadaku?" teriak Go siau bi dengan penasaran.
Telapak tangannya segera diputar balik keatas, selapis cahaya hijau yang tebalpun dengan
cepat membumbung keangkasa dan meluncur kedepan. Betapa tercekatnya perasaan hati Han
siong Kie, tanpa kuasa lagi dia berseru keras: "Aaaah...ilmu pukulan Thian-tok hoa ciang.
Haruslah diketahui, ilmu pukulan Thian tok cang hoat adalah semacam ilmu pukulan darijaman
dahulu kala yang amat dahsyat, apabila pukulan tersebut menyentuh sesuatu benda, maka daya
tahannya makin besar maka daya pentalnya ikut bertambah kuat, jangankan Han siong Kie
malahan Tengkorak maut gadungan yang memiliki ilmu silat lebih lihaypun dibuat tak berdaya oleh
kehebatan pukulan itu
38
Tentu saja Han Siong Kie juga mengetahui akan lihaynya pukulan tersebut, akan tetapi dia tak
sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan seorang gadis muda, maka dari itu dia segera
menghimpun kekuatan yang dimilikinya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut dengan
keras lawan keras.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan sianak muda itu, sebelum
pukulan mereka saling beradu satu sama lainnya, mendadak Go Siau bi menarik kembali
serangannya dan bergeser mundur dua langkah kesamping.
Tampaknya ilmu silat yang dimiliki gadis itu sudah mencapai taraf pengendalian secara
sempurna, menyaksikan kehebatan lawannya Han Siong Kie makin terkesiap, disamping itu diapun
makin keheranan oleh tindak tanduk lawannya yang aneh. Karenanya sambil menarik pulang
serangannya dia lantas menegur: "Eeeeh...kenapa kau tarik kembali serangan mu??"
"Aku kuatir engkau tak sanggnp untuk menerima pukulanku ini."
"Bukankah engkau mengatakan hendak membunuh diriku?" tanya anak muda itu dengan cepat.
Pertanyaan tersebut seketika membuat paras muka Go siau Bi kembali berubah hebat, ia
mendengus dingin, tanpa berbicara lagi ilmu pukulan Thian tok clang hoat sekali lagi dilontarkan
kedepan.
Han Siong Kte menggertak giginya menahan diri, sambil mengerahkan sisa kekuatan yang
dimiliki ia tangkis datangnya serangan tersebut.
"Blaaang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga menggelegar diseluruh angkasa,
diiringi dengusan berat secara beruntun Han siong Kie mundur delapan depa ke belakang, darah
segar sempat meleleh keluar menodai ujung bibirnya.
Tengkorak maut gadungan yang lihaypun jatuh kecundang ditangan gadis ini, apalagi Han
siong Kie yang lebih cetek ilmu silatnya tentu saja dia bukan tandingan sang gadis manis itu.
Put lo sianseng memang lihay dan hebat, terbukti dalam waktu singkat ia berhasil menciptakan
seorang tokoh sakti yang begini hebatnya, bila diceritakan orang lain belum tentu mau
mempercayainya.
Berhasil dengan memukul mundur Han siong Kie, dengan suara gemas dan penuh kebencian
Go siau bi berkata:
"Manusia bermuka dingin, bukan saja wajahmu dingin, darahmu juga sudah membeku, kau
manusia yang tak punya perasaan. Nah, rasain lagi beberapa buah pukulanku" sambil membentak
nyaring, untuk kesekian kalinya dia lancarkan pukulan maut ke depan.
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan peringatan dari orang yang kehilangan sukma, dalam
hati pemuda itu lantas berpekik, "Aku tak boleh mati"
Dengan suatu gerakan yang manis dan lincah ia menghindarkan diri dari serangan maut lawan,
berhasil dengan kelitannya. sebuah jari tangan segera direntangkan lebar dan serentak menyentil
kemuka.
sepasang telapak tangan Go siau Bi bergetar kian hebat, tenaga pukulanpun semakin menebal
membuat hawa hijau hampir menyelimuti seluruh pemukaan tanah.
"criiit. criiing.." ditengah desingan angin tajam ilmu sentilan Tong kim ci yang ampuh dan tak
terkalahkan itu ternyata dapat dihajar sampai buyar oleh kekuatan lawan.
Rasa kaget yang dialami Han siong Kie sukar dilukiskan lagi dengan kata2, mimpipun ia tidak
menyangka kalau ilmu jari Tong kim ci yang paling diandalkan ternyata sama sekali tak mempan
untuk digunakan menghadapi pukulan Thian tok ciang hoat.
Hampir saja tak percaya dengan apa yang terbentang didepan mata, sebab peristiwa ini
memang tak pernah diduga olehnya.
"sambutlah sebuah pukulanku lagi. " bentak dara itu lagi dengan lantang.
Ditengah bentakan nyaring, hawa hijau yang tebal dan menyilaukan mata dengan dahsyatnya
menggulung tubuh lawan.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Han siong Kie, dengan ilmu cahaya kilat
lintasan bayangan tubuhnya mendesak maju kedepan, lalu dengan jurus Mo tiong ko ciat ( raja
iblis menyembah loteng istana) ia hajar Go siau bi dengan mengerahkan segenap tenaga dalam
yang dimilikinya.
Go siau bi tertawa dingin, sekalipun hebat dan luar biasa seranganpemuda itu namun bagi
pandangannya serangan tersebut tak ada artinya, ia berkelebat lewat dari serangan itu dengan
gerakan bagaikan sukma gentayangan, lalu sambil melepaskan lima buah pukulan berantai,
teriaknya keras:
"Manusia bermuka dingin, hari ini kau harus mampus"
Memang dahsyat dan ganas kelima buah serangan itu, angin pukulan segera men-deru2
membikin hati orang jadi keder dan ngeri rasanya..
Terdesak oleh lima buah pukulan berantai yang maha dahsyat itu, Han siong Kie terdesak hebat
dan harus mundur berulang kali ke belakang..
Go siau bi tak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk tukar napas, selesai dengan lima
buah pukulan yang pertama, ia susulkan pula dengan lima buah pukulan berikutnya.
Menghadapi desakan demi desakan yang tiada habisnya, lama kelamaan Han siong Kie jadi
penasaran juga, kali ini dia tidak menghindar ataupun berkelit, dengan sistim adu nyawa dia
sambut kelima buah pukulan itu dengan gerakan keras lawan keras.
Tergetar perasaan Go siau bi setelah menyaksikan kenekadan sianak muda itu, tapi apa mau
dikata pukulan sudah terlanjur dilancarkan , maka sambil gertak gigi ia lepaskan pukulan mautnya.
"Blang Blang " dua kali dengusan dingin menggema memecahkan kesunyian, menyusul dua
sosok bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya.
Kedua belah pihak sama2 terlempar kebelakang dengan sempoyongan, keadaan Go siau bi
masih mendingan, sekalipun darah meleleh di ujung bibirnya dan mukanya pucat pias tapi
keadaannya masib agak segar.
Berbeda sekali dengan Han siong Kie, ia harus muntah darah berulang kali, jelas isi perutnya
sudah terluka parah.
Dengan wajah menyeringai seram dan mata saling melotot penuh kegusaran, kedua belah
pihak berdiri berhadapan.
Untuk sesaat suasana dalam gelanggang jadi sepi dan hening, sunyi bukan berarti hawa nafsu
membunuh telah lenyap begitu saja, malahan setiap saat darah segar mungkin akan membasahi
lagi seluruh permukaan tanah.
Diantara lima buah pukulan yang dilancarkan Han siong Kie, ada tiga buah yang bersarang
ditubuh lawan, sebaliknya ia sendiri menerima empat buah pukulan dari musuhnya.
sebagaimana diketahui, pukulan yang dilancarkan Go siau bi mengandung hawa sakti Thian tok
sinkang yang maha dahsyat, tak heran kalau sianak muda itu menderita luka yang jauh lebih
parah daripada anak dara itu.
Mereka pernah saling tolong menolong, pernah hidup sengsara bersama bahkan Go siau bi
pernah menggunakan tubuhnya sebegai tameng untuk menyelamatkan jiwa Han siong Kie dari
ancaman Tengkorak maut gadungan, karena peristiwa itu hampir saja jiwanya melayang.
Ia telah jatuh cinta kepadanya, telah bersumpah didepan pusara ayahnya, kecuali dengan
pemuda ini dia tak akan kawin dengan siapapun juga"
Tapi kenyataannya, yang satu ada hasrat yang lain tak berminat, tumpuan harapan yang
terlintas dalam benaknya selama ini hancur dan musnah dengan begitu saja.
Kini dengan taruhan nyawa mereka saling bertempur, berusaha saling merobohkan musuhnya
dan bila perlu sekalian membinasakannya... Inikah takdir? Inikah yang dinamakan nasib.?
Cinta dapat membuat seseorang jadi sukses tapi dapat pula menghancurkan karier seseorang,
membuat watak seseorang berubah seratus delapan puluh derajat.
Dan kini Go Siau bi telah berubah ....bukan saja perubahan itu tak dipercaya oleh Han siong
Kie, bahkan dara itu sendiri juga tak kenali dirinya sendiri lagi.
Hawa napsu membunuh yang tebal masih menyelimuti seluruh wajah Go siau bi, selangkah ia
maju kedepan mendekati Han siong Kie yang berada dihadapannya.
suasana tercekam oleh ketegangan dan kengerian, sorot mata serta perhatian semua orang
sama-sama ditujukan kearah Go siau bi yang sedang maju kemuka.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Han siong Kte, ia tahu bila dirinya cuma berpeluk
tangan belaka, sehingga dara itu keburu menyerang dulu dengan Thian tok ciang hoatnya yang
lihay, niscaya jiwanya akan terancam bahaya. satu ingatan lantas melintas dalam benaknya:
"Daripada aku menanti datangnya elmaut, kenapa tidak kuserang dulu perempuan sinting itu?"
sambil membentak sepasang telapak tangannya diayun kedepan melancarkan babatan maut.
-00d0w00-
BAB 56
PUKULAN itu dilepaskan dalam keadaaa marah bercampur penasaran, bisa dibayangkan betapa
dahsyat dan luar biasanya pukulan tersebut.
Go siau bi melambung keangkasa, setelah melayang sejauh delapan depa, sekali lagi badannya
melejit kedepan kemudian menerobos masuk dari sisi Han siong Kie dan melayang turun lima depa
disamping pemuda itu.
Baik dalam menghindar maupun sewaktu melancarkan serangan, semua gerakan dilancarkan
dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Melihat ancamannya mengenai sasaran yang kosong, Han siong Kie membuyarkan pukulannya
ditengah jalan, badannya miring kesamping lalu berputar kencang, telapak tangan kiri dan ujung
jari tangan kanan sekali lagi melepaskan serangan maut kedepan.
Kabut hawa berwarna hijau seketika menyelimuti seluruh angkasa, pada saat yang bersamaan
Go siau bi melepaskan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat. Dentuman keras mengiringi
benturan dua kekuatan yang saling berlawanan itu.
Dengan sempoyongan Go siau bi mundur beberpa langkah, sedangkan Han siong Kie
mendengus tertahan dan muntah darah segar, badannya terlempar sejauh satu kaki lebih dari
tempat semula,
Go siau bi menerjang lagi kedepan dan berdiri dibelakang Han siong Kie, telapak tangannya
diayun tepat mengarah jalan darah Thian leng hiat diatas kepalanya, asal pukulan itu dilancarkan
niscaya Han siong Kie akan mampus dengan keadaan mengerikan.
"Heeehhh....heeehhh....heeehhh .. manusia she Han, apa yang hendak kau ucapkan lagi
sebagai kata-kata akhirmu" ejek dara itu dengan ketus.
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, sambil menggertak gigi jawabnya: "Tak ada katakata
lagi, mau turun tangan hayolah cepat turun tangan."
"sungguh tak ada pesan terakhir"
"Ada Aku hanya ada sepatah kata saja. yakni siapa yang menanam buah pahit dia akan
menerima pula akibatnya."
"Apa kau bilang? Heeehhh..haaahhh. haaahhh.." dara itu bagaikan orang sinting tertawa
nyaring, suaranya keras dan mengerikan membuat siapapun jadi bergidik.
" orang she Han, terus terang kuberitahukan kepadamu" serunya lagi, "aku telah tahu bahwa
peristiwa macam hari ini cepat atau lambat pasti akan terjadi, tapi kau musti ingat, sebelum ajalku
tiba, semua pria tampan yang ada dikolong langit akan kubunuh semua, tak akan kubiarkan
manusia-manusia ganteng bikin keonaran lagi di kolong langit..haaahhh..haaahhh..haaahhh."
Ditengah gelak tertawa yang kalap menyerupai orang sinting, terselip hawa napsu membunuh
yang benar-benar mengerikan.
Gusar nian Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, ia sadar dengan tenaga dalam yang
dimiliki Go siau bi sekarang, apa yang diucapkan bisa jadi benar-benar dilaksanakan, dan jikalau
apa yang di ancam benar-benar dilaksanakan maka suatu badai pembunuhan yang mengerikan
tak terelakkan lagi.
"Go siau bi" serunya kemudian dengan gemas. "sayang aku tak dapat membinasakan engkau
dengan tanganku sendiri"
"Haaahhh ....haaahhh....haaahhh..dan aku... aku gembira sekali, karena hari ini akan kubunuh
engkau dengan tanganku sendiri."
"Hmm Tak usah banyak bicara lagi. kalau ingin turun tangan hayolah cepat turun tangan"
"Kenapa musti buru-buru mati? Bagaimana dengan adik Hui yang pernah berkorban demi cinta
kasihnya kepadamu? Mungkinkah dia akan datang lagi kemari untuk mendirikan batu nisan
untukmu.."
satu ingatan melintas dalam benak Han siong Kie, sekarang ia tahu bahwa Go Siau bi telah
mempunyai niat untuk membinasakan dirinya. .
"Hehhh...heeehhh..heehhh... engkau tak usah merisaukan tentang dirinya, ia telah berangkat
mendahului diriku" ejeknya sambil tertawa dingin.
"Apa? Dia sudah mati?" seru Go siau bi dengan wajah tertegun.
"Hmm Kenapa? Kau merasa kecewa?" ejek sang pemuda. Air muka Go siau bi beberapa kali
berubah hebat, tiba2 hardiknya keras- keras:
"Han siong Kie, inginkah kau mengetahui sebab musabab sehingga aku berniat membinasakan
dirimu??"
"Aku rasa tak perlu"
"Jadi engkau telah paham?"
"Aku tak ingin memahami persoalan itu, kalau ingin membunuh silahkan turun tangan"
"Jadi engkau sama sekali tidak menyesal??"
"Haaah haaah haaaahh Han siong Kie tak kenal arti menyesal"
Telapak tangan Go siau bi mulai gemetar, rasa cinta dan benci amat mendalam hatinya dia
ingin membunuh pemuda ini lantaran dia gagal mendapatkan cinta kasihnya, maka membenci
pemuda itu, malahan membenci pula setiap pemuda tampan yang sebaya dan setanding dengan
anak muda ini.
Tapi..benarkah dara itu tega untuk membunuh kekasih hatinya ? Air mata mulai bercucuran
membasahi seluruh wajahnya.
Lama ..lama sekali suasana tetap hening, dengan tak sabar Han siong Kie menghardik:
"Hey, kenapa engkau tidak turun tangan??" Tiada jawaban tiada gerakan.
Karena tak sabar pemuda itu akhirnya bangkit dan memandang kemuka, tampaklah selembar
wajah yang murung, sedih dan penuh dengan air mata terbentang didepan mata, wajah itu sayu
dan sama sekali tiada bekas hawa napsu membunuh yang sadis.
"Itulah perempuan.... itulah namanya perempuan" pikir Han siong Kie dihati, hanya hati
perempuan yang gampang berubah, hanya sikap perempuan yang mudah jadi sedih.." sindirnya
kemudian dengan suara yang dingin dan tak enak didengar:
"Bukankah kau ingin membunuh aku? Kalau ingin membunuh, hayolah cepat laksanakan, kalau
tidak... maaf kalau aku akan berlalu dari tempat ini."
"Tunggu sebentar" tiba-tiba dara itu membentak
"Ada apa lagi?"
Disekanya air mata yang membasahi pipinya, lalu Go siau bi berseru ketus:
"Aku toh tak pernah mengatakan bahwa aku tak akan membunuh dirimu? Kenapa kau hendak
pergi?"
"Kenapa tidak cepat turun tangan ? Hayo, kalau ingin bunuh aku bunuhlah sekarang juga"
"sebelum kubantai dirimu, terlebih dahulu ada beberapa patah kata hendak kuterangkan lebih
dulu, aku harap engkau dengarkan kata2 ku ini dengan sebaik baiknya."
"Katakanlah cepat"
Perlahan Go siau bi menundukkan kepalanya karena hati yang pedih, selang sesaat kemudian ia
menengadah kembali, tampaknya dara ini telah mengambil keputusan: Katanya dengan penuh
emosi:
"Han siong Kie, masih ingatkah engkau tatkala tubuhmu tercebur kedalam sungai dan aku
berhasil menolong dirimu kemudian selama tiga hari kurawat kau sebaik-baiknya..."
"Toh sudah kukatakan, tiap budi kebaikan yang pernah kuterima, suatu ketika pasti akan
kubalas?" tukas sianak muda itu dengan nada tajam.
" Kedua kalinya, ketika aku dilukai oleh pengawal istana Huan mo kiong, engkau membawa aku
menginap disebuah rumah penginapan...."
"Waktu itu keadaan amat mendesak. tiada tindakan lain bagiku kecuali berbuat begitu"
"Tapi ingatkah kau bahwa antara laki2 dan perempuan ada batas-batasnya? setelah kita
menginap disatu kamar yang sama, bagaimana mungkin aku ..." Berbicara sampai disini tiba-tiba
ia tundukkan kepalanya rendah-rendah..
Karena pandangannya yang sempit, Han siong Ki memang membenci setiap perempuan yang
ada diseantero jagad tapi di dasar hatinya ia sebenarnya ramah dan penuh kasih sayang, diapun
memiliki api asmara dan rasa cinta, hanya perasaan hatinya itu tertekan oleh jalan pikirannya yang
keliru.
sebagai seorang pemuda yang cerdas tentu saja ia dapat menangkap arti dari kata-katanya itu
tapi si anak muda itu tak bisa berbuat banyak sebab pada hakekatnya ia tak mencintai Go siau bi,
yang ada dalam hati kecilnya cuma rasa berterima kasih serta rasa berhutang budi belaka...
Tapi sekarang tanpa disadari jantungnya berdebar keras..
sekarang ia mulai berpikir, mungkinkah dara yang cantik ini jadi kalap lantaran pinangan put lo.
sianseng terhadapnya tempo hari telah ditolak secara mentah2?
Rasa simpatik, kasihan dan iba seketika menyelimuti perasaan hatinya, ia mulai merasa kasihan
atas nasib jelek yang telah menimpa anak dara itu
"Nona, aku merasa amat menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya atas terjadinya
peristiwa itu" ia berkata dengan lembut.
"Hmm Rasa sesal yang mendalam?"
"Dengan hati yang tulus dan ikhlas aku mohon kepada nona sudilah kiranya jangan membunuh
orang lagi mulai saat ini"
"Kalau kutolak permohonanmu itu?" seru sang dara dengan ketus dan muka menyeringai.
suasana yang semula sudah tenang dan damai, kini berubah kembali jadi tegang. Paras muka Han
siong Kie berubah hebat, sahutnya cepat:
"Bila nona menampik permohonanku ..tu, terpaksa aku harus melaksanakan apa yang telah
kukatakan tadi"
"oooh. Jadi engkau akan membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil tertawa sinis.
"Betul bila kau takut peristiwa itu sampai terjadi, silahkan kau bunuh aku lebih dahulu sebab
kalau tidak, andaikata kita sampai bertemu lagi dikemudian hari, kau pasti akan kubunuh".
selapis hawa dingin yang ketus dan menyeramkan mulai menyelimuti raut wajah Go siau bi, ia
mengejek sinis:
"Huuuh.. Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu??"
"Lihat saja nanti hasilnya, apa gunanya banyak bicara yang tak ada gunanya?"
"Han siong Kie, engkau tak bisa membendung niatku ini, akan kubunuh pemuda tampan yang
ada dikolong langit hingga mereka musnah semua dari atas muka bumi.. Hmm Engkau ingin
bunuh aku ? Baiklah ini hari sengaja kau kulepaskan dirimu, akan kulihat bagaimana caramu
membunuh aku, tapi kau musti ingat, bila kita sampai bertemu muka lagi, andaikata engkau tak
dapat membunuh aku, maka akulah yang akan membinasakan dirimu"
Han siong Kie menatap sekejap kearah wajahnya dengan pandangan dingin, mulutnya tetap
membungkam.
Kalau bisa ia hendak membacok dara itu hingga mampus, rasa simpatik dan kasihan yang
muncul dalam hatinya tadi kini tersapu bersih dari lubuk hatinya.
Pemuda itu tak ingin banyak ribut lagi dengan dara tersebut, per-lahan2 dia putar badan dan
berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang kian menjauh, Go siau Bi berdiri termangu-mangu,
beberapa kali dia hendak memanggilnya..tapi setiap kali niatnya itu dibatalkan, ia merasa bagaikan
tersiksa dan terharu, sehingga akhirnya tak kuasa lagi menangislah gadis itu ter-sedu2.
Isak tangis itu sempat terdengar oleh Han siong Kie yang makin menjauh, ia agak tertegun dan
menghentikan langkahnya, tapi sesudah ragu sebentar pemuda itu lanjutkan kembali
perjalanannya kedepan. kali ini ia tidak berpaling lagi.
Dengan penuh rasa mendongkol Go siau Bi mendepak-depakan kakinya keatas tanah, serunya
berulang kali:
"suatu ketika aku pasti akan membunuh kau..tunggu saja tanggal mainnya"
Pada saat itulah, tiba2 dari tempat kejauhan berkumandang suara gonggongan anjing yang
sangat ramai.
Dengan segera Go siau Bi berpaling, begitu mengetahui apa yang tertera didepan matanya ia
jadi tercekat dan mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat.
tampaklah dua ekor anjing sebesar tubuh anak sapi berdiri disisi kiri dan kanannya pada jarak
dua kaki, giginya yang runcing menyeringai seram, matanya memancarkan sinar buas, selama
hidup belum pernah ia jumpai anjing sebuas dan sebesar ini
sementara dia masih termenung sesosok bayangan manusia kembali melayang masuk ke dalam
hutan, orang itu adalah seorang kakek bungkuk yang membawa sebuah pecut rotan yang
panjang.
Dengan sorot matanya yang beringas kakek itu menatap sekejap wajah Go siau bi, lalu
mengawasi pula pada mayat yang terkapar diatas tanah, setelah itu dia menganggak beberapa
kali.
"Hey, apa maksudmu datang kemari?" tegur Go siau bi dengan suara dalam. Kakek bungkuk itu
tertawa seram:
"Heeehhh... heehhh...heeehhhh.... Cantiknya memang cantik, cuma sayang perempuan
secantik ini tak lebih hanyalah kuntilanak yang berhati keji"
"Apa? siapa yang kau maksudkan?" teriak dara ayu itu dengan mata melotot.
"siapa lagi, tentu saja engkau"
Sepasang alis mata Go Siau bi berkenyit, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya, sambil mendengus dingin katanya:
"Hey tua bangka yang tak tahu diri, sebelum nonamu berniat membinasakan engkau, bawalah
anjing2 itu dan segera berlalulah dari tempat ini"
"Heeeh heehh . heeeh kenapa aku musti pergi ? Kedatanganku justru hendak mencari engkau"
"Mencari aku ? Siapa kau dan sebutkan namamu"
"Aku adalah Khoo Tio cu, si bungkuk she Khoo pengurus rumah tangga perkampungan oh bau
san cung, mengerti??"
Mendengar nama itu, satu ingatan terlintas dalam benak Go Slau bi, sekarang ia sudah dapat
menebak apa yang telah tarjadi, dengan wajah yang tetap tenang katanya: "Lantas ada urusan
apa kau cari aku??"
"Kedua orang sau cengcu perkampungan kami telah tewas dipinggir jalan-"
"Kalau aku yang bunuh mau apa kau?" tukas sang dara cepat.
"Bagus sekali, setelah kau memberikan pengakuan urusan makin gampang untuk diselesaikan,
darimana asal perguruanmu?"
"Huuh. Kau belum berhak untuk mengetahuinya."
Sinar mata yang bengis dan buas memancar keluar dari balik mata si bungkuk itu, begitu
bengisnya sinar mata orang itu sehingga hampir tak ada bedanya dengan kebengisan mata kedua
ekor anjingnya, membuat siapapun yang memandangnya jadi bergidik. Ia maju beberapa langkah
kedepan, lalu serunya dengan suara yang menyeramkan:
" Heeeh hh heeeh hh heeeh hh memang sekarang susah untuk memaksa kau untuk berbicara
tapi ingatlah baik-baik, suatu ketika engkau akan mengakuinya sendiri"
"Bungkuk she Khoo, nonamu tak ingin membinasakan dirimu, kalau tahu diri lebih baik
enyahlah dari sini"
"Heehhh heeehhh heeehhh kau suruh aku pergi dari sini? Lucu... benar-benar sangat lucu, kau
malah suruh aku pergi.. tahukah kau bahwa aku si bungkuk she Khoo justru tak ingin melepaskan
engkau dengan begitu saja??"
"Bangsat Jadi engkau benar2 ingin mati?"
"Yang ingin mampus bukan aku, melainkan kau sendiri"
Hawa napsu membunuh mulai menghiasi air mukanya yang putih, ia mendengus gusar telapak
tangannya diayun kedepan dan segulung hawa hijau yang mengerikan segera meluncur kedepan
melancarkan sebuah ancaman maut.
Paras muka sibungkuk she Khoo itu berubah hebat, ia agak tertegun menyaksikan datangnya
ancaman berwarna hijau itu, tampaknya sepanjang hidup, belum pernah dia jumpai ilmu
kepandaian seaneh dan setangguh ini.
"Blang " Ditengah benturan keras yang cukup memekikkan telinga, tubuh si Bungkuk she Khoe
itu mencelat sejauh delapan depa lebih dari kedudukan semula, darah panas bergolak dalam
dadanya, betapa terkesiapnya sukar dilukiskan dengan kata2.
Keistimewaan dari ilmu pukulan Thian tok ciang hoat adalah daya pantulan yang terpancar
keluar bila menyentuh pukulan itu, makin besar seseorang melancarkan serangannya maka
semakin besar pula daya pantulan yang terpancar oleh kepandaian itu.
Masih untung tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Go Siau bi tidak lebih cuma enam bagian
belaka, dan tapi Khoe Tuo cu tak sempat melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga karena
ia dibikin kaget bercampur tertegun, karena itu loloslah dia dari ancaman bahaya maut yang
sebetulnya dapat merenggut selembar jiwanya.
sudah tentu Khoe Tuo cu tidak mengenal kelihayan dari ilmu pukulan itu, betapa penasarannya
orang itu karena peristiwa yang barusan terjadi, dengan sorot mata yang bengis dia menerjang
maju lagi ke depan, sebuah pukulan yang lebih dahsyat bagaikan hembusan angin topan
menerjang ke dada lawan.
"Bangsat, rupanya engkau memang sudah bosan hidup," hardik Go siau bi denganpenuh
kegusaran-
Dengan ilmu pukulan Thian tok ciang hoat yang telah dikerahkan mencapai delapan bagian ia
sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blamm" suatu benturan dahsyat kembali menggelegar diudara, jerit ngeri yang melengking
mendesis dari mulut Khoe Tuo cu, badannya mencelat sejauh beberapa kaki dan darah segar
muntah keluar dari mulutnya.
"Bluuk" bagaikan sebuah cupu2, tubuhnya menggelinding diatas tanah setelah jatuh mencium
tanah.
Gong gongan anjing berkumandang memecahkan kesunyian, seekor anjing besar yang berada
disamping kanan tiba2 menerjang kearah dara itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Lolongan anjing yang mengerikan berkumandang menyayat kesunyian yang mencekam udara,
anjing besar itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dari tempat semula.. "Duukk" Ketika menumbuk
diatas dahan sebuah pohon besar, mampuslah anjing tersebut seketika itu juga.
Dalam pada itu Khoo Tuo cu telah bangkit dari atas tanah, ia tampak agak tertegun
menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki dara tersebut, kejadian ini sama sekali diluar
dugaannya. sebab kalau bukan seorang tokoh silat yang benar-benar berilmu tinggi tak mungkin
anjing besar itu dapat dibunuh dalam sekali pukulan belaka
Dalam terkejut dan cemasnya, bagaikan titiran angin deras cambuk rotannya diputar
sedemikian rupa mengitari angkasa.
Anjing raksasa yang berada disebelah kiri bagaikan sambaran kilat telah melancarkan tubrukan
pula kedepan.
siau bi terancam bahaya, cepat-cepat telapak tangannya dilontarkan kemuka melepaskan
pukulan maut..
Agaknya anjing besar itu sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki musuhnya sangat lihay,
berada ditengah udara tubuhnya berjumpalitan beberapa kali diudara dan menggelinding kebawah
kaki anak dara itu, moncongnya langsung menyambar kedepan dan menggigit kakinya.
semua gerakan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tak kalah cepatnya dengan seorang
jago lihay.
Bergetar keras perasaan hati Go siau bi menghadapi ancaman itu, cepat ia melejit dan
melambung keudara, dari situ telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat kebawah.
Gagal dengan gigitannya, anjing besar itu segera meluncur maju satu kaki lebih ke depan-
Tatkala Go Siau bi melayang turun kembali keatas tanah, secepat kilat sambaran anjing itu
menerkam lagi kedepan.
Kali ini tak sempat bagi Go siau bi untuk berkelit, telapak tangannya langsung dibacokkan
keatas batok kepala anjing itu..
"Guukk..guuukk.. lolongan panjang kembali menderai diudara, batok kepala anjing itu terbacok
sampai hancur jadi dua bagian, kepalanya hancur dan darah serta isi benaknya tersebar dimanamana,
anjing itu mampus seketika itu juga.. Tapi cakar anjing sebelah depannya sempat pula
mencakar paha Go Siau bi..
Rasa gatal-gatal dan kaku yang aneh segera menyerang pahanya dan perlahan-lahan bergerak
naik keatas.
Rasa kaget dan terkesiap yang menyelimuti hatinya sekarang susah dilukiskan dengan kata2, ia
tahu itulah tanda2 keracunan atau dengan perkataan lain cakar anjing itu mengandung racun yang
sangat jahat.
Dengan cepat semua jalan darah penting di tubuhnya ditutup semua, setelah menghadang
peredaran racun yang merambat lebih jauh kearah lain, dengan sorot mata yang bengis
menyeramkan, ia menerjang kearah Khoo Tuo cu habis2an.
"Blaaang" kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi
angkasa, dengan batok kepala hancur berantakan Khoo Tuo co menggeletak dalam keadaan
mengerikan-
"Perempuan rendah, pada hakekatnya engkau memang bukan manusia, hatimu keji dan tak
kenal ampun, akan kuhancurkan tubuhmu hingga lembut seperti abu."
Bersamaan dengan munculnya bentakan keras yang sangat mendadak itu, seorang kakek tua
berjubah hitam yang tinggi besar telah nelayang masuk kedalam gelanggang.
"Suiiit"" siulan lengking menggema diangkasa, menyusul belasan ekor anjing besar bagaikan air
bah, menerjang kearah tubuh Go siau Bi.
Kejut dan gelisah menyelimuti seluruh perasaan anak dara itu, ia merasa sukma serasa
melayang tinggalkan raganya karena ketakutan, gadis itu sadar bahwa ia sudah kena racun keji
dari anjing2 itu, daripada berdiam diri dan mati konyol ditangan lawan jauh lebih baik melarikan
diri tinggalkan tempat itu.
Begitu ingatan tadi melintas dalam benaknya, ia lantas melejit ke udara dan meluncur masuk
kearah hutan-
Apa mau dikata rupanya racun sudah mulai bekerja dalam tubuhnya, sepasang kakinya sudah
tak mau mendengar perintah lagi, baru saja melayang sejauh lima kaki, tubuhnya terjatuh kembali
keatas tanah. sementara kawanan anjing besar itu kembali sudah menerjang tiba dengan
hebatnya.
Antara manusia dan anjing, segera berkobarlah suatu pertarungan yang amat mengerikan-
Anjing- anjing besar itu memang tersohor karena keganasannya, bukan saja sifatnya memang
buas, cakarnya mengadung racun keji dan gerak geriknya cepat bagaikan sambaran kilat, lagipula
tak takut mati, maka setelah mendapat latihan secara khusus kehebatan mereka jauh lebih
mengerikan daripada serangan dari jago-jago silat kelas wahid.
Cemas dan marah bercampur aduk dalam benak Go siau bi, telapak tangannya diayun berulang
kali kemuka, kabut hawa hijau kembali menggulung keempat penjuru dengan dahsyatnya.
Ditengah benturan2 yang memekikan telinga, lolongan panjang berkumandang susul menyusul.
Dalam waktu singkat delapan ekor anjing yang telah binasa ditangan anak dara itu tapi sisanya
tak gentar barang sedikitpun, mereka masih melanjutkan terjangannya dengan kecepatan yang
luar biasa.
Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Go siau bi, rambutnya awut-awutan dan napasnya
tersengal-sengal, ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengatur pernapasan-
Rombongan anjing- anjing besar itu menerjang dan mundur secara beraturan, mereka saling
mengisi kekosongan yang ada dan menyerang dari tiga arah yang berlawanan, yakni arah atas
tengah dan bawah.
Tentu saja Go siau bi tak berani menyambut datangnya ancaman itu secara gegabah, sebab dia
tahu anjing-anjing itu sangat beracun pada kuku-kukunya.
sementara itu kakek berjubah hitam yang berada disamping gelanggang merasa gusar dan
sakit hati, namun ia tak berani menghentikan serangan anjing-anjing itu, sebab ia tahu betapa
sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, ia telah bersiap sedia mengorbankan anjinganjingnya
itu sebagai ganti dari kesuksesan rencananya.
setengah peminum teh kemudian, bangkai anjing telah bergeletak dimana-mana, darah serta
hancuran daging tersebar dimana-mana, keadaannya mengerikan sekali.
Dari sekian banyak anjing besar yang dibawa oleh kakek baju hitam itu, tak seekorpun yang
masih hidup pada saat ini.
Walaupun demikian, keadaan Go Siau bi sendiripun mengenaskan sekali, ia sudah kehabisan
tenaga, kakinya yang keracunan sekarang menjadi bengkak dan satu kali lipat lebih besar daripada
keadaan biasa, rasa sakit menyerang sampai kelubuk hati, sekali pun ia tahu masih ada seorang
musuh yang mengincar dirinya namun ia tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, akhirnya
gadis itu roboh dan jatuh terduduk diatas tanah.
Dengan sinar mata bengis, penuh kebuasan kakek berjubah hitam maju kedepan dengan
langkah lebar.
Go siau bi sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya, diapun menghimpun sisa
kekuatan yang dimilikinya untuk dikumpulkan pada telapak tangan kanannya.. Sambil bergerak
maju kedepan kakek baju hitam itu berkata tiada hentinya:
"Perempuan rendah, engkau telah menipu dan membunuh dua orang putra kesayanganku, ini
hari akan kusuruh kau rasakan pula siksaan yang terkeji dikolong langit, akan kusiksa kau sampai
mampus ....Hmm Sakit hati ini akan kutuntut balas beberapa kali lipat lebih dahsyat tunggulah
tibanya saat seperti itu ...."
Go Siau bi membentak keras, telapak tangan kanannya tiba-tiba diayun kedepan, lima gulung
desiran angin tajam segera meluncur keluar dan mengancam tubuh kakek itu.
Rupanya kakek baju hitam itu memang sengaja memperlambat langkah kakinya berhubung dia
harus bersiap menghadapi tibanya ancaman yang tak terduga dari pihak lawanoleh
sebab itu ketika Go Siau bi mengayunkan telapak tangannya kedepan, secepat kilat ia
berkelit kesamping, tapi toh gerakan itu teriambat setengah langkah, tangan kanannya terasa
sakit sekali hingga merasuk ketulang sumsum, tak kuasa lagi dia mendengus tertahan.
Ilmu jari Bwe hoa cuan sim ci (juri si kura penembus hati ) yang digunakan Go siau bi ini adalah
salah satu ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian toh pit kip. arah yang dituju adalah
dada musuh atau tepatnya persis diatas jantung, andaikata terkena hajaran jantung orang akan
pecah dan binasalah orang itu.
Tapi berhubung kakinya terluka sehingga banyak tenaga dalamnya berkurang maka melesetlah
serangan itu dari sasaran utamanya.
"Blam" pukulan tangan kiri yang dilepaskan kakek berjubab hitam itu dengan telak bersarang
ditubuh Go siau Bi
Ditengah dengusan yang tajam, tubuh dara itu mencelat dan bergelinding diatas tanah,
kesadarannya punah dan dara itu berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak.
Kakek tua baju hitam itu tertawa seram, secara beruntun dia menotok beberapa buah jalan
darah penting ditubuh gadis itu.
Kemudian ketika dilihatnya musuhnya sudah tercakar oleh racun anjingnya, ia ambil keluar
sebuah botol kecil dari porselen putih, diambilnya sedikit bubuk kuning dan dijejalkan kemulut Go
siau Bi, lalu mengambilpula sebagian dan dibubuhkan pada sekitar mulut luka, kemudian baru
berkata dengat nada menyeramkan: "Hmm Hmmm aku tidak akan membiarkan engkau mampus
dengan begitu saja"
Ditatapnya sekejap bangkai2 anjing itu dengan perasaan berat, akhirnya sambil mengempit
tubuh Go siau Bi, dia berlalu dari tempat kejadian-
Tatkala Go siau Bi sadar kembali dari pingsannya, ia menemukan kaki tangannya telah
dibelengu orang, tubuhnya berbaring terlentang dengan menghadap keatas, namun ia tak mampu
bergerak sementara rasa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya.
Ia membuka mata dan memeriksa keadaannya, tapi segera dara itu jadi malu bercampur gusar,
ternyata ia sedang dibelenggu di atas sebuah papan kayu dalam keadaan telanjang bulat, sehelai
benangpun tidak menempel ditubuhnya, sementara kakek baju hitam itu sedang memandang
kearahnya sambil menyeringai seram.
Disamping kakek itu berdirilah sepasang anjing besar yang sedang mencakar2 tanah sambil
memperdengarkan serentetan suara kaing-kaing yang aneh.
Dia ingin buka mulut untuk berbicara, namun tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
sadarlah dara itu bahwa jalan darah bisunya telah ditotok orang.
-00d0w00-
BAB 57-
SECARA lapat2 dara itu mulai menduga apa yang bakal terjadi serta menimpa dirinya.
Ia rela mati dan mengakhiri hidupnya lebih cepat, namun ia tak mampu untuk melakukannya,
beberapa buah jalan darah ditubuhnya tertotok. sekalipun ilmu silatnya sangat tinggi, berada
dalam keadaan seperti ini tiada sesuatu apapun yang bisa dilakukan lagi olehnya.
Tiba2 kakek berbaju hitam itu tertawa seram, suaranya sadis dan mengerikan-
" Heeeh heeeehh heeeehh perempuan rendah, aku adalah Ho Thong thian ketua
perkampungan oh hau san-cung, ingat baik2 namaku ini dan ketahuilah bahwa aku berbuat
demikian demi membalaskan dendam bagi kematian dua orang putraku"
Go Siau Bi ingin bicara namun tak mampu mengucapkan sepatah katapun, apa boleh buat?, Dia
cuma bisa berbaring dengan mata melotot penuh kegusaran. Terdengar Ho Thong thian
melanjutkan kembali kata katanya:
"Perempuan rendah, engkau telah memancing kedua orang putraku dengan kecantikan
wajahmu kemudian membunuhnya secara keji.. heeeh heeeh heeeh sekarang, saat pembalasan
telah tiba, coba pandanglah kedua ekor anjing jantan itu, dia akan menjadi suamimu sebentar lagi,
dari kedua ekor anjing jantan inilah engkau akan mendapatkan kepuasan seks yang paling nikmat,
kau akan di bikin naik kesorga oleh kedua ekor anjing ini haaah haaahh haaaahh manusia digagahi
oleh anjing, itulah acara pertunjukkan yang menarik sekali."
-00d0w00-
BETAPA terkejut dan takutnya Go siau bi sesudah mendengar ancaman itu, ia merasa
sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya, bila sampai peristiwa itu benar-benar terjadi,
inilah siksaan yang terkeji dikolong langit, seorang gadis perawan akan kehilangan kesucian
tubuhnya ditubuh seorang anjing, bahkan sekaligus akan diperkosa oleh dua ekor anjing besar
secara bersamaan, matanya jadi berkunang dan pandangannya jadi gelap akhirnya ia jatuh tak
sadarkan diri saking gusar dan mendongkolnya.
Hoo Thong thian tertawa seram, cepat ia totok jalan darah Thian kia hiat ditubuh dara itu.
sekali lagi Go siau bi sadar kembali dari pingsannya, hancur luluh perasaan hatinya, air mata
jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya yang ayu ....
"Perempuan rendah, dengarkan baik-baik kataku ini" ujar Ho Tong Thian lebib jauh "kecuali
menerima pembalasan ini, tiada cara lain yang bisa kugunakan untuk menghajar dirimu, Nah
setelah engkau menerima kepuasan seks ditubuh kedua ekor anjing jantan ini, maka engkau akan
menjadi santapan yang paling lezat bagi mereka haaah haaahh haaahh itulah pertunjukkan yang
paling surprise, sang istri yang cantik setelah digagahi akan disantap"
Dalam keadaaa seperti ini Go siau bi benar-benar kehabisan akal, mau melarikan diri jelas tak
mungkin, ingin bunuh diri juga tak mampu, tepatnya ia memang harus merasakan siksaan hidup
yang paling keji itu, diperkosa lebih dulu oleh anjing, lalu tubuhnya akan di cabik sebagai penghuni
perutnya.
Air mata dengan derasnya mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya. sekarang ia dapat
merasakan apa artinya pembalasan-.. dia mulai menyesal. "ooooh sungguh cepat pembalasan
yang tiba dan menimpa diriku" keluhnya dihati.
Bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis perawan, dia memiliki serangkaian ilmu silat
yang luar biasa, ia tak takut mati, sebab ia merasa bahwa mati hanya suatu pelepasan belaka,
pelepasan dari segala bentuk siksaan maupun penderitaan, tapi ia tak sudi mengalami siksaan
tersebut sebelum ajalnya, apa lagi siksaan yang begitu kejinya. Bila seseorang bisa putus asa,
kadang kala timbul pelbagai ingatan dalam ingatannya.
Dara itu berharap akan terjadinya suatu kejadian yang diluar dugaan, sehingga ia dapat
terhindar dari siksaan yang paling keji ini, ia rela melakukan apapun untuk membayar
pertolongannya itu, asal siksaan yang tak berperi kemanusiaan ini bisa di hindari
Gelak tertawa dari Ho Thong thian, pemilik perkampungan oh hau san ceng masih
berkumandang tiada hentinya. lengking suara tertawa yang menyerupai binatang itu bagaikan
pisau tajam yang menyayat-nyayat hatinya, membuat hatinya hancur lebur.
Tampaknya dua ekor anjing jantan itupun sudah berpengalaman dalam melaksanakan tugas
itu, dengan sorot mata yang merah membara dan mengerikan, anjing-anjing itu menatap tubuh
Go siau bi yang telanjang tanpa hentinya, sementara bunyi desiran aneh muncul dari mulutnya,
keadaan benar2 mengerikan..
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Go siau bi yang sedang menghadapi
bahaya perkosaan oleh dua ekor anjing..
sementara itu Han siong Kie telah meneruskan perjalanannya dengan langkah yang amat
lambat karena luka parah yang dideritanya akibat pertarungan melawan Go siau bi, ia tak dapat
mengerahkan tenaga sebagai mana mestinya.
39
Setengah jam kemudian, ia baru mencapai sejauh lima li dari tempat semula, lembah In wu kok
yang hendak dituju secara lapat-lapat sudah kelihatan didepan mata.
Walaupun hubungannya deagan Go Siau bi tak dapat dikatakan ada perasaan cinta, namun
perasaan persahabatan tetap ada dan oleh karena itu ia merasa sedih oleh perbuatannya,
mimpipun ia tak menyangka Go Siau bi yang halus, lembut dan berbudi sekarang telah berubah
jadi manusia lain-
Terutama kata2 dari Go Siau bi, tiap kali terbayang kembali ia lantas merasakan jantungnya
berdebar keras.
cinta memang tak dapat dipaksakan, apa lagi hatinya sudah terisi oleh perempuan lain-
Segulung desiran angin dingin berhembus lewat disamping tubuhnya, dengan terkejut Han
Siong Kie berpaling, dia tahu desiran angin itu bukan hembusan angin biasa melainkan kehadiran
seseorang manusia lain-
Pemuda itu merasa kuatir, dalam keadaan terluka parah, tak mungkin baginya melakukan
perlawanan lagi jika yang datang adalah pihak musuh.
Secepat kilat ia berpaling, seorang perempuan berkerudung tahu2 sudah berdiri dihadapannya.
orang itu siapa lagi kalau bukan orang yang ada maksud. Untuk sesaat Han Siong Kie berdiri
tertegun-
"Nona, engkau hendak pergi kemana?" tegurnya.
"Aku datang mencari engkau "
"Mencari aku? Ada urusan apa engkau mencari aku..?" pemuda itu merasa keheranan.
"Nona Go siau bi tertangkap oleh Hoo Thong thian, CengCu dari perkampungan Go hau san
Ceng"
Agak terkejut Han siong Kie mendengar kabar itu, serunya kurang percaya:
"Masa ia tertangkap? Kepandaiannya toh sangat lihay, masakah ilmu dari Hoo Thong thian luar
biasa."
"Ia keracunan lebih dulu oleh anjing raksasa, sehingga akhirnya dia tertangkap"
"oooh.. kiranya begitu"
"Apakah engkau tidak menguatirkan mati hidupnya??" kembali orang yang ada maksud
bertanya.
"Ia telah membunuh Kim kian siang ing (sepasang pendekar pedang emas) putra kesayangan
HHoo Thong thian, sewajarnya kalau sang ayah membalaskan dendam bagi kematian putranya"
"Tapi.. tahukah engkau bahwa Hoo Thong thian adalah seorang manusia durjana yang banyak
melakukan kejahatan? Begitu pula dengan anak-anaknya, mereka sering kali mengacau rakyat,
kematian mereka justru menggirangkan banyak orang"
"Nona" seru Han siong Kie dengan cepat, " apakah engkau mengerti sebab-sebab yang
mendorong ia melakukan pembantaian2 sekalipun Kim Kiam siang ing pantas dibunuh, akan tetapi
bagaimana dengan lainnya?"
orang yang ada maksud tertawa setelah mendengar perkataan itu, ia balik bertanya: "Tahukah
engkau, apa sebabnya ia sampai membunuh orang?"
"Hmm Ia sudah mengidap penyakit gila .... dan otaknya sudah sinting dan tak waras."
"Hmmmm" kali ini orang yang ada maksud mendengus dingin, " apakah ucapan itu muncul dari
lubuk hatimu??"
"Nona, apa maksudmu mengucapkan kata-kata itu?" tanya Han siong Kie tercengang.
"Go siau bi bisa sampai membunuh orang sepantasnya engkau memikul setengah dari
tanggung jawabnya "
" Kenapa..?" tanya sang pemuda dengan air muka berubah hebat.
" Karena engkau, dia telah membunuh orang"
" Karena aku ? Kenapa karena aku dia lantas main membunuh??"
"Manusia bermuka dingin" seru orang yang ada maksud dengan suara tajam " engkau tak usah
pura2 berlagak pilon, masakah engkau masih belum dapat memahami apa sebabnya ia sampai
membunuh orang?"
"Aku benar2 tidak paham"
"ooh, jadi kalau begitu engkau tidak bersedia menolong jiwanya??" Han siong Kie tertawa
dingin-
"Heeeh heeeh heeehh menolong dia ? Aku malahan sudah berkata kepadanya, bila kami
bertemu lagi dilain waktu maka aku akan membinasakan dirinya"
"Dengan dasar alasan apa engkau akan membunuhnya??"
"sebab ia telah membunuh orang dengan semena-mena"
"Ia bisa membunuh orang karena engkau, maka kaupun harus ikut bertanggung jawab atas
terjadinya peristiwa ini "
"Nona, jangan asal main tuduh saja, coba terangkanlah perkataanmu itu dengan lebih jelas lagi
"
"oleh karena engkau telah melukai hatinya, maka dia membunuh setiap pemuda yang
dijumpainya"
"Aku ? Aku telah melukai hatinya?"
"Benar "
"Dalam hal apakah aku telah melukai hatinya??"
"Masakah engkau benar2 akan suruh aku mengatakannya keluar??"
"Tak ada halangannya kalau nona hendak mengatakan"
"Sewaktu engkau dihajar oleh pemilik benteng maut sehingga tercebur kedalam sungai
kemudian jiwamu tertolong olehnya, dimana selama tiga hari engkau total berbaring diatas
pembaringannya . "
"setiap budi yang pernah kuterima tidak pernah kulupakan, suatu ketika pasti akan kubalas "
"Dalam masalah ini, persoalannya bukan manyangkut tentang soal balas budi atau tidak"
"Lalu persoalan ini menyangkut dalam hal apa??"
"Kalau seorang anak dara bersedia merawat seorang pemuda asing didalam kamar tidurnya,
bahkan tanpa canggung-canggung merawatnya, dapatkah engkau rasakan apa sebabnya ia
bersedia melakukan kesemuanya itu"
Han Siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, bukannya ia tak dapat merasakan hal ini,
melainkan ia tak bersedia untut mempertimbangkan soal tersebut. Terdengar orang yang ada
maksud berkata lebih jauh:
"Tahukah engkau bahwa Go siau bi telah bersumpah didepan pusara ayahnya bahwa dia tak
akan menikah dengan orang lain kecuali dengan kau seorang"
"Apa sangkut pautnya dengan diriku? Itu toh urusan pribadinya sendiri??"
Jawaban yang dianggap terlalu ketus ini segera membangkitkan hawa amarah dihati orang
yang ada maksud, serunya lagi:
"Aku mengerti, oleh karena engkau adalah Manusia bermuka dingin maka engkau dapat
mengatakan ucapan yang sadis dan sama sekali tidak berperasaan ini, tentunya engkau tidak lupa
bukan dengan peristiwa dalam rumah penginapan? Engkau telah memeluk tubuhnya bahkan
menginap disatu kamar."
"Aku merrpunyai niat untuk membalas budi pertolongannya, masakah perbuatanku ini keliru??"
"Engkau tidak keliru, tapi bila seseorang dara telah berdempetan dengan seorang pria, malahan
perlu dipeluk. tidur dalam satu kamar selain ia kawin dengan lelaki itu, mungkinkah dia bisa kawin
dengan orang tak lain"
"Aaaah . . Kita toh orang-orang persilatan, Bagi kita orang persilatan rasanya tak perlu
merisaukan soal tetek bengek itu"
"Itu kan pandangan segelintir orang, andaikata Go siau bi memandang berat persoalan ini, lalu
apa yang hendak kau lakukan ?"
Han siong Kie memang merasa seperti dipaksa dan ditekan untuk menerima kenyataan itu, ia
tak bisa berkutik, kecuali meringis rasanya memang ia tak bisa berbuat lain-Terdengar orang yang
ada maksud melanjutkan kembali kata-katanya:
"Aku rasa Go siau bi cukup cantik dan cukup bagus, ia pantas untuk menjadi isterimu, apalagi
kakeknya Put lo sianseng sebagai seorang tokoh persilatan ternyata mengajukan pinangan sendiri
kepadamu, tak kunyana kau malah menampik pinangannya sehingga membuat dara itu tertekan
jiwanya, padahal kau toh tahu bahwa ia mencintai dirimu? Nah, karena pelbagai alasan inilah ia
jadi sinting dan melakukan hal-hal yang diluar dugaan, coba katakanlah apakah engkau tidak
merasa ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini??"
"Maksud nona, engkau hendak memaksa ku untuk mencintai dirinya??"
"Masa ia tak pantas untuk menerima cintamu ? Dan engkau sama sekali tidak tergerak hatinya
oleh cinta kasihnya yang telah dilimpahkan padamu??" Han siong Kie membungkam, betul2
membungkam dalam seribu bahasa.
Dahulu ia memang pernah membenci seantero perempuan yang ada dijaga d, tapi sejak
hubungan cintanya dengan Tong hong Hwie, perasaan hatinya mulai terbuka, untuk pertama
kalinya ia benar-benar mencintai seorang dara, dan ia persembahkan rasa cintanya itu padanya.
Terhadap Go siau bi, meskipun tak bisa dikatakan ia memandangnya seperti memandang
perempuan lain, tapi diapun tidak mencintai dirinya.
Tiba-tiba suatu rasa menyesal dan iba tersebut dalam hati kecilnya, ia ikut merasakan
penderitaan serta kesedihan yang dialami anak gadis itu.
Tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya, maka diapun berkata dengan dingin-
"Nona, tentunya engkau masih ingat bukan dengan seseorang yang bernama Tonghong Hui?."
Tampak sekujur tubuh orang yang ada maksud bergetar keras, tapi ia menjawab dengan cepat.
"Tentu saja masih ingat, kenapa??"
"Terus terang kukatakan padamu nona, perasaan dan hatiku telah dibawa pergi olehnya"
"Bukankah ibuku pernah memperingatkan kau, bila hubunganmu dengan Tong Hong Hui
dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu tragedi" Han siong Kie tertawa
sedih.
"Mungkin tragedi telah menjadi kenyataan, tapi aku sama sekali tidak merasa menyesal"
"Sudah menjadi kenyataan? Apa maksud
JILID 28 HAL. 16/17 HILANG
kedua hal ini bisa dijadikan satu, tapi aku berpendapat bahwa cinta yang murni dan cinta yang
sesungguhnya tidak musti dipadukan dalam kehidupan yang nyata"
"Justru persoalannya bukan terletak disini"
"Maksudmu masih ada alasan serta persoalan lain yang bisa mengakibatkan terjadi tragedi
ini??"
"Memang begitulah kenyataannya"
"Kata-kata itu sangat membingungkan hati orang, apakah engkau bersedia untuk menerangkan
lebih jauh?"
"Suatu ketika engkau akan memahami dengan sendirinya, sekarang maafkanlah daku karena
aku tak dapat memberitahukan hal ini untukmu, bukannya aku sengaja berlagak sok rahasia tapi
berbicara sesungguhnya, sekarang juga engkau harus pergi menyelamatkan jiwa nona Go Siau bi,
kalau terlambat aku kuatir telah terjadi hal-hal yang luar biasa"
"Kalau toh nona telah mengetahui bahwa ia sudah tertawan oleh orang-orang dari
perkampungan oh han san ceng, mengapa kau tidak berusaha untuk menolongnya melainkan.."
"Tentu saja aku mempunyai alasan tertentu"
"Dapatkah kuketahui alasan itu?"
"Dalam perkampungan oh han san ceng telah dipelihara anjing-anjing perbatasan yang besar
dan cakarnya beracun, sedangkan engkau memiliki kekuatan anti racun, maka tugas ini tak
mungkin bisa diselesaikan oleh orang lain"
Pada hakekatnya orang yang ada maksud telah mendapat perintah dari ibunya yakni orang
yang kehilangan sukma untuk sengaja mengatur kesemuanya ini, kalau tidak karena rencana
mereka, tentu saja dengan kepandaian yang dimiliki orang yang ada maksud, Go Siau bi telah
tertolong ketika ia terluka tadi.
Sementara itu, Han siong Kie sedang tundukkan kepalanya sambil termenung beberapa saat
lamanya, kemudian sahutnya.
"Maaf nona, aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan itu"
"Jadi engkau tidak bersedia untuk menolong jiwanya ??"
"Aku tak dapat menyelamatkan jiwa sekarang, pembunuh yang pernah membantai ber-puluh2
lembar jiwa manusia yang sebenarnya sama sekali tidak berdosa "
"Di kemudian hari ia tak akan membunuh orang lagi dan aku akan menanggung hal ini bagimu,
bagaimana??"
"Tetapi... "
"Ada apa lagi?? "
"Isi perutku terluka parah, aku kuatir...."
"Aaah Kalau cuma soal itu kan gampang sekali, aku punya obat yang sangat mujarab, dengan
dasar tenaga dalam yang kau miliki, maka setelah meminumnya dalam waktu setengah
perminuman teh, seluruh kesehetananmu dapat pulih kembali seperti sedia kala"
Tidak menanti jawaban dari Han siong Kie lagi, dia ambil keluar sebiji obat sebesar kelengkeng
lalu diangsurkan kedepan-
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Han siong Kie harus menerimanya, dia berkata:
"Baiklah, memandang diatas wajah kalian ibu dan anak. aku bersedia menolong jiwanya"
Habis berkata dia masukkan obat itu ke dalam mulut, kemudian duduk bersila ditepi pohon
untuk mengatur pernapasan
Kemujaraban obat itu memang luar biasa sekali, pada hakekatnya sama sekali tidak berbeda
dengan keampuhan Kui goan kim wan dari Kun si Mo ong.
Kurang lebih setengah perminuman teh kemudian, dalam keadaan segar bugar Han siong Kie
telah melompat bangun kembali dari atas tanah.
Setelah orang yang ada maksud menunjukkan dari perkampungan oh hausan ceng, ia berpesan
pula.
"Menolong orang bagaikan menolong kebakaran, sekarang juga engkau boleh segera
berangkat. Mungkin saja kita akan bertemu kembali dilain waktu" Dengan tubuh yang enteng dia
lantas berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang berlalu, Han siong Ki cuma bisa menggeleng sambil
menghela napas panjang, akhirnya iapun berangkat menuju ke perkampungan oh hau san ceng.
Perkampungan oh hausan ceng merupakan sebuah bangunan perkampungan yang
JILID 28 HAL. 22/23 HILANG
Habis berkata, ia menutup kembali pintu ruangan dan berjalan menuju keruang tamu.
Meskipun jalan darah Go siau bi sudah tertotok. namun pendengarannya masih berjalan
normal, betapa gembira hatinya setelah mendengar kabar bahwa Manusia berwajah dingin telah
tiba diperkampungan itu.
Timbul kembali harapannya untuk melanjutkan hidup.
"Mungkinkah ia datang kemari untuk menolong aku? begitulah dia mulai berpikir, tapi
mungkinkah ia sudi menyelamatkan jiwaku? Bukankah ia telah membenci aku dan ingin
membunuh aku??"
Apalagi setelah teringat bahwa ia berada dalam keadaan telanjang bulat, dimana hampir semua
bagian rahasia tubuhnya tertera nyata, ia merasa malunya bukan kepalang, kalau bisa dia ingin
mati saja sehingga tak perlu menanggung rasa malu.
Dalam pada itu Ho Thong thian telah muncul diruang depan, ia saksikan seorang pemuda
tampan yang berwajah dingin sedang berdiri sambil bergendong tangan ditengah ruangan-ketika
sepasang mata mereka membentur satu sama lainnya, tanpa sadar seluruh tubuhnya bergidik, Ia
merasa sorot mata orang itu tajam sekali, membuat siapa pun jadi bergidik rasanya.
Tapi dia berusaha untuk menekan perasaan hatinya, sambil tertawa terbahak-bahak ia menjura
lalu berkata:
"Apakah sauhiap adalah Manusia bermuka dingin yang namanya telah menggetarkan seluruh
dunia persilatan??"
"Betul, itulah aku orangnya"
"Silahkan duduk dan minum teh "
"Tak usah, apakah engkau yang bernama Ho Cungcu??"
"Benar, boleh aku tahu apa maksud kedatangan sauhiap ke perkampungan kami ini??" Dengan
dahi berkerut Han siong Kie berkata:
"Seorang sahabatku yang bernama Go siau bi, apa bener berada dalam perkampungan ini??"
setajam sembilu sorot matanya menatap wajah orang itu, ia menanti jawaban orang itu dengan
tenang.
Terkesiap Ho Thong thian mendengar pertanyaan itu, sekarang dia baru tahu bahwa
kedatangan manusia berwajah dingin adalah disebabkan karena perempuan rendah itu, mau
membohong jelas tak mungkin, hanya untungnya ia telah mengadakan persiapan.
Maka dengan wajah berubah hebat sahutnya:
"Betul, dia memang berada didalam perkampungan ini"
"Adapun kedatanganku kemari adalah hendak mengajak cungcu untuk merundingkan persoalan
ini, apakah engkau bersedia untuk melepaskan nona itu??"
"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memenuhinya, sebab ia telah membinasakan dua
orang putraku"
"Tapi kejadian ini toh berawal dari sikap putramu yang terpikat oleh kecantikannya, dalam soal
ini nona itu tak dapat kau salahkan "
"Haaah haaah haaahh pada hakekatnya justru dialah yang telah memikat putraku dengan
kecantikan wajahnya, ditinjau dari sikapmu yang begitu paham dengan duduknya persoalan ini,
aku rasa engkau tentu mempunyai, hubungan yang luar biasa dengan Go siau bi. Nah sauhiap
berbicaralah menurut liangsimmu, berilah keadilan serta kebijaksanaan kepadaku, pantaskah aku
melakukan pembalasan dendam?"
Untuk sesaat Han siong Kie terbungkam dan tak mampu menjawab pertanyaan itu, sebab katakata
itu memang masuk diakal dan benar. Lama sekali, akhirnya ia baru berkata. "Apa yang
hendak kau lakukan atas diri nya?"
"Hutang darah harus dibayar dengan darah, hutang nyawa bayar nyawa.."
"Apakah engkau tidak merasa bahwa tindakanmu ini kelewat batas??"
"Siapa membunuh manusia diapun harus membayar dengan nyawa sendiri, masa tindakan
semacam ini kelewat batas?"
"Tapi pada hakekatnya toh putramu yang terpikat dulu oleh kecantikan nona Go dan
membuntutinya terus menerus, tindakan ini sudah pantas untuk diberi hukuman mati"
"sauhiap. apa yang kau ucapkan itu berdasarkan pengamatanmu sendiri ataukah karena
mendengar dari mulut orang?"
"Tentu saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"Jadi maksud sau hiap. engkau melarang aku untuk melakukan pembalasan dendam??"
"Bukannya begitu, aku ingin tahu dengan cara apakah engkau berhasil menangkap nona Go
siau bi??"
"Tentu saja mengandalkan kepandaian silatku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie segera tertawa terbahak-bahak nyaring sekali
suaranya.
"Haaah haaah haaaah Ho too cungcu, bukannya kupandang enteng dirimu, pada hakekatnya
kalau engkau ingin menundukkan dia dengan andalkan cara yang bersih dan jujur, maka
kepandaian silatmu masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan dirinya ?"
"oooh.. Maksud sau hiap. aku telah menggunakan cara yang licik dan tidak jujur untuk
menundukkan nona itu??"
"Begitulah maksudku, aku tidak melarang cungcu untuk membalaskan dendam bagi kematian
putramu, tapi aku harap lakukanlah duel tersebut secara jujur dan terbuka, sebab masalah ini tak
bisa diselesaikan dengan berat sebelah"
Tiba-tiba sekulum senyum licik yang sadis dan mengerikan melintas diatas wajah Ho Thong
thian, ia menjura dan berkata.
" Kalau memang begitu, bagaimana kalau sau hiap duduk dulu sambil minum teh? Aku akan
menggusur nona Go siau bi datang kemari kemudian menyelesaikan masalah ini secara adil di
depan sauhiap? Tentunya sauhiap bersedia bukan??"
oooodwoooo
BAB 58
MESKIPUN dalam hati kecilnya Han siong Kie menaruh curiga karena perubahan sikapnya yang
sangat mendadak itu, namun dia lantas berpikir didalam hati.
"Dengan andalkan kepandaian silatmu, bila engkau berani main gila dengan aku, itu berarti
engkau mencari penyakit buat diri sendiri." Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangguk.
"Baiklah, lakukan semuanya itu"
"Kalau memang begitu harap sauhiap tunggu sebentar disini"
Baru beberapa langkah Ho Thong thian berlalu, tiba-tiba pemuda itu berseru kembali.
"Eeeh.. tunggu sebentar"
"Apa yang hendak sauhiap katakan lagi??"
Dengan sorot mata yang bengis dan mengandung hawa napsu membunuh, Han siong Ki
berkata dengan sadis:
"Ho cungcu, sebelum semuanya terjadi aku hendak berkata lebih dahulu kepadamu, aku harap
janganlah engkau bermain gila dengan aku, kalau tidak . . . Hmmm Terus terang kukatakan
kepadamu, akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, dan apa yang sudah kukatakan dapat
pula kubuktikan."
Mula-mula Ho Thong thian agak tertegun, tapi dia lantas tertawa seram sambil menyahut.
"Aaaah ... sau hiap terlalu banyat curiga, masa aku adalah manusia yang lain diluar lain dihati?"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berseru keluar ruangan:
"Go Tiong hidangkan air teh dan siapkan meja perjamuan untuk tamu kita ini "
"Tak usah banyak adat, selesai urusan disini aku segera akan berlalu, tak berani banyak
mengganggu kau lagi"
Ho Thong thian tidak menanggapi ucapan itu, dia mengangguk dan berkata: "Aku akan segera
pergi mengambil nona Go siau bi seraya berkata dia lantas berjalan keluar dari ruangan itu
Tiba2 kecurigaan yang timbul dalam hati kecil Han siong Kie semakin menebal, kalau toh Go
siau bi sudah tertangkap. kenapa ia musti tunggu disitu dan anehnya kenapa tak ada orang yang
bergerak ditempat ini ?"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 terdengar suara gemuruh yang
amat keras berkumandang dari ruangan itu, menyusul mana seluruh ruangan tersebut mulai
berputar kencang.
Menghadapi kenyataan tersebut, pemuda itu baru menyadari bahwa ia sudah terjebak oleh
siasat licik musuhnya, dia berpekik di hati:
"Aduuh celaka, aku sudah tertipu oleh anjing tua itu"
Tanpa berpikir panjang lagi dia segera melejit dan meluncur keluar kearah pintu ruangan-
Tapi dalam sekejap mata itulah seluruh pintu ruangan telah tertutup rapat, dan suasana dalam
ruangan itupun berubah jadi gelap gulita sehingga kelima jari tangan sendiripun sukar terlihat.
Han siong Kie berdiri tertegun, saking gemas dan mendongkolnya dia sampai menggigit
bibirnya kencang2, mimpipun ia tak mengira karena bertindak gegabah sehingga mengakibatkan
dia terjebak oleh tipu muslihat lawan-
"criing. criing.. tiba-tiba ruangan itu tenggelam kedasar bumi, ketika Han siong Kie mengamati
dengan seksama, ternyata ia sudah terkurung dibawah sebuah penjara dalam tanah yang kuat
dan empat penjuru merupakan dinding tebal yang tak tembus hawa.
sekarang anak muda itu baru menyesal apa sebabnya tidak bertindak hati-hati setelah masuk
kedalam perkampungan, karena musti menuruti peraturan dunia persilatan, akhirnya dia harus
terjebak oleh perangkap lawan-
Dari alat jebakan yang rupanya sudah dipasang disetiap bagian ruangan dalam perkampungan
oh han san cung, dapat pula di tarik kesimpulan bahwa perkampungan ini bukanlah suatu
perkampungan baik dan pemiliknya tentu saja sebagaimana yang dikatakan orang yang ada
maksud, benar-benar merupakan manusia bejad yang licik dan banyak akal muslihatnya.
sekarang nasi sudah menjadi bubur dan menyesalpun tak ada gunanya, untuk sesaat lamanya
pemuda itu cuma bisa berdiri menjublek dengan perasaan bingung.
"Kraaakl.krassakkk.. tiba-tiba dari atas dinding muncul sebuah pintu kecil, dibalik pintu tersebut
merupakan sebuah lorong yang amat panjang.
Rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dada Han siong Kie sudah tak tertahan lagi,
dia himpun hawa murninya ke dalam telapak tangannya. ia sudah bersiap sedia bila ada musuh
yang munculkan diri maka dia akan menyeret dan membinasakan musuhnya secara keji.
Tapi apa yang terjadi? Meskipun sudah ditunggu dengan lama, namun tiada sesuatu gerakan
apapun yang muncul dihadapannya.
Sesudah ragu sejenak, akhirnya pemuda itu melangkah keluar dari pintu kecil itu dan masuk
kedalam lorong yang terbentang didepan matanya itu.
Kurang lebih tiga puluh kaki dihadapan nya muncul sebuah anak tangga batu yang menjulang
ke atas.
Yang aneh ternyata disekitar tampat itu sama sekali tidak nampak sesosok
JILID 28 HAL35/36 HILANG
Memang mengerikan sekali anjing-anjing itu, sekilas pandangan orang akan mengira anjing itu
sebagai mahluk sebangsa macan kumbang.
Ditinjau dari bentuk bangunan rumah gelap itu, anak muda itu menduga bahwa dia telah
berada diatas permukaan tanah.
"criiiing ..." sementara anak muda itu masih melamun- tiba-tiba terdengar dentingan nyaring
menggema memecahkan kesunyian, seketika ia berpaling, maka tampaklah pintu kecil dimana ia
muncul tadi tahu-tahu sudah tertutup rapat.
Agak lama pemuda itu termenung, kemudian ia bergerak menuju kepintu ruangan dan
merabanya dengan tangan-
Pintu itu terbuat dari besi baja yang sangat kuat, ketika didorong kebelakang ternyata
menimbulkan suara pantulan yang berat, ini membuktikan bahwa pintu itu terbuat dari baja yang
tebalnya mencapai satu depa lebih, besi seberat itu tak mungkin bisa didorong olehnya dengan
kepandaian yang dimilikinya saat ini. Tiba-tiba dari atas dinding besi itu muncul sebuah lubang
bulat sebesar
JILID 28 HAL. 38/39 HILANG
mata, apa gunanya mengucapkan kata-kata yang tekebur semacam itu??"
"Baiklah, kalau engkau tidak percaya, nantikanlah saat pembalasanku itu"
"Tak usah ditunggu lagi, sekarang juga akan kupertunjukkan suatu adegan yang hidup dan
segar dihadapanmu, coba lihatlah, budak rendah yang kau cintai itu sekarang dia harus membayar
semua akibat dari perbuatannya, sebelum engkaupun dicium oleh anjing2ku, dekatkanlah matamu
dengan lubang ini dan intiplah apa yang ada disini."
Dengan penuh kegusaran Han siong Kie mendekati lubang pengintip itu dan melongok
kedalam.
Tapi apa yang kemudian terlihat olehnya membuat air muka anak muda itu berobah jadi merah
padam bagaikan darah, jantungnya berdebar keras dan kemarahannya semakin memuncak.
sebuah tubuh gadis yang telanjang bulat dengan semua bagian rahasianya tertera nyata,
terikat disebuah palang kayu yang besar, sepasang paha dara itu terbentang lebar sekali dan
tangannya sudah dipentangkan lebar, hal ini membuat setiap organ tubuhnya dapat dilihat tanpa
aling2.
selama hidup belum pernah dia saksikan gadis telanjang, dan kali ini merupakan kali yang
pertama ia saksikan gadis telanjang didepan mata, saking bedebarnya hampir saja jantungnya
mau copot.
Tetapi setelah ia menegaskan bahwa dara itu tak lain adalah Go sian bi, kegusarannya sukar
terkendalikan lagi, sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar ber-api2, teriaknya
dengan keras:
"Tua bangka anjing, apa yang hendak kau lakukan atas dirinya??" Ho Thong thian tertawa
dingin.
"Heeeh heeh heeh ia telah membunuh anakku dengan mengandalkan kecantikan wajahnya,
maka sekarang akupun akan menggunakan cara yang lebih keji untuk menghukum dirinya. Coba
kau tengok kesamping, sudah kau lihat sepasang anjing jantan itu."
"Haaahh haaahh haaahh sebentar lagi akan berlangsung adegan perkosaan seorang gadis oleh
dua ekor anjing jantan.. belum pernah menyaksikan bukan? Nah, sebentar lagi akan kau saksikan
bagaimana caranya dua ekor anjing memperkosa seorang anak dara.."
saking gusar dan gemetarnya Han siong Kie sambil menggertak giginya keras2, kalau bisa detik
itu juga dia akan mencincang tubuh orang itu sehingga hancur ber-keping- keping, tapi sebuah
dinding baja yang kuat telah menghadang ditempat itu, tak mungkin baginya untuk menerobos
masuk keruangan sebelah.
Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu tragedi yang memilukan hati, kesucian seorang
anak dara ternyata harus direnggut oleh dua ekor anjing jantan..
Go siau bi sendiri meskipun jalan darahnya tertotok. namun telinganya dapat mendengar dan
matanya bisa melihat, meskipun mulutnya tak dapat berbicara, ia mendengar suara dari Han siong
Kie dan perasaan hatinya terasa amat sakit bagaikan disayat-sayat, rasa malu, gusar, benci dan
gelisah bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.
Air mata yang meleleh keluar merupakan campuran darah, seluruh kulit wajahnya berkerut
kencang, membuat wajah gadis itu berubah jadi aneh sekali.
"Bangsat tua, engkau berani bertindak keji?" bentak Han siong Kie dengan penuh kebencian,
dia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah dinding baja itu.
"Blang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga membuat seluruh dinding baja itu
bergetar sangat keras.
Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang dilepaskan si anak muda ini di dalam
gusarnya.
Ho Thong thian agak tertegun setelah menyaksikan kedahsyatan hawa pukulan lawan, paras
mukanya ikut berubah hebat, tapi sejenak kemudian dia telah berubah jadi tenang kembali,
ejeknya:
"Bocah keparat sekalipun engkau bisa membongkar jagad, jangan harap bisa merubah nasib
kalian berdua"
"Tua bangka bajingan, kalau engkau berani mengganggu seujung rambutnya, Perkampungan
oh han san ceng kuratakan dengan
JILID 28 HAL. 44/45 HILANG
sementara anjing yang satu sudah berdiri sambil siap memperkosa anak gadis tersebut, anjing
yang lain meraung dan meronta dengan sekuat tenaga, rupanya anjing itupun sudah birahi dan
ingin menuruti jejak rekannya untuk menikmati pula kehangatan tubuh manusia.
situasi betul2 amat kritis dan berbahaya, bila tiada pertolongan yang tiba pada saatnya, niscaya
gadis cantik jelita itu akan di renggut kehormatannya oleh seekor anjing..
Hampir saja anjing itu menggagahi tubuh Go siau bi ketika secara tiba tiba anjing tersebut
mendesis panjang, menyusul tubuhnya mencelat setinggi delapan depa ke udara.. Biang.." ketika
terbanting kembali keatas tanah, darah segar berhamburan dari tubuhnya dan binasalah anjing
tersebut dalam keadaan mengerikan.
Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini sangat mengejutkan hati Ho Thong thian, dengan
sukma serasa melayang tinggalkan raganya secara beruntun dia mundur beberapa lamgkah
kebelakang.
"Criiit criing " beberapa desingan angin tajam menyergap lagi kemuka.
Untung Ho Thong thian sudah mundur ke belakang, dengan begitu desiran angin serangan
tersebut tidak mengena pada sasarannya, andaikata ia tidak mengundurkan diri tadi, niscaya
dadanya sudah berlubang besar.
sekali lagi terdengar lolongan panjang yang memekikan telinga, beberapa desingan angin
serangan yang sebelumnya tertuju ketubuh Ho Thong thian itu, sekarang meluncur kearah anjing
besar yang masih dirantai itu dan menghajarnya telak. seketika anjing itu pun mampus dengan
keadaan mengerikan.
setelah menenangkan hatinya. rasa kaget dan panik berhasil diatasi oleh Ho Thong thiansekarang
dia tahu serangan tersebut muncul dari balik lubang diatas dinding tersebut, kecuali hasil
perbuatan dari manusia berwajah dingin, rasanya memang tak mungkin bisa dilakukan oleh pihak
kedua.
Maka ia lantas bergeser kesudut ruangan yang sejajar dengan lubang diatas dinding itu,
katanya sambil tertawa seram:
"Haaahhhh haaahh haaahhh bocah keparat, engkau memang lihay, tapi sayang pertunjukan
bagus harus tetap dilangsungkan, engkau tahu aku memelihara hampir seratus ekor anjing
semacam itu, tak ada artinya bagimu kematian dua ekor anjing tersebut, tapi dengan
perbuatanmu tadi engkau sudah kehilangan hak untuk menikmati pertunjukan bagus, sekarang
engkau harus terjun sendiri dalam pertunjukan yang jauh lebih menarik"
"criiing...?" tiba tiba lubang diatas dinding itu menutup secara otomatis.
Kiranya disaat yang paling kritis, Han siong Kie teringat dengan ilm ujari Tong kim ci nya yang
lihay, maka dari lubang pengintip itulah dia melancarkan serangannya untuk membinasakan kedua
ekor anjing tersebut dan kejadian ini sama sekali diluar dugaan Ho Thong thian.
setelah lubang pengintip itu tertutup, Han siong Kie semakin panik dan gelisah, sekarang bukan
saja ia terkurung dalam jebakan malahan Go siau bi semakin terancam jiwanya.
"Kraaakkk kraaakkk " bunyi gemerincing berkumandang dari arah belakang, ketika ia berpaling,
hatinya kontan jadi terperanjat rupanya terali besi disamping ruangan itu sudah dibuka dan lima
ekor anjing besar bagaikan harimau telah menyusup keluar dari kandangnya dan mengambil posisi
pengepungan.
sambil menggonggong seekor anjing besar itu laksana kilat menerjang maju kedepan. Han
siong Kie cepat bergeser kearah samping, ilmu jari Tong kim ci segera dilepaskan.
Anjing itu mendesis lengking, tubuhnya terhajar telak dan mampus seketika itu juga, sementara
empat ekor lainnya pada saat yang hampir bersamaan menerkam kedepan.
Ruangan itu luasnya cuma tiga kaki, sedangkan kedua sangkar anjing itu hampir menempati
separuhnya, sisa ruangan yang tersedia sempit sekali, dalam keadaan seperti ini sulit baginya
untuk berkelit maupun menghindar.
Untungnya Han siong Kie memiliki ilmu lintasan cahaya kilatan bayangan yang lihay bagaikan
sukma gentayangan dia bergerak kian kemari diantara terjangan-terjangan empat ekor anjing
tersebut, meskipun posisinya berbahaya namun tak sampai terancam jiwanya.
JILID 28 HAL.50/51 HILANG
lewat pintu yang sempit, tiap kali pula sianak muda itu membunuhnya dengan ilmu jari Tong
kin ci.
Dalam sekejap mata tiga ekor anjing raksasa sudah mampus dengan badan hancur.
"Crinng " tiba? pintu sangkar itu menutup dan Han siong Kie terkurung didalam sangkar
tersebut.
Namun sianak muda itu sama sekali tidak ambil pusing, dari bilik celah-celah terali besi secara
beruntun dia lancarkan beberapa sentilan mautnya. Tiga ekor anjing raksasa yang tersisa, kembali
mampus diujung telapak tangannya.
Begitulah, dalam sekejap mata ada sepuluh ekor anjing raksasa yang telah ia bunuh mati.
selesai membunuh anjing2 itu, Han siong Kie lantas mencengkeram terali besi itu karena pintu
keluarnya tertutup rapat maka dia memutuskan untuk mematahkan terali besi itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, sekali merentangkan tangannya, terali besi itu
segera melengkung dan terbukalah sebuah lubang yang cukup besar.
Pemuda itu meneborobos keluar dari sangkar tersebut, walau begitu dia belum lolos dari
kurungan sebab dinding baja masih mengurungnya dalam ruangan itu
Betapa gelisahnya pemuda itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia seperti seekor harimau
buas yang terjebak dalam kerangkeng sambil berjalan kesana kemari otaknya berputat terus untuk
mencari akal guna meloloskan diri dari kurungan.
Bagi si anak muda ini, keselamatan sendiri tidak terlalu dipentingkan, ia justru lebih
menguatirkan keselamatan Go siau bi, sekarang dia dapat memahami sampai dimanakah kekejian
Ho Thong thian, ia tahu apa yang telah diancamkan dapat dilaksanakan menjadi kenyataan-
Ho Thong thian memang sangat keji, di tinjau dari tindak tanduknya yang begitu terlatih dan
terbiasa, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah banyak perempuan yang mengalami nasib tragis
ditangannya, entah sudah berapa banyak anak perempuan yang dijadikan obyek tontonannya
diperkosa olen anjing ..
Rasa dendam, benci, marah berkecamuk dalam hatinya, hawa napsu membunuh telah
menyelimuti seluruh wajahnya. Ia bersumpah dihati bila Ho Thong thian sampai tertangkap maka
akan dibunuhnya orang itu secara keji.
sambil menahan diri pemuda itu mulai meraba dinding baja dan berusaha untuk menemukan
letak tombol rahasia ditempat itu, namun kecuali pintu rahasia tadi, tiada bekas lain yang terdapat
disitu, seakan-akan ruangan itu dibuat dari lembaran baja yang utuh.
sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru pertama kali ini dia menjumpai keadaan yang
mencemaskan hatinya, dan membuat ia jengah serta serba salah.
Hawa amarah makin memuncak. hampir saja anak muda itu tak sanggup mengendalikan diri..
Tiba-tiba pintu besi yang menghubungkan ruangan itu dengan penjara bawah tanah perlahanlahan
bergerak ke atas dan akhirmya terbukalah sebuah liang kecil.
Han siong Kie mundur tiga langkah ke belakang, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan
siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di inginkan.
sesosok makhluk aneh berbulu perlahan-lahan muncul dari lubang tadi dan meloncat keluar ....
Han siong Kie semakin terperanjat, telapak tangannya diayun kemuka melepaskan pukulan
maut.
"Hey, bocah jangan pukul aku" makhluk aneh itu berseru dengan lantang.
Han siong Kie menarik serangannya dan mundur ke belakang ternyata makhluk berbulu itu
adalah kepala manusia, dia adalah sorang manusia cebol yang gemuk dan bentuk badannya persis
seperti blingo, rambutnya telah beruban semua.
orang itu tak lain adalah Tee heng sian (Dewa berjalan dalam tanah) yang pernah merampas
pusaka Hud jiu po pit miliknya tempo hari.
Kemunculan Tee heng sian dalam keadaan semacam ini jauh diluar dugaan Han siong Kie, ia
tahu tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sangat lihay dan tindak tanduknya sangat misterius.
Dengan suara yang dingin bagaikan es, sianak muda itu segera menegur keras:
"Bukankah emgkau adalah Tee heng sian?"
Dengan tubuh yang gemuk dan gerakan yang lamban- Tee heng sian bergerak
JILID 28 HAL. 56/57 HILANG
" Untuk meneguk beberapa guci arak wangi itu, aku telah membuang waktu selama berbulan2
lamanya, dari luar perkampungan aku telah menggali sebuah lorong rahasia yang langsung
berhubungan dengan gudang arak itu."
Ter mangu2 Han siong Kie setelah mendengar ucapan tersebut, kejadian ini memang
merupakan suatu kejadian yang aneh sekali, untuk mencuri beberapa guci arak wangi, ternyata
orang itu bersedia bekerja selama ber-bulan2 lamanya. setelah tertegun sesaat diapun bertanya
lagi:
"Engkau toh tahu bahwa perkampungan oh han san ceng penuh dengan anjing2 raksasa? Masa
dengan daya penciuman anjing2 itu, jejakmu tidak sampai ketahuan ?"
"Haaah haaah haaaah kalau ingin jadi pencuri yang ulung maka pengetahuan sebagai pencuri
musti luas, tentu saja akupun tahu akan lihaynya daya penciuman anjing-anjing itu, maka sengaja
kugosokkan serbuk anti bau disekujur badanku, setelah begitu maka sekalipun anjing dari langit
juga tak akan dapat mencium bauku"
"Jadi kalau begitu, engkau bisa keluar masuk perkampungan ini dengan leluasa?"
"Itu sih tidak. meskipun aku punya serbuk anti bau, tapi aku tidak punya serbuk anti anjing,
kalau sampai terkepung anjing2 buas itu, bisa jadi mayatku akan habis disikat mereka, tentu saja
kedatanganku kemari juga menempuh bahaya"
"Kenapa engkau datang kesini dengan menempuh bahaya ?"
"Tentu saja karena engkau si bocah muda "
40
"Lantaran aku?" seru Han Siong Kie dengan wajah tercengang.
"Memang begitulah kenyataannya"
"Boleh aku tahu apa sebabnya engkau datang kemari ?"
"Mari duduklah dulu dan biarlah aku bercerita dari awal sampai akhir."
"Sekarang aku tak ada waktu" Seru Han Siong Kie dengan gelisah, "apakah engkau bersedia
memberi petunjuk kepadaku bagaimana caranya keluar dari penjara ruang baja ini??"
"Engkau ingin buru2 menolong bocah perempuan itu? " tanya Tee heng sian sambil melototkan
matanya yang aneh.
"Dari mana engkau bisa tahu?" Han siong Kie balik bertanya dengan hati terperanjat.
"Jangan gelisah dulu, aku kebetulan dapat mencuri dengar kejadian ini dari bawah tanah,
sebab tanah dibawah tempat tinggal Ho Thong thian telah kubongkar, maka semua pembicaraan
diatas kedengaran jelas dibawah, sekarang makhluk tua itu sedang merawat lukanya, untuk sesaat
dia tak mampu mengapa-apakan bocah perempuan itu lagi"
"Lhoo..kok aneh, masa Ho Thong thian sedang merawat lukanya?" tanya Han siong Kie
keheranan.
00dw00
BAB 59
"MASA membohongi kau?"
"Lantas dia luka ditangan siapa?"
"siapa lagi? Tentu saja ditangan bocah perempuan itu"
"Aaah, tidak mungkin, bukankah jalan darahnya sudah tertotok, dia sama sekali tak bisa
bergerak.."
"Hey bocah, pernahkah dengar tentang ilmu membebaskan jalan darah dengan hawa murni?
Bocah perempuan itu sudah kembali melepaskan diri dari pengaruh totokan, dan suatu serangan
kilatnya berhasil pula melukai Ho thong thian"
"sekarang gadis itu ada dimana??"
"Dia masih terkurung dalam ruangan baja sebelah ruangan ini"
JILID28 HAL. 62/63 HILANG
Begitulah, dengan Tee heng sian berjalan didepan, Han siong Kie berjalan dibelakang mereka
melewati sebuah lorong yang sangat panjang.
Ketika hampir mendekati ruang tamu dan tiga kaki dimulut penjara bawah tanah, mereka
mendekati dinding yang berada disebelah kanan, ketika sebuah papan batu sebesar dua depa di
geser kesamping, maka muncullah sebuah gua yang bisa dilewati oleh tubuh seorang manusia.
"Loo tee" kata Tee heng sian kemudian, "inilah jalan bawah tanah yang telah lo ko gali selama
ini, asal batu itu digeser kembali pada tempat semula, maka sekalipun ada dewa yang lewat disini
juga tak akan melihatnya"
-000dw000-
Han siong Kie tertarik sekali dengan keanehan watak sahabat barunya ini, ia tertawa dan
menyahut:
"Kalau mainan begitu, aku mohon diri dahulu"
"Pergilah. Aku paling benci dengan segala tata cara, ingat bocah perempuan itu tersekap dalam
rumah besi ketiga, jangan sampai salah "
Han siong Kie mengiakan, dia lantas menggeser guci arak yang dimaksudkan, disana memang
terdapat sebuah lorong yang gelap dan panjang, pemuda itu lantas menerobos keluar lewat jalan
bawah tanah itu.
seperminum teh kemudian ia sudah keluar dari lorong itu, ternyata sekarang dia sudah berada
diluar pekarangan perkampungan itu, maka sebagaimana yang dipesan, ia tutup kembali mulut
gua itu dengan rapi, kemudian baru menyerbu kedalam perkampungan
Baru saja dia melayang turun didepan dua deret bangunan baja, tiba-tiba tiga sosok bayangan
hitam dengan kecepatan bagaikan kilat telah menyambar tiba, ternyata ketiga sosok bayangan itu
adalah tiga ekor anjing yang besar.
Berada ditanah lapang yang luas Han siong Kie tak perlu menguatirkan cakar racun dari anjinganjing
itu lagi, dalam beberapa gebrakan saja ketiga ekor anjing itu sudah dibikin mampus dengan
pukulan mautnya.
suara pekikan panjang yang diperdengarkan anjing-anjing itu sebelum ajalnya, dengan Cepat
mengejutkan seluruh perkampungan.
Suara langkah kaki yang sangat ramai berkumandang memecahkan kesunyian, belasan orang
lelaki yang berdandan sebagai centeng berlarian keluar dari rumah-rumah baja itu.
Tapi setelah mengetahui siapa yang muncul, hampir sebagian besar centeng itu berdiri
tertegun, mimpipun mereka tak menyangka kalau Manusia bermuka dingin yang dikurung dalam
rumah baja telah berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat.
Padahal mereka tahu bahwa baja yang melapisi ruangan- ruangan itu tebalnya mencapai
beberapa depa, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang tinggi juga tak akan mampu untuk
menghancurkannya,
JILID29 HAL. 06/07 HILANG
untuk membunuh kawanan begundal itu, oleh sebab pihak lawan menghadang jalan perginya,
dia baru berhasrat untuk melakukan pembantaian secara keji. "Trang traanng traaang " suara
genta dibunyikan bertalu-talu.
Ber-puluh2 sosok bayangan manusia meluncur masuk kedalam gelanggang, diantara mereka
ada yang tua ada yang muda, semuanya berjumlah lima puluh orang lebih, tapi yang jelas diatas
wajah orang2 itu terlintas rasa kaget yang bukan kepalang.
setelah semua orang munculkan diri, dengan cepatnya pula Han siong Kie terkurung ditengah
gelanggang.
Menyapu wajah orang2 itu dengan pandangan dingin, Han sioog Kie berkata: "Kenapa sampai
sekarang Hoo Thong thian belum juga munculkan diri?"
Dari antara kerumunan orang banyak. tampil kedepan seorang kakek berbaju hitam, dengan
wajah bengis ia menghardik:
"Manusia bermuka dingin, apa maksudmu datang ke mari??"
"Membantai seluruh isi perkampungan ini" jawab pemuda itu dengan ketus
Ucapan yang berbau amis darah ini sangat menyolok dan menggidikkan hati semua orang,
tanpa sadar paras muka orang-orang itu berubah hebat dan bulu kuduknya pada bangun berdiri
Dengan terperanjat kakek baju hitam itu mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan
suara gemetar:
"Apa? Manusia bermuka dingin, engkau akan membantai seluruh isi perkampungan?"
"Benar, tentunya Ho Thong thian masih belum lupa bukan dengan apa yang telah kuucapkan
ketika berada dalam kurungan ruang besi tadi?"
"Tentu saja lohu tak akan lupa, dengan kata-katamu itu" berbareng dengan berkumandangnya
jawaban itu, Ho Thong thian munculkan diri ditengah gelanggang
Hawa napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah Han siong Kie sambil mendengus
dingin ia tuding Ho Thong thian serunya:
"Bangsat tua lebih bagus lagi kalau engkau memang mengingat kata-kataku itu, sekarang juga
kenyataan akan terbeber didepan mata"
Ho Thong thian memandang lawannya dengan penuh kebencian serta kelicikan:
JILID29 HAl 10/11 HILANG
bahkan cara melepaskan senjata rahasia itu pun menggunakan cara ban thian boa yu ( hujan
bunga diseluruh langit).
Han siong Kie mendengus dingin, sepasang telapak tangannya membuat gerakan lingkaran
didepan dada kemudian menolaknya kedepan.
Ditengah hembusan angin puyuh yang kencang, seluruh kilatan cahaya biru itu sudah tersapu
rontok diatas tanah.
Ho Thong thian bertindak cukup licik, berbareng dengan dilancarkannya serangan itu, dia telah
mundur sejauh dua kaki lebih dari kedudukan semula
Gonggongan anjing menderu-deru, kurang lebih dua puluh ekor anjing besar berlarian keluar
dari ruang baja dan langsung menyerbu kedalam gelanggang
semakin tebal hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Han siong Kie, dia melambung
keudara, sepasang telapak tangannya dilontarkan berbareng kedepan, sepuluh desingan ilmu jari
Tong kim ci dengan kecepatan yang luar biasa menghantam tubuh kakek baju hitam serta pria
setengah baya yang melancarkan serangan senjata rahasia itu
Dua jeritan ngeri memecahkan kesunyian, percikan darah segar berhamburan ditanah, tanpa
sempat menjerit, kakek dan pria setengah baya itu sudah mampus dengan badan berlubang.
Han siong Kie tidak berhenti sampai disitu saja, setelah menewaskan dua orang musuhnya dia
melambung keangkasa dan menubruk kearah Ho Thong thian yang sudah kabur sejauh dua kaki
dari kedudukan semula itu.
Sekarang Ho Thong thian baru merasa takut dan seperti kehilangan sukma, cepatt dia
menundukkan tubuhnya dan menggelinding sejauh beberapa kaki dari tempat itu.
Han siong Kie tidak mengira kalau seorang tokoh silat yang punya nama besar seperti Ho
Thong thian, ternyata telah melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari medan pertempuran,
sementara serangannya gagal mencapai sasaran, belasan ekor anjing besar itu sudah menerjang
tiba dengas serangannya.
Disaat Han siong Kie terkurung oleh kawanan anjing tersebut, Ho Thong thian sendiri kabur
menuju kepintu baja yang keempat, mungkin dia hendak menggunakan ruang baja ini untuk
menyembunyikan diri atau mungkin juga dia masih mempunyai rencana busuk yang lain.
Kali ini Han siong Kie bertindak cerdik, dia melambung setinggi beberapa kaki ke udara setelah
lolos dari sergapan kawanan anjing itu badannya berjumpalitan beberapa kali seperti anak panah
terlepas dari busurnya dia meluncur kearah Ho Thong thian, sepasang telapak tangannya seperti
cakar garuda mengcengkeram batok kepala lawan.
Hampir pada saat yang bersamaan, pintu besi itu terbuka dan mereka berdua masuk kedalam
ruangan baja.
"criing" secara otomatis pintu baja itu menutup dengan sendirinya.
Betapa takut dan ngerinya Hoo Thong thian tatkala dilihatnya bukan saja ia gagal untuk
melarikan diri malahan dirinya terjebak dalam satu ruangan bersama musuhnya.
Ia sadar bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, apalagi berada dalam ruangan
yang begitu sempit, mau melawanpun tak ada gunanya.
Han siong Kie sendiri sudah terlanjur membenci musuhnya ini, cepat telapak tangan kiri serta
ujung jari tangan kanannya ditolak kedepan melancarkan serangkaian pukulan gencar ketubuh
Hoo Thong thian yang sedang ketakutan.
Ho Thong thian sendiri kelabakan setengah mati menghadapi ancaman maut itu, mau
menghindar dia tak mampu, akhirnya tidak ampun lagi tubuhnya terhajar telak oleh serangan
maut itu.
sambil menjerit lengkimg dengan suara yang menyayatkan hati, tubuh Hoo Thong thian
mencelat sampai menumbuk dinding baja, dadanya seketika terhajar sampai berlubang darah
segar berhamburan membasahi seluruh lantai.
setelah musuhnya mampus, Han siong Kie baru tertegun, ia baru menyesal sekarang setelah
musuhnya dibunuh mati, bukankah dengan demikian dia terjebak pula dalam ruangan baja itu?
Bangkai keseputuh ekor anjing itu masih menggeletak ditempat semula, hanya kini bertambah
lagi dengan sesosok mayat manusia.
JILID29 HAl 16/17 HILANG
tubuhnya gemetar dengan jantungnya berdebar dan mukanya jadi merah, secara beruntun dia
mundur tiga langkah ke belakang.
sesosok tubuh yang bugil masih melingkar didalam ruang baja itu, dan dara itu tak lain adalah
Go siau bi.
Padahal menurut keterangan dari Tee heng sian jalan darah Go siau bi sudah bebas malahan
serangannya berhasil melukai Ho Thong thian, kalau toh jalan darahnya sudah bebas, kenapa ia
masih berbaring disitu dalam keadaan telanjang bulat ?
Kalau dilihat dari pintu baja yang separuh terbuka,jelas ada orang pernah memasuki ruangan
ini lalu siapakah orang itu ?
Kenapa tidak menolong Go siau bi, melainkan membiarkan dia .....
Berpikir sampai disini, tak kuasa lagi tubuhnya gemetar keras, pikirnya lebih jauh:
"Aduh celaka, jangan-jangan Go siau bi sudah mengalami...."
Karena kuatir tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu menerjang masuk ke dalam ruangan,
meskipun jantungnya
JILID 29 Hal 19 S/D 24 HILANG
merahnya sehingga tidak menetes ke bawah, ujarnya lagi dengan sedih:
"Sejak pertama kali aku bertemu dengan kau, aku telah mencintai dirimu, engkau adalah orang
pertama yang kucintai juga merupakan orang terakhir yang kucintai, sekalipun aku mencintai
dirimu dengan sepenuh hati dan aku tidak mendapatkan balasan yang sewajarnya tapi aku
memang mencintai kau, cintaku adalah cinta suci yang muncul dari lubuk hatiku, asal kau tahu aku
sudah merasa puas. Aaai . . karena pikiran yang keliru hampir saja aku melakukan kesalahan
besar, terimakasih kuucapkan kepadamu, karena engkau telah memberi kesempatan kepadaku
untuk menebus dosa-dosa itu"
Rasa cinta Han siong Kie benar-benar tersentuh oleh perkataanya itu, detik itu juga ia merasa
bersalah karena pendapatnya yang keliru ini telah menghancur lumatkan rasa cinta dirinya yang
nyata ia telah menyakiti perasaan seorang gadis yang membuat dara itu hampir saja melakukan
kesalahan besar.
"Nona, maafkanlah kesalahanku . ." bisiknya kemudian.
-000dw000-
BAB 60
Go SIAU BI segera ulapkan tangannya dan mencegah pemuda itu meneruskan kata-katanya
"Han siangkong, biarlah kusebut engkau dengan sebutan seperti yang kugunakan ketika untuk
pertama kalinya aku bertemu dengan engkau, sekarang engkau tak usah minta maaf kepadaku,
biarkanlah kejadian yang sudah lewat jadi kenangan, sekarang tegasnya mulai detik ini untuk
menebus semua dosa yang pernah kulakukan semoga engkau baik-baik menjaga diri"
Tak tahan lagi air matanya jadi berderai membasahi seluruh wajahnya yang putih dan halus.
Go siau bi telah berlalu pergi dengan membawa perasaan hatinya yang hancur.
Han siong Kie ingin memanggil dara itu tapi ia tidak berbuat demikian, pemuda itu hanya
berdiri termangu-mangu di dalam bangunan rumah baja itu.
Ia merasa bagaikan sedang bermimpi suatu impian buruk yang sebetuinya adalah kenyataan,
dengan suara yang lirih ia cuma dapat bergumam. .bergumam seorang diri dengan suara yang
lirih:
"sebenarnya apa yang kau lakukan? Benarkah tindakanku selama ini ? Ataukah tindakanku itu
keliru besar?"
Namun ia tak berhasil menemukan jawabannya.
Dengan mengorbankan segala-galanya Go siau bi berusaha untuk mendapatkan dirinya, tapi
sekarang setelah mengalami kejadian tersebut, ia telah pergi dengan keraskan hati dan telah
memutuskan perasaan cintanya.
sementara dia masih melamun, dari kejauhan terdengar serentetan jeritan ngeri berkumandang
memenuhi seluruh angkasa, jeritan tersebut segera menyadarkan kembali pemuda itu dari
lamunannya
Ia lantas menduga kalau Go siau bi sedang melaksanakan pembalasan dendamnya atas orangorang
dari perkampungan oh hau san ceng
JILID29 HAL. 28/29 HILANG
diharuskan menolong Go siau bi. Kalau toh ia dapat membuka pintu baja itu, mengapa ia tidak
membawa Go siau bi yang telanjang bulat, sebaliknya diserahkan kepadanya? Kenapa..? Kenapa ?
Pemuda itu benar-benar merasa tidak habis mengerti.
"Eeeh lo-te, aku lihat pikiranmu kurang tenang dan wajahmu gugup sekali hayo, apa yang telah
kau lakukan?" tiba tiba Tee heng sian menegur sambil tertawa cengar- cengir.
"Aku..." Han siong Kie tertawa jengah
"Dimana bocah perempuan yang telah kau tolong itu?"
"Dia... dia telah pergi"
"Pergi? Pergi seorang diri?"
Dengan sedih Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan. Tee hee sian berkata lebih
jauh.
"Tahukah engkau, kenapa orang yang ada maksud membunuh orang dan membakar
perkampungan ini?"
"Mungkin juga dia hendak melampiaskan rasa dendam dan mendongkol dari Go siau bi"
"Lalu setelah urusan disini telah selesai, kau hendak pergi kemana. ?"
Han siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
kemudian baru menjawab: "..Aku pikir hendak mengunjungi lembah in wu kok"
"Lembah In wu kok? Aneh benar nama tersebut, dimana toh letak lembah yang aneh itu?"
"Kurang lebih setengah jam lamanya dari tempat ini, lembah In wu kok adalah sebuah lembah
aneh yang terpencil sekali letaknya"
"siapa yang beri tahu kepadamu kalau lembah itu bernama in wu kok?" Han siong kie
tersenyum.
"ooh aku sendiri yang menamakan lembah tersebut, dengan sebutan lembah In wu kok, coba
lihatlah bukankah disitu penuh dengan kabut yang amat tebal?"
"Aaah saudaraku, tempat itu bukan bernama lembah In wu kok melainkan adalah Lembah
kematian yang dianggap setiap umat persilatan sebagai daerah terlarang, keseraman dan
kengerian yang menyelimuti lembah tersebut sama sekali tak kalah dengan kemisteriusan benteng
maut yang tersohor itu"
"Lembah kematian?"
Benar, lembah itu sangat berbahaya.. setiap orang yang berani memasuki lembah itu berarti
mengantar kematian diri sendiri sebab semua orang yang sudah masuk ke dalam lembah itu,
selamanya tak akan bisa munculkan diri dalam keadaan selamat"
Hebat sekali perobahan wajah Han siong Kie, untuk sesaat dia termenung lalu baru berkata:
"Semula aku masih mengira lembah itu hanya sebuah lembah terpencil yang jarang sekali
dikunjungi manusia"
"Loo te" Tiba2 Tee heng sian berkata dengan wajah serius "kalau toh engkau sama sekali tidak
kenal akan lembah kematian, mau apa kau kunjungi lembah tersebut??"
"Aku... sebenarnya aku hendak mempelajari sejenis ilmu silat didalam lembah itu"
”Kalau toh cuma ingin mempelajari sejenis ilmu silat, mengapa kau pilih tempat semacam itu??"
"Sebab aku lihat tempat itu jauh dari keramaian dunia dan jarang sekali dikunjungi manusia,
aku takut latihanku terganggu oleh kehadiran manusia lain maka aku hendak mencari tempat yang
sepi dan terpencil itu sebagai tempat latihanku"
"saudaraku kalau engkau percaya dengan kata2ku ini, lebih baik batalkan saja niatmu itu"
Masih mendingan kalau Tee heng sian tidak berkata, semakin dilarang pergi kesitu semakin
besar pula rasa ingin tahu yang timbul dalam hati Han siong Kipikirnya:
"Apa salahnya kalau aku pergi melakukau penyelidikan? Akan kulihat sebenarnya macam
apakah lembah kematian tersebut"
Tapi ia merasa tak tega untuk menolak kebaikan orang, maka ia manggut-manggut berulang
kali.
"Baiklah, aku akan pertimbangkan lagi rencana ini, terima kasih atas peringatan dari engkoh
tua, kau..."
sebelum pemuda itu menyelesaikan kata2nya Tee heng siang telah tertawa cekikikan seraya
menukas:
JILID29 HAL. 34/35 HILANG
Pemuda itu menghela napas panjang, pikirnya:
"Aaai. sayang adik Hui telah kembali kealam baka, tapi benarkah ia telah mati Bukankah orang
yang ada maksud telah berkata bahwa adik Hui tak akan mati?" Lama sekali pemuda itu
termenung, selang sesaat kemudian pikirnya lebih jauh:
"Kalau dia tidak mati, meagapa ia tak muncul kembali dari benteng mautnya, Apakah ia lupa
masih ada janji dengan aku? Lupakah dia ketidak munculannya berarti suatu bukti padaku bahwa
ayahnya adalah pembunuh keluargaku?"
setelah termanggu2 sejenak pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya memasuki lembah
itu
Kabut yang menyelimuti angkasa kian menebal, meskipun Han siong Kie memiliki ketajaman
mata yang dapat memandang pemandangan sekitar tiga kaki, namun tiada satupun yang terlihat
olehnya.
"Aneh." kembali pemuda itu membatin, menurut Tee heng sian lembah kematian adalah suatu
daerah terlarang yang sangat disegani oleh setiap umat persilatan di dunia ini, malahan katanya
siapa berani masuk maka dia tak ada harapan untuk keluar dalam keadaan selamat, kini aku
sudah lama masuk kedalam wilayah ini, kenapa tiada sesuatu apapun yang berhasil kutemui . ." "
Setelah termenung sebenter ia membatin lagi:
"Jangan-jangan berita yang tersiar dalam dunia persilatan tak bisa dipercaya kebenarannya?"
Satu li kembali sudah dilewati oleh Han siong Kie, namun tiada sesuatu apapun yang terlihat.
Akhirnya mata yang tajam itu membentur dengan sesuatu benda, mendadak saja tubuhnya
menggigil keras jantungnya berdebar tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya.
Sebuah batu besar yang penuh dengan lumut hijau terpancang di depan matanya, di atas batu
tugu itu terteralah beberapa tulisan dengan huruf yang amat besar: "PERBATASAN ANTARA MATI
DAN HIDUP
JILID 29 HAL. 38/39 HILANG
Pemuda itu celingukan memandang sekeliling tempat itu, ketika ditemukan sebuah batu cadas
kurang lebih empat kaki disamping tempat itu, cepat ia berkelebat kebelakang batu itu dan
menyembunyikan diri
sekejap mata kemudian belasan sosok bayangan manusia telah munculkan diri didepan batu
peringatan tersebut.
Rombongan itu dipimpin oleh dua orang kakek berjubah hitam sedang kan sisanya adalah dua
belas orang laki-laki yang memakai, baju ringkas warna hitam pula.
Di atas dada kedua orang kakek berjubah hitam itu masing2 bersulamkan lukisan rembulan dan
matahari dan bintang.
Begitu menyaksikan lambang yang tertera diatas dada kakek berjubah hitam itu, Han siong Kie
merasakan hatinya bergetar keras, sebab lambang tersebut tidak terlalu asing baginya, dia merasa
se-akan-akan pernah menjumpainya disuatu tempat.
setelah dipikirkan beberapa saat pemuda itu teringat kembali, ia masih ingat bagaimana orang
yang kehilangan sukma telah membunuh Tengkorak maut gadungan dengan lencana Thian Che
leng, dan di atas lencana itu terteralah lukisan Matahari, rembulan dan bintang.
Itu membuktikan pula bahwa rombongan yang barusan tiba disana tak lain adalab anak buah
dari perkUmpulan Thian Che kau.
seingatnya diantara anggota perkumpulan Thian Che kau yang pernah ditemuinya, belum
pernah ada diantara mereka yang munculkan diri dengan diatas dadanya tertera lambang
matahari rembulan serta bintang, pemuda itu mulai berpikir-pikir, jangan2 kedudukan dua orang
kakek tua itu memang sangat istimewa??
sementara itu salah seorang diantara dua orang kakek berjubah hitam itu sudah menyapu
sekejap sekeliling gelanggang, kemudian kepada rekan-rekannya dia berkata.
"saudara see bun, masakah bocah keparat itu bisa terbang kelangit atau tenggelam kedasar
bumi? Kenapa jejaknya lenyap dengan begitu saja tanpa meninggalkan bekas?" Kakek baju hitam
yang disebut saudara see bun itu menjawab:
"saudara Nyoo, menurut pandanganku mungkin saja bocah keparat itu telah mengetahui jejak
kita semua maka sengaja ia mencari tempat yang bersembunyi untuk menyembunyikan diri "
"sekalipun ia sedang bersembunyi toh penggeledahan yang kita lakukan cukup ketat, masa
pencarian ini sangat teledor sampai tempat persembunyian musuh sama sekali tidak ketahuan ?"
"Walaupun demikian kabut toh terlalu tebal disekitar tempat ini, siapa tahu kalau
penggeledahan kita memang kurang teliti ?"
"Mungkinkah mata2 kita telah salah melihat orang ?" tanya orang she Nyoo lagi.
"Aaah tidak mungkin Tanda2 yang dimiliki manusia bermuka dingin sangat istimewa sekali,
rasanya susah untuk mencari orang kedua yang memiliki ciri2 seperti dia "
Hampir saja Han siong Kie mendcngus dingin apa lagi setelah diketahui olehnya bahwa
kemunculan rombongan itu tak lain adalah sedang mencari jejaknya.
"Jangan-jangan bangsat muda itu sudah melampaui perbatasan antara hidup dan mati?"
kembali kakek she Nyoo itu mengutarakan pendapatnya. Dengan cepat kakek she see bun itu
menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aah.. soal ini tak mungkin, sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tak nanti ia bisa lolos dari
kematian bila berani melewati perbatasan ini, tak nanti dia datang hanya untuk menghantar
kematian belaka"
"Yang lebih aneh lagi, entah apa sebabnya bocah bangsat itu datang mengunjungi lembah
kematian??"
"Aku mana tahu, mungkin cuma dia seorang yang mengetahui apa tujuannya datang kemari"
"Lalu apa yang musti kita lakukan sekarang??"
"Mulut lembah sebelah depan toh sudah dijaga oleh jago2 lihay kita, mari kita lanjutkan
penggeledahannya disekitar tempat ini, aku tak percaya kalau dia sudah dapat terbang ke langit
atau menyusup kedalam tanah."
"Andaikata penggeledahan kita ini cuma sia-sia belaka??"
JILID29 HAL. 44/45 HILANG
laki-laki berpakaian ringkas itu segera menyambarkan diri dan membentuk gerakan setengah
lingkaran untuk melakukan pengepungan yang ketat.
Telapak tangan kilat see bun Lui maupun pui hunp yan Nyoo Yong serentak berpaling pula
kearah anak muda itu, dengan sinar mata berwarna hijau tajam mereka menatap musuhnya tanpa
berkedip. dari kilatan cahaya mata itu dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki kedua
orang itu benar2 sudah mencapai puncak kesempurnaan.
Agak terkejut juga Han siong Kie setelah menyaksikan kesempurnaan tenaga dalam yang
dimiliki musuhnya, namun ia tak gentar, dengan pandangan yang tak kalah dinginnya ia balas
menatap kedua orang lawannya.
"Jadi engkau yang bernama Manusia yang bermuka dingin?" tegur Tui hun pan dengan wajah
dingin.
Han siong Kie mendengus dingin. "Hmm Ucapanmu memang tepat sekali."
"Bangsat, engkau akan menyerahkan diri dengan begitu saja ataukah hendak memaksa aku
untuk turun tangan?"
"Huuh manusia macam kalian pun hendak membekuk aku" ejek sang pemuda sambil tertawa
sinis "Hmmm sebutkan dulu siapa nama kalian"
"Bocah keparat, dengarkan baik-baik kata-kata kami ini" seru see bun Li dengan cepat, "kami
berdua adalah Utusan khusus dari Thian che kau, dua jago lihay diantara sepuluh tokoh paling
tinggi kedudukannya dalam perkumpulan kami.."
"Utusan khusus Haaahh haaahh haahh aku rasa kalian toh tak lebih cuma begundal bayaran
belaka"
Ucapan itu dianggap sebagai penghinaan besar bagi dua orang kakek tua itu, betapa gusarnya
oran2 itu sukar dilukiskan dengan kata-kata.
"Bangsat, rupanya engkau sudah bosan hidup?" bentak mereka hampir bersamaan waktunya.
Dliringi bentakan nyaring see bun Lui melambung tiga kali ke tangah udara, kemudian secepat
kilat melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Han siong Kie.
serangan tersebut memang luar biasa cepatnya dan tak malu disebut bagaikan sambaran kilat,
pada saat yang
JILID29 HAL. 48/49 HILANG
Han siong Kie dengan andalkan tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan itu
melakukan inisiatip untuk menyerang gencar, sekalipun dia telah berusaha dengan segenap
kemampuan yang dimiliki, itupun hanya berhasil memaksa lawannya untuk bertarung dalam
keadaan seimbang alias sama kuat.
Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun menang kalah masih belum bisa
ditentukan.
Memang seram dan mengerikan jalannya pertarungan itu, bukan saja angin menderu dan
bahkan dunia terasa jadi gelap, membuat dua belas orang laki2 berpakaian ringkas yang ada
disamcing gelanggang diam2 merasa bergidik.
setelah berhenti sebentar untuk mengatur pernafasan, see bun Li terjun kembali ke dalam
gelanggang pertarungan, rupanya dia pun menyadari bahwa kekuatan pihak lawan terlalu
tangguh, tak mungkin salah seorang dari pada mereka berhasil menaklukkan lawannya andaikata
tidak turun tangan secara bersama:
Dengan cepat situasi dalam gelanggang pertarungan mengalami perubahan.
Dua orang tokoh sakti dengan meng andalkan kekuatan mereka yang paling top berusaha
menghancurkan lawannya, kedahsyatan angin pukulan yang mereka hasilkan benar2 mengerikan
sekali.
Dalam keadaan demikian, Han siong Kie dipaksa untuk mengambil langkah2 pertahanan,
dia mainkan ilmu Mo mo ciang hoat bagian pertahanan untuk menutup semua bagian tubuhnya
dari kemungkinan terserang musuh, kalau sebentar saja masih mendingan tapi lama kelamaan
diapun mulai terdesak hebat. sepuluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa...
Han siong Kie semakin terdesak hebat sehingga selangkah demi selangkah mundur terus
kebelakang..
satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Akhirnya pemuda itu sudah melampaui garis pemisah
yang merupakan perbatasan antara mati dan hidup,
Menyaksikan kejadian itu baik see bun Lui yang bergelar telapak tangan kilat maupun Nyoo
Yong yang berjulukan Hakim pengejar sukma sama-sama menarik kembali serangannya dan
mundur kebelakang.
Perbatasan antara mati dan hidup .. suatu wilayah angker yang tak berani dilewati oleh
siapapun.
Han siong Kio masih belum merasa kan akan hal itu, kembali ia mundur beberapa langkah
kebelakang.
sekarang Han siong Kie sudah berada satu kaki lebih dibalik garis pemisah yang disebut
perbatasan antara mati dan hidup itu, namun tiada sesuatu kejadian yang menimpa dirinya, ia
tetap utuh, sehat dan tak kekurangan sesuatu apapun.
Belasan orang jago lihay dari Thian che kau mulai menunjukan sikap kebingungan dan tidak
habis mengerti, sampai2 mereka berdiri dengan wajah melongo.
-ooodwooo-
BAB 61
LEMBAH kematian- suatu daerah terlarang yang dianggap angker serta mengerikan bagi umat
persilatan, wilayah itu dipisahkan oleh sebuah garis yang dinamakan perbatasan antara mati dan
hidup, selama banyak tahun tak seorang manusiapun sanggup melewati perbatasan tersebut
dalam keadaan hidup,
Tapi sekarang Manusia berwajah dingin telah menyeberangi perbatasan itu sejauh beberapa
kaki tanpa mengalami sesuatu kejadian apapun, kejadian ini benar merupakan sesuatu peristiwa
yang aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Tatkala pihak musuh menarik kembali serangannya tadi, tanpa terasa Han siong Kie lelah
mundur kembali beberapa langkah kebelakang, menanti ia rasakan perubahan yang aneh pada
wajah musuhnya pemuda itu baru sadar bahwa ia telah melangkah masuk ke dalam wilayah yang
tersohor karena angkernya itu.
JILID29 HAL. 54/55 HILANG
Thian che kaucu untuk menyelesaikan sendiri persoalan ini.
Diam2 Han siong Kie menguatirkan kemampuan Thian che kaucu sebab kalau ditinjau dari
kemampuan yang dimiliki kedUa orang utusan khusus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
tenaga dalam yang dimiliki ketua mereka benar- benar telah mencapai puncak kesempurnaan
yang tak terhingga, ia jadi terbayang kembali akan peristiwa dimasa lalu sewaktu dia menyerbu
wilayah Lian huan yau untuk menolong Go siau bi, ketika itu ia telah berjumpa dengan seorang
manusia barkerudung yang mangaku sebagai ketua perkumpulan tapi akhirnya ia bukti bahwa dia
tak lebih cuma penyaruan dari salah satu diantara sepuluh jago tangguh perkumpulan.
Anak muda ini mulai berpikir, mengapa Thian che kaucu tak berani munculkan diri sebaliknya
suruh orang lain untuk menyaru sebagai dirinya?" Mungkinkah dibalik semuanya ini sebetulnya
masih tersimpan rahasia lain?
Yang lebih aneh lagi, ternyata pihak Thian che kau telah mengerahkan segenap kemampuan
yang dimiliki untuk menghadapi dirinya seorang, malahan ketuanya turun tangan sendiri untuk
memimpin operasi tersebut, hal ini menandakan kalau pihak mereka memandang serius persoalan
tersebut, lalu apa sebabnya mereka bersikap drmikian?" Tiba2 Nyoo Yoong, hakim pengejar sukma
berseru dengan suara dalam:
"Bocah keparat, beranikah engkau menyeberang kemari untuk melangsungkan pertarungan
seru dengan kami?"
Han siong Kie sendiripun tak tahu apa sebabnya ia bisa menyeberangi perbatasan mati dan
hidup tanpa cedera, namun ia tahu bahwa musuh- musuhnya tak berani menyeberangi wilayah
angker itu dam selalu memanaskan hatinya agar dia menyeberang kembali ke sana. Maka sambil
tertawa dingin, ejeknya:
"Bangsat tua, kenapa bukan kalian yang menyeberang kemari? Kalau memang jantan hayolah
kemari"
Perasaan jengah dan serba kikuk muncul diatas wajah Nyoo Yong maupun see bun
JILID29 HAL. 58/59 HILANG
Nyio Yong yang sedang melayang diudara, se akan2 burung yang kena dipanah, tahu-tahu
badannya menukik ke bawah dan roboh keatas tanah. la mati secara misterlus.
Hakim pengejar sukma Nyio Yong telah tewas dihadapan rekan2nya, namun tak seorangpun
yang tahu apa sebabnya tiba2 ia mampus, jangankan mereka sekalipun Han siong Kie yang
berada beberaps depa dihadapannya juga tak melihat sebab musabab yang mengakibatkan
kematian jago lihay itu
Pucat pias wajah para jago dari Thian che kau, rata- rata mereka berdiri tertegun dengan
sukma merasa melayang tinggalkan raganya, kejadian ini sama sekali diluar dugaan semua orang.
Han siong Kie sendiripun terkejut sampai-sampai keringat dingin membasahi jidat dan
punggungnya .
Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kematian Nyio Yong yang secara tiba2 namun ia
tak tahu apa yang menyebabkan kematian musuhnye itu, untuk sesaat ia jadi tertegun dan berdiri
termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ditatapnya mayat Nyoo Yong tanpa berkedip. sementara pikirannya melayang entah sampai
dimana.
Mendadak terdengar jeritan kaget berkumandang lagi memenuhi angkasa, suatu pemandangan
yang sangat mengerikan telah berlangsung didepan mata.
Begitu mencium tanah, mayat Nyoo Yong yang masih hangat itu ternyata meleleh dan
mengalami pembusukan dengan cepat, kemudian selang sesaat mayat itu sudah hancur tinggal
tulang kerangkanya belaka.
Hampir saja Han siong Kie menjerit kaget, bulu kuduknya pada bangun berdiri, kejadian aneh
ini belum pernah ditemuinya semenjak dahulu kala, tidak sampai setengah perminum teh salah
seorang tokoh silat yang berilmu tinggi telah berobah jadi seonggokan tulang kerangka yang putih
mengkilat, bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapakah yang akan percaya bahwa
peristiwa semacam itu benar2 telah terjadi di depan mata ?
Lewat lama sekali dia ter-mangu2, setelah rasa kagetnya hilang ia baru berpaling memandang
ke belakang, pada ujung lembah tersebut ia saksikan sebuah gundukan tanah berbukit, beberapa
pohon raksasa yang amat besar tumbuh disekitar gundukan tanah itu
Di belakangnya adalah sebuah tebing dan sebuah bukit yang tinggi menjulang keangkasa
demikian tingginya bukit itu sehingga menembusi kedalam awan.
Dengan langkah yang ragu-ragu dan penuh kesangsian pemuda itu melanjutkan perjalanannya
memasuki lembah itu dan mendekati gundukan tanah yang berada didepan mata.
Beberapa kaki sebelum mencapai gundukan tanah tadi tiba2 pemuda itu berseru tertahan dan
berhenti.
Di bawah dua batang pohon raksasa berdirilah sepasang makhluk hitam putih yang
mengerikan..
Mereka sama-sama memelihara rambut yang panjang cuma yang hitam sekujur tubuhnya
berwarna hitam pekat sebaliknya yang putih luar biasa putihnya bagaikan salju.
Dengan seksama anak muda itu mengawasi beberapa saat makhluk itu, sekarang ia dapat
memastikan bahwa mereka adalah manusia, sepasang manusia aneh berwama hitam dan putih,
hatinya terasa makin bergidik,
Kedua orang itu duduk bersila saling berhadapan, ke empat buah telapak tangannya
direntangkan kedepan sejajar dengan dada, selisih jarak kedua belah pihak cuma terpaut tiga kaki.
Han siong Kin tertegun- .apa yang telah terjadi? " sekilas pandangan dua orang jago itu
bagaikan sedang mengadu tenaga dalam, tapi mirip juga sedang melatih sejenis ilmu silat.
Bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir saja ia tak percaya kalau dikolong
langit sebenarnya terdapat manusia seaneh itu, yang hitam kulitnya benar- benar hitam mengkilap
seperti tinta, apalagi jubahnya berwarna hitam pula membuat orang itu betul2 serba hitam.
sebaliknya yang putih demikian putihnya seperti sesosok mayat hidup bukan rambutnya
berwarna putih, jubah maupun sepatunya juga berwarna putih. suatu perbedaan warna yang amat
kontras sekali.
JILID29 HAL. 64 HILANG
Dua orang makhluk aneh itu tetap duduk kaku ditempat semula, mereka tidak membuka
matanya pun tidak berkutik barang sedikitpunjuga, padahal semestinya mereka tahu bahwa ada
orang yang mendekati tempat tinggal mereka, terbukti hawa khikangnya telah dipancarkan
melindungi wilayah seluas tiga kaki disekeliting tubuh mereka.
Agak penasaran Han siong Kie ketika tak mampu menerjang maju kedepan dan menghimpun
tenaga dalamnya dan secara paksa menerjang masuk kedalam lingkaran hawa khikang lawan.
Tiba2 dua orang makhluk aneh itu bersamaan waktunya menurunkan telapak tangan mereka
kemudian membuka matanya:
Empat buah sinar mata yang setajam sembilu serentak ditujukan keatas wajah Han siong Kie.
Pada saat ini tenaga dalam yang dimiliki si anak muda itu sudah mencapai dua ratus tahun hasil
latihan, walaupun begitu ketika ditatap secara tajam oleh musuhnya tak urung bergidik juga
hatinya, cepat ia hentikan langkah kakinya membalas memandang lawannya dengan sinar mata
yang tak kalah tajamnya.
Per lahan2 dua orang manusia aneh itu bangkit berdiri dari atas tanah.
sekarang Han siong Kie baru dapat melihat jelas bahwa kedua orang makhluk aneh itu adalah
seorang pria dan seorang wanita, yang laki2 berkulit hitam berambut hitam dan berjubah hitam,
keadaannya tak berbeda dengan balok kayu yang hangus bekas terbakar sedangkan yang
perempuan berambut putih berkulit putih dan berbaju putih, putih seperti batang kayu yang dilapis
saiju.
41
Begitu jelek dan menyeramkan bentuk serta potongan tubuh mereks membikin hati orang jadi
tercekat dan seram.
Han Siong kie boleh dibilang berilmu tinggi dan bernyali besar namun berada dalam keadaan
begini berdiri juga bulu kuduknya.
Mungkinkah makhluk hitam dan putih ini adalah pemilik Lembah Kematian . . ?
Ingatan tersebut melintas didalam benaknya, sementara itu sepasang makhluk aneh itu sudah
berdiri dan saling mengangguk, tiba2 mereka maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan
Han Siong Kie seraya berkata: "Hek pek siang yu menghunjuk hormat kepada majikan"
Kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Han Siong Kie secara beruntun dia mundur lima
langkah kebelakang, untuk sesaat pemuda itu tak mampu berkata2 karena tercengangnya.
Sepasang makhluk aneh yang mengaku Hek pek siang yu, sepasang siluman hitam putih ini
ternyata menyembah dihadapannya sambil menyebut majikan kepadanya, kejadian ini benar2
suatu kejadian yang sangat aneh.
"Hek pek siang yu menghunjuk hormat buat majikan" untuk kedua kalinya sepasang makhluk
aneh itu memberi hormat.
Kali ini Han siong Kie mendengar perkataan itu dengan lebih jelas lagi, sekarang ia baru tahu
bahwa dua orang makhluk aneh itu ternyata tak lain adalah Hek pek siang yu yang sudah puluhan
tahun lamanya lenyap dari permukaan bumi.
Meskipun masa berkelana Hek pek siang yu dalam dunia persilatan amat singkat, namun
pembantaian maut yang mereka lakukan tak terbilang banyaknya.
Bagi pandangan umat persilatan, kedua orang ini adalah iblis pembunuhan manusia yang tak
berkedip. banyak orang segan dan takut kepadanya.
Dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti, Han siong Kie berseru dengan gelagapan:
"Majikan-.? Aku.."
"Betul majikan, engkaulah majikan kami"jawab siluman putih dengan hormat.
sekali lagi Han siong Kie mundur selangkah lebar kebelakang, dia benar2 kebingungan:
"Bagaimana mungkin ? Bagaimana mungkin masa aku adalah majikan kalian??"
"Kami telah bersumpah barang siapa bisa melewati perbatasan mati dan hidup dalam keadaan
selamat dan orang pertama yang bisa menginjakkan kakinya di wilayah lembah Kematian, maka
dialah majikan dari kami kakak adik seperguruan berdua "
"oooh.jadi kalian adaiah suheng moay ??"
"Benar "
"Mengapa kalian hendak menganggap orang pertama yang memasuki wilayah ini sebagai
majikan?" tanya sianak muda itu lagi.
"sebab hanya orang yang berkepandaian tinggilah yang bisa tiba ditempat ini dalam keadaan
selamat, pun juga dia seoranglah yang bisa menolong kami berdua lolos dari tempat ini, selama
lima puluh tahun berselang majikan adalah orang pertama yang bisa tiba dilembah kematian ini
dalam keadaan selamat."
"Jadi kalian bukan penghuni tempat ini, melainkan adalah tawanan yang disekap di sini?".
"Benar" sepasang makhluk aneh itu mengangguk tanda membenarkan.
"Dan kalian telah disekap selama lima puluh tahun lamanya."
"Benar" untuk kesekian kalinya dua orang itu mengangguk.
"siapa yang menyekap kalian ditempat ini?"
"Pemilik benteng maut"
"Apa?" " seru Han siong Kie dengan perasaan terperanjat "jadi kalian disekap pemilik benteng
maut dalam Lembah Kematian ini"
"Begitulah kejadiannya"
"silahkan kalian berdua bangkit berdiri kemudian baru kita lanjutkan pembicaraan ini"
"Kalau begitu majikan telah mengabulkan permintaan dari kami suheng moay berdua ?" tanya
siluman putih sambil mengernyitkan sepasang alis matanya. Han siong Kie termenung dan berpikir
beberapa saat lamanya, kemudian menjawab: "Tentang soal ini..."
"Ketahuilah majikan, bahwa kami berdua sudah menunggu selama lima puluh tahun, atas
tibanya kejadian besar ini" sambung si hitam dengan cepat.
Andai kata tingkah laku Hek pek siang yu di masa talu tidak buas dan keji, niscaya sedari tadi
Han siong Kie sudah mengambil keputusan, tapi justru karena dua orang itu adalah gembong iblis
yang berbahaya, maka mau tak mau dia musti mempertimbangkan dulu permintaan mereka
sebelum akhirnya mengambil keputusan. Maka sesudah termenung sebentar ia baIik bertanya:
"Jadi tujuan kalian adalah mengharapkan agar aku bersedia membawa kalian keluar dari
lembah ini ?"
"Begitulah kira2 maksud kami"
"Apakah kalian yakin kalau aku dapat membawa kalian berdua keluar dari lembah ini ?"
"Tentang soal ini.." sepasang manusia aneh itu agak termangu sebentar, tapi kemudian
serunya "Perduli bagaimanapun juga, inilah sumpah dari kami berdua pada lima puluh tahun
berselang. kami telah bersumpah untuk menganggap orang pertama yang masuk kelembah ini
sebagai majikan kami, selama hidup kami akan menuruti perintahnya, tentang soal mau keluar
dari lembah kematian atau tidak. kesemuanya ini terserah pada kebijaksanaan majikan sendiri"
"Betul sumpah kalian adalah begitu? " Han siong Kie menegaskan lebih jauh.
"Betul "
"Dan sumpah kalian itu selamanya takkan dilanggar??"
"Selamanya kami takkan melanggar "
"Baik, aku mengabulkan permintaan kalian"
"Bolehkah kami mengetahui siapa nama majikan ?"
"Aku adalah manusia bermuka dingin Han siong Kie, ciangbunjin yang akan memerintah di
istana Huan mo kiong "
Dengan penuh rasa hormat sepasang siluman hitam putih menyembah majikannya, kemudian
bangkit berdiri
Pelbagai keheranan dan pertanyaan berkecamuk dalam benak anak muda itu, namun dia tak
tahu persoalan itu musti ditanyakan mulai dari bagian yang mana.
Menurut pengakuan sepasang siluman hitam putih, mereka telah disekap oleh pemilik benteng
maut didalam lembah kematian ini pada lima puluh tahun berselang, sedangkan menurut berita
yang tersiar dalam dunia persilatan baru tiga puluh tahun berselang Temgkorak maut munculkan
diri didunia.
Bila ia tinjau dari usia Tonghong Hui yakni putrinya, kira2 Tengkorak maut telah berusia enam
puluh tahunan lebih atau tujuh puluh tahun sekarang, mungkinkah pada lima puluh tahun
berselang ia sudah memiliki kemampuan untuk menaklukkan sepasang siluman hitam dan putih
yang tersohor karena kelihayannya?
Berpikir sampai disini, dengan wajah serius dia lantas bertanya kepada kedua orang itu:
"Benarkah kamu berdua disekap selama lima puluh tahun ditempat ini.?"
"Betul majikan"jawab siluman putih dengan Cepat.
"Dan kamu disekap oleh Pemilik benteng maut?"
"Benar!"
"Benarkah pemilik benteng maut bergelar juga Tengkorak maut?"
Mendengar pertanyaan itu sepasang makhluk aneh tersebut tampak tertegun dan keheranan:
Lama sekali siluman putih baru menjawab:
"Tengkorak maut? belum pernah kami dengar dengan sebutan nama seperti itu"
"Lalu apakah sebutan lain dari pemilik benteng maut yang menyekap kalian disini?" seru Han
siong Kie dengan sepasang alis matanya berkernyit.
"Kami berdua cuma tahu dia bernama pemilik benteng maut, yang lain sama sekali tidak tahu"
"Yaaa hal ini memang tak bisa salahkan kalian memang sudah terlalu lama kami berdua disekap
ditempat ini, jadi setelah keluar dari lembah ini kalian bersiap sedia untuk mencari balas dengan
pemilik benteng maut?"
Dengan ketakutan sepasang siluman hitam putih mundur selangkah kebelakang sahutnya:
"Tidak. .kami tidak berani berbuat demikian "
"Tidak berani ? Kenapa tidak berani ?" tanya si anak muda itu dengan perasaan tercengang.
Dengan menundukkan kepalanya siluman hitam menjawab:
"Berkat petunjuk dan bimbingan dari beliau, kami berdua dapat melepaskan diri dari dosa yang
amat berat, budi ini belum kami balas, mana berani kami menuntut balas kepadanya?"
"Bukankah kalian berdua yang mengatakan sendiri, bahwa kalian telah disekap disini oleh
pemilik benteng maut??"
"Benar, tapi perbuatannya ini boleh dibilang sebagai maksud baik dari dia orang tua"
"Maksud baik ? Apa maksud perkataanmu itu ?"
"Dia orang tua suruh kami berdiam dan hidup dilembah ini sambil menyesali perbuatan yang
telah kami lakukan selama ini, malahan mewariskan pula ilmu silatnya kepada kami" Berubah
hebat air muka Han siong Kie sehabis mendengar keterangan itu, serunya:
HAL. 14 S/D 17 HILANG
"Terima kasih atas kemurahan hati majikan "
Han siong Kie mendengus dingin ujarnya kemudian:
"Apakah aku boleh tahu apa maksud dan tujuan yang sebenarnya dari kamu berdua ketika
hendak mengangkat sumpah aneh itu dimasa lalu ?"
siluman putih menghela napas panjang setelah termenung sebentar sahutnya dengan wajah
serius:
"Panjang sekali kisahnya untuk diceritakan bagaimana kalau majikan berkunjung dulu ke rumah
kediaman hamba berdua, disitu barulah kami bercerita panjang lebar ?"
Han siong Kie berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk:
Dengan sikap yang sangat hormat Siluman putih mengiakan, bergeraklah perempuan aneh itu
menuju kearah tebing curam dibelakang gundukan tanah itu. sementara siluman hitam mengiringi
di belakang anak muda itu.
selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didalam sebuah goa yang lebar dan cukup
luas, siluman putih segera bergeser kesamping dan mempersilahkan majikannya untuk masuk
lebih dulu katanya:
"Majikan, pemilik benteng maut juga berdiam didalam gua batu ini" sambil menuding kearah
batu karang disebelah kiri lanjutnya:
"Itulah dia tempat mengasingkan diri dibalik tebing karang itu, sudah lima puluh tahun lamanya
tak pernah munculkan diri"
0000dw0000
BAB 62
MENGIKUTI arah yang ditunjukkan Han siong Kie menengadah keatas, ia lihat tebing karang itu
sangat tinggi dan tertutup kabut yang tebal maka sambil mengangguk diapun masuk kedalam goa.
Ruangan didalam gua itu sangat lebar dan kering, diantaranya terbagi pula menjadi tiga buah
goa yang agak kecil.
sesudah duduk diatas sebuah pembaringan batu dalam gua itu, sepasang siluman putih dan
hitam menghidangkan buah2an dan sayur-sayuran kemudian sambil mengambil semangkok air
bersih katanya dengan wajah bersungguh2:
"Disini tiada makanan lain silahkan majikan makan seadanya untuk mengisi perut"
Kebetulan Han siong Kie juga merasa lapar, maka tanpa sungkan2 ia menyikat makanan yang
dihidangkan untuk menangsal perut.
selesai bersantap. dia memerintahkan ke dua orang siluman itu untuk duduk lalu katanya:
"sekarang aku ingin mendengar kisah cerita kamu berdua dari awal sampai akhirnya terkurung
dilembah ini"
Sepasang siluman hitam putih itu tidak langsung menjawab, mereka saling berpandangan
sekejap. kemudian siluman hitam baru berkata dengan lembut:
"sumoay, biar akulah yang akan melaporkan kisah kejadian ini kepada majikan, tentunya
engkau tidak keberatan bukan?" siluman putih mengangguk. "Baik, suheng sajalah yang bercerita"
Perlahan-lahan siluman hitam menghadap ke arah Han siong Kie, lalu ujarnya:
"Majikan silahkan engkau mendengarkan sebuah kisah cerita yang akan kukisahkan berikut ini"
Agak bergolak perasaan hati Han siong Kie sesudah mendengar perkataan itu,pada puluhan
tahun berselang sepasang siluman putih hitam telah malang melintang dalam dunia persilatan,
setiap orang jeri dan
JILID^0 HAL. 22/23 HILANG
merasa sangat setuju dengan rencana dari gurunya itu, suatu hari ketika ketiga orang itu
sedang melakukan perjalanan diatas gunung chin nia, secara kebetulan telah mendapatkan
sepasang Bak ci "
"Bak ci?" seru Han siong Kie tak tahan, ia heran dan tidak mengerti dengan benda yang
disebutkan itu.
"Benar Bak ci adalah sejenis tumbuhan yang sangat langka sekali, bukan saja tak ternilai
harganya bahwa siapapun yang memakannya bisa awet muda dan berbadan sehat. Betapa
gembira mereka bertiga setelah mendapatkan Bak ci yang sangat berharga itu, kebetulan waktu
itu kami memang sedang menuju kebukit Chin nia untuk mencari beberapa macam bahan obat2an
sebagai kekuatan dalam latihan. Karena penemuannya ini maka kamipun lantas meninggalkan
tujuan semula dengan membawa sepasang Bak ci tersebut buru2 kami berangkat pulang ke
gunung."
