Tengkorak Maut 01 - 16
Tengkorak Maut
Karya: Tjan ID
Bab 1 : BENTENG MAUT
Dalam pandangan orang2 dunia persilatan, tempat itu merupakan sebuah istana yang mendatangkan maut bagi siapa yang berani mendekatinya.
Benteng kuno itu dibangun diatas sebidang tanah berbatu karang yang dikelilingi oleh tiga buah aliran sungai.
Pintu depan benteng yang menghadap ke arah daratan selalu terbentang lebar dan memperlihatkan sebuah pintu yang gelap gulita di atas dinding tembok tertera dua huruf besar yang cukup membetot hati siapapun yang menyaksikan: Benteng Maut
Dibawah dua huruf besar tadi terdapat pula sebuah tengkorak merah darah yang nampak menyeramkan.
Itulah lambang maut dari pemilik benteng kuno itu.
Selama hampir tiga puluh tahun lamanya di dunia persilatan tercekam dalam ketakutan, kengerian yang seolah-olah hari kiamat hampir tiba, sebagian besar jago2 dari kalangan Bu lim banyak yang mati binasa dalam keadaan penasaran, banjir darah melanda dimana-mana.
Semua peristiwa berdarah yang terjadi selalu diakhiri dengan tertinggalnya lambang Tengkorak maut disisi setiap korban..
Kebrutalan serta kekejaman Tengkorak maut membuat orang jadi ketakutan dan menjuluki dirinya sebagai malaikat elmaut.
Tetapi... lima belas tahun berselang, tiba-tiba pintu benteng itu tertutup rapat Tengkorak maut tak pernah muncul kembali di dalam dunia persilatan, seluruh Bu lim pun terlepas dari cekaman rasa takut dan ngeri.
sementara orang menduga tengkorak maut telah menghembuskan napasnya yang terakhir tetapi kenyataan membuktikan lain, sebab setiap rombongan orang Bu lim yang berangkat menyelidiki rahasia Istana maut tak seorangpun yang kembali dengan selamat. Teka teki... peristiwa itu merupakan suatu tanda tanya besar bagi semua orang.
Malam mencekam seluruh jagad, udara gelap gulita tidak nampak cahaya bintang maupun rembulan... begitu pekat hingga melihat ke lima jari sendiripun susah.
Kilat menyambar2 diiringi suara gemuruh guntur yang bergeletar membelah bumi, kilatan tajam mendatangkan kilatan cahaya yang menerangi seluruh jagad.
Angin berhembus kencang mengiringi desiran yang menusuk pendengaran, menyapu seluruh benda di sekitar nya .... ranting, daun dan debu berterbangan memenuhi angkasa...
Didalam sebuah dusun yang kecil nampak sesosok bayangan manusia sedang melaku-kan perjalanan dengan cepat menyeberangi jalan.
Kilat kembali menyambar... kali ini terlihat lebih jelas lagi, kiranya bayangan tadi adalah dua sosok tubuh yang saling berpanggulan, seorang pemuda berusia tujuh delapan belas tahunan dengan membopong seorang pria berusia pertengahan sedang melakukan perjalanan cepat..
Sang pemuda berwajah tampan berperawakan kekar, sedang sang pria berusia pertengahan itu kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, napasnya kempas kempis dan rupanya sedang menderita sakit parah.
"Ayah ...." terdengar pemuda itu bergumam "Rupanya sebetar lagi akan turun hujan badai yang amat deras"
Pria berusia pertengahan yang ada didalam dukungannya mendengus lalu mengangguk.
"Benar, hujan bakal turun dengan deras nya.... inilah suatu saat yang paling bagus bagi kita".
"Apa??? saat yang paling bagus ???. "
"Ehmm. sedikitpun tidak salah"
"Ayah, ananda tidak paham dengan maksudmu "
"Setelah tiba ditempat tujuan nanti, kau akan segera mengerti"
"Ayah, mengapa kau harus memilih disaat yang paling jelek untuk keluar rumah???, sakit mu. . "
"Nak. sebentar lagi kau akan paham dengan sendirinya, ayoh cepat berangkat".
Guntur membelah bumi menggetarkan seluruh permukaan bumi, kilat kembali menyambar dan hujan deras mulai membasahi seluruh tempat... "Ayah, hujan telah tiba .. bagaimana kalau kita ketempat berteduh ???".
"Tidak. tidak usah, cepatan dikit.."
"Tapi ayah.... sakitmu..."
"Justru karena aku, aku sakit. Aaai anakku. tak usah banyak bicara lagi, masih jauh kah, perkampungan keluarga Han??"
"Kita akan segera tiba ditempat tujuan, setelah belok tikungan bukit sana" Kilat menyambar menerangi jagad, guntur bergeletar menerangi angkasa.
Hujan deras diiringi hembusan angin puyuh melanda seluruh jagad, begitu dahsyat hujan yang turun membuat tanah jadi berlumpur dan sangat becek.
setelah membelok sebuah tikungan bukit, akhirnya terlihatlan bayangan sebuah perkampungan muncul di hadapan mereka. "Kita sudah...saam..saampai...nak .."
Pemuda itu mempercepat langkahnya masuk kedalam pintu perkampungan.
setibanya dalam ruangan, pemuda itu menurunkan pria berusia pertengahan tadi keatas tanah, lalu diapun duduk bersandar disisinya.
Dibawah kilatan cahaya petir, tampak pintu perkampungan itu sudah lapuk dan bobrok, sarang laba2 bergelantungan di-mana2, debu yang menempel diatas lantai sangat tebal.
"Ayah, apakah perkampungan ini sudah lama tidak dihuni orang ??".
"Benar."
Dengan lemas pria berusia pertengahan itu menyandarkan diri ditepi pintu, napasnya tersengkal dan wajahnya berubah jadi pucat pias. bagaikan mayat.
"Ayah...kau:..kenapa kau??" jerit pemuda tadi.
"Nak...mari mari kita, masuk ke dalam .."
"Tapi ayah...keadaanmu bertambah payah, kita lebih baik beristirahat dulu sejenak"
"Masuk."
Dari balik mata pria berusia pertengahan itu mendadak memancar keluar sorot cahaya yang sangat aneh, wajahnya berkerut kencang, dengan kerahkan segenap kekuatannya ia menghardik keras.
Pemuda itu bergidik dan berdiri menjublak tapi sejenak kemudian ia sudah mendukung kembali tubuh ayahnya masak ke dalam perkampungan.
Hujan badai telah berhenti, gunturpun telah sirap. dengan perasaan ragu, sangsi dan penuh tanda tanya pemuda itu perlahan2 berjalan masuk kedalam perkampungan, ia tidak mengerti apa sebabnya siorang tua itu tidak mempedulikan sakitnya yang parah, di tengah hujan badai yang amat deras mengajak dia mengunjungi perkampungan yang sudah usang dan terbengkalai ini.
Bayangan hitam yang seram dan mengerikan segera mencekam perasaan si anak muda itu.
Jendela yang lapuk berbunyi gemericikan nyaring terhembus angin yang kencang, bayangan hitam dari tiang penglari, sudut ruang di balik pintu se akan2 berubah jadi bayangan setan yang mendirikan bulu roma.
"Ayah..." seru pemuda itu tak tertahan..
"Bu...bukankah kau...kau merasa taa. . takut nak???"
"Tiiii . . tidak . . aku tidak . merasa takut"
Awan hitam perlahan2 membuyar, rembulan muncul dari balik kegelapan yang mencekam seluruh jagad dan memancarkan sinarnya menerangi perkampungan yang terbengkalai itu hingga mirip dengas sarang hantu.
Mendadak... pemuda itu merasakan kakinya tersentuh sesuatu benda hingga hampir saja ia jatuh tertelungkup, , cepat ia tunduk kan kepalanya untuk memeriksa..
"Aaaaah..." ia menjerit tertahan, badannya jadi merinding dan bulu roma pada bangun berdiri sesosok tengkorak putih menbujur diatas lantai.
Diikuti dari balik semak belukar, sudut ruangan, beranda... semuanya nampak tengkorak yang berceceran di-mana2.
Dua...tiga...empat...seluruh ruangan penuh berisikan tulang tengkorak manusia yang bergelimpangan di mana2..
Pemuda itu segera menghentikan langkah kakinya, sekujur badan gemetar keras, giginya saling bergemerutukan nyaring.
Kegelapan yang mencekam perkampungan yang terbengkalai.. serta tulang tengkorak manusia yang berserakan di mana2.
Api setan yang seakan2 datang dari arah yang tak diketahui ujung pangkalnya ini menciptakan suatu pemandangan yang menyeramkan, mengerikan hati...
"Ayah apa yang terjadi..." seru pemuda itu.
"Jaa...jangan banyak bertanya, masuk ke dalam ruangan tengah...".
si anak muda itu ragu2 untuk melanjutkan langkah kakinya, ia tak berani membayangkan pemandangan ngeri apa lagi yang akan ditemui diruang tengah, dalam benaknya telah dipenuhi dengan be ratus2 macam pertanyaan tetapi tak sebuahpun yang sanggup diutarakan keluar.
Tapi secara lapat2 iapun dapat merasakan bahwa peristiwa yang dialaminya matam ini bukan kejadian biasa. Ayahnya tidak nanti tanpa alasan mengajak ia datang kedalam perkampungan bobrok yang penuh dengan tulang berserakan ditengah malam hujan badai yang deras.
"Ce...cepat masuk keruang tengah". terdengar pria berusia pertengahan itu ter batuk2 dan membentak.
" Kalau tidak kau...kau se lama hidup akan menyesal".
Dengan perasaan bergidik bercampur kaget pemuda itu mengiakan dan segara meneruskan langkahnya masuk kedalam ruangan.
Ruang tengah gelap gulita, sarang laba2 bergantungan dimana2, debu sangat tebal dan menyiarkan bau busuk yang sangat tak enak dibadan.
sekilas cahaya rembulan sempat menerobos masuk kedalam ruangan lewat celah2 dinding yang retak. menerangi sedikit ruangan yang gelap dan apek itu. Kembali ia saksikan tengkorak manusia berserakan ditengah ruangan tersebut.
Tak tahan lagi si anak muda itu berseru terperanjat, ia semakin bingung dan tak habis mengerti kenapa ayahnya mengajak dirinya mengunjungi rumah hantu semacam ini.
"Tuu turunkan aku", seru pria berusia pertengahan itu.
Pemuda tadi mengiakan dan menurunkan ayahnya keatas lantai, tapi tatkala ia berpaling pemuda itu segera berdiri menjublak. terasa olehnya bahwa ia sedang bermimpi jelek:
Untuk pertama kalinya ia saksikan sang ayah yang bewajah ramah dan penuh kasih sayang itu menunjukkan mimik yang menakutkan, suatu perubahan air muka yang menjijikkan..
"Ayah. . .kau.." jeritnya keras2.
"Aku. . .aku bukan ayahmu " teriak pria tadi.
Dengan hati terkesiap si anak muda itu mundur satu langkah ke belakang, dalam pikiran nya mungkin sang ayah berada dalam keadaan tak sadar, mungkin pikirannya tidak jernih.
"Nak" terdengar pria berusia pertengahan itu berkata lagi.
"Berikan separuh .... separuh Jin som itu kepadaku..."
Dengan wajah kebingungan pemuda itu mengambil keluar sebuah bungkusan kecil dari sakunya lalu diserahkan kepada pria tadi.
setelah menerima bungkusan tersebut, pria itu membuka bungkusan tadi lalu mengambil jin som dan ditelannya kedalam perut.
sesaat kemudian semangat serta kesegaran nya telah pulih kembali.
"Ayah bukankah sejak tadi telah kunasehati untuk menelan separuh buah jinsom tersebut, mungkin penyakitmu tidak akan berubah jadi separah ini...".
Pria berusia pertengahan itu tidak menggubris perkataan putranya, dengan wajah berkerut kencang dan menunjukan mimik yang mengerikan ia alihkan pandangannya ke arah sesosok tulang tengkorak manusa yang membujur disisinya penuh rasa hormat.
sang pemuda yang menyaksikan tingkah laku ayahnya makin lama semangkin bingung.. kian lama kian bertambah terperanjat. sehabis menyembah kearah tengkorak tadi, titik-titik air mata nampak mengucur keluar membasahi pipinya yang kurus dan peot.
"Ayah . . " kembali pemuda itu berseru.
"Aku bukan ayahmu!".
"Kau . . kau orang tua ... "
"Sekarang dengarkanlah baik2 " terdengar pria berusia pertengahan itu dengan wajah hijau membesi dan sorot mata menggidikan menatap sianak muda itu tajam2.
"Aku bukan ayahmu, aku adalah paman gurumu yang disebut orang si telapak naga beracun Thio Lien".
"Ayah . . . "jerit pemuda itu dengan suara gemetar dan hati bergetar keras:
sepasang mata pria berusia pertengahan itu melotot besar, tukasnya dengan suara seram:
"Aku bukan ayahmu, aku adalah paman gurumu sitelapak naga beracun Thio Lien".
"Paaaa...paman guru???".
"Tidak salah".
"Kalau begitu, keponakan bukan she Tio?"
"Tidak kau she Han".
"Aku she Han??" badan sianak muda itu mulai gemetar keras: "Benar. kau she Han. Ingat baik2, namamu adalan Han Siong Kie..."..
"Han Siong Kie???".
" Ehm ayahmu bernama Han Hoei, dia adalah Jie suko ku ".
sekilas bayangan hitam berkelebat dalam benaknya, Han Siong Kie merasa hatinya bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri.
"Lalu ayahku..."
"Dialah tulang tengkorak dari jie suhengku dialah tulang tengkorak dari ayahmu " seru sitelapak naga beracun sambil menuding kearah tulang membujur disisi tubuhnya.
Bagaikan disambar petir disiang hari bolong Han Siong Kie merasa dadanya jadi sesak. pandangan matanya jadi gelap dan tak tahan lagi ia berteriak keras: "Ayah. . ."
Tubuhnya menubruk keatas tulang tengkorak tadi dan jatuh tak sadarkan diri
Dengan susah payah si telapak naga beracun Thio Lien menyalurkan jari tangannya dan menotok beberapa buah jalan darah di atas tubuh pemuda she Han tersebut.
Perlahan-lahan Han Siong Kie tersadar kembali dari pingsannya, ia menyembah beberapa kali dihadapan tulang tengkorak ayahnya lalu dengan suara keras ia menjerit: "susiok apakah perkampungan ini adalah rumah kediamanku??"
"Tidak salah"
"Tulang tengkorak manusia yang berse-rakan diseluruh perkampungan ini ...."
"Mereka anggota keluarga serta anggota perkampunganmu, semuanya berjumlah dua ratus jiwa". .
"Siapakah yang melakukan pembunuhan brutal ini????"".
"Dengarkan dulu ceritaku. pada hari Tiong Yang lima belas tahun berselang, aku dengan membawa sutemu datang mengunjungi ayahku, waktu itu kau masih berusia tiga tahun. sutemu adalah sebaya dengan usiamu hanya dia lebih muda dua bulan. Disaat kami sedang berbicara dan bercerita dengan riang gembira itulah tiba2 bencana datang dari atas langit,jie suheng segara melemparkan dirimu kepadaku sambil berpesan: sute, tolong, selamatkanlah keturunan keluarga Han kami.."
Mendengar sampai disini Han Siong Kie merasakan pandangannya jadi ber kunang2, sambil menggertak gigi kencang2 ia berusaha menahan golakan emosi dalam hatinya.
"Waktu itu aku telah bertekad untuk berjuang sampai titik darah penghabisan" terdengar sitelapak naga beracun Thio Lien melanjutkan kembali kisahnya." Tetapi pesan terakhir dari ayahmu tak dapat kutampik, maka disaat terakhir, aku membopong tubuh mu dan meloncat kedalam sebuah sumur kering ditengah halaman . . . ".
"Lalu dimanakah sute???".
"Dia . . dia telah mati konyol mewakili dirimu" sahut Thio Lien dengan mata melotot besar:
Han Siong Kie tak kuasa menahan diri, ia muntah darah segar.
Si telapak nega beracun Thio Lien melirik sekejap kearahnya, lalu melanjutkan:
"Ketika aku membawa kau merangkak ke luar dari sumur tua itu, seluruh isi perkampungan telah porak poranda . . tak seorang manusiapun berada dalam keadaan hidup,"
Han Siong Kie menjerit keras, sekali lagi ia muntah darah segar dan badannya mundur dengan sempoyongan. "Dimanakah ibuku??". .
"Ibumu??" Thio Lien menggigit giginya.
"Kenapa dengan ibuku???" satu ingatan jelek kembali berkelebat dalam benak sianak muda itu
"Ibumu bernama Say Siang Go, si Siang Go cantik Ong Coei Ing, pada lima belas tahun berselang merupakan wanita tercantik didalam dunia persilatan"
"Apakah ia tidak mati didalam peristiwa berdarah itu???".
"Tidak "
"Kenapa ???".
"Kejadian itu merupakan suatu teka teki hingga kini hanya dia seorang yang masih hidup dalam keadaan segar bugar".
"Sekarang ibuku berada dimana??? susiok apakah kau tahu??"
"Aaaai... " sitelapak naga beracun Thio Lien menghela napas sedih.
"Nak .... lebih baik kau tak usah menanyakan persoalan ini"
"Tidak ...." Jerit Han Siong Kie sambil gelengkan kepalanya berulang kali. "Aku ingin tahu susiok aku ingin tahu nasib yang dialami ibuku".
"Dia sudah menikah lagi"
"Apa??? ibuku menikah lagi ????" sekujur tubuh pemuda she Han ini menggetar keras, hampir saja ia tak sanggup menahan golakan hati yang terasa amat berat itu.
"Sedikitpun tidak salah".
"Apakah dia tahu kalau aku masih di dunia dikolong langit ?"
"Ia Tahu".
"Kenapa ia tidak datang mencari diriku?"
"Aku pernah membawa dirimu pergi mencari dirinya, tapi hampir saja kita berdua mati konyol diujung telapak tangannya, berulang kali dia memperingatkan diriku, katanya apabila lain kali sampai bertemu lagi, maka jiwa kita berdua pasti akan dicabut. oleh sebab peristiwa inilah selama lima belas tahun lamanya aku tak berani munculkan diri didalam dunia persilatan"
Han Siong Kie menjerit keras dan sekali lagi muntah darah segar, ia tidak menyangka kalau dirinya ternyata memiliki seorang ibu yang begitu kejam bagaikan kalajengking...
Blaam pemuda itu tak sanggup berdiri tegak lagi dan segera jatuh terduduk diatas tanah. "Apakah ia tidak mempunyai rencana untuk membalas dendam kematian bagi keluarganya??"
"Anak kandung sendiripun sudah tidak mau, apa lagi membicarakan soal pembalasan dendam"
"Suatu hari aku... aku mau membinasakan dirinya. "
"Apa? kau headak membunuh ibumu sendiri??? "
Han Siong Kie menutupi wajahnya dengan sepasang tangan lalu menangis ter-sedu2. "Yaah Allah kenapa kau bisa mempunyai seorang ibu macam begini.??..".
"Nak. bagamanapun juga akhirnya kau telah tumbuh jadi dewasa, tetapi karena terikat oleh sumpah aku tak dapat mewariskan segenap kepandaian silat yang kumiliki kepadamu, namun dalam lima belas tahun belakangan ini kau sudah memiliki dasar tenaga lweekang yang cukup kuat, asal kau dapat bertemu dengan guru pandai tidak sulit untuk memperoleh kemajuan yang pesat. Nah. sekarang kau boleh pergi".
"Susiok. kau bilang apa???" seru Han Siong Kie dengan hati terkesiap. matanya terbelalak dan mulutnya melongo.
"Aku minta kau segera tinggalkan tempat ini "
"Aku disuruh tinggalkan tempat ini??".
"Benar."
"Lalu bagaimana dengan susiok???".
"Aku sudah mencuri hidup selama lima belas tahun lamanya, tugas yang dititipkan jie suheng kepadakupun sudah selesai sekarang aku sudah sewajarnya untuk menyusul diri Jie suhengku"
"Susiok, kau... " seru Han Siong Kie dengan hati sedih, ia sebera merangkak kehadapan telapak naga beracun Thio Lien dan berlutut di hadapannya.
"Nak, tindakan ini merupakan peraturan dari perguruan, kau tak bakal mengerti"
"Tidak susiok. kau tak boleh..."
"Nak, itu namanya nasib"
"Bagaimanapun juga kau harus mengerti dan memahami "
"Susiok. kau telah mengorbankan jiwa sute demi menyelamatkan jiwaku, selama lima belas tahun kaupun telah mendidik dan memelihara aku, budi kebaikan yang sedalam lautan ini meski badan titjie harus hancur lebur pun tak akan terbalas.".
"Omong kosong kesemuanya itu cuma omong kosong. "
"Tidak susiok. aku tidak akan membiarkan dirimu. ."
"Apakah kau hendak memaksa aku untuk menghianati perguruan?? kau hendak paksa aku melanggar peraturan?? "
"Tetapi.. .susiok bagaimanapun juga kau harus mengatakan dulu alasan2nya".
"Tidak bisa, ini adalah perintah dari perguruan yang tak dapat dibangkang..."
Makin dipikir Han Siong Kie merasa semakin bimbang dan tidak habis mengerti, ia tak dapat menangkap maksud perkataan dari susioknya barang sepatah katapun.
"Susiok, lalu siapakah musuh besar kita.??" akhirnya ia bertanya lagi setelah termenung beberapa saat lamanya.
"Kau tak usah tahu siapakah musuh besar kita.. "
"Kenapa?? apakah..."
"Ingat" seru si telapak naga beracun Thio Lien dengan mata bercahaya tajam. Pertama kau tidak diperkenankan membicarakan atau mengungkap asal usulmu kepada siapapun juga. Kedua. dilarang mengubur tulang belulang yang berserakan ditempat ini. Ketiga, Dilarang membalas dendam"
"Susiok, kau sedang mengatakan soal apa?" jerit sianak muda itu pedih.
"Ini perintah dari paman gurumu, kau tak boleh melanggar."
"Susiok, ingatanmu mungkin tidak..."
"Omong kosong, aku segar bugar otakku jernih dan tidak melantur"
"Lalu kenapa aku tak boleh membalas dendam??".
"Kau tak usah bertanya mengapa, ayahmu yang ada diakhirat pasti mengerti dan memahami keadaan sebenarnya dan ia pasti dapat menyetujui tindakan yang telah kuambil ini."
"Kalau begitu tit-jie tolong tanya nama dari perguruan kami??".
"Masa yang sudah silam tak usah dibicarakan lagi, lebih baik kau tak usah tahu tentang hal itu lagi".
"Lalu ibuku yang berhati kejam bagaikan kala itu telah kawin lagi dengan siapa?".
"Kauwcu dari perkumpulan Thian Che Kauw"
"Macam apakah Thian Che Kauwcu itu???"..
"Persoalan ini mungkin jarang ada orang yang bisa menjawab. Thian Chee Kauwcu adalah pemimpin dari suatu perkumpulan terbesar di kolong langit dewasa ini, kedudukannya tinggi dan kekuasaannya meliputi seluruh dunia persilatan".
"Susiok. titcie selama ini tak pernah mendengar susiok membicarakan tentang diri susiokbo."
Sinar kebencian dan penuh rasa dendam memancar keluar dari telapak naga beracun Thio Lien.. sesaat kemudian dengan nada sedih ia menjawabi "Apa yang telah terjadi persis seperti peristiwa berdarah yang dialami oleh keluargamu, hanya kejadian itu berlangsung tiga hari setelah aku tinggalkan rumah."
Dalam sedihnya yang kelewat batas Han Siong Kie masih sempat merasakan hatinya bergetar keras setelah mendengar perkataan itu, ia hampir saja tidak mempercayai apa yang dikatakan susioknya sitelapak naga beracun Thio Lien terhadap dirinya, sebab apa yang terdengar olehnya hampir mendekati tidak masuk diakal.
Mengapa keluarga Han dan keluarga Thio mengalami peristiwa berdarah hampir bersamaan waktunya?? dan dia mengapa di larang untuk membalas dendam serta mengubur tulang belulang yang berserakan diseluruh perkampungan usang itu???
Dalam pembicaraannya, setiap kali sang susiok menegaskan bahwa itu perintah perguruan, apa yang dia maksudkan?? Apakah peristiwa berdarah ini mempunyai hubungan yang erat dengan dendam berdarah dari perguruan angkatan sebelumnya?? Kenapa susioknya tak mau menerangkan tentang perguruannya???
Selama belasan tahun mereka hidup berdampingan sebagai ayah dan anak... hubungan itu demikian rapat dan eratnya..
Belum habis dia berpikir, terdengar si telapak naga beracun Thio Lien telah menjerit sedih:
"Suhu, tecu sudah mencuri hidup lima belas tahun lamanya, ini hari aku baru berhasil menyelesaikan perintahmu" .
Plooook diiringi dengusan napas barat, tampaklah darah segar berhamburan keempat penjuru, siorang tua she Thio itu telah menghantam ubun2 sendiri hingga hancur berantakan, otak bermuncratan ke mana2 dan jiwanya segera melayang meninggalkan raganya.
Dengan perasaan tertegun... kaku. Han Siong Kie menyaksikan drama seram itu berlangsung dihadapan matanya, ia tidak menangis pun tidak bersuara. seakan2 segala sesuatunya sudah jauh meninggalkan dirinya.. seolah-olah ia sudah bukan termasuk didalam dirinya, yang terlihat saat itu hanyalah kegelapan yang kelabu serta kegirangan yang menyelubungi seluruh tubuhnya.
Ia merasa se akan2 dirinya sudah berada didunia yang lain, disuatu tempat yang hampa ... kosong...
Thio susiok telah bunuh diri dan ia berkata bahwa kesemuanya itu adalah perintah perguruan, kenapa??
Ia dilarang membicarakan soal asal usulnya, dilarang mengubur tulang belulang yang berserakan, dilarang membalas dendam
Kenapa?? kenapa demikian???? apa yang sebenarnya sudah terjadi ???
Malam semakin kelam udara semakin dingin ia berdiri seorang diri ditengah kesunyian.
-0000000-
FAJAR telah menyingsing, sang surya perlahan2 muncul diufuk sebelah timur dan memancarkan sinarnya menembusi celah2 jendela, menerobos ruang yang luas dan menyinari mayat Thio Lien serta tulang berulang yang berserakan di mana2.
Han song kie mendusin dan sadar kembali dari kesedihan yang kelewat batas, kengerian yang terbentang dihadapan wajahnya membuat hatinya layu ... perih.. bercampur dendam.
Mendadak...ia temukan bayangan bewarna merah diatas dinding tembok. cahaya itu seperti lukisan sebuah lambang, maka didekatinya dinding tadi dan membersihkannya dari kotoran debu, sesaat kemudian terlihatlah sebuah lukisan tengkorak darah diatas dinding tadi.
Tengkorak darah itu melambangkan apa??
Mungkinkah tanda pribadi dari musuh besarnya? ataukah lukisan dari mendiang ayahnya???...
"Aku harus membalas dendam aku harus menyelidiki peristiwa ini hingga jelas ....".
Sambil menjerit-jerit ia lari keluar perkampungan, bagaikan sukma gentayang berkeliaran dijalan raya....
Mimpipun ia tak pernah menyangka kalau dirinya menpunyai asal usul yang begitu mengerikan .... begitu memedihkan hati.
Ia teringat kembali keluarganya yang musnah dalam keadaan mengerikan, ia teringat pula budi pertolongan Thio susiok nya yang telah memeliharanya dan mendidik dirinya selama lima belas tahun, budi kebaikan ini selamanya tak akan bisa dibalas....
Ibunya....si siang Go cantik Ong Coei Ing menurut Thio susioknya adalah perempuan tercantik diseluruh kolomg langit, tetapi diapun merupakan wanita paling kejam paling berbisa hatinya dikolong jagat, bukan saja ia tak mau mengakui anak kandungnya sendiri, tak mau membalaskan dendam atas peristiwa berdarah itu bahkan malah kawin lagi dengan orang lain....
Ia merasa sakit hati, merasa dendam dan malu... malu karena mempunyai seorang ibu semacam itu.
Dalam semalam suntuk, la telah berubah jadi seorang manusia yang lain Benci, dendam, marah dan malu telah bercampur aduk didalam benaknya, mencair dan menjadi satu dengan darahnya.
Diatas raut wajahnya yang tampan terlintas perasaan dingin yang menyeramkan membuat siapapun yang memandang merasa bergidik dan ngeri.
sorot matanya memancarkan cahaya tajam penuh kebencian, penuh perasaan dendam yang mendalam.
Bagaikan sukma gentayangan ia berjalan, ia berjalan terus tanpa arah tujuan Mendadak... suara.. bentakan nyaring berkumandang disisi telinganya.
"Hey, kalau jalan kau pakai matamu atau tidak?? ngawur saja seenaknya..."..
Bagaikan baru sadar dari impian Han Siong Kie tersentak kaget, lalu angkat kepala nya, tampaklah dua orang dayang berwajah cantik telah berdiri dihadapan matanya sementara empat orang pria kekar yang menggotong sebuah tandu kecil mangikuti di belakang dayang tadi.
Disaat sianak muda itu mendongak itulah mendadak kedua orang dayang tersebut melenggak. lalu sambil menutupi mulutnya tertawa cekikikan, empat biji mata yang bening berseliweran memperhatikan sekujur tubuhnya.
Dengan dingin dan ketus, Han Siong Kie melirik sekejap lawannya, kemudian putar badan dan meneruskan perjalanannya lewat sisi jalan.
"Kembali", serentetan suara bentakan yang mengandung besi semberani berkumandang keluar dari dalam tandu.
Han song Kie sama sekali tidak menggubris tanpa berpaling barang sekejappun ia meneruskan perjalanannya menuju ke depan.
Angin berbau harum berkelebat lewat, mendadak sianak muda itu merasakan pandangannya nanar. sesosok bayangan manusia tahu-tahu sudah menghadang dihadapannya.
Han Siong Kie tanpa sadar telah menghentikan langkah kakinya dan mendongak, tampaklah seorang perempuan muda, berbaju merah yang amat cantik telah menghadang dihadapan mukanya. perempuan itu kira-kira dua puluh tahunan wajahnya menunjukkan kegenitan serta kejalangan yang tebal.
"Hey kau dengar tidak. perkataanku??.." suaranya merdu dan enak didengar.
Begitu melihat perempuan muda berbaju merah ini, HanSiong Kie segera teringat kembali akan ibunya, rasa benci dan mendendam seketika muncul didalam hatinya, tanpa sadar mendengus dingin dan melengos ke samping...
Perempuan itu jadi tercengang menyaksikan tingkah laku lawannya, belum pernah ia berjumpa dengan seorang pria yang sama sekali tidak ambil perduli terhadap dirinya, disamping itu perempuan itupun merasa tertarik akan ketampanan wajah lawan, jarang sekali ia menjumpai pria tampan semacam ini. Maka sambil tertawa ter-kekeh2 tegurnya:
"Heeei, saudara cilik, aku sedang mengajak kau berbicara, kau tidak mendengar??".
"Cayhe tidak punya kegembiraan untuk menemani kau bicara" sahut HanSiong Kie ketus.
"Aduuuh mak. .sombong amat kau, tahukah kan siapa aku??"
"Perduli amat siapa kau, apa sangkut paut nya dengan diriku?? "
Merah jengah sekitar wajah perempuan muda itu, tapi sedetik kemudian telah pulih kembali seperti sedia kala. "saudara cilik, kau..."
"Huuuh, siapa yang sudi jadi saudaramu".
"siapakah namamu?? boleh toh diberitahu kan kepadaku??". .
"Aku merasa tiada berkewajiban dan berke-harusan untuk memberitahukan namaku ke padamu".
"Jadi kau benar2 tidak pingin tahu siapakah aku??".
"Tidak" habis berkata ia putar badan dan segera berlalu dari situ...
"Tidak gampang pemuda tampan kau tinggalkan tempat ini".
Diiringi seruan nyaring tahu2 perempuan muda berbaju merah itu telah menghadang di depan tubuhnya, gerakan ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan sungguh lihay dan cukup membuat Han Siong Kie merasa amat terperanjat.
"Apa yang siap hendak kau lakukan??" teriaknya.
"Aku hendak paksa kau untuk menjawab pertanyaanku".
"Kalau aku tak mau menyahut???".
"Mungkin kau tak bisa menuruti keinginan hatimu itu".
"Hmmm" si anak muda itu kontan mendengus dingin
"Apa yang kau dengusi??".
"Aku benci...".
"Apa yang kau benci ???".
"Aku benci terhadap kalian kawanan perempuan" seru Han Siong Kie dengan wajah menghina dan sinar mata penuh kebencian.
Mendengar sahutan tersebut perempuan muda berbaju merah itu tertegun, beberapa saat kemudian ia baru berseru:
"Kau membenci semua perempuan yang ada dikolong langit???".
"Tidak salah".
Dua orang dayang yang berada disisinya tak tahan segera tertawa cekikikan, kejadian ini benar2 merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh, sungguh tak nyana seorang pemuda tampan bisa mengutarakan kata2 semacam ini.
"Mengapa kau benci semua perempuan yang ada dikolong langit??..." tanya perempuan muda berbaju merah itu dengan wajah tercengang.
Han Siong Kie tidak menjawab pertanyaannya, sekali enjot badan ia menerobos lewat sisi tubuh perempuan itu.
Perempuan muda berbaju merah tadi segera tersenyum, sepasang lengannya di rentangkan ke samping dan seketika terasalah segulung tenaga hisapan yang amat kuat menarik tubuhnya hingga mentah2 terdesak balik ke tempat semula.
Han Siong Kie benar2 merasa amat terperanjat, ia tidak mengira kalau tenaga lweekang yang dimiliki lawannya telah mencapai puncak yang demikian sempurna nya.
"Ayoh jawab dulu pertanyaanku, maka aku akan memberi jalan lewat bagimu" seru perempuan muda berbaju merah itu sambil tertawa ringan.
Dengan biji mata yang memancarkan perasaan penuh kebencian, Han Siong Kie menatap wajah lawannya tajam2, lalu seru nya dengan nada gusar:
"Kau tak usah bermimpi disiang hari bolong, tidak nanti aku akan mengabulkan permintaanmu itu".
"Huuuh dengan mengandalkan kekuatanmu semacam itupun berani berlagak jumawa di hadapanku?? "
"Hmmm perempuan yang tak tahu malu" "
"Kurang- ajar, kami siapa yang tidak tahu malu ???" bentak wanita muda berbaju merah itu dengan wajah dingin membesi, suara tertawa dingin berkumandang tiada hentinya.
"Aku sedang memaki dirimu mau apa?"
Perempuan muda berbaju merah itu kontan naik pitam, tiba2 di atas wajahnya yang cantik terlintas napsu membunuh yang sangat tebal, ia mendengus dingin
"Manusia yang tidak tahu diri tangkap bangsat cilik ini" perintahnya.
Dua orang dayang yang berdiri di sisinya segera enjotkan badannya menubruk ke arah Han Siong Kie, empat buah cakar mautnya laksana kilat meluncur ke arah depan.
Han Siong Kie benar2 merasa amat gusar, begitu marahnya sampai perut terasa mau meledak. sepasang telapaknya secara terpisah membabat keluar dan mengancam tubuh musuh musuhnya.
siapa tahu belum sampai serangan tadi mengenai sasarannya, sepasang pergelangan terasa jadi kaku dan tahu2 tangannya sudah kena dicengkeram lawannya erat2.
Melihat kelemahan tubuh lawannya, perempuan muda berbaju merah itu tak bisa menahan diri lagi dan tertawa cekikikan dengan kerasnya.
"Hiiih. . hiiih.... hiiih.... kiranya kau hanyalah sebuah bantal yang bersulam bunga"
Selama lima belas tahun lamanya Han Siong Kie mengikuti diri telapak naga beracun Thio Lien, didalam tenaga lweekang ia memiliki dasar yang sangat kuat, tetapi jurus serangannya teramat biasa tiada keanehan apapun, karena si telapak naga beracun pernah bersumpah ia tak boleh mewariskan jurus serangan perguruannya kepada pemuda ini kecuali jurus-jurus serangan yang sederhana.
Begitulah sambil mencengkeram sepasang pergelangan Han Siong Kie dengan tenang kedua orang dayang cilik itu menantikan keputusan dari perempuan berbaju merah.
Han Song Kie benar-benar merasa naik pitam sehingga tujuh lubang inderanya terasa keluar asap panas, tetapi apa daya ia tak sanggup berbuat sesuatu terpaksa dengan mata melotot penuh kebencian ia awasi lawannya..
Dengan sikap yang genit dan kerlingan mautnya perempuan berbaju merah itu selangkah demi selangkah berjalan mendekati sianak muda itu, serunya merdu: "Saudara cilik, sekarang kau boleh menjawab pertanyaanku bukan??...".
"Tidak.." teriak Han Siong Kie dengan mata melotot..
Perempuan muda berbaju merah itu tertawa cekikikan, ia raba pipi Han Siong Kie dengan manja dan berkata lagi:
"Justru aku paling suka dengan lelaki berhati keras dan bersikap gagah macam dirimu".
"Cuuuuh" Han Siong Kie menyemburkan ludahnya ke arah wajah perempuan muda itu.
Tindakan tersebut sungguh jauh di luar dugaan perempuan berbaju merah itu, lagi pula jarak diantara mereka amat dekat sekali, semburan ludah ini tak berhasil menghindari lagi dan mengena dengan telak di atas wajahnya.
Sepasang alis perempuan berbaju merah itu kontan berkerut kencang, telapak tangan nya langsung diayun ke depan menghadiahkan sebuah tempelengan keras ke atas pipinya.
"Ploook!" Han Siong Kie merasakan pipi kirinya jadi amat sakit, dan segera muncullah sebuah telapak tangan yang berwarna merah dengan bekas yang nyata. "Perempuan sialan yang tak tahu malu"
"Ploook.." kembali sebuah tempelengan keras bersarang di atas pipi kanannya, tempelengan kali ini jauh lebih keras dari tamparan semula membuat si anak muda itu merasakan matanya berkunang2 dan cairan darah menyembur keluar dari mulutnya. Begitu sakitnya sampai2 ia merintih kesakitan.
Sepasang mata Han Siong Kie seketika mendelik besar, dengan cahaya penuh kebencian dan hawa amarah yang ber kobar2 jeritnya sambil menggertak gigi:
"Ingatlah baik2 suatu hari aku bisa mengembalikan kesemuanya ini kepadamu bersama rentenya"
"Hmmm kau tidak akan mempunyai kesempatan untuk berbuat begitu.." seru perempuan berbaju merah itu dengan wajah hijau membesi, suaranya dingin dan ketus.
Han Siong Kie mendengus gusar, sepasang lengannya segera direntangkan ke samping. Meskipun ilmu silatnya biasa dan tidak lihay tetapi didalam hal tenaga lweekang pemuda ini mempunyai hasil latihan selama lima belas tahun, rentangan tersebut tak bisa dipandang enteng.
Perempuan berbaju merah itu tertawa menjengek, telapak tangannya perlahan2 di angkat keatas, serentetan angin desiran segera meluncur keluar menghajar tubuh lawan.
Han Siong Kie berseru tertahan dan segera roboh terjengkang ke atas tanah setelah termakan oleh serangan jari itu.
"Angkut dan masuk ke dalam tandu" perintah perempuan itu
Kedua orang dayang tersebut sebera mengiakan, yang seorang membohong tubuh Han Siong Kie dan seorang yang lain membuka horden di depan tandu segera menyusupkan tubuhnya ke belakang tempat duduk.
Perempuan berbaju merah itu sendiri berkelebat masuk ke dalam tandu, empat orang pria kekar itupun menggotong tandu tadi dan meneruskan kembali perjalanannya.
Setelah tubuhnya disusupkan ke belakang tempat duduk. Han Siong Kie segera merasakan bau harum semerbak yang menusuk hidung berhembus lewat tiada henti nya, membuat ia merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan terasa muak. tetapi pendapatnya yang sudah berakar didalam hatinya membuat si anak muda ini kecuali membenci perempuan yang dianggap berbisa bagaikan kala, tiada ingatan lain lagi.
Ia tidak tahu apa tujuannya perempuan baju merah itu bersikap demikian terhadap dirinya??
Ia teringat pula akan hasil latihannya selama lima belas tahun, ternyata tak sanggup untuk menahan satu jurus serangan dari seorang dayang cilik itu, apa lagi mencari musuh besarnya untuk membalas dendam, bukankah hal itu bagaikan impian orang tolol??
"Asalkan aku tidak mati, aku bersumpah harus mempelajari kepandaian silat yang maha lihay berulang kali ia bergumam di dalam hati kecilnya.
Entah sudah beberapa lamanya telah lewat dan beberapa jauh telah mereka tempuh..
Mendadak.... tandu itu telah berhenti, diikuti desiran angin tajam berseliweran di depan tandu.
"Siapa yang menghadang pergi kita??" bentak perempuan muda berbaju merah itu nyaring.
"Lapor Thongcu, Kang Lam Chit Koay telah datang mencari setori dengan kita" suara salah seorang dayang itu berkumandang datang.
"Oooh, kiranya perempuan yang tak tahu malu ini adalah seorang thongcu..." Pikir Han Siong Kie didalam hatinya. " Entah ia berasal dari perkumpulan mana dan siapa pula ke tujuh manusia aneh dari Kang lam itu?...".
"Lie In Hiang" terdengar serentetan suara bentakan berat berkumandang keluar. "Ayoh gelinding keluar dari dalam tandu, dan jawab pertanyaan kami".
Dari ucapan tersebut, sianak muda she Han pun lantas tahu bahwa perempuan berbaju merah itu bernama Lie In Hian.
Perempuan berbaju merah itu segera mendengus dingin, sambil melangkah keluar dari tandunya ia menyahut
"Kang lam chiet Koay, ada urusan apa kau menghadang jalan pergi pun Thongcu???".
Suara dengusan gusar berkumandang beberapa kali, orang yang buka suara pertama tadi segera berseru kembali dengan suara berat:
"Lie In Hiang kau tak usah pura-pura edan dan berlagak pilon, apa salahnya Go Yoe Too pangcu dari perkumpulan Pat Gie Pang sehingga kau bunuh dengan begitu mengerikan???"
"Lalu apa maksud tujuan cuwi sekalian?. "
"Hutang nyawa bayar nyawa, hutang darah bayar darah".
"Hiiih..Hiih.... Hiiih.... aku si kupu-kupu warna-warni Leng In Hiang merasa mendapat kehormatan untuk menerima kunjungan kalian semua, tapi tolong tanya keadilan yang kalian inginkan itu hendak kalian tagih cara apa ??".
"Kau sudah larikan batok kepala Go Yoo Too kemana??". .
"Kini masih didalam tanduku, sayang aku buru-buru harus kembali untuk memberi laporan hingga tak bisa melayani kalian lebih lanjut....".
"Lie In hiang "teriak seseorang dengan suaranya yang kasar." permusuhan apakah yang terikat antara Go Yoe Too dengan perkumpulan Thian chee Kauw??"
Han Siong Kie segera merasakan hatinya bergetar keras, ia teringat kembali bahwa ibunya yang berhati kejam bagaikan kala si siang Go cantik Ong Coei Ing telah kawin lagi dengan Thian che Kauwcu, darah panas segera bergelora didalam dadanya.
Dalam pada itu terdengar si kupu2 warna warni Lie In Hiang telah berseru sambil tertawa genit.
"Go Yoe Too berani memandang hina perkumpulan kami, maka dari itu dia harus di bunuh sampai mati".
"Secara bagaimana ia menghina dan memandang rendah perkumpulan Thian chee Kauw??".
"Pada ulang tahun Kauwcu kami sebulan berselang, semua wakil dari partai serta perkumpulan yang ada di dunia persilatan telah berkunjung untuk memberi hormat, hanya dia seorang yang tidak hadir, maka dia musti dibunuh sampai mati ".
Beberapa bentakan nyaring serentak bergeletar memenuhi seluruh angkasa ....
"Perkumpulah Thian Chee Kauw hendak mengangkang seluruh kolong langit, hendak melenyapkan keadilan serta kebenaran di dalam Bu-lim, dia harus dibunuh sampai mati."
Desiran angin pukulan segera men deru2, rupanya kedua belah pihak telah saling bertarung dengan serunya.
Suara menjerit ngeri yang menyayat hati bergema mengiringi gelak tertawa yang merdu, jelas diantara tujuh manusia aneh ada seorang telah menemui ajalnya.
Pertarungan berjalan semakin seru dan jeritan-jeritan ngeri pun tiada hentinya bergema memecahkan kesunyian.
Setiap kali jeritan berkumandang memenuhi angkasa, suara tertawa cekikikan dari kupu-kupu warna warni Lie In Hiang segera bergema mengiringinya.
Meskipun Han Siong Kie tak dapat mengikuti pertarungan itu dengan mata sendiri, tetapi dari suara yang bergema diangkasa ia dapat menduga betapa seram dan ramainya pertempuran tersebut dan membuktikan pula betapa lihay tenaga lwekang yang dimiliki Lie In Hiang serta kekejian hatinya.
suara gaduh kian lama kian bertambah sirap dan akhirnya sebuah jeritan keras mengakhiri pertempuran sengit itu.
Kang lam chit Koay tujuh manusia aneh dari Kang lam telah mati binasa semuanya dalam keadaan mengerikan.
Sedang si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang dengan penuh senyuman dan seakan akan tak pernah terjadi sesuatu apapun, kembali masuk kedalam tandunya.
"Sungguh kejam hati perempuan ini" pikir Han song Kie didalam hati kecilnya. Suatu hari aku pasti bisa membinasakan dirimu”
Tandu kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke depan, tidak lama kemudian terdengarlah suara gemuruh air yang amat santar, rupanya mereka telah tiba di tepi sungai, suara pembicaraan manusia bergema tiada hentinya, mungkin di atas jalan raya itu banyak orang sedang melanjutkan perjalanan.
Secara lapat-lapat terdengar suara beberapa orang manusia sedang membicarakan sesuatu.
"Selama Benteng Maut tidak dibasmi, dunia persilatan selamanya akan dirundung malang. . ."
"Pemilik benteng maut sudah puluhan tahun lamanya menjajah dunia persilatan, berapa ribu orang telah mati diujung telapak nya."
"Aaaah, mungkin makhluk aneh yang misterius itu sudah lama tak ada dikolong langit, entah dia mempunyai ahli waris atau tidak???".
"Yang paling dikuatirkan pelbagai perkumpulan dan partai justru adalah persoalan ini, maka atas nama perkumpulan Thian chee Kauw yang menyebar surat undangan Bu-lim.
Tiap semua jago yang ada dikolong langit diundang untuk berkumpul disini dan bersama2 membasmi benteng maut ini"".
"Aaah, mungkin saja pemilik Benteng Maut itu masih hidup dikolong langit??..".
"Tetapi pintu benteng sudah lima belas tahun lamanya tertutup rapat, Bu-lim pun sudah tenang selama lima belas tahun lamanya, apakah mungkin. . .."
"Oooh, akibatnya sungguh menakutkan sekali".
"Kali ini jago2 lihay dari lima partai besar, It-kauw Jie-Pang serta Jio hwie ikut hadir semua dalam pertemuan besar ini, bahkan Lam Kay si pengemis dari selatan serta Pak Ceng sipendeta dari utara yang amat tersohor nama nya didalam Bu limpun katanya akan ikut munculkan diri.."
Suara pembicaraan itu makin lama semakin jauh dan kata-kata selanjutnya tak sempat ditangkap lagi, tetapi Han Siong Kie telah dapat menangkap garis besar dari kejadian yang sebenarnya Jelas jago2 Bu lim dari kalangan Hek to serta Peksto telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menghadapi Benteng Maut.
Tetapi ia tak tahu, apa sebetulnya "Benteng Maut" itu dan macam apakah si pemilik Benteng Maut itu sehingga dilukiskan begitu mengerikan dan menyeramkan sampai2 seluruh umat Bu-lim bersatu padu untuk menghadapinya.
Tandu telah berhenti dan si kupu2 warna warni Lie In Hiang pun meloncat keluar dari tempat duduknya.
Angin berhembus amat kencang dan menyingkap kain horden yang menutupi tandu tersebut, Han Siong Kie yang menggeletak di dasar tempat duduk sempat mengintip keluar dari tempat berbaringnya, terlihat sebuah sungai besar dengan ombak yang besar terbentang dihadapannya, beratus2 orang jago Bu lim sama2 berkumpul ditepi sungai.
Di tengah sungai berdiri dengan angkernya sebuah benteng kuno, di depan benteng terdapat sebuah jembatan batu yang menghubungkan benteng tersebut dengan tepi seberang.
Sebuah tonggak batu yang besar dengan tulisan "Benteng Maut" berdiri dengan angker nya di sisi Benteng kuno tersebut.
Satu ingatan segera berkelebat dalam benak Han Siong Kie, ia segera putar kepalanya dan memandang lebih jauh ....
Mendadak ia berdiri menjublak, sekujur badannya bergetar keras bagaikan kena aliran listrik, disisi pintu benteng yang lain terlihatlah sebuah tengkorak berwarna merah darah, bentuk tengkorak itu persis seperti lukisan yang terdapat di atas dinding ruangan perkampungan keluarganya.
Sekarang ia baru paham peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Han serta keluarga Thio pada lima belas tahun berselang kiranya adalah hasil karya dari pemilik "Benteng maut".
Ia teringat akan larangan susioknya si telapak naga beracun Thio Lien yang tidak memperkenankan dirinya membalas dendam serta mengubur tulang belulang keluarganya ini disebabkan karena musuh besar mereka yang terlampau tangguh.
Tetapi kalau ditinjau dari kematian susioknya, jelas ia tidak kesal atau murung dan berulang kali mengatakan bahwa hal itu merupakan perintah dari perguruannya, kenapa?? kenapa begiiu?? ia tak mengerti dan tak habis mengerti .....
Sepasang matanya dengan tajam menatap di atas tengkorak darah itu tanpa berkedip. kobaran napsu dendam dan hati bergelora didalam hatinya.
Tetapi setelah ia teringat akan kepandaian silat yang dimilikinya, si anak muda itu jadi lemas.... ilmu silatnya sama sekali tak becus, sedangkan musuh besarnya adalah seorang gembong iblis amat lihay serta harus dihadapi dengan penggabungan segenap kekuatan golongan Pak to maupun Hek to.
Membalas dendam .... baginya mulai kabur dan tipis harapannya. Tetapi, apakah sakit hati ini tak usah di balas???. . .
Belum habis ingatan tersebut berkelebat didalam benaknya, terasalah bulu kuduknya ditabok orang, ia segera berpaling dan terlihatlah seorang pengemis cilik yang berwajah dekil sedang memandang ke arahnya sambil tertawa bodoh..
Dalam keadaan jalan darah tertotok. ia sulit untuk buka suara, badanpun tak dapat berkutik, hatinya jadi terperanjat bercampur heran, ia tak tahu secara bagaimana si pengemis cilik itu dapat menerobos masuk ke dalam tandunya. Terdengar si pengemis cilik itu tertawa cekikikan, lalu katanya.
"Heng-thay, ada keramaian besar segera akan berlangsung, kenapa kau malah bersembunyi didalam tandu.??".
Ia mengerutkan hidungnya dan mencium beberapa kali lagi, kemudian katanya lagi:
"Ehmm... masih tercium sisa bau harum di sini, Heei Heng thay kau betul2 amat hok kie"
Han Siong Kie yang digoda macam begitu hanya bisa tertawa nyengir saja, matanya mendelik besar tapi mulutnya bungkam dalam seribu bahasa, sepatah katapun tak sanggup diutarakan keluar.
Setelah mengamati wajah Han Siong Kie beberapa waktu lamanya, pengemis cilik itu berkata lagi:
"Tidak aneh kalau si kupu2 warna warni bisa tertarik hatinya, wajah Heng thay memang betul2 amat ganteng"
Han Siong Kie mengerti bahwa ia sedang digoda dan dimainkan, tetapi apa boleh buat, jalan darahnya tertotok membuat dia tak sanggup untuk berbuat apa2.
"Oooh, aku benar2 teramat tolol" tiba2 pengemis cilik itu berseru sambil menepuk batok kepalanya sendiri "Rupanya jalan darah heng thay tertotok. aku sungguh teledor sekali"
Sambil berkata jari tangannya segera menyentil beberapa kali ke tengah udara dan bebaslah jalan darahnya yang tertotok.
-0000000-
HAN SIONG KIE diam2 dibuat terkesiap juga oleh kelihayan lawan, ia tak pernah menyangka kalau pengemis cilik itu memiliki kepandaian untuk membebaskan jalan darah lawan lewat sentilan udara, sambil meloncat bangun segera serunya dengan penuh kemarahan: "Kemana perginya perempuan busuk itu?"
"Hiiih...hiiih...hiiih.. Heng-thay, kau bukan tandingannya sekarang lebih baik kau menahan diri saja" seru pengemis cilik itu sambil tertawa cekikikan.
Ucapan ini memang kenyataan, maka air muka Han Siong Kie seketika berubah jadi merah padam, setelah merandek sejenak katanya lagi:
"Atas bantuan yang telah kau berikan, cayhe di sini mengucapkan banyak2 terima kasih".
"Heng thay, kau tak usah banyak adat, siapakah namamu?".
"Cay.... .. cayhe... . "
"Ooouw, tentunya heng-tay mempunyai rahasia yang sukar dikatakan bukan? kalau begitu lebih baik tak usah dikatakan".
Karena keringat akan budi pertolongan yang telah diberikan oleh pengemis cilik, pemuda she Han tersebut merasa tidak enak hati untuk merahasiakan she nya, maka tanpa sadar ia berseru: "...Cayhe she Han".
"Oooouw, Han heng siaute she Tonghong, kita boleh mengikat tali persahabatan bukan".
"Jadi sahabat??"..
"Tidak salah, toh, tujuan serta jalan pikiran kita, hampir bersama?.."
Han Siong Kie tertegun, kedua belah pihak sama2 tidak saling mengenal, berkena la npun barusan berlangsung setengah perminum teh berselang, dari mana ia bisa tahu kalau tujuan serta aliran mereka sama? hampir saja sianak muda itu tertawa gelak saking gelinya.
"Waah... lucu amat orang ini, sifat ke kanak-kanakan serta polosnya belum hilang juga. pikirnya didalam hati, sambil tertawa segera katanya: "Kau bilang satu tujuan serta aliran yang sama??"
"Benar bukankah kau amat membenci kaum wanita yang ada dikolong langit??"
Han Siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, dari mana ia bisa tahu perkataan serta tanya jawabnya antara dia dengan sikupu2 bewarna Lie In Hiang????
"Tidak salah "sahutnya dengan nada tercengang. "Dari mana kau bisa tahu kalau cayhe amat membenci semua perempuan yang ada dikolong langit??? "
"Bukankah kau yang mengatakannya sendiri? "
"Aku memang pernah mengatakannya tetapi dari mana kau bisa tahu??" .
Pengemis itu mengedipkan suaranya dan tertawa.
"Sepanjang perjalanan aku selalu mengikuti dirimu".
"Oooouww begitu?? "Han Siong Kie berseru tertahan. Pengemis cilik itu tersenyum.
"Akupun sangat membenci seluruh kaum wanita yang ada dikolong langit, terutama mereka yang berwajah cantik...".
Diam-diam Han Siong Kie berpikir didalam hatinya:
"Aku membenci kaum wanita yang ada di kalang langit berhubung aku mempunyai seorang ibu yang berhati kejam bagaikan kala, entah apa alasannya sehingga diapun membenci kaum wanita???".
Karena berpikir demikian maka diapun lantas menukas: "sungguhkah perkataanmu itu?".
"Tentu saja hanya perkataan di bibir saja memang tiada berguna, lain kali kenyataan akan membuktikan bahwa ucapanku bukanlah hanya perkataan kosong belaka. sudahlah mari sekarang kita cari tempat untuk menonton keramaian dulu ..".
"Menonton keramaian apa??".":
"Melihat kawanan manusia yang tak tahu diri menghantarkan kematian mereka".
"Apa maksudmu???".
"Ilmu silat yang dimiliki pemilik Benteng Maut tiada tandingannya dikolong langit, mereka berani memusuhi dirinya sama artinya dengan kunang2 menubruk ke dalam kobaran api".
Han Siong Kie yang teringat akan lambang tengkorak berdarah yang dimana menurut perkiraannya si pemilik Benteng Maut mungkin adalah musuh besar yang membinasakan keluarganya, tanpa sadar telah mendengus dingin. .
"Eeh, apakah heng thay tidak percaya??" tegur si pengemis cilik itu cepat.
Han Siong Kie tidak ingin menunjukkan perasaan hatinya yang sebenarnya, setelah berpikir sejenak sahutnya:
"Bukannya tidak percaya, cuma ilmu silat luasnya bagaikan samudra, tak mungkin ada orang yang dapat menyebut dirinya nomor wahid dikolong langit".
"Huuuh" pengemis cilik itu segera mencibirkan bibirnya.
"Kita tak usah ribut lagi, ayoh berangkat"
Habis berkata ia sebera berkelebat keluar dari dalam tandu.
Han Siong Kie ikut berkelebat keluar dari tandu, tampaklah bayangan manusia berkumpul memenuhi tepi sungai sementara tandu tadi digeletakkan di bawah sebuah pohon yang rindang jauh dari keramaian.
Ia segera teringat kembali akan kejadian si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang terhadap dirinya, tanpa terasa hawa gusar nya berkorbar dan sang telapak dengan cepat di angkat ke atas .....
"Heng-thay, apa yang hendak kau lakukan???" pengemis cilik itu segera menegur.
"Aku hendak menghancurkan tandu ini"
"Kenapa mesti repot-repot turun tangan sendiri?? siauw-te punya akal bagus untuk menyelesaikannya " sembari berbicara ia segera mendekati tepi tandu dan menekan sekeliling dinding tandu itu sebentar kemudian sambil mengerdipkan matanya ia berkata:
"Sudah beres nanti akan kau saksikan sesuatu pertunjukan yang amat menyenangkan hati, ayoh kita mendaki dulu ke atas puncak tebing batu karang itu".
Sambil menarik tangan Han Siong Kie bagaikan burung walet yang meluncur ketengah angkasa pengemis cilik itu segera melayang beberapa tombak ke depan dan meluncur ke atas puncak tebing karang tersebut.
Melihat kelihayan orang, dalam hati kecilnya diam diam Han Siong Kie merasa menyesal, sudah belasan tahun dirinya belajar silat tapi tiada sesuatu hasilpun yang berhasil diperoleh.
Beberapa saat kemudian kedua orang itu sudah mencapai puncak bukit karang dan duduk berjajar diatas sebuah batu.
Tampaklah orang-orang yang ada di tepi pantai mengurung benteng kuno itu dalam satu lingkaran, diantara gerombolan manusia-manusia lihay tadi diantaranya terdapat seorang hweesio tua serta seorang pengemis tua berambut putih disamping itu masih terdapat pula seorang manusia aneh berkerudung hitam, mereka sedang meributkan sesuatu dengan ramainya, seakan-akan sedang merundingkan bagaimana caranya menyerbu ke dalam benteng Maut.
Dengan pandangan termangu mangu Han Siong Kie memperhatikan benteng maut itu tanpa berkedip. ia sadar bahwa dalam keadaan seperti ini tak mungkin baginya untuk melakukan pembalasan dendam, tetapi seandainya gabungan jago2 kangouw dari kalangan hek to maupun Pek to ini berhasil melenyapkan benteng maut dari muka bumi, maka itu dendam berdarahnya akan ikut tenggelam ke dasar samudra...
Tiba2 pengemis cilik itu menyikut perutnya sambil berbisik:
"Han heng. antara dirimu dengan aku sebenarnya tidak pernah saling mengenal tapi kini kita bisa bertemu satu sama lainnya, itu namanya jodoh, andaikata kau tidak memandang rendah diriku sebagai seorang pengemis yang rudin lagi dekil..."
"Kalau aku tidak memandang rendah dirimu, kau mau apa??"
"Bagai mana kalau kita mengikat tali persaudaraan??. apakah kau mau??..."
"Bagus" seru Han Siong Kie menyatakan setuju.
"Baik, kalau begitu kita musti tahu urutannya dulu, siauw-te Tonghong Hwie tahun ini berusia enam belas tahun"
"Apa?? kau bernama Tonghong Hwie?"
"Benar ada apa? apakah namaku kurang sedap didengar^?"
"Bukannya begitu, aku cuma merasa bahwa nama tersebut sedikit mengandung nama kaum wanita".
"Aaah, nama toh cuma suatu perlambang bagi seseorang belaka, perduli amat persis nama perempuan atau lelaki, bukan begitu saudara Han??"
"Hhmm, memang masuk diakal, siauw-heng Han Siong Kie, tahun ini berusia delapan belas tahun".
"Bagus, mari kita bersama-sama angkat sumpah".
"Oooouw... apa musti angkat sumpah segala??"
"Tentu saja kalau tidak menuruti aturan lalu apa gunanya kita angkat saudara"
"Baiklah. "Han Siong Kie segera jatuhkan diri berlutut di atas batu dan berdoa. "Atas nama Thian yang ada di langit, cayhe Han Siong Kie sejak hari ini akan angkat saudara dengan Tonghong Hwie. sepanjang persaudaraan ini masih terikat maka bila ada kesenangan akan kita cicipi bersama, kalau ada kesusahan kita akan tanggulangi bersama, apabila aku melanggar sumpah ini, Thian akan mengutuk diriku. Thian akan mengutuk diriku"
Tonghong Hwie yang berlutut disisinya segera ikut mengulangi pula isi sumpah tadi dengan seksama dan penuh kesungguhan.
Menanti kedua orang itu telah duduk bersanding kembali dengan wajah berseri-seri si pengemis cilik itupun berkata:
"Mulai sekarang aku harus menyebut dirimu sebagai Engkoh Kie ".
"Aku akan menyebut kau sebagai adik Hwie cuma ... aaaai aku yang jadi engkoh mu merasa malu sekali.".
"Kenapa ?? apa yang kau malukan ???"
"Kalau berbicara mengenai tenaga lweekang serta ilmu silat, keadaanku bagai kan langit dengan bumi kalau dibandingkan dengan dirimu coba bayangkan masa aku tidak merasa malu ?."
"Aaaah itu toh urusan kecil, kesempatan di kemudian hari bagi engkoh Kie untuk berlatih masih panjang, lagi pula aku lihat dasar tenaga lweekang mu sudah amat kuat "
"Benar, aku sudah belasan tahun lamanya berlatih ilmu tenaga dalam"
"Apa??? belasan tahun lamanya?? apakah kau hanya berlatih ilmu tenaga dalam belaka??"
"Benar ".
"Engkoh Kie, apakah kau dapat menyebutkan asal usul perguruan mu??."
"Dia...dia sudah tak ada dikolong langit lagi, maafkanlah kalau aku tidak akan menyebutkan namanya".
"Baiklah omong kosong tiada gunanya, aku ada beberapa patah kata hendak kukatakan kepadamu"
"Katakanlah, asal aku bisa menjawab pasti akan kuberitahukan kepada dirimu"
"Di kemudian hari, bagaimanapun juga keadaannya kau tak boleh meninggalkan diriku lho".
"Tentu saja, bukankah kita sudah mengangkat sumpah??? ucapanmu itu bukan kah sama sekali tak ada gunanya??? "
"Bukannya begitu, cuma perkataan ini harus kukatakan lebih dahulu".
Dalam pada itu para jago yang mengurung di sekeliling tepi sungai telah menyebarkan diri dan perlahan lahan mulai menyerbu ke dalam benteng Maut.
Suasana hening sunyi.. tak kedengaran sedikit suarapun hal ini menunjukkan bahwa mereka akan bersiap sedia melakukan suatu tindakan terhadap Benteng Maut, tetapi berhubung Benteng Maut sudah puluhan tahun lamanya memberikan kemisteriusan, kengerian serta keseraman bagi setiap umat Bu-lim yang ada dikolong langit, maka pada saat itu hati setiap orang merasa kebat-kebit tidak keruan.
Terdengar pengemis kecil itu sambil menuding ke arah tepi sungai, katanya:
"Pengemis tua yang berdiri paling depan itu adalah Pak Ceng padri dari utara, dan manusia berkerudung hitam itu bukan lain adalah Kauwcu dari perkumpulan Thian chee Kauw".
-0000000-
(Bersambung ke Jilid 2)
Tengkorak Maut
Karya : OPA
Oleh : Tjan ID
Jilid 2
MENGUNGKAP tentang diri Thian chee Kauwcu hati Han Siong Kie seketika bergolak kencang, ia teringat kembali akan ibunya yang kawin lagi dengan manusia aneh itu.
Belum habis pikirannya berlalu, terdengar pengemis cilik itu telah melanjutkan kembali kata2nya:
"Ketiga orang itu adalah jago2 yang paling lihay didalam dunia persilatan dewasa ini"
"Diantara mereka bertiga, siapakah yang terhitung paling kosen dan paling ampuh?"
"Hal ini sulit untuk dikatakan ilmu silat yang dimiliki Lam Kay serta Pak Ceng katanya seimbang, sedangkan kepandaian yang dimiliki Thian chee Kauweu menurut berita yang tersiar amat lihay sehingga sukar diukur dengan kata2, tetapi tak seorang pun yang pernah bergebrak melawan dirinya dan tak seorangpun yang pernah menyaksikan raut wajah yang sebenarnya".
"Bagaimana kalau dibandingkan dengan Pemilik dari Benteng Maut tersebut...??"
"Huuuh mereka tak akan kuat menahan sebuah pukulannya"
"Eeei. adik Hwie, darimana kau bisa mengetahui akan hal ini??".
"Tentang soal ini... tentang soal ini... akupun hanya mendengar dari berita yang tersiar belaka"
"Adik Hwie coba lihat, mereka sudah mulai bergerak maju "
"Itu berarti suatu drama berdarah yang sangat mengerikanpun segera akan mulai berlangsung".
Han Siong Kie mengepal tangannya kencang-kencang, tanpa berkedip ia menatap ke arah para jago yang berada ditepi sungai.
Puluhan sosok bayangan manusia telah menggerakkan tubuhnya melewati jembatan batu dan tiba didepan pintu besar benteng maut.
Pada saat itulah... serentetan suara suitan aneh yang amat nyaring serta memekikkam telinga berkumandang keluar dari dalam ben-teng maut, begitu keras suaranya sehingga menusuk pendengaran siapapun juga.
Han Siong Kie yang berada diatas bukit sebera merasakan telinganya bagaikan di tusuk2 dengan belasan bilah pisau tajam, buru2 ia menutupi sepasang telinganya dengan tangan, sementara jantungnya berdebar keras se-olah2 hendak meloncat keluar dari rongga dadanya. .
Puluhan jago lihay yang telah tiba didepan pintu besarBenteng Maut itu segera menghentikan langkah kakinya begitu mendengar suara suitan tersebut, air muka mereka berubah hebat.
Kegaduhan yang amat hebatpun terjadi ditepi pantai.
Beberapa saat kemudian suara suitan nyaring yang amat memekikkan telinga itu mendadak sirap. diikuti pintu benteng Maut yang bewarna hitam pekat lambat2 membentang lebar dan muncullah sebuah gua yang besar dan gelap gulita.
Dengan hati terkesiap puluhan orang jago lihay Bu lim yang ada didepan pintu mundur tiga tombak ke belakang dengan tergesa2.
seketika itu juga suasana di sekeliling tempat itu berubah jadi tegang dan diliputi oleh napsu membunuh.
Setelah perminuman teh sudah lewat. tetapi suasana di dalam Benteng Maut itu masih tetap tenang dan tidak nampak suatu gerakan apapun juga...
Puluhan orang jago lihay yang berdiri di depan pintu benteng mulai berteriak keras kemudian bagaikan gelombang samudra yang menghantam pantai mereka menyerbu masuk kedalam benteng tersebut...
"Hmm "Terdengar pengemis cilik itu men- dengus dingin. "Rombongan pertama yang menghantar kematiannya telah berangkat".
Han Siong Kie melirik sekejap kearahnya lalu arahkan kembali sinar matanya kebawah.
Tiga puluh orang lebih jago lihay Bu lim yang termasuk didalam rombongan kedua mulai melewatijembatan batu sambil berteriak keras menyerbu pula kedalam pintu benteng dengan dahsyatnya:
"Rombongan kedua yang menghantar kematiannya kembali sudah berangkat ...." terdengar pengemis cilik itu bergumam lagi.
Baru saja sipengemis cilik itu menyelesai kan kata2nya, mendadak terlihatlah bayangan manusia satu persatu terlempar ke luar dari dinding benteng dan meluncur ke arah luar. Ada diantaranya yang tercebur ke dalam sungai, ada pula yang terbanting ke atas lantai tepat didepan Benteng Maut tersebut.
Dalam sekejap mata seluruh jago lihay Bu lim yang baru saja menyerbu masuk kedalam benteng maut itu sudah terlempar ke luar semua dari balik benteng dalam keadaan mati tanpa bernyawa lagi. Menyaksikan pembunuhan massal tersebut, para jago lihay yang masih tersiksa di luar benteng jadi gaduh, suara bisikan lirih mulai kedengaran berkumandang memecah kesunyian. Han Siong Kie, menyaksikan jalannya pembunuhan brutal itu dari atas bukit hanya bisa memandang dengan mata mendelong dan mulut melongo belaka, sekujur tubuhnya gemetar keras dan tak sepatahpun yang sanggup diucapkan keluar.
Sebenarnya pemilik Benteng maut itu seorang manusia ataukah iblis?? ternyata ia memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyatnya???
Belum habis sianak muda itu berpikir, tampaklah jago lihay Bu lim rombongan kedua yang belum lama berselang menyerbu masuk kedalam benteng, kini sudah terlempar pula semuanya keluar dari dinding tembok.
Tak seorangpun berada dalam keadaan hidup, tak seorangpun yang masih bernapas..
Mereka musnah dan lenyap dengan begitu saja. Napsu membunuh yang mengerikan pun mulai menyelimuti seluruh kalangan.
Ratusan jago lihay yang berkumpul ditepi sungai semakin gaduh lagi, tetapi tak seorangpun berani tampil kedepan untuk membentuk rombongan ke tiga pergi mengantar kan kematiannya.
Beberapa saat kemudian, tampaklah Lam Kay serta Pak Ceng selangkah demi selangkah mulai menyebrangi jembatan batu.
Han Siong Kie tak dipat menahan rasa tegang yang menyelimuti hatinya, ia merasa dari telapak tangannya mulai mengucurkan keringat dingin, dengan hati bergejolak tanyanya kepada sipengemis cilik itu
"Adik Hwie, menurut penglihatanmu bagaimana kesudahannya setelah pengemis dari selatan serta sipadri dari utara menyerbu masuk kedalam benteng maut???"
"Mungkin mereka dapat mengundurkan diri dalam keadaan selamat" jawab pengemis cilik itu setelah termenung sejenak.
Mendadak...terdengar pengemis dari selatan dan padri dari utara bersama sama membentak keras, kemudian badannya melesat ketengah udara dan laksana dua ekor burung elang raksasa mereka meluncur kearah tembok benteng, bukan pintu benteng yang mereka lalui justru tembok setinggi delapan tombak itulah yang mereka arah.
setelah tiba diatas dinding benteng tersebut dengan suatu gerakan yang sangat manis kedua orang itu berjumpalitan beberapa kali ditengah udara dan langsung menyerbu kedalam benteng.
Para jago lihay yang menyaksikan demonstrasi ilmu peringin tubuh tersebut sama sama bersorak memuji, teriakan keras dan suara tepuk tangan bergema memecah kan kesunyian. Han Siong Kie sendiripun tak dapat menahan diri, la segera berseru memuji: "suatu ilmu kepandaian yang sangat bagus"
Disaat tubuh pengemis dari selatan dan padri dari utara hampir saja menyusup kedalam benteng maut itulah, tiba-tiba badan mereka terpental keluar bagaikan sebuah bintang yang jatuh dari langit dengan cepatnya tubuh kedua orang itu terpental kebelakang dan melesat ke arah tengah sungai, jelas kedua orang itu sudah termakan oleh sebuah angin pukulan yang maha dahsyat.
Para jago lihay yang berdiri ditepi sungai sama sama menjerit tertahan, air muka mereka berubah hebat dan hati orang-orang itu sama-sama terkesiap.
Kepandaian silat yang dimiliki Pemilik Benteng Maut ini benar-benar sangat mengerikan hati sehingga dua orang jago terlihay dari dunia persilatan dewasa itu pun tak sanggup melewati garis perbatasan benteng tersebut barang satu langkahpun.
"Yaaah, kalau mereka tahu diri seharusnya pada detik itu juga mereka segera mengundurkan diri", terdengar pengemis cilik itu bergumam seorang diri.
"Adik Hwie" Han Siong Kie segera mengerling sekejap ke arahnya. "Apa maksud ucapanmu itu???? "
“Maksudku seharusnya sipengemis dari selatan serta sipadri dari utara mengerti keadaan sendiri dan segera mengundurkan diri dari kalangan tersebut.. "
"Aku lihat rupa rupanya kau menaruh rasa simpatik yang sangat mendalam terhadap Benteng Maut?? "
"Aku hanya berbicara sesuai dengan kenyataan yang terbentang didepan mata, apa perdulinya dengan rasa simpatik atau tidak. "
"Apa sih kedudukannya sipengemis dari selatan, didalam perkumpulun Kaypang??"
"Pemimpin dari para tiang loo perkumpulan tersebut"
"Kau toh seorang anggota Perkumpulan kay-pang juga, mengapa bukannya membantu tiangloomu, justru malah sebaliknya".
"Aku sih tidak termasuk dalam anggota perkumpulan mereka, aku hanya seorang pengemis gelandangan belaka."
"Pengemis gelandangan?? apa itu pengemis gelandangan??."
"Tidak terikat oleh peraturan perkumpulan manapun, berkeliaran kemana-mana menurut kehendak hatinya sendiri".
"Oooouw, sungguh aneh sekali, belum pernah aku dengar ada kejadian semacam ini"
Baru saja ia menyelesaikan kata2nya, terlihatlah sipengemis dari selatan serta si padri dari utara telah menubruk keatas dinding benteng maut untuk kedua kalinya. Pengemis cilik itu sebera tertawa cekikikan.
Tubrukan mereka yang pertama kali tadi boleh dibilang sudah berhasil mencapai puncak dinding benteng tersebut, tetapi hanya sekejap mata saja tubuh mereka sudah mencelat dan terpukul roboh kembali kebawah. Yang tidak dimengerti oleh semua orang adalah tiada munculnya sesosok bayangan manusiapun, kenapa kedua orang jago lihay itu bisa termakan oleh angin pukulan hingga rontok kebawah??
satu ingatan berkelebat didalam benak Han Siong Kie, ia segera berpaling dan ujarnya kepada sipengemis cilik itu.
"Adik Hwie, bukankah kau pernah mengatakan bahwa tenaga lweekang yang dimiliki Thian chee kauwcu jauh di atas kepandaian silat yang dimiliki sipengemis dari selatan serta si padri dari utara???".
"Menurut berita yang tersiar didalam dunia persilatan, memang demikian keadaannya"
"Seandainya mereka bertiga mau turun tangan bersama, bukankah keadaannya mungkin akan mengalami perubahan besar???".
"Aaah, belum tentu begitu".
"Kenapa ??"
"Selama sepuluh tahun lamanya entab sudah berapa ratus kali terjadi peristiwa semacam ini, tetapi mereka yang bisa mengundurkan diri dalam keadaan selamat boleh dibiltang amat jarang sekali, oleh sebab itu aku merasa bahwa keadaan pada saat inipun tidak bakal jauh berbeda dari keadaan yang sudah2 "
"Kenapa Thian chee Kauwcu tidak ikut turun tangan???".
"Soal ini harus ditanyakan kepada dirinya pribadi"
Han song Kie menghembuskan napas panjang dan membungkam dalam seribu bahasa, ia tidak habis mengerti mengapa Thian chee Kauwcu tidak mau turun tangan sendiri, padahal sewaktu dia masih berada dalam tandu tadi dengan jelas mendengar bahwa dalam gerakannya kali ini untuk menghadapi Benteng Maut perkumpulan Thian chee Kauw lah yang menduduki sebagai pucuk pimpinan, tapi dalam kenyataan Thian cheo Kauwcu sendiri sama sekali tidak ikut campur didalam penyerbuan tersebut. kejadian benar2 membingungkan orang. Apakah Thian chee Kauwcu telah mempunyai rencana lain??
Dalam pada itu..si Pengemis dari selatan serta si Padri dari utara yang berada didepan benteng Maut, untuk ketiga kalinya telah menubruk ke arah Benteng tersebut.
Suatu kejadian diluar dugaan telah barlangsung, kali ini tubrukan mereka berhasil dan tubuh kedua orang jago lihay dari dunia persilatan dewasa itupun lenyap dibalik dinding tembok benteng Maut.
Para jago yang berada di tepi sungai segera bersorak sorai dengan ramainya, sebagian besar diantara mereka segera berebutan menyebrangi jembatan batu dan menyerbu ke dalam pintu Benteng...
Han Siong Kie segera merasakan jantungnya berdebar keras, ia tak bisa membayangkan bagaimanakah perasaan hatinya pada waktu itu.
Dia berharap serbuan dari gabungan para jago lihay itu bisa berhasil menghancurkan Benteng Maut yang ditakuti seluruh umat Bu lim dan si pemilik benteng bisa dilenyapkan dari permukaan bumi.
Tetapi, diapun berharap bahwa serbuan para jago itu tidak mendapatkan hasil, sebab bila usaha mereka memperoleh keberhasilan maka itu berarti bahwa ia akan kehilangan kesempatan untuk membalas dendam sakit hatinya... Sipengemis cilik itupun dengan tegangnya segera bangkit berdiri.
Dikala serbuan para jago Bu lim gelombang ketiga hampir mencapai pintu depan Benteng maut itulah.
Mendadak tampaklah dua sosok bayangan manusia dengan langkah perlahan dan wajah layu selangkah demi selangkah berjalan keluar dari balik pintu benteng. Seluruh jago Bulim segera berdiri tertegun.
Kiranya kedua sosok bayangan manusia itu bukan lain adalah sipengemis dari selatan serta si padri dari utara.
Pengemis cilik itu segera tersenyum dan duduk kembali keatas batu. Sedangkan Han Siong Kie dengan perasaan tercengang segera bertanya.
"Eeei, mereka sudah keluar??"
"Inilah pengecualian yang terjadi selama puluhan tahun lamanya, untuk pertama kalinya ada orang yang bisa keluar dari Benteng Maut dalam keadaan hidup rupanya mereka berdua sudah menderita kerugian yang amat besar, bisa juga sipemilik Benteng Maut menaruh rasa kagum dan hormat terhadap kedua orang ini maka ia tidak tega untuk turun tangan keji".
"Adik Hwie. rupanya tidak sedikit yang kau ketahui?"
"Hiih. . Hiiih. ..Hiiiih.. aku hanya menduga menurut keadaan yang terbentang didepan mata saja".
Disaat sipengemis dari selatan serta sipadri dari utara telah meninggalkan pintu benteng itulah, kedua pintu raksasa yang hitam pekat itu perlahan-lahan menutup kembali.
Pengemis dari selatan serta padri dari utara tidak memperdulikan para jago Bu lim yang mengurung di sekeliling tubuhnya, tidak menjawab semua pertanyaan yang mereka ajukan, setelah menyeberangi jembatan batu dan tiba ditepi pantai, dengan mulut membungkam mereka berlalu dari situ.
Para jago lihay lainnya jadi tertegun dan tidak habis mengerti, tapi akhirnya mereka pun mengumpulkan semua jenasah yang berserakan diluar benteng dan ikut bertalu dari situ. Suatu hujan badai yang amat mengerikan pun mulai reda..
Thian chee Kauwcu sendiri dibawah iringan para anak buahnya tanpa mengucap kan sepatah katapun ikut berlalu dari situ.
Akhirnya si kupu2 warna warni Lie In Hian dengan membawa kedua orang dayangnya serta ke empat orang tukang tandu nya kembali kearah tandunya di bawah pohon itu
Han song Kie tak kuat menahan rasa dongkolnya, ia mendengus dan bergumam seorang diri:
"Perempuan busuk. suatu hari aku akan mencari dirimu untuk membereskan hutang piutang pada hari ini ".
"Engkoh Kie, kau jangan marah dulu" bisik sipengemis cilik sambil tertawa cekikikan. "suatu pertunjukkan bagus segera akan berlangsung didepan mata".
Tampaklah si kupu2 warna warni Lie in Hiang menyingkap horden dan melangkah masuk ke dalam tandu, tapi secara mendadak ia mundur tiga langkah ke belakang, rupanya perempuan itu telah menemukan bahwasanya Han Siong Kie lenyap tak berbekas, setelah ditengoknya sejenak ke kiri dan ke kanan akhirnya ia menyusup ke dalam tandunya.
000000
"ENGKOH KIE, cepat lihat" seru pengemis cilik itu dengan penuh kegirangan.
Tampaklah ke empat orang pria kekar itu sambil menggotong tandu berjalan beberapa langkah ke depan, mendadak.. “Braak..” terdengar suara ledakan keras, tandu itu merekah dan hancur berkeping2, dalam keadaan yang mengenaskan sekali si kupu2 warna warni Lie In Hiang jatuh mendeprok di atas tanah.
Han Siong Kie yang menyaksikan kejadian itu jadi ikut merasa geli, pikirnya:
"Adik Hwie benar2 pandai sekali menggoda orang, kiranya sebelum meninggalkan tandu tadi ia sudah melakukan sesuatu disekeliling tandu tersebut..." Pengemis cilik itu tak bisa menahan diri lagi, ia sebera berteriak keras: "Bagus sekali".
Teriakan ini cukup keras dan segera memancing perhatian dari si kupu2 warna warni Lie In Hiang, dengan cepat sinar mata nya dialihkan ke arah tebing batu tersebut.
"Aduuuh Celaka" bisik Han Siong Kie terperanjat. "Kali ini habis sudah riwayat ku".
Dalam pada itu sipengemis cilik itu telah mendorong tubuh si anak muda itu sambil berseru:
"Engkoh Kie, cepat lari, biar akulah yang menghadapi mereka".
"Tidak. aku tak mau pergi"
"Kalau kau tidak lari, mereka akan menggasak dirimu sampai peyot".
"Tidak. tidak bisa. masa aku akan tinggalkan dirimu seorang diri ditempat ini??"
"Haaah...haaah...haaah.. tolol amat kau, berangkatlah duluan, sebentar lagi aku akan menyusul dirimu".
"Tidak. aku tak akan meninggalkan tempat ini seorang diri".
"Engkoh Kie, si kupu2 warna warni Lie In Hiang adalah Thongcu nomor satu dari perkumpulan Thian chee Kauw, kepandaian silatnya cukup ampuh dan hebat, sekali pun kedua orang dayangnya serta ke empat orang tukang tandu itupun mempunyai kepandaian silat yang sebanding dengan jago Bu lim kelas satu. Siapapun diantara mereka berenam tak nanti bisa kau tandingi... maka dari itu berlalulah lebih dahulu. selama kau masih berada disini, justru malahan memecahkan perhatianku "
Merah jengah selembar wajah Han long Kie sehabis mendengar perkataan itu, dengan terputus2 katanya:
"Aaa...adik Hwie aa...apakah kau sa... sanggup untuk menghadapi mee...mereka ?"
"Tidak menjadi soal, dari belakang batu karang itu larilah ke arah depan, maka kau akan tiba didalam sebuah hutan, aku segera akan memancing kepergian mereka??".
Sementara itu perlahan-lahan si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang telah munculkan diri di atas tebing karang tersebut.
"Cepat lari..." seru sipengemis cilik itu dengan hati cemas. "Kalau terlambat akan tidak sempat lagi"
Han Siong Kie tidak berani berayal lagi, ia segera menjejakkan kakinya dan meloncat turun kebawah tebing batu itu kemudian lari masuk ke dalam hutan.
Menanti bayangan punggung si anak muda itu sudah lenyap dari pandangan, pengemis cilik itu baru meloncat turun dari atas tebing dan sambil tertawa cengar-cengir disongsongnya kedatangan kupu2 warna warni Lie In Hiang.
Dengan wajah penuh napsu membunuh dengan mata melotot sadis selangkah demi selangkah si kupu2 warna warni Lie In Hiang maju ke depan, ke dua belah pihak menghentikan langkahnya pada jarak dua tombak.
Ketika dilihatnya orang yang mengejek dan mempermainkan dirinya bukan lain adalah seorang pengemis muda, perempuan itu langsung naik pitam, bentaknya dengan penuh kemarahan:
"Pengemis edan, kau berani mempermainkan aku si nenek tua hah??"
"Apa?? aku mempermainkan apa mu??" sahut sipengemis dengan alis berkerut.
"Bukankah kau yang bermain setan dengan tanduku ini??"
"Berdasarkan alasan apa kau mengatakan bahwa aku yang mempermainkan tandumu?"
"Hmm ayoh jawab, kau telah membawa kemana orang yang berada di dalam tanduku itu??.. "
"Apa?" pengemis cilik itupura2 berlagak kaget, "pria atau wanita yang kau maksud kan?. "
Selapis napsu membunuh yang sangat mengerikan memancar di atas wajah perempuan itu, jengeknya ketus.
"Pengemis edan, tahukah kau siapa diriku?"
"Aku si peminta- minta tak pernah mengadakan hubungan dengan kaum perempuan, percayakah kau "
"Bangsat, kaupingin hidup atau mati? "
"Eeei.. apa maksud ucapanmu itu ? "
"Kalau pingin hidup maka katakanlah ke mana perginya bangsat cilik itu, sebaliknya kalau kepingin mati..."
"Kenapa??" "
"Pun Thongcu seketika ini juga akan kirim nyawamu kembali ke akhirat"
Pengemis cilik itu tundukkan kepalanya dan berpikir sebentar kemudian menjawab. "Aku pingin mati saja"
si Kupu2 warna warni Lie In Hiang yang mendengar perkataan itu jadi tertegun, kemudian serunya: "Hm, kau sungguh pingin mati?? "
"Sesungguhnya tidak salah, aku sudah terlalu muak sebagai pengemis kecil, maka dari itu aku tidak pingin hidup lebih lanjut di kolong langit ini.. "
Si Kupu2 warna warni Lie In Hiang bukanlah seorang bocah kemarin sore yang gampang dipermainkan, sekilas memandang ia sudah tahu kalau pengemis kecil itu memang sengaja hendak memperolok-olok serta mempermainkan dirinya, napsu membunuh seketika itu juga muncul di dalam benaknya, sambil tertawa dingin katanya:
"Kalau pingin mati sih gampang, Pun Thongcu bisa memberikan kematian yang paling lambat dan paling nikmat bagimu". sembari mengulapkan tangannya ia berkata lebih jauh "Tangkap bajingan cilik ini".
Kedua orang dayang yang berada disisi mereka itu segera maju ke depan, satu dari kiri dan yang lain dari kanan laksana kilat mencengkeram tubuh si pengemis cilik itu.
“Eeii..eei.nanti dulu” teriak pengemis cilik itu berulang kali sambil goyang-goyangkan tangannya. Seorang pria sejati tak akan melayani kaum perempuan untuk bermain-main.”
Sembari berkata ia segera enjotkan badannya, tahu-tahu sang tubuh sudah berada kurang lebih satu tombak jauhnya dari tempat semula.
Gerakan tubuh ini sangat indah dan lihay sekali, bukan saja membuat kedua orang dayang itu menjulurkan lidahnya, bahkan si kupu-kupu warna-warni Lie In Hiang pun merasakan hatinya bergetar keras, sadarlah perempuan ini bahwa pengemis cilik itu bukanlah seorang manusia yang sederhana.
Sementara itu setelah tertegun beberapa saat lamanya kedua orang dayang itu segera maju kembali kearah depan, secara terpisah mereka lancarkan serangan gabungan yang amat dahsyat, telapak dan jari dilancarkan secara serentak.
“Aduuh mak!” teriak pengemis itu keras-keras, bukannya mundur ia malah maju lebih ke depan, badannya menerobos masuk kedalam lingkaran bayangan cakar serta deruan angina pukulan.
Suara dengusan berat berkumandang memecahkan kesunyian, tahu-tahu kedua orang dayang itu jatuh terpelanting dan roboh ke atas tanah.
Air muka si kupu-kupu warna-warni Lie In Hiang kontan berubah hebat, tenaga lweekang yang dimiliki pengemis cilik itu ternyata sudah mencapai keadaan yang sangat mengerikan, bukan saja ginkangnya diluar dugaan bahkan ia pun memiliki kepandaian menotok jalan darah lewat sentilan udara, dalam sekali gebrakan saja ia telah berhasil merobohkan kedua orang dayang andalannya.
Suara bentakan keras segera bergeletar memecahkan kesunyian, empat orang pria penggotog tandu yang semula berdiri tegak di sela kalangan, kini sudah menubruk maju secara serentak, masing-masing pihak mengirim satu babatan yang amat dahsyat.
Empat gulung desiran angina tajam menggulung jadi satu membentuk suatu gulungan tenaga yang amat mengerikan, laksana ambruk nya sebuah bukit tinggi angin serangan tersebut langsung menyapu ke depan.
Melihat datangnya ancaman tersebut, pengemis cilik itu segera tertawa cekikikan. "Hiiih..hiiih....hiiiih bagus bagus beginilah baru sangat berarti".
sepasang telapak diayun kedepan dan diapun melancarkan sebuah babatan dahsyat yang menimbulkan gulungan angin serangan yang amat mengerikan hati.
“Blaaaam” suara ledakan keras bergelegar menggoncang kan permukaan bumi, pasir dan debu berterbangan memenuhi angkasa, pusaran angin pukulan yang kencang menggetarkan ke empat orang pemandu itu dan memaksa mereka menyebarkan diri ke empat penjuru.
"Kalian lebih baik mundur saja" tiba-tiba si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang berseru sambil mengulapkan tangannya.
Dengan wajah lesu dan badan lemas ke empat orang pria kekar itu buru buru mengundurkan diri ke belakang.
"Hei, pengemis cilik. laporkan asal usul perguruanmu" seru perempuan itu kemudian.
"Aku tidak punya perguruan".
"Kau termasuk cabang dari kota mana di dalam keanggotaan perkumpulan Kay Pang?"
"Hmmm .. Hmmm aku sipengemis cilik adalah seorang pengemis gelandangan".
"Pengemis gelandangan???".
"sedikitpun tidak salah".
"Apa itu pengemis gelandangan?? Belum pernah aku mendengar nama seperti itu??"
"Oooh.. pengemis gelandangan adalah pengemis luntang lantung diempat penjuru sesuka nya yang gentayangan, tidak tergabung dalam partai maupun perkumpulan, bebas merdeka melayang kesana kemari".
"Bangsat, kau kepingin modar??".
"Aduuuh...nyonya bawel, mungkin lubang telingamu terlalu banyak kotorannya, apa kau tidak dengar?? sedari tadi toh aku sudah berkata bahwa aku tidak pingin hidup, cuma sayang...".
"Sayang kenapa?".
"Sayang dengan andalkan kekuatanmu masih tidak pantas untuk menghajar aku si-pengemis cilik untuk masuk keliang kubur.
Si kupu2 warna warni Lie In Hiang jadi sangat gusar, saking mendongkolnya sampai sekujur tubuhnya gemetar keras. dengan kedudukannya yang terhormat sebagai seoring Thongcu kelas satu didalam perkumpulan Thian Chee Kauw ternyata sudah diolok-olok dan dipermainkan oleh seorang pengemis cilik yang tidak diketahui asal usulnya, ia segera membentak keras:
"Bangsat. Pun thongcu akan bunuh diri-mu! ".
Sepasang telapak tangannya dengan suatu gerakan yang sangat aneh segera menyapu ke depan, secara terpisah ia cengkeram perge1angan kiri serta bahu kanan pengemis itu, gerakan cengkeraman tersebut dilancarkan dengan kecepatan laksana sambaran kilat, bakan bayangan cakar berlapis lapis seakan akan terdapat berpuluh puluh buah tangan yang bersamaan waktunya mencengkeram ke luar.
Menyaksikan kehebatan lawannya pengemis cilik itu terkesiap buru-buru
Tubuhnya meleset kesamping untuk menghindar..tetapi gerakan tubuhnya terlambat satu tindak, tahu-tahu bahunya terasa amat kencang dan bahu kanannya sudab kena dicengkeram oleh lawannya.
Napsu membunuh yang menyelimuti wajah si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang semakin menebal. ssmbil tertawa dingin serunya :
"Keparat cilik! sekarang ayoh jawab, apakah pun Thongcu pantas untuk menghantar kematianmu???".
"Tidak pantas! mau apa kau??".
"Kalau kau berani mengatakan sekali lagi, kucengkeram bahumu ini biar hancur berantakan!".
"Tidak pantas! tidak pantas! Tidak pantas!''.
Si Kupu-kupu Warna warni Lie la Hiang benar-benar naik pitam, jari tangannya yang mencekeram bahu pengemis cilik itu segera ditambahi dengan beberapa lipat tenaga dalam, masksudnya tulang bahu sipengemis cilik itu akan dicengkeram sampai hancur lumat, siapa tahu baru saja cakarnya menggencet tubuh lawan, segera terasalah tangannya se-olah2 memegang sesuatu benda yang sangat licin, hatinya jadi amat terperanjat.
"Kepandaian silat apakah ini??? " pikirnya di dalam hati.
Belum habis ia berpikir, bagaikan seekor ikan belut sipengemis cilik itu sudah meloncat mundur sejauh satu tombak lebih, jengeknya sambil tertawa cekikikan:
"Hiiih...hiiih...hiih... Lie In Hiang perempuan bermuka tebal yang tak tahu malu, maaf kalau aku tak sudi melayani dirimu lebih jauh .... " Dia enjotkan badannya dan segera meleset ke arah dalam hutan.
Air muka si kupu2 warna warni Lie In Hiang berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, mimpipun ia tak pernah menyangka kalau dirinya bakal jatuh kecundang di tangan seorang pengemis cilik.
Setelah tandunya tak dapat digunakan lagi, dengan perasaan gemas ia berpaling ke arah mana lenyapnya bayangan sipengemis cilik itu sambil makinya:
"Anak sialan cucu monyet, hati2 kau suatu hari aku bisa membeseti kulit tubuhmu dan mencabuti otot2 didalam badanmu".
Setelah mendepak- depakan kakinya ke atas tanah, ia segera membebaskan jalan darah dari kedua orang dayangnya yang tertotok kemudian berlalu dari situ.
Kedua orang dayangnya serta keempat orang pria kekar itu tak berani berayal, merekapun segera enjotkan badannya dan menyusul dari belakang tubuhnya.
-0000000-
Ombak dan memecah ditepi pantai. Benteng Maut yang berdiri dengan angkernya diatas tebing karang telah pulih kembali dalam kesunyian serta keheningan yang mencengkam seluruh jagat.
Pengemis cilik yang sangat menghawatir-kan keselamatan kakak angkatnya Han Siong Kie, tidak ingin berdiam terlalu lama disitu, setelah melepaskan diri dari kurungan si perempuan she Lie tadi ia segera menerobos masuk kedalam hutan dan menyusul si anak muda itu.
Tetapi, walaupun ia sudah mencari kesana kemari dan keluar masuk hutan, bayangan tubuh Han Siong Kie masih juga belum ditemukan, ia jadi tercengang dan tidak habis mengerti.
"Kemana perginya engkoh Kie?"? "pikir pengemis cilik ini didalam hati kecilnya. Tadi aku toh sudah menerangkan dengan jelas kepadanya agar langsung masuk kedalam hutan? entah ia sudah tersesat sampai dimana?”
Makin lama hatinya merasa semakin gelisah, sehingga tak tahan lagi sambil menerobos masuk kedalam hutan Thonghong Hwie sipengemis cilik itu berseru tiada hentinya
“Engkoh Kie! engkeii Kie..."
Namun tiada sesuatu jawabanpun yang kedengaran, pikirnya lebih jauh:
“Aaah mungkin dia sudah langsung keluar dari hutan dan melanjutkan perjalanannya!”
Karena berpikir demikian maka ia pun segera enjotkan badannya dan meluncur kearah depan-
Sementara itu Han Siong Kie setelah masuk kedalam hutan perasaan hatinya makin lama kian terasa semakin tidak enak, ia merasa sebagai seorang lelaki sejati ternyata barus minta perlindungan orang. bahkan di dalam keadaan bahaya harus melarikan diri sikap angkuhnya segera muncul. Pikirnya di dalam hati;
''Apabila aku tidak berhasil melatih serangkaian ilmu silat yang mengejutkan hati orang, aku tidak akan berjumpa lagi dengan adik angkatku Tonghong Hwie !"
Karena berpikir demikian maka ia tidak menuruti petunjuk dari si pengemis cilik itu untuk masuk kedalam hutan, sebaliknya malah membelok menuju kearah timur.
Semakin berjalan menuju kedepan ia merasa hutan belukar yang mengelilingi sekitar tempat itu semakin lebat dan tinggi, begitu rimbunnya dedaunan sampai cahaya matahari tak dapat menyorot kedalam. Suasana gelap gulita dan si anak muda itupun dengan mata membuta berjalan kesana kemiri sekenanya.
Beberapa saat kemudian suasana semakin gelap gulita sehingga susah melihat kelima jari tangan sendiri. arah tujuanpun semakin kabur.dalam keadaan begini wajahnya berubah jadi bengkak dan hijau sebab besar karena beru!ang kali harus mencium pohon atau ranting, pakaiannya koyak dan hancur tak karuan.
Sekarang sianak muda itu baru sadar bahwa ia telah memasuki sebuah hutan belantara yang sangat mengerikan.
Tetapi menyesal pun sudah terlambat. ia tak sanggup untuk menemukan kembali arah yang benar untuk lolos dari cengkeraman hutan belantara yang sangat lebat itu.
Suara ular dan auman binatang buas ber gema silih berganti menambab seramnya sua sana disekitar hutan tersebut. dalam keadaan begitu pemuda she-Han itupun berpikir:
"Habis sudah riwayatku! .. rupanya aku Han Siong Kie harus menemui ajalnya ditempat seperti ini... aaai, cepat atau lambat aku pasti dicabut ular berbisa atau diterkam binatang buas "
Tetapi ia tidak berhenti sampai disitu saja, ia tidak putus asa dan meneruskan petualangannya menjelajahi hutan belantara itu secara buta.
Rasa lapar, haus, lelah, ditambah rasa nyeri dan sakit dari mulut luka yang menganga di sekujur tubuhnya akibat duri serta ranting membuat tulang belulalangnya terasa hancur berantakan, badannya lemas tak bertenaga. perjalanan terasa semakin berat lagi.
Tapi sianak muda itu tak mau menghentikan usahanya sampai disana. tak bisa berjalan diapun mulai merangkak dan merayap diatas tanah..kesadarannya...pikirannya kian lama kian bertambah kabur.
Entah berapa saat sudah lewat. mendadak pemuda itu merasakan segulung hawa dingin yang sangat aneh menyerang ulu hatinya, ia segera membuka matanya.
Tampaklah ia telah berbaring ditepi sebuah kolam kecil, separuh tubuhnya terbenam didalam air tersebut. Hal ini membuat hatinya bergetar keras, pikirnya : "Sungguh berbahaya, setengah depa lagi aku maju kedepan niscaya tubuhku sudah tenggelam didasar kolam ini dan jiwaku tentu sudah melayang...".
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat didalam benaknya, ia berpikir lebih jauh :
"Aaaah. tidak benar! apakah aku sudah keluar dari hutan belantara tersebut???''.
Dengan cepat ia mengerangkak bangun dari atas tanah dan melongok keempat penjuru, tampaklah sekeliling situ hanya berupa pepohonan yang sangat lebat, lebih jauh dari itu yang ada hanya kegelapan yang mencekam. dimana ia berdiri saat ini merupakan sebidang tanah kosong yang luas dan persis ditengah tanah kosong tadi terdapat sebuah kolam kecil seluas lima tombak.
Satu pikiran dengan cepat berkelebat di dalam benaknya dan pemuda itu pun kembali berdiri tertegun. mengapa pada saat ini ia tidak merasa lapar maupun dahaga?? bahkan rasa sakit yang dideritanya tadi sekarang lenyap tak berbekas, ia segera tundukkan kepalanya dan memeriksa.
Tampaklah kulit tubuh yang telah terendam air kini sudah sembuh sama sekali dari lukanya, bahkan luka2 itu telah merapat dan sedikitpun tidak terasa sakit, kejadian ini tentu saja mencengangkan hatinya.
Mendadak... sinar matanya terbentur dengan sebuah tonggak batu yang berdiri tegak disisi tubuhnya, diatas tonggak tadi tertulislah beberapa huruf yang kurang lebih berbunyi demikian:
"Sumber air kulit bumi, Mencopot kulit berganti tulang".
setelah membaca tulisan itu, sadarlah si anak muda itu apa sebenarnya yang telah terjadi, pikirnya:
"Aaaah, benar, pastilah air didalam kolam ini adalah sumber air mujarab yang berasal dari kulit bumi seperti apa yang sering tersiar diluaran, tidak aneh kalau luka diseluruh tubuhku telah sembuh kembali setelah tercebur didalam air... perduli amat aku bisa keluar dari hutan ini atau tidak, pokoknya akan kucoba kembali"
Berpikir demikian iapun segera loncat ke dalam kolam dihadapannya, terasa air tersebut dingin menusuk tulang hingga membuat giginya saling beradu dengan kerasnya.
sekujur tubuhnya direndamkan kedalam air kecuali batok kepalanya yang menongol diluaran, dikala hatinya mulai lega dan pikiran mulai mengendor itulah kejadian masa lampau kembali berkelebat didalam benak nya.
Ia teringat kembali akan beratus ratus sosok tulang tengkorak yang berserakan didalam perkampungan keluarga Hari itulah rumah keluarganya.
susiok sitelapak naga beracun Thlo Lien setelah mengutarakan asal usulnya segera bunuh diri, apa sebabnya???. . suatu misteri.
Benarkah si pembunuh keji yang telah membasmi keluarga Han serta keluarga Thio adalah si Pemilik dari Benteng Maut?? sebab lambang tengkorak berdarah yang ia temukan diatas dinding ruangan tengahnya persis seperti lambang dari si pemilik Benteng Maut tersebut. Kalau benar apa sebabnya ia melakukan pembunuhan tersebut? kembali merupakan satu misteri ...
Diikuti pelbagai ingatanpun berkelebat di dalam benaknya:
Susioknya, sitelapak naga beracun Thio Lien kenapa tidak memperkenankan dia untuk membalas dendam?? kalau dilihat sikap paman gurunya tadi jelas dia sudah tahu siapakah pembunuh keji tersebut, tapi ia tidak mau mengatakannya keluar, bahkan tidak memperkenankan pula dirinya untuk mengubur tulang tengkorak yang berserakan itu, apa sebabnya?
Dengan mempertaruhkan jiwa putranya, sang paman guru telah menyelamatkan dia dari kematian dan mendidiknya hingga dewasa, tetapi apa yang kemudian diwaris kan kepadanya hanya dasar berlatih ilmu tenaga dalam belaka, sedang jurus silatnya tak sepotongpun yang diwariskan kepadanya, sang susiok mengatakan bahwa ia terikat oleh sumpah, apakah isi sumpah tersebut??
seluruh keluarganya mati binasa dalam peristiwa berdarah itu kecuali ibunya seorang yang masih hidup, mengapa???
Iapun teringat kembali akan kesadisan serta kekejian yang terlihat sewaktu berada didepan Benteng Maut.
Diikuti terbayang kembali wajah adik angkatnya si pengemis cilik Tonghong Hwie, mungkinkah ia masih ada kesempatan untuk saling berjumpa muka?...
Mendadak.... ia merasakan sekujur badan nyajadi amat panas hingga sukar ditahan, bukan saja air kolam.. yang itu tidak terasa dingin lagi bahkan makin lama terasa semakin panas bagaikan air mendidih.
Hatinya jadi amat terkesiap. jangan2 air kolam ini mengandung racun yang awat jahat?? tapi ia tidak merasakan tanda2 keracunan.
Buru2 tubuhnya merangkak naik keatas tepian. namun... rasa panas yang menyengat badannya kian lama kian menjadi dan makin lama bertambah hebat... bagaikan sekujur badannya dibakar oleh api besar hingga terasa amat sakit.
Hampir saja sianak muda itu jadi gila, Ia tak kuat menahan siksaan serta penderitaan yang menyerang tubuhnya; pemuda itu segera bergelindingan ditepi kolam, meronta kesana menekuk kemari.
Tidak lama kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.
Entah berapa lama sudah lewat, ketika ias siuman kembali dari pingsannya terasalah sekujur tubuhnya segar dan nyaman, rasa sakit telah bilang lenyap tak berbekas dengan hati sangsi bercampur curiga segera tanyanya pada diri sendiri:
"Mungkin aku sudah berganti kulit bertukar tulang?".
la bangkit berdiri dan terasalah suasana-disekeliling tubuhnya terasa lebih terang, sinar matanya dapat mencapai pandangan sejauh ratusan tombak, hatinya jadi amat kegirangan, setelah ia dapat melihat ditengah kegelapan berarti keluar dan hutan belantara tersebut bukanlah satu persoalan yaag menyulitkan.
Sinar matanya segera menyapu sekeliling tempat itu, mendadak beberapa tombak dari ia berdiri saat ini, tepatnya ditepi sebuah pohon tua pemuda itu menemukan sesosok bayangan manusia sedang duduk bersila disitu- hatinya jadi amat kegirangan, ia tak mengira kalau ditempat semacam ini bisa bertemu dengan seseorang, laksana kilat tubuhnya meloncat kedepan.
Sekali enjot badan ia segera merasakan tubuhnya enteng bagaikan burung walet, hampir saja badannya menumbuk diatas tubuh bayangan manusia itu yang bukan lain adalah seorang kakek tua berambut putih.
Sianak muda ini jadi terperanjat, sekarang ia baru sadar bahwa tubuhnya bisa enteng pastilah disebabkan kasiat dari sumber air mujarab dari kulit bumi.
Buru-buru dia mundur tiga langkah kebelakang dan menjura untuk memberi hormat, katanya :
"Loocianpwve! berhubung boanpwee tersesat jalan hingga sampai disini, maka mohon sudilah kiranya loocianpwee memberi petunjuk jalan bagi diriku untuk lolos dari tempat ini!".
Perkataan itu diulangi sampai tiga kali namun tiada jawaban.ia segera memperhatikan wajah orang itu lebih seksama.
"Aaah " Han Siong Kie berseru tertahan, bulu kuduknya pada bangun berdiri dan hatinya jadi amat bergidik. ternyata kulit badan si kakek tua itu sudah mengering dan layu, yang tersisa hanya sekerat kerangka manusia belaka, rupanya kakek tua itu sudah banyak tahun menghembuskan napasnya yang terakhir disitu. Beberapa saat kemudian rasa kaget dan bergidiknya baru agak reda, pikirnya:
"Apa yang musti aku takuti?? kalau aku tak bisa keluar dari hutan belantara ini maka keadaan pun tidak akan jauh berbeda dengan dirinya...".
Ketika dipandangnya mayat itu lebih jelas, maka si anak muda itu menemukan sekujur tulang kakek tua itu sudah penuh ditumbuhi lumut hijau yang amat lebat sehingga sepintas lalu nampaknya seolah2 dia memakai pakaian.
Menyaksikan keadaan itu timbul rasa kasihan didalam hatinya, iapun lantas bergumam seorang diri:
"Loocianpwee, daripada tulang belulang mu terlantar diatas bumi, baiklah biar aku kubur secara baik2".
Sambil berkata dengan tangannya ia lantas membersihkan lumut hijau yang tumbuh disekeliling mayat tersebut, tapi kembali hatinya merasa terperanjat sebab diatas kulit didepan mayat itu ternyata terukir beberapa huruf dengan amat jelas: "Air mujarab melindungi badan, kulit dan tulang tak akan membusuk."
Bila beberapa tahun kemudian ada orang yang sampai ditempat ini, tolong kebumikanlah jenasah loohu dibawah pohon jati bercabang tiga yang tumbuh disebelah timur kolam". Membaca tulisan tersebut, dalam hati Kiepun lantas berpikir:
"Baiklah, aku akan kabulkan keinginanmu itu agar sukmamu dialam baka bisa jadi tenang".
Di sebelah timur kolam ternyata benar2 terdapat sebuah pohon jati yang bercabang tiga, maka sianak muda itu sebera mematah-kan sebuah ranting dan mulai menggali liang kubur dibawah pohon tadi, satu depa... dua depa... tiga depa... empat depa.
Mendadak, ujung rantingnya seolah-olah menyentuh suatu benda yang amat keras.
“Aaaah. mungkin benda keras itu adalah batu karang atau sebangsanya... biarlah. empat depa pun rasanya sudah cukup dalam" pikir Han Siong Kie didalam hati.
Belum habis pikiran itu berkelebat didalam benaknya, tiba tiba permukaan tanah yang dipinjamnya mulai bergerak dan berdetak keras diikuti benda keras yang berada didalam tanah itu mulai munculkan diri dari permukaan tanah dan menyeret tubuhnya ke arah depan.
Kejadian ini tentu saja amat mengejutkan hati sianak muda itu matanya jadi terbelalak dan sukmanya terasa hampir melayang meninggalkan raganya,
Benda tadi kian lama kian bertambah naik keatas sehingga akhirnya permukaan tanah mereka dan muncullah seekor kura kura raksasa yang amat besar sekali sambil menggoyangkan kepalanya makhluk besar itu perlahan-lahan merangkak kemuka.
Meskipun kura kura tak dapat melukai orang tetapi makhluk aneh berbentuk raksasa yang demikian besarnya ini jarang sekali di dalam kolong langit, hal itu tentu saja membuat siapa pun yang menyaksikan merasakan hatinya bergidik-
Mendadak....... kura kura itu membentangkan mulutnya dan “Weesss!” segulung hawa tekanan yarg amat dahsyat segera menggulung kearah tubuhnya.
Mimpipun Han Siong Kie tak pernah menyangka kalau makhluk raksasa tersebut dapat memuntahkan hawa tekanan yang demikian dahsyatnya, dalam keadaan tanpa siap siaga barang sedikit pun badannya segera terroboh diatas tanah, sementara kura kura tadi segera merangkak kearah depan dan menindih diatas tububnya.
Tindihan tersebut benar benar sangat kuat ternyata si anak muda itu tak sanggup meloloskan diri, tanpa sadar sukmanya terasa melayang meninggalkan raganya. ia mengira kalau maksud baiknya hendak mengubur tulang belulang sikakek tua itu mendatangkan bencana yang demikian anehnya.
Dalam pada itu sikura kura tadi sudah membentangtan mulntnya yang besar dan meuggigit batok kepala Han Siong Kie,
“Aduuuuh .... mati aku habis sudah nyawaku kali ini ..." teriak si anak muda itu dengan hati terjelos.
Tapi sungguh aneh sekali, walau sudah lama ia menunggu namun batok kepalanya sama sekali tidak digigit hancur, sebaliknya kepala yang berada didalam mulut kura-kura itu terasa sangat tidak enak badan.
Ketika ia berada dalam keadaan sangat takut menghadapi kematian yang sealiran hawa panas mengalir masuk lewat jalan darah Thian Leng Hiat diatas ubun-ubunnya menyebar keseluruh badan.
Han Siong Kie sudah merasa yakin bahwa dirinya bakal mati, mimpipun ia tak pernah mengira kalau bakal terjadi peristiwa aneh semacam ini, ia mulai merasa sangsi apakah dirinya masih hidup dikolong langit? kalau tidak maka ia pastilah sedang mendapat satu impian yang jelas yang sangat menakutkan.
sementara itu aliran panas yang menyusup keluar dari mulut kura kura itu makin lama, semakin deras bahkan akhirnya deras bagaikan gulungan ombak ditengah samudra.
Sejak kecil Han Siong Kie mempelajari bagaimana caranya mengatur pernapasan dan kini tanpa dia sadari dengan kepandaian yang pernah dipelajari itulah ia menyambut datangnya aliran hawa panas tersebut. kemudian mengatur melewati urat nadi dan mengelilingi sekujur badan.
Tetapi aliran panas tadi kian lama kian bertambah deras bagaikan air terjun yang membelah bumi, daya tekanannya makin lama bertambah makin dahsyat setelah mengelilingi sekujur tubuhnya hawa panas tadi mulai menerjang kearah Jen serta Tok dua nadi terpenting.
Han Siong Kie merasakan sekujur badannya bergetar keras dan akhirnya diapun jatuh tak sadarkan diri
Entah berapa saat sudah lewat, perlahan-lahan sianak muda itu siuman kembali dari pingsannya, ia merasa pandangannya jadi jernih dan terang, ketika berpaling kesamping tampaklah si kura-kura tadi sudah meninggalkan dirinya dan berbaring kurang lebih delapan depa disisi kalangan.
Ia mengucak-ucak sepasang matanya untuk membuktikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah impian belaka. ia coba mengatur pernapasan, terasa hawa murni yang bergelora didalam badannya menggulung-gulung bagaikan ombak samudra, bahkan kedua buah urat nadi penting Jien serta Tok meh yang dimilikipun sudah tertembusi.
Ia jadi tertegun, sianak muda itu tak berani mempercayai bahwa apa yang telah terjadi merupakan suatu kenyataan, kura2 ternyata dapat mengerahkan hawa murni untuk disampaikan kepada manusia.
Kurang lebih seperminum teh kemudian ia baru sadar kembali dari lamunan, pelahan-lahan sianak muda itu bangkit berdiri dan berjalan mendekati sikura-kura tadi.
Ditemuinya kura2 tersebut telah menemui ajalnya, sementara diatas punggung kura2 itu di terukir serangkaian tulisan yang kecil rapat dan lembut sekali:
Diatas kulit punggung ternyata masih ada tulisannya. hal ini benar-benar jauh berada diluar dugaan HanSiong Kie, buru2 ia bersihkan punggung makhluk raksasa tadi dari lumpur serta kotoran sehingga tulisan tadi dapat terlihat dengan lebih jelas. serangkaian kata2 pertama yang terbaca olehnya adalah berbunyi demikian: "Leng Koe sinkang, dihadiahkan bagi mereka yang berjodoh".
Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar amat keras, ia merasa bahwa kejadian ini merupakan titik tolak dari sejarah kehidupannya dan iapun merasa bahwa dirinyalah orang yang berjodoh dengan tenaga murni tersebut.
Dengan perasaan bergolak keras ia membaca tulisan tersebut lebih jauh.
"Aku adalah Lwng Koan sangjien, berhubung mengalami keadaan jalan api menuju neraka pada tahun Jien Boe maka akhirnya aku menemui ajal ditempat ini..."
Menggunakan jari tangannya Han Siong Kie mulai menghitung jarak tahun Jien Boe hingga saat itu yang ternyata sudah terpaut enam puluh lima tahun, dus berarti Leng Koe sangjien telah enam puluh tahun lebih lamanya meninggal dunia ditepi sumber air mujarab dari kulit bumi ini, seandainya tiada kemustajaban air tersebut, mungkin jenasah-nya sudah hancur lebur semenjak dulu kala.
Diapun membaca lebih jauh :
"Kura kura ini sudah enam puluh tahun lamanya mengikuti diriku, sifatnya jinak dan sudah mendekati kepintaran manusia, disaat aku hendak menghembuskan napas yang terakhir. seluruh hawa murni yang kumiliki telah kusalurkan kedalam lambung kura-kura ini, bagi mereka yang berjodoh memperoleh hawa sakti ini, maka ia berarti akan memiliki tenaga lweekang bagaikan hasil latihan selama seratus tahun lamanya”
Sekujur badan Han Siong Kie gemetar semakin keras, gumamnya seorang diri :
"Aku mungkin sedang bermimpi?? aku. ..aku telah memperoleh tenaga lweekang bagaikan seratus tahun hasil latihan? Kura-kura sakti itu telah menyaiurkan segenap hawa murninya kedalam tubuhku??Ooooh!! mulai sekarang aku mendapat kesempatan untuk membalas dendam sakit hatiku!".
Diapun membaca lebih lanjut :
"Setelah menyalurkan hawa murninya, kura-kura ini pasti akan mati karena kehabisan tenaga, engkau boleh mengubur bangkainya didalam satu liang bersama diriku! dibelakang ini aku wariskan pula serangkaian ilmu gerakan serta ilmu pukulan yang merupakan inti sari dari seluruh kepandaian yang kumiliki sepanjang hidup, setelah berhasil menguasahi kepanpaian tersebut meskipun belum dapat menjagoi dunia persilatan tanpa tandingan, tetapi kawanan Bu Lim dari golongan biasa tidak akan dapat mengalahkan dirimu setelah rahasia ilmu itu berhasil dihapalkan, ambillah sebuah kantong kecil yang terikat dibelakang ekor kura-kura ini, isi kantong merupakan sebutir piI penghancur yang dapat menghapus seluruh tulisan yang tertera diatas punggung kura kura ini, daripada rahasia kepandian sakti tersebut tersiar luas di dalam dunia persilatan"
Han Siong Kie tarik napas panjang-panjang ia membaca lebih jauh dimana yang tertera merupakan rahasia untuk melatih ilmu gerakan tubuh, tiga jurus ilmu telapak serta ilmu Koe Sie Toa Hoat yang khusus untuk mengendalikan hawa darah yang bergerak di dalam tubuhnya.
Koe sie Toa Hoat merupakan kepandaian sakti yang sudah lenyap dari peredaran Bulim, sungguh tak nyana ia mempunyai jodoh untuk mempelajarinya, semangat segera berkobar2 dan rasa girang yang bergelora di dalam dadanya sukar dilukiskan dengan kata2:
Han Siong Kie cerdik dan berontak encer, setelah membaca tiga kali seluruh rahasia ilmu tersebut telah hapal diluar kepala.
Ilmu gerakan tubuh tersebut bernama "Hoe Keng Keng-im " atau Cahaya Kilat Lintasan Bayangan, sedangkan ketiga jurus ilmu pukulan tersebut bernama Leng Koe sam sie, setiap jurus mengandung sembilan gerakan perubahan, meski untuk sesaat tak dapat memahami intisari yang sedalamnya, tetapi sekilas memandang dapat diketahui bahwa kepandaian tersebut merupakan ilmu pukulan yang sangat ampuh.
Akhirnya diujung paling bawah tertera pula beberapa baris tulisan kecil yang berbunyi demikian:
"Selesai mengerjakan sesuatunya kau boleh tinggalkan tempat ini . belok tiga kearah timur kemudian putar empat kearah selatan maka kau telah lolos dari hutan belantara ini?".
Lama sekali sianak muda itu termenung memikirkan maksud dari belok tiga ketimur putar empat selatan... beberapa waktu kemudian akhirnya ia berseru tertahan:
"Aaaah, mengerti aku sekarang, yang di maksudkan pastilah berjalan tiga li ke arah timur kemudian putar ke arah selatan dan berjalan sejauh empat li, maka aku akan lolos dari hutan ini ......
setelah merandek sejenak, pikirnya lebih jauh: .
"Kalau aku bisa melayang dari puncak pohon, pemandangan ke arah depan akan terasa lebih luas, kenapa aku musti menerobos kesana kemari didalam hutan ini???".
Berpikir sampai disini ia segera meloncat ke atas, terasalah badannya enteng bagaikan burung walet, loncatannya itu ternyata berhasil mencapai ketinggian sejauh puluhan tombak. hal ini malah sebaliknya mengejutkan hatinya, ia segara melayang keatas dahan dan memandang ke depan.
Tampaklah pepohonan amat rapat dan lebat, walaupun dari tempat ketinggian, tetapi pemandangan yang terlihat tak dapat mencapat tempat kejauhan, sekarang dia baru menyadari akan luasnya hutan belantara tersebut.
Kata-kata peninggalan dari Leng Koe sangjien ternyata memang sangat beralasan sekali, kalau tidak sumber air yang amat mustajab ini jauh sebelumnya tentu sudah ditemukan orang kangouw. setelah melompat turun dari pohon, iapun berpikir:
"Seluruh tenaga lwekang yang ditinggalkan Leng Koe sangjien telah aku dapatkan semua, meskipun didalam surat wasiatnya ia berkata bahwa kepandaian tersebut diwariskan kepada berjodoh, tetapi didalam kenyataan aku sudah terikat dalam hubungan antara guru dan murid dengan sikakek tua ini, Tata cara tak boleh dikesampingkan, aku harus menjalankan penghormatan lebih dahulu didepan la yon guruku kemudian baru menuruti pesan terakhirnya untuk menge-bumikan layannya bersama-sama bangkai kura-kura itu"
Berpikir sampai disitu diapun maju ke depan dan dengan hormat menjalankan penghormatan besar sebanyak delapan kali dldepan jenasah Leng Koe sangjien, bisiknya: "Tecu Han Siong Kie menghunjuk hormat untuk la yon In soe".
selesai berdoa ia bangkit berdiri dan melirik sekejap kearah liang kubur yang telah dipersiapkan, kemudian membopong jenasah Leng Koe sangjien dari atas tanah untuk dipindahkan kearah liang kubur tadi.
Tetapi secara mendadak ia temukan suatu papan batu dibawah jenasah gurunya itu di atas papan batu terukir pula beberapa huruf kecil yang berbunyi demikian.
"seandainya kau menganggap saat tadi sudah memperoleh tenaga lweekang yang tinggi serta ilmu silat yang lihay, kemudian tinggalkan jenasah diriku tetap terlantar diatas bumi, maka seratus hari kemudian apa yang kau peroleh saat ini bakal lenyap tak berbekas ..".
Tanpa sadar Han Siong Kie merasakan badannya bergidik keras, diam2 ia bersyukur kepada diri sendiri bahwa ia tak mempunyai maksud untuk berbuat demikian, kalau tidak niscaya bencana akan menimpa dirinya.
"singkap papan batu ini, di bawah merupakan ruang bawah tanah" Han Siong Kie angguk-anggukkan kepala-nya dan berpikir:
"Leng Koen sangjien telah mengatur segala-galanya, baiklah aku laksanakan menurut pesan terakhirnya".
Maka tanpa banyak komentar ia buka papan batu itu kesamping hingga muncullah sebuah mulut gua, serangkaian anak tangga batu menjorok kebawah, suasana dalam gua terasa terang benderang bagaikan disiang hari, jelas di sekeliling situ telah dipasang batu permata atau mutiara serta benda2 berharga sejenisnya.
sesudah ragu2 sejenak. pemuda itu membopong jenasah dari Leng Koe sangjien dan menuruni undak-undakan batu itu
Pada ujung undak-undakan batu tadi merupakan sebuah ruangan batu, dalam ruangan hanya tersedia bangku, meja serta sebuah pembaringan, sedang pada atap ruangan terdapat sebutir mutiara besar yang memancarkan cahayanya menerangi seluruh ruangan, pada ujung dinding terdengar suara rintikan air yang memancar ke bawah dan mengalir keluar gua.
Han Siong Kie sebera membaringkan jenasah dari Long Koe sangjien diatas pembaringan batu yang disisinya terukir beberapa hurup yang berbunyi demikian:
"Disinilah manusia dan kura kura bersemayam"
Kemudian pemuda itu keluar lagi dari ruangan untuk membohong masuk bangkai kura-kura tadi untuk kemudian di baringkan di sisi jenasah Leng Koe sangjien.
setelah itu barulah ia mengambil butiran obat diekor kura-kura tadi, telah dicampur dengan air segera di usapkan diatas punggung kura-kura, tulisan yang yang tertera diatas kulit makhluk itupun seketika lenyap tak berbekas.
Mendadak.... terdengar suara gemerisik yaag amat nyaring bergema memecahkan kesunyian secara tiba-tiba pembaringan batu itu bergerak turun ke arah bawah.
Han Siong Kie yang menjumpai keadaan itu jadi amat terperanjat, dtngan termangu-mangu ia awasi pembaringan batu tadi turun kebawah hingga mencapai lima depa dan berhenti, kemudian sebuah papan baru perlahan-lahan muncul dari arah samping dan tepat menutupi liang bekas tempat pembaringan batu tadi.
Keadaan ruanganpun dengan cepat pulih kembali seperti sedia kala, kecuali kurang selembar pembaringan.
"Aaaah... sungguh suatu persiapan yang amat masak " seru sianak muda itu tanpa sadar.
Belum ia berkata tampak selembar kertas melayang jatuh dari atas atap ruangan, ia segera pungut kertas tadi dan membaca isinya :
"Hati jujur dan tulus ikhlas, bocah cilik, kau memang mengembirakan hatiku.".
Membaca sampai disini Han Siong Kie tak tertahan tertawa geli, pikirnya:
"Apakah pada enam puluh tahun berselang Leng Koe sangjien telah dapat menduga kalau orang yang bakal tiba disini adalah seorang pemuda yang masih muda belia seperti aku??? atau adalah seorang kakek tua, ucapan si "bocah cilik" itu bukanlah bisa dijadikan suatu lelucon yang sangat menggelikan???".
Bepikir sampai disini, iapun meneruskan kembali membaca surat tersebut:
".... Sumber air didalam batu merupakan sumber utama dari air mujarab, siapa yang minum air tersebut dapat menghilangkan rasa lapar dan rasa dahaga. Meskipun kau telah berendam didalam sumber air hingga berganti kulit tulang dan memperoleh pula hawa murni yang disalurkan kura-kura sakti, tetapi kau harus merendamkan diri lagi selama tiga hari didalam sumber mata air yang ada di dalam ruangan ini, dengan begitu hawa murni yang didapatkan baru bisa bergabung jadi satu dengan hawa murni didalam badan. sedangkan untuk melatih ilmu Koe sie Toa Hoat kaupun harus mengandalkan kekuatan dari sumber mata air ini, seratus hari kemudian bisa diharapkan suatu hasil yang gemilang, kemudian dengan segenap tenaga hantamkan ke arah sumber mata air ini sebanyak tiga kali, apa bila tidak menemukan suatu pertanda apapun, berlatihlah kembali selama seratus hari..."".
Berbicara sampai disini Han Siong Kia pun sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Leng Koe sangjien, maka diapun mengikuti petunjuk tersebut dan mulai berlatih diri didalam ruang batu itu.
Seratus hari dalam sekejap mata sudah lewat, terhadap kepandaian silat yang diwariskan Leng Koe sangjien di atas punggung kura-kuranya pun sianak muda itu sudah hapal di luar kepala.
Dengan perasaan hati yang bergolak keras ia menatap dinding batu dimana terdapat sumber mata air tajam2, lama sekali ia memandang namun belum juga mengerti apa yang dimaksudkan gejala aneh oleh gurunya, ia harusnya merasa bahwa semua persiapan itu diatur dengan amat sempurna dan misterius.
Maka diapun menghimpun segenap tenaga-nya kedalam telapak kemudian melancarkan tiga buah serangan dahsyat ke arah dinding batu dimana terdapat sumber mata air itu
Suara ledakan dahsyat segera menggeletar memekikkan telinga, dinding batu dimana terdapat sumber mata air tadi setelah termakan oleh pukulan yang amat dahsyat tadi mendadak bergerak tiga depa kedalam dan lenyaplah sumber mata air tadi.
000000
DENGAN wajah tertegun Han Siong Kie berdiri menjublak ditempat semula, ia tidak habis mengerti apa yang dimaksudkan mendiang gurunya untuk berbuat begitu.
criiing... tiba2 terdengar suara gemerincingan bergema disisi tubuhnya diikuti terasalah sebuah benda yang memancarkan cahaya berkilauan secara tiba2 terjatuh dari atas dinding gua tersebut.
Ia segera mendekati benda tadi mau mengambilnya yang ternyata bukan lain adalah sebuah telapak tangan terbuat dari tembaga hitam, diikuti secarik kertaspun melayang jatuh kebawah.
Dengan hati tercengang dipungutnya pula kertas tadi, tapi dengan cepat si anak muda itu sudah berteriak keras dengan sekujur badan bergetar keras: "Aaaah. Hoed Chiu Poo Pit... kitab pusaka TanganBuddha ....".
Ia teringat kembali akan ucapan dari susioknya si telapak naga beracun Thio Lien
yang pernah menceritakan kepadanya akan kisah benda pusaka yang tak ternilai harganya itu, sungguh tak nyana akhirnya benda tadi ditemukan olehnya.
Di atas Hoed Chiu Poo Pit tersebut termuat serangkaian ilmu silat yang maha sakti yang disebut tlmu "sie Mie sinkang" kepandaian ini begitu dahsyat sehingga ilmu" Toan Yoe sinkang" dari partai siauw limpun tak sanggup untuk menandingi, hanya jarang sekali ada orang yang pernah menyaksikan sendiri kehebatan ilmu tersebut.
Sepasang tangannya mulai gemetar keras, ia pejamkan matanya rapat-rapat dan berusaha keras menenangkan hatinya yang bergolak keras.
Ia terbayang kembali akan suasana di dalam perkampungan keluarga Ha n, tulang tengkorak berserakan dimana-mana... dua ratus jiwa ditambah jiwa susioknya si telapak naga beracun Thio Lien sekeluarga, semua-nya telah musnah ditangan si Tengkorak darah.
Dendam kesumat seperti ini lebih dalam dari samudra, rasa bencinya lebih besar dari langit, Bagaimanapun juga sakit hati ini harus dituntut balas.
Tengkorak darah... si Pemilik Benteng Maut, tak dapat membayangkan sampai di manakah lihaynya ilmu silat yang dimiliki pihak lawan, sebab si pengemis dari selatan serta si padri dari utara pun bukan tandingannya semua, tetapi seandainya ia berhasil mempelajari ilmu see Mi ciang?
Sinar matanya dialihkan kembali keatas kertas itu dan membaca lagi isinya:
"Hod Chiu Poo Pit berhasil aku dapatkan pada tiga puluh tahun berselang, tetapi didalam melatih kepandaian tersebut ternyata aku menderita jalan api menuju neraka, saat itulah aku baru sadar bahwa kitab pusaka ini semestinya terdiri dari kiri dan kanan, tapi keadaan sudah terlambat dan menyesalpun tak ada gunanya, Kitab yang ku dapatkan adalah bagian yang kanan, dimanakah yang sebelah kiri aku sendiripun tak habis mengerti, kejadian itu merupakan suatu hal yang patut disesalkan sepanjang hidupku, bagi mereka yang berjodoh apabila berhasil memenuhi harapanku dengan menggabungkan sepasang telapak tangan itu hingga berhasil melatih ilmu yang sangat dahsyat tanpa tandingannya dikolong langit ini, akupun akan ikut tersenyum dialam baka".
Han Siong Kie merasakan hatinya terjelos, kalau memang Hoed Chiu Poo Pit terdiri dari sepasang, lalu yang separuh dia harus pergi cari dimana.?
Jagad begini luas dan lebar, untuk menemukan separuh belah benda pusaka sudah tentu merupakan suatu kejadian yang amat sulit.
seandainya telapak Budha yang lain tidak berhasil ditemukan, bukankah yang sebelah ini sama artinya dengan benda yang tak berharga?? Leng Koe sangjien yang begitu lihaypun, hanya kurang hati-hati mengakibatkan kematian yang disesalkan untuk selama nya, apalagi dia?
-0000000-
Jilid 3
LAMA sekali ia termenung... akhirnya pemuda itu jatuhkan diri berlutut ke arah pembaringan batu yang telah lenyap di bawah tanah itu, katanya dengan suara lirih:
"suhu, walaupun kau telah meninggal dunia tetapi budi pemberian tenaga lwekang tak akan pernah lenyap dari benakku, selama tecu masih hidup dikolong langit pasti akan berusaha keras untuk menyelesaikan harapan dari suhu ini sampai mati baru berhenti "
Habis berdoa ia bangkit berdiri, memasukkan tangan Buddha berwarna hitam itu ke dalam sakunya dan keluar dari ruang batu, kemudian tutup pula mulut gua dengan papan batu dan menutup papan batu tadi dengan tanah sehingga siapapun tak akan menduga kalau dibawah tanah masih terdapat ruangan batu.
Menanti ia berpaling kearah sumber air mujarab, pemuda itu jadi tertegun, kiranya kolam air mujarab telah mengering, setetes airpun tidak nampak. yang tersisa hanyalah sebuah liang tanah yang luas. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena tersumbat-nya sumber air didalam gua.
Memandang langit yang biru diangkasa, Han Siong Kie merasa bagaikan baru saja mendusin dari suatu impian yang aneh.
Dalam seratus hari ia telah berubah jadi seorang manusia yang lain, seorang jago dengan tenaga lweekang yang amat semcurna serta rangkaian ilmu silat yang sakti.
Pertama, ia teringat kembali akan saudara angkatnya yang nakal sipengemis cilik Tonghong Hwie, entah saat ini ia telah berkelana sampai dimana?? ia merasa bahwa dengan kepandaian yang dimilikinya sekarang mungkin sudah cukup untuk menjadi toakonya.
Ia tertawa bangga dan sebera kerahkan ilmu meringankan tubuhnya keluar dari hutan itu.
Suasana dalam hutan itu sudah tidak segelap waktu ia datang semula, karena pandangan matanya dapat melihat di tempat kegelapan. sesuai dengan pesan dari Leng Koe sangjin, setelah berjalan tiga li ke arah timur kemudian putar kearah selatan sejauh empat li, ia benar2 sudah lolos dari hutan belantara tersebut.
Setelah melewati sebuah hutan kecil, di hadapan matanya terbentanglah sebuah bukit yang tak begitu tinggi.
Dari puncak itu dia memandang ke bawah, tampaklah di suatu bagian adalah sebuah kota kecil, arah lain merupakan sungai dengan sebuah benteng kuno yang berdiri dengan angkernya ditengah sungai, itulah Benteng Maut tempat angker bagi seluruh umat Bu lim.
Han Siong Kie merasakan darah panas dalam dadanya bergelora keras, api dendam berkobar dengan hebatnya membuat sorot mata yang memancar ke luar nampak begitu mengerikan dan menakutkan.
Membalas dendam ingatan ini berkelebat dalam benaknya, sambil menggertak gigi ia mengirim satu pukulan udara kosong ke depan.
Tiba2 ia temukan bahwa pakaian yang di kenakan olehnya sudah kumal dan hancur tak karuan, perutpun terasa lapar. dalam hati segera pikirnya:
"Lebih baik aku membeli pakaian dulu di kota sebelah depan sana, setelah perut terasa kenyang barulah pergi ke Benteng Maut untuk mencari setori ...." Berpikir demikian ia lantas turun gunung dan langsung menuju kearah kota terdekat.
sekonyong2... terdengar desiran angin tajam berkumandang memecahkan kesunyian, disusul munculnya beberapa sosok bayangan manusia di tempat itu.
Tujuan Han Siong Kie pada saat ini adalah pergi ke kota untuk ganti pakaian dan menangsel perut kemudian pergi ke Benteng Maut untuk mencari balas, terhadap orang2 tadi ia malas untuk memperdulikannya, melihat datangnya beberapa sosok bayangan manusia, badannya segera menyingkir kesamping untuk memberi jalan. "Berhenti"
Suara bentakan keras bergetar memekikkan telinga, tujuh sosok bayangan manusia dengan cepatnya meluncur datang dan menghadang jalan perginya. Pemuda she Han ini terpaksa berhenti dan angkat kepalanya memperhatikan orang2 itu.
Tampaklah diantara mereka bertujuh ada tiga orang adalah kakek tua dan empat orang lainnya merupakan pria kekar, wajah mereka menunjukkan rasa takut dan jeri yang tak terkirakan.
Begitu masing2 pihak saling berjumpa, ketujuh orang itusama2 berseru tertahan, rupanya mereka dibikin terperanjat oleh keadaan Han Siong Kie yang mengenaskan itu. Terdengarlah salah seorang kakak tua itu dengan alis berkerut sebera menegur:
"Engkoh cilik, apakah kau terluka?"
Dengan sikap hambar Han Siong Kie gelengkan kepalanya, mulut tetap membungkam dalam seribu bahasa.
"Engkoh cilik kau hendak pergi ke mana?" kembali kakek tua itu bertanya. "Aku mau pergi ke kota"
"Aduh... jalan ini tak bisa dilewati, lebih baik kaupilih jalan yang lain saja."
"Kenapa?? apa salahnya aku lewat sini."
Dengan wajah menunjukkan kengerian serta keseraman yang tebal, kakak tua itu menyahut:
"Janganlah bertanya mengapa, dengarkanlah perkataan dari aku orang tua pasti tak akan salah lagi, cepatlah putar badan dan tinggalkan tempat ini."
"Hmm terima kasih petunjukmu "sahut Han Siong Kie ketus, begitu selesai berbicara ia segera melayang sejauh tiga tombak dari tempat semula.
Melihat sikap si anak muda itu, si kakek tua yang lain diantara ketujuh orang itu sebera berseru:
"Kalau memang keparat cilik itu pingin menghantar kematiannya sendiri, perduli amat kita mesti mengurusi dia, ayo berangkat. janganlah memancing api membakar tubuh sendiri"
Sebetulnya dari pembicaraan beberapa orang itu Han Siong Kie sendiripun dapat menangkap akan suatu keadaan yang tidak beres, tetapi sebagai seorang pemuda yang berjiwa panas terutama baru saja memiliki kepandaian silat yang maha sakti, disamping itu dalam benaknya kecuali memikirkan bagaimana caranya membalas dendam terhadap Benteng Maut tidak memperhatikan persoalan lain, maka walaupun sudah diperingatkan tetapi ia tetap nekad meneruskan perjalanannya.
Beberapa saat kemudian sampailah pemuda itu di dalam sebuah hutan To yang luas dan rimbun, daun dan ranting tumbuh dengan suburnya, sebuah jalan kecil terbentang menembusi hutan tersebut.
Belum jauh ia berjalan memasuki hutan tadi, terciumlah bau amis darah yang amat menusuk penciuman berhembus lewat dari sisi kiri kanannya.
Han Siong Kie terperanjat dan segera memperhatikan gerakan tubuhnya, begitu ia berpaling bulu kuduknya segera pada bangun berdiri, ia bersin beberapa kali dan berdiri terbelalak.
Terlihatlah di tepi jalan berserakan beberapa puluh sosok mayat yang menggeletak di atas genangan darah segar, keadaan mayat2 itu mengerikan sekali, batok kepala mereka hancur berantukan dan otak berserakan di empat penjuru, bau busuk yang memuakkan tersiar di empat penjuru membuat perut orang jadi mual.
Ia berdiri menjublek. siapakah yang telah melakukan pembunuhan kejam diluar perikemanusiaan ini???
Tiga orang kakek serta empat orang pria kekar tadi melarang dirinya maju lebih ke depan bahkan mengajak ia ber sama2 melari-kan diri dari situ, apakah hal itu disebabkan karena peristiwa pembunuhan sadis ini? lama sekali ia berpikir tapi tak sesuatu apapun yang berhasil dipecahkan olehnya.
setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya, si anak muda itupun meneruskan kembali perjalanannya menerobos Hutan, sepanjang jalan kembali ia temukan mayat manusia yang menggeletak di tepi jalan, keadaan dari mayat2 tidak jauh berbeda dengan apa yang dilihatnya di tepi hutan tadi, batok kepalanya hancur remuk serta otak yang berceceran di atas lantai.
Makin melibat Han Siong Kie merasa semakin terperanjat, pembunuhan brutal Benar-benar merupakan suatu peristiwa berdarah yang mengerikan hati.
Pada saat itulah... sesosok bayangan manusia berkelebat lewat di dalam hutan itu, langkahnya ter-buru2 dan sempoyongan.
sekilas memandang Han Siong Kie merasakan hatinya tergetar keras, bukankah orang itu adalah sipengemis dari selatan salah satu diantara dua tokoh lihay dunia persilatan?? kalau dilihat dari keadaannya diapun menderita luka parah.
Jangan2 diapun terluka ditangan pembunuh yang membinasakan korbannya dengan menghajar remuk batok orang?? atau mungkin...
Diam2 sianak muda ini bergidik juga hatinya, ia tahu si pengemis dari selatan serta si Padri dari Utara adalah tokoh2 sakti di dalam dunia persilatan, tetapi mereka dapat jatuh kecundang ditangan orang, hal ini bisa membuktikan betapa dahsyatnya serta sempurna nya tenaga lwekang yang dimiliki orang itu.
Berpikir demikian, buru2 ia maju menyongsong kedatangan si pengemis itu sambil menjura.
"Locianpwe harap tunggu sejenak".
si Pengemis dari selatan menghentikan gerakan tubuhnya dan memperhatikan sekejap seluruh tubuh si anak muda itu, kemudian dengan wajah terkejut bercampur sangsi serunya: "Kau...kau. . . "
"Cayhe she Han bernama Siong Kie"
"Apakah kau telah bergebrak melawan perempuan iblis itu???"
"Perempuan iblis?? siapa???" tanya Han Siong Kie setelah tertegun beberapa saat lama nya, ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan si pengemis tua itu.
"Im sat si Malaikat berhawa lm kang, Mo sioe Ing"
"siapakah orang itu?? cayhe sama sekali tidak mengenal atau bertemu dengan dirinya"
"Apakah engkau benar2 tidak kenal dengan iblis perempuan itu?? kalau begitu aku si pengemis tua sudah salah melihat... Tapi kenapa keadaanmu begini mengenaskan???"
Han Siong Kie tundukkan kepalanya dan memperhatikan sekejap pakaian yang dikenakan, sebenarnya dia ingin menceritakan pengalaman selama berada di dalam hutan belantara
tapi ingatan lain dengan cepat berkelebat dalam benaknya "Haah, lebih baik aku merahasiakan pengalaman aneh itu saja"
"oh kemarin malam cayhe telah bertemu dengan kawanan serigala liar habis sudah pakaianku di koyak2 oleh makhluk sialan itu"
"Hey bocah keparat berada didepan Budha lebih baik tak usah pura2 pasang hio" tukas si pengemis dari selatan dengan mata melotot "Meskipun kawan serigala itu ganas aku rasa mereka takkan bisa mengapa-apakan, aku si pengemis tua yakin bahwa sepasang mataku belum buta dengan kesengsaraan serta ketajaman pandangan matamu, aku percaya bahwa tenaga lwekangmu sudah mencapai pada taraf yang tak tercapai oleh kawanan Bu lim biasa". Merah jengah selembar wajah Han Siong Kie.
"Sungguh tajam penglihatan si pengemis tua ini" pikirnya di dalam hati, sementara di luaran ia menyahut dengan nada ketus:
"Percaya atau tidak terserah pada diri locianpwe sendiri, yang pokok aku memang mengalami kejadian tersebut".
"Baik, omong kosong tiada gunanya" seru si pengemis dari selatan sambil mengetukkan tongkat bambunya ke atas tanah. "Kemungkinan besar si iblis perempuan itu akan balik lagi setelah berlalu dari sini, cepat2lah kau meninggalkan tempat ini".
"Huuh Si iblis Im Sat Mo Sioe Ing paling banter hanya seorang perempuan, sampai di mana sih keganasan serta kepandaiannya? aku pingin tahu..."
"Hey Bocah cilik, kau betul2 seorang manusia yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, apakah kau tidak menyaksikan tumpukan mayat yang bergelimpangan diluar hutan sana???"
"Sudah lihat, kenapa??"
"Kalau kau tidak ingin batok kepalamu ikut hancur berantakan terhajar oleh pukulan mautnya, lebih baik cepat2lah tinggalkan tempat ini". Han siong Kie segera tertawa hambar:
"Hmm cayhe ingin sekali menjajal kepandaian yang dimiliki si iblis Im Sat Mo sioe Ing, aku pingin tahu malaikat iblis itu terdiri dari manusia yang bagaimana macam raganya".
Seluruh rambut dan jenggot si pengemis dari selatan bergetar keras dan menegang bagaikan kawat, sambil tertawa keras serunya
"Haaahhh...haaahhh.. haah... bocah cilik kau memang sangat bernyali dan cocok sekali dengan selera aku si pengemis tua, tetapi aku perlu memberitahukan kepada-mu.. jangan di bilang kau, sekalipun aku si pengemis tua juga bukan tandingannya"
"Apakah locianpwe terluka ditangannya??".
"Ehmm aku si pengemis tua memang tidak becus, untuk kesekian kalinya telah jatuh kecundang ditangan orang."
Hati Han siong Kie jadi bergerak, ia tahu yang dimaksudkan si pengemis selatan sebagai ke sekian kalinya. pastilah dimaksudkan tiga bulan berselang ia telah jatuh kecundang ditangan pemilik Benteng Maut dan sekarang jatuh kecundang kembali ditangan Im Sat si malaikat hawa Im.
Kendati begitu ia tidak mengatakannya ke luar, sambil alihkan pokok pembicaraan tanyanya:
" Kenapa sih si malaikat hawa im Mo sioe Ing suka membunuh orang?"
"Haah.....haah... haah... bocah cilik, pertanyaanmu ini memang paling tepat kalau diajukan kepadaku, sebab pertanyaan tersebut kecuali aku si pengemis tua mungkin jarang sekali ada orang yang dapat memberikan jawaban yang tepat bagimu."
Timbul rasa ingin tahu dalam hati si anak muda itu, semangatnya berkobar kembali dan serunya:
"Benarkah locianpwe adalah satu2nya orang yang mengetahui kejadian sebenarnya."
"Maksudku bukan begitu, cuma saja aku sipengemis tua adalah salah satu diantara sekian banyak korban yang berhasil meloloskan diri dari tangan keji si malaikat Im sat Mo siau Ing karena aku dapat menerangkan sedikit gejala yang berhasil kuketahui. "
"silahkan cianpwee memberi keterangan "
"Baik, aku memang merasa berjodoh setelah bertemu dengan dirimu, di situ ada hutan mari kita kesana saja, aku sipengemis tua agak haus dan ingin minum dulu."
Berangkatlah kedua orang itu menuju hutan, setelah ambil tempat duduk si pengemis dari selatan segera melepaskan cupu2 araknya dan meneguk isinya dengan lahap kemudian ia berkata.
"Arak ini adalah Tan Cau arak paling bagus di daerah sini hei bocah ayo minumlah setegukan".
Sambil berkata ia segera angsurkan cupu2 arak itu ke depan Han siong Kie menerima dan ikut meneguk satu tegukan.
"Hmm tidak salah memang arak bagus" serunya kemudian sambil mengangguk tiada hentinya.
Pengemis dari selatan menyambut kembali cupu2nya dan meneguk hingga isinya ludes, setelah itu sambil menyeka mulut katanya:
"Bocah cilik, sekarang dengarkanlah baik-baik dua puluh tahun berselang di dalam dunia persilatan telah muncul sepasang muda mudi yang masih muda belia, yang lelaki punya wajah tampan sedang yang perempuan berwajah cantik jelita tetapi ilmu silat yang mereka miliki sangat lihay sekali, hati mereka kejam dan tindak tanduknya telengas, pria itu oleh orang kangouw disebut Yan Sat si malaikat hawa Yang, Ko soe Kie, sedang yang wanita...".
"Yang perempuan pastilah Im sat Mo sioe Ing, bukan begitu?? "
"Sedikitpun tidak salah, kau jangan menimbrung terus, dengarkanlah kisahku ini, kedua orang tersebut adalah sepasang suami istri yang saling cinta mencintai, disamping itu kedua orang muda mudi itupun mempelajari semacam ilmu silat yang keji dan luar biasa ngerinya disebut "Hian lm Koei Jiauw". Cakar setan pukulan dingin, tidak sampai satu tahun mereka muncul di dalam dunia persilatan sudah ada ratusan orang jago lihay yang menemui ajalnya di ujung cakar setan "Hian Im Koei Jiau " tersebut, kejadian ini segera menggemparkan seluruh dunia persilatan, semua jago baik dari kalangan Hek-to maupun Pek to sama2 keder terhadap mereka sedang badai darah masih saja melanda di mana2 ..... "
"Masa di dalam dunia persilatan yang begitu luasnya tak ada seorang manusia pun yang sanggup menandingi Im Yang siang Sat sepasang malaikat Im dan Yang...? "
"Boleh dibilang begitu".
"Bagaimana kalau dibandingkan Tengkorak maut??".
"Kau maksudkan si pemilik benteng maut??" tanya pengemis selatan setelah tertegun sejenak.
Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan:
"Bagaimanakah raut wajah yang sebenarnya diri si Tengkorak Maut hingga kini masih merupakan suatu teka-teki yang sulit untuk dijawab, tetapi kalau menurut penilaian dari aku si pengemis tua jelas tenaga dalam yang dimiliki tengkorak maut dari Benteng Maut jauh lebih dahsyat dari Im Yang siang sat, tetapi berhubung mereka belum pernah saling bergebrak maka pertanyaan itu sulit untuk dijawab. sekarang dengarkanlah dulu kisah lebih lanjut.:."
"Hmm, bukankah kau serta si padri dari utara telah dilempar ke luar dari benteng sebanyak dua kali oleh pemilik Benteng Maut ??" pikir Han siong Kie di dalam hati." Bahkan terakhir kalinya kalian ke luar dalam keadaan mengenaskan sekali, kalau dikata-kan raut wajah pemilik Benteng Maut belum pernah diketahui, ucapan ini bukankah suatu pembohongan secara besar2an??? mungkin di balik kesemuanya ini masih terkandung latar belakang lain."
Belum habis ia berpikir, terdengar si pengemis dari selatan telah mendehem dan memutuskan kembali kata2nya:
"Tindak tanduk dari Im Yang siang Sat segera memancing kegusaran umat Bu lim, sebanyak tiga kali para jago dari kalangan Hek to serta Pek to berkerja sama untuk menumpas mereka berdua, soal hasil bukan saja usaha itu gagal total bahkan lebih banyak
orang yang jadi korban. "
"Locianpwejuga termasuk salah satu diantara pengeroyok..."
"Tidak, berhubung ada urusan lain aku si pengemis tua tidak hadir di dalam peristiwa itu"
"Waah, kalau begitu bukankan umat Bu lim terpaksa membiarkan Im Yang siang Sat meraja lela di dalam dunia persilatan??"
Beberapa tahun pengalaman memang demikian, tetapi pada sepuluh tahun berselang mendadak Yang Sat si malaikat hawa Yang, Ko see Kie lenyap tak berbekas, menurut kabar berita yang tersiar katanya ia telah dibasmi oleh seorang Bu lim cianpwee yang misterius, Im Sat yang gagal menemukan musuh besarnya segera melampiaskan kegusarannya di atas tubuh orang2 Bu lim, setiap tahun ia muncul dirinya satu kali dan setiap kemunculannya pasti membunuh seratus orang banyaknya."
"Aduh mak "teriak Han siong Kie sambil menjulurkan bibirnya. " Kalau begitu selama sepuluh tahun bukankah ia telah membinasakan seribu orang??" si pengemis dari selatan menghela napas panjang.
"Itu sih tidak. sebab kemunculan si iblis perempuan itu membunuh orang baru berlangsung sejak tiga tahun berselang " katanya.
"Kalau begitu kejadian ini benar2 membingungkan orang".
"kenapa??? "
"Kalau dikatakan Yang sat si malaikat hawa Yang, Ke see Khie adalah mati karena di basmi seorang tokoh sakti persilatan, mengapa tokoh sakti tadi tidak sekalian membasmi Im sat si malaikat hawa Im dari muka bumi?? sehingga mengakibatkan si malaikat hawa Im yang sakit hati melampias-kan amarahnya kepada umat Bu lim""
"Aai. ..bocah cilik, perkataanmu memang betul, yang jelas peristiwa itu hingga kini masih tetap merupakan suatu teka teki".
"Apakah orang2 yang ada di dalam Bu lim adalah manusia2 kurcaci yang hanya mementingkan diri sendiri??? " seru Han siong Kie dengan hati mendongkol.
"Ucapanmu tepat sekali " pengemis dari selatan mengangguk. " Kalau tidak si malaikat hawa Im sat Mo sioe Ing tidak akan selatan dan sejumawa ini".
"Hmm kalau ada kesempatan aku hendak menemui iblis perempuan itu".
"Bocah, semangat serta keb era nianmu patut dipuji, kau anak murid dari perguruan mana??"
“Leng Koe sangjien!"
“Apa??? coba kau ulangi satu kali lagi!”
"Letg Koe Sangjien!",
"Haaaaah,..haaaah...haaaah bocah cilik kau jangan mengibul terlalu gede, hat-hati2 kalau mulutmu ditampar orang. Tahun ini kau baru berusia berapa??? Leng Koe Sangjien adalah seorang tokoh sakti yang sudah tersohor namanya sejak seratus tahun berselang..."
"Aku adalah anak muridnya yang mendapat ilmu silat dari peninggalannya si orang tua itu !"
"Ooooh jadi kau telah mendapat kitab ilmu silat peninggalannya?" "Sedikitpun tidak salah!”'
"Tidak aneh kalau omonganmu begitu gede dan jumawanya luar biasa kiranya kau sudah mendapatkan warisan ilmu silat dari tokoh sakti itu kalau memang demikian adanya kau boleh saja untuk coba bergebrak melawan si malaikat berhawa Im”
Satu ingatan berkelebat dalam benak Han Siong Kie segera serunya:
"Locianpwee..."
"Tunggu sebentar! "tukas si pengemis selatan sambil goyangkan tangannya mencegah sianak muda itu berbicara lebih lanjut. “Kalau memang kau adalah ahli waris dari Leng Koe Sangjien, maka kalau dibicarakan dari soal tingkatan maka aku si pengemis tua masih kalah satu tingkat darimu, demikian saja kau boleh panggil aku sebagai engkoh tua sedang aku panggil kau sebagai adik kecil setuju?”
“Soal ini ... eeei mana boleh jadi "seru Han Siong Kie dengan gugup, "Locian pwee".
"Siau loote, kau tak usah pura-pura banyak jual lagak lagi aku si pengemis tua paling benci dengan perbuatan semacam itu!”
Mimpipun Han Siong Kie tak pernah menyangka kalau seorang tokoh silat Bu lim yang mempunyai kedudukan sangat tinggi di dalam Bu lim memaksa dirinya untuk menyebut dalam satu tingkatan yang sama dengan dirinya. bila kejadian ini berlangsung pada tiga bulan berselang...pada saat itu macam apakah keadaan dirinya?? tanpa terasa merah jengah selembar wajahnya.
"Yaaah... yaaah... sudahlah daripada aku tampik lebih baik aku menurut saja, siaute akan merasa bangga dengan peristiwa ini. "
"Tak usah banyak ngomong yang tak sedap didengar, kau ada urusan apa hendak di katakan??, sekarang katakanlah"
sekilas rasa sedih gusar dan penuh rasa dendam terlintas diatas wajah Han siong Kie yang tampan dengan sorot mata memancar-kan kebencian serunya dengan suara berat: "Engkoh tua, apakah engkau pernah memasuki Benteng Maut???"
"Kau maksudkan Benteng maut? ulang sipengemis dari selatan dengan hati tergetar keras.
"Sedikitpun tidak salah"
"Aku pikir dikolong langit dewasa ini mungkin tak seorangpun yang bisa keluar dari istana maut dengan selamat setelah memasuki tempat itu"
"Tetapi pada tiga bulan berselang bukankah engkoh tua serta padri dari utara memasuki tembok dinding benteng maut??" Mendapat pertanyaan itu sipengemis dari selatan tertawa getir. "Tidak salah aku memang mengalami kejadian seperti itu"
"Bukankah waktu itu engkoh tua seperti padri dari utara berhasil keluar dari benteng dalam keadaan hidup???"
"sedikitpun tidak salah, kami memang berhasil keluar dari benteng dalam keadaan hidup, tetapi keberhasilan kami itu bukanlah disebabkan karena kami andalkan ilmu silat yang kami mliki ...."
"Lalu mengandalkan apa??? "
"Saudara cilik, rahasia ini hanya kuberitahukan kepada dirimu seorang, harap jangan kau ceritakan kepada orang lain, kami bisa lolos keluar dari benteng itu dalam keadaan selamat adalah lantaran sipemilik benteng maut telah melepaskan kami keluar"
Tercekat hati Han Siong Kie sehabis mendengarkan perkataan itu, dengan kepandaian silat yang dimiliki sipengemis dari selatan serta padri dari utara pun ternyata mereka masih membutuhkan belas kasihan orang untuk dilepaskan, bisa dibayangkan sampai di
manakah kedahsyatan serta kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki pendiri Benteng maut.
Tetapi ingatan tersebut hanya sekilas saja berkelebat didalam benaknya, rasa benci dan dendam telah mengalahkan se-gala2 nya, menghilangkan rasa takut yang mencekam hatinya.
segera ia bertanya lebih jauh:
"Engkoh tua, tolong tanya tengkorak maut dari benteng maut itu sebenarnya macam apa sih bentuk wajahnya??.
"Mau apa kau tanyakan persoalan ini ?" seru pengemis dari selatan dengan hati tercekat.
Dalam benak Han Siong Kie segera terlintas kembali pemandangan dikala susioknya sitelapak naga beracun Thio Lien membawa dirinya masuk kedalam perkampungan keluarga Han ditengah malam yang basah oleh hujan deras, pemandangan yang mengerikan kembali terlintas didalam benaknya, dua ratus jiwa anggota keluarga Han telah berubah jadi tulang tengkorak manusia yang berserakan di mana2, hingga kini jenasah mereka belum dikuburkan .
Meskipun susioknya melarang dia untuk mengubur jenasah-jenasah tersebut dan melarang dirinya untuk membalas dendam, tetapi hidup sebagai putra manusia, dapat-kah ia menelan rasa dendam dan sakit hati atas terbunuhnya segenap anggota keluarga Han???
Dengan mata berapi2 dari mimik wajah menunjukkan penuh kebencian dan rasa dendam teriaknya:
"Antara aku dengan si Tengkorak maut terikat dendam sakit hati sedalam lautan, bagaimanapun juga aku harus membalas dendam atas sakit hati ini"
"Apa? Kau ada dendam dengan pemilik dari Benteng Maut??"
-0000000-
"SEDIKITPUN tidak salah, aku bersumpah, aku hendak menghancur lumatkan tubuh-nya, menginjak rata Benteng Mautnya dan menghirup darah segarnya... kalau tidak dihatiku tidak puas, rasa dendamku tak akan padam"
"Jadi kau ada maksud untuk menuntut balas terhadap si Tengkorak Maut???" tanya Si pengemis dari selatan dengan mata terbelalak. "Benar sahut Han Siong Kie dengan tegas. Tentang soal ini aku kira..".
"Kenapa?? apa salahnya aku menuntut balas??".
"Saudara cilik, maafkanlah aku sipengemis tua hendak mengucapkan kata2 yang kurang sedap didengar, aku rasa niatmu itu mungkin sulit untuk dilaksanakan". Han Siong Kie angkat kepalanya memandang ke angkasa dan berpekik sedih, serunya:
"Aku tidak akan memperdulikan semua masalah yang tak berguna, begitu hanyalah ada satu prinsip yaitu kalau bukan aku Han Siong Kie yang menemui ajal, tengkorak mautlah yang akan menemui ajalnya di tanganku. ."
"Hebat, punya semangat.. tapi kau harus ingat adikku kecil, korban yang berjatuhan ditangan Tengkorak Maut banyaknya melebihi bulu kerbau, rasanya aku sipengemis pun tak usah menerangkan kenyataan2 yang telah terjadi bukan..."
"Engkoh tua, sebenarnya si tengkorak maut adalah seorang mahluk aneh macam apa? "
"Tentang soal ini... mm maaf kalau aku tak dapat terangkan untukmu "
"Kenapa?? "
"Bagi orang Bu-lim janji adalah berat bagaikan gunung Thay-san, aku serta sipadri dari utara boleh dibilang merupakan satu2-nya orang yang berhasil lolos dari Benteng Maut dalam keadaan hidup selama puluhan tahun terakhir ini dan merupakan satu2aya orang yang berhasil menjumpai wajah yang sebenarnya dari Tengkorak Maut, tetapi disaat kami hendak dilepaskan keluar telah berjanji pula kepada pemilik Benteng Maut bahwa kami selamanya tak akan menceritakan apa yang kami lihat ini kepada orang lain !"
"Kalau memang begitu, engkoh tua ! selamat tinggal " seru Han Siong Kie dengan hati sedih bercampur gusar habis berkata ia segera bangkit berdiri dan siap
berlalu.
“Tunggu sebjntar !" pengemis dari selatan segera berseru.
"Engkoh tua apa yang hendak kau katakan lagi ?"
"Kau harus memahami kesulitan hati dari aku si pengemis tua didalam dunia persilatan aku pengemis tua boleh dibilang mempunyai sedikit nama juga aku tak boleh mengingkari janjiku sendiri walau pun begitu si Tengkorak maut adalah musuh umum selama aku si pengemis tua masih mempunyai napas didalam dada aku pasti akan berusaha untuk memperjuangkan keadilan serta kebenaran bagi umat Bu Lim !”
“Kalau begitu noggaplah Siauwte telah salah bicara harap kau suka memaafkan!” “Sekarang kau hendak pergi kemana?”
“Setelah bertukar pakaian, aku langsung hendak pergi ke Benteng Maut untuk menagih hutang!”
“Saudara cilik, segala persoalan tak bisa dilaksanakan tanpa didasari oleh rencana yang matang, bagaimana kalau kau undurkan dahulu rencanamu itu dan menanti hingga para enghiong hoohan yang ada di kolong langit bersatu padu”
“Aku merasa amat berterima kasih bagi perhatian serta bantuan engkoh tua, tapi saying siauwte tidak ingin menggunakan tenaga orang lain untuk membalas dendam sakit hatiku ini!”
“Sayang pada saat ini aku sipengemis tua sedang menderita luka parah" Seru Pengemis dari selatan dengan terharu. “Kalau tidak aku pasti akan menemani dirimu pergi kesana!"
"Apa?? jadi engkoh tua menderita luka parah?” tanya Han Siong Kie dengan alis berkerut.
"Sedikitpun tidak salah, aku termakan oleh sebuah pukulan dari Im sat si malaikat berhawa Im Mo Sioe Ing, isi psrutku telah menderita luka dan aku harus beristirahat selama beberapa bulan untuk mengobati luka ku ini!"
"Jadi kalau begitu tenaga lwekang yang dimiliki malaikat hawa Im tidak sampai lebih tinggi berapa banyak jika dibandingkan dengan engkoh tua ??...".
"Bagaimana kau bisa berkata demikian?? "
"Bukankah engkoh tua pernah mengatakan bahwa dibawah telapak tangan simalaikat hawa Imtakpernah melepaskan korban nya dalam keadaan hidup??.".
"Kau leliru besar"
"Aku keliru? bagaimana kelirunya?? "
"Tenaga lweekang yang dimiliki si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing jauh tebih tinggi berapa kali lipat daripada diriku si pengemis tua tetapi ia mempunyai sebuah peraturan yang aneh, barang siapa yang sanggup menghadapi dirinya sebanyak tiga gebrakan, maka ia akan melepaskan orang itu dengan selamat, serangan yang keempat tidak nanti akan dilepaskan."
"Oooooh.. kiranya begitu" saking kagetnya Han Siong Kie menjerit tertahan, hatinya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, walau begitu tekadnya untuk bertempur melawan si malaikat berhawa Im pun semakin besar.
Dalam pada itu sipengemis dari selatan telah tundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, kemudian katanya dengan perasaan bergolak: "Saudara cilik, maukah kau menunggu aku selama satu bulan??. "
"Menunggu dirimu selama satu bulan??
"Nantikanlah setelah luka dalamku sembuh dan menyerahkan persoalan didalam perkumpulanku kepada orang lain, akan kuiringi kehendakmu untuk menyerbu ke dalam Benteng Maut.".
"Engkoh Tua, terima kasih banyak atas perhatian serta kesediaanmu, biarlah aku terima didalam hati saja. Nah, siauwte mohon diri terlebih dahulu..".
Habis berkata dia enjotkan badan menembusi hutan dan meneruskan perjalanannya lewat jalan raya, sepanjang perjalanan suasana sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun, mungkin hal itu disebabkan karena si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing sedang melakukan pembunuhan disekitar tempat itu..
Setibanya didalam kota, Han Siong Kie segera membeli seperangkat pakaian baru dan menukar pakaiannya yang kumal, dengan begitu tampangnya kelihatan semakin ganteng dan gagah, cuma diantara kerutan alisnya terlihat lapisan napsu membunuh yang tebal, membuat orang yang memandang jadi bergidik hatinya.
selesai berdandan ia sebera berangkat menuju kearah Benteng Maut.
Ilmu meringankan tubuh "Hoe Keng Keng-im" atau Cahaya Kilat lintasan bayangan memang suatu kepandaian yang sangat dahsyat, dalam waktu singkat sianak muda itu lelah tiba ditepi sungai.
Benteng Maut dengan angker dan misteriusnya berdiri kokoh ditegah batu karang yang dikelilingi sungai.
Pintu Benteng tertutup rapat, lambang tengkorak darah yang seram dan menggidik-kan hati bertengger di depan pintu benteng.
Memandang bangunan seram itu Han Siong Kie merasakan pandangan matanya berapi2, darah panas bergelora dalam dadanya, dendam berdarah atas kematian dua ratus jiwa keluarga Han dan Thio membuat ia lupa akan kelihayannya. .
Ia memperhatikan sejenak Benteng Maut yang dianggap orang sebagai istana kematian, ia kertak giginya kencang2 dan melayang kearah depan, melewati jembatan batu dan tiba didepan pintu benteng .
Tiga bulan berselang, ketika para jago dari kalangan Hek to serta Pek to menyerbu kedalam Benteng Maut, ia berserta adik angkatnya sipengemis cilik Tong hong Hwie telah menonton jalannya pertarungan itu dari atas bukit, waktu itu kendati didalam hati ada niat untuk membalas dendam tetapi tidak memiliki kemampuan untuk berbuat demikian. Dan sekarang tanpa disangka2 ia telah menemukan suatu peristiwa aneh yang mana telah merubah dirimya menjadi sese-orang yang lain. Dimana ia sanggup untuk datang mencari balas tanpa bantuan orang lain.
Pikirnya didalam hati:
"Kedatanganku kemari adalah untuk menuntut balas, kehadiranku terang2an dan ter buka, kenapa aku tidak berteriak dahulu melakukan penantangan??...
Berpikir demikian ia lantas mengepos tenaga dan berteriak dengan suara penuh kebencian:
"Tengkorak Maut orang yang datang untuk menuntut hutang darah telah datang."
Berturut2 ia telah berteriak sebanyak tiga kali, namun tiada suara sahutan dari dalam benteng.
Han Siong Kie mendengus dingin, sepasang telapaknya bergerak cepat dan segera melancarkan sebuah babatan dahsyat kearah pintu benteng tadi.
sejak memperoleh tenaga kekuatan dari Long Koe sangjlen, tenaga lweekang yang di miliki telah mencapai pada taraf seratus tahun hasil latihan, bisa dibayangkan sampai dimanakah hebatnya serangan yang diguna-kan dengan segenap tenaga itu
Disaat tenaga pukulannya yang dahsyat itu hampir mengenai didepan pintu Benteng Maut itu, mendadak pintu tadi terbuka kesamping diikuti segulung angin pukulan yang dingin menggulung keluar dari balik pintu Benteng.
Begitu hebat angin serangan tadi hingga serangannya yang dilancarkan dengan menggunakan segenap tenaga itu mendadak tersapu lenyap tak berkekas.
Han Siong Kie jadi amat terperanjat, tanpa sadar ia mundur beberapa langkah ke belakang. Ketika berpaling kembali terlihat-lah pintu Benteng yang gelap dan lembab itu telah terbentang lebar, begitu gelapnya suasana didalam benteng itu sehingga dengan kekuatan pandangan matanya tidak berhasil juga untuk melihat keadaan di dalamnya. "Aku harus menerjang kedalam" ingatan tersebut tiba2 muncul didalam benaknya.
Ditengah bentakan keras, Han Siong Kie sambil mendorong sepasang telapaknya kedepan melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak di tengah samudra, sekali lagi ia menghantam pintu benteng tersebut, disusul badannya laksana kilat berkelebat masuk kedalam benteng.
“Blaaam..” ditengah suara ledakan keras. segulung desiran angin tajam yang sangat kuat meluncur keluar dari dalam benteng, begitu tajam angin serangan tersebut ketika menyentuh dibadan terasa dingin dan merasuk ketulang sum sum.
Tanpa melihat siapakah pihak lawannya tubuh Han Siong Kie segera terpental mundur kebelakang sejauh lima tombak lebih, ketika kakinya menginjak permukaan bumi dengan sempoyongan badannya tergetar mundur kembali beberapa sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak, tawa dingin segera menyerang kedalam badan membuat tubuhnya bergidik dan bersin beberapa kali.
"Eeei???" seruan kaget secara lamat2 berkumandang keluar dari dalam benteng.
Mungkin sanggulnya Han Siong Kie menyambut datangnya serangan angin cukulan berhawa dingin itu tanpa terluka telah mengejutkan hati orang yang berada didalam benteng itu.
Menuntut balas atas sakit hatinya terhadap Benteng Maut adalah pikiran pertama yang menyelimuti benak sianak muda itu.
sambil memandang pintu benteng yang seram, mengerikan serta penuh diliputi kemisteriusan itu, Han Siong Kie berdiri termangu2.
Tenaga lwekang yang dimiliki Benteng Maut benar2 sukar dilukiskan dengan kata2.
Didalam Benteng Maut, kecuali sipemilik Benteng itu si Tengkorak maut, apakah masih ada orang lain?? suatu tanda tanya besar.
Tengkorak darah adalah lambang dari pemilik benteng maut, sedangkan sipemilik benteng sendiri masih merupakan suatu teka teki pula bagi umat Bu lim karena belum pernah ada orang yang pernah menjumpai raut wajahnya yang sebenarnya. Kalau dikatakan ada, maka orang2 itu telah dibunuhnya dan mati semua...
satu2nya orang yang berhasil lolos dari benteng Maut dalam keadaan hidup hanyalah si pengemis dari selatan serta si padri dari utara, mungkin mereka pernah menyaksikan wajah yang sebenarnya dari Tengkorak Maut. tetapi mereka sudah terikat oleh sumpah dan janji, jelas tak mungkin rahasia itu akan bocor dari mulut mereka berdua.
Dalam pada itu tekad untuk membalas dendam dari Han Siong Kie sama sekali tidak berkurang karena menyaksikan kelihayan lawannya, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya per lahan2 ia maju kembali masuk kedalam benteng..
Gelak tertawa yang amat keras dan sangat memekikkan telinga berkumandang keluar dari balik benteng...
Han Siong Kie tergetar keras hatinya, dengan tanpa disadari olehnya langkah yang sedang maju kedepan telah berhenti di tengah jalan.
suara tertawa itu makin lama semakin keras dan semakin tajam, bagaikan ber-puluh2 bilah pisau belati ber sama2 dihujamkan ke dalam lubang telinganya.
Han Siong Kie merasakan darah panas di dalam rongga dadanya bergolak kencang, ia kaget dan sebera mengerti akan mara bahaya yang sedang mengancam, hawa murninya dengan cepat disalurkan dari pusar menuju keseluruh penjuru badan. Bentaknya dengan suara yang keras laksana geledek:
"Tengkorak maut ayoh menggelinding ke luar dan serahkan nyawamu"
Suara tertawa itu mendadak berhenti, suasana seketika diliputi keheningan serta kesunyian, sama seperti tidak nampak sesuatu gerakan apapun.
Han Siong Kie dibawah pengaruh kobaran api dendam dan rasa benci yang meluap tak sanggup untuk bersabar lebih jauh, sekali lagi ia membentak keras: "Tengkorak maut siauw ya datang kemari untuk menginjak rata benteng setanmu ini. "
suara tertawa dingin yang sinis dan penuh perasaan memandang rendah bergema keluar dari dalam benteng diikuti serentetan suara yang dingin menyeramkan berkumandang keluar:
"Bangsat cilik, kau adalah orang pertama yang berani menantang Benteng maut untuk menuntut balas, memandang diatas keberanianmu yang terpuji ini aku suka mengampuni selembar jiwa kecilmu. Nah ayo cepat enyah dari sini" suara peringatan itu se akan2 muncul dari daerah sekeliling sana namun tak sesosok bayangan manusiapun yang kelihatan muncul di tempat itu.
Dengan gusar Han Siong Kie mendengus ketus:
"Hmmm? Tengkorak maut mengapa kau tidak berani unjukkan dirimu ??"
"Heeeh... heeeeah dikolong langit belum ada orang yang berhak untuk memaksa lohu unjukkan diri"
"Tengkorak maut, hutang darah harus bayar darah, hari kiamatmu telah tiba. "
"Tutup mulutmu Hardik suara tadi dengan ketus. Bocah cilik yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, sepanjang hidupku loohu sudah banyak membunuh orang tetapi semua orang yang kubunuh adalah manusia2 yang patut dibasmi dari muka bumi. "
"Kentut busuk makmu keluarga Han...."
"Bicara tidak sopan Hmmm itulah artinya mencari kematian buat diri sendiri, hey bocah tak tahu diri jangan salahkan kalau loohu akan bertindak keji"
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu bergelegar disisi telinga, segulung angin pukulan berhawa dingin segera menggulung keluar dari balik pintu benteng.
Han Siong Kie pernah merasakan kelihayan dari angin pukulan berhawa dingin, wajahnya segera berubah hebat sambil menghimpun segenap tenaga yang dimiliki-nya ia balas melancarkan sebuah babatan ke arah depan ....
Blaaaaam... angin pukulan saling membentur satu sama lainnya, terasalah hawa pukulan yang dilancarkan pihak lawan begitu hebat dan mantap. bahkan mengandung hawa dingin yang menusuk tulang membuat orang susah bernapas dan dada terasa jadi sesak.
Ditengah ledakkan dahsyat, Han Siong Kie merasakan badannya bagaikan tersambar guntur darah panas bergolak dalam dadanya membuat kepalanya pusing tujuh keliling dan pandangan matanya ber-kunang2 dengan sempoyongan badannya mundur delapan depa ke belakang kemudian setelah berhasil berdiri tegak dari mulutnya muntah keluar darah segar.
"Keparat cilik" suara si Tengkorak maut yang dingin dan menyeramkan itu kembali berkumandang keluar "Tidak aneh kalau kau begitu jumawa dan tekebur, kiranya kau masih punya sedikit simpanan juga. Hmm.. kau adalah satu2nya orang yang sanggup menerima datangnya angin pukulan "Han Pok Ciang" dari loohu tanpa menemui ajalnya tetapi... walaupun begitu masih terpaut jauh kalau kau ingin mengandalkan kepandaian-mu itu untuk membalas dendam, sekarang aku akan memberikan kesempatan yang paling akhir bagimu untuk mengundurkan diri dari sini, cepat enyah"
Air muka Han Siong Kie berubah jadi merah padam bagaikan darah, dengan pandangan nanar dan wajah menyeringai seram ia mendengus dingin, teriaknya:
"Tengkorak Maut, beranikah kau unjukan diri untuk bertempur mati-matian melawan siau-ya??"
"Kau belum pantas untuk berbuat demikian:"
Api dendam dan rasa benci membakar dada Han Siong Kie, ia telah melupakan akan keselamatannya. Dengan suara serak teriak.
"Tengkorak maut, pada suatu hari aku akan datang untuk menginjak rata Benteng maut-mu ini, akan kuhancur leburkan tempat mu ini agar kau tiada tempat untuk bermukim.. "
"Heeeh... heeeh... heeeh... apakah kau mempunyai kesempatan untuk berbuat begitu??".
"Asal aku tidak mati, aku bisa datang kemari untuk berbuat demikian..".
"Tetapi sayang seribu kali sayang, saat kematianmu telah tiba. loohu sudah dua kali mengampuni jiwamu tetapi kau masih saja tak tahu diri dan kini..".
"Sekarang bagaimana??"
"Mengingat kau adalah seorang angkatan muda yang berdarah panas, kuhadiahkan sebuah bangkai yang utuh".
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, sebuah angin pukulan yang maha hebat laksana gulungan ombak ditengah samudra meluncur datang kembali.. begitu dahsyat serangan yang dilancarkan itu hingga siapa pun yang melihat hatinya pasti akan ikut merasa bergidik.
Dalam keadaan sehat belum tentu Han Siong Kie dapat menyambut datangnya serangan yang sangat hebat itu, apalagi didalam keadaan terluka parah...di tengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati, tubuhnya terpental ketengah udara dan meluncur ke arah tengah sungai.
“Pluung..” ombak menggulung dan bunga air bermuncratan ke empat penjuru, dalam sekejap mata bayangan tubuh si anak muda itu sudah tertelan ditengah ombak dan lenyap tak berbekas.
Pintu depan Benteng Maut yang hitam pekat dan berat per lahan2 menutup kembali.
suasana di sekeliling tempat itu pulih kembali dalam kesunyian dan keheningan, seakan2 tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun ditempat itu...
Dalam pada itu Han Siong Kie yang terlempar kedalam sungai segera jatuh tak sadarkan diri.
Menanti ia sadar kembali dari pingsannya dan membuka sepasang matanya, terasalah bau harum semerbak berhembus lewat di sekitar tempat itu, rupanya ia sedang berbaring diatas sebuah pembaringan yang jangat indah dengan kelambu yang tipis dan sprei bersulamkan bunga.
Ditinjau dari keadaan disekeliling sana, jelas kamar itu adalah tempat tidur dari seorang wanita. Ingatan pertama yang muncul didalam benaknya adalah:
"Aku telah tertolong, jiwaku masih tetap hidup didalam tubuhku dan aku tidak sampai terkubur diperut ikan... harapanku untuk membalas dendam masih ada. Tanpa sadar ia bergumam seorang diri. "Aku belum mati, aku belum mati..."
"Benar siangkong, kau belum mati " serentetan suara yang merdu menyambung dari sisi tubuhnya, Han Siong Kie terperanjat dan segera alihkan sinar matanya kes isi pembaringan, tampaklah di depan toilet duduk seorang gadis muda, rupanya ucapan tadi adalah berasal dari mulutnya.
Dalam benaknya segera timbul ingatan kedua.
"Aku telah tertolong oleh seorang gadis, oooh perempuan... perempuan..."
Hatinya terasa amat sedih sekali, sebab dalam benaknya ia merasa amat benci dan muak terhadap kaum wanita karena ibunya si siang Goo cantik ong coei Ing tanpa memikirkan dendam kesumat keluarganya yang sedalam lautan telah kawin lagi dengan Thian chee kauwcu, oleh sebab itu ia amat membenci seluruh perempuan yang ada di kolong langit.
Si anak muda itu sebera mendengus dan bangun dari tidurnya. terasa seluruh tulang dan persendian tubuhnya amat sakit bagaikan patah, hawa dingin yang menggidikkan menyusup keluar dari balik jalan darah menyebar keseluruh tubuhnya.
Ia sadar bahwa racun dingin dari angin pukulan "Han Pok Ciang" yang dilancarkan pemilik benteng Maut telah bersarang didalam tubuhnya.
Ia tak tahu bahwa berkat tenaga lweekang yang diperolehnya dari kura2 sakti serta sumber air mujarab yang telah mengganti tulang dan kulitnya, ia baru selamat lolos dari bahaya maut kendati harus menerima dua buah pukulan yang maha dahsyat, berganti orang lain niscaya sedari dulu jiwa-nya telah melayang meninggakan raganya.
"Siangkong, kau tak boleh bangun" gadis itu kembali berseru dengan nada merdu.
Han Siong Kie tidak ingin menerima belas kasihan lawannya, sambil berkeras kepala ia berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya. "Nona, apakah kau yang telah menolong cayhe?? " tegurnya ketus.
"Bukan bukan aku yang menolong..".
"Lalu siapa??..".
"Nona kami yang telah menyelamatkan selembar jiwamu".
"ooooh siapakah nama nonamu itu?? bolehkah kau beritahukan kepadaku.".
"Nonaku bernama.... Aaah, itu dia telah datang"
Terlihatlah horden disingkap orang disusul munculnya sesosok bayangan tubuh yang ramping melangkah masuk ke dalam kamar.
Han Siong Kie segera merasakan jantungnya berdebar keras, ia merasa wajahnya berubah jadi merah padam dan rikuh sekali, andaikata disana ada lubang ingin sekali ia menerobosnya kedalam.
"Swi siang, bagaimana keadaan siangkong itu " terdengar gadis ramping yang barusan masuk itu menegur.
Dayang yang bernama swie siang dan selama ini berada didalam kamar itu sebera menyahut:
"Siangkong telah sadar kembali ia sedang menanyakan diri nona..."
"Ehmm, sudah tahu, cepat ambillah kuah bunga teratai dan berikan kepada siangkong"
Mendengarkan ucapan yang merdu bagaikan kicauan burung nuri itu Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar semakin keras, saking gelisahnya keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya tanpa memperdulikan rasa sakit yang menyerang tubuhnya lagi ia sebera merangkak bangun dari atas pembaringan.
Mendadak pandangan matanya terasa cerah dihadapan mukanya berdirilah seorang gadis muda berbaju hijau yang amat cantik, sepasang biji matanya yang jeli dengan kemalu2an sedang menatap kearahnya tanpa berkedip.
Han Siong Kie merasa hatinya bergetar semakin keras, buru2 ia tundukkan kepala-nya rendah2, Terlihatlah pakaian yang dikenakan olehnya telah ditukar dengan seperangkat pakaian baru.
Untuk kesekian kalinya sianak muda itu berdiri tertegun, akhirnya sambil menggertak gigi tanyanya:
"Apakah nona yang telah menolong cayhe???"
"sedikitpun tidak salah, kejadian itu hanya berlangsung secara kebetulan saja, harap siangkong tak usah memikirkannya didalam hati. "
"Tolong tanya siapakah nama nona??".
"Aku bernama Go siauw Bie, dan siangkong?? siapa namamu???"
Teringat bahwa gadis yang berada dihadapannya adalah orang yang telah menyelamatkan jiwanya, terpaksa Han Siong Kie menjawab sejujurnya:
"Cayhe she Han bernama Siong Kie"
"Ooooh, kiranya Han siangkong? kenapa sih kau tercebur kedalam sungai???"
"Tentang soal ini, tentang soal ini cayhe telah bertempur melawan seseorang dan kurang beruntung aku menderita kalah dan terluka lalu dilemparkan kedalam sungai... untung jiwa cayhe berhasil diselamatkan oleh nona, dikemudian hari cayhe pasti akan membalas budi kebaikan ini, dan sekarang.. cayhe ingin mohon diri terlebih dahulu..".
Belum habis ia berkata, dayang tadi dengan wajah berseri-seri telah muncul kembali didalam kamar sambil membawa semangkok kuah bunga teratai, ujarnya sembari meletakka mang kok tadi keatas meja: "siangkong, silahkan. "
Han Siong Kie merasakan wajahnya semakin panas membara, jantungnya berdebar keras setelah gelagapan beberapa saat lamanya ia baru berseru:
"Cayhe masih ada urusan lain yang harus dikerjakan dengan cepat, karena itu. karena itu aku ingin mohon diri terlebih dahulu"
Mendengar perkataan itu Go siauw Bie tertawa hambar:
"Han siangkong, lukamu belum sembuh betul dan tidak baik untuk dibuat melakukan perjalanan, beristirahatlah beberapa hari dulu disini kemudian baru berangkat."
"Tidak Tidak maksud baik nona biarlah cayhe terima didalam hati saja, dikemudian hari aku akan membalas budi kebaikanmu itu"
"Han siangkong, kenapa kau mesti membicarakan soal balas budi segala macam persoalan yang tak berguna??? apakah kau tidak merasa terlalu pandang rendah diriku?? Tempat ini adalah pesanggrahan yang dimiliki mendiang ayahku, orang asing tak akan berani masuk ketempat ini. aku rasa disinilah merupakan tempat yang paling cocok untuk merawat luka. sudahlah...kau tak usah memikirkan yang bukan2 lagi".
"Ayahmu adalah....".
"Ketua dari perkumpulan Pat Gie Pang. Go Yoe Too" sahut Go siauBie dengan wajah sedih.
Mendadak Han Siong Kie teringat kembali akan peristiwa yang dijumpainya sewaktu ia berada didalam tandu tiga bulan berselang, tanpa sadar segera serunya:
"Apakah ayahmu dibunuh oleh si kupu2 warna warni Lie In hiang sang Tongcu dari perkumpulan Thian chee kauw??".
"Dari mana siangkong bisa mengetahui akan hal ini??" tanya Go siauw Bie dengan hati terkesiap. badannya tanpa sadar mundur selangkah kebelakang, sepasang biji matanya terbelalak lebar2.
"Tiga bulan berselang cayhe telah menyaksikan sendiri Kang lam Ciet Keay tujuh pendekar aneh dari Kang lam menuntut balas terhadap diri si kupu2 warna warni Lie In hiang, dari pembicaraan mereka cayhe dengar bahwa ketujuh orang pendekar itu sedang menuntut keadilan bagi mendiang ayahmu, sungguh celaka..."
"Benar, Kanglam Chiet Keay adalah sahabat karib dari mendiang ayahku" seru Go siauw Bie sambil menggertak giginya, "Sungguh tak nyana mereka mati berceceran ditengah jalan raya, dendam kesumat berdarah yang dalamnya melebihi samudra ini aku Go siauw Bie bersumpah hendak menuntut balas, Kalau tidak bagaimana aku bisa menghibur sukma ayahku serta ketujuh orang paman yang telah berada dialam baka".
Mendengar sampai disini, satu pikiran dengan cepat berkelebat didalam benak Han Siong Kie, batinnya:
"si kupu2 warna warni Lie In Hiang pernah menangkap diriku bahkan memerseni pula dua kali tempelengan dipipiku, bagaimana-punjuga hutang piutang ini harus kutuntut balas, ketapa aku tidak berusaha untuk menangkap dirinya kemudian diserah-kan kepada Go siauw Bie?? hitung-hitung kubalas budi pertolongannya menyelamatkan jiwaku, dengan demikian bukankah antara kami tidak saling hutang?? Benar ini adalah suatu ide yang sangat bagus, aku harus selekasnya melakukan tindakan ini"
Setelah mengambil keputusan didalam hatinya terasalah pikiran dan perkataan pemuda itujauh lebih enteng beberapa bagian.
"Siangkong, kuah teratai itu sudah hampir dingin" tiba2 terdengar swie sian si dayang menyela. " Cepatlah dimakan untuk mengisi perut, kau sudah dua hari tidak makan tidak minum."
"Dua hari?? aku telah berbaring dua hari disini??" seru Han Siong Kie tertegun.
"Sedikitpun tidak salah " sambung Go siauw Bie dengan cepat.
Han Siong Kie merasa hatinya semakin sedih lagi, ia sangat membenci kaum wanita, tetapi justru perempuanlah yang telah melepaskan budi kebaikan kepadanya, ia merasa kepalanya pusing tujuh keliling dan seolah2 duduk di atas jarum, sedetikpun tidak terasa tenteram.
Buru2 ia bangun berdiri dan menjura. "Nona Go, cayhe hendak mohon diri" katanya.
"Han siangkong, mengapa kau ter buru2 hendak meninggalkan tempat ini??..." tanya Go siauw Bie dengan sedih, sekilas perasaan aneh berkelebat diatas wajahnya.
"Cayhe masih ada urusan penting hendak dikerjakan..".
"Tetapi luka dalam yang kau derita toh belum sembuh sekali??..".
"Tidak mengapa luka kecil yang kuderita bukan merupakan satu persoalan yang penting. Budi kebaikan nona di kemudian hari pasti akan kubalas". Habis berkata ia segera putar badan dan berlalu.
Bibir Go siauw Bie bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tetapi ia merasa tidak enak untuk menghalanginya, maka dengan rada sedih segera ujarnya: "Han siangkong, apakah kita dapat saling berjumpa lagi??".
"Mungkin bisa "jawab sianak muda itu sekenanya. "Nona, baik2lah berjaga diri, selamat tinggal."
Ketika ucapan terakhir diutarakan keluar, tubuhnya sudah berada didepan pintu kamar.
"Swie Sian, hantar Han Siangkong keluar. "
"Baik" Swie Sian mengiakan dan segera berialu dari ruangan.
Dengan berjalan didepan Han Siong Kie, dayang itu membawa pemuda tersebut melewati serambi panjang dan menuju ketempat luar. Dari arah belakang terdengar Go siauw Bie menghela napas panjang.
Han Siong Kiepura2 tidak mendengar, dengan kepala tertunduk ia berjalan mengi-kuti dibelakang dayang tadi, tidak selang beberapa saat kemudian sampailah dia diluar pintu.
Tampaklah diluar pintu terpancang sebuah papan nama yang bertulisan beberapa huruf: Pesangrahan "Teng To Siauw coe" segera pikirnya didalam hati:
"Sungguh indah nama pesangrahan ini. " Iapun berpaling dan berkata: "Nona, silahkan kembali tak usah menghantar lebih jauh lagi..."
"Huuuh "Swie Siam mencibirkan bibirnya. "Han siang kong, kau telah mengecewakan nona kami...."
Tergetar keras hati Han Siong Kie, buru tukasnya:
"cayhe masih mampu untuk membedakan mana budi dan mana dendam, siapa yang pernah melepaskan budi kepadaku suatu ketika pasti akan kubalas. Selamat tinggal".
Sambil enjotkan badannya, laksana kilat yang bergeletar diangkasa badannya segera meluncur kearah depan.
Tidak jauh dari luar pintu artalah sungai besar, rupanya pesanggrahan "Teng To Siauw coe " ini didirikan ditepi sungai yang berdekatan dengan jalan raya.
Sepanjang perjalanan mengikuti tepi sungai, benak Han Siong Kie diliputi oleh pelbagai persoalan yang merumitkan otaknya.
-ooo0ooo-
BAB 07
KEPANDAIAN silat yang dimiliki Tengkorak Maut luar biasa dahsyatnya, untuk membalas dendam kecuali ia berhasil menemukan kitab pusaka sarung tangan Budha "Hoed Chiu Poo Pit" sebelah lain yang ditinggalkan Leng Koe sangjlen dan berhasil melatih ilmu sakti see Mi sinkang. Tetapi kejadian ini sukar ditemui dan harapannya tipis sekali.
Sepuluh tahun berselang ketika keluarga-nya menghadapi bencana, hanya ibunya yang tidak mati, inipun merupakan suatu teka-teki yang belum terpecahkan hingga kini, apa sebabnya Tengkorak Maut hanya meninggalkan dia sendiri untuk melanjutkan hidup,nya?
Thio susiok rela mengorbankan jiwa putranya untuk menyelamatkan selembar jiwanya, budi kebaikan ini tinggi bagaikan gunung Thay san sedang dia sendiri ikut menemui bencana dan mati.
Sesaat sebelum membunuh diri Thio susiok telah berkata bahwa kesemuanya itu adalah perintah gurunya, bahkan ber kali2 peringatkan dirinya agar jangan membalas dendam dan tak boleh mengubur tengkorak manusia itu apa sebabnya??.. apa sebabnya??.. apakah dia menganggap bahwa musuhnya terlalu lihay dan tipis sekali harapannya untuk membalas dendam??"
Makin dipikir kepalanya terasa semakin pusing hingga sakit sekali dan mau meledak rasanya.
Sesosok bayangan yang ramping dengan raut wajah yang cantik terlintas didalam benaknya. itulah bayangan tubuh dari Go siauw Bie.
Tanpa terasa ia men-depak2 kakinya ke atas tanah, gumamnya seorang diri:
"Mengapa aku bisa memikirkan dirinya?? oooh perempuan, perempuan.. makhluk yang paling kejam dikolong langit Tidak... tidak aku harus melupakan dirinya, aku harus secepatnya menemukan musuh besar-nya dan membalas budi kebaikan yang telah ia lepaskan terhadap diriku, agar kita masing2 tidak saling berhutang" Iapun teringat kembali akan saudara angkatnya si pengemis cilik Tong hong Hwie. sisi jalan raya terbentang sebuah hutan yang amat lebat.
Dalam pusingnya Han Siong Kie segera meluncur masuk kedalam hutan itu dan duduk beristirahat disuatu tempat yang sunyi guna mengobati luka dalam yang diderita-nya.
Dengan mengandalkan tenaga lweekang hasil latihan seratus tahun yang diperolehnya dari Leng Koe siangjin ditambah pula sumber air mujarab yang telah cuci darah pengganti tulang tubuhnya tidak sulit bagi sianak muda itu untuk mengobati luka dalamnya yang sudah separuh sembuh itu.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian ia telah menyelesaikan latihannya, luka yang dideritapun sudah sembuh kembali seperti sedia kala. Han Siong Kie pun bangkit berdiri siap berlalu.
Mendadak serentetan suara teguran berkumandang datang dari belakang tubuhnya:
"Jangan bergerak" diikuti sebuah telapak tangan telah ditempelkan diatas jalan darah "GiokJan-hiat" pada batok kepalanya.
suara bentakan itu nyaring dan merdu jelas berasal dari mulut seorang wanita.
Betapa terkejutnya hati Han Siong Kle sehingga sukar dilukiskan dengan kata2, rupanya perempuan itu sudah lama mengincar dan mengawasi gerak geriknya, tetapi apa maksud sebenarnya dari pihak lawan?
Dirinya belum lama terjunkan diri kedalam dunia persilatan, tak pernah mengikat dendam sakit hati dengan siapapun, andaikata perempuan itu ada maksud mencelakai jiwanya bukankah ketika ia sedang menyembuhkan lukanya tadi merupakan kesempatan yang paling baik untuk turun tangan?? asal sebuah jari tangannya ditotokkan keatas tubuhnya niscaya ia bakal putus nyawa dan mati.
Terdengar perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh, kemudian menegur:
"Apakah kau bernama Han Siong Kie ???"
Si anak muda itu merasa amat terperanjat, segera pikirnya:
"sungguh aneh, dari mana ia bisa tahu akan namaku??? "
Berpikir demikian iapun lantas menyahut dengan suara dingin lagi ketus.
"Kalau benar mau apa??"
"Apakah ayahmu bernama Han see Wie??"
Han Siong Kie merasa hatinya terkesiap. jelas asal usul perempuan ini mencurigakan sekali maka bentaknya keras2: "siapa kau??? "
"Aku?? Hiiih hiih hiih , . . aku bernama Yon sim Jien."
"Apa?? namamu orang yang ada maksud? "
"sedikitpun tidak salah".
"Kau bohong nama itu tidak mirip dengan nama seorang manusia."
"Percaya atau tidak, terserah pada diri sendiri"
"Apa yang siap hendak kau lakukan?? "
"Jawab semua pertanyaan yang kuajukan kepadamu, benarkah ayahmu bernama Han see Wie??"
Dalam benak Han Siong Kie kembali terlintas pemandangan seram dalam perkampungan Keluarga Han. dimana ayahnya menggeletak mati didalam ruang tamu.
Dua ratus orang anggota keluarganya kecuali ibunya tak seorangpun yang lolos dalam keadaan hidup.
Peristiwa tragis itu sudah terjadi belasan tahun berselang dan kalau didengar dari nada suara perempuan itu jelas masih muda, tapi dari mana ia tahu dari mana ia bisa tahu asal usulnya??Jangan2 dia adalah...
Berpikir sampai disitu tanpa terasa hatinya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri sambil menggertak gigi sekali lagi bentaknya: "Sebenarnya siapa kau ??? "
"Yoe sim Jien si manusia yang ada maksud.."
"Kalau kau berani bohongi lagi aku"
"Kau ingin apa??? "
" Kubunuh kau saat ini juga "
"Hiiih hiiiih hiiiih mampukah kau berbuat begitu?? sekarang selembar jiwamu telah di ujung telapakku "
Tanpa sadar Han Siong Kie tarik napas dingin, serunya dengan nada gemas: "Utarakan maksud tujuanmu aku ingin tahu apa yang kau kehendaki terhadap diriku"
"Aku ingin tahu apakah kau keturunan dari Han see Wie??"
"sedikitpun tidak salah kau mau apa??"
"Bagus sekali aku hendak memerintahkan dirimu janganlah sekali2 mencari pemilik Benteng Maut untuk membalas dendam"
"Hmm kenapa aku tak boleh membunuh bajingan itu??" dengus Han Siong Kie dengan penuh bencian.
"sebab pemilik Benteng Maut bukanlah musuh besarmu"
Jantung Han Siong Kle terasa berdebar dengan kerasnya, kalau ditinjau dari nada ucapan itu rupanya Yoe simJiem si manusia yang ada maksud ini kemungkinan besar adalah anak buah Benteng Maut yang sengaja membohongi dirinya agar mengurungkan niatnya untuk membalas dendam.
-0000000-
Tengkorak Maut
Karya : OPA
Oleh : Tjan ID
Jilid 4
BERPIKIR akan hal itu dia sebera tertawa dingin "Heeeh..heeeh..heeeh... dari mana kau bisa tahu kalau si pemilik Benteng Maut bukanlah musuh besarku??"
"Aku mendapat titipan dari seseorang untuk menyampaikan kabar berita ini kepadamu."
"Kau mendapat titipan dari siapa??"
"Dikemudian hari kau bakal mengetahui sendiri"
"Omong kosong aku Han Siong Kle selama masih bisa bernapas dikolong langit tak nanti ada orang yang sanggup untuk menghalangi niatku untuk menuntut balas terhadap Benteng Maut" .
" Kurang ajar jadi kau pingin mati???".
"silahkan turun tangan jangan kau angap aku jeri menghadapi kematian..." teriak si anak muda itu dengan angkuh.
Menyaksikan keteguhan serta kekerasan hati pemuda she Han itu akhirnya Yoe sim Jien menghela napas panjang.
"Aaaai Han Siong Kie percayalah perkataanku apa yang kuucapkan adalah yang sebenarnya"
Untuk beberapa saat lamanya Han Siong Kie merasakan pikiranannya jadi kalut dan kacau tak menentu ia tak habis mengeti tentang asal usul dari perempuan yang menyebut dirinya "Yoe sim Jien" ini.
Jie susioknya Thio Lien sesaat sebelum bunuh diri juga berpesan padanya agar ia jangan membalas dendam, dua orang yang berbeda mengapa mengucapkan kata2 yang sama?? Mengapa??? .. Mengapa???... ,
Bukankah diatas dinding ruang tamunya dengan jelas tertera sebuah lukisan tengkorak darah??? bukankah tengkorak darah itu adalah lambang dari pemilik Benteng Maut???
Kesemuanya toh sudah jelas dan kenyataan membuktikan bahwa si pemilik Benteng Maut adalah musuh besarnya, mengapa Yoe sim Jien mengatakan bukan??? Teka-teki suatu teka teki yang amat sulit dipecahkan.
"Han Siong Kie" terdengar perempuan itu berkata kembali. "Perkataan tersebut telah kusampaikan padamu, mau percaya atau tidak itu terserah pada dirimu sendiri"
"Nona kalau kau tidak mengutarakan kenyataan yang sesungguhnya, sulit bagi cayhe untuk mempercayai perkataanmu itu" .
"Aku hanya mendapat perintah untuk menyampaikan ucapan ini kepadamu, tentang soal yang lain maafkanlah diriku sebab aku tak dapat menyampaikannya kepadamu"
"Hmmm Yoe sim Jien, apakah kau hendak mencabut selembar jiwa cayhe??...".