Berbicara sampai disitu, kembali siluman hitam menghentikan ceriitanya, hawa napsu
membunuh yang sangat tebal tiba-tiba memancar keluar dari balik matanya dan menyelimuti
wajahnya yang hitam pekat, lanjutnya lebih jauh:
"Entah bagaimana kemudian, ternyata kabar berita tersebut telah tersiar luas keseluruh dunia
persilatan, ketika kami bertiga baru saja tiba kembali dirumah, tiba2 beratus-ratus orang jago lihay
dari golongan putih dan hitam melakukan penyerbuan secara besar-besaran, tentu saja tujuan
mereka yang terutama adalah sepasang Bak ci yang berharga itu"
" Karena tibanya bencana yang sangat mendadak ini, puluhan orang murid perguruan yang
waktu itu berkumpul dimarkas segera munculkan diri dan melakukan perlawanan, pertarungan
sengit berlangsung sepanjang malam, banyak anggota perguruan yang tewas ataupun cedera."
sekalipun ilmu silat yang dimiliki Ki Goan thong ketua perguruan Thian it bun sangat lihay
dandan berhasil membinasakan hampir lima puluh orang jago lihay yang menyerbu perguruannya,
tapi lama kelamaan sendiripUn kehabisan tenaga apalagi musuh yang harus dihadapi
HAL. 26/27 HILANG
"suheng biarlah aku yang melanjutkan bercerita"
siluman hitam mengangguk. maka siluman putih melanjutkan kembali ceritanya:
"setelah kejadian itu para jago lihay dari golongan putih maupun hitam yang ikut serta didalam
operasi tersebut melakukan pencarian dan penggeledahan secara besar2an diseluruh kolong langit
untuk menemukan jejak dua orang ahli waris dari perguruan Thian it bun, tapi rupanya mereka
hendak membasmi rumput hingga ke akar2nya sehingga tidak meninggalkan bencana dikemudian
hari. Karena penggeledahan secara besar- besaran itu, terpaksa sepasang kakak beradik
seperguruan itu melarikan diri keatas gunung yang terpencil untuk menyembunyikan diri sambil
melatih ilmu silat perguruannya. Delapan tahun kemudian mereka muncul kembali ke dalam dunia
persilatan dan melakukan pembantaian secara besar-besaran untuk menuntut balas atas sakit hati
yang telah menimpa perguruannya"
"Dan kedua orang ahli waris dari Thian it bun itu tentulah kalian berdua bukan?" seru Han siong
Kie kemudian.
"Tebakan majikan memang sangat tepat. Kedua orang itu memang tak lain adalah kami
berdua"
"Dan sepasang Bak ci tersebut telah kalian makan "
"Benar "
"Itu berarti semestinya wajah kalian tetap awet muda, kenapa sekarang malahan..."
"Maksud majikan, kenapa wajah kami berdua pada saat ini malahan berubah jadi makhluk aneh
yang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan ini ?"
"Jadi raut wajah tersebut bukan raut wajah kalian yang sebenarnya?" bukan menjaweb. Han
siong Kie malahan balik bertanya.
"Bukan, raut wajah kami yang asli tidak begini. Ketika kami sedang berlatih ilmu silat diatas
sebuah bukit, kami telah salah makan dua biji buah liar, dalam beberapa hari saja raut wajah kami
telah berubah jadi seaneh ini, oleh sebab itulah setelah turun gunung kami dianggap orang
sebagai makhluk siluman- dan dari sini pula orang lantas menyebut kami sebagai Hek pek siang
yu"
"0ooh, kiranya begitu"
"Maka dendam dan benci yang berkecamuk dalam dada kami berdua sukar dikendalikan lagi"
siluman putih melanjutkan, "maka setelah turun gunung kami mulai melakukam pembalasan
dendam, bukan saja musuh besar kami basmi bahkan keturunannya juga kami jagal secara keji,
hanya dalam sebulan saja sudah hampir seribu orang manusia yang kami bunuh, kejadian ini
segera menimbulkan rasa gusar dari umat persilatan dikolong langit, mereka bersatu padu untuk
menghadapi kami berdua.." Ia berhenti sebentar untuk tarik napas, lalu tambahnya:
"Dalam suatu pertempuran sengit yang kemudian berlangsung, kami berdua dikerubuti oleh
tiga ratus orang lebih jago2 persilatan dari seluruh pelosok dunia, keadaan kami sangat kritis dan
hampir saja jiwa kami melayang ditangan mereka, untung majikan lembah ini munculkan diri tepat
pada waktunya dan loloslah kami berdua dari ancaman bahaya maut, sejak itulah kami lantas
diboyong kelembah kematian ini dan harus berdiam disini untuk menyesali perbuatan kami selama
ini, kami memang bertobat karena beribu-ribu orang telah kami bunuh selama ini, begitulah dalam
sekejap masa lima puluh tahun sudah lewat tanpa terasa.."
"Kalau begitu sampai sekarang kalian masih belum melaksanakan perintah dari mendiang
gurumu?"
"Pesan terakhir apa?"
"Bukankah gurumu memerintahkan kepada kalian berdua untuk menikah dan menjadi suami
istri?"
siluman putih tundukkan kepalanya rendah2 dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
sedangkan siluman hitam segera menjawab:
"Tentang soal ini sampai sekarang belum kami laksanakan sebab kami berdua telah bersumpah
kecuali wajah kami dapat pulih kembali seperti sedia kala kami tak akan menikah"
Han siong Kie manggut2.
"sungguh sukar untuk melewatkan saat hidup selama lima puluh tahun lamanya tanpa
melanggar tata kesopanan, kalian memang beriman tebal... aku merasa sangat kagum..."
"Aah .. majikan terlalu memuji "
"Bagaimanakah caranya untuk memulihkan kembali raut wajah kalian yang rusak ini."
"Menurut keterangan yang diberikan majikan lembah ini kepada kami, buah liar yang telah kami
salah makan bernama Gi heng tok ko buah racun perubah wajah, dikolong langit dewasa ini hanya
ada seorang manusia yang bisa memunahkan racun buah itu dan dialah yang bisa memulihkan
kembali raut wajah kami berdua menjadi wajah yang aslinya"
"siapakah orang itu ?"
"orang itu bernama Ban tok cousu "
"Ban tok cousu ? Belum pernah aku dengar tentang nama tokoh silat ini "
"Benar, menurut keterangan yang berhasil kami kumpulkan, kemungkinan besar Ban tok cousu
sudah lama meninggalkan dunia ini, kami berharap bisa menemukan ahli warisnya"
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan seseorang yakni Tok kun Dewa racun Yu Hoa yang
sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan Thian che kau, mungkinkah dia ahli waris yang
dimaksudkan?
"Aaah,. asal persoalan ini kutanyakan kepada engkoh tua pengemis dari selatan urusan pasti
akan beres" pikirnya dihati.
Diapun tidak mengungkapkan jalan pikirannya itu, hanya ucapnya dengan hambar:
"Kalau toh di dunia ada manusia yang bernama Ban tok cousu, rasanya tidak sulit untuk
menemukan ahli warisnya. ooh iya apakah kalian mengetahui keanehan serta kemisteriusan
apakah yang telah menyelimuti lembah kematian ini sehingga suasananya seram ini?"
Dengan penuh rasa hormat siluman hitam menerangkan.
"Disekitar mulut lembah kematian tumbuh sejenis rumput beracun yang tiada taranya dikolong
langit, rumput itu bernama sip poh Pak kut cau (rumput sepuluh langkah tulang putih) sampai
dimanapun kepandaian silat yang kau miliki bila rumput itu tersentuh maka sepuluh langkah
kemudian tubuhnya akan hancur.
JILID30 HAL. 34/35 HI LANG
"ouyang cianpwe juga sangat lihay dalam ilmu meramal, dia memiliki kemampuan untuk
meramalkan kejadian yang akan datang, ketika kami berdua masuk kedalam lembah ini, untuk
pertama kalinya beliau telah meramalkan bahwa lime puluh tahun kemudian kami berdua bakal
ditolong oleh orang pertama yang memasuki lembah ini dan selanjutnya muncul kembali dalam
dunia persilatan oleh sebab rahasia itu maka kami berdua lantas bersumpah akan menganggap
orang pertama yang memasuki lembah ini adalah majikan kami" Han siong Kie berdiri tertegun
sesudah mendengar keterangan itu, pikirnya:
"Kalau toh owyang Beng memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang,
kenapa ia tak dapat meramalkan kalau orang pertama yang akan masuk kedalam lembah ini
sebenarnya tak lain adalah musuh bebuyutan dari benteng maut?" Belum habis dia berpikir tiba2
siluman hitam telah berseru lagi dengan lantang:
"ooooh ya hampir saja kelupaan, sebelum menutup diri tempo hari, ouyang cianpwe telah
meninggalkan secarik kertas yang katanya kertas itu harus di serahkan kepada orang pertama
yang memasuki lembah ini. Dan orang yang dimaksudkan itu pastilah majikan"
Habis berkata dia lantas masuk kedalam gua batu yang ada di sebelah kanan, selang sesaat
kemudian dia telah muncul kembali sambil membawa secarik kertas kuning.
Dengan sikap yang sangat hormat kertas kuning itu lantas diangsurkan ketangan Han siong Kie.
Berdebar juga hati sianak muda itu menerima kertas kuning itu, dengan jantung yang berdetak
keras dia membuka lipatan kain kuning itu dan membaca isinya.
Ternyata isi kertas ini hanya beberapa bait kata yang sama sekali tak diketahui makna artinya:
"Tipu muslihat banyak didunia, bencana timbul karena saudara yang tak akur. Disaat dendam
tertera nyata, disanalah penghianat terbasmi lenyap"
Han siong Kie termasuk seorang pemuda yang cerdas dan berotak encer, tapi meskipun ia
sudah berulang kali mengulangi kata2 dari syair tersebut, toh tak berhasil juga memecahkan arti
kata2nya itu.
Andaikata keempat bait syair tersebut benar2 memang dibuat oleh ouyang Beng pemilik
benteng maut yang pertama khusus untuk dirinya, maka bait yang pertama tak perlu diterangkan
sudah jelas artinya.
Kemudian pada bait kedua dikatakan Bencana timbul karena saudara yang tak akur, dari sini
menunjukkan bahwa bencana yang sedang berlangsung sekarang timbulnya dari dua bersaudara
yang kurang akur hubungannya satu sama lain, lalu siapakah yang dtmaksudkan sebagai saudara
yang tidak akur itu ?
Pada bait ketiga dikatakan Disaat dendam tertera nyata padahal pada saat ini dia sudah tahu
bahwa musuh besarnya adalah tengkorak maut, apanya lagi yang kurang nyata ?"
Kemudian pada bait yang terakhir digunakan kata pengkhianat siapakah penghianat tersebut ?
Teka teki, suatu teka teki yang susah untuk dipecahkan.
Mereka tak dapat menyelusuri makna dari bait syair tersebut, terpaksa Han siong Kie
menyimpan kembali kertas kuning itu kedalam sakunya dengan suara agak emosi dia bertanya:
"Benarkah tulisan ini ditinggalkan owyang Beng pada lima puluh tahun berselang?"
siluman hitam mengangguk.
"Betul majikan sejak menutup diri pada lima puluh tahun berselang beliau tak pernah
munculkan diri lagi dari tempat pertapaannya itu"
"Apakah dia mengasingkan diri dalam dinding bukit ini"
"Apakah majikan ingin-.."
"Benar, aku ingin sekali berjumpa muka dengan dia orang tua"
"Dinding tebing ini hampir boleh dibilang tegak lurus dan curam sekali, jangankan manusia
monyetpun tak mampu untuk memanjatnya, lagipula kita toh tak tahu dimanakah owyang cianpwe
mengasingkan diri, kejadian tersebut sudah terjadi setengah abad lamanya, siapa tahu beliau
sudah pulang ke alam baka"
"Betul juga perkataan ini" pikir Han siong Kie di dalam hati, "toh aku tak ada kepentingan apa2
untuk menjumpainya, buat apa musti bersusah payah ?" Maka diapun alihkan pokok pembicaraan
kesoal lain-lainnya.
"Apakah kalian berdua sudah bulatkan tekad untuk mengangkat aku sebagai Majikan mu"
"sumpah yang telah kami lakukan tak akan kami ingkari kembali" jawab sepasang siluman putih
hitam bersama .
"Aku boleh sama membawa kalian keluar dari lembah ini, tapi kalian tak usah menyebut begitu
kepadaku, aku anggap saja diriku ini adalah sobat kalian ?"
"Tidak sumpah yang telah diucapkan tak boleh diingkari lagi" jawab, kedua orang itu tegas.
"seandainya aku tidak bersedia lantas bagaimana ?" tanya Han siong Kie tiba2. sepasang
siluman hitam putih tertegun, lama sekali siluman hitam baru berkata.
"Kalau memang demikian adanya, itu berarti kami berdua sudah tak punya muka untuk muncul
kembali dalam dunia persilatan, daripada hidup menanggung derita, lebih baik membereskan
nyawa sendiri saja"
Agak lama Han siong Kie termenung, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, lalu
diapun berkata:
"Begini saja, kalau aku disebut majikan... majikan.. geli rasanya hatiku, maka biarlah aku
mengambil jalan tengah, mulai hari ini kalian akan kuterima sebagai anggota perguruan Thian
lam, dan kalian sebut aku sebagai ciangbunjin, bukankah hal ini lebih enak di dengar??"
Buru2 sepasang siluman Hitam dan Putih jatuhkan diri berlutut keatas tanah.
"Tecu menghunjuk hormat buat ciangbunjin" seru mereka hampir berbareng.
"Bangunlah, setelah keluar dari lembah ini aku akan berusaha keras untuk memunahkan racun
Gi hang tot ko yang bersarang ditubuh kalian, setelah raut wajah kalian pulih kembali seperti sedia
kala maka kalian berduapun bisa memenuhi perintah dari mendiang guru kalian "
"Terima kasih atas bantuan cianbunjin" sahut kedua orang siluman itu setelah memberi hormat
merekapun bangkit berdiri
sekarang Han siong Kie baru teringat akan tujuan kedatangannya ketempat itu, sesudah
memeriksa sebentar kedalam goa itu katanya.
"Aku membutuhkan sebuah ruang yang bagus untuk mempelajari ilmu kepandaian, setelah itu
maka kitapun akan meninggalkan tempat ini"
"Ciangbunjin"" ujar siluman putih "tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah gua alam yang
bersih dan tenang, biarlah tecu pergi membereskan gua itu"
"Baik pergilah cepat"
selang beberapa saat kemudian siluman putih telah muncul kembali didalam gua tersebut
katanya:
"silahkan ciangbunjin menuju kedalam goa itu, makanan dan minuman setiap hari tecu akan
mengaturnya buat ciangbunjin"
Dengan penuh rasa haru dan berterima kasih Han siong Kie memandang sekejap kearah
sepasang siluman itu kemudian diapun melangkah keluar dari goa itu.
Benar juga, kurang lebih sepuluh kaki dari gua tersebut terdapat sebuah goa lain yang terdiri
dari batu2 cadas berwarna putih, setelah lima kaki memasuki goa tersebut, luas goa itu mencapai
tiga kaki lebih, tempat itu memang merupakan sebuah tempat berlatih silat yang paling ideal.
Setelah sepasang siluman hitam putih minta diri, dari sakunya Han siong Kie mengambil keluar
sarung tangan Hud jiu popit dan mulai memeriksanya dengan teliti.
setelah itu pelajaran yang tertera disana mulai dibaca, diteliti, diamati dan diselami artinya.
Dalam waktu singkat semua konsentrasi dan pikirannya telah terpusat menjadi satu, ia lupa
akan segala2nya kecuali mempelajari dan menyelami arti dari pelajaran yang didapatkan itu.
Waktu berlalu dengan cepatnya, baberapa hari sudah lewat tanpa terasa.
selama ini kadang kala tiga lima hari
JILID 30 HAL. 44 S/D 47 HILANG
itu termangu2, akhirnya dengan penuh emosi mereka berseru:
"Ciangbunjin, boleh kah kami tahu apakah hari ini juga kita akan tinggalkan lembah ini?"
Han siong Kie mengangguk.
"Betul dan kalian berdua boleh segera membereskan barang2 milik kamu berdua, sekarang
juga kita akan keluar dari lembah ini"
sudah lima puluh tahun sepasang siluman itu terkurung dalam lembah tersebut, bisa
dibayangkan betapa gembiranya dua orang itu setelah akan muncul kembali dalam dunia
persilatan, tanpa banyak bicara lagi mereka kabur kembali kedalam guanya dengan wajah berseri.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata yang tajam mengawasi keadaan disekitar tempat itu,
lalu dia melompat naik ke atas sebuah dinding cadas yang besar dan tingginya mencapai sepuluh
kaki lebih, dengan bacokan telapak tangannya ia membuat sebuah lubang diatas batu tersebut,
kemudian memasukkan sarung tangan Hud jiu popit ke dalam lubang batu tadi dan setelah itu
batu cadas yang amat besar itu didorong menempel diatas dinding bukit dan menutupi bagian
yang berlubang tadi..
Dengan begitu, maka benda mustika dunia persilatanpun tersimpan untuk selamanya dalam
sebuah batu cadas raksasa yang amat besar dan berat itu, siapapun jangan harap bisa
mendapatkannya kembali.
sementara itu sepasang siluman juga sudah selesai bebenah, mereka masuk gua tempat
tinggainya selama ini, dan dengan membekal senjata andalan mereka dimasa lalu, buru2
menghampiri pemuda tersebut.
sementara itu Han siong Kie sedang memandang ujung lembah itu dengan sorot mata setajam
sembilu. katanya kemudian dengan suara dingin:
"Setelah keluar dari lembah ini, kita akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran"
"Melakukan pembunuhan?" tanya sepasang siluman dengan wajah tertegun.
"Benar, sewaktu hendak masuk lembah ini, aku telah melangsungkan pertarungan melawan
tokoh2 sakti dari perkumpulan Thian che kau, salah seorang diantara mereka yang dinamakan
utusan Thian che kau telah mampus dalam lembah ini, bila dugaanku tidak meleset, sudah pasti
mereka telah mengurung mulut lembah ini sambil menunggu kemunculanku"
JILID 30 HAL. 50/51 HILANG
Jago2 lihaynya untuk menyumbat mulut lembah tersebut, padahal sudah tiga bulan lamanya ia
berdiam dalam lembah kematian untuk mempelajari si mi sinkang yang tercantum dalam Hud jiu
popit dan sekarang terbukti bahwa musuhpun melakukan patroli selama tiga bulan disekitar
perbatasan, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa musuh memang tidak berhasrat untuk
melepaskan dirinya.
Dalam pada itu ke dua belas orang laki2 baju hitam itu telah berhasil melihat jelas keadaan
lawannya, tiba2 mereka menunjukkan wajah tercengang, kaget dan ngeri, tanpa disadari
beberapa orang itu telah mundur beberapa langkah kebelakang.
Kiranya mereka telah menyaksikan makhluk setengah manusia setengah setan yang berada di
belekang Han siong Kie, yakni Hek pek siang yu yang menyeramkan itu.
sebagai mana diketahui Hek pek-siang yu memiliki tampang yang mengerikan sekali, siapapun
yang melihat tampang itu niscaya akan bergidik dan ketakutan setengah mati.
setelah mundur sampai beberapa kaki jauhnya, kedua belas orang laki2 baju hitam itu baru
berhenti mundur, salah seorang di antaranya lantas bersuit nyaring, suitan tersebut panjang,
tajam dan menjulang jauh ke udara.
Hek pek siang yu menunjukkan sikap menghina, tiba2 mereka bertanya dengan suara dalam:
" Ciangbunjin, kawanan tikus dan kacoak ini berasal dari aliran atau perguruan mana?"
"Mereka ? siapa lagi kalau bukan anak buah dari perkumpulan Thian che kau??"
"Apa maksud mereka menunggu disini?? "
"Apa lagi? Tentu saja menunggu kemunculanku"
"Jadi kawanan manusia ini juga yang selama ini mengejar dan menyerang Ciangbunjin?"
Han siong Kie tidak menjawab, tapi dia mengangguk.
sepasang siluman hitam dan putih segera mendengus dingin, siluman hitam menyingkir
kesamping dan memberi hormat, katanya:
"ciangbunjin, berilah petunjuk kepada hamba bagaimana caranya kita harus selesaikan
kawanan babi itu?"
"Bunuh sampai ludas" jawab Han siong Kie ketus.
Ucapan tersebut ibarat bunyi terompet malaikat elmaut yang hendak mencabut nyawa
manusia, tanpa disadari dua belas orang laki2 baju hitam itu bergidik dan mengucurkan peluh
dingin, pedang mereka dipegang semakin erat, bahkan kelihatan bergetar keras, jelas orang2 itu
sudah siap melancarkan serangan.
sepasang malaikat hitam putih menjengek sinis, tiba2 mereka membentak nyaring kemudian
menerjang kearah gerombolan manusia itu.
Perlu diketahui dua belas orang laki2 baju hitam itu adalah jago2 kelas dua dalam perkumpulan
Thian che kau, mungkin nama mereka cemerlang dan disegani orang dalam dunia persilatan maka
mereka diutus untuk melakukan patroli di sepanjang perbatasan antara mati dan hidup,
Tapi sekarang, tatkala dilihatnya dua orang makhluk aneh hitam dan putih itu menerjang tiba,
serentak mereka saling berpandangan kemudian menyebarkan diri ke empat penjuru sambil
berteriak mereka putar senjata dan menyambut tibanya serangan "Haahhh haaaahh haaahhh"
"Hiiiihhh hiiiihhh hiiiihhh"
Ditengah gelak tertawa aneh yang satu keras dan yang lain lembut sepasang manusia hitam
putih telah menerkam kedalam lapisan pedang dan menyambar musuh2nya.
Jerit kesakitan, dengusan berat menjelang sekarat berkumandang dlangkasa men-cabik2
kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu.
Hancuran badan ceceran darah berhamburan menodai perrmukaan tanah, keadaan disaat itu
benar2 mengerikan-
Tapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama hanya sebentar tak sampai seperminum teh
suasana pulih kembali dalam keheningan-
Tiada manusia yang hidup lagi disitu, kecuali Han siong Kie bertiga, dua belas orang lelaki
perkasa itu kini sudah berubah adi mayat, mayat2 yang tak utuh dan berlepotan darah kental.
Hanya dalam beberapa gebrakan Hek pek-siang yu telah membereskan dua belas orang jago
Thian che kau, kelihayan tersebut cukup mengagumkan, diam2 Han siong Kie menggukkan
kepalanya berulang kali.
00d00000w00
BAB 63
SELESAI membereskan kedua belas orang musuhnya, sepasang siluman hitam putih berjalan
kembali kehadapan Han siong Kie, kemudian berkata: " Ciangbunjin, tecu berdua telah
menyelesaikan tugas ini dengan sempurna"
"Bagus" puji si anak muda itu, "mari kita tinggalkan tempat."
Ucapan itu belum habis diucapkan tiba2 dari depan sana muncul tiga sosok bayangan manusia,
cepat sekali gerak tubuh ketiga orang itu.
Han siong Kie lantas membatalkan perkataannya dengan pandangan setajam sembilu dia awasi
orang2 tersebut.
Kiranya orang yang baru datang adalah san tianjin (telapak tangan kilat) se bun Lui, salah
seorang diantara utusan Thian che kau didampingi dua orang kakek jubah hitam.
setibanya ditempat kejadian ketiga orang itu memandang sekejap mayat yang bergelimpangan
ditanah lalu berseru kaget, enam buah sorot mata secepat kilat dialihkan ke wajah Han siong Kie
bertiga.
Tatkala sinar mata mereka bertemu pandang dengan Hek pek siang yu untuk kesekian kalinya
tiga orang kakek jubah hitam itu menjerit tertahan, pucat pias wajah mereka.
Tampang aneh dari Hek pek siang yu tiada keduanya didunia ini, meskipun mereka adalah
gembong2 iblis yang sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, namun dalam sekilas
pandangan saja baik se bun Lui maupun dua orang kakek lantas mengetahui siapa gerangan
mereka itu.
Hek pek-siang yu yang disegani dan ditakuti orang ternyata masih hidup didunia bahkan berada
dalam satu rombongan dengan Han siong Kie, peristiwa ini benar2 diluar dugaan dan mengejutkan
hati siapa pun juga.
selain itu merekapun heran bahwa Han siong Kie berhasil keluar dari lembah kematian dalam
keadaan hidup walaupun sudah tiga bulan lamanya tak muncul kembali dari situ.
JILID30 HAL. 58/59 HILANG
bermaksud untuk melakukan pengejaran sesudah termenung dan berpikir sejenak, akhirnya
kepada sepasang siluman itu dia berkata: "Hayo, kitapun pergi dari sini "
Dengan gerakan cepat ia lantas berangkat lebih dulu tinggalkan tempat tersebut, Hek pek siang
yu juga tidak mengatakan apa2, dengan cepat mereka bertiga sudah jauh meninggalkan tempat
semula, mulut lembah nampak nun jauh didepan sana.
sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan seorang manusiapun, suasana hening, sepi
dan tak nampak seorang manusiapun.
setelah berhasil dengan ilmu saktinya, Han siong Kie tidak memikirkan soal2 yang lain, hanya
satu menjadi beban ingatannya selama ini yakni menuju kebenteng maut untuk membalas
dendam.
Tiga li kemudian mereka akan tiba di mulut lembah tersebut, disaat itulah mendadak terdengar
seseorang membentak keras, suaranya nyaring ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari
bolong.
"Berhenti"
Han siong Kie terperanjat, cepat dia hentikan gerak tubuhnya, ia tak tahu suara itu berasal dari
balik hutan lebat kurang lebih sepuluh kaki disisi kanannya.
Hek Pek siang yu tak dapat mengerem gerak tubuhnya yang terlanjur bergerak cepat itu,
mereka harus berlarian tiga kaki lagi sebelum berhasil mengendalikan tubuhnya dan berhenti.
"siapa?" bentak Han siong Kie kemudian dengan suara dingin.
"Aku nak. jangan gugup" sahut orang itu.
Han siong Kie semakin terperanjat, sebelum ia sempat berbuat sesuatu ibarat peluru yang
meluncur kedepan, tahu2 sepasang siluman hitam putih sudah melayang kearah mana berasalnya
suara itu.
Pelbagai ingatan dengan cepat melintas dalam benak sianak muda itu, cepat ia memburu pula
kedepan kearah mana berasalnya suara itu.
sesosok bayangan manusia tiba2 menyongsong datang dengan cepatnya karena sama sekali
tidak menduga, hampir saja saling bertumbukan satu sama lainnya
Ditengah jeritan kaget dari kedua belah pihak. orang itu melayang turun keatas permukaan
sementara Han siong Kie sendiripun cepat menahan gerakan tubuhnya.
orang itu ialah seorang perempuan, bahkan seorang perempuan berkerudung hitam meskipun
tak dapat dilihat bagaimanakah raut wajahnya, tapi Han siong Kie tahu siapakah dia.
Dalam pada itu Hek pek siang yu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah melayang
pula kedalam gelanggang, begitu mencapai tempat tersebut, serentak mereka menerjang
perempuan berkerudung itu.
42
"Mundur... jangan gegabah" bentak Han Siong Kie tiba2 dengan suara lantang.
Sepasang siluman hitam putih tercengang, cepat mereka tarik kembali serangannya dan
mundur sejauh tiga kaki dari tempat semula, dengan pandangan keheranan ditatapnya pemuda itu
tak berkedip.
"cianpwe" " kata Han Siong Kie kemudian sambil memberi hormat kepada perempuan
berkerudung itu, "maafkanlah kekasaran serta kecerobohan beanpwee"
Siapa gerangan perempuan berkerudung itu ? Dia tak lain adalah manusia misterius yang
menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma.
Tatkala mendengar suara bentakan tadi, rupanya Han siong Kie sudah tahu bahwa ia sedang
berhadapan dengan orang yang kehilangan sukma, tapi berhubung dia ingin mengetahui raut
wajah asli dari perempuan misterius itu, maka bukan saja tidak mencegah sepasang siluman untuk
menerjang ke muka, malahan dia sendiripun menyergap masuk kedalam hutan dengan
mengerahkan dua belas bagian hawa saktinya.
Dan kala ini tujuannya tercapai, perempuan misterius yang bernama orang yang kehilangan
sukma itu tak sempat menyembunyikan diri lagi.
Tapi pemuda itu merasa kecewa, sebab perempuan itu menutupi wajahnya dengan kain
kerudung hitam, akhirnya toh ia tak berhasil juga untuk melihat paras muka dari perempuan
misterius itu.
Sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata dengan lembut:
"Nak. rupanya Thian selalu melindungi engkau, akhirnya kau bisa keluar dari lembah kematian
dengan selamat"
"Terima kasih atas perhatian dari cianpwe" "sahut pemuda itu cepat-cepat.
selama mulutnya berbicara sorot matanya yang tajam mengawasi potongan badan orang yang
kehilangan sukma tanpa berkedip. diam-diam ia merasa amat kenal dengan potongan tubuh
perempuan ini, hanya ia lupa dimanakah ia pernah bertemu dengannya.
Ketika sinar matanya beralih kearah lengan baju kanannya, ia bergetar keras seperti kena listrik
tubuhnya gemetar menahan emosi:
" Itulah pengorbanan dari orang yang kehilangan sukma untuk membebaskan totokan jalan
darah pada tubuhnya, dia telah mengorbankan lengan kanannya dan lengan tersebut hingga
sekarang masih tersimpan di sakunya.
JILID 31 HAL.04 S/D 5 HILANG
lembah, carilah jalan keluar yang lain dan segeralah engkau tinggaikan tempat ini"
"sayang sudah terlambat" tiba2 serentetan suara dingin menyeramkan membelah kesunyian.
sekujur badan orang kehilangan sukma gemetar keras, secara beruntun dia mundur beberapa
langkah lebar kebelakang.
Rasa kejut yang dialami Han siong Kie pun sukar dilukiskan dengan kata2, ia percaya tenaga
dalamnya pada saat ini sangat lihay, tapi kenyataannya ada orang berhasil mendekat wilayah
sekitar lima kaki dari tempat mereka beradapun tidak dirasakan olehnya, dari sini dapat ditarik
kesimpulan sampai dimanakah kelihayan musuhnya itu.
Hek Pek siang yau sepasang siluman hitam putih juga sudah menyadari akan kelihayan
musuhnya, mereka lantas bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Dari balik popohonan lima kaki dari gelanggang, muncul tiga sosok bayangan manusia, orang
pertama adalah seorang manusia aneh berkerudung hijau, dia adalah Thian Che kaucu,
dibelakangnya mengikuti dua orang kakek jubah hitam yang mempunyai sulaman matahari,
rembulan dan bintang didadanya, salah seorang diantaranya adalah Tangan kilat see bun Lui.
Paras muka Han siong Kie berubah hebat, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya.
sikap orang yang kehilangan sukmapun amat serius, dengan suara lirih dia berbisik kepada Han
siong Kie:
"Manusia berkerudung itu adalah pemimpin dari Utusan Thian che kau, orang sebut dirinya
sebagai Cian jiu mo ong (raja iblis bertangan seribu) Tong ciao, selama ini dialah yang selalu
menyaru sebagai ketua. Hari ini, ketiga orang itu jangan sekali-kali kau lepaskan dalam keadaan
hidup, sebab bila seorang saja diantara mereka masih hidup, maka akibatnya sukar dilukiskan
dengan kata-kata" Han siong Ki mengangguk dan memberikan kesanggupannya.
Dalam pada itu, raja iblis bertangan seribu Tong ciau sudah berpaling kearah orang yang
kehilangan sukma, kemudian sambil tertawa seram ejeknya:
"Heeehhh . . heeehhh . . heeehhh. .Aku mengira siapa yang berada disini, tak tahunya adalah
kau"
Ucapan tersebut membuat Han siong Kiejadi tertegun dia lantas berpikir dihati:
"Masakah orang yang kehilangan sukma adalah anggota perkumpulan Thian che kau? Kalau
tidak kenapa orang ini mengenalinya ?"
Sementara itu orang yang kehilangan sukma telah membentak nyaring: "Tutup mutut
anjingmu"
Jelas sekali maksudnya dia tidak mengharapkan orang itu meneruskan kata-katanya lebih jauh.
Kepada Han siong Kie kembali dia berbisik,
"Ingat, jangan biarkan mereka tetap hidup, akan kubantu dirimu secara diam-diam" selesai
berkata dia lantas melejit keudara dan kabur dari tempat kejadian.
"Mau lari kemana kau ?" bentak Raja iblis bertangan seribu Teng Ciau dengan keras, secepat
kilat ia menerkam kemuka.
Han siong Kie mendengus dingin, tubuhnya bergeser setengah langkah ke samping lalu
melepaskan sebuah pukulan gencar, dalam serangan tersebut dia telah sertakan hawa sakti si mi
sinkang yang di milikinya, bukan saja tidak menimbulkan suara kekuatannya sangat mengerikan-
"Blaaang" suatu benturan nyaring menggelegar diangkasa, raja iblis bertangan seribu Teng ciau
yang sedang melakukan pengejaran segera terpental hingga mencelat sejauh delapan depa dari
tempat semula.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah, orang yang kehilangan sukma melarikan diri
dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan-
Kejadian ini sangat mengejutkan dua orang utusan Thian che kau yang lain, hampir saja
mereka menjerit kaget.
selama hidup belum pernah mereka saksikan kemampuan sedahsyat itu, dan mimpipun mereka
tak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki pemimpin utusan Thian che kaupun ternyata
pemuda itu tak mampu dihajar sampai menceat.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata setajam sembilu mengawasi manusia berkerudung itu
tanpa berkedip. mukanya seram dan penuh diliputi hawa napsu membunuh mengerikan sekali
keadaannya.
JILID 31 HAL. 12/13 HILANG
sukma bagaikan menghormati orang tua sendiri ketika didengar pihak musuh memaki orang
yang dihormati sebagai perempuan hina, kontan saja ia naik pitam.
"Tutup mulut anjingmu yang baur bentaknya, "Teng ciao tempat inilah tulang belulang kamu
bertiga akan terkubur untuk selamanya "
"Anjing cilik, kematian sudah berada didepan mata, buat apa engkau masih saja mengibul
seenaknya ?" ejek Tangan kilat se bun Lui tak kalah sengitnya.
Han siong Kie tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, dia ulapkan tangannya kepada
Hekpek siang yu lalu, serunya:
" Hantar kedua ekor anjing ini pulang keakherat, jangan biarkan mereka tetap hidup dikolong
langit "
Dengan sikap yang sangat hormat sepasang siluman mengiakan tanpa banyak bicara lagi
mereka menerjang dua orang utusan Thian che kau itu.
siluman hitam menerkam si Tangan kilat se bun Lui, sementara siluman putih menerjang
utusan Thian che kau yang lain-
Han siong Kie sendiri dengan wajah sedingin es menghampiri Raja iblis bertangan seribu,
katanya:
"Teng ciao sudah terlampau lama engkau mencicipi kehidupan didunia ini, sekarang pun
ciangbunjin akan mengirim kau untuk berpesiar keakhirat, Nah berangkatlah sekarang juga"
seraya berkata selangkah demi selangkah ia menghampiri lawannya. Suatu pertarungan sengitpun
segera berkobar dalam gelanggang.
Ilmu silat yang dimiliki dua orang utusan Thian che kau itu, memang sangat lihay, dalam
keadaan terdesak mereka harus melangsungkan pertarungan adu jiwa yang mengerikan-
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau adalah pengganti dari Thian che kaucu, tentu saja tenaga
dalamnya amat sempurna, dia hanya kalah setingkat dari kaucu sendiri
Tatkala Han siong Kie menerjang masuk kewilayah Lian huan tau dan menolong Go siau bi,
kedua belah pihak pernah terlibat dalam suatu pertempuran sengit waktu itu, kendatipun Han
siong Kie dan Go siau bi sudah bekerja sama toh bukan tandingannya juga, maka ia sama sekali
tak memandang sebelah matapun kepada musuhnya.
selama ini dia hanya menguatirkan Pertarungan dari Hekpek siang yu, seorang gembong iblis
yang sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari keramaian dunia, setelah melihat bagaimana dua
orang jago yang disegani itu bertarung melawan dua orang rekannya, diapun setengah menjadi
lega. kini dia lupa untuk mengejar orang yang kehilangan sukma, memandang Han siong Kie yang
makin mendekat, gembong iblis tersebut lantas tertawa seram, katanya:
"Manusia bermuka dingin, masih mengharapkan tidak untuk melanjutkan keturunan dan
kejayaan dari Mo tiong ci mo?"
Han siong Kie menghentikan langkahnya lalu menjawab:
"Teng ciau, tak tak usah mempersoalkan yang lain, ketahuilah... jika Thian che kaucu masih
bersembunyi terus macam kura-kura, maka manusia-manusia pengganti macam engkaulah yang
bakal sial, sebab ini hari engkau sudah pasti akan berangkat menuju ke akherat"
Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan, secepat kilat dia melancarkan tiga buah pukulan
berantai ke depansekilas
pandangan, ketiga buah serangan tersebut sama sekali tidak nampak lihay ataupun
mengerikan, tapi justru dibalik kelembutan itu terselip hawa sakti si mi sinkang yang memiliki daya
penghancur, bukan begitu saja, bahkan kecepatannya melebihi apa pun juga.
Raja iblis bertangan seribu Tong cian sedikitpun tidak jeri, telapak tangannya lantas disilangkan
didepan dada dan menangkis semua ancaman yang tiba. "Biang Blaang Blaaang " Tiga kali
benturan dahsyat menggelegar diangkasa.
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau tergetar keras dan mundur tiga langkah, rasa kejutnya
kian menjadi, dia tak menyangka hanya berpisah beberapa bulan, ternyata kekuatan tenaga yang
dimiliki musuhnya sudah meningkat sehebat itu.
Padahal ia sendiri disebut orang Raja iblis bertangan seribu, tentu saja tenaga dalam yang
dimilikinya amat sempurna, ia jadi penasaran, begitu terdesak secepat kilat ia menerkam lagi
kemuka dan secara beruntun melancarkan empat puluh delapan buah pukulan berantai.
Ke empat puluh delapan buah pukulan itu dilancarkan secara berantai, diatas
JILID 31 HAL. 18/19 HILANG
kan tandingan baginya, sungguh tak nyana baru tiga gebrakan dia sudah jatuh kecundang di
tangan Manusia bermuka dingin yang berusia dua puluh tahunan, kejadian ini segera
menimbulkan kembali sifat buasnya.
sambil membentak keras, sekali lagi ia menerjang kemuka, serangan demi serangan
dilancarkan secara bertubi-tubi, mengerikan sekali ancamannya itu.
Han siong Kie sama sekali tidak gentar, dia kembangkan permainan Mo mo ciang hoat dan
membalas serangan lawan deagaa serangan pula.
Mengerikan sekali pertarungan waktu itu, kedua belah pihak sama-sama mengeluarkan
segenap ilmu simpanan yang dimiliki, siapa pun berharap bisa menghancurkan lawannya secepat
mungkin.
Suatu ketika, mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang membelah angkasa.
si Tangan sakti se bun Lui yang hebat tak mampu menghindari sebuah sergapan kilat dari
siluman hitam, tubuhnya kontan terbacok telak dan hancurlah tubuhnya menjadi remuk seperti
berkedel, darah segar berceceran menodai permukaan tanah.
Melihat rekannya tewas, utusan Thian vhe kau yang lain jadi gugup, permainan serangannya
jadi kacau balau tak karuan-
Kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan oleh siluman putih, suatu cengkeraman kilat
berhasil menangkap bahunya, baju berikut dagingnya lantas dicomot sampai hancur sepanjang
setengah depa, darah segar bagaikan pancuran mengucur keluar tiada hentinya.
00dw00
BAB 64
BERHASIL dengan serangan yang pertama, siluman putih tidak berdiam diri sampai disitu saja,
secara beruntun dia melontarkan kembali tiga buah pukulan berantai.
Begitu tiga pukulan itu dilepaskan, untuk kesekian kalinya jerit kesakitan berkumandang
memecahkan kesunyian, sambil muntah darah segar utusan Thian che kau itu mencelat sejauh
satu kaki lebih dan tidak bangun untuk selamanya.
Raja iblis bertangan seribu Tong ciau merasa terkejut dan panik, dalam gugupnya secara
beruntun dia lepaskan beberapa buah pukulan kilat begitu Han siong Kie terdesak hebat, ia lantas
melejit dan siap melarikan diri
"Mau kabur ?" jengek Han siong Kie, "jangan mimpi hayo serahkan dulu jiwa anjingmu"
sekali berkelebat ia sudah menghadang jalan pergi raja iblis bertangan seribu itu, secara
beruntun dia lepaskan lima buah serangan berantai.
Melihat gelagat tidak menguntungkan- raja iblis bertangan seribu tak berani gegabah lagi,
timbullah niat untuk mengadu iiwa, maka tatkala serangan musuh melanda datang, bukannya
berkelit dia malahan menyongsong datangnya pukulan itu dengan pukulan.
selama pertempuran berlangsung, Han siong Kie tak bisa bertarung dengan hati lega, karena ia
kuatir kalau dua orang musuh yang sedang bertempur melawan Hek pek siang yu berhasil kabur,
ia kuatir dengan peringatan dari orang yang kehilangan sukma dimana dikatakan bila seseorang
diantara mereka berhasil kabur maka akibatnya sukar dibayangkan-
Tapi sekarang, setelah dua orang yang di kuatirkan berhasil dibikin mampus oleh sepasang
siluman, iapun tidak kuatir lagi, segenap perhatian dan tenaganya dihimpun menjadi satu untuk
melakukan sergapan sergapan maut. Lima gebrakan kemudian, Raja iblis bertangan seribu sudah
dibikin kalang
JILID 31 HAL. 24 S/D 27 HILANG
ia masih berada disini:.. aaai sukarlah untuk diketahui siapa yang bakal hidup dan siapa yang
bakal mati"
"Aaah belum tentu begitul" seru Han siong Kie dengan cepat.
"sekarang engkau adalah seorang ketua dari suatu perguruan, sebelum dendam sakit hatimu
terbalas setiap persoalan yang kau hadapi harus dipikirkan dengan otak dingin, janganlah terlalu
memburu napsu, ketahuilah ilmu silat ibaratnya samudra yang luas, dimanapun ada orang-orang
pintar yang tersembunyi, jangan disebabkan oleh luapan emosi mengakibatkan segala sesuatunya
menjadi berantakan"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan
terbata:
"Setiap nasehat dari cianpwe akan boanpwe dengarkan baik-baik, untuk selanjutnya tat akan
kulupakan lagi"
"Aaah sekarang cepatlah keluar dari lembah ini, aku kuatir bila terlambat maka akan terjadi halhal
yang tak diinginkan"
"Bukankan cianpwe lelah mengatakah bahwa disekitar mulut lembah telah ditanam obat
peledak seberat sepuluh laksa kati"
"Benar, tapi sekarang pemimpin mereka yang merupakan ketiga orang tadi sudah mati semua,
sisanya tak perlu kita takuti lagi, mesti kita bergerak dengan bersembunyi dibalik pepohonan, aku
rasa untuk sementara waktu kita masih bisa mengelabuhi mereka sebab yang tersisa cuma jagojago
kelas kambing. Kendatipun akhirnya jejak kalian berhasil ditemukan, toh pada waktu itu
kalian sudah berada disekitar mulut lembah dan wilayah yang ditanam obat peledakpun sudah
dilampaui, aku percaya dengan kemampuan ya kalian miliki tak sukar untuk kabur dari sini, Nah,
selamat jalan dan semoga berhasil"
Selesai dengan kata-katanya, orang yang kehilangan sukma lantas berkelebat masuk ke hutan
dan lenyap dibalik pepohonan yang rindang.
Dengan termangu- mangu Han Siong Kie mengawasi bayangan punggungnya yang lenyap dari
pandangan, dia menghela nafas panjang, lalu berpikir:
"Budi kebaikan yang kuterima selama ini entah sudah berapa banyak. aai, entah bagaimana
caraku untuk membalas budi kebaikannya ini?
Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, akhirnya sambil mengulapkan tangannya kepada
sepasang siluman ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya menerjang ke arah mulut lembah.
selang sesaat kemudian, mulut lembah itu sudah berada didepan mata, pepohonan yang
rindangpun sudah mencapai pada ujungnya.
Ketika mereka berada kurang lebih lima puluh kaki dari mulut lembah, serentak Han siong Kie
menancap gas dan kabur lebih cepat lagi, kepada dua orang siluman itu serunya: "Hayo kita
terjang keluar dari lembah ini secepat-cepatnya..."
Tiga sosok bayangan manusia bagaikan tiga gulung asap dengan cepatnya meluncur kearah
mulut lembah. suitan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian disusul dari belakang
mereka bergelegar suara ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.
Pasir dan batu mencelat jauh keudara, asap hitam tanah longsor berguguran disekitar tempat
itu membuat suasana ketika itu benar-benar mengerikan sekali.
Akhirnya meledak juga obat yang ditanam disekitar mulut lembah, tapi sayang terlambat
setengah langkah, Han siong Kie sudah lolos dari lingkaran bahan peledak itu.
Keadaan mulut lembah itu porak poranda keadaannya mengerikan sekali, batu cadas sebesar
gunung dan pasir berjuta-juta meter kubik berguguran kebawah dan menyambar semua lapisan
tanah disekitar situ.
Baik Han siong Kie maupun Hekpek siang yau saling berpandangan sekejap dengan mulut
melongo bergidik hati mereka, andaikata orang yang kehilangan sukma tidak memberi peringatan
lebih dahulu, niscaya mereka bertiga sudah hancur entah berwujud apa.
Bisa dibayangkan betapa gusar dan dendamnya siluman hitam menyaksikan keadaan itu, ia
berpaling ke arah pemuda kita lalu berseru: "Ciangbunjin, hutang ini...."
"Hutang kita kepada mereka tidak terbatas hanya peristiwa ini saja" tukas Han siong Kie
dengan cepat, lebih baik kita perhitungkan dikemudian hari saja, sekarang aku masih ada urusan
penting yang harus segera diselesaikan marilah kita segera pergi"
siluman putih menyapu pandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu berkata pula dengan
suara dalam:
"Ciangbunjin, tolong tanya bagaimana kita harus selesaikan anakan monyet yang bersembunyi
di sekitar tempat ini?"
"Kalau ingin mencari balas sudah sepantarnya kita bikin perhitungan dengan pemimpin mereka,
apa harganya buat kita untuk ribut dengan manusia-manusia keroco seperti mereka? Biarkanlah
mereka pergi"
selesai mengucapkan kata-kata tersebut, Han siong Kie segera berangkat meninggalkan tempat
itu diikuti Hekpek siang Yaw di belakangnya
Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah jauh tinggalkan lembah kematian, tujuan mereka
sekarang adalah benteng maut.
Inilah tugas pertama yang harus diselesaikan olehnya setelah berhasil mempelajari Ilmu sakti si
mi sinkang, dia hendak menuntut balas dan menghancurkan tengkorak maut.
Untuk menghindari kegemparan dikalangan masyarakst oleh wajah Hekpek siang yau yang lain
daripada yang lain itu, sengaja ia memerintahkan kedua orang itu untuk mengenakan kain
kerudung hitam.
Hari kedua, tatkala tengah hari menjelang tiba, mereka sudah berada ditepi sebuah sungai
yang lebar, perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri sungai tersebut.
Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba disamping sebuah bekas bangunan rumah yang kini
sudah tinggal puing-puing yang berserakan, disitulah dahulu pesanggrahan Teng to siau cut
berdiri
Terkenang kembali masa lampau, tanpa terasa Han siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya,
dengan termangu- mangu ia memandang bekas bangunan Teng to siau cut yang tinggal puingpuing
itu.
Tanpa terasa ia teringat kembali kenangan masa lampau, kenangan dikala ia terhajar oleh
pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai, bagaimana ia ditolong oleh Go siau bi dan
bagaimana pesanggrahan tersebut akhirnya dibakar oleh orang-orang Thian che kau.
Bayangan Go siau bi yang cantik jelita terpampang jelas didepan matanya, gadis itu telah jatuh
cinta kepadanya pada tatapan yang pertama, bahkan berulang kali menyatakan cinta kepadanya.
Tapi ia sama sekali tidak membalas cinta dara itu, ia tak pernah mencintai Go siau bi, sebab ia
membenci setiap perempuan yang ada didunia ini kecuali Tong hong Hui seorang.
Akhirnya pemuda itu menghela napas panjang, tiba-tiba ia merasa bahwa perbuatannya selama
ini terlalu menyinggung perasaan halus gadis itu, tapi sekarang dia sudah pergi, mungkin
selamanya tak mungkin bisa berjumps lagi.
Benarkah aku telah menghancurkan masa depan seorang gadis ? Benarkah aku bertanggung
jawab atas kejadian ini? ia mencoba untuk bertanya pada diri sendiri, tapi pemuda itu tak mampu
menjawab.
Tindakan ibunya say siang go atau siang go cantik ong cul ing meninggalkan tempat kejadian
dikala keluarganya tertimpa bencana bahkan kawin lagi dengan Thian che kaucu dirasakan
sebagai pukulan batin terberat yang pernah ia terima, kejadian ini membuat pandangannya
terhadap kaum perempuan jadi sinis dan benci.
Untunglah selama ini dia banyak berhutang budi kepada orang yang ada maksud, orang yang
kehilangan sukma, Go siau bi serta Tong hong Hui, sikap dari perempuan-perempuan inilah yang
banyak menggoyahkan cara berpikirnya yang salah itu, perasaan anti perempuan yang
dipertahankan selama ini pun lambat laun menjadi lebih tawar.
Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang puing yang berserakan serta ombak yang
memecah ditepi pantai, kian lama perasaannya kian terbuai oleh lamunan dan kenangan lama.
Hekpek siang yau tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dengan tenang mereka menunggu di
belakang ketuanya.
Tiba-tiba dari balik puing-puing yang berserakan berkumamdang suara helaan napas panjang.
Satu ingatan lantas melintas dalam benak si anak muda itu, ia tersadar kembali dari
lamunannya kepada sepasang siluman segera pesannya. " Kalian tak usah pergi kemana-mana,
nantikanlah aku disini". secepat kilat ia meluncur ke angkasa dan menerobos masuk kedalam
hutan bambu di mana helaan napas tersebut berasal.
seorang sastrawan berusia setengah baya berdiri sambil bergendong tangan ditepi sungai dekat
hutan bambu. Berdebar keras jantung Han siong Kie setelah mengetahui siapakah orang itu,
sebab tak lain adalah kakek Go siau bi, orang-orang persilatan menyebutnya sebagai Put lo
sianseng.
Han siong Kie berdiri pada jarak lima kaki dihadapan kakek tua itu, ia tak tahu apa yang harus
diucapkan dan apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini.
"Benarkah yang datang adalah Han siauhiap, ketua dari perguruan Thian lam bun? " tanpa
berpaling Put lo sianseng menegur lebih dahulu.
Han siong Kie mendekati sampai sejarak tiga kaki lalu menjura dengan hormat.
"Benar cianpwe, apakah selama ini locianpwe berada dalam keadaan sehat walafiat" sahutnya.
Perlahan-lahan put lo sianseng memutar badan sekilas sorot mata yang aneh memancar keluar
tapi sebentar saja sudah lenyap tak berbekas dengan suara dingin.
"sebetulnya lohu sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia ini, tapi sayang imanku kurang
teguh, karena tergoda oleh peristiwa keduniawian akhirnya kumuncul kembali dalam dunia
persilatan, aai.. sungguh tak nyana aku tergoda oleh suatu masalah yang akhirnya membuat diriku
tak bisa lagi berpeluk tangan belaka" Berbicara sampai disitu, kembali ia menghela napas panjang.
"Persoalan apakah yang telah membuat locianpwe jadi bingung?" tanya pemuda itu keheranan-
"Belenggu cinta dari cucu perempuanku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie lantas teringat kembali dengan peristiwa lama
ketika ia menolak pinangan dariput losianseng bagi cucu perempuannya.
"Locianpwe, apakah perkataanmu itu kau sengaja tujukan kepada diri boanpwe? " tanyanya
tanpa sadar.
sekali lagi sorot mata aneh terlintas di wajah Put to sianseng, ia menatap sekejap pemuda itu
kemudian balik bertanya: "Han sauhiap bersediakah engkau membantu diriku?"
"Persoalan apakah yang dapat boanpwe lakukan bagi locianpwe?" tanya Has siong Kie setelah
tertegun sejenak.
"sebenarnya lohu sudah mengangkat sumpah tak akan mencampuri urusan keduniawian lagi..
Aaai, tak disangka oleh karena sejilid kitab pusaka Thian tok pit kip. bukan saja putraku Go Yu to
menemui ajalnya, perkumpulan Pat Gi pang hancur berantakan dan lenyap dari dunia persilatan,
bahkan Go siau bi cucu perempuanku ini ..."
Teringat dara itu, merah padam selembar wajah Han siong Kie, sebab bagaimanapun juga dia
pernah menolak pinangan dara itu
setelah berhenti sebentar terdengar Put lo sianseng melanjutkan kembali kata-katanya:
"Didalam waktu yang amat singkat, lohu telah berhasil melatih Siau bi sehingga ilmu silatnya
mencapai tingkatan yang lihay, tujuanku adalah meminta kepadanya agar balaskan dendam bagi
kematian ayahnya serta membangun kembali perkumpulan yang telah buyar.." Berbicara sampai
disini, kembali dia berhenti.
Han siong Kie merasa hatinya sangat tidak tenang, bagainya secara lapat-lapat ia sudah merasa
bahwa bantuan yang diharapkan kakek sakti ini mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan
Go siau bi.
sementara itu paras muka Put lo sianseng sudah agak berubah, katanya kembali:
"Aaai. sebetulnya aku malu untuk membicarakan persoalan ini, tapi apa boleh buat? Mau tak
mau terpaksa harus mengatakannya juga ...siau bi telah terbelenggu oleh cinta, sekarang ia sudah
terjerumus dalam sekali, kegagalan demi kegagalan yang diterimanya selama ini telah membuat ia
jadi putus asa, sekarang siau bi telah mengambil keputusan untuk mencukur rambut menjadi
nikoh, aai, inilah suatu kejadian yang membuat perasaan hati lohu selalu tak tenang."
"Apa ? Dia mau mencukur rambut menjadi pendeta??"
"Benar, dan keputusannya ini tampaknya sudah bulat, kecuali engkau mungkin didunia ini tak
ada orang kedua yaag bisa merintangi niatnya itu lagi"
JILID 31 HAL. 40/41 HILANG
"Boleh aku tahu pada saat ini nona siau bi berada dimana ?"
"Dipintu luar kuil Bu cu an di bukit Tay hang san"
"Benar, dia minta Tay huang sinni untuk menerimanya sebagai pendeta, tapi lantaran lohu
sudah berpesan kepada sini maka ia ditolak untuk memasuki kuil tersebut, walaupun demikian
rupanya ia tidak menjadi putus asa, sudah tiga hari tiga malam ia berlutut didepan pintu kuil
tersebut "
Dari mulut boanpwe pernah mendengar tentang kelihayan Tay huang Sinni, katanya watak
nikoh itu aneh sekali, enam puluh tahun berselang dengan lencana Hud cu leng dia telah
menggetarkan sungai telaga dan memaksa orang persilatan baik dari golongan putih maupun dari
golongan hitam tunduk semua kepadanya, sungguh tak nyana dia masih hidup didunia ini?"
"Benar, Tay huang sinni itulah yang kumaksudkan, hingga kini sepuluh li disekitar bukit Tay
huang san merupakan daerah terlarang, tak seorang jago persilatanpun yang berani mendekati
tempat itu "
"Kalau memang begitu, bukankah kedatangan boanpwe."
"Dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bukan suatu persoalan yang terlampau berat
untuk menerjang masuk kedalam kuil"
"Menerjang masuk?" seru pemuda itu tercengang.
"Benar, selain menerjang masuk rasanya tiada jalan lain yang bisa kau tempuh. sebagaimana
telah kau ketahui. Tay huang sinni adalah seorang manusia aneh yang tak bisa diajak berbicara.
Kendatipun begitu aku minta kau masih ingat untuk berbicara secara baik-baik lebih dahulu
sebelum menggunakan kekerasan, bila tidak terpaksa sekali janganlah turun tangan secara
gegabah"
"Perasaan ingin tahu lantas menyelimuti hati pemuda ini, ia lantas berpikir:
" Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mencoba sampai dimanakah
kelihayan kungfu Tay huang sinni?"
Diapun mengangguk seraya menjawab: "Boanpwe akan menuruti semua pesan cianpwe"
"Bolehkah aku tahu apa tujuanmu sekarang ??"
"Boanpwe hendak berkunjung ke benteng maut untuk membuat perhitungan dengan pemilik
benteng maut tersebut"
"Membalas dendam? tentang soal ini..."
"Apakah locianpwe ada petunjuk lain?"
"Aaah tidak... tidak aku tidak ingin mengatakan sesuatu hal, setelah tiba pada saatnya engkau
akan mengetahui sendiri"
Han siong Kie melongo, ia tak tahu apa yang dimaksudkan put lo sianseng dengan katakatanya
itu?
sementara dia masih termenung put to sianseng telah melanjutkan kembali kata-katanya:
"Masalah yang kutitipkan padamu itu terlampau serius, rasanya tak boleh dibiarkan berlarutlarut,
oleh sebab kuatir kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, apakah sauhiap bersedia untuk
berkunjung dahulu kebukit Tay huang san?"
"Boanpwe turut perintah bagaimana cara nya untuk berangkat menuju bukit Tay huang san?"
"Dari sini berangkatlah keutara dua ratus li kemudian akan tiba kebukit Tay huang san, diantara
bukit yang menjulang diangkasa akan kau temui sebuah bukit gersang yang tidak bertumbuhan,
tempat itu mudah ditemukan dan aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki tidak susah
untuk mencapai tempat tujuan"
"Kalau begitu boancwe akan berangkat sekarang juga"
"Tunggu sebentar"
"Apakah locianpwe masih ada pesan lain"
"Benarkah dua orang manusia berkerudung yang mengikuti dibela kang mu itu adalah Hek pek
siang yau sepasang siluman hitam putih yang tersohor itu."
sungguh kagum Han siong Kie oleh ketajaman mata Put to sianseng, bukan saja dapat
menebak jitu asal usul dari Hek pek siang yau, malahan tanpa melihat tampang wajah merekapun
tebakannya ternyata jitu. Maka dia lantas mengangguk tanda membenarkan.
"Apakah hubungamu dengan sepasang siluman itu" kembali Put to sianseng bertanya.
"Mereka berdua sudah termasuk jadi anggota perguruanku"
JILID 31 HAL. 46/47 HILANG
"Benar, dan sekarang juga kita akan berangkat menuju ke kuil Bu cu an dibukit Tay huang san"
"Pergi ke bukit Tay huang san?" seru siluman putih dengan wajah terkesiap.
"Benar, bukit Tay huang tempat tinggal dari Tay huang sini"
"Apakah ciangbunjin hendak bermusuhan dengan pendeta perempuan itu?"
"Tidak, aku kesana untuk menyelesaikan sedikit persoalan. Tahukah kamu berdua persoalan
apa yang hendak kuselesaikan "
"Tentang soal ini tecu tak berani bertanya.."
"Kalau begitu hayo kita segera berangkat"
Begitulah tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat segera
berangkat menuju utara.
Hek pek siang yau terhitung pula sebagai jago yang tersohor pada puluhan tahun berselang,
tentu saja Tay huang sinni yang pernah malang melintang dalam sungai telaga dengan Hud cu
lengnya tidak terlampau asing bagi mereka.
sekarang setelah mengetahui bahwa tujuan mereka adalah ke bukit Tay huang san, sedikit
berdebar juga hati mereka berdua.
Namun baik siluman hitam maupun siluman putih tak berani banyak bertanya, sebab
bagaimanapun juga mereka harus mengikuti kemana perginya majikan mereka.
Untunglah ketiga orang itu adalah jago-jago silat berilmu tinggi, sekalipun tiada jalan yang
terbentang namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menembusinya .
Dua jam kemudian, mereka sudah memasuki daerah pegunungan yang terjal dan sepi.
sesudah melewati berpuluh-puluh buah bukit yang terjal, akhirnya diantara deretan bukit itu
muncullah sebuah bukit gundul yang gersang.
Kecuali beberapa titik warna hijau menghiasi bukit tersebut, hampir boleh dibilang yang tampak
hanya batu-batu cadas yang hitam dan tajam.
Han siong Kie segera menghentikan langkah kakinya, sambil menunjuk ke arah bukit gundul
nanjauh didepan sana katanya:
"Aku pikir bukit itulah yang dinamakan bukit Tay huang san?"
"Jadi ciangbunjin belum pernah berkunjung kemari?" tanya siluman hitam keheranan-
"Belum pernah, baru untuk pertama kali ini aku berkunjung kemari"
"Dahulu tecu pernah melewati tempat ini, tak salah lagi inilah bukit Tay huang san"
"Ciangbunjin, bolehkah kami tahu apa maksud ciangbunjin datang kemari?" tanya siluman putih
agak takut-takut.
"Mencari seseorang"
"Mencari orang? Ketahuilah ciangbunjin, dua li dari kaki bukit itu merupakan daerah terlarang,
setiap umat persilatan tak berani melewati wilayah tersebut dengan sembarangan"
Han siong Kie bukan orang bodoh, tentu saja ia mengetahui perasaan hati dari sepasang
siluman itu, sambil tertawa dingin katanya: "Jadi kalian merasa takut??"
"Ciangbunjin jangan berkata begitu" seru siluman hitam dengan hati gelisah, "setelah tecu
memberikan kesanggupan untuk turut serta ciangbunjin untuk selamanya, jangan toh hanya
berkunjung ke bukit Tay huang san, kendatipun harus naik kebukit golok atau terjun ke lautan api
tak nanti kami akan menolaknya"
Han siong Kie menengadah dan memandang sekejap bukit gundul diseberang sana, kemudian
katanya lagi.
"Kalian berdua tak usah ikut aku naik ke bukit itu, nantikan saja kedatanganku disini"
"Tidak Tecu tidak mau meninggalkan ciangbunjin seorang diri" serentak kedua orang siluman
itu berseru.
"Aku hendak pergi menyelesaikan suatu persoalan, kalian tak usah ikut saja. berdiamlah disini "
"Tecu berdua mana tenang membiarkan ciangbunjin pergi menempuh mara bahaya seorang
diri?"
"siapa bilang aku pergi menempuh bahaya ? Ketahuilah urusanku ini tidak menyangkut soal
dendam sakit hatipun tidak mengenai soal pembalasan budi."
"Tapi .. Ciangbungjin pasti tahu Tay Huang sini adalah seorang manusia yang berwatak aneh,
siapa berani melanggar pantangannya maka bisa mengakibatkan ...."
"Kalian berdua tak perlu kuatir, aku bisa menjaga diri dan akupun tahu bagaimana caranya
untuk menghadapi keadaan seperti itu" Dengan wajah bersungguh-sungguh siluman hitam
berkata lagi:
"Bagaimaa kalau tecu berdua mengikuti jejak ciangbunjin dari tempat kejauhan ?jadi apabila
sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tecu berdua bisa segera memberi bantuan ?"
"Tidak Tidak perlu" sahut pemuda itu tegas.
Tapi... tapi bagaimanapan juga, kami merasa tak tenang."
"Kalian berdua tetap berjaga-jaga disini, bagaimanapun juga yang terjadi disini, kalian tak boleh
bergerak secara sembarangan, perkataanku ini adalah perintah, aku minta kalian berdua jangan
mencoba untuk melanggar perintahku ini"
Buru-buru Hok pek siang yau membungkukkan badannya memberi hormat, mereka tak banyak
banyak bicara lagi.
Menyaksikan sikap kedua orang itu, Han siong Kie malahan merasa tidak tega sendiri, kembali
bisiknya dengan lembut:
"Kalian berdua tidak usah kuatir, tenangkan saja hati kalian berdua, tidak akan terjadi hal yang
diluar dugaan atas diriku ini"
seraya berkata dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan bergerak menuju
kepuncak bukit yang gundul itu
Diluaran Han siong Kie memang tampak sangat tenang, padahal dalam hatinya ia menggerutu
terus, bagaimanapun juga dia telah memasuki daerah terlarang dari seorang jago silat yang
disegani umat manusia, selain itu diapun tak tahu apakah pesan dari put lo sianseng dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya atau tidak masih merupakan suatu tanda tanya besar, ia tak
tahu apakah Go siau bi bersedia untuk mendengarkan nasehatnya atau tidak.
Menurut keterangaa dari put to sianseng sudah tiga hari tiga malam Go siau bi berlutut didepan
pintu kuil, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tekadnya sudah bulat .
"Apa yang harus diucapkan setelah berjumpa dengan gadis itu nanti?"
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, setiap kali teringat akan persoalan ini hatinya
langsung merasa tak tenang.
Belum jauh ia mendaki bukit yang gundul itu, kira-kira baru sepuluh kaki dari wilayah
perbatasan daerah terlarang, mendadak perjalanannya telah dihadang oleh seorang nikoh,
pendeta perempuan itu duduk bersila diatas sebuah batu cadas, matanya terpejam dan tubuhnya
kaku seperti arca, tampaklah betapa berwibawanya nikoh tersebut.
Cepat Han siong Kie menghentikan gerak tubuhnya, setelah tertegun sejenak diapun berpikir:
"Mungkinkah nikoh tua itu adalah Tay huang sinni yang tersohor dimana-mana itu?" sambil
merangkap tangannya memberi hormat pemuda itu menyapa: "Mohon tanya apakah sinni adalah
Tay huang sini?"
"Dia adalah guruku " sahut nikoh tua itu singkat.
sekalipun hanya beberapa patah kata saja, namun tiap patah kata diucapkan dengan sangat
nyaring dan tajam, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki nikoh ini sudah
mencapai puncak kesempurnaan yang mengagumkan.
-000dw000-
BAB 65
"BOLEH aku tahu, siapa nama gelar dari suthay ?" kembali si anak muda itu bertanya.
"Kami adalah orang yang beragama, tidak menjadi kebiasaan bagi kami untuk saling
menyebutkan nama dengan orang awam "
Ucapan tersebut dingin kaku dan singkat, malahan nikoh itu sama sekali tidak membuka
matanya barang sekejappun.
Diam-diam Han siong Kie merasa naik pitam, tapi ia tetap berusaha untuk mengendalikan hawa
amarahnya itu, sebab berulang kali Put to sianseng telah berpesan kepadanya agar jangan
memakai kekerasan, sehingga mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi
tujuan kedatangannya toh hanya berusaha menasehati Go siau bi agar membatalkan niatnya
untuk menjadi pendeta."
Maka setelah berpikir beberapa saat, dia pun berkata:
JILID 31 HAL. 56/57 HILANG
tekebur yang berani mencari gara-gara dibukit Tay huang san"
Keangkuhan dan keketusan Han siong Kie segera terpancing keluar oleh suasana yang serba
tak enak itu, dia balas mendengus.
"Hmm Aku sudah memohon dengan segala kehalusan serta mengikuti tata kesopanan aku
minta suthay jangan bersikeras untuk menampik keinginanku ini, ketahuilah setelah aku berhasil
berjumpa dengan orang yang kucari maka akupun akan segera tinggalkan tempat ini"
"Tidak bisa Lebih baik sicu segera tinggalkan tempat ini."
"Kalau suthay bersikeras untuk menampik terus kehendak hatiku, terpaksa aku akan berbuat
kurang sopan.
43
"Apa yang hendak sicu lakukan ?"
"Apa lagi? Tentu saja naik gunung mencari orang"
"Sicu, tak usahlah bersikeras untuk mencari keonaran, apakah engkau baru bersedia untuk
turun dari bukit ini setelah diusir oleh pinni dengan menggunakan kekerasan ?"
"Bagiku hanya tahu maju terus pantang mundur, tak dikenal arti mengundurkan diri sebelum
apa yang kuharapkan tercapai."
"Jadi kau ingin main kekerasan? Silahkan saja untuk mencoba. "
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan"
Begitu selesai berkata, Han siong Kie segera menjejakkan kakinya ke tanah dan melesat
kedepan.
Nikoh tua itu menggulung keluar dan menghantam tubuh sianak muda itu keras dan berat
sekali tenaga pukulan yang dilontarkan oleh pendeta perempuan itu.
Han siong Kie tak mampu untuk meneruskan langkahnya, ia dipaksa untuk melayang kembali
ketempat semula, dalam hati pemuda itu lantas berpikir:
"Muridnya saja sudah begitu lihay, apa lagi gurunya? Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki
Tay huang sinni telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa"
Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba nikoh tua itu membentak lagi:
JILID 31 HAL.60/61 HILANG
sekarang Han siong Kie tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, sepasang telapak
tangannya diayun kedepan melancarkan dua buah pukulan berantai yang maha dahsyat, dalam
seraogannya kali ini dia telah sertakan tenaga sakti si mi sinkang sebesar enam bagian.
Nikoh tua itu mendengus gusar, diapun mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut
datangnya ancaman tersebut.
"Blaaam Blaaam" dua kali benturan keras seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong
menggelegar di angkasa. Nikoh tua itu bergetar keras dan akhirnya tak mampu mempertahankan
diri ia terdesak mundur dari atas batu cadas tersebut.
Menggunakan kesempatan dikala nikoh itu terpental turun dari batu Han siong Kie segera
melejit keudara dan melayang sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula kemudian sekali menutul
permukaan tanah pemuda itu melayang kembali sejauh sepuluh kaki.
"Kawanan tikus kau akan pergi ke mana?"
mendadak seorang nikoh tua lain muncul dihadapan mukanya dan menghadang jalan pergi
sianak muda itu, sementara nikoh tua yang berada dibelakang tadi kini entah telah pergi kemana ?
Dengan tatapan tajam Han siong Kie mengamati tampang nikoh tua yang menghalang jalan
perginya ini, ia lihat alis matanya sudah memutih semua, sekalipun jauh lebih muda daripada
nikoh tua yang duduk di arca batu tadi, namun usianya sudah berada diantara enam puluh sampai
tujuh puluh tahunan.
"Sicu, hebat sekali ilmu silat yang kau miliki" tegur nikoh beralis putih itu dengan wajah
sedingin es.
"Terima kasih atas pujian dari suthay Aku tidak memiliki kepandaian apa-apa dan rasanya tak
perlu kau kagumi"
"sicu, sadarkah engkau apa akibatnya jika engkau bersikeras untuk melakukan pengacauan
diatas bukit Tay huang san ini ?"
"Apa akibatnya?" tanya pemuda itu.
"Mati. Mati dalam keadaan mengenaskan" Kontan saja Han siong Kie mengerutkan dahinya.
"suthay, janganlah kau anggap ancaman itu akan membuat aku jeri ataupun ketakutan.
Ketahuilah kedatanganku kemari adalah atas permintian dari seseorang, dan aku datang kemari
melalui tata cara dan sopan santun pada umumnya, janganlah kalian mulai dahulu dengan
permainan kekerasan"
"Tidakkah sicu tahu bahwa bukit Tay Huang san adalah suatu daerah terlarang? Suatu wilayah
yang tak boleh dilalui oleh setiap manusia asing kecuali penghuni kuil?"
"Maaf suthay, sebelum apa yang kucita- citakan tercapai, aku tidak mengenal apa artinya takut
atau mengundurkan diri ditengah jalan"
"Kalau begitu, silahkan saja untuk coba menerjang masuk dengan kekerasan .. " tantang nikoh
itu.
"Kalau terpaksa musti menggunakan kekerasan, maaf kalau aku akan bertindak lancang
-ooodwooo
SEHABIS mengucapkan kata-kata tersebut, seperti sukma gentayangan saja sianak muda itu
menerjang maju kedepan.
Meskipun pemuda itu bertindak cepat, nikoh tua itupun tidak berlambat, baru saja Han siong
Kie mencoba untuk menerobos lewat dari sisinya, tahu-tahu nikoh tua itu sudah menghadang
dihadapan mukanya sembari melancarkan tiga buah serangan berantai.
Ke tiga buah serangsn tersebut bukan saja dilancarkan secara beruntun dengan kecepatan
yang luar biasa, terasalah desingan angin puyuh yang menyertai serangan itu hebatnya luar biasa.
Terkesiap Han siong Kie menghadapi serangan sedahsyat itu, dia coba berkelit ke samping
untuk menghindar, lalu dari samping dia lepaskan sebuah serangan balasan.
Nikoh tua itu bergerak kesamping, bukan saja dengan gerakan yang enteng ia berhasil
menghindari serangan tersebut, malahan menggunakan kesempatan tersebut ke lima jari tangan
kirinya seperti jepitan baja mencengkeram urat penting dipergelangan tangan Han siong Kie,
sementara tangan kanannya dikebutkan kemuka menghajar hiatto-hiatto penting disekitar dada
bagian luar.
Cepat dalam serangan, aneh dalam jurus pukulan, kelihayan nikoh tua ini jarang di temui dalam
dunia persilatan.
selihay-lihaynya nikoh tua itu, Han siong Kie jauh lebih lihay, ia putar telapak tangan kanannya
dengan cepat, dari gerakan dia rubah serangannya menjadi gerakan mencengkeram, arah yang
diancam adalah pergelangan tangan lawan, sementara telapak tangan kirinya tidak ketinggalan, ia
putar satu lingkaran didepan dada dan menutup semua hiatto pentingnya dari ancaman.
Gagal dengan serangan kilatnya, nikoh tua itu mundur tiga langkah kebelakang, menyusul
sebuah pukulan kilat kembali dilancarkan.
Han siong Kie tak mau unjukkan kelemahan nya, dia lepaskan pula sebuah pukulan untuk
menyambut ancaman itu.
"Blaang" benturan keras tak dapat dihindari lagi, masing-masing pihak terjengkang mundur
satu langkah.
Dalam hati Han siong Kie merasa terperanjat, ia tak mengira kalau nikoh tua itu sanggup
menerima pukulan saktinya yang disertai dengan tenaga sebesar enam bagian.
Ia kaget nikoh tua itu lebih kaget sebab dalam serangannya barusan dia telah mengerahkan
tenaga sebesar sepuluh bagian, tapi nyatanya bukan saja tak berhasil merobohkan lawan, dia
sendiri yang terdesak mundur satu langkah.
Untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama tertegun, mereka sama-sama menyadari bahwa
musuh yang sedang dihadapi adalah musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Paras muka nikoh tua itu berobah hebat, jubah pendetanya yang lebar menggelembung sendiri
tanpa terhembus angin, sinar matanya berkilat dan perlahan-lahan telapak tangannya diangkat
keatas.
Meskipun Han siong Kie terperanjat dan tidak mengerti ilmu aneh apakah yang sedang
dikerahkan musuhnya namun sianak muda itu tak berani bertindak gegabah, dia pun menghimpun
hawa sakti si mi sinkang nya sebesar delapan bagian, telapak tangannya dialingkan didepan dada,
siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Sementara itu nikoh tua tadi telah mengangkat telapak tangannya sejajar dada, kemudian
didorongkan kemuka perlahan-lahan, segulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera
meluncur kedepan dan menyapu benda apa saja yang dilewatinya.
Han siong Kie memandang pukulan itu dengan serius, sepasang telapak tangannya balas
didorong kemuka dan menyambut ancaman tersebut dengan tenaga si mi sinkang sebesar
delapan bagian.
"Blaaang" ledakan keras menggelegar di angkasa, diantara suara nyaring terdengar dengus
tertahan menggema diudara, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur lima langkah, paras
mukanya pucat pias, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, peluh sebesar kacang kedelai
mengucur keluar tiada hentinya.
Han siong Kie sendiripun merasakan hatinya bergoncang keras, dia terdorong mundur satu
langkah lebar.
setelah berhenti sebentar nikoh tua itu menggigit bibir, tiba-tiba ia menerjang lagi kedepan,
sepasang telapak tangannya dengan desingan tajam disapu kembali keluar.
sapuan tersebut tampaknya saja sangat lambat pada hakekatnya cepat melebihi kilat bahkan
sudut sasarannya jauh dari keadaan biasa bukan saja disertai hawa pukulan yang aneh bahkan
membuat orang tak mampu untuk menangkis datangnya ancaman itu
Han siong Kie seketika terdesak hebat, dia mundur terus berulang kali tanpa mampu
membalas.
Bagaikan gulungan ombak sungai yang berkepanjangan serangan itu datang secara
bergelombang dan tiada putusnya, sianak muda itu mundur terus kebelakang dan akhirnya ia
terjebak disuatu batuan cadas yang tinggi dan besar, waktu itu ingin mundurpun sudah tiada jalan
lagi.
sadarlah pemuda itu bahwa keadaannya sudah keteter hebat, bila ia tidak unjukkan
kesaktiannya lagi tak nanti dia bisa menaiki bukit itu. Berpikir demikian dia lantas membentak:
"Maaf, terpaksa aku akan bertindak kasar"
Dengan jurus Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia lepaskan sebuah pukulan
dengan tenaga sebesar sepuluh bagian.
Walaupun jurus serangan ygng dipergunakan masih merupakan jurus-jurus lama, akan tetapi
setelah dia berhasil mempelajari ilmu sakti si mi sinkang, kekuatan daya serangannya ternyata
jauh berbeda.
Jerit kesakitan menggema di angkasa, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur sejauh satu
kaki lebih, darah segar mengucur keluar membasahi ujung bibirnya.
Han siong Kie tertegun, dia tak menyangka kelihayannya sudah mencapai tingkatan setinggi itu,
semua dalam keadaaa begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih jauh, serentak tubuhnya
berkelebat dan menerjang ke atas puncak bukit.
selang sesaat kemudian ia sudah mencapai seratus kaki sebelum puncak bukit, beberapa
batang pohon siong muncul didepas mata, dan d ibalik pepohonan itu tampaklah sebuah
bangunan kuil yang terbuat dari batu cadas gunung. Han siong Kie merasa semangatnya
berkobar, ia percepat gerakan larinya.
Mendadak sesosok bayangan abu-abu muncul dari balik pepohonan dan langsung menerkam
kedepan, sebelum tiba angin pukulan yang tajam sudah keburu menyapu lebih duluan-
Sungguh terkejut sianak muda itu, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki pendatang ini jauh lebih
hebat daripada dua orang nikoh yang telah dijumpai, cepat tubuhnya menukik dan membentuk
sebuah gerakan setengah busur diudara kemudian melayang turun ke muka bumi.
Bayangan abu-abu itnpun melayang turun ternyata dia adalah seorang nikoh berlengan
tunggal.
Sebelum Han siong Kie sempat buka suara, nikoh berlengan satu itu sudah menegur lebih
dahulu:
"Sicu, engkau anggap kepandaian silatmu sudah hebat maka secara beruntun kau lukai dua
orang seperguruanku dan kemudian datang mengacau bukit Tay huang san ini"
"Aku tidak bermaksud main kasar, aku memohon dengan sopan dan menuruti
JILID 32 HAL 10/11 HILANG
yang tergetar oleh terasa sinkang musuh terasa sangat sakit bagaikan mau patah, dengan
gontai ia mundur sejauh delapan depa, rasa kaget dan tercengang menghiasi seluruh wajahnya.
Kecuali gurunya, selama hidup belum pernah dijumpai musuh setangguh ini, apalagi usianya
belum dua puluh tahunan, hal ini semakin mencengangkan hatinya.
Dipihak lain Han siong Kie dibikin naik pitam oleh kejadian yang baru dialaminya, hawa sakti Si
mi sinkang lantas disalurkan mengelilingi seluruh badan, dari kejauhan dia lepaskan sebuah
pukulan dahsyat.
Nikoh berlengan tunggal itu terkesiap. cepat-cepat tangannya berputar membentuk satu
lingkaran kilat, gerakan itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikitpun-
Han siong Kie terperanjat ia merasa bahwa tenaga pukulan yang dilancarkan dengan kekuatan
sebesar delapan bagian itu mendadak punah sama sekali hingga lenyap tak berbekas.
Ia menggigit bibir, sepasang telapak tangannya sekali lagi meluncurkan serangan dengan
mengerahkan tenaga sebesar sepuluh bagian, kali ini terlihatlah pancaran cahaya aneh dari raut
wajahnya.
Nikoh berlengan tunggal ini lebih tercekat lagi hatinya, kalau orang lain tidak tahu maka hati
kecilnya jauh lebih paham dari siapapun juga untuk memunahkan daya pengaruh serangan musuh
barusan dia harus mengerahkan ilmu sakti Pay yap sin khinya hingga mencapai dua belas bagian
dengan susah payah ancaman musuh baru bisa dipunahkan, tapi sekarang musuh telah
menambahkan serangannya hingga mencapai sepuluh bagian, dia yakin bahwa kepandaian nya
tak mampu untuk membendung kedahsyatan lawan. Tampaknya nikoh berlengan tunggal itu bakal
mati konyol.
Disaat yang kritis tiba-tiba terdengar seseorang berseru nyaring dari tempat kejauhan.
"Biau hian cepat mundur, pukulan itu adalah ilmu si mi sinkang, engkau tak mampu untuk
menghadapinya"
Ucapan tersebut cukup mencengangkan hati Han siong Kie, ia tahu kalau tebakannya tidak
keliru maka orang yang baruran berbicara tak lain adalah Tay huang sinni pemilik kuil Bu cuan ini,
ia merasa bahwa kata-kata tersebut berasal dari balik kuil, kalau toh demikian adanya dari mana
nikoh sakti itu bisa mengetahui akan asal usul ilmu silatnya?"
Mungkinkah ia sudah berhasil melatih ilmu Thian sao tong, suatu kepandaian melihat jauh.
Paras muka nikoh tua yang bernama Biau hian itu berubah hebat, dia melirik sekejap kearah
Han siong Kie. kemudian putar badan dan lenyap dibalik batu-batu cadas.
Karena musuhnya telah mengundurkan diri, maka sianak muda itupun membatalkan
erangannya, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kearah puncak bukit sebelah depan sana.
"Locianpwe, boanpwe ada urusan hendak bertemu dengan cianpwe, harap engkau bersedia
memaafkan kelancanganku ini"
"Sebutkan asal usul perguraanmu " kata-kata tersebut muncul kembali dari atas puncak bukit.
"Boancwe bernama Han siong Kie, ketua dari perguruan Thian lam bun "
"Engkau adalah ketua dari istana Huan mo kiong diwilayah Thian-Iam ? Ada urusan apa datang
kemari ?"
"Boanpwe mendapat pesan dari seseorang dan sengaja datang kemari untuk mencari orang"
"siapa yang kau cari ?"
seorang nona yang bernama Go siau bi"
"siapa yang suruh engkau datang kemari ?"
"Put to sianseng, kakek dari nona Go "
"ooooh, jadi engkaulah yang bernama Manusia muka dingin Han siong Kie " sekali lagi anak
muda itu terperanjat, sahutnya cepat: "Benar, boanpwelah yang bernama Han siong Kie."
"Memandang diatas wajah Put lo sianseng aku tidak akan mempersoalkan lagi kesalahanmu
mencari gara-gara ke atas bukit kami ini. Nah Cepatlah turun dari bukit ini."
Perasaan hati yang semula sudah menjadi tenang, kini bergolak kembali, ucapan tersebut
dirasakan Han siong Kie sebagai suatu ejekan, rasa ingin menang lantas muncul kembali.
" Cianpwe, aku toh sudah mengutarakan maksud kedatanganku ? Masa sebelum tujuanku
kesampaian kau telah mengusir aku turun gunung?" serunya dengan hati tak puas.
"Aku perintahkan kepadamu untuk segera turun dari bukit ini " tiba-tiba suara dari Tay huang
sinni berubah jadi amat dingin dan ketus, bahkan ucapan tersebut diutarakan sepatah demi
sepatah kata.
sesabar-sabarnya Han siong Kie setelah diperlakukan sekasar itu diapun tak dapat menahan diri
lagi tampiknya:
"Aku datang kemari bukan untuk mendengarkan perintahmu, kalau aku tak mau turun gunung
kau mau apa?"
"Hmm Membandel" maki Tay huang sinni ketus,
" kalau begitu apa yang hendak kau lakukan ?"
"Setelah persoalan yang dititipkan pada ku telah kuselesaikan, tanpa disuruh aku bisa turun
gunung sendiri"
"Persoalan apa yang hendak kau kerjakan ditempat ini?"
"Aku ingin bertemu dengan nona Go siau bi dan bercakap-cakap sendiri dengan dirinya"
"Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah seorang pendeta beragama, aku tak ingin bersilat lidah
dengan dirimu, lebih baik cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini"
"Maaf, aku tak dapat menuruti kehendakmu itu"
"Hmm sicu, jangan kau anggap ilmu sakti si mi sinkang yang kau miliki itu adalah suatu
kelandaian sakti yang tiada tandingannya lagi dikolong langit" Agaknya Tay huang sinni mulai naik
darah oleh sikap lawannya yang keras kepala.
"Akupun sama sekali tidak berpendapat demikian, tapi bila ada orang ingin main-main
denganku, akan kubuktikan bahwa kepandaian tersebut masih lebih dari cukup bagiku untuk
mempertahankan diri"
suasana hening untuk sesaat, diantara hembusan angin bukit yang sepoi-sepoi akhirnya
terdengar Tay huang sini berkata lagi, hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut: "Sicu, aku rasa
engkau tak usah bertemu lagi dengan nona Go"
"Kenapa?" Tanya si anak muda itu cepat.
"Sebab dia tak ingin berjumpa lagi denganmu "
Jawaban ini membuat Han siong Kie membungkam, sebab inilah kejadian yang sangat tidak
diharapkan olehnya, suatu kejadian yang membuat ia jadi jengah dan merasa serba salah, tapi
haruskah ia mengundurkan diri dengan begitu saja ?
"Aku telah berjanji kepada Put to sianseng, bahwa persoalan ini akan kuselesaikan dengan
segala kemampuan yang kumiliki" pikir pemuda itu dalam hati "dan lagi akupun merasa banyak
berhutang budi kepada Go siau Bi, apakah aku harus mengundurkan diri karena persoalan ini ?
Toh Go siau bi bisa menjadi nekad adalah gara-gara karena aku ? Tatkala ingatan tersebut
terlintas dalam benaknya, pemuda itu lantas berseru:
"Dia mau berjumpa denganku atau tidak adalah urusan pribadinya sendiri, pokoknya
bagaimanapun juga aku harus bertemu dengannya "
"Hmm Engkau hendak berbuat sewenang-wenang ditempat ini ?"
"Tidak. aku tidak berbuat sewenang-wenang, aku hanya bertindak menuruti perasaan hatiku
sendiri"
"Ketahuilah wahai Han sicu, pinni bisa simpatik terhadap pengalaman serta tragedi yang
menimpa kehidupan nona Go, telah kukabulkan permintaannya itu dan sekarang akan kucukur
rambutnya menjadi nikoh, mulai detik ini ia sudah menjadi murid Buddha dan dia tak akan
menjumpai dirimu untuk selamanya."
"Tidak Tidak boleh" teriak Han siong Kie dengan setengah menggembor, paras mukanya
berubah hebat.
"Tidak boleh ? Dengan berdasarkan apa engkau melarang kebebasan orang untuk memilih dan
melakukan apa yang disukainya Haaah haaah haaah sicu, kau harus tahu kendatipun pinni telah
menjadi murid Buddha, akan tetapi aku tidak terikat oleh suatu pantangan, yakni pantangan
membunuh"
Habislah kesabaran Han siong Kie, dia mendengus penuh kemarahan, sekali menjejak
permukan tanah, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya pemuda itu melayang keatas
puncak bukit.
sewaktu tiba didepan pintu kuil ia lihat pintu gerbang tertutup rapat, seorang dara baju putih
tampak berlutut didepan pintu kuil itu tanpa bergerak. siapa lagi dara itu kalau bukan Go siau bi
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, lama-lama sekali ia menatap dara itu
kemudian bisiknya: "Nona Go "
Go siau bi tidak menjawab, ia masih tetap berlutut tak bergerak.
"Nona Go " sekali lagi anak itu muda itu memanggil dengan lemah.
-000dw000-
66
PENGALAMAN yang dialami Go siau bi memang mengenaskan, berulang kali ia menyatakan
cinta kepada pemuda pujaannya, namun setiap kali tidak mendapat tanggapan yang serius.
sejak mengalami kejadian didalam perkampungan oh han san ceng bertekadlah gadis ini untuk
cukur rambut menjadi pendeta dan menjalankan sisa hidupnya dengan mengabdikan diri kepada
sang Buddha.
Kendatipun tekadnya sudah bulat, tak dapat dipungkiri bahwa rasa cintanya terhadap Han siong
Kie telah padam terlebih lagi ia tak menyangka kalau si anak muda itu bakal datang ke bukit Tay
huang san mencari dirinya.
Untuk sesaat pikirannya jadi kacau balau tak karuan, rasa cinta yang masih membakar dalam
dadanya serasa makin bergolak dengan hebatnya.
JILID 32 HAL. 22 S/D 25 HILANG
"Apakah locianpwe adalah pemilik kuil ini ?"
"Ehmm " tiada jawaban kecuali dengusan dingin, dengusan tersebut amat ketus dan tak sedap
didengar.
sekuat tenaga Han siong Kie berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, ia bertanya:
"Sudahkah locianpwe menyanggupi permintaannya untuk mencukur rambutnya menjadi
pendeta?"
"Enmm sudah kenapa ??"
"Aku rasa dengan kedudukan cianpwe yang agung dan dihormati orang, tentunya engkau tak
akan mengingkari janji sendiri bukan ?"
"Apa maksudmu dengan perkataan itu?" tegur Tay huang sini dengan wajah berubah.
"Bukankah locianpwe telah menyanggupi permintaan put to sianseng untuk menolak
permintaan nona Go menjadi pendeta ?"
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar tanpa bisa dicegah lagi Go siau bi berpaling serta
melotot sekejap kearah sianak muda itu.
"Ehmm, memang ada kejadian seperti itu" kata Tay huang sinni tetap ketus, "tapi aku tidak
menyanggupi untuk tidak mengukurkan rambut cucunya, aku hanya setuju untuk memberi
kesempatan kepadanya untuk mempertimbangkan kembali persoalan ini"
"Tapi bukankah perbuatanmu sekarang...."
"Pinni simpatik terhadap tragedi yang menimpa dirinya dan sekarang aku sudah berubah
pikiran" tukas nikoh itu cepat.
"Apakah sudah locianpwe bayangkan akibat-akibatnya bila aku melakukan hal ini atas dirinya?"
"Bagi kami orang-orang beragama tak pernah terpikirkan apakah ada akibat atau tidak tindakan
yang kami ambil, semua persoalan kami pertimbangkan dengan keadaan berjodoh atau tidak"
"Hmm orang beragama mengutamakan belas kasihan, tindakan dari locianpwe ini ...."
"Tutup mulutmu" bentak Tay huang sinni marah "ia sudah tiga hari tiga malam berlutut didepan
pintu kuilku, apakah pinni tak boleh berbuat belas kasihan dengan memenuhi keinginannya "
Waktu itu tiba tiba Go siau b i berpaling dan berkata:
HAL. 28/29 HILANG
Memang inilah yang diharapkan Han siong Kie, sebab semenjak ia menerima pesan dari Put lo
sianseng sudah terlintas satu ingatan untuk mengadu kepandaian dengan tokoh silat itu
"Maksud Locianpwe engkau hendak mengajak aku untuk bertaruh dalam pertarungan ini?"
katanya kemudian dengan serius.
"Benar .. "
"Dan pertarungan ini adalah pertarungan atas mati dan hidup ?"
"Haah, tidak sampai seserius itu asal sudah ditentukan siapa menang siapa kalah, hal ini sudah
lebih dari cukup "
"Bagaimana setelah menang kalah dapat ditetapkan ?"
"Jika engkau yang menang maka pinni tak akan mempersoalkan kehadiranmu lagi di bukit ini,
bahkan akupun tak akan memaksa Go siau bi untuk mencukur rambut menjadi pendeta"
"Seandainya aku yang kalah ? Apa yang harus kulakukan ?"
"Kalau engkau kalah maka kau harus menyanggupi sebuah syarat yang akan pinni ajukan "
"Apa syaratmu itu ?"
"syarat itu rasanya terlampau awal bila kuutarakan pada saat ini, pokoknya tak akan merugikan
dirimu "
"Andaikata menang kalah tak dapat ditentukan? Apa yang harus kulakukan?"
"Akan kubiarkan engkau turun dari bukit ini dengan selamat "
Perasaan hati Han siong Kie bergolak keras, setelah mendengar ucapan tersebut, dia merasa
beruntung karena bisa mendapat kesempatan untuk bertarung melawan seorang tokoh silat yang
lihay. Tapi diapun kuatir bila kalah maka syarat apakah yang bakal diajukan kepadanya ?
Mampukah ia melaksanakan syarat tersebut ?
"Locianpwe, pertarungan yang bagaimana kah akan kita langsungkan? " ia bertanya kemudian.
Tay huang sinni termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya:
"Pinni telah bersumpah tak akan keluar dari pintu kuil ini barang selangkahpun, sekarang kita
berdiri dengan selisih jarak lima kaki, baiknya kalau kita masing-masing berdiri tak bergerak
ditempat:
HAL. 32 HILANG
"Han sauhiap. silahkan engkau melancarkan serangan lebih dahulu " Suatu ketika Tay huang
sinni berkata dengan wajah serius.
"Tidak. lebih baik locianpwe yang turun tangan lebih dahulu" kata Han siong Kie dengan hati
bergetar.
"Pini adalah seorang angkatan tua, tidak pantas untuk turun tangan lebih dahulu, lebih baik
sauhiap duluan"
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa boanpwe bertindak lancang . . nah, sambutlah
seranganku ini"
Dengan menghimpun hawa sakti Si mi sinkangnya mencapai sepuluh bagian, perlahan-lahan
telapak tangannya diangkat kemuka dan lantas didorong ke depan.
segulung angin pukulan yang tipis halus dan sama sekali tidak menimbulkan suara, berhembus
ketubuh lawan-
Meskipun enteng sekali pukulan itu tampaknya pada hakekatnya mengandung tenaga dahsyat
yang cukup merontokkan nyali orang.
Disaat Han siong Kie melancarkan serangan Tay huang sinni sendiripun memutar tiga kali
sepasang telapak tangannya didepan dada.
suatu getaran keras menyusu terjadinya ledakan yang memekikkan telinga Tay huang sini
hanya tergetar sedikit tubuhnya, sementara kuda-kudanya masih kelihatan kokoh sekali.
Pukulan si mi sinkang sebesar sepuluh bagian ternyata berhasil dipunahkan oleh nikoh tua itu
dengan enteng, sedikit banyak tercekat juga hati Han siong Kie, diam-diam ia menjulurkan
lidahnya.
Paras muka Tay huang sinni sendiri berubah jadi amat serius, tampaknya nikoh itu tidak
berkeyakinan dapat menangkan pertarungan ini.
orang yang kehilangan sukma sendiripun tampak sangat tegang, sampai-sampai badannya ikut
gemetar keras.
Gagal dengan serangan yang pertama, Han Siong Kie menghimpus kembali tenaganya
mencapai dua belas bagian, sambil melepaskan pukulan serunya lantang: "sambutlah seranganku
yang kedua ini"
Ketika sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan, secara lapat-lapat tampaklah asap
putih yang tipis menyertai deruan pukulan itu.
Tay huang sinni menggerakkan sepasang ujung bajunya untuk menangkis, ia membentuk
gerakan aneh didepan dadanya, selapis hawa hijau yang menggulung tebal seketika melapisi
seluruh badannya, jelas nikoh ini sudah mengerahkan ilmu Pay yap sin khinya hingga mencapai
pada puncak kehebatannya.
Cahaya putih dan cahaya hijau segera bertemu satu sama lainnya, dan tak bisa di cegah
terjadilah ledakan yang memekikkan telinga.
sekujur badan Tay huang sini gemetar keras, tubuhnya goncang bagaikan ranting pohon
terhembus angin puyuh, nyaris kedudukannya jebol dan tubuhnya terdorong maju ke depan.
Untunglah ia menggigit bibir sambil berkerut dahi, sekuat tenaga padri itu berusaha
mempertahankan diri, peluh sudah mulai membasahi seluruh badannya.
Dua jurus serangan sudah lewat tanpa menghasilkan apa-apa, sekarang tinggallah jurus yang
terakhir. pemuda itu tahu bila serangan yang ketigapun mengalami kegagalan, sudah pasti dialah
yang bakal menderita kekalahan.
Bila dipikir kembali akan kedudukan Tay huang sinni yang begitu tinggi dan terhormat, kalah
ditangan padri perempuan ini belum terhitung suatu kejadian yang memalukan, tapi Han siong Kie
mempunyai pandangan yang lain, dia harus dapat menangkan nikoh tua ini karena bagaimanapun
juga dia adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.
Dan menang kalah akan ditentukan dalam jurus serangan yang terakhir ini.
Han siong Kie mementangkan kesepuluh jari tangannya lebar-lebar, segenap hawa sakti yang
dimilikinya disalurkan kedalam jari tangan itu, ia telah mempersiapkan diri untuk melangsungkan
pertarungan yang terakhir ini dengan menggunakan ilmu jari Tong kim ci.
setajam sembilu pancaran sinar mata Tay huang sinni, dia menatap wajah pemuda itu tanpa
berkedip. sepasang telapak tangannya disilangkan didepan dada.
Akhirnya pemuda itu membentak keras, sepasang tangannya bergetar, sepuluh gulung
desingan angin jari dengan membawa suara yang memekikkan telinga langsung meluncur
kedepan-
Bersamaan dengan dilepaskannya serangan jari tangan itu, ingatan lain melintas
JILID 32 HAL. 38/39 HILANG
Dengan adanya kejadian ini, maka baru saja Han siong Kie melepaskan pukulan untuk
menangkis, tahu-tahu tenaga yang dipancarkan keluar itu telah dihisap oleh lawannya.
Mimpipun si anak muda itu tak menyangka kalau rahib tua itu bakal menggunakan taktik
"menggetar" dan menghisap hampir bersamaan waktunya, hilanglah keseimbangan.
"Aduh celaka "jeritnya dihati tak dapat dicegah lagi tubuhnya sempoyongan dan serta merta
kakinya melangkah maju. orang yang kehilangan sukma pun berkata sambil mengangguk: "Nak
engkau kalah. "
Han siong Kie tertegun, ia cuma bisa berdiri menjublak sambil membungkam dalam seribu
bahasa.
Karena kasihan pada musuhnya, ia telah menyingkirkan daya sasaran serangan Tong kim ci nya
kesamping sehingga membuang kesempatan untuk mendapat kemenangan dengan begitu saja.
sekarang kenyataan telah berbicara lain, dia telah dikalahkan dalam pertarungan tersebut,
untuk menyesalpun rasanya tak ada gunanya lagi.
"sau sicu, apakah engkau merasa bahwa pertarungan ini berlangsung tidak adil?" tiba-tiba Tay
huang sinni bertanya.
Han siong Kie tertawa jengah dan menggeleng.
"Tidak. boanpwe sama sekali tidak mempunyai pikiran semacam itu "
"Jadi engkau sudah mengaku kalah ?"
"Tentu saja, boanpwe tak akan memungkiri kekalahan yang telah kuderita ini, aku tak mau
bertolak dari kenyataan yang berada di depan mata, katakan saja apa syarat yang harus kuturuti
itu ?"
"seandainya pinni telah mengajukan syarat tersebut, dan ternyata sau sicu tidak bersedia untuk
melakukannya, apa yang musti... "
"Boanpwe tidak akan menolak semua syaratmu, sebagai seorang manusia persilatan aku akan
memegang teguh setiap janji yang telah kuucapkan" jawab pemuda itu dengan tegas. orang yang
kehilangan sukma tiba-tiba menimbrung pula:
"Atas petunjuk dari locianpwe boanpwe telah ditunjuk sebagai saksi maka setelah pertarungan
berakhir dan menang kalahpun telah ditentukan, boanpwe harap locianpwe segera mengajukan
syarat yang hendak cianpwe ajukan sehingga pertaruhan inipun bisa kita akhiri sampai disini saja .
."
sepasang mata Tay huang sinni memancarkan sinar tajam, ia memandang sekejap ke arah Han
siong Kie lalu katanya:
"Gampang dan sederhana sekali syaratku ini, aku cuma minta engkau segera menikah dengan
Go siau bi dan menjadi suami istri yang berbahagia "
Hebat sekali perubahan wajah Han siong Kie, tanpa sadar secara beruntun ia mundur lima
langkah kebelakang.
Mimpipun ia tak menyangka kalau syarat yang diajukan Tay huang sinni adalah mengenai
persoalan itu.
Pertama kali ketika ia selamatkan Go siau bi dari tangan pengawal pribadi istana Huan mo
kiong dan menginap sebuah rumah penginapan, orang yang kehilangan sukma telah menyaru
sebagai tukang obat dengan maksud menjodohkannya dengan gadis itu, kedua kalinya Put to
sianseng ajukan pinangan bagi cucu perempuannya ternyata pinangan itupun atas usul dari orang
yang kehilangan sukma.
sekarang adalah untuk ketiga kalinya peristiwa itu terjadi, temyala orang yang kehilangan
sukmalah sebagai saksinya.
sekalipun orang bodoh juga akan tahu bahwa kejadian ini bukan suatu kejadian yang
kebetulan saja, sudah pasti orang yang kehilangan sukmalah yang telah mengatur segala
sesuatunya.
Lalu apa maksudnya perempuan misterius itu mengatur segala sesuatunya itu? Apa alasannya?
Tanpa sadar sianak muda itu mengalihkan pandangan matanya kewajah orang yang kehilangan
sukma dan ingin sekali melihat mimik wajahnya pada saat itu, sayang mimik wajahnya tertutup
oleh kain kerudung berwarna hitam.
"Bagaimana sau sicu? jawablah sejujur nya" terdengar Tay huang siani bertanya.
Kacau dan bingung perasaan Han siong Kie pada saat ini tanpa disadarinya ia menyahut.
"Aku tak dapat menerima syaratmu itu "
"jadi engkau hendak menjilat ludahmu sendiri? " tegur Tay huang sinni dengan wajah serius.
Tanpa sadar si anak muda itu mundur satu langkah kebelakang dia berusaha untuk membela
diri, katanya:
"cianpwe aku minta ajukan syarat lain, tentang syaratmu yang itu aku tak dapat
menyanggupinya "
"Tidak bisa, selamanya pinni hanya akan mengajukan sebuah syarat saja, tidak nanti akan
kuulangi dengan mengajukan syarat lain"
"Tapi boanpwe benar-benar tak dapat melakukan permintaan dari locianpwe itu"
"ooh jadi engkau bermaksud untuk mengingkari janji?" ejek nikoh tua itu dengan sinis.
"Boanpwe mempunyai kesulitan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain, maafkanlah daku
locianpwe, syaratmu itu tak dapat kulaksanakan"
"jadi kau anggap Go siau bi tidak pantas untuk mendampingi dirimu sebagai seorang istri?"
"Bukan... bukan begitu maksud boanpwe, terus terang saja boanpwe katakan babwa aku..
sebenarnya aku telah..telah.."
"Apa maksudmu Katakan saja blak-blakan"
"Sebenarnya boanpwe telah serahkan hati dan tubuh boanpwe ini kepada gadis lain, dan antara
aku dengan dia telah .... telah terikat oleh tali perkawinan"
"Ada yang menjodohkan?’
"Tidak..tidak ada"
"Ada persetujuan dari orang tua?"
"Ju...juga tii... tidak ada"
"Kalau toh tidak ada kan hal itu sama sekali tidak menghalangi engkau untuk menerima
syaratku ini?"
sungguh sedih dan pedih perassan hati Han siong Kie apalagi teringat bahwa Tonghong Hui,
yang dicintainya telah tiada di dunia ini, kepedihan tersebut akhirnya tercetus keluar dengan katakata:
"Dia.... dia telah meninggal dunia"
"Kalau benar sudah mati urusan ini kan lebih gampang untuk diselesaikan? Apa yang kau
pusingkan lagi?"
"jiwa dan perasaan boanpwe telah lama terkubur bersama matinya gadis itu, pada hakekatnya
yang cianpwe lihat sekarang tak lebih hanya sesosok mayat hidup belaka, sesosok tubuh yang
tidak berperasaan dan tidak kenal arti lagi"
sekilas perasaan serba salah melintas di wajah Tay huang sinni, ia terbungkam untuk beberapa
saat lamanya, tapi selang sesaat kemudian ia telah berkata lagi dengan suara keras:
"Menurut apa yang pinni ketahui, engkau sudah pernah bersentuhan badan dengan Go siau bi,
lantaran cintanya padamu, ia rela mengasingkan diri dan hidup sebagai seorang pendeta, tidakkah
kau tergetar perasaan hatinya oleh kesungguhan serta kemurnian cinta kasihnya itu?"
"Aaai, pada hakekatnya boanpwe tidak punya ingatan untuk memikirkan persoalan yang lain"
"Tahukah engkau bahwa perbuatanmu telah menghancurkan masa depan seorang dara ?"
"Boanpwe menyesal sekali atas kejadian ini, tapi apa boleh buat lagi boanpwe tak kuasa
menerima kenyataan tersebut"
"selain itu tahukah engkau bahwa tidak berbakti ada tiga macam, dan yang paling utama
adalah tiada keturunan, apakah engkau gembira melihat keluarga Han putus keturunan?"
000dw000
BAB 67
UCAPAN tersebut bagaikan sebilah pisau belati yang menusuk kedalam ulu hati Han siong Kie,
sekujur badannys gemetar keras.
Pada hakeketnya tak pernah ia berpikir sampai kesoal itu, tapi heran mengapa Tay huang sinni
menegur dirinya dengan kata-kata semacam itu? Bukankah dia adalah seorang pendeta yang tidak
mencampuri urusan keduniawian lagi?
" Locianpwe apakah engkau hendak memaksa boanpwe untuk mengingkari janjiku terhadap
orang yang sudah tiada lagi?" katanya tiba-tiba.
orang yang kehilangan sukma yang selama ini membungkam terus mendadak menyela:
"Nak bila engkau bersedia untuk memegang janji kepada orang yang telah mati, mengapa tidak
pula kau penuhi kewajibanmu sebagai rasa baktimu pada orang tua yang telah tiada ? Kau harus
dapat membedakan mana yang serius dan mana yang tidak. toh setelah kau laksanakan
kewajibanku untuk berbakti pada orang tua, engkau masih dapat pula memenuhi janjimu kepada
orang yang telah tiada?"
"Bila aku sampai berbuat demikian, bukankah perbuatanku ini justru akan menyiksa nona Go
siau bi untuk selama-lamanya?"
"siapa bilang begitu ?"
" Cianpwe" tiba-tiba Han siong Kin menengadah dan menatap wajah perempuan misterius itu
tanpa berkedip "tolong tanya, apakah kesemuanya ini adalah hasil dari rencana locianpwe ?"
orang yang kehilangan sukma terbungkam, ia tak sanggup memberikan jawaban.
"sau sicu, apakah engkau lupa bahwa hasil ini adalah suatu hasil dari pertaruhan antara engkau
dan aku ?" Tay huang sini menyela dari samping dengan dingin
"oooh.. jadi engkau menggunakan kebahagiaan dari seorang dara sebagai bahan pertaruhan?
Pantaskah perbuatanmu itu?" seru pemuda itu marah-marah.
JILID 32 HAL. 50/51 HILANG
amat menusuk pendengarannya, terutama sebutan "ciangbunjin" yang sengaja diucapkan
dengan nada berat, lebih-lebih mengetuk perasaannya.
sebagai seorang pemuka dunia persilatan, menjadi kewajiban baginya untuk melaksanakan apa
yang telah disanggupi, tapi perkawinan adalah suatu kejadian besar, ia tak ingin berbuat secara
gegabah sehingga akhirnya harus di akhiri dengan tragedi.
44
Sementara pemuda itu masih termangu- mangu, orang yang kehilangan sukma telah berkata
lagi:
"Nak, tegakah engkau membiarkan masa depan seorang dara hancur di tanganmu?"
Sakit hati, bingung dan sedih bercampur aduk dalam perasaan hati si anak muda itu, dia tak
tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini, terutama kata-kata tentang ketidak baktian sebagai
seorang putra diantara tiga hal yang tidak berbakti, tak punya keturunan adalah tidak berbakti
yang paling utama. Benarkah dia tak akan menikah dan membiarkan orang menganggapnya
sebagai manusia yang tidak berbakti?
"Sekarang ia baru menyesal, menyesal apa sebabnya tidak menggunakan ilmu jari Tong kim ci
untuk mengalahkan musuhnya, ia tidak tega rahib itu terluka, tapi akhirnya dia sendirilah yang
rugi.
Sebagai seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia akan mengingkari janji. Kata-kata itu diucapkan
sendiri olehnya, benarkah dia harus mengingkari janji.
Sekalipun ia sadar bahwa ia terjebak oleh suatu siasat yang disusun sangat rapi, toh dia kalah
adalah suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi.
Sementara itu orang yang kehilangan sukma tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia
mendesak lebih lanjut.
"Nak, engkau sebagai putra manusia, menjadi kewajiban bagimu untuk menunjukkan
kebaktiaanmu sebagai anak manusia, sekalipun engkau dapat membalaskan dendam bagi
kematian ayahmu, belumlah lengkap kebaktianmu pada orang tua, mengertikah kau dengan katakataku
ini ? .."
Han siong Kie menggigit bibir, sahutnya:
"Apa yang cianpwe ketakan memang benar tapi sekarang aku harus membalaskan
HAL. 54 S/D 57 HILANG
sekalipun aku kawin dengan Go siau bi mungkinkah perkawinan ini bisa berakhir dengan
kebahagiaan, Akhirnya toh kita akan mengalami tragedi yang menyedihkan?"
"Bahagia atau sedih adalah urusan belakang, siapa tahu kalau kenyataannya jauh berbeda
dengan apa yang saat ini kau bayangkan?"
"Jadi maksud Cianpwe, kau memaksa Boanpwe untuk mengabulkan permintaanmu itu?"
"Yaa,angaplah perkataan ini merupakan suatu paksaan" sahut orang yang kehilangan sukma
dengan suara berat.
Han siong Kie tertegun dan tidak bicara, selang sesaat kemudian ia mengangguk. "Baik.
Boanpwe menyanggupi permintaan mu itu"
"Jadi kau menerima syarat tersebut?"
"Benar, aku menerimanya, tapi akupun mempunyai sebuah syarat"
"Apa syaratmu itu?"
" Cianpwe harus menjelaskan kepada nona Go siau bi serta kakeknya, bila dendam berdarah
berhasil boanpwe balas, waktu itulah kita baru bicarakan kembali soal cinta dan tiga tahun setelah
menikah boanpwe akan meninggalkan keluarga dan pergi jauh"
"setelah tiga tahun, apakah engkau akan bunuh diri untuk menunjukkan ketetapan hatimu pada
Tonghong Hui?" kata orang yang kehilangan sukma sampai mundur selangkah.
"Benar, kenapa ? "
"Andaikata Tonghong Hui belum meninggal dunia ?"
"Aaah, hal ini aku rasa tidak mungkin"
"Baik, kukabulkan syaratmu itu dan kita pun tentukan perjanjian ini dengan kata-katamu ini"
Berbicara sampai disini, tiba-tiba orang yang kehilangan sukma berpaling, serunya kearah batu
karang kurang lebih beberapa kaki didepan sana: "Locianpwe, silahkan mengunjukkan diri untuk
memperkuat ikatan perkawinan ini "
seorang sasterawan berusia setengah baya perlahan-lahan munculkan diri dari balik batuan
cadas.
Dia bukan lain adalah kakek Go siau bi Put to sianseng yang disegani banyak orang itu.
Han siong Kie tertegun, kemunculan tokoh silat ini semakin memperkuat dugaannya bahwa apa
yang terjadi pada saat ini adalah suatu siasat, suatu rencana besar dari orang yang kehilangan
sukma.
Tapi yang mengherankan adalah Put lo sianseng dan Tay huang sinni kedua orang tokoh silat
ini berilmu tinggi dan berkedudukan terhormat, tapi mereka bersedia untuk mendengarkan katakata
orang yang kehilangan sukma malahan bekerja sama untuk memancingnya masuk jebakan,
apa tujuan mereka?
sementara itu Put to sianseng telah berkata sambil tertawa ringan ucapnya:
"Bocah bagus, kemurunganku sudah dilenyapkan, mulai sekarang lohu bisa mengasingkan diri
dan beristirahat dengan tenang".
orang yang kehilangan sukma segera mendorong Han siong Kie untuk maju katanya:
"Bagaimana juga penghormatan tak bisa dielakkan, hayo maju dan memberilah hormat kepada
kakekmu."
Dalam hati Han siong Kie menghela napas panjang, dengan kaku dia maju beberapa langkah
dan jatuh berlutut dihadapan put to sianseng, ketika ia menyembah sebanyak tiga kali ia tak dapat
melukiskan bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, entah manis getir, kikuk atau kecewa.
Cepat Put to sianseng ulapkan tangannya seraya berkata:
" Cukup Cukup Bangunlah nak, sebelum aku pergi mengasingkan diri, ada beberapa patah kata
terlebih dahulu hendak kukatakan kepadamu, ketahuilah gurumu Mo tiong ci mo adalah sahabat
lamaku, setelah engkau mewariskan kedudukannya aku harap engkau bisa membangun kembali
perguruan Thian Lam bila melakukan segala persoalan janganlah terlalu memikirkan masalah itu
dengan pikiran yang sempit".
sekujur badan anak muda itu bergetar keras, peluh dingin membasahi tubuhnya tanpa terasa ia
teringat kembali akan apa yang diberitahukan orang yang kehilangan sukma ketika berada di
mulut lembah kematian.
Dikatakan Tee kun perguruan Thian Lam yang sekarang yaitu Wi It beng telah menjual
perguruannya kepada Thian che kau, istana Huan mo kiong telah diubah menjadi kantor cabang
Thian che kau sektor Thian lam.
JILID 32 HAL. 62/63 HILANG
Perasaan hatinya pada saat ini hampa, kosong . . sekarang Go siau bi telah menjadi calon
istrinya dengan resmi, siapakah bakal menduga sampai kesitu?
setelah tiba di kaki bukit dan menghampiri tempat perpisahannya dengan Hekpek siang yau,
mendadak pemuda itu tercekat, ternyata dua orang pembantunya telah lenyap tak berbekas.
semestinya Hekpek siang yau tidak akan meninggalkan ketuanya tanpa pamit, atau mungkin
telah terjadi sesuatu?
Han siong Kie memeriksa keadaan disekitar tempat itu dengan seksama, namun ia tak berhasil
menemukan sesuatu tanda-tanda pernah terjadinya pertarungan disana. Atau Hekpek siang yau
telah menghianatinya ?
-000dw000-
DENGAN kepandaian silat yang dimiliki sepasang siluman serta meninjau dari perbuatanperbuatan
mereka di masa lampau, bisa jadi kedua orang itu akan melakukan kejahatan lagi.
Andaikata apa yang diduga tak salah, dialah yang berdosa karena dialah yang melepaskan dua
orang gembong iblis itu dari tempat penahanannya.
Untuk sesaat lamanya Han Siong Ken berdiri tertegun, ia tak tahu apa yang musti dilakukan.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian pa muda itu mengambil keputusan, pikirnya:
"Andaikata sepasang siluman benar-benar telah menghianatinya serta melakukan kejahatan
dalam dunia persilatan, aku pasti akan melenyapkan kedua orang itu dari muka bumi".
seorang diri diapun melanjutkan perjalanan menuju kekaki bukit itu.
Dua jam kemudian pemuda itu sudah keluar dari daerah pegunungan dan melanjutkan
perjalanan melalui jalan raya.
sementara perjalanan masih dilanjutkan tiba-tiba dari arah depan meluncur datang beberapa
sosok bayangan manusia, meskipun gerakan tubuh beberapa orang itu bagaikan meteor yang
lewat, akan tetapi bagi ketajaman mata Han siong Kie bukan halangan baginya untuk mengenali
siapa gerangan mereka itu. segera teriaknya dengan suara nyaring: "Engkoh tua Tunggu sebentar,
kau akan ke mana ?"
Mendengar teriakan tersebut, berhentilah rombongan itu, ternyata mereka adalah delapan
orang pengemis dekil, orang pertama tak lain adalah Pengemis dari selatan.
"HaaaHh . . haaaHh .. haaaHh saudara cilik, rupanya kau " teriak pula pengemis dari selatan
dengan wajah berseri.
" Engkoh tua, aku lihat wajahmu murung sekali, apakah telah terjadi sesuatu atas diri mu?"
"Aaai, saudara cilik masa kau tidak mendengar bahwa perkumpulan kami sedang menghadapi
masa kiamat?" ujar pengemis tua itu sambil menghela napas panjang.
"Menghadapi masa kiamat? Kenapa?" seru si anak muda itu tertegun sambil terimangu.
"Jadi engkau tidak mendengar apa-apa tentang organisasi Kay pang kami itu?" Han siong Kie
menggelengkan kepalanya:
"sudah berbulan-bulan lamaoya siaute tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, aku tak tahu apa yang telak menimpa perkumpulan Kay pang?"
"oooh. Kalau begitu tak heran kalau engkau tidak tahu.." ujar pengemis itu.
sesudah menghela napas dan berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh: "semenjak dahulu
kala antara Thian che kau dengan Ji-pang dan sam hwe tak pernah mengadakan kontak hubungan
apa-apa, hubungan kami ibaratnya air sumur yang tidak mengganggu air sungai, tapi rasanya
pihak Thian che kau mempunyai ambisi untuk merajai dunia persilatan, secara licik mereka telah
membasmi musuh-musuh serta saingannya secara diam-diam. Pertama kali yang mengalami nasib
jelek adalah perkumpulan Pat gi pang, menyusul kemudian perkumpulan Jit yan pang. Hong te
hwe, Ang kin hwe, serta Ngo heng hwe dipaksa takluk kepada mereka dan merubah nama
menjadi kantor cabang perkumpulan Thian che kau, rupanya sekarang mereka jatuhkan
incarannya kepada pihak Kay pang, saudara cilik, kalau bukan saat kiamat perkumpulan kita sudah
tiba, apa lagi namanya"
JILID 33 HAL. 06/07 HILANG
"Akupun belum lama mendengar ini, karena setelah urusan disini selesai segera aku akan
berangkat ke Thian Lam untuk melakukan pembersihan secara besar-besaran"
"Dengan kekuatan saudara cilik seorang aku rasa . ."
"Pentolan penghianatan ini cuma seorang yaitu Wi It beng, aku percaya anak murid lain
kebanyakan cuma menganut kehendak hatinya belaka" setelah berhenti sebentar ia berkata lagi:
" Engkoh tua batas waktu yang ditentukan lencana Thian che leng masih ada berapa hari?"
"Tinggal besok sehari "
Ketika pengemis dari selatan mengucapkan kata-kata itu, tiga pengemis tua dan delapan
pengemis setengah baya yang berada dibelakagnya sama-sama menunjukkan wajah sedih dan
resah, namun tak seorangpun yang bersuara. Han siong Kie termenung dan berpikir sebentar,
kemudian bertanya: "Apa rencana engkoh tua untuk menyelesaikan persoalan yang sangat pelik
ini?"
"Aaai, aku telah menurunkan perintah untuk mengumpulkan segenap jago lihay yang berada
dikantor- kantor cabang untuk berkumpul semua dimarkas besar kami tepi pantai Pak swit ham,
yaa . . mati hidup Kay pang tergantung dalam pertarungan yang bakal berlangsung, meskipun
saat ini kami masih mempunyai satu harapan untuk menyelamatkan perkumpulan kami dari
musibah yakni mengharapkan kemunculan susiok kami song Tiat kong . tapi harapan ini tipis
sekali"
"Mengapa kalian tidak segera mengirim kabar kepada song locianpwe agar bersiap sedia?"
"Ketika tengkorak maut gadungan membuat onar dalam markas besar kami. song susiok telah
salah menganggap tengkorak gadungan sebagai tengkorak maut asli, sesudah peristiwa itu beliau
berkunjung ke benteng maut menuntut keadilan, tapi akhirnya beliau kalah ditangan pemilik
benteng maut, waktu itu susiok telah sesumbar bahwa akan muncul kembali dalam dunia
persilatan untuk selamanya, dari mana kami bisa tahu susiok kini berada dimana ? Dan bagaimana
mungkin berita itu disampaikan kalau kami tak tahu dimana beliau berada?"
"Apakah engkoh tua bersedia untuk menerima bantuan dari saudara cilikmu ini?" kata Han
siong Kie mendadak sambil menawarkan jasa baiknya.
" Kesediaanmu untuk membantu tentu saja akan kami sambut dengan senang hati" sahut
pengemis dari selatan sambil mengernyitkan alisnya yang telah memutih, "aku hanya kuatir
bantuanmu masih belum cukup untuk menolong perkumpulan kami lolos dari musibah ini, aaai...
yaa apa boleh buat, terserah bagaimana nasib akan mengaturnya nanti"
Pengemis dari selatan belum tahu kalau Han siong Kie telah berhasil mempelajari ilmu sakti si
mi sinkang, sebab berbicara dari kekuatan yang dimiliki pemuda itu di masa lampau, memang tak
mungkin ia bisa menolong Kay pang untuk lolos dari musibah.
Han siong Kie bukan orang bodoh, sudah tentu diapun dapat merasakan keraguan saudara
tuanya itu, ia tersenyum.
"Begini saja engkoh tua, kalian berangkatlah lebih dulu, bila tiba saatnya nanti, aku pasti sudah
hadir di markas besar kalian"
Pengemis dari selatan mengangguk. mereka tidak berkata apa-apa lagi, dengan begitu maka
dua bersaudara inipun kembali berpisah.
sepeninggal pengemis dari selatan beserta ketujuh orang rekannya, Han siong Kie berpikir
didalam hati, untuk menuntut balas ke benteng maut jelas sudah tak sempat lagi, maka ia
menyusun rencana untuk melaksanakan kembali usaha penuntutan balasnya sesudah
menyelamatkan Kay pang dari musibah.
-000dw000-
BAB 68
LENYAPNYA Hekpek siang yau secara misterius sangat memusingkan kepala anak muda itu, ia
merasa tak mungkin kalau kedua orang siluman itu berhianat kepadanya atau pergi tinggalkan
dirinya tanpa pamit. sebab dua orang itu telah mengakuinya sebagai majikan, itupun kerena harus
menuruti sumpah yang pernah mereka ucapkan dimasa lampau, apalagi mereka telah diterima
sebagai anggota perguruan Thian Lam bun, mustahil pikiran mereka berubah di tengah jalan.
Tapi kemana mereka telah pergi ? Celaka ditangan orang ?Jelas hal ini tak mungkin terjadi,
Ilmu silat mereka sangat lihay, siapakah yang mampu untuk merobohkan kedua orang itu"
sementara dia masih melamun, tiba-tiba sorot matanya sempat menangkap sesosok bayangan
manusia sedang berdiri ditepi sungai tak jauh dari tempat ia berada sekarang, jelas orang itu
tinggi semampai dengan potongan badan menggiurkan, jelas orang itu adalah seorang gadis dan
gadis itu terasa sangat dikenal olehnya.
Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, kontan jantungnya berdebar keras, hampir
saja pemuda itu menjerit. "Aaah Masa dia ?"
Dengan penuh emosi dan hati yang bergejolak pemuda itu meluncur ke depan, menghampiri
gadir yang tinggi semampai itu .
Makin mendekati orang itu, Han siong Kie merasa semakin yakin kalau dugaannya tidak
meleset dan akhirnya . . ia benar-benar membuktikan bahwa dugaannya tak salah gadis itu
memang tak lain dari kekasih hatinya. Tonghong hui yang dia rindukan siang malam.
Darah yang mengalir dalam tubuh pemuda itu terasa mendidih bagaikan kena listrik
bertegangan tinggi, separuh tubuhnya terasa menjadi kaku, hampir saja jantungnya melompat
keluar dari rongga dadanya.
Dengan bibir yang gemetar dan muka yang pucat, ia berdiri tertegun untuk sesaat lamanya tak
sepatah katapun mampu dia utarakan keluar.
Betapa tidak ? Tonghong-Hui yang melama ini dianggapnya telah mati ternyata masih hidup
segar bugar... dugaan dari orang yang kehilangan sukma terbukti kebenarannya, dara itu belum
mati.
Tapi aneh, sekalipun Han siong Kie sudah berada dibelakangnya, gadis itu masih tidak merasa,
ia berdiri kaku bagaikan patung, bergerak sedikitpun tidak.
Angin sungai berhembus sepoi basah mengibarkan ujung bajunya yang panjang, tubuhnya
yang tinggi semampai, lekukan tubuhnya yang menggiurkan amat menawan hati, ibaratnya
bidadari dari kahyangan gadis itu tampak agung dan cantik.
"Adik Hui" akhirnya pemuda itu memang gigil, meski suaranya lirih dan agak parau.
sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, namun ia tidak berpaling pun tidak menjawab.
suatu firasat aneh terlintas dalam benak sianak muda itu, untuk kedua kalinya kembali dia
memanggil: "..Adik Hui.."
Tonghong Hui menghela napas panjang, begitu pedih dan hampa helaan napas itu, membuat
Han siong Kie tercekat hatinya.
Menyusul helaan napas itu, ia putar badannya, sesaat wajah yang sayu terpampang didepan
mata.
Wajah itu layu, kusut dan sinar matanya telah pudar persis seperti wajah Go siau bi calon
istrinya ketika ia jumpa didepan kuil Bu cuan di bukit Tay huang san.
Han song Kie merasakan hatinya bagaikan dipagut ular berbisa, secara beruntun ia mundur tiga
langkah kebelakang.
Bagaimanakah pertanggungan jawabnya kepada gadis yang ia cinta dengan segenap jiwa
raganya? Apalagi bila ia tahu kalau Go siau bi telah menggantikan kedudukannya?
Diantara putih kepucatan yang menghiasi wajah Tonghong i-Hui terlintas semua merah
diantara pipinya, ia menatap Han siong Kie dengan pandangan hampa, mukanya begitu layu,
pedih, sukar dilukiskan dengan kata.
Mereka tidak mirip kekasih yang saling bertemu kembali, keadaan mereka waktu itu ibarat
orang asing yang saling berjumpa, tiada surprise tiada luapan cinta dan rindu, tiada pelukan
ataupun ciuman.
siapapun diantara mereka tak ada yang buka suara, mereka hanya saling menatap dengan
mulut membungkam.
Udara serasa ikut membeku mengikuti keadaan mereka yang serba kaku, serba dingin-
Perlahan-lahan Han siong Kie tundukkan kepalanya, ia tidak memiliki keberanian untuk
memandang kekasihnya lagi, sebab ia telah menjadi penghianat dari cinta, ia merasa tak punya
muka untuk bertemu lagi dengan gadis yang telah menyerahkan seluruh jiwa dan raga kepadanya.
suasana begitu sepi, hening seolah-olah dunia menjadi mati, jagad menjadi kiamat tak
seorangpun yang bersuara, hanya detak jantung mereka yang berdebar keras.
Darimana orang yang kehilangan sukma bisa tahu kalau Tonghong -Hui tidak akan mati?
Benarkah ia memiliki ilmu meramal, ilmu untuk melihat kejadian yang akan datang?.
Apa sebabnya orang yang kehilangan sukma merusak hubungannya dengan Tonghong Hui?
Benarkah jika hubungan mereka dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu
kejadiaa yang tragis?
Mengapa Tonghong Hui mengingkari janjinya ketika itu? Mengapa ia begitu tega membiarkan ia
menunggu melama dua hari dengan sia-sia ditepi sungai?
Terbukti sekarang bahwa ia tidak mati, benarkah ayahnya bukan pembunuh keluarga Han dan
keluarga Thio? Kalau bukan, tidak seharusnya gadis itu mengingkari janji.. Lama sekali, akhirnya
Tonghung-Hui buka suara, meskipun suaranya penuh kepedihan:
"Engkoh Kie, angkat kepalamu dan pandanglah aku"
Pedih hati Hansiong Kie bagaikan disayat-sayat pisau, ia mendongakkan kepalanya, meskipun
dengan perasaan menyesal dan malu..
Tatkala sepasang mata mereka bertemu satu sama lainnya, kembali pemuda itu mundur
selangkah, yang tampak olehnya adalah seraut wajah yang pucat seperti mayat,juuh berbeda
dengan raut wajahnya dalam kenangan selama ini
"Engkoh Kie, kau... kau membenci aku" kembali gadis itu berbisik lirih sekali suaranya.
"Adik Hui Aku .. aku...toh...mengapa kau mengatakan begitu ? Mengapa kau mengatakan kalau
aku membenci dirimu ?"
"Karena.... karena aku telah mengingkari janjiku sendiri kepadamu, aku tidak menepati janji"
"Adik Hui, seharusnya akulah, aai. mengapa kau tidak menepati janjimu."
"sekembalinya kedalam benteng, aku telah disekap oleh ayah, tak mungkin bagiku untuk kabur
keluar"
Han Siong Kie merasa emosi dalam dadanya bergelora, apa yang ingin diketahui olehnya
segera akan terwujud, dengan suara agak gemetar tanyanya lagi."sudah kau tanyakan soal yang
ingin kuketahui itu ?"
"sudah.." perlahan-lahan gadis itu mengangguk.
Mencorong sinar mata sianak muda itu, dia maju tiga langkah kedepan seraya bentanya lagi:
"Bagaimana jawaban ayahmu?"
"sudah dua puluh tahun lamanya ayah tak pernah meninggalkan pintu benteng barang satu
langkahpun, apakah jawaban tersebut dapat kau terima sebagai suatu keterangan yang lengkap?"
"sudah dua puluh tahun ayahmu tak pernah muncul kedalam dunia persilatan ?" Tonghong Hui
mengangguk lirih tanda membenarkan.
sungguh terkejut dan girang tak terkirakan perasaan Han siong Kie pada saat ini, dia girang
lantaran Tengkorak maut ayah Tonghong-Hui bukanlah musuh besar keluarganya, sebab peristiwa
berdarah yang menimpa perkampungan keluarga Han terjadi pada bulan sembilan tanggal
sembilan pada lima belas tahun berselang.
sekarang terbukti sudah bahwa dia dan Tonghong Hui sebenarnya tidak terpisah oleh dendam
sakit hati.
Tapi pemuda itu merasa murung, murung karena tidak tahu siapakah pembunuh keluarganya,
kemana dia harus pergi untuk mencari jejak pembunuh keluarganya itu?
Tatkala ia teringat kembali akan pernikahannya dengan Go siau bi, kembali pemuda itu
merintih... merintih penuh kedukaan serta penderitaan- "Engkoh Kie, kee... kenapa kau?" tegur
Tonghong i-Hui.
"oooh, aai tidak apa-apa, kalau toh engkau disekap oleh ayahmu, kenapa sekarang bisa muncul
lagi diluar benteng ?"
"Aku mencuri keluar secara diam-diam, mungkin selama hidup, .selama hidup aku tidak dapat
memasuki pintu benteng maut lagi "
" Kenapa?" tanya sianak muda itu dengan terperanjat:
Tonghong Hui tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya lagi:
" Engkoh Kie, apakah engkau masih... masih selalu mencintai diriku ?"
sakit rasanya hati Han Siong Ki tatkala mendengar pertanyaan itu, ia berpikir:
"Kalau kulihat dari sikap adik Hui yang begitu murung dan layu, kemungkinan besar ia sudah
mengetahui tentang peristiwaku di bukit Tay huang san, bagaimana caranya aku memberi
penjelasan ? Aaai, aku benar-benar menyesal mengapa waktu itu imanku tidak teguh ? Bila
kutolak permintaan tersebut dengan hati yang keras, tak nanti bakal terjadi peristiwa seperti hari
ini".
sementara sianak muda itu masih termenung, Tonghong Hui telah mendesak lebih lanjut.
" Engkoh Kie, hayolah katakan-.. masihkah engkau mencintai diriku ?"
"Adik Hui, percayalah kepadaku. hatiku tak akan berubah, selama-lamanya aku memang tetap
mencintaimu"
"Kau mencintai aku ? selama-lamanya mencintai diriku ?"
"Benar, selama hayat masih dikandung badan, cinta ku padamu tak akan pudar"
" Engkoh Kie, aku dapat meresapi cinta kasihmu ini dan tak akan melupakan untuk selamalamanya
. "
Ucapan tersebut segera mendatangkan firasat tak enak dihati pemuda kita, buru-buru serunya:
"Adik Hui, kau... kenapa kau...."
Tonghong Hui menggeleag dengan seduh dan tertawa rawan.
"Engkoh Kie, kau tak usah bertanya kepadaku mengapa, asalkan masih tetap mencintai aku, itu
sudah lebih dari cukup "
"Adik Hui, aku..aku..sebetulnya...."
"Engkoh Kie, manusia yang mendapat cinta murni dari seseorang adalah suatu kebahagiaan,
aku sudah merasa sangat puas Biarlah apa yang akan terjadi dikemudian hari diatur oleh takdir
dan nasib" Air mata bagaikan layang-layang putus benang mengucur keluar tiada hentinya, dan
membasahi pipi Tonghong-Hui yang pucat pasi, serta tampak menyeramkan itu.
Hancur lebur perasaan hati Han siong Kie pada waktu itu, ia merasa gemas dan benci mengapa
tak dapat segera mati sehingga dosa yang telah dilakukan bisa ditebus kembali. "Adik Hui,
mengapa kau mengatakan begitu? Mengapa ?"
Tonghong Hui tertawa rawan- dia menggeleng.
"sekalipun kuterangkan, engkau tak akan mengerti . . dan tak akan paham"
" Katakanlah padaku . . kumohon katakanlah kepadaku, mengapa ? Mengapa kau berkata
begitu?"
"Dikemudian hari engkau akan mengerti sendiri, sekalipun tidak kuterangkan sekarang, tapi kau
akan pasti paham"
Berkerut kencang raut wajah Han siong Kie yang tampan d engan penuh penderitaan katanya
lagi:
"Adik Hui, maafkanlah daku, pada hakekatnya aku... sebetulnya aku..."
"Engkoh Kie, jangan berkata begitu?" tukas Tonghong i-Hui sambil menggelengkan kepalanya
berulang kali: "kata maaf sepantasnya muncul dari mulutku aaai Apa mau dikata lagi bila takdir
telah mengatur segala sesuatunya itu bagi kita?"
"Adik Hui...."
"Duduklah engkoh Kie, bersandarlah padaku," Dengan sikap yang kaku dan gerak gerik yang
sama seperti orang kehilangan sukma Han siong Kie duduk diatas batu cadas dan bersandar diatas
tubuh gadis itu.
Tonghong Hui segera merebahkan dirinya dalam pangkuan pemuda itu serta merta Han siong
Kie merangkul tubuhnya dan mendekapaya erat-erat.
"Engkoh Kie, masih ingat ketika kita mengangkat saudara diatas batu besar ditepi sungai?
Ketika itu aku masih serupa seorang pengemis cilik"
"Aku tak akan melupakan kenangan indah itu untuk selamanya"
"Masih ingat sewaktu kau terjatuh ketangan orang-orang Thian che kau pura-pura mati dengan
ilmu Ku si tay hoat dan aku menguburkan jenasahmu serta mendirikan batu nisan dirimu?"
"Aaai, aku sangat mengharapkan bahwa kejadian itu hakekatnya adalah suatu kejadian
sebenarnya, sekarang niscaya kita sudah berbaring didalam sebuah liang..."
"Adik Hui, kau...."
"Ketika kau dihantam oleh Tengkorak maut gadungan sehingga tercebur kedalam jurang, aku
menyusulmu kedalam jurang, tapi akhirnya kita sama-sama tidak mati"
"Adik Hui, semua kenangan indah serta kenangan manis itu tak akan pudar, tak akan hilang
dari pikiranku"
"Tapi, sekarang engkoh Ki, aku menyesal aku merasa amat menyesal"
Tercekat perasaan hati Han siong Kie, ucapan dari gadis itu seakan-akan tidak teratur lagi,
mungkinkah ia sudah jadi gila?
"Adik Hui, kau ... kau perlu beristirahat, tidurlah sebentar agar pikiranmu menjadi terang
kembali."
"Tidak. aku sangat baik, pikiranku masih cukup terang"
"Ucapanmu itu .... ucapanmu iti telah menghancurkan hatiku.... melumpuhkan perasaanku"
"Bersabarlah engkoh Ki, perasaanmu itu akan hilang mengikuti berputarnya waktu "
Hembusan angin lirih berkumandang dari kejauhan, bukan hembusan angin biasa tapi ujung
baju seseorang yang tersambar angin-
Dengan cekatan dua orang itu meloncat bangun berpaling, sesosok bayangan manusia berdiri
kurang lebih lima kaki dihadapan mereka.
orang itu adalah seorang manusia aneh yang berambut panjang, tampaknya jelek dan sangat
menyeramkan,
Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, sementara Han siong Kie sendiripun merasa
terperanjat setelah mengetahui siapa yang datang, dia masih ingat manusia aneh ini adalah
penghuni benteng maut, dia pernah bertemu dengan manusia aneh ini dan seingatnya makhluk
inilah yang terus berkaok-kaok dengan suara aneh.
"siapakah orang itu adik Hui?" cepat bisiknya.
"Dia adalah siau suhengku, seorang yang bisu dan tak pandai berbicara tapi kecerdikannya luar
biasa, diapun sangat perasa, selama hidup belum pernah tinggalkan benteng.."
"Tahukah kau apa tujuannya datang kemari?"
"Tentu saja mendapat perintah dari ayah untuk mencari aku serta menggusurnya pulang
kebenteng"
"Kalau begitu biarlah ku usir dia pergi dari sini."
"Jangan...Jangan kau berbuat begitu", tiba-tiba ia melejit ke depan sambil berlarian menjauhi
pemuda itu, serunya lagi "engkoh Kie, semoga kau baik-baik menjaga diri,aku. .aku pergi dulu"
"Adik Hui, jangan pergi dulu. aku masih...."
Namun Tonghong Hui tidak menggubris lagi, bersama manusia aneh berambut panjang itu
bayangan mereka kian menjauh sehingga akhirnya lenyap dari pandangan.
Han siong Kie berdiri menjublak bagaikan sebuah patung arca ia berdiri kaku di atas sebuah
batu tanpa berkutik, untuk sesaat pemuda itu dibikin gelagapan dan tak tahu apa yang musti
dilakukan ingin sekali ia mencegah kepergiannya tapi kakinya tak pernah beranjak dari tempat
semula, tutur kata Tonghong i-Hui yang aneh dan sedih serta paras muka sang dara yang sayu
dan layu membuat pikirannya kalut dan tak tenang.
Masih banyak perkataan serta penjelasan yang hendak ia katakan kepadanya, tapi gadis itu
sudah pergi.
Menurut pengakuannya, sudah dua puluh tahun ayahnya tak pernah keluar daripintu gerbang
benteng, maka mungkinkah ucapannya jujur? Lima belas tahun berselang waktu itu usianya baru
mencapai tiga tahun, tak mungkin ia bisa tahu akan kejadian yang sebenarnya, benarkah ia
percaya akan kata-kata dari gadis itu?
Bukankah lambang tengkorak maut muncul ditempat pembantaian? Ataukah lambang itupun
palsu?