"Aku rasa tiada perlunya kucabut selembar jiwamu"
"Kalau memang begitu mengapa kau tidak lepaskan ancamanmu dan mari kita berbicara dengan saling berhadapan muka??"
"Aku masih ada pertanyaan yang hendak diajukan kepadamu"
"Kalau begitu cepatlah diutarakan keluar "
"Benarkah kau amat membenci kaum wanita???".
Tanpa sadar untuk kesekian kalinya Han Siong Kle merasakan hatinya bergetar keras, kejadian ini benar2 aneh dan tak masuk di akal, darimana ia bisa tahu dengan begitu jelas akan sifat2nya???
sianak muda itu masih teringat bahwa perkataan semacam itu hanya pernah diucapkan satu kali terhidap diri adik angkatnya Tonghong Hwie, darimana diapun bisa tahu akan hal ini???
"Sedikitpun tidak salah" tanpa sadar ia menyahut dengan tegas. "Mengapa ??".
"Setiap orang mempunyai tabiat dan kesukaan yang ber-beda2, buat apa kau tanyakan kepadaku mengapa aku membenci kaum wanita yang ada di kolong langit".
"Tetapi tabiatmu ini boleh dibilang tidak masuk diakal, kecuali kalau kau pernah mengalami suatu kejadian yang amat menyakitkan hati karena perempuan atau mungkin karena hati sanubarimu tergores luka oleh seorang wanita. Tetapi... walau begitu tidaklah pantas kalau kau membenci semua perempuan yang ada dikolong laagit".
"Cayhe tidak ingin membicarakan tentang persoalan ini".
"Tetapi nonamu merasa suka sekali membicarakan tentang masalah ini??..".
"Kalau begitu bicarakanlah seorang diri".
"Jangan lupa bahwa selembar jiwamu saat ini masih berada di dalam kekuasaanku".
"Cayhe tidak suka digertak apalagi dengan di ancam oleh seseorang untuk melakukan sesuatu".
"Ini kenyataan bukan gertak sambal belaka, jangan lupa nama nonamu adalah " Yoe sim Jien" seseorang yang mempunyai maksud tertentu, atau dengan perkataan lain kehadiranku kemari adalah disebabkan ada maksud2 tertentu, aku rasa kau pasti mengerti bukan arti dari perkataanku" .
Han Siong Kiejadi gusar dan gemas sehabis mendengar perkataan itu, deagan sikap jumawa dan congkak serunya:
"Kalau memang begitu, utarakanlah maksud tujuanmu datang kemari". Dengan bangga
Yoe sim Jien tertawa ringan.
"Pertama, aku mendapat titipan dari seseorang untuk menyampaikan kabar kepadamu bahwa kau dilarang mencari balas terhadap si Tengkorak Maut, ke ...."..
"sudah kukatakan kepadamu tak mungkin aku penuhi keinginanmu itu kecuali..." bicara sampai disini mendadak sianak muda itu membungkam.
"Kecuali kenapa??"
"Ceritakan keadaan yang sebenarnya telah terjadi dan tunjukanlah siapakah pembunuh yang sebenarnya"
"Dewasa ini tak mungkin hal itu kukatakan padamu tetapi dikemudian hari kau akan menjadi paham sendiri"
"Kalau memang begitu lebih baik kau jangan banyak bicara lagi dengan diriku"
"suka mendengarkan atau tidak itu urusanmu sendiri tetapi aku tidak memperi-ngatkan dirimu gerak gerik yang gegabah dan ngawur kadang kala bisa membuat dirimu merasa menyesal"
"Haaaah...haaah...haah... tindakan gegabah dan ngawur??? aku orang she Han selamanya tak akan merasa menyesal"
"Baik kalau begitu dengarkan persoalan yang kedua selama kau melakukan perjalanan didalam dunia persilatan janganlah sekali2 kau membicarakan tentang asal usulmu kepada orang lain"
Han Siong Kie berdiri tertegun, jantungnya berdebar keras dan matanya terbelalak lebar. Perkataan tersebut pernah diucapkan pula oleh susioknya si telapak naga beracun Thio Llen terhadap dirinya, sayang pada waktu itu ia tak sempat menanyakan alasannya, dan sekarang " Yoe sim Jien" mengulangi kembali perkataan itu, ia jadi bimbang dan ragu. Bagaimanapun juga otaknya diputar namun selalu tak berhasil menemukan jawaban yang tepat,
Hingga akhirnya tak tahan lagi ia berteriak keras:
"Katakanlah kepadaku, siapakah sebenar-nya kau???"
"Yoe sim Jien, simanusia yang ada maksud".
"Bukan" teriak sianak muda itu.
"Eeei... aneh benar kau ini, dengan andalkan apa kau bisa mengatakan bahwa aku tidak bernama itu??"
Han Siong Kie terbungkam dalam seribu bahasa, dalam hati ia merasa jengkel dan benci hingga giginya gemerutukan keras.
"Han Siong Kie, ingat baik2" kata Yoe sim Jien dengan suara berat. "sekali lagi kuulangi perkataanku, pertama, janganlah mencari balas terhadap diri si Tengkorak maut. Kedua, janganlah kau ceritakan asal-usulmu kepada siapapun juga. Nah sampai jumpa lain waktu".
Han Siong Kie merasakan telapak tangan yang menempel diatas batok kepalanya tiba2 menggeser, buru2 ia meloncat bangun dan putar badan, tampaklah sesopok bayangan manusia bewarna putih sedang menyusup kedaLam pepohonan yang lebat. "Hey, Yoe sim Jien. ..tunggu sebentar" segera teriaknya.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang lihay cepat2 ia melayang kedepan melakukan pengejaran, tetapi ketika ia tiba ditengah hutan bayangan manusia berbaju putih tadi telah lenyap tak berbekas.
Dengan hati murung dan kesal ia berhenti mengejar, dan mulai memikirkan kembali apa yang barusan dikatakan oleh "Yoe sim Jien". sebenarnya siapakah dia?? dan berasal dari mana???
Ia telah mendapat pesan dari siapa untuk menyampaikan kata2 itu kepada nya??? Mengapa ia bisa begitujelas mengetahui akan asal usulnya??
sianak muda itu tak sanggup untuk memecahkan rahasia ini, atau boleh dibilang tak sedikit keteranganpun yang terdapat dibenaknya, semua kejadian dirasakan berlangsung terlalu aneh hingga mendekati suatu keadaan yang hampir saja tak dapat dipercaya olehnya.
Benarkah Yoe sim Jien menyampaikan kata-kata tersebut padanya karena memperoleh pesan dari orang lain? atau dia memang mempunyai rencana tertentu????
Andaikata dia adalah seorang sahabat maka perkembangan dari persoalan ini cukup membuat orang bingung dan tak habis mengerti, sebaliknya kalau dia adalah seorang musuh.. kedudukannya jadi menakutkan sekali.
Yoe sim Jien manusia yang punya maksud sudah jelas nama ini hanyalah nama samaran yang menunjukan bahwa kedatangannya memang membawa maksud2 tertentu. Aaah bagaimanapun yang akan terjadi dendam sakit hati tersebut harus dituntut balas.
Sampai keujung langit kedasar samudrapun ia harus temukan sarung tangan yang sebelah lain dari Hoed Chiu Poo Pit tersebut, kalau tidak maka rencananya untuk membalas dendam sudah pasti akan menemui kegagalan total sebab kepandaian silat yang dimiliki pemilik Benteng Maut jauh lebih tinggi beberapa kali lipat daripada dirinya.
Tetapi... kemanakah ia harus mencari sarung tangan budha yang merupakan benda mustika dunia persilatan yang di idam2kan oleh setiap umat Bu-lim itu????
Dengan ter-manggu2 ia berdiri mematung disitu, lama... lama sekali baru menggerak-kan badannya menembusi hutan belukar dan berjalan tanpa arah tujuan.
Langit perlahan2 menjadi gelap malam yang sunyi telah menyelimuti jagad.
Kegelapan mulai mencengkam hutan belukar itu hingga sukar untuk melihat ke lima jari sendiri, pekikan burung hantu menambah seramnya suasana ditengah malam buta.
Dengan mengandalkan kesempurnaan tenaga dalamnya Han Siong Kie meneruskan perjalanannya menembusi hutan yang amat lebat itu.
Ucapan dari Yoe simJim tiada hentinya berkecamuk didalam benaknya membuat ia semakin kesal dan pusing.
Habis gelap terbitlah terang, fajar telah menyingsing dan cahaya sang surya mulai mucul diufuk timur.
Akhirnya hutan itu tiba juga sampai diujungnya diluar hutan tampak berdiri sebuah kuil yang telah lapuk dimakan usia.
saat itulah ia mulai merasa lapar dan haus, segera pikirnya didalam hati:
"Coba aku cari sedikit makanan didalam kuil itu, mungkin disana ada kaum padri yang suka menolong...".
Siapa tahu ketika ia tiba didepan kuil, terlihatlah pintu rumah berhala itu terkunci rapat, sebuah gembok besi yang sudah karatan tergantung didepan pintu, hal ini membuktikan kalau kuil tersebut sudah lama tidak dihuni orang.
Dengan kecewa ia gelengkan kepalanya, sementara ia putar badan hendak berlalu mendadak...
Suara dengusan berat secara lapat2 berkumandang keluar dari balik ruang kuil.. "Aaah, bukankah kuil ini sudah jelas merupakan sebuah kuil kosong yang tak berpenghuni?? kenapa ada orang mendengus berat didalam ruangan tersebut???" pikir sianak muda itu.
Dengan cepat ia pasang telinga untuk mendengarkan dengan lebih seksama, tetapi suara tadi telah berhenti.
"Jangan jangan aku sudah salah mendengar??" kembali Han Siong Kie berpikir dengan perasaan sangsi "Tapi... tak mungkin salah dengan jelas aku dengar bahwa suara-nya itu berkumandang dari mulut seseorang yang sedang menderita luka parah...
Dibawah desakan rasa ingin tahu yang makin menebal akhirnya diambil keputusan untuk mengintip kedalam, tanpa berpikir panjang lagi si anak muda itu enjotkan badannya melayang masuk kedalam kuil.
Tumbuhan ilalang memenuhi seluruh lantai setinggi manusia, keadaan dari ruangan kuil telah porak poranda membuat siapapun yang berada disitu ikut merasa bergidik dan seram.
suara dengusan berat kembali berkumandang datang memecahkan kesunyian kali ini kesadarannya lebih jelas lagi dan rupanya muncul dari ruangan sebelah timur.
Dengan cepat Han Siong Kie enjotkan badannya melayang keruang sebelah timur, baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan tak tertahan lagi ia menjerit kaget.
Tampaklah diatas lantai ruang kuil menggeletak sesosok tubuh manusia yang penuh berlepotan darah, ketika ia memandang lebih seksama lagi siapakah orang yang terluka itu air mukanya segera berubah hebat.
si pengemis tua berambut putih yang menggeletak dalam keadaan terluka parah itu bukanlah si pengemis dari selatan yang belum lama berselang berpisah dengan dirinya??
Kenapa ia terluka didalam kuil yang bobrok ini?? siapakah yang berhasil melukai seorang tokoh silat yang sangat lihay didalam dunia persilatan ini??? Buru2 Han Siong Kie memburu maju kedepan, serunya dengan nada gelisah: " Engkoh tua kenapa kau???". Tiada jawaban yang muncul.
Cepat ia memeriksa napas si pengemis tua itu, terasa denyutan nadinya sudah amat lemah dan jaraknya menuju kematian sudah tak jauh lagi, hatinya jadi amat gelisah sekali. "Aku harus sebera menyelamatkan jiwa engkoh tua dengan hawa murni yang ku-miliki."
Belum habis ingatan tarsebut berkelebat lewat didalam benaknya, terdengarlah dari luar ruangan berkumandang datang suara bentakan dingin: "siapa disitu??".
Dengan cepat Han Siong Kie putar badan, tampaklah tiga orang pengemis berusia pertengahan dengan berdiri berjejer didepan pintu sedang mengawasi dirinya dengan pandangan seram. Tanpa terasa ia berdiri tertegun, pikirnya:
"Mungkin kettga orang ini adalah anak murid perkumpulan Kay pang yang bertugas menjaga serta melindungi keselamatan engkoh tua"
Karena berpikir begitu ia lantas maju beberapa langkah kedepan sembari menjura. "Maaf, caybe telah mengganggu kalian bertiga..".
"Bocah keparat terdengar seorang pengemis yang berambut awut2an dan berusia paling tua diantara ketiga orang itu menegur dengan suara seram. " Mau apa kau datang kedalam ruangan ini???".
Air muka Han Siong Kie berubah hebat setelah mendengar teguran yang ketus dan sama sekali tidak bersahabat ini, tetapi teringat akan hubungannya yang akrab dengan sipengemis dari selatan, ia menahan rasa dongkol dalam hatinya dan menjawab:
"Cayhe hanya secara kebetulan saja lewat disini berhubung aku dengar engkoh tua".
"Apa?? engkoh tua??? bocah keparat kau panggil anjing tua ini sebagai engkoh tua?"
Dari ucapan ini Han Siong Kie segera merasakan keadaan yang kurang beres, harus di ketahui peraturan didalam perkumpulan Kay-pang amat ketat, lagipula kedudukan sipengemis dari selatan didalam Kay pang amat tinggi dan terhormat, tetapi ketiga orang pengemis itu telah memaki saudara tuanya sebagai anjing tua, jelas dibalik kejadian ini masih ada rahasia besar lainnya. Dengan wajah dingin membeku ia sebera menegur.
"Apakah kalian bertiga adalah anak murid dari perkumpulan Kay pang?? ....".
"Kalau benar mau apa???" jawab ketiga orang pengemis itu dengan wajah berubah.
"Tahukah kalian apa kedudukan sipengemis dari selatan didalam perkum-pulan??"
"Ketua dari para Tiang loo perkumpulan kay pang".
"Kalau sudah tahu begini, mengapa kalian sebut dia sebagai anjing tua???..".
"ooooh, keparat cilik jadi kedatanganmu disebabkan karena dia?? Bagus, ini hari kau pun jangan harap bisa keluar dari ruangan ini dalam keadaan selamat"
"Ayoh jawab secara bagaimana Tiang loo kalian menderita luka parah???" bentak Han Siong Kie.
"Heeeh heeeh heeeeh anjing cilik setelah kau modar sianjing tua itu akan menceritakan semua kejadiannya padamu..."
Dengan cepat otak sianak muda itu bekerja, sekarang ia baru sadar bahwa sipengemis dari selatan pasti sudah terluka ditangan ketiga orang pengemis ini.
Tentulah dalam keadaan terluka karena terhajar oleh si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing engkoh tua nya telah berjumpa dengan ketiga orang pengemis ini.
Dan dikarenakan ketiga orang itu mempunyai suatu rencana tertentu dia gunakanlah kesempatan yang sangat baik ini untuk menghabisi nyawa Tiangloonya.
Membayangkan kesadisan serta kekejaman hati ketiga orang penghianat dari perkumpulan Kay pang itu, diatas wajah Han Siong Kie yang tampan seketika terlintas selapis hawa napsu membunuh yang tebal, dengan pandangan menggidikkan hati ia menyapu sekejap wajah ketiga orang itu.
Dipandang semacam itu tanpa sadar ketiga orang pengemis itu sama2 mundur satu langkah ke belakang, terdengarlah salah seorang pengemis yang berhidung mancung bagaikan paruh elang menegur dengan wajah menyeringai seram: "Anjing cilik, sebutkan siapa namamu".
"Huuuh manusia terkutuk semacam kau belum pantas untuk mengetahui nama sauw-ya mu"
"Bangsat aku si orang tua akan hantarkan pulang ke rumah nenek moyangmu..".
sambil berteriak keras ia menyerbu kedalam ruangan, telapak tangannya disertai angin pukulan yang dahsyat segera dihantam keatas tubuh sianak muda itu. "Hmm rupanya kau sudah bosan hidup, "Ditengah dengusan ketus, tahu2 pergelangan tangan pengemis tua berhidung elang itu sudah dicengkeram oleh Han Siong Kie hingga sama sekali tak berkutik.
Menyaksikan kelihayan lawannya, kedua orang pengemis yang lain jadi terkesiap. air muka mereka berubah hebat.
Mimpipun mereka tak pernah menyangka kalau seorang pemuda yang demikian mudanya ternyata memiliki kepandaian silat yang maha sakti, dibawah penglihatan sepasang mata mereka tak seorangpun yang tahu rekannya sudah jatuh kecudang ditangan lawan dengan gerakan apa.
setelah berdiri ter-manggu2 beberapa saat lamanya, kedua orang itu segera membentak nyaring, bagaikan harimau kelaparan mereka terjang tubuh sianak muda itu dengan segenap tenaga.
Angin tajam menderu2, bagaikan sayatan pedang mustika dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat meluncur kemuka mengancam tubuh pemuda she Han itu.
Han Siong Kie amat menguatirkan keselamatan dari engkoh tuanya, dia ingin cepat mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, tangannya segera diayun kemuka dan segulung angin pukulan laksana gumpalan ombak meluncur kemuka menghantam tubuh musuhnya.
Kedua orang pengemis itu tak sanggup menahan diri, badan mereka terpental kebelakang menumbuk dinding ruangan dan seketika itu juga jatuh tak sadarkan diri
"Ayoh bicara, kenapa kalian berkianat kepada perguruan dan hendak membinasakan guru sendiri"
Pada saat itulah sipengemis dari selatan yang menggeletak diatas tanah mendadak membuka matanya dan berseru dengan segenap kekuatan yang dimilikinya:
"sau.. daa..dara...cilik ..bunuh."
Han Siong Kie mendengus pergelengannya, segera digetarkan dan salah seorang pengemis yang berada didalam cengkeramannya itu sebera meluncur kearah pintu ruangan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa batok kepalanya segera hancur berantakan otak dan darah berceceran memenuhi seluruh lantai. .
Dua orang pengemis lainnya yang sementara itu telah mendusin dari pingsannya jadi hilang semangat setelah melihat kejadian itu, baru saja badan mereka hendak bergerak Han Siong Kie enjotkan badannya meluncur kemuka tahu2 dia sudah menghadang di hadapan kedua orang itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun sepasang telapaknya serentak dibabarkan kemuka dari samping kiri maupun kanan.
Cepat laksana sambaran kilat, belum sampai ingatan kedua berkelebat dalam benak pengemis dari selatan pukulan maut sudah mengancam tiba.
Jeritan ngeri seketika meluncur dari balik mulut mereka tapi baru saja separoh jalan badan mereka sudah mengejang dan roboh binasa diatas tanah.
selesai membereskan ketiga orang pengemis itu Han Siong Kie berjalan menghampiri kakak tuanya sipengemis dari selatan lalu tegurnya dengan hati bergejolak: " Engkoh tua, sebetulnya apa yang telah terjadi?? "
Raut wajah pengemis dari selatan berkerut kencang, sepasang matanya melotot keluar bagaikan batu kelereng, jelas ia merasakan golakan batin yang amat berat: Lama sekali baru ia berkata:
"Saudara cilik, kedatanganmu sangat kebetulan sekali, inilah artinya tidak mengijinkan perkumpulan Kay pang kami musnah di tangan orang..."
"Engkoh tua lukamu..."
"Sekarang waktu sudah amat mendesak, tiada waktu lagi bagiku untuk menerangkan persoalan ini. Tapi aku tahu bahwa tabiatmu amat cocok dengan diriku maka kuserahkan tugas yang maha berat ini keatas pundak mu".
"Aaai partai Kay pang kami sungguh lagi sial, tiga hari berselang pangcu telah memilih ahli warisnya atas persetujuan para tiang loo, mendengar kabar itu aku segera datang kemari untuk mengikuti jalannya upacara tersebut, siapa tahu aku sudah bertemu dengan murid penghianat sipengemis bintang langit Jien Jit, ketika ia menjumpai aku berada dalam keadaan luka parah maka timbullah niat jahatnya untuk melenyapkan aku dari muka bumi, ia telah merampas tanda pengenal bambu hitam milikku untuk pergi menerima jabatan pangcu baru, maka aku harap kau bisa segera berangkat untuk menghalangi niatnya itu.."
"Aku??..."
"Sedikitpun tidak salah, sebelum tengah hari nanti kau harus sudah tiba ditempat tujuan.. "
"Dimana?? tanya Han Siong Kle agak sangsi.
"Kuil Boe Hoo pantai Pek see Than, jaraknya dari sini masih ada dua ratus li dan letaknya disebelah timur sungai".
-0000000-
BAB 8
"Kuil Boe Hoo dipantai Pek see Tham? "
"Betul tidak salah lagi."
"Bagaimana caraku unfuk mencegahnya?".
"Bilamana perlu lenyapkan pengkhianat itu dari muka bumi, sampaikan pesanku dan suruh mereka menunggu selama tiga hari".
"Bicara tanpa bukti tiada gunanya, apakah anak murid perkumpulan kalian suka mempercayai perkataanku?? " .
"Sekarang urusan telah amat mendesak, terserah kepadamu mau mengatasinya dengan cara apa, yang penting kau ketahui adalah si pengemis bintang langit Jien Jit telah menjabat sebagai Tongcu bagian luar dari perkumpulan Thian chee Kauw, bila niat busuknya
berhasil, maka Kay pang akan musnah dari muka bumi".
"Yaa... engkoh tua, bagaimana dengan lukamu??"
"Aku tak bakal modar, ayoh cepat berangkat tiga hari kemudian aku pasti sudah sampai di situ"
Dengan perasaan apa boleh buat Han Siong Kie mengangguk. ia segera melayang ke luar kuil dan melakukan perjalanan dengan mengikuti jalan raya ditepi sungai.
Ilmu meringankan tubuh cahaya Kilat lintasan memang luar biasa dahsyatnya, pemuda itu meluncur ke muka bagaikan segulung asap ringan tidak sampai satu jam kemudian ia sudah berada ratusan li jauhnya dari kuil tersebut.
Mendadak suara bentakan keras berkumandang dari tempat kejauhan, suara itu nyaring dan gegap gempita.
Suatu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya pemuda she Han itu, sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu.
Tampaklah di atas pantai pasir ditepi sungai bayangan manusia saling bergerak tiada hentinya seolah2 terdapat banyak orang sedang melangsungkan pertarungan disitu.
Ia segera mempercepat gerakan tubuhnya meluncur ke muka dalam sekejap mata ia sudah berada disekitar kalangan, kini ia dapat melihat lebih jelas lagi ditepi sungai kurang lebih dua puluh tombak dari sisi jalan raya terlihatlah ditepi sungai orang sedang bertempur jadi satu, bentakan keras teriakan tajam bergema tiada hentinya dari dalam kalangan.
Pemuda itu hendak meneliti lebih jauh apa sebetulnya yang sudah terjadi tapi secara mendadak ia teringat kembali akan pesan penting dari engkoh tuanya maka pemuda inipun lantas berpikir:
"Aaah lebih baik aku tak usah mencampuri urusan orang lain, waktu bagiku sudah terlalu mendesak bila urusan engkoh sampai terlantar waah bisa berabe"
Belumjauh ia berlalu mendadak ia menangkap seruan seseorang yang amat dikenal olehnya berkumandang keluar dari balik kalangan pertempuran:
"Hmm sekalipun kalian andaikan jumlah yang banyak untuk mengerubuti diriku, aku sipengemis cilik tak akan mengambil perduli. Hey perempuan bajingan, kau..." Cepat Han Siong Kie menghentikan tubuhnya dan berseru: "Aduuuh celaka, bukankah suara itu adalah suara dari adik Hwie??".
Badannya segera putar balik dan meluncur kembali ke tepi sungai, dari atas sebuah batu besar dia sebera melongok kebawah..
sedikitpun tidak salah, tampaklah sipengemis cilik Tonghong Hwie sedang bertempur melawan empat orang kakek tua, pertempuran itu sedang berlangsung dengan seru dan ramainya.
Disisi kalangan pertempuran berdirilah seorang bayangan manusia berbaju merah, dia bukan lain adalah Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kauw, si kupu2 warna warni Lie In Hiang adanya, dua orang dayangnya berdiri di belakang perempuan itu
Ditinjau dari keadaan tersebut, tak usah ditanyakan sudah terlihat jelas sekali, mereka semua bukan lain adalah jago2 dari perkumpulan Thian chee Kauw.
Musuh besar saling berjumpa muka, sepasang mata sianak muda itu segera berubah jadi merah berapi-api, ia teringat kembali akan penderitaan serta penghinaan yang diterimanya selama ia dibekuk oleh Lie In Hiang dan dijejalkan dibawah tandunya itu, terutama sekali dua kali tamparan yang dihadiahkan kepadanya.
Rasa dendam dan perasaan ingin membalas dendam dengan cepat muncul dari balik hatinya.
"Roboh kau" terdengar suara bentakan keras berkumandang datang dari tengah kalangan.
seorang kakek tua ayunkan jari tangannya menotok jalan darah Hong Hu Hiat di atas tubuh Tonghong Hwie.
"Aduuh celaka "jeritan Han Siong Kie di dalam hati, untuk memberi pertolongan jelas sudah tak sempat lagi, nampaknya..
Tak nyana dikolong langit ternyata terdapat juga peristiwa aneh, kejadian yang kemudian berlangsung kiranya jauh diluar dugaan siapapun.
serangan totokan yang sebenarnya dengan telak telah bersarang diatas jalan darah "Hong Hoe Hiat" ditubuh Tonghong Hwie itu ternyata sama sekali tidak memberikan reaksi apapun juga, bahkan dengan menggunakan kesempatan baik itu dia malah memerseni sebuah pukulan dahsyat yang mementalkan badan sikakek tua tadi hingga mencelat keluar dari kalangan.
Kejadian ini benar2 merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh, mungkinkah Tonghong Hwie telah berhasil mempelajari ilmu menggeserkan jalan darah sehingga ia tak mampu di totok???
Pada saat tubuh sikakek tua tadi mencelat keluar dari kalangan pertempuran itulah tiga orang pria kekar lain segera terjunkan diri kedalam kalangan. Dengan demikian posisinya jadi enam lawan satu.
Pengemis cilik Tonghong Hwie jadi berkaok kaok dan berteriak teriak keras, tusukan, totokan jari serta hantaman telapak seringkali bersarang diatas tubuhnya namun keadaan pengemis tersebut masih tetap kokoh seperti sedia kala. Han Siong Kie yang menyaksikan kejadian itu jadi melongo dibuatnya.
Ditengah bentakan gusar tiba2 terdengar jeritan ngeri bergema memecahkan kesu-nyian seorang pria kekar terhajar oleh babatan telapak Tonghong Hwie tepat mengenai dadanya hingga muntah darah dan mundur dengan sempoyongan.
Dua orang pria serta ketiga orang kakek tadi segera membentak nyaring, serangan mereka semakin diperketat hingga angin puyuh menggulung keluar tiada hentinya.
Dibawah desakan serta teteran musuh yang begitu gencarnya sipengemis cilik Tonghong Hwie sudah kewalahan dan kelabakan tidak keruan posisinya semakin terjepit dan terancam oleh bahaya.
Sekalipun begitu dengan andalkan kekuatan yang dimiliki, kelima orang itu masih belum mampu merobohkan Tonghong Hwie dalam waktu singkat terutama sekali ilmu gaibnya yang kebal terhadap pukulan serta bacokan membuat beberapa orang jago itu jadi pusing kepala.
"Tahan" ditengah bentakan keras bayangan manusia saling berpisah dan mengundurkan diri ke belakang si kupu2 warna warna Lie In Hiang dengan gayanya yatsg genit segera masuk kalangan.
" Kalian segera berangkat meneruskan perjalanan," perintahnya kepada kawanan jago Thian chee Kauw tersebut, "Pun Tongcu sebentar lagi segera akan menyusul"
"Terima perintah"
Bayangan manusia berkelebat lewat, para jago dari perkumpulan Thian chee Kauw itu segera menggerakkan badannya meninggal-kan tempat itu dalam sekejap mata di tengah kalangan hanya tinggal si kupu2 warna Warni Lie In Hiang beserta kedua orang dayangnya.
Han Siong Kie sebagai seorang pemuda yang cerdik segera dapat menangkap kehendak perempuan itu, pikirnya:
"Engkoh tua pernah berkata bahwa murid penghianat Kay pang, sipengemis Bintang Langit,jien Jit saat ini menjabat sebagai Tongcu perkumpulan Thian chee Kauw, kalau ditinjau dari tindakan mereka yang tergesa2 jelas para jago dari perkumpulan tersebut sedang merangkap untuk membantu dirinya merebut jabatan sebagai pangcu".
Dalam pada itu si kupu2 warna warni Lie In Hiang telah berseru sambil tertawa cekikikan .
"Hihh..hiiih..hiih.. pengemis cilik, sungguh tak nyana kalau kepandaianmu lumayan jUga"
Tonghong Hwie tertawa mengejek.
"Perempuan busuk. kau tak usah berlagak centil di hadapanku percuma deh...sebab selama hidupnya aku si pengemis cilik paling muak dengan kaum perempuan macam kau"
"Cisss sudah hampir modarpun bisa2nya ngoceh dan ngebacot terus tiada hentinya"
"oooh aku sipengemis cilik sih punya usia yang panjang, tak bakal modar ditanganmu"
"Hey pengemis cilik, aku ingin bertanya padamu si bocah lelaki yang tempo hari kau lepaskan, sekarang ada dimana?? kalau kau tak menjawab sejujurnya Hmm hari ini jangan harap bisa berlalu dalam keadaan selamat" Tonghong Hwie tertawa cekikikan.
"Hiiih...hiiih...hiiih kau maksudkan saudara angkatku si Leng Bin Jlen manusia berwajah dingin?"
"Haaaah haaaah haaaah apa?? diapun bernama Leng Bin Jien?? dan kau adalah saudara angkatnya??? Ehmm sikapnya memang amat dingin bagaikan es..."
Hampir saja Han siong Kie tertawa geli setelah mendengar perkataan itu tak di-sangka olehnya Tonghong Hwie telah menjulukinya begitu aneh padanya.
sementara itu terdengar Tonghong Hwie telah bertanya: "Apa kau telah jatuh cinta padanya???."
Si kupu2 warna warni Lie In Hiang mengerdipkan matanya lalu menjawab hambar:
"Eeeei pengemis cilik, pun tongcu tidak punya waktu yang banyak untuk bergurau dengan dirimu ayoh cepat jawab Leng BinJin sekarang berada dimana??"
"Hiiih hiiiih biiiih aku pengemis cilikpun masih ada urusan lain, kalau begitu kita ber-cakap2 lagi dilain waktu saja" Habis berbicara ia putar badan dan hendak berlalu...
"Pengemis cilik, kalau kau tidak menjawab maka meskipun kau punya sayap hari ini jangan harap bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat "
"Aaaah masa iya??? belum tentu"
"Kau tidak percaya boleh coba kelihayanku," Pengemis cilik itu segera enjotkan badannya meluncur kedepan, gerakannya cepat dan enteng...
Ia cepat, sayang si kupu2 warna warni Lie In Hiang jauh lebih cepat darinya, tampak bayangan merah berkelebat lewat, tahu2 perempuan itu telah menghadang jalan perginya, sebelum badan berdiri tegak sepasang telapak telah meluncur kedepan, secara beruntun melancarkan delapan buah serangan berantai.
Kedelapan buah serangan itu dilancarkan dalam waktu singkat, arah yang ditujupun tak menentu dan semuanya berada diluar dugaan.
Diteter oleh serangan yang begitu gencar, pengemis cilik itu jadi terdesak dan segera mundur kembali ketempat semula.
"Hey pengemis cilik" tegur Lie In Hiang dengan wajah adem. " Pun Tongcu tidak punya waktu untuk mengajak kau bergurau lagi, ayoh bilang sebetulnya kau ingin bicara atau tidak??? "^
"Sekalipun kukatakan juga tiada guna-^nya".
"Kenapa??".
"Sebab saudara angkatku itu bukan saja berwajah dingin bahkan hati dan perasaannya pun sangat dingin melebihi es."
"Sudah, kau tak usah ngebacot terus ayoh jawab, sebetulnya kau mau bicara atau tidak???".
"Kalau aku pilih tak mau bicara, kau mau apa???
"Kubunuh dirimu".
"Hiiih.. Hiiih.. Hiiih.. masa kau mampu untuk membunuh diriku?? ngimpi aah..".
"Bangsat rupanya kau cari mati..." hardik si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang dengan gusar.
Badannya menerjang kedepan, sepasang telapak laksana kilat meluncur ke depan mengirimkan beberapa pukulan berantai yang dahsyat.
Bayangan telapak segera menggunung, desiran angin tajam menderu2 bagaikan guntur yang membelah bumi, dalam waktu singkat seluruh tubuh pengemis cilik itu sudah terkurung rapat dibawah ancaman telapak lawan.
Dengan gesit dan lincah pengemis cilik itu berkelit ke samping menghindar kebelakang bagaikan seekor ikan lei hi badannya bermuncratan kesana kemari diantara gulungan ombak yang mengganas keadaannya, sangat berbahaya sekali.
"Tahan mendadak terdengar bentakan dingin berkumandang datang, begitu adem suara tadi hingga membuat hati orang tercekat.
si kupu-kupu warna warni Lie In Hang merasakan hatinya bergetar keras sambil menarik kembali serangannya ia segera meloncat mundur kebelakang.
si pengemis sendiri dengan hati terkesiap pun segera alihkan sinar matanya ke arah di mana berasalnya suara tadi.
Tampaklah sesosok bayangan manusia turun dari tengah angkasa dengan gerakan yang enteng dan sedikitpun tidak menimbulkan suara . "ooooh engkoh Kie..."
Dengan wajah ber-seri2 dan nada penuh kegirangan pengemis cilik itu berteriak namun diatas wajahnya terlintas pula rasa kaget dan tercengang yang tebal ia tak mengira perpisahannya selama beberapa bulan telah membuat tenaga dalam yang dimiliki saudara angkatnya ini memperoleh kemajuan yang amat pesat.
Begitu mengetahui siapakah yang telah datang wajah Lie In Hiang si kupu2 warna warnipun berubah jadi berseri, lirikan maut dan senyuman merayu segera terpancar dari wajahnya.
Han Siong Kie mengangguk sekali kearah pengemis cilik itu kemudian berpaling ke arah Lie In Hian wajahnya penuh diliputi oleh napsu membunuh yang tebal.
Dua orang dayang cilik di belakang majikannya segera tertegun melihat wajah si anak muda itu tanpa sadar mereka telah beralih kesisi tubuh Lie In Hiang.
"oooh, saudaraku sungguh kebetulan sekali kedatanganmu ini" terdengar perempuan she Lie itu berseru genit.
"Lie In Hiang, kau tak usah bertebal muka dan tak tahu malu, siapa yang sudijadi saudaramu??" tukas Han Siong Kie dengan wajah yang dingin lagi ketus.
"Addduh manusia berwajah dingin masa begitu kasar sikapmu terhadap diriku??? apa kau tidak kasihan padaku ini??"
"Lie In Hiang kau tak usah melantur kesoal yang lain, masih ingatkah kau akan hadiah yang telah kau berikan kepadaku tempo hari??? ini hari adalah saatnya bagiku untuk mengembalikan persenanmu itu berikut rente-rentenya."
Terjelos hati Lie In Hiang mendengar ancaman lawannya, dengan wajah berubah ia segera ulapkan tangannya kepada dua orang dayang yang berada disisinya: "Waktu sudah tidak pagi lagi ringkus bocah itu"
Ucapan ini tanpa sadar telah memperingat-kan pula diri Han Siong Kie bahwa sebelum tengah hari nanti dia musti sudah sampai dikuil Boe Hoo dipantai Pek swie Tham untuk menyelesaikan persoalan dari pengemis dari selatan, dengan cepat iapun mengambil keputusan.
Terdengar kedua orang dayang cilik itu mengiakan dan segera menerjang maju ke depan, empat buah telapak serentak mencengkeram tubuh sianak muda she Han itu.
Dari gerakan tubuh yang didemontrasikan oleh Han Siong Kie barusan, kendati pengemis cilik itu tahu bahwa kepandaian sianak muda ini sudah memperoleh kemajuan tapi ia tak tahu sampai dimanakah kemajuan yang berhasil diperolehnya, ia kuatir kepandaiannya masih belum sanggup menandingi kedua orang dayang itu maka sambil geserkan badan ia ayun telapak tangannya siap menyambut datangnya serangan dari kedua orang dayang itu.
"Mundur" bentakan nyaring bergema memekikkan telinga, sambil menerjang maju ke muka Lie In Hiang melancarkan pula sebuah babatan menghantam tubuh pengemis cilik itu...
Hampir pada saat yang bersamaan dua kali jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, tampaklah dua sosok bayangan manusia mencelat ke angkasa dan blaaam blaaam segera terbanting tiga tombak dari kalangan, darah segar muntah dari mulut kedua orang itu.
Pengemis cilik itu jadi tertegun dengan cepat ia meloncat mundur kebelakang. si Kupu2 warna warni Lie In Hiang sendiri juga tertegun dan berdiri melongo dibuatnya.
Bagaimana caranya Han Siong Kie menghantam tubuh kedua orang dayangnya hingga mencelat ke tengah udara?? ia tak sempat untuk melihatnya.
Siapa yang percaya kalau seorang pemuda yang belum mampu apa2 pada tiga bulan berselang, sekarang telah memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyatnya??
Ilmu silat yang dimiliki kedua orang dayang itu boleh dibilang cukup menandingi kepandaian silat yang dimiliki jago lihay kelas satu didalam dunia persilatan, tetapi mereka tak sanggup untuk menahan sebuah pukulannya pun.. Apakah tempo dulu ia hanya sengaja menyembunyikan kepandaiannya??
Kupu2 warna Warni Lie In Hiang adalah Tongcu utama dari perkumpulan Thian chee Kau, sebagai seorang jago lihay yang banyak pengalaman serta pengetahuan, setelah tertegun sejenak. la segera pulih kembali dalam ketenangan, dengan sepasang mata yang genit ia melirik beberapa kati wajah si pemuda itu..
Pemuda ganteng dengan ilmu silat yang lihay, hal itu merupakan suatu keserasian yang sulit ditemukan keduanya dikolong langit.
Pikiran dan hati perempuan genit ini mulai terpengaruh oleh ketampanan wajahnya, ia mulai merasakan jantungnya berdebar keras hingga tanpa sadar sepasang pipinya berubah jadi merah padam.
Han Siong Kie sendiri boleh dibilang sama sekali tidak terpengaruh oleh apa yang sedang dihadapinya saat ini, karena dalam hatinya ia pernah membenci semua perempuan yang ada dikolong langit, terutama sekali terhadap perempuan yang berada dihadapannya, boleh dibilang rasa bencinya berlipat2 ganda.
Pengemis cilik Tonghong Hwie sambil mementangkan sepasang biji matanya yang jeli berdiri mematung ditempat semula, tubuhnya sedikitpun tak berkutik sementara wajah nya tetap tidak berubah, hanya matanya saja berputar tiada hentinya sebentar memandang kesana sebentar lagi memandang kemari.
"Lie In Hiang" terdengar Han Siong Kie menegur dengan suara dingin. "Tempo hari kau sudah menempeleng aku sebanyak dua kali, ini hari aku hendak hadiahkan empat buah tempelengan kepadamu".
"Oooh begitu?? bagaimana kalau di coba2 dulu?? mampu tidak??" jengek perempuan itu sambil mengerutkan alisnya.
Han Siong Kte mendengus dingin, sepasang telapaknya berputar dan menggurat kedepan, dengan suatu gerakan yang cepat tapi aneh ia lancarkan sebuah serangan dahsyat. .
Inilah salah satu jurus dari tiga jurus sakti "Leng Koe sam si " peninggalan dari Leng Koe sangjien.
Dari gerakan tangan musuhnya yang aneh dan cepat si kupu2 warna warni Lie In Hiang segera merasakan keadaan tidak menguntungkan, belum pernah ia jumpai serangan macam ini, karena itu terpaksa badannya berkelit sebisanya kesamping sambil ayunkan tangannya coba menangkis..
"Plak Ploook... dua kali gaplokan nyaring berkumandang diangkasa, dengan sempoyongan si kupu2 warna warni Lle In Hiang mundur beberapa langkah kebelakang, diatas wajahnya nampaklah dua buah bekas telapak yang amat nyata, darah segar mengucur ke luar dari bibirnya.
seperti baru mendusin dari impian, sipengemis cilik Tonghong Hwie segera berseru keras:
"Bagus sekali hajar yang lebih keras lagi...".
"Ehmm masih ada dua kali..." seru Han Siong Kie dengan nada yang tetap dingin dan ketus.
Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya, sang badan telah berkelebat lagi kemuka.
"Ploook.. Ploook.." untuk sekian kalinya terdengar dua kali gaplokan nyaring berkumandang diangkasa diiringi dua kali dengusan kesakitan.
Dengan mulut berlumurkan darah Lie In Hiang si kupu2 warna warni itu mundur ke belakang dengan sempoyongan, wajahnya berubah jadi menyeringai seram bagaikan setan, teriaknya dengan penuh kebencian:
"Manusia berwajah dingin hatimu terlalu keji, suatu hari aku pasti akan menyuruh kau rasakan pembalasan sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari apa yang kau lakukan terhadap diriku saat ini".
"Hmm kau tidak akan memperoleh kesempatan untuk melakukan pembalasan.."jengek Han Siong Kie sambil menggertak giginya.
Telapak tangan segera berkelebat dan menghantam keatas ubun2 perempuan itu.
seketika itu juga Lie In Hiang merasakan sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya teriaknya dengan suara seram:
"Manusia berwajah dingin, sekalipun berubah jadi setan aku tak akan mengampuni dirimu sekarang turun tanganlah"
Dengan cepat Han Siong Kie putar otak nya dan berpikir didalam hati.
Ketika aku terhantam masuk kedalam sungai oleh pemilik Benteng Maut Go siauw Bie lah yang telah menolong jiwa ku, sedang ayah gadis itu pangcu dari perkumpulan pat Gie Pang Go YoeToo beserta rekan2nya Kanglam Jit Koay telah mati binasa semua ditangan perempuan yang berhati kejam bagaikan kala itu. aku telah berjanji menyerahkan perempuan ini kepada Go siauw Bie sebagai balas budi kepadanya, bila kubunuh dirinya sekarang juga maka bagaimana dengan hutang budiku dengan perempuan tersebut?? ...aaah. baiknya untuk sementara waktu kulepaskan dulu dirinya, tak urung hari ini aku sedang repot dan tak mungkin menghantarnya kepada gadis itu.
Karena berpikir demikian diapun urungkan niatnya untuk mencabut jiwa Lie In Hiang
sementara itu, ketika di-nanti2kannya namun telapak Han Siong Kie tak kunjung tiba, si kupu2 warna warni segera salah mengira pemuda itu sudah tertarik oleh kencatikan wajahnya dan tak tega untuk turun tangan. Maka sambil mementangkan matanya lebar2 ia berseru: "Eeei.. manusia berwajah dingin, ayoh turun tangan".
"Hei hari aku tak akan membinasakan dirimu " seru Han Siong Kie sambil menarik kembali telapaknya. "Tapi kalau aku sampai berjumpa lagi dengan dirimu dikemudian hari, aku tak akan melepaskan dirimu dengan begini gampang, ingatlah akan perkataanku tadi". .
"Engkoh Kie.." buru2 pengemis cilik itu berseru tatkala dilihatnya sianak muda itu ada maksud hendak melepaskan korbannya. "Kau.. apakah kau hendak melepaskan perempuan yang berhati kejam bagaikan ular ini.."
Dengan pandangan benci dan mendendam si kupu2 warna warni Lie In Hiang melirik sekejap kearah pengemis cilik, kemudian dengan pandangan yang kalut menyapu sekejap pula ke atas wajah Han Siong Kie, ujarnya sambil mundur dua langkah kebelakang: "Manusia berwajah dingin, kau tidak menyesal berbuat begitu?? "
"Hmmm cepat enyah dari sini, telah kukatakan bahwa untuk sementara waktu kulepaskan dirimu ini hanya sementara mengerti?"
Mimpipun sikupu-kupu warna warni Lie In Hang tidak menyangka kalau kekalahan yang dideritanya hari ini begini mengenaskan, hampir saja selembar jiwa tak bisa diselamatkan terutama sekali kekalahannya di tangan seorang pemuda yang sama sekali tiada nama didalam dunia persilatan.
Makin dipikir, ia merasa makin benci dan dendam tapi ketika sinar matanya sekali lagi bertemu dengan raut wajahnya yang tampan, ia jadi tertegun dan berdiri termangu2 tak bisa ia bedakan apakah itu benci ataukah cinta.
"Aku harus berhasil menguasai dirinya, menaklukkan mempermainkan kejantanan-nya sampai puas kemudian aku hendak menghancurkan hidupnya agar sepanjang hidup ia tersiksa dan menderita" sumpah perempuan itu di dalam hati, diluaran ia masih tetap tenang sedang di hatinya tersenyum, perempuan yang berhati kejam bagaikan kala ini mulai merencanakan suatu rencana yang paling busuk.
Tanpa banyak bicara lagi, ia putar badan dan segera kabur dari tempat itu diringi oleh kedua orang dayangnya.
Diam2 Han Siong Kie bergidik juga hatinya menghadapi perempuan yang berhati licik itu. memandang bayangan punggungnya yang menjauh diam2 ia menghela napas lega. Pada saat itulah sipengemis cilik baru menegur dengan nada menggerutu.
"Engkoh Kie, sejak berpisah ditepi sungai tempo dulu kau telah pergi kemana saja??? sungguh amat menderita aku mencari jejakmu... oooh bukankah kau pernah berjanji kepadaku bahwa selamanya tak akan meninggalkan diriku?? tetapi..".
"Adik Hwie, bukankah sekarang aku telah datang kemari?? "
"seandainya kau tidak terpancing datang kemari oleh pertempuran sengit ini, tentu kau..".
"Aku sama saja akan pergi mencari dirimu"
"Engkoh Kie, kiranya kau adalah seorang jagoan yang tidak mau mengunjukkan diri?" ".
"Kepandaian silat yang kau miliki amat lihay sekali siauw te mengakui bahwa aku tak bisa menandingi dirimu tetapi sewaktu tempo hari berada ditepi sungai kau..."
"Ooooh adik Hwie saat ini aku masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan sebelum tengah hari nanti aku harus sudah sampai dikuil Boe Hoo dipantai Pek swie Tham, mengenai persoalan itu baiklah kuceritakan kepadamu dikemudian hari saja, lain kali kita akan bertemu dimana???"
"Urusan penting apa silih???" sela Tonghong Hwie si pengemis cilik itu dengan manja.
"Sekarang aku tak sempat menerangkan kepadamu, aku harus segera melanjutkan perjalanan"
"Tidak. Aku ikut beserta dirimu kemanapun kau hendak pergi aku akan berada disampingmu"
"Adik Hwie kau... " saking cemasnya air muka Han Siong Kie berubah jadi merah padam.
"Engkoh Hwie, bukankah antara kita sudah pernah angkat sumpah untuk sehidup semati?? mengapa sekarang hendak tinggal-kan diriku???.."
"Aku bukan ingin meninggalkan dirimu, aku harus pergi karena ada urusan penting yang harus diselesaikan, lagipula urusan amat berbahaya sekali, Bagaimana kalau kita berjanji saja untuk bertemu tiga hari lagi?? kau yang akan cari aku atau aku yang akan mencari dirimu???..."
"Tidak... tidak bisa jadi kalau toh kita sudah angkat sumpah untuk sehidup semati maka ada bencana kita harus tanggulangi bersama ada kesenangan kira nikmati bersama, semakin kau mengatakan bahaya aku semakin bertekad untuk ikut"
Di desak terus menerus oleh adik angkatnya ini, lama kelamaan Han Siong Kie jadi kewalahan juga akhirnya sambil mendepak2 kan kakinya ia mengangguk. "Baiklah ayo kita berangkat"
"Hmm. kau mengajak aku bukan muncul dari dasar hati yang tulus, kau berbuat begini tentu terpaksa... tidak... aku tidak jadi ikut"
"ooooh saudaraku yang baik kau toh bukan seorang perempuan, kenapa sih berpikiran begitu picik?? ayolah mari kita segera berangkat"
Dari balik sorot mata pengemis cilik itu mendadak terlintas suatu cahaya yang sangat aneh, ia melirik sekejap kearah saudara angkatnya dan mendadak bertanya:
"Engkoh Kie, kau pernah bilang kepadaku bahwa kau paling benci kaum wanita benarkah itu??"
"Benar, sudahlah jangan banyak membicarakan persoalan yang tak berguna, ayoh kita segera berangkat"
"Engkoh Kie, seandainya,... seandainya...."
"Seandainya kenapa??."
"Seandainya aku benar2 adalah seorang gadis bagaimanakah sikapmu terhadap diriku???"
"Aduuuh saudaraku yang baik, perduli kau laki atau perempuan aku mohon kepadamu marilah kira segera melanjutkan perjalanan, ada suatu persoalan maha besar yang harus segera kuselesaikan, bila sampai terlambat aku bisa menyesal selama hidup," Tapi pengemis cilik itu masih saja mengomel:
"Engkoh Kie, katakan dulu kepadaku andaikata aku adalah seorang gadis kau tak akan membenci diriku katakanlah "
Saking mangkel dan dongkolnya Han Siong Kie men-depakkan kakinya berulang kali diatas tanah.
"Tidak mungkin tidak mungkin kau ini cuma pandainya bikin gara2 saja ayoh berangkat"
Kali ini ia sambar tangan pengemis cilik itu dan ditariknya untuk segera melakukan perjalanan.
Dalam perjalanan itulah secara ringkas Han Siong Kie mengisahkan pengalaman aneh yang ditemuinya didalam rimba belantara beserta tujuan dalam perjalanan kali ini.
Tonghong Hwie yang mendengarkan dengan seksama sebera menjulurkan lidahnya beberapa kali.
Dengan mengerahkan kekuatan yang dimilikinya, Han Siong Kie melakukan perjalanan cepat kearah depan, sepanjang perjalanan ia menggenggam terus tangan Tonghong Hwie sebab ia takut pengemis itu tak sanggup mengikuti langkah kakinya bila ia lepaskan:
Tengah hari sudah hampir tiba, namun tujuan belum juga sampai .hal ini membuat sianak muda itu cemas bercampur gelisah.
Itu dia didepan sana adalah pasti Pek Sam Tham mendadak terdengar Tonghong Hwie berteriak sambil menuding kearah sebuah pantai berpasir putih yang mementang ditempat kejauhan.
Semangat Han Siong Kie segera berkobar kembali, tanyanya: "Lalu dimanakah letaknya kuilBoa Hoo?"
"Itu didalam hutan yang berada ditepi pantai".
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah tiba di depan hutan yang terletak ditepi pantai, tampaklah sebuah bangunan rumah bertembok merah muncul dari balik hutan, tetapi yang aneh ternyata tak nampak sesosok bayangan manusiapun.
Perlahan2 Han Siong Kie memperlambat gerakan tubuhnya dan memperhatikan sekejap suasana di sekitar sana, lalu serunya: "Ayoh kita masuk kedalam".
Tiba2.. Tonghong Hwie menjerit lengking, dengan cepat ia melengos kesamping.
Han Siong Kie yang menjumpai keadaan itu jadi ikut terperanjat, ia tangkap tangan saudara angkatnya dan bertanya dengan nada kaget. "Adik Hwie, apa yang telah kau temukan?"
Dengan badan gemetar keras Tonghong Hwie mundur kebelakang beberapa langkah, sorot matanya memancarkan rasa ketakutan yang hebat, dari atas jidat, hidung dan pipi mengucur keluar keringat sebesar kacang kedelai, ia sebera menuding kearah sebuah batu besar ditepi hutan.
Mengikuti arah yang ditujukan Han Siong Kie segera menoleh, terlihatlah sebuah benda berwarna merah darah tergeletak di atas batu cadas, ketika benda itu diperhatikan dengan lebih seksama lagi hatinya seketika terjelos.
Mendadak satu ingatan berkelebat didalam benaknya, pikiran itu membuat darah dalam tubuhnya mengembang cepat, pandangan matanya jadi berapi-api dan dengan perasaan bergolak serunya:
"Aaah....betuL tidak salah lagi itulah Tengkorak maut, lambang dari si iblis tua itu"
Tengkorak maut dapat muncul ditempat itu, kejadian ini benar2 merupakan suatu hal yang diluar dugaan.
Tengkorak maut sekali lagi Han Siong Kle berbisik dengan suara yang serak dan lirih..
-ooo0ooo-
BAB 9
"Eng..engkoh Kie.. maa.. mari ki... kii . kita perr.. pergi saja" seru Tonghong Hwie dengan suara terpatah2.
Napsu membunuh dan rasa dendam telah menyelimuti seluruh benak Han Siong Kie, sambil menatap lambang Tengkorak darah itu dengan penuh kebencian teringatnya: "Kenapa kita musti pergi??".
"Apakah kau sudah bosan hidup???" seru Tonghong Hwie dengan wajah berubah jadi hijau membesi. "Tidak aku tak boleh membiarkan kau mati, sebab kalau kau mati akupun tak ingin hidup lagi dikolong langit"
"Adik Hwie, tenangkaniah hatimu jangan panik.."
"Tidak. Engkoh Kie, aku mohon kepadamu berlalulah dari sini.... Tengkorak maut tiada tandingannya dikolong langit, tiada seorang manusiapun yang sanggup untuk menandingi dirinya"
"Aku tidak perduli sampai manakah kelihayannya, kebetulan sekali akupun sedang mencari dirinya".
"Kau, mengapa kau mencari dirinya??".
"Aku benci kepadanya, Tengkorak Maut telah melenyapkan keluargaku.. aku mempunyai dendam berdarah sedalam lautan dengan dirinya, selama aku masih hidup aku bersumpah hendak membinasakan dirinya".
Tonghong Hwie tersentak kaget dan secara beruntun ia mundur tiga langkah kebelakang dengan sempoyongan bagaikan seorang yang kehilangan semangat rintihnya lirih: "Kau... kau mempunyai ikatan dendam dengan Pemilik Benteng Maut??..." .
"Sedikitpun tidak salah"
"Keee.. kenapa.. kenapa kau amat membenci dirinya???
"Karena dia sudah membasmi seluruh keluargaku" sahut Han Siong Kie sambil menggertak gigi keras2.
Secara beruntun Tonghong Hwie mundur lagi beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan, gumamnya:
"oooh Thian kenapa?? kenapa...".
"Adik Hwie kau cepat berlalu dari tempat ini "
"Aku??? tidak aku tak mau tinggalkan dirimu seorang diri sampai matipun aku ingin mendampingi dirimu"
Han Siong Kie merasa amat terharu, hampir saja dia ikut mengucurkan air mata. setelah berdiri ter-manggu2 beberapa saat lamanya tiba2 Tonghong Hwie berteriak lagi:
"Tidak mungkin tidak mungkin... hal ini tidak mungkin terjadi... ooooh hal ini bukan kenyataan bukan."
Han Siong Kie jadi melongo menyaksikan tingkah polah adik angkatnya yang mendekati gila itu, buru2 ia genggam tangannya kencang2 dan berseru: "Adik Hwie, tenangkanlah hatimu, kau maksudkan apanya yang tidak mungkin. " Tonghong gelagapan sendiri lama sekali ia baru berkata:
"Maksudku... maksudku Tengkorak maut tak mungkin bisa munculkan diri ditempat ini"
"Kenapa tak mungkin?" apa alasanmu berkata begitu.??
"Tentang soal ini... tentang soal ini... aku selalu merasa bahwa kejadian ini bukanlah suatu peristiwa yang sungguhan .."
"Tetapi kenyataan toh sudah terbentang didepan mata kita?? "
"Engkoh Kie, kumohon kepadamu tinggalkanlah tempat ini" sekali lagi Tonghong Hwie meminta.
"Tidak "jawaban dari si anak muda itu tegas sekali.
"Tetapi kau tidak boleh mati"
"Apakah kau yakin bahwa akupun bakal mati?? "
Dengan telapak tangannya Tonghong Hwie menyeka air mata yang jatuh membasahi pipinya, lalu sahutnya:
"Hal itu bukan bisa terjadi siapapun tak akan menang bila berani memusuhi Tengkorak Maut"
"Mungkin ucapanmu memang benar" sahut Han Siong Kie sambil menggertak giginya kencang2 sinar mata penuh kebencian memancar keluar dari balik matanya. "Tetapi aku telah bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan Tengkorak Maut, mungkin aku yang bakal mati tapi mungkin juga dia yang bakal mampus, selama aku masih bisa hidup dikolong langit aku bersumpah akan memukul rata Benteng Maut..."
Sinar mata Tonghong Hwie jadi pudar, badannya mundur makin terhuyung, gumamnya: "ooooh engkoh Kie kejadian ini terlalu menakutkan"
Han Siong Kie tidak menggubris adik angkatnya lagi, ia mendongak memandang cuaca lalu berseru:
"Tengah hari sudah tiba aku harus masuk kedalam kuil Boe-Hoo dan menyelesaikan tugas yang dibebankan pengemis dari selatan kepadaku.." Habis berkata ia sebera melangkah masuk kedalam hutan.
" Engkoh Kie, apakah kau bertekad untuk masuk kedalam???" teriak Tonghong Hwie sambil menarik tangannya kencang2.
"Tentu saja, engkoh tua telah menyerahkan tugas ini padaku, sebagai seorang Bu lim yang telah memberikan kesanggupannya aku harus melaksanakan tugas itu hingga selesai, kendati badan harus hancur dan jiwa harus melayang, adik Hwie kau tak usah membujuk diriku lagi"
Tonghong Hwie angkat kepalanya memandang sekejap kearah tengkorak darah yang bertengger diatas batu cadas se-olah2 sedang memikirkan sesuatu, ia termenung beberapa saat lamanya.
Kemudian sambil mengendorkan cekalan-nya dia mengangguk. "Baiklah, mari kita ber sama2 masuk ke dalam"
"Tidak. adik Hwie, kau harus tinggalkan tempat ini dengan segera, aku tidak ingin kau ikut menempuh bahaya karena persoalanku, aku tidak ingin kau ikut konyol bersama diriku".
"Engkoh Kie, kau tak usah banyak bicara lagi, mari kita segera berangkat"
"Baik" seru Han Siong Kie kemudian sambil menggertak gigi.
Kedua orang itu menerobos ke dalam hutan dan bergerak mendekati kuil yang berdiri dengan angkernya didalam hutan, baru saja mereka berjalan sejauh dua puluh tombak. tiba2 Tonghong Hwie menjerit kaget dan berteriak kembali dengan ketakutan: "Engkoh Kie, kedatangan kita sudah terlambat, coba kau lihat." sambil barkata ia segera menuding kearah depan.
Dengan cepat Han Siong Kie alihkan sinar matanya, bulu kuduknya kontan bangun berdiri dan ia bersin beberapa kali.
Tampaklah mayat manusia bergelimpangan ditengah hutan tersebut, satu.. dua.. tiga..
Ternyata ada puluhan sosok banyaknya, bahkan mereka semua terdiri dari anak murid perkumpulan Kay pang.
Keadaan dari mayat2 itu kesemuanya mengerikan sekali, mata melotot keluar dan darah kental mengucur keluar dari tujuh buah lubang indranya.
Kalau ditinjau sepintas lalu, rupanya mereka semua mati diujung sebuah pukulan yang amat beracun sekali.
"Hmm mereka semua pasti mati ditangan Tengkorak Maut " dengus pemuda kita dengan gusar. "Tidak aneh kalau tiada seorang manusia yang munculkan diri di tempat ini, kiranya mereka sudah mati binasa semua"
Peristiwa yang sedang berlangsung pada saat ini benar2 di luar dugaan siapapun, pihak kay pang didalam rapatnya memilih pangcu baru bukan saja telah dicampuri urusannya dengan kehadiran para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw, bahkan Tengkorak Maut pun ikut mencampurikan diri dalam persoalan itu.
Han Siong kie sendiri walaupun menerjang masuk kedalam dengan mempertaruhkan keselamatannya, tetapi dalam hati siapapun merasa tidak tenang, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh pakaian yang ia kenakan. Bagaimana kelanjutan dari peristiwa itu?? hingga detik ini masih sulit diduga, tapi yang nyata puluhan jiwa anak murid Kay pang telah menemui ajalnya.
suasana dalam hutan itu sebera dirasakan jadi tebang dan tercekam oleh keseraman serta kengerian yang mencekat hati. Pada saat itulah..
Tiba2 dari dalam kuil Boe Hoo berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat nyaring, begitu keras suara tertawa itu hingga menusuk telinga setiap orang yang mendengar.
Han Siong Kie serta Tonghong Hwie jadi amat terperanjat setelah mendengar gelak tertawa yang menyerupai auman binatang aneh itu.
BlaaaamBlaaaam benturan2 dahsyat bergelepar diangkasa diikuti sebuah sudut dinding bangunan ambrol dan runtuh keatas tanah. Air muka Han Siong Kie seketika berubah hebat.
"Aduuuh celaka" teriaknya "Pastilah si Tengkorak maut sedang melangsungkan pembunuhan massal terhadap perkumpulan Kay pang"
"siaw sicu jangan gegabah"
Mengikuti datangnya seruan tersebut meluncur tiba sesosok bayangan abu2 dari sisi kalangan, angin pukulan yang kencang dan dahsyat segera memaksa badan sianak muda itu melayang kembali keatas permukaan.
Terlihatlah seorang hweesio tua beralis putih berjubah abu2 tahu2 sudah berdiri menghadang dihadapannya.
Han Siong Kie merasakan jalan perginya terhadang, ia segera ayunkan telapak tangan-nya melancarkan sebuah pukulan kedepan. "Engkoh Kie, jangan bertindak gegabah, dia adalah padri dari utara ......"
Mendengar peringatan tersebut, sianak muda itu menarik kembali serangannya dengan meloncat mundur ke belakang.
Menanti ia awasi wajah padri itu dengan lebih seksama dengan cepat diapun kenali kembali orang itu sebagai Pak Ceng yang pernah dijumpainya sewaktu berada ditepi sungai depan Benteng maut.
Buru2 ia menjura dan mohon maaf katanya:
"oooh cianpwe maafkanlah kalau boanpwee bertindak terlalu ceroboh terhadap diri mu... "
Padri dari utara tidak menggubris ucapannya itu, ia melirik sekejap kearah kuil Boe Hoe dengan sinar ketakutan kemudian serunya cemas: "Ayoh kila cepat berlalu dari sini"
"Berlalu???" seru Han Siong Kie tertegun "Tapi boanpwee telah mendapat tugas dari pengemis Lam kay untuk... "
"Aku sudah tahu, ayoh cepat berlalu kalau kita terlambat mungkin tak akan sempat lagi setelah tinggalkan tempat ini kita bicarakan persoalan lain"
"Tapi urusan mengenai Kay pang...".
Sepasang tangan Padri dari utara bergerak cepat, laksana kilat ia cengkeram tangan Han Siong Kie serta Tonghong Hwie kemudian kabur keluar dari hutan tersebut.
Han Siong Kie yang diseret terus jadi melongo dan kebingungan sendiri, ia tak tahu apa maksud tujuan dari Pak Ceng berbuat begini, kalau ditinjau dari kepandaian silat yang dimiliki jelas tak mungkin tangannya berhasil dicengkeram oleh padri dari utara dalam sekali sambaran.
Tetapi berhubung kesatu ia tidak menyang-ka dan kedua ia tahu bahwa Pak Ceng maupun Lam Kay sama2 merupakan manusia aneh dari dunia Persilatan, lagipula hubungannya dengan mereka tidak jelek. maka setelah mengetahui bahwa lawannya mengandung maksud mendalam, iapun tidak memberikan perlawanan barang sedikitpun juga.
Dalam pada itu mereka sudah keluar dari hutan, tapi padri dari utara masih menarik tangan kedua orang itu tiada hentinya, gerakan tubuhnya cepat bagaikan terbang, sesudah berjalan sejauh puluhan li dan tiba dibalik sebuah celah bukit akhirnya ia berhenti. si Padri dari utara melirik sekejap ke arah Tonghong Hwie, kemudian tegurnya:
"Apakah kau anggota dari Kay pang?"" Tonghong Hwie memandang sekejap ke arah padri tua itu kemudian tertawa cekikikan,
" Hiiih.. hiiiih hiiih. . bukan boanpwe adalah seorang pengemis gelandangan"
"Apa maksudmu pengemis gelandangan?"
"Kesatu, aku tidak pernah minta2 makan kedua aku tak pernah minta2 sedekah uang ketiga, aku tidak punya guru dan keempat aku tak punya perkumpulan, luntang lantung ke sana kemari dengan bebas dan merdeka tanpa ikatan dari manapun, itulah yang disebut pengemis gelandangan aneh bukan??..."
Sepasang alis padri dari utara segera berkerut kencang, namun ia tidak bisa bicara lagi.
Dalam pada itu Han Siong Kie sudah tak dapat menahan mangkel dan dongkolnya didalam hati, dengan cepat ia berseru: "Loocianpwee sebetulnya apa yang telah terjadi???"
Jilid 5
MENDAPAT pertanyaan ini air muka Padri dari Utara segera berubah jadi keren dan serius, sahutnya
"Siauw sicu, tahukah kau manusia2 macam apakah yang sedang bertempur didalam kuil BooHoo??"
"Tengkorak maut".
"Dan siapakah tandingannya?".
"Tentang soal ini, apakah Loocianpwe tahu??". Padri dari utara sebera mengangguk.
"Ehmm, dia adalah si malaikat berhawa Im. Mi sioe Ing".
"Apa?? si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing??" jerit Han Siong Kie dengan hati terperanjat.
"Secara bagaimana ia telah datang ke situ dan bertempur melawan Pemilik dari Benteng Maut??"
"Kejadian ini hanya suatu kebetulan saja. Mungkin si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing sedang melakukan perjalanan lewat pantai Pek swie Tham, ketika menyaksikan disisi jalan terdapat lambang Tengkorak Maut maka timbullah napsunya untuk bertempur melawan manusia paling menakutkan dari kolong langit ini, untung terjadi peristiwa ini kalau tidak seandainya kalian masuk ke dalam hutan sekalipun memiliki kepandaian yang lihay apakah kau mampu untuk mempertahankan hidupmu??."
"Malaikat berhawa Im, Mo sioe Ing berani menantang pemilik dari Benteng Maut untuk bertempur, aku pikir kepandaian silat yang dimilikinya pasti mengerikan sekali, beberapa hari berselang si pengemis dari selatan pun harus menderita luka dalam yang sangat parah didalam tiga buah gebrakan saja."
"Loocianpwee " terdengar Tonghong Hwie berseru dengan nada gemetar. " Apakah kau berhasil menjumpai raut wajab dari Tengkorak maut itu?"
"Bertemu sih tidak. cuma selama ini loolap selalu bersembunyi di sudut ruangan sambil menanti, ketika pemilik dari Benteng Maut itu sedang memencilkan dirinya ....." tiba2 padri ini berhenti sejenak untuk tukar napas kemudian tambahnya "Tetapi menurut penglihatan loolap. kejadian ini agak sedikit mencurigakan..."
"Apakah keadaan dari Tengkorak Maut itu agak tidak beres ...." tukas Tonghong Hwie cepat.
Padri dari utara segera alihkan sinar matanya kearah pengemis cilik itu dan menatap wajahnya tajam2.
"siauw sicu, apakah kau tahu bagaimanakah raut wajah serta potongan badan dari pemilik Benteng Maut??"
"Kudengar dari orang lain yang mengatakan katanya dia adalah seorang manusia berkerudung abu2 berjubah lebar warna abu2 dengan telapak kanan berwarna putih bersih bagaikan kumala serta bertelapak kiri warna hitam bagaikan tinta bak..."
Mendadak seluruh tubuh padri dari utara tergetar keras tanpa sadar ia mundur satu langkah lebar ke belakang, sepasang matanya menatap wajah pengemis cilik itu tanpa berkedip membuat Tonghong Hwie yang dipandangi terus jadi malu dan tundukkan kepalanya dengan ter sipu2.
Beberapa kemudian padri itu baru berkata kembali:
"Siauw sicu kau dengar dari siapa??? menurut sepengetahuan loolap si pemilik dari Benteng Maut belum pernah unjukan dirinya dihadapan orang asing????"
"Boanpwee hanya sempat mendengar pembicaraan itu tanpa sengaja, apa loocianpwee jumpai apakah persis seperti apa yang boenpwee katakan barusan...??? "
"Tentang apa ini... tentang soal ini... loolap sendiripun kurang begitu jelas, tapi yang pasti bayangan tubuhnya memang abu2.."
"Loocianpwee apakah kau telah berjumpa dengan pengemis dari selatan?" tiba2 Han Siong Kie menyela.
"Belum"
"Lalu dari mana loocianpwee bisa tahu kalau mereka akan berkumpul disini??"
"Dari mulut seseorang loolap mendapat tahu bahwa perkumpulan Kay-pang sedang melakukan pertemuan besar di tempat ini, maka loolap segera berangkat kemari untuk menghalangi niat sementara dari penghianat untuk merebut kedudukan kursi ketua"
"oh, siapakah yang menyampaikan berita ini kepada cianpwee??"
"Seorang lisicu menyebut dirinya sebagai Yoe Sim Jien...."
"Yo Sim Jien??? kembali perempuan itu?? sungguh aneh" teriak Han Siong Kie dengan hati terkeiut.
"Apakah siauw sicu kenal dengan li sicu yang menyebut dirinya Manusia yang ada maksud ini???".
"Tidak kenal, cuma dia pernah....".
Berbicara sampai disini mandadak ia merandek dan tidak dilanjutkan lagi, karena ia tidak ingin mengutarakan tentang masalah asal usulnya serta apa yang diperingatkan "Yoe Sim Jien" kepadanya.
Pengemis cilik Tonghong Hwie jadi tebang segera desaknya: "Dia pernah kenapa???".
"Ooooh.. dia pernah menyampai pesan dari mendiang leluhurku kepada diriku " sahut sianak muda itu sambil tertawa rikuh.
Karena ia takut saudara angkatnya mendesak lebih jauh, cepat2 ia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain dan ujarnya:
"Loocianpwee, bagaimana caranya kita akan menyelesaikan persoalan yang meliputi perkumpulan Kay-pang??".
"Setelah Loolap tiba disitu tadi, aku segera membubarkan kesembilan tiang loo serta ratusan anggota Kay pang untuk segera tinggalkan tempat itu, sebab kalau tidak akibatnya sukar dibayangkan dengan otak. seperempat jam setelah semua anggota Kay pang bubar Tengkorak Maut telah munculkan diri ditempat itu, puluhan orang anggota Kay pang yang tidak sempat kabur dari situ telah mendapat binasa ditangannya, aku rasa kalian tentu sudah menyaksikan sendiri bukan mayat mereka yang bergelimpangan didalam hutan..." Han Siong Kie mengiakan.
Terdengar Pak Ceng melanjutkan kembali.
"Seandainya simalaikat berhawa Im secara kebetulan tidak lewati ditempat itu, mungkin baik kau maupun aku tak akan sanggup menghadapi iblis tua yang berhati keji itu."
"Aaah.. Locianpwee, masa si malaikat berhawa Im begitu berani untuk bergebrak melawan pemilik dari benteng maut?" seru Tonghong Hwie.
"Ehmm menurut penilaian loolap yang mencuri lihat jalannya pertarungan dari tempat persembunyian, paling banter simalaikat berhawa Im hanya bisa bertahan sampai lima puluh jurus lagi, lama kelamaan dia pasti akan menderita kalah"
Han siang Kie tetap sangat menguatirkan persoalan dalam tubuh Kaypang, ia harus mencari keterangan duduk perkara yang sebenarnya untuk memberikan pertanggungan jawab kepada engkoh tuanya, maka kembali katanya kepada sipadri utara:
"Locianpwee, dapatkah kau memberi keterangan dengan lebih jelas lagi?? agar dikemudian hari boanpwee pun bisa memberikan pertanggungan jawabku terhadap Pengemis dari selatan".
Padri dari Utara mengangguk.
"Kemarin selagi Loolap melakukan perjalanan tiba2 perjalananku dihadang oleh seorang li sicu yang memakai kain kerudung putih, ia mengaku bernama "Yoe Sim Jien", menurut li sicu tadi katanya si pengemis bintang langit Jien Jiet yang telah menduduki jabatan Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kauw telah mendapat dukungan dari kaucunya untuk merebut kursi jabatan sebagai ketua perkumpulan Kay pang, bahkan diapun membawa tanda pengenal bambu hitam milik pengemis dari selatan, Li sicu itu minta kepada lolap untuk datang kekuil Boo Hoo dipantai Pek swie Than sebelum tengah hari untuk merintangi jalannya rencana tersebut, kemudian melaporkanpula duduknya perkara kepada para Tiangloo... "
"Lhoo. sipengemis bintang langit toh seorang Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kaw kenapa dia bisa . . ."sela Toanhong Hwie.
Belum habis ia berkata, sipadri dari utara telah menukas kembali:
"Pengemis bintang langit adalah suheng Te dengan ciangbunjin yang telah meninggal, berhubung ia telah melanggar pertarungan maka diusir dari perkumpulan tersebut dimana kemudian ia telah menggabungkan diri dengan pihak perkumpulan Thian chee Kauw, kali ini dengan mendapat dukungan yang penuh dari perkumpulannya ia diwajibkan merebut kursi jabatan ketua Kay pang dari rekan2nya, apa tujuan mereka?? tentu saja mereka ingin menggabungkan anak murid kay pang yang tersebar disegala penjuru kolong langit itu dibawah komando Thian chee Kauw. ."
"Kalau memang pengemis bintang langit sudah diusir dari perkumpulan, apakah dia berhak menduduki jabatan sebagai pangcu?"
"Pertama, ia sudah bersiap sedia menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya, dan kedua ia membawa bambu hitam milik pengemis dari selatan yang merupakan lambang tertinggi dari Kay pang, maka kesempatannya teramat besar untuk berhasil merebut kursi pangcu".
"Hmm urusan justru terjadi dikala pengemis dari selatan sedang menderita luka ditangan malaikat berhawa Im Mo Sioe Ing, kalau tidak rencana busuk dari pengemis bintang langit Jien Jit pasti akan kocar kacir tak karuan, dengan andaikan kepandaian dari Lam kay...
"Itu sih belum tentu "sela Pak ceng dengan alis berkerut, Thian chee Kauw sangat bernapsu untuk menyukseskan rencana besarnya ini, mereka tidak sayang untuk mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menunjang usaha Jien Jit, kejadian yang telah berlangsung hanya suatu kejadian yang kebetulan saja, membuat rencana busuk mereka dapat terwujud dengan gampang...
"Apa yang masih aku tidak pahami adalah dari mana Yoe sim Jien bisa tahu akan duduknya persoalan itu dengan jelas??"
"Tentang soal ini mungkin hanya dia sendiri yang tahu"
"Yang bikin kepala orang pusing dan tidak habis mengerti justru adalah kemunculan si Tengkorak Maut dipantai Pek swie Tham, ia muncul disaat yang sama serta turun tangan terhadap anggota perkumpulan Kay pang???..."
"Loolap sendiripun tak habis mengerti, apa sebabnya bisa terjadi seperti ini???"
"Tiga hari kemudian pengemis dari selatan akan datang sendiri ditempat ini untuk menyelesaikan persoalan itu"
"Tentang persoalan ini Loolappun sudah mendengar dari mulut Yoe sim Jien .."
Hampir saja Han Siong Kie mencelat ketengah udara saking kagetnya setelah mendengar perkataan itu teriaknya dengan suara keras:
"Darimana dia bisa tau akan pesoalan ini?? ucapan itu pengemis dari selatan hanya sampaikan kepada boanpwee seorang, dari mana dia bisa tahu akan hal ini???"
"Sedikitpun tidak salah peristiwa ini memang membuat orang jadi bingung dan tak habis mengerti"
"suatu hari aku pasti akan membongkar teka teki ini"
sambil gelengkan kepalanya padri dari utara menghela napas panjang.
"Aaai... peristiwa yang menimpa perkumpulan Kay-pang kali ini, walaupun untuk sementara waktu bisa ditunda, tapi pokok persoalannya belum dapat diselesaikan sama sekali, karena pihak Thian chee Kauw secara terang2an sudah membuka kedoknya untuk mengangkangi perkumpulan tersebut, sebelum tujuan mereka tercapai jelas pihak mereka tak akan lepas tangan dengan begitu saja
"Anak murid perkumpulan Kay pang tersebar luas diseluruh kolorsg langit, apakah mereka tak becus semua??".
"Persoalan tak bisa dikatakan demikian, Kay pang adalah suatu wadah yang menyerupai sarang naga gua harimau, cukup andaikan kesembilan orang Tianglonya masing2 memiliki kepandaian silat yang maha dahsyat, tetapi pihak Thian chee Kauw yang yang berhasil pula menjaring seluruh iblis dikolong langit untuk bergabung dengan mereka bukanlah suatu pertempuran berdarah, cepat atau lambat tak bisa dihindari lagi, persoalan yang paling membingungkan hati serangan ini adalah kehadiran si Tengkorak maut yang memusuhi pula pihak Kay pang, entah perbuatan ini disertai dengan suatu maksud atau hanya secara kebetulan saja".
"Jadi kalau begitu persoalannya hanya terletakpada si tengkorak maut??...".
"Tidak salah, karena itu walaupun sipengemis tua mengejar kemari juga tak ada gunanya" .
"Benarkah si tengkorak maut tiada tandingannya dikolong langit??"
"Dewasa ini memang demikian adanya"
Han Siong Kie menghembuskan napas panjang dan tidak berbicara lagi, otaknya ssgera beralih memikirkan pusaka sarung Buddha "Hoed Jiu Poo Jit" yang diperolehnya, asal ia berhasil menemukan sarung tangan yang sebelah lain, itu berarti ilmu see Mie sinkang akan berhasil dilatihnya...
Mendadak.... terdengar suara bantakan keras berkumandang datang dari tempat kejauhan. Ketiga orang itu sama2 terperanjat dengan wajah serius Han Siong Kie segera berkata. "Biar aku pergi memeriksanya"
Habis berkata ia enjotkan badannya bagaikan segulung asap segera melayang kearah mana berasalnya suara tadi.
Tampaklah diatas jalan raya bayangan mausia berseliweran, bentakkan2 keras bergema tiada hentinya dari balik gerombol manusia itu...
Bagaikan sukma gentayangan tanpa menimbulkan sedikit suarapun Han Siong Kie melay turun kurang lebih lima tombak dari kalangan pertempuran..
Tampaklah sesosok bayangan merah berdiri diantara kerumunan banyak orang, warna bajunya amat menusuk pandangan.
Dia bukan lain adalah kupu2 warna warni Lle In Hiang, Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kauw atau dengan perkataan lain sebagian besar manusia yang berada disitu bukan lain adalah anggota dari perkumpulan Thian chee Kauw.
Dengan pandangan yang tajam sianak muda itu alihkan matanya dari perempuan jalang itu ke arah kalangan pertempuran, tetapi dengan cepat ia berdiri tertegun di tempat itu.
Terlihatlah olehnya delapan orang kakek tua berbaju hijau sedang bertempur sengit melawan pengemis dari selatan.
Bukankah pengemis dari selatan telah terluka di tangan malaikat berhawa Im Mie Sioe Ing??? kemudian terhajar pula oleh pengemis bintang langit Jien Jiet yang berhianat hingga menderita luka parah dan jiwanya terancam bahaya?? kenapa secara tiba2 ia bisa muncul disini dan bertempur melawan orang???, selangkah demi selangkah Siong Kie berjalan mendekati kalangan pertempuran.
Tampak olehnya belasan sosok mayat menggeletak diatas tanah, jelas mereka mati ditangan pengemis dari selatan.
Han Siong Kie alihkan sinar matanya ke arah lain, diantara gerombolan manusia ia jumpai seorang pengemis berusia pertengahan yang berwajah burik. berhidung alang dan bermata tikus sedang mengawasi jalannya pertarungan dengan seksama, satu ingatan dengan cepat berkelebat didalam benaknya, ia berpikir:
"orang itu pastilah sipengemis bintang langit Jien Jiet adanya, heboh yang terjadi dalam tubuh perkumpulan Kay pang kali ini sebagian besar adalah timbul karena gara2 penghianat ini, aku harus mewakili engkoh tua untuk menghajar mati srigala ini.
Berpikir sampai disitu, badannya segera melesat ketengah udara, laksana kilat ia tubruk ke arah pengemis berusia pertengahan itu
Mimpipun pengemis tadi tak pernah menyangka kalau ada orang turun tangan terhadap dirinya dikala ia sedang memperhatikan jalannya pertarungan dengan penuh perhatian, ketika mendengar ada desiran angin tajam menyambar datang ia segera berpaling untuk melihat apa yang sebenarnya telah terjadi, tapi ingatan kedua belum sempat berkelebat lewat, tahu2 urat nadi pergelangan tangannya sudah kena dicengkeram oleh orang diikuti sebuah telapak lain telah menekan diatas jalan darah Beng bun hiatnya, ia jadi mati kutu dan tak berani berkutik lagi.
suasana seketika berubah jadi gempar, semua jago yang ada disitu pada berteriak kaget dan melompat mundur ke belakang.
Si kupu2 warna warni Lie In Hiang pun tak kalah kagetnya di bandingkan dengan orang lain melihat siapakah yang telah datang, ia segera menjerit lengking:
"Manusia berwajah dingin"
-ooo0ooo-
BAB 10
BERHUBUNG dengan jeritan lengking dari Lie In Hiang, maka sinar mata semua orangpun dialihkan keatas wajah Han Siong Kie.
sampai sipengemis dari selatan serta kedelapan orang kakek berbaju hijau yang sedang bertempur seng itpun tanpa terasa sudah menghentikan pertarungannya.
Manusia berwajah dingin, usianya belum mencapai dua puluh tahun, lagipula didalam dunia persilatan belum pernah mendengar disebutnya nama orang ini, maka air muka para jago lihay perkumpulan Thian chee Kauw rata2 menunjukkan kesangsian dan bingung.
Dengan andalkan kepandaian silatnya, mungkin sianak muda yang masih muda belia ini berhasil menghajar Lie In Hiang si kupu2 warna warni yang menjabat sebagai pimpinan Tongcu dari perkumpulan Thian chee kauw hingga muntah darah dan hampir saja jiwanya tercabut?? kejadian ini benar2 membuat orang tak habis percaya.
Didalam hati diam2 Han Siong Kie merasa geli, tak disangka olehnya julukan " manusia berwajah dingin" yang diberikan saudara angkatnya secara bergurau kini mulai dikenal oleh kawanan jago Bu-lim.
Bagaimana gerangan si manusia berwajah dingin munculkan diri dan membekuk batang leher pengemis bintang langit?? tak seorang pun yang tahu.
si Pengemis bintang langit Jien Jit sendiri yang urat nadi pada pergelangan tangannya dicekal orang, sedikitpun tak berani bergerak ataupun melawan, keringat dingin sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh badan.
Han Siong Kie melirik sekejap kearah Lie In Hiang, dengan pandangan dingin lalu tegurnya:
"Hey Lie In Hiang, sungguh tak nyana dengan begitu cepat kita telah saling berjumpa kembali".
Selapis napsu membunuh melintas diatas wajah Lie In Hiang yang berubah hebat, ia tertawa dingin.
"Manusia berwajah dingin" sahutnya, akupun tak pernah menyangka kalau begitu cepat kau telah datang kemari untuk menghantar kematianmu. Han Siong Kie mendengus dingin ia tidak berbicara lagi.
Dalam pada itu si pengemis Bintang la ngit Jien Jit sudah berteriak pula dengan suara keras.
"Manusia berwajah dingin, tahukah engkau siapakah pun Tongcu???"
"Huuuuh kau adalah si pengemis bintang langit Jien Jit yang menghianati perguruan dan murid buangan dari Kay pang, bukankah begitu???."
sekujur badan pengemis bintang langit gemetar keras, setelah mengumpulkan kembali keberaniannya ia membentak kembali:
"Manusia berwajah dingin, apa maksudmu menangkap diriku????"
Han Siong Kie mendengus dingin, ia segera menoleh ke arah pengemis dari selatan yang berdiri ter manggu2 ditengah kalangan dan bertanya: "Engkoh tua, apa rencanamu terhadap manusia laknat ini???".
"Hmm sedari dulu ia sudah diusir dari Kay-pang, ia tidak terhitung anak murid perkumpulan kami lagi" sahut Pengemis dari selatan dengan penuh kegusaran "Baginya tak perlu di hukum menurut peraturan perguruan lagi, saudara cilik, terserah pada mu apa yang hendak kau lakukan, aku sipengemis tua sih tiada pendapat".
"Kalau memang begitu, biar kumusnahkan dirinya sebagai penebus dosa atas kesalahannya terhadap Kay pang"
Pucat pias seluruh wajah pengemis bintang langit setelah mendengar ancaman itu, dengan mata terbelalak lebar dan tubuh gemetar keras teriaknya:
"Manusia berwajah dingin, kalau kau bunuh diriku maka kau sendiripun tak akan lolos dari sini dalam keadaan selamat"
"Bisa selamat atau tidak itu urusan lain, kau tak perlu menguatirkan diriku mengerti??"
Pengemis bintang langit jadi putus asa, ia segera alihkan sinar matanya yang penuh dengan belas kasihan itu ke arah delapan orang kakek berbaju hijau yang ada dikalangan.
"Manusia berwajah dingin, kau berani membunuh dirinya??" bentak si kupu2 warna warni Lie In Hiang dengan gusar.
"Hmmm kenapa aku tidak berani?? setelah menjagal dirinya maka giliran akan tiba pada dirimu”
Air muka Lie In Hiang seketika berobah jadi hijau membesi dengan sorot mata berapi-api ia melotot kearah sinak muda itu.
Dengusan gusar segera berkumandang pula diantara kawanan jago dari perkumpulan Thian Chee Kauw tujuh orang segera munculkan diri dan mendesak kedepan mendekati tubuh Han Siong Kie.
Ketegangan dan napsu membunuh dengan cepat meliputi seluruh kalangm tersebut.
“Manusia berwajah dingin! " seru salah seorang dari delapan kakek berbaju hijau itu dengan suara menyeramkan. “Kalau engkau berani turun tangan terhadap Jien Tongcu maka perkumpulan Kay pang akan merasakan pula pembalasan dendam yang hebat dari kami, darah akaan berceran menodai seluruh perkumpulan tersebut!"
Ancaraan ini betul-betul hebat dan seketika menggidikkan hati Han Siong Kie ia sadar bahwa perkumpulan Thian-Chee Kauw adalah perkumpulan terbesar dikolong langit dewasa ini dengan jago libay yang amat banyak seandainya mereka melakukan pertempuran terbuka dengan pihak Kay pang maka akibatnya sukar dibayangkan dengan kata-kata.
Tetapi sebagai seorang pemuda yang berhati dingin sekalipun berada dalam keadaan terdesak dan bingung, sikapnya diluaran masih tetap hambar dan tak pandang sebelah mata pun terhadap semua orang.
Ia tak ingin mendatangkan kesulitan bagi pihak Kay pang, maka sinar matanya perlahan-lahan dialihkan kearah Pengemis dari selatan maksudnya agar engkoh tuanya yang mengambil keputusan.
Dalam pada itu ke tujuh orang jago libay tersebut sudah berada dua tombak dihadapannya, serangan dahsyat telah siap dilancarkan.
Suasana jadi semakin tegang dan menyesakkan napas, semua orang merasakan hatinya berdebar keras.
Lima puluh orang lebih jago lihay dari perkumpulan Thian Chee Kauw sama-sama alihkan sorot matanya menatap musuh-musuhnya dengan tajam.
Seluruh rambut pengemis dari selatan yang berwarna keperak-perakan itu sudab pada berdiri semua bagaikan kawat, kegusaran yang bergelora dalam memang sukar dikendalikan lagi, tetapi untuk beberapa waktu tak berani mengambil keputusan sebab ia tahu anggota Kay pang tersebar di mana2 seandainya pihak Thian chee Kauw sungguh melakukan pembunuhan maka akibatnya tentu hebat sekali.
Melihat musuhnya ragu2, sikakek berbaju hijau menjadi semakin bangga. sambil tertawa seram jengeknya :
"Hey, pengemis rudin, bukankah kau adalah seorang pimpinan tiang loo dari Kay Pang, kau harus tahu bahwa mati hidup perkumpulanmu tergantung pada keputusan yang akan kau ambil".
"Apa yang siap kalian lakukan terhadap kami?? hardik si pengemis dari selatan dengan mata melotot.
Biarlah Jien Tongcu yang menjabat kursi ketua dari perkumpulan Kay-pang, maka perkumpulan kami akan hidup berdampingan secara damai denganpihak Kay pang dalam cita2nya merajai Bu-lim serta pemimpin seluruh umat manusia yang ada dikolong langit."
Ucapan ini sangat menggusarkan hati pengemis dari selatan, sekujur badannya gemetar keras, sambil menggigit bibir teriaknya:
"Permintaanmu tak bisa kami kabulkan, kecuali kau bisa melangkahi mayat dari aku si pengemis tua"
"sekalipun kau modar belum tentu persoalan ini bisa diselesaikan".
"Hmmm kau tak usah banyak bacot lagi, pihak Kay pang kami akan berjuang menentang kekerasan Thian chee Kauw sampai di manapun juga," dia kemudian kepada Han Siong Kie bentaknya: "Bunuh bangsat itu".
Serentetan teriakan ngeri yang mengerikan bulu roma berkumandang memecahkan kesunyian, si pengemis bintang langit muntah darah segar dan menggeletak mati dalam keadaan mengerikan diatas tanah.
Pada saat yang bersamaan tujuh orang jago lihay serentak melancarkan pukulan dahsyat menggencet tubuh Han Siong Kie, sementara delapan orang kakek berbaju hijan itu sekali lagi mengerubuti pengemis dari selatan.
Dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat dan menerjang masuk kedalam kalangan pertempuran, mereka adalah sipadri dari utara serta pengemis cilik Tonghong Hwie.
Seketika itu juga puluhan orang jago lihay menggerakkan tubuhnya menghadang jalan pergi padri itu, suatu pertarungan sengitpun dengan cepat berkobar.
si kupu2 warna warni Lie In Hiang paling benci terhadap pengemis cilik itu, melihat kehadiran Tonghong Hwie disitu ia segera membentak nyaring dan melancarkan satu babatan dari tempat kejauhan.
suatu pertempuran yang maha seru dan maha dahsyatpun segera berkobar ditempat itu, bentakan keras bergeletar memecahkan kesunyian, angin pukulan men-deru2, bayangan manusia berseliweran...
Tiba2 terdengar jeritan kesakitan berkumandang diangkasa, darah segar muncrat di udara dan sesosok tubuh manusia roboh tak bernyawa lagi.
Pengemis cilik Tonghong Hwie dengan andalkan ilmu kebalnya yang tahan pukulan bergebrak seru melawan si kupu2 warna warni Lie In Hiang, untuk sementara waktu sulit untuk menentukan siapa menang dan siapa kalah.
Delapan orang kakek berbaju hijau yang mengerubuti sipengemis dari selatan, walau pun semuanya memiliki ilmu silat yang sangat lihay tapi berhadapan dengan jago kawakan yang sudah kenyang makan asam garam ini dibikin kewalahan juga.
sebaliknya kawanan jago yang mengerubuti padri dari utara merupakan kawanan jago di bawah kedelapan orang kakek berbaju hijau itu, korban yang berjatuhan kian lama kian bertambah banyak.
Di tengah pertarungan yang sedang berkobar itu ilmu silat yang dimiliki Han Siong Kie boleh dikata paling tinggi dan paling hebat, ilmu pukulan Leng Koe sam sie nya betul2 hebat dan mengerikan, setiap kali serangan yang dilancarkan pasti membawa korban yang berjatuhan dalam waktu singkat empat belas sosok mayat sudah bertumpuk di hadapan tubuhnya.
Kenyataan segera menunjukkan bahwa posisi Han Siong Kie sekalian jauh lebih unggul daripada kekuatan lawan, bilamana beberapa orang jago lihay itu bersatu padu dan turun tangan secara berbareng niscaya semua jago lihay yang tergabung dalam perkumpulan Thian Chee Kauw bakal musnah.
Mendadak... suitan nyaring yang amat memekikkan telinga berkumandang datang dari kejauhan.
Disusul sebuah benda berdarah yang amat menyolok mata meluncur datang dari tengah udara dan menggeletak di tengah kalangan.
oOOoo
“Aaah..! tengkorak maut ."jeritan kaget segera bergema diselurub perjuru, semua jago yang sedang bertempur dengan cepat menghentikan gerakannya.
Sesosok tengkorak yang belumuran darah menggeletak ditengah kalangan, suasana yang menyeramkan dan menggidikkan hati segera menyelimuti seluruh angkasa...
Pemilik dari Benteng Maut ternyata munculkan diri ditempat itu pada saat dan keadaan seperti itu, kejadian ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang sama sekali berada diluar dugaan siapapun.
Tanpa sadar pengemis dari selatan, padri dari utara, Han Siong Kie serta Tonghong Hwie bergabung jadi satu.
Sedangkan para jago lihay dari psrkumpulan Thian Chee Kauw-pun berkumpul menjadi satu.
Dalam sekejap mata suasana ditengah kalangan berubah jadi hening...sunyi sekali hingga suara napas sendiripun kedengaran nyata.
Sepasang mata semua orang dengan memancarkan sinar kaget dan ketakutan serentak ditujukan kearah tengkorak berlumuran darah yang menggeletak di tengah kalangan, hanya Seorang yang terkecuali, dia adalah Han Siong Kie.
Dengan sorot mata yang memancarkan rasa benci, penuh dendam dan di1apisi napsu membunuh ia menyapu seluruh kalangan dengan pscdangan tajam.
Apakah tujuan dari kemunculan sipemilik benteng maut itu?? siapapun tak tahu, tapi mereka menyadari bahwa kemunculan si iblis yang mengerikan itu berarti ancaman kematian yang menggidikkan hati bagi setiap orang yang hadir di situ.
Tengkorak berlumuran darah dibawah sorot cahaya sang surya yang tajam msmantulkan cahaya darah yang mengerikan.....
Bayangtn maut. . kematian ... menyelimuti seluruh kalangan.
Tiba-tiba Han Siong Kie mendengus dingin, selangkah demi selangkah ia mendekati tengkorak berlumuran darah itu.
Tonghong Hwie jadi amat terperanjat, ia berteriak kaget dan segera menarik ujung baju sianak muda itu sambil berseru penuh ketakutan:
"Engkoh Kie, apa ...apa yang hendak kau lakukan.??".
Pengemis dari sslatan serta padri dari utara dengan sorot mata yang memancarkan rasa kejut bercampur tercengang tanpa terasa dialihkan pula kearah pemuda itu.
Terdengar Han Siong Kie mendengus dingin, lalu jawabnya dengan nada penuh kebencian: "Aku hendak musnahkan dulu benda yang menyebalkan hati ini. "
"Jangan "seru pengemis diri utara hampir berbareng..
Dalam pada itu para jago dari perkumpulan Thian Chee Kauw telah selesai berunding, mereka segera membimbing yang luka dan diam2 ngeloyor pergi dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas. Di tengah kalangan hanya tertinggal puluhan sosok mayat yang bergelimpangan diatas tanah.
Sesaat sebelum tinggalkan tempat itu, si kupu2 warna warni Lie In Hiang sempat melotot sekejap kearah HanSiong Kie dengan penuh kebencian sayang sianak muda itu sama sekali tidak menoleh.
sepeninggalnya jago2 dari perkumpulan Thian Chee Kauw, si padri dari utara segera berbisik dengan suara lirih:
"Rupanya kedatangan si pemilik dari benteng maut adalah mencari satroni dengan pihak kita."
"Darimana kau bisa tahu?" tanya pengemis dari selatan dengan nada tercengang.
"sewaktu berada dikuil Boe Hoo ditepi pantai Peks wie-Than tadi beberapa orang anak murid Kay pang telah menemui ajalnya ditangan iblis ini, dan sekarang para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw berhasil meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat, hal ini menunjukkan bahwa tujuannya adalah terhadap kita orang".
"Lalu apa tujuannya mencari kita???."
"Darimana aku bisa tahu???."
Tonghong Hwie rupanya merasakan pula situasi yang amat tidak menguntungkan bagi pihaknya, ia segera berseru:
"Engkoh Kie, cianpwee berdua, kenapa kita tidak lekas tinggalkan tempat ini???".
"Tak mungkin bisa lolos dari sini" sahut padri dari utara sambil gelengkan kepala.
Mendadak Han Siong Kie melepaskan diri dari cekalan Tonghong Hwie, ia segera enjotkan badannya dan meluncur kearah tengkorak berlumuran darah itu .....Lam kay serta Pak Ceng amat terperanjat menyaksikan tindakan nekat dari pemuda itu, untuk mencegah sudah tak sempat lagi, sedang Tonghong Hwie menjerit lengking dan ikut menubruk ke depan.
"Tengkorak Maut" terdengar Han Siong Kie berteriak keras. "Ayoh tunjukkan dirimu."
Sambil berseru telapaknya langsung diayun membabat kearah tengkorak yang menggeletak diatas tanah...
Belum sempat angin pukulan yang dilancarkan pemuda itu mengenai sasarannya, mendadak dari balik batu cadas kurang lebih lima tombak dari sisi kalangan meluncur keluar sesosok bayangan warna abu2, telapaknya segera berputar mengejar batok kepala Han Siong Kie.
Merasakan datangnya ancaman, pemuda itu jadi gusar, pukulan yang ditujukan kearah tengkorak tadi segera berubah arah dan ganti membabat bayangan abu2 tadi.
Blaam.. termakan oleh angin pukulan yang maha dahsyat dari pemuda itu, gerakan luncur bayangan abu2 tadi segera tertahan sejenak.
Han Siong Kie bertambah kalap. telapaknya berputar dan siap melancarkan sebuah serangan lagi "Blaam. " Tiba2 menggulung datang suatu angin pukulan yang maha dahsyat menekan tubuhnya erat2.
Si anak muda itu jadi terperanjat, sulit baginya untuk menghindarkan diri dari datangnya ancaman itu dalam gugutnya sang badan segera bergeser kesamping.
Tapi sayang gerakannya itu agak terlambat, angin pukulan yang maha dahsyat tadi dengan telak bersarang ditubuhnya.. pemuda itu menjerit tertahan dan tubuhnya segera mencelat kebelakang tepat terjatuh didalam pelukan Tonghong Hwie yang sedang memburu ke muka.
Lam kay serta Pak Ceng berseru kaget serentak mereka gerakan tubuhnya menubruk kemuka.
Bayangan abu2 itu mendengus dingin, perlahan2 ia maju menghampiri beberapa orang itu, dia adalah seorang manusia aneh berkerudung warna abu2 dengan perawakan tubuh yang tinggi kekar.
se-olah2 tak pernah terjadi suatu apapun ia maju ketengah kalangan lalu menyimpan kembali tengkorak berlumuran darah yang menggeletak diatas tanah itu.
"Tengorak Maut" pengemis dari selatan segera menegur dengan penuh kegusaran "sebenarnya apa maksudmu datang kemari?"
"Heeeh heeeh heeeh.. "tengkorak maut tertawa seram "Kalian berdua akan menyelesaikan dirimu sendiri ataukah ingin menunggu sampai aku yang turun tangan sendiri.”
Padri dari utara mengerutkan dahinya, ia maju kedepan dan menegur:
“Omintobod, bukankah sicu telah berjanji akan melepaskan kami dalam keadaan hidup mengapa sekarang kau ingkari janji apa? Sewaktu berada di benteng maut tempo dulu, bukankah kau…”
Tengkorak maut tertawa seram, belum sempat padri itu menyelesaikan kata-katanya ia telah menukas:
"Kau tak usah banyak bicara lagi, selamanya aku bertindak menuruti kemauanku sendiri, Hmm! siapa kesudian menggubris ingkar janji atau tidak kalian berdua lebih baik sedikitlah tahu diri dan segera bunuh diri di hadapanku.”
Dalam pada itu Tonghong Hwie beberapa kali hendak maju kedepan. tetepi setiap kali memandang wajah Han Siong Kie yang berada dalam keadaan tak sadarkan diri ia selalu urungkan kembali niatnya itu.
“Tengkorak maut!” terdengar pengemis dari selatan membentak gusar. “Kau toh seorang pemilik benteng maut yang terhormat, sungguh tak nyana manusia semacam kau bisa mengucapkan kata-kata seperti ini, aku si pengemis tua serta hweesio tua itu memang sudah tua, mati pun tak usah disayangkan, tetapi kau harus terangkan dulu dengan alasan apa kau menghendaki jiwa kami berdua?”
“Alasan? haaah.,..haaah,..haaah...Selamanya aku si Tengkorak maut bertindak tanpa memperdulikan alasan atau tidak!”
“Kalau begitu, silahkan kau mulai turun tangan!”
“Hmmmmm! jadi kau paksa aku untuk turun tangan?”
“Aku serta pengemis tua memang menyadari bahwa ilmu silat yang kami miliki terlalu cetek sekalipun harus mati ditanganmu juga tak bisa dibicarakan lagi tapi kalau suruh kami bunuh diri,....Hmmm' jangan bermimpi di siang hari bolong!”
Mendengar perkataan itu Tengkorak maut segera tertawa seram.
"Baik, aku akan kabulkan keinginanmu itu." sambil berseru selangkah demi selangkah ia mendesak maju kedepan.
"Tunggu sebentar," tiba2 pengemis dari selatan berseru. "Apa yang hendak kalian katakan lagi??"
"Apakah kedua orang bocah yang berada disitu bisa dilepaskan dalam keadaan hidup?" tanya pengemis itu sambil menuding ke arah Tonghong Hwie serta Han Siong Kie yang berada kurang lebih tiga tombak dari situ.
"Tentang soal ini... Tengkorak maut termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian mengangguk. "Baiklah"
Pengemis dari selatan segera berpaling dan serunya kepada Tonghong Hwie: " Cepat bawa dia meninggalkan tempat ini. "
Tonghong Hwie melirik sekejap kearah Tengkorak maut, tubuhnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu dibatalkan...
Melihat pengemis cilik itu masih tetap sangsi, Lam-Kay segera meloncat kepadanya sambil membentak:
"Apakah kau ingin mati bersama ditempat ini???". Tonghong Hwie jadi terkesiap. "Loocianpwee, aku...aku..."
"Kau kenapa???"
"saudaraku telah terpukul oleh iblis tua itu, isi perutnya sudah terluka parah, andaikata tenaga dalamnya tidak sempurna sejak tadi ia sudah bakal muntah darah dan mati"
"Pernahkah kau mendengar akan kekejian dari ilmu pukulan Han Pok Ciang serta Pek Yang Kang."
Belum habis sipengemis dari selatan berkata Tonghong Hwie seperti telah teringat akan sesuatu, tiba2 ia menjerit: "Aduuuh celaka ...."
sambil membopong tubuh Han Siong Kie buru2 dia enjotkan badan dan kabut dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang lenyap dari pandangan, pengemis dari selatan menghela napas panjang, selangkah demi selangkah ia balik lagi ke tempat semula
"Hey, bersiaplah kalian menyambut kematianmu" terdengar Tengkorak maut berseru sambil tertawa seram, "Aku akan mulai turun tangan".
Wajah Lam Kay serta Pak Ceng berubah jadi murung dan diliputi kesedihan, segenap tenaga lwekang yang dimilikinya segera di himpun kedalam telapak. siap menghadapi serangan maut dari lawannya.
Mereka sadar bahwa dengan kekuatan minim yang dimiliki mereka berdua masih bukan tandingan dari iblis sakti itu, tetapi mereka berdua tak mau menyerah kalah dengan begitu saja, sekalipun tahu bukan tandingan namun dengan paksakan diri mereka berusaha untuk melawan.
"Ayoh, silahkan kau mulai turun tangan" seru mereka berdua hampir berbareng.
Tengkorak Maut tertawa seram, per lahan2 sepasang telapaknya dikeluarkan dari balik jubah, telapak kirinya bewarna hitam pekat bagaikan tinta bak, sedang telapak kanannya putih bersih bagaikan kumala. inilah ilmu pukulan Han Pok ciang serta Pak Yang Kang yang maha dahsyat itu.
Lam Kay serta Pak Ceng sama2 bergidik, mereka sadar bahwa kematian semakin dekat dengan mereka berdua..
Mendadak Tengkorak maut membentak keras, sepasang telapaknya bergerak cepat membabat kedepan, segulung angin pukulan berhawa panas dan segulung angin pukulan berhawa dingin segera meluncur kedepan menghamtam tubuh kedua orang jago itu.
Lam Kay seta Pak Ceng tidak ambil diam, merekapun membentak keras dan balas melancarlan sebuah babatan dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya.
"Blaam. dua gulung angin pukulan saling membentur satu sama lainnya menimbulkan ledakan dahsyat yang menggeletar dimuka bumi, pasir dan debu berterbangan memenuhi seluruh angkasa, Lam Kay serta Pak ceng terdorong mundur delapan langkah kebelakang.
Darah panas terasa bergelora dalam dada masing2, namun tidak sampai membuat kedua orang itu muntah darah segar.
Pengemis dari selatan saling berpandangan sekejap dengan padri dari utara, agaknya kejadian ini jauh berbeda diluar dugaan meraka berdua, siapapun tidak menyangka kalau serangan pertama dari Tengkorak Maut ternyata tidak sedahsyat apa yang di bayangkan semula.
Belum sempat mereka berpikir panjang, tengkorak maut telah mendengus dingin.
serangan kedua telah dilancarkan lebih dahsyat lagi. Angin pukulan bagaikan tindihan bukit Tay-san menghantam tubuh kedua orang jago itu.
Laksana kilat pengemis dari utara bergeser lima depa ke samping lalu putar badan sambil melancarkan sebuah pukulan.
Sepasang telapak Tengkorak Maut yang diluncurkan kedepan mendadak berpisah ke arah kiri serta kanan kemudian menyerang kedua orang itu dengan dahsyatnya.
Blaam Blam kembali terjadi bentrokan keras yang menggetarkan telinga, tubuh Lam Kay serta Pak ceng terpukul mundur lima langkah ke belakang, hampir saja darah segar muncrat keluar dari mulutnya.
Ditengah suitan tajam tubuh si Tengkorak maut mendesak lebih ke depan. Laksana kilat ia menyerang sipengemis dari selatan kemudian putar badan dan melepaskan kedua serangan ke arah padri dari utara.
Dua dengusan tertahan bergema di angkasa, kedua orang jago lihay itu muntah darah dan roboh keatas tanah.
Tengkorak maut tertawa seram, dengan wajah menyeringai perlahan-lahan ia maju ke depan, selangkah dua langkah kian lama tubuh iblis tua itu semakin mendekat.
Pengemis dari selatan segera mengepos tenaga, tapi darah segar kembali muntah ke luar dari mulutnya, diam2 ia membatin. " Habis sudah riwayat aku sipengemis tua."
Padri dari utara yang menyaksikan rekannya terancam bahaya maut dan jiwanya hampir melayang ditangan orang tak bisa berbuat apa2, sebab ia sendiripun sudah kehabisan tenaga dan tak sanggup melancarkan serangan lagi, hweesio ini sadar bahwa jiwanya sebentar lagi pasti akan menyusul rekannya, sebab gembong iblis itu tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.
Maut setiap saat mengancam jiwanya setiap detikjiwanya bisa melayang tinggalkan
raganya.
Ting. Ting .. Ting.
Mendadak dari tempit kejauhan berkumandang datang suara dentingan tongkat besi membentur tanah, suaranya nyaring dan bergetar dalam hati.
Air muka pengemis dari selatan segera berubah, sorot matanya berkilat dan rasa girang terlintas diatas wajahnya tapi hanya sebentar saja lalu lenyap kembali.
sesosok bayangan muncul dari kejauhan, "Ting Ting suara dentingan tadi kian lama kian bertambah dekat kian lama kian menggetarkan telinga... setiap dentingan itu berbunyi, bayangan hitam itu bergerak semakin dekat hingga beberapa saat kemudian tampaklah orang yang baru saja munculkan diri itu hanya memiliki sebuah kaki.
"Pengemis tua kiranya dia yang datang kiranya betul2 dia..." terdengar padri dari utara berseru sambil kerutkan alisnya.
Pengemis dari selatan sendiri agaknya juga sudah melupakan keadaannya yang berbahaya serta terancam bahaya maut itu semangatnya segera berkobar kembali.
"ooooh dia adalah susiokku song Thiat Koay dia dia.... benarkah dia orang tua masih hidup dikolong langit??".
sementara itu si Tengkorak Maut telah menghentikan gerakan tubuhnya, ia tertawa ringan lalu putar badan dan kabur dari situ dalam beberapa kali enjotan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan^
seorang pengemis tua berkaki tunggal yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang muncul dari tempat kejauhan, dalam genggamannya ia mencekal sebuah tongkat bambu yang memancarkan cahaya kilat. kepalanya tinggal ditumbuhi beberapa lembar rambut putih, sepasang matanya cekung tapi memancarkan cahaya yang menggidikkan.
Sambil menahan rasa sakit dibadan, sipengemis dari selatan paksakan diri untuk bangkit berdiri dan jatuhkan diri berlutut dihadapan orang itu, sapanya: "Tio Hoei mengunjuk hormat kepida susiok.".
Padri dari utarapun segera maju memberi hormat sambil menyapa pula:
"song sicu, sudah empat puluh tahun lamanya jejakmu lenyap tak berbekas, sungguh tak nyana kesehatanmu masih tetap seperti sedia kala"
Pengemis tua yang baru datang itu bukan lain adalah song Thiat Koay, paman guru dari pengemis Lam Kay, usianya sudah berada diatas seratus tahun, jejaknya pada empat puluh tahun berselang lenyap tak berbekas, sungguh tak nyana pada saat ini telah munculkan diri kembali disitu bahkan mengejutkan si Tengkorak Maut hingga kabur.
Pada empat puluh tahun berselang berhubung suatu persoalan kecil yang menyangkut perebutan nama dengan tongkat Tah Kauw Pang nya, si song Thiat Koay pernah menantang ketua dari delapan partai besar untuk bertempur seru diatas puncak gunung Thay san, alhasil dari delapan partai besar empat orang telah tewas dan empat orang terluka, peristiwa ini sangat menggemparkan dunia persilatan hingga kini masih tetap merupakan kebanggaan dari pihak Kay pang tetapi tidak lama setelah terjadinya peristiwa ini jejak pengemis tua itupun secara mendadak lenyap tak berbekas.
Sementara itu dengan sorot mata yang tajam song Thiat Koay menyapu sekejap wajah Lam Kay lalu tegurnya:
"Apakah kau yang bernama Tio Hoei??"
"Betul tecu adalah Tio Hoei"
"Haahh haahhh haahhh kaupun sudah tua, untuk bertempurpun sudah tidak mampu lagi: Dimana gembong iblis itu??"
"Ketika mendengar akan kehadiran susiok ia sudah kabur dari sini"
"Hmmm ia begitu berarti mengulurkan tangan iblisnya terhadap perkumpulan kami, aku song Thiat Koay tak akan mengampuni jiwanya"
"Kemunculan susiok dalam keadaan segar bugar merapakan suatu keberuntungan bagi perkumpulan Kay pang kita"
"Ehmmm sebenarnya aku tak mau mencampuri urusan keduniawian lagi tetapi di sebabkan tempat tinggalku terkena bencana alam dan longsor maka aku harus berpindah tempat, tanpa sengaja aku telah mendengar perkumpulan kita telah mengalami peristiwa besar karena itulah maka aku segera munculkan diri kembali. sekarang cepatlah kau kembali ke markas dan kembali segera pilih seorang pangcu..."
"Susiok kau orang tua hendak pergi kemana???...
"Aku hendak berangkat ke Benteng Maut untuk bikin perhitungan dengan gembong iblis itu. Nah terimalah dua biji obat dan telanlah seorang satu"
sambil berkata ia keluarkan diserahkan ketangan pengemis dari selatan kemudian.. Tiiing di tengah suara dentingan nyaring tubuhnya sudah melayang dua puluh tombak lebih dari tempat semula, dan beberapa saat kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap tak berbekas.
Sepeninggalnya Song Thiat Koay, pengemis dari selatan dan padri dari utara saling berpandangan sekejap sambil tertawa getir, masing2 menelan sebutir pil mujarab peninggalan pengemis pincang tadi lalu duduk bersemedi diatas tanah.
seperminum teh kemudian kekuatan tubuh mereka telah pulih kembali seperti sedia kala, hal ini menunjukkan betapa mujarabnya obat tersebut. Tiba2 terdengar Padri dari utara berseru:
"Eeei pengemis tua, aku merasa kejadian yang barusan berlangsung rada aneh dan mencurigakan" .
"Kejadian apa??"
-0000000-
"KITA toh sudah pernah menjajal sampai dimanakah kelihayan ilmu silat yang dimiliki si Tengkorak Maut, aku rasa agaknya kekuatan yang dimilikinya barusan jauh lebih lemah beberapa bagian dari apa yang pernah kita temui tempo dulu. Berulang kali ia menyatakan hendak menghabisi jiwa tua kita berdua, sudah tentu serangannya harus hebat dan mematikan, tapi dalam kenyataan ia sudah mengalah tiga gebrakan kepada kita."
"Betul, aku sipengemis tuapun mempunyai perasaan demikian" sahut pengemis dari selatan sambil berseru tertahan. "ucapannya permulaan tidak sesuai dengan perkataan belakangan, bahkan nada suaranya tidak benar."
"Lagipula dengan tenaga lweekang yang dimilikinya semestinya ia sanggul untuk bergebrak melawan susiokmu, apa sebabnya sebelum bertemu dengan bayangan tubuhnya, ia sudah kabur tak berbekas??"
"Benar, kalau kau tidak mengungkapkan pun tak sampai berpikir sampai disitu, peristiwa ini benar2 mencurigakan sekali".
Setelah merandek sejenak, mendadak pengemis dari selatan berseru tertahan:
"Aduuuh celaka.. saudara cilikku telah terluka oleh pukulan Im kang dari iblis tua itu, kalau lukanya tidak segera disembuhkan niscaya jiwanya akan terancam bahaya, entah pengemis cilik itu sudah membawa dirinya pergi kemana.."
"Pengemis tua, aku lihat dewasa ini lebih baik kau kembali dulu kemarkas besar perkumpulanmu untuk menyelesaikan persoalan yang sedang kau hadapi, mengenai saudara cilikmu itu biarlah aku si hweesio yang mewakili dirimu untuk mencari jejaknya. sekalipun obat mujarab yang kumliki tidak sehebat obat yang kau miliki, rasanya aku masih sanggup untuk mengatasinya".
"Baik, kalau begitu mari kita segera berangkat."
Pengemis dari selatan segera bongkokkan badan menggeledah saku dari mayat pengemis bintang langit dan ambil kembali tanda kebesaran bambu hitam yang telah direbut penghianat tersebut, kemudian bersama padri dari utara segara melakukan perjalanan.
Dalam pada itu Tong hong Hwie sambil membopong tubuh HanSiong Kie yang terluka lari menuju ketempat yang sunyi.
Setelah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya sampailah di sebuah hutan yang lebat, Tonghong Hwie segera meletakkan tubuh sianak muda itu keatas tanah dan memeriksa denyutan nadinya.
Dengan cepat ditemuinya ada delapan buah jalan darah penting dalam tubuhnya tidak tembus, andaikata jalan darah tadi tidak cepat dibebaskan dari sumbatan niscaya jiwanya bakal melayang atau paling sedikit tubuhnya akan berubah jadi cacad.
Berada dalam keadaan begini Tonghong Hwiejadi amat panik, keringat dingin mengucut keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Hawa murni yang dimilikinya dengan cepat disalurkan kedalam tubuh pemuda itu, ia berusaha untuk melancarkan kembali jalan darah Han Siong Kie yang tersumbat. satu jam telah lewat .... dua jam telah lewat.
seluruh pakaian yang dikenakan Tonghong Hwie telah basah kuyup oleh keringat tenaganya terasa habis diperas tetapi keadaan Han Siong Kie masih tetap seperti sedia kala, sadarpun tidak
Pengemis cilik itu jadi lemas bercampur kuatir akhirnya tak tahan lagi ia menangis ter sedu2.
Mendadak.. sebuah tangan dengan enteng menepuk diatas bahunya.
Tonghong Hwiejadi terkejut dan berseru tertahan, ia segera meloncat bangun dan melayang satu tombak jauhnya dari tempat semula, ketika ia berpaling tampaklah seorang gadis berbajucutih yang berkerudung kain hitam bagaikan sukma gentayangan telah berdiri dihadapan Han Siong Kle. "Kau. siapa kau??".
"Yoe sim Jien"
"Orang yang ada maksud ??".
"Sedikitpun tidak salah"
Dengan hati tercekat Tonghong Hwie menatap wajah gadis misterius itu tanpa ragu2 mengucapkan sepatah katapun, dari mulut Han Siong Kie serta padri dari utara ia pernah mendengar akan manusia misterius ini, tak nyana pada saat seperti ini orang tersebut telah munculkan diri dihbadapan mukanya.
Tampak Yoe sim Jien berjongkok dan memeriksa denyutan nadi Han Siong Kie, tiba2 ia berseru tertahan.
Sementara itu Tonghong Hwie sedang mengharap Yoe sim Jien semoga dapat menyelamatkan selembar jiwa sianak muda itu, tapi begitu mendengar seruan tertahan orang, hatinya kontan terjelos, serunya dengan nada terperanjat.
"Keee kenapa dia??? dia... dia..."
"Delapan buah jalan darah pentingnya telah tersumbat"
"Nona kau... kau... menurut pendapatmu apakah dia masih bisa tertolong"
"Bisa... cuma . ."
"Cuma kenapa???" tukas Tonghong Hwie dengan cepat...
"Tenaga yang kumiliki masih belum mampu untuk menolong jiwanya"
Air mata yang mengucur keluar dari kelopak mata Tonghong Hwie semakin deras, wajahnya berubah jadi amat kesal.
"Terpaksa aku.. aku harus menempuh bahaya untuk membawanya pergi".
"Pergi kemana??"
"Mencari seseorang untuk meogobati lukanya."
"Apakah kau mempunyai keyakinan di dalam dua jam orang yang hendak kau cari itu berhasil kau temukan??"
"Tentang soal ini..." Yoe sim Jien tertawa kembali ujarnya:
"Meskipun aku tak sanggup untuk menyelamatkan jiwanya, tetapi aku bisa membawanya pergi berobat."
"Nona akan membawanya pergi kemana??" tanya Tonghong Hwie dengan wajah cemas.
"Eeei, kenapa?? kau merasa kuatir??"
"Bukannya kuatir, cuma... cuma..."
"Cuma merasa berat untuk meninggalkan engkoh Kie mu bukan" sambung Yoe sim Jien sambil tertawa cekikikan.
Tonghong Hwie melengah kemudian dengan tersipu serunya: "Nona pandai amat kau bergurau..."
"Bergurau?? aku toh mengatakan yang sesungguhnya, bukankah kau sangat mencintai dirinya ?? Hiih... hiih hiih... jangan kuatir, aku tak akan merebut engkoh Kie mu itu."
Dengan hati terkesiap Tonghong Hwie mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan suara gemetar:
"Nona, apa yang kau katakan???"
"Aku bilang bahwa aku tak akan merebut dirinya dari tanganmu"
"saudara angkatku ini selama hidupnya tidak punya jodoh dengan kaum wanita, kalau kau bisa menaruh rasa simpatik terhadap dirimu,"
hal ini betul2 suatu kejadian yang aneh.
"Aaah belum tentu begitu?"
" Kalau tidak percaya, apa salahnya kalau nona mencoba??"
"oooh jadi kau merasa cemburu??"
sekali lagi si pengemis cilik itu mundur satu langhah ke belakang, sepasang matanya terbelalak lebar2.
"Aku sama sekali tidak mengerti akan perkataan dari nona", serunya.
"Benar2 tidak mengerti atau pura2 tidak paham??"
"Nona kau tegaskan sekali lagi sebenarnya apa maksud tujuanmu."
"Menyelamatkan jiwanya . "
"Dari mana nona bisa tahu kalau ia terluka dan kau bisa tiba disini tepat pada waktunya??"
"Tentang soal ini kau tak usah tahu."
"Nona akan membawa dirinya pergi kemana??"
"Tentang soal ini kaupun tak usah tahu." Tonghong Hwie segera tertawa dingin.
"Apakah kau rela menyaksikan dia menderita serangan panas dingin dan akhirnya mati pada dua jam kemudian??" seru Yoe sim Jien pula dengan suara dongkol.
"Apa?? kau telah mengetahui semuanya?"
"tahukah kau luka apa yang diderita olehnya?"
"Hmm, ilmu pukulan HanPok ciang serta Pek Yang Kang, cuma sayang orang yang melancarkan serangan tersebut belum berhasil melatih kepandaiannya hingga mencapai puncaknya, kalau tidak sejak tadi jiwanya tentu sudah melayang meninggalkan raganya."
"Kau..kau... sebenarnya siapakah kau??"
"Orang yang ada maksud?"
Tonghong Hwie adalah orang yang cerdik dan pandai menebak orang, tetapi pada saat ini dibuat melongo hingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, mungkin ucapan serta tindak tanduk Yoe sim Jien telah mengejutkan hatinya hingga hatinya tergentar mungkin..
"Eeei bukankah kau yang bernama Tonghong Hwie?" kembali Yoe Sim Jien menegur sambil tertawa ringan.
"sedikitpun tidak salah"
"Oooh kalau begitu sepantasnya kalau aku memanggil dirimu sebagai Nona Tonghong bukan begitu???"
Saking terperanjatnya Tonghong Hwie sampai tergentar mundur ke belakang dengan sempoyongan, punggungnya menempel diatas pohon dan mulutnya melongo tanpa sepatah katapun yang diucapkan keluar.
Perkataan lawannya bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, membuat hatinya bergetar keras dan tercekat. Yoa siemJlen" simanusia misterius ini ternyata sanggup membongkar rahasia kegadisannya dengan tepat, membuat ia jadi tertegun dan tidak habis mengerti.
Kembali terdengar Yoe Sim Jien tertawa enteng, katanya:
"Nona Tonghong, waktu sudah tidak banyak lagi, kau tak usah kuatir aku tak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun, termasuk engkoh Kie mu sendiri. Tetapi ada sepatah kata aku yang hendak memberitahukan kepadamu, lebih baik kau merahasiakan asal usulmu lebih ketat lagi. Nah selamat tinggal".
Selesai mengucapkan perkataan itu, ia mengempit tubuh Han Siong Kie yang tidak sadarkan diri dan berlalu dari situ.
Tonghong Hwie masih tetap berdiri kaku ditempat semula, setelah rahasianya dibongkar orang, ia merasa pikirannya jadi buntu dan hatinya bergetar keras, tindak tanduk orang yang ada maksud itu betu12 membuat kepalanya jadi pusing tujuh keliling Lama... lama sekali ia baru mendusin dari impian segera jeritnya: "Engkoh Kie"
Tubuhnya dengan cepat meluncur kearah mana lenyapnya bayangan tubuh Yoe Sim Jien tadi, tapi hutan yang lebat tetap sunyi, bayangan tubuh gadis misterius itu lenyap tak berbekas.
Ia merasa murung dan kesal... hatinya jadi bimbang dan kacau .. tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Dengan tanpa tujuan ia berputar dalam hutan itu mencari dan mengejar secara membuta se-olah2 baru saja kehilangan suatu benda yang disayanginya, seperti orang bodoh Tonghong Hwie berputar kesana kemari.
sambil berlari telinganya mendengung tiada hentinya kata2 dari Yoe simjlen tadi: "Bukankah kau amat mencintai dirinya??" "Aku tak akan merebut dirinya" "Kau tidak cemburu dan iri hati"
Suatu perasaan bergidik yang tak tahu dari mana munculnya tiba2 menyerang hatinya, ia semakin kalap dan jeritnya:
"Tidak bisa, aku tak dapat kehilangan dirinya, aku tak bisa hidup tanpa dia.."
"Nona Tonghong sedari dulu terlalu romantis akan membawa bencana bagi diri sendiri mengapa kau tidak bertindak cerdik dan memutuskan tali itu"
serentetan suara yang dingin tapi membawa kasih sayang berkumandang dari sisi tubuhnya.
Dengan hati terperanjat Tonghong Hwie melongok kesana kemari, tetapi tiada seorang pun yang ditemukan, dari suara pembicaraan orang itu jelas dia adalah seorang perempuan tapi bukanlah Yoe Sim Jien yang barusan berlalu.
Lalu siapakah dia?? dari mana pihak lawan bisa tahu akan persoalan yang sedang dipikirkan dalam hatinya?"
Belum sempat ingatan kedua berkelebat dalam benak pengemis cilik itu, suara tadi berkumandang datang:
"Nona Tonghong, sekarang dia masih belum tahu kalau kau adalah seorang gadis, cintamu hanya sepihak lebih baik mundurlah lebih dahulu sebelum masuk jurang, kalau tidak akibatnya sungguh menakutkan sekali"
suara itu seolah2 muncul dari tempat dekat namun dalam kenyataan jauh sekali, membuat orang sukar untuk meraba dengan tepat dari mana asalnya suara tadi.
Tanpa terasa seluruh bulu kuduk ditubuh Tonghong Hwie berdiri, tegurnya dengan suara gemetar:
"Sii. .siapa ...siapa siapakah kau??".
"Aku adalah Sun Han Jin".
"siapa ??? manusia yang kehilangan sukma??"
"Benar, aku adalah si manusia yang kehilangan sukma "
Tonghong Hwie semakin ketakutan, ia merinding dan merasa hatinya tercekat.
Baru saja perempuan misterius "Yoe sim Jin" orang yang kehilangan sukma, bahkan orang itu mengetahui begitu jelas mengenai asal usul serta seluk beluknya, ia tak percaya kalau hal ini adalah suatu kenyataan sebab peristiwa ini sangat aneh dan diluar dugaan.
Ia merasa rahasia asal usulnya belum pernah diceritakan kepada siapapun, terhadap Han Siong Kie saudara angkatnya pun ia cuma mengatakan namanya saja, disamping itu iapun merasa andaikata ia tidak mengatakan kepada siapapun maka tak seorang manusia didunia kangouw akan mengetahui tentang asal usulnya.
Tapi sekarang Yoe sim Jin serta su HanJin berhasil mengetahui tentang kegadisannya, serta berhasil menebak pula dengan jitu akan rahasia hati yang sedang dipikirkan, kejadian ini membuat gadis itu tidak habis mengerti dan merasa seram. Akhirnya sambil mengeraskan kepala ia bertanya:
"Kenapa kau dinamakan orang yang kehilangan sukma??"
"Sebab aku adalah seorang manusia yang sudah kehilangan sukmaku".
"Sudah kehilangan sukma bukankah itu berarti bahwa kau sudah jadi setan".
"Tidak aku masih mempunyai badan kasar dan jantungku masih berdenyut aku tetap seorang manusia"
"Kalau manusia yang sedang berbicara mengapa tau tidak unjukkan diri??"
"Aku tidak merasa berkepentingan untuk unjukkan diri"..
"Lalu barusan apa yang kau katakan??".
"Menasehati dirimu, janganlah masuk jurang secara nekad sebelum hancur total lebih baik mundur secara teratur".
"Kau suruh aku hapus bayangan Han Siong Kie dari dalam benakku?? dan tidak lagi memikirkan dirinya?".
"Tidak. aku cuma berharap agar kau bisa menguasai rasa cintamu dengan pikiran yang sehat andaikata kau tak mau mendengarkan nasehatku, maka suatu hari kau akan hanyut dan tenggelam ditengah samudra cinta, sedang orang yang kau cinta ipun akan mengalami nasib yang sama" "
sekujur badan Tonghong Hwie gemetar keras, dengan penuh penderitaan ia berseru: "sebetulnya apa tujuanmu?? dalam hidupku terasa hambar tanpa kehadiran dirinya."
"Nona Tonghong, apa yang kau alami sekarang itu baru taraf pertama dari suatu penderitaan, kau harus menerimanya dengan keberanian yang paling besar. sekarang yang harus merasakan penderitaan itu hanya kau seorang, tapi dikemudian hari kalian berdualah yang akan mengalaminya bersama."
"Tapi. ..kenapa?""
"Perkawinanmu dengan dirinya akan merupakan suatu tragedi yang paling menyedihkan."
"Aku bertanya, kenapa??"
"Penjelasanku hanya bisa diberikan sampai disini saja, soal lain maaf kalau tak bisa kujawab"
"Tidak bisa aku tak dapat kehilangan dirinya" teriak Tonghong Hwie sambil menggertak gigi.
"Cinta adalah suatu pengorbanan bukan suatu penjajahan."
Tonghong Hwie tertegun, tiba2 sambil tertawa dingin serunya:
"Tidak salah cinta adalah pengorbanan, tetapi bukan pengorbanan yang membabi buta, kalau ucapanmu memang benar dan merupakan kenyataan, setelah menemui diriku mengapa kau tak berani unjukkan diri? dan mengapa kau tidak mengutarakan alasannya, aku menganggap kau "su Hun Jin" orang yang kehilangan sukma mempunyai maksud2 lain."
"Kukatakan kepadamu, apa yang kau harapkan tak nanti akan kulakukan"
"Dikemudian hari kau bakal menyesal."
"selamanya aku tak akan merasa menyesal."
Diluar Tonghong Hwie berkata begitu, dalam hati diam2 bergidik. Tiba2 satu ingatan berkelebat didalam benaknya hingga membuat gadis itu tanpa terasa tercekat dan gemetar keras. Apakah maksud ucapan yang diutarakan su Hun Jin adalah tentang soal itu?? benar, akibatnya memang mengerikan sekali. .
Terdengar orang yang kehilangan sukma ini menghela napas panjang, katanya:
"Nona Tonghong, kejadian yang berlangsung dikolong langit kadang kala jauh berbeda diluar dugaanmu."
"Bolehkah aku mengajukkan beberapa buah pertanyaan kepadamu??" tanya Tonghong Hwie kemudian dengan nada suara yang jauh lebih lembut.
"Boleh, tetapi hanya dalam batas2 lingkungan saja, aku tak akan membuat kau merasa kecewa."
"Kau mengatakan, bahwa Han Siong Kie amat membenci kaum wanita, maka kau melarang aku mengadakan hubungan dengan dirinya."
"Tidak. kau keliru" tukas su Han Jin dengan cepat. "Rasa bencinya terhadap kaum wanita hanya suatu gejala yang sementara saja, tatkala penyebab dari rasa bencinya itu sudah lenyap maka ia dapat merubah pandangannya yang keliru itu, sebab dia adalah manusia yang terdiri dari darah dan daging, ia tetap memiliki perasaan benci maupun cinta"
Tonghong Hwie merasakan jantungnya berdebar keras, ia terpengaruh oleh emosi dan hatinya terasa amat tergetar, gadis itu tak berani mengajukan pertanyaan selanjutnya karena ia takut oleh jawaban yang bakal didengarkan, tapi... akhirnya ia tak tahan dan bertanya juga:
"Apakah disebabkan karena dendam??? "
"Bukan".
"Maksudmu bukan karena soal dendam??" hampir saja Tonghong Hwie tidak mempercayai perkataan itu tetapi si Hun Jin telah mengulangi kembali jawabannya "Bukan soal dendam".
-ooo0ooo-
Tengkorak Maut
Oleh : Tjan ID
Jilid 6
JAWABAN ini benar2 berada diluar dugaannya dengan perasaan tajamnya sebagai seorang wanita tercetus kembali satu pertanyaan dari mulutnya: "Apakah disebabkan karena soal cinta?? ia sudah ada yang punya "
"juga bukan. "
Ketegangan yang mencekam hati Tonghong Hwie mulai mengendor, tapi dengan nada bimbang dan tidak habis mengerti kembali ia bertanya : "Lalu apa sebabnya???"
"Bukankah sudah kukatakan tadi bahwa kadangkala kejadian yang berlangsung dikolong langit jauh diluar dugaan orang"
"Jadi maksudmu kejadian ini adalah suatu kejadian diluar dugaan. "
"Bukan kejadian diluar dugaan tapi sudah merupakan suatu kenyataan yang tak dapat di-bantah2 lagi dan kenyataan inilah yang mungkin berada diluar dUgaanmu"
"Aku tidak percaya " jerit Tonghong Hwie keras2.
"Tentu saja pada saat ini kau tidak percaya, tapi menanti kau mempercayai akan kejadian ini, tragedi yang menyedihkan sudah terjadi".
"Kau maksudkan suatu tragedi?? " tanya Tonghong Hwie dergan suara gemetar.
"Tidak salah, suatu tragedi yang paling mengenaskan sepanjang sejarah manusia"
"Kau.. dari mana kau bisa tahu?? "
"Aku tak akan beritahu kepadamu.. soal ini tak mungkin kuberi tahukan kepadamu"
Air muka Tonghong Hwie berkerut kencang, dengan wajah penuh penderitaan ia bergumam:
"ooooh... tidak tidak mengapa?? mengapa ini musti terjadi??.. tidak tak mungkin hal itu jadi kenyataan, tidak mungkin, aku tak dapat kehilangan dirinya..".
"Nona Tonghong, seandainya pada saat ini dia sudah mati diujung telapak Tengkorak Maut, bagaimanakah sikapmu??"
Tonghong Hwie tercekat setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya ia menjawab dengan nada sedih:
"Aku tak akan hidup seorang diri dikolong langit "
"Aaaai terkutuk"
suara itu mendadak sirap dan lenyap tak terbekas.
"Eeeei... su Hun Jin, aku masih ada pertanyaan hendak diajukan kepadamu. su Hun Jin. ..su.Hun Jin...."teriak Tonghong Hwie keras keras.
Tapi tiada jawaban yang kedengaran lagi, orang yang kehilangan sukma telah pergi tanpa pamit tapi bayangannya justru sudah menanamkan suatu bayangan gelap yang paling menakutkan didasar hati kecil gadis cilik ini.
Dengan badan lemas tak bertenaga Tonghong Hwie bersandar disisi pohon, bagaikan baru saja mengalami suatu mimpi yang ngeri dan menyeramkan, ia mengenang kembali setiap patah kata dari su Hun Jin, ia membayangkan kembali kegantengan serta kegagahan saudara angkatnya Han Siong Kie ...kemudian membayangkan pula bahwa suHun Jin adalah seorang wanita, agaknya ia sejalan dengan perempuan misterius yang mengaku sebagai Yoe sim Jim.
Maka iapun mengambil kesimpulan didalam hatinya, jelas kesemuanya ini adalah suatu rencana yang paling tak tahu malu, dan jelas hendak merebut Han Siong Kie dari tangannya.
Tetapi. ..kembali muncul persoalan dalam hatinya, mengapa Yu sim Jin serta su Hun Jin bisa mengetahui rahasianya dengan begitu jelas?? disamping itu mengapa kemunculan Yu sim Jin bisa begitu kebetulan dan tepat pada saatnya untuk menolong Han Siong Kie?
suatu tanda tanya besar suatu teka teki yang diliputi misteri dan amat memusingkan kepala.
Malam yang gelap telah mencekam seluruh jagat, cahaya bintang muncul dari balik celah-celah daun memancarkan sinarnya yang redup.
Dalam keadaan begini yang dipikirkan Tonghong Hwie hanyalah engkoh Kie-nya, ia tidak memperdulikan malam yang gelap, pakaian yang robek terkait ranting dan udara yang dingin.
Gadis itu berjalan..berjalan terus untuk menemukan jejak kekasih hatinya.
Sementara itu Han Siong Kie yang terhajar luka prah oleh pukulan maut si Tengkorak Maut seketika jatuh tak sadarkan diri, ia merasa bahwa jiwanya pasti akan lenyap pada saat itu.
Menanti ia mendusin kembali dari pingsannya, pemuda itu menemukan bahwa dirinya sedang berbaring di dalam sebuah gua, rasa sakit yang menyiksa tubuhnya telah lenyap tak berbekas. Ingatan pertama yang segera berkelebat di dalam benaknya adalah:
“Aku masih hidup!”
Sementara bau wangi yang tawar berhembus masuk ke dalam hidungnya..
Perempuan!
Oooh…kembali aku sudah ditolong oleh seorang perempuan!
Pertama kali ketika ia terhajar masuk kedalam sungai oleh Tengkorak Maut, Go Siau Bie telah menyelamatkan jiwanya, hal ini membuat hatinya sangat menderita sebab ia membenci kaum wanita tapi justru wanitalah yang telah menyelamatkan jiwanya.
Dan kini, kejadian tersebut kembali terulang!
Dengan cepat ia meloncat bangun dan bangkit berdiri….
oooOOOooo
BAB 12
PADA Jarak kurang lebih beberapa tombak dimulut gua berdiri sesosok bayangan putih yang membelakangi dirinya.
Pelbagai ingatan segera berkelebat di dalam benak Han Siong Kie, akhirnya ia tak tahan dia buka suara:
"Apakah nona yang telah menolong diriku??"
"Boleh dibilang begitu, boleh dibilang pula bukan" jawab gadis itu dengan suara yang merdu, bahkan nada suara itu amat dikenal olehnya.
"Apa maksud ucapanmu itu?? " tanya Han Siong Kie dengan nada tertegun.
"Kau telah diselamatkan adik angkatmu Tonghong Hwie dari medan pertarungan, kemudian akulah yang membawa dirimu datang kemari, setelah itu seseorang yang lain mengobati luka yang kau derita"
Sepasang alis Han Siong Kie kontan berkerut, ia tidak menyangka kalau urusan itu diliputi oleh liku2 yang begitu banyak. sesudah berpikir sebentar kembali ia bertanya: "siapakah yang dimaksudkan oleh nona?"
"Orang yang kehilangan sukma"
"Orang yang kehilangan sukma??" ulang pemuda itu dengan hati keheranan.
"Sedikitpun tidak salah"
"Apakah dia adalah seorang angkatan tua didalam dunia persilatan?"
"Boleh dibilang begitu"
"sekarang dimanakah tokoh sakti itu?"
"sudah berlalu sedari tadi"
"Nona, kau adalah...."
Gadis berbaju putih itu lambat2 putar badan dengan jari tangannya yang halus ia tarik kain kerudung cutihnya lebih kebawah lalu tertawa merdu dengan suara yang lengking.
"Hiihh...hiihhh... hiihhh... kau benar2 seorang pelupa bukankah kita pernah bercakap-cakap?? "
Diungkap tentang persoalan itu Han Siong Kie segera teringat kembali siapakah gerangan gadis ini, jantungnya segera berdebar keras serunya dengan penuh emosi: "Kalau dugaanku tidak salah maka nona pastilah Yu sim Jin siorang yang ada maksud???"
"Dugaanmu tepat sekali"
Dalam hati kecil Han Siong Kie sebera muncul kembali tingkah laku Yu sim Jin yang mencurigakan itu dia ingin membuktikan serta kesangsian yang menyelimuti dalam benaknya, pertama kali ia berjumpa muka dengan gadis misterius ini yang terlihat hanyalah bayangan punggung yang samar dan didalam perjumpaannya kali ini mereka hanya dihalangi oleh selapis kain kerudung yang tipis.
Apakah cantik atau jelek raut wajah dibalik kain kerudung itu ia tak ingin menebak maupun menduga sebab dalam pandangannya perempuan adalah racun dunia ia benci dan mendendam terhadap setiap perempuan yang ada dikolong langit.
setelah hening beberapa saat lamanya, iapun bertanya kembali: "orang yang kehilangan sukma itu pria atau wanita??".
"Wanita".
"Oooh..." Han Siong Kie berseru tertahan, suatu perasaan yang sangat tak enak menyelimuti benaknya, untuk kedua kalinya ia telah berhutang budi bahkan berhutang budi terhadap seorang wanita.
"Darimana nona bisa tahu kalau aku terluka hingga membawa aku datang kemari untuk mendapat pengobatan dari orang yang kehilangan sukma??..."
"oooh, tentang soal ini?? dikemudian hari kaubakai tahu sendiri"
"Nona, rupanya dalam segala persoalan apapun kau tidak ingin memberitahukan kepadaku?..".
"Dikemudian hari mungkin akan kukatakan kepadamu, tapi sekarang hal itu tak mungkin kulakukan, sebab hal itu hanya akan merugikan dirimu dan sama sekali tak ada manfaatnya"
"Bukankah nona pernah menyampaikan berita tentang terjadinya penghianatan dalam tubuh Kay-pang kepada si padri dari utara?"
"Tidak salah, bahkan akupun telah menyembuhkan luka yang diderita pengemis dari selatan ketika ia menggeletak didalam kuil bobrok."
sekarang Han Siong Kie baru mengetahui apa sebabnya luka yang diderita pengemis selatan secara tiba2 telah sembuh seperti sedia kala, tapi dengan adanya kejadian ini persoalan yang membingungkan hatinya makin menebal, hingga akhirnya tak tahan lagi ia berkata:
"Bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu??"
"Aku hanya melaksanakan tugas atas perintah orang lain, mungkin aku tak dapat banyak memberikan keterangan kepadamu."
"Kau lakukan tugas atas perintah siapa?"
"Orang yang kehilangan sukma."
"Jadi kalau begitu, semua perkataan yang nona sampaikan kepadaku tempo dulu juga atas perintah dari orang yang kehilangan sukma??"
"sedikitpun tidak salah."
"Bolehkah aku berjumpa dengan orang yang kehilangan sukma?"
"Tidak boleh"
"Kenapa??? kenapa aku tak boleh bertemu dengan orang yang kehilangan sukma??"
"Sebab belum tiba saatnya"
Han Siong Kie semakin di buat sangsi dan tuk habis mengerti sebenarnya apa hubungan antara dia dengan orang yang kehilangan sukma? kenapa ia begitu jelas mengetahui sebala sesuatu mengenai dirinya, apakah maksud tujuannya?.
Ia merasa andaikata jejak seorang yang kehilangan sukma berhasil diketahui mungkin ia akan berhasil meraba atau mendapatkan sedikit keterangan sebab persoalan itu bisa ditanyakan kepada sipengemis dari selatan dengan pengalaman serta pengetahuannya yang luas mungkin banyak keterangan yang berhasil ia peroleh. sesudah termenung beberapa saat lamanya maka iapun bertanya lagi:
"Tahukah nona bagaimanakah basil pertarungan antara pengemis dari selatan serta padri dari utara melawan si Tengkorak Maut"
"Tahu, mereka berhasil lolos dari lobang jarum"
"Apakah si Tengkorsk Maut telah melepaskan mereka."
"Tidak kemunculan seorang dedengkot dari Kay pang secara mendadak telah mengejutkan si Tengkorak maut hingga gembong iblis itu kabur"
Han Siong Kie amat terkejut, jago lihay macam apakah dari Kay pang itu hingga si Tengkorak maut yang tersohor akan kelihayannyapun bias kabur terbirit2. siapakah jago lihay itu?? iapun segera bertanya.
"Song chiat Koay yang telah lenyap sejak empat puluh tahun berselang, dia adalah paman guru si pengemis selatan.
"Oooh. bukankah jago lihay itu telah berusia diatas ratusan tahun??"
"Dugaanmu iitu tepat sekali"
Tiba2 satu ingatan aneh muncul didalam benaknya. kalau memang song Thiat Koay sanggup membuat kabur si Tengkorak Maut sebelum munculkan diri, berarti tenaga lwekang yang dimilikinya tentu sangat lihay, andaikata ia dapat mengangkat dirinya sebagai guru.
sejak ia berhasil mendapatkan hawa murni yang disalurkan kura2 sakti kedalam tubuhnya lalu memperoleh pula ilmu silat peninggalan Leng Koe siangjien, seharusnya kepandaian silat yang dimilikinya sudah terhitung sangat lihay, tapi dalam kenyataan ia masih belum sanggup untuk menerima sebuah pukulan dari si Tengkorak maut.
Dari sini bisa dibayangkan kekuatan tubuh yang dimiliki manusia ampuh dari Kay pang itu pastilah sudah mencapai puncak yang tak terhingga.
Pemuda ini menyadari bahwa Yu sim Jin orang yang ada maksud tak nanti memberitahukan apa2 kepadanya, tetap berada disitu berarti cuma membuang waktu dengan percuma, ia segera mengambil keputusan untuk mencari jejak pengemis dari selatan lebih dahulu setelah itu baru mencari tahu asal-usul dari "orang yang kehilangan sukma" Berpikir sampai disini iapun segara memberi hormat sambil berkata:
"Budi kebaikan nona akan kuingat selalu di dalam hati, nah... sampaijumpa lagi dikemudian hari."
"Kau .... kau hendak pergi?"
"Benar oooh... masih ada satu pertayaan lagi, sekarang adik angkatku Tonghong Hwie berada dimana???"
"Mungkin dia masih menunggu kedatanganmu di tepi hutan sebelah depan sana"
Han Siong Kie merasa amat terharu oleh sikap adik angkatnya Tonghong Hwie yang begitu memperhatikan dirinya, cinta kasih yang melebihi saudara sendiri ini membuat si anak muda tersebut ingin sekali cepat2 menemukan dirinya.. "saudara, tunggu sebentar" si orang yang ada maksud itu berseru.
"Masih ada perkataaa apa lagi yang hendak nona sampaikan kepadu???"
"Bukankah didalam sakumu terdapat separuh dari sarung tangan Buddha Hoed Jiu Poo Jit.. "
Air muka Han Siong Kie berubah hebat, dengan hati terperanjat ia mundur satu langkah ke belakang, bentaknya:
"Dari mana kau dapatkan benda mustika itu??? "
"Kau ingin berbuat apa??".
"Tak usah tebang dan jangan kuatir kalau aku ada maksud menginginkan benda itu, sewaktu kau masih tak sadarkan diri tadi benda tersebut telah kudapatkan. Ketika si orang yang kehilangan sukma sedang mengobati lukamu tadi, secara kebetulan saja ia menemukan bahwa kau membawa benda mustika dari dunia persilatan"
"Kalau memang begitu kuberitahukan kepadamu, benda itu adalah hadiah dari mendiang guruku"
"Siapakah gurumu???"
"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memberitahukan kepadamu"
"Baiklah kalau kau tidak ingin mengatakan, akupun tak akan memaksa. Cuma ada satu hal yang hendak kukatakan kepadamu, janganlah membiarkan benda mustika itu diketahui oleh orang Bu lim, sebab hal itu akan memancing datangnya pertikaian didalam dunia persilatan"
"Kalau nona tidak mengatakan kepada orang lain, tentu saja tak seorangpun yang akan mengetahui akan peristiwa ini"
"Orang yang kehilangan sukma suruh aku menyampaikan pula sepatah kata kepadamu"
"Apa yang dia katakan???
"Dia minta kau segera pergi mengunjungi pemilik dari Benteng maut"
"Apa?? dia suruh aku pergi ke benteng Maut??
Orang yang ada maksud mengangguk tanda membenarkan.
"Bukankah nona pernah menyampaikan pesan kepadaku, bahwa ia melarang aku menuntut balas benteng maut ??" seru Han Siong Kie
"Aku bukan maksudkan menuntut balas, ia minta kau pergi berkunjung kepada pemilik Benteng Maut"
"Berkunjung sih pasti akan kulakukan, cuma tidak akan kulakukan pada saat ini."
"Kenapa?? "
"Aku harus menanti sampai aku memiliki kekuatan untuk menghancurkan benteng Maut, saat itulah aku pasti akan pergi kesana"
"Ia minta kau sekarang juga pergi berkunjung kesitu, kunjunganmu akan mendatangkan manfaat yang besar bagi usahamu untuk membalas dendam".
"Apakah ia memberikan penjelasan2nya?"
"Tidak"
"Kalau begitu maaf, aku tak bisa menuruti keinginanmu itu."
"Tahukah kau bahwa orang yang terlalu keras kepala akan mengakibatkan suatu mala petaka bagi dirimu sendiri"
"Selamanya aku melakukan pekerjaan menuruti keinginan hatiku, orang lain tak usah terlalu pusing kepala memikirkan diriku" seru Han Siong Kie dengan suara dingin, habis berkata ia enjotkan badan dan menerobos keluar lewat sisi tubuh orang yang ada maksud yang sedang berdiri di mulut gua.
"Budi kebaikan atas pertolongan yang telah kau berikan kepadaku suatu ketika aku pasti akan membalasnya"
Dengan gerakan tubuh yang sangat cepat laksana kilat ia berlalu dari situ.
"Heei...Han Sionng Kie" teriak orang yang ada maksud dengan suara keras. "Aku masih ada perkataan yang hendak kusampaikan kepadamu Han Siong Kie, kau jangan pergi dulu"
Tapi anak muda itu tetap tidak menggubris, tububnya semakin cepat meluncur kearah hutan tidakjauh dari situ.
Dalam hutan disisi sebuah pohon besar duduk melingkar bayangan manusia yang kecil mungil, Han Siong Kie yang melihat bayangan tubuh itu hatinya segera bergerak tubuhnya semakin cepat berkelebat menuju ke arah itu.
Tampaklah Tonghong Hwie adik angkatnya duduk bersandar dipohon dengan mata terpejam rapat, tetesan darah kental masih menodai ujung bibirnya...
Han Siong Kie amat terperanjat buru2 ia berjongkok kesisi tubuhnya sambil berseru dengan nada kuatir: "Adik Hwie... adik Hwie... kenapa kau?"
Mendengar teriakan itu Tonghong Hwie membuka matanya kembali setelah mengetahui siapakah yang berdiri dihadapannya ia jadi sangat kegirangan:
"Engkoh Kie, akhirnya engkau kembali juga ke sisiku, aku mengira selamanya tak akan bertemu lagi dengan diri mu.. "
"Apa??? kau bilang apa???..."
"Apakah luka yang kau derita telah sembuh??"
"sudah, aku telah sehat kembali seperti sedia kala"
"Apakah si orang yang ada maksud yang telah menyembuhkan lukamu?."
"Bukan, si orang yang kehilangan sukma yang telah mengobati lukaku"
"Apa??? orang kehilangan sukma??" jerit Tonghong Hwie amat terkejut.
Tiba2 ia menyadari akan kekhilapannya hingga tak sanggup membendung golakan dalam hatinya, cepat pengemis cilik ini berusaha untuk menenangkan hatinya.
"Dia...dia... apa yang telah dia katakan kepadamu?" tanyanya kembali setelah merandek beberapa saat.
“Tidak. aku sama sekali tidak bertemu dengan dirinya, bahkan bayangan tubuhnyapun tak sempat kulihat. orang yang ada maksudlah yang telah mengatakan kepadaku. "
"Ooooh... " sampai disini Tonghong Hwie baru dapat menghembuskan napas lega.
"Adik Hwie, apakah kau kenal dengan orang kehilangan sukma??" mendadak Han Siong Kie bertanya.
"Tidak... tidak kee.. kenal. cuma. cuma..." teringat akan perkataan yang telah disampaikan orang yang kehilangan sukma kepadanya, tanpa terasa seluruh bulu kuduk di tubuh Tonghong Hwie pada bangun berdiri, ia tak berani mengingatnya kembali sebab gadis ini merasa ngeri terhadap akibatnya.
sementara itu Han Siong Kie yang melihat sikap Tonghong Hwie yang gelagapan dan tidak tenang jadi tercengang bercampur keheranan, buru2 serunya. "Adik Hwie, cuma apa???"
"Tidak apa2, setelah kau dibawa pergi orang yang ada maksud, ia telah menyampaikan pesan kepadaku agar tetap menanti dirimu disini tanpa menunjukkan dirinya, karena itu aku sendiripun tak tahu macam apakah manusia yang menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma itu."
Mendadak pemuda itu teringat kembali akan darah kental yang menodai bibir adik angkatnya itu, ia lantas bertanya: "ooh adik Hwie, apakah kau terluka?" Tonghong Hwie mengangguk.
" Kau terluka ditangan siapa?? kembali pemuda itu bertanya.
"Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing"
"Apa?? kau dilukai oleh si malaikat berhawa dingin Mo siu Ing?? seru Han Siong Kie terperanjat.
"Benar...".
"Hmm suatu hari aku pasti akan menghajar dirinya sampai muntah darah untuk melampiaskan rasa sakit hatimu, kemudian akan kubunuh dirinya guna membasmi bibit bencana dari muka bumi" Tonghong Hwie tersenyum.
"Engkoh Kie, apakah kau sanggup menangkan dirinya??" ia bertanya. Mula2 Han Siong Kie tertegun, lalu dengan alis berkerut jawabnya: "Pokoknya suatu saat aku pasti akan berhasil oooh... benar, adik Hwie."
"Aku sudah beberapa kali menyaksikan kau bertarung melawan orang, pukulan telapak maupun tusukan senjata sama sekali tak dapat melukai dirimu, sebenarnya ilmu silat sakti apakah yang kau miliki?"
"Tentang soal itu... aku... aku.. "bicara sampai disitu ia segera menyingkap pakaiannya yang robek hingga nampak kaos putih yang berada dibalik bajunya. "Aku telah andalkan benda inilah hingga kebal terhadap pukulan maupun tusukan senjata"
"Benda apa sih itu?? "
"Kaos mustika pelindung badan tapi jangan kau katakan kepada siapapun lho kalau aku memiliki benda mustika ini"
"Aduuh aku hendak mengatakan kepada siapa?? lalu apakah kaos mustika pelindung badan itu mempunyai kegunaan yang lebih besar ?"
"Tentu saja " jawab Tonghong Hwie sambit tersenyum.
"Aah kau sedang membohongi diriku?? "
"Tidak dari mana kau bisa mengatakan begitu ??"
“Aku memang memiliki kaos mustika pelindung badan, mengapa saat itu kau bisa terluka ditangan si Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing??"
"Ooooh, kiranya soal itu, kau musti tahu bahwa tenaga dalam yang ia miliki sangat lihay sekalipun kaus mustika pelindung badan yang kumiliki dapat kebal terhadap pukulan maupun tusukan senjata tetapi kegunaannya pun ada batasnya, andaikata aku bertemu dengan orang yang memiliki senjata mustika atau orang mememiliki tenaga dalam yang amat sempurna tentu lain ceritanya tetapi bicara sesungguhnya andaikata aku tidak andalkan kaus mustika pelindung badan ini mungkin sedari tadi jiwaku telah melayang diujung telapak si Malaikat berhawa dingin"
"Aku dengar katanya si Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing selamanya cuma bergebrak sebanyak tiga jurus saja melawan orang lain, bilamana lawannya sanggup menerima tiga buah pukulannya tanpa menemui ajalnya itu berarti bahwa ia telah lolos dari malaikat
elmaut??"
"Tidak salah, dan akupun sanggup menerima tiga buah pukulannya"
"Apakah kau ada permusuhan dengan dirinya?? kenapa ia turun tangan terhadap dirimu???"
“Setiap tahun si Malaikat hawa dingin pasti satu kali munculkan diri didalam dunia persilatan, ia baru akan berhenti membunuh bila korbannya telah mencapai seratus orang, setiap orang Bu lim yang berjumpa dengan dirinya berarti maut baginya” sambil berkata Tonghong Hwie berusaha untuk bangkit berdiri, tetapi baru saja tubuh bagian atasnya di angkat separuh ia sudah menjerit kesakitan dan berbaring kembali diatas tanah.
Han Siong Kie yang menyaksikan kejadian itujadi kaget, buru2 serunya:
"Adik Hwie, biarlah aku periksa dulu keadaan lukamu kemudian baru kubantu dirimu untuk menyembuhkan luka dalammu itu"
sambil berkata tangannya segera bekerja hendak melepaskan pakaian yang dikenakan Tonghong Hwie.
Gadis itu jadi panik, buru2 ia halangi tangan Han Siong Kie sambil katanya "Tak usah Tak usah ....."
"Heei.. adik Hwie, apa maksudmu?? tanya Han Siong Kie dengan wajah tertegun.
Tonghong Hwie tertawa jengah, dengan ter sipu2 katanya:
"Aku mempunyai kepandaian untuk menyembuhkan lukaku sendiri.."
"Tapi tiada halangan toh kalau kuperiksa dulu keadaan lukamu itu?? memangnya kau adalah seorang gadis."
"Tidak" seru Tonghong Hwie.
Ucapan ini sangat menyakitkan hatinya, membuat jantungnya berdebar keras dan wajahnya berubah jadi merah padam tapi berhubung gadis itu memakai obat penyaru yang tebal lagipula tertutup oleh lemak maka perubahan wajahnya ini tidak sampai di ketahui oleh Han Siong Kie.
sebenarnya gadis ini bersifat polos dan supel, ia pandai bergaul dan pandangannya luas. sejak bergaul dengan Han Siong Kie sikapnya semakin bebas dan tidak terhadang oleh sesuatu ganjalan apapun.
Tapi sejak rahasia kegadisannya dipecahkan oleh orang yang ada maksud, lalu "orang yang kehilangan sukma" pun mengatakan macam2, hal itu membuat sifatnya sama sekali berubah, perasaannya jadi amat halus dan mudah tersinggung.
Tentu saja pada saat ini ia tak dapat membocorkan rahasianya, sebab Han Siong Kie amat membenci kaum wanita, andaikata pemuda itu mengetahui bahwa dia adalah seorang gadis mungkin saja ia akan kabur dari sisinya. .
Bila hal ini sampai terjadi maka ia akan sangat menderita, pikirannya akan tersiksa, sebab sejak pertemuannya pertama kali gadis ini telah jatuh cinta kepadanya, ia telah mengambil keputusan untuk mempersembahkan dirinya untuk pemuda itu.
Tetapi, bayangan gelap lain yang amat menakutkan selalu menyelubungi hatinya, ucapan dari " orang yang kehilangan sukma masih mendengung terus disisi telinganya.
"Kau harus tahu diri dan mundur teratur sebelum terjerumus kedalam jurang kehancuran,selamanya terlalu romantis banyak akan mendatangkan penyesalan."
"Kenapa???" tanpa sadar ia berseru keras.
Han Siong Kie jadi melongo, ia segera menatap wajah adik angkatnya sambil bertanya dengan nada tercengang, "Adik Hwie apa yang kau katakan??"
"oooh tidak apa2. " sahut Tonghong Hwie terpatah-patah "sekarang aku akan mulai menyembuhkan luka dalamku dengan simhoat ajaran perguruanku, tolong kau suka melindungi keselamatanku."
"Mari biar kubantu dengan begitu bukankah kau tidak akan terlalu payah..???"
"Tidak bisa jadi, andaikata ada orang datang kemari, bukankah kemudian kita bakal celaka??"
Han Siong Kie tidak bisa berkata lagi, terpaksa ia mengangguk:
sambil menggertak gigi Tonghong Hwie sebera bangkit dan duduk bersila, kemudian ia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan untuk menyembuhkan luka yang sedang dideritanya.
Dengan tenang Han Siong Kie duduk menanti disamping, bayangan tubuh "orang yang ada maksud" gadis misterius itu terlintas kembali semua perkataan yang telah dia sampaikan "orang yang ada maksud" kepadanya, tetapi semakin dipikir ia merasa semakin bingung dan tak habis mengerti.
" orang yang ada maksud mengatakan, bahwa ia mendapat perintah dari orang yang Kehilangan sukma, untuk menyampaikan kata2 itu kepadanya, berarti persoalan "orang yang kehilangan sukma, tapi "su Hun Jin" suatu nama yang sangat aneh, siapakah dia?? Mengapa ia mengetahui seggla sesuatu mengenai dirinya dengan begitu jelas??
Mengapa orang itu secara sukarela datang mengobati luka yang sedang ia derita.
Mengapa orang itu selalu memperingatkan dirinya agar jangan menuntut balas terhadap Pemilik dari Benteng Maut.
Mengapa secara tiba2 ia minta dirinya pergi mengunjungi s ipemilik dari Benteng Maut??"
Sebenarnya apa latar belakang dari kesemuanya ini???
Semuanya merupakan tanda tanya yang besar baginya, teka teki yang memusingkan kepalanya.
Sementara Han Siong Kie masih termenung memikirkan persoalan itu, tiba2... sreet sreet suara langkah kaki manusia berkumandang dari tempat kejauhan.
si anak muda itu segera tersentak bangun dari lamunannya, dengan sorot mata yang tajam ia awasi arah dimana berasalnya suara itu, tapi hutan tersebut terlalu lebat, sulit baginya untuk dilihat.
Kian lama suara langkah manusia itu kian mendekat.
Han Siong Kie segera bangkit berdiri, tapi ketika dilihatnya dari ubun2 Tonghong Hwie mulai mengepulkan asap putih yang berarti semedinya telah mencapai pada puncaknya. ia segera batalkan niatnya untuk menengok asal mulanya suara tadi.
"Keparat cilik itu sudah terluka parah dan keadaannya payah sekali, setelah dibawa kabur oleh pengemis cilik itu jejaknya mendadak lenyap tak berbekas, padahal semua kantor cabang telah diperintahkan untuk melakukan penjagaan, masa ia bisa terbang ke langit."
"Aaah kebanyakan orang itu bersembunyi didalam hutan."
"Tapi kita toh sudah setengah harian lamanya melakukan pencarian tanpa hasil??"
"Baik atau buruk lebih baik kita geledah dulu seluruh hutan ini, kemudian baru pulang memberi laporan"
"Si manusia berwajah dingin telah membinasakan Jin Tongcu serta menggagalkan rencana kita .."
Dari pembicaraan tersebut Han Siong Kie segera mengenali sebagai suara dari antek2 perkumpulan Thian chee Kauw, lagi pula kedatangan mereka untuk menggeledah hutan dan mencari adik angkatnya, napsu membunuh seketika bergelora dalam tubuhnya ia berpikir:
"Sewaktu aku terluka di tangan Tengkorak Maut bukankah para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw telah berlalu, dari mana mereka bisa tahu akan terjadinya ini. sreeet sreeet sreeeet suara langkah kaki manusia kian lama bergerak kian mendekat, jaraknya tinggal sepuluh tombak dari tempat semula dan secara lapat2 dari kerumunan hutan nampak bayangan manusia bergerak mendekat. satu ingatan berkelebat dalam benak pemuda she Han itu pikirnya:
"Aku tak boleh membiarkan mereka mendekati sekitar ini, adik Hwie tak boleh terganggu konsentrasinya hingga buyar..."
Begitu teringat sampai disitu, badannya segera siap meloncat keluar dari tempat persembunyiannya :
Mendadak.. terdengar suara jeritan lengking yang ngeri dan menyayatkan hati
berkumandang memenuhi seluruh angkasa, membuat siapapun yang mendengar jadi ikut bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri
satu jeritan disusul oleh jeritan yang lain, bergema saling susul menyusul hingga sepuluh kali banyaknya.. kemudian suasana pulih kembali dalam kesunyian serta keheningan yang mencekam..
Han Siong Kie merasa amat terperanjat, cepat2 ia enjotkan badannya meluncur ke arah mana berasalnya suara jeritan ngeri tadi.. Tapi metelah melihat pemandangan yang terbentang dihadapannya, pemuda itu tertegun dan untuk beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun
-0000000-
BAB 13
TAMPAKLAH empat belas sosok mayat menggeletak malang melintang diatas permukaan tanah, keadaan mayat2 tersebut mengerikan sekali pada ubun2 masing2 korban nampaklah beras cengkeraman yang menghancurkan isi benak, ada yang menggeletak diatas genangan darah, ada pula yang bercampur baur dengan isi otak yang berhamburan di atas permukaan, keadaannya sangat menyeramkan hingga membuat pemuda kita jadi ngeri dan tercekat hatinya. Lama sekali Han Siong Kie tertegun gumamnya seorang diri: "Aaaah.. malaikat berhawa dingin Mo siu Ing pastilah perbuatannya.."
Dalam benaknya segera terlintas kembali pemandangan ngeri dihutan bunga Tho yang pernah dijumpainya belum lama berselang.
Membunuh orang begini kejam boleh dibilang sangat brutal dan melanggar perikemanusiaan. .
Para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw sebenarnya datang kehutan ini untuk mencari serta meringkus Tonghong Hwie bersama dirinya, siapa tahu mereka sudah dibunuh duluan oleh malaikat berhawa dingin.
Yang lebih aneh lagi ternyata tak nampak bayangan tubuh malaikat berhawa dingin Mo Siu Ing muncul ditempat itu, padahal jaraknya dengan tempat kejadian cuma terpaut sepuluh tombak belaka, tidak mungkin kalau jejaknya tak ketahuan olehnya. Dengan kekejian serta ketelengasan perempuan itu masa ia bisa dilepaskan begitu saja, suatu kejadian yang tak masuk diakal.
Mendadak kembali terdengar desiran angin tajam menyambar datang memecah angkasa. Han Siong Kie terkesiap dan segera menghimpun hawa murninya siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan Sreeeet Sreeett Sreeet empat sosok bayangan hijau dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata 2 melayang turun di tengah kalangan mereka bukan lain adalah empat orang diantara kakek tua berbaju hijau dari perkumpulan Thian chee Kauw yang belum lama berselang mengerubuti saudara angkatnya pengemis dari selatan.
Air muka Han Siong Kie seketika berubah jadi dingin membeku dengan sorot mata memancarkan cahaya buas ia tatap wajah ke empat orang kakek berbaju hijau itu tajam tajam.
Sementara itu ke empat orang kakek berbaju Hijau tadi sudah menyapu sekejap mayat mayat yang bergelimpangan diatas tanah kemudian sama2 menjerit kaget wajah mereka unjukkan rasa ngeri dan keder yang hebat.
Beberapa saat kemudian salah satu diantara ke empat orang kakek itu tiba2 menuding kearah Han Siong Kie sambil berseru:
"Manusia berwajah dingin sungguh tak kusangka kau adalah ahli waris dari malaikat berhawa dingin Mo siu Ing"
Han Siong Kie melengak tapi dengan cepat ia dapat memahami maksud ucapan pihak lawan, pastilah keempat orang kakek itu menaruh curiga bahwa dialah yang telah turun tangan keji membasmi anak buahnya. Dengan nada ketus ia segera bertanya: "Apa katamu??"
"Sungguh brutal dan kejam perbuatanmu tak nyana hatimu sekeji serigala.."
"Oooh, ulangi sekali lagi perkataanmu itu, kubacok kalian sampai modar.."
Keempat orang kakak berbaju hijau tadi serentak mendengus gusar, dengan tangkas mereka menyebarkan diri ke empat penjuru dan masing2 menempati satu posisi untuk mengepung si anak muda itu di tengah kalangan. Terdengar si kakek berwajah segi tiga tadi berkata kembali: "manusia berwajah dingin, hutang darah yang telah kau perbuatan pada hari ini..."
"Kentut busuk makmu" tukas Han Siong Kie sangat marah. "Pentang mata kalian lebar2 dan periksa dulu dengan jelas, siapa yang telah melakukan pembunuhan keji ini"
"Hmm kecuali kau, masa ada oraag lain yang mampu melakukan pembunuhan semacam ini??"
"Oooh, jadi kau bersikeras menuduh akulah yang telah menjagal cecunguk itu?"
"Bagus sekali kalau sudah berani membunuh orang, kenapa musti takut untuk mengakuinya"
Saking gusar dan mendongkolnya Han Siong Kie mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
"Haah haah....haah... kalau begitu anggap saja memang akulah yang melakukan pembunuhan itu, kalian mau apa??"
"Hutang darah bayar darah. Hutang nyawa bayar nyawa serahkan jiwa anjingmu"
"Huuh kalau memang kalian sudah bosan hidup, ayoh majulah berbareng..."
Kakek berwajah segi tiga itu membentak keras, sepasang telapaknya diayun kedepan secara berbareng, dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kearah depan.
Han Siong Kie menyadari bahwa kekuatan hawa murni yang dimiliki ke empat orang kakek berbaju hijau ini rata2 jauh lebih besar daripada sikupu2 warna warni Lie In Hiang, dalam dunia persiatan mereka biasa dianggap sebagai jago lihay kelas satu.
Maka dari itu melihat datangnya ancaman, pemuda she Han tak berani bertindak gegabah, dia segera menghimpun delapan bagian hawa murninya, sambil membentak keras: "Bangsat ? kau memang sudah bosan hidup "
Angin cukulan bagaikan gulungan ombak ditengah hembusan badai menggulung kedepan menyambut datangnva ancaman tersebut.
"Blaaam. ditengah ledakan dahsyat suara dengusan berat berpekik membumbung di tengah angkasa, dengan wajah pucat pias kakek berwajah segitiga itu mundur ke belakang dengan sempoyongan ....
Hampir pada saat yang bersamaan tiga gulung angin pukulan yang sangat mengerikan laksana guntur yang membelah angkasa meluncur ke depan dan mengancam tubuh pemuda itu dari tiga arah yang berbeda..
Rupanya sejak semula Han Siong Kie telah menduga kalau pihak musuh pasti akan turun tangan secara berbareng, karena itu sehabis memukul mundur si kakek berwajah segi-tiga, bagaikan sukma gentayangan dengan tangkas ia berkelit ke samping dan berdiri di tempat kakek berwajah segitiga tadi berada.
Tindakan yang sama sekali tak terduga ini membuat ketiga orang musuhnya jadi melongo, angin pukulan yang dilancarkan secara berbareng itupun segera mengenai sasaran kosong.
Han Siong Kie tidak berpeluk tangan belaka bersamaan dengan gerakan tubuhnya yang berkelit kesamping, sebuah pukulan yang maha dahsyat sekali lagi dilancarkan kearah depan.
Blaam.... kembali terdengar dengusan tajam berpckik di angkasa, kakek berbaju hijau yang tepat berada dihadapannya sebelum sempat tarik kembali pukulannya sudah termakan oleh dorongan angin puyuh yang melanda datang dari arah depan, tidak ampun lagi tubuhnya mencelat sejauh delapan depa kebelakang, darah segar muncrat keluar dari mulutnya, jelas ia sudah menderita luka dalam yang amat parah.
Menyaksikan kejadian ini, dua orang kakek yang lain jadi ngeri dan tercekat hatinya, dari serangan yang dilancarkan barusan mereka sudah tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki Manusia berwajah dingin jauh lebih tinggi satu tingkat daripada kekuatan dari pengemis Lam Kay.
Untuk beberapa saat lamanya mereka tak berani berkutik, apalagi turun tangan secara gegabah.
Pada dasarnya Han Siong Kie sudah menaruh rasa sentimen dan bencinya terhadap perkumpulan Thian chee Kauw, karena ibunya si siang Go cantik ong cui Ing telah kawin lagi dengan Thian chee Kauwcu ditambah pula rencana busuk mereka untuk mengangkangi perkumpulan Kay pang, membuat kebenciannya makin lama semakin menebal.
Dalam keadaan begini ia tak sudi mengampuni kedua orang korbannya, dengan kemarahan yang memuncak ia membentak keras:
"Kalian berduapun harus menerima sedikit pelajaran, agar di kemudian hari bisa tahu membawa diri"
Ditengah bentakan nyaring, sepasang telapaknya dibabat ke depan secara berbareng, secara terpisah dua gulung desiran tajam itu menyerang kedua orang kakek baju hijau itu.
Melihat datangnya ancaman yang demikian dahsyatnya, kedua orang kakek baju hijau itu tak berani menyambut dengan keras lawan keras... sreet. masing2 orang bergeser delapan depa ke arah samping, kemudian putar badan dan balas menyerang dari arah kiri dan kanan.
“Blaam Blaam” dua benturan keras bergeletar ditengah angkasa, kedua orang kakek itu sama2 terpukul mundur sejauh satu tombak lebih, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Han Siong Kie putar badan menubruk ke arah si kakek yang ada di sebelah kiri, jurus pertama dari ilmu pukulan kura2 sakti laksana kilat dilancarkan... "Modar kau"
Ditengah jeritan ngeri yang memekikkan telinga, kakek baju hijau yang berada di sebelah kiri sebera menggeletak ke atas tanah.
Kakek baja hijau yang ada di sebelah kanan jadi ketakutan setengah mati, ia merasakan sukmanya se akan2 terlepas dari raganya.
Dengan sebat Han Siong Kie putar badan ganti menyerang kakek baju hijau yang berada di sebelah kanan, jurus kedua dari ilmu pukulan kura2 sakti kembali dilancarkan.
“Blaam..” Ditengah benturan keras terselip jeritan ngeri karena kesakitan, sebelum kakek baju hijau itu sempat melihat jelas dengan cara apakah pihak lawanya turun tangan, tahu2 badannya sudah mencelat ke belakang sejauh satu tombak lebih. Tidak ampun ia muntah darah segar
Dalam waktu singkat ke empat orang kakek baju hijau itu telah diberesi oleh Han Siong Kle dengan gampang, hal ini membuat mereka jadi keder dan tak berani banyak bertingkah lagi.
Terdengar si kakek berwajah segi tiga berseru dengan wajah menyeringai seram:
"Manusia berwajah dingin, suatu ketika perkumpulan kami akan menuntut balas sakit hati ini kepada kalian guru dan murid"
Dengan gusar Han Siong Kie mendengus:
"Hmm kalau kau berani menjejerkan lagi namaku dengan si malaikat berwajah dingin, saat ini juga aku akan bereskan kalian berempat hingga menggeletak di atas genangan darah"
Tiba2... serentetan suara yang dingin dan merdu berkumandang datang dari arah belakang.
"Manusia berwajah dingin, apakah nama dari malaikat berhawa dingin Mo siu Ing terlalu memalukan dirimu"
Han Siong Kie amat terkejut ketika mendengar seruan itu dengan cepat ia berpaling ke belakang kemudian dengan kaget mundur dua langkah lebar kebelakang.
Pada jarak kurang lebih dua tombak dihadapannya berdirilah seorang perempuan cantik berusia setengah baya, begitu cantik raut wajah perempuan itu bagaikan bunga botan yang sedang mekar, ketika itu ia sedang memandang kearahnya dengan senyum dikulum.
Terhadap kaum wanita boleh dibilang pemuda ini merasa mang kesal dan benci, tetapi kecantikan wajah perempuan itu cukup membuat jantungnya berdebar keras dan wajahnya bersemu merah.
Wajahnya terlalu cantik dipandang, begitu cantik bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan, terutama sekali sepasang biji matanya yang bening dan jeli sungguh menawan hati. siapakah perempuan ini???
Betapa lihaynya orang ini, ternyata ia sanggup mendekati tubuhnya hingga jarak dua tombak tanpa dirasakan olehnya.
Sementara itu dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, keempat orang kakek berbaju hijau itu melingkari disisi kalangan dengan penuh ketakutan, tubuh mereka nampak agak menggigil menahan perasaan hatinya.
Perempuan cantik berusia setengah baya itu kembali tersenyum manis, begitu indah dan cantik bagaikan bunga yang baru mekar, untuk kesekian kalinya Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras.
Kalau ditinjau dari nada suaranya tadi, semestinya orang itu adalah seorang gadis muda belia, sungguh tak nyana usianya telah mencapai tiga puluh tahunan.
Dengan cepat Han Siong Kie berusaha keras untuk menenangkan hatinya, dengan wajah yang dingin segera tegurnya: "siapakah kau??"
"Aku?? perempuan cantik itu tertawa cekikikan, "Akulah si malaikat berhawa dingin Mo siu Ing"
Han Siong Kie amat terperanjat hingga untuk beberapa saat lamanya ia berdiri menjublak dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. seorang iblis perempuan yang tersohor namanya dikolong langit ternyata adalah seorang perempuan cantik bagaikan bidadari, sungguh suatu kejadian yang tak dapat dipercaya.
"Benarkah kau adalah malaikat berhawa dingin Mo siu Ing??? sekali lagi pemuda itu menegaskan.
"Ooooh... kau anggap aku sedang berbohong??.
Perkataan ini seketika membungkamkan mulut Han Siong Kie, ia semakin menjublak.
sementara itu keempat orang kakek berbaju hijau itu telah saling berpandangan sekejap. kemudian putar badan dan siap meninggalkan tempat itu... "Ayoh kembali bentak Mo siu Ing tajam.
Suaranya lengking, tajam lagi merdu tetapi bagi pendengaran ke empat orang kakek tua itu tidak lebih bagaikan jeritan malaikat elmaut, masing2 bergidik. dan tanpa sadar menghentikan langkahnya, dengan pandangan ngeri bercampur takut mereka sama2 awasi wajah malaikat perempuan itu.
"Hiih..hiiih..hiiih.. Thian chee sat sia delapan bintang dari perkumpulan Thian chee Kauw, kenapa cuma datang empat orang?? mana yang lain??" tegur Malaikat hawa dingin sambil tertawa merdu.
Sekarang Han Siong Kie baru tahu kalau ke empat orang kakek baju hijau yang berada dihadapannya sekarang adalah empat orang diantara delapan bintang dari perkumpulan Thian chee Kauw.
Sementara itu perempuan tadi merandek sejenak. lalu berkata lagi:
"Sebelum memperoleh ijin dari aku si malaikat hawa dingin, kalian berani tinggalkan seenaknya... Hmm..."
Dengusan berat yang diperdengarkan membawa pengaruh yang amat besar, ke empat orang kakek itu semakin ketakutan hingga keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Tetapi... anggap saja nasib kalian semua masih rada baik menurut kebiasaan aku tak akan membunuh lebih dari seratus orang, ke empat belas sosok mayat yang menggeletak diatas tanah kebetulan sudah genap mencapai angka seratus, itulah rejeki serta nasib baik untuk kalian..."
Sekarang Han Siong Kie baru tahu apa sebabnya ia bisa lolos dari tangan maut perempuan ini kiranya malaikat berhawa dingin telah membunuh korbannya genap sebanyak seratus orang.
"Tetapi " kembali perempuan itu meneruskan.
Ke empat orang kakek berbaju hijau itu tersentak kaget, rupanya perempuan itu belum selesai berbicara...
Sambil menuding ke arah Han Siong Kie ia meneruskan:
"Selamanya aku tidak suka mengganggu kesenangan orang, apakah engkoh cilik ini suka melepaskan dirimu atau tidak aku tak berani memutuskan"
Ke empat orang kakek itu sama2 alihkan sorot matanya ke arah Han Siong Kie, sekarang mereka baru tahu bahwa manusia berwajah dingin bukanlah anak murid dari malaikat hawa dingin.
Han Siong Kie mendengus dingin, bentaknya: "Cepat enyah dari sini "
"Kalian boleh pergi tinggalkan tempat ini" sambung malaikat hawa dingin.
"Cuma aku ingin titip perkataan buat ketua kalian, katakan saja seratus jiwa korban pada tahun mendatang akan kuselesaikan dari tubuh anggota2nya, karena tadi kalian telah berkata bahwa kamu semua hendak menagih hutang darah, ucapanmu tadi merupakan pantangan terbesar bagiku"
Han Siong Kie yang ikut mendengarkan perkataan itu diam2 merasa ngeri, ucapan yang mengerikan semacam itu ternyata diutarakan oleh perempuan cantik ini dengan nada yang enteng, se-akan2 dia tidak anggap membunuh manusia adalah suatu perbuatan yang mengerikan.
Empat orang kakek berbaju hijau itu tak berani membantah, dengan wajah pucat dan jantung berdebar keras mereka putar badan dan se-cepat2nya tinggalkan tempat itu.
Menanti bayangan tubuh mereka berempat telah lenyap dari pandangan, malaikat berhawa dingin Mo siu Ing baru menoleh ke arah Han Siong Kie sambil tegurnya:
"Manusia berwajah dingin, siapakah pengemis cilik yang sedang menyembuhkan luka dalamnya di situ??"
"Dia adalah adik angkatku" jawab pemuda itu cepat, sementara dalam hati diam2 merasa terperanjat, kiranya iblis perempuan itu sudah tahu kalau mereka berdua berada disitu.
"Ehmm, hebat juga saudaramu itu, ia sanggup menerima tiga buah pukulanku tanpa menemui ajalnya"
Ucapan ini seketika membangkitkan rasa dendam dan gusar dalam hati pemuda she Han itu, serunya ketus:
"Terima-kasih bunt hadiah yang telah kau berikan kepada saudara angkatku..."
"Kenapa sih??"
"Dan terima kasih pula atas hadiahmu untuk engkoh tua ku itu??".
"Pengemis dari selatan?"
Tiba2 Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing tertawa cekikikan hingga sekujur tubuhnya bergetar keras.
"Hiiih..hiiih..hiiih.. pengemis tua adalah engkohmu, pengemis cilik adalah adik angkatmu, jadi kalau begitu kaupun seorang gembel tukang minta2???"
Han Siong Kie mendongkol bercampur gusar, ia mendengus dingin: "Hmm aku telah menyanggupi permintaan mereka, tahukah kau permintaannya itu? "
"Apa coba katakan "
"Dengan cara yang sama akan kuhantam dirimu sehingga muntah darah segar.."
Mula2 malaikat hawa dingin Mo Siu Ing nampak melengak kemudian mendongkol dan tertawa seram:
"Haaah haaah haaah manusia berwajah dingin kau yang hendak melakukannya? dengan andalkan kekuatan apa kau hantam diriku hingga muntah darah segar???? "
"soal itu kau tak usah tahu pokoknya, akan kuhajar dirimu sampai muntah darah kemudian kucabut jiwamu untuk membasmi seorang iblis pembunuh berdarah dingin dari muka bumi"
"Hiiih hiih hiiih manusia be^ajah dingin rupanya kau sedang mengigau disiang hari bolong???"
"Hmmm kalau kau tidak percaya silahkan untuk menjajal sendiri."
Napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah perempuan itu, namun dengan suara yang lembut ia berkata lagi:
"Manusia berwajah dingin, janganlah kau anggap setelah aku genap membunuh seratus orang lantas aku tak bisa membunuh orang lagi, kau musti tahu bilamana perlu aku masih tetap sanggup membunuh seseorang"
"Perempuan berhati siluman gertak sambalmu tak akan membuat hatiku jadi jeri "
"Bocah muda aku kagum atas keberanianmu, dikolong langit dewasa ini hanya kau seorang yang berani bersumbar hendak menghajar aku si malaikat hawa dingin hingga muntah darah segar tapi mampukah kaupenuhi harapanmu itu sekarang masih merupakan suatu tanya besar"
Ia merandek sejenak kemudian tambahnya:
"Aaaah aku teringat sekarang masih ada seorang lagi yang berani mengatakan kata sesumbar seperti dirimu"
"Siapakakah orang itu??? Han Siong Kie cepat bertanya.
"Tengkorak Maut pemilik dari benteng Maut"
"Oooh..jadi kaupun pernah dihajar sampai muntah darah oleh tengkorak maut??? "
"Siapa yang bilang"
"Kau sendiri "
"Kapan aku pernah bicara begitu??"
"Ooooh.. sekarang aku sudah tahu, tentunya sewaktu kau bertarung melawan tengkorak maut didalam kuil Bu.Hoo ditepi pantai Pek swie Tan tempo dulu, kau sudah menderita kekalahan"
"Eei.. dari mana kau bisa tahu kalau aku pernah bertempur melawan tengkorak maut? "
"Aku memperoleh kabar sewaktu tiba diluar kuil tersebut "
"Hmmm Kalau begitu dugaanmu keliru besar.."
Han Siong Kte melengak dibuatnya mendengar ucapan itu.
"Aku salah? kenapa? " tanyanya.
"Tengkorak maut yang bertarung dengan diriku itu hari bukanlah tengkorak Maut yang sesungguhnya"
"Ooooh.. jadi maksudmu dia Tengkorak Maut gadungan??"
"Sedikitpun tidak salah"
Dengan hati tertegun, sangsi dan kebingungan Han Siong Kie mundur dua langkah lebar kebelakang, ia tak pernah mengira kalau Tengkorak Maut ternyata ada yang gadungan, sungguh suatu kejadian yang sangat aneh.
Lalu siapakah yang sebenarnya jadi musuh besar pembunuhan keluarganya?? Tengkorak maut yang sesungguhnya? ataukah tengkorak maut gadungan??...
Mengapa orang yang kehilangan sukma serta orang yang ada maksud melarang ia menuntut balas terhadap benteng maut? dan mengapa pula susioknya sitangan naga beracun Thio Lien sesaat membunuh diri melarang pula dirinya untuk membalas dendam?? sebetulnya latar belakang apa yang terselip dibalik peristiwa ini???
"Manusia berwajah dingin, apa yang sedang kaupikirkan?" tiba2 malaikat hawa dingin menegur.
"Aku . , .aku sedang berpikir, ucapanmu itu patut dipercayai ataukah tidak"
"Terus terang kuberitahukan kepadamu, ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut asli sangat lihay, pada delapan belas tahun berselang kami suami istri berduapun hanya mampu menahan tiga buah pukulannya belaka, andaikata berduel satu lawan satu mungkin hanya satu jurus yang mampu kami terima.
sebaliknya Tengkorak Maut yang kutemui dalam kuil Bu Hoo tempo hari bisa kutahan serangannya hingga mencapai ratusan jurus dalam keadaan seimbang, akhirnya diapun yang ngeloyor pergi sendiri, karena itu aku berani mengatakan dengan tegas bahwa tengkorak maut itu adalah tengkorak gadungan. Disamping itu tengkorak maut yang sebenarnya sejak puluhan tahun berselang sudah tak pernah muncul kembali dalam dunia persilatan."
Han Siong Kie semakin kebingungan dibuatnya, tapi apa yang didengar adalah suatu kenyataan, baik yang asli maupun yang gadungan ia masih belum mampu untuk menandangi mereka.
Malaikat hawa dingin sendiripun mengakui bahwa dirinya hanya sanggup bergebrak sebanyak ratusan jurus dengan Tengkorak maut gadungan dalam keadaan seimbang, itu berarti pula bahwa dirinya sama sekali bukan tandingan lawan.
Berpikir sampai disini ia baru merasa menyesal kenapa bicara terlalu sesumba beberapa saat berselang.
Sementara itu itu senyuman manis telah tersungging kembali diujung bibir Malaikat hawa dingin tegurnya lirih:
"Manusia berwajah dingin, sungguhkah kau hendak ajak aku berkelahi??? ......"
Han Siong Kie yang sudah terlanjur bicara dengan wataknya yang tinggi hati tentu saja tak mau menunjukkan kelemahan dihadapan orang, dengan dingin ia mengangguk. "Tentu saja" jawabnya.
"Apakah kau hendak mengajar diriku hingga muntah darah kemudian bunuh diriku untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan??"
"Sedikitpun tidak salah, sekalipun aku belum mampu suatu hari aku dapat mewujudkan cita2ku ini"
"Bagus punya semangat, cuma seandainya hari ini kau tak dapat tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup lalu bagaimana??"
Dalam hati Han Siong Kie merasa hatinya tercekat, tapi diluaran ia tetap memandang sinis.
"Andaikata sampai terjadi begitu, anggaplah nasibku yang kurang mujur..."
"Manusia berwajah dingin "ujar Mo siu Ing dengan wajah serius, "aku berhasil menemukan jejakmu jauh sebelum berjumpa dengan wajah ke empat belas orang anggota perkumpulan Thian chee Kauw, bahkan aku sempat mendengar pula ucapan sombongmu terhadap si pengemis cilik itu, tapi tahukah kau mengapa aku tidak turun tangan membinasakan dirimu??"
"Kenapa?? "tanya Han Siong Kie dengan wajah dingin.
"Sebab potonganmu, kegagahanmu pada dua puluh tahun berselang, oleh sebab itu aku telah melanggar kebiasaan dan tidak turun tangan terhadap dirimu"
"Sayang sekali aku tak sudi menerima kebaikanmu"
"Hmm siapa yang senang menerima kebaikan?? jadi kau sudah bulatkan tekad untuk turun tangan terhadap diriku pada hari ini??... "
"Sedikitpun tidak salah, aku sangat mengharapkan petunjuk darimu... "
"Bergebrak sih mudah, cuma aku ada sebuah syarat yang harus kau setujui lebih dulu"
"Apa syaratmu itu??"
“Kalau kau mampu menyebut tiga jurus seranganku, maka sejak ini hari aku si malaikat hawa dingin kecuali membunuh mereka yang telah mencelakai suamiku, aku tak akan membunuh orang lain lagi"
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak si anak muda itu, pikirnya:
"Engkoh tuaku pun sanggup menerima tiga buah pukulanmu, masa aku tak mampu untuk berbuat demikian??? "
Ia segera balik bertanya:
"Seandainya aku tak mampu untuk menyambut ketiga buah seranganmu itu??..."
"Kau harus angkat aku jadi gurumu"
"Aku tidak setuju " kontan Han Siong Kie berteriak dengan wajah berubah hebat.
"Kenapa?? apa kau punya keyakinan bahwa kau tak akan sanggup menerima tiga jurus seranganku?."
"Perduli apapun yang kau katakan, aku orang she Han telah bersumpah, tak akan mendekati kaum wanita. Apalagi mengangkat dirimu jadi guruku?? Hmm... tak usah yaah"
"Jadi kau tak mau menerima taruhan ini?"
"Tidak mau"
"Seandainya aku menggunakan kekerasan?"
"Kau tak akan mampu berbuat begitu"
"Oooh, kau yakin aku tak bisa memaksa dirimu untuk menerima syarat tersebut?"
Han Siong Kie mendengus dingin dan tidak memberikan tanggapan atas pertanyaan itu.
"Baiklah. kalau kau tidak percaya, cobalah sendiri kelihayanku ini.."
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, Malaikat hawa dingin Mo siu Ing segera enjotkan badannya meloncat ke depan, telapak tangannya yang halus diayun menghantam ubun2 pemuda itu.
sekarang yang dilancarkan ini nampaknya amat lambat, padahal cepatnya sukar dilukiskan dengan kata2, lagi pula arah yang di tuju sangat aneh, membuat orang merasa bingung untuk menghadapinya.
Ingatan kedua belum sempat berkelebat didalam benaknya, bayangan telapak tahu2 sudah berada di depan mata. seandainya serangan ini bersarang telak di ubun2nya niscaya bakal hancur berantakan.
Dalam gugup dan kagetnya pemuda itu segera ayunkan telapaknya kedepan, tanpa ia sadari ayunan tersebut telah disertai pula dengan salah satu jurus ampuh dari ilmu kura2 sakti.
"Aaah... ditengah jeritan kaget malaikat hawa dingin Mo siu Ing tarik kembaci serangannya sambil bertukar gerakan, untuk kedua kalinya ia menghantam lagi ubun2 orang dengan kecepatan yang jauh lebih hebat.
Han Siong Kie silangkan sepasang telapaknya membendung datangnya pukulan tersebut, pada saat yang bersamaan badannya bergeser kearah belakang dengan suatu gerakan yang manis iapun berhasil meloloskan diri dari ancaman kedua.
"Manusia berwajah dingin" seru Mo siu Ing tajam. "Kau betul2 sangat hebat, terimalah serangan yang terakhir"
Ditengah bentakan keras, malaikat hawa dingin Mo siu Ing mendorong sepasang telapaknya secara berbareng kearah depan, ketika sampai ditengah jalan mendadak serangan pukulan itu berubah jadi serangan mencengkeram, dari tangannya bagaikan burung elang laksana kilat mencekal pergelangan lawan.
Han Siong Kie segera memutar telapak kirinya melindungi badan, telapak kanan membabat dari atas kearah bawah, sementara tubuhnya ikut meloncat kearah belakang.. "Breeet.. ditengah suara robeknya pakaian, terselip jeritan kaget yang amat keras.
Pakaian bagian dada yang dikenakan Han Siong Kie tersambar robek oleh jari tangan lawan, sarung tangan mustika HudJiu Poo Pit yang disimpan dalam sakupun segera terjatuh keatas tanah.
"Apa ?? sarung tangan mustika Hud Jiu Poo Pit "-jerit malaikat hawa dingin dengan suara terperanjat laksana kilat tangannya menyambar keatas tanah.
Han Siong Kie sendiri jadi luar biasa kagetnya setelah melihat kejadian itu, ia merasa tiada kesempatan lagi baginya untuk merampas balik sarung tangan mustika tadi dalam gugupnya ia lancarkan sebuah babatan maut keatas tanah.
Tapi sayang seribu kali sayang.. walaupun serangan itu dilancarkan dengan kecepatan penuh, namn gerakannya tetap terlambat satu tindak. Tahu2 malaikat hawa dingin Mo siu Ing sambil mencengkeram sarung tangan mustika itu telah meloncat mundur sejauh beberapa tombak dari tengah kalangan.
"Aaah sarung tangan Hud Jiu Poo Pit, kitab pusaka tangan buddha. "
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing jadi lupa daratan dan bergumam tiada hentinya. sesudah diperiksa sejenak kembali ia bergumam seorang diri: "ooh. tidak betul, tidak betul sarung ini cuma tangan kanannya saja.."
Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, dengan sorot mata berapi ia menatap tajam perempuan itu.
Sarung tangan Hud Jiu Poo Pit ini adalah benda peninggalan dari Leng Ku sanjin, seandainya benda itu sampai hilang dari tangannya, maka pemuda itu merasa malu terhadap arwah gurunya yang ada dialam baka.
Apalagi ia sudah tumpukan harapannya dalam membalas dendam diatas sarung tangan mustika itu, asal ia berhasil menemukan sarung tangan yang lain, dia baru berhasil mempelajari ilmu si Mi sinkang maka usaha nya untuk membalas dendam pasti bisa tercapai.
Dan kini setelah melihat benda mustika itu terjatuh ketangan orang lain, sudah tentu ia tak mau berpeluk tangan dengan begitu saja.
-ooo0ooo-
BAB 14
"MALAIKAT hawa dingin kembalikan benda itu kepadaku ..." bentak pemuda itu keras keras.
"Kembalikan kepadamu??" ejek Mo siu Ing tanpa berpaling, "Huuuh gampang amat ucapanmu itu??"
"Kau benar2 tidak mau mengembalikan kepadaku??? "
"Kenapa?? apa yang hendak kau lakukan?"
"Aku akan beradu jiwa dengan kau" tubuhnya melesat maju ke depan tiga jurus ilmu pukulan kura2 sakti segera dilancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat, agaknya si anak muda ini benar2 ada maksud untuk beradu jiwa..
Dengan tangkas malaikat hawa dingin Mo siu Ing berkelit kesamcing dengan enteng dan mudah tahu2 ia sudah melepaskan diri dari ancaman pukulan maut itu, tegurnya dengan suara dingin:
"Kalau bicara soal berkelahi kau masih belum pantas untuk bertempur melawan diriku " Han Siong Kin tarik kembali serangannya dan berdiri kaku, seluruh badannya bergetar keras ucapannya memang benar untuk merampas benda pusaka itu dari tangan malaikat hawa dingin jauh lebih sukar daripada memanjat kelangit, tapi ia tidak rela benda mustika perguruannya lenyap dengan begitu saja.
Air muka Malaikat hawa dingin mendadak berubah jadi sedih dan amat murung, ujarnya lagi dengan suara lirih:
"Manusia berwajah dingin, kau tak usah kuatir aku tidak tertarik oleh benda mustika tersebut, tetapi kau musti melakukan pembicaraan secara blak-blakan dengan diriku"
"Apa yang hendak kau bicarakan?" tanya sianak muda itu dengan hati rada lega.
"Pertama kau harus bercerita lebih dahulu dari mana kau dapatkan sarung tangan Buddha Hud Jiu Poo Pit ini?"
"Benda mustika itu adalah benda warisan perguruanku."
"Lalu siapakah gurumu??"
"Dia adalah Leng Ku sang jin"
"Apa?? coba kau ulangi sekali lagi..."
"Leng Ku sangjin. "
"Haah haah haah... kau anggap aku si malaikat hawa dingin adalah seorang bocah berusia tiga tahun yang dapat kau bohongi seenaknya:"
"Apa maksudmu??"
"Nama besar Leng Ku sangjin sudah tersohor sejak seratus tahun berselang, masa.."
"Secara kebetulan aku berhasil menemukan jenasah dari dia orang tua, mengikuti surat wasiat yang tertinggal aku angkat dia sebagai guruku, masa begitu tak boleh disebut sebagai pengangkatan guru?"
"Oooh, kiranya begitu, tahukah kau bahwa sarung tangan Buddha Hud Jiu Poo Pit semuanya terdiri dari sepasang??"
"Aku tahu, sarung tangan ini adalah sarung sebelah kanan, sedang yang lain adalah sarung sebelah kiri"
Wajah malaikat hawa dingin Mo siu Ing berubah semakin murung, titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, tiba2 ia bergumam seorang diri: "Tangan kiri oooh.. tangan kiri."
Seketika Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras, apakah malaikat hawa dingin mengetahui jejak dari sarung tangan sebelah kiri itu? tanpa sadar dengan suara gemetar ia berseru:
"Kenapa dengan sarung tangan sebelah kiri???"
"Benda itu telah merampas kebahagian hidupku"
"Apa aku boleh tahu tentang duduknya perkara??" Tanya Han Siong Kie dengan hati bergidik.
Perempuan itu menyeka air mata yang berlinang membasahi wajahnya, deagan suara murung ia bertanya:
"Pernahkah kau mendengar tentang malaikat hawa panas Ko so Khio??.."
"Pernah, bukankah dia adalah suamimu?"
"Betul, pada delapan belas tahun berselang tanpa disengaja kami suami istri berdua berhasil menemukan salah satu dari sarung tangan Buddha Hud Jiu Poo Pit tersebut, setelah melakukan penyelidikan seksama kami berhasil menemukan bahwa sarung tangan itu semestinya sepasang. Maka setelah mengadakan perundingan akhirnya secara terpisah kami melakukan pencarian, aku menuju ke utara dan dia menuju keselatan dengan janji satu tahun kemudian baik berhasil maupun tidak akan berkumpul kembali dirumah..."
"Akhirnya suamimu tidak kembali?" sela Han Siong Kie tak tahan.
"Sedikitpun tidak salah, ia tidak pernah kembali lagi. satu tahun dua tahun tiga tahun aku telah menunggu selama lima belas tahun lima belas tahun yang penuh kesedihan serta penderitaan manusia berwajah dingin, lima belas tahun bukan suatu jangka waktu yang amat pendek bukan??"
"Aah" Han Siong Kie tak dapat menahan rasa kagetnya lagi, ia menjerit tertahan.
"Yaah... lama kelamaan aku tak dapat menahan diri lagi" perempuan itu melanjutkan kembali kisahnya, "Aku segera munculkan diri dalam dunia persilatan dan mulai mencari jejaknya, suatu ketika secara tiba2 aku dengar orang berkata bahwa suamiku telah mati terbunuh dan kebetulan akupun mempunyai pikiran yang sama. Dalam keputus asaanku menemukan jejak pembunuh tersebut maka akhirnya..."
"Akhirnya kau lantas melakukan pcmbunuhan, setiap tahun sekali dan tiap kali seratus jiwa manusia??"
"Tidak salah, tujuanku adalah menggunakan kesempatan ini untuk memancing kemunculan pembunuh sadis tersebut"
"Apakah kau tak merasa bahwa perbuatanmu itu terlalu kejam?? terlalu brutal??"
"Terlalu brutal??, haah haah haah... kebahagiaan hidupku sudah dirampas secara kejam, apakah itu tidak kejam?? apakah itu tidak brutal??"