Berpikir sampai disini, dia lantas mendepakkan kakinya ke tanah seraya berseru:
"Bohong . . bohong siapa tahu kalau ia sengaja membohongi aku ? Bagaimanapun juga setelah
persoalan dari Kay pang telah ku selesaikan, aku harus berkunjung kebenteng maut"
setelah mengambil keputusan, pemuda itu menghela nafas panjang dan melanjutkan
perjalanannya menuju kuil Bu hau si di Pak swi tham, markas besar dari kaum pengemis.
suasana dimarkas besar perkumpulan Kay pang ketika itu diliputi oleh keresahan dan
kemurungan.
Mulai dari ciangbunjin sampai anggota yang terendah telah berkumpul semua disitu, jumlah
mereka mencapai dua ratus orang lebih, Waktu itu dengan wajah tegang, sedih dan marah
mereka tersebar diluar dan didalam kuil untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan
yang tak diinginkan-
Hari inilah batas waktu yang ditetapkan Thian che leng telah berakhir, dalam satu jam
mendatang bila Kay pang masih belum bersedia menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau,
maka semua anggota dalam perkumpulan itu akan dibantai secara keji.
Pemimpin para tiang lo dari Kay pang yakni Pengemis dari selatan berdiri disamping ketuanya
dengan alis mata berkernyit.
Suasana hening dan sepi, seakan-akan sernua orang sedang menantikan tibanya saat kiamat.
Ditengah keheningan malam yang mencekam seluruh jagad, tiba-tiba semua orang merasa
pandangan matanya jadi silau, tahu-tahu seorang manusia baju hitam tanpa menimbulkan sedikit
suarapun telah melayang turun ke tengah gelanggang.
Gerak tubuh orang itu sangat enteng dan cepat seolah-olah sukma gentayangan, dari sini dapat
diketahui betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang itu.
Ketua Kay pang serta keenam orang tianglonya serentak bangkit berdiri dan siap menghadapi
segala kemungkinan-
Berbareng dengan gerakan itu, kawanan jago lihay dari Kay pang yang lainpun serentak bersiap
siaga, meskipun agak tercekat perasaan hati mereka namun semangat tempur masih tetap tinggi.
orang itu adalah seorang kakek berjubah hitam dengan lambang matahari, rembulan serta
bintang diatas dadanya, tinggi kekar perawakan tubuh orang itu, cambangnya lebat dan sinar
matanya amat tajam.
setelah menyapu pandang sekejap keseluruh gelanggang, dia tertawa dingin
JILID 33 HAL. 30/31 HILANG
"HeeHh .. heeHh . . heeHh ciangbun, kuanjurkan kepadamu lebih baik berpikirlah tiga kali
sebelum mengambil keputusan, ketahuilah bahwa keputusan yang gegabah akan mengakibatkan
kehancuran total bagi pihak kalian sendiri "
"Tak usah banyak bicara, kami tak akan sudi mendengarkan perkataanmu itu"
setelah mengetahui kebulatan tekad orang, suma Hiong utusan khusus dari Thian che Kau itu
segera menarik kembali lencananya lalu sambil tertawa dingin berkata.
"Bagus Bagus Kupuji ketekadan kalian ini, terpaksa aku harus melaksanakan titah dari kaucu
kami untuk membantai kalian semua dari muka bumi "
sebelum iblis itu sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba dari luar pekarangan kuil muncul seorang
pengemis setengah baya, sambil berlarian menuju kehadapan ketuanya dia berseru: "Lapor
ciangbunjin, markas kita telah terkepung rapat."
"Aku sudah tahu, mundurlah " kata ketua kay pang seraya ulapkan tangannya. Pengemis
setengah baya itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari sana.
Dalam pada itu delapan orang jago pedang yang berada dibelakang suma Hiong telah putar
badan dan memencarkan diri jadi posisi setengah lingkaran, masing-masing pihak mencari
posisinya masing-masing dan berhadapan dengan lawan-lawannya.
sekejap mata suasana menjadi hening, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh
gelanggang.
Dengan sinar mata setajam sembilu suma Hiong menyapu pandang tiap wajah tokoh kay pang
yang hadir ditempat itu, sikapnya buas dan garang, seakan-akan dia tak pandang sebelah
matapun terhadap musuh-musuhnya ini.
Dua orang diantara enam tiang lo yang hadir disana tak dapat mengendalikan hawa amarahnya
lagi, mereka membentak keras kemudian sambil melepaskan serangan langsung menerkam
ketubuh orang itu.
suma Hiong mendengus sinis, tiba-tiba sepasang telapak tangannya direntangkan ke samping
dan menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras.
Jerit kesakitan menggelegar di angkasa, di tengah muncratnya darah segar yang menodai
permukaan tanah dua orang tiang lo itu mencelat ke belakang dan tewas seketika itu juga.
Kejadian ini sangat mengejutkan hati kawanan jago dari Kay pang, siapapun tak mengira kalau
dua orang tiang lo mereka bakal mampus dalam satu gebrakan saja ditangan orang.
Jelaslah sudah bahwa tenaga lwekang dari suma Hiong benar-benar sangat lihay dan sukar
dicarikan tandingannya, atau dengan perkataan lain sudah pasti Kay pang akan musnah dari muka
bumi ditangan orang ini.
Pengemis dari selatan amat gusar, rambut nya terasa pada berdiri seperti kawat, dia maju
kemuka, kepada ketuanya berkata:
"Bila takdir menghendaki Kay pang musnah ditangan iblis ini. siapapun tak akan dapat
menolongnya, biarlah aku si.pengemis tua berangkat satu langkah lebih duluan"- sambil
membusungkan dada, ia lantas tampil kedepan dan mendekati musuhnya. Menyaksikan
kemunculan pengemis itu. suma Hiong menjengek dingin, katanya:
"Jadi engkau yang disebut sebagai pengemis dari selatan, pemimpin para tianglo dari Kay
pang?"
"Benar" jawab pengemis itu singkat.
"Dengan kedudukan serta nama besarmu dalam tubuh Kay pang, perlukah ku beri waktu
bagimu untuk mempertimbangkan keadaan pada saat ini? Dengan senang hati akan kuberi
kesempatan yang terakhir bagimu untuk berpikir kembali"
"Tak perlu" tukas pengemis dari selatan dengan gusar "Thian che kau menganggap dirinya
besar dan agung, perbuatannya cuma mengacau dan menerbitkan keonaran dalem dunia
persilatan, saat kiamatnya tidak akan terlalu jauh"
"Kurang ajar, saudara benar-benar tak tahu diri, rupanya sebelum darah menodai seluruh
permukaan tanah, kalian tak akan sadar"
" omong kosong, lebih baik tutup saja bacot anjingmu"
suma Hiong dibuat marah oleh ucapan yang kasar itu, ia menengadah lalu tertawa dengan
suaranya nyaring dan menjulang tinggi ke angkasa membuat semua orang merasa telinganya
menjadi sakit.
Berbareng dengan berkumandangnya gelak tertawa itu delapan orang pendekar pedang yang
bersiap siaga dibelakangnya serentak berteriak keras, kemudian menerjang kearah kawanan jago
dari Kay pang yang mengurung disekitar tempat itu. Tak dapat dicegah lagi, suatu pertempuran
berdarah yang amat serupun segera berkobar.
Dengan penuh kemarahan pengemis dari selatan bersuit nyaring dan menerjang maju kemuka,
dia menyerang Suma Hiong secara bertubi-tubi.
Dalam waktu singkat, dia telah melancarkan delapan buah serangan berantai, kedelapan buah
serangan itu semuanya dilepaskan dengan disertai hawa amarah yang berkobar, bukan saja amat
dahsyat bahkan arah yang dituju semuanya adalah bagian-bagian tubuh yang mematikan.
seketika itu juga suma Hiong terdesak oleh serangan berantai itu, sehingga mundur tiga
langkah ke belaknog.
Tapi begitu pengemis dari selatan menyelesaikan ke delapan buah pukulannya, serentak suma
Hiong memperbaiki posisinya, dia tertawa seram dan secara beruntun balas melancarkan tiga
buah pukulan-
-000dw000-
BAB 69
HEBAT sekali serangan balasan dari utusan Thian che kau ini, dengan susah payah Pengemis
dari selatan berhasil menghindari serangan yang pertama dan serangan yang kedua, tapi serangan
yang ketiga tak sempat dihindari lagi, tak ampun pundaknya terhajar telak.
"Duuk" Pengemis dari selatan mendengus tertahan- sambil muntah darah segar dia mundur
beberapa langkah dengan sempoyongansuma
Hiong tertawa seram, ia tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk memperbaiki
posisinya lagi, berhastl dengan serangan yang pertama, serentak tubuhnya menerkam kedepan
dan menyusuli dengan pukulan berikutnya.
"Bangsat..... lihat serangang" ditengah keadaan yang kritis, bentakan nyaring menggetar
diangkasa, empat tiang lo yang masih berada disamping gelanggang berikut ketua mereka
bersama-sama masuk kedalam gelanggang dan mengerubuti suma Hiong yang lihay itu.
Di pihak lain pertarungan telah berkobar dimana- mana, setiap anggota Kay pang yang hadir
dalam markasnya telah diserang habis-habisan oleh lawan yang tangguh, dalam waktu singkat
dengusan tertahan suara beradunya senjata dan jerit kesakitan berkumandang silih berganti.
Pemandangan pada waktu itu mengerikan sekali, darah berceceran dimana-mana, mayatpun
bergelimpangan setinggi bukit.
Delapan orang jago dari Thian che kau itu rata-rata berilmu tinggi, setiap kali cahaya pedang
mereka berkelebat lewat seorang korban segera roboh binasa atau cedera hebat.
suma Hiong yang dikerabuti oleh empat orang tianglo dan ketua Kay pang sama sekali tidak
merasa jeri, dengan gerakan yang lincah dan pukulan pakulan yang aneh dia layani setiap
ancaman yang tertuju kearahnya.
Suatu ketika tiba-tiba ia membentak nyaring, sebuah pukulan dahsyst yang disertai dengan
deruan angin puyuh yang memekikkan telinga menyapu kedepan dan menghajar lawan-lawannya
"Blaaang.." bentaran keras tak bisa dihindari lagi, keempat orang tianglo dan ketua kay pang
itu segera terhajar sampai mencelat dan jatuh terlentang di tanah.
Melihat ketuanya terancam bahaya, pengemis dari selatan tidak menggubris lukanya sendiri
lagi, setelah menyeka noda darah di ujung bibirnya, ia meraung keras kemudian bagaikan banteng
terluka menerjang lagi ke depan.
"Sialan" maki suma Hiong dengan marah, " Hay..pengemis tua, rupanya kau memang sudah
bosan hidup, rasakanlah pukulanku ini"
45
Secepat sambaran kilat dia melepaskan lagi sebuah pukulan dahsyat ke arah depan.
Pengemis dari selatan menjerit tertahan, untuk kedua kalinya ia terhajar sampai mencelat
sejauh beberapa tombak.
Merah padam wajah keempat orang tiang lo itu, seperti orang kalap mereka melompat bangun
dan menerkam musuhnya, empat batang tongkat tah kau pangnya ibarat empat ekor naga sakti
segera menghantam tubuh iblis tersebut..
Suma Hiong tertawa dingin, ke sepuluh jari tangannya dipentangkan lebar-lebat, ketika
berkelebat ke depan, tahu-tahu ke empat batang toya peg gebuk anjing itu sudah ditangkap dua
dikanan dan dua dikiri.
Sekali menyentak kebelakang, keempat orang tiang lo itu mendengus tertahan dan mencelat
kebelakang.
Berhasil menghajar mundur, keempat tiang lo itu, Suma Hiong meneruskan terkamannya ke
depan, dengan cakar mautnya dia cengkeram tubuh ketua kay pang yang berada dihadapannya.
cepat dan diluar dugaan, cengkeraman tersebut datang keadaan tak terduga, tampak nya sang
ketua dari kay pang ini segera akan tertangkap oleh musuhnya. "Tahan" tiba-tiba serentetan
bentakan nyaring berkumandang ditengah angkasa.
Walaupun suasana dalam gelanggang ramai, oleh bentakan dan adu senjata, namun bentakan
itu amat dapat didengar oleh setiap orang dengan jelas, bahkan mereka merasakan telinganya jadi
sakit.
serentak pertempuran terhenti ditengah jalan, semua jago berdiri tertegun sambil alihkan
pandangannya ke arah mana berasalnya suara itu.
suma Hiong sendiripun diam-diam merasa terperanjat, cepat dia tarik kembali serangannya dan
melompat mundur kebelakang. Dari balik pagar pekarangan perlahan-lahan berjalan keluar
seorang pemuda tampan berwajah dingin, setajam sembilu sorot mata pemuda itu tatkala saling
beradu pandang, tanpa sadar suma Hiong mencekat mundur beberapa langkah.
Waktu its sebenarnya suma Hiong sedang merasa keheranan, ia heran mengapa kawanan jago
yang telah disiapkan disekitar kuil itu tidak munculkan diri untuk melakukan pembantaian, padahal
sebelumnya telah dibicarakan bahwa mereka harus menyerbu kedalam kuil bila mendengar gelak
tertawa nya yang keras.
Tapi sekarang setelah menyaksikan kemunculan pemuda berwajah dingin ini, suatu firasat jelek
segera muncul dalam hatinya, ia segera membentak keras: "Bocah keparat siapa kau? sebutkan
nama mu."
Pemuda itu tertawa dingin, ia tidak menjawab akan tetapi sewaktu melewati dihadapan seorang
pendekar dari Thian che kau jari tangannya lantas ditudingkan kemuka.
Jerit kesakitan yang memilukan hati berkumandang memecahkan kesunyian, darah segar
tampak muncrat keluar dari dadanya, tidak selang sesaat kemudian orang itu sudah roboh
terjengkang dan tidak bangkit lagi untuk selamanya.
"Kau .. kau adalah manusia bermuka dingin?" teriak suma Hiong dengan paras muka berubah
hebat.
"Benar, kau memang hebat dan pengetahuanmu cukup luas, ternyata akupun juga kau kenali"
Pemuda yang barusan munculkan diri ini memang tak lain adalah Han siong Kie, jago muda itu.
suma Hiong menyeringai seram, sinar matanya memancarkan cahaya buas, dengan suara yang
keras seperti geledek hardiknya:
"Manusia muka dingin, engkau bersiap-siap untuk mencampuri urusan ini?"
"Haaahhh . . haaahhh haaahhh kenapa tidak? Justrupun ciangbunjin datang kemari untuk
membantai habis kawanan iblis macam dirimu itu"
" Ciangbunjin?" jengek orang she suma itu sinis, "Heeehhh heeehhh engkau ciangbunjin dari
mana?"
"Ciangbunjin dari Thian lam bun "
"Mimpi Heeeh heeh heeeehh bocah keparat, engkau sedang bermimpi disiang hari bolong.
Thian lam bun sudah lama terhapus namanya dari muka bumi"
"Yang akan terhapus namanya dari muka bumi bukan Thian lam bun, melainkan Thian che kau
dan waktunya tak akan lama lagi "
"orang goblok sedang mengigau ditengah hari bolong "
"Kau tak percaya ?Baik... ini hari akan kuampuni selembar jiwa anjingmu, agar kau bisa
menyaksikan sendiri benar tidak perkataanku itu."
"Hanya mengandaikan kekuatanmu seorang, sayang aku tidak berjiwa sebesar kau... ini
haripun aku tak akan melepaskan dirimu "
Han siong Kie mendengus dingin, ia tidak berbicara lagi melainkan bersiul nyaring.
Berbareng dengan siulan tersebut, terlihatlah bayangan manusia saling berkelebat dalam
gelanggang, dalam waktu singkat berpuluh-puluh sosok mayat dari manusia barbaju hitam
bertumpukan ditempat itu
suma Hiong tentu saja dapat mengenali kembali mayat-mayat itu, sebab mereka tak lain adalah
jago-jago perkumpulannya yang disiapkan diluar kuil itu.
Tapi kini sudah tewas semua dalam keadaan mengerikan, kontan ia jadi terkejut dan bergidik,
begitu pula dengan ketujuh orang pendekar pedang yang masih hidup, mereka merasa sukmanya
serasa sudah mela yang tinggaikan raganya. sambil menuding kearah tumpukan mayat setinggi
bukit itu, Han siong Kie mengejek:
"suma Hiong, bukankah mayat-mayat itu adalah jenasah dari anggota perkumpulanmu? Nah,
hitunglah sendiri, semuanya berjumlah seratus dua puluh orang, coba kau hitung lagi adakah
masih ada yang kelewatan atau tidak??"
Menyeringai seram wajah suma Hiong dengan muka yang buas dan mengerikan ia berteriak:
"Manusia bermuka dingin, aku bersumpah akan mencincang tubuhmu, kemudian menghancur
lumatkan tubuhmu menjadi abu"
"Huuuh Mau mencincang aku? Cuma mengandaikan ilmu silat yang kau miliki itu? Jangan
mimpi."
Rupanya sewaktu Han siong Kie tiba ditempat kejadian., ia menyaksikan markas besar dari Kay
pang sudah dikepung rapat oleh musuh-musuhnya.
Tanpa menimbulkan suara sianak muda itu segera mengeluarkan ilmu silatnya dan menotok
mampus ke seratus dua puluh orang jago Thian che kau yang mengepung di luar kuil, setelah itu
bagaikan kelelawar dia menyusup masuk kedalam kuil.
Waktu itulah dia saksikan para tianglo dan ciangbunjin Kay pang sedang menghadapi keadaan
yang terancam, setelah memberi pesan kepada anak murid Kay pang yang berjaga-jaga di luar
kuil diapun tampilkan diri untuk menyelesaikan persoalan itu
Betapa gusar dan mendongkolnya suma Hiong setelah mengetahui bahwa rencana penyerbuan
mengalami kegagalan total, ia tahu tak mungkin baginya untuk memberi pertanggungan jawab
dihadapan kaucunya setelah mengalami kekalahan total seperti hari ini. apalagi semua anak
buahnya telah terbunuh habis.
Rasa dendam dan marahnya serta merta dilampiaskan keatas tubuh pemuda itu, sambil
menggertak gigi katanya:
" Kau tidak percaya dengan kemampuanku? Apa salahnya kalau kita buktikan bersama2"
Begitu selesai berbicara, ia menerjang ke muka dengan garang, secepat sambaran kilat secara
beruntun iblis ini melepastan tiga buah serangan berantai.
Han siong Kie tidak berusaha menghindar atau berkelit, dengan melontarkan sepasang telapak
tangannya kemuka dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaaang" suata ledakan keras yang memekikkan telinga berkumandang diudara, suma Hiong
tak sanggup menahan kedahsyatan musuhnya, secara beruntun ia terdesak mundur lima langkah
lebar.
Gelombang angin pukulan yang tersebar keempat penjuru menyapu bersih setiap benda yang
ada diseputar lima kaki dari gelanggang, bukan saja kawanan jago dari Kay pang terdesak sampai
mundur tunggang langgang, tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau yang masih hidup
pun pontang panting dibuatnya dengan muka pucat.
sungguh girang tak terkirakan pengemis dari selatan setelah melihat kedahsyatan saudaranya,
tak kuasa lagi ia berteriak keras:
"saudara cilik puas.. sungguh memuaskan.... Hajar sampai buntung bajingan itu"
setelah merasakan kedahsyatan musuhnya, kepongahan serta kejumawaan suma Hiong lenyap
tak berbekas, keadaannya pada saat ini ibarat bola yang kehilangan udara, dengan loyo
bercampur ketakutan ditatapnya pemuda itu tanpa berkedip.
Mimpipun ia tak menyangka kalau pihak musuh mempunyai kepandaian silat sedahsyat itu,
bahkan boleh dibilang tak bisa diterima dengan akal sehat, siapa yang menyangka kalau seorang
pemuda ingusan ternyata berilmu tinggi
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Han siong Kie, selangkah
demi selangkah ia maju kedepan, katanya dengan suara dingin
"Aku meminjam mulutmu untuk menyampaikan pesan kepada kaucu kalian, katakan bahwa
dalam beberapa hari mendatang aku akan berkunjung sendiri ke Lian huan tau untuk membuat
perhitungan. suruh dia bersiap sedia menyambut kedatanganku. Nah, sekarang kau boleh pergi,
aku telah berjanji untuk mengampuni jiwamu.."
sebagai seorang yang berilmu tinggi sudah tentu suma Hiong tak sudi untuk menyerah kalah
dengan begitu saja, ia membentak keras:
"Manusla bermuka dingin, kau jangan tekabur lebih dulu, sambutlah pukulanku ini."
sepasang telapak tangannya diayun kemuka secara beruntun dalam sekejap mata ia telah
melepaskan delapam serangan berantai.
semua ancaman yang dilontarkan itu menggunakan jurus serangan yang aneh dan sakti, bukan
saja jarang ditemui dikolong langit, keganasannya betul-betul mengerikan, seketika itu juga si
anak muda itu terdesak mundur sejauh lima depa kebelakang.
setelah berhasil dengan ancamannya suma Hiong tak sudi memberi kesempatan kepada
musuhnya untuk melancarkan serangan balasan, dia susulkan lagi dengan lima buah serangan
berantai.
Tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau tidak berpeluk tangan belaka, menggunakan
kesempatan yang sangat baik itu, mereka terjun pula kedalam gelanggang, untuk membantu
pemimpinnya.
Bentakan-bentakan gusar menggelegar di angkasa, dua puluh sosok bayangan manusia terjun
kedalam gelanggang dan menghadang jalan pergi ketujuh orang musuhnya, pertarungan massal
tak dapat dihindari lagi.
sementara itu suma Hiong sudah melancarkan serangan dengan jurus yang kelima, tiba-tiba
Han siong Kie berkelit kesamping dengan kecepatan yang tak terhingga, begitu berada tiga depa
disamping kalangan, keli ma jari tangan kanannya segera disodokkan kedepan-
Jerit kesakitan memecahkan kesuyian, secara beruntun suma Hiong mundur beberapa langkah
ke belakang, lengan kanannya terkulai lemas kebawah, separuh badannya basah kuyup
bermandikan darah segar.
"Suma Hiong " kembali Han Siong Kie berkata demgan ketus, " untuk kesekian kalinya kuberi
kesempatan kepadamu untuk berlalu dari sini, ketahuilah kesempatan ini adalah kesempatan yang
terakhir. bila kau tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji "
suma Hiong bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu bila kesempatan ini tidak dipergunakan
sebaik-baiknya, niscaya dia akan mati konyol ditempat itu.
setelah melotot sekejap ke arah pemuda itu, dengan pandangan penuh kebencian ia berkata:
"Manusia bermuka dingin, tunggu saja sampai tanggal mainnya"
Tanpa banyak berbicara lagi, ia menjejakkan kakinya ketanah dan melarikan diri terbirit-birit
dari sana.
Melihat pemimpinnya sudah kabur, tujuh orang jago dari Thian che kau itupun tak berani
melanjutkan pertarungan, serentak mereka memberi tanda dan memperketat serangannya,
setelah berhasil memaksa mundur lawannya, orang-orang itu melompat ke atas atap rumah dan
berusaha melarikan diri dari situ.
"Hmm Kau mau pergi kemana?" jengek Han siong Kie sinis.
Ketika sepuluh jari tangannya dilontarkan kemuka, munculah sepuluh buah desingan angin
tajam ke depan.
Jerit kesakitan berkumandang saling menyusul, dalam waktu singkat tujuh orang jago pedang
yang mencoba untuk melarikan diri itu sudah rontok ketanah bagaikan burung yang kena ketapel.
Melihat musuhnya sudah terbasmi habis, ketua Kay pang baru memburu maju sambil memberi
hormat, serunya dengan wajah bersyukur:
"oooh... sungguh beruntung Han ciangbunjin datang tepat pada saatnya, kalau bukan bantuan
ciangbunjin niscaya perkumpulan kami sudah hancur ditangan iblis itu, budi kebaikan ini tak akan
kami lupakan untuk selamanya"
Buru2 Han siong Kie balas memberi hormat sahutnya:
"Aaah, perkataan dari ciangbunjin terlampau serius, sudah sepantasnya kalau kita sebagai umat
persilatan saling membantu dikala sedang susah, apalagi perkumpulan kami termasuk salah satu
korban dari keganasan mereka, sewajarnya aku bantu kalian untuk menghadapi mereka"
Pengemis dari selatan memburu pula ke depan, walaupun dengan langkah yang gontai, noda
darah masih membekas diujung bibirnya, namun tidak mengurangi kegembiraannya, dengan
wajah berseri ia berseru:
"Haaah haaahhh haaahh saudara cilik, hayo ikut aku menuju keruang belakang, aku akan
bercakap-cakap sampai puas dengan dirimu, aku tahu engkau paling segan dengan segala macam
tata cara yang sok. ayo ikuti aku"
Han siong Kie pun mohon diri dengan ketua Kay pang beserta jago-jago lainnya, kemudian
dengan mengikuti dibelakang pengemis dari selatan mereka menyingkir keruang belakang.
Ruangan itu kecil sekali dan merupakan kamar semedi yang tak begitu luas, Han siong Kie
duduk saling berhadapan dengan saudara tuanya.
setelah hening sesaat dengan kerutkan kening pemuda itu menegur. " Engkoh tua, aku lihat
luka yang kau derita tidak enteng"
"Aah apa artinya luka seringan ini? Kejadian ini sudah merupakan suatu keberuntungan bagi
kami, andaikata saudara cilik tidak datang tepat pada waktunya niscaya perkumpulan kami sudah
mengalami kehancuran total"
Menggunakan kesempatan itu Han siong Kie teringat kembali akan beberapa persoalan, iapun
berkata:
" Engkoh tua, ada beberapa persoalan aku ingin mohon bantuanmu, apakah kau bersedia untuk
membantu?"
""Heeeh heeeh heeh dalam hal apa Katakan saja, sekalipun kau menginginkan batok kepalaku,
sekarang juga akan kupersembahkan kepala ini untukmu"
"Aah, engkoh tua memang suka bergurau, tentu saja tidak seserius itu persoalan yang hendak
kukatakan, aku cuma mengharapkan rekan rekan dari Kay pang untuk mencari jejak dari beberapa
orang bagiku, aku tahu Kay pang punya jaringan mata-mata yang luas dan hebat, mencari jejak
orang merupakan pekerjaan yang rutin"
"siapa yang hendak kau cari ? Coba katakan-"
"Ada tiga orang tiang lo dari perguruanku yang tercerai berai dalam suatu pertarungan hingga
kini tak kuketahui kabar berita mereka, maka aku mohon bantuan Kay pang untuk mencarikan
jejaknya ".
"ooh... saat ini akan segera dilaksanakan oleh anak murid kami, aku percaya jejak mereka akan
segera diketahui, siapa lagi yang hendak kau cari.."
"Hekpek siang yau, sepasang siluman yang sudah tersohor namanya semenjak enam puluh
tahun berselang "
"Hekpek siang yau? Mau apa kau cari gembong iblis yang luar biasa itu? " seru pengemis dari
selatan dengan jantung berdebar.
Han siong Kie pun menceritakan bagaimana ia menerima sepasang siluman itu menjadi anggota
seperguruannya.
sehabis mendengar kisah tersebut pengemis dari selatan baru paham dengan duduknya
persoalan, ia gelengkan kepalanya sambil berkata:
"saudara cilik, aku benar-benar merasa kagum sekali dengan kehebatanmu, tak nyana nasibmu
memang mujur dan hok ki mu besar, gampang, soal ini gampang sekali, segera akan
kuperintahkan anak muridku untuk melakukan penyelidikan"
"Selain daripada itu akupun ingin minta petunjuk tentang satu persoalan lagi."
"Aaah katakanlah sedari kapan engkau mulai belajar bicara menela-menele begitu? Hayo
utarakan saja secara blak-blakkan"
"Aku dengar dalam dunia persilatan hidup seorang tokoh silat yang ahli sekali dalam hal ilmu
beracun dan orang itu bernama Ban tok cousu, apakah tokoh silat ini masih hidup didunia ini."
"Mengapa engkau menanyakan persoalan ini"
"Racun Gi hang tok ko (buah racun berubah wujud) yang salah dimakan oleh Hekpek siang yau
katanya hanya bisa dipunlahkan oleh dia seorang, aku hendak mohonkan pengobatan bagi kedua
orang itu"
Pengemis dari selatan termenung dan berpikir sebentar, kemudian baru menyahut: "Aku rasa
kemungkinan besar dia masih hidup didunia ini"
"Jadi hanya suatu kemungkinan belaka ?"
"Benar, aku hanya bisa mengatakan mungkin, sebab kalau dihitung dengan jari tangan maka
pada tahun ini Ban tok cousu sudah berusia diatas seratus tahun, pada dua puluh tahun berselang
aku pernah mendengar orang berkata bahwa raja racun yang sangat lihay ini menetap didalam
telaga beracun..."
"Telaga beracun ?"
"Oooh, belum pernah kau dengar tentang nama telaga ini"
"Belum "sahut sianak muda itu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Luas telaga beracun ini hanya setengah hektar dan letaknya dalam lembah hek kok (lembah
hitam) yang berada dibukit Tay keng san, air telaga itu sangat beracun dan siapa saja yang
terkena air itu niscaya akan mati secara konyol. Kendatipun begitu aku tak berani memastikan
seratus persen benar, sebab sampai detik ini belum pernah kubuktikan sendiri kebenaran dari
berita ini "
"Sekalipun Ban tok cousu kebal racun dan lihay dalam menggunakan barang berbisa, toh tidak
sepantasnya kalau dia berdiam dalam air telaga itu?" kata Han siong Kie dengan terperanjat.
"Ada orang menyaksiksn dia masuk keluar dalam telaga beracun itu, apa yang sebenarnya
dikerjakan cousu selaksa racun itu tak seorangpun tahu, dengan sendirinya aku sipengemispun tak
bisa memberi jawaban atas pertanyaanmu itu"
"Dalam dunia persilatan terdapat seorang manusia yang bernama Tok kun si dewa racun Yu
Hai, apakah dia adalah ahli waris dari Ban tok cousu yang sangat lihay itu."
"Bukan"
"Bukan? Lalu dari manakah dia pelajari ilmu beracun yang amat dahsyat itu?"
"Asal mulanya Yu Hau cuma seorang Bu beng siau cut prajurit tak bernama dalam dunia
kangou, dua puluh tahun berselang tanpa sengaja ia berhasil menemukan sejilid kitab beracun
yang amat luar biasa, semenjak isi kitab itu berhasil dikuasahi olehnya tersohorlah namanya
sebagai Tok kun atau raja racun, kendatipun namanya saja memakai huruf "kun" yang berarti
orang budiman, tapi pada hakekatnya dia adalah seorang manusia durjana yang berhati busuk".
"Dia telah menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau" sela pemuda itu.
"Bukan kejadian yang aneh kalau ia berkomplot dengan mereka, toh kaum serigala hanya
berkumcul dengan serigala, masa ada serigala bergaul dengan domba ? ketua Thian Che kau
berambisi besar dan bercita-cita untuk menguasahi seluruh jagad, menjadi kaisar dalam dunia
persilatan, dengan segala daya upaya dia mengumpulkan kawanan jago dari pelbagai daerah
untuk memperkuat posisinya, kecuali beberapa perguruan dan partai kenamaan boleh dibilang
hampir semua perkumpulan dan perguruan telah dilalap habis olehnya ya.. beruntung Kay pang
dapat lolos dari musibah ini" Han siong Kie tertawa dingin -
"Heeehhh heeehhh heeehh masa kiamat dari Thian che kau tak akan terlalu lama, tunggu saja
tanggal mainnya "
"Bila kita biarkan perkumpulan itu mengembangkan sayapnya sampai dimana-mana, aku kuatir
dunia persilatan akan terjatuh semua kedalam cengkeremannya"
"Aaah. belum tentu begitu...."
Pengemis dari selatan berpaling dan menatap lekat-lekat wajah pemuda itu, bisiknya: "saudara
cilik, engkau terlalu percaya pada kemampuanmu?"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah, ia tidak mengucapkan sepatah
katapun-
Rupanya pengemis dari selatan menyadari kekhilafannya, cepat ia menambahkan:
"saudara cilik, tentunya kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa: "sebuah
balok kayu tak akan mampu menunjang sebuah rumah gedung bukan ? Aku rasa persoalan paling
penting yang harus kau lakukan pada saat ini adalah kembali ke Thian lam serta melakukan
pembersihan terhadap unsur-unsur busuk dalam tubuh perguraanmu, sebab dengan tindakan ini
bukan saja kau dapat menyelamatkan mereka-mereka yang masih setia kepadamu dan terpaksa
harus tunduk diperintah ketua yang sekarang, selain itu kaupun akan memperoleh bantuan yang
amat besar dalam usahamu menghancurkan perkumpulan Thian che kau, tak usah kuatir, setiap
saat setiap detik Kay pang selalu berdiri dibawah komandomu"
Tercekat hati Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, kata-kata dari engkoh tuanya ini
mengetuk sampai ke dalam hati sanubarinya, memang benar ucapannya, bila Wi It beng dibiarkan
berlaku sewenang-wenang tanpa ditindak. niscaya sengsaralah orang-orang yang masih setia pada
kebenaran, kelemahan dari Thian lam bun justru akan muncul dari hal-hal seperti ini."
Tapi ingatan lain cepat melimtas dalam benaknya, teringat olehnya akan suatu masalah yang
jauh lebih penting.
"Apa yang diucapkan engkoh tua memang betul" katanya kemudian dengan dahi berkerut "tapi
sekarang aku telah menjumpai sesuatu masalah yang betul-betul rumit"
" Kesulitan apa? Katakan saja asal aku mampu pasti akan kubantu untuk memecahkannya"
ucap pengemis dari selatan sambit menepuk dada sendiri
"Pertama orang yang benar-benar mengetahui asal usulku yang sebenarnya hanya lima orang
tiang lo dari sebuluh tiang lo ruang goan lo wan yang masuk daratan Tiangggoan- jadi diantara
lima orang tiang lo itu ada dua orang telah tewas dan tiga orang tak ketahuan kabar beritanya,
kedua tanda kebesaran sebagai seorang ketua yakni ok kui cupay telah terjatuh ketangan Thian
che kau, tanpa adanya tanda kepercayaan itu tak mungkin aku bisa menarik kepercayaan dari
murid-murid lainnya, tolong tanya bagaimana caraku untuk mengatasi persoalan ini?"
Mendengar ucapan tersebut terlintas rasa serba salah diwajah pengemis dari selatan, katanya
kemudian-
"Ya a, persoalan ini memang merupakan satu masalah yang pelik, bukankah pekerjaan yang
gampang untuk merebut kembali lencana ok kui cupay dari tangan orang Thian che kau, dan
lagi.."
"Kenapa? " sela sang pemuda.
"Ketua pelaksana perguruan Thian lam yang sekarang wi It beng telah menyatakan
penggabungan diri dengan perkumpulan Thian che kau, istana Huan mo kiong sudah berubah jadi
kantor cabang Thian che kau, aku kuatir kalau tanda kebesaran itu sudah terjatuh ketangan Wi It
beng, aaai... kalau sampai begitu, bukankah sekarang ia telah mempunyai kekuasaan untuk
memerintah segenap anak murid ?"
Air muka Han siong Kie berubah hebat.
"Ehmm, memang ada kemungkinan untuk terjadi peristiwa semacam ini, padahal lencana
tersebut merupakan benda tersuci dan tertinggi dalam perguruanku, siapa yang membawa benda
itu, dialah yang dipertuan, waah, urusan kan menjadi bertambah pelik"
"saudara cilik, kau jangan gelisah dulu, coba kuselidiki keadaan yang sebenarnya" pengemis tua
itu lantas bertepuk tangan tiga kali.
seorang pengemis setengah baya mengiakan dan berjalan masuk kedalam ruangan: "Tianglo,
kau orangtua ada perintah apa?" tanyanya.
"sampaikan perintahku, tanyakan kepada setiap murid yang berada disini apakah di antara
mereka ada yang mengetahui jejak dari ketiga orang tianglo dari Huan mo kiong yang berada
didaratan Tionggoan, kalau ada yang tahu segera datang memberi laporan "
"Terima perintah" sesudah memberi hormat pengemis setengah baya itupun mengundurkan diri
sepeninggal pengemis itu Han siong Kie merasa panik dan tidak tenang, ia merasa bahwa
persoalan yang sedang dihadapi sekarang memang cukup pelik, bukan saja Perintah dari gurunya
Mo tiong ci mo tak dapat diselesaikan, bahkan urusanpun berubah jadi sekacau ini, bukankah dia
akan menjadi manusia yang berdosa bagi perguruan?
Tidak selang beberapa saat kemudian pengemis setengah baya itu datang melapor:
" Lapor tiang lo ada seorang murid bagian kontrol yang bernama Tan Beng siap memberi
laporan"
"suruh dia masuk" perintah pengemis dari selatansetelah
Tan Beng masuk kedalam ruang, pengemis itupun bertanya lagi:
"Apa yang kau ketahui?"
Tan Beng memberi hormat, kemudian bukannya menjawab malahan balik bertanya:
"Yang dimaksudkan sebagai tiga orang tianglo dari Thian lam bun itu apakab tiga orang kakek
berjubah sutera dan membawa toya berkepala setan?"
"Benar " sahut Han siong Kie dengan semangat berkobar.
Pengemis dari selatan mengangguk kepada Tan Beng katanya: "Lanjutkan perkataanmu lebih
jauh"
"Tiga hari berselang ketika hamba sedang melakukan perjalanan melewati Niu kang, pernah
kusaksikan ketiga orang tianglo itu sedang melanjutkan perjalanan menuju ke arah wilayah Thian
lam."
"Baik, kau boleh mundur"
Sepeninggal Pengemas itu, Han siong Kie duduk termangu, ia merasa tak habis mengerti
kenapa ketiga orang tianglonya menuju ke wilayah Thian lam, bukankah tindakan mereka ini sama
artinya dengan menghantarkan diri kemulut harimau ? Tak nanti Wi It beng akan melepaskan
mereka bertiga dengan begitu saja.
Tanpa terasa diapan menguatirkan pula keselamatan dari kelima orang tianglonya yang masih
tertinggal diruang goan lo wan.
sebagai seorang ketua Thian lam bun, tentu saja ia tak dapat membiarkan para tianglonya
menghantarkan kematian, karena itu rencananya semula untuk berkunjung kebenteng maut dan
menyatroni lian huan tau terpaksa dibatalkan.
-000dw000-
SETELAH hening beberapa saat pengemis dari selatan bertanya pula: "saudara cilik apa
rencanamu selanjutnya?"
Han siong Kie menghela napas panjang, sahutnya dengan wajah serius:
"Terpaksa aku harus berangkat ke Thian lam, semoga saja masih sempat untuk menghadang
para tiang lo itu kembali ke sarang harimau"
".. sayang aku sipengemis tua sedang terluka, kalau tidak niscaya akan kubantu usahamu itu"
"Engkoh tua tak usah repot-repot, paling penting merawat dulu lukamu hingga sembuh" cepat
sianak muda itu menampik .
"Bagaimana kalau kupilih kan beberapa orang jago lihay dari perkumpulanku untuk menyertai
perjalanan ini?"
"Tak usah.. tak usah Maksud baik engkoh tua biarlah kuterima dalam hati saja"
"Aaah, perkataan apaan itu? Budi kebaikanmu terhadap kay pang setinggi langit, aah, jemu
untuk membicarakan soal budi, lebih baik tak usah dibicarakan lagi"
" Engkoh tua aku bermaksud untuk segera melanjutkan perjalanan mumpung masih sempat
untuk menyusul mereka"
"Ehm, begitupun ada baiknya, aku akan segera mengirim berita kilat kekantor- kantor cabang
dan menyuruh mereka menghadang jalan pergi ketiga orang tiang lo itu"
"Terima kasih atas bantuan engkoh tua"
"Juga tentang jejak dari Hekpek siang yau, aku percaya tak lama kemudian berhasil ditemukan
anak muridku, pasti akan kukirim kabar itu padamu secepatnya"
"Kalau begitu siaute mohon diri lebih dulu" ucap Han siong Kie seraya bangkit berdiri
"Selain itu.?"
"Apakah engkoh tua ingin mengucapkan sesuatu lagi??" Pengemis dari selatan mengangguk.
"Kantor cabang kami di Nio kang meliputi daerah operasi sampai wilayah Thian lam, jika kau
ada urusan minta saja bantuan dari mereka, pasti akan kupesan sendiri kepada toucunya untuk
mengabarkan berita ini kepada anak buahnya, lencana bambu ini boleh kau terima, bila ada
keperluan gunakanlah lencana ini sebagai tanda pengenal "
"Akan siaute ingat selalu dihati, baik-baiklah jaga diri engkoh tua" kata pemuda itu kemudian
setelah menerima lencana bambu itu.
"semoga kau sukses selalu"
"selamat tinggal"
Han siong Kie telah meninggalkan markas besar kay pang di kuil Bu hao si dan melanjutkan
perjalanannya menuju Thian lam.
Waktu itu fajar baru menyingsing, suara ayam berkokok memecahkan kesunyian dipagi itu.
Bintang masih tersisa di langit, angin pagi yang dingin berhembus lewat menyegarkan badan,
Han siong Kie melakukan perjalanannya dengan kecepatan penuh.
Tiga li baru lewat, ketika secara tiba-tiba sesosok bayangan manusia diantara remangremangnya
cuaca orang itu menghadang jalan perginya.
Han siong Kie merasa kaget dan mengerem gerak laju tubuhnya, tapi setelah mengetahui siapa
yang berada dihadapannya ia berseru tertahan-"Aaah nona.. rupanya kau"
Tak asing lagi orang itu bagi Han siong Kie sebab dia tak lain adalah orang yang ada maksud.
"oh masih kenal dengan aku?" sapa orang yang ada maksud sambil tertawa aneh.
"Ada urusan apa nona berdiri disini"
"Menunggu kau"
"Menunggu aku" bisik pemuda itu sambil mundur selangkah karena tercengang, "dari mana
nona bisa tahu kalau aku berada disini dan akan lewati jalan ini?"
0000d0w0000
BAB 70
"AH terlalu gampang untuk mengetahui jejakmu, bukankah jalan raya disini hanya ada satu?
Asal kami berdua masing-masing menghadang disetiap sudut jalanan ini, pastilah seorang
diantaranya kami akan berjumpa dengan kau, bukankah begitu?"
"Jadi ada orang yang bertugas menantikan kedatanganku? siapa orang kedua itu?"
"Tak perlu kau tahu"
Han siong Kie berkerut kening, selang sesaat kemudian ia bertanya pula. "Ada urusan apa nona
menunggu kedatanganku disini?"
"Boleh aku tahu dulu kemana kau akan pergi...?"
"Ke Thian lam"
"Wah kebetulan sekali, untung aku bertemu dengan kau, kalau tidak maka akibatnya amat
sukar dilukiskan dengan kata-kata"
" Kenapa?" tanya anak muda itu terkejut.
"seorang jago yang mengaku sebagai Manusia bermuka dingin dengan membawa lencana ok
koi cu pai dan memimpin tiga puluh orang jago telah berangkat ke Thian lam untuk mengambil
alih kursi kebesaran dari Wi It beng, bahkan ketiga orang tianglo dari perguruan Thian lam bun
pun menyertai dirinya.
"Manusia bermuka dingin ? Boleh aku tahu ada berapa orang manusia muta dingin didunia ini?"
tanya Han siong Kie keheranan-
"Tentu saja hanya satu"
" Kalau memang demikian, aku jadi tidak mengerti, dengan apa yang nona maksudkan?"
"Untuk mengangkangi istana Huan mo kiong, pihak Thian che kau telah mengutus seorang
utusan khususnya menuju ke Thian lam untuk mengambil oper kedudukan wi It beng, bukan saja
utusan khusus itu telah menyaru seperti kau, bahkan membawa pula lencana ok kui cu paya "
"Aah, masa telah terjadi peristiwa seperti ini?" teriak Han siong Kie terkesiap.
orang yang ada maksud segera tertawa dingin
"Memangnya aku membohongi kau, Ketahuilah, utusan khusus dari Thian che kau yang
menyamar sebagai dirimu itu bernama Thio Wi wan "
"Tadi nona mengatakan bahwa dalam rombongan ini terdapat pula tiga orang tiang lo dari
Thian lam bun serta dua puluh orang jago lihay, siapakah mereka itu?"
"Ketiga orang tianglo itu masing-masing bernama To It Hui, Ang pat siu serta san jin ho,
mereka dengan menyertai manusia muka dingin gadungan itu berangkat ke Thian lam untuk
melakukan pembersihan terhadap perguruannya."
"Masa ketiga orang tianglo itu tak dapat membedakan mana yang asli dan mana yang
gadungan?"
"Dalam tubuh perkumpulan Thian che kau terdapat aneka ragam jago yang rata-rata berilmu
tinggi, termasuk pula ilmu menyamarnya, mungkin kau sendiripun akan pangling dibuatnya"
Han siong Kie merasa darah panas dalam tubuhnya mendidih, hawa napsu membunuh
menyelimuti wajahnya, dengan penuh kebencian serunya: "Mereka harus dijagal semua"
"Siapa yang akan kau jagal"
"Semua anggota perkumpulan Thian che kau, dari ketua sampai pelayan-pelayannya"
"Urusan yang tak penting lebih baik tak usah kau bicarakan dulu, ketahuilah Thia We wan yang
menyaru sebagai dirimu dengan membawa ketiga orang tianglo dari dua puluh orang jagonya
sudah berangkat semenjak tiga hari berselang, padahal dengan kepandaian yang di miliki mereka
dalam tujuh hari saja istana Huan mo kiong sudah tercapai, kau sudah ketinggalan tiga hari. aku
kuatir tak mungkin bisa kau susul diri mereka"
Han siong Kie tidak menjawab, pikirnya dalam hati:
" Engkoh tua sudah mengirim surat kilat kepada kantor cabangnya dan memerintahkan anak
murid Kay pang menghalangi jalan pergi ketiga orang tianglo itu, tapi dengan adanya utusan dari
Thian che kau, situasi jadi makin berbahaya, aku harus segera mengejar dengan sepenuh tenaga,
siapa tahu bisa kutempuh perjalanan siang malam sebelum mereka tiba di antara Huan mo kiong,
aku bisa sampai duluan?" Berpikir sampai disini ia lantas bertanya: "Nona mendapatkan
keterangan ini dari mana?"
"Kau tak perlu tahu, pokoknya kedatangan aku kemari adalah untuk menyampaikan kabar ini
kepadamu"
"Terima kasih atas bantuan nona, kalau begitu aku akan segera melakukan perjalanan-"
"silahkan"
setelah menjura, berangkatlah Han siong Kie meninggaikan tempat itu, cepat sekali gerakan
tubuhnya, dalam sekejap mata ia sudah berada jauh sekali dari sana.
Menanti bayangan punggung pemuda itu sudah lenyap dari pandangan, orang yang ada
maksud baru menghela napas panjang, ia melepaskan kain kerudungnya sehingga tampaklah
wajahnya yang cantik, dari sakunya dia itu mengambil secarik sapu tangan dan menyeka air mata
dikelopak matanya.
Mengapa nona itu bersedih hati? Tak seorangpun yang tahu
Dalam pada itu Han siong Kie telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh Ho keng gin im nya
hingga mencapai pada puncaknya, siang malam ia menempuh perjalanan tiada hentinya, beratusratus
li sudah ditempuh dengan kecepatan penuh.
Hari ketiga, sebelum lohor pemuda itu sudah tiba dikota sik bun ki, suatu kota yang berjarak
tiga ratus li dari istana Huan mo kiong.
Dikota sik bun ki inilah kantor cabang Kay pang untuk wilayah Niu kang bermarkas.
Akan tetapi sampai waktu itu, bukan saja tiada kabar berita dari pihak kay pang, jejak ketiga
orang tianglo itupun tak ada yang tahu.
Han siong Kie semakin kuatir, ia merasa tak ada harapan lagi untuk menyusul ketiga orang
tianglonya.
Pemuda itupua sadar, jika orang yang menyaru sebagai dirinya tiba lebih dahulu di istana Huan
mo kiong dengan tampangnya yang persis seperti dirinya serta andaikan lencana ok kui cu pai,
tidak susah baginya untuk mendapat kepercayaan dari orang-orang perguruan dan bila sampai dia
mendapat kepercayaan penuh dari anggota Thian lam bun yang setia, runyamlah keadaan dan
hancurlah perguruan itu.
Denggan langkah yang lambat ia memasuki sebuah rumah makan yang memakai merek "Ing
khek ki", sambil melepaskan lelah dan menangsal perut, pemuda itu hendak menggunakan
kesempatan tersebut untuk mencari akal guna menanggulangi kejadian ini.
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Han siong Kie, mari kita bercerita kembali
setelah To It hui, Ang Pat sin dan Wi Jin ho mendapat tugas untuk mengubur jenasah seng Thian
pa dan Liok sau tan yang mati dalam pertarungan melawan gerombolan wi It beng.
setelah menyelesakan tugas menguburkan, ketiga orang tianglo ini melakukan perjalaran kian
kemari untuk mencari jejak Han siong Kie, akan tetapi jejak dari ketuanya ini lenyap tak berbekas,
mereka jadi murung tak habis mengerti.
Ditengah jalan secara kebetulan mereka mendengar kalau Wi It beng telah menjual perguruan
Thian lam bun kepada pihak Thian che kau, bahkan istana Huan mo kiong telah dirubah menjadi
kantor cabang Thian che kau untuk wilayah Thian lam.
Melihat keruntuhan yang mengancam perguruan ini, ketiga orang tianglo ini jadi marah
bercampur sedih, mereka lantas mengambil keputusan untuk berangkat ke Thian lam serta
mengumpulkan anak murid yang setia untuk bersama membasmi Wi It beng dari muka bumi.
Dalam perjalanan menuju ke Thian lam inilah, secara tak terduga ketua mereka, Han siong Kie
telah muncul dengan membawa dua puluh orang jago bersenjata lengkap. menurut keterangan
kedua culuh orang ini adalah anggota baru Thian lam bun yang baru diterimanya. sungguh
gembira sekali ketiga orang tianglo tersebut menjumpai kenyataan itu.
Mereka lebih percaya lagi setelah Ciangbun suhengnya menunjukkan tanda kebesaran ok kui
cupay, malahan mennrut pengakuan ciang bun suhengnya ini lencana tersebut berhasil dirampas
kembali setelah berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya.
Tentu saja mimpipun mereka tak menyangka kalau ciangbun suheng yang berada dihadapan
mereka ini sebetulnya adalah ciang bun suheng gadungan-
Meskipun dalam hal berbicara dan tingkah lakunya banyak hal yang mencurigakan ketiga orang
tianglo ini, tapi dengan manisnya "Han siong Kie" gadungan berhasil memberi jawaban yang
memuaskan, hal ini membuat ketiga orang tianglo itu semakin percaya.
Tatkala rombongan tiba dikota sik bun ki, anak murid Kay pang cabang wilayah Niu kang yang
baru mendapatkan surat kilat dari markas besarnya segera memberi penyambutan yang meriah,
bahkan setiap saat menanti perintah mereka.
Tindakan ini sama sekali diluar dugaan siapa pun, tentu saja perbuatan dari orang Kay pang
mencengangkan mereka.
Thia Wi wan yang menyamar sebagai Han siong Kie gadungan tidak terlampau curiga oleh
tindakan Kay pang ini sebab dalam anggapannya kaum pengemis itu sudah menggabungkan diri
dengan Thian che kau, maka segala sesuatunya ini tentulah kaucu mereka yang mengatur.
Karena itu diapun tidak memberikan reaksi apa-apa, sebaliknya menerima sambutan itu
sewajarnya.
Begitulah kesalahan paham yang terjadipada waktu itu, oleh karena kedua belah pihak tidak
mengucapkan apa-apa, tentu saja siapapun tak menyangka kalau apa yang sedang berlangsung
pada hakekatnya adalah suatu kesalah pahaman.
Kita kembali pada Han siong Kie yang asli, ketika tidak berhasil mendapatkan akal yang jitu
untuk menanggulangi kesulitan tersebut, dengan uring-uringan dia keluar dari kedai arak itu
Ditengah jalan tiba-tiba dari sisi tubuhnya terdengar seseorang berseru kaget ketika ia
berpaling ternyata orang itu adalah seorang pengemis tua yang berpakaian tambal-tambalan.
satu ingatan dengab cepat melintas dalam benaknya, ia berpikir:
"sebelum berpisah dengan engkoh tua pengemis dari selatan, ia telah berpesan kepadaku bila
ada kesulitan minta saja bantuan dari Kay pang, kenapa aku tidak mencari berita dari mereka?"
serta merta ia membuntuti kemana perginya pengemis tua itu.
sebentar kemudian mereka sudah keluar dari kota dan menuju ke tanah alas yang sepi
sebelum Han siong Kie sempat mengucapkan sesuatu, pengemis tua itu telah berpaling seraya
memberi hormat, katanya:
"Ditempat ini banyak tersebar mata-mata dari istana Huan mo kiong, sebelum rencana disusun
dengan matang, lebih baik ciangbunjin sedikit merahasiakan jejakmu"
"Rencana? Rencana apa?" tanya Han siong Kie.
Ucapan itu membuat si pengemis tua jadi terbelalak. lama sekali dia termangu sebelum
akhirnya bertanya:
"Bukankah engkau adalah Han sauhiap. ketua dari Thian lam bun ?"
"Betul"
"Maksudku lebih baik untuk sementara waktu ciangbunjin kembali dulu kedalam kuil Po cu bin,
agar supaya..."
(Bersambung ke Bagian 46)
"Urusan rumah tanggamu sendiri?" tanya pengemis dari selatan dengan sepasang mata
melotot.
"Begitulah kenyataanya engkoh tua, harap engkau bisa memaklumi keadaanku ini"
"Tapi saudara cilik. tahukah engkau bahwa luka yang kau derita cukup parah?"
"Tidak menjadi soal, luka itu tak kuperhatikan sama sekali" sahut Han Siong Kie sambil tertawa
getir, "bagaimana pun ku harap kalian berdua segera tinggalkan tempat ini?" .
Baik pengemis dari selatan maupun padri dari utara sama2 adalah jago persilatan yang sudah
berpengalaman selama puluhan tahun, tentu saja segala tata cara dan tetek bengek tersebut
dipahami olehnya, mereka tahu bahwa urusan rumah tangga orang lain tidak pantas dicampuri
orang lain oleh karena itu sesudah saling berpandangan sekejap, akhirnya mereka berkata:
"Baiklah, kalau engkau sudah berkata demikian kami jadi tak baik untuk tetap berada disini.."
Berbicara sampai disitu mereka lantas putar badan dan berlalu dari sana.
"Hmm Memangnya kalian berdua hendak pergi dengan begitu saja?" tiba2 Wi It beng menegur
kembali dengan mendengus dingin.
"Ada apa?" tanya pengemis dari selatan dengan alis berkenyit. "memangnya engkau sudah
penuju dengan aku sipeminta tua?"
"Tetapi sekali ucapanmu itu aku memang penuju sekali dengan dirimu. Bukankah kamu berdua
sudah kenali ilmu Boan yo sin kang milik kaisarmu ?"
"Nah, itulah dia.. akan kuhantar kalian berdua untuk pulang kealam barat dengan kepandaian
sakti itu, dari pada hidup didunia toh kalian bakal cerewet belaka?"
Dari ucapan itu jelaslah sudah kemana Wi It beng membawa pembicaraan tersebut, rupanya
dia berhasrat untuk melenyapkan kedua orang jago itu berhubung perbuatan busuknya atas
geteja siau lim si sudah ketahuan.
Bilamana ilmu silat yang dimiliki Han siong Kie tidak terlalu lihay, tak nanti ia keluarkan ilmu
Boan yo sinkang tersebut tapi sekarang dia bertujuan lenyapkan Han siong Kie dan merampas
lencana ok kui cupay untuk menegakan kembali kewibawaannya sebagai seorang Tee kun,
terpaksa kepandaian simpanannya itu dikeluarkan. sementara itu Padri dari utara telah merangkap
tangannya sambil berkata:
"Omitohud Kalau toh sicu memang berhasrat begitu, rasanya tiada perkataan lain yang bisa
kukatakan lagi, bila ingin turun tangan silahkan saja segera turun tangan"
Pengemis dari selatan menyambung sambil tertawa tergelak:
"Haaah haaah haaah betul, memang tepat sekali ucapan tersebut, Kalau memang engkau
sudah penuju pada diriku, akupun tidak akan banyak bicara, toh aku si pengemis tua sudah bosan
hidup ... hayo ambillah nyawaku ini"
sudah tentu Han siong Kie tidak mengijinkan kedua orang tua itu terlibat dalam persoalan
perguruannya sendiri, dengan gelisah bercampur gusar dia maju dengan sempoyongan, sambil
menahan sakit dalam isi perutnya ia berseru kepada dua orang tokoh silat itu.
"Engkoh tua, locianpwe Disini sudah tak ada urusanmu lagi, aku harap kalian berdua segera
tinggalkan tempat ini"
"Eeh... memangnya engkau tidak dengar bahwa orang lain tidak mengijinkan aku berdua
tinggalkan tempat ini?" sahut pengemis dari selatan dengan mata melotot.
"Engkoh tua, loocianpwe Ketahuilah mencampuri urusan rumah tangga orang lain merupakan
pantangan terbesar bagi umat persilatan, aku minta janganlah kalian bikin hatiku jadi susah dan
serba salah"
"Kuakui kalau ucapan saudara cilik tidak salah, tapi engkau tua dan menyaksikan sendiri bahwa
situasi yang kita hadapi sekarang sama sekali berlainan, aku rasa engkau sendiripun-."
"Engkoh tua, ataukah kalian hendak menunggu sampai saudara cilikmu ini mempersilahkan
sendiri kepergianmu?" tukas anak muda itu secara tiba2.
sudah tentu maksud dari Han siong Kie mengusir dua orang sahabatnya itu bukan lantaran
apa2, maksud yang sebenarnya adalah karena dia tak tega menyaksikan kedua orang sahabatnya
ini ikut jadi korban di tangan lawan, jelas ilmu silat mereka masih belum sanggup menandingi
lawannya, bila Wi It beng berhasrat membunuh mereka jelas itu bukan pekerjaan yang terlalu
menyulitkan dirinya.
Wi It beng bukan orang bodoh, dia sendiripun tahu kalau akan maksud hati anak muda itu,
kontan dia tertawa seram.
"Haaah haah haaah Manusia berwajah dingin, lebih baik tak usah buang waktu dan tenaga
dengan percuma, ketahuilah nasibmu telah berada ditanganku, akulah yang akan menentukan
kalian semua harus mampus sekarang juga atau tetap hidup dikolong langit "
"Manusia bedebah, jangan tekebur lebih dahulu, ucapan semacam itu terlalu pagi kalau
diutarakan pada saat sekarang " hardik Han siong Kie dengan gusarnya.
sekali lagi dia ayun lencana ok kui cuipay nya ketengah udara, segenap sisa kekuatan yang
masih dimilikinya disalurkan kedalam lencana tersebut, tampaklah sekilas cahaya tajam langsung
memancar kedepan dan mencapai sejauh satu kaki dari kedudukan pemuda itu.
Gerakan ini sangat taktis dan tepat, karena gegabah dan kurang perhatian Wi It beng seketika
terkurung oleh cahaya tajam tersebut, sementara pikirannya jadi buyar, Han siong Kie telah
melancarkan serangan mautnya dengan ilmu jari Tong kim ci.
Dengus tertahan memecahkan kesunyian, tak tahan wi It beng roboh terjengkang ke atas
tanah.
Han siong Kie segera membentak keras:
"Tianglo berlima, dengarkan perintah segera perintahkan dua orang tamu ini untuk tinggalkan
gelanggang"
Lima otang tianglo itu serentak mengiakan, lima belah toya berkepala setan langsung di sapu
kedepan menggulung tubuh pengemis dari selatan dan padri dari utara.
Tentu saja Pengemis dari selatan dan padri dari utara tak ingin melibatkan diri dalam suatu
pertarungan, tanpa menunggu ke lima orang tianglo itu mendekati tubuh nya, mereka sudah
kabur tinggalkan tempat itu.
Menunggu dua orang jago tersebut sudah lenyap dari pandangan mata, Han siong Kie baru
bisa menghembuskan napas lega, dia tarik kembali lencana mustikanya dari sisi maju kedepan
untuk memeriksa keadaan luka Tee kun itu.
siapa tahu batu saja lencana nya ditarik kembali. Tiba2 Wi It beng loncat bangun kemudian
memperdengarkan suara gelak tertawanya yang amat mengerikan.
Betapa tercekatnya hati anak muda itu, dari gelak tertawa yang mengerikan itu, ia tahu bahwa
luka yang diderita pihak lawan sama sekali tidak parah.. Apa yang telah terjadi ?
Rupanya pada saat itu luka yang diderita Han siong Kie sangat parah sekali, disamping itu
diapun harus kerahkan dulu tenaga dalamnya kedalam lencana mutiara.. karena itulah meskipun
angin serangannya dapat telak ditubuh lawan, namun tenaga serangan nya lemah sekali.
Padahal sekujur badan wi It beng terlindung oleh hawa sakti Boan yo sin kang, karenanya
meskipun serangan tersebut bersarang telak di tubuh nya, namun hanya mengakibatkan sedikit
lecet saja pada kulis tubuh nya.
selama ini dia masih tak mampu untuk bangkit, ini bukan akibat dari luka tersebut melainkan
kekuatan tubuh nya lenyap sebab terpengaruh oleh sinar tajam itu.
Maka begitu Han siong Kie menarik kembali serangannya, kekuatan dalam tubuh Wi It beng
pulih kembali. serentak dia loncat bangun.
Dengan mulut mengerikan karena terpengaruh oleh hawa napsu membunuh yang berkobarkobar,
selangkah demi selangkah Wi It beng bergerak maju kedepan.
Kelima orang tianglo itu bertindak cepat melihat ketuanya terancam, serentak mereka
lintangkan toyanya didepan dada dan berdiri dibelakang anak muda itu. Han siong Kie ayun
kembali lencana nya untuk mempengaruhi kekuatan lawan-
Tapi kali ini wi It beng telah membuat persiapan, secepat petir tubuh nya menghindar
kesamping, kemudian sebuah pukulan Boan yo sinkang dilontarkan kedepan.
Desingan angin tajam memekikan telinga bagaikan gulungan ombak samudra ditengah
hembusan angin puyuh langsung menerjang tubuh Han siong Kie serta kelima orang tianglonya.
Han siong Kie berenam jadi terperanjat, tanpa berpikir panjang mereka ayun pula telapak
tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
"Blaaamm.." suatu ledakan keras menggelegar di angkasa, dengan sempoyongan kelima orang
tianglo itu terdorong mundur sampai tercerai berai ke mana2, sebaliknya Han siong Kie yang
sudah terluka termakan oleh serangan itu lukanya makin parah, sekali lagi dia muntah darah
segar.
Wi It beng memang seorang jago yang tangguh, meskipun seorang diri harus menghadapi
serangan gabungan dari enam orang, akan tetapi dia hanya dipaksa mundur sejauh tiga langkah.
Kilat tajam sorot mata Wi It beng melebihi tajamnya sembilu, tiba2 dia menyapu sekejap
sekitar hutan ditepi hutan, kemudian tegurnya dengan lantang:
"Tokoh silat dari manakah yang telah berada disitu? Kalau sudah datang mengapa tidak segera
munculkan diri?"
Mendengar seruan itu, semua jago yang ada dalam gelanggang sama2 alihkan sorot matanya
ke arah hutan-..
Gelak tawa yang menyeramkan berkumandang dari dalam hutan, menyusul mana sesosok
bayangan hijau bagaikan sukma gentayangan munculkaa diri dari hutan, begitu cepat gerak
tubuhnya hanya sekejap mata ia sudah tiba dihadapan para jago.
orang itu bukan lain adalah seorang manusia berkerudung yang memakai baju warna hijau.
Mengetahni siapa yang muncul, bergetarlah perasaan Han siong Kie, diam2 peluh dingin
membasahi tubuhnya.
Air muka Wi It beng sendiripun berubah hebat, tegurnya kemudian-"siapa engkau?"
Manusia berkerudung itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, tangan kanannya perlahan
di ayun kedepan dan tahu2 sebuah tengkorak warna merah sudah muncul di depan mata.
"Haah.. Tengkorak maut?" seru Wi It beng dengan hati tercekat.
Paras muka kelima orang tianglo serta kawanan pengawalpun berubah hebat, mereka tak
mengira kalau Tengkorak maut yang di segani tiap umat persilatan di daratan Tionggoan telah
munculkan diri dalam saat begini.
Di antara sekian banyak orang hanya Han siong Kie seorang yang tahu bahwa tengkorak maut
yang berada dihadapannya sekarang ini tak lebih hanya tengkorak maut gadungan, hatinya
bergetar keras dan paras mukanya terpengaruh oleh emosinya.
Dalam sekejap mata suasana dalam gelanggang berubah jadi hening, sepi dan tak kedengaran
sedikit suarapun-
Ditengah keheningan itulah tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, di susul
seseorang berseru kesakitan.
Dengan sempoyongan Han siong Kia mundur kebelakang, darah segar meleleh terus dari ujung
bibirnya.
Dalam sekejap mata itu pula lencana ok kui cupay telah berpindah tangan, kini benda tersebut
telah berada ditangan tengkorak maut yang lihay itu.
Tindakan dari Tengkorak maut ini sama sekali berada diluar dugaan semua orang, siapapun tak
menyangka kalau tokoh sakti itu sudi merampas ok kui cupay tanda kepercayaan dari Huan mo
kiong.
Paras muka Wi It beng berubah hebat, tubuhnya gemetar menahan emosi.
Jauh2 dari Thian lam menuju daratan Tionggoan, tujuan wi It beng adalah melenyapkan Han
siong Kie serta merampas lencana ok kui cupay yang merupakan tanda kekuasaan dari istana
Huan mo kiong, dan kini dikala lencana tersebut hampir terjatuh ke tangannya. Tahu2 sudah
dirampas oleh Tengkorak maut, bisa dibayangkan betapa gusar dan gelisahnya jago ini.
"Tengkorak maut, hayo serahkan kepadaku benda itu" hardiknya keras2.
"Heehh heehhh heehhh apanya yang serahkan kepadamu?" jengek Tengkorak maut sambil
tertawa seram.
"Apa lagi? tentu saja lencana ok kui cupay tersebut"
"Haahh haahhh haaa... Wi It beng menurut apa yang kuketahui, engkau tak lebih hanya
seorang anggota murtad dari aliran Thian lam dan lagi kedudukanmu sebagai Tee kun sudah
terhapus, memangnya lencana ini masih menjadi milikmu??"
"Tutup mulutmu, Jawab saja, mau diserahkan kembali kepadaku atau tidak ....?"
"Memangnya engkau mampu melakukan sesuatu yang luar biasa atas diriku ini? " ejek
Tengkorak maut.
"Bangsat Rupanya engkau memang sudah bosan hidup," teriak Wi It beng dengan gusarnya.
setelah membuat satu gerak melingkar di depan dada, sepasang telapak tangannya langsung
dilontarkan ketubuh Tengkorak maut, bukan saja cepat sekali serangan itu, bahkan ganas dan
keji.
"Waah.. kalau cuma mengandalkan ilmu kucing kaki tiga seperti ini masih jauh kalau ingin
merobohkan aku"
Tiba2 ia melesat kedepan sejauh dua kaki, kemudian ejeknya dengan nada sinis. . "Wi It beng,
manusia tolol sampai ketemu lain kali..."
Berbareng dengan berakhirnya ucapan tersebut, tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan
yang lebat.
Betapa murkanya Wi It beng ketika ia lihat Tengkorak maut telah berlalu dengan begitu saja, ia
berpaling dan melotot sekejap kearah Han siong Kie dan kelima orang tianglo itu dengan tatapan
benci, kemudian dengan wajah menyeringai ucapnya:
"Baik..baiklah... akan kuselesaikan kalian lebih dahulu sebelum kubikin perhitungan dengan
Tengkorak maut"
Keadaan Han siong kie ketika itu sangat lemah, jangan toh harus bertempur, untuk berdiri
sendiripun sudah tak mampu.
Lima orang tianglo itupun merasa sedih bercampur gusar, kini ketua mereka telah terluka
parah, itu berarti mereka berlima tak akan mampu menghadapi kelihayan wi It beng kendatipun
turun tangan bersama2
Dari sikap musuhnya yang begitu seram, merekapun sudah tahu bahwa musuhnya tak akan
melepaskan mereka berenam dengan begitu saja, asal mereka sudah mati maka perguruan Thian
lam pasti akan terjatuh ketangan manusia biadab ini, itu berarti pula bahwa kejayaan dan
kecermerlangan perguruan mereka harus berakhir sampai disini saja.
Walaupun sadar bahwa kepandaian mereka bukan tandingan lawan, namun mereka tak sudi
menyerah kalah dengan begitu saja, mereka bersiap sedia melakukan perlawanan hingga titik
darah yang penghabisan-
Diiringi bentakan nyaring, kelima orang tianglo itu segera putar toya kepala setannya dan
menerjang Wi It beng dengan ganas.
"Bluuk..." suatu jerit kesakitan terdengar, Liok sau tan terhajar telak oleh serangan itu hingga
mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.
Menyaksikan rekannya mati terbunuh, empat orang tianglo yang lain jadi semakin kalap.
serangan mereka semakin gencar, toya saktinya diputar sedemikian rupa sehingga Wi It beng
benar2 kena dikurung ditengah kepungan.
Kematiam rekan seperguruan yang berlangsung didepan mata membuat keempat orang tianglo
itu benar2 teramat gusar, mereka sudah bertekad untuk beradu jiwa, maka setiap serangan yang
dilancarkan Sebagian besar merupakan serangan adu jiwa yang sangat mengerikan-
Dalam waktu Singkat Wi It beng sudah di bikin keteter hebat dan kalang kabut tidak karuan,
posisinya amat terdesak sedang jiwanya terancam oleh mara bahaya.
Lambat laun Wi It beng jadi naik darah juga, ia tahu jika pertarungan dibiarkan berlangsung
terus dalam keadaan begini, niscaya wibawa dan gengsinya akan merosot.
Suatu ketika ia mendengus dingin, kemudian sambil menerjang kemuka secara beruntun dia
lancarkan delapan buah serangan berantai yang cukup gencar, hanya sesaat saja posisi diatas
angin telah terjatuh kedalam genggamannya.
Jerit kesakitan tiba2 berkumandang lagi memecahkan kesunyian, dalam suatu sergapan kllat,
Seng Thian pau tianglo kedua dari istana Huan mo-kiong ini tak sempat menghindarkan diri dari
serangan. dadanya terhajar telak sehingga ia muntah darah segar, tak ampun lagi tubuhnya
terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa.
Kematian dari rekannya yang kedua ini semakin membuat tianglo lain yang masih hidup jadi
kalap. To It hui tianglo pertama, Ang Pat siu tianglo ketiga dan Sah Jin ho tianglo kelima dengan
mata yang berapi-api dan muka menyeringai seram berulang kali membentak keras ibarat guntur
yang menggelegar di angkasa.
Tiga batang toya baja mereka dengan diputar sedemikian rupa merupakan serangkaian
bayangan serangan yang tajam dan tebal bagaikan awan yang memenuhi angkasa, di iringi
desingan tajam serentak menyergap membabat dan menghantam batok kepala musuhnya.
Ketiga orang tianglo ini sudah mata gelap dibuatnya, mereka jadi nekad dan tak takut mati,
dengan sendirinya serangan yang dilancarkan ketiga orang inipun jauh lebih dahsyat lagi.
Wi It beng tertawa terkekeh2, ia tak pandang sebelah matapun terhadap serangan2 musuhnya,
dikerubuti lima orang pun dia sanggup melakukan pembantaian apalagi sekarang musuhnya
tinggal tiga orang.. secara beruntun dia lepaskan dua belas buah pukulan dahsyat.
Begitu kedua belas buah pukulan itu dilancarkan kemuka, secara beruntun terdengarlah tiga
kali jerit kesakitan menggema diangkasa, dalam waktu singkat dari antara lima orang tianglo yang
gagah berani ada dua sudah mampus dan tiga lainnya menderita luka parah.
suasana untuk sesaat jadi hening dan sepi, kendatipun hawa napsu membunuh masih
menyelimuti seluruh angkasa dengan tebalnya.
Wi It- beng tertawa seram, muka nya menyeringai hingga Kelihatan sangat mengerikan,
selangkah demi selangkah ia maju kedepan menghampiri Han siong Kie.
Betapa gusar, benci dan penasarannya si anak muda itu, saking gelisahnya kembali dia
muntahkan darah segar, pada saat seperti ini dia sudah kehilangan tenaga untuk melawan,
padahal Wi it beng sambil tertawa seram maju semakin mendekat tampaknya kecuali meramkan
mata sambil menunggu tibanya ajal, tiada jalan lain lagi yang bisa dia lakukan. Pada detik2
terakhir inilah bayangan kematian berkecamuk dalam benaknya..
Ia teringat kembali akan dendam berdarah nya yang belum terbalas, perintah gurunya yang
belum terlaksana.
Mati bukan berarti bisa melepaskan diri dari se gala2nya, kalau ia sampai tewas dalam keadaan
demikian, maka dia akan mati dengan sepasang mata tidak terpejam.
sekarang ia mulai menyesal, menyesal apa sebabnya melayani pertarungan itu dengan
kekerasan, andaikata kelima orang tianglonya setelah ditolong maka mereka segera
mengundurkan diri, niscaya tidak beginilah keadaannya ....
Tanpa sadar peringatan dari orang yang ada maksudpun berkumandang kembali disisi
telinganya:
"...jangan lukai orang, setelah menyelamatkan jiwa kelima orang tianglo itu, segeralah berlalu
dari situ.."
Benarkah orang yang ada maksud adalah seorang manusia sakti yang bisa meramalkan semua
kejadian yang belum berlangsung?
sementara itu Wi It beng sudah berhenti kurang lebih lima depa dihadapan si anak muda itu,
telapak tangannya perlahan di angkat keudara dan siap melepaskan pukulan-..
Pada detik itulah dari tempat kejauhan tiba2 melayang tiba dua sosok bayangan manusia.
sangat kebetulan kemunculan bayangan manusia itu, Wi It beng yang telah siap melancarkan
serangannya tiba2 membataikan kembali niatnya dan menurunkan kembali telapak tangannya itu.
Yang munculkan diri ketika itu adalah dua orang kakek berbaju kuning, mereka memiliki
perawakan badan yang tinggi besar dan kekar, sepasang mata nya memancarkan cahaya tajam,
itu menandakan kalau tenaga dalam yang mereka miliki telah mencapai puncak kesempurnaan.
Begitu mencapai permukaan tanah, dua orang kakek baju kuning itu segera memberi hormat
kepada Wi It beng seraya berkata:
"Pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau khusus datang menghunjuk hormat untuk
Tee-kun"
"Kalian berdua tak usah banyak adat" kata Wi It beng sambil putar badannya "ada urusan apa
kalian datang kemari??"
"Hamba mendapat perintah dari kaucu untuk datang menghadap Tee kun, ada suatu masalah
penting yang hendak dirundingkan dengan diri Tee kun" sahut salah seorang diantara kedua orang
pelindung hukum baju kuning itu.
"Persoalan apa yang hendak kalian rundingkan??"
"Berulang kali manusia berwajah dingin menyatroni dan membuat keonaran didalam
perkumpulan kami, hingga detik ini sudah mendekati seratus orang anggota perkumpulan kami
yang telah jatuh korban ditangannya, oleh sebab itu kaucu mengusulkan agar Tee-kun bersedia
menyerahkan orang itu kepada kaucu kami, agar kami bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepada dirinya. ."
"Tentang soal ini. "
Dengan cepat pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Wi It beng, ia tahu bilamana Manusia
berwajah dingin diserahkan kepihak Thian che kau, maka tindakannya ini akan mempengaruhi
nama baik serta kewibawaan perguruannya, akan tetapi diapun merasa segan untuk bermusuhan
dengan perkumpulan itu dalam posisi yang serba tidak menguntungkan ini, toh bagaimanapun
juga tujuannya hanya melenyapkan bibit bencana dari muka bumi ?"
Kini lencana ok kui cui pay dari perguruannya sudah dirampas Tengkorak maut, itu berarti bila
dia hendak mengembangkan pengaruh perguruannya maka ia masih harus meminjam kekuatan
dan bantuan Thian che kau.. "
sesudah mempertimbangkan untung ruginya, diapun mengangguk dan menjawab nyaring.
"orang nya boleh saja kalian bawa pergi, tapi terlebih dahulu aku harus musnahkan dulu ilmu
silat yang dimilikinya"
"Terserah kebijaksanaan Tee-kun"
Han siong Kie masih sadar, dengan sendirinya diapun dapat mengikuti jalannya pembicaraan itu
dengan jelas, meskipun setiap patah kata yang diucapkan lawannya amat menusuk perasaannya,
membuat ia jadi gusar dan dadanya serasa mau meledak. akan tetapi sianak muda itu tak mampu
berbuat apa2, dia hanya pasrah pada nasib belaka.
Dalam pada itu, Wi it beng telah memutar badannya menghadap kembali kearah Han siong Kie.
setelah tertawa seram kata nya.
"Menurut peraturan sepantasnya kalau kusebut dirimu sebagai suheng.. haaahh .haaaahh..
haaahhh.. semoga saja sesaat lagi engkau dapat segera berangkat untuk berkumpul kembali
dengan toa supek dialam baka sana."
"Binatang terkutuk, aku menyesal karena tak bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepadamu!" seru Han Siong Kie dengan penuh kebencian "tapi hmm engkau tak usah keburu
bersenang hati, barang siapa tidak jujur dan tidak setia kepada perguruan, suatu ketika dia pasti
akan mati dalam keadaan mengerikan. percayalah saat ajalmu tidak terlalu lama"
"Heeehhh heeeehhh hheeeehhh suheng, sekalipun saat ajalku sebentar lagi akan tiba, sayang
seribu kali sayang engkau tak dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"sukma cousu selalu melindungi perguruannya, dia tak akan membiarkan engkau hidup lebih
lama.."
"Bangsat lebih baik tutup saja bacot anjingmu." bentak Wi It beng dengan gusar.
Dalam suatu bentakan keras dengan sodokan jari tangannya yang kaku bagaikan tombak ia
menerjang kemuka dan mengancam jalan darah cacad ditubuh sianak muda itu.
"Blaang" ditengah benturan keras yang memekikkan telinga, terdengar wi It beng mendengus
berat, dengan sempoyongan dia mundur lima langkah kebelakang.
sekalipun Han siong Kie sudah menderita luka dalam yang cukup parah namun dengan bakat
alamnya yang luar biasa serta daya tahannya yang kuat, serangan balasan yang dilepaskan dalam
keadaan terluka itu tak bisa di anggap enteng. . .
Bagi Wi It beng sendiri serangan balasan tersebut tak pernah dibayangkan sebelumnya, dia tak
menyangka dalam lukanya, pemuda itu masih sanggup melepaskan pukulan sedahsyat itu
sehabis melancarkan sebuah pukulan dengan menggunakan sisa kekuatan yang dimilikinya itu,
luka yang diderita Han Siong Kie menjadi semakin parah, dengan sempoyongan dia mundur
kebelakang, matanya jadi ber kunang2 dan kepala nya pusing tujuh keliling, darah segar kembali
muntah keluar dari mulutnya.
Dari malunya Wi It beng jadi gusar, sepasang telapak tangannya segera diayunkan berbareng
melancarkan bacokan kilat yang maha dahsyat.
Tiga orang tianglo yang menggeletak dengan menderita luka parah sempat mengikuti jalannya
peristiwa ini dengan jelas, mereka sudah meronta bangun sambil bersiap siap memberikan
pertolongan, tapi serangan lawan dilancarkan terlalu cepat, ketiga orang itu tak bisa berbuat lain
kecuali menjerit kaget
"Tee-kun, harap ampuni jiwanya, kaucu kami membutuhkan dirinya dalam keadaan hidup2"
teriak dua orang pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau hampir bersamaan waktunya.
Tapi sayang jeritannya itu agak terlambat, Di tengah jeritan kesakitan, ibarat layang-layang
yang putus benang, tubuh Han siong Kie mencelat ke udara dan meluncur kebelakang.
Mendadak satu kejadian aneh telah berlangsung didepan mata..
Dikala daya luncur dari tubuh Han siong Kie sudah habis dan badannya hampir menyentuh
tanah, tiba2 entah bagaimana caranya tiba2 tubuhnya melayang kembali keudara dan meluncur
kedalam hutan di tepi jalan raya itu..
semua jago berdiri terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya, semua orang tak mampu
ber-kata2 menyaksikan peristiwa aneh itu, hanya dalam waktu singkat tubuh Han siong Kie yang
kekar sudah melayang ke dalam hutan dan lenyap dibalik pepohonan.
sebagai jago2 silat kenamaan rasa kaget itu hanya sebentar menyelimati hati mereka, dengan
cepat orang2 itu sadar pastilah ada seorang tokoh sakti yang sedang bersembunyi disana. .
Peluh dingin mulai mengucur keluar membasahi tubuh mereka, bayangkan saja dari jarak
sejauh beberapa kaki ternyata tokoh sakti itu mampu menghisap sesosok tubuh yang kekar seperti
itu, bilamana tenaga dalam orang itu tidak sangat hebat, mampukah dia melakukan hal seperti
itu?
Belum lenyap rasa kaget yang menyelimuti hati semua orang, tiba2 pandangan mata nya jadi
kabur dan tahu2 seorang kakek tua yang tinggi besar dengan jubah panjang warna kuning,
berkaki telanjang dan berikat kepala warna perak munculkan diri ditengah gelanggang.
Perawakan tubuh kakek itu sangat tinggi besar, sekilas pandangan se-akan2 sebuah buklt kecil
yang sedang bejalan.
Manusia aneh itu mempunyai sepasang mata yang memancarkan sinar warna hijau, begitu
tajamnya sorot mata orang itu membuat setiap jago yang terpandang oleh nya segera hatinya
bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.
Setelah menjapu sekejap orang-orang itu, akhirnya sinar mata manusia aneh itu berhenti diatas
wajah Wi It beng.
Betapa pemberaninya Wi It beng tak urung mundur juga beberapa langkah ke belakang dengan
badan gemetar keras, dengan pengalaman serta kepandaian yang dimilikinya, ia tahu bahwa
manusia aneh itu bukan manusia sembarangan, ilmu silatnya boleh dibilang sudah mencapai
puncak kesempurnaan yang tak terhingga.
Sementara dia masih melamun, Manusia aneh itu sudah menegur dengan suaranya yang keras
bagaikan geledek:
"Hey bocah cilik, kalau kulihat dari kopiah emasmu, jubah sutramu serta dandananmu yang
tidak genah, tentunya engkau adalah ketua dari perguruan Thian lam bukan?"
"Bee.. betul " jawab Wi It beng dengan tubuh bergetar keras, "akulah ketua kaisar dari istana
Huan mo kiong"
"Apa ? Kaisar ? Haaah haaah haaaah kaisar ? sungguh menggelikan"
Gelak tertawa itu keras sekali membuat seluruh permukaan tanah tergetar keras, pucat pias
wajah kawanan jago yang hadir di situ, mereka merasakan darah panas bergelora dengan
hebatnya didada, bahkan Wi It beng pribadipun merasa jantungnya berdebar keras.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya dengan ketiga orang tianglo yang sedang terluka parah,
kontan mereka jatuh terduduk di atas tanah tak mampu berkutik lagi.
Untungnya manusia aneh itu hanya sebentar tertawa nya, kalau tidak cukup hanya tertawa
tergelak niscaya beberapa orang diantara mereka ada yang terluka parah.
Berdiri semua bulu kuduk digubuh Wi It beng, sambil memberanikan diri dia lantas menegur:
"Bolehkah aku tahu siapa nama besar mu?"
"Haah.. Masa engkau tidak kenal dengan aku?"
"Maaf, aku benar2 tidak kenal siapa engkau"
"Heehhh..heehh..heehh.. ketika aku masih berkelana dalam dunia persilatan, mungkin engkau
masih belum menongol dari rahim ibumu, akulah Hun si Mo ong Raja iblis pengacau jagad, sudah
pernah mendengar namaku ini"
Hun si Mo ong, suatu nama yang cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengarkan,
kontan para jago yang hadir dalam gelanggang merasakan badannya jadi lemas dan tak sanggup
berkutik lagi.
Sejak enam puluh tahun berselang jejak Hun si Mo ong secara tiba2 lenyap dari dunia
persilatan, kendatipun begitu nama besarnya selama puluhan tahun masih membekas dalam hati
setiap umat persilatan, tidaklah heran kalau semua orang masih mengenali nama besar dari tokoh
sakti tersebut.
Jago ini tersohor karena ilmu silatnya yang sangat lihay, perasaan girang ataupun gusar sukar
diketahui orang, dan perbuatannya tak pernah menuju kearah kebaikan ataupun kejahatansemua
perbuatannya hanya berdasarkan perasaan hati sendiri.
Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, jarang sekali ada jago silat yang sanggup
melayani tiga gebrakannya, maka dari itu baik jago dari golongan putih maupun jago dari
golongan hitam pada menaruh rasa jeri kepada nya
Enam puluh tahun berselang, diatas puncak Jit koan hong pada gunung Thay san telah
diselenggarakan suatu pertemuan besar para orang gagah, beratus2 orang jago persilatan kelas
satu yang ada dikolong langit telah berkumpul disana, dikala itu Hun si Mo ong hadir pula disana,
hanya cutup di dalam dua gebrakan ia telah berhasil menghajar mampus jago silat nomor satu
dikolong langit.
Atas kejadian itu para jago yang hadir disana jadi gusar hingga terjadilah pengerubutan secara
massal, akan tetapi dalam seperminum teh saja, mayat telah bergelimpangan bagaikan bukit,
darah berceceran membasahi puncak Jit koan hong...
sejak terjadinya peristiwa pembantaian ini tiba2 jejak Hun si Mo ong ikut lenyap dari peredaran
dunia persilatansungguh
tak disangka setelah menghilang selama enam puluh tahun lamanya, tiba2 Raja iblis
pengacau jagat yang lihay ini muncul kembali didalam dunia persilatan, bahkan turun tangan
menyelamatkan jiwa Manusia berwajah dingin yang terancam bahaya, peristiwa ini boleh dibilang
jauh diluar dugaan siapapun.
Tak seorangpun bisa memahami maksud dari gembong iblis ini, mereka cuma bisa berdiri
melongo sambil memandang orang itu tanpa berkata- kata. suasana jadi hening, sepi tak
seorangpun berani buka suara.
-00d0w00-
BAB 54
SESUDAH termenung beberapa saat lamanya, Hun si Mo ong kembali berkata:
" Enam puluh tahun berselang aku telah mengangkat sumpah, bahwasanya orang lain tidak
mengganggu aku, maka akupun tidak akan mengganggu orang lain. Nah Anggap saja nasib kalian
masih mujur, hayo cepat enyah dari tempat ini"
Hampir saja semua orang tidak percaya dengan pendengaran sendiri, siapa juga tak mengira
kalau Hun si Mo ong yang kejam dan lihay ternyata sudah bertobat dan tidak melakukan
pembantaian lagi.
seakan2 baru saja terlepas dari pintu neraka, kawanan jago itu segera melarikan diri terbirit2
dari sana.
Hun si Mo ong tertawa ter bahak2, menanti kawanan jago itu sudah lenyap dari pandangan,
diapun berkelebat dan lenyap dari pandangan mata.
Tak jauh dari hutan itu, Han siong Kie tampak sedang berdiri sambil bersandar di atas sebuah
dahan pohon-
Tak jauh disampingnya berdiri pula seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari turun
dari kahyangan. dia bukan lain adalah malaikat hawa dingin Mo siu ing. Pada waktu itu Mo siu ing
sedang tertawa ringan sembari berkata:
"Hey, manusia berwajah dingin Ketika berada dihutan penyeberangan pohon liu engkau telah
menyelamatkan jiwaku, dan sekarang aku telah membayar budi kebaikanmu itu, berarti pula kita
sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada siapa"
Han siong Kie sakit hati dan termenung tanpa berkata2, ia tak suka budi kebaikan dari orang
lain, terutama dari kaum wanita, tapi dalam kenyataan berulang kali dia harus menerima budi
kebaikan dari kaum perempuan, hal ini membuat ia habis daya dan tak mampu ber-kata2 lagi.
Melihat sianak muda itu membungkam, Malaikat hawa dingin Mo siu ing kembali berkata:
"Kita hanya berjumpa secara kebetulan saja, kebetulan aku dan guruku sedang berangkat
menuju kebenteng maut, dan ketika kami lewat disini kulihat engkau sedang terancam bahaya.."
"Siapa gurumu?" tanya Han siong Kie agak tertegun.
"Siapa lagi kalau bukan Hun si Mo ong??"
sekali lagi Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa dia teringat kembali
akan peristiwa dimasa lampau dimana Ang Nio cu terancam bahaya setelah dihajar sampai terluka
parah oleh Tengkorak maut gadungan, untung Hun si Mo ong muncul secara tiba2 dia membuat
Tengkorak maut gadungan melarikan diri karena ketakutan.
Ia tak mengira kalau Hun si Mo ong yang ditakuti banyak orang itu ternyata tak lain tak bukan
adalah gurunya Malaikat hawa dingin Mo siu Ing.
"Jadi gurumu adalah Hun si Mo ong ?" tanya pemuda itu lagi dengan nada kurang percaya.
"Benar, engkau tak percaya??"
"Dan kalian hendak menuju ke benteng maut??"
"Tentu saja, kami hendak pergi kesana untuk menolong suamiku "
Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak Han siong Kie, kalau toh Hun si Mo
ong adalah gurunya malaikat hawa dingin Mo siu ing, bahkan dia mampu membuat Tongkorak
maut gadungan melarikan diri ter-birit2, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silatnya pasti
tinggi sekali.
Bagaimana jadinya apabila mereka berangkat ke Benteng maut? Belum tentu Tengkorak maut
yang asli mampu menandingi kekuatan mereka, jika dia sampai mati maka bagaimana dengan
dendam sakit hatinya? bukankah harapannya akan lenyap tak berbekas?
Diam2 pemuda itu jadi panik, saat ini tenaga dalamnya belum pulih kembali jelas tak mungkin
baginya untuk membicarakan soal balas dendam, lalu mampukah dia menghalangi orang lain agar
jangan pergi dulu kesana..?
Tapi dengan cepat ia terbayang kembali betapa lihay dan aneh nya ilmu silat yang dimiliki
pemilik benteng maut. sekalipun tenaga gabungan dua orang tokoh sakti ini terhitung dahsyat,
belum tentu usaha mereka akan mencapai kesuksesan.
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 tampaklah sesosok bayangan
manusia berkelebat lewat, menyusul seorang manusia aneh yang tinggi besar telah munculkan diri
didepan mata.
"Suhu, sudah selesaikah urusanmu?" Malaikat hawa dingin Mo Siu ing segera menegur dengan
wajah berseri.
"Ehmm. Perbuatanku sangat terbatas sekali karena terikat oleh sumpahku, aku tak dapat
membunuh orang lagi, terpaksa kububarkan orang2 itu agar berlalu dari sana"
Sekarang Han siong Kie baru tahu kalau manusia aneh yang berada dihadapannya bukan lain
adalah Hun si Mo ong yang ditakuti setiap orang, ketika diketahuinya peristiwa Wi It beng sekalian
tidak sampai dibunuh mati, pemuda itu bergirang hati karena dengan begitu maka dia masih
punya harapan untuk menjatuhi hukuman yang setimpal kepada penghianat perguruannya itu.
Berpikir sampai disitu, anak muda itu segera maju kedepan dan memberi hormat kepada Hun si
Mo ong seraya berkata:
"Locianpwe, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu ini"
"Haaahhh haaahhh haaahhhjangan kau anggap peristiwa itu sebagai suatu kejadian besar" kata
Hun si Mo ong sambil tertawa tergelak, "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyelamatkan
jiwamu, oleh karena muridku pernah menerima pertolongan darimu dan dia temukan engkau
sedang terancam bahaya maka ia minta bantuanku untuk menolong, jadi anggaplah
pertolonganku bukan lantaran engkau, tapi lantaran permintaan dari muridku ini"
Berbicara sampai disini, diapun berpaling kearah Malaikat hawa dingin Mo siu Ing seraya
berkata:
"coba kau lihat, bocah ini mirip sekali dengan suhengmu Ko Su ki "
"Benar suhu.." jawab Malaikat hawa dingin sedih.
sekarang Han siong Kie baru tahu kalau pada mulanya malaikat hawa panas dan malaikat hawa
dingin adalah sesama perguruan dimana dari saudara seperguruan akhirnya mengikat diri menjadi
suami istri.
"Dia tak akan mati bukan?" terdengar Hun si Mo ong bertanya lagi.
"Tecu telah memberi sebutir Kui goan kim wan kepada nya, tecu rasa jiwa nya tidak terancam
lagi"
"Kui goan kim wan ?" seru Hun si Mo ong cepat," Hey budak cilik, engkau benar2 sangat royal,
tahukah engkau selama enam puluh tahun aku bekerja, hasilku hanya tiga butir pil Kui goan kim
wan tersebut, engkau bukan saja sudah makan sebutir, sekarang kau hadiahkan pula sebutir
kepadanya.. waah, terlalu royal"
Malaikat hawa dingin Mo siu ing tertawa jengah setelah mendengar teguran itu, cepat dia
alihkan pokok pembicaraan kesoal lain: "suhu, sekarang sudah waktunya buat kita untuk
berangkat..."
"Baik..baik.. hayo kita berangkat"
Begitulah, tanpa berbicara lagi dua orang jago silat itu segera berlalu dari hutan tersebut,
dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan-
Han siong Kie sendiripun tak mampu berkata2, dia hanya bisa memandang kepergian dua
orang itu dengan pandangan melongo.
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing yang gemar membunuh manusia ternyata rela menghadiahkan
obat Kui goan kim wan mustika perguruanya untuk menyelamatkan jiwa Han siong kie, terhadap
peristiwa itu pemuda kita merasa keheranan dan benar2 tak habis mengerti.
"Mungkinkah obat ini disebabkan karena Han siong Kie berhasil menemukan kabar berita
tentang malaikat hawa panas Ko su ki ? Mungkinkah seumpama sianak mudaitu mengenangkan
lembali dirinya akan kegagahan dan kegantengan suaminya dimasa lampau?
obat Kui goan kim wan benar2 terhitung sebutir obat yang sangat mujarab, dalam waktu
singkat bukan saja rasa sakit ditubuh sianak muda itu sudah lenyap tak berbekas bahkan hawa
murninya telah menghimpun kembali..
Dalam perkiraan si anak muda itu, sesudah kemunculan Hun si Mo ong yang disegani banyak
orang itu, maka tak akan ada manusia yang berani mendekati wilayah itu, tapi dengan tenang dia
lantas duduk bersila sambil bersemedi . Apa yang terjadi kemudian? Ternyata dugaannya itu keliru
besar.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia dengan langkah yang sangat hati- hati
sedang bergerak mendekati tempat pertapaannya.
Nun jauh dibelakang bayangan manusia itu tampaklah bayangan manusia itu sedang
membuntuti bayangan manusia yang pertama. agaknya kedua orang itu mempunyai maksud dan
tujuan yang berbeda.
Mimpipun Han siong Kie tak menyangka kalau jiwanya waktu itu kembali terancam oleh mara
bahaya, dengan kesempurnaan tenaga dalamnya ditambah pula kemujaraban pil Kui goan kiem
wan, hanya dalam waktu singgkat ia sudah berada dalam keadaan tak sadar, kabut tipis berwarna
putih mulai mengepul keluar dari ubun2nya menciptakan selapis kabut tebal diatas kepala nya.
Bila latihan ini berlangsung setengah jam lagi, niscaya luka dalam yang diderita sianak muda itu
sudah sembuh sama sekali.
Bayangan manusia itu kian lama kian mendekat dan akhirnya ia berhenti dibelakang Han siong
Kie, persis pada jarak jangkauan tangannya, siapakah bayangan itu? Dia tak lain adalah Tengkorak
maut gadungan yang berhasil merampas lencana ok kui cu pay dari tangan Han siong Kie itu.
sementara itu pemuda Han siong Kie masih belum merasakan tibanya malaikat maut yang siap
mencabut nyawanya, ia masih duduk bersemedi sambil menyembuhkan luka nya yang diderita.
Telapak tangan dari tengkorak maut gadungan telah diangkat tinggi2, ia siap melepaskan
serangan mautnya, tapi entah apa sebabnya tiba2 telapak tangan yang telah siap melancarkan
serangan maut itu diturunkan kembali, rupanya ia sedang mempertimbangkan perlukah mencabut
nyawa sianak muda itu.
Jikalau ia menginginkan nyawa anak muda itu, maka dengan suatu gerakan yang amat
sederhana, keinginannya itu pasti akan tercapai, namun dalam kenyataan ia telah membatalkan
niatnya itu, atau mungkin dibalik kesemuanya ini dia mempunyai maksud atau tujuan yang lain
Dalam pada itu bayangan manusia yang lain telah melayang pula mendekati dibelakang
Tengkorak maut gadungan, dengan gerakan tubuh yang enteng ia menyembunyikan diri
dibelakang sebuah pohon yang besar.
Gerak gerik orang itu enteng dan gesit, sedikitpun tidak menimbulkan sedikit suarapun,
malahan Tengkorak maut gadungan yang lihaypun sama sekali tidak merasa kehadirannya. dari
sini dapat dibuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki pandatang itu luar biasa hebatnya.
suasana jadi hening, sepi, akan tetapi napsu memburuh yang tebal telah menyelimuti seluruh
angkasa.
37
Kabut putih yang menyelimuti ubun2 Han siong Kie mulai menipis dan akhirnya lenyap
menyusul mana pemuda itu sadar kembali dari latihannya, baru saja dia akan bangkit berdiri..
Mendadak sebuah telapak tangan telah menempel diatas ubun2nya, menyusul seseorang
membentak dengan suara menyeramkan: "Jangan bergerak!"
Betapa terperanjatnya Han siong Kie, ia merasa sukmanya serasa melayang tinggalkan
raganya, suara itu tidak terlalu asing baginya, sebab ia kenali sebagai suara dari Tengkorak maut
gadungan.
Bisa dibayangkan sampai dimanakah rasa bergidik yang mencekam perasaan hati si anak muda
itu, dalam hati dia lantas berseru. "Mati aku Habis sudah riwayatku kali ini.."
Tengkorak maut gadungan tertawa terkekeh kekeh dengan bangganya, ia berseru:
"Bocah keparat, ada satu persoalan hendak kuajukan kepadamu, aku harap engkau bersedia
untuk menjawab dengan sejujurnya"
Sekalipun jiwanya terancam, akan tetapi Han siong Kie tak mau menyerah dengan begitu saja,
dengan wataknya yang tinggi hati dan angkuh ia tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan
orang, dengan ketus ejeknya sinis:
"Tua bangka sialan, engkau manusia pengecut. Beraninya main sergap dikala orang tidak
bersiap sedia, manusia macam apakah dirimu itu?"
"Haaahhh haaahhh haahh keparat, terserah apa yang hendak kau katakan, pokoknya asal
engkau bersedia menjawab pertanyaanku sejujurnya maka akupun bersedia pula memberi
kesempatan kepadamu untuk melangsungkan suatu pertarungan yang seadil2nya"
"Aku tak sudi dipaksa atau diancam, percuma kalau engkau hendak paksa aku untuk menjawab
pertanyaanmu itu".
"Bocah keparat, engkau jangan tekebur Ketahuilah, bila aku berniat untuk mencabut nyawamu
maka perbuatan ini bisa kulakukan dengan gampang sekali"
" Kalau memang begitu, silahkan saja turun tangan "
" Engkau tak takut mampus??"
"Hmm Aku manusia berwajah dingin tak akan sampai mengemis kehidupan kepadamu"
"Baiklah bocah keparat, anggap saja engkau memang bersemangat jantan, cuma sayang..."
"sayang kenapa??"
"Perguruan Thian- lam akan terputus ditanganmu"
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, ia tahu bila dirinya mati maka perguruan Thian lam
akan hancur berantakan, wi It beng pasti akan berbuat se wenang2 tanpa seorangpun berani
menghalangi perbuatannya itu, dan akhirnya perguruan Thian lam akan musnah dengan
sendirinya.
Pemuda itu jadi sedih dan sakit hati, tapi wataknya yang angkuh membuat anak muda itu tak
sudi tunduk kepada orang lain.
setelah termenung sejenak diapun berseru:
"Tua bangka sialan, engkau tak usah banyak bicara lagi, kalau ingin turun tangan hayo cepatlah
turun tangan"
"Jadi engkau benar2 lebih suka mampus daripada hidup??"
"Aku tak akan mengemis hidup darimu, banyak bicara tak ada gunanya ....mau turun tangan
hayo cepat turun tangan, tak usah banyak bacot lagi."
"Kalau memang begitu yaa sudahlah..."
Han siong Kie tak menggubris lawannya lagi, ia segera pejamkan matanya rapat2..
Tiba2 sekilas cahaya perak memancar ke angkasa, diiringi desingan angin tajam langsung
menyambar kearah pohon besar dihadapannya.
Tengkorak maut gadungan menjerit kaget, mendengar itu Han siong Kie membuka matanya
dan memandang kedepan.
Tampaklah sebuah lencana perak sebesar telapak tangan menempel diatas dahan pohon itu
diatas lencana terukirlah gambar matahari, rembulan dan bintang.
sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya,jeritan ngeri yang menyayatkan hati
kembali berkumandang memecahkan kesunyian. "Blaam sesosok tubuh segera tumbang keatas
tanah dan tak berkutik lagi.
Betapa terperanjatnya Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, ia lompat bangun dan
menengok kesamping, tampaklah Tengkorak maut gadungan sudah menggeletak tak bernyawa
diatas genangan darah. tujuh lembar daun pohon menancap diatas kepalanya membuat kematian
jago ampuh itu tampak mengerikan sekali.
Untuk sesaat sianak muda itu jadi tertegun dan tak mampu berkata-kata..
siapakah yang memiliki kepandaian selihay itu sehingga mampu membinasakan Tengkorak
maut gadungan??
siapa pula pemilik dari lencana perak itu??
Mungkinkah Hun si Mo ong yang telah datang ? Karena sebelum ajalnya bukankah Tengkorak
maut gadungan telah menjerit kaget??
Kecuali tokoh sakti itu, siapa lagi yang mampu membinasakan gembong iblis ini hanya didalam
sekali gebrakan belaka??
Mungkinkah lencana perak itu adalah lambang dari Hun si, Mo ong?
Pelbagai ingatan berkecamuk menjadi satu didalam benaknya, dia merasa tidak sanggup untuk
memecahkan kejadian yang sangat aneh ini, tapi ada satu hal ia merasa yakin, untuk kesekian
kalinya kembali ia lolos dari cengkeraman malaikat elmaut, sekali lagi dia lolos dari kematian
"Nak. apa yang sedang kau lamunkan?" tiba2 suara teguran yang lembut dan penuh kasih
sayang . berkumandang dari tak jauh dari sana.
Han siong Kie terkesiap, dengan cepat la kenali suara tersebut sebagai suara dari orang yang
kehilangan sukma.
"cianpwe, engkaukah itu?" cepat pemuda itu berseru.
"Nak, masa engkau tak dapat mengenali suaraku lagi?"
"sekalipun boanpwe tidak berjodoh untuk menjumpai raut wajah cianpwe, akan tetapi suara
cianpwe sudah membekas dalam benakku, budi kebaikan yang telah cianpwe berikan kepadaku
setinggi bukit dan setebal bumi, selamanya budi kebaikan ini tak akan kulupakan"
"Nak. aku tak suka mendengarkan perkataan2mu yang memandangkan balas budi ini"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah.
"Apakah cianpwe yang telah membinasakan Tengkorak maut gadungan untuk melepaskan
boanpwee dari ancaman bahaya maut??"
"Begitulah kenyataannya"
"Kesempurnaan tenaga dalam yang cianpwee miliki benar2 luar biasa sekali."
"Nak. dugaanmu itu keliru besar, bila tenaga dalamku dibandingkan dengan tenaga dalam yang
dimiliki Tengkorak maut gadungan, maka kepandaianku masih kalah setengah tingkat"
Han siong Kie tercengang dan merasa tak habis mengerti, dengan nada keheranan segera
serunya:
"Tapi..tapi toh kenyataannya dia mati dalam waktu singkat??"
"Dia bukan mati ditanganku, lebih cocok kalau dikatakan bahwa ia mati toh karena lencana
tersebut."
Han siong Kie melongo dan tak habis mengerti, ujarnya lagi: "Mati karena lencana itu ?
Boanpwe merasa tak mengerti.."
"Kemunculan lencana itu membuat konsentrasinya jadi buyar, karena itulah aku manpaatkan
kesempatan yang sangat baik itu untuk membereskan jiwanya..."
"Masa lencana itu memiliki daya pengaruh yang begitu besarnya?"
"Benar nak. engkau tidak percaya?"
"Tentu saja boanpwe percaya, apa mungkin lencana itu adalah lambang khusus milik cianpwe?"
"Bukan, dugaanmu itu keliru besar"
Han siong Kie semakin kebingungan dibuatnya, sesaat kemudian ia baru bertanya lagi:
"Bolehkah boanpwe ketahui apa nama lencana itu?"
"Thian che leng"
"Lencana Thian che? kalau begitu kan lencana ini milik perkumpulan Thian che kau?"
"Dugaanmu tepat sekali, lencana itu memang milik perkumpulan Thian che kau"
"Jadi kalau begitu, Tengkorak maut gadungan menjalankan aksinya karena mendapat perintah
dari pihak Thian che kau?"
"Boleh dikatakan begitu"
"Maksud cianpwe ucapan dari boanpwe ini tidak benar semuanya?"
"Nak. untuk saat ini lebih baik engkau tak usah mengetahui tentang persoalan ini, toh akhirnya
engkau akan menjadi paham dengan sendirinya"
Han siong Kie terbungkam untuk beberapa saat lamanya, tiba2 ia jadi teringat kembali dengan
ibunya, siang go cantik ong Cui ing, ia telah disergap oleh ibunya agar Tengkorak maut gadungan
berhasil melarikan diri, kalau ditinjau dari situ dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Tengkorak maut
gadungan adalah orangnya Thian che kau.
sekalipun begitu, kecurigaan yang mencekam dalam benaknya terasa semakin banyak, maka
kembali ujarnya:
"Aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan sangat tinggi dan luar biasa, masa
manusia selihay inipun rela menjalankan perintah dari orang lain??"
"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, dia memang lihay tapi
diatasnya toh masih ada manusia yang jauh lebih lihay??"
"Aku rasa tenaga dalam yang dimiliki Thian che kaucu tidak lebih tinggi beberapa kali lipat dari
pada kepandaian silat Tengkorak maut gadungan"
"Thian che kaucu yang pernah kau temui itu tidak lebih hanya Thian che kaucu gadungan yang
sengaja menyelimuti pandangan orang lain, kaucu yang asli sama sekali tak berada dalam
perkumpulan"
"oooh.. Tapi apa sebabnya orang ini harus menyaru sebagai tengkorak maut gadungan??"
"Kan sudah kukatakan tadi, ia mendapat perintah dari orang lain"
"Mendapat perintah siapa ? Perintah dari Thian che kaucu ?"
"Nak.. pertanyaanmu sudah terlalu banyak"
"cianpwee menganggap bahwa aku tak pantas mengajukan pertanyaan lagi??"
"Tentang soal ini ada beberapa soal diantaranya dewasa ini tak mungkin bisa kamu peroleh
jawabannya "
"Kenapa??"
"Persoalan ini termasuk pula persoalan yang tak bisa kujawab, harap engkau bisa maklum"
Tak kuasa lagi Han Siong Kie menarik napas dingin, tapi dia pantang menyerah dengan begitu
saja, kembali tanyanya:
"Kalau kutinjau dari dandanan orang yang menyaru sebagai Tengkorak maut ini bukan saja
dandanannya sama bahkan ilmu silatnya juga sama bila dibandingkan dengan yang asli maka dia
cuma kalah dalam soal kesempurnaan, bila dugaanku tak keliru semestinya antara yang asli dan
yang paisu tentu mempunyai hubungan yang sangat erat."
"Nak. aku rasa pembicaraan kita sudab cukup sampai disini dahulu, cepatlah kubur jenasah itu,
makin dalam makin baik sehingga jejaknya tidak ketahuan siapapun "
Dengan perasaan apa boleh buat Han siong Kie memandang kearah mana berasal suara dari
orang yang kehilangan sukma, kemudian mengangguk.
Diapun berjongkok dan mulai menegeledah saku Tengkorak maut gadungan, tapi hanya sesaat
kemudian paras mukanya telah berubah hebat, ia berseru tertahan:
"Nak, apa yang sedang kau cari?" terdengar orang ada maksud bertanya:
"Aku sedang mencari lencana ok kui Cu-pay dari perguruanku "
"Percuma, tak usah kau cari lagi sebab lencana itu sudah tidak ada dalam sakunya lagi"
"Sudah tidak berada dalam sakunya lagi??"
"Benar, benda itu sudah dia serahkan kepada orang lain "
"Maksudmu Thian che kaucu??"
orang yang kehilangan sukma tidak menanggapi pertanyaan itu, tapi kembali berseru:
"Cepatlah turun tangan dan kuburlah mayat itu Jangan sampai meninggalkan jejak."
"Tapi lencana itu merupakan barang mustika yang menyangkut mati hidup perguruanku, bila
cianpwee mengetahui jejaknya, tolong beritahulah kepadaku"
"Tentu saja akan kuberitahukan kepadamu tapi bukan sekarang."
Dengan sedih dan murung Han Siong Kie menghela papas panjang, dalam hati ia merasa
penasaran sekali hingga rasa mendongkolnya sukar dikendalikan, tapi ia tak berani
mengumbarnya . .
Sesudah termenung sejenak, akhirnya dia memghimpun hawa murninya kedalam telapak
tangan kanannya, kemudian dengan sekuat tenaga dibabatkan keatas tanah.
"Blaaang.." pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, sebuah liang sedalam beberapa
kakipun segera terbentuk.
Baru saja liang itu terbentuk, suara dari orang yang kehilangan sukma kembali berkumandang
datang .
"Lepaskan jubah dan kain kerudungnya, hancurkan raut wajah orang itu.."
Han siong Kie agak tertegun, tapi tugas itu segera dilaksanakan tanpa membantah.
Ketika sianak muda itu sudah menyelesaikan tugasnya, suara dari orang yang kehilangan
sukma berkumandang lagi:
"Sekarang hancurkan lambang tengkorak yang ada disakunya itu, kemudian kuburlah bersama
jubahnya diliang yang lain pendam jenasahnya kedalam liang itu, sesudah di uruk dengan tanah,
gusakan ranting pohon untuk menghilangkan jejak yang ada di permukaan tanah."
Han siong Kie sama sekali tidak tahu permainan setan apakab yang sedang dilakukan Orang
yang kehilangan sukma, dlapun tahu kalau banyak bertanya tak ada gunanya maka tanpa
mengucapkan sepatah katapun semua pekerjaan itu dilaksanakan tanpa membantah.
Dalam hati kecilnya dia hanya berpikir terus, darimana asalnya orang yang bernama orang yang
kehilangan sukma ini, ia juga tak tahu mengapa mereka berbuat begitu misterius, mengapa
berulang kali mereka memberi bantuan kepadanya. Ketika semua pekerjaan telah selesai, maka
pemuda itu bertanya lagi:
" Cianpwe, apabila aku ingin tahu darimakah cianpwe mendapatkan benda yang paling
berkuasa dari perkumpulan Thian che kau ini.."
"Ada apa?" tukas orang yang kehilangan sukma.
"Apakah cianpwe tidak bersedia untuk memberikan jawabannya?"
"Tepat sekali tebakanmu itu, untuk sementara satu pertanyaan itu tak bisa kujawab, anggaplah
pertanyaan tersebut belum tiba saatnya bagiku untuk memberitahukan kepadamu. 0oh iya, nak.
bukankah aku suruh engkau berkunjung ke benteng maut? Mengapa engkau tidak pergi ke sana?"
Mendengar pertanyaan itu, kontan saja Han siong Kie merasakan darah panas dalam dadanya
bergelora, api dendam dan benci berkecamuk dalam benaknya membuat hawa napsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya
Tanpa sadar ia teringat kembali akan diri Tonghong-Hui, setelah masuk kedalam benteng maut,
gadis itu tak pernah muncul kembali, menurut perjanjian hal ini menandakan bahwa ayahnya
adalah pembUnuh yang telah membantai keluarganya dimasa silam. Dan tentu saja dia harus
membalas dendam atas terjadinya peristiwa ngeri itu.
Pelbagai ingatan kembali berkecamuk dalam benaknya, dengan sedih bercampur pilu dia
menyahut:
"Cianpwe, aku pasti akan berkunjung kesitu, boanpwe percaya masa bagiku untuk berkunjung
kebenteng maut sebentar lagi pasti akan tiba"
"Kesempatan ? Apa maksudmu?"
"Terus terang kukatakan cianpwe, sebelum berkunjung kesitu boanpwe hendak mempelajari
dahulu sejenis ilmu silat yang maha sakti.."
"Maksudmu, bila ilmu silat yang kau latih itu berhasil kau kuasahi maka engkau akan
berkunjung ke benteng maut untuk melakukan pembalasan dendam..?"
"begitulah maksud boanpwe"
"Nak, dikala aku tak dapat memberitahukan segala sesuatunya kepadamu, aku tak mampu
mencegah engkau berbuat sesuka hatimu, tapi aku ada satu permintaan dan aku harap engkau
tidak sampai membuatku jadi kecewa."
"Ucapan cianpwe terlalu serius, apa yang hendak disampaikan? Katakanlah terus terang" "
"Apabila engkau berkunjung lagi ke benteng maut dan sebelum melakukan pembalasan
dendam, aku minta sampailah dahulu asal usulmu dan ceritakan pula kisah terjadinya
pembantaian berdarah itu dan dimanakah peristiwa tersebut telah terjadi"
"sekalipun cianpwe tidak berpesan begitu boanpwe akan melakukan juga kesemuanya itu"
"Apakah engkau menyanggupi permintaanku untuk melakukannya walaupun berada dalam
keadaan apapun?"
"Boanpwe bersedia"
Meskipun dimulut Han siong Kie lelah menyanggupi, namun hatinya merasa tercengang dan
keheranan sebelum membalas dendam tentu saja dia akan menceritakan dulu sebab musabab
terjadinya peristiwa berdarah itu, tapi mengapa orang yang kehilangan sukma berpesan secara
serius kepadanya? Apa maksud dan tujuannya?
sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi dengan nada
yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Nak. bukankah engkau merasa curiga dan tak habis mengerti? Bukannya aku sengaja berbuat
sok misterius pada hakekatnya terlalu banyak masalah yang tak boleh diungkapkan terlalu cepat,
sebab kalau tidak maka akan mengakibatkan terjadinya peristiwa yang lebih fatal, aku minta
engkau bersabar diri dan menunggu sampai tanggal mainnya?"
"Aku mengerti" sahut Han siong Kie.
-00d0w00-
BAB 55
SESUDAH berhenti sebentar orang yang kehilangan sukma kembali berkata:
"Demi engkau mau tak mau aku harus musnahkan Tengkorak maut gadungan dari muka bumi,
tapi tahukah engkau akibat dari kematiannya itu maka akan timbul pelbagai kejadian yang sukar
diramalkan mulai sekarang. Tahukah engkau didalam perkumpulan Thian che kau masih terdapat
belasan orang jago yang memiliki ilmu silat setaraf dengan kepandaian Tengkorak maut
gadungan."
Diam2 Han siong Kie menjulurkan lidahnya dengan setengah percaya setengah tidak ia berseru:
"sudah beberapa kali boanpwee menyatroni, markas besar perkumpulan Thian che kau akan
tetapi selama ini?"
"belum pernah...".
"Benar, desa ini dalam markas besar perkumpulan Thian che kau memang tidak terdapat jago2
lihay yang terlalu istimewa, tapi tahukah engkau bahwa jago2nya sama sekali tidak berada disitu?
secara beruntun mereka akan munculkan diri didalam dunia persilatan, mungkin juga dunia
persilatan sudah menghadapi saat2 kiamat, tak lama lagi perkumpulan Thian che kau akan
menumpas musuh2nya dan merajai kolong langit..."
"Nak. tugasmu sekarang terlampau berat, aku harap engkau bisa baik2 menjaga diri. Ingatlah
Engkau harus bersabar menghadapi segala persoalan apapun"
Betapapun kukuhnya Han siong Kie, ia merasa terharu juga setelah mendengar perkataan itu,
sepasang matanya jadi merah dan hampir saja air matanya jatuh bercucuran, dengan
bersungguh2 katanya:
"Nasehat dari cianpwe akan boanpwe ingat selalu didalam hati"
"Nak, sekarang engkau boleh berlalu dari sini"
sebenarnya dalam hati kccilnya Han siong Kie masih ada banyak persoalan yang hendak
ditanyakan, akan tetapi pada saat itu dia merasa tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
maka sesudah termenung sebentar akhirnya ia berkata: "Kalau memang begitu, boanpwe mohon
diri lebih dahulu"
"Engkau tak usah melalui jalan raya lagi, diantara lima orang tianglo yang setia kepadamu ada
dua sudah tewas dan tiga orang terluka parah, kini yang tewas sudah dikubur sedang yang luka
sudah pergi, lewatilah hutan sebelah depan sana, lebih cepat berlalu dari sini lebih baik"
Han siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, akan tetapi terhadap orang
yang kehilangan sukma dan putrinya, ia menaruh rasa percaya seratus persen, maka tanpa
membantah lagi sianak muda itu segera berputar kesamping kanan dan siap berlalu dari situ..
"Tunggu sebentar" tiba2 orang yang kehilangan sukma berseru kembali.
" Cianpwe, apakah masih ada persoalan lain yang hendak cianpwe sampaikan kepadaku" tanya
sianak muda itu sambil menghentikan langkah kakinya dan berpaling.
"Hampir saja aku telah melupakan suatu persoalan yang amat penting sekali."
"Ucapkanlah cianpwee, boanpwee akan mendengarkan dengan seksama"
"Apakah engkau sudah mengetahui asal usul Yu sau Kun, ketua muda perkumpulan Thian che
kau yang sebetulnya??"
satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, dia segera bertanya: "Masa dia
benar2 adalah keturunan dari susiokku Telapak naga beracun Thio Lin??"
"Tepat sekali tebakanmu itu, dia memang keturunan dari paman gurumu yang sudah tiada"
"Taa... tapi hal ini mana mungkin bisa terjadi??"
"Kenapa tak mungkin terjadi??"
"Bukankah dia sudah mewakili diriku mati didalam perkampungan keluarga Han?"
"Apakah engkau sudah menemukan jenasahnya??"
"Tentang soal ini.." Untuk sesaat Han siong Kie jadi gelagapan dengan sendirinya, "mendiang
susiokku, Telapak naga beracun Thio Lin yang memberitahukan persoalan ini kepadaku"
"Dia toh cuma tahu kejadian itu sebelum berlangsungnya peristiwa itu, ketika peristiwa
berdarah berlangsung, ia sama sekali tidak hadir dalam gelanggang"
Mendengar perkataan itu, Han siong Kie segera merasakan tubuhnya gemetar keras bagaikan
kena aliran listrik bertegangan tinggi, ia sama sekali tak menyangka kalau asal usulnya serta
peristiwa berdarah yang menimpa keluarganya dapat diketahui oleh orang yang kehilangan sukma
sejelas itu, lalu.. siapa kah sebenarnya orang itu"
Kalau memang orang yang kehilangan sukma telah mengetahui semua kejadian itu bagaikan
memandang jari tangan sendiri, kenapa ia tidak secara langsung membeberkan rahasia ini
kepadanya, tapi malahan suruh dia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya,
apakah maksud yang di kandung orang itu dibalik kesemuanya ini ?
Atau mungkin pemilik benteng maut bukan pembunuh keluarganya dan dibalik semua peristiwa
ini masih ada persoalan lain? "
Kalau memang Tengkorak maut bukan pembunuh keluarganya, mengapa Tonghong Hui tidak
muncul kembali dari bentengnya sesudah masuk kedalam benteng maut? Bukankah mereka telah
berjanji, apa bila majikan benteng maut adalah pembunuhnya maka gadis itu tak akan muncul
kembali..
Makin berpikir ia merasa makin bingung dan makin dibayangkan pikirannya semakin ruwet..
"Nak tak ada gunanya engkau banyak berpikir" terdengar orang yang kehilangan sukma
berkata lagi, "suatu saat engkau pasti akan mengetahui dengan sendirinya apa yang sudah terjadi,
aku hanya berharap agar engkau mengingat selalu bahwasanya Yu Sau kun sebenarnya adalah
Thio Sau kun, dia adalah sutemu, tapi engkaupun musti ingat bahwa rahasia ini hanya boleh
engkau ketahui didalam hati, jangan sekali2 engkau bocorkan dihadapannya, sebab kalau tidak
maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2. Nah, sekarang pergilah"
Dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti, sekali lagi Han siong Kie memandang
sekejap lencana Thian che leng yang tertempel diatas dahan pohon, akhirnya dia menjejakkan
kakinya dan berlalu dari hutan itu.
Lencana ok kui cu pay yang merupakan simbol kekuasaan rtari perguruannya kini telah
dirampas oleh Tengkorak maut gadungan dan oleh Tengkorak maut benda itu sudah diserahkan
pula ketangan orang lain, yang dimaksudkan orang lain pastilah orang2 dari Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, dalam perkumpulan Thian che kau
terdapat belasan orang jago lihay yang setaraf dengan ilmu silat Tengkorak maut gadungan,
bukankah itu berarti bahwa sukar baginya untuk merampas kembali lencana tersebut??"
Berpikir sampai disitu, ia jadi murung dan sedih.
Apa bila lencana mustika perguruannya tidak berhasil dirampas kembali dari tangan musuh,
bukankah itu berarti bahwa ia telah menjadi seorang manusia yang berdosa??"
Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam lamanya, sampailah sianak muda
itu diluar hutan- diapun meneruskan perjalananya melalui jalan raya yang terbentang lebar.
Tujuannya tetap tidak berubah, dia akan mengunjungi lembah berkabut dimana ia dan
Tonghong Hui pernah lolos dari bahaya maut, dia akan menuju ketempat yang terpencil ini untuk
mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam sarung tangan Hud jiu Poo pit, apa bila ilmu sakti itu
berhasil dipelajari maka dia akan mengunjungi benteng maut dan melakukan pembalasan
dendam.
sepanjang perjalanan pemuda ini tiada hentinya memikirkan rahasia yang berhubungan dengan
Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, perkumpulan Thian che kau masih
memiliki belasan jago yang benar2 tangguh, berita ini boleh dibilang sangat mengejutkan siapapun
juga.
Tatkala ia menyatroni wilayah Lian huan tau untuk menolong Go siau bi, beberapa kali ia telah
bertarung melawan Thian che kau, ketika itu ilmu silatnya masih belum mempu melawan
musuhnya, dan ternyata sekarang terbukti bahwa musuh tangguhnya itu hanya seseorang yang
bertugas untuk menyaru sebagai ketua itu, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat
yang dimiliki Thian che kaucu benar2 sukar diukur dengan kata2.
sementara perjalanan masih dilanjutkan, tiba2 dari balik semak belukar ia temukan ada sesosok
tubuh manusia menggeletak disitu, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, ia
berhenti dan menghampiri semak belukar itu.
Ketika diperiksa dengan seksama diketahuilah bahwa orang itu adalah seorang pendekar
pedang yang masih muda dan tampan sekali wajahnya.
Akan tetapi sesudah diperiksa dengan lebih seksama lagi, bergidiklah hatinya Han siong Kie,
ternyata pemuda tampan itu sudah berubah menjadi sesosok mayat.
Jika ditinjau sepintas lalu, orang tak akan menyangka kalau pemuda tampan itu sudah menjadi
mayat, sebab wajahnya begitu segar dan tenang, seakan-akan seseorang yang sedang tertidur
nyenyak.
Han siong Kie merasa keheranan setengah mati, apa sebabnya pendekar muda itu bisa mati
dipinggir jalan tanpa ditemukan sesuatu luka ditubuhnya? Mungkinkah kena serangan jantung?
Disekitar semak belukar itu tidak ditemukan tanda2 bekas pertarungan, dilihat dari wajahnya
jelas pemuda itu bukan mati lantaran sakit ataupUn keracUnan, kejadian ini benar2 mengherankan
sekali..
Maka Han siong Kie menghampiri mayat itu, dengan perasaan ingin tahu diperiksanya sekujur
badan mayat itu, akhirnya sesudah diteliti dengan seksama, ia temukan diatas dada mayat itu
terteralah lima buah bekas jari tangan yang sangat lembut, bentuknya seperti bunga sakura, bila
tidak dia mati dengan seksama, tanda itu pasti tak akan ditemukan.
Han song Kie lebih2 dibuat terperanjat lagi, ditinjau dari bekas kelima buah titik jari itu jelaslah
sudah bahwa disitulah letak sebab musabab kematian dari pemuda itu, sayang pengalaman dan
pengetahuannya terlalu cetek. sehingga ia tak dapat menebak siapakah yang telah melakukan
pembunuhan tersebut.
sesudah ter-mangu2 beberapa saat, akhirnya pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya
kedepan.
Entah berapa li sudah lewat, akhirnya ia temukan dua sosok mayat, sebab kematian mereka
tidak berbeda jauh dengan tanda yang ditemukan pada mayat pertama, dan lagi kedua orang
inipun terhitung pemuda2 tampan yang berusia dua puluh tahunan.
sekarang Han siong Kie baru merasakan betapa seriusnya persoalan itu, pikirnya di hati:
"siapa gerangan yang telah turun tangan sekeji ini?"
Yang aneh ternyata korban2nya adalah pemuda yang masih berusia belasan serta berwajah
tampan.
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya sampailah si anak muda itu didalam sebuah kota kecil.
setelah mencari sebuah rumah makan yang bersih, pemuda itu mencari tempat dan memesan
makanan, dari pembicaraan para tamu yang ada dalam ruangan itu, ia dengar semua orang
sedang dihebohkan oleh pembunuhan dengan tanda bunga bwe.
Han siong Kie tidak memberi komentar apa2, ia cuma mendengarkan sambil bersantap. sayang
tiada sesuatu tanda yang berhasil ditemukan olehnya dari pembicaraan itu.
sementara suasana masih gaduh dan ramai oleh pembicaraan para tamu, mendadak suasana
jadi hening dan sepi, begitu sepinya sehingga terasa aneh sekali. Han song Kie tercengang, dia
segera menengadah..
Kiranya seorang gadis yang amat cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan sedang
berjalan masuk kedalam ruangan itu, dipandang dari bayangan punggungnya, anak muda itu
segera kenali dirinya sebagai cucu perempuan dari Pat lo sianseng, Go siau bi adanya.
Kemunculan Go siau bi yang secara tiba2 ini sangat mencengangkan hati si anak muda itu, dia
hendak menyapa, tapi sebelum sepatah kata sempat meluncur keluar dari mulutnya, ia lihat ada
dua orang pemuda tampan ikut duduk disampingnya, maka niat untuk berbicarapun segera
dibatalkan.
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, ia benar2 dibikin keheranan oleh
kemunculan gadis itu.
sementara dia masih melamun, gelak tertawa yang amat merdu dan penuh dengan daya tarik
berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul gelak tertawa yang lain menggema pula dari
mulut kedua orang pemuda itu.
Han siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, ia makin keheranan lagi, ia tak menyangka Go
siau bi bisa berkumpul dengan pemuda bergajul macam begitu.
Dua orang laki2 seorang wanita muda itu bergurau sambil tertawa tergelak. sikap mereka
bukan saja begitu berani bahkan sama sekali tak ambil pusing kalau disitu masih ada tamu lain,
ternyata tak seorang tamu pun yang berani buka suara untuk menegur.
Han siong Kie memang membenci kaum wanita, tapi Go siau bi pernah melepaskan budi
kebaikan kepadanya. maka ia tak mau mencampuri urusan gadis itu sebelum duduknya persoalan
diketahui dengan jelas.
Mendadak...satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dia teringat kembali akan ketiga sosok
mayat pemuda yang ditemuinya ditepi jalan siang tadi, tak kuasa lagi sekujur badan nya
merinding, jangan-jangan
"siangkong, tambah arak?" terdengar pelayan menegur dengan suara yang lirih. Han siang Kie
melirik sekejap kearah pelayan itu lalu mengangguk.
"Tambah dua canting"
Pelayan segara menuang dua canting arak kedalam teko yang ada dimeja, menggunakan
kesempatan itu cepat Han siong Kie bertanya: "siapakah dua orang pemuda yang berada disana
itu?"
Pelayan itu kelihatan terperanjat, sambil menjulurkan lidahnya ia menyahut dengan lirih:
"Mereka dinamakan Kim kiam siong ing (sepasang pendekar pedang emas) murid partai Go bi,
siangkong Lebih baik jangan banyak bertanya, sebab kedua orang itu adalah sau cengcu dari
perkampungan Go hau san eng, terlalu besar asal usulnya". Berbicara sampai disitu buru2 ia
berlalu dari sana.
Han siong Kie tidak berbicara apa2 lagi, ia tundukkan kepalanya sambil minum arak.
Kurang lebih setengah jam kemudian, Go siau bi dan Kim kiam siang ing baru berlalu dari sana.
Cepat Han siong Kie membayar rekening nya dan ikut keluar dari rumah makan itu, ternyata
bayangan tubuh ketiga orang itu sudah lenyap tak berbekas.
Han siong Kie tertegun, tapi sesudah berpikir sebentar buru2 ia membeli rangsum kering,
kemudian berlari keluar dari kota tersebut.
satu Li baru lewat dari tepi jalan ia temukan dua sosok mayat menggeletak disitu ketika mayat
tersebut diperiksa dengan seksama, siapa lagi mereka kalau bukan Kim kiam siang ing yang belum
lama berselang baru saja tinggalkan rumah makan.
Tubuh mereka tidak terluka ataupun mengucurkan darah, cuma diatas dada masing2 orang
terteralah sebuah cap jari tangan berbentuk bunga sakura.
Betapa terperanjatnya hati Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sekarang ia dapat
membuktikan bahwa pembunuhan2 keji itu kiranya dilakukan oleh Go siau bi, akan tetapi apa
sebabnya ia bantai pemuda2 tampan itu?
Dengan perasaan tak habis mengerti pemuda itu gelengkan kepala berulang kali, akhirnya ia
melanjutkan perjalanannya kembali kedepan.
senja itu, ketika sang surya baru condong kesebelah barat, sampailah pemuda itu disuatu
tempat kurang lebih sepuluh li dari lembab In.wu.kok..
sementara si anak muda kita masih melanjutkan perjalanannya, mendadak dari balik
pepohonan tak jauh darijalan raya terdengar seorang gadis sedang tertawa cekikikan.
suara tertawa itu amat menusuk pendengaran, hal ini segera memancing perhatian sianak
muda itu, tanpa berpikir panjang Han siong Kie segera meluncur kearah depan.
Melalui celah2 pepohonan yang lebat, ia saksikan ada sepasang muda mudi sedang duduk
saling berhadapan, yang laki2 berwajah amat tampan dan berusia tujuh delapan belas tahunan,
sedang yang perempuan tak Iain adalah Go siau Bi.
Pada waktu itu dengan muka yang genit dan kerlingan mata yang menggiurkan Go siau bi
sedang main mata dengan sianak muda itu kemudian terdengar ia bertanya dengan manja:
"cantikkah wajahku ini?"
"Cantik,. cantik sekali, kecantikan wajahmu ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan"
sahut sipemuda itn dengan wajah terkesima.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Aku tak pernah berbohong, setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata2 yang sejujurnya
dan aku rasa nona pasti mengetahui sendiri bukan akan hal itu"
"ooh benarkah begitu? Ehmm. lalu apakah engkau mencintai diriku..??"
"Tentang soal ini.... tentang soal ini...." pemuda itu tampak gelagapan jadinya.
"Eeh, jangan soal ini soal itu, kalau tidak mencintai aku mengapa engkau ikuti diriku sampai
disini??"
"Apa bila nona bersedia menerima perhatianku ini, cay he... cayhe merasa sangat beruntung
sekali hidupku ini"
Go siau bi mengerdipkan sepasang matanya yang jeli kemudian sambil meliuk-liukkan
pinggulnya ia berkata genit:
"Engkau anggap wajahku cantik maka jatuh cinta dalam pandangan yang pertama. sebaliknya
ada orang yang sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap diriku, bahkan tertarikpun
tidak, coba bayangkan saja manusia macam apakah dia itu?"
"Kalau benar2 ada manusia semacam itu, sepantasnya kalau orang itu dikatakan sebagai
seorang laki2 yang punya mata tak berbiji"
"Hiiihh hiiihh hiihhh memang hebat sekali pandanganmu itu" seru Go siau bi sambil tertawa
eekikikan.
Mendadak telapak tangannya maju ke muka, kelima jari tangannya dengan lembut segera
diayunkan kearah dada pemuda itu.
Terbelalak sepasang mata anak muda itu, ia menjerit tertahan: "Nona .."
Kato nona belum habis diucapkan, tubuhnya sudah menjadi lemas dan terkapar di tanah tanpa
mengeluarkan sedikit suara pun pemuda itu sudah menemui ajalnya.
Han siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan benar2 naik darah, untuk mencegah
perbuatannya jelas tak mungkin, seluruh tububnya gemetar keras menahan emosi.
"Sungguh kejam perempuan ini, hatinya lebih kejam dari pada seekor ular beracun.." pikirnya
dihati.
Tanpa sadar pemuda itu terbayang kembali akan ibunya, siang go cantik ong cui ing yang
kejam dan tak kenal ampun.
Mereka sama2 cantiknya, sama2 kejinya, tanpa sadar rasa benci dan muak timbul dalam
benaknya, ia siap melompat keluar dari tempat persembunyiannya..
Paras muka Go siau hi dingin menyayatkan, sebelum sianak muda itu sempat munculkan diri, ia
sudah berpaling dan mendengus dingin.
"Manusia berwajah dingin, sekarang engkau boleh segera munculkan dirimu.."
Betapa terperanjatnya Han siong Kie menghadapi kejadian tersebut, mimpipun ia tak
menyangka kalau tempat persembunyiannya telah diketahui lawan, dari sini dapatlah diketahui
bahwa selama beberapa waktu belakangan ini, ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan,yang
amat pesat.
Dengan muka hijau membesi menahan amarah yang meluap. dia lompat keluar dari tempat
persembunyiannya, kemudian menegur dengan kasar:
"Nona Go, mengapa engkau lakukan pembunuhan sekeji ini?"
Rasa sedih melintas diatas wajah Go siau Bi, tapi sesaat kemudian dengan wajah benci dan
mendendam ia berseru:
"Aku rasa persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik tak usah
kau campurinya"
"Nona, kunasehati dirimu lebih baik jangan bertindak kelewat kejam, karena perbuatan
semacam itu sama sekali tiada manfaatnya bagimu"
"Haaahh..haaahh..haaahh.. mau apa kau hey manusia yang bernama Han siong Kie? Engkau
merasa tidak terima dengan perbuatan yang kulakukan ini?"
"Benar, aku memang mempunyai maksud begitu"
"Lalu apa yang hendak kau lakukan atas diriku ini?"
"Hmm Akan kubunuh engkau untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan" jawab
Han siong Kie dengan hawa napsu membunuh yang amat tebal.
"Huuh, engkau hendak membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil mencibirkan bibirnya dengan
sinis.
"Benar, akan kubunuh dirimu"
" Kalau memang begitu, kenapa tidak segera turun tangan "
"Bila kita bertemu sekali lagi dimasa mendatang,jiwamu pasti akan kucabut."
Go siau bi tertawa tergelak, dengan wajah sinis sekali dia mengejek: "Kenapa tidak kau lakukan
sekarang juga?"
"Memandang diatas wajahmu dimana engkau pernah melepaskan budi kebaikan kepadaku,
kuampuni jiwamu untuk kali ini "
Go siau bi tak dapat menahan diri lagi, ia menengadah dan tertawa tergelak dengan seramnya,
gelak tertawa itu penuh mengandung perasaan sedih, pedih dan perasaan lain yang sukar
dilukiskan dengan kata2, lama sekali ia baru berhenti.
Paras mukanya berubah jadi dingin menyeramkan, hawa napsu membunuh menyelimuti
seluruh wajahnya, dengan suara keras dia membentak:
"Han siong Kie, nonamu justru sedang mencari engkau, mengertikah engkau..?"
"Mencari aku? Mau apa engkau mencari aku ?"
"Aku hendak membunuh dirimu, kalau bukan begitu mengapa kubiarkan engkau mengikuti aku
dari rumah makan sampai kemari haaaah.. haaah.. haaahhh... ketahuilah. aku sengaja memang
mengatur kesemuanya ini agar engkau bisa terpancing kemari"
sekarang Han siong Kie baru tahu bahwa Go siau bi telah mengetahui jejaknya ketika masih
berada dirumah makan tadi, maka dengan ketus segera tegurnya: "Jadi engkau hendak
membunuh aku??"
"Benar, dan sekarang juga pembunuhan ini akan kulaksanakan"
"Kenapa engkau hendak membunuh aku?"
"Karena aku benci padamu"
"Perbuatanku yang manakah yang telah menimbulkan rasa bencimu terhadap aku?"
"Sudah, pokoknya engkau tak usah banyak bicara lagi, ini hari juga nyawamu akan kucabut"
Han siong Kie menyengir sinis.
"Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu?" ejeknya.
"Engkau tidak percaya? Bagus, mari kita buktikan bersama."
Bersamaan dengaa selesainya perkataan itu, tiba2 telapak tangannya diayun kedepan kelima
jarinya dengan disertai desingan angin tajam langsung menyerang kedepan.
Dengan gerakan Cahaya kilat lintasan bayangan Han siong Kie segera berkelit ke samping,
serunya lantang:
"Mengingat budi kebaikanmu dimasa lampau, aku akan mengalah satu jurus untuk...."
"siapa yang suruh engkau mengalah kepadaku?" teriak Go siau bi dengan penasaran.
Telapak tangannya segera diputar balik keatas, selapis cahaya hijau yang tebalpun dengan
cepat membumbung keangkasa dan meluncur kedepan. Betapa tercekatnya perasaan hati Han
siong Kie, tanpa kuasa lagi dia berseru keras: "Aaaah...ilmu pukulan Thian-tok hoa ciang.