"siapa tahu kalau suami masih hidup di kolong langit adalah suatu kenyataan, sepantasnya kalau kau kerahkan segenap kemampuan yang kau miliki untuk menemukan jejak pembunuh itu, apa gunanya kau lakukan pembunuhan massal?? lagipula seandainya pihak lawan bukan berasal dari jago kalangan lurus, kendati kau sudah bunuh habis seluruh orang Bu-lim yang ada dikolong langit, belum tentu ia sudi munculkan diri"
"Selama aku masih bisa hidup dikolong langit, tak sedikitpun aku akan berhenti berusaha" teriak Mo siu Ing dengan penuh kebencian.
Bergidik hati Han Siong Kie melihat kekerasan hati perempuan itu, sesaat kemudian katanya lagi "Lalu dimanakah sarung tangan sebelah kiri itu??"
"Bersama dengan lenyapnya suamiku, benda itupun ikut musnah tak berbekas"
"Oooh... Han Siong Kie merasa hatinya jadi kecewa dan badannya jadi lemas, ia merasa se olah2 kepalanya diguyur dengan sebaskom air dingin.
"Eeei manusia berwajah dingin” perempuan itu menegur lagi, "Aku lihat kau punya minat yang amat besar untuk mendapatkan sarung tangan Buddha Hud Jiu Po Pit tersebut??"
"Aku memang punya maksud demikian"
"Kalau begitu marilah kita mengadakan satu perjanjian"
"Perjanjian yang bagaimana maksudmu??"
"Dengan batas waktu selama satu tahun, mari secara terpisah kita lakukan pencarian atas jejak suamiku yang hilang itu, kalau kau berhasil mendapatkan keterangan yang jelas tentang keadaan suamiku itu. maka ia sarung tangan Buddha Hud Jiu Poo Pit itu semuanya akan menjadi milikmu"
"Seandainya kau sendiri yang berhasil menyelidiki jejak suamimu itu??" tanya si anak muda itu dengan semangat yang berkobar kembali.
"Tetap sama saja, kuhadiahkan sarung tangan tersebut bagimu"
"Kalau suamimu sudah terbunuh dan benda itu terjatuh ketangan orang lain.."
"Setelah aku berhasil membalas dendam, sarung tangan itu kuhadiahkan semua untuk mu"
"Bagaimana kalau sarung tangan yang ini dikembalikan lebih dahulu kepadaku??"
"Tidak" jawab Mo siu Ing tegas.
Air muka Han Siong Kie berubah hebat.
"Kenapa ??" tanyanya.
"Untuk sementara waktu akan kusimpan lebih dahulu bilamana dalam satu tahun tiada kabar berita apapun yang berhasil kau dapatkan, maka benda ini akan kumusnahkan"
"Ben.... benda itu toh milik pribadiku, dengan dasar apa kau hendak memusnahkannya??"
"Membiarkan benda itu tetap berada dikolong langit, mungkin hanya akan mendatangkan tragedi yang menyedihkan saja bagi umat manusia"
"Eeei... kau tidak boleh berbuat begitu..."
"Tidak. aku sudah memutuskan demikian".
"Kalau kau berani memusnahkan benda mustika itu, aku bisa mencabut jiwa anjingmu"
"Hmmm .... setiap saat dan setiap waktu aku si malaikat hawa dingin akan menantikan kunjunganmu"
Sepasang mata Han Siong Kie berubah jadi merah berapi api, tapi ia tak bisa berbuat lain kecuali mendongkol dan gusar, ia tahu bahwa tenaga dalamnya masih ketinggalan jauh kalau dibandingkan dengan kelihayan lawannya.
setelah tertegun beberapa saat lamanya, pemuda itu sambil menggertak gigi segera bertanya:
"Andaikata aku berhasil menemukan kabar berita tentang suamimu itu, aku harus pergi kemana untuk mencari jejakmu?"
"Datang saja kegunung Kou Lou san"
"Baik kita tetapkan demikian saja, tetapi ada sepatah kata akan kuucapkan lebih dahulu kepadamu, hadiah yang telah kau berikan kepada adik angkat serta engkoh angkatku, suatu hari pasti akan kutagih beserta rentenya"
"Setiap saat kunantikan kunjunganmu"
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing menatap sekejap wajah Han Siong Kie tajam2, kemudian menghela napas sedih.
"Manusia berwajah dingin," ujarnya lagi, "semoga tidak lama lagi kita bisa saling berjumpa, semoga kau berhasil menangkan taruhan ini..."
"Asal aku peroleh kemenangan, kaupun akan mendapatkan keputusan pula..."
"Tidak salah, menang kalah kita berdua sama2 tidak menderita kerugian "
Bicara sampai disitu tubuhnya segera berkelebat tinggalkan tempat itu, cuma sekejap mata bayangan tubuh perempuan itu sudah lenyap dari pandangan.
Han Siong Kie sambil memandang bayangan punggung Mo Siu Ing yang makin menjauh berdiri ter mangu2, semula ia mengira setelah berhasil mendapatkan hawa murni dari Leng Ku sangjin, maka usahanya untuk membalas dendam segera akan terlaksana, siapa tahu kepandaiannya masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan musuh besarnya, bahkan dibandingkan dengan malaikat hawa dingin yang cantik jelita inipun dia masih ketinggalan beberapa tingkat.
Tanpa terasa pemuda itu bergumam seorang diri:
"Benar aku harus kerahkan segenap kekuatan yang kumiliki untuk mencari tahu kabar berita tentang malaikat hawa panas Ko su Khie, sebab hanya dari sepasang sarung tangan Buddha HudJiu Poe Pit itulah aku bisa mempelajari iimu silat yang lihay dan menuntut balas atas sakit hati terbunuhnya keluargaku
Tapi... malaikat hawa panas sudah delapan belas tahun lamanya lenyap tak berbekas, jejaknya sudah lenyap dari permukaan bumi. Mencari berita tentang dirinya bukankah sama halnya deagan mencarijarum didasar samudra.
Teringat akan dendam berdarahnya, membuat pemuda itu teringat pula ucapan malaikat hawa dingin yang mengejutkan hati. . . Tengkorak Maut itu adalah tengkorak maut gadungan...
"Seandainya apa yang terjadi adalah kenyataan, apa sebabnya tengkorak maut asli yang jauh lebih lihay itu cuma berpeluk tangan belaka membiarkan orang lain mempergunakan namanya untuk berbuat keonaran??" orang yang ada maksud pernah berkata kepadanya:
"Song Thiat Koay yang sudah lama mengasingkan diri dari perkumpulan Kay pang secara tiba2 munculkan diri dan mengederkan hati Tengkorak Maut sehingga iblis itu melarikan diri.."
Ditinjau dari kejadian ini, sudah cukup jelas membuktikan bahwa tengkorak gadungan dugaan malaikat hawa dingin tepat dan bisa dipercaya.
Lalu siapa yang bernyali begitu besar berani menyaru sebagai Tengkorak Maut gadungan dan berbuat keonaran dikolong langit??? Kembali suatu teka teki yang sukar dipecahkan
Mengapa orang yang kehilangan sukma suruh dia pergi menyambangi pemilik dari Benteng Maut?? dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, berkunjung kesitu bukankah berarti menghantar kematian sendiri?
Sementara Han Siong Kie sedang terbenam dalam lamunannya...
Mendadak beberapa kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian.
Mendengar jeritan itu Han Siong Kie merasa mulai terperanjat, segera pikirnya:
"Aku benar2 amat tolol, bukankah Tonghong Hwie sedang bersemedi untuk menyembuhkan lukanya?? kenapa kau sudah melupakan keselamatannya??"
Tanpa berpikir panjang tubuhnya segara berkelebat diangkasa dan meluncur kearah saudara angkatnya berada tadi.
Tapi pemuda itu segera berdiri menjublak. sukmanya terasa melayang tingalkan raganya. Disitu ia tidak jumpai bayangan tubuh saudara angkatnya lagi.
Maka perkumpulan Thian Chee Kauw mengirim jago2 lihaynya untuk mencari jejak Tonghong Hwie serta dirinya, rombongan yang ikut dalam aksi penggeledahan itu tentu saja tidak terbatas pada para jago yang terbunuh ditangan malaikat hawa dingin saja.
Andaikata Tonghong Hwie benar2 tertawa oleh para jago perkumpulan Thian Chee Kauw, atau menjumpai kejadian diluar dugaan. Bukankah dirinya bakal menyesal selama hidup karena keteledorannya itu??
semakin dipikir Han Siong Kie merasa hatinya semakin bingung, andaikata Tonghong Hwie berlalu sehabis melakukan semedinya, paling sedikit adik angkatnya itu tentu akan memanggil dan mencari dirinya lebih dahulu, tak mungkin dia ngeloyor pergi tanpa pamit. Disamping itu, dari mana pula datangnya jeritan ngeri yang memekikkan telinga itu?
Tergopoh2 pemuda itu berlarian disekitar hutan dengan harapan bisa menemokan suatu titik terang.
Tiba2... pada jarak kurang lebih lima puluh tombak dari tempat dimana Tonghong Hwie bersemedi tadi, ia temukan lima sosok mayat yang bergelimpangan diatas tanah.
Pada batok kepala bagian belakang masing2 korban tertancaplah selembar daun yang menembusi tulang batok kepala mereka, jelas benda itulah yang telah merenggut jiwa mereka berlima.
Memetik daun melukai orang, menyambit bunga menghancurkan batu. Ilmu kepandaian semacam ini boleh dibilang merupakan suatu ilmu yang bertaraf sangat tinggi.
siapakah yang telah melakukan pembunuhan itu? jelas Tonghong Hwle adik angkatnya tidak memiliki tenaga dalam kesempurnaan itu, mungkinkah kematian dari kelima orang itu ada hubungannya dengan lenyapnya Tonghong Hwie dari situ??
Untuk beberapa saat lamanya Han Siong Kie jadi kelabakan bingung dan tak tahu musti berbuat apa.
Tonghong Hwie adalah adik angkatnya yang sangat erat hubungannya dengan dia, perhatian serta rasa sayangnya terhadap adik angkatnya yang satu ini jauh melebihi rasa sayang terhadap diri sendiri Pada saat itulah...
Ting Ting Ting dari tempat kejauhan secara lamat2 berkumandang datang suara dentingan besi membentur permukaan tanah, suara itu agaknya sedang menjauhi hutan tersebut.
Andaikata Han Siong Kie tidak memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tak mungkin ia bisa menangkap suara lirih tersebut karena munculnya suara tadi amat mendadak. pemuda kita jadi tertarik. ia tak berani bertindak ayal lagi dengan cepat badan nya berkelebat menuju kearah mana berasal nya suara tadi.
Hutan makin lama semakin menjauh, jalan rayapun nampak terbentang didepan mata.
Tampak seorang pengemis tua berkaki tunggal dengan mencekal sebuah tongkat pemukul anjing sedang bergerak menuju kearah jalan raya, setiap kali tubuhnya meloncat kedepan, berbunyilah suara dentingan yang nyaring .. ...
Han Siong Kie segera salurkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk melakukan pengejaran, sungguh aneh sekali kendati dia sudah kerahkan semua kemampuannya, namun belum juga berhasil mengejar pengemis tua itu, jarak mereka masih tetap terpaut sejauh lima tombak lebih.
setengah harian sudah kejar mengejar itu dilakukan, tetapi jarak yang memisahkan kedua belah pihak masih juga bertahan seperti semula.
Dengan adanya kejadian ini segera menimbulkan rasa ingin menang dalam hati kecil Han Siong Kie ilmu meringankan tubuh cahaya kilat lintasan bayangan dikerahkan hingga mencapai pada puncaknya, bagaikan segulung asap ringan badannya meluncur laksana kilat kearah depan.
Pengemis tua itu tetap berlagak pilon, cuma suara dentingan yang terpantul ditengah udara semakin santar kedengarannya. .
Han Siong Kie amat terperanjat, ia tak bisa menebak jago lihay manakah yang berada dihadapannya saat ini. bila ditinjau dari kekuatan hawa murninya jelas ia jauh melebihi kehebatan saudara angkatnya pengemis dari selatan.
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya. Han Siong Kie teringat kembali akan ucapan dari orang yang ada maksud ketika ia sedang terluka tempo dulu, mendadak muncul seorang tokoh Kaypang yang sudah empat puluh tahun lamanya mengasingkan diri, kemunculan jago lihay itu telah menakutkan Tengkorak Maut dan menyelamatkan jiwa pengemis dari selatan serta padri dari utara.
Mungkinkah tokoh sakti yang berada dihadapannya saat ini adalah song Thiat Koay paman guru dari kakak tuanya itu??? Berpikir sampai disitu, ia segera berteriak keras.
"Yang berada didepan sana betulkah soat Thiat Koay Locianpwee?? harap berhenti sejenak"
Sedikitpun tidak salah, pengemis tua berambut putih yang sedang berlari didepan itu segera menghentikan larinya dan menoleh.
Han Siong Kie segera memburu kedepan, sambil memberi hormat katanya:
Pengemis tua itu amat kurus dan tinggal kulit membungkus tulang, sepasang matany cekung kedalam tapi memancarkan sorot mata yang amat tajam. sungguh amat sempurna tenaga lweekangnya batin pemuda kita dalam hati kecilnya. sementara itu pengemis tadi telah menyahut:
"Tak usah banyak adat, kau bocah yang disebut manusia berwajah dingin??.."
"sedikitpun tidak salah"
"Ada maksud apa kau kejar aku sipengemis tua??"
"Aku mempunyai hubungan yang sangat erat dengan pengemis dari selatan ketua tian dari perkumpulan Kay Pang"
"Kalau ada hubungan lantas mau apa??"
Kembali Han Song Kie tertegun, keketusan serta kesombongan pengemis tua ini ternyata tiga kali lipat melebihi dirinya.
sebelum dia sempat berbicara, pengemis tua itu telah berkata lagi:
"Bocah cilik, apa tujuanmu hendak mengikat tali persahabatan dengan aku si pengemis tua?.?"
"Benarkah locianpwee adalah song Thiat Koay yang amat tersohor dikolong langit??"
"Darimana kau bisa tahu akan julukanku??"
"Aku pernah mendengar dari orang lain "
"Apa tujuanmu yang sebetulnya?? ayoh cepat katakan"
"Apakah loocianowee barusan muncul dari hutan sebelah belakang sana?? ..."
"Kau toh sudah menyaksikan sendiri, kenapa musti bertanya lagi??"
"Adik angkatku telah lenyap tak berbekas ketika sedang bersemedi didalam hutan, apakah ......."
"Kau anggap aku si pengemis tua telah menelan adik angkatmu itu??" tukas song Thiat Koay ketus.
Mengingat diatas wajah Pengemis dari selatan Han Siong Kie masih berusaha untuk menahan diri tetapi perkataan lawan kian lama kian tak sedap didengar, tak urung nada suaranya ikut berubah juga, serunya:
"Aku cuma ingin bertanya kepada cianpwee, apakah kau melihat ada seseorang memasuki hutan tersebut?"
"Tidak pernah tidak pernah aku si pengemis tua tiada waktu lagi untuk berbicara dengan dirimu"
selesai berkata ia putar badan dan siap berlalu..
Dengan sebat Han Siong Kie enjotkan badannya menghadang dihadapan pengemis tua itu. "Eeei.. bocah cilik, kau hendak menghadang jalan pergi dari aku si pengemis tua?"
"Menghadang sih tidak berani aku cuma berharap agar loocianpwee suka memberi keterangan kepadaku."
"Apa yang ingin kau ketahui"
"Kabar berita dari adik angkatku"
"Aku sipengemis tua tidak pernah melihatnya"
"Didalam hutan sebelah sana menggeletak lima sosok mayat, mereka semua mati tersambit oleh daun yang menembusi batok kepalanya, apakah loocianpwee ...."
"Omong kosong, aku si pengemis tua sudah empat puluh tahun lamanya tak pernah melakukan pembunuhan"
Ucapan ini membuat Han Siong Kie jadi murung dan sedih, dilihat dari nada ucapan pengemis tua itu rupanya ia benar2 tak tahu tentang jejak adik angkatnya, maka dari itu ia lantas menjura.
"Kalau memang begitu aku ingin mohon diri lebih dahulu"
"TUnggu sebentar"
"Apa yang hendak loocianpwee katakan lagi?? "
"Dilihat dari kecepatan gerakmu dikala mengejar aku sipengesnis tua tadi rupanya tenaga dalammu sudah mencapai kesempurnaan, kau berasal dari perguruan mana??
Han Siong Kie sangat menguatirkan keselamatan dari adik angkatnya Tonghong Hwie, ia tidak ingin mengulur waktu lebih jauh lagi dengan singkat ia menjawab:
"Secara kebetulan saja aku menemukan suatu penemuan aneh dan mendapatkan sisa hawa murni dari Leng Ku Sangjin!”
“Aaah. ! pengemis tua itu berseru kaget
Mendadak Han Siong Kie teringat akan sesuatu, segera tanyanya :
“Aku pernah mendengar orang berkata bahwa locianpwee telah menggebah pergi Tengkorak Maut yang amat lihay itu...”
“Aaah. tak usah kau ungkap kembali kejadian tersebut" tukas Song Thiat Koay tiba-tiba dengan wajah sedih, “Sejak ini hari aku si pengemis tua tidak ingin muncul kembali didalam dunia persilatan, julukan Song Thiat Koay pun sejak kini sudah terhapus dari muka jagad!”.
Air mukanya berubah hebat, sambil tertawa seram tambahnya;
“Benar-benar omong kosong persoalan macam ini kenapa musti diungkap oleh seorang angkatan muda!"
“Taiiing!” tubuhnya melejit ke angkasa dan tahu-tahu sudah meluncur sejauh puluhan tombak dari tempat semula.
Han Siong Kie jadi keheranan menyaksikan kejadian itu, namun tubuhnya tetap berdiri tegak ditempat semula.
“Tiiing...! Tiiing...! Tiiing...!” beberapa saat kemudian tubuhnya sudah tinggal sebuah titik hitam di ujung jalan dimana akhirrya lenyap dari pandangan.
Han Siong Kie tahu bahwa percuma baginya untuk menyusul tokoh lihay tersebut, maka dia pun urungkan niatnya untuk mengejar. Tapi pada saat ini dalam hatinya terbeban kembali satu pertanyaan yang membangunkan hatinya.
Menurut orang yang ada maksud, sebelum Song Thiat Koay munculkan diri Tengkorak Maut telah melarikan diri terbirit-birit, tapi kalau ditinjau dari ucapannya barusan dimana ia bersumpah tak akan muncul kembali didalam dunia persilatan jelas menunjukkan bahwa ia sudah jatuh kecudang ditangan gembong iblis tersebut.
Lalu apa yang sebenarnya telah terjadi??
Pikirannya teralih kembali pada keselamatan saudara angkatnya Tonghong Hwie, ia berpikir keras untuk memecahkan teka teki yang menyelimuti lenyapnya pemuda she Tonghong itu.
Lama sekali.... akhirnya ia berhasil menarik satu kesimpulan, kemungkinan besar Tonghong Hwie telah ditemukan jejaknya oleh para jago lihay yang dikirim perkumpulan Thian chee Kauw untuk mencari jejaknya itu.
"Aku harus menyerbu kedalam markas besar perkumpulan Thian chee Kauw...." ingatan ini berkelebat didalam benaknya.
Maka pemuda itupun segera mencari tahu jalan menuju ke tempat itu, siang malam ia melakukan perjalanan untuk menyerbu ke "Lian Hoan To" markas besar perkumpulan Thian chee Kauw
Untuk sementara baiklah kita tinggalkan dahulu diri Han Siong Kie yang sedang melakukan perjalanan.
Sementara itu Tonghong Hwie yang duduk bersemedhi untuk menyembuhkan lukanya, tidak lama kemudian sudah berada dalam keadaan " Tenang" dan lupa akan segala-galanya, terhadap peristiwa yang terjadi disekitar tubuhnya ia sama sekali tak tahu.
Menanti semedinya telah selesai dan membuka matanya, saat itu bayangan tubuh dari Han Siong Kie sudah lenyap tak berbekas.
Hatinya jadi sangat keheranan, Pada waktu itu Han Siong Kie sedang berdiri tertegun setelah ditinggalkan malaikat hawa dingin, karena itu tiada sedikit suara pun yang kedengaran.
Sementara Tonghong Hwie akan berteriak memanggil saudara angkatnya itu, mendadak dari dalam hutan ia saksikan munculnya bayangan manusia.
Gadis itu tak berani berayal lagi, buru2 ia enjotkan badan dan mengejar dari belakang.
Kiranya bayangan manusia itu bukan lain adalah kawanan para jago perkumpulan Thian chee Kauw yang ditugaskan mencari jejak Tonghong Hwie serta Han Siong Kle. sedari permulaan mereka telah menemukan bahwa Tonghong Hwie sedang duduk bersemedi ditempat itu, tapi merekapun menemukan bahwa malaikat hawa dingin Mo siu Ing berada kurang lebih sepuluh tombak dari mereka berada, karena itulah mereka tak berani turun tangan secara gegabah takut gerakannya itu mengejutkan sang iblis perempuan.
Ketika Tonghong Hwie telah menyelesaikan semedinya dan mengejar bayangan manusia yang terlihat olehnya, para jago dari perkumpulan Thian Chee Kauw jadi kegirangan, mereka segera memancing gsdis itu hingga keluar daii hutan tersebut.
Disanalah lima sosok bayangan manusia segera menghentikan gerakan tubuhnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka menerjang Tonghong Hwie habis-habisan.
Pengemis cilik yang tidak tahu duduknya perkara mendadak mendapatkan serangan jadi amat kaget, sekuat tenaga ia melakukan perlawanan.
Kelima orang itu adalah jago-jago kelas dua dari perkumpulan Thian Chee Kauw, kepandaian mereka terhitung sangat lihay dan sempurna.
Karens takut gerakannya itu mengejutkan malaikat hawa dingin, ditambah pula mereka sudah tahu bahwa pengemis cilik ini mempunyai kepandaian aneh yang tak mempan ditotok maupun dihantam, maka beberapa orang itu tak berani bertindak gegabah, serangan-serangan gencar dilancarkan secara bertubi-tubi dengan harapan pertarungan ini bisa dapat diselesaikan.
Empat orang kakek baju hijau yang berada disisi kalangan pun tidak berdiam diri belaka setelah saling berpandangan sekejap mereka ikut terjunkan diri kedalam kalangan.
Delapan bintang dari partai Thian-Chee-Kauw adalah jago lihay kelas satu, dibawah kerubutan begitu banyak jago lihay, Tonghong Hwie jadi keteter hebat dan nampaknya sejenak lagi ia bakal tertawan.
000O000
DISAAT yang amat kritis itulah.. mendadak kelima orang jago lihay yang sedang melancarkan serangan maut itu sama menjerit kesakitan, sambil terjungkal diatas tanah, tubuh mereka terguling sekarat. sejenak kemudian tubuh mereka sudah meninggal tak tak bernapas lagi.
Kejadian yang muncul secara tiba2 ini sangat mengejutkan sisa jago yang sedang melakukan pertarungan termasuk pula Tonghong Hwie sendiri yang tertegun saking kagetnya.
Setelah mengetahui bahwa kelima korban itu mati karena tersambit oleh selembar daun yang menembusi batok kepalanya, empat orang kakek berbaju hijau itu jadi keder, mereka tahu bahwa disitu telah muncul seorang tokoh yang maha dahsyat, tanpa banyak berbicara lagi mereka putar badan dan kabur dari situ.
Tonghong Hwie sendiri setelah berhasil menenangkan hatinya segera berpaling kearah mana berasalnya serangan tadi, sambil memberi hormat teriaknya:
"Aku sipengemis cilik mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang telah diberikan"
Lama sekali ditunggu namun tiada jawaban yang terdengar, pengemis cilik ini tahu bahwa orang itu sudah pergi, maka iapun segera alihkan pandangannya untuk mencari jejak saudara angkatnya Han Siong Kie. Mendadak ia berpikir:
"Ke empat orang kakek itu adalah jago lihay dari Thian chee Kauw, si kupu2 warna warni Lie In Hiang pun kesemsem terhadap engkoh dia, Jangan2 ia sudah terjatuh ketangan pihak lawan??.."
Makin dipikir ia merasa semakin kuatir, sehingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyatroni perkumpulan Thian chee Kauw.
Maka.. Tonghong Hwie pun berangkat menuju ke Lian Hoan To markas besar Thian chee Kauw untuk mencari jejak saudara angkatnya. .
Selangkah terpaut membuat urusan semakin berabe, dengan waktu yang terpaut sedikit kedua orang itu sama2 menuju ketujuan yang sama...
Dalam pada itu Han Siong Kie dengan hati yang amat gelisah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya secepat mungkin melakukan perjalanannya.
Ketika tengah hari ketiga, sampailah pemuda itu diluar Lian Hoan To.
Lian HanToo adalah sebuah daerah yang terbentuk dan deretan enam belas puncak bukit, dibalik gunung terdapat gunung, dibalik selat terdapai selat. Bagi orang yang tak tahu letak jalan yang sebenarnya akan tersesat dan sukar untuk lolos lagi dari tempat itu.
Lama sekali Han Siong Kie berdiri diluar selat, setelah sangsi beberapa saat lamanya akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyusup masuk lewat sebuah selat sempit yang diapit oleh dua buah dinding bukit.
Yang aneh ternyata tak seorang anggota perkumpulan Thian Chee Kauw pun yang nampak menghalangi jalan perginya,
Tidak lama kemudian pemuda itu sudah masuk kedalam selat itu sejauh satu lie mendadak dihadapannya muncul sebuah bukit terjal yang menghadang jalan perginya, dalam hati ia lantas berpikir.
"Eeei... aneh sekali, Kenapa tempat ini merupakan sebuah selat buntu?? bukankah diluar selat sudah jelas tertulis bahwa tempat ini merupakan Lian Hoa To?"
Menanti ia sudah didepan dinding bukit itu tampaklah pada sisi kanan mau pun sisi kiri muncul pula sebuah selat sempit yang menjorok jauh kedalam.
Sekarang Han Siong Kie baru tahu apa sebenarnya yang telah terjadi sambil manggut-manggut pikirnya:
“Ooooh. . ! kiranya yang dimaksud Lian-Hoan Too adalah permainan semacam ini dalam selat terbagi dalam dua cabang aku harus pilih jalan yang mana??7"
Belum habis ia berpikir dari kedua belah sisi dinding mendadak muncul delapan orang pria berbaju hitam, empat orang berjajar jadi satu baris dan tepat menyumbat jalan masuk selat sempit itu.
Terdengar salah seorang diantara empat pria yang berada disebelah kanan menegur dengan suara dingin.
"Siapa yang datang?? sebutkan namamu!”
“Manusia berwajah dingin!" sahut Han Siong Kie sambil menyapu sekejap wajah kedelapan orang itu.
Mendengar disebutkannya nama ini, air muka kedelapan orang pria tadi seketika berubah hebat masing-masing mundur satu langkah kebelakang dan orang yang paling ujung segera bersuit nyaring.
Dari dalam lembah berkumandang pula suitan balasan yang mana saling sambung menyambung hingga ketempat kejauhan.
“Kaukah si manusia berwajah dingin yang belum lama berselang baru terjun kedalam dunia persilatan ?" seru pria tadi kembali.
"Sedikitpun tidak salah !"
"Tolong tanya apa maksud tujuanmu berkunjung kemari ?"
"Minta orang !"
"Minta orang ???"
“Ehmmm. bila kalian tahu diri capatlah laporkan kedatanganku kedalam lembah, aku hendak menemui ketua kalian !"
“Bertemu dengan ketua kami ? Huuu! dengan andalkan pangkat apa sih kau hendak bertemu dengan ketua kami??"
“Bagus kalau begitu ayoh kalian menyingkir kesamping!”
Delapan orang pria berbaju hitam itu mendengus dingin mereka segera kerahkan tenaga dalamnya siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan-
“Ooooh... kalian tak mau memberi jalan?” jengek Han Siong Kie kembali dengan suara sinis.
“Hey manusia berwajah dingin, siapa bsrani menerjang kedalam lembah dia harus dihukum mati !”
Dengan gusar Han Siong Kie membentak keras, telapaknya diayun kemuka menghajar empat orang pria yang berada disebelah kiri, serangannya dilancarkan amat cepat bagaikan kilat kehebatannya luar biasa sukar dilukiskan deagan kata kata.
Tanpa banyak bicara keempat orang pria itu sama-sama menjerit kesakitan bagaikan bola mereka menggelinding sejauh dua tombak dari tempat semula dan tak berkutik lagi
Dalam pada itu empat orang pria yang berada disebelah kanan telah bergerak kedepan, masing2 melancarkan sebuah babatan maut kearah sianak muda itu.
Tanpa berpaling Han Siong Kie putar telapak kanannya satu lingkaran kemudian ditepuk kemuka tubuhnya ikut melesat kedepan mendekati keempat orang pria tersebut.
Melihat musuhnya menerjang kearah mereka, keempat orang pria itu jadi ketakutan, buru2 mereka mengundurkan diri kearah ke dua belah samping.
Han Siong Kie tertawa dingin sambil melewati keempat orang itu badannya segera menerjang kearah selat sebelah kanan.
Lorong selat itu amat sempit dan menjorok jauh kedalam setelah melewati tiga buah tikungan sampailah pemuda she Han ini disebuah tanah lapang yang luasnya mencapai setengah hektar, empat buah mulut selat terbentang pula disekitar tanah lapang tadi.
Bayangan manusia berkelebat lewat, dua puluhan orang pria berbaju hitam bermunculan dari mulut keempat buah selat tersebut, mereka dipimpin oleh seorang kakek bercambang yang memiliki wajah amat bengis. Terdengar kakek itu membentak keras:
"Bajingan cilik dari mana yang begitu besar nyalinya, berani mencari satroni dalam markas besar kami. Hmmm ayoh sebutkan dulu siapa namamu ???.."
"Hmmm kau sendiri manusia macam apa..? "
"Kurang ajar, bajingan cilik rupanya kau sudah bosan hidup," Ditengah bentakan nyaring kakek bercambang itu silangkan telapaknya didepan dada lalu sambil menerjang kemuka melancarkan dua babatan kilat yang maha dahsyat.
Han Siong Kie mendengus dingin, kelima jarinya laksana kilat meluncur kedepan, ditengah dengusan berat tahu kelima jarinya sudah berhasil mencengkeram urat nadi kakek bercambang itu erat-erat.
"Ayoh bawa aku pergi menjumpai ketua kalian" bentak Han Siong Kie dengan suara lantang.
Dua puluh orang pria baju hitam yang berdiri disamping kalangan segera membentak keras, bagaikan gulungan air bah mereka menerjang kemuka, cahaya senjata berkilauan membuat suasana terasa amat teggng dan mengerikan.
Han Siong Kie tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, ditunggunya hingga pihak lawan sudah hampir tiba dihadapannya, telapak kiri segera berputar membentuk satu lingkaran melingkar lalu didorong kemuka dengan hebatnya.
segulung angin desiran tajam bagaikan sapuan ombak ditengah hujan badai menghantam orang2 dengan dahsyatnya .... dengusan berat segera berkumandang memecahkan kesunyian, bayangan manusia membuyar ke samping dan para jago itupun tercerai berai ke empat penjuru dalam keadaan yang mengenaskan.
Hingga detik itu pemuda she Han masih belum ada minat untuk melukai orang, maka serangannya masih ringan dan tidak sampai membinasakan.
Suitan nyaring yang amat santer kembali berkumandang di tengah udara .....
Empat sosok bayangan hijau meluncur datang dari tempat kejauhan, dalam waktu singkat mereka sudah tiba didepan mata, begitu cepat gerakan tubuh mereka hingga bisa disimpulkan bahwa keempat orang itu pastilah jago lihay kelas satu.
Dalam pada itu setelah mengetahui siapakah musuh dihadapanny a, keempat orang itu nampak agak tertegun, kemudian sambil tertawa dingin terdengar salah satu diantaranya berseru sambil menyeringai seram.
"Manusia berwajah dingin, inilah yang di katakan orang mau ke sorga tak mau kau tempuh, jalan keneraka kau cari Hmmm rupanya kau sudah bosan hidup dan ingin mencari penyakit bagi diri sendiri"
Rupanya empat orang jago yang baru saja muncul itu bukan lain adalah empat orang diantara Thian che Pat siok delapan bintang dari perkumpulan Thian che kau. "Kalian segera mundur kebelakang" kembali kakek itu berseru kepada anak buahnya.
Para pria baju hitam yang semula memenuhi kalangan segera membubarkan diri ke belakang, sementara keempat orang kakek baju hijau itu segera membentuk pos isi setengah lingkaran dan mengurung pemuda itu rapat2.
"Manusia berwajah dingin" kakek pertama tadi menegur, "Sekarang posisimu sudah terjepit, kau hendak menyerah dengan begitu saja ataukah hendak paksa kami untuk turun tangan"
“Haaaah...hahaaaaa...haaah...kalian lempar lembar gombal jelek pun berani omong besar dihadapanku. Hmmm! Betul-betul tak tahu diri”
Sambil membentak keras pemuda itu segera msngerahkan tenaganya dan melempar tubuh kakek bercambang yang ada didalam genggamannya itu ketengah udara.
Keempat orang kakek baju hijau itu jadi semakin naik pitam, mereka membentak berbareng :
"Bangsat cilik, rupanya kau sudah bosan hidup !"
Empat gulung hawa pukulan yang maha danysat, disertai bunyi guntur yang memekikkan telinga segera meluncur kedepan menghajar tubuh Han Siong Kie.
Menghadapi datangnya serangan gabungan itu pemuda she Han sama sekali tidak menghindar, segenap kekuatan tubuhnya dihimpun kedalam telapak kemudian menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.
“Blaaaaaam..!” ditengah benturan keras yang memekikkan telinga pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, gulungan hawa murni berdesir menyebar keempat penjuru oleh desakan tenaga yang dahsyat itu keempat orang kakek baju bijau itu tergetar mundur empat langkah dengan badan sempoyongan sedangkan Han Siong Kie sendiri hanya mundur satu langkah kebelakang.
Delapan bintang dari perkumpulan Thian che kau adalah jago jago kelas satu didalam dunia persilatan ternyata tenaga gabungan mereka berempat tidak mampu msrobohkan Manusia berwajah dingin kejadian ini membuat puluhan anggota perkumpulan yang mengikuti jalannya pertarungan itu dari sisi kalangan jadi tercekat hatinya air muka mereka berubah hebat.
Keempat orang kakek baju hijau itu merasa penasaran setelah bsrhenti sebentar mereka menerjang kembali kedepan telapak dan totokan jari beterbangan memenuhi angkasa dengan gencar mereka terjang dan kurung si anak muda itu rapat-rapat.
Han Siong Kie bukanlah bocah ingusan kemarin sore, badannya segera melesat kedepan merobos masuk lewat celah2 bayangan telapak serta desiran angin serangan yang mengurung tubuhnya, ilmu sakti " Leng ku-it sih " laksana kilat dilancarkan.
Tiga jurus ilmu Kura2 sakti merupakan hasii ciptaan Leng ku sangjin yang makan waktu banyak tahun bukan saja sakti bahkan terkandung pula unsur2 kehebatan yang ada diluar dugaan
Dengan tenaga dalam yang dimiliki Han Siong Kie dewasa ini, meskipun kepandaian tersebut masih belum mampu untuk menandingi Tengkorak Maut, serta malaikat hawa dingin beberapa orang gembong iblis, tapi kekuatan itu masih lebih dari cukup kalau digunakan untuk menghadapi jago2 silat biasa.
Disaat Han Siong Kie melepaskan serangan yang maha dabsyat itulah, terdengar dua dengusan berat bergema memecahkan kesunyian, dua orang kakek baju hijau itu sambil menutupi dada sendiri mundur kebelakang dengan sempoyongan, jelas kedua orang itu masing2 telah termakan oleh sebuah pukulan dahsyat.
Menyaksikan keadaan tersebut, dua orang kakek lainnya jadi amat terperanjat, cepat2 mereka loncat mundur kebelakang dan memandang kearah lawannya dengan pandangan tertegun.
Dengan pandangan dingin Han Siong Kie menyapu sekejap seluruh kalangan tersebut, kemudian kepada pemimpin dari keempat orang kakek baju hijau itu katanya:
"Saudara, mumpung dalam hatiku belum timbul napsu untuk membinasakan kalian, lebih baik Janganlah terlalu banyak bertingkah dihadapanku, bawalah aku pergi menjumpai kaucu kalian"
"Hmm manusia berwajah dingin, Lian huantam kami belum pernah dimasuki orang secara jumawa macam kau, dan belum pernah pula melepaskan korbannya dalam keadaan hidup,"
"Jadi kau tak sudi membawa aku masuk kedalam selat ini??" sela Han Siong Kie dengan wajah berubah hebat, napsu membunuh mulai menyelimuti mukanya.
"Tidak kau mau apa??"
Napsu membunuh yang menyelimuti wajah sianak muda itu kian lama kian bertambah tebal, tapi sebelum ia bertindak sesuatu, kembali satu ingatan berkelebat dalam benaknya.
Ia merasa tidak seharusnya terlalu memburu napsu sebelum jejak adik angkatnya Tonghong Hwie ketahuan. Maka sambil tertawa dingin katanya:
"Kalau kalian tak mau membawa aku untuk menemui kaucu kalian, ayoh pada menyingkir ke samping, lihatlah aku akan mencari sendiri"
Belum habis ia berkata, dari dalam selat mendadak bergema datang suara bentakan nyaring.
"Hmm! besar amat bacot anjingmu itu... kau ingin menerjang kedalam?? sungguh seorang manusia yang tak tabu diri!"
Bersamaan dengan berkumandangnya suara bentakan itu, tampaklah sesosok bayangan manusia meluncur keluar dari mulut selat.
Melibat kehadiran orang itu, Han Siong Kie segera berdiri tertegun, sedang pihak lawan pun agaknya melengak juga dibuatnya.
Ternyata orang yang baru saja munculkan diri itu adalah seorang pemuds berusia tujuh delapan belas tahun, wajahnya tampan dengan mata yang jeli dan hidung yang mancung hanya sayang diantara kegantengannya itu terselip sifat licik yang meoyeramkan.
Melihat kemunculan pemuda itu, Empat orang kakek baju hijau serta dua puluh satu orang pria baju hitam sama2 bongkokkan badan memberi hormat, sikap mereka begitu hormat dan jeri hal ini menunjukkan bahwa kedudukan itu pasti amat tinggi.
"Kaucu muda!" terdengar mereka menyapa lalu menyingkir kesamping untuk membuka jalan.
Pemuda itu ulapkan tangannya lalu maju kedepan dengan langkah lebar, tegurnya sambil tertawa seram.
“Hmmm.. Hmm... jadi kaulah yang bernama Manusia berwajah dingin...??'
“Sedikitpun tidak salah, ada apa?"
"Ayahku pernah kirim orang untuk mengundang kehadiranmu dalam markas kami sungguh tak nyana hari ini kau telah datang menghantar diri sendiri... bagus. bagus sekali ! kedatanganmu memang sangat kebetulan lalu apa tujuanmu datang kesini??"
Han Siong Kie mendengus dingin.
“Hmm! aku datang untuk meminta orang!”
"Minta orang?? sungguh aneh! siapa yang hendak kau minta dan manusia macam apakah dia?"
“Seorang pengemis cilik!”
"Oooh ..! kau maksudkan pengemis cilik yang sering kali jalan bersama dirimu dan setiap kali memusuhi perkumpulan kami itu?"
"Sedikitpun tidak salah, memang dia yang kucari"
"Apakah kau yakin bahwa temanmu itu berada disini??" "
"Aku rasa dugaanku tak bakat salah lagi "
"Haaah.. haaah... haaah..." Pemuda itu angkat kepala dan tertawa ter bahak2. "Manusia berwajah dingin tekebur amat ucapanmu itu, sejak perkumpulan kami didirikan belum pernah ada orang yang berani secara terang-terangan datang kemari minta orang, tahukah kau bahwa perbuatanmu itu merupakan suatu dosa yang amat besar?? Nah kini kau hendak menyerah secara sukarela untuk menantikan hukuman atau hendak paksa aku untuk turun tangan sendiri??"
Air muka Han Siong Kie berubah jadi adem serunya dengan suara dalam:
"Jawab dulu pertanyaanku, benarkah orang yang sedang kucari berada didalam perkumpulan kalian??"
"Kalau ada kenapa??"
"Harap kau serahkan kembali orang itu kepadaku"
"Kalau aku bilang tak ada disini??"
Han Siong Kie mendengus dingin, dari nada suara lawannya ia menduga Tonghong Hwie pasti sudah tertawan oleh mereka, napsu membunuh seketika berkecamuk kembali dalam dirinya, ia berteriak:
"Bila tidak kau serahkan orang itu kepadaku, Hmm kubunuh kalian semua..." Pemuda itu sekali lagi angkat kepala dan tertawa terbahak2..
"Haaah... haaah... haaah... manusia berwajah dingin kau telah terkurung dalam pengepungan kami keadaanmu bagaikan burung dalam sangkar, apa yang kau gonggongi lagi? Hmm rupanya sebelum memilih peti mati kau tak akan melelehkan air mata, baiklah aku akan memenuhi harapanmu itu..."
Sebagai penutup dari kata2nya itu segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera dilancarkan ke arah depan.
Han Siong Kie menggertak gigi, diapun ayunkan pula telapaknya menyongsong datangnya serangan tersebut.
"Blaaam.... " ditengah benturan keras yang menimbulkan ledakan dahsyat, kaucu muda itu tergetar mundur satu langkah lebar kebelakang dengan sempoyongan, sedangkan Han Siong Kie sendiri cuma bergoyang sedikit badannya
Terkesiap hati Kaucu muda itu setelah menyaksikan kehebatan lawannya, ia tidak menduga kalau tenaga dalam yang dimiliki pihak tawan ternyata jauh lebih sempurna daripada dirinya, ia sadar bila pertarungan adu kekerasan diteruskan lebih jauh maka dirinya niscaya akan menderita kekalahan total.
Mengingat keadaan yang tidak menguntungkan itu, dengan cepat badannya menerjang ke arah depan, sepasang telapaknya bekerja cepat melancarkan serangan bertubi2, bayangan telapak berlapis2 ibarat hujan deras meluncur memenuhi seluruh angkasa.
Han Siong Kie tertawa dingin, sambil ayun telapaknya kearah depan, ia menerobos masuk lewat kepungan bayangan telapaknya yang ber lapis2 kemudian jurus pertama dari ilmu kura2 sakti dilancarkan.
Kaucu muda itu semakin terperanjat lagi, dari gerak tubuh lawan yang begitu aneh dan luar biasa, ia tahu jurus serangan sendiri tak mungkin bakal berhasil membendung datangnya ancaman tersebut, saking takutnya buru2 ia mengundurkan diri sejauh lima depa kearah belakang, Han Siong Kie tidak mau memberi kesempatan bagi lawannya untuk bertukar napas, melihat ia loncat mundur kebelakang, dengan cepat tubuhnya menerjang maju kemuka, jurus pertama dari ilmu kura2 saktipun segera dilepaskan...
Untuk kedua kalitnya Kaucu muda itu meloncat mundur delapan depa kebelakang dengan gerakan seperti kilat... sreet ujung bajunya tersambar desiran angin tajam yang di lancarkan lawan hingga robek sebatas bahu dan rontok keatas tanah.
Dalam pada itu Han Siong Kie sendiripun tercekat hatinya setelah melihat dua buah serangan mautnya ternyata hanya berhasil menyambar robek ujung baju sipemuda itu, hal ini membuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki kaucu muda inijauh berada diatas kepandaian silat yang dimiliki delapan bintang dari perkumpulan Thian chet Kau.
Melihat dirinya dibikin malu dihadapan anak buahnya, kaucu muda itu jadi semakin sengit, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara menyeramkan bentaknya:
"Manusia berwajah dingin, bila dalam tiga jurus kemudian aku tidak berhasil mencabut jiwa snjingmu, seketika itu juga aku akan bunuh diri dihadapanmu! "
Han Siong Kie terkesiap, ia sadar pihak lawan berani omong besar itu berarti bahwa orang itu memiliki ilmu simpanan yang luar biasa.
Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, nampak kaucu muda itu sudah berdiri mematung dihadapan mukanya, sepasang telapak ditepukkan satu sama lain didepan dada kemudian perlahan2 didoroog kearah depan.
Segulung desiran angin pukulan berhawa dingin meluncur keluar berbareng dengan gerakan tepukan itu.
Menyaksikan kaucu mudanya menunjukkan kelihayan, para jago perkumpulan Thian che kau yang berada disisi kalangan segera pusatkan seluruh perhatiannya ketengah kalangan sepaseng mata mereka terbelalak lebar dengan hati berdebar mereka menantikan perkembangan selanjutnya.
Dalam pada itu ketika Han Siong Kie merasa bahwa dtbalik angin pukalan yaog dilancarkan pihak lawan terkandung sesuatu yang aneh, buru2 ayunkan telapaknya untuk memotong, tapi sayang tindakannya itu terlambat satu tindak, ia rasakan angin pukulan yang dilancarkan pihak lawan telah bersarang diatas tubuhnya membuat seluruh kekuatan tubuh yang dimilikinya lenyap tak berbekas, sedikit tenaga pun tak mampu disalurkan kembali, kejadian ini membuat hati nya terkejut serasa sukma melayang tinggalkan raganya.
"Kepandatan apakah itu?" pikirnya didalam hati,”Tak nyana serangan tersebut mampu menjebolkan pertahanan hawa murniku!"
Melihat musuhnya dibikin terkejut, kaucu muda itu tarik kembali serangannya dan menyeringai seram, setelah mendengus dingin perlahan2 ia mendesak maju kedepan.
Han Siong Kie semakin terkesiap ia tak tahu apa yang musti dilakukan pada keadaan eeperti ini.
"Apakah aku mandah digebuk dan dibekuk lawan tanpa melawan??" pikirnya didalam hati.
Dalam gelisahnya ia berusaha keras untuk mengerahkan kembali tenaga dalamnya, sekali dicoba... gagal, dua kali kembali gagal... tapi ketika ia mencoba untuk ketiga kalinya.. akhirnya dia berhasil.. hawa murninya segera terkumpul kembali.
Rasa girang yang menyelimuti hatinya sukar dilukiskan lagi dengan kata2, sepasang telapak segera diayun ke depan dengan sepenuh tenaga. tampaklah segulung angin pukulan yang luar biasa dahsyatnya meluncur ke depan menghantam kearah sianak muda itu.
Mimpipun kaucu muda itu tak pernah menyangka kalau pihak lawan yang hawa murninya berhasil dipecahkan olehnya dengan ilmu sakti Ho Ho sinkang ternyata masih sanggup untuk melancarkan serangan balasan, untuk sesaat ia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan olehnya.
"Bruuk.. ditengah dengusan berat, tubuhnya terlempar beberapa tombak jauhnya dari tempat semula, darah segar muncrat keluar lewat celah2 bibir
Keempat orang kakek baju hijau serta para jago lainnya sama menjerit kaget, mereka tak menyangka kalau kaucu mudanya bakal terluka ditangan musuh. .
Haruslah diketahui tenaga dalam yang dimiliki Han Siong Kie berasal dari Leng Ku Sangjin yang disalurkan lewat kura2 saktinya, tanpa disadari tenaga tersebut telah mengandung suatu tenaga yang amat mukjijat, ditambah pula tubuhnya telah berendam selama tiga hari didalam air mustajab yang berasal dari bawah permukaan tanah, hal ini membuat tulang dan kulitnya se-akan2 berganti yang baru.
oleh sebab itulah meskipun hawa murninya telah dibikin buyar oleh serangan lawan, namun dengan cepat pula hawa yang telah membuyar tadi menghimpun kembali.
Napsu membunuh menghiasi seluruh wajah Han Siong Kie, dikala semua orang masih tercekam oleh rasa kejut bercampur tercengang, tubuhnya laksana kilat menerjang maju kedepan, setibanya dihadapan kaucu muda itu telapaknya segera diangkat siap dibacokkan keatas tubuh musuhnya...
"Tahan" suatu bentakan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, sekali pun suaranya tidak terlalu keras namun cukup memekikkan telinga setiap orang.
Han Siong Kie segara tarik kembali telapaknya dan loncat mundur delapan depa kebelakang, sorot matanya dialihkan ke arah mana berasalnya suara tadi.
Seorang perempuan berusia setengah baya yang cantik jelita bagaikan bidadari berdiri tegap disisi pemuda tersebut, dengan pandangan yang aneh ia sedang memandang pula kearahnya.
Han Siong Kie terkejut, “sungguh cantik perempuan ini” pikirnya didalam hati, ia merasa kecantikan wajahnya jauh lebih hebat ber kali2 lipat kalau dibandingkan dengan kecantikan si malaikat hawa dingin. Siapakah dia?.. Jangan2 dia adalah..
"Ibu" terdengar kaucu muda itu berpaling dan memanggil.
"Nyonya." keempat orang kakak baju hijau serta kedua puluh satu orang pria baju hitam itupun sama2 memberi hormat sambil menyapa.
Han Siong Kie berdiri menjublak, dadanya terasa se akan2 dihantam oleh sebuah martil berat membuat badannya mundur kebelakang dengan sempoyongan dan hampir saja roboh terjengkang keatas tanah. Dia... ternyata... dia adalah nyonya kaucu ..."
Dia... ternyata perempuan itu adalah ibunya sendiri si Siang Go cantik Ong Cui Ing adanya.
Dialah perempuan yang telah meninggalkan putranya, melupakan dendam keluarganya serta kawin lagi dengan Thian che kaucu.
Pertemuan antara ibu dan anak bukan saja tidak menggirangkan hatinya, bahkan ia merasa hatinya sakit bagaikan di iris2 dengan pisau belati...
Air mukanya per lahan2 berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, pandangan matanya ber kunang2 dan kepalanya pusing tujuh keliling, dadanya terasa jadi sesak dan hampir saja membuat pemuda itu muntah darah segar ....
"Dia bukan ibuku... dia bukan ibuku... aku tidak mempunyai ibu seperti ini.." jeritnya didalam hati.
Tetapi kenyataan sudah berada didepan mata, tak mungkin lari dari kenyataan tersebut, ia ingin lari keluar dari selat tersebut, namun sepasang kakinya sudah tak mau mendengar perintahnya lagi, kakinya seolah2 ditumbuhi akar yang kuat.
Rasa hinaa.. malu.. menyelimuti seluruh perasaannya, ia merasa peristiwa tersebut merupakan suatu lembaran hitam bagi kehidupan keluarganya, ia merasa martabat keluarganya ternoda..
Siang-go berwajah cantik ong Cui Ing yang berada dihadapannya hanya membungkam terus dengan pandangan yang aneh, siapapun tak tahu apa yang sedang ia pikirkan pada saat itu.
Untuk beberapa saat lamanya suasana diseluruh kalangan diliputi keheningan serta kesunyian yang mencekam, begitu sepi.. sunyi hingga napas setiap orang dapat terdengar dengan nyata.
Akhirnya Kaucu muda itu melotot sekejap kearah Han Siong Kie dengan penuh kebencian, lalu sambil berpaling kearah ibunya ia berseru: "Ibu, orang itulah yang disebut Manusia berwajah dingin"
"Aku sudah tahu anakku" perempuan itu mengangguk.
"Ibu, aku telah menyerang dirinya dengan ilmu Ho Ho sinkang, namun ilmu tersebut kehilangan kesaktiannya"
"Oooh, sudah terjadi keadaan semacam itu?? kalian coba mundurlah dahulu.."
Pemuda itu tidak berani membantah, bersama para jago lainnya mereka sama2 mengundurkan diri kearah belakang.
Siang go berwajah cantik ong Cui Ing mendengus dingin, sekali loncat ia sudah berada beberapa tombak jauhnya dari tempat semula, dengan sorot mata tajam ia awasi pemuda dihadapannya tanpa berkedip.
Sekujur tubuh Han Siong Kie gemetar semakin keras, ia gigit bibirnya keras2,
benarkah ibunya begitu kejam dan akan turun tangan keji terhadap dirinya?? atau mungkin ia tidak tahu siapakah dirinya???
Pelbagai macam pikiran berkecamuk dalam benaknya.
"Tidak" akhirnya ia menjerit didalam hati, "susiok pernah berkata bahwa beliau pernah membawa aku pergi menemui dirinya, tapi dia malah turun tangan keji hendak membinasakan diriku serta susiok.. tapi kenapa?? kenapa hatinya begitu kejam melebihi binatang??? kenapa ia hendak membunuh putra kandungnya sendiri????.."
Siang- go berwajah cantik sendiripun berdiri sambil menggigit bibir, rupanya diapun sedang menahan emosi yang bergelora didalam dadanya.
Akhirnya Han Siong Kie tak dapat menahan diri lagi, ia buka suara dan berseru, ternyata suaranya begitu aneh dan mengerikan hingga ia sendiripun tak dapat mengenali sebagai suara sendiri "Kau... kau... kau adalah ..."
"Aku adalah nyonya kaucu" jawab ong cui Ing dengan suara dingin.
Han Siong Kie mendongak dan tertawa seram, nadanya mengerikan bagaikan seseorang yang hampir kalap.
"Nyonya..... nyonya kaucu..... nyonya kaucu.... haah.... haaah..... haaah......"
semua jago yang hadir dalam kalangan tertegun, mereka heran dan tercengang menyaksikan sikap serta tingkah laku musuhnya yang sangat aneh itu.
Air muka siang- go berwajah cantik ong cui Ing nampak berubah hebat, tapi sebentar kemudian ia telah bersikap dingin kembali bentaknya:
"Manusia berwajah dingin, kau tak usah berlagak sok dihadapanku Hmm Berani main gila kuhabisi nyawamu saat ini juga"
"Nyonya kaucu" teriak Han Siong Kie sambil menggertak gogo. "Kau siap berbuat apa terhadap diriku?"
"Bagi setiap manusia yang berada didalam Lian huan tan, bila dia bukan sahabat tentulah orang itu adalah musuh kami, selamanya kami tidak akan membiarkan musuh2 kami tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup.."
Han Siong Kie semakin sedih rasanya melihat sikap ibunya itu, hatinya jadi hancur dan matanya jadi makin ber kunang2.
"Nyonya yang terhormat" teriaknya."Kau kenal tidak dengan seorang manusia yang bernama Telapak naga beracun Thio Llen..."
"Tutup mulut anjingmu manusia berwajah dingin, takdir telah menentukan bahwa usiamu hanya sampai disini saja, ber siap2lah menyambut saat kematianmu"
Han Siong Kie gemetar keras, tanpa disadari ia melangkah mundur satu langkah ke belakang..
-0000000-
Tengkorak Maut
Oleh : Tjan ID
Bab 16-20: Nama baru, Malaikat penyakitan
HAMPIR saja ia tidak percaya dengan telinga sendiri, ia tidak percaya kalau di kolong langit benar2 terdapat seorang ibu yang berhati begitu keji dan sama sekali tidak mempunyai rasa sayang antara seorang ibu dengan anaknya, benarkah dia masih belum mengetahui siapakah dirinya?? mungkinkah ia belum tahu bahwa dia adalah putra kandungnya??
Dengan suara serak dan tersendat kembali ia berpekik nyaring.
"Nyonya Kaucu yang terhormat, masih ingatkah kau dengan seorang bocah cilik yang ada ber sama2 sitelapak naga beracun..."
Air muka si siang-go berwajah cantik Ong Cui Ing berubah semakin hebat, napsu membunuh menyelimuti wajahnya, tidak menunggu sampai sianak muda itu menyelesaikan kata2nya ia sudah menerjang maju kedepan, telapak tangan laksana kilat menghantam ke depan.
Han Siong Kie jadi tertegun dan berdiri menjublak. dalam waktu singkat pemuda itu berubah jadi orang bodoh. orang yang kehilangan kesadarannya...
Apa yang diutarakan sudah terlalu jelas sekali bagi pendengaran siapapun juga, siapa pun akan memahami maksud dari perkataannya itu, tetapi perempuan itu atau tegasnya ibu kandungnya ternyata pura2 tidak mengerti, bukan begitu saja, bahkan diapun tega turun tangan keji terhadap dirinya.. putra kandung sendiri
Hancurlah perasaan hati Han Siong Kie, tubuhnya jadi lemas dan lunglai ia tak mampu menghindarkan diri lagi dan serangan maut yang sudah tiba didepan mata.
"Blaaam ditengah jeritan kesakitan yang memilukan hati, tubuh pemuda she Han itu termakan telak oleh serangan yang maha dahsyat itu hingga mencelat jauh beberapa tombak dari tempat semula dan jatuh kembali keatas tanah.
Rasa benci dan kecewa berkecamuk dalam hatinya, rasa sakit hati membuat si anak muda itu berusaha untuk mempertahankan diri, dengan cepat ia loncat bangun dan.. Uuuuaaah darah segar muntah dari mulutnya, menyembur sejauh dua tombak lebih dan menodai pakaian yang dikenakan Ong Cui Ing.
Kaucu muda yang selama ini berpeluk tangan belaka disisi kalangan sebera menerjang kemuka setelah dilihatnya pemuda lawannya itu roboh terluka..
siang go berwajah cartik sang cui Ing mengerutkan alisnya, tiba2 diapUn menerjang kembali kedepan sambil lancarkan sebuah totokan kilat.
Kenyataan yang mengenaskan ini membuat kesadaran Han Siong Kie semakin pudar, ia sudah tak mampu menghindarkan diri lagi, dalam keadaan begitu secara ngawur ia segera kirimkan satu pukulan dahsyat untuk menyongsong datangnya ancaman dari pihak lawan.
"Blaaam..." dalam keadaan terluka parah serangan yaUg dilancarkan pemuda itu ternyata masih cukup ampuh.
Dalam satu bentrokan keras, tubrukan dari Ong Cui Ing berhasil ditahan untuk sesaat tapi sebuah totokan dengan cepat pula telah bersarang diatas tubuhnya.
Han Siong Kie menjerit tertahan, tak ampun lagi tubuhnya tertotok dan roboh terjengkang diatas tanah.
Menyaksikan musuh tangguh telah berhasil dibekuk. empat kakek baju hijau itu segera berkelebat maju kedepan, serunya setelah memberi hormat. "Nyonya, bagai mana dengan bangsat cilik ini??"
Siang go berwajah cantik Ong Cui Ing melirik sekejap ke arah tubuh Han Siong Kie yang menggeletak tak sadarkan diri diatas tanah, kemudian jawabnya dingin:
"Kirim dia kedalam penjara maut, besok ber-sama2 kelima puluh dua orang hukuman lainnya bunuh habis"
"Terima perintah" keempat orang kakek baju hijau itu segera mengangguk.
"Ibu, apakah tidak perlu serahkan bangsat itu keruang penyiksaan??.." sela kaucu muda itu mendadak.
"Tidak perlu, bangsat cilik ini tidak lebih hanya seorang pemuda yang jumawa dan latah, aku rasa dia tak akan mengandung maksud2 tertentu" .
Demikianlah, salah seorang diantara keempat orang kakek baju hijau itu segera mengepit tubuh Han Siong Kie dan siap berlalu dari tempat itu.
Mendadak Ong Cui Ing nyonya dari kaucu perkumpulan Thian chee kau itu ulapkan tangannya sambil berseru. "Tunggu sebentar "
Ia melayang mendekati kesisi tubuh Han Siong Kie, sambil lancarkan beberapa totokan lagi ia berkata:
"Ilmu silat yang dimiliki si manusia berwajah dingin sangat lihay, lebih baik sekarang juga kupunahkan dahulu ilmu silat yang dimilikinya daripada sampai terjadi hal yang tidak diinginkan dibelakang hari. Beri tahu kepada pengurus penjara maut, mereka tak usah menotok jalan darah cacadnya lagi cukup bebaskan jalan darah tidurnya"
Keempat orang kakek baju hijau itu segera mengangguk dan bersama2 mengundurkan diri dari tempat itu.
-0000000-
Jilid 8 : Ilmu bernapas kura-kura sakti
SEPENINGGALNYA keempat orang kakek tadi, Ong Cui Ing sambil menggandeng putra kesayangannya pun ikut berlalu menuju kedalam selat.
Kakek bercambang berserta kedua puluh satu orang pria baju hitam itu dengan sikap yang hormat menghantar keberangkatan nyonya kaucu mereka.. Tidak lama setelah sesosok bayangan manusia yang kecil ramping. Dia bukan lain adalah Tonghong Hwie yang menyaru sebagai seorang pengemis cilik.
Kalau tadi Han Siong Kie menaruh curiga kalau dia sudah tertawan oleh para jago yang dikirim perkumpulan Thian chee Kau untuk mencari jejaknya, maka Tonghong Hwie pun mengira saudara angkatnya telah tertawan pula oleh para jago dari perkumpulan Thian chee kau.
Sungguh sayang kedatangan mereka berdua hanya terpaut beberapa waktu saja hingga, kedua belah pihak tak dapat saling bertemu satu sama lainnya.
sekalipun tujuan yang mereka datangi adalah sama, dan maksud tujuan merekapun tak berbeda, namun rupanya takdir telah menentukan yang lain.
Tonghong Hwie adalah seorang jago yang amat cerdik, dia tahu wilayah Lian Hong tan tidak lebih bagaikan sarang naga gua harimau, jago lihay pihak perkumpulan Thian chee kau yang ditugaskan menjaga di sekitar tempat itu banyak sukar dihitung dengan jari, bila ia berani menerjang masuk secara gegabah niscaya jejaknya akan ketahuan. oleh karena itu dengan amat sabar pengemis cilik itu menuggu diluar daerah tersebut, ia tunggu hingga kentongan kedua sudah menjelang tiba, dengan gerakan yang sangat enteng danpenuh kewaspadaan, selangkah demi selangkah dijelajahinya tempat itu.
Dengan kecerdasan yang dimilikinya, ternyata dengan amat mudah sekali ia berhasil melewati beberapa buah pos penjagaan yang banyak tersebar disekitar tempat itu.
Namun tidak lama setelah berada didalam selat tersebut, dengan cepat Tonghong Hwee menemukan bahwa keadaan tidak beres, ia temukan begitu banyak persimpangan yang bermunculan ditempat itu, meskipun sudah setengah malam ia ber-putar2 ditempat itu, namun yang ditemui hanyalah tebing2 curam yang menjulang tinggi ke angkasa, bukan begitu saja bahkan iapun menemukan banyak sekali lorong sempit yang telah dilaluinya bukan hanya satu kali saja.
Tonghong Hwie jadi amat panik, menurut perhitungannya didalam beberapa jam lagi fajar bakal menyingsing, namun jalan lorong yang dilewatinya kian lama kian bertambah membingungkan hati, bukan saja jalan keluar tidak berhasil ditemukan, bahkan untuk mundur kembali kejalan yang semula pun tak mampu dia lakukan.
Sadarlah pengemis cilik itu bahwa dirinya telah terkurung didalam sebuah barisan yang maha sakti, dalam keadaan begini kendati ia cerdik dan banyak akal, tak urung dia akan kelabakan juga.
Fajar telah menyingsing, lorong2 sempit yang membujur dalam selat itu perlahan2 menjadi terang benderang.
Keadaan dari Tonghong Hwie pada saat ini ibarat semut yang berada diatas kuali panas, rasa panik yang menyelimuti hatinya sulit dilukiskan dengan kata2. Mau maju tak dapat, mau mundurpun tak bisa, sedangkan kabar berita tentang kakak angkatnya Han Siong Kie tidak berhasil diketahui, bisa dibayangkan betapa cemasnya hati pengemis ini.
Terpikir olehnya hendak mencari tempat persembunyian terlebih dahulu untuk melepaskan diri dari pengamatan para jago dari perkumpulan Thian chee kau. Setelah itu baru berusaha untuk mencarijalan keluar dari barisan ini, siapa tahu sekeliling tempat itu yang terlihat hanyalah tebing2 curam yang menjulang tinggi keangkasa. Dengan tenaga dalam yang dimilikinya tak mungkin baginya untuk melayang naik ketempat itu.
Disaat hatinya sedang bingung bercampur panik itulah, mendadak dari arah belakang berkumandang datang suara tertawa seram yang amat mengerikan..
Dengan hati terkesiap Tonghong Hwie berpaling kebelakang, tanpa terasa ia tarik napas dingin dan bergidik.
Terlihatlah seorang kakak baju kuning yang bermata tunggal telah berdiri kurang lebih satu tombak dibelakang tubuhnya, sedari kapan orang itu munculkan diri ternyata sama sekali tak diketahui olehnya.
Dalam pada itu sikakek baju kuning bermata tunggal tadi telah menatap wajahnya sambil tertawa seram, serunya:
"Hey bangsat cilik, rupanya kau sudah kepayahan semalam suntuk. bagaimana kalau sekarang beristirahat dulu??"
Tonghong Hwie merasa amat terkejut, jantungnya terasa berdebar keras, ia tak menyangka kalau perbuatannya selama semalam suntuk ternyata sudah berada didalam pengawasan orang, dengan hati tercekat segera serunya: "si. .siapa ..siapa kau??"
"Hmm..hmm kau ingin tahu siapakah aku? aku bukan lain adalah Koan thian sin atau malaikat pengamat langit Ci Chong"
"Malaikat Pengamat Langit??."
"Sedikitpun tidak salah" kakek baju kuning itu mengangguk.
"Aaah aku rasa julukan itu kurang tepat bagimu, seharusnya engkau lebih cocok kalau dinamakan si mata tunggal pengamat langit"
Air muka kakek baju kuning itu seketika berubah hebat, ia tidak mengira dalam keadaan bahaya, pihak lawannya masih sempat untuk menggoda dirinya, sambil tertawa seram ia segera berseru:
"Bajingan busuk. kematian sudah berada diambang pintu, kau masih juga tak tahu diri dan berani mempermainkan diriku ..Hmm rupanya kau benar2 sudah bosan hidup, Heeeh... heeeh... heeeh... bangsat kedatanganmu apakah disebabkan karena manusia berwajah dingin itu??"
Terkejut Tonghong Hwie mendengar ucapan tersebut, dari situ ia bisa menarik kesimpulan bahwa delapan puluh persen kakak angkatnya sudah tertangkap. oleh para jago perkumpulan Thian chee Kau. Dengan suara agak gemetar segera serunya: "Jadi jadi... manusia berwajah dingin telah kalian lukai ?"
"Ehmmm... sedikitpun tidak salah, selamanya orang yang berani memasuki wilayah Lian huan tau tak bakal ia bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup"
"Apa?? jadi..jadi ia sendiri yang datang mencari satroni ketempat ini???"
"sedikitpun tidak salah, dia yang sudah bosan hidup dan datang mencari penyakit sendiri"
"Sekarang... sekarang dia berada dimana?"
"Kau maksud simanusia berwajah dingin? sekarang dia berada didalam penjara maut dan sebentar lagi kau bakal bertemu dengan dirinya"
Sekujur badan Tonghong Hwie gemetar semakin keras, ia tak tahu dimanakah letaknya penjara maut tersebut, tetapi bila ditinjau dari namanya jelas tempat itu merupakan suatu tempat yang luar biasa.
sebelum ingatan kedua berkelebat didalam benaknya, terdengar si malaikat pengamat langit Ci chong telah berkata kembali:
"Dia hanya akan hidup sampai fajar menyingsing nanti, berarti jiwanya masih akan hidup selama setengah jam belaka"
"Dia.... kenapa dia?"
"Dia akan dijatuhi hukuman mati dan akan melaksanakan hukumannya sejenak lagi"
Tonghong Hwie seketika itu juga merasakan pandangan matanya jadi gelap dan berkunang2, tubuhnya dengan sempoyongan mundur beberapa langkah kebelakang:
"Engkoh Kie hanya akan hidup setengah jam lagi??" pikirnya didalam hati "Benarkah dia akan dijatuhi hukuman mati?? bukankah ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, kenapa ia bisa tertawan?? bila engkoh Kle benar2 bakal mati, lalu apa artinya bagiku untuk hidup seorang diri, akan lebih baik biarkan diriku ditawan saja hingga bisa bertemu muka dengan dirinya atau paling sedikit aku bisa bertemu dengan dirinya sebelum menghembuskan napas yang terakhir, banyak sekali perkataan yang hendak kusampaikan kepadanya, aku hendak beri tahu asal usulku kepadanya ..."
Makin berpikir ia merasa makin kalut, hingga akhirnya sambil menjerit pengemis cilik itu putar badan dan lari menuju kedalam lembah..
"Bangsat cilik, kau hendak pergi kemana? terdengar malaikat pengamat langit membentak keras.
Sambil berseru tubuhnya laksana kilat berkelebat ke depan dan menghadang jalan pergi pengemis itu.
Jago tua ini merupakan salah satu diantara empat pelindung hukum yang amat lihay didalam perkumpulan Thian chee kau, ilmu silatnya terhitung kelas satu dibawah kaucu mereka sendiri, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan yang dia lancarkan.
Dengan tangkas Tonghong Hwie berkelit kesamping, cengkeraman yang telah berhasil bersarang diatas bahunya itu segera berhasil diloloskan kembali, menggunakan kesempatan itu dia loncat mundur delapan depa ke arah belakang.
Melihat musuhnya berhasil melepaskan diri dari serangan yang dia lancarkan itu, malailat pengamat langit Ci Chong berseru kaget, ia tak tahu ilmu silat apakah yang dimiliki pengemis cilik itu sehingga cengkeraman yang telah berhasil mengenai sasaran itu dapat dilepaskan dengan begitu gampang..
Tonghong Hwie sendiri yang memiliki baju sakti pelindung badan meskipun berhasil melepaskan diri dari cengkeraman musuh, tak urung ia rasakan bahunya terasa amat sakit, diam2 ia kaget akan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki musuhnya itu.
Dalam pada itu si malaikat pengamat langit Ci Chong setelah tertegun beberapa saat lamanya segera tertawa seram, ia menerjang kembali kedepan sambil melancarkan serangan.
"Ci, Hu hoat, tahan" mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dari arah belakang.
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, dari balik bukit muncullan seorang perempuan berusia setengah baya.
Dari suata teguran itu rupanya malaikat pengamat langit Ci chong sudah mengetahui siapakah yang telah datang, buru2 ia tarik kembali telapaknya dan meloncat mundur ke belakang.
"Hamba terima perintah, apakah nyonya masih ada perintah lain??" serunya dengan serius.
"Waktu untuk melaksanakan hukuman mati segera akan berlangsung, harap kau segera berlalu dan melakukan pengawasan yang ketat disekitar tempat ini, sedang bangsat cilik ini serahkan saja kepadaku"
"Hamba terima perintah" setelah memberi hormat malaikat pengamat langit Ci Chong segera putar badan segera berlalu dari situ.
Tonghong Hwie merasa semakin sedih setelah mengetahui bahwa saat dilaksanakannya hukuman mati segera akan berlangsung, sambil menjerit keras ia enjotkan badan dan siap mengejar dibelakang kakek baju kuning tadi. "Berhenti"
Di tengah bentakan nyaring Tonghong Hwie segera merasakan adanya segulung angin pukulan yang amat kuat menerjang kearah tubuhnya hingga memaksa dia harus membatalkan niatnya untuk mengejar kakek baju kuning tadi dan melayang kembali keatas tanah.
Perempuan berusia setengah baya yang bukan lain adalah siang go berwajah cantik Ong Cui Ing itu, ia tidak banyak bicara tubuhnya laksana kitiran angin puyuh segera menerjang maju kedepan, telapak tangannya yang sukar dilukiskan dengan kata2 mencengkeram pergelangan tangan Tong hong Hwie.
Pengemis cilik itu meronta keras, ia berusaha melepaskan diri dari ancaman itu, namun rupanya Ong Cui Ing sudah mempunyai perhitungan yang masak, bersamaan dengan dilancarkan serangan cengkeraman itu, tangannya segera mengirim pula sebuah totokan kearah bagian dalam tubuh pengemis itu.
Tonghong Hwie terkesiap. sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya, untuk menghindarkan diri tak sempat lagi, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat dalam benaknya, ia sudah jatuh tak sadarkan diri
Bagaimana keadaan si pengemis cilik ini selanjutnya?? baiklah untuk sementara waktu kita tinggalkan dahulu.
Dalampada itu Han Siong Kie yang di hajar ibunya sendiri Ong Cui Ing hingga muntah darah segar, kemudian jalan darahnya tertotok hingga kesadarannya lenyap segera digotong masuk kedalam penjara bawah tanah.
Menanti pemuda itu sadar kembali dari pingsannya, ia temukan dirinya berbaring di suatu tempat yang berbau lembab, busuk dan sangat memuakkan, begitu baunya hingga untuk bernapaspun terasa amat sulit.
Perlahan-lahan ia membuka matanya dan berusaha memandang sekeliling tempat itu, namun yang terlihat hanyalah kegelapaa yang mencekam seluruh jugad. Tempat manakah ini ? ingatan tersebut dengan cepat terlintas dalam benaknya.
Lama kelamaan sinar matanya dapat menembusi kegelapan dan mulai bisa melihat pemandangan disekitar tempat itu meskipun masih samar dan buram.
"Apakah aku sudah mati??" ingatan itu dengan cepat berkelebat pula dalam benaknya, ia lihat dirinya berada dalam sebuah ruang batu yang luasnya hanya lima tombak persegi, udara menyiarkan bau busuk dan bayangan manusia bergerak kesana kemari dihadapan matanya, suara rantai bergemerincingan sementara manusia dengan wajah seram layu dan rambut yang kusut berkeliaran disekitar situ.
"Aaah mungkinkah aku telah berada di dalam neraka yang penuh dengan manusia hukuman.??" pikiran itu seketika membuat hatinya tercekat dan bada nj adi merinding.
Buru2 ia berusaha meronta dan loncat bangun dari atas tanah namun suara gemerincingan segera mengejutkan pula hatinya.
Ternyata kaki serta tangannyapun diborgol dengan sebuah rantai besi yang besar dan kuat, sebuah jepitan besi yang diikat dengan rantai pula memborgol tenggorokannya membuat dia sama sekali tak dapat bergerak dengan bebas.
Kurang lebih tiga puluhan orang hukuman dengan keadaan yang tak jauh berbeda dengan dirinya duduk lesu dan lemas di sekitar situ, suasana terasa hening namun mencekamkan.
"Aku telah mati aku telah mati" jerit Han Siong Kie dengan suara mengenaskan, "aku mati dalam keadaan yang konyol, kematianku sungguh tidak berharga. oooh, kenapa aku harus mati ditangan ibu kandungku sendiri??? "
Jeritan ini segera memancing perhatian para hukuman yang lain, mereka sama2 angkat kepala dan memandang kearahnya, tetapi tak seorangpun diantara mereka yang buka suara, mungkin mereka sendiri sudah terbiasa menyaksikan kejadian seperti ini.
Pemuda itu men-jerit2 seperti orang gila sambil berteriak ia terbayang kembali kejadian-kejadian dimasa silam.
Ia teringat kembali ketika paman gurunya si Telapak naga beracun Thio Lien disuatu malam yang gelap dan hujan turun dengan derasnya telah membawa ia pergi mengunjungi perkampungan keluarga Han yang penuh dengan tulang manusia yang berserakan, membuat ia mengetahui asul usul yang sebenarnya"
setelah paman gurunya memberitahukan asat usulnya, ternyata ia telah bunuh diri disisi tulang tubuh ayahnya.
Dua ratus sosok tulang manusia termasuk tulang ayahnya masih berserakan dalam perkampungan tersebut tanpa seorang manusia pun yang mengurus... ia bersumpah akan menuntut balas atas peristiwa berdarah itu... dia akan mencincang tubuh musuhnya agar bisa membalaskan sakit hati ayah serta keluarganya.
Ia tahu orang yang telah melakukan penjagalan secara besar2an itu telah meninggalkan suatu lambang diatas dinding rumahnya, lambang itu berupa sebuah tengkorak yang berlumuran darah... itulah perlambang dari pemilik benteng Maut.
Kemudian ia teringat kembali sewaktu berkenalan dengan Tonghong Hwie, mereka angkat saudara kemudian ikut memperoleh penemuan aneh di dalam hutan, menyerbu ke dalam Benteng Maut
Dalam peristiwa itu ia telah dihantam masuk sungai oleh Tengkorak Maut hingga akhirnya ditolong oleh seorang gadis, hal ini membuat dia berhutang budi dengan Go Siauw Bi, putri dari ketua perkumpulan Pat Gopang.
Terbayang pula wajah ibunya yang cantik tapi berhati kejam melebihi ular beracun, bukan saja ia telah kawin dengan orang lain, bahkan begitu tega untuk turun tangan keji terhadap dirinya.
Otak terasa penuh dengan pikiran2 yang mengalutkan, sekali lagi ia menyapu ruang disekelilingnya, ia tetap neraka dihadapannya dengan pandangan sayu. Rasa seram ngeri membuat tubuhnya menggigil, dan bulu romanya pada bangun berdiri Gumamnya kembali seorang diri:
"Aku tak boleh mati dengan begitu saja, bila aku mati siapa yang akan menuntut balas bagi sakit hati keluargaku? siapa yang akan mengubur tulang2 dalam perkampungan keluarga Han?? aku tak boleh mati, aku tidak ingin mati, Aaah Thian mengapa kau atur kesemuanya ini bagiku??.. oooh Thian kau terlalu kejam kau tidak adil.." semakin berpikir badannya semakin kaku linu dan sakit sekali.
Mendadak Kraaaak terdengar suara gemerincing yang amat nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, disusul serentetan cahaya yang amat tajam memancar masuk menerangi seluruh ruangan tersebut.
Dari lubang terbuka itulah Han Siong Kie menemukan seurat wajah yang amat dikenal olehnya sedang melongok kedalam.
Kraaak terdengar suara nyaring kembali berkumandang, liang tadi menutup kembali, suara helaan napas sayup2 terdengar dari ruangan.
"Aaah Dia.... dia.. adalah si kupu2 warna warni Lie In Hiang "pemuda itu segera berteriak keras "Aku belum mati, aku belum mati, tempat ini pastilah penjara dalam tanah didalam markas perkumpulan Thian chee kau"
Hampir saja pemuda itu meloncat bangun dari atas tanah saking girangnya, harapan untuk hidup segera muncul kembali didalam hatinya.
Maka dengan cepat ia berusaha merangkak bangun, ia berusaha untuk duduk bersila dan mengatur penapasan. Ia coba untuk bangkit berdiri:
"Duduklah nak, jangan bergerak jangan terlalu banyak bergerak dulu" serentetan bisikan yang lembut bagaikan bisikan nyamuk bergema masuk dalam telinganya.
Han Siong Kie terkesiap dia yakin ucapan itu sengaja ditujukan kepadanya, tapi meskipun sorot matanya telah berputar menyapu setiap sudut ruang penjara itu, namun tak seorang manusiapun yang berhasil ditemukan, ia tidak berhasil menemukan sesuatu apapun, sungguh aneh sekali, siapakah yang telah mengirim padanya didalam penjara yang mirip dengan neraka ini.?????
"Manusia berwajah dingin, duduklah dan jangan bergerak" sekali lagi bisikan itu berkumandang datang.
Han Siong Kie terkejut dan tanpa sadar telah duduk kembali keatas tanah, dengan ilmu menyampaikan suara pula ia balas berbisik: "siapakah kau??
"Aku?? masa kau sudah tidak kenali lagi suaraku??"
"Aku merasa suaramu seperti kukenal, cuma aku lupa siapakah dirimu itu??"
"Aku adalah orang yang ada maksud"
Han Siong Kie semakin terperanjat, jantungnya berdebar semakin keras. Kembali manusia yang ada maksud muncul dihadapannya dikala ia sedang menemui kesulitan. suatu harapan untuk melepaskan diri dari tempat itu segera muncul didalam benaknya, disamping itu dia pun merasa heran bercampur kaget. Kenapa manusia yang ada maksud bisa munculkan diri didalam penjara perkumpulan Thian Chee Kau?? dari mana ia bisa muncul disitu tanpa diketahui oraang??"
"Benarkah kau adalah manusia yang ada maksud?" sekali lagi Han Siong Kie bertanya.
"Sedikitpun tidak salah." orang yang ada maksud menjawab.
“Sekarang nona berada dimana?”
“Di ruang sebelah penjara maut itu!”.
"Apa? penjara maut? tempat ini bernama penjara maut.?”
"Tidak salah. sekarang kau berada didalam penjara maut dari perkumpulan Thian Chee Kau”
“Bagbaimana caranya nona bisa sampai disini?”
"Belum waktunya kuberitahukan kepadamu”
Han Siong Kie tarik napas panjang2. sebenarnya ia ingin bertanya kepada orang yang ada maksud mengapa dia datang untuk menolong dirinya, tetapi watak yang tinggi hati telah mengurungkan niatnya itu.
"Nona siapa2 saja yang ditawan didalam penjara ini? apakah kau tahu?” akhirnya dia bertanya kembali.
“Para hukuman yang sedang mananti untuk menjalankan hukuman mati.”
Untuk kesekian kalinya Han Siong Kie tarik napas dingin. ia terkesiap dan tak pernah menyangka kalau dirinya pun telah dijatuhi hukuman mati oleh pihak lawan. Tanpa sadar ia segera berseru lirih.
"Apa?? kau katakan mereka adalah orang hukuman yang sedang menantikan saat untuk menjalani hukuman mati?”
“Ssdikitpun tidak salah. orang2 itu ada yang merupakan musuh besar dari perkumpulau Thian chee kau. ada pula anggota perkumpulan yang telah melanggar peraturan perkumpulan mereka. sekarang orang2 itu sedang menikmati sisa hidupnya yang tak akan lama lagi. sebentar lagi mereka akan menjalani hukuman mati"
“Apakah termasuk diriku juga akan menjalani hukuman mati?"
"Tentu saja!"
"Lalu apa maksud nona datang kemari?”
“Aku datang demi dirimu, sekarang janganlah bergerak secara sembarangan. kau harus pura-pura menunjukkan bahwa kau adalah seseorang yang telah kehilangan seluruh ilmu silatmu!”
"Kenapa??”
“Setiap orang sebelum dijebloskan kedalam penjara maut. oleh pengurus penjara ilmu silatnya pasti akan dimusnahkan terlebih dahulu.”
"Tapi aku merasa bahwa ilmu silatku masih utuh"
"Benar, ilmu silatmu memang masih utuh, sedang apa sebabnya sampai begini dikemudian hari kau bakal mengetahui dengan sendirinya kesemuanya ini, orang yang kehilangan sukmalah yang mengaturnya. aku tak dapat menjelaskan kepadamu"
"Orang yang kehilangan sukma?? jadi kedatangan nona adalah sedang menjalankan tugas yang diperintahkan orang yang kehilangan sukma??"
"Dugaanmu tepat sekali, aku memang sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh manusia yang kehilangan sukma"
"Nona, bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan kepadamu??"
"Selama pertanyaanmu itu dapat kujawab, aku pasti akan memberikan jawaban yang memuaskan"
"Adik angkatku Tonghong Hwie sekarang berada dimana?? bagaimana pula nasibnya?? dia masih hidup atau sudah mati?? "
Manusia yang ada maksud termenung beberapa saat lamanya, kemudian menjawab:
"Keselamatannya untuk sementara waktu tak ada bahaya."
"Sekarang dia berada dimana? "
"Masih berada dalam wilayah Lian huan tau, cuma ia sudah berada dibawah perlindungan orang yang kehilangan sukma"
Legalah hati Han Siong Kie setelah mendengar perkataan tersebut.
"Apakah orang yang kehilangan sukma juga telah tiba ditempat ini?" ia bertanya kembali.
"Lebih baik kau tak usah tanyakan hal yang sama sekali tak berguna, tahukah kau masih berapa lama kau dapat hidup di kolong langit??"
"Berapa lama? seru sianak muda itu dengan hati terkejut.
"Hanya dua jam, sebentar lagi ketiga puluh satu orang hukuman yang ada didalam penjara ini termasuk tiga puluh dua orang akan melaksanakan hukuman matinya"
Han Siong Kie jadi kecewa bercampur sedih, rasa benci dan sakit hatinya muncul kembali menyelimuti benaknya, ia kertak gigi keras2 dan menyumpah:
ia benci ibunya yang kejam melebihi ular berbisa itu, ia benci kepada siang- go berwajah cantik Ong Cui Ing... perempuan itulah yang telah menghantar dirinya kedalam penjara maut, ibu kandungnya yang hendak merenggut selembar jiwanya lewat hukuman mati.
"Bagaimana cara mereka untuk membereskan jiwaku nanti." serunya dengan suara berat.
"Menurut peraturan yang berlaku bagi perkumpulan Thian chee kau, untuk tetap mempertahankan prikemanusiaan mereka hanya membunuh orang tanpa mengucurkan darah, mereka akan cekoki para hukuman dengan obat racun yang keji, setelah korbannya mati keracunan mayatnya baru dikubur diluar wilayah Lian Huan tan"
"Dibunuh dengan racun??"
"Sedikitpun tidak salah kau jangan harap bisa meloloskan diri dari tempat ini, sebab setiap orang hukuman yang telah mati keracunan sebelum diangkat keluar akan diperiksa lebih dahulu dengan teliti, semboyan mereka adalah hanya mayat saja yang dapat ke luar dari penjara maut tersebut"
"Ooh...” Han Siong Kie hanya bisa berkata begitu saja, kemudian membungkam dalam seribu bahasa.
Terdengar orang yang ada maksud melanjutkan kembali kata2nya:
"Penjara maut ini didirikan dibawah tanah, pintu masuk dan pintu keluar diatur oleh alat rahasia yang ber lapis2, kurang lebih seratus orang jago lihay menjaga disetiap lapisan alat rahasia tersebut, bukan begitu saja bahkan setelah orang itu mati keracunan, sebelum dikubur kedalam tanah oleh petugas hukuman akan ditotok pula jalan darah kematiannya sehingga siapapun yang coba pura2 mati tak akan lolos pula ditangannya.."
"Nona, apakah kedatanganmu kesini hanya ingin memberi tahukan beberapa patah kata itu saja??" akhirnya sianak muda itu tak dapat menahan diri dan berseru.
"Bukan hanya itu saja, akupun datang untuk menolong dirimu.."
"Mati dan hidup semuanya diatur oleh takdir, aku sama sekali tidak jeri menghadapi semua kenyataan yang ada didepan mata."
"Kau memang bisa ambil tak perduli, tapi orang lain tidaklah mengharapkan kau terjadi sesuatu.."
"Siapakah orang itu?? "
"Orang yang kehilangan sukma"
"Dia? kenapa?".
"Dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya, sekarang ia sedang berusaha keras untuk menolong dirimu tetapi diapun harus mengeluarkan suatu pengorbanan yang tak terhingga besarnya"
"Untuk menyelamatkan jiwaku, siorang yang kehilangan sukma telah memberikan pengorbanan yang tak ternilai besarnya?"
"Sedikitpun tidak salah"
"Kenapa ia berbuat demikian??"
"Sekarang aku belum dapat memberitahukan kepadamu, suatu ketika kau akan mengetahui dengan sendirinya"
Han Siong Kie membungkam dan tidak berbicara lagi, peristiwa ini betul2 sangat aneh dan sukar diraba arah tujuannya.
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya hingga hampir saja ia berteriak ketus dengan suara gemetar segera serunya:
"Nona? bukankah tadi kau berkata bahwa hanya orang mati yang dapat keluar dari penjara ini??"
"Ehmm sedikitpun tidak salah kenapa?".
"Aku punya suatu cara yang bagus untuk meloloskan diri dari sini..."
"Benarkah itu?? kau benar2 mempunyai cara untuk meloloskan diri dari tempat ini? " seru orang yang ada makkud deagan suara penuh emosi. "sedikitpun tidak salah "
"Apakah caramu itu?? cepat katakan"
"Bukankah kau mengatakan bahwa orang mati saja yang dapat keluar dari penjara maut ini??"
"Ehmm ? sedikitpun tidak salah??"
"Cara baikmu itu justru terletak pada kematian itu"
"Bagaimana maksudmu??? aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan itu.."
"Aku pernah belajar ilmu pernapasan kura2 saktL, aku bisa berpura-pura mati tanpa diketahui oleh mereka.."
“Apa?” terdengar Orang yang ada maksud menjerit tertahan, “Kau pernah mempelajari ilmu kura2 sakti yang sudah lama lenyap dari permukaan bumi itu?”
"Sedikitpun tidak salah" pemuda itu membenarkan.
ooooOoooo
17
“AAh- aku sudah mengerti akan maksud mu, bukankah kau hendak menggunakan ilmu kura2 sakti untuk menutup seluruh pernapasanmu dan memutar balikkan urat2 nadi serta jalan darah yang ada didalam tubuh hingga orang akan menganggap dirimu sebagai sesosok mayat??"
"Benar, coba lihatlah apakah cara ini bisa digunakan ateu tidak?”
“Boleh sih boleh. hanya saja..."
"Hanya kenapa?”
“Setelah mayat itu digotong keluar dari penjara biasanya oleh petugas penjara pasti akan dilakukan pemeriksaan kembali dengan seksama dan kemudian menotok jalan darah kematiannya, bila sampai kau sungguh-sungguh celaka bukankah urusan jadi berabe?"
"Nona, mungkin kau belum begitu memahami akan kehebatan serta kesaktian dari ilmu kura2 sakti ini, bila seorang telah menggunakan ilmu tersebut maka seluruh peredaran darahnya akan berhenti jantUngnya berhenti berdetak dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan orang mati biasa kecuali mayatku dipotong2 atau ditusuk atau mungkin aku bakal celaka ditangan orang lain"
"Lalu ilmu kura2 sakti yang kau miliki itu bisa bertahan berapa lama??"
"Ilmu tersebut belum lama kulatih, paling banter aku hanya bisa bertahan selama sepuluh hari saja"
"Itu lebih dari cukup, asal kau bisa bertahan selama tiga hari maka tengah haripada hari ketiga aku akan menggali kuburanmu serta menolong kau keluar dari situ."
"Atas kebaikan nona akan kuingat selalu, untuk itu sebelumnya kuucapkan banyak2 terima kasih, tiga hari kemudian aku pasti akan bangun dengan sendirinya".
"Sekarang aku harus kembali untuk memberi laporan kepada orang yang kehilangan sukma, baiklah kita berjanji seperti yang kau katakan tadi, bila ada orang menghidangkan masakan janganlah sekali2 kau makan sebab dalam makanan itulah telah terkandung obat racun yang mematikan, disamping itu kau harus berpura2 seperti orang yang kehilangan ilmu silat, jangan sampai rahasia ini ketahuan orang kalau tidak... akibatnya sukar untuk dibicarakan"
"Aku akan ingat selalu perintahmu ini, sebelum itu ada satu persoalan ingin kutanyakan kembali"
"Apa yang ingin kau tanyakan??"
"Benarkah orang yang kehilangan sukma adalah gurumu???"
"Tentang soal ini .... "
Agaknya orang yang ada maksud sedang mempertimbangkan apakah perlu baginya untuk menjawab pertanyaan dari Han Siong Kie tadi atau tidak beberapa saat kemudian ia baru menjawab.
"Tentang pertanyaanmu ini, aku bisa memberitahukan kepadamu dia adalah ibuku"
"Ooooh jadi orang yang kehilangan sukma adalah ibumu??"
"Sedikitpun tidak salah"
"Sudah terlalu banyak aku berhutang budi dengan kalian ibu dan anak. Aku jadi tak tahu bagaimana budi kebaikan sebanyak itu harus kubalas dikemudian hari.. hanya aku tidak mengerti, mengapa kalian selalu memperhatikan diriku."
"Dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya, sekarang waktu amat mendesak. aku harus segera berlalu dari sini"
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, suasana pulih kembali dalam keheningan, jelas perempuan misterius itu telah berlalu.
Han Siong Kie benar2 merasa terharu, ia tak tahu apa sebabnya orang yang kehilangan sukma serta orang yang ada maksud begitu memperhatikan dirinya, begitu cintanya mereka terhadap dirinya sehingga melebihi cinta kasib seorang ibu terhadap anaknya..
Tidak lama setelah orang yang ada maksud berlalu dari tempat itu, dari dinding ruangan berkumandanglah suara gemerincing yang amat nyaring, pintu penjara yang tebal dan berat perlahan2 bergeser kearah samping, diikuti muncullah sebelas orang memasuki ruangan itu.
Dua obor besar dipasang diatas dinding penjara membuat suasana ditempat itu jadi terang benderang, cahaya api yang berkilauan memancar diatas wajah setiap orang hukuman yang meringkuk disitu. menambah suasana jadi semakin menyeramkan. Tempat itu benar2 tak ubahnya bagaikan neraka didalam dunia.
Dengan pandangan yang tajam Han Siong Kie mengawasi orang2 yang baru saja muncul didepan pintu penjara itu, ia lihat orang pertama adalah pemuda beraja h licin yang bukan lain adalah Kaucu muda dari perkumpulan Thian chee kau, di belakangnya mengikuti dua orang pria bertubuh kekar sedang dibela kang kedua orang itu adalah delapan orang pria baju hitam yang membawa nampan berisi makanan.
Setelah berada didalam ruangan penjara, kedelapan orang pria baju hitam itu segera menyiapkan tiga puluh dua mangkok besar yang berisi sayur dan nasi di atas tanah, bau harum yang amat lezat tersiar keluar dari sayuran tersebut.
Bergidik sekujur badan Han Siong Kie menyaksikan mangkuk-mangkuk berisi nasi dan sayur itu, tanpa sadar bulu kuduknya pada bangun berdiri, pikirnya:
"Aa i. ..waktunya telah tiba, ketiga puluh satu orang itu sebentar lagi akan menyelesaikan kehidupannya yang penuh penderitaan serta siksaan, sungguh kejam perbuatan orang2 dari perkumpulan Thian chee Kau . bila suatu hari aku orang she Han bisa lolos dari sini dalam keadaan hidup, aku bermaksud akan membasmi habis semua manusia laknat itu"
Dalam pada itu, dengan sorot mata yang tajam Kaucu muda itu menyapu sekejap seluruh ruangan penjara itu. dan akhirnya berhenti di atas wajah Han Siong Kie, cahaya buas dan bengis terpancar keluar dari balik matanya
Terkejut sianak muda itu melihat perbuatan orang, ia tahu bahwa kaucu muda itu bermaksud jelek terhadap dirinya.
"Apa yang hendak ia lakukan?" pikirnya didalam hati, apakah dia hendak membalas dendam atas kekalahan serta penghinaan yang dialaminya??" Belum habis ia berpikir, kaucu muda itu sudah berjalan mendekati ke arahnya.
Tampak kaucu muda itu tertawa seram dengan kakinya ia sepak tubuh Han Siong Kie keras2 lalu ejeknya:
"Bajingan cilik, kau tak pernah menyangka bukan kalau kau akan mengalami nasib sejelek ini?? sekarang aku hendak menggunakan cara yang sama seperti perbuataamu itu untuk menghajar kau hingga muntah darah segar" sambil berkata telapaknya laksana kilat segera didorong kedepan.
Han Siong Kie naik pitam mendengar ejekan itu, darah panas segera bergelora didalam dadanya, ia siap mengerahkan tenaganya untuk menghantam tubuh orang itu tapi...dengan cepat ia teringat kembali akan pesan yang disampaikan orang yang ada maksud kepadanya:
" . . . kau harus pura2 berlagak seperti seseorang yang kehilangan ilmu silat . . . kalau tidak maka akibatnya sukar dibayangkan mulai sekarang"
Hatinya jadi terkesiap. dengan cepat la mengendalikan kembali napsu marahnya dan melengos kesamping.
"Bangsat cilik, pendekar berwajah dingin .... ayohlah" terdengar Kaucu muda itu mengejek.
Han Siong Kie benar2 merasa amat mendongkol, ingin sekali ia memberi sebuah pelajaran yang hebat kepadanya. tapi ia teringat kembali akan bahaya yang sedang mengancam dirinya, dia ingin melanjutkan hidup sebab banyak persoalan yang harus ia selesaikan.
Pemuda itu berusaha keras untuk menahan gusarnya, ia tidak ingin hanya disebabkan urusan kecil membuat urusan yang lebih besar jadi terbengkalai, sambil menahan rasa dongkol dan gusar yang tak terkirakan per-lahan2 ia berpaling.
"Ploook ploook baru saja sianak muda itu menoleh, dua gaplokan yang amat nyaring telah bersarang diatas pipinya membuat ia jadi pusing dan pandangan matanya jadi berkunang2.
"Bangsat" teriaknya dengan penuh kebencian, ""suatu hari aku pasti akan membinasakan dirimu"
“Ploook” kembali sebuah tamparan yang lebih keras bersarang diatas wajahnya.
Han Siong Kie tak berani mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya itu, dia takut rahasianya ketahuan lawan, hal ini membuat tamparan tersebut hampir saja ia membuat jatuh tak sadarkan diri, darah segar segera muncrat keluar dari bibirnya, membasahi seluruh pakaian yang dia kenakan. Dengan bangga kaucu muda itu tertawa ter-baha^2. "Haah...haah haah.. bangsat, kau berani ulangi kembali perkataanmu itu?"
Dengan penuh kebencian Han Siong Kie melotot sekejap kearahnya, namun ia tetap membungkam dalam seribu bahasa. Ia merasa penderitaan serta siksaan yang dialaminya saat ini jauh lebih hebat daripada menghadapi kematian.
"Manusia berwajah dingin. " seru kaucu muda itu dengan suara penuh penghinaan, "Bila aku hendak bunuh dirimu maka hal itu akan kulakukan dengan gampang sekali. Hmm. . Hmm.. kau bilang mau bunuh aku?? haahh haahh haahh... sayang sekali untuk selamanya kau tak akan mendapatkan kesempatan itu."
Tentu saja Han Siong Kie dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh kaucu muda itu sebab algojo sebentar jagi akan melaksanakan hukuman mati terhadap dirinya.
sementara itu dua orang pria kekar tadi telah mengulapkan tangannya, delapan orang pria baju hitam itu segera membagi-bagikan mangkuk berisi sayur dan nasi itu kedepan setiap orang hukuman.
Dengan sorot mata memancarkan kerakusan dan kelaparan orang2 hukuman itu memandang kearah mangkuk yang berada di hadapannya, kemudian bagaikan harimau kelaparan mereka sambut mangkuk2 tadi dan menyikat isinya dengan lahap.
Menyaksikan kesemuanya itu, Han Siong Kie hanya bisa menghela napas didalam hati. Perlahan2 diapun mengambil pula mangkuk yang berada dihadapannya.
Detik demi detik berlalu dalam keheningan serta kesunyian yang mencekam. Mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang bersahutan, semua orang hukuman yang berada didalam penjara itu mengerang kesakitan lalu ber guling2 diatas tanah sambil merintih, hanya sedetik saja mereka sekarat untuk kemudian menggeletak tak berkutik lagi.
Han Siong Kiepun dengan gerakan yang cepat membuang isi mangkuknya kearah belakang, kemudian jatuhkan mangkuknya ke atas tanah dan menggeletak kaku pura2 mati.
Melihat semua orang hukuman telah mati dengan seksama Kaucu muda itu melakukan pemeriksaan yang sama, setelah itu dia baru mengundurkan diri dari situ.
Delapan orang pria berbaju hitam segera menggotong keluar empat buah usungan besar dari sudut penjara, berarti empat usungan dengan tiga puluh dua sosok mayat.
Dibawah petunjuk dua orang pria kekar itu, berangkatlah delapan orang dengan empat usungan itu keluar dari pintu penjara.
Sepanjang perjalanan mereka lewati beberapa lorong batu yang sempit dan ber liku2, tidak lama kemudian muncullah orang2 itu dari atas permukaan tanah dan tiba disebuah ruangan besar.
Terdengar salah seorang diantara dua pria kekar itu berseru dengan suara lantang.
"Dipersilahkan tuan pengurus untuk memeriksa mayat2 ini"
seorang baju kuning muncul dari balik pintu ruangan, ia dekati mayat mayat diatas usungan itu dan secepat kilat menotok jalan darah Mia-bun-hiat ditubuh mayat2 tersebut, setelah itu baru katanya:
"Sekarang gotong mayat2 ini keluar dari sini dan kubur diwilayah kita"
"Terima perintah "jawab pria kekar tadi maka berangkatlah beberapa orang itu keluar dari ruangan tersebut,
Diluar wilayah Lian huan tan terdapat sebuah hutan yang lebat, pada waktu itu disitu telah siap sebuah liang kubur yang amat besar.
Ketika rombongan orang2 itu tiba disitu mereka segera bekerja keras melempar mayat-mayat tadi kedalam liang kubur itu, kemudian menutup kembali liang tadi dan berlalu dari sana.
sementara orang2 itu bekerja nun diluar hutan diatas sebuah bukit kecil duduklah sesosok bayangan tubuh yang kecil dan ramping.
siapa dia???? orang itu bukan lain adalah Tonghong Hwie si pengemis cilik yang secara nyaris berhasil lolos dari kematian.
Sudah hampir dua jam lamanya ia duduk terpekur seorang diri di tempat itu, sepasang matanya telah berobah jadi merah membengkak. dengan pandangan sayu ia memandang keangkasa tanpa berkedip. benaknya terasa kosong bagaikan selembar kertas putih, ia merasa se-olah2 alam semesta yang berada disekelilingnya sudah tiada artinya lagi bagi dirinya.
Sang surya telah jauh tinggi diangkasa, bagaikan sedang menggigau ia bergumam tiada hentinya:
"Oooh hari telah siang, habis sudah riwayat engkoh Kie, aaah dia pasti sudah mati." Ia bangkit berdiri dan berteriak se-keras2nya.
"Ooooh engkoh Kie, kau berada dimana, engkoh kie sayang engkau berada dimana, mengapa kau tega meninggalkan diriku."
"Apakah kau sedang mencari engkoh Kiemu" tiba2 serentetan suara yang nyaring berkumandang disisinya
"Dia sekarang berada di. . ."
Tonghong Hwie merasa amat terkejut, ia merasa suara itu seperti pernah dikenal olehnya, matanya celingukan memandang ke sana kemari namun tak terlihat sesosok bayangap manusiapun disitu, yang terlihat hanya rumput yang gersang serta batu yang berserakan.
"Siapa kau??" segera bentaknya.
"Bukankah kita pernah bercakap2 belum lama berselang??"
"Aaaah kau..kau adalah orang yang kehilangan sukma??"
"sedikitpun tidak salah"
Tonghong Hwie makin terkesiap. mendadak ia teringat kembali akan perkataan dari orang yang kehilangan sukma belum lama berselang, orang itu pernah memperingatkan dirinya.
"Nona, putuskanlah tali cintamu itu dengan otak yang jernih, selamanya orang yang terlalu romantis akan berakhir dengan tragis bagi sendiri bila kau tak mau dengarkan peringatanku ini, maka dikemudian hari kau bakal musnah ditelan oleh samudra cinta yang tiada tara dalamnya itu. "
"Benarkah ia bisa meramalkan hal2 yang akan datang? benarkah ia bisa mengetahui lebih dahulu kenyataan yang bakal dia alami dikemudian hari??.."
"Orang yang kehilangam sukma" ia segera menanyai. "Aku teringat bahwa diriku tertawan oleh Ong Cui Ing dari perkumpulan Thian chee kau, eng kaukah yang menyelamatkan diriku??".
"Tidak salah" sahut orang yang kehilangan sukma dengan suara perlahan.
"Kalau begitu aku orang she Tonghong mengucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu"
"Nona tak usah berterima kasih kepadaku"
"Bolehkah aku ajukan sebuah pertanyaan kepadamu?"
"Katakanlah, asal persoalan yang kau tanyakan itu aku ketahui pasti akan kukatatan kepadamu"
"Kakak angkatku si Manusla berwajah dingin sekarang berada dimana.. apakah kau bisa memberi petunjuk kepadaku? "
"Oooh... dia??.. dia.."
Sebuah bayangan yang tidak baik terlintas dalam benak Tonghong Hwie, sekujur badannya tiba2 berubah jadi dingin danpeluh membasahi seluruh tubuhnya, buru2 serunya kembali:
"Apakah kau tahu dia.. dia berada dimana"
"Tahu sih tahu dia berada dimana pada saat ini "
"sekarang dia berada dimana?"
"Dia... dia sudah mati. "
"Apa??" Tonghong Hwie menjerit keras, tubuhnya mundur kebelakang dengan sempoyongan, "engkoh Kie sudah mati?"
"Benar nona Tonghong janganlah terlalu emosi dan mengumbar kesedihan dia memang telah mati"
Tonghong Hwie jadi limbung, dia rasakan tubuhnya seakan2 terjerumus didalam sebuah samudra yang tak ada tara dalamnya, pandangan matanya jadi ber-kunang2 dengan sempoyongan tubuhnya mundur beberapa langkah kebelakang, lalu jatuh tertunduk diatas tanah, sukmanya se-olah2 terbang meninggalkan raganya.
Dia tak pernah menduga bahwa kekasih hatinya, orang yang paling disayang olehnya ternyata telah mati tinggalkan dunia yang fana ini.
"Tidak" ia mengigau seorang diri "Dia belum mati.. engkoh Kie belum mati, dia tak mungkin akan mati"
"Aaah.. tapi sayang, dia benar2 telah mati" sahut orang yang kehilangan sukma sambil menghela napas panjang.
"Apakah kau manyaksikan semua peristiwa itu dengan mata kepala sendiri??"
"Benar "
"Kenapa kau tidak berusaha untuk menyelamatkan jiwanya??"
"Aku sama sekali tak berdaya untuk menolong dirinya"
Kembali sekujur badan Tonghong Hwie gemetar keras, wajahnya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, hatinya hancur lebur dan air mata bagaikan hujan gerimis mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya.
Ia merasa sudah tiada berarti lagi hidup seorang diri dikolong langit, ia kecewa dan tak ingin hidup lebih jauh .
Tak tahan menangislah pengemis cilik itu tersedu2, suara tangisannya begitu memilukan hati membuat siapapun yang mendengar jadi beriba hati.
Melihat keadaan dari gadis itu, si orang yang ada maksud segera menghela napas panjang dan berkata:
"Nona Tonghong, manusia yang telah mati tak akan hidup kembali, kau harus baik2 menjaga kesehatanmu sendiri"
Perlahan2 Tonghong Hwie angkat kepalanya memandang ke angkasa, lalu berbisik dengan suara yang serak.
"Dia telah mati.. berarti api kehidupan dalam tubuhku telah ikut padam, aku tidak ingin hidup lebih jauh lagi.. hidupku sudah tak berarti lagi.."
"Nona Tonghong, pandangan mu itu keliru besar"
"Aku.. aku keliru besar?? "
"Betul" orang yang kehilangan sukma mengangguk tanda membenarkan, "kau harus menerima kenyataan yang berada didepan matamu, itulah takdir yang telah diatur Thian terhadap manusia, kau tak bisa menolak ataupun meminta takdir yang ditentukan itu dan siapapun tak bisa mencegah takdir.. sadarlah kenyataan tersebut, dan baik2lah menjaga kesehatan badanmu sendiri"
Tonghong Hwie termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia mengangguk.
"Baiklah, aku akan menerima kenyataan yang berada didepan mata, sekalipun semasa hidup aku tak dapat hidup berdampingan dengan dirinya, setelah mati aku ingin selalu berada ber-sama2 dirinya "
"Nona Tonghong, kembali pandanganmu keliru besar "
"Kembali pandanganku keliru??? " Tonghong Hwie berdiri dengan pandangan melongo.
"Benar kau hendak menggunakan kematianmu untuk mendampingi dirinya, hal ini membuktikan betapa mendalamnya rasa cintamu terhadap dirinya, tapi pernahkah kau bayangkan bahwa tindakanmu itu sebenarnya sama sekali tak berarti?? pernahkah kau bayangkan bahwa perbuatanmu itu adalah suatu perbuatan yang salah dan membabi buta??."
"Kenapa ?? ."
"Selama masih hidup Han Siong Kie hanya menganggap dirimu sebagai adik angkatnya, hingga mati dia tetap tidak tahu bahwa kau sebetulnya adalah seorang gadis, semakin tidak tahu bahwa kau telah mencintai dirinya secara diam2, itu berarti bahwa cintamu hanya sepihak saja, bila kau ambil keputusan pendek maka berarti pula sepak terjangmu itu adalah membabi buta"
Tonghong Hwie serasa semakin sedih lagi setelah mendengarkan perkataan itu, ia merasakan hatinya bagaikan diiris2 dengan sebilah pisau yang tajam, apa yang diucapkan orang yang ada maksud sedikitpun tidak salah dan kesemuanya itu merupakan kenyataan yang tak terbantah, selama ini engkoh Kie nya memang tidak tau bahwa dia adalah seorang gadis yang menyaru sebagai pria, diapun tak tau bahwa dirinya amat cinta serta menyayangi dirinya.
Sekarang dia merasa menyesal kenapa tidak jelaskan rahasia itu sejak permulaan?? kenapa ia tidak menyatakan rasa cintanya semasa pemuda itu masih hidup? dan kini semuanya telah terlambat
Sementara itu ketika orang yang ada maksud melihat Tonghong Hwie bungkam terus tidak berbicara lagi, segera buka suara dan menegur:
"Nona Tonghong, menurut pendapatmu betulkah apa yang telah kuucapkan barusan??"
"Benar sekali" jawab Tonghong Hwie sambil mengangguk lirih, "tapi apa yang telah kuputuskan tak akan kurubah lagi, aku sudah bertekad untuk melaksanakan niatku ini, siapapun tak akan berhasil menghalang-halangi niatku ini"
"Tadi kau sudah berniat untuk mengorbankan jiwamu demi cinta ??"
"Benar" gadis itu mengangguk.
"Bila sukma Han Siong Kie mengetahui akan perbuatanmu ini, bisakah ia menyetujui nya??"
"Semua perbuatan yang kulakukan hanya bertujuan mententramkan hatiku sendiri, apa yang kulakukan adalah urusan pribadiku, aku merasa sudah seharusnya kalau berbuat demikian"
"Nona Tonghong Hwie, menurut apa yang kuketahui kau masih mempunyai seorang ayah yang telah tua, dia memandang dirimu bagaikan sebagian dari kehidupannya, bila kau berbuat nekat ...."
Ucapan ini sangat mengejutkan hati pengemis cilik itu, hingga tak tertahan lagi ia meloncat kaget.
Darimana orang yang kehilangan sukma bisa mengetahui akan asal usulku ....?? pikirnya didalam hati apakah dia bukan manusia tapi malaikat? malaikat yang bisa mengetahui urusan semua orang?? sungguh kejadian ini merupakan Suatu peristiwa yang sama sekali tak terduga.
Gadis ini merasa bahwa selamanya tak ada seorang manusiapun yang mengetahui asal usulnya, belum pernah dia menceritakan asal usulnya kepada siapapun termasuk pula terhadap kakak angkatnya Han Siong Kie, tapi sekarang si orang kehilangan sukma berhasil memecahkan rahasia itu, suatu kejadian yang aneh sekali. "Darimana kau bisa mengetahui akan urusan keluargaku?" akhirnya ia berseru. orang yang kehilangan sukma tertawa ringan.
"Apa yang berhasil aku ketahui mungkin lebih banyak daripada apa yang kau bayangkan sekarang, kini lebih baik kau tak usah menanyakan tentang persoalan itu lagi, sebab sebagaimanapun juga aku tak akan memberi tahukan pada mu. Persoalannya sekarang adalah tegakah kau tinggalkan ayahmu yang telah memelihara kau hingga dewasa?? bila kau mati lalu bagaimana dengan ayahmu??
"Aku adalah seorang anak yang tidak berbakti" ujar Tonghong Hwie dengan hati pedih, "aku tak bisa membataikan niatku itu sebab keyakinanku sudah bulat. "
"Baiklah, untuk sementara waktu kita jangan membicarakan persoalan ini, sekarang masih ada satu tugas yang maha penting yang harus kau laksanakan sendiri"
"Urusan apa?? aku orang she Tonghong merasa tiada pekerjaan apapun yang harus kulakukan"
"Tapi pekerjaan yang kumaksudkan ini hanya dapat kau lakukan sendiri, orang lain tak akan berhasil melakukannya."
"Katakanlah pekerjaan apa itu??"
"Membalaskan dendam bagi kematian engkoh Kie mu"
Tonghong Hwie terkesiap. sekujur badannya gemetar keras, perkataan ini segera menyadarkan dirinya dari impian, membuat gadis itu sadar kembali dari sedihnya.
"Aaaah sedikitpun tidak salah" pikirnya didalam hati, aku harus teringat akan persoalan ini, bila dendam sakit hati ini tidak kubalas, engkoh Kie pasti akan mati tidak meram.. aku harus melaksanakan pembalasan dendam lebih dahulu sebelum pergi menyusul dirinya"
"Bagaimana?? betul bukan ucapanku itu?" orang yang kehilangan sukma menegur sambil tersenyum.
"Aku...aku seharusnya persoalan itu kuingat sendiri, sejak semula terima kasih atas peringatanmu, tapi untuk itu dapatkah aku mengajukan tiga pertanyaan kepadamu??"
"Katakanlah, apakah pertanyaanmu itu??"
"Pertama, tempo dulu kau pernah memberi peringatan kepadaku agar segera memutuskan hubungan cintaku dengan dirinya, kalau tidak maka hubungan itu akan berakhir dengan keadaan yang tragis, yang kau maksudkan sebagai kajadian yang tragis apakah peristiwa yang terjadi sekarang ini??"
"Bukan"
"Bukan? Lalu apa yang kau maksudkan.."
"Apa yang terjadi saat ini hanya merupakan peristiwa diluar dugaan, yang kumaksudkan sebagai peristiwa yang tragis tempo dulu adalah kejadian lain dan kejadian itu tak bisa dihindari walau dengan cara apapun juga, sekarang ia sudah mati dan peristiwa yang tragis itupun mungkin tak akan terjadi lagi"
"Mungkin? dia toh sudah mati kenapa masih ada kata2 mungkin." seru Tonghong Hwe dengan cepat.
"Oooh aku .. aku telah salah berbicara tapi kejadian yang ada dikolong langit kadang kala memang sukar diduga, siapapun tak berani memastikan segala Suatu persoalan yang terjadi dan berlangsung dikolong langit ini"
"Ucapanmu itu sangat membingungkan hati orang, rupanya kau telah menyimpan sesuatu dibalik ucapanmu itu??"
"Sekarang mungkin benar tapi kemudian hari sama sekali tidak"
jawaban ini kembali merupakan suatu perkataan yang sukar ditangkap artinya,
Tonghong Hwie ingin sekali mengetahui tempat pers embuyiannya pihak lawan tapi terasalah olehnya suara yang terpancar datang itu sebentar kedengaran berasal dari tempat jauh sebentar lagi kedengaran dari dekat, sebentar timur sebentar barat membuat orang sulit untuk menduga, dimanakah sebetulnya orang itu memancarkan suaranya.
Setelah gagal untuk menemukan tempat persembunyiannya orang yang kehilangan sukma, akhirnya Tonghong Hwie berkata kembali:
"Pertanyaanku yang kedua ini apakah pembunuh yang telah membimasakan engkoh Kie ku itu??"
"Tentang persoalan ini tentu saja Kaucu dari perkumpulan Thian chee kau adalah pembunuh utamanya sedang kuku garuda anak buahnya merupakan pembantu pembunuh"
"Macam apa sih raut wajah yang sebetul nya dari Thian chee kaucu itu? apakah kau dapat memberi petunjuk padaku?? "
"Tentang pertanyaanmu ini, maafkanlah aku karena tak dapat menjawab pada saat ini aku rasa orang2 didalam dunia persilatanpun belum ada yang tahu siapakah sebenarnya orang itu, lebih baik ajukanlah pertanyaan yang ketiga."
" Ketiga, jenasah engkoh Kie sekarang berada dimana??"
"Bila kaujumpai gundukan tanah baru di dalam hutan belantara sebelah depan sana, itulah kuburannya, ia berserta ketiga puluh satu orang tawanan yang lain telah dibunuh dan di kubur menjadi satu ditempat itu"
Tonghong Hwie mundur kebelakang dengan sempoyongan, tiada air mata yang membasahi pipinya lagi, sebab air matanya telah mengering hanya dengan suara yang lemah ia berseru: "Ditengah hutan sebelah depan sana? "
"Sedikitpun tidak salah"
"Apakah ia mati dalam keadaah yang sangat mengerikan??"
"Tidak. justru keadaanya kebalikan dari yang kau duga, ia mati dalam keadaan yang sangat tenang, ia mati karena keracunan. sebab untuk mewujudkan pertanda bahwa perkumpulan Thian chee- kau masih mengerti akan perikemanusiaan, selamanya orang yang dijatuhi hukuman mati dalam perkumpulan itu selalu menjalankan hukumannya tanpa mengucurkan darah dan tanpa mengurangi satu2 anggota badannya"
"Aku ingin pergi kesitu dan memandang wajahnya lagi"
"Aku rasa tidak perlu, toh engkoh Kie mu itu sudah menutup mata untuk selama-lamanya "
"Tidak aku tetap ingin memandang wajahnya untuk terakhir kalinya, sebab inilah kesempatan terakhir bagiku untuk bertemu dengan dirinya"
"Nona Tonghong, kau harus lebih menitik beratkan pada soal pembalasan dendam, janganlah mati konyol karena persoalan yang sama sekali tak ada gunanya itu"
"Tentang soal ini aku mengerti"
"Akupun hendak menasehati dirimu bahwa dengan ilmu silat yang kau miliki sekarang masih belum mampu untuk menghadapi lawan2 mu itu, jangan dikata hendak membalas dendam, untuk menandingi seorang jago baju kuning pihak merekapun kau masih belum mampu, maka dari itu aku menganjurkan kepadamu lebih baik pulanglah dulu kerumah dan berlatihlah ilmu silatmu dengan lebih giat dan rajin"
"Pulang kerumah?? aku bisa mempertimbangkan anjuranmu itu secara baik2"
"Baiklah, kalau kau bisa berpandangan lebih luas, sekarang boleh pergi dari sini sebab akupun hendak pergi"
"Cianpwee, budi kebaikan yang telah kau limpahkan kepada diriku mungkin tak bisa kubalas dalam kehidupan saat ini, biarlah kesemuanya itu kubalas dalam penirisan yang akan datang" seru Tonghong Hwie keras-keras.
Tetapi tiada jawaban yang kedengarah lagi, suasana disekitar situ sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, rupanya orang yang kehilangan sukma telah berlalu dari tempat itu.
Melihat orang misterius itu sudah berlalu, Tonghong Hwie menghela napas panjang, dengan membawa hati yang hancur perlahan2 ia bangkit berdiri dan berjalan menuruni bukit tersebut.
Tidak lama setelah Tonghong Hwie berlalu, dari balik sebuah batu cadas kurang lebih lima tombakjauhnya meloncat keluar sesosok bayangan manusia, orang itu menghela napas panjang dan bergumam seorang diri:
"Aaaai.. benarkah tindakanku ini Tidak sekalipun perbuatanmu ini untuk sementara waktu akan menyakiti dan menghancurkan perasaan hatinya, tapi keadaan toh jauh lebih baik daripada dikemudian hari terjadi peristiwa yang lebih tragis lagi"
Bagaikan sukma gentayangan orang itu gelengkan kepala lalu berkelebat pula tinggalkan tempat itu.
-0000000-
BAB 18
DALAM pada itu Tonghong Hwie yang memasuki hutan segera menemukan sebuah gundukan tanah baru dihadapannya, kuburan itu luasnya mencapai tiga tombak dan jelas baru saja didirikan disitu.
"Aaah.. jenasah engkoh Kie dikubur ditempat ini jeritan didalam hati, ia rasakan pandangan matanya jadi gelap dan tak ampun lagi tubuhnya jatuh terjungkal diatas gundukan tanah baru itu.
Lama.. lama sekali... ia baru sadar kembali dari pingsan, segera ia segera menjerit .
"Engkoh Kie, perpisahan hanya beberapa hari, sungguh tak nyana akan berubah menjadi suatu perpisahan untuk selama2nya.. ooh, begitu tega kau tinggalkan aku seorang diri. engkoh Kie kenapa kau tidak menunggu diriku???."
Angin berhembus lewat menerbitkan suara gemerisik diantara semak belukar, isak tangis yang memedihkan hati itu berkumandang diangkasa dan tersiar hingga ketempat kejauhan.
Begitu sedih dan pedihnya hati gadis itu hingga membuat Tonghong Hwie terkapar di atas gundukan tanah baru itu dengan badan yang lemah tak bertenaga, tubuhnya terasa bagaikan lumpuh dan tak bisa bergerak lagi.
Hatinya hancur dan sakit seperti di iris2 dengan pisau, ia tidak menangis lagi, hanya teriak dan jeritnya dengan suara yang mengenaskan.
"Engkoh Kie, oooh.. engkoh Kie dengarkah kau akan jeritanku ini?? lihatkah kau bahwa aku berdiri didepan pusaramu? engkoh Kie jawablah jeritan hatiku ini.." suaranya semakin memilukan hati.
"Engkoh Kie, aku hendak memandang wajahmu untuk terakhir kalinya, aku ingim memandang wajahmu agar raut mukamu itu selalu terukir dan terbayang dalam benakku, aku hendak mendirikan kuburan bagimu."
"Oooh tidak kuburan bagi kita berdua, tunggulah aku setelah dendam sakit hatimu berhasil kutuntut balas, aku pasti akan menyusul dirimu"
Dengan sempoyongan dia bangkit berdiri, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya gadis itu mulai bekerja dan menggali gundukan tanah itu..
Satu depa, dua depa.. ketika ia menggali mencapai kedalam lima depa, tampaklah mayat manusia berserakan dimana2, tumpuk menumpuk menjadi satu.
Ia membalik- balikkan setiap mayat itu.. mayatnya yang merah dan membengkak hampir saja membuat dia salah memilih jenasah tadi.. tapi akhirnya ia berhasil juga menemukan jenazah yang dicarinya.. sesosok tubuh yang masih utuh dengan wajah yang tenang, hanya tubuh itu sudah tak bernapas lagi.
Ia belai wajah mayat itu dengan penuh kasih sayang, air mata bercucuran membasahti wajahnya yang dingin dan kaku.
"Engkoh Kie.. 0ooh engkoh Kie, mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?? engkoh Kie.. ooooh.."
"Engkoh Kie, tahukah kau bahwa secara diam2 tanpa sepengetahuanmu aku telah jatuh cinta kepadamu??, tahukah kau, bahwa dalam hati aku berharap kau sedia menjawab pertanyaanku ini engkoh Kie, mengapa kau selalu membungkam??"
"Tahukah kau engkoh Kie, bahwa aku adalah seorang gadis?? oooh.. engkoh Kie, aku telah jatuh cinta kepadamu sejak pada pandangan yang pertama dahulu.. tahukah kau bahwa aku sangat mencintai kau??"
-0000000-
Jilid 9 : Murid Iblis di antara Iblis
"000Hi. Engkoh Kie bile aku tahu apa yang sebetulnya kau tentu akan menerima diriku bukan?? aku tahu bahwa kau membenci kaum wanita tapi aku mohon pada mu janganlah membenci aku Janganlah kau tinggalkan diriku, Engkoh Kie sewaktu kita angkat saudara didepan benteng maut diatas bukit batu karang, bukankah kau telah mengabulkan permintaanku?? tak akan tinggalkan aku walau dalam keadaan apapun juga?? tapi sekarang kita harus berpisah antara langit dan bumi, kita harus berpisah untuk beberapa saat lamanya."
"Engkoh Kie aku menyesal sekali. Menyesal mengapa tidak kau beri tahu tentang kegadisanku sejak dulu maafkanlah daku, aku takut.... aku takut bila kau tahu bahwa aku adalah seorang gadis maka kau akan meninggalkan driku, aku takut kehilangan engkau."
"Engkoh Kie aku tidak ingin banyak berbicara lagi, pokoknya aku cinta kepadamu, sampai kemanapun aku tetap mencintai dirimu."
Wajah Han Siong Kie tetap kaku dingin dan hambar, raut mukanya kelihatan pucat pias dan menyeramkan.
Tonghong Hwie memeluk mayat Han Siong Kie itu dengan penuh kasih sayang, bibirnya yang pucat tak berdarah dikecup dan diciumnya dengan penuh cinta.
"Engkoh Kie, dahulu aku pernah membayangkan pada suatu hari kita bisa duduk berdampingan dengan penuh kemesrahan, kau belai rambutku yang hitam dan aku bersandar dalam pelukanmu yang hangat.. tapi sekarang semuanya telah buyar. Dan kau .. kau tak akan membuka matamu kembali, kau tentu akan merasa kedinginan tanpa ada yang mendampingi serta menghangatkan tubuhmu."
Seperti orang yang sinting, tak waras otaknya gadis itu memeluk mayat Han Siong Kie yang dingin dan kaku, ia keluar dari liang kubur tersebut, kemudian menutup kembali liang tadi dengan tanah.
Setelah itu selangkah demi selangkah ia berjalan tinggalkan tempat itu dengan langkah yang berat dan gontai, gadis itu berjalan menuju kearah bukit dimana ia berada beberapa waktu berselang.
Dicarinya sebuah tempat yang datar dengan pemandangan yang indah, lalu membaringkan jenasah itu keatas tanah.
"Engkoh Kie, lihatlah tempat ini indah bukan?? apakab kau puas dengan tempat ini sebagai tempat peristirahatanmu yang terakhir??"
Ia lepaskan rambut palsunya yang kotor dekil dan awut2an itu hingga terurailah rambutnya yang panjang halus dan berwarna hitam, kemudian membersihkan pula salep obat yang menutupi mukanya, dalam waktu singkat muncullah seraut wajah yang cantik jelita bagaikan bidadari dari nirwana, ia melepas kan jubah luarnya yang dekil dan bertambal sulam itu hingga munculah potrongan badan yang ramping dan padat berisi.
"Engkoh Kie, inilah aku inilah adik angkatmu Tonghong Hwie" bisiknya dengan suara lirih, "Lihatlah engkoh Kie, pandanglah engkoh Kie inilah diriku ini, mengapa kau tidak membuka mata yang jeli itu? dahulu, bukankah kau pernah berkata bahwa namaku mirip sekali dengan nama seorang perempuan? ooh Engkoh Kie, tahukah kau bahwa aku sebenarnya adalah seorang gadis muda."
Gadis itu berhenti sebentar untuk menarik napas panjang2, lalu lanjutnya kembali:
"Engkoh Kie, sejak detik ini pengemis cilik sudah mati, dikolong langit sudah tak ada lagi manusia yang bernama Pengemis cilik Tonghong Hwie, aku akan muncul didalam dunia persilatan dengan wajah asliku, aku hendak melanjutkan hidupku demi untuk membalas dendam sakit hatimu, aku hendak basmi semua penjahat yang tergabung dalam perkumpulan Thian chee kau, aku hendak suruh mereka memberikan ganti rugi yang tak ternilat besarnya"
"Seluruh manusia yang ada dikolong langit tak seorangpun yang mengenali diriku.. karena untuk pertama kalinya aku akan berkelana didalam dunia persilatan dengan wajah yang asli."
"Sekarang apa sebutanku setelah kau tinggalkan?? istri yang ditinggalkan? Benar, aku adalah istri yang kau tinggalkan."
Setelah melampiaskan seluruh rasa sedih yang berkecamuk dalam benaknya, Tonghong Hwie mulai menggali sebuah liang kubur ditempat itu dengan ilmu pukulannya yang sempurna tak lama kemudian muncullah sebuah liang sedalam beberapa tombak ditempat itu, kemudian sambil membaringkan jenaSah Han Siong Kie disudut kiri ia tinggalkan sebuah liang lain disisinya.
"Engkoh Kie, liang disebelah sini adalah untuk tempat penguburan bagi tubuhku" bisiknya.
Dengan pandangan yang tajam ia menatap wajah Han Siong Kie yang tampan dan kaku itu, sekejappun ia tak berkedip.
Inilah pandangan yang terakhir kalinya, dikemudian hari wajah ini akan rusak, membusuk dan akhirnya tinggal tulang2nya saja yang berwarna putih.
Senja telah tiba, sang surya tenggelam dibalik gunung .... malam haripun menjelang tiba.
Untuk yang terakhir Tonghong Hwie mencium bibir si anak muda itu dengan penuh rasa cinta kemudian ia mulai bekerja menguruk liang tadi dengan tanah.
"Selamat tinggal engkoh Kie" bisiknya untuk sementara waktu kita akan berpisah dahulu, setelah dendammu berhasil kutuntut balas, aku segera akan menyusul dirimu, aku akan mendampingi dirimuuntuk selamanya.
Diatas kuburan tadi dipancangnya sebuab batu nisan, dengan ilmu jarinya yang sakti ia segera mengukir beberapa patah kata diatas batu itu.
Disinilah bersemayan manusia berwajah dingin Han Siong Kie serta pengemis cilik Tonghong Hwie
Memandang tulisan itu ia tertawa, tertawa yang sedih dan memilukan
"Engkoh Kie, selamat tinggal semoga sukmamu dilangit bisa memahami perasaanku, semoga aku bisa cepat membalaskan dendam bagimu hingga aku bisa mengiringi dirimu berbaring dalam satu liang."
Setelah memberi hormat kearah kuburan tadi, ia putar badan dan berlalu dari situ Dalam sekejap mata tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan.
Suatu tengah hari, didepan kuburan Han Siong Kie tiba2 muncul dua orang perempuan misterius, kedua orang itu mengenakan kain kerudung putih di atas wajahnya, dilihat dari potongan tubuh kedua orang itu terlihati bahwa mereka berdua adalah seorang gadis muda dengan seorang perempuan berusia setengah baya. Pertama2 gadis muda itulah yang buka suara lebih dahulu, ujarnya:
"Ibu, Tonghong Hwie boleh dianggap seorang gadis yang terlalu kabur pengertiannya mengenai cinta, coba lihat dia telah mengukir nama mereka berdua di atas batu nisan, entah apa maksudnya??"
"Dia telah ber siap2 setelah menyelesaikan tugasnya untuk membalas dendam, ia akan mati pula didepan kuburan ini sehingga dia dikubur dalam sebuah liang yang sama"
"Ibu, mengapa kau tidak menceritakan keadaan yang sebenarnya??"
"Tidak bisa, kita tak boleh menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada gadis itu."
"Sekarang keadaan demikian mungkin saja peristiwa tragis yang tidak diinginkan bisa dihindari, sebaliknya kalau kita ceritakan keadaan yang sebetulnya. oooh.. akibatnya sukar kita dugg mulai sekarang.."
"Tapi.. bukankah dia hendak menuntut balas bagi kematiannya.."
"Nak. ia tak mungkin bisa menyelesaikan tugas untuk membalas dendam..usahanya pasti akan mengalami kegagalan "
"Kenapa??"
"Dengan ilmu silat yang dimilikinya saat ini, bila digunakan untuk berkelana didalam dunia persilatan mungkin masih lebih dari cukup tetapi kalau digunakan untuk menuntut balas, oooh masih terlampau jauh sekali satu jalan yang bisa dia tempuh hanyalah pulang kerumah dan berlatih ilmu silat lagi asal dia sudah berada dirumah maka sulitlah baginya untuk melepaskan diri lagi dari situ"
"Ia melarikan diri dari rumah tanpa sepengetahuan ayahnya, setelah pulang kerumah, tentu saja ayahnya tak akan membiarkan dia untuk pergi lagi tanpa pamit."
"Dengan kejadian tersebut mungkinkah bakal terjadi hal2 yang mengenaskan lagi?? "
"Semoga saja tidak"
"Ibu dengan perkatanmu itu bukankah berarti bahwa masih ada kemungkinan untuk terjadi suatu peristiwa yang tidak diinginkan" seru gadis muda itu.
"Kemungkinan memang selalu ada, hanya kemungkinan tersebut tipis sekali "
"lbu, apa sebabnya kau berbuat begitu??, dapatkah kau beritahukan kepadaku?"
"Gampang sekali, aku berbuat demikian agar bisa mencegah terjadinya suatu peristiswa yang lebih tragis lagi daripada kejadian sekarang ini"
Gadis muda itu gelengkan kepalanya berulang kali, suaranya tiba2 berubah aneh katanya:
"Ibu kau berbuat demikian tentu disebabkan karena mempunyai suatu maksud yang lain bukan."
"sedikitpun tidak salah"
"Mengenai asal usul dari nona Tonghong Hwie serta Han Siong Kie, dapatkah aku mengetahuinya lebih jelas lagi?"
"Tidak nak. sampai waktunya aku pasti akan menceritakan keseluruhannya kepadamu." Jawaban ini diutarakan perempuan setengah baya itu dengan nada penuh kepedihan.
Rupanya gadis muda tadi merasa tidak puas dengan sikap ibunya yang serba misterius itu, dia tidak buka suara lagi dan membungkam dalam seribu bahasa.
Untuk beberapa saat lamanya suasana disekitar kuburan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
"Nak, bongkarlah kuburan itu " akhirnya perempuan berusia setengah baya itu buka suara memecahkan kesunyian. "Ibu secara tiba2 aku merasa agak takut"
"Apa yang kau takuti ??"
"Seandainya ia tak berhasil menyadarkan diri kembali, bukankah jiwanya akan berkorban dengan percuma?, bukankan dia bakal mati secara konyol."
Rupanya perempuan berusia setengah baya itu merasakan hatinya bergetar keras, segera sahutnya:
"Itu tak mungkin terjadi, ilmu pernapasan kura2 sakti adalah suatu kepandaian aneh yang diwariskan sejak jaman kuno, tak mungkin terjadi hal2 yang diluar dugaan dengan dirinya"
"Sekalipun begitu, aku tetap merasa bahwa tindakan yang kulakukan pada masa yang lalu terlalu menyerempet bahaya "
"Bukan kau saja, akupun mempunyai perasaan yang sama dengan dirimu, tetapi bila aku harus melakukan pertolongan tanpa memikirkan segala akibatnya bisa kau bayangkan betapa hebatnya akibat yang kita terima, bukankah jerih payahku selama puluhan tahun lamanya, dendan menahan malu dan hina, bakal hancur berantakan??"
"Ibu mengapa terhadap putrimu kau bersikap rahasia sekali, apa saja yang perlu kau rahasiakan??"
"Nak suatu hari kau bakal mengetahui dengan sendirinya, sekarang bila kukatakan kepadamu maka hal itu akan merugikan dirimu saja, kau tak akan mendapatkan keuntungan apa2"
"Ibu coba kamu lihat, orang She Han ini kenapa dia?"
"Dia.... dia ibaratnya naga sakti diantara manusia. "
"Nak apakah kau telah jatuh cinta padanya" tiba2 perempuan itu bertanya.
Mendengar pertanyaan itu gadis muda itu segera menundukkan kepalanya dengan ter-sipu2 dan mempermainkan ujung bajunya..
"Nak. hal itu jangan sekali kau lakukan " bentak orang berusia setengah baya itu secara tiba2, "ingatlah baik2, kau tidak boleh jatuh cinta kepadanya, janganlah kau tanyakan mengapa, pokoknya kau tak boleh punya perasaan senang atau cinta kepada pemuda ini, dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya mengapa aku melarang kau berbuat begitu, dan sekarang laksanakanlah segala sesuatunya menurut perintahku.. "
Dengan tubuh yang bergetar per lahan2, gadis itu berjalan mendekati kuburan tadi, telapak tangannya bekerja cepat.. dalam beberepa buah pukulan gencar pasir dan batu beterbangan memenuhi angkasa, sekejap mata muncullah tubuh Han Siong Kie dari balik permukaan tanah.
"Nak, sekarang boponglah tubuhnya dan keluarkan dari liang kubur itu." kembali perempuan setengah baya itu memerintahkan.. "ibu, aku..aku tidak mau?? Aku tidak mau mambopong tubuhnya"
"Belum lama berselang, ketika ia sedang terluka bukankah kau pernah membopong tubuhnya?"
Gadis muda itu tidak menjawab, ia loncat keluar dari dalam liang kubur itu dan sebera berdiri disisi liang tadi.
Mengapa ia tak mau membopong tubuh Han Siong Kie?? karena ibunya melarang dia mencintai pemuda itu maka ia merasa hatinya tersinggung.
Melihat tindakan putrinya itu, perempuan berusia setengah baya tadi terpaksa menghela napas panjang, ia loncat masuk kedalam dan membopong sendiri tubuh pemuda itu, kemudian perintahnya lagi kepada gadis muda itu "sekarang tutuplah kembali liang tersebut dengan tanah"
"Mengapa harus kita timbun lagi liang itu?, toh jenasah Han Siong Kie telah kita ambil??"
"Mungkinpada suatu ketika Tonghong Hwie bakal datang kemari untuk menjenguk kuburan itu, kita tak boleh membangkitkan rasa curiganya hingga rahasia ini terbongkar"
"Tetapi... bukankah dikemudian hari Han Siong Kie munculkan diri kembali didalam dunia persilatan.."
"Aku telah memiliki rencana yang masak mengenai persoalan ini. oooh.. nak aku telah melakukan suatu kesalahan besar"
"Kesalahan apa??"
"Aku tak seharusnya menyuruh Tonghong Hwie pulang ke rumah"
"Kenapa??"
"Bisa jadi hal ini akan menghancurkan seluruh rencana besarku .. aku harus mencari akal untuk menghalangi dia pulang kerumah"
Rupanya gadis itu tahu sekalipun bertanya, ibunya belum tentu mau menerangkan kepadanya maka dengan mulut membungkam dia segera bekerja cepat menimbun kembali liang itu dengan tanah.
Dalam pada itu perempuan setengah baya tadi telah membaringkan tubuh Han Siong Kie di bawah sorot cahaya sang surya, dengan hati yang gelisah bercampur cemas kedua orang itu duduk disisinya sambil menanti perubahan selanjutnya.
suasana sangat hening dan sunyi, kesunyian yang penuh ketegangan...
Beberapa waktu sudah lewat dengan cepatnya, namun tubuh Han Siong Kie masih menggeletak kaku diatas tanah, sama sekali tidak memperlihatkan gejala atau pertanda bahwa dia akan sadar dari pingsannya.
"Ibu, coba lihat.."
Dikala keputus-asaan sedang menyelimuti hati mereka berdua, gadis muda itu menjerit tertahan.
Desiran angin tajam berkumandang membelah angkasa, dengan cepat kedua orang perempuan itu bangkit dari atas tanah dan berpaling kearah mana berasalnya suara tadi.
Tampaklah beberapa sosok tubuh manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat sedang berlarian menuju keatas bukit tersebut, orang yang berlari dipaling depan adalah seorang gadis muda dengan pedang terhunus, sedang dibelakangnya menyusul lima orang pria berbaju hitam. Rupanya gadis itu sedang melarikan diri dari kejaran orang2 dibelakangnya.
Perempuan berusia pertengahan itu segera menyambar jenasah Han Siong Kie dari atas tanah sambil buru2 serunya: "Mari kita bersembunyi untuk sementara waktu"
Dengan gerakan tubuh yang cepat kedua orang itu segera berkelebat menyembunyikan diri dibelakang sebuah batu cadas.
Agaknya gadis muda yang sedang melarikan diri itu sudah kehabisan tenaga, baru saja tubuhnya mencapai puncak bukit tersebut ia sudah kena disusul oleh kelima orang pengejarnya, dengan cepat kedua belah pihak terjerumus dalam suatu pertarungan yang sengit.
Diantara kelima orang pengejar itu terdiri dari seorang kakek tua berwajah buruk dengan empat orang pria kekar berbaju hitam.
Raut wajah gadis muda tadi cantik jelita, tetapi pakaiannya telah kusut dan tidak keruan, tusuk kondenya terlepas hingga rambutnya terurai kebawah, keadaannya mengenaskan sekali.
Terdengar kakek berwajah buruk itu membentak keras:
"Budak busuk. berani betul kau datang mengintai wilayah Lian huan tan kami...Hm kau betul-betul sudah bosan hidup, aku mau lihat kau hendak lari kemana lagi??"
Ditengah bentakan keras secara beruntun ia lancarkan tiga jurus serangan kilat yang mana seketika membuat gadis itu terdesak hebat dan mundur kebelakang dengan sempoyongan.
Sementara itu empat orang pria kekar berbaju hitam lainnya segera menyebar diri ke empat penjuru dan bersiap2 menghalangi maksud dara itu untuk meloloskan diri "Bajingan busuk. nonamu akan beradu jiwa dengan dirimu" bentak gadis itu gusar.
Pedangnya bekerja dengan cepat melancarkan serangan ber-tubi2, desiran angin tajam bagaikan hembusan taufan dan gulungan ombak menyapu dan mengurung musuhnya habis2an.
Kakek berwajah jelek itu seketika terdesak hebat, ia mundur tiga langkah kebelakang dan cepat2 putar telapaknya untuk memunahkan serangan gencar tersebut.
Sekalipun serangan itu hebat tapi sayang tusukan2 pedang itu dilancarkan dalam keadaan nekat, setelah serangan itu lewat, napasnya jadi ter-sengkal2 dan peluh membasahi seluruh tubuhnya.
Kakek tua itu menyeringai seram, ia sudah merasakan bahwa musuhnya telah kehabisan napas, sembilan pukulan berantai segera di lancarkan kembali kedepan, setiap pukulan mengandung tenaga penghancur yang maha dahsyat...
Jeritan ngeri bergema memancarkan kesunyian, sebuah pukulan yang maha dahsyat itu sempat bersarang ditubuh gadis itu, membuat badannya terlempar sejauh delapan depa kebelakang, ia muntah darah segar dan tak tertahan lagi tubuhnya jatuh terduduk diatas tanah.
"Bangsat tua " jeritnya dengan rasa dendam. "sekalipun nonamu sudah mati dan jadi setan, aku akan mencari dirimu untuk menuntut balas"
Kakek berwajah jelek itu tertawa seram.
"Hmm.. budak ingusan, aku ingin lihat dengan cara apa kau hendak balas dendam terhadap diriku"
Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati gadis itu, telapak tangannya diayun ke udara dan siap menghajar batok kepala musuhnya.
Melihat keadaan yang amat berbahaya itu, perempuan berusia pertengahan yang bersembunyi dibela kang batu itu segera berbisik kepada putrinya:
"Binasakan kelima orang itu, jangan biarkan seorangpUn diantara mereka lolos dalam keadaan hidup,"
"Membinasakan mereka semua??" jerit gadis itu dengan terperanjat.
"Benar, bunuh semua tanpa kecuali "
"Kenapa? apa gunanya kita bunuh mereka semua??"
"Kau tak usah bertanya, gunakanlah jurus yang hebat untuk membinasakan mereka semua "
"Tetapi mereka toh..."
"Jangan banyak bicara lagi, cepat laksanakan"
Sementara itu si kakak berwajah jelek itu sudah mengayunkan telapak tangannya mengarah ubun2 gadis itu. nampaknya sesaat lagi gadis itu akan mati dalam keadaan yang mengerikan.
"Tahan " suatu bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, disusul berkelebat datangnya sesosok bayangan manusia.
Kelima orang itu tersentak kaget, tanpa sadar kakek berwajah jelek itu menarik kembali serangannya sambil loncat mundur kebelakang.
Tapi sebelum dia sempat melihat jelas siapakah pendatang itu. segulung angin pukulan yang maha kuat dan dahsyat telah menyerang datang, hal ini membuat kakek tersebut terkesiap hatinya, sadarlah dia bahwa musuh yang baru saja munculkan diri itu memiliki tenaga dalam yang sangat hebat. .
Dalam keadaan tidak siap. ter gopoh2 ia enjotkan tubuhnya bergeser lima depa kesamping untuk melepaskan diri dari ancaman itu.
seorang perempuan muda berkerudung putih segera munculkan diri di hadapannya. Kakek itu jadi teramat gusar, bentaknya: "Perempuan sialan, siapakah kau?? berani betul...."
Gadis berkerudumg itu sama sekali tidak berbicara, tidak menunggu hingga pihak lawan menyelesaikan kata2nya, sepasang telapak kembali bekerja cepat meluncurkan serangan yang maha dahsyat dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata kata.
Kakek tua, itu ingin mengundurkan diri ke belakang, namun sudah tak sempat lagi, dalam keadaan terdesak terpaksa ia mengepos tenaga dan menghimpun segenap kekuatannya untuk menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.
"Blammm" ditengah jeritan ngeri yang menyayat hati, kakek tua itu terpukul mencelat sejauh beberapa tombak kemudian roboh terjengkang diatas tanah, darah segar muncrat keluar dari bibirnya.
Melihat pemimpin mereka berhasil dilukai lawan, empat orang pria baju hitam yang selama ini hanya berdiri tegak ditepi kalangan segera membentak keras, serentak mereka menerjang kearah gadis itu.
Dara berkerudung putih itu mendengus dingin jengeknya. "Hmm manusia2 yang tak tahu diri, rupanya sudah bosan hidup,"
Tubuhnya herkelebar kesana kemari bagaikan gerakan sukma, telapaknya diayun dengan kecepatan penuh, bersama dengan menggemanya empat jeritan ngeri tampaklah keempat orang pria itu sudah roboh keatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Pecahlah nyali kakek tua itu, ia merasa sukmanya se-akan2 sudah terbang meninggalkan raganya, dengan suara keras ia berteriak:
"Budak bangsat, besar benar nyalimu, kau berani memusuhi perkumpulan Thian chee Kau kami?"
Mendengar ucapan itu, dara berkerudung putih itu terdiri tertegun, kemudian secepat kilat ia menerjang kemuka dengan gerakan yang kuat ia babat tubuh kakek itu.
"Duuk diiringi jeritan kesakitan yang mendirikan bulu roma, kakek berwajah jelek itu termakan oleh bacokan itu hingga batok kepalanya hancur berantakan, darah segar segera muncrat memenuhi empat penjuru.
Melihat musuh2nya berhasil dipunahkan oleh seseorang yang tak dikenal, dara yang terluka itu segera maju kedepan dan memberi hormat ujarnya.
"Go Siauw Bie mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan yang telah cici berikan kepadaku, bolehkah aku mengetahui siapakah nama cici?"
"Aku bernama orang yang ada maksud"
Go Siauw Bi tertegun.
Sungguh aneh nama ini? benarkah itu adalah nama aslinya? ia membatin didalam hati. Meskipun dalam hati merasa sangsi namun perasaan itu tidak sampai diutarakan keluar.
Rupanya orang yang ada maksud bisa membaca pikiran orang, terdengar ia tertawa riang sambil tegurnya:
"Bukankah kau merasa bahwa namaku ini sangat aneh dan tidak sebagaimana mestinya?"
Go Siauw Bi tertawa jengah setelah mengetahui rahasianya diketahui lawan, maka dia pun tidak membantah.
Orang yang ada maksud tersenyum, dari sakunya dia ambil keluar sebutir pil mujarab dan segera diserahkan ketangan gadis she Go itu, katanya:
"Pil ini adalah pil mujarab, cepat telanlah agar luka dalam yang kau derita cepat sembuh"
Go Siauw Bi mengucapkan banyak terima kasih, ia terima pil itu dan segera dimasukkan kedalam mulut.
Menanti pil tadi sudah ditelan, orang yang ada maksud baru berkata lagi dengan suara dalam:
"Nona Go, apa sebabnya kau sampai di kejar2 oleh para durjana dari perkumpulan Thian chee kau??"
Air mita GoSiauw Bi berubah jadi amat sedih, jawabnya dengan suara gegetun:
"Aku datang untuk menuntut balas atas sakit hatiku.. sungguh tak kusangka dendam gagal kutuntut, hampir saja selembar jiwaku pun ikut melayang.. kalau bukan cici yang menolong diriku tepat pada saatnya, entah apa yang terjadi dengan diriku pada saat ini.."
"Menuntut balas?? sakit hati apa yang terikat antara dirimu dengan pihak perkumpulan Thian chee kau??"
"Mendiang ayahku adalah Go Yu Too ketua dari perkumpulan Pat Gie pang, karena pada saat kaucu dari perkumpulan Thian chee kau mengadakan pesta ulang tahun tidak ikut hadir untuk menyampaikan selamat, maka pada suatu hari pihak perkumpulan itu mengirim Tongcunya si kupu2 warna warni Lie In Hiang untuk membinasakan ayahku, Kanglam Jit koay sahabat karib ayahku yang mengetahui kejadian ini segera datang mencari balas, siapa tahu merekapun dibunuh mati semua oleh Lie In Hiang. Karena itulah, ini hari aku sengaja datang kemari untuk menuntut balas"
"Jago lihay yang berada dalam perkumpulan Thian chee kau tak terhingga jumlahnya, wilayah Lian huan tau pun merupakan suatu daerah yang amat berbahaya, bila kau ingin menuntut balas atas sakit hatimu itu alangkah baiknya bila tindakan itu kau lakukan dengan penuh waspada serta rencana yang masak sebab kalau tidak maka perbuatanmu itu tak lebih hanya pergi menempuh bahaya saja. Menurut pendapatku lebih baik untuk sementara waktu tinggalkan dulu tempat ini, bila jejakmu sampai diketahui oleh anggota perkumpulan itu, akibatnya sungguh amat sulit untuk diharapkan mulai sekarang"
"Terima kasih atas petunjuk cici, akupun menyadari babwa tenaga dalam yang kumiliki cetek sekali, untuk membalas dendam hal itu masih merupakan suatu angan2 yang amat muluk2. Tetapi bagaimanapun juga aku hidup sebagai putra seorang manusia, dapatkah aku menahan diri untuk tidak melakukan pembalasan dendam itu??? baiklah untuk sementara waktu aku orang she Go akan menuruti nasehat cici, aku hendak mengunjungi guru yang pandai untuk memperdalam ilmu silatku setelah itu aku baru akan datang lagi untuk menuntut balas."
"Bagus sekali nona, bila engkau masih mempunyai pikiran yang terbuka hal ini merupakan suatu hal yang menggembirakan, jarak tempat ini dengan wilayah Lian Huan Nau tidak terlalu jauh, demi keselamatan lebih baik segeralah berangkat tinggalkan tempat ini"
Go Siauw Bi mengangguk, tapi sebelum dia berlalu dari situ mendadak sinar matanya terbentur dengan batu nisan yang terpancang tidak jauh dari hadapannya, dengan wajah berubah hebat ia segera berseru keras:
"Han Siong Kie aah.. masa Han Siang- kong yang telah mati??"
"Apakah kau kenal dengan dirinya??" tanya orang yang ada maksud dengan hati bergetar.
"Aku kenal dengan siangkong itu, sebab belum lama berselang ketika ia tercebur kedalam sungai, akulah yang menolong dirinya."
"Ooh jadi kau pernah menyelamatkan jiwanya"
"Benar, dia.. mengapa jenasahnya dikubur ditempat ini?? dan siapa pula sipengemis cilik Tong hong Hwie?"
"Dia adalah sahabat perempuannya, dengan kematiannya dia hendak menggunakan rasa cintanya kepada pemuda itu"
Go Siauw Bi maju beberapa langkah kedepan dengan sempoyongan air matanya jatuh berlinang membasahi wajahnya dengan sedih ia bergumam lirih:
"Sungguh tak kusangka ia telah mendahului diriku, sungguh tak kunyana usianya begitu pendek, cici tahukah kau, dia telah menemui ajalnya ditangan siapa??"
"Tentang soal ini aku kurang begitu tahu, apakah nona juga pernah jatuh cinta kepadanya??"
"Aku telah menyelamatkan jiwanya dari dalam sungai, selama merawat lukanya itu ia telah beristirahat selama tiga hari didalam kamar tidurku."
Go Siauw tai tak dapat membendung rasa sedihnya lagi, airnya bagaikan hujan dimusim kemarau berjatuhan membasahi pipinya.
Mendengar perkataan itu orang yang ada maksud ikut merasa beriba hati, tiba2 ia merasa ada suatu perasaan yang sangat aneh muncul dari dalam hatinya, apakah perasaan itu dia sendiripun tak dapat melukiskan dengan kata2.
Go Siauw Bi berdiri tertegun ditempat kuburan itu, ia tidak menyangka pria yang pernah menarik hatinya telah pergi meninggaikan dunia untuk selama2nya, iapun tak pernah menduga masih ada seorang gadis lain yang ikut mengorbankan diri demi cintanya yang murni.
Teringat bahwa kenangan selama ini ternyata hanya hampa dan kosong belaka, gadis itu menghela napas panjang.
sesudah memberi hormat kepada orang yang ada maksud, ia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ.
Memandang hingga bayangan punggung gadis itu lenyap dari pandangan, orang yang ada maksud segera balik kembali kebalik batu cadas, disitu ia saksikan ibunya orang yang kehilangan sukma sedang membopong jenasah Han Siong Kle sambil duduk termangu- mangu, air mata telah membasahi bagian bajunya.
"Ibu apa yang telah terjadi???" orang yang ada maksud segera menegur.
-0000000-
BAB 13
"Nak. mungkin... mungkin dia.... dia tak ada harapan lagi, aku bakal menyesal sepanjang masa"
Orang yang ada maksud membungkam dalam seribu bahasa, ia tidak mengerti mengapa ibunya begitu menaruh perhatian terhadap diri Han Siong Kie, perhatiannya begitu mendalam hingga melebihi kasih sayangnya terhadap darah dagingnya sendiri, ia heran kenapa ibunya bisa bersikap begitu? mungkinkah dibalik semuanya ini masih tersembunyi sesuatu yang aneh.
Tiba2 terdengar orang yang kehilangan sukma berseru dengan penuh emosi:
"Cepat lihat, dia hampir sadarkan diri... oooh terima kasih langit dan bumi ia selamat... ia selamat"
"Benarkah itu ibu, betulkah dia hampir sadar ?"
"Benar coba rasakan tubuhnya mulai hangat kembali, aku merasa jantungnya mulai berdetak kembali"
Dengan penub ketegangan ibu dan anak itu mencurahkan seluruh perhatiannya kearah Han Siong Kie, mereka lihat tubuh anak muda yang kaku dan dingin itu perlahan2 menjadi lemas, dengusan napasnya mulai kedengaran dan air mukanya per lahan2 berubah jadi semu merah..
Orang yang kehilangan sukma menghembuskan napas panjang dan letakkan tubuh Han Siong kie ke atas tanah lalu mencium keningnya dengan hangat dan sayang.
Tingkah Liku ibunya yang aneh ini kembali mencengangkan hati orang yang ada maksud, ia berdiri melongo.
"Nak, kuserahkan dirinya padamu" tiba perempuan setengah baya itu berkata. "Serahkan kepadaku???"
"Sedikitpun tidak salah"
Dari dalam sakunya dia ambil keluar sebuah bungkusan dan diserahkan ketangan orang yang ada maksud kemudian ia membisikkan sesuatu disisi telinganya dan setelah itu berlalu.
Belum lama orang yang kehilangan sukma berlalu dari tempat itu, terdengar suara helaan napas panjang bergema memecahkan kesunyian. Han Siong Kle membuka sepasang matanya lalu meloncat bangun dari atas tanah.
Ketika dijumpainya orang yang ada maksud berada disitu, buru2 ia memberi hormat sambil ujarnya.
"Aku mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongannya yang telah nona berikan kepadaku, semoga dilain waktu budi kebaikan sempat kubalas." orang yang ada maksud tertawa cekikikan.
"Dengan cara apa kau hendak membalas budi kebaikanku ini? " serunya cepat.
Han Siong Kle tertegun, wajahnya berubah jadi merah, lama sekali ia baru bisa berkata.
"Dewasa ini tentu saja aku tak sanggup mengatakannya keluar, tapi kemudian hari aku pasti akan berusaha untuk membalas budi kebaikan itu."
“Seandainya sepanjang masa kau tidak memperoleh kesempatan itu, apa yang hendak kau lakukan??"
"Tentang soal ini aku pikir tak mungkin terjadi"
"Baiklah" kata orang yang ada maksud kemudian, "sekarang ibuku suruh aku menyampaikan sesuatu kepadamu."
"Lalu sekarang dimanakah ibumu??"
"Baru saja meninggaikan tempat ini"
"Apakah ia tak sudi bertemu dengan diriku lagi??"
"Bukan, bukan begitu, dia masih ada urusan lain maka terpaksa harus tinggaikan dahulu tempat ini, dia suruh aku menyampaikan pesan kepadamu, katanya mulai sekarang Manusia berwajah dingin Han Siong Kle telah tiada lagi dikolong langit, kau tak boleh membuka rahasia asal usulmu kecuali kepada ...."
"Kecuali kepada siapa??" tanya Han Siong Kle dengan ^uara heran bercampur terkejut.
"Kecuali kepada pemilik Benteng Maut"
Air muka si anak muda itu berubah hebat secara beruntun ia mundur selangkah kebelakang, serunya: "Apa maksud yang sebenarnya??"
"Entahlah, aku sendiripun kurang begitu mengerti, ibuku hanya berpesan agar kau suka pergi mengunjungi benteng maut."
"Berkunjung? hal itu pasti akan kulakukan, pada suatu hari aku akan mengobrak-abrik benteng maut dan melenyapkan Tengkorak Maut dari permukaan bumi."
"Kau keliru besar" seru orang yang ada maksud sambil menggeleng, " ibuku menyuruh kau berbuat demikian karena ia mengandung maksud2 tertentu."
Sorot mata Han Siong Kie per lahan2 dialihkan kearah lima sosok mayat yang menggeletak tidak jauh dari tempat itu, serunya dengan nada terkesiap "Mayat siapakah yang menggeletak disitu??"
"Anak buah perkumpulan Thian chee kau"
"Apakah mereka terluka di ujung telapak nona??"
"Sedikitpun tidak salah, mereka sedang mengejar seorang gadis dan kebetulan tiba ditempat ini, karena gadis itu terancam jiwanya maka aku segera turun tangan membereskan orang itu. 0oh. Ya a Apakah kau kenal dengan seorang gadis yang bernama Go Siauw Bi?"
"KenaL" jawab Han Siong Kle dengan suara terperanjat, " Kenapa dengan dirinya?"
"Cintakah kau kepadanya??" tidak menjawab orang yang ada maksud malah balik bertanya. Pertanyaan ini seketika membuat hati Han Siong Kie tertegun, serunya: "Nona, apa maksudmu mengajukan pertanyaan semacam ini??"
"Tiada maksud apa2, karena aku lihat sikapmu amat gelisah bercampur cemas, maka aku ajukan pertanyaan ini"
"Dia adalah gadis yang pernah menyelamatkan jiwaku, aku masih berhutang budi kepadanya."
"Ia sudah berlalu dari sini, dia tahu bahwa kau sudah tiada lagi dikolong langit"
"Apakah nona yang memberitahukan kejadian ini kepadanya??"
"Tidak. ia sendiri yang lihat dan melihat dengan matanya sendiri ...."
Han Siong Kle berpaling, tiba2 ia temukan sebuah gundukkan tanah baru tak jauh dari situ segera didekatinya kuburan ini dan terbacalah olehnya batu nisan yang terpancang didepan kuburan itu.
"Disinilah bersemayan manusia berwajah dingin Han song Kie serta pengemis cilik Tonghong Hwie."
Jantungnya seketika herdebar keras, apa yang terjadi? mungkinkah adik angkatnya Tonghong Hwie juga.. berpikir sampai disini ia bersin beberapa kali, sambil berpaling kearah orang yang ada maksud serunya:
"Nona, kuburan ini?"
"Pengemis cilik yang mendirikannya bagimu."
"Kenapa diatas batu nisan itu terukir nama kami berdua."
"Sebab dia mau hidup bersama mati berbareng dengan dirimu"
"Apa?? dia..dia..."
"Jangan tegang dan tak usah gelisah, dia belum mati, dia mau membalaskan dendam sakit hatimu lebih dahulu kemudian baru datang kemari untuk mati bersama dirimu satu liang."
Han Siong Kie tidak memperhatikan bahwa dibalik ucapan orang yang ada maksud mengandung arti yang lebih mendalam, kalau tidak tentulah dia akan menemukan sesuatu gejala yang aneh.
Mendengar perkataan tadi, ia jadi sangat terharu sehingga tak tertahan lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
"Oooh.. sungguh tak kusangka adik Hwieku itu demikian setia kawan dan menaruh perhatian kepadaku, aku orang she Han sungguh beruntung dapat berkenalan dan angkat saudara dengan dirinya. sekarang dimanakah orangnya??.."
"Bukankah sedari tadi sudah kukatakan bahwa ia telah tinggalkan tempat ini?"
"Secara bagaimana ia bisa mendirikan kuburan dan batu nisan bagiku??."
"Ia datang agak belakangan, sewaktu memasuki wilayah Lian huan tau jejaknya kepergok oleh nyonya kaucu hingga tertawan, untung ibuku berhasil menyelamatkan jiwanya. Ketika ia menjumpai jenasahmu yang sudah tak bernyawa itu hatinya jadi sedih dan hancur.."
"Oooh.. dia mengira aku benar2 telah mati??"
"Tentu saja jangan dibilang dia, orang lainpun pasti akan mengira kau sudah mati, sebab tubuhmu sudah mendingin dan kaku"
"Mengapa nona tidak memberitahukan kejadian yang sesungguhnya kepada saudara angkatku itu??" seru Han Siong Kie gegetun.
"Aku tidak memberitahukan keadaan yang sesungguhnya tentu saja didasarkan oleh alasan2 tertentu. lebih baik persoalan ini kita bicarakan dikemudian hari saja."
"Aku ingin mengetahui sekarang juga"
"Maaf, aku tak dapat menuruti keinginanmu itu"
Han Siong Kie menelan air ludah dan berdiri menjublak, terhadap tingkah laku ibu dan anak yang serba misterius itu ia merasa gemas bercampur jengkel, tapi pihak lawan adalah tuan penolongnya, hal itu membuat ia tak mampu berbuat sesuatu. Terpaksa sambil menahan diri ujarnya:
"Aku dapat mencari dirinya, sekalipun harus mencari sampai diujung langit atau di dasar samudra, aku harus menemukan dirinya"
Dari dalam sakunya orang yang ada maksud ambil keluar sebuah bungkusan kecil dan dilemparkan kearah pemuda itu, pesannya:
"Saudara, mulai sekarang manusia berwajah dingin Han Siong Kie sudah tak ada lagi dikolong langit, benda itu akan membantu dirimu untuk merubah wajahmu serta menutupi raut mukamu yang sebetulnya"
Han Siong Kie menyambut benda itu, sedang dimulut ia mengomel:
"Aku toh seorang lelaki sejati, kenapa raut wajah asliku harus disembunyikan??"
"Bila kau ingin berhasil dalam usahamu untuk membalas dendam, lebih baik lakukanlah seperti apa yang kukatatakan.."
"Tetapi bukankah ibumu siorang yang kehilangan sukma memerintahkan aku untuk berkunjung ke Benteng Maut serta menceritakan asal usulku yang sebenarnya?? musuh besarku adalah pemilik dari benteng maut itu, kenapa aku musti banyak bertingkah dengan segala macam hal yang tak berguna??"
"Sedikitpun tidak benar perkataanmu itu, dikemudian hari kau akan mengerti dengan sendirinya mengapa ibuku suruh kau berbuat demikian, sekarang lebih baik pergilah mengunjungi benteng maut"
"Mengunjungi musuh besarku??"
"Kau tak boleh mengatakan demikian, sekali lagi kuberitahukan kepadamu, ibuku sangat menaruh perhatian kepadamu, beliau suruh berbuat demikian tentulah didasarkan oleh maksud-maksud tertentu, bila kau tidak melakukan seperti apa yang dikatakan ibuku mungkin dendammu itu selamanya tak akan berhasil kau laksanakan"
Han Siong Kie jadi serba salah, bila ditinjau dari orang yang kehilangan sukma serta orang yang ada maksud dimasa yang lampau, anjuran perempuan itu pastilah mengandung maksud tertentu, tapi ia tak mengerti dan tak paham apa sebenarnya maksud orang itu??
"Han Siong Kie" orang yang ada maksud berkata kembali "Mau percaya atau tidak itu terserah pada dirimu sendiri sekarang aku mau pergi."
Selesai berkata dia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Han Siong Kie berdiri menjublak diatas tanah dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, perkembangan yang berlangsung selama ini membuat ia jadi bingung, perbuatan orang yang ada maksud serta ibunya memang begitu misterius hingga terasa amat menyeramkan.
"Baiklah akan kujajal perkataan mereka, aku hendak berkunjung ke benteng Maut serta melihat perobahan aneh apakah yang bakal terjadi."
Setelah mengambil keputusan didalam hati, ia segera membuka bungkusan kecil yang diberikan orang yang ada maksud itu, disitu ia temukan rambut palsu serta selembar topeng kulit manusia.
Setelah mengenakan rambut palsu itu serta topeng kulit manusia berangkatlah pemuda itu turun dari puncak bukit ketika bercermin diatas permukaan air nampaklah seorang pemuda yang berpenyakitan, ia jadi geli pikirnya:
"Aku harus mempunyai sebuah nama yang sesuai dengan potongan wajah serta badanku penyakitan... " malaikat penyakitan" benar nama ini bagus sekali, baiklah mulai sekarang aku akan munculkan diri didalam dunia persilatan dengan nama malaikat penyakitan"
Ia bersuit nyaring, tubuhnya dengan cepat berkelebat menuruni bukit itu, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya pikirnya:
"Aku harus berusaha keras untuk menemukan adik angkatku Tonghong Hwie lebih dahulu, ia selalu menganggap aku telah tiada lagi di kolong langit, aku harus temukan dirinya sebelum terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Tapi dunia begini luas, aku musti pergi kemana untuk menemui jejaknya."
Setelah termenung beberapa saat lamanya, ia lantas bergumam seorang diri:
"Aaaah benar perkumpulan Kaypang tersohor karena banyaknya anggota yang tersebar di mana2, asal aku berhasil temukan engkoh tuaku pengemis dari selatan, niscaya pencarian ini lebih mudah dilakukan. Perjalananku menuju keb enteng Maut lebih baik kutunda lebih dahulu"
Setelah mengambil keputusan, berangkatlah pemuda itu menuju arah selatan.
Entah sudah beberapa lama ia sudah berjalan, mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan aneh yang amat memekikan telinga, tanpa sadar Han Siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya.
Suitan tajam yang amat keras hingga memekikan telinga itu kembali bergema dari tempat kejauhan, kali ini juaranya lebih tajam dari suitan yang pertama, si anak muda itu sangsi sejenak setelah menentukan arah asalnya suara itu, ia segera meluncur kearah sebelah kanan dari hutan dihadapannya.
Beberapa puluh tombak sudah dia memasuki hutan tersebut, tapi sungguh aneh, disekeliling sana ternyata tak nampak sesosok bayangan manusiapun, sedang suara suitan tajam yang memekikkan telinga itupun tidak kedengaran lagi.
Pemuda itu jadi sangsi dan curiga, mungkinkah ia telah salah mendengar? ataukah memang ada seseorang lihay yang sedang mempermainkan dirinya??
Makin direnung pemuda itu semakin bingung, akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyelesaikan pekerjaan sendiri
"Perduli amat dengan orang yang bersuit tajam itu." pikirnya didalam hati. Ia segera putar badan dan siap berlalu dari situ ... "Bocah cilik, jangan pergi dulu..."
suara itu dingin seakan akan muncul dari gua salju yang menggidikkan hati. Han Siong Kie terkejut dan segera menoleh.
Tapi.. tak nampak sesosok bayangan manusiapun berada disekitar tempat itu, tidak terasa ia segera berseru: "siapa kau??"
"Aku?? haaah..haaah.haaah..."
suara itu se-olah2 dipancarkan dari suateu tempat sejauh sepuluh tombak dari hadapannya, yang aneh ternyata hanya suaranya saja yang kedengaran sedang bayangan manusianya sama sekali tak terlihat.
Bergidik hati sianak muda itu menjumpai keadaan tersebut, bulu kuduknya pada bangun berdiri, pikirnya:
"Jangan2 aku telah bertemu dengan setan? kalau tidak mengapa tak nampak sesosok bayangan manusiapun ditempat ini?" Sekali lagi ia membentak keras: "sebenarnya siapakah kau??"
"Haaah .haaah .haaaah... aku mengira aku bakal mati dengan menahan rasa sesal sepanjang masa, sungguh tak nyana sebelum ajalku tiba ternyata bisa bertemu dengan kau si bocah cilik. aaai.. inilah yang dikatakan Thian maha adil dan Thian punya mata, bocah cilik kau jangan pergi dari sini.."
selama pihak lawan berbicara, Hansaong Kie pusatkan perhatiannya coba menemukan arah berasalnya suara itu, tapi ia kecewa. sebab usahanya itu gagal dan tidak berhasil menemukan orang itu.
Akhirnya dengan perasaan heran bercampur sangsi, sekali lagi ia menegur:
"Sebenarnya siapakah kau"
"Aku adalah Mo-Mo cungcu Rasul dari segala iblis"
sedikitpun tidak salah, Rasul dari segala iblis atau disebut pula Mo tioan ci-mo atau Iblis diantara iblis"
"Kalau ditinjau dari juluknya itu, terang dia bukan manusia aliran lurus" pikir Han Siong Kie didalam hati, "Lebih baik aku kabur saja dari sini, toh persoalanku sendiri terlalu banyak. kenapa musti banyak ribut dengan manusia yang disebut Mo-Tiong ci-mo itu??"
Berpikir demikian ia lantas berkata dengan suara dingin.
"Aku masih ada urusan penting yang harus dikerjakan, selamat tinggai.."
"Eeeeei bocah cilik kau jangan pergi dari sini "
Han Siong Kie tidak menjawab ia lanjutkan gerakannya berlalu dari tempat itu.. "Bocah cilik masa kau tak mau menolong orang yang sedang kesusahan???"
Ucapan yang menegunkan hati Hanslong Kle, tubuhnya yang sedang meluncur pergi segera mendadak diudara dan melayang kembali keatas tanah pikirnya didalam hati.
"Melihat orang kesusahan tidak menolong, apakah maksudnya??? apakah manusia yang bernama iblis diantara iblis itu masih membutuhkan bantuan orang lain???" Ia segera menegur.
"Hei manusia yang bernama iblis diantara iblis, apa maksud perkataanmu itu??"
"Sulit untuk aku menceritakan dalam sepatah dua patah nanti saja kuceritakan kepadamu sedikit demi sedikit, sekarang singkirkan dahulu batu cadas yang amat besar itu"
"Batu cadas besar??"
"Sedikitpun tidak salah"
Han Siong Kie segera alihkan sinar matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, sedikitpun tidak salah pada jarak kurang lebih enam tombak dihadapannya terlihatlah sebuah batu cadas yang besarnya mencapai beberapa tombak.
"He, kau berada dimana?" teriak pemuda itu.
"Aku berada dibawah batu cadas itu"
"Kenapa kau bisa tertindih dibawah batu cadas itu??"
"Eeei.. si bocah cilik, kenapa sih begitu cerewet dan banyak omong?? singkirkan dahulu batu cadas itu kemudian kita baru berbicara lagi"
Han Siong Ktejadi murka, hawa pitamnya segera berkobar memenuhi benaknya, sambil mendengus dingin serunya:
"Luar biasa amat tabiatmu itu. Hmm kalau memang kau hebat dan lihay, kenapa tidak berusaha untuk menyingkirkan sendiri batu cadas itu?? maaf.. aku tak punya banyak waktu untuk bercanda dengan dirimu"
Mendengar sianak muda itu hendak berlalu, Iblis diantara iblis jadi sangat gelisah, buru2 serunya:
"Eeei..eeei.. bocah, kau jangan pergi dulu, kalau kau pergi dari sini niscaya aku bakal mati konyol"
Han Siong Kie jadi geli bercampur mendongkol, dengan perasaan apa boleh buat serunya: "Apakah cukup bagimu hanya menggeserkan batu cadas itu saja??"
"Ehmm bocah cilik mampukah kau hancurkan batu cadas itu hanya didalam tiga buah pukulan belaka??"
"Heeeh..beeeh..heeeh.. rupanya kau sengaja hendak menguji tenaga dalamku??" jengek Han Siong Kie sambil tertawa dingin.
"Aku sama sekali tak ada maksud menguji kekuatanmu, aku berbicara demikian karena mengandung maksud tertentu, katakan saja mampu tidak kau lakukan pekerjaan itu??"
"Coba saja nanti"
Per-lahan2 sianak muda itu berjalan mendekati batu cadas tersebut, setelah diamatinya sebentar, ia segera menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya kedalam telapak. serunya kemudian dengan suara berat:
"Saudara. hati2lah... aku segera akan melancarkan pukulan keatas batu cadas itu."
sebagai penutup kata sepasang telapaknya segera didorong kedepan dengan hawa murninya yang amat hebat serangan itu bisa dibayangkan sampai dimanakah kehebatannya.
“Blaaam...” terdengar benturan keras yang memekikan telinga, bumi tergetar laksana di landa gempa dahsyat, batu cadas yang besar itu terhajar remuk jadi empat lima bagian dan mencelat ke empat penjuru, dari bawah hatu cadas itu muncullah sebuah mulut gua yang gelap.
Sesosok kepala manusia yang sangat aneh segera menongol keluar dari mulut gua itu.
Dengan hati terkesiap bercampur kaget Han song Kie mundur tiga langkah kebelakang setelah diamati lebih seksama lagi maka tampaklah olehnya bahwa manusia aneh itu adalah seorang kakak tua yang bercambang lebat dengan rambut terurai kebawah, sepasang mata yang besar memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati jelas tenaga dalam yang dimiliki Mo Mo Cuncu telah mencapai puncak kesempurnaan.
"Haah haah haah... takdir takdir" seru kakek aneh itu sambil tertawa tergelak. "Bocah cilik, pukulan yang barusan kau lancarkan mengandung kekuatan tenaga dalam sebesar seratus tahun hasil latihan, hal ini sungguh berada diluar dugaanku. Rupanya takdir telah menentukan demikian dan aku memang mendapat pertolongan."
Habis berkata kembali ia tertawa terbahak2, begitu keras suaranya hingga Han Siong Kie merasakan kendang telinganya terasa amat sakit. "Apakah kau yang bernama Mo Mo Cuncu rasul dari segala Iblis? "
"Masa masih ada yang gadungan??"
"Dengan tenaga dalam yang kau miliki rasanya kau masih mampu untuk menyingkirkan batu itu bukan? kenapa hal itu tidak kau laksanakan sendiri" Rasul dari segala Iblis tidak menjawab pertanyaan itu, hanya serunya. "Bocah cilik, mari masuk kedalam gua"
Habis berkata kepalanya menyusup lebih dahulu masuk kedalam gua itu.
Melihat kesemuanya yang serba aneh itu Han Siong Kiejadi tercengang dan ingin tahu, dia ragu2 kemudian sebentar masuk kedalam gua itu.
Luas gua tersebut tidak begitu lebar, hanya dua tombak lebih sedikit, setelah berada diatas permukaan ia menyusup sejauh tiga tombak kesebelah kanan disitu dijumpainya seorang manusia aneh dalam keadaan bugil sedang duduk bersila, sepasang matanya dengan sorot mata tajam sedang mengawasi pemuda itu tanpa berkedip. "Bocah, duduklah kemari" kakek aneh itu berseru.
Bulu kuduk diseluruh tubuh Han Siong Kie pada bangun berdiri, tapi ia lanjutkan pula langkahnya menuju kedalam dan duduk dihadapan kakek itu. "Hey bocah cilik, aku lihat wajahmu berpenyakitan."
"Sedari dilahirkan aku memang memiliki raut wajah semecam ini"
"Siapakah namamu?? "
"Aku bernama malaikat penyakitan"
"Malaikat penyakitan?? Ha ah haah haah sungguhkah kau bernama malaikat penyakitan??"
"Mau percaya atau tidak terserah padamu"
"Baik, perduli kau adalah malaikat apa aku tak ada sangkut pautnya dengan diriku, bertemu denganmu itulah takdir, maukah kau membantu untuk menyelesaikan suatu keinginan hatiku??"
Sambil berkata dengan pandangan yang mengharapkan dia menatap tajam wajah Han Siong Kie.
"Keinginan hati apa??" tanya pemuda itu tercengang.
"Menantang seseorang untuk berduel"
"Oooh ... maksudmu mewakili dirimu pergi menantang seseorang untuk diajak berduel?"
"Sedikitpun tidak "
"Kenapa kau tidak melakukan sendiri?? bukankah tenaga lweekang yang kau miliki sangat tinggi"
Rasul dari segala iblis tertawa sedih. "Coba lihatlah sendiri" ia berkata.
Mengikuti arah yang dituding orang itu Han Siong Kle segera alihkan sorot matanya, dia lihat sepasang kaki dari kakek aneh itu sudah mengering dan menyusut kecil, kaki itu telah cacad dan tak dapat dipergunakan lagi untuk berjalan.
Timbullah perasaan iba bercampur kasihan didalam hati pemuda itu, tapi ia belum begitu paham mengenai watak kakek aneh yang bernama Rasul dari segala Iblis ini, maka pemuda itu tak mau mengabulkan permintaannya secara gegabah.
"Hei orang tua, aku ingin memahami lebih dahulu asal usulmu serta perbuatan2mu dimasa lampau."
"ooh. rupanya kau adalah seorang bocah cilik yang belum lama terjun kedalam dunia persilatan"
Han Siong Kie merasa tidak senang hati, sahutnya dengan suara dingin "Tidak salah, aku memang terjun kedunia persilatan belum seberapa lama"
"Tidak aneh kalau begitu, bila kau sudah lama terjun di dalam dunia persilatan, niscaya akan mengetahui namaku meskipun aku bergelar Mo mo cuncu Rasul dari segala Iblis, tetapi orang2 Bu-lim pada menyebut diriku sebagai Mo tiong ci mo Iblis di antara Iblis"
"Kalau memang demikian adanya, maka itu bukankah membuktikan bahwa perbuatanmu semasa masih berkelana didalam dunia persilatan dahulu lebih busuk dan keji daripada kawanan kaum iblis lainnya??"
"Benar atau salah yang terjadi didalam dunia persilatan sulit untuk dibedakan satu sama lain misalnya saja Tengkorak Maut.."
"Apa?? Tengkorak Maut???"
"Tidak salah, pemilik dari Benteng Maut itu"
"Kenapa dengan orang itu??" tanya Han Siong Kie sambil menahan emosi yang bergolak didalam dadanya.
"Setiap orang didalam dunia persilatan menganggap dia sebagai seorang iblis yang luar biasa kejinya, padahal dalam kenyataan belum tentu ia berwatak kejam"
Takkala sianak muda itu mendengar kakek aneh itu menyebut tentang musuh besar pembunuh keluarganya emosi bergelora dalam dadanya, ia merasa denyutan jantungnya bergerak lebih kencang, api dendam berkobar2 dan wajahnya berubah hebat.
Namun berhubung diatas wajahnya merupakan selembar topeng kulit manusia maka diluar golakan perasaannya itu sama sekali tidak kelihatan dengan setengah mendesak ia berseru kembali:
"Dari mana kau bisa tahu kalau ia tidak kejam?" "
"Meskipun Tengkorak Maut membunuh manusia2 dalam jumlah yang tak terbatas tetapi ia sendiripun mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan kepada orang lain."
Terbayang dua ratus jiwa lebih keluarganya yang mati terbunuh hingga tinggal tulang yang berserakan memenuhi perkampungan keluarga Han, Han Siong Kie segera mendengus dengan kebencian.
"Masa membunuh orangpun mempunyai kesulitan??" jengeknya.
"Hmmm... sebagian besar orang yang dibunuh olehnya adalah orang2 yang sudah sepantasnya dibunuh, tentu saja diantaranya terdapat pula mereka2 yang telah dibunuh tetapi hal ini tak bisa menyalahkan dirinya, bagaimanapun juga itulah bencana yang dicari sendiri oleh sang korban"
sebenarnya Han Siong Kle ingin menanyakan pula kematian keluarganya sebanyak dua ratus jiwa merupakan suatu pembunuhan yang pantas terjadi ataukah salah membunuh, tapi akhirnya ia menahan diri dan tak sampai mengutarakan asal usulnya, pikirnya didalam hati:
"Rupanya iblis diantara iblis ini bila bukan setali tiga uang dengan Tengkorak Maut, dia pastilah mempunyai hubungan yang erat dengan iblis itu, kalau tidak kenapa selalu membela dirinya???"
Menggunakan kesempatan baik itu ia berusaha untuk mengorek keterangan mengenai si Tengkorak Maut segera ujarnya.
"Kalau kulihat ucapanmu, rupanya kau mengetahui amat jelas tentang keadaan dari Tengkorak Maut??"
"Sedikitpun tidak salah" iblis diantara iblis mengangguk "aku berani berkata bahwa dikolong langit kecuali aku seorang tiada orang kedua yang mengetahui latar belakang peristiwa berdarah yang selalu menimpa dunia persilatan itu."
"Apakah kau bisa menerangkan kepadaku? seru Han Siong Kia dengan pikiran bergerak.
-0000000-
BAB 20
"TENTANG soal ini eeei bocah maafkanlah aku karena rahasia ini tak dapat kuterangkan padamu"
"Kenapa??"
"Aku sudah berjanji lebih dulu padanya, bahwa selama hidup rahasia itu tak akan kubocorkan kepada orang lain, sebagai pria sejati aku harus pegang janji itu erat2"
"Kalau memang kau tidak ingin mengatakannya, tentu saja tiada alasan untuk memaksa dirimu lebih jauh" ujar Han Siong Kie dengan hati kecewa "baiklah kalau begitu aku ingin mohon diri lebih dahulu "
"E eeei. . eeeei.... bocah kau tak boleh pergi."
Sambil berseru segulung tenaga hisap yang maha kuat menarik tubuh Han Siong Kie sehingga mundur tiga langkah kebelakang, begitu hebat daya hisap tadi hingga sianak muda itu tak mampu untuk bergeser kembali dari tempat itu.
Terkesiap hati Han Siong Kie menyaksikan tenaga yang maha sakti itu, peluh dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, tapi sebagai seorang pemuda yang sombong dari kaget jadi gusar bentaknya: "Eeei.. sebenarnya apa maksudmu?"
"Bocah, kau tak boleh pergi dari sini"
"Kenapa aku tak boleh pergi dari sini?? aku toh tak terikat oleh janji apapun dengan dirimu??"
"Kau harus mewakili diriku untuk mewujudkan suatu keinginanku, kau harus mewakili diriku untuk bertempur melawan seseorang"
"Aku tak mempunyai waktu yang begitu banyak bagimu"
"Bocah cilik, janganlah jual mahal. ..kau harus melakukan pertarungan itu mewakili diruku"
Han Siong Kie mendengus dingin.
"Hmmm aku toh berhak untuk menampik permintaan itu, kenapa kau memaksa terus??"
"ooooh... jadi kau tidak setuju deagan permintaan tolongku ini??"
"Maaf aku tak dapat memenuhi keinginanmu itu"
"sekalipun tidak mau kau harus melakukannya bagiku"
"Hmmm tidak bisa" Han Siong Kie mendengus lagi dengan suara berat.
Kembali tubuhnya bergerak kedepan, kali ini ia telah mengerahkan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, langkahnya enteng dan gerakannya cepat laksana sambaran kilat.
Siapa tahu ternyata tenaga hisapan yang dipancarkan Mo-mo cuncu luar biasa hebatnya, meskipun ia sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari tenaga h isapan tadi tetapi tubuhnya masih tetap berdiri di tempat semula. "Bocah ayoh jawab kau sanggup melakukan pertarungan itu bagiku atau tidak??"
"Tidak setuju kau mau apa???"
"Kalau kau berani tampik lagi permintaanku ini, sekali hantam kubabat tubuhmu sampai hancur"
Han Siong Kie jadi naik pitam mendengar ancaman itu, saking gusar dada terasa mau meledak dengan sombong ia berseru: "Tidak setuju tidak setuju kau mau apa?"
"Blaaam." segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera menghajar kedepan menimpa dada sianak muda itu.
Han Siong Kie berseru tertahan, tubuhnya terpental sejauh beberapa depa dari tempat semula, setelah termakan oleh pukulan itu, sekujur tubuhnya langsung terasa sakit bagaikan patah tulang, darah panas bergolak dalam dadanya sedang matanya ber kunang2 dan kepalanya pusing tujuh keliling, tapi sambil tahan diri per lahan2 ia bangkit berdiri
"Bocah, ayoh jawab setuju atau tidak?" seru Iblis diantara iblis lagi dengan suara geram..
"Tidak setuju"
"Eeei.. rupanya kau tidak takut mati??"
"Ehmm jangan harap kau bisa menggertak aku si malaikat penyakitan dengan kata mati aku bukanlah seorang pengecut yang takut menghadapi kematian..."
Melihat kekerasan hati lawannya, Mo tiong ci mo jadi kewalahan sendiri, ia menghela napas panjang dan berkata:
"Bocah, kau memang seorang pria sejati, kau memang seorang jago gagah yang tidak takut menghadapi kematian, aku kagum atas keberanianmu itu mari.. kemarilah, bagaimana kalau kila bicarakan lagi persoalan ini secara baik2"
"Aku rasa sudah tiada persoalan yang bisa kita bicarakan lagi, aku tak mau melakukan pekerjaan apapun bagimu, lebih baik carilah orang lain saja. " sahut Han Siong Kie dengan suara dingin.
"Bocah begini saja, bila kau suka melakukan tugas yang kubebankan kepadamu itu maka akan kuwariskan ilmu silatku yang maha sakti itu kepadamu, akan kuciptakan dirimu sebagai seorang jago Bu lim yang sangat lihay dan disegani orang, bagaimana?? kau tentu bersedia bukan??"
"Aku tidak tertarik oleh ilmu silatmu itu, aku tak sudi menerima tawaranmu itu"
"Hmm sekalipun kau tidak ingin belajar, aku akan paksa kau untuk mempelajarinya juga."
"Dikolong langit belum ada peraturan semacam ini, Hmm kau ingin menggunakan kekerasan untuk memaksa diriku??,jungan bermimpi di siang hari bolong.. aku si malaikat penyakitan tidak gentar menghadapi siapapun juga"
"Apakah kau tidak ingin jadi seorang jago silat yang sangat lihay dan disegani oleh setiap umat dunia??"
"Meskipun aku ingin jadi jagoan, tapi aku tak sudi angkat guru kepadamu Aku bisa mencari orang lain dan belajar darinya"
"Eeei bocah, kau keliru besar" seru Iblis diantara iblis dengan suara dalam, "Aku sama sekali tiada maksud untuk menerima dirimu sebagai muridku, tujuanku mewariskan ilmu silatku itu kepadamu bukan lain adalah sebagai balas jasa atas kesediaanmu untuk memahami satu keinginanku itu, anggaplah perbuatanku itu sebagai jasa dari timbal balik atas kesedianmu itu"
"Tapi sayang aku tidak punya kegembiraan untuk menerima tawaranmu itu, maaf lebih baik cari saja orang lain."
"Bocah" seru Iblis diantara iblis akhirnya dengan nada geram "Ini hari aku tak akan melepaskan kau untuk berlalu dari tempat ini, aku tidak ingin mati dengan membawa penyesalan. Disamping itu akupun merasa kecuali kau seorang dikolong langit sulit untuk menemukan seseorang yang sanggup berduel melawan Tengkorak Maut."
Terkesiap hati Han Siong Kie mendengar perkataan itu, tanpa terasa ia maju beberapa langkah kedepan dengan nada penuh emosi serunya:
"Apa??? kau hendak suruh aku pergi menantang Tengkorak maut untuk berduel??"
"Sedikitpun tidak salah apa kau takut??"
"Aku terima tawaranmu itu" jawab sang pemuda dengan cepat tanpa berpikir panjang lagi.
Mo Tiong ci-mo atau iblis diantara iblis jadi tercengang untuk beberapa saat ia berdiri melongo. Ia tak habis mengerti apa sebabnya pemula itu segera menyanggupi permintaannya setelah ia mengatakan bahwa orang yang dituju adalah Tengkorak Maut. . .
Dengan sepasang biji matanya yang tajam ia awasi wajah Han Siong Kie beberapa saat lamanya, lama... lama sekali tetapi tak sesuatu apapun yang berhasil ia temukan.
-0000000-
Jilid 10 : Tugas dari guru
DIATAS wajahnya yang berpenyakitan kecuali penuh kerutan bekas sakit sama sekali tidak tertampak perubahan perasaan apapun, wajah itu dingin dan menggidikkan hati.
"Malaikat penyakitan" akhirnya tak tahan lagi ia berseru: "Kau boleh dibilang merupakan satu2nya orang paling jumawa dan sombong yang pernah kujumpai selama ini, kau adalah seorang manusia yang paling dingin dan paling menyeramkan."
Han Siong Kie menenangkan hatinya talu tertawa hambar.
"Sejak dilahirkan demikianlah sudah watakku, sampai tuapun tabiat ini tak akan berubah"
"Baiklah, kita tak usah bicarakan soal yang tak berguna lagi, sekarang kau boleh duduk dengan hati tenang, marilah kita bicarakan lagi persoalan ini dari permulaan."
Han Siong Kle tidak banyak berbicara, ia segera duduk dihadapan kakek itu dan membungkam dalam seribu bahasa.
Iblis diantara iblis termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan nada kuatir ia bertanya kembali.
"Bocah. benarkah kau bersedia mewakili diriku untuk bertempur melawan pemilik Benteng Maut??"
"Sedikitpun tidak salah, kau tidak percaya"
"Dan kau juga menerima tawaranku untuk belajar silat dariku."
"Tentang soal iTu."
"Kau tak usah ini itu lagi" tukas Iblis di antara iblis dengan suara berat, "Dengan andalkan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bertarung melawan Tengkorak Maut sama artinya dengan telur membentur batu kau tak mungkin bisa menangkkan dirinya."
Diam2 Han Siong Kie membenarkan juga perkataannya itu, sebab apa yang dikatakan merupakan suatu kenyataan, tanpa terasa terbayang kembali dalam benaknya akan peristiwa yang baru saja terjadi, ketika belum lama berselang ia mengunjungi Benteng Maut ternyata sebelum berhasil melihat jelas bayangan tubuh lawannya, hanya satu pukulan berhawa dingin telah berhasil menggulung tubuhnya hingga mencelat keluar dari benteng dan tercebur kedalam sungai.
Akhirnya dengan nada berat pemuda itu mengangguk.
"Baiklah akan kuturuti perkataanmu" katanya.
Iblis diantara iblis segera angkat kepala dan tertawa ter bahak2.
"Haaah... haaah.. haaah... bocah, bila kau sanggup memenuhi harapanku ini, sampai matipun aku merasa amat berterima kasih kepadamu"
"Kau tak usah berterima kasih kepadaku, anggap saja kesanggupanku ini sebagai semacam jual beli. "
"Hmmm.. . kau memang terlalu jumawa dan tinggi hati luar biasa, baiklah, mari kita teruskan pembicaraan kita..."
" Cepat katakan "
"Hanya disebabkan karena rasa tak puas aku telah terkurung selama empat puluh tahun lamanya didalam gua bawah tanah ini."
"Empat puluh tahun?? " seru Han Siong Kie sambil menjulurkan lidahnya.
"Sedikitpun tidak salah, sepuluh hari lagi berarti genap aku terkurung selama empat puluh tahun"
"Sebenarnya apa yang telah terjadi?? kenapa kau sampai terkurung didalam gua bawah tanah?? " tanya pemuda itu dengan perasaan ingin tahu.
"Empat puluh tahun berselang, ia membunuh orang bagaikan membabat rumput, ilmu silatnya lihay dan tiada tandingan membuat dunia persilatan se akan2 sedang menemui saat untuk kiamat, jangan dikata orang Bu lim tak mampu untuk memberikan perlawanan, bahkan raut wajah yang sebenarnya pun tak diketahui orang.."
"Oooh..” Han Siong Kie berseru tertahan.
"Aku terjun kedalam dunia persilatan sepuluh tahun lebih duluan darinya dan berhasil merebut julukan sebagai "Mo Mo cungcu "Raja dari segala iblis, tetapi sebagian besar orang menyebut aku sebagai Mo tiong ci Mo atau Iblis diantara segala iblis, sejak Tengkorak Maut munculkan diri dalam dunia persilatan tersebar berita yang mengatakan satu Iblis muncul, satu iblis lenyap.
"Apakah arti perkataan itu???" tanya sang pemuda.
"Artinya setelah kemunculan Tengkorak maut berarti aku si Rasul dari segala Iblis bakal lenyap."
Han Siong Kie jadi semakin tertarik, ia merasa cerita ini merupakan satu kejadian Bu-lim yang luar biasa serunya kemudian. "Lalu bagaimanakah dalam kenyataan??"
"Kau jangan gelisah, dengarkanlah ceritaku ini lebih jauh, kau musti tahu bukan bahwa orang Bu-lim mengandung soal "nama" sebagai suatu hal yang lebih penting daripada jiwa sendiri, setelah mendengar ucapan itu aku jadi teramat gusar, maka suatu ketika aku ambil keputusan untuk menantang Tengkorak maut untuk berduel."
"Bagaimana kemudian??"
"Jejak Tengkorak maut bagaikan setan tanpa bayangan, ia ibaratnya naga sakti nampak kepala tak nampak ekornya, mau cari jago itu benar2 tidak gampang.."
"Kenapa kau tidak langsung menuju ke benteng Maut untuk mencari dirinya..?? kembali Han Siong Kie menyela.
"Waktu itu aku masih belum tahu bahwa Tengkorak Maut sebenarnya bukan lain adalah pemilik Benteng maut"
"Bukankah didepan pintu benteng Maut tertera sebuah lambang kepala tengkorak yang berlumuran darah?? apa kau tak bisa menduga kalau benda itu menandakan dirinya??"
"Kesemuanya itu adalah urusan belakangan, waktu itu yang diketahui umum hanya Benteng Maut dua patah kata.. Dengarkan dulu ceritaku lebih jauh, setelah tiga tahun lamanya aku menguber jejaknya kesana kemari akhirnya pada suatu kesempatan aku berhasil juga bertemu dengan dirinya, kami berdua segera berduel dengan serunya hingga beribu2 jurus telah berlalu.."
"Bagaimana akhirnya?? siapa yang berhasil menangkan pertarungan itu?? tanya Han Siong Kle dengan mata terbelalak.
"Akhirnya pada suatu kesempatan sebuah pukulannya berhasil menghajar telak ditubuhku hingga membuat aku muntah darah segar.."
Diam2 Han song Kie terkesiap juga mendengar kisah itu, ia tak menyangka kalau Iblis diantara iblis sanggup bertanding sebanyak ribuan jurus melawan Tengkorak Maut, hal ini membuktikan bahwa tenaga dalam yang dimiliki kakek aneh ini benar2 sangat tinggi. sambil menghembuskan napas panjang, serunya kemudian: "Jadi akhirnya kau yang menderita kekalahan??"
"Tidak salah, tetapi aku tak mana mengaku kalah dengan begitu saja dalam hati aku tetap merasa tidak puas dengan hasil pertarungan tersebut.."
"Tidak mau mengaku kalah??" hampir saja Han Siong Kle tertawa tergelak karena kegelian, dengan nada ingin tahu ia berseru,
"Apa maksudmu berkata demikian??"
"bukankah kau sudah jelas kalah?? kenapa kau tidak puas..??"
"Bila berbicara tentang soal jurus serangan, maka boleh dibilang kepandaian kita berdua setali tiga uang " ujar Iblis diantara iblis dengan nada emosi.
"Tapi celakanya ia berhasil melatih sejenis ilmu sakti yang disebut Kim kong sinkang, dengan ilmu saktinya itu tubuhnya jadi kebal terhadap serangan telapak. totokan jari maupun bacokan senjata tajam."
"Maka dari itu seranganmu sama sekali tidak berguna? " sambung pemuda itu cepat.
"Ehmm setelah menderita kekalahan aku segera bersumpah akan menciptakan sejenis ilmu sakti yang mampu menghancurkan pertahanan ilmu Kim kong sinkangnya."
"Dan sekarang apakah kau telah berhasil menciptakan kepandaian sakti tersebut??"
"Jangan menyela perkataanku, dengarkan kisahku lebih jauh" omel Iblis diantara iblis dengan mata melotot "setelah terjadi pertarungan itu, kami malah jadi sahabat secara terus terang ia menceritakan segala sesuatu tentang dirinya kepadaku."
"Jadi kau telah mengetahui semua rahasia pribadinya?? " sela Han song Kie kembali dengan kegirangan. .
Iblis diantara iblis melirik sekejap kearah pemuda itu, lalu menjawab.
"Kau tak usah keburu gembira, aku tak akan memberitahukan semua rahasia itu kepadamu, bila ada kesempatan selidikilah sendiri dengan andalkan otak serta kecerdasanmu. Begitulah.. setelah berhasil maka aku sebera menggali gua dibawah tanah ini dan bersumpah sebelum berhasil menciptakan ilmu semacam itu tak akan tinggalkan tempat ini lagi, siapa tahu sekali mendekam aku telah menghabiskan waktu selama empat puluh tahun lamanya, aku berhasil dengan kepandaianku, tapi akupun habis sudah riwayatnya sampai disini" selesai berkata ia menghela napas dalam2.
Diam2 Han Siong Kie merasa amat kagum dengan kebulatan tekad Iblis diantara iblis yang begitu kokoh melebihi batu karang, dengan sebutan yang lebih menghormat ia berkata:
"Locianpwee, semangat serta perjuanganmu yang tak kenal lelah itu membuat boanpwee merasa amat kagum"
"Hei, bocah, kenapa kau malah bersikap menghormat kepadaku?? " goda Mo-tiong ci-Mo sambil tersenyum.
"Setelah boanpwee dapat memahami duduk perkara yang sebetulnya, ialah sepantasnya kalau aku berubah sebulanku".
Mo Tiong ci Mo termenung beberapa saat lamanya, kemudian setelah menghembuskan napas panjang ujarnya
"Kepandaian sakti yang berhasil kuciptakan itu adalah sebuah ilmu jari yang kuberi nama " Tong Kim Ci.." "
"Tong Kim ci??.."
"Sedikirpun tidak salah, dalam jarak lima tombak dari sekeliling tubuhmu bila kau gunakan ilmu jari itu, maka emas akan berlubang batu akan hancur jadi bubuk. aku percaya dengan kepandaian sakti ini aku akan berhasil menghancurkan pertahanan tubuh "Kim kong sinkang" milik Tengkorak Maut, tapi sayang.. aaai dikala aku sedang melatih ilmu sakti itu, aku telah mengalami jalan api menuju neraka hingga mengakibatkan sepasang kakiku jadi cacad, maka tak mungkin lagi aku dapat memenuhi harapanku untuk memenuhi janji duel tersebut.. dan kini, kian hari sepasang kakiku telah semakin kaku, perasaan itu kian lima kian membumbung ke atas, aku sadar bahwa jiwaku sudah tak akan tahan berapa lama lagi.. oleh sebab itulah aku berharap bisa berjumpa dengan orang yang punya jodoh serta dapat mewakili diriku untuk memenuhi harapan yang telah kupendam selama empat puluh tahun lamanya ini..."
"Locianpwee, seandainya Tengkorak Maut memang ada janji dengan diri cianpwee, kenapa ia tak datang kemari untuk memenuhi janji" tanya Han Siong Kle dengan nada tercengang. .
"Ia tidak tahu kalau aku menyembunyikan diri didalam gua bawah tanah sudah tentu tak mungkin datang sendiri kemari..."
"Oooh... jadi locianpwee bersuit nyaring adalah bermaksud...."
"Benar, maksudku adalah untuk memancing kedatangan orang2 yang kebetulan lewat disini"
"Masa selama banyak tahun tak seorang manusiapun yang mendengar suara sultanmu itu???"
"Tentu saja ada, bahkan banyak... banyak sekali, hanya sayang mereka bukanlah manusia2 yang punya bakat untuk berlatih ilmu maha sakti ini"
"Kalau begitu darimana pula locianpwee bisa mengetahui bahwa boanpwee berbakat"
"Dari celah2 mulut gua aku telah menyaksikan gerakan tubuhmu sewaktu memasuki hutan, aku lihat tenaga dalammu cukup sempurna dan juga usianya masih muda maka lantas aku bersuara memanggil kedatanganmu kesini, setelah dekat aku semakin jelas mengetahui bahwa kau berbakat bagus, karena itu aku sengaja suruh kau menghancurkan batu cadas itu dalam tiga pukulan, tujuanku adalah untuk menjajal sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang kau miliki... sungguh tak kusangka meskipun usiamu masih muda namun kesempurnaan tenaga dalam yang kau miliki sudah sedemikian sempurnanya. bila dugaanku tak keliru maka kemungkinan besar kau pernah mendapat bantuan obat2 mujarab atau buah yang langka, kalau tidak darimana munculnya hawa murni sebesar seratus tahun hasil latihan??"
"Dugaan Loocianpwee tepat sekali, aku memang telah mangalami penemuan aneh"
"Baik, aku tak ingin tahu asal asul perguruanmu, aku cuma inginkan agar kau mewakili diriku guna memenuhi apa yang kuharapkan selama ini."
"Nah kini aku akan wariskan lebih dulu ilmu "Mo mo ciang hoat" ku lebih dahulu, kepandaian tersebut merupakan ilmu andalanku yang terampuh, setelah engkau berhasil menguasai barulah kuwa riskan pula ilmujari Tong Kim ci itu ...."
"Berapa lama yang dibutuhkan untuk mempelajari kepandaian tersebut??"
"Bagi dirimu yang telah memiliki kemampuan yang cukup kuat, aku rasa tiga hari sudah cukup"
Begitulah, sejak hari itu dengan tekun dan giat Han Siong Kie berlatih ilma silat di bawah pimpinan Iblis diantara iblis...
Waktu berlalu dengan cepatnya tanpa tetasa tiga hari sudah lewat, selama beberapa hari yang amat singkat itulah Han Siong Kie telah berhasil menguasai seluruh kepandaian Mo mo ciang hoat serta Tong kim ci yang diwariskan kakek Iblis diantara iblis kepadanya.
Ilmu telapak Mo mo cianghoat merupakan suatu jenis ilmu pukulan yang terdiri dari menghisap. menggetar menyerang serta bertahan empat bagian diantaranya bagian menyerang serta bertahan merupakan dua bagian pelajaran yang dipenuhi oleh jurus2 aneh yang maha sakti.
Kalau menyerang maka kehebatannya bagaikan sambaran kilat yang menggugurkan bukit, sedang kalau bertahan kokoh bagaikan benteng berlapiskan emas sekalipun menghadapi serangan yang bagaimana dahsyatpun sulit untuk memaksa mundur barang selangkahpun.
Selama tiga hari berkumpul dan berlatih silat atas petunjuk Iblis diantara iblis, tanpa terasa dalam hati kecil Han Siong Kie muncul suatu perasaan berat yang sangat aneh.
Tentu saja ia tak tahu bahwa sebelum mengasingkan diri, lblis diantara lblis mempunyai nama besar yang disegani orang, begitu tersohor namanya sebingga tidak berada dibawah nama besar Tengkorak maut, bahkan musuh2 besarnya tersebar di mana2.
Han Siong Kie amat menguatirkan keselamatan adik angkatnya Tonghong Hwie, disamping itu diapun hendak mengunjungi Benteng Maut, dengan mendapat tugas dari lblis diantara iblis, dia merasa tugas itu kebetulan sekali kepadanya. Maka pada hari keempat ia lantas berkata.
"Locianpwee, aku ingin mohon diri terlebih dahulu, aku pasti akan melanjutkan tugas yang cianpwee bebankan kepadaku, aku tak akan bikin hatimu kecewa"
Iblis diantara iblis termenung dan berpikir sebentar lalu berkata:
"Bocah meskipun ilmu jari Tong Kim ci berhasil kau pelajari namunnya sayang tenaga dalam yang kau miliki masih amat cetek, empat puluh tahun bukanlah suatu jangka waktu yang terhitung pendek siapa tahu sampai dimanakah kemajuan yang tercapai si Tengkoraak Maut didalam hal tenaga dalamnyaa... setelan kupikir pulang balik akhirnya aku berkesimpulan bahwa aku harus ulurkan tangan untuk membantu dirimu..."
Han Siong Kie sebagai seorang jago tentu saja dapat memahami perkataan itu, buru2 ia goyangkan tangannya berulang kali.
"Locianpwe jangan... jangan sekali kau lakukan hal itu atas diriku"
Iblis diantata iblis mendengus dingin, ia tak ambil peduli terhadap ucapan dari Han Siong Kie, sepasang telapaknya bekerja cepat dan terasalah segulung angin pukulan yang maha dahsyat sebera menekan tubuh sianak muda itu sehingga sama sekali tak berkutik.
Ketika tangannya ditekan kebawah, maka tak dapat dikuasai lagi Han Siong Kie jatuh tertunduk, jatuh diatas tanah, pada waktu itulah telapak yang lain laksana kilat ditempelkan diatas ubun2 pemuda itu.
"Bocah, pusatkalah perhatianmu dan pejamkanlah matamu rapat2" serunya dengan tiada serius " gunakanlah hawa murni yang ada dalam tububmu untuk menerina aliran hawa murni yarg kusalurkan ini"
Sambil berkata segulung aliran hawa panas yang menyegarkan hati segera mengalir masuk kedalam tubuh Han Siong Kie lewat jalan darah Hoa kay hiat diatas ubun2.
Han Siong Kie menyadari hebatnya ancaman bahaya bila dia tidak segera pusatkan perhatiannya dalam keadaan begini sekalipun dia tak mau terpaksa harus menerima pemberian aliran hawa panas tersebut, terpaksa ia pusatkan perhatiannya dan salurkan hawa tenaga dalam untuk mengiringi masuknya aliran hawa murni dari luar.
Ia pernah ganti tulang karena pengaruh air mukjijat dari bawah permukaan tanah kemudian mendapat pula saluran hawa murni lewat kura2 sakti, jalan darah penting disekujur tubuhnya boleh dibilang telah menembus semua, kini setelah mendapatkan saluran tenaga dalam dari Iblis diantara iblis, dengan amat lancar sekali hawa murni tadi melebur bersama hawa murni yang sudah di milikinya tadi.
Dalam sekejap mata Iblis diantara iblis telah menyelesaikan pekerjaannya menyalurkan hawa murni kedalam tubuh pemuda tersebut.
Telapak tangannya segera digeserkan dari atas ubun2 menunggu pemuda itu sudah menyelesaikan semedinya dan bangkit berdiri Iblis diantara iblis dengan tubuh bergetar keras sedang duduk disudut goa itu.
Timbul perasaan tidak tega didalam hati kecil Han Siong Kie, rasa menyesal berkecamuk didalam hatinya, andai kata pemilik dari benteng maut bukan musuh bebuyutannya, tak mungkin dia akan menerima permintaan dari Iblis diantara iblis.
Dan kini pihak lawan telah membayar kesanggupannya itu dengan suatu balas jasa yang tak ternilai harganya, ia telah mendapat saluran hawa murni dari kakek itu, hingga membuat Han Siong Kie merasa dirinya terlalu serakah, ia terlalu memahami diri sendiri.
Per lahan2 Iblis diantara iblis membuka matanya, sinar matanya telah pudar dan badannya nampak lemah sekali, dengan suara ter sengkal2 ujarnya .
"Bocah cilik, sekarang didalam tubuhmu telah terdapat hawa murni bagaikan hasil latihan selama dua ratus tahuni kejadian ini merupakan suatu peristiwa besar yang belum pernah dialami oleh orang Bu lim sebelumnya, perduli sampai dimanakah kemajuan tenaga lweekang yang dimiliki Tengkorak Maut, tak mungkin dia sanggup melampaui keampuhanmu sekarang"
"Locianpwee, aku merasa menyesal sekali karena selama ini telah merahasiakan satu persoalan terhadap dirimu" bisik Han Siong Kie dengan wajah amat sedih. "Rahasia apa..."
"Sebenarnya boanpwee mempunyai dendam kesumat dengan pemilik dari benteng maut itu, karena itulah aku dengan senang hati menerima tawaran dari lociaopwee "
"Oooh jadi kaupunya dendam dengan Tengkorak Maut??"
"Benar tapi Loocianpwee tak usah kuatir, aku berani bersumpah tak akan menggunakan ilmu sakti hasil pelajaran dari loocianpwee untuk melaksanakan tujuanku didalam membalas dendam"
Iblis diantara tblis tertegun sebentar kemudian tertawa ter-bahak2.
"Haaah... haaah.. haaah bocah cilik, aku kagum kejantananmu, kupuji dirimu sebagai seorang pendekar sejati di dalam dunia persilatan, dari perkataan itu akupun bisa membuktikan bahwa kau berjiwa besar dan berhati jujur, tak sia2 kusalurkan seluruh hawa murniku kedalam tubuhmu"
Tiba2 Han Siong Kie jatuhkan diri berlutut diatas tanah.
"Eeeei... bocah, apa yang hendak kau lakukan??" tegur Iblis diantara iblis dengan wajah tertegun.
"Sekalipun boanpwee telah memperoleh warisan ilmu silat dari Leng ku Siang-jin terlebih dulu hingga semestinya dalam peraturan aku harus mengakui dirinya sebagai guruku, tapi dalam kenyataan boanpwee sama sekali tidak terikat oleh perguruan manapun juga. Ini hari berkat baik hati dari locianpwee aku telah berhasil lebih mrnyempurnakan diriku, karena aku harap cianpwee suka meagijinkan diriku uatuk mengangkat cianpwee sebagai guruku !"
“Tent&ng soal ini., tentang soal ini,!” untuk beberapa saat lamanya iblis diantara iblis tidak berbicara, ia nampak termenung dan memandang keatas langit2 gua tanpa berkedip.
"Apakab cianpwee tak mau mengabulkan permitaaaku ini?” pinta Han Siong Kie kembali.
Iblis diantara iblis ragu2 sejenak, akhirnya dia mengangguk,
“Baiklah, aku terima kau sebagai muridku”
Han Siong Kie segera menjalankan penghormatan besar untuk mengangkat kakek itu sebagai gurunya. kemudian baru bangkit berdiri.
Rupaoya lblis diantara iblis merasa amat terharu sekali, sekujur tubuhnya tampak gemetar keras sedang air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang telah kusut. mimpi pun ia tak pernah menyangka pada saat akhir masa hidupnya ia telah menerima ahli waris yang begitu bagus.
"Muridku, aku sudah tak dapat hidup lebih lama lagi " ujar Iblis diantara
iblis setelah termenung beberapa saat. “Aku barap didalam sepulub hari kau sanggup menyelesaikan apa yang menjadi idam2anku itu, berduellah dengan pemilik Benteng Maut lalu berilah kabar baik kepada gurumu!”
"Tecu akan melaksanakan keinginan suhu, apakah masih ada lain pesan?”
“Persoalan yang lain kita bicarakan setelah kau kembali lagi kesini dan sekarang kau boleh segera berangkat melakukan sebaik baiknya:
Pertama, setelah tiba didepan Benteng Maut kau harus segera bersenanduag! Satu Iblis muncul, satu Iblis lenyap, Iblis diantara Iblis bertemu dengan raja langit” maka Tengkorak maut akan menyambut kedatanganmu secara baik2, sebab selamanya Benteng Maut amat benci bila ada orang berkunjung kesitu.”
Dengan perasaan tak habis mengerti Han Siong Kie mengangguk.
“Apakah pesanmu yang kedua?” tanyanya kemudian.
"Kedua pertarungan ini hanya terbatas untuk bertanding belaka, kedua belah pihak tiada dendam atau sakit hati maka aku larang kau gunakan ilmu sakti itu untuk melukai dirinya sebelum bertanding, kau musti jelaskan lebih dahulu bahwa pertarungan yang bakal berlangsung hanya terbatas sampai saling menutul belaka.
"Tecu akan mengingat selalu pesan suhu, dan apakah pesan yang ketiga itu"
"Ketiga aku melarang kau gunakan kesempatan ini untuk menuntut balas bagi sakit hati mu sendiri"
"Suhu tak usah kuatir," sahut Han Siong Kie dengan wajah serius, "tecu masih sanggup untuk membedakan mana budi mana dendam, mana tugas dan mana kesempatan untuk pribadi"
-0000000-
"KALAU kau memang bisa berpandangan jauh kedepan, akupun dengan lega hati akan menantikan kabar gembira darimu" ujar Iblis diantara Iblis sambil mengangguk " ingat didalam sepuluh hari kau harus segera kembali kemari, aku masih ada persoalan yang hendak disampaikan kepadamu, ingat hanya sepuluh hari, selewatnya sepuluh hari mungkin aku sudah tak dapat bertemu lagi dengan dirimu"
Han Siong Kie merasa terharu sekali hingga tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia tahu bahwa suhunya hanya mampu hidup selama sepuluh hari lagi karena ia telah menyalurkan seluruh hawa murni yang dimilikinya kedalam tubuh sendiri, tentu saja gurunya berbuat demikian karena melihat ia bisa mewakili dirinya untuk pergi ke Benteng maut dan berduel melawan Tengkorak maut.
"Suhu" ujarnya kemudian dengan suara sedih "tecu tak akan membiarkan kau orang tua merasa kecewa"
"Baiklah, sekarang kau boleh sebera berangkat setelah keluar dari gua ini carilah batu besar yang lain sebellah mulut gua ini"
"Tapi bagaimana dtngan makanan serta minuman kau orang tua?? sekarang keadaanmu sudah...." pemuda itu tak tega melanjutkan kata2nya dan segera membungkam. Iblis diantara iblis tertawa keras.
"Haahhh...haahhh...haaahhh.. maksudmu dengan keadaanku sekarang yang lemah tak bertenaga, aku sudah tak mampu lagi untuk makan?? tentang soal ini kau tak usah kuatir, aku masih punya persediaan ransum selama sepuluh hari, pergilah dengan hati tenang. Ingat jangan lupa dengan apa yang telah kukatakan"
"Tecu tak berani melupakannya, didalam sepuluh hari pasti aku akan kembali kemari"
Selesai memberi hormat ia keluar dari gua kemudian mencari batu besar untuk menyumbat mulut gua itu dan berlalu dengan sedih.
Perintah dari guru lebih penting untuk dilaksanakan lebih dulu, terpaksa Han Siong Kee harus singkirkan dahulu niatnya untuk mencari Tonghong Hwie, dia langsung berangkat menuju kebenteng maut.
Setelah memperoleh tenaga dalam sebesar seratus tahun hasil latihan milik Leng Ku siangjin dan sekarang mendapatkan pula seluruh tenaga dalam dari Iblis diantara iblis berarti sekarang ia telah memiliki tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan penemuan semacam ini boleh dibilang jarang sekali ditemui siapapun.
Ilmu meringankan tubuh Cahaya kilat lintasan cahaya yang digunakan pada saat ini jauh berbeda keadaannya dangan tempo dulu, kecepatannya pada saat ini sudah melebihi kecepatan sambaran kilat, seandainya bukan seorang jago lihay sukar untuk menemukan gerakan tubuhnya itu.
Sepuluh hari... ia harus berhasil balik kembali kedalam gua bawah tanah itu dalam sepuluh hari, karena Iblis diantara iblis hanya mempunyai waktu hidup hanya sepuluh hari saja
Setelah melintasi jalan gunung yang terjal dan berliku, ia tiba disebuah jalan raya.
Sebuah sungai besar terbentang didepan mata. sambil melakukan perjalanan menyelusuri pantai sungai itu ia berlari kencang. ia hendak mencapai Benteng Maut didalam sehari semalam.
Han Siong Kie tahu bahwa seandainya di dalam sepuluh bari ia tak dapat kembali maka hal itu merupakan suatu dosa yang tak dapat diampuni, sebab satu2nya harapan dari gurunya telah dititipkan diatas pundaknya, disamping itu dia harus berhasil menangkan pemilik dari Benteng Maut, kalau tidak gurunya akan mati dengan mata tidak meram!
Ilmu silat yang dimiliki pemilik Benteng Maut membuat hatinya bergidik, ia tak tahu dengan andalkan ilmu jari Tong kim ci tersebut mampukah ia menjebolkan pertahanan ilmu kebal Kim kong sinkarg yang dimiliki lawan?
Dalam hatinya terselip satu harapan. ia berharap didalam pertarungannya mewakili Iblis diantara Iblis ini ia berbasil membongkar raut wajah yang sebenarnya dari Tengkorak maut, disamping itu diapun bisa mengira-ngira sampai taraf yang bagaimana hebatnya ilmu silat dari musuh besar pembunuh keluarganya ini.
Tiba2.. dari depan mata muncul dua sosok bayangan hijau berkelebat memotong jalan raya dan lenyap dibalik hutan ditepi jalan, diantara bayangan hijau itu kelihatan mengempit sesosok benda putih yang mirip sekali dengan tubuh seorang gadis muda.
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak pemuda ini. ia menghentikan gerakan tubuhnya dan berpikir :
"Kedua orang itu pasti bukan manusia baik2, coba akan kuintil perjalanan mereka”
Berpikir demikian ia segera belok kesisi jalan dan melayang pula masuk kedalam hutan.
Baru saja tubuhnya mencapai hutan yang cukup lebat tadi, terdengar suara seseoraog yang serak tua sedang berkata :
“Turunkan dia keatas tanah, lepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan!”
"Suhu, perempuan ini…!” ujar orang kedua dengan nada tinggi melengking.
"Ada apa?”
“Tecu harap suhu suka menghadiahkan gadis ini..!”
"Bocah keparat, kau lihat apakah wajahnya terlalu cantik sehingga kau merasa keberatan bila kulalap??" jengek suara setan2 tua itu lagi sambil tertawa seram.
"Tentang soal ini.."
"Sudahlah, tak usah ini itu lagi, ayoh cepat lepaskan seluruh pakaiannya, aku akan segera mengisap sari kegadisannya"
Han Siong Kie kontan merasakan darah panas dalam didadanya bergolak keras, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya dan sepasang mata melotot bulat2, ia tak menyangka kalau disiang hari bolong itu ternyata ada orang yang berani melakukan perbuatan terkutuk semacam ini.
Ia merasa setelah kejadian ini ditemui olehnya, sebagai seorang pendekar penegak keadilan sudah seharusnya ia bunuh manusia2 itu. Dalam pada itu terdengar pemuda tadi telah berkata kembali:
"Suhu, bagaimana kalau kau hadiahkan gadis ini kepadaku saja?? aku akan carikan sepuluh orang gadis yang lain untuk kau siorang tua..."
"Sudah, kau tak usah banyak bicara lagi, perawan ini mempunyai tulang yang amat bagus dengan dasar tenaga dalam yang cukup sempurna, jarang sekali perempuan semacam ini ditemui dalam dunia persilatan, kau hendak pergi kemana untuk mencari gadis macam begini untukku?? ayoh cepat turun tangan lepas seluruh pakaiannya"
"Suhu, kau toh hanya ingin menghisap sari kegadisannya belaka, kenapa tidak kau hadiahkan kepadaku saja agar aku bisa mengawini dirinya."
"Bocah keparat, aku masih belum ingin modar, mengerti?? kalau kau berani banyak ngebacot lagi, jangan salahkan kalau kubacok dirimu lebih dahulu."
Han Siong Kie mendengus dingin, perlahan ia munculkan diri dari tempat persembunyiannya .
Pada saat yang hampir bersamaan terdengar suara pakaian yang ditarik hingga robek, diikuti dua jeritan kaget bergema memecahkan kesunyian.
Dihadapan mereka terlihatlah seorang kakek berjubah hijau yang berwajah menyeramkan sedang berdiri berdampingan dengan seorang pemuda berdandan busu warna hijau, seorang gadis baju putih yang bagian-bagian dadanya telah robek menggeletak diatas tanah, sepasang buah dadanya yang putih padat berdiri menongol keluar dari balik pakaian yang robek itu
Napsu membunuh menyelimuti wajah Han Siong Kie makin tebal, sorot mata ber api2 memancarkan cahaya yang amat tajam perlahan2 ia sapu kedua orang itu sambil tertawa dingin tiada hentinya. Kakek tua itu sebera tertawa seram:
"Bocah keparat, rupanya kau datang untuk mencari kematian buat dirimu sendiri" jengeknya.
Sedang pemuda busu tadi dengan cepat menggerakkan tubuhnya siap melancarkan serangan.
"Bagus sekali perbuatan kalian berdua" dengus Han Siong Kie sambil tertawa dingin.
Di siang hari bolongpun berani melakukan perbuatan terkutuk semacam ini. Hmm ini hari setelah bertemu dengan aku si malaikat penyakitan, jangan harap kalian berdua bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup "
"Keparat cilik. siapa namamu??"
"Malaikat penyakitan"
"Malaikat penyakitan?? Haah haah haah. sebentar lagi kau akan berubah jadi malaikat elmaut. Muridku bunuh dia."
Pemuda itu mengangguk dan segera menerjang kedepan sambil melancarkan satu pukulan dahsyat.
Han Siong Kie mendengus dingin, ia geser tubuhnya satu langkah kesamping lalu mengirim pula satu pukulan kearah depan.
"Blaaam" ditengah ledakan keras, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, tubuh pemuda busu itu tergetar keras dan mundur sejauh delapan depa dengan sempoyongan.
Air muka kakek jubah hijau itu kontan berubah hebat, ia tak menyangka pemuda berwajah penyakitan yang menyebut dirinya sebagai malaikat penyakitan ini memiliki ilmu silat yang sangat lihay, tapi aneh sekali kenapa dalam dunia persilatan belum pernah terdengar munculnya seorang pemuda yang demikian lihaynya?? Dalam malunya pemuda busu itu jadi teramat gusar, ia membentak keras dan sekali lagi menerjang kedepan. telapak kiri melancarkan pukulan, telapak tangan kanan mengancam dengan ilmu cengkeraman secara terpisah dari atas dan tengah mengancam dua bagian penting diatas tubuhnya.
Semua jurus dan gerakan dilakukan sangat aneh dan luar biasa, jauh berbeda dengan kepandaian silat aliran Tionggoan.
"Menghadapi manusia2 durjana semacam ini kenapa aku tidak coba mengguoakan ilmu jari Tong Kim Ci?" pikir Han Siong Kie didalam hati.
Berpikir demikian ia segera menghimpun tenaga dalamnya dan ayun tangan kearah depan.
Suara jeritan ngeri yang amat menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian. pemuda busu itu roboh terjengkang diatas tanah dengan darah segar menyembur keluar setinggi beberapa tombak. dadanya seketika berlubang besar sekali.
Diikuti “Kraak!” sebuah pohon besar yang berada dibelakang tubuh busu muda itu bergoncang keras serta muncul sebuah lubaag pula sebesar ibu jari.
Rupaeya serangan jari yang dilancarkan oleh Han Siong Kie seketika berhasil melubangi tubuh pihak lawan. siapa tahu tenaganya masih cukup besar maka telah menembusi tubuh busu muda itu sisa tenaga segera melubangi pula sebuah pobon yang berada pada jarak tiga tombak dari kalangan.
Kejadian ini sangat mengejutkan hati si anak muda itu ia tak mengira kalau kekuatap ilmu jari Tong kim ci yang dipelajari itu bisa sedemikian hebatnya.
Kakek jubah hijau itu lebih2 ketakutan selama hidup belum pernah ia mendengar ilmu jari semacam ini seorang jago yang dapat menotok jalan darah orang dari jarak jauh pun sudah terhitung kelas satu apalagi ilmu jari yang bisa menembusi tubuh lawan bahkan melobangi pula pohon jauh dibelakang sang korban.
Saking takutnya kakek itu mundur beberapa langkab kebelakang sambil serunya;
"Malaikat penyakitan tahukah engkau siapakah aku?”
"Coba kau katakan sendiri”
"Aku adalab pangawal istana terlarang dibawab kekuasaao Thian Lam Tee kun yang disebut orang pengawal baju bijau Pit Lee”
Han Siong Kie melongo ia tak tahu manusia macam apakah yang dimaksudkan sebagai Thian Lam Tee Kun itu tetapi ditinjau dari sebutan itu jelas orang itu merupakan seorang jagoan dari wilayah Thian Lam maka dengan nada seenaknya ia berkata:
"Kalau Thian-lam lantas kenapa???" Pengawal baju hijau tertawa seram.
"Hmmm.... hmmmm... kau berani menghalang-halangi pekerjaan dari pihak kami, berani pula melukai anggota perguruan kami berarti bahwa kau hendak memusuhi golongan Thian lam kami"
Sorot mata Han Siong Kie perlahan2 dialihkan kearah gadis yang menggeletak diatas tanah itu, ia begitu melihat wajahnya terkejut tubuhnya seketika gemetar keras hampir saja dadanya meledak karena kegusaran
Kiranya gadis baju putih itu bukan lain adalah Go Siauw Bi gadis yang pernah menyelamatkan jiwanya .
"Anjing tua, kau harus modar" bentaknya keras. Dengan nada terkesiap Pengawal baju hijau mundur satu langkah kebelakang.
"Malaikat penyakitan" teriaknya "Kau betul2 memusuhi golongan Thian lam kami?"
"Bangsat tua, kau tak usah banyak ngebacot lagi lihat serangan" secara beruntun ia lancarkan tiga jurus pukulan yang maha dahsyat.
Ternyata ilmu silat yang dimiliki pengawal baju hijau Pit Lee cukup tangguh, dengan gesit ia menghindar kesana kemari dengan gerakan yang cukup manis ia berhasil meloloskan diri dari tiga serangan maut yang dilancarkan Han Siong Kie itu.
Melihat tiga buah jurus mengenai sasaran kosong, Han Siong Kie semakin naik pitam, ditengah berkelebatnya bayangan telapak yang ber-lapis2 kembali ia lancarkan sebuah pukulan.
Pecahlah nyali pengawal baju hijau Pit Lee melihat kelihayan lawan dalam keadaan begini ia tak berani melancarkan serangan balasan, sambil melompat mundur sejauh satu tombak teriaknya dengan sutra gemetar: "Tahan Apa hubunganmu dengan iblis diantara iblis??"
Han Siong Kie jadi amat terkejut ketika melihat lawannya berhasil menebak permainan jurus Iblis diantara iblisnya yang sudah empat puluh tahun lamanya menyembunyikan diri dibawah tanah tetapi orang ini sekilas memandang berhasil menebaknya secara jitu, hal ini menunjukkan bahwa orang yang berada dihadapannya saat ini bukanlah manusia sembarangan. Dengan cepat ia menjawabi
"Bangsat tua, kau belum berhak mengajukan pertanyaan ini.."
"Apakah kau adalah ahli warisnya??? "
"Kalau benar mau apa???"
"Ooooh jadi Iblis diantara iblis masih hidup di.. kolong langit??"
"Tentang persoalan ini lebih baik kau tak mengurusinya"
Air muka pengawal baju hijau Pit-Lee berubah jadi sangat hebat tiba2 ia putar badan kabur dari situ
Tentu saja Han Siong Kie tak akan membiarkan musuhnya berhasil kabur dengan begitu saja sambil tertawa dingin bentaknya:
"Bangsat tua, kalau pingin kabur tinggalkan dulu selembar jiwa anjingmu"
sambil membentak segulung angin tajam laksana kilat meluncur kearah depan.
Jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma kembali berkumandang memecahkan kesunyian, hujan darah muncrat keempat penjuru dan pengawal baju hijau Pit Lee yang telah berhasil lari sejauh tiga tombak lebih itu roboh terjengkang keatas tanah ..sesaat sebelum menemui ajalnya ia sempat menjerit sekeras kerasnya: "Iblis diantara iblis..."
Han Siong Kie mendengus dingin, ia tendang mayat kakek baju hijau itu hingga mencelat kedalam hutan lalu putar badan dan mendekati tubuh Go Siauw Bi sebelum ia sempat berbuat sesuatu mendadak...
Dari belakang tubuhnya terdengar suara desiran angin bergema datang tanpa beraling ia menegur:
"Jago lihay dari mana yang telah datang kemari??"
"Haaah haaahh haaah sungguh tidak tahu malu jadi ahli waris dari Iblis diantara iblis."
Per-lahan2 Han Siong Kie putar badan, terlihatlah pada jarak lima tombak dibelakang tubuhnya berdiri berjejer dua orang kakek baju kuning, dalam hati segera pikirnya:
"Mereka berdua pasti terpancing datang kemari oleh jeritan keras bangsat tua itu sesaat sebelum modar.."
Dalam pada itu kedua orang kakek baju kuning itu nampak berdiri tertegun untuk beberapa saat lamanya, mungkin mereka tak pernah menyangka kalau ahli waris dari iblis diantara iblis ternyata adalah seorang pemuda berwajah penyakitan, bila kenyataan tak ada didepan mata siapapun tak akan percaya kalau pemuda dihadapannya saat ini adalah seorang jago yang amat lihay.
Dengan pandangan dingin Han Siong Kie menyapu sekejap kearah dua orang kakek baju kuning itu, lalu untuk kedua kalinya ia menegur: "Kalian berdua adalah jago lihay dari mana??"
salah seorang kakek yang punya tahi lalat merah diatas jidatnya itu segera menjawab: "Pengawal baju kuning dari istana Huan mo-kiong dibawah pimpinan Thian lam kun"
"Istana Huan Mo Kiong??"
"Sedikitpun tidak salah"
"Ooooh ..jadi kalian adalah satu aliran dengan bangsat tua baju biru itu??"
"Kalau sudah tahu kenapa mesti tanya lagi?? "
"Jadi kedatanganmu kedaratan Tionggoan juga khusus untuk memetik sari kegadisan orang2 Tionggoan??"
Air muka kedua orang kakek baju kuning itu seketika berubah hebat, dengan sorot mata bengis mereka maju dua langkah kedepan Han Siong Kie sendiri juga amat gusar dengan nada membunuh menyelimuti wajahnya ia mendengus dingin:
"Kalian berdua jangan harap bisa berlalu dari tempat ini dalam keadaan hidup,"
Tubuhnya melesat kearah depan sepasang telapak secara terpisah menyerang kedua orang pengawal baju kuning itu secara berbareng, serangannya dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat bukan begitu saja bahkan ganas dan luar biasa.
Siapa tahu kedua orang pengawal baju kuning itu dengan gampang sekali berhasil meloloskan diri dari ancaman itu kearah samping.
Diam2 Han Siong Kie terkesiap juga melihat kenyataan itu, kelihayan dari kedua orang kakek baju kuning ini ternyata beberapa tingkat lebih hebat dart kakek baju hijau yang telah menemui ajalnya diujung ilmu jari Tong kim ci itu ..
Terdengar salah satu diantara pengawal baju kuning itu berseru tertahan:
"Aaaah.. sedikltpun tak salah, ilmu pukulan yang dipergunakan bangsat ini bukan lain adalah ilmu telapak Mo mo ciang hoat"
Bersamaan dengan selesainya ucapan ini, tiba2 kedua orang ini meloncat mundur beberapa tombak ke belakang lalu kabur dari situ secepat-cepatnya.
Han Siong Kle amat terkejut, ia hendak mengejar namun sudah tak sempat, terpaksa sambil menarik nafas ia cuma geleng2 kepala berulang kali, dalam hati ia berpikir:
"Sungguh aneh sekali, ilmu pukulan yang kulancarkan barusan amat lihay dan hebat, bagi orang biasa jelas sulit menghindar diri, tapi kenyataan mereka berdua dapat meloloskan diri dari ancamanku dengan begitu mudah, jangan2 guruku iblis diantara iblis mempunyai hubungan yang erat dengan istana Huan mo kiong di Thian lam??.."
Ia termenung beberapa saat lamanya, kemudian pikirnya lagi:
"Kenapa aku musti pikirkan persoalan itu?? asal dalam sepuluh hari aku datang pulang kembali, bukankah persoalan ini dapat kutanyakan langsung kepada suhu??"
Berpikir demikian ia lantas putar badan dan dengan kembali sorot matanya kearah Go Siauw Bie, nampak matanya terpejam dan mulutnya terkatup rapat, tatkala sinar matanya terbentur dengan dadanya yang terbuka, jantungnya segera berdebar keras.
Tetapi hal itu hanyalah suatu perasaan spontan yang muncul dari dalam hati seorang pria yang normal, rasa bencinya terhadap kaum wanita segera menekan kembali perasaan tersebut kedalam hati.
Sekarang yang harus segera dilakukan adalah menyadarkan Go Siauw Bie serta memeriksa apakah ada jalan darahnya yang tertotok, tetapi sudah setengah harian lamanya ia periksa namun belum juga ditemukan sesuatu jalan darah yang tersumbat.
Dalam keadaan begini terpaksa ia keraskan hati untuk memeriksa jalan darah di bagian lain yang sensitip.
Dengan jantung berdebar keras pemuda itu periksa jalan darah disekitar dada, lambung, perut serta perut bagian bawah dari gadis itu.. tapi aneh sekali, ternyata tak sebuah jalan darahpun yang tertotok.
"Mungkinkah ia sudah terkena semacam obat pemabok yang bikin kesadarannya jadi lenyap??" pikirnya didalam hati.
Dengan cepat pemuda itu mendekati mayat kakek baju hijau itu dengan harapan berhasil menemukan obat pemunah yang sanggup menyadarkan gadis ini, siapa tahu usahanya tetap sia2 belaka, saku orang itu kosong melompong tak terdapat sesuatu benda apapun.
Han Siong Kie jadi amat gelisah, ia tutupi dahulu pakaian Go Siauw Bie yang robek dengan jubah luarnya, kemudian duduk disisinya sambil putar otak.
Pada saat ini ia buru2 hendak berangkat kebenteng maut untuk berduel melawan Tengkorak maut yang disegani setiap jago dari dunia persilatan, sebab itulah harapan dari suhunya Iblis diantara iblis, ia merasa dirinya tak bisa membuang waktu dengan percuma lagi karena gurunya hanya bisa hidup sepuluh hari lagi.
Disamping itu diapun merasa amat benci terhadap kaum wanita terutama sekali peristiwa di Lian huan tau baru2 ini dimana ia tertangkap oleh ibunya si Siang- go berwajah cantik Ong Cui Ing yang kejamnya melebihi ular yang menyebabkan hampir saja ia kehilangan jiwanya .
Andainya bukan orang yang ada maksud serta ibunya berusaha menyelamatkan dia, mungkin ia sudah mati sejak semula, maka dari itu rasa bencinya terhadap kaum wanita semakin berlipat ganda.
Tetapi Go Siauw Bie yang berada dihadapannya saat ini adalah tuan penolong yang pernah menyelamatkan jiwanya.
Ketika ia dihantam masuk kedalam sungai oleh Tengkorak Maut tempo dulu, andaikata bukan Go Siauw Bie yang menolong jiwanya, tak mungkin ia bisa hidup sampai sekarang bahkan pihak lawan dengan begitu kasih sayang telah merawat serta menempatkan dirinya dalam kamar pribadinya.
Han Siong Kle merasa budi kebaikan semacam ini bagaimanapun juga harus dibalas.
Untuk beberapa saat lamanya ia jadi bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan, berusaha untuk menyadarkan gadis ini, ataukah meninggalkan dirinya dengan begitu saja.
Setelah kebingungan beberapa waktu lamanya, terakhir pemuda itu ambil keputusan untuk membawa gadis ini pergi kekota terdekat guna mendapat pengobatan, sebab kecuali berbuat demikian sudah tak ada alasan lain yang bisa dilakukan.
Maka dengan perasaan berat ia bopong tubuh Go Siauw Bie kemudian berkelebat menuju kearah kota..
Belum sampai sepuluh li ia berjalan, tiba2 terdengar suara bentakan keras berkumandang dari tempat kejauhan, suara itu makin lama semarin mendekat hingga akhirnya tampaklah seorang gadis muda sedang bertempur di kerubuti oleh empat orang pria baju hijau..
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak sianak muda itu, pikirnya:
"Jangan2 mereka adalah manusia-manusia terkutuk dari istana Huan Mo kiong yang hendak melakukan perbuatan tercela lagi."
Tanpa terasa ia menghentikan perjalanannya dan menyaksikan jalannya pertarungan itu dari sisi kalangan.
Terlihatlah keadaan dari gadis itu keteter hebat, posisinya terjepit dan berada dibawah angin, nampaknya sebentar lagi ia bakal tertawan oleh musuh2nya.
Empat orang pria baju hijau yang melakukan pengeroyokan itu ternyata memakai baju serta dandanan yang mirip sekali dengan pengawal baju hijau Pit Le yang berhasil dibinasakan itu, atau dengan perkataan lain keempat orang itupun merupakan pengawal baju hijau dari istana Huan Mo Kiong.
"Tahan" dengan suara keras Han Siong Kle segera membentak keras, tubuhnya dengan sebat melayang masuk kedalam kalangan.
Keempat orang kakek baju hijau itu segera menghentikan serangannya dan meloncat mundur kebelakang.
Dengan pandangan dingin Han Siong Kie melirik sekejap kearah orang-orang dihadapannya, ia lihat keempat orang baju hijau itu mempunyai usia diantara enam puluh tahunan, sedang sang gadis mempunyai wajah yang amat cantik jelita, sekuntum bunga putih menghiasi sanggulnya, pakaian yang dikenakan adalah pakaian berkabung, walau dengan keringat bercucuran dan napas ter-sengkal2 ia berdiri disisi kalangan sambil memandang kearah pemuda itu tanpa berkedip.
Sementara itu ketika keempat orang kakek baju hijau itu melihat orang yang membentak meresa ternyata adalah seorang bocah muda berwajah penyakitan yang membopong seorang gadis, setelah tertegun sejenak mereka segera tertawa ter bahak2 salah satu diantara keempat orang itu segera maju dua langkah kedepan sambil ujarnya.
"Hey bocah penyakitan, rupanya kau sengaja datang untuk memberi hadiah buat kami??"
Sambil berkata sorot matanya dengan tajam melirik sekejap kearah Go Siauw Bi yang berada dibopongan pemuda itu.
Han Sioag Kie mendengus dingin, dia kempit Go Siauw Bi dibawah ketiak kirinya, lalu dengan tangan kanan yang kosong ia tuding keempat orang itu, bentaknya: "Apakah kau juga pengawal2 baju hijau dari istana Huan mo Kiong.???"
Sekilas rasa kaget berkelebat diatas wajah keempat orarng kakek itu, kakek yang maju kedepan tadi segera menjawab:
"Sedikitpun tidak salah bocah keparat siapa namamu???? dari mana kau bisa tahu kalau kami adalah ...."
"Hmmm, bagus sekali" dengus Han Siong Kie singkat "Ingat baik aku bernama Malaikat penyakitan, sekarang aku akan kirim kalian untuk pulang kerumah nenekmu" Bersamaan dengan selesainya ucapan itu telapak tangannya diayun kedepan.
Dalam anggapan kakak baju hijau itu ilmu silat pihak paling2 tidak seberapa lihaynya mereka bermaksud akan turun tangan bila serangan dari musuhnya itu sudah hampir mengenai sasaran, siapa tahu belum sempat ingatan lain berkelebat didalam benaknya, segulung desiran angin tajam telah tiba didepan dadanya, kakek itu jadi terkesiap dan terasalah sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya..
Jeritan ngeri berkumandang memenuhi seluruh angkasa, semburan darah menyebar ke empat penjuru, dengan dada berlubang hingga tembus pada punggungnya kakek itu roboh binasa diatas tanah.
Melihat kelihayan musuhnya, ketiga orang kakek baju hijau lainnya jadi terkejut, air muka mereka berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, rupanya mereka tahu bahwa keadaan tidak menguntungkan, buru2 ketiga orang itu putar badan dan siap melarikan diri.
Han Siong Kie menjengek sinis, telapak kanannya diayun berulang kali.. Kembali terdengar tiga kali jeritan ngeri berkumandang diangkasa, ketiga orang kakek tersebut dengan punggung berlubang hingga tembus pada dadanya roboh diatas tanah.
Dalam waktu singkat empat jago lihay dari Istana Huan Mo Kiong telah mati terbunuh semua dibawah serangan ilmU jari Tong Kim Ci tanpa sanggup melakukan perlawanan.
Gadis cantik berbaju berkabung itu berdiri melongo disisi kalangan karena kaget, ia merasa belum pernah menjumpai ilmu jari selihay ini.
Dengan pandangan dingin Han Siong Kie melirik sekejap kearah gadis cantik itu, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun ia putar badan dan berlalu dari situ.
"Saudara harap tunggu sebentar" seru gadis berbaju kabung itu sambil menghadang jalan pergi Han Siong Kie. sambil memberi hormat ujarnya kembali.
"Aku yang rendah Istri yang ditinggalkan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari saudara."
Han Siong Kie tertegun.
"Isteri yang ditinggalkan?? apakah nama yang dipergunakan juga sebuah julukan belaka??" pikirnya.
Tanpa terasa ia ulangi kembali ucapan itu setengah bergumam. " Isteri yang ditinggalkan??"
"Sedikitpun tidak salah, dan saudara apakah bergelar malaikat penyakitan??"
"Eeei.darimana nona bisa tahu akan julukan itu?? "
"Bukankah kau yang menyebutnya sendiri?"
"Ooh yaah.. aku memang pelupa, maaf"
Habis berkata ia putar badan siap berlalu lagi dari situ.
"Bolehkah aku mengetahui siapakah namamu?” seru istri yang ditinggalkan dengan suara nyaring:
"Malaikat penyakitan"
"Itu bukan namamu yang sebenarnya.."
"Nama yang sebenarnya atau bukan rasanya tiada sangkut pautnya dengan dirimu, aku rasa sudah seharusnya nona segera tinggalkan tempat ini..."
"Budi pertolongan yang telah kau berikan kepadaku, suatu ketika pasti akan kubalas"
"Tidak perlu kau balas, bantuan yang kuberikan bukanlah sengaja kulakukan, aku hanya turun tangan karena tidak senang melihat tingkah laku mereka.."
Gadis yang mengaku bernama istri yang ditinggalkan itu segera mengerutkan sepasang alisnya, ia merasa sikap maupun ucapan pihak lawan begitu dingin dan ketus hingga bikin hati orang gemetar keras, terutama sekali raut wajahnya yang penyakitan itu, andaikata pihak lawan bukan tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwanya mungkin sedari permulaan ia sudah berlalu dari situ. Setelah tertegun beberapa saat, ia berkata kembali: "Gadis yang berada dalam boponganmu itu adalah..."
"Dia senasib dengan dirimu hanya gadis ini jatuh ditangan pihak lawan yang berbeda." selesai berbicara tanpa menunggu jawaban lagi ia putar badan dan berlalu dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan mata.
Memandang bayangan punggungnya yang menjauh diam2 gadis Istri yang ditinggalkan menjulurkan lidahnya bukan saja malaikat penyakitan memiliki sikap yang dingin menggidikan bahkan tenaga dalam yang dimiliki benar2 telah mencapai puncak kesempurnaan.
Kiranya gadis yang mengaku sebagai Istri yang ditinggalkan bukan lain adalan Tonghong Hwie yang sudah ganti rupa dengan wajah aslinya, mimpipun gadis ini tak pernah menduga kalau malaikat penyakitan yang barusan berdiri dihadapannya bukan lain adalah engkoh Kie nya yang dikira sudih mati itu...
Tentu saja Han Siong Kie juga tak pernah menduga kalau istri yang ditinggalkan itu bukan lain adalah adik angkatnya Tonghong Hwie yang selalu dikuatirkan keselamatannya.
Tanpa saling mengenal satu sama lainnya ternyata sesudah berjumpa mereka saling berpisah kembali.
Dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang boleh dibilang Han Siong Kie pada saat ini jauh berbeda dengan keadaan dahulu, hingga dalam suara pembicaraanpun mengalami sedikit perubahan, bila tidak tentu saja Tonghong Hwie segera akan menaruh curiga.
Sebaliknya Tonghong Hwie ketika muncul dalam bentuk pengemis cilik, sengaja ia memyerakkan nada suaranya didalam ber-cakap2, dan sekarang ia bicara dengan suara sebenarnya, tentu saja hal ini membuat kedua belah pihak sama2 menganggap asing pihak lawan..
Sementara itu dalam sekejap mata Han Siong Kie telah menempuh jarak sejauh lima puluh li lebih, akhirnya sampailah dia disebuah kota besar dan menginap disebuah rumah penginapan yang memakai merek "Gwat-lay", kepada sang pelayan ia berpesan untuk carikan seorang tabib.
Beberapa saat kemudian pelayan muncul kembali sambil membawa seorang kakek tua, begitu melangkah masuk kepintu dengan pandangan tajam ia awasi wajah Han Siong Kie beberapa kejap. lalu serunya dengan suara terkejut:
"Aduuuh... siangkong, sungguh tidak enteng penyakit yang kau derita.. bila tidak cepat diobati tentu jiwamu terancam..."
Han Siong Kie tersenyum dan gelengkan kepalanya.
"silahkan sianseng masuk kedalam, yang sedang sakit bukan aku melainkan adalah.."
"Oooh. bukan siangkong yang sakit? bila pandangan mataku belum melamur, aku lihat air muka siangkong rada sedikit kurang beres.."
"Siangseng tak usah kuatir, sejak kecil wajahku sudah demikian keadaannya..."
"oooh.. kalau begitu yang sakit adalah...."
"Istri dari siangkong ini" seru sang pelayan dengan cepat.
Han song Kie jadi menyengir kuda, dalam keadaan begini, tentu saja ia tak leluasa untuk membantah, terpaksa jawabannya: "Harap sianseng suka periksa keadaan sakitnya."
Tabib tua itu mendekati pembaringan dan memeriksa denyutan nadinya, setelah termenung beberapa saat ia segera menggeleng.
"Sakit yang diderita istri siangkong disebabkan oleh perjalanan jauh yang terlalu melelahkan, baiklah aku akan beri obat pelemas otot."
Setelah makan beberapa kali, sakitnya pasti akan sembuh dengan sendirinya..."
-ooo0ooo-
BAB 22
HAN SIONG KIE jadi tertegun dan menyengir kuda, ia tahu penyakit semacam ini hanya bisa disembuhkan oleh orang Bu-lim saja, dengan andalkan kepandaian kaum Tabib semacam ini tak mungkin penyakitan itu bisa disembuhkan, lama setelah mengiakan dan menerima resep ia beri lima tahil perak untuk tabib itu.
Menunggu sang tabib telah berlalu, dengan kesal ia robek resep obat tadi lalu berjalan mondar mandir dalam kamar dengan kepala pusing tujuh keliling.
Go Siauw Bie masih tetap berada dalam keadaan tidak sadar, selembar wajahnya berubah jadi semu merah dan mengerikan sekali.
Dalam pikirannya sedang kalut dan tak tahu apa yang musti dilakukan, mendadak dari luar halaman berkumandang datang suara ketukan nyaring disusul teriakan keras:
"Kami ahli dalam mengobati segala penyakit aneh, bila tidak manjur kalian tak usah bayar mari2 siapa yang sedang menderita penyakit aneh cobalah undang kami... penyakit segera akan sembuh seperti sediakala."
Han Siong Kie jadi amat tertarik mendengar teriakan itu, ia segera mengintip. tampak seorang nenek tua beserta seorang gadis berusia delapan sembilan belas tahunan sambil membawa kain panjang yang bertuliskan Ahli penyakit menyaingi Hua Tuo kepandaian sakti tiada tandingan dijagad sedang berjalan melewati penginapan itu.
"Sungguh tekebur ucapan nenek itu " pikir Han Siong Kie didalam hati "Baiklah akan kujajal kepandaiannya siapa tahu."
Berpikir demikian ia berteriak keras: "Eeeei.. nenek silahkan mampir sebentar kemari??"
Nenek tua itu alihkan sorot matanya yang tajam mengawasi wajah Han Siong Kie sekejap kemudtan sapanya:
"Apakah kek koan yang memanggil aku?"
“Benar” diluar menjawab dalam hati pemuda itu tercekat hatinya sebab dari sorot mata yang tajam dari nenek itu jelas ia merupakan seorang jago lihay yang memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.
Setelah nenek tua itu masuk kekamar dan ambil tempat duduk gadis berwajah hitam itu menggulung kain panjangnya dan diletakkan diujung kamar lalu mengundurkan diri dari situ.
"Apakah Kek koan yang merasa kurang enak badan??" tegur nenek tua itu setelah suasana hening beberapa saat lama nya.
"Buu... bukan bukan"
"Lalu siapa yang menderita sakit??"
"Adik perempuanku"
"sekarang adikmu berada dimana??"
"Diatas pembaringan"
Han Siong Kie mendekati pembaringan dan segera menyingkap kelambu yang menutupi tempat itu.
Nenek tua itu berjalan mendekati sisi tubuh Go siau Bi, setelah memeriksa beberapa saat lamanya, tiba2 dengan suara terkesiap ia berseru:
"Aaah, adik perempuanmu ini sudah terkena bubuk Jit bi-san yang merupakan bubuk tercabul dikolong langit"
Han Siong Kie jadi amat terkejut, serunya dengan nada tercengang:
"Bubuk cabul Jit bie san??" -
"Sedikitpun tidak salah"
"Apa yang dimaksudkan dengan bubuk Jit bi-san?"
"Barang siapa yang terkena bubuk tersebut dan didalam tujuh jam belum memperoleh pengobatan, maka sekalipun ada dewa yang turun dari kahyangan puncak akan dapat menyelamatkan jiwanya "
Han Siong Kie bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri sebentar keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Terdengar nenek tua itu berkata lebih jauh.
"Adik perempuanmu sudah terkena racun keji tersebut kurang lebih lima jam lamanya, bila paras mukanya telah berubah jadi semu merah, itu berarti bahwa jiwanya tak dapat tertolong lagi"
"Cianpwee, Engkau toh sakti dan berilmu tinggi, mohon sudi kiranya cianpwee ringan tangan dan menyembuhkan sakitnya yang parah itu, atas kesediaan cianpwee ku ucapkan banyak2 terima kasih"
Nenek tua itu gelengkan kepalanya berulang kali:
"Bukannya aku tidak bersedia memberi pertolongan, dalam kenyataan aku memang sama sekali tak berdaya untuk menyelamatkan jiwanya"
"Cianpwee engkau berhati mulia dan baik terhadap sesama umatnya, tolonglah jiwanya dan sembuhkan luka tersebut..." pinta sang pemuda lebib jauh dengan hati gelisah.
"Sulit... sulit... aaaii terus terang saja kukatakan sulit sekali..."
"Cianpwee, bukankah engkau telah mengatakan sendiri bahwa segala macam penyakit aneh dapat engkau sembuhkan."
"Tidak salah, tapi yang diderita saudaramu ini bukan suatu penyakit aneh, engkau harus bisa membedakan"
"Jadi...jadi sudah tak tertolong lagi?"
"Bukannya tidak tertolong lagi cuma... "
"Cuma kenapa??"
Nenek itu melototkan sepasang matanya bulat2 dengan suara dalam ujarnya: "Sungguhkah gadis itu adikmu??" Han Siong Kle terperangah.
"Maksud cianpwee... kalau lantas.. bukan adikku...."
"Hmm menurut pendapatku, gadis itu bukan adik perempuanmu"
Diam2 Han Siong Kie merasa amat terperanjat, ia berusaha membantah: "Darimana engkau mengatakan demikian?"
"Paras muka adik perempuanmu itu sama sekali tidak mirip dengan paras muka kek koan"
Han Siong Kie menghembuskan napas lega, ia segera membantah..
"Aaah.. paras muka mana bisa dijadikan suatu dasar? naga beranak sembilan, toh wajahnya juga tak bisa berbeda satu sama lainnya?"
"Bukan begitu saja, aku bahkan kenal pula dengan gadis ini dan belum pernah kutemui dirimu"
"Oooh? engkau kenal dengan dirinya?"
"Tidak salah, bukankah ia bernama Go siauw Bi??"
Mendengar jawaban tersebut rasa terperanjat yang dialami Han Siong Kie tak dapat dilukiskan dengan kata2, ia tak mengira kalau nenek tua itu bisa kenal dengan gadis tersebut bahkan mengetahui pula kalau dia bernama Go siau Bi. Terdengar nenek tua itu tertawa serak. kemudian berkata lagi:
"Jika engkau tidak inginkan dirinya mati secara mengenaskan, sepantasnya kau jawab pertanyaanku dengan jujur, sebenarnya apa hubunganmu dengan dirinya?"
"Tiada hubungan apa2, aku hanya secara kebetulan saja menjumpai dirinya ditengah jalan, dan berhasil selamatkan jiwanya dari tangan orang2 durjana"
"Dari tangan orang bejad istana Huan-mo-kiong dari wilayah Thian lam?"
"Darimana cianpwee bisa tahu akan persoalan ini??"
"Pihak istana Huan mo kiong telah mengutus para jago lihaynya untuk masuk kedaratan Tionggan guna mencari gadis2 perawan yang akan diambil sari perawannya bagi Thian lam Te kun melatih ilmu si hun toa-hoan, peristiwa ini telah menggemparkan seluruh daratan Tionggoan dan banyak gadis telah jatuh korban, tentu saja aku mengetahui akan hal itu, disamping itu bubuk Jit bi san merupakan obat cabul yang sering kali dipergunakan oleh kaum durjana dari Thian lam pay, bukankah itu berarti bukti sudah tertera didepan mata??"
Han Siong Kie merasakan darah panas mendidih dalam dadanya, ia berseru dengan lantang:
"Apakah dari daratan Tionggoan tidak ada seorang pendekarpun yang munculkan diri guna mencegah terjadinya peristiwa2 biadab itu.?"
"Tak bisa dikatakan tak ada, tapi pihak lawan mungkin telah menyelesaikan tugasnya dan kembali kesarang mereka sekarang kita tak usah membicarakan soal itu lebih dahulu, yang penting adalah menolong orang lebih dahulu, aku nenek tua tidak percaya kalau engkau katakan bahwa kalian sama sekali tak ada hubungan apa2, dan pertolongan itu kau berikan secara kebetulan"
-ooo0ooo-
Jilid 11 : Akibat masa silam sang guru
DENGAN perasaan apa boleh buat Han Siong Kie berkata:
"Beberapa waktu berselang aku pernah mendapat budi kebaikan dari nona Go karena itu...."
"Karena itu engkau hendak membalas budi kebaikannya itu, kalau tidak tak nanti sikapmu begitu gelisah bercampur cemas"
Dengan mulut membungkam Han Siong Ki mengangguk diam2 ia merasa kagum atas ketajaman mata nenek tua ini serta kecermatannya untuk menilai keadaan.
"Kek koan apakah engkau dengan tulus ikhlas hendak menyelamatkan jiwanya?" terdengar nenek tua itu bertanya kembali.
"Tentu saja" "
"Engkau sudah menikah belum?"
"Tentang soal itu... bertunanganpun belum masa sudah menikah apa maksud cianpwee mengajukan pertanyaan itu?"
"Tentu saja aku punya alasan2 tertentu untuk mengajukkan pertanyaan2 tersebut, engkau sudah punya kekasih atau belum?"
"Cianpwee, terus terang saja kukatakan terhadap orang perempuan ehmm sebetulnya saja aku tak tertarik, bahkan boleh dibilang mendekati kata benci"
Sebetulnya pemuda itu mau mengatakan perasaan batinya itu dengan kata2 yang jauh lebih tajam, tetapi secara tiba2 ia teringat bahwa pihak lawan juga merupakan seorang perempuan karena itu terpaksa ia harus memperlunak perkataannya.
"Ooooh jadi kalau begitu engkau belum punya istri maupun kekasih??" sela sang nenek menegaskan.
Han Siong Kie mengangguk tanda membenarkan.
"Waahh kalau begitu persoalan ini gampang sekali diselesaikan"
"Gampang diselesaikan?? apa maksudmu?? " tanya sang pemuda keheranan.
"Bukankah engkau hendak membalas budi kebaikannya itu??"
"sedikitpun tak salah, aku memang ada maksud untuk menyelamatkan jiwanya"
"Bagus, kamu memang baik hati tapi untuk menyelamatkan selembar jiwanya apakah engkau bersedia mengorbankan segala sesuatunya??"
"Mengorbankan segala sesuatu??"
"Benar "
"Pengorbanan dalam bentuk apa??"
"Menjadi suami istri dengan dirinya."
Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras, ia mundur tiga langkah kebelakang dengan tindakan lebar se-akan2 pemuda itu tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Cianpwee apa... apa yang kau katakan?" serunya dergan hati terkesiap.
"Menjadi suami istri dengan dirinya pada saat ini juga" tegasnya dalam satu jam ini.
"Kee... kee... kenapa ha... harus begitu??"
"Untuk menyelamatkan jiwanya "
"Aku sama sekali tidak mengerti akan perkataanmu itu."
"Barang siapa terkena racun Jit bin san kecuali berbuat begitu tiada obat lain yang dapat menyelamatkan jiwanya apakah engkau bersedia msnolong jiwanya?”
Bagaikan disengat kala sekujur badan Han Siong Ki gemetar keras badannya merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
“Aku... aku... tak. tak mungkin akan melakukbn perbuatan yang tolol itu!"
“Kalau begitu maafkanlah daku, aku tak bisa membantu dirimu untuk menyelamatkan jiwanya lagi " kata sang nenek dengan dingin "mulai sekarang bersiap21ah untuk mengatur soal memakamkan jenasahnya”
Habis berkata ia bangkit berdiri dan siap berlalu,
Keringai dingin sebesar kacang hijau mengucur keluar tiada hentinya membasahi tubuhnya yang gemetar pemuda itu tak sudi menikah dengan gadis tersebut tapi ia adalah tuan penolong yang pernah menyelamatkan jiwanya ia tak tega gadis itu mati dalam keadaan mengenaskan.
"Cianpwe tunggu sebentar ...kau..kau.. jangan pergi dulu!” akhirnya pemuda itu berseru.
“Jadi engkau telah menyanggupi?”
“Selain melakukan perbuatan tersebut, apakah ada cara lain yang bisa digunakan untuk menolong jiwanya? aku bersedia untuk mengorbankan segala apapun!”
"Ada!"
Han Siong Kie amat kegirangan, buru2 dia barseru :
"Bagaimanakah caranya?”
“Kalau engkau merasa tega hati, sekarang juga carilah seorang pria lain yang memiliki tenaga dalam sebesar seratus tahun latihan untuk menggantikan kedudukanmu !"
Han Siong Kie terbungkam dalam seribu bahasa, bicara menurut perasaan hati kecilnya dan jiwa sebagai seorang pendekar. ia merasa keberatan untuk berbuat demikian. disamping itu dalam waktu singkat dia harus pergi kemana untuk mencari seseorang yang memiliki tenaga dalam sebesar seratus tahun tenaga latihan? bersediakah orang ini untuk melakukan perbuatan semacam itu?
Dalam pada itu paras muka Go Siau Bie dari semu merah telah berubah jadi kehitam2an, napasnya mulai memburu dan agak tersengkal.
Dengan suara dalam nenek tua itu berkata kembali:
"Bagaimanakah keputusanmu aku harap engkau segera menetapkan, mungkin tidak sampai satu jam kemudian ia bakal mati secara mengenaskan, aku tahu diantara kalian memang tak ada dasar cinta, peristiwa ini mungkin dilakukan terlalu ter-gesa2, tapi engkau musti ingat bahwa tindakan ini dilakukan untuk menyelamatkan jiwanya, untuk membalas budi kebaikan yang pernah kau hutang darinya, disamping itu dia toh putri dari ketua perkumpulan pat gi pang, paras mukanya tidak termasuk jelek, apakah engkau merasa bahwa gadis itu tak pantas jadi bini mu?"
Han Siong Kie merasakan hatinya amat sakit bagaikan di tusuk oleh pisau yang amat tajam, mimpipun ia tak menyangka bakal terjadi peristiwa semacam ini...
Untuk menyanggupi permintaan tersebut? hati kecilnya merasa tak bersedia, untuk menampik, ia merasa kasihan melihat tuan penolongnya sebentar lagi harus mati secara mengenaskan.
Sementara ia masih bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan, untuk kesekian kalinya nenek tua itu mendesak kembali.
"Waktu telah mendesak sekali, apakah engkau telah mengambil keputusan?"
Han Siong Ki putar otaknya keras2, ia memandang sekejap kearah wajah Go siau Bi yang telah berubah jadi merah menghitam akhirnya timbullah kasihan, ia ambil keputusan untuk berkorban demi keselamatan gadis tersebut.
"Baiklah" ia berseru sambil mengangguk.
Secepat kilat nenek itu merogoh sakunya dan ambil keluar sebuah botol porselen kecil, dari botol itu ia tuangkan tiga butir plt berwarna hijau dan dimasukan kedalam mulut Go siau Bi kemudian jari tangannya menari serta melepaskan delapan belas totokan kilat, semua totokan dilakukan dengan kecepatan yang sukar diikuti dengan pandangan dan ketetapan yang mengagumkan.
Selesai melakukan kesemuanya itu dengan muka serius pesannya kepada sianak muda itu.
"Ingatlah baik2, saat inilah kesempatan yang paling baik bagimu untuk membalas budi kebaikan yang pernah kau peroleh dari dirinya dan mulai hari ini engkau tak boleh melakukan perbuatan2 yang menyakitkan hatinya lagi sebab ia sudah menjadi istrimu, jika engkau tidak melaksanakan kesemuanya itu maka akulah yang menanggung semua dosa dan kesalahan ini"
"Cianpwee bolehkah aku tahu siapa namamu?"
"Tentang soal ini" nenek tua itu ragu sejenak "aku she Ong orang2 persilatan menyebut diriku nenek ong engkau boleh memanggil aku dengan sebutan itu saja"
Han Siong Kie mengambil setahil perak dan diangsurkan kedepan katanya dengan halus. "Cianpwee jumlah yang sangat kecil ini harap diterima sebagai biaya pengobatan"
"Haaahhh...haaahhh... haaahhh tidak usah pengobatan yang kulakukan saat ini akan kuanggap sebagai batuan sukarela" seru sang nenek sambil tertawa nyaring "semoga kalian berdua hidup rukun dan damai hingga akhir hayat nanti, selamat tinggal dan jangan lupa kalau waktu sudah tak banyak lagi."
Habis bicara dia ambil gulungan kain di ujung ruangan dan berlalu dari ruangan tersebut.
Diluar pintu kamar seorang gadis baju hitam telah menanti kedatangannya, ia melihat kemunculan nenek tua itu, dengan suara setengah berbisik segera tanyanya: "Ibu, apakah semua urusan telah beres ??"
"Hmm beres..."
"Perbuatanmu ini apakah tidak terlalu..."
"Nak, terpaksa aku harus berbuat demikian, aku kuatir jika sampai terjadi hal yang tak kuinginkan itu."
"Tapi apakah mereka bisa bahagia??"
"Aku rasa bisa"
Suara itu kian lama kian lirih akhirnya lenyap dari pendengaran. Han Siong Kie sebagai seorang pemuda yang memiliki tenaga dalam sebesar dua ratus tahun latihan memiliki ketajaman mata dan pendengaran melebihi siapapun, kendati bisikan yang dilakukan ibu dan anak diluar pintu itu dilakukan dengan suara lirih namun semua pembicaraan berhasil didengar dengan amat jelas, sekujur badannya kontan gemetar keras.
Tiba2 satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia merasa amat kenal sekali dengan suara itu, bukankah suara itu adalah suara dari "Yo sim jim" orang yang ada maksud beserta ibunya "su hun jin" orang yang kehilangan sukma?? mengapa mereka berdua harus mengatur kesemuanya ini...??
Ia berkelebat kearah pintu dan mengejar keluar, namun bayangan orang yang kehilangan sukma berdua telah lenyap tak berbekas.
Dengan perasaan bimbang bercampur curiga akhirnya sianak muda itu harus balik kembali kedalam kamar.
"Apakah aku harus melakukan perbuatan seperti apa yang dianjurkan oleh orang yang kehilangan sukma??" ingatan tersebut berulang kali berkecamuk dalam benaknya.
Butiran keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, pelbagai pikiran yang saling bertentangan berkecamuk dalam seluruh benaknya.
Ketika sorot matanya berpapasan dengan wajah Go siau Bi yang berbaring diatas pembaringan, hampir saja pemuda itu bersorak kegirangan, ia temukan paras muka yang berwarna merah semu ke hitam-hitaman itu sudah lenyap tidak berbekas, hal ini membuktikan bahwa tiga butir obat yang diberikan orang yang kehilangan sukma telah menunjukkan reaksinya.
Dengan hati berdebar keras ia duduk di samping pembaringan sambil menantikan perubahan selanjutnya, pemuda itu ambil keputusan untuk menunda pelaksanaan " Niat" nya tersebut sambil menunggu perkembangan lain.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia mulai berpikir apa sebabnya orang yang kehilangan sukma membohongi dirinya serta mengatur siasat agar dia kawini Go siau Bi??
Suatu persoalan yang rumit dan diliputi oleh suatu tanda tanya besar...
Mengapa orang yang ada maksud mengatakan: "... Untuk menjaga segala kemungkinan.." kemungkinan apakah yang bakal terjadi?
Diam2 pemuda itu bersyukur karena ia belum mengawini gadis itu secara gegabah, kalau tidak entah bagaimanakah akibatnya?.
Seperminum teh kemudian, Go siau Bi mulai menggerakkan tubuhnya dan membuka sepasang matanya kembali.
"Nona Go, akhirnya engkau sembuh juga." seru Han Siong Kie tanpa sadar.
Per-tama2 Go siau Bi temukan dirinya di atas pembaringan, ketika ia berpaling kesamping maka ditemuilah seorang pemuda asing yang berwajah penyakitan duduk dihadapannya tanpa terasa ia menjerit lengking dan loncat bangun dari atas pambaringan dengan rasa terkesiap curiga bercampur tak habis mengerti, ia tatap pemuda dihadapannya itu tanpa berkedip.
"Kau.. kau.. siapakah kau?"
"Malaikat penyakitan"
"Apa? malaikat penyakit? "dengan hati terkesiap Go Siau Bi mundur satu langkah kebelakang.
"Sedikitpun tidak salah."
"Lalu... lalu dimanakah kita berada saat ini?"
"Rumah penginapan"
Sekujur badan Go siau Bi gemetar keras suatu perasaan halus seorang gadis dara itu tanpa sadar memeriksa pakaian yang dikenakan olehnya sewaktu menyaksikan pakaian bagaian dadanya telah terbuka, pandangan matanya jadi gelap dan hampir saja ia roboh tak sadarkan diri
Rasa malu dan gusar berkecamuk jadi satu dalam dadanya, tiba2 ia membentak keras: "Bajingan keparat, aku akan beradu jiwa dengan dirimu" Han Siong Kie terperangah.
"Blaammm" sebuah pukulan yang amat keras bersarang diatas bahu pemuda itu dan "Blaamm" kembali pukulan lain menghajar dadanya.
Dalam keadaan tertegun bercampur kaget sianak muda itu sama sekali lupa untuk mengerahkan tenaga guna melawan hajaran2 yang dilontarkan keatas tubuhnya itu tanpa dapat dikuasai ia terdorong mundur sejauh tiga langkah kebelakang.
sementara itu, ketika Go siau Bi melihat pihak lawan sama sekali tidak melakukan pembelaan terhadap serangannya, ia jadi terperangah dan hentikan serangannya setelah membereskan pakaiannya bagian dadanya yang terbuka, ia tatap wajah lawannya tajam2 kemudian sambil menuding kemuka teriaknya keras:
"Malaikat penyakit, aku betsumpah tak akan hidup berdampingan dengan dirimu"
Butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia mengira kesucian tubuhnya telah ternoda ditangan lawan.
Han Siong Kie sendiri sebetulnya hendak melepaskan topeng kulit manusia yang dikenakan olehnya, tapi setelah berpikir sebentar ia segera batalkan niatnya itu sebab "orang yang ada maksud" pernah berpesan kepadanya bahwa manusia berwajah dingin sudah mati..
Sambil tertawa getir ujarnya:
"Nona Go, duduklah dahulu dan mari kita perlahan berbicara persoalan ini"
"Apa? darimana engkau bisa tahu kalau aku she Go?"
"Nona, pikirlah kembali.. apa yang kau alami setengah hari berselang?"
Rasa sangsi dan bingung terlintas diatas wajah Go siau Bi, ia dapat merasakan bahwa Malaikat penyakit yang berada dihadapannya tidak mirip seorang pemuda yang bermoral bejad, maka setelah mendengar perkataan itu, dara tersebut mulai duduk tenang dan mengingat kembali kejadian yang telah dialaminya beberapa waktu berselang.
Ia masih ingat ketika dirinya dikejar kejar oleh seorang kakek baju hijau dan seorang busu baju hijau, setelah tertawan tiba2 hidungnya mencium bau harum yang sangat aneh dan kesadarannya seketika lenyap tak berbekas.
Gadis ini mulai berpikir kenapa ia berada ditempat ini dan dari mana pula pemuda berwajah penyakitan itu bisa tahu kalau dia she Go?
Dalam pada itu dara tersebut sudah merasa yakin bahwa tubuh bagian bawahnya tidak menunjukan gejala kelainan atau rasa sakit, bahkan gaun yang dia kenakan masih utuh sama sekali ini membuat hatinya agak lega.
Dari perubahan wajah Go Siau Bi sianak muda itupun sudah tahu bahwa dara tadi mulai mengenang kembali peristiwa yang telah menimpa dirinya ia lantas berkata:
"Ketika aku sedang melakukan perjalanan kutemui nona sedang diculik oleh para durjana dari istana Huan mo kiong karena itu . . . ."
"ooooh jadi siangkong yang telah menyelamatkan diriku?"
"Benar, aku kasihan melihat nona menderita ditangan lawan maka aku telah menyelamatkan dirimu"
"Waah... kalau begitu akulah yang telah salah menuduh diri siangkong dengan pikiran yang bukan2, bila aku telah melakukan kekerasan kepadamu harap siangkong bersedia memberi maaf"
Habis berkata ia memberi hormat.
Dengan cepat Han Siong Kie menyingkir ke samping.
"Nona tak usah banyak adat" serunya.
Pemuda itupun segera menceritakan bagaimana ia telah membawa gadis itu kesitu untuk mencari pengobatan tentu saja ia telah merahasiakan persoalan tentang permintaan dari orang yang kehilangan sukma untuk mengawini gadis itu.
Selesai mendengarkan kisah tersebut Go siau Bi merasa amat berterima kasih sekali, kembali ia memberi hormat sambil berkata:
"Budi kebaikan siangkong suatu ketika pasti akan kubalas terimalah penghormatanku ini"
"Tak usah kau lakukan kesemuanya itu" buru2 Han song Ki goyangkan tangannya berula kali "anggaplah kesemuanya ini sebagai takdir dan justru karena peristiwa ini juga akupun bisa membalas kebaikan budi yang pernah kau lepaskan beberapa waktu yang lalu"
Go siau Bi terperangah, ia membelalakkan matanya lebar2 dan berseru dengan hati tercengang:
"Siangkong, apa... apa yang kau ucapkan?"
Han Siong Kie merasa bahwa ia telah salah berbicara, buru2 serunya kembali: "Nona, apakah engkau kenal dengan manusia berwajah dingin Han Siong Kie?"
Pucat pasi selembar wajah Go siau Bi mendengar nama itu, tubuhnya mundur dengan sempoyongan, jawabnya dengan sedih :
"Kenal, tapi dia.... dia telah mengalami nasib yang jelek dan meninggal dunia"
Han Siong Ki merasa tak habis mengerti, ia tak tahu kenapa Go Siau Bi begitu terpukul hatinya mendengar ucapan tersebut karena pandangan yang sempit dia merasakan anti perempuan yang berkecamuk dalam dadanya membuat pemuda itu tak mampu meresapi perasaan antara pria dan wanita. Dengan nada dingin katanya:
"Benar, nasibnya memang jelek dan kematian yang menimpa dirinya hampir boleh dibilang sama sekali diluar dugaan siapapun"
-0000000-
BAB 29
"SIANGKONG apa hubunganmu dengan dirinya?" tanya dara itu.
"Saudara sehidup semati"
"Oooh.. jadi dia... dia.. adalah saudara angkatmu?" Han Siong Kie mengangguk dingin, ujarnya kembali:
"Sudah lama berselang ketika ia dihantam oleh musuhnya hingga tercebur kedalam sungai, aku dengar jiwanya ditolong oleh seorang nona atas peristiwa itu saudaraku selalu mengingat dan mengenangnya dan sering kali membicarakan dengan diriku, sekarang ia telah mati maka sudah sepantasnya kalau akulah yang membayar budi pertolongan yang kau lepaskan kepadanya"
Dengan sedih Go siau Bi menghela napas panjang.
"Aaai.. siangkong keliru besar, aku melepaskan budi bukannya mengharapkan pembalasan, lagipula aku bisa menolong jiwamu hal itu hanya terjadi karena kebetulan, karenanya tak dapat dikatakan sebagai budi atau hutang, justru hari ini akulah yang telah berhutang budi terhadap diri siangkong.."
"Oooh... Bukannya aku bermaksud begitu, sahabat karibku itu paling mengutamakan membedakan mana budi mana dendam, sedang aku.."
Belum habis ia berkata, tiba2 dari halaman luar berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat keras dan menggetarkan seluruh angkasa, diikuti seseorang dengan suara yang berat berteriak:
"Malaikat penyakit, ayoh keluar untuk berbicara"
Sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras, segera pikirnya didalam hati:
"Kurang ajar manusia darimanakah yang telah mengejar diriku sampai kesinii?"
Go siau Bi pun kelihatan agak tercekat hatinya, ia segera berseru:
"Siangkong, ada orang menantang dirimu"
Han sioag Kie mengangguk dan sebera melangkah keluar dari ruangan. .
Ditengah halaman ia temukan seorang imam berjubah abu2 yang mempunyai perawakan badan setinggi delapan depa berdiri sambil melotot gusar kearahnya, sepasang matanya melotot bagaikan biji gundu, tampangnya bengis dan menyeramkan. sianak muda itu jadi keheranan, pikirnya:
"Heran aku sama sekali tak kenal dengan hidung kerbau ini, kenapa ia datang mencari gara2 dengan aku??"
Dalam pada itu imam tersebut dengan suara yang keras bagaikan geledek telah berseru kembali:
"Apakah engkau adalah Malaikat penyakit yang baru saja munculkan diri di dalam dunia persilatan??"
"Tidak salah, tolong tanya siapakah diri totiang??"
"Aku adalah Malaikat raksasa Leng Bengcu dari partai Khong-tong."
"Bolehkah aku tahu ada urusan apa totiang datang mencari diriku??"
"Aku harap engkau bersedia menuju ke pantai sungai kurang lebih lima li diluar kota"
Han Siong Kie tercengang bercampur tidak habis mengerti, ia tak tahu apa sebabnya partai Khong-tong mengutus jago lihaynya untuk mencari gara2 dengan dirinya.
"Apakah aku boleh tahu ada urusan apa kau mencari aku?" tegurnya dengan suara dingin-
Malaikat raksasa Leng Beng cu tertawa seram.
"Heehh..heehh..heeehh.... sampai waktunya engkau akan tahu sendiri, sekarang maafkanlah kalau terpaksa pintu akan jalan lebih dahulu."
Tanpa banyak bicara ia putar badan dan berlalu dari situ, diatas lantai bekas tempat yang dilalui olehnya tersisalah bekas2 telapak kaki sedalam satu cun.
Han Siong Kie tertawa dingin, sekarang ia telah menduga babwa pihak lawan datang untuk mencari balas, hanya ia tak habis mengerti darimana munculnya dendam tersebut.
"Kini luka yang diderita Go siau Bi telah sembuh, aku memang sudah sepantasnya untuk menerus kan perjalanan" pikirnya dihati.
Tapi sebelum ia berangkat tinggalkan tempat itu, dari arah belakang telah berkumandang suara teguran dari Go Siau Bi. "Siangkong, apa yang telah terjadi?"
"Ooh tak apa2, hanya suatu perjanjian yang harus segera kupenuhi"
"Menurut penglihatanku, imam tersebut mengandung suatu maksud yang tidak benar, lebih baik tak usah kau gubris" Han Siong Kie tertawa tawa.
"Aku rasa kejadian ini hanya suatu kesalah pahaman belaka, nona maafkan daku, sekarang aku ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, selamat tinggal nona dan sampai jumpa kembali lain waktu"
Bicara sampai disitu ia segera memanggil pelayan dan membereskan rekening kamarnya.
Go Siau Bi seperti mau mengucapkan sesuatu, wajahnya sedih sekali namun tak sepatah katapun yang meluncur keluar, setelah tertegun beberapa saat akhirnya dia berkata: "Siangkong, benarkah engkau adalah saudara sehidup semati dengan Han Siong Kie?"
"Sedikitpun tidak salah"
"Tentunya siangkong mengetahui juga bukan asal usulnya?"
"Tentu soal ini kenapa sih nona menanyakan persoalan itu?"
Air mata mengembang dalam kelopak mata Go siau Bi dengan sedih jawabnya lirih: "Terus terang kukatakan siangkong aku telah serahkan hatiku kepadanya"
Bagaikan disambar petir disiang hari bolong Han Siong Kie merasa amat terperanjat sekali untuk beberapa saat lamanya ia terpaku dan berdiri ter-mangu2
"Sedari kapan bibit cinta itu mulai bersemi apakah sejak ia beristirahat selama tiga hari dikamar tidurnya itu? Nona engkau telah serahkan hatimu kepadanya?" pemuda itu berseru tertahan-
"Benar sejak aku selamatkan jiwanya dari dalam sungai dan merawat dirinya selama tiga hari dikamar tidurku, aku telah bersembahyang didepan meja abu ayahku dan menyerahkan hatiku padanya."
Han Siong Ki merasakan jantungnya berdebar keras, persoalan ini betul2 merupakan suatu persoalan yang memusingkan kepalanya, diam2 ia bersyukur karena ia telah berubah wajahnya danpihak lawanpun sudah menyaksikan sendiri liang kubur yang digunakan untuk mengubur jenasahnya, kalau tidak pemuda itu tak dapat membayangkan sampai dimanakah kesulitan yang bakal dia alami
Andaikata gadis yang mengutarakan isi hatinya adalah gadis lain, mungkin pemuda itu hanya tersenyum belaka tapi pihak lawan pernah melepaskan budi kebaikan kepadanya urusan jadi tambah rumit. Dengan suara dalam segera ujarnya: "Sungguh tak beruntung, ia sudah mati"
"Benar. Ia telah mati, tapi aku telah serahkan seluruh jiwa ragaku kepadanya, karena itu aku hendak mengorbankan seluruh kehidupanku untuk berbakti kepada keluarganya" Air mata yang mengembang dalam kelopak mata, akhirnya menetes juga membasahi pipinya.
Han Siong Kie terharu dan badannya gemetar keras, dia paling benci kepada kaum wanita tapi perasaan cinta yang begitu suci dan murni yang diutarakan gadis itu telah mencair dihatinya, hampir saja ia hendak lepaskan topeng kulit manusia yang dikenakan diwajahnya, tapi setelah berpikir sebentar akhirnya ia batalkan niatnya itu. Dengan nada suara setenang mungkin dia berkata:
"Cinta suci yang nona perlihatkan benar2 mengagumkan, sukma yang ada didalam baka pasti akan tersenyum setelah mengetahui akan hal ini.. sayang rasa cinta nona yang begini murninya aku tak dapat disalurkan sesuai dengan apa yang nona harapkan"
"Kenapa?"
"Sebab dia tak punya rumah dan tak punya keluarga, dikolong langit hanya hidup sebatang kara"
Go siau Bi tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, ia menangis terisak. ujarnya:
"oooh aku tak menyangka kalau asal usulnya begitu menyedihkan dan patut dikasihani, sekarang akupun hidup sebatang kara, ibuku telah lama meninggal, ayahku juga mati ditangan orang sampai2.. impianku yang terakhirpun ikut lenyap dan musnah"
Han Siong Kie merasakan tenggorokannya tersumbat dan seakan-akan hendak menangis, ia berharap segera tinggalkan gadis itu karena ia takut terlalu lama berdiam, ia takut ia tak dapat menahan pergolakan perasaan dalam hati kecilnya, disamping itu diapun berharap cepat2 membuka tabir rahasia yang menyelimuti tantangan dari pihak Khong tong pay itu.. Dengan cepat ia alihkan pembicaraan kesoal lain dan berkata:
"Nona Go, tahukah engkau bahwa Han Siong Kie mempunyai sesuatu rahasia hati yang amat besar?"
"Rahasia apa?"
"sepanjang hidupnya dia paling.. paling.. benci berhubungan dengan kaum wanita, atau bicara dengan kata yang lebih tak sedap didengar, ia paling benci dengan kaum wanita"
"Kenapa? " tanya Go siau Bi terperangah.
"Mungkin ia pernah menderita sesuatu macam pukulan batin yang hebat, dan pukulan batin yang amat parah itu datangnya dari kaum wanita, bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya aku tak begitu jelas, tapi aku menguasahi penuh akan wataknya ini"
"Sungguhkah hal ini?"
"Aku tidak akan membohongi diri nona"
Mau tak mau Go siau Bi harus mempercayai perkataan itu, ia masih ingat dengan jelas sikap dan nada ucapan Han Siong Kie sewaktu meninggalkan pesanggrahan Teng to siau cu tempo hari, semuanya menunjukkan sikap yang begitu dingin hingga menggidikkan hati. Ia sebera mengangguk dan menjawab:
"Mungkin apa yang kau ucapkan memang benar2 merupakan kenyataan, tapi sekarang dia telah mati, rasa cintaku kepadanya-pun hanya selalu kusimpan dalam hati, aku tak pernah menunjukkan perasaanku itu di hadapannya, mungkin disinilah letak keberuntunganku, hingga tak usah dipandang dan dihadapi dengan sikap dingin"
"Ucapan nona sangat mengharukan hatiku, semoga engkau bisa baik2 jaga diri selamat berpisah"
"Budi kebaikan siangkong tak akan kulupakan untuk selamanya"
"Nona terlalu serius" ditengah pembicaraan tersebut tubuhnya dengan cepat telah berlalu dari rumah penginapan itu.
Setelah keluar dari rumah penginapan dengan cepat Han Siong Kie berangkat menuju ketepi sungai kurang lebih lima lie dari kota, perasaan hatinya kalut dan bingung, cinta suci dari Go siau Bi telah mengharukan perasaan hatinya, dan rasa bencinya terhadap kaum wanita tanpa terasa per-lahan2 jauh lebih menipis.
Beberapa saat kemudian, ia telah berada ditepi sungai, dari tempat kejauhan ia lihat ada tujuh orang telah menanti kedatangannya ditepi sungai yang berpasir, ketujuh orang itu berdandan sebagai imam semua, salah satu diantaranya bukan lain adalah malaikat raksasa Leng Beng cu.
Tujuh pasang mata yang tajam menyambut kedatangannya, dibalik cahaya yang tajam itu terpancarlah rasa benci, dendam yang amat tebal.
Dengan suatu gerakan yang manis Han Siong Kie melayang turun dihadapan ketujuh orang itu dan berhenti kurang lebih dua tombak dihadapannya.
seorang imam tua berambut ke perak2an yang berdiri dipaling depan segera buka suara dan menegur:
"Apakah sicu yang disebut orang sebagai malaikat penyakitan?"
"Sedikitpun tidak salah" jawab sang pemuda sambil mengangguk.
"Pintu adalah Kui Goan cu dari partai Khong tong, kami dengar orang berkata bahwa sicu adalah ahli waris dari Mo tiong ci mo. iblis diantara iblis, apakah berita ini benar?"
Han Siong Kie merasa amat terperanjat, ia tak menyangka kalau berita tersebut begitu cepat sudah tersiar dalam dunia persilatan-
Ketika terjadi pertarungan sengit melawan pengawal istana Huan mo kiong,jurus serangan yang dipergunakan olehnya berhasil diketahui asal usulnya oleh pihak lawan, dan sungguh tak nyana baru satu hari setengah telah muncul musuh2 tangguh yang mencari gara2 dengan dirinya.
Ia sendiripun tak tahu sebelum gurunya Mo tiong ci mo mengasingkan diri, perselisihan apa saja yang pernah dilakukan olehnya dengan orang persilatan, tapi setelah ia menerima pelajaran ilmu silat darinya itu berarti diapun harus bertanggung jawab pula atas resiko yang harus dihadapi.
Setelah berpikir sebentar dengan suara ketus dia segera menjawab: "Sedikltpun tidak salah, aku memang ahli waris dari dia orang tua"
Paras muka ketujuh orang imam itu berubah hebat, rasa benci dan dendam yang menghiasi wajah merekapun semakin menebal.
Kui Goan cu dengan sorot mata memancarkan cahaya kilat berseru dengan paras serius.
"Kalau memang begitu pinto akan mengajukan satu pertanyaan lagi, pinto harap siau sicu bersedia menjawab pertanyaanku dengan sejujurnya"
"Ajukanlah pertanyaanmu itu"
"Apakah gurumu masih hidup dikolong langit?"
"Masih ada apa?"
"Sekarang ia berada dimana?"
"Harap tootiang terangkan dahulu maksud kedatangan kalian"
"Tak ada gunanya kami terangkan padamu, asal engkau bersedia mengatakan dimanakah gurumu berdiam maka pinto tanggung kami tak akan menyusahkan dirimu"
"Seandainya aku tidak bersedia menjawab apa yang hendak kau lakukan?" ejek Han Siong Kie ketus.
Paras muka ketujuh orang imam itu kembali berubah hebat, ditengah perasaan benci yang teriintas diatas wajah mereka hawa amarah mulai berkobar membakar hati mereka.
Dengan suara beratpenuh kemarahan Kui Goan cusegera menjawab:
"siau sicu, kami tak akan membiarkan engkau bertindak sesuka hatimu, kalau engkau tidak bersedia menjawab maka ia berarti engkau sudah bosan hidup dikolong langit"
"Aaah belum tentu kalian mampu mengapa-apakan aku" ejek Han Siong Ki sambil mendengus sinis.
Malaikat raksasa Leng Beng cu yang berdiri dibelakang imam tua itu kontan berteriak dengan suara yang keras bagaikan guntur membelah bumi. "Belum tentu?. Huuh akan kusuruh engkau rasakan kelihayan kami.." sambil berseru ia segera menerjang maju kedepan sambil melepaskan satu pukulan.
Kun Goan cu yang berada disampingnya segera menghadang jalan pergi rekannya itu sambil berseru: "Jangan terburu napsu."
Kemudian kepada Han Siong Kie ia menambahkan.
"siau sicu, aku anjurkan kepadamu lebih baik jawablah dengan sejujurnya semua perkataan yang kuajukan"
"Maaf aku tak dapat memberitahukan kepadamu"
"Jadi siau sicu tetap keras kepala dan tak mau menjawab pertanyaanku itu?"
"Apa salahnya kalau tootiang terangkan dahulu maksud kedatanganmu itu?"
"setelah kuutarakan kelUar, apakah siau sicu dapat memberi pertanggunganjawabnya?"
"Mungkin "
Tiba2 diatas paras muka Kun Goin cu yang penuh keriputan terlintas rasa sedih, yang amat tebal ujarnya dengan penuh emosi:
"Empat puluh tahun berselang gurumu telah membinasakan cin siu Toojin, ketua ke sembilan belas dari partai kami beserta tiga puluh orang anggota perguruan"
Dengan hati terperangah Han Siong Kle mundur satu langkah kebelakang, ia tak menyangka gurunya pada empat puluhan tahun berselang telah membinasakan ketua ke sembilan belas dari partai Khong tongpay beserta tiga puluh orang muridnya, ia tahu peristiwa tersebut merupakan suatu peristiwa besar yang luar biasa sekali tanpa sadar serunya:
"Benarkah telah terjadi peristiwa semacam ini?"
"Pinto tak akan sengaja mengarang cerita bohong untuk mencari gara2, setiap umat persilatan dikolong langit mengetahui akan kejadian ini"
"Apakah tootiang tahu apa sebabnya hingga terjadi peristiwa berdarah itu?"
"Dahulu suhumu gemar membunuh manusia, ia membunuh orang bagaikan membabat rumput, apa sebabnya dia melakukan peristiwa yang biadab itu mungkin hanya dia seorang yang tahu"
"Jadi maksud tootiang engkau hendak mencari guruku untuk menuntut balas atas peristiwa berdarah itu?"
"Bu liang siu hud peristiwa berdarah ini sudah dipeti es kan selama empat puluhan tahun lebih, tentu saja sekarang harus diselesaikan sebagaimana mestinya"
Tentu saja Han Siong Ki tidak akan mengerti apa sebabnya gurunya Mo-tiong ci-mo, membunuh cing siu toojin beserta ketiga puluh lima orang anggota perguruannya pada masa silam tapi pada saat ini tentu saja ia tak bersedia menerangkan dimanakah gurunya sebab masa hidupnya masih tinggal sepuluh hari bahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya telah diberikan padanya membuat kakek itu jadi loyo dan sama sekali tak bertenaga.
Pemuda itu merasa dia sebagai ahli warisnya sudah menjadi kewajiban untuk menyelesaikan setiap persoalan yang diwariskan gurunya pada dia. Maka dengan suara lantang ia bertanya:
"Jadi maksud tootiang bagaimana caranya hendak menyelesaikan persoalan ini?"
"Apakah siau sicu dapat mengambil keputusan mengenai masalah tadi?"
"Aku akan menyelesaikan semua tanggung jawab dengan segala kemampuan yang kumiliki"
"Haaahh.... Haaahhh... haaahhh bocah cilik, engkau benar-benar tak tahu diri" seru Kui Goan cu sambil tettawa seram "lebih baik katakan saja dimana gurumu berdiam, pinto akan pergi mencari dirinya dan menyelesaikan sendiri persoalan ini dengan dirinya"
"Maaf, aku tak dapat memenuhi keinginanmu"
"Bocah keparat yang tak tahu tingginya langit tebalnya bumi, lebih baik tutup bacot anjingmu itu dan tak usah berlagak sok di tempat ini...." bentak Malaikat rakrasa Leng Beng-cu dengan penuh kegusaran.
Sambil membentak keras ia maju kedepan, telapak tangannya yang lebar bagaikan kipas segera diayUn kedepan mencengkeram tubuh Han Siong Kie, serangan ini bUkan saja dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, bahkan disertai pula tenaga pukulan yang maha dahsyat.
Dengan cekatan Han Siong Kle berkelit ke samping, tegurnya dengan suara ketus: "Aku anjurkan lebih baik persoalan ini diterangkan dahulu sampai selesai sebelum main kekerasan"
Tatkala menyaksikan cengkeramannya mengenai sasaran yang kosong, malaikat raksasa Leng Beng cu semakin naik pitam, dengan gusar bentaknya :
"Tutup bacot anjingmu, tooya akan beri pelajaran lebih dahulU kepadamU sebelum pembicaraan diteruskan"
sepasang telapak dilancarkan berbareng, segulUng hembusan angin pUyuh segera menggulUng kemUka bagaikan amukan ombak yang menghajar tepian pantai, kedahsyatannya benar2 sesuai dengan julukannya sebagai malaikat raksasa.
Diam2 Han Siong Kle terkesiap juga menghadapi serangan dahsyat itu, buru2 dia ayun telapak kanannya dan melancarkan satu pukulan dengan tenaga sebesar tujuh bagian.
"Blaamm.. ditengah getaran keras yang menggelegar diangkasa, pasir dan batu beterbangan memenuhi di angkasa, malaikat raksasa mundur delapan langkah kebelakang dengan sempoyongan.
Paras muka semua imam yang bordiri di tepi gelanggang sama2 berubah hebat, rasa bergidik timbul dalam hati mereka semua, mereka tak menyangka kalau sebuah pukulan lawan yang dilakukan dengan tangan sebelah berhasil memukul mundur Leng Beng cu yang tersohor akan kekuatan alamnya itu, peristiwa ini benar2 mengejutkan. Buru2 Kui Goan cu maju ke depan dan berkata dengan suara dalam:
"Siau sicu, tenaga dalam yang engkau miliki benar2 luar biasa sekali, tapi peristiwa berdarah ini sudah sepantasnya kalau diselesaikan sendiri oleh gurumu.."
Sementara itu Han Siong Kle telah mengambil keputusan dalam hatinya untuk menangani persoalan itu, dengan suara dingin menyeramkan ia segera menjawab:
"Maaf, sudah kukatakan tadi bahwa persoalan ini tak bisa kupenuhi"
Air muka Kui Goan cu berubah hebat, per-lahan2 ia mundur tiga langkah kebelakang.
Sekali lagi malaikat raksasa Leng Beng cu membentak keras kemudian bagaikan banteng terluka menerjang kedepan.
Han Siong Kle berdiri tegak bagaikan sebuah bukit karang, sepasang telapaknya berputar satu lingkaran dengan suatu gerakan yang sangat aneh, kemudian melepaskan satu pukulan mendorong balik tubuh malaikat raksasa, inilah gerakan bertahan yang tercantum dalam ilmu pukulan Mo mo ciang hoat, kesaktiannya luar biasa dengan perubahan yang sukar diikuti dengan kata2, meskipun hanya suatu gerakan yang sangat gampang namun tubuh lawan seketika terpental kebelakang.
Dalam hati kecilnya kendatipun Leng Beng-cu merasa amat terperanjat, namun ia tak sudi menelan kekalahan tersebut dengan begitu saja, setelah mundur, ia maju kembali kedepan, telapaknya yang besar bagaikan raksasa dengan menciptakan bayangan telapak bagaikan bukit segera melepaskan pukulan balasan, kedahsyatannya sukar dilukiskan dengan kata2.
Han Siong Kie memutar telapaknya dengan kencang, badannya tetap tegak bagaikan bukit Thay san, kendatipun Leng Beng cu telah melepaskan serangkaian pukulan yang mematikan, namun tetap gagal untuk menembusi pertahanan lawan, ini mengakibatkan ia jadi penasaran dan membentak keras tiada hentinya.
Lima orang imam yang berdiri dibelakang Kui Goan cu rupanya sudan kehabisan sabar, sambil membentak mereka segera terjunkan diripula kedalam gelanggang pertarungan.
Dalam sekejap mata hawa pukulan menderu2, bayangan telapak berkelebat memenuhi angkasa bagaikan bukit.
Enam sosok bayangan manusia saling melepaskan pukulan berantai secara kalap dan menggila, mereka berusaha merobohkan musuhnya secepat mungkin..
Han Siong Kie sendiri makin bertempur ia merasa semakin mantap hatinya, dengan jurus pertahanan yang tercantum dalam angin pukulan Mo mo ciang hoat, kendatipun keempat orang imam tersebut berusaha melontarkan jurus serangannya dari sudut yang manapun, usaha mereka selalu mengalami kegagalan total.
Kadangkala mereka berhasil menemukan titik kelemahan yang dalam pikiran mereka pasti akan menghasilkan suatu pukulan yang mantap. tetapi setelah pukulan dilontarkan ternyata dengan suatu gerakan yang sangat enteng dan seperti tak disengaja pukulan tersebut tertangkis kembali, hal ini membuat ketujuh orang jago lihay daripartai Khong-tong jadi kelabakan setengah mati. suatu ketika Han Siong Kie berseru lantang:
"Totiang, ketahuilah bahwa kesabaran orang ada batas2nya, apakah engkau hendak paksa aku untuk melukai orang??"
Serangan yang dilancarkan ketujuh orang imam itu semakin membabi buta, ibaratnya hujan badai mereka hamburkan semua pukulan yang rasanya dapat mendatangkan hasil untuk meneter dan mendesak lawan.
Diam2 Kiu Goan cu mengerutkan dahinya, ia telah menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki ahli waris dari Mo tiang ci mo ini sudah berhasil mencapai kesempurnaan bagaikan gurunya, jika pertarungan itu dilanjutkan, maka akhirnya toh pihak merekalah yang akan mengalami kerugian besar, karena itu setelah termenung sebentar dia segera berseru:
"Kalian semua segera mundur"
Keringat sebesar kacang kedelai telah mengucur keluar membasahi seluruh tubuh tujuh orang imam itu. napas mereka tersengkal2 bagaikan kerbau, mendengar perintah itu dengan cepat mereka tarik kembali serangannya dan mengundurkan diri kebelakang. Dengan paras muka amat serius Kui Goan cu maju beberapa langkah kedepan, ujarnya:
"Siau sicu apakah engkau tetap keras kepala dan tidak bersedia mengatakan tempat tinggal gurumu?"
"Sudah beberapa kali toh kuterangkan, permintaan kalian itu tak mungkn bisa kupenuhi"
"Kalau memang begitu, terpaksa pinto harus berbuat kasar kepada dirimu..."
"Silahkan"
Kiu Goan cu mengibaskan sepasang ujung bajunya, angin pukulan yang tajam bagaikan gunting segera menghantam tubuh Han Siong Kie.
Ku Goan cu adalah pemimpin dari Khong-tong sam tiang lo, tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna bisa dapat dibayangkan kedahsyatannya serangan yang dilancarkan olehnya ini.
Han Siong Kie scndiri diam2 merasa kagum juga melihat sikap imam tua yang tetap menjaga kesopanan kendatipun ia telah berhadapan muka dengan ahli waris musuh besarnya,
Pemuda itu tak mau melukai orang sebelum mengetahui jelas duduk perkara yang sebenarnya.
Ketika menyaksikan datangnya guntingan angin pukulan yang tajam dengan cekatan tubuhnya berkelebat delapan langkah kesamping guna meloloskan diri, serunya dengan suara dalam:
"Tootiang, apakah engkau bersedia mendengarkan penjelasanku??"
"Katakanlah " ujar Kui Goan cu sambil menarik kembali serangannya.
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan duduk persoalan yang mendasari terjadinya peristtwa berdarah itu, sementara tootiang sendiripun tidak bersedia menerangkan, hal ini membuat urusannya jadi makin kabur dan membingungkan hati..." Malaikat raksasa Leng Beng cu yang berada disamping segera menyela dengan gusar:
"Mo tiong ci mo membunuh manusia bagaikan membabat rumput, masih ada perkataan apa lagi yang harus diucapkan?"
Dengan sorot mata berkilat Han Siong Kie segera berpaling kearah Leng Bengcu, katanya:
"Jadi menurut maksudmu, apa yang harus dilakukan?"
Leng Beng cu merasa amat terperanjat, ia ngeri sekali melihat sorot mata la wan yang begitu tajam, bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri Kui Goan cu segera maju kedepan dan balik bertanya:
"Lalu apa pula maksud siau sicu? apa yang hendak kau lakukan untuk menyelesaikan persoalan ini?"
"Dewasa ini aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan lebih dahulu, aku tak ada kesempatan untuk menemani kalian lebib jauh, sepuluh hari kemudian setelah berhasil mengetahui jelas duduk persoalan ini, setiap saat kunantikan petunjuk dari kalian dalam dunia persilatan, cara bagaimana kalau tootiang yang menentukan waktu dan tempat untuk menyelesaikan persoalan ini?"
Sebelum Kui Goan cu sempat menjawab Leng Beng cu berseru lebih dahulu. "Hmm engkau anggap bisa lolos dari sini dangan alasan begitu gampang??" Han Siong Kie mengejek sinis.
"Kalau aku mau pergi siapa yang mampu menghalangi kepergianku?"
"Cobalah untuk kabur dari sini"
Han Siong Kie tak lagi menunda waktu terlalu lama lagi, karena dia harus segera melaksanakan perintah gurunya untuk adu kekuatan dengan pemilik Benteng Maut.selain itu sebelum duduk perkara dibikin jelas ia tak tahu tindakan apa yang harus dilakukan olehnya, maka ujarnya kemudian dengan dingin,
"Perkataanku sudah kuutarakan cukup jelas, setiap saat kunantikan petunjuk dari kalian maaf"
Tubuhnya meluncur kedepan dengan gerakan tubuh cahaya kilat lintasan bayangan, didalam sekejap mata tubuhnya sudah berada sejauh sepuluh tombak dari tempat semula kemudian dalam beberapa enjotan tubuhnya telah lenyap diujung jalan.
Tujuh orang jago lihay dari partai Khong tong itu hanya bisa berdiri saling berpandangan, mereka tahu bahwa gerakan tubuh pemuda itu terlalu cepat sehingga tak mungkin bagi mereka untuk menyusulnya.
Dalam pada itu Han Siong Kie sendiri sambil melakukan perjalanan cepat otaknya berputar terus tiada hentinya.
Ia berusaha menemukan alasan yang kuat untuk menerangkan apa sebabnya partai Khong tong beserta ketiga puluh lima orang muridnya dibunuh habis oleh gurunya dimasa silam??.
Ditinjau dari pembicaraan tersebut, sedikit banyak pemuda itu dapat merasa bahwa gurunya gemar sekali membunuh manusia atau dengan perkata an lain musuh besarnya tersebar luas di seluruh kolong langit.
Sekarang asal usulnya telah diketahui orang, berarti pula setiap langkahnya kemungkinan besar mengundang banyak kesulitan bagi dirinya.
Tiga hari kemudian tatkala fajar baru menyingsing ia telah berada kurang lebih seratus li dari benteng maut ditepi pantai, dibalik pepohonan bambu berdirilah sebuah bangunan mungil, tanpa terasa Han Siong Kie menghentikan langkahnya disitulah letak pesanggrahan Teng to siau cu tempat tinggal Go siau Bi, ia tak akan melupakan tempat itu, sebab ketika tubuhnya dihajar oleh pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai ditempat itulah jiwanya tertolong.
Dengan sedih pemuda itu memandang pesanggrahan Teng to siau cu, kenangan lama terlintas lagi dalam benaknya.
Tiba2 jeritan ngeri berkumandang datang dari arah pesanggrahan Teng to siau cu diikuti jilatan api membubung tinggi ke angkasa
0000000-
BAB 24
HAN SIONG KIE berhenti sebentar kemudian dengan satu loncatan lebar ia meluncur kearah pesanggrahan Teng to siau cu. Dibawah jilatan api terlihatlah beberapa bayangan manusia berkelebat lewat, dari dalam pesanggrahan itu menuju keluar.
Han Siong Kie segera meluncur kemuka sambil membentak keras: "semuanya berhenti?" Beberapa sosok bayangan manusia itu segera menghentikan gerakan tubuh mereka, orang yang berjalan dipaling depan adalah seorang pria setengah baya yang berwajah bersih dibelakangnya mengikuti delapan orang pria baju hitam.
Tatkala kesembilan orang itu menyaksikan orang yang menghadang jalan pergi mereka adalah seorang pemuda berwajah penyakitan, suara tertawa dingin berkumandang tiada hentinya.
Pria setengah baya itu dengan nada yang sinis segera menegur: "Keparat cilik, apa maksudmu menghadang jalan perginya kami?."
sambil menuding kearah pesanggrahan Teng to siau cu yang sedang dimakan api Han Siong Kie menegur:
"Apakah kalian yang membunuh orang dan melepaskan api untuk membakar pesanggrahan tersebut?"
"Sedikitpun tidak salah engkau mau apa?"
Napsu membunuh terlintas diatas wajah Han Siong Kie, katanya kembali.
"Aku ingin tahu apa alasannya sehingga kalian melakukan pembunuhan dan pembakaran rumah itu?"
setelah tertawa seram tiada hentinya pria setengah baya itu menjawab dengan nada menghina:
"Bocah keparat, rupanya engkau sengaja mencari gara2 dengan kami, tahukah engkau siapakah toayamu"
"Sebutkan siapa nama mu?"
"Heehh... heeehhh... heeehhh keparat aku hendak menerangkan lebih dahulu setelah toaya menyebutkan namanya itu berarti saat kematian bagimu sudah tiba, kami berasal dari perkumpulan Thian che kau"
"Apa? perkumpulan Thian che kau??"
"Sedikitpun tidak salah, engkau takut?"
Han Siong Kie terbayang kembali pemandangan sewaktu ia hampir menemui ajalnya ditangan orang perkumpulan Thian che-kau, napsu membunuh yang amat tebal segera berkelebat diatas wajahnya, dengan suara menyeramkan ia berkata:
"Engkau tak usah menyebutkan namamu lagi, sebab dengan dasar kaki tangan perkumpulan Thian che- kau sudah lebih dari cukup bagiku untuk melimpahkan sesuatu kepada kalian"
"Melimpahkan apa?"
"Kematian"
"Haahh..haahhhahh.. keparat cilik, benar engkau pentang bacot bicara yang bukan2, ketahuilah justru karena ucapanmu yang tidak keruan, kematian akan tiba lebiih cepat atas dirimu" "
Perlahan2 Han Siong Kie maju tiga langkah kedepan, sepatah demi sepatah ujarnya dengan dingin:
"Membunuh orang membakar rumah, tujuannya untuk membabat rumput seakar2nya, sayang orang yang kalian cari tak berada di sini, bukankah begitu???"
Paras muka pria berusia pertengahan itu berubah sangat hebat.
"Keparat cilik, apa hubunganmu dengan budak sialan dari perkumpulan pat gi pang tersebut??" tegurnya.
"Hmm tentang soal ini lebih baik engkau tak usah tahu"
Delapan orang pria baju hitam itu mendengus dingin, salah satu dlantaranya dengan gusar berkata:
"Hiangcu, lebih baik kita musnahkan saja bangoat ini, buat apa kita banyak bicara lagi ...."
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat Han Siong Kie menyapu sekejap kearah pria baju hitam iltu, membuat pria tersebutjadi bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, sebelum ucapan nya diutarakan hingga selesai, ia telah menelan kembali katanya.
Pria setengah baya yang dipanggil sebagai Hiang cu itu mendengus dingin, nafsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajah nya, dengan nada seram ia berseru.
"Bajingan cilik, dengarkanlah baik2, toa-yamu adalah Hiang cu bagian urusan luar dari perkumpulan Thian che kau yang disebut Lauseng dengan begitu setelah mampus engkau tak akan jadi setan kebingungan" Han Siong Ki mendesis penuh penghinaan:
"Huuh bagus sekali Lau Seng engkaupun harus ingat baik2 namaku orang menyebut diriku sebagai malaikat penyakitan"
"Apa? malaikat penyakitan? "
"Sedikitpun tidak salah"
Tiba2 dari balik hutan bambu tidak jauh dari gelanggang berkumandang datang suara seruan yang amat merdu.
"Lao hiangcu, kalian cepat mengundurkan diri dari situ dia.. dia adalah..."
Sembilan orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau itu nampak terperangah dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Han Siong Ki melirik sekejap kearah hutan bambu itu, kemudian sambil berpaling kearah Lau Seng ujarnya.
"Lao hiangcu, aku melihat kamu bersembilan lebih baik bereskan nyawa kalian sendiri daripada aku musti repot2"
"Lao hiangcu," suara merdu tadi kembali berkumandang datang: "dia adalah ahli waris dari Mo tiong ci mo iblis diantara iblis"
Begitu mendengar akan sebutan Mo tiong ci- mo paras muka sembilam orang yang ada dalam gelanggang berubah hebat, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh badan, Mereka tak menyangka kalau pemuda ingusan yang menyebut diri bernama malaikat penyakitan itu ternyata bukan lain adalah ahli waris dari Mo-tiong ci mo seorang tokoh sakti yang angkat nama ber-sama2 pemilik benteng maut.
Bersama dengan berakhirnya suara peringatan tadi tampaklah sesosok bayangan tubuh manusia yang berbadan ramping melarikan diri dari balik hutam bambu.
Sembilan orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau itu saling bertukar pandangan sekejap sebelum sempat kabur, Han siong Ki mendengus dingin dan berseru: "Lao seng engkau saja yang musti mampus lebih dahulu"
Telapak tangan terayun, segulung desiran angin tajam laksana kilat meluncur kedepan.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat lewat dalam benak Lau seng, dadanya sudah berlubang dan selembar jiwanya melayang tinggal kan raga kasarnya.
Delapan orang pria baju kitam lainnya jadi ketakutan setengah mati, mereka rasakan sukma serasa melayang tinggalkan raganya, tanpa banyak bicara orang2 itu putar badan dan kabur ter birit2.
Napsu membunuh telah membakar hati Han Siong Kie, tentu saja ia tak akan membiarkan musuh2nya melarikan diri dengan begitu saja, badannya meluncur kedepan dan laksana kilat berputar membentuk setengah lingkaran busur.
Delapan orang pria baju hitam itu merasakan pandangan matanya jadi kabur dan tahu2 segulung deruan angin pukulan yang maha dahsyat menghantam datang, memaksa tubuh mereka tergulung kembali ketempat semula.
"Disinilah mayat2 kalian akan dikuburkan" serentetan suara teguran yang dingin bagaikan es bergema diangkasa.
Meyusul ucapan tersebut, gulungan angin puyuh yang maha dahsyat bagaikan ambruknya sebuah bukit segera menindih tubuh kedelapan orang pria baju hitam itu.
Jeritan2 ngeri yang mendirikan bulu roma bergema saling susul menyusul, darah segar berhamburan membasahi seluruh lantai, delapan sosok mayat roboh bergelimpangan diatas tanah.
Han Siong Kie menghembus kan napas lega, sorot mata nya dialihkan kearah pesanggrahan Tang to siau cu, meskipun api telah padam namun bangunan tersebut sudah tinggal puing yang berserakan, ia segera menghela napas panjang dan berpikir:
"Kecepatan gerak tubuh Go siau Bi jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan kecepatan gerakku, mungkin ia masih belum kembali kesini.."
Setelah berdiri termangu beberapa saat, akhirnya dia gantung kesembilan sosok mayat itu diatas bambu, kemudian dengan darah ia menulis beberapa huruf diatas sebuah batu besar, tulisan itu berbunyi demikian:
"Membunuh orang melepaskan api adalah perbuatan dosa yang tak dapat diampuni, kaki tangan Thian chee kau sampai habis. Tertanda: malaikat penyakitan"
Tujuannya meninggalkan tulisan itu adalah berharap andaikata Go siau Bi telah kembali kesitu, maka ia dapat membaca peringatan yang ditinggalkan kepadanya itu sehingga kewaspadaannya dipertingkatkan dan tidak sampai terjatuh ketangan orang2 perkumpulan Thian che kau.
Sejak Go siau Bi gagal membalas dendam diwilayah Lian huan tau dan nyaris dibunuh kalau bukan tertolong oleh orang yang ada maksud" tentu saja orang2 dari perkumpulan Thian che kau tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.
Han Siong Kie menyapu sekejap seluruh gelanggang, sebelum ia tinggalkan tempat itu, mendadak anak muda itu menemukan sesosok bayangan manusia muncul pada jarak kurang lebih delapan depa dibelakang tubuhnya, ia sangat terperanjat dan secepat kilat ia putar tubuh kearah belakang.
Kurang lebih satu tombak dihadapannya berdirilah seorang sastrawan berusia setengah baya yang mengenakan jubah berwarna abu2.
orang itu bisa mendekati tubuhnya hingga jarak satu tombak tanpa diketahui jejaknya, dari sini bisa diketahui betapa dahsyat dan sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki orang itu.
"Siapakah engkau??" tegur Han Siong Kie dengan perasaan hati amat terperanjat. Bukannya menjawab, sastrawan berusia setengah baya itu malahan balik bertanya:
"Apakah engkau adalah malaikat penyakitan yang belum lama munculkan diri didalam dunia persilatan??"
"Sedikitpun tak salah "
"Benarkah engkau ahli waris dari Mo-tiong ci mo iblis diantara iblis??"
"Saudara ada urus an apa menanyakan soal ini??"
"Sejak kapan Mo tiong ci-mo menerima engkau sebagai ahli waris nya??"
"Apakah engkau tak merasa bahwa pertanyaan yang kau ajukan itu keterlaluan??"
"Ehmm guru harimau murid pasti harimau, watak keras kepalamu tak jauh berbeda dengan watak gurumu, apakah ia berada dalam keadaan baik2??" Han Siong Kie tak segera menjawab, diam-diam pikirnya didalam hati:
"Guruku sudah empat puluh tahun lama nya mengasingkan diri didalam gua bawah tanah dan tersohor pada lima puluh tahun berselang, sedangkan engkau sipelajar rudin paling2 baru berusia empat puluh tahunan, huuh.. buat apa pura2 berlagak kenal? sungguh suatu lelucon yang menggelikan sekali." Dengan suara dingin ia segera bertanya: "Apakah engkau kenal dengan guruku?"
"Haahh... haahh..haahh. sedikit banyak kami masih mempunyai sedikit hubungan" sahut sastrawin setengah baya itu sambil tertawa ter-bahak2. "Tolong tanya tahun ini engkau telah berusia berapa tahun?"
"Ooooh tentang soal itu lebih baik tak usah kau tanya kan, gurumu akan memberitahukan sendiri kepadamu"
Han Siong Kie segera tertawa dingin.
"Saudara, apakah engkau masih ada perkataan lain ang hendak diutarakan keluar? maaf aku takpunya waktu senggang"
"Waktu seng gang? haahh..haahh..haah... bocah, engkau dapat bercakap cakap dengan aku, itu berarti bahwa engkau punya rejeki yang amat besar"
"Siapakah sebenarnya dirimu??"
"Engkau tak akan tahu siapakah diriku sebab pengalamanmu masih terlalu cetek eeei .. sampai dimanakah kesempurnaanmu mempelajari ilmu telapak Mo mo ciang hoat."
Diam2 Han Siong Kie merasa keheranan, mungkinkah sastrawan setengah baya itu punya hubungan dengan gurunya dimasa lampau? tapi hal ini rasanya tak mungkin bisa terjadi, kalau ditinjau dari wajah nya maka paling tinggi ia berumur empat puluh tahunan, sewaktu gurunya mengasingkan diri mungkin ia baru dilahirkan dikolong langit, jangan2 orang ini sedang mempermainkan dirinya??"
Dengan nada gusar bercampur mendongkol sianak muda itu berseru kembali:
"Sebenarnya apakah tujuanmu yang sebenarnya??"
"Jawab dulu pertanyaan2 yang kuajukan dengan sejujurnya ...."
"Jika aku menolak untuk memberijawaban, engkau mau apa??"
"Gurumu sendiri tidak akan berani bicara selancang dan sekasar itu, berani benar engkau bersikap kurang ajar kepadaku"
Hawa amarah berkobar dalam benak Han Siong Kie, dengan suara ketus ia berseru kembali:
"Oooh... jadi engkau memang ada maksud untuk menghina dan mempermainkan guruku?"
"Tak dapat dikatakan menghina"
"Kalau begitu selamat tinggal"
Pemuda itu enjotkan badannya dan melayang sejauh sepuluh tombak dari tempat semula, mendadak pandangan matanya jadi kabur dan sastrawan berusia pertengahan itu sudah berdiri kurang lebih satu tombak dihadapan muka nya.
Han Siong Kie jadi terkejut bercamput terkesiap. ia mulai menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki pihak lawan jauh lebih tinggi dari kepandaian sendiri.
Kendatipun begitu, sebagai seorang pemuda yang berwatak angkuh dan tinggi hati, sekalipun hati merasa kaget akan tetapi di luaran ia tetap bersikap angkuh. "Hmm saudara, sebenarnya apa maksudmu?" tegurnya sambil mendengus dingin.
"Aku ingin berbicara tentang sesuatu dengan dirimu"
"Maaf, aku tak punya waktu senggang"
"Sekalipun engkau tak punya waktu senggang, pembicaraan tetap harus dilangsungkan, jika aku tidak mengijinkan engkau pergi maka sekalipun engkau bisa terbang juga tak akan dapat lolos dari sini"
Hawa amarah berkobar makin memuncak dalam benak Han Siong Kie, bentaknya keras2 "Aku tak sudi mendengarkan peringatanmu." sekali lagi dia enjotkan badandan meluncur kedepan.
Tapi baru saja tubuhnya mencapai setengah jalan, se-akan tubuhnya menumbuk diatas sebuah dinding baja, yang tak berwujud, badannya terpental kembali keatas tanah.
"Aku toh sudah bilang bahwa engkau tak nanti bisa lolos dari sini, bagaimana??" ejek sastrawan setengah baya itu.
Han Siong Kie merasa makin terperanjat, kobaran api amarah yang berkecamuk dalam benaknya sukar dikendalikan lagi, sepasang telapaknya diayun kedepan dan secara beruntun dia lepaskan sembilan jurus pukulan berantai.
setiap jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus2 pukulan aneh yang maha sakti dan maha dahsyat, mungkin dikolong langit dewasa ini jarang ada orang yang mampu menghadapi serangan berantai itu.
Si sastrawan setengah baya itu silangkan telapaknya dan dengan suatu gerakan yang sangat enteng dia punahkan ke sembilan jurus pukulan berantai yang maha dahsyat itu dengan nada tercengang serunya:
"Hey bocah, jurus serangan yang kau gunakan bukan saja mirip dengan ilmu pukulan Mo mo ciang hoat bahkan lebih mirip dengan langkah kura2 dari Leng ku siangjin" Han song Kie tersentak kaget dan mundur tiga langkah kebelakang dengan hati terkesiap. seratus tahun berselang Leng ku siangjin telah mati ditengah hutan belantara bahkan jenasah nya dialah yang menguburkan ketanah, dari mana sastrawan setengah baya itu bisa mengenali semua gerakan pukulanny a dengan begitu jelas?
"Akan kucoba lagi, apakab dia benar2 lihay atau tidak..." pikir pemuda itu dalam hati.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun telapaknya berputar melancarkan kembali serangan serangan dahsyat.
dengan gerakan yang cepat bagaikan sukma gentayangan sastrawan setengah baya itu menyingkir kesamping kemudian katanya:
"Hei bocah sungguh tak nyana engkau telah mewarisi segenap kepandaian silat yang dia miliki, jurus Mo hwee liau -coan atau api setan membakar ladang yang kau gunakan saat ini sedikitpun tak ada bedanya dengan jurus serangan yang dilakukan oleh Mo tiong ci mo sendiri dimasa lampau tapi secara bagaimana pula engkau bisa memperoleh warisan ilmu silat dari Leng ku sangjin?"
Han Siong Kie benar2 merasa amat terperanjat, ia tak dapat menduga asal usul dari sastrawan setengah baya yang berada dihadapannya, untuk beberapa saat ia cuma bisa berdiri dengan mata terbelalak dan mulut membungkam. Lama sekali ia baru berkata. "Bolehkah aku mengetahui namamu?"
"Haaahhh haahhh haaahhh sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah menggunakan namaku lagi, baiklah kuberitahukan kepadamu, aku bernama Put lo sianseng (tuan awet muda)"
"Tuan awet muda?"
"Tidak salah, apakah gurumu tidak pernah mengungkap soal ini?"
Diam2 Han Siong Kie mengulangi kembali nama "Put li sianseng" itu sampai beberapa kali, berapa puluh tahun tak pernah menggunakan namanya lagi? bukankah itu berarti bahwa ia sudah berusia amat lanjut namun memiliki wajah yang awet muda. "oooh jadi aku harus panggil locianpwce kepadamu?" serunya tanpa terasa.
"Hh mm panggilan itu boleh juga"
"Bolehkah aku tahu tahun ini locianpwee berusia berapa?"
"Aku? Hoohh hoohh hoohh seratus lima tahun"
"Berapa? seratus lima tahun"
"Sedikitpun tidak salah"
-0000000-
Jilid 12 : Masuk Benteng Maut
TAK kuasa lagi Han Siong Kie mengh embus kan napas dingin, berita ini benar2 sukar dipercaya oleh nya.
seorang sastrawan setengah baya yang sekilas pandangan belum mencapai empat puluh tahun, ternyata adalah seorang jago persilatan yang telah berusia seratus tahun lebih.
Dengan serta merta timbul perasaan kagUm dan menghormat dalam hati kecil pemuda itu, tanpa sadar secara terus terang ia ceriterakan bagaimana dia sudah mendapatkan warisan ilmu silat diri Leng ku siangjin kemudian bagaimana berjumpa dengan Mo tiong ci mo yang telah wariskan tenaga dan kepandaian silatnya kepadanya.
Selesai mendengar kisah tersebut, Put to sianseng atau tuan awet muda menghela napas panjang, katanya:
"Aaai yaa memang kawan2 lamaku di masa lampau sebagian besar telah reyot dimakan usia aku yang tidak mati2pun sudah ingin cepat2 tinggalkan dunia ini Eaei bocah engkau memang amat hok ki secara beruntun telah mewarisi ilmu silat dari beberapa orang jago2 lihay dunia persilatan masa depanmu benar2 amat cemerlang!”
Han Siong Kie ter-sipu2 ia cuma bisa mengucapkan kata2 merendah untuk memberi tanggapan.
Beberapa waktu kemudian terdengar Put-lo sianseng menegur:
“Eei bocah apakah engkau tidak menyesal mengangkat Mo tiong ci mo sebagai gurumu?”
"Menyesal? kenapa aku musti menyesal?"
"Engkau toh tahu musuh bebuyutan terdapat di mana2 seantero jagad?"
"Setelah aku bersedia menerima pelajaran yang diwariskan beliau kepadaku sudah se-pantasnya kalau aku bertanggung jawab atas semua perbuatannya yang dilakukan tempo dulu sudah menjadi kewajibanku untuk menanggulangi semua resiko yang ada kenapa musti aku menyesal?"
“Bagus, anak muda! engkau memang bersemangat..!”
“Ada suatu persoalan hingga kini aku kurang tahu, apa aku boleh bertanya kepada locianpwee?"
“Coba katakan dulu apa yang ingin kau tanyakan?”
“Sewaktu guruku sering kali melakukan pembunuhan dalam dunia persilatan tempo hari apakah ia selalu membedakan mana yang lurus dan mana yang sesat?”
Put-lo sianseng termenung dan berpikir sebentar, kemudian menjawab :
“Ditinjau dari beberapa kejadian yang kuketahui, pihak korban memang sangat beralasan untuk dibunuh. tapi mecgenai soal selanjutnya aku kurang begitu tahu, sebab korban yang mati ditangannya banyak tak terhitung jumlahnya, mereka terdiri dari pibak kaum lurus maupun kaum sesat, kalau tidak kejam tak mungkin orang persilatan memberi julukan iblis diantara iblis kepadanxa.. tapi . masa ia tidak mengatakan sesuatu kepadamu?”
Han Sioog Kie menggeleng.
"Sama sekali tidak..!”
"Ooh yaa, engkau toh baru tiga hari mengingat hubungan guru dan murid dengan dia kenapa.. "
“Sekarang aku sedang melaksanakan sebuah perintah dari guruku, dan tugas itu harus diselesaikan dalam waktu sepuluh hari!"
"Kenapa harus diselesaikan dalam sepuluh hari?”
“Sebab guruku dia orang tua hanya mempunyai waktu selama sepuluh hari untuk hidup di kolong langit!"
“Kerapa?” tanya Put-lo sianseng dengan muka berubah hebat.
“Ketika sedang melatih suatu jsnis ilmu silat, beliau mengalami musibah yakni jalan api menuju neraka yang mengakibatkan kedua belah kakinya lumpuh, setelah itu beliau pun wariskan segenap tenaga dalamnya kepadaku, maka.."
Bicara sampai disini, ia menghela napas dan membungkam.
Put-lo sianseng pun menghela napas sedih.
"Aku ingin bertemu muka untuk terakhir kalinya dengan gurumu, sekarang ini berada dimana?” katanya.
Sebenarnya Han Siong Kie hendak menjawab, tapi ingatan lain dengan cepat berkelebat dalam benaknya :
“Aku tak boleh bicara, aku masih belum tahu Put-lo sianseng adalah seorang yang dapat dipercaya atau tidak, andaikata ucapannya hanya merupakan suatu jebakan
bukankah berabe? keadaan suhu pada saat ini sudah cacad, lemah dan keadaannya tak jauh berbeda dengan msnusia biasa aku harus bersikap lebih ber-hati2,"
Berpikir sampai disini diapun lantas ber kata:
"Bagaimana kalau kuhantar engkau sehabis kulaksanakan tugasku? tempat itu sukar ditemukan!”
"Oooh! engkau kuatirkan keselamatan gurumu, engkau tak percaya dengan kepribadianku? haahh haahh haahh.. untuk mewujudkan rasa baktimu aku ingin turuti keinginanmu, tugas apa sih yang hendak kau lakukan?”
"Mencari pemilik benteng maut dan adu kepandaian dengan dirinya untuk memenuhi cita2nya ini guruku telah mengasingkan diri dan berlatih tekun selama empat puluh tahun lamanya!"
"Apa? engkau hendak adu kepandaian dengan mahluk aneh itu? gila.. sudah kau pikir masak2 tindakanmu itu?”
"Apa? mahluk aneh kau maksudkan?" seru Han Siong Kie dengan psrasaan agak tergerak.
"Benar dia adalah mahluk aneh dikolong langit"
"Kenapa tidak disebut saja iblis keji nomor satu dikolong langit?" sela sang pemuda Put to sianseng menggeleng.
"Dia cuma tabiatnya dalam kenyataan sama sekali tidak keji"
"Tindak tanduk tengkorak maut membawa dunia persilatan mendekati jurang kehancuran, setiap orang diliputi perasaan ngeri dan takut se akan2 menghadapi hari kiamat, darah membanjiri permukaan bumi mayat bergelimpangan di mana2, apakah perbuatan ini tidak termasuk perbuatan seorang iblis keji?"
"Apa? tengkorak maut??"
"Benar lambang tunggal dari pemilik benteng maut"
"Sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah muncul dalam dunia persilatan, kali inipun baru beberapa hari turun gunung karena itu banyak persoalan yang tidak kuketahui benarkah telah terjadi peristiwa berdarah seperti itu?"
"Betul? setiap orang persilatan tentu akan berubah muka jika membicarakan persoalan tentang tengkorak maut"
"Jadi makhluk aneh itu berani menggunakan tengkorak maut sebagai lambangnya untuk melakukan pembantaian secara menggila? "
"Benar dan beberapa waktu belakangan ini ia telah dua kali munculkan diri??"
"Tentang persoalan ini aku pasti akan lakukan penyelidikan duduknya perkara jadi jelas Nah sekarang marilah kita bicara pada pokok pembicaraan semula, apa hubunganmu dengan pemilik dari pesanggrahan Tong to siau cu ini?"
Han Siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir sebentar kemudian diambilnya keputusan untuk tidak menjawab sejujurnya ia menjawab.
"Seorang sahabat karibku yang bernama Han Siong Kie pernah menerima budi pertolongan dari Go siau Bi pemilik pesanggrahan ini, karena sahabatku telah meninggal maka aku mewakili sahabatku itu untuk membalas budi kebaikan ini"
"Ehmmm rasa setia kawanmu patut dipuji, tapi tahukah engkau apa sebabnya pihak perkumpulan Thian che kau berusaha membinasakan Go Yu Toe ketua dari perkumpulan Pat gi pang"
"Aku dengar katanya peristiwa berdarah itu berlangsung karena Go Yu Toe tak sudi menghadiri upacara ulang tahun dari ketua perkumpulan Thian cbe-kau?"
"Keliru, itu cuma alasan mereka yang sengaja di buat2" sahut Put to sianseng dengan cepat.
Han Siong Kie terperangah mendengar jawaban tersebut. "Lalu apa sebabnya yang utama?" ia bertanya.
Put to sianseng menghela napas panjang lalu dengan suara berat ia bertanya:
"Peristiwa itu terjadi karena sebuah benda mustika dunia persilatan-.."
"Benda mustika dunia persilatan ? benda mustika apakah itu? aku kok belum pernah mendengar?? "
"Aaaai... benda mustika itu adalah sejilid kitab pusaka ilmu silat yang dinamakan Thian tok pit liok.
"ooooh... kitab pusaka Thian tok pit liok" ulang Han Siong Kie dengan perasaan kaget bercampur tercengang.
"Benar, engkau pernah dengar nama kitab itu??" Han Siong Kie mengangguk.
"Sebenarnya apa saja isi kitab pusaka itu? apakab loocianpwee mengerti???"
"Selain ilmu silat yang maha sakti, terdapat pula ilmu menyaru muka yang amat sempurna"
"Ooooh kalau toh ketua perkumpulan pat gi-pang memiliki kitab pusaka selihay itu, bukankah ilmu silat yang dimilikinya sudah mencapai puncak kesempurnaan? kenapa ia bisa dibunuh oleh seorang tongcu dari perkumpulan Thian che-kau? bukankah kejadian ini aneh sekali?"
"Yaa kalau kalau kitab pusaka itu benar2 dimiliki olehnya tentu saja urusan akan beres, apa lacur kitab itu justru tak pernah dimiliki olehnya"
"Lalu berdasarkan alasan apa ketua perkumpulan Thian che kau hendak merampas benda mustika itu dari tangannya?
"Kakeknya pernah memiliki kitab pusaka itu hanya saja kitab itu tak pernah diwariskan kepada keturunannya atau dengan perkataan lain ketua perkumpulan Thian che kau telah salah taksir"
Makin mendengar kisah itu Han Siong Kie merasa semakin keheranan- bukankah Put to sianseng sudah puluhan tahun lamanya tak pernah muncul dalam dunia persilatan, darimana dia bisa tahu seluk beluk duduknya persoalan ini sehingga demikian jelasnya? Karena rasa ingin tahu dan keheranan dia pun bertanya:
"Locianpwee, darimana engkau bisa tahu duduknya persoalan ini hingga begitu jelas?" Put lo sianseng tertawa tawa.
"Kalau dibicarakan mungkin malah membingungkan hatimu, anggap saja kejadian ini hanya suatu kebetulan saja"
Han Siong Kie membungkam setelah orang lain tak mau bicara, tentu saja diapun tak dapat bertanya lebih jauh, sambil memberi hormat segera ujarnya: "Locianpwee, kalau engkau tak ada urusan lagi, aku hendak mohon diri lebih dahulu"
"Jadi engkau tetap akan akan berangkat kebenteng maut?"
"Benar, sampai ini hari masih tinggal waktu selama delapan hari saja, aku harus segera menyelesaikan tugasku dan kembali untuk memberi kabar kepada guruku"
"Baik, kalau begitu berangkatlah lebih dahulu memang sayang pesanggrahan Teng too siau cu terbakar oleh karena kedatanganku yang agak terlambat, tapi aku merasa amat berterima kasih kepadamu karena engkau telah mewakili aku untuk menyingkirkan badut-badut dan manusia kurcaci itu dari muka bumi... sebelum engkau berangkat kebenteng maut, aku harap engkau bersedia mendengarkan nasehatku"
"Harap loocianpwee memberi nasehat"
"Lebih baik temuilah pemilik benteng maut dengan wajah aslimu dari pada terjadi hal2 yang tak diinginkan, makhluk aneh itu benar2 seorang manusia yang sangat aneh sekali.
"Muka asli...." dengan hati terkesiap Han Siong Kie mundur dua langkah kebelakang.
"Benar, lepaskan topeng kulit manusia yang kau kenakan itu dan berangkatlah dengan muka aslimu"
Sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras karena terperanjat, ia tak mengira kalau Put lo sianseng bisa mengetahui jika ia mengenakan topeng kulit manusia untuk menutupi wajah aslinya, ketajaman mata semacam ini benar2 mengerikan sekali sebab dia yang sudah bergaul selama beberapa hari dengan Mo tiong ci mo pun bisa mengelabuhi mata gurunya, tak nyana jago tua tersebut bisa menebak jitu dalam sekali pandangan-Tanpa sadar dengan perasaan tak puas ia menegur:
"Locianpwee, ketajaman matamu memang luar biasa mengagumkan, tapi bagaimana caranya engkau mengetahui .."
"Gampang sekali untuk mengetahui penyamaranmu itu, dari nada ucapanmu aku bisa tahu kalau engkau memang adalah seorang manusia yang angkuh dan ingin menang sendiri tapi wajahmu kaku dan sama sekali tak berperasaan se-akan2 orang gobiok, padahal biji matamu jeli dan lincah, dari situlah aku lantas ambil kesimpulan kalau engkau mengenakan topeng untuk menutupi wajah aslimu."
"Cianpwee memang lihay, aku merasa amat kagum " akhirnya pemuda itu mengakui kelihayan lawan.
Setelah memberi hormat berangkatlah pemuda itu meneruskan perjalanan.
Dua jam kemudian Benteng Maut yang penuh rahasia, seram dan mengerikan itu sudah nampak dari kejauhan.
-0000000-
BAB 25
GULUNGAN ombak sungai kejar mengejar dan memecah ditepian batu karang yang berserakan disana sini.
Diatas Seluruh tebing batu karang yang kokoh, bertenggerlah Sebuah bangunan kuno yang antik, kokoh dan diliputi kegelapan, itulah Benteng Maut yang disegani dan ditakuti Setiap umat persilatan.
Dengan darah mendidih dan rasa dendam yang ber-kobar2 Han Siong Kie berdiri di tepi sungai memandang bangunan megah di hadapannya tanpa berkedip. pemilik benteng itu bukan lain adalah musuh besar yang telah membantai seluruh anggota keluarganya dan ini hari ia dengan kedudukan sebagai ahli waris dari Mo tiong Ci mo datang untuk mengadakan adu kepandaian-
Ia telah berjanji kepada gurunya untuk tidak membalas dendam dengan kepandaian sakti ajarannya, karena itu terhadap masalah balas dendam ia masih mempunyai pandangan yang samar ....
Sekarang ia sedang mempertimbangkan satu masalah, haruskah ia jumpai pemilik benteng maut dengan wajah asli atau wajah samaran??
Tidak akhirnya sianak muda itu mengambil keputusan, ia bertekad untuk masuk ke dalam benteng dengan wajahnya sebagai malaikat penyakitan, ia akan muncul dengan wajah aslinya jika hendak membalas dendam nanti.
orang yang kehilangan sukma pernah menganjurkan kepadanya agar menyambangi benteng maut dan menceritakan asal usulnya, tapi kenapa??
sampai sekarang ia tak dapat menjawab pertanyaan itu, dan barusan put to sianseng pun menganjurkan kepadanya agar berkunjung kebenteng itu dengan wajah aslinya, lalu kenapa ?? soal inipun ia tak dapat menjawab.
Tapi.. ia telah ambil keputusan untuk melaksanakan tugas yang dibebankan gurunya dengan muka yang palsu.
Apakah ilmu jari Tong kim ci dapat menundukkan ilmu kebal kim koan sin kang yang dimiliki lawan? hingga kini ia tak berani meramaikan, dan apakah ilmu pukulan Mo mo ciang hoat dapat mengalahkan jurus serangan lawan, ia sendiripun tak tahu.
Pemuda itu berpikir, andaikata ia tak mampu mengalahkan pihak lawan, bagaimana caranya untuk memberi jawaban dihadapan gurunya?
Mo tiong ci-mo sudah empat puluh tahun lamanya mengasingkan diri untuk melatih diri, jika ia kalah mampukah orang tua itu menahan rasa sesal serta pukulan batin yang sangat hebat itu?
Tidak. kekalahannya hanya bisa dikatakan sekali, keputus-asaan bagi gurunya, sebab rasanya mempunyai kesempatan hidup selama sepuluh hari saja, dia akan mati dengan hati menyesal dan kecewa..
Berpikir sampai disitu, pemuda tersebut segera mengepos tenaga, rasa ingin menang dan harus menang timbul dalam benaknya, ia berusaha menguasahi golakan batinnya yang ber kobar2..
seperminum teh kemudian, per-lahan2 ia baru melangkah keatas jembatan batu, ketika tiba didepan pintu gerbang, rasa dendam, harapan dan ingin menang berkecamuk makin keras, dan kali ini bertambah pula dengan rasa ngeri seram yang amat tebal.
Put-lo sianseng selalu menyebut pemilik benteng maut bagai makhluk aneh, makhluk aneh macam apakah dia?
Tengkorak maut berwarna merah darah yang tergantung menyeringai diatas pintu gerbang membuat darah panas Han Siong Kie kembali mendidih, ia teringat kembali dengan lambang tengkorak maut yang ditinggaikan diatas dinding perkampungan Han oleh sang pembunuh selesai melakukan pembantaian.
Lambang itu menandakan kekejaman kesadisan, darah yang mengalir mayat yang bertumpuk serta pembantaian brutal..
Tiba2 satu ingatan lagi berkelebat dalam benaknya, ia teringat kembali dengan janjinya bersama malaikat dingin Mo siu Ing, jika ia berhasil menemukan kabar berita tentang malaikat panas Kosu Ki maka dia akan menangkan seluruh kitab pusaka tangan Buddha dan dapat melatih ilmu si mi sinkang yang maha sakti itu kemudian membalas dendam dan menghancurkan benteng maut.
Begitu kesengsem dengan lamunannya, hampir saja Han Siong Kie lupa kalau ia sedang berada ditempat bahaya.
Dalam pada itu dari atas daratan ditepi sungai dari tempat yang tersembunyi muncullah berpuluh2 pasang mata yang mengawasi setiap gerak gerik dari Han Siong Kie dengan pandangan tak berkedip. sorot mata mereka memancarkan sinar kaget, heran, tercengang dan dendam..
Nun jauh dari bukit karang itu terdapat pula sepasang mata yang sedang mengintai gerak geriknya, hanya saja sorot mata orang itu penuh mengandung rasa kuatir dan penuh perhatian-
Tentu saja Han Siong Kie tidak merasakan kesemuanya itu, ia tak sadar kalau gerak geriknya dibawah pengawasan orang lain.
Bagaikan sebuah patung area sianak muda itu berdiri kaku didepan pintu benteng.
seperminum teh kemudian Han Siong Kie baru tarik kembali lamunannya dan kembali dalam kenyataan. .
Pemuda itu segera menghimpun hawa murninya, seperti apa yang dipesan oleh Mo tiong ci mo dengan suara lantang ia bersenandung nyaring:
"Satu iblis muncul satu iblis lenyap. iblis diantara iblis bertemu dengan langit sakti"
Terhadap isi dari senandung tersebut Han Siong Kie sendiripun agak kurang paham, ia cuma menduga sebutan "langit sakti" kemungkinan besar adalah menggantikan nama pemilik benteng maut atau mungkin juga mempunyai maksud tertentu, namun ia tak sudi untuk putar otak memikirkan persoalan itu.
Setelah bersenandung satu kali dia ulangi untuk kedua kalinya:.. tiga kali.
suara gemericingan yang amat mencekat hati bergema memekakkan kesunyian pintu benteng maut yang misterius per-lahan2 bergeser kearah samping dan muncullah sebuah lubang gelap yang dalam dan sukar ditembusi dengan pandangan mata.
Han Siong Kie merasakan jantungnya bergetar keras, ia hendak menghadapi suatu keadaan yang sukar dibayangkan dengan kata2
Meskipun tenaga dalamnya amat sempurna, wataknya angkuh dan ketus tapi sekarang musuh tangguh yang harus dihadapi olehnya adalah Tengkorak maut yang mendatangkan kengerian serta keseraman bagi umat persilatan selama puluhan tahun belakangan ini, hal tersebut membuat pemuda itu tak mampu menguasahi ketegangan, kengerian serta keseraman yang menyelimuti perasaannya.
Benteng maut dianggap sementara orang sebagai istana kematian tempat tingal malaikat elmaut dan sekarang dia hendak memasuki benteng iblis yang selama puluhan tahun tak seorang umat persilatanpun berani mendekat atau memasukinya.
Ia rasakan napasnya jadi sesak, sekujur badannya bergetar keras dan tanpa sadar bulu kuduknya pada bangun berdiri
Ia segera memikirkan tujuan dari kedatangannya sekarang, ia datang untuk menantang pemilik benteng maut sedang orang yang hendak ditantangnya ini bukan lain adalah musuh besar pembunuh keluarganya.
Maka sambil membusungkan dada berjalanlah sianak muda itu memasuki pintu benteng.
Segulung angin dingin berhembus lewat dari balik lorong yang dingin membuat ia bersin dan merinding.
Diam2 pemuda itu berpikir didalam hatinya, benarkah pertarungannya kali ini adalah suatu tantangan terhadap malaikat elmaut.
Dua kali Put to sianseng memperingatkan bahwa pemilik benteng maut adalah seorang makhluk aneh, hal ini menunjukkan bahwa Put to sianseng merupakan salah seorang di antara beberapa orang yang mengetahui latar belakang mengenai pemilik benteng maut tersebut.
sebelum ia berangkat gurunya Mo tiong ci mopun pernah berpesan kepadanya:
".... engkau tak boleh melukai dirinya, pertarungan harus diakhiri bila telah saling menutul... engkau tak boleh menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam.."
Mungkinkah gurunya sudah merasa yakin bahwa ilmu jari Tong kim-ci nya mampu mengalahkan ilmu kim kong milik lawan?
sampai dimanakah kedahsyatan ilmu jari Tong kim ci tersebut, sewaktu berada ditengah jalan ia telah menjajalnya dan kenyataan membuktikan bahwa ilmu tersebut benar-benar merupakan suatu kepandaian ampuh yang maha dahsyat.
Tapi ingatan lain berkelebat dalam benaknya, menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan ilmu silat yang dimiliki pemilik benteng maut sukar dilukiskan dengan kata2, berita itu sangat mengurangi kepercayaannya pada kekuatan sendiri
Empat puluh tahun bukan suatu jangka waktu yang pendek, siapa tahu kalau ilmu silat yang dimiliki pemilik benteng maut telah peroleh kemajuan yang pesat??
Lorong dibalik pintu gerbang terdiri dari lapisan batu cadas yang telah ditumbuhi lumut hijau, hawa lembab dan suasana yang gelap gulita menambah keseraman disitu.
Baru saja Han Siong Kie melangkahkan kakinya kedalam pintu benteng, serentetan suara yang tua dan seram bergema dari balik bangunan kuno tersebut. . "Hey bocah, hentikan langkahmu ?"
Han Song Kie terkesiap dan tanpa sadar hentikan langkahnya, ia dapat menangkap kalau ucapan tersebut disampaikan dengan ilmu cian li coan im atau menyampaikan suara seribu lie, suatu kepandaian ilmu menyampaikan suara tingkat tinggi. Sementara ia masih termenung, suara itu kembali berkumandang datang:
"Bocah cilik, nyalimu benar2 amat besar berant benar menyaru sebagai Mo tiong ci mo untuk menipu diriku"
Dari perkataan itu tak dapat diragukan lagi bahwasanya orang yang barusan berbicara bukan lain adalah pemilik benteng maut pribadi.
Setelah berhasil menguasahi pergolakan hatinya, Han Siong Kie menghimpun tenaga dalamnya kedalam pusar lalu berseru lantang. "Apakah engkau adalah pemilik benteng ini?"
"Benar ada apa?"
Han Siong Kie seketika merasakan darah panas dalam dadanya mendidih, sekarang ia baru yakin bahwa orang yang sedang diajak bicara bukan lain adalah musuh besar pembantai keluarganya.
Tapi bocah muda itu berusaha untuk menahan sabar, maksud tujuan dari kedatangannya kali ini adalah untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan Mo tiong ci mo kepadanya. Dengan suara dingin dan ketus ia segera menegur:
"Poocu berdasarkan apa engkau menuduh aku menyaru sebagai Mo tiong ci mo?"
"Heeehhh heeehhh heeehhh tahukah engkau akan peraturan dari benteng ku ini?"
"Peraturan soal apa??"
"Barang siapa berani ngintip benteng maut dia akan dijatuhi hukuman mati."
"Dari mana engkau bisa menduga aku mencuri lihat bentengmu??"
"Mengapa engkau berani menyaru sebagai iblis diantara iblis untuk memasuki..."
Han Siong Kie segera mendengus dingin.
"Hmm benarkah Begitu?" ejeknya.
Pemilik benteng maut tertawa seram.
"Heeehh heeehh heeeehhh bocah cilik, aku ingin tahu darimana engkau bisa tahu akan kode rahasia yang telah kujanjikan dengan iblis diantara iblis pada empat puluh tahun berselang??"
"Hmmpoocu, kenapa engkau tak menduga kalau aku datang sedang melaksanakan perintah seseorang??"
"Melaksanakan perintah siapa??"
"Perintah guruku"
"Siapakah gurumu??"
"Iblis diantara iblis."
"Apa? bocah cilik, kau jangan membohong, masa engkau adalah ahli waris dari iblis diantara iblis?"
"Benar, engkau tak percaya?"
"Kalau begitu dapat utarakan maksud tujuan dari kedatanganmu ini..."
Laksana kilat Han Siong Kie putar otaknya, ia teringat akan anjuran dari Manusia yang kehilangan sukma, dua kali perempuan itu anjurkan dirinya agar berkunjung kebenteng maut serta mengutarakan asal usulnya kenapa ia anjurkan dirinya berbuat begitu?
Andaikata ia hendak turuti anjuran tersebut, maka sekarang juga anjuran itu bisa dilaksanakan tapi setelah berpikir lebih jauh akhirnya dia ambil keputusan untuk tidak berbicara.
Tentu saja ia merasa bahwa perbuatannya yang menceriterakan asal usul sendiri dihadapan musuh besarnya adalah suatu perbuatan yang tolol, apalagi pihak lawan adalah iblis nomor satu dikolong langit, bagaimana akibatnya tentu saja siapapun dapat menduga. Maka dengan suara dingin ia berkata:
"Selama empat puluh tahun lamanya guruku tak pernah melupakan kekalahan yang dideritanya dimasa silam, dan sekarang aku hendak menuntut balas atas kekalahannya itu"
"Haahh...haahh..haahh... dalam suatu adu kepandaian, siapa menang siapa kalah sudah menjadi suatu kejadian yang jamak. apalagi kemenanganku diperoleh dengan andalkan kepandaian yang asli, heehh haahh haahh.., ia benar2 seorang yang berperasaan halus, bagaimana..? apakah ia tak mau datang sendiri untuk meneruskan pertarungan tempo hari?"
"Guruku tak mungkin akan datang kemari"
"Kenapa? tanya pemilik benteng maut keheranan.
"Jiwanya sudah hampir melayang"
"Apa? jiwanya sudah hampir melayang?"
"Benar, untuk melampiaskan rasa dongkolnya karena kekalahan tersebut, ia masih ada waktu selama beberapa hari untuk menantikan jawabanku"
Suaranya yang menyeramkan kian lama kian merendah dan memberat, seakan2 ucapan tersebut bukan muncul dari mulut seorang manusia hidup.
Dengan nada sedih dan bertambah lirih ia berkata :
"Aku tak paham dengan maksud ucapan mu itu!"
“Guruku sedang menanti kabar dariku, empat puluh tahun komudian ilmu silat siapakah yang jauh lebih unggul!"
"Jadi makscdmu..!”
“Aku datang mewakili dirimu untuk memenuhi janjinya pada empat puluh tahun berselang, aku hendak adu kepandaian dengan diri poo-cu dan mari kita buktikan kepandaian silat siapakah yang jauh lebih lihay!"
“Oooh ! jadi engkau datang mewakili dirinya untuk memenuhi janji tersebut?”
"Dugaanmu tepat sekali!"
“Dan engkau akan menantang aku uttuk berduel?”
“Tepat ucapanmu!"
“Haaah..haaah.,haaaah.." gelakan tertawa yang keras bagaikan gulungan ombak di tengah samudra bergema susul menyusul, suaranya keras, nyaring dan amat memekikkan telinga, membuat pikiran orang jadi kalut dan hatinya kacaau.
Suara tertawa iiu penuh mengandung hinan rasa pandang rendah dan sikap yang sombong.
Gelak tertawa itu kian lama kian meninggi, golakan darah dalam dada Han Siong Kie pun ikut bergolak naik turun tiada hentinya, ia sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan. buru2 hawa murninya disalurkan keseluruh badan guna melawan pengaruh suara tertawa yang tak sedap didengar itu..
Menanti gelak tertawa itu sirap, seluruh jidat dan tubuhnva telah basah oleh air keringat, ia mulai sadar bahwa tenaga dalam yang dimiiiki pemilik benteng maut benar2 sukar dijajaki.
Suara dari pemilik benteng maut berkumandang kembali, kali ini suaranya penuh mengandung rasa kaget dan terkesiap.
"Bocah cilik, sungguh tak nyana engkau sanggup menerima gelak tertawa ombak menggulungku yang lihay, engkau memang hebat !"
Han Siong Kie makin terkesiap, bukankah pihak lawan sama sekali tak bergerak dari tempatnya semula? darimana ia bisa tahu kalau isi perutnya sama sekali tidak terluka oleh pengaruh gelak tertawa itu? apakah ia memiliki ilmu memandang jauh yang l1bay?
Meskipuo hatinya tercekat dan jantungnya berdebar keras, namun diluaran ia tetap bersikap tenang.
“Aku sama sekali tidak kenal dengan apa yang dimaksudkan sebagai gelak tertawa ombak menggulung, aku cuma heran apa sebabnya poocu tertawa tergelak?"
"Ternyata iblis diantara iblis memerintahkan seorang bocah yang masih bau tetek untuk memenuhi janjinya, ia benar-benar bermimpi di siang hari bolong. suatu perbuatan yang menggelikan.."
Mendengar ucapan tersebut hawa amarah segera berkobar dalam benak Han Siong Kie. ia tertawa dtngin.
"Poocu, engkau tidak msrasa bahwa ucapanmu itu terlalu sombong dan tekebur?”
"Tekebur? engkau mengatakan aku tekebur? haahh haahh..haahh.. bocah! nyalimu yang besar sangat mengagumkan hatiku, di samping itu memandang diatas wajah iblis diantara iblis, engkau boleh segera tinggalkan tempat ini, karena engkau aku bersedia melanggar pantanganku yang telah kupegang teguh selama puluhan tahun lamaya.”
"Tak usah, poocu tak perlu melanggar pantanganmu sendiri!" tukas sang pemuda ketus.
“Oooh...lalu apa yang hendak kau lakukan?”
“Aku tak ingin mengabaikan perintah suhuku.”
“Jadi engkau bersikeras akan menantangku untuk berduel?”
“Itulah tujuan dari kedatanganku.”
“Heeeh heeehh heeehhh engkau benar2 tak tahu diri.”
“Tahu diri atau tidak, itu urusan pribadiku”
“Bocab cilik yang masih ingusan, engkau masih belum pantas untuk berduel melawan
Aku!”
Han Siong Kie semakin gusar, keberaniannya makin memuncak, tiba2 hardiknya:
"Jadi.. poocu hendak mengingkari janji?"
"Mengingkari janji apa? aku tak pernah m;ngikat janji dengan engkau?"
“Kalau memang begitu kenapa enggkau tak berani menerima tantanganku untuk diajak berduel?”
"Menantaag untuk berduel? heeehh heeehh heeebbh kalau iblis diantara iblis datang sendiri, mungkin saja aku bisa mempertimbangkan kembali...."
“Aku datang mewakili guruku, apa bedanya dengan kehadiran ia pribadi?”
“Tak usah banyak bicara lagi, ayoh segera tinggalkan tempat ini ! Mumpung aku masih belum berubah pikiran, kalau tidak ....”
“Kalau tidak kenapa?”
“Engkau akan menyesal untuk selamanya.”
Kegusaran yang berkobar dalam benak Han Siong Kie tak dapat dikendalikan lagi. ia lupa kalau musuhnya amat lihay, segera bentaknya dengan tegas.
“Aku tak sudi menuruti kemauanmu kau mau apa?”
"Tak mau? heh heeeehh heeehhh selama hidup baru pertama kali ini kudengar ada orang berani berbicara sekasar itu dengan diriku!"
"Hmm ! Siapa tahu kalau lebih dari itu” jengek Han Siong Kie dengan bangga.
"Bocah keparat engkau benar2 tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi rupanya engkau sudah bosan hidup dikolong langit?”
"Hmm! jadi engkau tak berani menerima tantangan untuk berduel? tak nyana pemilik benteng maut yang tersohor tak lebih hanya seorang manusia pengecut!”
"Heehh...heehh..heeebh... bukan pengecut atau tidak yang pokok engkau masih belum pantas untuk berduel melawan aku!"
"Pantas atau tidak apa salahnya kalau poo-cu coba dulu?"
"Bocah keparat kalau engkau memang sudah bosan hidup ayo masuklah kedalam, aku menantikan kedatanganmu disini!"
Han Siong Kie mendengus dingin tanpa ragu2 ia berjalan masuk kedalam istana tersebut.
Pantulaa suara langkah kakinya dalam lorong batu yaog kosong menimbuikan suara yang menyeramkan seakan-akan ada beberapa orang yang jalan bersama.
Setelab melewati lorong batu itu dua kerat bangunan batu tsrbentang didepan mata, semua bangunan terbuat dari lapisan batu karang yang gelap. bangunan itu tak ada jendela, yang ada cuma sebuah pintu besi yang hitam dan telah berkarat, pintu itu tertutup rapat dan tak dapat melihat apa isinya.
Lumut hijau tumbuh dengan suburnya diatas bangunan rumah batu itu, sarang laba2 tergantung disana sini.
Udaranya lembab dan busuk mendatangkan rasa muak bagi siapapun yang mencium, lapisan batu diatas tanah sebagian besar telah tertutup oleh rumput ilalang.
Walaupun waktu menunjukkan tengah hari, namun suasana dalam benteng maut tetap gelap gulita bagaikan berada dineraka.
Han Siong Kie merasakan jantungnya yang berdebar, berdetak makin keras, ia tak tahu pemilik benteng maut mengandung maksud2 tertentu terhadap dirinya. ?
sunyi.. sepi.. keheningan yang mencekam bagaikan berada dikuburan menyelimuti seluruh benteng.
Han Siong Kie merasa dirinya seakan2 sedang memasuki sebuah kuburan kuno yang besar dan gelap. sedikitpun tak ada hawa manusia hidup..
Mendadak.. sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dihadapan mukanya.
Dengan cekatan Han Siong Kit meng hentikan gerakan tubuhnya, dengan cepat sorot matanya dialihkan kearah orang itu.
Mendadak bulu kuduknya pada bangun berdiri, dengan badan merinding tanpa sadar ia mundur dua langkah ke belakang, tangannya disilangkan didepan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
sesosok makhluk aneh yang sukar dilihat paras mukanya, dengan rambut panjang yang terurai menutupi seluruh kepalanya, selangkah demi selangkah maju mendekat. Manusiakah? atau setankah makhluk aneh itu?
Jelas dia adalah manusia karena terdengar suara langkah kakinya yang berat.
"Berhenti" bocah muda itu segera membentak keras.
Makhluk aneh itu tetap tidak menggubris, selangkah demi selangkah ia lanjutkan perjalanannya maju kedepan.
Satu ingatan dengan cepat berkelebat daiam benak pemuda itu,jangan2 makhluk aneh ini adalah..
Hatinya makin tegang dengan suara berat ia segera menegur: "Engkau adalah pemilik benteng maut?."
Makhluk aneh itu tidak menjawab, ia maju kedepan dengan langkah lambat.
Han Siong Kie mulai memghimpun segenap tenaganya dalam telapak ia siap melancarkan serangan apabila keadaan terlalu memaksa, sekali lagi tegurnya:
"Siapa engkau?"
Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong.
Terhadap bentakan atau pun teguran dari Han Siong Kie itu makhluk aneh tersebut sama sekali tidak menggubris, kembali badannya menerjang kedepan.
Kegusaran yang berkobar dalam dada Han Siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sepasang telapaknya laksana kilat melancarkan serangan kedepan, serangan tersebut di lancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat.
Makhluk aneh itu segera mengegos kesamping dan membentuk gerakan setengah lingkaran keatas permukaan dengan gerakan yang lincah ia meloloskan diri daya serangan tersebut.
Dari kelihaian yang dilakukan orang itu, semakin besar membuktikan bahwa makhluk aneh itu adalah manusia yang memiliki ilmu silat sangat lihay, tanpa sadar Han Siong Kie melanjurkan lidahnya.
Dengan menggunakan tangannya yang kurus, makhluk aneh itu menyingkap rambutnya yang kusut dan menutupi wajahnya itu, sepasang biji matanya yang tajam dan memancarkan sinar berkilauan melirik sekejap kearah Han Siong Kie, kemudian ber kaok2 aneh.
Suaranya aneh dan menyeramkan, tidak mirip tertawa tidak mirip pula suara menangis, membuat bulu kuduk semua orang tanpa terasa pada bangun berdiri
Dengan tar manggu2 Han Siong Kie memandang makhluk aneh yang tiba2 putar badan serta mengundurkan diri dari hadapannya, dalam sekejap mata manusia aneh itu sudah lenyap dari pandangan, ia merasakan suatu perasaan yang tak sedap.
Terutama pandangan dari manusia aneh itu, sorot matanya penuh memancarkan sinar dingin, seram dan menggidikkan, membuat perasaan hatinya tak tenang.
Beberapa saat kemud ian ia melanjutkan kembali perjalanannya menuju kelorong sempit yang terbentang di antara bangunan rumah berbatu itu.
Tujuh delapan langkah baru saja lewat dua sosok bayangan manusia laksana kilat tiba2 menerjang keluar dari kedua belah sisinya, desiran angin tajam men-deru2 dan serasa menyayat badan.
Han Siong Kie merasa amat terperanjat, dia ayunkan telapaknya melancarkan dua buah pukulan yang amat dahsyat menyongsong datangnya ancaman dari kiri maupun kanan itu.
Benturan keras menggelegar diangkasa, dua sosok bayangan manusia itu terpental dan berhenti ditengah jalan.
sekarang Han Siong Kie dapat melihat jelas wajah dari dua sosok bayangan manusia itu, ternyata mereka adalah setan2 jelek yang bermulut lebar dan bergigi taring, begitu menyeramkan wajahnya hingga membuat bocah muda itu se-akan2 kehilangan sukma.
Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, setelah tertahan oleh pukulan lawan, dua sosok bayangan manusia berwajah setan itu melancarkan tubrukan kembali kearah depan, cakar setannya yang tajam langsung menyerang bocah muda itu habis2an..
Han Siong Kie amat terkesiap, buru2 ia keluarkan ilmu pukulan Mo-mo.ciang hoat untuk mempertahankan diri.
Dua orang setan jelek itu menyerang terus dengan gerakan2 yang nekad, mereka tak ambil peduli sampai dimana ketatnya pertahanan dari pemuda itu, terjangan demi terjangan dilancarkan terus dengan hebatnya.
"Blamm Blamm" dua benturan nyaring menggelegar diangkasa memecahkan kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu.
Han Siong Kie merasakan tulang telapaknya amat sakit seperti maupatah, ternyata pihak lawan memiliki tubuh yang keras bagaikan baja, baik pukulan maupun serangannya sama sekali gagal untuk merobohkan ke dua orang lawannya itu.
Dengan perasaan hati yang tercekat dan kaget, serta merta ia melayang mundursejauh tiga depa ke belakang dengan gerakannya yang tiba2 itu maka serangan cakar setan dari kedua orang setan itupun mengena disasaran yang kosong.
Ingatan kedua belum sempat berkelebat lewat, kedua orang setan jelek itu sudah saiing bertukar tempat dan sekali lagi melancarkan terjangan maut.
Kecepatan gerakannya, keanehan dari serangannya sangat jarang ditemui dikolong langit.
Kesalahan bukan terletak pada ketidak becusan Han Siong Kie, andaikata kedudukannya diganti dengan seorang jago lihay persilatan lainnya, niscaya orang itu sudah akan roboh ditangan sepasang manusia setan itupada serangannya yang pertama.
Belum sempat pemuda itu berdiri tegak, sekali lagi sepasang manusia setan itu melancarkan terjangan maut, dalam keadaan terburu napsu cepat2 dia himpun tenaganya hingga sebesar sepuluh bagian, secara terpisah didorongnya satu kekiri yang lain ke kanan-
"Blaamm.. benturan dahsyat kembali bergeletar diangkasa, dalam benturan itu ke empat buah cakar setan dari sepasang setan jelek itu tertahan kurang lebih satu depa dari tubuh Han Siong Kie oleh getaran tenaga dalamnya, kedua belah pihak sama-sama berdiri kaku dan siapapun tidak melakukan pergerakan lagi.
Diam2 sianak muda itu mengucurkan keringat dingin saking terperanjatnya, ia hendak tarik kembali telapaknya untuk mengganti jurus, tapi ia sadar jika telapaknya ditarik kembali niscaya kedua orang setan jelek itu akan memanfaatkan kesempatan itu se-baik2 nya untuk mencengkeram tubuhnya.
Karena itulah terpaksa ia kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk bertahan sedapat mungkin.
Sepasang setan jelek itu menerjang makin hebat daya tekanan yang terpancar keluar berat bagaikan be ribu2 kati baja.
Han Siong Kie mengerahkan segenap kekuatannya untuk melawan serangan musuh di samping itu diapun mulai mempertimbangkan situasi disekelilingnya.
suatu ketika mendadak ia temukan sesuatu, ternyata dua orang setan jelek yang sedang melancarkan serangan kearahnya itu bukan lain adalah setan2an yang terbuat dari baja murni, tak aneh kalau kekuatan daya tekanannya begitu hebat bagaikan bukit kecil.
Setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, keberaniannya semakin memuncak tapi daya tekanan yang terpancar keluar dari manusia besi itu kian lama sudah kian bertambah hebat.
pada saat itulah gelak tertawa pemilik benteng maut bergema datang disusul ia berseru.
"Haahh... haaahh... haaahh keparat cilik, akan kulihat engkau bisa bertahan sampai berapa lama kali ini aku akan memberi kesempatan kepadamu jika engkau bersedia undurkan diri dari sini maka aku tak akan mencelakai engkau lagi, katakan saja kepada gurumu kalau pemilik benteng maut masih sehat walafiat seperti sedia kala"
"Terima kasih atas maksud baikmu"
"Oooh jadi engkau sudah bertekad untuk tidak keluar dari benteng maut ini dalam keadaan hidup lagi?"
Han Siong Kie tertawa dingin tiada hentinya.
"Heehh heeehh heeehhh belum tentu begitu, sebelum kulaksanakan tugas yang di bebankan guruku, aku tak nanti akan mengundurkan diri dari sini"
"Kalau memang begitu, andaikata engkau bertemu dengan gurumu dialam baka nanti jangan salahkan kalau aku tak kenal kasihan"
Teringat kembali akan budi kebaikan gurunya yang telah salurkan hawa murni miliknya kedalam tubuhnya, dan teringat pula kalau usia gurunya sudah amat terbatas, timbul kembali semangat yang berkobar dalam dadanya, tiba2 ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya kedalam telapak, kemudian dengan gerakan " menggetar" dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat ia lancarkan suatu tolakan yang amat keras.
Keampuhan dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat ditambah pula dengan dua kali penemuan aneh yang dialami Han Siong Kie membuat tenaga dalam yang dimilikinya saat ini telah mencapai dua ratus tahun hasil latihan, tolakan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga ini benar2 luar biasa sekali.
-ooo0ooo-
“BLAAAMM Blaaamm” dua ledakan keras menggoncangkan seluruh permukaan bumi, sepasang iblis jelek yang terbuat dari baja itu terpental kesamping, alat kontrol yang mengendalikan kedua buah boneka itu hancur berantakan-
Ditengah percikan bunga api dan gugurnya pasir dan debu, dua buah dinding bangunan rumah tertunduk hingga roboh tak karuan-
Ditengah suara gemuruh yang amat keras terdengar dua jeritan ngeri bergema memenuhi seluruh ruangan-
Han Siong Kie merasa amat terperanjat mungkinkah dibalik ruangan batu itu terdapat jago silat yang disekap disitu??
sorot matanya segera dialihkan kearah dua deret bangunan batu yang terbentang didepan mata, ia lihat pintu besi tertutup rapat mungkinkah dibalik setiap pintu besi itu tersekap jago persilatan? mungkinkah mereka adalah jago2 persilatan yang melakukan penyelidikan terhadap benteng maut dan lenyap tak berbekas itu? atau mungkin mereka terdiri dari anak buah benteng maut??
"Heehh heeehh heeehhh keparat cilik, kau memang sangat hebat" seruan dari pemilik benteng maut bergema diangkasa, rupanya engkau lebih unggul satu tingkat di bandingkan dengan iblis diantara ibis dimasa lampau, tak kusangka engkau mampu menghancurkan sepasang malaikat pelindung benteng ku, meskipun begitu engkau masih belum....."
"Belum kenapa?" tukas sang pemuda cepat.
"Engkau masih belum pantas untuk mengajak aku berduel" Han Siong Kie jadi mendongkol sekali, hingga menggertak gigi rapat2.
Teriaknya dengan nada penasaran:
"Hmm kau anggap dengan andalkan beberapa patah katamu yang tekebur serta beberapa kepingan besi rongsokanmu itu maka aku lantas pecah nyali menyerah kalah dan undurkan diri dari sini??"
"Haahh..haahh..haahh... undurkan diri? engkau tak memiliki kesempatan untuk berbuat demikian lagi, rumah2 batu itu akan menjadi tempat tinggalmu untuk selamanya" Han Siong Kie makin penasaran dalam pikirnya:
"Jangan sombong dulu, lihatlah kelihayanku akan kuobrak abrik sarang kura2mu dan akan kulihat engkau si kura2 akan kabur kemana..??"
sekali enjot badan ia menerjang masuk kedalam lorong tempat yang menembusi rentetan bangunan batu itu, dalam beberapa pusaran saja ia sudah berada ditengah lingkaran bangunan tadi.
Tampaklah bangunan batu berjajar disana sini, lorong besar kecil bersimpang siur tak menentu, meskipun ia sudah berlarian selama seperminum teh lamanya, namun tubuhnya masih tetap berputar2 dalam lingkungan rumah batu tadi.
Lama kelamaan pemuda itu sadar, ia pasti sudah terjebak dalam sebuah barisan "ki bun tin" yang lihay dan ampuh.
Dalam keadaan begini, ia enjotkan badan melayang naik keatas atap bangunan batu itu, sekilas memandang ketempat kejauhan pemuda itu tertegun dan berdiri kaku, hati nya terjelos.
Rupanya yang terlihat sepanjang pandangannya cuma bangunaa batu yang ber-deret2,
tembok benteng telah lenyap bahkan suara gulungan ombak sungai pun sudah tak kedengaran lagi.
Sadarlah pemuda itu bahwa ia terjebak
Ia tak menyangka gerakannya selama ini lari kesana kemari sama sekali tak ada hasilnya, malahan tenaga dalamnya jauh berkurang karena perbuatan tersebut, ia loncat turun dari atap rumah batu dan ditemuinya ia masih berada ditempat semula.
Han Siong Kie jadi mendongkol sekali, dengan muka merah darah karena marah ia membentak keras:
"Huhh. mentang2 seorang pemilik benteng maut, tak tahunya cuma kura2 busuk yang andalkan kelihayan ilmu barisan untuk melindungi keselamatan jiwanya."
"Heeehh heeehh heeehh bocah muda, tak ada gunanya engkau mengonggong seperti anjing, bukankah suhumu iblis diantara iblis belum sempat mewariskan kepandaian semacam itu kepadamu? heehh heeeehhh heeehhh..."
Gelak tertawanya amat sombong dan takebur sekali, membuat Han Siong Kie makin gusar bercampur mendongkol, hampir saja dadanya meledak saking tak tahannya.
Ia sama sekali tak mengira kalau pemilik benteng maut tak mau unjukkan diri untuk menerima tantangannya. tentu saja kejadian ini sama sekali berada diluar dugaan iblis diantara iblis, kalau tidak ia pasti akan memberitahukan rahasia serta cara untuk memasuki benteng maut tersebut.
Bagaikan seekor burung elang yang terkurung kabut tebal, Han Siong Kie menerjang kesana kemari secara membabi buta, walau bagaimanapun juga ia berusaha ternyata usahanya selalu gagal dan ia tak mampu meloloskan diri dari kepungan barisan tersebut.
Tiba2 satu ingatan aneh muncul dari dasar hati kecilnya, ia merasa bahwa benteng maut luasnya cuma beberapa puluh tombak belaka, apa salahnya kalau ia rusak bangunan rumah batu itu? jika bangunan tersebut ambrol bukankah barisan itu dengan sendirinya bakal hancur berantakan?
Teringat akan sistim tersebut tenaga murninya segera dihimpun dalam telapak lalu dengan sepenuh tenaga dibabat kearah bangunan batu yang berada dihadapannya.
Angin pukulan men-deru2 dan dengan dahsyatnya meluncur kedepan, tapi bagaimana hasilnya? se-akan2 menghantam udara kosong sama sekali tiada reaksi apapun yang di temuinya.
Rasa terperanjat yang dialami Han Siong Kie kali ini sukar dilukiskan lagi dengan kata2, barisan tersebut memang luar biasa dan membuat orang sukar untuk menduga mana yang nyata dan mana yang maya.
Dia menerjang maju semakin kedepan dengan tangannya ia meraba bangunan batu itu terasa dingin dan karat sedikitpun tidak palsu.. tapi apa sebabnya pukulan yang dilancarkan dengan begitu dahsyat sama sekali tidak mendatangkan reaksi apapun?
Untuk kedua kalinya ia himpun segenap kekuatan murninya kedalam telapak baru saja ia bersiap sedia melancarkan pukulan dahsyat kearah bangunan rumah batu itu. Mendadak sebuah telapak tangan tahu2 sudah menempel diatas bahunya.
Han Siong Kie amat terperanjat sekujur badannya gemetar keras baru saja dia akan bergerak.
"Jangan bergerak"
Teguran dingin dan ketus yang membuat bati orang bergeridik bergema dari arah belakang, pemuda itu kenal suara itu sebagai suara teguran dari pemilik benteng maut.
"Apa maksudmu berbuat curang?" pemuda itu segera menegur.
"Kau mau takluk tidak??"
"Takluk haaahhh haaahhh haahhh hanya mengandalkan permainan setan yang sama sekali tak ada harganya itu??"
"Oooh.. jadi engkau tidak takluk??"
"Tidak"
"Bocah muda, engkau adalah manusia paling tekebur yang pernah kujumpai selama hidupku, apa yang harus kulakukan sehingga kau benar2 merasa takluk? tahukah engkau bahwa menurut peraturan benteng kami barang siapa telah memasuki benteng ku ini, dia selama hidup akan disekap dalam rumah batu dia harus mengakui sendiri kalau hati nya merasa takluk"
Han Siong Kie merasa agak tercengang, peraturan macam apakah itu tanpa terasa ia bertanya:
"Siapa sih yang disekap dalam rumah2 batu itu? apakah mereka adalah jago2 persilatan yang pernah menerjang masuk kedalam benteng ini?"
"Benar tapi sekarang mereka harus disebut sebagai manusia2 tolol yang tekebur dan tak tahu diri"
"jadi mereka telah menyatakan takluk seratus persen serta rela disekap sepanjang masa??"
"Tentu saja"
"Tapi sayang aku tak mau takluk kepadamu"
"Hmm engkau tak dapat menentukan pilihanmu sendiri"
"Jadi engkau hendak menggunakan cara yang begins rendah dan memalukan untuk paksa orang menyerah kalah?" teriak Han Siong Kie dengan penuh kegusaran-
"Memaksa Hmm, terhadap aku sih tak perlu terhadap orang persilatan macam apapun aku tak pernah menggunakan cara memaksa"
"Lalu bagaimana penjelasanmu tentang perbuatan yang kau lakukan pada saat ini?"
"setelah kuajukan beberapa buah pertanyaan akan kuberi kesempatan padamu untuk bertanding secara adil"
" Kalau begitu cepatlah bertanya"
"Benarkah engkau ahli waris dari iblis diantara iblis??"
"Benar"
"Sebutkan siapa namamu?"
"Malaikat penyakitan"
"Apa? engkau bernama Malaikat penyakitan??"
"Tepat sekali ucapanmu itu"
"Aku ingin mengetahui nama aslimu"
Pelbagai ingatan berkelebat dalam beriak Han Siong Kie, ia teringat kembali anjuran dari orang yang kehilangan sukma dimana ia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya kenapa harus berbuat begitu? apakah sekarang juga harus membeberkan asal usulnya??
Tidak sekarang bukan saatnya yang tepat sekarang sedang melaksanakan tugas dari gurunya lain kali jika ia hendak menuntut balas bukan saja asal usulnya akan dibeberkan bahkan diapun akan menuntut balas dengan wajah aslinya. setelah berpikir sampai disini iapun lantas menjawab dengan nada dingin: "Aku tak punya selamanya aku menggunakan malaikat penyakitan sebagai julukanku"
"Heehh... heeehhh heehhh kalau engkau tak mau menjawab akupun tak akan memaksa, tahun ini kau berumur berapa?"
"Aku rasa tiada kepentingan bagiku untuk memberitahukan usiaku padamu"
"Bocah muda engkau terlalu keras kepala, sekarang putarlah tubuhmu"
Han Siong Kie merasakan bahunya jadi kendor dan telapak yang semula menempel diatas bahunya kini sudah dialihkan, laksana kilat ia putar badan-
Kurang lebib satu tombak dihadapannya berdirilah seorang manusia aneh berbaju hijau dan berkain cadar warna hijau, telapak kanannya nampak putih mulus bagaikan pualam sedangkan tangan kirinya hitam pekat bagaikan tinta bak.
Han Siong Kie seketika itu juga merasakan darahnya mendidih, ia kenali Telapak itu pernah menghajar tubuhnya sampai terluka parah, meskipun hanya sekilas pandangan namun ia tak akan melupakan untuk selama-lamanya.
Api dendam yang membakar dadanya hampir saja membuat pemuda itu tak dapat menguasahi diri, hampir saja ia menyebut nama aslinya untuk menuntut balas tapi akhirnya ia dapat menguasahi diri, sekarang belum tiba saatnya untuk membalas dendam, ia harus menyelesaikan dulu tugas yang dibebankan iblis diantara iblis kepadanya.
Jikalau ia tidak menggunakan ilmu sakti warisan dari gurunya dan hanya andalkan jurus serangan dari Leng ku sianjin belaka sudah jelas ilmu silatnya masih bukan tandingan lawan-
Bergerak secara gegabah berarti mendatangkan penyesalan yang tak terkirakan sepanjang masa, ia mengerti akan teori tersebut, jika usahanya untuk membalas dendam menemui kegagalan dan malahan mengakibatkan kematian bagi dirinya, bagaimana mungkin ia bisa bertanggung jawab terhadap dua ratus lembar jiwa keluarganya yang mati di bantai orang, serta kematian dari susioknya Telapak naga beracun Thio Lin-.
Kematian yang menyangkut keluarga Han dan keluarga Thio kecuali telah diketahui bahwa pembunuhannya adalah Tengkorak maut, masih ada sebuah teka teki yang menyelimuti peristiwa tersebut, dan teka teki itu kemungkina besar ada sangkut pautnya dengan tengkorak maut.
Sewaktu susioknya telapak naga beracun Thio Lin bunuh diri, ia menyatakan bahwa perbuatannya itu dilakukan karena melaksanakan perintah perguruan, ia berpesan kepadanya agar jangan menuntut balas, jangan mengebumikan jenasahnya, tapi kenapa?? kenapa harus begitu? apakah dalam permusuhan ini menyangkut soal dendam perguruan dari generasi yang lampau..?
Yang patut disayangkan ia sama sekali tak akan tahu perguruan dari ayahnya, kalau tidak dengan tanda terang itu mungkin saja duduknya persoalan dapat diketahui.
Mendadak.. ia teringat kembali akan orang yang kehilangan sukma, manusia misterius itu se-akan2 mengetahui semua persoalan yang menyangkut tentang kehidupannya, bahkan dia tahu dengan begitu jelas.
Diam2 ia pun mengambil keputusan, seandainya bisa lolos dari benteng maut dalam keadaan selamat, maka pekerjaan pertama yang akan dilakukan olehnya adalah mencari orang yang kehilangan sukma untuk membongkar rahasia itu, tapi jejak orang yang kehilangan sukma amat sukar diikuti, kemana ia harus menemukan dirinya?? Pemuda itu merasa murung dan risau sekali. sementara itu Pemilik benteng maut telah berkata kembali:
"Bocah cilik, sekarang aku akan memberi kesempatan kepadamu untuk bertanding secara adil"
"Kesempatan untuk berduel??" seru Han Siong Kie sambil pusatkan kembali pikirannya.
"Heeehh... heeehh... heehh... engkau belum berhak untuk mengatakan berduel, anggap saja sebagai suatu percobaan ilmu"
"suatu percobaan ilmu??"
"Ehmm tepat sekali ucapanmu itu"
"Bagaimana caranya melakukan percobaan ilmu itu???"
"Kita saling mengadu jurus sebanyak tiga gebrakan- jika engkau berhasil menang maka kau boleh keluar dari benteng ini dengan bebas..."
"Andaikata kalah??"
"Engkau akan menjadi penghuni tetap dalam deretan rumah batu ini"
Diam2 Han Siong Kie merasakan hatinya terkesiap.
"Maksudmu selamanya tiada kesempatan lagi bagiku untuk keluar dari benteng ini?"
"oooh... itu sih tidak, selama disekap engkau bebas melatih ilmu silatmu, bila engkau sudah mampu memecahkan tiga jurus seranganku, maka pada saat itulah engkau bebas berlalu dari benteng ini, cuma aku perlu beritahu kepadamu, selama puluhan tahun terakhir ini belum pernah ada orang yang bisa keluar dari benteng ini dalam keadaan hidup"
Han Siong Kie tarik nafas panjang, ia rasakan hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, dari ucapan tersebut dapat diambil kesimpulan kalau tenaga dalam yang dimiliki pihak lawan telah mencapaipada taraf yang tiada tandingannya lagi.
"Andaikata seri??" tanya sianak muda itu beberapa saat kemudian.
"Engkau tetap dipersilahkan berlalu dari sini dalam keadaan hidup,"
"Andaikata kedatanganku di kemudian hari tetap ada maksud tertentu dan memaksa engkau untuk berduel???"
Rupanya Pemilik benteng maut sama sekali tak mengira kalau Han Siong Kie Begitu berani mengajukan pertanyaan seperti itu, setelah terperangah beberapa saat ia berkata: "Bocah cilik, jadi engkau akan datang lagi dengan maksud2 tertentu??"
"Aku cuma mengatakan seandainya saja, tentu saja dalam keadaan seperti itu sering kali bisa muncul keadaan2 yang istimewa" ujar Han Siong Kie dengan nada hambar.
"Kalau memang demikian keadaannya, maka hal itu harus ditentukan dari maksud hatimu itu."
Han Siong Kie mengangguk, pikirnya:
"Suatu ketika aku pasti akan datang lagi kesini."
Dengan suara berat dia lantas berseru:
"Kalau begitu bagaimana kalau sekarang juga kita mulai dengan pertarungan tersebut??" Pemilik benteng maut mengangguk.
"Bocah muda, selama puluhan tahun belakangan ini baru pertama kali ini aku mengecualikan pantanganku"
"Mengecualikan pantangan begitu??" tanya sang pemuda dengan perasaan kurang paham.
"Ehmm benar" pemilik benteng maut mengangguk.
"Poocu telah mengecualikan pantangan apa begitu??"
"Pertama, engkau tidak bersedia menyebutkan nama aslimu serta usiamu, dan aku tidak menuntut lebih jauh.."
"Aku toh bergelar Malaikat penyakitan dan merupakan ahli waris dari iblis diantara iblis, apa itu tidak cukup??"
"Selain itu..."
"Apa lagi?" sela sang pemuda cepat.
"Engkau mengenakan topeng kulit manusia, tapi aku tidak punya niat untuk melepaskan kedokmu serta melihat paras aslimu, apakah tindakan ini bukan suatu keringanan bagimu?"
Dengan perasaan amat terperanjat HanSiong Kie mundur tiga langkah lebar kebelakang, setelah Put lo sianseng kali ini merupakan kedua kalinya ada orang mengetahuinya kalau dia mengenakan topeng kulit manusia, ketajaman mata manusia semacam ini memang benar2 mengerikan sekali.
"Hey bocah cilik sekarang lancarkanlah serangan" terdengar pemilik benteng maut berseru dengan suara berat.
Han Siong Kie terkesiap. ia merasakan hatinya jadi tegang sekali sebab jika ia tak sanggup melakukan perlawanan dalam tiga jurus serangan tersebut, maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Bukan saja ia akan disekap dalam ruang batu, harapannya untuk balas dendam akan musnah dan sepuluh hari kemudian gurunya iblis diantara iblis akan mati dengan membawa penyesalan.
Tugas dari gurunya, dendam berdarah membuat semangat jantannya ber-kobar2, ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya kedalam sepasang telapak.
Ia akan menggunakan jurus serangan yang terampuh dan terdahsyat dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat untuk melancarkan serangan tersebut.
suasana diliputi keseraman, ketenangan membuat pemuda itu bergidik rasanya: "Hati2 poocu menghadapi serangan ini" teriak Han Siong Kie tiba2.
Ditengah bentakan keras ia gunakan jurus Mo ciang ciang liong atau telapak iblis menundukan naga melepaskan pukulan yang pertama, kedahsyatan angin serangannya benar-benar mengerikan.
Pemilik benteng maut menyilangkan telapaknya kemudian dengan menggunakan sebuah jurus serangan yang sangat aneh menyapu bersih datangnya ancaman yang amat hebat itu.
Han Siong Kie amat terperanjat, ingatan kedua belum sempat lewat hawa panas dan dingin tahu2 bagaikan guntingan pisau telah membabat pukulannya hingga lenyap. bahkan sisa tenaga bagaikan tindihan bukit karang menghantam dadanya.
Buru2 sianak muda ttu melepaskan pukulannya dan silangkan telapak untuk membendung datangnya ancaman tadi.
Blaamm benturan keras bergeletar di angkasa, pemuda itu rasakan darah panas dalam dadanya bergolak keras, tak kuasa lagi tubuhnya tergetar mundur lima langkah lebar kebelakang.
"Hey bocah muda, dalam gebrakan ini engkau telah kalah" seru pemilik benteng maut dengan suara lantang.
Han Siong Kie mendengus dingin, tubuhnya menerjang maju kedepan, dengan jurus yang lebih ampuh yakni raja iblis menyambangi neraka, laksana kilat ia lancarkan serangan kedua.
Jurus raja iblis menyambangi neraka merupakan salah satu jurus terampuh diantara tiga jurus sakti ilmu pukulan Mo mo ciang hoat, setelah dikembangkan kedahsyatannya mengerikan hati.
"suatu serangan yang amat bagus" puji pemilik benteng maut tanpa sadar.
Bukan mundur, ia malah maju kedepan, sepasang telapaknya diayun menyambut datangnya ancaman tersebut. "Duuukk"
serangan yang dilancarkan Han Siong Kie kali ini dengan telak berhasil menghantam dada lawan, ia rasakan telapaknya se akan2 membabat diatas sebuah dinding baja yang amat keras, telapaknya secara lapat2 terasa sakit sekali, ini membuat hatinya amat terperanjat.
Bukan begitu saja pada saat yang bersamaan diapun merasakan adanya pantulan tenaga yang balik menghantam tubuhnya dengan kecepatan bagaikan kilat begitu kerasnya hampir saja membuat pemuda itu muntah darah segar.
Di tengah dengusan berat tubuhnya mundur empat lima depa kebelakang dengan sempoyongan hampir saja ia roboh terjengkang di atas permukaan tanah.
Pada waktu yang bersamaan jari tangan kanan pemilik benteng maut tiba2 nyelonong masuk kearah jalan darah Tiong tong hiat di atas dada pemuda itu.
Gerakannya cepat bagaikan bayangan, mengikuti gerakan maju mundurnya, sang ujung jari selalu menjaga pada jarak tiga cun.
Han Siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras, otaknya mendengung dan pandangannya berkunang2.
Terdengar pemilik benteng maut berkata dengan suara dingin: "Dalam gebrakan kali ini, engkau kembali menderita kalah"
Habis berkata ia tarik kembali jari tangannya dan mengundukan diri sejauh satu tombak dari tempat semula.
Tentu saja andaikata pertarungan tersebut merupakan suatu duel kepandaian, sejak semula Han Siong Kie telah terkapar di atas tanah dalam keadaas tak bernyawa lagi.
-ooo0ooo-
Jilid 13 : Mencoba Ilmu jari Tong-kim-ci
DENGAN kepandaian sakti yang dimiliki pemilik benteng maut, asal jari tangannya dikerahkan sedikit tenaga saja, pemuda itu pasti mampus.
sebelum Han Siong Kie mengucapkan sesuatu, terdengar pemilik benteng maut berkata kembali.
"Bocah muda, engkau adalah orang pertama yang dapat menyarangkan pukulannya secara telak dibadanku, meskipun engkau kalah tapi aku akan menganggap pertarungan yang kedua ini berakhir dengan seri"
Han Siong Kie merasakan hatinya amat sedih dan sakit bagaikan di iris2 dengan pisau belati, rasa putus asa, kecewa muncul dari dasar hatinya. Kendatipun begitu, ia masih tetap ngotot serunya:
"Menang yaa menang, kalah yaa kalah, kau tak usah pura2 berlagak baik hati kepadaku
"Hmm!" pemilik benteng maut mendengus dingin "sekarang kita sampai pada jurus yang terakhir engkau masih mempunyai kesempatan sebesar sepertiga!"
Tiba2 Han Siong Kie teringat kembali akan ilmu jari Tong kim ci yang diyakinkan gurunya Iblis diantara iblis selama empat puluh tahun lamanya tanpa terasa semangatnya bangkit kembali.
Ilmu jarj Tong-kim ci adalah sejenis kepandaian yang sangat ampuh, setiap benda yang berada dalam jarak lima tombak jika terkena serangan itu pasti akan tembus dan hancur.
Pikirnya dalam hati.
“Kalau aku sisipkan ilmu jari Tong-kim ci dalam seranganku yang tak terduga olehnya kendati pun tengkorak maut memiliki tubuh yang kebal serangan pasti ia tak akan lolos dari serangan mautku ini.”
Beberapa saat kemudian, pikiran lain berkelebat pula dalam benaknya:
“Tapi. . perbuatan itu bukan perbuatan dari seorang lelaki sejati yang pantas dipuji sebagai seorang manusia dari golongan lurus aku tak boleh menyergap orang secara menggelap, aku harus berterus terang dan bersikep jantan”
Berpikir sampai disitu dengan nada serius ia lantas bertanya:
“Poocu, apakah engkau andalkan ilmu Kim kong sinkang untuk melindungi badanmu?”
“Dugaanmu tepat sekali!”
“Aku hendak mengeluarkan sejenis kepandaian ilmu jari yang sangat ampuh. aku harap poocu suka bertindak hati-hati”
“Haaahh haaahh haaahh, Ilmu jari apakah itu? coba katakana!"
“Ilmu jari Tong kim ci!”
Tiba2 pemilik benteng maut merasakan sekujur badannya gemetar keras, dengan nada terperanjat ia mengulangi:
“Apa kau bilang ? ilmu jari Tong kim ci ?”
“Tepat sekaii.”
"Haaahh haaahh hhaaahh sungeuh tak nyana empat puluh tabun kemudian Iblis di antara iblis berhasil melatih ilmu jari yang telah lama lenyap dari dunia persilatan itu kejadian ini sama sekali diluar dugaanku, bagus..bagusss..bagus..bagus, aku akan menyambut serangan ilmu jari Tong kim cimu itu"
"Kalau begitu ber hati2lah poocu"
"Tak usah kuatir seranglah"
Han Siong Kie segera mengayunkan telapak tangan kanannya, segulung desiran angin tajam laksana kilat meluncur kedepan dan menghajar pemilik benteng maut. Tengkorak maut sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit dari serangan tersebut.
"Duukkk" benturan nyaring bergema di angkasa tubuh pemilik benteng maut mundur satu langkah kebelakang dan mulutnya memperdengarkan suara dengusan tertahan-
Han Siong Kie merasakan sekujur badannya dingin bermandikan keringat, diluar dugaan ilmu jari Tong kim-ci yang paling di andalkan ternyata tidak mempan untuk merobohkan lawannya.
Lama... lama sekali.. pemilik benteng maut baru tertawa ter bahak2 "Haahh haahhh haahhh bocah muda, kali ini anggap engkau yang menang"
"Tapi... tapi poocu toh tidak menghindar ataupun melancarkan serangan balasan?" seru Han Siong Kie agak sangsi.
"Memang benar aku tidak menghindar atau membalas, tapi serangan jarimu itu hampir saja membuyarkan tenaga sakti pelindung tubuhku, dalam kolong langit dewasa ini kecuali engkau seorang, mungkin tiada orang lain yang mampu melakukan hal seperti ini, oleh sebab itulah engkau ku anggap menang"
Han Siong Kie merasa sedih sekali, tentu saja keadaan seperti itu tak bisa dikatakan sebagai suatu kemenangan, bagaimana caranya ia ceritakan kejadian ini kepada gurunya..
Walaupun begitu, diam2 pemuda itu masih bersyukur karena pihak lawan hanya akan beradu tiga gebrakan belaka, dan di dalam pertarungan tersebut dialah yang berada di pihak pemenang, dus berarti dia mempunyai kesempatan untuk keluar dari benteng itu, jika ia bisa lolos dari benteng itu berarti pula dia masih mempunyai kesempatan untuk menuntut balas.
Pada saat itulah.. tiba-tiba pintu besi sebelah kanan memperdengarkan suara gemerincingan yang amat nyaring, suara ramai yang muncul dari sustu tempat ibarat neraka ini kedengaran seram sekali, sebelum pemuda itu berbuat sesuatu. kembali berkumandang suara gelak tertawa yang mendirikan bulu roma.
Dengan hati terkesiap Han Siong Kie memandang kearah pintu besi yang telah berkarat itu. dia ingin tahu manusia macam apakah yang telah memperdengarkan gelak tertawa seram itu.
Dalam pada itu, pemilik benteng maut telah berpaling kearah pintu besi itu kemudian mengancam dengan suara berat :
"Hati2 kalau sampai kupunahkan seluruh ilmu silatmu!"
Gelak tertawa itu sama sekali tidak mereda, kurang lebih sepeminum teh kemudian orang itu baru berhenti tertawa dan berseru :
"Hey bocah muda, ditinjau dari nada suaramu aku yakin kalau usiamu belum melampaui dua puluh tahun. sungguh tak nyana pemilik benteng maut yang gagah perkasa telah mengaku kalah kepadamu, haahh haahh haahh peristiwa ini benar2 merupakan berita aneh yang belum pernah kujumpai selama puluhan tahun belakangan ini!"
Han Siong Kie tegurnya dengan cepat. "Siapa engkau?"
Sebelum orang yang berada diruangan batu itu sempat menjawab pemilik benteng maut sudah tertawa dingin tiada hentinya sambil berseru:
"Heee heehh heeehhh orang sbe Ko engkau telah melanggar psraturan benteng kami yang melarang setiap penghuni ditempat ini mengajak bicara dengan orang asing ilmu silatmu harus dipunahkan sama sekali”
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han Siong Kie pikirnya:
"Oooh rupanya orang yang ditawan ini sbe Ko tapi peraturan macam apa itu? masa cuma bicara sepatah dua patah kata dengan orang asing ilmu silatnya ia lantas dipunahkan? peraturan ini terlalu semena2 bukankah orang persilatan lebih baik dibunuh daripada dihina? peraturan ini sungguh teramat keji..."
Sementara itu terdengarlah orang yang berada dalam ruang batu itu telah berseru dengan suara keras:
"Tengkorak maut aku Ko Sun Ki sudah delapan belas tahun lamanya dikurung di tempat ini masa.."
Sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras setelah mendengar nama orang itu bagaikan kena listrik secara beruntun ia mundur tiga langkah kebelakang.
"Ko su Ki.... Ko su Ki "serunya berulang kali "engkau adalah malaikat hawa panas Ko su Ki??"
"Haahhh... haaahhh... haaahh tebakanmu tepat sekali hey bocah cilik, tebakanmu sangat tepat, aku memang salah satu diantara sepasang malaikat panas dingin yang disebut orang malaikat panas Ko su Ki sungguh tak nyana orang persilatan masih mengenal nama serta julukanku ini"
Tanpa sadar Han Siong Kie teringat kembali akan perbuatan2 kejam yang dilakukan malaikat dingin Mo siu Ing selama ini karena suaminya lenyap tak berbekas ia telah limpahkan semua kemarahannya pada umat persilatan, setiap tahun ia harus membantai seratus orang jago persilatan untuk melampiaskan amarah dan dendamnya itu.
Disamping kesemuanya itu, pemuda tersebutpun teringat kembali akan janjinya dengan Malaikat hawa dingin Mo siu Ing, andaikata ia dapat mencari tahu jejak dari Malaikat hawa panas Kosu Ki, maka dia akan menangkan sarung tangan pusaka Hud jiu poo pit yang sebelah lain-
Tak nyana apa yang semula dianggap sebagai suatu pekerjaan yang sangat berat, kini berhasil didapatkan dengan gampang, ternyata malaikat hawa panas Ko su Ki disekap dalam istana maut.
Saking emosi dan terpengaruh oleh keadaan, sekujur badan pemuda itu gemetar keras, ia tak tahu benarkah sarung tangan Hud jin Poo pit yang sebelah kiri masih berada dalam sakunya..
Tak tahan lagi ia berseru dengan suara keras: "Ko cianpwee, istrimu.."
"Tutup mulut" mendadak pemilik Benteng Maut membentak keras, suaranya amat dahsyat bagaikan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong membuat seluruh-ruangan bergetar keras dan pantulan suaranya memekikkan telinga.
"Kraaakk..! kraaakk..!" bunyi gemurutukan yang nyaring bergema tiada hentinya dari dalam ruangan batu itu tak terdengar suara dari Ko Su Ki lagi, jelas ada orang lain telah menggerakkan alat rahasia yang terpasang dalam ruang batu itu sehingga menggeserkan kedudukan malaikat hawa panas kearah sebelah lain.
Menyaksikan keadaan tersebut, dengan cepat Han Siong Kie putar badan, kemudian serunya kepada pemilik benreng maut :
"Poocu, apa yang telah kau lakukan terhadap dirinya?”
Pemilik benteng maut tertawa seram tiada hentinya.
"Heehh..heehh..heehh . bocah muda, perbuatanmu itu sama artinya sedang menggali liang kubur buat diri sendiri!"
“Poocu. apa masudmu mengucapkan kata2 seperti itu?” tegur Han Siong Kie dengan hati bergetar keras.
“Engkau telah kehilangan hakmu untuk tinggalkan benteng ini dalam keadaan selamat”
“Kenapa musti begitu?”
“Sebab rahasia benteng kami selamanya tidak diijinkan untuk bocor kedalam dunia persilatan”
Hawa amarah segera berkobar dalam dada Han Siong Kie membuat paras mukanya berubah jadi merah padam, ia mendengus dingin.
"Hmmm! apa yang hendak poocu lakukan terbadap diriku?" tantangnya kemudian.
“Akan kumusnahkan segenap ilmu silat yang kau miliki dan selama hidup disekap dalam istana ini.”
Sorot mata penuh kemarahan dan kebengisan terpancar keluar dari balik mata Han Siong Kie andaikata pihak lawan benar2 akan memusnahkan ilmu silat yang dimilikinya maka ia bersiap sedia untuk melakukan perlawanen hingga titik darah penghabisan.
00000O00000
BAB 27
DENGAN langkah yang tegap dan sikap yang gagah, sianak muda itu maju kedepan beberapa langkah, serunya dengan penuh kegemasan-
"Jadi poocu telah mengambil keputusan untuk menghadapi diriku dengan cara tersebut??"
"Hmm setiap perkataan yang kuucapkan keluar berat laksana bukit karang, selamanya aku tak akan merubah perkataan yang telah diucapkan keluar"
"Kalau begitu akupun akan beritahu kepada mu, jangan mimpi perbuatanmu itu dapat terlaksana"
"Heeeh heehh heeehhh" pemilik benteng maut tertawa seram tiada hentinya "buat aku tengkorak maut, tak ada perbuatan yang tak mungkin bisa kukerjakan"
Han Siong Kie menggertak giginya kencang2, segenap tenaga dalam yang dimilikinya dihimpun menjadi satu dan siap untuk melakukan pertarungan terakhir yang akan menentukan mati hidupnya ....
"Bocah muda, engkau masih coba akan melewati?? " jengek pemilik benteng maut sambil mendengus dingin.
"Tepat sekali selama hayat dikandung badan aku akan melakukan perlawanan yang gigih hingga titik darah penghabisan-"
"Kau anggap masih ada kesempatan bagimu untuk melakukan kesemuanya itu ?"
"Aku tak sudi mandah dibunuh dan dijagai orang tanpa melakukan perlawanan"
"Kalau memang engkau merasa punya kemampuan, apa salahnya kalau mencobanya lebih dahulu??"
Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari mulutnya, Pemilik Benteng maut segera menggosokkan sepasang telapaknya satu dengan yang lain, kemudian didorong kearah depan-
segumpal angin pukulan yang sangat tajam dan aneh segera meluncur keluar dengan dahsyatnya.
Han Siong Kie tak berani bertindak gegabah menghadapi serangan musuh yang begitu dahsyat, tatkala pihak lawan melepaskan pukulan mautnya, diapun segara ayunkan sepasang telapaknya kearah depan-.
Gulungan angin pukulan yang tajam dengan cepat meluncur kearah depan, namun sewaktu bertemu dengan gulungan angin aneh yang enteng seakan2 tiada benda itu ternyata ibarat saiju bertemu dengan api, setelah lenyap tak berbekas..
Si anak muda itu jadi amat terperanjat hingga merasa sukma melayang tinggalkan raganya, dari serangan telapak ia segera merubah ilmu jari sakti Tong kim ci untuk menghajar mundur serangan lawan-.
siapa tahu tenaga murninya sama sekali tak dapat dihimpun kembali, pemuda itu rasakan badannya lumpuh total.
Sementara itu dari balik sepasang telapak Pemilik benteng maut yang didorong keluar, gulungan angin serangan yang aneh masih meluncur keluar tiada hentinya.
Rasa kaget dan terkesiap yang dirasakan Han Siong Kie saat itu benar2 sukar dilukiskan dengan kata2, dalam hati kecilnya ia mengeluh:
"Habis sudah riwayatku .... entah ilmu aneh apa yang digunakan pihak lawan?? kenapa tenaga murniku tak dapat dihimpun kembali??"
Tapi sianak muda itu tak mau menyerah kalah dengan begitu saja, sekali dua kali secara beruntun ia telah mencoba sampai delapan kali banyaknya, akan tetapi hawa murninya masih tetap buyar dan sama sekali tidak dapat dihimpun kembali... Akhirnya dengan lunglai dan putus asa ia turunkan telapaknya kebawah.
Tiba2 satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia merasa pernah menjumpai ilmu sakti yang sangat aneh itu, belum lama berselang ia pernah mengalami nasib sama seperti hari ini dengan cepat berputar ia berpikir keras.