Haruslah diketahui, ilmu pukulan Thian tok cang hoat adalah semacam ilmu pukulan darijaman
dahulu kala yang amat dahsyat, apabila pukulan tersebut menyentuh sesuatu benda, maka daya
tahannya makin besar maka daya pentalnya ikut bertambah kuat, jangankan Han siong Kie
malahan Tengkorak maut gadungan yang memiliki ilmu silat lebih lihaypun dibuat tak berdaya oleh
kehebatan pukulan itu
38
Tentu saja Han Siong Kie juga mengetahui akan lihaynya pukulan tersebut, akan tetapi dia tak
sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan seorang gadis muda, maka dari itu dia segera
menghimpun kekuatan yang dimilikinya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut dengan
keras lawan keras.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan sianak muda itu, sebelum
pukulan mereka saling beradu satu sama lainnya, mendadak Go Siau bi menarik kembali
serangannya dan bergeser mundur dua langkah kesamping.
Tampaknya ilmu silat yang dimiliki gadis itu sudah mencapai taraf pengendalian secara
sempurna, menyaksikan kehebatan lawannya Han Siong Kie makin terkesiap, disamping itu diapun
makin keheranan oleh tindak tanduk lawannya yang aneh. Karenanya sambil menarik pulang
serangannya dia lantas menegur: "Eeeeh...kenapa kau tarik kembali serangan mu??"
"Aku kuatir engkau tak sanggnp untuk menerima pukulanku ini."
"Bukankah engkau mengatakan hendak membunuh diriku?" tanya anak muda itu dengan cepat.
Pertanyaan tersebut seketika membuat paras muka Go siau Bi kembali berubah hebat, ia
mendengus dingin, tanpa berbicara lagi ilmu pukulan Thian tok clang hoat sekali lagi dilontarkan
kedepan.
Han Siong Kte menggertak giginya menahan diri, sambil mengerahkan sisa kekuatan yang
dimiliki ia tangkis datangnya serangan tersebut.
"Blaaang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga menggelegar diseluruh angkasa,
diiringi dengusan berat secara beruntun Han siong Kie mundur delapan depa ke belakang, darah
segar sempat meleleh keluar menodai ujung bibirnya.
Tengkorak maut gadungan yang lihaypun jatuh kecundang ditangan gadis ini, apalagi Han
siong Kie yang lebih cetek ilmu silatnya tentu saja dia bukan tandingan sang gadis manis itu.
Put lo sianseng memang lihay dan hebat, terbukti dalam waktu singkat ia berhasil menciptakan
seorang tokoh sakti yang begini hebatnya, bila diceritakan orang lain belum tentu mau
mempercayainya.
Berhasil dengan memukul mundur Han siong Kie, dengan suara gemas dan penuh kebencian
Go siau bi berkata:
"Manusia bermuka dingin, bukan saja wajahmu dingin, darahmu juga sudah membeku, kau
manusia yang tak punya perasaan. Nah, rasain lagi beberapa buah pukulanku" sambil membentak
nyaring, untuk kesekian kalinya dia lancarkan pukulan maut ke depan.
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan peringatan dari orang yang kehilangan sukma, dalam
hati pemuda itu lantas berpekik, "Aku tak boleh mati"
Dengan suatu gerakan yang manis dan lincah ia menghindarkan diri dari serangan maut lawan,
berhasil dengan kelitannya. sebuah jari tangan segera direntangkan lebar dan serentak menyentil
kemuka.
sepasang telapak tangan Go siau Bi bergetar kian hebat, tenaga pukulanpun semakin menebal
membuat hawa hijau hampir menyelimuti seluruh pemukaan tanah.
"criiit. criiing.." ditengah desingan angin tajam ilmu sentilan Tong kim ci yang ampuh dan tak
terkalahkan itu ternyata dapat dihajar sampai buyar oleh kekuatan lawan.
Rasa kaget yang dialami Han siong Kie sukar dilukiskan lagi dengan kata2, mimpipun ia tidak
menyangka kalau ilmu jari Tong kim ci yang paling diandalkan ternyata sama sekali tak mempan
untuk digunakan menghadapi pukulan Thian tok ciang hoat.
Hampir saja tak percaya dengan apa yang terbentang didepan mata, sebab peristiwa ini
memang tak pernah diduga olehnya.
"sambutlah sebuah pukulanku lagi. " bentak dara itu lagi dengan lantang.
Ditengah bentakan nyaring, hawa hijau yang tebal dan menyilaukan mata dengan dahsyatnya
menggulung tubuh lawan.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Han siong Kie, dengan ilmu cahaya kilat
lintasan bayangan tubuhnya mendesak maju kedepan, lalu dengan jurus Mo tiong ko ciat ( raja
iblis menyembah loteng istana) ia hajar Go siau bi dengan mengerahkan segenap tenaga dalam
yang dimilikinya.
Go siau bi tertawa dingin, sekalipun hebat dan luar biasa seranganpemuda itu namun bagi
pandangannya serangan tersebut tak ada artinya, ia berkelebat lewat dari serangan itu dengan
gerakan bagaikan sukma gentayangan, lalu sambil melepaskan lima buah pukulan berantai,
teriaknya keras:
"Manusia bermuka dingin, hari ini kau harus mampus"
Memang dahsyat dan ganas kelima buah serangan itu, angin pukulan segera men-deru2
membikin hati orang jadi keder dan ngeri rasanya..
Terdesak oleh lima buah pukulan berantai yang maha dahsyat itu, Han siong Kie terdesak hebat
dan harus mundur berulang kali ke belakang..
Go siau bi tak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk tukar napas, selesai dengan lima
buah pukulan yang pertama, ia susulkan pula dengan lima buah pukulan berikutnya.
Menghadapi desakan demi desakan yang tiada habisnya, lama kelamaan Han siong Kie jadi
penasaran juga, kali ini dia tidak menghindar ataupun berkelit, dengan sistim adu nyawa dia
sambut kelima buah pukulan itu dengan gerakan keras lawan keras.
Tergetar perasaan Go siau bi setelah menyaksikan kenekadan sianak muda itu, tapi apa mau
dikata pukulan sudah terlanjur dilancarkan , maka sambil gertak gigi ia lepaskan pukulan mautnya.
"Blang Blang " dua kali dengusan dingin menggema memecahkan kesunyian, menyusul dua
sosok bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya.
Kedua belah pihak sama2 terlempar kebelakang dengan sempoyongan, keadaan Go siau bi
masih mendingan, sekalipun darah meleleh di ujung bibirnya dan mukanya pucat pias tapi
keadaannya masib agak segar.
Berbeda sekali dengan Han siong Kie, ia harus muntah darah berulang kali, jelas isi perutnya
sudah terluka parah.
Dengan wajah menyeringai seram dan mata saling melotot penuh kegusaran, kedua belah
pihak berdiri berhadapan.
Untuk sesaat suasana dalam gelanggang jadi sepi dan hening, sunyi bukan berarti hawa nafsu
membunuh telah lenyap begitu saja, malahan setiap saat darah segar mungkin akan membasahi
lagi seluruh permukaan tanah.
Diantara lima buah pukulan yang dilancarkan Han siong Kie, ada tiga buah yang bersarang
ditubuh lawan, sebaliknya ia sendiri menerima empat buah pukulan dari musuhnya.
sebagaimana diketahui, pukulan yang dilancarkan Go siau bi mengandung hawa sakti Thian tok
sinkang yang maha dahsyat, tak heran kalau sianak muda itu menderita luka yang jauh lebih
parah daripada anak dara itu.
Mereka pernah saling tolong menolong, pernah hidup sengsara bersama bahkan Go siau bi
pernah menggunakan tubuhnya sebegai tameng untuk menyelamatkan jiwa Han siong Kie dari
ancaman Tengkorak maut gadungan, karena peristiwa itu hampir saja jiwanya melayang.
Ia telah jatuh cinta kepadanya, telah bersumpah didepan pusara ayahnya, kecuali dengan
pemuda ini dia tak akan kawin dengan siapapun juga"
Tapi kenyataannya, yang satu ada hasrat yang lain tak berminat, tumpuan harapan yang
terlintas dalam benaknya selama ini hancur dan musnah dengan begitu saja.
Kini dengan taruhan nyawa mereka saling bertempur, berusaha saling merobohkan musuhnya
dan bila perlu sekalian membinasakannya... Inikah takdir? Inikah yang dinamakan nasib.?
Cinta dapat membuat seseorang jadi sukses tapi dapat pula menghancurkan karier seseorang,
membuat watak seseorang berubah seratus delapan puluh derajat.
Dan kini Go Siau bi telah berubah ....bukan saja perubahan itu tak dipercaya oleh Han siong
Kie, bahkan dara itu sendiri juga tak kenali dirinya sendiri lagi.
Hawa napsu membunuh yang tebal masih menyelimuti seluruh wajah Go siau bi, selangkah ia
maju kedepan mendekati Han siong Kie yang berada dihadapannya.
suasana tercekam oleh ketegangan dan kengerian, sorot mata serta perhatian semua orang
sama-sama ditujukan kearah Go siau bi yang sedang maju kemuka.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Han siong Kte, ia tahu bila dirinya cuma berpeluk
tangan belaka, sehingga dara itu keburu menyerang dulu dengan Thian tok ciang hoatnya yang
lihay, niscaya jiwanya akan terancam bahaya. satu ingatan lantas melintas dalam benaknya:
"Daripada aku menanti datangnya elmaut, kenapa tidak kuserang dulu perempuan sinting itu?"
sambil membentak sepasang telapak tangannya diayun kedepan melancarkan babatan maut.
-00d0w00-
BAB 56
PUKULAN itu dilepaskan dalam keadaaa marah bercampur penasaran, bisa dibayangkan betapa
dahsyat dan luar biasanya pukulan tersebut.
Go siau bi melambung keangkasa, setelah melayang sejauh delapan depa, sekali lagi badannya
melejit kedepan kemudian menerobos masuk dari sisi Han siong Kie dan melayang turun lima depa
disamping pemuda itu.
Baik dalam menghindar maupun sewaktu melancarkan serangan, semua gerakan dilancarkan
dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Melihat ancamannya mengenai sasaran yang kosong, Han siong Kie membuyarkan pukulannya
ditengah jalan, badannya miring kesamping lalu berputar kencang, telapak tangan kiri dan ujung
jari tangan kanan sekali lagi melepaskan serangan maut kedepan.
Kabut hawa berwarna hijau seketika menyelimuti seluruh angkasa, pada saat yang bersamaan
Go siau bi melepaskan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat. Dentuman keras mengiringi
benturan dua kekuatan yang saling berlawanan itu.
Dengan sempoyongan Go siau bi mundur beberpa langkah, sedangkan Han siong Kie
mendengus tertahan dan muntah darah segar, badannya terlempar sejauh satu kaki lebih dari
tempat semula,
Go siau bi menerjang lagi kedepan dan berdiri dibelakang Han siong Kie, telapak tangannya
diayun tepat mengarah jalan darah Thian leng hiat diatas kepalanya, asal pukulan itu dilancarkan
niscaya Han siong Kie akan mampus dengan keadaan mengerikan.
"Heeehhh....heeehhh....heeehhh .. manusia she Han, apa yang hendak kau ucapkan lagi
sebagai kata-kata akhirmu" ejek dara itu dengan ketus.
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, sambil menggertak gigi jawabnya: "Tak ada katakata
lagi, mau turun tangan hayolah cepat turun tangan."
"sungguh tak ada pesan terakhir"
"Ada Aku hanya ada sepatah kata saja. yakni siapa yang menanam buah pahit dia akan
menerima pula akibatnya."
"Apa kau bilang? Heeehhh..haaahhh. haaahhh.." dara itu bagaikan orang sinting tertawa
nyaring, suaranya keras dan mengerikan membuat siapapun jadi bergidik.
" orang she Han, terus terang kuberitahukan kepadamu" serunya lagi, "aku telah tahu bahwa
peristiwa macam hari ini cepat atau lambat pasti akan terjadi, tapi kau musti ingat, sebelum ajalku
tiba, semua pria tampan yang ada dikolong langit akan kubunuh semua, tak akan kubiarkan
manusia-manusia ganteng bikin keonaran lagi di kolong langit..haaahhh..haaahhh..haaahhh."
Ditengah gelak tertawa yang kalap menyerupai orang sinting, terselip hawa napsu membunuh
yang benar-benar mengerikan.
Gusar nian Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, ia sadar dengan tenaga dalam yang
dimiliki Go siau bi sekarang, apa yang diucapkan bisa jadi benar-benar dilaksanakan, dan jikalau
apa yang di ancam benar-benar dilaksanakan maka suatu badai pembunuhan yang mengerikan
tak terelakkan lagi.
"Go siau bi" serunya kemudian dengan gemas. "sayang aku tak dapat membinasakan engkau
dengan tanganku sendiri"
"Haaahhh ....haaahhh....haaahhh..dan aku... aku gembira sekali, karena hari ini akan kubunuh
engkau dengan tanganku sendiri."
"Hmm Tak usah banyak bicara lagi. kalau ingin turun tangan hayolah cepat turun tangan"
"Kenapa musti buru-buru mati? Bagaimana dengan adik Hui yang pernah berkorban demi cinta
kasihnya kepadamu? Mungkinkah dia akan datang lagi kemari untuk mendirikan batu nisan
untukmu.."
satu ingatan melintas dalam benak Han siong Kie, sekarang ia tahu bahwa Go Siau bi telah
mempunyai niat untuk membinasakan dirinya. .
"Hehhh...heeehhh..heehhh... engkau tak usah merisaukan tentang dirinya, ia telah berangkat
mendahului diriku" ejeknya sambil tertawa dingin.
"Apa? Dia sudah mati?" seru Go siau bi dengan wajah tertegun.
"Hmm Kenapa? Kau merasa kecewa?" ejek sang pemuda. Air muka Go siau bi beberapa kali
berubah hebat, tiba2 hardiknya keras- keras:
"Han siong Kie, inginkah kau mengetahui sebab musabab sehingga aku berniat membinasakan
dirimu??"
"Aku rasa tak perlu"
"Jadi engkau telah paham?"
"Aku tak ingin memahami persoalan itu, kalau ingin membunuh silahkan turun tangan"
"Jadi engkau sama sekali tidak menyesal??"
"Haaah haaah haaaahh Han siong Kie tak kenal arti menyesal"
Telapak tangan Go siau bi mulai gemetar, rasa cinta dan benci amat mendalam hatinya dia
ingin membunuh pemuda ini lantaran dia gagal mendapatkan cinta kasihnya, maka membenci
pemuda itu, malahan membenci pula setiap pemuda tampan yang sebaya dan setanding dengan
anak muda ini.
Tapi..benarkah dara itu tega untuk membunuh kekasih hatinya ? Air mata mulai bercucuran
membasahi seluruh wajahnya.
Lama ..lama sekali suasana tetap hening, dengan tak sabar Han siong Kie menghardik:
"Hey, kenapa engkau tidak turun tangan??" Tiada jawaban tiada gerakan.
Karena tak sabar pemuda itu akhirnya bangkit dan memandang kemuka, tampaklah selembar
wajah yang murung, sedih dan penuh dengan air mata terbentang didepan mata, wajah itu sayu
dan sama sekali tiada bekas hawa napsu membunuh yang sadis.
"Itulah perempuan.... itulah namanya perempuan" pikir Han siong Kie dihati, hanya hati
perempuan yang gampang berubah, hanya sikap perempuan yang mudah jadi sedih.." sindirnya
kemudian dengan suara yang dingin dan tak enak didengar:
"Bukankah kau ingin membunuh aku? Kalau ingin membunuh, hayolah cepat laksanakan, kalau
tidak... maaf kalau aku akan berlalu dari tempat ini."
"Tunggu sebentar" tiba-tiba dara itu membentak
"Ada apa lagi?"
Disekanya air mata yang membasahi pipinya, lalu Go siau bi berseru ketus:
"Aku toh tak pernah mengatakan bahwa aku tak akan membunuh dirimu? Kenapa kau hendak
pergi?"
"Kenapa tidak cepat turun tangan ? Hayo, kalau ingin bunuh aku bunuhlah sekarang juga"
"sebelum kubantai dirimu, terlebih dahulu ada beberapa patah kata hendak kuterangkan lebih
dulu, aku harap engkau dengarkan kata2 ku ini dengan sebaik baiknya."
"Katakanlah cepat"
Perlahan Go siau bi menundukkan kepalanya karena hati yang pedih, selang sesaat kemudian ia
menengadah kembali, tampaknya dara ini telah mengambil keputusan: Katanya dengan penuh
emosi:
"Han siong Kie, masih ingatkah engkau tatkala tubuhmu tercebur kedalam sungai dan aku
berhasil menolong dirimu kemudian selama tiga hari kurawat kau sebaik-baiknya..."
"Toh sudah kukatakan, tiap budi kebaikan yang pernah kuterima, suatu ketika pasti akan
kubalas?" tukas sianak muda itu dengan nada tajam.
" Kedua kalinya, ketika aku dilukai oleh pengawal istana Huan mo kiong, engkau membawa aku
menginap disebuah rumah penginapan...."
"Waktu itu keadaan amat mendesak. tiada tindakan lain bagiku kecuali berbuat begitu"
"Tapi ingatkah kau bahwa antara laki2 dan perempuan ada batas-batasnya? setelah kita
menginap disatu kamar yang sama, bagaimana mungkin aku ..." Berbicara sampai disini tiba-tiba
ia tundukkan kepalanya rendah-rendah..
Karena pandangannya yang sempit, Han siong Ki memang membenci setiap perempuan yang
ada diseantero jagad tapi di dasar hatinya ia sebenarnya ramah dan penuh kasih sayang, diapun
memiliki api asmara dan rasa cinta, hanya perasaan hatinya itu tertekan oleh jalan pikirannya yang
keliru.
sebagai seorang pemuda yang cerdas tentu saja ia dapat menangkap arti dari kata-katanya itu
tapi si anak muda itu tak bisa berbuat banyak sebab pada hakekatnya ia tak mencintai Go siau bi,
yang ada dalam hati kecilnya cuma rasa berterima kasih serta rasa berhutang budi belaka...
Tapi sekarang tanpa disadari jantungnya berdebar keras..
sekarang ia mulai berpikir, mungkinkah dara yang cantik ini jadi kalap lantaran pinangan put lo.
sianseng terhadapnya tempo hari telah ditolak secara mentah2?
Rasa simpatik, kasihan dan iba seketika menyelimuti perasaan hatinya, ia mulai merasa kasihan
atas nasib jelek yang telah menimpa anak dara itu
"Nona, aku merasa amat menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya atas terjadinya
peristiwa itu" ia berkata dengan lembut.
"Hmm Rasa sesal yang mendalam?"
"Dengan hati yang tulus dan ikhlas aku mohon kepada nona sudilah kiranya jangan membunuh
orang lagi mulai saat ini"
"Kalau kutolak permohonanmu itu?" seru sang dara dengan ketus dan muka menyeringai.
suasana yang semula sudah tenang dan damai, kini berubah kembali jadi tegang. Paras muka Han
siong Kie berubah hebat, sahutnya cepat:
"Bila nona menampik permohonanku ..tu, terpaksa aku harus melaksanakan apa yang telah
kukatakan tadi"
"oooh. Jadi engkau akan membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil tertawa sinis.
"Betul bila kau takut peristiwa itu sampai terjadi, silahkan kau bunuh aku lebih dahulu sebab
kalau tidak, andaikata kita sampai bertemu lagi dikemudian hari, kau pasti akan kubunuh".
selapis hawa dingin yang ketus dan menyeramkan mulai menyelimuti raut wajah Go siau bi, ia
mengejek sinis:
"Huuuh.. Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu??"
"Lihat saja nanti hasilnya, apa gunanya banyak bicara yang tak ada gunanya?"
"Han siong Kie, engkau tak bisa membendung niatku ini, akan kubunuh pemuda tampan yang
ada dikolong langit hingga mereka musnah semua dari atas muka bumi.. Hmm Engkau ingin
bunuh aku ? Baiklah ini hari sengaja kau kulepaskan dirimu, akan kulihat bagaimana caramu
membunuh aku, tapi kau musti ingat, bila kita sampai bertemu muka lagi, andaikata engkau tak
dapat membunuh aku, maka akulah yang akan membinasakan dirimu"
Han siong Kie menatap sekejap kearah wajahnya dengan pandangan dingin, mulutnya tetap
membungkam.
Kalau bisa ia hendak membacok dara itu hingga mampus, rasa simpatik dan kasihan yang
muncul dalam hatinya tadi kini tersapu bersih dari lubuk hatinya.
Pemuda itu tak ingin banyak ribut lagi dengan dara tersebut, per-lahan2 dia putar badan dan
berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang kian menjauh, Go siau Bi berdiri termangu-mangu,
beberapa kali dia hendak memanggilnya..tapi setiap kali niatnya itu dibatalkan, ia merasa bagaikan
tersiksa dan terharu, sehingga akhirnya tak kuasa lagi menangislah gadis itu ter-sedu2.
Isak tangis itu sempat terdengar oleh Han siong Kie yang makin menjauh, ia agak tertegun dan
menghentikan langkahnya, tapi sesudah ragu sebentar pemuda itu lanjutkan kembali
perjalanannya kedepan. kali ini ia tidak berpaling lagi.
Dengan penuh rasa mendongkol Go siau Bi mendepak-depakan kakinya keatas tanah, serunya
berulang kali:
"suatu ketika aku pasti akan membunuh kau..tunggu saja tanggal mainnya"
Pada saat itulah, tiba2 dari tempat kejauhan berkumandang suara gonggongan anjing yang
sangat ramai.
Dengan segera Go siau Bi berpaling, begitu mengetahui apa yang tertera didepan matanya ia
jadi tercekat dan mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat.
tampaklah dua ekor anjing sebesar tubuh anak sapi berdiri disisi kiri dan kanannya pada jarak
dua kaki, giginya yang runcing menyeringai seram, matanya memancarkan sinar buas, selama
hidup belum pernah ia jumpai anjing sebuas dan sebesar ini
sementara dia masih termenung sesosok bayangan manusia kembali melayang masuk ke dalam
hutan, orang itu adalah seorang kakek bungkuk yang membawa sebuah pecut rotan yang
panjang.
Dengan sorot matanya yang beringas kakek itu menatap sekejap wajah Go siau bi, lalu
mengawasi pula pada mayat yang terkapar diatas tanah, setelah itu dia menganggak beberapa
kali.
"Hey, apa maksudmu datang kemari?" tegur Go siau bi dengan suara dalam. Kakek bungkuk itu
tertawa seram:
"Heeehhh... heehhh...heeehhhh.... Cantiknya memang cantik, cuma sayang perempuan
secantik ini tak lebih hanyalah kuntilanak yang berhati keji"
"Apa? siapa yang kau maksudkan?" teriak dara ayu itu dengan mata melotot.
"siapa lagi, tentu saja engkau"
Sepasang alis mata Go Siau bi berkenyit, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya, sambil mendengus dingin katanya:
"Hey tua bangka yang tak tahu diri, sebelum nonamu berniat membinasakan engkau, bawalah
anjing2 itu dan segera berlalulah dari tempat ini"
"Heeeh heehh . heeeh kenapa aku musti pergi ? Kedatanganku justru hendak mencari engkau"
"Mencari aku ? Siapa kau dan sebutkan namamu"
"Aku adalah Khoo Tio cu, si bungkuk she Khoo pengurus rumah tangga perkampungan oh bau
san cung, mengerti??"
Mendengar nama itu, satu ingatan terlintas dalam benak Go Slau bi, sekarang ia sudah dapat
menebak apa yang telah tarjadi, dengan wajah yang tetap tenang katanya: "Lantas ada urusan
apa kau cari aku??"
"Kedua orang sau cengcu perkampungan kami telah tewas dipinggir jalan-"
"Kalau aku yang bunuh mau apa kau?" tukas sang dara cepat.
"Bagus sekali, setelah kau memberikan pengakuan urusan makin gampang untuk diselesaikan,
darimana asal perguruanmu?"
"Huuh. Kau belum berhak untuk mengetahuinya."
Sinar mata yang bengis dan buas memancar keluar dari balik mata si bungkuk itu, begitu
bengisnya sinar mata orang itu sehingga hampir tak ada bedanya dengan kebengisan mata kedua
ekor anjingnya, membuat siapapun yang memandangnya jadi bergidik. Ia maju beberapa langkah
kedepan, lalu serunya dengan suara yang menyeramkan:
" Heeeh hh heeeh hh heeeh hh memang sekarang susah untuk memaksa kau untuk berbicara
tapi ingatlah baik-baik, suatu ketika engkau akan mengakuinya sendiri"
"Bungkuk she Khoo, nonamu tak ingin membinasakan dirimu, kalau tahu diri lebih baik
enyahlah dari sini"
"Heehhh heeehhh heeehhh kau suruh aku pergi dari sini? Lucu... benar-benar sangat lucu, kau
malah suruh aku pergi.. tahukah kau bahwa aku si bungkuk she Khoo justru tak ingin melepaskan
engkau dengan begitu saja??"
"Bangsat Jadi engkau benar2 ingin mati?"
"Yang ingin mampus bukan aku, melainkan kau sendiri"
Hawa napsu membunuh mulai menghiasi air mukanya yang putih, ia mendengus gusar telapak
tangannya diayun kedepan dan segulung hawa hijau yang mengerikan segera meluncur kedepan
melancarkan sebuah ancaman maut.
Paras muka sibungkuk she Khoo itu berubah hebat, ia agak tertegun menyaksikan datangnya
ancaman berwarna hijau itu, tampaknya sepanjang hidup, belum pernah dia jumpai ilmu
kepandaian seaneh dan setangguh ini.
"Blang " Ditengah benturan keras yang cukup memekikkan telinga, tubuh si Bungkuk she Khoe
itu mencelat sejauh delapan depa lebih dari kedudukan semula, darah panas bergolak dalam
dadanya, betapa terkesiapnya sukar dilukiskan dengan kata2.
Keistimewaan dari ilmu pukulan Thian tok ciang hoat adalah daya pantulan yang terpancar
keluar bila menyentuh pukulan itu, makin besar seseorang melancarkan serangannya maka
semakin besar pula daya pantulan yang terpancar oleh kepandaian itu.
Masih untung tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Go Siau bi tidak lebih cuma enam bagian
belaka, dan tapi Khoe Tuo cu tak sempat melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga karena
ia dibikin kaget bercampur tertegun, karena itu loloslah dia dari ancaman bahaya maut yang
sebetulnya dapat merenggut selembar jiwanya.
sudah tentu Khoe Tuo cu tidak mengenal kelihayan dari ilmu pukulan itu, betapa penasarannya
orang itu karena peristiwa yang barusan terjadi, dengan sorot mata yang bengis dia menerjang
maju lagi ke depan, sebuah pukulan yang lebih dahsyat bagaikan hembusan angin topan
menerjang ke dada lawan.
"Bangsat, rupanya engkau memang sudah bosan hidup," hardik Go siau bi denganpenuh
kegusaran-
Dengan ilmu pukulan Thian tok ciang hoat yang telah dikerahkan mencapai delapan bagian ia
sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blamm" suatu benturan dahsyat kembali menggelegar diudara, jerit ngeri yang melengking
mendesis dari mulut Khoe Tuo cu, badannya mencelat sejauh beberapa kaki dan darah segar
muntah keluar dari mulutnya.
"Bluuk" bagaikan sebuah cupu2, tubuhnya menggelinding diatas tanah setelah jatuh mencium
tanah.
Gong gongan anjing berkumandang memecahkan kesunyian, seekor anjing besar yang berada
disamping kanan tiba2 menerjang kearah dara itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Lolongan anjing yang mengerikan berkumandang menyayat kesunyian yang mencekam udara,
anjing besar itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dari tempat semula.. "Duukk" Ketika menumbuk
diatas dahan sebuah pohon besar, mampuslah anjing tersebut seketika itu juga.
Dalam pada itu Khoo Tuo cu telah bangkit dari atas tanah, ia tampak agak tertegun
menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki dara tersebut, kejadian ini sama sekali diluar
dugaannya. sebab kalau bukan seorang tokoh silat yang benar-benar berilmu tinggi tak mungkin
anjing besar itu dapat dibunuh dalam sekali pukulan belaka
Dalam terkejut dan cemasnya, bagaikan titiran angin deras cambuk rotannya diputar
sedemikian rupa mengitari angkasa.
Anjing raksasa yang berada disebelah kiri bagaikan sambaran kilat telah melancarkan tubrukan
pula kedepan.
siau bi terancam bahaya, cepat-cepat telapak tangannya dilontarkan kemuka melepaskan
pukulan maut..
Agaknya anjing besar itu sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki musuhnya sangat lihay,
berada ditengah udara tubuhnya berjumpalitan beberapa kali diudara dan menggelinding kebawah
kaki anak dara itu, moncongnya langsung menyambar kedepan dan menggigit kakinya.
semua gerakan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tak kalah cepatnya dengan seorang
jago lihay.
Bergetar keras perasaan hati Go siau bi menghadapi ancaman itu, cepat ia melejit dan
melambung keudara, dari situ telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat kebawah.
Gagal dengan gigitannya, anjing besar itu segera meluncur maju satu kaki lebih ke depan-
Tatkala Go Siau bi melayang turun kembali keatas tanah, secepat kilat sambaran anjing itu
menerkam lagi kedepan.
Kali ini tak sempat bagi Go siau bi untuk berkelit, telapak tangannya langsung dibacokkan
keatas batok kepala anjing itu..
"Guukk..guuukk.. lolongan panjang kembali menderai diudara, batok kepala anjing itu terbacok
sampai hancur jadi dua bagian, kepalanya hancur dan darah serta isi benaknya tersebar dimanamana,
anjing itu mampus seketika itu juga.. Tapi cakar anjing sebelah depannya sempat pula
mencakar paha Go Siau bi..
Rasa gatal-gatal dan kaku yang aneh segera menyerang pahanya dan perlahan-lahan bergerak
naik keatas.
Rasa kaget dan terkesiap yang menyelimuti hatinya sekarang susah dilukiskan dengan kata2, ia
tahu itulah tanda2 keracunan atau dengan perkataan lain cakar anjing itu mengandung racun yang
sangat jahat.
Dengan cepat semua jalan darah penting di tubuhnya ditutup semua, setelah menghadang
peredaran racun yang merambat lebih jauh kearah lain, dengan sorot mata yang bengis
menyeramkan, ia menerjang kearah Khoo Tuo cu habis2an.
"Blaaang" kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi
angkasa, dengan batok kepala hancur berantakan Khoo Tuo co menggeletak dalam keadaan
mengerikan-
"Perempuan rendah, pada hakekatnya engkau memang bukan manusia, hatimu keji dan tak
kenal ampun, akan kuhancurkan tubuhmu hingga lembut seperti abu."
Bersamaan dengan munculnya bentakan keras yang sangat mendadak itu, seorang kakek tua
berjubah hitam yang tinggi besar telah nelayang masuk kedalam gelanggang.
"Suiiit"" siulan lengking menggema diangkasa, menyusul belasan ekor anjing besar bagaikan air
bah, menerjang kearah tubuh Go siau Bi.
Kejut dan gelisah menyelimuti seluruh perasaan anak dara itu, ia merasa sukma serasa
melayang tinggalkan raganya karena ketakutan, gadis itu sadar bahwa ia sudah kena racun keji
dari anjing2 itu, daripada berdiam diri dan mati konyol ditangan lawan jauh lebih baik melarikan
diri tinggalkan tempat itu.
Begitu ingatan tadi melintas dalam benaknya, ia lantas melejit ke udara dan meluncur masuk
kearah hutan-
Apa mau dikata rupanya racun sudah mulai bekerja dalam tubuhnya, sepasang kakinya sudah
tak mau mendengar perintah lagi, baru saja melayang sejauh lima kaki, tubuhnya terjatuh kembali
keatas tanah. sementara kawanan anjing besar itu kembali sudah menerjang tiba dengan
hebatnya.
Antara manusia dan anjing, segera berkobarlah suatu pertarungan yang amat mengerikan-
Anjing- anjing besar itu memang tersohor karena keganasannya, bukan saja sifatnya memang
buas, cakarnya mengadung racun keji dan gerak geriknya cepat bagaikan sambaran kilat, lagipula
tak takut mati, maka setelah mendapat latihan secara khusus kehebatan mereka jauh lebih
mengerikan daripada serangan dari jago-jago silat kelas wahid.
Cemas dan marah bercampur aduk dalam benak Go siau bi, telapak tangannya diayun berulang
kali kemuka, kabut hawa hijau kembali menggulung keempat penjuru dengan dahsyatnya.
Ditengah benturan2 yang memekikan telinga, lolongan panjang berkumandang susul menyusul.
Dalam waktu singkat delapan ekor anjing yang telah binasa ditangan anak dara itu tapi sisanya
tak gentar barang sedikitpun, mereka masih melanjutkan terjangannya dengan kecepatan yang
luar biasa.
Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Go siau bi, rambutnya awut-awutan dan napasnya
tersengal-sengal, ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengatur pernapasan-
Rombongan anjing- anjing besar itu menerjang dan mundur secara beraturan, mereka saling
mengisi kekosongan yang ada dan menyerang dari tiga arah yang berlawanan, yakni arah atas
tengah dan bawah.
Tentu saja Go siau bi tak berani menyambut datangnya ancaman itu secara gegabah, sebab dia
tahu anjing-anjing itu sangat beracun pada kuku-kukunya.
sementara itu kakek berjubah hitam yang berada disamping gelanggang merasa gusar dan
sakit hati, namun ia tak berani menghentikan serangan anjing-anjing itu, sebab ia tahu betapa
sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, ia telah bersiap sedia mengorbankan anjinganjingnya
itu sebagai ganti dari kesuksesan rencananya.
setengah peminum teh kemudian, bangkai anjing telah bergeletak dimana-mana, darah serta
hancuran daging tersebar dimana-mana, keadaannya mengerikan sekali.
Dari sekian banyak anjing besar yang dibawa oleh kakek baju hitam itu, tak seekorpun yang
masih hidup pada saat ini.
Walaupun demikian, keadaan Go Siau bi sendiripun mengenaskan sekali, ia sudah kehabisan
tenaga, kakinya yang keracunan sekarang menjadi bengkak dan satu kali lipat lebih besar daripada
keadaan biasa, rasa sakit menyerang sampai kelubuk hati, sekali pun ia tahu masih ada seorang
musuh yang mengincar dirinya namun ia tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, akhirnya
gadis itu roboh dan jatuh terduduk diatas tanah.
Dengan sinar mata bengis, penuh kebuasan kakek berjubah hitam maju kedepan dengan
langkah lebar.
Go siau bi sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya, diapun menghimpun sisa
kekuatan yang dimilikinya untuk dikumpulkan pada telapak tangan kanannya.. Sambil bergerak
maju kedepan kakek baju hitam itu berkata tiada hentinya:
"Perempuan rendah, engkau telah menipu dan membunuh dua orang putra kesayanganku, ini
hari akan kusuruh kau rasakan pula siksaan yang terkeji dikolong langit, akan kusiksa kau sampai
mampus ....Hmm Sakit hati ini akan kutuntut balas beberapa kali lipat lebih dahsyat tunggulah
tibanya saat seperti itu ...."
Go Siau bi membentak keras, telapak tangan kanannya tiba-tiba diayun kedepan, lima gulung
desiran angin tajam segera meluncur keluar dan mengancam tubuh kakek itu.
Rupanya kakek baju hitam itu memang sengaja memperlambat langkah kakinya berhubung dia
harus bersiap menghadapi tibanya ancaman yang tak terduga dari pihak lawanoleh
sebab itu ketika Go Siau bi mengayunkan telapak tangannya kedepan, secepat kilat ia
berkelit kesamping, tapi toh gerakan itu teriambat setengah langkah, tangan kanannya terasa
sakit sekali hingga merasuk ketulang sumsum, tak kuasa lagi dia mendengus tertahan.
Ilmu jari Bwe hoa cuan sim ci (juri si kura penembus hati ) yang digunakan Go siau bi ini adalah
salah satu ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian toh pit kip. arah yang dituju adalah
dada musuh atau tepatnya persis diatas jantung, andaikata terkena hajaran jantung orang akan
pecah dan binasalah orang itu.
Tapi berhubung kakinya terluka sehingga banyak tenaga dalamnya berkurang maka melesetlah
serangan itu dari sasaran utamanya.
"Blam" pukulan tangan kiri yang dilepaskan kakek berjubab hitam itu dengan telak bersarang
ditubuh Go siau Bi
Ditengah dengusan yang tajam, tubuh dara itu mencelat dan bergelinding diatas tanah,
kesadarannya punah dan dara itu berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak.
Kakek tua baju hitam itu tertawa seram, secara beruntun dia menotok beberapa buah jalan
darah penting ditubuh gadis itu.
Kemudian ketika dilihatnya musuhnya sudah tercakar oleh racun anjingnya, ia ambil keluar
sebuah botol kecil dari porselen putih, diambilnya sedikit bubuk kuning dan dijejalkan kemulut Go
siau Bi, lalu mengambilpula sebagian dan dibubuhkan pada sekitar mulut luka, kemudian baru
berkata dengat nada menyeramkan: "Hmm Hmmm aku tidak akan membiarkan engkau mampus
dengan begitu saja"
Ditatapnya sekejap bangkai2 anjing itu dengan perasaan berat, akhirnya sambil mengempit
tubuh Go siau Bi, dia berlalu dari tempat kejadian-
Tatkala Go siau Bi sadar kembali dari pingsannya, ia menemukan kaki tangannya telah
dibelengu orang, tubuhnya berbaring terlentang dengan menghadap keatas, namun ia tak mampu
bergerak sementara rasa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya.
Ia membuka mata dan memeriksa keadaannya, tapi segera dara itu jadi malu bercampur gusar,
ternyata ia sedang dibelenggu di atas sebuah papan kayu dalam keadaan telanjang bulat, sehelai
benangpun tidak menempel ditubuhnya, sementara kakek baju hitam itu sedang memandang
kearahnya sambil menyeringai seram.
Disamping kakek itu berdirilah sepasang anjing besar yang sedang mencakar2 tanah sambil
memperdengarkan serentetan suara kaing-kaing yang aneh.
Dia ingin buka mulut untuk berbicara, namun tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
sadarlah dara itu bahwa jalan darah bisunya telah ditotok orang.
-00d0w00-
BAB 57-
SECARA lapat2 dara itu mulai menduga apa yang bakal terjadi serta menimpa dirinya.
Ia rela mati dan mengakhiri hidupnya lebih cepat, namun ia tak mampu untuk melakukannya,
beberapa buah jalan darah ditubuhnya tertotok. sekalipun ilmu silatnya sangat tinggi, berada
dalam keadaan seperti ini tiada sesuatu apapun yang bisa dilakukan lagi olehnya.
Tiba2 kakek berbaju hitam itu tertawa seram, suaranya sadis dan mengerikan-
" Heeeh heeeehh heeeehh perempuan rendah, aku adalah Ho Thong thian ketua
perkampungan oh hau san-cung, ingat baik2 namaku ini dan ketahuilah bahwa aku berbuat
demikian demi membalaskan dendam bagi kematian dua orang putraku"
Go Siau Bi ingin bicara namun tak mampu mengucapkan sepatah katapun, apa boleh buat?, Dia
cuma bisa berbaring dengan mata melotot penuh kegusaran. Terdengar Ho Thong thian
melanjutkan kembali kata katanya:
"Perempuan rendah, engkau telah memancing kedua orang putraku dengan kecantikan
wajahmu kemudian membunuhnya secara keji.. heeeh heeeh heeeh sekarang, saat pembalasan
telah tiba, coba pandanglah kedua ekor anjing jantan itu, dia akan menjadi suamimu sebentar lagi,
dari kedua ekor anjing jantan inilah engkau akan mendapatkan kepuasan seks yang paling nikmat,
kau akan di bikin naik kesorga oleh kedua ekor anjing ini haaah haaahh haaaahh manusia digagahi
oleh anjing, itulah acara pertunjukkan yang menarik sekali."
-00d0w00-
BETAPA terkejut dan takutnya Go siau bi sesudah mendengar ancaman itu, ia merasa
sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya, bila sampai peristiwa itu benar-benar terjadi,
inilah siksaan yang terkeji dikolong langit, seorang gadis perawan akan kehilangan kesucian
tubuhnya ditubuh seorang anjing, bahkan sekaligus akan diperkosa oleh dua ekor anjing besar
secara bersamaan, matanya jadi berkunang dan pandangannya jadi gelap akhirnya ia jatuh tak
sadarkan diri saking gusar dan mendongkolnya.
Hoo Thong thian tertawa seram, cepat ia totok jalan darah Thian kia hiat ditubuh dara itu.
sekali lagi Go siau bi sadar kembali dari pingsannya, hancur luluh perasaan hatinya, air mata
jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya yang ayu ....
"Perempuan rendah, dengarkan baik-baik kataku ini" ujar Ho Tong Thian lebib jauh "kecuali
menerima pembalasan ini, tiada cara lain yang bisa kugunakan untuk menghajar dirimu, Nah
setelah engkau menerima kepuasan seks ditubuh kedua ekor anjing jantan ini, maka engkau akan
menjadi santapan yang paling lezat bagi mereka haaah haaahh haaahh itulah pertunjukkan yang
paling surprise, sang istri yang cantik setelah digagahi akan disantap"
Dalam keadaaa seperti ini Go siau bi benar-benar kehabisan akal, mau melarikan diri jelas tak
mungkin, ingin bunuh diri juga tak mampu, tepatnya ia memang harus merasakan siksaan hidup
yang paling keji itu, diperkosa lebih dulu oleh anjing, lalu tubuhnya akan di cabik sebagai penghuni
perutnya.
Air mata dengan derasnya mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya. sekarang ia dapat
merasakan apa artinya pembalasan-.. dia mulai menyesal. "ooooh sungguh cepat pembalasan
yang tiba dan menimpa diriku" keluhnya dihati.
Bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis perawan, dia memiliki serangkaian ilmu silat
yang luar biasa, ia tak takut mati, sebab ia merasa bahwa mati hanya suatu pelepasan belaka,
pelepasan dari segala bentuk siksaan maupun penderitaan, tapi ia tak sudi mengalami siksaan
tersebut sebelum ajalnya, apa lagi siksaan yang begitu kejinya. Bila seseorang bisa putus asa,
kadang kala timbul pelbagai ingatan dalam ingatannya.
Dara itu berharap akan terjadinya suatu kejadian yang diluar dugaan, sehingga ia dapat
terhindar dari siksaan yang paling keji ini, ia rela melakukan apapun untuk membayar
pertolongannya itu, asal siksaan yang tak berperi kemanusiaan ini bisa di hindari
Gelak tertawa dari Ho Thong thian, pemilik perkampungan oh hau san ceng masih
berkumandang tiada hentinya. lengking suara tertawa yang menyerupai binatang itu bagaikan
pisau tajam yang menyayat-nyayat hatinya, membuat hatinya hancur lebur.
Tampaknya dua ekor anjing jantan itupun sudah berpengalaman dalam melaksanakan tugas
itu, dengan sorot mata yang merah membara dan mengerikan, anjing-anjing itu menatap tubuh
Go siau bi yang telanjang tanpa hentinya, sementara bunyi desiran aneh muncul dari mulutnya,
keadaan benar2 mengerikan..
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Go siau bi yang sedang menghadapi
bahaya perkosaan oleh dua ekor anjing..
sementara itu Han siong Kie telah meneruskan perjalanannya dengan langkah yang amat
lambat karena luka parah yang dideritanya akibat pertarungan melawan Go siau bi, ia tak dapat
mengerahkan tenaga sebagai mana mestinya.
39
Setengah jam kemudian, ia baru mencapai sejauh lima li dari tempat semula, lembah In wu kok
yang hendak dituju secara lapat-lapat sudah kelihatan didepan mata.
Walaupun hubungannya deagan Go Siau bi tak dapat dikatakan ada perasaan cinta, namun
perasaan persahabatan tetap ada dan oleh karena itu ia merasa sedih oleh perbuatannya,
mimpipun ia tak menyangka Go Siau bi yang halus, lembut dan berbudi sekarang telah berubah
jadi manusia lain-
Terutama kata2 dari Go Siau bi, tiap kali terbayang kembali ia lantas merasakan jantungnya
berdebar keras.
cinta memang tak dapat dipaksakan, apa lagi hatinya sudah terisi oleh perempuan lain-
Segulung desiran angin dingin berhembus lewat disamping tubuhnya, dengan terkejut Han
Siong Kie berpaling, dia tahu desiran angin itu bukan hembusan angin biasa melainkan kehadiran
seseorang manusia lain-
Pemuda itu merasa kuatir, dalam keadaan terluka parah, tak mungkin baginya melakukan
perlawanan lagi jika yang datang adalah pihak musuh.
Secepat kilat ia berpaling, seorang perempuan berkerudung tahu2 sudah berdiri dihadapannya.
orang itu siapa lagi kalau bukan orang yang ada maksud. Untuk sesaat Han Siong Kie berdiri
tertegun-
"Nona, engkau hendak pergi kemana?" tegurnya.
"Aku datang mencari engkau "
"Mencari aku? Ada urusan apa engkau mencari aku..?" pemuda itu merasa keheranan.
"Nona Go siau bi tertangkap oleh Hoo Thong thian, CengCu dari perkampungan Go hau san
Ceng"
Agak terkejut Han siong Kie mendengar kabar itu, serunya kurang percaya:
"Masa ia tertangkap? Kepandaiannya toh sangat lihay, masakah ilmu dari Hoo Thong thian luar
biasa."
"Ia keracunan lebih dulu oleh anjing raksasa, sehingga akhirnya dia tertangkap"
"oooh.. kiranya begitu"
"Apakah engkau tidak menguatirkan mati hidupnya??" kembali orang yang ada maksud
bertanya.
"Ia telah membunuh Kim kian siang ing (sepasang pendekar pedang emas) putra kesayangan
HHoo Thong thian, sewajarnya kalau sang ayah membalaskan dendam bagi kematian putranya"
"Tapi.. tahukah engkau bahwa Hoo Thong thian adalah seorang manusia durjana yang banyak
melakukan kejahatan? Begitu pula dengan anak-anaknya, mereka sering kali mengacau rakyat,
kematian mereka justru menggirangkan banyak orang"
"Nona" seru Han siong Kie dengan cepat, " apakah engkau mengerti sebab-sebab yang
mendorong ia melakukan pembantaian2 sekalipun Kim Kiam siang ing pantas dibunuh, akan tetapi
bagaimana dengan lainnya?"
orang yang ada maksud tertawa setelah mendengar perkataan itu, ia balik bertanya: "Tahukah
engkau, apa sebabnya ia sampai membunuh orang?"
"Hmm Ia sudah mengidap penyakit gila .... dan otaknya sudah sinting dan tak waras."
"Hmmmm" kali ini orang yang ada maksud mendengus dingin, " apakah ucapan itu muncul dari
lubuk hatimu??"
"Nona, apa maksudmu mengucapkan kata-kata itu?" tanya Han siong Kie tercengang.
"Go siau bi bisa sampai membunuh orang sepantasnya engkau memikul setengah dari
tanggung jawabnya "
" Kenapa..?" tanya sang pemuda dengan air muka berubah hebat.
" Karena engkau, dia telah membunuh orang"
" Karena aku ? Kenapa karena aku dia lantas main membunuh??"
"Manusia bermuka dingin" seru orang yang ada maksud dengan suara tajam " engkau tak usah
pura2 berlagak pilon, masakah engkau masih belum dapat memahami apa sebabnya ia sampai
membunuh orang?"
"Aku benar2 tidak paham"
"ooh, jadi kalau begitu engkau tidak bersedia menolong jiwanya??" Han siong Kie tertawa
dingin-
"Heeeh heeeh heeehh menolong dia ? Aku malahan sudah berkata kepadanya, bila kami
bertemu lagi dilain waktu maka aku akan membinasakan dirinya"
"Dengan dasar alasan apa engkau akan membunuhnya??"
"sebab ia telah membunuh orang dengan semena-mena"
"Ia bisa membunuh orang karena engkau, maka kaupun harus ikut bertanggung jawab atas
terjadinya peristiwa ini "
"Nona, jangan asal main tuduh saja, coba terangkanlah perkataanmu itu dengan lebih jelas lagi
"
"oleh karena engkau telah melukai hatinya, maka dia membunuh setiap pemuda yang
dijumpainya"
"Aku ? Aku telah melukai hatinya?"
"Benar "
"Dalam hal apakah aku telah melukai hatinya??"
"Masakah engkau benar2 akan suruh aku mengatakannya keluar??"
"Tak ada halangannya kalau nona hendak mengatakan"
"Sewaktu engkau dihajar oleh pemilik benteng maut sehingga tercebur kedalam sungai
kemudian jiwamu tertolong olehnya, dimana selama tiga hari engkau total berbaring diatas
pembaringannya . "
"setiap budi yang pernah kuterima tidak pernah kulupakan, suatu ketika pasti akan kubalas "
"Dalam masalah ini, persoalannya bukan manyangkut tentang soal balas budi atau tidak"
"Lalu persoalan ini menyangkut dalam hal apa??"
"Kalau seorang anak dara bersedia merawat seorang pemuda asing didalam kamar tidurnya,
bahkan tanpa canggung-canggung merawatnya, dapatkah engkau rasakan apa sebabnya ia
bersedia melakukan kesemuanya itu"
Han Siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, bukannya ia tak dapat merasakan hal ini,
melainkan ia tak bersedia untut mempertimbangkan soal tersebut. Terdengar orang yang ada
maksud berkata lebih jauh:
"Tahukah engkau bahwa Go siau bi telah bersumpah didepan pusara ayahnya bahwa dia tak
akan menikah dengan orang lain kecuali dengan kau seorang"
"Apa sangkut pautnya dengan diriku? Itu toh urusan pribadinya sendiri??"
Jawaban yang dianggap terlalu ketus ini segera membangkitkan hawa amarah dihati orang
yang ada maksud, serunya lagi:
"Aku mengerti, oleh karena engkau adalah Manusia bermuka dingin maka engkau dapat
mengatakan ucapan yang sadis dan sama sekali tidak berperasaan ini, tentunya engkau tidak lupa
bukan dengan peristiwa dalam rumah penginapan? Engkau telah memeluk tubuhnya bahkan
menginap disatu kamar."
"Aku merrpunyai niat untuk membalas budi pertolongannya, masakah perbuatanku ini keliru??"
"Engkau tidak keliru, tapi bila seseorang dara telah berdempetan dengan seorang pria, malahan
perlu dipeluk. tidur dalam satu kamar selain ia kawin dengan lelaki itu, mungkinkah dia bisa kawin
dengan orang tak lain"
"Aaaah . . Kita toh orang-orang persilatan, Bagi kita orang persilatan rasanya tak perlu
merisaukan soal tetek bengek itu"
"Itu kan pandangan segelintir orang, andaikata Go siau bi memandang berat persoalan ini, lalu
apa yang hendak kau lakukan ?"
Han siong Kie memang merasa seperti dipaksa dan ditekan untuk menerima kenyataan itu, ia
tak bisa berkutik, kecuali meringis rasanya memang ia tak bisa berbuat lain-Terdengar orang yang
ada maksud melanjutkan kembali kata-katanya:
"Aku rasa Go siau bi cukup cantik dan cukup bagus, ia pantas untuk menjadi isterimu, apalagi
kakeknya Put lo sianseng sebagai seorang tokoh persilatan ternyata mengajukan pinangan sendiri
kepadamu, tak kunyana kau malah menampik pinangannya sehingga membuat dara itu tertekan
jiwanya, padahal kau toh tahu bahwa ia mencintai dirimu? Nah, karena pelbagai alasan inilah ia
jadi sinting dan melakukan hal-hal yang diluar dugaan, coba katakanlah apakah engkau tidak
merasa ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini??"
"Maksud nona, engkau hendak memaksa ku untuk mencintai dirinya??"
"Masa ia tak pantas untuk menerima cintamu ? Dan engkau sama sekali tidak tergerak hatinya
oleh cinta kasihnya yang telah dilimpahkan padamu??" Han siong Kie membungkam, betul2
membungkam dalam seribu bahasa.
Dahulu ia memang pernah membenci seantero perempuan yang ada dijaga d, tapi sejak
hubungan cintanya dengan Tong hong Hwie, perasaan hatinya mulai terbuka, untuk pertama
kalinya ia benar-benar mencintai seorang dara, dan ia persembahkan rasa cintanya itu padanya.
Terhadap Go siau bi, meskipun tak bisa dikatakan ia memandangnya seperti memandang
perempuan lain, tapi diapun tidak mencintai dirinya.
Tiba-tiba suatu rasa menyesal dan iba tersebut dalam hati kecilnya, ia ikut merasakan
penderitaan serta kesedihan yang dialami anak gadis itu.
Tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya, maka diapun berkata dengan dingin-
"Nona, tentunya engkau masih ingat bukan dengan seseorang yang bernama Tonghong Hui?."
Tampak sekujur tubuh orang yang ada maksud bergetar keras, tapi ia menjawab dengan cepat.
"Tentu saja masih ingat, kenapa??"
"Terus terang kukatakan padamu nona, perasaan dan hatiku telah dibawa pergi olehnya"
"Bukankah ibuku pernah memperingatkan kau, bila hubunganmu dengan Tong Hong Hui
dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu tragedi" Han siong Kie tertawa
sedih.
"Mungkin tragedi telah menjadi kenyataan, tapi aku sama sekali tidak merasa menyesal"
"Sudah menjadi kenyataan? Apa maksud
JILID 28 HAL. 16/17 HILANG
kedua hal ini bisa dijadikan satu, tapi aku berpendapat bahwa cinta yang murni dan cinta yang
sesungguhnya tidak musti dipadukan dalam kehidupan yang nyata"
"Justru persoalannya bukan terletak disini"
"Maksudmu masih ada alasan serta persoalan lain yang bisa mengakibatkan terjadi tragedi
ini??"
"Memang begitulah kenyataannya"
"Kata-kata itu sangat membingungkan hati orang, apakah engkau bersedia untuk menerangkan
lebih jauh?"
"Suatu ketika engkau akan memahami dengan sendirinya, sekarang maafkanlah daku karena
aku tak dapat memberitahukan hal ini untukmu, bukannya aku sengaja berlagak sok rahasia tapi
berbicara sesungguhnya, sekarang juga engkau harus pergi menyelamatkan jiwa nona Go Siau bi,
kalau terlambat aku kuatir telah terjadi hal-hal yang luar biasa"
"Kalau toh nona telah mengetahui bahwa ia sudah tertawan oleh orang-orang dari
perkampungan oh han san ceng, mengapa kau tidak berusaha untuk menolongnya melainkan.."
"Tentu saja aku mempunyai alasan tertentu"
"Dapatkah kuketahui alasan itu?"
"Dalam perkampungan oh han san ceng telah dipelihara anjing-anjing perbatasan yang besar
dan cakarnya beracun, sedangkan engkau memiliki kekuatan anti racun, maka tugas ini tak
mungkin bisa diselesaikan oleh orang lain"
Pada hakekatnya orang yang ada maksud telah mendapat perintah dari ibunya yakni orang
yang kehilangan sukma untuk sengaja mengatur kesemuanya ini, kalau tidak karena rencana
mereka, tentu saja dengan kepandaian yang dimiliki orang yang ada maksud, Go Siau bi telah
tertolong ketika ia terluka tadi.
Sementara itu, Han siong Kie sedang tundukkan kepalanya sambil termenung beberapa saat
lamanya, kemudian sahutnya.
"Maaf nona, aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan itu"
"Jadi engkau tidak bersedia untuk menolong jiwanya ??"
"Aku tak dapat menyelamatkan jiwa sekarang, pembunuh yang pernah membantai ber-puluh2
lembar jiwa manusia yang sebenarnya sama sekali tidak berdosa "
"Di kemudian hari ia tak akan membunuh orang lagi dan aku akan menanggung hal ini bagimu,
bagaimana??"
"Tetapi... "
"Ada apa lagi?? "
"Isi perutku terluka parah, aku kuatir...."
"Aaah Kalau cuma soal itu kan gampang sekali, aku punya obat yang sangat mujarab, dengan
dasar tenaga dalam yang kau miliki, maka setelah meminumnya dalam waktu setengah
perminuman teh, seluruh kesehetananmu dapat pulih kembali seperti sedia kala"
Tidak menanti jawaban dari Han siong Kie lagi, dia ambil keluar sebiji obat sebesar kelengkeng
lalu diangsurkan kedepan-
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Han siong Kie harus menerimanya, dia berkata:
"Baiklah, memandang diatas wajah kalian ibu dan anak. aku bersedia menolong jiwanya"
Habis berkata dia masukkan obat itu ke dalam mulut, kemudian duduk bersila ditepi pohon
untuk mengatur pernapasan
Kemujaraban obat itu memang luar biasa sekali, pada hakekatnya sama sekali tidak berbeda
dengan keampuhan Kui goan kim wan dari Kun si Mo ong.
Kurang lebih setengah perminuman teh kemudian, dalam keadaan segar bugar Han siong Kie
telah melompat bangun kembali dari atas tanah.
Setelah orang yang ada maksud menunjukkan dari perkampungan oh hausan ceng, ia berpesan
pula.
"Menolong orang bagaikan menolong kebakaran, sekarang juga engkau boleh segera
berangkat. Mungkin saja kita akan bertemu kembali dilain waktu" Dengan tubuh yang enteng dia
lantas berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang berlalu, Han siong Ki cuma bisa menggeleng sambil
menghela napas panjang, akhirnya iapun berangkat menuju ke perkampungan oh hau san ceng.
Perkampungan oh hausan ceng merupakan sebuah bangunan perkampungan yang
JILID 28 HAL. 22/23 HILANG
Habis berkata, ia menutup kembali pintu ruangan dan berjalan menuju keruang tamu.
Meskipun jalan darah Go siau bi sudah tertotok. namun pendengarannya masih berjalan
normal, betapa gembira hatinya setelah mendengar kabar bahwa Manusia berwajah dingin telah
tiba diperkampungan itu.
Timbul kembali harapannya untuk melanjutkan hidup.
"Mungkinkah ia datang kemari untuk menolong aku? begitulah dia mulai berpikir, tapi
mungkinkah ia sudi menyelamatkan jiwaku? Bukankah ia telah membenci aku dan ingin
membunuh aku??"
Apalagi setelah teringat bahwa ia berada dalam keadaan telanjang bulat, dimana hampir semua
bagian rahasia tubuhnya tertera nyata, ia merasa malunya bukan kepalang, kalau bisa dia ingin
mati saja sehingga tak perlu menanggung rasa malu.
Dalam pada itu Ho Thong thian telah muncul diruang depan, ia saksikan seorang pemuda
tampan yang berwajah dingin sedang berdiri sambil bergendong tangan ditengah ruangan-ketika
sepasang mata mereka membentur satu sama lainnya, tanpa sadar seluruh tubuhnya bergidik, Ia
merasa sorot mata orang itu tajam sekali, membuat siapa pun jadi bergidik rasanya.
Tapi dia berusaha untuk menekan perasaan hatinya, sambil tertawa terbahak-bahak ia menjura
lalu berkata:
"Apakah sauhiap adalah Manusia bermuka dingin yang namanya telah menggetarkan seluruh
dunia persilatan??"
"Betul, itulah aku orangnya"
"Silahkan duduk dan minum teh "
"Tak usah, apakah engkau yang bernama Ho Cungcu??"
"Benar, boleh aku tahu apa maksud kedatangan sauhiap ke perkampungan kami ini??" Dengan
dahi berkerut Han siong Kie berkata:
"Seorang sahabatku yang bernama Go siau bi, apa bener berada dalam perkampungan ini??"
setajam sembilu sorot matanya menatap wajah orang itu, ia menanti jawaban orang itu dengan
tenang.
Terkesiap Ho Thong thian mendengar pertanyaan itu, sekarang dia baru tahu bahwa
kedatangan manusia berwajah dingin adalah disebabkan karena perempuan rendah itu, mau
membohong jelas tak mungkin, hanya untungnya ia telah mengadakan persiapan.
Maka dengan wajah berubah hebat sahutnya:
"Betul, dia memang berada didalam perkampungan ini"
"Adapun kedatanganku kemari adalah hendak mengajak cungcu untuk merundingkan persoalan
ini, apakah engkau bersedia untuk melepaskan nona itu??"
"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memenuhinya, sebab ia telah membinasakan dua
orang putraku"
"Tapi kejadian ini toh berawal dari sikap putramu yang terpikat oleh kecantikannya, dalam soal
ini nona itu tak dapat kau salahkan "
"Haaah haaah haaahh pada hakekatnya justru dialah yang telah memikat putraku dengan
kecantikan wajahnya, ditinjau dari sikapmu yang begitu paham dengan duduknya persoalan ini,
aku rasa engkau tentu mempunyai, hubungan yang luar biasa dengan Go siau bi. Nah sauhiap
berbicaralah menurut liangsimmu, berilah keadilan serta kebijaksanaan kepadaku, pantaskah aku
melakukan pembalasan dendam?"
Untuk sesaat Han siong Kie terbungkam dan tak mampu menjawab pertanyaan itu, sebab katakata
itu memang masuk diakal dan benar. Lama sekali, akhirnya ia baru berkata. "Apa yang
hendak kau lakukan atas diri nya?"
"Hutang darah harus dibayar dengan darah, hutang nyawa bayar nyawa.."
"Apakah engkau tidak merasa bahwa tindakanmu ini kelewat batas??"
"Siapa membunuh manusia diapun harus membayar dengan nyawa sendiri, masa tindakan
semacam ini kelewat batas?"
"Tapi pada hakekatnya toh putramu yang terpikat dulu oleh kecantikan nona Go dan
membuntutinya terus menerus, tindakan ini sudah pantas untuk diberi hukuman mati"
"sauhiap. apa yang kau ucapkan itu berdasarkan pengamatanmu sendiri ataukah karena
mendengar dari mulut orang?"
"Tentu saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"Jadi maksud sau hiap. engkau melarang aku untuk melakukan pembalasan dendam??"
"Bukannya begitu, aku ingin tahu dengan cara apakah engkau berhasil menangkap nona Go
siau bi??"
"Tentu saja mengandalkan kepandaian silatku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie segera tertawa terbahak-bahak nyaring sekali
suaranya.
"Haaah haaah haaaah Ho too cungcu, bukannya kupandang enteng dirimu, pada hakekatnya
kalau engkau ingin menundukkan dia dengan andalkan cara yang bersih dan jujur, maka
kepandaian silatmu masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan dirinya ?"
"oooh.. Maksud sau hiap. aku telah menggunakan cara yang licik dan tidak jujur untuk
menundukkan nona itu??"
"Begitulah maksudku, aku tidak melarang cungcu untuk membalaskan dendam bagi kematian
putramu, tapi aku harap lakukanlah duel tersebut secara jujur dan terbuka, sebab masalah ini tak
bisa diselesaikan dengan berat sebelah"
Tiba-tiba sekulum senyum licik yang sadis dan mengerikan melintas diatas wajah Ho Thong
thian, ia menjura dan berkata.
" Kalau memang begitu, bagaimana kalau sau hiap duduk dulu sambil minum teh? Aku akan
menggusur nona Go siau bi datang kemari kemudian menyelesaikan masalah ini secara adil di
depan sauhiap? Tentunya sauhiap bersedia bukan??"
oooodwoooo
BAB 58
MESKIPUN dalam hati kecilnya Han siong Kie menaruh curiga karena perubahan sikapnya yang
sangat mendadak itu, namun dia lantas berpikir didalam hati.
"Dengan andalkan kepandaian silatmu, bila engkau berani main gila dengan aku, itu berarti
engkau mencari penyakit buat diri sendiri." Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangguk.
"Baiklah, lakukan semuanya itu"
"Kalau memang begitu harap sauhiap tunggu sebentar disini"
Baru beberapa langkah Ho Thong thian berlalu, tiba-tiba pemuda itu berseru kembali.
"Eeeh.. tunggu sebentar"
"Apa yang hendak sauhiap katakan lagi??"
Dengan sorot mata yang bengis dan mengandung hawa napsu membunuh, Han siong Ki
berkata dengan sadis:
"Ho cungcu, sebelum semuanya terjadi aku hendak berkata lebih dahulu kepadamu, aku harap
janganlah engkau bermain gila dengan aku, kalau tidak . . . Hmmm Terus terang kukatakan
kepadamu, akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, dan apa yang sudah kukatakan dapat
pula kubuktikan."
Mula-mula Ho Thong thian agak tertegun, tapi dia lantas tertawa seram sambil menyahut.
"Aaaah ... sau hiap terlalu banyat curiga, masa aku adalah manusia yang lain diluar lain dihati?"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berseru keluar ruangan:
"Go Tiong hidangkan air teh dan siapkan meja perjamuan untuk tamu kita ini "
"Tak usah banyak adat, selesai urusan disini aku segera akan berlalu, tak berani banyak
mengganggu kau lagi"
Ho Thong thian tidak menanggapi ucapan itu, dia mengangguk dan berkata: "Aku akan segera
pergi mengambil nona Go siau bi seraya berkata dia lantas berjalan keluar dari ruangan itu
Tiba2 kecurigaan yang timbul dalam hati kecil Han siong Kie semakin menebal, kalau toh Go
siau bi sudah tertangkap. kenapa ia musti tunggu disitu dan anehnya kenapa tak ada orang yang
bergerak ditempat ini ?"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 terdengar suara gemuruh yang
amat keras berkumandang dari ruangan itu, menyusul mana seluruh ruangan tersebut mulai
berputar kencang.
Menghadapi kenyataan tersebut, pemuda itu baru menyadari bahwa ia sudah terjebak oleh
siasat licik musuhnya, dia berpekik di hati:
"Aduuh celaka, aku sudah tertipu oleh anjing tua itu"
Tanpa berpikir panjang lagi dia segera melejit dan meluncur keluar kearah pintu ruangan-
Tapi dalam sekejap mata itulah seluruh pintu ruangan telah tertutup rapat, dan suasana dalam
ruangan itupun berubah jadi gelap gulita sehingga kelima jari tangan sendiripun sukar terlihat.
Han siong Kie berdiri tertegun, saking gemas dan mendongkolnya dia sampai menggigit
bibirnya kencang2, mimpipun ia tak mengira karena bertindak gegabah sehingga mengakibatkan
dia terjebak oleh tipu muslihat lawan-
"criing. criing.. tiba-tiba ruangan itu tenggelam kedasar bumi, ketika Han siong Kie mengamati
dengan seksama, ternyata ia sudah terkurung dibawah sebuah penjara dalam tanah yang kuat
dan empat penjuru merupakan dinding tebal yang tak tembus hawa.
sekarang anak muda itu baru menyesal apa sebabnya tidak bertindak hati-hati setelah masuk
kedalam perkampungan, karena musti menuruti peraturan dunia persilatan, akhirnya dia harus
terjebak oleh perangkap lawan-
Dari alat jebakan yang rupanya sudah dipasang disetiap bagian ruangan dalam perkampungan
oh han san cung, dapat pula di tarik kesimpulan bahwa perkampungan ini bukanlah suatu
perkampungan baik dan pemiliknya tentu saja sebagaimana yang dikatakan orang yang ada
maksud, benar-benar merupakan manusia bejad yang licik dan banyak akal muslihatnya.
sekarang nasi sudah menjadi bubur dan menyesalpun tak ada gunanya, untuk sesaat lamanya
pemuda itu cuma bisa berdiri menjublek dengan perasaan bingung.
"Kraaakl.krassakkk.. tiba-tiba dari atas dinding muncul sebuah pintu kecil, dibalik pintu tersebut
merupakan sebuah lorong yang amat panjang.
Rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dada Han siong Kie sudah tak tertahan lagi,
dia himpun hawa murninya ke dalam telapak tangannya. ia sudah bersiap sedia bila ada musuh
yang munculkan diri maka dia akan menyeret dan membinasakan musuhnya secara keji.
Tapi apa yang terjadi? Meskipun sudah ditunggu dengan lama, namun tiada sesuatu gerakan
apapun yang muncul dihadapannya.
Sesudah ragu sejenak, akhirnya pemuda itu melangkah keluar dari pintu kecil itu dan masuk
kedalam lorong yang terbentang didepan matanya itu.
Kurang lebih tiga puluh kaki dihadapan nya muncul sebuah anak tangga batu yang menjulang
ke atas.
Yang aneh ternyata disekitar tampat itu sama sekali tidak nampak sesosok
JILID 28 HAL35/36 HILANG
Memang mengerikan sekali anjing-anjing itu, sekilas pandangan orang akan mengira anjing itu
sebagai mahluk sebangsa macan kumbang.
Ditinjau dari bentuk bangunan rumah gelap itu, anak muda itu menduga bahwa dia telah
berada diatas permukaan tanah.
"criiiing ..." sementara anak muda itu masih melamun- tiba-tiba terdengar dentingan nyaring
menggema memecahkan kesunyian, seketika ia berpaling, maka tampaklah pintu kecil dimana ia
muncul tadi tahu-tahu sudah tertutup rapat.
Agak lama pemuda itu termenung, kemudian ia bergerak menuju kepintu ruangan dan
merabanya dengan tangan-
Pintu itu terbuat dari besi baja yang sangat kuat, ketika didorong kebelakang ternyata
menimbulkan suara pantulan yang berat, ini membuktikan bahwa pintu itu terbuat dari baja yang
tebalnya mencapai satu depa lebih, besi seberat itu tak mungkin bisa didorong olehnya dengan
kepandaian yang dimilikinya saat ini. Tiba-tiba dari atas dinding besi itu muncul sebuah lubang
bulat sebesar
JILID 28 HAL. 38/39 HILANG
mata, apa gunanya mengucapkan kata-kata yang tekebur semacam itu??"
"Baiklah, kalau engkau tidak percaya, nantikanlah saat pembalasanku itu"
"Tak usah ditunggu lagi, sekarang juga akan kupertunjukkan suatu adegan yang hidup dan
segar dihadapanmu, coba lihatlah, budak rendah yang kau cintai itu sekarang dia harus membayar
semua akibat dari perbuatannya, sebelum engkaupun dicium oleh anjing2ku, dekatkanlah matamu
dengan lubang ini dan intiplah apa yang ada disini."
Dengan penuh kegusaran Han siong Kie mendekati lubang pengintip itu dan melongok
kedalam.
Tapi apa yang kemudian terlihat olehnya membuat air muka anak muda itu berobah jadi merah
padam bagaikan darah, jantungnya berdebar keras dan kemarahannya semakin memuncak.
sebuah tubuh gadis yang telanjang bulat dengan semua bagian rahasianya tertera nyata,
terikat disebuah palang kayu yang besar, sepasang paha dara itu terbentang lebar sekali dan
tangannya sudah dipentangkan lebar, hal ini membuat setiap organ tubuhnya dapat dilihat tanpa
aling2.
selama hidup belum pernah dia saksikan gadis telanjang, dan kali ini merupakan kali yang
pertama ia saksikan gadis telanjang didepan mata, saking bedebarnya hampir saja jantungnya
mau copot.
Tetapi setelah ia menegaskan bahwa dara itu tak lain adalah Go sian bi, kegusarannya sukar
terkendalikan lagi, sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar ber-api2, teriaknya
dengan keras:
"Tua bangka anjing, apa yang hendak kau lakukan atas dirinya??" Ho Thong thian tertawa
dingin.
"Heeeh heeh heeh ia telah membunuh anakku dengan mengandalkan kecantikan wajahnya,
maka sekarang akupun akan menggunakan cara yang lebih keji untuk menghukum dirinya. Coba
kau tengok kesamping, sudah kau lihat sepasang anjing jantan itu."
"Haaahh haaahh haaahh sebentar lagi akan berlangsung adegan perkosaan seorang gadis oleh
dua ekor anjing jantan.. belum pernah menyaksikan bukan? Nah, sebentar lagi akan kau saksikan
bagaimana caranya dua ekor anjing memperkosa seorang anak dara.."
saking gusar dan gemetarnya Han siong Kie sambil menggertak giginya keras2, kalau bisa detik
itu juga dia akan mencincang tubuh orang itu sehingga hancur ber-keping- keping, tapi sebuah
dinding baja yang kuat telah menghadang ditempat itu, tak mungkin baginya untuk menerobos
masuk keruangan sebelah.
Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu tragedi yang memilukan hati, kesucian seorang
anak dara ternyata harus direnggut oleh dua ekor anjing jantan..
Go siau bi sendiri meskipun jalan darahnya tertotok. namun telinganya dapat mendengar dan
matanya bisa melihat, meskipun mulutnya tak dapat berbicara, ia mendengar suara dari Han siong
Kie dan perasaan hatinya terasa amat sakit bagaikan disayat-sayat, rasa malu, gusar, benci dan
gelisah bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.
Air mata yang meleleh keluar merupakan campuran darah, seluruh kulit wajahnya berkerut
kencang, membuat wajah gadis itu berubah jadi aneh sekali.
"Bangsat tua, engkau berani bertindak keji?" bentak Han siong Kie dengan penuh kebencian,
dia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah dinding baja itu.
"Blang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga membuat seluruh dinding baja itu
bergetar sangat keras.
Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang dilepaskan si anak muda ini di dalam
gusarnya.
Ho Thong thian agak tertegun setelah menyaksikan kedahsyatan hawa pukulan lawan, paras
mukanya ikut berubah hebat, tapi sejenak kemudian dia telah berubah jadi tenang kembali,
ejeknya:
"Bocah keparat sekalipun engkau bisa membongkar jagad, jangan harap bisa merubah nasib
kalian berdua"
"Tua bangka bajingan, kalau engkau berani mengganggu seujung rambutnya, Perkampungan
oh han san ceng kuratakan dengan
JILID 28 HAL. 44/45 HILANG
sementara anjing yang satu sudah berdiri sambil siap memperkosa anak gadis tersebut, anjing
yang lain meraung dan meronta dengan sekuat tenaga, rupanya anjing itupun sudah birahi dan
ingin menuruti jejak rekannya untuk menikmati pula kehangatan tubuh manusia.
situasi betul2 amat kritis dan berbahaya, bila tiada pertolongan yang tiba pada saatnya, niscaya
gadis cantik jelita itu akan di renggut kehormatannya oleh seekor anjing..
Hampir saja anjing itu menggagahi tubuh Go siau bi ketika secara tiba tiba anjing tersebut
mendesis panjang, menyusul tubuhnya mencelat setinggi delapan depa ke udara.. Biang.." ketika
terbanting kembali keatas tanah, darah segar berhamburan dari tubuhnya dan binasalah anjing
tersebut dalam keadaan mengerikan.
Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini sangat mengejutkan hati Ho Thong thian, dengan
sukma serasa melayang tinggalkan raganya secara beruntun dia mundur beberapa lamgkah
kebelakang.
"Criiit criing " beberapa desingan angin tajam menyergap lagi kemuka.
Untung Ho Thong thian sudah mundur ke belakang, dengan begitu desiran angin serangan
tersebut tidak mengena pada sasarannya, andaikata ia tidak mengundurkan diri tadi, niscaya
dadanya sudah berlubang besar.
sekali lagi terdengar lolongan panjang yang memekikan telinga, beberapa desingan angin
serangan yang sebelumnya tertuju ketubuh Ho Thong thian itu, sekarang meluncur kearah anjing
besar yang masih dirantai itu dan menghajarnya telak. seketika anjing itu pun mampus dengan
keadaan mengerikan.
setelah menenangkan hatinya. rasa kaget dan panik berhasil diatasi oleh Ho Thong thiansekarang
dia tahu serangan tersebut muncul dari balik lubang diatas dinding tersebut, kecuali hasil
perbuatan dari manusia berwajah dingin, rasanya memang tak mungkin bisa dilakukan oleh pihak
kedua.
Maka ia lantas bergeser kesudut ruangan yang sejajar dengan lubang diatas dinding itu,
katanya sambil tertawa seram:
"Haaahhhh haaahh haaahhh bocah keparat, engkau memang lihay, tapi sayang pertunjukan
bagus harus tetap dilangsungkan, engkau tahu aku memelihara hampir seratus ekor anjing
semacam itu, tak ada artinya bagimu kematian dua ekor anjing tersebut, tapi dengan
perbuatanmu tadi engkau sudah kehilangan hak untuk menikmati pertunjukan bagus, sekarang
engkau harus terjun sendiri dalam pertunjukan yang jauh lebih menarik"
"criiing...?" tiba tiba lubang diatas dinding itu menutup secara otomatis.
Kiranya disaat yang paling kritis, Han siong Kie teringat dengan ilm ujari Tong kim ci nya yang
lihay, maka dari lubang pengintip itulah dia melancarkan serangannya untuk membinasakan kedua
ekor anjing tersebut dan kejadian ini sama sekali diluar dugaan Ho Thong thian.
setelah lubang pengintip itu tertutup, Han siong Kie semakin panik dan gelisah, sekarang bukan
saja ia terkurung dalam jebakan malahan Go siau bi semakin terancam jiwanya.
"Kraaakkk kraaakkk " bunyi gemerincing berkumandang dari arah belakang, ketika ia berpaling,
hatinya kontan jadi terperanjat rupanya terali besi disamping ruangan itu sudah dibuka dan lima
ekor anjing besar bagaikan harimau telah menyusup keluar dari kandangnya dan mengambil posisi
pengepungan.
sambil menggonggong seekor anjing besar itu laksana kilat menerjang maju kedepan. Han
siong Kie cepat bergeser kearah samping, ilmu jari Tong kim ci segera dilepaskan.
Anjing itu mendesis lengking, tubuhnya terhajar telak dan mampus seketika itu juga, sementara
empat ekor lainnya pada saat yang hampir bersamaan menerkam kedepan.
Ruangan itu luasnya cuma tiga kaki, sedangkan kedua sangkar anjing itu hampir menempati
separuhnya, sisa ruangan yang tersedia sempit sekali, dalam keadaan seperti ini sulit baginya
untuk berkelit maupun menghindar.
Untungnya Han siong Kie memiliki ilmu lintasan cahaya kilatan bayangan yang lihay bagaikan
sukma gentayangan dia bergerak kian kemari diantara terjangan-terjangan empat ekor anjing
tersebut, meskipun posisinya berbahaya namun tak sampai terancam jiwanya.
JILID 28 HAL.50/51 HILANG
lewat pintu yang sempit, tiap kali pula sianak muda itu membunuhnya dengan ilmu jari Tong
kin ci.
Dalam sekejap mata tiga ekor anjing raksasa sudah mampus dengan badan hancur.
"Crinng " tiba? pintu sangkar itu menutup dan Han siong Kie terkurung didalam sangkar
tersebut.
Namun sianak muda itu sama sekali tidak ambil pusing, dari bilik celah-celah terali besi secara
beruntun dia lancarkan beberapa sentilan mautnya. Tiga ekor anjing raksasa yang tersisa, kembali
mampus diujung telapak tangannya.
Begitulah, dalam sekejap mata ada sepuluh ekor anjing raksasa yang telah ia bunuh mati.
selesai membunuh anjing2 itu, Han siong Kie lantas mencengkeram terali besi itu karena pintu
keluarnya tertutup rapat maka dia memutuskan untuk mematahkan terali besi itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, sekali merentangkan tangannya, terali besi itu
segera melengkung dan terbukalah sebuah lubang yang cukup besar.
Pemuda itu meneborobos keluar dari sangkar tersebut, walau begitu dia belum lolos dari
kurungan sebab dinding baja masih mengurungnya dalam ruangan itu
Betapa gelisahnya pemuda itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia seperti seekor harimau
buas yang terjebak dalam kerangkeng sambil berjalan kesana kemari otaknya berputat terus untuk
mencari akal guna meloloskan diri dari kurungan.
Bagi si anak muda ini, keselamatan sendiri tidak terlalu dipentingkan, ia justru lebih
menguatirkan keselamatan Go siau bi, sekarang dia dapat memahami sampai dimanakah kekejian
Ho Thong thian, ia tahu apa yang telah diancamkan dapat dilaksanakan menjadi kenyataan-
Ho Thong thian memang sangat keji, di tinjau dari tindak tanduknya yang begitu terlatih dan
terbiasa, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah banyak perempuan yang mengalami nasib tragis
ditangannya, entah sudah berapa banyak anak perempuan yang dijadikan obyek tontonannya
diperkosa olen anjing ..
Rasa dendam, benci, marah berkecamuk dalam hatinya, hawa napsu membunuh telah
menyelimuti seluruh wajahnya. Ia bersumpah dihati bila Ho Thong thian sampai tertangkap maka
akan dibunuhnya orang itu secara keji.
sambil menahan diri pemuda itu mulai meraba dinding baja dan berusaha untuk menemukan
letak tombol rahasia ditempat itu, namun kecuali pintu rahasia tadi, tiada bekas lain yang terdapat
disitu, seakan-akan ruangan itu dibuat dari lembaran baja yang utuh.
sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru pertama kali ini dia menjumpai keadaan yang
mencemaskan hatinya, dan membuat ia jengah serta serba salah.
Hawa amarah makin memuncak. hampir saja anak muda itu tak sanggup mengendalikan diri..
Tiba-tiba pintu besi yang menghubungkan ruangan itu dengan penjara bawah tanah perlahanlahan
bergerak ke atas dan akhirmya terbukalah sebuah liang kecil.
Han siong Kie mundur tiga langkah ke belakang, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan
siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di inginkan.
sesosok makhluk aneh berbulu perlahan-lahan muncul dari lubang tadi dan meloncat keluar ....
Han siong Kie semakin terperanjat, telapak tangannya diayun kemuka melepaskan pukulan
maut.
"Hey, bocah jangan pukul aku" makhluk aneh itu berseru dengan lantang.
Han siong Kie menarik serangannya dan mundur ke belakang ternyata makhluk berbulu itu
adalah kepala manusia, dia adalah sorang manusia cebol yang gemuk dan bentuk badannya persis
seperti blingo, rambutnya telah beruban semua.
orang itu tak lain adalah Tee heng sian (Dewa berjalan dalam tanah) yang pernah merampas
pusaka Hud jiu po pit miliknya tempo hari.
Kemunculan Tee heng sian dalam keadaan semacam ini jauh diluar dugaan Han siong Kie, ia
tahu tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sangat lihay dan tindak tanduknya sangat misterius.
Dengan suara yang dingin bagaikan es, sianak muda itu segera menegur keras:
"Bukankah emgkau adalah Tee heng sian?"
Dengan tubuh yang gemuk dan gerakan yang lamban- Tee heng sian bergerak
JILID 28 HAL. 56/57 HILANG
" Untuk meneguk beberapa guci arak wangi itu, aku telah membuang waktu selama berbulan2
lamanya, dari luar perkampungan aku telah menggali sebuah lorong rahasia yang langsung
berhubungan dengan gudang arak itu."
Ter mangu2 Han siong Kie setelah mendengar ucapan tersebut, kejadian ini memang
merupakan suatu kejadian yang aneh sekali, untuk mencuri beberapa guci arak wangi, ternyata
orang itu bersedia bekerja selama ber-bulan2 lamanya. setelah tertegun sesaat diapun bertanya
lagi:
"Engkau toh tahu bahwa perkampungan oh han san ceng penuh dengan anjing2 raksasa? Masa
dengan daya penciuman anjing2 itu, jejakmu tidak sampai ketahuan ?"
"Haaah haaah haaaah kalau ingin jadi pencuri yang ulung maka pengetahuan sebagai pencuri
musti luas, tentu saja akupun tahu akan lihaynya daya penciuman anjing-anjing itu, maka sengaja
kugosokkan serbuk anti bau disekujur badanku, setelah begitu maka sekalipun anjing dari langit
juga tak akan dapat mencium bauku"
"Jadi kalau begitu, engkau bisa keluar masuk perkampungan ini dengan leluasa?"
"Itu sih tidak. meskipun aku punya serbuk anti bau, tapi aku tidak punya serbuk anti anjing,
kalau sampai terkepung anjing2 buas itu, bisa jadi mayatku akan habis disikat mereka, tentu saja
kedatanganku kemari juga menempuh bahaya"
"Kenapa engkau datang kesini dengan menempuh bahaya ?"
"Tentu saja karena engkau si bocah muda "
40
"Lantaran aku?" seru Han Siong Kie dengan wajah tercengang.
"Memang begitulah kenyataannya"
"Boleh aku tahu apa sebabnya engkau datang kemari ?"
"Mari duduklah dulu dan biarlah aku bercerita dari awal sampai akhir."
"Sekarang aku tak ada waktu" Seru Han Siong Kie dengan gelisah, "apakah engkau bersedia
memberi petunjuk kepadaku bagaimana caranya keluar dari penjara ruang baja ini??"
"Engkau ingin buru2 menolong bocah perempuan itu? " tanya Tee heng sian sambil melototkan
matanya yang aneh.
"Dari mana engkau bisa tahu?" Han siong Kie balik bertanya dengan hati terperanjat.
"Jangan gelisah dulu, aku kebetulan dapat mencuri dengar kejadian ini dari bawah tanah,
sebab tanah dibawah tempat tinggal Ho Thong thian telah kubongkar, maka semua pembicaraan
diatas kedengaran jelas dibawah, sekarang makhluk tua itu sedang merawat lukanya, untuk sesaat
dia tak mampu mengapa-apakan bocah perempuan itu lagi"
"Lhoo..kok aneh, masa Ho Thong thian sedang merawat lukanya?" tanya Han siong Kie
keheranan.
00dw00
BAB 59
"MASA membohongi kau?"
"Lantas dia luka ditangan siapa?"
"siapa lagi? Tentu saja ditangan bocah perempuan itu"
"Aaah, tidak mungkin, bukankah jalan darahnya sudah tertotok, dia sama sekali tak bisa
bergerak.."
"Hey bocah, pernahkah dengar tentang ilmu membebaskan jalan darah dengan hawa murni?
Bocah perempuan itu sudah kembali melepaskan diri dari pengaruh totokan, dan suatu serangan
kilatnya berhasil pula melukai Ho thong thian"
"sekarang gadis itu ada dimana??"
"Dia masih terkurung dalam ruangan baja sebelah ruangan ini"
JILID28 HAL. 62/63 HILANG
Begitulah, dengan Tee heng sian berjalan didepan, Han siong Kie berjalan dibelakang mereka
melewati sebuah lorong yang sangat panjang.
Ketika hampir mendekati ruang tamu dan tiga kaki dimulut penjara bawah tanah, mereka
mendekati dinding yang berada disebelah kanan, ketika sebuah papan batu sebesar dua depa di
geser kesamping, maka muncullah sebuah gua yang bisa dilewati oleh tubuh seorang manusia.
"Loo tee" kata Tee heng sian kemudian, "inilah jalan bawah tanah yang telah lo ko gali selama
ini, asal batu itu digeser kembali pada tempat semula, maka sekalipun ada dewa yang lewat disini
juga tak akan melihatnya"
-000dw000-
Han siong Kie tertarik sekali dengan keanehan watak sahabat barunya ini, ia tertawa dan
menyahut:
"Kalau mainan begitu, aku mohon diri dahulu"
"Pergilah. Aku paling benci dengan segala tata cara, ingat bocah perempuan itu tersekap dalam
rumah besi ketiga, jangan sampai salah "
Han siong Kie mengiakan, dia lantas menggeser guci arak yang dimaksudkan, disana memang
terdapat sebuah lorong yang gelap dan panjang, pemuda itu lantas menerobos keluar lewat jalan
bawah tanah itu.
seperminum teh kemudian ia sudah keluar dari lorong itu, ternyata sekarang dia sudah berada
diluar pekarangan perkampungan itu, maka sebagaimana yang dipesan, ia tutup kembali mulut
gua itu dengan rapi, kemudian baru menyerbu kedalam perkampungan
Baru saja dia melayang turun didepan dua deret bangunan baja, tiba-tiba tiga sosok bayangan
hitam dengan kecepatan bagaikan kilat telah menyambar tiba, ternyata ketiga sosok bayangan itu
adalah tiga ekor anjing yang besar.
Berada ditanah lapang yang luas Han siong Kie tak perlu menguatirkan cakar racun dari anjinganjing
itu lagi, dalam beberapa gebrakan saja ketiga ekor anjing itu sudah dibikin mampus dengan
pukulan mautnya.
suara pekikan panjang yang diperdengarkan anjing-anjing itu sebelum ajalnya, dengan Cepat
mengejutkan seluruh perkampungan.
Suara langkah kaki yang sangat ramai berkumandang memecahkan kesunyian, belasan orang
lelaki yang berdandan sebagai centeng berlarian keluar dari rumah-rumah baja itu.
Tapi setelah mengetahui siapa yang muncul, hampir sebagian besar centeng itu berdiri
tertegun, mimpipun mereka tak menyangka kalau Manusia bermuka dingin yang dikurung dalam
rumah baja telah berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat.
Padahal mereka tahu bahwa baja yang melapisi ruangan- ruangan itu tebalnya mencapai
beberapa depa, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang tinggi juga tak akan mampu untuk
menghancurkannya,
JILID29 HAL. 06/07 HILANG
untuk membunuh kawanan begundal itu, oleh sebab pihak lawan menghadang jalan perginya,
dia baru berhasrat untuk melakukan pembantaian secara keji. "Trang traanng traaang " suara
genta dibunyikan bertalu-talu.
Ber-puluh2 sosok bayangan manusia meluncur masuk kedalam gelanggang, diantara mereka
ada yang tua ada yang muda, semuanya berjumlah lima puluh orang lebih, tapi yang jelas diatas
wajah orang2 itu terlintas rasa kaget yang bukan kepalang.
setelah semua orang munculkan diri, dengan cepatnya pula Han siong Kie terkurung ditengah
gelanggang.
Menyapu wajah orang2 itu dengan pandangan dingin, Han sioog Kie berkata: "Kenapa sampai
sekarang Hoo Thong thian belum juga munculkan diri?"
Dari antara kerumunan orang banyak. tampil kedepan seorang kakek berbaju hitam, dengan
wajah bengis ia menghardik:
"Manusia bermuka dingin, apa maksudmu datang ke mari??"
"Membantai seluruh isi perkampungan ini" jawab pemuda itu dengan ketus
Ucapan yang berbau amis darah ini sangat menyolok dan menggidikkan hati semua orang,
tanpa sadar paras muka orang-orang itu berubah hebat dan bulu kuduknya pada bangun berdiri
Dengan terperanjat kakek baju hitam itu mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan
suara gemetar:
"Apa? Manusia bermuka dingin, engkau akan membantai seluruh isi perkampungan?"
"Benar, tentunya Ho Thong thian masih belum lupa bukan dengan apa yang telah kuucapkan
ketika berada dalam kurungan ruang besi tadi?"
"Tentu saja lohu tak akan lupa, dengan kata-katamu itu" berbareng dengan berkumandangnya
jawaban itu, Ho Thong thian munculkan diri ditengah gelanggang
Hawa napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah Han siong Kie sambil mendengus
dingin ia tuding Ho Thong thian serunya:
"Bangsat tua lebih bagus lagi kalau engkau memang mengingat kata-kataku itu, sekarang juga
kenyataan akan terbeber didepan mata"
Ho Thong thian memandang lawannya dengan penuh kebencian serta kelicikan:
JILID29 HAl 10/11 HILANG
bahkan cara melepaskan senjata rahasia itu pun menggunakan cara ban thian boa yu ( hujan
bunga diseluruh langit).
Han siong Kie mendengus dingin, sepasang telapak tangannya membuat gerakan lingkaran
didepan dada kemudian menolaknya kedepan.
Ditengah hembusan angin puyuh yang kencang, seluruh kilatan cahaya biru itu sudah tersapu
rontok diatas tanah.
Ho Thong thian bertindak cukup licik, berbareng dengan dilancarkannya serangan itu, dia telah
mundur sejauh dua kaki lebih dari kedudukan semula
Gonggongan anjing menderu-deru, kurang lebih dua puluh ekor anjing besar berlarian keluar
dari ruang baja dan langsung menyerbu kedalam gelanggang
semakin tebal hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Han siong Kie, dia melambung
keudara, sepasang telapak tangannya dilontarkan berbareng kedepan, sepuluh desingan ilmu jari
Tong kim ci dengan kecepatan yang luar biasa menghantam tubuh kakek baju hitam serta pria
setengah baya yang melancarkan serangan senjata rahasia itu
Dua jeritan ngeri memecahkan kesunyian, percikan darah segar berhamburan ditanah, tanpa
sempat menjerit, kakek dan pria setengah baya itu sudah mampus dengan badan berlubang.
Han siong Kie tidak berhenti sampai disitu saja, setelah menewaskan dua orang musuhnya dia
melambung keangkasa dan menubruk kearah Ho Thong thian yang sudah kabur sejauh dua kaki
dari kedudukan semula itu.
Sekarang Ho Thong thian baru merasa takut dan seperti kehilangan sukma, cepatt dia
menundukkan tubuhnya dan menggelinding sejauh beberapa kaki dari tempat itu.
Han siong Kie tidak mengira kalau seorang tokoh silat yang punya nama besar seperti Ho
Thong thian, ternyata telah melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari medan pertempuran,
sementara serangannya gagal mencapai sasaran, belasan ekor anjing besar itu sudah menerjang
tiba dengas serangannya.
Disaat Han siong Kie terkurung oleh kawanan anjing tersebut, Ho Thong thian sendiri kabur
menuju kepintu baja yang keempat, mungkin dia hendak menggunakan ruang baja ini untuk
menyembunyikan diri atau mungkin juga dia masih mempunyai rencana busuk yang lain.
Kali ini Han siong Kie bertindak cerdik, dia melambung setinggi beberapa kaki ke udara setelah
lolos dari sergapan kawanan anjing itu badannya berjumpalitan beberapa kali seperti anak panah
terlepas dari busurnya dia meluncur kearah Ho Thong thian, sepasang telapak tangannya seperti
cakar garuda mengcengkeram batok kepala lawan.
Hampir pada saat yang bersamaan, pintu besi itu terbuka dan mereka berdua masuk kedalam
ruangan baja.
"criing" secara otomatis pintu baja itu menutup dengan sendirinya.
Betapa takut dan ngerinya Hoo Thong thian tatkala dilihatnya bukan saja ia gagal untuk
melarikan diri malahan dirinya terjebak dalam satu ruangan bersama musuhnya.
Ia sadar bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, apalagi berada dalam ruangan
yang begitu sempit, mau melawanpun tak ada gunanya.
Han siong Kie sendiri sudah terlanjur membenci musuhnya ini, cepat telapak tangan kiri serta
ujung jari tangan kanannya ditolak kedepan melancarkan serangkaian pukulan gencar ketubuh
Hoo Thong thian yang sedang ketakutan.
Ho Thong thian sendiri kelabakan setengah mati menghadapi ancaman maut itu, mau
menghindar dia tak mampu, akhirnya tidak ampun lagi tubuhnya terhajar telak oleh serangan
maut itu.
sambil menjerit lengkimg dengan suara yang menyayatkan hati, tubuh Hoo Thong thian
mencelat sampai menumbuk dinding baja, dadanya seketika terhajar sampai berlubang darah
segar berhamburan membasahi seluruh lantai.
setelah musuhnya mampus, Han siong Kie baru tertegun, ia baru menyesal sekarang setelah
musuhnya dibunuh mati, bukankah dengan demikian dia terjebak pula dalam ruangan baja itu?
Bangkai keseputuh ekor anjing itu masih menggeletak ditempat semula, hanya kini bertambah
lagi dengan sesosok mayat manusia.
JILID29 HAl 16/17 HILANG
tubuhnya gemetar dengan jantungnya berdebar dan mukanya jadi merah, secara beruntun dia
mundur tiga langkah ke belakang.
sesosok tubuh yang bugil masih melingkar didalam ruang baja itu, dan dara itu tak lain adalah
Go siau bi.
Padahal menurut keterangan dari Tee heng sian jalan darah Go siau bi sudah bebas malahan
serangannya berhasil melukai Ho Thong thian, kalau toh jalan darahnya sudah bebas, kenapa ia
masih berbaring disitu dalam keadaan telanjang bulat ?
Kalau dilihat dari pintu baja yang separuh terbuka,jelas ada orang pernah memasuki ruangan
ini lalu siapakah orang itu ?
Kenapa tidak menolong Go siau bi, melainkan membiarkan dia .....
Berpikir sampai disini, tak kuasa lagi tubuhnya gemetar keras, pikirnya lebih jauh:
"Aduh celaka, jangan-jangan Go siau bi sudah mengalami...."
Karena kuatir tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu menerjang masuk ke dalam ruangan,
meskipun jantungnya
JILID 29 Hal 19 S/D 24 HILANG
merahnya sehingga tidak menetes ke bawah, ujarnya lagi dengan sedih:
"Sejak pertama kali aku bertemu dengan kau, aku telah mencintai dirimu, engkau adalah orang
pertama yang kucintai juga merupakan orang terakhir yang kucintai, sekalipun aku mencintai
dirimu dengan sepenuh hati dan aku tidak mendapatkan balasan yang sewajarnya tapi aku
memang mencintai kau, cintaku adalah cinta suci yang muncul dari lubuk hatiku, asal kau tahu aku
sudah merasa puas. Aaai . . karena pikiran yang keliru hampir saja aku melakukan kesalahan
besar, terimakasih kuucapkan kepadamu, karena engkau telah memberi kesempatan kepadaku
untuk menebus dosa-dosa itu"
Rasa cinta Han siong Kie benar-benar tersentuh oleh perkataanya itu, detik itu juga ia merasa
bersalah karena pendapatnya yang keliru ini telah menghancur lumatkan rasa cinta dirinya yang
nyata ia telah menyakiti perasaan seorang gadis yang membuat dara itu hampir saja melakukan
kesalahan besar.
"Nona, maafkanlah kesalahanku . ." bisiknya kemudian.
-000dw000-
BAB 60
Go SIAU BI segera ulapkan tangannya dan mencegah pemuda itu meneruskan kata-katanya
"Han siangkong, biarlah kusebut engkau dengan sebutan seperti yang kugunakan ketika untuk
pertama kalinya aku bertemu dengan engkau, sekarang engkau tak usah minta maaf kepadaku,
biarkanlah kejadian yang sudah lewat jadi kenangan, sekarang tegasnya mulai detik ini untuk
menebus semua dosa yang pernah kulakukan semoga engkau baik-baik menjaga diri"
Tak tahan lagi air matanya jadi berderai membasahi seluruh wajahnya yang putih dan halus.
Go siau bi telah berlalu pergi dengan membawa perasaan hatinya yang hancur.
Han siong Kie ingin memanggil dara itu tapi ia tidak berbuat demikian, pemuda itu hanya
berdiri termangu-mangu di dalam bangunan rumah baja itu.
Ia merasa bagaikan sedang bermimpi suatu impian buruk yang sebetuinya adalah kenyataan,
dengan suara yang lirih ia cuma dapat bergumam. .bergumam seorang diri dengan suara yang
lirih:
"sebenarnya apa yang kau lakukan? Benarkah tindakanku selama ini ? Ataukah tindakanku itu
keliru besar?"
Namun ia tak berhasil menemukan jawabannya.
Dengan mengorbankan segala-galanya Go siau bi berusaha untuk mendapatkan dirinya, tapi
sekarang setelah mengalami kejadian tersebut, ia telah pergi dengan keraskan hati dan telah
memutuskan perasaan cintanya.
sementara dia masih melamun, dari kejauhan terdengar serentetan jeritan ngeri berkumandang
memenuhi seluruh angkasa, jeritan tersebut segera menyadarkan kembali pemuda itu dari
lamunannya
Ia lantas menduga kalau Go siau bi sedang melaksanakan pembalasan dendamnya atas orangorang
dari perkampungan oh hau san ceng
JILID29 HAL. 28/29 HILANG
diharuskan menolong Go siau bi. Kalau toh ia dapat membuka pintu baja itu, mengapa ia tidak
membawa Go siau bi yang telanjang bulat, sebaliknya diserahkan kepadanya? Kenapa..? Kenapa ?
Pemuda itu benar-benar merasa tidak habis mengerti.
"Eeeh lo-te, aku lihat pikiranmu kurang tenang dan wajahmu gugup sekali hayo, apa yang telah
kau lakukan?" tiba tiba Tee heng sian menegur sambil tertawa cengar- cengir.
"Aku..." Han siong Kie tertawa jengah
"Dimana bocah perempuan yang telah kau tolong itu?"
"Dia... dia telah pergi"
"Pergi? Pergi seorang diri?"
Dengan sedih Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan. Tee hee sian berkata lebih
jauh.
"Tahukah engkau, kenapa orang yang ada maksud membunuh orang dan membakar
perkampungan ini?"
"Mungkin juga dia hendak melampiaskan rasa dendam dan mendongkol dari Go siau bi"
"Lalu setelah urusan disini telah selesai, kau hendak pergi kemana. ?"
Han siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
kemudian baru menjawab: "..Aku pikir hendak mengunjungi lembah in wu kok"
"Lembah In wu kok? Aneh benar nama tersebut, dimana toh letak lembah yang aneh itu?"
"Kurang lebih setengah jam lamanya dari tempat ini, lembah In wu kok adalah sebuah lembah
aneh yang terpencil sekali letaknya"
"siapa yang beri tahu kepadamu kalau lembah itu bernama in wu kok?" Han siong kie
tersenyum.
"ooh aku sendiri yang menamakan lembah tersebut, dengan sebutan lembah In wu kok, coba
lihatlah bukankah disitu penuh dengan kabut yang amat tebal?"
"Aaah saudaraku, tempat itu bukan bernama lembah In wu kok melainkan adalah Lembah
kematian yang dianggap setiap umat persilatan sebagai daerah terlarang, keseraman dan
kengerian yang menyelimuti lembah tersebut sama sekali tak kalah dengan kemisteriusan benteng
maut yang tersohor itu"
"Lembah kematian?"
Benar, lembah itu sangat berbahaya.. setiap orang yang berani memasuki lembah itu berarti
mengantar kematian diri sendiri sebab semua orang yang sudah masuk ke dalam lembah itu,
selamanya tak akan bisa munculkan diri dalam keadaan selamat"
Hebat sekali perobahan wajah Han siong Kie, untuk sesaat dia termenung lalu baru berkata:
"Semula aku masih mengira lembah itu hanya sebuah lembah terpencil yang jarang sekali
dikunjungi manusia"
"Loo te" Tiba2 Tee heng sian berkata dengan wajah serius "kalau toh engkau sama sekali tidak
kenal akan lembah kematian, mau apa kau kunjungi lembah tersebut??"
"Aku... sebenarnya aku hendak mempelajari sejenis ilmu silat didalam lembah itu"
”Kalau toh cuma ingin mempelajari sejenis ilmu silat, mengapa kau pilih tempat semacam itu??"
"Sebab aku lihat tempat itu jauh dari keramaian dunia dan jarang sekali dikunjungi manusia,
aku takut latihanku terganggu oleh kehadiran manusia lain maka aku hendak mencari tempat yang
sepi dan terpencil itu sebagai tempat latihanku"
"saudaraku kalau engkau percaya dengan kata2ku ini, lebih baik batalkan saja niatmu itu"
Masih mendingan kalau Tee heng sian tidak berkata, semakin dilarang pergi kesitu semakin
besar pula rasa ingin tahu yang timbul dalam hati Han siong Kipikirnya:
"Apa salahnya kalau aku pergi melakukau penyelidikan? Akan kulihat sebenarnya macam
apakah lembah kematian tersebut"
Tapi ia merasa tak tega untuk menolak kebaikan orang, maka ia manggut-manggut berulang
kali.
"Baiklah, aku akan pertimbangkan lagi rencana ini, terima kasih atas peringatan dari engkoh
tua, kau..."
sebelum pemuda itu menyelesaikan kata2nya Tee heng siang telah tertawa cekikikan seraya
menukas:
JILID29 HAL. 34/35 HILANG
Pemuda itu menghela napas panjang, pikirnya:
"Aaai. sayang adik Hui telah kembali kealam baka, tapi benarkah ia telah mati Bukankah orang
yang ada maksud telah berkata bahwa adik Hui tak akan mati?" Lama sekali pemuda itu
termenung, selang sesaat kemudian pikirnya lebih jauh:
"Kalau dia tidak mati, meagapa ia tak muncul kembali dari benteng mautnya, Apakah ia lupa
masih ada janji dengan aku? Lupakah dia ketidak munculannya berarti suatu bukti padaku bahwa
ayahnya adalah pembunuh keluargaku?"
setelah termanggu2 sejenak pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya memasuki lembah
itu
Kabut yang menyelimuti angkasa kian menebal, meskipun Han siong Kie memiliki ketajaman
mata yang dapat memandang pemandangan sekitar tiga kaki, namun tiada satupun yang terlihat
olehnya.
"Aneh." kembali pemuda itu membatin, menurut Tee heng sian lembah kematian adalah suatu
daerah terlarang yang sangat disegani oleh setiap umat persilatan di dunia ini, malahan katanya
siapa berani masuk maka dia tak ada harapan untuk keluar dalam keadaan selamat, kini aku
sudah lama masuk kedalam wilayah ini, kenapa tiada sesuatu apapun yang berhasil kutemui . ." "
Setelah termenung sebenter ia membatin lagi:
"Jangan-jangan berita yang tersiar dalam dunia persilatan tak bisa dipercaya kebenarannya?"
Satu li kembali sudah dilewati oleh Han siong Kie, namun tiada sesuatu apapun yang terlihat.
Akhirnya mata yang tajam itu membentur dengan sesuatu benda, mendadak saja tubuhnya
menggigil keras jantungnya berdebar tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya.
Sebuah batu besar yang penuh dengan lumut hijau terpancang di depan matanya, di atas batu
tugu itu terteralah beberapa tulisan dengan huruf yang amat besar: "PERBATASAN ANTARA MATI
DAN HIDUP
JILID 29 HAL. 38/39 HILANG
Pemuda itu celingukan memandang sekeliling tempat itu, ketika ditemukan sebuah batu cadas
kurang lebih empat kaki disamping tempat itu, cepat ia berkelebat kebelakang batu itu dan
menyembunyikan diri
sekejap mata kemudian belasan sosok bayangan manusia telah munculkan diri didepan batu
peringatan tersebut.
Rombongan itu dipimpin oleh dua orang kakek berjubah hitam sedang kan sisanya adalah dua
belas orang laki-laki yang memakai, baju ringkas warna hitam pula.
Di atas dada kedua orang kakek berjubah hitam itu masing2 bersulamkan lukisan rembulan dan
matahari dan bintang.
Begitu menyaksikan lambang yang tertera diatas dada kakek berjubah hitam itu, Han siong Kie
merasakan hatinya bergetar keras, sebab lambang tersebut tidak terlalu asing baginya, dia merasa
se-akan-akan pernah menjumpainya disuatu tempat.
setelah dipikirkan beberapa saat pemuda itu teringat kembali, ia masih ingat bagaimana orang
yang kehilangan sukma telah membunuh Tengkorak maut gadungan dengan lencana Thian Che
leng, dan di atas lencana itu terteralah lukisan Matahari, rembulan dan bintang.
Itu membuktikan pula bahwa rombongan yang barusan tiba disana tak lain adalab anak buah
dari perkUmpulan Thian Che kau.
seingatnya diantara anggota perkumpulan Thian Che kau yang pernah ditemuinya, belum
pernah ada diantara mereka yang munculkan diri dengan diatas dadanya tertera lambang
matahari rembulan serta bintang, pemuda itu mulai berpikir-pikir, jangan2 kedudukan dua orang
kakek tua itu memang sangat istimewa??
sementara itu salah seorang diantara dua orang kakek berjubah hitam itu sudah menyapu
sekejap sekeliling gelanggang, kemudian kepada rekan-rekannya dia berkata.
"saudara see bun, masakah bocah keparat itu bisa terbang kelangit atau tenggelam kedasar
bumi? Kenapa jejaknya lenyap dengan begitu saja tanpa meninggalkan bekas?" Kakek baju hitam
yang disebut saudara see bun itu menjawab:
"saudara Nyoo, menurut pandanganku mungkin saja bocah keparat itu telah mengetahui jejak
kita semua maka sengaja ia mencari tempat yang bersembunyi untuk menyembunyikan diri "
"sekalipun ia sedang bersembunyi toh penggeledahan yang kita lakukan cukup ketat, masa
pencarian ini sangat teledor sampai tempat persembunyian musuh sama sekali tidak ketahuan ?"
"Walaupun demikian kabut toh terlalu tebal disekitar tempat ini, siapa tahu kalau
penggeledahan kita memang kurang teliti ?"
"Mungkinkah mata2 kita telah salah melihat orang ?" tanya orang she Nyoo lagi.
"Aaah tidak mungkin Tanda2 yang dimiliki manusia bermuka dingin sangat istimewa sekali,
rasanya susah untuk mencari orang kedua yang memiliki ciri2 seperti dia "
Hampir saja Han siong Kie mendcngus dingin apa lagi setelah diketahui olehnya bahwa
kemunculan rombongan itu tak lain adalah sedang mencari jejaknya.
"Jangan-jangan bangsat muda itu sudah melampaui perbatasan antara hidup dan mati?"
kembali kakek she Nyoo itu mengutarakan pendapatnya. Dengan cepat kakek she see bun itu
menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aah.. soal ini tak mungkin, sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tak nanti ia bisa lolos dari
kematian bila berani melewati perbatasan ini, tak nanti dia datang hanya untuk menghantar
kematian belaka"
"Yang lebih aneh lagi, entah apa sebabnya bocah bangsat itu datang mengunjungi lembah
kematian??"
"Aku mana tahu, mungkin cuma dia seorang yang mengetahui apa tujuannya datang kemari"
"Lalu apa yang musti kita lakukan sekarang??"
"Mulut lembah sebelah depan toh sudah dijaga oleh jago2 lihay kita, mari kita lanjutkan
penggeledahannya disekitar tempat ini, aku tak percaya kalau dia sudah dapat terbang ke langit
atau menyusup kedalam tanah."
"Andaikata penggeledahan kita ini cuma sia-sia belaka??"
JILID29 HAL. 44/45 HILANG
laki-laki berpakaian ringkas itu segera menyambarkan diri dan membentuk gerakan setengah
lingkaran untuk melakukan pengepungan yang ketat.
Telapak tangan kilat see bun Lui maupun pui hunp yan Nyoo Yong serentak berpaling pula
kearah anak muda itu, dengan sinar mata berwarna hijau tajam mereka menatap musuhnya tanpa
berkedip. dari kilatan cahaya mata itu dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki kedua
orang itu benar2 sudah mencapai puncak kesempurnaan.
Agak terkejut juga Han siong Kie setelah menyaksikan kesempurnaan tenaga dalam yang
dimiliki musuhnya, namun ia tak gentar, dengan pandangan yang tak kalah dinginnya ia balas
menatap kedua orang lawannya.
"Jadi engkau yang bernama Manusia yang bermuka dingin?" tegur Tui hun pan dengan wajah
dingin.
Han siong Kie mendengus dingin. "Hmm Ucapanmu memang tepat sekali."
"Bangsat, engkau akan menyerahkan diri dengan begitu saja ataukah hendak memaksa aku
untuk turun tangan?"
"Huuh manusia macam kalian pun hendak membekuk aku" ejek sang pemuda sambil tertawa
sinis "Hmmm sebutkan dulu siapa nama kalian"
"Bocah keparat, dengarkan baik-baik kata-kata kami ini" seru see bun Li dengan cepat, "kami
berdua adalah Utusan khusus dari Thian che kau, dua jago lihay diantara sepuluh tokoh paling
tinggi kedudukannya dalam perkumpulan kami.."
"Utusan khusus Haaahh haaahh haahh aku rasa kalian toh tak lebih cuma begundal bayaran
belaka"
Ucapan itu dianggap sebagai penghinaan besar bagi dua orang kakek tua itu, betapa gusarnya
oran2 itu sukar dilukiskan dengan kata-kata.
"Bangsat, rupanya engkau sudah bosan hidup?" bentak mereka hampir bersamaan waktunya.
Dliringi bentakan nyaring see bun Lui melambung tiga kali ke tangah udara, kemudian secepat
kilat melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Han siong Kie.
serangan tersebut memang luar biasa cepatnya dan tak malu disebut bagaikan sambaran kilat,
pada saat yang
JILID29 HAL. 48/49 HILANG
Han siong Kie dengan andalkan tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan itu
melakukan inisiatip untuk menyerang gencar, sekalipun dia telah berusaha dengan segenap
kemampuan yang dimiliki, itupun hanya berhasil memaksa lawannya untuk bertarung dalam
keadaan seimbang alias sama kuat.
Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun menang kalah masih belum bisa
ditentukan.
Memang seram dan mengerikan jalannya pertarungan itu, bukan saja angin menderu dan
bahkan dunia terasa jadi gelap, membuat dua belas orang laki2 berpakaian ringkas yang ada
disamcing gelanggang diam2 merasa bergidik.
setelah berhenti sebentar untuk mengatur pernafasan, see bun Li terjun kembali ke dalam
gelanggang pertarungan, rupanya dia pun menyadari bahwa kekuatan pihak lawan terlalu
tangguh, tak mungkin salah seorang dari pada mereka berhasil menaklukkan lawannya andaikata
tidak turun tangan secara bersama:
Dengan cepat situasi dalam gelanggang pertarungan mengalami perubahan.
Dua orang tokoh sakti dengan meng andalkan kekuatan mereka yang paling top berusaha
menghancurkan lawannya, kedahsyatan angin pukulan yang mereka hasilkan benar2 mengerikan
sekali.
Dalam keadaan demikian, Han siong Kie dipaksa untuk mengambil langkah2 pertahanan,
dia mainkan ilmu Mo mo ciang hoat bagian pertahanan untuk menutup semua bagian tubuhnya
dari kemungkinan terserang musuh, kalau sebentar saja masih mendingan tapi lama kelamaan
diapun mulai terdesak hebat. sepuluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa...
Han siong Kie semakin terdesak hebat sehingga selangkah demi selangkah mundur terus
kebelakang..
satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Akhirnya pemuda itu sudah melampaui garis pemisah
yang merupakan perbatasan antara mati dan hidup,
Menyaksikan kejadian itu baik see bun Lui yang bergelar telapak tangan kilat maupun Nyoo
Yong yang berjulukan Hakim pengejar sukma sama-sama menarik kembali serangannya dan
mundur kebelakang.
Perbatasan antara mati dan hidup .. suatu wilayah angker yang tak berani dilewati oleh
siapapun.
Han siong Kio masih belum merasa kan akan hal itu, kembali ia mundur beberapa langkah
kebelakang.
sekarang Han siong Kie sudah berada satu kaki lebih dibalik garis pemisah yang disebut
perbatasan antara mati dan hidup itu, namun tiada sesuatu kejadian yang menimpa dirinya, ia
tetap utuh, sehat dan tak kekurangan sesuatu apapun.
Belasan orang jago lihay dari Thian che kau mulai menunjukan sikap kebingungan dan tidak
habis mengerti, sampai2 mereka berdiri dengan wajah melongo.
-ooodwooo-
BAB 61
LEMBAH kematian- suatu daerah terlarang yang dianggap angker serta mengerikan bagi umat
persilatan, wilayah itu dipisahkan oleh sebuah garis yang dinamakan perbatasan antara mati dan
hidup, selama banyak tahun tak seorang manusiapun sanggup melewati perbatasan tersebut
dalam keadaan hidup,
Tapi sekarang Manusia berwajah dingin telah menyeberangi perbatasan itu sejauh beberapa
kaki tanpa mengalami sesuatu kejadian apapun, kejadian ini benar merupakan sesuatu peristiwa
yang aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Tatkala pihak musuh menarik kembali serangannya tadi, tanpa terasa Han siong Kie lelah
mundur kembali beberapa langkah kebelakang, menanti ia rasakan perubahan yang aneh pada
wajah musuhnya pemuda itu baru sadar bahwa ia telah melangkah masuk ke dalam wilayah yang
tersohor karena angkernya itu.
JILID29 HAL. 54/55 HILANG
Thian che kaucu untuk menyelesaikan sendiri persoalan ini.
Diam2 Han siong Kie menguatirkan kemampuan Thian che kaucu sebab kalau ditinjau dari
kemampuan yang dimiliki kedUa orang utusan khusus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
tenaga dalam yang dimiliki ketua mereka benar- benar telah mencapai puncak kesempurnaan
yang tak terhingga, ia jadi terbayang kembali akan peristiwa dimasa lalu sewaktu dia menyerbu
wilayah Lian huan yau untuk menolong Go siau bi, ketika itu ia telah berjumpa dengan seorang
manusia barkerudung yang mangaku sebagai ketua perkumpulan tapi akhirnya ia bukti bahwa dia
tak lebih cuma penyaruan dari salah satu diantara sepuluh jago tangguh perkumpulan.
Anak muda ini mulai berpikir, mengapa Thian che kaucu tak berani munculkan diri sebaliknya
suruh orang lain untuk menyaru sebagai dirinya?" Mungkinkah dibalik semuanya ini sebetulnya
masih tersimpan rahasia lain?
Yang lebih aneh lagi, ternyata pihak Thian che kau telah mengerahkan segenap kemampuan
yang dimiliki untuk menghadapi dirinya seorang, malahan ketuanya turun tangan sendiri untuk
memimpin operasi tersebut, hal ini menandakan kalau pihak mereka memandang serius persoalan
tersebut, lalu apa sebabnya mereka bersikap drmikian?" Tiba2 Nyoo Yoong, hakim pengejar sukma
berseru dengan suara dalam:
"Bocah keparat, beranikah engkau menyeberang kemari untuk melangsungkan pertarungan
seru dengan kami?"
Han siong Kie sendiripun tak tahu apa sebabnya ia bisa menyeberangi perbatasan mati dan
hidup tanpa cedera, namun ia tahu bahwa musuh- musuhnya tak berani menyeberangi wilayah
angker itu dam selalu memanaskan hatinya agar dia menyeberang kembali ke sana. Maka sambil
tertawa dingin, ejeknya:
"Bangsat tua, kenapa bukan kalian yang menyeberang kemari? Kalau memang jantan hayolah
kemari"
Perasaan jengah dan serba kikuk muncul diatas wajah Nyoo Yong maupun see bun
JILID29 HAL. 58/59 HILANG
Nyio Yong yang sedang melayang diudara, se akan2 burung yang kena dipanah, tahu-tahu
badannya menukik ke bawah dan roboh keatas tanah. la mati secara misterlus.
Hakim pengejar sukma Nyio Yong telah tewas dihadapan rekan2nya, namun tak seorangpun
yang tahu apa sebabnya tiba2 ia mampus, jangankan mereka sekalipun Han siong Kie yang
berada beberaps depa dihadapannya juga tak melihat sebab musabab yang mengakibatkan
kematian jago lihay itu
Pucat pias wajah para jago dari Thian che kau, rata- rata mereka berdiri tertegun dengan
sukma merasa melayang tinggalkan raganya, kejadian ini sama sekali diluar dugaan semua orang.
Han siong Kie sendiripun terkejut sampai-sampai keringat dingin membasahi jidat dan
punggungnya .
Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kematian Nyio Yong yang secara tiba2 namun ia
tak tahu apa yang menyebabkan kematian musuhnye itu, untuk sesaat ia jadi tertegun dan berdiri
termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ditatapnya mayat Nyoo Yong tanpa berkedip. sementara pikirannya melayang entah sampai
dimana.
Mendadak terdengar jeritan kaget berkumandang lagi memenuhi angkasa, suatu pemandangan
yang sangat mengerikan telah berlangsung didepan mata.
Begitu mencium tanah, mayat Nyoo Yong yang masih hangat itu ternyata meleleh dan
mengalami pembusukan dengan cepat, kemudian selang sesaat mayat itu sudah hancur tinggal
tulang kerangkanya belaka.
Hampir saja Han siong Kie menjerit kaget, bulu kuduknya pada bangun berdiri, kejadian aneh
ini belum pernah ditemuinya semenjak dahulu kala, tidak sampai setengah perminum teh salah
seorang tokoh silat yang berilmu tinggi telah berobah jadi seonggokan tulang kerangka yang putih
mengkilat, bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapakah yang akan percaya bahwa
peristiwa semacam itu benar2 telah terjadi di depan mata ?
Lewat lama sekali dia ter-mangu2, setelah rasa kagetnya hilang ia baru berpaling memandang
ke belakang, pada ujung lembah tersebut ia saksikan sebuah gundukan tanah berbukit, beberapa
pohon raksasa yang amat besar tumbuh disekitar gundukan tanah itu
Di belakangnya adalah sebuah tebing dan sebuah bukit yang tinggi menjulang keangkasa
demikian tingginya bukit itu sehingga menembusi kedalam awan.
Dengan langkah yang ragu-ragu dan penuh kesangsian pemuda itu melanjutkan perjalanannya
memasuki lembah itu dan mendekati gundukan tanah yang berada didepan mata.
Beberapa kaki sebelum mencapai gundukan tanah tadi tiba2 pemuda itu berseru tertahan dan
berhenti.
Di bawah dua batang pohon raksasa berdirilah sepasang makhluk hitam putih yang
mengerikan..
Mereka sama-sama memelihara rambut yang panjang cuma yang hitam sekujur tubuhnya
berwarna hitam pekat sebaliknya yang putih luar biasa putihnya bagaikan salju.
Dengan seksama anak muda itu mengawasi beberapa saat makhluk itu, sekarang ia dapat
memastikan bahwa mereka adalah manusia, sepasang manusia aneh berwama hitam dan putih,
hatinya terasa makin bergidik,
Kedua orang itu duduk bersila saling berhadapan, ke empat buah telapak tangannya
direntangkan kedepan sejajar dengan dada, selisih jarak kedua belah pihak cuma terpaut tiga kaki.
Han siong Kin tertegun- .apa yang telah terjadi? " sekilas pandangan dua orang jago itu
bagaikan sedang mengadu tenaga dalam, tapi mirip juga sedang melatih sejenis ilmu silat.
Bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir saja ia tak percaya kalau dikolong
langit sebenarnya terdapat manusia seaneh itu, yang hitam kulitnya benar- benar hitam mengkilap
seperti tinta, apalagi jubahnya berwarna hitam pula membuat orang itu betul2 serba hitam.
sebaliknya yang putih demikian putihnya seperti sesosok mayat hidup bukan rambutnya
berwarna putih, jubah maupun sepatunya juga berwarna putih. suatu perbedaan warna yang amat
kontras sekali.
JILID29 HAL. 64 HILANG
Dua orang makhluk aneh itu tetap duduk kaku ditempat semula, mereka tidak membuka
matanya pun tidak berkutik barang sedikitpunjuga, padahal semestinya mereka tahu bahwa ada
orang yang mendekati tempat tinggal mereka, terbukti hawa khikangnya telah dipancarkan
melindungi wilayah seluas tiga kaki disekeliting tubuh mereka.
Agak penasaran Han siong Kie ketika tak mampu menerjang maju kedepan dan menghimpun
tenaga dalamnya dan secara paksa menerjang masuk kedalam lingkaran hawa khikang lawan.
Tiba2 dua orang makhluk aneh itu bersamaan waktunya menurunkan telapak tangan mereka
kemudian membuka matanya:
Empat buah sinar mata yang setajam sembilu serentak ditujukan keatas wajah Han siong Kie.
Pada saat ini tenaga dalam yang dimiliki si anak muda itu sudah mencapai dua ratus tahun hasil
latihan, walaupun begitu ketika ditatap secara tajam oleh musuhnya tak urung bergidik juga
hatinya, cepat ia hentikan langkah kakinya membalas memandang lawannya dengan sinar mata
yang tak kalah tajamnya.
Per lahan2 dua orang manusia aneh itu bangkit berdiri dari atas tanah.
sekarang Han siong Kie baru dapat melihat jelas bahwa kedua orang makhluk aneh itu adalah
seorang pria dan seorang wanita, yang laki2 berkulit hitam berambut hitam dan berjubah hitam,
keadaannya tak berbeda dengan balok kayu yang hangus bekas terbakar sedangkan yang
perempuan berambut putih berkulit putih dan berbaju putih, putih seperti batang kayu yang dilapis
saiju.
41
Begitu jelek dan menyeramkan bentuk serta potongan tubuh mereks membikin hati orang jadi
tercekat dan seram.
Han Siong kie boleh dibilang berilmu tinggi dan bernyali besar namun berada dalam keadaan
begini berdiri juga bulu kuduknya.
Mungkinkah makhluk hitam dan putih ini adalah pemilik Lembah Kematian . . ?
Ingatan tersebut melintas didalam benaknya, sementara itu sepasang makhluk aneh itu sudah
berdiri dan saling mengangguk, tiba2 mereka maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan
Han Siong Kie seraya berkata: "Hek pek siang yu menghunjuk hormat kepada majikan"
Kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Han Siong Kie secara beruntun dia mundur lima
langkah kebelakang, untuk sesaat pemuda itu tak mampu berkata2 karena tercengangnya.
Sepasang makhluk aneh yang mengaku Hek pek siang yu, sepasang siluman hitam putih ini
ternyata menyembah dihadapannya sambil menyebut majikan kepadanya, kejadian ini benar2
suatu kejadian yang sangat aneh.
"Hek pek siang yu menghunjuk hormat buat majikan" untuk kedua kalinya sepasang makhluk
aneh itu memberi hormat.
Kali ini Han siong Kie mendengar perkataan itu dengan lebih jelas lagi, sekarang ia baru tahu
bahwa dua orang makhluk aneh itu ternyata tak lain adalah Hek pek siang yu yang sudah puluhan
tahun lamanya lenyap dari permukaan bumi.
Meskipun masa berkelana Hek pek siang yu dalam dunia persilatan amat singkat, namun
pembantaian maut yang mereka lakukan tak terbilang banyaknya.
Bagi pandangan umat persilatan, kedua orang ini adalah iblis pembunuhan manusia yang tak
berkedip. banyak orang segan dan takut kepadanya.
Dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti, Han siong Kie berseru dengan gelagapan:
"Majikan-.? Aku.."
"Betul majikan, engkaulah majikan kami"jawab siluman putih dengan hormat.
sekali lagi Han siong Kie mundur selangkah lebar kebelakang, dia benar2 kebingungan:
"Bagaimana mungkin ? Bagaimana mungkin masa aku adalah majikan kalian??"
"Kami telah bersumpah barang siapa bisa melewati perbatasan mati dan hidup dalam keadaan
selamat dan orang pertama yang bisa menginjakkan kakinya di wilayah lembah Kematian, maka
dialah majikan dari kami kakak adik seperguruan berdua "
"oooh.jadi kalian adaiah suheng moay ??"
"Benar "
"Mengapa kalian hendak menganggap orang pertama yang memasuki wilayah ini sebagai
majikan?" tanya sianak muda itu lagi.
"sebab hanya orang yang berkepandaian tinggilah yang bisa tiba ditempat ini dalam keadaan
selamat, pun juga dia seoranglah yang bisa menolong kami berdua lolos dari tempat ini, selama
lima puluh tahun berselang majikan adalah orang pertama yang bisa tiba dilembah kematian ini
dalam keadaan selamat."
"Jadi kalian bukan penghuni tempat ini, melainkan adalah tawanan yang disekap di sini?".
"Benar" sepasang makhluk aneh itu mengangguk tanda membenarkan.
"Dan kalian telah disekap selama lima puluh tahun lamanya."
"Benar" untuk kesekian kalinya dua orang itu mengangguk.
"siapa yang menyekap kalian ditempat ini?"
"Pemilik benteng maut"
"Apa?" " seru Han siong Kie dengan perasaan terperanjat "jadi kalian disekap pemilik benteng
maut dalam Lembah Kematian ini"
"Begitulah kejadiannya"
"silahkan kalian berdua bangkit berdiri kemudian baru kita lanjutkan pembicaraan ini"
"Kalau begitu majikan telah mengabulkan permintaan dari kami suheng moay berdua ?" tanya
siluman putih sambil mengernyitkan sepasang alis matanya. Han siong Kie termenung dan berpikir
beberapa saat lamanya, kemudian menjawab: "Tentang soal ini..."
"Ketahuilah majikan, bahwa kami berdua sudah menunggu selama lima puluh tahun, atas
tibanya kejadian besar ini" sambung si hitam dengan cepat.
Andai kata tingkah laku Hek pek siang yu di masa talu tidak buas dan keji, niscaya sedari tadi
Han siong Kie sudah mengambil keputusan, tapi justru karena dua orang itu adalah gembong iblis
yang berbahaya, maka mau tak mau dia musti mempertimbangkan dulu permintaan mereka
sebelum akhirnya mengambil keputusan. Maka sesudah termenung sebentar ia baIik bertanya:
"Jadi tujuan kalian adalah mengharapkan agar aku bersedia membawa kalian keluar dari
lembah ini ?"
"Begitulah kira2 maksud kami"
"Apakah kalian yakin kalau aku dapat membawa kalian berdua keluar dari lembah ini ?"
"Tentang soal ini.." sepasang manusia aneh itu agak termangu sebentar, tapi kemudian
serunya "Perduli bagaimanapun juga, inilah sumpah dari kami berdua pada lima puluh tahun
berselang. kami telah bersumpah untuk menganggap orang pertama yang masuk kelembah ini
sebagai majikan kami, selama hidup kami akan menuruti perintahnya, tentang soal mau keluar
dari lembah kematian atau tidak. kesemuanya ini terserah pada kebijaksanaan majikan sendiri"
"Betul sumpah kalian adalah begitu? " Han siong Kie menegaskan lebih jauh.
"Betul "
"Dan sumpah kalian itu selamanya takkan dilanggar??"
"Selamanya kami takkan melanggar "
"Baik, aku mengabulkan permintaan kalian"
"Bolehkah kami mengetahui siapa nama majikan ?"
"Aku adalah manusia bermuka dingin Han siong Kie, ciangbunjin yang akan memerintah di
istana Huan mo kiong "
Dengan penuh rasa hormat sepasang siluman hitam putih menyembah majikannya, kemudian
bangkit berdiri
Pelbagai keheranan dan pertanyaan berkecamuk dalam benak anak muda itu, namun dia tak
tahu persoalan itu musti ditanyakan mulai dari bagian yang mana.
Menurut pengakuan sepasang siluman hitam putih, mereka telah disekap oleh pemilik benteng
maut didalam lembah kematian ini pada lima puluh tahun berselang, sedangkan menurut berita
yang tersiar dalam dunia persilatan baru tiga puluh tahun berselang Temgkorak maut munculkan
diri didunia.
Bila ia tinjau dari usia Tonghong Hui yakni putrinya, kira2 Tengkorak maut telah berusia enam
puluh tahunan lebih atau tujuh puluh tahun sekarang, mungkinkah pada lima puluh tahun
berselang ia sudah memiliki kemampuan untuk menaklukkan sepasang siluman hitam dan putih
yang tersohor karena kelihayannya?
Berpikir sampai disini, dengan wajah serius dia lantas bertanya kepada kedua orang itu:
"Benarkah kamu berdua disekap selama lima puluh tahun ditempat ini.?"
"Betul majikan"jawab siluman putih dengan Cepat.
"Dan kamu disekap oleh Pemilik benteng maut?"
"Benar!"
"Benarkah pemilik benteng maut bergelar juga Tengkorak maut?"
Mendengar pertanyaan itu sepasang makhluk aneh tersebut tampak tertegun dan keheranan:
Lama sekali siluman putih baru menjawab:
"Tengkorak maut? belum pernah kami dengar dengan sebutan nama seperti itu"
"Lalu apakah sebutan lain dari pemilik benteng maut yang menyekap kalian disini?" seru Han
siong Kie dengan sepasang alis matanya berkernyit.
"Kami berdua cuma tahu dia bernama pemilik benteng maut, yang lain sama sekali tidak tahu"
"Yaaa hal ini memang tak bisa salahkan kalian memang sudah terlalu lama kami berdua disekap
ditempat ini, jadi setelah keluar dari lembah ini kalian bersiap sedia untuk mencari balas dengan
pemilik benteng maut?"
Dengan ketakutan sepasang siluman hitam putih mundur selangkah kebelakang sahutnya:
"Tidak. .kami tidak berani berbuat demikian "
"Tidak berani ? Kenapa tidak berani ?" tanya si anak muda itu dengan perasaan tercengang.
Dengan menundukkan kepalanya siluman hitam menjawab:
"Berkat petunjuk dan bimbingan dari beliau, kami berdua dapat melepaskan diri dari dosa yang
amat berat, budi ini belum kami balas, mana berani kami menuntut balas kepadanya?"
"Bukankah kalian berdua yang mengatakan sendiri, bahwa kalian telah disekap disini oleh
pemilik benteng maut??"
"Benar, tapi perbuatannya ini boleh dibilang sebagai maksud baik dari dia orang tua"
"Maksud baik ? Apa maksud perkataanmu itu ?"
"Dia orang tua suruh kami berdiam dan hidup dilembah ini sambil menyesali perbuatan yang
telah kami lakukan selama ini, malahan mewariskan pula ilmu silatnya kepada kami" Berubah
hebat air muka Han siong Kie sehabis mendengar keterangan itu, serunya:
HAL. 14 S/D 17 HILANG
"Terima kasih atas kemurahan hati majikan "
Han siong Kie mendengus dingin ujarnya kemudian:
"Apakah aku boleh tahu apa maksud dan tujuan yang sebenarnya dari kamu berdua ketika
hendak mengangkat sumpah aneh itu dimasa lalu ?"
siluman putih menghela napas panjang setelah termenung sebentar sahutnya dengan wajah
serius:
"Panjang sekali kisahnya untuk diceritakan bagaimana kalau majikan berkunjung dulu ke rumah
kediaman hamba berdua, disitu barulah kami bercerita panjang lebar ?"
Han siong Kie berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk:
Dengan sikap yang sangat hormat Siluman putih mengiakan, bergeraklah perempuan aneh itu
menuju kearah tebing curam dibelakang gundukan tanah itu. sementara siluman hitam mengiringi
di belakang anak muda itu.
selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didalam sebuah goa yang lebar dan cukup
luas, siluman putih segera bergeser kesamping dan mempersilahkan majikannya untuk masuk
lebih dulu katanya:
"Majikan, pemilik benteng maut juga berdiam didalam gua batu ini" sambil menuding kearah
batu karang disebelah kiri lanjutnya:
"Itulah dia tempat mengasingkan diri dibalik tebing karang itu, sudah lima puluh tahun lamanya
tak pernah munculkan diri"
0000dw0000
BAB 62
MENGIKUTI arah yang ditunjukkan Han siong Kie menengadah keatas, ia lihat tebing karang itu
sangat tinggi dan tertutup kabut yang tebal maka sambil mengangguk diapun masuk kedalam goa.
Ruangan didalam gua itu sangat lebar dan kering, diantaranya terbagi pula menjadi tiga buah
goa yang agak kecil.
sesudah duduk diatas sebuah pembaringan batu dalam gua itu, sepasang siluman putih dan
hitam menghidangkan buah2an dan sayur-sayuran kemudian sambil mengambil semangkok air
bersih katanya dengan wajah bersungguh2:
"Disini tiada makanan lain silahkan majikan makan seadanya untuk mengisi perut"
Kebetulan Han siong Kie juga merasa lapar, maka tanpa sungkan2 ia menyikat makanan yang
dihidangkan untuk menangsal perut.
selesai bersantap. dia memerintahkan ke dua orang siluman itu untuk duduk lalu katanya:
"sekarang aku ingin mendengar kisah cerita kamu berdua dari awal sampai akhirnya terkurung
dilembah ini"
Sepasang siluman hitam putih itu tidak langsung menjawab, mereka saling berpandangan
sekejap. kemudian siluman hitam baru berkata dengan lembut:
"sumoay, biar akulah yang akan melaporkan kisah kejadian ini kepada majikan, tentunya
engkau tidak keberatan bukan?" siluman putih mengangguk. "Baik, suheng sajalah yang bercerita"
Perlahan-lahan siluman hitam menghadap ke arah Han siong Kie, lalu ujarnya:
"Majikan silahkan engkau mendengarkan sebuah kisah cerita yang akan kukisahkan berikut ini"
Agak bergolak perasaan hati Han siong Kie sesudah mendengar perkataan itu,pada puluhan
tahun berselang sepasang siluman putih hitam telah malang melintang dalam dunia persilatan,
setiap orang jeri dan
JILID^0 HAL. 22/23 HILANG
merasa sangat setuju dengan rencana dari gurunya itu, suatu hari ketika ketiga orang itu
sedang melakukan perjalanan diatas gunung chin nia, secara kebetulan telah mendapatkan
sepasang Bak ci "
"Bak ci?" seru Han siong Kie tak tahan, ia heran dan tidak mengerti dengan benda yang
disebutkan itu.
"Benar Bak ci adalah sejenis tumbuhan yang sangat langka sekali, bukan saja tak ternilai
harganya bahwa siapapun yang memakannya bisa awet muda dan berbadan sehat. Betapa
gembira mereka bertiga setelah mendapatkan Bak ci yang sangat berharga itu, kebetulan waktu
itu kami memang sedang menuju kebukit Chin nia untuk mencari beberapa macam bahan obat2an
sebagai kekuatan dalam latihan. Karena penemuannya ini maka kamipun lantas meninggalkan
tujuan semula dengan membawa sepasang Bak ci tersebut buru2 kami berangkat pulang ke
gunung."
Berbicara sampai disitu, kembali siluman hitam menghentikan ceriitanya, hawa napsu
membunuh yang sangat tebal tiba-tiba memancar keluar dari balik matanya dan menyelimuti
wajahnya yang hitam pekat, lanjutnya lebih jauh:
"Entah bagaimana kemudian, ternyata kabar berita tersebut telah tersiar luas keseluruh dunia
persilatan, ketika kami bertiga baru saja tiba kembali dirumah, tiba2 beratus-ratus orang jago lihay
dari golongan putih dan hitam melakukan penyerbuan secara besar-besaran, tentu saja tujuan
mereka yang terutama adalah sepasang Bak ci yang berharga itu"
" Karena tibanya bencana yang sangat mendadak ini, puluhan orang murid perguruan yang
waktu itu berkumpul dimarkas segera munculkan diri dan melakukan perlawanan, pertarungan
sengit berlangsung sepanjang malam, banyak anggota perguruan yang tewas ataupun cedera."
sekalipun ilmu silat yang dimiliki Ki Goan thong ketua perguruan Thian it bun sangat lihay
dandan berhasil membinasakan hampir lima puluh orang jago lihay yang menyerbu perguruannya,
tapi lama kelamaan sendiripUn kehabisan tenaga apalagi musuh yang harus dihadapi
HAL. 26/27 HILANG
"suheng biarlah aku yang melanjutkan bercerita"
siluman hitam mengangguk. maka siluman putih melanjutkan kembali ceritanya:
"setelah kejadian itu para jago lihay dari golongan putih maupun hitam yang ikut serta didalam
operasi tersebut melakukan pencarian dan penggeledahan secara besar2an diseluruh kolong langit
untuk menemukan jejak dua orang ahli waris dari perguruan Thian it bun, tapi rupanya mereka
hendak membasmi rumput hingga ke akar2nya sehingga tidak meninggalkan bencana dikemudian
hari. Karena penggeledahan secara besar- besaran itu, terpaksa sepasang kakak beradik
seperguruan itu melarikan diri keatas gunung yang terpencil untuk menyembunyikan diri sambil
melatih ilmu silat perguruannya. Delapan tahun kemudian mereka muncul kembali ke dalam dunia
persilatan dan melakukan pembantaian secara besar-besaran untuk menuntut balas atas sakit hati
yang telah menimpa perguruannya"
"Dan kedua orang ahli waris dari Thian it bun itu tentulah kalian berdua bukan?" seru Han siong
Kie kemudian.