Akhirnya pemuda itu ingat, ketika berada diwilayah Liao hian tan pusat markas besar perkumpulan Thian che kau, ketua muda dari perkumpulan itu pernah menggunakan pula ilmu silat yang sangat aneh itu, membuat dia dalam waktu singkat mengalami kemacetan dalam pengerahan tenaga dalam, tapi itu hanya berlangsung sebentar saja untuk kemudian hawa murninya pulih kembali seperti sedia kala.
Waktu itu tenaga dalam yang dimilikinya hanya separuh dari apa yang dimiliki saat ini, dari sini dapat diketahui bahwa pengetahuan ketua muda perkumpulan Thian che- kau terhadap ilmu aneh tersebut masih cetek sekali, sedang pemilik benteng maut benar2 telah menguasahi segenap keampuhan ilmu tadi.
Tapi kenapa ketua muda perkumpulan Thian che kau bisa menggunakan pula kepandaian aneh itu.? jangan2 antara perkumpulannya dengan Benteng maut terikat hubungan yang erat? Kenangan lain yang memilukan hati, dengan cepat menyelinap kembali dalam benaknya..
Ibunya siang-go cantik ong cui Ing telah menerima sebuah pukulan dahsyatnya sebelum ia mendapat celaka, namun perempuan itu sama sekali tidak menderita luka apapun jua, jangan2 ilmu yang dipergunakan olehnya adalah ilmu Kim kong sinkang dari pemilik benteng maut?
Ditinjau dari kedua tanda tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa perkumpulan Thian che kau mempunyai ikatan hubungan yang erat dengan pemilik benteng maut.
Berpikir sampai disini dengan penuh emosi ia berseru:
"Apa hubungan benteng maut dengan perkumpulan Thian che kau?"
"Apa?? perkumpulan Thian che kau" seru pemilik benteng maut tercengang.
"Benar perkumpulan paling besar dikolong langit dan daya pengaruhnya melampaui perkumpulan serta partai2 lainnya"
"Belum pernah aku dengar yang dinamakan perkumpulan Thian che kau itu"
Han Siong Kie terperangah mendengar jawaban tersebut tapi dengan cepat la tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeahh..heehh..heehh... bocah cilik dan kaum wanitapun kenal apa yang dinamakan perkumpulan Thian che kau, masa engkau sebagai pimpinan persilatan sama sekali tak kenal nama itu, omong kosong ucapan yang cuma bisa membohongi anak kecil"
"Omong kosong..? HHmm aku bukan seorang manusia yang suka omong kosong, bocab muda kau anggap dengan mengada-ada pembicaraan maka engkau dapat meloloskan diri dengan menggunakan kesempatan itu? HHmm ... kalau engkau punya jalan pikiran semacam itu, maka terus terang kukatakan kepadamu, pikiran semacam itu hanya suatu impian disiang hari"
Pemilik benteng maut segera rentangkan sepasang telapaknya, jari tengah kiri dan kanannya di sentil kearah muka, dua desiran tajam laksana kilat meluncur kearah depan.
Dalam keadaan hawa murni yang sama sekali buyar, Han Siong Kie sama sekali tak mempunyai kemampuan untuk menangkis ataupun menghindarkan diri dari datangnya anca tersebut, ia rasakan badannya jadi kaku dan enam buah jalan darahnya tahu2 sudah tertotok semua hingga segenap hawa murninya buyar sama sekali.
Ditengah gelak tertawa yang membetot sukma, pemilik benteng maut enjotkan badan berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Han Siong Kie segera merasakan tubuhnya seakan2 terjerumus kedalam sebuah jurang yang tiada tara dalamnya, sukma serasa melayang tinggalkan raganya, ia merasa tubuh kasar itu sudah bukan menjadi miliknya lagi, ia merasa hatinya tercekam dalam suasana yang berat.. ia merasakan pukulan batin yang keras..
Dalam suatu sentilan jari yang sangat ringan, Pemilik benteng maut telah membuyarkan tenaga dalam hasil latihan selama dua ratus tahun yang dimiliki olehnya..
Pemuda itu menjublak dengan mata terbelalak lebar, badannya mulai sempoyongan bagaikan orang mabuk.
Setelah tenaga dalamnya punah berarti semua harapan, budi, dendam, cinta dan segala perasaan hatinya ikut lenyap tak berbekas.
Dua titik air mata tanpa terasa menetes keluar membasahi pipinya.. Lama.. lama sekali, ia baru berseru dengan nada serak:
"Tengkorak maut, hari kiamat bagimu tak akan terlalu jauh.. suatu saat pasti akan tiba saat sialmu itu.."
Pemuda itu temukan suaranya begitu lirih dan lemah, paling banter hanya bisa berkumandang sampai sepuluh tombak jauhnya dari tempat semula.
Pada saat itulah.. dari belakang tubuhnya berkumandang suara aneh yang mendirikan bulu roma, dengan kaku Han Siong Kie berpaling kebelakang, makhluk aneh setengah manusia setengah setan yang berambut panjang dan pernah ditemui sewaktu masuk kedalam benteng tadi tahu2 telah berdiri tiga langkah dihadapan mukanya.
Sorot matanya yang begitu dingin, menyeramkan dan membuat orang selama hidup tak dapat melupakannya kembali itu terpancar keluar lewat sela2 rambut dan menatap wajahnya tanpa berkedip.
Tanpa terasa pemuda itu kembali merasakan hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, sorot mata yang terpancar keluar dari balik mata makhtuk aneh itu, sama sekali tiada pancaran hawa manusia barang sedikltpunjua.
Setelah menatap Han Siong Kie beberapa saat lamanya, mahluk aneh itu putar badan dan berjalan kearah ruang batu disisinya diruang malaikat hawa panas Ko Su Ki mula-mula disekap.
Ia membuka rantai besi didepan pintu, membuka pintu baja yang berat kemudian menggape kearah Han Siong Kie dan menuding kearah dalam ruangan batu itu..
Tentu saja Han Song Kie mengerti apa yang dimaksudkan makhluk aneh itu, ia akan dijadikan tawanan dalam benteng maut dan selamanya tinggal disana.
Api kegusaran dan rasa dendam seketika berkobar dalam dadanya, ia tak menyangka kalau akhirnya dia bakal musnah ditangan musuh besar pembunuh keluarganya, dia ingin sekali membinasakan makhluk aneh itu kemudian musnahkan ruang batu dan akhirnya mencari tengkorak maut dan beradu jiwa dengan dirinya.
Namun sianak muda itu mengerti apa yang dibayangkan olehnya itu tak mungkin bisa dilaksanakan untuk selamanya sebab tenaga dalam yang ia miliki sama sekali telah punah.
Untuk kedua kalinya Makhluk aneh itu memberi tanda kepadanya, agar Han Siong Kie masuk kedalam ruangan.
Pemuda itu menggertak gigi kencang2, sorot matanya memancarlan api kegusaran dan rasa penasaran, sekujur badannya gemetar sangat keras.
Dengan perasaan putus asa ia menengadah memandang langit yang berwarna abu2, gumamnya seorang diri:
"Sungguh tak nyana aku bakal musnah dalam keadaan begini, dendam berdarah belum sempat kutuntut balas perintah guruku belum sempat kulaksanakan, sekalipun mati aku tak bakal mati dengan mata terpejam."
Belum habis dia bergumam, tubuhnya telah maju dengan sempoyongan, lengannya terasa jadi kencang dan sepasang kakinya sudah terangkat tinggalkan permukaan, bagaikan anak ayam disambar elang, tahu2 badannya sudah diangkat makhluk aneh itu dan dilemparkan kedalam ruang batu itu.
"Blaaamm.. badannya mencium tanah keras2, sekujur badannya terasa amat sakit bagaikan tulangnya sudah patah semua begitu terhempas keatas tanah pemuda itu sama sekali tak dapat berkutik lagi.
"Kraakk Kraakk " pintu baja tertutup rapat kemudian dikunci dari luar.
seketika itu juga suasana dalam ruangan itu jadi gelap gulita, begitu gelapnya hingga susah untuk melihat kelima jari tangan sendiri, hawa lembab yang dingin dan menyayat badan menyelimuti seluruh ruangan membuat badan jadi sakit bagaikan ditusuk2 jarum.
Dengan tenang dan sama sekali tak berkutik ia berbaring diatas papan batu yang dingin dan keras, benaknya serasa kosong melompong tiada ingatan apapun juga.
Dalam waktu singkat, ia tak mempunyai pikiran lagi, ingatan apapun tak tersisa dalam benaknya, pemuda itu merasakan dirinya seolah2 sudah mati . Waktu telah kehilangan arti dan manfaatnya dalam ruang baja yang gelap itu.
Ketika matanya sudah biasa dengan kegelapan dan ia sudah dapat membedakan setiap benda yang ada disekelilingnya, kesadaran perlahan2 pulih kembali seperti sedia kala, pertama-tama ia saksikan lebar ruang batu itu tiga tombak. empat penjuru merupakan dinding batu yang keras kecuali itu tiada sesuatu apapun yang tertinggal disana.
Hal ini membuktikan bahwa malaikat hawa panas Ko su Ki telah dipindahkan ketempat lain, bagaimanakah nasibnya sukar di duga dan sekarang ia telah menggantikan tempat kedudukannya itu serta menjadi penghuni tetap dalam ruang batu itu.
Malaikat hawa panas Ko su Ki sudah di sekap selama delapan belas tahun lamanya disana tapi tenaga dalamnya sama sekali belum punah, ia masih ada harapan untuk bisa meloloskan diri dari tempat terkutuk ini sedang dia sendiri? setengah dari harapan yang mereka milikipun tak ada, kehidupannya akan berakhir disana.
Pemuda itu bangkit dan duduk bersandar disisi dinding teringat kembali kenangan masa lampau hatinya terasa amat sakit bagaikan di iris2.
Dendam berdarah atas kematian dua ratus jiwa anggota keluarganya tak mungkin bisa dituntut balas untuk selamanya.
Keluarga paman gurunya telapak naga beracun Thio Lin ikut musnah dari muka bumi dan mereka hanya akan merana dan penasaran dialam baka.
sepuluh hari kemudian jika gurunya Mo tiong ci mo tidak dijumpai kemunculannya sesaat sebelum meninggal ia mesti sedih gusar dan penasaran, pukulan batin yang diterimanya waktu itu pasti sulit dilukiskan dalam kata2, cita2 serta harapannya yang terkandung sejak empat puluh tahun berselang akan musnah bagaikan kabut ditempa sinar matahari dan pasti akan mati tak tenang.
Budi kebaikan yang dilimpahkan orang yang kehilangan sukma dan orang yang ada maksud selama hidup tak mungkin bisa dibalas.
Adik angkatnya Tonghong Hwei selama ini menganggap dia sudah mati bahkan mendirikan tugu untuk memperingati kematiannya tak lama kemudian dia pasti akan bunuh diri untuk menyusul dirinya, meskipun aku tak membunuh Pak-jin tapi Pak jin mati lantaran aku..
Hampir saja pemuda itu otaknya jadi sinting, dosa karena tidak berbakti, tidak setia kawan- tidak setia pada perguruan, semuanya menimpa dirinya. Kematian, belum tentu bisa membebaskan semuanya itu dari dalam benaknya. Ia merasa hatinya tersayat, terluka, dan akhirnya mengucurkan darah.
"Apa yang harus kulakukan untuk mengatasi semua kesulitan ini? ingatan tersebut hampir merampas seluruh perhatian serta pikirannya.
Apakah dia harus hidup lebih jauh dalam keadaan yang lemah dan sama sekali tak berguna? apakah dia harus menerima keadaan tersebut hingga akhir hidupnya?
Mungkinkah dia harus menyelesaikan sendiri kehidupannya yang penuh kegagalan serta kekecewaan itu?
Ia sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk berusaha meloloskan diri dari situ, sebab segenap tenaga dalam yang dimilikinya telah musnah, sekalipun masih utuh, untuk meloloskan diri dari cengkeraman Pemilik benteng maut boleh dibilang ibaratnya bermimpi disiang hari bolong.
Cukup andalkan barisan rumah batu yang aneh dan sakti, tipis sudah harapannya untuk melarikan diri.
Rasa putus asa, bagaikan sebilah pisau tajam yang menyayat hatinya. Rasa ingin mati, kian lama kian tebal menyelimuti benaknya.
Mendadak... jari tangannya menyentuh suatu benda, serta merta ia ambil benda tadi dan diperiksanya dengan seksama.
Ternyata benda itu adalah sebuah bungkusan kain kecil, ketika diangkat terasa berat sekali, dengan cepat ia buka kain tadi.
Apa yang terlihat?? ternyata isi bungkusan itu adalah sebuah telapak tangan yang terbuat dari tembaga.
Ledakan rasa girang tak terbendung lagi, gumamnya seorang diri: "Hud jiu Poo pit. Kitab pusaka tangan Buddha... kitab pusaka..."
Tak dapat diragukan lagi, benda itu pasti sudah tertinggal tatkala malaikat hawa panas Ko su Ki dipindah dari tempat itu.
Jika sepasang sarung tangan itu digabungkan menjadi satu, maka dia akan berhasil mempelajari ilmu sakti see mi sinkang, bila ilmu sakti itu sudah diyakinkan olehnya maka ia tak usah jeri terhadap keampuhan Tengkorak maut lagi.
Tapi.. ketika ia teringat kembali bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah musnah dan harapannya untuk meloloskan diri telah punah, bagaikan kepalanya diguyur air dingin, ia berdiri terbelalak dan tak mampu berbuat sesuatu apapun-
Apa gunanya kitab pusaka tangan Buddha jika ia tak dapat melatihnya? benda itu ibaratnya barang yang tak berguna..
"Criing" tangannya jadi kendor dan benda mustika yang diincar setiap umat persilatan itu terlepas dari cekalannya dan jatuh kembali keatas tanah. seluruh ingatan dan pikirannya kembali tersita untuk memikirkan soal kematian-
Ia tak sudi hidup dalam keadaan cacad dan tak bertenaga, pemuda itu merasa lebih baik mati daripada menanggung derita dan kekecewaan-. sementara ia sedang putus harapan dan siap untuk bunuh diri
"criing criing" sentilan jari yang menyentuh permukaan pintu baja berkumandang tiada hentinya.
Han Siong Kie sama sekali tak mendongak ia segan untuk melakukan segala sesuatunya.
"Malaikat penyakitan, malaikat penyakitan" serentetan suara perempuan yang pernah di kenal olehnya berkumandang disisi telinga.
Sekujur tubuh Han sing Kie bergetar keras siapakah perempuan itu? mengapa ia muncul dalam benteng maut, dari mana ia tahu kalau dirinya disekap disitu? "Malaikat penyakitan " untuk kedua kalinya suara panggilan itu berkumandang. Han Siong Kie segera mendekati pintu baja itu dan tak tahan lagi dia bertanya. "Siapakah engkau?"
"Aku? engkau tak perlu tahu dulu, aku ingin tanya apakah engkau benar2 adalah malaikat penyakitan ahli waris dari Mo tiong ci mo?"
"Benar"
"Apakah engkau masih ingat dengan seorang gadis yang pernah kau tolong dari tangan empat pengawal baju hijau dari istana Huan mo kiong?" Han song Kie termenung dan berpikir sebentar lalu menjawab:
"Akulah gadis yang kau maksudkan itu"
"Engkau??"
"Betul, aku adakah istri yang ditinggalkan"
"Ooooh jadi nona adalah gadis yang menyebut diri sebagai istri yang ditinggalkan? sekarang aku ingat sudah"
Setelah berhenti sebentar, dengan rasa sangsi ia bertanya kembali:
"Kenapa nona bisa sampai disini ? dan darimana pula engkau tahu kalau aku disekap ditempat ini??"
"ooooh... soal itu engkau tak usah tahu"
"Apa nona adalah anggota benteng ini ??"
"Sudah kukatakan tadi, lebih baik tak perlu banyak bertanya, pernahkah engkau mendengar cerita tentang seorang sahabat yang membalas jasa atas budi yang pernah diterima olehnya???"
"Ada apa ? apakah nona..."
Sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kata2nya, gadis itu telah menanggapi:
"Dugaanmu tepat sekali, aku memang hendak membalas jasa baik yang pernah kuterima dari tanganmu, sekarang aku hendak tolong engkau untuk keluar dari benteng ini."
Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras hampir saja ia tidak percaya dengan telinga sendiri serunya dengan suara gemetar: "Nona hendak menolong aku lolos dari benteng ini"
"Betul tunggulah sebentar disitu aku segera akan muncul dalam ruangan batu itu" Begitu mengucapkan kata2 tersebut suaranya seketika lenyap tak berbekas.
Han Siong Kie merasakan hatinya bergejolak keras hampir saja tak dapat menahan pergolakan emosi yang luar biasa itu, gumamnya seorang diri:
"suatu pertemuan aneh benar2 kejadian ini merupakan suatu pengalaman aneh membuat orang bingung dan sama sekali tak habis mengerti" sesudah berpikir beberapa saat lamanya diam2 ia berpikir lebih jauh:
"Aaah tidak betul gadis yang menyebut dirinya sebagai istri yang ditinggalkan ini pastilah anggota benteng maut ini, kalau tidak dengan tenaga dalam yang dimilikinya tak mungkin ia bisa pergi kesana kemari dalam benteng tersebut dengan leluasa tapi apakah hubungannya dengan tengkorak maut, kalau toh dia anggota istana maut, kenapa tenaga dalam yang dimilikinya begitu biasa? bikin kepala jadi pusing."
"Kraaakrk kraaakkk "sebuah dinding batu per lahan2 bergeser kesamping dan muncullah sebuah pintu kecil.
Han Siong Kie rasakan jantungnya berdebar keras dengan pandangan tajam dia awasi terus pintu kecil itu.
sesosok bayangan tubuh yang ramping dan mulus per lahan2 muncul dalam ruangan itu, dia bukan lain adalab "Istri yang ditinggalkan"
Mendadak pelbagai pikiran dan ingatan berkecamuk dalam benak sianak muda itu pikirnya.
"Dewasa ini tenaga dalam yang kumiliki sama sekali telah buyar, sekalipun aku berhasil ditolong oleh " istri yang ditinggalkan" hingga lolos dari benteng maut tapi tugas yang dibebankan guruku belum terlaksana dengan muka apa aku harus berjumpa dengan guruku Mo tiong ci mo? disamping itu musuh bebuyutan yang punya dendam dengan aku terlalu banyak. sekalipun muncul dengan muka asliku atau dengan wajah malaikat penyakitan orang lain sudah pasti tak akan lepaskan diriku, kenapa aku musti menerima uluran tangannya sehingga berhutang budi kepada gadis yang bernama istri yang di tinggalkan ini??
Berpikir sampai disini dengan nada dingin ia lantas berkata: "Apakah nona hendak tolong aku untuk keluar dari benteng ini?"
"Benar, dengan menempuh bahaya aku melakukan hal ini, maksudku tidak lain adalah guna membalas budi atas pertolongan yang pernah engkau berikan padaku"
"Maksud baik nona biarlah kuterima dalam hati saja, nona tak usah menempuh bahaya ini demi diriku"
Istri yang ditinggalkan tertegun mendengar jawaban tersebut, dengan nada tercengang bercampur tak habis mengerti ia berseru:
"Jadi engkau rela mengorbankan dirimu untuk dikubur dalam benteng ini??"
"segenap tenaga dalam yang kumiliki telah punah, keadaanku tidak jauh berbeda dengan seorang manusia cacad, apa arti hidup bagiku??"
"Ooooh tentang soal itu terus terang kuberitahukan kepadamu, tenaga dalam yang kau miliki masih utuh, hanya jalan darahmu tertotok mengakibatkan urat dan nadi mu jadi kacau balau, oleh sebab itulah hawa murnimu tak dapat dihimpun kembali"
setelah mendengar keterangan tersebut, timbullah harapan untuk hidup dalam hati kecilnya, rasa putus asa yang semula menyelimuti hatinya kini tersapu lenyap dari benaknya, dengan penuh emosi ia berseru: "Sungguhkah apa yang nona ucapkan itu??"
"Aku rasa tiada kepentingan apa2 bagiku untuk membohongi dirimu"
"Lalu kepandaian apakah yang telah digunakan oleh pemilik benteng maut untuk melukai diriku ??"
"Suatu kepandaian rahasia yang tak pernah diwariskan kepada siapa2 dari Benteng Maut"
"Nona dapat memunahkannya?"
"Tentu saja dapat" sahut gadis itu sambil mengangguk "tapi aku tak dapat membebaskan jalan darahmu itu, sebab untuk melepaskan engkau dari sini aku telah menempuh suatu jalan yang amat berbahaya, jika aku bebaskan pula jalan darahmu yang tertotok itu berarti kematian yang tak bisa ditawar lagi bagiku, sebab itulah peraturan dari benteng maut ini"
"jadi nona adalah anggota benteng maut? " tegur Han Siong Kie dengan suara dalam.
"Benar, ucapanmu itu sama sekali tak keliru"
"Apa hubunganmu dengan pemilik benteng maut ini??"
"Maaf untuk sementara waktu aku tak dapat memberitahukan soal ini kepadamu"
"Tapi aku harus mengetahuinya lebih dahulu"
Rasa serba salah dan keberatan terlintas diatas wajah istri yang ditinggalkan, setelah ragu2 beberapa saat lamanya, ia tetap gelengkan kepalanya berulang kali. "Aku tak dapat beritahukan rahasia ini kepadamu" katanya. Melihat keputusan gadis itu, Han Siong Kie segera berpikir dalam hati:
"Kalau ditinjau dari sikapmu itu, sudah pasti ia mempunyai hubungan yang luar biasa dengan Tengkorak maut, sebaliknya antara aku dengan Tengkorak maut terikat oleh dendam sedalam lautan, darimana aku boleh menerima budinya ? tapi...Aaaai kalau aku tetap berdiam disini mana mungkin dendamku bisa terbalas?"
Harapan untuk pulihkan kembali kekuatan tubuh yang dimilikinya mendorong sianak muda itu untuk cepat2 tinggalkan benteng yang mirip neraka ini.
Dalam keluarga bakti kepada gurunya... serta masalah lain yang pelik kembali berkecamuk dalam benak pemuda itu, akhirnya tak tahan lagi ia bertanya:
"Siapakah orang2 dalam persilatan yang sanggup membebaskan aku dari pengaruh totokan ini?"
"Sulit untuk dikatakan? dunia persilatan amat luas, banyak keanehan yang terlingkup didalamnya, soal ini harus dilihat dari rejekimu sendiri, kalau ada jodoh aku rasa gampang untuk temukan manusia seperti itu, sebaliknya kalau tidak berjodoh...apa mau dikata lagi?"
Dengan mulut membungkam Han Siong Kie mengangguk. pikirnya didalam hati:
"Guruku Mo tiong ci mo sangat hapal dengan ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut, mungkin ia bisa bebaskan pengaruh totokan ini, selain itu bukankah masih ada orang yang kehilangan sukma, serta Put to sianseng beberapa orang jago misterius yang berkepandaian lihay? siapa tahu.."
Terdengar gadis itu berkata lebih jauh:
"Setelah engkau keluar dari benteng ini, aku harap engkau bersedia merahasiakan apa yang pernah kau saksikan dalam benteng ini sehingga tidak sampai bocor kedalam dunia persilatan?"
"Tentang soal ini aku bisa memenuhinya, tapi sebelum itu akupun hendak mengutarakan dua hal lebih dahulu"
"Katakanlah cepat"
"Pertama aku punya janji dengan malaikat hawa dingin Mo siu In untuk mencarikan jejak suaminya yakni malaikat hawa panas Ko su Ki untuk mencegah malaikat hawa dingin melakukan pembantaian lagi.
terhadap orang persilatan terpaksa aku harus bocorkan jejak suaminya itu kepada perempuan tersebut"
"Tentang soal itu sih boleh saja, jika malaikat hawa dingin berani mencari gara2 kemari itu berarti dalam benteng kami ini akan bertambah dengan seorang penghuni lagi"
"Kedua jika tenaga dalamku telah pulih kembali maka aku akan menyatroni kembali benteng maut ini.."
"Apa engkau akan datang lagi?"
"Betul"
"Kenapa?"
"Untuk membalas dendam"
"Oooh engkau punya dendam dengan poocu benteng ini?"
"Benar, dendamku lebih dalam dari pada samudra, jikalau nona menyesal untuk melepaskanku pergi dari sini sekarang juga engkau masih sempat menarik kembali tawaranmu itu"
Paras muka gadis yang bernama istri yang ditingalkan itu berubah hebat, akhirnya dengan sedih ia berkata:
"Baik, engkau boleh terhitung sebagai seorang pendekar jujur yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, hari ini kulepaskan dirimu karena ingin membalas budi pertolongan yang pernah kau berikan kepadaku sedangkan mengenai rencanamu untuk menuntut balas dalam benteng maut ini, hal itu boleh dianggap masalah lain"
"Dan nona tak akan menyesal dengan perbuatanmu itu?"
"Tiada alasan menyesal bagiku untuk perbuatan yang telah kulakukan dengan penuh kesadaran."
"Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih lebih dahulu atas bantuanmu itu"
"Engkau tak usah berterima kasih kepadaku, kita satu bayar satu, budi diantara kita sama sekali telah terhapus, dan sekarang kitapun harus segera berangkat"
"Bagaimana caranya kita keluar dari sint?"
Tiba2 gadis itu melancarkan sebuah totokan kilat keatas tubuh Han Siong Kie..
sianak muda itu seketika merasakan badannya merasa gemetar keras, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat dalam benaknya, ia sudah roboh terkapar diatas tanah.
Ketika ia sadar kembali dari pingsannya, terasa angin dingin berhembus lewat menggidikkan badan- suara gulungan ombak terdengar kembali dengan jelas, ketika ia buka matanya tampaklah bintang bertaburan diangkasa, dinding benteng yang hitam pekat berdiri mentereng dihadapannva, ternyata ia sudah berada diluar benteng maut.
"Saudara, sekarang engkau boleh segera tinggalkan tempat ini Nah, inilah benda milikmu yang ketinggalan, baik21ah kalau menyimpan-.^
Begitu ucapan tersebut selesai diutarakan, sebuah buntalan terjatuh disisinya sedang gadis itu sudah lenyap dari pandangan.
Han Siong Kie bangkit berdiri, dalam hati ia merasa bersyukur karena isi buntalan itu adalah sebagian dari Hud jiu Poopit yang diidamkan setiap umat persilatan, semula benda itu merupakan benda milik malaikat hawa panas yang tinggalkan disana, tapi gadis istri yang ditinggalkan mengira sebagai miliknya, kini benda itu dibawa keluar dan diserahkan kembali kepadanya.
Bukankah itu berarti bahwa benda mustika itu berjodoh dengan dirinya?? andaikata masih ketinggalan dalam benteng maut, bukankah semua harapannya ikut lenyap?
setelah menyimpan buntalan itu baik2, pemuda itu melirik sekejap kearah Benteng maut yang bercokol bagaikan iblis raksasa itu, kemudian putar badan dan berlalu dari sini.
setelah tenaga dalamnya punah, keadaan Han Siong Kie tidak jauh berbeda dengan manusia biasa, selangkah demi selangkah berjalan tinggalkan benteng itu.
Ia merasa dirinya seperti baru sadar dari suatu impian buruk, dalam sehari belaka dari seorang jago persilatan yang ampuh telah berubah jadi manusia biasa yang lemah tak bertenaga.
Dan satu hal yang mimpipun tak pernah disangka olehnya, ia telah berjumpa kembali dengan Tonghong Hui yang dirindukan olehnya selama ini...
Jika Tonghong Hui tahu kalau malaikat penyakitan yang telah ditolongnya olehnya bukan lain adalah engkoh Kie yang dianggap sudah mati dibunuh oleh orang2 perkumpulan Thian che kau, serta ia bersumpah hendak balaskan dendam sakit hatinya itu, mungkin ia bisa mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk bebaskan sianak muda itu dari pengaruh totokan.
Sedangkan Han Siong Kie sendiri, andaikata ia tahu kalau "istri yang ditinggaikan" adalah adik angkatnya Tonghong Hui, mungkin iapan akan membuka rahasianya hingga apa yang kemudian terjadipun bisa dibayangkan setiap orang.
Sayang, Takdir telah menentukan lain, sepasang merpati itupun harus melewatkan kesempatan baik itu dengan Begitu saja. .
Dengan susah payah Han Siong Kie menyeberangi jembatan batu dan tiba ditepi pantai berpasir, seCara lapat2 ia merasa se akan2 melihat adik angkatnya Tonghong Hui sedang duduk diatas batu cadas dimana mereka berjumpa untuk pertama kalinya, rasa sedih menyelimuti seluruh wajah pemuda ini.
Dengan langkah yang ling lung ia naik ke atas daratan danper-lahan2 meneruskan perjalanannya lewat jalan raya.
Ingatan pertama yang berkelebat dalam benaknya saat ini adalah bagaimana caranya tiba ditempat tinggal gurunya dengan gerak badan paling cepat dia harus tiba disitu sebelum sepuluh hari lewat karena gurunya pernah berkata bahwa ia masih ada pesan lain yang hendak disampaikan.
sementara itu dari tempat2 tersembunyi tidak jauh dari jalan raya berpuluh2 pasang mata dengan sorot mata penuh rasa kejut dan tercengang sedang mengamati gerak gerik dari Han Siong Kie..
Dengan mata kepala sendiri mereka saksikan pemuda itu masuk kedalam benteng dan sekarang mereka saksikan pula ia muncul dari dalam benteng dalam keadaan selamat.
Meskipun dari langkah kaki Han Siong Kie yang berat dan lambat menimbulkan perasaan heran dan tak habis mengerti dalam hati kecil mereka, namun siapapun tak berani mencabut kumis harimau secara gegabah kelihatannya dan kedahsyatannya Malaikat Penyakitan sudah amat tersohor dikolong langit:
-0000000-
BAB 28
SECARA diam2 mereka terus menguntit dibelakangnya, jauh dibelakang dan sangat hati2 sekali hingga sedikitpun tak menimbulkan suara, mereka takut jejaknya ketahuan oleh pemuda lihay itu.
Tentu saja mimpipun ia tak mengira kalau Malaikat penyakitan yang mereka takuti dan segani, kini sudah merupakan seekor harimau ompong. segenap ilmu silatnya punah tak berbekas.
sebaliknya Han Siong Kie sendiripun tak menyangka kalau ia dikuntit dan diawasi gerak geriknya oleh para jago silat.
Dengan cepat berita itu disiarkan oleh para jago persilatan yang berjaga disekitar benteng Maut kesegala penjuru dunia dengan cara yang paling cepat.
Malaikat penyakitan, ahli waris dari Mo-tiong ci-mo setelah masuk kedalam benteng maut ternyata telah muncul kembali dari benteng itu dalam keadaan selamat.
Begitu kabar itu tersiar dikolong langit sebagian besar orang persilatan segera menganggap pemilik benteng maut atau yang dikenal sebagai Tengkorak maut,pastilah hasil penyaruan dari Mo tiong ci mo, sebab pada empat puluh tahun berselang, Tengkorak maut dan iblis diantara iblis tak pernah munculkan diripada saat yang bersamaan.
Dengan tersiarnya kabar itu, maka Han Siong Kie menjadi sasaran dari perhatian segenap umat persilatan. terutama sekali mereka2 yang pernah merasakan kelihayan dan menderita kerugian ditangan Tengkorak maut serta iblis diantara iblis..
Fajar telah menyingsing .... sang surya memancarkan cahaya ke emas2an dari ufuk sebelah timur.
Han Siong Kie merasa lapar, dahaga bercampur penat . . . perjalanan yang ditempuh semalam suntuk hanya berhasil melampaui jarak sejauh enam puluh li, ia mempunyai tujuan untuk menuju kota yang terdekat, makan hingga kenyang kemudian membeli kuda untuk melanjutkan perjalanan.
Sebuah hutan lebat terbentang di depan mata, nun jauh diseberang hutan ia temukan sebuah dusun kecil penemuan itu membuat semangatnya bangkit kembali, ia segera percepat langkahnya menuju dusun tersebut.
Tiba2 desiran ujung baju tersampok angin berkumandang datang dari arah depan.
Han Siong Kie terkesiap. serentak ia menghentikan langkah kakinya dan berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.
Tiga sosok manusia meluncur datang dari depan dan secepat kilat mengepung sianak muda itu dalam posisi segi tiga.
Diikuti...sreet sreeet desiran tajam bergema tiada hentinya beb erapa puluh sosok bayangan manusia muncul dari arah empat arah delapan penjuru, diantara mereka terdapat aneka ragam manusia, dari padri, imam sampai kaum pengemis dari kay-pang jumlahnya diantara seratus orang..
Han Siong Kie merasa amat terkejut menghadapi pemunculan jago yang Begitu banyaknya, ia sadar bahwa orang2 itu muncul untuk mencari gara2 dengan dirinya, padahal tenaga dalam yang ia miliki telah punah, bukankah itu berarti hanya jalan kematian yang bakal diterima olehnya?
Dalam keadaan Begitu, Han Siong Kie tidak dapat berbuat lain kecuali mengawasi tiga orang jago yang berada disekelilingnya.
orang pertama adalah seorang imam tua yang rambut maupun alisnya telah putih, sekilas memandang ia segera kenali imam tua tersebut sebagai Kui Goan cu, ketua Tiangloo dari partai Khong tong yang pernah cari tahu jejak gurunya, ia tercekat dan jantungnya berdebar keras.
orang kedua adalah seorang padri tua bermuka merah, sedangkan orang ketiga adalah seorang nenek tua bermuka jelek. berwajah keriput dan membawa tongkat kuning berwarna ke emas2an.
Enam buah sorot mata yang tajam, laksana kilat menatap wajah Han Siong Kie tanpa berkedip.
setelah hening beberapa saat lamanya, per-tama2 Kui Goan cu dari partai Khong tong yang buka suara lebih dahulu tegurnya: "siau sicu, kembali kita berjumpa muka"
Han Siong Kie tahu bahwa ia tak dapat lolos dari kepungan lagi, sambil bulatkan tekad ia balas menegur dengan suara dingin, "Ada urusan apa kalian datang mencari aku?"
"Bu liang siu hud" seru Kui Goan cu sambil rangkap sepasang telapaknya "sebelum kita berbicara marilah aku perkenalkan dahulu dua orang jago ini, yang satu ini adalah Seng Gong taysu dari gereja siau lim si, sedang yang itu adalah Kim ciang popo dari gunung Yan san selain itu hadir pula umat persilatan dari pelbagai penjuru, adapun kehadiran kami semua adalah mengandung satu tujuan"
"Apa tujuan kalian?"
"Kami sangat berharap dapat mengetahui jejak dari gurumu Mo tiong ci mo"
Mendengar ucapan tersebut, diam2 Han sioag Kie mengeluh dalam hatinya.
"Habis sudah riwayatku ini hari, pasti aku akan menemui ajalnya ditempat ini."
Manusia apabila jiwanya terancam oleh bahaya maut, ia sudah putus asa kadangkala malah akan pasrah dan jauh lebih tenang sikapnya dari pada siapapun.
Demikian juga keadaan Han Siong Kie pada saat itu, bukannya jeri atau pecah nyali dia malahan berseru dengan nada angkuh:
"Kalau aku tidak bersedia menjawab kalian mau apa?" Paras muka tiga orang jago lihay itu seketika berubah hebat. Seng Gong taysu dari gereja siau lim si segera mendengus dingin.
"Hmm aku rasa siau sicu tak dapat ambil keputusan dengan seenak hatinya sendiri"
Kim ciang popo dari gunung Yao sanpun menepuk tongkat emasnya berulang kali, kemudian sambil menatap pemuda itu dengan pandangan tajam hardiknya.
"Hey bocah muda, aku harap engkau bersedia menjawab beberapa buah pertanyaanku secara jujur"
Han Siong Kie menyapu wajah Kim ciang po dengan pandangan dingin kemudian katanya.
"Aku bisa menjawab dengan sejujurnya asal pertanyaan yang kau ajukan pantas kujawab dengan jujur?"
"Hmm aku ingin tahu apakah Me tiong ci mo adalah hasil penyamaran dari pemilik benteng maut yang disebut Tengkorak maut"
Mendapat pertanyaan tersebut, Han Siong Kie malah terperanjat dibuatnya. "Darimana engkau bisa berkata demikiam?" serunya.
"Bukankah engkau adalah ahli waris dari iblis diantara iblis??"
"Tentu saja aku toh tak pernah menyangkal akan kebenaran tersebut?"
"Dan engkau .... bukankah baru saja keluar dari Benteng maut??"
satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han Siong Kie, ia tahu tindakannya memasuki benteng maut serta lolosnya dia dalam keadaan selamat pasti sudah diawasi oleh kawanan persilatan, sehingga dalam waktu singkat Begitu banyak umat persilatan yang telah berkumpul disana.
Dengan nada gamblang ia segera mengangguk tanda membenarkan-"Benar, aku memang baru saja keluar dari benteng maut itu"
"Kenapa engkau bisa keluar dari benteng tersebut dalam keadaan selamat?" desak Kim ciang popo lebih jauh.
"Aku rasa persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, jadi aku harap lebih baik engkau tutup mulut saja"
Paras muka Kim ciang popo yang jelek seketika berubah sangat hebat, rambutnya yang telah beruban bergetar keras, serunya lagi dengan nada menyeramkan-"sebenarnya lblis diantara iblis adalah penyaruan dari Tengkorak maut atau bukan?"
"Berdasarkan alasan apa engkau ajukan pertanyaan yang ngawur seperti itu?"
"Berdasarkan kedudukanmu serta tingkah lakumu yang dapat keluar masuk Istana maut secara bebas"
Meskipun tenaga dalam yang dimilikinya telah punah, kecongkakan dan kejumawaan dalam sikap Han Siong Kie sama sekali tidak berkurang, kontan ia tertawa dingin tiada hentinya. "Heehh heehh heehh.. apakah engkau tidak merasa terlalu brutal ucapanmu itu?"
"ooh.. jadi engkau tidak bersedia untuk bicara?"
"Jangan paksa aku untuk bicara kalau kau ingin tahu dudukperkara yang sebenarnya kenapa tidak berkunjung sendiri kedalam Istana maut untuk melakukan penyelidikan?"
Ucapan yang kasar dan sangat mengena di hati itu seketika membuat paras muka tiga orang jago persilatan itu berubah hebat.
Beberapa waktu kemudian seng Gong taysu dari gereja siau lim si berseru kembali:
"Kami akan berkunjung sendiri kesana untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan, segenap umat Bu- lim akan bersatu padu untuk menghancurkan benteng maut dari muka bumi, tapi bagi siau sicu sendiri aku rasa lebih baik bicara terus terang saja sebab kalau tidak.."
"Kalau tidak kenapa?"
"segenap umat persilatan yang hadir dalam gelanggang hari ini mungkin tak akan melepaskan siau sicu dengan begitu saja"
"Termasuk taysu sendiri?"
"omintohud mau tak mau terpaksa aku harus ikut serta dalam pergerakan ini"
Dalam hati timbullah keinginnan bagi Han Siong Kie untuk menerangkan bahwa Tengkorak maut bukanlah hasil penyaruan dari Mo tiong ci mo, tapi sebelum ia sempat berbicara, Kim ciang popo telah tak sabar lagi dan segera membentak keras. "Bocah keparat, ayoh bicara"
Mendengar bentakan itu, Han Siong Kie merasa gusar sekali, ia tahu seratus orang jago persilatan yang berkumpul disana waktu itu, semuanya merupakan lawan2 dari Tengkorak maut ataupun iblis diantara lblis. bicara atau tidak baginya sama saja tak ada artinya, maka dengan ketus pula dia menjawab "Aku tak mau bicara engkau mau apa?"
sejak lama Kim ciang popo, yang beradat keras sudah ada keinginan untuk mencoba kelihayan Malaikat penyakitan yang dikatakan sangat lihay itu, toya emasnya segera direntangkan didepan dada lalu berseru:
"Bocah dungu, engkau anggap dengan andalkan beberapa ilmu silat sesatmu itu maka engkau sudah dapat malang melintang dikolong langit tanpa tandingan?"
Han Siong Kie sadar jika lawannya turun tangan maka dia pasti tak akan lolos dari cengkeraman mautnya tapi bagi sianak muda itu tak ada jalan lain kecuali menerima kematian tersebut dengan pasrah.
Rasa sedih murung dan kesal berkecamuk dalam benaknya, ia tak menyangka setelah nyaris mati dalam benteng maut akhirnya toh harus menerima kematian ditangan para jago persilatan-
Sambil menggertak gigi segera serunya:
"Engkau tak usah mengancam, aku tak terbiasa dengan gertak sambal macam itu"
"Anak iblis sialan mulutmu benar2 sangat tajam akan kujajal dirimu lebih dahulu" bentak Kim ciang popo dengan penuh kegusaran.
Cahaya emas berkelebat lewat, toya emas itu secepat kilat meluncur kearah depan.
suasana dalam gelanggang seketika diliputi ketegangan, semua orang ingin tahu apa yang terjadi setelah nenek toya emas melepaskan serangan gencarnya.
Ditengah jeritan yang amat nyaring tubuh Han Siong Kie tersapu telak dan mencelat keangkasa, darah segar muncrat keluar dari bibirnya.
Tiga orang jago yang ada ditengah gelanggang kontan jadi tertegun dibuatnya.
Para jago yang ada disekeliling gelanggangpun memperdengarkan jeritan kaget bercampur nada heran.
"Blammm..." badan Han Siong Kie terlempar sejauh tiga tombak dari tempat semula dan roboh tak berkutik lagi diatas tanah.
Meskipun tenaga dalam masih dimiliki olehnya, tapi karena urat2 penting dalam tubuhnya ditotok oleh pemilik benteng maut maka hawa murni yang dimilikinya tak dapat dihimpun menjadi satu, kendatipun Begitu berkat tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan yang masih terkandung di dalam tubuhnya, ia selamat dari luka yang lebih parah akibat hantaman toya tersebut.
Peristiwa itu sama sekali berada diluar dugaan setiap orang, malaikat penyakitan yang dua hari berselang masih malang melintang tanpa tandingan dikolong langit, ternyata pada saat ini tak mampu menghadapi sebuah serangan dari Kim ciang popo.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?" per-tama2 Seng Gong taysu menegur lebih dulu dengan muka tercengang dan perasaan tidak habis mengerti.
Dengan perasaan bimbang dan ragu Kui Goan cu dari partai Khong tong ikut gelengkan kepalanya.
"Aku sendiripun tak dapat menjelaskan persoalan itu, sebab ketika untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan bocah itu, jelas kuketahui bahwa ia memiliki ilmu silat yang sangat lihay."
"Hei hidung kerbau, engkau yakin tak salah melihat?" tegur Kim ciang oopo dengan marah.
sebutan " Hidung kerbau" itu dirasakan tajam dan pedas dalam hati Kui Goan cu, merah padam selembar wajahnya, dengan terbata2 ia lalu menjawab: "Bukankah ia telah mengakui sendiri akan hal itu??"
"Tapi kenyataan membuktikan kalau ia sama sekali tidak berkepandaian silat, bagaimana penjelasanmu tentang soal ini??"
Dalam pada itu dengan sempoyongan perlahan2 Han Siong Kie bangkit berdiri dari atas tanah, para jago yang hadir dalam gelanggang kembali dibuat gempar oleh kejadian tersebut.
Sambil mengenyitkan alisnya yang tebal, Seng Gong taysu segera berkata:
"Kalau dikatakan ia sama sekali tak berilmu silat, hantaman toya tadi sudah cukup untuk mematahkan tulang punggungnya, tapi.. kenapa ia tidak mampus?" Kim ciang popo termenung beberapa saat lamany a, kemudian menjawab:
"Perduli bagaimanapun juga, duduk persoalan yang sebenarnya hanya bisa kita ketahui dari mulutnya sendiri"
Ia enjotkan badan dan melayang kehadapan Han Siong Kie.
Pada waktu itu pemuda she Han tersebut berdiri dengan sempoyongan, sekujur badannya terasa amat sakit, tenaganya ludas dan untuk berbicarapun tak kuat lagi, dengan pandangan sayu ia balas menatap wajah lawannya.
Mendadak.. Kim ciaog popo melihat sesuatu diatas tanah, ia temukan sebuah benda hitam menggeletak ditanah, ketika diambil ternyata benda itu adalah sebuah sarung tangan terbuat dari tembaga, diatas punggung dan telapak sarung tangan itu penuh terukir tulisan2 yang lembut.
Dengan hati berdebar perempuan itu, mengawasi lebih seksama lagi, tiba2 ia menjerit kaget:
"Aaaah kitab pusaka Hud jiu Poo pit"
Rupanya sewaktu tubuh Han Siong Kie terhantam oleh toya tadi dan mencelat keudara, tanpa disadari olehnya kitab pusaka tangan Buddha itu sudah terjatuh keatas tanah.
Betapa terperanjatnya sianak muda itu setelah mendengar seruan itu, tapi jiwanya pada saat ini terancam bahaya, tentu saja tidak sempat baginya lagi memikirkan benda itu lagi, maka melirikpun ia tidak.
Kui Goan cu dari partai Khong tong serta seng Gong taysu dari gereja siau lim si memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, kedua oraog itu menerjang kedepan ketika dilihatnya benda yang berada dalam genggaman Kim ciang popo ternyata bukan lain adalah kitab pusaka Hud jiu Poopit yang sudah tersohor namanya didalam dunia persilatan sejak seratus tahun berselang, mereka sama2 berdiri terperangah dibuatnya.
Baik Kui Goan cu maupun Seng Gong taysu sama2 merupakan orangZ beribadah yang beriman tinggi namun setelah menjumpai benda mestika yang tak ternilai harganya itu tak urung mereka unjukan pula rasa tamak dan napsU serakahnya.
Tiba2 antara gerombolan jara jago yang hadir disisi gelanggang terdengar seseorang dengan suara yang aneh dan berseru:
"Kitab pusaka telapak Buddha dari mana anak iblis ini bisa dapatkan benda mustika itu??"
Begitu teriakan tersebut keluar dari mulutnya seketika itu juga suasana jadi gempar dan para jago persilatan yang berada disekeliling gelanggang sama2 menerjang kedepan bagaikan gulungan air bah.
Buru2 Kim ciang popo masukan kitab pusaka telapak Buddha itu kedalam sakunya kemudian enjotkan badannya dan melayang keluar gelanggang dalam dua tiga kali loncatan saja tubuhnya sudah berada tiga puluh tombak jauhnya dari tempat semula.
Ditengah suara bentakan dan hiruk pikuk yang amat memekikkan telinga, semua jago persilatan yang berada disekeliling tempat itu sama2 mengerahkan segenap kekuatannya untuk melakukan pengejaran.
Gerakan tubuh Kim ciang popo cepat bagaikan sambaran kilat, dengan kepandaian silat yang dimilikinya untuk meloloskan diri bukaniah suatu pekerjaan yang terlalu sulit, tapi ketika untuk ketiga kalinya ia melayang keudara, mendadak segulung angin pukulan yang amat dahsyat dan santar menerjang kearah badannya dan memaksa perempuan itu mau tak mau harus meluncur kembali keatas tanah.
seorang kakek tua yang cebol dan gemuk bagaikan ibis, ibarat sukma yang melayang saja tahu2 sudah munculkan diri dihadapannya.
Begitu melihat siapa yang munculkan diri, diam2 Kim- ciang Popo tarik napas dingin, dengan hati terkesiap segera tegurnya:
"Tee heng sian Dewa berjalan dalam tanah apa maksudmu datang kemari?"
orang yang barusan munculkan diri itu bukan lain adalah " Tee heng sian" Dewa berjalan dalam tanah Tok Kun yang dikenal sebagai manusia paling sulit dilayani, jarang ada orang yang mengetahui akan asal usulnya, tiada orang pula yang mengetahui sampai dimanakah kelihayan tenaga dalam yang dimilikinya.
sementara itu dewa berjalan dalam tanah telah tertawa cekikikan sambil berkata:
"Hiihhh hiiihhh hiiiihhh Oei Cio Kiok siapa yang melihat ia mendapat bagian, masa engkau hendak mengangkangi benda mustika itu untuk kepentinganmu seorang diri?"
Dalam waktu yang amat singkat itulah semua jago persilatan yang mengejar dari belakang telah tiba disana dan mereka segera membentuk lingkaran kepngan yang berlapis- lapis.
-0000000-
Jilid 14 : Mustika Hud jiu poo pit
KARENA kemunculan harta mustika tadi, perhatian semua orang ditujukan kearah sarung tangan Hud jiu poo pit itu, dan Han Siong Kie untuk sementara waktu terlupakan.
Nenek bertoya emas Oei Ciu Kiok yang jalan perginya dihadang, hatinya merasa mendongkol bercamcur gusar, sambil menggertak gigi dan melototkan matanya bulat2 ia berseru:
"Dewa berjalan dalam tanah, apakah engkau hendak merampas barang milik orang lain? terus terang kuberitahukan kepadamu, aku oei ciu Kiok bukanlah lampu lentera yang kehabisan minyak, orang lain mungkin jeri kepadamu, tapi aku nenek tua sama sekali tidak memperdulikan akan soal itul"
Dewa berjalan dalam tanah menggerakkan badannya yang gemuk dan cebol hingga maju beberapa depa kedepan, sambil picingkan matanya jadi kecil ia menjawab:
"Ooooh tidak berani aku tidak berpikiran begitu, cuma kedatangan kita orang2 persilatan pada saat ini toh dikarenakan satu tujuan? tidak sepantasnya kalau engkau lupa kawan dan pergi dengan begitu saja"
suara bisikan dan kegaduhan menyelimuti seluruh gelanggang, berpuluh2 pasang mata yang memancarkan keserakahan sama2 ditujukan kearah kitab pusaka Hud ji Poo pit yang berada dalam saku nenek bertoya emas, semua orang mengilar dan ingin mendapatkannya.
Rupanya nenek bertoya emas mengetahui akan kekuatan sendiri, ia sadar asal manusia cebol itu turut campur dalam perebutan ini, maka semua perhitungannya akan meleset, rasa benci dan dendam segera menyelimuti hatinya, sambil silangkan toyanya didepan dada ia berseru:
"Cebol sialan, aku nenek tua mohon beberapa petunjuk ilmu silat darimu"
"ooooh ..... jangan salah paham, aku bukan datang kesini untuk ajak engkau berkelahi" sahut Dewa berjalan dalam tanah sambil mengebaskan ujung bajunya, "seorang pria sejati tak akan berkelahi dengan kaUm wanita sekalipun menang juga tak bisa dibanggakan."
"Kentut busuk"
Cahaya ke emas2an berkelebat lewat, toya emas itu bagaikan beribu2 ekor ular emas secepat kilat meluncur kedepan dan menghantam sekujur badan Dewa berjalan dalam tanah.
Merasakan datangnya ancaman tersebut, Dewa berjalan dalam tanah segera menggerakan tubuhnya dan meloloskan diri dari kurungan bayangan toya lawan ia menghardik:
"Tahan-. "
Cahaya emas jadi lenyap tahu2 ujung toya emas tersebut sudah kena dicengkeram oleh Dewa berjalan dalam tanah.
Demontrasi kepadaian yang amat luar biasa ini seketika membuat para jago persilatsn yang berada disisi gelanggang jadi amat terkesiap dan berubah wajah mereka, sama sekali tak mengira kalau ilmu silat yang di miliki Dewa berjalan dalam tanah begitu lihaynya sehingga dalam sekali gebrakan saja toya emas lawannya berhasil digenggam.
Paras muka Nenek bertoya emas yang pada dasarnya sudah jelek, kini berubah makin jelek lagi. sorot mata penuh kebencian dan perasaan dendam memancarkan keluar dari mata nenek tua, rambutnya yang telah beruban pada bangkit berdiri bagaikan landak.
Tiba2 Dewa berjalan dalam tanah mengendorkan cekalannya, Nenek bertoya emas segera mundur tiga langkah kebelakang.
Kenyataan dengan jelas membuktikan bahwa suatu persekongkolan untuk menghadapi ahli waris dari iblis diantama iblis, kini sudah berubah jadi suatu perebutan benda mustika yang melibatkan setiap umat persilatan dari segala penjuru kolong langit.
Dengan sorot mata yang tajam Dewa berjalan dalam tanah menyapu sekejap wajah semua jago yang hadir disana, kemudian tertawa terbahak2.
"Haahh haahh..haahh.. tujuan dari kehadiran rekan persilatan semua pada saat ini adalah untuk menghadapi anakan iblis tersebut, kemudian mencari tahu jejak dari iblis tua serta membalas dendam berdarah dari masing2 perguruan, oleh karena itu kita tak boleh merobah tujuan kita hanya disebabkan karena kemunculan benda pusaka yang sama sekali tak terduga ini"
semua orang anggukkan kepalanya tanda menyetujuinya namun sorot mata yang memancarkan kerakusan masih belum tergeser dari tubuh nenek bertoya emas.
Setelah berhenti sebentar Dewa berjalan dalam tanah melanjutkan kembali kata2nya:
"Dewasa ini kita harus bereskan dahulu persoalan kita yang terpenting, sedangkan mengenai pusaka yang muncul secara tak terduga ini Hiiihhh biiihhh hilihhh setiap orang yang hadir disini berhak untuk memperoleh bagian, penyelesaian boleh kita lakukan belakangan saja cuma ..."
Bicara sampai disini ia lantas berpaling kearah Nenek bertoya emas dan menambahkan-
"oei ciu Kiok. sekali lagi kuperingatkan kepadamu jikalau engkau hendak mengangkangi benda mustika tersebut seorang diri maka orang pertama yang akan dicari oleh iblis diantara iblis atau Tengkorak maut adalah engkau, percayakah engkau bahwa dengan kekuatanmu kamu bisa lolos dari bencana itu?"
Ucapan yang tajam dan tepat itu segera mengena dihati Nenek bertoya emas, membuat bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri, ia gelagapan dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun-
Dipihak lain.. setelah berdiri termangu2 beberapa saat lamanya, Han Siong Kie tersadar kembali dari lamunannya, sambil menahan rasa sakit yang tak terkirakan selangkah demi selangkah ia berjalan menuju keujung hutan, mempertahankan kehidupan adalah suatu tindakan yang jamak sebagai umat manusia, pemuda itu sadar bahwa jiwanya pada hari itu terancam bahaya, tapi sepenuh tenaga ia berusaha untuk mencoba selamatkan jiwanya dari ancaman tersebut.
Terdengar Dewa berjalan dalam tanah berkata kembali:
"sekarang lebih baik saudara sekalian menangkap bocah muda itu lebih dahulu. janganlah biarkan dia lolos dari tempat ini, siapa tahu kalau bocah muda itu sengaja menggunakan siasat untuk menipu kira dengan pura2 tak berkepandaian, karena melihat jumlah kita yang terlalu banyak dan sadar kalau tak mampu melakukan perlawanan, kita tidak boleh termakan oleh tipu muslihatnya itu..."
Kobaran semangat tersebut segera membangkitkan kembali semangat para jago untuk menangkap Han Siong Kie, tapi sebelum sempat berbuat sesuatu, mendadak .... Nenek bertoya emas dengan suara yang keras dan nyaring bagaikan geledek berseru:
"Bagus... bagus sekali... manusia cebol berani benar engkau gunakan ilmu mencopet untuk mencuri benda mustika Hud jiu Poo pit dari sakuku, ayoh cepat serahkan kembali kepadaku"
Begitu bentakan tersebut diutarakan keluar, sorot mata semua orangpun tanpa sadar sama2 dialihkan keatas badan Dewa berjalan dalam tanah.
Paras muka Dewa berjalan dalam tanah sama sekali tak berubah, deagan nada dingin ia menjawab:
"Heemmm hheeemmm engkau tak usah ribut2 terus untuk sementara waktu biarlah benda mustika aku yang simpan lebih dahulu".
Rasa benci dan dendam Nenek bertoya emas terhadap Dewa berjalan dalam tanah sudah mendarah daging, ia kontan mendengus dingin.
"Hmm engkau tak usah berlagak sok. perkataan semacam itu hanya bisa membohongi bocah berumur tiga tahun, kalau aku nenek tua tidak percaya dengan pribadimu lantas bagaimana??"
Ucapan ini seketika membungkamkan mulut Dewa berjalan dalam tanah, dari malu ia jadi gusar dan segera teriaknya:
"Anggap saja aku telah merampasnya dari tanganmu engkau mau apa?"
suasana dalam gelanggang kontan berubah jadi hening sunyi dan sedikiteun tak kedengaran apa2, semua orang tahu sampai dimana kelihayan ilmu silat yang dimiliki Dewa berjalan dalam tanah, oleh karena itu tak seorang pun ingin turun tangan lebih dahulu kendatipun begitu tak seorang manusiapun yang tinggalkan gelanggang.
Kesunyian yang mencekam seluruh jagad mendatangkan napsu membunuh yang berlapis2 dalam benak setiap orang.
Dalam pada itu, Han Siong Kie dengan tubuh sempoyongan telah berjalan, kurang lebih seratus tombak dari tempat semula..
Mendadak bayangan manusia berkelebat lewat, tujuh orang imam dan lima orang padri tahu2 menghadang jalan perginya.
Ketujuh orang imam tersebut adalab rombongan jago lihay partai Khong-tong yang dipimpin oleh Kui Goan cu, sedangkan lima orang padri adalah Seng Gong taysu dari gereja siau lim-si serta empat orang hweesio muda lain yang bertubuh kekar. Dengan paras muka membesi Kui Goan cu menegur:
"Siau sicu, aku harap engkau bersedia menjawab dengan sejujurnya, benarkah gurumu adalah penyaruan dari Tengkorak maut.?"
"Hmm aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu" sahut Han Siong Kie dengan suara lemah.
"Pinto datang kemari karena sedang melakukan perintah guruku,jika siau sicu tak bersedia menjawab pertanyaanku ini, bagaimana kalau kuundang kedatangan sicu keatas gunung Khong tong untuk menemui guruku??"
Walaupun sudah putus asa dan tak mempunyai kekuatan untuk melawan, keangkuhan dan kejumawaan Han Siong Kie masih menguasahi benaknya, ia menggeleng dengan ketus: "Aku tidak mau"
"Kui Goan too heng" sela Seng Gong taysu dari samping " lebih baik biar pinceng bawa dulu sicu ini pulang ke gunung Siong san, bila urusan kami telah selesai barulah kami undang kehadiran para wakil dari pelbagai perguruan untuk menyelesaikan persoalan ini, entah bagaimanakah pendapat kalian?"
Malaikat bertenaga raksasa Leng Beng cu yang beradat keras dan berangasan tak dapat menahan sabar lagi, terutama ia pernah mengalami kerugian besar ditangan Han Siong Kie, dengan suara keras segera bentaknya:
" Kenapa musti ribut terus? ayoh, kita bekuk dulu bangsat cilik ini"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, telapak yang besar bagaikan kipas langsung dibabat kearah dada si anak muda itu.
Ia tak tahu kalau kepandaian silat Han Siong Kie telah punah, dalam serangannya itu ia gunakan tenaga sebesar dua belas bagian, sebelum serangan tiba angin pukulan sudah cukup membuat pemuda itu sempoyongan, agaknva Han song Kie bakal mampus terhajar oleh
serangan dahsyat itu..
Disaat yang kritis dan amat mencekam perasaan itulah.. tiba2 jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyian- tubuh malaikat raksasa Leng Beng cu yang tinggi besar mencelat keudara, kemudian roboh terkapar diatas tanah. Darah kental.. perlahan2 meleleh keluar dari batok kepala bagian belakang.
Enam imam dan lima padri lainnya yang menyaksikan peristiwa itu, sama2 merasa tercekat hatinya dan tanpa terasa bulu kuduk pada bangun berdiri.
Dengan sempoyongan Han sing Kie mundur beberapa langkah kebelakang, "Blaam" ia roboh keatas tanah dan jatuh tak sadarkan diri
Sementara itu enam imam dari partai Khong-tong dan lima padri dari gereja siau lim si masih memandang kearah mayat malaikat raksasa Leng Beng cu dengan pandangan terkesiap. mata mereka terbelalak dan mulut mereka melongo, sementara badannya gemetar keras, rupanya diatas batok kepala imam raksasa itu tertancap selembar daun yang tipis.
Membunuh orang dengan sambitan daun, kepandaian ampuh semacam itu jarang sekali ditemui dalam kolong langit.
sesosok bayangan manusia laksana menyambar kilat berkelebat lewat dari sisi badan lima padri enam imam tersebut, semua orang merasa terperanjat, diantaranya Kui Goancu dan seng Goan taysu yang merupakan jago lihay kelas satu dalam dunia persilatann, ternyata tak sempat melihat jelas paras muka bayangan tersebut, bukan begitu saja, mereka pun tak tahu apakah orang itu seorang pria atau wanita. Malaikat penyakitan yang menggeletak di atas tanah, kini lenyap tak berbekas.
Melukai orang, menyelamatkan orang rupanya dilakukan oleh seorang yang sama dan dalam waktu yang bersamaan, tapi siapakah orang lihay itu?
Bentakan keras, benturan nyaring berkumandang datang dari samping gelanggang.
Tidak jauh dari tempat kejadian itu, beberapa ratus orang jago persilatan sedang melangsungkan suatu pertarungan yang paling seru dan paling dahsyat untuk memperebutkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit.
sekali lagi seng Gong taysu menyapu sekejap mayat Leng Beng cu yang terkapar diatas tanah, kemudian dengan badan ngeri ujarnya kepada Kui Goan-cu: "Too heng, mungkinkah perbuatan ini dilakukan oleh Iblis diantara iblis."
sebelum padri dari gereja siau lim si itu menyelesaikan kata2nya imam tua itu cepat- cepat menukas:
"Apabila kenyataan sesuai dengan berita yang tersiar dalam persilatan dan Tengkorak maut bukan lain adalah penyaruan dari iblis diantara iblis, itu berarti persoalan ini sudah mencapai keadaan yang paling serius dan kritis, pinto harus segera pulang ke gunung untuk minta petunjuk ketua kami" seng Gong taysu mengangguk:
"Betul, akupun mempunyai maksud untuk berbuat demikian."
Begitulah, salah satu diantara enam orang imam tersebut segera membopong jenasah dari Leng Beng-cu, kemudian tanpa membuang waktu lagi mereka segera berangkat untuk kembali kegunung Khong tong guna memberi laporan kepada ketua mereka.
Dipihak lain, pertarungan sengit untuk memperebutkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit masib berlangsung dengan serunya, semua pihak mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk merampas benda mestika ttu dari tangan orang lain, belum selang seperminum teh, sudah belasan orang jago lihay persilatan yang menemui ajalnya ditempat tersebut..
-ooo0ooo-
BAB 29
SEMENTARA itu, dipihak lain ketika Han Siong Kie sadar kembali dari pingsannya, ia temukan tubuhnya berbaring di tengah sebuah hutan belantara yang gelap hingga sinar matahari tak mampu menembus sampai kebawah.
Rasa sakit bagaikan di tusuk dengan jarum membuat pemuda itu tak dapat dikuasahi lagi mendengus berat. "Nak, engkau telah sadar?"
Teguran itu dirasakan Han Siong Kie amat mengetuk perasaan hatinya. dari suara itu pula dia segera mengetahui siapakah yang telah menolong jiwanya dari ancaman maut.
"Kau..kau.. adalah orang yang kehilangan sukma? bisiknya dengan suara gemetar.
"Benar"
"Kau.. untuk sekian kalinya telah menolong aku, budi kebaikan sebesar ini tak akan kulupakan untuk selamanya"
"Nak,jangan pikir yang bukan2 sekarang makanlah dahulu obat ini,pengaruh obat tersebut akan mengurangi penderitaan dalam tubuh.."
Baru saja Han Siong Kie akan menyatakan rasa terima kasihnya, sebutir obat dengan cepat telah meluncur masuk kedalam mulutnya dan tertelan kedalam perut.
Beberapa saat kemudian rasa nyeri dan sakit dalam tubuhnya semakin berkurang, buru2 ia merangkak bangun dan duduk diatas tanah, sepasang matanya terbelalak lebar2, namun suasana disekitar situ sunyi senyap tak terlihat sesosok bayangan manusia pun, ia tak tahu dimanakah orang yang kehilangan sukma menyembunyikan diri.
"Cianpwe, kenapa engkau tidak unjukkan diri untuk berjumpa dengan diriku?" ujarnya dengan perasaan tulus .
"sekarang masih belum tiba waktunya"
"Dari mana cianpwae bisa tahu kalau aku ...."
"Untuk sementara waktu engkau tak usah bertanya soal itu lebih dahulu, bukankah engkau telah masuk dalam benteng maut??"
"Benar aku telah berkunjung kedalam benteng tersebut"
"Dan engkau sudah bertemu dengan pemilik benteng maut?. "
"sudah dia adalah seorang manusia berkain cadar dimuka yang amat misterius, bertemu atau tidak sama sekali tak ada bedanya"
"Sudah kau ceritakan tentang asal usulmu?"
"Tidak. aku belum menceritakan apa2 kepadanya"
Mendengar jawaban tersebut orang yang kehilangan sukma menghela napas panjang. "Aaaai .. nak mengapa engkau tidak turuti perkataanku?"
"Sebab aku masih belum mengerti apa sebabnya cianpwee suruh aku berbuat begitu" jawab Han Siong Kie dengan perasaan minta maaf.
"Aaai.. nak engkau sudah salah, kini berbuat kesalahan yang jauh lebih besar, aku suruh engkau berbuat begitu tentu saja dengan disertai maksud-maksud tertentu, sedangkan mengenai apa sebabnya untuk sementara waktu aku tak dapat beritahu padamu, bukannya aku berlagak sok rahasia, dalam kenyataan aku tak dapat beritahukan persoalan ini langsung dengan mulutku sendiri aaai .. sekarang..."
Han Siong Kie merasa tak habis mengerti terhadap ucapan orang yang kehilangan sukma ia tak paham apa sebabnya perempuan itu tak dapat beritahukan persoalan itu kepadanya dengan mulut sendiri? suatu teka-teki yang membingungkan hatinya. Terdengar orang yang kehilangan sukma berkata kembali.
"Nak. kalau toh engkau tak mau berbuat seperti apa yang kupesankan kepadamu, mengapa engkau mengunjungi benteng maut dan bisa lolos dalam keadaan selamat?"
"Aku sedang melakukan tugas yang dibebankan guruku"
"Jadi engkau benar2 sudah angkat iblis diantara iblis sebagai gurumu?"
"Perkataan cianpwee sedikitpun tak salah"
"Boleh aku tahu kisahnya hingga engkau berjumpa dengan iblis diantara iblis serta angkat sebagai gurumu?"
Han Siong Kie mengangguk secara gamblang dan tidak merahasiakan sesuatu apapun ia menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama ini.
Selesai mendengar kisah tersebut dengan penuh emosi orang yang kehilangan sukma berseru:
"Kau maksudkan seorang gadis yang menyebut diri sebagai istri yang ditinggalkan telah selamatkan engkau dari dalam benteng"
"Benar, ia bersedia menolong aku karena akupun pernah selamatkan selembar jiwanya"
"Sungguh tak nyana dia.." mendadak orang yang kehilangan sukma teringat akan sesuatu dan perkataan yang belum sempat di selesaikanpun terpotong ditengah jalan-
"Ciancwee kenal gadis yang bernama istri yang ditinggalkan itu?" tanya Han Siong Kie cepat dengan perasaan tercengang.
"oooh... tidak... tidak aku tidak kenal, saat ini tenaga dalam yang kau miliki masih belum dapat dihimpun kembali" buru-buru orang yang kehilangan sukma mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain.
Dengan penuh panasaran dan rasa jengkel Han Siong Kie mendengus dingin-
"Hmm Benar, tenaga dalamku tak dapat dihimpun kembali, menurut gadis yang bernama Istri yang ditinggalkan, asal jalan darahku yang tertotok bisa dibebaskan maka tenaga dalamku masih tetap utuh seperti sedia kala"
"Maksudmu???"
"Mungkin dalam dunia persilatan tak ada orang lagi yang bisa bebaskan jalan darahku yang tertotok dengan kepandaian khusus benteng maut itu."
orang yang kehilangan sukma termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan nada yang sedih ia menjawab:
"Ucapanmu memang tidak keliru, dikolong langit dewasa ini memang jarang sekali ada orang yang mampu membebaskaa totokan jalan darah yang dilakukan secara khusus itu."
"Apakah cianpwee dapat membebaskan pengaruh totokan tersebut?" tanya sang pemuda dengan penuh harapan.
"Aku?"
"Aku hanya menduga begitu, sebab dengan tenaga dalam yang cianpwee miliki kemungkinan besar..."
"Dugaanmu tepat sekali, aku memang dapat membebaskan totokan tersebut"
Mendengar jawaban tersebut Han Siong Kiejadi amat terperanjat dan merasakan jantungnya berdebar keras, ia dapat merasakan bahwa perkataan yang diucapkan oleh orang yang kehilangan sukma diutarakan dengan perasaan hati tertekan, tak tahan lagi dia berseru:
"Cianpwee....kau..."
"Aku tak apa2 nak. aku akan bebaskan jalan darahmu yang tertotok" ujar orang yang kehilangan sukma lagi dengan suara lebih tenang dan datar.
Han Siong Kie merasa amat terharu sekali hingga seluruh badannya gemetar keras, ia tak menyangka kalau orang yang kehilangan sukma menyanggupi untuk bebaskan jalan darahnya yang tertotok. setelah jalan darah itu bebas maka tenaga dalam yang dimilikinya akan pulih kembali seperti sedia kala dan pertama2 dia akan mengunjungi suhunya lebih dahulu meskipun kedatangannya akan mendatangkan kekecewaan bagi gurunya tapi keadaan jadi jauh lebih baik dari pada sama sekali tak dapat berjumpa dengan dirinya.
Kedua dia akan merampas kembali sarung tangan Hud jiu Poo pitnya dan mengunjungi malaikat hawa dingin sehingga sepasang benda mustika itu dapat bersatu kembali dan.. Belum habis dia berpikir suara dari orang yang kehilangan sukma telah berkumandang: "Nak, aku ada satu pertanyaan hendak kuajukan kepadamu"
"Katakanlah yang hendak kau tanyakan?"
"Kau... kau... apakah engkau sangat membenci ibumu?"
Han Siong Kie tak menyangka kalau pihak lawan akan mengajukan pertanyaan tersebut, mendengar pertanyaan itu bagaikan di pagut ular berbisa sekujur tubuhnya bergetar keras.
Ucapan terakhir dari paman gurunya Telapak naga beracun Thio Lin sesaat sebelum meninggal dunia kembali berkumandang dalam sisi telinganya:
"...aku pernah membawa engkau untuk menemui ibumu, tapi ia hendak membinasakan kita berdua secara keji."
Selain itu, iapun teringat kembali dengan adegan ketika ibunya Siang Go cantik ong cui Ing turun tangan secara keji terhadap dirinya, ketika ia berada diwilayah Lian huan tan pusat kekuasaan perkumpulan Thian che kau.
Makin diingat perasaan hatinya makin sakit bagaikan di iris2, dengan penuh penderitaan ia mendengus berat. "Aku... aku tak punya ibu" sahutnya kemudian.
"Kebencianmu kepadanya sudah mencapai ketingkat itu??" tanya orang yang kehilangan sukma lebih jauh.
Han Siong Kie menggigit bibirnya kencang2. "Aku tak mau mengungkap soal dirinya lagi."
"Tapi dikolong langit toh tak ada orang tua yang tidak menyayangi putra kandUng sendiri???"
"Benar, bagi orang lain mungkin saja perkataan itu benar... tapi bagi diriku tidak"
"siapa tahu kalau ia mempunyai kesulitan yang memaksa dirinya terpaksa harus berbuat begitu??"
"Kesulitan? haaahh haaahh haaah"
Dengan kalap dan penuh ledakan perasaan emosi, Han Siong Kie tertawa keras, diantara gelak tertawanya penuh mengandUng rasa sedih, gusar, saklt hati serta perasaan lain yang mengaCaUkan pikirannya, ia benci kepada ibUnya yang berhati kejam bagaikan seekor ular beraCUn itu
"Nak, Cinta kasih orang tua terhadap anaknya tiada berbeda dikolong langit, suatu ketika engkau akan paham dengan sendirinya" nasehat orang yang kehilangan sukma lebih jauh.
"Hmm sekarangpun aku sudah mengerti" jawab pemuda itu penuh kebencian.
Melihat kekerasaa hati pemuda itu, orang yang kehilangan sukma menghela nafas panjang.
"Aaaai nak, suatu hari engkau akan merasa menyesal atas Cara berpikir serta pandangan yang kau kemukakan pada saat ini"
Han Siong Kie tercengang dan tidak habis berpikir terhadap ketepatan orang yang kehilangan sukma menebak latar belakangnya, siapakah orang itu? kenapa ia bisa tahu akan asal usulnya dengan begitu tepat? kenapa ia begitu menaruh perhatian terhadap dirinya?
Dari pertolongan yang diberikan perempuan ini setiap kali ia sedang mengalami kesulitan atau mara bahaya, hal ini sudah jelas membuktikan bahwa pertolongan itu bukan diberikan secara kebetulan saja, se-akan2 ia selalu mengikuti kemanapun dia pergi, kenapa ia berbuat demikian??
suatu teka teki yang tak terjawab? sejak kemunculan orang yang ada maksud hingga saat ini, teka-teki tersebut selalu membelenggu perasaan hatinya. Berpikir sampai disitu tak tahan lagi ia bertanya: "sekali lagi aku mohon bertanya, siapakah name cianpwee??"
"Nak, waktunya belum tiba, lebih baik janganiah kau tanyakan lebih dahulu tentang soal itu"
"Agaknya cianpwee merasa paham sekali dengan semua asal usulku..?"
"Betul, dan mungkln apa yang kuketahui jauh melebihi apa yang kau bayangkan sekarang"
satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han Siong Kie, jangan2 orang yang kehilangan sukma adalah sanak keluarga sendiri atau saudara saperguruan dari ayahnya, sebab perguruan dari ayahnya hingga saat ini masih merupakan teka teki besar, andaikata ia berhasil mendapat keterangan dari mulut perempuan ini mengenai sebab musabab bunuh dirinya sang paman guru Telapak naga beracun Thio Lin, siapa tahu kalau ia bakal memperoleh tanda2 yang bakal menguntungkan penyelidikannya? Berpikir sampai disitu, dengan nada menyelidik ia segera bertanya:
"Cianpwee, ada satu persoalan yang sampai kini tidak kupahami, aku harap apa yang membingungkan hatiku itu dapat kuketahui dari keterangan cianpwee, apakah engkau bersedia untuk menjawab?"
"Apa yang ingin kau tanyakan? coba utarakan lebih dahulu"
"Mengenai perguruan dari ayahku"
"ooooh tentang soal itu" orang yang kehilangan sukma sangsi sebentar "kali ini engkau bakal kecewa lagi sebab aku masih belum dapat memberitahukan soal ini kepadamu."
Mendengar jawaban tersebut Han Siong Kie dibuat apa boleh buat oleh kemisteriusan orang yang kehilangan sukma hatinya terjelos dan ia segera berseru: "Kalau begitu anggaplah aku telah banyak bertanya"
orang yang kehilangan sukma sama sekali tidak gusar oleh sindiran tersebut, beberapa saat kemudian ia berkata: "Nak, sekarang engkau boleh bangkit berdiri"
Han Siong Kie menurut dan bangkit berdiri
"Jangan bergerak, jangan berpaling kebelakang" kembali orang yang kehilangan sukma berkata.
Han Siong Kie merasakan hatinya jadi amat tegang, jantungnya terasa berdebar keras, ia tahu orang yang kehilangan sukma akan membebaskan jalan darahnya yang tertotok.
Desiran angin tajam menggulung, tiba2 dari tempat yang tak jauh dari sana "Duukk duuk duuk secara beruntun bersarang di atas beberapa jalan darah penting sianak muda itu, sekujur badannya gemetar keras, dan ia merasakan hawa murni yang mulai bergerak dalam tubuhnya, dengan cepat pemuda itu coba menyalurkan hawa murninya, ia merasakan tenaga dalamnya dapat dihimpun kembali dengan cepatnya.
Rasa girang yang menyelimuti hati pemuda itu sulit dilukiskan dengan kata2, ia segera berteriak:
"Aku berhasil pulihkan kembali tenaga dalamku aku segar kembali..."
"Benar anakku, meskipun tenaga dalammu telah pulih seperti sedia kala, namun akibat hantaman toya emas tadi luka dalam yang kau derita cukup parah, sekarang semedilah dahulu dan salurkan hawa murninu mengelilingi seluruh badan sebanyak sepuluh kali dengan pengerahan tenaga itu maka daya kerja obat yang kau telan tadi akan menunjukkan kasiat yang lebih besar."
Han Siong Kie menurut dan segera pejamkan matanya rapat2 berdiri ditempat itu juga dia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan sebanyak sepuluh kali setelah itu dia rasakan badannya jadi segar bugar kembali dan rasa sakit yang semula menyelimuti badannya kini sudah lenyap tak berbekas.
"Nak" rintihan lirih berkumandang datang dari balik hutan belantara.
Tenaga murni yang dimiliki Han Siong Kie saat itu telah pulih kembali seperti sedia kala, rintihan yang bagaimana lirihnya tak mungkin bisa mengelabuhi pendengarannya, ia terperangah mendengar suara aneh tersebut.
"Cianpwee kee . . kenapa engkau.." ia segera menegur
"Sambutlah bends ini"
Sebuah bungkusan berwarna putih tiba2 meluncur ke arahnya.
Dengan cepat Han Siong Kie terima benda itu dan diperiksanya dengan seksama, seketika itu juga sekujur badannya gemetar keras dengan bulu kuduk pa da bangun berdiri matanya terbelalak lebar bagaikan disambar geledek di siang hari belong dengan jantung berdebar keras secara beruntun ia mundur lima langkah ke belakang keringat dingin mengucur keluas membasahi seluruh badannya.
Ternyata benda yang dilemparkan orang yang kehilangan sukma barusan bukan lain adalah sebuah telapak tangan manusia yang ditebas sebatas pergelangan, darah masih mengalir dari bekas kutungan tersebut, jelas telapak tangan itu ditebas belum lama berselang atau mungkin disaat ia mendengar suara rintihan lirih tadi.
Dengan badan gemetar keras karena terkesiap bercampur kaget Han Siong Kie berdiri menjublak tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun lama... lama sekali ia baru berseru: "cianpwee kau... kau..."
"Nak engkau tak usah kaget, akulah yang telah menebas kutung telapak tangan sendiri"
Han Siong Kie mundur dengan sempoyongan, hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak dengan amat terperanjat ia menegur: "Kenapa cianpweee.... kenapa engkau berbuat begitu??"
orang yang kehilangan sukma menghela napas panjang, suaranya agak gemetar.
"Nak baik2lah simpan telapak tanganku itu, dikala engkau berkunjung kembali kedalam benteng maut dan bertemu dengan pemilik benteng maut, seandainya ia bertanya siapakah yang telah bebaskan jalan darahmu yang tertotok maka serahkanlah potongan telapak ini kepadanya"
Han Siong Kie merasakan telinganya mendengung keras dan pandangan matanya jadi gelap. hampir saja roboh tak sadarkan diri
"Cianpwee jadi engkau telah mengutungi telapak tanganmu karena telah membebaskan jalan darahku yang tertotok?" jeritnya dengan suara amat serak.
"Betul tapi engkau tak usah sedih ataupun memikirkan persoalan itu didalam hati"
Air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajah Han Siong Kie, ternyata orang yang kehilangan sukma mengutungi telapak tangan sendiri karena ia telah bebaskan jalan darahnya yang tertotok tapi apa sebabnya ia berbuat demikian? Bukan saja berulang kali ia telah berutang budi kepadanya, sekarang iapun berutang budi yang jauh lebih besar dari pada budi2 lainnya sebab orang itu telah mengorbankan lengannya untuk selamatkan jiwanya, bagaimana mungkin budi sebesar ini dapat dibalas?? saking terharunya pemuda itu menangis terisak. serunya dengan suara ter-bata2: "cianpwee kau... kau... kenapa kau berbuat demikian untukku?? kenapa??"
"Dikemudian hari engkau akan mengerti dengan sendirinya kenapa aku rela berkorban demi dirimu"
"Kalau sejak permulaan tadi aku sudah tahu begini, aku lebih rela tak punya kepandaian silat daripada harus mengorbankan telapak tangan cianpwee"
"Nak masih banyak pekerjaan dan tugas yang harus kau kerjakan, dalam keadaan begini engkau tak boleh kehilangan ilmu silat sebab hal itu sangat penting bagimu untuk menyelesaikan semua pekerjaan tersebut"
"Kendatipun begitu tiada alasan bagi cianpwee untuk berkorban sebesar ini demi diri ku"
"Siapa bilang tak beralasan? alasan tentu ada dan dikemudian hari engkau akan paham sendiri apa sebenarnya alasan itu"
"Tapi bagaimana mungkin aku bisa hidup tenteram akibat peristiwa ini?"
"Aku toh sudah suruh engkau tak usah pikirkan kejadian ini didalam hati?" sela orang yang kehilangan sukma dengan cepat, Han Siong Kie menghela napas panjang.
"Aaai budi yang cianpwee lepaskan kepadaku ibaratnya sang surya di angkasa bagaimana mungkin aku dapat membalas budi kebaikan sebesar ini"
"Nak. kejadian ini toh sudah berlalu kenapa musti engkau pikirkan terus?, sekarang ini kita masih berada didaerah pertempuran, sementara pertarungan seru masih terus berlangsung dengan hebatnya"
"Pertarungan sengit?? siapa yang sedang bertempur?" tanya sang pemuda keheranan:
"orang2 persilatan yang datang kemari karena kehadiranmu"
"Lalu apa sebabnya mereka saling bertempur sendiri?"
"Mereka sedang memperebutkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit yang terjatuh dari sakumu."
"oooh" Han Siong Kie berseru tertahan, perasaan hatinya merasa bergetar kertas. Kitab pusaka Hud jiu Poo pit sangat mempengaruhi rencana pembalasan dendamnya, tapi kini manusia2 tamak sedang memperebutkan benda miliknya itu secara memalukan sekali, tanpa terasa darah panas bergelora dalam benak pemuda ini.
sementara dia masih melamun, tiba2 terdengar orang yang kehilangan sukma berkata:
"Nak. aku hendak pergi dari sini, ada sebuah permintaan aku harap bagaimanapun juga harus kau sanggupi, apakah engkau bersedia??"
" Harap cianpwee katakan keluar, aku bersumpah pasti akan melaksanakannya"
"Kunjungilah Benteng maut sekali lagi, Ceritakanlah asal usulmu yang sebenarnya"
Tercekat hati Han Siong Kie mendengar permintaan itu, pikirnya didalam hati:
"Baiklah kusanggupi saja permintaan ini, tapi terlebih dahulu aku harus berhasil merampas kembali kitab pusaka Hud jiu Poo pit kemudian berangkat kebukit Kou lou san untuk menjumpai Malaikat hawa dingin dan memberitahukan jejak malaikat hawa panas, setelah sepasang sarung tangan itu berhasil aku memepelajari ilmu sakti sie mi sinkang akan kukunjungi kembali benteng maut. Berpikir sampai disini ia lantas menjawab: "Aku turuti permintaan cianpwee"
"Apakah sekarang juga engkau akan berangkat kesitu?"
Pemuda itu menggeleng.
"Aku masih ada dua persoalan penting yang harus diselesaikan lebih dahulu, kemudian baru kukunjungi kembali benteng maut"
"Baiklah kalau begitu, tapi ingat, engkau harus ceritakan asal usulmu yang sebenarnya, selain itu asal usulmu hanya boleh kau ceritakan kepada pemilik benteng maut seorang, janganlah sampai ada orang kedua yang mengetahui rahasia ini"
Walaupun dalam hati kecilnya sangsi dan bercampur curiga, namun diluaran ia menyahut juga:
"Akan kuingat selalu di dalam hati"
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, buru2 melanjutkan kembali kata2nya.
" Cianpwee, belum lama berselang ketika berada dalam sebuah rumah penginapan, aku telah bertemu dengan seorang cianpwee yang menyebut diri sebagai ong Popo, ia berhasil menemukan racun cabul Jit bi san yang mempengaruhi seorang gadis, apakah cianpwee itu adalah..."
"Dugaanmu tidak keliru, orang itu memang aku"
satu ingatan kembali berkelebat dalam benak Han Siong Kie, segera pikirnya:
Jangan2 paras muka itu adalah paras muka yang asli dari orang yang kehilangan sukma??"
sementara itu perempuan tersebut telah berkata kembali.
"Nak, apakah engkau telah melaksanakan perkataanku dan berbuat.."
"Maaf cianpwee, ketika kutemukan bahwa racun yang mengeram dalam tubuh nona Go siau Bi telah punah, maka aku tidak melakukan petunjuk dari cianpwee"
"Apa?? engkau tidak melakukan seperti apa yang kuucapkan?."
orang yang kehilangan sukma termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia menghela napas sedih.
"Aaaai .. perhitungan manusia toh akhirnya tak dapat menangkan perhitungan takdir."
Terperangahlah sianak muda itu mendengar keluhan tersebut, dengan nada tercengang ia berseru:
"cianpwee, apa yang kau katakan??"
"oooh...tidak....tidak apa-apa, Nak Aku tak dapat berdiam terlalu lama disini, selamat tinggal"
Han Siong Kie berdiri membungkam ditempat semula se-akan2 baru sadar dari suatu mimpi yang aneh, sesaat kemudian ia baru enjotkan badan dan meluncur kearah luar hutan.
Beberapa saat kemudian hutan belantara sudah ditinggalkan dan suara bentakan keras dan bentrokan senjata mana lapat2 mulai terdengar dari kejauhan-
Pemuda itu segera mempercepat gerakan badannya meluncur kearah gelanggang, sementara itu pertarungan diantara para jago persilatan masih berlangsung dengan sengitnya, korban yang terluka dan mati terkapar dimana2..
Pada saat itu Nenek bertoya emas sambil memegang toyanya sedang berdiri disisi kalangan.
seorang kakek tua bermuka lebar bertelinga besar sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru melawan Dewa yang berjalan dalam tanah.
Kedua belah pihak sama2 merupakan jago lihay dunia persilatan, pertarungan yang sedang berlangsung waktu itu benar2 seru sekali hingga membuat orang jadi tertegun dan berdiri menjublak.
Desiran angin puyuh disertai gulungan pasir dan debu beterbangan diseluruh angkasa, begitu tajam serangan2 yang mereka lancarkan sehingga membuat para jago yang mengikuti jalannya pertarungan darijarak lima tombakpun merasakan tajamnya desiran angin pukulan tersebut.
Tiba2.. Nenek bertoya emas menghentakkan toyanya keatas tanah, kemudian terjunkan diri kedalam gelanggang pertarungan, bersama sama dengan kakek bermuka lebar bertelinga besar ia mengerubuti Dewa berjalan dalam tanah habis2an-
Berbicara tentang ilmu silat, kepandaian yang dimiliki Dewa berjalan dalam tanah seimbang dengan kepandaian kakek bermuka lebar bertelinga besar itu,jika dibandingkan dengan kepandaian Kim ciang Popo atau nenek bertoya emas maka kepandaian mereka setingkat lebih tinggi, bila satu lawan satu tentu saja keadaan seimbang, tapi setelah main kerubut maka situasi dalam gelanggang pertarungan pun kembali mengalami perubahan besar.
Nenek bertoya emas sangat benci kepada Dewa berjalan dalam tanah setelah menyergap dari samping, semua serangan yang dilepaskan olehnya merupakan serangan2 keji yang luar biasa dahsyatnya.
Dalam waktu singkat Dewa berjalan dalam tanah terdesak pada posisi dibawah angin.
Tiga puluh gebrakan kemudian, Dewa berjalan dalam tanah telah terancam oleh bahaya, ia mulai terdesak hebat dan tak mampu membela diri, setiap saat kemungkinan besar jiwanya terancam.
Pada saat itulah Nenek bertoya emas dengan nada mengejek segera menyindir:
"Hei orang cebol katanya kamu lihay? kenapa tak becus begitu...?? kalau engkau bersedia serahkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit itu kepadaku, maka urusan diantara kita mudah dirundingkan"
"oei Ciu Kiok" seru Dewa berjalan dalam tanah dengan nafas tersengkal2 " engkau benar2 tak tahu malu, hutang ini dikemudian hari pasti akan kutagih sendiri kepadamu"
"Huuhh... cebol, pentang dulu matamu lebar2 dan coba lihat dulu, apakah engkau mampu untuk meloloskan diri dari kurungan kami. ..???"
"Hmm siapa bilang tak mampu???"
"Kalau begitu, lihat saja bagaimana hasilnya nanti."
Dalampada itu, kakek tua bermuka lebar bertelinga besar sekaligus telah melancarkan dua puluh empat buah serangan berantai yang memaksa Dewa berjalan dalam tanah sekali lagi terdesak mundur berulang kali.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah, Nenek bertoya emas segera membentak keras, toya emasnya membentuk selapis tembok emas yang amat rapat menyumbat mati jalan mundur Dewa berjalan dalam tanah
Dalam keadaan demikian, asal Dewa berjalan dalam tanah mundur dua langsah lagi kebelakang, niscaya tubuhnya akan menumbuk diatas dinding emas tersebut.
Tiba2 suara benturan keras yang amat memekikan telinga berkumandang, dari tengah udara bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya dan cahaya emaspun seketika lenyap tak berbekas dari pandangan..
Perawakan badan Dewa berjalan dalam tanah yang dasarnya sudah gemuk lagi cebol kini telah menggembang hingga bulat bagaikan sebuah bola udara.
sementara nenek bertoya emas dan kakek bermuka lebar bertelinga besar berdiri kurang lebih satu tombak dihadapannya dengan muka terkesiap bercampur ngeri.
Dari antara jago lihay yang hadir dalam gelanggang, segera terdengarlah ada orang yang menjerit kaget:
"Aaah ilmu sakti Tee tan-kang"
Ilmu sakti Dewa berjalan dalam tanah yang tak pernah digunakan selamanya. sekonyong2..
Sesosok bayangan manusia bagaikan burung elang menyambar turun ketengah gelanggang dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.
"Malaikat panyakitan. "
"Mala ikat penyakitan. "
Jeritan2 kaget berkumandang diantara para jago persilatan, sasaran utama mereka yang hampir saja terlupakan ini ternyata muncul kembali ditengah gelanggang dalam kondisi segar, peristiwa ini benar2 berada diluar dugaan setiap orang.
-0000000-
BAB 30
ADA SATU hal yang tidak dimengerti oleh para jago persilatan, bukankah Malaikat penyakitan sudah kena dihajar oleh hantaman toya emas Kim ciang Popo sehingga luka parah? kenapa saat ini dia bisa munculkan diri dengan gorakan tubuh yang begitu cepat hingga menggidikkan hati?
Tentu saja, diantara para jago persilatan itu Kim ciang Popo lah yang merasa paling terperanjat dan bergidik.
Ketika musuh besar saling berjumpa muka, sorot mata kedua belah pihak sama2 berubah jadi merah berapi2.
Begitu mencapai permukaan tanah, dengan sorot mata yang tajam laksana kilat Han Siong Kie menatap wajah Kim ciang Popo tanpa berkedip. membuat nenek itu jadi merinding dan bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri
Benarkah iblis kecil bermuka penyakitan yang berada dihadapannya sama sekali tak becus dalam ilmu silat seperti apa yang dialaminya belum lama berselang? atau mungkin ia sengaja sedang ber-pura2 berbuat begitu untuk mengibuli pandangan orang banyak terhadap dirinya??
Dalam pada itu Dewa berjalan dalam tanah telah tarik kembali ilmu sakti Tee tan kangnya, sambil picingkan matanya mengawasi ahli waris dari iblis diantara iblis itu dalam hati kecilnya diam2 ia mengambil pertimbangan, haruskah tinggalkan tempat ini? atau..
Suasana ditengah gelanggang seketika berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun
setelah lama sekali menatap wajah Nenek bertoya emas tanpa berkedip. dengan suara dingin ia menegur: "Bawa kemari"
"Apanya yang bawa kemari??" seru nenek bertoya emas pura2 tak mengerti.
" Nenek siluman, engkau tak usah berlagak pilon dihadapanku, ayoh bawa kemari".
seruan 'nenek siluman' yang bernada tak sedap didengar itu kontan membuat paras muka nenek bertoya emas yang pada dasarnya sudah jelek makin nampak jelek barupada kali ini ada orang berani memaki kejelekannya tepat dihadapan mukanya.
Begitu marah dan geramnya nenak tua itu sehingga sambil tertawa seram ia berseru:
"Bocah bangsat kemplangan toya ku tadi tidak berhasil mengirim engkau pulang ke rumah nenekmu sekarang.."
Belum habis ia berkata secepat sambaran petir Han song Kie telah meluncur kedepan dan tahu2 sudah kembali ketempat semula, dalam genggamannya kini telah bertambah dengan sejenis benda dan benda itu bukan lain adalah toya emas senjata andalan dari nenek bertoya emas tersebut.
Ditengah jeritan kaget yang berkumandang memecahkan kesunyian dengan hati terperanjat dia pecah nyali secara beruntun nenek bertoya emas mundur tiga langkah lebar ke belakang.
Demontrasi kepandaian sakti yang dilakukan Han Siong Kie ini dengan cepat membuat gempar seluruh gelanggang, paras muka semua jago persilatan yang hadir disitu sama2 berubah hebat, diam2 hati mereka terasa amat tercekat.
sekali lagi dengan suara yang dingin dan amat ketus Han Siong Kie menegur: "sebetulnya engkau mau serahkan kepadaku atau tidak??"
Bagaimanapun juga nenek bertoya emas adalah seorang jago persilatan yang sudah lama tersohor akan kelihayannya dikolong langit, sudah tentu ia tak mau menelan penghinaan tersebut dengan begitu saja, dengan muka merah membara karena gusar ia membentak keras: "Bocah bangsat, rupanya engkau pingin mampus???"
sepasang telapak disilangkan satu sama lainnya, kemudian badannya menerjang ke depan sambil melancarkan serangan.
Han Siong Kie masih teringat terus dengan dendam sebuah pukulan toyanya, melihat datangnya serangan tersebut, ia segera mendengus dingin.
"Hmm sebuah pukulan toya dibalas dengan sebuah pukulan toya, itu baru dinamakan adil"
Cahaya emas berkelebat lewat, diiringi jeritan kesakitan yang mengerikan, sambil muntah darah segar tubuh Nenek bertoya emas mencelat sejauh tiga tombak dari tempat semula.
Jeritan kaget bergema diseluruh kalangan, setiap jago merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri
Dengan tenaga dalam yang dimiliki Kim ciang popo, ternyata ia tak mampu menahan sebuah seranganpun dari musuhnya, kepandaian ampuh semacam ini benar2 membuat hati orang terkesiap. mungkin dalam gelanggang saat ini tak seorang manusiapun yang merupakan tandingannya .
Dengan sorot mata memancarkan kebengisan selangkah demi selangkah Han Siong Kie berjalan menghampiri nenek bertoya emas yang terkapar diatas tanah, langkah kakinya yang berbunyi gemirisik menimbulkan napsu membunuh yang makin lama semakin tebal, begitu tegang suasananya membuat setiap ortang terpukau dan berdiri menjublak.
Dengan sekuat tenaga Nenek bertoya emas berusaha untuk meronta bangun dari atas tanah tapi baru bangkit setengah jalan dengan lemas ia roboh kembali diatas tanah, hal ini menunjukkan bahwa luka dalam yang di derita olehnya cukup parah.
suasana dalam gelanggang tercekat dalam keseraman dan kengerian, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh udara membuat jantung semua orang berdebar keras.
Tiba2 Dewa berjalan dalam tanah yang gemuk dan cebol itu meloncat maju kedepan dengan suara keras ia berteriak:
"Hei bocah muda benda yang kau inginkan berada ditanganku."
sambil berkata dia ambil keluar sarung tangan Hud jiu Poo pit itu kemudian di acungkan keudara setelah itu buru2 benda itu dimasukan kedalam sakunya.
Dengan cepat Han song Kie putar badan, toya emas yang berada dalam gengamannya dibuang keatas tanah.
TindakanDewa berjalan dalam tanah yang ksatria dan jantan ini mendapatpujian dari setiap jago yang hadir digelanggang, sebab dengan perbuatannya itu dia tidak kehilangan jiwa jantan seorang jago persilatan, sebab justru dengan perbuatannya itu maka dengan selembar jiwa dari nenek bertoya emas berhasil diselamatkan.
Dengan berlangsungnya peristiwa ini, dengan cepat memandang pula tujuan semula dari kehadiran jago persilatan ditempat itu.
Mula pertama tampaklah kakek bermuka lebar bertelinga besar itu menggeserkan tubuhnya kesisi Dewa berjalan dalam tanah, diikuti semua jago persilatan yang berada disekeliling tempat itupun berbareng maju satu tombak kedepan, dengan begitu gelanggangpun semakin diperciut hingga empat tombak belaka luasnya. suatu pertempuran sengit rupanya segera akan berlangsung..
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat, Han Siong Kie menyapu sekejap seluruh gelanggang, kemudian dengan nada dingin tegurnya kepada dua orang yang berada dihadapannya:
"siapakah kalian berdua ??"
"Aku adalah Dewa berjalan dalam tanah, bocah muda engkau pernah mendengar nama ku?" Han Siong Kie menggeleng.
"Belum pernah kudengar nama itu" katanya, sorot matanya segera dialihkan kearah kakek bermuka lebar bertelinga besar tadi.
sebelum buka suara orang itu sudah memperkenalkan diri lebih dahulu: "Aku adalah Heng sang Pedagang pejalan kaki Ku It Hui..."
"Hmm baru pertama kali ini kudengar nama mu itu"
Mendengar ejekan tersebut baik Dewa berjalan dalam tanah maupun Pedagang perjalan kaki Ku It Hui sama2 tertawa dingin tiada hentinya.
sekali lagi Han Siong Kie maju beberapa langkah kedepan sambil menatap wajah Dewa berjalan dalam tanah tajam2 serunya:
"Benda itu toh berada ditanganmu ayoh cepat serahkan keluar" Dewa berjalan dalam tanah tertawa seram:
"Heeehh...heehhh...heehhh... bocah muda, kenapa tidak kau tanyakan dulu kepada semua sahabat yang hadir dalam gelanggang pada saat ini, apakah mereka setuju kalau kuserahkan kembali benda itu kepadamu atau tidak??"
Han Siong Kie segera naik darah, dengan muka merah membara ia mendengus dingin. "Hmm? sebenarnya engkau mau serahkan kembali benda itu kepadaku atau tidak??"
"Bukannya tak mau, cuma aku tak dapat berbuat demikian"
"Heeebh... heeehh heeehhh kalau memang begitu, jangan salahkan kalau aku tak akan berlaku sungkan2 lagi terhadap dirimu"
Begitu ucapan terakhir diutarakan keluar sepasang telapaknya disertai tenaga dalam yang luar biasa dahsyatnya langsung membacok badan Dewa berjalan dalam tanah.
Menyaksikan datangnya ancaman tersebut, hampir pada saat yang bersamaan Dewa berjalan dalam tanah serta Pedagang pejalan kaki Ku It Hui melancarkan serangan secara berbareng untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Blammm" bentrokan dahsyat yang amat memekikan telinga berkumandang di seluruh angkasa, Dewa berjalan dalam tanah serta Pedagang berjalan kaki Ku It Hui sama-sama tergentar hingga mencelat sejauh satu tombak dari tempat semula itupun badan mereka masih sempoyongan tiada hentinya.
Han Siong Kie tak sudi memberi kesempatan lebih jauh kepada musuhnya untuk berganti napas tubuhnya sekali lagi menerjang kedepan telapak kirinya menghajar tubuh Pedagang berjalan kaki Ku It Hui sedangkan tangan kanannya dengan lima jari dipentangkan bagaikan kuku garuda langsung mencengkeram Dewa berjalan dalam tanah.
Dalam satu jurus terbagi menjadi dua gerakan yang secara terpisah mengancam dua orang jago lihay dari dunia persilatan bukan saja pukulan yang dilepaskan berat bagaikan tindihan sebuah bukit karang, cengkeramanpun cepat lakana kilat.
Pedagang pejalan kaki Ku It Hui segera melayang delapan depa dari permukaan tanah, ia melepaskan sebuah serangan balasan yang tidak kalah hebatnya..
sedangkan Dewa berjalan dalam tanah menghindar kesamping dengan suatu gerakan yang cekatan ia meloloskan diri dari sambaran kilat tersebut..
Hampir pada saat yang bersamaan, delapan buah pedang pusaka disertai delapan buah desiran angin tajam menyergap tubuh Han Siong Kie dari arah belakang.
Dengan sigap Han Siong Kie meluncur ke udara dan melepaskan diri dari ancaman angin pukulan serta desiran pedang lawan, ketika dia berpaling kebelakang maka terlihatlah orang yang menyergap tubuhnya dengan serangan delapan bilah pedang tadi ternyata bukan lain adalah delapan orang pria setengah baya yang memakai jubah warna biru.
Dengan pandangan mata yang tajam pemuda itu menyapu sekejap wajah kedelapan orang jago pedang baju biru tersebut, lalu dengan suara adem tegurnya: "siapakah kalian berdelapan? sebutkan dahulu siapa nama kamu semua.."
"Kami adalah delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu"jawab salah seorang diantara delapan jago pedang itu dengan suara ketus dan dingin.
"Apa maksud kalian datang kemari?"
"Tujuan kedatangan semua umat persilatan yang berkumpul dalam gelanggang saat ini adalah sama yakni menuntut balas serta menagih hutang2 lama dari Mo tiong ci-mo."
Han Siong Kie terperangah dibuatnya, dari sini jelas sudah memperlihatkan bahwa musuh besar dari gurunya tersebar dikolong langit yang diketahui olehnya adalah jago2 dari partai Khong tong, gereja siau lim si serta Thian lam pay ditambah pula jago2 persilatan yang hadir dalam gelanggang dewasa ini...
Itu berarti dalam perjalanannya dikemudian hari ia telah memikul suatu tanggung jawab yang sangat berat pembalasan dendam pasti akan ditemuinya selama ini tapi dendam sakit hati apakah yang terikat diantara mereka? dia sendiripun tak tahu.
Berpikir sampai disitu diam2 dia ambil keputusan untuk merampas kembali kitab pusaka Hud jiu poo-pit lebih dahulu kemudian pulang ketempat tinggal gurunya untuk memberi laporan sebab batas waktu sepuluh hari sudah bakal habis, ia tak ingin gurunya mati dengan membawa penyesalan hingga gurunya mati tak pejamkan mata. setelah ambil keputusan dihati, dengan suara dingin segera katanya lantang:
"Pada waktu ini aku tak punya banyak waktu luang, dikemudian hari kalian pasti akan memperoleh penyelesaian yang adil dari persengketaan ini."
"Malaikat penyakitan, omong kosong tak ada gunanya, kau anggap dengan mengucapkan kata2 tersebut maka urusan dapat diselesaikan dengan begitu saja??"
"Lalu apa yang kalian kehendaki??"
"Katakanlah tempat persembunyian dari iblis diantara iblis"
"Andaikata aku tak mau bicara???"
Paras muka delapan pendekar pedang dari kota Tiong- ciu berubah hebat, pemimpin mereka segera berseru dengan nada kasar:
"Hmm aku rasa engkau tak mungkin bisa membungkam terus menerus"
"Huuhh... dengan andalkan kalian beberapa orang hendak paksa aku untuk bicara?, jangan mimpi disiang hari bolong"
Dihina dan dimaki dengan kata kata yang begitu memandang rendah terhadap mereka, delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu tak mampu menahan hawa amarahnya lagi, ditengah bentakan keras delapan bilah pedang dengan menciptakan selapis cahaya tajam yang berkilauan langsung mengurung badan Han Siong Kie, hawa pedang mendesir dan memancar keempat penjuru membuat para jago yang berada lima tombak disekitar tempat itupun ikut merasakan desiran angin tajam tadi.
Dikolong langit tidak terlalu banyak manusia yang mampu menghadapi serangan gabungan dari delapan pendekar pedang itu sekalipun belum sampai tarap tiada tandingan namun jarang sekali ada jago yang berani beradu kepandaian dengan mereka berdelapan sekaligus.
Menyaksikan datangnya ancaman yang begitu dahsyat, diam2 Han Siong Kie merasa amat tercekat hatinya, sepasang telapak diayun berulang kali dan sekaligus melancarkan lima buah serangan berantai.
Kelima buah pukulan yang dilepaskan itu cepat sekali hingga se-akan2 merupakan suatu penggabungan satu jurus serangan belaka, bukan begitu saja bahkan tenaga murni yang disertakan dalam serangan tersebut merupakan tenaga hasil latihan selama dua ratus tahun yang maha dahsyat, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan ngerinya serangan maut itu.
Dikala para jago persilatan yang hadir ditempat itu masih dibikin bingung dan tercengang oleh situasi yang mengerikan itu
"Bluumm .." suatu ledakan dahsyat yang sangat memekikkan telinga bergelegar diangkasa, jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, tiga sosok bayangan manusia mencelat ketengah udara dan lima kilatan cahaya tajam menggaris ditengah angkasa.
Suasana jadi gaduh dan kacau balau, bayangan manusia terpencar kesana kemari diantara delapan pendekar pedang dari Tiong- ciu, lima orang jago diantaranya kehilangan senjata, sedang tiga orang lainnya terpental sejauh dua tombak lebih dari tempat semula.
Paras muka mereka semua pucat pias bagaikan mayat, tubuh mereka gemetar keras dan untuk beberapa saat lamanya tak seorangpun diantara mereka yang buka suara ataupun meugucapkan sepatah kata.
Berhasil dengan serangannya yang pertama, Han Siong Kie tak mau buang tempo lebih jauh, secepat sambaran kilat ia menerjang kearah Dewa berjalan dalam tanah.
Pedagang pejalan kaki Ku It Hui yang berada disampingnya tanpa mengucapkan sepatah katapun tiba2 melancarkan sebuah pukulan yang mengerikan.
Han Siong Kie tak menduga kalau Pedagang pejalan kaki Ku It Hui bisa menyergap dari sisi gelanggang, waktu tidak mengijinkan baginya untuk berpikir panjang, berada ditengah udara tubuhnya segera berputar kearah mana berasalnya serangan itu, sepasang telapak didorong kedepan menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Blaamm.." benturan nyaring kembali bergelegar diangkasa, Pedagang pejalan kaki Ku It Hui menjerit kesakitan, badannya mencelat sejauh empat tombak dari tempat semula dan terkapar diantara kerumunan para jago lainnya.
Dewa berjalan dalam tanah mengerti kalau gelagat tidak menguntungkan baginya, dalam detik terakhir itulah ia himpun tenaga sakti Tee tan kang miliknya, sekujur badan jadi bergelembung bagaikan bola angin.
Han Siong Kie yang menyaksikan keadaan aneh tersebut jadi tertegun untuk beberapa saat lamanya.
Dewa berjalan dalam tanah menggeram aneh sepasang telapaknya didorong keluar.
"Blaaammm " suatu ledakan hebat dahsyat meluncur kedepan langsung menghantam tubuh Han Siong Kie.
Sianak muda itu amat terperanjat, sepasang telapaknya segera didorong kedepan untuk menyambut datangnya ancaman itu, ketika dua jenis tenaga bertemu satu sama lainnya segera terjadi suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga kedua belah pihak sama tergentar mundur satu langkah kebelakang sementara sisa2 tenaga benturan itu bagaikan gulungan ombak segera memancar keempat penjuru.
Pada waktu itulah hujan senjata rahasia yang amat rapat bagaikan hujan gerimis tersebar diseluruh angkasa mengurung sekujur badan Han Siong Kie.
Pemuda itu membentak keras, sepasang telapak didorong kedepan secara beruntun, gelombang hawa murni selapis demi selapis memancar keluar dan mementalkan senjata2 rahasia yang mengancam kearahnya itu, tapi senjata rahasia tersebut berhamburan tiada hentinya bagaikan hujan gerimis, membuat siapapun yang memandang jadi terkesiap dan bergidik rasanya.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah delapan pendekar prdang dari kota Tiongciu mengundurkan diri dari gelanggang demikian juga dengan Dewa berjalan dalam tanah serta Pedagang pejalan kaki Ku It Hui kedua jago lihay ttu cepat2 mundur kebelakang.
Diantara senjata rahasia yang berhamburan diangkasa terdapat pula jarum2 halus yang sangat beracun, serangan lembut seperti itu terang tak mungkin ditangkis dengan pukulan telapak, untuk beberapa saat Han Siong Kie dibikin kalang kabut dan kelabakan tiada hentinya, kejadian ini dengan cepat memancing timbulnya hawa napsu membunuh dalam hatinya.
Sepasang telapak berputar membentuk lingkaran, senjata rahasia yang berhamburan segera terpental keempat penjuru, kemudian sepuluh jari tangannya tiba2 dibentangkan lebar2.
sepuluh gulung desiran angin tajam, secepat sambaran kilat memancarkan keluar..
Ilmu jari Tong kim ci adalah sejenis ilmu sentilan yang luar biasa dahsyatnya, emas dalam jarak lima tombak pun akan berlubang jika termakan oleh serangan tersebut.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema saling susul menyusul, begitu seramnya hingga menggidikkan hati semua orang.
seluruh jari berkelebat kesana kemari tiada hentinya, setiap penjuru dijelajahi secara merata dan tak ada yang kelewatan.
Jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, seluruh hutan belantara itu tercekam dalam suasana yang betul2 mengerikan, se-akan2 dunia persilatan sedang menghadari hari kiamat.
Hujan senjata rahasia segera terhenti, sementara jeritan ngeri makin lama semakin banyak dan makin melengking..
Diatas permukaan tanah tertambah dengan mayat2 yang bergelimpangan disana sini, kurang lebih lima puluh sosok mayat terkapar di atas tanah dalam keadaan yang mengerikan, dada atau batok kepala mereka berlubang, darah kental mengucur keluar tiada hentinya.
Pembantaian yang keji seperti ini, boleh dibilang jauh lebih mengerikan danjauh lebih menyeramkan daripada tindak tanduk Mo tiong ci mo dimasa lampau.
Semua jago persilatan yang hadir digelanggang tercekat semua dibuatnya, paras muka mereka pucat pias bagaikan mayat dan sukma seraya melayang tinggalkan raganya karena ketakutan.
Bau amis darah.. kebrutalan... kekejian menyelimuti seluruh gelanggang.
-ooo0ooo-
Jilid 15 : Kaisar ketiga belas Huan Mo-kiong
MENDADAK... seorang kakek cebol berbadan gemuk munculkan diri dari barisan para jago, setibanya ditengah gelanggang ia merogoh kedalam sakunya dan ambil ke luar sebuah benda, setelah diletakkan diatas tanah sambil tertawa seram katanya:
Inilah sarung tangan Hud jiu Poo pit, aku Dewa berjalan dalam tanah tidak ingin mencicipi harta kekayaan ini, sekarang benda ini kuserahkan kembali kepada rekan2 persilatan semua.
Habis berkata ia enjotkan badandan buru-buru tinggalkan tempat celaka itu.
sarung tangan tembaga hitam memancarkan Cahaya yang menyilaukan mata, semua sorot mata para jago dengan pandangan serakah ditujukkan keatas benda tersebut.
Siapapun ingin mendapatkan benda mustika yang diidamkan oleh setiap orang itu, siapapun ingin memilikinya, tindakan dari Dewa berjalan dalam tanah benar2 berada diluar dugaan setiap jago yang hadir digelanggang.
Han Siong Kie malahan dibuat terperangah oleh sikap lawannya, ia tak mengira kalau Dewa berialan dalam tanah secara suka rela bersedia serahkan benda mustika itu kepadanya, mungkin juga manusia cebol itu sudah mengerti andaikata ia tidak serahkan benda itu maka sulitlah baginya untuk meloloskan diri dari sana, selain itu mungkin diapun sudah dibuat ngeri oleh pemilik benda itu..
Sementara masih berpikir, pemuda she Han itu siap maju kedepan untuk memungut sarung tangan Hud jiu Poo pit itu..
Segulung desiran angin yang sangat aneh menggulung lewat dan mendorong sarung tangan Hud jiu Poo pit segera menggelinding sejauh dua tombak dari tempat semula, di ikuti seorang kakek tua berjubah hitam dan bermuka merah bagaikan darah tampil ditengah gelanggang.
Han Siong Kie merasa amat terkesiap, dengan cepat ia berpaling kebelakang, ketika sepasang mata saling bertemu pemuda itu merasakan hatinya tercekat, dari pancaran mata kakek baju hitam itu ia dapat merasakan hawa sesat yang membikin hati orang jadi bergidik.
Suasana jadi gaduh dan rata2 para jago persilatan yang hadir disana sama2 menunjukkan paras muka ngeri bercampur takut.
"siapakah engkau? tegur Han Siong Kie dengan nada dingin.
Kakek tua berjubah hitam itu mengerutkan wajahnya, lalu dengan seram ia menjawab: "Aku adalah Dewa racun Yu Hoat"
Dewa racun Yu Hoat tersohor karena ilmu racunnya yang sangat lihay dan tiada tandingan dikolong langit. setiap orang persilatan yang mendengar namanya pasti akan berubah wajah dan ketakutan, tak nyana iblis tua tersebut telah munculkan diri di tempat itu.
Han Siong Kie berpengalamau cetek dan tak kenal banyak jago persilatan, tentu saja ia tak tahu siapakah manusia yang menyebut diri sebagai Dawa racun Yu Hoat ini, ia segera mendengus dingin.
"Apa maksudmu datang kemari ?" tegur Han Siong Kie. Dewa racun Yu Hoat tertawa seram tiada hentinya.
"Heehhh..heehhh..heehhh . Malaikat penyakitan aku telah tertarik sekali dengan sarung tangan tembaga milikmu itu, aku harap engkau bersedia menghadiahkan kepadaku"
"Hmm engkau jangan mimpi disiang hari bolong" teriak Han Siong Kie dengan nada menghina
Pada waktu itu dua sosok bayangan manusia laksana kilat menerjang kedepan dan menyambar sarung tangan mustika Hud jiu Poo pit yang berada kurang lebih dua tombak jauhnya itu.
"Cari mampus" hardik Dewa racun Yu Hoat dengan geram, telapaknya langsung di ayun kedepan membabat tubuh kedua orang itu.
Ditengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati dua sosok bayangan manusia itu mencelat kebelakang dan roboh terkapar diatas tanah, setelah berkelejit sebentar mereka tak berkutik lagi, darah hitam mengalir keluar dari ketujuh lubang inderanya.
Diam2 Han Siong Kie merasa bergidik juga menghadapi kelihayan musuhnya yang amat luar biasa itu, ia tak mengira kalau kekejian racun Dewa racun Yu Hoat sudah mencapai taraf yang tak terkirakan-
Dewa racun Yu Hoat sendiri sama sekali tidak memandang sekejappun kearah dua sosok mayat yang mati akibat keracunan itu, sekali lagi dengan nada menyeramkan ia berseru: "Malaikat penyakitan, apakah engkau bersedia hadiahkan benda itu kepadaku?"
Han Siong Kie mendengus dingin.
"Hmm kalau engkaupunya kepandaian, silahkan ambil sendiri dari atas tanah"
Air muka Dewa racun Yu Hoat berubah sangat hebat, ia menggerakkan tubuhnya dan meluncur dua tombak kedepan, baru saja ia hendak ambil benda itu...
Mendadak tanpa angin tanpa puyuh sarung tangan mustika Hud jiu Poo-pit tersebut melayang sendiri ketengah udara.
Ia menjerit kaget dan segera mengikuti ke arah mana sarung tangan itu meluncur, ternyata Malaikat penyakitan dengan tenangnya sedang memegang sarung tangan mustika tadi.
Kiranya pada saat yang terakhir Han Siong Kie telah menggunakan unsur "
mengisap" dari ilmu telapak Mo-mo ciang hoat untuk mengisap pusaka Hud jiu Poo pit itu sehingga melayang kearahnya.
Kepandaian mengisap benda yang didemonstrasikan sianak muda itu seketika mencengangkan hati para jago yang hadir dalam gelanggang.
Mungkin kejadian ini merupakan kejadian yang pertama bagi Dewa racun Yu Hoat dimana ia jatuh kecundang ditangan orang, paras muka yang semula sudah pucat karena gusar kini berubah jadi kehijau2an, sepasang matanya memancarkan dua gulung cahaya yang menggidikkan hati.
"Bocah keparat" geramnya dengan penuh kemarahan, " engkau sendiri yang sudah ogah hidup, jangan salahkan kalau aku bertindak keji kepadamu"
"ooh.. kalau memang lihay, silahkan mencoba sendiri untuk merampas benda tersebut dari tanganku"
Han Siong Kie masukkan sarung tangan mustika Hud jiu Poo pit itu kedalam sakunya kemudian himpun tenaga dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, perasaan hatinya kaku dan tawar sementara hati kecilnya kebat kebit, sebab ia tahu bahwa ilmu racun yang dimiliki pihak lawan amat dahsyat dan tak mungkin bisa dilawan dengan andalkan tenaga dalam belaka. Dalam pada itu Dewa racun Yu Hoat maju selangkah kedepan.
Suasana dalam gelanggang tercekam dalam ketegangan, setiap orang merasakan hatinya kebat kebit tak karuan-
Seorang makhluk racun tua yang sudah tersohor akan kelihayannya akan berhadapan dengan seorang ahli waris iblis sakti yang pernah menggetarkan kolong langit.
Berpuluh2 pasang mata tidak sakejappun beralih dari tengah gelanggang, mereka ingin tahu siapakah yang bakal menang diantara kedua orang itu.
Han Siong Kie putar otak tiada hentinya, ia menganggap siapa menyerang lebih dulu dialah yang menang posisi, mendadak serangan telapak ditangan dan serangan jari tangan kanan dilancarkan secara berbareng....
Ditengah gulungan angin pukulan yang maha dahsyat terselip desingan totokan jari yang tajam dan luar biasa.
Dewa racun Yu Hoat tertawa dingin, secepat kilat tubuhnya menyingkir lima depa kesamping, setelah menghindarkan diri dari gempuran yang maha dahsyat itu, disaat sang badan berkelebat lewat sepasang telapaknya diluncurkan kedepan secara berbareng, kecepatannya luar biasa sekali.
Baru saja Han Siong Kie merasakan serangan jari dan telapaknya mengena disasaran yang kosong, segumpal angin pukulan berbau amis telah meluncur tiba.
Ia tahu bahwa angin pukulan tersebut mengandung sari racun yang amat jahat, barang siapa terkena pasti akan mati, tapi untuk meloloskan diri dari ancaman tanpa tersentuh oleh pukulan itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.
Dalam keadaan gelisah cepat2 jalan darahnya ditutup, sepasang telapakpun mendadak melepaskan pukulan.
"Bluumm" dentuman keras bergelepar diudara, Dewa racun Yu Hoat tergetar mundur lima langkah kebelakang dengan sempoyongan-
Han Siong Kie sendiri merasakan kepalanya nanar dan agak berkurang, kulit badan diluar pakaiannya terasa panas bercampur gatal, ia tahu bahwa tubuhnya sudah terkena racun keji, dalam terkesiapnya hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya, sepasang telapak diayun berbareng dan sepuluh desiran angin pukulan segera meluncur kedepan.
Dewa racun Yu Hoat amat terperanjat setelah mengetahut angin pukulan beracun yang berhasil menyapu tubuh lawan, ternyata sama sekali tidak dirasakan oleh musuhnya, mungkinkah Mala ikat penyakitan telah berhasil melatih tubuhnya sehingga kebal terhadap serangan pukulan beracun- .
Disaat pikiran tersebut masih berkelebat dalam benaknya, desiran angin totokan telah meluncur datang dengan hebatnya, jika terkena serangan tersebut niscaya tubuhnya akan berlubang dan mampus.
Dalam keadaan terkesiap bercampur gelisah, dewa racun itu tidak ambil perduli soal gengsi lagi, cepat2 ia jatuhkan diri ke atas tanah dan bergelinding sejauh delapan depa lebih dari tempat semula...
Jeritan ngeri kembali berkumandang tiada hentinya, delapan orang jago persilatan yang berdiri disekitar tempat kejadian tersambar oleh serangan tersebut dan segera roboh terkapar diatas tanah.
Dewa racun Yu Hoat sendiri saking terkejutnya keringat dingin sampai mengucur keluar tiada hentinya, ia tahu berdiam terus ditempat itu tak akan menguntungkan dirinya, dengan cepat ia enjotkan badan dan melarikan diri terbirit2.
Han Siong Kie sendiripun menyadari bahwa persoalan penting yang dibebankan di atas pundaknya masih banyak yang belum terselesaikan, ia tak ingin buang waktu lebih jauh, setelah menyapu sekejap kearah para jago yang hadir ditempat itu, dengan langkah lebar ia segera berlalu dari gelanggang tersebut.
semua jago lihay baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih tak ada yang berani tampil kedepan untuk menghadang jalan perginya, mereka semua membungkam dalam seribu bahasa.
Desiran angin menembusi angkasa bergema dari kejauhan, beberapa sosok bayangan manusia tiba2 dengan kecepatan bagaikan kilat meluncur masuk kedalam gelanggang.
Dengan cepat Han Siong Kie menghentikan langkah kakinya, begitu tahu siapa yang datang ia merasa amat girang dan hampir saja menyapa, tapi dengan cepat ia teringat kembali dengan penyaruannya pada waktu itu, ucapan yarg hampar meluncur keluar segera tertelan kembali kedalam perut.
Orang yang barusan datang bukan lain adalah saudara angkatnya yakni Lam kay pengemis dari selatan, dibelakangnya mengikuti pula empat orang pengemis berusia lima puluh tahunan yang semuanya membawa sebuah toya penggebuk anjing.
Pengemis dari selatan dan Padri dari utara, adalah jago2 lihay yang amat tersohor namanya dikolong langit pada waktu itu, kecuali beberapa orang gembong iblis jarang sekali ada orang yang mampu menandingi dirinya, kemunculan jago tua ini segera merubah suasana dalam gelanggang itu.
Berada dibadapan orang banyak. tentu saja Han Siong Kie tak dapat membongkar rahasia sendiri, ia segera maju selangkah kedepan dan memberi hormat. "Locianpwee, tolong tanya ada urusan apa engkau datang mencari aku?" tanyanya.
sikap yang sopan dari Han Siong Kie seketika membnat para jago terperangah dibuatnya, mungkinkah nama besar pengemis selatan telah menggetarkan hati Malaikat penyakitan sehingga ia bersikap begitu menghormat.
Tentu saja termasuk pengemis dari selatan sendiripun tak tahu apa sebabnya musuh mereka bersikap hormat.
Dengan sorot mata yang sangat tajam pengemis dari selatan mengawasi wajah Han Siong Kie beberapa saat lamanya, kemudian ia menegur:
"Engkau yang bernama Malaikat penyakitan??"
"Betul, itulah aku"
"Dan engkau adalah ahli waris dari Mo tiong-ci mo iblis diantara iblis??"
"Dugaanmu tak keliru"
"Engkau baru saja keluar dari dalam benteng maut??"
"Benar"
"Benarkah tengkorak maut bukan lain adalah iblis diantara iblis?"
"Keliru besar pendapatmu itu"
"Keliru besar?"
"Benar, keliru besar sekali"
"Baik" kata Pengemis dari selatan kemudian setelah termenung sebentar, "aku tak mau ambil perduli apakah berita itu benar atau tidak- aku pengemis tua hanya ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu.."
"Katakanlah, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Sekarang gurumu ada dimana?"
Diam2 Han Siong Kie terkejut, tentu saja tak dapat menerangkan dimanakah gurunya berada, setelah berpikir sebentar ia balik bertanya . . "Ada urusan apa locianpwee mencari guruku?"
"Empat puluh tahun berselang guru iblismu itu telah membantai seorang ketua cabang, tiga orang hiangcu, dua belas orang kepala regu dan lima puluh orang murid perkumpulan kay-pang kami dari kantor cabang sam siang, ini hari kami datang kemari untuk menagih hutang berdarah itu?"
Han Siong Kie jadi kelabakan dibuatnya, untuk beberapa saat lamanya ia tak tahu bagaimana musti menjawab.
Empat orang pengemis tua dibelakang pengemis dari selatan dengan nyata menunjukkan perasaan sedih bercampur gusar.
Pelbagai ingatan berkelebat dalam benak Han Siong Kie, ia berusaha mencari akal untuk mengatasi masalah pelik yang memusingkan kepalanya ini.
-ooo0ooo-
BAB 31
SETELAH termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu berpikir dalam hatinya, menurut perkataan gurunya orang2 yang dibunuh adalah mereka2 yang pantas dibinasakan, sedang menurut keterangan yang pernah diberikan put lo sianseng, seorang jago kawakan dari persilatan, gurunya tak pernah membunuh orang tanpa sebab.
Bagi dia sendiri, boleh dibilang tak sepotong keteranganpun yang diketahui olehnya mengenai dendam permusuhan yang terikat selama puluhan tahun belakangan ini, tapi sebagai ahli waris dari gurunya sudah menjadi kewajiban babinya untuk memikul tanggung jawab itu.
Apa yang harus ia terangkan kepada engkoh tuanya ini ?
Dalam pada itu pengemis dari selatan dengan muka memancarkan kegusaran telah menegur kembali dengan suara berat:
"Bocah keparat, sudah kau pertimbangkan masak2 persoalan ini??"
"sepuluh hari kemudian, bagaimana kalau aku berkunjung sendiri kemarkas besar locianpwee untuk memberikan keterangan?"
"Itu sih tak perlu, aku hanya ingin tahu jejak dari gurumu"
"Tapi aku tak mungkin bisa menerangkan soal ini kepada locianpwee"
"Bocah keparat, janganlah banyak main akal muslihat di hadapanku, bicaralah terus terang kemudian masing2 menempuh jalannya sendiri"
"Andaikata aku tidak bersedia untuk menjawab, apa yang hendak locianpwee lakukan?"
Empat orang pengemis tua dibelakang pengemis dari selatan segera mendengus dingin, dari sikap mereka jelas menunjukkan bahwa beberapa orang jago itu siap untuk melancarkan serangan-
Pengemis dari selatan sebera menengadah dan tertawa ter-bahak2.
"Haaah haaahh haaahhh bocah muda, engkau tak dapat ambil keputusan dengan seenaknya sendiri"
"Jadi locianpwee ada maksud untuk turun tangan??"
"Andaikata engkau tidak bersedia untuk bicara terus terang, apakah aku pengemis tua harus pulang dengan tangan hampa?"
Diam2 Han Siong Kie mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan itu, dalam kenyataan ia sungkan untuk turun tangan dan bertarung melawan kakak angkatnya sendiri, lagipula bertempur dengan kekerasan belum tentu dapat menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi.
Untuk meloloskan diri tentu saja sangat mudah sekali baginya, perbuatan itu dapat dilakukan ibarat membalik telapak sendiri, sebab termasuk pengemis dari selatan sendiri, seorang manusiapun yang dapat mengejar jalan perginya.
"Hmm, tentu saja tak sudi pergi dengan cara begitu, sebab demi nama besarnya dan nama besar gurunya ia tak boleh berbuat begitu, kalau mau pergi maka dia harus pergi secara gagah dan terang2an-"
Rupanya empat orang pengemis tua dibelakang pengemis dari selatan sudah tak sabar menahan diri lagi, mereka silangkan tongkat penggebuk anjingnya didepan dada, kemudian salah satu diantaranya berseru:
"Tiangloo, buat apa engkau banyak bicara dan bersilat lidah terus dengan bangsat itu?"
Dengan pandangan yang dingin dan menyeramkan, Han Siong Kie menyapu sekejap empat orang pengemis tua itu, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Menyaksikan tingkah laku anak buahnya, buru2 pengemis dari selatan goyangkan tangannya mencegah mereka turun tangan, serunya:
"Jangan bertindak gegabah kalian masih bukan tandingannya..." kemudian sambil berpaling kearaa Han Siong Kie sambungnya lebih lanjut:
"Bocah muda, aku pengemis tua paling segan untuk mengulur waktu lebih baik bertindaklah lebih terus terang dan terbuka "
Baru saja Han Siong Kie hendak menjawab. tiba2...
Pada saat itulah dari tempat kejauhan berkumandang datang suara pekikan setan yang amat membetot hati, suara itu begitu nyaring dan melengking diangkasa membuat semua jago persilatan yang hadir dalam kalangan sama2 merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri
Bersamaan dengan makin mendekatnya pekikan setan yang tajam dan memekikkan telinga itu, sesosok bayangan merah meluncur dari tengah udara dan jatuh ketengah gelanggang.
Benda itu bukan lain adalah sebuah tengkorak kepala yang penuh berlepotan darah, dengan angker dan seramnya benda tersebut bercokol digelanggang.
"Tengkorak maut" tak kuasa lagi Han Siong Kie menjerit lengking dengan nada terperanjat.
Pemilik benteng maut bisa muncul secara tiba2 ditempat tersebut, peristiwa ini benar2 berada di luar dugaan setiap orang.
Pengemis dari selatan dan keempat orang pengemis tua itu dengan hati terkesiap dan badan merinding, ber sama2 mundur satu tombak lebih kebelakang.
suasana dalam gelanggang seketika berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, begitu sunyinya hingga jarum yang jatuh ketanahpun dapat kedengaran-
Maut..kematian-. serta hawa seram yang menggidikkan mencekam seluruh angkasa, menekan perasaan setiap jago yang hadir di situ.
Paras muka semua jago persilatan yang hadir disana sama2 berubah jadi pucat keabu2an, badan serta tulang mereka terasa kaku dan tak bertenaga, tak seorangpun berani bergeser barang setengah langkahpun dari tempat semula, jangan dikata melarikan diri, untuk bergerak majupun tak berani, se-akan2 mereka beranggapan bahwa elmaut akan menjemput nyawa mereka jika mereka berani maju.
Dalam pada itu Nenek bertoya emas yang sedang bersemedi telah menyelesaikan latihannya, luka yang diderita sudah separuh bagian sembuh, sambil bangkit berdiri ia pungut senjata toyanya yang tergeletak diatas tanah.
Tapi tiba2 sorot matanya bertemu dengan tengkorak darah yang menggeletak ditengah gelanggang, nampaknya nenek itu merasa amat terperanjat, dengan sempoyongan tubuhnya roboh kembali keatas tanah dan sedikitpun tak berkutik.
Han Siong Kie sendiri dengan pandangan yang tajam dan sama sekali tak berkedip menatap tengkorak berwarna merah itu, pelbagai ingatan dan perasaam berkecamuk dalam benaknya...
Kenapa Pemilik benteng maut munculkan diri secara tiba2? apakah ia sudah tahu kalau jalan darahnya yang tertotok telah dibebaskan orang?
orang yang kehilangan sukma minta kepadanya untuk berkunjung kembali kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya, rahasia apakah yang terkandung dibalik peristiwa itu?
Kalau Pemilik benteng maut menanyakan urusan tentang dibebaskannya jalan darah yang tertotok, apakah dia harus mengeluarkan kutungan telapak tangan dari 0rang yang kehilangan sukma?
Kenapa orang yang kehilangan sukma mengutungi telapak tangan sendiri?
Ingatan tersebut berkecamuk tiada hentinya dalam benak sianak muda itu, Kian lama darah panas dalam dadanya kian mendidih, dendam berdarah ditambah rasa dendam karena orang yang kehilangan sukma harus mengutungi telapak tangan sendiri, membuat pemuda itu ingin melampiaskan semua perasaannya ke atas tubuh Pemilik benteng maut. Dalam waktu singkat, suasana disekitar gelanggang jadi beku dan membeku.
Suasana sepi, hening dan tak terdengar sedikit sUarapUn, begitu sunyinya se-akan2 berada disuatu tanah pekuburan yang luas.
Jago persilatan yang berkumpul di empat penjuru tak ada yang berkutik ataupun menunjukkan sesuatu reaksi apapun, mereka punya perasaan seakan2 sedang menunggu keputusan hukuman.
Tulang tengkorak yang penuh berlepotan darah ditambah mayat2 yang sejak semula telah bergelimpangan diatas tanah, menambah seramnya suasana disekeliling tempat itu.
Lama kelamaan.. akhirnya Han Siong Kie tak kuasa menahan diri, ia berteriak dengan geram:
"Tengkorak maut, kenapa belum juga munculkan diri?"
Teriakan tersebut kembali menggetarkan hati setiap jago persilatan yang hadir disekeliling gelanggang, mungkinkah Tengkorak maut betul2 bukan hasil penyaruan dari iblis diantara iblis? sebab kalau tidak ahli waris dari iblis diantara iblis yakni Malaikat penyakitan tak mungkin akan menantang gembong iblis itu untuk beradu kepandaian. Kenapa Malaikat penyakitan berani menantang Tengkorak maut untuk adu kepandaian?
Tentu saja kecuali Han Siong Kie pribadi, tak seorangpun yang mengetahui alasannya.
Dalam pandangan sebagian besar orang persilatan, Tengkorak maut bukan saja mendatangkan rasa seram dan ngeri, diapun membawa kemisteriusan yang membingungkan hati, selama puluhan tahun belakangan ini belum pernah ada orang yang menyaksikan paras muka aslinya.
sekarang, kecuali rasa kaget dan terkesiap mencekam perasaan hati setiap jago yang hadir disitu, merekapun merasa keheranan dan ingin tahu duduk perkara sebenarnya.
Begitu suara bentakan diri Han Siong Kie berkumandang diudara, pekikan setan itu segera berhenti berggema, semua orang merasakan pandangan matanya jadi kabur dantahu2 ditengah gelangang telah bertambah dengan sesosok bayangan manusia berjubah hijau, bertopi hijau dan berpakaian cadar warna hijau pula. "Aaah.. Pemilik benteng maut" para jago sama2 berbisik dalam hatinya.
Han Siong Kie sendiri dengan mata melotot besar bagaikan gundu menatap gembong iblis tersebut tanpa berkedip.
Suasana ditengah gelangggang makin sunyi dan tebang, apalagi setelah Tengkorak maut munculkan diri.
Sementara itu Tengkorak maut sendiri dengan seram dan angkernya berdiri dihadapan Han Siong Kie, ia membungkam dalam seribu bahasa.
Pengamis dari selatan beserta kempat orang pengemis tua disisinya tanpa disadari telah mundur kebelakang dan mendekatt tepi kalangan dimana para jago berkumpul.
Dengan begitu ditengah gelanggang pada saat ini tinggalkan Han Siong Kie dan Tengkorak maut itu saja yang berdiri saling berhadap2an.
Han Siong Kie menggertak gigi menahan rasa benci dalam hatinya, dengan suara lantang ia menegur:
"Poocu, engkau ada urusan apa datang kemari?"
Tengkorak maut sama sekali tidak menjawab pertanyaan sianak muda itu, dengan suara dalam ia berseru lantang:
"Hari ini sengaja aku berbuat murah hati, semua orang yang hadir disekitar gelanggang segera enyah dari sini"
Suara itu tidak begitu keras, tapi semuajugo persilatan yang hadir disekitar gelanggang, baik dekat maupun jauh sama2 merasakan telinganya jadi amat sakit.
se akan2 mendapat pengampunan, tanpa membuang waktu barang sedikitpun juga, para jago sama2 putar badan dan kabur dari tempat celaka itu dalam sekejap mata, semua orang sudah berlalu tak berbekas.
Hanya seorang jago yang tidak berlalu dari situ, orang itu bukan adalah ketua para tiang loo dari perkumpulan Kay pang, pengemis dari selatan adanya.
Tindakan dari pengemis tua ini sama sekali diluar dugaan Han Siong Kie, membuat sianak muda itu tercengang, bukankah kakak angkatnya dengan jelas mengetahui kalau kepandaian silat bukan tandingan Tengkorak maut ? bahkan belum lama berselang hampir saja jiwanya melayang ditangan gembong iblis itu, sekarang kenapa ia tidak pergi? maksud tujuan apa yang terkandung dalam hatinya? Tanpa berpaling kembali Tengkorak maut berseru:
"Hey pengemis tua yang tak tahu diri, rupanya engkau sudah bosan hidup dikolong langit?"
Pengemis dari selatan tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeeeh heeeehh heeeehhh poocu, apakah engkau hendak turun tangan terhadapapku pengemis tua?"
"Tentu saja, seandainya engkau masih juga tak tahu diri "
"Bagaimana sih baru bisa dikatakan tahu diri?"
"Sekarang sudah tak sempat lagi, engkau telah ditakdirkan untuk mampus ditanganku"
"Poocu apakah engkau sudah lupa dengan janjimu terhadap sutay cou perkumpulan kami Song Tiat koay?"
"Heeeehh heehhh heeehhh pengemis busuk, lebih baik jangan bermain setan dihadapanku "
Mendengar jawaban tersebut, tiba2 Pengemis dari selatan membentak keras:
"Bangsat kurang ajar, berani benar engkau menyaru sebagai tengkorak maut untuk meracuni dunia persilatan-"
Han Siong Kie sangat terperanjat mendengar seruan itu.
"Tengkorak maut ini adalah tengkeorak maut gadungan?" pikirnya dihati,
“berdasarkan alasan apa engkoh tua mengatakan Tengkorak maut ini adalah tengkorak maut gadungan?" setelah termenung sebentar, sianak muda itu berpikir lebih jauh:
"Aaah benar, persoalannya pasti terletak pada kata2 yang tercantum dalam janji antara sutay cou perkumpulannya Song Tiat koay dengan pemilik benteng maut dan Tengkorak maut yang hadir didepan mata pada saat ini sama sekali tak tahu akan persoalan itu"
Sementara ia masih termenung, bayangan hijau berkelebat lewat didepan matanya, dengan suatu jangkauan buas tahu2 Tengkorak maut itu sudah berdiri kurang lebih beberapa tombak dihadapan Pengemis dari selatan.
Menyaksikan datangnya terjangan tersebut, tanpa sadar pengemis dari selatan merasakan badannya merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, dengan cepat ia mundur beberapa langkah kebelakang.
Han Siong Kie tak ingin menyaksikan engkoh tuanya terancam bahaya, buru2 ia enjotkan badan dan ikut meluncur kedepan, dengan suatu gerakan yang manis ia rebut posisi disamping Tengkorak maut tersebut.
Dengan suara yang dingin menyeramkan Tengkorak maut mendengus dingin, serunya:
"Hei pengemis tua, engkau hendak selesaikan dirimu sendiri ataukah aku yang harus turun tangan untukmu?"
Pengemis dari selatan kembali mundur selangkah kebelakang, hardiknya lantang:
"Tengkorak maut engkau telah membunuh anak murid perkumpulan kami dalam kuil Bu hoo ditepi pantai pek swi tan, kemudian membinasakan pula pangcu kami yang baru dikuil sian kong bio."
"Tutup mulut, aku mau tanya kepadamu, engkau hendak turun tangan sendiri ataukah aku yang harus turun tangan bagimu??"
Pengemis dari selatan tertawa seram tiada hentinya. "Heeehhh heeeehh hheeehh Tengkorak maut, hari kiamatmu telah tiba"
Tengkorak maut mendengus penuh kegusaran, sepasang telapaknya diayun keatas dan telapaknya segera didorong ke arah luar.
Han Siong Kie merasakan hatinya tercekat, ia dapat membuktikan sekarang kalau Tengkorak maut yang hadir dihadapannya saat ini adalah Tengkorak maut gadungan, tapi berdasarkan apakah engkoh tuanya menuduh kalau tengkorak maut yang sedang dihadapinya saat ini adalah Tengkorak maut gadungan?
"Aah benar" pikir pemuda itu kemudian "pastilah bangsat tua ini tidak dapat menjawab pertanyaan yang dia ajukan tadi"
Rupanya semaktu Tengkorak maut memutar telapak tangannnya kearah depan itulah Han Siong Kie dapat melihat bahwa sepasang telapak musuhnya ini walaupun satu hitam yang lain putih namun sedikitpun tidak bercahaya, sebaliknya dia masih ingat pemilik benteng maut yang asli mempunyai telapak kiri yang hitam pekat dan bercahaya tajam, sedangkan telapak kanan berwarna putih bagaikan pualam.
Pengemis dari selatan mengalihkan sorot matanya kearah luar dan menyapu kesana kemari dengan hati gelisah, rupanya ia sedang menunggu datangnya bala bantuan-
Tiba2 Han Siong Kie membentak keras: "..Hey harap. tunggu sebentar"
"Bocah keparat, engkau tak usah gelisah lebih dahulu" seru Tengkorak maut tanpa berpaling barang sedikitpun jua, "aku akan mengantar keberangkatan pengemis tua ini lebilh dahulu.. "
Sambil berkata sepasang telapaknya digetarkan keras2.
Pengemis dari selatan ayunkan telapaknya, tiba2 ia temukan kalau tenaga dalam yang dimilikinya tak dapat dihimpun kembali, kejadian ini amat mengejutkan hatinya membuat pengemis itu merasakan sukmanya serasa melayang tinggalkan raganya, dengan muka berubah jadi hijau membesi ia mundur tiga langkah kebelakang.
Tengkorak maut berpekik nyaring, sepasang telapak ditarik dan didorong kearah depan, dua gulung angin pukulan yang amat panas dengan cepat menggulung kearah depan...
Paras muka Pengemis dari selatan berubah pucat pias, ia tak bisa bergerak kecuali menunggu saat kematian bagi diri sendiri
Disaat yang amat kritis dan amat berbahaya itulah mendadak dari arah samping menggulung lewat segulung angin pukulan yang maha dahsyat, begitu kerasnya pukulan itu membuat badan pengemis dari selatan terpental sejauh satu tombak lebih dari tempat semula dengan nyaris ia berhasil lolos dari gempuran Tengkorak maut yang maha dahsyat dan mengerikan itu.
Orang yang barusan melancarkan serangan bukan lain adalah Malaikat penyakitan ahli waris dari iblis diantara iblis.
Perbuatan malaikat penyakitan melancarkan serangan untuk menyelamatkan jiwanya ini, dengan cepat membuat pengemis dari selatan jadi tertegun dan tidak habis mengerti.
Dipihak lain dengan penuh kegusaran Tengkorak maut berpaling kearah Han Siong Kie lalun bentaknya:
"Malaikat penyakitan, kalau engkau pingin mampus janganlah bertindak terlalu terburu nafsu"
Dari ucapan ini Han Siong Kie semakin dapat tarik kesimpulan kalau tengkorak maut yang sedang dihadapinya saat ini bukanlah Tengkorak maut yang asli, tapi pemuda itu belum merasa yakin seratus prosen, ia ada maksud untuk mencoba sekali lagi sebelum ambil keputusan.
Sambil tertawa dingin segera serunya kembali:
"Tengkorak maut kemarin malam pukulanmu telah kutukar dengan sebuah totokan jari, secara beruntung kita bisa bertarung dalam keaadaan seimbang, beranikah engkau sambut tiga buah totokan jariku lagi??"
Mendengar seruan tersebut, Tengkorak maut tergetar mundur tiga langkah lebar kebelakang, mukanya tertegun dan tak tahu apa yang musti dijawabi
Apa yang diucapkan Han Siong Kie barusan tidak lebih hanya pembicaraan kosong belaka, tujuannya adalah untuk menyelidiki apakah pihak lawan benar-benar Tengkorak maut yang asli atau bukan, dari sikap yang diperlihatkan pihak lawan, Han Siong Kie pun dapat memastikan kalau pihak lawan adalah Tengkorak Maut gadungan-Tak kuasa lagi ia tertawa ter-bahak2, serunya:
"Haah..haahh..haahh.. saudara, kepandaianmu untuk menyaru sebagai Pemilik benteng maut masih selisih jauh sekali"
Napsu membunuh yang tebal seketika memencarkan keluar dari balik lubang mata di atas kain cadar Tengkorak maut, sambil menyeringai seram ia berseru: "Bocah keparat, ini hari saat kematianmu sudah tiba"
Sepasang telapak direntangkan kesamping dan pukulan dahsyatpun segera siap dilepaskan-..
Han Siong Kie tak berani memandang rendah pihak lawannya, dengan cepat ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi gempuran lawan.
Pada saat telapak tangannya sedang diangkat ketengah udara itulah, mendadak Tengkorak maut berkelebat kearah depan, sepasang telapaknya bukan menyerang kearah si anak muda itu sebaliknya malah menyerang Pengemis dari selatan yang berada disamping.
Tindakan ini sama sekali berada diluar dugaan Han Siong Kie, untuk menolong sudah tak sempat lagi, ia hanya bisa berdiri menjublak sambil memandang dengan mulut melongo.
Pengemis dari selatan sendiripun tak pernah menduga kalau pihak lawan bakal menggunakan akal selicik itu, sementara ia masih terperangah, angin pukulan telah menerjang tiba dengan hebatnya.
Ditengah dengusan ngeri karena kesakitan, tubuhnya terpental sejauh satu tombak lebih dari tempat semula, untung tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna sehingga pukulan tersebut tidak sampai merenggut jiwanya.
Setelah roboh terkapar diatis tanah, dengan cepat ia loncat bangun, titik darah kental mengalir keluar dengan derasnya dari ujung bibir menodai jenggotnya yang berwarna putih.
Han Siong Kie benar2 dibuat sangat gusar sekali, tangan kanannya diayun kedepan melepaskan sebuah totokan jari dengan ilmu Tong kim ci yang dilatih dan diselidiki selama hampir empat puluh tahun lamanya oleh iblis diantara iblis itu.
Lima gulung desiran angin tajam disertai desingan yang amat memekikan telinga, secepat sambaran kilat menerjang kedepan-
Begitu merasakan keanehan dibalik desiran angin tajam itu, buru2 tengkorak maut menghindar kesamting namun gerakan itu agak terlambat satu tindak.
Segulung desiran angin tajam langsung menghajar lengannya sehingga berlobang, dengan sempoyongan tubuhnya tergetar mundur tiga langkah kebelakang. jubahnya basah oleh darah segar.
Dengan cepat gembong iblis itu menutup jalan darahnya dan menghentikan aliran darah, sambil tertawa seram serunya:
"Bocah keparat, engkau jangan terkebur lebih dahulu, lihatlah aku akan cabut jiwa anjingmu"
Sembari berkata sepasang telapaknya disentak keluar melepaskan pukulan2 gencar.
sewaktu masih berada dalam benteng mautt tempo hari, dalam gerakan serangan semacam inilah Han Siong Kie kehilangan tenaganya, sekarang setelah menyaksikan pihak lawan menggunakan pula kepandaian seperti itu ia jadi amat terperanjat.
Hawa murninya dengan cepat dikerahkan menembusi seluruh bagian badan namun ia merasa jalan darahnya seakan akan tersumbat oleh sesuatu benda hingga tenaga dalamnya sama sekali tak dapat dikerahkan lagi.
Rasa terperanjat yang dialaminya kali ini benar-benar luar biasa sekali dan sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia tak mengira kalau kepandaian silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan telah mencapai tingkat yang begitu tinggi, bahkan aliran kepandaian Tengkorak maut yang asli ...
Dalam cemas bercampur mendongkol, sekali lagi ia himpun segenap kekuatan yang di milikinya, kali ini ia berhasil menembusi jalan darahnya yang tersumbat dan hawa murni pun segera menghimpun jadi satu.
"Syukur aku dapat menghimpun kembali tenagaku" pikirnya didalam hati, " rupanya tenaga dalam yang dimiliki Tengkorak maut gadungan masih selisih jauh sekali kalau dibandingkan dengan kepandaian dari Tengkorak maut yang asli.."
Han Siong Kie mengenakan topeng kulit manusia diatas wajahnya, hal ini membuat paras mukanya tetap kaku dan sama sekali tidak mengalami perubahan, begitu Tengkorak maut gadunganpun tak dapat menyelidiki perubahan sikapnya sehabis mengeluarkan kepandaian aneh itu..
Untuk beberapa saat lamammya ia jadi terperangah, gembong iblis itu tak dapat menebak apakah kepandaiannya telah mendatangkan hasil atau tidak..
Dikala ia masih terperangah itulah Han Siong Kie berhasil menghimpun kembali seluruh kekuatan tubuhnya, bila ia lancarkan serangan kilat dalam keadaan begini, niscaya sianak muda itu bakal mati atau paling sedikit terluka parah.
setelah tertegun beberapa saat lamanya, Tengkorak maut menggetarkan sepasang telapaknya kearah depan. dua gulung angin pukulan berhawa panas dan hawa dingin dengan dahsyatnya meluncur kedepan.
Han Siong Kie segera silangkan telapaknya dan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras...
"Blaamm" ditengah benturan yang amat dahsyat, kedua belah pihak sama2 terdorong mundur sejauh satu langkah lebar kearah belakang.
Tengkorak maut menb entak keras, ia menerjang maju kedepan, secara beruntun iblis itu melancarkan delapan jurus serangan dahsyat yang semuanya menggunakan jurus2 yang aneh dan tenaga pukulan yang mengerikan hati..
Dibawah desakan dan serangan gencar pihak musuh, Han Siong Kie keteter hebat sehingga harus mundur delapan langkah dari tempat semula.
Begitu delapan jurus serangan itu sudah berlalu, Han Siong Kie tak mau berdiam diri belaka, ia segera mengembangkun jurus2 serangan dari ilmu telapak Mo mo cianghoat untuk melancarkan serangan balasan- suatu pertarungan yang amat seru dan ramai pun segera berlangsung dengan hebatnya.
Dalam sekejap mata suara bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, deruan angin pukulan menggulung diempat penjuru membuat pasir dan debu beterbangan diangkasa..
Seperminum teh kemudian, Han Siong Kie mulai terdesak dibawah angin, ia keteter hebat.
Meskipun ia telah mengembangkan permainan ilmu jari Tong kim ci yang diyakininya, tapi pihak lawanpun telah mengadakan persiapan babkan kepandaian silat yang dipergunakan kian lama kian bertambah hebat hingga memaksa sianak muda itu sama sekali tak dapat berkutik.
Dua puluh jurus kembali sudah lewat, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuh Han Siong Kie, ia mulai terjerumus dalam posisi yang sangat berbahaya.
Pengemis dari selatan yang berada disisi kalangan meskipun pernah menerima budi pertolongan dari Han Siong Kie, namun dalam keadaan begini ia sama sekali tak bertenaga untuk memberi pertolongan, pengemis tua itu hanya dapat mengikuti jalannya pertempuran dengan hati amat gelisah.
Kini, Han Siong Kie sudah didesak hingga terpaksa harus mengubah taktik penyerangannya jadi posisi bertahan, kemudian ia sudah kerahkan segenap kesaktian jurus Mo-mo ciang hoat dalam bagian bertahan, namun ia masih tetap gagal untuk menutup rapat seluruh pertahanan tubuhnya secara sempurna.
Pemuda itu dapat menyadari bahwa tenaga dalam yang dimiliki Tengkorak maut ternyata jauh lebih tinggi satu kali lipat jika dibandingkan dengan Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing.
Ditengah suatu bentakan keras, tiba2 terdengar seseorang mendengus berat.
Han Siong Kie kena dihajar dadanya secara telak hingga tubuhnya mundur delapan depa kebelakang, hampir saja ia muntahkan darah segar.
Tengkorak maut bersuit nyaring, sekali lagi tubuhnya menerjang maju kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat ibarat tindihan sebuah bukit Tay-san langsung menggulung kearah tubuhnya dengan amat hebat dan dahsyat.
Han Siong Kie menggigit bibir kencang2, dia himpun segenap kekuataa yang dimilikinya untuk menangkis datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Benturan dahsyat yang amat memekikan telinga bergelegar ditengah udara, Han Siong Kie sambil memuntahkan darah segar segera roboh tarkapar keatas tanah.
Tengkorak maut tertawa seram, dengan suatu sambaran kilat yang amat dahsyat ia cengkeram kearah pinggang Han Siong Kie, rupanya tujuan dari penyerangan itu bukan lain adalah untuk merebut kitab pusaka Hud jiu Poo pit itu.
Mendadak....serentetan bentakan nyaring berkumandang datang dari kejauhan-"Tengkorak maut engkau berani melukai orang?"
Segulung desiran angin tajam yang amat aneh tahu2 meluncur kedepan dan menyapu kesekeliling gelanggang.
Han Siong Kie seketika itu juga merasakan pinggangnya jadi kencang dan kitab pusaka Hud jiu Poo pit itupun sudah berpindah tangan dari sakunya kedalam genggaman Tengkorak maut.
Pada saat yang bersamaan pula Tengkorak maut meluncur kebelakang dan mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula.
Gulungan angin aneh itu tidak berhenti sampai disitu saja, tubuh Han Siong Kie kena digulung sejauh satu tombak lebih dari tempat semula, tak tahan sianak muda itu kembali muntahkan darah segar dari ujung bibirnya.
Dalampada itu ditengah gelanggang telah bertambah dengan seorang dara muda yang berwajah sangat cantik.
Terdengar pengemis dari selatan dengan napas ter-engah2 berseru nyaring:
"Nona, kedatanganmu terlambat satu tindak, dimanakah kakekmu? kenapa tidak kelihatan?"
Dengan perasaan minta maaf gadis cantik itu melirik sekejap kearah pengemis dari selatan, kemudian jawabnya:
"Karena ada urusan yang sangat penting, kakekku tak dapat datang sendiri kemari, karena itu beliau memerintahkan siau titli untuk mewakili dirinya datang kesini"
Bicara sampai disitu, gadis cantik itu kembali putar telapaknya satu lingkaran dengan gerakan yang sangat aneh, segulung angin berpusing yang sangat aneh segera menerjang kearah Tengkorak maut.
Menyaksikan datangnya ancaman itu, gembong iblis tersebut dengan cepat menyingkir kesamping, setelah melotot sekejap kearah gadis cantik itu dengan pandangan penuh kebencian, ia mendengarkan suara pekikan panjang yang menyeramkan, sekali enjot badan sambil menyambar kepala tengkorak berwarna merah derah itu secepat kilat ia kabur dari tempat itu.
Gerakan tubuhnya benar2 cepat sekali sehingga sukar dilukiskan dengan kata2.
Sambil menggigit bibir Han Siong Kie bangkit berdiri dari atas tanah, tetapi setelah menyaksikan keadaan disekitarnya ia nampak terperangah dan sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Ternyata gadis muda yang baru saja menyelamatkan jiwanya bukan lain adalah Go Siau Bi yang pernah ditolong olehnya dan hampir saja menikah dengan dirinya atas praksasa dari orang yang kehilangan sukma.
Ia tahu sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Go siau Bi, sungguh tak disangka olehnya hanya terpisah selama beberapa hari saja ternyata ia telah berubah jadi seorang yang lain . Lalu siapakah kakeknya?
Kenapa Tengkorak maut melarikan diri setelah bertemu dengan gadis cantik ini?
Pemuda itu sadar, andai kata GO Siau Bi tidak datang tepat pada saatnya, Tengkorak maut gadungan tak nanti akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, bahkan Pengemis dari selatanpun akan mengalami nasib yang sama pula.
Karena itu dari temgat kejauhan ia segera menjura kearah Go siau Bi sambil berseru: "Nona, kuucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang kau berikan kepadaku."
Go siau Bi tertawa tawa.
"Siauhiap tak usah berterima kasih kepadaku, sebab akupun pernah menerima budi kebaikan darimu"
Tentu saja gadis cantik ini mimpipun tidak menyangka kalau pemuda berwajah penyakitan yang berada dihadapannya sekarang, bukan lain adalah pujaan hatinya "Manusia berwajah dingin Han Siong Kie" adanya, tapi sianak muda itu mengetahui dengan cepat bahwa ia telah berhutang budi kepada dara tersebut. sekali lagi Go siau Bi berkata dengan lembut:
"Luka yang sauhiap derita cukup parah, terimalah obat penyembuh dari kakek yang amat mujarab ini agar engkau cepat sehat kembali ...."
Han Siong Kie tertawa angkuh, dengan nada amat dingin ia menukas perkataan lawannya: "Maksud baik nona biarlah kuterima di dalam hati saja, luka sekecil ini masih bukan suatu persoalan bagiku"
Go Siau Bi tidak banyak bicara lagi, ia segera berpaling kearah pengemis dari selatan sambil berseru:
"Locianpwee, siau li ingin mohon diri lebih dahulu"
Seraya berkata ia memberi hormat, kemudian kepada Han Siong Kie dia berseru pula. "Selamat tinggal"
Sekali enjot badan tubuhnya segera melesat dari sana dan lenyap dibalik pepohonan, kecepatan gerakan tubuhnya begitu luar biasa sehingga tak kalah hebatnya dengan Tengkorak maut gadungan.
Memandang hingga bayangan punggungnya lenyap dari pandangan, diam2 Han Siong Kie merasakan hatinya kesal, tanpa sadar ia menghela napas panjang.
Sementara itu sepeninggal Go siau Bi, pengemis dari selatan kembali berpaling ke arah Han Siong Kie sambil berkata:
"Hey bocah muda, jembatan tetap jembatan, jalan raya tetap jalan raya, meskipun
engkau telah melepaskan budi pertolongan kepadaku yang tak akan kulupakan untuk selamanya, tapi aku masih letap akan menagih hutang piutang antara gurumu dengan perkumpulan kami di masa yang silam !"
Has Siong Kie tidak langsung menjawab, sebaliknya hanya berpikir dalam hatinya:
“..Kalau aku sampai unjukkan paras asliku dalam keadaan demikian tak mungkin engkoh tuaku akan mengesampingkan urusan perkumpulan karena hubungannya dengan aku sudah tentu akupun tak dapat berdiam diri belaka terhadap urusan dari suhu. Sekarang persoalan yang paling penting adalah apa sebabnya suhu melakukan pembantaian dimasa silam ? perbuatan itu dilakukan karena desakan dari kemauan sendiri ataukah karena ada alasan tertentu ?"
Setelah berpikir lebih jauh, ia merasa persoalan ini baru dapat dibikin jelas seandainya telah bertemu dengan gurunya nanti apalagi usia gurunya tinggal beberapa hari saja. niscaya hutang piutang itu akhirnya akan jatuh keatas pundaknya.
Berpikir sampai disitu, ia merasa lebih baik untuk menyimpan rabasia ini untuk sementara wsktu, sembari menjura katanya:
“Locianpwee, bagaimana kalau kita tetap dengan pembicaraan semula, selewatnya hari ini aku pasti akan berkunjung sendiri ke perkumpulan anda untuk memberi pertanggungan jawab?”
"Engkau akan datang sendiri untuk memberikan pertanggungan jawab?" tegur Pengemis dari selatan dangan alis mata melentik.
"Ucapanmu tepat sekali!"
“Siapa yang berhutang dialah yang harus membayar, sekalipun murid barus menanggung hasil perbuatan dari gurunya, tapi bagaimanapun juga,. .”
“Tentang soal ini dikemudian hari aku pasti akan memberi penjelasan yaig seterang2 nya.”
“Baik. kita tentukan begitu saja, untuk kali ini aku bersedia untuk msmpercayai perkataanmu.”
Dalam hati kecil Han Siong Kie terdapat banyak masalah rumit yang mencurigakan hatinya, namun dalam keadaan demikian ia merasa tak leluasa buka mulut, setelah ter-menung dan berpikir beberapa saat lamanya kemudian sambil keraskan kepala la berkata:
"Locianpwee, kalau kita kesampingkan masalah dendam atau sakit hati antara perguruan, apakah engkau bersedia untuk menjawab beberapa buah pertanyaanku?"
Pengemis dari selatan termenung dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya: "coba katakanlah "
"Kedatangan locianpwee pada saat ini adalah khusus untuk mencari satroni dengan diriku, ataukah karena Tengkorak gadungan tersebut?"
"Bocah muda, aku pengemis tua mendapat laporan dari anak buahku tentang kehadiran-mu disini, karena itu maksud tujuan dari kedatanganku adalah untuk mencari engkau"
"Apakah locianpwee tahu kalau tengkorak maut gadungan bakal munculkan diri?"
"Tidak, peristiwa ini sama sekali diluar dugaanku "
-ooooooo-
BAB 32
"KALAU peristiwa ini memang sama sekali berada diluar dugaanmu, apa sebabnya ketika locianpwee sedang diancam oleh Tengkorak maut gadungan tadi, aku lihat se-akan2 engkau sedang menantikan kedatangan seseorang?" desak Han Siong Kie lebih jauh.
"Bocah muda, ketajaman matamu benar2 luar biasa sekali, aku pengemis tua memang sedang menantikan kemunculan seseorang?"
"Siapakah orang itu??"
"Put-lo sianseng."
"Apa? Put lo sianseng...?" tanya Han Siong Kie dengan perasaan bergetar keras.
"Perkataanmu tak keliru, apakah engkau pernah mendengar dari jago persilatan ini."
"Dua hari berselang, secara kebetulan aku pernah berjumpa satu kali dengan dirinya..."
"Oooh kiranya begitu"
"Locianpwee" ujar Han Siong Kie lagi setelah termenung beberapa saat lamanya. "Darimana engkau bisa mengatakan jika tengkorak maut tersebut adalah tengkorak maut gadungan?"
"Tentang soal ini..suatu kali aku pengemis tua serta sahabat karibku padri dari utara hampir saja menemui ajalnya ditangan iblis tersebut, kemudian susiokku Seng tat koay tiba2 munculkan diri dan membuat ia jadi kaget hingga kabur, waktu itu aku sudah curiga kalau dia adalah manusia gadungan, sebab kalau pemilik benteng maut pribadi yang kami hadapi, tak mungkin dia bakalan kabur sebelum bertempur, setelah peristswa itu paman guruku berkunjung sendiri kebenteng maut untuk bikin terang duduknya persoalan, dan dari perkataanku tadi yang sengaja kuutarakan keluar ternyata bangsat itu memperlihatkan asalnya..".
Tiba2 Han Siong Kie teringat kembali akan song Tiat-koay sewaktu ia menanyakan soal Tengkorak maut kepadanya tempo hari, ia tertawa tergelak sambil berlalu, katanya selama ini dia tak akan munculkan diri kembali dalam dunia persilatan dan keadaan tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwasanya pengemis itu sudah menderita kerugian besar didalam benteng maut, tentu saja perkataan semacam ini tidak sampai diutarakan keluar pada saat ini.
Pokok pembicaraanpun segera dialihkan kemasalah lain, katanya.
"Mengapa Tengkorak maut gadungan melarikan diri ter-birit2 setelah kemunculan nona Go siau Bi tadi ?"
"Mungkin ia agak jeri terhadap nama besar kakeknya"
"Siapa sih kakeknya?"
"Put-loo sianseng"
"Oooh kiranya begitu.."
Sekarang Han Siong Kie baru tahu apa sebabnya dalam beberapa hari yang amat singkat Go siau Bi telah berubah jadi seseorang yang lain, bahkan tenaga dalamnya peroleh kemajuan yang sangat pesat, tak tahunya dia adalah cucu perempuan dari Put loo sianseng, manusia sakti dari dunia persilatan-
Sementara sianak muda itu masih termenung, pengemis dari selatan telah bertanya kembali:
"Bocah muda, apakah engkau masih ada pertanyaan lain yang hendak kau ajukan kepadaku?" "
sebenarnya Han Siong Kie hendak minta bantuan dari engkoh tuanya tni untuk menurunkan perintah kepada anak buahnya dan bantu dia untuk menemukan jejak Tonghong Hui, tapi setelah teringat bahwa saat itu dia muncul dengan muka lain dan tak mungkin baginya untuk buka suara, terpaksa ia cuma berkata:
"Terima kasih banyak atas petunjuk dari locianpwee, selamat berpisah dan sampai jumpa lagi dilain waktu"
"Jangan lupa, ada pengemis tua selalu menantikan kabar berita dari kalian guru dan murid" seru Pengemis dari selatan menegaskan.
"Aku tak akan mengingkari janji, beberapa hari kemudian aku pasti sudah berkunjung kemarkas besar kalian"
Selesai berkata, ia enjotkan badan meluncur keluar dari hutan dan melayang kearah jalan raya.
Sekarang perasaan hatinya bertambah berat, ia merasa se akan2 telah memikul beberapa beban yang lebih berat lagi.
Musuh besar gurunya tersebar dimana-mana bagaimanakah caranya untuk menyelesaikan semua pertikaian itu dikemudian hari??
Manusia macam apakah Tengkorak maut gadungan itu? kenapa ia hendak mencatut dari nama Tengkorak maut? dengan kedudukan dan kepandaian silat yang dimiliki Pemilik Benteng maut, apa sebabnya ia hanya berpeluk tangan belaka tanpa ada maksud untuk membikin terang duduknya persoalan? apa lagi aliran ilmu silat yang mereka miliki rupanya berasal dari satu sumber yang sama ....
Setelah kemunculan tengkorak maut gadungan, lalu musuh besar pembunuh keluarganya adalah Tengkorak maut yang asli ataukah tengkorak maut gadungan??
Kitab pusaka Hud jin Poo pit sudah dirampas oleh Tengkorak maut gadungan untuk merebutnya kembali jelas merupakan suatu pekerjaan yang amat sulit..
Teringat akan kitab pusaka hud jiu Poo pit itu, perasaan hatinya jadi murung bercampur sedih, sebab andaikata pusaka itu tak dapat direbut kembali maka ia tak akan berhasil melatih kepandaian silat yang lihay, itu berarti pula semua harapannya akan musnah bagaikan asap yang menguap, karena baik terhadap Tengkorak maut asli maupun terhadap Tengkorak maut gadungan, ia masih bukan tandingannya semua. Makin berpikir ia merasa makin murung, dan kacau pikirannya.
Akhirnya ia ambil keputusan untuk segera kembali dulu untuk menjumpai gurunya, dalam hati ia berdoa dan berharap agar dalam beberapa hari belakangan ini gurunya tidak sampai mengalami kejadian yang sama sekali diluar dugaan.
Siang malam tak hentinya ia melakukan perjalanan cepat, ketika fajar baru menyingsing menjelang hari ketiga, akhirnya sampailah pemuda itu ditengah hutan dimana Iblis diantara iblis berdiam.
Batu besar yang menyumbat mulut gua itu masih tetap berada ditempat semula, sedikit banyak pemuda itu merasa hatinya agak lega...
Tapi ingatan lain kembali berkelebat dalam benaknya membuat ia jadi ragu2 untuk mendorong batu besar itu kesamping, sebab perjalanannya kebenteng maut kali ini hanya membawa kekecewaan belaka, gurunya sudah empat puluh tahun berlatih diri hingga badannya cacad dan jiwanya terancam maut akibat tenaga dalamnya telah disalurkan kedalam tubuhnya, apa yang diharapkan hanya mendengar hasil laporan dari mulutnya, apakah ia tega membuat orang tua itu merasa kecewa ? membuat dia menyesal untuk selamanya?
Keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, jantung mulai berdebar dengan kerasnya, ia tak dapat ambil keputusan bagaimana caranya untuk mengatasi persoalan ini ?
sesudah termangu-mangu beberapa saat lamanya, pemuda itupun mantapkan hati dan segera menggeser hatu cadas tersebut dan masuk keruang bawah tanah.
"Siapa?" teguran yang lirih, lemah dan sama sekali tak bertenaga berkumandang dari balik ruang gua.
Han Siong Kie meras akan hatinya jadi kecut dan sedih sekali, buru2 jawabnya: "Suhu, tecu telah kembali"
Sambil menjawab pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya masuk kedalam ruangan, ia lihat gurunya Ibiis diantara iblis sedang bersandar diatas dinding gua dengan badan yang lemas tak bertenaga, sepasang matanya yang sayu dan tak bersinar terbelalak lebar2, pancaran mukanya penuh mengandung perasaan pengharapan.
Han Siong Kie segera memburu maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan gurunya.
"Nak, bagaimana dengan hasil perjalananmu kali ini?" tanya iblis diantara iblis dengan suara lemah.
Han Siong Kiem merasakan jantungnya berdebar keras dan perasaan hatinya tercekat. "suhu.."
Otot2 hijau pada menonjol keluar dari atas wajah iblis diantara iblis, ia segera mencengkeram bahu Han Siong Kie dan menggoncangkannya keras2 sambil berseru: "Bagaimana hasilnya? ayoh cepat jawab"
"Seperti apa yang suhu titahkan, tecu telah masuk kedalam benteng maut dan menantang Tengkorak maut untuk berduel."
"Cepat katakan bagaimana akhir pertarungan itu? ilmu jari Tong kim ci ilmu Tong kim-ci bagaimana hasilnya??"
"Ketika tecu mengeluarkan ilmu jari Tong kim ci, tubuh pihak lawan segera bergetar keras dan mendengus berat, rupanya ia sudah menderita luka."
"Haaah haaahh hhaaahhh ia terluka ? coba ulangi sekali lagi "
"Ia sudah terluka, cuma ...."
"Cukup anakku cukup, ia sudah terluka haaahh haaahhh hhaaaahhhh"
sambil tertawa keras bagaikan orang kalap Mo tiong ci mo iblis diantara iblis bersandar kembali keatas dinding gua, paras mukanya kian lama kian berubah hebat.
Kata2 selanjutnya tak mampu diutarakan keluar oleh Han Siong Kie, ia tak tega menyaksikan kakek tua itu mati dengan menanggung kecewa, dalam keadaan begini ia harus membohongi dirinya dan pemuda itupun tidak melanjutlan kembali kata2nya.
"Benar suhu" sahutnya dengan kaku.
"Dan.. pemilik benteng maut telah terluka oleh totokan ilmu jari Tong kim ci ku..."
Napas iblis diantara iblis mulai memburu dengan cepatnya, kabut putih mulai menyelimuti biji matanya.
Menyaksikan keadaan itu Han Siong Kie jadi amat terperanjat, tak tertahan lagi ia menjerit keras: "suhu. suhu.. kau..."
"Aku..aku.. aku merasa sangat puas" gumam iblis diantara iblis bagaikan orang mengigau.
Kepalanya miring kesamping, matanya tertutup rapat dan kakek tua yang pernah menggetarkan sungai telaga ini menghembuskan napasnya yang penghabisan-
Han Siong Kie tak dapat menahan rasa pedihnya lagi, ia menangis ter sedu2, meskipun hubungan mereka sebagai guru dan murid belum berlangsung lama, tapi apa yang dilimpahkan iblis diantara lbiis kepadanya sudah cukup untuk membekali masa hidup selanjutnya..
Lama... lama sekali ia baru berhenti menangis, sambil berlutut dan menyembah layon gurunya ia berbisik:
"Oooh suhu, tecu telah membohongi engkau orang tua, harap engkau suka memafkan kesalahanku ini, tapi tecu berjanji, suatu hari tecu pasti akan benar2 mengalahkan pemilik benteng maut untuk menghibur arwah suhu dialam baka" Selesai berdoa pemuda itu bangkit berdiri.
Mendadak.. ia temukan disamping jenasah gurunya tergeletak sejilid kitab kecil di atas kitab kecil itu terletak sebuah tanda pengenal sebesar setengah telapak yang terbuat dari perak, karena sinar yang gemeriapan dengan perasaan keheranan pemuda itu segera pungut benda itu dari tanah.
Pada permukaan tanda pengenal itu terukiriah seraut wajah setan yang bermuka bengis, tapi karena aus dimakan waktu pinggiran serta garis ukiran muka setan itu sudah banyak yang samar dan rusak.
Ketika ia membalik tanda pengenal itu ke permukaan yang lain, tiba2 saja serentetan cahaya yang amat menyilaukan mata memancar keempat penjuru dan menerangi seluruh bagian dari ruangan itu.
Han Siong Kie merasa amat terperanjat ketika diamati lebih seksama maka ditemuilah di tengah permukaan tanda pengenal terpancang sebutir mutiara sebesar buah kelengkeng, disekitar mutiara terukir beberapa huruf yang berbunyi: "Tanda pengenal mutiara setan bengis benda mestika dari istana"
Dengan perasaan tak habis mengerti Han Siong Kie gelengkan kepalanya berulang kali, tanda pengenal mutiara setan bengis sudah pasti adalah nama dari tanda pengenal itu, tapi apa maksud dari kata yang berbunyi benda mustika dari istana, istana apa yang dimaksudkan .... ? istana kaisar ? istana raja muda... Kenapa suhunya menyimpan benda seperti ini?
Dengan perasaan keheranan ia ambil kitab kecil itu dan dibaca, pada halaman pertama terteralah huruf yang berbunyi: "Kitab Catatan budi dan dendam dari Mo mo Cungcu"
Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras, kitab tersebut sudah pasti tercantum rahasia hidup dari gurunya, ia numpuk benda itu bersamaan dengan tanda pengenal mutiara setan bengis, itu berarti gurunya mengandung maksud yang sangat dalam, ia sebagai ahli warisnya sudah menjadi kewajiban untuk memikul semua resiko dan tanggung jawab atas budi dan dendam suhunya selama masih hidup dan sekarang benda tersebut di letakkan disitu, itu berarti gurunya memang sengaja meninggalkannya untuk dia lihat..
Berpikir sampai disitu, pemuda itu mulai membalikkan lembaran berikutnya, terbaca olehnya kitab itu penuh berisikan tulisan2 kecil yang rumit dan rapat, warna merah yang menyiarkan bau amis tersiar keluar dari balik kitab itu, sebagai seorang pemuda yang cerdik, Han Siong Kie segera dapat menduga kalau tulisan itu tentulah ditulis oleh gurunya belum lama berselang dengan menggunakan darah badannya.
Ternyata apa yang diduga sedikitpun tak salah, terbaca olehnya tulisan itu berbunyi demikian.
"Tulisan ini ditujukan buat muridku.
Gurumu bukan lain adalah kaisar Tee kun angkatan ketiga belas dari istana Huan mo kiong yang berada diwilayah Thian lam ....."
Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar sangat keras, ia tak mengira kalau suhunya bukan lain adalah kaisar Tee kun angkatan ketiga belas dari istana Huan mo kiong, tak aneh kalau para pengawal istana Huan mo kiong segera kenali perguruannya dan menanyakan jejak dari gurunya setelah mengenali permainan ilmu telapaknya ....."
-0000000-
Jilid 16 : Istri yang ditinggalkan
KEMBALI pemuda itu melanjutkan pembacaannya atas surat tersebut.
"Empat puluh lima tahun berselang, aku masuk kedaratan Tionggoan tapi karena menderita kalah ditangan Pemilik benteng maut, maka aku tak pernah kembali lagi kewilayah Thian-lam, oleh sebab itu dengan surat ini kuperintahkan kepadamu untuk meneruskan jabatanku sebagai kaisar Tee kun angkatan ke empat belas dari istana Huan mo kiong.."
Han Siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras karena emosi yang sukar dilukiskan, suhu memerintahkan dirinya untuk meneruskan jabatannya sebagai kaisar istana Huan mo kiong, tapi.. belum lama berselang dari mulut para pengawal istana baju hijau ia sempat mendengar kalau istana Huan mo kiong telah mempunyai seorang ketua baru, dan rombongan pengawal itu sedang melaksanakan perintah dari kaisarnya untuk masuk daratan Tionggoan mencari hawa perawan gadis persilatan, dari sini dapatlah diduga bahwa selama puluhan tahun gurunya tak pernah kembali kewilayah Thian-lam, disitu telah terjadi banyak perubahan besar ....
Setelah berpikir sebentar, ia membaca lagi isi surat itu:
"Apa yang barusan kukatakan merupakan suatu perintah yang tak boleh dibantah, tanda pengenal mutiara setan bengis merupakan tanda kekuasaan dari perguruan, dan benda itu hanya dimiliki oleh seorang ketua perguruan belaka.”
Kembali Han Siong Kie merasakan hatinya terperangah, kalau toh untuk memimpin perguruan diwilayah Thian lam itu seorang ketua harus memiliki tanda pengenal mutiara setan bengis, lalu dengan tanda pengenal apakah kaisar Tee Kun yang berkuasa diistana huan mo kiong pada saat ini naik tahta?
Dengan penuh kebingungan ia gelengkan kepalanya berulang kali, kemudian lanjutkan kembali membaca isi surat itu.
"Tanda pengeral mutiara setan bengis merupakan tanda pengenal yang diwariskan cousu perguruan kami, barang siapa yang jadi anggota perguruan Thian lam harus berlutut bila bertemu dengan benda ini, barang siapa berani membangkang perintah ini berarti ia hendak melenyapkan perguruan dan menghina cousu, orang itu harus dihukum mati ."
Membaca sampai disini tak kuasa lagi Han Siong Kie menelan air ludahnya, ia membaca lebih jauh:
"Mutiara dibalik permukaan tanda pengenal ini merupakan mutiara yang amat tersohor dinegeri Persia, keistimewaannya jika disaluri hawa murni maka pantulan cahaya yang memancarkan keluar akan melumpuhkan kesadaran otak pihak lawan, tapi berhubung selama ini aku selalu mengandalkan kekuatanku untuk menghadapi lawan, maka keampuhan tersebut belum pernah kucoba.."
Dari perkataan ini, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa lblis diantara iblis adalah seorang manusia yang jujur dan pandekar sejati.
Tanpa sadar rasa hormat dan kagum Han Siong Kie terhadap gurunya semakin menebal satu tingkat.
Terbaca olehnya kata2 selanjutnya berbunyi demikian.
"Ingatlah baik2. dalam perguruan kita terdapat sejenis ilmu sesat yang bernama Tui bun kang, jika pukulan itu dilepaskan maka settap korban yang berada didaerab seluas lima lombak pasti akan mati konyol tanpa bisa ditolong. Tapi berhubung kepandaian ini barus dilatih dari gabungan hawa murni yang dilatih sendiri dengan sari perawan seratus orang gadis muda yang pernah belajar ilmu silatdan kekejian dari ilmu ini luar biasa sekali, maka cousu angkatan kedelapan telah menurunkan perintah untuk melarang setiap anggota perguruan untuk mempelajari kepandaiao ini, siapa berani melanggar harus mati,
Tulisan darah dari :Tong Ceng
Setelah membaca surat itu, Han Sion gKie baru mengerti apa maksud dan tujuan para pengawal istana Huan mo kiong dikirim ke daratan Tionggoan untuk menangkap gadis2 perawaD yang belajar silat.
Sebagai seorang ahli waris dari perguruan Thian-lam yang diperintahkan gurunya untuk meneruskan kedudukannya sebagai kaisar istana Huan mo-kiong sudah tentu Han Siong Kie tak ingin menyaksikan perbuatan yang melanggar peraturan perguruan itu di lakukan terus. selama itu pemuda itupun sadar andaikata kepandaian sesat semacam ini berhasil dilatih hingga sempurna niscaya banyak orang persilatan yang akan menemui ajalnya ditangan mereka.
Berpikir sampai disitu, sianak muda itu segera membatin kembali.
“Aku harus mengerahkan segenap kemampuan yang kumiliki untuk mencegah perbuatan yang tak kenal peri kemanusiaan ini berlangsung hingga ber-larut2, selain itu aku pun hendak menyelidiki dengan andalkan apakah kaisar yang sekarang menjabat kcdudukan sebagai seorang ciangbunjin.”
Dengan penuh rasa hormat berlututlah pemuda itu dihadapan jenasah gurunya. setelah menyembah dengan rasa sedih ia berbisik :
"Tecu bersumpah akan melaksanakan pesan terakbir dari suhu untuk membangun kembali perguruan Thian-lam dan membasmi kanm durjana dari tubuh perguruan!"
Maka ia berikan tubuh suhunya iblis di antara iblis tepat ditengah ruangan, pikirnya lagi.
"Liang tanah ini merupakan tempat yang paling pantas untuk mengubur jenasah suhu, bila mulut gua kututup kemudian kudirikan batu nisan, bukankah urusan sudah beres..?"
Setelah ambil keputusan dalam hati kecilnya, ia periksa kembali sekeliling liang tanah itu dengan seksama, setelah yakin kalau disitu tak ada benda yang berharga lagi, ia tatap raut wajah gurunya untuk terakhir kalinya, tak kuasa air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajahnya.
Beberapa waktu kemudian Han Siong Kie menyimpan tanda pengenal mutiara setan bengis itu kedalam sakunya, kemudian membuka kembali kitab catatan budi dan dendam dari Mo mo cungcu.
Pada halaman pertama berisikan catatan mengenai riwayat hidupnya serta semua perbuatan yang pernah dilakukan selama hidupnya.
Setelah memeriksa halaman pertama, tanpa terasa sorot mata yang tajam melotot keluar dari balik mata si anak muda itu, sekarang ia tak usah kuatir menghadapi orang-orang yang datang mencari balas dengan dirinya tapi terutama sekali terhadap engkoh tuanya pengemis dari selatan, sekarang ia dapat memberi pertanggungan jawab yang sebenarnya.
Apa yang diucapkan gurunya sama sekali tidak salah, semua orang yang dibunuh olehnya semasa masih hidup merupakan orang2 yang memang patut dibunuh, sebab mereka punya cukup alasan yang kuat untuk menerima kematiannya.
Selain itu pemuda itupan merasakan susahnya untuk membedakan mana yang benar, mana yang salah bagi umat persilatan, sebab dengan tingkah laku dari gurunya yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, ternyata diberi julukan sebagai Iblis diantara iblis, tindakan ini benar2 sangat tidak adil.
Setelah termenung beberapa waktu lamanya, pemuda itu baru merangkak keluar dari dalam liang dan menutup mulut gua tersebut dengan sebuah batu cadas yang amat besar, kemudian dengan ilmu jarinya ia mengukir beberapa huruf diatas batu besar itu.
“Disinilah Mo mo cuncu Tong Ceng kaisar angkatan ketiga belas dari istana Huan mo kiong dimakamkan”
Dibawah ukiran tersebut tercantum pula beberapa huruf yang berbunyi: "Didirikan oleh tecu Han Siong Kie"
Selesai mengukir tulisan tersebut, pemuda itu mengamati kembali tulisan tersebut beberapa saat kemudian baruputar badan siap meninggalkan tempat itu.
Tiba2 desiran angin tajam menyambar lewat dari kejauhan, tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur masuk kedalam hutan.
Diam2 Han Siong Kie merasa amat terperanjat, perlahan2 ia putar badan dan alihkan sorot matanya kearah mana berasalnya suara itu, tapi begitu meugetahui siapa yang telah datang, darah panas dalam dadanya kontan mendidih, hawa napsu membunuh yang sangat tebalpun menyelimuti seluruh wajahnya.
Ternyata orang yang barusan datang itu bukan lain adalah sau kaucu dari perkumpulan Thian Che kau serta dua orang kakak berbaju kuning..
Ia tatap kembali salah seorang diantara dua kakek baju kuning yang bermata tunggal itu bernama Koan thian san atau Malaikat pangaet langit Ci Chong, sebab ketika ia tertangkap dan hendak dijatuhkan hukuman mati tempo hari, orang ini bertindak sebagai salah seorang pengawas pelaksana hukuman diantara empat orang lainnya.
Dengan sorot mata yang tajam Han Siong Kie menyapu sekejap wajah tiga orong itu, kemudian pandangannya yang dingin dan ketus berhenti diatas wajah ketua muda dari perkumpulan Thian Che kau.
Dalam pada itu ketiga orang tersebut telah alihkan pula sorot matanya keatas batu nisan tersebut, sementara paras mukanya seketika berubab hebat, orang2 itu nampak begitu terkesiap dan kaget.
"Han Siong Kie... Han Siong Kie... Han Siong Kie." gumam ketua muda perkumpulan Thian che-kau tiada hentinya.
Tiba2 ia mundur satu langkah lebar kebelakang, sambil menuding kearah sianak muda itu serunya lebih jauh:
"Engkau adalah Malaikat penyakitan, ahli waris dari iblis diantara iblis??"
"Tebakanmu sangat tepat"
"Dan engkau juga bernama Han Siong Kie?"
"Ada apa??"
"Kenapa engkau punya nama marga yang sama dengan Manusia berwajah dingin??"
Han Siong Kie tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeeh heeehh heeeehh kalau namaku sama dengan nama dari manusia berwajah dingin, lantas engkau mau apa??"
Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau sudah terbiasa angkuh dan sombong, mendengar perkataan itu air mukanya kontan berubah jadi dingin menyeramkan, tegurnya: "Tahukah engkau tempat apakah ini? "
"Hutan belantara yang jauh dari keramaian kau anggap tempat apakah ini?"
"Hmm lima puluh li disekitar markas besar perkumpulan kami merupakan daerah terlarang, umat persilatan dari manapUn juga tidak diperkenankan menginjakkan kakinya ditempat ini secara sembarangan... mengerti? "
Dengan penuh penghinaan Han Siong Kie mendengus dingin. "Hmm seandainya aku berkeliaran disini, kalian mau apa?"
"Mau apa?? Huuh.. nyawamu akan kami renggut"
"Haahh..haahh. haahh.. anjing cilik, engkau benar2 seorang manusia yang tak tahu diri, kematian sih sudah berada diambang pintu namun masih belum merasa"
Makian sebagai "anjing cilik" itu sangat menggusarkan hati sau kaucu dari perkumpulan Thian chee kau, paras mukanya berubah hebat dan hawa napsu membunuhpun seketika berkobar menyelimuti seluruh wajahnya.
Dua orang pelindung hukum baju kuning itupun keihatan sangat gusar, air muka mereka berubah hebat.
"Heehh... heehh heehh... malaikat penyakitan" seru sau kaucu dari perkumpulan Thian chee kau, sambil tertawa seram," aku akan bikin mampus dirimu lebih dahulu sebelum menggali kuburan ini"
Han Siong Kie naik pitam, hawa amarah yang berkobar dalam dadanya hampir saja sukar dikendalikan lagi, sinar matanya berapi2 dan mukanya menyeringai bengis, dengan suara berat ia berseru:
"Kalau engkau berani merusak atau mengganggu kuburan guruku, maka aku orang she Han akan basmi semua anggota perkumpulan Thian che kau secara keji"
Mendengar ancaman yang sangat mengerikan dan mendirikan bulu roma itu sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau serta dua orang kakek baju kuning itu nampak amat terkesiap hingga sekujur badannya gemetar keras, ancaman yang diutarakan oleh ahli waris iblis diantara iblis tak dapat di anggap sebagai satu gertak sambal belaka.
Tanpa sadar Han Siong Kie teringat kembali akan peristiwa yang berlangsung belum lama berselang. ketika ia ditangkap oleh ibunya yang kejam bagaikan ular dalam wilayah Liau huan tau serta dijebloskan kedalam penjara batu, pada saat itu ia pernah dihajar oleh sau kancu ini hingga muntah darah segar, andaikata ia tidak menggunakan ilmu Ku si tay hoat untuk pura2 mati kemudian mendapat bantuan pula dari orang yang kehilangan sukma serta putrinya niscaya ia sudah mati secara mengerikan.
Benci, rasa benci yang berlipat ganda menyelimuti seluruh perasaan hatinya.
Ayahnya telah mati dibunuh, keluarganya telah musnah dibantai orang, dan ibunya kawin lagi.
Ibunya telah kawin kembali dengan Thian che kaucu, bahkan hendak membinasakan pula dirinya, sementara ketua muda yang berada dihadapannya menyebut ibunya say siang-go atau siang go cantik ong cui Ing sebagai ibunya pula, itu berarti pemuda itu adalah anak jadahnya.
"Aku harus bunuh bangsat anak jadah ini" teriak Han Siong Kie dalam hati kecilnya, ia benci kepada ibunya, benci pula kepada saudara seibu lain ayah ini.
Perlahan2 ia maju kedepan, sambil menggigit bibir teriaknya keras2. "Bangsat cilik, akan kubunuh dirimu"
Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau itu terperangah, kemudian sambil tertawa seram sahutnya:
"Malaikat penyakitan,perkataan semacam ini lebih baik katakanlah sesudah berada di alam baka nanti"
Han Siong Kie mendengus dingin, per-lahan2 ia menggerakkan tangannya dan melepaskan topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya..
"Manusia bermuka dingin" tiga orang jago persilatan itu sama2 menjerit kaget.
Paras muka Malaikat pengamat langit ci Chong berkerut kencang, matanya yang tunggal memancarkan sinar penuh rasa kaget dan terkesiap. ketika melaksanakan hukumam mati tempo dulu ia, bertindak sebagai pengawas, dan kini kenyataan membuktikan bahwa Manusia bermuka dingin masih hidup, tentu saja orang itu jadi terkesiap dan kaget luar biasa.
"Engkau belum mampus..?" teriaknya tanpa sadar.
"Perkataanmu tak salah, aku memang belum mati"
Secara beruntun ketua muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur tiga langkah lebat kebelakang, dengan rasa kaget yang tak terkirakan ia ikut menegur: "Sebenarnya engkau manusia atau setan?"
"Haaaah haaahh haaahh bangsat cilik, engkau tak pernah menyangka bukan? aku adalah manusia"
Ketua muda perkumpulan Thian che kau berusaha keras untuk menekan pergolakan hatinya, kemudian ia berseru:
"Manusia bermuka dingin, engkau masih tetap ingin jadi setan??"
Hawa napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie sepatah demi sepatah serunya:
"Anjing cilik, dalam satu jurus aku hendak cabut jiwa anjingmu"
Malaikat penyakitan, ahli waris dari iblis diantara iblis ternyata adalah penyaruan dari manusia bermuka dingin Han Siong Kie, peristiwa ini benar2 suatu kejadian yang sama sekali tak terduga dan mimpipun tak pernah disangka oleh setiap orang.
Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau mendengus penuh kegusaran, baru saja dia akan menerjang maju kedepan...
Tiba2 Han Siong Kie bertindak jauh lebih cepat lagi, ia menggeserkan kakinya dan mendekati pihak lawan.
Suasana ditengah gelanggang seketika itu juga berubah jadi sangat tegang, hawa napsu membunuh menyelimtti seluruh udara.
Malaikat pengamat langit ci Chong, salah satu diantara dua pelindung hukum berbaju kuning dengan cepat berkelebat kearah depan dan menghadang tepat dihadapan sau kaucunya.
Han Siong Kie mendengus dingin, ia berjalan maju terus hingga pada jarak delapan depa dari lawannya baru berhenti, dengan suara dingin bagaikan saiju ia berseru: "Hmm engkau hendak berangkat selangkah lebih duluan??"
Empat pelindung hukum berbaju kuning merupakan tokoh2 sakti yang tingkatannya dalam perkumpulan Thian che kau, sedikit dibawah kedudukan ketua, ilmu silat yang mereka miliki termasuk dalam taraf yang amat sempurna sekali.
Malaikat pengamat langit ci Chong adalah salah satu diantara empat pelindung hukum, tenaga dalam yang ia miliki tentu saja termasuk luar biasa, mendengar perkataan itu dia segera membentak:
"Manusia bermuka dingin, aku kurang seksama dalam memeriksa keadaanmu setelah menjalankan hukuman tempo hari hingga engkau berhasil meloloskan diri, kini aku akan bunuh dirimu untuk menebus kesalahanku dimasa silam"
Begitu ucapan terakhir diutarakan keluar, sepasang telapaknya laksana sambaran petir dan gulungan ombak dahsyat ditengah samudra menghantam kearah depan.
Han Siong Kie sendiri begitu mengetahui kalau pihak lawan bukan lain adalah algejo dariperkumpulan Thian che kau, hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya semakin tebal, sepasang telapaknya dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya langsung melepaskan satu pukulan dahsyat kedepan, dengan andalkan hawa murni sebesar dua ratus tahun hasil latihan, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan yang dilepaskan dengan sepenuh tenaga itu.
"Blaamm .." ditengah benturan keras yang amat memekikkan telinga, tubuh malaikat pengamat langit ci Cho mencelat sejauh tiga tombak lebih dari tempat semula dan roboh terkapar diiatas tanah.
Dalam satu gebrakan Han Siong Kie berhasil membinasakan seorang jago silat kelas satu dalam dunia persilatan, kelihayan ilmu silatnya benar2 mengerikan sekali.
sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau serta pelindung hukum baju kuning lainnya jadi ketakutan setengah mati setelah menyaksikan kejadian itu, mereka rasakan sukma serasa melayang tinggalkan raganya, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuh.
Han Siong Kie mendengus dingin, dengan sorot mata memancarkan napsu membunuh ia tatap wajah sau-kaucu dari perkumpulan Thian che kau itu tanpa berkedip.
Ditatap sedemikian rupa oleh lawannya, ketua muda dari perkumpulan Thian che kau merasakan seluruh tubuhnya bergetar keras, paras mukanya kontan berubah jadi pucat ke hijau2an.
Pelindung hukum baju kuning lainnya tak mau berpeluk tangan dengan begitu saja, sambil membentak keras tiba2 ia lancarkan sebuah pukulan kearah depan-Dalam serangan tersebut, ia telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya.
Han Siong Kie dengan cekatan menyingkir ke samping, sepasang telapaknya disilangkan kedepan mengunci datangnya ancaman tersebut.
Pada saat yang bersamaan pula sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau menggosok sepasang telapaknya kemudian secepat kilat, di dorong kemuka.
segulung angin pukulan lembut meluncur kedepan, Han Siong Kie kontan merasakan sebagian dari tenaga pukulan yang dilancarkan keluar lenyap tak berbekas, hal ini membuat hatinya amat terperanjat...
-0000000-
BAB 33
"BLUUMMM . " benturan keras yang amat memekikkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian, ia serta pelindung hukum baju kuning itu masing2 tergetar mundur satu langkah kebelakang.
Terhadap kepandaian aneh yang dapat membuyarkan tenaga dalam milik orang itu, Han Siong Kie sama sekali tidak merasa asing, pertama kali dan mengalami keampuhan dari ilmu tersebut sewaktu berada diwilayah Lian huan tau, tapi hanya sebentar saja tenaga dalam yang lenyap pulih kembali seperti sedia kala.
Kedua kalinya pemilik benteng maut yang menggunakan ilmu aneh tersebut, waktu itu tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan pesat, tapi segenap kemampuannya sama sekali lenyap tak ketolongan.
Ketiga kalinya, Tengkorak maut gadungan yang menggunakan kepandaian tersebut, membuat tenaga dalamnya tak bisa dihimpun kembali tapi gejala itupun hanya berlangsung sebentar.
Sekarang untuk keempat kalinya dilakukan oleh sau- kaucu dari perkumpulan Thian che kau ini, berada dalam keadaan tak siap ia hanya merasakan hawa murninya sedikit buyar.
Dari sini dapatlah dibuktikan kalau tenaga dalam yang dimiliki ketua muda perkumpulan Thian che kau itu masih belum cukup untuk mempengaruhi dirinya, dan ia sendiri tentu saja jauh berbeda kalau dibandingkan dengan keadaannya tempo hari.
Andaikata tiada rintangan dari ketua muda perkumpulan Thian che kau, mungkin pelindung hukum baju kuning itu tak akan mampu menahan serangan Han Siong Kie yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu.
Sesudah mundur kebelakang, Han Siong Kie menggetarkan telapak kananaya berulang kali,angin pukulan yang berlapis- lapis meluncur kearah depan, dengan angin tajam menyapu kearah tubuh ketua muda perkumpulan Thian che kau dengan hebatnya sementara tangan kiri dengan kelima jari yang terpentang lebar melepaskan totokan jari Tong kim ci yang dahsyat untuk mendesak pelindung hukum baju kuning.
"Blaaam... blaaamm. ." terjadi benturan keras secara beruntun, dengan sepenuh tenaga ketua muda perkumpulan Thian che kau menangkis serangan itu, namun ia gagal untuk menahan kedahsyatan lawan sehingga badannya tergetar mundur beberapa langkah kebelakang.
Pelindung hukum baju kuning sendiri, di bawah desakan totokan jari maut dari pemuda itu, terpaksa harus berkelit kesana menghindar kemari dengan repotnya, ia berusaha keras untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya maut tersebut.
Ketika ketua muda perkumpulan Thian che kau berhasil didesak mundur itulah, tiba-tiba Han Siong Kie menarik kembali telapaknya dan pusatkan segenap kemampuan yang ia miliki untuk bereskan pelindung hukum baju kuning itu lebih dahulu.
Pemuda itu tahu asal pelindung hukum baja kuning berhasil disingkirkan dari muka bumi, maka dia akan jauh lebih mudah untuk membereskan diri ketua muda dari perkumpulan Thian che kau.
Dibawah serangan gencar yang dahsyat dan cepat bagaikan sambaran kilat itu, pelindung hukum baju kuning tak dapat menghindarkan diri dari ancaman maut lagi. SUatu jeritan ngeri yang menyayat hati segera memecahkan kesunyian.
sambil muntah darah segar, pelindung hukum baju kuning itu roboh terkapar keatas tanah dan selamanya tak pernah bangun lagi.
Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau merasakan hatinya bergidik, sukma serasa melayang tinggalkan raganya, ia putar badan dan siap kabur dari situ.
Han Siong Kie tertawa dingin, sekali enjot badan tahu2 ia sudah manghadang didepan tubuh lawannya.
Dengan wajah ketakutan, kaget bercampur ngeri, kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur tiga langkah ke belakang, serunya dengan suara gemetar: "Manusia bermuka dingin, apa yang ingin kau lakukan atas diriku??"
"Apa lagi,..? Heehh heehhh, tentu saja menjagal engkau bajingan terkutuk"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan maut kearah lawannya dengan jurus2 ampuh dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat.
Dengan sempoyongan kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur delapan langkah kebelakang, ia sama sekali sudah kehilangan kemampuannya untuk melakukan perlawanan.
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie, sikap dan mimik wajahnya pada waktu itu sangat mengerikan dan cukup menggidikkan hati siapapun yang memandang.
Dengan suara yang dingin, sadis dan menyeramkan serunya lantang:
"Bocah keparat dalam satu jurus berikut ini, aku akan suruh engkau menggeletak di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa"
Sementara itu kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu sudah tcrdesak sehingga apa boleh buat lagi kecuali adu jiwa, timbullah kenekadan dalam hatinya, sambil membentak nyaring ia terjang kemuka dengan amat garang.
Bagaikan sukma yang gentayangan, sekali berkelebat Han Siong Kie sudah menghindarkan diri dari terjangan itu, hardiknya: "Kena"
Sekujur badan kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu bergetar keras, pergelangan kanannya kena dicengkeram dengan telak membuat semua kekuatan dalam tubuhnya lenyap tak berbekas, sementara sebuah telapak yang lain tahu2 sudah menempel di atas ubun2nya.
"Habis sudah riwayatku" bisik pemuda itu dengan sedih, sepasang matanya dipejamkan rapat2.
Telapak tangan Han Siong Kie yang menempel diatas ubun2 lawan boleh dibilang sudah menguasahi penuh mati hidup musuhnya, sebab asalkan hawa murni disalurkan keluar, niscaya batok kepala lawan bakal hancur berantakan dan isi benak akan berhamburan di mana2.
"Bocah keparat" hardiknya, " ayoh jawab, apa hubungan antara perkumpulan Thian che kau dengan benteng maut?"
Sepasang mata kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau yang sudah terpejam rapat kembali melotot, dengan sorot mata benci berCampur kaget ia awasi Han Siong Kie tanpa berkedip, beberapa saat kemudian baru tegurnya: "Apa yang kau katakan??"