"Tebakan majikan memang sangat tepat. Kedua orang itu memang tak lain adalah kami
berdua"
"Dan sepasang Bak ci tersebut telah kalian makan "
"Benar "
"Itu berarti semestinya wajah kalian tetap awet muda, kenapa sekarang malahan..."
"Maksud majikan, kenapa wajah kami berdua pada saat ini malahan berubah jadi makhluk aneh
yang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan ini ?"
"Jadi raut wajah tersebut bukan raut wajah kalian yang sebenarnya?" bukan menjaweb. Han
siong Kie malahan balik bertanya.
"Bukan, raut wajah kami yang asli tidak begini. Ketika kami sedang berlatih ilmu silat diatas
sebuah bukit, kami telah salah makan dua biji buah liar, dalam beberapa hari saja raut wajah kami
telah berubah jadi seaneh ini, oleh sebab itulah setelah turun gunung kami dianggap orang
sebagai makhluk siluman- dan dari sini pula orang lantas menyebut kami sebagai Hek pek siang
yu"
"0ooh, kiranya begitu"
"Maka dendam dan benci yang berkecamuk dalam dada kami berdua sukar dikendalikan lagi"
siluman putih melanjutkan, "maka setelah turun gunung kami mulai melakukam pembalasan
dendam, bukan saja musuh besar kami basmi bahkan keturunannya juga kami jagal secara keji,
hanya dalam sebulan saja sudah hampir seribu orang manusia yang kami bunuh, kejadian ini
segera menimbulkan rasa gusar dari umat persilatan dikolong langit, mereka bersatu padu untuk
menghadapi kami berdua.." Ia berhenti sebentar untuk tarik napas, lalu tambahnya:
"Dalam suatu pertempuran sengit yang kemudian berlangsung, kami berdua dikerubuti oleh
tiga ratus orang lebih jago2 persilatan dari seluruh pelosok dunia, keadaan kami sangat kritis dan
hampir saja jiwa kami melayang ditangan mereka, untung majikan lembah ini munculkan diri tepat
pada waktunya dan loloslah kami berdua dari ancaman bahaya maut, sejak itulah kami lantas
diboyong kelembah kematian ini dan harus berdiam disini untuk menyesali perbuatan kami selama
ini, kami memang bertobat karena beribu-ribu orang telah kami bunuh selama ini, begitulah dalam
sekejap masa lima puluh tahun sudah lewat tanpa terasa.."
"Kalau begitu sampai sekarang kalian masih belum melaksanakan perintah dari mendiang
gurumu?"
"Pesan terakhir apa?"
"Bukankah gurumu memerintahkan kepada kalian berdua untuk menikah dan menjadi suami
istri?"
siluman putih tundukkan kepalanya rendah2 dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
sedangkan siluman hitam segera menjawab:
"Tentang soal ini sampai sekarang belum kami laksanakan sebab kami berdua telah bersumpah
kecuali wajah kami dapat pulih kembali seperti sedia kala kami tak akan menikah"
Han siong Kie manggut2.
"sungguh sukar untuk melewatkan saat hidup selama lima puluh tahun lamanya tanpa
melanggar tata kesopanan, kalian memang beriman tebal... aku merasa sangat kagum..."
"Aah .. majikan terlalu memuji "
"Bagaimanakah caranya untuk memulihkan kembali raut wajah kalian yang rusak ini."
"Menurut keterangan yang diberikan majikan lembah ini kepada kami, buah liar yang telah kami
salah makan bernama Gi heng tok ko buah racun perubah wajah, dikolong langit dewasa ini hanya
ada seorang manusia yang bisa memunahkan racun buah itu dan dialah yang bisa memulihkan
kembali raut wajah kami berdua menjadi wajah yang aslinya"
"siapakah orang itu ?"
"orang itu bernama Ban tok cousu "
"Ban tok cousu ? Belum pernah aku dengar tentang nama tokoh silat ini "
"Benar, menurut keterangan yang berhasil kami kumpulkan, kemungkinan besar Ban tok cousu
sudah lama meninggalkan dunia ini, kami berharap bisa menemukan ahli warisnya"
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan seseorang yakni Tok kun Dewa racun Yu Hoa yang
sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan Thian che kau, mungkinkah dia ahli waris yang
dimaksudkan?
"Aaah,. asal persoalan ini kutanyakan kepada engkoh tua pengemis dari selatan urusan pasti
akan beres" pikirnya dihati.
Diapun tidak mengungkapkan jalan pikirannya itu, hanya ucapnya dengan hambar:
"Kalau toh di dunia ada manusia yang bernama Ban tok cousu, rasanya tidak sulit untuk
menemukan ahli warisnya. ooh iya apakah kalian mengetahui keanehan serta kemisteriusan
apakah yang telah menyelimuti lembah kematian ini sehingga suasananya seram ini?"
Dengan penuh rasa hormat siluman hitam menerangkan.
"Disekitar mulut lembah kematian tumbuh sejenis rumput beracun yang tiada taranya dikolong
langit, rumput itu bernama sip poh Pak kut cau (rumput sepuluh langkah tulang putih) sampai
dimanapun kepandaian silat yang kau miliki bila rumput itu tersentuh maka sepuluh langkah
kemudian tubuhnya akan hancur.
JILID30 HAL. 34/35 HI LANG
"ouyang cianpwe juga sangat lihay dalam ilmu meramal, dia memiliki kemampuan untuk
meramalkan kejadian yang akan datang, ketika kami berdua masuk kedalam lembah ini, untuk
pertama kalinya beliau telah meramalkan bahwa lime puluh tahun kemudian kami berdua bakal
ditolong oleh orang pertama yang memasuki lembah ini dan selanjutnya muncul kembali dalam
dunia persilatan oleh sebab rahasia itu maka kami berdua lantas bersumpah akan menganggap
orang pertama yang memasuki lembah ini adalah majikan kami" Han siong Kie berdiri tertegun
sesudah mendengar keterangan itu, pikirnya:
"Kalau toh owyang Beng memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang,
kenapa ia tak dapat meramalkan kalau orang pertama yang akan masuk kedalam lembah ini
sebenarnya tak lain adalah musuh bebuyutan dari benteng maut?" Belum habis dia berpikir tiba2
siluman hitam telah berseru lagi dengan lantang:
"ooooh ya hampir saja kelupaan, sebelum menutup diri tempo hari, ouyang cianpwe telah
meninggalkan secarik kertas yang katanya kertas itu harus di serahkan kepada orang pertama
yang memasuki lembah ini. Dan orang yang dimaksudkan itu pastilah majikan"
Habis berkata dia lantas masuk kedalam gua batu yang ada di sebelah kanan, selang sesaat
kemudian dia telah muncul kembali sambil membawa secarik kertas kuning.
Dengan sikap yang sangat hormat kertas kuning itu lantas diangsurkan ketangan Han siong Kie.
Berdebar juga hati sianak muda itu menerima kertas kuning itu, dengan jantung yang berdetak
keras dia membuka lipatan kain kuning itu dan membaca isinya.
Ternyata isi kertas ini hanya beberapa bait kata yang sama sekali tak diketahui makna artinya:
"Tipu muslihat banyak didunia, bencana timbul karena saudara yang tak akur. Disaat dendam
tertera nyata, disanalah penghianat terbasmi lenyap"
Han siong Kie termasuk seorang pemuda yang cerdas dan berotak encer, tapi meskipun ia
sudah berulang kali mengulangi kata2 dari syair tersebut, toh tak berhasil juga memecahkan arti
kata2nya itu.
Andaikata keempat bait syair tersebut benar2 memang dibuat oleh ouyang Beng pemilik
benteng maut yang pertama khusus untuk dirinya, maka bait yang pertama tak perlu diterangkan
sudah jelas artinya.
Kemudian pada bait kedua dikatakan Bencana timbul karena saudara yang tak akur, dari sini
menunjukkan bahwa bencana yang sedang berlangsung sekarang timbulnya dari dua bersaudara
yang kurang akur hubungannya satu sama lain, lalu siapakah yang dtmaksudkan sebagai saudara
yang tidak akur itu ?
Pada bait ketiga dikatakan Disaat dendam tertera nyata padahal pada saat ini dia sudah tahu
bahwa musuh besarnya adalah tengkorak maut, apanya lagi yang kurang nyata ?"
Kemudian pada bait yang terakhir digunakan kata pengkhianat siapakah penghianat tersebut ?
Teka teki, suatu teka teki yang susah untuk dipecahkan.
Mereka tak dapat menyelusuri makna dari bait syair tersebut, terpaksa Han siong Kie
menyimpan kembali kertas kuning itu kedalam sakunya dengan suara agak emosi dia bertanya:
"Benarkah tulisan ini ditinggalkan owyang Beng pada lima puluh tahun berselang?"
siluman hitam mengangguk.
"Betul majikan sejak menutup diri pada lima puluh tahun berselang beliau tak pernah
munculkan diri lagi dari tempat pertapaannya itu"
"Apakah dia mengasingkan diri dalam dinding bukit ini"
"Apakah majikan ingin-.."
"Benar, aku ingin sekali berjumpa muka dengan dia orang tua"
"Dinding tebing ini hampir boleh dibilang tegak lurus dan curam sekali, jangankan manusia
monyetpun tak mampu untuk memanjatnya, lagipula kita toh tak tahu dimanakah owyang cianpwe
mengasingkan diri, kejadian tersebut sudah terjadi setengah abad lamanya, siapa tahu beliau
sudah pulang ke alam baka"
"Betul juga perkataan ini" pikir Han siong Kie di dalam hati, "toh aku tak ada kepentingan apa2
untuk menjumpainya, buat apa musti bersusah payah ?" Maka diapun alihkan pokok pembicaraan
kesoal lain-lainnya.
"Apakah kalian berdua sudah bulatkan tekad untuk mengangkat aku sebagai Majikan mu"
"sumpah yang telah kami lakukan tak akan kami ingkari kembali" jawab sepasang siluman putih
hitam bersama .
"Aku boleh sama membawa kalian keluar dari lembah ini, tapi kalian tak usah menyebut begitu
kepadaku, aku anggap saja diriku ini adalah sobat kalian ?"
"Tidak sumpah yang telah diucapkan tak boleh diingkari lagi" jawab, kedua orang itu tegas.
"seandainya aku tidak bersedia lantas bagaimana ?" tanya Han siong Kie tiba2. sepasang
siluman hitam putih tertegun, lama sekali siluman hitam baru berkata.
"Kalau memang demikian adanya, itu berarti kami berdua sudah tak punya muka untuk muncul
kembali dalam dunia persilatan, daripada hidup menanggung derita, lebih baik membereskan
nyawa sendiri saja"
Agak lama Han siong Kie termenung, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, lalu
diapun berkata:
"Begini saja, kalau aku disebut majikan... majikan.. geli rasanya hatiku, maka biarlah aku
mengambil jalan tengah, mulai hari ini kalian akan kuterima sebagai anggota perguruan Thian
lam, dan kalian sebut aku sebagai ciangbunjin, bukankah hal ini lebih enak di dengar??"
Buru2 sepasang siluman Hitam dan Putih jatuhkan diri berlutut keatas tanah.
"Tecu menghunjuk hormat buat ciangbunjin" seru mereka hampir berbareng.
"Bangunlah, setelah keluar dari lembah ini aku akan berusaha keras untuk memunahkan racun
Gi hang tot ko yang bersarang ditubuh kalian, setelah raut wajah kalian pulih kembali seperti sedia
kala maka kalian berduapun bisa memenuhi perintah dari mendiang guru kalian "
"Terima kasih atas bantuan cianbunjin" sahut kedua orang siluman itu setelah memberi hormat
merekapun bangkit berdiri
sekarang Han siong Kie baru teringat akan tujuan kedatangannya ketempat itu, sesudah
memeriksa sebentar kedalam goa itu katanya.
"Aku membutuhkan sebuah ruang yang bagus untuk mempelajari ilmu kepandaian, setelah itu
maka kitapun akan meninggalkan tempat ini"
"Ciangbunjin"" ujar siluman putih "tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah gua alam yang
bersih dan tenang, biarlah tecu pergi membereskan gua itu"
"Baik pergilah cepat"
selang beberapa saat kemudian siluman putih telah muncul kembali didalam gua tersebut
katanya:
"silahkan ciangbunjin menuju kedalam goa itu, makanan dan minuman setiap hari tecu akan
mengaturnya buat ciangbunjin"
Dengan penuh rasa haru dan berterima kasih Han siong Kie memandang sekejap kearah
sepasang siluman itu kemudian diapun melangkah keluar dari goa itu.
Benar juga, kurang lebih sepuluh kaki dari gua tersebut terdapat sebuah goa lain yang terdiri
dari batu2 cadas berwarna putih, setelah lima kaki memasuki goa tersebut, luas goa itu mencapai
tiga kaki lebih, tempat itu memang merupakan sebuah tempat berlatih silat yang paling ideal.
Setelah sepasang siluman hitam putih minta diri, dari sakunya Han siong Kie mengambil keluar
sarung tangan Hud jiu popit dan mulai memeriksanya dengan teliti.
setelah itu pelajaran yang tertera disana mulai dibaca, diteliti, diamati dan diselami artinya.
Dalam waktu singkat semua konsentrasi dan pikirannya telah terpusat menjadi satu, ia lupa
akan segala2nya kecuali mempelajari dan menyelami arti dari pelajaran yang didapatkan itu.
Waktu berlalu dengan cepatnya, baberapa hari sudah lewat tanpa terasa.
selama ini kadang kala tiga lima hari
JILID 30 HAL. 44 S/D 47 HILANG
itu termangu2, akhirnya dengan penuh emosi mereka berseru:
"Ciangbunjin, boleh kah kami tahu apakah hari ini juga kita akan tinggalkan lembah ini?"
Han siong Kie mengangguk.
"Betul dan kalian berdua boleh segera membereskan barang2 milik kamu berdua, sekarang
juga kita akan keluar dari lembah ini"
sudah lima puluh tahun sepasang siluman itu terkurung dalam lembah tersebut, bisa
dibayangkan betapa gembiranya dua orang itu setelah akan muncul kembali dalam dunia
persilatan, tanpa banyak bicara lagi mereka kabur kembali kedalam guanya dengan wajah berseri.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata yang tajam mengawasi keadaan disekitar tempat itu,
lalu dia melompat naik ke atas sebuah dinding cadas yang besar dan tingginya mencapai sepuluh
kaki lebih, dengan bacokan telapak tangannya ia membuat sebuah lubang diatas batu tersebut,
kemudian memasukkan sarung tangan Hud jiu popit ke dalam lubang batu tadi dan setelah itu
batu cadas yang amat besar itu didorong menempel diatas dinding bukit dan menutupi bagian
yang berlubang tadi..
Dengan begitu, maka benda mustika dunia persilatanpun tersimpan untuk selamanya dalam
sebuah batu cadas raksasa yang amat besar dan berat itu, siapapun jangan harap bisa
mendapatkannya kembali.
sementara itu sepasang siluman juga sudah selesai bebenah, mereka masuk gua tempat
tinggainya selama ini, dan dengan membekal senjata andalan mereka dimasa lalu, buru2
menghampiri pemuda tersebut.
sementara itu Han siong Kie sedang memandang ujung lembah itu dengan sorot mata setajam
sembilu. katanya kemudian dengan suara dingin:
"Setelah keluar dari lembah ini, kita akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran"
"Melakukan pembunuhan?" tanya sepasang siluman dengan wajah tertegun.
"Benar, sewaktu hendak masuk lembah ini, aku telah melangsungkan pertarungan melawan
tokoh2 sakti dari perkumpulan Thian che kau, salah seorang diantara mereka yang dinamakan
utusan Thian che kau telah mampus dalam lembah ini, bila dugaanku tidak meleset, sudah pasti
mereka telah mengurung mulut lembah ini sambil menunggu kemunculanku"
JILID 30 HAL. 50/51 HILANG
Jago2 lihaynya untuk menyumbat mulut lembah tersebut, padahal sudah tiga bulan lamanya ia
berdiam dalam lembah kematian untuk mempelajari si mi sinkang yang tercantum dalam Hud jiu
popit dan sekarang terbukti bahwa musuhpun melakukan patroli selama tiga bulan disekitar
perbatasan, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa musuh memang tidak berhasrat untuk
melepaskan dirinya.
Dalam pada itu ke dua belas orang laki2 baju hitam itu telah berhasil melihat jelas keadaan
lawannya, tiba2 mereka menunjukkan wajah tercengang, kaget dan ngeri, tanpa disadari
beberapa orang itu telah mundur beberapa langkah kebelakang.
Kiranya mereka telah menyaksikan makhluk setengah manusia setengah setan yang berada di
belekang Han siong Kie, yakni Hek pek siang yu yang menyeramkan itu.
sebagai mana diketahui Hek pek-siang yu memiliki tampang yang mengerikan sekali, siapapun
yang melihat tampang itu niscaya akan bergidik dan ketakutan setengah mati.
setelah mundur sampai beberapa kaki jauhnya, kedua belas orang laki2 baju hitam itu baru
berhenti mundur, salah seorang di antaranya lantas bersuit nyaring, suitan tersebut panjang,
tajam dan menjulang jauh ke udara.
Hek pek siang yu menunjukkan sikap menghina, tiba2 mereka bertanya dengan suara dalam:
" Ciangbunjin, kawanan tikus dan kacoak ini berasal dari aliran atau perguruan mana?"
"Mereka ? siapa lagi kalau bukan anak buah dari perkumpulan Thian che kau??"
"Apa maksud mereka menunggu disini?? "
"Apa lagi? Tentu saja menunggu kemunculanku"
"Jadi kawanan manusia ini juga yang selama ini mengejar dan menyerang Ciangbunjin?"
Han siong Kie tidak menjawab, tapi dia mengangguk.
sepasang siluman hitam dan putih segera mendengus dingin, siluman hitam menyingkir
kesamping dan memberi hormat, katanya:
"ciangbunjin, berilah petunjuk kepada hamba bagaimana caranya kita harus selesaikan
kawanan babi itu?"
"Bunuh sampai ludas" jawab Han siong Kie ketus.
Ucapan tersebut ibarat bunyi terompet malaikat elmaut yang hendak mencabut nyawa
manusia, tanpa disadari dua belas orang laki2 baju hitam itu bergidik dan mengucurkan peluh
dingin, pedang mereka dipegang semakin erat, bahkan kelihatan bergetar keras, jelas orang2 itu
sudah siap melancarkan serangan.
sepasang malaikat hitam putih menjengek sinis, tiba2 mereka membentak nyaring kemudian
menerjang kearah gerombolan manusia itu.
Perlu diketahui dua belas orang laki2 baju hitam itu adalah jago2 kelas dua dalam perkumpulan
Thian che kau, mungkin nama mereka cemerlang dan disegani orang dalam dunia persilatan maka
mereka diutus untuk melakukan patroli di sepanjang perbatasan antara mati dan hidup,
Tapi sekarang, tatkala dilihatnya dua orang makhluk aneh hitam dan putih itu menerjang tiba,
serentak mereka saling berpandangan kemudian menyebarkan diri ke empat penjuru sambil
berteriak mereka putar senjata dan menyambut tibanya serangan "Haahhh haaaahh haaahhh"
"Hiiiihhh hiiiihhh hiiiihhh"
Ditengah gelak tertawa aneh yang satu keras dan yang lain lembut sepasang manusia hitam
putih telah menerkam kedalam lapisan pedang dan menyambar musuh2nya.
Jerit kesakitan, dengusan berat menjelang sekarat berkumandang dlangkasa men-cabik2
kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu.
Hancuran badan ceceran darah berhamburan menodai perrmukaan tanah, keadaan disaat itu
benar2 mengerikan-
Tapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama hanya sebentar tak sampai seperminum teh
suasana pulih kembali dalam keheningan-
Tiada manusia yang hidup lagi disitu, kecuali Han siong Kie bertiga, dua belas orang lelaki
perkasa itu kini sudah berubah adi mayat, mayat2 yang tak utuh dan berlepotan darah kental.
Hanya dalam beberapa gebrakan Hek pek-siang yu telah membereskan dua belas orang jago
Thian che kau, kelihayan tersebut cukup mengagumkan, diam2 Han siong Kie menggukkan
kepalanya berulang kali.
00d00000w00
BAB 63
SELESAI membereskan kedua belas orang musuhnya, sepasang siluman hitam putih berjalan
kembali kehadapan Han siong Kie, kemudian berkata: " Ciangbunjin, tecu berdua telah
menyelesaikan tugas ini dengan sempurna"
"Bagus" puji si anak muda itu, "mari kita tinggalkan tempat."
Ucapan itu belum habis diucapkan tiba2 dari depan sana muncul tiga sosok bayangan manusia,
cepat sekali gerak tubuh ketiga orang itu.
Han siong Kie lantas membatalkan perkataannya dengan pandangan setajam sembilu dia awasi
orang2 tersebut.
Kiranya orang yang baru datang adalah san tianjin (telapak tangan kilat) se bun Lui, salah
seorang diantara utusan Thian che kau didampingi dua orang kakek jubah hitam.
setibanya ditempat kejadian ketiga orang itu memandang sekejap mayat yang bergelimpangan
ditanah lalu berseru kaget, enam buah sorot mata secepat kilat dialihkan ke wajah Han siong Kie
bertiga.
Tatkala sinar mata mereka bertemu pandang dengan Hek pek siang yu untuk kesekian kalinya
tiga orang kakek jubah hitam itu menjerit tertahan, pucat pias wajah mereka.
Tampang aneh dari Hek pek siang yu tiada keduanya didunia ini, meskipun mereka adalah
gembong2 iblis yang sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, namun dalam sekilas
pandangan saja baik se bun Lui maupun dua orang kakek lantas mengetahui siapa gerangan
mereka itu.
Hek pek-siang yu yang disegani dan ditakuti orang ternyata masih hidup didunia bahkan berada
dalam satu rombongan dengan Han siong Kie, peristiwa ini benar2 diluar dugaan dan mengejutkan
hati siapa pun juga.
selain itu merekapun heran bahwa Han siong Kie berhasil keluar dari lembah kematian dalam
keadaan hidup walaupun sudah tiga bulan lamanya tak muncul kembali dari situ.
JILID30 HAL. 58/59 HILANG
bermaksud untuk melakukan pengejaran sesudah termenung dan berpikir sejenak, akhirnya
kepada sepasang siluman itu dia berkata: "Hayo, kitapun pergi dari sini "
Dengan gerakan cepat ia lantas berangkat lebih dulu tinggalkan tempat tersebut, Hek pek siang
yu juga tidak mengatakan apa2, dengan cepat mereka bertiga sudah jauh meninggalkan tempat
semula, mulut lembah nampak nun jauh didepan sana.
sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan seorang manusiapun, suasana hening, sepi
dan tak nampak seorang manusiapun.
setelah berhasil dengan ilmu saktinya, Han siong Kie tidak memikirkan soal2 yang lain, hanya
satu menjadi beban ingatannya selama ini yakni menuju kebenteng maut untuk membalas
dendam.
Tiga li kemudian mereka akan tiba di mulut lembah tersebut, disaat itulah mendadak terdengar
seseorang membentak keras, suaranya nyaring ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari
bolong.
"Berhenti"
Han siong Kie terperanjat, cepat dia hentikan gerak tubuhnya, ia tak tahu suara itu berasal dari
balik hutan lebat kurang lebih sepuluh kaki disisi kanannya.
Hek Pek siang yu tak dapat mengerem gerak tubuhnya yang terlanjur bergerak cepat itu,
mereka harus berlarian tiga kaki lagi sebelum berhasil mengendalikan tubuhnya dan berhenti.
"siapa?" bentak Han siong Kie kemudian dengan suara dingin.
"Aku nak. jangan gugup" sahut orang itu.
Han siong Kie semakin terperanjat, sebelum ia sempat berbuat sesuatu ibarat peluru yang
meluncur kedepan, tahu2 sepasang siluman hitam putih sudah melayang kearah mana berasalnya
suara itu.
Pelbagai ingatan dengan cepat melintas dalam benak sianak muda itu, cepat ia memburu pula
kedepan kearah mana berasalnya suara itu.
sesosok bayangan manusia tiba2 menyongsong datang dengan cepatnya karena sama sekali
tidak menduga, hampir saja saling bertumbukan satu sama lainnya
Ditengah jeritan kaget dari kedua belah pihak. orang itu melayang turun keatas permukaan
sementara Han siong Kie sendiripun cepat menahan gerakan tubuhnya.
orang itu ialah seorang perempuan, bahkan seorang perempuan berkerudung hitam meskipun
tak dapat dilihat bagaimanakah raut wajahnya, tapi Han siong Kie tahu siapakah dia.
Dalam pada itu Hek pek siang yu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah melayang
pula kedalam gelanggang, begitu mencapai tempat tersebut, serentak mereka menerjang
perempuan berkerudung itu.
42
"Mundur... jangan gegabah" bentak Han Siong Kie tiba2 dengan suara lantang.
Sepasang siluman hitam putih tercengang, cepat mereka tarik kembali serangannya dan
mundur sejauh tiga kaki dari tempat semula, dengan pandangan keheranan ditatapnya pemuda itu
tak berkedip.
"cianpwe" " kata Han Siong Kie kemudian sambil memberi hormat kepada perempuan
berkerudung itu, "maafkanlah kekasaran serta kecerobohan beanpwee"
Siapa gerangan perempuan berkerudung itu ? Dia tak lain adalah manusia misterius yang
menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma.
Tatkala mendengar suara bentakan tadi, rupanya Han siong Kie sudah tahu bahwa ia sedang
berhadapan dengan orang yang kehilangan sukma, tapi berhubung dia ingin mengetahui raut
wajah asli dari perempuan misterius itu, maka bukan saja tidak mencegah sepasang siluman untuk
menerjang ke muka, malahan dia sendiripun menyergap masuk kedalam hutan dengan
mengerahkan dua belas bagian hawa saktinya.
Dan kala ini tujuannya tercapai, perempuan misterius yang bernama orang yang kehilangan
sukma itu tak sempat menyembunyikan diri lagi.
Tapi pemuda itu merasa kecewa, sebab perempuan itu menutupi wajahnya dengan kain
kerudung hitam, akhirnya toh ia tak berhasil juga untuk melihat paras muka dari perempuan
misterius itu.
Sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata dengan lembut:
"Nak. rupanya Thian selalu melindungi engkau, akhirnya kau bisa keluar dari lembah kematian
dengan selamat"
"Terima kasih atas perhatian dari cianpwe" "sahut pemuda itu cepat-cepat.
selama mulutnya berbicara sorot matanya yang tajam mengawasi potongan badan orang yang
kehilangan sukma tanpa berkedip. diam-diam ia merasa amat kenal dengan potongan tubuh
perempuan ini, hanya ia lupa dimanakah ia pernah bertemu dengannya.
Ketika sinar matanya beralih kearah lengan baju kanannya, ia bergetar keras seperti kena listrik
tubuhnya gemetar menahan emosi:
" Itulah pengorbanan dari orang yang kehilangan sukma untuk membebaskan totokan jalan
darah pada tubuhnya, dia telah mengorbankan lengan kanannya dan lengan tersebut hingga
sekarang masih tersimpan di sakunya.
JILID 31 HAL.04 S/D 5 HILANG
lembah, carilah jalan keluar yang lain dan segeralah engkau tinggaikan tempat ini"
"sayang sudah terlambat" tiba2 serentetan suara dingin menyeramkan membelah kesunyian.
sekujur badan orang kehilangan sukma gemetar keras, secara beruntun dia mundur beberapa
langkah lebar kebelakang.
Rasa kejut yang dialami Han siong Kie pun sukar dilukiskan dengan kata2, ia percaya tenaga
dalamnya pada saat ini sangat lihay, tapi kenyataannya ada orang berhasil mendekat wilayah
sekitar lima kaki dari tempat mereka beradapun tidak dirasakan olehnya, dari sini dapat ditarik
kesimpulan sampai dimanakah kelihayan musuhnya itu.
Hek Pek siang yau sepasang siluman hitam putih juga sudah menyadari akan kelihayan
musuhnya, mereka lantas bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Dari balik popohonan lima kaki dari gelanggang, muncul tiga sosok bayangan manusia, orang
pertama adalah seorang manusia aneh berkerudung hijau, dia adalah Thian Che kaucu,
dibelakangnya mengikuti dua orang kakek jubah hitam yang mempunyai sulaman matahari,
rembulan dan bintang didadanya, salah seorang diantaranya adalah Tangan kilat see bun Lui.
Paras muka Han siong Kie berubah hebat, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya.
sikap orang yang kehilangan sukmapun amat serius, dengan suara lirih dia berbisik kepada Han
siong Kie:
"Manusia berkerudung itu adalah pemimpin dari Utusan Thian che kau, orang sebut dirinya
sebagai Cian jiu mo ong (raja iblis bertangan seribu) Tong ciao, selama ini dialah yang selalu
menyaru sebagai ketua. Hari ini, ketiga orang itu jangan sekali-kali kau lepaskan dalam keadaan
hidup, sebab bila seorang saja diantara mereka masih hidup, maka akibatnya sukar dilukiskan
dengan kata-kata" Han siong Ki mengangguk dan memberikan kesanggupannya.
Dalam pada itu, raja iblis bertangan seribu Tong ciau sudah berpaling kearah orang yang
kehilangan sukma, kemudian sambil tertawa seram ejeknya:
"Heeehhh . . heeehhh . . heeehhh. .Aku mengira siapa yang berada disini, tak tahunya adalah
kau"
Ucapan tersebut membuat Han siong Kiejadi tertegun dia lantas berpikir dihati:
"Masakah orang yang kehilangan sukma adalah anggota perkumpulan Thian che kau? Kalau
tidak kenapa orang ini mengenalinya ?"
Sementara itu orang yang kehilangan sukma telah membentak nyaring: "Tutup mutut
anjingmu"
Jelas sekali maksudnya dia tidak mengharapkan orang itu meneruskan kata-katanya lebih jauh.
Kepada Han siong Kie kembali dia berbisik,
"Ingat, jangan biarkan mereka tetap hidup, akan kubantu dirimu secara diam-diam" selesai
berkata dia lantas melejit keudara dan kabur dari tempat kejadian.
"Mau lari kemana kau ?" bentak Raja iblis bertangan seribu Teng Ciau dengan keras, secepat
kilat ia menerkam kemuka.
Han siong Kie mendengus dingin, tubuhnya bergeser setengah langkah ke samping lalu
melepaskan sebuah pukulan gencar, dalam serangan tersebut dia telah sertakan hawa sakti si mi
sinkang yang di milikinya, bukan saja tidak menimbulkan suara kekuatannya sangat mengerikan-
"Blaaang" suatu benturan nyaring menggelegar diangkasa, raja iblis bertangan seribu Teng ciau
yang sedang melakukan pengejaran segera terpental hingga mencelat sejauh delapan depa dari
tempat semula.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah, orang yang kehilangan sukma melarikan diri
dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan-
Kejadian ini sangat mengejutkan dua orang utusan Thian che kau yang lain, hampir saja
mereka menjerit kaget.
selama hidup belum pernah mereka saksikan kemampuan sedahsyat itu, dan mimpipun mereka
tak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki pemimpin utusan Thian che kaupun ternyata
pemuda itu tak mampu dihajar sampai menceat.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata setajam sembilu mengawasi manusia berkerudung itu
tanpa berkedip. mukanya seram dan penuh diliputi hawa napsu membunuh mengerikan sekali
keadaannya.
JILID 31 HAL. 12/13 HILANG
sukma bagaikan menghormati orang tua sendiri ketika didengar pihak musuh memaki orang
yang dihormati sebagai perempuan hina, kontan saja ia naik pitam.
"Tutup mulut anjingmu yang baur bentaknya, "Teng ciao tempat inilah tulang belulang kamu
bertiga akan terkubur untuk selamanya "
"Anjing cilik, kematian sudah berada didepan mata, buat apa engkau masih saja mengibul
seenaknya ?" ejek Tangan kilat se bun Lui tak kalah sengitnya.
Han siong Kie tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, dia ulapkan tangannya kepada
Hekpek siang yu lalu, serunya:
" Hantar kedua ekor anjing ini pulang keakherat, jangan biarkan mereka tetap hidup dikolong
langit "
Dengan sikap yang sangat hormat sepasang siluman mengiakan tanpa banyak bicara lagi
mereka menerjang dua orang utusan Thian che kau itu.
siluman hitam menerkam si Tangan kilat se bun Lui, sementara siluman putih menerjang
utusan Thian che kau yang lain-
Han siong Kie sendiri dengan wajah sedingin es menghampiri Raja iblis bertangan seribu,
katanya:
"Teng ciao sudah terlampau lama engkau mencicipi kehidupan didunia ini, sekarang pun
ciangbunjin akan mengirim kau untuk berpesiar keakhirat, Nah berangkatlah sekarang juga"
seraya berkata selangkah demi selangkah ia menghampiri lawannya. Suatu pertarungan sengitpun
segera berkobar dalam gelanggang.
Ilmu silat yang dimiliki dua orang utusan Thian che kau itu, memang sangat lihay, dalam
keadaan terdesak mereka harus melangsungkan pertarungan adu jiwa yang mengerikan-
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau adalah pengganti dari Thian che kaucu, tentu saja tenaga
dalamnya amat sempurna, dia hanya kalah setingkat dari kaucu sendiri
Tatkala Han siong Kie menerjang masuk kewilayah Lian huan tau dan menolong Go siau bi,
kedua belah pihak pernah terlibat dalam suatu pertempuran sengit waktu itu, kendatipun Han
siong Kie dan Go siau bi sudah bekerja sama toh bukan tandingannya juga, maka ia sama sekali
tak memandang sebelah matapun kepada musuhnya.
selama ini dia hanya menguatirkan Pertarungan dari Hekpek siang yu, seorang gembong iblis
yang sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari keramaian dunia, setelah melihat bagaimana dua
orang jago yang disegani itu bertarung melawan dua orang rekannya, diapun setengah menjadi
lega. kini dia lupa untuk mengejar orang yang kehilangan sukma, memandang Han siong Kie yang
makin mendekat, gembong iblis tersebut lantas tertawa seram, katanya:
"Manusia bermuka dingin, masih mengharapkan tidak untuk melanjutkan keturunan dan
kejayaan dari Mo tiong ci mo?"
Han siong Kie menghentikan langkahnya lalu menjawab:
"Teng ciau, tak tak usah mempersoalkan yang lain, ketahuilah... jika Thian che kaucu masih
bersembunyi terus macam kura-kura, maka manusia-manusia pengganti macam engkaulah yang
bakal sial, sebab ini hari engkau sudah pasti akan berangkat menuju ke akherat"
Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan, secepat kilat dia melancarkan tiga buah pukulan
berantai ke depansekilas
pandangan, ketiga buah serangan tersebut sama sekali tidak nampak lihay ataupun
mengerikan, tapi justru dibalik kelembutan itu terselip hawa sakti si mi sinkang yang memiliki daya
penghancur, bukan begitu saja, bahkan kecepatannya melebihi apa pun juga.
Raja iblis bertangan seribu Tong cian sedikitpun tidak jeri, telapak tangannya lantas disilangkan
didepan dada dan menangkis semua ancaman yang tiba. "Biang Blaang Blaaang " Tiga kali
benturan dahsyat menggelegar diangkasa.
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau tergetar keras dan mundur tiga langkah, rasa kejutnya
kian menjadi, dia tak menyangka hanya berpisah beberapa bulan, ternyata kekuatan tenaga yang
dimiliki musuhnya sudah meningkat sehebat itu.
Padahal ia sendiri disebut orang Raja iblis bertangan seribu, tentu saja tenaga dalam yang
dimilikinya amat sempurna, ia jadi penasaran, begitu terdesak secepat kilat ia menerkam lagi
kemuka dan secara beruntun melancarkan empat puluh delapan buah pukulan berantai.
Ke empat puluh delapan buah pukulan itu dilancarkan secara berantai, diatas
JILID 31 HAL. 18/19 HILANG
kan tandingan baginya, sungguh tak nyana baru tiga gebrakan dia sudah jatuh kecundang di
tangan Manusia bermuka dingin yang berusia dua puluh tahunan, kejadian ini segera
menimbulkan kembali sifat buasnya.
sambil membentak keras, sekali lagi ia menerjang kemuka, serangan demi serangan
dilancarkan secara bertubi-tubi, mengerikan sekali ancamannya itu.
Han siong Kie sama sekali tidak gentar, dia kembangkan permainan Mo mo ciang hoat dan
membalas serangan lawan deagaa serangan pula.
Mengerikan sekali pertarungan waktu itu, kedua belah pihak sama-sama mengeluarkan
segenap ilmu simpanan yang dimiliki, siapa pun berharap bisa menghancurkan lawannya secepat
mungkin.
Suatu ketika, mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang membelah angkasa.
si Tangan sakti se bun Lui yang hebat tak mampu menghindari sebuah sergapan kilat dari
siluman hitam, tubuhnya kontan terbacok telak dan hancurlah tubuhnya menjadi remuk seperti
berkedel, darah segar berceceran menodai permukaan tanah.
Melihat rekannya tewas, utusan Thian vhe kau yang lain jadi gugup, permainan serangannya
jadi kacau balau tak karuan-
Kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan oleh siluman putih, suatu cengkeraman kilat
berhasil menangkap bahunya, baju berikut dagingnya lantas dicomot sampai hancur sepanjang
setengah depa, darah segar bagaikan pancuran mengucur keluar tiada hentinya.
00dw00
BAB 64
BERHASIL dengan serangan yang pertama, siluman putih tidak berdiam diri sampai disitu saja,
secara beruntun dia melontarkan kembali tiga buah pukulan berantai.
Begitu tiga pukulan itu dilepaskan, untuk kesekian kalinya jerit kesakitan berkumandang
memecahkan kesunyian, sambil muntah darah segar utusan Thian che kau itu mencelat sejauh
satu kaki lebih dan tidak bangun untuk selamanya.
Raja iblis bertangan seribu Tong ciau merasa terkejut dan panik, dalam gugupnya secara
beruntun dia lepaskan beberapa buah pukulan kilat begitu Han siong Kie terdesak hebat, ia lantas
melejit dan siap melarikan diri
"Mau kabur ?" jengek Han siong Kie, "jangan mimpi hayo serahkan dulu jiwa anjingmu"
sekali berkelebat ia sudah menghadang jalan pergi raja iblis bertangan seribu itu, secara
beruntun dia lepaskan lima buah serangan berantai.
Melihat gelagat tidak menguntungkan- raja iblis bertangan seribu tak berani gegabah lagi,
timbullah niat untuk mengadu iiwa, maka tatkala serangan musuh melanda datang, bukannya
berkelit dia malahan menyongsong datangnya pukulan itu dengan pukulan.
selama pertempuran berlangsung, Han siong Kie tak bisa bertarung dengan hati lega, karena ia
kuatir kalau dua orang musuh yang sedang bertempur melawan Hek pek siang yu berhasil kabur,
ia kuatir dengan peringatan dari orang yang kehilangan sukma dimana dikatakan bila seseorang
diantara mereka berhasil kabur maka akibatnya sukar dibayangkan-
Tapi sekarang, setelah dua orang yang di kuatirkan berhasil dibikin mampus oleh sepasang
siluman, iapun tidak kuatir lagi, segenap perhatian dan tenaganya dihimpun menjadi satu untuk
melakukan sergapan sergapan maut. Lima gebrakan kemudian, Raja iblis bertangan seribu sudah
dibikin kalang
JILID 31 HAL. 24 S/D 27 HILANG
ia masih berada disini:.. aaai sukarlah untuk diketahui siapa yang bakal hidup dan siapa yang
bakal mati"
"Aaah belum tentu begitul" seru Han siong Kie dengan cepat.
"sekarang engkau adalah seorang ketua dari suatu perguruan, sebelum dendam sakit hatimu
terbalas setiap persoalan yang kau hadapi harus dipikirkan dengan otak dingin, janganlah terlalu
memburu napsu, ketahuilah ilmu silat ibaratnya samudra yang luas, dimanapun ada orang-orang
pintar yang tersembunyi, jangan disebabkan oleh luapan emosi mengakibatkan segala sesuatunya
menjadi berantakan"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan
terbata:
"Setiap nasehat dari cianpwe akan boanpwe dengarkan baik-baik, untuk selanjutnya tat akan
kulupakan lagi"
"Aaah sekarang cepatlah keluar dari lembah ini, aku kuatir bila terlambat maka akan terjadi halhal
yang tak diinginkan"
"Bukankan cianpwe lelah mengatakah bahwa disekitar mulut lembah telah ditanam obat
peledak seberat sepuluh laksa kati"
"Benar, tapi sekarang pemimpin mereka yang merupakan ketiga orang tadi sudah mati semua,
sisanya tak perlu kita takuti lagi, mesti kita bergerak dengan bersembunyi dibalik pepohonan, aku
rasa untuk sementara waktu kita masih bisa mengelabuhi mereka sebab yang tersisa cuma jagojago
kelas kambing. Kendatipun akhirnya jejak kalian berhasil ditemukan, toh pada waktu itu
kalian sudah berada disekitar mulut lembah dan wilayah yang ditanam obat peledakpun sudah
dilampaui, aku percaya dengan kemampuan ya kalian miliki tak sukar untuk kabur dari sini, Nah,
selamat jalan dan semoga berhasil"
Selesai dengan kata-katanya, orang yang kehilangan sukma lantas berkelebat masuk ke hutan
dan lenyap dibalik pepohonan yang rindang.
Dengan termangu- mangu Han Siong Kie mengawasi bayangan punggungnya yang lenyap dari
pandangan, dia menghela nafas panjang, lalu berpikir:
"Budi kebaikan yang kuterima selama ini entah sudah berapa banyak. aai, entah bagaimana
caraku untuk membalas budi kebaikannya ini?
Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, akhirnya sambil mengulapkan tangannya kepada
sepasang siluman ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya menerjang ke arah mulut lembah.
selang sesaat kemudian, mulut lembah itu sudah berada didepan mata, pepohonan yang
rindangpun sudah mencapai pada ujungnya.
Ketika mereka berada kurang lebih lima puluh kaki dari mulut lembah, serentak Han siong Kie
menancap gas dan kabur lebih cepat lagi, kepada dua orang siluman itu serunya: "Hayo kita
terjang keluar dari lembah ini secepat-cepatnya..."
Tiga sosok bayangan manusia bagaikan tiga gulung asap dengan cepatnya meluncur kearah
mulut lembah. suitan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian disusul dari belakang
mereka bergelegar suara ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.
Pasir dan batu mencelat jauh keudara, asap hitam tanah longsor berguguran disekitar tempat
itu membuat suasana ketika itu benar-benar mengerikan sekali.
Akhirnya meledak juga obat yang ditanam disekitar mulut lembah, tapi sayang terlambat
setengah langkah, Han siong Kie sudah lolos dari lingkaran bahan peledak itu.
Keadaan mulut lembah itu porak poranda keadaannya mengerikan sekali, batu cadas sebesar
gunung dan pasir berjuta-juta meter kubik berguguran kebawah dan menyambar semua lapisan
tanah disekitar situ.
Baik Han siong Kie maupun Hekpek siang yau saling berpandangan sekejap dengan mulut
melongo bergidik hati mereka, andaikata orang yang kehilangan sukma tidak memberi peringatan
lebih dahulu, niscaya mereka bertiga sudah hancur entah berwujud apa.
Bisa dibayangkan betapa gusar dan dendamnya siluman hitam menyaksikan keadaan itu, ia
berpaling ke arah pemuda kita lalu berseru: "Ciangbunjin, hutang ini...."
"Hutang kita kepada mereka tidak terbatas hanya peristiwa ini saja" tukas Han siong Kie
dengan cepat, lebih baik kita perhitungkan dikemudian hari saja, sekarang aku masih ada urusan
penting yang harus segera diselesaikan marilah kita segera pergi"
siluman putih menyapu pandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu berkata pula dengan
suara dalam:
"Ciangbunjin, tolong tanya bagaimana kita harus selesaikan anakan monyet yang bersembunyi
di sekitar tempat ini?"
"Kalau ingin mencari balas sudah sepantarnya kita bikin perhitungan dengan pemimpin mereka,
apa harganya buat kita untuk ribut dengan manusia-manusia keroco seperti mereka? Biarkanlah
mereka pergi"
selesai mengucapkan kata-kata tersebut, Han siong Kie segera berangkat meninggalkan tempat
itu diikuti Hekpek siang Yaw di belakangnya
Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah jauh tinggalkan lembah kematian, tujuan mereka
sekarang adalah benteng maut.
Inilah tugas pertama yang harus diselesaikan olehnya setelah berhasil mempelajari Ilmu sakti si
mi sinkang, dia hendak menuntut balas dan menghancurkan tengkorak maut.
Untuk menghindari kegemparan dikalangan masyarakst oleh wajah Hekpek siang yau yang lain
daripada yang lain itu, sengaja ia memerintahkan kedua orang itu untuk mengenakan kain
kerudung hitam.
Hari kedua, tatkala tengah hari menjelang tiba, mereka sudah berada ditepi sebuah sungai
yang lebar, perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri sungai tersebut.
Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba disamping sebuah bekas bangunan rumah yang kini
sudah tinggal puing-puing yang berserakan, disitulah dahulu pesanggrahan Teng to siau cut
berdiri
Terkenang kembali masa lampau, tanpa terasa Han siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya,
dengan termangu- mangu ia memandang bekas bangunan Teng to siau cut yang tinggal puingpuing
itu.
Tanpa terasa ia teringat kembali kenangan masa lampau, kenangan dikala ia terhajar oleh
pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai, bagaimana ia ditolong oleh Go siau bi dan
bagaimana pesanggrahan tersebut akhirnya dibakar oleh orang-orang Thian che kau.
Bayangan Go siau bi yang cantik jelita terpampang jelas didepan matanya, gadis itu telah jatuh
cinta kepadanya pada tatapan yang pertama, bahkan berulang kali menyatakan cinta kepadanya.
Tapi ia sama sekali tidak membalas cinta dara itu, ia tak pernah mencintai Go siau bi, sebab ia
membenci setiap perempuan yang ada didunia ini kecuali Tong hong Hui seorang.
Akhirnya pemuda itu menghela napas panjang, tiba-tiba ia merasa bahwa perbuatannya selama
ini terlalu menyinggung perasaan halus gadis itu, tapi sekarang dia sudah pergi, mungkin
selamanya tak mungkin bisa berjumps lagi.
Benarkah aku telah menghancurkan masa depan seorang gadis ? Benarkah aku bertanggung
jawab atas kejadian ini? ia mencoba untuk bertanya pada diri sendiri, tapi pemuda itu tak mampu
menjawab.
Tindakan ibunya say siang go atau siang go cantik ong cul ing meninggalkan tempat kejadian
dikala keluarganya tertimpa bencana bahkan kawin lagi dengan Thian che kaucu dirasakan
sebagai pukulan batin terberat yang pernah ia terima, kejadian ini membuat pandangannya
terhadap kaum perempuan jadi sinis dan benci.
Untunglah selama ini dia banyak berhutang budi kepada orang yang ada maksud, orang yang
kehilangan sukma, Go siau bi serta Tong hong Hui, sikap dari perempuan-perempuan inilah yang
banyak menggoyahkan cara berpikirnya yang salah itu, perasaan anti perempuan yang
dipertahankan selama ini pun lambat laun menjadi lebih tawar.
Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang puing yang berserakan serta ombak yang
memecah ditepi pantai, kian lama perasaannya kian terbuai oleh lamunan dan kenangan lama.
Hekpek siang yau tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dengan tenang mereka menunggu di
belakang ketuanya.
Tiba-tiba dari balik puing-puing yang berserakan berkumamdang suara helaan napas panjang.
Satu ingatan lantas melintas dalam benak si anak muda itu, ia tersadar kembali dari
lamunannya kepada sepasang siluman segera pesannya. " Kalian tak usah pergi kemana-mana,
nantikanlah aku disini". secepat kilat ia meluncur ke angkasa dan menerobos masuk kedalam
hutan bambu di mana helaan napas tersebut berasal.
seorang sastrawan berusia setengah baya berdiri sambil bergendong tangan ditepi sungai dekat
hutan bambu. Berdebar keras jantung Han siong Kie setelah mengetahui siapakah orang itu,
sebab tak lain adalah kakek Go siau bi, orang-orang persilatan menyebutnya sebagai Put lo
sianseng.
Han siong Kie berdiri pada jarak lima kaki dihadapan kakek tua itu, ia tak tahu apa yang harus
diucapkan dan apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini.
"Benarkah yang datang adalah Han siauhiap, ketua dari perguruan Thian lam bun? " tanpa
berpaling Put lo sianseng menegur lebih dahulu.
Han siong Kie mendekati sampai sejarak tiga kaki lalu menjura dengan hormat.
"Benar cianpwe, apakah selama ini locianpwe berada dalam keadaan sehat walafiat" sahutnya.
Perlahan-lahan put lo sianseng memutar badan sekilas sorot mata yang aneh memancar keluar
tapi sebentar saja sudah lenyap tak berbekas dengan suara dingin.
"sebetulnya lohu sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia ini, tapi sayang imanku kurang
teguh, karena tergoda oleh peristiwa keduniawian akhirnya kumuncul kembali dalam dunia
persilatan, aai.. sungguh tak nyana aku tergoda oleh suatu masalah yang akhirnya membuat diriku
tak bisa lagi berpeluk tangan belaka" Berbicara sampai disitu, kembali ia menghela napas panjang.
"Persoalan apakah yang telah membuat locianpwe jadi bingung?" tanya pemuda itu keheranan-
"Belenggu cinta dari cucu perempuanku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie lantas teringat kembali dengan peristiwa lama
ketika ia menolak pinangan dariput losianseng bagi cucu perempuannya.
"Locianpwe, apakah perkataanmu itu kau sengaja tujukan kepada diri boanpwe? " tanyanya
tanpa sadar.
sekali lagi sorot mata aneh terlintas di wajah Put to sianseng, ia menatap sekejap pemuda itu
kemudian balik bertanya: "Han sauhiap bersediakah engkau membantu diriku?"
"Persoalan apakah yang dapat boanpwe lakukan bagi locianpwe?" tanya Has siong Kie setelah
tertegun sejenak.
"sebenarnya lohu sudah mengangkat sumpah tak akan mencampuri urusan keduniawian lagi..
Aaai, tak disangka oleh karena sejilid kitab pusaka Thian tok pit kip. bukan saja putraku Go Yu to
menemui ajalnya, perkumpulan Pat Gi pang hancur berantakan dan lenyap dari dunia persilatan,
bahkan Go siau bi cucu perempuanku ini ..."
Teringat dara itu, merah padam selembar wajah Han siong Kie, sebab bagaimanapun juga dia
pernah menolak pinangan dara itu
setelah berhenti sebentar terdengar Put lo sianseng melanjutkan kembali kata-katanya:
"Didalam waktu yang amat singkat, lohu telah berhasil melatih Siau bi sehingga ilmu silatnya
mencapai tingkatan yang lihay, tujuanku adalah meminta kepadanya agar balaskan dendam bagi
kematian ayahnya serta membangun kembali perkumpulan yang telah buyar.." Berbicara sampai
disini, kembali dia berhenti.
Han siong Kie merasa hatinya sangat tidak tenang, bagainya secara lapat-lapat ia sudah merasa
bahwa bantuan yang diharapkan kakek sakti ini mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan
Go siau bi.
sementara itu paras muka Put lo sianseng sudah agak berubah, katanya kembali:
"Aaai. sebetulnya aku malu untuk membicarakan persoalan ini, tapi apa boleh buat? Mau tak
mau terpaksa harus mengatakannya juga ...siau bi telah terbelenggu oleh cinta, sekarang ia sudah
terjerumus dalam sekali, kegagalan demi kegagalan yang diterimanya selama ini telah membuat ia
jadi putus asa, sekarang siau bi telah mengambil keputusan untuk mencukur rambut menjadi
nikoh, aai, inilah suatu kejadian yang membuat perasaan hati lohu selalu tak tenang."
"Apa ? Dia mau mencukur rambut menjadi pendeta??"
"Benar, dan keputusannya ini tampaknya sudah bulat, kecuali engkau mungkin didunia ini tak
ada orang kedua yaag bisa merintangi niatnya itu lagi"
JILID 31 HAL. 40/41 HILANG
"Boleh aku tahu pada saat ini nona siau bi berada dimana ?"
"Dipintu luar kuil Bu cu an di bukit Tay hang san"
"Benar, dia minta Tay huang sinni untuk menerimanya sebagai pendeta, tapi lantaran lohu
sudah berpesan kepada sini maka ia ditolak untuk memasuki kuil tersebut, walaupun demikian
rupanya ia tidak menjadi putus asa, sudah tiga hari tiga malam ia berlutut didepan pintu kuil
tersebut "
Dari mulut boanpwe pernah mendengar tentang kelihayan Tay huang Sinni, katanya watak
nikoh itu aneh sekali, enam puluh tahun berselang dengan lencana Hud cu leng dia telah
menggetarkan sungai telaga dan memaksa orang persilatan baik dari golongan putih maupun dari
golongan hitam tunduk semua kepadanya, sungguh tak nyana dia masih hidup didunia ini?"
"Benar, Tay huang sinni itulah yang kumaksudkan, hingga kini sepuluh li disekitar bukit Tay
huang san merupakan daerah terlarang, tak seorang jago persilatanpun yang berani mendekati
tempat itu "
"Kalau memang begitu, bukankah kedatangan boanpwe."
"Dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bukan suatu persoalan yang terlampau berat
untuk menerjang masuk kedalam kuil"
"Menerjang masuk?" seru pemuda itu tercengang.
"Benar, selain menerjang masuk rasanya tiada jalan lain yang bisa kau tempuh. sebagaimana
telah kau ketahui. Tay huang sinni adalah seorang manusia aneh yang tak bisa diajak berbicara.
Kendatipun begitu aku minta kau masih ingat untuk berbicara secara baik-baik lebih dahulu
sebelum menggunakan kekerasan, bila tidak terpaksa sekali janganlah turun tangan secara
gegabah"
"Perasaan ingin tahu lantas menyelimuti hati pemuda ini, ia lantas berpikir:
" Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mencoba sampai dimanakah
kelihayan kungfu Tay huang sinni?"
Diapun mengangguk seraya menjawab: "Boanpwe akan menuruti semua pesan cianpwe"
"Bolehkah aku tahu apa tujuanmu sekarang ??"
"Boanpwe hendak berkunjung ke benteng maut untuk membuat perhitungan dengan pemilik
benteng maut tersebut"
"Membalas dendam? tentang soal ini..."
"Apakah locianpwe ada petunjuk lain?"
"Aaah tidak... tidak aku tidak ingin mengatakan sesuatu hal, setelah tiba pada saatnya engkau
akan mengetahui sendiri"
Han siong Kie melongo, ia tak tahu apa yang dimaksudkan put lo sianseng dengan katakatanya
itu?
sementara dia masih termenung put to sianseng telah melanjutkan kembali kata-katanya:
"Masalah yang kutitipkan padamu itu terlampau serius, rasanya tak boleh dibiarkan berlarutlarut,
oleh sebab kuatir kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, apakah sauhiap bersedia untuk
berkunjung dahulu kebukit Tay huang san?"
"Boanpwe turut perintah bagaimana cara nya untuk berangkat menuju bukit Tay huang san?"
"Dari sini berangkatlah keutara dua ratus li kemudian akan tiba kebukit Tay huang san, diantara
bukit yang menjulang diangkasa akan kau temui sebuah bukit gersang yang tidak bertumbuhan,
tempat itu mudah ditemukan dan aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki tidak susah
untuk mencapai tempat tujuan"
"Kalau begitu boancwe akan berangkat sekarang juga"
"Tunggu sebentar"
"Apakah locianpwe masih ada pesan lain"
"Benarkah dua orang manusia berkerudung yang mengikuti dibela kang mu itu adalah Hek pek
siang yau sepasang siluman hitam putih yang tersohor itu."
sungguh kagum Han siong Kie oleh ketajaman mata Put to sianseng, bukan saja dapat
menebak jitu asal usul dari Hek pek siang yau, malahan tanpa melihat tampang wajah merekapun
tebakannya ternyata jitu. Maka dia lantas mengangguk tanda membenarkan.
"Apakah hubungamu dengan sepasang siluman itu" kembali Put to sianseng bertanya.
"Mereka berdua sudah termasuk jadi anggota perguruanku"
JILID 31 HAL. 46/47 HILANG
"Benar, dan sekarang juga kita akan berangkat menuju ke kuil Bu cu an dibukit Tay huang san"
"Pergi ke bukit Tay huang san?" seru siluman putih dengan wajah terkesiap.
"Benar, bukit Tay huang tempat tinggal dari Tay huang sini"
"Apakah ciangbunjin hendak bermusuhan dengan pendeta perempuan itu?"
"Tidak, aku kesana untuk menyelesaikan sedikit persoalan. Tahukah kamu berdua persoalan
apa yang hendak kuselesaikan "
"Tentang soal ini tecu tak berani bertanya.."
"Kalau begitu hayo kita segera berangkat"
Begitulah tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat segera
berangkat menuju utara.
Hek pek siang yau terhitung pula sebagai jago yang tersohor pada puluhan tahun berselang,
tentu saja Tay huang sinni yang pernah malang melintang dalam sungai telaga dengan Hud cu
lengnya tidak terlampau asing bagi mereka.
sekarang setelah mengetahui bahwa tujuan mereka adalah ke bukit Tay huang san, sedikit
berdebar juga hati mereka berdua.
Namun baik siluman hitam maupun siluman putih tak berani banyak bertanya, sebab
bagaimanapun juga mereka harus mengikuti kemana perginya majikan mereka.
Untunglah ketiga orang itu adalah jago-jago silat berilmu tinggi, sekalipun tiada jalan yang
terbentang namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menembusinya .
Dua jam kemudian, mereka sudah memasuki daerah pegunungan yang terjal dan sepi.
sesudah melewati berpuluh-puluh buah bukit yang terjal, akhirnya diantara deretan bukit itu
muncullah sebuah bukit gundul yang gersang.
Kecuali beberapa titik warna hijau menghiasi bukit tersebut, hampir boleh dibilang yang tampak
hanya batu-batu cadas yang hitam dan tajam.
Han siong Kie segera menghentikan langkah kakinya, sambil menunjuk ke arah bukit gundul
nanjauh didepan sana katanya:
"Aku pikir bukit itulah yang dinamakan bukit Tay huang san?"
"Jadi ciangbunjin belum pernah berkunjung kemari?" tanya siluman hitam keheranan-
"Belum pernah, baru untuk pertama kali ini aku berkunjung kemari"
"Dahulu tecu pernah melewati tempat ini, tak salah lagi inilah bukit Tay huang san"
"Ciangbunjin, bolehkah kami tahu apa maksud ciangbunjin datang kemari?" tanya siluman putih
agak takut-takut.
"Mencari seseorang"
"Mencari orang? Ketahuilah ciangbunjin, dua li dari kaki bukit itu merupakan daerah terlarang,
setiap umat persilatan tak berani melewati wilayah tersebut dengan sembarangan"
Han siong Kie bukan orang bodoh, tentu saja ia mengetahui perasaan hati dari sepasang
siluman itu, sambil tertawa dingin katanya: "Jadi kalian merasa takut??"
"Ciangbunjin jangan berkata begitu" seru siluman hitam dengan hati gelisah, "setelah tecu
memberikan kesanggupan untuk turut serta ciangbunjin untuk selamanya, jangan toh hanya
berkunjung ke bukit Tay huang san, kendatipun harus naik kebukit golok atau terjun ke lautan api
tak nanti kami akan menolaknya"
Han siong Kie menengadah dan memandang sekejap bukit gundul diseberang sana, kemudian
katanya lagi.
"Kalian berdua tak usah ikut aku naik ke bukit itu, nantikan saja kedatanganku disini"
"Tidak Tecu tidak mau meninggalkan ciangbunjin seorang diri" serentak kedua orang siluman
itu berseru.
"Aku hendak pergi menyelesaikan suatu persoalan, kalian tak usah ikut saja. berdiamlah disini "
"Tecu berdua mana tenang membiarkan ciangbunjin pergi menempuh mara bahaya seorang
diri?"
"siapa bilang aku pergi menempuh bahaya ? Ketahuilah urusanku ini tidak menyangkut soal
dendam sakit hatipun tidak mengenai soal pembalasan budi."
"Tapi .. Ciangbungjin pasti tahu Tay Huang sini adalah seorang manusia yang berwatak aneh,
siapa berani melanggar pantangannya maka bisa mengakibatkan ...."
"Kalian berdua tak perlu kuatir, aku bisa menjaga diri dan akupun tahu bagaimana caranya
untuk menghadapi keadaan seperti itu" Dengan wajah bersungguh-sungguh siluman hitam
berkata lagi:
"Bagaimaa kalau tecu berdua mengikuti jejak ciangbunjin dari tempat kejauhan ?jadi apabila
sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tecu berdua bisa segera memberi bantuan ?"
"Tidak Tidak perlu" sahut pemuda itu tegas.
Tapi... tapi bagaimanapan juga, kami merasa tak tenang."
"Kalian berdua tetap berjaga-jaga disini, bagaimanapun juga yang terjadi disini, kalian tak boleh
bergerak secara sembarangan, perkataanku ini adalah perintah, aku minta kalian berdua jangan
mencoba untuk melanggar perintahku ini"
Buru-buru Hok pek siang yau membungkukkan badannya memberi hormat, mereka tak banyak
banyak bicara lagi.
Menyaksikan sikap kedua orang itu, Han siong Kie malahan merasa tidak tega sendiri, kembali
bisiknya dengan lembut:
"Kalian berdua tidak usah kuatir, tenangkan saja hati kalian berdua, tidak akan terjadi hal yang
diluar dugaan atas diriku ini"
seraya berkata dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan bergerak menuju
kepuncak bukit yang gundul itu
Diluaran Han siong Kie memang tampak sangat tenang, padahal dalam hatinya ia menggerutu
terus, bagaimanapun juga dia telah memasuki daerah terlarang dari seorang jago silat yang
disegani umat manusia, selain itu diapun tak tahu apakah pesan dari put lo sianseng dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya atau tidak masih merupakan suatu tanda tanya besar, ia tak
tahu apakah Go siau bi bersedia untuk mendengarkan nasehatnya atau tidak.
Menurut keterangaa dari put to sianseng sudah tiga hari tiga malam Go siau bi berlutut didepan
pintu kuil, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tekadnya sudah bulat .
"Apa yang harus diucapkan setelah berjumpa dengan gadis itu nanti?"
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, setiap kali teringat akan persoalan ini hatinya
langsung merasa tak tenang.
Belum jauh ia mendaki bukit yang gundul itu, kira-kira baru sepuluh kaki dari wilayah
perbatasan daerah terlarang, mendadak perjalanannya telah dihadang oleh seorang nikoh,
pendeta perempuan itu duduk bersila diatas sebuah batu cadas, matanya terpejam dan tubuhnya
kaku seperti arca, tampaklah betapa berwibawanya nikoh tersebut.
Cepat Han siong Kie menghentikan gerak tubuhnya, setelah tertegun sejenak diapun berpikir:
"Mungkinkah nikoh tua itu adalah Tay huang sinni yang tersohor dimana-mana itu?" sambil
merangkap tangannya memberi hormat pemuda itu menyapa: "Mohon tanya apakah sinni adalah
Tay huang sini?"
"Dia adalah guruku " sahut nikoh tua itu singkat.
sekalipun hanya beberapa patah kata saja, namun tiap patah kata diucapkan dengan sangat
nyaring dan tajam, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki nikoh ini sudah
mencapai puncak kesempurnaan yang mengagumkan.
-000dw000-
BAB 65
"BOLEH aku tahu, siapa nama gelar dari suthay ?" kembali si anak muda itu bertanya.
"Kami adalah orang yang beragama, tidak menjadi kebiasaan bagi kami untuk saling
menyebutkan nama dengan orang awam "
Ucapan tersebut dingin kaku dan singkat, malahan nikoh itu sama sekali tidak membuka
matanya barang sekejappun.
Diam-diam Han siong Kie merasa naik pitam, tapi ia tetap berusaha untuk mengendalikan hawa
amarahnya itu, sebab berulang kali Put to sianseng telah berpesan kepadanya agar jangan
memakai kekerasan, sehingga mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi
tujuan kedatangannya toh hanya berusaha menasehati Go siau bi agar membatalkan niatnya
untuk menjadi pendeta."
Maka setelah berpikir beberapa saat, dia pun berkata:
JILID 31 HAL. 56/57 HILANG
tekebur yang berani mencari gara-gara dibukit Tay huang san"
Keangkuhan dan keketusan Han siong Kie segera terpancing keluar oleh suasana yang serba
tak enak itu, dia balas mendengus.
"Hmm Aku sudah memohon dengan segala kehalusan serta mengikuti tata kesopanan aku
minta suthay jangan bersikeras untuk menampik keinginanku ini, ketahuilah setelah aku berhasil
berjumpa dengan orang yang kucari maka akupun akan segera tinggalkan tempat ini"
"Tidak bisa Lebih baik sicu segera tinggalkan tempat ini."
"Kalau suthay bersikeras untuk menampik terus kehendak hatiku, terpaksa aku akan berbuat
kurang sopan.
43
"Apa yang hendak sicu lakukan ?"
"Apa lagi? Tentu saja naik gunung mencari orang"
"Sicu, tak usahlah bersikeras untuk mencari keonaran, apakah engkau baru bersedia untuk
turun dari bukit ini setelah diusir oleh pinni dengan menggunakan kekerasan ?"
"Bagiku hanya tahu maju terus pantang mundur, tak dikenal arti mengundurkan diri sebelum
apa yang kuharapkan tercapai."
"Jadi kau ingin main kekerasan? Silahkan saja untuk mencoba. "
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan"
Begitu selesai berkata, Han siong Kie segera menjejakkan kakinya ke tanah dan melesat
kedepan.
Nikoh tua itu menggulung keluar dan menghantam tubuh sianak muda itu keras dan berat
sekali tenaga pukulan yang dilontarkan oleh pendeta perempuan itu.
Han siong Kie tak mampu untuk meneruskan langkahnya, ia dipaksa untuk melayang kembali
ketempat semula, dalam hati pemuda itu lantas berpikir:
"Muridnya saja sudah begitu lihay, apa lagi gurunya? Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki
Tay huang sinni telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa"
Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba nikoh tua itu membentak lagi:
JILID 31 HAL.60/61 HILANG
sekarang Han siong Kie tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, sepasang telapak
tangannya diayun kedepan melancarkan dua buah pukulan berantai yang maha dahsyat, dalam
seraogannya kali ini dia telah sertakan tenaga sakti si mi sinkang sebesar enam bagian.
Nikoh tua itu mendengus gusar, diapun mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut
datangnya ancaman tersebut.
"Blaaam Blaaam" dua kali benturan keras seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong
menggelegar di angkasa. Nikoh tua itu bergetar keras dan akhirnya tak mampu mempertahankan
diri ia terdesak mundur dari atas batu cadas tersebut.
Menggunakan kesempatan dikala nikoh itu terpental turun dari batu Han siong Kie segera
melejit keudara dan melayang sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula kemudian sekali menutul
permukaan tanah pemuda itu melayang kembali sejauh sepuluh kaki.
"Kawanan tikus kau akan pergi ke mana?"
mendadak seorang nikoh tua lain muncul dihadapan mukanya dan menghadang jalan pergi
sianak muda itu, sementara nikoh tua yang berada dibelakang tadi kini entah telah pergi kemana ?
Dengan tatapan tajam Han siong Kie mengamati tampang nikoh tua yang menghalang jalan
perginya ini, ia lihat alis matanya sudah memutih semua, sekalipun jauh lebih muda daripada
nikoh tua yang duduk di arca batu tadi, namun usianya sudah berada diantara enam puluh sampai
tujuh puluh tahunan.
"Sicu, hebat sekali ilmu silat yang kau miliki" tegur nikoh beralis putih itu dengan wajah
sedingin es.
"Terima kasih atas pujian dari suthay Aku tidak memiliki kepandaian apa-apa dan rasanya tak
perlu kau kagumi"
"sicu, sadarkah engkau apa akibatnya jika engkau bersikeras untuk melakukan pengacauan
diatas bukit Tay huang san ini ?"
"Apa akibatnya?" tanya pemuda itu.
"Mati. Mati dalam keadaan mengenaskan" Kontan saja Han siong Kie mengerutkan dahinya.
"suthay, janganlah kau anggap ancaman itu akan membuat aku jeri ataupun ketakutan.
Ketahuilah kedatanganku kemari adalah atas permintian dari seseorang, dan aku datang kemari
melalui tata cara dan sopan santun pada umumnya, janganlah kalian mulai dahulu dengan
permainan kekerasan"
"Tidakkah sicu tahu bahwa bukit Tay Huang san adalah suatu daerah terlarang? Suatu wilayah
yang tak boleh dilalui oleh setiap manusia asing kecuali penghuni kuil?"
"Maaf suthay, sebelum apa yang kucita- citakan tercapai, aku tidak mengenal apa artinya takut
atau mengundurkan diri ditengah jalan"
"Kalau begitu, silahkan saja untuk coba menerjang masuk dengan kekerasan .. " tantang nikoh
itu.
"Kalau terpaksa musti menggunakan kekerasan, maaf kalau aku akan bertindak lancang
-ooodwooo
SEHABIS mengucapkan kata-kata tersebut, seperti sukma gentayangan saja sianak muda itu
menerjang maju kedepan.
Meskipun pemuda itu bertindak cepat, nikoh tua itupun tidak berlambat, baru saja Han siong
Kie mencoba untuk menerobos lewat dari sisinya, tahu-tahu nikoh tua itu sudah menghadang
dihadapan mukanya sembari melancarkan tiga buah serangan berantai.
Ke tiga buah serangsn tersebut bukan saja dilancarkan secara beruntun dengan kecepatan
yang luar biasa, terasalah desingan angin puyuh yang menyertai serangan itu hebatnya luar biasa.
Terkesiap Han siong Kie menghadapi serangan sedahsyat itu, dia coba berkelit ke samping
untuk menghindar, lalu dari samping dia lepaskan sebuah serangan balasan.
Nikoh tua itu bergerak kesamping, bukan saja dengan gerakan yang enteng ia berhasil
menghindari serangan tersebut, malahan menggunakan kesempatan tersebut ke lima jari tangan
kirinya seperti jepitan baja mencengkeram urat penting dipergelangan tangan Han siong Kie,
sementara tangan kanannya dikebutkan kemuka menghajar hiatto-hiatto penting disekitar dada
bagian luar.
Cepat dalam serangan, aneh dalam jurus pukulan, kelihayan nikoh tua ini jarang di temui dalam
dunia persilatan.
selihay-lihaynya nikoh tua itu, Han siong Kie jauh lebih lihay, ia putar telapak tangan kanannya
dengan cepat, dari gerakan dia rubah serangannya menjadi gerakan mencengkeram, arah yang
diancam adalah pergelangan tangan lawan, sementara telapak tangan kirinya tidak ketinggalan, ia
putar satu lingkaran didepan dada dan menutup semua hiatto pentingnya dari ancaman.
Gagal dengan serangan kilatnya, nikoh tua itu mundur tiga langkah kebelakang, menyusul
sebuah pukulan kilat kembali dilancarkan.
Han siong Kie tak mau unjukkan kelemahan nya, dia lepaskan pula sebuah pukulan untuk
menyambut ancaman itu.
"Blaang" benturan keras tak dapat dihindari lagi, masing-masing pihak terjengkang mundur
satu langkah.
Dalam hati Han siong Kie merasa terperanjat, ia tak mengira kalau nikoh tua itu sanggup
menerima pukulan saktinya yang disertai dengan tenaga sebesar enam bagian.
Ia kaget nikoh tua itu lebih kaget sebab dalam serangannya barusan dia telah mengerahkan
tenaga sebesar sepuluh bagian, tapi nyatanya bukan saja tak berhasil merobohkan lawan, dia
sendiri yang terdesak mundur satu langkah.
Untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama tertegun, mereka sama-sama menyadari bahwa
musuh yang sedang dihadapi adalah musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Paras muka nikoh tua itu berobah hebat, jubah pendetanya yang lebar menggelembung sendiri
tanpa terhembus angin, sinar matanya berkilat dan perlahan-lahan telapak tangannya diangkat
keatas.
Meskipun Han siong Kie terperanjat dan tidak mengerti ilmu aneh apakah yang sedang
dikerahkan musuhnya namun sianak muda itu tak berani bertindak gegabah, dia pun menghimpun
hawa sakti si mi sinkang nya sebesar delapan bagian, telapak tangannya dialingkan didepan dada,
siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Sementara itu nikoh tua tadi telah mengangkat telapak tangannya sejajar dada, kemudian
didorongkan kemuka perlahan-lahan, segulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera
meluncur kedepan dan menyapu benda apa saja yang dilewatinya.
Han siong Kie memandang pukulan itu dengan serius, sepasang telapak tangannya balas
didorong kemuka dan menyambut ancaman tersebut dengan tenaga si mi sinkang sebesar
delapan bagian.
"Blaaang" ledakan keras menggelegar di angkasa, diantara suara nyaring terdengar dengus
tertahan menggema diudara, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur lima langkah, paras
mukanya pucat pias, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, peluh sebesar kacang kedelai
mengucur keluar tiada hentinya.
Han siong Kie sendiripun merasakan hatinya bergoncang keras, dia terdorong mundur satu
langkah lebar.
setelah berhenti sebentar nikoh tua itu menggigit bibir, tiba-tiba ia menerjang lagi kedepan,
sepasang telapak tangannya dengan desingan tajam disapu kembali keluar.
sapuan tersebut tampaknya saja sangat lambat pada hakekatnya cepat melebihi kilat bahkan
sudut sasarannya jauh dari keadaan biasa bukan saja disertai hawa pukulan yang aneh bahkan
membuat orang tak mampu untuk menangkis datangnya ancaman itu
Han siong Kie seketika terdesak hebat, dia mundur terus berulang kali tanpa mampu
membalas.
Bagaikan gulungan ombak sungai yang berkepanjangan serangan itu datang secara
bergelombang dan tiada putusnya, sianak muda itu mundur terus kebelakang dan akhirnya ia
terjebak disuatu batuan cadas yang tinggi dan besar, waktu itu ingin mundurpun sudah tiada jalan
lagi.
sadarlah pemuda itu bahwa keadaannya sudah keteter hebat, bila ia tidak unjukkan
kesaktiannya lagi tak nanti dia bisa menaiki bukit itu. Berpikir demikian dia lantas membentak:
"Maaf, terpaksa aku akan bertindak kasar"
Dengan jurus Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia lepaskan sebuah pukulan
dengan tenaga sebesar sepuluh bagian.
Walaupun jurus serangan ygng dipergunakan masih merupakan jurus-jurus lama, akan tetapi
setelah dia berhasil mempelajari ilmu sakti si mi sinkang, kekuatan daya serangannya ternyata
jauh berbeda.
Jerit kesakitan menggema di angkasa, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur sejauh satu
kaki lebih, darah segar mengucur keluar membasahi ujung bibirnya.
Han siong Kie tertegun, dia tak menyangka kelihayannya sudah mencapai tingkatan setinggi itu,
semua dalam keadaaa begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih jauh, serentak tubuhnya
berkelebat dan menerjang ke atas puncak bukit.
selang sesaat kemudian ia sudah mencapai seratus kaki sebelum puncak bukit, beberapa
batang pohon siong muncul didepas mata, dan d ibalik pepohonan itu tampaklah sebuah
bangunan kuil yang terbuat dari batu cadas gunung. Han siong Kie merasa semangatnya
berkobar, ia percepat gerakan larinya.
Mendadak sesosok bayangan abu-abu muncul dari balik pepohonan dan langsung menerkam
kedepan, sebelum tiba angin pukulan yang tajam sudah keburu menyapu lebih duluan-
Sungguh terkejut sianak muda itu, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki pendatang ini jauh lebih
hebat daripada dua orang nikoh yang telah dijumpai, cepat tubuhnya menukik dan membentuk
sebuah gerakan setengah busur diudara kemudian melayang turun ke muka bumi.
Bayangan abu-abu itnpun melayang turun ternyata dia adalah seorang nikoh berlengan
tunggal.
Sebelum Han siong Kie sempat buka suara, nikoh berlengan satu itu sudah menegur lebih
dahulu:
"Sicu, engkau anggap kepandaian silatmu sudah hebat maka secara beruntun kau lukai dua
orang seperguruanku dan kemudian datang mengacau bukit Tay huang san ini"
"Aku tidak bermaksud main kasar, aku memohon dengan sopan dan menuruti
JILID 32 HAL 10/11 HILANG
yang tergetar oleh terasa sinkang musuh terasa sangat sakit bagaikan mau patah, dengan
gontai ia mundur sejauh delapan depa, rasa kaget dan tercengang menghiasi seluruh wajahnya.
Kecuali gurunya, selama hidup belum pernah dijumpai musuh setangguh ini, apalagi usianya
belum dua puluh tahunan, hal ini semakin mencengangkan hatinya.
Dipihak lain Han siong Kie dibikin naik pitam oleh kejadian yang baru dialaminya, hawa sakti Si
mi sinkang lantas disalurkan mengelilingi seluruh badan, dari kejauhan dia lepaskan sebuah
pukulan dahsyat.
Nikoh berlengan tunggal itu terkesiap. cepat-cepat tangannya berputar membentuk satu
lingkaran kilat, gerakan itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikitpun-
Han siong Kie terperanjat ia merasa bahwa tenaga pukulan yang dilancarkan dengan kekuatan
sebesar delapan bagian itu mendadak punah sama sekali hingga lenyap tak berbekas.
Ia menggigit bibir, sepasang telapak tangannya sekali lagi meluncurkan serangan dengan
mengerahkan tenaga sebesar sepuluh bagian, kali ini terlihatlah pancaran cahaya aneh dari raut
wajahnya.
Nikoh berlengan tunggal ini lebih tercekat lagi hatinya, kalau orang lain tidak tahu maka hati
kecilnya jauh lebih paham dari siapapun juga untuk memunahkan daya pengaruh serangan musuh
barusan dia harus mengerahkan ilmu sakti Pay yap sin khinya hingga mencapai dua belas bagian
dengan susah payah ancaman musuh baru bisa dipunahkan, tapi sekarang musuh telah
menambahkan serangannya hingga mencapai sepuluh bagian, dia yakin bahwa kepandaian nya
tak mampu untuk membendung kedahsyatan lawan. Tampaknya nikoh berlengan tunggal itu bakal
mati konyol.
Disaat yang kritis tiba-tiba terdengar seseorang berseru nyaring dari tempat kejauhan.
"Biau hian cepat mundur, pukulan itu adalah ilmu si mi sinkang, engkau tak mampu untuk
menghadapinya"
Ucapan tersebut cukup mencengangkan hati Han siong Kie, ia tahu kalau tebakannya tidak
keliru maka orang yang baruran berbicara tak lain adalah Tay huang sinni pemilik kuil Bu cuan ini,
ia merasa bahwa kata-kata tersebut berasal dari balik kuil, kalau toh demikian adanya dari mana
nikoh sakti itu bisa mengetahui akan asal usul ilmu silatnya?"
Mungkinkah ia sudah berhasil melatih ilmu Thian sao tong, suatu kepandaian melihat jauh.
Paras muka nikoh tua yang bernama Biau hian itu berubah hebat, dia melirik sekejap kearah
Han siong Kie. kemudian putar badan dan lenyap dibalik batu-batu cadas.
Karena musuhnya telah mengundurkan diri, maka sianak muda itupun membatalkan
erangannya, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kearah puncak bukit sebelah depan sana.
"Locianpwe, boanpwe ada urusan hendak bertemu dengan cianpwe, harap engkau bersedia
memaafkan kelancanganku ini"
"Sebutkan asal usul perguraanmu " kata-kata tersebut muncul kembali dari atas puncak bukit.
"Boancwe bernama Han siong Kie, ketua dari perguruan Thian lam bun "
"Engkau adalah ketua dari istana Huan mo kiong diwilayah Thian-Iam ? Ada urusan apa datang
kemari ?"
"Boanpwe mendapat pesan dari seseorang dan sengaja datang kemari untuk mencari orang"
"siapa yang kau cari ?"
seorang nona yang bernama Go siau bi"
"siapa yang suruh engkau datang kemari ?"
"Put to sianseng, kakek dari nona Go "
"ooooh, jadi engkaulah yang bernama Manusia muka dingin Han siong Kie " sekali lagi anak
muda itu terperanjat, sahutnya cepat: "Benar, boanpwelah yang bernama Han siong Kie."
"Memandang diatas wajah Put lo sianseng aku tidak akan mempersoalkan lagi kesalahanmu
mencari gara-gara ke atas bukit kami ini. Nah Cepatlah turun dari bukit ini."
Perasaan hati yang semula sudah menjadi tenang, kini bergolak kembali, ucapan tersebut
dirasakan Han siong Kie sebagai suatu ejekan, rasa ingin menang lantas muncul kembali.
" Cianpwe, aku toh sudah mengutarakan maksud kedatanganku ? Masa sebelum tujuanku
kesampaian kau telah mengusir aku turun gunung?" serunya dengan hati tak puas.
"Aku perintahkan kepadamu untuk segera turun dari bukit ini " tiba-tiba suara dari Tay huang
sinni berubah jadi amat dingin dan ketus, bahkan ucapan tersebut diutarakan sepatah demi
sepatah kata.
sesabar-sabarnya Han siong Kie setelah diperlakukan sekasar itu diapun tak dapat menahan diri
lagi tampiknya:
"Aku datang kemari bukan untuk mendengarkan perintahmu, kalau aku tak mau turun gunung
kau mau apa?"
"Hmm Membandel" maki Tay huang sinni ketus,
" kalau begitu apa yang hendak kau lakukan ?"
"Setelah persoalan yang dititipkan pada ku telah kuselesaikan, tanpa disuruh aku bisa turun
gunung sendiri"
"Persoalan apa yang hendak kau kerjakan ditempat ini?"
"Aku ingin bertemu dengan nona Go siau bi dan bercakap-cakap sendiri dengan dirinya"
"Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah seorang pendeta beragama, aku tak ingin bersilat lidah
dengan dirimu, lebih baik cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini"
"Maaf, aku tak dapat menuruti kehendakmu itu"
"Hmm sicu, jangan kau anggap ilmu sakti si mi sinkang yang kau miliki itu adalah suatu
kelandaian sakti yang tiada tandingannya lagi dikolong langit" Agaknya Tay huang sinni mulai naik
darah oleh sikap lawannya yang keras kepala.
"Akupun sama sekali tidak berpendapat demikian, tapi bila ada orang ingin main-main
denganku, akan kubuktikan bahwa kepandaian tersebut masih lebih dari cukup bagiku untuk
mempertahankan diri"
suasana hening untuk sesaat, diantara hembusan angin bukit yang sepoi-sepoi akhirnya
terdengar Tay huang sini berkata lagi, hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut: "Sicu, aku rasa
engkau tak usah bertemu lagi dengan nona Go"
"Kenapa?" Tanya si anak muda itu cepat.
"Sebab dia tak ingin berjumpa lagi denganmu "
Jawaban ini membuat Han siong Kie membungkam, sebab inilah kejadian yang sangat tidak
diharapkan olehnya, suatu kejadian yang membuat ia jadi jengah dan merasa serba salah, tapi
haruskah ia mengundurkan diri dengan begitu saja ?
"Aku telah berjanji kepada Put to sianseng, bahwa persoalan ini akan kuselesaikan dengan
segala kemampuan yang kumiliki" pikir pemuda itu dalam hati "dan lagi akupun merasa banyak
berhutang budi kepada Go siau Bi, apakah aku harus mengundurkan diri karena persoalan ini ?
Toh Go siau bi bisa menjadi nekad adalah gara-gara karena aku ? Tatkala ingatan tersebut
terlintas dalam benaknya, pemuda itu lantas berseru:
"Dia mau berjumpa denganku atau tidak adalah urusan pribadinya sendiri, pokoknya
bagaimanapun juga aku harus bertemu dengannya "
"Hmm Engkau hendak berbuat sewenang-wenang ditempat ini ?"
"Tidak. aku tidak berbuat sewenang-wenang, aku hanya bertindak menuruti perasaan hatiku
sendiri"
"Ketahuilah wahai Han sicu, pinni bisa simpatik terhadap pengalaman serta tragedi yang
menimpa kehidupan nona Go, telah kukabulkan permintaannya itu dan sekarang akan kucukur
rambutnya menjadi nikoh, mulai detik ini ia sudah menjadi murid Buddha dan dia tak akan
menjumpai dirimu untuk selamanya."
"Tidak Tidak boleh" teriak Han siong Kie dengan setengah menggembor, paras mukanya
berubah hebat.
"Tidak boleh ? Dengan berdasarkan apa engkau melarang kebebasan orang untuk memilih dan
melakukan apa yang disukainya Haaah haaah haaah sicu, kau harus tahu kendatipun pinni telah
menjadi murid Buddha, akan tetapi aku tidak terikat oleh suatu pantangan, yakni pantangan
membunuh"
Habislah kesabaran Han siong Kie, dia mendengus penuh kemarahan, sekali menjejak
permukan tanah, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya pemuda itu melayang keatas
puncak bukit.
sewaktu tiba didepan pintu kuil ia lihat pintu gerbang tertutup rapat, seorang dara baju putih
tampak berlutut didepan pintu kuil itu tanpa bergerak. siapa lagi dara itu kalau bukan Go siau bi
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, lama-lama sekali ia menatap dara itu
kemudian bisiknya: "Nona Go "
Go siau bi tidak menjawab, ia masih tetap berlutut tak bergerak.
"Nona Go " sekali lagi anak itu muda itu memanggil dengan lemah.
-000dw000-
66
PENGALAMAN yang dialami Go siau bi memang mengenaskan, berulang kali ia menyatakan
cinta kepada pemuda pujaannya, namun setiap kali tidak mendapat tanggapan yang serius.
sejak mengalami kejadian didalam perkampungan oh han san ceng bertekadlah gadis ini untuk
cukur rambut menjadi pendeta dan menjalankan sisa hidupnya dengan mengabdikan diri kepada
sang Buddha.
Kendatipun tekadnya sudah bulat, tak dapat dipungkiri bahwa rasa cintanya terhadap Han siong
Kie telah padam terlebih lagi ia tak menyangka kalau si anak muda itu bakal datang ke bukit Tay
huang san mencari dirinya.
Untuk sesaat pikirannya jadi kacau balau tak karuan, rasa cinta yang masih membakar dalam
dadanya serasa makin bergolak dengan hebatnya.
JILID 32 HAL. 22 S/D 25 HILANG
"Apakah locianpwe adalah pemilik kuil ini ?"
"Ehmm " tiada jawaban kecuali dengusan dingin, dengusan tersebut amat ketus dan tak sedap
didengar.
sekuat tenaga Han siong Kie berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, ia bertanya:
"Sudahkah locianpwe menyanggupi permintaannya untuk mencukur rambutnya menjadi
pendeta?"
"Enmm sudah kenapa ??"
"Aku rasa dengan kedudukan cianpwe yang agung dan dihormati orang, tentunya engkau tak
akan mengingkari janji sendiri bukan ?"
"Apa maksudmu dengan perkataan itu?" tegur Tay huang sini dengan wajah berubah.
"Bukankah locianpwe telah menyanggupi permintaan put to sianseng untuk menolak
permintaan nona Go menjadi pendeta ?"
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar tanpa bisa dicegah lagi Go siau bi berpaling serta
melotot sekejap kearah sianak muda itu.
"Ehmm, memang ada kejadian seperti itu" kata Tay huang sinni tetap ketus, "tapi aku tidak
menyanggupi untuk tidak mengukurkan rambut cucunya, aku hanya setuju untuk memberi
kesempatan kepadanya untuk mempertimbangkan kembali persoalan ini"
"Tapi bukankah perbuatanmu sekarang...."
"Pinni simpatik terhadap tragedi yang menimpa dirinya dan sekarang aku sudah berubah
pikiran" tukas nikoh itu cepat.
"Apakah sudah locianpwe bayangkan akibat-akibatnya bila aku melakukan hal ini atas dirinya?"
"Bagi kami orang-orang beragama tak pernah terpikirkan apakah ada akibat atau tidak tindakan
yang kami ambil, semua persoalan kami pertimbangkan dengan keadaan berjodoh atau tidak"
"Hmm orang beragama mengutamakan belas kasihan, tindakan dari locianpwe ini ...."
"Tutup mulutmu" bentak Tay huang sinni marah "ia sudah tiga hari tiga malam berlutut didepan
pintu kuilku, apakah pinni tak boleh berbuat belas kasihan dengan memenuhi keinginannya "
Waktu itu tiba tiba Go siau b i berpaling dan berkata:
HAL. 28/29 HILANG
Memang inilah yang diharapkan Han siong Kie, sebab semenjak ia menerima pesan dari Put lo
sianseng sudah terlintas satu ingatan untuk mengadu kepandaian dengan tokoh silat itu
"Maksud Locianpwe engkau hendak mengajak aku untuk bertaruh dalam pertarungan ini?"
katanya kemudian dengan serius.
"Benar .. "
"Dan pertarungan ini adalah pertarungan atas mati dan hidup ?"
"Haah, tidak sampai seserius itu asal sudah ditentukan siapa menang siapa kalah, hal ini sudah
lebih dari cukup "
"Bagaimana setelah menang kalah dapat ditetapkan ?"
"Jika engkau yang menang maka pinni tak akan mempersoalkan kehadiranmu lagi di bukit ini,
bahkan akupun tak akan memaksa Go siau bi untuk mencukur rambut menjadi pendeta"
"Seandainya aku yang kalah ? Apa yang harus kulakukan ?"
"Kalau engkau kalah maka kau harus menyanggupi sebuah syarat yang akan pinni ajukan "
"Apa syaratmu itu ?"
"syarat itu rasanya terlampau awal bila kuutarakan pada saat ini, pokoknya tak akan merugikan
dirimu "
"Andaikata menang kalah tak dapat ditentukan? Apa yang harus kulakukan?"
"Akan kubiarkan engkau turun dari bukit ini dengan selamat "
Perasaan hati Han siong Kie bergolak keras, setelah mendengar ucapan tersebut, dia merasa
beruntung karena bisa mendapat kesempatan untuk bertarung melawan seorang tokoh silat yang
lihay. Tapi diapun kuatir bila kalah maka syarat apakah yang bakal diajukan kepadanya ?
Mampukah ia melaksanakan syarat tersebut ?
"Locianpwe, pertarungan yang bagaimana kah akan kita langsungkan? " ia bertanya kemudian.
Tay huang sinni termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya:
"Pinni telah bersumpah tak akan keluar dari pintu kuil ini barang selangkahpun, sekarang kita
berdiri dengan selisih jarak lima kaki, baiknya kalau kita masing-masing berdiri tak bergerak
ditempat:
HAL. 32 HILANG
"Han sauhiap. silahkan engkau melancarkan serangan lebih dahulu " Suatu ketika Tay huang
sinni berkata dengan wajah serius.
"Tidak. lebih baik locianpwe yang turun tangan lebih dahulu" kata Han siong Kie dengan hati
bergetar.
"Pini adalah seorang angkatan tua, tidak pantas untuk turun tangan lebih dahulu, lebih baik
sauhiap duluan"
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa boanpwe bertindak lancang . . nah, sambutlah
seranganku ini"
Dengan menghimpun hawa sakti Si mi sinkangnya mencapai sepuluh bagian, perlahan-lahan
telapak tangannya diangkat kemuka dan lantas didorong ke depan.
segulung angin pukulan yang tipis halus dan sama sekali tidak menimbulkan suara, berhembus
ketubuh lawan-
Meskipun enteng sekali pukulan itu tampaknya pada hakekatnya mengandung tenaga dahsyat
yang cukup merontokkan nyali orang.
Disaat Han siong Kie melancarkan serangan Tay huang sinni sendiripun memutar tiga kali
sepasang telapak tangannya didepan dada.
suatu getaran keras menyusu terjadinya ledakan yang memekikkan telinga Tay huang sini
hanya tergetar sedikit tubuhnya, sementara kuda-kudanya masih kelihatan kokoh sekali.
Pukulan si mi sinkang sebesar sepuluh bagian ternyata berhasil dipunahkan oleh nikoh tua itu
dengan enteng, sedikit banyak tercekat juga hati Han siong Kie, diam-diam ia menjulurkan
lidahnya.
Paras muka Tay huang sinni sendiri berubah jadi amat serius, tampaknya nikoh itu tidak
berkeyakinan dapat menangkan pertarungan ini.
orang yang kehilangan sukma sendiripun tampak sangat tegang, sampai-sampai badannya ikut
gemetar keras.
Gagal dengan serangan yang pertama, Han Siong Kie menghimpus kembali tenaganya
mencapai dua belas bagian, sambil melepaskan pukulan serunya lantang: "sambutlah seranganku
yang kedua ini"
Ketika sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan, secara lapat-lapat tampaklah asap
putih yang tipis menyertai deruan pukulan itu.
Tay huang sinni menggerakkan sepasang ujung bajunya untuk menangkis, ia membentuk
gerakan aneh didepan dadanya, selapis hawa hijau yang menggulung tebal seketika melapisi
seluruh badannya, jelas nikoh ini sudah mengerahkan ilmu Pay yap sin khinya hingga mencapai
pada puncak kehebatannya.
Cahaya putih dan cahaya hijau segera bertemu satu sama lainnya, dan tak bisa di cegah
terjadilah ledakan yang memekikkan telinga.
sekujur badan Tay huang sini gemetar keras, tubuhnya goncang bagaikan ranting pohon
terhembus angin puyuh, nyaris kedudukannya jebol dan tubuhnya terdorong maju ke depan.
Untunglah ia menggigit bibir sambil berkerut dahi, sekuat tenaga padri itu berusaha
mempertahankan diri, peluh sudah mulai membasahi seluruh badannya.
Dua jurus serangan sudah lewat tanpa menghasilkan apa-apa, sekarang tinggallah jurus yang
terakhir. pemuda itu tahu bila serangan yang ketigapun mengalami kegagalan, sudah pasti dialah
yang bakal menderita kekalahan.
Bila dipikir kembali akan kedudukan Tay huang sinni yang begitu tinggi dan terhormat, kalah
ditangan padri perempuan ini belum terhitung suatu kejadian yang memalukan, tapi Han siong Kie
mempunyai pandangan yang lain, dia harus dapat menangkan nikoh tua ini karena bagaimanapun
juga dia adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.
Dan menang kalah akan ditentukan dalam jurus serangan yang terakhir ini.
Han siong Kie mementangkan kesepuluh jari tangannya lebar-lebar, segenap hawa sakti yang
dimilikinya disalurkan kedalam jari tangan itu, ia telah mempersiapkan diri untuk melangsungkan
pertarungan yang terakhir ini dengan menggunakan ilmu jari Tong kim ci.
setajam sembilu pancaran sinar mata Tay huang sinni, dia menatap wajah pemuda itu tanpa
berkedip. sepasang telapak tangannya disilangkan didepan dada.
Akhirnya pemuda itu membentak keras, sepasang tangannya bergetar, sepuluh gulung
desingan angin jari dengan membawa suara yang memekikkan telinga langsung meluncur
kedepan-
Bersamaan dengan dilepaskannya serangan jari tangan itu, ingatan lain melintas
JILID 32 HAL. 38/39 HILANG
Dengan adanya kejadian ini, maka baru saja Han siong Kie melepaskan pukulan untuk
menangkis, tahu-tahu tenaga yang dipancarkan keluar itu telah dihisap oleh lawannya.
Mimpipun si anak muda itu tak menyangka kalau rahib tua itu bakal menggunakan taktik
"menggetar" dan menghisap hampir bersamaan waktunya, hilanglah keseimbangan.
"Aduh celaka "jeritnya dihati tak dapat dicegah lagi tubuhnya sempoyongan dan serta merta
kakinya melangkah maju. orang yang kehilangan sukma pun berkata sambil mengangguk: "Nak
engkau kalah. "
Han siong Kie tertegun, ia cuma bisa berdiri menjublak sambil membungkam dalam seribu
bahasa.
Karena kasihan pada musuhnya, ia telah menyingkirkan daya sasaran serangan Tong kim ci nya
kesamping sehingga membuang kesempatan untuk mendapat kemenangan dengan begitu saja.
sekarang kenyataan telah berbicara lain, dia telah dikalahkan dalam pertarungan tersebut,
untuk menyesalpun rasanya tak ada gunanya lagi.
"sau sicu, apakah engkau merasa bahwa pertarungan ini berlangsung tidak adil?" tiba-tiba Tay
huang sinni bertanya.
Han siong Kie tertawa jengah dan menggeleng.
"Tidak. boanpwe sama sekali tidak mempunyai pikiran semacam itu "
"Jadi engkau sudah mengaku kalah ?"
"Tentu saja, boanpwe tak akan memungkiri kekalahan yang telah kuderita ini, aku tak mau
bertolak dari kenyataan yang berada di depan mata, katakan saja apa syarat yang harus kuturuti
itu ?"
"seandainya pinni telah mengajukan syarat tersebut, dan ternyata sau sicu tidak bersedia untuk
melakukannya, apa yang musti... "
"Boanpwe tidak akan menolak semua syaratmu, sebagai seorang manusia persilatan aku akan
memegang teguh setiap janji yang telah kuucapkan" jawab pemuda itu dengan tegas. orang yang
kehilangan sukma tiba-tiba menimbrung pula:
"Atas petunjuk dari locianpwe boanpwe telah ditunjuk sebagai saksi maka setelah pertarungan
berakhir dan menang kalahpun telah ditentukan, boanpwe harap locianpwe segera mengajukan
syarat yang hendak cianpwe ajukan sehingga pertaruhan inipun bisa kita akhiri sampai disini saja .
."
sepasang mata Tay huang sinni memancarkan sinar tajam, ia memandang sekejap ke arah Han
siong Kie lalu katanya:
"Gampang dan sederhana sekali syaratku ini, aku cuma minta engkau segera menikah dengan
Go siau bi dan menjadi suami istri yang berbahagia "
Hebat sekali perubahan wajah Han siong Kie, tanpa sadar secara beruntun ia mundur lima
langkah kebelakang.
Mimpipun ia tak menyangka kalau syarat yang diajukan Tay huang sinni adalah mengenai
persoalan itu.
Pertama kali ketika ia selamatkan Go siau bi dari tangan pengawal pribadi istana Huan mo
kiong dan menginap sebuah rumah penginapan, orang yang kehilangan sukma telah menyaru
sebagai tukang obat dengan maksud menjodohkannya dengan gadis itu, kedua kalinya Put to
sianseng ajukan pinangan bagi cucu perempuannya ternyata pinangan itupun atas usul dari orang
yang kehilangan sukma.
sekarang adalah untuk ketiga kalinya peristiwa itu terjadi, temyala orang yang kehilangan
sukmalah sebagai saksinya.
sekalipun orang bodoh juga akan tahu bahwa kejadian ini bukan suatu kejadian yang
kebetulan saja, sudah pasti orang yang kehilangan sukmalah yang telah mengatur segala
sesuatunya.
Lalu apa maksudnya perempuan misterius itu mengatur segala sesuatunya itu? Apa alasannya?
Tanpa sadar sianak muda itu mengalihkan pandangan matanya kewajah orang yang kehilangan
sukma dan ingin sekali melihat mimik wajahnya pada saat itu, sayang mimik wajahnya tertutup
oleh kain kerudung berwarna hitam.
"Bagaimana sau sicu? jawablah sejujur nya" terdengar Tay huang siani bertanya.
Kacau dan bingung perasaan Han siong Kie pada saat ini tanpa disadarinya ia menyahut.
"Aku tak dapat menerima syaratmu itu "
"jadi engkau hendak menjilat ludahmu sendiri? " tegur Tay huang sinni dengan wajah serius.
Tanpa sadar si anak muda itu mundur satu langkah kebelakang dia berusaha untuk membela
diri, katanya:
"cianpwe aku minta ajukan syarat lain, tentang syaratmu yang itu aku tak dapat
menyanggupinya "
"Tidak bisa, selamanya pinni hanya akan mengajukan sebuah syarat saja, tidak nanti akan
kuulangi dengan mengajukan syarat lain"
"Tapi boanpwe benar-benar tak dapat melakukan permintaan dari locianpwe itu"
"ooh jadi engkau bermaksud untuk mengingkari janji?" ejek nikoh tua itu dengan sinis.
"Boanpwe mempunyai kesulitan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain, maafkanlah daku
locianpwe, syaratmu itu tak dapat kulaksanakan"
"jadi kau anggap Go siau bi tidak pantas untuk mendampingi dirimu sebagai seorang istri?"
"Bukan... bukan begitu maksud boanpwe, terus terang saja boanpwe katakan babwa aku..
sebenarnya aku telah..telah.."
"Apa maksudmu Katakan saja blak-blakan"
"Sebenarnya boanpwe telah serahkan hati dan tubuh boanpwe ini kepada gadis lain, dan antara
aku dengan dia telah .... telah terikat oleh tali perkawinan"
"Ada yang menjodohkan?’
"Tidak..tidak ada"
"Ada persetujuan dari orang tua?"
"Ju...juga tii... tidak ada"
"Kalau toh tidak ada kan hal itu sama sekali tidak menghalangi engkau untuk menerima
syaratku ini?"
sungguh sedih dan pedih perassan hati Han siong Kie apalagi teringat bahwa Tonghong Hui,
yang dicintainya telah tiada di dunia ini, kepedihan tersebut akhirnya tercetus keluar dengan katakata:
"Dia.... dia telah meninggal dunia"
"Kalau benar sudah mati urusan ini kan lebih gampang untuk diselesaikan? Apa yang kau
pusingkan lagi?"
"jiwa dan perasaan boanpwe telah lama terkubur bersama matinya gadis itu, pada hakekatnya
yang cianpwe lihat sekarang tak lebih hanya sesosok mayat hidup belaka, sesosok tubuh yang
tidak berperasaan dan tidak kenal arti lagi"
sekilas perasaan serba salah melintas di wajah Tay huang sinni, ia terbungkam untuk beberapa
saat lamanya, tapi selang sesaat kemudian ia telah berkata lagi dengan suara keras:
"Menurut apa yang pinni ketahui, engkau sudah pernah bersentuhan badan dengan Go siau bi,
lantaran cintanya padamu, ia rela mengasingkan diri dan hidup sebagai seorang pendeta, tidakkah
kau tergetar perasaan hatinya oleh kesungguhan serta kemurnian cinta kasihnya itu?"
"Aaai, pada hakekatnya boanpwe tidak punya ingatan untuk memikirkan persoalan yang lain"
"Tahukah engkau bahwa perbuatanmu telah menghancurkan masa depan seorang dara ?"
"Boanpwe menyesal sekali atas kejadian ini, tapi apa boleh buat lagi boanpwe tak kuasa
menerima kenyataan tersebut"
"selain itu tahukah engkau bahwa tidak berbakti ada tiga macam, dan yang paling utama
adalah tiada keturunan, apakah engkau gembira melihat keluarga Han putus keturunan?"
000dw000
BAB 67
UCAPAN tersebut bagaikan sebilah pisau belati yang menusuk kedalam ulu hati Han siong Kie,
sekujur badannys gemetar keras.
Pada hakeketnya tak pernah ia berpikir sampai kesoal itu, tapi heran mengapa Tay huang sinni
menegur dirinya dengan kata-kata semacam itu? Bukankah dia adalah seorang pendeta yang tidak
mencampuri urusan keduniawian lagi?
" Locianpwe apakah engkau hendak memaksa boanpwe untuk mengingkari janjiku terhadap
orang yang sudah tiada lagi?" katanya tiba-tiba.
orang yang kehilangan sukma yang selama ini membungkam terus mendadak menyela:
"Nak bila engkau bersedia untuk memegang janji kepada orang yang telah mati, mengapa tidak
pula kau penuhi kewajibanmu sebagai rasa baktimu pada orang tua yang telah tiada ? Kau harus
dapat membedakan mana yang serius dan mana yang tidak. toh setelah kau laksanakan
kewajibanku untuk berbakti pada orang tua, engkau masih dapat pula memenuhi janjimu kepada
orang yang telah tiada?"
"Bila aku sampai berbuat demikian, bukankah perbuatanku ini justru akan menyiksa nona Go
siau bi untuk selama-lamanya?"
"siapa bilang begitu ?"
" Cianpwe" tiba-tiba Han siong Kin menengadah dan menatap wajah perempuan misterius itu
tanpa berkedip "tolong tanya, apakah kesemuanya ini adalah hasil dari rencana locianpwe ?"
orang yang kehilangan sukma terbungkam, ia tak sanggup memberikan jawaban.
"sau sicu, apakah engkau lupa bahwa hasil ini adalah suatu hasil dari pertaruhan antara engkau
dan aku ?" Tay huang sini menyela dari samping dengan dingin
"oooh.. jadi engkau menggunakan kebahagiaan dari seorang dara sebagai bahan pertaruhan?
Pantaskah perbuatanmu itu?" seru pemuda itu marah-marah.
JILID 32 HAL. 50/51 HILANG
amat menusuk pendengarannya, terutama sebutan "ciangbunjin" yang sengaja diucapkan
dengan nada berat, lebih-lebih mengetuk perasaannya.
sebagai seorang pemuka dunia persilatan, menjadi kewajiban baginya untuk melaksanakan apa
yang telah disanggupi, tapi perkawinan adalah suatu kejadian besar, ia tak ingin berbuat secara
gegabah sehingga akhirnya harus di akhiri dengan tragedi.
44
Sementara pemuda itu masih termangu- mangu, orang yang kehilangan sukma telah berkata
lagi:
"Nak, tegakah engkau membiarkan masa depan seorang dara hancur di tanganmu?"
Sakit hati, bingung dan sedih bercampur aduk dalam perasaan hati si anak muda itu, dia tak
tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini, terutama kata-kata tentang ketidak baktian sebagai
seorang putra diantara tiga hal yang tidak berbakti, tak punya keturunan adalah tidak berbakti
yang paling utama. Benarkah dia tak akan menikah dan membiarkan orang menganggapnya
sebagai manusia yang tidak berbakti?
"Sekarang ia baru menyesal, menyesal apa sebabnya tidak menggunakan ilmu jari Tong kim ci
untuk mengalahkan musuhnya, ia tidak tega rahib itu terluka, tapi akhirnya dia sendirilah yang
rugi.
Sebagai seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia akan mengingkari janji. Kata-kata itu diucapkan
sendiri olehnya, benarkah dia harus mengingkari janji.
Sekalipun ia sadar bahwa ia terjebak oleh suatu siasat yang disusun sangat rapi, toh dia kalah
adalah suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi.
Sementara itu orang yang kehilangan sukma tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia
mendesak lebih lanjut.
"Nak, engkau sebagai putra manusia, menjadi kewajiban bagimu untuk menunjukkan
kebaktiaanmu sebagai anak manusia, sekalipun engkau dapat membalaskan dendam bagi
kematian ayahmu, belumlah lengkap kebaktianmu pada orang tua, mengertikah kau dengan katakataku
ini ? .."
Han siong Kie menggigit bibir, sahutnya:
"Apa yang cianpwe ketakan memang benar tapi sekarang aku harus membalaskan
HAL. 54 S/D 57 HILANG
sekalipun aku kawin dengan Go siau bi mungkinkah perkawinan ini bisa berakhir dengan
kebahagiaan, Akhirnya toh kita akan mengalami tragedi yang menyedihkan?"
"Bahagia atau sedih adalah urusan belakang, siapa tahu kalau kenyataannya jauh berbeda
dengan apa yang saat ini kau bayangkan?"
"Jadi maksud Cianpwe, kau memaksa Boanpwe untuk mengabulkan permintaanmu itu?"
"Yaa,angaplah perkataan ini merupakan suatu paksaan" sahut orang yang kehilangan sukma
dengan suara berat.
Han siong Kie tertegun dan tidak bicara, selang sesaat kemudian ia mengangguk. "Baik.
Boanpwe menyanggupi permintaan mu itu"
"Jadi kau menerima syarat tersebut?"
"Benar, aku menerimanya, tapi akupun mempunyai sebuah syarat"
"Apa syaratmu itu?"
" Cianpwe harus menjelaskan kepada nona Go siau bi serta kakeknya, bila dendam berdarah
berhasil boanpwe balas, waktu itulah kita baru bicarakan kembali soal cinta dan tiga tahun setelah
menikah boanpwe akan meninggalkan keluarga dan pergi jauh"
"setelah tiga tahun, apakah engkau akan bunuh diri untuk menunjukkan ketetapan hatimu pada
Tonghong Hui?" kata orang yang kehilangan sukma sampai mundur selangkah.
"Benar, kenapa ? "
"Andaikata Tonghong Hui belum meninggal dunia ?"
"Aaah, hal ini aku rasa tidak mungkin"
"Baik, kukabulkan syaratmu itu dan kita pun tentukan perjanjian ini dengan kata-katamu ini"
Berbicara sampai disini, tiba-tiba orang yang kehilangan sukma berpaling, serunya kearah batu
karang kurang lebih beberapa kaki didepan sana: "Locianpwe, silahkan mengunjukkan diri untuk
memperkuat ikatan perkawinan ini "
seorang sasterawan berusia setengah baya perlahan-lahan munculkan diri dari balik batuan
cadas.
Dia bukan lain adalah kakek Go siau bi Put to sianseng yang disegani banyak orang itu.
Han siong Kie tertegun, kemunculan tokoh silat ini semakin memperkuat dugaannya bahwa apa
yang terjadi pada saat ini adalah suatu siasat, suatu rencana besar dari orang yang kehilangan
sukma.
Tapi yang mengherankan adalah Put lo sianseng dan Tay huang sinni kedua orang tokoh silat
ini berilmu tinggi dan berkedudukan terhormat, tapi mereka bersedia untuk mendengarkan katakata
orang yang kehilangan sukma malahan bekerja sama untuk memancingnya masuk jebakan,
apa tujuan mereka?
sementara itu Put to sianseng telah berkata sambil tertawa ringan ucapnya:
"Bocah bagus, kemurunganku sudah dilenyapkan, mulai sekarang lohu bisa mengasingkan diri
dan beristirahat dengan tenang".
orang yang kehilangan sukma segera mendorong Han siong Kie untuk maju katanya:
"Bagaimana juga penghormatan tak bisa dielakkan, hayo maju dan memberilah hormat kepada
kakekmu."
Dalam hati Han siong Kie menghela napas panjang, dengan kaku dia maju beberapa langkah
dan jatuh berlutut dihadapan put to sianseng, ketika ia menyembah sebanyak tiga kali ia tak dapat
melukiskan bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, entah manis getir, kikuk atau kecewa.
Cepat Put to sianseng ulapkan tangannya seraya berkata:
" Cukup Cukup Bangunlah nak, sebelum aku pergi mengasingkan diri, ada beberapa patah kata
terlebih dahulu hendak kukatakan kepadamu, ketahuilah gurumu Mo tiong ci mo adalah sahabat
lamaku, setelah engkau mewariskan kedudukannya aku harap engkau bisa membangun kembali
perguruan Thian Lam bila melakukan segala persoalan janganlah terlalu memikirkan masalah itu
dengan pikiran yang sempit".
sekujur badan anak muda itu bergetar keras, peluh dingin membasahi tubuhnya tanpa terasa ia
teringat kembali akan apa yang diberitahukan orang yang kehilangan sukma ketika berada di
mulut lembah kematian.
Dikatakan Tee kun perguruan Thian Lam yang sekarang yaitu Wi It beng telah menjual
perguruannya kepada Thian che kau, istana Huan mo kiong telah diubah menjadi kantor cabang
Thian che kau sektor Thian lam.
JILID 32 HAL. 62/63 HILANG
Perasaan hatinya pada saat ini hampa, kosong . . sekarang Go siau bi telah menjadi calon
istrinya dengan resmi, siapakah bakal menduga sampai kesitu?
setelah tiba di kaki bukit dan menghampiri tempat perpisahannya dengan Hekpek siang yau,
mendadak pemuda itu tercekat, ternyata dua orang pembantunya telah lenyap tak berbekas.
semestinya Hekpek siang yau tidak akan meninggalkan ketuanya tanpa pamit, atau mungkin
telah terjadi sesuatu?
Han siong Kie memeriksa keadaan disekitar tempat itu dengan seksama, namun ia tak berhasil
menemukan sesuatu tanda-tanda pernah terjadinya pertarungan disana. Atau Hekpek siang yau
telah menghianatinya ?
-000dw000-
DENGAN kepandaian silat yang dimiliki sepasang siluman serta meninjau dari perbuatanperbuatan
mereka di masa lampau, bisa jadi kedua orang itu akan melakukan kejahatan lagi.
Andaikata apa yang diduga tak salah, dialah yang berdosa karena dialah yang melepaskan dua
orang gembong iblis itu dari tempat penahanannya.
Untuk sesaat lamanya Han Siong Ken berdiri tertegun, ia tak tahu apa yang musti dilakukan.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian pa muda itu mengambil keputusan, pikirnya:
"Andaikata sepasang siluman benar-benar telah menghianatinya serta melakukan kejahatan
dalam dunia persilatan, aku pasti akan melenyapkan kedua orang itu dari muka bumi".
seorang diri diapun melanjutkan perjalanan menuju kekaki bukit itu.
Dua jam kemudian pemuda itu sudah keluar dari daerah pegunungan dan melanjutkan
perjalanan melalui jalan raya.
sementara perjalanan masih dilanjutkan tiba-tiba dari arah depan meluncur datang beberapa
sosok bayangan manusia, meskipun gerakan tubuh beberapa orang itu bagaikan meteor yang
lewat, akan tetapi bagi ketajaman mata Han siong Kie bukan halangan baginya untuk mengenali
siapa gerangan mereka itu. segera teriaknya dengan suara nyaring: "Engkoh tua Tunggu sebentar,
kau akan ke mana ?"
Mendengar teriakan tersebut, berhentilah rombongan itu, ternyata mereka adalah delapan
orang pengemis dekil, orang pertama tak lain adalah Pengemis dari selatan.
"HaaaHh . . haaaHh .. haaaHh saudara cilik, rupanya kau " teriak pula pengemis dari selatan
dengan wajah berseri.
" Engkoh tua, aku lihat wajahmu murung sekali, apakah telah terjadi sesuatu atas diri mu?"
"Aaai, saudara cilik masa kau tidak mendengar bahwa perkumpulan kami sedang menghadapi
masa kiamat?" ujar pengemis tua itu sambil menghela napas panjang.
"Menghadapi masa kiamat? Kenapa?" seru si anak muda itu tertegun sambil terimangu.
"Jadi engkau tidak mendengar apa-apa tentang organisasi Kay pang kami itu?" Han siong Kie
menggelengkan kepalanya:
"sudah berbulan-bulan lamaoya siaute tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, aku tak tahu apa yang telak menimpa perkumpulan Kay pang?"
"oooh. Kalau begitu tak heran kalau engkau tidak tahu.." ujar pengemis itu.
sesudah menghela napas dan berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh: "semenjak dahulu
kala antara Thian che kau dengan Ji-pang dan sam hwe tak pernah mengadakan kontak hubungan
apa-apa, hubungan kami ibaratnya air sumur yang tidak mengganggu air sungai, tapi rasanya
pihak Thian che kau mempunyai ambisi untuk merajai dunia persilatan, secara licik mereka telah
membasmi musuh-musuh serta saingannya secara diam-diam. Pertama kali yang mengalami nasib
jelek adalah perkumpulan Pat gi pang, menyusul kemudian perkumpulan Jit yan pang. Hong te
hwe, Ang kin hwe, serta Ngo heng hwe dipaksa takluk kepada mereka dan merubah nama
menjadi kantor cabang perkumpulan Thian che kau, rupanya sekarang mereka jatuhkan
incarannya kepada pihak Kay pang, saudara cilik, kalau bukan saat kiamat perkumpulan kita sudah
tiba, apa lagi namanya"
JILID 33 HAL. 06/07 HILANG
"Akupun belum lama mendengar ini, karena setelah urusan disini selesai segera aku akan
berangkat ke Thian Lam untuk melakukan pembersihan secara besar-besaran"
"Dengan kekuatan saudara cilik seorang aku rasa . ."
"Pentolan penghianatan ini cuma seorang yaitu Wi It beng, aku percaya anak murid lain
kebanyakan cuma menganut kehendak hatinya belaka" setelah berhenti sebentar ia berkata lagi:
" Engkoh tua batas waktu yang ditentukan lencana Thian che leng masih ada berapa hari?"
"Tinggal besok sehari "
Ketika pengemis dari selatan mengucapkan kata-kata itu, tiga pengemis tua dan delapan
pengemis setengah baya yang berada dibelakagnya sama-sama menunjukkan wajah sedih dan
resah, namun tak seorangpun yang bersuara. Han siong Kie termenung dan berpikir sebentar,
kemudian bertanya: "Apa rencana engkoh tua untuk menyelesaikan persoalan yang sangat pelik
ini?"
"Aaai, aku telah menurunkan perintah untuk mengumpulkan segenap jago lihay yang berada
dikantor- kantor cabang untuk berkumpul semua dimarkas besar kami tepi pantai Pak swit ham,
yaa . . mati hidup Kay pang tergantung dalam pertarungan yang bakal berlangsung, meskipun
saat ini kami masih mempunyai satu harapan untuk menyelamatkan perkumpulan kami dari
musibah yakni mengharapkan kemunculan susiok kami song Tiat kong . tapi harapan ini tipis
sekali"
"Mengapa kalian tidak segera mengirim kabar kepada song locianpwe agar bersiap sedia?"
"Ketika tengkorak maut gadungan membuat onar dalam markas besar kami. song susiok telah
salah menganggap tengkorak gadungan sebagai tengkorak maut asli, sesudah peristiwa itu beliau
berkunjung ke benteng maut menuntut keadilan, tapi akhirnya beliau kalah ditangan pemilik
benteng maut, waktu itu susiok telah sesumbar bahwa akan muncul kembali dalam dunia
persilatan untuk selamanya, dari mana kami bisa tahu susiok kini berada dimana ? Dan bagaimana
mungkin berita itu disampaikan kalau kami tak tahu dimana beliau berada?"
"Apakah engkoh tua bersedia untuk menerima bantuan dari saudara cilikmu ini?" kata Han
siong Kie mendadak sambil menawarkan jasa baiknya.
" Kesediaanmu untuk membantu tentu saja akan kami sambut dengan senang hati" sahut
pengemis dari selatan sambil mengernyitkan alisnya yang telah memutih, "aku hanya kuatir
bantuanmu masih belum cukup untuk menolong perkumpulan kami lolos dari musibah ini, aaai...
yaa apa boleh buat, terserah bagaimana nasib akan mengaturnya nanti"
Pengemis dari selatan belum tahu kalau Han siong Kie telah berhasil mempelajari ilmu sakti si
mi sinkang, sebab berbicara dari kekuatan yang dimiliki pemuda itu di masa lampau, memang tak
mungkin ia bisa menolong Kay pang untuk lolos dari musibah.
Han siong Kie bukan orang bodoh, sudah tentu diapun dapat merasakan keraguan saudara
tuanya itu, ia tersenyum.
"Begini saja engkoh tua, kalian berangkatlah lebih dulu, bila tiba saatnya nanti, aku pasti sudah
hadir di markas besar kalian"
Pengemis dari selatan mengangguk. mereka tidak berkata apa-apa lagi, dengan begitu maka
dua bersaudara inipun kembali berpisah.
sepeninggal pengemis dari selatan beserta ketujuh orang rekannya, Han siong Kie berpikir
didalam hati, untuk menuntut balas ke benteng maut jelas sudah tak sempat lagi, maka ia
menyusun rencana untuk melaksanakan kembali usaha penuntutan balasnya sesudah
menyelamatkan Kay pang dari musibah.
-000dw000-
BAB 68
LENYAPNYA Hekpek siang yau secara misterius sangat memusingkan kepala anak muda itu, ia
merasa tak mungkin kalau kedua orang siluman itu berhianat kepadanya atau pergi tinggalkan
dirinya tanpa pamit. sebab dua orang itu telah mengakuinya sebagai majikan, itupun kerena harus
menuruti sumpah yang pernah mereka ucapkan dimasa lampau, apalagi mereka telah diterima
sebagai anggota perguruan Thian Lam bun, mustahil pikiran mereka berubah di tengah jalan.
Tapi kemana mereka telah pergi ? Celaka ditangan orang ?Jelas hal ini tak mungkin terjadi,
Ilmu silat mereka sangat lihay, siapakah yang mampu untuk merobohkan kedua orang itu"
sementara dia masih melamun, tiba-tiba sorot matanya sempat menangkap sesosok bayangan
manusia sedang berdiri ditepi sungai tak jauh dari tempat ia berada sekarang, jelas orang itu
tinggi semampai dengan potongan badan menggiurkan, jelas orang itu adalah seorang gadis dan
gadis itu terasa sangat dikenal olehnya.
Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, kontan jantungnya berdebar keras, hampir
saja pemuda itu menjerit. "Aaah Masa dia ?"
Dengan penuh emosi dan hati yang bergejolak pemuda itu meluncur ke depan, menghampiri
gadir yang tinggi semampai itu .
Makin mendekati orang itu, Han siong Kie merasa semakin yakin kalau dugaannya tidak
meleset dan akhirnya . . ia benar-benar membuktikan bahwa dugaannya tak salah gadis itu
memang tak lain dari kekasih hatinya. Tonghong hui yang dia rindukan siang malam.
Darah yang mengalir dalam tubuh pemuda itu terasa mendidih bagaikan kena listrik
bertegangan tinggi, separuh tubuhnya terasa menjadi kaku, hampir saja jantungnya melompat
keluar dari rongga dadanya.
Dengan bibir yang gemetar dan muka yang pucat, ia berdiri tertegun untuk sesaat lamanya tak
sepatah katapun mampu dia utarakan keluar.
Betapa tidak ? Tonghong-Hui yang melama ini dianggapnya telah mati ternyata masih hidup
segar bugar... dugaan dari orang yang kehilangan sukma terbukti kebenarannya, dara itu belum
mati.
Tapi aneh, sekalipun Han siong Kie sudah berada dibelakangnya, gadis itu masih tidak merasa,
ia berdiri kaku bagaikan patung, bergerak sedikitpun tidak.
Angin sungai berhembus sepoi basah mengibarkan ujung bajunya yang panjang, tubuhnya
yang tinggi semampai, lekukan tubuhnya yang menggiurkan amat menawan hati, ibaratnya
bidadari dari kahyangan gadis itu tampak agung dan cantik.
"Adik Hui" akhirnya pemuda itu memang gigil, meski suaranya lirih dan agak parau.
sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, namun ia tidak berpaling pun tidak menjawab.
suatu firasat aneh terlintas dalam benak sianak muda itu, untuk kedua kalinya kembali dia
memanggil: "..Adik Hui.."
Tonghong Hui menghela napas panjang, begitu pedih dan hampa helaan napas itu, membuat
Han siong Kie tercekat hatinya.
Menyusul helaan napas itu, ia putar badannya, sesaat wajah yang sayu terpampang didepan
mata.
Wajah itu layu, kusut dan sinar matanya telah pudar persis seperti wajah Go siau bi calon
istrinya ketika ia jumpa didepan kuil Bu cuan di bukit Tay huang san.
Han song Kie merasakan hatinya bagaikan dipagut ular berbisa, secara beruntun ia mundur tiga
langkah kebelakang.
Bagaimanakah pertanggungan jawabnya kepada gadis yang ia cinta dengan segenap jiwa
raganya? Apalagi bila ia tahu kalau Go siau bi telah menggantikan kedudukannya?
Diantara putih kepucatan yang menghiasi wajah Tonghong i-Hui terlintas semua merah
diantara pipinya, ia menatap Han siong Kie dengan pandangan hampa, mukanya begitu layu,
pedih, sukar dilukiskan dengan kata.
Mereka tidak mirip kekasih yang saling bertemu kembali, keadaan mereka waktu itu ibarat
orang asing yang saling berjumpa, tiada surprise tiada luapan cinta dan rindu, tiada pelukan
ataupun ciuman.
siapapun diantara mereka tak ada yang buka suara, mereka hanya saling menatap dengan
mulut membungkam.
Udara serasa ikut membeku mengikuti keadaan mereka yang serba kaku, serba dingin-
Perlahan-lahan Han siong Kie tundukkan kepalanya, ia tidak memiliki keberanian untuk
memandang kekasihnya lagi, sebab ia telah menjadi penghianat dari cinta, ia merasa tak punya
muka untuk bertemu lagi dengan gadis yang telah menyerahkan seluruh jiwa dan raga kepadanya.
suasana begitu sepi, hening seolah-olah dunia menjadi mati, jagad menjadi kiamat tak
seorangpun yang bersuara, hanya detak jantung mereka yang berdebar keras.
Darimana orang yang kehilangan sukma bisa tahu kalau Tonghong -Hui tidak akan mati?
Benarkah ia memiliki ilmu meramal, ilmu untuk melihat kejadian yang akan datang?.
Apa sebabnya orang yang kehilangan sukma merusak hubungannya dengan Tonghong Hui?
Benarkah jika hubungan mereka dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu
kejadiaa yang tragis?
Mengapa Tonghong Hui mengingkari janjinya ketika itu? Mengapa ia begitu tega membiarkan ia
menunggu melama dua hari dengan sia-sia ditepi sungai?
Terbukti sekarang bahwa ia tidak mati, benarkah ayahnya bukan pembunuh keluarga Han dan
keluarga Thio? Kalau bukan, tidak seharusnya gadis itu mengingkari janji.. Lama sekali, akhirnya
Tonghung-Hui buka suara, meskipun suaranya penuh kepedihan:
"Engkoh Kie, angkat kepalamu dan pandanglah aku"
Pedih hati Hansiong Kie bagaikan disayat-sayat pisau, ia mendongakkan kepalanya, meskipun
dengan perasaan menyesal dan malu..
Tatkala sepasang mata mereka bertemu satu sama lainnya, kembali pemuda itu mundur
selangkah, yang tampak olehnya adalah seraut wajah yang pucat seperti mayat,juuh berbeda
dengan raut wajahnya dalam kenangan selama ini
"Engkoh Kie, kau... kau membenci aku" kembali gadis itu berbisik lirih sekali suaranya.
"Adik Hui Aku .. aku...toh...mengapa kau mengatakan begitu ? Mengapa kau mengatakan kalau
aku membenci dirimu ?"
"Karena.... karena aku telah mengingkari janjiku sendiri kepadamu, aku tidak menepati janji"
"Adik Hui, seharusnya akulah, aai. mengapa kau tidak menepati janjimu."
"sekembalinya kedalam benteng, aku telah disekap oleh ayah, tak mungkin bagiku untuk kabur
keluar"
Han Siong Kie merasa emosi dalam dadanya bergelora, apa yang ingin diketahui olehnya
segera akan terwujud, dengan suara agak gemetar tanyanya lagi."sudah kau tanyakan soal yang
ingin kuketahui itu ?"
"sudah.." perlahan-lahan gadis itu mengangguk.
Mencorong sinar mata sianak muda itu, dia maju tiga langkah kedepan seraya bentanya lagi:
"Bagaimana jawaban ayahmu?"
"sudah dua puluh tahun lamanya ayah tak pernah meninggalkan pintu benteng barang satu
langkahpun, apakah jawaban tersebut dapat kau terima sebagai suatu keterangan yang lengkap?"
"sudah dua puluh tahun ayahmu tak pernah muncul kedalam dunia persilatan ?" Tonghong Hui
mengangguk lirih tanda membenarkan.
sungguh terkejut dan girang tak terkirakan perasaan Han siong Kie pada saat ini, dia girang
lantaran Tengkorak maut ayah Tonghong-Hui bukanlah musuh besar keluarganya, sebab peristiwa
berdarah yang menimpa perkampungan keluarga Han terjadi pada bulan sembilan tanggal
sembilan pada lima belas tahun berselang.
sekarang terbukti sudah bahwa dia dan Tonghong Hui sebenarnya tidak terpisah oleh dendam
sakit hati.
Tapi pemuda itu merasa murung, murung karena tidak tahu siapakah pembunuh keluarganya,
kemana dia harus pergi untuk mencari jejak pembunuh keluarganya itu?
Tatkala ia teringat kembali akan pernikahannya dengan Go siau bi, kembali pemuda itu
merintih... merintih penuh kedukaan serta penderitaan- "Engkoh Kie, kee... kenapa kau?" tegur
Tonghong i-Hui.
"oooh, aai tidak apa-apa, kalau toh engkau disekap oleh ayahmu, kenapa sekarang bisa muncul
lagi diluar benteng ?"
"Aku mencuri keluar secara diam-diam, mungkin selama hidup, .selama hidup aku tidak dapat
memasuki pintu benteng maut lagi "
" Kenapa?" tanya sianak muda itu dengan terperanjat:
Tonghong Hui tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya lagi:
" Engkoh Kie, apakah engkau masih... masih selalu mencintai diriku ?"
sakit rasanya hati Han Siong Ki tatkala mendengar pertanyaan itu, ia berpikir:
"Kalau kulihat dari sikap adik Hui yang begitu murung dan layu, kemungkinan besar ia sudah
mengetahui tentang peristiwaku di bukit Tay huang san, bagaimana caranya aku memberi
penjelasan ? Aaai, aku benar-benar menyesal mengapa waktu itu imanku tidak teguh ? Bila
kutolak permintaan tersebut dengan hati yang keras, tak nanti bakal terjadi peristiwa seperti hari
ini".
sementara sianak muda itu masih termenung, Tonghong Hui telah mendesak lebih lanjut.
" Engkoh Kie, hayolah katakan-.. masihkah engkau mencintai diriku ?"
"Adik Hui, percayalah kepadaku. hatiku tak akan berubah, selama-lamanya aku memang tetap
mencintaimu"
"Kau mencintai aku ? selama-lamanya mencintai diriku ?"
"Benar, selama hayat masih dikandung badan, cinta ku padamu tak akan pudar"
" Engkoh Kie, aku dapat meresapi cinta kasihmu ini dan tak akan melupakan untuk selamalamanya
. "
Ucapan tersebut segera mendatangkan firasat tak enak dihati pemuda kita, buru-buru serunya:
"Adik Hui, kau... kenapa kau...."
Tonghong Hui menggeleag dengan seduh dan tertawa rawan.
"Engkoh Kie, kau tak usah bertanya kepadaku mengapa, asalkan masih tetap mencintai aku, itu
sudah lebih dari cukup "
"Adik Hui, aku..aku..sebetulnya...."
"Engkoh Kie, manusia yang mendapat cinta murni dari seseorang adalah suatu kebahagiaan,
aku sudah merasa sangat puas Biarlah apa yang akan terjadi dikemudian hari diatur oleh takdir
dan nasib" Air mata bagaikan layang-layang putus benang mengucur keluar tiada hentinya, dan
membasahi pipi Tonghong-Hui yang pucat pasi, serta tampak menyeramkan itu.
Hancur lebur perasaan hati Han siong Kie pada waktu itu, ia merasa gemas dan benci mengapa
tak dapat segera mati sehingga dosa yang telah dilakukan bisa ditebus kembali. "Adik Hui,
mengapa kau mengatakan begitu? Mengapa ?"
Tonghong Hui tertawa rawan- dia menggeleng.
"sekalipun kuterangkan, engkau tak akan mengerti . . dan tak akan paham"
" Katakanlah padaku . . kumohon katakanlah kepadaku, mengapa ? Mengapa kau berkata
begitu?"
"Dikemudian hari engkau akan mengerti sendiri, sekalipun tidak kuterangkan sekarang, tapi kau
akan pasti paham"
Berkerut kencang raut wajah Han siong Kie yang tampan d engan penuh penderitaan katanya
lagi:
"Adik Hui, maafkanlah daku, pada hakekatnya aku... sebetulnya aku..."
"Engkoh Kie, jangan berkata begitu?" tukas Tonghong i-Hui sambil menggelengkan kepalanya
berulang kali: "kata maaf sepantasnya muncul dari mulutku aaai Apa mau dikata lagi bila takdir
telah mengatur segala sesuatunya itu bagi kita?"
"Adik Hui...."
"Duduklah engkoh Kie, bersandarlah padaku," Dengan sikap yang kaku dan gerak gerik yang
sama seperti orang kehilangan sukma Han siong Kie duduk diatas batu cadas dan bersandar diatas
tubuh gadis itu.
Tonghong Hui segera merebahkan dirinya dalam pangkuan pemuda itu serta merta Han siong
Kie merangkul tubuhnya dan mendekapaya erat-erat.
"Engkoh Kie, masih ingat ketika kita mengangkat saudara diatas batu besar ditepi sungai?
Ketika itu aku masih serupa seorang pengemis cilik"
"Aku tak akan melupakan kenangan indah itu untuk selamanya"
"Masih ingat sewaktu kau terjatuh ketangan orang-orang Thian che kau pura-pura mati dengan
ilmu Ku si tay hoat dan aku menguburkan jenasahmu serta mendirikan batu nisan dirimu?"
"Aaai, aku sangat mengharapkan bahwa kejadian itu hakekatnya adalah suatu kejadian
sebenarnya, sekarang niscaya kita sudah berbaring didalam sebuah liang..."
"Adik Hui, kau...."
"Ketika kau dihantam oleh Tengkorak maut gadungan sehingga tercebur kedalam jurang, aku
menyusulmu kedalam jurang, tapi akhirnya kita sama-sama tidak mati"
"Adik Hui, semua kenangan indah serta kenangan manis itu tak akan pudar, tak akan hilang
dari pikiranku"
"Tapi, sekarang engkoh Ki, aku menyesal aku merasa amat menyesal"
Tercekat perasaan hati Han siong Kie, ucapan dari gadis itu seakan-akan tidak teratur lagi,
mungkinkah ia sudah jadi gila?
"Adik Hui, kau ... kau perlu beristirahat, tidurlah sebentar agar pikiranmu menjadi terang
kembali."
"Tidak. aku sangat baik, pikiranku masih cukup terang"
"Ucapanmu itu .... ucapanmu iti telah menghancurkan hatiku.... melumpuhkan perasaanku"
"Bersabarlah engkoh Ki, perasaanmu itu akan hilang mengikuti berputarnya waktu "
Hembusan angin lirih berkumandang dari kejauhan, bukan hembusan angin biasa tapi ujung
baju seseorang yang tersambar angin-
Dengan cekatan dua orang itu meloncat bangun berpaling, sesosok bayangan manusia berdiri
kurang lebih lima kaki dihadapan mereka.
orang itu adalah seorang manusia aneh yang berambut panjang, tampaknya jelek dan sangat
menyeramkan,
Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, sementara Han siong Kie sendiripun merasa
terperanjat setelah mengetahui siapa yang datang, dia masih ingat manusia aneh ini adalah
penghuni benteng maut, dia pernah bertemu dengan manusia aneh ini dan seingatnya makhluk
inilah yang terus berkaok-kaok dengan suara aneh.
"siapakah orang itu adik Hui?" cepat bisiknya.
"Dia adalah siau suhengku, seorang yang bisu dan tak pandai berbicara tapi kecerdikannya luar
biasa, diapun sangat perasa, selama hidup belum pernah tinggalkan benteng.."
"Tahukah kau apa tujuannya datang kemari?"
"Tentu saja mendapat perintah dari ayah untuk mencari aku serta menggusurnya pulang
kebenteng"
"Kalau begitu biarlah ku usir dia pergi dari sini."
"Jangan...Jangan kau berbuat begitu", tiba-tiba ia melejit ke depan sambil berlarian menjauhi
pemuda itu, serunya lagi "engkoh Kie, semoga kau baik-baik menjaga diri,aku. .aku pergi dulu"
"Adik Hui, jangan pergi dulu. aku masih...."
Namun Tonghong Hui tidak menggubris lagi, bersama manusia aneh berambut panjang itu
bayangan mereka kian menjauh sehingga akhirnya lenyap dari pandangan.
Han siong Kie berdiri menjublak bagaikan sebuah patung arca ia berdiri kaku di atas sebuah
batu tanpa berkutik, untuk sesaat pemuda itu dibikin gelagapan dan tak tahu apa yang musti
dilakukan ingin sekali ia mencegah kepergiannya tapi kakinya tak pernah beranjak dari tempat
semula, tutur kata Tonghong i-Hui yang aneh dan sedih serta paras muka sang dara yang sayu
dan layu membuat pikirannya kalut dan tak tenang.
Masih banyak perkataan serta penjelasan yang hendak ia katakan kepadanya, tapi gadis itu
sudah pergi.
Menurut pengakuannya, sudah dua puluh tahun ayahnya tak pernah keluar daripintu gerbang
benteng, maka mungkinkah ucapannya jujur? Lima belas tahun berselang waktu itu usianya baru
mencapai tiga tahun, tak mungkin ia bisa tahu akan kejadian yang sebenarnya, benarkah ia
percaya akan kata-kata dari gadis itu?
Bukankah lambang tengkorak maut muncul ditempat pembantaian? Ataukah lambang itupun
palsu?
Berpikir sampai disini, dia lantas mendepakkan kakinya ke tanah seraya berseru:
"Bohong . . bohong siapa tahu kalau ia sengaja membohongi aku ? Bagaimanapun juga setelah
persoalan dari Kay pang telah ku selesaikan, aku harus berkunjung kebenteng maut"
setelah mengambil keputusan, pemuda itu menghela nafas panjang dan melanjutkan
perjalanannya menuju kuil Bu hau si di Pak swi tham, markas besar dari kaum pengemis.
suasana dimarkas besar perkumpulan Kay pang ketika itu diliputi oleh keresahan dan
kemurungan.