"Apa hubungannya antara perkumpulan Thian che kau dengan benteng maut??"
"Darimana engkau bisa menuduh begitu?"
"Hmm tenaga dalam yang kau miliki persis seperti aliran tenaga dalam dari pemilik benteng maut"
"Segala macam ilmu silat yang ada dikolong langit sumbernya tetap satu, kenapa engkau musti terCengang melihat kesamaan itu?" bantah kaucu muda itu dengan cepat.
"Jadi kalau begitu, perkumpulan Thian-che kau sama sekali tak ada hubungannya dengan benteng maut??"
"Maaf, aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu" seru kaucu muda tersebut dengan tegas.
"Ehmmm...bagus...bagus sekali" teriak Han Siong Kiepenuh kegusaran yang meluap2, "Sekarang pejamkan matamu, dan nantikanlah kematian yang paling nyaman bagimu"
Disaat yang kritis dan berbahaya itulah, mendadak dari kejauhan berkumandang datang suara bentakan keras, disusul seorang berseru lantang:
"Han Siong Kie, engkau tak boleh melukai dirinya"
Han Siong Kie merasa amat terperanjat mendengar perkataan itu, dengan cepat ia tarik kembali serangannya sambil berpaling kearah mana berasalnya suara itu.
seorang gadis berkain cadar hitam berdiri tegak kurang lebih satu tombak di hadapannya, dan perempuan itu telah dikenal baik olehnya. Tanpa sadar lagi Pemuda she Han itu berseru kaget: "oooh... orang yang ada maksud"
"Sedikitpun tidak salah" gadis misterius yang muncul tepat pada saatnya untuk mencegah Han Siong Kie turun tangan keji atas diri kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu, bukan lain adalah orang yang ada maksud.
"Nona, baik2kah engkau selama ini?" sapa sang pemuda.
"Terima kasih atas perhatianmu, aku berada dalam keadaan sehat walafiat selama ini"
"Apa yang barusan nona katakan??"
"Engkau tak boleh membinasakan dirinya."
"Kenapa?? kenapa aku tak boleh membunuh dirinya?"
"Kalau orang itu kau bunuh, maka sepanjang masa engkau akan menderita penyesalan yang tak terhingga."
Perkataan yang sama sekali tak ada ujung pangkalnya itu sangat membingungkan hati siapapun juga yang mendengar, termasuk juga diri Han Siong Kie. Untuk beberapa saat lamanya pemuda itu berdiri terperangah, pikirnya dihati.
"Aneh benar kenapa aku bakal merasakan penyesalan yang tak terhingga jika kubunuh kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau ini? apa maksudnya?"
setelah berpikir sebentar, seakan2 ia telah memahami akan sesuatu, segera ujarnya: "Maksud nona...ibunya adalah..."
"Tutup mulut" orang yang ada maksud segera menukas ucapan Han Siong Kie yang belum sempat diselesaikan.
Kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau pun berdiri termangu karena keheranan, ia tak mengerti kenapa orang yang ada maksud muncul tepat pada saatnya dan menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut??
Setelah tertegun beberapa saat lamanya, dengan nada tercengang Han Siong Kie segera berseru.
"Nona, bersediakah engkau jelaskan perkataanmu itu dengan lebih terang lagi?"
"Lepaskanlah orang itu " pinta orang yang ada maksud dengan nada sedih.
"Kenapa? kenapa aku harus lepaskan dirinya?"
"Janganlah banyak bertanya, lepaskan dia dari sini dalam keadaan hidup2"
"Tentang soal ini... mungkin aku tak dapat memenuhi harapanmu"
"Jadi engkau bersikeras akan bunuh pemuda itu?"
"Benar bagaimanapun juga dia harus ku bunuh" "
"Kalau memeng begitu, sebelum kau bunuh dirinya terlebih dahulu menangkan dulu aku"
Han Siong Kie semakin terperangah.
"Jadi...jadi nona bersedia turun tangan melawan aku hanya disebabkan ingin melimdungi keselamatan jiwanya belaka?"
"Perkataanmu tidak salah, aku memang bermaksud demikian."
"Aku tak dapat berbuat sekurang ajar itu terhadap diri nona, apalagi nona dan ibu nona sudah terialu banyak melimpahkan budi kebaikan kepada diriku"
"Ucapan semacam itu lebih baik tak usah diutarakan lagi, pokoknya kalau engkau hendak membinasakan dirinya maka teriebih dahulu robohkan dulu aku, kemudian setelah aku tak dapat berkutik lagi, engkau boleh bebas melakukan segala apapun secara bebas"
Han Siong Kie jadi amat terkesiap, dengan nada menyelidik ia berkata lagi:
"Kalau aku hendak membinasakan dirinya, maka hal itu bisa kulakukan dengan gampang sekali ibarat membalik telapak sendiri, asal hawa murni kulontarkan keluar maka..."
"Han Siong Kie" ancam orang yang ada maksud," kalau engkau benar-benar berani turun tangan, maka salah satu diantara kira berdua tak akan dapat keluar dari sini dalam keadaan hidup."
"Aaah benarkah persoalan ini telah berubah jadi begitu serius?"
"Aku telah membentangkan semua persoalan kepadamu, aku harap engkau jangan paksakan sesuatu perpecahan diantara kita berdua. "
Han Siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh, selama hidup ia belum pernah tundukkan kepala kepada siapapun, tapi terhadap orang yang ada maksud ia nampak agak ragu2 Sebenarnya pemuda itu dapat selesaikan persoalan tersebut dengan gampang, asal ia bunuh kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu lebih dahulu kemudian baru memberi penjelasan kepada orang yang ada maksud, urusan akan beres dengan sendirinya.
Tapi sekarang, dengan tegas orang yang ada maksud telah kemukakan ancamannya, andaikata ia berkeras kepala untuk melaksanakan juga pembunuhan itu, maka akibatnya pasti mengerikan sekali dan sukar dilukiskan dengan kata2.
Tiba2... pemuda itu berhasil menemukan suatu kemungkinan dalam peristiwa ini, jangan2 orang yang ada maksud telah jatuh cinta kepada kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau ini?
Diantara mereka bertiga, Kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itulah yang paling merasa keheranan dan tak habis mengerti, ia menganggap jiwanya pasti melayang ditangan musuh, siapa tahu tiba2 muncul seorang perempuan berkerudung yang bernama orang yang ada maksud dan berusaha keras untuk melindungi jiwanya, siapakah gadis itu? sementara ia masih terpengah, terdengar orang yang ada maksud kembali berkata: "Lepaskan dia"
Perkataan itu menyerupai suatu perintah, membuat orang tak bisa berkata lain kecuali lepas tangan.
Akhirnya Han Siong Kie mengalah dan kendorkan tangannya dan mundur beberapa langkah kebelakang.
Se-akan2 baru saja lolos dari kematian, dengan peluh dingin membasahi badannya, Kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur kebelakang, lalu sambil menjura kepada orang yang ada maksud ujarnya lirih:
"Yu siu Kun mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan yang telah nona berikan kepadaku"
Mendengar nama tersebUt, satu ingatan segera berkelebat dalam benak Han Siong Kie pikirnya lagi.
"Bangsat muda itu bernama Yu siu Kun, kalau begitu ketua perkumpulan Thian che kau sudah pasti she Yu pula..."
Sementara itu orang yang ada maksud telah ulapkan tanganya sambil berkata: "Yu sau kaucu, anda tak usah berterima kasih kepadaku, cepatlah pergi dari sini"
"Bolehkah aku tahu siapakah nama nona ?"
"Orang yang ada maksud "
"Namamu..."
"Engkau tak usah pikirkan peristiwa yang telah terjadi pada saat ini didalam hati, Nah cepatlah berlalu"
Per-lahan2 Yu sau Kun putar badan, setelah melotot sekejap kearah Han Siong Kie dengan penuh kebencian serunya :
"Hei manusia bermuka dingin, selama gunung menghijau, air tetap mengalir... kita sampai jumpa lain waktu"
Han Siong Kie mendengus dengan nada menghina, hawa napsU membUnuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan seram ia menyahut:
"Yu sau Kun akupun akan memperingatkan dirimu, kalau engkau berani mengganggu kuburan dari mendiang guruku ini, maka perkumpulan Thian che kau akan kubasmi dari muka bumi"
Yu sau Kun mendengus dingin. "Manusia barwajah dingin, engkau tak usah tekebur, lihat saja bagaimana akhirnya nanti" teriaknya penuh kebencian.
Habis berkata dia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Menanti Yu sau Kun sudah jauh tinggalkan tempat itu, orang yang ada maksud baru berjalan kedepan kuburan itu, tangannya bergerak cepat menghapus tulisan diatas batu nisan tersebut.
Han Siong Tie merasa amat terperanjat cepat2 ia maju kedepan dengan maksud menghalangi, serunya dengan nada terperanjat: "Nona, apa yang kau lakukan ?"
"Aku hendak menghapus namamu dari atas batu nisan itu"
"Kenapa? "
"Apa engkau sudah lupa kalau Manusia bermuka dingin Han Siong Kie sudah mati, diatas bukit sebelah sana masih berdiri kuburanmu, sekarang kedudukanmu adalah Malaikat penyakitan, ahli waris dari iblis diantara iblis"
Han Siong Kie tersenyum.
"Buat seorang pria sejati, menentang maut tak akan mundur, kenapa aku musti berbuat main sembunyi macam cucu kura2 saja"
"Kedudukanmu saat ini ibarat api dan air dengan pihak perkumpulan Thian che kau, apa lagi saat ini engkau telah musnahkan pula dua orang pelindung hukum baju kuning dari perkumpulannya, sudah pasti mereka tak akan berpeluk tangan belaka, bagaimanakah akibatnya aku rasa engkau tentu sudah tahu ...."
"Apa yang musti aku takuti?" seru sang pemuda dengan angkuh.
"Jago2 lihay yang tergabung dalam perkumpulan Thian che kau sangat banyak sukar dihitung, kekuasaan mereka amat meluas dan memimpin bampir seluruh perkumpulan besar atau kecil yang ada dalam dunia persilatan, apa lagi tenaga murni yang dimiliki kaucu mereka luar biasa dahsyatnya..".
"Aku merasa amat berterima kasih atas maksud baik dari nona, tetapi aku tak sudi melakukan perbuatan yang main sembunyi terus macam cucu kura2"
"Ibuku toh pernah memberikan selembar kulit manusia kepadamu agar engkau bisa merubah wajah aslimu, sebetulnya ada di balik semuanya terkandung pula maksud yang mendalam sekali"
"Apakah aku boleh tahu maksud yang sebenarnya?" tanya sang pemuda dengan perasaan tertarik. .
Dengan nada tawar orang yang ada maksud gelengkan kepalanya berulang kali.
"Lain waktu engkau akan mengetahui dengan sendirinya semua persoalan tersebut, pokoknya ibuku ada maksud2 tertentu yang menguntungkan bagimu"
Han Siong Kie merasa amat tidak sabar untuk menantikan jawaban yang terkandung dibalik gerak gerik orang yang ada maksud serta ibunya yang serba misterius itu, tetapi diapun tak dapat berbuat apa2 kecuali menunggu dan menunggu terus, akhirnya sambil menuding ke arah batu nisan didepan kuburan itu ujarnya:
"Seorang murid mendirikan batu nisan bagi gurunya, masa sang murid itu tak dapat meninggalkan nama aslinya??"
"Mengapa engkau tidak dirikan saja batu nisan tersebut dikemudan hari??"
"Aku tidak ingin merusak batu nisan tersebut"
"Apakah engkau bisa menjamin kalau orang2 dari perkumpulan Thian che kau tak akan mengganggu jenasah dari gurumu, apa lagi daerah disekitar tempat ini merupakan daerah terlarang bagi perkumpulannya?"
Hawa nafsu membunuh yang sangat tebal memancar keluar dari balik sorot mata pemuda itu, dengan suara mendalam katanya:
"Aku telah memperingatkan lebih dahulu kepada mereka, andaikata ada orang berani mengganggu atau membongkar kuburan dari guruku, maka mayat akan bergelimpangan diseluruh wilayah Lian huan-tau, aku akan bantai seluruh isi keluarga mereka sehingga seorangpun tak ada yang bisa hidup lagi dengan tenang"
"Engkau hendak membantai seluruh anggota perkumpulan Thian che kau dengan andalkan kekuatanmu seorang diri?" tanya orang yang ada maksud.
"Benar, dan apabila nona tidak percaya silahkan saja menunggu sampai tanggal mainnya"
Untuk beberapa saat lamanya orang yang ada maksud termenung dan berpikir keras, kemudian ia berkata lagi:
"Ibu merasa amat menyesal sekali atas perbuatan dan tingkah lakumu pada akhir2 ini"
"Akupun menyesal karena harus membuat hati ibumu jadi sedih"
Dengan putus asa orang yang ada maksud meluruskan tangannya kebawah, lalu mundur selangkah kebelakang, serunya kembali:
"Jadi engkau bersikeras akan tetap mempertahankan namamu itu?"
"Benar, dan maaf sekali atas kekerasan kepalaku ini, aku harap kalian ibu dan anak tidak sampai tersinggung karena persoalan ini"
Orang yang ada maksud kembali termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, tanyanya:
"Apakah gurumu Iblis diantara iblis benar2 adalah ketua dari istana Huan-mo kiong diwilayah Thian lam?".
"Aku rasa tiada hal lain yang perlu dicurigakan lagi, memang guruku masih sempat meninggalkan benda tanda bukti kepadaku"
"Oooh.. jadi kalau begitu engkau sudah menjadi ahli waris dari istana Huan mo kiong tersebut??"
"Benar"
Tiba2 orang yang ada maksud mengalihkan sorot matanya mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, rupanya ia sedang menyelidiki apakah disekitar tempat itu tak ada orang yang bersembunyi atau tidak. setelah yakin kalau ditrmpat itu tak ada orangnya, dengan suara yang amat lirih dia baru bertanya:
"Benarkah engkau telah kehilangan sebuah benda mustika dari dunia persilatan?"
Han Siong Kie mengangguk.
"Benar, aku telah kehilangan sebuah benda mustika yang tak ternilai harganya, dari mana nona bisa mengetahui akan hal ini?"
"Bukan aku saja yang mengetahui akan peristiwa ini, orang lainpun ada pula yang sudah tahu"
"Meskipun untuk sementara waktu telah berpindah tangan, tapi aku bersumpah untuk mendapatkannya kembali" ujar pemuda itu dengan nada tegas.
"Tetapi ilmu silat yang kau miliki masih bukan tandingan kepandaian musuh"
"Nona maksudkan ilmu silat siapa..?"
"Tentu saja tengkorak maut gadungan itu"
"Aah belum tentu aku kalah dari dia"
"Tapi dalam kenyataan engkau toh masih belum mampu untuk menandingi kedahsyatan ilmu silatnya?"
"Lain dulu lain sekarang, kalau dulu kalah masa untuk selamanya aku selalu kalah terus?"
"Jadi sekarang engkau sudah mempunyai keyakinan untuk menangkan dirinya?"
"Mungkin begitu"
"Sungguhkah ucapanmu itu?" orang yang ada maksud berusaha untuk menegaskan.
"Selama aku tak pernah bicara bohong, apa lagi menganggap pembicaraan sebagai suatu gurauan belaka" sahut sang pemuda dengan paras muka serius.
Pada saat itulah...tiba2 dari kejauhan berkumandang datang suara ujung baju tersampok angin, sesosok bayangan manusia dengan gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat meluncur kurang lebih sepuluh tombak dihadapannya, begitu cepat gerakan tubuh orang itu sehingga andaikata seseorang tidak memiliki tenaga dalam setaraf dengan Han Siong Kie serta orang yang ada maksud pada saat ini, mungkin sulit untuk mengetahuinya. Buru2 orang yang ada maksud berkata: "Aku harus segera pergi dari sini, selamat tinggal"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, dia segera enjotkan badan dan lenyap dibalik pepohonan.
Satu ingatan dengan cepat berkelebit dalam benak Han Siong Kie, diam2 ia berpikir:
"Siapakah bayangan manusia yang barusan berkelebat lewat itu? kenapa orang yang ada maksud berlalu dari sini secara tergopoh2...??"
Pemuda itu tak mau banyak berpikir lagi, dengan suatu gerakan yang tak kalah cepatnya ia berkelebat menuju kearah mana bayangan manusia tadi melenyapkan diri, tujuannya adalah berharap dengan kesempatan itu ia berhasil mendapatkan tanda2 yang menunjukkan akan asal usul dari orang yang ada maksud serta ibunya, dengan begitu pelbagai persoalan yang mencurigakan dirinya selama inipun dapat terpecahkan.
Dari pembicaraan yang barusan berlangsung,jelas perkataan yang hendak diutarakan kepadanya oleh orang yang ada maksud belum sampai selesai, dia masih banyak perkataan yang hendak dibicarakan dengan dirinya, tapi justru karena kemunculan bayangan manusia yang amat mendadak. membuat gadis itu buru2 meninggalkan dirinya, itu berarti dibalik kesemuanya itu masih terkandung hal yang sangat mencurigakan.
Dengan sepenuh tenaga Hansioog Kie mengerahkan gerak tubuh cahaya kilat lintasan bayangan untuk mengejar bayangan manusia tadi, kecepatan gerak tubuhnya pada saat ini sukar dilukiskan dengan kata2.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba diujung hutan dan menginjak disebuah tanah lapang yang amat luas, kurang lebih puluhan tombak dihadapannya tampaklah sesosok bayangan manusia sedang bergerak dengan cepatnya, bayangan itu langsing menuju kearah sebuah bukit disebelah kiri
Tatkala Han Siong Kie telah berhasil mendekati lawannya sehingga kurang lebih dua puluh tombak dibelakangnya, ia mulai memperlambat larinya dan tetap mempertahankan jaraknya dengan orang itu, dalam keadaan demikian sulitlah bagi kedua belah pihak untuk mengetahui jelas keadaan indentitas dari lawannya.
Bayangan punggung orang itu sama sekali tidak terlalu asing baginya, tapi untuk beberapa saat lamanya Han Siong Kie tak dapat menebak siapa kah orang itu. Seperminum teh kemudian, mereka sudah da dua puluh li jauhnya dari tempat semula.
Sebuah bukit kecil muncul didepan mata, sianak muda itu mulai curiga bercampur tak habis mengerti, sebab dia lihat bayangan manusia yang agaknya pernah dikenal olehnya itu ternyata sedang bergerak menuju kearah bukit dimana kuburan palsunya berada.
Rupanya bayangan manusia yang bergerak didepan itu sama sekali tidak menduga kalau secara diam2 perjalanannya sedang dikuntit orang, tanpa ragu2 dia langsung meluncur naik keatas bukit.
Sungguh aneh, ternyata orang tadi benar2 hentikan gerakan tubuhnya tepat didepan kuburan palsu dari Han Siong Kie.
Kurang lebih sepuluh tombak dari kuburannya, sianak muda itu menghentikan gerakan tubuhnya dan menyembunyikan diri di belakang sebuah batu cadas yang besar.
Tiba2 bayangan manusia yang ternyata adalah seorang gadis itu berpaling, sorot matanya yang tajam menyapu sekejap kearah tempat persembunyian dari Han Siong Kie, kemudian ia memperdengarkan suara tertawa dingin yang amat ketus.
Kembali Han Siong Kie terperangah, pikirnya:
"Mungkinkah dia sudah tahu kalau perjalanannya sedang diikuti orang...? kalau memang begitu, kenapa ia tidak menegur?"
Sekarang pemuda itu dapat melihat dengan tegas, rupanya gadis itu bukan lain adalah Go siau Bi.
Dengan ter mangu2 dan rasa tercengang si anak muda itu mengawasi gerak gerik dari Go siau Bi, dia ingin lihat apa yang hendak dilakukan oleh gadis tersebut dihadapan kuburan palsunya.
Lama sekali Go siau Bi berdiri termangu-mangu didepan kuburan tersebut, tiba tiba ia ayun telapaknya dan melancarkan sebuah babatan kilat keatas kuburan tersebut.
Gerakan tubuhnya ini sangat mengejutkan hati Han Siong Kie, tetapi ia tiada maksud untuk menghalangi perbuatannya itu, sebab bagaimanapun juga kuburan itu adalah sebuah kuburan kosong.
Hanya saja ia tak dapat menebak. apa maksud dan tujuan Go siau Bi membongkar kuburannya itu?
Baru saja angin pukulan yang dilancarkan Go siau Bi hampir mengena diatas batu nisan kuburan itu, tiba2 suatu bentakan nyaring berkumandang datang dari sisi tubuhnya. "Tahan jangan bertindak sembarangan.."
Go siau Bi agak terperanjat, Ia segera tarik kembali serangannya dan mundur lima depa kebelakang.
Dari belakang kuburan kosong, per-lahan2 muncullah seorang gadis muda yang sangat cantik bagaikan bidadari.
Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras setelah bertemu dengan dara tersebut, sebab dia masih kenal gadis cantik itu sebagai "Istri yang ditinggaikan" yang pernah melepaskan dirinya dari dalam benteng maut.
Sementara itu Go siau Bi nampak tercengang menyaksikan kemunculan dara ayu itu, dengan keheranan dia menegur: "Nona, siapa kah engkau?"
"Sebutkan dahulu siapa kah namamu?" nona cantik itu balas menegur.
"Aku bernama Go siau Bi"
"Engkau adalah Go siau Bi?"
"Benar, ada apa?"
"Mengapa engkau hendak merusak kuburan ini?"
Teguran yang disertai sikap tak mau tahu keadaan orang lain itu sangat menggusarkan hati Go siau Bi dengan alis mata berkenyit dia balas menegur: "Lalu siapa kah namamu?"
"Nona panggil saja aku sebagai Istri yang ditinggaikan"
"Istri yang ditinggaikan ?"
"Benar. "
"Istri yang ditinggaikan, engkau adalab seorang janda?"
Paras muka Istri yang ditinggaikan berubah hebat, tegurnya dengan perasaan tak senang hati:
"Nona, aku harap sedikitlah tahu sopan kalau berbicara...." Go siau Bitertawa dingin.
"Engkau sendiri toh yang menyebut dirimu sebagai Istri yang ditinggalkan, masa aku telah salah bicara?"
Istri yang ditinggaikan tidak menggubris perkataan itu lagi, setelah termenung sebentar kembali ia menegur:
"Aku harap engkau bersedia menjelaskan kepadaku, apa sebabnya engkau hendak membongkar kuburan ini??"
"Aku senang berbuat begini, engkau mau apa??"
"Senang berbuat begitu? haaahh haaahh haaaahh apakah orang yang berada dalam kuburan ini pernah terikat dendam atau sakit hati dengan dirimu?"
"Tepat sekali tebakanmu itu dan dia mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan dirimu?"
"Dia? siapa yang kau maksud kan dia? "
"Manusia bermuka dingin Han Siong Kie"
Go siau Bi menengadah dan tertawa semakin keras, begitu kerasnya sehingga membelah kesunyian yang mencekam disekeliling tempat itu.
Han Siong Kie yang bersembunyi disamping kuburanpun jadi tertegun dibuatnya, sepasang matanya terbelalak lebar sementara mulutnya melongo, ia tak habis mengerti dibuatnya oleh keadaan yang tertera dihadapan matanya.
-ooooooo-
BAB 34
ISTRI YANG ditinggaikan melototkan sepasang matanya bulat2, ia menghardik: "Apa yang perlu kau tertawakan?"
Go siau Bi tarik kembali tertawanya, kemudian dengan wajah serius menjawab:
"Engkau tak perlu tahu kenapa aku tertawa, sebab aku ingin tertawa maka tiada orang yang bisa menghalangi niatku itu"
"Tapi aku justru bersikeras melarang engkau tertawa disini"
"Huuh... dengan andalkan apa engkau berani melarang aku tertawa disini?"
"Berdasarkan perbuatanmu yang hendak membongkar kuburan ini, sudah cukup alasan bagiku untuk membinasakan engkau"
"Omong kosong jangan berlagak sok dihadapanku, apalagi main gertak sambal yang sama sekali tak ada gunanya"
"Oooh... jadi engkau tak percaya? mari akan kubuktikan kebenaran dari ucapanku itu."
Dengan suatu gerakan tubuh yang sangat cepat Istri yang ditinggalkan melayang kedepan kuburan dan berdiri saling berhadapan dengan Go Siau Bi, kemudian tanpa banyak bicara sepasang telapaknya didorong kedepan melancarkan sebuah pukulan dengan suatu jurus serangan yang aneh dan ganas.
Sekali lagi Han Siong Kie dibikin terperangah oleh kehebatan serangan tersebut, tempo dulu ia pernah menyelamatkan jiwa Istri yang ditinggaikan karena ia tak mampu melayani keroyokan empat orang pengawai baju hijau dari istana Huan mo kiong, tapi kenyataan yang tertera didepan mata pada saat ini menunjukkan bahwa ilmu siiatnya amat dahsyat, itu berarti tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat dalam beberapa waktu yang amat singkat.
Go siau Bi mendengus dingin, tubuhnya melesat kesamping menghindarkan diri dari sergapan musuh yang amat dahsyat itu, sambil putar badan diapun balas melancarkan tiga buah jurus serangan secara berantai...
Dengan cepat istri yang ditinggalkan kena terbendung oleh pukulan itu, membuat dia mau tak mau terpaksa harus mundur tiga langkah kebelakang.
Dalam waktu singkat pertarungan yang amat sengitpun berlangsung, dua orang gadis itu saling serang menyerang dengan gencar membuat pasir dan debu beterbangan di seluruh angkasa.
Kedua belah pihak sama2 merupakan jago lihay, ilmu silat yang digunakanpun merupakan jurus2 ampuh yang luar biasa.
Hal ini membuat Han Siong Kie yang mengikuti jalannya pertarungan dari tempat persembuyiannya diam2 menjulurkan lidahnya.
Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling menyerang sebanyak beberapa ratus gebrakan lebih, namun kekuatan mereka tetap seimbang, siapapun tak dapat menangkan pertarungan tersebut dengan mudah.
Ditengah bentakan nyaring, mendadak Go siau Bi mundur kebelakang, telapak tangannya berputar kian kemari melancarkan jurus serangan yang kian lama kian bertambah aneh, segulung demi segulung anginpukulan yang aneh menyapu kedepan membuat suasana jadi mengerikan sekali.
Ditengah hembusan angin berputar yang sangat aneh itu, Istri yang ditinggalkan sama sekali tak mampu mengembangkan jurus serangannya, tanpa sadar dia berseru: "Oooh...ilmu pukulan angin berpusing, engkau adalah..."
sebelum ucapannya selesai diutarakan tiba2.. Duuk" sebuah pukulan dengan telak bersarang diatas tubuh Istri yang ditinggalkan membuat ia mundur dengan sempoyongan.
Dalam serangannya itu Go siau Bi telah mengerahkan tenaganya sebesar sepuluh bagian, dengan telak pukulan tadi menghantam dada lawan, kalau jago lihay biasa yang termakan pukulan itu niscaya isi perutnya akan goncang dan tulang dadanya pada retak, tapi Istri yang ditinggalkan hanya tergetar mundur belaka, ia sama sekali tidak mengeluh kesakitan.
Untuk sesaat Go siau Bi jadi tertegun, ia sama sekali tidak menyangka kalau pihak lawan mempunyai tenaga dalam sesempurna itu..
Sementara dia masib tertegun itulah, Istri yang ditinggalkan telah manfaatkan kesempatan itu se-baik2nya, telapak diayun kedepan secepat sambaran kilat, arah yang ditujupun merupakan tempat kematian yang sangat berbahaya.
Go siau Bi jadi kelabakan dibuatnya menghadapi serangan balasan yang luar biasa itu, tapi untung ia cukup cekatan, dengan cepat ujung kakinya menjejak tanah dan secepat kilat menghindar kearah samping.
Sayang gerakan tubuhnya masih tetap terlambat setengah langkah, bahu kanannya tersapu telak oleh pukulan lawan...
Rasa sakit yang luar biasa serasa sampai didalam tulang sumsum, tak tahan lagi gadis itu merintih kesakitan, dengan sempoyongan tubihnya mundur delapan depa ke belakang.
Kejadian itu sama sekali tidak mengherankan diri Han Siong Kie, dia tahu istri yang ditinggalkan berasal dari benteng maut, itu berarti diapun memiliki ilmu kebal yang tak mampu dihantam maupun dibacok. dengan sendirinya serangan diri Go siau Bi pun tak mungkin dapat melukai tubuhnya.
Tapi. ..mengapa Go siau Bi hendak menghancurkan kuburan kosongnya itu??
Dan apa sebabnya Istri yang ditinggalkan mati2an melindungi kuburan tersebut ? bahkan sejak permulaan ia sudah menyembunyikan diri dibelakang kuburan? Untuk beberapa saat lamanya pemuda itu hanya bisa berdiri tertegun sambil putar otak.
Kedua belah pihak sama2 pernah melepaskan budi kebaikan dan budi pertolongan kepadanya, apa kah dia harus munculkan diri untuk melerai pertarungan itu?
Dalam pada itu, setelah serangannya berhasil melukai tubuh lawan, istri yang ditinggalkan sama sekali tidak melanjutkan serangannya, dengan nada dingin ia menegur:
"Ilmu pukulan angin berpusing merupakan kepandaian silat tunggal dari Put-lo sianseng, apa hubungan nona Go dengan diri Put loo sianseng??"
Mengetahui pihak lawan kenal dengan asal usul ilmu silatnya, Go siau Bi merasa hatinya terperanjat, buru2 jawabnya. "Dia adalah kakekku"
"Oooooh... rupanya nona adalah cucu perempuan dari Put loo sianseng...maaf " Go siau Bi tak mau tunjukkan kelemahannya, dia segera menegur: "Apakah engkau adalah anak murid dari benteng maut??"
Sekarang gantian istri yang ditinggalkan yang berdiri terperangah, namun ia tidak menjawab sebaliknya alihkan pokok pembicaraan kesoal lain.
"Benarkah nona Go mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan diri Han Siong Kie??"
"Sama sekali tak ada"
"Lalu apa sebabnya engkau hendak membongkar kuburannya?? apa kah engkau bersedia memberi keterangan??"
"Tentang soal ini....jadi engkau pingin tahu?"
Rupanya Istri yang ditinggalkan sudah biasa mengumbar watak ingin menangnya, mendengar pertanyaan itu paras mukanya seketika berubah hebat. "...Masa aku tak boleh tanya?" tegurnya.
Se-akan2 telah menyadari akan sesuatu, Go siau Bi maju beberapa langkah kedepan, sahutnya dengan suara mendalam:
"Oooh...rupanya engkau adalah istri yang ditinggalkan dari Han Siong Kie??" Dengan sedih Istri yang ditinggalkan mengangguk. "Benar apa yang kau ucapkan sama sekali tidak keliru"
Han song Kie yang bersembunyi disamping kuburan tadi melongo dan duduk terperangah, suatu kejadian yang sangat ajaib baginya dia sama sekali tidak kenal dengan nona cantik itu, tapi nona itu mengakui sebagai istri yang ditinggalkan, kejadian semacam ini benar2 merupakan suatu peristiwa aneh yang tak pernah diduga sebelumnya.
Tentu saja ia sama sekali tak pernah menduga kalau Istri yang ditinggalkan yang berada dihadapannya saat ini adalah adik angkatnya Tonghong-Hui yang dirindukan setiap hari.
Paras muka Go siau Bi nampak berubah hebat, dengan nada gemetar ia menegur lagi: "Oooh... jadi ia sudah menikah?"
Dari pembicaraan lawan, istri yang ditinggalkan dapat menangkap apa yang dimaksudkan orang itu, dengan nada dingin ia balik bertanya: "Nona Go, apa kah engkau sangat mencintai dirinya??"
Merah jengah selembar wajah Go siau Bi, ia tidak menyangkal ...pun tidak mengakui.. Melihat nona itu membungkam, Istri yang ditinggalkan bertanya lebih jauh: "Jadi nona telah mengakuinya??"
"Tidak" sahut Go siau Bi tiba2 dengan nada setengah menjerit, "Aku sangat benci pada dirinya"
Han Siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan jadi gelengkan kepalanya sambil angkat bahu, terhadap diri Go siau Bi boleh dibilang tak pernah timbul ingatan atau perasaan untuk mencintai, bahkan terhadap semua perempuan yang pernah dijumpaipun ia tak pernah punya perasaan tersebut, sebab ia pernah bersumpah akan membenci kaum wanita untuk selama-lamanya.
Rupanya jawaban dari Go siau Bi itu sangat mencengangkan hati Istri yang ditinggalkan, ia berkata:
"Oleh karena engkau benci dia maka engkau hendak merusak kuburannya, apakah engkau tak merasa bahwa perbuatanmu itu keterlaluan."
Go siau Bi menggigit bibirnya:
"Aku tahu kuburan ini adalah kuburannya tapi apakah engkau yakin kalau dia benar2 berada dalam kuburan ini??"
Ucapan ini sangat mengejutkan hati Istri yang ditinggalkan, dengan wajah terkesiap dia mundur satu langkah kebelakang. "Apakah maksud perkataanmu itu?"
"Apakah engkau merasa seyakin2nya kalau Han Siong Kie benar2 sudah mati??"
"Tentu saja" Istri yang ditinggalkan mengangguk dengan tegas.
"Engkau saksikan dengan mata kepala sendiri??"
"Aku sendirilah vang membuat batu nisan didepan kuburan ini"
Han Siong Kie yang bersembunyi dibelakang batu lebih2 terperangah dibuatnya, dia sampai berdiri ter heran2. Menurut apa yang diketahui batu nisan dan kuburan itu dibangun oleh adik angkatnya Tonghong-Hui, bahkan dia pula yang telah mencantumkan namanya diatas batu nisan tersebut untuk memperingati dirinya... sekarang istri yang ditinggalkan mengakui kalau dialah yang mendirikan kuburan itu, lalu apa maksudnya? sementara sianak muda itu masih termenung, Go siau Bi telah tertawa dingin
"Heehh. heehh..heehh.. diatas batu nisan itu tertera nama dari dua orang, masa engkau juga yang mengebumikan jenasah dari pengemis cilik Tonghong Hui?"
Istri yang ditinggalkan termenung beberapa saat lamanya, tiba2 ia berkata: "Akulah Tonghong-Hui"
Hampir saja Han Siong Kie menjerit kaget menghadapi kenyataan tersebut, dia tak menyangka kalau Istri yang ditinggalkan mengaku dirinya sebagai Tonghong-Hui, suatu kejadian yang cukup membuat orang tertawa karena gelinya.
Mungkinkah dia tidak tahu kalau Tonghong-Hui adalah seorang pria, bahkan dia adalah seorang pengemis cilik? apakah nona ini menyangka Tonghong-Hui adalah seorang gadis seperti dirinya??
Tak tahan lagi Go siau Bi tertawa cekikikan karena gelinya, sambil menuding ke arah lawan dia berseru:
"Hiiihh hiiiih hiiiihhh engkau adalah Tonghong Hui? pengemis cilik??"
"Betul"
"Engkau tidak bohong? masa tampang seperti kau bisa jadi seorang pengemis cilik??"
"Aku sama sekali tidak bohong, akulah pengemis cilik Tonghong Hui"
"Kalau begitu, engkau adalah manusia atau setan??"
"Tentu saja aku adalah seorang manusia "
"Kalau toh seorang manusia, kenapa semua ucapan yang kau utarakan lebih mirip omongan setan??"
Dengan amat sedih Istri yang ditinggalkan menghela nafas panjang, ujarnya lebih jauh:
"Aaai berhubung engkau mencintai dirinya dan dia telah tiada dikolong langit, maka aku bersedia memberitahukan rahasia hatiku kepadamu, tujuanku mendirikan batu nisan ini adalah sebagai perlambang bahwasanya aku hendak balaskan dendam baginya, kemudian aku akan bunuh diri dan minta dikubur dalam satu liang yang sama bersama-sama dirinya "
Han Siong Kie yang mencuri dengar pembicaraan tersebut dari tempat persembunyiannya mulai merasa gusar, hawa amarahnya per lahan2 menyelimuti seluruh benaknya, ia tak menyangka kalau istri yang ditinggalkan bisa mengungkapkan kata2 yang begitu menarik hati tanpa tahu rasa malu, apakah ia tidak jengah mengarang cerita bohong yang begitu indah untuk menipu orang??
Tiba2 Go siau Bi tertawa keras, suaranya begitu nyaring sehingga membelah kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu.
Kontan istri yang ditinggalkan melototkan matanya bulat2, dengan suara keras dia menghardik:
"Nona, aku harap engkau bersedia tahu diri dan jagalah kesopanan dengan se-baik2nya"
-0000000-
(Bersambung ke Jilid 17)
Karya: Tjan ID
Bab 1 : BENTENG MAUT
Dalam pandangan orang2 dunia persilatan, tempat itu merupakan sebuah istana yang mendatangkan maut bagi siapa yang berani mendekatinya.
Benteng kuno itu dibangun diatas sebidang tanah berbatu karang yang dikelilingi oleh tiga buah aliran sungai.
Pintu depan benteng yang menghadap ke arah daratan selalu terbentang lebar dan memperlihatkan sebuah pintu yang gelap gulita di atas dinding tembok tertera dua huruf besar yang cukup membetot hati siapapun yang menyaksikan: Benteng Maut
Dibawah dua huruf besar tadi terdapat pula sebuah tengkorak merah darah yang nampak menyeramkan.
Itulah lambang maut dari pemilik benteng kuno itu.
Selama hampir tiga puluh tahun lamanya di dunia persilatan tercekam dalam ketakutan, kengerian yang seolah-olah hari kiamat hampir tiba, sebagian besar jago2 dari kalangan Bu lim banyak yang mati binasa dalam keadaan penasaran, banjir darah melanda dimana-mana.
Semua peristiwa berdarah yang terjadi selalu diakhiri dengan tertinggalnya lambang Tengkorak maut disisi setiap korban..
Kebrutalan serta kekejaman Tengkorak maut membuat orang jadi ketakutan dan menjuluki dirinya sebagai malaikat elmaut.
Tetapi... lima belas tahun berselang, tiba-tiba pintu benteng itu tertutup rapat Tengkorak maut tak pernah muncul kembali di dalam dunia persilatan, seluruh Bu lim pun terlepas dari cekaman rasa takut dan ngeri.
sementara orang menduga tengkorak maut telah menghembuskan napasnya yang terakhir tetapi kenyataan membuktikan lain, sebab setiap rombongan orang Bu lim yang berangkat menyelidiki rahasia Istana maut tak seorangpun yang kembali dengan selamat. Teka teki... peristiwa itu merupakan suatu tanda tanya besar bagi semua orang.
Malam mencekam seluruh jagad, udara gelap gulita tidak nampak cahaya bintang maupun rembulan... begitu pekat hingga melihat ke lima jari sendiripun susah.
Kilat menyambar2 diiringi suara gemuruh guntur yang bergeletar membelah bumi, kilatan tajam mendatangkan kilatan cahaya yang menerangi seluruh jagad.
Angin berhembus kencang mengiringi desiran yang menusuk pendengaran, menyapu seluruh benda di sekitar nya .... ranting, daun dan debu berterbangan memenuhi angkasa...
Didalam sebuah dusun yang kecil nampak sesosok bayangan manusia sedang melaku-kan perjalanan dengan cepat menyeberangi jalan.
Kilat kembali menyambar... kali ini terlihat lebih jelas lagi, kiranya bayangan tadi adalah dua sosok tubuh yang saling berpanggulan, seorang pemuda berusia tujuh delapan belas tahunan dengan membopong seorang pria berusia pertengahan sedang melakukan perjalanan cepat..
Sang pemuda berwajah tampan berperawakan kekar, sedang sang pria berusia pertengahan itu kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, napasnya kempas kempis dan rupanya sedang menderita sakit parah.
"Ayah ...." terdengar pemuda itu bergumam "Rupanya sebetar lagi akan turun hujan badai yang amat deras"
Pria berusia pertengahan yang ada didalam dukungannya mendengus lalu mengangguk.
"Benar, hujan bakal turun dengan deras nya.... inilah suatu saat yang paling bagus bagi kita".
"Apa??? saat yang paling bagus ???. "
"Ehmm. sedikitpun tidak salah"
"Ayah, ananda tidak paham dengan maksudmu "
"Setelah tiba ditempat tujuan nanti, kau akan segera mengerti"
"Ayah, mengapa kau harus memilih disaat yang paling jelek untuk keluar rumah???, sakit mu. . "
"Nak. sebentar lagi kau akan paham dengan sendirinya, ayoh cepat berangkat".
Guntur membelah bumi menggetarkan seluruh permukaan bumi, kilat kembali menyambar dan hujan deras mulai membasahi seluruh tempat... "Ayah, hujan telah tiba .. bagaimana kalau kita ketempat berteduh ???".
"Tidak. tidak usah, cepatan dikit.."
"Tapi ayah.... sakitmu..."
"Justru karena aku, aku sakit. Aaai anakku. tak usah banyak bicara lagi, masih jauh kah, perkampungan keluarga Han??"
"Kita akan segera tiba ditempat tujuan, setelah belok tikungan bukit sana" Kilat menyambar menerangi jagad, guntur bergeletar menerangi angkasa.
Hujan deras diiringi hembusan angin puyuh melanda seluruh jagad, begitu dahsyat hujan yang turun membuat tanah jadi berlumpur dan sangat becek.
setelah membelok sebuah tikungan bukit, akhirnya terlihatlan bayangan sebuah perkampungan muncul di hadapan mereka. "Kita sudah...saam..saampai...nak .."
Pemuda itu mempercepat langkahnya masuk kedalam pintu perkampungan.
setibanya dalam ruangan, pemuda itu menurunkan pria berusia pertengahan tadi keatas tanah, lalu diapun duduk bersandar disisinya.
Dibawah kilatan cahaya petir, tampak pintu perkampungan itu sudah lapuk dan bobrok, sarang laba2 bergelantungan di-mana2, debu yang menempel diatas lantai sangat tebal.
"Ayah, apakah perkampungan ini sudah lama tidak dihuni orang ??".
"Benar."
Dengan lemas pria berusia pertengahan itu menyandarkan diri ditepi pintu, napasnya tersengkal dan wajahnya berubah jadi pucat pias. bagaikan mayat.
"Ayah...kau:..kenapa kau??" jerit pemuda tadi.
"Nak...mari mari kita, masuk ke dalam .."
"Tapi ayah...keadaanmu bertambah payah, kita lebih baik beristirahat dulu sejenak"
"Masuk."
Dari balik mata pria berusia pertengahan itu mendadak memancar keluar sorot cahaya yang sangat aneh, wajahnya berkerut kencang, dengan kerahkan segenap kekuatannya ia menghardik keras.
Pemuda itu bergidik dan berdiri menjublak tapi sejenak kemudian ia sudah mendukung kembali tubuh ayahnya masak ke dalam perkampungan.
Hujan badai telah berhenti, gunturpun telah sirap. dengan perasaan ragu, sangsi dan penuh tanda tanya pemuda itu perlahan2 berjalan masuk kedalam perkampungan, ia tidak mengerti apa sebabnya siorang tua itu tidak mempedulikan sakitnya yang parah, di tengah hujan badai yang amat deras mengajak dia mengunjungi perkampungan yang sudah usang dan terbengkalai ini.
Bayangan hitam yang seram dan mengerikan segera mencekam perasaan si anak muda itu.
Jendela yang lapuk berbunyi gemericikan nyaring terhembus angin yang kencang, bayangan hitam dari tiang penglari, sudut ruang di balik pintu se akan2 berubah jadi bayangan setan yang mendirikan bulu roma.
"Ayah..." seru pemuda itu tak tertahan..
"Bu...bukankah kau...kau merasa taa. . takut nak???"
"Tiiii . . tidak . . aku tidak . merasa takut"
Awan hitam perlahan2 membuyar, rembulan muncul dari balik kegelapan yang mencekam seluruh jagad dan memancarkan sinarnya menerangi perkampungan yang terbengkalai itu hingga mirip dengas sarang hantu.
Mendadak... pemuda itu merasakan kakinya tersentuh sesuatu benda hingga hampir saja ia jatuh tertelungkup, , cepat ia tunduk kan kepalanya untuk memeriksa..
"Aaaaah..." ia menjerit tertahan, badannya jadi merinding dan bulu roma pada bangun berdiri sesosok tengkorak putih menbujur diatas lantai.
Diikuti dari balik semak belukar, sudut ruangan, beranda... semuanya nampak tengkorak yang berceceran di-mana2.
Dua...tiga...empat...seluruh ruangan penuh berisikan tulang tengkorak manusia yang bergelimpangan di mana2..
Pemuda itu segera menghentikan langkah kakinya, sekujur badan gemetar keras, giginya saling bergemerutukan nyaring.
Kegelapan yang mencekam perkampungan yang terbengkalai.. serta tulang tengkorak manusia yang berserakan di mana2.
Api setan yang seakan2 datang dari arah yang tak diketahui ujung pangkalnya ini menciptakan suatu pemandangan yang menyeramkan, mengerikan hati...
"Ayah apa yang terjadi..." seru pemuda itu.
"Jaa...jangan banyak bertanya, masuk ke dalam ruangan tengah...".
si anak muda itu ragu2 untuk melanjutkan langkah kakinya, ia tak berani membayangkan pemandangan ngeri apa lagi yang akan ditemui diruang tengah, dalam benaknya telah dipenuhi dengan be ratus2 macam pertanyaan tetapi tak sebuahpun yang sanggup diutarakan keluar.
Tapi secara lapat2 iapun dapat merasakan bahwa peristiwa yang dialaminya matam ini bukan kejadian biasa. Ayahnya tidak nanti tanpa alasan mengajak ia datang kedalam perkampungan bobrok yang penuh dengan tulang berserakan ditengah malam hujan badai yang deras.
"Ce...cepat masuk keruang tengah". terdengar pria berusia pertengahan itu ter batuk2 dan membentak.
" Kalau tidak kau...kau se lama hidup akan menyesal".
Dengan perasaan bergidik bercampur kaget pemuda itu mengiakan dan segara meneruskan langkahnya masuk kedalam ruangan.
Ruang tengah gelap gulita, sarang laba2 bergantungan dimana2, debu sangat tebal dan menyiarkan bau busuk yang sangat tak enak dibadan.
sekilas cahaya rembulan sempat menerobos masuk kedalam ruangan lewat celah2 dinding yang retak. menerangi sedikit ruangan yang gelap dan apek itu. Kembali ia saksikan tengkorak manusia berserakan ditengah ruangan tersebut.
Tak tahan lagi si anak muda itu berseru terperanjat, ia semakin bingung dan tak habis mengerti kenapa ayahnya mengajak dirinya mengunjungi rumah hantu semacam ini.
"Tuu turunkan aku", seru pria berusia pertengahan itu.
Pemuda tadi mengiakan dan menurunkan ayahnya keatas lantai, tapi tatkala ia berpaling pemuda itu segera berdiri menjublak. terasa olehnya bahwa ia sedang bermimpi jelek:
Untuk pertama kalinya ia saksikan sang ayah yang bewajah ramah dan penuh kasih sayang itu menunjukkan mimik yang menakutkan, suatu perubahan air muka yang menjijikkan..
"Ayah. . .kau.." jeritnya keras2.
"Aku. . .aku bukan ayahmu " teriak pria tadi.
Dengan hati terkesiap si anak muda itu mundur satu langkah ke belakang, dalam pikiran nya mungkin sang ayah berada dalam keadaan tak sadar, mungkin pikirannya tidak jernih.
"Nak" terdengar pria berusia pertengahan itu berkata lagi.
"Berikan separuh .... separuh Jin som itu kepadaku..."
Dengan wajah kebingungan pemuda itu mengambil keluar sebuah bungkusan kecil dari sakunya lalu diserahkan kepada pria tadi.
setelah menerima bungkusan tersebut, pria itu membuka bungkusan tadi lalu mengambil jin som dan ditelannya kedalam perut.
sesaat kemudian semangat serta kesegaran nya telah pulih kembali.
"Ayah bukankah sejak tadi telah kunasehati untuk menelan separuh buah jinsom tersebut, mungkin penyakitmu tidak akan berubah jadi separah ini...".
Pria berusia pertengahan itu tidak menggubris perkataan putranya, dengan wajah berkerut kencang dan menunjukan mimik yang mengerikan ia alihkan pandangannya ke arah sesosok tulang tengkorak manusa yang membujur disisinya penuh rasa hormat.
sang pemuda yang menyaksikan tingkah laku ayahnya makin lama semangkin bingung.. kian lama kian bertambah terperanjat. sehabis menyembah kearah tengkorak tadi, titik-titik air mata nampak mengucur keluar membasahi pipinya yang kurus dan peot.
"Ayah . . " kembali pemuda itu berseru.
"Aku bukan ayahmu!".
"Kau . . kau orang tua ... "
"Sekarang dengarkanlah baik2 " terdengar pria berusia pertengahan itu dengan wajah hijau membesi dan sorot mata menggidikan menatap sianak muda itu tajam2.
"Aku bukan ayahmu, aku adalah paman gurumu yang disebut orang si telapak naga beracun Thio Lien".
"Ayah . . . "jerit pemuda itu dengan suara gemetar dan hati bergetar keras:
sepasang mata pria berusia pertengahan itu melotot besar, tukasnya dengan suara seram:
"Aku bukan ayahmu, aku adalah paman gurumu sitelapak naga beracun Thio Lien".
"Paaaa...paman guru???".
"Tidak salah".
"Kalau begitu, keponakan bukan she Tio?"
"Tidak kau she Han".
"Aku she Han??" badan sianak muda itu mulai gemetar keras: "Benar. kau she Han. Ingat baik2, namamu adalan Han Siong Kie..."..
"Han Siong Kie???".
" Ehm ayahmu bernama Han Hoei, dia adalah Jie suko ku ".
sekilas bayangan hitam berkelebat dalam benaknya, Han Siong Kie merasa hatinya bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri.
"Lalu ayahku..."
"Dialah tulang tengkorak dari jie suhengku dialah tulang tengkorak dari ayahmu " seru sitelapak naga beracun sambil menuding kearah tulang membujur disisi tubuhnya.
Bagaikan disambar petir disiang hari bolong Han Siong Kie merasa dadanya jadi sesak. pandangan matanya jadi gelap dan tak tahan lagi ia berteriak keras: "Ayah. . ."
Tubuhnya menubruk keatas tulang tengkorak tadi dan jatuh tak sadarkan diri
Dengan susah payah si telapak naga beracun Thio Lien menyalurkan jari tangannya dan menotok beberapa buah jalan darah di atas tubuh pemuda she Han tersebut.
Perlahan-lahan Han Siong Kie tersadar kembali dari pingsannya, ia menyembah beberapa kali dihadapan tulang tengkorak ayahnya lalu dengan suara keras ia menjerit: "susiok apakah perkampungan ini adalah rumah kediamanku??"
"Tidak salah"
"Tulang tengkorak manusia yang berse-rakan diseluruh perkampungan ini ...."
"Mereka anggota keluarga serta anggota perkampunganmu, semuanya berjumlah dua ratus jiwa". .
"Siapakah yang melakukan pembunuhan brutal ini????"".
"Dengarkan dulu ceritaku. pada hari Tiong Yang lima belas tahun berselang, aku dengan membawa sutemu datang mengunjungi ayahku, waktu itu kau masih berusia tiga tahun. sutemu adalah sebaya dengan usiamu hanya dia lebih muda dua bulan. Disaat kami sedang berbicara dan bercerita dengan riang gembira itulah tiba2 bencana datang dari atas langit,jie suheng segara melemparkan dirimu kepadaku sambil berpesan: sute, tolong, selamatkanlah keturunan keluarga Han kami.."
Mendengar sampai disini Han Siong Kie merasakan pandangannya jadi ber kunang2, sambil menggertak gigi kencang2 ia berusaha menahan golakan emosi dalam hatinya.
"Waktu itu aku telah bertekad untuk berjuang sampai titik darah penghabisan" terdengar sitelapak naga beracun Thio Lien melanjutkan kembali kisahnya." Tetapi pesan terakhir dari ayahmu tak dapat kutampik, maka disaat terakhir, aku membopong tubuh mu dan meloncat kedalam sebuah sumur kering ditengah halaman . . . ".
"Lalu dimanakah sute???".
"Dia . . dia telah mati konyol mewakili dirimu" sahut Thio Lien dengan mata melotot besar:
Han Siong Kie tak kuasa menahan diri, ia muntah darah segar.
Si telapak nega beracun Thio Lien melirik sekejap kearahnya, lalu melanjutkan:
"Ketika aku membawa kau merangkak ke luar dari sumur tua itu, seluruh isi perkampungan telah porak poranda . . tak seorang manusiapun berada dalam keadaan hidup,"
Han Siong Kie menjerit keras, sekali lagi ia muntah darah segar dan badannya mundur dengan sempoyongan. "Dimanakah ibuku??". .
"Ibumu??" Thio Lien menggigit giginya.
"Kenapa dengan ibuku???" satu ingatan jelek kembali berkelebat dalam benak sianak muda itu
"Ibumu bernama Say Siang Go, si Siang Go cantik Ong Coei Ing, pada lima belas tahun berselang merupakan wanita tercantik didalam dunia persilatan"
"Apakah ia tidak mati didalam peristiwa berdarah itu???".
"Tidak "
"Kenapa ???".
"Kejadian itu merupakan suatu teka teki hingga kini hanya dia seorang yang masih hidup dalam keadaan segar bugar".
"Sekarang ibuku berada dimana??? susiok apakah kau tahu??"
"Aaaai... " sitelapak naga beracun Thio Lien menghela napas sedih.
"Nak .... lebih baik kau tak usah menanyakan persoalan ini"
"Tidak ...." Jerit Han Siong Kie sambil gelengkan kepalanya berulang kali. "Aku ingin tahu susiok aku ingin tahu nasib yang dialami ibuku".
"Dia sudah menikah lagi"
"Apa??? ibuku menikah lagi ????" sekujur tubuh pemuda she Han ini menggetar keras, hampir saja ia tak sanggup menahan golakan hati yang terasa amat berat itu.
"Sedikitpun tidak salah".
"Apakah dia tahu kalau aku masih di dunia dikolong langit ?"
"Ia Tahu".
"Kenapa ia tidak datang mencari diriku?"
"Aku pernah membawa dirimu pergi mencari dirinya, tapi hampir saja kita berdua mati konyol diujung telapak tangannya, berulang kali dia memperingatkan diriku, katanya apabila lain kali sampai bertemu lagi, maka jiwa kita berdua pasti akan dicabut. oleh sebab peristiwa inilah selama lima belas tahun lamanya aku tak berani munculkan diri didalam dunia persilatan"
Han Siong Kie menjerit keras dan sekali lagi muntah darah segar, ia tidak menyangka kalau dirinya ternyata memiliki seorang ibu yang begitu kejam bagaikan kalajengking...
Blaam pemuda itu tak sanggup berdiri tegak lagi dan segera jatuh terduduk diatas tanah. "Apakah ia tidak mempunyai rencana untuk membalas dendam kematian bagi keluarganya??"
"Anak kandung sendiripun sudah tidak mau, apa lagi membicarakan soal pembalasan dendam"
"Suatu hari aku... aku mau membinasakan dirinya. "
"Apa? kau headak membunuh ibumu sendiri??? "
Han Siong Kie menutupi wajahnya dengan sepasang tangan lalu menangis ter-sedu2. "Yaah Allah kenapa kau bisa mempunyai seorang ibu macam begini.??..".
"Nak. bagamanapun juga akhirnya kau telah tumbuh jadi dewasa, tetapi karena terikat oleh sumpah aku tak dapat mewariskan segenap kepandaian silat yang kumiliki kepadamu, namun dalam lima belas tahun belakangan ini kau sudah memiliki dasar tenaga lweekang yang cukup kuat, asal kau dapat bertemu dengan guru pandai tidak sulit untuk memperoleh kemajuan yang pesat. Nah. sekarang kau boleh pergi".
"Susiok. kau bilang apa???" seru Han Siong Kie dengan hati terkesiap. matanya terbelalak dan mulutnya melongo.
"Aku minta kau segera tinggalkan tempat ini "
"Aku disuruh tinggalkan tempat ini??".
"Benar."
"Lalu bagaimana dengan susiok???".
"Aku sudah mencuri hidup selama lima belas tahun lamanya, tugas yang dititipkan jie suheng kepadakupun sudah selesai sekarang aku sudah sewajarnya untuk menyusul diri Jie suhengku"
"Susiok, kau... " seru Han Siong Kie dengan hati sedih, ia sebera merangkak kehadapan telapak naga beracun Thio Lien dan berlutut di hadapannya.
"Nak, tindakan ini merupakan peraturan dari perguruan, kau tak bakal mengerti"
"Tidak susiok. kau tak boleh..."
"Nak, itu namanya nasib"
"Bagaimanapun juga kau harus mengerti dan memahami "
"Susiok. kau telah mengorbankan jiwa sute demi menyelamatkan jiwaku, selama lima belas tahun kaupun telah mendidik dan memelihara aku, budi kebaikan yang sedalam lautan ini meski badan titjie harus hancur lebur pun tak akan terbalas.".
"Omong kosong kesemuanya itu cuma omong kosong. "
"Tidak susiok. aku tidak akan membiarkan dirimu. ."
"Apakah kau hendak memaksa aku untuk menghianati perguruan?? kau hendak paksa aku melanggar peraturan?? "
"Tetapi.. .susiok bagaimanapun juga kau harus mengatakan dulu alasan2nya".
"Tidak bisa, ini adalah perintah dari perguruan yang tak dapat dibangkang..."
Makin dipikir Han Siong Kie merasa semakin bimbang dan tidak habis mengerti, ia tak dapat menangkap maksud perkataan dari susioknya barang sepatah katapun.
"Susiok, lalu siapakah musuh besar kita.??" akhirnya ia bertanya lagi setelah termenung beberapa saat lamanya.
"Kau tak usah tahu siapakah musuh besar kita.. "
"Kenapa?? apakah..."
"Ingat" seru si telapak naga beracun Thio Lien dengan mata bercahaya tajam. Pertama kau tidak diperkenankan membicarakan atau mengungkap asal usulmu kepada siapapun juga. Kedua. dilarang mengubur tulang belulang yang berserakan ditempat ini. Ketiga, Dilarang membalas dendam"
"Susiok, kau sedang mengatakan soal apa?" jerit sianak muda itu pedih.
"Ini perintah dari paman gurumu, kau tak boleh melanggar."
"Susiok, ingatanmu mungkin tidak..."
"Omong kosong, aku segar bugar otakku jernih dan tidak melantur"
"Lalu kenapa aku tak boleh membalas dendam??".
"Kau tak usah bertanya mengapa, ayahmu yang ada diakhirat pasti mengerti dan memahami keadaan sebenarnya dan ia pasti dapat menyetujui tindakan yang telah kuambil ini."
"Kalau begitu tit-jie tolong tanya nama dari perguruan kami??".
"Masa yang sudah silam tak usah dibicarakan lagi, lebih baik kau tak usah tahu tentang hal itu lagi".
"Lalu ibuku yang berhati kejam bagaikan kala itu telah kawin lagi dengan siapa?".
"Kauwcu dari perkumpulan Thian Che Kauw"
"Macam apakah Thian Che Kauwcu itu???"..
"Persoalan ini mungkin jarang ada orang yang bisa menjawab. Thian Chee Kauwcu adalah pemimpin dari suatu perkumpulan terbesar di kolong langit dewasa ini, kedudukannya tinggi dan kekuasaannya meliputi seluruh dunia persilatan".
"Susiok. titcie selama ini tak pernah mendengar susiok membicarakan tentang diri susiokbo."
Sinar kebencian dan penuh rasa dendam memancar keluar dari telapak naga beracun Thio Lien.. sesaat kemudian dengan nada sedih ia menjawabi "Apa yang telah terjadi persis seperti peristiwa berdarah yang dialami oleh keluargamu, hanya kejadian itu berlangsung tiga hari setelah aku tinggalkan rumah."
Dalam sedihnya yang kelewat batas Han Siong Kie masih sempat merasakan hatinya bergetar keras setelah mendengar perkataan itu, ia hampir saja tidak mempercayai apa yang dikatakan susioknya sitelapak naga beracun Thio Lien terhadap dirinya, sebab apa yang terdengar olehnya hampir mendekati tidak masuk diakal.
Mengapa keluarga Han dan keluarga Thio mengalami peristiwa berdarah hampir bersamaan waktunya?? dan dia mengapa di larang untuk membalas dendam serta mengubur tulang belulang yang berserakan diseluruh perkampungan usang itu???
Dalam pembicaraannya, setiap kali sang susiok menegaskan bahwa itu perintah perguruan, apa yang dia maksudkan?? Apakah peristiwa berdarah ini mempunyai hubungan yang erat dengan dendam berdarah dari perguruan angkatan sebelumnya?? Kenapa susioknya tak mau menerangkan tentang perguruannya???
Selama belasan tahun mereka hidup berdampingan sebagai ayah dan anak... hubungan itu demikian rapat dan eratnya..
Belum habis dia berpikir, terdengar si telapak naga beracun Thio Lien telah menjerit sedih:
"Suhu, tecu sudah mencuri hidup lima belas tahun lamanya, ini hari aku baru berhasil menyelesaikan perintahmu" .
Plooook diiringi dengusan napas barat, tampaklah darah segar berhamburan keempat penjuru, siorang tua she Thio itu telah menghantam ubun2 sendiri hingga hancur berantakan, otak bermuncratan ke mana2 dan jiwanya segera melayang meninggalkan raganya.
Dengan perasaan tertegun... kaku. Han Siong Kie menyaksikan drama seram itu berlangsung dihadapan matanya, ia tidak menangis pun tidak bersuara. seakan2 segala sesuatunya sudah jauh meninggalkan dirinya.. seolah-olah ia sudah bukan termasuk didalam dirinya, yang terlihat saat itu hanyalah kegelapan yang kelabu serta kegirangan yang menyelubungi seluruh tubuhnya.
Ia merasa se akan2 dirinya sudah berada didunia yang lain, disuatu tempat yang hampa ... kosong...
Thio susiok telah bunuh diri dan ia berkata bahwa kesemuanya itu adalah perintah perguruan, kenapa??
Ia dilarang membicarakan soal asal usulnya, dilarang mengubur tulang belulang yang berserakan, dilarang membalas dendam
Kenapa?? kenapa demikian???? apa yang sebenarnya sudah terjadi ???
Malam semakin kelam udara semakin dingin ia berdiri seorang diri ditengah kesunyian.
-0000000-
FAJAR telah menyingsing, sang surya perlahan2 muncul diufuk sebelah timur dan memancarkan sinarnya menembusi celah2 jendela, menerobos ruang yang luas dan menyinari mayat Thio Lien serta tulang berulang yang berserakan di mana2.
Han song kie mendusin dan sadar kembali dari kesedihan yang kelewat batas, kengerian yang terbentang dihadapan wajahnya membuat hatinya layu ... perih.. bercampur dendam.
Mendadak...ia temukan bayangan bewarna merah diatas dinding tembok. cahaya itu seperti lukisan sebuah lambang, maka didekatinya dinding tadi dan membersihkannya dari kotoran debu, sesaat kemudian terlihatlah sebuah lukisan tengkorak darah diatas dinding tadi.
Tengkorak darah itu melambangkan apa??
Mungkinkah tanda pribadi dari musuh besarnya? ataukah lukisan dari mendiang ayahnya???...
"Aku harus membalas dendam aku harus menyelidiki peristiwa ini hingga jelas ....".
Sambil menjerit-jerit ia lari keluar perkampungan, bagaikan sukma gentayang berkeliaran dijalan raya....
Mimpipun ia tak pernah menyangka kalau dirinya menpunyai asal usul yang begitu mengerikan .... begitu memedihkan hati.
Ia teringat kembali keluarganya yang musnah dalam keadaan mengerikan, ia teringat pula budi pertolongan Thio susiok nya yang telah memeliharanya dan mendidik dirinya selama lima belas tahun, budi kebaikan ini selamanya tak akan bisa dibalas....
Ibunya....si siang Go cantik Ong Coei Ing menurut Thio susioknya adalah perempuan tercantik diseluruh kolomg langit, tetapi diapun merupakan wanita paling kejam paling berbisa hatinya dikolong jagat, bukan saja ia tak mau mengakui anak kandungnya sendiri, tak mau membalaskan dendam atas peristiwa berdarah itu bahkan malah kawin lagi dengan orang lain....
Ia merasa sakit hati, merasa dendam dan malu... malu karena mempunyai seorang ibu semacam itu.
Dalam semalam suntuk, la telah berubah jadi seorang manusia yang lain Benci, dendam, marah dan malu telah bercampur aduk didalam benaknya, mencair dan menjadi satu dengan darahnya.
Diatas raut wajahnya yang tampan terlintas perasaan dingin yang menyeramkan membuat siapapun yang memandang merasa bergidik dan ngeri.
sorot matanya memancarkan cahaya tajam penuh kebencian, penuh perasaan dendam yang mendalam.
Bagaikan sukma gentayangan ia berjalan, ia berjalan terus tanpa arah tujuan Mendadak... suara.. bentakan nyaring berkumandang disisi telinganya.
"Hey, kalau jalan kau pakai matamu atau tidak?? ngawur saja seenaknya..."..
Bagaikan baru sadar dari impian Han Siong Kie tersentak kaget, lalu angkat kepala nya, tampaklah dua orang dayang berwajah cantik telah berdiri dihadapan matanya sementara empat orang pria kekar yang menggotong sebuah tandu kecil mangikuti di belakang dayang tadi.
Disaat sianak muda itu mendongak itulah mendadak kedua orang dayang tersebut melenggak. lalu sambil menutupi mulutnya tertawa cekikikan, empat biji mata yang bening berseliweran memperhatikan sekujur tubuhnya.
Dengan dingin dan ketus, Han Siong Kie melirik sekejap lawannya, kemudian putar badan dan meneruskan perjalanannya lewat sisi jalan.
"Kembali", serentetan suara bentakan yang mengandung besi semberani berkumandang keluar dari dalam tandu.
Han song Kie sama sekali tidak menggubris tanpa berpaling barang sekejappun ia meneruskan perjalanannya menuju ke depan.
Angin berbau harum berkelebat lewat, mendadak sianak muda itu merasakan pandangannya nanar. sesosok bayangan manusia tahu-tahu sudah menghadang dihadapannya.
Han Siong Kie tanpa sadar telah menghentikan langkah kakinya dan mendongak, tampaklah seorang perempuan muda, berbaju merah yang amat cantik telah menghadang dihadapan mukanya. perempuan itu kira-kira dua puluh tahunan wajahnya menunjukkan kegenitan serta kejalangan yang tebal.
"Hey kau dengar tidak. perkataanku??.." suaranya merdu dan enak didengar.
Begitu melihat perempuan muda berbaju merah ini, HanSiong Kie segera teringat kembali akan ibunya, rasa benci dan mendendam seketika muncul didalam hatinya, tanpa sadar mendengus dingin dan melengos ke samping...
Perempuan itu jadi tercengang menyaksikan tingkah laku lawannya, belum pernah ia berjumpa dengan seorang pria yang sama sekali tidak ambil perduli terhadap dirinya, disamping itu perempuan itupun merasa tertarik akan ketampanan wajah lawan, jarang sekali ia menjumpai pria tampan semacam ini. Maka sambil tertawa ter-kekeh2 tegurnya:
"Heeei, saudara cilik, aku sedang mengajak kau berbicara, kau tidak mendengar??".
"Cayhe tidak punya kegembiraan untuk menemani kau bicara" sahut HanSiong Kie ketus.
"Aduuuh mak. .sombong amat kau, tahukah kan siapa aku??"
"Perduli amat siapa kau, apa sangkut paut nya dengan diriku?? "
Merah jengah sekitar wajah perempuan muda itu, tapi sedetik kemudian telah pulih kembali seperti sedia kala. "saudara cilik, kau..."
"Huuuh, siapa yang sudi jadi saudaramu".
"siapakah namamu?? boleh toh diberitahu kan kepadaku??". .
"Aku merasa tiada berkewajiban dan berke-harusan untuk memberitahukan namaku ke padamu".
"Jadi kau benar2 tidak pingin tahu siapakah aku??".
"Tidak" habis berkata ia putar badan dan segera berlalu dari situ...
"Tidak gampang pemuda tampan kau tinggalkan tempat ini".
Diiringi seruan nyaring tahu2 perempuan muda berbaju merah itu telah menghadang di depan tubuhnya, gerakan ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan sungguh lihay dan cukup membuat Han Siong Kie merasa amat terperanjat.
"Apa yang siap hendak kau lakukan??" teriaknya.
"Aku hendak paksa kau untuk menjawab pertanyaanku".
"Kalau aku tak mau menyahut???".
"Mungkin kau tak bisa menuruti keinginan hatimu itu".
"Hmmm" si anak muda itu kontan mendengus dingin
"Apa yang kau dengusi??".
"Aku benci...".
"Apa yang kau benci ???".
"Aku benci terhadap kalian kawanan perempuan" seru Han Siong Kie dengan wajah menghina dan sinar mata penuh kebencian.
Mendengar sahutan tersebut perempuan muda berbaju merah itu tertegun, beberapa saat kemudian ia baru berseru:
"Kau membenci semua perempuan yang ada dikolong langit???".
"Tidak salah".
Dua orang dayang yang berada disisinya tak tahan segera tertawa cekikikan, kejadian ini benar2 merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh, sungguh tak nyana seorang pemuda tampan bisa mengutarakan kata2 semacam ini.
"Mengapa kau benci semua perempuan yang ada dikolong langit??..." tanya perempuan muda berbaju merah itu dengan wajah tercengang.
Han Siong Kie tidak menjawab pertanyaannya, sekali enjot badan ia menerobos lewat sisi tubuh perempuan itu.
Perempuan muda berbaju merah tadi segera tersenyum, sepasang lengannya di rentangkan ke samping dan seketika terasalah segulung tenaga hisapan yang amat kuat menarik tubuhnya hingga mentah2 terdesak balik ke tempat semula.
Han Siong Kie benar2 merasa amat terperanjat, ia tidak mengira kalau tenaga lweekang yang dimiliki lawannya telah mencapai puncak yang demikian sempurna nya.
"Ayoh jawab dulu pertanyaanku, maka aku akan memberi jalan lewat bagimu" seru perempuan muda berbaju merah itu sambil tertawa ringan.
Dengan biji mata yang memancarkan perasaan penuh kebencian, Han Siong Kie menatap wajah lawannya tajam2, lalu seru nya dengan nada gusar:
"Kau tak usah bermimpi disiang hari bolong, tidak nanti aku akan mengabulkan permintaanmu itu".
"Huuuh dengan mengandalkan kekuatanmu semacam itupun berani berlagak jumawa di hadapanku?? "
"Hmmm perempuan yang tak tahu malu" "
"Kurang- ajar, kami siapa yang tidak tahu malu ???" bentak wanita muda berbaju merah itu dengan wajah dingin membesi, suara tertawa dingin berkumandang tiada hentinya.
"Aku sedang memaki dirimu mau apa?"
Perempuan muda berbaju merah itu kontan naik pitam, tiba2 di atas wajahnya yang cantik terlintas napsu membunuh yang sangat tebal, ia mendengus dingin
"Manusia yang tidak tahu diri tangkap bangsat cilik ini" perintahnya.
Dua orang dayang yang berdiri di sisinya segera enjotkan badannya menubruk ke arah Han Siong Kie, empat buah cakar mautnya laksana kilat meluncur ke arah depan.
Han Siong Kie benar2 merasa amat gusar, begitu marahnya sampai perut terasa mau meledak. sepasang telapaknya secara terpisah membabat keluar dan mengancam tubuh musuh musuhnya.
siapa tahu belum sampai serangan tadi mengenai sasarannya, sepasang pergelangan terasa jadi kaku dan tahu2 tangannya sudah kena dicengkeram lawannya erat2.
Melihat kelemahan tubuh lawannya, perempuan muda berbaju merah itu tak bisa menahan diri lagi dan tertawa cekikikan dengan kerasnya.
"Hiiih. . hiiih.... hiiih.... kiranya kau hanyalah sebuah bantal yang bersulam bunga"
Selama lima belas tahun lamanya Han Siong Kie mengikuti diri telapak naga beracun Thio Lien, didalam tenaga lweekang ia memiliki dasar yang sangat kuat, tetapi jurus serangannya teramat biasa tiada keanehan apapun, karena si telapak naga beracun pernah bersumpah ia tak boleh mewariskan jurus serangan perguruannya kepada pemuda ini kecuali jurus-jurus serangan yang sederhana.
Begitulah sambil mencengkeram sepasang pergelangan Han Siong Kie dengan tenang kedua orang dayang cilik itu menantikan keputusan dari perempuan berbaju merah.
Han Song Kie benar-benar merasa naik pitam sehingga tujuh lubang inderanya terasa keluar asap panas, tetapi apa daya ia tak sanggup berbuat sesuatu terpaksa dengan mata melotot penuh kebencian ia awasi lawannya..
Dengan sikap yang genit dan kerlingan mautnya perempuan berbaju merah itu selangkah demi selangkah berjalan mendekati sianak muda itu, serunya merdu: "Saudara cilik, sekarang kau boleh menjawab pertanyaanku bukan??...".
"Tidak.." teriak Han Siong Kie dengan mata melotot..
Perempuan muda berbaju merah itu tertawa cekikikan, ia raba pipi Han Siong Kie dengan manja dan berkata lagi:
"Justru aku paling suka dengan lelaki berhati keras dan bersikap gagah macam dirimu".
"Cuuuuh" Han Siong Kie menyemburkan ludahnya ke arah wajah perempuan muda itu.
Tindakan tersebut sungguh jauh di luar dugaan perempuan berbaju merah itu, lagi pula jarak diantara mereka amat dekat sekali, semburan ludah ini tak berhasil menghindari lagi dan mengena dengan telak di atas wajahnya.
Sepasang alis perempuan berbaju merah itu kontan berkerut kencang, telapak tangan nya langsung diayun ke depan menghadiahkan sebuah tempelengan keras ke atas pipinya.
"Ploook!" Han Siong Kie merasakan pipi kirinya jadi amat sakit, dan segera muncullah sebuah telapak tangan yang berwarna merah dengan bekas yang nyata. "Perempuan sialan yang tak tahu malu"
"Ploook.." kembali sebuah tempelengan keras bersarang di atas pipi kanannya, tempelengan kali ini jauh lebih keras dari tamparan semula membuat si anak muda itu merasakan matanya berkunang2 dan cairan darah menyembur keluar dari mulutnya. Begitu sakitnya sampai2 ia merintih kesakitan.
Sepasang mata Han Siong Kie seketika mendelik besar, dengan cahaya penuh kebencian dan hawa amarah yang ber kobar2 jeritnya sambil menggertak gigi:
"Ingatlah baik2 suatu hari aku bisa mengembalikan kesemuanya ini kepadamu bersama rentenya"
"Hmmm kau tidak akan mempunyai kesempatan untuk berbuat begitu.." seru perempuan berbaju merah itu dengan wajah hijau membesi, suaranya dingin dan ketus.
Han Siong Kie mendengus gusar, sepasang lengannya segera direntangkan ke samping. Meskipun ilmu silatnya biasa dan tidak lihay tetapi didalam hal tenaga lweekang pemuda ini mempunyai hasil latihan selama lima belas tahun, rentangan tersebut tak bisa dipandang enteng.
Perempuan berbaju merah itu tertawa menjengek, telapak tangannya perlahan2 di angkat keatas, serentetan angin desiran segera meluncur keluar menghajar tubuh lawan.
Han Siong Kie berseru tertahan dan segera roboh terjengkang ke atas tanah setelah termakan oleh serangan jari itu.
"Angkut dan masuk ke dalam tandu" perintah perempuan itu
Kedua orang dayang tersebut sebera mengiakan, yang seorang membohong tubuh Han Siong Kie dan seorang yang lain membuka horden di depan tandu segera menyusupkan tubuhnya ke belakang tempat duduk.
Perempuan berbaju merah itu sendiri berkelebat masuk ke dalam tandu, empat orang pria kekar itupun menggotong tandu tadi dan meneruskan kembali perjalanannya.
Setelah tubuhnya disusupkan ke belakang tempat duduk. Han Siong Kie segera merasakan bau harum semerbak yang menusuk hidung berhembus lewat tiada henti nya, membuat ia merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan terasa muak. tetapi pendapatnya yang sudah berakar didalam hatinya membuat si anak muda ini kecuali membenci perempuan yang dianggap berbisa bagaikan kala, tiada ingatan lain lagi.
Ia tidak tahu apa tujuannya perempuan baju merah itu bersikap demikian terhadap dirinya??
Ia teringat pula akan hasil latihannya selama lima belas tahun, ternyata tak sanggup untuk menahan satu jurus serangan dari seorang dayang cilik itu, apa lagi mencari musuh besarnya untuk membalas dendam, bukankah hal itu bagaikan impian orang tolol??
"Asalkan aku tidak mati, aku bersumpah harus mempelajari kepandaian silat yang maha lihay berulang kali ia bergumam di dalam hati kecilnya.
Entah sudah beberapa lamanya telah lewat dan beberapa jauh telah mereka tempuh..
Mendadak.... tandu itu telah berhenti, diikuti desiran angin tajam berseliweran di depan tandu.
"Siapa yang menghadang pergi kita??" bentak perempuan muda berbaju merah itu nyaring.
"Lapor Thongcu, Kang Lam Chit Koay telah datang mencari setori dengan kita" suara salah seorang dayang itu berkumandang datang.
"Oooh, kiranya perempuan yang tak tahu malu ini adalah seorang thongcu..." Pikir Han Siong Kie didalam hatinya. " Entah ia berasal dari perkumpulan mana dan siapa pula ke tujuh manusia aneh dari Kang lam itu?...".
"Lie In Hiang" terdengar serentetan suara bentakan berat berkumandang keluar. "Ayoh gelinding keluar dari dalam tandu, dan jawab pertanyaan kami".
Dari ucapan tersebut, sianak muda she Han pun lantas tahu bahwa perempuan berbaju merah itu bernama Lie In Hian.
Perempuan berbaju merah itu segera mendengus dingin, sambil melangkah keluar dari tandunya ia menyahut
"Kang lam chiet Koay, ada urusan apa kau menghadang jalan pergi pun Thongcu???".
Suara dengusan gusar berkumandang beberapa kali, orang yang buka suara pertama tadi segera berseru kembali dengan suara berat:
"Lie In Hiang kau tak usah pura-pura edan dan berlagak pilon, apa salahnya Go Yoe Too pangcu dari perkumpulan Pat Gie Pang sehingga kau bunuh dengan begitu mengerikan???"
"Lalu apa maksud tujuan cuwi sekalian?. "
"Hutang nyawa bayar nyawa, hutang darah bayar darah".
"Hiiih..Hiih.... Hiiih.... aku si kupu-kupu warna-warni Leng In Hiang merasa mendapat kehormatan untuk menerima kunjungan kalian semua, tapi tolong tanya keadilan yang kalian inginkan itu hendak kalian tagih cara apa ??".
"Kau sudah larikan batok kepala Go Yoo Too kemana??". .
"Kini masih didalam tanduku, sayang aku buru-buru harus kembali untuk memberi laporan hingga tak bisa melayani kalian lebih lanjut....".
"Lie In hiang "teriak seseorang dengan suaranya yang kasar." permusuhan apakah yang terikat antara Go Yoe Too dengan perkumpulan Thian chee Kauw??"
Han Siong Kie segera merasakan hatinya bergetar keras, ia teringat kembali bahwa ibunya yang berhati kejam bagaikan kala si siang Go cantik Ong Coei Ing telah kawin lagi dengan Thian che Kauwcu, darah panas segera bergelora didalam dadanya.
Dalam pada itu terdengar si kupu2 warna warni Lie In Hiang telah berseru sambil tertawa genit.
"Go Yoe Too berani memandang hina perkumpulan kami, maka dari itu dia harus di bunuh sampai mati".
"Secara bagaimana ia menghina dan memandang rendah perkumpulan Thian chee Kauw??".
"Pada ulang tahun Kauwcu kami sebulan berselang, semua wakil dari partai serta perkumpulan yang ada di dunia persilatan telah berkunjung untuk memberi hormat, hanya dia seorang yang tidak hadir, maka dia musti dibunuh sampai mati ".
Beberapa bentakan nyaring serentak bergeletar memenuhi seluruh angkasa ....
"Perkumpulah Thian Chee Kauw hendak mengangkang seluruh kolong langit, hendak melenyapkan keadilan serta kebenaran di dalam Bu-lim, dia harus dibunuh sampai mati."
Desiran angin pukulan segera men deru2, rupanya kedua belah pihak telah saling bertarung dengan serunya.
Suara menjerit ngeri yang menyayat hati bergema mengiringi gelak tertawa yang merdu, jelas diantara tujuh manusia aneh ada seorang telah menemui ajalnya.
Pertarungan berjalan semakin seru dan jeritan-jeritan ngeri pun tiada hentinya bergema memecahkan kesunyian.
Setiap kali jeritan berkumandang memenuhi angkasa, suara tertawa cekikikan dari kupu-kupu warna warni Lie In Hiang segera bergema mengiringinya.
Meskipun Han Siong Kie tak dapat mengikuti pertarungan itu dengan mata sendiri, tetapi dari suara yang bergema diangkasa ia dapat menduga betapa seram dan ramainya pertempuran tersebut dan membuktikan pula betapa lihay tenaga lwekang yang dimiliki Lie In Hiang serta kekejian hatinya.
suara gaduh kian lama kian bertambah sirap dan akhirnya sebuah jeritan keras mengakhiri pertempuran sengit itu.
Kang lam chit Koay tujuh manusia aneh dari Kang lam telah mati binasa semuanya dalam keadaan mengerikan.
Sedang si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang dengan penuh senyuman dan seakan akan tak pernah terjadi sesuatu apapun, kembali masuk kedalam tandunya.
"Sungguh kejam hati perempuan ini" pikir Han song Kie didalam hati kecilnya. Suatu hari aku pasti bisa membinasakan dirimu”
Tandu kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke depan, tidak lama kemudian terdengarlah suara gemuruh air yang amat santar, rupanya mereka telah tiba di tepi sungai, suara pembicaraan manusia bergema tiada hentinya, mungkin di atas jalan raya itu banyak orang sedang melanjutkan perjalanan.
Secara lapat-lapat terdengar suara beberapa orang manusia sedang membicarakan sesuatu.
"Selama Benteng Maut tidak dibasmi, dunia persilatan selamanya akan dirundung malang. . ."
"Pemilik benteng maut sudah puluhan tahun lamanya menjajah dunia persilatan, berapa ribu orang telah mati diujung telapak nya."
"Aaaah, mungkin makhluk aneh yang misterius itu sudah lama tak ada dikolong langit, entah dia mempunyai ahli waris atau tidak???".
"Yang paling dikuatirkan pelbagai perkumpulan dan partai justru adalah persoalan ini, maka atas nama perkumpulan Thian chee Kauw yang menyebar surat undangan Bu-lim.
Tiap semua jago yang ada dikolong langit diundang untuk berkumpul disini dan bersama2 membasmi benteng maut ini"".
"Aaah, mungkin saja pemilik Benteng Maut itu masih hidup dikolong langit??..".
"Tetapi pintu benteng sudah lima belas tahun lamanya tertutup rapat, Bu-lim pun sudah tenang selama lima belas tahun lamanya, apakah mungkin. . .."
"Oooh, akibatnya sungguh menakutkan sekali".
"Kali ini jago2 lihay dari lima partai besar, It-kauw Jie-Pang serta Jio hwie ikut hadir semua dalam pertemuan besar ini, bahkan Lam Kay si pengemis dari selatan serta Pak Ceng sipendeta dari utara yang amat tersohor nama nya didalam Bu limpun katanya akan ikut munculkan diri.."
Suara pembicaraan itu makin lama semakin jauh dan kata-kata selanjutnya tak sempat ditangkap lagi, tetapi Han Siong Kie telah dapat menangkap garis besar dari kejadian yang sebenarnya Jelas jago2 Bu lim dari kalangan Hek to serta Peksto telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menghadapi Benteng Maut.
Tetapi ia tak tahu, apa sebetulnya "Benteng Maut" itu dan macam apakah si pemilik Benteng Maut itu sehingga dilukiskan begitu mengerikan dan menyeramkan sampai2 seluruh umat Bu-lim bersatu padu untuk menghadapinya.
Tandu telah berhenti dan si kupu2 warna warni Lie In Hiang pun meloncat keluar dari tempat duduknya.
Angin berhembus amat kencang dan menyingkap kain horden yang menutupi tandu tersebut, Han Siong Kie yang menggeletak di dasar tempat duduk sempat mengintip keluar dari tempat berbaringnya, terlihat sebuah sungai besar dengan ombak yang besar terbentang dihadapannya, beratus2 orang jago Bu lim sama2 berkumpul ditepi sungai.
Di tengah sungai berdiri dengan angkernya sebuah benteng kuno, di depan benteng terdapat sebuah jembatan batu yang menghubungkan benteng tersebut dengan tepi seberang.
Sebuah tonggak batu yang besar dengan tulisan "Benteng Maut" berdiri dengan angker nya di sisi Benteng kuno tersebut.
Satu ingatan segera berkelebat dalam benak Han Siong Kie, ia segera putar kepalanya dan memandang lebih jauh ....
Mendadak ia berdiri menjublak, sekujur badannya bergetar keras bagaikan kena aliran listrik, disisi pintu benteng yang lain terlihatlah sebuah tengkorak berwarna merah darah, bentuk tengkorak itu persis seperti lukisan yang terdapat di atas dinding ruangan perkampungan keluarganya.
Sekarang ia baru paham peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Han serta keluarga Thio pada lima belas tahun berselang kiranya adalah hasil karya dari pemilik "Benteng maut".
Ia teringat akan larangan susioknya si telapak naga beracun Thio Lien yang tidak memperkenankan dirinya membalas dendam serta mengubur tulang belulang keluarganya ini disebabkan karena musuh besar mereka yang terlampau tangguh.
Tetapi kalau ditinjau dari kematian susioknya, jelas ia tidak kesal atau murung dan berulang kali mengatakan bahwa hal itu merupakan perintah dari perguruannya, kenapa?? kenapa begiiu?? ia tak mengerti dan tak habis mengerti .....
Sepasang matanya dengan tajam menatap di atas tengkorak darah itu tanpa berkedip. kobaran napsu dendam dan hati bergelora didalam hatinya.
Tetapi setelah ia teringat akan kepandaian silat yang dimilikinya, si anak muda itu jadi lemas.... ilmu silatnya sama sekali tak becus, sedangkan musuh besarnya adalah seorang gembong iblis amat lihay serta harus dihadapi dengan penggabungan segenap kekuatan golongan Pak to maupun Hek to.
Membalas dendam .... baginya mulai kabur dan tipis harapannya. Tetapi, apakah sakit hati ini tak usah di balas???. . .
Belum habis ingatan tersebut berkelebat didalam benaknya, terasalah bulu kuduknya ditabok orang, ia segera berpaling dan terlihatlah seorang pengemis cilik yang berwajah dekil sedang memandang ke arahnya sambil tertawa bodoh..
Dalam keadaan jalan darah tertotok. ia sulit untuk buka suara, badanpun tak dapat berkutik, hatinya jadi terperanjat bercampur heran, ia tak tahu secara bagaimana si pengemis cilik itu dapat menerobos masuk ke dalam tandunya. Terdengar si pengemis cilik itu tertawa cekikikan, lalu katanya.
"Heng-thay, ada keramaian besar segera akan berlangsung, kenapa kau malah bersembunyi didalam tandu.??".
Ia mengerutkan hidungnya dan mencium beberapa kali lagi, kemudian katanya lagi:
"Ehmm... masih tercium sisa bau harum di sini, Heei Heng thay kau betul2 amat hok kie"
Han Siong Kie yang digoda macam begitu hanya bisa tertawa nyengir saja, matanya mendelik besar tapi mulutnya bungkam dalam seribu bahasa, sepatah katapun tak sanggup diutarakan keluar.
Setelah mengamati wajah Han Siong Kie beberapa waktu lamanya, pengemis cilik itu berkata lagi:
"Tidak aneh kalau si kupu2 warna warni bisa tertarik hatinya, wajah Heng thay memang betul2 amat ganteng"
Han Siong Kie mengerti bahwa ia sedang digoda dan dimainkan, tetapi apa boleh buat, jalan darahnya tertotok membuat dia tak sanggup untuk berbuat apa2.
"Oooh, aku benar2 teramat tolol" tiba2 pengemis cilik itu berseru sambil menepuk batok kepalanya sendiri "Rupanya jalan darah heng thay tertotok. aku sungguh teledor sekali"
Sambil berkata jari tangannya segera menyentil beberapa kali ke tengah udara dan bebaslah jalan darahnya yang tertotok.
-0000000-
HAN SIONG KIE diam2 dibuat terkesiap juga oleh kelihayan lawan, ia tak pernah menyangka kalau pengemis cilik itu memiliki kepandaian untuk membebaskan jalan darah lawan lewat sentilan udara, sambil meloncat bangun segera serunya dengan penuh kemarahan: "Kemana perginya perempuan busuk itu?"
"Hiiih...hiiih...hiiih.. Heng-thay, kau bukan tandingannya sekarang lebih baik kau menahan diri saja" seru pengemis cilik itu sambil tertawa cekikikan.
Ucapan ini memang kenyataan, maka air muka Han Siong Kie seketika berubah jadi merah padam, setelah merandek sejenak katanya lagi:
"Atas bantuan yang telah kau berikan, cayhe di sini mengucapkan banyak2 terima kasih".
"Heng thay, kau tak usah banyak adat, siapakah namamu?".
"Cay.... .. cayhe... . "
"Ooouw, tentunya heng-tay mempunyai rahasia yang sukar dikatakan bukan? kalau begitu lebih baik tak usah dikatakan".
Karena keringat akan budi pertolongan yang telah diberikan oleh pengemis cilik, pemuda she Han tersebut merasa tidak enak hati untuk merahasiakan she nya, maka tanpa sadar ia berseru: "...Cayhe she Han".
"Oooouw, Han heng siaute she Tonghong, kita boleh mengikat tali persahabatan bukan".
"Jadi sahabat??"..
"Tidak salah, toh, tujuan serta jalan pikiran kita, hampir bersama?.."
Han Siong Kie tertegun, kedua belah pihak sama2 tidak saling mengenal, berkena la npun barusan berlangsung setengah perminum teh berselang, dari mana ia bisa tahu kalau tujuan serta aliran mereka sama? hampir saja sianak muda itu tertawa gelak saking gelinya.
"Waah... lucu amat orang ini, sifat ke kanak-kanakan serta polosnya belum hilang juga. pikirnya didalam hati, sambil tertawa segera katanya: "Kau bilang satu tujuan serta aliran yang sama??"
"Benar bukankah kau amat membenci kaum wanita yang ada dikolong langit??"
Han Siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, dari mana ia bisa tahu perkataan serta tanya jawabnya antara dia dengan sikupu2 bewarna Lie In Hiang????
"Tidak salah "sahutnya dengan nada tercengang. "Dari mana kau bisa tahu kalau cayhe amat membenci semua perempuan yang ada dikolong langit??? "
"Bukankah kau yang mengatakannya sendiri? "
"Aku memang pernah mengatakannya tetapi dari mana kau bisa tahu??" .
Pengemis itu mengedipkan suaranya dan tertawa.
"Sepanjang perjalanan aku selalu mengikuti dirimu".
"Oooouww begitu?? "Han Siong Kie berseru tertahan. Pengemis cilik itu tersenyum.
"Akupun sangat membenci seluruh kaum wanita yang ada dikolong langit, terutama mereka yang berwajah cantik...".
Diam-diam Han Siong Kie berpikir didalam hatinya:
"Aku membenci kaum wanita yang ada di kalang langit berhubung aku mempunyai seorang ibu yang berhati kejam bagaikan kala, entah apa alasannya sehingga diapun membenci kaum wanita???".
Karena berpikir demikian maka diapun lantas menukas: "sungguhkah perkataanmu itu?".
"Tentu saja hanya perkataan di bibir saja memang tiada berguna, lain kali kenyataan akan membuktikan bahwa ucapanku bukanlah hanya perkataan kosong belaka. sudahlah mari sekarang kita cari tempat untuk menonton keramaian dulu ..".
"Menonton keramaian apa??".":
"Melihat kawanan manusia yang tak tahu diri menghantarkan kematian mereka".
"Apa maksudmu???".
"Ilmu silat yang dimiliki pemilik Benteng Maut tiada tandingannya dikolong langit, mereka berani memusuhi dirinya sama artinya dengan kunang2 menubruk ke dalam kobaran api".
Han Siong Kie yang teringat akan lambang tengkorak berdarah yang dimana menurut perkiraannya si pemilik Benteng Maut mungkin adalah musuh besar yang membinasakan keluarganya, tanpa sadar telah mendengus dingin. .
"Eeh, apakah heng thay tidak percaya??" tegur si pengemis cilik itu cepat.
Han Siong Kie tidak ingin menunjukkan perasaan hatinya yang sebenarnya, setelah berpikir sejenak sahutnya:
"Bukannya tidak percaya, cuma ilmu silat luasnya bagaikan samudra, tak mungkin ada orang yang dapat menyebut dirinya nomor wahid dikolong langit".
"Huuuh" pengemis cilik itu segera mencibirkan bibirnya.
"Kita tak usah ribut lagi, ayoh berangkat"
Habis berkata ia sebera berkelebat keluar dari dalam tandu.
Han Siong Kie ikut berkelebat keluar dari tandu, tampaklah bayangan manusia berkumpul memenuhi tepi sungai sementara tandu tadi digeletakkan di bawah sebuah pohon yang rindang jauh dari keramaian.
Ia segera teringat kembali akan kejadian si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang terhadap dirinya, tanpa terasa hawa gusar nya berkorbar dan sang telapak dengan cepat di angkat ke atas .....
"Heng-thay, apa yang hendak kau lakukan???" pengemis cilik itu segera menegur.
"Aku hendak menghancurkan tandu ini"
"Kenapa mesti repot-repot turun tangan sendiri?? siauw-te punya akal bagus untuk menyelesaikannya " sembari berbicara ia segera mendekati tepi tandu dan menekan sekeliling dinding tandu itu sebentar kemudian sambil mengerdipkan matanya ia berkata:
"Sudah beres nanti akan kau saksikan sesuatu pertunjukan yang amat menyenangkan hati, ayoh kita mendaki dulu ke atas puncak tebing batu karang itu".
Sambil menarik tangan Han Siong Kie bagaikan burung walet yang meluncur ketengah angkasa pengemis cilik itu segera melayang beberapa tombak ke depan dan meluncur ke atas puncak tebing karang tersebut.
Melihat kelihayan orang, dalam hati kecilnya diam diam Han Siong Kie merasa menyesal, sudah belasan tahun dirinya belajar silat tapi tiada sesuatu hasilpun yang berhasil diperoleh.
Beberapa saat kemudian kedua orang itu sudah mencapai puncak bukit karang dan duduk berjajar diatas sebuah batu.
Tampaklah orang-orang yang ada di tepi pantai mengurung benteng kuno itu dalam satu lingkaran, diantara gerombolan manusia-manusia lihay tadi diantaranya terdapat seorang hweesio tua serta seorang pengemis tua berambut putih disamping itu masih terdapat pula seorang manusia aneh berkerudung hitam, mereka sedang meributkan sesuatu dengan ramainya, seakan-akan sedang merundingkan bagaimana caranya menyerbu ke dalam benteng Maut.
Dengan pandangan termangu mangu Han Siong Kie memperhatikan benteng maut itu tanpa berkedip. ia sadar bahwa dalam keadaan seperti ini tak mungkin baginya untuk melakukan pembalasan dendam, tetapi seandainya gabungan jago2 kangouw dari kalangan hek to maupun Pek to ini berhasil melenyapkan benteng maut dari muka bumi, maka itu dendam berdarahnya akan ikut tenggelam ke dasar samudra...
Tiba2 pengemis cilik itu menyikut perutnya sambil berbisik:
"Han heng. antara dirimu dengan aku sebenarnya tidak pernah saling mengenal tapi kini kita bisa bertemu satu sama lainnya, itu namanya jodoh, andaikata kau tidak memandang rendah diriku sebagai seorang pengemis yang rudin lagi dekil..."
"Kalau aku tidak memandang rendah dirimu, kau mau apa??"
"Bagai mana kalau kita mengikat tali persaudaraan??. apakah kau mau??..."
"Bagus" seru Han Siong Kie menyatakan setuju.
"Baik, kalau begitu kita musti tahu urutannya dulu, siauw-te Tonghong Hwie tahun ini berusia enam belas tahun"
"Apa?? kau bernama Tonghong Hwie?"
"Benar ada apa? apakah namaku kurang sedap didengar^?"
"Bukannya begitu, aku cuma merasa bahwa nama tersebut sedikit mengandung nama kaum wanita".
"Aaah, nama toh cuma suatu perlambang bagi seseorang belaka, perduli amat persis nama perempuan atau lelaki, bukan begitu saudara Han??"
"Hhmm, memang masuk diakal, siauw-heng Han Siong Kie, tahun ini berusia delapan belas tahun".
"Bagus, mari kita bersama-sama angkat sumpah".
"Oooouw... apa musti angkat sumpah segala??"
"Tentu saja kalau tidak menuruti aturan lalu apa gunanya kita angkat saudara"
"Baiklah. "Han Siong Kie segera jatuhkan diri berlutut di atas batu dan berdoa. "Atas nama Thian yang ada di langit, cayhe Han Siong Kie sejak hari ini akan angkat saudara dengan Tonghong Hwie. sepanjang persaudaraan ini masih terikat maka bila ada kesenangan akan kita cicipi bersama, kalau ada kesusahan kita akan tanggulangi bersama, apabila aku melanggar sumpah ini, Thian akan mengutuk diriku. Thian akan mengutuk diriku"
Tonghong Hwie yang berlutut disisinya segera ikut mengulangi pula isi sumpah tadi dengan seksama dan penuh kesungguhan.
Menanti kedua orang itu telah duduk bersanding kembali dengan wajah berseri-seri si pengemis cilik itupun berkata:
"Mulai sekarang aku harus menyebut dirimu sebagai Engkoh Kie ".
"Aku akan menyebut kau sebagai adik Hwie cuma ... aaaai aku yang jadi engkoh mu merasa malu sekali.".
"Kenapa ?? apa yang kau malukan ???"
"Kalau berbicara mengenai tenaga lweekang serta ilmu silat, keadaanku bagai kan langit dengan bumi kalau dibandingkan dengan dirimu coba bayangkan masa aku tidak merasa malu ?."
"Aaaah itu toh urusan kecil, kesempatan di kemudian hari bagi engkoh Kie untuk berlatih masih panjang, lagi pula aku lihat dasar tenaga lweekang mu sudah amat kuat "
"Benar, aku sudah belasan tahun lamanya berlatih ilmu tenaga dalam"
"Apa??? belasan tahun lamanya?? apakah kau hanya berlatih ilmu tenaga dalam belaka??"
"Benar ".
"Engkoh Kie, apakah kau dapat menyebutkan asal usul perguruan mu??."
"Dia...dia sudah tak ada dikolong langit lagi, maafkanlah kalau aku tidak akan menyebutkan namanya".
"Baiklah omong kosong tiada gunanya, aku ada beberapa patah kata hendak kukatakan kepadamu"
"Katakanlah, asal aku bisa menjawab pasti akan kuberitahukan kepada dirimu"
"Di kemudian hari, bagaimanapun juga keadaannya kau tak boleh meninggalkan diriku lho".
"Tentu saja, bukankah kita sudah mengangkat sumpah??? ucapanmu itu bukan kah sama sekali tak ada gunanya??? "
"Bukannya begitu, cuma perkataan ini harus kukatakan lebih dahulu".
Dalam pada itu para jago yang mengurung di sekeliling tepi sungai telah menyebarkan diri dan perlahan lahan mulai menyerbu ke dalam benteng Maut.
Suasana hening sunyi.. tak kedengaran sedikit suarapun hal ini menunjukkan bahwa mereka akan bersiap sedia melakukan suatu tindakan terhadap Benteng Maut, tetapi berhubung Benteng Maut sudah puluhan tahun lamanya memberikan kemisteriusan, kengerian serta keseraman bagi setiap umat Bu-lim yang ada dikolong langit, maka pada saat itu hati setiap orang merasa kebat-kebit tidak keruan.
Terdengar pengemis kecil itu sambil menuding ke arah tepi sungai, katanya:
"Pengemis tua yang berdiri paling depan itu adalah Pak Ceng padri dari utara, dan manusia berkerudung hitam itu bukan lain adalah Kauwcu dari perkumpulan Thian chee Kauw".
-0000000-
(Bersambung ke Jilid 2)
Tengkorak Maut
Karya : OPA
Oleh : Tjan ID
Jilid 2
MENGUNGKAP tentang diri Thian chee Kauwcu hati Han Siong Kie seketika bergolak kencang, ia teringat kembali akan ibunya yang kawin lagi dengan manusia aneh itu.
Belum habis pikirannya berlalu, terdengar pengemis cilik itu telah melanjutkan kembali kata2nya:
"Ketiga orang itu adalah jago2 yang paling lihay didalam dunia persilatan dewasa ini"
"Diantara mereka bertiga, siapakah yang terhitung paling kosen dan paling ampuh?"
"Hal ini sulit untuk dikatakan ilmu silat yang dimiliki Lam Kay serta Pak Ceng katanya seimbang, sedangkan kepandaian yang dimiliki Thian chee Kauweu menurut berita yang tersiar amat lihay sehingga sukar diukur dengan kata2, tetapi tak seorang pun yang pernah bergebrak melawan dirinya dan tak seorangpun yang pernah menyaksikan raut wajah yang sebenarnya".
"Bagaimana kalau dibandingkan dengan Pemilik dari Benteng Maut tersebut...??"
"Huuuh mereka tak akan kuat menahan sebuah pukulannya"
"Eeei. adik Hwie, darimana kau bisa mengetahui akan hal ini??".
"Tentang soal ini... tentang soal ini... akupun hanya mendengar dari berita yang tersiar belaka"
"Adik Hwie coba lihat, mereka sudah mulai bergerak maju "
"Itu berarti suatu drama berdarah yang sangat mengerikanpun segera akan mulai berlangsung".
Han Siong Kie mengepal tangannya kencang-kencang, tanpa berkedip ia menatap ke arah para jago yang berada ditepi sungai.
Puluhan sosok bayangan manusia telah menggerakkan tubuhnya melewati jembatan batu dan tiba didepan pintu besar benteng maut.
Pada saat itulah... serentetan suara suitan aneh yang amat nyaring serta memekikkam telinga berkumandang keluar dari dalam ben-teng maut, begitu keras suaranya sehingga menusuk pendengaran siapapun juga.
Han Siong Kie yang berada diatas bukit sebera merasakan telinganya bagaikan di tusuk2 dengan belasan bilah pisau tajam, buru2 ia menutupi sepasang telinganya dengan tangan, sementara jantungnya berdebar keras se-olah2 hendak meloncat keluar dari rongga dadanya. .
Puluhan jago lihay yang telah tiba didepan pintu besarBenteng Maut itu segera menghentikan langkah kakinya begitu mendengar suara suitan tersebut, air muka mereka berubah hebat.
Kegaduhan yang amat hebatpun terjadi ditepi pantai.
Beberapa saat kemudian suara suitan nyaring yang amat memekikkan telinga itu mendadak sirap. diikuti pintu benteng Maut yang bewarna hitam pekat lambat2 membentang lebar dan muncullah sebuah gua yang besar dan gelap gulita.
Dengan hati terkesiap puluhan orang jago lihay Bu lim yang ada didepan pintu mundur tiga tombak ke belakang dengan tergesa2.
seketika itu juga suasana di sekeliling tempat itu berubah jadi tegang dan diliputi oleh napsu membunuh.
Setelah perminuman teh sudah lewat. tetapi suasana di dalam Benteng Maut itu masih tetap tenang dan tidak nampak suatu gerakan apapun juga...
Puluhan orang jago lihay yang berdiri di depan pintu benteng mulai berteriak keras kemudian bagaikan gelombang samudra yang menghantam pantai mereka menyerbu masuk kedalam benteng tersebut...
"Hmm "Terdengar pengemis cilik itu men- dengus dingin. "Rombongan pertama yang menghantar kematiannya telah berangkat".
Han Siong Kie melirik sekejap kearahnya lalu arahkan kembali sinar matanya kebawah.
Tiga puluh orang lebih jago lihay Bu lim yang termasuk didalam rombongan kedua mulai melewatijembatan batu sambil berteriak keras menyerbu pula kedalam pintu benteng dengan dahsyatnya:
"Rombongan kedua yang menghantar kematiannya kembali sudah berangkat ...." terdengar pengemis cilik itu bergumam lagi.
Baru saja sipengemis cilik itu menyelesai kan kata2nya, mendadak terlihatlah bayangan manusia satu persatu terlempar ke luar dari dinding benteng dan meluncur ke arah luar. Ada diantaranya yang tercebur ke dalam sungai, ada pula yang terbanting ke atas lantai tepat didepan Benteng Maut tersebut.
Dalam sekejap mata seluruh jago lihay Bu lim yang baru saja menyerbu masuk kedalam benteng maut itu sudah terlempar ke luar semua dari balik benteng dalam keadaan mati tanpa bernyawa lagi. Menyaksikan pembunuhan massal tersebut, para jago lihay yang masih tersiksa di luar benteng jadi gaduh, suara bisikan lirih mulai kedengaran berkumandang memecah kesunyian. Han Siong Kie, menyaksikan jalannya pembunuhan brutal itu dari atas bukit hanya bisa memandang dengan mata mendelong dan mulut melongo belaka, sekujur tubuhnya gemetar keras dan tak sepatahpun yang sanggup diucapkan keluar.
Sebenarnya pemilik Benteng maut itu seorang manusia ataukah iblis?? ternyata ia memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyatnya???
Belum habis sianak muda itu berpikir, tampaklah jago lihay Bu lim rombongan kedua yang belum lama berselang menyerbu masuk kedalam benteng, kini sudah terlempar pula semuanya keluar dari dinding tembok.
Tak seorangpun berada dalam keadaan hidup, tak seorangpun yang masih bernapas..
Mereka musnah dan lenyap dengan begitu saja. Napsu membunuh yang mengerikan pun mulai menyelimuti seluruh kalangan.
Ratusan jago lihay yang berkumpul ditepi sungai semakin gaduh lagi, tetapi tak seorangpun berani tampil kedepan untuk membentuk rombongan ke tiga pergi mengantar kan kematiannya.
Beberapa saat kemudian, tampaklah Lam Kay serta Pak Ceng selangkah demi selangkah mulai menyebrangi jembatan batu.
Han Siong Kie tak dipat menahan rasa tegang yang menyelimuti hatinya, ia merasa dari telapak tangannya mulai mengucurkan keringat dingin, dengan hati bergejolak tanyanya kepada sipengemis cilik itu
"Adik Hwie, menurut penglihatanmu bagaimana kesudahannya setelah pengemis dari selatan serta sipadri dari utara menyerbu masuk kedalam benteng maut???"
"Mungkin mereka dapat mengundurkan diri dalam keadaan selamat" jawab pengemis cilik itu setelah termenung sejenak.
Mendadak...terdengar pengemis dari selatan dan padri dari utara bersama sama membentak keras, kemudian badannya melesat ketengah udara dan laksana dua ekor burung elang raksasa mereka meluncur kearah tembok benteng, bukan pintu benteng yang mereka lalui justru tembok setinggi delapan tombak itulah yang mereka arah.
setelah tiba diatas dinding benteng tersebut dengan suatu gerakan yang sangat manis kedua orang itu berjumpalitan beberapa kali ditengah udara dan langsung menyerbu kedalam benteng.
Para jago lihay yang menyaksikan demonstrasi ilmu peringin tubuh tersebut sama sama bersorak memuji, teriakan keras dan suara tepuk tangan bergema memecah kan kesunyian. Han Siong Kie sendiripun tak dapat menahan diri, la segera berseru memuji: "suatu ilmu kepandaian yang sangat bagus"
Disaat tubuh pengemis dari selatan dan padri dari utara hampir saja menyusup kedalam benteng maut itulah, tiba-tiba badan mereka terpental keluar bagaikan sebuah bintang yang jatuh dari langit dengan cepatnya tubuh kedua orang itu terpental kebelakang dan melesat ke arah tengah sungai, jelas kedua orang itu sudah termakan oleh sebuah angin pukulan yang maha dahsyat.
Para jago lihay yang berdiri ditepi sungai sama sama menjerit tertahan, air muka mereka berubah hebat dan hati orang-orang itu sama-sama terkesiap.
Kepandaian silat yang dimiliki Pemilik Benteng Maut ini benar-benar sangat mengerikan hati sehingga dua orang jago terlihay dari dunia persilatan dewasa itu pun tak sanggup melewati garis perbatasan benteng tersebut barang satu langkahpun.
"Yaaah, kalau mereka tahu diri seharusnya pada detik itu juga mereka segera mengundurkan diri", terdengar pengemis cilik itu bergumam seorang diri.
"Adik Hwie" Han Siong Kie segera mengerling sekejap ke arahnya. "Apa maksud ucapanmu itu???? "
“Maksudku seharusnya sipengemis dari selatan serta sipadri dari utara mengerti keadaan sendiri dan segera mengundurkan diri dari kalangan tersebut.. "
"Aku lihat rupa rupanya kau menaruh rasa simpatik yang sangat mendalam terhadap Benteng Maut?? "
"Aku hanya berbicara sesuai dengan kenyataan yang terbentang didepan mata, apa perdulinya dengan rasa simpatik atau tidak. "
"Apa sih kedudukannya sipengemis dari selatan, didalam perkumpulun Kaypang??"
"Pemimpin dari para tiang loo perkumpulan tersebut"
"Kau toh seorang anggota Perkumpulan kay-pang juga, mengapa bukannya membantu tiangloomu, justru malah sebaliknya".
"Aku sih tidak termasuk dalam anggota perkumpulan mereka, aku hanya seorang pengemis gelandangan belaka."
"Pengemis gelandangan?? apa itu pengemis gelandangan??."
"Tidak terikat oleh peraturan perkumpulan manapun, berkeliaran kemana-mana menurut kehendak hatinya sendiri".
"Oooouw, sungguh aneh sekali, belum pernah aku dengar ada kejadian semacam ini"
Baru saja ia menyelesaikan kata2nya, terlihatlah sipengemis dari selatan serta si padri dari utara telah menubruk keatas dinding benteng maut untuk kedua kalinya. Pengemis cilik itu sebera tertawa cekikikan.
Tubrukan mereka yang pertama kali tadi boleh dibilang sudah berhasil mencapai puncak dinding benteng tersebut, tetapi hanya sekejap mata saja tubuh mereka sudah mencelat dan terpukul roboh kembali kebawah. Yang tidak dimengerti oleh semua orang adalah tiada munculnya sesosok bayangan manusiapun, kenapa kedua orang jago lihay itu bisa termakan oleh angin pukulan hingga rontok kebawah??
satu ingatan berkelebat didalam benak Han Siong Kie, ia segera berpaling dan ujarnya kepada sipengemis cilik itu.
"Adik Hwie, bukankah kau pernah mengatakan bahwa tenaga lweekang yang dimiliki Thian chee kauwcu jauh di atas kepandaian silat yang dimiliki sipengemis dari selatan serta si padri dari utara???".
"Menurut berita yang tersiar didalam dunia persilatan, memang demikian keadaannya"
"Seandainya mereka bertiga mau turun tangan bersama, bukankah keadaannya mungkin akan mengalami perubahan besar???".
"Aaah, belum tentu begitu".
"Kenapa ??"
"Selama sepuluh tahun lamanya entab sudah berapa ratus kali terjadi peristiwa semacam ini, tetapi mereka yang bisa mengundurkan diri dalam keadaan selamat boleh dibiltang amat jarang sekali, oleh sebab itu aku merasa bahwa keadaan pada saat inipun tidak bakal jauh berbeda dari keadaan yang sudah2 "
"Kenapa Thian chee Kauwcu tidak ikut turun tangan???".
"Soal ini harus ditanyakan kepada dirinya pribadi"
Han song Kie menghembuskan napas panjang dan membungkam dalam seribu bahasa, ia tidak habis mengerti mengapa Thian chee Kauwcu tidak mau turun tangan sendiri, padahal sewaktu dia masih berada dalam tandu tadi dengan jelas mendengar bahwa dalam gerakannya kali ini untuk menghadapi Benteng Maut perkumpulan Thian chee Kauw lah yang menduduki sebagai pucuk pimpinan, tapi dalam kenyataan Thian cheo Kauwcu sendiri sama sekali tidak ikut campur didalam penyerbuan tersebut. kejadian benar2 membingungkan orang. Apakah Thian chee Kauwcu telah mempunyai rencana lain??
Dalam pada itu..si Pengemis dari selatan serta si Padri dari utara yang berada didepan benteng Maut, untuk ketiga kalinya telah menubruk ke arah Benteng tersebut.
Suatu kejadian diluar dugaan telah barlangsung, kali ini tubrukan mereka berhasil dan tubuh kedua orang jago lihay dari dunia persilatan dewasa itupun lenyap dibalik dinding tembok benteng Maut.
Para jago yang berada di tepi sungai segera bersorak sorai dengan ramainya, sebagian besar diantara mereka segera berebutan menyebrangi jembatan batu dan menyerbu ke dalam pintu Benteng...
Han Siong Kie segera merasakan jantungnya berdebar keras, ia tak bisa membayangkan bagaimanakah perasaan hatinya pada waktu itu.
Dia berharap serbuan dari gabungan para jago lihay itu bisa berhasil menghancurkan Benteng Maut yang ditakuti seluruh umat Bu lim dan si pemilik benteng bisa dilenyapkan dari permukaan bumi.
Tetapi, diapun berharap bahwa serbuan para jago itu tidak mendapatkan hasil, sebab bila usaha mereka memperoleh keberhasilan maka itu berarti bahwa ia akan kehilangan kesempatan untuk membalas dendam sakit hatinya... Sipengemis cilik itupun dengan tegangnya segera bangkit berdiri.
Dikala serbuan para jago Bu lim gelombang ketiga hampir mencapai pintu depan Benteng maut itulah.
Mendadak tampaklah dua sosok bayangan manusia dengan langkah perlahan dan wajah layu selangkah demi selangkah berjalan keluar dari balik pintu benteng. Seluruh jago Bulim segera berdiri tertegun.
Kiranya kedua sosok bayangan manusia itu bukan lain adalah sipengemis dari selatan serta si padri dari utara.
Pengemis cilik itu segera tersenyum dan duduk kembali keatas batu. Sedangkan Han Siong Kie dengan perasaan tercengang segera bertanya.
"Eeei, mereka sudah keluar??"
"Inilah pengecualian yang terjadi selama puluhan tahun lamanya, untuk pertama kalinya ada orang yang bisa keluar dari Benteng Maut dalam keadaan hidup rupanya mereka berdua sudah menderita kerugian yang amat besar, bisa juga sipemilik Benteng Maut menaruh rasa kagum dan hormat terhadap kedua orang ini maka ia tidak tega untuk turun tangan keji".
"Adik Hwie. rupanya tidak sedikit yang kau ketahui?"
"Hiih. . Hiiih. ..Hiiiih.. aku hanya menduga menurut keadaan yang terbentang didepan mata saja".
Disaat sipengemis dari selatan serta sipadri dari utara telah meninggalkan pintu benteng itulah, kedua pintu raksasa yang hitam pekat itu perlahan-lahan menutup kembali.
Pengemis dari selatan serta padri dari utara tidak memperdulikan para jago Bu lim yang mengurung di sekeliling tubuhnya, tidak menjawab semua pertanyaan yang mereka ajukan, setelah menyeberangi jembatan batu dan tiba ditepi pantai, dengan mulut membungkam mereka berlalu dari situ.
Para jago lihay lainnya jadi tertegun dan tidak habis mengerti, tapi akhirnya mereka pun mengumpulkan semua jenasah yang berserakan diluar benteng dan ikut bertalu dari situ. Suatu hujan badai yang amat mengerikan pun mulai reda..
Thian chee Kauwcu sendiri dibawah iringan para anak buahnya tanpa mengucap kan sepatah katapun ikut berlalu dari situ.
Akhirnya si kupu2 warna warni Lie In Hian dengan membawa kedua orang dayangnya serta ke empat orang tukang tandu nya kembali kearah tandunya di bawah pohon itu
Han song Kie tak kuat menahan rasa dongkolnya, ia mendengus dan bergumam seorang diri:
"Perempuan busuk. suatu hari aku akan mencari dirimu untuk membereskan hutang piutang pada hari ini ".
"Engkoh Kie, kau jangan marah dulu" bisik sipengemis cilik sambil tertawa cekikikan. "suatu pertunjukkan bagus segera akan berlangsung didepan mata".
Tampaklah si kupu2 warna warni Lie in Hiang menyingkap horden dan melangkah masuk ke dalam tandu, tapi secara mendadak ia mundur tiga langkah ke belakang, rupanya perempuan itu telah menemukan bahwasanya Han Siong Kie lenyap tak berbekas, setelah ditengoknya sejenak ke kiri dan ke kanan akhirnya ia menyusup ke dalam tandunya.
000000
"ENGKOH KIE, cepat lihat" seru pengemis cilik itu dengan penuh kegirangan.
Tampaklah ke empat orang pria kekar itu sambil menggotong tandu berjalan beberapa langkah ke depan, mendadak.. “Braak..” terdengar suara ledakan keras, tandu itu merekah dan hancur berkeping2, dalam keadaan yang mengenaskan sekali si kupu2 warna warni Lie In Hiang jatuh mendeprok di atas tanah.
Han Siong Kie yang menyaksikan kejadian itu jadi ikut merasa geli, pikirnya:
"Adik Hwie benar2 pandai sekali menggoda orang, kiranya sebelum meninggalkan tandu tadi ia sudah melakukan sesuatu disekeliling tandu tersebut..." Pengemis cilik itu tak bisa menahan diri lagi, ia sebera berteriak keras: "Bagus sekali".
Teriakan ini cukup keras dan segera memancing perhatian dari si kupu2 warna warni Lie In Hiang, dengan cepat sinar mata nya dialihkan ke arah tebing batu tersebut.
"Aduuuh Celaka" bisik Han Siong Kie terperanjat. "Kali ini habis sudah riwayat ku".
Dalam pada itu sipengemis cilik itu telah mendorong tubuh si anak muda itu sambil berseru:
"Engkoh Kie, cepat lari, biar akulah yang menghadapi mereka".
"Tidak. aku tak mau pergi"
"Kalau kau tidak lari, mereka akan menggasak dirimu sampai peyot".
"Tidak. tidak bisa. masa aku akan tinggalkan dirimu seorang diri ditempat ini??"
"Haaah...haaah...haaah.. tolol amat kau, berangkatlah duluan, sebentar lagi aku akan menyusul dirimu".
"Tidak. aku tak akan meninggalkan tempat ini seorang diri".
"Engkoh Kie, si kupu2 warna warni Lie In Hiang adalah Thongcu nomor satu dari perkumpulan Thian chee Kauw, kepandaian silatnya cukup ampuh dan hebat, sekali pun kedua orang dayangnya serta ke empat orang tukang tandu itupun mempunyai kepandaian silat yang sebanding dengan jago Bu lim kelas satu. Siapapun diantara mereka berenam tak nanti bisa kau tandingi... maka dari itu berlalulah lebih dahulu. selama kau masih berada disini, justru malahan memecahkan perhatianku "
Merah jengah selembar wajah Han long Kie sehabis mendengar perkataan itu, dengan terputus2 katanya:
"Aaa...adik Hwie aa...apakah kau sa... sanggup untuk menghadapi mee...mereka ?"
"Tidak menjadi soal, dari belakang batu karang itu larilah ke arah depan, maka kau akan tiba didalam sebuah hutan, aku segera akan memancing kepergian mereka??".
Sementara itu perlahan-lahan si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang telah munculkan diri di atas tebing karang tersebut.
"Cepat lari..." seru sipengemis cilik itu dengan hati cemas. "Kalau terlambat akan tidak sempat lagi"
Han Siong Kie tidak berani berayal lagi, ia segera menjejakkan kakinya dan meloncat turun kebawah tebing batu itu kemudian lari masuk ke dalam hutan.
Menanti bayangan punggung si anak muda itu sudah lenyap dari pandangan, pengemis cilik itu baru meloncat turun dari atas tebing dan sambil tertawa cengar-cengir disongsongnya kedatangan kupu2 warna warni Lie In Hiang.
Dengan wajah penuh napsu membunuh dengan mata melotot sadis selangkah demi selangkah si kupu2 warna warni Lie In Hiang maju ke depan, ke dua belah pihak menghentikan langkahnya pada jarak dua tombak.
Ketika dilihatnya orang yang mengejek dan mempermainkan dirinya bukan lain adalah seorang pengemis muda, perempuan itu langsung naik pitam, bentaknya dengan penuh kemarahan:
"Pengemis edan, kau berani mempermainkan aku si nenek tua hah??"
"Apa?? aku mempermainkan apa mu??" sahut sipengemis dengan alis berkerut.
"Bukankah kau yang bermain setan dengan tanduku ini??"
"Berdasarkan alasan apa kau mengatakan bahwa aku yang mempermainkan tandumu?"
"Hmm ayoh jawab, kau telah membawa kemana orang yang berada di dalam tanduku itu??.. "
"Apa?" pengemis cilik itupura2 berlagak kaget, "pria atau wanita yang kau maksud kan?. "
Selapis napsu membunuh yang sangat mengerikan memancar di atas wajah perempuan itu, jengeknya ketus.
"Pengemis edan, tahukah kau siapa diriku?"
"Aku si peminta- minta tak pernah mengadakan hubungan dengan kaum perempuan, percayakah kau "
"Bangsat, kaupingin hidup atau mati? "
"Eeei.. apa maksud ucapanmu itu ? "
"Kalau pingin hidup maka katakanlah ke mana perginya bangsat cilik itu, sebaliknya kalau kepingin mati..."
"Kenapa??" "
"Pun Thongcu seketika ini juga akan kirim nyawamu kembali ke akhirat"
Pengemis cilik itu tundukkan kepalanya dan berpikir sebentar kemudian menjawab. "Aku pingin mati saja"
si Kupu2 warna warni Lie In Hiang yang mendengar perkataan itu jadi tertegun, kemudian serunya: "Hm, kau sungguh pingin mati?? "
"Sesungguhnya tidak salah, aku sudah terlalu muak sebagai pengemis kecil, maka dari itu aku tidak pingin hidup lebih lanjut di kolong langit ini.. "
Si Kupu2 warna warni Lie In Hiang bukanlah seorang bocah kemarin sore yang gampang dipermainkan, sekilas memandang ia sudah tahu kalau pengemis kecil itu memang sengaja hendak memperolok-olok serta mempermainkan dirinya, napsu membunuh seketika itu juga muncul di dalam benaknya, sambil tertawa dingin katanya:
"Kalau pingin mati sih gampang, Pun Thongcu bisa memberikan kematian yang paling lambat dan paling nikmat bagimu". sembari mengulapkan tangannya ia berkata lebih jauh "Tangkap bajingan cilik ini".
Kedua orang dayang yang berada disisi mereka itu segera maju ke depan, satu dari kiri dan yang lain dari kanan laksana kilat mencengkeram tubuh si pengemis cilik itu.
“Eeii..eei.nanti dulu” teriak pengemis cilik itu berulang kali sambil goyang-goyangkan tangannya. Seorang pria sejati tak akan melayani kaum perempuan untuk bermain-main.”
Sembari berkata ia segera enjotkan badannya, tahu-tahu sang tubuh sudah berada kurang lebih satu tombak jauhnya dari tempat semula.
Gerakan tubuh ini sangat indah dan lihay sekali, bukan saja membuat kedua orang dayang itu menjulurkan lidahnya, bahkan si kupu-kupu warna-warni Lie In Hiang pun merasakan hatinya bergetar keras, sadarlah perempuan ini bahwa pengemis cilik itu bukanlah seorang manusia yang sederhana.
Sementara itu setelah tertegun beberapa saat lamanya kedua orang dayang itu segera maju kembali kearah depan, secara terpisah mereka lancarkan serangan gabungan yang amat dahsyat, telapak dan jari dilancarkan secara serentak.
“Aduuh mak!” teriak pengemis itu keras-keras, bukannya mundur ia malah maju lebih ke depan, badannya menerobos masuk kedalam lingkaran bayangan cakar serta deruan angina pukulan.
Suara dengusan berat berkumandang memecahkan kesunyian, tahu-tahu kedua orang dayang itu jatuh terpelanting dan roboh ke atas tanah.
Air muka si kupu-kupu warna-warni Lie In Hiang kontan berubah hebat, tenaga lweekang yang dimiliki pengemis cilik itu ternyata sudah mencapai keadaan yang sangat mengerikan, bukan saja ginkangnya diluar dugaan bahkan ia pun memiliki kepandaian menotok jalan darah lewat sentilan udara, dalam sekali gebrakan saja ia telah berhasil merobohkan kedua orang dayang andalannya.
Suara bentakan keras segera bergeletar memecahkan kesunyian, empat orang pria penggotog tandu yang semula berdiri tegak di sela kalangan, kini sudah menubruk maju secara serentak, masing-masing pihak mengirim satu babatan yang amat dahsyat.
Empat gulung desiran angina tajam menggulung jadi satu membentuk suatu gulungan tenaga yang amat mengerikan, laksana ambruk nya sebuah bukit tinggi angin serangan tersebut langsung menyapu ke depan.
Melihat datangnya ancaman tersebut, pengemis cilik itu segera tertawa cekikikan. "Hiiih..hiiih....hiiiih bagus bagus beginilah baru sangat berarti".
sepasang telapak diayun kedepan dan diapun melancarkan sebuah babatan dahsyat yang menimbulkan gulungan angin serangan yang amat mengerikan hati.
“Blaaaam” suara ledakan keras bergelegar menggoncang kan permukaan bumi, pasir dan debu berterbangan memenuhi angkasa, pusaran angin pukulan yang kencang menggetarkan ke empat orang pemandu itu dan memaksa mereka menyebarkan diri ke empat penjuru.
"Kalian lebih baik mundur saja" tiba-tiba si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang berseru sambil mengulapkan tangannya.
Dengan wajah lesu dan badan lemas ke empat orang pria kekar itu buru buru mengundurkan diri ke belakang.
"Hei, pengemis cilik. laporkan asal usul perguruanmu" seru perempuan itu kemudian.
"Aku tidak punya perguruan".
"Kau termasuk cabang dari kota mana di dalam keanggotaan perkumpulan Kay Pang?"
"Hmmm .. Hmmm aku sipengemis cilik adalah seorang pengemis gelandangan".
"Pengemis gelandangan???".
"sedikitpun tidak salah".
"Apa itu pengemis gelandangan?? Belum pernah aku mendengar nama seperti itu??"
"Oooh.. pengemis gelandangan adalah pengemis luntang lantung diempat penjuru sesuka nya yang gentayangan, tidak tergabung dalam partai maupun perkumpulan, bebas merdeka melayang kesana kemari".
"Bangsat, kau kepingin modar??".
"Aduuuh...nyonya bawel, mungkin lubang telingamu terlalu banyak kotorannya, apa kau tidak dengar?? sedari tadi toh aku sudah berkata bahwa aku tidak pingin hidup, cuma sayang...".
"Sayang kenapa?".
"Sayang dengan andalkan kekuatanmu masih tidak pantas untuk menghajar aku si-pengemis cilik untuk masuk keliang kubur.
Si kupu2 warna warni Lie In Hiang jadi sangat gusar, saking mendongkolnya sampai sekujur tubuhnya gemetar keras. dengan kedudukannya yang terhormat sebagai seoring Thongcu kelas satu didalam perkumpulan Thian Chee Kauw ternyata sudah diolok-olok dan dipermainkan oleh seorang pengemis cilik yang tidak diketahui asal usulnya, ia segera membentak keras:
"Bangsat. Pun thongcu akan bunuh diri-mu! ".
Sepasang telapak tangannya dengan suatu gerakan yang sangat aneh segera menyapu ke depan, secara terpisah ia cengkeram perge1angan kiri serta bahu kanan pengemis itu, gerakan cengkeraman tersebut dilancarkan dengan kecepatan laksana sambaran kilat, bakan bayangan cakar berlapis lapis seakan akan terdapat berpuluh puluh buah tangan yang bersamaan waktunya mencengkeram ke luar.
Menyaksikan kehebatan lawannya pengemis cilik itu terkesiap buru-buru
Tubuhnya meleset kesamping untuk menghindar..tetapi gerakan tubuhnya terlambat satu tindak, tahu-tahu bahunya terasa amat kencang dan bahu kanannya sudab kena dicengkeram oleh lawannya.
Napsu membunuh yang menyelimuti wajah si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang semakin menebal. ssmbil tertawa dingin serunya :
"Keparat cilik! sekarang ayoh jawab, apakah pun Thongcu pantas untuk menghantar kematianmu???".
"Tidak pantas! mau apa kau??".
"Kalau kau berani mengatakan sekali lagi, kucengkeram bahumu ini biar hancur berantakan!".
"Tidak pantas! tidak pantas! Tidak pantas!''.
Si Kupu-kupu Warna warni Lie la Hiang benar-benar naik pitam, jari tangannya yang mencekeram bahu pengemis cilik itu segera ditambahi dengan beberapa lipat tenaga dalam, masksudnya tulang bahu sipengemis cilik itu akan dicengkeram sampai hancur lumat, siapa tahu baru saja cakarnya menggencet tubuh lawan, segera terasalah tangannya se-olah2 memegang sesuatu benda yang sangat licin, hatinya jadi amat terperanjat.
"Kepandaian silat apakah ini??? " pikirnya di dalam hati.
Belum habis ia berpikir, bagaikan seekor ikan belut sipengemis cilik itu sudah meloncat mundur sejauh satu tombak lebih, jengeknya sambil tertawa cekikikan:
"Hiiih...hiiih...hiih... Lie In Hiang perempuan bermuka tebal yang tak tahu malu, maaf kalau aku tak sudi melayani dirimu lebih jauh .... " Dia enjotkan badannya dan segera meleset ke arah dalam hutan.
Air muka si kupu2 warna warni Lie In Hiang berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, mimpipun ia tak pernah menyangka kalau dirinya bakal jatuh kecundang di tangan seorang pengemis cilik.
Setelah tandunya tak dapat digunakan lagi, dengan perasaan gemas ia berpaling ke arah mana lenyapnya bayangan sipengemis cilik itu sambil makinya:
"Anak sialan cucu monyet, hati2 kau suatu hari aku bisa membeseti kulit tubuhmu dan mencabuti otot2 didalam badanmu".
Setelah mendepak- depakan kakinya ke atas tanah, ia segera membebaskan jalan darah dari kedua orang dayangnya yang tertotok kemudian berlalu dari situ.
Kedua orang dayangnya serta keempat orang pria kekar itu tak berani berayal, merekapun segera enjotkan badannya dan menyusul dari belakang tubuhnya.
-0000000-
Ombak dan memecah ditepi pantai. Benteng Maut yang berdiri dengan angkernya diatas tebing karang telah pulih kembali dalam kesunyian serta keheningan yang mencengkam seluruh jagat.
Pengemis cilik yang sangat menghawatir-kan keselamatan kakak angkatnya Han Siong Kie, tidak ingin berdiam terlalu lama disitu, setelah melepaskan diri dari kurungan si perempuan she Lie tadi ia segera menerobos masuk kedalam hutan dan menyusul si anak muda itu.
Tetapi, walaupun ia sudah mencari kesana kemari dan keluar masuk hutan, bayangan tubuh Han Siong Kie masih juga belum ditemukan, ia jadi tercengang dan tidak habis mengerti.
"Kemana perginya engkoh Kie?"? "pikir pengemis cilik ini didalam hati kecilnya. Tadi aku toh sudah menerangkan dengan jelas kepadanya agar langsung masuk kedalam hutan? entah ia sudah tersesat sampai dimana?”
Makin lama hatinya merasa semakin gelisah, sehingga tak tahan lagi sambil menerobos masuk kedalam hutan Thonghong Hwie sipengemis cilik itu berseru tiada hentinya
“Engkoh Kie! engkeii Kie..."
Namun tiada sesuatu jawabanpun yang kedengaran, pikirnya lebih jauh:
“Aaah mungkin dia sudah langsung keluar dari hutan dan melanjutkan perjalanannya!”
Karena berpikir demikian maka ia pun segera enjotkan badannya dan meluncur kearah depan-
Sementara itu Han Siong Kie setelah masuk kedalam hutan perasaan hatinya makin lama kian terasa semakin tidak enak, ia merasa sebagai seorang lelaki sejati ternyata barus minta perlindungan orang. bahkan di dalam keadaan bahaya harus melarikan diri sikap angkuhnya segera muncul. Pikirnya di dalam hati;
''Apabila aku tidak berhasil melatih serangkaian ilmu silat yang mengejutkan hati orang, aku tidak akan berjumpa lagi dengan adik angkatku Tonghong Hwie !"
Karena berpikir demikian maka ia tidak menuruti petunjuk dari si pengemis cilik itu untuk masuk kedalam hutan, sebaliknya malah membelok menuju kearah timur.
Semakin berjalan menuju kedepan ia merasa hutan belukar yang mengelilingi sekitar tempat itu semakin lebat dan tinggi, begitu rimbunnya dedaunan sampai cahaya matahari tak dapat menyorot kedalam. Suasana gelap gulita dan si anak muda itupun dengan mata membuta berjalan kesana kemiri sekenanya.
Beberapa saat kemudian suasana semakin gelap gulita sehingga susah melihat kelima jari tangan sendiri. arah tujuanpun semakin kabur.dalam keadaan begini wajahnya berubah jadi bengkak dan hijau sebab besar karena beru!ang kali harus mencium pohon atau ranting, pakaiannya koyak dan hancur tak karuan.
Sekarang sianak muda itu baru sadar bahwa ia telah memasuki sebuah hutan belantara yang sangat mengerikan.
Tetapi menyesal pun sudah terlambat. ia tak sanggup untuk menemukan kembali arah yang benar untuk lolos dari cengkeraman hutan belantara yang sangat lebat itu.
Suara ular dan auman binatang buas ber gema silih berganti menambab seramnya sua sana disekitar hutan tersebut. dalam keadaan begitu pemuda she-Han itupun berpikir:
"Habis sudah riwayatku! .. rupanya aku Han Siong Kie harus menemui ajalnya ditempat seperti ini... aaai, cepat atau lambat aku pasti dicabut ular berbisa atau diterkam binatang buas "
Tetapi ia tidak berhenti sampai disitu saja, ia tidak putus asa dan meneruskan petualangannya menjelajahi hutan belantara itu secara buta.
Rasa lapar, haus, lelah, ditambah rasa nyeri dan sakit dari mulut luka yang menganga di sekujur tubuhnya akibat duri serta ranting membuat tulang belulalangnya terasa hancur berantakan, badannya lemas tak bertenaga. perjalanan terasa semakin berat lagi.
Tapi sianak muda itu tak mau menghentikan usahanya sampai disana. tak bisa berjalan diapun mulai merangkak dan merayap diatas tanah..kesadarannya...pikirannya kian lama kian bertambah kabur.
Entah berapa saat sudah lewat. mendadak pemuda itu merasakan segulung hawa dingin yang sangat aneh menyerang ulu hatinya, ia segera membuka matanya.
Tampaklah ia telah berbaring ditepi sebuah kolam kecil, separuh tubuhnya terbenam didalam air tersebut. Hal ini membuat hatinya bergetar keras, pikirnya : "Sungguh berbahaya, setengah depa lagi aku maju kedepan niscaya tubuhku sudah tenggelam didasar kolam ini dan jiwaku tentu sudah melayang...".
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat didalam benaknya, ia berpikir lebih jauh :
"Aaaah. tidak benar! apakah aku sudah keluar dari hutan belantara tersebut???''.
Dengan cepat ia mengerangkak bangun dari atas tanah dan melongok keempat penjuru, tampaklah sekeliling situ hanya berupa pepohonan yang sangat lebat, lebih jauh dari itu yang ada hanya kegelapan yang mencekam. dimana ia berdiri saat ini merupakan sebidang tanah kosong yang luas dan persis ditengah tanah kosong tadi terdapat sebuah kolam kecil seluas lima tombak.
Satu pikiran dengan cepat berkelebat di dalam benaknya dan pemuda itu pun kembali berdiri tertegun. mengapa pada saat ini ia tidak merasa lapar maupun dahaga?? bahkan rasa sakit yang dideritanya tadi sekarang lenyap tak berbekas, ia segera tundukkan kepalanya dan memeriksa.
Tampaklah kulit tubuh yang telah terendam air kini sudah sembuh sama sekali dari lukanya, bahkan luka2 itu telah merapat dan sedikitpun tidak terasa sakit, kejadian ini tentu saja mencengangkan hatinya.
Mendadak... sinar matanya terbentur dengan sebuah tonggak batu yang berdiri tegak disisi tubuhnya, diatas tonggak tadi tertulislah beberapa huruf yang kurang lebih berbunyi demikian:
"Sumber air kulit bumi, Mencopot kulit berganti tulang".
setelah membaca tulisan itu, sadarlah si anak muda itu apa sebenarnya yang telah terjadi, pikirnya:
"Aaaah, benar, pastilah air didalam kolam ini adalah sumber air mujarab yang berasal dari kulit bumi seperti apa yang sering tersiar diluaran, tidak aneh kalau luka diseluruh tubuhku telah sembuh kembali setelah tercebur didalam air... perduli amat aku bisa keluar dari hutan ini atau tidak, pokoknya akan kucoba kembali"
Berpikir demikian iapun segera loncat ke dalam kolam dihadapannya, terasa air tersebut dingin menusuk tulang hingga membuat giginya saling beradu dengan kerasnya.
sekujur tubuhnya direndamkan kedalam air kecuali batok kepalanya yang menongol diluaran, dikala hatinya mulai lega dan pikiran mulai mengendor itulah kejadian masa lampau kembali berkelebat didalam benak nya.
Ia teringat kembali akan beratus ratus sosok tulang tengkorak yang berserakan didalam perkampungan keluarga Hari itulah rumah keluarganya.
susiok sitelapak naga beracun Thlo Lien setelah mengutarakan asal usulnya segera bunuh diri, apa sebabnya???. . suatu misteri.
Benarkah si pembunuh keji yang telah membasmi keluarga Han serta keluarga Thio adalah si Pemilik dari Benteng Maut?? sebab lambang tengkorak berdarah yang ia temukan diatas dinding ruangan tengahnya persis seperti lambang dari si pemilik Benteng Maut tersebut. Kalau benar apa sebabnya ia melakukan pembunuhan tersebut? kembali merupakan satu misteri ...
Diikuti pelbagai ingatanpun berkelebat di dalam benaknya:
Susioknya, sitelapak naga beracun Thio Lien kenapa tidak memperkenankan dia untuk membalas dendam?? kalau dilihat sikap paman gurunya tadi jelas dia sudah tahu siapakah pembunuh keji tersebut, tapi ia tidak mau mengatakannya keluar, bahkan tidak memperkenankan pula dirinya untuk mengubur tulang tengkorak yang berserakan itu, apa sebabnya?
Dengan mempertaruhkan jiwa putranya, sang paman guru telah menyelamatkan dia dari kematian dan mendidiknya hingga dewasa, tetapi apa yang kemudian diwaris kan kepadanya hanya dasar berlatih ilmu tenaga dalam belaka, sedang jurus silatnya tak sepotongpun yang diwariskan kepadanya, sang susiok mengatakan bahwa ia terikat oleh sumpah, apakah isi sumpah tersebut??
seluruh keluarganya mati binasa dalam peristiwa berdarah itu kecuali ibunya seorang yang masih hidup, mengapa???
Iapun teringat kembali akan kesadisan serta kekejian yang terlihat sewaktu berada didepan Benteng Maut.
Diikuti terbayang kembali wajah adik angkatnya si pengemis cilik Tonghong Hwie, mungkinkah ia masih ada kesempatan untuk saling berjumpa muka?...
Mendadak.... ia merasakan sekujur badan nyajadi amat panas hingga sukar ditahan, bukan saja air kolam.. yang itu tidak terasa dingin lagi bahkan makin lama terasa semakin panas bagaikan air mendidih.
Hatinya jadi amat terkesiap. jangan2 air kolam ini mengandung racun yang awat jahat?? tapi ia tidak merasakan tanda2 keracunan.
Buru2 tubuhnya merangkak naik keatas tepian. namun... rasa panas yang menyengat badannya kian lama kian menjadi dan makin lama bertambah hebat... bagaikan sekujur badannya dibakar oleh api besar hingga terasa amat sakit.
Hampir saja sianak muda itu jadi gila, Ia tak kuat menahan siksaan serta penderitaan yang menyerang tubuhnya; pemuda itu segera bergelindingan ditepi kolam, meronta kesana menekuk kemari.
Tidak lama kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.
Entah berapa lama sudah lewat, ketika ias siuman kembali dari pingsannya terasalah sekujur tubuhnya segar dan nyaman, rasa sakit telah bilang lenyap tak berbekas dengan hati sangsi bercampur curiga segera tanyanya pada diri sendiri:
"Mungkin aku sudah berganti kulit bertukar tulang?".
la bangkit berdiri dan terasalah suasana-disekeliling tubuhnya terasa lebih terang, sinar matanya dapat mencapai pandangan sejauh ratusan tombak, hatinya jadi amat kegirangan, setelah ia dapat melihat ditengah kegelapan berarti keluar dan hutan belantara tersebut bukanlah satu persoalan yaag menyulitkan.
Sinar matanya segera menyapu sekeliling tempat itu, mendadak beberapa tombak dari ia berdiri saat ini, tepatnya ditepi sebuah pohon tua pemuda itu menemukan sesosok bayangan manusia sedang duduk bersila disitu- hatinya jadi amat kegirangan, ia tak mengira kalau ditempat semacam ini bisa bertemu dengan seseorang, laksana kilat tubuhnya meloncat kedepan.
Sekali enjot badan ia segera merasakan tubuhnya enteng bagaikan burung walet, hampir saja badannya menumbuk diatas tubuh bayangan manusia itu yang bukan lain adalah seorang kakek tua berambut putih.
Sianak muda ini jadi terperanjat, sekarang ia baru sadar bahwa tubuhnya bisa enteng pastilah disebabkan kasiat dari sumber air mujarab dari kulit bumi.
Buru-buru dia mundur tiga langkah kebelakang dan menjura untuk memberi hormat, katanya :
"Loocianpwve! berhubung boanpwee tersesat jalan hingga sampai disini, maka mohon sudilah kiranya loocianpwee memberi petunjuk jalan bagi diriku untuk lolos dari tempat ini!".
Perkataan itu diulangi sampai tiga kali namun tiada jawaban.ia segera memperhatikan wajah orang itu lebih seksama.
"Aaah " Han Siong Kie berseru tertahan, bulu kuduknya pada bangun berdiri dan hatinya jadi amat bergidik. ternyata kulit badan si kakek tua itu sudah mengering dan layu, yang tersisa hanya sekerat kerangka manusia belaka, rupanya kakek tua itu sudah banyak tahun menghembuskan napasnya yang terakhir disitu. Beberapa saat kemudian rasa kaget dan bergidiknya baru agak reda, pikirnya:
"Apa yang musti aku takuti?? kalau aku tak bisa keluar dari hutan belantara ini maka keadaan pun tidak akan jauh berbeda dengan dirinya...".
Ketika dipandangnya mayat itu lebih jelas, maka si anak muda itu menemukan sekujur tulang kakek tua itu sudah penuh ditumbuhi lumut hijau yang amat lebat sehingga sepintas lalu nampaknya seolah2 dia memakai pakaian.
Menyaksikan keadaan itu timbul rasa kasihan didalam hatinya, iapun lantas bergumam seorang diri:
"Loocianpwee, daripada tulang belulang mu terlantar diatas bumi, baiklah biar aku kubur secara baik2".
Sambil berkata dengan tangannya ia lantas membersihkan lumut hijau yang tumbuh disekeliling mayat tersebut, tapi kembali hatinya merasa terperanjat sebab diatas kulit didepan mayat itu ternyata terukir beberapa huruf dengan amat jelas: "Air mujarab melindungi badan, kulit dan tulang tak akan membusuk."
Bila beberapa tahun kemudian ada orang yang sampai ditempat ini, tolong kebumikanlah jenasah loohu dibawah pohon jati bercabang tiga yang tumbuh disebelah timur kolam". Membaca tulisan tersebut, dalam hati Kiepun lantas berpikir:
"Baiklah, aku akan kabulkan keinginanmu itu agar sukmamu dialam baka bisa jadi tenang".
Di sebelah timur kolam ternyata benar2 terdapat sebuah pohon jati yang bercabang tiga, maka sianak muda itu sebera mematah-kan sebuah ranting dan mulai menggali liang kubur dibawah pohon tadi, satu depa... dua depa... tiga depa... empat depa.
Mendadak, ujung rantingnya seolah-olah menyentuh suatu benda yang amat keras.
“Aaaah. mungkin benda keras itu adalah batu karang atau sebangsanya... biarlah. empat depa pun rasanya sudah cukup dalam" pikir Han Siong Kie didalam hati.
Belum habis pikiran itu berkelebat didalam benaknya, tiba tiba permukaan tanah yang dipinjamnya mulai bergerak dan berdetak keras diikuti benda keras yang berada didalam tanah itu mulai munculkan diri dari permukaan tanah dan menyeret tubuhnya ke arah depan.
Kejadian ini tentu saja amat mengejutkan hati sianak muda itu matanya jadi terbelalak dan sukmanya terasa hampir melayang meninggalkan raganya,
Benda tadi kian lama kian bertambah naik keatas sehingga akhirnya permukaan tanah mereka dan muncullah seekor kura kura raksasa yang amat besar sekali sambil menggoyangkan kepalanya makhluk besar itu perlahan-lahan merangkak kemuka.
Meskipun kura kura tak dapat melukai orang tetapi makhluk aneh berbentuk raksasa yang demikian besarnya ini jarang sekali di dalam kolong langit, hal itu tentu saja membuat siapa pun yang menyaksikan merasakan hatinya bergidik-
Mendadak....... kura kura itu membentangkan mulutnya dan “Weesss!” segulung hawa tekanan yarg amat dahsyat segera menggulung kearah tubuhnya.
Mimpipun Han Siong Kie tak pernah menyangka kalau makhluk raksasa tersebut dapat memuntahkan hawa tekanan yang demikian dahsyatnya, dalam keadaan tanpa siap siaga barang sedikit pun badannya segera terroboh diatas tanah, sementara kura kura tadi segera merangkak kearah depan dan menindih diatas tububnya.
Tindihan tersebut benar benar sangat kuat ternyata si anak muda itu tak sanggup meloloskan diri, tanpa sadar sukmanya terasa melayang meninggalkan raganya. ia mengira kalau maksud baiknya hendak mengubur tulang belulang sikakek tua itu mendatangkan bencana yang demikian anehnya.
Dalam pada itu sikura kura tadi sudah membentangtan mulntnya yang besar dan meuggigit batok kepala Han Siong Kie,
“Aduuuuh .... mati aku habis sudah nyawaku kali ini ..." teriak si anak muda itu dengan hati terjelos.
Tapi sungguh aneh sekali, walau sudah lama ia menunggu namun batok kepalanya sama sekali tidak digigit hancur, sebaliknya kepala yang berada didalam mulut kura-kura itu terasa sangat tidak enak badan.
Ketika ia berada dalam keadaan sangat takut menghadapi kematian yang sealiran hawa panas mengalir masuk lewat jalan darah Thian Leng Hiat diatas ubun-ubunnya menyebar keseluruh badan.
Han Siong Kie sudah merasa yakin bahwa dirinya bakal mati, mimpipun ia tak pernah mengira kalau bakal terjadi peristiwa aneh semacam ini, ia mulai merasa sangsi apakah dirinya masih hidup dikolong langit? kalau tidak maka ia pastilah sedang mendapat satu impian yang jelas yang sangat menakutkan.
sementara itu aliran panas yang menyusup keluar dari mulut kura kura itu makin lama, semakin deras bahkan akhirnya deras bagaikan gulungan ombak ditengah samudra.
Sejak kecil Han Siong Kie mempelajari bagaimana caranya mengatur pernapasan dan kini tanpa dia sadari dengan kepandaian yang pernah dipelajari itulah ia menyambut datangnya aliran hawa panas tersebut. kemudian mengatur melewati urat nadi dan mengelilingi sekujur badan.
Tetapi aliran panas tadi kian lama kian bertambah deras bagaikan air terjun yang membelah bumi, daya tekanannya makin lama bertambah makin dahsyat setelah mengelilingi sekujur tubuhnya hawa panas tadi mulai menerjang kearah Jen serta Tok dua nadi terpenting.
Han Siong Kie merasakan sekujur badannya bergetar keras dan akhirnya diapun jatuh tak sadarkan diri
Entah berapa saat sudah lewat, perlahan-lahan sianak muda itu siuman kembali dari pingsannya, ia merasa pandangannya jadi jernih dan terang, ketika berpaling kesamping tampaklah si kura-kura tadi sudah meninggalkan dirinya dan berbaring kurang lebih delapan depa disisi kalangan.
Ia mengucak-ucak sepasang matanya untuk membuktikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah impian belaka. ia coba mengatur pernapasan, terasa hawa murni yang bergelora didalam badannya menggulung-gulung bagaikan ombak samudra, bahkan kedua buah urat nadi penting Jien serta Tok meh yang dimilikipun sudah tertembusi.
Ia jadi tertegun, sianak muda itu tak berani mempercayai bahwa apa yang telah terjadi merupakan suatu kenyataan, kura2 ternyata dapat mengerahkan hawa murni untuk disampaikan kepada manusia.
Kurang lebih seperminum teh kemudian ia baru sadar kembali dari lamunan, pelahan-lahan sianak muda itu bangkit berdiri dan berjalan mendekati sikura-kura tadi.
Ditemuinya kura2 tersebut telah menemui ajalnya, sementara diatas punggung kura2 itu di terukir serangkaian tulisan yang kecil rapat dan lembut sekali:
Diatas kulit punggung ternyata masih ada tulisannya. hal ini benar-benar jauh berada diluar dugaan HanSiong Kie, buru2 ia bersihkan punggung makhluk raksasa tadi dari lumpur serta kotoran sehingga tulisan tadi dapat terlihat dengan lebih jelas. serangkaian kata2 pertama yang terbaca olehnya adalah berbunyi demikian: "Leng Koe sinkang, dihadiahkan bagi mereka yang berjodoh".
Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar amat keras, ia merasa bahwa kejadian ini merupakan titik tolak dari sejarah kehidupannya dan iapun merasa bahwa dirinyalah orang yang berjodoh dengan tenaga murni tersebut.
Dengan perasaan bergolak keras ia membaca tulisan tersebut lebih jauh.
"Aku adalah Lwng Koan sangjien, berhubung mengalami keadaan jalan api menuju neraka pada tahun Jien Boe maka akhirnya aku menemui ajal ditempat ini..."
Menggunakan jari tangannya Han Siong Kie mulai menghitung jarak tahun Jien Boe hingga saat itu yang ternyata sudah terpaut enam puluh lima tahun, dus berarti Leng Koe sangjien telah enam puluh tahun lebih lamanya meninggal dunia ditepi sumber air mujarab dari kulit bumi ini, seandainya tiada kemustajaban air tersebut, mungkin jenasah-nya sudah hancur lebur semenjak dulu kala.
Diapun membaca lebih jauh :
"Kura kura ini sudah enam puluh tahun lamanya mengikuti diriku, sifatnya jinak dan sudah mendekati kepintaran manusia, disaat aku hendak menghembuskan napas yang terakhir. seluruh hawa murni yang kumiliki telah kusalurkan kedalam lambung kura-kura ini, bagi mereka yang berjodoh memperoleh hawa sakti ini, maka ia berarti akan memiliki tenaga lweekang bagaikan hasil latihan selama seratus tahun lamanya”
Sekujur badan Han Siong Kie gemetar semakin keras, gumamnya seorang diri :
"Aku mungkin sedang bermimpi?? aku. ..aku telah memperoleh tenaga lweekang bagaikan seratus tahun hasil latihan? Kura-kura sakti itu telah menyaiurkan segenap hawa murninya kedalam tubuhku??Ooooh!! mulai sekarang aku mendapat kesempatan untuk membalas dendam sakit hatiku!".
Diapun membaca lebih lanjut :
"Setelah menyalurkan hawa murninya, kura-kura ini pasti akan mati karena kehabisan tenaga, engkau boleh mengubur bangkainya didalam satu liang bersama diriku! dibelakang ini aku wariskan pula serangkaian ilmu gerakan serta ilmu pukulan yang merupakan inti sari dari seluruh kepandaian yang kumiliki sepanjang hidup, setelah berhasil menguasahi kepanpaian tersebut meskipun belum dapat menjagoi dunia persilatan tanpa tandingan, tetapi kawanan Bu Lim dari golongan biasa tidak akan dapat mengalahkan dirimu setelah rahasia ilmu itu berhasil dihapalkan, ambillah sebuah kantong kecil yang terikat dibelakang ekor kura-kura ini, isi kantong merupakan sebutir piI penghancur yang dapat menghapus seluruh tulisan yang tertera diatas punggung kura kura ini, daripada rahasia kepandian sakti tersebut tersiar luas di dalam dunia persilatan"
Han Siong Kie tarik napas panjang-panjang ia membaca lebih jauh dimana yang tertera merupakan rahasia untuk melatih ilmu gerakan tubuh, tiga jurus ilmu telapak serta ilmu Koe Sie Toa Hoat yang khusus untuk mengendalikan hawa darah yang bergerak di dalam tubuhnya.
Koe sie Toa Hoat merupakan kepandaian sakti yang sudah lenyap dari peredaran Bulim, sungguh tak nyana ia mempunyai jodoh untuk mempelajarinya, semangat segera berkobar2 dan rasa girang yang bergelora di dalam dadanya sukar dilukiskan dengan kata2:
Han Siong Kie cerdik dan berontak encer, setelah membaca tiga kali seluruh rahasia ilmu tersebut telah hapal diluar kepala.
Ilmu gerakan tubuh tersebut bernama "Hoe Keng Keng-im " atau Cahaya Kilat Lintasan Bayangan, sedangkan ketiga jurus ilmu pukulan tersebut bernama Leng Koe sam sie, setiap jurus mengandung sembilan gerakan perubahan, meski untuk sesaat tak dapat memahami intisari yang sedalamnya, tetapi sekilas memandang dapat diketahui bahwa kepandaian tersebut merupakan ilmu pukulan yang sangat ampuh.
Akhirnya diujung paling bawah tertera pula beberapa baris tulisan kecil yang berbunyi demikian:
"Selesai mengerjakan sesuatunya kau boleh tinggalkan tempat ini . belok tiga kearah timur kemudian putar empat kearah selatan maka kau telah lolos dari hutan belantara ini?".
Lama sekali sianak muda itu termenung memikirkan maksud dari belok tiga ketimur putar empat selatan... beberapa waktu kemudian akhirnya ia berseru tertahan:
"Aaaah, mengerti aku sekarang, yang di maksudkan pastilah berjalan tiga li ke arah timur kemudian putar ke arah selatan dan berjalan sejauh empat li, maka aku akan lolos dari hutan ini ......
setelah merandek sejenak, pikirnya lebih jauh: .
"Kalau aku bisa melayang dari puncak pohon, pemandangan ke arah depan akan terasa lebih luas, kenapa aku musti menerobos kesana kemari didalam hutan ini???".
Berpikir sampai disini ia segera meloncat ke atas, terasalah badannya enteng bagaikan burung walet, loncatannya itu ternyata berhasil mencapai ketinggian sejauh puluhan tombak. hal ini malah sebaliknya mengejutkan hatinya, ia segara melayang keatas dahan dan memandang ke depan.
Tampaklah pepohonan amat rapat dan lebat, walaupun dari tempat ketinggian, tetapi pemandangan yang terlihat tak dapat mencapat tempat kejauhan, sekarang dia baru menyadari akan luasnya hutan belantara tersebut.
Kata-kata peninggalan dari Leng Koe sangjien ternyata memang sangat beralasan sekali, kalau tidak sumber air yang amat mustajab ini jauh sebelumnya tentu sudah ditemukan orang kangouw. setelah melompat turun dari pohon, iapun berpikir:
"Seluruh tenaga lwekang yang ditinggalkan Leng Koe sangjien telah aku dapatkan semua, meskipun didalam surat wasiatnya ia berkata bahwa kepandaian tersebut diwariskan kepada berjodoh, tetapi didalam kenyataan aku sudah terikat dalam hubungan antara guru dan murid dengan sikakek tua ini, Tata cara tak boleh dikesampingkan, aku harus menjalankan penghormatan lebih dahulu didepan la yon guruku kemudian baru menuruti pesan terakhirnya untuk menge-bumikan layannya bersama-sama bangkai kura-kura itu"
Berpikir sampai disitu diapun maju ke depan dan dengan hormat menjalankan penghormatan besar sebanyak delapan kali dldepan jenasah Leng Koe sangjien, bisiknya: "Tecu Han Siong Kie menghunjuk hormat untuk la yon In soe".
selesai berdoa ia bangkit berdiri dan melirik sekejap kearah liang kubur yang telah dipersiapkan, kemudian membopong jenasah Leng Koe sangjien dari atas tanah untuk dipindahkan kearah liang kubur tadi.
Tetapi secara mendadak ia temukan suatu papan batu dibawah jenasah gurunya itu di atas papan batu terukir pula beberapa huruf kecil yang berbunyi demikian.
"seandainya kau menganggap saat tadi sudah memperoleh tenaga lweekang yang tinggi serta ilmu silat yang lihay, kemudian tinggalkan jenasah diriku tetap terlantar diatas bumi, maka seratus hari kemudian apa yang kau peroleh saat ini bakal lenyap tak berbekas ..".
Tanpa sadar Han Siong Kie merasakan badannya bergidik keras, diam2 ia bersyukur kepada diri sendiri bahwa ia tak mempunyai maksud untuk berbuat demikian, kalau tidak niscaya bencana akan menimpa dirinya.
"singkap papan batu ini, di bawah merupakan ruang bawah tanah" Han Siong Kie angguk-anggukkan kepala-nya dan berpikir:
"Leng Koen sangjien telah mengatur segala-galanya, baiklah aku laksanakan menurut pesan terakhirnya".
Maka tanpa banyak komentar ia buka papan batu itu kesamping hingga muncullah sebuah mulut gua, serangkaian anak tangga batu menjorok kebawah, suasana dalam gua terasa terang benderang bagaikan disiang hari, jelas di sekeliling situ telah dipasang batu permata atau mutiara serta benda2 berharga sejenisnya.
sesudah ragu2 sejenak. pemuda itu membopong jenasah dari Leng Koe sangjien dan menuruni undak-undakan batu itu
Pada ujung undak-undakan batu tadi merupakan sebuah ruangan batu, dalam ruangan hanya tersedia bangku, meja serta sebuah pembaringan, sedang pada atap ruangan terdapat sebutir mutiara besar yang memancarkan cahayanya menerangi seluruh ruangan, pada ujung dinding terdengar suara rintikan air yang memancar ke bawah dan mengalir keluar gua.
Han Siong Kie sebera membaringkan jenasah dari Long Koe sangjien diatas pembaringan batu yang disisinya terukir beberapa hurup yang berbunyi demikian:
"Disinilah manusia dan kura kura bersemayam"
Kemudian pemuda itu keluar lagi dari ruangan untuk membohong masuk bangkai kura-kura tadi untuk kemudian di baringkan di sisi jenasah Leng Koe sangjien.
setelah itu barulah ia mengambil butiran obat diekor kura-kura tadi, telah dicampur dengan air segera di usapkan diatas punggung kura-kura, tulisan yang yang tertera diatas kulit makhluk itupun seketika lenyap tak berbekas.
Mendadak.... terdengar suara gemerisik yaag amat nyaring bergema memecahkan kesunyian secara tiba-tiba pembaringan batu itu bergerak turun ke arah bawah.
Han Siong Kie yang menjumpai keadaan itu jadi amat terperanjat, dtngan termangu-mangu ia awasi pembaringan batu tadi turun kebawah hingga mencapai lima depa dan berhenti, kemudian sebuah papan baru perlahan-lahan muncul dari arah samping dan tepat menutupi liang bekas tempat pembaringan batu tadi.
Keadaan ruanganpun dengan cepat pulih kembali seperti sedia kala, kecuali kurang selembar pembaringan.
"Aaaah... sungguh suatu persiapan yang amat masak " seru sianak muda itu tanpa sadar.
Belum ia berkata tampak selembar kertas melayang jatuh dari atas atap ruangan, ia segera pungut kertas tadi dan membaca isinya :
"Hati jujur dan tulus ikhlas, bocah cilik, kau memang mengembirakan hatiku.".
Membaca sampai disini Han Siong Kie tak tertahan tertawa geli, pikirnya:
"Apakah pada enam puluh tahun berselang Leng Koe sangjien telah dapat menduga kalau orang yang bakal tiba disini adalah seorang pemuda yang masih muda belia seperti aku??? atau adalah seorang kakek tua, ucapan si "bocah cilik" itu bukanlah bisa dijadikan suatu lelucon yang sangat menggelikan???".
Bepikir sampai disini, iapun meneruskan kembali membaca surat tersebut:
".... Sumber air didalam batu merupakan sumber utama dari air mujarab, siapa yang minum air tersebut dapat menghilangkan rasa lapar dan rasa dahaga. Meskipun kau telah berendam didalam sumber air hingga berganti kulit tulang dan memperoleh pula hawa murni yang disalurkan kura-kura sakti, tetapi kau harus merendamkan diri lagi selama tiga hari didalam sumber mata air yang ada di dalam ruangan ini, dengan begitu hawa murni yang didapatkan baru bisa bergabung jadi satu dengan hawa murni didalam badan. sedangkan untuk melatih ilmu Koe sie Toa Hoat kaupun harus mengandalkan kekuatan dari sumber mata air ini, seratus hari kemudian bisa diharapkan suatu hasil yang gemilang, kemudian dengan segenap tenaga hantamkan ke arah sumber mata air ini sebanyak tiga kali, apa bila tidak menemukan suatu pertanda apapun, berlatihlah kembali selama seratus hari..."".
Berbicara sampai disini Han Siong Kia pun sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Leng Koe sangjien, maka diapun mengikuti petunjuk tersebut dan mulai berlatih diri didalam ruang batu itu.
Seratus hari dalam sekejap mata sudah lewat, terhadap kepandaian silat yang diwariskan Leng Koe sangjien di atas punggung kura-kuranya pun sianak muda itu sudah hapal di luar kepala.
Dengan perasaan hati yang bergolak keras ia menatap dinding batu dimana terdapat sumber mata air tajam2, lama sekali ia memandang namun belum juga mengerti apa yang dimaksudkan gejala aneh oleh gurunya, ia harusnya merasa bahwa semua persiapan itu diatur dengan amat sempurna dan misterius.
Maka diapun menghimpun segenap tenaga-nya kedalam telapak kemudian melancarkan tiga buah serangan dahsyat ke arah dinding batu dimana terdapat sumber mata air itu
Suara ledakan dahsyat segera menggeletar memekikkan telinga, dinding batu dimana terdapat sumber mata air tadi setelah termakan oleh pukulan yang amat dahsyat tadi mendadak bergerak tiga depa kedalam dan lenyaplah sumber mata air tadi.
000000
DENGAN wajah tertegun Han Siong Kie berdiri menjublak ditempat semula, ia tidak habis mengerti apa yang dimaksudkan mendiang gurunya untuk berbuat begitu.
criiing... tiba2 terdengar suara gemerincingan bergema disisi tubuhnya diikuti terasalah sebuah benda yang memancarkan cahaya berkilauan secara tiba2 terjatuh dari atas dinding gua tersebut.
Ia segera mendekati benda tadi mau mengambilnya yang ternyata bukan lain adalah sebuah telapak tangan terbuat dari tembaga hitam, diikuti secarik kertaspun melayang jatuh kebawah.
Dengan hati tercengang dipungutnya pula kertas tadi, tapi dengan cepat si anak muda itu sudah berteriak keras dengan sekujur badan bergetar keras: "Aaaah. Hoed Chiu Poo Pit... kitab pusaka TanganBuddha ....".
Ia teringat kembali akan ucapan dari susioknya si telapak naga beracun Thio Lien
yang pernah menceritakan kepadanya akan kisah benda pusaka yang tak ternilai harganya itu, sungguh tak nyana akhirnya benda tadi ditemukan olehnya.
Di atas Hoed Chiu Poo Pit tersebut termuat serangkaian ilmu silat yang maha sakti yang disebut tlmu "sie Mie sinkang" kepandaian ini begitu dahsyat sehingga ilmu" Toan Yoe sinkang" dari partai siauw limpun tak sanggup untuk menandingi, hanya jarang sekali ada orang yang pernah menyaksikan sendiri kehebatan ilmu tersebut.
Sepasang tangannya mulai gemetar keras, ia pejamkan matanya rapat-rapat dan berusaha keras menenangkan hatinya yang bergolak keras.
Ia terbayang kembali akan suasana di dalam perkampungan keluarga Ha n, tulang tengkorak berserakan dimana-mana... dua ratus jiwa ditambah jiwa susioknya si telapak naga beracun Thio Lien sekeluarga, semua-nya telah musnah ditangan si Tengkorak darah.
Dendam kesumat seperti ini lebih dalam dari samudra, rasa bencinya lebih besar dari langit, Bagaimanapun juga sakit hati ini harus dituntut balas.
Tengkorak darah... si Pemilik Benteng Maut, tak dapat membayangkan sampai di manakah lihaynya ilmu silat yang dimiliki pihak lawan, sebab si pengemis dari selatan serta si padri dari utara pun bukan tandingannya semua, tetapi seandainya ia berhasil mempelajari ilmu see Mi ciang?
Sinar matanya dialihkan kembali keatas kertas itu dan membaca lagi isinya:
"Hod Chiu Poo Pit berhasil aku dapatkan pada tiga puluh tahun berselang, tetapi didalam melatih kepandaian tersebut ternyata aku menderita jalan api menuju neraka, saat itulah aku baru sadar bahwa kitab pusaka ini semestinya terdiri dari kiri dan kanan, tapi keadaan sudah terlambat dan menyesalpun tak ada gunanya, Kitab yang ku dapatkan adalah bagian yang kanan, dimanakah yang sebelah kiri aku sendiripun tak habis mengerti, kejadian itu merupakan suatu hal yang patut disesalkan sepanjang hidupku, bagi mereka yang berjodoh apabila berhasil memenuhi harapanku dengan menggabungkan sepasang telapak tangan itu hingga berhasil melatih ilmu yang sangat dahsyat tanpa tandingannya dikolong langit ini, akupun akan ikut tersenyum dialam baka".
Han Siong Kie merasakan hatinya terjelos, kalau memang Hoed Chiu Poo Pit terdiri dari sepasang, lalu yang separuh dia harus pergi cari dimana.?
Jagad begini luas dan lebar, untuk menemukan separuh belah benda pusaka sudah tentu merupakan suatu kejadian yang amat sulit.
seandainya telapak Budha yang lain tidak berhasil ditemukan, bukankah yang sebelah ini sama artinya dengan benda yang tak berharga?? Leng Koe sangjien yang begitu lihaypun, hanya kurang hati-hati mengakibatkan kematian yang disesalkan untuk selama nya, apalagi dia?
-0000000-
Jilid 3
LAMA sekali ia termenung... akhirnya pemuda itu jatuhkan diri berlutut ke arah pembaringan batu yang telah lenyap di bawah tanah itu, katanya dengan suara lirih:
"suhu, walaupun kau telah meninggal dunia tetapi budi pemberian tenaga lwekang tak akan pernah lenyap dari benakku, selama tecu masih hidup dikolong langit pasti akan berusaha keras untuk menyelesaikan harapan dari suhu ini sampai mati baru berhenti "
Habis berdoa ia bangkit berdiri, memasukkan tangan Buddha berwarna hitam itu ke dalam sakunya dan keluar dari ruang batu, kemudian tutup pula mulut gua dengan papan batu dan menutup papan batu tadi dengan tanah sehingga siapapun tak akan menduga kalau dibawah tanah masih terdapat ruangan batu.
Menanti ia berpaling kearah sumber air mujarab, pemuda itu jadi tertegun, kiranya kolam air mujarab telah mengering, setetes airpun tidak nampak. yang tersisa hanyalah sebuah liang tanah yang luas. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena tersumbat-nya sumber air didalam gua.
Memandang langit yang biru diangkasa, Han Siong Kie merasa bagaikan baru saja mendusin dari suatu impian yang aneh.
Dalam seratus hari ia telah berubah jadi seorang manusia yang lain, seorang jago dengan tenaga lweekang yang amat semcurna serta rangkaian ilmu silat yang sakti.
Pertama, ia teringat kembali akan saudara angkatnya yang nakal sipengemis cilik Tonghong Hwie, entah saat ini ia telah berkelana sampai dimana?? ia merasa bahwa dengan kepandaian yang dimilikinya sekarang mungkin sudah cukup untuk menjadi toakonya.
Ia tertawa bangga dan sebera kerahkan ilmu meringankan tubuhnya keluar dari hutan itu.
Suasana dalam hutan itu sudah tidak segelap waktu ia datang semula, karena pandangan matanya dapat melihat di tempat kegelapan. sesuai dengan pesan dari Leng Koe sangjin, setelah berjalan tiga li ke arah timur kemudian putar kearah selatan sejauh empat li, ia benar2 sudah lolos dari hutan belantara tersebut.
Setelah melewati sebuah hutan kecil, di hadapan matanya terbentanglah sebuah bukit yang tak begitu tinggi.
Dari puncak itu dia memandang ke bawah, tampaklah di suatu bagian adalah sebuah kota kecil, arah lain merupakan sungai dengan sebuah benteng kuno yang berdiri dengan angkernya ditengah sungai, itulah Benteng Maut tempat angker bagi seluruh umat Bu lim.
Han Siong Kie merasakan darah panas dalam dadanya bergelora keras, api dendam berkobar dengan hebatnya membuat sorot mata yang memancar ke luar nampak begitu mengerikan dan menakutkan.
Membalas dendam ingatan ini berkelebat dalam benaknya, sambil menggertak gigi ia mengirim satu pukulan udara kosong ke depan.
Tiba2 ia temukan bahwa pakaian yang di kenakan olehnya sudah kumal dan hancur tak karuan, perutpun terasa lapar. dalam hati segera pikirnya:
"Lebih baik aku membeli pakaian dulu di kota sebelah depan sana, setelah perut terasa kenyang barulah pergi ke Benteng Maut untuk mencari setori ...." Berpikir demikian ia lantas turun gunung dan langsung menuju kearah kota terdekat.
sekonyong2... terdengar desiran angin tajam berkumandang memecahkan kesunyian, disusul munculnya beberapa sosok bayangan manusia di tempat itu.
Tujuan Han Siong Kie pada saat ini adalah pergi ke kota untuk ganti pakaian dan menangsel perut kemudian pergi ke Benteng Maut untuk mencari balas, terhadap orang2 tadi ia malas untuk memperdulikannya, melihat datangnya beberapa sosok bayangan manusia, badannya segera menyingkir kesamping untuk memberi jalan. "Berhenti"
Suara bentakan keras bergetar memekikkan telinga, tujuh sosok bayangan manusia dengan cepatnya meluncur datang dan menghadang jalan perginya. Pemuda she Han ini terpaksa berhenti dan angkat kepalanya memperhatikan orang2 itu.
Tampaklah diantara mereka bertujuh ada tiga orang adalah kakek tua dan empat orang lainnya merupakan pria kekar, wajah mereka menunjukkan rasa takut dan jeri yang tak terkirakan.
Begitu masing2 pihak saling berjumpa, ketujuh orang itusama2 berseru tertahan, rupanya mereka dibikin terperanjat oleh keadaan Han Siong Kie yang mengenaskan itu. Terdengarlah salah seorang kakak tua itu dengan alis berkerut sebera menegur:
"Engkoh cilik, apakah kau terluka?"
Dengan sikap hambar Han Siong Kie gelengkan kepalanya, mulut tetap membungkam dalam seribu bahasa.
"Engkoh cilik kau hendak pergi ke mana?" kembali kakek tua itu bertanya. "Aku mau pergi ke kota"
"Aduh... jalan ini tak bisa dilewati, lebih baik kaupilih jalan yang lain saja."
"Kenapa?? apa salahnya aku lewat sini."
Dengan wajah menunjukkan kengerian serta keseraman yang tebal, kakak tua itu menyahut:
"Janganlah bertanya mengapa, dengarkanlah perkataan dari aku orang tua pasti tak akan salah lagi, cepatlah putar badan dan tinggalkan tempat ini."
"Hmm terima kasih petunjukmu "sahut Han Siong Kie ketus, begitu selesai berbicara ia segera melayang sejauh tiga tombak dari tempat semula.
Melihat sikap si anak muda itu, si kakek tua yang lain diantara ketujuh orang itu sebera berseru:
"Kalau memang keparat cilik itu pingin menghantar kematiannya sendiri, perduli amat kita mesti mengurusi dia, ayo berangkat. janganlah memancing api membakar tubuh sendiri"
Sebetulnya dari pembicaraan beberapa orang itu Han Siong Kie sendiripun dapat menangkap akan suatu keadaan yang tidak beres, tetapi sebagai seorang pemuda yang berjiwa panas terutama baru saja memiliki kepandaian silat yang maha sakti, disamping itu dalam benaknya kecuali memikirkan bagaimana caranya membalas dendam terhadap Benteng Maut tidak memperhatikan persoalan lain, maka walaupun sudah diperingatkan tetapi ia tetap nekad meneruskan perjalanannya.
Beberapa saat kemudian sampailah pemuda itu di dalam sebuah hutan To yang luas dan rimbun, daun dan ranting tumbuh dengan suburnya, sebuah jalan kecil terbentang menembusi hutan tersebut.
Belum jauh ia berjalan memasuki hutan tadi, terciumlah bau amis darah yang amat menusuk penciuman berhembus lewat dari sisi kiri kanannya.
Han Siong Kie terperanjat dan segera memperhatikan gerakan tubuhnya, begitu ia berpaling bulu kuduknya segera pada bangun berdiri, ia bersin beberapa kali dan berdiri terbelalak.
Terlihatlah di tepi jalan berserakan beberapa puluh sosok mayat yang menggeletak di atas genangan darah segar, keadaan mayat2 itu mengerikan sekali, batok kepala mereka hancur berantukan dan otak berserakan di empat penjuru, bau busuk yang memuakkan tersiar di empat penjuru membuat perut orang jadi mual.
Ia berdiri menjublek. siapakah yang telah melakukan pembunuhan kejam diluar perikemanusiaan ini???
Tiga orang kakek serta empat orang pria kekar tadi melarang dirinya maju lebih ke depan bahkan mengajak ia ber sama2 melari-kan diri dari situ, apakah hal itu disebabkan karena peristiwa pembunuhan sadis ini? lama sekali ia berpikir tapi tak sesuatu apapun yang berhasil dipecahkan olehnya.
setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya, si anak muda itupun meneruskan kembali perjalanannya menerobos Hutan, sepanjang jalan kembali ia temukan mayat manusia yang menggeletak di tepi jalan, keadaan dari mayat2 tidak jauh berbeda dengan apa yang dilihatnya di tepi hutan tadi, batok kepalanya hancur remuk serta otak yang berceceran di atas lantai.
Makin melibat Han Siong Kie merasa semakin terperanjat, pembunuhan brutal Benar-benar merupakan suatu peristiwa berdarah yang mengerikan hati.
Pada saat itulah... sesosok bayangan manusia berkelebat lewat di dalam hutan itu, langkahnya ter-buru2 dan sempoyongan.
sekilas memandang Han Siong Kie merasakan hatinya tergetar keras, bukankah orang itu adalah sipengemis dari selatan salah satu diantara dua tokoh lihay dunia persilatan?? kalau dilihat dari keadaannya diapun menderita luka parah.
Jangan2 diapun terluka ditangan pembunuh yang membinasakan korbannya dengan menghajar remuk batok orang?? atau mungkin...
Diam2 sianak muda ini bergidik juga hatinya, ia tahu si pengemis dari selatan serta si Padri dari Utara adalah tokoh2 sakti di dalam dunia persilatan, tetapi mereka dapat jatuh kecundang ditangan orang, hal ini bisa membuktikan betapa dahsyatnya serta sempurna nya tenaga lwekang yang dimiliki orang itu.
Berpikir demikian, buru2 ia maju menyongsong kedatangan si pengemis itu sambil menjura.
"Locianpwe harap tunggu sejenak".
si Pengemis dari selatan menghentikan gerakan tubuhnya dan memperhatikan sekejap seluruh tubuh si anak muda itu, kemudian dengan wajah terkejut bercampur sangsi serunya: "Kau...kau. . . "
"Cayhe she Han bernama Siong Kie"
"Apakah kau telah bergebrak melawan perempuan iblis itu???"
"Perempuan iblis?? siapa???" tanya Han Siong Kie setelah tertegun beberapa saat lama nya, ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan si pengemis tua itu.
"Im sat si Malaikat berhawa lm kang, Mo sioe Ing"
"siapakah orang itu?? cayhe sama sekali tidak mengenal atau bertemu dengan dirinya"
"Apakah engkau benar2 tidak kenal dengan iblis perempuan itu?? kalau begitu aku si pengemis tua sudah salah melihat... Tapi kenapa keadaanmu begini mengenaskan???"
Han Siong Kie tundukkan kepalanya dan memperhatikan sekejap pakaian yang dikenakan, sebenarnya dia ingin menceritakan pengalaman selama berada di dalam hutan belantara
tapi ingatan lain dengan cepat berkelebat dalam benaknya "Haah, lebih baik aku merahasiakan pengalaman aneh itu saja"
"oh kemarin malam cayhe telah bertemu dengan kawanan serigala liar habis sudah pakaianku di koyak2 oleh makhluk sialan itu"
"Hey bocah keparat berada didepan Budha lebih baik tak usah pura2 pasang hio" tukas si pengemis dari selatan dengan mata melotot "Meskipun kawan serigala itu ganas aku rasa mereka takkan bisa mengapa-apakan, aku si pengemis tua yakin bahwa sepasang mataku belum buta dengan kesengsaraan serta ketajaman pandangan matamu, aku percaya bahwa tenaga lwekangmu sudah mencapai pada taraf yang tak tercapai oleh kawanan Bu lim biasa". Merah jengah selembar wajah Han Siong Kie.
"Sungguh tajam penglihatan si pengemis tua ini" pikirnya di dalam hati, sementara di luaran ia menyahut dengan nada ketus:
"Percaya atau tidak terserah pada diri locianpwe sendiri, yang pokok aku memang mengalami kejadian tersebut".
"Baik, omong kosong tiada gunanya" seru si pengemis dari selatan sambil mengetukkan tongkat bambunya ke atas tanah. "Kemungkinan besar si iblis perempuan itu akan balik lagi setelah berlalu dari sini, cepat2lah kau meninggalkan tempat ini".
"Huuh Si iblis Im Sat Mo Sioe Ing paling banter hanya seorang perempuan, sampai di mana sih keganasan serta kepandaiannya? aku pingin tahu..."
"Hey Bocah cilik, kau betul2 seorang manusia yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, apakah kau tidak menyaksikan tumpukan mayat yang bergelimpangan diluar hutan sana???"
"Sudah lihat, kenapa??"
"Kalau kau tidak ingin batok kepalamu ikut hancur berantakan terhajar oleh pukulan mautnya, lebih baik cepat2lah tinggalkan tempat ini". Han siong Kie segera tertawa hambar:
"Hmm cayhe ingin sekali menjajal kepandaian yang dimiliki si iblis Im Sat Mo sioe Ing, aku pingin tahu malaikat iblis itu terdiri dari manusia yang bagaimana macam raganya".
Seluruh rambut dan jenggot si pengemis dari selatan bergetar keras dan menegang bagaikan kawat, sambil tertawa keras serunya
"Haaahhh...haaahhh.. haah... bocah cilik kau memang sangat bernyali dan cocok sekali dengan selera aku si pengemis tua, tetapi aku perlu memberitahukan kepada-mu.. jangan di bilang kau, sekalipun aku si pengemis tua juga bukan tandingannya"
"Apakah locianpwe terluka ditangannya??".
"Ehmm aku si pengemis tua memang tidak becus, untuk kesekian kalinya telah jatuh kecundang ditangan orang."
Hati Han siong Kie jadi bergerak, ia tahu yang dimaksudkan si pengemis selatan sebagai ke sekian kalinya. pastilah dimaksudkan tiga bulan berselang ia telah jatuh kecundang ditangan pemilik Benteng Maut dan sekarang jatuh kecundang kembali ditangan Im Sat si malaikat hawa Im.
Kendati begitu ia tidak mengatakannya ke luar, sambil alihkan pokok pembicaraan tanyanya:
" Kenapa sih si malaikat hawa im Mo sioe Ing suka membunuh orang?"
"Haah.....haah... haah... bocah cilik, pertanyaanmu ini memang paling tepat kalau diajukan kepadaku, sebab pertanyaan tersebut kecuali aku si pengemis tua mungkin jarang sekali ada orang yang dapat memberikan jawaban yang tepat bagimu."
Timbul rasa ingin tahu dalam hati si anak muda itu, semangatnya berkobar kembali dan serunya:
"Benarkah locianpwe adalah satu2nya orang yang mengetahui kejadian sebenarnya."
"Maksudku bukan begitu, cuma saja aku sipengemis tua adalah salah satu diantara sekian banyak korban yang berhasil meloloskan diri dari tangan keji si malaikat Im sat Mo siau Ing karena aku dapat menerangkan sedikit gejala yang berhasil kuketahui. "
"silahkan cianpwee memberi keterangan "
"Baik, aku memang merasa berjodoh setelah bertemu dengan dirimu, di situ ada hutan mari kita kesana saja, aku sipengemis tua agak haus dan ingin minum dulu."
Berangkatlah kedua orang itu menuju hutan, setelah ambil tempat duduk si pengemis dari selatan segera melepaskan cupu2 araknya dan meneguk isinya dengan lahap kemudian ia berkata.
"Arak ini adalah Tan Cau arak paling bagus di daerah sini hei bocah ayo minumlah setegukan".
Sambil berkata ia segera angsurkan cupu2 arak itu ke depan Han siong Kie menerima dan ikut meneguk satu tegukan.
"Hmm tidak salah memang arak bagus" serunya kemudian sambil mengangguk tiada hentinya.
Pengemis dari selatan menyambut kembali cupu2nya dan meneguk hingga isinya ludes, setelah itu sambil menyeka mulut katanya:
"Bocah cilik, sekarang dengarkanlah baik-baik dua puluh tahun berselang di dalam dunia persilatan telah muncul sepasang muda mudi yang masih muda belia, yang lelaki punya wajah tampan sedang yang perempuan berwajah cantik jelita tetapi ilmu silat yang mereka miliki sangat lihay sekali, hati mereka kejam dan tindak tanduknya telengas, pria itu oleh orang kangouw disebut Yan Sat si malaikat hawa Yang, Ko soe Kie, sedang yang wanita...".
"Yang perempuan pastilah Im sat Mo sioe Ing, bukan begitu?? "
"Sedikitpun tidak salah, kau jangan menimbrung terus, dengarkanlah kisahku ini, kedua orang tersebut adalah sepasang suami istri yang saling cinta mencintai, disamping itu kedua orang muda mudi itupun mempelajari semacam ilmu silat yang keji dan luar biasa ngerinya disebut "Hian lm Koei Jiauw". Cakar setan pukulan dingin, tidak sampai satu tahun mereka muncul di dalam dunia persilatan sudah ada ratusan orang jago lihay yang menemui ajalnya di ujung cakar setan "Hian Im Koei Jiau " tersebut, kejadian ini segera menggemparkan seluruh dunia persilatan, semua jago baik dari kalangan Hek-to maupun Pek to sama2 keder terhadap mereka sedang badai darah masih saja melanda di mana2 ..... "
"Masa di dalam dunia persilatan yang begitu luasnya tak ada seorang manusia pun yang sanggup menandingi Im Yang siang Sat sepasang malaikat Im dan Yang...? "
"Boleh dibilang begitu".
"Bagaimana kalau dibandingkan Tengkorak maut??".
"Kau maksudkan si pemilik benteng maut??" tanya pengemis selatan setelah tertegun sejenak.
Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan:
"Bagaimanakah raut wajah yang sebenarnya diri si Tengkorak Maut hingga kini masih merupakan suatu teka-teki yang sulit untuk dijawab, tetapi kalau menurut penilaian dari aku si pengemis tua jelas tenaga dalam yang dimiliki tengkorak maut dari Benteng Maut jauh lebih dahsyat dari Im Yang siang sat, tetapi berhubung mereka belum pernah saling bergebrak maka pertanyaan itu sulit untuk dijawab. sekarang dengarkanlah dulu kisah lebih lanjut.:."
"Hmm, bukankah kau serta si padri dari utara telah dilempar ke luar dari benteng sebanyak dua kali oleh pemilik Benteng Maut ??" pikir Han siong Kie di dalam hati." Bahkan terakhir kalinya kalian ke luar dalam keadaan mengenaskan sekali, kalau dikata-kan raut wajah pemilik Benteng Maut belum pernah diketahui, ucapan ini bukankah suatu pembohongan secara besar2an??? mungkin di balik kesemuanya ini masih terkandung latar belakang lain."
Belum habis ia berpikir, terdengar si pengemis dari selatan telah mendehem dan memutuskan kembali kata2nya:
"Tindak tanduk dari Im Yang siang Sat segera memancing kegusaran umat Bu lim, sebanyak tiga kali para jago dari kalangan Hek to serta Pek to berkerja sama untuk menumpas mereka berdua, soal hasil bukan saja usaha itu gagal total bahkan lebih banyak
orang yang jadi korban. "
"Locianpwejuga termasuk salah satu diantara pengeroyok..."
"Tidak, berhubung ada urusan lain aku si pengemis tua tidak hadir di dalam peristiwa itu"
"Waah, kalau begitu bukankan umat Bu lim terpaksa membiarkan Im Yang siang Sat meraja lela di dalam dunia persilatan??"
Beberapa tahun pengalaman memang demikian, tetapi pada sepuluh tahun berselang mendadak Yang Sat si malaikat hawa Yang, Ko see Kie lenyap tak berbekas, menurut kabar berita yang tersiar katanya ia telah dibasmi oleh seorang Bu lim cianpwee yang misterius, Im Sat yang gagal menemukan musuh besarnya segera melampiaskan kegusarannya di atas tubuh orang2 Bu lim, setiap tahun ia muncul dirinya satu kali dan setiap kemunculannya pasti membunuh seratus orang banyaknya."
"Aduh mak "teriak Han siong Kie sambil menjulurkan bibirnya. " Kalau begitu selama sepuluh tahun bukankah ia telah membinasakan seribu orang??" si pengemis dari selatan menghela napas panjang.
"Itu sih tidak. sebab kemunculan si iblis perempuan itu membunuh orang baru berlangsung sejak tiga tahun berselang " katanya.
"Kalau begitu kejadian ini benar2 membingungkan orang".
"kenapa??? "
"Kalau dikatakan Yang sat si malaikat hawa Yang, Ke see Khie adalah mati karena di basmi seorang tokoh sakti persilatan, mengapa tokoh sakti tadi tidak sekalian membasmi Im sat si malaikat hawa Im dari muka bumi?? sehingga mengakibatkan si malaikat hawa Im yang sakit hati melampias-kan amarahnya kepada umat Bu lim""
"Aai. ..bocah cilik, perkataanmu memang betul, yang jelas peristiwa itu hingga kini masih tetap merupakan suatu teka teki".
"Apakah orang2 yang ada di dalam Bu lim adalah manusia2 kurcaci yang hanya mementingkan diri sendiri??? " seru Han siong Kie dengan hati mendongkol.
"Ucapanmu tepat sekali " pengemis dari selatan mengangguk. " Kalau tidak si malaikat hawa Im sat Mo sioe Ing tidak akan selatan dan sejumawa ini".
"Hmm kalau ada kesempatan aku hendak menemui iblis perempuan itu".
"Bocah, semangat serta keb era nianmu patut dipuji, kau anak murid dari perguruan mana??"
“Leng Koe sangjien!"
“Apa??? coba kau ulangi satu kali lagi!”
"Letg Koe Sangjien!",
"Haaaaah,..haaaah...haaaah bocah cilik kau jangan mengibul terlalu gede, hat-hati2 kalau mulutmu ditampar orang. Tahun ini kau baru berusia berapa??? Leng Koe Sangjien adalah seorang tokoh sakti yang sudah tersohor namanya sejak seratus tahun berselang..."
"Aku adalah anak muridnya yang mendapat ilmu silat dari peninggalannya si orang tua itu !"
"Ooooh jadi kau telah mendapat kitab ilmu silat peninggalannya?" "Sedikitpun tidak salah!”'
"Tidak aneh kalau omonganmu begitu gede dan jumawanya luar biasa kiranya kau sudah mendapatkan warisan ilmu silat dari tokoh sakti itu kalau memang demikian adanya kau boleh saja untuk coba bergebrak melawan si malaikat berhawa Im”
Satu ingatan berkelebat dalam benak Han Siong Kie segera serunya:
"Locianpwee..."
"Tunggu sebentar! "tukas si pengemis selatan sambil goyangkan tangannya mencegah sianak muda itu berbicara lebih lanjut. “Kalau memang kau adalah ahli waris dari Leng Koe Sangjien, maka kalau dibicarakan dari soal tingkatan maka aku si pengemis tua masih kalah satu tingkat darimu, demikian saja kau boleh panggil aku sebagai engkoh tua sedang aku panggil kau sebagai adik kecil setuju?”
“Soal ini ... eeei mana boleh jadi "seru Han Siong Kie dengan gugup, "Locian pwee".
"Siau loote, kau tak usah pura-pura banyak jual lagak lagi aku si pengemis tua paling benci dengan perbuatan semacam itu!”
Mimpipun Han Siong Kie tak pernah menyangka kalau seorang tokoh silat Bu lim yang mempunyai kedudukan sangat tinggi di dalam Bu lim memaksa dirinya untuk menyebut dalam satu tingkatan yang sama dengan dirinya. bila kejadian ini berlangsung pada tiga bulan berselang...pada saat itu macam apakah keadaan dirinya?? tanpa terasa merah jengah selembar wajahnya.
"Yaaah... yaaah... sudahlah daripada aku tampik lebih baik aku menurut saja, siaute akan merasa bangga dengan peristiwa ini. "
"Tak usah banyak ngomong yang tak sedap didengar, kau ada urusan apa hendak di katakan??, sekarang katakanlah"
sekilas rasa sedih gusar dan penuh rasa dendam terlintas diatas wajah Han siong Kie yang tampan dengan sorot mata memancar-kan kebencian serunya dengan suara berat: "Engkoh tua, apakah engkau pernah memasuki Benteng Maut???"
"Kau maksudkan Benteng maut? ulang sipengemis dari selatan dengan hati tergetar keras.
"Sedikitpun tidak salah"
"Aku pikir dikolong langit dewasa ini mungkin tak seorangpun yang bisa keluar dari istana maut dengan selamat setelah memasuki tempat itu"
"Tetapi pada tiga bulan berselang bukankah engkoh tua serta padri dari utara memasuki tembok dinding benteng maut??" Mendapat pertanyaan itu sipengemis dari selatan tertawa getir. "Tidak salah aku memang mengalami kejadian seperti itu"
"Bukankah waktu itu engkoh tua seperti padri dari utara berhasil keluar dari benteng dalam keadaan hidup???"
"sedikitpun tidak salah, kami memang berhasil keluar dari benteng dalam keadaan hidup, tetapi keberhasilan kami itu bukanlah disebabkan karena kami andalkan ilmu silat yang kami mliki ...."
"Lalu mengandalkan apa??? "
"Saudara cilik, rahasia ini hanya kuberitahukan kepada dirimu seorang, harap jangan kau ceritakan kepada orang lain, kami bisa lolos keluar dari benteng itu dalam keadaan selamat adalah lantaran sipemilik benteng maut telah melepaskan kami keluar"
Tercekat hati Han Siong Kie sehabis mendengarkan perkataan itu, dengan kepandaian silat yang dimiliki sipengemis dari selatan serta padri dari utara pun ternyata mereka masih membutuhkan belas kasihan orang untuk dilepaskan, bisa dibayangkan sampai di
manakah kedahsyatan serta kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki pendiri Benteng maut.
Tetapi ingatan tersebut hanya sekilas saja berkelebat didalam benaknya, rasa benci dan dendam telah mengalahkan se-gala2 nya, menghilangkan rasa takut yang mencekam hatinya.
segera ia bertanya lebih jauh:
"Engkoh tua, tolong tanya tengkorak maut dari benteng maut itu sebenarnya macam apa sih bentuk wajahnya??.
"Mau apa kau tanyakan persoalan ini ?" seru pengemis dari selatan dengan hati tercekat.
Dalam benak Han Siong Kie segera terlintas kembali pemandangan dikala susioknya sitelapak naga beracun Thio Lien membawa dirinya masuk kedalam perkampungan keluarga Han ditengah malam yang basah oleh hujan deras, pemandangan yang mengerikan kembali terlintas didalam benaknya, dua ratus jiwa anggota keluarga Han telah berubah jadi tulang tengkorak manusia yang berserakan di mana2, hingga kini jenasah mereka belum dikuburkan .
Meskipun susioknya melarang dia untuk mengubur jenasah-jenasah tersebut dan melarang dirinya untuk membalas dendam, tetapi hidup sebagai putra manusia, dapat-kah ia menelan rasa dendam dan sakit hati atas terbunuhnya segenap anggota keluarga Han???
Dengan mata berapi2 dari mimik wajah menunjukkan penuh kebencian dan rasa dendam teriaknya:
"Antara aku dengan si Tengkorak maut terikat dendam sakit hati sedalam lautan, bagaimanapun juga aku harus membalas dendam atas sakit hati ini"
"Apa? Kau ada dendam dengan pemilik dari Benteng Maut??"
-0000000-
"SEDIKITPUN tidak salah, aku bersumpah, aku hendak menghancur lumatkan tubuh-nya, menginjak rata Benteng Mautnya dan menghirup darah segarnya... kalau tidak dihatiku tidak puas, rasa dendamku tak akan padam"
"Jadi kau ada maksud untuk menuntut balas terhadap si Tengkorak Maut???" tanya Si pengemis dari selatan dengan mata terbelalak. "Benar sahut Han Siong Kie dengan tegas. Tentang soal ini aku kira..".
"Kenapa?? apa salahnya aku menuntut balas??".
"Saudara cilik, maafkanlah aku sipengemis tua hendak mengucapkan kata2 yang kurang sedap didengar, aku rasa niatmu itu mungkin sulit untuk dilaksanakan". Han Siong Kie angkat kepalanya memandang ke angkasa dan berpekik sedih, serunya:
"Aku tidak akan memperdulikan semua masalah yang tak berguna, begitu hanyalah ada satu prinsip yaitu kalau bukan aku Han Siong Kie yang menemui ajal, tengkorak mautlah yang akan menemui ajalnya di tanganku. ."
"Hebat, punya semangat.. tapi kau harus ingat adikku kecil, korban yang berjatuhan ditangan Tengkorak Maut banyaknya melebihi bulu kerbau, rasanya aku sipengemis pun tak usah menerangkan kenyataan2 yang telah terjadi bukan..."
"Engkoh tua, sebenarnya si tengkorak maut adalah seorang mahluk aneh macam apa? "
"Tentang soal ini... mm maaf kalau aku tak dapat terangkan untukmu "
"Kenapa?? "
"Bagi orang Bu-lim janji adalah berat bagaikan gunung Thay-san, aku serta sipadri dari utara boleh dibilang merupakan satu2-nya orang yang berhasil lolos dari Benteng Maut dalam keadaan hidup selama puluhan tahun terakhir ini dan merupakan satu2aya orang yang berhasil menjumpai wajah yang sebenarnya dari Tengkorak Maut, tetapi disaat kami hendak dilepaskan keluar telah berjanji pula kepada pemilik Benteng Maut bahwa kami selamanya tak akan menceritakan apa yang kami lihat ini kepada orang lain !"
"Kalau memang begitu, engkoh tua ! selamat tinggal " seru Han Siong Kie dengan hati sedih bercampur gusar habis berkata ia segera bangkit berdiri dan siap
berlalu.
“Tunggu sebjntar !" pengemis dari selatan segera berseru.
"Engkoh tua apa yang hendak kau katakan lagi ?"
"Kau harus memahami kesulitan hati dari aku si pengemis tua didalam dunia persilatan aku pengemis tua boleh dibilang mempunyai sedikit nama juga aku tak boleh mengingkari janjiku sendiri walau pun begitu si Tengkorak maut adalah musuh umum selama aku si pengemis tua masih mempunyai napas didalam dada aku pasti akan berusaha untuk memperjuangkan keadilan serta kebenaran bagi umat Bu Lim !”
“Kalau begitu noggaplah Siauwte telah salah bicara harap kau suka memaafkan!” “Sekarang kau hendak pergi kemana?”
“Setelah bertukar pakaian, aku langsung hendak pergi ke Benteng Maut untuk menagih hutang!”
“Saudara cilik, segala persoalan tak bisa dilaksanakan tanpa didasari oleh rencana yang matang, bagaimana kalau kau undurkan dahulu rencanamu itu dan menanti hingga para enghiong hoohan yang ada di kolong langit bersatu padu”
“Aku merasa amat berterima kasih bagi perhatian serta bantuan engkoh tua, tapi saying siauwte tidak ingin menggunakan tenaga orang lain untuk membalas dendam sakit hatiku ini!”
“Sayang pada saat ini aku sipengemis tua sedang menderita luka parah" Seru Pengemis dari selatan dengan terharu. “Kalau tidak aku pasti akan menemani dirimu pergi kesana!"
"Apa?? jadi engkoh tua menderita luka parah?” tanya Han Siong Kie dengan alis berkerut.
"Sedikitpun tidak salah, aku termakan oleh sebuah pukulan dari Im sat si malaikat berhawa Im Mo Sioe Ing, isi psrutku telah menderita luka dan aku harus beristirahat selama beberapa bulan untuk mengobati luka ku ini!"
"Jadi kalau begitu tenaga lwekang yang dimiliki malaikat hawa Im tidak sampai lebih tinggi berapa banyak jika dibandingkan dengan engkoh tua ??...".
"Bagaimana kau bisa berkata demikian?? "
"Bukankah engkoh tua pernah mengatakan bahwa dibawah telapak tangan simalaikat hawa Imtakpernah melepaskan korban nya dalam keadaan hidup??.".