Mulai dari ciangbunjin sampai anggota yang terendah telah berkumpul semua disitu, jumlah
mereka mencapai dua ratus orang lebih, Waktu itu dengan wajah tegang, sedih dan marah
mereka tersebar diluar dan didalam kuil untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan
yang tak diinginkan-
Hari inilah batas waktu yang ditetapkan Thian che leng telah berakhir, dalam satu jam
mendatang bila Kay pang masih belum bersedia menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau,
maka semua anggota dalam perkumpulan itu akan dibantai secara keji.
Pemimpin para tiang lo dari Kay pang yakni Pengemis dari selatan berdiri disamping ketuanya
dengan alis mata berkernyit.
Suasana hening dan sepi, seakan-akan sernua orang sedang menantikan tibanya saat kiamat.
Ditengah keheningan malam yang mencekam seluruh jagad, tiba-tiba semua orang merasa
pandangan matanya jadi silau, tahu-tahu seorang manusia baju hitam tanpa menimbulkan sedikit
suarapun telah melayang turun ke tengah gelanggang.
Gerak tubuh orang itu sangat enteng dan cepat seolah-olah sukma gentayangan, dari sini dapat
diketahui betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang itu.
Ketua Kay pang serta keenam orang tianglonya serentak bangkit berdiri dan siap menghadapi
segala kemungkinan-
Berbareng dengan gerakan itu, kawanan jago lihay dari Kay pang yang lainpun serentak bersiap
siaga, meskipun agak tercekat perasaan hati mereka namun semangat tempur masih tetap tinggi.
orang itu adalah seorang kakek berjubah hitam dengan lambang matahari, rembulan serta
bintang diatas dadanya, tinggi kekar perawakan tubuh orang itu, cambangnya lebat dan sinar
matanya amat tajam.
setelah menyapu pandang sekejap keseluruh gelanggang, dia tertawa dingin
JILID 33 HAL. 30/31 HILANG
"HeeHh .. heeHh . . heeHh ciangbun, kuanjurkan kepadamu lebih baik berpikirlah tiga kali
sebelum mengambil keputusan, ketahuilah bahwa keputusan yang gegabah akan mengakibatkan
kehancuran total bagi pihak kalian sendiri "
"Tak usah banyak bicara, kami tak akan sudi mendengarkan perkataanmu itu"
setelah mengetahui kebulatan tekad orang, suma Hiong utusan khusus dari Thian che Kau itu
segera menarik kembali lencananya lalu sambil tertawa dingin berkata.
"Bagus Bagus Kupuji ketekadan kalian ini, terpaksa aku harus melaksanakan titah dari kaucu
kami untuk membantai kalian semua dari muka bumi "
sebelum iblis itu sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba dari luar pekarangan kuil muncul seorang
pengemis setengah baya, sambil berlarian menuju kehadapan ketuanya dia berseru: "Lapor
ciangbunjin, markas kita telah terkepung rapat."
"Aku sudah tahu, mundurlah " kata ketua kay pang seraya ulapkan tangannya. Pengemis
setengah baya itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari sana.
Dalam pada itu delapan orang jago pedang yang berada dibelakang suma Hiong telah putar
badan dan memencarkan diri jadi posisi setengah lingkaran, masing-masing pihak mencari
posisinya masing-masing dan berhadapan dengan lawan-lawannya.
sekejap mata suasana menjadi hening, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh
gelanggang.
Dengan sinar mata setajam sembilu suma Hiong menyapu pandang tiap wajah tokoh kay pang
yang hadir ditempat itu, sikapnya buas dan garang, seakan-akan dia tak pandang sebelah
matapun terhadap musuh-musuhnya ini.
Dua orang diantara enam tiang lo yang hadir disana tak dapat mengendalikan hawa amarahnya
lagi, mereka membentak keras kemudian sambil melepaskan serangan langsung menerkam
ketubuh orang itu.
suma Hiong mendengus sinis, tiba-tiba sepasang telapak tangannya direntangkan ke samping
dan menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras.
Jerit kesakitan menggelegar di angkasa, di tengah muncratnya darah segar yang menodai
permukaan tanah dua orang tiang lo itu mencelat ke belakang dan tewas seketika itu juga.
Kejadian ini sangat mengejutkan hati kawanan jago dari Kay pang, siapapun tak mengira kalau
dua orang tiang lo mereka bakal mampus dalam satu gebrakan saja ditangan orang.
Jelaslah sudah bahwa tenaga lwekang dari suma Hiong benar-benar sangat lihay dan sukar
dicarikan tandingannya, atau dengan perkataan lain sudah pasti Kay pang akan musnah dari muka
bumi ditangan orang ini.
Pengemis dari selatan amat gusar, rambut nya terasa pada berdiri seperti kawat, dia maju
kemuka, kepada ketuanya berkata:
"Bila takdir menghendaki Kay pang musnah ditangan iblis ini. siapapun tak akan dapat
menolongnya, biarlah aku si.pengemis tua berangkat satu langkah lebih duluan"- sambil
membusungkan dada, ia lantas tampil kedepan dan mendekati musuhnya. Menyaksikan
kemunculan pengemis itu. suma Hiong menjengek dingin, katanya:
"Jadi engkau yang disebut sebagai pengemis dari selatan, pemimpin para tianglo dari Kay
pang?"
"Benar" jawab pengemis itu singkat.
"Dengan kedudukan serta nama besarmu dalam tubuh Kay pang, perlukah ku beri waktu
bagimu untuk mempertimbangkan keadaan pada saat ini? Dengan senang hati akan kuberi
kesempatan yang terakhir bagimu untuk berpikir kembali"
"Tak perlu" tukas pengemis dari selatan dengan gusar "Thian che kau menganggap dirinya
besar dan agung, perbuatannya cuma mengacau dan menerbitkan keonaran dalem dunia
persilatan, saat kiamatnya tidak akan terlalu jauh"
"Kurang ajar, saudara benar-benar tak tahu diri, rupanya sebelum darah menodai seluruh
permukaan tanah, kalian tak akan sadar"
" omong kosong, lebih baik tutup saja bacot anjingmu"
suma Hiong dibuat marah oleh ucapan yang kasar itu, ia menengadah lalu tertawa dengan
suaranya nyaring dan menjulang tinggi ke angkasa membuat semua orang merasa telinganya
menjadi sakit.
Berbareng dengan berkumandangnya gelak tertawa itu delapan orang pendekar pedang yang
bersiap siaga dibelakangnya serentak berteriak keras, kemudian menerjang kearah kawanan jago
dari Kay pang yang mengurung disekitar tempat itu. Tak dapat dicegah lagi, suatu pertempuran
berdarah yang amat serupun segera berkobar.
Dengan penuh kemarahan pengemis dari selatan bersuit nyaring dan menerjang maju kemuka,
dia menyerang Suma Hiong secara bertubi-tubi.
Dalam waktu singkat, dia telah melancarkan delapan buah serangan berantai, kedelapan buah
serangan itu semuanya dilepaskan dengan disertai hawa amarah yang berkobar, bukan saja amat
dahsyat bahkan arah yang dituju semuanya adalah bagian-bagian tubuh yang mematikan.
seketika itu juga suma Hiong terdesak oleh serangan berantai itu, sehingga mundur tiga
langkah ke belaknog.
Tapi begitu pengemis dari selatan menyelesaikan ke delapan buah pukulannya, serentak suma
Hiong memperbaiki posisinya, dia tertawa seram dan secara beruntun balas melancarkan tiga
buah pukulan-
-000dw000-
BAB 69
HEBAT sekali serangan balasan dari utusan Thian che kau ini, dengan susah payah Pengemis
dari selatan berhasil menghindari serangan yang pertama dan serangan yang kedua, tapi serangan
yang ketiga tak sempat dihindari lagi, tak ampun pundaknya terhajar telak.
"Duuk" Pengemis dari selatan mendengus tertahan- sambil muntah darah segar dia mundur
beberapa langkah dengan sempoyongansuma
Hiong tertawa seram, ia tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk memperbaiki
posisinya lagi, berhastl dengan serangan yang pertama, serentak tubuhnya menerkam kedepan
dan menyusuli dengan pukulan berikutnya.
"Bangsat..... lihat serangang" ditengah keadaan yang kritis, bentakan nyaring menggetar
diangkasa, empat tiang lo yang masih berada disamping gelanggang berikut ketua mereka
bersama-sama masuk kedalam gelanggang dan mengerubuti suma Hiong yang lihay itu.
Di pihak lain pertarungan telah berkobar dimana- mana, setiap anggota Kay pang yang hadir
dalam markasnya telah diserang habis-habisan oleh lawan yang tangguh, dalam waktu singkat
dengusan tertahan suara beradunya senjata dan jerit kesakitan berkumandang silih berganti.
Pemandangan pada waktu itu mengerikan sekali, darah berceceran dimana-mana, mayatpun
bergelimpangan setinggi bukit.
Delapan orang jago dari Thian che kau itu rata-rata berilmu tinggi, setiap kali cahaya pedang
mereka berkelebat lewat seorang korban segera roboh binasa atau cedera hebat.
suma Hiong yang dikerabuti oleh empat orang tianglo dan ketua Kay pang sama sekali tidak
merasa jeri, dengan gerakan yang lincah dan pukulan pakulan yang aneh dia layani setiap
ancaman yang tertuju kearahnya.
Suatu ketika tiba-tiba ia membentak nyaring, sebuah pukulan dahsyst yang disertai dengan
deruan angin puyuh yang memekikkan telinga menyapu kedepan dan menghajar lawan-lawannya
"Blaaang.." bentaran keras tak bisa dihindari lagi, keempat orang tianglo dan ketua kay pang
itu segera terhajar sampai mencelat dan jatuh terlentang di tanah.
Melihat ketuanya terancam bahaya, pengemis dari selatan tidak menggubris lukanya sendiri
lagi, setelah menyeka noda darah di ujung bibirnya, ia meraung keras kemudian bagaikan banteng
terluka menerjang lagi ke depan.
"Sialan" maki suma Hiong dengan marah, " Hay..pengemis tua, rupanya kau memang sudah
bosan hidup, rasakanlah pukulanku ini"
45
Secepat sambaran kilat dia melepaskan lagi sebuah pukulan dahsyat ke arah depan.
Pengemis dari selatan menjerit tertahan, untuk kedua kalinya ia terhajar sampai mencelat
sejauh beberapa tombak.
Merah padam wajah keempat orang tiang lo itu, seperti orang kalap mereka melompat bangun
dan menerkam musuhnya, empat batang tongkat tah kau pangnya ibarat empat ekor naga sakti
segera menghantam tubuh iblis tersebut..
Suma Hiong tertawa dingin, ke sepuluh jari tangannya dipentangkan lebar-lebat, ketika
berkelebat ke depan, tahu-tahu ke empat batang toya peg gebuk anjing itu sudah ditangkap dua
dikanan dan dua dikiri.
Sekali menyentak kebelakang, keempat orang tiang lo itu mendengus tertahan dan mencelat
kebelakang.
Berhasil menghajar mundur, keempat tiang lo itu, Suma Hiong meneruskan terkamannya ke
depan, dengan cakar mautnya dia cengkeram tubuh ketua kay pang yang berada dihadapannya.
cepat dan diluar dugaan, cengkeraman tersebut datang keadaan tak terduga, tampak nya sang
ketua dari kay pang ini segera akan tertangkap oleh musuhnya. "Tahan" tiba-tiba serentetan
bentakan nyaring berkumandang ditengah angkasa.
Walaupun suasana dalam gelanggang ramai, oleh bentakan dan adu senjata, namun bentakan
itu amat dapat didengar oleh setiap orang dengan jelas, bahkan mereka merasakan telinganya jadi
sakit.
serentak pertempuran terhenti ditengah jalan, semua jago berdiri tertegun sambil alihkan
pandangannya ke arah mana berasalnya suara itu.
suma Hiong sendiripun diam-diam merasa terperanjat, cepat dia tarik kembali serangannya dan
melompat mundur kebelakang. Dari balik pagar pekarangan perlahan-lahan berjalan keluar
seorang pemuda tampan berwajah dingin, setajam sembilu sorot mata pemuda itu tatkala saling
beradu pandang, tanpa sadar suma Hiong mencekat mundur beberapa langkah.
Waktu its sebenarnya suma Hiong sedang merasa keheranan, ia heran mengapa kawanan jago
yang telah disiapkan disekitar kuil itu tidak munculkan diri untuk melakukan pembantaian, padahal
sebelumnya telah dibicarakan bahwa mereka harus menyerbu kedalam kuil bila mendengar gelak
tertawa nya yang keras.
Tapi sekarang setelah menyaksikan kemunculan pemuda berwajah dingin ini, suatu firasat jelek
segera muncul dalam hatinya, ia segera membentak keras: "Bocah keparat siapa kau? sebutkan
nama mu."
Pemuda itu tertawa dingin, ia tidak menjawab akan tetapi sewaktu melewati dihadapan seorang
pendekar dari Thian che kau jari tangannya lantas ditudingkan kemuka.
Jerit kesakitan yang memilukan hati berkumandang memecahkan kesunyian, darah segar
tampak muncrat keluar dari dadanya, tidak selang sesaat kemudian orang itu sudah roboh
terjengkang dan tidak bangkit lagi untuk selamanya.
"Kau .. kau adalah manusia bermuka dingin?" teriak suma Hiong dengan paras muka berubah
hebat.
"Benar, kau memang hebat dan pengetahuanmu cukup luas, ternyata akupun juga kau kenali"
Pemuda yang barusan munculkan diri ini memang tak lain adalah Han siong Kie, jago muda itu.
suma Hiong menyeringai seram, sinar matanya memancarkan cahaya buas, dengan suara yang
keras seperti geledek hardiknya:
"Manusia muka dingin, engkau bersiap-siap untuk mencampuri urusan ini?"
"Haaahhh . . haaahhh haaahhh kenapa tidak? Justrupun ciangbunjin datang kemari untuk
membantai habis kawanan iblis macam dirimu itu"
" Ciangbunjin?" jengek orang she suma itu sinis, "Heeehhh heeehhh engkau ciangbunjin dari
mana?"
"Ciangbunjin dari Thian lam bun "
"Mimpi Heeeh heeh heeeehh bocah keparat, engkau sedang bermimpi disiang hari bolong.
Thian lam bun sudah lama terhapus namanya dari muka bumi"
"Yang akan terhapus namanya dari muka bumi bukan Thian lam bun, melainkan Thian che kau
dan waktunya tak akan lama lagi "
"orang goblok sedang mengigau ditengah hari bolong "
"Kau tak percaya ?Baik... ini hari akan kuampuni selembar jiwa anjingmu, agar kau bisa
menyaksikan sendiri benar tidak perkataanku itu."
"Hanya mengandaikan kekuatanmu seorang, sayang aku tidak berjiwa sebesar kau... ini
haripun aku tak akan melepaskan dirimu "
Han siong Kie mendengus dingin, ia tidak berbicara lagi melainkan bersiul nyaring.
Berbareng dengan siulan tersebut, terlihatlah bayangan manusia saling berkelebat dalam
gelanggang, dalam waktu singkat berpuluh-puluh sosok mayat dari manusia barbaju hitam
bertumpukan ditempat itu
suma Hiong tentu saja dapat mengenali kembali mayat-mayat itu, sebab mereka tak lain adalah
jago-jago perkumpulannya yang disiapkan diluar kuil itu.
Tapi kini sudah tewas semua dalam keadaan mengerikan, kontan ia jadi terkejut dan bergidik,
begitu pula dengan ketujuh orang pendekar pedang yang masih hidup, mereka merasa sukmanya
serasa sudah mela yang tinggaikan raganya. sambil menuding kearah tumpukan mayat setinggi
bukit itu, Han siong Kie mengejek:
"suma Hiong, bukankah mayat-mayat itu adalah jenasah dari anggota perkumpulanmu? Nah,
hitunglah sendiri, semuanya berjumlah seratus dua puluh orang, coba kau hitung lagi adakah
masih ada yang kelewatan atau tidak??"
Menyeringai seram wajah suma Hiong dengan muka yang buas dan mengerikan ia berteriak:
"Manusia bermuka dingin, aku bersumpah akan mencincang tubuhmu, kemudian menghancur
lumatkan tubuhmu menjadi abu"
"Huuuh Mau mencincang aku? Cuma mengandaikan ilmu silat yang kau miliki itu? Jangan
mimpi."
Rupanya sewaktu Han siong Kie tiba ditempat kejadian., ia menyaksikan markas besar dari Kay
pang sudah dikepung rapat oleh musuh-musuhnya.
Tanpa menimbulkan suara sianak muda itu segera mengeluarkan ilmu silatnya dan menotok
mampus ke seratus dua puluh orang jago Thian che kau yang mengepung di luar kuil, setelah itu
bagaikan kelelawar dia menyusup masuk kedalam kuil.
Waktu itulah dia saksikan para tianglo dan ciangbunjin Kay pang sedang menghadapi keadaan
yang terancam, setelah memberi pesan kepada anak murid Kay pang yang berjaga-jaga di luar
kuil diapun tampilkan diri untuk menyelesaikan persoalan itu
Betapa gusar dan mendongkolnya suma Hiong setelah mengetahui bahwa rencana penyerbuan
mengalami kegagalan total, ia tahu tak mungkin baginya untuk memberi pertanggungan jawab
dihadapan kaucunya setelah mengalami kekalahan total seperti hari ini. apalagi semua anak
buahnya telah terbunuh habis.
Rasa dendam dan marahnya serta merta dilampiaskan keatas tubuh pemuda itu, sambil
menggertak gigi katanya:
" Kau tidak percaya dengan kemampuanku? Apa salahnya kalau kita buktikan bersama2"
Begitu selesai berbicara, ia menerjang ke muka dengan garang, secepat sambaran kilat secara
beruntun iblis ini melepastan tiga buah serangan berantai.
Han siong Kie tidak berusaha menghindar atau berkelit, dengan melontarkan sepasang telapak
tangannya kemuka dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaaang" suata ledakan keras yang memekikkan telinga berkumandang diudara, suma Hiong
tak sanggup menahan kedahsyatan musuhnya, secara beruntun ia terdesak mundur lima langkah
lebar.
Gelombang angin pukulan yang tersebar keempat penjuru menyapu bersih setiap benda yang
ada diseputar lima kaki dari gelanggang, bukan saja kawanan jago dari Kay pang terdesak sampai
mundur tunggang langgang, tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau yang masih hidup
pun pontang panting dibuatnya dengan muka pucat.
sungguh girang tak terkirakan pengemis dari selatan setelah melihat kedahsyatan saudaranya,
tak kuasa lagi ia berteriak keras:
"saudara cilik puas.. sungguh memuaskan.... Hajar sampai buntung bajingan itu"
setelah merasakan kedahsyatan musuhnya, kepongahan serta kejumawaan suma Hiong lenyap
tak berbekas, keadaannya pada saat ini ibarat bola yang kehilangan udara, dengan loyo
bercampur ketakutan ditatapnya pemuda itu tanpa berkedip.
Mimpipun ia tak menyangka kalau pihak musuh mempunyai kepandaian silat sedahsyat itu,
bahkan boleh dibilang tak bisa diterima dengan akal sehat, siapa yang menyangka kalau seorang
pemuda ingusan ternyata berilmu tinggi
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Han siong Kie, selangkah
demi selangkah ia maju kedepan, katanya dengan suara dingin
"Aku meminjam mulutmu untuk menyampaikan pesan kepada kaucu kalian, katakan bahwa
dalam beberapa hari mendatang aku akan berkunjung sendiri ke Lian huan tau untuk membuat
perhitungan. suruh dia bersiap sedia menyambut kedatanganku. Nah, sekarang kau boleh pergi,
aku telah berjanji untuk mengampuni jiwamu.."
sebagai seorang yang berilmu tinggi sudah tentu suma Hiong tak sudi untuk menyerah kalah
dengan begitu saja, ia membentak keras:
"Manusla bermuka dingin, kau jangan tekabur lebih dulu, sambutlah pukulanku ini."
sepasang telapak tangannya diayun kemuka secara beruntun dalam sekejap mata ia telah
melepaskan delapam serangan berantai.
semua ancaman yang dilontarkan itu menggunakan jurus serangan yang aneh dan sakti, bukan
saja jarang ditemui dikolong langit, keganasannya betul-betul mengerikan, seketika itu juga si
anak muda itu terdesak mundur sejauh lima depa kebelakang.
setelah berhasil dengan ancamannya suma Hiong tak sudi memberi kesempatan kepada
musuhnya untuk melancarkan serangan balasan, dia susulkan lagi dengan lima buah serangan
berantai.
Tujuh orang pendekar pedang dari Thian che kau tidak berpeluk tangan belaka, menggunakan
kesempatan yang sangat baik itu, mereka terjun pula kedalam gelanggang, untuk membantu
pemimpinnya.
Bentakan-bentakan gusar menggelegar di angkasa, dua puluh sosok bayangan manusia terjun
kedalam gelanggang dan menghadang jalan pergi ketujuh orang musuhnya, pertarungan massal
tak dapat dihindari lagi.
sementara itu suma Hiong sudah melancarkan serangan dengan jurus yang kelima, tiba-tiba
Han siong Kie berkelit kesamping dengan kecepatan yang tak terhingga, begitu berada tiga depa
disamping kalangan, keli ma jari tangan kanannya segera disodokkan kedepan-
Jerit kesakitan memecahkan kesuyian, secara beruntun suma Hiong mundur beberapa langkah
ke belakang, lengan kanannya terkulai lemas kebawah, separuh badannya basah kuyup
bermandikan darah segar.
"Suma Hiong " kembali Han Siong Kie berkata demgan ketus, " untuk kesekian kalinya kuberi
kesempatan kepadamu untuk berlalu dari sini, ketahuilah kesempatan ini adalah kesempatan yang
terakhir. bila kau tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji "
suma Hiong bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu bila kesempatan ini tidak dipergunakan
sebaik-baiknya, niscaya dia akan mati konyol ditempat itu.
setelah melotot sekejap ke arah pemuda itu, dengan pandangan penuh kebencian ia berkata:
"Manusia bermuka dingin, tunggu saja sampai tanggal mainnya"
Tanpa banyak berbicara lagi, ia menjejakkan kakinya ketanah dan melarikan diri terbirit-birit
dari sana.
Melihat pemimpinnya sudah kabur, tujuh orang jago dari Thian che kau itupun tak berani
melanjutkan pertarungan, serentak mereka memberi tanda dan memperketat serangannya,
setelah berhasil memaksa mundur lawannya, orang-orang itu melompat ke atas atap rumah dan
berusaha melarikan diri dari situ.
"Hmm Kau mau pergi kemana?" jengek Han siong Kie sinis.
Ketika sepuluh jari tangannya dilontarkan kemuka, munculah sepuluh buah desingan angin
tajam ke depan.
Jerit kesakitan berkumandang saling menyusul, dalam waktu singkat tujuh orang jago pedang
yang mencoba untuk melarikan diri itu sudah rontok ketanah bagaikan burung yang kena ketapel.
Melihat musuhnya sudah terbasmi habis, ketua Kay pang baru memburu maju sambil memberi
hormat, serunya dengan wajah bersyukur:
"oooh... sungguh beruntung Han ciangbunjin datang tepat pada saatnya, kalau bukan bantuan
ciangbunjin niscaya perkumpulan kami sudah hancur ditangan iblis itu, budi kebaikan ini tak akan
kami lupakan untuk selamanya"
Buru2 Han siong Kie balas memberi hormat sahutnya:
"Aaah, perkataan dari ciangbunjin terlampau serius, sudah sepantasnya kalau kita sebagai umat
persilatan saling membantu dikala sedang susah, apalagi perkumpulan kami termasuk salah satu
korban dari keganasan mereka, sewajarnya aku bantu kalian untuk menghadapi mereka"
Pengemis dari selatan memburu pula ke depan, walaupun dengan langkah yang gontai, noda
darah masih membekas diujung bibirnya, namun tidak mengurangi kegembiraannya, dengan
wajah berseri ia berseru:
"Haaah haaahhh haaahh saudara cilik, hayo ikut aku menuju keruang belakang, aku akan
bercakap-cakap sampai puas dengan dirimu, aku tahu engkau paling segan dengan segala macam
tata cara yang sok. ayo ikuti aku"
Han siong Kie pun mohon diri dengan ketua Kay pang beserta jago-jago lainnya, kemudian
dengan mengikuti dibelakang pengemis dari selatan mereka menyingkir keruang belakang.
Ruangan itu kecil sekali dan merupakan kamar semedi yang tak begitu luas, Han siong Kie
duduk saling berhadapan dengan saudara tuanya.
setelah hening sesaat dengan kerutkan kening pemuda itu menegur. " Engkoh tua, aku lihat
luka yang kau derita tidak enteng"
"Aah apa artinya luka seringan ini? Kejadian ini sudah merupakan suatu keberuntungan bagi
kami, andaikata saudara cilik tidak datang tepat pada waktunya niscaya perkumpulan kami sudah
mengalami kehancuran total"
Menggunakan kesempatan itu Han siong Kie teringat kembali akan beberapa persoalan, iapun
berkata:
" Engkoh tua, ada beberapa persoalan aku ingin mohon bantuanmu, apakah kau bersedia untuk
membantu?"
""Heeeh heeeh heeh dalam hal apa Katakan saja, sekalipun kau menginginkan batok kepalaku,
sekarang juga akan kupersembahkan kepala ini untukmu"
"Aah, engkoh tua memang suka bergurau, tentu saja tidak seserius itu persoalan yang hendak
kukatakan, aku cuma mengharapkan rekan rekan dari Kay pang untuk mencari jejak dari beberapa
orang bagiku, aku tahu Kay pang punya jaringan mata-mata yang luas dan hebat, mencari jejak
orang merupakan pekerjaan yang rutin"
"siapa yang hendak kau cari ? Coba katakan-"
"Ada tiga orang tiang lo dari perguruanku yang tercerai berai dalam suatu pertarungan hingga
kini tak kuketahui kabar berita mereka, maka aku mohon bantuan Kay pang untuk mencarikan
jejaknya ".
"ooh... saat ini akan segera dilaksanakan oleh anak murid kami, aku percaya jejak mereka akan
segera diketahui, siapa lagi yang hendak kau cari.."
"Hekpek siang yau, sepasang siluman yang sudah tersohor namanya semenjak enam puluh
tahun berselang "
"Hekpek siang yau? Mau apa kau cari gembong iblis yang luar biasa itu? " seru pengemis dari
selatan dengan jantung berdebar.
Han siong Kie pun menceritakan bagaimana ia menerima sepasang siluman itu menjadi anggota
seperguruannya.
sehabis mendengar kisah tersebut pengemis dari selatan baru paham dengan duduknya
persoalan, ia gelengkan kepalanya sambil berkata:
"saudara cilik, aku benar-benar merasa kagum sekali dengan kehebatanmu, tak nyana nasibmu
memang mujur dan hok ki mu besar, gampang, soal ini gampang sekali, segera akan
kuperintahkan anak muridku untuk melakukan penyelidikan"
"Selain daripada itu akupun ingin minta petunjuk tentang satu persoalan lagi."
"Aaah katakanlah sedari kapan engkau mulai belajar bicara menela-menele begitu? Hayo
utarakan saja secara blak-blakkan"
"Aku dengar dalam dunia persilatan hidup seorang tokoh silat yang ahli sekali dalam hal ilmu
beracun dan orang itu bernama Ban tok cousu, apakah tokoh silat ini masih hidup didunia ini."
"Mengapa engkau menanyakan persoalan ini"
"Racun Gi hang tok ko (buah racun berubah wujud) yang salah dimakan oleh Hekpek siang yau
katanya hanya bisa dipunlahkan oleh dia seorang, aku hendak mohonkan pengobatan bagi kedua
orang itu"
Pengemis dari selatan termenung dan berpikir sebentar, kemudian baru menyahut: "Aku rasa
kemungkinan besar dia masih hidup didunia ini"
"Jadi hanya suatu kemungkinan belaka ?"
"Benar, aku hanya bisa mengatakan mungkin, sebab kalau dihitung dengan jari tangan maka
pada tahun ini Ban tok cousu sudah berusia diatas seratus tahun, pada dua puluh tahun berselang
aku pernah mendengar orang berkata bahwa raja racun yang sangat lihay ini menetap didalam
telaga beracun..."
"Telaga beracun ?"
"Oooh, belum pernah kau dengar tentang nama telaga ini"
"Belum "sahut sianak muda itu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Luas telaga beracun ini hanya setengah hektar dan letaknya dalam lembah hek kok (lembah
hitam) yang berada dibukit Tay keng san, air telaga itu sangat beracun dan siapa saja yang
terkena air itu niscaya akan mati secara konyol. Kendatipun begitu aku tak berani memastikan
seratus persen benar, sebab sampai detik ini belum pernah kubuktikan sendiri kebenaran dari
berita ini "
"Sekalipun Ban tok cousu kebal racun dan lihay dalam menggunakan barang berbisa, toh tidak
sepantasnya kalau dia berdiam dalam air telaga itu?" kata Han siong Kie dengan terperanjat.
"Ada orang menyaksiksn dia masuk keluar dalam telaga beracun itu, apa yang sebenarnya
dikerjakan cousu selaksa racun itu tak seorangpun tahu, dengan sendirinya aku sipengemispun tak
bisa memberi jawaban atas pertanyaanmu itu"
"Dalam dunia persilatan terdapat seorang manusia yang bernama Tok kun si dewa racun Yu
Hai, apakah dia adalah ahli waris dari Ban tok cousu yang sangat lihay itu."
"Bukan"
"Bukan? Lalu dari manakah dia pelajari ilmu beracun yang amat dahsyat itu?"
"Asal mulanya Yu Hau cuma seorang Bu beng siau cut prajurit tak bernama dalam dunia
kangou, dua puluh tahun berselang tanpa sengaja ia berhasil menemukan sejilid kitab beracun
yang amat luar biasa, semenjak isi kitab itu berhasil dikuasahi olehnya tersohorlah namanya
sebagai Tok kun atau raja racun, kendatipun namanya saja memakai huruf "kun" yang berarti
orang budiman, tapi pada hakekatnya dia adalah seorang manusia durjana yang berhati busuk".
"Dia telah menggabungkan diri dengan pihak Thian che kau" sela pemuda itu.
"Bukan kejadian yang aneh kalau ia berkomplot dengan mereka, toh kaum serigala hanya
berkumcul dengan serigala, masa ada serigala bergaul dengan domba ? ketua Thian Che kau
berambisi besar dan bercita-cita untuk menguasahi seluruh jagad, menjadi kaisar dalam dunia
persilatan, dengan segala daya upaya dia mengumpulkan kawanan jago dari pelbagai daerah
untuk memperkuat posisinya, kecuali beberapa perguruan dan partai kenamaan boleh dibilang
hampir semua perkumpulan dan perguruan telah dilalap habis olehnya ya.. beruntung Kay pang
dapat lolos dari musibah ini" Han siong Kie tertawa dingin -
"Heeehhh heeehhh heeehh masa kiamat dari Thian che kau tak akan terlalu lama, tunggu saja
tanggal mainnya "
"Bila kita biarkan perkumpulan itu mengembangkan sayapnya sampai dimana-mana, aku kuatir
dunia persilatan akan terjatuh semua kedalam cengkeremannya"
"Aaah. belum tentu begitu...."
Pengemis dari selatan berpaling dan menatap lekat-lekat wajah pemuda itu, bisiknya: "saudara
cilik, engkau terlalu percaya pada kemampuanmu?"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah, ia tidak mengucapkan sepatah
katapun-
Rupanya pengemis dari selatan menyadari kekhilafannya, cepat ia menambahkan:
"saudara cilik, tentunya kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa: "sebuah
balok kayu tak akan mampu menunjang sebuah rumah gedung bukan ? Aku rasa persoalan paling
penting yang harus kau lakukan pada saat ini adalah kembali ke Thian lam serta melakukan
pembersihan terhadap unsur-unsur busuk dalam tubuh perguraanmu, sebab dengan tindakan ini
bukan saja kau dapat menyelamatkan mereka-mereka yang masih setia kepadamu dan terpaksa
harus tunduk diperintah ketua yang sekarang, selain itu kaupun akan memperoleh bantuan yang
amat besar dalam usahamu menghancurkan perkumpulan Thian che kau, tak usah kuatir, setiap
saat setiap detik Kay pang selalu berdiri dibawah komandomu"
Tercekat hati Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, kata-kata dari engkoh tuanya ini
mengetuk sampai ke dalam hati sanubarinya, memang benar ucapannya, bila Wi It beng dibiarkan
berlaku sewenang-wenang tanpa ditindak. niscaya sengsaralah orang-orang yang masih setia pada
kebenaran, kelemahan dari Thian lam bun justru akan muncul dari hal-hal seperti ini."
Tapi ingatan lain cepat melimtas dalam benaknya, teringat olehnya akan suatu masalah yang
jauh lebih penting.
"Apa yang diucapkan engkoh tua memang betul" katanya kemudian dengan dahi berkerut "tapi
sekarang aku telah menjumpai sesuatu masalah yang betul-betul rumit"
" Kesulitan apa? Katakan saja asal aku mampu pasti akan kubantu untuk memecahkannya"
ucap pengemis dari selatan sambit menepuk dada sendiri
"Pertama orang yang benar-benar mengetahui asal usulku yang sebenarnya hanya lima orang
tiang lo dari sebuluh tiang lo ruang goan lo wan yang masuk daratan Tiangggoan- jadi diantara
lima orang tiang lo itu ada dua orang telah tewas dan tiga orang tak ketahuan kabar beritanya,
kedua tanda kebesaran sebagai seorang ketua yakni ok kui cupay telah terjatuh ketangan Thian
che kau, tanpa adanya tanda kepercayaan itu tak mungkin aku bisa menarik kepercayaan dari
murid-murid lainnya, tolong tanya bagaimana caraku untuk mengatasi persoalan ini?"
Mendengar ucapan tersebut terlintas rasa serba salah diwajah pengemis dari selatan, katanya
kemudian-
"Ya a, persoalan ini memang merupakan satu masalah yang pelik, bukankah pekerjaan yang
gampang untuk merebut kembali lencana ok kui cupay dari tangan orang Thian che kau, dan
lagi.."
"Kenapa? " sela sang pemuda.
"Ketua pelaksana perguruan Thian lam yang sekarang wi It beng telah menyatakan
penggabungan diri dengan perkumpulan Thian che kau, istana Huan mo kiong sudah berubah jadi
kantor cabang Thian che kau, aku kuatir kalau tanda kebesaran itu sudah terjatuh ketangan Wi It
beng, aaai... kalau sampai begitu, bukankah sekarang ia telah mempunyai kekuasaan untuk
memerintah segenap anak murid ?"
Air muka Han siong Kie berubah hebat.
"Ehmm, memang ada kemungkinan untuk terjadi peristiwa semacam ini, padahal lencana
tersebut merupakan benda tersuci dan tertinggi dalam perguruanku, siapa yang membawa benda
itu, dialah yang dipertuan, waah, urusan kan menjadi bertambah pelik"
"saudara cilik, kau jangan gelisah dulu, coba kuselidiki keadaan yang sebenarnya" pengemis tua
itu lantas bertepuk tangan tiga kali.
seorang pengemis setengah baya mengiakan dan berjalan masuk kedalam ruangan: "Tianglo,
kau orangtua ada perintah apa?" tanyanya.
"sampaikan perintahku, tanyakan kepada setiap murid yang berada disini apakah di antara
mereka ada yang mengetahui jejak dari ketiga orang tianglo dari Huan mo kiong yang berada
didaratan Tionggoan, kalau ada yang tahu segera datang memberi laporan "
"Terima perintah" sesudah memberi hormat pengemis setengah baya itupun mengundurkan diri
sepeninggal pengemis itu Han siong Kie merasa panik dan tidak tenang, ia merasa bahwa
persoalan yang sedang dihadapi sekarang memang cukup pelik, bukan saja Perintah dari gurunya
Mo tiong ci mo tak dapat diselesaikan, bahkan urusanpun berubah jadi sekacau ini, bukankah dia
akan menjadi manusia yang berdosa bagi perguruan?
Tidak selang beberapa saat kemudian pengemis setengah baya itu datang melapor:
" Lapor tiang lo ada seorang murid bagian kontrol yang bernama Tan Beng siap memberi
laporan"
"suruh dia masuk" perintah pengemis dari selatansetelah
Tan Beng masuk kedalam ruang, pengemis itupun bertanya lagi:
"Apa yang kau ketahui?"
Tan Beng memberi hormat, kemudian bukannya menjawab malahan balik bertanya:
"Yang dimaksudkan sebagai tiga orang tianglo dari Thian lam bun itu apakab tiga orang kakek
berjubah sutera dan membawa toya berkepala setan?"
"Benar " sahut Han siong Kie dengan semangat berkobar.
Pengemis dari selatan mengangguk kepada Tan Beng katanya: "Lanjutkan perkataanmu lebih
jauh"
"Tiga hari berselang ketika hamba sedang melakukan perjalanan melewati Niu kang, pernah
kusaksikan ketiga orang tianglo itu sedang melanjutkan perjalanan menuju ke arah wilayah Thian
lam."
"Baik, kau boleh mundur"
Sepeninggal Pengemas itu, Han siong Kie duduk termangu, ia merasa tak habis mengerti
kenapa ketiga orang tianglonya menuju ke wilayah Thian lam, bukankah tindakan mereka ini sama
artinya dengan menghantarkan diri kemulut harimau ? Tak nanti Wi It beng akan melepaskan
mereka bertiga dengan begitu saja.
Tanpa terasa diapan menguatirkan pula keselamatan dari kelima orang tianglonya yang masih
tertinggal diruang goan lo wan.
sebagai seorang ketua Thian lam bun, tentu saja ia tak dapat membiarkan para tianglonya
menghantarkan kematian, karena itu rencananya semula untuk berkunjung kebenteng maut dan
menyatroni lian huan tau terpaksa dibatalkan.
-000dw000-
SETELAH hening beberapa saat pengemis dari selatan bertanya pula: "saudara cilik apa
rencanamu selanjutnya?"
Han siong Kie menghela napas panjang, sahutnya dengan wajah serius:
"Terpaksa aku harus berangkat ke Thian lam, semoga saja masih sempat untuk menghadang
para tiang lo itu kembali ke sarang harimau"
".. sayang aku sipengemis tua sedang terluka, kalau tidak niscaya akan kubantu usahamu itu"
"Engkoh tua tak usah repot-repot, paling penting merawat dulu lukamu hingga sembuh" cepat
sianak muda itu menampik .
"Bagaimana kalau kupilih kan beberapa orang jago lihay dari perkumpulanku untuk menyertai
perjalanan ini?"
"Tak usah.. tak usah Maksud baik engkoh tua biarlah kuterima dalam hati saja"
"Aaah, perkataan apaan itu? Budi kebaikanmu terhadap kay pang setinggi langit, aah, jemu
untuk membicarakan soal budi, lebih baik tak usah dibicarakan lagi"
" Engkoh tua aku bermaksud untuk segera melanjutkan perjalanan mumpung masih sempat
untuk menyusul mereka"
"Ehm, begitupun ada baiknya, aku akan segera mengirim berita kilat kekantor- kantor cabang
dan menyuruh mereka menghadang jalan pergi ketiga orang tiang lo itu"
"Terima kasih atas bantuan engkoh tua"
"Juga tentang jejak dari Hekpek siang yau, aku percaya tak lama kemudian berhasil ditemukan
anak muridku, pasti akan kukirim kabar itu padamu secepatnya"
"Kalau begitu siaute mohon diri lebih dulu" ucap Han siong Kie seraya bangkit berdiri
"Selain itu.?"
"Apakah engkoh tua ingin mengucapkan sesuatu lagi??" Pengemis dari selatan mengangguk.
"Kantor cabang kami di Nio kang meliputi daerah operasi sampai wilayah Thian lam, jika kau
ada urusan minta saja bantuan dari mereka, pasti akan kupesan sendiri kepada toucunya untuk
mengabarkan berita ini kepada anak buahnya, lencana bambu ini boleh kau terima, bila ada
keperluan gunakanlah lencana ini sebagai tanda pengenal "
"Akan siaute ingat selalu dihati, baik-baiklah jaga diri engkoh tua" kata pemuda itu kemudian
setelah menerima lencana bambu itu.
"semoga kau sukses selalu"
"selamat tinggal"
Han siong Kie telah meninggalkan markas besar kay pang di kuil Bu hao si dan melanjutkan
perjalanannya menuju Thian lam.
Waktu itu fajar baru menyingsing, suara ayam berkokok memecahkan kesunyian dipagi itu.
Bintang masih tersisa di langit, angin pagi yang dingin berhembus lewat menyegarkan badan,
Han siong Kie melakukan perjalanannya dengan kecepatan penuh.
Tiga li baru lewat, ketika secara tiba-tiba sesosok bayangan manusia diantara remangremangnya
cuaca orang itu menghadang jalan perginya.
Han siong Kie merasa kaget dan mengerem gerak laju tubuhnya, tapi setelah mengetahui siapa
yang berada dihadapannya ia berseru tertahan-"Aaah nona.. rupanya kau"
Tak asing lagi orang itu bagi Han siong Kie sebab dia tak lain adalah orang yang ada maksud.
"oh masih kenal dengan aku?" sapa orang yang ada maksud sambil tertawa aneh.
"Ada urusan apa nona berdiri disini"
"Menunggu kau"
"Menunggu aku" bisik pemuda itu sambil mundur selangkah karena tercengang, "dari mana
nona bisa tahu kalau aku berada disini dan akan lewati jalan ini?"
0000d0w0000
BAB 70
"AH terlalu gampang untuk mengetahui jejakmu, bukankah jalan raya disini hanya ada satu?
Asal kami berdua masing-masing menghadang disetiap sudut jalanan ini, pastilah seorang
diantaranya kami akan berjumpa dengan kau, bukankah begitu?"
"Jadi ada orang yang bertugas menantikan kedatanganku? siapa orang kedua itu?"
"Tak perlu kau tahu"
Han siong Kie berkerut kening, selang sesaat kemudian ia bertanya pula. "Ada urusan apa nona
menunggu kedatanganku disini?"
"Boleh aku tahu dulu kemana kau akan pergi...?"
"Ke Thian lam"
"Wah kebetulan sekali, untung aku bertemu dengan kau, kalau tidak maka akibatnya amat
sukar dilukiskan dengan kata-kata"
" Kenapa?" tanya anak muda itu terkejut.
"seorang jago yang mengaku sebagai Manusia bermuka dingin dengan membawa lencana ok
koi cu pai dan memimpin tiga puluh orang jago telah berangkat ke Thian lam untuk mengambil
alih kursi kebesaran dari Wi It beng, bahkan ketiga orang tianglo dari perguruan Thian lam bun
pun menyertai dirinya.
"Manusia bermuka dingin ? Boleh aku tahu ada berapa orang manusia muta dingin didunia ini?"
tanya Han siong Kie keheranan-
"Tentu saja hanya satu"
" Kalau memang demikian, aku jadi tidak mengerti, dengan apa yang nona maksudkan?"
"Untuk mengangkangi istana Huan mo kiong, pihak Thian che kau telah mengutus seorang
utusan khususnya menuju ke Thian lam untuk mengambil oper kedudukan wi It beng, bukan saja
utusan khusus itu telah menyaru seperti kau, bahkan membawa pula lencana ok kui cu paya "
"Aah, masa telah terjadi peristiwa seperti ini?" teriak Han siong Kie terkesiap.
orang yang ada maksud segera tertawa dingin
"Memangnya aku membohongi kau, Ketahuilah, utusan khusus dari Thian che kau yang
menyamar sebagai dirimu itu bernama Thio Wi wan "
"Tadi nona mengatakan bahwa dalam rombongan ini terdapat pula tiga orang tiang lo dari
Thian lam bun serta dua puluh orang jago lihay, siapakah mereka itu?"
"Ketiga orang tianglo itu masing-masing bernama To It Hui, Ang pat siu serta san jin ho,
mereka dengan menyertai manusia muka dingin gadungan itu berangkat ke Thian lam untuk
melakukan pembersihan terhadap perguruannya."
"Masa ketiga orang tianglo itu tak dapat membedakan mana yang asli dan mana yang
gadungan?"
"Dalam tubuh perkumpulan Thian che kau terdapat aneka ragam jago yang rata-rata berilmu
tinggi, termasuk pula ilmu menyamarnya, mungkin kau sendiripun akan pangling dibuatnya"
Han siong Kie merasa darah panas dalam tubuhnya mendidih, hawa napsu membunuh
menyelimuti wajahnya, dengan penuh kebencian serunya: "Mereka harus dijagal semua"
"Siapa yang akan kau jagal"
"Semua anggota perkumpulan Thian che kau, dari ketua sampai pelayan-pelayannya"
"Urusan yang tak penting lebih baik tak usah kau bicarakan dulu, ketahuilah Thia We wan yang
menyaru sebagai dirimu dengan membawa ketiga orang tianglo dari dua puluh orang jagonya
sudah berangkat semenjak tiga hari berselang, padahal dengan kepandaian yang di miliki mereka
dalam tujuh hari saja istana Huan mo kiong sudah tercapai, kau sudah ketinggalan tiga hari. aku
kuatir tak mungkin bisa kau susul diri mereka"
Han siong Kie tidak menjawab, pikirnya dalam hati:
" Engkoh tua sudah mengirim surat kilat kepada kantor cabangnya dan memerintahkan anak
murid Kay pang menghalangi jalan pergi ketiga orang tianglo itu, tapi dengan adanya utusan dari
Thian che kau, situasi jadi makin berbahaya, aku harus segera mengejar dengan sepenuh tenaga,
siapa tahu bisa kutempuh perjalanan siang malam sebelum mereka tiba di antara Huan mo kiong,
aku bisa sampai duluan?" Berpikir sampai disini ia lantas bertanya: "Nona mendapatkan
keterangan ini dari mana?"
"Kau tak perlu tahu, pokoknya kedatangan aku kemari adalah untuk menyampaikan kabar ini
kepadamu"
"Terima kasih atas bantuan nona, kalau begitu aku akan segera melakukan perjalanan-"
"silahkan"
setelah menjura, berangkatlah Han siong Kie meninggaikan tempat itu, cepat sekali gerakan
tubuhnya, dalam sekejap mata ia sudah berada jauh sekali dari sana.
Menanti bayangan punggung pemuda itu sudah lenyap dari pandangan, orang yang ada
maksud baru menghela napas panjang, ia melepaskan kain kerudungnya sehingga tampaklah
wajahnya yang cantik, dari sakunya dia itu mengambil secarik sapu tangan dan menyeka air mata
dikelopak matanya.
Mengapa nona itu bersedih hati? Tak seorangpun yang tahu
Dalam pada itu Han siong Kie telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh Ho keng gin im nya
hingga mencapai pada puncaknya, siang malam ia menempuh perjalanan tiada hentinya, beratusratus
li sudah ditempuh dengan kecepatan penuh.
Hari ketiga, sebelum lohor pemuda itu sudah tiba dikota sik bun ki, suatu kota yang berjarak
tiga ratus li dari istana Huan mo kiong.
Dikota sik bun ki inilah kantor cabang Kay pang untuk wilayah Niu kang bermarkas.
Akan tetapi sampai waktu itu, bukan saja tiada kabar berita dari pihak kay pang, jejak ketiga
orang tianglo itupun tak ada yang tahu.
Han siong Kie semakin kuatir, ia merasa tak ada harapan lagi untuk menyusul ketiga orang
tianglonya.
Pemuda itupua sadar, jika orang yang menyaru sebagai dirinya tiba lebih dahulu di istana Huan
mo kiong dengan tampangnya yang persis seperti dirinya serta andaikan lencana ok kui cu pai,
tidak susah baginya untuk mendapat kepercayaan dari orang-orang perguruan dan bila sampai dia
mendapat kepercayaan penuh dari anggota Thian lam bun yang setia, runyamlah keadaan dan
hancurlah perguruan itu.
Denggan langkah yang lambat ia memasuki sebuah rumah makan yang memakai merek "Ing
khek ki", sambil melepaskan lelah dan menangsal perut, pemuda itu hendak menggunakan
kesempatan tersebut untuk mencari akal guna menanggulangi kejadian ini.
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Han siong Kie, mari kita bercerita kembali
setelah To It hui, Ang Pat sin dan Wi Jin ho mendapat tugas untuk mengubur jenasah seng Thian
pa dan Liok sau tan yang mati dalam pertarungan melawan gerombolan wi It beng.
setelah menyelesakan tugas menguburkan, ketiga orang tianglo ini melakukan perjalaran kian
kemari untuk mencari jejak Han siong Kie, akan tetapi jejak dari ketuanya ini lenyap tak berbekas,
mereka jadi murung tak habis mengerti.
Ditengah jalan secara kebetulan mereka mendengar kalau Wi It beng telah menjual perguruan
Thian lam bun kepada pihak Thian che kau, bahkan istana Huan mo kiong telah dirubah menjadi
kantor cabang Thian che kau untuk wilayah Thian lam.
Melihat keruntuhan yang mengancam perguruan ini, ketiga orang tianglo ini jadi marah
bercampur sedih, mereka lantas mengambil keputusan untuk berangkat ke Thian lam serta
mengumpulkan anak murid yang setia untuk bersama membasmi Wi It beng dari muka bumi.
Dalam perjalanan menuju ke Thian lam inilah, secara tak terduga ketua mereka, Han siong Kie
telah muncul dengan membawa dua puluh orang jago bersenjata lengkap. menurut keterangan
kedua culuh orang ini adalah anggota baru Thian lam bun yang baru diterimanya. sungguh
gembira sekali ketiga orang tianglo tersebut menjumpai kenyataan itu.
Mereka lebih percaya lagi setelah Ciangbun suhengnya menunjukkan tanda kebesaran ok kui
cupay, malahan mennrut pengakuan ciang bun suhengnya ini lencana tersebut berhasil dirampas
kembali setelah berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya.
Tentu saja mimpipun mereka tak menyangka kalau ciangbun suheng yang berada dihadapan
mereka ini sebetulnya adalah ciang bun suheng gadungan-
Meskipun dalam hal berbicara dan tingkah lakunya banyak hal yang mencurigakan ketiga orang
tianglo ini, tapi dengan manisnya "Han siong Kie" gadungan berhasil memberi jawaban yang
memuaskan, hal ini membuat ketiga orang tianglo itu semakin percaya.
Tatkala rombongan tiba dikota sik bun ki, anak murid Kay pang cabang wilayah Niu kang yang
baru mendapatkan surat kilat dari markas besarnya segera memberi penyambutan yang meriah,
bahkan setiap saat menanti perintah mereka.
Tindakan ini sama sekali diluar dugaan siapa pun, tentu saja perbuatan dari orang Kay pang
mencengangkan mereka.
Thia Wi wan yang menyamar sebagai Han siong Kie gadungan tidak terlampau curiga oleh
tindakan Kay pang ini sebab dalam anggapannya kaum pengemis itu sudah menggabungkan diri
dengan Thian che kau, maka segala sesuatunya ini tentulah kaucu mereka yang mengatur.
Karena itu diapun tidak memberikan reaksi apa-apa, sebaliknya menerima sambutan itu
sewajarnya.
Begitulah kesalahan paham yang terjadipada waktu itu, oleh karena kedua belah pihak tidak
mengucapkan apa-apa, tentu saja siapapun tak menyangka kalau apa yang sedang berlangsung
pada hakekatnya adalah suatu kesalah pahaman.
Kita kembali pada Han siong Kie yang asli, ketika tidak berhasil mendapatkan akal yang jitu
untuk menanggulangi kesulitan tersebut, dengan uring-uringan dia keluar dari kedai arak itu
Ditengah jalan tiba-tiba dari sisi tubuhnya terdengar seseorang berseru kaget ketika ia
berpaling ternyata orang itu adalah seorang pengemis tua yang berpakaian tambal-tambalan.
satu ingatan dengab cepat melintas dalam benaknya, ia berpikir:
"sebelum berpisah dengan engkoh tua pengemis dari selatan, ia telah berpesan kepadaku bila
ada kesulitan minta saja bantuan dari Kay pang, kenapa aku tidak mencari berita dari mereka?"
serta merta ia membuntuti kemana perginya pengemis tua itu.
sebentar kemudian mereka sudah keluar dari kota dan menuju ke tanah alas yang sepi
sebelum Han siong Kie sempat mengucapkan sesuatu, pengemis tua itu telah berpaling seraya
memberi hormat, katanya:
"Ditempat ini banyak tersebar mata-mata dari istana Huan mo kiong, sebelum rencana disusun
dengan matang, lebih baik ciangbunjin sedikit merahasiakan jejakmu"
"Rencana? Rencana apa?" tanya Han siong Kie.
Ucapan itu membuat si pengemis tua jadi terbelalak. lama sekali dia termangu sebelum
akhirnya bertanya:
"Bukankah engkau adalah Han sauhiap. ketua dari Thian lam bun ?"
"Betul"
"Maksudku lebih baik untuk sementara waktu ciangbunjin kembali dulu kedalam kuil Po cu bin,
agar supaya..."
(Bersambung ke Bagian 46)
Karya : Khu Lung
Saduran : Tjan ID
Ebook oleh : Dewi KZ dan ‘aaa”
http://kangzusi.com/ atau http:// http://dewikz.byethost22.com/
36
"Urusan rumah tanggamu sendiri?" tanya pengemis dari selatan dengan sepasang mata
melotot.
"Begitulah kenyataanya engkoh tua, harap engkau bisa memaklumi keadaanku ini"
"Tapi saudara cilik. tahukah engkau bahwa luka yang kau derita cukup parah?"
"Tidak menjadi soal, luka itu tak kuperhatikan sama sekali" sahut Han Siong Kie sambil tertawa
getir, "bagaimana pun ku harap kalian berdua segera tinggalkan tempat ini?" .
Baik pengemis dari selatan maupun padri dari utara sama2 adalah jago persilatan yang sudah
berpengalaman selama puluhan tahun, tentu saja segala tata cara dan tetek bengek tersebut
dipahami olehnya, mereka tahu bahwa urusan rumah tangga orang lain tidak pantas dicampuri
orang lain oleh karena itu sesudah saling berpandangan sekejap, akhirnya mereka berkata:
"Baiklah, kalau engkau sudah berkata demikian kami jadi tak baik untuk tetap berada disini.."
Berbicara sampai disitu mereka lantas putar badan dan berlalu dari sana.
"Hmm Memangnya kalian berdua hendak pergi dengan begitu saja?" tiba2 Wi It beng menegur
kembali dengan mendengus dingin.
"Ada apa?" tanya pengemis dari selatan dengan alis berkenyit. "memangnya engkau sudah
penuju dengan aku sipeminta tua?"
"Tetapi sekali ucapanmu itu aku memang penuju sekali dengan dirimu. Bukankah kamu berdua
sudah kenali ilmu Boan yo sin kang milik kaisarmu ?"
"Nah, itulah dia.. akan kuhantar kalian berdua untuk pulang kealam barat dengan kepandaian
sakti itu, dari pada hidup didunia toh kalian bakal cerewet belaka?"
Dari ucapan itu jelaslah sudah kemana Wi It beng membawa pembicaraan tersebut, rupanya
dia berhasrat untuk melenyapkan kedua orang jago itu berhubung perbuatan busuknya atas
geteja siau lim si sudah ketahuan.
Bilamana ilmu silat yang dimiliki Han siong Kie tidak terlalu lihay, tak nanti ia keluarkan ilmu
Boan yo sinkang tersebut tapi sekarang dia bertujuan lenyapkan Han siong Kie dan merampas
lencana ok kui cupay untuk menegakan kembali kewibawaannya sebagai seorang Tee kun,
terpaksa kepandaian simpanannya itu dikeluarkan. sementara itu Padri dari utara telah merangkap
tangannya sambil berkata:
"Omitohud Kalau toh sicu memang berhasrat begitu, rasanya tiada perkataan lain yang bisa
kukatakan lagi, bila ingin turun tangan silahkan saja segera turun tangan"
Pengemis dari selatan menyambung sambil tertawa tergelak:
"Haaah haaah haaah betul, memang tepat sekali ucapan tersebut, Kalau memang engkau
sudah penuju pada diriku, akupun tidak akan banyak bicara, toh aku si pengemis tua sudah bosan
hidup ... hayo ambillah nyawaku ini"
sudah tentu Han siong Kie tidak mengijinkan kedua orang tua itu terlibat dalam persoalan
perguruannya sendiri, dengan gelisah bercampur gusar dia maju dengan sempoyongan, sambil
menahan sakit dalam isi perutnya ia berseru kepada dua orang tokoh silat itu.
"Engkoh tua, locianpwe Disini sudah tak ada urusanmu lagi, aku harap kalian berdua segera
tinggalkan tempat ini"
"Eeh... memangnya engkau tidak dengar bahwa orang lain tidak mengijinkan aku berdua
tinggalkan tempat ini?" sahut pengemis dari selatan dengan mata melotot.
"Engkoh tua, loocianpwe Ketahuilah mencampuri urusan rumah tangga orang lain merupakan
pantangan terbesar bagi umat persilatan, aku minta janganlah kalian bikin hatiku jadi susah dan
serba salah"
"Kuakui kalau ucapan saudara cilik tidak salah, tapi engkau tua dan menyaksikan sendiri bahwa
situasi yang kita hadapi sekarang sama sekali berlainan, aku rasa engkau sendiripun-."
"Engkoh tua, ataukah kalian hendak menunggu sampai saudara cilikmu ini mempersilahkan
sendiri kepergianmu?" tukas anak muda itu secara tiba2.
sudah tentu maksud dari Han siong Kie mengusir dua orang sahabatnya itu bukan lantaran
apa2, maksud yang sebenarnya adalah karena dia tak tega menyaksikan kedua orang sahabatnya
ini ikut jadi korban di tangan lawan, jelas ilmu silat mereka masih belum sanggup menandingi
lawannya, bila Wi It beng berhasrat membunuh mereka jelas itu bukan pekerjaan yang terlalu
menyulitkan dirinya.
Wi It beng bukan orang bodoh, dia sendiripun tahu kalau akan maksud hati anak muda itu,
kontan dia tertawa seram.
"Haaah haah haaah Manusia berwajah dingin, lebih baik tak usah buang waktu dan tenaga
dengan percuma, ketahuilah nasibmu telah berada ditanganku, akulah yang akan menentukan
kalian semua harus mampus sekarang juga atau tetap hidup dikolong langit "
"Manusia bedebah, jangan tekebur lebih dahulu, ucapan semacam itu terlalu pagi kalau
diutarakan pada saat sekarang " hardik Han siong Kie dengan gusarnya.
sekali lagi dia ayun lencana ok kui cuipay nya ketengah udara, segenap sisa kekuatan yang
masih dimilikinya disalurkan kedalam lencana tersebut, tampaklah sekilas cahaya tajam langsung
memancar kedepan dan mencapai sejauh satu kaki dari kedudukan pemuda itu.
Gerakan ini sangat taktis dan tepat, karena gegabah dan kurang perhatian Wi It beng seketika
terkurung oleh cahaya tajam tersebut, sementara pikirannya jadi buyar, Han siong Kie telah
melancarkan serangan mautnya dengan ilmu jari Tong kim ci.
Dengus tertahan memecahkan kesunyian, tak tahan wi It beng roboh terjengkang ke atas
tanah.
Han siong Kie segera membentak keras:
"Tianglo berlima, dengarkan perintah segera perintahkan dua orang tamu ini untuk tinggalkan
gelanggang"
Lima otang tianglo itu serentak mengiakan, lima belah toya berkepala setan langsung di sapu
kedepan menggulung tubuh pengemis dari selatan dan padri dari utara.
Tentu saja Pengemis dari selatan dan padri dari utara tak ingin melibatkan diri dalam suatu
pertarungan, tanpa menunggu ke lima orang tianglo itu mendekati tubuh nya, mereka sudah
kabur tinggalkan tempat itu.
Menunggu dua orang jago tersebut sudah lenyap dari pandangan mata, Han siong Kie baru
bisa menghembuskan napas lega, dia tarik kembali lencana mustikanya dari sisi maju kedepan
untuk memeriksa keadaan luka Tee kun itu.
siapa tahu batu saja lencana nya ditarik kembali. Tiba2 Wi It beng loncat bangun kemudian
memperdengarkan suara gelak tertawanya yang amat mengerikan.
Betapa tercekatnya hati anak muda itu, dari gelak tertawa yang mengerikan itu, ia tahu bahwa
luka yang diderita pihak lawan sama sekali tidak parah.. Apa yang telah terjadi ?
Rupanya pada saat itu luka yang diderita Han siong Kie sangat parah sekali, disamping itu
diapun harus kerahkan dulu tenaga dalamnya kedalam lencana mutiara.. karena itulah meskipun
angin serangannya dapat telak ditubuh lawan, namun tenaga serangan nya lemah sekali.
Padahal sekujur badan wi It beng terlindung oleh hawa sakti Boan yo sin kang, karenanya
meskipun serangan tersebut bersarang telak di tubuh nya, namun hanya mengakibatkan sedikit
lecet saja pada kulis tubuh nya.
selama ini dia masih tak mampu untuk bangkit, ini bukan akibat dari luka tersebut melainkan
kekuatan tubuh nya lenyap sebab terpengaruh oleh sinar tajam itu.
Maka begitu Han siong Kie menarik kembali serangannya, kekuatan dalam tubuh Wi It beng
pulih kembali. serentak dia loncat bangun.
Dengan mulut mengerikan karena terpengaruh oleh hawa napsu membunuh yang berkobarkobar,
selangkah demi selangkah Wi It beng bergerak maju kedepan.
Kelima orang tianglo itu bertindak cepat melihat ketuanya terancam, serentak mereka
lintangkan toyanya didepan dada dan berdiri dibelakang anak muda itu. Han siong Kie ayun
kembali lencana nya untuk mempengaruhi kekuatan lawan-
Tapi kali ini wi It beng telah membuat persiapan, secepat petir tubuh nya menghindar
kesamping, kemudian sebuah pukulan Boan yo sinkang dilontarkan kedepan.
Desingan angin tajam memekikan telinga bagaikan gulungan ombak samudra ditengah
hembusan angin puyuh langsung menerjang tubuh Han siong Kie serta kelima orang tianglonya.
Han siong Kie berenam jadi terperanjat, tanpa berpikir panjang mereka ayun pula telapak
tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
"Blaaamm.." suatu ledakan keras menggelegar di angkasa, dengan sempoyongan kelima orang
tianglo itu terdorong mundur sampai tercerai berai ke mana2, sebaliknya Han siong Kie yang
sudah terluka termakan oleh serangan itu lukanya makin parah, sekali lagi dia muntah darah
segar.
Wi It beng memang seorang jago yang tangguh, meskipun seorang diri harus menghadapi
serangan gabungan dari enam orang, akan tetapi dia hanya dipaksa mundur sejauh tiga langkah.
Kilat tajam sorot mata Wi It beng melebihi tajamnya sembilu, tiba2 dia menyapu sekejap
sekitar hutan ditepi hutan, kemudian tegurnya dengan lantang:
"Tokoh silat dari manakah yang telah berada disitu? Kalau sudah datang mengapa tidak segera
munculkan diri?"
Mendengar seruan itu, semua jago yang ada dalam gelanggang sama2 alihkan sorot matanya
ke arah hutan-..
Gelak tawa yang menyeramkan berkumandang dari dalam hutan, menyusul mana sesosok
bayangan hijau bagaikan sukma gentayangan munculkaa diri dari hutan, begitu cepat gerak
tubuhnya hanya sekejap mata ia sudah tiba dihadapan para jago.
orang itu bukan lain adalah seorang manusia berkerudung yang memakai baju warna hijau.
Mengetahni siapa yang muncul, bergetarlah perasaan Han siong Kie, diam2 peluh dingin
membasahi tubuhnya.
Air muka Wi It beng sendiripun berubah hebat, tegurnya kemudian-"siapa engkau?"
Manusia berkerudung itu tetap membungkam dalam seribu bahasa, tangan kanannya perlahan
di ayun kedepan dan tahu2 sebuah tengkorak warna merah sudah muncul di depan mata.
"Haah.. Tengkorak maut?" seru Wi It beng dengan hati tercekat.
Paras muka kelima orang tianglo serta kawanan pengawalpun berubah hebat, mereka tak
mengira kalau Tengkorak maut yang di segani tiap umat persilatan di daratan Tionggoan telah
munculkan diri dalam saat begini.
Di antara sekian banyak orang hanya Han siong Kie seorang yang tahu bahwa tengkorak maut
yang berada dihadapannya sekarang ini tak lebih hanya tengkorak maut gadungan, hatinya
bergetar keras dan paras mukanya terpengaruh oleh emosinya.
Dalam sekejap mata suasana dalam gelanggang berubah jadi hening, sepi dan tak kedengaran
sedikit suarapun-
Ditengah keheningan itulah tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, di susul
seseorang berseru kesakitan.
Dengan sempoyongan Han siong Kia mundur kebelakang, darah segar meleleh terus dari ujung
bibirnya.
Dalam sekejap mata itu pula lencana ok kui cupay telah berpindah tangan, kini benda tersebut
telah berada ditangan tengkorak maut yang lihay itu.
Tindakan dari Tengkorak maut ini sama sekali berada diluar dugaan semua orang, siapapun tak
menyangka kalau tokoh sakti itu sudi merampas ok kui cupay tanda kepercayaan dari Huan mo
kiong.
Paras muka Wi It beng berubah hebat, tubuhnya gemetar menahan emosi.
Jauh2 dari Thian lam menuju daratan Tionggoan, tujuan wi It beng adalah melenyapkan Han
siong Kie serta merampas lencana ok kui cupay yang merupakan tanda kekuasaan dari istana
Huan mo kiong, dan kini dikala lencana tersebut hampir terjatuh ke tangannya. Tahu2 sudah
dirampas oleh Tengkorak maut, bisa dibayangkan betapa gusar dan gelisahnya jago ini.
"Tengkorak maut, hayo serahkan kepadaku benda itu" hardiknya keras2.
"Heehh heehhh heehhh apanya yang serahkan kepadamu?" jengek Tengkorak maut sambil
tertawa seram.
"Apa lagi? tentu saja lencana ok kui cupay tersebut"
"Haahh haahhh haaa... Wi It beng menurut apa yang kuketahui, engkau tak lebih hanya
seorang anggota murtad dari aliran Thian lam dan lagi kedudukanmu sebagai Tee kun sudah
terhapus, memangnya lencana ini masih menjadi milikmu??"
"Tutup mulutmu, Jawab saja, mau diserahkan kembali kepadaku atau tidak ....?"
"Memangnya engkau mampu melakukan sesuatu yang luar biasa atas diriku ini? " ejek
Tengkorak maut.
"Bangsat Rupanya engkau memang sudah bosan hidup," teriak Wi It beng dengan gusarnya.
setelah membuat satu gerak melingkar di depan dada, sepasang telapak tangannya langsung
dilontarkan ketubuh Tengkorak maut, bukan saja cepat sekali serangan itu, bahkan ganas dan
keji.
"Waah.. kalau cuma mengandalkan ilmu kucing kaki tiga seperti ini masih jauh kalau ingin
merobohkan aku"
Tiba2 ia melesat kedepan sejauh dua kaki, kemudian ejeknya dengan nada sinis. . "Wi It beng,
manusia tolol sampai ketemu lain kali..."
Berbareng dengan berakhirnya ucapan tersebut, tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan
yang lebat.
Betapa murkanya Wi It beng ketika ia lihat Tengkorak maut telah berlalu dengan begitu saja, ia
berpaling dan melotot sekejap kearah Han siong Kie dan kelima orang tianglo itu dengan tatapan
benci, kemudian dengan wajah menyeringai ucapnya:
"Baik..baiklah... akan kuselesaikan kalian lebih dahulu sebelum kubikin perhitungan dengan
Tengkorak maut"
Keadaan Han siong kie ketika itu sangat lemah, jangan toh harus bertempur, untuk berdiri
sendiripun sudah tak mampu.
Lima orang tianglo itupun merasa sedih bercampur gusar, kini ketua mereka telah terluka
parah, itu berarti mereka berlima tak akan mampu menghadapi kelihayan wi It beng kendatipun
turun tangan bersama2
Dari sikap musuhnya yang begitu seram, merekapun sudah tahu bahwa musuhnya tak akan
melepaskan mereka berenam dengan begitu saja, asal mereka sudah mati maka perguruan Thian
lam pasti akan terjatuh ketangan manusia biadab ini, itu berarti pula bahwa kejayaan dan
kecermerlangan perguruan mereka harus berakhir sampai disini saja.
Walaupun sadar bahwa kepandaian mereka bukan tandingan lawan, namun mereka tak sudi
menyerah kalah dengan begitu saja, mereka bersiap sedia melakukan perlawanan hingga titik
darah yang penghabisan-
Diiringi bentakan nyaring, kelima orang tianglo itu segera putar toya kepala setannya dan
menerjang Wi It beng dengan ganas.
"Bluuk..." suatu jerit kesakitan terdengar, Liok sau tan terhajar telak oleh serangan itu hingga
mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.
Menyaksikan rekannya mati terbunuh, empat orang tianglo yang lain jadi semakin kalap.
serangan mereka semakin gencar, toya saktinya diputar sedemikian rupa sehingga Wi It beng
benar2 kena dikurung ditengah kepungan.
Kematiam rekan seperguruan yang berlangsung didepan mata membuat keempat orang tianglo
itu benar2 teramat gusar, mereka sudah bertekad untuk beradu jiwa, maka setiap serangan yang
dilancarkan Sebagian besar merupakan serangan adu jiwa yang sangat mengerikan-
Dalam waktu Singkat Wi It beng sudah di bikin keteter hebat dan kalang kabut tidak karuan,
posisinya amat terdesak sedang jiwanya terancam oleh mara bahaya.
Lambat laun Wi It beng jadi naik darah juga, ia tahu jika pertarungan dibiarkan berlangsung
terus dalam keadaan begini, niscaya wibawa dan gengsinya akan merosot.
Suatu ketika ia mendengus dingin, kemudian sambil menerjang kemuka secara beruntun dia
lancarkan delapan buah serangan berantai yang cukup gencar, hanya sesaat saja posisi diatas
angin telah terjatuh kedalam genggamannya.
Jerit kesakitan tiba2 berkumandang lagi memecahkan kesunyian, dalam suatu sergapan kllat,
Seng Thian pau tianglo kedua dari istana Huan mo-kiong ini tak sempat menghindarkan diri dari
serangan. dadanya terhajar telak sehingga ia muntah darah segar, tak ampun lagi tubuhnya
terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa.
Kematian dari rekannya yang kedua ini semakin membuat tianglo lain yang masih hidup jadi
kalap. To It hui tianglo pertama, Ang Pat siu tianglo ketiga dan Sah Jin ho tianglo kelima dengan
mata yang berapi-api dan muka menyeringai seram berulang kali membentak keras ibarat guntur
yang menggelegar di angkasa.
Tiga batang toya baja mereka dengan diputar sedemikian rupa merupakan serangkaian
bayangan serangan yang tajam dan tebal bagaikan awan yang memenuhi angkasa, di iringi
desingan tajam serentak menyergap membabat dan menghantam batok kepala musuhnya.
Ketiga orang tianglo ini sudah mata gelap dibuatnya, mereka jadi nekad dan tak takut mati,
dengan sendirinya serangan yang dilancarkan ketiga orang inipun jauh lebih dahsyat lagi.
Wi It beng tertawa terkekeh2, ia tak pandang sebelah matapun terhadap serangan2 musuhnya,
dikerubuti lima orang pun dia sanggup melakukan pembantaian apalagi sekarang musuhnya
tinggal tiga orang.. secara beruntun dia lepaskan dua belas buah pukulan dahsyat.
Begitu kedua belas buah pukulan itu dilancarkan kemuka, secara beruntun terdengarlah tiga
kali jerit kesakitan menggema diangkasa, dalam waktu singkat dari antara lima orang tianglo yang
gagah berani ada dua sudah mampus dan tiga lainnya menderita luka parah.
suasana untuk sesaat jadi hening dan sepi, kendatipun hawa napsu membunuh masih
menyelimuti seluruh angkasa dengan tebalnya.
Wi It- beng tertawa seram, muka nya menyeringai hingga Kelihatan sangat mengerikan,
selangkah demi selangkah ia maju kedepan menghampiri Han siong Kie.
Betapa gusar, benci dan penasarannya si anak muda itu, saking gelisahnya kembali dia
muntahkan darah segar, pada saat seperti ini dia sudah kehilangan tenaga untuk melawan,
padahal Wi it beng sambil tertawa seram maju semakin mendekat tampaknya kecuali meramkan
mata sambil menunggu tibanya ajal, tiada jalan lain lagi yang bisa dia lakukan. Pada detik2
terakhir inilah bayangan kematian berkecamuk dalam benaknya..
Ia teringat kembali akan dendam berdarah nya yang belum terbalas, perintah gurunya yang
belum terlaksana.
Mati bukan berarti bisa melepaskan diri dari se gala2nya, kalau ia sampai tewas dalam keadaan
demikian, maka dia akan mati dengan sepasang mata tidak terpejam.
sekarang ia mulai menyesal, menyesal apa sebabnya melayani pertarungan itu dengan
kekerasan, andaikata kelima orang tianglonya setelah ditolong maka mereka segera
mengundurkan diri, niscaya tidak beginilah keadaannya ....
Tanpa sadar peringatan dari orang yang ada maksudpun berkumandang kembali disisi
telinganya:
"...jangan lukai orang, setelah menyelamatkan jiwa kelima orang tianglo itu, segeralah berlalu
dari situ.."
Benarkah orang yang ada maksud adalah seorang manusia sakti yang bisa meramalkan semua
kejadian yang belum berlangsung?
sementara itu Wi It beng sudah berhenti kurang lebih lima depa dihadapan si anak muda itu,
telapak tangannya perlahan di angkat keudara dan siap melepaskan pukulan-..
Pada detik itulah dari tempat kejauhan tiba2 melayang tiba dua sosok bayangan manusia.
sangat kebetulan kemunculan bayangan manusia itu, Wi It beng yang telah siap melancarkan
serangannya tiba2 membataikan kembali niatnya dan menurunkan kembali telapak tangannya itu.
Yang munculkan diri ketika itu adalah dua orang kakek berbaju kuning, mereka memiliki
perawakan badan yang tinggi besar dan kekar, sepasang mata nya memancarkan cahaya tajam,
itu menandakan kalau tenaga dalam yang mereka miliki telah mencapai puncak kesempurnaan.
Begitu mencapai permukaan tanah, dua orang kakek baju kuning itu segera memberi hormat
kepada Wi It beng seraya berkata:
"Pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau khusus datang menghunjuk hormat untuk
Tee-kun"
"Kalian berdua tak usah banyak adat" kata Wi It beng sambil putar badannya "ada urusan apa
kalian datang kemari??"
"Hamba mendapat perintah dari kaucu untuk datang menghadap Tee kun, ada suatu masalah
penting yang hendak dirundingkan dengan diri Tee kun" sahut salah seorang diantara kedua orang
pelindung hukum baju kuning itu.
"Persoalan apa yang hendak kalian rundingkan??"
"Berulang kali manusia berwajah dingin menyatroni dan membuat keonaran didalam
perkumpulan kami, hingga detik ini sudah mendekati seratus orang anggota perkumpulan kami
yang telah jatuh korban ditangannya, oleh sebab itu kaucu mengusulkan agar Tee-kun bersedia
menyerahkan orang itu kepada kaucu kami, agar kami bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepada dirinya. ."
"Tentang soal ini. "
Dengan cepat pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Wi It beng, ia tahu bilamana Manusia
berwajah dingin diserahkan kepihak Thian che kau, maka tindakannya ini akan mempengaruhi
nama baik serta kewibawaan perguruannya, akan tetapi diapun merasa segan untuk bermusuhan
dengan perkumpulan itu dalam posisi yang serba tidak menguntungkan ini, toh bagaimanapun
juga tujuannya hanya melenyapkan bibit bencana dari muka bumi ?"
Kini lencana ok kui cui pay dari perguruannya sudah dirampas Tengkorak maut, itu berarti bila
dia hendak mengembangkan pengaruh perguruannya maka ia masih harus meminjam kekuatan
dan bantuan Thian che kau.. "
sesudah mempertimbangkan untung ruginya, diapun mengangguk dan menjawab nyaring.
"orang nya boleh saja kalian bawa pergi, tapi terlebih dahulu aku harus musnahkan dulu ilmu
silat yang dimilikinya"
"Terserah kebijaksanaan Tee-kun"
Han siong Kie masih sadar, dengan sendirinya diapun dapat mengikuti jalannya pembicaraan itu
dengan jelas, meskipun setiap patah kata yang diucapkan lawannya amat menusuk perasaannya,
membuat ia jadi gusar dan dadanya serasa mau meledak. akan tetapi sianak muda itu tak mampu
berbuat apa2, dia hanya pasrah pada nasib belaka.
Dalam pada itu, Wi it beng telah memutar badannya menghadap kembali kearah Han siong Kie.
setelah tertawa seram kata nya.
"Menurut peraturan sepantasnya kalau kusebut dirimu sebagai suheng.. haaahh .haaaahh..
haaahhh.. semoga saja sesaat lagi engkau dapat segera berangkat untuk berkumpul kembali
dengan toa supek dialam baka sana."
"Binatang terkutuk, aku menyesal karena tak bisa menjatuhkan hukuman yang setimpal
kepadamu!" seru Han Siong Kie dengan penuh kebencian "tapi hmm engkau tak usah keburu
bersenang hati, barang siapa tidak jujur dan tidak setia kepada perguruan, suatu ketika dia pasti
akan mati dalam keadaan mengerikan. percayalah saat ajalmu tidak terlalu lama"
"Heeehhh heeeehhh hheeeehhh suheng, sekalipun saat ajalku sebentar lagi akan tiba, sayang
seribu kali sayang engkau tak dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"sukma cousu selalu melindungi perguruannya, dia tak akan membiarkan engkau hidup lebih
lama.."
"Bangsat lebih baik tutup saja bacot anjingmu." bentak Wi It beng dengan gusar.
Dalam suatu bentakan keras dengan sodokan jari tangannya yang kaku bagaikan tombak ia
menerjang kemuka dan mengancam jalan darah cacad ditubuh sianak muda itu.
"Blaang" ditengah benturan keras yang memekikkan telinga, terdengar wi It beng mendengus
berat, dengan sempoyongan dia mundur lima langkah kebelakang.
sekalipun Han siong Kie sudah menderita luka dalam yang cukup parah namun dengan bakat
alamnya yang luar biasa serta daya tahannya yang kuat, serangan balasan yang dilepaskan dalam
keadaan terluka itu tak bisa di anggap enteng. . .
Bagi Wi It beng sendiri serangan balasan tersebut tak pernah dibayangkan sebelumnya, dia tak
menyangka dalam lukanya, pemuda itu masih sanggup melepaskan pukulan sedahsyat itu
sehabis melancarkan sebuah pukulan dengan menggunakan sisa kekuatan yang dimilikinya itu,
luka yang diderita Han Siong Kie menjadi semakin parah, dengan sempoyongan dia mundur
kebelakang, matanya jadi ber kunang2 dan kepala nya pusing tujuh keliling, darah segar kembali
muntah keluar dari mulutnya.
Dari malunya Wi It beng jadi gusar, sepasang telapak tangannya segera diayunkan berbareng
melancarkan bacokan kilat yang maha dahsyat.
Tiga orang tianglo yang menggeletak dengan menderita luka parah sempat mengikuti jalannya
peristiwa ini dengan jelas, mereka sudah meronta bangun sambil bersiap siap memberikan
pertolongan, tapi serangan lawan dilancarkan terlalu cepat, ketiga orang itu tak bisa berbuat lain
kecuali menjerit kaget
"Tee-kun, harap ampuni jiwanya, kaucu kami membutuhkan dirinya dalam keadaan hidup2"
teriak dua orang pelindung hukum baju kuning dari Thian che kau hampir bersamaan waktunya.
Tapi sayang jeritannya itu agak terlambat, Di tengah jeritan kesakitan, ibarat layang-layang
yang putus benang, tubuh Han siong Kie mencelat ke udara dan meluncur kebelakang.
Mendadak satu kejadian aneh telah berlangsung didepan mata..
Dikala daya luncur dari tubuh Han siong Kie sudah habis dan badannya hampir menyentuh
tanah, tiba2 entah bagaimana caranya tiba2 tubuhnya melayang kembali keudara dan meluncur
kedalam hutan di tepi jalan raya itu..
semua jago berdiri terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya, semua orang tak mampu
ber-kata2 menyaksikan peristiwa aneh itu, hanya dalam waktu singkat tubuh Han siong Kie yang
kekar sudah melayang ke dalam hutan dan lenyap dibalik pepohonan.
sebagai jago2 silat kenamaan rasa kaget itu hanya sebentar menyelimati hati mereka, dengan
cepat orang2 itu sadar pastilah ada seorang tokoh sakti yang sedang bersembunyi disana. .
Peluh dingin mulai mengucur keluar membasahi tubuh mereka, bayangkan saja dari jarak
sejauh beberapa kaki ternyata tokoh sakti itu mampu menghisap sesosok tubuh yang kekar seperti
itu, bilamana tenaga dalam orang itu tidak sangat hebat, mampukah dia melakukan hal seperti
itu?
Belum lenyap rasa kaget yang menyelimuti hati semua orang, tiba2 pandangan mata nya jadi
kabur dan tahu2 seorang kakek tua yang tinggi besar dengan jubah panjang warna kuning,
berkaki telanjang dan berikat kepala warna perak munculkan diri ditengah gelanggang.
Perawakan tubuh kakek itu sangat tinggi besar, sekilas pandangan se-akan2 sebuah buklt kecil
yang sedang bejalan.
Manusia aneh itu mempunyai sepasang mata yang memancarkan sinar warna hijau, begitu
tajamnya sorot mata orang itu membuat setiap jago yang terpandang oleh nya segera hatinya
bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.
Setelah menjapu sekejap orang-orang itu, akhirnya sinar mata manusia aneh itu berhenti diatas
wajah Wi It beng.
Betapa pemberaninya Wi It beng tak urung mundur juga beberapa langkah ke belakang dengan
badan gemetar keras, dengan pengalaman serta kepandaian yang dimilikinya, ia tahu bahwa
manusia aneh itu bukan manusia sembarangan, ilmu silatnya boleh dibilang sudah mencapai
puncak kesempurnaan yang tak terhingga.
Sementara dia masih melamun, Manusia aneh itu sudah menegur dengan suaranya yang keras
bagaikan geledek:
"Hey bocah cilik, kalau kulihat dari kopiah emasmu, jubah sutramu serta dandananmu yang
tidak genah, tentunya engkau adalah ketua dari perguruan Thian lam bukan?"
"Bee.. betul " jawab Wi It beng dengan tubuh bergetar keras, "akulah ketua kaisar dari istana
Huan mo kiong"
"Apa ? Kaisar ? Haaah haaah haaaah kaisar ? sungguh menggelikan"
Gelak tertawa itu keras sekali membuat seluruh permukaan tanah tergetar keras, pucat pias
wajah kawanan jago yang hadir di situ, mereka merasakan darah panas bergelora dengan
hebatnya didada, bahkan Wi It beng pribadipun merasa jantungnya berdebar keras.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya dengan ketiga orang tianglo yang sedang terluka parah,
kontan mereka jatuh terduduk di atas tanah tak mampu berkutik lagi.
Untungnya manusia aneh itu hanya sebentar tertawa nya, kalau tidak cukup hanya tertawa
tergelak niscaya beberapa orang diantara mereka ada yang terluka parah.
Berdiri semua bulu kuduk digubuh Wi It beng, sambil memberanikan diri dia lantas menegur:
"Bolehkah aku tahu siapa nama besar mu?"
"Haah.. Masa engkau tidak kenal dengan aku?"
"Maaf, aku benar2 tidak kenal siapa engkau"
"Heehhh..heehh..heehh.. ketika aku masih berkelana dalam dunia persilatan, mungkin engkau
masih belum menongol dari rahim ibumu, akulah Hun si Mo ong Raja iblis pengacau jagad, sudah
pernah mendengar namaku ini"
Hun si Mo ong, suatu nama yang cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengarkan,
kontan para jago yang hadir dalam gelanggang merasakan badannya jadi lemas dan tak sanggup
berkutik lagi.
Sejak enam puluh tahun berselang jejak Hun si Mo ong secara tiba2 lenyap dari dunia
persilatan, kendatipun begitu nama besarnya selama puluhan tahun masih membekas dalam hati
setiap umat persilatan, tidaklah heran kalau semua orang masih mengenali nama besar dari tokoh
sakti tersebut.
Jago ini tersohor karena ilmu silatnya yang sangat lihay, perasaan girang ataupun gusar sukar
diketahui orang, dan perbuatannya tak pernah menuju kearah kebaikan ataupun kejahatansemua
perbuatannya hanya berdasarkan perasaan hati sendiri.
Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, jarang sekali ada jago silat yang sanggup
melayani tiga gebrakannya, maka dari itu baik jago dari golongan putih maupun jago dari
golongan hitam pada menaruh rasa jeri kepada nya
Enam puluh tahun berselang, diatas puncak Jit koan hong pada gunung Thay san telah
diselenggarakan suatu pertemuan besar para orang gagah, beratus2 orang jago persilatan kelas
satu yang ada dikolong langit telah berkumpul disana, dikala itu Hun si Mo ong hadir pula disana,
hanya cutup di dalam dua gebrakan ia telah berhasil menghajar mampus jago silat nomor satu
dikolong langit.
Atas kejadian itu para jago yang hadir disana jadi gusar hingga terjadilah pengerubutan secara
massal, akan tetapi dalam seperminum teh saja, mayat telah bergelimpangan bagaikan bukit,
darah berceceran membasahi puncak Jit koan hong...
sejak terjadinya peristiwa pembantaian ini tiba2 jejak Hun si Mo ong ikut lenyap dari peredaran
dunia persilatansungguh
tak disangka setelah menghilang selama enam puluh tahun lamanya, tiba2 Raja iblis
pengacau jagat yang lihay ini muncul kembali didalam dunia persilatan, bahkan turun tangan
menyelamatkan jiwa Manusia berwajah dingin yang terancam bahaya, peristiwa ini boleh dibilang
jauh diluar dugaan siapapun.
Tak seorangpun bisa memahami maksud dari gembong iblis ini, mereka cuma bisa berdiri
melongo sambil memandang orang itu tanpa berkata- kata. suasana jadi hening, sepi tak
seorangpun berani buka suara.
-00d0w00-
BAB 54
SESUDAH termenung beberapa saat lamanya, Hun si Mo ong kembali berkata:
" Enam puluh tahun berselang aku telah mengangkat sumpah, bahwasanya orang lain tidak
mengganggu aku, maka akupun tidak akan mengganggu orang lain. Nah Anggap saja nasib kalian
masih mujur, hayo cepat enyah dari tempat ini"
Hampir saja semua orang tidak percaya dengan pendengaran sendiri, siapa juga tak mengira
kalau Hun si Mo ong yang kejam dan lihay ternyata sudah bertobat dan tidak melakukan
pembantaian lagi.
seakan2 baru saja terlepas dari pintu neraka, kawanan jago itu segera melarikan diri terbirit2
dari sana.
Hun si Mo ong tertawa ter bahak2, menanti kawanan jago itu sudah lenyap dari pandangan,
diapun berkelebat dan lenyap dari pandangan mata.
Tak jauh dari hutan itu, Han siong Kie tampak sedang berdiri sambil bersandar di atas sebuah
dahan pohon-
Tak jauh disampingnya berdiri pula seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari turun
dari kahyangan. dia bukan lain adalah malaikat hawa dingin Mo siu ing. Pada waktu itu Mo siu ing
sedang tertawa ringan sembari berkata:
"Hey, manusia berwajah dingin Ketika berada dihutan penyeberangan pohon liu engkau telah
menyelamatkan jiwaku, dan sekarang aku telah membayar budi kebaikanmu itu, berarti pula kita
sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada siapa"
Han siong Kie sakit hati dan termenung tanpa berkata2, ia tak suka budi kebaikan dari orang
lain, terutama dari kaum wanita, tapi dalam kenyataan berulang kali dia harus menerima budi
kebaikan dari kaum perempuan, hal ini membuat ia habis daya dan tak mampu ber-kata2 lagi.
Melihat sianak muda itu membungkam, Malaikat hawa dingin Mo siu ing kembali berkata:
"Kita hanya berjumpa secara kebetulan saja, kebetulan aku dan guruku sedang berangkat
menuju kebenteng maut, dan ketika kami lewat disini kulihat engkau sedang terancam bahaya.."
"Siapa gurumu?" tanya Han siong Kie agak tertegun.
"Siapa lagi kalau bukan Hun si Mo ong??"
sekali lagi Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa dia teringat kembali
akan peristiwa dimasa lampau dimana Ang Nio cu terancam bahaya setelah dihajar sampai terluka
parah oleh Tengkorak maut gadungan, untung Hun si Mo ong muncul secara tiba2 dia membuat
Tengkorak maut gadungan melarikan diri karena ketakutan.
Ia tak mengira kalau Hun si Mo ong yang ditakuti banyak orang itu ternyata tak lain tak bukan
adalah gurunya Malaikat hawa dingin Mo siu Ing.
"Jadi gurumu adalah Hun si Mo ong ?" tanya pemuda itu lagi dengan nada kurang percaya.
"Benar, engkau tak percaya??"
"Dan kalian hendak menuju ke benteng maut??"
"Tentu saja, kami hendak pergi kesana untuk menolong suamiku "
Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak Han siong Kie, kalau toh Hun si Mo
ong adalah gurunya malaikat hawa dingin Mo siu ing, bahkan dia mampu membuat Tongkorak
maut gadungan melarikan diri ter-birit2, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silatnya pasti
tinggi sekali.
Bagaimana jadinya apabila mereka berangkat ke Benteng maut? Belum tentu Tengkorak maut
yang asli mampu menandingi kekuatan mereka, jika dia sampai mati maka bagaimana dengan
dendam sakit hatinya? bukankah harapannya akan lenyap tak berbekas?
Diam2 pemuda itu jadi panik, saat ini tenaga dalamnya belum pulih kembali jelas tak mungkin
baginya untuk membicarakan soal balas dendam, lalu mampukah dia menghalangi orang lain agar
jangan pergi dulu kesana..?
Tapi dengan cepat ia terbayang kembali betapa lihay dan aneh nya ilmu silat yang dimiliki
pemilik benteng maut. sekalipun tenaga gabungan dua orang tokoh sakti ini terhitung dahsyat,
belum tentu usaha mereka akan mencapai kesuksesan.
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 tampaklah sesosok bayangan
manusia berkelebat lewat, menyusul seorang manusia aneh yang tinggi besar telah munculkan diri
didepan mata.
"Suhu, sudah selesaikah urusanmu?" Malaikat hawa dingin Mo Siu ing segera menegur dengan
wajah berseri.
"Ehmm. Perbuatanku sangat terbatas sekali karena terikat oleh sumpahku, aku tak dapat
membunuh orang lagi, terpaksa kububarkan orang2 itu agar berlalu dari sana"
Sekarang Han siong Kie baru tahu kalau manusia aneh yang berada dihadapannya bukan lain
adalah Hun si Mo ong yang ditakuti setiap orang, ketika diketahuinya peristiwa Wi It beng sekalian
tidak sampai dibunuh mati, pemuda itu bergirang hati karena dengan begitu maka dia masih
punya harapan untuk menjatuhi hukuman yang setimpal kepada penghianat perguruannya itu.
Berpikir sampai disitu, anak muda itu segera maju kedepan dan memberi hormat kepada Hun si
Mo ong seraya berkata:
"Locianpwe, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu ini"
"Haaahhh haaahhh haaahhhjangan kau anggap peristiwa itu sebagai suatu kejadian besar" kata
Hun si Mo ong sambil tertawa tergelak, "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyelamatkan
jiwamu, oleh karena muridku pernah menerima pertolongan darimu dan dia temukan engkau
sedang terancam bahaya maka ia minta bantuanku untuk menolong, jadi anggaplah
pertolonganku bukan lantaran engkau, tapi lantaran permintaan dari muridku ini"
Berbicara sampai disini, diapun berpaling kearah Malaikat hawa dingin Mo siu Ing seraya
berkata:
"coba kau lihat, bocah ini mirip sekali dengan suhengmu Ko Su ki "
"Benar suhu.." jawab Malaikat hawa dingin sedih.
sekarang Han siong Kie baru tahu kalau pada mulanya malaikat hawa panas dan malaikat hawa
dingin adalah sesama perguruan dimana dari saudara seperguruan akhirnya mengikat diri menjadi
suami istri.
"Dia tak akan mati bukan?" terdengar Hun si Mo ong bertanya lagi.
"Tecu telah memberi sebutir Kui goan kim wan kepada nya, tecu rasa jiwa nya tidak terancam
lagi"
"Kui goan kim wan ?" seru Hun si Mo ong cepat," Hey budak cilik, engkau benar2 sangat royal,
tahukah engkau selama enam puluh tahun aku bekerja, hasilku hanya tiga butir pil Kui goan kim
wan tersebut, engkau bukan saja sudah makan sebutir, sekarang kau hadiahkan pula sebutir
kepadanya.. waah, terlalu royal"
Malaikat hawa dingin Mo siu ing tertawa jengah setelah mendengar teguran itu, cepat dia
alihkan pokok pembicaraan kesoal lain: "suhu, sekarang sudah waktunya buat kita untuk
berangkat..."
"Baik..baik.. hayo kita berangkat"
Begitulah, tanpa berbicara lagi dua orang jago silat itu segera berlalu dari hutan tersebut,
dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan-
Han siong Kie sendiripun tak mampu berkata2, dia hanya bisa memandang kepergian dua
orang itu dengan pandangan melongo.
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing yang gemar membunuh manusia ternyata rela menghadiahkan
obat Kui goan kim wan mustika perguruanya untuk menyelamatkan jiwa Han siong kie, terhadap
peristiwa itu pemuda kita merasa keheranan dan benar2 tak habis mengerti.
"Mungkinkah obat ini disebabkan karena Han siong Kie berhasil menemukan kabar berita
tentang malaikat hawa panas Ko su ki ? Mungkinkah seumpama sianak mudaitu mengenangkan
lembali dirinya akan kegagahan dan kegantengan suaminya dimasa lampau?
obat Kui goan kim wan benar2 terhitung sebutir obat yang sangat mujarab, dalam waktu
singkat bukan saja rasa sakit ditubuh sianak muda itu sudah lenyap tak berbekas bahkan hawa
murninya telah menghimpun kembali..
Dalam perkiraan si anak muda itu, sesudah kemunculan Hun si Mo ong yang disegani banyak
orang itu, maka tak akan ada manusia yang berani mendekati wilayah itu, tapi dengan tenang dia
lantas duduk bersila sambil bersemedi . Apa yang terjadi kemudian? Ternyata dugaannya itu keliru
besar.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia dengan langkah yang sangat hati- hati
sedang bergerak mendekati tempat pertapaannya.
Nun jauh dibelakang bayangan manusia itu tampaklah bayangan manusia itu sedang
membuntuti bayangan manusia yang pertama. agaknya kedua orang itu mempunyai maksud dan
tujuan yang berbeda.
Mimpipun Han siong Kie tak menyangka kalau jiwanya waktu itu kembali terancam oleh mara
bahaya, dengan kesempurnaan tenaga dalamnya ditambah pula kemujaraban pil Kui goan kiem
wan, hanya dalam waktu singgkat ia sudah berada dalam keadaan tak sadar, kabut tipis berwarna
putih mulai mengepul keluar dari ubun2nya menciptakan selapis kabut tebal diatas kepala nya.
Bila latihan ini berlangsung setengah jam lagi, niscaya luka dalam yang diderita sianak muda itu
sudah sembuh sama sekali.
Bayangan manusia itu kian lama kian mendekat dan akhirnya ia berhenti dibelakang Han siong
Kie, persis pada jarak jangkauan tangannya, siapakah bayangan itu? Dia tak lain adalah Tengkorak
maut gadungan yang berhasil merampas lencana ok kui cu pay dari tangan Han siong Kie itu.
sementara itu pemuda Han siong Kie masih belum merasakan tibanya malaikat maut yang siap
mencabut nyawanya, ia masih duduk bersemedi sambil menyembuhkan luka nya yang diderita.
Telapak tangan dari tengkorak maut gadungan telah diangkat tinggi2, ia siap melepaskan
serangan mautnya, tapi entah apa sebabnya tiba2 telapak tangan yang telah siap melancarkan
serangan maut itu diturunkan kembali, rupanya ia sedang mempertimbangkan perlukah mencabut
nyawa sianak muda itu.
Jikalau ia menginginkan nyawa anak muda itu, maka dengan suatu gerakan yang amat
sederhana, keinginannya itu pasti akan tercapai, namun dalam kenyataan ia telah membatalkan
niatnya itu, atau mungkin dibalik kesemuanya ini dia mempunyai maksud atau tujuan yang lain
Dalam pada itu bayangan manusia yang lain telah melayang pula mendekati dibelakang
Tengkorak maut gadungan, dengan gerakan tubuh yang enteng ia menyembunyikan diri
dibelakang sebuah pohon yang besar.
Gerak gerik orang itu enteng dan gesit, sedikitpun tidak menimbulkan sedikit suarapun,
malahan Tengkorak maut gadungan yang lihaypun sama sekali tidak merasa kehadirannya. dari
sini dapat dibuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki pandatang itu luar biasa hebatnya.
suasana jadi hening, sepi, akan tetapi napsu memburuh yang tebal telah menyelimuti seluruh
angkasa.
37
Kabut putih yang menyelimuti ubun2 Han siong Kie mulai menipis dan akhirnya lenyap
menyusul mana pemuda itu sadar kembali dari latihannya, baru saja dia akan bangkit berdiri..
Mendadak sebuah telapak tangan telah menempel diatas ubun2nya, menyusul seseorang
membentak dengan suara menyeramkan: "Jangan bergerak!"
Betapa terperanjatnya Han siong Kie, ia merasa sukmanya serasa melayang tinggalkan
raganya, suara itu tidak terlalu asing baginya, sebab ia kenali sebagai suara dari Tengkorak maut
gadungan.
Bisa dibayangkan sampai dimanakah rasa bergidik yang mencekam perasaan hati si anak muda
itu, dalam hati dia lantas berseru. "Mati aku Habis sudah riwayatku kali ini.."
Tengkorak maut gadungan tertawa terkekeh kekeh dengan bangganya, ia berseru:
"Bocah keparat, ada satu persoalan hendak kuajukan kepadamu, aku harap engkau bersedia
untuk menjawab dengan sejujurnya"
Sekalipun jiwanya terancam, akan tetapi Han siong Kie tak mau menyerah dengan begitu saja,
dengan wataknya yang tinggi hati dan angkuh ia tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan
orang, dengan ketus ejeknya sinis:
"Tua bangka sialan, engkau manusia pengecut. Beraninya main sergap dikala orang tidak
bersiap sedia, manusia macam apakah dirimu itu?"
"Haaahhh haaahhh haahh keparat, terserah apa yang hendak kau katakan, pokoknya asal
engkau bersedia menjawab pertanyaanku sejujurnya maka akupun bersedia pula memberi
kesempatan kepadamu untuk melangsungkan suatu pertarungan yang seadil2nya"
"Aku tak sudi dipaksa atau diancam, percuma kalau engkau hendak paksa aku untuk menjawab
pertanyaanmu itu".
"Bocah keparat, engkau jangan tekebur Ketahuilah, bila aku berniat untuk mencabut nyawamu
maka perbuatan ini bisa kulakukan dengan gampang sekali"
" Kalau memang begitu, silahkan saja turun tangan "
" Engkau tak takut mampus??"
"Hmm Aku manusia berwajah dingin tak akan sampai mengemis kehidupan kepadamu"
"Baiklah bocah keparat, anggap saja engkau memang bersemangat jantan, cuma sayang..."
"sayang kenapa??"
"Perguruan Thian- lam akan terputus ditanganmu"
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, ia tahu bila dirinya mati maka perguruan Thian lam
akan hancur berantakan, wi It beng pasti akan berbuat se wenang2 tanpa seorangpun berani
menghalangi perbuatannya itu, dan akhirnya perguruan Thian lam akan musnah dengan
sendirinya.
Pemuda itu jadi sedih dan sakit hati, tapi wataknya yang angkuh membuat anak muda itu tak
sudi tunduk kepada orang lain.
setelah termenung sejenak diapun berseru:
"Tua bangka sialan, engkau tak usah banyak bicara lagi, kalau ingin turun tangan hayo cepatlah
turun tangan"
"Jadi engkau benar2 lebih suka mampus daripada hidup??"
"Aku tak akan mengemis hidup darimu, banyak bicara tak ada gunanya ....mau turun tangan
hayo cepat turun tangan, tak usah banyak bacot lagi."
"Kalau memang begitu yaa sudahlah..."
Han siong Kie tak menggubris lawannya lagi, ia segera pejamkan matanya rapat2..
Tiba2 sekilas cahaya perak memancar ke angkasa, diiringi desingan angin tajam langsung
menyambar kearah pohon besar dihadapannya.
Tengkorak maut gadungan menjerit kaget, mendengar itu Han siong Kie membuka matanya
dan memandang kedepan.
Tampaklah sebuah lencana perak sebesar telapak tangan menempel diatas dahan pohon itu
diatas lencana terukirlah gambar matahari, rembulan dan bintang.
sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya,jeritan ngeri yang menyayatkan hati
kembali berkumandang memecahkan kesunyian. "Blaam sesosok tubuh segera tumbang keatas
tanah dan tak berkutik lagi.
Betapa terperanjatnya Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, ia lompat bangun dan
menengok kesamping, tampaklah Tengkorak maut gadungan sudah menggeletak tak bernyawa
diatas genangan darah. tujuh lembar daun pohon menancap diatas kepalanya membuat kematian
jago ampuh itu tampak mengerikan sekali.
Untuk sesaat sianak muda itu jadi tertegun dan tak mampu berkata-kata..
siapakah yang memiliki kepandaian selihay itu sehingga mampu membinasakan Tengkorak
maut gadungan??
siapa pula pemilik dari lencana perak itu??
Mungkinkah Hun si Mo ong yang telah datang ? Karena sebelum ajalnya bukankah Tengkorak
maut gadungan telah menjerit kaget??
Kecuali tokoh sakti itu, siapa lagi yang mampu membinasakan gembong iblis ini hanya didalam
sekali gebrakan belaka??
Mungkinkah lencana perak itu adalah lambang dari Hun si, Mo ong?
Pelbagai ingatan berkecamuk menjadi satu didalam benaknya, dia merasa tidak sanggup untuk
memecahkan kejadian yang sangat aneh ini, tapi ada satu hal ia merasa yakin, untuk kesekian
kalinya kembali ia lolos dari cengkeraman malaikat elmaut, sekali lagi dia lolos dari kematian
"Nak. apa yang sedang kau lamunkan?" tiba2 suara teguran yang lembut dan penuh kasih
sayang . berkumandang dari tak jauh dari sana.
Han siong Kie terkesiap, dengan cepat la kenali suara tersebut sebagai suara dari orang yang
kehilangan sukma.
"cianpwe, engkaukah itu?" cepat pemuda itu berseru.
"Nak, masa engkau tak dapat mengenali suaraku lagi?"
"sekalipun boanpwe tidak berjodoh untuk menjumpai raut wajah cianpwe, akan tetapi suara
cianpwe sudah membekas dalam benakku, budi kebaikan yang telah cianpwe berikan kepadaku
setinggi bukit dan setebal bumi, selamanya budi kebaikan ini tak akan kulupakan"
"Nak. aku tak suka mendengarkan perkataan2mu yang memandangkan balas budi ini"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie karena jengah.
"Apakah cianpwe yang telah membinasakan Tengkorak maut gadungan untuk melepaskan
boanpwee dari ancaman bahaya maut??"
"Begitulah kenyataannya"
"Kesempurnaan tenaga dalam yang cianpwee miliki benar2 luar biasa sekali."
"Nak. dugaanmu itu keliru besar, bila tenaga dalamku dibandingkan dengan tenaga dalam yang
dimiliki Tengkorak maut gadungan, maka kepandaianku masih kalah setengah tingkat"
Han siong Kie tercengang dan merasa tak habis mengerti, dengan nada keheranan segera
serunya:
"Tapi..tapi toh kenyataannya dia mati dalam waktu singkat??"
"Dia bukan mati ditanganku, lebih cocok kalau dikatakan bahwa ia mati toh karena lencana
tersebut."
Han siong Kie melongo dan tak habis mengerti, ujarnya lagi: "Mati karena lencana itu ?
Boanpwe merasa tak mengerti.."
"Kemunculan lencana itu membuat konsentrasinya jadi buyar, karena itulah aku manpaatkan
kesempatan yang sangat baik itu untuk membereskan jiwanya..."
"Masa lencana itu memiliki daya pengaruh yang begitu besarnya?"
"Benar nak. engkau tidak percaya?"
"Tentu saja boanpwe percaya, apa mungkin lencana itu adalah lambang khusus milik cianpwe?"
"Bukan, dugaanmu itu keliru besar"
Han siong Kie semakin kebingungan dibuatnya, sesaat kemudian ia baru bertanya lagi:
"Bolehkah boanpwe ketahui apa nama lencana itu?"
"Thian che leng"
"Lencana Thian che? kalau begitu kan lencana ini milik perkumpulan Thian che kau?"
"Dugaanmu tepat sekali, lencana itu memang milik perkumpulan Thian che kau"
"Jadi kalau begitu, Tengkorak maut gadungan menjalankan aksinya karena mendapat perintah
dari pihak Thian che kau?"
"Boleh dikatakan begitu"
"Maksud cianpwe ucapan dari boanpwe ini tidak benar semuanya?"
"Nak. untuk saat ini lebih baik engkau tak usah mengetahui tentang persoalan ini, toh akhirnya
engkau akan menjadi paham dengan sendirinya"
Han siong Kie terbungkam untuk beberapa saat lamanya, tiba2 ia jadi teringat kembali dengan
ibunya, siang go cantik ong Cui ing, ia telah disergap oleh ibunya agar Tengkorak maut gadungan
berhasil melarikan diri, kalau ditinjau dari situ dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Tengkorak maut
gadungan adalah orangnya Thian che kau.
sekalipun begitu, kecurigaan yang mencekam dalam benaknya terasa semakin banyak, maka
kembali ujarnya:
"Aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan sangat tinggi dan luar biasa, masa
manusia selihay inipun rela menjalankan perintah dari orang lain??"
"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, dia memang lihay tapi
diatasnya toh masih ada manusia yang jauh lebih lihay??"
"Aku rasa tenaga dalam yang dimiliki Thian che kaucu tidak lebih tinggi beberapa kali lipat dari
pada kepandaian silat Tengkorak maut gadungan"
"Thian che kaucu yang pernah kau temui itu tidak lebih hanya Thian che kaucu gadungan yang
sengaja menyelimuti pandangan orang lain, kaucu yang asli sama sekali tak berada dalam
perkumpulan"
"oooh.. Tapi apa sebabnya orang ini harus menyaru sebagai tengkorak maut gadungan??"
"Kan sudah kukatakan tadi, ia mendapat perintah dari orang lain"
"Mendapat perintah siapa ? Perintah dari Thian che kaucu ?"
"Nak.. pertanyaanmu sudah terlalu banyak"
"cianpwee menganggap bahwa aku tak pantas mengajukan pertanyaan lagi??"
"Tentang soal ini ada beberapa soal diantaranya dewasa ini tak mungkin bisa kamu peroleh
jawabannya "
"Kenapa??"
"Persoalan ini termasuk pula persoalan yang tak bisa kujawab, harap engkau bisa maklum"
Tak kuasa lagi Han Siong Kie menarik napas dingin, tapi dia pantang menyerah dengan begitu
saja, kembali tanyanya:
"Kalau kutinjau dari dandanan orang yang menyaru sebagai Tengkorak maut ini bukan saja
dandanannya sama bahkan ilmu silatnya juga sama bila dibandingkan dengan yang asli maka dia
cuma kalah dalam soal kesempurnaan, bila dugaanku tak keliru semestinya antara yang asli dan
yang paisu tentu mempunyai hubungan yang sangat erat."
"Nak. aku rasa pembicaraan kita sudab cukup sampai disini dahulu, cepatlah kubur jenasah itu,
makin dalam makin baik sehingga jejaknya tidak ketahuan siapapun "
Dengan perasaan apa boleh buat Han siong Kie memandang kearah mana berasal suara dari
orang yang kehilangan sukma, kemudian mengangguk.
Diapun berjongkok dan mulai menegeledah saku Tengkorak maut gadungan, tapi hanya sesaat
kemudian paras mukanya telah berubah hebat, ia berseru tertahan:
"Nak, apa yang sedang kau cari?" terdengar orang ada maksud bertanya:
"Aku sedang mencari lencana ok kui Cu-pay dari perguruanku "
"Percuma, tak usah kau cari lagi sebab lencana itu sudah tidak ada dalam sakunya lagi"
"Sudah tidak berada dalam sakunya lagi??"
"Benar, benda itu sudah dia serahkan kepada orang lain "
"Maksudmu Thian che kaucu??"
orang yang kehilangan sukma tidak menanggapi pertanyaan itu, tapi kembali berseru:
"Cepatlah turun tangan dan kuburlah mayat itu Jangan sampai meninggalkan jejak."
"Tapi lencana itu merupakan barang mustika yang menyangkut mati hidup perguruanku, bila
cianpwee mengetahui jejaknya, tolong beritahulah kepadaku"
"Tentu saja akan kuberitahukan kepadamu tapi bukan sekarang."
Dengan sedih dan murung Han Siong Kie menghela papas panjang, dalam hati ia merasa
penasaran sekali hingga rasa mendongkolnya sukar dikendalikan, tapi ia tak berani
mengumbarnya . .
Sesudah termenung sejenak, akhirnya dia memghimpun hawa murninya kedalam telapak
tangan kanannya, kemudian dengan sekuat tenaga dibabatkan keatas tanah.
"Blaaang.." pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, sebuah liang sedalam beberapa
kakipun segera terbentuk.
Baru saja liang itu terbentuk, suara dari orang yang kehilangan sukma kembali berkumandang
datang .
"Lepaskan jubah dan kain kerudungnya, hancurkan raut wajah orang itu.."
Han siong Kie agak tertegun, tapi tugas itu segera dilaksanakan tanpa membantah.
Ketika sianak muda itu sudah menyelesaikan tugasnya, suara dari orang yang kehilangan
sukma berkumandang lagi:
"Sekarang hancurkan lambang tengkorak yang ada disakunya itu, kemudian kuburlah bersama
jubahnya diliang yang lain pendam jenasahnya kedalam liang itu, sesudah di uruk dengan tanah,
gusakan ranting pohon untuk menghilangkan jejak yang ada di permukaan tanah."
Han siong Kie sama sekali tidak tahu permainan setan apakab yang sedang dilakukan Orang
yang kehilangan sukma, dlapun tahu kalau banyak bertanya tak ada gunanya maka tanpa
mengucapkan sepatah katapun semua pekerjaan itu dilaksanakan tanpa membantah.
Dalam hati kecilnya dia hanya berpikir terus, darimana asalnya orang yang bernama orang yang
kehilangan sukma ini, ia juga tak tahu mengapa mereka berbuat begitu misterius, mengapa
berulang kali mereka memberi bantuan kepadanya. Ketika semua pekerjaan telah selesai, maka
pemuda itu bertanya lagi:
" Cianpwe, apabila aku ingin tahu darimakah cianpwe mendapatkan benda yang paling
berkuasa dari perkumpulan Thian che kau ini.."
"Ada apa?" tukas orang yang kehilangan sukma.
"Apakah cianpwe tidak bersedia untuk memberikan jawabannya?"
"Tepat sekali tebakanmu itu, untuk sementara satu pertanyaan itu tak bisa kujawab, anggaplah
pertanyaan tersebut belum tiba saatnya bagiku untuk memberitahukan kepadamu. 0oh iya, nak.
bukankah aku suruh engkau berkunjung ke benteng maut? Mengapa engkau tidak pergi ke sana?"
Mendengar pertanyaan itu, kontan saja Han siong Kie merasakan darah panas dalam dadanya
bergelora, api dendam dan benci berkecamuk dalam benaknya membuat hawa napsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya
Tanpa sadar ia teringat kembali akan diri Tonghong-Hui, setelah masuk kedalam benteng maut,
gadis itu tak pernah muncul kembali, menurut perjanjian hal ini menandakan bahwa ayahnya
adalah pembUnuh yang telah membantai keluarganya dimasa silam. Dan tentu saja dia harus
membalas dendam atas terjadinya peristiwa ngeri itu.
Pelbagai ingatan kembali berkecamuk dalam benaknya, dengan sedih bercampur pilu dia
menyahut:
"Cianpwe, aku pasti akan berkunjung kesitu, boanpwe percaya masa bagiku untuk berkunjung
kebenteng maut sebentar lagi pasti akan tiba"
"Kesempatan ? Apa maksudmu?"
"Terus terang kukatakan cianpwe, sebelum berkunjung kesitu boanpwe hendak mempelajari
dahulu sejenis ilmu silat yang maha sakti.."
"Maksudmu, bila ilmu silat yang kau latih itu berhasil kau kuasahi maka engkau akan
berkunjung ke benteng maut untuk melakukan pembalasan dendam..?"
"begitulah maksud boanpwe"
"Nak, dikala aku tak dapat memberitahukan segala sesuatunya kepadamu, aku tak mampu
mencegah engkau berbuat sesuka hatimu, tapi aku ada satu permintaan dan aku harap engkau
tidak sampai membuatku jadi kecewa."
"Ucapan cianpwe terlalu serius, apa yang hendak disampaikan? Katakanlah terus terang" "
"Apabila engkau berkunjung lagi ke benteng maut dan sebelum melakukan pembalasan
dendam, aku minta sampailah dahulu asal usulmu dan ceritakan pula kisah terjadinya
pembantaian berdarah itu dan dimanakah peristiwa tersebut telah terjadi"
"sekalipun cianpwe tidak berpesan begitu boanpwe akan melakukan juga kesemuanya itu"
"Apakah engkau menyanggupi permintaanku untuk melakukannya walaupun berada dalam
keadaan apapun?"
"Boanpwe bersedia"
Meskipun dimulut Han siong Kie lelah menyanggupi, namun hatinya merasa tercengang dan
keheranan sebelum membalas dendam tentu saja dia akan menceritakan dulu sebab musabab
terjadinya peristiwa berdarah itu, tapi mengapa orang yang kehilangan sukma berpesan secara
serius kepadanya? Apa maksud dan tujuannya?
sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi dengan nada
yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Nak. bukankah engkau merasa curiga dan tak habis mengerti? Bukannya aku sengaja berbuat
sok misterius pada hakekatnya terlalu banyak masalah yang tak boleh diungkapkan terlalu cepat,
sebab kalau tidak maka akan mengakibatkan terjadinya peristiwa yang lebih fatal, aku minta
engkau bersabar diri dan menunggu sampai tanggal mainnya?"
"Aku mengerti" sahut Han siong Kie.
-00d0w00-
BAB 55
SESUDAH berhenti sebentar orang yang kehilangan sukma kembali berkata:
"Demi engkau mau tak mau aku harus musnahkan Tengkorak maut gadungan dari muka bumi,
tapi tahukah engkau akibat dari kematiannya itu maka akan timbul pelbagai kejadian yang sukar
diramalkan mulai sekarang. Tahukah engkau didalam perkumpulan Thian che kau masih terdapat
belasan orang jago yang memiliki ilmu silat setaraf dengan kepandaian Tengkorak maut
gadungan."
Diam2 Han siong Kie menjulurkan lidahnya dengan setengah percaya setengah tidak ia berseru:
"sudah beberapa kali boanpwee menyatroni, markas besar perkumpulan Thian che kau akan
tetapi selama ini?"
"belum pernah...".
"Benar, desa ini dalam markas besar perkumpulan Thian che kau memang tidak terdapat jago2
lihay yang terlalu istimewa, tapi tahukah engkau bahwa jago2nya sama sekali tidak berada disitu?
secara beruntun mereka akan munculkan diri didalam dunia persilatan, mungkin juga dunia
persilatan sudah menghadapi saat2 kiamat, tak lama lagi perkumpulan Thian che kau akan
menumpas musuh2nya dan merajai kolong langit..."
"Nak. tugasmu sekarang terlampau berat, aku harap engkau bisa baik2 menjaga diri. Ingatlah
Engkau harus bersabar menghadapi segala persoalan apapun"
Betapapun kukuhnya Han siong Kie, ia merasa terharu juga setelah mendengar perkataan itu,
sepasang matanya jadi merah dan hampir saja air matanya jatuh bercucuran, dengan
bersungguh2 katanya:
"Nasehat dari cianpwe akan boanpwe ingat selalu didalam hati"
"Nak, sekarang engkau boleh berlalu dari sini"
sebenarnya dalam hati kccilnya Han siong Kie masih ada banyak persoalan yang hendak
ditanyakan, akan tetapi pada saat itu dia merasa tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
maka sesudah termenung sebentar akhirnya ia berkata: "Kalau memang begitu, boanpwe mohon
diri lebih dahulu"
"Engkau tak usah melalui jalan raya lagi, diantara lima orang tianglo yang setia kepadamu ada
dua sudah tewas dan tiga orang terluka parah, kini yang tewas sudah dikubur sedang yang luka
sudah pergi, lewatilah hutan sebelah depan sana, lebih cepat berlalu dari sini lebih baik"
Han siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, akan tetapi terhadap orang
yang kehilangan sukma dan putrinya, ia menaruh rasa percaya seratus persen, maka tanpa
membantah lagi sianak muda itu segera berputar kesamping kanan dan siap berlalu dari situ..
"Tunggu sebentar" tiba2 orang yang kehilangan sukma berseru kembali.
" Cianpwe, apakah masih ada persoalan lain yang hendak cianpwe sampaikan kepadaku" tanya
sianak muda itu sambil menghentikan langkah kakinya dan berpaling.
"Hampir saja aku telah melupakan suatu persoalan yang amat penting sekali."
"Ucapkanlah cianpwee, boanpwee akan mendengarkan dengan seksama"
"Apakah engkau sudah mengetahui asal usul Yu sau Kun, ketua muda perkumpulan Thian che
kau yang sebetulnya??"
satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, dia segera bertanya: "Masa dia
benar2 adalah keturunan dari susiokku Telapak naga beracun Thio Lin??"
"Tepat sekali tebakanmu itu, dia memang keturunan dari paman gurumu yang sudah tiada"
"Taa... tapi hal ini mana mungkin bisa terjadi??"
"Kenapa tak mungkin terjadi??"
"Bukankah dia sudah mewakili diriku mati didalam perkampungan keluarga Han?"
"Apakah engkau sudah menemukan jenasahnya??"
"Tentang soal ini.." Untuk sesaat Han siong Kie jadi gelagapan dengan sendirinya, "mendiang
susiokku, Telapak naga beracun Thio Lin yang memberitahukan persoalan ini kepadaku"
"Dia toh cuma tahu kejadian itu sebelum berlangsungnya peristiwa itu, ketika peristiwa
berdarah berlangsung, ia sama sekali tidak hadir dalam gelanggang"
Mendengar perkataan itu, Han siong Kie segera merasakan tubuhnya gemetar keras bagaikan
kena aliran listrik bertegangan tinggi, ia sama sekali tak menyangka kalau asal usulnya serta
peristiwa berdarah yang menimpa keluarganya dapat diketahui oleh orang yang kehilangan sukma
sejelas itu, lalu.. siapa kah sebenarnya orang itu"
Kalau memang orang yang kehilangan sukma telah mengetahui semua kejadian itu bagaikan
memandang jari tangan sendiri, kenapa ia tidak secara langsung membeberkan rahasia ini
kepadanya, tapi malahan suruh dia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya,
apakah maksud yang di kandung orang itu dibalik kesemuanya ini ?
Atau mungkin pemilik benteng maut bukan pembunuh keluarganya dan dibalik semua peristiwa
ini masih ada persoalan lain? "
Kalau memang Tengkorak maut bukan pembunuh keluarganya, mengapa Tonghong Hui tidak
muncul kembali dari bentengnya sesudah masuk kedalam benteng maut? Bukankah mereka telah
berjanji, apa bila majikan benteng maut adalah pembunuhnya maka gadis itu tak akan muncul
kembali..
Makin berpikir ia merasa makin bingung dan makin dibayangkan pikirannya semakin ruwet..
"Nak tak ada gunanya engkau banyak berpikir" terdengar orang yang kehilangan sukma
berkata lagi, "suatu saat engkau pasti akan mengetahui dengan sendirinya apa yang sudah terjadi,
aku hanya berharap agar engkau mengingat selalu bahwasanya Yu Sau kun sebenarnya adalah
Thio Sau kun, dia adalah sutemu, tapi engkaupun musti ingat bahwa rahasia ini hanya boleh
engkau ketahui didalam hati, jangan sekali2 engkau bocorkan dihadapannya, sebab kalau tidak
maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2. Nah, sekarang pergilah"
Dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti, sekali lagi Han siong Kie memandang
sekejap lencana Thian che leng yang tertempel diatas dahan pohon, akhirnya dia menjejakkan
kakinya dan berlalu dari hutan itu.
Lencana ok kui cu pay yang merupakan simbol kekuasaan rtari perguruannya kini telah
dirampas oleh Tengkorak maut gadungan dan oleh Tengkorak maut benda itu sudah diserahkan
pula ketangan orang lain, yang dimaksudkan orang lain pastilah orang2 dari Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, dalam perkumpulan Thian che kau
terdapat belasan orang jago lihay yang setaraf dengan ilmu silat Tengkorak maut gadungan,
bukankah itu berarti bahwa sukar baginya untuk merampas kembali lencana tersebut??"
Berpikir sampai disitu, ia jadi murung dan sedih.
Apa bila lencana mustika perguruannya tidak berhasil dirampas kembali dari tangan musuh,
bukankah itu berarti bahwa ia telah menjadi seorang manusia yang berdosa??"
Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam lamanya, sampailah sianak muda
itu diluar hutan- diapun meneruskan perjalananya melalui jalan raya yang terbentang lebar.
Tujuannya tetap tidak berubah, dia akan mengunjungi lembah berkabut dimana ia dan
Tonghong Hui pernah lolos dari bahaya maut, dia akan menuju ketempat yang terpencil ini untuk
mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam sarung tangan Hud jiu Poo pit, apa bila ilmu sakti itu
berhasil dipelajari maka dia akan mengunjungi benteng maut dan melakukan pembalasan
dendam.
sepanjang perjalanan pemuda ini tiada hentinya memikirkan rahasia yang berhubungan dengan
Thian che kau.
Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, perkumpulan Thian che kau masih
memiliki belasan jago yang benar2 tangguh, berita ini boleh dibilang sangat mengejutkan siapapun
juga.
Tatkala ia menyatroni wilayah Lian huan tau untuk menolong Go siau bi, beberapa kali ia telah
bertarung melawan Thian che kau, ketika itu ilmu silatnya masih belum mempu melawan
musuhnya, dan ternyata sekarang terbukti bahwa musuh tangguhnya itu hanya seseorang yang
bertugas untuk menyaru sebagai ketua itu, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat
yang dimiliki Thian che kaucu benar2 sukar diukur dengan kata2.
sementara perjalanan masih dilanjutkan, tiba2 dari balik semak belukar ia temukan ada sesosok
tubuh manusia menggeletak disitu, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, ia
berhenti dan menghampiri semak belukar itu.
Ketika diperiksa dengan seksama diketahuilah bahwa orang itu adalah seorang pendekar
pedang yang masih muda dan tampan sekali wajahnya.
Akan tetapi sesudah diperiksa dengan lebih seksama lagi, bergidiklah hatinya Han siong Kie,
ternyata pemuda tampan itu sudah berubah menjadi sesosok mayat.
Jika ditinjau sepintas lalu, orang tak akan menyangka kalau pemuda tampan itu sudah menjadi
mayat, sebab wajahnya begitu segar dan tenang, seakan-akan seseorang yang sedang tertidur
nyenyak.
Han siong Kie merasa keheranan setengah mati, apa sebabnya pendekar muda itu bisa mati
dipinggir jalan tanpa ditemukan sesuatu luka ditubuhnya? Mungkinkah kena serangan jantung?
Disekitar semak belukar itu tidak ditemukan tanda2 bekas pertarungan, dilihat dari wajahnya
jelas pemuda itu bukan mati lantaran sakit ataupUn keracUnan, kejadian ini benar2 mengherankan
sekali..
Maka Han siong Kie menghampiri mayat itu, dengan perasaan ingin tahu diperiksanya sekujur
badan mayat itu, akhirnya sesudah diteliti dengan seksama, ia temukan diatas dada mayat itu
terteralah lima buah bekas jari tangan yang sangat lembut, bentuknya seperti bunga sakura, bila
tidak dia mati dengan seksama, tanda itu pasti tak akan ditemukan.
Han song Kie lebih2 dibuat terperanjat lagi, ditinjau dari bekas kelima buah titik jari itu jelaslah
sudah bahwa disitulah letak sebab musabab kematian dari pemuda itu, sayang pengalaman dan
pengetahuannya terlalu cetek. sehingga ia tak dapat menebak siapakah yang telah melakukan
pembunuhan tersebut.
sesudah ter-mangu2 beberapa saat, akhirnya pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya
kedepan.
Entah berapa li sudah lewat, akhirnya ia temukan dua sosok mayat, sebab kematian mereka
tidak berbeda jauh dengan tanda yang ditemukan pada mayat pertama, dan lagi kedua orang
inipun terhitung pemuda2 tampan yang berusia dua puluh tahunan.
sekarang Han siong Kie baru merasakan betapa seriusnya persoalan itu, pikirnya di hati:
"siapa gerangan yang telah turun tangan sekeji ini?"
Yang aneh ternyata korban2nya adalah pemuda yang masih berusia belasan serta berwajah
tampan.
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya sampailah si anak muda itu didalam sebuah kota kecil.
setelah mencari sebuah rumah makan yang bersih, pemuda itu mencari tempat dan memesan
makanan, dari pembicaraan para tamu yang ada dalam ruangan itu, ia dengar semua orang
sedang dihebohkan oleh pembunuhan dengan tanda bunga bwe.
Han siong Kie tidak memberi komentar apa2, ia cuma mendengarkan sambil bersantap. sayang
tiada sesuatu tanda yang berhasil ditemukan olehnya dari pembicaraan itu.
sementara suasana masih gaduh dan ramai oleh pembicaraan para tamu, mendadak suasana
jadi hening dan sepi, begitu sepinya sehingga terasa aneh sekali. Han song Kie tercengang, dia
segera menengadah..
Kiranya seorang gadis yang amat cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan sedang
berjalan masuk kedalam ruangan itu, dipandang dari bayangan punggungnya, anak muda itu
segera kenali dirinya sebagai cucu perempuan dari Pat lo sianseng, Go siau bi adanya.
Kemunculan Go siau bi yang secara tiba2 ini sangat mencengangkan hati si anak muda itu, dia
hendak menyapa, tapi sebelum sepatah kata sempat meluncur keluar dari mulutnya, ia lihat ada
dua orang pemuda tampan ikut duduk disampingnya, maka niat untuk berbicarapun segera
dibatalkan.
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, ia benar2 dibikin keheranan oleh
kemunculan gadis itu.
sementara dia masih melamun, gelak tertawa yang amat merdu dan penuh dengan daya tarik
berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul gelak tertawa yang lain menggema pula dari
mulut kedua orang pemuda itu.
Han siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, ia makin keheranan lagi, ia tak menyangka Go
siau bi bisa berkumpul dengan pemuda bergajul macam begitu.
Dua orang laki2 seorang wanita muda itu bergurau sambil tertawa tergelak. sikap mereka
bukan saja begitu berani bahkan sama sekali tak ambil pusing kalau disitu masih ada tamu lain,
ternyata tak seorang tamu pun yang berani buka suara untuk menegur.
Han siong Kie memang membenci kaum wanita, tapi Go siau bi pernah melepaskan budi
kebaikan kepadanya. maka ia tak mau mencampuri urusan gadis itu sebelum duduknya persoalan
diketahui dengan jelas.
Mendadak...satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dia teringat kembali akan ketiga sosok
mayat pemuda yang ditemuinya ditepi jalan siang tadi, tak kuasa lagi sekujur badan nya
merinding, jangan-jangan
"siangkong, tambah arak?" terdengar pelayan menegur dengan suara yang lirih. Han siang Kie
melirik sekejap kearah pelayan itu lalu mengangguk.
"Tambah dua canting"
Pelayan segara menuang dua canting arak kedalam teko yang ada dimeja, menggunakan
kesempatan itu cepat Han siong Kie bertanya: "siapakah dua orang pemuda yang berada disana
itu?"
Pelayan itu kelihatan terperanjat, sambil menjulurkan lidahnya ia menyahut dengan lirih:
"Mereka dinamakan Kim kiam siong ing (sepasang pendekar pedang emas) murid partai Go bi,
siangkong Lebih baik jangan banyak bertanya, sebab kedua orang itu adalah sau cengcu dari
perkampungan Go hau san eng, terlalu besar asal usulnya". Berbicara sampai disitu buru2 ia
berlalu dari sana.
Han siong Kie tidak berbicara apa2 lagi, ia tundukkan kepalanya sambil minum arak.
Kurang lebih setengah jam kemudian, Go siau bi dan Kim kiam siang ing baru berlalu dari sana.
Cepat Han siong Kie membayar rekening nya dan ikut keluar dari rumah makan itu, ternyata
bayangan tubuh ketiga orang itu sudah lenyap tak berbekas.
Han siong Kie tertegun, tapi sesudah berpikir sebentar buru2 ia membeli rangsum kering,
kemudian berlari keluar dari kota tersebut.
satu Li baru lewat dari tepi jalan ia temukan dua sosok mayat menggeletak disitu ketika mayat
tersebut diperiksa dengan seksama, siapa lagi mereka kalau bukan Kim kiam siang ing yang belum
lama berselang baru saja tinggalkan rumah makan.
Tubuh mereka tidak terluka ataupun mengucurkan darah, cuma diatas dada masing2 orang
terteralah sebuah cap jari tangan berbentuk bunga sakura.
Betapa terperanjatnya hati Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sekarang ia dapat
membuktikan bahwa pembunuhan2 keji itu kiranya dilakukan oleh Go siau bi, akan tetapi apa
sebabnya ia bantai pemuda2 tampan itu?
Dengan perasaan tak habis mengerti pemuda itu gelengkan kepala berulang kali, akhirnya ia
melanjutkan perjalanannya kembali kedepan.
senja itu, ketika sang surya baru condong kesebelah barat, sampailah pemuda itu disuatu
tempat kurang lebih sepuluh li dari lembab In.wu.kok..
sementara si anak muda kita masih melanjutkan perjalanannya, mendadak dari balik
pepohonan tak jauh darijalan raya terdengar seorang gadis sedang tertawa cekikikan.
suara tertawa itu amat menusuk pendengaran, hal ini segera memancing perhatian sianak
muda itu, tanpa berpikir panjang Han siong Kie segera meluncur kearah depan.
Melalui celah2 pepohonan yang lebat, ia saksikan ada sepasang muda mudi sedang duduk
saling berhadapan, yang laki2 berwajah amat tampan dan berusia tujuh delapan belas tahunan,
sedang yang perempuan tak Iain adalah Go siau Bi.
Pada waktu itu dengan muka yang genit dan kerlingan mata yang menggiurkan Go siau bi
sedang main mata dengan sianak muda itu kemudian terdengar ia bertanya dengan manja:
"cantikkah wajahku ini?"
"Cantik,. cantik sekali, kecantikan wajahmu ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan"
sahut sipemuda itn dengan wajah terkesima.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Aku tak pernah berbohong, setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata2 yang sejujurnya
dan aku rasa nona pasti mengetahui sendiri bukan akan hal itu"
"ooh benarkah begitu? Ehmm. lalu apakah engkau mencintai diriku..??"
"Tentang soal ini.... tentang soal ini...." pemuda itu tampak gelagapan jadinya.
"Eeh, jangan soal ini soal itu, kalau tidak mencintai aku mengapa engkau ikuti diriku sampai
disini??"
"Apa bila nona bersedia menerima perhatianku ini, cay he... cayhe merasa sangat beruntung
sekali hidupku ini"
Go siau bi mengerdipkan sepasang matanya yang jeli kemudian sambil meliuk-liukkan
pinggulnya ia berkata genit:
"Engkau anggap wajahku cantik maka jatuh cinta dalam pandangan yang pertama. sebaliknya
ada orang yang sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap diriku, bahkan tertarikpun
tidak, coba bayangkan saja manusia macam apakah dia itu?"
"Kalau benar2 ada manusia semacam itu, sepantasnya kalau orang itu dikatakan sebagai
seorang laki2 yang punya mata tak berbiji"
"Hiiihh hiiihh hiihhh memang hebat sekali pandanganmu itu" seru Go siau bi sambil tertawa
eekikikan.
Mendadak telapak tangannya maju ke muka, kelima jari tangannya dengan lembut segera
diayunkan kearah dada pemuda itu.
Terbelalak sepasang mata anak muda itu, ia menjerit tertahan: "Nona .."
Kato nona belum habis diucapkan, tubuhnya sudah menjadi lemas dan terkapar di tanah tanpa
mengeluarkan sedikit suara pun pemuda itu sudah menemui ajalnya.
Han siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan benar2 naik darah, untuk mencegah
perbuatannya jelas tak mungkin, seluruh tububnya gemetar keras menahan emosi.
"Sungguh kejam perempuan ini, hatinya lebih kejam dari pada seekor ular beracun.." pikirnya
dihati.
Tanpa sadar pemuda itu terbayang kembali akan ibunya, siang go cantik ong cui ing yang
kejam dan tak kenal ampun.
Mereka sama2 cantiknya, sama2 kejinya, tanpa sadar rasa benci dan muak timbul dalam
benaknya, ia siap melompat keluar dari tempat persembunyiannya..
Paras muka Go siau hi dingin menyayatkan, sebelum sianak muda itu sempat munculkan diri, ia
sudah berpaling dan mendengus dingin.
"Manusia berwajah dingin, sekarang engkau boleh segera munculkan dirimu.."
Betapa terperanjatnya Han siong Kie menghadapi kejadian tersebut, mimpipun ia tak
menyangka kalau tempat persembunyiannya telah diketahui lawan, dari sini dapatlah diketahui
bahwa selama beberapa waktu belakangan ini, ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan,yang
amat pesat.
Dengan muka hijau membesi menahan amarah yang meluap. dia lompat keluar dari tempat
persembunyiannya, kemudian menegur dengan kasar:
"Nona Go, mengapa engkau lakukan pembunuhan sekeji ini?"
Rasa sedih melintas diatas wajah Go siau Bi, tapi sesaat kemudian dengan wajah benci dan
mendendam ia berseru:
"Aku rasa persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik tak usah
kau campurinya"
"Nona, kunasehati dirimu lebih baik jangan bertindak kelewat kejam, karena perbuatan
semacam itu sama sekali tiada manfaatnya bagimu"
"Haaahh..haaahh..haaahh.. mau apa kau hey manusia yang bernama Han siong Kie? Engkau
merasa tidak terima dengan perbuatan yang kulakukan ini?"
"Benar, aku memang mempunyai maksud begitu"
"Lalu apa yang hendak kau lakukan atas diriku ini?"
"Hmm Akan kubunuh engkau untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan" jawab
Han siong Kie dengan hawa napsu membunuh yang amat tebal.
"Huuh, engkau hendak membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil mencibirkan bibirnya dengan
sinis.
"Benar, akan kubunuh dirimu"
" Kalau memang begitu, kenapa tidak segera turun tangan "
"Bila kita bertemu sekali lagi dimasa mendatang,jiwamu pasti akan kucabut."
Go siau bi tertawa tergelak, dengan wajah sinis sekali dia mengejek: "Kenapa tidak kau lakukan
sekarang juga?"
"Memandang diatas wajahmu dimana engkau pernah melepaskan budi kebaikan kepadaku,
kuampuni jiwamu untuk kali ini "
Go siau bi tak dapat menahan diri lagi, ia menengadah dan tertawa tergelak dengan seramnya,
gelak tertawa itu penuh mengandung perasaan sedih, pedih dan perasaan lain yang sukar
dilukiskan dengan kata2, lama sekali ia baru berhenti.
Paras mukanya berubah jadi dingin menyeramkan, hawa napsu membunuh menyelimuti
seluruh wajahnya, dengan suara keras dia membentak:
"Han siong Kie, nonamu justru sedang mencari engkau, mengertikah engkau..?"
"Mencari aku? Mau apa engkau mencari aku ?"
"Aku hendak membunuh dirimu, kalau bukan begitu mengapa kubiarkan engkau mengikuti aku
dari rumah makan sampai kemari haaaah.. haaah.. haaahhh... ketahuilah. aku sengaja memang
mengatur kesemuanya ini agar engkau bisa terpancing kemari"
sekarang Han siong Kie baru tahu bahwa Go siau bi telah mengetahui jejaknya ketika masih
berada dirumah makan tadi, maka dengan ketus segera tegurnya: "Jadi engkau hendak
membunuh aku??"
"Benar, dan sekarang juga pembunuhan ini akan kulaksanakan"
"Kenapa engkau hendak membunuh aku?"
"Karena aku benci padamu"
"Perbuatanku yang manakah yang telah menimbulkan rasa bencimu terhadap aku?"
"Sudah, pokoknya engkau tak usah banyak bicara lagi, ini hari juga nyawamu akan kucabut"
Han siong Kie menyengir sinis.
"Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu?" ejeknya.
"Engkau tidak percaya? Bagus, mari kita buktikan bersama."
Bersamaan dengaa selesainya perkataan itu, tiba2 telapak tangannya diayun kedepan kelima
jarinya dengan disertai desingan angin tajam langsung menyerang kedepan.
Dengan gerakan Cahaya kilat lintasan bayangan Han siong Kie segera berkelit ke samping,
serunya lantang:
"Mengingat budi kebaikanmu dimasa lampau, aku akan mengalah satu jurus untuk...."
"siapa yang suruh engkau mengalah kepadaku?" teriak Go siau bi dengan penasaran.