"Kau leliru besar"
"Aku keliru? bagaimana kelirunya?? "
"Tenaga lweekang yang dimiliki si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing jauh tebih tinggi berapa kali lipat daripada diriku si pengemis tua tetapi ia mempunyai sebuah peraturan yang aneh, barang siapa yang sanggup menghadapi dirinya sebanyak tiga gebrakan, maka ia akan melepaskan orang itu dengan selamat, serangan yang keempat tidak nanti akan dilepaskan."
"Oooooh.. kiranya begitu" saking kagetnya Han Siong Kie menjerit tertahan, hatinya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, walau begitu tekadnya untuk bertempur melawan si malaikat berhawa Im pun semakin besar.
Dalam pada itu sipengemis dari selatan telah tundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, kemudian katanya dengan perasaan bergolak: "Saudara cilik, maukah kau menunggu aku selama satu bulan??. "
"Menunggu dirimu selama satu bulan??
"Nantikanlah setelah luka dalamku sembuh dan menyerahkan persoalan didalam perkumpulanku kepada orang lain, akan kuiringi kehendakmu untuk menyerbu ke dalam Benteng Maut.".
"Engkoh Tua, terima kasih banyak atas perhatian serta kesediaanmu, biarlah aku terima didalam hati saja. Nah, siauwte mohon diri terlebih dahulu..".
Habis berkata dia enjotkan badan menembusi hutan dan meneruskan perjalanannya lewat jalan raya, sepanjang perjalanan suasana sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun, mungkin hal itu disebabkan karena si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing sedang melakukan pembunuhan disekitar tempat itu..
Setibanya didalam kota, Han Siong Kie segera membeli seperangkat pakaian baru dan menukar pakaiannya yang kumal, dengan begitu tampangnya kelihatan semakin ganteng dan gagah, cuma diantara kerutan alisnya terlihat lapisan napsu membunuh yang tebal, membuat orang yang memandang jadi bergidik hatinya.
selesai berdandan ia sebera berangkat menuju kearah Benteng Maut.
Ilmu meringankan tubuh "Hoe Keng Keng-im" atau Cahaya Kilat lintasan bayangan memang suatu kepandaian yang sangat dahsyat, dalam waktu singkat sianak muda itu lelah tiba ditepi sungai.
Benteng Maut dengan angker dan misteriusnya berdiri kokoh ditegah batu karang yang dikelilingi sungai.
Pintu Benteng tertutup rapat, lambang tengkorak darah yang seram dan menggidik-kan hati bertengger di depan pintu benteng.
Memandang bangunan seram itu Han Siong Kie merasakan pandangan matanya berapi2, darah panas bergelora dalam dadanya, dendam berdarah atas kematian dua ratus jiwa keluarga Han dan Thio membuat ia lupa akan kelihayannya. .
Ia memperhatikan sejenak Benteng Maut yang dianggap orang sebagai istana kematian, ia kertak giginya kencang2 dan melayang kearah depan, melewati jembatan batu dan tiba didepan pintu benteng .
Tiga bulan berselang, ketika para jago dari kalangan Hek to serta Pek to menyerbu kedalam Benteng Maut, ia berserta adik angkatnya sipengemis cilik Tong hong Hwie telah menonton jalannya pertarungan itu dari atas bukit, waktu itu kendati didalam hati ada niat untuk membalas dendam tetapi tidak memiliki kemampuan untuk berbuat demikian. Dan sekarang tanpa disangka2 ia telah menemukan suatu peristiwa aneh yang mana telah merubah dirimya menjadi sese-orang yang lain. Dimana ia sanggup untuk datang mencari balas tanpa bantuan orang lain.
Pikirnya didalam hati:
"Kedatanganku kemari adalah untuk menuntut balas, kehadiranku terang2an dan ter buka, kenapa aku tidak berteriak dahulu melakukan penantangan??...
Berpikir demikian ia lantas mengepos tenaga dan berteriak dengan suara penuh kebencian:
"Tengkorak Maut orang yang datang untuk menuntut hutang darah telah datang."
Berturut2 ia telah berteriak sebanyak tiga kali, namun tiada suara sahutan dari dalam benteng.
Han Siong Kie mendengus dingin, sepasang telapaknya bergerak cepat dan segera melancarkan sebuah babatan dahsyat kearah pintu benteng tadi.
sejak memperoleh tenaga kekuatan dari Long Koe sangjlen, tenaga lweekang yang di miliki telah mencapai pada taraf seratus tahun hasil latihan, bisa dibayangkan sampai dimanakah hebatnya serangan yang diguna-kan dengan segenap tenaga itu
Disaat tenaga pukulannya yang dahsyat itu hampir mengenai didepan pintu Benteng Maut itu, mendadak pintu tadi terbuka kesamping diikuti segulung angin pukulan yang dingin menggulung keluar dari balik pintu Benteng.
Begitu hebat angin serangan tadi hingga serangannya yang dilancarkan dengan menggunakan segenap tenaga itu mendadak tersapu lenyap tak berkekas.
Han Siong Kie jadi amat terperanjat, tanpa sadar ia mundur beberapa langkah ke belakang. Ketika berpaling kembali terlihat-lah pintu Benteng yang gelap dan lembab itu telah terbentang lebar, begitu gelapnya suasana didalam benteng itu sehingga dengan kekuatan pandangan matanya tidak berhasil juga untuk melihat keadaan di dalamnya. "Aku harus menerjang kedalam" ingatan tersebut tiba2 muncul didalam benaknya.
Ditengah bentakan keras, Han Siong Kie sambil mendorong sepasang telapaknya kedepan melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak di tengah samudra, sekali lagi ia menghantam pintu benteng tersebut, disusul badannya laksana kilat berkelebat masuk kedalam benteng.
“Blaaam..” ditengah suara ledakan keras. segulung desiran angin tajam yang sangat kuat meluncur keluar dari dalam benteng, begitu tajam angin serangan tersebut ketika menyentuh dibadan terasa dingin dan merasuk ketulang sum sum.
Tanpa melihat siapakah pihak lawannya tubuh Han Siong Kie segera terpental mundur kebelakang sejauh lima tombak lebih, ketika kakinya menginjak permukaan bumi dengan sempoyongan badannya tergetar mundur kembali beberapa sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak, tawa dingin segera menyerang kedalam badan membuat tubuhnya bergidik dan bersin beberapa kali.
"Eeei???" seruan kaget secara lamat2 berkumandang keluar dari dalam benteng.
Mungkin sanggulnya Han Siong Kie menyambut datangnya serangan angin cukulan berhawa dingin itu tanpa terluka telah mengejutkan hati orang yang berada didalam benteng itu.
Menuntut balas atas sakit hatinya terhadap Benteng Maut adalah pikiran pertama yang menyelimuti benak sianak muda itu.
sambil memandang pintu benteng yang seram, mengerikan serta penuh diliputi kemisteriusan itu, Han Siong Kie berdiri termangu2.
Tenaga lwekang yang dimiliki Benteng Maut benar2 sukar dilukiskan dengan kata2.
Didalam Benteng Maut, kecuali sipemilik Benteng itu si Tengkorak maut, apakah masih ada orang lain?? suatu tanda tanya besar.
Tengkorak darah adalah lambang dari pemilik benteng maut, sedangkan sipemilik benteng sendiri masih merupakan suatu teka teki pula bagi umat Bu lim karena belum pernah ada orang yang pernah menjumpai raut wajahnya yang sebenarnya. Kalau dikatakan ada, maka orang2 itu telah dibunuhnya dan mati semua...
satu2nya orang yang berhasil lolos dari benteng Maut dalam keadaan hidup hanyalah si pengemis dari selatan serta si padri dari utara, mungkin mereka pernah menyaksikan wajah yang sebenarnya dari Tengkorak Maut. tetapi mereka sudah terikat oleh sumpah dan janji, jelas tak mungkin rahasia itu akan bocor dari mulut mereka berdua.
Dalam pada itu tekad untuk membalas dendam dari Han Siong Kie sama sekali tidak berkurang karena menyaksikan kelihayan lawannya, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya per lahan2 ia maju kembali masuk kedalam benteng..
Gelak tertawa yang amat keras dan sangat memekikkan telinga berkumandang keluar dari balik benteng...
Han Siong Kie tergetar keras hatinya, dengan tanpa disadari olehnya langkah yang sedang maju kedepan telah berhenti di tengah jalan.
suara tertawa itu makin lama semakin keras dan semakin tajam, bagaikan ber-puluh2 bilah pisau belati ber sama2 dihujamkan ke dalam lubang telinganya.
Han Siong Kie merasakan darah panas di dalam rongga dadanya bergolak kencang, ia kaget dan sebera mengerti akan mara bahaya yang sedang mengancam, hawa murninya dengan cepat disalurkan dari pusar menuju keseluruh penjuru badan. Bentaknya dengan suara yang keras laksana geledek:
"Tengkorak maut ayoh menggelinding ke luar dan serahkan nyawamu"
Suara tertawa itu mendadak berhenti, suasana seketika diliputi keheningan serta kesunyian, sama seperti tidak nampak sesuatu gerakan apapun.
Han Siong Kie dibawah pengaruh kobaran api dendam dan rasa benci yang meluap tak sanggup untuk bersabar lebih jauh, sekali lagi ia membentak keras: "Tengkorak maut siauw ya datang kemari untuk menginjak rata benteng setanmu ini. "
suara tertawa dingin yang sinis dan penuh perasaan memandang rendah bergema keluar dari dalam benteng diikuti serentetan suara yang dingin menyeramkan berkumandang keluar:
"Bangsat cilik, kau adalah orang pertama yang berani menantang Benteng maut untuk menuntut balas, memandang diatas keberanianmu yang terpuji ini aku suka mengampuni selembar jiwa kecilmu. Nah ayo cepat enyah dari sini" suara peringatan itu se akan2 muncul dari daerah sekeliling sana namun tak sesosok bayangan manusiapun yang kelihatan muncul di tempat itu.
Dengan gusar Han Siong Kie mendengus ketus:
"Hmmm? Tengkorak maut mengapa kau tidak berani unjukkan dirimu ??"
"Heeeh... heeeeah dikolong langit belum ada orang yang berhak untuk memaksa lohu unjukkan diri"
"Tengkorak maut, hutang darah harus bayar darah, hari kiamatmu telah tiba. "
"Tutup mulutmu Hardik suara tadi dengan ketus. Bocah cilik yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, sepanjang hidupku loohu sudah banyak membunuh orang tetapi semua orang yang kubunuh adalah manusia2 yang patut dibasmi dari muka bumi. "
"Kentut busuk makmu keluarga Han...."
"Bicara tidak sopan Hmmm itulah artinya mencari kematian buat diri sendiri, hey bocah tak tahu diri jangan salahkan kalau loohu akan bertindak keji"
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu bergelegar disisi telinga, segulung angin pukulan berhawa dingin segera menggulung keluar dari balik pintu benteng.
Han Siong Kie pernah merasakan kelihayan dari angin pukulan berhawa dingin, wajahnya segera berubah hebat sambil menghimpun segenap tenaga yang dimiliki-nya ia balas melancarkan sebuah babatan ke arah depan ....
Blaaaaam... angin pukulan saling membentur satu sama lainnya, terasalah hawa pukulan yang dilancarkan pihak lawan begitu hebat dan mantap. bahkan mengandung hawa dingin yang menusuk tulang membuat orang susah bernapas dan dada terasa jadi sesak.
Ditengah ledakkan dahsyat, Han Siong Kie merasakan badannya bagaikan tersambar guntur darah panas bergolak dalam dadanya membuat kepalanya pusing tujuh keliling dan pandangan matanya ber-kunang2 dengan sempoyongan badannya mundur delapan depa ke belakang kemudian setelah berhasil berdiri tegak dari mulutnya muntah keluar darah segar.
"Keparat cilik" suara si Tengkorak maut yang dingin dan menyeramkan itu kembali berkumandang keluar "Tidak aneh kalau kau begitu jumawa dan tekebur, kiranya kau masih punya sedikit simpanan juga. Hmm.. kau adalah satu2nya orang yang sanggup menerima datangnya angin pukulan "Han Pok Ciang" dari loohu tanpa menemui ajalnya tetapi... walaupun begitu masih terpaut jauh kalau kau ingin mengandalkan kepandaian-mu itu untuk membalas dendam, sekarang aku akan memberikan kesempatan yang paling akhir bagimu untuk mengundurkan diri dari sini, cepat enyah"
Air muka Han Siong Kie berubah jadi merah padam bagaikan darah, dengan pandangan nanar dan wajah menyeringai seram ia mendengus dingin, teriaknya:
"Tengkorak Maut, beranikah kau unjukan diri untuk bertempur mati-matian melawan siau-ya??"
"Kau belum pantas untuk berbuat demikian:"
Api dendam dan rasa benci membakar dada Han Siong Kie, ia telah melupakan akan keselamatannya. Dengan suara serak teriak.
"Tengkorak maut, pada suatu hari aku akan datang untuk menginjak rata Benteng maut-mu ini, akan kuhancur leburkan tempat mu ini agar kau tiada tempat untuk bermukim.. "
"Heeeh... heeeh... heeeh... apakah kau mempunyai kesempatan untuk berbuat begitu??".
"Asal aku tidak mati, aku bisa datang kemari untuk berbuat demikian..".
"Tetapi sayang seribu kali sayang, saat kematianmu telah tiba. loohu sudah dua kali mengampuni jiwamu tetapi kau masih saja tak tahu diri dan kini..".
"Sekarang bagaimana??"
"Mengingat kau adalah seorang angkatan muda yang berdarah panas, kuhadiahkan sebuah bangkai yang utuh".
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, sebuah angin pukulan yang maha hebat laksana gulungan ombak ditengah samudra meluncur datang kembali.. begitu dahsyat serangan yang dilancarkan itu hingga siapa pun yang melihat hatinya pasti akan ikut merasa bergidik.
Dalam keadaan sehat belum tentu Han Siong Kie dapat menyambut datangnya serangan yang sangat hebat itu, apalagi didalam keadaan terluka parah...di tengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati, tubuhnya terpental ketengah udara dan meluncur ke arah tengah sungai.
“Pluung..” ombak menggulung dan bunga air bermuncratan ke empat penjuru, dalam sekejap mata bayangan tubuh si anak muda itu sudah tertelan ditengah ombak dan lenyap tak berbekas.
Pintu depan Benteng Maut yang hitam pekat dan berat per lahan2 menutup kembali.
suasana di sekeliling tempat itu pulih kembali dalam kesunyian dan keheningan, seakan2 tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun ditempat itu...
Dalam pada itu Han Siong Kie yang terlempar kedalam sungai segera jatuh tak sadarkan diri.
Menanti ia sadar kembali dari pingsannya dan membuka sepasang matanya, terasalah bau harum semerbak berhembus lewat di sekitar tempat itu, rupanya ia sedang berbaring diatas sebuah pembaringan yang jangat indah dengan kelambu yang tipis dan sprei bersulamkan bunga.
Ditinjau dari keadaan disekeliling sana, jelas kamar itu adalah tempat tidur dari seorang wanita. Ingatan pertama yang muncul didalam benaknya adalah:
"Aku telah tertolong, jiwaku masih tetap hidup didalam tubuhku dan aku tidak sampai terkubur diperut ikan... harapanku untuk membalas dendam masih ada. Tanpa sadar ia bergumam seorang diri. "Aku belum mati, aku belum mati..."
"Benar siangkong, kau belum mati " serentetan suara yang merdu menyambung dari sisi tubuhnya, Han Siong Kie terperanjat dan segera alihkan sinar matanya kes isi pembaringan, tampaklah di depan toilet duduk seorang gadis muda, rupanya ucapan tadi adalah berasal dari mulutnya.
Dalam benaknya segera timbul ingatan kedua.
"Aku telah tertolong oleh seorang gadis, oooh perempuan... perempuan..."
Hatinya terasa amat sedih sekali, sebab dalam benaknya ia merasa amat benci dan muak terhadap kaum wanita karena ibunya si siang Goo cantik ong coei Ing tanpa memikirkan dendam kesumat keluarganya yang sedalam lautan telah kawin lagi dengan Thian chee kauwcu, oleh sebab itu ia amat membenci seluruh perempuan yang ada di kolong langit.
Si anak muda itu sebera mendengus dan bangun dari tidurnya. terasa seluruh tulang dan persendian tubuhnya amat sakit bagaikan patah, hawa dingin yang menggidikkan menyusup keluar dari balik jalan darah menyebar keseluruh tubuhnya.
Ia sadar bahwa racun dingin dari angin pukulan "Han Pok Ciang" yang dilancarkan pemilik benteng Maut telah bersarang didalam tubuhnya.
Ia tak tahu bahwa berkat tenaga lweekang yang diperolehnya dari kura2 sakti serta sumber air mujarab yang telah mengganti tulang dan kulitnya, ia baru selamat lolos dari bahaya maut kendati harus menerima dua buah pukulan yang maha dahsyat, berganti orang lain niscaya sedari dulu jiwa-nya telah melayang meninggakan raganya.
"Siangkong, kau tak boleh bangun" gadis itu kembali berseru dengan nada merdu.
Han Siong Kie tidak ingin menerima belas kasihan lawannya, sambil berkeras kepala ia berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya. "Nona, apakah kau yang telah menolong cayhe?? " tegurnya ketus.
"Bukan bukan aku yang menolong..".
"Lalu siapa??..".
"Nona kami yang telah menyelamatkan selembar jiwamu".
"ooooh siapakah nama nonamu itu?? bolehkah kau beritahukan kepadaku.".
"Nonaku bernama.... Aaah, itu dia telah datang"
Terlihatlah horden disingkap orang disusul munculnya sesosok bayangan tubuh yang ramping melangkah masuk ke dalam kamar.
Han Siong Kie segera merasakan jantungnya berdebar keras, ia merasa wajahnya berubah jadi merah padam dan rikuh sekali, andaikata disana ada lubang ingin sekali ia menerobosnya kedalam.
"Swi siang, bagaimana keadaan siangkong itu " terdengar gadis ramping yang barusan masuk itu menegur.
Dayang yang bernama swie siang dan selama ini berada didalam kamar itu sebera menyahut:
"Siangkong telah sadar kembali ia sedang menanyakan diri nona..."
"Ehmm, sudah tahu, cepat ambillah kuah bunga teratai dan berikan kepada siangkong"
Mendengarkan ucapan yang merdu bagaikan kicauan burung nuri itu Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar semakin keras, saking gelisahnya keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya tanpa memperdulikan rasa sakit yang menyerang tubuhnya lagi ia sebera merangkak bangun dari atas pembaringan.
Mendadak pandangan matanya terasa cerah dihadapan mukanya berdirilah seorang gadis muda berbaju hijau yang amat cantik, sepasang biji matanya yang jeli dengan kemalu2an sedang menatap kearahnya tanpa berkedip.
Han Siong Kie merasa hatinya bergetar semakin keras, buru2 ia tundukkan kepala-nya rendah2, Terlihatlah pakaian yang dikenakan olehnya telah ditukar dengan seperangkat pakaian baru.
Untuk kesekian kalinya sianak muda itu berdiri tertegun, akhirnya sambil menggertak gigi tanyanya:
"Apakah nona yang telah menolong cayhe???"
"sedikitpun tidak salah, kejadian itu hanya berlangsung secara kebetulan saja, harap siangkong tak usah memikirkannya didalam hati. "
"Tolong tanya siapakah nama nona??".
"Aku bernama Go siauw Bie, dan siangkong?? siapa namamu???"
Teringat bahwa gadis yang berada dihadapannya adalah orang yang telah menyelamatkan jiwanya, terpaksa Han Siong Kie menjawab sejujurnya:
"Cayhe she Han bernama Siong Kie"
"Ooooh, kiranya Han siangkong? kenapa sih kau tercebur kedalam sungai???"
"Tentang soal ini, tentang soal ini cayhe telah bertempur melawan seseorang dan kurang beruntung aku menderita kalah dan terluka lalu dilemparkan kedalam sungai... untung jiwa cayhe berhasil diselamatkan oleh nona, dikemudian hari cayhe pasti akan membalas budi kebaikan ini, dan sekarang.. cayhe ingin mohon diri terlebih dahulu..".
Belum habis ia berkata, dayang tadi dengan wajah berseri-seri telah muncul kembali didalam kamar sambil membawa semangkok kuah bunga teratai, ujarnya sembari meletakka mang kok tadi keatas meja: "siangkong, silahkan. "
Han Siong Kie merasakan wajahnya semakin panas membara, jantungnya berdebar keras setelah gelagapan beberapa saat lamanya ia baru berseru:
"Cayhe masih ada urusan lain yang harus dikerjakan dengan cepat, karena itu. karena itu aku ingin mohon diri terlebih dahulu"
Mendengar perkataan itu Go siauw Bie tertawa hambar:
"Han siangkong, lukamu belum sembuh betul dan tidak baik untuk dibuat melakukan perjalanan, beristirahatlah beberapa hari dulu disini kemudian baru berangkat."
"Tidak Tidak maksud baik nona biarlah cayhe terima didalam hati saja, dikemudian hari aku akan membalas budi kebaikanmu itu"
"Han siangkong, kenapa kau mesti membicarakan soal balas budi segala macam persoalan yang tak berguna??? apakah kau tidak merasa terlalu pandang rendah diriku?? Tempat ini adalah pesanggrahan yang dimiliki mendiang ayahku, orang asing tak akan berani masuk ketempat ini. aku rasa disinilah merupakan tempat yang paling cocok untuk merawat luka. sudahlah...kau tak usah memikirkan yang bukan2 lagi".
"Ayahmu adalah....".
"Ketua dari perkumpulan Pat Gie Pang. Go Yoe Too" sahut Go siauBie dengan wajah sedih.
Mendadak Han Siong Kie teringat kembali akan peristiwa yang dijumpainya sewaktu ia berada didalam tandu tiga bulan berselang, tanpa sadar segera serunya:
"Apakah ayahmu dibunuh oleh si kupu2 warna warni Lie In hiang sang Tongcu dari perkumpulan Thian chee kauw??".
"Dari mana siangkong bisa mengetahui akan hal ini??" tanya Go siauw Bie dengan hati terkesiap. badannya tanpa sadar mundur selangkah kebelakang, sepasang biji matanya terbelalak lebar2.
"Tiga bulan berselang cayhe telah menyaksikan sendiri Kang lam Ciet Keay tujuh pendekar aneh dari Kang lam menuntut balas terhadap diri si kupu2 warna warni Lie In hiang, dari pembicaraan mereka cayhe dengar bahwa ketujuh orang pendekar itu sedang menuntut keadilan bagi mendiang ayahmu, sungguh celaka..."
"Benar, Kanglam Chiet Keay adalah sahabat karib dari mendiang ayahku" seru Go siauw Bie sambil menggertak giginya, "Sungguh tak nyana mereka mati berceceran ditengah jalan raya, dendam kesumat berdarah yang dalamnya melebihi samudra ini aku Go siauw Bie bersumpah hendak menuntut balas, Kalau tidak bagaimana aku bisa menghibur sukma ayahku serta ketujuh orang paman yang telah berada dialam baka".
Mendengar sampai disini, satu pikiran dengan cepat berkelebat didalam benak Han Siong Kie, batinnya:
"si kupu2 warna warni Lie In Hiang pernah menangkap diriku bahkan memerseni pula dua kali tempelengan dipipiku, bagaimana-punjuga hutang piutang ini harus kutuntut balas, ketapa aku tidak berusaha untuk menangkap dirinya kemudian diserah-kan kepada Go siauw Bie?? hitung-hitung kubalas budi pertolongannya menyelamatkan jiwaku, dengan demikian bukankah antara kami tidak saling hutang?? Benar ini adalah suatu ide yang sangat bagus, aku harus selekasnya melakukan tindakan ini"
Setelah mengambil keputusan didalam hatinya terasalah pikiran dan perkataan pemuda itujauh lebih enteng beberapa bagian.
"Siangkong, kuah teratai itu sudah hampir dingin" tiba2 terdengar swie sian si dayang menyela. " Cepatlah dimakan untuk mengisi perut, kau sudah dua hari tidak makan tidak minum."
"Dua hari?? aku telah berbaring dua hari disini??" seru Han Siong Kie tertegun.
"Sedikitpun tidak salah " sambung Go siauw Bie dengan cepat.
Han Siong Kie merasa hatinya semakin sedih lagi, ia sangat membenci kaum wanita, tetapi justru perempuanlah yang telah melepaskan budi kebaikan kepadanya, ia merasa kepalanya pusing tujuh keliling dan seolah2 duduk di atas jarum, sedetikpun tidak terasa tenteram.
Buru2 ia bangun berdiri dan menjura. "Nona Go, cayhe hendak mohon diri" katanya.
"Han siangkong, mengapa kau ter buru2 hendak meninggalkan tempat ini??..." tanya Go siauw Bie dengan sedih, sekilas perasaan aneh berkelebat diatas wajahnya.
"Cayhe masih ada urusan penting hendak dikerjakan..".
"Tetapi luka dalam yang kau derita toh belum sembuh sekali??..".
"Tidak mengapa luka kecil yang kuderita bukan merupakan satu persoalan yang penting. Budi kebaikan nona di kemudian hari pasti akan kubalas". Habis berkata ia segera putar badan dan berlalu.
Bibir Go siauw Bie bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tetapi ia merasa tidak enak untuk menghalanginya, maka dengan rada sedih segera ujarnya: "Han siangkong, apakah kita dapat saling berjumpa lagi??".
"Mungkin bisa "jawab sianak muda itu sekenanya. "Nona, baik2lah berjaga diri, selamat tinggal."
Ketika ucapan terakhir diutarakan keluar, tubuhnya sudah berada didepan pintu kamar.
"Swie Sian, hantar Han Siangkong keluar. "
"Baik" Swie Sian mengiakan dan segera berialu dari ruangan.
Dengan berjalan didepan Han Siong Kie, dayang itu membawa pemuda tersebut melewati serambi panjang dan menuju ketempat luar. Dari arah belakang terdengar Go siauw Bie menghela napas panjang.
Han Siong Kiepura2 tidak mendengar, dengan kepala tertunduk ia berjalan mengi-kuti dibelakang dayang tadi, tidak selang beberapa saat kemudian sampailah dia diluar pintu.
Tampaklah diluar pintu terpancang sebuah papan nama yang bertulisan beberapa huruf: Pesangrahan "Teng To Siauw coe" segera pikirnya didalam hati:
"Sungguh indah nama pesangrahan ini. " Iapun berpaling dan berkata: "Nona, silahkan kembali tak usah menghantar lebih jauh lagi..."
"Huuuh "Swie Siam mencibirkan bibirnya. "Han siang kong, kau telah mengecewakan nona kami...."
Tergetar keras hati Han Siong Kie, buru tukasnya:
"cayhe masih mampu untuk membedakan mana budi dan mana dendam, siapa yang pernah melepaskan budi kepadaku suatu ketika pasti akan kubalas. Selamat tinggal".
Sambil enjotkan badannya, laksana kilat yang bergeletar diangkasa badannya segera meluncur kearah depan.
Tidak jauh dari luar pintu artalah sungai besar, rupanya pesanggrahan "Teng To Siauw coe " ini didirikan ditepi sungai yang berdekatan dengan jalan raya.
Sepanjang perjalanan mengikuti tepi sungai, benak Han Siong Kie diliputi oleh pelbagai persoalan yang merumitkan otaknya.
-ooo0ooo-
BAB 07
KEPANDAIAN silat yang dimiliki Tengkorak Maut luar biasa dahsyatnya, untuk membalas dendam kecuali ia berhasil menemukan kitab pusaka sarung tangan Budha "Hoed Chiu Poo Pit" sebelah lain yang ditinggalkan Leng Koe sangjlen dan berhasil melatih ilmu sakti see Mi sinkang. Tetapi kejadian ini sukar ditemui dan harapannya tipis sekali.
Sepuluh tahun berselang ketika keluarga-nya menghadapi bencana, hanya ibunya yang tidak mati, inipun merupakan suatu teka-teki yang belum terpecahkan hingga kini, apa sebabnya Tengkorak Maut hanya meninggalkan dia sendiri untuk melanjutkan hidup,nya?
Thio susiok rela mengorbankan jiwa putranya untuk menyelamatkan selembar jiwanya, budi kebaikan ini tinggi bagaikan gunung Thay san sedang dia sendiri ikut menemui bencana dan mati.
Sesaat sebelum membunuh diri Thio susiok telah berkata bahwa kesemuanya itu adalah perintah gurunya, bahkan ber kali2 peringatkan dirinya agar jangan membalas dendam dan tak boleh mengubur tengkorak manusia itu apa sebabnya??.. apa sebabnya??.. apakah dia menganggap bahwa musuhnya terlalu lihay dan tipis sekali harapannya untuk membalas dendam??"
Makin dipikir kepalanya terasa semakin pusing hingga sakit sekali dan mau meledak rasanya.
Sesosok bayangan yang ramping dengan raut wajah yang cantik terlintas didalam benaknya. itulah bayangan tubuh dari Go siauw Bie.
Tanpa terasa ia men-depak2 kakinya ke atas tanah, gumamnya seorang diri:
"Mengapa aku bisa memikirkan dirinya?? oooh perempuan, perempuan.. makhluk yang paling kejam dikolong langit Tidak... tidak aku harus melupakan dirinya, aku harus secepatnya menemukan musuh besar-nya dan membalas budi kebaikan yang telah ia lepaskan terhadap diriku, agar kita masing2 tidak saling berhutang" Iapun teringat kembali akan saudara angkatnya si pengemis cilik Tong hong Hwie. sisi jalan raya terbentang sebuah hutan yang amat lebat.
Dalam pusingnya Han Siong Kie segera meluncur masuk kedalam hutan itu dan duduk beristirahat disuatu tempat yang sunyi guna mengobati luka dalam yang diderita-nya.
Dengan mengandalkan tenaga lweekang hasil latihan seratus tahun yang diperolehnya dari Leng Koe siangjin ditambah pula sumber air mujarab yang telah cuci darah pengganti tulang tubuhnya tidak sulit bagi sianak muda itu untuk mengobati luka dalamnya yang sudah separuh sembuh itu.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian ia telah menyelesaikan latihannya, luka yang dideritapun sudah sembuh kembali seperti sedia kala. Han Siong Kie pun bangkit berdiri siap berlalu.
Mendadak serentetan suara teguran berkumandang datang dari belakang tubuhnya:
"Jangan bergerak" diikuti sebuah telapak tangan telah ditempelkan diatas jalan darah "GiokJan-hiat" pada batok kepalanya.
suara bentakan itu nyaring dan merdu jelas berasal dari mulut seorang wanita.
Betapa terkejutnya hati Han Siong Kle sehingga sukar dilukiskan dengan kata2, rupanya perempuan itu sudah lama mengincar dan mengawasi gerak geriknya, tetapi apa maksud sebenarnya dari pihak lawan?
Dirinya belum lama terjunkan diri kedalam dunia persilatan, tak pernah mengikat dendam sakit hati dengan siapapun, andaikata perempuan itu ada maksud mencelakai jiwanya bukankah ketika ia sedang menyembuhkan lukanya tadi merupakan kesempatan yang paling baik untuk turun tangan?? asal sebuah jari tangannya ditotokkan keatas tubuhnya niscaya ia bakal putus nyawa dan mati.
Terdengar perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh, kemudian menegur:
"Apakah kau bernama Han Siong Kie ???"
Si anak muda itu merasa amat terperanjat, segera pikirnya:
"sungguh aneh, dari mana ia bisa tahu akan namaku??? "
Berpikir demikian iapun lantas menyahut dengan suara dingin lagi ketus.
"Kalau benar mau apa??"
"Apakah ayahmu bernama Han see Wie??"
Han Siong Kie merasa hatinya terkesiap. jelas asal usul perempuan ini mencurigakan sekali maka bentaknya keras2: "siapa kau??? "
"Aku?? Hiiih hiih hiih , . . aku bernama Yon sim Jien."
"Apa?? namamu orang yang ada maksud? "
"sedikitpun tidak salah".
"Kau bohong nama itu tidak mirip dengan nama seorang manusia."
"Percaya atau tidak, terserah pada diri sendiri"
"Apa yang siap hendak kau lakukan?? "
"Jawab semua pertanyaan yang kuajukan kepadamu, benarkah ayahmu bernama Han see Wie??"
Dalam benak Han Siong Kie kembali terlintas pemandangan seram dalam perkampungan Keluarga Han. dimana ayahnya menggeletak mati didalam ruang tamu.
Dua ratus orang anggota keluarganya kecuali ibunya tak seorangpun yang lolos dalam keadaan hidup.
Peristiwa tragis itu sudah terjadi belasan tahun berselang dan kalau didengar dari nada suara perempuan itu jelas masih muda, tapi dari mana ia tahu dari mana ia bisa tahu asal usulnya??Jangan2 dia adalah...
Berpikir sampai disitu tanpa terasa hatinya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri sambil menggertak gigi sekali lagi bentaknya: "Sebenarnya siapa kau ??? "
"Yoe sim Jien si manusia yang ada maksud.."
"Kalau kau berani bohongi lagi aku"
"Kau ingin apa??? "
" Kubunuh kau saat ini juga "
"Hiiih hiiiih hiiiih mampukah kau berbuat begitu?? sekarang selembar jiwamu telah di ujung telapakku "
Tanpa sadar Han Siong Kie tarik napas dingin, serunya dengan nada gemas: "Utarakan maksud tujuanmu aku ingin tahu apa yang kau kehendaki terhadap diriku"
"Aku ingin tahu apakah kau keturunan dari Han see Wie??"
"sedikitpun tidak salah kau mau apa??"
"Bagus sekali aku hendak memerintahkan dirimu janganlah sekali2 mencari pemilik Benteng Maut untuk membalas dendam"
"Hmm kenapa aku tak boleh membunuh bajingan itu??" dengus Han Siong Kie dengan penuh bencian.
"sebab pemilik Benteng Maut bukanlah musuh besarmu"
Jantung Han Siong Kle terasa berdebar dengan kerasnya, kalau ditinjau dari nada ucapan itu rupanya Yoe simJiem si manusia yang ada maksud ini kemungkinan besar adalah anak buah Benteng Maut yang sengaja membohongi dirinya agar mengurungkan niatnya untuk membalas dendam.
-0000000-
Tengkorak Maut
Karya : OPA
Oleh : Tjan ID
Jilid 4
BERPIKIR akan hal itu dia sebera tertawa dingin "Heeeh..heeeh..heeeh... dari mana kau bisa tahu kalau si pemilik Benteng Maut bukanlah musuh besarku??"
"Aku mendapat titipan dari seseorang untuk menyampaikan kabar berita ini kepadamu."
"Kau mendapat titipan dari siapa??"
"Dikemudian hari kau bakal mengetahui sendiri"
"Omong kosong aku Han Siong Kle selama masih bisa bernapas dikolong langit tak nanti ada orang yang sanggup untuk menghalangi niatku untuk menuntut balas terhadap Benteng Maut" .
" Kurang ajar jadi kau pingin mati???".
"silahkan turun tangan jangan kau angap aku jeri menghadapi kematian..." teriak si anak muda itu dengan angkuh.
Menyaksikan keteguhan serta kekerasan hati pemuda she Han itu akhirnya Yoe sim Jien menghela napas panjang.
"Aaaai Han Siong Kie percayalah perkataanku apa yang kuucapkan adalah yang sebenarnya"
Untuk beberapa saat lamanya Han Siong Kie merasakan pikiranannya jadi kalut dan kacau tak menentu ia tak habis mengeti tentang asal usul dari perempuan yang menyebut dirinya "Yoe sim Jien" ini.
Jie susioknya Thio Lien sesaat sebelum bunuh diri juga berpesan padanya agar ia jangan membalas dendam, dua orang yang berbeda mengapa mengucapkan kata2 yang sama?? Mengapa??? .. Mengapa???... ,
Bukankah diatas dinding ruang tamunya dengan jelas tertera sebuah lukisan tengkorak darah??? bukankah tengkorak darah itu adalah lambang dari pemilik Benteng Maut???
Kesemuanya toh sudah jelas dan kenyataan membuktikan bahwa si pemilik Benteng Maut adalah musuh besarnya, mengapa Yoe sim Jien mengatakan bukan??? Teka-teki suatu teka teki yang amat sulit dipecahkan.
"Han Siong Kie" terdengar perempuan itu berkata kembali. "Perkataan tersebut telah kusampaikan padamu, mau percaya atau tidak itu terserah pada dirimu sendiri"
"Nona kalau kau tidak mengutarakan kenyataan yang sesungguhnya, sulit bagi cayhe untuk mempercayai perkataanmu itu" .
"Aku hanya mendapat perintah untuk menyampaikan ucapan ini kepadamu, tentang soal yang lain maafkanlah diriku sebab aku tak dapat menyampaikannya kepadamu"
"Hmmm Yoe sim Jien, apakah kau hendak mencabut selembar jiwa cayhe??...".
"Aku rasa tiada perlunya kucabut selembar jiwamu"
"Kalau memang begitu mengapa kau tidak lepaskan ancamanmu dan mari kita berbicara dengan saling berhadapan muka??"
"Aku masih ada pertanyaan yang hendak diajukan kepadamu"
"Kalau begitu cepatlah diutarakan keluar "
"Benarkah kau amat membenci kaum wanita???".
Tanpa sadar untuk kesekian kalinya Han Siong Kle merasakan hatinya bergetar keras, kejadian ini benar2 aneh dan tak masuk di akal, darimana ia bisa tahu dengan begitu jelas akan sifat2nya???
sianak muda itu masih teringat bahwa perkataan semacam itu hanya pernah diucapkan satu kali terhidap diri adik angkatnya Tonghong Hwie, darimana diapun bisa tahu akan hal ini???
"Sedikitpun tidak salah" tanpa sadar ia menyahut dengan tegas. "Mengapa ??".
"Setiap orang mempunyai tabiat dan kesukaan yang ber-beda2, buat apa kau tanyakan kepadaku mengapa aku membenci kaum wanita yang ada di kolong langit".
"Tetapi tabiatmu ini boleh dibilang tidak masuk diakal, kecuali kalau kau pernah mengalami suatu kejadian yang amat menyakitkan hati karena perempuan atau mungkin karena hati sanubarimu tergores luka oleh seorang wanita. Tetapi... walau begitu tidaklah pantas kalau kau membenci semua perempuan yang ada dikolong laagit".
"Cayhe tidak ingin membicarakan tentang persoalan ini".
"Tetapi nonamu merasa suka sekali membicarakan tentang masalah ini??..".
"Kalau begitu bicarakanlah seorang diri".
"Jangan lupa bahwa selembar jiwamu saat ini masih berada di dalam kekuasaanku".
"Cayhe tidak suka digertak apalagi dengan di ancam oleh seseorang untuk melakukan sesuatu".
"Ini kenyataan bukan gertak sambal belaka, jangan lupa nama nonamu adalah " Yoe sim Jien" seseorang yang mempunyai maksud tertentu, atau dengan perkataan lain kehadiranku kemari adalah disebabkan ada maksud2 tertentu, aku rasa kau pasti mengerti bukan arti dari perkataanku" .
Han Siong Kiejadi gusar dan gemas sehabis mendengar perkataan itu, deagan sikap jumawa dan congkak serunya:
"Kalau memang begitu, utarakanlah maksud tujuanmu datang kemari". Dengan bangga
Yoe sim Jien tertawa ringan.
"Pertama, aku mendapat titipan dari seseorang untuk menyampaikan kabar kepadamu bahwa kau dilarang mencari balas terhadap si Tengkorak Maut, ke ...."..
"sudah kukatakan kepadamu tak mungkin aku penuhi keinginanmu itu kecuali..." bicara sampai disini mendadak sianak muda itu membungkam.
"Kecuali kenapa??"
"Ceritakan keadaan yang sebenarnya telah terjadi dan tunjukanlah siapakah pembunuh yang sebenarnya"
"Dewasa ini tak mungkin hal itu kukatakan padamu tetapi dikemudian hari kau akan menjadi paham sendiri"
"Kalau memang begitu lebih baik kau jangan banyak bicara lagi dengan diriku"
"suka mendengarkan atau tidak itu urusanmu sendiri tetapi aku tidak memperi-ngatkan dirimu gerak gerik yang gegabah dan ngawur kadang kala bisa membuat dirimu merasa menyesal"
"Haaaah...haaah...haah... tindakan gegabah dan ngawur??? aku orang she Han selamanya tak akan merasa menyesal"
"Baik kalau begitu dengarkan persoalan yang kedua selama kau melakukan perjalanan didalam dunia persilatan janganlah sekali2 kau membicarakan tentang asal usulmu kepada orang lain"
Han Siong Kie berdiri tertegun, jantungnya berdebar keras dan matanya terbelalak lebar. Perkataan tersebut pernah diucapkan pula oleh susioknya si telapak naga beracun Thio Llen terhadap dirinya, sayang pada waktu itu ia tak sempat menanyakan alasannya, dan sekarang " Yoe sim Jien" mengulangi kembali perkataan itu, ia jadi bimbang dan ragu. Bagaimanapun juga otaknya diputar namun selalu tak berhasil menemukan jawaban yang tepat,
Hingga akhirnya tak tahan lagi ia berteriak keras:
"Katakanlah kepadaku, siapakah sebenar-nya kau???"
"Yoe sim Jien, simanusia yang ada maksud".
"Bukan" teriak sianak muda itu.
"Eeei... aneh benar kau ini, dengan andalkan apa kau bisa mengatakan bahwa aku tidak bernama itu??"
Han Siong Kie terbungkam dalam seribu bahasa, dalam hati ia merasa jengkel dan benci hingga giginya gemerutukan keras.
"Han Siong Kie, ingat baik2" kata Yoe sim Jien dengan suara berat. "sekali lagi kuulangi perkataanku, pertama, janganlah mencari balas terhadap diri si Tengkorak maut. Kedua, janganlah kau ceritakan asal-usulmu kepada siapapun juga. Nah sampai jumpa lain waktu".
Han Siong Kie merasakan telapak tangan yang menempel diatas batok kepalanya tiba2 menggeser, buru2 ia meloncat bangun dan putar badan, tampaklah sesopok bayangan manusia bewarna putih sedang menyusup kedaLam pepohonan yang lebat. "Hey, Yoe sim Jien. ..tunggu sebentar" segera teriaknya.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang lihay cepat2 ia melayang kedepan melakukan pengejaran, tetapi ketika ia tiba ditengah hutan bayangan manusia berbaju putih tadi telah lenyap tak berbekas.
Dengan hati murung dan kesal ia berhenti mengejar, dan mulai memikirkan kembali apa yang barusan dikatakan oleh "Yoe sim Jien". sebenarnya siapakah dia?? dan berasal dari mana???
Ia telah mendapat pesan dari siapa untuk menyampaikan kata2 itu kepada nya??? Mengapa ia bisa begitujelas mengetahui akan asal usulnya??
sianak muda itu tak sanggup untuk memecahkan rahasia ini, atau boleh dibilang tak sedikit keteranganpun yang terdapat dibenaknya, semua kejadian dirasakan berlangsung terlalu aneh hingga mendekati suatu keadaan yang hampir saja tak dapat dipercaya olehnya.
Benarkah Yoe sim Jien menyampaikan kata-kata tersebut padanya karena memperoleh pesan dari orang lain? atau dia memang mempunyai rencana tertentu????
Andaikata dia adalah seorang sahabat maka perkembangan dari persoalan ini cukup membuat orang bingung dan tak habis mengerti, sebaliknya kalau dia adalah seorang musuh.. kedudukannya jadi menakutkan sekali.
Yoe sim Jien manusia yang punya maksud sudah jelas nama ini hanyalah nama samaran yang menunjukan bahwa kedatangannya memang membawa maksud2 tertentu. Aaah bagaimanapun yang akan terjadi dendam sakit hati tersebut harus dituntut balas.
Sampai keujung langit kedasar samudrapun ia harus temukan sarung tangan yang sebelah lain dari Hoed Chiu Poo Pit tersebut, kalau tidak maka rencananya untuk membalas dendam sudah pasti akan menemui kegagalan total sebab kepandaian silat yang dimiliki pemilik Benteng Maut jauh lebih tinggi beberapa kali lipat daripada dirinya.
Tetapi... kemanakah ia harus mencari sarung tangan budha yang merupakan benda mustika dunia persilatan yang di idam2kan oleh setiap umat Bu-lim itu????
Dengan ter-manggu2 ia berdiri mematung disitu, lama... lama sekali baru menggerak-kan badannya menembusi hutan belukar dan berjalan tanpa arah tujuan.
Langit perlahan2 menjadi gelap malam yang sunyi telah menyelimuti jagad.
Kegelapan mulai mencengkam hutan belukar itu hingga sukar untuk melihat ke lima jari sendiri, pekikan burung hantu menambah seramnya suasana ditengah malam buta.
Dengan mengandalkan kesempurnaan tenaga dalamnya Han Siong Kie meneruskan perjalanannya menembusi hutan yang amat lebat itu.
Ucapan dari Yoe simJim tiada hentinya berkecamuk didalam benaknya membuat ia semakin kesal dan pusing.
Habis gelap terbitlah terang, fajar telah menyingsing dan cahaya sang surya mulai mucul diufuk timur.
Akhirnya hutan itu tiba juga sampai diujungnya diluar hutan tampak berdiri sebuah kuil yang telah lapuk dimakan usia.
saat itulah ia mulai merasa lapar dan haus, segera pikirnya didalam hati:
"Coba aku cari sedikit makanan didalam kuil itu, mungkin disana ada kaum padri yang suka menolong...".
Siapa tahu ketika ia tiba didepan kuil, terlihatlah pintu rumah berhala itu terkunci rapat, sebuah gembok besi yang sudah karatan tergantung didepan pintu, hal ini membuktikan kalau kuil tersebut sudah lama tidak dihuni orang.
Dengan kecewa ia gelengkan kepalanya, sementara ia putar badan hendak berlalu mendadak...
Suara dengusan berat secara lapat2 berkumandang keluar dari balik ruang kuil.. "Aaah, bukankah kuil ini sudah jelas merupakan sebuah kuil kosong yang tak berpenghuni?? kenapa ada orang mendengus berat didalam ruangan tersebut???" pikir sianak muda itu.
Dengan cepat ia pasang telinga untuk mendengarkan dengan lebih seksama, tetapi suara tadi telah berhenti.
"Jangan jangan aku sudah salah mendengar??" kembali Han Siong Kie berpikir dengan perasaan sangsi "Tapi... tak mungkin salah dengan jelas aku dengar bahwa suara-nya itu berkumandang dari mulut seseorang yang sedang menderita luka parah...
Dibawah desakan rasa ingin tahu yang makin menebal akhirnya diambil keputusan untuk mengintip kedalam, tanpa berpikir panjang lagi si anak muda itu enjotkan badannya melayang masuk kedalam kuil.
Tumbuhan ilalang memenuhi seluruh lantai setinggi manusia, keadaan dari ruangan kuil telah porak poranda membuat siapapun yang berada disitu ikut merasa bergidik dan seram.
suara dengusan berat kembali berkumandang datang memecahkan kesunyian kali ini kesadarannya lebih jelas lagi dan rupanya muncul dari ruangan sebelah timur.
Dengan cepat Han Siong Kie enjotkan badannya melayang keruang sebelah timur, baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan tak tertahan lagi ia menjerit kaget.
Tampaklah diatas lantai ruang kuil menggeletak sesosok tubuh manusia yang penuh berlepotan darah, ketika ia memandang lebih seksama lagi siapakah orang yang terluka itu air mukanya segera berubah hebat.
si pengemis tua berambut putih yang menggeletak dalam keadaan terluka parah itu bukanlah si pengemis dari selatan yang belum lama berselang berpisah dengan dirinya??
Kenapa ia terluka didalam kuil yang bobrok ini?? siapakah yang berhasil melukai seorang tokoh silat yang sangat lihay didalam dunia persilatan ini??? Buru2 Han Siong Kie memburu maju kedepan, serunya dengan nada gelisah: " Engkoh tua kenapa kau???". Tiada jawaban yang muncul.
Cepat ia memeriksa napas si pengemis tua itu, terasa denyutan nadinya sudah amat lemah dan jaraknya menuju kematian sudah tak jauh lagi, hatinya jadi amat gelisah sekali. "Aku harus sebera menyelamatkan jiwa engkoh tua dengan hawa murni yang ku-miliki."
Belum habis ingatan tarsebut berkelebat lewat didalam benaknya, terdengarlah dari luar ruangan berkumandang datang suara bentakan dingin: "siapa disitu??".
Dengan cepat Han Siong Kie putar badan, tampaklah tiga orang pengemis berusia pertengahan dengan berdiri berjejer didepan pintu sedang mengawasi dirinya dengan pandangan seram. Tanpa terasa ia berdiri tertegun, pikirnya:
"Mungkin kettga orang ini adalah anak murid perkumpulan Kay pang yang bertugas menjaga serta melindungi keselamatan engkoh tua"
Karena berpikir begitu ia lantas maju beberapa langkah kedepan sembari menjura. "Maaf, caybe telah mengganggu kalian bertiga..".
"Bocah keparat terdengar seorang pengemis yang berambut awut2an dan berusia paling tua diantara ketiga orang itu menegur dengan suara seram. " Mau apa kau datang kedalam ruangan ini???".
Air muka Han Siong Kie berubah hebat setelah mendengar teguran yang ketus dan sama sekali tidak bersahabat ini, tetapi teringat akan hubungannya yang akrab dengan sipengemis dari selatan, ia menahan rasa dongkol dalam hatinya dan menjawab:
"Cayhe hanya secara kebetulan saja lewat disini berhubung aku dengar engkoh tua".
"Apa?? engkoh tua??? bocah keparat kau panggil anjing tua ini sebagai engkoh tua?"
Dari ucapan ini Han Siong Kie segera merasakan keadaan yang kurang beres, harus di ketahui peraturan didalam perkumpulan Kay-pang amat ketat, lagipula kedudukan sipengemis dari selatan didalam Kay pang amat tinggi dan terhormat, tetapi ketiga orang pengemis itu telah memaki saudara tuanya sebagai anjing tua, jelas dibalik kejadian ini masih ada rahasia besar lainnya. Dengan wajah dingin membeku ia sebera menegur.
"Apakah kalian bertiga adalah anak murid dari perkumpulan Kay pang?? ....".
"Kalau benar mau apa???" jawab ketiga orang pengemis itu dengan wajah berubah.
"Tahukah kalian apa kedudukan sipengemis dari selatan didalam perkum-pulan??"
"Ketua dari para Tiang loo perkumpulan kay pang".
"Kalau sudah tahu begini, mengapa kalian sebut dia sebagai anjing tua???..".
"ooooh, keparat cilik jadi kedatanganmu disebabkan karena dia?? Bagus, ini hari kau pun jangan harap bisa keluar dari ruangan ini dalam keadaan selamat"
"Ayoh jawab secara bagaimana Tiang loo kalian menderita luka parah???" bentak Han Siong Kie.
"Heeeh heeeh heeeeh anjing cilik setelah kau modar sianjing tua itu akan menceritakan semua kejadiannya padamu..."
Dengan cepat otak sianak muda itu bekerja, sekarang ia baru sadar bahwa sipengemis dari selatan pasti sudah terluka ditangan ketiga orang pengemis ini.
Tentulah dalam keadaan terluka karena terhajar oleh si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing engkoh tua nya telah berjumpa dengan ketiga orang pengemis ini.
Dan dikarenakan ketiga orang itu mempunyai suatu rencana tertentu dia gunakanlah kesempatan yang sangat baik ini untuk menghabisi nyawa Tiangloonya.
Membayangkan kesadisan serta kekejaman hati ketiga orang penghianat dari perkumpulan Kay pang itu, diatas wajah Han Siong Kie yang tampan seketika terlintas selapis hawa napsu membunuh yang tebal, dengan pandangan menggidikkan hati ia menyapu sekejap wajah ketiga orang itu.
Dipandang semacam itu tanpa sadar ketiga orang pengemis itu sama2 mundur satu langkah ke belakang, terdengarlah salah seorang pengemis yang berhidung mancung bagaikan paruh elang menegur dengan wajah menyeringai seram: "Anjing cilik, sebutkan siapa namamu".
"Huuuh manusia terkutuk semacam kau belum pantas untuk mengetahui nama sauw-ya mu"
"Bangsat aku si orang tua akan hantarkan pulang ke rumah nenek moyangmu..".
sambil berteriak keras ia menyerbu kedalam ruangan, telapak tangannya disertai angin pukulan yang dahsyat segera dihantam keatas tubuh sianak muda itu. "Hmm rupanya kau sudah bosan hidup, "Ditengah dengusan ketus, tahu2 pergelangan tangan pengemis tua berhidung elang itu sudah dicengkeram oleh Han Siong Kie hingga sama sekali tak berkutik.
Menyaksikan kelihayan lawannya, kedua orang pengemis yang lain jadi terkesiap. air muka mereka berubah hebat.
Mimpipun mereka tak pernah menyangka kalau seorang pemuda yang demikian mudanya ternyata memiliki kepandaian silat yang maha sakti, dibawah penglihatan sepasang mata mereka tak seorangpun yang tahu rekannya sudah jatuh kecudang ditangan lawan dengan gerakan apa.
setelah berdiri ter-manggu2 beberapa saat lamanya, kedua orang itu segera membentak nyaring, bagaikan harimau kelaparan mereka terjang tubuh sianak muda itu dengan segenap tenaga.
Angin tajam menderu2, bagaikan sayatan pedang mustika dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat meluncur kemuka mengancam tubuh pemuda she Han itu.
Han Siong Kie amat menguatirkan keselamatan dari engkoh tuanya, dia ingin cepat mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, tangannya segera diayun kemuka dan segulung angin pukulan laksana gumpalan ombak meluncur kemuka menghantam tubuh musuhnya.
Kedua orang pengemis itu tak sanggup menahan diri, badan mereka terpental kebelakang menumbuk dinding ruangan dan seketika itu juga jatuh tak sadarkan diri
"Ayoh bicara, kenapa kalian berkianat kepada perguruan dan hendak membinasakan guru sendiri"
Pada saat itulah sipengemis dari selatan yang menggeletak diatas tanah mendadak membuka matanya dan berseru dengan segenap kekuatan yang dimilikinya:
"sau.. daa..dara...cilik ..bunuh."
Han Siong Kie mendengus pergelengannya, segera digetarkan dan salah seorang pengemis yang berada didalam cengkeramannya itu sebera meluncur kearah pintu ruangan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa batok kepalanya segera hancur berantakan otak dan darah berceceran memenuhi seluruh lantai. .
Dua orang pengemis lainnya yang sementara itu telah mendusin dari pingsannya jadi hilang semangat setelah melihat kejadian itu, baru saja badan mereka hendak bergerak Han Siong Kie enjotkan badannya meluncur kemuka tahu2 dia sudah menghadang di hadapan kedua orang itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun sepasang telapaknya serentak dibabarkan kemuka dari samping kiri maupun kanan.
Cepat laksana sambaran kilat, belum sampai ingatan kedua berkelebat dalam benak pengemis dari selatan pukulan maut sudah mengancam tiba.
Jeritan ngeri seketika meluncur dari balik mulut mereka tapi baru saja separoh jalan badan mereka sudah mengejang dan roboh binasa diatas tanah.
selesai membereskan ketiga orang pengemis itu Han Siong Kie berjalan menghampiri kakak tuanya sipengemis dari selatan lalu tegurnya dengan hati bergejolak: " Engkoh tua, sebetulnya apa yang telah terjadi?? "
Raut wajah pengemis dari selatan berkerut kencang, sepasang matanya melotot keluar bagaikan batu kelereng, jelas ia merasakan golakan batin yang amat berat: Lama sekali baru ia berkata:
"Saudara cilik, kedatanganmu sangat kebetulan sekali, inilah artinya tidak mengijinkan perkumpulan Kay pang kami musnah di tangan orang..."
"Engkoh tua lukamu..."
"Sekarang waktu sudah amat mendesak, tiada waktu lagi bagiku untuk menerangkan persoalan ini. Tapi aku tahu bahwa tabiatmu amat cocok dengan diriku maka kuserahkan tugas yang maha berat ini keatas pundak mu".
"Aaai partai Kay pang kami sungguh lagi sial, tiga hari berselang pangcu telah memilih ahli warisnya atas persetujuan para tiang loo, mendengar kabar itu aku segera datang kemari untuk mengikuti jalannya upacara tersebut, siapa tahu aku sudah bertemu dengan murid penghianat sipengemis bintang langit Jien Jit, ketika ia menjumpai aku berada dalam keadaan luka parah maka timbullah niat jahatnya untuk melenyapkan aku dari muka bumi, ia telah merampas tanda pengenal bambu hitam milikku untuk pergi menerima jabatan pangcu baru, maka aku harap kau bisa segera berangkat untuk menghalangi niatnya itu.."
"Aku??..."
"Sedikitpun tidak salah, sebelum tengah hari nanti kau harus sudah tiba ditempat tujuan.. "
"Dimana?? tanya Han Siong Kle agak sangsi.
"Kuil Boe Hoo pantai Pek see Than, jaraknya dari sini masih ada dua ratus li dan letaknya disebelah timur sungai".
-0000000-
BAB 8
"Kuil Boe Hoo dipantai Pek see Tham? "
"Betul tidak salah lagi."
"Bagaimana caraku unfuk mencegahnya?".
"Bilamana perlu lenyapkan pengkhianat itu dari muka bumi, sampaikan pesanku dan suruh mereka menunggu selama tiga hari".
"Bicara tanpa bukti tiada gunanya, apakah anak murid perkumpulan kalian suka mempercayai perkataanku?? " .
"Sekarang urusan telah amat mendesak, terserah kepadamu mau mengatasinya dengan cara apa, yang penting kau ketahui adalah si pengemis bintang langit Jien Jit telah menjabat sebagai Tongcu bagian luar dari perkumpulan Thian chee Kauw, bila niat busuknya
berhasil, maka Kay pang akan musnah dari muka bumi".
"Yaa... engkoh tua, bagaimana dengan lukamu??"
"Aku tak bakal modar, ayoh cepat berangkat tiga hari kemudian aku pasti sudah sampai di situ"
Dengan perasaan apa boleh buat Han Siong Kie mengangguk. ia segera melayang ke luar kuil dan melakukan perjalanan dengan mengikuti jalan raya ditepi sungai.
Ilmu meringankan tubuh cahaya Kilat lintasan memang luar biasa dahsyatnya, pemuda itu meluncur ke muka bagaikan segulung asap ringan tidak sampai satu jam kemudian ia sudah berada ratusan li jauhnya dari kuil tersebut.
Mendadak suara bentakan keras berkumandang dari tempat kejauhan, suara itu nyaring dan gegap gempita.
Suatu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya pemuda she Han itu, sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu.
Tampaklah di atas pantai pasir ditepi sungai bayangan manusia saling bergerak tiada hentinya seolah2 terdapat banyak orang sedang melangsungkan pertarungan disitu.
Ia segera mempercepat gerakan tubuhnya meluncur ke muka dalam sekejap mata ia sudah berada disekitar kalangan, kini ia dapat melihat lebih jelas lagi ditepi sungai kurang lebih dua puluh tombak dari sisi jalan raya terlihatlah ditepi sungai orang sedang bertempur jadi satu, bentakan keras teriakan tajam bergema tiada hentinya dari dalam kalangan.
Pemuda itu hendak meneliti lebih jauh apa sebetulnya yang sudah terjadi tapi secara mendadak ia teringat kembali akan pesan penting dari engkoh tuanya maka pemuda inipun lantas berpikir:
"Aaah lebih baik aku tak usah mencampuri urusan orang lain, waktu bagiku sudah terlalu mendesak bila urusan engkoh sampai terlantar waah bisa berabe"
Belumjauh ia berlalu mendadak ia menangkap seruan seseorang yang amat dikenal olehnya berkumandang keluar dari balik kalangan pertempuran:
"Hmm sekalipun kalian andaikan jumlah yang banyak untuk mengerubuti diriku, aku sipengemis cilik tak akan mengambil perduli. Hey perempuan bajingan, kau..." Cepat Han Siong Kie menghentikan tubuhnya dan berseru: "Aduuuh celaka, bukankah suara itu adalah suara dari adik Hwie??".
Badannya segera putar balik dan meluncur kembali ke tepi sungai, dari atas sebuah batu besar dia sebera melongok kebawah..
sedikitpun tidak salah, tampaklah sipengemis cilik Tonghong Hwie sedang bertempur melawan empat orang kakek tua, pertempuran itu sedang berlangsung dengan seru dan ramainya.
Disisi kalangan pertempuran berdirilah seorang bayangan manusia berbaju merah, dia bukan lain adalah Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kauw, si kupu2 warna warni Lie In Hiang adanya, dua orang dayangnya berdiri di belakang perempuan itu
Ditinjau dari keadaan tersebut, tak usah ditanyakan sudah terlihat jelas sekali, mereka semua bukan lain adalah jago2 dari perkumpulan Thian chee Kauw.
Musuh besar saling berjumpa muka, sepasang mata sianak muda itu segera berubah jadi merah berapi-api, ia teringat kembali akan penderitaan serta penghinaan yang diterimanya selama ia dibekuk oleh Lie In Hiang dan dijejalkan dibawah tandunya itu, terutama sekali dua kali tamparan yang dihadiahkan kepadanya.
Rasa dendam dan perasaan ingin membalas dendam dengan cepat muncul dari balik hatinya.
"Roboh kau" terdengar suara bentakan keras berkumandang datang dari tengah kalangan.
seorang kakek tua ayunkan jari tangannya menotok jalan darah Hong Hu Hiat di atas tubuh Tonghong Hwie.
"Aduuh celaka "jeritan Han Siong Kie di dalam hati, untuk memberi pertolongan jelas sudah tak sempat lagi, nampaknya..
Tak nyana dikolong langit ternyata terdapat juga peristiwa aneh, kejadian yang kemudian berlangsung kiranya jauh diluar dugaan siapapun.
serangan totokan yang sebenarnya dengan telak telah bersarang diatas jalan darah "Hong Hoe Hiat" ditubuh Tonghong Hwie itu ternyata sama sekali tidak memberikan reaksi apapun juga, bahkan dengan menggunakan kesempatan baik itu dia malah memerseni sebuah pukulan dahsyat yang mementalkan badan sikakek tua tadi hingga mencelat keluar dari kalangan.
Kejadian ini benar2 merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh, mungkinkah Tonghong Hwie telah berhasil mempelajari ilmu menggeserkan jalan darah sehingga ia tak mampu di totok???
Pada saat tubuh sikakek tua tadi mencelat keluar dari kalangan pertempuran itulah tiga orang pria kekar lain segera terjunkan diri kedalam kalangan. Dengan demikian posisinya jadi enam lawan satu.
Pengemis cilik Tonghong Hwie jadi berkaok kaok dan berteriak teriak keras, tusukan, totokan jari serta hantaman telapak seringkali bersarang diatas tubuhnya namun keadaan pengemis tersebut masih tetap kokoh seperti sedia kala. Han Siong Kie yang menyaksikan kejadian itu jadi melongo dibuatnya.
Ditengah bentakan gusar tiba2 terdengar jeritan ngeri bergema memecahkan kesu-nyian seorang pria kekar terhajar oleh babatan telapak Tonghong Hwie tepat mengenai dadanya hingga muntah darah dan mundur dengan sempoyongan.
Dua orang pria serta ketiga orang kakek tadi segera membentak nyaring, serangan mereka semakin diperketat hingga angin puyuh menggulung keluar tiada hentinya.
Dibawah desakan serta teteran musuh yang begitu gencarnya sipengemis cilik Tonghong Hwie sudah kewalahan dan kelabakan tidak keruan posisinya semakin terjepit dan terancam oleh bahaya.
Sekalipun begitu dengan andalkan kekuatan yang dimiliki, kelima orang itu masih belum mampu merobohkan Tonghong Hwie dalam waktu singkat terutama sekali ilmu gaibnya yang kebal terhadap pukulan serta bacokan membuat beberapa orang jago itu jadi pusing kepala.
"Tahan" ditengah bentakan keras bayangan manusia saling berpisah dan mengundurkan diri ke belakang si kupu2 warna warna Lie In Hiang dengan gayanya yatsg genit segera masuk kalangan.
" Kalian segera berangkat meneruskan perjalanan," perintahnya kepada kawanan jago Thian chee Kauw tersebut, "Pun Tongcu sebentar lagi segera akan menyusul"
"Terima perintah"
Bayangan manusia berkelebat lewat, para jago dari perkumpulan Thian chee Kauw itu segera menggerakkan badannya meninggal-kan tempat itu dalam sekejap mata di tengah kalangan hanya tinggal si kupu2 warna Warni Lie In Hiang beserta kedua orang dayangnya.
Han Siong Kie sebagai seorang pemuda yang cerdik segera dapat menangkap kehendak perempuan itu, pikirnya:
"Engkoh tua pernah berkata bahwa murid penghianat Kay pang, sipengemis Bintang Langit,jien Jit saat ini menjabat sebagai Tongcu perkumpulan Thian chee Kauw, kalau ditinjau dari tindakan mereka yang tergesa2 jelas para jago dari perkumpulan tersebut sedang merangkap untuk membantu dirinya merebut jabatan sebagai pangcu".
Dalam pada itu si kupu2 warna warni Lie In Hiang telah berseru sambil tertawa cekikikan .
"Hihh..hiiih..hiih.. pengemis cilik, sungguh tak nyana kalau kepandaianmu lumayan jUga"
Tonghong Hwie tertawa mengejek.
"Perempuan busuk. kau tak usah berlagak centil di hadapanku percuma deh...sebab selama hidupnya aku si pengemis cilik paling muak dengan kaum perempuan macam kau"
"Cisss sudah hampir modarpun bisa2nya ngoceh dan ngebacot terus tiada hentinya"
"oooh aku sipengemis cilik sih punya usia yang panjang, tak bakal modar ditanganmu"
"Hey pengemis cilik, aku ingin bertanya padamu si bocah lelaki yang tempo hari kau lepaskan, sekarang ada dimana?? kalau kau tak menjawab sejujurnya Hmm hari ini jangan harap bisa berlalu dalam keadaan selamat" Tonghong Hwie tertawa cekikikan.
"Hiiih...hiiih...hiiih kau maksudkan saudara angkatku si Leng Bin Jlen manusia berwajah dingin?"
"Haaaah haaaah haaaah apa?? diapun bernama Leng Bin Jien?? dan kau adalah saudara angkatnya??? Ehmm sikapnya memang amat dingin bagaikan es..."
Hampir saja Han siong Kie tertawa geli setelah mendengar perkataan itu tak di-sangka olehnya Tonghong Hwie telah menjulukinya begitu aneh padanya.
sementara itu terdengar Tonghong Hwie telah bertanya: "Apa kau telah jatuh cinta padanya???."
Si kupu2 warna warni Lie In Hiang mengerdipkan matanya lalu menjawab hambar:
"Eeeei pengemis cilik, pun tongcu tidak punya waktu yang banyak untuk bergurau dengan dirimu ayoh cepat jawab Leng BinJin sekarang berada dimana??"
"Hiiih hiiiih biiiih aku pengemis cilikpun masih ada urusan lain, kalau begitu kita ber-cakap2 lagi dilain waktu saja" Habis berbicara ia putar badan dan hendak berlalu...
"Pengemis cilik, kalau kau tidak menjawab maka meskipun kau punya sayap hari ini jangan harap bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat "
"Aaaah masa iya??? belum tentu"
"Kau tidak percaya boleh coba kelihayanku," Pengemis cilik itu segera enjotkan badannya meluncur kedepan, gerakannya cepat dan enteng...
Ia cepat, sayang si kupu2 warna warni Lie In Hiang jauh lebih cepat darinya, tampak bayangan merah berkelebat lewat, tahu2 perempuan itu telah menghadang jalan perginya, sebelum badan berdiri tegak sepasang telapak telah meluncur kedepan, secara beruntun melancarkan delapan buah serangan berantai.
Kedelapan buah serangan itu dilancarkan dalam waktu singkat, arah yang ditujupun tak menentu dan semuanya berada diluar dugaan.
Diteter oleh serangan yang begitu gencar, pengemis cilik itu jadi terdesak dan segera mundur kembali ketempat semula.
"Hey pengemis cilik" tegur Lie In Hiang dengan wajah adem. " Pun Tongcu tidak punya waktu untuk mengajak kau bergurau lagi, ayoh bilang sebetulnya kau ingin bicara atau tidak??? "^
"Sekalipun kukatakan juga tiada guna-^nya".
"Kenapa??".
"Sebab saudara angkatku itu bukan saja berwajah dingin bahkan hati dan perasaannya pun sangat dingin melebihi es."
"Sudah, kau tak usah ngebacot terus ayoh jawab, sebetulnya kau mau bicara atau tidak???".
"Kalau aku pilih tak mau bicara, kau mau apa???
"Kubunuh dirimu".
"Hiiih.. Hiiih.. Hiiih.. masa kau mampu untuk membunuh diriku?? ngimpi aah..".
"Bangsat rupanya kau cari mati..." hardik si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang dengan gusar.
Badannya menerjang kedepan, sepasang telapak laksana kilat meluncur ke depan mengirimkan beberapa pukulan berantai yang dahsyat.
Bayangan telapak segera menggunung, desiran angin tajam menderu2 bagaikan guntur yang membelah bumi, dalam waktu singkat seluruh tubuh pengemis cilik itu sudah terkurung rapat dibawah ancaman telapak lawan.
Dengan gesit dan lincah pengemis cilik itu berkelit ke samping menghindar kebelakang bagaikan seekor ikan lei hi badannya bermuncratan kesana kemari diantara gulungan ombak yang mengganas keadaannya, sangat berbahaya sekali.
"Tahan mendadak terdengar bentakan dingin berkumandang datang, begitu adem suara tadi hingga membuat hati orang tercekat.
si kupu-kupu warna warni Lie In Hang merasakan hatinya bergetar keras sambil menarik kembali serangannya ia segera meloncat mundur kebelakang.
si pengemis sendiri dengan hati terkesiap pun segera alihkan sinar matanya ke arah di mana berasalnya suara tadi.
Tampaklah sesosok bayangan manusia turun dari tengah angkasa dengan gerakan yang enteng dan sedikitpun tidak menimbulkan suara . "ooooh engkoh Kie..."
Dengan wajah ber-seri2 dan nada penuh kegirangan pengemis cilik itu berteriak namun diatas wajahnya terlintas pula rasa kaget dan tercengang yang tebal ia tak mengira perpisahannya selama beberapa bulan telah membuat tenaga dalam yang dimiliki saudara angkatnya ini memperoleh kemajuan yang amat pesat.
Begitu mengetahui siapakah yang telah datang wajah Lie In Hiang si kupu2 warna warnipun berubah jadi berseri, lirikan maut dan senyuman merayu segera terpancar dari wajahnya.
Han Siong Kie mengangguk sekali kearah pengemis cilik itu kemudian berpaling ke arah Lie In Hian wajahnya penuh diliputi oleh napsu membunuh yang tebal.
Dua orang dayang cilik di belakang majikannya segera tertegun melihat wajah si anak muda itu tanpa sadar mereka telah beralih kesisi tubuh Lie In Hiang.
"oooh, saudaraku sungguh kebetulan sekali kedatanganmu ini" terdengar perempuan she Lie itu berseru genit.
"Lie In Hiang, kau tak usah bertebal muka dan tak tahu malu, siapa yang sudijadi saudaramu??" tukas Han Siong Kie dengan wajah yang dingin lagi ketus.
"Addduh manusia berwajah dingin masa begitu kasar sikapmu terhadap diriku??? apa kau tidak kasihan padaku ini??"
"Lie In Hiang kau tak usah melantur kesoal yang lain, masih ingatkah kau akan hadiah yang telah kau berikan kepadaku tempo hari??? ini hari adalah saatnya bagiku untuk mengembalikan persenanmu itu berikut rente-rentenya."
Terjelos hati Lie In Hiang mendengar ancaman lawannya, dengan wajah berubah ia segera ulapkan tangannya kepada dua orang dayang yang berada disisinya: "Waktu sudah tidak pagi lagi ringkus bocah itu"
Ucapan ini tanpa sadar telah memperingat-kan pula diri Han Siong Kie bahwa sebelum tengah hari nanti dia musti sudah sampai dikuil Boe Hoo dipantai Pek swie Tham untuk menyelesaikan persoalan dari pengemis dari selatan, dengan cepat iapun mengambil keputusan.
Terdengar kedua orang dayang cilik itu mengiakan dan segera menerjang maju ke depan, empat buah telapak serentak mencengkeram tubuh sianak muda she Han itu.
Dari gerakan tubuh yang didemontrasikan oleh Han Siong Kie barusan, kendati pengemis cilik itu tahu bahwa kepandaian sianak muda ini sudah memperoleh kemajuan tapi ia tak tahu sampai dimanakah kemajuan yang berhasil diperolehnya, ia kuatir kepandaiannya masih belum sanggup menandingi kedua orang dayang itu maka sambil geserkan badan ia ayun telapak tangannya siap menyambut datangnya serangan dari kedua orang dayang itu.
"Mundur" bentakan nyaring bergema memekikkan telinga, sambil menerjang maju ke muka Lie In Hiang melancarkan pula sebuah babatan menghantam tubuh pengemis cilik itu...
Hampir pada saat yang bersamaan dua kali jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, tampaklah dua sosok bayangan manusia mencelat ke angkasa dan blaaam blaaam segera terbanting tiga tombak dari kalangan, darah segar muntah dari mulut kedua orang itu.
Pengemis cilik itu jadi tertegun dengan cepat ia meloncat mundur kebelakang. si Kupu2 warna warni Lie In Hiang sendiri juga tertegun dan berdiri melongo dibuatnya.
Bagaimana caranya Han Siong Kie menghantam tubuh kedua orang dayangnya hingga mencelat ke tengah udara?? ia tak sempat untuk melihatnya.
Siapa yang percaya kalau seorang pemuda yang belum mampu apa2 pada tiga bulan berselang, sekarang telah memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyatnya??
Ilmu silat yang dimiliki kedua orang dayang itu boleh dibilang cukup menandingi kepandaian silat yang dimiliki jago lihay kelas satu didalam dunia persilatan, tetapi mereka tak sanggup untuk menahan sebuah pukulannya pun.. Apakah tempo dulu ia hanya sengaja menyembunyikan kepandaiannya??
Kupu2 warna Warni Lie In Hiang adalah Tongcu utama dari perkumpulan Thian chee Kau, sebagai seorang jago lihay yang banyak pengalaman serta pengetahuan, setelah tertegun sejenak. la segera pulih kembali dalam ketenangan, dengan sepasang mata yang genit ia melirik beberapa kati wajah si pemuda itu..
Pemuda ganteng dengan ilmu silat yang lihay, hal itu merupakan suatu keserasian yang sulit ditemukan keduanya dikolong langit.
Pikiran dan hati perempuan genit ini mulai terpengaruh oleh ketampanan wajahnya, ia mulai merasakan jantungnya berdebar keras hingga tanpa sadar sepasang pipinya berubah jadi merah padam.
Han Siong Kie sendiri boleh dibilang sama sekali tidak terpengaruh oleh apa yang sedang dihadapinya saat ini, karena dalam hatinya ia pernah membenci semua perempuan yang ada dikolong langit, terutama sekali terhadap perempuan yang berada dihadapannya, boleh dibilang rasa bencinya berlipat2 ganda.
Pengemis cilik Tonghong Hwie sambil mementangkan sepasang biji matanya yang jeli berdiri mematung ditempat semula, tubuhnya sedikitpun tak berkutik sementara wajah nya tetap tidak berubah, hanya matanya saja berputar tiada hentinya sebentar memandang kesana sebentar lagi memandang kemari.
"Lie In Hiang" terdengar Han Siong Kie menegur dengan suara dingin. "Tempo hari kau sudah menempeleng aku sebanyak dua kali, ini hari aku hendak hadiahkan empat buah tempelengan kepadamu".
"Oooh begitu?? bagaimana kalau di coba2 dulu?? mampu tidak??" jengek perempuan itu sambil mengerutkan alisnya.
Han Siong Kte mendengus dingin, sepasang telapaknya berputar dan menggurat kedepan, dengan suatu gerakan yang cepat tapi aneh ia lancarkan sebuah serangan dahsyat. .
Inilah salah satu jurus dari tiga jurus sakti "Leng Koe sam si " peninggalan dari Leng Koe sangjien.
Dari gerakan tangan musuhnya yang aneh dan cepat si kupu2 warna warni Lie In Hiang segera merasakan keadaan tidak menguntungkan, belum pernah ia jumpai serangan macam ini, karena itu terpaksa badannya berkelit sebisanya kesamping sambil ayunkan tangannya coba menangkis..
"Plak Ploook... dua kali gaplokan nyaring berkumandang diangkasa, dengan sempoyongan si kupu2 warna warni Lle In Hiang mundur beberapa langkah kebelakang, diatas wajahnya nampaklah dua buah bekas telapak yang amat nyata, darah segar mengucur ke luar dari bibirnya.
seperti baru mendusin dari impian, sipengemis cilik Tonghong Hwie segera berseru keras:
"Bagus sekali hajar yang lebih keras lagi...".
"Ehmm masih ada dua kali..." seru Han Siong Kie dengan nada yang tetap dingin dan ketus.
Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya, sang badan telah berkelebat lagi kemuka.
"Ploook.. Ploook.." untuk sekian kalinya terdengar dua kali gaplokan nyaring berkumandang diangkasa diiringi dua kali dengusan kesakitan.
Dengan mulut berlumurkan darah Lie In Hiang si kupu2 warna warni itu mundur ke belakang dengan sempoyongan, wajahnya berubah jadi menyeringai seram bagaikan setan, teriaknya dengan penuh kebencian:
"Manusia berwajah dingin hatimu terlalu keji, suatu hari aku pasti akan menyuruh kau rasakan pembalasan sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari apa yang kau lakukan terhadap diriku saat ini".
"Hmm kau tidak akan memperoleh kesempatan untuk melakukan pembalasan.."jengek Han Siong Kie sambil menggertak giginya.
Telapak tangan segera berkelebat dan menghantam keatas ubun2 perempuan itu.
seketika itu juga Lie In Hiang merasakan sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya teriaknya dengan suara seram:
"Manusia berwajah dingin, sekalipun berubah jadi setan aku tak akan mengampuni dirimu sekarang turun tanganlah"
Dengan cepat Han Siong Kie putar otak nya dan berpikir didalam hati.
Ketika aku terhantam masuk kedalam sungai oleh pemilik Benteng Maut Go siauw Bie lah yang telah menolong jiwa ku, sedang ayah gadis itu pangcu dari perkumpulan pat Gie Pang Go YoeToo beserta rekan2nya Kanglam Jit Koay telah mati binasa semua ditangan perempuan yang berhati kejam bagaikan kala itu. aku telah berjanji menyerahkan perempuan ini kepada Go siauw Bie sebagai balas budi kepadanya, bila kubunuh dirinya sekarang juga maka bagaimana dengan hutang budiku dengan perempuan tersebut?? ...aaah. baiknya untuk sementara waktu kulepaskan dulu dirinya, tak urung hari ini aku sedang repot dan tak mungkin menghantarnya kepada gadis itu.
Karena berpikir demikian diapun urungkan niatnya untuk mencabut jiwa Lie In Hiang
sementara itu, ketika di-nanti2kannya namun telapak Han Siong Kie tak kunjung tiba, si kupu2 warna warni segera salah mengira pemuda itu sudah tertarik oleh kencatikan wajahnya dan tak tega untuk turun tangan. Maka sambil mementangkan matanya lebar2 ia berseru: "Eeei.. manusia berwajah dingin, ayoh turun tangan".
"Hei hari aku tak akan membinasakan dirimu " seru Han Siong Kie sambil menarik kembali telapaknya. "Tapi kalau aku sampai berjumpa lagi dengan dirimu dikemudian hari, aku tak akan melepaskan dirimu dengan begini gampang, ingatlah akan perkataanku tadi". .
"Engkoh Kie.." buru2 pengemis cilik itu berseru tatkala dilihatnya sianak muda itu ada maksud hendak melepaskan korbannya. "Kau.. apakah kau hendak melepaskan perempuan yang berhati kejam bagaikan ular ini.."
Dengan pandangan benci dan mendendam si kupu2 warna warni Lie In Hiang melirik sekejap kearah pengemis cilik, kemudian dengan pandangan yang kalut menyapu sekejap pula ke atas wajah Han Siong Kie, ujarnya sambil mundur dua langkah kebelakang: "Manusia berwajah dingin, kau tidak menyesal berbuat begitu?? "
"Hmmm cepat enyah dari sini, telah kukatakan bahwa untuk sementara waktu kulepaskan dirimu ini hanya sementara mengerti?"
Mimpipun sikupu-kupu warna warni Lie In Hang tidak menyangka kalau kekalahan yang dideritanya hari ini begini mengenaskan, hampir saja selembar jiwa tak bisa diselamatkan terutama sekali kekalahannya di tangan seorang pemuda yang sama sekali tiada nama didalam dunia persilatan.
Makin dipikir, ia merasa makin benci dan dendam tapi ketika sinar matanya sekali lagi bertemu dengan raut wajahnya yang tampan, ia jadi tertegun dan berdiri termangu2 tak bisa ia bedakan apakah itu benci ataukah cinta.
"Aku harus berhasil menguasai dirinya, menaklukkan mempermainkan kejantanan-nya sampai puas kemudian aku hendak menghancurkan hidupnya agar sepanjang hidup ia tersiksa dan menderita" sumpah perempuan itu di dalam hati, diluaran ia masih tetap tenang sedang di hatinya tersenyum, perempuan yang berhati kejam bagaikan kala ini mulai merencanakan suatu rencana yang paling busuk.
Tanpa banyak bicara lagi, ia putar badan dan segera kabur dari tempat itu diringi oleh kedua orang dayangnya.
Diam2 Han Siong Kie bergidik juga hatinya menghadapi perempuan yang berhati licik itu. memandang bayangan punggungnya yang menjauh diam2 ia menghela napas lega. Pada saat itulah sipengemis cilik baru menegur dengan nada menggerutu.
"Engkoh Kie, sejak berpisah ditepi sungai tempo dulu kau telah pergi kemana saja??? sungguh amat menderita aku mencari jejakmu... oooh bukankah kau pernah berjanji kepadaku bahwa selamanya tak akan meninggalkan diriku?? tetapi..".
"Adik Hwie, bukankah sekarang aku telah datang kemari?? "
"seandainya kau tidak terpancing datang kemari oleh pertempuran sengit ini, tentu kau..".
"Aku sama saja akan pergi mencari dirimu"
"Engkoh Kie, kiranya kau adalah seorang jagoan yang tidak mau mengunjukkan diri?" ".
"Kepandaian silat yang kau miliki amat lihay sekali siauw te mengakui bahwa aku tak bisa menandingi dirimu tetapi sewaktu tempo hari berada ditepi sungai kau..."
"Ooooh adik Hwie saat ini aku masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan sebelum tengah hari nanti aku harus sudah sampai dikuil Boe Hoo dipantai Pek swie Tham, mengenai persoalan itu baiklah kuceritakan kepadamu dikemudian hari saja, lain kali kita akan bertemu dimana???"
"Urusan penting apa silih???" sela Tonghong Hwie si pengemis cilik itu dengan manja.
"Sekarang aku tak sempat menerangkan kepadamu, aku harus segera melanjutkan perjalanan"
"Tidak. Aku ikut beserta dirimu kemanapun kau hendak pergi aku akan berada disampingmu"
"Adik Hwie kau... " saking cemasnya air muka Han Siong Kie berubah jadi merah padam.
"Engkoh Hwie, bukankah antara kita sudah pernah angkat sumpah untuk sehidup semati?? mengapa sekarang hendak tinggal-kan diriku???.."
"Aku bukan ingin meninggalkan dirimu, aku harus pergi karena ada urusan penting yang harus diselesaikan, lagipula urusan amat berbahaya sekali, Bagaimana kalau kita berjanji saja untuk bertemu tiga hari lagi?? kau yang akan cari aku atau aku yang akan mencari dirimu???..."
"Tidak... tidak bisa jadi kalau toh kita sudah angkat sumpah untuk sehidup semati maka ada bencana kita harus tanggulangi bersama ada kesenangan kira nikmati bersama, semakin kau mengatakan bahaya aku semakin bertekad untuk ikut"
Di desak terus menerus oleh adik angkatnya ini, lama kelamaan Han Siong Kie jadi kewalahan juga akhirnya sambil mendepak2 kan kakinya ia mengangguk. "Baiklah ayo kita berangkat"
"Hmm. kau mengajak aku bukan muncul dari dasar hati yang tulus, kau berbuat begini tentu terpaksa... tidak... aku tidak jadi ikut"
"ooooh saudaraku yang baik kau toh bukan seorang perempuan, kenapa sih berpikiran begitu picik?? ayolah mari kita segera berangkat"
Dari balik sorot mata pengemis cilik itu mendadak terlintas suatu cahaya yang sangat aneh, ia melirik sekejap kearah saudara angkatnya dan mendadak bertanya:
"Engkoh Kie, kau pernah bilang kepadaku bahwa kau paling benci kaum wanita benarkah itu??"
"Benar, sudahlah jangan banyak membicarakan persoalan yang tak berguna, ayoh kita segera berangkat"
"Engkoh Kie, seandainya,... seandainya...."
"Seandainya kenapa??."
"Seandainya aku benar2 adalah seorang gadis bagaimanakah sikapmu terhadap diriku???"
"Aduuuh saudaraku yang baik, perduli kau laki atau perempuan aku mohon kepadamu marilah kira segera melanjutkan perjalanan, ada suatu persoalan maha besar yang harus segera kuselesaikan, bila sampai terlambat aku bisa menyesal selama hidup," Tapi pengemis cilik itu masih saja mengomel:
"Engkoh Kie, katakan dulu kepadaku andaikata aku adalah seorang gadis kau tak akan membenci diriku katakanlah "
Saking mangkel dan dongkolnya Han Siong Kie men-depakkan kakinya berulang kali diatas tanah.
"Tidak mungkin tidak mungkin kau ini cuma pandainya bikin gara2 saja ayoh berangkat"
Kali ini ia sambar tangan pengemis cilik itu dan ditariknya untuk segera melakukan perjalanan.
Dalam perjalanan itulah secara ringkas Han Siong Kie mengisahkan pengalaman aneh yang ditemuinya didalam rimba belantara beserta tujuan dalam perjalanan kali ini.
Tonghong Hwie yang mendengarkan dengan seksama sebera menjulurkan lidahnya beberapa kali.
Dengan mengerahkan kekuatan yang dimilikinya, Han Siong Kie melakukan perjalanan cepat kearah depan, sepanjang perjalanan ia menggenggam terus tangan Tonghong Hwie sebab ia takut pengemis itu tak sanggup mengikuti langkah kakinya bila ia lepaskan:
Tengah hari sudah hampir tiba, namun tujuan belum juga sampai .hal ini membuat sianak muda itu cemas bercampur gelisah.
Itu dia didepan sana adalah pasti Pek Sam Tham mendadak terdengar Tonghong Hwie berteriak sambil menuding kearah sebuah pantai berpasir putih yang mementang ditempat kejauhan.
Semangat Han Siong Kie segera berkobar kembali, tanyanya: "Lalu dimanakah letaknya kuilBoa Hoo?"
"Itu didalam hutan yang berada ditepi pantai".
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah tiba di depan hutan yang terletak ditepi pantai, tampaklah sebuah bangunan rumah bertembok merah muncul dari balik hutan, tetapi yang aneh ternyata tak nampak sesosok bayangan manusiapun.
Perlahan2 Han Siong Kie memperlambat gerakan tubuhnya dan memperhatikan sekejap suasana di sekitar sana, lalu serunya: "Ayoh kita masuk kedalam".
Tiba2.. Tonghong Hwie menjerit lengking, dengan cepat ia melengos kesamping.
Han Siong Kie yang menjumpai keadaan itu jadi ikut terperanjat, ia tangkap tangan saudara angkatnya dan bertanya dengan nada kaget. "Adik Hwie, apa yang telah kau temukan?"
Dengan badan gemetar keras Tonghong Hwie mundur kebelakang beberapa langkah, sorot matanya memancarkan rasa ketakutan yang hebat, dari atas jidat, hidung dan pipi mengucur keluar keringat sebesar kacang kedelai, ia sebera menuding kearah sebuah batu besar ditepi hutan.
Mengikuti arah yang ditujukan Han Siong Kie segera menoleh, terlihatlah sebuah benda berwarna merah darah tergeletak di atas batu cadas, ketika benda itu diperhatikan dengan lebih seksama lagi hatinya seketika terjelos.
Mendadak satu ingatan berkelebat didalam benaknya, pikiran itu membuat darah dalam tubuhnya mengembang cepat, pandangan matanya jadi berapi-api dan dengan perasaan bergolak serunya:
"Aaah....betuL tidak salah lagi itulah Tengkorak maut, lambang dari si iblis tua itu"
Tengkorak maut dapat muncul ditempat itu, kejadian ini benar2 merupakan suatu hal yang diluar dugaan.
Tengkorak maut sekali lagi Han Siong Kle berbisik dengan suara yang serak dan lirih..
-ooo0ooo-
BAB 9
"Eng..engkoh Kie.. maa.. mari ki... kii . kita perr.. pergi saja" seru Tonghong Hwie dengan suara terpatah2.
Napsu membunuh dan rasa dendam telah menyelimuti seluruh benak Han Siong Kie, sambil menatap lambang Tengkorak darah itu dengan penuh kebencian teringatnya: "Kenapa kita musti pergi??".
"Apakah kau sudah bosan hidup???" seru Tonghong Hwie dengan wajah berubah jadi hijau membesi. "Tidak aku tak boleh membiarkan kau mati, sebab kalau kau mati akupun tak ingin hidup lagi dikolong langit"
"Adik Hwie, tenangkaniah hatimu jangan panik.."
"Tidak. Engkoh Kie, aku mohon kepadamu berlalulah dari sini.... Tengkorak maut tiada tandingannya dikolong langit, tiada seorang manusiapun yang sanggup untuk menandingi dirinya"
"Aku tidak perduli sampai manakah kelihayannya, kebetulan sekali akupun sedang mencari dirinya".
"Kau, mengapa kau mencari dirinya??".
"Aku benci kepadanya, Tengkorak Maut telah melenyapkan keluargaku.. aku mempunyai dendam berdarah sedalam lautan dengan dirinya, selama aku masih hidup aku bersumpah hendak membinasakan dirinya".
Tonghong Hwie tersentak kaget dan secara beruntun ia mundur tiga langkah kebelakang dengan sempoyongan bagaikan seorang yang kehilangan semangat rintihnya lirih: "Kau... kau mempunyai ikatan dendam dengan Pemilik Benteng Maut??..." .
"Sedikitpun tidak salah"
"Keee.. kenapa.. kenapa kau amat membenci dirinya???
"Karena dia sudah membasmi seluruh keluargaku" sahut Han Siong Kie sambil menggertak gigi keras2.
Secara beruntun Tonghong Hwie mundur lagi beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan, gumamnya:
"oooh Thian kenapa?? kenapa...".
"Adik Hwie kau cepat berlalu dari tempat ini "
"Aku??? tidak aku tak mau tinggalkan dirimu seorang diri sampai matipun aku ingin mendampingi dirimu"
Han Siong Kie merasa amat terharu, hampir saja dia ikut mengucurkan air mata. setelah berdiri ter-manggu2 beberapa saat lamanya tiba2 Tonghong Hwie berteriak lagi:
"Tidak mungkin tidak mungkin... hal ini tidak mungkin terjadi... ooooh hal ini bukan kenyataan bukan."
Han Siong Kie jadi melongo menyaksikan tingkah polah adik angkatnya yang mendekati gila itu, buru2 ia genggam tangannya kencang2 dan berseru: "Adik Hwie, tenangkanlah hatimu, kau maksudkan apanya yang tidak mungkin. " Tonghong gelagapan sendiri lama sekali ia baru berkata:
"Maksudku... maksudku Tengkorak maut tak mungkin bisa munculkan diri ditempat ini"
"Kenapa tak mungkin?" apa alasanmu berkata begitu.??
"Tentang soal ini... tentang soal ini... aku selalu merasa bahwa kejadian ini bukanlah suatu peristiwa yang sungguhan .."
"Tetapi kenyataan toh sudah terbentang didepan mata kita?? "
"Engkoh Kie, kumohon kepadamu tinggalkanlah tempat ini" sekali lagi Tonghong Hwie meminta.
"Tidak "jawaban dari si anak muda itu tegas sekali.
"Tetapi kau tidak boleh mati"
"Apakah kau yakin bahwa akupun bakal mati?? "
Dengan telapak tangannya Tonghong Hwie menyeka air mata yang jatuh membasahi pipinya, lalu sahutnya:
"Hal itu bukan bisa terjadi siapapun tak akan menang bila berani memusuhi Tengkorak Maut"
"Mungkin ucapanmu memang benar" sahut Han Siong Kie sambil menggertak giginya kencang2 sinar mata penuh kebencian memancar keluar dari balik matanya. "Tetapi aku telah bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan Tengkorak Maut, mungkin aku yang bakal mati tapi mungkin juga dia yang bakal mampus, selama aku masih bisa hidup dikolong langit aku bersumpah akan memukul rata Benteng Maut..."
Sinar mata Tonghong Hwie jadi pudar, badannya mundur makin terhuyung, gumamnya: "ooooh engkoh Kie kejadian ini terlalu menakutkan"
Han Siong Kie tidak menggubris adik angkatnya lagi, ia mendongak memandang cuaca lalu berseru:
"Tengah hari sudah tiba aku harus masuk kedalam kuil Boe-Hoo dan menyelesaikan tugas yang dibebankan pengemis dari selatan kepadaku.." Habis berkata ia sebera melangkah masuk kedalam hutan.
" Engkoh Kie, apakah kau bertekad untuk masuk kedalam???" teriak Tonghong Hwie sambil menarik tangannya kencang2.
"Tentu saja, engkoh tua telah menyerahkan tugas ini padaku, sebagai seorang Bu lim yang telah memberikan kesanggupannya aku harus melaksanakan tugas itu hingga selesai, kendati badan harus hancur dan jiwa harus melayang, adik Hwie kau tak usah membujuk diriku lagi"
Tonghong Hwie angkat kepalanya memandang sekejap kearah tengkorak darah yang bertengger diatas batu cadas se-olah2 sedang memikirkan sesuatu, ia termenung beberapa saat lamanya.
Kemudian sambil mengendorkan cekalan-nya dia mengangguk. "Baiklah, mari kita ber sama2 masuk ke dalam"
"Tidak. adik Hwie, kau harus tinggalkan tempat ini dengan segera, aku tidak ingin kau ikut menempuh bahaya karena persoalanku, aku tidak ingin kau ikut konyol bersama diriku".
"Engkoh Kie, kau tak usah banyak bicara lagi, mari kita segera berangkat"
"Baik" seru Han Siong Kie kemudian sambil menggertak gigi.
Kedua orang itu menerobos ke dalam hutan dan bergerak mendekati kuil yang berdiri dengan angkernya didalam hutan, baru saja mereka berjalan sejauh dua puluh tombak. tiba2 Tonghong Hwie menjerit kaget dan berteriak kembali dengan ketakutan: "Engkoh Kie, kedatangan kita sudah terlambat, coba kau lihat." sambil barkata ia segera menuding kearah depan.
Dengan cepat Han Siong Kie alihkan sinar matanya, bulu kuduknya kontan bangun berdiri dan ia bersin beberapa kali.
Tampaklah mayat manusia bergelimpangan ditengah hutan tersebut, satu.. dua.. tiga..
Ternyata ada puluhan sosok banyaknya, bahkan mereka semua terdiri dari anak murid perkumpulan Kay pang.
Keadaan dari mayat2 itu kesemuanya mengerikan sekali, mata melotot keluar dan darah kental mengucur keluar dari tujuh buah lubang indranya.
Kalau ditinjau sepintas lalu, rupanya mereka semua mati diujung sebuah pukulan yang amat beracun sekali.
"Hmm mereka semua pasti mati ditangan Tengkorak Maut " dengus pemuda kita dengan gusar. "Tidak aneh kalau tiada seorang manusia yang munculkan diri di tempat ini, kiranya mereka sudah mati binasa semua"
Peristiwa yang sedang berlangsung pada saat ini benar2 di luar dugaan siapapun, pihak kay pang didalam rapatnya memilih pangcu baru bukan saja telah dicampuri urusannya dengan kehadiran para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw, bahkan Tengkorak Maut pun ikut mencampurikan diri dalam persoalan itu.
Han Siong kie sendiri walaupun menerjang masuk kedalam dengan mempertaruhkan keselamatannya, tetapi dalam hati siapapun merasa tidak tenang, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh pakaian yang ia kenakan. Bagaimana kelanjutan dari peristiwa itu?? hingga detik ini masih sulit diduga, tapi yang nyata puluhan jiwa anak murid Kay pang telah menemui ajalnya.
suasana dalam hutan itu sebera dirasakan jadi tebang dan tercekam oleh keseraman serta kengerian yang mencekat hati. Pada saat itulah..
Tiba2 dari dalam kuil Boe Hoo berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat nyaring, begitu keras suara tertawa itu hingga menusuk telinga setiap orang yang mendengar.
Han Siong Kie serta Tonghong Hwie jadi amat terperanjat setelah mendengar gelak tertawa yang menyerupai auman binatang aneh itu.
BlaaaamBlaaaam benturan2 dahsyat bergelepar diangkasa diikuti sebuah sudut dinding bangunan ambrol dan runtuh keatas tanah. Air muka Han Siong Kie seketika berubah hebat.
"Aduuuh celaka" teriaknya "Pastilah si Tengkorak maut sedang melangsungkan pembunuhan massal terhadap perkumpulan Kay pang"
"siaw sicu jangan gegabah"
Mengikuti datangnya seruan tersebut meluncur tiba sesosok bayangan abu2 dari sisi kalangan, angin pukulan yang kencang dan dahsyat segera memaksa badan sianak muda itu melayang kembali keatas permukaan.
Terlihatlah seorang hweesio tua beralis putih berjubah abu2 tahu2 sudah berdiri menghadang dihadapannya.
Han Siong Kie merasakan jalan perginya terhadang, ia segera ayunkan telapak tangan-nya melancarkan sebuah pukulan kedepan. "Engkoh Kie, jangan bertindak gegabah, dia adalah padri dari utara ......"
Mendengar peringatan tersebut, sianak muda itu menarik kembali serangannya dengan meloncat mundur ke belakang.
Menanti ia awasi wajah padri itu dengan lebih seksama dengan cepat diapun kenali kembali orang itu sebagai Pak Ceng yang pernah dijumpainya sewaktu berada ditepi sungai depan Benteng maut.
Buru2 ia menjura dan mohon maaf katanya:
"oooh cianpwe maafkanlah kalau boanpwee bertindak terlalu ceroboh terhadap diri mu... "
Padri dari utara tidak menggubris ucapannya itu, ia melirik sekejap kearah kuil Boe Hoe dengan sinar ketakutan kemudian serunya cemas: "Ayoh kila cepat berlalu dari sini"
"Berlalu???" seru Han Siong Kie tertegun "Tapi boanpwee telah mendapat tugas dari pengemis Lam kay untuk... "
"Aku sudah tahu, ayoh cepat berlalu kalau kita terlambat mungkin tak akan sempat lagi setelah tinggalkan tempat ini kita bicarakan persoalan lain"
"Tapi urusan mengenai Kay pang...".
Sepasang tangan Padri dari utara bergerak cepat, laksana kilat ia cengkeram tangan Han Siong Kie serta Tonghong Hwie kemudian kabur keluar dari hutan tersebut.
Han Siong Kie yang diseret terus jadi melongo dan kebingungan sendiri, ia tak tahu apa maksud tujuan dari Pak Ceng berbuat begini, kalau ditinjau dari kepandaian silat yang dimiliki jelas tak mungkin tangannya berhasil dicengkeram oleh padri dari utara dalam sekali sambaran.
Tetapi berhubung kesatu ia tidak menyang-ka dan kedua ia tahu bahwa Pak Ceng maupun Lam Kay sama2 merupakan manusia aneh dari dunia Persilatan, lagipula hubungannya dengan mereka tidak jelek. maka setelah mengetahui bahwa lawannya mengandung maksud mendalam, iapun tidak memberikan perlawanan barang sedikitpun juga.
Dalam pada itu mereka sudah keluar dari hutan, tapi padri dari utara masih menarik tangan kedua orang itu tiada hentinya, gerakan tubuhnya cepat bagaikan terbang, sesudah berjalan sejauh puluhan li dan tiba dibalik sebuah celah bukit akhirnya ia berhenti. si Padri dari utara melirik sekejap ke arah Tonghong Hwie, kemudian tegurnya:
"Apakah kau anggota dari Kay pang?"" Tonghong Hwie memandang sekejap ke arah padri tua itu kemudian tertawa cekikikan,
" Hiiih.. hiiiih hiiih. . bukan boanpwe adalah seorang pengemis gelandangan"
"Apa maksudmu pengemis gelandangan?"
"Kesatu, aku tidak pernah minta2 makan kedua aku tak pernah minta2 sedekah uang ketiga, aku tidak punya guru dan keempat aku tak punya perkumpulan, luntang lantung ke sana kemari dengan bebas dan merdeka tanpa ikatan dari manapun, itulah yang disebut pengemis gelandangan aneh bukan??..."
Sepasang alis padri dari utara segera berkerut kencang, namun ia tidak bisa bicara lagi.
Dalam pada itu Han Siong Kie sudah tak dapat menahan mangkel dan dongkolnya didalam hati, dengan cepat ia berseru: "Loocianpwee sebetulnya apa yang telah terjadi???"
Jilid 5
MENDAPAT pertanyaan ini air muka Padri dari Utara segera berubah jadi keren dan serius, sahutnya
"Siauw sicu, tahukah kau manusia2 macam apakah yang sedang bertempur didalam kuil BooHoo??"
"Tengkorak maut".
"Dan siapakah tandingannya?".
"Tentang soal ini, apakah Loocianpwe tahu??". Padri dari utara sebera mengangguk.
"Ehmm, dia adalah si malaikat berhawa Im. Mi sioe Ing".
"Apa?? si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing??" jerit Han Siong Kie dengan hati terperanjat.
"Secara bagaimana ia telah datang ke situ dan bertempur melawan Pemilik dari Benteng Maut??"
"Kejadian ini hanya suatu kebetulan saja. Mungkin si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing sedang melakukan perjalanan lewat pantai Pek swie Tham, ketika menyaksikan disisi jalan terdapat lambang Tengkorak Maut maka timbullah napsunya untuk bertempur melawan manusia paling menakutkan dari kolong langit ini, untung terjadi peristiwa ini kalau tidak seandainya kalian masuk ke dalam hutan sekalipun memiliki kepandaian yang lihay apakah kau mampu untuk mempertahankan hidupmu??."
"Malaikat berhawa Im, Mo sioe Ing berani menantang pemilik dari Benteng Maut untuk bertempur, aku pikir kepandaian silat yang dimilikinya pasti mengerikan sekali, beberapa hari berselang si pengemis dari selatan pun harus menderita luka dalam yang sangat parah didalam tiga buah gebrakan saja."
"Loocianpwee " terdengar Tonghong Hwie berseru dengan nada gemetar. " Apakah kau berhasil menjumpai raut wajab dari Tengkorak maut itu?"
"Bertemu sih tidak. cuma selama ini loolap selalu bersembunyi di sudut ruangan sambil menanti, ketika pemilik dari Benteng Maut itu sedang memencilkan dirinya ....." tiba2 padri ini berhenti sejenak untuk tukar napas kemudian tambahnya "Tetapi menurut penglihatan loolap. kejadian ini agak sedikit mencurigakan..."
"Apakah keadaan dari Tengkorak Maut itu agak tidak beres ...." tukas Tonghong Hwie cepat.
Padri dari utara segera alihkan sinar matanya kearah pengemis cilik itu dan menatap wajahnya tajam2.
"siauw sicu, apakah kau tahu bagaimanakah raut wajah serta potongan badan dari pemilik Benteng Maut??"
"Kudengar dari orang lain yang mengatakan katanya dia adalah seorang manusia berkerudung abu2 berjubah lebar warna abu2 dengan telapak kanan berwarna putih bersih bagaikan kumala serta bertelapak kiri warna hitam bagaikan tinta bak..."
Mendadak seluruh tubuh padri dari utara tergetar keras tanpa sadar ia mundur satu langkah lebar ke belakang, sepasang matanya menatap wajah pengemis cilik itu tanpa berkedip membuat Tonghong Hwie yang dipandangi terus jadi malu dan tundukkan kepalanya dengan ter sipu2.
Beberapa kemudian padri itu baru berkata kembali:
"Siauw sicu kau dengar dari siapa??? menurut sepengetahuan loolap si pemilik dari Benteng Maut belum pernah unjukan dirinya dihadapan orang asing????"
"Boanpwee hanya sempat mendengar pembicaraan itu tanpa sengaja, apa loocianpwee jumpai apakah persis seperti apa yang boenpwee katakan barusan...??? "
"Tentang apa ini... tentang soal ini... loolap sendiripun kurang begitu jelas, tapi yang pasti bayangan tubuhnya memang abu2.."
"Loocianpwee apakah kau telah berjumpa dengan pengemis dari selatan?" tiba2 Han Siong Kie menyela.
"Belum"
"Lalu dari mana loocianpwee bisa tahu kalau mereka akan berkumpul disini??"
"Dari mulut seseorang loolap mendapat tahu bahwa perkumpulan Kay-pang sedang melakukan pertemuan besar di tempat ini, maka loolap segera berangkat kemari untuk menghalangi niat sementara dari penghianat untuk merebut kedudukan kursi ketua"
"oh, siapakah yang menyampaikan berita ini kepada cianpwee??"
"Seorang lisicu menyebut dirinya sebagai Yoe Sim Jien...."
"Yo Sim Jien??? kembali perempuan itu?? sungguh aneh" teriak Han Siong Kie dengan hati terkeiut.
"Apakah siauw sicu kenal dengan li sicu yang menyebut dirinya Manusia yang ada maksud ini???".
"Tidak kenal, cuma dia pernah....".
Berbicara sampai disini mandadak ia merandek dan tidak dilanjutkan lagi, karena ia tidak ingin mengutarakan tentang masalah asal usulnya serta apa yang diperingatkan "Yoe Sim Jien" kepadanya.
Pengemis cilik Tonghong Hwie jadi tebang segera desaknya: "Dia pernah kenapa???".
"Ooooh.. dia pernah menyampai pesan dari mendiang leluhurku kepada diriku " sahut sianak muda itu sambil tertawa rikuh.
Karena ia takut saudara angkatnya mendesak lebih jauh, cepat2 ia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain dan ujarnya:
"Loocianpwee, bagaimana caranya kita akan menyelesaikan persoalan yang meliputi perkumpulan Kay-pang??".
"Setelah Loolap tiba disitu tadi, aku segera membubarkan kesembilan tiang loo serta ratusan anggota Kay pang untuk segera tinggalkan tempat itu, sebab kalau tidak akibatnya sukar dibayangkan dengan otak. seperempat jam setelah semua anggota Kay pang bubar Tengkorak Maut telah munculkan diri ditempat itu, puluhan orang anggota Kay pang yang tidak sempat kabur dari situ telah mendapat binasa ditangannya, aku rasa kalian tentu sudah menyaksikan sendiri bukan mayat mereka yang bergelimpangan didalam hutan..." Han Siong Kie mengiakan.
Terdengar Pak Ceng melanjutkan kembali.
"Seandainya simalaikat berhawa Im secara kebetulan tidak lewati ditempat itu, mungkin baik kau maupun aku tak akan sanggup menghadapi iblis tua yang berhati keji itu."
"Aaah.. Locianpwee, masa si malaikat berhawa Im begitu berani untuk bergebrak melawan pemilik dari benteng maut?" seru Tonghong Hwie.
"Ehmm menurut penilaian loolap yang mencuri lihat jalannya pertarungan dari tempat persembunyian, paling banter simalaikat berhawa Im hanya bisa bertahan sampai lima puluh jurus lagi, lama kelamaan dia pasti akan menderita kalah"
Han siang Kie tetap sangat menguatirkan persoalan dalam tubuh Kaypang, ia harus mencari keterangan duduk perkara yang sebenarnya untuk memberikan pertanggungan jawab kepada engkoh tuanya, maka kembali katanya kepada sipadri utara:
"Locianpwee, dapatkah kau memberi keterangan dengan lebih jelas lagi?? agar dikemudian hari boanpwee pun bisa memberikan pertanggungan jawabku terhadap Pengemis dari selatan".
Padri dari Utara mengangguk.
"Kemarin selagi Loolap melakukan perjalanan tiba2 perjalananku dihadang oleh seorang li sicu yang memakai kain kerudung putih, ia mengaku bernama "Yoe Sim Jien", menurut li sicu tadi katanya si pengemis bintang langit Jien Jiet yang telah menduduki jabatan Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kauw telah mendapat dukungan dari kaucunya untuk merebut kursi jabatan sebagai ketua perkumpulan Kay pang, bahkan diapun membawa tanda pengenal bambu hitam milik pengemis dari selatan, Li sicu itu minta kepada lolap untuk datang kekuil Boo Hoo dipantai Pek swie Than sebelum tengah hari untuk merintangi jalannya rencana tersebut, kemudian melaporkanpula duduknya perkara kepada para Tiangloo... "
"Lhoo. sipengemis bintang langit toh seorang Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kaw kenapa dia bisa . . ."sela Toanhong Hwie.
Belum habis ia berkata, sipadri dari utara telah menukas kembali:
"Pengemis bintang langit adalah suheng Te dengan ciangbunjin yang telah meninggal, berhubung ia telah melanggar pertarungan maka diusir dari perkumpulan tersebut dimana kemudian ia telah menggabungkan diri dengan pihak perkumpulan Thian chee Kauw, kali ini dengan mendapat dukungan yang penuh dari perkumpulannya ia diwajibkan merebut kursi jabatan ketua Kay pang dari rekan2nya, apa tujuan mereka?? tentu saja mereka ingin menggabungkan anak murid kay pang yang tersebar disegala penjuru kolong langit itu dibawah komando Thian chee Kauw. ."
"Kalau memang pengemis bintang langit sudah diusir dari perkumpulan, apakah dia berhak menduduki jabatan sebagai pangcu?"
"Pertama, ia sudah bersiap sedia menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya, dan kedua ia membawa bambu hitam milik pengemis dari selatan yang merupakan lambang tertinggi dari Kay pang, maka kesempatannya teramat besar untuk berhasil merebut kursi pangcu".
"Hmm urusan justru terjadi dikala pengemis dari selatan sedang menderita luka ditangan malaikat berhawa Im Mo Sioe Ing, kalau tidak rencana busuk dari pengemis bintang langit Jien Jit pasti akan kocar kacir tak karuan, dengan andaikan kepandaian dari Lam kay...
"Itu sih belum tentu "sela Pak ceng dengan alis berkerut, Thian chee Kauw sangat bernapsu untuk menyukseskan rencana besarnya ini, mereka tidak sayang untuk mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menunjang usaha Jien Jit, kejadian yang telah berlangsung hanya suatu kejadian yang kebetulan saja, membuat rencana busuk mereka dapat terwujud dengan gampang...
"Apa yang masih aku tidak pahami adalah dari mana Yoe sim Jien bisa tahu akan duduknya persoalan itu dengan jelas??"
"Tentang soal ini mungkin hanya dia sendiri yang tahu"
"Yang bikin kepala orang pusing dan tidak habis mengerti justru adalah kemunculan si Tengkorak Maut dipantai Pek swie Tham, ia muncul disaat yang sama serta turun tangan terhadap anggota perkumpulan Kay pang???..."
"Loolap sendiripun tak habis mengerti, apa sebabnya bisa terjadi seperti ini???"
"Tiga hari kemudian pengemis dari selatan akan datang sendiri ditempat ini untuk menyelesaikan persoalan itu"
"Tentang persoalan ini Loolappun sudah mendengar dari mulut Yoe sim Jien .."
Hampir saja Han Siong Kie mencelat ketengah udara saking kagetnya setelah mendengar perkataan itu teriaknya dengan suara keras:
"Darimana dia bisa tau akan pesoalan ini?? ucapan itu pengemis dari selatan hanya sampaikan kepada boanpwee seorang, dari mana dia bisa tahu akan hal ini???"
"Sedikitpun tidak salah peristiwa ini memang membuat orang jadi bingung dan tak habis mengerti"
"suatu hari aku pasti akan membongkar teka teki ini"
sambil gelengkan kepalanya padri dari utara menghela napas panjang.
"Aaai... peristiwa yang menimpa perkumpulan Kay-pang kali ini, walaupun untuk sementara waktu bisa ditunda, tapi pokok persoalannya belum dapat diselesaikan sama sekali, karena pihak Thian chee Kauw secara terang2an sudah membuka kedoknya untuk mengangkangi perkumpulan tersebut, sebelum tujuan mereka tercapai jelas pihak mereka tak akan lepas tangan dengan begitu saja
"Anak murid perkumpulan Kay pang tersebar luas diseluruh kolorsg langit, apakah mereka tak becus semua??".
"Persoalan tak bisa dikatakan demikian, Kay pang adalah suatu wadah yang menyerupai sarang naga gua harimau, cukup andaikan kesembilan orang Tianglonya masing2 memiliki kepandaian silat yang maha dahsyat, tetapi pihak Thian chee Kauw yang yang berhasil pula menjaring seluruh iblis dikolong langit untuk bergabung dengan mereka bukanlah suatu pertempuran berdarah, cepat atau lambat tak bisa dihindari lagi, persoalan yang paling membingungkan hati serangan ini adalah kehadiran si Tengkorak maut yang memusuhi pula pihak Kay pang, entah perbuatan ini disertai dengan suatu maksud atau hanya secara kebetulan saja".
"Jadi kalau begitu persoalannya hanya terletakpada si tengkorak maut??...".
"Tidak salah, karena itu walaupun sipengemis tua mengejar kemari juga tak ada gunanya" .
"Benarkah si tengkorak maut tiada tandingannya dikolong langit??"
"Dewasa ini memang demikian adanya"
Han Siong Kie menghembuskan napas panjang dan tidak berbicara lagi, otaknya ssgera beralih memikirkan pusaka sarung Buddha "Hoed Jiu Poo Jit" yang diperolehnya, asal ia berhasil menemukan sarung tangan yang sebelah lain, itu berarti ilmu see Mie sinkang akan berhasil dilatihnya...
Mendadak.... terdengar suara bantakan keras berkumandang datang dari tempat kejauhan. Ketiga orang itu sama2 terperanjat dengan wajah serius Han Siong Kie segera berkata. "Biar aku pergi memeriksanya"
Habis berkata ia enjotkan badannya bagaikan segulung asap segera melayang kearah mana berasalnya suara tadi.
Tampaklah diatas jalan raya bayangan mausia berseliweran, bentakkan2 keras bergema tiada hentinya dari balik gerombol manusia itu...
Bagaikan sukma gentayangan tanpa menimbulkan sedikit suarapun Han Siong Kie melay turun kurang lebih lima tombak dari kalangan pertempuran..
Tampaklah sesosok bayangan merah berdiri diantara kerumunan banyak orang, warna bajunya amat menusuk pandangan.
Dia bukan lain adalah kupu2 warna warni Lle In Hiang, Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kauw atau dengan perkataan lain sebagian besar manusia yang berada disitu bukan lain adalah anggota dari perkumpulan Thian chee Kauw.
Dengan pandangan yang tajam sianak muda itu alihkan matanya dari perempuan jalang itu ke arah kalangan pertempuran, tetapi dengan cepat ia berdiri tertegun di tempat itu.
Terlihatlah olehnya delapan orang kakek tua berbaju hijau sedang bertempur sengit melawan pengemis dari selatan.
Bukankah pengemis dari selatan telah terluka di tangan malaikat berhawa Im Mie Sioe Ing??? kemudian terhajar pula oleh pengemis bintang langit Jien Jiet yang berhianat hingga menderita luka parah dan jiwanya terancam bahaya?? kenapa secara tiba2 ia bisa muncul disini dan bertempur melawan orang???, selangkah demi selangkah Siong Kie berjalan mendekati kalangan pertempuran.
Tampak olehnya belasan sosok mayat menggeletak diatas tanah, jelas mereka mati ditangan pengemis dari selatan.
Han Siong Kie alihkan sinar matanya ke arah lain, diantara gerombolan manusia ia jumpai seorang pengemis berusia pertengahan yang berwajah burik. berhidung alang dan bermata tikus sedang mengawasi jalannya pertarungan dengan seksama, satu ingatan dengan cepat berkelebat didalam benaknya, ia berpikir:
"orang itu pastilah sipengemis bintang langit Jien Jiet adanya, heboh yang terjadi dalam tubuh perkumpulan Kay pang kali ini sebagian besar adalah timbul karena gara2 penghianat ini, aku harus mewakili engkoh tua untuk menghajar mati srigala ini.
Berpikir sampai disitu, badannya segera melesat ketengah udara, laksana kilat ia tubruk ke arah pengemis berusia pertengahan itu
Mimpipun pengemis tadi tak pernah menyangka kalau ada orang turun tangan terhadap dirinya dikala ia sedang memperhatikan jalannya pertarungan dengan penuh perhatian, ketika mendengar ada desiran angin tajam menyambar datang ia segera berpaling untuk melihat apa yang sebenarnya telah terjadi, tapi ingatan kedua belum sempat berkelebat lewat, tahu2 urat nadi pergelangan tangannya sudah kena dicengkeram oleh orang diikuti sebuah telapak lain telah menekan diatas jalan darah Beng bun hiatnya, ia jadi mati kutu dan tak berani berkutik lagi.
suasana seketika berubah jadi gempar, semua jago yang ada disitu pada berteriak kaget dan melompat mundur ke belakang.
Si kupu2 warna warni Lie In Hiang pun tak kalah kagetnya di bandingkan dengan orang lain melihat siapakah yang telah datang, ia segera menjerit lengking:
"Manusia berwajah dingin"
-ooo0ooo-
BAB 10
BERHUBUNG dengan jeritan lengking dari Lie In Hiang, maka sinar mata semua orangpun dialihkan keatas wajah Han Siong Kie.
sampai sipengemis dari selatan serta kedelapan orang kakek berbaju hijau yang sedang bertempur seng itpun tanpa terasa sudah menghentikan pertarungannya.
Manusia berwajah dingin, usianya belum mencapai dua puluh tahun, lagipula didalam dunia persilatan belum pernah mendengar disebutnya nama orang ini, maka air muka para jago lihay perkumpulan Thian chee Kauw rata2 menunjukkan kesangsian dan bingung.
Dengan andalkan kepandaian silatnya, mungkin sianak muda yang masih muda belia ini berhasil menghajar Lie In Hiang si kupu2 warna warni yang menjabat sebagai pimpinan Tongcu dari perkumpulan Thian chee kauw hingga muntah darah dan hampir saja jiwanya tercabut?? kejadian ini benar2 membuat orang tak habis percaya.
Didalam hati diam2 Han Siong Kie merasa geli, tak disangka olehnya julukan " manusia berwajah dingin" yang diberikan saudara angkatnya secara bergurau kini mulai dikenal oleh kawanan jago Bu-lim.
Bagaimana gerangan si manusia berwajah dingin munculkan diri dan membekuk batang leher pengemis bintang langit?? tak seorang pun yang tahu.
si Pengemis bintang langit Jien Jit sendiri yang urat nadi pada pergelangan tangannya dicekal orang, sedikitpun tak berani bergerak ataupun melawan, keringat dingin sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh badan.
Han Siong Kie melirik sekejap kearah Lie In Hiang, dengan pandangan dingin lalu tegurnya:
"Hey Lie In Hiang, sungguh tak nyana dengan begitu cepat kita telah saling berjumpa kembali".
Selapis napsu membunuh melintas diatas wajah Lie In Hiang yang berubah hebat, ia tertawa dingin.
"Manusia berwajah dingin" sahutnya, akupun tak pernah menyangka kalau begitu cepat kau telah datang kemari untuk menghantar kematianmu. Han Siong Kie mendengus dingin ia tidak berbicara lagi.
Dalam pada itu si pengemis Bintang la ngit Jien Jit sudah berteriak pula dengan suara keras.
"Manusia berwajah dingin, tahukah engkau siapakah pun Tongcu???"
"Huuuuh kau adalah si pengemis bintang langit Jien Jit yang menghianati perguruan dan murid buangan dari Kay pang, bukankah begitu???."
sekujur badan pengemis bintang langit gemetar keras, setelah mengumpulkan kembali keberaniannya ia membentak kembali:
"Manusia berwajah dingin, apa maksudmu menangkap diriku????"
Han Siong Kie mendengus dingin, ia segera menoleh ke arah pengemis dari selatan yang berdiri ter manggu2 ditengah kalangan dan bertanya: "Engkoh tua, apa rencanamu terhadap manusia laknat ini???".
"Hmm sedari dulu ia sudah diusir dari Kay-pang, ia tidak terhitung anak murid perkumpulan kami lagi" sahut Pengemis dari selatan dengan penuh kegusaran "Baginya tak perlu di hukum menurut peraturan perguruan lagi, saudara cilik, terserah pada mu apa yang hendak kau lakukan, aku sipengemis tua sih tiada pendapat".
"Kalau memang begitu, biar kumusnahkan dirinya sebagai penebus dosa atas kesalahannya terhadap Kay pang"
Pucat pias seluruh wajah pengemis bintang langit setelah mendengar ancaman itu, dengan mata terbelalak lebar dan tubuh gemetar keras teriaknya:
"Manusia berwajah dingin, kalau kau bunuh diriku maka kau sendiripun tak akan lolos dari sini dalam keadaan selamat"
"Bisa selamat atau tidak itu urusan lain, kau tak perlu menguatirkan diriku mengerti??"
Pengemis bintang langit jadi putus asa, ia segera alihkan sinar matanya yang penuh dengan belas kasihan itu ke arah delapan orang kakek berbaju hijau yang ada dikalangan.
"Manusia berwajah dingin, kau berani membunuh dirinya??" bentak si kupu2 warna warni Lie In Hiang dengan gusar.
"Hmmm kenapa aku tidak berani?? setelah menjagal dirinya maka giliran akan tiba pada dirimu”
Air muka Lie In Hiang seketika berobah jadi hijau membesi dengan sorot mata berapi-api ia melotot kearah sinak muda itu.
Dengusan gusar segera berkumandang pula diantara kawanan jago dari perkumpulan Thian Chee Kauw tujuh orang segera munculkan diri dan mendesak kedepan mendekati tubuh Han Siong Kie.
Ketegangan dan napsu membunuh dengan cepat meliputi seluruh kalangm tersebut.
“Manusia berwajah dingin! " seru salah seorang dari delapan kakek berbaju hijau itu dengan suara menyeramkan. “Kalau engkau berani turun tangan terhadap Jien Tongcu maka perkumpulan Kay pang akan merasakan pula pembalasan dendam yang hebat dari kami, darah akaan berceran menodai seluruh perkumpulan tersebut!"
Ancaraan ini betul-betul hebat dan seketika menggidikkan hati Han Siong Kie ia sadar bahwa perkumpulan Thian-Chee Kauw adalah perkumpulan terbesar dikolong langit dewasa ini dengan jago libay yang amat banyak seandainya mereka melakukan pertempuran terbuka dengan pihak Kay pang maka akibatnya sukar dibayangkan dengan kata-kata.
Tetapi sebagai seorang pemuda yang berhati dingin sekalipun berada dalam keadaan terdesak dan bingung, sikapnya diluaran masih tetap hambar dan tak pandang sebelah mata pun terhadap semua orang.
Ia tak ingin mendatangkan kesulitan bagi pihak Kay pang, maka sinar matanya perlahan-lahan dialihkan kearah Pengemis dari selatan maksudnya agar engkoh tuanya yang mengambil keputusan.
Dalam pada itu ke tujuh orang jago libay tersebut sudah berada dua tombak dihadapannya, serangan dahsyat telah siap dilancarkan.
Suasana jadi semakin tegang dan menyesakkan napas, semua orang merasakan hatinya berdebar keras.
Lima puluh orang lebih jago lihay dari perkumpulan Thian Chee Kauw sama-sama alihkan sorot matanya menatap musuh-musuhnya dengan tajam.
Seluruh rambut pengemis dari selatan yang berwarna keperak-perakan itu sudab pada berdiri semua bagaikan kawat, kegusaran yang bergelora dalam memang sukar dikendalikan lagi, tetapi untuk beberapa waktu tak berani mengambil keputusan sebab ia tahu anggota Kay pang tersebar di mana2 seandainya pihak Thian chee Kauw sungguh melakukan pembunuhan maka akibatnya tentu hebat sekali.
Melihat musuhnya ragu2, sikakek berbaju hijau menjadi semakin bangga. sambil tertawa seram jengeknya :
"Hey, pengemis rudin, bukankah kau adalah seorang pimpinan tiang loo dari Kay Pang, kau harus tahu bahwa mati hidup perkumpulanmu tergantung pada keputusan yang akan kau ambil".
"Apa yang siap kalian lakukan terhadap kami?? hardik si pengemis dari selatan dengan mata melotot.
Biarlah Jien Tongcu yang menjabat kursi ketua dari perkumpulan Kay-pang, maka perkumpulan kami akan hidup berdampingan secara damai denganpihak Kay pang dalam cita2nya merajai Bu-lim serta pemimpin seluruh umat manusia yang ada dikolong langit."
Ucapan ini sangat menggusarkan hati pengemis dari selatan, sekujur badannya gemetar keras, sambil menggigit bibir teriaknya:
"Permintaanmu tak bisa kami kabulkan, kecuali kau bisa melangkahi mayat dari aku si pengemis tua"
"sekalipun kau modar belum tentu persoalan ini bisa diselesaikan".
"Hmmm kau tak usah banyak bacot lagi, pihak Kay pang kami akan berjuang menentang kekerasan Thian chee Kauw sampai di manapun juga," dia kemudian kepada Han Siong Kie bentaknya: "Bunuh bangsat itu".
Serentetan teriakan ngeri yang mengerikan bulu roma berkumandang memecahkan kesunyian, si pengemis bintang langit muntah darah segar dan menggeletak mati dalam keadaan mengerikan diatas tanah.
Pada saat yang bersamaan tujuh orang jago lihay serentak melancarkan pukulan dahsyat menggencet tubuh Han Siong Kie, sementara delapan orang kakek berbaju hijan itu sekali lagi mengerubuti pengemis dari selatan.
Dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat dan menerjang masuk kedalam kalangan pertempuran, mereka adalah sipadri dari utara serta pengemis cilik Tonghong Hwie.
Seketika itu juga puluhan orang jago lihay menggerakkan tubuhnya menghadang jalan pergi padri itu, suatu pertarungan sengitpun dengan cepat berkobar.
si kupu2 warna warni Lie In Hiang paling benci terhadap pengemis cilik itu, melihat kehadiran Tonghong Hwie disitu ia segera membentak nyaring dan melancarkan satu babatan dari tempat kejauhan.
suatu pertempuran yang maha seru dan maha dahsyatpun segera berkobar ditempat itu, bentakan keras bergeletar memecahkan kesunyian, angin pukulan men-deru2, bayangan manusia berseliweran...
Tiba2 terdengar jeritan kesakitan berkumandang diangkasa, darah segar muncrat di udara dan sesosok tubuh manusia roboh tak bernyawa lagi.
Pengemis cilik Tonghong Hwie dengan andalkan ilmu kebalnya yang tahan pukulan bergebrak seru melawan si kupu2 warna warni Lie In Hiang, untuk sementara waktu sulit untuk menentukan siapa menang dan siapa kalah.
Delapan orang kakek berbaju hijau yang mengerubuti sipengemis dari selatan, walau pun semuanya memiliki ilmu silat yang sangat lihay tapi berhadapan dengan jago kawakan yang sudah kenyang makan asam garam ini dibikin kewalahan juga.
sebaliknya kawanan jago yang mengerubuti padri dari utara merupakan kawanan jago di bawah kedelapan orang kakek berbaju hijau itu, korban yang berjatuhan kian lama kian bertambah banyak.
Di tengah pertarungan yang sedang berkobar itu ilmu silat yang dimiliki Han Siong Kie boleh dikata paling tinggi dan paling hebat, ilmu pukulan Leng Koe sam sie nya betul2 hebat dan mengerikan, setiap kali serangan yang dilancarkan pasti membawa korban yang berjatuhan dalam waktu singkat empat belas sosok mayat sudah bertumpuk di hadapan tubuhnya.
Kenyataan segera menunjukkan bahwa posisi Han Siong Kie sekalian jauh lebih unggul daripada kekuatan lawan, bilamana beberapa orang jago lihay itu bersatu padu dan turun tangan secara berbareng niscaya semua jago lihay yang tergabung dalam perkumpulan Thian Chee Kauw bakal musnah.
Mendadak... suitan nyaring yang amat memekikkan telinga berkumandang datang dari kejauhan.
Disusul sebuah benda berdarah yang amat menyolok mata meluncur datang dari tengah udara dan menggeletak di tengah kalangan.
oOOoo
“Aaah..! tengkorak maut ."jeritan kaget segera bergema diselurub perjuru, semua jago yang sedang bertempur dengan cepat menghentikan gerakannya.
Sesosok tengkorak yang belumuran darah menggeletak ditengah kalangan, suasana yang menyeramkan dan menggidikkan hati segera menyelimuti seluruh angkasa...
Pemilik dari Benteng Maut ternyata munculkan diri ditempat itu pada saat dan keadaan seperti itu, kejadian ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang sama sekali berada diluar dugaan siapapun.
Tanpa sadar pengemis dari selatan, padri dari utara, Han Siong Kie serta Tonghong Hwie bergabung jadi satu.
Sedangkan para jago lihay dari psrkumpulan Thian Chee Kauw-pun berkumpul menjadi satu.
Dalam sekejap mata suasana ditengah kalangan berubah jadi hening...sunyi sekali hingga suara napas sendiripun kedengaran nyata.
Sepasang mata semua orang dengan memancarkan sinar kaget dan ketakutan serentak ditujukan kearah tengkorak berlumuran darah yang menggeletak di tengah kalangan, hanya Seorang yang terkecuali, dia adalah Han Siong Kie.
Dengan sorot mata yang memancarkan rasa benci, penuh dendam dan di1apisi napsu membunuh ia menyapu seluruh kalangan dengan pscdangan tajam.
Apakah tujuan dari kemunculan sipemilik benteng maut itu?? siapapun tak tahu, tapi mereka menyadari bahwa kemunculan si iblis yang mengerikan itu berarti ancaman kematian yang menggidikkan hati bagi setiap orang yang hadir di situ.
Tengkorak berlumuran darah dibawah sorot cahaya sang surya yang tajam msmantulkan cahaya darah yang mengerikan.....
Bayangtn maut. . kematian ... menyelimuti seluruh kalangan.
Tiba-tiba Han Siong Kie mendengus dingin, selangkah demi selangkah ia mendekati tengkorak berlumuran darah itu.
Tonghong Hwie jadi amat terperanjat, ia berteriak kaget dan segera menarik ujung baju sianak muda itu sambil berseru penuh ketakutan:
"Engkoh Kie, apa ...apa yang hendak kau lakukan.??".
Pengemis dari sslatan serta padri dari utara dengan sorot mata yang memancarkan rasa kejut bercampur tercengang tanpa terasa dialihkan pula kearah pemuda itu.
Terdengar Han Siong Kie mendengus dingin, lalu jawabnya dengan nada penuh kebencian: "Aku hendak musnahkan dulu benda yang menyebalkan hati ini. "
"Jangan "seru pengemis diri utara hampir berbareng..
Dalam pada itu para jago dari perkumpulan Thian Chee Kauw telah selesai berunding, mereka segera membimbing yang luka dan diam2 ngeloyor pergi dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas. Di tengah kalangan hanya tertinggal puluhan sosok mayat yang bergelimpangan diatas tanah.
Sesaat sebelum tinggalkan tempat itu, si kupu2 warna warni Lie In Hiang sempat melotot sekejap kearah HanSiong Kie dengan penuh kebencian sayang sianak muda itu sama sekali tidak menoleh.
sepeninggalnya jago2 dari perkumpulan Thian Chee Kauw, si padri dari utara segera berbisik dengan suara lirih:
"Rupanya kedatangan si pemilik dari benteng maut adalah mencari satroni dengan pihak kita."
"Darimana kau bisa tahu?" tanya pengemis dari selatan dengan nada tercengang.
"sewaktu berada dikuil Boe Hoo ditepi pantai Peks wie-Than tadi beberapa orang anak murid Kay pang telah menemui ajalnya ditangan iblis ini, dan sekarang para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw berhasil meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat, hal ini menunjukkan bahwa tujuannya adalah terhadap kita orang".
"Lalu apa tujuannya mencari kita???."
"Darimana aku bisa tahu???."
Tonghong Hwie rupanya merasakan pula situasi yang amat tidak menguntungkan bagi pihaknya, ia segera berseru:
"Engkoh Kie, cianpwee berdua, kenapa kita tidak lekas tinggalkan tempat ini???".
"Tak mungkin bisa lolos dari sini" sahut padri dari utara sambil gelengkan kepala.
Mendadak Han Siong Kie melepaskan diri dari cekalan Tonghong Hwie, ia segera enjotkan badannya dan meluncur kearah tengkorak berlumuran darah itu .....Lam kay serta Pak Ceng amat terperanjat menyaksikan tindakan nekat dari pemuda itu, untuk mencegah sudah tak sempat lagi, sedang Tonghong Hwie menjerit lengking dan ikut menubruk ke depan.
"Tengkorak Maut" terdengar Han Siong Kie berteriak keras. "Ayoh tunjukkan dirimu."
Sambil berseru telapaknya langsung diayun membabat kearah tengkorak yang menggeletak diatas tanah...
Belum sempat angin pukulan yang dilancarkan pemuda itu mengenai sasarannya, mendadak dari balik batu cadas kurang lebih lima tombak dari sisi kalangan meluncur keluar sesosok bayangan warna abu2, telapaknya segera berputar mengejar batok kepala Han Siong Kie.
Merasakan datangnya ancaman, pemuda itu jadi gusar, pukulan yang ditujukan kearah tengkorak tadi segera berubah arah dan ganti membabat bayangan abu2 tadi.
Blaam.. termakan oleh angin pukulan yang maha dahsyat dari pemuda itu, gerakan luncur bayangan abu2 tadi segera tertahan sejenak.
Han Siong Kie bertambah kalap. telapaknya berputar dan siap melancarkan sebuah serangan lagi "Blaam. " Tiba2 menggulung datang suatu angin pukulan yang maha dahsyat menekan tubuhnya erat2.
Si anak muda itu jadi terperanjat, sulit baginya untuk menghindarkan diri dari datangnya ancaman itu dalam gugutnya sang badan segera bergeser kesamping.
Tapi sayang gerakannya itu agak terlambat, angin pukulan yang maha dahsyat tadi dengan telak bersarang ditubuhnya.. pemuda itu menjerit tertahan dan tubuhnya segera mencelat kebelakang tepat terjatuh didalam pelukan Tonghong Hwie yang sedang memburu ke muka.
Lam kay serta Pak Ceng berseru kaget serentak mereka gerakan tubuhnya menubruk kemuka.
Bayangan abu2 itu mendengus dingin, perlahan2 ia maju menghampiri beberapa orang itu, dia adalah seorang manusia aneh berkerudung warna abu2 dengan perawakan tubuh yang tinggi kekar.
se-olah2 tak pernah terjadi suatu apapun ia maju ketengah kalangan lalu menyimpan kembali tengkorak berlumuran darah yang menggeletak diatas tanah itu.
"Tengorak Maut" pengemis dari selatan segera menegur dengan penuh kegusaran "sebenarnya apa maksudmu datang kemari?"
"Heeeh heeeh heeeh.. "tengkorak maut tertawa seram "Kalian berdua akan menyelesaikan dirimu sendiri ataukah ingin menunggu sampai aku yang turun tangan sendiri.”
Padri dari utara mengerutkan dahinya, ia maju kedepan dan menegur:
“Omintobod, bukankah sicu telah berjanji akan melepaskan kami dalam keadaan hidup mengapa sekarang kau ingkari janji apa? Sewaktu berada di benteng maut tempo dulu, bukankah kau…”
Tengkorak maut tertawa seram, belum sempat padri itu menyelesaikan kata-katanya ia telah menukas:
"Kau tak usah banyak bicara lagi, selamanya aku bertindak menuruti kemauanku sendiri, Hmm! siapa kesudian menggubris ingkar janji atau tidak kalian berdua lebih baik sedikitlah tahu diri dan segera bunuh diri di hadapanku.”
Dalam pada itu Tonghong Hwie beberapa kali hendak maju kedepan. tetepi setiap kali memandang wajah Han Siong Kie yang berada dalam keadaan tak sadarkan diri ia selalu urungkan kembali niatnya itu.
“Tengkorak maut!” terdengar pengemis dari selatan membentak gusar. “Kau toh seorang pemilik benteng maut yang terhormat, sungguh tak nyana manusia semacam kau bisa mengucapkan kata-kata seperti ini, aku si pengemis tua serta hweesio tua itu memang sudah tua, mati pun tak usah disayangkan, tetapi kau harus terangkan dulu dengan alasan apa kau menghendaki jiwa kami berdua?”
“Alasan? haaah.,..haaah,..haaah...Selamanya aku si Tengkorak maut bertindak tanpa memperdulikan alasan atau tidak!”
“Kalau begitu, silahkan kau mulai turun tangan!”
“Hmmmmm! jadi kau paksa aku untuk turun tangan?”
“Aku serta pengemis tua memang menyadari bahwa ilmu silat yang kami miliki terlalu cetek sekalipun harus mati ditanganmu juga tak bisa dibicarakan lagi tapi kalau suruh kami bunuh diri,....Hmmm' jangan bermimpi di siang hari bolong!”
Mendengar perkataan itu Tengkorak maut segera tertawa seram.
"Baik, aku akan kabulkan keinginanmu itu." sambil berseru selangkah demi selangkah ia mendesak maju kedepan.
"Tunggu sebentar," tiba2 pengemis dari selatan berseru. "Apa yang hendak kalian katakan lagi??"
"Apakah kedua orang bocah yang berada disitu bisa dilepaskan dalam keadaan hidup?" tanya pengemis itu sambil menuding ke arah Tonghong Hwie serta Han Siong Kie yang berada kurang lebih tiga tombak dari situ.
"Tentang soal ini... Tengkorak maut termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian mengangguk. "Baiklah"
Pengemis dari selatan segera berpaling dan serunya kepada Tonghong Hwie: " Cepat bawa dia meninggalkan tempat ini. "
Tonghong Hwie melirik sekejap kearah Tengkorak maut, tubuhnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu dibatalkan...
Melihat pengemis cilik itu masih tetap sangsi, Lam-Kay segera meloncat kepadanya sambil membentak:
"Apakah kau ingin mati bersama ditempat ini???". Tonghong Hwie jadi terkesiap. "Loocianpwee, aku...aku..."
"Kau kenapa???"
"saudaraku telah terpukul oleh iblis tua itu, isi perutnya sudah terluka parah, andaikata tenaga dalamnya tidak sempurna sejak tadi ia sudah bakal muntah darah dan mati"
"Pernahkah kau mendengar akan kekejian dari ilmu pukulan Han Pok Ciang serta Pek Yang Kang."
Belum habis sipengemis dari selatan berkata Tonghong Hwie seperti telah teringat akan sesuatu, tiba2 ia menjerit: "Aduuuh celaka ...."
sambil membopong tubuh Han Siong Kie buru2 dia enjotkan badan dan kabut dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang lenyap dari pandangan, pengemis dari selatan menghela napas panjang, selangkah demi selangkah ia balik lagi ke tempat semula
"Hey, bersiaplah kalian menyambut kematianmu" terdengar Tengkorak maut berseru sambil tertawa seram, "Aku akan mulai turun tangan".
Wajah Lam Kay serta Pak Ceng berubah jadi murung dan diliputi kesedihan, segenap tenaga lwekang yang dimilikinya segera di himpun kedalam telapak. siap menghadapi serangan maut dari lawannya.
Mereka sadar bahwa dengan kekuatan minim yang dimiliki mereka berdua masih bukan tandingan dari iblis sakti itu, tetapi mereka berdua tak mau menyerah kalah dengan begitu saja, sekalipun tahu bukan tandingan namun dengan paksakan diri mereka berusaha untuk melawan.
"Ayoh, silahkan kau mulai turun tangan" seru mereka berdua hampir berbareng.
Tengkorak Maut tertawa seram, per lahan2 sepasang telapaknya dikeluarkan dari balik jubah, telapak kirinya bewarna hitam pekat bagaikan tinta bak, sedang telapak kanannya putih bersih bagaikan kumala. inilah ilmu pukulan Han Pok ciang serta Pak Yang Kang yang maha dahsyat itu.
Lam Kay serta Pak Ceng sama2 bergidik, mereka sadar bahwa kematian semakin dekat dengan mereka berdua..
Mendadak Tengkorak maut membentak keras, sepasang telapaknya bergerak cepat membabat kedepan, segulung angin pukulan berhawa panas dan segulung angin pukulan berhawa dingin segera meluncur kedepan menghamtam tubuh kedua orang jago itu.
Lam Kay seta Pak Ceng tidak ambil diam, merekapun membentak keras dan balas melancarlan sebuah babatan dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya.
"Blaam. dua gulung angin pukulan saling membentur satu sama lainnya menimbulkan ledakan dahsyat yang menggeletar dimuka bumi, pasir dan debu berterbangan memenuhi seluruh angkasa, Lam Kay serta Pak ceng terdorong mundur delapan langkah kebelakang.
Darah panas terasa bergelora dalam dada masing2, namun tidak sampai membuat kedua orang itu muntah darah segar.
Pengemis dari selatan saling berpandangan sekejap dengan padri dari utara, agaknya kejadian ini jauh berbeda diluar dugaan meraka berdua, siapapun tidak menyangka kalau serangan pertama dari Tengkorak Maut ternyata tidak sedahsyat apa yang di bayangkan semula.
Belum sempat mereka berpikir panjang, tengkorak maut telah mendengus dingin.
serangan kedua telah dilancarkan lebih dahsyat lagi. Angin pukulan bagaikan tindihan bukit Tay-san menghantam tubuh kedua orang jago itu.
Laksana kilat pengemis dari utara bergeser lima depa ke samping lalu putar badan sambil melancarkan sebuah pukulan.
Sepasang telapak Tengkorak Maut yang diluncurkan kedepan mendadak berpisah ke arah kiri serta kanan kemudian menyerang kedua orang itu dengan dahsyatnya.
Blaam Blam kembali terjadi bentrokan keras yang menggetarkan telinga, tubuh Lam Kay serta Pak ceng terpukul mundur lima langkah ke belakang, hampir saja darah segar muncrat keluar dari mulutnya.
Ditengah suitan tajam tubuh si Tengkorak maut mendesak lebih ke depan. Laksana kilat ia menyerang sipengemis dari selatan kemudian putar badan dan melepaskan kedua serangan ke arah padri dari utara.
Dua dengusan tertahan bergema di angkasa, kedua orang jago lihay itu muntah darah dan roboh keatas tanah.
Tengkorak maut tertawa seram, dengan wajah menyeringai perlahan-lahan ia maju ke depan, selangkah dua langkah kian lama tubuh iblis tua itu semakin mendekat.
Pengemis dari selatan segera mengepos tenaga, tapi darah segar kembali muntah ke luar dari mulutnya, diam2 ia membatin. " Habis sudah riwayat aku sipengemis tua."
Padri dari utara yang menyaksikan rekannya terancam bahaya maut dan jiwanya hampir melayang ditangan orang tak bisa berbuat apa2, sebab ia sendiripun sudah kehabisan tenaga dan tak sanggup melancarkan serangan lagi, hweesio ini sadar bahwa jiwanya sebentar lagi pasti akan menyusul rekannya, sebab gembong iblis itu tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.
Maut setiap saat mengancam jiwanya setiap detikjiwanya bisa melayang tinggalkan
raganya.
Ting. Ting .. Ting.
Mendadak dari tempit kejauhan berkumandang datang suara dentingan tongkat besi membentur tanah, suaranya nyaring dan bergetar dalam hati.
Air muka pengemis dari selatan segera berubah, sorot matanya berkilat dan rasa girang terlintas diatas wajahnya tapi hanya sebentar saja lalu lenyap kembali.
sesosok bayangan muncul dari kejauhan, "Ting Ting suara dentingan tadi kian lama kian bertambah dekat kian lama kian menggetarkan telinga... setiap dentingan itu berbunyi, bayangan hitam itu bergerak semakin dekat hingga beberapa saat kemudian tampaklah orang yang baru saja munculkan diri itu hanya memiliki sebuah kaki.
"Pengemis tua kiranya dia yang datang kiranya betul2 dia..." terdengar padri dari utara berseru sambil kerutkan alisnya.
Pengemis dari selatan sendiri agaknya juga sudah melupakan keadaannya yang berbahaya serta terancam bahaya maut itu semangatnya segera berkobar kembali.
"ooooh dia adalah susiokku song Thiat Koay dia dia.... benarkah dia orang tua masih hidup dikolong langit??".
sementara itu si Tengkorak Maut telah menghentikan gerakan tubuhnya, ia tertawa ringan lalu putar badan dan kabur dari situ dalam beberapa kali enjotan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan^
seorang pengemis tua berkaki tunggal yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang muncul dari tempat kejauhan, dalam genggamannya ia mencekal sebuah tongkat bambu yang memancarkan cahaya kilat. kepalanya tinggal ditumbuhi beberapa lembar rambut putih, sepasang matanya cekung tapi memancarkan cahaya yang menggidikkan.
Sambil menahan rasa sakit dibadan, sipengemis dari selatan paksakan diri untuk bangkit berdiri dan jatuhkan diri berlutut dihadapan orang itu, sapanya: "Tio Hoei mengunjuk hormat kepida susiok.".
Padri dari utarapun segera maju memberi hormat sambil menyapa pula:
"song sicu, sudah empat puluh tahun lamanya jejakmu lenyap tak berbekas, sungguh tak nyana kesehatanmu masih tetap seperti sedia kala"
Pengemis tua yang baru datang itu bukan lain adalah song Thiat Koay, paman guru dari pengemis Lam Kay, usianya sudah berada diatas seratus tahun, jejaknya pada empat puluh tahun berselang lenyap tak berbekas, sungguh tak nyana pada saat ini telah munculkan diri kembali disitu bahkan mengejutkan si Tengkorak Maut hingga kabur.
Pada empat puluh tahun berselang berhubung suatu persoalan kecil yang menyangkut perebutan nama dengan tongkat Tah Kauw Pang nya, si song Thiat Koay pernah menantang ketua dari delapan partai besar untuk bertempur seru diatas puncak gunung Thay san, alhasil dari delapan partai besar empat orang telah tewas dan empat orang terluka, peristiwa ini sangat menggemparkan dunia persilatan hingga kini masih tetap merupakan kebanggaan dari pihak Kay pang tetapi tidak lama setelah terjadinya peristiwa ini jejak pengemis tua itupun secara mendadak lenyap tak berbekas.
Sementara itu dengan sorot mata yang tajam song Thiat Koay menyapu sekejap wajah Lam Kay lalu tegurnya:
"Apakah kau yang bernama Tio Hoei??"
"Betul tecu adalah Tio Hoei"
"Haahh haahhh haahhh kaupun sudah tua, untuk bertempurpun sudah tidak mampu lagi: Dimana gembong iblis itu??"
"Ketika mendengar akan kehadiran susiok ia sudah kabur dari sini"
"Hmmm ia begitu berarti mengulurkan tangan iblisnya terhadap perkumpulan kami, aku song Thiat Koay tak akan mengampuni jiwanya"
"Kemunculan susiok dalam keadaan segar bugar merapakan suatu keberuntungan bagi perkumpulan Kay pang kita"
"Ehmmm sebenarnya aku tak mau mencampuri urusan keduniawian lagi tetapi di sebabkan tempat tinggalku terkena bencana alam dan longsor maka aku harus berpindah tempat, tanpa sengaja aku telah mendengar perkumpulan kita telah mengalami peristiwa besar karena itulah maka aku segera munculkan diri kembali. sekarang cepatlah kau kembali ke markas dan kembali segera pilih seorang pangcu..."
"Susiok kau orang tua hendak pergi kemana???...
"Aku hendak berangkat ke Benteng Maut untuk bikin perhitungan dengan gembong iblis itu. Nah terimalah dua biji obat dan telanlah seorang satu"
sambil berkata ia keluarkan diserahkan ketangan pengemis dari selatan kemudian.. Tiiing di tengah suara dentingan nyaring tubuhnya sudah melayang dua puluh tombak lebih dari tempat semula, dan beberapa saat kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap tak berbekas.
Sepeninggalnya Song Thiat Koay, pengemis dari selatan dan padri dari utara saling berpandangan sekejap sambil tertawa getir, masing2 menelan sebutir pil mujarab peninggalan pengemis pincang tadi lalu duduk bersemedi diatas tanah.
seperminum teh kemudian kekuatan tubuh mereka telah pulih kembali seperti sedia kala, hal ini menunjukkan betapa mujarabnya obat tersebut. Tiba2 terdengar Padri dari utara berseru:
"Eeei pengemis tua, aku merasa kejadian yang barusan berlangsung rada aneh dan mencurigakan" .
"Kejadian apa??"
-0000000-
"KITA toh sudah pernah menjajal sampai dimanakah kelihayan ilmu silat yang dimiliki si Tengkorak Maut, aku rasa agaknya kekuatan yang dimilikinya barusan jauh lebih lemah beberapa bagian dari apa yang pernah kita temui tempo dulu. Berulang kali ia menyatakan hendak menghabisi jiwa tua kita berdua, sudah tentu serangannya harus hebat dan mematikan, tapi dalam kenyataan ia sudah mengalah tiga gebrakan kepada kita."
"Betul, aku sipengemis tuapun mempunyai perasaan demikian" sahut pengemis dari selatan sambil berseru tertahan. "ucapannya permulaan tidak sesuai dengan perkataan belakangan, bahkan nada suaranya tidak benar."
"Lagipula dengan tenaga lweekang yang dimilikinya semestinya ia sanggul untuk bergebrak melawan susiokmu, apa sebabnya sebelum bertemu dengan bayangan tubuhnya, ia sudah kabur tak berbekas??"
"Benar, kalau kau tidak mengungkapkan pun tak sampai berpikir sampai disitu, peristiwa ini benar2 mencurigakan sekali".
Setelah merandek sejenak, mendadak pengemis dari selatan berseru tertahan:
"Aduuuh celaka.. saudara cilikku telah terluka oleh pukulan Im kang dari iblis tua itu, kalau lukanya tidak segera disembuhkan niscaya jiwanya akan terancam bahaya, entah pengemis cilik itu sudah membawa dirinya pergi kemana.."
"Pengemis tua, aku lihat dewasa ini lebih baik kau kembali dulu kemarkas besar perkumpulanmu untuk menyelesaikan persoalan yang sedang kau hadapi, mengenai saudara cilikmu itu biarlah aku si hweesio yang mewakili dirimu untuk mencari jejaknya. sekalipun obat mujarab yang kumliki tidak sehebat obat yang kau miliki, rasanya aku masih sanggup untuk mengatasinya".
"Baik, kalau begitu mari kita segera berangkat."
Pengemis dari selatan segera bongkokkan badan menggeledah saku dari mayat pengemis bintang langit dan ambil kembali tanda kebesaran bambu hitam yang telah direbut penghianat tersebut, kemudian bersama padri dari utara segara melakukan perjalanan.
Dalam pada itu Tong hong Hwie sambil membopong tubuh HanSiong Kie yang terluka lari menuju ketempat yang sunyi.
Setelah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya sampailah di sebuah hutan yang lebat, Tonghong Hwie segera meletakkan tubuh sianak muda itu keatas tanah dan memeriksa denyutan nadinya.
Dengan cepat ditemuinya ada delapan buah jalan darah penting dalam tubuhnya tidak tembus, andaikata jalan darah tadi tidak cepat dibebaskan dari sumbatan niscaya jiwanya bakal melayang atau paling sedikit tubuhnya akan berubah jadi cacad.
Berada dalam keadaan begini Tonghong Hwiejadi amat panik, keringat dingin mengucut keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Hawa murni yang dimilikinya dengan cepat disalurkan kedalam tubuh pemuda itu, ia berusaha untuk melancarkan kembali jalan darah Han Siong Kie yang tersumbat. satu jam telah lewat .... dua jam telah lewat.
seluruh pakaian yang dikenakan Tonghong Hwie telah basah kuyup oleh keringat tenaganya terasa habis diperas tetapi keadaan Han Siong Kie masih tetap seperti sedia kala, sadarpun tidak
Pengemis cilik itu jadi lemas bercampur kuatir akhirnya tak tahan lagi ia menangis ter sedu2.
Mendadak.. sebuah tangan dengan enteng menepuk diatas bahunya.
Tonghong Hwiejadi terkejut dan berseru tertahan, ia segera meloncat bangun dan melayang satu tombak jauhnya dari tempat semula, ketika ia berpaling tampaklah seorang gadis berbajucutih yang berkerudung kain hitam bagaikan sukma gentayangan telah berdiri dihadapan Han Siong Kle. "Kau. siapa kau??".
"Yoe sim Jien"
"Orang yang ada maksud ??".
"Sedikitpun tidak salah"
Dengan hati tercekat Tonghong Hwie menatap wajah gadis misterius itu tanpa ragu2 mengucapkan sepatah katapun, dari mulut Han Siong Kie serta padri dari utara ia pernah mendengar akan manusia misterius ini, tak nyana pada saat seperti ini orang tersebut telah munculkan diri dihbadapan mukanya.
Tampak Yoe sim Jien berjongkok dan memeriksa denyutan nadi Han Siong Kie, tiba2 ia berseru tertahan.
Sementara itu Tonghong Hwie sedang mengharap Yoe sim Jien semoga dapat menyelamatkan selembar jiwa sianak muda itu, tapi begitu mendengar seruan tertahan orang, hatinya kontan terjelos, serunya dengan nada terperanjat.
"Keee kenapa dia??? dia... dia..."
"Delapan buah jalan darah pentingnya telah tersumbat"
"Nona kau... kau... menurut pendapatmu apakah dia masih bisa tertolong"
"Bisa... cuma . ."
"Cuma kenapa???" tukas Tonghong Hwie dengan cepat...
"Tenaga yang kumiliki masih belum mampu untuk menolong jiwanya"
Air mata yang mengucur keluar dari kelopak mata Tonghong Hwie semakin deras, wajahnya berubah jadi amat kesal.
"Terpaksa aku.. aku harus menempuh bahaya untuk membawanya pergi".
"Pergi kemana??"
"Mencari seseorang untuk meogobati lukanya."
"Apakah kau mempunyai keyakinan di dalam dua jam orang yang hendak kau cari itu berhasil kau temukan??"
"Tentang soal ini..." Yoe sim Jien tertawa kembali ujarnya:
"Meskipun aku tak sanggup untuk menyelamatkan jiwanya, tetapi aku bisa membawanya pergi berobat."
"Nona akan membawanya pergi kemana??" tanya Tonghong Hwie dengan wajah cemas.
"Eeei, kenapa?? kau merasa kuatir??"
"Bukannya kuatir, cuma... cuma..."
"Cuma merasa berat untuk meninggalkan engkoh Kie mu bukan" sambung Yoe sim Jien sambil tertawa cekikikan.
Tonghong Hwie melengah kemudian dengan tersipu serunya: "Nona pandai amat kau bergurau..."
"Bergurau?? aku toh mengatakan yang sesungguhnya, bukankah kau sangat mencintai dirinya ?? Hiih... hiih hiih... jangan kuatir, aku tak akan merebut engkoh Kie mu itu."
Dengan hati terkesiap Tonghong Hwie mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan suara gemetar:
"Nona, apa yang kau katakan???"
"Aku bilang bahwa aku tak akan merebut dirinya dari tanganmu"
"saudara angkatku ini selama hidupnya tidak punya jodoh dengan kaum wanita, kalau kau bisa menaruh rasa simpatik terhadap dirimu,"
hal ini betul2 suatu kejadian yang aneh.
"Aaah belum tentu begitu?"
" Kalau tidak percaya, apa salahnya kalau nona mencoba??"
"oooh jadi kau merasa cemburu??"
sekali lagi si pengemis cilik itu mundur satu langhah ke belakang, sepasang matanya terbelalak lebar2.
"Aku sama sekali tidak mengerti akan perkataan dari nona", serunya.
"Benar2 tidak mengerti atau pura2 tidak paham??"
"Nona kau tegaskan sekali lagi sebenarnya apa maksud tujuanmu."
"Menyelamatkan jiwanya . "
"Dari mana nona bisa tahu kalau ia terluka dan kau bisa tiba disini tepat pada waktunya??"
"Tentang soal ini kau tak usah tahu."
"Nona akan membawa dirinya pergi kemana??"
"Tentang soal ini kaupun tak usah tahu." Tonghong Hwie segera tertawa dingin.
"Apakah kau rela menyaksikan dia menderita serangan panas dingin dan akhirnya mati pada dua jam kemudian??" seru Yoe sim Jien pula dengan suara dongkol.
"Apa?? kau telah mengetahui semuanya?"
"tahukah kau luka apa yang diderita olehnya?"
"Hmm, ilmu pukulan HanPok ciang serta Pek Yang Kang, cuma sayang orang yang melancarkan serangan tersebut belum berhasil melatih kepandaiannya hingga mencapai puncaknya, kalau tidak sejak tadi jiwanya tentu sudah melayang meninggalkan raganya."
"Kau..kau... sebenarnya siapakah kau??"
"Orang yang ada maksud?"
Tonghong Hwie adalah orang yang cerdik dan pandai menebak orang, tetapi pada saat ini dibuat melongo hingga tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, mungkin ucapan serta tindak tanduk Yoe sim Jien telah mengejutkan hatinya hingga hatinya tergentar mungkin..
"Eeei bukankah kau yang bernama Tonghong Hwie?" kembali Yoe Sim Jien menegur sambil tertawa ringan.
"sedikitpun tidak salah"
"Oooh kalau begitu sepantasnya kalau aku memanggil dirimu sebagai Nona Tonghong bukan begitu???"
Saking terperanjatnya Tonghong Hwie sampai tergentar mundur ke belakang dengan sempoyongan, punggungnya menempel diatas pohon dan mulutnya melongo tanpa sepatah katapun yang diucapkan keluar.
Perkataan lawannya bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, membuat hatinya bergetar keras dan tercekat. Yoa siemJlen" simanusia misterius ini ternyata sanggup membongkar rahasia kegadisannya dengan tepat, membuat ia jadi tertegun dan tidak habis mengerti.
Kembali terdengar Yoe Sim Jien tertawa enteng, katanya:
"Nona Tonghong, waktu sudah tidak banyak lagi, kau tak usah kuatir aku tak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun, termasuk engkoh Kie mu sendiri. Tetapi ada sepatah kata aku yang hendak memberitahukan kepadamu, lebih baik kau merahasiakan asal usulmu lebih ketat lagi. Nah selamat tinggal".
Selesai mengucapkan perkataan itu, ia mengempit tubuh Han Siong Kie yang tidak sadarkan diri dan berlalu dari situ.
Tonghong Hwie masih tetap berdiri kaku ditempat semula, setelah rahasianya dibongkar orang, ia merasa pikirannya jadi buntu dan hatinya bergetar keras, tindak tanduk orang yang ada maksud itu betu12 membuat kepalanya jadi pusing tujuh keliling Lama... lama sekali ia baru mendusin dari impian segera jeritnya: "Engkoh Kie"
Tubuhnya dengan cepat meluncur kearah mana lenyapnya bayangan tubuh Yoe Sim Jien tadi, tapi hutan yang lebat tetap sunyi, bayangan tubuh gadis misterius itu lenyap tak berbekas.
Ia merasa murung dan kesal... hatinya jadi bimbang dan kacau .. tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Dengan tanpa tujuan ia berputar dalam hutan itu mencari dan mengejar secara membuta se-olah2 baru saja kehilangan suatu benda yang disayanginya, seperti orang bodoh Tonghong Hwie berputar kesana kemari.
sambil berlari telinganya mendengung tiada hentinya kata2 dari Yoe simjlen tadi: "Bukankah kau amat mencintai dirinya??" "Aku tak akan merebut dirinya" "Kau tidak cemburu dan iri hati"
Suatu perasaan bergidik yang tak tahu dari mana munculnya tiba2 menyerang hatinya, ia semakin kalap dan jeritnya:
"Tidak bisa, aku tak dapat kehilangan dirinya, aku tak bisa hidup tanpa dia.."
"Nona Tonghong sedari dulu terlalu romantis akan membawa bencana bagi diri sendiri mengapa kau tidak bertindak cerdik dan memutuskan tali itu"
serentetan suara yang dingin tapi membawa kasih sayang berkumandang dari sisi tubuhnya.
Dengan hati terperanjat Tonghong Hwie melongok kesana kemari, tetapi tiada seorang pun yang ditemukan, dari suara pembicaraan orang itu jelas dia adalah seorang perempuan tapi bukanlah Yoe Sim Jien yang barusan berlalu.
Lalu siapakah dia?? dari mana pihak lawan bisa tahu akan persoalan yang sedang dipikirkan dalam hatinya?"
Belum sempat ingatan kedua berkelebat dalam benak pengemis cilik itu, suara tadi berkumandang datang:
"Nona Tonghong, sekarang dia masih belum tahu kalau kau adalah seorang gadis, cintamu hanya sepihak lebih baik mundurlah lebih dahulu sebelum masuk jurang, kalau tidak akibatnya sungguh menakutkan sekali"
suara itu seolah2 muncul dari tempat dekat namun dalam kenyataan jauh sekali, membuat orang sukar untuk meraba dengan tepat dari mana asalnya suara tadi.
Tanpa terasa seluruh bulu kuduk ditubuh Tonghong Hwie berdiri, tegurnya dengan suara gemetar:
"Sii. .siapa ...siapa siapakah kau??".
"Aku adalah Sun Han Jin".
"siapa ??? manusia yang kehilangan sukma??"
"Benar, aku adalah si manusia yang kehilangan sukma "
Tonghong Hwie semakin ketakutan, ia merinding dan merasa hatinya tercekat.
Baru saja perempuan misterius "Yoe sim Jin" orang yang kehilangan sukma, bahkan orang itu mengetahui begitu jelas mengenai asal usul serta seluk beluknya, ia tak percaya kalau hal ini adalah suatu kenyataan sebab peristiwa ini sangat aneh dan diluar dugaan.
Ia merasa rahasia asal usulnya belum pernah diceritakan kepada siapapun, terhadap Han Siong Kie saudara angkatnya pun ia cuma mengatakan namanya saja, disamping itu iapun merasa andaikata ia tidak mengatakan kepada siapapun maka tak seorang manusia didunia kangouw akan mengetahui tentang asal usulnya.
Tapi sekarang Yoe sim Jin serta su HanJin berhasil mengetahui tentang kegadisannya, serta berhasil menebak pula dengan jitu akan rahasia hati yang sedang dipikirkan, kejadian ini membuat gadis itu tidak habis mengerti dan merasa seram. Akhirnya sambil mengeraskan kepala ia bertanya:
"Kenapa kau dinamakan orang yang kehilangan sukma??"
"Sebab aku adalah seorang manusia yang sudah kehilangan sukmaku".
"Sudah kehilangan sukma bukankah itu berarti bahwa kau sudah jadi setan".
"Tidak aku masih mempunyai badan kasar dan jantungku masih berdenyut aku tetap seorang manusia"
"Kalau manusia yang sedang berbicara mengapa tau tidak unjukkan diri??"
"Aku tidak merasa berkepentingan untuk unjukkan diri"..
"Lalu barusan apa yang kau katakan??".
"Menasehati dirimu, janganlah masuk jurang secara nekad sebelum hancur total lebih baik mundur secara teratur".
"Kau suruh aku hapus bayangan Han Siong Kie dari dalam benakku?? dan tidak lagi memikirkan dirinya?".
"Tidak. aku cuma berharap agar kau bisa menguasai rasa cintamu dengan pikiran yang sehat andaikata kau tak mau mendengarkan nasehatku, maka suatu hari kau akan hanyut dan tenggelam ditengah samudra cinta, sedang orang yang kau cinta ipun akan mengalami nasib yang sama" "
sekujur badan Tonghong Hwie gemetar keras, dengan penuh penderitaan ia berseru: "sebetulnya apa tujuanmu?? dalam hidupku terasa hambar tanpa kehadiran dirinya."
"Nona Tonghong, apa yang kau alami sekarang itu baru taraf pertama dari suatu penderitaan, kau harus menerimanya dengan keberanian yang paling besar. sekarang yang harus merasakan penderitaan itu hanya kau seorang, tapi dikemudian hari kalian berdualah yang akan mengalaminya bersama."
"Tapi. ..kenapa?""
"Perkawinanmu dengan dirinya akan merupakan suatu tragedi yang paling menyedihkan."
"Aku bertanya, kenapa??"
"Penjelasanku hanya bisa diberikan sampai disini saja, soal lain maaf kalau tak bisa kujawab"
"Tidak bisa aku tak dapat kehilangan dirinya" teriak Tonghong Hwie sambil menggertak gigi.
"Cinta adalah suatu pengorbanan bukan suatu penjajahan."
Tonghong Hwie tertegun, tiba2 sambil tertawa dingin serunya:
"Tidak salah cinta adalah pengorbanan, tetapi bukan pengorbanan yang membabi buta, kalau ucapanmu memang benar dan merupakan kenyataan, setelah menemui diriku mengapa kau tak berani unjukkan diri? dan mengapa kau tidak mengutarakan alasannya, aku menganggap kau "su Hun Jin" orang yang kehilangan sukma mempunyai maksud2 lain."
"Kukatakan kepadamu, apa yang kau harapkan tak nanti akan kulakukan"
"Dikemudian hari kau bakal menyesal."
"selamanya aku tak akan merasa menyesal."
Diluar Tonghong Hwie berkata begitu, dalam hati diam2 bergidik. Tiba2 satu ingatan berkelebat didalam benaknya hingga membuat gadis itu tanpa terasa tercekat dan gemetar keras. Apakah maksud ucapan yang diutarakan su Hun Jin adalah tentang soal itu?? benar, akibatnya memang mengerikan sekali. .
Terdengar orang yang kehilangan sukma ini menghela napas panjang, katanya:
"Nona Tonghong, kejadian yang berlangsung dikolong langit kadang kala jauh berbeda diluar dugaanmu."
"Bolehkah aku mengajukkan beberapa buah pertanyaan kepadamu??" tanya Tonghong Hwie kemudian dengan nada suara yang jauh lebih lembut.
"Boleh, tetapi hanya dalam batas2 lingkungan saja, aku tak akan membuat kau merasa kecewa."
"Kau mengatakan, bahwa Han Siong Kie amat membenci kaum wanita, maka kau melarang aku mengadakan hubungan dengan dirinya."
"Tidak. kau keliru" tukas su Han Jin dengan cepat. "Rasa bencinya terhadap kaum wanita hanya suatu gejala yang sementara saja, tatkala penyebab dari rasa bencinya itu sudah lenyap maka ia dapat merubah pandangannya yang keliru itu, sebab dia adalah manusia yang terdiri dari darah dan daging, ia tetap memiliki perasaan benci maupun cinta"
Tonghong Hwie merasakan jantungnya berdebar keras, ia terpengaruh oleh emosi dan hatinya terasa amat tergetar, gadis itu tak berani mengajukan pertanyaan selanjutnya karena ia takut oleh jawaban yang bakal didengarkan, tapi... akhirnya ia tak tahan dan bertanya juga:
"Apakah disebabkan karena dendam??? "
"Bukan".
"Maksudmu bukan karena soal dendam??" hampir saja Tonghong Hwie tidak mempercayai perkataan itu tetapi si Hun Jin telah mengulangi kembali jawabannya "Bukan soal dendam".
-ooo0ooo-
Tengkorak Maut
Oleh : Tjan ID
Jilid 6
JAWABAN ini benar2 berada diluar dugaannya dengan perasaan tajamnya sebagai seorang wanita tercetus kembali satu pertanyaan dari mulutnya: "Apakah disebabkan karena soal cinta?? ia sudah ada yang punya "
"juga bukan. "
Ketegangan yang mencekam hati Tonghong Hwie mulai mengendor, tapi dengan nada bimbang dan tidak habis mengerti kembali ia bertanya : "Lalu apa sebabnya???"
"Bukankah sudah kukatakan tadi bahwa kadangkala kejadian yang berlangsung dikolong langit jauh diluar dugaan orang"
"Jadi maksudmu kejadian ini adalah suatu kejadian diluar dugaan. "
"Bukan kejadian diluar dugaan tapi sudah merupakan suatu kenyataan yang tak dapat di-bantah2 lagi dan kenyataan inilah yang mungkin berada diluar dUgaanmu"
"Aku tidak percaya " jerit Tonghong Hwie keras2.
"Tentu saja pada saat ini kau tidak percaya, tapi menanti kau mempercayai akan kejadian ini, tragedi yang menyedihkan sudah terjadi".
"Kau maksudkan suatu tragedi?? " tanya Tonghong Hwie dergan suara gemetar.
"Tidak salah, suatu tragedi yang paling mengenaskan sepanjang sejarah manusia"
"Kau.. dari mana kau bisa tahu?? "
"Aku tak akan beritahu kepadamu.. soal ini tak mungkin kuberi tahukan kepadamu"
Air muka Tonghong Hwie berkerut kencang, dengan wajah penuh penderitaan ia bergumam:
"ooooh... tidak tidak mengapa?? mengapa ini musti terjadi??.. tidak tak mungkin hal itu jadi kenyataan, tidak mungkin, aku tak dapat kehilangan dirinya..".
"Nona Tonghong, seandainya pada saat ini dia sudah mati diujung telapak Tengkorak Maut, bagaimanakah sikapmu??"
Tonghong Hwie tercekat setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya ia menjawab dengan nada sedih:
"Aku tak akan hidup seorang diri dikolong langit "
"Aaaai terkutuk"
suara itu mendadak sirap dan lenyap tak terbekas.
"Eeeei... su Hun Jin, aku masih ada pertanyaan hendak diajukan kepadamu. su Hun Jin. ..su.Hun Jin...."teriak Tonghong Hwie keras keras.
Tapi tiada jawaban yang kedengaran lagi, orang yang kehilangan sukma telah pergi tanpa pamit tapi bayangannya justru sudah menanamkan suatu bayangan gelap yang paling menakutkan didasar hati kecil gadis cilik ini.
Dengan badan lemas tak bertenaga Tonghong Hwie bersandar disisi pohon, bagaikan baru saja mengalami suatu mimpi yang ngeri dan menyeramkan, ia mengenang kembali setiap patah kata dari su Hun Jin, ia membayangkan kembali kegantengan serta kegagahan saudara angkatnya Han Siong Kie ...kemudian membayangkan pula bahwa suHun Jin adalah seorang wanita, agaknya ia sejalan dengan perempuan misterius yang mengaku sebagai Yoe sim Jim.
Maka iapun mengambil kesimpulan didalam hatinya, jelas kesemuanya ini adalah suatu rencana yang paling tak tahu malu, dan jelas hendak merebut Han Siong Kie dari tangannya.
Tetapi. ..kembali muncul persoalan dalam hatinya, mengapa Yu sim Jin serta su Hun Jin bisa mengetahui rahasianya dengan begitu jelas?? disamping itu mengapa kemunculan Yu sim Jin bisa begitu kebetulan dan tepat pada saatnya untuk menolong Han Siong Kie?
suatu tanda tanya besar suatu teka teki yang diliputi misteri dan amat memusingkan kepala.
Malam yang gelap telah mencekam seluruh jagat, cahaya bintang muncul dari balik celah-celah daun memancarkan sinarnya yang redup.
Dalam keadaan begini yang dipikirkan Tonghong Hwie hanyalah engkoh Kie-nya, ia tidak memperdulikan malam yang gelap, pakaian yang robek terkait ranting dan udara yang dingin.
Gadis itu berjalan..berjalan terus untuk menemukan jejak kekasih hatinya.
Sementara itu Han Siong Kie yang terhajar luka prah oleh pukulan maut si Tengkorak Maut seketika jatuh tak sadarkan diri, ia merasa bahwa jiwanya pasti akan lenyap pada saat itu.
Menanti ia mendusin kembali dari pingsannya, pemuda itu menemukan bahwa dirinya sedang berbaring di dalam sebuah gua, rasa sakit yang menyiksa tubuhnya telah lenyap tak berbekas. Ingatan pertama yang segera berkelebat di dalam benaknya adalah:
“Aku masih hidup!”
Sementara bau wangi yang tawar berhembus masuk ke dalam hidungnya..
Perempuan!
Oooh…kembali aku sudah ditolong oleh seorang perempuan!
Pertama kali ketika ia terhajar masuk kedalam sungai oleh Tengkorak Maut, Go Siau Bie telah menyelamatkan jiwanya, hal ini membuat hatinya sangat menderita sebab ia membenci kaum wanita tapi justru wanitalah yang telah menyelamatkan jiwanya.
Dan kini, kejadian tersebut kembali terulang!
Dengan cepat ia meloncat bangun dan bangkit berdiri….
oooOOOooo
BAB 12
PADA Jarak kurang lebih beberapa tombak dimulut gua berdiri sesosok bayangan putih yang membelakangi dirinya.
Pelbagai ingatan segera berkelebat di dalam benak Han Siong Kie, akhirnya ia tak tahan dia buka suara:
"Apakah nona yang telah menolong diriku??"
"Boleh dibilang begitu, boleh dibilang pula bukan" jawab gadis itu dengan suara yang merdu, bahkan nada suara itu amat dikenal olehnya.
"Apa maksud ucapanmu itu?? " tanya Han Siong Kie dengan nada tertegun.
"Kau telah diselamatkan adik angkatmu Tonghong Hwie dari medan pertarungan, kemudian akulah yang membawa dirimu datang kemari, setelah itu seseorang yang lain mengobati luka yang kau derita"
Sepasang alis Han Siong Kie kontan berkerut, ia tidak menyangka kalau urusan itu diliputi oleh liku2 yang begitu banyak. sesudah berpikir sebentar kembali ia bertanya: "siapakah yang dimaksudkan oleh nona?"
"Orang yang kehilangan sukma"
"Orang yang kehilangan sukma??" ulang pemuda itu dengan hati keheranan.
"Sedikitpun tidak salah"
"Apakah dia adalah seorang angkatan tua didalam dunia persilatan?"
"Boleh dibilang begitu"
"sekarang dimanakah tokoh sakti itu?"
"sudah berlalu sedari tadi"
"Nona, kau adalah...."
Gadis berbaju putih itu lambat2 putar badan dengan jari tangannya yang halus ia tarik kain kerudung cutihnya lebih kebawah lalu tertawa merdu dengan suara yang lengking.
"Hiihh...hiihhh... hiihhh... kau benar2 seorang pelupa bukankah kita pernah bercakap-cakap?? "
Diungkap tentang persoalan itu Han Siong Kie segera teringat kembali siapakah gerangan gadis ini, jantungnya segera berdebar keras serunya dengan penuh emosi: "Kalau dugaanku tidak salah maka nona pastilah Yu sim Jin siorang yang ada maksud???"
"Dugaanmu tepat sekali"
Dalam hati kecil Han Siong Kie sebera muncul kembali tingkah laku Yu sim Jin yang mencurigakan itu dia ingin membuktikan serta kesangsian yang menyelimuti dalam benaknya, pertama kali ia berjumpa muka dengan gadis misterius ini yang terlihat hanyalah bayangan punggung yang samar dan didalam perjumpaannya kali ini mereka hanya dihalangi oleh selapis kain kerudung yang tipis.
Apakah cantik atau jelek raut wajah dibalik kain kerudung itu ia tak ingin menebak maupun menduga sebab dalam pandangannya perempuan adalah racun dunia ia benci dan mendendam terhadap setiap perempuan yang ada dikolong langit.
setelah hening beberapa saat lamanya, iapun bertanya kembali: "orang yang kehilangan sukma itu pria atau wanita??".
"Wanita".
"Oooh..." Han Siong Kie berseru tertahan, suatu perasaan yang sangat tak enak menyelimuti benaknya, untuk kedua kalinya ia telah berhutang budi bahkan berhutang budi terhadap seorang wanita.
"Darimana nona bisa tahu kalau aku terluka hingga membawa aku datang kemari untuk mendapat pengobatan dari orang yang kehilangan sukma??..."
"oooh, tentang soal ini?? dikemudian hari kaubakai tahu sendiri"
"Nona, rupanya dalam segala persoalan apapun kau tidak ingin memberitahukan kepadaku?..".
"Dikemudian hari mungkin akan kukatakan kepadamu, tapi sekarang hal itu tak mungkin kulakukan, sebab hal itu hanya akan merugikan dirimu dan sama sekali tak ada manfaatnya"
"Bukankah nona pernah menyampaikan berita tentang terjadinya penghianatan dalam tubuh Kay-pang kepada si padri dari utara?"
"Tidak salah, bahkan akupun telah menyembuhkan luka yang diderita pengemis dari selatan ketika ia menggeletak didalam kuil bobrok."
sekarang Han Siong Kie baru mengetahui apa sebabnya luka yang diderita pengemis selatan secara tiba2 telah sembuh seperti sedia kala, tapi dengan adanya kejadian ini persoalan yang membingungkan hatinya makin menebal, hingga akhirnya tak tahan lagi ia berkata:
"Bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu??"
"Aku hanya melaksanakan tugas atas perintah orang lain, mungkin aku tak dapat banyak memberikan keterangan kepadamu."
"Kau lakukan tugas atas perintah siapa?"
"Orang yang kehilangan sukma."
"Jadi kalau begitu, semua perkataan yang nona sampaikan kepadaku tempo dulu juga atas perintah dari orang yang kehilangan sukma??"
"sedikitpun tidak salah."
"Bolehkah aku berjumpa dengan orang yang kehilangan sukma?"
"Tidak boleh"
"Kenapa??? kenapa aku tak boleh bertemu dengan orang yang kehilangan sukma??"
"Sebab belum tiba saatnya"
Han Siong Kie semakin di buat sangsi dan tuk habis mengerti sebenarnya apa hubungan antara dia dengan orang yang kehilangan sukma? kenapa ia begitu jelas mengetahui sebala sesuatu mengenai dirinya, apakah maksud tujuannya?.
Ia merasa andaikata jejak seorang yang kehilangan sukma berhasil diketahui mungkin ia akan berhasil meraba atau mendapatkan sedikit keterangan sebab persoalan itu bisa ditanyakan kepada sipengemis dari selatan dengan pengalaman serta pengetahuannya yang luas mungkin banyak keterangan yang berhasil ia peroleh. sesudah termenung beberapa saat lamanya maka iapun bertanya lagi:
"Tahukah nona bagaimanakah basil pertarungan antara pengemis dari selatan serta padri dari utara melawan si Tengkorak Maut"
"Tahu, mereka berhasil lolos dari lobang jarum"
"Apakah si Tengkorsk Maut telah melepaskan mereka."
"Tidak kemunculan seorang dedengkot dari Kay pang secara mendadak telah mengejutkan si Tengkorak maut hingga gembong iblis itu kabur"
Han Siong Kie amat terkejut, jago lihay macam apakah dari Kay pang itu hingga si Tengkorak maut yang tersohor akan kelihayannyapun bias kabur terbirit2. siapakah jago lihay itu?? iapun segera bertanya.
"Song chiat Koay yang telah lenyap sejak empat puluh tahun berselang, dia adalah paman guru si pengemis selatan.
"Oooh. bukankah jago lihay itu telah berusia diatas ratusan tahun??"
"Dugaanmu iitu tepat sekali"
Tiba2 satu ingatan aneh muncul didalam benaknya. kalau memang song Thiat Koay sanggup membuat kabur si Tengkorak Maut sebelum munculkan diri, berarti tenaga lwekang yang dimilikinya tentu sangat lihay, andaikata ia dapat mengangkat dirinya sebagai guru.
sejak ia berhasil mendapatkan hawa murni yang disalurkan kura2 sakti kedalam tubuhnya lalu memperoleh pula ilmu silat peninggalan Leng Koe siangjien, seharusnya kepandaian silat yang dimilikinya sudah terhitung sangat lihay, tapi dalam kenyataan ia masih belum sanggup untuk menerima sebuah pukulan dari si Tengkorak maut.
Dari sini bisa dibayangkan kekuatan tubuh yang dimiliki manusia ampuh dari Kay pang itu pastilah sudah mencapai puncak yang tak terhingga.
Pemuda ini menyadari bahwa Yu sim Jin orang yang ada maksud tak nanti memberitahukan apa2 kepadanya, tetap berada disitu berarti cuma membuang waktu dengan percuma, ia segera mengambil keputusan untuk mencari jejak pengemis dari selatan lebih dahulu setelah itu baru mencari tahu asal-usul dari "orang yang kehilangan sukma" Berpikir sampai disini iapun segara memberi hormat sambil berkata:
"Budi kebaikan nona akan kuingat selalu di dalam hati, nah... sampaijumpa lagi dikemudian hari."
"Kau .... kau hendak pergi?"
"Benar oooh... masih ada satu pertayaan lagi, sekarang adik angkatku Tonghong Hwie berada dimana???"
"Mungkin dia masih menunggu kedatanganmu di tepi hutan sebelah depan sana"
Han Siong Kie merasa amat terharu oleh sikap adik angkatnya Tonghong Hwie yang begitu memperhatikan dirinya, cinta kasih yang melebihi saudara sendiri ini membuat si anak muda tersebut ingin sekali cepat2 menemukan dirinya.. "saudara, tunggu sebentar" si orang yang ada maksud itu berseru.
"Masih ada perkataaa apa lagi yang hendak nona sampaikan kepadu???"
"Bukankah didalam sakumu terdapat separuh dari sarung tangan Buddha Hoed Jiu Poo Jit.. "
Air muka Han Siong Kie berubah hebat, dengan hati terperanjat ia mundur satu langkah ke belakang, bentaknya:
"Dari mana kau dapatkan benda mustika itu??? "
"Kau ingin berbuat apa??".
"Tak usah tebang dan jangan kuatir kalau aku ada maksud menginginkan benda itu, sewaktu kau masih tak sadarkan diri tadi benda tersebut telah kudapatkan. Ketika si orang yang kehilangan sukma sedang mengobati lukamu tadi, secara kebetulan saja ia menemukan bahwa kau membawa benda mustika dari dunia persilatan"
"Kalau memang begitu kuberitahukan kepadamu, benda itu adalah hadiah dari mendiang guruku"
"Siapakah gurumu???"
"Tentang soal ini maaf kalau aku tak dapat memberitahukan kepadamu"
"Baiklah kalau kau tidak ingin mengatakan, akupun tak akan memaksa. Cuma ada satu hal yang hendak kukatakan kepadamu, janganlah membiarkan benda mustika itu diketahui oleh orang Bu lim, sebab hal itu akan memancing datangnya pertikaian didalam dunia persilatan"
"Kalau nona tidak mengatakan kepada orang lain, tentu saja tak seorangpun yang akan mengetahui akan peristiwa ini"
"Orang yang kehilangan sukma suruh aku menyampaikan pula sepatah kata kepadamu"
"Apa yang dia katakan???
"Dia minta kau segera pergi mengunjungi pemilik dari Benteng maut"
"Apa?? dia suruh aku pergi ke benteng Maut??
Orang yang ada maksud mengangguk tanda membenarkan.
"Bukankah nona pernah menyampaikan pesan kepadaku, bahwa ia melarang aku menuntut balas benteng maut ??" seru Han Siong Kie
"Aku bukan maksudkan menuntut balas, ia minta kau pergi berkunjung kepada pemilik Benteng Maut"
"Berkunjung sih pasti akan kulakukan, cuma tidak akan kulakukan pada saat ini."
"Kenapa?? "
"Aku harus menanti sampai aku memiliki kekuatan untuk menghancurkan benteng Maut, saat itulah aku pasti akan pergi kesana"
"Ia minta kau sekarang juga pergi berkunjung kesitu, kunjunganmu akan mendatangkan manfaat yang besar bagi usahamu untuk membalas dendam".
"Apakah ia memberikan penjelasan2nya?"
"Tidak"
"Kalau begitu maaf, aku tak bisa menuruti keinginanmu itu."
"Tahukah kau bahwa orang yang terlalu keras kepala akan mengakibatkan suatu mala petaka bagi dirimu sendiri"
"Selamanya aku melakukan pekerjaan menuruti keinginan hatiku, orang lain tak usah terlalu pusing kepala memikirkan diriku" seru Han Siong Kie dengan suara dingin, habis berkata ia enjotkan badan dan menerobos keluar lewat sisi tubuh orang yang ada maksud yang sedang berdiri di mulut gua.
"Budi kebaikan atas pertolongan yang telah kau berikan kepadaku suatu ketika aku pasti akan membalasnya"
Dengan gerakan tubuh yang sangat cepat laksana kilat ia berlalu dari situ.
"Heei...Han Sionng Kie" teriak orang yang ada maksud dengan suara keras. "Aku masih ada perkataan yang hendak kusampaikan kepadamu Han Siong Kie, kau jangan pergi dulu"
Tapi anak muda itu tetap tidak menggubris, tububnya semakin cepat meluncur kearah hutan tidakjauh dari situ.
Dalam hutan disisi sebuah pohon besar duduk melingkar bayangan manusia yang kecil mungil, Han Siong Kie yang melihat bayangan tubuh itu hatinya segera bergerak tubuhnya semakin cepat berkelebat menuju ke arah itu.
Tampaklah Tonghong Hwie adik angkatnya duduk bersandar dipohon dengan mata terpejam rapat, tetesan darah kental masih menodai ujung bibirnya...
Han Siong Kie amat terperanjat buru2 ia berjongkok kesisi tubuhnya sambil berseru dengan nada kuatir: "Adik Hwie... adik Hwie... kenapa kau?"
Mendengar teriakan itu Tonghong Hwie membuka matanya kembali setelah mengetahui siapakah yang berdiri dihadapannya ia jadi sangat kegirangan:
"Engkoh Kie, akhirnya engkau kembali juga ke sisiku, aku mengira selamanya tak akan bertemu lagi dengan diri mu.. "
"Apa??? kau bilang apa???..."
"Apakah luka yang kau derita telah sembuh??"
"sudah, aku telah sehat kembali seperti sedia kala"
"Apakah si orang yang ada maksud yang telah menyembuhkan lukamu?."
"Bukan, si orang yang kehilangan sukma yang telah mengobati lukaku"
"Apa??? orang kehilangan sukma??" jerit Tonghong Hwie amat terkejut.
Tiba2 ia menyadari akan kekhilapannya hingga tak sanggup membendung golakan dalam hatinya, cepat pengemis cilik ini berusaha untuk menenangkan hatinya.
"Dia...dia... apa yang telah dia katakan kepadamu?" tanyanya kembali setelah merandek beberapa saat.
“Tidak. aku sama sekali tidak bertemu dengan dirinya, bahkan bayangan tubuhnyapun tak sempat kulihat. orang yang ada maksudlah yang telah mengatakan kepadaku. "
"Ooooh... " sampai disini Tonghong Hwie baru dapat menghembuskan napas lega.
"Adik Hwie, apakah kau kenal dengan orang kehilangan sukma??" mendadak Han Siong Kie bertanya.
"Tidak... tidak kee.. kenal. cuma. cuma..." teringat akan perkataan yang telah disampaikan orang yang kehilangan sukma kepadanya, tanpa terasa seluruh bulu kuduk di tubuh Tonghong Hwie pada bangun berdiri, ia tak berani mengingatnya kembali sebab gadis ini merasa ngeri terhadap akibatnya.
sementara itu Han Siong Kie yang melihat sikap Tonghong Hwie yang gelagapan dan tidak tenang jadi tercengang bercampur keheranan, buru2 serunya. "Adik Hwie, cuma apa???"
"Tidak apa2, setelah kau dibawa pergi orang yang ada maksud, ia telah menyampaikan pesan kepadaku agar tetap menanti dirimu disini tanpa menunjukkan dirinya, karena itu aku sendiripun tak tahu macam apakah manusia yang menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma itu."
Mendadak pemuda itu teringat kembali akan darah kental yang menodai bibir adik angkatnya itu, ia lantas bertanya: "ooh adik Hwie, apakah kau terluka?" Tonghong Hwie mengangguk.
" Kau terluka ditangan siapa?? kembali pemuda itu bertanya.
"Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing"
"Apa?? kau dilukai oleh si malaikat berhawa dingin Mo siu Ing?? seru Han Siong Kie terperanjat.
"Benar...".
"Hmm suatu hari aku pasti akan menghajar dirinya sampai muntah darah untuk melampiaskan rasa sakit hatimu, kemudian akan kubunuh dirinya guna membasmi bibit bencana dari muka bumi" Tonghong Hwie tersenyum.
"Engkoh Kie, apakah kau sanggup menangkan dirinya??" ia bertanya. Mula2 Han Siong Kie tertegun, lalu dengan alis berkerut jawabnya: "Pokoknya suatu saat aku pasti akan berhasil oooh... benar, adik Hwie."
"Aku sudah beberapa kali menyaksikan kau bertarung melawan orang, pukulan telapak maupun tusukan senjata sama sekali tak dapat melukai dirimu, sebenarnya ilmu silat sakti apakah yang kau miliki?"
"Tentang soal itu... aku... aku.. "bicara sampai disitu ia segera menyingkap pakaiannya yang robek hingga nampak kaos putih yang berada dibalik bajunya. "Aku telah andalkan benda inilah hingga kebal terhadap pukulan maupun tusukan senjata"
"Benda apa sih itu?? "
"Kaos mustika pelindung badan tapi jangan kau katakan kepada siapapun lho kalau aku memiliki benda mustika ini"
"Aduuh aku hendak mengatakan kepada siapa?? lalu apakah kaos mustika pelindung badan itu mempunyai kegunaan yang lebih besar ?"
"Tentu saja " jawab Tonghong Hwie sambit tersenyum.
"Aah kau sedang membohongi diriku?? "
"Tidak dari mana kau bisa mengatakan begitu ??"
“Aku memang memiliki kaos mustika pelindung badan, mengapa saat itu kau bisa terluka ditangan si Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing??"
"Ooooh, kiranya soal itu, kau musti tahu bahwa tenaga dalam yang ia miliki sangat lihay sekalipun kaus mustika pelindung badan yang kumiliki dapat kebal terhadap pukulan maupun tusukan senjata tetapi kegunaannya pun ada batasnya, andaikata aku bertemu dengan orang yang memiliki senjata mustika atau orang mememiliki tenaga dalam yang amat sempurna tentu lain ceritanya tetapi bicara sesungguhnya andaikata aku tidak andalkan kaus mustika pelindung badan ini mungkin sedari tadi jiwaku telah melayang diujung telapak si Malaikat berhawa dingin"
"Aku dengar katanya si Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing selamanya cuma bergebrak sebanyak tiga jurus saja melawan orang lain, bilamana lawannya sanggup menerima tiga buah pukulannya tanpa menemui ajalnya itu berarti bahwa ia telah lolos dari malaikat
elmaut??"
"Tidak salah, dan akupun sanggup menerima tiga buah pukulannya"
"Apakah kau ada permusuhan dengan dirinya?? kenapa ia turun tangan terhadap dirimu???"
“Setiap tahun si Malaikat hawa dingin pasti satu kali munculkan diri didalam dunia persilatan, ia baru akan berhenti membunuh bila korbannya telah mencapai seratus orang, setiap orang Bu lim yang berjumpa dengan dirinya berarti maut baginya” sambil berkata Tonghong Hwie berusaha untuk bangkit berdiri, tetapi baru saja tubuh bagian atasnya di angkat separuh ia sudah menjerit kesakitan dan berbaring kembali diatas tanah.
Han Siong Kie yang menyaksikan kejadian itujadi kaget, buru2 serunya:
"Adik Hwie, biarlah aku periksa dulu keadaan lukamu kemudian baru kubantu dirimu untuk menyembuhkan luka dalammu itu"
sambil berkata tangannya segera bekerja hendak melepaskan pakaian yang dikenakan Tonghong Hwie.
Gadis itu jadi panik, buru2 ia halangi tangan Han Siong Kie sambil katanya "Tak usah Tak usah ....."
"Heei.. adik Hwie, apa maksudmu?? tanya Han Siong Kie dengan wajah tertegun.
Tonghong Hwie tertawa jengah, dengan ter sipu2 katanya:
"Aku mempunyai kepandaian untuk menyembuhkan lukaku sendiri.."
"Tapi tiada halangan toh kalau kuperiksa dulu keadaan lukamu itu?? memangnya kau adalah seorang gadis."
"Tidak" seru Tonghong Hwie.
Ucapan ini sangat menyakitkan hatinya, membuat jantungnya berdebar keras dan wajahnya berubah jadi merah padam tapi berhubung gadis itu memakai obat penyaru yang tebal lagipula tertutup oleh lemak maka perubahan wajahnya ini tidak sampai di ketahui oleh Han Siong Kie.
sebenarnya gadis ini bersifat polos dan supel, ia pandai bergaul dan pandangannya luas. sejak bergaul dengan Han Siong Kie sikapnya semakin bebas dan tidak terhadang oleh sesuatu ganjalan apapun.
Tapi sejak rahasia kegadisannya dipecahkan oleh orang yang ada maksud, lalu "orang yang kehilangan sukma" pun mengatakan macam2, hal itu membuat sifatnya sama sekali berubah, perasaannya jadi amat halus dan mudah tersinggung.
Tentu saja pada saat ini ia tak dapat membocorkan rahasianya, sebab Han Siong Kie amat membenci kaum wanita, andaikata pemuda itu mengetahui bahwa dia adalah seorang gadis mungkin saja ia akan kabur dari sisinya. .
Bila hal ini sampai terjadi maka ia akan sangat menderita, pikirannya akan tersiksa, sebab sejak pertemuannya pertama kali gadis ini telah jatuh cinta kepadanya, ia telah mengambil keputusan untuk mempersembahkan dirinya untuk pemuda itu.
Tetapi, bayangan gelap lain yang amat menakutkan selalu menyelubungi hatinya, ucapan dari " orang yang kehilangan sukma masih mendengung terus disisi telinganya.
"Kau harus tahu diri dan mundur teratur sebelum terjerumus kedalam jurang kehancuran,selamanya terlalu romantis banyak akan mendatangkan penyesalan."
"Kenapa???" tanpa sadar ia berseru keras.
Han Siong Kie jadi melongo, ia segera menatap wajah adik angkatnya sambil bertanya dengan nada tercengang, "Adik Hwie apa yang kau katakan??"
"oooh tidak apa2. " sahut Tonghong Hwie terpatah-patah "sekarang aku akan mulai menyembuhkan luka dalamku dengan simhoat ajaran perguruanku, tolong kau suka melindungi keselamatanku."
"Mari biar kubantu dengan begitu bukankah kau tidak akan terlalu payah..???"
"Tidak bisa jadi, andaikata ada orang datang kemari, bukankah kemudian kita bakal celaka??"
Han Siong Kie tidak bisa berkata lagi, terpaksa ia mengangguk:
sambil menggertak gigi Tonghong Hwie sebera bangkit dan duduk bersila, kemudian ia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan untuk menyembuhkan luka yang sedang dideritanya.
Dengan tenang Han Siong Kie duduk menanti disamping, bayangan tubuh "orang yang ada maksud" gadis misterius itu terlintas kembali semua perkataan yang telah dia sampaikan "orang yang ada maksud" kepadanya, tetapi semakin dipikir ia merasa semakin bingung dan tak habis mengerti.
" orang yang ada maksud mengatakan, bahwa ia mendapat perintah dari orang yang Kehilangan sukma, untuk menyampaikan kata2 itu kepadanya, berarti persoalan "orang yang kehilangan sukma, tapi "su Hun Jin" suatu nama yang sangat aneh, siapakah dia?? Mengapa ia mengetahui seggla sesuatu mengenai dirinya dengan begitu jelas??
Mengapa orang itu secara sukarela datang mengobati luka yang sedang ia derita.
Mengapa orang itu selalu memperingatkan dirinya agar jangan menuntut balas terhadap Pemilik dari Benteng Maut.
Mengapa secara tiba2 ia minta dirinya pergi mengunjungi s ipemilik dari Benteng Maut??"
Sebenarnya apa latar belakang dari kesemuanya ini???
Semuanya merupakan tanda tanya yang besar baginya, teka teki yang memusingkan kepalanya.
Sementara Han Siong Kie masih termenung memikirkan persoalan itu, tiba2... sreet sreet suara langkah kaki manusia berkumandang dari tempat kejauhan.
si anak muda itu segera tersentak bangun dari lamunannya, dengan sorot mata yang tajam ia awasi arah dimana berasalnya suara itu, tapi hutan tersebut terlalu lebat, sulit baginya untuk dilihat.
Kian lama suara langkah manusia itu kian mendekat.
Han Siong Kie segera bangkit berdiri, tapi ketika dilihatnya dari ubun2 Tonghong Hwie mulai mengepulkan asap putih yang berarti semedinya telah mencapai pada puncaknya. ia segera batalkan niatnya untuk menengok asal mulanya suara tadi.
"Keparat cilik itu sudah terluka parah dan keadaannya payah sekali, setelah dibawa kabur oleh pengemis cilik itu jejaknya mendadak lenyap tak berbekas, padahal semua kantor cabang telah diperintahkan untuk melakukan penjagaan, masa ia bisa terbang ke langit."
"Aaah kebanyakan orang itu bersembunyi didalam hutan."
"Tapi kita toh sudah setengah harian lamanya melakukan pencarian tanpa hasil??"
"Baik atau buruk lebih baik kita geledah dulu seluruh hutan ini, kemudian baru pulang memberi laporan"
"Si manusia berwajah dingin telah membinasakan Jin Tongcu serta menggagalkan rencana kita .."
Dari pembicaraan tersebut Han Siong Kie segera mengenali sebagai suara dari antek2 perkumpulan Thian chee Kauw, lagi pula kedatangan mereka untuk menggeledah hutan dan mencari adik angkatnya, napsu membunuh seketika bergelora dalam tubuhnya ia berpikir:
"Sewaktu aku terluka di tangan Tengkorak Maut bukankah para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw telah berlalu, dari mana mereka bisa tahu akan terjadinya ini. sreeet sreeet sreeeet suara langkah kaki manusia kian lama bergerak kian mendekat, jaraknya tinggal sepuluh tombak dari tempat semula dan secara lapat2 dari kerumunan hutan nampak bayangan manusia bergerak mendekat. satu ingatan berkelebat dalam benak pemuda she Han itu pikirnya:
"Aku tak boleh membiarkan mereka mendekati sekitar ini, adik Hwie tak boleh terganggu konsentrasinya hingga buyar..."
Begitu teringat sampai disitu, badannya segera siap meloncat keluar dari tempat persembunyiannya :
Mendadak.. terdengar suara jeritan lengking yang ngeri dan menyayatkan hati
berkumandang memenuhi seluruh angkasa, membuat siapapun yang mendengar jadi ikut bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri
satu jeritan disusul oleh jeritan yang lain, bergema saling susul menyusul hingga sepuluh kali banyaknya.. kemudian suasana pulih kembali dalam kesunyian serta keheningan yang mencekam..