Telapak tangannya segera diputar balik keatas, selapis cahaya hijau yang tebalpun dengan
cepat membumbung keangkasa dan meluncur kedepan. Betapa tercekatnya perasaan hati Han
siong Kie, tanpa kuasa lagi dia berseru keras: "Aaaah...ilmu pukulan Thian-tok hoa ciang.
Haruslah diketahui, ilmu pukulan Thian tok cang hoat adalah semacam ilmu pukulan darijaman
dahulu kala yang amat dahsyat, apabila pukulan tersebut menyentuh sesuatu benda, maka daya
tahannya makin besar maka daya pentalnya ikut bertambah kuat, jangankan Han siong Kie
malahan Tengkorak maut gadungan yang memiliki ilmu silat lebih lihaypun dibuat tak berdaya oleh
kehebatan pukulan itu
38
Tentu saja Han Siong Kie juga mengetahui akan lihaynya pukulan tersebut, akan tetapi dia tak
sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan seorang gadis muda, maka dari itu dia segera
menghimpun kekuatan yang dimilikinya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut dengan
keras lawan keras.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan sianak muda itu, sebelum
pukulan mereka saling beradu satu sama lainnya, mendadak Go Siau bi menarik kembali
serangannya dan bergeser mundur dua langkah kesamping.
Tampaknya ilmu silat yang dimiliki gadis itu sudah mencapai taraf pengendalian secara
sempurna, menyaksikan kehebatan lawannya Han Siong Kie makin terkesiap, disamping itu diapun
makin keheranan oleh tindak tanduk lawannya yang aneh. Karenanya sambil menarik pulang
serangannya dia lantas menegur: "Eeeeh...kenapa kau tarik kembali serangan mu??"
"Aku kuatir engkau tak sanggnp untuk menerima pukulanku ini."
"Bukankah engkau mengatakan hendak membunuh diriku?" tanya anak muda itu dengan cepat.
Pertanyaan tersebut seketika membuat paras muka Go siau Bi kembali berubah hebat, ia
mendengus dingin, tanpa berbicara lagi ilmu pukulan Thian tok clang hoat sekali lagi dilontarkan
kedepan.
Han Siong Kte menggertak giginya menahan diri, sambil mengerahkan sisa kekuatan yang
dimiliki ia tangkis datangnya serangan tersebut.
"Blaaang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga menggelegar diseluruh angkasa,
diiringi dengusan berat secara beruntun Han siong Kie mundur delapan depa ke belakang, darah
segar sempat meleleh keluar menodai ujung bibirnya.
Tengkorak maut gadungan yang lihaypun jatuh kecundang ditangan gadis ini, apalagi Han
siong Kie yang lebih cetek ilmu silatnya tentu saja dia bukan tandingan sang gadis manis itu.
Put lo sianseng memang lihay dan hebat, terbukti dalam waktu singkat ia berhasil menciptakan
seorang tokoh sakti yang begini hebatnya, bila diceritakan orang lain belum tentu mau
mempercayainya.
Berhasil dengan memukul mundur Han siong Kie, dengan suara gemas dan penuh kebencian
Go siau bi berkata:
"Manusia bermuka dingin, bukan saja wajahmu dingin, darahmu juga sudah membeku, kau
manusia yang tak punya perasaan. Nah, rasain lagi beberapa buah pukulanku" sambil membentak
nyaring, untuk kesekian kalinya dia lancarkan pukulan maut ke depan.
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan peringatan dari orang yang kehilangan sukma, dalam
hati pemuda itu lantas berpekik, "Aku tak boleh mati"
Dengan suatu gerakan yang manis dan lincah ia menghindarkan diri dari serangan maut lawan,
berhasil dengan kelitannya. sebuah jari tangan segera direntangkan lebar dan serentak menyentil
kemuka.
sepasang telapak tangan Go siau Bi bergetar kian hebat, tenaga pukulanpun semakin menebal
membuat hawa hijau hampir menyelimuti seluruh pemukaan tanah.
"criiit. criiing.." ditengah desingan angin tajam ilmu sentilan Tong kim ci yang ampuh dan tak
terkalahkan itu ternyata dapat dihajar sampai buyar oleh kekuatan lawan.
Rasa kaget yang dialami Han siong Kie sukar dilukiskan lagi dengan kata2, mimpipun ia tidak
menyangka kalau ilmu jari Tong kim ci yang paling diandalkan ternyata sama sekali tak mempan
untuk digunakan menghadapi pukulan Thian tok ciang hoat.
Hampir saja tak percaya dengan apa yang terbentang didepan mata, sebab peristiwa ini
memang tak pernah diduga olehnya.
"sambutlah sebuah pukulanku lagi. " bentak dara itu lagi dengan lantang.
Ditengah bentakan nyaring, hawa hijau yang tebal dan menyilaukan mata dengan dahsyatnya
menggulung tubuh lawan.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Han siong Kie, dengan ilmu cahaya kilat
lintasan bayangan tubuhnya mendesak maju kedepan, lalu dengan jurus Mo tiong ko ciat ( raja
iblis menyembah loteng istana) ia hajar Go siau bi dengan mengerahkan segenap tenaga dalam
yang dimilikinya.
Go siau bi tertawa dingin, sekalipun hebat dan luar biasa seranganpemuda itu namun bagi
pandangannya serangan tersebut tak ada artinya, ia berkelebat lewat dari serangan itu dengan
gerakan bagaikan sukma gentayangan, lalu sambil melepaskan lima buah pukulan berantai,
teriaknya keras:
"Manusia bermuka dingin, hari ini kau harus mampus"
Memang dahsyat dan ganas kelima buah serangan itu, angin pukulan segera men-deru2
membikin hati orang jadi keder dan ngeri rasanya..
Terdesak oleh lima buah pukulan berantai yang maha dahsyat itu, Han siong Kie terdesak hebat
dan harus mundur berulang kali ke belakang..
Go siau bi tak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk tukar napas, selesai dengan lima
buah pukulan yang pertama, ia susulkan pula dengan lima buah pukulan berikutnya.
Menghadapi desakan demi desakan yang tiada habisnya, lama kelamaan Han siong Kie jadi
penasaran juga, kali ini dia tidak menghindar ataupun berkelit, dengan sistim adu nyawa dia
sambut kelima buah pukulan itu dengan gerakan keras lawan keras.
Tergetar perasaan Go siau bi setelah menyaksikan kenekadan sianak muda itu, tapi apa mau
dikata pukulan sudah terlanjur dilancarkan , maka sambil gertak gigi ia lepaskan pukulan mautnya.
"Blang Blang " dua kali dengusan dingin menggema memecahkan kesunyian, menyusul dua
sosok bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya.
Kedua belah pihak sama2 terlempar kebelakang dengan sempoyongan, keadaan Go siau bi
masih mendingan, sekalipun darah meleleh di ujung bibirnya dan mukanya pucat pias tapi
keadaannya masib agak segar.
Berbeda sekali dengan Han siong Kie, ia harus muntah darah berulang kali, jelas isi perutnya
sudah terluka parah.
Dengan wajah menyeringai seram dan mata saling melotot penuh kegusaran, kedua belah
pihak berdiri berhadapan.
Untuk sesaat suasana dalam gelanggang jadi sepi dan hening, sunyi bukan berarti hawa nafsu
membunuh telah lenyap begitu saja, malahan setiap saat darah segar mungkin akan membasahi
lagi seluruh permukaan tanah.
Diantara lima buah pukulan yang dilancarkan Han siong Kie, ada tiga buah yang bersarang
ditubuh lawan, sebaliknya ia sendiri menerima empat buah pukulan dari musuhnya.
sebagaimana diketahui, pukulan yang dilancarkan Go siau bi mengandung hawa sakti Thian tok
sinkang yang maha dahsyat, tak heran kalau sianak muda itu menderita luka yang jauh lebih
parah daripada anak dara itu.
Mereka pernah saling tolong menolong, pernah hidup sengsara bersama bahkan Go siau bi
pernah menggunakan tubuhnya sebegai tameng untuk menyelamatkan jiwa Han siong Kie dari
ancaman Tengkorak maut gadungan, karena peristiwa itu hampir saja jiwanya melayang.
Ia telah jatuh cinta kepadanya, telah bersumpah didepan pusara ayahnya, kecuali dengan
pemuda ini dia tak akan kawin dengan siapapun juga"
Tapi kenyataannya, yang satu ada hasrat yang lain tak berminat, tumpuan harapan yang
terlintas dalam benaknya selama ini hancur dan musnah dengan begitu saja.
Kini dengan taruhan nyawa mereka saling bertempur, berusaha saling merobohkan musuhnya
dan bila perlu sekalian membinasakannya... Inikah takdir? Inikah yang dinamakan nasib.?
Cinta dapat membuat seseorang jadi sukses tapi dapat pula menghancurkan karier seseorang,
membuat watak seseorang berubah seratus delapan puluh derajat.
Dan kini Go Siau bi telah berubah ....bukan saja perubahan itu tak dipercaya oleh Han siong
Kie, bahkan dara itu sendiri juga tak kenali dirinya sendiri lagi.
Hawa napsu membunuh yang tebal masih menyelimuti seluruh wajah Go siau bi, selangkah ia
maju kedepan mendekati Han siong Kie yang berada dihadapannya.
suasana tercekam oleh ketegangan dan kengerian, sorot mata serta perhatian semua orang
sama-sama ditujukan kearah Go siau bi yang sedang maju kemuka.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Han siong Kte, ia tahu bila dirinya cuma berpeluk
tangan belaka, sehingga dara itu keburu menyerang dulu dengan Thian tok ciang hoatnya yang
lihay, niscaya jiwanya akan terancam bahaya. satu ingatan lantas melintas dalam benaknya:
"Daripada aku menanti datangnya elmaut, kenapa tidak kuserang dulu perempuan sinting itu?"
sambil membentak sepasang telapak tangannya diayun kedepan melancarkan babatan maut.
-00d0w00-
BAB 56
PUKULAN itu dilepaskan dalam keadaaa marah bercampur penasaran, bisa dibayangkan betapa
dahsyat dan luar biasanya pukulan tersebut.
Go siau bi melambung keangkasa, setelah melayang sejauh delapan depa, sekali lagi badannya
melejit kedepan kemudian menerobos masuk dari sisi Han siong Kie dan melayang turun lima depa
disamping pemuda itu.
Baik dalam menghindar maupun sewaktu melancarkan serangan, semua gerakan dilancarkan
dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Melihat ancamannya mengenai sasaran yang kosong, Han siong Kie membuyarkan pukulannya
ditengah jalan, badannya miring kesamping lalu berputar kencang, telapak tangan kiri dan ujung
jari tangan kanan sekali lagi melepaskan serangan maut kedepan.
Kabut hawa berwarna hijau seketika menyelimuti seluruh angkasa, pada saat yang bersamaan
Go siau bi melepaskan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat. Dentuman keras mengiringi
benturan dua kekuatan yang saling berlawanan itu.
Dengan sempoyongan Go siau bi mundur beberpa langkah, sedangkan Han siong Kie
mendengus tertahan dan muntah darah segar, badannya terlempar sejauh satu kaki lebih dari
tempat semula,
Go siau bi menerjang lagi kedepan dan berdiri dibelakang Han siong Kie, telapak tangannya
diayun tepat mengarah jalan darah Thian leng hiat diatas kepalanya, asal pukulan itu dilancarkan
niscaya Han siong Kie akan mampus dengan keadaan mengerikan.
"Heeehhh....heeehhh....heeehhh .. manusia she Han, apa yang hendak kau ucapkan lagi
sebagai kata-kata akhirmu" ejek dara itu dengan ketus.
sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, sambil menggertak gigi jawabnya: "Tak ada katakata
lagi, mau turun tangan hayolah cepat turun tangan."
"sungguh tak ada pesan terakhir"
"Ada Aku hanya ada sepatah kata saja. yakni siapa yang menanam buah pahit dia akan
menerima pula akibatnya."
"Apa kau bilang? Heeehhh..haaahhh. haaahhh.." dara itu bagaikan orang sinting tertawa
nyaring, suaranya keras dan mengerikan membuat siapapun jadi bergidik.
" orang she Han, terus terang kuberitahukan kepadamu" serunya lagi, "aku telah tahu bahwa
peristiwa macam hari ini cepat atau lambat pasti akan terjadi, tapi kau musti ingat, sebelum ajalku
tiba, semua pria tampan yang ada dikolong langit akan kubunuh semua, tak akan kubiarkan
manusia-manusia ganteng bikin keonaran lagi di kolong langit..haaahhh..haaahhh..haaahhh."
Ditengah gelak tertawa yang kalap menyerupai orang sinting, terselip hawa napsu membunuh
yang benar-benar mengerikan.
Gusar nian Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, ia sadar dengan tenaga dalam yang
dimiliki Go siau bi sekarang, apa yang diucapkan bisa jadi benar-benar dilaksanakan, dan jikalau
apa yang di ancam benar-benar dilaksanakan maka suatu badai pembunuhan yang mengerikan
tak terelakkan lagi.
"Go siau bi" serunya kemudian dengan gemas. "sayang aku tak dapat membinasakan engkau
dengan tanganku sendiri"
"Haaahhh ....haaahhh....haaahhh..dan aku... aku gembira sekali, karena hari ini akan kubunuh
engkau dengan tanganku sendiri."
"Hmm Tak usah banyak bicara lagi. kalau ingin turun tangan hayolah cepat turun tangan"
"Kenapa musti buru-buru mati? Bagaimana dengan adik Hui yang pernah berkorban demi cinta
kasihnya kepadamu? Mungkinkah dia akan datang lagi kemari untuk mendirikan batu nisan
untukmu.."
satu ingatan melintas dalam benak Han siong Kie, sekarang ia tahu bahwa Go Siau bi telah
mempunyai niat untuk membinasakan dirinya. .
"Hehhh...heeehhh..heehhh... engkau tak usah merisaukan tentang dirinya, ia telah berangkat
mendahului diriku" ejeknya sambil tertawa dingin.
"Apa? Dia sudah mati?" seru Go siau bi dengan wajah tertegun.
"Hmm Kenapa? Kau merasa kecewa?" ejek sang pemuda. Air muka Go siau bi beberapa kali
berubah hebat, tiba2 hardiknya keras- keras:
"Han siong Kie, inginkah kau mengetahui sebab musabab sehingga aku berniat membinasakan
dirimu??"
"Aku rasa tak perlu"
"Jadi engkau telah paham?"
"Aku tak ingin memahami persoalan itu, kalau ingin membunuh silahkan turun tangan"
"Jadi engkau sama sekali tidak menyesal??"
"Haaah haaah haaaahh Han siong Kie tak kenal arti menyesal"
Telapak tangan Go siau bi mulai gemetar, rasa cinta dan benci amat mendalam hatinya dia
ingin membunuh pemuda ini lantaran dia gagal mendapatkan cinta kasihnya, maka membenci
pemuda itu, malahan membenci pula setiap pemuda tampan yang sebaya dan setanding dengan
anak muda ini.
Tapi..benarkah dara itu tega untuk membunuh kekasih hatinya ? Air mata mulai bercucuran
membasahi seluruh wajahnya.
Lama ..lama sekali suasana tetap hening, dengan tak sabar Han siong Kie menghardik:
"Hey, kenapa engkau tidak turun tangan??" Tiada jawaban tiada gerakan.
Karena tak sabar pemuda itu akhirnya bangkit dan memandang kemuka, tampaklah selembar
wajah yang murung, sedih dan penuh dengan air mata terbentang didepan mata, wajah itu sayu
dan sama sekali tiada bekas hawa napsu membunuh yang sadis.
"Itulah perempuan.... itulah namanya perempuan" pikir Han siong Kie dihati, hanya hati
perempuan yang gampang berubah, hanya sikap perempuan yang mudah jadi sedih.." sindirnya
kemudian dengan suara yang dingin dan tak enak didengar:
"Bukankah kau ingin membunuh aku? Kalau ingin membunuh, hayolah cepat laksanakan, kalau
tidak... maaf kalau aku akan berlalu dari tempat ini."
"Tunggu sebentar" tiba-tiba dara itu membentak
"Ada apa lagi?"
Disekanya air mata yang membasahi pipinya, lalu Go siau bi berseru ketus:
"Aku toh tak pernah mengatakan bahwa aku tak akan membunuh dirimu? Kenapa kau hendak
pergi?"
"Kenapa tidak cepat turun tangan ? Hayo, kalau ingin bunuh aku bunuhlah sekarang juga"
"sebelum kubantai dirimu, terlebih dahulu ada beberapa patah kata hendak kuterangkan lebih
dulu, aku harap engkau dengarkan kata2 ku ini dengan sebaik baiknya."
"Katakanlah cepat"
Perlahan Go siau bi menundukkan kepalanya karena hati yang pedih, selang sesaat kemudian ia
menengadah kembali, tampaknya dara ini telah mengambil keputusan: Katanya dengan penuh
emosi:
"Han siong Kie, masih ingatkah engkau tatkala tubuhmu tercebur kedalam sungai dan aku
berhasil menolong dirimu kemudian selama tiga hari kurawat kau sebaik-baiknya..."
"Toh sudah kukatakan, tiap budi kebaikan yang pernah kuterima, suatu ketika pasti akan
kubalas?" tukas sianak muda itu dengan nada tajam.
" Kedua kalinya, ketika aku dilukai oleh pengawal istana Huan mo kiong, engkau membawa aku
menginap disebuah rumah penginapan...."
"Waktu itu keadaan amat mendesak. tiada tindakan lain bagiku kecuali berbuat begitu"
"Tapi ingatkah kau bahwa antara laki2 dan perempuan ada batas-batasnya? setelah kita
menginap disatu kamar yang sama, bagaimana mungkin aku ..." Berbicara sampai disini tiba-tiba
ia tundukkan kepalanya rendah-rendah..
Karena pandangannya yang sempit, Han siong Ki memang membenci setiap perempuan yang
ada diseantero jagad tapi di dasar hatinya ia sebenarnya ramah dan penuh kasih sayang, diapun
memiliki api asmara dan rasa cinta, hanya perasaan hatinya itu tertekan oleh jalan pikirannya yang
keliru.
sebagai seorang pemuda yang cerdas tentu saja ia dapat menangkap arti dari kata-katanya itu
tapi si anak muda itu tak bisa berbuat banyak sebab pada hakekatnya ia tak mencintai Go siau bi,
yang ada dalam hati kecilnya cuma rasa berterima kasih serta rasa berhutang budi belaka...
Tapi sekarang tanpa disadari jantungnya berdebar keras..
sekarang ia mulai berpikir, mungkinkah dara yang cantik ini jadi kalap lantaran pinangan put lo.
sianseng terhadapnya tempo hari telah ditolak secara mentah2?
Rasa simpatik, kasihan dan iba seketika menyelimuti perasaan hatinya, ia mulai merasa kasihan
atas nasib jelek yang telah menimpa anak dara itu
"Nona, aku merasa amat menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya atas terjadinya
peristiwa itu" ia berkata dengan lembut.
"Hmm Rasa sesal yang mendalam?"
"Dengan hati yang tulus dan ikhlas aku mohon kepada nona sudilah kiranya jangan membunuh
orang lagi mulai saat ini"
"Kalau kutolak permohonanmu itu?" seru sang dara dengan ketus dan muka menyeringai.
suasana yang semula sudah tenang dan damai, kini berubah kembali jadi tegang. Paras muka Han
siong Kie berubah hebat, sahutnya cepat:
"Bila nona menampik permohonanku ..tu, terpaksa aku harus melaksanakan apa yang telah
kukatakan tadi"
"oooh. Jadi engkau akan membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil tertawa sinis.
"Betul bila kau takut peristiwa itu sampai terjadi, silahkan kau bunuh aku lebih dahulu sebab
kalau tidak, andaikata kita sampai bertemu lagi dikemudian hari, kau pasti akan kubunuh".
selapis hawa dingin yang ketus dan menyeramkan mulai menyelimuti raut wajah Go siau bi, ia
mengejek sinis:
"Huuuh.. Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu??"
"Lihat saja nanti hasilnya, apa gunanya banyak bicara yang tak ada gunanya?"
"Han siong Kie, engkau tak bisa membendung niatku ini, akan kubunuh pemuda tampan yang
ada dikolong langit hingga mereka musnah semua dari atas muka bumi.. Hmm Engkau ingin
bunuh aku ? Baiklah ini hari sengaja kau kulepaskan dirimu, akan kulihat bagaimana caramu
membunuh aku, tapi kau musti ingat, bila kita sampai bertemu muka lagi, andaikata engkau tak
dapat membunuh aku, maka akulah yang akan membinasakan dirimu"
Han siong Kie menatap sekejap kearah wajahnya dengan pandangan dingin, mulutnya tetap
membungkam.
Kalau bisa ia hendak membacok dara itu hingga mampus, rasa simpatik dan kasihan yang
muncul dalam hatinya tadi kini tersapu bersih dari lubuk hatinya.
Pemuda itu tak ingin banyak ribut lagi dengan dara tersebut, per-lahan2 dia putar badan dan
berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang kian menjauh, Go siau Bi berdiri termangu-mangu,
beberapa kali dia hendak memanggilnya..tapi setiap kali niatnya itu dibatalkan, ia merasa bagaikan
tersiksa dan terharu, sehingga akhirnya tak kuasa lagi menangislah gadis itu ter-sedu2.
Isak tangis itu sempat terdengar oleh Han siong Kie yang makin menjauh, ia agak tertegun dan
menghentikan langkahnya, tapi sesudah ragu sebentar pemuda itu lanjutkan kembali
perjalanannya kedepan. kali ini ia tidak berpaling lagi.
Dengan penuh rasa mendongkol Go siau Bi mendepak-depakan kakinya keatas tanah, serunya
berulang kali:
"suatu ketika aku pasti akan membunuh kau..tunggu saja tanggal mainnya"
Pada saat itulah, tiba2 dari tempat kejauhan berkumandang suara gonggongan anjing yang
sangat ramai.
Dengan segera Go siau Bi berpaling, begitu mengetahui apa yang tertera didepan matanya ia
jadi tercekat dan mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat.
tampaklah dua ekor anjing sebesar tubuh anak sapi berdiri disisi kiri dan kanannya pada jarak
dua kaki, giginya yang runcing menyeringai seram, matanya memancarkan sinar buas, selama
hidup belum pernah ia jumpai anjing sebuas dan sebesar ini
sementara dia masih termenung sesosok bayangan manusia kembali melayang masuk ke dalam
hutan, orang itu adalah seorang kakek bungkuk yang membawa sebuah pecut rotan yang
panjang.
Dengan sorot matanya yang beringas kakek itu menatap sekejap wajah Go siau bi, lalu
mengawasi pula pada mayat yang terkapar diatas tanah, setelah itu dia menganggak beberapa
kali.
"Hey, apa maksudmu datang kemari?" tegur Go siau bi dengan suara dalam. Kakek bungkuk itu
tertawa seram:
"Heeehhh... heehhh...heeehhhh.... Cantiknya memang cantik, cuma sayang perempuan
secantik ini tak lebih hanyalah kuntilanak yang berhati keji"
"Apa? siapa yang kau maksudkan?" teriak dara ayu itu dengan mata melotot.
"siapa lagi, tentu saja engkau"
Sepasang alis mata Go Siau bi berkenyit, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya, sambil mendengus dingin katanya:
"Hey tua bangka yang tak tahu diri, sebelum nonamu berniat membinasakan engkau, bawalah
anjing2 itu dan segera berlalulah dari tempat ini"
"Heeeh heehh . heeeh kenapa aku musti pergi ? Kedatanganku justru hendak mencari engkau"
"Mencari aku ? Siapa kau dan sebutkan namamu"
"Aku adalah Khoo Tio cu, si bungkuk she Khoo pengurus rumah tangga perkampungan oh bau
san cung, mengerti??"
Mendengar nama itu, satu ingatan terlintas dalam benak Go Slau bi, sekarang ia sudah dapat
menebak apa yang telah tarjadi, dengan wajah yang tetap tenang katanya: "Lantas ada urusan
apa kau cari aku??"
"Kedua orang sau cengcu perkampungan kami telah tewas dipinggir jalan-"
"Kalau aku yang bunuh mau apa kau?" tukas sang dara cepat.
"Bagus sekali, setelah kau memberikan pengakuan urusan makin gampang untuk diselesaikan,
darimana asal perguruanmu?"
"Huuh. Kau belum berhak untuk mengetahuinya."
Sinar mata yang bengis dan buas memancar keluar dari balik mata si bungkuk itu, begitu
bengisnya sinar mata orang itu sehingga hampir tak ada bedanya dengan kebengisan mata kedua
ekor anjingnya, membuat siapapun yang memandangnya jadi bergidik. Ia maju beberapa langkah
kedepan, lalu serunya dengan suara yang menyeramkan:
" Heeeh hh heeeh hh heeeh hh memang sekarang susah untuk memaksa kau untuk berbicara
tapi ingatlah baik-baik, suatu ketika engkau akan mengakuinya sendiri"
"Bungkuk she Khoo, nonamu tak ingin membinasakan dirimu, kalau tahu diri lebih baik
enyahlah dari sini"
"Heehhh heeehhh heeehhh kau suruh aku pergi dari sini? Lucu... benar-benar sangat lucu, kau
malah suruh aku pergi.. tahukah kau bahwa aku si bungkuk she Khoo justru tak ingin melepaskan
engkau dengan begitu saja??"
"Bangsat Jadi engkau benar2 ingin mati?"
"Yang ingin mampus bukan aku, melainkan kau sendiri"
Hawa napsu membunuh mulai menghiasi air mukanya yang putih, ia mendengus gusar telapak
tangannya diayun kedepan dan segulung hawa hijau yang mengerikan segera meluncur kedepan
melancarkan sebuah ancaman maut.
Paras muka sibungkuk she Khoo itu berubah hebat, ia agak tertegun menyaksikan datangnya
ancaman berwarna hijau itu, tampaknya sepanjang hidup, belum pernah dia jumpai ilmu
kepandaian seaneh dan setangguh ini.
"Blang " Ditengah benturan keras yang cukup memekikkan telinga, tubuh si Bungkuk she Khoe
itu mencelat sejauh delapan depa lebih dari kedudukan semula, darah panas bergolak dalam
dadanya, betapa terkesiapnya sukar dilukiskan dengan kata2.
Keistimewaan dari ilmu pukulan Thian tok ciang hoat adalah daya pantulan yang terpancar
keluar bila menyentuh pukulan itu, makin besar seseorang melancarkan serangannya maka
semakin besar pula daya pantulan yang terpancar oleh kepandaian itu.
Masih untung tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Go Siau bi tidak lebih cuma enam bagian
belaka, dan tapi Khoe Tuo cu tak sempat melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga karena
ia dibikin kaget bercampur tertegun, karena itu loloslah dia dari ancaman bahaya maut yang
sebetulnya dapat merenggut selembar jiwanya.
sudah tentu Khoe Tuo cu tidak mengenal kelihayan dari ilmu pukulan itu, betapa penasarannya
orang itu karena peristiwa yang barusan terjadi, dengan sorot mata yang bengis dia menerjang
maju lagi ke depan, sebuah pukulan yang lebih dahsyat bagaikan hembusan angin topan
menerjang ke dada lawan.
"Bangsat, rupanya engkau memang sudah bosan hidup," hardik Go siau bi denganpenuh
kegusaran-
Dengan ilmu pukulan Thian tok ciang hoat yang telah dikerahkan mencapai delapan bagian ia
sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
"Blamm" suatu benturan dahsyat kembali menggelegar diudara, jerit ngeri yang melengking
mendesis dari mulut Khoe Tuo cu, badannya mencelat sejauh beberapa kaki dan darah segar
muntah keluar dari mulutnya.
"Bluuk" bagaikan sebuah cupu2, tubuhnya menggelinding diatas tanah setelah jatuh mencium
tanah.
Gong gongan anjing berkumandang memecahkan kesunyian, seekor anjing besar yang berada
disamping kanan tiba2 menerjang kearah dara itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Lolongan anjing yang mengerikan berkumandang menyayat kesunyian yang mencekam udara,
anjing besar itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dari tempat semula.. "Duukk" Ketika menumbuk
diatas dahan sebuah pohon besar, mampuslah anjing tersebut seketika itu juga.
Dalam pada itu Khoo Tuo cu telah bangkit dari atas tanah, ia tampak agak tertegun
menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki dara tersebut, kejadian ini sama sekali diluar
dugaannya. sebab kalau bukan seorang tokoh silat yang benar-benar berilmu tinggi tak mungkin
anjing besar itu dapat dibunuh dalam sekali pukulan belaka
Dalam terkejut dan cemasnya, bagaikan titiran angin deras cambuk rotannya diputar
sedemikian rupa mengitari angkasa.
Anjing raksasa yang berada disebelah kiri bagaikan sambaran kilat telah melancarkan tubrukan
pula kedepan.
siau bi terancam bahaya, cepat-cepat telapak tangannya dilontarkan kemuka melepaskan
pukulan maut..
Agaknya anjing besar itu sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki musuhnya sangat lihay,
berada ditengah udara tubuhnya berjumpalitan beberapa kali diudara dan menggelinding kebawah
kaki anak dara itu, moncongnya langsung menyambar kedepan dan menggigit kakinya.
semua gerakan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tak kalah cepatnya dengan seorang
jago lihay.
Bergetar keras perasaan hati Go siau bi menghadapi ancaman itu, cepat ia melejit dan
melambung keudara, dari situ telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat kebawah.
Gagal dengan gigitannya, anjing besar itu segera meluncur maju satu kaki lebih ke depan-
Tatkala Go Siau bi melayang turun kembali keatas tanah, secepat kilat sambaran anjing itu
menerkam lagi kedepan.
Kali ini tak sempat bagi Go siau bi untuk berkelit, telapak tangannya langsung dibacokkan
keatas batok kepala anjing itu..
"Guukk..guuukk.. lolongan panjang kembali menderai diudara, batok kepala anjing itu terbacok
sampai hancur jadi dua bagian, kepalanya hancur dan darah serta isi benaknya tersebar dimanamana,
anjing itu mampus seketika itu juga.. Tapi cakar anjing sebelah depannya sempat pula
mencakar paha Go Siau bi..
Rasa gatal-gatal dan kaku yang aneh segera menyerang pahanya dan perlahan-lahan bergerak
naik keatas.
Rasa kaget dan terkesiap yang menyelimuti hatinya sekarang susah dilukiskan dengan kata2, ia
tahu itulah tanda2 keracunan atau dengan perkataan lain cakar anjing itu mengandung racun yang
sangat jahat.
Dengan cepat semua jalan darah penting di tubuhnya ditutup semua, setelah menghadang
peredaran racun yang merambat lebih jauh kearah lain, dengan sorot mata yang bengis
menyeramkan, ia menerjang kearah Khoo Tuo cu habis2an.
"Blaaang" kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi
angkasa, dengan batok kepala hancur berantakan Khoo Tuo co menggeletak dalam keadaan
mengerikan-
"Perempuan rendah, pada hakekatnya engkau memang bukan manusia, hatimu keji dan tak
kenal ampun, akan kuhancurkan tubuhmu hingga lembut seperti abu."
Bersamaan dengan munculnya bentakan keras yang sangat mendadak itu, seorang kakek tua
berjubah hitam yang tinggi besar telah nelayang masuk kedalam gelanggang.
"Suiiit"" siulan lengking menggema diangkasa, menyusul belasan ekor anjing besar bagaikan air
bah, menerjang kearah tubuh Go siau Bi.
Kejut dan gelisah menyelimuti seluruh perasaan anak dara itu, ia merasa sukma serasa
melayang tinggalkan raganya karena ketakutan, gadis itu sadar bahwa ia sudah kena racun keji
dari anjing2 itu, daripada berdiam diri dan mati konyol ditangan lawan jauh lebih baik melarikan
diri tinggalkan tempat itu.
Begitu ingatan tadi melintas dalam benaknya, ia lantas melejit ke udara dan meluncur masuk
kearah hutan-
Apa mau dikata rupanya racun sudah mulai bekerja dalam tubuhnya, sepasang kakinya sudah
tak mau mendengar perintah lagi, baru saja melayang sejauh lima kaki, tubuhnya terjatuh kembali
keatas tanah. sementara kawanan anjing besar itu kembali sudah menerjang tiba dengan
hebatnya.
Antara manusia dan anjing, segera berkobarlah suatu pertarungan yang amat mengerikan-
Anjing- anjing besar itu memang tersohor karena keganasannya, bukan saja sifatnya memang
buas, cakarnya mengadung racun keji dan gerak geriknya cepat bagaikan sambaran kilat, lagipula
tak takut mati, maka setelah mendapat latihan secara khusus kehebatan mereka jauh lebih
mengerikan daripada serangan dari jago-jago silat kelas wahid.
Cemas dan marah bercampur aduk dalam benak Go siau bi, telapak tangannya diayun berulang
kali kemuka, kabut hawa hijau kembali menggulung keempat penjuru dengan dahsyatnya.
Ditengah benturan2 yang memekikan telinga, lolongan panjang berkumandang susul menyusul.
Dalam waktu singkat delapan ekor anjing yang telah binasa ditangan anak dara itu tapi sisanya
tak gentar barang sedikitpun, mereka masih melanjutkan terjangannya dengan kecepatan yang
luar biasa.
Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Go siau bi, rambutnya awut-awutan dan napasnya
tersengal-sengal, ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengatur pernapasan-
Rombongan anjing- anjing besar itu menerjang dan mundur secara beraturan, mereka saling
mengisi kekosongan yang ada dan menyerang dari tiga arah yang berlawanan, yakni arah atas
tengah dan bawah.
Tentu saja Go siau bi tak berani menyambut datangnya ancaman itu secara gegabah, sebab dia
tahu anjing-anjing itu sangat beracun pada kuku-kukunya.
sementara itu kakek berjubah hitam yang berada disamping gelanggang merasa gusar dan
sakit hati, namun ia tak berani menghentikan serangan anjing-anjing itu, sebab ia tahu betapa
sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, ia telah bersiap sedia mengorbankan anjinganjingnya
itu sebagai ganti dari kesuksesan rencananya.
setengah peminum teh kemudian, bangkai anjing telah bergeletak dimana-mana, darah serta
hancuran daging tersebar dimana-mana, keadaannya mengerikan sekali.
Dari sekian banyak anjing besar yang dibawa oleh kakek baju hitam itu, tak seekorpun yang
masih hidup pada saat ini.
Walaupun demikian, keadaan Go Siau bi sendiripun mengenaskan sekali, ia sudah kehabisan
tenaga, kakinya yang keracunan sekarang menjadi bengkak dan satu kali lipat lebih besar daripada
keadaan biasa, rasa sakit menyerang sampai kelubuk hati, sekali pun ia tahu masih ada seorang
musuh yang mengincar dirinya namun ia tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, akhirnya
gadis itu roboh dan jatuh terduduk diatas tanah.
Dengan sinar mata bengis, penuh kebuasan kakek berjubah hitam maju kedepan dengan
langkah lebar.
Go siau bi sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya, diapun menghimpun sisa
kekuatan yang dimilikinya untuk dikumpulkan pada telapak tangan kanannya.. Sambil bergerak
maju kedepan kakek baju hitam itu berkata tiada hentinya:
"Perempuan rendah, engkau telah menipu dan membunuh dua orang putra kesayanganku, ini
hari akan kusuruh kau rasakan pula siksaan yang terkeji dikolong langit, akan kusiksa kau sampai
mampus ....Hmm Sakit hati ini akan kutuntut balas beberapa kali lipat lebih dahsyat tunggulah
tibanya saat seperti itu ...."
Go Siau bi membentak keras, telapak tangan kanannya tiba-tiba diayun kedepan, lima gulung
desiran angin tajam segera meluncur keluar dan mengancam tubuh kakek itu.
Rupanya kakek baju hitam itu memang sengaja memperlambat langkah kakinya berhubung dia
harus bersiap menghadapi tibanya ancaman yang tak terduga dari pihak lawanoleh
sebab itu ketika Go Siau bi mengayunkan telapak tangannya kedepan, secepat kilat ia
berkelit kesamping, tapi toh gerakan itu teriambat setengah langkah, tangan kanannya terasa
sakit sekali hingga merasuk ketulang sumsum, tak kuasa lagi dia mendengus tertahan.
Ilmu jari Bwe hoa cuan sim ci (juri si kura penembus hati ) yang digunakan Go siau bi ini adalah
salah satu ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian toh pit kip. arah yang dituju adalah
dada musuh atau tepatnya persis diatas jantung, andaikata terkena hajaran jantung orang akan
pecah dan binasalah orang itu.
Tapi berhubung kakinya terluka sehingga banyak tenaga dalamnya berkurang maka melesetlah
serangan itu dari sasaran utamanya.
"Blam" pukulan tangan kiri yang dilepaskan kakek berjubab hitam itu dengan telak bersarang
ditubuh Go siau Bi
Ditengah dengusan yang tajam, tubuh dara itu mencelat dan bergelinding diatas tanah,
kesadarannya punah dan dara itu berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak.
Kakek tua baju hitam itu tertawa seram, secara beruntun dia menotok beberapa buah jalan
darah penting ditubuh gadis itu.
Kemudian ketika dilihatnya musuhnya sudah tercakar oleh racun anjingnya, ia ambil keluar
sebuah botol kecil dari porselen putih, diambilnya sedikit bubuk kuning dan dijejalkan kemulut Go
siau Bi, lalu mengambilpula sebagian dan dibubuhkan pada sekitar mulut luka, kemudian baru
berkata dengat nada menyeramkan: "Hmm Hmmm aku tidak akan membiarkan engkau mampus
dengan begitu saja"
Ditatapnya sekejap bangkai2 anjing itu dengan perasaan berat, akhirnya sambil mengempit
tubuh Go siau Bi, dia berlalu dari tempat kejadian-
Tatkala Go siau Bi sadar kembali dari pingsannya, ia menemukan kaki tangannya telah
dibelengu orang, tubuhnya berbaring terlentang dengan menghadap keatas, namun ia tak mampu
bergerak sementara rasa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya.
Ia membuka mata dan memeriksa keadaannya, tapi segera dara itu jadi malu bercampur gusar,
ternyata ia sedang dibelenggu di atas sebuah papan kayu dalam keadaan telanjang bulat, sehelai
benangpun tidak menempel ditubuhnya, sementara kakek baju hitam itu sedang memandang
kearahnya sambil menyeringai seram.
Disamping kakek itu berdirilah sepasang anjing besar yang sedang mencakar2 tanah sambil
memperdengarkan serentetan suara kaing-kaing yang aneh.
Dia ingin buka mulut untuk berbicara, namun tak sepatah katapun yang mampu diucapkan,
sadarlah dara itu bahwa jalan darah bisunya telah ditotok orang.
-00d0w00-
BAB 57-
SECARA lapat2 dara itu mulai menduga apa yang bakal terjadi serta menimpa dirinya.
Ia rela mati dan mengakhiri hidupnya lebih cepat, namun ia tak mampu untuk melakukannya,
beberapa buah jalan darah ditubuhnya tertotok. sekalipun ilmu silatnya sangat tinggi, berada
dalam keadaan seperti ini tiada sesuatu apapun yang bisa dilakukan lagi olehnya.
Tiba2 kakek berbaju hitam itu tertawa seram, suaranya sadis dan mengerikan-
" Heeeh heeeehh heeeehh perempuan rendah, aku adalah Ho Thong thian ketua
perkampungan oh hau san-cung, ingat baik2 namaku ini dan ketahuilah bahwa aku berbuat
demikian demi membalaskan dendam bagi kematian dua orang putraku"
Go Siau Bi ingin bicara namun tak mampu mengucapkan sepatah katapun, apa boleh buat?, Dia
cuma bisa berbaring dengan mata melotot penuh kegusaran. Terdengar Ho Thong thian
melanjutkan kembali kata katanya:
"Perempuan rendah, engkau telah memancing kedua orang putraku dengan kecantikan
wajahmu kemudian membunuhnya secara keji.. heeeh heeeh heeeh sekarang, saat pembalasan
telah tiba, coba pandanglah kedua ekor anjing jantan itu, dia akan menjadi suamimu sebentar lagi,
dari kedua ekor anjing jantan inilah engkau akan mendapatkan kepuasan seks yang paling nikmat,
kau akan di bikin naik kesorga oleh kedua ekor anjing ini haaah haaahh haaaahh manusia digagahi
oleh anjing, itulah acara pertunjukkan yang menarik sekali."
-00d0w00-
BETAPA terkejut dan takutnya Go siau bi sesudah mendengar ancaman itu, ia merasa
sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya, bila sampai peristiwa itu benar-benar terjadi,
inilah siksaan yang terkeji dikolong langit, seorang gadis perawan akan kehilangan kesucian
tubuhnya ditubuh seorang anjing, bahkan sekaligus akan diperkosa oleh dua ekor anjing besar
secara bersamaan, matanya jadi berkunang dan pandangannya jadi gelap akhirnya ia jatuh tak
sadarkan diri saking gusar dan mendongkolnya.
Hoo Thong thian tertawa seram, cepat ia totok jalan darah Thian kia hiat ditubuh dara itu.
sekali lagi Go siau bi sadar kembali dari pingsannya, hancur luluh perasaan hatinya, air mata
jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya yang ayu ....
"Perempuan rendah, dengarkan baik-baik kataku ini" ujar Ho Tong Thian lebib jauh "kecuali
menerima pembalasan ini, tiada cara lain yang bisa kugunakan untuk menghajar dirimu, Nah
setelah engkau menerima kepuasan seks ditubuh kedua ekor anjing jantan ini, maka engkau akan
menjadi santapan yang paling lezat bagi mereka haaah haaahh haaahh itulah pertunjukkan yang
paling surprise, sang istri yang cantik setelah digagahi akan disantap"
Dalam keadaaa seperti ini Go siau bi benar-benar kehabisan akal, mau melarikan diri jelas tak
mungkin, ingin bunuh diri juga tak mampu, tepatnya ia memang harus merasakan siksaan hidup
yang paling keji itu, diperkosa lebih dulu oleh anjing, lalu tubuhnya akan di cabik sebagai penghuni
perutnya.
Air mata dengan derasnya mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya. sekarang ia dapat
merasakan apa artinya pembalasan-.. dia mulai menyesal. "ooooh sungguh cepat pembalasan
yang tiba dan menimpa diriku" keluhnya dihati.
Bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis perawan, dia memiliki serangkaian ilmu silat
yang luar biasa, ia tak takut mati, sebab ia merasa bahwa mati hanya suatu pelepasan belaka,
pelepasan dari segala bentuk siksaan maupun penderitaan, tapi ia tak sudi mengalami siksaan
tersebut sebelum ajalnya, apa lagi siksaan yang begitu kejinya. Bila seseorang bisa putus asa,
kadang kala timbul pelbagai ingatan dalam ingatannya.
Dara itu berharap akan terjadinya suatu kejadian yang diluar dugaan, sehingga ia dapat
terhindar dari siksaan yang paling keji ini, ia rela melakukan apapun untuk membayar
pertolongannya itu, asal siksaan yang tak berperi kemanusiaan ini bisa di hindari
Gelak tertawa dari Ho Thong thian, pemilik perkampungan oh hau san ceng masih
berkumandang tiada hentinya. lengking suara tertawa yang menyerupai binatang itu bagaikan
pisau tajam yang menyayat-nyayat hatinya, membuat hatinya hancur lebur.
Tampaknya dua ekor anjing jantan itupun sudah berpengalaman dalam melaksanakan tugas
itu, dengan sorot mata yang merah membara dan mengerikan, anjing-anjing itu menatap tubuh
Go siau bi yang telanjang tanpa hentinya, sementara bunyi desiran aneh muncul dari mulutnya,
keadaan benar2 mengerikan..
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Go siau bi yang sedang menghadapi
bahaya perkosaan oleh dua ekor anjing..
sementara itu Han siong Kie telah meneruskan perjalanannya dengan langkah yang amat
lambat karena luka parah yang dideritanya akibat pertarungan melawan Go siau bi, ia tak dapat
mengerahkan tenaga sebagai mana mestinya.
39
Setengah jam kemudian, ia baru mencapai sejauh lima li dari tempat semula, lembah In wu kok
yang hendak dituju secara lapat-lapat sudah kelihatan didepan mata.
Walaupun hubungannya deagan Go Siau bi tak dapat dikatakan ada perasaan cinta, namun
perasaan persahabatan tetap ada dan oleh karena itu ia merasa sedih oleh perbuatannya,
mimpipun ia tak menyangka Go Siau bi yang halus, lembut dan berbudi sekarang telah berubah
jadi manusia lain-
Terutama kata2 dari Go Siau bi, tiap kali terbayang kembali ia lantas merasakan jantungnya
berdebar keras.
cinta memang tak dapat dipaksakan, apa lagi hatinya sudah terisi oleh perempuan lain-
Segulung desiran angin dingin berhembus lewat disamping tubuhnya, dengan terkejut Han
Siong Kie berpaling, dia tahu desiran angin itu bukan hembusan angin biasa melainkan kehadiran
seseorang manusia lain-
Pemuda itu merasa kuatir, dalam keadaan terluka parah, tak mungkin baginya melakukan
perlawanan lagi jika yang datang adalah pihak musuh.
Secepat kilat ia berpaling, seorang perempuan berkerudung tahu2 sudah berdiri dihadapannya.
orang itu siapa lagi kalau bukan orang yang ada maksud. Untuk sesaat Han Siong Kie berdiri
tertegun-
"Nona, engkau hendak pergi kemana?" tegurnya.
"Aku datang mencari engkau "
"Mencari aku? Ada urusan apa engkau mencari aku..?" pemuda itu merasa keheranan.
"Nona Go siau bi tertangkap oleh Hoo Thong thian, CengCu dari perkampungan Go hau san
Ceng"
Agak terkejut Han siong Kie mendengar kabar itu, serunya kurang percaya:
"Masa ia tertangkap? Kepandaiannya toh sangat lihay, masakah ilmu dari Hoo Thong thian luar
biasa."
"Ia keracunan lebih dulu oleh anjing raksasa, sehingga akhirnya dia tertangkap"
"oooh.. kiranya begitu"
"Apakah engkau tidak menguatirkan mati hidupnya??" kembali orang yang ada maksud
bertanya.
"Ia telah membunuh Kim kian siang ing (sepasang pendekar pedang emas) putra kesayangan
HHoo Thong thian, sewajarnya kalau sang ayah membalaskan dendam bagi kematian putranya"
"Tapi.. tahukah engkau bahwa Hoo Thong thian adalah seorang manusia durjana yang banyak
melakukan kejahatan? Begitu pula dengan anak-anaknya, mereka sering kali mengacau rakyat,
kematian mereka justru menggirangkan banyak orang"
"Nona" seru Han siong Kie dengan cepat, " apakah engkau mengerti sebab-sebab yang
mendorong ia melakukan pembantaian2 sekalipun Kim Kiam siang ing pantas dibunuh, akan tetapi
bagaimana dengan lainnya?"
orang yang ada maksud tertawa setelah mendengar perkataan itu, ia balik bertanya: "Tahukah
engkau, apa sebabnya ia sampai membunuh orang?"
"Hmm Ia sudah mengidap penyakit gila .... dan otaknya sudah sinting dan tak waras."
"Hmmmm" kali ini orang yang ada maksud mendengus dingin, " apakah ucapan itu muncul dari
lubuk hatimu??"
"Nona, apa maksudmu mengucapkan kata-kata itu?" tanya Han siong Kie tercengang.
"Go siau bi bisa sampai membunuh orang sepantasnya engkau memikul setengah dari
tanggung jawabnya "
" Kenapa..?" tanya sang pemuda dengan air muka berubah hebat.
" Karena engkau, dia telah membunuh orang"
" Karena aku ? Kenapa karena aku dia lantas main membunuh??"
"Manusia bermuka dingin" seru orang yang ada maksud dengan suara tajam " engkau tak usah
pura2 berlagak pilon, masakah engkau masih belum dapat memahami apa sebabnya ia sampai
membunuh orang?"
"Aku benar2 tidak paham"
"ooh, jadi kalau begitu engkau tidak bersedia menolong jiwanya??" Han siong Kie tertawa
dingin-
"Heeeh heeeh heeehh menolong dia ? Aku malahan sudah berkata kepadanya, bila kami
bertemu lagi dilain waktu maka aku akan membinasakan dirinya"
"Dengan dasar alasan apa engkau akan membunuhnya??"
"sebab ia telah membunuh orang dengan semena-mena"
"Ia bisa membunuh orang karena engkau, maka kaupun harus ikut bertanggung jawab atas
terjadinya peristiwa ini "
"Nona, jangan asal main tuduh saja, coba terangkanlah perkataanmu itu dengan lebih jelas lagi
"
"oleh karena engkau telah melukai hatinya, maka dia membunuh setiap pemuda yang
dijumpainya"
"Aku ? Aku telah melukai hatinya?"
"Benar "
"Dalam hal apakah aku telah melukai hatinya??"
"Masakah engkau benar2 akan suruh aku mengatakannya keluar??"
"Tak ada halangannya kalau nona hendak mengatakan"
"Sewaktu engkau dihajar oleh pemilik benteng maut sehingga tercebur kedalam sungai
kemudian jiwamu tertolong olehnya, dimana selama tiga hari engkau total berbaring diatas
pembaringannya . "
"setiap budi yang pernah kuterima tidak pernah kulupakan, suatu ketika pasti akan kubalas "
"Dalam masalah ini, persoalannya bukan manyangkut tentang soal balas budi atau tidak"
"Lalu persoalan ini menyangkut dalam hal apa??"
"Kalau seorang anak dara bersedia merawat seorang pemuda asing didalam kamar tidurnya,
bahkan tanpa canggung-canggung merawatnya, dapatkah engkau rasakan apa sebabnya ia
bersedia melakukan kesemuanya itu"
Han Siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, bukannya ia tak dapat merasakan hal ini,
melainkan ia tak bersedia untut mempertimbangkan soal tersebut. Terdengar orang yang ada
maksud berkata lebih jauh:
"Tahukah engkau bahwa Go siau bi telah bersumpah didepan pusara ayahnya bahwa dia tak
akan menikah dengan orang lain kecuali dengan kau seorang"
"Apa sangkut pautnya dengan diriku? Itu toh urusan pribadinya sendiri??"
Jawaban yang dianggap terlalu ketus ini segera membangkitkan hawa amarah dihati orang
yang ada maksud, serunya lagi:
"Aku mengerti, oleh karena engkau adalah Manusia bermuka dingin maka engkau dapat
mengatakan ucapan yang sadis dan sama sekali tidak berperasaan ini, tentunya engkau tidak lupa
bukan dengan peristiwa dalam rumah penginapan? Engkau telah memeluk tubuhnya bahkan
menginap disatu kamar."
"Aku merrpunyai niat untuk membalas budi pertolongannya, masakah perbuatanku ini keliru??"
"Engkau tidak keliru, tapi bila seseorang dara telah berdempetan dengan seorang pria, malahan
perlu dipeluk. tidur dalam satu kamar selain ia kawin dengan lelaki itu, mungkinkah dia bisa kawin
dengan orang tak lain"
"Aaaah . . Kita toh orang-orang persilatan, Bagi kita orang persilatan rasanya tak perlu
merisaukan soal tetek bengek itu"
"Itu kan pandangan segelintir orang, andaikata Go siau bi memandang berat persoalan ini, lalu
apa yang hendak kau lakukan ?"
Han siong Kie memang merasa seperti dipaksa dan ditekan untuk menerima kenyataan itu, ia
tak bisa berkutik, kecuali meringis rasanya memang ia tak bisa berbuat lain-Terdengar orang yang
ada maksud melanjutkan kembali kata-katanya:
"Aku rasa Go siau bi cukup cantik dan cukup bagus, ia pantas untuk menjadi isterimu, apalagi
kakeknya Put lo sianseng sebagai seorang tokoh persilatan ternyata mengajukan pinangan sendiri
kepadamu, tak kunyana kau malah menampik pinangannya sehingga membuat dara itu tertekan
jiwanya, padahal kau toh tahu bahwa ia mencintai dirimu? Nah, karena pelbagai alasan inilah ia
jadi sinting dan melakukan hal-hal yang diluar dugaan, coba katakanlah apakah engkau tidak
merasa ikut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini??"
"Maksud nona, engkau hendak memaksa ku untuk mencintai dirinya??"
"Masa ia tak pantas untuk menerima cintamu ? Dan engkau sama sekali tidak tergerak hatinya
oleh cinta kasihnya yang telah dilimpahkan padamu??" Han siong Kie membungkam, betul2
membungkam dalam seribu bahasa.
Dahulu ia memang pernah membenci seantero perempuan yang ada dijaga d, tapi sejak
hubungan cintanya dengan Tong hong Hwie, perasaan hatinya mulai terbuka, untuk pertama
kalinya ia benar-benar mencintai seorang dara, dan ia persembahkan rasa cintanya itu padanya.
Terhadap Go siau bi, meskipun tak bisa dikatakan ia memandangnya seperti memandang
perempuan lain, tapi diapun tidak mencintai dirinya.
Tiba-tiba suatu rasa menyesal dan iba tersebut dalam hati kecilnya, ia ikut merasakan
penderitaan serta kesedihan yang dialami anak gadis itu.
Tapi ingatan lain berkecamuk pula dalam benaknya, maka diapun berkata dengan dingin-
"Nona, tentunya engkau masih ingat bukan dengan seseorang yang bernama Tonghong Hui?."
Tampak sekujur tubuh orang yang ada maksud bergetar keras, tapi ia menjawab dengan cepat.
"Tentu saja masih ingat, kenapa??"
"Terus terang kukatakan padamu nona, perasaan dan hatiku telah dibawa pergi olehnya"
"Bukankah ibuku pernah memperingatkan kau, bila hubunganmu dengan Tong Hong Hui
dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu tragedi" Han siong Kie tertawa
sedih.
"Mungkin tragedi telah menjadi kenyataan, tapi aku sama sekali tidak merasa menyesal"
"Sudah menjadi kenyataan? Apa maksud
JILID 28 HAL. 16/17 HILANG
kedua hal ini bisa dijadikan satu, tapi aku berpendapat bahwa cinta yang murni dan cinta yang
sesungguhnya tidak musti dipadukan dalam kehidupan yang nyata"
"Justru persoalannya bukan terletak disini"
"Maksudmu masih ada alasan serta persoalan lain yang bisa mengakibatkan terjadi tragedi
ini??"
"Memang begitulah kenyataannya"
"Kata-kata itu sangat membingungkan hati orang, apakah engkau bersedia untuk menerangkan
lebih jauh?"
"Suatu ketika engkau akan memahami dengan sendirinya, sekarang maafkanlah daku karena
aku tak dapat memberitahukan hal ini untukmu, bukannya aku sengaja berlagak sok rahasia tapi
berbicara sesungguhnya, sekarang juga engkau harus pergi menyelamatkan jiwa nona Go Siau bi,
kalau terlambat aku kuatir telah terjadi hal-hal yang luar biasa"
"Kalau toh nona telah mengetahui bahwa ia sudah tertawan oleh orang-orang dari
perkampungan oh han san ceng, mengapa kau tidak berusaha untuk menolongnya melainkan.."
"Tentu saja aku mempunyai alasan tertentu"
"Dapatkah kuketahui alasan itu?"
"Dalam perkampungan oh han san ceng telah dipelihara anjing-anjing perbatasan yang besar
dan cakarnya beracun, sedangkan engkau memiliki kekuatan anti racun, maka tugas ini tak
mungkin bisa diselesaikan oleh orang lain"
Pada hakekatnya orang yang ada maksud telah mendapat perintah dari ibunya yakni orang
yang kehilangan sukma untuk sengaja mengatur kesemuanya ini, kalau tidak karena rencana
mereka, tentu saja dengan kepandaian yang dimiliki orang yang ada maksud, Go Siau bi telah
tertolong ketika ia terluka tadi.
Sementara itu, Han siong Kie sedang tundukkan kepalanya sambil termenung beberapa saat
lamanya, kemudian sahutnya.
"Maaf nona, aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan itu"
"Jadi engkau tidak bersedia untuk menolong jiwanya ??"
"Aku tak dapat menyelamatkan jiwa sekarang, pembunuh yang pernah membantai ber-puluh2
lembar jiwa manusia yang sebenarnya sama sekali tidak berdosa "
"Di kemudian hari ia tak akan membunuh orang lagi dan aku akan menanggung hal ini bagimu,
bagaimana??"
"Tetapi... "
"Ada apa lagi?? "
"Isi perutku terluka parah, aku kuatir...."
"Aaah Kalau cuma soal itu kan gampang sekali, aku punya obat yang sangat mujarab, dengan
dasar tenaga dalam yang kau miliki, maka setelah meminumnya dalam waktu setengah
perminuman teh, seluruh kesehetananmu dapat pulih kembali seperti sedia kala"
Tidak menanti jawaban dari Han siong Kie lagi, dia ambil keluar sebiji obat sebesar kelengkeng
lalu diangsurkan kedepan-
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Han siong Kie harus menerimanya, dia berkata:
"Baiklah, memandang diatas wajah kalian ibu dan anak. aku bersedia menolong jiwanya"
Habis berkata dia masukkan obat itu ke dalam mulut, kemudian duduk bersila ditepi pohon
untuk mengatur pernapasan
Kemujaraban obat itu memang luar biasa sekali, pada hakekatnya sama sekali tidak berbeda
dengan keampuhan Kui goan kim wan dari Kun si Mo ong.
Kurang lebih setengah perminuman teh kemudian, dalam keadaan segar bugar Han siong Kie
telah melompat bangun kembali dari atas tanah.
Setelah orang yang ada maksud menunjukkan dari perkampungan oh hausan ceng, ia berpesan
pula.
"Menolong orang bagaikan menolong kebakaran, sekarang juga engkau boleh segera
berangkat. Mungkin saja kita akan bertemu kembali dilain waktu" Dengan tubuh yang enteng dia
lantas berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang berlalu, Han siong Ki cuma bisa menggeleng sambil
menghela napas panjang, akhirnya iapun berangkat menuju ke perkampungan oh hau san ceng.
Perkampungan oh hausan ceng merupakan sebuah bangunan perkampungan yang
JILID 28 HAL. 22/23 HILANG
Habis berkata, ia menutup kembali pintu ruangan dan berjalan menuju keruang tamu.
Meskipun jalan darah Go siau bi sudah tertotok. namun pendengarannya masih berjalan
normal, betapa gembira hatinya setelah mendengar kabar bahwa Manusia berwajah dingin telah
tiba diperkampungan itu.
Timbul kembali harapannya untuk melanjutkan hidup.
"Mungkinkah ia datang kemari untuk menolong aku? begitulah dia mulai berpikir, tapi
mungkinkah ia sudi menyelamatkan jiwaku? Bukankah ia telah membenci aku dan ingin
membunuh aku??"
Apalagi setelah teringat bahwa ia berada dalam keadaan telanjang bulat, dimana hampir semua
bagian rahasia tubuhnya tertera nyata, ia merasa malunya bukan kepalang, kalau bisa dia ingin
mati saja sehingga tak perlu menanggung rasa malu.
Dalam pada itu Ho Thong thian telah muncul diruang depan, ia saksikan seorang pemuda
tampan yang berwajah dingin sedang berdiri sambil bergendong tangan ditengah ruangan-ketika
sepasang mata mereka membentur satu sama lainnya, tanpa sadar seluruh tubuhnya bergidik, Ia
merasa sorot mata orang itu tajam sekali, membuat siapa pun jadi bergidik rasanya.
Tapi dia berusaha untuk menekan perasaan hatinya, sambil tertawa terbahak-bahak ia menjura
lalu berkata:
"Apakah sauhiap adalah Manusia bermuka dingin yang namanya telah menggetarkan seluruh
dunia persilatan??"
"Betul, itulah aku orangnya"
"Silahkan duduk dan minum teh "
"Tak usah, apakah engkau yang bernama Ho Cungcu??"
"Benar, boleh aku tahu apa maksud kedatangan sauhiap ke perkampungan kami ini??" Dengan
dahi berkerut Han siong Kie berkata:
"Seorang sahabatku yang bernama Go siau bi, apa bener berada dalam perkampungan ini??"
setajam sembilu sorot matanya menatap wajah orang itu, ia menanti jawaban orang itu dengan
tenang.
Terkesiap Ho Thong thian mendengar pertanyaan itu, sekarang dia baru tahu bahwa
kedatangan manusia berwajah dingin adalah disebabkan karena perempuan rendah itu, mau
membohong jelas tak mungkin, hanya untungnya ia telah mengadakan persiapan.
Maka dengan wajah berubah hebat sahutnya:
"Betul, dia memang berada didalam perkampungan ini"
"Adapun kedatanganku kemari adalah hendak mengajak cungcu untuk merundingkan persoalan
ini, apakah engkau bersedia untuk melepaskan nona itu??"
"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memenuhinya, sebab ia telah membinasakan dua
orang putraku"
"Tapi kejadian ini toh berawal dari sikap putramu yang terpikat oleh kecantikannya, dalam soal
ini nona itu tak dapat kau salahkan "
"Haaah haaah haaahh pada hakekatnya justru dialah yang telah memikat putraku dengan
kecantikan wajahnya, ditinjau dari sikapmu yang begitu paham dengan duduknya persoalan ini,
aku rasa engkau tentu mempunyai, hubungan yang luar biasa dengan Go siau bi. Nah sauhiap
berbicaralah menurut liangsimmu, berilah keadilan serta kebijaksanaan kepadaku, pantaskah aku
melakukan pembalasan dendam?"
Untuk sesaat Han siong Kie terbungkam dan tak mampu menjawab pertanyaan itu, sebab katakata
itu memang masuk diakal dan benar. Lama sekali, akhirnya ia baru berkata. "Apa yang
hendak kau lakukan atas diri nya?"
"Hutang darah harus dibayar dengan darah, hutang nyawa bayar nyawa.."
"Apakah engkau tidak merasa bahwa tindakanmu ini kelewat batas??"
"Siapa membunuh manusia diapun harus membayar dengan nyawa sendiri, masa tindakan
semacam ini kelewat batas?"
"Tapi pada hakekatnya toh putramu yang terpikat dulu oleh kecantikan nona Go dan
membuntutinya terus menerus, tindakan ini sudah pantas untuk diberi hukuman mati"
"sauhiap. apa yang kau ucapkan itu berdasarkan pengamatanmu sendiri ataukah karena
mendengar dari mulut orang?"
"Tentu saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri"
"Jadi maksud sau hiap. engkau melarang aku untuk melakukan pembalasan dendam??"
"Bukannya begitu, aku ingin tahu dengan cara apakah engkau berhasil menangkap nona Go
siau bi??"
"Tentu saja mengandalkan kepandaian silatku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie segera tertawa terbahak-bahak nyaring sekali
suaranya.
"Haaah haaah haaaah Ho too cungcu, bukannya kupandang enteng dirimu, pada hakekatnya
kalau engkau ingin menundukkan dia dengan andalkan cara yang bersih dan jujur, maka
kepandaian silatmu masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan dirinya ?"
"oooh.. Maksud sau hiap. aku telah menggunakan cara yang licik dan tidak jujur untuk
menundukkan nona itu??"
"Begitulah maksudku, aku tidak melarang cungcu untuk membalaskan dendam bagi kematian
putramu, tapi aku harap lakukanlah duel tersebut secara jujur dan terbuka, sebab masalah ini tak
bisa diselesaikan dengan berat sebelah"
Tiba-tiba sekulum senyum licik yang sadis dan mengerikan melintas diatas wajah Ho Thong
thian, ia menjura dan berkata.
" Kalau memang begitu, bagaimana kalau sau hiap duduk dulu sambil minum teh? Aku akan
menggusur nona Go siau bi datang kemari kemudian menyelesaikan masalah ini secara adil di
depan sauhiap? Tentunya sauhiap bersedia bukan??"
oooodwoooo
BAB 58
MESKIPUN dalam hati kecilnya Han siong Kie menaruh curiga karena perubahan sikapnya yang
sangat mendadak itu, namun dia lantas berpikir didalam hati.
"Dengan andalkan kepandaian silatmu, bila engkau berani main gila dengan aku, itu berarti
engkau mencari penyakit buat diri sendiri." Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangguk.
"Baiklah, lakukan semuanya itu"
"Kalau memang begitu harap sauhiap tunggu sebentar disini"
Baru beberapa langkah Ho Thong thian berlalu, tiba-tiba pemuda itu berseru kembali.
"Eeeh.. tunggu sebentar"
"Apa yang hendak sauhiap katakan lagi??"
Dengan sorot mata yang bengis dan mengandung hawa napsu membunuh, Han siong Ki
berkata dengan sadis:
"Ho cungcu, sebelum semuanya terjadi aku hendak berkata lebih dahulu kepadamu, aku harap
janganlah engkau bermain gila dengan aku, kalau tidak . . . Hmmm Terus terang kukatakan
kepadamu, akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, dan apa yang sudah kukatakan dapat
pula kubuktikan."
Mula-mula Ho Thong thian agak tertegun, tapi dia lantas tertawa seram sambil menyahut.
"Aaaah ... sau hiap terlalu banyat curiga, masa aku adalah manusia yang lain diluar lain dihati?"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berseru keluar ruangan:
"Go Tiong hidangkan air teh dan siapkan meja perjamuan untuk tamu kita ini "
"Tak usah banyak adat, selesai urusan disini aku segera akan berlalu, tak berani banyak
mengganggu kau lagi"
Ho Thong thian tidak menanggapi ucapan itu, dia mengangguk dan berkata: "Aku akan segera
pergi mengambil nona Go siau bi seraya berkata dia lantas berjalan keluar dari ruangan itu
Tiba2 kecurigaan yang timbul dalam hati kecil Han siong Kie semakin menebal, kalau toh Go
siau bi sudah tertangkap. kenapa ia musti tunggu disitu dan anehnya kenapa tak ada orang yang
bergerak ditempat ini ?"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba2 terdengar suara gemuruh yang
amat keras berkumandang dari ruangan itu, menyusul mana seluruh ruangan tersebut mulai
berputar kencang.
Menghadapi kenyataan tersebut, pemuda itu baru menyadari bahwa ia sudah terjebak oleh
siasat licik musuhnya, dia berpekik di hati:
"Aduuh celaka, aku sudah tertipu oleh anjing tua itu"
Tanpa berpikir panjang lagi dia segera melejit dan meluncur keluar kearah pintu ruangan-
Tapi dalam sekejap mata itulah seluruh pintu ruangan telah tertutup rapat, dan suasana dalam
ruangan itupun berubah jadi gelap gulita sehingga kelima jari tangan sendiripun sukar terlihat.
Han siong Kie berdiri tertegun, saking gemas dan mendongkolnya dia sampai menggigit
bibirnya kencang2, mimpipun ia tak mengira karena bertindak gegabah sehingga mengakibatkan
dia terjebak oleh tipu muslihat lawan-
"criing. criing.. tiba-tiba ruangan itu tenggelam kedasar bumi, ketika Han siong Kie mengamati
dengan seksama, ternyata ia sudah terkurung dibawah sebuah penjara dalam tanah yang kuat
dan empat penjuru merupakan dinding tebal yang tak tembus hawa.
sekarang anak muda itu baru menyesal apa sebabnya tidak bertindak hati-hati setelah masuk
kedalam perkampungan, karena musti menuruti peraturan dunia persilatan, akhirnya dia harus
terjebak oleh perangkap lawan-
Dari alat jebakan yang rupanya sudah dipasang disetiap bagian ruangan dalam perkampungan
oh han san cung, dapat pula di tarik kesimpulan bahwa perkampungan ini bukanlah suatu
perkampungan baik dan pemiliknya tentu saja sebagaimana yang dikatakan orang yang ada
maksud, benar-benar merupakan manusia bejad yang licik dan banyak akal muslihatnya.
sekarang nasi sudah menjadi bubur dan menyesalpun tak ada gunanya, untuk sesaat lamanya
pemuda itu cuma bisa berdiri menjublek dengan perasaan bingung.
"Kraaakl.krassakkk.. tiba-tiba dari atas dinding muncul sebuah pintu kecil, dibalik pintu tersebut
merupakan sebuah lorong yang amat panjang.
Rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dada Han siong Kie sudah tak tertahan lagi,
dia himpun hawa murninya ke dalam telapak tangannya. ia sudah bersiap sedia bila ada musuh
yang munculkan diri maka dia akan menyeret dan membinasakan musuhnya secara keji.
Tapi apa yang terjadi? Meskipun sudah ditunggu dengan lama, namun tiada sesuatu gerakan
apapun yang muncul dihadapannya.
Sesudah ragu sejenak, akhirnya pemuda itu melangkah keluar dari pintu kecil itu dan masuk
kedalam lorong yang terbentang didepan matanya itu.
Kurang lebih tiga puluh kaki dihadapan nya muncul sebuah anak tangga batu yang menjulang
ke atas.
Yang aneh ternyata disekitar tampat itu sama sekali tidak nampak sesosok
JILID 28 HAL35/36 HILANG
Memang mengerikan sekali anjing-anjing itu, sekilas pandangan orang akan mengira anjing itu
sebagai mahluk sebangsa macan kumbang.
Ditinjau dari bentuk bangunan rumah gelap itu, anak muda itu menduga bahwa dia telah
berada diatas permukaan tanah.
"criiiing ..." sementara anak muda itu masih melamun- tiba-tiba terdengar dentingan nyaring
menggema memecahkan kesunyian, seketika ia berpaling, maka tampaklah pintu kecil dimana ia
muncul tadi tahu-tahu sudah tertutup rapat.
Agak lama pemuda itu termenung, kemudian ia bergerak menuju kepintu ruangan dan
merabanya dengan tangan-
Pintu itu terbuat dari besi baja yang sangat kuat, ketika didorong kebelakang ternyata
menimbulkan suara pantulan yang berat, ini membuktikan bahwa pintu itu terbuat dari baja yang
tebalnya mencapai satu depa lebih, besi seberat itu tak mungkin bisa didorong olehnya dengan
kepandaian yang dimilikinya saat ini. Tiba-tiba dari atas dinding besi itu muncul sebuah lubang
bulat sebesar
JILID 28 HAL. 38/39 HILANG
mata, apa gunanya mengucapkan kata-kata yang tekebur semacam itu??"
"Baiklah, kalau engkau tidak percaya, nantikanlah saat pembalasanku itu"
"Tak usah ditunggu lagi, sekarang juga akan kupertunjukkan suatu adegan yang hidup dan
segar dihadapanmu, coba lihatlah, budak rendah yang kau cintai itu sekarang dia harus membayar
semua akibat dari perbuatannya, sebelum engkaupun dicium oleh anjing2ku, dekatkanlah matamu
dengan lubang ini dan intiplah apa yang ada disini."
Dengan penuh kegusaran Han siong Kie mendekati lubang pengintip itu dan melongok
kedalam.
Tapi apa yang kemudian terlihat olehnya membuat air muka anak muda itu berobah jadi merah
padam bagaikan darah, jantungnya berdebar keras dan kemarahannya semakin memuncak.
sebuah tubuh gadis yang telanjang bulat dengan semua bagian rahasianya tertera nyata,
terikat disebuah palang kayu yang besar, sepasang paha dara itu terbentang lebar sekali dan
tangannya sudah dipentangkan lebar, hal ini membuat setiap organ tubuhnya dapat dilihat tanpa
aling2.
selama hidup belum pernah dia saksikan gadis telanjang, dan kali ini merupakan kali yang
pertama ia saksikan gadis telanjang didepan mata, saking bedebarnya hampir saja jantungnya
mau copot.
Tetapi setelah ia menegaskan bahwa dara itu tak lain adalah Go sian bi, kegusarannya sukar
terkendalikan lagi, sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar ber-api2, teriaknya
dengan keras:
"Tua bangka anjing, apa yang hendak kau lakukan atas dirinya??" Ho Thong thian tertawa
dingin.
"Heeeh heeh heeh ia telah membunuh anakku dengan mengandalkan kecantikan wajahnya,
maka sekarang akupun akan menggunakan cara yang lebih keji untuk menghukum dirinya. Coba
kau tengok kesamping, sudah kau lihat sepasang anjing jantan itu."
"Haaahh haaahh haaahh sebentar lagi akan berlangsung adegan perkosaan seorang gadis oleh
dua ekor anjing jantan.. belum pernah menyaksikan bukan? Nah, sebentar lagi akan kau saksikan
bagaimana caranya dua ekor anjing memperkosa seorang anak dara.."
saking gusar dan gemetarnya Han siong Kie sambil menggertak giginya keras2, kalau bisa detik
itu juga dia akan mencincang tubuh orang itu sehingga hancur ber-keping- keping, tapi sebuah
dinding baja yang kuat telah menghadang ditempat itu, tak mungkin baginya untuk menerobos
masuk keruangan sebelah.
Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu tragedi yang memilukan hati, kesucian seorang
anak dara ternyata harus direnggut oleh dua ekor anjing jantan..
Go siau bi sendiri meskipun jalan darahnya tertotok. namun telinganya dapat mendengar dan
matanya bisa melihat, meskipun mulutnya tak dapat berbicara, ia mendengar suara dari Han siong
Kie dan perasaan hatinya terasa amat sakit bagaikan disayat-sayat, rasa malu, gusar, benci dan
gelisah bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.
Air mata yang meleleh keluar merupakan campuran darah, seluruh kulit wajahnya berkerut
kencang, membuat wajah gadis itu berubah jadi aneh sekali.
"Bangsat tua, engkau berani bertindak keji?" bentak Han siong Kie dengan penuh kebencian,
dia lancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah dinding baja itu.
"Blang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga membuat seluruh dinding baja itu
bergetar sangat keras.
Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang dilepaskan si anak muda ini di dalam
gusarnya.
Ho Thong thian agak tertegun setelah menyaksikan kedahsyatan hawa pukulan lawan, paras
mukanya ikut berubah hebat, tapi sejenak kemudian dia telah berubah jadi tenang kembali,
ejeknya:
"Bocah keparat sekalipun engkau bisa membongkar jagad, jangan harap bisa merubah nasib
kalian berdua"
"Tua bangka bajingan, kalau engkau berani mengganggu seujung rambutnya, Perkampungan
oh han san ceng kuratakan dengan
JILID 28 HAL. 44/45 HILANG
sementara anjing yang satu sudah berdiri sambil siap memperkosa anak gadis tersebut, anjing
yang lain meraung dan meronta dengan sekuat tenaga, rupanya anjing itupun sudah birahi dan
ingin menuruti jejak rekannya untuk menikmati pula kehangatan tubuh manusia.
situasi betul2 amat kritis dan berbahaya, bila tiada pertolongan yang tiba pada saatnya, niscaya
gadis cantik jelita itu akan di renggut kehormatannya oleh seekor anjing..
Hampir saja anjing itu menggagahi tubuh Go siau bi ketika secara tiba tiba anjing tersebut
mendesis panjang, menyusul tubuhnya mencelat setinggi delapan depa ke udara.. Biang.." ketika
terbanting kembali keatas tanah, darah segar berhamburan dari tubuhnya dan binasalah anjing
tersebut dalam keadaan mengerikan.
Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini sangat mengejutkan hati Ho Thong thian, dengan
sukma serasa melayang tinggalkan raganya secara beruntun dia mundur beberapa lamgkah
kebelakang.
"Criiit criing " beberapa desingan angin tajam menyergap lagi kemuka.
Untung Ho Thong thian sudah mundur ke belakang, dengan begitu desiran angin serangan
tersebut tidak mengena pada sasarannya, andaikata ia tidak mengundurkan diri tadi, niscaya
dadanya sudah berlubang besar.
sekali lagi terdengar lolongan panjang yang memekikan telinga, beberapa desingan angin
serangan yang sebelumnya tertuju ketubuh Ho Thong thian itu, sekarang meluncur kearah anjing
besar yang masih dirantai itu dan menghajarnya telak. seketika anjing itu pun mampus dengan
keadaan mengerikan.
setelah menenangkan hatinya. rasa kaget dan panik berhasil diatasi oleh Ho Thong thiansekarang
dia tahu serangan tersebut muncul dari balik lubang diatas dinding tersebut, kecuali hasil
perbuatan dari manusia berwajah dingin, rasanya memang tak mungkin bisa dilakukan oleh pihak
kedua.
Maka ia lantas bergeser kesudut ruangan yang sejajar dengan lubang diatas dinding itu,
katanya sambil tertawa seram:
"Haaahhhh haaahh haaahhh bocah keparat, engkau memang lihay, tapi sayang pertunjukan
bagus harus tetap dilangsungkan, engkau tahu aku memelihara hampir seratus ekor anjing
semacam itu, tak ada artinya bagimu kematian dua ekor anjing tersebut, tapi dengan
perbuatanmu tadi engkau sudah kehilangan hak untuk menikmati pertunjukan bagus, sekarang
engkau harus terjun sendiri dalam pertunjukan yang jauh lebih menarik"
"criiing...?" tiba tiba lubang diatas dinding itu menutup secara otomatis.
Kiranya disaat yang paling kritis, Han siong Kie teringat dengan ilm ujari Tong kim ci nya yang
lihay, maka dari lubang pengintip itulah dia melancarkan serangannya untuk membinasakan kedua
ekor anjing tersebut dan kejadian ini sama sekali diluar dugaan Ho Thong thian.
setelah lubang pengintip itu tertutup, Han siong Kie semakin panik dan gelisah, sekarang bukan
saja ia terkurung dalam jebakan malahan Go siau bi semakin terancam jiwanya.
"Kraaakkk kraaakkk " bunyi gemerincing berkumandang dari arah belakang, ketika ia berpaling,
hatinya kontan jadi terperanjat rupanya terali besi disamping ruangan itu sudah dibuka dan lima
ekor anjing besar bagaikan harimau telah menyusup keluar dari kandangnya dan mengambil posisi
pengepungan.
sambil menggonggong seekor anjing besar itu laksana kilat menerjang maju kedepan. Han
siong Kie cepat bergeser kearah samping, ilmu jari Tong kim ci segera dilepaskan.
Anjing itu mendesis lengking, tubuhnya terhajar telak dan mampus seketika itu juga, sementara
empat ekor lainnya pada saat yang hampir bersamaan menerkam kedepan.
Ruangan itu luasnya cuma tiga kaki, sedangkan kedua sangkar anjing itu hampir menempati
separuhnya, sisa ruangan yang tersedia sempit sekali, dalam keadaan seperti ini sulit baginya
untuk berkelit maupun menghindar.
Untungnya Han siong Kie memiliki ilmu lintasan cahaya kilatan bayangan yang lihay bagaikan
sukma gentayangan dia bergerak kian kemari diantara terjangan-terjangan empat ekor anjing
tersebut, meskipun posisinya berbahaya namun tak sampai terancam jiwanya.
JILID 28 HAL.50/51 HILANG
lewat pintu yang sempit, tiap kali pula sianak muda itu membunuhnya dengan ilmu jari Tong
kin ci.
Dalam sekejap mata tiga ekor anjing raksasa sudah mampus dengan badan hancur.
"Crinng " tiba? pintu sangkar itu menutup dan Han siong Kie terkurung didalam sangkar
tersebut.
Namun sianak muda itu sama sekali tidak ambil pusing, dari bilik celah-celah terali besi secara
beruntun dia lancarkan beberapa sentilan mautnya. Tiga ekor anjing raksasa yang tersisa, kembali
mampus diujung telapak tangannya.
Begitulah, dalam sekejap mata ada sepuluh ekor anjing raksasa yang telah ia bunuh mati.
selesai membunuh anjing2 itu, Han siong Kie lantas mencengkeram terali besi itu karena pintu
keluarnya tertutup rapat maka dia memutuskan untuk mematahkan terali besi itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, sekali merentangkan tangannya, terali besi itu
segera melengkung dan terbukalah sebuah lubang yang cukup besar.
Pemuda itu meneborobos keluar dari sangkar tersebut, walau begitu dia belum lolos dari
kurungan sebab dinding baja masih mengurungnya dalam ruangan itu
Betapa gelisahnya pemuda itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia seperti seekor harimau
buas yang terjebak dalam kerangkeng sambil berjalan kesana kemari otaknya berputat terus untuk
mencari akal guna meloloskan diri dari kurungan.
Bagi si anak muda ini, keselamatan sendiri tidak terlalu dipentingkan, ia justru lebih
menguatirkan keselamatan Go siau bi, sekarang dia dapat memahami sampai dimanakah kekejian
Ho Thong thian, ia tahu apa yang telah diancamkan dapat dilaksanakan menjadi kenyataan-
Ho Thong thian memang sangat keji, di tinjau dari tindak tanduknya yang begitu terlatih dan
terbiasa, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah banyak perempuan yang mengalami nasib tragis
ditangannya, entah sudah berapa banyak anak perempuan yang dijadikan obyek tontonannya
diperkosa olen anjing ..
Rasa dendam, benci, marah berkecamuk dalam hatinya, hawa napsu membunuh telah
menyelimuti seluruh wajahnya. Ia bersumpah dihati bila Ho Thong thian sampai tertangkap maka
akan dibunuhnya orang itu secara keji.
sambil menahan diri pemuda itu mulai meraba dinding baja dan berusaha untuk menemukan
letak tombol rahasia ditempat itu, namun kecuali pintu rahasia tadi, tiada bekas lain yang terdapat
disitu, seakan-akan ruangan itu dibuat dari lembaran baja yang utuh.
sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru pertama kali ini dia menjumpai keadaan yang
mencemaskan hatinya, dan membuat ia jengah serta serba salah.
Hawa amarah makin memuncak. hampir saja anak muda itu tak sanggup mengendalikan diri..
Tiba-tiba pintu besi yang menghubungkan ruangan itu dengan penjara bawah tanah perlahanlahan
bergerak ke atas dan akhirmya terbukalah sebuah liang kecil.
Han siong Kie mundur tiga langkah ke belakang, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan
siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di inginkan.
sesosok makhluk aneh berbulu perlahan-lahan muncul dari lubang tadi dan meloncat keluar ....
Han siong Kie semakin terperanjat, telapak tangannya diayun kemuka melepaskan pukulan
maut.
"Hey, bocah jangan pukul aku" makhluk aneh itu berseru dengan lantang.
Han siong Kie menarik serangannya dan mundur ke belakang ternyata makhluk berbulu itu
adalah kepala manusia, dia adalah sorang manusia cebol yang gemuk dan bentuk badannya persis
seperti blingo, rambutnya telah beruban semua.
orang itu tak lain adalah Tee heng sian (Dewa berjalan dalam tanah) yang pernah merampas
pusaka Hud jiu po pit miliknya tempo hari.
Kemunculan Tee heng sian dalam keadaan semacam ini jauh diluar dugaan Han siong Kie, ia
tahu tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sangat lihay dan tindak tanduknya sangat misterius.
Dengan suara yang dingin bagaikan es, sianak muda itu segera menegur keras:
"Bukankah emgkau adalah Tee heng sian?"
Dengan tubuh yang gemuk dan gerakan yang lamban- Tee heng sian bergerak
JILID 28 HAL. 56/57 HILANG
" Untuk meneguk beberapa guci arak wangi itu, aku telah membuang waktu selama berbulan2
lamanya, dari luar perkampungan aku telah menggali sebuah lorong rahasia yang langsung
berhubungan dengan gudang arak itu."
Ter mangu2 Han siong Kie setelah mendengar ucapan tersebut, kejadian ini memang
merupakan suatu kejadian yang aneh sekali, untuk mencuri beberapa guci arak wangi, ternyata
orang itu bersedia bekerja selama ber-bulan2 lamanya. setelah tertegun sesaat diapun bertanya
lagi:
"Engkau toh tahu bahwa perkampungan oh han san ceng penuh dengan anjing2 raksasa? Masa
dengan daya penciuman anjing2 itu, jejakmu tidak sampai ketahuan ?"
"Haaah haaah haaaah kalau ingin jadi pencuri yang ulung maka pengetahuan sebagai pencuri
musti luas, tentu saja akupun tahu akan lihaynya daya penciuman anjing-anjing itu, maka sengaja
kugosokkan serbuk anti bau disekujur badanku, setelah begitu maka sekalipun anjing dari langit
juga tak akan dapat mencium bauku"
"Jadi kalau begitu, engkau bisa keluar masuk perkampungan ini dengan leluasa?"
"Itu sih tidak. meskipun aku punya serbuk anti bau, tapi aku tidak punya serbuk anti anjing,
kalau sampai terkepung anjing2 buas itu, bisa jadi mayatku akan habis disikat mereka, tentu saja
kedatanganku kemari juga menempuh bahaya"
"Kenapa engkau datang kesini dengan menempuh bahaya ?"
"Tentu saja karena engkau si bocah muda "
40
"Lantaran aku?" seru Han Siong Kie dengan wajah tercengang.
"Memang begitulah kenyataannya"
"Boleh aku tahu apa sebabnya engkau datang kemari ?"
"Mari duduklah dulu dan biarlah aku bercerita dari awal sampai akhir."
"Sekarang aku tak ada waktu" Seru Han Siong Kie dengan gelisah, "apakah engkau bersedia
memberi petunjuk kepadaku bagaimana caranya keluar dari penjara ruang baja ini??"
"Engkau ingin buru2 menolong bocah perempuan itu? " tanya Tee heng sian sambil melototkan
matanya yang aneh.
"Dari mana engkau bisa tahu?" Han siong Kie balik bertanya dengan hati terperanjat.
"Jangan gelisah dulu, aku kebetulan dapat mencuri dengar kejadian ini dari bawah tanah,
sebab tanah dibawah tempat tinggal Ho Thong thian telah kubongkar, maka semua pembicaraan
diatas kedengaran jelas dibawah, sekarang makhluk tua itu sedang merawat lukanya, untuk sesaat
dia tak mampu mengapa-apakan bocah perempuan itu lagi"
"Lhoo..kok aneh, masa Ho Thong thian sedang merawat lukanya?" tanya Han siong Kie
keheranan.
00dw00
BAB 59
"MASA membohongi kau?"
"Lantas dia luka ditangan siapa?"
"siapa lagi? Tentu saja ditangan bocah perempuan itu"
"Aaah, tidak mungkin, bukankah jalan darahnya sudah tertotok, dia sama sekali tak bisa
bergerak.."
"Hey bocah, pernahkah dengar tentang ilmu membebaskan jalan darah dengan hawa murni?
Bocah perempuan itu sudah kembali melepaskan diri dari pengaruh totokan, dan suatu serangan
kilatnya berhasil pula melukai Ho thong thian"
"sekarang gadis itu ada dimana??"
"Dia masih terkurung dalam ruangan baja sebelah ruangan ini"
JILID28 HAL. 62/63 HILANG
Begitulah, dengan Tee heng sian berjalan didepan, Han siong Kie berjalan dibelakang mereka
melewati sebuah lorong yang sangat panjang.
Ketika hampir mendekati ruang tamu dan tiga kaki dimulut penjara bawah tanah, mereka
mendekati dinding yang berada disebelah kanan, ketika sebuah papan batu sebesar dua depa di
geser kesamping, maka muncullah sebuah gua yang bisa dilewati oleh tubuh seorang manusia.
"Loo tee" kata Tee heng sian kemudian, "inilah jalan bawah tanah yang telah lo ko gali selama
ini, asal batu itu digeser kembali pada tempat semula, maka sekalipun ada dewa yang lewat disini
juga tak akan melihatnya"
-000dw000-
Han siong Kie tertarik sekali dengan keanehan watak sahabat barunya ini, ia tertawa dan
menyahut:
"Kalau mainan begitu, aku mohon diri dahulu"
"Pergilah. Aku paling benci dengan segala tata cara, ingat bocah perempuan itu tersekap dalam
rumah besi ketiga, jangan sampai salah "
Han siong Kie mengiakan, dia lantas menggeser guci arak yang dimaksudkan, disana memang
terdapat sebuah lorong yang gelap dan panjang, pemuda itu lantas menerobos keluar lewat jalan
bawah tanah itu.
seperminum teh kemudian ia sudah keluar dari lorong itu, ternyata sekarang dia sudah berada
diluar pekarangan perkampungan itu, maka sebagaimana yang dipesan, ia tutup kembali mulut
gua itu dengan rapi, kemudian baru menyerbu kedalam perkampungan
Baru saja dia melayang turun didepan dua deret bangunan baja, tiba-tiba tiga sosok bayangan
hitam dengan kecepatan bagaikan kilat telah menyambar tiba, ternyata ketiga sosok bayangan itu
adalah tiga ekor anjing yang besar.
Berada ditanah lapang yang luas Han siong Kie tak perlu menguatirkan cakar racun dari anjinganjing
itu lagi, dalam beberapa gebrakan saja ketiga ekor anjing itu sudah dibikin mampus dengan
pukulan mautnya.
suara pekikan panjang yang diperdengarkan anjing-anjing itu sebelum ajalnya, dengan Cepat
mengejutkan seluruh perkampungan.
Suara langkah kaki yang sangat ramai berkumandang memecahkan kesunyian, belasan orang
lelaki yang berdandan sebagai centeng berlarian keluar dari rumah-rumah baja itu.
Tapi setelah mengetahui siapa yang muncul, hampir sebagian besar centeng itu berdiri
tertegun, mimpipun mereka tak menyangka kalau Manusia bermuka dingin yang dikurung dalam
rumah baja telah berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat.
Padahal mereka tahu bahwa baja yang melapisi ruangan- ruangan itu tebalnya mencapai
beberapa depa, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang tinggi juga tak akan mampu untuk
menghancurkannya,
JILID29 HAL. 06/07 HILANG
untuk membunuh kawanan begundal itu, oleh sebab pihak lawan menghadang jalan perginya,
dia baru berhasrat untuk melakukan pembantaian secara keji. "Trang traanng traaang " suara
genta dibunyikan bertalu-talu.
Ber-puluh2 sosok bayangan manusia meluncur masuk kedalam gelanggang, diantara mereka
ada yang tua ada yang muda, semuanya berjumlah lima puluh orang lebih, tapi yang jelas diatas
wajah orang2 itu terlintas rasa kaget yang bukan kepalang.
setelah semua orang munculkan diri, dengan cepatnya pula Han siong Kie terkurung ditengah
gelanggang.
Menyapu wajah orang2 itu dengan pandangan dingin, Han sioog Kie berkata: "Kenapa sampai
sekarang Hoo Thong thian belum juga munculkan diri?"
Dari antara kerumunan orang banyak. tampil kedepan seorang kakek berbaju hitam, dengan
wajah bengis ia menghardik:
"Manusia bermuka dingin, apa maksudmu datang ke mari??"
"Membantai seluruh isi perkampungan ini" jawab pemuda itu dengan ketus
Ucapan yang berbau amis darah ini sangat menyolok dan menggidikkan hati semua orang,
tanpa sadar paras muka orang-orang itu berubah hebat dan bulu kuduknya pada bangun berdiri
Dengan terperanjat kakek baju hitam itu mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan
suara gemetar:
"Apa? Manusia bermuka dingin, engkau akan membantai seluruh isi perkampungan?"
"Benar, tentunya Ho Thong thian masih belum lupa bukan dengan apa yang telah kuucapkan
ketika berada dalam kurungan ruang besi tadi?"
"Tentu saja lohu tak akan lupa, dengan kata-katamu itu" berbareng dengan berkumandangnya
jawaban itu, Ho Thong thian munculkan diri ditengah gelanggang
Hawa napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah Han siong Kie sambil mendengus
dingin ia tuding Ho Thong thian serunya:
"Bangsat tua lebih bagus lagi kalau engkau memang mengingat kata-kataku itu, sekarang juga
kenyataan akan terbeber didepan mata"
Ho Thong thian memandang lawannya dengan penuh kebencian serta kelicikan:
JILID29 HAl 10/11 HILANG
bahkan cara melepaskan senjata rahasia itu pun menggunakan cara ban thian boa yu ( hujan
bunga diseluruh langit).
Han siong Kie mendengus dingin, sepasang telapak tangannya membuat gerakan lingkaran
didepan dada kemudian menolaknya kedepan.
Ditengah hembusan angin puyuh yang kencang, seluruh kilatan cahaya biru itu sudah tersapu
rontok diatas tanah.
Ho Thong thian bertindak cukup licik, berbareng dengan dilancarkannya serangan itu, dia telah
mundur sejauh dua kaki lebih dari kedudukan semula
Gonggongan anjing menderu-deru, kurang lebih dua puluh ekor anjing besar berlarian keluar
dari ruang baja dan langsung menyerbu kedalam gelanggang
semakin tebal hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Han siong Kie, dia melambung
keudara, sepasang telapak tangannya dilontarkan berbareng kedepan, sepuluh desingan ilmu jari
Tong kim ci dengan kecepatan yang luar biasa menghantam tubuh kakek baju hitam serta pria
setengah baya yang melancarkan serangan senjata rahasia itu
Dua jeritan ngeri memecahkan kesunyian, percikan darah segar berhamburan ditanah, tanpa
sempat menjerit, kakek dan pria setengah baya itu sudah mampus dengan badan berlubang.
Han siong Kie tidak berhenti sampai disitu saja, setelah menewaskan dua orang musuhnya dia
melambung keangkasa dan menubruk kearah Ho Thong thian yang sudah kabur sejauh dua kaki
dari kedudukan semula itu.
Sekarang Ho Thong thian baru merasa takut dan seperti kehilangan sukma, cepatt dia
menundukkan tubuhnya dan menggelinding sejauh beberapa kaki dari tempat itu.
Han siong Kie tidak mengira kalau seorang tokoh silat yang punya nama besar seperti Ho
Thong thian, ternyata telah melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari medan pertempuran,
sementara serangannya gagal mencapai sasaran, belasan ekor anjing besar itu sudah menerjang
tiba dengas serangannya.
Disaat Han siong Kie terkurung oleh kawanan anjing tersebut, Ho Thong thian sendiri kabur
menuju kepintu baja yang keempat, mungkin dia hendak menggunakan ruang baja ini untuk
menyembunyikan diri atau mungkin juga dia masih mempunyai rencana busuk yang lain.
Kali ini Han siong Kie bertindak cerdik, dia melambung setinggi beberapa kaki ke udara setelah
lolos dari sergapan kawanan anjing itu badannya berjumpalitan beberapa kali seperti anak panah
terlepas dari busurnya dia meluncur kearah Ho Thong thian, sepasang telapak tangannya seperti
cakar garuda mengcengkeram batok kepala lawan.
Hampir pada saat yang bersamaan, pintu besi itu terbuka dan mereka berdua masuk kedalam
ruangan baja.
"criing" secara otomatis pintu baja itu menutup dengan sendirinya.
Betapa takut dan ngerinya Hoo Thong thian tatkala dilihatnya bukan saja ia gagal untuk
melarikan diri malahan dirinya terjebak dalam satu ruangan bersama musuhnya.
Ia sadar bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, apalagi berada dalam ruangan
yang begitu sempit, mau melawanpun tak ada gunanya.
Han siong Kie sendiri sudah terlanjur membenci musuhnya ini, cepat telapak tangan kiri serta
ujung jari tangan kanannya ditolak kedepan melancarkan serangkaian pukulan gencar ketubuh
Hoo Thong thian yang sedang ketakutan.
Ho Thong thian sendiri kelabakan setengah mati menghadapi ancaman maut itu, mau
menghindar dia tak mampu, akhirnya tidak ampun lagi tubuhnya terhajar telak oleh serangan
maut itu.
sambil menjerit lengkimg dengan suara yang menyayatkan hati, tubuh Hoo Thong thian
mencelat sampai menumbuk dinding baja, dadanya seketika terhajar sampai berlubang darah
segar berhamburan membasahi seluruh lantai.
setelah musuhnya mampus, Han siong Kie baru tertegun, ia baru menyesal sekarang setelah
musuhnya dibunuh mati, bukankah dengan demikian dia terjebak pula dalam ruangan baja itu?
Bangkai keseputuh ekor anjing itu masih menggeletak ditempat semula, hanya kini bertambah
lagi dengan sesosok mayat manusia.
JILID29 HAl 16/17 HILANG
tubuhnya gemetar dengan jantungnya berdebar dan mukanya jadi merah, secara beruntun dia
mundur tiga langkah ke belakang.
sesosok tubuh yang bugil masih melingkar didalam ruang baja itu, dan dara itu tak lain adalah
Go siau bi.
Padahal menurut keterangan dari Tee heng sian jalan darah Go siau bi sudah bebas malahan
serangannya berhasil melukai Ho Thong thian, kalau toh jalan darahnya sudah bebas, kenapa ia
masih berbaring disitu dalam keadaan telanjang bulat ?
Kalau dilihat dari pintu baja yang separuh terbuka,jelas ada orang pernah memasuki ruangan
ini lalu siapakah orang itu ?
Kenapa tidak menolong Go siau bi, melainkan membiarkan dia .....
Berpikir sampai disini, tak kuasa lagi tubuhnya gemetar keras, pikirnya lebih jauh:
"Aduh celaka, jangan-jangan Go siau bi sudah mengalami...."
Karena kuatir tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu menerjang masuk ke dalam ruangan,
meskipun jantungnya
JILID 29 Hal 19 S/D 24 HILANG
merahnya sehingga tidak menetes ke bawah, ujarnya lagi dengan sedih:
"Sejak pertama kali aku bertemu dengan kau, aku telah mencintai dirimu, engkau adalah orang
pertama yang kucintai juga merupakan orang terakhir yang kucintai, sekalipun aku mencintai
dirimu dengan sepenuh hati dan aku tidak mendapatkan balasan yang sewajarnya tapi aku
memang mencintai kau, cintaku adalah cinta suci yang muncul dari lubuk hatiku, asal kau tahu aku
sudah merasa puas. Aaai . . karena pikiran yang keliru hampir saja aku melakukan kesalahan
besar, terimakasih kuucapkan kepadamu, karena engkau telah memberi kesempatan kepadaku
untuk menebus dosa-dosa itu"
Rasa cinta Han siong Kie benar-benar tersentuh oleh perkataanya itu, detik itu juga ia merasa
bersalah karena pendapatnya yang keliru ini telah menghancur lumatkan rasa cinta dirinya yang
nyata ia telah menyakiti perasaan seorang gadis yang membuat dara itu hampir saja melakukan
kesalahan besar.
"Nona, maafkanlah kesalahanku . ." bisiknya kemudian.
-000dw000-
BAB 60
Go SIAU BI segera ulapkan tangannya dan mencegah pemuda itu meneruskan kata-katanya
"Han siangkong, biarlah kusebut engkau dengan sebutan seperti yang kugunakan ketika untuk
pertama kalinya aku bertemu dengan engkau, sekarang engkau tak usah minta maaf kepadaku,
biarkanlah kejadian yang sudah lewat jadi kenangan, sekarang tegasnya mulai detik ini untuk
menebus semua dosa yang pernah kulakukan semoga engkau baik-baik menjaga diri"
Tak tahan lagi air matanya jadi berderai membasahi seluruh wajahnya yang putih dan halus.
Go siau bi telah berlalu pergi dengan membawa perasaan hatinya yang hancur.
Han siong Kie ingin memanggil dara itu tapi ia tidak berbuat demikian, pemuda itu hanya
berdiri termangu-mangu di dalam bangunan rumah baja itu.
Ia merasa bagaikan sedang bermimpi suatu impian buruk yang sebetuinya adalah kenyataan,
dengan suara yang lirih ia cuma dapat bergumam. .bergumam seorang diri dengan suara yang
lirih:
"sebenarnya apa yang kau lakukan? Benarkah tindakanku selama ini ? Ataukah tindakanku itu
keliru besar?"
Namun ia tak berhasil menemukan jawabannya.
Dengan mengorbankan segala-galanya Go siau bi berusaha untuk mendapatkan dirinya, tapi
sekarang setelah mengalami kejadian tersebut, ia telah pergi dengan keraskan hati dan telah
memutuskan perasaan cintanya.
sementara dia masih melamun, dari kejauhan terdengar serentetan jeritan ngeri berkumandang
memenuhi seluruh angkasa, jeritan tersebut segera menyadarkan kembali pemuda itu dari
lamunannya
Ia lantas menduga kalau Go siau bi sedang melaksanakan pembalasan dendamnya atas orangorang
dari perkampungan oh hau san ceng
JILID29 HAL. 28/29 HILANG
diharuskan menolong Go siau bi. Kalau toh ia dapat membuka pintu baja itu, mengapa ia tidak
membawa Go siau bi yang telanjang bulat, sebaliknya diserahkan kepadanya? Kenapa..? Kenapa ?
Pemuda itu benar-benar merasa tidak habis mengerti.
"Eeeh lo-te, aku lihat pikiranmu kurang tenang dan wajahmu gugup sekali hayo, apa yang telah
kau lakukan?" tiba tiba Tee heng sian menegur sambil tertawa cengar- cengir.
"Aku..." Han siong Kie tertawa jengah
"Dimana bocah perempuan yang telah kau tolong itu?"
"Dia... dia telah pergi"
"Pergi? Pergi seorang diri?"
Dengan sedih Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan. Tee hee sian berkata lebih
jauh.
"Tahukah engkau, kenapa orang yang ada maksud membunuh orang dan membakar
perkampungan ini?"
"Mungkin juga dia hendak melampiaskan rasa dendam dan mendongkol dari Go siau bi"
"Lalu setelah urusan disini telah selesai, kau hendak pergi kemana. ?"
Han siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
kemudian baru menjawab: "..Aku pikir hendak mengunjungi lembah in wu kok"
"Lembah In wu kok? Aneh benar nama tersebut, dimana toh letak lembah yang aneh itu?"
"Kurang lebih setengah jam lamanya dari tempat ini, lembah In wu kok adalah sebuah lembah
aneh yang terpencil sekali letaknya"
"siapa yang beri tahu kepadamu kalau lembah itu bernama in wu kok?" Han siong kie
tersenyum.
"ooh aku sendiri yang menamakan lembah tersebut, dengan sebutan lembah In wu kok, coba
lihatlah bukankah disitu penuh dengan kabut yang amat tebal?"
"Aaah saudaraku, tempat itu bukan bernama lembah In wu kok melainkan adalah Lembah
kematian yang dianggap setiap umat persilatan sebagai daerah terlarang, keseraman dan
kengerian yang menyelimuti lembah tersebut sama sekali tak kalah dengan kemisteriusan benteng
maut yang tersohor itu"
"Lembah kematian?"
Benar, lembah itu sangat berbahaya.. setiap orang yang berani memasuki lembah itu berarti
mengantar kematian diri sendiri sebab semua orang yang sudah masuk ke dalam lembah itu,
selamanya tak akan bisa munculkan diri dalam keadaan selamat"
Hebat sekali perobahan wajah Han siong Kie, untuk sesaat dia termenung lalu baru berkata:
"Semula aku masih mengira lembah itu hanya sebuah lembah terpencil yang jarang sekali
dikunjungi manusia"
"Loo te" Tiba2 Tee heng sian berkata dengan wajah serius "kalau toh engkau sama sekali tidak
kenal akan lembah kematian, mau apa kau kunjungi lembah tersebut??"
"Aku... sebenarnya aku hendak mempelajari sejenis ilmu silat didalam lembah itu"
”Kalau toh cuma ingin mempelajari sejenis ilmu silat, mengapa kau pilih tempat semacam itu??"
"Sebab aku lihat tempat itu jauh dari keramaian dunia dan jarang sekali dikunjungi manusia,
aku takut latihanku terganggu oleh kehadiran manusia lain maka aku hendak mencari tempat yang
sepi dan terpencil itu sebagai tempat latihanku"
"saudaraku kalau engkau percaya dengan kata2ku ini, lebih baik batalkan saja niatmu itu"
Masih mendingan kalau Tee heng sian tidak berkata, semakin dilarang pergi kesitu semakin
besar pula rasa ingin tahu yang timbul dalam hati Han siong Kipikirnya:
"Apa salahnya kalau aku pergi melakukau penyelidikan? Akan kulihat sebenarnya macam
apakah lembah kematian tersebut"
Tapi ia merasa tak tega untuk menolak kebaikan orang, maka ia manggut-manggut berulang
kali.
"Baiklah, aku akan pertimbangkan lagi rencana ini, terima kasih atas peringatan dari engkoh
tua, kau..."
sebelum pemuda itu menyelesaikan kata2nya Tee heng siang telah tertawa cekikikan seraya
menukas:
JILID29 HAL. 34/35 HILANG
Pemuda itu menghela napas panjang, pikirnya:
"Aaai. sayang adik Hui telah kembali kealam baka, tapi benarkah ia telah mati Bukankah orang
yang ada maksud telah berkata bahwa adik Hui tak akan mati?" Lama sekali pemuda itu
termenung, selang sesaat kemudian pikirnya lebih jauh:
"Kalau dia tidak mati, meagapa ia tak muncul kembali dari benteng mautnya, Apakah ia lupa
masih ada janji dengan aku? Lupakah dia ketidak munculannya berarti suatu bukti padaku bahwa
ayahnya adalah pembunuh keluargaku?"
setelah termanggu2 sejenak pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya memasuki lembah
itu
Kabut yang menyelimuti angkasa kian menebal, meskipun Han siong Kie memiliki ketajaman
mata yang dapat memandang pemandangan sekitar tiga kaki, namun tiada satupun yang terlihat
olehnya.
"Aneh." kembali pemuda itu membatin, menurut Tee heng sian lembah kematian adalah suatu
daerah terlarang yang sangat disegani oleh setiap umat persilatan di dunia ini, malahan katanya
siapa berani masuk maka dia tak ada harapan untuk keluar dalam keadaan selamat, kini aku
sudah lama masuk kedalam wilayah ini, kenapa tiada sesuatu apapun yang berhasil kutemui . ." "
Setelah termenung sebenter ia membatin lagi:
"Jangan-jangan berita yang tersiar dalam dunia persilatan tak bisa dipercaya kebenarannya?"
Satu li kembali sudah dilewati oleh Han siong Kie, namun tiada sesuatu apapun yang terlihat.
Akhirnya mata yang tajam itu membentur dengan sesuatu benda, mendadak saja tubuhnya
menggigil keras jantungnya berdebar tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya.
Sebuah batu besar yang penuh dengan lumut hijau terpancang di depan matanya, di atas batu
tugu itu terteralah beberapa tulisan dengan huruf yang amat besar: "PERBATASAN ANTARA MATI
DAN HIDUP
JILID 29 HAL. 38/39 HILANG
Pemuda itu celingukan memandang sekeliling tempat itu, ketika ditemukan sebuah batu cadas
kurang lebih empat kaki disamping tempat itu, cepat ia berkelebat kebelakang batu itu dan
menyembunyikan diri
sekejap mata kemudian belasan sosok bayangan manusia telah munculkan diri didepan batu
peringatan tersebut.
Rombongan itu dipimpin oleh dua orang kakek berjubah hitam sedang kan sisanya adalah dua
belas orang laki-laki yang memakai, baju ringkas warna hitam pula.
Di atas dada kedua orang kakek berjubah hitam itu masing2 bersulamkan lukisan rembulan dan
matahari dan bintang.
Begitu menyaksikan lambang yang tertera diatas dada kakek berjubah hitam itu, Han siong Kie
merasakan hatinya bergetar keras, sebab lambang tersebut tidak terlalu asing baginya, dia merasa
se-akan-akan pernah menjumpainya disuatu tempat.
setelah dipikirkan beberapa saat pemuda itu teringat kembali, ia masih ingat bagaimana orang
yang kehilangan sukma telah membunuh Tengkorak maut gadungan dengan lencana Thian Che
leng, dan di atas lencana itu terteralah lukisan Matahari, rembulan dan bintang.
Itu membuktikan pula bahwa rombongan yang barusan tiba disana tak lain adalab anak buah
dari perkUmpulan Thian Che kau.
seingatnya diantara anggota perkumpulan Thian Che kau yang pernah ditemuinya, belum
pernah ada diantara mereka yang munculkan diri dengan diatas dadanya tertera lambang
matahari rembulan serta bintang, pemuda itu mulai berpikir-pikir, jangan2 kedudukan dua orang
kakek tua itu memang sangat istimewa??
sementara itu salah seorang diantara dua orang kakek berjubah hitam itu sudah menyapu
sekejap sekeliling gelanggang, kemudian kepada rekan-rekannya dia berkata.
"saudara see bun, masakah bocah keparat itu bisa terbang kelangit atau tenggelam kedasar
bumi? Kenapa jejaknya lenyap dengan begitu saja tanpa meninggalkan bekas?" Kakek baju hitam
yang disebut saudara see bun itu menjawab:
"saudara Nyoo, menurut pandanganku mungkin saja bocah keparat itu telah mengetahui jejak
kita semua maka sengaja ia mencari tempat yang bersembunyi untuk menyembunyikan diri "
"sekalipun ia sedang bersembunyi toh penggeledahan yang kita lakukan cukup ketat, masa
pencarian ini sangat teledor sampai tempat persembunyian musuh sama sekali tidak ketahuan ?"
"Walaupun demikian kabut toh terlalu tebal disekitar tempat ini, siapa tahu kalau
penggeledahan kita memang kurang teliti ?"
"Mungkinkah mata2 kita telah salah melihat orang ?" tanya orang she Nyoo lagi.
"Aaah tidak mungkin Tanda2 yang dimiliki manusia bermuka dingin sangat istimewa sekali,
rasanya susah untuk mencari orang kedua yang memiliki ciri2 seperti dia "
Hampir saja Han siong Kie mendcngus dingin apa lagi setelah diketahui olehnya bahwa
kemunculan rombongan itu tak lain adalah sedang mencari jejaknya.
"Jangan-jangan bangsat muda itu sudah melampaui perbatasan antara hidup dan mati?"
kembali kakek she Nyoo itu mengutarakan pendapatnya. Dengan cepat kakek she see bun itu
menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aah.. soal ini tak mungkin, sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tak nanti ia bisa lolos dari
kematian bila berani melewati perbatasan ini, tak nanti dia datang hanya untuk menghantar
kematian belaka"
"Yang lebih aneh lagi, entah apa sebabnya bocah bangsat itu datang mengunjungi lembah
kematian??"
"Aku mana tahu, mungkin cuma dia seorang yang mengetahui apa tujuannya datang kemari"
"Lalu apa yang musti kita lakukan sekarang??"
"Mulut lembah sebelah depan toh sudah dijaga oleh jago2 lihay kita, mari kita lanjutkan
penggeledahannya disekitar tempat ini, aku tak percaya kalau dia sudah dapat terbang ke langit
atau menyusup kedalam tanah."
"Andaikata penggeledahan kita ini cuma sia-sia belaka??"
JILID29 HAL. 44/45 HILANG
laki-laki berpakaian ringkas itu segera menyambarkan diri dan membentuk gerakan setengah
lingkaran untuk melakukan pengepungan yang ketat.
Telapak tangan kilat see bun Lui maupun pui hunp yan Nyoo Yong serentak berpaling pula
kearah anak muda itu, dengan sinar mata berwarna hijau tajam mereka menatap musuhnya tanpa
berkedip. dari kilatan cahaya mata itu dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki kedua
orang itu benar2 sudah mencapai puncak kesempurnaan.
Agak terkejut juga Han siong Kie setelah menyaksikan kesempurnaan tenaga dalam yang
dimiliki musuhnya, namun ia tak gentar, dengan pandangan yang tak kalah dinginnya ia balas
menatap kedua orang lawannya.
"Jadi engkau yang bernama Manusia yang bermuka dingin?" tegur Tui hun pan dengan wajah
dingin.
Han siong Kie mendengus dingin. "Hmm Ucapanmu memang tepat sekali."
"Bangsat, engkau akan menyerahkan diri dengan begitu saja ataukah hendak memaksa aku
untuk turun tangan?"
"Huuh manusia macam kalian pun hendak membekuk aku" ejek sang pemuda sambil tertawa
sinis "Hmmm sebutkan dulu siapa nama kalian"
"Bocah keparat, dengarkan baik-baik kata-kata kami ini" seru see bun Li dengan cepat, "kami
berdua adalah Utusan khusus dari Thian che kau, dua jago lihay diantara sepuluh tokoh paling
tinggi kedudukannya dalam perkumpulan kami.."
"Utusan khusus Haaahh haaahh haahh aku rasa kalian toh tak lebih cuma begundal bayaran
belaka"
Ucapan itu dianggap sebagai penghinaan besar bagi dua orang kakek tua itu, betapa gusarnya
oran2 itu sukar dilukiskan dengan kata-kata.
"Bangsat, rupanya engkau sudah bosan hidup?" bentak mereka hampir bersamaan waktunya.
Dliringi bentakan nyaring see bun Lui melambung tiga kali ke tangah udara, kemudian secepat
kilat melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Han siong Kie.
serangan tersebut memang luar biasa cepatnya dan tak malu disebut bagaikan sambaran kilat,
pada saat yang
JILID29 HAL. 48/49 HILANG
Han siong Kie dengan andalkan tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan itu
melakukan inisiatip untuk menyerang gencar, sekalipun dia telah berusaha dengan segenap
kemampuan yang dimiliki, itupun hanya berhasil memaksa lawannya untuk bertarung dalam
keadaan seimbang alias sama kuat.
Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun menang kalah masih belum bisa
ditentukan.
Memang seram dan mengerikan jalannya pertarungan itu, bukan saja angin menderu dan
bahkan dunia terasa jadi gelap, membuat dua belas orang laki2 berpakaian ringkas yang ada
disamcing gelanggang diam2 merasa bergidik.
setelah berhenti sebentar untuk mengatur pernafasan, see bun Li terjun kembali ke dalam
gelanggang pertarungan, rupanya dia pun menyadari bahwa kekuatan pihak lawan terlalu
tangguh, tak mungkin salah seorang dari pada mereka berhasil menaklukkan lawannya andaikata
tidak turun tangan secara bersama:
Dengan cepat situasi dalam gelanggang pertarungan mengalami perubahan.
Dua orang tokoh sakti dengan meng andalkan kekuatan mereka yang paling top berusaha
menghancurkan lawannya, kedahsyatan angin pukulan yang mereka hasilkan benar2 mengerikan
sekali.
Dalam keadaan demikian, Han siong Kie dipaksa untuk mengambil langkah2 pertahanan,
dia mainkan ilmu Mo mo ciang hoat bagian pertahanan untuk menutup semua bagian tubuhnya
dari kemungkinan terserang musuh, kalau sebentar saja masih mendingan tapi lama kelamaan
diapun mulai terdesak hebat. sepuluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa...
Han siong Kie semakin terdesak hebat sehingga selangkah demi selangkah mundur terus
kebelakang..
satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Akhirnya pemuda itu sudah melampaui garis pemisah
yang merupakan perbatasan antara mati dan hidup,
Menyaksikan kejadian itu baik see bun Lui yang bergelar telapak tangan kilat maupun Nyoo
Yong yang berjulukan Hakim pengejar sukma sama-sama menarik kembali serangannya dan
mundur kebelakang.
Perbatasan antara mati dan hidup .. suatu wilayah angker yang tak berani dilewati oleh
siapapun.
Han siong Kio masih belum merasa kan akan hal itu, kembali ia mundur beberapa langkah
kebelakang.
sekarang Han siong Kie sudah berada satu kaki lebih dibalik garis pemisah yang disebut
perbatasan antara mati dan hidup itu, namun tiada sesuatu kejadian yang menimpa dirinya, ia
tetap utuh, sehat dan tak kekurangan sesuatu apapun.
Belasan orang jago lihay dari Thian che kau mulai menunjukan sikap kebingungan dan tidak
habis mengerti, sampai2 mereka berdiri dengan wajah melongo.
-ooodwooo-
BAB 61
LEMBAH kematian- suatu daerah terlarang yang dianggap angker serta mengerikan bagi umat
persilatan, wilayah itu dipisahkan oleh sebuah garis yang dinamakan perbatasan antara mati dan
hidup, selama banyak tahun tak seorang manusiapun sanggup melewati perbatasan tersebut
dalam keadaan hidup,
Tapi sekarang Manusia berwajah dingin telah menyeberangi perbatasan itu sejauh beberapa
kaki tanpa mengalami sesuatu kejadian apapun, kejadian ini benar merupakan sesuatu peristiwa
yang aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Tatkala pihak musuh menarik kembali serangannya tadi, tanpa terasa Han siong Kie lelah
mundur kembali beberapa langkah kebelakang, menanti ia rasakan perubahan yang aneh pada
wajah musuhnya pemuda itu baru sadar bahwa ia telah melangkah masuk ke dalam wilayah yang
tersohor karena angkernya itu.
JILID29 HAL. 54/55 HILANG
Thian che kaucu untuk menyelesaikan sendiri persoalan ini.
Diam2 Han siong Kie menguatirkan kemampuan Thian che kaucu sebab kalau ditinjau dari
kemampuan yang dimiliki kedUa orang utusan khusus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
tenaga dalam yang dimiliki ketua mereka benar- benar telah mencapai puncak kesempurnaan
yang tak terhingga, ia jadi terbayang kembali akan peristiwa dimasa lalu sewaktu dia menyerbu
wilayah Lian huan yau untuk menolong Go siau bi, ketika itu ia telah berjumpa dengan seorang
manusia barkerudung yang mangaku sebagai ketua perkumpulan tapi akhirnya ia bukti bahwa dia
tak lebih cuma penyaruan dari salah satu diantara sepuluh jago tangguh perkumpulan.
Anak muda ini mulai berpikir, mengapa Thian che kaucu tak berani munculkan diri sebaliknya
suruh orang lain untuk menyaru sebagai dirinya?" Mungkinkah dibalik semuanya ini sebetulnya
masih tersimpan rahasia lain?
Yang lebih aneh lagi, ternyata pihak Thian che kau telah mengerahkan segenap kemampuan
yang dimiliki untuk menghadapi dirinya seorang, malahan ketuanya turun tangan sendiri untuk
memimpin operasi tersebut, hal ini menandakan kalau pihak mereka memandang serius persoalan
tersebut, lalu apa sebabnya mereka bersikap drmikian?" Tiba2 Nyoo Yoong, hakim pengejar sukma
berseru dengan suara dalam:
"Bocah keparat, beranikah engkau menyeberang kemari untuk melangsungkan pertarungan
seru dengan kami?"
Han siong Kie sendiripun tak tahu apa sebabnya ia bisa menyeberangi perbatasan mati dan
hidup tanpa cedera, namun ia tahu bahwa musuh- musuhnya tak berani menyeberangi wilayah
angker itu dam selalu memanaskan hatinya agar dia menyeberang kembali ke sana. Maka sambil
tertawa dingin, ejeknya:
"Bangsat tua, kenapa bukan kalian yang menyeberang kemari? Kalau memang jantan hayolah
kemari"
Perasaan jengah dan serba kikuk muncul diatas wajah Nyoo Yong maupun see bun
JILID29 HAL. 58/59 HILANG
Nyio Yong yang sedang melayang diudara, se akan2 burung yang kena dipanah, tahu-tahu
badannya menukik ke bawah dan roboh keatas tanah. la mati secara misterlus.
Hakim pengejar sukma Nyio Yong telah tewas dihadapan rekan2nya, namun tak seorangpun
yang tahu apa sebabnya tiba2 ia mampus, jangankan mereka sekalipun Han siong Kie yang
berada beberaps depa dihadapannya juga tak melihat sebab musabab yang mengakibatkan
kematian jago lihay itu
Pucat pias wajah para jago dari Thian che kau, rata- rata mereka berdiri tertegun dengan
sukma merasa melayang tinggalkan raganya, kejadian ini sama sekali diluar dugaan semua orang.
Han siong Kie sendiripun terkejut sampai-sampai keringat dingin membasahi jidat dan
punggungnya .
Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kematian Nyio Yong yang secara tiba2 namun ia
tak tahu apa yang menyebabkan kematian musuhnye itu, untuk sesaat ia jadi tertegun dan berdiri
termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ditatapnya mayat Nyoo Yong tanpa berkedip. sementara pikirannya melayang entah sampai
dimana.
Mendadak terdengar jeritan kaget berkumandang lagi memenuhi angkasa, suatu pemandangan
yang sangat mengerikan telah berlangsung didepan mata.
Begitu mencium tanah, mayat Nyoo Yong yang masih hangat itu ternyata meleleh dan
mengalami pembusukan dengan cepat, kemudian selang sesaat mayat itu sudah hancur tinggal
tulang kerangkanya belaka.
Hampir saja Han siong Kie menjerit kaget, bulu kuduknya pada bangun berdiri, kejadian aneh
ini belum pernah ditemuinya semenjak dahulu kala, tidak sampai setengah perminum teh salah
seorang tokoh silat yang berilmu tinggi telah berobah jadi seonggokan tulang kerangka yang putih
mengkilat, bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapakah yang akan percaya bahwa
peristiwa semacam itu benar2 telah terjadi di depan mata ?
Lewat lama sekali dia ter-mangu2, setelah rasa kagetnya hilang ia baru berpaling memandang
ke belakang, pada ujung lembah tersebut ia saksikan sebuah gundukan tanah berbukit, beberapa
pohon raksasa yang amat besar tumbuh disekitar gundukan tanah itu
Di belakangnya adalah sebuah tebing dan sebuah bukit yang tinggi menjulang keangkasa
demikian tingginya bukit itu sehingga menembusi kedalam awan.
Dengan langkah yang ragu-ragu dan penuh kesangsian pemuda itu melanjutkan perjalanannya
memasuki lembah itu dan mendekati gundukan tanah yang berada didepan mata.
Beberapa kaki sebelum mencapai gundukan tanah tadi tiba2 pemuda itu berseru tertahan dan
berhenti.
Di bawah dua batang pohon raksasa berdirilah sepasang makhluk hitam putih yang
mengerikan..
Mereka sama-sama memelihara rambut yang panjang cuma yang hitam sekujur tubuhnya
berwarna hitam pekat sebaliknya yang putih luar biasa putihnya bagaikan salju.
Dengan seksama anak muda itu mengawasi beberapa saat makhluk itu, sekarang ia dapat
memastikan bahwa mereka adalah manusia, sepasang manusia aneh berwama hitam dan putih,
hatinya terasa makin bergidik,
Kedua orang itu duduk bersila saling berhadapan, ke empat buah telapak tangannya
direntangkan kedepan sejajar dengan dada, selisih jarak kedua belah pihak cuma terpaut tiga kaki.
Han siong Kin tertegun- .apa yang telah terjadi? " sekilas pandangan dua orang jago itu
bagaikan sedang mengadu tenaga dalam, tapi mirip juga sedang melatih sejenis ilmu silat.
Bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir saja ia tak percaya kalau dikolong
langit sebenarnya terdapat manusia seaneh itu, yang hitam kulitnya benar- benar hitam mengkilap
seperti tinta, apalagi jubahnya berwarna hitam pula membuat orang itu betul2 serba hitam.
sebaliknya yang putih demikian putihnya seperti sesosok mayat hidup bukan rambutnya
berwarna putih, jubah maupun sepatunya juga berwarna putih. suatu perbedaan warna yang amat
kontras sekali.
JILID29 HAL. 64 HILANG
Dua orang makhluk aneh itu tetap duduk kaku ditempat semula, mereka tidak membuka
matanya pun tidak berkutik barang sedikitpunjuga, padahal semestinya mereka tahu bahwa ada
orang yang mendekati tempat tinggal mereka, terbukti hawa khikangnya telah dipancarkan
melindungi wilayah seluas tiga kaki disekeliting tubuh mereka.
Agak penasaran Han siong Kie ketika tak mampu menerjang maju kedepan dan menghimpun
tenaga dalamnya dan secara paksa menerjang masuk kedalam lingkaran hawa khikang lawan.
Tiba2 dua orang makhluk aneh itu bersamaan waktunya menurunkan telapak tangan mereka
kemudian membuka matanya:
Empat buah sinar mata yang setajam sembilu serentak ditujukan keatas wajah Han siong Kie.
Pada saat ini tenaga dalam yang dimiliki si anak muda itu sudah mencapai dua ratus tahun hasil
latihan, walaupun begitu ketika ditatap secara tajam oleh musuhnya tak urung bergidik juga
hatinya, cepat ia hentikan langkah kakinya membalas memandang lawannya dengan sinar mata
yang tak kalah tajamnya.
Per lahan2 dua orang manusia aneh itu bangkit berdiri dari atas tanah.
sekarang Han siong Kie baru dapat melihat jelas bahwa kedua orang makhluk aneh itu adalah
seorang pria dan seorang wanita, yang laki2 berkulit hitam berambut hitam dan berjubah hitam,
keadaannya tak berbeda dengan balok kayu yang hangus bekas terbakar sedangkan yang
perempuan berambut putih berkulit putih dan berbaju putih, putih seperti batang kayu yang dilapis
saiju.
41
Begitu jelek dan menyeramkan bentuk serta potongan tubuh mereks membikin hati orang jadi
tercekat dan seram.
Han Siong kie boleh dibilang berilmu tinggi dan bernyali besar namun berada dalam keadaan
begini berdiri juga bulu kuduknya.
Mungkinkah makhluk hitam dan putih ini adalah pemilik Lembah Kematian . . ?
Ingatan tersebut melintas didalam benaknya, sementara itu sepasang makhluk aneh itu sudah
berdiri dan saling mengangguk, tiba2 mereka maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan
Han Siong Kie seraya berkata: "Hek pek siang yu menghunjuk hormat kepada majikan"
Kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Han Siong Kie secara beruntun dia mundur lima
langkah kebelakang, untuk sesaat pemuda itu tak mampu berkata2 karena tercengangnya.
Sepasang makhluk aneh yang mengaku Hek pek siang yu, sepasang siluman hitam putih ini
ternyata menyembah dihadapannya sambil menyebut majikan kepadanya, kejadian ini benar2
suatu kejadian yang sangat aneh.
"Hek pek siang yu menghunjuk hormat buat majikan" untuk kedua kalinya sepasang makhluk
aneh itu memberi hormat.
Kali ini Han siong Kie mendengar perkataan itu dengan lebih jelas lagi, sekarang ia baru tahu
bahwa dua orang makhluk aneh itu ternyata tak lain adalah Hek pek siang yu yang sudah puluhan
tahun lamanya lenyap dari permukaan bumi.
Meskipun masa berkelana Hek pek siang yu dalam dunia persilatan amat singkat, namun
pembantaian maut yang mereka lakukan tak terbilang banyaknya.
Bagi pandangan umat persilatan, kedua orang ini adalah iblis pembunuhan manusia yang tak
berkedip. banyak orang segan dan takut kepadanya.
Dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti, Han siong Kie berseru dengan gelagapan:
"Majikan-.? Aku.."
"Betul majikan, engkaulah majikan kami"jawab siluman putih dengan hormat.
sekali lagi Han siong Kie mundur selangkah lebar kebelakang, dia benar2 kebingungan:
"Bagaimana mungkin ? Bagaimana mungkin masa aku adalah majikan kalian??"
"Kami telah bersumpah barang siapa bisa melewati perbatasan mati dan hidup dalam keadaan
selamat dan orang pertama yang bisa menginjakkan kakinya di wilayah lembah Kematian, maka
dialah majikan dari kami kakak adik seperguruan berdua "
"oooh.jadi kalian adaiah suheng moay ??"
"Benar "
"Mengapa kalian hendak menganggap orang pertama yang memasuki wilayah ini sebagai
majikan?" tanya sianak muda itu lagi.
"sebab hanya orang yang berkepandaian tinggilah yang bisa tiba ditempat ini dalam keadaan
selamat, pun juga dia seoranglah yang bisa menolong kami berdua lolos dari tempat ini, selama
lima puluh tahun berselang majikan adalah orang pertama yang bisa tiba dilembah kematian ini
dalam keadaan selamat."
"Jadi kalian bukan penghuni tempat ini, melainkan adalah tawanan yang disekap di sini?".
"Benar" sepasang makhluk aneh itu mengangguk tanda membenarkan.
"Dan kalian telah disekap selama lima puluh tahun lamanya."
"Benar" untuk kesekian kalinya dua orang itu mengangguk.
"siapa yang menyekap kalian ditempat ini?"
"Pemilik benteng maut"
"Apa?" " seru Han siong Kie dengan perasaan terperanjat "jadi kalian disekap pemilik benteng
maut dalam Lembah Kematian ini"
"Begitulah kejadiannya"
"silahkan kalian berdua bangkit berdiri kemudian baru kita lanjutkan pembicaraan ini"
"Kalau begitu majikan telah mengabulkan permintaan dari kami suheng moay berdua ?" tanya
siluman putih sambil mengernyitkan sepasang alis matanya. Han siong Kie termenung dan berpikir
beberapa saat lamanya, kemudian menjawab: "Tentang soal ini..."
"Ketahuilah majikan, bahwa kami berdua sudah menunggu selama lima puluh tahun, atas
tibanya kejadian besar ini" sambung si hitam dengan cepat.
Andai kata tingkah laku Hek pek siang yu di masa talu tidak buas dan keji, niscaya sedari tadi
Han siong Kie sudah mengambil keputusan, tapi justru karena dua orang itu adalah gembong iblis
yang berbahaya, maka mau tak mau dia musti mempertimbangkan dulu permintaan mereka
sebelum akhirnya mengambil keputusan. Maka sesudah termenung sebentar ia baIik bertanya:
"Jadi tujuan kalian adalah mengharapkan agar aku bersedia membawa kalian keluar dari
lembah ini ?"
"Begitulah kira2 maksud kami"
"Apakah kalian yakin kalau aku dapat membawa kalian berdua keluar dari lembah ini ?"
"Tentang soal ini.." sepasang manusia aneh itu agak termangu sebentar, tapi kemudian
serunya "Perduli bagaimanapun juga, inilah sumpah dari kami berdua pada lima puluh tahun
berselang. kami telah bersumpah untuk menganggap orang pertama yang masuk kelembah ini
sebagai majikan kami, selama hidup kami akan menuruti perintahnya, tentang soal mau keluar
dari lembah kematian atau tidak. kesemuanya ini terserah pada kebijaksanaan majikan sendiri"
"Betul sumpah kalian adalah begitu? " Han siong Kie menegaskan lebih jauh.
"Betul "
"Dan sumpah kalian itu selamanya takkan dilanggar??"
"Selamanya kami takkan melanggar "
"Baik, aku mengabulkan permintaan kalian"
"Bolehkah kami mengetahui siapa nama majikan ?"
"Aku adalah manusia bermuka dingin Han siong Kie, ciangbunjin yang akan memerintah di
istana Huan mo kiong "
Dengan penuh rasa hormat sepasang siluman hitam putih menyembah majikannya, kemudian
bangkit berdiri
Pelbagai keheranan dan pertanyaan berkecamuk dalam benak anak muda itu, namun dia tak
tahu persoalan itu musti ditanyakan mulai dari bagian yang mana.
Menurut pengakuan sepasang siluman hitam putih, mereka telah disekap oleh pemilik benteng
maut didalam lembah kematian ini pada lima puluh tahun berselang, sedangkan menurut berita
yang tersiar dalam dunia persilatan baru tiga puluh tahun berselang Temgkorak maut munculkan
diri didunia.
Bila ia tinjau dari usia Tonghong Hui yakni putrinya, kira2 Tengkorak maut telah berusia enam
puluh tahunan lebih atau tujuh puluh tahun sekarang, mungkinkah pada lima puluh tahun
berselang ia sudah memiliki kemampuan untuk menaklukkan sepasang siluman hitam dan putih
yang tersohor karena kelihayannya?
Berpikir sampai disini, dengan wajah serius dia lantas bertanya kepada kedua orang itu:
"Benarkah kamu berdua disekap selama lima puluh tahun ditempat ini.?"
"Betul majikan"jawab siluman putih dengan Cepat.
"Dan kamu disekap oleh Pemilik benteng maut?"
"Benar!"
"Benarkah pemilik benteng maut bergelar juga Tengkorak maut?"
Mendengar pertanyaan itu sepasang makhluk aneh tersebut tampak tertegun dan keheranan:
Lama sekali siluman putih baru menjawab:
"Tengkorak maut? belum pernah kami dengar dengan sebutan nama seperti itu"
"Lalu apakah sebutan lain dari pemilik benteng maut yang menyekap kalian disini?" seru Han
siong Kie dengan sepasang alis matanya berkernyit.
"Kami berdua cuma tahu dia bernama pemilik benteng maut, yang lain sama sekali tidak tahu"
"Yaaa hal ini memang tak bisa salahkan kalian memang sudah terlalu lama kami berdua disekap
ditempat ini, jadi setelah keluar dari lembah ini kalian bersiap sedia untuk mencari balas dengan
pemilik benteng maut?"
Dengan ketakutan sepasang siluman hitam putih mundur selangkah kebelakang sahutnya:
"Tidak. .kami tidak berani berbuat demikian "
"Tidak berani ? Kenapa tidak berani ?" tanya si anak muda itu dengan perasaan tercengang.
Dengan menundukkan kepalanya siluman hitam menjawab:
"Berkat petunjuk dan bimbingan dari beliau, kami berdua dapat melepaskan diri dari dosa yang
amat berat, budi ini belum kami balas, mana berani kami menuntut balas kepadanya?"
"Bukankah kalian berdua yang mengatakan sendiri, bahwa kalian telah disekap disini oleh
pemilik benteng maut??"
"Benar, tapi perbuatannya ini boleh dibilang sebagai maksud baik dari dia orang tua"
"Maksud baik ? Apa maksud perkataanmu itu ?"
"Dia orang tua suruh kami berdiam dan hidup dilembah ini sambil menyesali perbuatan yang
telah kami lakukan selama ini, malahan mewariskan pula ilmu silatnya kepada kami" Berubah
hebat air muka Han siong Kie sehabis mendengar keterangan itu, serunya:
HAL. 14 S/D 17 HILANG
"Terima kasih atas kemurahan hati majikan "
Han siong Kie mendengus dingin ujarnya kemudian:
"Apakah aku boleh tahu apa maksud dan tujuan yang sebenarnya dari kamu berdua ketika
hendak mengangkat sumpah aneh itu dimasa lalu ?"
siluman putih menghela napas panjang setelah termenung sebentar sahutnya dengan wajah
serius:
"Panjang sekali kisahnya untuk diceritakan bagaimana kalau majikan berkunjung dulu ke rumah
kediaman hamba berdua, disitu barulah kami bercerita panjang lebar ?"
Han siong Kie berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk:
Dengan sikap yang sangat hormat Siluman putih mengiakan, bergeraklah perempuan aneh itu
menuju kearah tebing curam dibelakang gundukan tanah itu. sementara siluman hitam mengiringi
di belakang anak muda itu.
selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didalam sebuah goa yang lebar dan cukup
luas, siluman putih segera bergeser kesamping dan mempersilahkan majikannya untuk masuk
lebih dulu katanya:
"Majikan, pemilik benteng maut juga berdiam didalam gua batu ini" sambil menuding kearah
batu karang disebelah kiri lanjutnya:
"Itulah dia tempat mengasingkan diri dibalik tebing karang itu, sudah lima puluh tahun lamanya
tak pernah munculkan diri"
0000dw0000
BAB 62
MENGIKUTI arah yang ditunjukkan Han siong Kie menengadah keatas, ia lihat tebing karang itu
sangat tinggi dan tertutup kabut yang tebal maka sambil mengangguk diapun masuk kedalam goa.
Ruangan didalam gua itu sangat lebar dan kering, diantaranya terbagi pula menjadi tiga buah
goa yang agak kecil.
sesudah duduk diatas sebuah pembaringan batu dalam gua itu, sepasang siluman putih dan
hitam menghidangkan buah2an dan sayur-sayuran kemudian sambil mengambil semangkok air
bersih katanya dengan wajah bersungguh2:
"Disini tiada makanan lain silahkan majikan makan seadanya untuk mengisi perut"
Kebetulan Han siong Kie juga merasa lapar, maka tanpa sungkan2 ia menyikat makanan yang
dihidangkan untuk menangsal perut.
selesai bersantap. dia memerintahkan ke dua orang siluman itu untuk duduk lalu katanya:
"sekarang aku ingin mendengar kisah cerita kamu berdua dari awal sampai akhirnya terkurung
dilembah ini"
Sepasang siluman hitam putih itu tidak langsung menjawab, mereka saling berpandangan
sekejap. kemudian siluman hitam baru berkata dengan lembut:
"sumoay, biar akulah yang akan melaporkan kisah kejadian ini kepada majikan, tentunya
engkau tidak keberatan bukan?" siluman putih mengangguk. "Baik, suheng sajalah yang bercerita"
Perlahan-lahan siluman hitam menghadap ke arah Han siong Kie, lalu ujarnya:
"Majikan silahkan engkau mendengarkan sebuah kisah cerita yang akan kukisahkan berikut ini"
Agak bergolak perasaan hati Han siong Kie sesudah mendengar perkataan itu,pada puluhan
tahun berselang sepasang siluman putih hitam telah malang melintang dalam dunia persilatan,
setiap orang jeri dan
JILID^0 HAL. 22/23 HILANG
merasa sangat setuju dengan rencana dari gurunya itu, suatu hari ketika ketiga orang itu
sedang melakukan perjalanan diatas gunung chin nia, secara kebetulan telah mendapatkan
sepasang Bak ci "
"Bak ci?" seru Han siong Kie tak tahan, ia heran dan tidak mengerti dengan benda yang
disebutkan itu.
"Benar Bak ci adalah sejenis tumbuhan yang sangat langka sekali, bukan saja tak ternilai
harganya bahwa siapapun yang memakannya bisa awet muda dan berbadan sehat. Betapa
gembira mereka bertiga setelah mendapatkan Bak ci yang sangat berharga itu, kebetulan waktu
itu kami memang sedang menuju kebukit Chin nia untuk mencari beberapa macam bahan obat2an
sebagai kekuatan dalam latihan. Karena penemuannya ini maka kamipun lantas meninggalkan
tujuan semula dengan membawa sepasang Bak ci tersebut buru2 kami berangkat pulang ke
gunung."
Berbicara sampai disitu, kembali siluman hitam menghentikan ceriitanya, hawa napsu
membunuh yang sangat tebal tiba-tiba memancar keluar dari balik matanya dan menyelimuti
wajahnya yang hitam pekat, lanjutnya lebih jauh:
"Entah bagaimana kemudian, ternyata kabar berita tersebut telah tersiar luas keseluruh dunia
persilatan, ketika kami bertiga baru saja tiba kembali dirumah, tiba2 beratus-ratus orang jago lihay
dari golongan putih dan hitam melakukan penyerbuan secara besar-besaran, tentu saja tujuan
mereka yang terutama adalah sepasang Bak ci yang berharga itu"
" Karena tibanya bencana yang sangat mendadak ini, puluhan orang murid perguruan yang
waktu itu berkumpul dimarkas segera munculkan diri dan melakukan perlawanan, pertarungan
sengit berlangsung sepanjang malam, banyak anggota perguruan yang tewas ataupun cedera."
sekalipun ilmu silat yang dimiliki Ki Goan thong ketua perguruan Thian it bun sangat lihay
dandan berhasil membinasakan hampir lima puluh orang jago lihay yang menyerbu perguruannya,
tapi lama kelamaan sendiripUn kehabisan tenaga apalagi musuh yang harus dihadapi
HAL. 26/27 HILANG
"suheng biarlah aku yang melanjutkan bercerita"
siluman hitam mengangguk. maka siluman putih melanjutkan kembali ceritanya:
"setelah kejadian itu para jago lihay dari golongan putih maupun hitam yang ikut serta didalam
operasi tersebut melakukan pencarian dan penggeledahan secara besar2an diseluruh kolong langit
untuk menemukan jejak dua orang ahli waris dari perguruan Thian it bun, tapi rupanya mereka
hendak membasmi rumput hingga ke akar2nya sehingga tidak meninggalkan bencana dikemudian
hari. Karena penggeledahan secara besar- besaran itu, terpaksa sepasang kakak beradik
seperguruan itu melarikan diri keatas gunung yang terpencil untuk menyembunyikan diri sambil
melatih ilmu silat perguruannya. Delapan tahun kemudian mereka muncul kembali ke dalam dunia
persilatan dan melakukan pembantaian secara besar-besaran untuk menuntut balas atas sakit hati
yang telah menimpa perguruannya"
"Dan kedua orang ahli waris dari Thian it bun itu tentulah kalian berdua bukan?" seru Han siong
Kie kemudian.
"Tebakan majikan memang sangat tepat. Kedua orang itu memang tak lain adalah kami
berdua"
"Dan sepasang Bak ci tersebut telah kalian makan "
"Benar "
"Itu berarti semestinya wajah kalian tetap awet muda, kenapa sekarang malahan..."
"Maksud majikan, kenapa wajah kami berdua pada saat ini malahan berubah jadi makhluk aneh
yang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan ini ?"
"Jadi raut wajah tersebut bukan raut wajah kalian yang sebenarnya?" bukan menjaweb. Han
siong Kie malahan balik bertanya.
"Bukan, raut wajah kami yang asli tidak begini. Ketika kami sedang berlatih ilmu silat diatas
sebuah bukit, kami telah salah makan dua biji buah liar, dalam beberapa hari saja raut wajah kami
telah berubah jadi seaneh ini, oleh sebab itulah setelah turun gunung kami dianggap orang
sebagai makhluk siluman- dan dari sini pula orang lantas menyebut kami sebagai Hek pek siang
yu"
"0ooh, kiranya begitu"
"Maka dendam dan benci yang berkecamuk dalam dada kami berdua sukar dikendalikan lagi"
siluman putih melanjutkan, "maka setelah turun gunung kami mulai melakukam pembalasan
dendam, bukan saja musuh besar kami basmi bahkan keturunannya juga kami jagal secara keji,
hanya dalam sebulan saja sudah hampir seribu orang manusia yang kami bunuh, kejadian ini
segera menimbulkan rasa gusar dari umat persilatan dikolong langit, mereka bersatu padu untuk
menghadapi kami berdua.." Ia berhenti sebentar untuk tarik napas, lalu tambahnya:
"Dalam suatu pertempuran sengit yang kemudian berlangsung, kami berdua dikerubuti oleh
tiga ratus orang lebih jago2 persilatan dari seluruh pelosok dunia, keadaan kami sangat kritis dan
hampir saja jiwa kami melayang ditangan mereka, untung majikan lembah ini munculkan diri tepat
pada waktunya dan loloslah kami berdua dari ancaman bahaya maut, sejak itulah kami lantas
diboyong kelembah kematian ini dan harus berdiam disini untuk menyesali perbuatan kami selama
ini, kami memang bertobat karena beribu-ribu orang telah kami bunuh selama ini, begitulah dalam
sekejap masa lima puluh tahun sudah lewat tanpa terasa.."
"Kalau begitu sampai sekarang kalian masih belum melaksanakan perintah dari mendiang
gurumu?"
"Pesan terakhir apa?"
"Bukankah gurumu memerintahkan kepada kalian berdua untuk menikah dan menjadi suami
istri?"
siluman putih tundukkan kepalanya rendah2 dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
sedangkan siluman hitam segera menjawab:
"Tentang soal ini sampai sekarang belum kami laksanakan sebab kami berdua telah bersumpah
kecuali wajah kami dapat pulih kembali seperti sedia kala kami tak akan menikah"
Han siong Kie manggut2.
"sungguh sukar untuk melewatkan saat hidup selama lima puluh tahun lamanya tanpa
melanggar tata kesopanan, kalian memang beriman tebal... aku merasa sangat kagum..."
"Aah .. majikan terlalu memuji "
"Bagaimanakah caranya untuk memulihkan kembali raut wajah kalian yang rusak ini."
"Menurut keterangan yang diberikan majikan lembah ini kepada kami, buah liar yang telah kami
salah makan bernama Gi heng tok ko buah racun perubah wajah, dikolong langit dewasa ini hanya
ada seorang manusia yang bisa memunahkan racun buah itu dan dialah yang bisa memulihkan
kembali raut wajah kami berdua menjadi wajah yang aslinya"
"siapakah orang itu ?"
"orang itu bernama Ban tok cousu "
"Ban tok cousu ? Belum pernah aku dengar tentang nama tokoh silat ini "
"Benar, menurut keterangan yang berhasil kami kumpulkan, kemungkinan besar Ban tok cousu
sudah lama meninggalkan dunia ini, kami berharap bisa menemukan ahli warisnya"
Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan seseorang yakni Tok kun Dewa racun Yu Hoa yang
sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan Thian che kau, mungkinkah dia ahli waris yang
dimaksudkan?
"Aaah,. asal persoalan ini kutanyakan kepada engkoh tua pengemis dari selatan urusan pasti
akan beres" pikirnya dihati.
Diapun tidak mengungkapkan jalan pikirannya itu, hanya ucapnya dengan hambar:
"Kalau toh di dunia ada manusia yang bernama Ban tok cousu, rasanya tidak sulit untuk
menemukan ahli warisnya. ooh iya apakah kalian mengetahui keanehan serta kemisteriusan
apakah yang telah menyelimuti lembah kematian ini sehingga suasananya seram ini?"
Dengan penuh rasa hormat siluman hitam menerangkan.
"Disekitar mulut lembah kematian tumbuh sejenis rumput beracun yang tiada taranya dikolong
langit, rumput itu bernama sip poh Pak kut cau (rumput sepuluh langkah tulang putih) sampai
dimanapun kepandaian silat yang kau miliki bila rumput itu tersentuh maka sepuluh langkah
kemudian tubuhnya akan hancur.
JILID30 HAL. 34/35 HI LANG
"ouyang cianpwe juga sangat lihay dalam ilmu meramal, dia memiliki kemampuan untuk
meramalkan kejadian yang akan datang, ketika kami berdua masuk kedalam lembah ini, untuk
pertama kalinya beliau telah meramalkan bahwa lime puluh tahun kemudian kami berdua bakal
ditolong oleh orang pertama yang memasuki lembah ini dan selanjutnya muncul kembali dalam
dunia persilatan oleh sebab rahasia itu maka kami berdua lantas bersumpah akan menganggap
orang pertama yang memasuki lembah ini adalah majikan kami" Han siong Kie berdiri tertegun
sesudah mendengar keterangan itu, pikirnya:
"Kalau toh owyang Beng memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang,
kenapa ia tak dapat meramalkan kalau orang pertama yang akan masuk kedalam lembah ini
sebenarnya tak lain adalah musuh bebuyutan dari benteng maut?" Belum habis dia berpikir tiba2
siluman hitam telah berseru lagi dengan lantang:
"ooooh ya hampir saja kelupaan, sebelum menutup diri tempo hari, ouyang cianpwe telah
meninggalkan secarik kertas yang katanya kertas itu harus di serahkan kepada orang pertama
yang memasuki lembah ini. Dan orang yang dimaksudkan itu pastilah majikan"
Habis berkata dia lantas masuk kedalam gua batu yang ada di sebelah kanan, selang sesaat
kemudian dia telah muncul kembali sambil membawa secarik kertas kuning.
Dengan sikap yang sangat hormat kertas kuning itu lantas diangsurkan ketangan Han siong Kie.
Berdebar juga hati sianak muda itu menerima kertas kuning itu, dengan jantung yang berdetak
keras dia membuka lipatan kain kuning itu dan membaca isinya.
Ternyata isi kertas ini hanya beberapa bait kata yang sama sekali tak diketahui makna artinya:
"Tipu muslihat banyak didunia, bencana timbul karena saudara yang tak akur. Disaat dendam
tertera nyata, disanalah penghianat terbasmi lenyap"
Han siong Kie termasuk seorang pemuda yang cerdas dan berotak encer, tapi meskipun ia
sudah berulang kali mengulangi kata2 dari syair tersebut, toh tak berhasil juga memecahkan arti
kata2nya itu.
Andaikata keempat bait syair tersebut benar2 memang dibuat oleh ouyang Beng pemilik
benteng maut yang pertama khusus untuk dirinya, maka bait yang pertama tak perlu diterangkan
sudah jelas artinya.
Kemudian pada bait kedua dikatakan Bencana timbul karena saudara yang tak akur, dari sini
menunjukkan bahwa bencana yang sedang berlangsung sekarang timbulnya dari dua bersaudara
yang kurang akur hubungannya satu sama lain, lalu siapakah yang dtmaksudkan sebagai saudara
yang tidak akur itu ?
Pada bait ketiga dikatakan Disaat dendam tertera nyata padahal pada saat ini dia sudah tahu
bahwa musuh besarnya adalah tengkorak maut, apanya lagi yang kurang nyata ?"
Kemudian pada bait yang terakhir digunakan kata pengkhianat siapakah penghianat tersebut ?
Teka teki, suatu teka teki yang susah untuk dipecahkan.
Mereka tak dapat menyelusuri makna dari bait syair tersebut, terpaksa Han siong Kie
menyimpan kembali kertas kuning itu kedalam sakunya dengan suara agak emosi dia bertanya:
"Benarkah tulisan ini ditinggalkan owyang Beng pada lima puluh tahun berselang?"
siluman hitam mengangguk.
"Betul majikan sejak menutup diri pada lima puluh tahun berselang beliau tak pernah
munculkan diri lagi dari tempat pertapaannya itu"
"Apakah dia mengasingkan diri dalam dinding bukit ini"
"Apakah majikan ingin-.."
"Benar, aku ingin sekali berjumpa muka dengan dia orang tua"
"Dinding tebing ini hampir boleh dibilang tegak lurus dan curam sekali, jangankan manusia
monyetpun tak mampu untuk memanjatnya, lagipula kita toh tak tahu dimanakah owyang cianpwe
mengasingkan diri, kejadian tersebut sudah terjadi setengah abad lamanya, siapa tahu beliau
sudah pulang ke alam baka"
"Betul juga perkataan ini" pikir Han siong Kie di dalam hati, "toh aku tak ada kepentingan apa2
untuk menjumpainya, buat apa musti bersusah payah ?" Maka diapun alihkan pokok pembicaraan
kesoal lain-lainnya.
"Apakah kalian berdua sudah bulatkan tekad untuk mengangkat aku sebagai Majikan mu"
"sumpah yang telah kami lakukan tak akan kami ingkari kembali" jawab sepasang siluman putih
hitam bersama .
"Aku boleh sama membawa kalian keluar dari lembah ini, tapi kalian tak usah menyebut begitu
kepadaku, aku anggap saja diriku ini adalah sobat kalian ?"
"Tidak sumpah yang telah diucapkan tak boleh diingkari lagi" jawab, kedua orang itu tegas.
"seandainya aku tidak bersedia lantas bagaimana ?" tanya Han siong Kie tiba2. sepasang
siluman hitam putih tertegun, lama sekali siluman hitam baru berkata.
"Kalau memang demikian adanya, itu berarti kami berdua sudah tak punya muka untuk muncul
kembali dalam dunia persilatan, daripada hidup menanggung derita, lebih baik membereskan
nyawa sendiri saja"
Agak lama Han siong Kie termenung, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, lalu
diapun berkata:
"Begini saja, kalau aku disebut majikan... majikan.. geli rasanya hatiku, maka biarlah aku
mengambil jalan tengah, mulai hari ini kalian akan kuterima sebagai anggota perguruan Thian
lam, dan kalian sebut aku sebagai ciangbunjin, bukankah hal ini lebih enak di dengar??"
Buru2 sepasang siluman Hitam dan Putih jatuhkan diri berlutut keatas tanah.
"Tecu menghunjuk hormat buat ciangbunjin" seru mereka hampir berbareng.
"Bangunlah, setelah keluar dari lembah ini aku akan berusaha keras untuk memunahkan racun
Gi hang tot ko yang bersarang ditubuh kalian, setelah raut wajah kalian pulih kembali seperti sedia
kala maka kalian berduapun bisa memenuhi perintah dari mendiang guru kalian "
"Terima kasih atas bantuan cianbunjin" sahut kedua orang siluman itu setelah memberi hormat
merekapun bangkit berdiri
sekarang Han siong Kie baru teringat akan tujuan kedatangannya ketempat itu, sesudah
memeriksa sebentar kedalam goa itu katanya.
"Aku membutuhkan sebuah ruang yang bagus untuk mempelajari ilmu kepandaian, setelah itu
maka kitapun akan meninggalkan tempat ini"
"Ciangbunjin"" ujar siluman putih "tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah gua alam yang
bersih dan tenang, biarlah tecu pergi membereskan gua itu"
"Baik pergilah cepat"
selang beberapa saat kemudian siluman putih telah muncul kembali didalam gua tersebut
katanya:
"silahkan ciangbunjin menuju kedalam goa itu, makanan dan minuman setiap hari tecu akan
mengaturnya buat ciangbunjin"
Dengan penuh rasa haru dan berterima kasih Han siong Kie memandang sekejap kearah
sepasang siluman itu kemudian diapun melangkah keluar dari goa itu.
Benar juga, kurang lebih sepuluh kaki dari gua tersebut terdapat sebuah goa lain yang terdiri
dari batu2 cadas berwarna putih, setelah lima kaki memasuki goa tersebut, luas goa itu mencapai
tiga kaki lebih, tempat itu memang merupakan sebuah tempat berlatih silat yang paling ideal.
Setelah sepasang siluman hitam putih minta diri, dari sakunya Han siong Kie mengambil keluar
sarung tangan Hud jiu popit dan mulai memeriksanya dengan teliti.
setelah itu pelajaran yang tertera disana mulai dibaca, diteliti, diamati dan diselami artinya.
Dalam waktu singkat semua konsentrasi dan pikirannya telah terpusat menjadi satu, ia lupa
akan segala2nya kecuali mempelajari dan menyelami arti dari pelajaran yang didapatkan itu.
Waktu berlalu dengan cepatnya, baberapa hari sudah lewat tanpa terasa.
selama ini kadang kala tiga lima hari
JILID 30 HAL. 44 S/D 47 HILANG
itu termangu2, akhirnya dengan penuh emosi mereka berseru:
"Ciangbunjin, boleh kah kami tahu apakah hari ini juga kita akan tinggalkan lembah ini?"
Han siong Kie mengangguk.
"Betul dan kalian berdua boleh segera membereskan barang2 milik kamu berdua, sekarang
juga kita akan keluar dari lembah ini"
sudah lima puluh tahun sepasang siluman itu terkurung dalam lembah tersebut, bisa
dibayangkan betapa gembiranya dua orang itu setelah akan muncul kembali dalam dunia
persilatan, tanpa banyak bicara lagi mereka kabur kembali kedalam guanya dengan wajah berseri.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata yang tajam mengawasi keadaan disekitar tempat itu,
lalu dia melompat naik ke atas sebuah dinding cadas yang besar dan tingginya mencapai sepuluh
kaki lebih, dengan bacokan telapak tangannya ia membuat sebuah lubang diatas batu tersebut,
kemudian memasukkan sarung tangan Hud jiu popit ke dalam lubang batu tadi dan setelah itu
batu cadas yang amat besar itu didorong menempel diatas dinding bukit dan menutupi bagian
yang berlubang tadi..
Dengan begitu, maka benda mustika dunia persilatanpun tersimpan untuk selamanya dalam
sebuah batu cadas raksasa yang amat besar dan berat itu, siapapun jangan harap bisa
mendapatkannya kembali.
sementara itu sepasang siluman juga sudah selesai bebenah, mereka masuk gua tempat
tinggainya selama ini, dan dengan membekal senjata andalan mereka dimasa lalu, buru2
menghampiri pemuda tersebut.
sementara itu Han siong Kie sedang memandang ujung lembah itu dengan sorot mata setajam
sembilu. katanya kemudian dengan suara dingin:
"Setelah keluar dari lembah ini, kita akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran"
"Melakukan pembunuhan?" tanya sepasang siluman dengan wajah tertegun.
"Benar, sewaktu hendak masuk lembah ini, aku telah melangsungkan pertarungan melawan
tokoh2 sakti dari perkumpulan Thian che kau, salah seorang diantara mereka yang dinamakan
utusan Thian che kau telah mampus dalam lembah ini, bila dugaanku tidak meleset, sudah pasti
mereka telah mengurung mulut lembah ini sambil menunggu kemunculanku"
JILID 30 HAL. 50/51 HILANG
Jago2 lihaynya untuk menyumbat mulut lembah tersebut, padahal sudah tiga bulan lamanya ia
berdiam dalam lembah kematian untuk mempelajari si mi sinkang yang tercantum dalam Hud jiu
popit dan sekarang terbukti bahwa musuhpun melakukan patroli selama tiga bulan disekitar
perbatasan, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa musuh memang tidak berhasrat untuk
melepaskan dirinya.
Dalam pada itu ke dua belas orang laki2 baju hitam itu telah berhasil melihat jelas keadaan
lawannya, tiba2 mereka menunjukkan wajah tercengang, kaget dan ngeri, tanpa disadari
beberapa orang itu telah mundur beberapa langkah kebelakang.
Kiranya mereka telah menyaksikan makhluk setengah manusia setengah setan yang berada di
belekang Han siong Kie, yakni Hek pek siang yu yang menyeramkan itu.
sebagai mana diketahui Hek pek-siang yu memiliki tampang yang mengerikan sekali, siapapun
yang melihat tampang itu niscaya akan bergidik dan ketakutan setengah mati.
setelah mundur sampai beberapa kaki jauhnya, kedua belas orang laki2 baju hitam itu baru
berhenti mundur, salah seorang di antaranya lantas bersuit nyaring, suitan tersebut panjang,
tajam dan menjulang jauh ke udara.
Hek pek siang yu menunjukkan sikap menghina, tiba2 mereka bertanya dengan suara dalam:
" Ciangbunjin, kawanan tikus dan kacoak ini berasal dari aliran atau perguruan mana?"
"Mereka ? siapa lagi kalau bukan anak buah dari perkumpulan Thian che kau??"
"Apa maksud mereka menunggu disini?? "
"Apa lagi? Tentu saja menunggu kemunculanku"
"Jadi kawanan manusia ini juga yang selama ini mengejar dan menyerang Ciangbunjin?"
Han siong Kie tidak menjawab, tapi dia mengangguk.
sepasang siluman hitam dan putih segera mendengus dingin, siluman hitam menyingkir
kesamping dan memberi hormat, katanya:
"ciangbunjin, berilah petunjuk kepada hamba bagaimana caranya kita harus selesaikan
kawanan babi itu?"
"Bunuh sampai ludas" jawab Han siong Kie ketus.
Ucapan tersebut ibarat bunyi terompet malaikat elmaut yang hendak mencabut nyawa
manusia, tanpa disadari dua belas orang laki2 baju hitam itu bergidik dan mengucurkan peluh
dingin, pedang mereka dipegang semakin erat, bahkan kelihatan bergetar keras, jelas orang2 itu
sudah siap melancarkan serangan.
sepasang malaikat hitam putih menjengek sinis, tiba2 mereka membentak nyaring kemudian
menerjang kearah gerombolan manusia itu.
Perlu diketahui dua belas orang laki2 baju hitam itu adalah jago2 kelas dua dalam perkumpulan
Thian che kau, mungkin nama mereka cemerlang dan disegani orang dalam dunia persilatan maka
mereka diutus untuk melakukan patroli di sepanjang perbatasan antara mati dan hidup,
Tapi sekarang, tatkala dilihatnya dua orang makhluk aneh hitam dan putih itu menerjang tiba,
serentak mereka saling berpandangan kemudian menyebarkan diri ke empat penjuru sambil
berteriak mereka putar senjata dan menyambut tibanya serangan "Haahhh haaaahh haaahhh"
"Hiiiihhh hiiiihhh hiiiihhh"
Ditengah gelak tertawa aneh yang satu keras dan yang lain lembut sepasang manusia hitam
putih telah menerkam kedalam lapisan pedang dan menyambar musuh2nya.
Jerit kesakitan, dengusan berat menjelang sekarat berkumandang dlangkasa men-cabik2
kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu.
Hancuran badan ceceran darah berhamburan menodai perrmukaan tanah, keadaan disaat itu
benar2 mengerikan-
Tapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama hanya sebentar tak sampai seperminum teh
suasana pulih kembali dalam keheningan-
Tiada manusia yang hidup lagi disitu, kecuali Han siong Kie bertiga, dua belas orang lelaki
perkasa itu kini sudah berubah adi mayat, mayat2 yang tak utuh dan berlepotan darah kental.
Hanya dalam beberapa gebrakan Hek pek-siang yu telah membereskan dua belas orang jago
Thian che kau, kelihayan tersebut cukup mengagumkan, diam2 Han siong Kie menggukkan
kepalanya berulang kali.
00d00000w00
BAB 63
SELESAI membereskan kedua belas orang musuhnya, sepasang siluman hitam putih berjalan
kembali kehadapan Han siong Kie, kemudian berkata: " Ciangbunjin, tecu berdua telah
menyelesaikan tugas ini dengan sempurna"
"Bagus" puji si anak muda itu, "mari kita tinggalkan tempat."
Ucapan itu belum habis diucapkan tiba2 dari depan sana muncul tiga sosok bayangan manusia,
cepat sekali gerak tubuh ketiga orang itu.
Han siong Kie lantas membatalkan perkataannya dengan pandangan setajam sembilu dia awasi
orang2 tersebut.
Kiranya orang yang baru datang adalah san tianjin (telapak tangan kilat) se bun Lui, salah
seorang diantara utusan Thian che kau didampingi dua orang kakek jubah hitam.
setibanya ditempat kejadian ketiga orang itu memandang sekejap mayat yang bergelimpangan
ditanah lalu berseru kaget, enam buah sorot mata secepat kilat dialihkan ke wajah Han siong Kie
bertiga.
Tatkala sinar mata mereka bertemu pandang dengan Hek pek siang yu untuk kesekian kalinya
tiga orang kakek jubah hitam itu menjerit tertahan, pucat pias wajah mereka.
Tampang aneh dari Hek pek siang yu tiada keduanya didunia ini, meskipun mereka adalah
gembong2 iblis yang sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, namun dalam sekilas
pandangan saja baik se bun Lui maupun dua orang kakek lantas mengetahui siapa gerangan
mereka itu.
Hek pek-siang yu yang disegani dan ditakuti orang ternyata masih hidup didunia bahkan berada
dalam satu rombongan dengan Han siong Kie, peristiwa ini benar2 diluar dugaan dan mengejutkan
hati siapa pun juga.
selain itu merekapun heran bahwa Han siong Kie berhasil keluar dari lembah kematian dalam
keadaan hidup walaupun sudah tiga bulan lamanya tak muncul kembali dari situ.
JILID30 HAL. 58/59 HILANG
bermaksud untuk melakukan pengejaran sesudah termenung dan berpikir sejenak, akhirnya
kepada sepasang siluman itu dia berkata: "Hayo, kitapun pergi dari sini "
Dengan gerakan cepat ia lantas berangkat lebih dulu tinggalkan tempat tersebut, Hek pek siang
yu juga tidak mengatakan apa2, dengan cepat mereka bertiga sudah jauh meninggalkan tempat
semula, mulut lembah nampak nun jauh didepan sana.
sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan seorang manusiapun, suasana hening, sepi
dan tak nampak seorang manusiapun.
setelah berhasil dengan ilmu saktinya, Han siong Kie tidak memikirkan soal2 yang lain, hanya
satu menjadi beban ingatannya selama ini yakni menuju kebenteng maut untuk membalas
dendam.
Tiga li kemudian mereka akan tiba di mulut lembah tersebut, disaat itulah mendadak terdengar
seseorang membentak keras, suaranya nyaring ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari
bolong.
"Berhenti"
Han siong Kie terperanjat, cepat dia hentikan gerak tubuhnya, ia tak tahu suara itu berasal dari
balik hutan lebat kurang lebih sepuluh kaki disisi kanannya.
Hek Pek siang yu tak dapat mengerem gerak tubuhnya yang terlanjur bergerak cepat itu,
mereka harus berlarian tiga kaki lagi sebelum berhasil mengendalikan tubuhnya dan berhenti.
"siapa?" bentak Han siong Kie kemudian dengan suara dingin.
"Aku nak. jangan gugup" sahut orang itu.
Han siong Kie semakin terperanjat, sebelum ia sempat berbuat sesuatu ibarat peluru yang
meluncur kedepan, tahu2 sepasang siluman hitam putih sudah melayang kearah mana berasalnya
suara itu.
Pelbagai ingatan dengan cepat melintas dalam benak sianak muda itu, cepat ia memburu pula
kedepan kearah mana berasalnya suara itu.
sesosok bayangan manusia tiba2 menyongsong datang dengan cepatnya karena sama sekali
tidak menduga, hampir saja saling bertumbukan satu sama lainnya
Ditengah jeritan kaget dari kedua belah pihak. orang itu melayang turun keatas permukaan
sementara Han siong Kie sendiripun cepat menahan gerakan tubuhnya.
orang itu ialah seorang perempuan, bahkan seorang perempuan berkerudung hitam meskipun
tak dapat dilihat bagaimanakah raut wajahnya, tapi Han siong Kie tahu siapakah dia.
Dalam pada itu Hek pek siang yu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah melayang
pula kedalam gelanggang, begitu mencapai tempat tersebut, serentak mereka menerjang
perempuan berkerudung itu.
42
"Mundur... jangan gegabah" bentak Han Siong Kie tiba2 dengan suara lantang.
Sepasang siluman hitam putih tercengang, cepat mereka tarik kembali serangannya dan
mundur sejauh tiga kaki dari tempat semula, dengan pandangan keheranan ditatapnya pemuda itu
tak berkedip.
"cianpwe" " kata Han Siong Kie kemudian sambil memberi hormat kepada perempuan
berkerudung itu, "maafkanlah kekasaran serta kecerobohan beanpwee"
Siapa gerangan perempuan berkerudung itu ? Dia tak lain adalah manusia misterius yang
menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma.
Tatkala mendengar suara bentakan tadi, rupanya Han siong Kie sudah tahu bahwa ia sedang
berhadapan dengan orang yang kehilangan sukma, tapi berhubung dia ingin mengetahui raut
wajah asli dari perempuan misterius itu, maka bukan saja tidak mencegah sepasang siluman untuk
menerjang ke muka, malahan dia sendiripun menyergap masuk kedalam hutan dengan
mengerahkan dua belas bagian hawa saktinya.
Dan kala ini tujuannya tercapai, perempuan misterius yang bernama orang yang kehilangan
sukma itu tak sempat menyembunyikan diri lagi.
Tapi pemuda itu merasa kecewa, sebab perempuan itu menutupi wajahnya dengan kain
kerudung hitam, akhirnya toh ia tak berhasil juga untuk melihat paras muka dari perempuan
misterius itu.
Sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata dengan lembut:
"Nak. rupanya Thian selalu melindungi engkau, akhirnya kau bisa keluar dari lembah kematian
dengan selamat"
"Terima kasih atas perhatian dari cianpwe" "sahut pemuda itu cepat-cepat.
selama mulutnya berbicara sorot matanya yang tajam mengawasi potongan badan orang yang
kehilangan sukma tanpa berkedip. diam-diam ia merasa amat kenal dengan potongan tubuh
perempuan ini, hanya ia lupa dimanakah ia pernah bertemu dengannya.
Ketika sinar matanya beralih kearah lengan baju kanannya, ia bergetar keras seperti kena listrik
tubuhnya gemetar menahan emosi:
" Itulah pengorbanan dari orang yang kehilangan sukma untuk membebaskan totokan jalan
darah pada tubuhnya, dia telah mengorbankan lengan kanannya dan lengan tersebut hingga
sekarang masih tersimpan di sakunya.
JILID 31 HAL.04 S/D 5 HILANG
lembah, carilah jalan keluar yang lain dan segeralah engkau tinggaikan tempat ini"
"sayang sudah terlambat" tiba2 serentetan suara dingin menyeramkan membelah kesunyian.
sekujur badan orang kehilangan sukma gemetar keras, secara beruntun dia mundur beberapa
langkah lebar kebelakang.
Rasa kejut yang dialami Han siong Kie pun sukar dilukiskan dengan kata2, ia percaya tenaga
dalamnya pada saat ini sangat lihay, tapi kenyataannya ada orang berhasil mendekat wilayah
sekitar lima kaki dari tempat mereka beradapun tidak dirasakan olehnya, dari sini dapat ditarik
kesimpulan sampai dimanakah kelihayan musuhnya itu.
Hek Pek siang yau sepasang siluman hitam putih juga sudah menyadari akan kelihayan
musuhnya, mereka lantas bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Dari balik popohonan lima kaki dari gelanggang, muncul tiga sosok bayangan manusia, orang
pertama adalah seorang manusia aneh berkerudung hijau, dia adalah Thian Che kaucu,
dibelakangnya mengikuti dua orang kakek jubah hitam yang mempunyai sulaman matahari,
rembulan dan bintang didadanya, salah seorang diantaranya adalah Tangan kilat see bun Lui.
Paras muka Han siong Kie berubah hebat, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh
wajahnya.
sikap orang yang kehilangan sukmapun amat serius, dengan suara lirih dia berbisik kepada Han
siong Kie:
"Manusia berkerudung itu adalah pemimpin dari Utusan Thian che kau, orang sebut dirinya
sebagai Cian jiu mo ong (raja iblis bertangan seribu) Tong ciao, selama ini dialah yang selalu
menyaru sebagai ketua. Hari ini, ketiga orang itu jangan sekali-kali kau lepaskan dalam keadaan
hidup, sebab bila seorang saja diantara mereka masih hidup, maka akibatnya sukar dilukiskan
dengan kata-kata" Han siong Ki mengangguk dan memberikan kesanggupannya.
Dalam pada itu, raja iblis bertangan seribu Tong ciau sudah berpaling kearah orang yang
kehilangan sukma, kemudian sambil tertawa seram ejeknya:
"Heeehhh . . heeehhh . . heeehhh. .Aku mengira siapa yang berada disini, tak tahunya adalah
kau"
Ucapan tersebut membuat Han siong Kiejadi tertegun dia lantas berpikir dihati:
"Masakah orang yang kehilangan sukma adalah anggota perkumpulan Thian che kau? Kalau
tidak kenapa orang ini mengenalinya ?"
Sementara itu orang yang kehilangan sukma telah membentak nyaring: "Tutup mutut
anjingmu"
Jelas sekali maksudnya dia tidak mengharapkan orang itu meneruskan kata-katanya lebih jauh.
Kepada Han siong Kie kembali dia berbisik,
"Ingat, jangan biarkan mereka tetap hidup, akan kubantu dirimu secara diam-diam" selesai
berkata dia lantas melejit keudara dan kabur dari tempat kejadian.
"Mau lari kemana kau ?" bentak Raja iblis bertangan seribu Teng Ciau dengan keras, secepat
kilat ia menerkam kemuka.
Han siong Kie mendengus dingin, tubuhnya bergeser setengah langkah ke samping lalu
melepaskan sebuah pukulan gencar, dalam serangan tersebut dia telah sertakan hawa sakti si mi
sinkang yang di milikinya, bukan saja tidak menimbulkan suara kekuatannya sangat mengerikan-
"Blaaang" suatu benturan nyaring menggelegar diangkasa, raja iblis bertangan seribu Teng ciau
yang sedang melakukan pengejaran segera terpental hingga mencelat sejauh delapan depa dari
tempat semula.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah, orang yang kehilangan sukma melarikan diri
dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan-
Kejadian ini sangat mengejutkan dua orang utusan Thian che kau yang lain, hampir saja
mereka menjerit kaget.
selama hidup belum pernah mereka saksikan kemampuan sedahsyat itu, dan mimpipun mereka
tak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki pemimpin utusan Thian che kaupun ternyata
pemuda itu tak mampu dihajar sampai menceat.
Han siong Kie sendiri dengan sorot mata setajam sembilu mengawasi manusia berkerudung itu
tanpa berkedip. mukanya seram dan penuh diliputi hawa napsu membunuh mengerikan sekali
keadaannya.
JILID 31 HAL. 12/13 HILANG
sukma bagaikan menghormati orang tua sendiri ketika didengar pihak musuh memaki orang
yang dihormati sebagai perempuan hina, kontan saja ia naik pitam.
"Tutup mulut anjingmu yang baur bentaknya, "Teng ciao tempat inilah tulang belulang kamu
bertiga akan terkubur untuk selamanya "
"Anjing cilik, kematian sudah berada didepan mata, buat apa engkau masih saja mengibul
seenaknya ?" ejek Tangan kilat se bun Lui tak kalah sengitnya.
Han siong Kie tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, dia ulapkan tangannya kepada
Hekpek siang yu lalu, serunya:
" Hantar kedua ekor anjing ini pulang keakherat, jangan biarkan mereka tetap hidup dikolong
langit "
Dengan sikap yang sangat hormat sepasang siluman mengiakan tanpa banyak bicara lagi
mereka menerjang dua orang utusan Thian che kau itu.
siluman hitam menerkam si Tangan kilat se bun Lui, sementara siluman putih menerjang
utusan Thian che kau yang lain-
Han siong Kie sendiri dengan wajah sedingin es menghampiri Raja iblis bertangan seribu,
katanya:
"Teng ciao sudah terlampau lama engkau mencicipi kehidupan didunia ini, sekarang pun
ciangbunjin akan mengirim kau untuk berpesiar keakhirat, Nah berangkatlah sekarang juga"
seraya berkata selangkah demi selangkah ia menghampiri lawannya. Suatu pertarungan sengitpun
segera berkobar dalam gelanggang.
Ilmu silat yang dimiliki dua orang utusan Thian che kau itu, memang sangat lihay, dalam
keadaan terdesak mereka harus melangsungkan pertarungan adu jiwa yang mengerikan-
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau adalah pengganti dari Thian che kaucu, tentu saja tenaga
dalamnya amat sempurna, dia hanya kalah setingkat dari kaucu sendiri
Tatkala Han siong Kie menerjang masuk kewilayah Lian huan tau dan menolong Go siau bi,
kedua belah pihak pernah terlibat dalam suatu pertempuran sengit waktu itu, kendatipun Han
siong Kie dan Go siau bi sudah bekerja sama toh bukan tandingannya juga, maka ia sama sekali
tak memandang sebelah matapun kepada musuhnya.
selama ini dia hanya menguatirkan Pertarungan dari Hekpek siang yu, seorang gembong iblis
yang sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari keramaian dunia, setelah melihat bagaimana dua
orang jago yang disegani itu bertarung melawan dua orang rekannya, diapun setengah menjadi
lega. kini dia lupa untuk mengejar orang yang kehilangan sukma, memandang Han siong Kie yang
makin mendekat, gembong iblis tersebut lantas tertawa seram, katanya:
"Manusia bermuka dingin, masih mengharapkan tidak untuk melanjutkan keturunan dan
kejayaan dari Mo tiong ci mo?"
Han siong Kie menghentikan langkahnya lalu menjawab:
"Teng ciau, tak tak usah mempersoalkan yang lain, ketahuilah... jika Thian che kaucu masih
bersembunyi terus macam kura-kura, maka manusia-manusia pengganti macam engkaulah yang
bakal sial, sebab ini hari engkau sudah pasti akan berangkat menuju ke akherat"
Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan, secepat kilat dia melancarkan tiga buah pukulan
berantai ke depansekilas
pandangan, ketiga buah serangan tersebut sama sekali tidak nampak lihay ataupun
mengerikan, tapi justru dibalik kelembutan itu terselip hawa sakti si mi sinkang yang memiliki daya
penghancur, bukan begitu saja, bahkan kecepatannya melebihi apa pun juga.
Raja iblis bertangan seribu Tong cian sedikitpun tidak jeri, telapak tangannya lantas disilangkan
didepan dada dan menangkis semua ancaman yang tiba. "Biang Blaang Blaaang " Tiga kali
benturan dahsyat menggelegar diangkasa.
Raja iblis bertangan seribu Teng ciau tergetar keras dan mundur tiga langkah, rasa kejutnya
kian menjadi, dia tak menyangka hanya berpisah beberapa bulan, ternyata kekuatan tenaga yang
dimiliki musuhnya sudah meningkat sehebat itu.
Padahal ia sendiri disebut orang Raja iblis bertangan seribu, tentu saja tenaga dalam yang
dimilikinya amat sempurna, ia jadi penasaran, begitu terdesak secepat kilat ia menerkam lagi
kemuka dan secara beruntun melancarkan empat puluh delapan buah pukulan berantai.
Ke empat puluh delapan buah pukulan itu dilancarkan secara berantai, diatas
JILID 31 HAL. 18/19 HILANG
kan tandingan baginya, sungguh tak nyana baru tiga gebrakan dia sudah jatuh kecundang di
tangan Manusia bermuka dingin yang berusia dua puluh tahunan, kejadian ini segera
menimbulkan kembali sifat buasnya.
sambil membentak keras, sekali lagi ia menerjang kemuka, serangan demi serangan
dilancarkan secara bertubi-tubi, mengerikan sekali ancamannya itu.
Han siong Kie sama sekali tidak gentar, dia kembangkan permainan Mo mo ciang hoat dan
membalas serangan lawan deagaa serangan pula.
Mengerikan sekali pertarungan waktu itu, kedua belah pihak sama-sama mengeluarkan
segenap ilmu simpanan yang dimiliki, siapa pun berharap bisa menghancurkan lawannya secepat
mungkin.
Suatu ketika, mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang membelah angkasa.
si Tangan sakti se bun Lui yang hebat tak mampu menghindari sebuah sergapan kilat dari
siluman hitam, tubuhnya kontan terbacok telak dan hancurlah tubuhnya menjadi remuk seperti
berkedel, darah segar berceceran menodai permukaan tanah.
Melihat rekannya tewas, utusan Thian vhe kau yang lain jadi gugup, permainan serangannya
jadi kacau balau tak karuan-
Kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan oleh siluman putih, suatu cengkeraman kilat
berhasil menangkap bahunya, baju berikut dagingnya lantas dicomot sampai hancur sepanjang
setengah depa, darah segar bagaikan pancuran mengucur keluar tiada hentinya.
00dw00
BAB 64
BERHASIL dengan serangan yang pertama, siluman putih tidak berdiam diri sampai disitu saja,
secara beruntun dia melontarkan kembali tiga buah pukulan berantai.
Begitu tiga pukulan itu dilepaskan, untuk kesekian kalinya jerit kesakitan berkumandang
memecahkan kesunyian, sambil muntah darah segar utusan Thian che kau itu mencelat sejauh
satu kaki lebih dan tidak bangun untuk selamanya.
Raja iblis bertangan seribu Tong ciau merasa terkejut dan panik, dalam gugupnya secara
beruntun dia lepaskan beberapa buah pukulan kilat begitu Han siong Kie terdesak hebat, ia lantas
melejit dan siap melarikan diri
"Mau kabur ?" jengek Han siong Kie, "jangan mimpi hayo serahkan dulu jiwa anjingmu"
sekali berkelebat ia sudah menghadang jalan pergi raja iblis bertangan seribu itu, secara
beruntun dia lepaskan lima buah serangan berantai.
Melihat gelagat tidak menguntungkan- raja iblis bertangan seribu tak berani gegabah lagi,
timbullah niat untuk mengadu iiwa, maka tatkala serangan musuh melanda datang, bukannya
berkelit dia malahan menyongsong datangnya pukulan itu dengan pukulan.
selama pertempuran berlangsung, Han siong Kie tak bisa bertarung dengan hati lega, karena ia
kuatir kalau dua orang musuh yang sedang bertempur melawan Hek pek siang yu berhasil kabur,
ia kuatir dengan peringatan dari orang yang kehilangan sukma dimana dikatakan bila seseorang
diantara mereka berhasil kabur maka akibatnya sukar dibayangkan-
Tapi sekarang, setelah dua orang yang di kuatirkan berhasil dibikin mampus oleh sepasang
siluman, iapun tidak kuatir lagi, segenap perhatian dan tenaganya dihimpun menjadi satu untuk
melakukan sergapan sergapan maut. Lima gebrakan kemudian, Raja iblis bertangan seribu sudah
dibikin kalang
JILID 31 HAL. 24 S/D 27 HILANG
ia masih berada disini:.. aaai sukarlah untuk diketahui siapa yang bakal hidup dan siapa yang
bakal mati"
"Aaah belum tentu begitul" seru Han siong Kie dengan cepat.
"sekarang engkau adalah seorang ketua dari suatu perguruan, sebelum dendam sakit hatimu
terbalas setiap persoalan yang kau hadapi harus dipikirkan dengan otak dingin, janganlah terlalu
memburu napsu, ketahuilah ilmu silat ibaratnya samudra yang luas, dimanapun ada orang-orang
pintar yang tersembunyi, jangan disebabkan oleh luapan emosi mengakibatkan segala sesuatunya
menjadi berantakan"
Merah padam selembar wajah Han siong Kie setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan
terbata:
"Setiap nasehat dari cianpwe akan boanpwe dengarkan baik-baik, untuk selanjutnya tat akan
kulupakan lagi"
"Aaah sekarang cepatlah keluar dari lembah ini, aku kuatir bila terlambat maka akan terjadi halhal
yang tak diinginkan"
"Bukankan cianpwe lelah mengatakah bahwa disekitar mulut lembah telah ditanam obat
peledak seberat sepuluh laksa kati"
"Benar, tapi sekarang pemimpin mereka yang merupakan ketiga orang tadi sudah mati semua,
sisanya tak perlu kita takuti lagi, mesti kita bergerak dengan bersembunyi dibalik pepohonan, aku
rasa untuk sementara waktu kita masih bisa mengelabuhi mereka sebab yang tersisa cuma jagojago
kelas kambing. Kendatipun akhirnya jejak kalian berhasil ditemukan, toh pada waktu itu
kalian sudah berada disekitar mulut lembah dan wilayah yang ditanam obat peledakpun sudah
dilampaui, aku percaya dengan kemampuan ya kalian miliki tak sukar untuk kabur dari sini, Nah,
selamat jalan dan semoga berhasil"
Selesai dengan kata-katanya, orang yang kehilangan sukma lantas berkelebat masuk ke hutan
dan lenyap dibalik pepohonan yang rindang.
Dengan termangu- mangu Han Siong Kie mengawasi bayangan punggungnya yang lenyap dari
pandangan, dia menghela nafas panjang, lalu berpikir:
"Budi kebaikan yang kuterima selama ini entah sudah berapa banyak. aai, entah bagaimana
caraku untuk membalas budi kebaikannya ini?
Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, akhirnya sambil mengulapkan tangannya kepada
sepasang siluman ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya menerjang ke arah mulut lembah.
selang sesaat kemudian, mulut lembah itu sudah berada didepan mata, pepohonan yang
rindangpun sudah mencapai pada ujungnya.
Ketika mereka berada kurang lebih lima puluh kaki dari mulut lembah, serentak Han siong Kie
menancap gas dan kabur lebih cepat lagi, kepada dua orang siluman itu serunya: "Hayo kita
terjang keluar dari lembah ini secepat-cepatnya..."
Tiga sosok bayangan manusia bagaikan tiga gulung asap dengan cepatnya meluncur kearah
mulut lembah. suitan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian disusul dari belakang
mereka bergelegar suara ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.
Pasir dan batu mencelat jauh keudara, asap hitam tanah longsor berguguran disekitar tempat
itu membuat suasana ketika itu benar-benar mengerikan sekali.
Akhirnya meledak juga obat yang ditanam disekitar mulut lembah, tapi sayang terlambat
setengah langkah, Han siong Kie sudah lolos dari lingkaran bahan peledak itu.
Keadaan mulut lembah itu porak poranda keadaannya mengerikan sekali, batu cadas sebesar
gunung dan pasir berjuta-juta meter kubik berguguran kebawah dan menyambar semua lapisan
tanah disekitar situ.
Baik Han siong Kie maupun Hekpek siang yau saling berpandangan sekejap dengan mulut
melongo bergidik hati mereka, andaikata orang yang kehilangan sukma tidak memberi peringatan
lebih dahulu, niscaya mereka bertiga sudah hancur entah berwujud apa.
Bisa dibayangkan betapa gusar dan dendamnya siluman hitam menyaksikan keadaan itu, ia
berpaling ke arah pemuda kita lalu berseru: "Ciangbunjin, hutang ini...."
"Hutang kita kepada mereka tidak terbatas hanya peristiwa ini saja" tukas Han siong Kie
dengan cepat, lebih baik kita perhitungkan dikemudian hari saja, sekarang aku masih ada urusan
penting yang harus segera diselesaikan marilah kita segera pergi"
siluman putih menyapu pandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu berkata pula dengan
suara dalam:
"Ciangbunjin, tolong tanya bagaimana kita harus selesaikan anakan monyet yang bersembunyi
di sekitar tempat ini?"
"Kalau ingin mencari balas sudah sepantarnya kita bikin perhitungan dengan pemimpin mereka,
apa harganya buat kita untuk ribut dengan manusia-manusia keroco seperti mereka? Biarkanlah
mereka pergi"
selesai mengucapkan kata-kata tersebut, Han siong Kie segera berangkat meninggalkan tempat
itu diikuti Hekpek siang Yaw di belakangnya
Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah jauh tinggalkan lembah kematian, tujuan mereka
sekarang adalah benteng maut.
Inilah tugas pertama yang harus diselesaikan olehnya setelah berhasil mempelajari Ilmu sakti si
mi sinkang, dia hendak menuntut balas dan menghancurkan tengkorak maut.
Untuk menghindari kegemparan dikalangan masyarakst oleh wajah Hekpek siang yau yang lain
daripada yang lain itu, sengaja ia memerintahkan kedua orang itu untuk mengenakan kain
kerudung hitam.
Hari kedua, tatkala tengah hari menjelang tiba, mereka sudah berada ditepi sebuah sungai
yang lebar, perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri sungai tersebut.
Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba disamping sebuah bekas bangunan rumah yang kini
sudah tinggal puing-puing yang berserakan, disitulah dahulu pesanggrahan Teng to siau cut
berdiri
Terkenang kembali masa lampau, tanpa terasa Han siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya,
dengan termangu- mangu ia memandang bekas bangunan Teng to siau cut yang tinggal puingpuing
itu.
Tanpa terasa ia teringat kembali kenangan masa lampau, kenangan dikala ia terhajar oleh
pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai, bagaimana ia ditolong oleh Go siau bi dan
bagaimana pesanggrahan tersebut akhirnya dibakar oleh orang-orang Thian che kau.
Bayangan Go siau bi yang cantik jelita terpampang jelas didepan matanya, gadis itu telah jatuh
cinta kepadanya pada tatapan yang pertama, bahkan berulang kali menyatakan cinta kepadanya.
Tapi ia sama sekali tidak membalas cinta dara itu, ia tak pernah mencintai Go siau bi, sebab ia
membenci setiap perempuan yang ada didunia ini kecuali Tong hong Hui seorang.
Akhirnya pemuda itu menghela napas panjang, tiba-tiba ia merasa bahwa perbuatannya selama
ini terlalu menyinggung perasaan halus gadis itu, tapi sekarang dia sudah pergi, mungkin
selamanya tak mungkin bisa berjumps lagi.
Benarkah aku telah menghancurkan masa depan seorang gadis ? Benarkah aku bertanggung
jawab atas kejadian ini? ia mencoba untuk bertanya pada diri sendiri, tapi pemuda itu tak mampu
menjawab.
Tindakan ibunya say siang go atau siang go cantik ong cul ing meninggalkan tempat kejadian
dikala keluarganya tertimpa bencana bahkan kawin lagi dengan Thian che kaucu dirasakan
sebagai pukulan batin terberat yang pernah ia terima, kejadian ini membuat pandangannya
terhadap kaum perempuan jadi sinis dan benci.
Untunglah selama ini dia banyak berhutang budi kepada orang yang ada maksud, orang yang
kehilangan sukma, Go siau bi serta Tong hong Hui, sikap dari perempuan-perempuan inilah yang
banyak menggoyahkan cara berpikirnya yang salah itu, perasaan anti perempuan yang
dipertahankan selama ini pun lambat laun menjadi lebih tawar.
Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang puing yang berserakan serta ombak yang
memecah ditepi pantai, kian lama perasaannya kian terbuai oleh lamunan dan kenangan lama.
Hekpek siang yau tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dengan tenang mereka menunggu di
belakang ketuanya.
Tiba-tiba dari balik puing-puing yang berserakan berkumamdang suara helaan napas panjang.
Satu ingatan lantas melintas dalam benak si anak muda itu, ia tersadar kembali dari
lamunannya kepada sepasang siluman segera pesannya. " Kalian tak usah pergi kemana-mana,
nantikanlah aku disini". secepat kilat ia meluncur ke angkasa dan menerobos masuk kedalam
hutan bambu di mana helaan napas tersebut berasal.
seorang sastrawan berusia setengah baya berdiri sambil bergendong tangan ditepi sungai dekat
hutan bambu. Berdebar keras jantung Han siong Kie setelah mengetahui siapakah orang itu,
sebab tak lain adalah kakek Go siau bi, orang-orang persilatan menyebutnya sebagai Put lo
sianseng.
Han siong Kie berdiri pada jarak lima kaki dihadapan kakek tua itu, ia tak tahu apa yang harus
diucapkan dan apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini.
"Benarkah yang datang adalah Han siauhiap, ketua dari perguruan Thian lam bun? " tanpa
berpaling Put lo sianseng menegur lebih dahulu.
Han siong Kie mendekati sampai sejarak tiga kaki lalu menjura dengan hormat.
"Benar cianpwe, apakah selama ini locianpwe berada dalam keadaan sehat walafiat" sahutnya.
Perlahan-lahan put lo sianseng memutar badan sekilas sorot mata yang aneh memancar keluar
tapi sebentar saja sudah lenyap tak berbekas dengan suara dingin.
"sebetulnya lohu sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia ini, tapi sayang imanku kurang
teguh, karena tergoda oleh peristiwa keduniawian akhirnya kumuncul kembali dalam dunia
persilatan, aai.. sungguh tak nyana aku tergoda oleh suatu masalah yang akhirnya membuat diriku
tak bisa lagi berpeluk tangan belaka" Berbicara sampai disitu, kembali ia menghela napas panjang.
"Persoalan apakah yang telah membuat locianpwe jadi bingung?" tanya pemuda itu keheranan-
"Belenggu cinta dari cucu perempuanku"
Mendengar jawaban tersebut, Han siong Kie lantas teringat kembali dengan peristiwa lama
ketika ia menolak pinangan dariput losianseng bagi cucu perempuannya.
"Locianpwe, apakah perkataanmu itu kau sengaja tujukan kepada diri boanpwe? " tanyanya
tanpa sadar.
sekali lagi sorot mata aneh terlintas di wajah Put to sianseng, ia menatap sekejap pemuda itu
kemudian balik bertanya: "Han sauhiap bersediakah engkau membantu diriku?"
"Persoalan apakah yang dapat boanpwe lakukan bagi locianpwe?" tanya Has siong Kie setelah
tertegun sejenak.
"sebenarnya lohu sudah mengangkat sumpah tak akan mencampuri urusan keduniawian lagi..
Aaai, tak disangka oleh karena sejilid kitab pusaka Thian tok pit kip. bukan saja putraku Go Yu to
menemui ajalnya, perkumpulan Pat Gi pang hancur berantakan dan lenyap dari dunia persilatan,
bahkan Go siau bi cucu perempuanku ini ..."
Teringat dara itu, merah padam selembar wajah Han siong Kie, sebab bagaimanapun juga dia
pernah menolak pinangan dara itu
setelah berhenti sebentar terdengar Put lo sianseng melanjutkan kembali kata-katanya:
"Didalam waktu yang amat singkat, lohu telah berhasil melatih Siau bi sehingga ilmu silatnya
mencapai tingkatan yang lihay, tujuanku adalah meminta kepadanya agar balaskan dendam bagi
kematian ayahnya serta membangun kembali perkumpulan yang telah buyar.." Berbicara sampai
disini, kembali dia berhenti.
Han siong Kie merasa hatinya sangat tidak tenang, bagainya secara lapat-lapat ia sudah merasa
bahwa bantuan yang diharapkan kakek sakti ini mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan
Go siau bi.
sementara itu paras muka Put lo sianseng sudah agak berubah, katanya kembali:
"Aaai. sebetulnya aku malu untuk membicarakan persoalan ini, tapi apa boleh buat? Mau tak
mau terpaksa harus mengatakannya juga ...siau bi telah terbelenggu oleh cinta, sekarang ia sudah
terjerumus dalam sekali, kegagalan demi kegagalan yang diterimanya selama ini telah membuat ia
jadi putus asa, sekarang siau bi telah mengambil keputusan untuk mencukur rambut menjadi
nikoh, aai, inilah suatu kejadian yang membuat perasaan hati lohu selalu tak tenang."
"Apa ? Dia mau mencukur rambut menjadi pendeta??"
"Benar, dan keputusannya ini tampaknya sudah bulat, kecuali engkau mungkin didunia ini tak
ada orang kedua yaag bisa merintangi niatnya itu lagi"
JILID 31 HAL. 40/41 HILANG
"Boleh aku tahu pada saat ini nona siau bi berada dimana ?"
"Dipintu luar kuil Bu cu an di bukit Tay hang san"
"Benar, dia minta Tay huang sinni untuk menerimanya sebagai pendeta, tapi lantaran lohu
sudah berpesan kepada sini maka ia ditolak untuk memasuki kuil tersebut, walaupun demikian
rupanya ia tidak menjadi putus asa, sudah tiga hari tiga malam ia berlutut didepan pintu kuil
tersebut "
Dari mulut boanpwe pernah mendengar tentang kelihayan Tay huang Sinni, katanya watak
nikoh itu aneh sekali, enam puluh tahun berselang dengan lencana Hud cu leng dia telah
menggetarkan sungai telaga dan memaksa orang persilatan baik dari golongan putih maupun dari
golongan hitam tunduk semua kepadanya, sungguh tak nyana dia masih hidup didunia ini?"
"Benar, Tay huang sinni itulah yang kumaksudkan, hingga kini sepuluh li disekitar bukit Tay
huang san merupakan daerah terlarang, tak seorang jago persilatanpun yang berani mendekati
tempat itu "
"Kalau memang begitu, bukankah kedatangan boanpwe."
"Dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bukan suatu persoalan yang terlampau berat
untuk menerjang masuk kedalam kuil"
"Menerjang masuk?" seru pemuda itu tercengang.
"Benar, selain menerjang masuk rasanya tiada jalan lain yang bisa kau tempuh. sebagaimana
telah kau ketahui. Tay huang sinni adalah seorang manusia aneh yang tak bisa diajak berbicara.
Kendatipun begitu aku minta kau masih ingat untuk berbicara secara baik-baik lebih dahulu
sebelum menggunakan kekerasan, bila tidak terpaksa sekali janganlah turun tangan secara
gegabah"
"Perasaan ingin tahu lantas menyelimuti hati pemuda ini, ia lantas berpikir:
" Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mencoba sampai dimanakah
kelihayan kungfu Tay huang sinni?"
Diapun mengangguk seraya menjawab: "Boanpwe akan menuruti semua pesan cianpwe"
"Bolehkah aku tahu apa tujuanmu sekarang ??"
"Boanpwe hendak berkunjung ke benteng maut untuk membuat perhitungan dengan pemilik
benteng maut tersebut"
"Membalas dendam? tentang soal ini..."
"Apakah locianpwe ada petunjuk lain?"
"Aaah tidak... tidak aku tidak ingin mengatakan sesuatu hal, setelah tiba pada saatnya engkau
akan mengetahui sendiri"
Han siong Kie melongo, ia tak tahu apa yang dimaksudkan put lo sianseng dengan katakatanya
itu?
sementara dia masih termenung put to sianseng telah melanjutkan kembali kata-katanya:
"Masalah yang kutitipkan padamu itu terlampau serius, rasanya tak boleh dibiarkan berlarutlarut,
oleh sebab kuatir kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, apakah sauhiap bersedia untuk
berkunjung dahulu kebukit Tay huang san?"
"Boanpwe turut perintah bagaimana cara nya untuk berangkat menuju bukit Tay huang san?"
"Dari sini berangkatlah keutara dua ratus li kemudian akan tiba kebukit Tay huang san, diantara
bukit yang menjulang diangkasa akan kau temui sebuah bukit gersang yang tidak bertumbuhan,
tempat itu mudah ditemukan dan aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki tidak susah
untuk mencapai tempat tujuan"
"Kalau begitu boancwe akan berangkat sekarang juga"
"Tunggu sebentar"
"Apakah locianpwe masih ada pesan lain"
"Benarkah dua orang manusia berkerudung yang mengikuti dibela kang mu itu adalah Hek pek
siang yau sepasang siluman hitam putih yang tersohor itu."
sungguh kagum Han siong Kie oleh ketajaman mata Put to sianseng, bukan saja dapat
menebak jitu asal usul dari Hek pek siang yau, malahan tanpa melihat tampang wajah merekapun
tebakannya ternyata jitu. Maka dia lantas mengangguk tanda membenarkan.
"Apakah hubungamu dengan sepasang siluman itu" kembali Put to sianseng bertanya.
"Mereka berdua sudah termasuk jadi anggota perguruanku"
JILID 31 HAL. 46/47 HILANG
"Benar, dan sekarang juga kita akan berangkat menuju ke kuil Bu cu an dibukit Tay huang san"
"Pergi ke bukit Tay huang san?" seru siluman putih dengan wajah terkesiap.
"Benar, bukit Tay huang tempat tinggal dari Tay huang sini"
"Apakah ciangbunjin hendak bermusuhan dengan pendeta perempuan itu?"
"Tidak, aku kesana untuk menyelesaikan sedikit persoalan. Tahukah kamu berdua persoalan
apa yang hendak kuselesaikan "
"Tentang soal ini tecu tak berani bertanya.."
"Kalau begitu hayo kita segera berangkat"
Begitulah tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat segera
berangkat menuju utara.
Hek pek siang yau terhitung pula sebagai jago yang tersohor pada puluhan tahun berselang,
tentu saja Tay huang sinni yang pernah malang melintang dalam sungai telaga dengan Hud cu
lengnya tidak terlampau asing bagi mereka.
sekarang setelah mengetahui bahwa tujuan mereka adalah ke bukit Tay huang san, sedikit
berdebar juga hati mereka berdua.
Namun baik siluman hitam maupun siluman putih tak berani banyak bertanya, sebab
bagaimanapun juga mereka harus mengikuti kemana perginya majikan mereka.
Untunglah ketiga orang itu adalah jago-jago silat berilmu tinggi, sekalipun tiada jalan yang
terbentang namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menembusinya .
Dua jam kemudian, mereka sudah memasuki daerah pegunungan yang terjal dan sepi.
sesudah melewati berpuluh-puluh buah bukit yang terjal, akhirnya diantara deretan bukit itu
muncullah sebuah bukit gundul yang gersang.
Kecuali beberapa titik warna hijau menghiasi bukit tersebut, hampir boleh dibilang yang tampak
hanya batu-batu cadas yang hitam dan tajam.
Han siong Kie segera menghentikan langkah kakinya, sambil menunjuk ke arah bukit gundul
nanjauh didepan sana katanya:
"Aku pikir bukit itulah yang dinamakan bukit Tay huang san?"
"Jadi ciangbunjin belum pernah berkunjung kemari?" tanya siluman hitam keheranan-
"Belum pernah, baru untuk pertama kali ini aku berkunjung kemari"
"Dahulu tecu pernah melewati tempat ini, tak salah lagi inilah bukit Tay huang san"
"Ciangbunjin, bolehkah kami tahu apa maksud ciangbunjin datang kemari?" tanya siluman putih
agak takut-takut.
"Mencari seseorang"
"Mencari orang? Ketahuilah ciangbunjin, dua li dari kaki bukit itu merupakan daerah terlarang,
setiap umat persilatan tak berani melewati wilayah tersebut dengan sembarangan"
Han siong Kie bukan orang bodoh, tentu saja ia mengetahui perasaan hati dari sepasang
siluman itu, sambil tertawa dingin katanya: "Jadi kalian merasa takut??"
"Ciangbunjin jangan berkata begitu" seru siluman hitam dengan hati gelisah, "setelah tecu
memberikan kesanggupan untuk turut serta ciangbunjin untuk selamanya, jangan toh hanya
berkunjung ke bukit Tay huang san, kendatipun harus naik kebukit golok atau terjun ke lautan api
tak nanti kami akan menolaknya"
Han siong Kie menengadah dan memandang sekejap bukit gundul diseberang sana, kemudian
katanya lagi.
"Kalian berdua tak usah ikut aku naik ke bukit itu, nantikan saja kedatanganku disini"
"Tidak Tecu tidak mau meninggalkan ciangbunjin seorang diri" serentak kedua orang siluman
itu berseru.
"Aku hendak pergi menyelesaikan suatu persoalan, kalian tak usah ikut saja. berdiamlah disini "
"Tecu berdua mana tenang membiarkan ciangbunjin pergi menempuh mara bahaya seorang
diri?"
"siapa bilang aku pergi menempuh bahaya ? Ketahuilah urusanku ini tidak menyangkut soal
dendam sakit hatipun tidak mengenai soal pembalasan budi."
"Tapi .. Ciangbungjin pasti tahu Tay Huang sini adalah seorang manusia yang berwatak aneh,
siapa berani melanggar pantangannya maka bisa mengakibatkan ...."
"Kalian berdua tak perlu kuatir, aku bisa menjaga diri dan akupun tahu bagaimana caranya
untuk menghadapi keadaan seperti itu" Dengan wajah bersungguh-sungguh siluman hitam
berkata lagi:
"Bagaimaa kalau tecu berdua mengikuti jejak ciangbunjin dari tempat kejauhan ?jadi apabila
sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tecu berdua bisa segera memberi bantuan ?"
"Tidak Tidak perlu" sahut pemuda itu tegas.
Tapi... tapi bagaimanapan juga, kami merasa tak tenang."
"Kalian berdua tetap berjaga-jaga disini, bagaimanapun juga yang terjadi disini, kalian tak boleh
bergerak secara sembarangan, perkataanku ini adalah perintah, aku minta kalian berdua jangan
mencoba untuk melanggar perintahku ini"
Buru-buru Hok pek siang yau membungkukkan badannya memberi hormat, mereka tak banyak
banyak bicara lagi.
Menyaksikan sikap kedua orang itu, Han siong Kie malahan merasa tidak tega sendiri, kembali
bisiknya dengan lembut:
"Kalian berdua tidak usah kuatir, tenangkan saja hati kalian berdua, tidak akan terjadi hal yang
diluar dugaan atas diriku ini"
seraya berkata dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan bergerak menuju
kepuncak bukit yang gundul itu
Diluaran Han siong Kie memang tampak sangat tenang, padahal dalam hatinya ia menggerutu
terus, bagaimanapun juga dia telah memasuki daerah terlarang dari seorang jago silat yang
disegani umat manusia, selain itu diapun tak tahu apakah pesan dari put lo sianseng dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya atau tidak masih merupakan suatu tanda tanya besar, ia tak
tahu apakah Go siau bi bersedia untuk mendengarkan nasehatnya atau tidak.
Menurut keterangaa dari put to sianseng sudah tiga hari tiga malam Go siau bi berlutut didepan
pintu kuil, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tekadnya sudah bulat .
"Apa yang harus diucapkan setelah berjumpa dengan gadis itu nanti?"
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, setiap kali teringat akan persoalan ini hatinya
langsung merasa tak tenang.
Belum jauh ia mendaki bukit yang gundul itu, kira-kira baru sepuluh kaki dari wilayah
perbatasan daerah terlarang, mendadak perjalanannya telah dihadang oleh seorang nikoh,
pendeta perempuan itu duduk bersila diatas sebuah batu cadas, matanya terpejam dan tubuhnya
kaku seperti arca, tampaklah betapa berwibawanya nikoh tersebut.
Cepat Han siong Kie menghentikan gerak tubuhnya, setelah tertegun sejenak diapun berpikir:
"Mungkinkah nikoh tua itu adalah Tay huang sinni yang tersohor dimana-mana itu?" sambil
merangkap tangannya memberi hormat pemuda itu menyapa: "Mohon tanya apakah sinni adalah
Tay huang sini?"
"Dia adalah guruku " sahut nikoh tua itu singkat.
sekalipun hanya beberapa patah kata saja, namun tiap patah kata diucapkan dengan sangat
nyaring dan tajam, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki nikoh ini sudah
mencapai puncak kesempurnaan yang mengagumkan.
-000dw000-
BAB 65
"BOLEH aku tahu, siapa nama gelar dari suthay ?" kembali si anak muda itu bertanya.
"Kami adalah orang yang beragama, tidak menjadi kebiasaan bagi kami untuk saling
menyebutkan nama dengan orang awam "
Ucapan tersebut dingin kaku dan singkat, malahan nikoh itu sama sekali tidak membuka
matanya barang sekejappun.
Diam-diam Han siong Kie merasa naik pitam, tapi ia tetap berusaha untuk mengendalikan hawa
amarahnya itu, sebab berulang kali Put to sianseng telah berpesan kepadanya agar jangan
memakai kekerasan, sehingga mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi
tujuan kedatangannya toh hanya berusaha menasehati Go siau bi agar membatalkan niatnya
untuk menjadi pendeta."
Maka setelah berpikir beberapa saat, dia pun berkata:
JILID 31 HAL. 56/57 HILANG
tekebur yang berani mencari gara-gara dibukit Tay huang san"
Keangkuhan dan keketusan Han siong Kie segera terpancing keluar oleh suasana yang serba
tak enak itu, dia balas mendengus.
"Hmm Aku sudah memohon dengan segala kehalusan serta mengikuti tata kesopanan aku
minta suthay jangan bersikeras untuk menampik keinginanku ini, ketahuilah setelah aku berhasil
berjumpa dengan orang yang kucari maka akupun akan segera tinggalkan tempat ini"
"Tidak bisa Lebih baik sicu segera tinggalkan tempat ini."
"Kalau suthay bersikeras untuk menampik terus kehendak hatiku, terpaksa aku akan berbuat
kurang sopan.
43
"Apa yang hendak sicu lakukan ?"
"Apa lagi? Tentu saja naik gunung mencari orang"
"Sicu, tak usahlah bersikeras untuk mencari keonaran, apakah engkau baru bersedia untuk
turun dari bukit ini setelah diusir oleh pinni dengan menggunakan kekerasan ?"
"Bagiku hanya tahu maju terus pantang mundur, tak dikenal arti mengundurkan diri sebelum
apa yang kuharapkan tercapai."
"Jadi kau ingin main kekerasan? Silahkan saja untuk mencoba. "
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan"
Begitu selesai berkata, Han siong Kie segera menjejakkan kakinya ke tanah dan melesat
kedepan.
Nikoh tua itu menggulung keluar dan menghantam tubuh sianak muda itu keras dan berat
sekali tenaga pukulan yang dilontarkan oleh pendeta perempuan itu.
Han siong Kie tak mampu untuk meneruskan langkahnya, ia dipaksa untuk melayang kembali
ketempat semula, dalam hati pemuda itu lantas berpikir:
"Muridnya saja sudah begitu lihay, apa lagi gurunya? Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki
Tay huang sinni telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa"
Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba nikoh tua itu membentak lagi:
JILID 31 HAL.60/61 HILANG
sekarang Han siong Kie tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, sepasang telapak
tangannya diayun kedepan melancarkan dua buah pukulan berantai yang maha dahsyat, dalam
seraogannya kali ini dia telah sertakan tenaga sakti si mi sinkang sebesar enam bagian.
Nikoh tua itu mendengus gusar, diapun mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut
datangnya ancaman tersebut.
"Blaaam Blaaam" dua kali benturan keras seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong
menggelegar di angkasa. Nikoh tua itu bergetar keras dan akhirnya tak mampu mempertahankan
diri ia terdesak mundur dari atas batu cadas tersebut.
Menggunakan kesempatan dikala nikoh itu terpental turun dari batu Han siong Kie segera
melejit keudara dan melayang sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula kemudian sekali menutul
permukaan tanah pemuda itu melayang kembali sejauh sepuluh kaki.
"Kawanan tikus kau akan pergi ke mana?"
mendadak seorang nikoh tua lain muncul dihadapan mukanya dan menghadang jalan pergi
sianak muda itu, sementara nikoh tua yang berada dibelakang tadi kini entah telah pergi kemana ?
Dengan tatapan tajam Han siong Kie mengamati tampang nikoh tua yang menghalang jalan
perginya ini, ia lihat alis matanya sudah memutih semua, sekalipun jauh lebih muda daripada
nikoh tua yang duduk di arca batu tadi, namun usianya sudah berada diantara enam puluh sampai
tujuh puluh tahunan.
"Sicu, hebat sekali ilmu silat yang kau miliki" tegur nikoh beralis putih itu dengan wajah
sedingin es.
"Terima kasih atas pujian dari suthay Aku tidak memiliki kepandaian apa-apa dan rasanya tak
perlu kau kagumi"
"sicu, sadarkah engkau apa akibatnya jika engkau bersikeras untuk melakukan pengacauan
diatas bukit Tay huang san ini ?"
"Apa akibatnya?" tanya pemuda itu.
"Mati. Mati dalam keadaan mengenaskan" Kontan saja Han siong Kie mengerutkan dahinya.
"suthay, janganlah kau anggap ancaman itu akan membuat aku jeri ataupun ketakutan.
Ketahuilah kedatanganku kemari adalah atas permintian dari seseorang, dan aku datang kemari
melalui tata cara dan sopan santun pada umumnya, janganlah kalian mulai dahulu dengan
permainan kekerasan"
"Tidakkah sicu tahu bahwa bukit Tay Huang san adalah suatu daerah terlarang? Suatu wilayah
yang tak boleh dilalui oleh setiap manusia asing kecuali penghuni kuil?"
"Maaf suthay, sebelum apa yang kucita- citakan tercapai, aku tidak mengenal apa artinya takut
atau mengundurkan diri ditengah jalan"
"Kalau begitu, silahkan saja untuk coba menerjang masuk dengan kekerasan .. " tantang nikoh
itu.
"Kalau terpaksa musti menggunakan kekerasan, maaf kalau aku akan bertindak lancang
-ooodwooo
SEHABIS mengucapkan kata-kata tersebut, seperti sukma gentayangan saja sianak muda itu
menerjang maju kedepan.
Meskipun pemuda itu bertindak cepat, nikoh tua itupun tidak berlambat, baru saja Han siong
Kie mencoba untuk menerobos lewat dari sisinya, tahu-tahu nikoh tua itu sudah menghadang
dihadapan mukanya sembari melancarkan tiga buah serangan berantai.
Ke tiga buah serangsn tersebut bukan saja dilancarkan secara beruntun dengan kecepatan
yang luar biasa, terasalah desingan angin puyuh yang menyertai serangan itu hebatnya luar biasa.
Terkesiap Han siong Kie menghadapi serangan sedahsyat itu, dia coba berkelit ke samping
untuk menghindar, lalu dari samping dia lepaskan sebuah serangan balasan.
Nikoh tua itu bergerak kesamping, bukan saja dengan gerakan yang enteng ia berhasil
menghindari serangan tersebut, malahan menggunakan kesempatan tersebut ke lima jari tangan
kirinya seperti jepitan baja mencengkeram urat penting dipergelangan tangan Han siong Kie,
sementara tangan kanannya dikebutkan kemuka menghajar hiatto-hiatto penting disekitar dada
bagian luar.
Cepat dalam serangan, aneh dalam jurus pukulan, kelihayan nikoh tua ini jarang di temui dalam
dunia persilatan.
selihay-lihaynya nikoh tua itu, Han siong Kie jauh lebih lihay, ia putar telapak tangan kanannya
dengan cepat, dari gerakan dia rubah serangannya menjadi gerakan mencengkeram, arah yang
diancam adalah pergelangan tangan lawan, sementara telapak tangan kirinya tidak ketinggalan, ia
putar satu lingkaran didepan dada dan menutup semua hiatto pentingnya dari ancaman.
Gagal dengan serangan kilatnya, nikoh tua itu mundur tiga langkah kebelakang, menyusul
sebuah pukulan kilat kembali dilancarkan.
Han siong Kie tak mau unjukkan kelemahan nya, dia lepaskan pula sebuah pukulan untuk
menyambut ancaman itu.
"Blaang" benturan keras tak dapat dihindari lagi, masing-masing pihak terjengkang mundur
satu langkah.
Dalam hati Han siong Kie merasa terperanjat, ia tak mengira kalau nikoh tua itu sanggup
menerima pukulan saktinya yang disertai dengan tenaga sebesar enam bagian.
Ia kaget nikoh tua itu lebih kaget sebab dalam serangannya barusan dia telah mengerahkan
tenaga sebesar sepuluh bagian, tapi nyatanya bukan saja tak berhasil merobohkan lawan, dia
sendiri yang terdesak mundur satu langkah.
Untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama tertegun, mereka sama-sama menyadari bahwa
musuh yang sedang dihadapi adalah musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Paras muka nikoh tua itu berobah hebat, jubah pendetanya yang lebar menggelembung sendiri
tanpa terhembus angin, sinar matanya berkilat dan perlahan-lahan telapak tangannya diangkat
keatas.
Meskipun Han siong Kie terperanjat dan tidak mengerti ilmu aneh apakah yang sedang
dikerahkan musuhnya namun sianak muda itu tak berani bertindak gegabah, dia pun menghimpun
hawa sakti si mi sinkang nya sebesar delapan bagian, telapak tangannya dialingkan didepan dada,
siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Sementara itu nikoh tua tadi telah mengangkat telapak tangannya sejajar dada, kemudian
didorongkan kemuka perlahan-lahan, segulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera
meluncur kedepan dan menyapu benda apa saja yang dilewatinya.
Han siong Kie memandang pukulan itu dengan serius, sepasang telapak tangannya balas
didorong kemuka dan menyambut ancaman tersebut dengan tenaga si mi sinkang sebesar
delapan bagian.
"Blaaang" ledakan keras menggelegar di angkasa, diantara suara nyaring terdengar dengus
tertahan menggema diudara, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur lima langkah, paras
mukanya pucat pias, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, peluh sebesar kacang kedelai
mengucur keluar tiada hentinya.
Han siong Kie sendiripun merasakan hatinya bergoncang keras, dia terdorong mundur satu
langkah lebar.
setelah berhenti sebentar nikoh tua itu menggigit bibir, tiba-tiba ia menerjang lagi kedepan,
sepasang telapak tangannya dengan desingan tajam disapu kembali keluar.
sapuan tersebut tampaknya saja sangat lambat pada hakekatnya cepat melebihi kilat bahkan
sudut sasarannya jauh dari keadaan biasa bukan saja disertai hawa pukulan yang aneh bahkan
membuat orang tak mampu untuk menangkis datangnya ancaman itu
Han siong Kie seketika terdesak hebat, dia mundur terus berulang kali tanpa mampu
membalas.
Bagaikan gulungan ombak sungai yang berkepanjangan serangan itu datang secara
bergelombang dan tiada putusnya, sianak muda itu mundur terus kebelakang dan akhirnya ia
terjebak disuatu batuan cadas yang tinggi dan besar, waktu itu ingin mundurpun sudah tiada jalan
lagi.
sadarlah pemuda itu bahwa keadaannya sudah keteter hebat, bila ia tidak unjukkan
kesaktiannya lagi tak nanti dia bisa menaiki bukit itu. Berpikir demikian dia lantas membentak:
"Maaf, terpaksa aku akan bertindak kasar"
Dengan jurus Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia lepaskan sebuah pukulan
dengan tenaga sebesar sepuluh bagian.
Walaupun jurus serangan ygng dipergunakan masih merupakan jurus-jurus lama, akan tetapi
setelah dia berhasil mempelajari ilmu sakti si mi sinkang, kekuatan daya serangannya ternyata
jauh berbeda.
Jerit kesakitan menggema di angkasa, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur sejauh satu
kaki lebih, darah segar mengucur keluar membasahi ujung bibirnya.
Han siong Kie tertegun, dia tak menyangka kelihayannya sudah mencapai tingkatan setinggi itu,
semua dalam keadaaa begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih jauh, serentak tubuhnya
berkelebat dan menerjang ke atas puncak bukit.
selang sesaat kemudian ia sudah mencapai seratus kaki sebelum puncak bukit, beberapa
batang pohon siong muncul didepas mata, dan d ibalik pepohonan itu tampaklah sebuah
bangunan kuil yang terbuat dari batu cadas gunung. Han siong Kie merasa semangatnya
berkobar, ia percepat gerakan larinya.
Mendadak sesosok bayangan abu-abu muncul dari balik pepohonan dan langsung menerkam
kedepan, sebelum tiba angin pukulan yang tajam sudah keburu menyapu lebih duluan-
Sungguh terkejut sianak muda itu, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki pendatang ini jauh lebih
hebat daripada dua orang nikoh yang telah dijumpai, cepat tubuhnya menukik dan membentuk
sebuah gerakan setengah busur diudara kemudian melayang turun ke muka bumi.
Bayangan abu-abu itnpun melayang turun ternyata dia adalah seorang nikoh berlengan
tunggal.
Sebelum Han siong Kie sempat buka suara, nikoh berlengan satu itu sudah menegur lebih
dahulu:
"Sicu, engkau anggap kepandaian silatmu sudah hebat maka secara beruntun kau lukai dua
orang seperguruanku dan kemudian datang mengacau bukit Tay huang san ini"
"Aku tidak bermaksud main kasar, aku memohon dengan sopan dan menuruti
JILID 32 HAL 10/11 HILANG
yang tergetar oleh terasa sinkang musuh terasa sangat sakit bagaikan mau patah, dengan
gontai ia mundur sejauh delapan depa, rasa kaget dan tercengang menghiasi seluruh wajahnya.
Kecuali gurunya, selama hidup belum pernah dijumpai musuh setangguh ini, apalagi usianya
belum dua puluh tahunan, hal ini semakin mencengangkan hatinya.
Dipihak lain Han siong Kie dibikin naik pitam oleh kejadian yang baru dialaminya, hawa sakti Si
mi sinkang lantas disalurkan mengelilingi seluruh badan, dari kejauhan dia lepaskan sebuah
pukulan dahsyat.
Nikoh berlengan tunggal itu terkesiap. cepat-cepat tangannya berputar membentuk satu
lingkaran kilat, gerakan itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikitpun-
Han siong Kie terperanjat ia merasa bahwa tenaga pukulan yang dilancarkan dengan kekuatan
sebesar delapan bagian itu mendadak punah sama sekali hingga lenyap tak berbekas.
Ia menggigit bibir, sepasang telapak tangannya sekali lagi meluncurkan serangan dengan
mengerahkan tenaga sebesar sepuluh bagian, kali ini terlihatlah pancaran cahaya aneh dari raut
wajahnya.
Nikoh berlengan tunggal ini lebih tercekat lagi hatinya, kalau orang lain tidak tahu maka hati
kecilnya jauh lebih paham dari siapapun juga untuk memunahkan daya pengaruh serangan musuh
barusan dia harus mengerahkan ilmu sakti Pay yap sin khinya hingga mencapai dua belas bagian
dengan susah payah ancaman musuh baru bisa dipunahkan, tapi sekarang musuh telah
menambahkan serangannya hingga mencapai sepuluh bagian, dia yakin bahwa kepandaian nya
tak mampu untuk membendung kedahsyatan lawan. Tampaknya nikoh berlengan tunggal itu bakal
mati konyol.
Disaat yang kritis tiba-tiba terdengar seseorang berseru nyaring dari tempat kejauhan.
"Biau hian cepat mundur, pukulan itu adalah ilmu si mi sinkang, engkau tak mampu untuk
menghadapinya"
Ucapan tersebut cukup mencengangkan hati Han siong Kie, ia tahu kalau tebakannya tidak
keliru maka orang yang baruran berbicara tak lain adalah Tay huang sinni pemilik kuil Bu cuan ini,
ia merasa bahwa kata-kata tersebut berasal dari balik kuil, kalau toh demikian adanya dari mana
nikoh sakti itu bisa mengetahui akan asal usul ilmu silatnya?"
Mungkinkah ia sudah berhasil melatih ilmu Thian sao tong, suatu kepandaian melihat jauh.
Paras muka nikoh tua yang bernama Biau hian itu berubah hebat, dia melirik sekejap kearah
Han siong Kie. kemudian putar badan dan lenyap dibalik batu-batu cadas.
Karena musuhnya telah mengundurkan diri, maka sianak muda itupun membatalkan
erangannya, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kearah puncak bukit sebelah depan sana.
"Locianpwe, boanpwe ada urusan hendak bertemu dengan cianpwe, harap engkau bersedia
memaafkan kelancanganku ini"
"Sebutkan asal usul perguraanmu " kata-kata tersebut muncul kembali dari atas puncak bukit.
"Boancwe bernama Han siong Kie, ketua dari perguruan Thian lam bun "
"Engkau adalah ketua dari istana Huan mo kiong diwilayah Thian-Iam ? Ada urusan apa datang
kemari ?"
"Boanpwe mendapat pesan dari seseorang dan sengaja datang kemari untuk mencari orang"
"siapa yang kau cari ?"
seorang nona yang bernama Go siau bi"
"siapa yang suruh engkau datang kemari ?"
"Put to sianseng, kakek dari nona Go "
"ooooh, jadi engkaulah yang bernama Manusia muka dingin Han siong Kie " sekali lagi anak
muda itu terperanjat, sahutnya cepat: "Benar, boanpwelah yang bernama Han siong Kie."
"Memandang diatas wajah Put lo sianseng aku tidak akan mempersoalkan lagi kesalahanmu
mencari gara-gara ke atas bukit kami ini. Nah Cepatlah turun dari bukit ini."
Perasaan hati yang semula sudah menjadi tenang, kini bergolak kembali, ucapan tersebut
dirasakan Han siong Kie sebagai suatu ejekan, rasa ingin menang lantas muncul kembali.
" Cianpwe, aku toh sudah mengutarakan maksud kedatanganku ? Masa sebelum tujuanku
kesampaian kau telah mengusir aku turun gunung?" serunya dengan hati tak puas.
"Aku perintahkan kepadamu untuk segera turun dari bukit ini " tiba-tiba suara dari Tay huang
sinni berubah jadi amat dingin dan ketus, bahkan ucapan tersebut diutarakan sepatah demi
sepatah kata.
sesabar-sabarnya Han siong Kie setelah diperlakukan sekasar itu diapun tak dapat menahan diri
lagi tampiknya:
"Aku datang kemari bukan untuk mendengarkan perintahmu, kalau aku tak mau turun gunung
kau mau apa?"
"Hmm Membandel" maki Tay huang sinni ketus,
" kalau begitu apa yang hendak kau lakukan ?"
"Setelah persoalan yang dititipkan pada ku telah kuselesaikan, tanpa disuruh aku bisa turun
gunung sendiri"
"Persoalan apa yang hendak kau kerjakan ditempat ini?"
"Aku ingin bertemu dengan nona Go siau bi dan bercakap-cakap sendiri dengan dirinya"
"Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah seorang pendeta beragama, aku tak ingin bersilat lidah
dengan dirimu, lebih baik cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini"
"Maaf, aku tak dapat menuruti kehendakmu itu"
"Hmm sicu, jangan kau anggap ilmu sakti si mi sinkang yang kau miliki itu adalah suatu
kelandaian sakti yang tiada tandingannya lagi dikolong langit" Agaknya Tay huang sinni mulai naik
darah oleh sikap lawannya yang keras kepala.
"Akupun sama sekali tidak berpendapat demikian, tapi bila ada orang ingin main-main
denganku, akan kubuktikan bahwa kepandaian tersebut masih lebih dari cukup bagiku untuk
mempertahankan diri"
suasana hening untuk sesaat, diantara hembusan angin bukit yang sepoi-sepoi akhirnya
terdengar Tay huang sini berkata lagi, hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut: "Sicu, aku rasa
engkau tak usah bertemu lagi dengan nona Go"
"Kenapa?" Tanya si anak muda itu cepat.
"Sebab dia tak ingin berjumpa lagi denganmu "
Jawaban ini membuat Han siong Kie membungkam, sebab inilah kejadian yang sangat tidak
diharapkan olehnya, suatu kejadian yang membuat ia jadi jengah dan merasa serba salah, tapi
haruskah ia mengundurkan diri dengan begitu saja ?
"Aku telah berjanji kepada Put to sianseng, bahwa persoalan ini akan kuselesaikan dengan
segala kemampuan yang kumiliki" pikir pemuda itu dalam hati "dan lagi akupun merasa banyak
berhutang budi kepada Go siau Bi, apakah aku harus mengundurkan diri karena persoalan ini ?
Toh Go siau bi bisa menjadi nekad adalah gara-gara karena aku ? Tatkala ingatan tersebut
terlintas dalam benaknya, pemuda itu lantas berseru:
"Dia mau berjumpa denganku atau tidak adalah urusan pribadinya sendiri, pokoknya
bagaimanapun juga aku harus bertemu dengannya "
"Hmm Engkau hendak berbuat sewenang-wenang ditempat ini ?"
"Tidak. aku tidak berbuat sewenang-wenang, aku hanya bertindak menuruti perasaan hatiku
sendiri"
"Ketahuilah wahai Han sicu, pinni bisa simpatik terhadap pengalaman serta tragedi yang
menimpa kehidupan nona Go, telah kukabulkan permintaannya itu dan sekarang akan kucukur
rambutnya menjadi nikoh, mulai detik ini ia sudah menjadi murid Buddha dan dia tak akan
menjumpai dirimu untuk selamanya."
"Tidak Tidak boleh" teriak Han siong Kie dengan setengah menggembor, paras mukanya
berubah hebat.
"Tidak boleh ? Dengan berdasarkan apa engkau melarang kebebasan orang untuk memilih dan
melakukan apa yang disukainya Haaah haaah haaah sicu, kau harus tahu kendatipun pinni telah
menjadi murid Buddha, akan tetapi aku tidak terikat oleh suatu pantangan, yakni pantangan
membunuh"
Habislah kesabaran Han siong Kie, dia mendengus penuh kemarahan, sekali menjejak
permukan tanah, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya pemuda itu melayang keatas
puncak bukit.
sewaktu tiba didepan pintu kuil ia lihat pintu gerbang tertutup rapat, seorang dara baju putih
tampak berlutut didepan pintu kuil itu tanpa bergerak. siapa lagi dara itu kalau bukan Go siau bi
Han siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, lama-lama sekali ia menatap dara itu
kemudian bisiknya: "Nona Go "
Go siau bi tidak menjawab, ia masih tetap berlutut tak bergerak.
"Nona Go " sekali lagi anak itu muda itu memanggil dengan lemah.
-000dw000-
66
PENGALAMAN yang dialami Go siau bi memang mengenaskan, berulang kali ia menyatakan
cinta kepada pemuda pujaannya, namun setiap kali tidak mendapat tanggapan yang serius.
sejak mengalami kejadian didalam perkampungan oh han san ceng bertekadlah gadis ini untuk
cukur rambut menjadi pendeta dan menjalankan sisa hidupnya dengan mengabdikan diri kepada
sang Buddha.
Kendatipun tekadnya sudah bulat, tak dapat dipungkiri bahwa rasa cintanya terhadap Han siong
Kie telah padam terlebih lagi ia tak menyangka kalau si anak muda itu bakal datang ke bukit Tay
huang san mencari dirinya.
Untuk sesaat pikirannya jadi kacau balau tak karuan, rasa cinta yang masih membakar dalam
dadanya serasa makin bergolak dengan hebatnya.
JILID 32 HAL. 22 S/D 25 HILANG
"Apakah locianpwe adalah pemilik kuil ini ?"
"Ehmm " tiada jawaban kecuali dengusan dingin, dengusan tersebut amat ketus dan tak sedap
didengar.
sekuat tenaga Han siong Kie berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, ia bertanya:
"Sudahkah locianpwe menyanggupi permintaannya untuk mencukur rambutnya menjadi
pendeta?"
"Enmm sudah kenapa ??"
"Aku rasa dengan kedudukan cianpwe yang agung dan dihormati orang, tentunya engkau tak
akan mengingkari janji sendiri bukan ?"
"Apa maksudmu dengan perkataan itu?" tegur Tay huang sini dengan wajah berubah.
"Bukankah locianpwe telah menyanggupi permintaan put to sianseng untuk menolak
permintaan nona Go menjadi pendeta ?"
Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar tanpa bisa dicegah lagi Go siau bi berpaling serta
melotot sekejap kearah sianak muda itu.
"Ehmm, memang ada kejadian seperti itu" kata Tay huang sinni tetap ketus, "tapi aku tidak
menyanggupi untuk tidak mengukurkan rambut cucunya, aku hanya setuju untuk memberi
kesempatan kepadanya untuk mempertimbangkan kembali persoalan ini"
"Tapi bukankah perbuatanmu sekarang...."
"Pinni simpatik terhadap tragedi yang menimpa dirinya dan sekarang aku sudah berubah
pikiran" tukas nikoh itu cepat.
"Apakah sudah locianpwe bayangkan akibat-akibatnya bila aku melakukan hal ini atas dirinya?"
"Bagi kami orang-orang beragama tak pernah terpikirkan apakah ada akibat atau tidak tindakan
yang kami ambil, semua persoalan kami pertimbangkan dengan keadaan berjodoh atau tidak"
"Hmm orang beragama mengutamakan belas kasihan, tindakan dari locianpwe ini ...."
"Tutup mulutmu" bentak Tay huang sinni marah "ia sudah tiga hari tiga malam berlutut didepan
pintu kuilku, apakah pinni tak boleh berbuat belas kasihan dengan memenuhi keinginannya "
Waktu itu tiba tiba Go siau b i berpaling dan berkata:
HAL. 28/29 HILANG
Memang inilah yang diharapkan Han siong Kie, sebab semenjak ia menerima pesan dari Put lo
sianseng sudah terlintas satu ingatan untuk mengadu kepandaian dengan tokoh silat itu
"Maksud Locianpwe engkau hendak mengajak aku untuk bertaruh dalam pertarungan ini?"
katanya kemudian dengan serius.
"Benar .. "
"Dan pertarungan ini adalah pertarungan atas mati dan hidup ?"
"Haah, tidak sampai seserius itu asal sudah ditentukan siapa menang siapa kalah, hal ini sudah
lebih dari cukup "
"Bagaimana setelah menang kalah dapat ditetapkan ?"
"Jika engkau yang menang maka pinni tak akan mempersoalkan kehadiranmu lagi di bukit ini,
bahkan akupun tak akan memaksa Go siau bi untuk mencukur rambut menjadi pendeta"
"Seandainya aku yang kalah ? Apa yang harus kulakukan ?"
"Kalau engkau kalah maka kau harus menyanggupi sebuah syarat yang akan pinni ajukan "
"Apa syaratmu itu ?"
"syarat itu rasanya terlampau awal bila kuutarakan pada saat ini, pokoknya tak akan merugikan
dirimu "
"Andaikata menang kalah tak dapat ditentukan? Apa yang harus kulakukan?"
"Akan kubiarkan engkau turun dari bukit ini dengan selamat "
Perasaan hati Han siong Kie bergolak keras, setelah mendengar ucapan tersebut, dia merasa
beruntung karena bisa mendapat kesempatan untuk bertarung melawan seorang tokoh silat yang
lihay. Tapi diapun kuatir bila kalah maka syarat apakah yang bakal diajukan kepadanya ?
Mampukah ia melaksanakan syarat tersebut ?
"Locianpwe, pertarungan yang bagaimana kah akan kita langsungkan? " ia bertanya kemudian.
Tay huang sinni termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya:
"Pinni telah bersumpah tak akan keluar dari pintu kuil ini barang selangkahpun, sekarang kita
berdiri dengan selisih jarak lima kaki, baiknya kalau kita masing-masing berdiri tak bergerak
ditempat:
HAL. 32 HILANG
"Han sauhiap. silahkan engkau melancarkan serangan lebih dahulu " Suatu ketika Tay huang
sinni berkata dengan wajah serius.
"Tidak. lebih baik locianpwe yang turun tangan lebih dahulu" kata Han siong Kie dengan hati
bergetar.
"Pini adalah seorang angkatan tua, tidak pantas untuk turun tangan lebih dahulu, lebih baik
sauhiap duluan"
"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa boanpwe bertindak lancang . . nah, sambutlah
seranganku ini"
Dengan menghimpun hawa sakti Si mi sinkangnya mencapai sepuluh bagian, perlahan-lahan
telapak tangannya diangkat kemuka dan lantas didorong ke depan.
segulung angin pukulan yang tipis halus dan sama sekali tidak menimbulkan suara, berhembus
ketubuh lawan-
Meskipun enteng sekali pukulan itu tampaknya pada hakekatnya mengandung tenaga dahsyat
yang cukup merontokkan nyali orang.
Disaat Han siong Kie melancarkan serangan Tay huang sinni sendiripun memutar tiga kali
sepasang telapak tangannya didepan dada.
suatu getaran keras menyusu terjadinya ledakan yang memekikkan telinga Tay huang sini
hanya tergetar sedikit tubuhnya, sementara kuda-kudanya masih kelihatan kokoh sekali.
Pukulan si mi sinkang sebesar sepuluh bagian ternyata berhasil dipunahkan oleh nikoh tua itu
dengan enteng, sedikit banyak tercekat juga hati Han siong Kie, diam-diam ia menjulurkan
lidahnya.
Paras muka Tay huang sinni sendiri berubah jadi amat serius, tampaknya nikoh itu tidak
berkeyakinan dapat menangkan pertarungan ini.
orang yang kehilangan sukma sendiripun tampak sangat tegang, sampai-sampai badannya ikut
gemetar keras.
Gagal dengan serangan yang pertama, Han Siong Kie menghimpus kembali tenaganya
mencapai dua belas bagian, sambil melepaskan pukulan serunya lantang: "sambutlah seranganku
yang kedua ini"
Ketika sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan, secara lapat-lapat tampaklah asap
putih yang tipis menyertai deruan pukulan itu.
Tay huang sinni menggerakkan sepasang ujung bajunya untuk menangkis, ia membentuk
gerakan aneh didepan dadanya, selapis hawa hijau yang menggulung tebal seketika melapisi
seluruh badannya, jelas nikoh ini sudah mengerahkan ilmu Pay yap sin khinya hingga mencapai
pada puncak kehebatannya.
Cahaya putih dan cahaya hijau segera bertemu satu sama lainnya, dan tak bisa di cegah
terjadilah ledakan yang memekikkan telinga.
sekujur badan Tay huang sini gemetar keras, tubuhnya goncang bagaikan ranting pohon
terhembus angin puyuh, nyaris kedudukannya jebol dan tubuhnya terdorong maju ke depan.
Untunglah ia menggigit bibir sambil berkerut dahi, sekuat tenaga padri itu berusaha
mempertahankan diri, peluh sudah mulai membasahi seluruh badannya.
Dua jurus serangan sudah lewat tanpa menghasilkan apa-apa, sekarang tinggallah jurus yang
terakhir. pemuda itu tahu bila serangan yang ketigapun mengalami kegagalan, sudah pasti dialah
yang bakal menderita kekalahan.
Bila dipikir kembali akan kedudukan Tay huang sinni yang begitu tinggi dan terhormat, kalah
ditangan padri perempuan ini belum terhitung suatu kejadian yang memalukan, tapi Han siong Kie
mempunyai pandangan yang lain, dia harus dapat menangkan nikoh tua ini karena bagaimanapun
juga dia adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.
Dan menang kalah akan ditentukan dalam jurus serangan yang terakhir ini.
Han siong Kie mementangkan kesepuluh jari tangannya lebar-lebar, segenap hawa sakti yang
dimilikinya disalurkan kedalam jari tangan itu, ia telah mempersiapkan diri untuk melangsungkan
pertarungan yang terakhir ini dengan menggunakan ilmu jari Tong kim ci.
setajam sembilu pancaran sinar mata Tay huang sinni, dia menatap wajah pemuda itu tanpa
berkedip. sepasang telapak tangannya disilangkan didepan dada.
Akhirnya pemuda itu membentak keras, sepasang tangannya bergetar, sepuluh gulung
desingan angin jari dengan membawa suara yang memekikkan telinga langsung meluncur
kedepan-
Bersamaan dengan dilepaskannya serangan jari tangan itu, ingatan lain melintas
JILID 32 HAL. 38/39 HILANG
Dengan adanya kejadian ini, maka baru saja Han siong Kie melepaskan pukulan untuk
menangkis, tahu-tahu tenaga yang dipancarkan keluar itu telah dihisap oleh lawannya.
Mimpipun si anak muda itu tak menyangka kalau rahib tua itu bakal menggunakan taktik
"menggetar" dan menghisap hampir bersamaan waktunya, hilanglah keseimbangan.
"Aduh celaka "jeritnya dihati tak dapat dicegah lagi tubuhnya sempoyongan dan serta merta
kakinya melangkah maju. orang yang kehilangan sukma pun berkata sambil mengangguk: "Nak
engkau kalah. "
Han siong Kie tertegun, ia cuma bisa berdiri menjublak sambil membungkam dalam seribu
bahasa.
Karena kasihan pada musuhnya, ia telah menyingkirkan daya sasaran serangan Tong kim ci nya
kesamping sehingga membuang kesempatan untuk mendapat kemenangan dengan begitu saja.
sekarang kenyataan telah berbicara lain, dia telah dikalahkan dalam pertarungan tersebut,
untuk menyesalpun rasanya tak ada gunanya lagi.
"sau sicu, apakah engkau merasa bahwa pertarungan ini berlangsung tidak adil?" tiba-tiba Tay
huang sinni bertanya.
Han siong Kie tertawa jengah dan menggeleng.
"Tidak. boanpwe sama sekali tidak mempunyai pikiran semacam itu "
"Jadi engkau sudah mengaku kalah ?"
"Tentu saja, boanpwe tak akan memungkiri kekalahan yang telah kuderita ini, aku tak mau
bertolak dari kenyataan yang berada di depan mata, katakan saja apa syarat yang harus kuturuti
itu ?"
"seandainya pinni telah mengajukan syarat tersebut, dan ternyata sau sicu tidak bersedia untuk
melakukannya, apa yang musti... "
"Boanpwe tidak akan menolak semua syaratmu, sebagai seorang manusia persilatan aku akan
memegang teguh setiap janji yang telah kuucapkan" jawab pemuda itu dengan tegas. orang yang
kehilangan sukma tiba-tiba menimbrung pula:
"Atas petunjuk dari locianpwe boanpwe telah ditunjuk sebagai saksi maka setelah pertarungan
berakhir dan menang kalahpun telah ditentukan, boanpwe harap locianpwe segera mengajukan
syarat yang hendak cianpwe ajukan sehingga pertaruhan inipun bisa kita akhiri sampai disini saja .
."
sepasang mata Tay huang sinni memancarkan sinar tajam, ia memandang sekejap ke arah Han
siong Kie lalu katanya:
"Gampang dan sederhana sekali syaratku ini, aku cuma minta engkau segera menikah dengan
Go siau bi dan menjadi suami istri yang berbahagia "
Hebat sekali perubahan wajah Han siong Kie, tanpa sadar secara beruntun ia mundur lima
langkah kebelakang.
Mimpipun ia tak menyangka kalau syarat yang diajukan Tay huang sinni adalah mengenai
persoalan itu.
Pertama kali ketika ia selamatkan Go siau bi dari tangan pengawal pribadi istana Huan mo
kiong dan menginap sebuah rumah penginapan, orang yang kehilangan sukma telah menyaru
sebagai tukang obat dengan maksud menjodohkannya dengan gadis itu, kedua kalinya Put to
sianseng ajukan pinangan bagi cucu perempuannya ternyata pinangan itupun atas usul dari orang
yang kehilangan sukma.
sekarang adalah untuk ketiga kalinya peristiwa itu terjadi, temyala orang yang kehilangan
sukmalah sebagai saksinya.
sekalipun orang bodoh juga akan tahu bahwa kejadian ini bukan suatu kejadian yang
kebetulan saja, sudah pasti orang yang kehilangan sukmalah yang telah mengatur segala
sesuatunya.
Lalu apa maksudnya perempuan misterius itu mengatur segala sesuatunya itu? Apa alasannya?
Tanpa sadar sianak muda itu mengalihkan pandangan matanya kewajah orang yang kehilangan
sukma dan ingin sekali melihat mimik wajahnya pada saat itu, sayang mimik wajahnya tertutup
oleh kain kerudung berwarna hitam.
"Bagaimana sau sicu? jawablah sejujur nya" terdengar Tay huang siani bertanya.
Kacau dan bingung perasaan Han siong Kie pada saat ini tanpa disadarinya ia menyahut.
"Aku tak dapat menerima syaratmu itu "
"jadi engkau hendak menjilat ludahmu sendiri? " tegur Tay huang sinni dengan wajah serius.
Tanpa sadar si anak muda itu mundur satu langkah kebelakang dia berusaha untuk membela
diri, katanya:
"cianpwe aku minta ajukan syarat lain, tentang syaratmu yang itu aku tak dapat
menyanggupinya "
"Tidak bisa, selamanya pinni hanya akan mengajukan sebuah syarat saja, tidak nanti akan
kuulangi dengan mengajukan syarat lain"
"Tapi boanpwe benar-benar tak dapat melakukan permintaan dari locianpwe itu"
"ooh jadi engkau bermaksud untuk mengingkari janji?" ejek nikoh tua itu dengan sinis.
"Boanpwe mempunyai kesulitan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain, maafkanlah daku
locianpwe, syaratmu itu tak dapat kulaksanakan"
"jadi kau anggap Go siau bi tidak pantas untuk mendampingi dirimu sebagai seorang istri?"
"Bukan... bukan begitu maksud boanpwe, terus terang saja boanpwe katakan babwa aku..
sebenarnya aku telah..telah.."
"Apa maksudmu Katakan saja blak-blakan"
"Sebenarnya boanpwe telah serahkan hati dan tubuh boanpwe ini kepada gadis lain, dan antara
aku dengan dia telah .... telah terikat oleh tali perkawinan"
"Ada yang menjodohkan?’
"Tidak..tidak ada"
"Ada persetujuan dari orang tua?"
"Ju...juga tii... tidak ada"
"Kalau toh tidak ada kan hal itu sama sekali tidak menghalangi engkau untuk menerima
syaratku ini?"
sungguh sedih dan pedih perassan hati Han siong Kie apalagi teringat bahwa Tonghong Hui,
yang dicintainya telah tiada di dunia ini, kepedihan tersebut akhirnya tercetus keluar dengan katakata:
"Dia.... dia telah meninggal dunia"
"Kalau benar sudah mati urusan ini kan lebih gampang untuk diselesaikan? Apa yang kau
pusingkan lagi?"
"jiwa dan perasaan boanpwe telah lama terkubur bersama matinya gadis itu, pada hakekatnya
yang cianpwe lihat sekarang tak lebih hanya sesosok mayat hidup belaka, sesosok tubuh yang
tidak berperasaan dan tidak kenal arti lagi"
sekilas perasaan serba salah melintas di wajah Tay huang sinni, ia terbungkam untuk beberapa
saat lamanya, tapi selang sesaat kemudian ia telah berkata lagi dengan suara keras:
"Menurut apa yang pinni ketahui, engkau sudah pernah bersentuhan badan dengan Go siau bi,
lantaran cintanya padamu, ia rela mengasingkan diri dan hidup sebagai seorang pendeta, tidakkah
kau tergetar perasaan hatinya oleh kesungguhan serta kemurnian cinta kasihnya itu?"
"Aaai, pada hakekatnya boanpwe tidak punya ingatan untuk memikirkan persoalan yang lain"
"Tahukah engkau bahwa perbuatanmu telah menghancurkan masa depan seorang dara ?"
"Boanpwe menyesal sekali atas kejadian ini, tapi apa boleh buat lagi boanpwe tak kuasa
menerima kenyataan tersebut"
"selain itu tahukah engkau bahwa tidak berbakti ada tiga macam, dan yang paling utama
adalah tiada keturunan, apakah engkau gembira melihat keluarga Han putus keturunan?"
000dw000
BAB 67
UCAPAN tersebut bagaikan sebilah pisau belati yang menusuk kedalam ulu hati Han siong Kie,
sekujur badannys gemetar keras.
Pada hakeketnya tak pernah ia berpikir sampai kesoal itu, tapi heran mengapa Tay huang sinni
menegur dirinya dengan kata-kata semacam itu? Bukankah dia adalah seorang pendeta yang tidak
mencampuri urusan keduniawian lagi?
" Locianpwe apakah engkau hendak memaksa boanpwe untuk mengingkari janjiku terhadap
orang yang sudah tiada lagi?" katanya tiba-tiba.
orang yang kehilangan sukma yang selama ini membungkam terus mendadak menyela:
"Nak bila engkau bersedia untuk memegang janji kepada orang yang telah mati, mengapa tidak
pula kau penuhi kewajibanmu sebagai rasa baktimu pada orang tua yang telah tiada ? Kau harus
dapat membedakan mana yang serius dan mana yang tidak. toh setelah kau laksanakan
kewajibanku untuk berbakti pada orang tua, engkau masih dapat pula memenuhi janjimu kepada
orang yang telah tiada?"
"Bila aku sampai berbuat demikian, bukankah perbuatanku ini justru akan menyiksa nona Go
siau bi untuk selama-lamanya?"
"siapa bilang begitu ?"
" Cianpwe" tiba-tiba Han siong Kin menengadah dan menatap wajah perempuan misterius itu
tanpa berkedip "tolong tanya, apakah kesemuanya ini adalah hasil dari rencana locianpwe ?"
orang yang kehilangan sukma terbungkam, ia tak sanggup memberikan jawaban.
"sau sicu, apakah engkau lupa bahwa hasil ini adalah suatu hasil dari pertaruhan antara engkau
dan aku ?" Tay huang sini menyela dari samping dengan dingin
"oooh.. jadi engkau menggunakan kebahagiaan dari seorang dara sebagai bahan pertaruhan?
Pantaskah perbuatanmu itu?" seru pemuda itu marah-marah.
JILID 32 HAL. 50/51 HILANG
amat menusuk pendengarannya, terutama sebutan "ciangbunjin" yang sengaja diucapkan
dengan nada berat, lebih-lebih mengetuk perasaannya.
sebagai seorang pemuka dunia persilatan, menjadi kewajiban baginya untuk melaksanakan apa
yang telah disanggupi, tapi perkawinan adalah suatu kejadian besar, ia tak ingin berbuat secara
gegabah sehingga akhirnya harus di akhiri dengan tragedi.
44
Sementara pemuda itu masih termangu- mangu, orang yang kehilangan sukma telah berkata
lagi:
"Nak, tegakah engkau membiarkan masa depan seorang dara hancur di tanganmu?"
Sakit hati, bingung dan sedih bercampur aduk dalam perasaan hati si anak muda itu, dia tak
tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini, terutama kata-kata tentang ketidak baktian sebagai
seorang putra diantara tiga hal yang tidak berbakti, tak punya keturunan adalah tidak berbakti
yang paling utama. Benarkah dia tak akan menikah dan membiarkan orang menganggapnya
sebagai manusia yang tidak berbakti?
"Sekarang ia baru menyesal, menyesal apa sebabnya tidak menggunakan ilmu jari Tong kim ci
untuk mengalahkan musuhnya, ia tidak tega rahib itu terluka, tapi akhirnya dia sendirilah yang
rugi.
Sebagai seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia akan mengingkari janji. Kata-kata itu diucapkan
sendiri olehnya, benarkah dia harus mengingkari janji.
Sekalipun ia sadar bahwa ia terjebak oleh suatu siasat yang disusun sangat rapi, toh dia kalah
adalah suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi.
Sementara itu orang yang kehilangan sukma tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia
mendesak lebih lanjut.
"Nak, engkau sebagai putra manusia, menjadi kewajiban bagimu untuk menunjukkan
kebaktiaanmu sebagai anak manusia, sekalipun engkau dapat membalaskan dendam bagi
kematian ayahmu, belumlah lengkap kebaktianmu pada orang tua, mengertikah kau dengan katakataku
ini ? .."
Han siong Kie menggigit bibir, sahutnya:
"Apa yang cianpwe ketakan memang benar tapi sekarang aku harus membalaskan
HAL. 54 S/D 57 HILANG
sekalipun aku kawin dengan Go siau bi mungkinkah perkawinan ini bisa berakhir dengan
kebahagiaan, Akhirnya toh kita akan mengalami tragedi yang menyedihkan?"
"Bahagia atau sedih adalah urusan belakang, siapa tahu kalau kenyataannya jauh berbeda
dengan apa yang saat ini kau bayangkan?"
"Jadi maksud Cianpwe, kau memaksa Boanpwe untuk mengabulkan permintaanmu itu?"
"Yaa,angaplah perkataan ini merupakan suatu paksaan" sahut orang yang kehilangan sukma
dengan suara berat.
Han siong Kie tertegun dan tidak bicara, selang sesaat kemudian ia mengangguk. "Baik.
Boanpwe menyanggupi permintaan mu itu"
"Jadi kau menerima syarat tersebut?"
"Benar, aku menerimanya, tapi akupun mempunyai sebuah syarat"
"Apa syaratmu itu?"
" Cianpwe harus menjelaskan kepada nona Go siau bi serta kakeknya, bila dendam berdarah
berhasil boanpwe balas, waktu itulah kita baru bicarakan kembali soal cinta dan tiga tahun setelah
menikah boanpwe akan meninggalkan keluarga dan pergi jauh"
"setelah tiga tahun, apakah engkau akan bunuh diri untuk menunjukkan ketetapan hatimu pada
Tonghong Hui?" kata orang yang kehilangan sukma sampai mundur selangkah.
"Benar, kenapa ? "
"Andaikata Tonghong Hui belum meninggal dunia ?"
"Aaah, hal ini aku rasa tidak mungkin"
"Baik, kukabulkan syaratmu itu dan kita pun tentukan perjanjian ini dengan kata-katamu ini"
Berbicara sampai disini, tiba-tiba orang yang kehilangan sukma berpaling, serunya kearah batu
karang kurang lebih beberapa kaki didepan sana: "Locianpwe, silahkan mengunjukkan diri untuk
memperkuat ikatan perkawinan ini "
seorang sasterawan berusia setengah baya perlahan-lahan munculkan diri dari balik batuan
cadas.
Dia bukan lain adalah kakek Go siau bi Put to sianseng yang disegani banyak orang itu.
Han siong Kie tertegun, kemunculan tokoh silat ini semakin memperkuat dugaannya bahwa apa
yang terjadi pada saat ini adalah suatu siasat, suatu rencana besar dari orang yang kehilangan
sukma.
Tapi yang mengherankan adalah Put lo sianseng dan Tay huang sinni kedua orang tokoh silat
ini berilmu tinggi dan berkedudukan terhormat, tapi mereka bersedia untuk mendengarkan katakata
orang yang kehilangan sukma malahan bekerja sama untuk memancingnya masuk jebakan,
apa tujuan mereka?
sementara itu Put to sianseng telah berkata sambil tertawa ringan ucapnya:
"Bocah bagus, kemurunganku sudah dilenyapkan, mulai sekarang lohu bisa mengasingkan diri
dan beristirahat dengan tenang".
orang yang kehilangan sukma segera mendorong Han siong Kie untuk maju katanya:
"Bagaimana juga penghormatan tak bisa dielakkan, hayo maju dan memberilah hormat kepada
kakekmu."
Dalam hati Han siong Kie menghela napas panjang, dengan kaku dia maju beberapa langkah
dan jatuh berlutut dihadapan put to sianseng, ketika ia menyembah sebanyak tiga kali ia tak dapat
melukiskan bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, entah manis getir, kikuk atau kecewa.
Cepat Put to sianseng ulapkan tangannya seraya berkata:
" Cukup Cukup Bangunlah nak, sebelum aku pergi mengasingkan diri, ada beberapa patah kata
terlebih dahulu hendak kukatakan kepadamu, ketahuilah gurumu Mo tiong ci mo adalah sahabat
lamaku, setelah engkau mewariskan kedudukannya aku harap engkau bisa membangun kembali
perguruan Thian Lam bila melakukan segala persoalan janganlah terlalu memikirkan masalah itu
dengan pikiran yang sempit".
sekujur badan anak muda itu bergetar keras, peluh dingin membasahi tubuhnya tanpa terasa ia
teringat kembali akan apa yang diberitahukan orang yang kehilangan sukma ketika berada di
mulut lembah kematian.
Dikatakan Tee kun perguruan Thian Lam yang sekarang yaitu Wi It beng telah menjual
perguruannya kepada Thian che kau, istana Huan mo kiong telah diubah menjadi kantor cabang
Thian che kau sektor Thian lam.
JILID 32 HAL. 62/63 HILANG
Perasaan hatinya pada saat ini hampa, kosong . . sekarang Go siau bi telah menjadi calon
istrinya dengan resmi, siapakah bakal menduga sampai kesitu?
setelah tiba di kaki bukit dan menghampiri tempat perpisahannya dengan Hekpek siang yau,
mendadak pemuda itu tercekat, ternyata dua orang pembantunya telah lenyap tak berbekas.
semestinya Hekpek siang yau tidak akan meninggalkan ketuanya tanpa pamit, atau mungkin
telah terjadi sesuatu?
Han siong Kie memeriksa keadaan disekitar tempat itu dengan seksama, namun ia tak berhasil
menemukan sesuatu tanda-tanda pernah terjadinya pertarungan disana. Atau Hekpek siang yau
telah menghianatinya ?
-000dw000-
DENGAN kepandaian silat yang dimiliki sepasang siluman serta meninjau dari perbuatanperbuatan
mereka di masa lampau, bisa jadi kedua orang itu akan melakukan kejahatan lagi.
Andaikata apa yang diduga tak salah, dialah yang berdosa karena dialah yang melepaskan dua
orang gembong iblis itu dari tempat penahanannya.
Untuk sesaat lamanya Han Siong Ken berdiri tertegun, ia tak tahu apa yang musti dilakukan.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian pa muda itu mengambil keputusan, pikirnya:
"Andaikata sepasang siluman benar-benar telah menghianatinya serta melakukan kejahatan
dalam dunia persilatan, aku pasti akan melenyapkan kedua orang itu dari muka bumi".
seorang diri diapun melanjutkan perjalanan menuju kekaki bukit itu.
Dua jam kemudian pemuda itu sudah keluar dari daerah pegunungan dan melanjutkan
perjalanan melalui jalan raya.
sementara perjalanan masih dilanjutkan tiba-tiba dari arah depan meluncur datang beberapa
sosok bayangan manusia, meskipun gerakan tubuh beberapa orang itu bagaikan meteor yang
lewat, akan tetapi bagi ketajaman mata Han siong Kie bukan halangan baginya untuk mengenali
siapa gerangan mereka itu. segera teriaknya dengan suara nyaring: "Engkoh tua Tunggu sebentar,
kau akan ke mana ?"
Mendengar teriakan tersebut, berhentilah rombongan itu, ternyata mereka adalah delapan
orang pengemis dekil, orang pertama tak lain adalah Pengemis dari selatan.
"HaaaHh . . haaaHh .. haaaHh saudara cilik, rupanya kau " teriak pula pengemis dari selatan
dengan wajah berseri.
" Engkoh tua, aku lihat wajahmu murung sekali, apakah telah terjadi sesuatu atas diri mu?"
"Aaai, saudara cilik masa kau tidak mendengar bahwa perkumpulan kami sedang menghadapi
masa kiamat?" ujar pengemis tua itu sambil menghela napas panjang.
"Menghadapi masa kiamat? Kenapa?" seru si anak muda itu tertegun sambil terimangu.
"Jadi engkau tidak mendengar apa-apa tentang organisasi Kay pang kami itu?" Han siong Kie
menggelengkan kepalanya:
"sudah berbulan-bulan lamaoya siaute tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, aku tak tahu apa yang telak menimpa perkumpulan Kay pang?"
"oooh. Kalau begitu tak heran kalau engkau tidak tahu.." ujar pengemis itu.
sesudah menghela napas dan berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh: "semenjak dahulu
kala antara Thian che kau dengan Ji-pang dan sam hwe tak pernah mengadakan kontak hubungan
apa-apa, hubungan kami ibaratnya air sumur yang tidak mengganggu air sungai, tapi rasanya
pihak Thian che kau mempunyai ambisi untuk merajai dunia persilatan, secara licik mereka telah
membasmi musuh-musuh serta saingannya secara diam-diam. Pertama kali yang mengalami nasib
jelek adalah perkumpulan Pat gi pang, menyusul kemudian perkumpulan Jit yan pang. Hong te
hwe, Ang kin hwe, serta Ngo heng hwe dipaksa takluk kepada mereka dan merubah nama
menjadi kantor cabang perkumpulan Thian che kau, rupanya sekarang mereka jatuhkan
incarannya kepada pihak Kay pang, saudara cilik, kalau bukan saat kiamat perkumpulan kita sudah
tiba, apa lagi namanya"
JILID 33 HAL. 06/07 HILANG
"Akupun belum lama mendengar ini, karena setelah urusan disini selesai segera aku akan
berangkat ke Thian Lam untuk melakukan pembersihan secara besar-besaran"
"Dengan kekuatan saudara cilik seorang aku rasa . ."
"Pentolan penghianatan ini cuma seorang yaitu Wi It beng, aku percaya anak murid lain
kebanyakan cuma menganut kehendak hatinya belaka" setelah berhenti sebentar ia berkata lagi:
" Engkoh tua batas waktu yang ditentukan lencana Thian che leng masih ada berapa hari?"
"Tinggal besok sehari "
Ketika pengemis dari selatan mengucapkan kata-kata itu, tiga pengemis tua dan delapan
pengemis setengah baya yang berada dibelakagnya sama-sama menunjukkan wajah sedih dan
resah, namun tak seorangpun yang bersuara. Han siong Kie termenung dan berpikir sebentar,
kemudian bertanya: "Apa rencana engkoh tua untuk menyelesaikan persoalan yang sangat pelik
ini?"
"Aaai, aku telah menurunkan perintah untuk mengumpulkan segenap jago lihay yang berada
dikantor- kantor cabang untuk berkumpul semua dimarkas besar kami tepi pantai Pak swit ham,
yaa . . mati hidup Kay pang tergantung dalam pertarungan yang bakal berlangsung, meskipun
saat ini kami masih mempunyai satu harapan untuk menyelamatkan perkumpulan kami dari
musibah yakni mengharapkan kemunculan susiok kami song Tiat kong . tapi harapan ini tipis
sekali"
"Mengapa kalian tidak segera mengirim kabar kepada song locianpwe agar bersiap sedia?"
"Ketika tengkorak maut gadungan membuat onar dalam markas besar kami. song susiok telah
salah menganggap tengkorak gadungan sebagai tengkorak maut asli, sesudah peristiwa itu beliau
berkunjung ke benteng maut menuntut keadilan, tapi akhirnya beliau kalah ditangan pemilik
benteng maut, waktu itu susiok telah sesumbar bahwa akan muncul kembali dalam dunia
persilatan untuk selamanya, dari mana kami bisa tahu susiok kini berada dimana ? Dan bagaimana
mungkin berita itu disampaikan kalau kami tak tahu dimana beliau berada?"
"Apakah engkoh tua bersedia untuk menerima bantuan dari saudara cilikmu ini?" kata Han
siong Kie mendadak sambil menawarkan jasa baiknya.
" Kesediaanmu untuk membantu tentu saja akan kami sambut dengan senang hati" sahut
pengemis dari selatan sambil mengernyitkan alisnya yang telah memutih, "aku hanya kuatir
bantuanmu masih belum cukup untuk menolong perkumpulan kami lolos dari musibah ini, aaai...
yaa apa boleh buat, terserah bagaimana nasib akan mengaturnya nanti"
Pengemis dari selatan belum tahu kalau Han siong Kie telah berhasil mempelajari ilmu sakti si
mi sinkang, sebab berbicara dari kekuatan yang dimiliki pemuda itu di masa lampau, memang tak
mungkin ia bisa menolong Kay pang untuk lolos dari musibah.
Han siong Kie bukan orang bodoh, sudah tentu diapun dapat merasakan keraguan saudara
tuanya itu, ia tersenyum.
"Begini saja engkoh tua, kalian berangkatlah lebih dulu, bila tiba saatnya nanti, aku pasti sudah
hadir di markas besar kalian"
Pengemis dari selatan mengangguk. mereka tidak berkata apa-apa lagi, dengan begitu maka
dua bersaudara inipun kembali berpisah.
sepeninggal pengemis dari selatan beserta ketujuh orang rekannya, Han siong Kie berpikir
didalam hati, untuk menuntut balas ke benteng maut jelas sudah tak sempat lagi, maka ia
menyusun rencana untuk melaksanakan kembali usaha penuntutan balasnya sesudah
menyelamatkan Kay pang dari musibah.
-000dw000-
BAB 68
LENYAPNYA Hekpek siang yau secara misterius sangat memusingkan kepala anak muda itu, ia
merasa tak mungkin kalau kedua orang siluman itu berhianat kepadanya atau pergi tinggalkan
dirinya tanpa pamit. sebab dua orang itu telah mengakuinya sebagai majikan, itupun kerena harus
menuruti sumpah yang pernah mereka ucapkan dimasa lampau, apalagi mereka telah diterima
sebagai anggota perguruan Thian Lam bun, mustahil pikiran mereka berubah di tengah jalan.
Tapi kemana mereka telah pergi ? Celaka ditangan orang ?Jelas hal ini tak mungkin terjadi,
Ilmu silat mereka sangat lihay, siapakah yang mampu untuk merobohkan kedua orang itu"
sementara dia masih melamun, tiba-tiba sorot matanya sempat menangkap sesosok bayangan
manusia sedang berdiri ditepi sungai tak jauh dari tempat ia berada sekarang, jelas orang itu
tinggi semampai dengan potongan badan menggiurkan, jelas orang itu adalah seorang gadis dan
gadis itu terasa sangat dikenal olehnya.
Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, kontan jantungnya berdebar keras, hampir
saja pemuda itu menjerit. "Aaah Masa dia ?"
Dengan penuh emosi dan hati yang bergejolak pemuda itu meluncur ke depan, menghampiri
gadir yang tinggi semampai itu .
Makin mendekati orang itu, Han siong Kie merasa semakin yakin kalau dugaannya tidak
meleset dan akhirnya . . ia benar-benar membuktikan bahwa dugaannya tak salah gadis itu
memang tak lain dari kekasih hatinya. Tonghong hui yang dia rindukan siang malam.
Darah yang mengalir dalam tubuh pemuda itu terasa mendidih bagaikan kena listrik
bertegangan tinggi, separuh tubuhnya terasa menjadi kaku, hampir saja jantungnya melompat
keluar dari rongga dadanya.
Dengan bibir yang gemetar dan muka yang pucat, ia berdiri tertegun untuk sesaat lamanya tak
sepatah katapun mampu dia utarakan keluar.
Betapa tidak ? Tonghong-Hui yang melama ini dianggapnya telah mati ternyata masih hidup
segar bugar... dugaan dari orang yang kehilangan sukma terbukti kebenarannya, dara itu belum
mati.
Tapi aneh, sekalipun Han siong Kie sudah berada dibelakangnya, gadis itu masih tidak merasa,
ia berdiri kaku bagaikan patung, bergerak sedikitpun tidak.
Angin sungai berhembus sepoi basah mengibarkan ujung bajunya yang panjang, tubuhnya
yang tinggi semampai, lekukan tubuhnya yang menggiurkan amat menawan hati, ibaratnya
bidadari dari kahyangan gadis itu tampak agung dan cantik.
"Adik Hui" akhirnya pemuda itu memang gigil, meski suaranya lirih dan agak parau.
sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, namun ia tidak berpaling pun tidak menjawab.
suatu firasat aneh terlintas dalam benak sianak muda itu, untuk kedua kalinya kembali dia
memanggil: "..Adik Hui.."
Tonghong Hui menghela napas panjang, begitu pedih dan hampa helaan napas itu, membuat
Han siong Kie tercekat hatinya.
Menyusul helaan napas itu, ia putar badannya, sesaat wajah yang sayu terpampang didepan
mata.
Wajah itu layu, kusut dan sinar matanya telah pudar persis seperti wajah Go siau bi calon
istrinya ketika ia jumpa didepan kuil Bu cuan di bukit Tay huang san.
Han song Kie merasakan hatinya bagaikan dipagut ular berbisa, secara beruntun ia mundur tiga
langkah kebelakang.
Bagaimanakah pertanggungan jawabnya kepada gadis yang ia cinta dengan segenap jiwa
raganya? Apalagi bila ia tahu kalau Go siau bi telah menggantikan kedudukannya?
Diantara putih kepucatan yang menghiasi wajah Tonghong i-Hui terlintas semua merah
diantara pipinya, ia menatap Han siong Kie dengan pandangan hampa, mukanya begitu layu,
pedih, sukar dilukiskan dengan kata.
Mereka tidak mirip kekasih yang saling bertemu kembali, keadaan mereka waktu itu ibarat
orang asing yang saling berjumpa, tiada surprise tiada luapan cinta dan rindu, tiada pelukan
ataupun ciuman.
siapapun diantara mereka tak ada yang buka suara, mereka hanya saling menatap dengan
mulut membungkam.
Udara serasa ikut membeku mengikuti keadaan mereka yang serba kaku, serba dingin-
Perlahan-lahan Han siong Kie tundukkan kepalanya, ia tidak memiliki keberanian untuk
memandang kekasihnya lagi, sebab ia telah menjadi penghianat dari cinta, ia merasa tak punya
muka untuk bertemu lagi dengan gadis yang telah menyerahkan seluruh jiwa dan raga kepadanya.
suasana begitu sepi, hening seolah-olah dunia menjadi mati, jagad menjadi kiamat tak
seorangpun yang bersuara, hanya detak jantung mereka yang berdebar keras.
Darimana orang yang kehilangan sukma bisa tahu kalau Tonghong -Hui tidak akan mati?
Benarkah ia memiliki ilmu meramal, ilmu untuk melihat kejadian yang akan datang?.
Apa sebabnya orang yang kehilangan sukma merusak hubungannya dengan Tonghong Hui?
Benarkah jika hubungan mereka dilanjutkan maka hubungan tersebut akan berakhir dengan suatu
kejadiaa yang tragis?
Mengapa Tonghong Hui mengingkari janjinya ketika itu? Mengapa ia begitu tega membiarkan ia
menunggu melama dua hari dengan sia-sia ditepi sungai?
Terbukti sekarang bahwa ia tidak mati, benarkah ayahnya bukan pembunuh keluarga Han dan
keluarga Thio? Kalau bukan, tidak seharusnya gadis itu mengingkari janji.. Lama sekali, akhirnya
Tonghung-Hui buka suara, meskipun suaranya penuh kepedihan:
"Engkoh Kie, angkat kepalamu dan pandanglah aku"
Pedih hati Hansiong Kie bagaikan disayat-sayat pisau, ia mendongakkan kepalanya, meskipun
dengan perasaan menyesal dan malu..
Tatkala sepasang mata mereka bertemu satu sama lainnya, kembali pemuda itu mundur
selangkah, yang tampak olehnya adalah seraut wajah yang pucat seperti mayat,juuh berbeda
dengan raut wajahnya dalam kenangan selama ini
"Engkoh Kie, kau... kau membenci aku" kembali gadis itu berbisik lirih sekali suaranya.
"Adik Hui Aku .. aku...toh...mengapa kau mengatakan begitu ? Mengapa kau mengatakan kalau
aku membenci dirimu ?"
"Karena.... karena aku telah mengingkari janjiku sendiri kepadamu, aku tidak menepati janji"
"Adik Hui, seharusnya akulah, aai. mengapa kau tidak menepati janjimu."
"sekembalinya kedalam benteng, aku telah disekap oleh ayah, tak mungkin bagiku untuk kabur
keluar"
Han Siong Kie merasa emosi dalam dadanya bergelora, apa yang ingin diketahui olehnya
segera akan terwujud, dengan suara agak gemetar tanyanya lagi."sudah kau tanyakan soal yang
ingin kuketahui itu ?"
"sudah.." perlahan-lahan gadis itu mengangguk.
Mencorong sinar mata sianak muda itu, dia maju tiga langkah kedepan seraya bentanya lagi:
"Bagaimana jawaban ayahmu?"
"sudah dua puluh tahun lamanya ayah tak pernah meninggalkan pintu benteng barang satu
langkahpun, apakah jawaban tersebut dapat kau terima sebagai suatu keterangan yang lengkap?"
"sudah dua puluh tahun ayahmu tak pernah muncul kedalam dunia persilatan ?" Tonghong Hui
mengangguk lirih tanda membenarkan.
sungguh terkejut dan girang tak terkirakan perasaan Han siong Kie pada saat ini, dia girang
lantaran Tengkorak maut ayah Tonghong-Hui bukanlah musuh besar keluarganya, sebab peristiwa
berdarah yang menimpa perkampungan keluarga Han terjadi pada bulan sembilan tanggal
sembilan pada lima belas tahun berselang.
sekarang terbukti sudah bahwa dia dan Tonghong Hui sebenarnya tidak terpisah oleh dendam
sakit hati.
Tapi pemuda itu merasa murung, murung karena tidak tahu siapakah pembunuh keluarganya,
kemana dia harus pergi untuk mencari jejak pembunuh keluarganya itu?
Tatkala ia teringat kembali akan pernikahannya dengan Go siau bi, kembali pemuda itu
merintih... merintih penuh kedukaan serta penderitaan- "Engkoh Kie, kee... kenapa kau?" tegur
Tonghong i-Hui.
"oooh, aai tidak apa-apa, kalau toh engkau disekap oleh ayahmu, kenapa sekarang bisa muncul
lagi diluar benteng ?"
"Aku mencuri keluar secara diam-diam, mungkin selama hidup, .selama hidup aku tidak dapat
memasuki pintu benteng maut lagi "
" Kenapa?" tanya sianak muda itu dengan terperanjat:
Tonghong Hui tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya lagi:
" Engkoh Kie, apakah engkau masih... masih selalu mencintai diriku ?"
sakit rasanya hati Han Siong Ki tatkala mendengar pertanyaan itu, ia berpikir:
"Kalau kulihat dari sikap adik Hui yang begitu murung dan layu, kemungkinan besar ia sudah
mengetahui tentang peristiwaku di bukit Tay huang san, bagaimana caranya aku memberi
penjelasan ? Aaai, aku benar-benar menyesal mengapa waktu itu imanku tidak teguh ? Bila
kutolak permintaan tersebut dengan hati yang keras, tak nanti bakal terjadi peristiwa seperti hari
ini".
sementara sianak muda itu masih termenung, Tonghong Hui telah mendesak lebih lanjut.
" Engkoh Kie, hayolah katakan-.. masihkah engkau mencintai diriku ?"
"Adik Hui, percayalah kepadaku. hatiku tak akan berubah, selama-lamanya aku memang tetap
mencintaimu"
"Kau mencintai aku ? selama-lamanya mencintai diriku ?"
"Benar, selama hayat masih dikandung badan, cinta ku padamu tak akan pudar"
" Engkoh Kie, aku dapat meresapi cinta kasihmu ini dan tak akan melupakan untuk selamalamanya
. "
Ucapan tersebut segera mendatangkan firasat tak enak dihati pemuda kita, buru-buru serunya:
"Adik Hui, kau... kenapa kau...."
Tonghong Hui menggeleag dengan seduh dan tertawa rawan.
"Engkoh Kie, kau tak usah bertanya kepadaku mengapa, asalkan masih tetap mencintai aku, itu
sudah lebih dari cukup "
"Adik Hui, aku..aku..sebetulnya...."
"Engkoh Kie, manusia yang mendapat cinta murni dari seseorang adalah suatu kebahagiaan,
aku sudah merasa sangat puas Biarlah apa yang akan terjadi dikemudian hari diatur oleh takdir
dan nasib" Air mata bagaikan layang-layang putus benang mengucur keluar tiada hentinya, dan
membasahi pipi Tonghong-Hui yang pucat pasi, serta tampak menyeramkan itu.
Hancur lebur perasaan hati Han siong Kie pada waktu itu, ia merasa gemas dan benci mengapa
tak dapat segera mati sehingga dosa yang telah dilakukan bisa ditebus kembali. "Adik Hui,
mengapa kau mengatakan begitu? Mengapa ?"
Tonghong Hui tertawa rawan- dia menggeleng.
"sekalipun kuterangkan, engkau tak akan mengerti . . dan tak akan paham"
" Katakanlah padaku . . kumohon katakanlah kepadaku, mengapa ? Mengapa kau berkata
begitu?"
"Dikemudian hari engkau akan mengerti sendiri, sekalipun tidak kuterangkan sekarang, tapi kau
akan pasti paham"
Berkerut kencang raut wajah Han siong Kie yang tampan d engan penuh penderitaan katanya
lagi:
"Adik Hui, maafkanlah daku, pada hakekatnya aku... sebetulnya aku..."
"Engkoh Kie, jangan berkata begitu?" tukas Tonghong i-Hui sambil menggelengkan kepalanya
berulang kali: "kata maaf sepantasnya muncul dari mulutku aaai Apa mau dikata lagi bila takdir
telah mengatur segala sesuatunya itu bagi kita?"
"Adik Hui...."
"Duduklah engkoh Kie, bersandarlah padaku," Dengan sikap yang kaku dan gerak gerik yang
sama seperti orang kehilangan sukma Han siong Kie duduk diatas batu cadas dan bersandar diatas
tubuh gadis itu.
Tonghong Hui segera merebahkan dirinya dalam pangkuan pemuda itu serta merta Han siong
Kie merangkul tubuhnya dan mendekapaya erat-erat.
"Engkoh Kie, masih ingat ketika kita mengangkat saudara diatas batu besar ditepi sungai?
Ketika itu aku masih serupa seorang pengemis cilik"
"Aku tak akan melupakan kenangan indah itu untuk selamanya"
"Masih ingat sewaktu kau terjatuh ketangan orang-orang Thian che kau pura-pura mati dengan
ilmu Ku si tay hoat dan aku menguburkan jenasahmu serta mendirikan batu nisan dirimu?"
"Aaai, aku sangat mengharapkan bahwa kejadian itu hakekatnya adalah suatu kejadian
sebenarnya, sekarang niscaya kita sudah berbaring didalam sebuah liang..."
"Adik Hui, kau...."
"Ketika kau dihantam oleh Tengkorak maut gadungan sehingga tercebur kedalam jurang, aku
menyusulmu kedalam jurang, tapi akhirnya kita sama-sama tidak mati"
"Adik Hui, semua kenangan indah serta kenangan manis itu tak akan pudar, tak akan hilang
dari pikiranku"
"Tapi, sekarang engkoh Ki, aku menyesal aku merasa amat menyesal"
Tercekat perasaan hati Han siong Kie, ucapan dari gadis itu seakan-akan tidak teratur lagi,
mungkinkah ia sudah jadi gila?
"Adik Hui, kau ... kau perlu beristirahat, tidurlah sebentar agar pikiranmu menjadi terang
kembali."
"Tidak. aku sangat baik, pikiranku masih cukup terang"
"Ucapanmu itu .... ucapanmu iti telah menghancurkan hatiku.... melumpuhkan perasaanku"
"Bersabarlah engkoh Ki, perasaanmu itu akan hilang mengikuti berputarnya waktu "
Hembusan angin lirih berkumandang dari kejauhan, bukan hembusan angin biasa tapi ujung
baju seseorang yang tersambar angin-
Dengan cekatan dua orang itu meloncat bangun berpaling, sesosok bayangan manusia berdiri
kurang lebih lima kaki dihadapan mereka.
orang itu adalah seorang manusia aneh yang berambut panjang, tampaknya jelek dan sangat
menyeramkan,
Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, sementara Han siong Kie sendiripun merasa
terperanjat setelah mengetahui siapa yang datang, dia masih ingat manusia aneh ini adalah
penghuni benteng maut, dia pernah bertemu dengan manusia aneh ini dan seingatnya makhluk
inilah yang terus berkaok-kaok dengan suara aneh.
"siapakah orang itu adik Hui?" cepat bisiknya.
"Dia adalah siau suhengku, seorang yang bisu dan tak pandai berbicara tapi kecerdikannya luar
biasa, diapun sangat perasa, selama hidup belum pernah tinggalkan benteng.."
"Tahukah kau apa tujuannya datang kemari?"
"Tentu saja mendapat perintah dari ayah untuk mencari aku serta menggusurnya pulang
kebenteng"
"Kalau begitu biarlah ku usir dia pergi dari sini."
"Jangan...Jangan kau berbuat begitu", tiba-tiba ia melejit ke depan sambil berlarian menjauhi
pemuda itu, serunya lagi "engkoh Kie, semoga kau baik-baik menjaga diri,aku. .aku pergi dulu"
"Adik Hui, jangan pergi dulu. aku masih...."
Namun Tonghong Hui tidak menggubris lagi, bersama manusia aneh berambut panjang itu
bayangan mereka kian menjauh sehingga akhirnya lenyap dari pandangan.
Han siong Kie berdiri menjublak bagaikan sebuah patung arca ia berdiri kaku di atas sebuah
batu tanpa berkutik, untuk sesaat pemuda itu dibikin gelagapan dan tak tahu apa yang musti
dilakukan ingin sekali ia mencegah kepergiannya tapi kakinya tak pernah beranjak dari tempat
semula, tutur kata Tonghong i-Hui yang aneh dan sedih serta paras muka sang dara yang sayu
dan layu membuat pikirannya kalut dan tak tenang.
Masih banyak perkataan serta penjelasan yang hendak ia katakan kepadanya, tapi gadis itu
sudah pergi.
Menurut pengakuannya, sudah dua puluh tahun ayahnya tak pernah keluar daripintu gerbang
benteng, maka mungkinkah ucapannya jujur? Lima belas tahun berselang waktu itu usianya baru
mencapai tiga tahun, tak mungkin ia bisa tahu akan kejadian yang sebenarnya, benarkah ia