Han Siong Kie merasa amat terperanjat, cepat2 ia enjotkan badannya meluncur ke arah mana berasalnya suara jeritan ngeri tadi.. Tapi metelah melihat pemandangan yang terbentang dihadapannya, pemuda itu tertegun dan untuk beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun
-0000000-
BAB 13
TAMPAKLAH empat belas sosok mayat menggeletak malang melintang diatas permukaan tanah, keadaan mayat2 tersebut mengerikan sekali pada ubun2 masing2 korban nampaklah beras cengkeraman yang menghancurkan isi benak, ada yang menggeletak diatas genangan darah, ada pula yang bercampur baur dengan isi otak yang berhamburan di atas permukaan, keadaannya sangat menyeramkan hingga membuat pemuda kita jadi ngeri dan tercekat hatinya. Lama sekali Han Siong Kie tertegun gumamnya seorang diri: "Aaaah.. malaikat berhawa dingin Mo siu Ing pastilah perbuatannya.."
Dalam benaknya segera terlintas kembali pemandangan ngeri dihutan bunga Tho yang pernah dijumpainya belum lama berselang.
Membunuh orang begini kejam boleh dibilang sangat brutal dan melanggar perikemanusiaan. .
Para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw sebenarnya datang kehutan ini untuk mencari serta meringkus Tonghong Hwie bersama dirinya, siapa tahu mereka sudah dibunuh duluan oleh malaikat berhawa dingin.
Yang lebih aneh lagi ternyata tak nampak bayangan tubuh malaikat berhawa dingin Mo Siu Ing muncul ditempat itu, padahal jaraknya dengan tempat kejadian cuma terpaut sepuluh tombak belaka, tidak mungkin kalau jejaknya tak ketahuan olehnya. Dengan kekejian serta ketelengasan perempuan itu masa ia bisa dilepaskan begitu saja, suatu kejadian yang tak masuk diakal.
Mendadak kembali terdengar desiran angin tajam menyambar datang memecah angkasa. Han Siong Kie terkesiap dan segera menghimpun hawa murninya siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan Sreeeet Sreeett Sreeet empat sosok bayangan hijau dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata 2 melayang turun di tengah kalangan mereka bukan lain adalah empat orang diantara kakek tua berbaju hijau dari perkumpulan Thian chee Kauw yang belum lama berselang mengerubuti saudara angkatnya pengemis dari selatan.
Air muka Han Siong Kie seketika berubah jadi dingin membeku dengan sorot mata memancarkan cahaya buas ia tatap wajah ke empat orang kakek berbaju hijau itu tajam tajam.
Sementara itu ke empat orang kakek berbaju Hijau tadi sudah menyapu sekejap mayat mayat yang bergelimpangan diatas tanah kemudian sama2 menjerit kaget wajah mereka unjukkan rasa ngeri dan keder yang hebat.
Beberapa saat kemudian salah satu diantara ke empat orang kakek itu tiba2 menuding kearah Han Siong Kie sambil berseru:
"Manusia berwajah dingin sungguh tak kusangka kau adalah ahli waris dari malaikat berhawa dingin Mo siu Ing"
Han Siong Kie melengak tapi dengan cepat ia dapat memahami maksud ucapan pihak lawan, pastilah keempat orang kakek itu menaruh curiga bahwa dialah yang telah turun tangan keji membasmi anak buahnya. Dengan nada ketus ia segera bertanya: "Apa katamu??"
"Sungguh brutal dan kejam perbuatanmu tak nyana hatimu sekeji serigala.."
"Oooh, ulangi sekali lagi perkataanmu itu, kubacok kalian sampai modar.."
Keempat orang kakak berbaju hijau tadi serentak mendengus gusar, dengan tangkas mereka menyebarkan diri ke empat penjuru dan masing2 menempati satu posisi untuk mengepung si anak muda itu di tengah kalangan. Terdengar si kakek berwajah segi tiga tadi berkata kembali: "manusia berwajah dingin, hutang darah yang telah kau perbuatan pada hari ini..."
"Kentut busuk makmu" tukas Han Siong Kie sangat marah. "Pentang mata kalian lebar2 dan periksa dulu dengan jelas, siapa yang telah melakukan pembunuhan keji ini"
"Hmm kecuali kau, masa ada oraag lain yang mampu melakukan pembunuhan semacam ini??"
"Oooh, jadi kau bersikeras menuduh akulah yang telah menjagal cecunguk itu?"
"Bagus sekali kalau sudah berani membunuh orang, kenapa musti takut untuk mengakuinya"
Saking gusar dan mendongkolnya Han Siong Kie mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
"Haah haah....haah... kalau begitu anggap saja memang akulah yang melakukan pembunuhan itu, kalian mau apa??"
"Hutang darah bayar darah. Hutang nyawa bayar nyawa serahkan jiwa anjingmu"
"Huuh kalau memang kalian sudah bosan hidup, ayoh majulah berbareng..."
Kakek berwajah segi tiga itu membentak keras, sepasang telapaknya diayun kedepan secara berbareng, dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kearah depan.
Han Siong Kie menyadari bahwa kekuatan hawa murni yang dimiliki ke empat orang kakek berbaju hijau ini rata2 jauh lebih besar daripada sikupu2 warna warni Lie In Hiang, dalam dunia persiatan mereka biasa dianggap sebagai jago lihay kelas satu.
Maka dari itu melihat datangnya ancaman, pemuda she Han tak berani bertindak gegabah, dia segera menghimpun delapan bagian hawa murninya, sambil membentak keras: "Bangsat ? kau memang sudah bosan hidup "
Angin cukulan bagaikan gulungan ombak ditengah hembusan badai menggulung kedepan menyambut datangnva ancaman tersebut.
"Blaaam. ditengah ledakan dahsyat suara dengusan berat berpekik membumbung di tengah angkasa, dengan wajah pucat pias kakek berwajah segitiga itu mundur ke belakang dengan sempoyongan ....
Hampir pada saat yang bersamaan tiga gulung angin pukulan yang sangat mengerikan laksana guntur yang membelah angkasa meluncur ke depan dan mengancam tubuh pemuda itu dari tiga arah yang berbeda..
Rupanya sejak semula Han Siong Kie telah menduga kalau pihak musuh pasti akan turun tangan secara berbareng, karena itu sehabis memukul mundur si kakek berwajah segi-tiga, bagaikan sukma gentayangan dengan tangkas ia berkelit ke samping dan berdiri di tempat kakek berwajah segitiga tadi berada.
Tindakan yang sama sekali tak terduga ini membuat ketiga orang musuhnya jadi melongo, angin pukulan yang dilancarkan secara berbareng itupun segera mengenai sasaran kosong.
Han Siong Kie tidak berpeluk tangan belaka bersamaan dengan gerakan tubuhnya yang berkelit kesamping, sebuah pukulan yang maha dahsyat sekali lagi dilancarkan kearah depan.
Blaam.... kembali terdengar dengusan tajam berpckik di angkasa, kakek berbaju hijau yang tepat berada dihadapannya sebelum sempat tarik kembali pukulannya sudah termakan oleh dorongan angin puyuh yang melanda datang dari arah depan, tidak ampun lagi tubuhnya mencelat sejauh delapan depa kebelakang, darah segar muncrat keluar dari mulutnya, jelas ia sudah menderita luka dalam yang amat parah.
Menyaksikan kejadian ini, dua orang kakek yang lain jadi ngeri dan tercekat hatinya, dari serangan yang dilancarkan barusan mereka sudah tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki Manusia berwajah dingin jauh lebih tinggi satu tingkat daripada kekuatan dari pengemis Lam Kay.
Untuk beberapa saat lamanya mereka tak berani berkutik, apalagi turun tangan secara gegabah.
Pada dasarnya Han Siong Kie sudah menaruh rasa sentimen dan bencinya terhadap perkumpulan Thian chee Kauw, karena ibunya si siang Go cantik ong cui Ing telah kawin lagi dengan Thian chee Kauwcu ditambah pula rencana busuk mereka untuk mengangkangi perkumpulan Kay pang, membuat kebenciannya makin lama semakin menebal.
Dalam keadaan begini ia tak sudi mengampuni kedua orang korbannya, dengan kemarahan yang memuncak ia membentak keras:
"Kalian berduapun harus menerima sedikit pelajaran, agar di kemudian hari bisa tahu membawa diri"
Ditengah bentakan nyaring, sepasang telapaknya dibabat ke depan secara berbareng, secara terpisah dua gulung desiran tajam itu menyerang kedua orang kakek baju hijau itu.
Melihat datangnya ancaman yang demikian dahsyatnya, kedua orang kakek baju hijau itu tak berani menyambut dengan keras lawan keras... sreet. masing2 orang bergeser delapan depa ke arah samping, kemudian putar badan dan balas menyerang dari arah kiri dan kanan.
“Blaam Blaam” dua benturan keras bergeletar ditengah angkasa, kedua orang kakek itu sama2 terpukul mundur sejauh satu tombak lebih, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Han Siong Kie putar badan menubruk ke arah si kakek yang ada di sebelah kiri, jurus pertama dari ilmu pukulan kura2 sakti laksana kilat dilancarkan... "Modar kau"
Ditengah jeritan ngeri yang memekikkan telinga, kakek baju hijau yang berada di sebelah kiri sebera menggeletak ke atas tanah.
Kakek baja hijau yang ada di sebelah kanan jadi ketakutan setengah mati, ia merasakan sukmanya se akan2 terlepas dari raganya.
Dengan sebat Han Siong Kie putar badan ganti menyerang kakek baju hijau yang berada di sebelah kanan, jurus kedua dari ilmu pukulan kura2 sakti kembali dilancarkan.
“Blaam..” Ditengah benturan keras terselip jeritan ngeri karena kesakitan, sebelum kakek baju hijau itu sempat melihat jelas dengan cara apakah pihak lawanya turun tangan, tahu2 badannya sudah mencelat ke belakang sejauh satu tombak lebih. Tidak ampun ia muntah darah segar
Dalam waktu singkat ke empat orang kakek baju hijau itu telah diberesi oleh Han Siong Kle dengan gampang, hal ini membuat mereka jadi keder dan tak berani banyak bertingkah lagi.
Terdengar si kakek berwajah segi tiga berseru dengan wajah menyeringai seram:
"Manusia berwajah dingin, suatu ketika perkumpulan kami akan menuntut balas sakit hati ini kepada kalian guru dan murid"
Dengan gusar Han Siong Kie mendengus:
"Hmm kalau kau berani menjejerkan lagi namaku dengan si malaikat berwajah dingin, saat ini juga aku akan bereskan kalian berempat hingga menggeletak di atas genangan darah"
Tiba2... serentetan suara yang dingin dan merdu berkumandang datang dari arah belakang.
"Manusia berwajah dingin, apakah nama dari malaikat berhawa dingin Mo siu Ing terlalu memalukan dirimu"
Han Siong Kie amat terkejut ketika mendengar seruan itu dengan cepat ia berpaling ke belakang kemudian dengan kaget mundur dua langkah lebar kebelakang.
Pada jarak kurang lebih dua tombak dihadapannya berdirilah seorang perempuan cantik berusia setengah baya, begitu cantik raut wajah perempuan itu bagaikan bunga botan yang sedang mekar, ketika itu ia sedang memandang kearahnya dengan senyum dikulum.
Terhadap kaum wanita boleh dibilang pemuda ini merasa mang kesal dan benci, tetapi kecantikan wajah perempuan itu cukup membuat jantungnya berdebar keras dan wajahnya bersemu merah.
Wajahnya terlalu cantik dipandang, begitu cantik bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan, terutama sekali sepasang biji matanya yang bening dan jeli sungguh menawan hati. siapakah perempuan ini???
Betapa lihaynya orang ini, ternyata ia sanggup mendekati tubuhnya hingga jarak dua tombak tanpa dirasakan olehnya.
Sementara itu dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, keempat orang kakek berbaju hijau itu melingkari disisi kalangan dengan penuh ketakutan, tubuh mereka nampak agak menggigil menahan perasaan hatinya.
Perempuan cantik berusia setengah baya itu kembali tersenyum manis, begitu indah dan cantik bagaikan bunga yang baru mekar, untuk kesekian kalinya Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras.
Kalau ditinjau dari nada suaranya tadi, semestinya orang itu adalah seorang gadis muda belia, sungguh tak nyana usianya telah mencapai tiga puluh tahunan.
Dengan cepat Han Siong Kie berusaha keras untuk menenangkan hatinya, dengan wajah yang dingin segera tegurnya: "siapakah kau??"
"Aku?? perempuan cantik itu tertawa cekikikan, "Akulah si malaikat berhawa dingin Mo siu Ing"
Han Siong Kie amat terperanjat hingga untuk beberapa saat lamanya ia berdiri menjublak dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. seorang iblis perempuan yang tersohor namanya dikolong langit ternyata adalah seorang perempuan cantik bagaikan bidadari, sungguh suatu kejadian yang tak dapat dipercaya.
"Benarkah kau adalah malaikat berhawa dingin Mo siu Ing??? sekali lagi pemuda itu menegaskan.
"Ooooh... kau anggap aku sedang berbohong??.
Perkataan ini seketika membungkamkan mulut Han Siong Kie, ia semakin menjublak.
sementara itu keempat orang kakek berbaju hijau itu telah saling berpandangan sekejap. kemudian putar badan dan siap meninggalkan tempat itu... "Ayoh kembali bentak Mo siu Ing tajam.
Suaranya lengking, tajam lagi merdu tetapi bagi pendengaran ke empat orang kakek tua itu tidak lebih bagaikan jeritan malaikat elmaut, masing2 bergidik. dan tanpa sadar menghentikan langkahnya, dengan pandangan ngeri bercampur takut mereka sama2 awasi wajah malaikat perempuan itu.
"Hiih..hiiih..hiiih.. Thian chee sat sia delapan bintang dari perkumpulan Thian chee Kauw, kenapa cuma datang empat orang?? mana yang lain??" tegur Malaikat hawa dingin sambil tertawa merdu.
Sekarang Han Siong Kie baru tahu kalau ke empat orang kakek baju hijau yang berada dihadapannya sekarang adalah empat orang diantara delapan bintang dari perkumpulan Thian chee Kauw.
Sementara itu perempuan tadi merandek sejenak. lalu berkata lagi:
"Sebelum memperoleh ijin dari aku si malaikat hawa dingin, kalian berani tinggalkan seenaknya... Hmm..."
Dengusan berat yang diperdengarkan membawa pengaruh yang amat besar, ke empat orang kakek itu semakin ketakutan hingga keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Tetapi... anggap saja nasib kalian semua masih rada baik menurut kebiasaan aku tak akan membunuh lebih dari seratus orang, ke empat belas sosok mayat yang menggeletak diatas tanah kebetulan sudah genap mencapai angka seratus, itulah rejeki serta nasib baik untuk kalian..."
Sekarang Han Siong Kie baru tahu apa sebabnya ia bisa lolos dari tangan maut perempuan ini kiranya malaikat berhawa dingin telah membunuh korbannya genap sebanyak seratus orang.
"Tetapi " kembali perempuan itu meneruskan.
Ke empat orang kakek berbaju hijau itu tersentak kaget, rupanya perempuan itu belum selesai berbicara...
Sambil menuding ke arah Han Siong Kie ia meneruskan:
"Selamanya aku tidak suka mengganggu kesenangan orang, apakah engkoh cilik ini suka melepaskan dirimu atau tidak aku tak berani memutuskan"
Ke empat orang kakek itu sama2 alihkan sorot matanya ke arah Han Siong Kie, sekarang mereka baru tahu bahwa manusia berwajah dingin bukanlah anak murid dari malaikat hawa dingin.
Han Siong Kie mendengus dingin, bentaknya: "Cepat enyah dari sini "
"Kalian boleh pergi tinggalkan tempat ini" sambung malaikat hawa dingin.
"Cuma aku ingin titip perkataan buat ketua kalian, katakan saja seratus jiwa korban pada tahun mendatang akan kuselesaikan dari tubuh anggota2nya, karena tadi kalian telah berkata bahwa kamu semua hendak menagih hutang darah, ucapanmu tadi merupakan pantangan terbesar bagiku"
Han Siong Kie yang ikut mendengarkan perkataan itu diam2 merasa ngeri, ucapan yang mengerikan semacam itu ternyata diutarakan oleh perempuan cantik ini dengan nada yang enteng, se-akan2 dia tidak anggap membunuh manusia adalah suatu perbuatan yang mengerikan.
Empat orang kakek berbaju hijau itu tak berani membantah, dengan wajah pucat dan jantung berdebar keras mereka putar badan dan se-cepat2nya tinggalkan tempat itu.
Menanti bayangan tubuh mereka berempat telah lenyap dari pandangan, malaikat berhawa dingin Mo siu Ing baru menoleh ke arah Han Siong Kie sambil tegurnya:
"Manusia berwajah dingin, siapakah pengemis cilik yang sedang menyembuhkan luka dalamnya di situ??"
"Dia adalah adik angkatku" jawab pemuda itu cepat, sementara dalam hati diam2 merasa terperanjat, kiranya iblis perempuan itu sudah tahu kalau mereka berdua berada disitu.
"Ehmm, hebat juga saudaramu itu, ia sanggup menerima tiga buah pukulanku tanpa menemui ajalnya"
Ucapan ini seketika membangkitkan rasa dendam dan gusar dalam hati pemuda she Han itu, serunya ketus:
"Terima-kasih bunt hadiah yang telah kau berikan kepada saudara angkatku..."
"Kenapa sih??"
"Dan terima kasih pula atas hadiahmu untuk engkoh tua ku itu??".
"Pengemis dari selatan?"
Tiba2 Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing tertawa cekikikan hingga sekujur tubuhnya bergetar keras.
"Hiiih..hiiih..hiiih.. pengemis tua adalah engkohmu, pengemis cilik adalah adik angkatmu, jadi kalau begitu kaupun seorang gembel tukang minta2???"
Han Siong Kie mendongkol bercampur gusar, ia mendengus dingin: "Hmm aku telah menyanggupi permintaan mereka, tahukah kau permintaannya itu? "
"Apa coba katakan "
"Dengan cara yang sama akan kuhantam dirimu sehingga muntah darah segar.."
Mula2 malaikat hawa dingin Mo Siu Ing nampak melengak kemudian mendongkol dan tertawa seram:
"Haaah haaah haaah manusia berwajah dingin kau yang hendak melakukannya? dengan andalkan kekuatan apa kau hantam diriku hingga muntah darah segar???? "
"soal itu kau tak usah tahu pokoknya, akan kuhajar dirimu sampai muntah darah kemudian kucabut jiwamu untuk membasmi seorang iblis pembunuh berdarah dingin dari muka bumi"
"Hiiih hiih hiiih manusia be^ajah dingin rupanya kau sedang mengigau disiang hari bolong???"
"Hmmm kalau kau tidak percaya silahkan untuk menjajal sendiri."
Napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah perempuan itu, namun dengan suara yang lembut ia berkata lagi:
"Manusia berwajah dingin, janganlah kau anggap setelah aku genap membunuh seratus orang lantas aku tak bisa membunuh orang lagi, kau musti tahu bilamana perlu aku masih tetap sanggup membunuh seseorang"
"Perempuan berhati siluman gertak sambalmu tak akan membuat hatiku jadi jeri "
"Bocah muda aku kagum atas keberanianmu, dikolong langit dewasa ini hanya kau seorang yang berani bersumbar hendak menghajar aku si malaikat hawa dingin hingga muntah darah segar tapi mampukah kaupenuhi harapanmu itu sekarang masih merupakan suatu tanya besar"
Ia merandek sejenak kemudian tambahnya:
"Aaaah aku teringat sekarang masih ada seorang lagi yang berani mengatakan kata sesumbar seperti dirimu"
"Siapakakah orang itu??? Han Siong Kie cepat bertanya.
"Tengkorak Maut pemilik dari benteng Maut"
"Oooh..jadi kaupun pernah dihajar sampai muntah darah oleh tengkorak maut??? "
"Siapa yang bilang"
"Kau sendiri "
"Kapan aku pernah bicara begitu??"
"Ooooh.. sekarang aku sudah tahu, tentunya sewaktu kau bertarung melawan tengkorak maut didalam kuil Bu.Hoo ditepi pantai Pek swie Tan tempo dulu, kau sudah menderita kekalahan"
"Eei.. dari mana kau bisa tahu kalau aku pernah bertempur melawan tengkorak maut? "
"Aku memperoleh kabar sewaktu tiba diluar kuil tersebut "
"Hmmm Kalau begitu dugaanmu keliru besar.."
Han Siong Kte melengak dibuatnya mendengar ucapan itu.
"Aku salah? kenapa? " tanyanya.
"Tengkorak maut yang bertarung dengan diriku itu hari bukanlah tengkorak Maut yang sesungguhnya"
"Ooooh.. jadi maksudmu dia Tengkorak Maut gadungan??"
"Sedikitpun tidak salah"
Dengan hati tertegun, sangsi dan kebingungan Han Siong Kie mundur dua langkah lebar kebelakang, ia tak pernah mengira kalau Tengkorak Maut ternyata ada yang gadungan, sungguh suatu kejadian yang sangat aneh.
Lalu siapakah yang sebenarnya jadi musuh besar pembunuhan keluarganya?? Tengkorak maut yang sesungguhnya? ataukah tengkorak maut gadungan??...
Mengapa orang yang kehilangan sukma serta orang yang ada maksud melarang ia menuntut balas terhadap benteng maut? dan mengapa pula susioknya sitangan naga beracun Thio Lien sesaat membunuh diri melarang pula dirinya untuk membalas dendam?? sebetulnya latar belakang apa yang terselip dibalik peristiwa ini???
"Manusia berwajah dingin, apa yang sedang kaupikirkan?" tiba2 malaikat hawa dingin menegur.
"Aku . , .aku sedang berpikir, ucapanmu itu patut dipercayai ataukah tidak"
"Terus terang kuberitahukan kepadamu, ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut asli sangat lihay, pada delapan belas tahun berselang kami suami istri berduapun hanya mampu menahan tiga buah pukulannya belaka, andaikata berduel satu lawan satu mungkin hanya satu jurus yang mampu kami terima.
sebaliknya Tengkorak Maut yang kutemui dalam kuil Bu Hoo tempo hari bisa kutahan serangannya hingga mencapai ratusan jurus dalam keadaan seimbang, akhirnya diapun yang ngeloyor pergi sendiri, karena itu aku berani mengatakan dengan tegas bahwa tengkorak maut itu adalah tengkorak gadungan. Disamping itu tengkorak maut yang sebenarnya sejak puluhan tahun berselang sudah tak pernah muncul kembali dalam dunia persilatan."
Han Siong Kie semakin kebingungan dibuatnya, tapi apa yang didengar adalah suatu kenyataan, baik yang asli maupun yang gadungan ia masih belum mampu untuk menandangi mereka.
Malaikat hawa dingin sendiripun mengakui bahwa dirinya hanya sanggup bergebrak sebanyak ratusan jurus dengan Tengkorak maut gadungan dalam keadaan seimbang, itu berarti pula bahwa dirinya sama sekali bukan tandingan lawan.
Berpikir sampai disini ia baru merasa menyesal kenapa bicara terlalu sesumba beberapa saat berselang.
Sementara itu itu senyuman manis telah tersungging kembali diujung bibir Malaikat hawa dingin tegurnya lirih:
"Manusia berwajah dingin, sungguhkah kau hendak ajak aku berkelahi??? ......"
Han Siong Kie yang sudah terlanjur bicara dengan wataknya yang tinggi hati tentu saja tak mau menunjukkan kelemahan dihadapan orang, dengan dingin ia mengangguk. "Tentu saja" jawabnya.
"Apakah kau hendak mengajar diriku hingga muntah darah kemudian bunuh diriku untuk melenyapkan bibit bencana bagi dunia persilatan??"
"Sedikitpun tidak salah, sekalipun aku belum mampu suatu hari aku dapat mewujudkan cita2ku ini"
"Bagus punya semangat, cuma seandainya hari ini kau tak dapat tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup lalu bagaimana??"
Dalam hati Han Siong Kie merasa hatinya tercekat, tapi diluaran ia tetap memandang sinis.
"Andaikata sampai terjadi begitu, anggaplah nasibku yang kurang mujur..."
"Manusia berwajah dingin "ujar Mo siu Ing dengan wajah serius, "aku berhasil menemukan jejakmu jauh sebelum berjumpa dengan wajah ke empat belas orang anggota perkumpulan Thian chee Kauw, bahkan aku sempat mendengar pula ucapan sombongmu terhadap si pengemis cilik itu, tapi tahukah kau mengapa aku tidak turun tangan membinasakan dirimu??"
"Kenapa?? "tanya Han Siong Kie dengan wajah dingin.
"Sebab potonganmu, kegagahanmu pada dua puluh tahun berselang, oleh sebab itu aku telah melanggar kebiasaan dan tidak turun tangan terhadap dirimu"
"Sayang sekali aku tak sudi menerima kebaikanmu"
"Hmm siapa yang senang menerima kebaikan?? jadi kau sudah bulatkan tekad untuk turun tangan terhadap diriku pada hari ini??... "
"Sedikitpun tidak salah, aku sangat mengharapkan petunjuk darimu... "
"Bergebrak sih mudah, cuma aku ada sebuah syarat yang harus kau setujui lebih dulu"
"Apa syaratmu itu??"
“Kalau kau mampu menyebut tiga jurus seranganku, maka sejak ini hari aku si malaikat hawa dingin kecuali membunuh mereka yang telah mencelakai suamiku, aku tak akan membunuh orang lain lagi"
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak si anak muda itu, pikirnya:
"Engkoh tuaku pun sanggup menerima tiga buah pukulanmu, masa aku tak mampu untuk berbuat demikian??? "
Ia segera balik bertanya:
"Seandainya aku tak mampu untuk menyambut ketiga buah seranganmu itu??..."
"Kau harus angkat aku jadi gurumu"
"Aku tidak setuju " kontan Han Siong Kie berteriak dengan wajah berubah hebat.
"Kenapa?? apa kau punya keyakinan bahwa kau tak akan sanggup menerima tiga jurus seranganku?."
"Perduli apapun yang kau katakan, aku orang she Han telah bersumpah, tak akan mendekati kaum wanita. Apalagi mengangkat dirimu jadi guruku?? Hmm... tak usah yaah"
"Jadi kau tak mau menerima taruhan ini?"
"Tidak mau"
"Seandainya aku menggunakan kekerasan?"
"Kau tak akan mampu berbuat begitu"
"Oooh, kau yakin aku tak bisa memaksa dirimu untuk menerima syarat tersebut?"
Han Siong Kie mendengus dingin dan tidak memberikan tanggapan atas pertanyaan itu.
"Baiklah. kalau kau tidak percaya, cobalah sendiri kelihayanku ini.."
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, Malaikat hawa dingin Mo siu Ing segera enjotkan badannya meloncat ke depan, telapak tangannya yang halus diayun menghantam ubun2 pemuda itu.
sekarang yang dilancarkan ini nampaknya amat lambat, padahal cepatnya sukar dilukiskan dengan kata2, lagi pula arah yang di tuju sangat aneh, membuat orang merasa bingung untuk menghadapinya.
Ingatan kedua belum sempat berkelebat didalam benaknya, bayangan telapak tahu2 sudah berada di depan mata. seandainya serangan ini bersarang telak di ubun2nya niscaya bakal hancur berantakan.
Dalam gugup dan kagetnya pemuda itu segera ayunkan telapaknya kedepan, tanpa ia sadari ayunan tersebut telah disertai pula dengan salah satu jurus ampuh dari ilmu kura2 sakti.
"Aaah... ditengah jeritan kaget malaikat hawa dingin Mo siu Ing tarik kembaci serangannya sambil bertukar gerakan, untuk kedua kalinya ia menghantam lagi ubun2 orang dengan kecepatan yang jauh lebih hebat.
Han Siong Kie silangkan sepasang telapaknya membendung datangnya pukulan tersebut, pada saat yang bersamaan badannya bergeser kearah belakang dengan suatu gerakan yang manis iapun berhasil meloloskan diri dari ancaman kedua.
"Manusia berwajah dingin" seru Mo siu Ing tajam. "Kau betul2 sangat hebat, terimalah serangan yang terakhir"
Ditengah bentakan keras, malaikat hawa dingin Mo siu Ing mendorong sepasang telapaknya secara berbareng kearah depan, ketika sampai ditengah jalan mendadak serangan pukulan itu berubah jadi serangan mencengkeram, dari tangannya bagaikan burung elang laksana kilat mencekal pergelangan lawan.
Han Siong Kie segera memutar telapak kirinya melindungi badan, telapak kanan membabat dari atas kearah bawah, sementara tubuhnya ikut meloncat kearah belakang.. "Breeet.. ditengah suara robeknya pakaian, terselip jeritan kaget yang amat keras.
Pakaian bagian dada yang dikenakan Han Siong Kie tersambar robek oleh jari tangan lawan, sarung tangan mustika HudJiu Poo Pit yang disimpan dalam sakupun segera terjatuh keatas tanah.
"Apa ?? sarung tangan mustika Hud Jiu Poo Pit "-jerit malaikat hawa dingin dengan suara terperanjat laksana kilat tangannya menyambar keatas tanah.
Han Siong Kie sendiri jadi luar biasa kagetnya setelah melihat kejadian itu, ia merasa tiada kesempatan lagi baginya untuk merampas balik sarung tangan mustika tadi dalam gugupnya ia lancarkan sebuah babatan maut keatas tanah.
Tapi sayang seribu kali sayang.. walaupun serangan itu dilancarkan dengan kecepatan penuh, namn gerakannya tetap terlambat satu tindak. Tahu2 malaikat hawa dingin Mo siu Ing sambil mencengkeram sarung tangan mustika itu telah meloncat mundur sejauh beberapa tombak dari tengah kalangan.
"Aaah sarung tangan Hud Jiu Poo Pit, kitab pusaka tangan buddha. "
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing jadi lupa daratan dan bergumam tiada hentinya. sesudah diperiksa sejenak kembali ia bergumam seorang diri: "ooh. tidak betul, tidak betul sarung ini cuma tangan kanannya saja.."
Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, dengan sorot mata berapi ia menatap tajam perempuan itu.
Sarung tangan Hud Jiu Poo Pit ini adalah benda peninggalan dari Leng Ku sanjin, seandainya benda itu sampai hilang dari tangannya, maka pemuda itu merasa malu terhadap arwah gurunya yang ada dialam baka.
Apalagi ia sudah tumpukan harapannya dalam membalas dendam diatas sarung tangan mustika itu, asal ia berhasil menemukan sarung tangan yang lain, dia baru berhasil mempelajari ilmu si Mi sinkang maka usaha nya untuk membalas dendam pasti bisa tercapai.
Dan kini setelah melihat benda mustika itu terjatuh ketangan orang lain, sudah tentu ia tak mau berpeluk tangan dengan begitu saja.
-ooo0ooo-
BAB 14
"MALAIKAT hawa dingin kembalikan benda itu kepadaku ..." bentak pemuda itu keras keras.
"Kembalikan kepadamu??" ejek Mo siu Ing tanpa berpaling, "Huuuh gampang amat ucapanmu itu??"
"Kau benar2 tidak mau mengembalikan kepadaku??? "
"Kenapa?? apa yang hendak kau lakukan?"
"Aku akan beradu jiwa dengan kau" tubuhnya melesat maju ke depan tiga jurus ilmu pukulan kura2 sakti segera dilancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat, agaknya si anak muda ini benar2 ada maksud untuk beradu jiwa..
Dengan tangkas malaikat hawa dingin Mo siu Ing berkelit kesamcing dengan enteng dan mudah tahu2 ia sudah melepaskan diri dari ancaman pukulan maut itu, tegurnya dengan suara dingin:
"Kalau bicara soal berkelahi kau masih belum pantas untuk bertempur melawan diriku " Han Siong Kin tarik kembali serangannya dan berdiri kaku, seluruh badannya bergetar keras ucapannya memang benar untuk merampas benda pusaka itu dari tangan malaikat hawa dingin jauh lebih sukar daripada memanjat kelangit, tapi ia tidak rela benda mustika perguruannya lenyap dengan begitu saja.
Air muka Malaikat hawa dingin mendadak berubah jadi sedih dan amat murung, ujarnya lagi dengan suara lirih:
"Manusia berwajah dingin, kau tak usah kuatir aku tidak tertarik oleh benda mustika tersebut, tetapi kau musti melakukan pembicaraan secara blak-blakan dengan diriku"
"Apa yang hendak kau bicarakan?" tanya sianak muda itu dengan hati rada lega.
"Pertama kau harus bercerita lebih dahulu dari mana kau dapatkan sarung tangan Buddha Hud Jiu Poo Pit ini?"
"Benda mustika itu adalah benda warisan perguruanku."
"Lalu siapakah gurumu??"
"Dia adalah Leng Ku sang jin"
"Apa?? coba kau ulangi sekali lagi..."
"Leng Ku sangjin. "
"Haah haah haah... kau anggap aku si malaikat hawa dingin adalah seorang bocah berusia tiga tahun yang dapat kau bohongi seenaknya:"
"Apa maksudmu??"
"Nama besar Leng Ku sangjin sudah tersohor sejak seratus tahun berselang, masa.."
"Secara kebetulan aku berhasil menemukan jenasah dari dia orang tua, mengikuti surat wasiat yang tertinggal aku angkat dia sebagai guruku, masa begitu tak boleh disebut sebagai pengangkatan guru?"
"Oooh, kiranya begitu, tahukah kau bahwa sarung tangan Buddha Hud Jiu Poo Pit semuanya terdiri dari sepasang??"
"Aku tahu, sarung tangan ini adalah sarung sebelah kanan, sedang yang lain adalah sarung sebelah kiri"
Wajah malaikat hawa dingin Mo siu Ing berubah semakin murung, titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, tiba2 ia bergumam seorang diri: "Tangan kiri oooh.. tangan kiri."
Seketika Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras, apakah malaikat hawa dingin mengetahui jejak dari sarung tangan sebelah kiri itu? tanpa sadar dengan suara gemetar ia berseru:
"Kenapa dengan sarung tangan sebelah kiri???"
"Benda itu telah merampas kebahagian hidupku"
"Apa aku boleh tahu tentang duduknya perkara??" Tanya Han Siong Kie dengan hati bergidik.
Perempuan itu menyeka air mata yang berlinang membasahi wajahnya, deagan suara murung ia bertanya:
"Pernahkah kau mendengar tentang malaikat hawa panas Ko so Khio??.."
"Pernah, bukankah dia adalah suamimu?"
"Betul, pada delapan belas tahun berselang tanpa disengaja kami suami istri berdua berhasil menemukan salah satu dari sarung tangan Buddha Hud Jiu Poo Pit tersebut, setelah melakukan penyelidikan seksama kami berhasil menemukan bahwa sarung tangan itu semestinya sepasang. Maka setelah mengadakan perundingan akhirnya secara terpisah kami melakukan pencarian, aku menuju ke utara dan dia menuju keselatan dengan janji satu tahun kemudian baik berhasil maupun tidak akan berkumpul kembali dirumah..."
"Akhirnya suamimu tidak kembali?" sela Han Siong Kie tak tahan.
"Sedikitpun tidak salah, ia tidak pernah kembali lagi. satu tahun dua tahun tiga tahun aku telah menunggu selama lima belas tahun lima belas tahun yang penuh kesedihan serta penderitaan manusia berwajah dingin, lima belas tahun bukan suatu jangka waktu yang amat pendek bukan??"
"Aah" Han Siong Kie tak dapat menahan rasa kagetnya lagi, ia menjerit tertahan.
"Yaah... lama kelamaan aku tak dapat menahan diri lagi" perempuan itu melanjutkan kembali kisahnya, "Aku segera munculkan diri dalam dunia persilatan dan mulai mencari jejaknya, suatu ketika secara tiba2 aku dengar orang berkata bahwa suamiku telah mati terbunuh dan kebetulan akupun mempunyai pikiran yang sama. Dalam keputus asaanku menemukan jejak pembunuh tersebut maka akhirnya..."
"Akhirnya kau lantas melakukan pcmbunuhan, setiap tahun sekali dan tiap kali seratus jiwa manusia??"
"Tidak salah, tujuanku adalah menggunakan kesempatan ini untuk memancing kemunculan pembunuh sadis tersebut"
"Apakah kau tak merasa bahwa perbuatanmu itu terlalu kejam?? terlalu brutal??"
"Terlalu brutal??, haah haah haah... kebahagiaan hidupku sudah dirampas secara kejam, apakah itu tidak kejam?? apakah itu tidak brutal??"
"siapa tahu kalau suami masih hidup di kolong langit adalah suatu kenyataan, sepantasnya kalau kau kerahkan segenap kemampuan yang kau miliki untuk menemukan jejak pembunuh itu, apa gunanya kau lakukan pembunuhan massal?? lagipula seandainya pihak lawan bukan berasal dari jago kalangan lurus, kendati kau sudah bunuh habis seluruh orang Bu-lim yang ada dikolong langit, belum tentu ia sudi munculkan diri"
"Selama aku masih bisa hidup dikolong langit, tak sedikitpun aku akan berhenti berusaha" teriak Mo siu Ing dengan penuh kebencian.
Bergidik hati Han Siong Kie melihat kekerasan hati perempuan itu, sesaat kemudian katanya lagi "Lalu dimanakah sarung tangan sebelah kiri itu??"
"Bersama dengan lenyapnya suamiku, benda itupun ikut musnah tak berbekas"
"Oooh... Han Siong Kie merasa hatinya jadi kecewa dan badannya jadi lemas, ia merasa se olah2 kepalanya diguyur dengan sebaskom air dingin.
"Eeei manusia berwajah dingin” perempuan itu menegur lagi, "Aku lihat kau punya minat yang amat besar untuk mendapatkan sarung tangan Buddha Hud Jiu Po Pit tersebut??"
"Aku memang punya maksud demikian"
"Kalau begitu marilah kita mengadakan satu perjanjian"
"Perjanjian yang bagaimana maksudmu??"
"Dengan batas waktu selama satu tahun, mari secara terpisah kita lakukan pencarian atas jejak suamiku yang hilang itu, kalau kau berhasil mendapatkan keterangan yang jelas tentang keadaan suamiku itu. maka ia sarung tangan Buddha Hud Jiu Poo Pit itu semuanya akan menjadi milikmu"
"Seandainya kau sendiri yang berhasil menyelidiki jejak suamimu itu??" tanya si anak muda itu dengan semangat yang berkobar kembali.
"Tetap sama saja, kuhadiahkan sarung tangan tersebut bagimu"
"Kalau suamimu sudah terbunuh dan benda itu terjatuh ketangan orang lain.."
"Setelah aku berhasil membalas dendam, sarung tangan itu kuhadiahkan semua untuk mu"
"Bagaimana kalau sarung tangan yang ini dikembalikan lebih dahulu kepadaku??"
"Tidak" jawab Mo siu Ing tegas.
Air muka Han Siong Kie berubah hebat.
"Kenapa ??" tanyanya.
"Untuk sementara waktu akan kusimpan lebih dahulu bilamana dalam satu tahun tiada kabar berita apapun yang berhasil kau dapatkan, maka benda ini akan kumusnahkan"
"Ben.... benda itu toh milik pribadiku, dengan dasar apa kau hendak memusnahkannya??"
"Membiarkan benda itu tetap berada dikolong langit, mungkin hanya akan mendatangkan tragedi yang menyedihkan saja bagi umat manusia"
"Eeei... kau tidak boleh berbuat begitu..."
"Tidak. aku sudah memutuskan demikian".
"Kalau kau berani memusnahkan benda mustika itu, aku bisa mencabut jiwa anjingmu"
"Hmmm .... setiap saat dan setiap waktu aku si malaikat hawa dingin akan menantikan kunjunganmu"
Sepasang mata Han Siong Kie berubah jadi merah berapi api, tapi ia tak bisa berbuat lain kecuali mendongkol dan gusar, ia tahu bahwa tenaga dalamnya masih ketinggalan jauh kalau dibandingkan dengan kelihayan lawannya.
setelah tertegun beberapa saat lamanya, pemuda itu sambil menggertak gigi segera bertanya:
"Andaikata aku berhasil menemukan kabar berita tentang suamimu itu, aku harus pergi kemana untuk mencari jejakmu?"
"Datang saja kegunung Kou Lou san"
"Baik kita tetapkan demikian saja, tetapi ada sepatah kata akan kuucapkan lebih dahulu kepadamu, hadiah yang telah kau berikan kepada adik angkat serta engkoh angkatku, suatu hari pasti akan kutagih beserta rentenya"
"Setiap saat kunantikan kunjunganmu"
Malaikat hawa dingin Mo siu Ing menatap sekejap wajah Han Siong Kie tajam2, kemudian menghela napas sedih.
"Manusia berwajah dingin," ujarnya lagi, "semoga tidak lama lagi kita bisa saling berjumpa, semoga kau berhasil menangkan taruhan ini..."
"Asal aku peroleh kemenangan, kaupun akan mendapatkan keputusan pula..."
"Tidak salah, menang kalah kita berdua sama2 tidak menderita kerugian "
Bicara sampai disitu tubuhnya segera berkelebat tinggalkan tempat itu, cuma sekejap mata bayangan tubuh perempuan itu sudah lenyap dari pandangan.
Han Siong Kie sambil memandang bayangan punggung Mo Siu Ing yang makin menjauh berdiri ter mangu2, semula ia mengira setelah berhasil mendapatkan hawa murni dari Leng Ku sangjin, maka usahanya untuk membalas dendam segera akan terlaksana, siapa tahu kepandaiannya masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan musuh besarnya, bahkan dibandingkan dengan malaikat hawa dingin yang cantik jelita inipun dia masih ketinggalan beberapa tingkat.
Tanpa terasa pemuda itu bergumam seorang diri:
"Benar aku harus kerahkan segenap kekuatan yang kumiliki untuk mencari tahu kabar berita tentang malaikat hawa panas Ko su Khie, sebab hanya dari sepasang sarung tangan Buddha HudJiu Poe Pit itulah aku bisa mempelajari iimu silat yang lihay dan menuntut balas atas sakit hati terbunuhnya keluargaku
Tapi... malaikat hawa panas sudah delapan belas tahun lamanya lenyap tak berbekas, jejaknya sudah lenyap dari permukaan bumi. Mencari berita tentang dirinya bukankah sama halnya deagan mencarijarum didasar samudra.
Teringat akan dendam berdarahnya, membuat pemuda itu teringat pula ucapan malaikat hawa dingin yang mengejutkan hati. . . Tengkorak Maut itu adalah tengkorak maut gadungan...
"Seandainya apa yang terjadi adalah kenyataan, apa sebabnya tengkorak maut asli yang jauh lebih lihay itu cuma berpeluk tangan belaka membiarkan orang lain mempergunakan namanya untuk berbuat keonaran??" orang yang ada maksud pernah berkata kepadanya:
"Song Thiat Koay yang sudah lama mengasingkan diri dari perkumpulan Kay pang secara tiba2 munculkan diri dan mengederkan hati Tengkorak Maut sehingga iblis itu melarikan diri.."
Ditinjau dari kejadian ini, sudah cukup jelas membuktikan bahwa tengkorak gadungan dugaan malaikat hawa dingin tepat dan bisa dipercaya.
Lalu siapa yang bernyali begitu besar berani menyaru sebagai Tengkorak Maut gadungan dan berbuat keonaran dikolong langit??? Kembali suatu teka teki yang sukar dipecahkan
Mengapa orang yang kehilangan sukma suruh dia pergi menyambangi pemilik dari Benteng Maut?? dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, berkunjung kesitu bukankah berarti menghantar kematian sendiri?
Sementara Han Siong Kie sedang terbenam dalam lamunannya...
Mendadak beberapa kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian.
Mendengar jeritan itu Han Siong Kie merasa mulai terperanjat, segera pikirnya:
"Aku benar2 amat tolol, bukankah Tonghong Hwie sedang bersemedi untuk menyembuhkan lukanya?? kenapa kau sudah melupakan keselamatannya??"
Tanpa berpikir panjang tubuhnya segara berkelebat diangkasa dan meluncur kearah saudara angkatnya berada tadi.
Tapi pemuda itu segera berdiri menjublak. sukmanya terasa melayang tingalkan raganya. Disitu ia tidak jumpai bayangan tubuh saudara angkatnya lagi.
Maka perkumpulan Thian Chee Kauw mengirim jago2 lihaynya untuk mencari jejak Tonghong Hwie serta dirinya, rombongan yang ikut dalam aksi penggeledahan itu tentu saja tidak terbatas pada para jago yang terbunuh ditangan malaikat hawa dingin saja.
Andaikata Tonghong Hwie benar2 tertawa oleh para jago perkumpulan Thian Chee Kauw, atau menjumpai kejadian diluar dugaan. Bukankah dirinya bakal menyesal selama hidup karena keteledorannya itu??
semakin dipikir Han Siong Kie merasa hatinya semakin bingung, andaikata Tonghong Hwie berlalu sehabis melakukan semedinya, paling sedikit adik angkatnya itu tentu akan memanggil dan mencari dirinya lebih dahulu, tak mungkin dia ngeloyor pergi tanpa pamit. Disamping itu, dari mana pula datangnya jeritan ngeri yang memekikkan telinga itu?
Tergopoh2 pemuda itu berlarian disekitar hutan dengan harapan bisa menemokan suatu titik terang.
Tiba2... pada jarak kurang lebih lima puluh tombak dari tempat dimana Tonghong Hwie bersemedi tadi, ia temukan lima sosok mayat yang bergelimpangan diatas tanah.
Pada batok kepala bagian belakang masing2 korban tertancaplah selembar daun yang menembusi tulang batok kepala mereka, jelas benda itulah yang telah merenggut jiwa mereka berlima.
Memetik daun melukai orang, menyambit bunga menghancurkan batu. Ilmu kepandaian semacam ini boleh dibilang merupakan suatu ilmu yang bertaraf sangat tinggi.
siapakah yang telah melakukan pembunuhan itu? jelas Tonghong Hwle adik angkatnya tidak memiliki tenaga dalam kesempurnaan itu, mungkinkah kematian dari kelima orang itu ada hubungannya dengan lenyapnya Tonghong Hwie dari situ??
Untuk beberapa saat lamanya Han Siong Kie jadi kelabakan bingung dan tak tahu musti berbuat apa.
Tonghong Hwie adalah adik angkatnya yang sangat erat hubungannya dengan dia, perhatian serta rasa sayangnya terhadap adik angkatnya yang satu ini jauh melebihi rasa sayang terhadap diri sendiri Pada saat itulah...
Ting Ting Ting dari tempat kejauhan secara lamat2 berkumandang datang suara dentingan besi membentur permukaan tanah, suara itu agaknya sedang menjauhi hutan tersebut.
Andaikata Han Siong Kie tidak memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tak mungkin ia bisa menangkap suara lirih tersebut karena munculnya suara tadi amat mendadak. pemuda kita jadi tertarik. ia tak berani bertindak ayal lagi dengan cepat badan nya berkelebat menuju kearah mana berasal nya suara tadi.
Hutan makin lama semakin menjauh, jalan rayapun nampak terbentang didepan mata.
Tampak seorang pengemis tua berkaki tunggal dengan mencekal sebuah tongkat pemukul anjing sedang bergerak menuju kearah jalan raya, setiap kali tubuhnya meloncat kedepan, berbunyilah suara dentingan yang nyaring .. ...
Han Siong Kie segera salurkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk melakukan pengejaran, sungguh aneh sekali kendati dia sudah kerahkan semua kemampuannya, namun belum juga berhasil mengejar pengemis tua itu, jarak mereka masih tetap terpaut sejauh lima tombak lebih.
setengah harian sudah kejar mengejar itu dilakukan, tetapi jarak yang memisahkan kedua belah pihak masih juga bertahan seperti semula.
Dengan adanya kejadian ini segera menimbulkan rasa ingin menang dalam hati kecil Han Siong Kie ilmu meringankan tubuh cahaya kilat lintasan bayangan dikerahkan hingga mencapai pada puncaknya, bagaikan segulung asap ringan badannya meluncur laksana kilat kearah depan.
Pengemis tua itu tetap berlagak pilon, cuma suara dentingan yang terpantul ditengah udara semakin santar kedengarannya. .
Han Siong Kie amat terperanjat, ia tak bisa menebak jago lihay manakah yang berada dihadapannya saat ini. bila ditinjau dari kekuatan hawa murninya jelas ia jauh melebihi kehebatan saudara angkatnya pengemis dari selatan.
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya. Han Siong Kie teringat kembali akan ucapan dari orang yang ada maksud ketika ia sedang terluka tempo dulu, mendadak muncul seorang tokoh Kaypang yang sudah empat puluh tahun lamanya mengasingkan diri, kemunculan jago lihay itu telah menakutkan Tengkorak Maut dan menyelamatkan jiwa pengemis dari selatan serta padri dari utara.
Mungkinkah tokoh sakti yang berada dihadapannya saat ini adalah song Thiat Koay paman guru dari kakak tuanya itu??? Berpikir sampai disitu, ia segera berteriak keras.
"Yang berada didepan sana betulkah soat Thiat Koay Locianpwee?? harap berhenti sejenak"
Sedikitpun tidak salah, pengemis tua berambut putih yang sedang berlari didepan itu segera menghentikan larinya dan menoleh.
Han Siong Kie segera memburu kedepan, sambil memberi hormat katanya:
Pengemis tua itu amat kurus dan tinggal kulit membungkus tulang, sepasang matany cekung kedalam tapi memancarkan sorot mata yang amat tajam. sungguh amat sempurna tenaga lweekangnya batin pemuda kita dalam hati kecilnya. sementara itu pengemis tadi telah menyahut:
"Tak usah banyak adat, kau bocah yang disebut manusia berwajah dingin??.."
"sedikitpun tidak salah"
"Ada maksud apa kau kejar aku sipengemis tua??"
"Aku mempunyai hubungan yang sangat erat dengan pengemis dari selatan ketua tian dari perkumpulan Kay Pang"
"Kalau ada hubungan lantas mau apa??"
Kembali Han Song Kie tertegun, keketusan serta kesombongan pengemis tua ini ternyata tiga kali lipat melebihi dirinya.
sebelum dia sempat berbicara, pengemis tua itu telah berkata lagi:
"Bocah cilik, apa tujuanmu hendak mengikat tali persahabatan dengan aku si pengemis tua?.?"
"Benarkah locianpwee adalah song Thiat Koay yang amat tersohor dikolong langit??"
"Darimana kau bisa tahu akan julukanku??"
"Aku pernah mendengar dari orang lain "
"Apa tujuanmu yang sebetulnya?? ayoh cepat katakan"
"Apakah loocianowee barusan muncul dari hutan sebelah belakang sana?? ..."
"Kau toh sudah menyaksikan sendiri, kenapa musti bertanya lagi??"
"Adik angkatku telah lenyap tak berbekas ketika sedang bersemedi didalam hutan, apakah ......."
"Kau anggap aku si pengemis tua telah menelan adik angkatmu itu??" tukas song Thiat Koay ketus.
Mengingat diatas wajah Pengemis dari selatan Han Siong Kie masih berusaha untuk menahan diri tetapi perkataan lawan kian lama kian tak sedap didengar, tak urung nada suaranya ikut berubah juga, serunya:
"Aku cuma ingin bertanya kepada cianpwee, apakah kau melihat ada seseorang memasuki hutan tersebut?"
"Tidak pernah tidak pernah aku si pengemis tua tiada waktu lagi untuk berbicara dengan dirimu"
selesai berkata ia putar badan dan siap berlalu..
Dengan sebat Han Siong Kie enjotkan badannya menghadang dihadapan pengemis tua itu. "Eeei.. bocah cilik, kau hendak menghadang jalan pergi dari aku si pengemis tua?"
"Menghadang sih tidak berani aku cuma berharap agar loocianpwee suka memberi keterangan kepadaku."
"Apa yang ingin kau ketahui"
"Kabar berita dari adik angkatku"
"Aku sipengemis tua tidak pernah melihatnya"
"Didalam hutan sebelah sana menggeletak lima sosok mayat, mereka semua mati tersambit oleh daun yang menembusi batok kepalanya, apakah loocianpwee ...."
"Omong kosong, aku si pengemis tua sudah empat puluh tahun lamanya tak pernah melakukan pembunuhan"
Ucapan ini membuat Han Siong Kie jadi murung dan sedih, dilihat dari nada ucapan pengemis tua itu rupanya ia benar2 tak tahu tentang jejak adik angkatnya, maka dari itu ia lantas menjura.
"Kalau memang begitu aku ingin mohon diri lebih dahulu"
"TUnggu sebentar"
"Apa yang hendak loocianpwee katakan lagi?? "
"Dilihat dari kecepatan gerakmu dikala mengejar aku sipengesnis tua tadi rupanya tenaga dalammu sudah mencapai kesempurnaan, kau berasal dari perguruan mana??
Han Siong Kie sangat menguatirkan keselamatan dari adik angkatnya Tonghong Hwie, ia tidak ingin mengulur waktu lebih jauh lagi dengan singkat ia menjawab:
"Secara kebetulan saja aku menemukan suatu penemuan aneh dan mendapatkan sisa hawa murni dari Leng Ku Sangjin!”
“Aaah. ! pengemis tua itu berseru kaget
Mendadak Han Siong Kie teringat akan sesuatu, segera tanyanya :
“Aku pernah mendengar orang berkata bahwa locianpwee telah menggebah pergi Tengkorak Maut yang amat lihay itu...”
“Aaah. tak usah kau ungkap kembali kejadian tersebut" tukas Song Thiat Koay tiba-tiba dengan wajah sedih, “Sejak ini hari aku si pengemis tua tidak ingin muncul kembali didalam dunia persilatan, julukan Song Thiat Koay pun sejak kini sudah terhapus dari muka jagad!”.
Air mukanya berubah hebat, sambil tertawa seram tambahnya;
“Benar-benar omong kosong persoalan macam ini kenapa musti diungkap oleh seorang angkatan muda!"
“Taiiing!” tubuhnya melejit ke angkasa dan tahu-tahu sudah meluncur sejauh puluhan tombak dari tempat semula.
Han Siong Kie jadi keheranan menyaksikan kejadian itu, namun tubuhnya tetap berdiri tegak ditempat semula.
“Tiiing...! Tiiing...! Tiiing...!” beberapa saat kemudian tubuhnya sudah tinggal sebuah titik hitam di ujung jalan dimana akhirrya lenyap dari pandangan.
Han Siong Kie tahu bahwa percuma baginya untuk menyusul tokoh lihay tersebut, maka dia pun urungkan niatnya untuk mengejar. Tapi pada saat ini dalam hatinya terbeban kembali satu pertanyaan yang membangunkan hatinya.
Menurut orang yang ada maksud, sebelum Song Thiat Koay munculkan diri Tengkorak Maut telah melarikan diri terbirit-birit, tapi kalau ditinjau dari ucapannya barusan dimana ia bersumpah tak akan muncul kembali didalam dunia persilatan jelas menunjukkan bahwa ia sudah jatuh kecudang ditangan gembong iblis tersebut.
Lalu apa yang sebenarnya telah terjadi??
Pikirannya teralih kembali pada keselamatan saudara angkatnya Tonghong Hwie, ia berpikir keras untuk memecahkan teka teki yang menyelimuti lenyapnya pemuda she Tonghong itu.
Lama sekali.... akhirnya ia berhasil menarik satu kesimpulan, kemungkinan besar Tonghong Hwie telah ditemukan jejaknya oleh para jago lihay yang dikirim perkumpulan Thian chee Kauw untuk mencari jejaknya itu.
"Aku harus menyerbu kedalam markas besar perkumpulan Thian chee Kauw...." ingatan ini berkelebat didalam benaknya.
Maka pemuda itupun segera mencari tahu jalan menuju ke tempat itu, siang malam ia melakukan perjalanan untuk menyerbu ke "Lian Hoan To" markas besar perkumpulan Thian chee Kauw
Untuk sementara baiklah kita tinggalkan dahulu diri Han Siong Kie yang sedang melakukan perjalanan.
Sementara itu Tonghong Hwie yang duduk bersemedhi untuk menyembuhkan lukanya, tidak lama kemudian sudah berada dalam keadaan " Tenang" dan lupa akan segala-galanya, terhadap peristiwa yang terjadi disekitar tubuhnya ia sama sekali tak tahu.
Menanti semedinya telah selesai dan membuka matanya, saat itu bayangan tubuh dari Han Siong Kie sudah lenyap tak berbekas.
Hatinya jadi sangat keheranan, Pada waktu itu Han Siong Kie sedang berdiri tertegun setelah ditinggalkan malaikat hawa dingin, karena itu tiada sedikit suara pun yang kedengaran.
Sementara Tonghong Hwie akan berteriak memanggil saudara angkatnya itu, mendadak dari dalam hutan ia saksikan munculnya bayangan manusia.
Gadis itu tak berani berayal lagi, buru2 ia enjotkan badan dan mengejar dari belakang.
Kiranya bayangan manusia itu bukan lain adalah kawanan para jago perkumpulan Thian chee Kauw yang ditugaskan mencari jejak Tonghong Hwie serta Han Siong Kle. sedari permulaan mereka telah menemukan bahwa Tonghong Hwie sedang duduk bersemedi ditempat itu, tapi merekapun menemukan bahwa malaikat hawa dingin Mo siu Ing berada kurang lebih sepuluh tombak dari mereka berada, karena itulah mereka tak berani turun tangan secara gegabah takut gerakannya itu mengejutkan sang iblis perempuan.
Ketika Tonghong Hwie telah menyelesaikan semedinya dan mengejar bayangan manusia yang terlihat olehnya, para jago dari perkumpulan Thian Chee Kauw jadi kegirangan, mereka segera memancing gsdis itu hingga keluar daii hutan tersebut.
Disanalah lima sosok bayangan manusia segera menghentikan gerakan tubuhnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka menerjang Tonghong Hwie habis-habisan.
Pengemis cilik yang tidak tahu duduknya perkara mendadak mendapatkan serangan jadi amat kaget, sekuat tenaga ia melakukan perlawanan.
Kelima orang itu adalah jago-jago kelas dua dari perkumpulan Thian Chee Kauw, kepandaian mereka terhitung sangat lihay dan sempurna.
Karens takut gerakannya itu mengejutkan malaikat hawa dingin, ditambah pula mereka sudah tahu bahwa pengemis cilik ini mempunyai kepandaian aneh yang tak mempan ditotok maupun dihantam, maka beberapa orang itu tak berani bertindak gegabah, serangan-serangan gencar dilancarkan secara bertubi-tubi dengan harapan pertarungan ini bisa dapat diselesaikan.
Empat orang kakek baju hijau yang berada disisi kalangan pun tidak berdiam diri belaka setelah saling berpandangan sekejap mereka ikut terjunkan diri kedalam kalangan.
Delapan bintang dari partai Thian-Chee-Kauw adalah jago lihay kelas satu, dibawah kerubutan begitu banyak jago lihay, Tonghong Hwie jadi keteter hebat dan nampaknya sejenak lagi ia bakal tertawan.
000O000
DISAAT yang amat kritis itulah.. mendadak kelima orang jago lihay yang sedang melancarkan serangan maut itu sama menjerit kesakitan, sambil terjungkal diatas tanah, tubuh mereka terguling sekarat. sejenak kemudian tubuh mereka sudah meninggal tak tak bernapas lagi.
Kejadian yang muncul secara tiba2 ini sangat mengejutkan sisa jago yang sedang melakukan pertarungan termasuk pula Tonghong Hwie sendiri yang tertegun saking kagetnya.
Setelah mengetahui bahwa kelima korban itu mati karena tersambit oleh selembar daun yang menembusi batok kepalanya, empat orang kakek berbaju hijau itu jadi keder, mereka tahu bahwa disitu telah muncul seorang tokoh yang maha dahsyat, tanpa banyak berbicara lagi mereka putar badan dan kabur dari situ.
Tonghong Hwie sendiri setelah berhasil menenangkan hatinya segera berpaling kearah mana berasalnya serangan tadi, sambil memberi hormat teriaknya:
"Aku sipengemis cilik mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang telah diberikan"
Lama sekali ditunggu namun tiada jawaban yang terdengar, pengemis cilik ini tahu bahwa orang itu sudah pergi, maka iapun segera alihkan pandangannya untuk mencari jejak saudara angkatnya Han Siong Kie. Mendadak ia berpikir:
"Ke empat orang kakek itu adalah jago lihay dari Thian chee Kauw, si kupu2 warna warni Lie In Hiang pun kesemsem terhadap engkoh dia, Jangan2 ia sudah terjatuh ketangan pihak lawan??.."
Makin dipikir ia merasa semakin kuatir, sehingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyatroni perkumpulan Thian chee Kauw.
Maka.. Tonghong Hwie pun berangkat menuju ke Lian Hoan To markas besar Thian chee Kauw untuk mencari jejak saudara angkatnya. .
Selangkah terpaut membuat urusan semakin berabe, dengan waktu yang terpaut sedikit kedua orang itu sama2 menuju ketujuan yang sama...
Dalam pada itu Han Siong Kie dengan hati yang amat gelisah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya secepat mungkin melakukan perjalanannya.
Ketika tengah hari ketiga, sampailah pemuda itu diluar Lian Hoan To.
Lian HanToo adalah sebuah daerah yang terbentuk dan deretan enam belas puncak bukit, dibalik gunung terdapat gunung, dibalik selat terdapai selat. Bagi orang yang tak tahu letak jalan yang sebenarnya akan tersesat dan sukar untuk lolos lagi dari tempat itu.
Lama sekali Han Siong Kie berdiri diluar selat, setelah sangsi beberapa saat lamanya akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyusup masuk lewat sebuah selat sempit yang diapit oleh dua buah dinding bukit.
Yang aneh ternyata tak seorang anggota perkumpulan Thian Chee Kauw pun yang nampak menghalangi jalan perginya,
Tidak lama kemudian pemuda itu sudah masuk kedalam selat itu sejauh satu lie mendadak dihadapannya muncul sebuah bukit terjal yang menghadang jalan perginya, dalam hati ia lantas berpikir.
"Eeei... aneh sekali, Kenapa tempat ini merupakan sebuah selat buntu?? bukankah diluar selat sudah jelas tertulis bahwa tempat ini merupakan Lian Hoa To?"
Menanti ia sudah didepan dinding bukit itu tampaklah pada sisi kanan mau pun sisi kiri muncul pula sebuah selat sempit yang menjorok jauh kedalam.
Sekarang Han Siong Kie baru tahu apa sebenarnya yang telah terjadi sambil manggut-manggut pikirnya:
“Ooooh. . ! kiranya yang dimaksud Lian-Hoan Too adalah permainan semacam ini dalam selat terbagi dalam dua cabang aku harus pilih jalan yang mana??7"
Belum habis ia berpikir dari kedua belah sisi dinding mendadak muncul delapan orang pria berbaju hitam, empat orang berjajar jadi satu baris dan tepat menyumbat jalan masuk selat sempit itu.
Terdengar salah seorang diantara empat pria yang berada disebelah kanan menegur dengan suara dingin.
"Siapa yang datang?? sebutkan namamu!”
“Manusia berwajah dingin!" sahut Han Siong Kie sambil menyapu sekejap wajah kedelapan orang itu.
Mendengar disebutkannya nama ini, air muka kedelapan orang pria tadi seketika berubah hebat masing-masing mundur satu langkah kebelakang dan orang yang paling ujung segera bersuit nyaring.
Dari dalam lembah berkumandang pula suitan balasan yang mana saling sambung menyambung hingga ketempat kejauhan.
“Kaukah si manusia berwajah dingin yang belum lama berselang baru terjun kedalam dunia persilatan ?" seru pria tadi kembali.
"Sedikitpun tidak salah !"
"Tolong tanya apa maksud tujuanmu berkunjung kemari ?"
"Minta orang !"
"Minta orang ???"
“Ehmmm. bila kalian tahu diri capatlah laporkan kedatanganku kedalam lembah, aku hendak menemui ketua kalian !"
“Bertemu dengan ketua kami ? Huuu! dengan andalkan pangkat apa sih kau hendak bertemu dengan ketua kami??"
“Bagus kalau begitu ayoh kalian menyingkir kesamping!”
Delapan orang pria berbaju hitam itu mendengus dingin mereka segera kerahkan tenaga dalamnya siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan-
“Ooooh... kalian tak mau memberi jalan?” jengek Han Siong Kie kembali dengan suara sinis.
“Hey manusia berwajah dingin, siapa bsrani menerjang kedalam lembah dia harus dihukum mati !”
Dengan gusar Han Siong Kie membentak keras, telapaknya diayun kemuka menghajar empat orang pria yang berada disebelah kiri, serangannya dilancarkan amat cepat bagaikan kilat kehebatannya luar biasa sukar dilukiskan deagan kata kata.
Tanpa banyak bicara keempat orang pria itu sama-sama menjerit kesakitan bagaikan bola mereka menggelinding sejauh dua tombak dari tempat semula dan tak berkutik lagi
Dalam pada itu empat orang pria yang berada disebelah kanan telah bergerak kedepan, masing2 melancarkan sebuah babatan maut kearah sianak muda itu.
Tanpa berpaling Han Siong Kie putar telapak kanannya satu lingkaran kemudian ditepuk kemuka tubuhnya ikut melesat kedepan mendekati keempat orang pria tersebut.
Melihat musuhnya menerjang kearah mereka, keempat orang pria itu jadi ketakutan, buru2 mereka mengundurkan diri kearah ke dua belah samping.
Han Siong Kie tertawa dingin sambil melewati keempat orang itu badannya segera menerjang kearah selat sebelah kanan.
Lorong selat itu amat sempit dan menjorok jauh kedalam setelah melewati tiga buah tikungan sampailah pemuda she Han ini disebuah tanah lapang yang luasnya mencapai setengah hektar, empat buah mulut selat terbentang pula disekitar tanah lapang tadi.
Bayangan manusia berkelebat lewat, dua puluhan orang pria berbaju hitam bermunculan dari mulut keempat buah selat tersebut, mereka dipimpin oleh seorang kakek bercambang yang memiliki wajah amat bengis. Terdengar kakek itu membentak keras:
"Bajingan cilik dari mana yang begitu besar nyalinya, berani mencari satroni dalam markas besar kami. Hmmm ayoh sebutkan dulu siapa namamu ???.."
"Hmmm kau sendiri manusia macam apa..? "
"Kurang ajar, bajingan cilik rupanya kau sudah bosan hidup," Ditengah bentakan nyaring kakek bercambang itu silangkan telapaknya didepan dada lalu sambil menerjang kemuka melancarkan dua babatan kilat yang maha dahsyat.
Han Siong Kie mendengus dingin, kelima jarinya laksana kilat meluncur kedepan, ditengah dengusan berat tahu kelima jarinya sudah berhasil mencengkeram urat nadi kakek bercambang itu erat-erat.
"Ayoh bawa aku pergi menjumpai ketua kalian" bentak Han Siong Kie dengan suara lantang.
Dua puluh orang pria baju hitam yang berdiri disamping kalangan segera membentak keras, bagaikan gulungan air bah mereka menerjang kemuka, cahaya senjata berkilauan membuat suasana terasa amat teggng dan mengerikan.
Han Siong Kie tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, ditunggunya hingga pihak lawan sudah hampir tiba dihadapannya, telapak kiri segera berputar membentuk satu lingkaran melingkar lalu didorong kemuka dengan hebatnya.
segulung angin desiran tajam bagaikan sapuan ombak ditengah hujan badai menghantam orang2 dengan dahsyatnya .... dengusan berat segera berkumandang memecahkan kesunyian, bayangan manusia membuyar ke samping dan para jago itupun tercerai berai ke empat penjuru dalam keadaan yang mengenaskan.
Hingga detik itu pemuda she Han masih belum ada minat untuk melukai orang, maka serangannya masih ringan dan tidak sampai membinasakan.
Suitan nyaring yang amat santer kembali berkumandang di tengah udara .....
Empat sosok bayangan hijau meluncur datang dari tempat kejauhan, dalam waktu singkat mereka sudah tiba didepan mata, begitu cepat gerakan tubuh mereka hingga bisa disimpulkan bahwa keempat orang itu pastilah jago lihay kelas satu.
Dalam pada itu setelah mengetahui siapakah musuh dihadapanny a, keempat orang itu nampak agak tertegun, kemudian sambil tertawa dingin terdengar salah satu diantaranya berseru sambil menyeringai seram.
"Manusia berwajah dingin, inilah yang di katakan orang mau ke sorga tak mau kau tempuh, jalan keneraka kau cari Hmmm rupanya kau sudah bosan hidup dan ingin mencari penyakit bagi diri sendiri"
Rupanya empat orang jago yang baru saja muncul itu bukan lain adalah empat orang diantara Thian che Pat siok delapan bintang dari perkumpulan Thian che kau. "Kalian segera mundur kebelakang" kembali kakek itu berseru kepada anak buahnya.
Para pria baju hitam yang semula memenuhi kalangan segera membubarkan diri ke belakang, sementara keempat orang kakek baju hijau itu segera membentuk pos isi setengah lingkaran dan mengurung pemuda itu rapat2.
"Manusia berwajah dingin" kakek pertama tadi menegur, "Sekarang posisimu sudah terjepit, kau hendak menyerah dengan begitu saja ataukah hendak paksa kami untuk turun tangan"
“Haaaah...hahaaaaa...haaah...kalian lempar lembar gombal jelek pun berani omong besar dihadapanku. Hmmm! Betul-betul tak tahu diri”
Sambil membentak keras pemuda itu segera msngerahkan tenaganya dan melempar tubuh kakek bercambang yang ada didalam genggamannya itu ketengah udara.
Keempat orang kakek baju hijau itu jadi semakin naik pitam, mereka membentak berbareng :
"Bangsat cilik, rupanya kau sudah bosan hidup !"
Empat gulung hawa pukulan yang maha danysat, disertai bunyi guntur yang memekikkan telinga segera meluncur kedepan menghajar tubuh Han Siong Kie.
Menghadapi datangnya serangan gabungan itu pemuda she Han sama sekali tidak menghindar, segenap kekuatan tubuhnya dihimpun kedalam telapak kemudian menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.
“Blaaaaaam..!” ditengah benturan keras yang memekikkan telinga pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, gulungan hawa murni berdesir menyebar keempat penjuru oleh desakan tenaga yang dahsyat itu keempat orang kakek baju bijau itu tergetar mundur empat langkah dengan badan sempoyongan sedangkan Han Siong Kie sendiri hanya mundur satu langkah kebelakang.
Delapan bintang dari perkumpulan Thian che kau adalah jago jago kelas satu didalam dunia persilatan ternyata tenaga gabungan mereka berempat tidak mampu msrobohkan Manusia berwajah dingin kejadian ini membuat puluhan anggota perkumpulan yang mengikuti jalannya pertarungan itu dari sisi kalangan jadi tercekat hatinya air muka mereka berubah hebat.
Keempat orang kakek baju hijau itu merasa penasaran setelah bsrhenti sebentar mereka menerjang kembali kedepan telapak dan totokan jari beterbangan memenuhi angkasa dengan gencar mereka terjang dan kurung si anak muda itu rapat-rapat.
Han Siong Kie bukanlah bocah ingusan kemarin sore, badannya segera melesat kedepan merobos masuk lewat celah2 bayangan telapak serta desiran angin serangan yang mengurung tubuhnya, ilmu sakti " Leng ku-it sih " laksana kilat dilancarkan.
Tiga jurus ilmu Kura2 sakti merupakan hasii ciptaan Leng ku sangjin yang makan waktu banyak tahun bukan saja sakti bahkan terkandung pula unsur2 kehebatan yang ada diluar dugaan
Dengan tenaga dalam yang dimiliki Han Siong Kie dewasa ini, meskipun kepandaian tersebut masih belum mampu untuk menandingi Tengkorak Maut, serta malaikat hawa dingin beberapa orang gembong iblis, tapi kekuatan itu masih lebih dari cukup kalau digunakan untuk menghadapi jago2 silat biasa.
Disaat Han Siong Kie melepaskan serangan yang maha dabsyat itulah, terdengar dua dengusan berat bergema memecahkan kesunyian, dua orang kakek baju hijau itu sambil menutupi dada sendiri mundur kebelakang dengan sempoyongan, jelas kedua orang itu masing2 telah termakan oleh sebuah pukulan dahsyat.
Menyaksikan keadaan tersebut, dua orang kakek lainnya jadi amat terperanjat, cepat2 mereka loncat mundur kebelakang dan memandang kearah lawannya dengan pandangan tertegun.
Dengan pandangan dingin Han Siong Kie menyapu sekejap seluruh kalangan tersebut, kemudian kepada pemimpin dari keempat orang kakek baju hijau itu katanya:
"Saudara, mumpung dalam hatiku belum timbul napsu untuk membinasakan kalian, lebih baik Janganlah terlalu banyak bertingkah dihadapanku, bawalah aku pergi menjumpai kaucu kalian"
"Hmm manusia berwajah dingin, Lian huantam kami belum pernah dimasuki orang secara jumawa macam kau, dan belum pernah pula melepaskan korbannya dalam keadaan hidup,"
"Jadi kau tak sudi membawa aku masuk kedalam selat ini??" sela Han Siong Kie dengan wajah berubah hebat, napsu membunuh mulai menyelimuti mukanya.
"Tidak kau mau apa??"
Napsu membunuh yang menyelimuti wajah sianak muda itu kian lama kian bertambah tebal, tapi sebelum ia bertindak sesuatu, kembali satu ingatan berkelebat dalam benaknya.
Ia merasa tidak seharusnya terlalu memburu napsu sebelum jejak adik angkatnya Tonghong Hwie ketahuan. Maka sambil tertawa dingin katanya:
"Kalau kalian tak mau membawa aku untuk menemui kaucu kalian, ayoh pada menyingkir ke samping, lihatlah aku akan mencari sendiri"
Belum habis ia berkata, dari dalam selat mendadak bergema datang suara bentakan nyaring.
"Hmm! besar amat bacot anjingmu itu... kau ingin menerjang kedalam?? sungguh seorang manusia yang tak tabu diri!"
Bersamaan dengan berkumandangnya suara bentakan itu, tampaklah sesosok bayangan manusia meluncur keluar dari mulut selat.
Melibat kehadiran orang itu, Han Siong Kie segera berdiri tertegun, sedang pihak lawan pun agaknya melengak juga dibuatnya.
Ternyata orang yang baru saja munculkan diri itu adalah seorang pemuds berusia tujuh delapan belas tahun, wajahnya tampan dengan mata yang jeli dan hidung yang mancung hanya sayang diantara kegantengannya itu terselip sifat licik yang meoyeramkan.
Melihat kemunculan pemuda itu, Empat orang kakek baju hijau serta dua puluh satu orang pria baju hitam sama2 bongkokkan badan memberi hormat, sikap mereka begitu hormat dan jeri hal ini menunjukkan bahwa kedudukan itu pasti amat tinggi.
"Kaucu muda!" terdengar mereka menyapa lalu menyingkir kesamping untuk membuka jalan.
Pemuda itu ulapkan tangannya lalu maju kedepan dengan langkah lebar, tegurnya sambil tertawa seram.
“Hmmm.. Hmm... jadi kaulah yang bernama Manusia berwajah dingin...??'
“Sedikitpun tidak salah, ada apa?"
"Ayahku pernah kirim orang untuk mengundang kehadiranmu dalam markas kami sungguh tak nyana hari ini kau telah datang menghantar diri sendiri... bagus. bagus sekali ! kedatanganmu memang sangat kebetulan lalu apa tujuanmu datang kesini??"
Han Siong Kie mendengus dingin.
“Hmm! aku datang untuk meminta orang!”
"Minta orang?? sungguh aneh! siapa yang hendak kau minta dan manusia macam apakah dia?"
“Seorang pengemis cilik!”
"Oooh ..! kau maksudkan pengemis cilik yang sering kali jalan bersama dirimu dan setiap kali memusuhi perkumpulan kami itu?"
"Sedikitpun tidak salah, memang dia yang kucari"
"Apakah kau yakin bahwa temanmu itu berada disini??" "
"Aku rasa dugaanku tak bakat salah lagi "
"Haaah.. haaah... haaah..." Pemuda itu angkat kepala dan tertawa ter bahak2. "Manusia berwajah dingin tekebur amat ucapanmu itu, sejak perkumpulan kami didirikan belum pernah ada orang yang berani secara terang-terangan datang kemari minta orang, tahukah kau bahwa perbuatanmu itu merupakan suatu dosa yang amat besar?? Nah kini kau hendak menyerah secara sukarela untuk menantikan hukuman atau hendak paksa aku untuk turun tangan sendiri??"
Air muka Han Siong Kie berubah jadi adem serunya dengan suara dalam:
"Jawab dulu pertanyaanku, benarkah orang yang sedang kucari berada didalam perkumpulan kalian??"
"Kalau ada kenapa??"
"Harap kau serahkan kembali orang itu kepadaku"
"Kalau aku bilang tak ada disini??"
Han Siong Kie mendengus dingin, dari nada suara lawannya ia menduga Tonghong Hwie pasti sudah tertawan oleh mereka, napsu membunuh seketika berkecamuk kembali dalam dirinya, ia berteriak:
"Bila tidak kau serahkan orang itu kepadaku, Hmm kubunuh kalian semua..." Pemuda itu sekali lagi angkat kepala dan tertawa terbahak2..
"Haaah... haaah... haaah... manusia berwajah dingin kau telah terkurung dalam pengepungan kami keadaanmu bagaikan burung dalam sangkar, apa yang kau gonggongi lagi? Hmm rupanya sebelum memilih peti mati kau tak akan melelehkan air mata, baiklah aku akan memenuhi harapanmu itu..."
Sebagai penutup dari kata2nya itu segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera dilancarkan ke arah depan.
Han Siong Kie menggertak gigi, diapun ayunkan pula telapaknya menyongsong datangnya serangan tersebut.
"Blaaam.... " ditengah benturan keras yang menimbulkan ledakan dahsyat, kaucu muda itu tergetar mundur satu langkah lebar kebelakang dengan sempoyongan, sedangkan Han Siong Kie sendiri cuma bergoyang sedikit badannya
Terkesiap hati Kaucu muda itu setelah menyaksikan kehebatan lawannya, ia tidak menduga kalau tenaga dalam yang dimiliki pihak tawan ternyata jauh lebih sempurna daripada dirinya, ia sadar bila pertarungan adu kekerasan diteruskan lebih jauh maka dirinya niscaya akan menderita kekalahan total.
Mengingat keadaan yang tidak menguntungkan itu, dengan cepat badannya menerjang ke arah depan, sepasang telapaknya bekerja cepat melancarkan serangan bertubi2, bayangan telapak berlapis2 ibarat hujan deras meluncur memenuhi seluruh angkasa.
Han Siong Kie tertawa dingin, sambil ayun telapaknya kearah depan, ia menerobos masuk lewat kepungan bayangan telapaknya yang ber lapis2 kemudian jurus pertama dari ilmu kura2 sakti dilancarkan.
Kaucu muda itu semakin terperanjat lagi, dari gerak tubuh lawan yang begitu aneh dan luar biasa, ia tahu jurus serangan sendiri tak mungkin bakal berhasil membendung datangnya ancaman tersebut, saking takutnya buru2 ia mengundurkan diri sejauh lima depa kearah belakang, Han Siong Kie tidak mau memberi kesempatan bagi lawannya untuk bertukar napas, melihat ia loncat mundur kebelakang, dengan cepat tubuhnya menerjang maju kemuka, jurus pertama dari ilmu kura2 saktipun segera dilepaskan...
Untuk kedua kalitnya Kaucu muda itu meloncat mundur delapan depa kebelakang dengan gerakan seperti kilat... sreet ujung bajunya tersambar desiran angin tajam yang di lancarkan lawan hingga robek sebatas bahu dan rontok keatas tanah.
Dalam pada itu Han Siong Kie sendiripun tercekat hatinya setelah melihat dua buah serangan mautnya ternyata hanya berhasil menyambar robek ujung baju sipemuda itu, hal ini membuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki kaucu muda inijauh berada diatas kepandaian silat yang dimiliki delapan bintang dari perkumpulan Thian chet Kau.
Melihat dirinya dibikin malu dihadapan anak buahnya, kaucu muda itu jadi semakin sengit, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara menyeramkan bentaknya:
"Manusia berwajah dingin, bila dalam tiga jurus kemudian aku tidak berhasil mencabut jiwa snjingmu, seketika itu juga aku akan bunuh diri dihadapanmu! "
Han Siong Kie terkesiap, ia sadar pihak lawan berani omong besar itu berarti bahwa orang itu memiliki ilmu simpanan yang luar biasa.
Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, nampak kaucu muda itu sudah berdiri mematung dihadapan mukanya, sepasang telapak ditepukkan satu sama lain didepan dada kemudian perlahan2 didoroog kearah depan.
Segulung desiran angin pukulan berhawa dingin meluncur keluar berbareng dengan gerakan tepukan itu.
Menyaksikan kaucu mudanya menunjukkan kelihayan, para jago perkumpulan Thian che kau yang berada disisi kalangan segera pusatkan seluruh perhatiannya ketengah kalangan sepaseng mata mereka terbelalak lebar dengan hati berdebar mereka menantikan perkembangan selanjutnya.
Dalam pada itu ketika Han Siong Kie merasa bahwa dtbalik angin pukalan yaog dilancarkan pihak lawan terkandung sesuatu yang aneh, buru2 ayunkan telapaknya untuk memotong, tapi sayang tindakannya itu terlambat satu tindak, ia rasakan angin pukulan yang dilancarkan pihak lawan telah bersarang diatas tubuhnya membuat seluruh kekuatan tubuh yang dimilikinya lenyap tak berbekas, sedikit tenaga pun tak mampu disalurkan kembali, kejadian ini membuat hati nya terkejut serasa sukma melayang tinggalkan raganya.
"Kepandatan apakah itu?" pikirnya didalam hati,”Tak nyana serangan tersebut mampu menjebolkan pertahanan hawa murniku!"
Melihat musuhnya dibikin terkejut, kaucu muda itu tarik kembali serangannya dan menyeringai seram, setelah mendengus dingin perlahan2 ia mendesak maju kedepan.
Han Siong Kie semakin terkesiap ia tak tahu apa yang musti dilakukan pada keadaan eeperti ini.
"Apakah aku mandah digebuk dan dibekuk lawan tanpa melawan??" pikirnya didalam hati.
Dalam gelisahnya ia berusaha keras untuk mengerahkan kembali tenaga dalamnya, sekali dicoba... gagal, dua kali kembali gagal... tapi ketika ia mencoba untuk ketiga kalinya.. akhirnya dia berhasil.. hawa murninya segera terkumpul kembali.
Rasa girang yang menyelimuti hatinya sukar dilukiskan lagi dengan kata2, sepasang telapak segera diayun ke depan dengan sepenuh tenaga. tampaklah segulung angin pukulan yang luar biasa dahsyatnya meluncur ke depan menghantam kearah sianak muda itu.
Mimpipun kaucu muda itu tak pernah menyangka kalau pihak lawan yang hawa murninya berhasil dipecahkan olehnya dengan ilmu sakti Ho Ho sinkang ternyata masih sanggup untuk melancarkan serangan balasan, untuk sesaat ia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan olehnya.
"Bruuk.. ditengah dengusan berat, tubuhnya terlempar beberapa tombak jauhnya dari tempat semula, darah segar muncrat keluar lewat celah2 bibir
Keempat orang kakek baju hijau serta para jago lainnya sama menjerit kaget, mereka tak menyangka kalau kaucu mudanya bakal terluka ditangan musuh. .
Haruslah diketahui tenaga dalam yang dimiliki Han Siong Kie berasal dari Leng Ku Sangjin yang disalurkan lewat kura2 saktinya, tanpa disadari tenaga tersebut telah mengandung suatu tenaga yang amat mukjijat, ditambah pula tubuhnya telah berendam selama tiga hari didalam air mustajab yang berasal dari bawah permukaan tanah, hal ini membuat tulang dan kulitnya se-akan2 berganti yang baru.
oleh sebab itulah meskipun hawa murninya telah dibikin buyar oleh serangan lawan, namun dengan cepat pula hawa yang telah membuyar tadi menghimpun kembali.
Napsu membunuh menghiasi seluruh wajah Han Siong Kie, dikala semua orang masih tercekam oleh rasa kejut bercampur tercengang, tubuhnya laksana kilat menerjang maju kedepan, setibanya dihadapan kaucu muda itu telapaknya segera diangkat siap dibacokkan keatas tubuh musuhnya...
"Tahan" suatu bentakan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, sekali pun suaranya tidak terlalu keras namun cukup memekikkan telinga setiap orang.
Han Siong Kie segara tarik kembali telapaknya dan loncat mundur delapan depa kebelakang, sorot matanya dialihkan ke arah mana berasalnya suara tadi.
Seorang perempuan berusia setengah baya yang cantik jelita bagaikan bidadari berdiri tegap disisi pemuda tersebut, dengan pandangan yang aneh ia sedang memandang pula kearahnya.
Han Siong Kie terkejut, “sungguh cantik perempuan ini” pikirnya didalam hati, ia merasa kecantikan wajahnya jauh lebih hebat ber kali2 lipat kalau dibandingkan dengan kecantikan si malaikat hawa dingin. Siapakah dia?.. Jangan2 dia adalah..
"Ibu" terdengar kaucu muda itu berpaling dan memanggil.
"Nyonya." keempat orang kakak baju hijau serta kedua puluh satu orang pria baju hitam itupun sama2 memberi hormat sambil menyapa.
Han Siong Kie berdiri menjublak, dadanya terasa se akan2 dihantam oleh sebuah martil berat membuat badannya mundur kebelakang dengan sempoyongan dan hampir saja roboh terjengkang keatas tanah. Dia... ternyata... dia adalah nyonya kaucu ..."
Dia... ternyata perempuan itu adalah ibunya sendiri si Siang Go cantik Ong Cui Ing adanya.
Dialah perempuan yang telah meninggalkan putranya, melupakan dendam keluarganya serta kawin lagi dengan Thian che kaucu.
Pertemuan antara ibu dan anak bukan saja tidak menggirangkan hatinya, bahkan ia merasa hatinya sakit bagaikan di iris2 dengan pisau belati...
Air mukanya per lahan2 berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, pandangan matanya ber kunang2 dan kepalanya pusing tujuh keliling, dadanya terasa jadi sesak dan hampir saja membuat pemuda itu muntah darah segar ....
"Dia bukan ibuku... dia bukan ibuku... aku tidak mempunyai ibu seperti ini.." jeritnya didalam hati.
Tetapi kenyataan sudah berada didepan mata, tak mungkin lari dari kenyataan tersebut, ia ingin lari keluar dari selat tersebut, namun sepasang kakinya sudah tak mau mendengar perintahnya lagi, kakinya seolah2 ditumbuhi akar yang kuat.
Rasa hinaa.. malu.. menyelimuti seluruh perasaannya, ia merasa peristiwa tersebut merupakan suatu lembaran hitam bagi kehidupan keluarganya, ia merasa martabat keluarganya ternoda..
Siang-go berwajah cantik ong Cui Ing yang berada dihadapannya hanya membungkam terus dengan pandangan yang aneh, siapapun tak tahu apa yang sedang ia pikirkan pada saat itu.
Untuk beberapa saat lamanya suasana diseluruh kalangan diliputi keheningan serta kesunyian yang mencekam, begitu sepi.. sunyi hingga napas setiap orang dapat terdengar dengan nyata.
Akhirnya Kaucu muda itu melotot sekejap kearah Han Siong Kie dengan penuh kebencian, lalu sambil berpaling kearah ibunya ia berseru: "Ibu, orang itulah yang disebut Manusia berwajah dingin"
"Aku sudah tahu anakku" perempuan itu mengangguk.
"Ibu, aku telah menyerang dirinya dengan ilmu Ho Ho sinkang, namun ilmu tersebut kehilangan kesaktiannya"
"Oooh, sudah terjadi keadaan semacam itu?? kalian coba mundurlah dahulu.."
Pemuda itu tidak berani membantah, bersama para jago lainnya mereka sama2 mengundurkan diri kearah belakang.
Siang go berwajah cantik ong Cui Ing mendengus dingin, sekali loncat ia sudah berada beberapa tombak jauhnya dari tempat semula, dengan sorot mata tajam ia awasi pemuda dihadapannya tanpa berkedip.
Sekujur tubuh Han Siong Kie gemetar semakin keras, ia gigit bibirnya keras2,
benarkah ibunya begitu kejam dan akan turun tangan keji terhadap dirinya?? atau mungkin ia tidak tahu siapakah dirinya???
Pelbagai macam pikiran berkecamuk dalam benaknya.
"Tidak" akhirnya ia menjerit didalam hati, "susiok pernah berkata bahwa beliau pernah membawa aku pergi menemui dirinya, tapi dia malah turun tangan keji hendak membinasakan diriku serta susiok.. tapi kenapa?? kenapa hatinya begitu kejam melebihi binatang??? kenapa ia hendak membunuh putra kandungnya sendiri????.."
Siang- go berwajah cantik sendiripun berdiri sambil menggigit bibir, rupanya diapun sedang menahan emosi yang bergelora didalam dadanya.
Akhirnya Han Siong Kie tak dapat menahan diri lagi, ia buka suara dan berseru, ternyata suaranya begitu aneh dan mengerikan hingga ia sendiripun tak dapat mengenali sebagai suara sendiri "Kau... kau... kau adalah ..."
"Aku adalah nyonya kaucu" jawab ong cui Ing dengan suara dingin.
Han Siong Kie mendongak dan tertawa seram, nadanya mengerikan bagaikan seseorang yang hampir kalap.
"Nyonya..... nyonya kaucu..... nyonya kaucu.... haah.... haaah..... haaah......"
semua jago yang hadir dalam kalangan tertegun, mereka heran dan tercengang menyaksikan sikap serta tingkah laku musuhnya yang sangat aneh itu.
Air muka siang- go berwajah cantik ong cui Ing nampak berubah hebat, tapi sebentar kemudian ia telah bersikap dingin kembali bentaknya:
"Manusia berwajah dingin, kau tak usah berlagak sok dihadapanku Hmm Berani main gila kuhabisi nyawamu saat ini juga"
"Nyonya kaucu" teriak Han Siong Kie sambil menggertak gogo. "Kau siap berbuat apa terhadap diriku?"
"Bagi setiap manusia yang berada didalam Lian huan tan, bila dia bukan sahabat tentulah orang itu adalah musuh kami, selamanya kami tidak akan membiarkan musuh2 kami tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup.."
Han Siong Kie semakin sedih rasanya melihat sikap ibunya itu, hatinya jadi hancur dan matanya jadi makin ber kunang2.
"Nyonya yang terhormat" teriaknya."Kau kenal tidak dengan seorang manusia yang bernama Telapak naga beracun Thio Llen..."
"Tutup mulut anjingmu manusia berwajah dingin, takdir telah menentukan bahwa usiamu hanya sampai disini saja, ber siap2lah menyambut saat kematianmu"
Han Siong Kie gemetar keras, tanpa disadari ia melangkah mundur satu langkah ke belakang..
-0000000-
Tengkorak Maut
Oleh : Tjan ID
Bab 16-20: Nama baru, Malaikat penyakitan
HAMPIR saja ia tidak percaya dengan telinga sendiri, ia tidak percaya kalau di kolong langit benar2 terdapat seorang ibu yang berhati begitu keji dan sama sekali tidak mempunyai rasa sayang antara seorang ibu dengan anaknya, benarkah dia masih belum mengetahui siapakah dirinya?? mungkinkah ia belum tahu bahwa dia adalah putra kandungnya??
Dengan suara serak dan tersendat kembali ia berpekik nyaring.
"Nyonya Kaucu yang terhormat, masih ingatkah kau dengan seorang bocah cilik yang ada ber sama2 sitelapak naga beracun..."
Air muka si siang-go berwajah cantik Ong Cui Ing berubah semakin hebat, napsu membunuh menyelimuti wajahnya, tidak menunggu sampai sianak muda itu menyelesaikan kata2nya ia sudah menerjang maju kedepan, telapak tangan laksana kilat menghantam ke depan.
Han Siong Kie jadi tertegun dan berdiri menjublak. dalam waktu singkat pemuda itu berubah jadi orang bodoh. orang yang kehilangan kesadarannya...
Apa yang diutarakan sudah terlalu jelas sekali bagi pendengaran siapapun juga, siapa pun akan memahami maksud dari perkataannya itu, tetapi perempuan itu atau tegasnya ibu kandungnya ternyata pura2 tidak mengerti, bukan begitu saja, bahkan diapun tega turun tangan keji terhadap dirinya.. putra kandung sendiri
Hancurlah perasaan hati Han Siong Kie, tubuhnya jadi lemas dan lunglai ia tak mampu menghindarkan diri lagi dan serangan maut yang sudah tiba didepan mata.
"Blaaam ditengah jeritan kesakitan yang memilukan hati, tubuh pemuda she Han itu termakan telak oleh serangan yang maha dahsyat itu hingga mencelat jauh beberapa tombak dari tempat semula dan jatuh kembali keatas tanah.
Rasa benci dan kecewa berkecamuk dalam hatinya, rasa sakit hati membuat si anak muda itu berusaha untuk mempertahankan diri, dengan cepat ia loncat bangun dan.. Uuuuaaah darah segar muntah dari mulutnya, menyembur sejauh dua tombak lebih dan menodai pakaian yang dikenakan Ong Cui Ing.
Kaucu muda yang selama ini berpeluk tangan belaka disisi kalangan sebera menerjang kemuka setelah dilihatnya pemuda lawannya itu roboh terluka..
siang go berwajah cartik sang cui Ing mengerutkan alisnya, tiba2 diapUn menerjang kembali kedepan sambil lancarkan sebuah totokan kilat.
Kenyataan yang mengenaskan ini membuat kesadaran Han Siong Kie semakin pudar, ia sudah tak mampu menghindarkan diri lagi, dalam keadaan begitu secara ngawur ia segera kirimkan satu pukulan dahsyat untuk menyongsong datangnya ancaman dari pihak lawan.
"Blaaam..." dalam keadaan terluka parah serangan yaUg dilancarkan pemuda itu ternyata masih cukup ampuh.
Dalam satu bentrokan keras, tubrukan dari Ong Cui Ing berhasil ditahan untuk sesaat tapi sebuah totokan dengan cepat pula telah bersarang diatas tubuhnya.
Han Siong Kie menjerit tertahan, tak ampun lagi tubuhnya tertotok dan roboh terjengkang diatas tanah.
Menyaksikan musuh tangguh telah berhasil dibekuk. empat kakek baju hijau itu segera berkelebat maju kedepan, serunya setelah memberi hormat. "Nyonya, bagai mana dengan bangsat cilik ini??"
Siang go berwajah cantik Ong Cui Ing melirik sekejap ke arah tubuh Han Siong Kie yang menggeletak tak sadarkan diri diatas tanah, kemudian jawabnya dingin:
"Kirim dia kedalam penjara maut, besok ber-sama2 kelima puluh dua orang hukuman lainnya bunuh habis"
"Terima perintah" keempat orang kakek baju hijau itu segera mengangguk.
"Ibu, apakah tidak perlu serahkan bangsat itu keruang penyiksaan??.." sela kaucu muda itu mendadak.
"Tidak perlu, bangsat cilik ini tidak lebih hanya seorang pemuda yang jumawa dan latah, aku rasa dia tak akan mengandung maksud2 tertentu" .
Demikianlah, salah seorang diantara keempat orang kakek baju hijau itu segera mengepit tubuh Han Siong Kie dan siap berlalu dari tempat itu.
Mendadak Ong Cui Ing nyonya dari kaucu perkumpulan Thian chee kau itu ulapkan tangannya sambil berseru. "Tunggu sebentar "
Ia melayang mendekati kesisi tubuh Han Siong Kie, sambil lancarkan beberapa totokan lagi ia berkata:
"Ilmu silat yang dimiliki si manusia berwajah dingin sangat lihay, lebih baik sekarang juga kupunahkan dahulu ilmu silat yang dimilikinya daripada sampai terjadi hal yang tidak diinginkan dibelakang hari. Beri tahu kepada pengurus penjara maut, mereka tak usah menotok jalan darah cacadnya lagi cukup bebaskan jalan darah tidurnya"
Keempat orang kakek baju hijau itu segera mengangguk dan bersama2 mengundurkan diri dari tempat itu.
-0000000-
Jilid 8 : Ilmu bernapas kura-kura sakti
SEPENINGGALNYA keempat orang kakek tadi, Ong Cui Ing sambil menggandeng putra kesayangannya pun ikut berlalu menuju kedalam selat.
Kakek bercambang berserta kedua puluh satu orang pria baju hitam itu dengan sikap yang hormat menghantar keberangkatan nyonya kaucu mereka.. Tidak lama setelah sesosok bayangan manusia yang kecil ramping. Dia bukan lain adalah Tonghong Hwie yang menyaru sebagai seorang pengemis cilik.
Kalau tadi Han Siong Kie menaruh curiga kalau dia sudah tertawan oleh para jago yang dikirim perkumpulan Thian chee Kau untuk mencari jejaknya, maka Tonghong Hwie pun mengira saudara angkatnya telah tertawan pula oleh para jago dari perkumpulan Thian chee kau.
Sungguh sayang kedatangan mereka berdua hanya terpaut beberapa waktu saja hingga, kedua belah pihak tak dapat saling bertemu satu sama lainnya.
sekalipun tujuan yang mereka datangi adalah sama, dan maksud tujuan merekapun tak berbeda, namun rupanya takdir telah menentukan yang lain.
Tonghong Hwie adalah seorang jago yang amat cerdik, dia tahu wilayah Lian Hong tan tidak lebih bagaikan sarang naga gua harimau, jago lihay pihak perkumpulan Thian chee kau yang ditugaskan menjaga di sekitar tempat itu banyak sukar dihitung dengan jari, bila ia berani menerjang masuk secara gegabah niscaya jejaknya akan ketahuan. oleh karena itu dengan amat sabar pengemis cilik itu menuggu diluar daerah tersebut, ia tunggu hingga kentongan kedua sudah menjelang tiba, dengan gerakan yang sangat enteng danpenuh kewaspadaan, selangkah demi selangkah dijelajahinya tempat itu.
Dengan kecerdasan yang dimilikinya, ternyata dengan amat mudah sekali ia berhasil melewati beberapa buah pos penjagaan yang banyak tersebar disekitar tempat itu.
Namun tidak lama setelah berada didalam selat tersebut, dengan cepat Tonghong Hwee menemukan bahwa keadaan tidak beres, ia temukan begitu banyak persimpangan yang bermunculan ditempat itu, meskipun sudah setengah malam ia ber-putar2 ditempat itu, namun yang ditemui hanyalah tebing2 curam yang menjulang tinggi ke angkasa, bukan begitu saja bahkan iapun menemukan banyak sekali lorong sempit yang telah dilaluinya bukan hanya satu kali saja.
Tonghong Hwie jadi amat panik, menurut perhitungannya didalam beberapa jam lagi fajar bakal menyingsing, namun jalan lorong yang dilewatinya kian lama kian bertambah membingungkan hati, bukan saja jalan keluar tidak berhasil ditemukan, bahkan untuk mundur kembali kejalan yang semula pun tak mampu dia lakukan.
Sadarlah pengemis cilik itu bahwa dirinya telah terkurung didalam sebuah barisan yang maha sakti, dalam keadaan begini kendati ia cerdik dan banyak akal, tak urung dia akan kelabakan juga.
Fajar telah menyingsing, lorong2 sempit yang membujur dalam selat itu perlahan2 menjadi terang benderang.
Keadaan dari Tonghong Hwie pada saat ini ibarat semut yang berada diatas kuali panas, rasa panik yang menyelimuti hatinya sulit dilukiskan dengan kata2. Mau maju tak dapat, mau mundurpun tak bisa, sedangkan kabar berita tentang kakak angkatnya Han Siong Kie tidak berhasil diketahui, bisa dibayangkan betapa cemasnya hati pengemis ini.
Terpikir olehnya hendak mencari tempat persembunyian terlebih dahulu untuk melepaskan diri dari pengamatan para jago dari perkumpulan Thian chee kau. Setelah itu baru berusaha untuk mencarijalan keluar dari barisan ini, siapa tahu sekeliling tempat itu yang terlihat hanyalah tebing2 curam yang menjulang tinggi keangkasa. Dengan tenaga dalam yang dimilikinya tak mungkin baginya untuk melayang naik ketempat itu.
Disaat hatinya sedang bingung bercampur panik itulah, mendadak dari arah belakang berkumandang datang suara tertawa seram yang amat mengerikan..
Dengan hati terkesiap Tonghong Hwie berpaling kebelakang, tanpa terasa ia tarik napas dingin dan bergidik.
Terlihatlah seorang kakak baju kuning yang bermata tunggal telah berdiri kurang lebih satu tombak dibelakang tubuhnya, sedari kapan orang itu munculkan diri ternyata sama sekali tak diketahui olehnya.
Dalam pada itu sikakek baju kuning bermata tunggal tadi telah menatap wajahnya sambil tertawa seram, serunya:
"Hey bangsat cilik, rupanya kau sudah kepayahan semalam suntuk. bagaimana kalau sekarang beristirahat dulu??"
Tonghong Hwie merasa amat terkejut, jantungnya terasa berdebar keras, ia tak menyangka kalau perbuatannya selama semalam suntuk ternyata sudah berada didalam pengawasan orang, dengan hati tercekat segera serunya: "si. .siapa ..siapa kau??"
"Hmm..hmm kau ingin tahu siapakah aku? aku bukan lain adalah Koan thian sin atau malaikat pengamat langit Ci Chong"
"Malaikat Pengamat Langit??."
"Sedikitpun tidak salah" kakek baju kuning itu mengangguk.
"Aaah aku rasa julukan itu kurang tepat bagimu, seharusnya engkau lebih cocok kalau dinamakan si mata tunggal pengamat langit"
Air muka kakek baju kuning itu seketika berubah hebat, ia tidak mengira dalam keadaan bahaya, pihak lawannya masih sempat untuk menggoda dirinya, sambil tertawa seram ia segera berseru:
"Bajingan busuk. kematian sudah berada diambang pintu, kau masih juga tak tahu diri dan berani mempermainkan diriku ..Hmm rupanya kau benar2 sudah bosan hidup, Heeeh... heeeh... heeeh... bangsat kedatanganmu apakah disebabkan karena manusia berwajah dingin itu??"
Terkejut Tonghong Hwie mendengar ucapan tersebut, dari situ ia bisa menarik kesimpulan bahwa delapan puluh persen kakak angkatnya sudah tertangkap. oleh para jago perkumpulan Thian chee Kau. Dengan suara agak gemetar segera serunya: "Jadi jadi... manusia berwajah dingin telah kalian lukai ?"
"Ehmmm... sedikitpun tidak salah, selamanya orang yang berani memasuki wilayah Lian huan tau tak bakal ia bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup"
"Apa?? jadi..jadi ia sendiri yang datang mencari satroni ketempat ini???"
"sedikitpun tidak salah, dia yang sudah bosan hidup dan datang mencari penyakit sendiri"
"Sekarang... sekarang dia berada dimana?"
"Kau maksud simanusia berwajah dingin? sekarang dia berada didalam penjara maut dan sebentar lagi kau bakal bertemu dengan dirinya"
Sekujur badan Tonghong Hwie gemetar semakin keras, ia tak tahu dimanakah letaknya penjara maut tersebut, tetapi bila ditinjau dari namanya jelas tempat itu merupakan suatu tempat yang luar biasa.
sebelum ingatan kedua berkelebat didalam benaknya, terdengar si malaikat pengamat langit Ci chong telah berkata kembali:
"Dia hanya akan hidup sampai fajar menyingsing nanti, berarti jiwanya masih akan hidup selama setengah jam belaka"
"Dia.... kenapa dia?"
"Dia akan dijatuhi hukuman mati dan akan melaksanakan hukumannya sejenak lagi"
Tonghong Hwie seketika itu juga merasakan pandangan matanya jadi gelap dan berkunang2, tubuhnya dengan sempoyongan mundur beberapa langkah kebelakang:
"Engkoh Kie hanya akan hidup setengah jam lagi??" pikirnya didalam hati "Benarkah dia akan dijatuhi hukuman mati?? bukankah ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, kenapa ia bisa tertawan?? bila engkoh Kle benar2 bakal mati, lalu apa artinya bagiku untuk hidup seorang diri, akan lebih baik biarkan diriku ditawan saja hingga bisa bertemu muka dengan dirinya atau paling sedikit aku bisa bertemu dengan dirinya sebelum menghembuskan napas yang terakhir, banyak sekali perkataan yang hendak kusampaikan kepadanya, aku hendak beri tahu asal usulku kepadanya ..."
Makin berpikir ia merasa makin kalut, hingga akhirnya sambil menjerit pengemis cilik itu putar badan dan lari menuju kedalam lembah..
"Bangsat cilik, kau hendak pergi kemana? terdengar malaikat pengamat langit membentak keras.
Sambil berseru tubuhnya laksana kilat berkelebat ke depan dan menghadang jalan pergi pengemis itu.
Jago tua ini merupakan salah satu diantara empat pelindung hukum yang amat lihay didalam perkumpulan Thian chee kau, ilmu silatnya terhitung kelas satu dibawah kaucu mereka sendiri, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan yang dia lancarkan.
Dengan tangkas Tonghong Hwie berkelit kesamping, cengkeraman yang telah berhasil bersarang diatas bahunya itu segera berhasil diloloskan kembali, menggunakan kesempatan itu dia loncat mundur delapan depa ke arah belakang.
Melihat musuhnya berhasil melepaskan diri dari serangan yang dia lancarkan itu, malailat pengamat langit Ci Chong berseru kaget, ia tak tahu ilmu silat apakah yang dimiliki pengemis cilik itu sehingga cengkeraman yang telah berhasil mengenai sasaran itu dapat dilepaskan dengan begitu gampang..
Tonghong Hwie sendiri yang memiliki baju sakti pelindung badan meskipun berhasil melepaskan diri dari cengkeraman musuh, tak urung ia rasakan bahunya terasa amat sakit, diam2 ia kaget akan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki musuhnya itu.
Dalam pada itu si malaikat pengamat langit Ci Chong setelah tertegun beberapa saat lamanya segera tertawa seram, ia menerjang kembali kedepan sambil melancarkan serangan.
"Ci, Hu hoat, tahan" mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dari arah belakang.
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, dari balik bukit muncullan seorang perempuan berusia setengah baya.
Dari suata teguran itu rupanya malaikat pengamat langit Ci chong sudah mengetahui siapakah yang telah datang, buru2 ia tarik kembali telapaknya dan meloncat mundur ke belakang.
"Hamba terima perintah, apakah nyonya masih ada perintah lain??" serunya dengan serius.
"Waktu untuk melaksanakan hukuman mati segera akan berlangsung, harap kau segera berlalu dan melakukan pengawasan yang ketat disekitar tempat ini, sedang bangsat cilik ini serahkan saja kepadaku"
"Hamba terima perintah" setelah memberi hormat malaikat pengamat langit Ci Chong segera putar badan segera berlalu dari situ.
Tonghong Hwie merasa semakin sedih setelah mengetahui bahwa saat dilaksanakannya hukuman mati segera akan berlangsung, sambil menjerit keras ia enjotkan badan dan siap mengejar dibelakang kakek baju kuning tadi. "Berhenti"
Di tengah bentakan nyaring Tonghong Hwie segera merasakan adanya segulung angin pukulan yang amat kuat menerjang kearah tubuhnya hingga memaksa dia harus membatalkan niatnya untuk mengejar kakek baju kuning tadi dan melayang kembali keatas tanah.
Perempuan berusia setengah baya yang bukan lain adalah siang go berwajah cantik Ong Cui Ing itu, ia tidak banyak bicara tubuhnya laksana kitiran angin puyuh segera menerjang maju kedepan, telapak tangannya yang sukar dilukiskan dengan kata2 mencengkeram pergelangan tangan Tong hong Hwie.
Pengemis cilik itu meronta keras, ia berusaha melepaskan diri dari ancaman itu, namun rupanya Ong Cui Ing sudah mempunyai perhitungan yang masak, bersamaan dengan dilancarkan serangan cengkeraman itu, tangannya segera mengirim pula sebuah totokan kearah bagian dalam tubuh pengemis itu.
Tonghong Hwie terkesiap. sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya, untuk menghindarkan diri tak sempat lagi, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat dalam benaknya, ia sudah jatuh tak sadarkan diri
Bagaimana keadaan si pengemis cilik ini selanjutnya?? baiklah untuk sementara waktu kita tinggalkan dahulu.
Dalampada itu Han Siong Kie yang di hajar ibunya sendiri Ong Cui Ing hingga muntah darah segar, kemudian jalan darahnya tertotok hingga kesadarannya lenyap segera digotong masuk kedalam penjara bawah tanah.
Menanti pemuda itu sadar kembali dari pingsannya, ia temukan dirinya berbaring di suatu tempat yang berbau lembab, busuk dan sangat memuakkan, begitu baunya hingga untuk bernapaspun terasa amat sulit.
Perlahan-lahan ia membuka matanya dan berusaha memandang sekeliling tempat itu, namun yang terlihat hanyalah kegelapaa yang mencekam seluruh jugad. Tempat manakah ini ? ingatan tersebut dengan cepat terlintas dalam benaknya.
Lama kelamaan sinar matanya dapat menembusi kegelapan dan mulai bisa melihat pemandangan disekitar tempat itu meskipun masih samar dan buram.
"Apakah aku sudah mati??" ingatan itu dengan cepat berkelebat pula dalam benaknya, ia lihat dirinya berada dalam sebuah ruang batu yang luasnya hanya lima tombak persegi, udara menyiarkan bau busuk dan bayangan manusia bergerak kesana kemari dihadapan matanya, suara rantai bergemerincingan sementara manusia dengan wajah seram layu dan rambut yang kusut berkeliaran disekitar situ.
"Aaah mungkinkah aku telah berada di dalam neraka yang penuh dengan manusia hukuman.??" pikiran itu seketika membuat hatinya tercekat dan bada nj adi merinding.
Buru2 ia berusaha meronta dan loncat bangun dari atas tanah namun suara gemerincingan segera mengejutkan pula hatinya.
Ternyata kaki serta tangannyapun diborgol dengan sebuah rantai besi yang besar dan kuat, sebuah jepitan besi yang diikat dengan rantai pula memborgol tenggorokannya membuat dia sama sekali tak dapat bergerak dengan bebas.
Kurang lebih tiga puluhan orang hukuman dengan keadaan yang tak jauh berbeda dengan dirinya duduk lesu dan lemas di sekitar situ, suasana terasa hening namun mencekamkan.
"Aku telah mati aku telah mati" jerit Han Siong Kie dengan suara mengenaskan, "aku mati dalam keadaan yang konyol, kematianku sungguh tidak berharga. oooh, kenapa aku harus mati ditangan ibu kandungku sendiri??? "
Jeritan ini segera memancing perhatian para hukuman yang lain, mereka sama2 angkat kepala dan memandang kearahnya, tetapi tak seorangpun diantara mereka yang buka suara, mungkin mereka sendiri sudah terbiasa menyaksikan kejadian seperti ini.
Pemuda itu men-jerit2 seperti orang gila sambil berteriak ia terbayang kembali kejadian-kejadian dimasa silam.
Ia teringat kembali ketika paman gurunya si Telapak naga beracun Thio Lien disuatu malam yang gelap dan hujan turun dengan derasnya telah membawa ia pergi mengunjungi perkampungan keluarga Han yang penuh dengan tulang manusia yang berserakan, membuat ia mengetahui asul usul yang sebenarnya"
setelah paman gurunya memberitahukan asat usulnya, ternyata ia telah bunuh diri disisi tulang tubuh ayahnya.
Dua ratus sosok tulang manusia termasuk tulang ayahnya masih berserakan dalam perkampungan tersebut tanpa seorang manusia pun yang mengurus... ia bersumpah akan menuntut balas atas peristiwa berdarah itu... dia akan mencincang tubuh musuhnya agar bisa membalaskan sakit hati ayah serta keluarganya.
Ia tahu orang yang telah melakukan penjagalan secara besar2an itu telah meninggalkan suatu lambang diatas dinding rumahnya, lambang itu berupa sebuah tengkorak yang berlumuran darah... itulah perlambang dari pemilik benteng Maut.
Kemudian ia teringat kembali sewaktu berkenalan dengan Tonghong Hwie, mereka angkat saudara kemudian ikut memperoleh penemuan aneh di dalam hutan, menyerbu ke dalam Benteng Maut
Dalam peristiwa itu ia telah dihantam masuk sungai oleh Tengkorak Maut hingga akhirnya ditolong oleh seorang gadis, hal ini membuat dia berhutang budi dengan Go Siauw Bi, putri dari ketua perkumpulan Pat Gopang.
Terbayang pula wajah ibunya yang cantik tapi berhati kejam melebihi ular beracun, bukan saja ia telah kawin dengan orang lain, bahkan begitu tega untuk turun tangan keji terhadap dirinya.
Otak terasa penuh dengan pikiran2 yang mengalutkan, sekali lagi ia menyapu ruang disekelilingnya, ia tetap neraka dihadapannya dengan pandangan sayu. Rasa seram ngeri membuat tubuhnya menggigil, dan bulu romanya pada bangun berdiri Gumamnya kembali seorang diri:
"Aku tak boleh mati dengan begitu saja, bila aku mati siapa yang akan menuntut balas bagi sakit hati keluargaku? siapa yang akan mengubur tulang2 dalam perkampungan keluarga Han?? aku tak boleh mati, aku tidak ingin mati, Aaah Thian mengapa kau atur kesemuanya ini bagiku??.. oooh Thian kau terlalu kejam kau tidak adil.." semakin berpikir badannya semakin kaku linu dan sakit sekali.
Mendadak Kraaaak terdengar suara gemerincing yang amat nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, disusul serentetan cahaya yang amat tajam memancar masuk menerangi seluruh ruangan tersebut.
Dari lubang terbuka itulah Han Siong Kie menemukan seurat wajah yang amat dikenal olehnya sedang melongok kedalam.
Kraaak terdengar suara nyaring kembali berkumandang, liang tadi menutup kembali, suara helaan napas sayup2 terdengar dari ruangan.
"Aaah Dia.... dia.. adalah si kupu2 warna warni Lie In Hiang "pemuda itu segera berteriak keras "Aku belum mati, aku belum mati, tempat ini pastilah penjara dalam tanah didalam markas perkumpulan Thian chee kau"
Hampir saja pemuda itu meloncat bangun dari atas tanah saking girangnya, harapan untuk hidup segera muncul kembali didalam hatinya.
Maka dengan cepat ia berusaha merangkak bangun, ia berusaha untuk duduk bersila dan mengatur penapasan. Ia coba untuk bangkit berdiri:
"Duduklah nak, jangan bergerak jangan terlalu banyak bergerak dulu" serentetan bisikan yang lembut bagaikan bisikan nyamuk bergema masuk dalam telinganya.
Han Siong Kie terkesiap dia yakin ucapan itu sengaja ditujukan kepadanya, tapi meskipun sorot matanya telah berputar menyapu setiap sudut ruang penjara itu, namun tak seorang manusiapun yang berhasil ditemukan, ia tidak berhasil menemukan sesuatu apapun, sungguh aneh sekali, siapakah yang telah mengirim padanya didalam penjara yang mirip dengan neraka ini.?????
"Manusia berwajah dingin, duduklah dan jangan bergerak" sekali lagi bisikan itu berkumandang datang.
Han Siong Kie terkejut dan tanpa sadar telah duduk kembali keatas tanah, dengan ilmu menyampaikan suara pula ia balas berbisik: "siapakah kau??
"Aku?? masa kau sudah tidak kenali lagi suaraku??"
"Aku merasa suaramu seperti kukenal, cuma aku lupa siapakah dirimu itu??"
"Aku adalah orang yang ada maksud"
Han Siong Kie semakin terperanjat, jantungnya berdebar semakin keras. Kembali manusia yang ada maksud muncul dihadapannya dikala ia sedang menemui kesulitan. suatu harapan untuk melepaskan diri dari tempat itu segera muncul didalam benaknya, disamping itu dia pun merasa heran bercampur kaget. Kenapa manusia yang ada maksud bisa munculkan diri didalam penjara perkumpulan Thian Chee Kau?? dari mana ia bisa muncul disitu tanpa diketahui oraang??"
"Benarkah kau adalah manusia yang ada maksud?" sekali lagi Han Siong Kie bertanya.
"Sedikitpun tidak salah." orang yang ada maksud menjawab.
“Sekarang nona berada dimana?”
“Di ruang sebelah penjara maut itu!”.
"Apa? penjara maut? tempat ini bernama penjara maut.?”
"Tidak salah. sekarang kau berada didalam penjara maut dari perkumpulan Thian Chee Kau”
“Bagbaimana caranya nona bisa sampai disini?”
"Belum waktunya kuberitahukan kepadamu”
Han Siong Kie tarik napas panjang2. sebenarnya ia ingin bertanya kepada orang yang ada maksud mengapa dia datang untuk menolong dirinya, tetapi watak yang tinggi hati telah mengurungkan niatnya itu.
"Nona siapa2 saja yang ditawan didalam penjara ini? apakah kau tahu?” akhirnya dia bertanya kembali.
“Para hukuman yang sedang mananti untuk menjalankan hukuman mati.”
Untuk kesekian kalinya Han Siong Kie tarik napas dingin. ia terkesiap dan tak pernah menyangka kalau dirinya pun telah dijatuhi hukuman mati oleh pihak lawan. Tanpa sadar ia segera berseru lirih.
"Apa?? kau katakan mereka adalah orang hukuman yang sedang menantikan saat untuk menjalani hukuman mati?”
“Ssdikitpun tidak salah. orang2 itu ada yang merupakan musuh besar dari perkumpulau Thian chee kau. ada pula anggota perkumpulan yang telah melanggar peraturan perkumpulan mereka. sekarang orang2 itu sedang menikmati sisa hidupnya yang tak akan lama lagi. sebentar lagi mereka akan menjalani hukuman mati"
“Apakah termasuk diriku juga akan menjalani hukuman mati?"
"Tentu saja!"
"Lalu apa maksud nona datang kemari?”
“Aku datang demi dirimu, sekarang janganlah bergerak secara sembarangan. kau harus pura-pura menunjukkan bahwa kau adalah seseorang yang telah kehilangan seluruh ilmu silatmu!”
"Kenapa??”
“Setiap orang sebelum dijebloskan kedalam penjara maut. oleh pengurus penjara ilmu silatnya pasti akan dimusnahkan terlebih dahulu.”
"Tapi aku merasa bahwa ilmu silatku masih utuh"
"Benar, ilmu silatmu memang masih utuh, sedang apa sebabnya sampai begini dikemudian hari kau bakal mengetahui dengan sendirinya kesemuanya ini, orang yang kehilangan sukmalah yang mengaturnya. aku tak dapat menjelaskan kepadamu"
"Orang yang kehilangan sukma?? jadi kedatangan nona adalah sedang menjalankan tugas yang diperintahkan orang yang kehilangan sukma??"
"Dugaanmu tepat sekali, aku memang sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh manusia yang kehilangan sukma"
"Nona, bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan kepadamu??"
"Selama pertanyaanmu itu dapat kujawab, aku pasti akan memberikan jawaban yang memuaskan"
"Adik angkatku Tonghong Hwie sekarang berada dimana?? bagaimana pula nasibnya?? dia masih hidup atau sudah mati?? "
Manusia yang ada maksud termenung beberapa saat lamanya, kemudian menjawab:
"Keselamatannya untuk sementara waktu tak ada bahaya."
"Sekarang dia berada dimana? "
"Masih berada dalam wilayah Lian huan tau, cuma ia sudah berada dibawah perlindungan orang yang kehilangan sukma"
Legalah hati Han Siong Kie setelah mendengar perkataan tersebut.
"Apakah orang yang kehilangan sukma juga telah tiba ditempat ini?" ia bertanya kembali.
"Lebih baik kau tak usah tanyakan hal yang sama sekali tak berguna, tahukah kau masih berapa lama kau dapat hidup di kolong langit??"
"Berapa lama? seru sianak muda itu dengan hati terkejut.
"Hanya dua jam, sebentar lagi ketiga puluh satu orang hukuman yang ada didalam penjara ini termasuk tiga puluh dua orang akan melaksanakan hukuman matinya"
Han Siong Kie jadi kecewa bercampur sedih, rasa benci dan sakit hatinya muncul kembali menyelimuti benaknya, ia kertak gigi keras2 dan menyumpah:
ia benci ibunya yang kejam melebihi ular berbisa itu, ia benci kepada siang- go berwajah cantik Ong Cui Ing... perempuan itulah yang telah menghantar dirinya kedalam penjara maut, ibu kandungnya yang hendak merenggut selembar jiwanya lewat hukuman mati.
"Bagaimana cara mereka untuk membereskan jiwaku nanti." serunya dengan suara berat.
"Menurut peraturan yang berlaku bagi perkumpulan Thian chee kau, untuk tetap mempertahankan prikemanusiaan mereka hanya membunuh orang tanpa mengucurkan darah, mereka akan cekoki para hukuman dengan obat racun yang keji, setelah korbannya mati keracunan mayatnya baru dikubur diluar wilayah Lian Huan tan"
"Dibunuh dengan racun??"
"Sedikitpun tidak salah kau jangan harap bisa meloloskan diri dari tempat ini, sebab setiap orang hukuman yang telah mati keracunan sebelum diangkat keluar akan diperiksa lebih dahulu dengan teliti, semboyan mereka adalah hanya mayat saja yang dapat ke luar dari penjara maut tersebut"
"Ooh...” Han Siong Kie hanya bisa berkata begitu saja, kemudian membungkam dalam seribu bahasa.
Terdengar orang yang ada maksud melanjutkan kembali kata2nya:
"Penjara maut ini didirikan dibawah tanah, pintu masuk dan pintu keluar diatur oleh alat rahasia yang ber lapis2, kurang lebih seratus orang jago lihay menjaga disetiap lapisan alat rahasia tersebut, bukan begitu saja bahkan setelah orang itu mati keracunan, sebelum dikubur kedalam tanah oleh petugas hukuman akan ditotok pula jalan darah kematiannya sehingga siapapun yang coba pura2 mati tak akan lolos pula ditangannya.."
"Nona, apakah kedatanganmu kesini hanya ingin memberi tahukan beberapa patah kata itu saja??" akhirnya sianak muda itu tak dapat menahan diri dan berseru.
"Bukan hanya itu saja, akupun datang untuk menolong dirimu.."
"Mati dan hidup semuanya diatur oleh takdir, aku sama sekali tidak jeri menghadapi semua kenyataan yang ada didepan mata."
"Kau memang bisa ambil tak perduli, tapi orang lain tidaklah mengharapkan kau terjadi sesuatu.."
"Siapakah orang itu?? "
"Orang yang kehilangan sukma"
"Dia? kenapa?".
"Dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya, sekarang ia sedang berusaha keras untuk menolong dirimu tetapi diapun harus mengeluarkan suatu pengorbanan yang tak terhingga besarnya"
"Untuk menyelamatkan jiwaku, siorang yang kehilangan sukma telah memberikan pengorbanan yang tak ternilai besarnya?"
"Sedikitpun tidak salah"
"Kenapa ia berbuat demikian??"
"Sekarang aku belum dapat memberitahukan kepadamu, suatu ketika kau akan mengetahui dengan sendirinya"
Han Siong Kie membungkam dan tidak berbicara lagi, peristiwa ini betul2 sangat aneh dan sukar diraba arah tujuannya.
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya hingga hampir saja ia berteriak ketus dengan suara gemetar segera serunya:
"Nona? bukankah tadi kau berkata bahwa hanya orang mati yang dapat keluar dari penjara ini??"
"Ehmm sedikitpun tidak salah kenapa?".
"Aku punya suatu cara yang bagus untuk meloloskan diri dari sini..."
"Benarkah itu?? kau benar2 mempunyai cara untuk meloloskan diri dari tempat ini? " seru orang yang ada makkud deagan suara penuh emosi. "sedikitpun tidak salah "
"Apakah caramu itu?? cepat katakan"
"Bukankah kau mengatakan bahwa orang mati saja yang dapat keluar dari penjara maut ini??"
"Ehmm ? sedikitpun tidak salah??"
"Cara baikmu itu justru terletak pada kematian itu"
"Bagaimana maksudmu??? aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan itu.."
"Aku pernah belajar ilmu pernapasan kura2 saktL, aku bisa berpura-pura mati tanpa diketahui oleh mereka.."
“Apa?” terdengar Orang yang ada maksud menjerit tertahan, “Kau pernah mempelajari ilmu kura2 sakti yang sudah lama lenyap dari permukaan bumi itu?”
"Sedikitpun tidak salah" pemuda itu membenarkan.
ooooOoooo
17
“AAh- aku sudah mengerti akan maksud mu, bukankah kau hendak menggunakan ilmu kura2 sakti untuk menutup seluruh pernapasanmu dan memutar balikkan urat2 nadi serta jalan darah yang ada didalam tubuh hingga orang akan menganggap dirimu sebagai sesosok mayat??"
"Benar, coba lihatlah apakah cara ini bisa digunakan ateu tidak?”
“Boleh sih boleh. hanya saja..."
"Hanya kenapa?”
“Setelah mayat itu digotong keluar dari penjara biasanya oleh petugas penjara pasti akan dilakukan pemeriksaan kembali dengan seksama dan kemudian menotok jalan darah kematiannya, bila sampai kau sungguh-sungguh celaka bukankah urusan jadi berabe?"
"Nona, mungkin kau belum begitu memahami akan kehebatan serta kesaktian dari ilmu kura2 sakti ini, bila seorang telah menggunakan ilmu tersebut maka seluruh peredaran darahnya akan berhenti jantUngnya berhenti berdetak dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan orang mati biasa kecuali mayatku dipotong2 atau ditusuk atau mungkin aku bakal celaka ditangan orang lain"
"Lalu ilmu kura2 sakti yang kau miliki itu bisa bertahan berapa lama??"
"Ilmu tersebut belum lama kulatih, paling banter aku hanya bisa bertahan selama sepuluh hari saja"
"Itu lebih dari cukup, asal kau bisa bertahan selama tiga hari maka tengah haripada hari ketiga aku akan menggali kuburanmu serta menolong kau keluar dari situ."
"Atas kebaikan nona akan kuingat selalu, untuk itu sebelumnya kuucapkan banyak2 terima kasih, tiga hari kemudian aku pasti akan bangun dengan sendirinya".
"Sekarang aku harus kembali untuk memberi laporan kepada orang yang kehilangan sukma, baiklah kita berjanji seperti yang kau katakan tadi, bila ada orang menghidangkan masakan janganlah sekali2 kau makan sebab dalam makanan itulah telah terkandung obat racun yang mematikan, disamping itu kau harus berpura2 seperti orang yang kehilangan ilmu silat, jangan sampai rahasia ini ketahuan orang kalau tidak... akibatnya sukar untuk dibicarakan"
"Aku akan ingat selalu perintahmu ini, sebelum itu ada satu persoalan ingin kutanyakan kembali"
"Apa yang ingin kau tanyakan??"
"Benarkah orang yang kehilangan sukma adalah gurumu???"
"Tentang soal ini .... "
Agaknya orang yang ada maksud sedang mempertimbangkan apakah perlu baginya untuk menjawab pertanyaan dari Han Siong Kie tadi atau tidak beberapa saat kemudian ia baru menjawab.
"Tentang pertanyaanmu ini, aku bisa memberitahukan kepadamu dia adalah ibuku"
"Ooooh jadi orang yang kehilangan sukma adalah ibumu??"
"Sedikitpun tidak salah"
"Sudah terlalu banyak aku berhutang budi dengan kalian ibu dan anak. Aku jadi tak tahu bagaimana budi kebaikan sebanyak itu harus kubalas dikemudian hari.. hanya aku tidak mengerti, mengapa kalian selalu memperhatikan diriku."
"Dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya, sekarang waktu amat mendesak. aku harus segera berlalu dari sini"
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, suasana pulih kembali dalam keheningan, jelas perempuan misterius itu telah berlalu.
Han Siong Kie benar2 merasa terharu, ia tak tahu apa sebabnya orang yang kehilangan sukma serta orang yang ada maksud begitu memperhatikan dirinya, begitu cintanya mereka terhadap dirinya sehingga melebihi cinta kasib seorang ibu terhadap anaknya..
Tidak lama setelah orang yang ada maksud berlalu dari tempat itu, dari dinding ruangan berkumandanglah suara gemerincing yang amat nyaring, pintu penjara yang tebal dan berat perlahan2 bergeser kearah samping, diikuti muncullah sebelas orang memasuki ruangan itu.
Dua obor besar dipasang diatas dinding penjara membuat suasana ditempat itu jadi terang benderang, cahaya api yang berkilauan memancar diatas wajah setiap orang hukuman yang meringkuk disitu. menambah suasana jadi semakin menyeramkan. Tempat itu benar2 tak ubahnya bagaikan neraka didalam dunia.
Dengan pandangan yang tajam Han Siong Kie mengawasi orang2 yang baru saja muncul didepan pintu penjara itu, ia lihat orang pertama adalah pemuda beraja h licin yang bukan lain adalah Kaucu muda dari perkumpulan Thian chee kau, di belakangnya mengikuti dua orang pria bertubuh kekar sedang dibela kang kedua orang itu adalah delapan orang pria baju hitam yang membawa nampan berisi makanan.
Setelah berada didalam ruangan penjara, kedelapan orang pria baju hitam itu segera menyiapkan tiga puluh dua mangkok besar yang berisi sayur dan nasi di atas tanah, bau harum yang amat lezat tersiar keluar dari sayuran tersebut.
Bergidik sekujur badan Han Siong Kie menyaksikan mangkuk-mangkuk berisi nasi dan sayur itu, tanpa sadar bulu kuduknya pada bangun berdiri, pikirnya:
"Aa i. ..waktunya telah tiba, ketiga puluh satu orang itu sebentar lagi akan menyelesaikan kehidupannya yang penuh penderitaan serta siksaan, sungguh kejam perbuatan orang2 dari perkumpulan Thian chee Kau . bila suatu hari aku orang she Han bisa lolos dari sini dalam keadaan hidup, aku bermaksud akan membasmi habis semua manusia laknat itu"
Dalam pada itu, dengan sorot mata yang tajam Kaucu muda itu menyapu sekejap seluruh ruangan penjara itu. dan akhirnya berhenti di atas wajah Han Siong Kie, cahaya buas dan bengis terpancar keluar dari balik matanya
Terkejut sianak muda itu melihat perbuatan orang, ia tahu bahwa kaucu muda itu bermaksud jelek terhadap dirinya.
"Apa yang hendak ia lakukan?" pikirnya didalam hati, apakah dia hendak membalas dendam atas kekalahan serta penghinaan yang dialaminya??" Belum habis ia berpikir, kaucu muda itu sudah berjalan mendekati ke arahnya.
Tampak kaucu muda itu tertawa seram dengan kakinya ia sepak tubuh Han Siong Kie keras2 lalu ejeknya:
"Bajingan cilik, kau tak pernah menyangka bukan kalau kau akan mengalami nasib sejelek ini?? sekarang aku hendak menggunakan cara yang sama seperti perbuataamu itu untuk menghajar kau hingga muntah darah segar" sambil berkata telapaknya laksana kilat segera didorong kedepan.
Han Siong Kie naik pitam mendengar ejekan itu, darah panas segera bergelora didalam dadanya, ia siap mengerahkan tenaganya untuk menghantam tubuh orang itu tapi...dengan cepat ia teringat kembali akan pesan yang disampaikan orang yang ada maksud kepadanya:
" . . . kau harus pura2 berlagak seperti seseorang yang kehilangan ilmu silat . . . kalau tidak maka akibatnya sukar dibayangkan mulai sekarang"
Hatinya jadi terkesiap. dengan cepat la mengendalikan kembali napsu marahnya dan melengos kesamping.
"Bangsat cilik, pendekar berwajah dingin .... ayohlah" terdengar Kaucu muda itu mengejek.
Han Siong Kie benar2 merasa amat mendongkol, ingin sekali ia memberi sebuah pelajaran yang hebat kepadanya. tapi ia teringat kembali akan bahaya yang sedang mengancam dirinya, dia ingin melanjutkan hidup sebab banyak persoalan yang harus ia selesaikan.
Pemuda itu berusaha keras untuk menahan gusarnya, ia tidak ingin hanya disebabkan urusan kecil membuat urusan yang lebih besar jadi terbengkalai, sambil menahan rasa dongkol dan gusar yang tak terkirakan per-lahan2 ia berpaling.
"Ploook ploook baru saja sianak muda itu menoleh, dua gaplokan yang amat nyaring telah bersarang diatas pipinya membuat ia jadi pusing dan pandangan matanya jadi berkunang2.
"Bangsat" teriaknya dengan penuh kebencian, ""suatu hari aku pasti akan membinasakan dirimu"
“Ploook” kembali sebuah tamparan yang lebih keras bersarang diatas wajahnya.
Han Siong Kie tak berani mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya itu, dia takut rahasianya ketahuan lawan, hal ini membuat tamparan tersebut hampir saja ia membuat jatuh tak sadarkan diri, darah segar segera muncrat keluar dari bibirnya, membasahi seluruh pakaian yang dia kenakan. Dengan bangga kaucu muda itu tertawa ter-baha^2. "Haah...haah haah.. bangsat, kau berani ulangi kembali perkataanmu itu?"
Dengan penuh kebencian Han Siong Kie melotot sekejap kearahnya, namun ia tetap membungkam dalam seribu bahasa. Ia merasa penderitaan serta siksaan yang dialaminya saat ini jauh lebih hebat daripada menghadapi kematian.
"Manusia berwajah dingin. " seru kaucu muda itu dengan suara penuh penghinaan, "Bila aku hendak bunuh dirimu maka hal itu akan kulakukan dengan gampang sekali. Hmm. . Hmm.. kau bilang mau bunuh aku?? haahh haahh haahh... sayang sekali untuk selamanya kau tak akan mendapatkan kesempatan itu."
Tentu saja Han Siong Kie dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh kaucu muda itu sebab algojo sebentar jagi akan melaksanakan hukuman mati terhadap dirinya.
sementara itu dua orang pria kekar tadi telah mengulapkan tangannya, delapan orang pria baju hitam itu segera membagi-bagikan mangkuk berisi sayur dan nasi itu kedepan setiap orang hukuman.
Dengan sorot mata memancarkan kerakusan dan kelaparan orang2 hukuman itu memandang kearah mangkuk yang berada di hadapannya, kemudian bagaikan harimau kelaparan mereka sambut mangkuk2 tadi dan menyikat isinya dengan lahap.
Menyaksikan kesemuanya itu, Han Siong Kie hanya bisa menghela napas didalam hati. Perlahan2 diapun mengambil pula mangkuk yang berada dihadapannya.
Detik demi detik berlalu dalam keheningan serta kesunyian yang mencekam. Mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang bersahutan, semua orang hukuman yang berada didalam penjara itu mengerang kesakitan lalu ber guling2 diatas tanah sambil merintih, hanya sedetik saja mereka sekarat untuk kemudian menggeletak tak berkutik lagi.
Han Siong Kiepun dengan gerakan yang cepat membuang isi mangkuknya kearah belakang, kemudian jatuhkan mangkuknya ke atas tanah dan menggeletak kaku pura2 mati.
Melihat semua orang hukuman telah mati dengan seksama Kaucu muda itu melakukan pemeriksaan yang sama, setelah itu dia baru mengundurkan diri dari situ.
Delapan orang pria berbaju hitam segera menggotong keluar empat buah usungan besar dari sudut penjara, berarti empat usungan dengan tiga puluh dua sosok mayat.
Dibawah petunjuk dua orang pria kekar itu, berangkatlah delapan orang dengan empat usungan itu keluar dari pintu penjara.
Sepanjang perjalanan mereka lewati beberapa lorong batu yang sempit dan ber liku2, tidak lama kemudian muncullah orang2 itu dari atas permukaan tanah dan tiba disebuah ruangan besar.
Terdengar salah seorang diantara dua pria kekar itu berseru dengan suara lantang.
"Dipersilahkan tuan pengurus untuk memeriksa mayat2 ini"
seorang baju kuning muncul dari balik pintu ruangan, ia dekati mayat mayat diatas usungan itu dan secepat kilat menotok jalan darah Mia-bun-hiat ditubuh mayat2 tersebut, setelah itu baru katanya:
"Sekarang gotong mayat2 ini keluar dari sini dan kubur diwilayah kita"
"Terima perintah "jawab pria kekar tadi maka berangkatlah beberapa orang itu keluar dari ruangan tersebut,
Diluar wilayah Lian huan tan terdapat sebuah hutan yang lebat, pada waktu itu disitu telah siap sebuah liang kubur yang amat besar.
Ketika rombongan orang2 itu tiba disitu mereka segera bekerja keras melempar mayat-mayat tadi kedalam liang kubur itu, kemudian menutup kembali liang tadi dan berlalu dari sana.
sementara orang2 itu bekerja nun diluar hutan diatas sebuah bukit kecil duduklah sesosok bayangan tubuh yang kecil dan ramping.
siapa dia???? orang itu bukan lain adalah Tonghong Hwie si pengemis cilik yang secara nyaris berhasil lolos dari kematian.
Sudah hampir dua jam lamanya ia duduk terpekur seorang diri di tempat itu, sepasang matanya telah berobah jadi merah membengkak. dengan pandangan sayu ia memandang keangkasa tanpa berkedip. benaknya terasa kosong bagaikan selembar kertas putih, ia merasa se-olah2 alam semesta yang berada disekelilingnya sudah tiada artinya lagi bagi dirinya.
Sang surya telah jauh tinggi diangkasa, bagaikan sedang menggigau ia bergumam tiada hentinya:
"Oooh hari telah siang, habis sudah riwayat engkoh Kie, aaah dia pasti sudah mati." Ia bangkit berdiri dan berteriak se-keras2nya.
"Ooooh engkoh Kie, kau berada dimana, engkoh kie sayang engkau berada dimana, mengapa kau tega meninggalkan diriku."
"Apakah kau sedang mencari engkoh Kiemu" tiba2 serentetan suara yang nyaring berkumandang disisinya
"Dia sekarang berada di. . ."
Tonghong Hwie merasa amat terkejut, ia merasa suara itu seperti pernah dikenal olehnya, matanya celingukan memandang ke sana kemari namun tak terlihat sesosok bayangap manusiapun disitu, yang terlihat hanya rumput yang gersang serta batu yang berserakan.
"Siapa kau??" segera bentaknya.
"Bukankah kita pernah bercakap2 belum lama berselang??"
"Aaaah kau..kau adalah orang yang kehilangan sukma??"
"sedikitpun tidak salah"
Tonghong Hwie makin terkesiap. mendadak ia teringat kembali akan perkataan dari orang yang kehilangan sukma belum lama berselang, orang itu pernah memperingatkan dirinya.
"Nona, putuskanlah tali cintamu itu dengan otak yang jernih, selamanya orang yang terlalu romantis akan berakhir dengan tragis bagi sendiri bila kau tak mau dengarkan peringatanku ini, maka dikemudian hari kau bakal musnah ditelan oleh samudra cinta yang tiada tara dalamnya itu. "
"Benarkah ia bisa meramalkan hal2 yang akan datang? benarkah ia bisa mengetahui lebih dahulu kenyataan yang bakal dia alami dikemudian hari??.."
"Orang yang kehilangam sukma" ia segera menanyai. "Aku teringat bahwa diriku tertawan oleh Ong Cui Ing dari perkumpulan Thian chee kau, eng kaukah yang menyelamatkan diriku??".
"Tidak salah" sahut orang yang kehilangan sukma dengan suara perlahan.
"Kalau begitu aku orang she Tonghong mengucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu"
"Nona tak usah berterima kasih kepadaku"
"Bolehkah aku ajukan sebuah pertanyaan kepadamu?"
"Katakanlah, asal persoalan yang kau tanyakan itu aku ketahui pasti akan kukatatan kepadamu"
"Kakak angkatku si Manusla berwajah dingin sekarang berada dimana.. apakah kau bisa memberi petunjuk kepadaku? "
"Oooh... dia??.. dia.."
Sebuah bayangan yang tidak baik terlintas dalam benak Tonghong Hwie, sekujur badannya tiba2 berubah jadi dingin danpeluh membasahi seluruh tubuhnya, buru2 serunya kembali:
"Apakah kau tahu dia.. dia berada dimana"
"Tahu sih tahu dia berada dimana pada saat ini "
"sekarang dia berada dimana?"
"Dia... dia sudah mati. "
"Apa??" Tonghong Hwie menjerit keras, tubuhnya mundur kebelakang dengan sempoyongan, "engkoh Kie sudah mati?"
"Benar nona Tonghong janganlah terlalu emosi dan mengumbar kesedihan dia memang telah mati"
Tonghong Hwie jadi limbung, dia rasakan tubuhnya seakan2 terjerumus didalam sebuah samudra yang tak ada tara dalamnya, pandangan matanya jadi ber-kunang2 dengan sempoyongan tubuhnya mundur beberapa langkah kebelakang, lalu jatuh tertunduk diatas tanah, sukmanya se-olah2 terbang meninggalkan raganya.
Dia tak pernah menduga bahwa kekasih hatinya, orang yang paling disayang olehnya ternyata telah mati tinggalkan dunia yang fana ini.
"Tidak" ia mengigau seorang diri "Dia belum mati.. engkoh Kie belum mati, dia tak mungkin akan mati"
"Aaah.. tapi sayang, dia benar2 telah mati" sahut orang yang kehilangan sukma sambil menghela napas panjang.
"Apakah kau manyaksikan semua peristiwa itu dengan mata kepala sendiri??"
"Benar "
"Kenapa kau tidak berusaha untuk menyelamatkan jiwanya??"
"Aku sama sekali tak berdaya untuk menolong dirinya"
Kembali sekujur badan Tonghong Hwie gemetar keras, wajahnya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, hatinya hancur lebur dan air mata bagaikan hujan gerimis mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya.
Ia merasa sudah tiada berarti lagi hidup seorang diri dikolong langit, ia kecewa dan tak ingin hidup lebih jauh .
Tak tahan menangislah pengemis cilik itu tersedu2, suara tangisannya begitu memilukan hati membuat siapapun yang mendengar jadi beriba hati.
Melihat keadaan dari gadis itu, si orang yang ada maksud segera menghela napas panjang dan berkata:
"Nona Tonghong, manusia yang telah mati tak akan hidup kembali, kau harus baik2 menjaga kesehatanmu sendiri"
Perlahan2 Tonghong Hwie angkat kepalanya memandang ke angkasa, lalu berbisik dengan suara yang serak.
"Dia telah mati.. berarti api kehidupan dalam tubuhku telah ikut padam, aku tidak ingin hidup lebih jauh lagi.. hidupku sudah tak berarti lagi.."
"Nona Tonghong, pandangan mu itu keliru besar"
"Aku.. aku keliru besar?? "
"Betul" orang yang kehilangan sukma mengangguk tanda membenarkan, "kau harus menerima kenyataan yang berada didepan matamu, itulah takdir yang telah diatur Thian terhadap manusia, kau tak bisa menolak ataupun meminta takdir yang ditentukan itu dan siapapun tak bisa mencegah takdir.. sadarlah kenyataan tersebut, dan baik2lah menjaga kesehatan badanmu sendiri"
Tonghong Hwie termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia mengangguk.
"Baiklah, aku akan menerima kenyataan yang berada didepan mata, sekalipun semasa hidup aku tak dapat hidup berdampingan dengan dirinya, setelah mati aku ingin selalu berada ber-sama2 dirinya "
"Nona Tonghong, kembali pandanganmu keliru besar "
"Kembali pandanganku keliru??? " Tonghong Hwie berdiri dengan pandangan melongo.
"Benar kau hendak menggunakan kematianmu untuk mendampingi dirinya, hal ini membuktikan betapa mendalamnya rasa cintamu terhadap dirinya, tapi pernahkah kau bayangkan bahwa tindakanmu itu sebenarnya sama sekali tak berarti?? pernahkah kau bayangkan bahwa perbuatanmu itu adalah suatu perbuatan yang salah dan membabi buta??."
"Kenapa ?? ."
"Selama masih hidup Han Siong Kie hanya menganggap dirimu sebagai adik angkatnya, hingga mati dia tetap tidak tahu bahwa kau sebetulnya adalah seorang gadis, semakin tidak tahu bahwa kau telah mencintai dirinya secara diam2, itu berarti bahwa cintamu hanya sepihak saja, bila kau ambil keputusan pendek maka berarti pula sepak terjangmu itu adalah membabi buta"
Tonghong Hwie serasa semakin sedih lagi setelah mendengarkan perkataan itu, ia merasakan hatinya bagaikan diiris2 dengan sebilah pisau yang tajam, apa yang diucapkan orang yang ada maksud sedikitpun tidak salah dan kesemuanya itu merupakan kenyataan yang tak terbantah, selama ini engkoh Kie nya memang tidak tau bahwa dia adalah seorang gadis yang menyaru sebagai pria, diapun tak tau bahwa dirinya amat cinta serta menyayangi dirinya.
Sekarang dia merasa menyesal kenapa tidak jelaskan rahasia itu sejak permulaan?? kenapa ia tidak menyatakan rasa cintanya semasa pemuda itu masih hidup? dan kini semuanya telah terlambat
Sementara itu ketika orang yang ada maksud melihat Tonghong Hwie bungkam terus tidak berbicara lagi, segera buka suara dan menegur:
"Nona Tonghong, menurut pendapatmu betulkah apa yang telah kuucapkan barusan??"
"Benar sekali" jawab Tonghong Hwie sambil mengangguk lirih, "tapi apa yang telah kuputuskan tak akan kurubah lagi, aku sudah bertekad untuk melaksanakan niatku ini, siapapun tak akan berhasil menghalang-halangi niatku ini"
"Tadi kau sudah berniat untuk mengorbankan jiwamu demi cinta ??"
"Benar" gadis itu mengangguk.
"Bila sukma Han Siong Kie mengetahui akan perbuatanmu ini, bisakah ia menyetujui nya??"
"Semua perbuatan yang kulakukan hanya bertujuan mententramkan hatiku sendiri, apa yang kulakukan adalah urusan pribadiku, aku merasa sudah seharusnya kalau berbuat demikian"
"Nona Tonghong Hwie, menurut apa yang kuketahui kau masih mempunyai seorang ayah yang telah tua, dia memandang dirimu bagaikan sebagian dari kehidupannya, bila kau berbuat nekat ...."
Ucapan ini sangat mengejutkan hati pengemis cilik itu, hingga tak tertahan lagi ia meloncat kaget.
Darimana orang yang kehilangan sukma bisa mengetahui akan asal usulku ....?? pikirnya didalam hati apakah dia bukan manusia tapi malaikat? malaikat yang bisa mengetahui urusan semua orang?? sungguh kejadian ini merupakan Suatu peristiwa yang sama sekali tak terduga.
Gadis ini merasa bahwa selamanya tak ada seorang manusiapun yang mengetahui asal usulnya, belum pernah dia menceritakan asal usulnya kepada siapapun termasuk pula terhadap kakak angkatnya Han Siong Kie, tapi sekarang si orang kehilangan sukma berhasil memecahkan rahasia itu, suatu kejadian yang aneh sekali. "Darimana kau bisa mengetahui akan urusan keluargaku?" akhirnya ia berseru. orang yang kehilangan sukma tertawa ringan.
"Apa yang berhasil aku ketahui mungkin lebih banyak daripada apa yang kau bayangkan sekarang, kini lebih baik kau tak usah menanyakan tentang persoalan itu lagi, sebab sebagaimanapun juga aku tak akan memberi tahukan pada mu. Persoalannya sekarang adalah tegakah kau tinggalkan ayahmu yang telah memelihara kau hingga dewasa?? bila kau mati lalu bagaimana dengan ayahmu??
"Aku adalah seorang anak yang tidak berbakti" ujar Tonghong Hwie dengan hati pedih, "aku tak bisa membataikan niatku itu sebab keyakinanku sudah bulat. "
"Baiklah, untuk sementara waktu kita jangan membicarakan persoalan ini, sekarang masih ada satu tugas yang maha penting yang harus kau laksanakan sendiri"
"Urusan apa?? aku orang she Tonghong merasa tiada pekerjaan apapun yang harus kulakukan"
"Tapi pekerjaan yang kumaksudkan ini hanya dapat kau lakukan sendiri, orang lain tak akan berhasil melakukannya."
"Katakanlah pekerjaan apa itu??"
"Membalaskan dendam bagi kematian engkoh Kie mu"
Tonghong Hwie terkesiap. sekujur badannya gemetar keras, perkataan ini segera menyadarkan dirinya dari impian, membuat gadis itu sadar kembali dari sedihnya.
"Aaaah sedikitpun tidak salah" pikirnya didalam hati, aku harus teringat akan persoalan ini, bila dendam sakit hati ini tidak kubalas, engkoh Kie pasti akan mati tidak meram.. aku harus melaksanakan pembalasan dendam lebih dahulu sebelum pergi menyusul dirinya"
"Bagaimana?? betul bukan ucapanku itu?" orang yang kehilangan sukma menegur sambil tersenyum.
"Aku...aku seharusnya persoalan itu kuingat sendiri, sejak semula terima kasih atas peringatanmu, tapi untuk itu dapatkah aku mengajukan tiga pertanyaan kepadamu??"
"Katakanlah, apakah pertanyaanmu itu??"
"Pertama, tempo dulu kau pernah memberi peringatan kepadaku agar segera memutuskan hubungan cintaku dengan dirinya, kalau tidak maka hubungan itu akan berakhir dengan keadaan yang tragis, yang kau maksudkan sebagai kajadian yang tragis apakah peristiwa yang terjadi sekarang ini??"
"Bukan"
"Bukan? Lalu apa yang kau maksudkan.."
"Apa yang terjadi saat ini hanya merupakan peristiwa diluar dugaan, yang kumaksudkan sebagai peristiwa yang tragis tempo dulu adalah kejadian lain dan kejadian itu tak bisa dihindari walau dengan cara apapun juga, sekarang ia sudah mati dan peristiwa yang tragis itupun mungkin tak akan terjadi lagi"
"Mungkin? dia toh sudah mati kenapa masih ada kata2 mungkin." seru Tonghong Hwe dengan cepat.
"Oooh aku .. aku telah salah berbicara tapi kejadian yang ada dikolong langit kadang kala memang sukar diduga, siapapun tak berani memastikan segala Suatu persoalan yang terjadi dan berlangsung dikolong langit ini"
"Ucapanmu itu sangat membingungkan hati orang, rupanya kau telah menyimpan sesuatu dibalik ucapanmu itu??"
"Sekarang mungkin benar tapi kemudian hari sama sekali tidak"
jawaban ini kembali merupakan suatu perkataan yang sukar ditangkap artinya,
Tonghong Hwie ingin sekali mengetahui tempat pers embuyiannya pihak lawan tapi terasalah olehnya suara yang terpancar datang itu sebentar kedengaran berasal dari tempat jauh sebentar lagi kedengaran dari dekat, sebentar timur sebentar barat membuat orang sulit untuk menduga, dimanakah sebetulnya orang itu memancarkan suaranya.
Setelah gagal untuk menemukan tempat persembunyiannya orang yang kehilangan sukma, akhirnya Tonghong Hwie berkata kembali:
"Pertanyaanku yang kedua ini apakah pembunuh yang telah membimasakan engkoh Kie ku itu??"
"Tentang persoalan ini tentu saja Kaucu dari perkumpulan Thian chee kau adalah pembunuh utamanya sedang kuku garuda anak buahnya merupakan pembantu pembunuh"
"Macam apa sih raut wajah yang sebetul nya dari Thian chee kaucu itu? apakah kau dapat memberi petunjuk padaku?? "
"Tentang pertanyaanmu ini, maafkanlah aku karena tak dapat menjawab pada saat ini aku rasa orang2 didalam dunia persilatanpun belum ada yang tahu siapakah sebenarnya orang itu, lebih baik ajukanlah pertanyaan yang ketiga."
" Ketiga, jenasah engkoh Kie sekarang berada dimana??"
"Bila kaujumpai gundukan tanah baru di dalam hutan belantara sebelah depan sana, itulah kuburannya, ia berserta ketiga puluh satu orang tawanan yang lain telah dibunuh dan di kubur menjadi satu ditempat itu"
Tonghong Hwie mundur kebelakang dengan sempoyongan, tiada air mata yang membasahi pipinya lagi, sebab air matanya telah mengering hanya dengan suara yang lemah ia berseru: "Ditengah hutan sebelah depan sana? "
"Sedikitpun tidak salah"
"Apakah ia mati dalam keadaah yang sangat mengerikan??"
"Tidak. justru keadaanya kebalikan dari yang kau duga, ia mati dalam keadaan yang sangat tenang, ia mati karena keracunan. sebab untuk mewujudkan pertanda bahwa perkumpulan Thian chee- kau masih mengerti akan perikemanusiaan, selamanya orang yang dijatuhi hukuman mati dalam perkumpulan itu selalu menjalankan hukumannya tanpa mengucurkan darah dan tanpa mengurangi satu2 anggota badannya"
"Aku ingin pergi kesitu dan memandang wajahnya lagi"
"Aku rasa tidak perlu, toh engkoh Kie mu itu sudah menutup mata untuk selama-lamanya "
"Tidak aku tetap ingin memandang wajahnya untuk terakhir kalinya, sebab inilah kesempatan terakhir bagiku untuk bertemu dengan dirinya"
"Nona Tonghong, kau harus lebih menitik beratkan pada soal pembalasan dendam, janganlah mati konyol karena persoalan yang sama sekali tak ada gunanya itu"
"Tentang soal ini aku mengerti"
"Akupun hendak menasehati dirimu bahwa dengan ilmu silat yang kau miliki sekarang masih belum mampu untuk menghadapi lawan2 mu itu, jangan dikata hendak membalas dendam, untuk menandingi seorang jago baju kuning pihak merekapun kau masih belum mampu, maka dari itu aku menganjurkan kepadamu lebih baik pulanglah dulu kerumah dan berlatihlah ilmu silatmu dengan lebih giat dan rajin"
"Pulang kerumah?? aku bisa mempertimbangkan anjuranmu itu secara baik2"
"Baiklah, kalau kau bisa berpandangan lebih luas, sekarang boleh pergi dari sini sebab akupun hendak pergi"
"Cianpwee, budi kebaikan yang telah kau limpahkan kepada diriku mungkin tak bisa kubalas dalam kehidupan saat ini, biarlah kesemuanya itu kubalas dalam penirisan yang akan datang" seru Tonghong Hwie keras-keras.
Tetapi tiada jawaban yang kedengarah lagi, suasana disekitar situ sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, rupanya orang yang kehilangan sukma telah berlalu dari tempat itu.
Melihat orang misterius itu sudah berlalu, Tonghong Hwie menghela napas panjang, dengan membawa hati yang hancur perlahan2 ia bangkit berdiri dan berjalan menuruni bukit tersebut.
Tidak lama setelah Tonghong Hwie berlalu, dari balik sebuah batu cadas kurang lebih lima tombakjauhnya meloncat keluar sesosok bayangan manusia, orang itu menghela napas panjang dan bergumam seorang diri:
"Aaaai.. benarkah tindakanku ini Tidak sekalipun perbuatanmu ini untuk sementara waktu akan menyakiti dan menghancurkan perasaan hatinya, tapi keadaan toh jauh lebih baik daripada dikemudian hari terjadi peristiwa yang lebih tragis lagi"
Bagaikan sukma gentayangan orang itu gelengkan kepala lalu berkelebat pula tinggalkan tempat itu.
-0000000-
BAB 18
DALAM pada itu Tonghong Hwie yang memasuki hutan segera menemukan sebuah gundukan tanah baru dihadapannya, kuburan itu luasnya mencapai tiga tombak dan jelas baru saja didirikan disitu.
"Aaah.. jenasah engkoh Kie dikubur ditempat ini jeritan didalam hati, ia rasakan pandangan matanya jadi gelap dan tak ampun lagi tubuhnya jatuh terjungkal diatas gundukan tanah baru itu.
Lama.. lama sekali... ia baru sadar kembali dari pingsan, segera ia segera menjerit .
"Engkoh Kie, perpisahan hanya beberapa hari, sungguh tak nyana akan berubah menjadi suatu perpisahan untuk selama2nya.. ooh, begitu tega kau tinggalkan aku seorang diri. engkoh Kie kenapa kau tidak menunggu diriku???."
Angin berhembus lewat menerbitkan suara gemerisik diantara semak belukar, isak tangis yang memedihkan hati itu berkumandang diangkasa dan tersiar hingga ketempat kejauhan.
Begitu sedih dan pedihnya hati gadis itu hingga membuat Tonghong Hwie terkapar di atas gundukan tanah baru itu dengan badan yang lemah tak bertenaga, tubuhnya terasa bagaikan lumpuh dan tak bisa bergerak lagi.
Hatinya hancur dan sakit seperti di iris2 dengan pisau, ia tidak menangis lagi, hanya teriak dan jeritnya dengan suara yang mengenaskan.
"Engkoh Kie, oooh.. engkoh Kie dengarkah kau akan jeritanku ini?? lihatkah kau bahwa aku berdiri didepan pusaramu? engkoh Kie jawablah jeritan hatiku ini.." suaranya semakin memilukan hati.
"Engkoh Kie, aku hendak memandang wajahmu untuk terakhir kalinya, aku ingim memandang wajahmu agar raut mukamu itu selalu terukir dan terbayang dalam benakku, aku hendak mendirikan kuburan bagimu."
"Oooh tidak kuburan bagi kita berdua, tunggulah aku setelah dendam sakit hatimu berhasil kutuntut balas, aku pasti akan menyusul dirimu"
Dengan sempoyongan dia bangkit berdiri, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya gadis itu mulai bekerja dan menggali gundukan tanah itu..
Satu depa, dua depa.. ketika ia menggali mencapai kedalam lima depa, tampaklah mayat manusia berserakan dimana2, tumpuk menumpuk menjadi satu.
Ia membalik- balikkan setiap mayat itu.. mayatnya yang merah dan membengkak hampir saja membuat dia salah memilih jenasah tadi.. tapi akhirnya ia berhasil juga menemukan jenazah yang dicarinya.. sesosok tubuh yang masih utuh dengan wajah yang tenang, hanya tubuh itu sudah tak bernapas lagi.
Ia belai wajah mayat itu dengan penuh kasih sayang, air mata bercucuran membasahti wajahnya yang dingin dan kaku.
"Engkoh Kie.. 0ooh engkoh Kie, mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?? engkoh Kie.. ooooh.."
"Engkoh Kie, tahukah kau bahwa secara diam2 tanpa sepengetahuanmu aku telah jatuh cinta kepadamu??, tahukah kau, bahwa dalam hati aku berharap kau sedia menjawab pertanyaanku ini engkoh Kie, mengapa kau selalu membungkam??"
"Tahukah kau engkoh Kie, bahwa aku adalah seorang gadis?? oooh.. engkoh Kie, aku telah jatuh cinta kepadamu sejak pada pandangan yang pertama dahulu.. tahukah kau bahwa aku sangat mencintai kau??"
-0000000-
Jilid 9 : Murid Iblis di antara Iblis
"000Hi. Engkoh Kie bile aku tahu apa yang sebetulnya kau tentu akan menerima diriku bukan?? aku tahu bahwa kau membenci kaum wanita tapi aku mohon pada mu janganlah membenci aku Janganlah kau tinggalkan diriku, Engkoh Kie sewaktu kita angkat saudara didepan benteng maut diatas bukit batu karang, bukankah kau telah mengabulkan permintaanku?? tak akan tinggalkan aku walau dalam keadaan apapun juga?? tapi sekarang kita harus berpisah antara langit dan bumi, kita harus berpisah untuk beberapa saat lamanya."
"Engkoh Kie aku menyesal sekali. Menyesal mengapa tidak kau beri tahu tentang kegadisanku sejak dulu maafkanlah daku, aku takut.... aku takut bila kau tahu bahwa aku adalah seorang gadis maka kau akan meninggalkan driku, aku takut kehilangan engkau."
"Engkoh Kie aku tidak ingin banyak berbicara lagi, pokoknya aku cinta kepadamu, sampai kemanapun aku tetap mencintai dirimu."
Wajah Han Siong Kie tetap kaku dingin dan hambar, raut mukanya kelihatan pucat pias dan menyeramkan.
Tonghong Hwie memeluk mayat Han Siong Kie itu dengan penuh kasih sayang, bibirnya yang pucat tak berdarah dikecup dan diciumnya dengan penuh cinta.
"Engkoh Kie, dahulu aku pernah membayangkan pada suatu hari kita bisa duduk berdampingan dengan penuh kemesrahan, kau belai rambutku yang hitam dan aku bersandar dalam pelukanmu yang hangat.. tapi sekarang semuanya telah buyar. Dan kau .. kau tak akan membuka matamu kembali, kau tentu akan merasa kedinginan tanpa ada yang mendampingi serta menghangatkan tubuhmu."
Seperti orang yang sinting, tak waras otaknya gadis itu memeluk mayat Han Siong Kie yang dingin dan kaku, ia keluar dari liang kubur tersebut, kemudian menutup kembali liang tadi dengan tanah.
Setelah itu selangkah demi selangkah ia berjalan tinggalkan tempat itu dengan langkah yang berat dan gontai, gadis itu berjalan menuju kearah bukit dimana ia berada beberapa waktu berselang.
Dicarinya sebuah tempat yang datar dengan pemandangan yang indah, lalu membaringkan jenasah itu keatas tanah.
"Engkoh Kie, lihatlah tempat ini indah bukan?? apakab kau puas dengan tempat ini sebagai tempat peristirahatanmu yang terakhir??"
Ia lepaskan rambut palsunya yang kotor dekil dan awut2an itu hingga terurailah rambutnya yang panjang halus dan berwarna hitam, kemudian membersihkan pula salep obat yang menutupi mukanya, dalam waktu singkat muncullah seraut wajah yang cantik jelita bagaikan bidadari dari nirwana, ia melepas kan jubah luarnya yang dekil dan bertambal sulam itu hingga munculah potrongan badan yang ramping dan padat berisi.
"Engkoh Kie, inilah aku inilah adik angkatmu Tonghong Hwie" bisiknya dengan suara lirih, "Lihatlah engkoh Kie, pandanglah engkoh Kie inilah diriku ini, mengapa kau tidak membuka mata yang jeli itu? dahulu, bukankah kau pernah berkata bahwa namaku mirip sekali dengan nama seorang perempuan? ooh Engkoh Kie, tahukah kau bahwa aku sebenarnya adalah seorang gadis muda."
Gadis itu berhenti sebentar untuk menarik napas panjang2, lalu lanjutnya kembali:
"Engkoh Kie, sejak detik ini pengemis cilik sudah mati, dikolong langit sudah tak ada lagi manusia yang bernama Pengemis cilik Tonghong Hwie, aku akan muncul didalam dunia persilatan dengan wajah asliku, aku hendak melanjutkan hidupku demi untuk membalas dendam sakit hatimu, aku hendak basmi semua penjahat yang tergabung dalam perkumpulan Thian chee kau, aku hendak suruh mereka memberikan ganti rugi yang tak ternilat besarnya"
"Seluruh manusia yang ada dikolong langit tak seorangpun yang mengenali diriku.. karena untuk pertama kalinya aku akan berkelana didalam dunia persilatan dengan wajah yang asli."
"Sekarang apa sebutanku setelah kau tinggalkan?? istri yang ditinggalkan? Benar, aku adalah istri yang kau tinggalkan."
Setelah melampiaskan seluruh rasa sedih yang berkecamuk dalam benaknya, Tonghong Hwie mulai menggali sebuah liang kubur ditempat itu dengan ilmu pukulannya yang sempurna tak lama kemudian muncullah sebuah liang sedalam beberapa tombak ditempat itu, kemudian sambil membaringkan jenaSah Han Siong Kie disudut kiri ia tinggalkan sebuah liang lain disisinya.
"Engkoh Kie, liang disebelah sini adalah untuk tempat penguburan bagi tubuhku" bisiknya.
Dengan pandangan yang tajam ia menatap wajah Han Siong Kie yang tampan dan kaku itu, sekejappun ia tak berkedip.
Inilah pandangan yang terakhir kalinya, dikemudian hari wajah ini akan rusak, membusuk dan akhirnya tinggal tulang2nya saja yang berwarna putih.
Senja telah tiba, sang surya tenggelam dibalik gunung .... malam haripun menjelang tiba.
Untuk yang terakhir Tonghong Hwie mencium bibir si anak muda itu dengan penuh rasa cinta kemudian ia mulai bekerja menguruk liang tadi dengan tanah.
"Selamat tinggal engkoh Kie" bisiknya untuk sementara waktu kita akan berpisah dahulu, setelah dendammu berhasil kutuntut balas, aku segera akan menyusul dirimu, aku akan mendampingi dirimuuntuk selamanya.
Diatas kuburan tadi dipancangnya sebuab batu nisan, dengan ilmu jarinya yang sakti ia segera mengukir beberapa patah kata diatas batu itu.
Disinilah bersemayan manusia berwajah dingin Han Siong Kie serta pengemis cilik Tonghong Hwie
Memandang tulisan itu ia tertawa, tertawa yang sedih dan memilukan
"Engkoh Kie, selamat tinggal semoga sukmamu dilangit bisa memahami perasaanku, semoga aku bisa cepat membalaskan dendam bagimu hingga aku bisa mengiringi dirimu berbaring dalam satu liang."
Setelah memberi hormat kearah kuburan tadi, ia putar badan dan berlalu dari situ Dalam sekejap mata tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan.
Suatu tengah hari, didepan kuburan Han Siong Kie tiba2 muncul dua orang perempuan misterius, kedua orang itu mengenakan kain kerudung putih di atas wajahnya, dilihat dari potongan tubuh kedua orang itu terlihati bahwa mereka berdua adalah seorang gadis muda dengan seorang perempuan berusia setengah baya. Pertama2 gadis muda itulah yang buka suara lebih dahulu, ujarnya:
"Ibu, Tonghong Hwie boleh dianggap seorang gadis yang terlalu kabur pengertiannya mengenai cinta, coba lihat dia telah mengukir nama mereka berdua di atas batu nisan, entah apa maksudnya??"
"Dia telah ber siap2 setelah menyelesaikan tugasnya untuk membalas dendam, ia akan mati pula didepan kuburan ini sehingga dia dikubur dalam sebuah liang yang sama"
"Ibu, mengapa kau tidak menceritakan keadaan yang sebenarnya??"
"Tidak bisa, kita tak boleh menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada gadis itu."
"Sekarang keadaan demikian mungkin saja peristiwa tragis yang tidak diinginkan bisa dihindari, sebaliknya kalau kita ceritakan keadaan yang sebetulnya. oooh.. akibatnya sukar kita dugg mulai sekarang.."
"Tapi.. bukankah dia hendak menuntut balas bagi kematiannya.."
"Nak. ia tak mungkin bisa menyelesaikan tugas untuk membalas dendam..usahanya pasti akan mengalami kegagalan "
"Kenapa??"
"Dengan ilmu silat yang dimilikinya saat ini, bila digunakan untuk berkelana didalam dunia persilatan mungkin masih lebih dari cukup tetapi kalau digunakan untuk menuntut balas, oooh masih terlampau jauh sekali satu jalan yang bisa dia tempuh hanyalah pulang kerumah dan berlatih ilmu silat lagi asal dia sudah berada dirumah maka sulitlah baginya untuk melepaskan diri lagi dari situ"
"Ia melarikan diri dari rumah tanpa sepengetahuan ayahnya, setelah pulang kerumah, tentu saja ayahnya tak akan membiarkan dia untuk pergi lagi tanpa pamit."
"Dengan kejadian tersebut mungkinkah bakal terjadi hal2 yang mengenaskan lagi?? "
"Semoga saja tidak"
"Ibu dengan perkatanmu itu bukankah berarti bahwa masih ada kemungkinan untuk terjadi suatu peristiwa yang tidak diinginkan" seru gadis muda itu.
"Kemungkinan memang selalu ada, hanya kemungkinan tersebut tipis sekali "
"lbu, apa sebabnya kau berbuat begitu??, dapatkah kau beritahukan kepadaku?"
"Gampang sekali, aku berbuat demikian agar bisa mencegah terjadinya suatu peristiswa yang lebih tragis lagi daripada kejadian sekarang ini"
Gadis muda itu gelengkan kepalanya berulang kali, suaranya tiba2 berubah aneh katanya:
"Ibu kau berbuat demikian tentu disebabkan karena mempunyai suatu maksud yang lain bukan."
"sedikitpun tidak salah"
"Mengenai asal usul dari nona Tonghong Hwie serta Han Siong Kie, dapatkah aku mengetahuinya lebih jelas lagi?"
"Tidak nak. sampai waktunya aku pasti akan menceritakan keseluruhannya kepadamu." Jawaban ini diutarakan perempuan setengah baya itu dengan nada penuh kepedihan.
Rupanya gadis muda tadi merasa tidak puas dengan sikap ibunya yang serba misterius itu, dia tidak buka suara lagi dan membungkam dalam seribu bahasa.
Untuk beberapa saat lamanya suasana disekitar kuburan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
"Nak, bongkarlah kuburan itu " akhirnya perempuan berusia setengah baya itu buka suara memecahkan kesunyian. "Ibu secara tiba2 aku merasa agak takut"
"Apa yang kau takuti ??"
"Seandainya ia tak berhasil menyadarkan diri kembali, bukankah jiwanya akan berkorban dengan percuma?, bukankan dia bakal mati secara konyol."
Rupanya perempuan berusia setengah baya itu merasakan hatinya bergetar keras, segera sahutnya:
"Itu tak mungkin terjadi, ilmu pernapasan kura2 sakti adalah suatu kepandaian aneh yang diwariskan sejak jaman kuno, tak mungkin terjadi hal2 yang diluar dugaan dengan dirinya"
"Sekalipun begitu, aku tetap merasa bahwa tindakan yang kulakukan pada masa yang lalu terlalu menyerempet bahaya "
"Bukan kau saja, akupun mempunyai perasaan yang sama dengan dirimu, tetapi bila aku harus melakukan pertolongan tanpa memikirkan segala akibatnya bisa kau bayangkan betapa hebatnya akibat yang kita terima, bukankah jerih payahku selama puluhan tahun lamanya, dendan menahan malu dan hina, bakal hancur berantakan??"
"Ibu mengapa terhadap putrimu kau bersikap rahasia sekali, apa saja yang perlu kau rahasiakan??"
"Nak suatu hari kau bakal mengetahui dengan sendirinya, sekarang bila kukatakan kepadamu maka hal itu akan merugikan dirimu saja, kau tak akan mendapatkan keuntungan apa2"
"Ibu coba kamu lihat, orang She Han ini kenapa dia?"
"Dia.... dia ibaratnya naga sakti diantara manusia. "
"Nak apakah kau telah jatuh cinta padanya" tiba2 perempuan itu bertanya.
Mendengar pertanyaan itu gadis muda itu segera menundukkan kepalanya dengan ter-sipu2 dan mempermainkan ujung bajunya..
"Nak. hal itu jangan sekali kau lakukan " bentak orang berusia setengah baya itu secara tiba2, "ingatlah baik2, kau tidak boleh jatuh cinta kepadanya, janganlah kau tanyakan mengapa, pokoknya kau tak boleh punya perasaan senang atau cinta kepada pemuda ini, dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya mengapa aku melarang kau berbuat begitu, dan sekarang laksanakanlah segala sesuatunya menurut perintahku.. "
Dengan tubuh yang bergetar per lahan2, gadis itu berjalan mendekati kuburan tadi, telapak tangannya bekerja cepat.. dalam beberepa buah pukulan gencar pasir dan batu beterbangan memenuhi angkasa, sekejap mata muncullah tubuh Han Siong Kie dari balik permukaan tanah.
"Nak, sekarang boponglah tubuhnya dan keluarkan dari liang kubur itu." kembali perempuan setengah baya itu memerintahkan.. "ibu, aku..aku tidak mau?? Aku tidak mau mambopong tubuhnya"
"Belum lama berselang, ketika ia sedang terluka bukankah kau pernah membopong tubuhnya?"
Gadis muda itu tidak menjawab, ia loncat keluar dari dalam liang kubur itu dan sebera berdiri disisi liang tadi.
Mengapa ia tak mau membopong tubuh Han Siong Kie?? karena ibunya melarang dia mencintai pemuda itu maka ia merasa hatinya tersinggung.
Melihat tindakan putrinya itu, perempuan berusia setengah baya tadi terpaksa menghela napas panjang, ia loncat masuk kedalam dan membopong sendiri tubuh pemuda itu, kemudian perintahnya lagi kepada gadis muda itu "sekarang tutuplah kembali liang tersebut dengan tanah"
"Mengapa harus kita timbun lagi liang itu?, toh jenasah Han Siong Kie telah kita ambil??"
"Mungkinpada suatu ketika Tonghong Hwie bakal datang kemari untuk menjenguk kuburan itu, kita tak boleh membangkitkan rasa curiganya hingga rahasia ini terbongkar"
"Tetapi... bukankah dikemudian hari Han Siong Kie munculkan diri kembali didalam dunia persilatan.."
"Aku telah memiliki rencana yang masak mengenai persoalan ini. oooh.. nak aku telah melakukan suatu kesalahan besar"
"Kesalahan apa??"
"Aku tak seharusnya menyuruh Tonghong Hwie pulang ke rumah"
"Kenapa??"
"Bisa jadi hal ini akan menghancurkan seluruh rencana besarku .. aku harus mencari akal untuk menghalangi dia pulang kerumah"
Rupanya gadis itu tahu sekalipun bertanya, ibunya belum tentu mau menerangkan kepadanya maka dengan mulut membungkam dia segera bekerja cepat menimbun kembali liang itu dengan tanah.
Dalam pada itu perempuan setengah baya tadi telah membaringkan tubuh Han Siong Kie di bawah sorot cahaya sang surya, dengan hati yang gelisah bercampur cemas kedua orang itu duduk disisinya sambil menanti perubahan selanjutnya.
suasana sangat hening dan sunyi, kesunyian yang penuh ketegangan...
Beberapa waktu sudah lewat dengan cepatnya, namun tubuh Han Siong Kie masih menggeletak kaku diatas tanah, sama sekali tidak memperlihatkan gejala atau pertanda bahwa dia akan sadar dari pingsannya.
"Ibu, coba lihat.."
Dikala keputus-asaan sedang menyelimuti hati mereka berdua, gadis muda itu menjerit tertahan.
Desiran angin tajam berkumandang membelah angkasa, dengan cepat kedua orang perempuan itu bangkit dari atas tanah dan berpaling kearah mana berasalnya suara tadi.
Tampaklah beberapa sosok tubuh manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat sedang berlarian menuju keatas bukit tersebut, orang yang berlari dipaling depan adalah seorang gadis muda dengan pedang terhunus, sedang dibelakangnya menyusul lima orang pria berbaju hitam. Rupanya gadis itu sedang melarikan diri dari kejaran orang2 dibelakangnya.
Perempuan berusia pertengahan itu segera menyambar jenasah Han Siong Kie dari atas tanah sambil buru2 serunya: "Mari kita bersembunyi untuk sementara waktu"
Dengan gerakan tubuh yang cepat kedua orang itu segera berkelebat menyembunyikan diri dibelakang sebuah batu cadas.
Agaknya gadis muda yang sedang melarikan diri itu sudah kehabisan tenaga, baru saja tubuhnya mencapai puncak bukit tersebut ia sudah kena disusul oleh kelima orang pengejarnya, dengan cepat kedua belah pihak terjerumus dalam suatu pertarungan yang sengit.
Diantara kelima orang pengejar itu terdiri dari seorang kakek tua berwajah buruk dengan empat orang pria kekar berbaju hitam.
Raut wajah gadis muda tadi cantik jelita, tetapi pakaiannya telah kusut dan tidak keruan, tusuk kondenya terlepas hingga rambutnya terurai kebawah, keadaannya mengenaskan sekali.
Terdengar kakek berwajah buruk itu membentak keras:
"Budak busuk. berani betul kau datang mengintai wilayah Lian huan tan kami...Hm kau betul-betul sudah bosan hidup, aku mau lihat kau hendak lari kemana lagi??"
Ditengah bentakan keras secara beruntun ia lancarkan tiga jurus serangan kilat yang mana seketika membuat gadis itu terdesak hebat dan mundur kebelakang dengan sempoyongan.
Sementara itu empat orang pria kekar berbaju hitam lainnya segera menyebar diri ke empat penjuru dan bersiap2 menghalangi maksud dara itu untuk meloloskan diri "Bajingan busuk. nonamu akan beradu jiwa dengan dirimu" bentak gadis itu gusar.
Pedangnya bekerja dengan cepat melancarkan serangan ber-tubi2, desiran angin tajam bagaikan hembusan taufan dan gulungan ombak menyapu dan mengurung musuhnya habis2an.
Kakek berwajah jelek itu seketika terdesak hebat, ia mundur tiga langkah kebelakang dan cepat2 putar telapaknya untuk memunahkan serangan gencar tersebut.
Sekalipun serangan itu hebat tapi sayang tusukan2 pedang itu dilancarkan dalam keadaan nekat, setelah serangan itu lewat, napasnya jadi ter-sengkal2 dan peluh membasahi seluruh tubuhnya.
Kakek tua itu menyeringai seram, ia sudah merasakan bahwa musuhnya telah kehabisan napas, sembilan pukulan berantai segera di lancarkan kembali kedepan, setiap pukulan mengandung tenaga penghancur yang maha dahsyat...
Jeritan ngeri bergema memancarkan kesunyian, sebuah pukulan yang maha dahsyat itu sempat bersarang ditubuh gadis itu, membuat badannya terlempar sejauh delapan depa kebelakang, ia muntah darah segar dan tak tertahan lagi tubuhnya jatuh terduduk diatas tanah.
"Bangsat tua " jeritnya dengan rasa dendam. "sekalipun nonamu sudah mati dan jadi setan, aku akan mencari dirimu untuk menuntut balas"
Kakek berwajah jelek itu tertawa seram.
"Hmm.. budak ingusan, aku ingin lihat dengan cara apa kau hendak balas dendam terhadap diriku"
Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati gadis itu, telapak tangannya diayun ke udara dan siap menghajar batok kepala musuhnya.
Melihat keadaan yang amat berbahaya itu, perempuan berusia pertengahan yang bersembunyi dibela kang batu itu segera berbisik kepada putrinya:
"Binasakan kelima orang itu, jangan biarkan seorangpUn diantara mereka lolos dalam keadaan hidup,"
"Membinasakan mereka semua??" jerit gadis itu dengan terperanjat.
"Benar, bunuh semua tanpa kecuali "
"Kenapa? apa gunanya kita bunuh mereka semua??"
"Kau tak usah bertanya, gunakanlah jurus yang hebat untuk membinasakan mereka semua "
"Tetapi mereka toh..."
"Jangan banyak bicara lagi, cepat laksanakan"
Sementara itu si kakak berwajah jelek itu sudah mengayunkan telapak tangannya mengarah ubun2 gadis itu. nampaknya sesaat lagi gadis itu akan mati dalam keadaan yang mengerikan.
"Tahan " suatu bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, disusul berkelebat datangnya sesosok bayangan manusia.
Kelima orang itu tersentak kaget, tanpa sadar kakek berwajah jelek itu menarik kembali serangannya sambil loncat mundur kebelakang.
Tapi sebelum dia sempat melihat jelas siapakah pendatang itu. segulung angin pukulan yang maha kuat dan dahsyat telah menyerang datang, hal ini membuat kakek tersebut terkesiap hatinya, sadarlah dia bahwa musuh yang baru saja munculkan diri itu memiliki tenaga dalam yang sangat hebat. .
Dalam keadaan tidak siap. ter gopoh2 ia enjotkan tubuhnya bergeser lima depa kesamping untuk melepaskan diri dari ancaman itu.
seorang perempuan muda berkerudung putih segera munculkan diri di hadapannya. Kakek itu jadi teramat gusar, bentaknya: "Perempuan sialan, siapakah kau?? berani betul...."
Gadis berkerudumg itu sama sekali tidak berbicara, tidak menunggu hingga pihak lawan menyelesaikan kata2nya, sepasang telapak kembali bekerja cepat meluncurkan serangan yang maha dahsyat dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata kata.
Kakek tua, itu ingin mengundurkan diri ke belakang, namun sudah tak sempat lagi, dalam keadaan terdesak terpaksa ia mengepos tenaga dan menghimpun segenap kekuatannya untuk menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.
"Blammm" ditengah jeritan ngeri yang menyayat hati, kakek tua itu terpukul mencelat sejauh beberapa tombak kemudian roboh terjengkang diatas tanah, darah segar muncrat keluar dari bibirnya.
Melihat pemimpin mereka berhasil dilukai lawan, empat orang pria baju hitam yang selama ini hanya berdiri tegak ditepi kalangan segera membentak keras, serentak mereka menerjang kearah gadis itu.
Dara berkerudung putih itu mendengus dingin jengeknya. "Hmm manusia2 yang tak tahu diri, rupanya sudah bosan hidup,"
Tubuhnya herkelebar kesana kemari bagaikan gerakan sukma, telapaknya diayun dengan kecepatan penuh, bersama dengan menggemanya empat jeritan ngeri tampaklah keempat orang pria itu sudah roboh keatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Pecahlah nyali kakek tua itu, ia merasa sukmanya se-akan2 sudah terbang meninggalkan raganya, dengan suara keras ia berteriak:
"Budak bangsat, besar benar nyalimu, kau berani memusuhi perkumpulan Thian chee Kau kami?"
Mendengar ucapan itu, dara berkerudung putih itu terdiri tertegun, kemudian secepat kilat ia menerjang kemuka dengan gerakan yang kuat ia babat tubuh kakek itu.
"Duuk diiringi jeritan kesakitan yang mendirikan bulu roma, kakek berwajah jelek itu termakan oleh bacokan itu hingga batok kepalanya hancur berantakan, darah segar segera muncrat memenuhi empat penjuru.
Melihat musuh2nya berhasil dipunahkan oleh seseorang yang tak dikenal, dara yang terluka itu segera maju kedepan dan memberi hormat ujarnya.
"Go Siauw Bie mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan yang telah cici berikan kepadaku, bolehkah aku mengetahui siapakah nama cici?"
"Aku bernama orang yang ada maksud"
Go Siauw Bi tertegun.
Sungguh aneh nama ini? benarkah itu adalah nama aslinya? ia membatin didalam hati. Meskipun dalam hati merasa sangsi namun perasaan itu tidak sampai diutarakan keluar.
Rupanya orang yang ada maksud bisa membaca pikiran orang, terdengar ia tertawa riang sambil tegurnya:
"Bukankah kau merasa bahwa namaku ini sangat aneh dan tidak sebagaimana mestinya?"
Go Siauw Bi tertawa jengah setelah mengetahui rahasianya diketahui lawan, maka dia pun tidak membantah.
Orang yang ada maksud tersenyum, dari sakunya dia ambil keluar sebutir pil mujarab dan segera diserahkan ketangan gadis she Go itu, katanya:
"Pil ini adalah pil mujarab, cepat telanlah agar luka dalam yang kau derita cepat sembuh"
Go Siauw Bi mengucapkan banyak terima kasih, ia terima pil itu dan segera dimasukkan kedalam mulut.
Menanti pil tadi sudah ditelan, orang yang ada maksud baru berkata lagi dengan suara dalam:
"Nona Go, apa sebabnya kau sampai di kejar2 oleh para durjana dari perkumpulan Thian chee kau??"
Air mita GoSiauw Bi berubah jadi amat sedih, jawabnya dengan suara gegetun:
"Aku datang untuk menuntut balas atas sakit hatiku.. sungguh tak kusangka dendam gagal kutuntut, hampir saja selembar jiwaku pun ikut melayang.. kalau bukan cici yang menolong diriku tepat pada saatnya, entah apa yang terjadi dengan diriku pada saat ini.."
"Menuntut balas?? sakit hati apa yang terikat antara dirimu dengan pihak perkumpulan Thian chee kau??"
"Mendiang ayahku adalah Go Yu Too ketua dari perkumpulan Pat Gie pang, karena pada saat kaucu dari perkumpulan Thian chee kau mengadakan pesta ulang tahun tidak ikut hadir untuk menyampaikan selamat, maka pada suatu hari pihak perkumpulan itu mengirim Tongcunya si kupu2 warna warni Lie In Hiang untuk membinasakan ayahku, Kanglam Jit koay sahabat karib ayahku yang mengetahui kejadian ini segera datang mencari balas, siapa tahu merekapun dibunuh mati semua oleh Lie In Hiang. Karena itulah, ini hari aku sengaja datang kemari untuk menuntut balas"
"Jago lihay yang berada dalam perkumpulan Thian chee kau tak terhingga jumlahnya, wilayah Lian huan tau pun merupakan suatu daerah yang amat berbahaya, bila kau ingin menuntut balas atas sakit hatimu itu alangkah baiknya bila tindakan itu kau lakukan dengan penuh waspada serta rencana yang masak sebab kalau tidak maka perbuatanmu itu tak lebih hanya pergi menempuh bahaya saja. Menurut pendapatku lebih baik untuk sementara waktu tinggalkan dulu tempat ini, bila jejakmu sampai diketahui oleh anggota perkumpulan itu, akibatnya sungguh amat sulit untuk diharapkan mulai sekarang"
"Terima kasih atas petunjuk cici, akupun menyadari babwa tenaga dalam yang kumiliki cetek sekali, untuk membalas dendam hal itu masih merupakan suatu angan2 yang amat muluk2. Tetapi bagaimanapun juga aku hidup sebagai putra seorang manusia, dapatkah aku menahan diri untuk tidak melakukan pembalasan dendam itu??? baiklah untuk sementara waktu aku orang she Go akan menuruti nasehat cici, aku hendak mengunjungi guru yang pandai untuk memperdalam ilmu silatku setelah itu aku baru akan datang lagi untuk menuntut balas."
"Bagus sekali nona, bila engkau masih mempunyai pikiran yang terbuka hal ini merupakan suatu hal yang menggembirakan, jarak tempat ini dengan wilayah Lian Huan Nau tidak terlalu jauh, demi keselamatan lebih baik segeralah berangkat tinggalkan tempat ini"
Go Siauw Bi mengangguk, tapi sebelum dia berlalu dari situ mendadak sinar matanya terbentur dengan batu nisan yang terpancang tidak jauh dari hadapannya, dengan wajah berubah hebat ia segera berseru keras:
"Han Siong Kie aah.. masa Han Siang- kong yang telah mati??"
"Apakah kau kenal dengan dirinya??" tanya orang yang ada maksud dengan hati bergetar.
"Aku kenal dengan siangkong itu, sebab belum lama berselang ketika ia tercebur kedalam sungai, akulah yang menolong dirinya."
"Ooh jadi kau pernah menyelamatkan jiwanya"
"Benar, dia.. mengapa jenasahnya dikubur ditempat ini?? dan siapa pula sipengemis cilik Tong hong Hwie?"
"Dia adalah sahabat perempuannya, dengan kematiannya dia hendak menggunakan rasa cintanya kepada pemuda itu"
Go Siauw Bi maju beberapa langkah kedepan dengan sempoyongan air matanya jatuh berlinang membasahi wajahnya dengan sedih ia bergumam lirih:
"Sungguh tak kusangka ia telah mendahului diriku, sungguh tak kunyana usianya begitu pendek, cici tahukah kau, dia telah menemui ajalnya ditangan siapa??"
"Tentang soal ini aku kurang begitu tahu, apakah nona juga pernah jatuh cinta kepadanya??"
"Aku telah menyelamatkan jiwanya dari dalam sungai, selama merawat lukanya itu ia telah beristirahat selama tiga hari didalam kamar tidurku."
Go Siauw tai tak dapat membendung rasa sedihnya lagi, airnya bagaikan hujan dimusim kemarau berjatuhan membasahi pipinya.
Mendengar perkataan itu orang yang ada maksud ikut merasa beriba hati, tiba2 ia merasa ada suatu perasaan yang sangat aneh muncul dari dalam hatinya, apakah perasaan itu dia sendiripun tak dapat melukiskan dengan kata2.
Go Siauw Bi berdiri tertegun ditempat kuburan itu, ia tidak menyangka pria yang pernah menarik hatinya telah pergi meninggaikan dunia untuk selama2nya, iapun tak pernah menduga masih ada seorang gadis lain yang ikut mengorbankan diri demi cintanya yang murni.
Teringat bahwa kenangan selama ini ternyata hanya hampa dan kosong belaka, gadis itu menghela napas panjang.
sesudah memberi hormat kepada orang yang ada maksud, ia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ.
Memandang hingga bayangan punggung gadis itu lenyap dari pandangan, orang yang ada maksud segera balik kembali kebalik batu cadas, disitu ia saksikan ibunya orang yang kehilangan sukma sedang membopong jenasah Han Siong Kle sambil duduk termangu- mangu, air mata telah membasahi bagian bajunya.
"Ibu apa yang telah terjadi???" orang yang ada maksud segera menegur.
-0000000-
BAB 13
"Nak. mungkin... mungkin dia.... dia tak ada harapan lagi, aku bakal menyesal sepanjang masa"
Orang yang ada maksud membungkam dalam seribu bahasa, ia tidak mengerti mengapa ibunya begitu menaruh perhatian terhadap diri Han Siong Kie, perhatiannya begitu mendalam hingga melebihi kasih sayangnya terhadap darah dagingnya sendiri, ia heran kenapa ibunya bisa bersikap begitu? mungkinkah dibalik semuanya ini masih tersembunyi sesuatu yang aneh.
Tiba2 terdengar orang yang kehilangan sukma berseru dengan penuh emosi:
"Cepat lihat, dia hampir sadarkan diri... oooh terima kasih langit dan bumi ia selamat... ia selamat"
"Benarkah itu ibu, betulkah dia hampir sadar ?"
"Benar coba rasakan tubuhnya mulai hangat kembali, aku merasa jantungnya mulai berdetak kembali"
Dengan penub ketegangan ibu dan anak itu mencurahkan seluruh perhatiannya kearah Han Siong Kie, mereka lihat tubuh anak muda yang kaku dan dingin itu perlahan2 menjadi lemas, dengusan napasnya mulai kedengaran dan air mukanya per lahan2 berubah jadi semu merah..
Orang yang kehilangan sukma menghembuskan napas panjang dan letakkan tubuh Han Siong kie ke atas tanah lalu mencium keningnya dengan hangat dan sayang.
Tingkah Liku ibunya yang aneh ini kembali mencengangkan hati orang yang ada maksud, ia berdiri melongo.
"Nak, kuserahkan dirinya padamu" tiba perempuan setengah baya itu berkata. "Serahkan kepadaku???"
"Sedikitpun tidak salah"
Dari dalam sakunya dia ambil keluar sebuah bungkusan dan diserahkan ketangan orang yang ada maksud kemudian ia membisikkan sesuatu disisi telinganya dan setelah itu berlalu.
Belum lama orang yang kehilangan sukma berlalu dari tempat itu, terdengar suara helaan napas panjang bergema memecahkan kesunyian. Han Siong Kle membuka sepasang matanya lalu meloncat bangun dari atas tanah.
Ketika dijumpainya orang yang ada maksud berada disitu, buru2 ia memberi hormat sambil ujarnya.
"Aku mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongannya yang telah nona berikan kepadaku, semoga dilain waktu budi kebaikan sempat kubalas." orang yang ada maksud tertawa cekikikan.
"Dengan cara apa kau hendak membalas budi kebaikanku ini? " serunya cepat.
Han Siong Kle tertegun, wajahnya berubah jadi merah, lama sekali ia baru bisa berkata.
"Dewasa ini tentu saja aku tak sanggup mengatakannya keluar, tapi kemudian hari aku pasti akan berusaha untuk membalas budi kebaikan itu."
“Seandainya sepanjang masa kau tidak memperoleh kesempatan itu, apa yang hendak kau lakukan??"
"Tentang soal ini aku pikir tak mungkin terjadi"
"Baiklah" kata orang yang ada maksud kemudian, "sekarang ibuku suruh aku menyampaikan sesuatu kepadamu."
"Lalu sekarang dimanakah ibumu??"
"Baru saja meninggaikan tempat ini"
"Apakah ia tak sudi bertemu dengan diriku lagi??"
"Bukan, bukan begitu, dia masih ada urusan lain maka terpaksa harus tinggaikan dahulu tempat ini, dia suruh aku menyampaikan pesan kepadamu, katanya mulai sekarang Manusia berwajah dingin Han Siong Kle telah tiada lagi dikolong langit, kau tak boleh membuka rahasia asal usulmu kecuali kepada ...."
"Kecuali kepada siapa??" tanya Han Siong Kle dengan ^uara heran bercampur terkejut.
"Kecuali kepada pemilik Benteng Maut"
Air muka si anak muda itu berubah hebat secara beruntun ia mundur selangkah kebelakang, serunya: "Apa maksud yang sebenarnya??"
"Entahlah, aku sendiripun kurang begitu mengerti, ibuku hanya berpesan agar kau suka pergi mengunjungi benteng maut."
"Berkunjung? hal itu pasti akan kulakukan, pada suatu hari aku akan mengobrak-abrik benteng maut dan melenyapkan Tengkorak Maut dari permukaan bumi."
"Kau keliru besar" seru orang yang ada maksud sambil menggeleng, " ibuku menyuruh kau berbuat demikian karena ia mengandung maksud2 tertentu."
Sorot mata Han Siong Kie per lahan2 dialihkan kearah lima sosok mayat yang menggeletak tidak jauh dari tempat itu, serunya dengan nada terkesiap "Mayat siapakah yang menggeletak disitu??"
"Anak buah perkumpulan Thian chee kau"
"Apakah mereka terluka di ujung telapak nona??"
"Sedikitpun tidak salah, mereka sedang mengejar seorang gadis dan kebetulan tiba ditempat ini, karena gadis itu terancam jiwanya maka aku segera turun tangan membereskan orang itu. 0oh. Ya a Apakah kau kenal dengan seorang gadis yang bernama Go Siauw Bi?"
"KenaL" jawab Han Siong Kle dengan suara terperanjat, " Kenapa dengan dirinya?"
"Cintakah kau kepadanya??" tidak menjawab orang yang ada maksud malah balik bertanya. Pertanyaan ini seketika membuat hati Han Siong Kie tertegun, serunya: "Nona, apa maksudmu mengajukan pertanyaan semacam ini??"
"Tiada maksud apa2, karena aku lihat sikapmu amat gelisah bercampur cemas, maka aku ajukan pertanyaan ini"
"Dia adalah gadis yang pernah menyelamatkan jiwaku, aku masih berhutang budi kepadanya."
"Ia sudah berlalu dari sini, dia tahu bahwa kau sudah tiada lagi dikolong langit"
"Apakah nona yang memberitahukan kejadian ini kepadanya??"
"Tidak. ia sendiri yang lihat dan melihat dengan matanya sendiri ...."
Han Siong Kle berpaling, tiba2 ia temukan sebuah gundukkan tanah baru tak jauh dari situ segera didekatinya kuburan ini dan terbacalah olehnya batu nisan yang terpancang didepan kuburan itu.
"Disinilah bersemayan manusia berwajah dingin Han song Kie serta pengemis cilik Tonghong Hwie."
Jantungnya seketika herdebar keras, apa yang terjadi? mungkinkah adik angkatnya Tonghong Hwie juga.. berpikir sampai disini ia bersin beberapa kali, sambil berpaling kearah orang yang ada maksud serunya:
"Nona, kuburan ini?"
"Pengemis cilik yang mendirikannya bagimu."
"Kenapa diatas batu nisan itu terukir nama kami berdua."
"Sebab dia mau hidup bersama mati berbareng dengan dirimu"
"Apa?? dia..dia..."
"Jangan tegang dan tak usah gelisah, dia belum mati, dia mau membalaskan dendam sakit hatimu lebih dahulu kemudian baru datang kemari untuk mati bersama dirimu satu liang."
Han Siong Kie tidak memperhatikan bahwa dibalik ucapan orang yang ada maksud mengandung arti yang lebih mendalam, kalau tidak tentulah dia akan menemukan sesuatu gejala yang aneh.
Mendengar perkataan tadi, ia jadi sangat terharu sehingga tak tertahan lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
"Oooh.. sungguh tak kusangka adik Hwieku itu demikian setia kawan dan menaruh perhatian kepadaku, aku orang she Han sungguh beruntung dapat berkenalan dan angkat saudara dengan dirinya. sekarang dimanakah orangnya??.."
"Bukankah sedari tadi sudah kukatakan bahwa ia telah tinggalkan tempat ini?"
"Secara bagaimana ia bisa mendirikan kuburan dan batu nisan bagiku??."
"Ia datang agak belakangan, sewaktu memasuki wilayah Lian huan tau jejaknya kepergok oleh nyonya kaucu hingga tertawan, untung ibuku berhasil menyelamatkan jiwanya. Ketika ia menjumpai jenasahmu yang sudah tak bernyawa itu hatinya jadi sedih dan hancur.."
"Oooh.. dia mengira aku benar2 telah mati??"
"Tentu saja jangan dibilang dia, orang lainpun pasti akan mengira kau sudah mati, sebab tubuhmu sudah mendingin dan kaku"
"Mengapa nona tidak memberitahukan kejadian yang sesungguhnya kepada saudara angkatku itu??" seru Han Siong Kie gegetun.
"Aku tidak memberitahukan keadaan yang sesungguhnya tentu saja didasarkan oleh alasan2 tertentu. lebih baik persoalan ini kita bicarakan dikemudian hari saja."
"Aku ingin mengetahui sekarang juga"
"Maaf, aku tak dapat menuruti keinginanmu itu"
Han Siong Kie menelan air ludah dan berdiri menjublak, terhadap tingkah laku ibu dan anak yang serba misterius itu ia merasa gemas bercampur jengkel, tapi pihak lawan adalah tuan penolongnya, hal itu membuat ia tak mampu berbuat sesuatu. Terpaksa sambil menahan diri ujarnya:
"Aku dapat mencari dirinya, sekalipun harus mencari sampai diujung langit atau di dasar samudra, aku harus menemukan dirinya"
Dari dalam sakunya orang yang ada maksud ambil keluar sebuah bungkusan kecil dan dilemparkan kearah pemuda itu, pesannya:
"Saudara, mulai sekarang manusia berwajah dingin Han Siong Kie sudah tak ada lagi dikolong langit, benda itu akan membantu dirimu untuk merubah wajahmu serta menutupi raut mukamu yang sebetulnya"
Han Siong Kie menyambut benda itu, sedang dimulut ia mengomel:
"Aku toh seorang lelaki sejati, kenapa raut wajah asliku harus disembunyikan??"
"Bila kau ingin berhasil dalam usahamu untuk membalas dendam, lebih baik lakukanlah seperti apa yang kukatatakan.."
"Tetapi bukankah ibumu siorang yang kehilangan sukma memerintahkan aku untuk berkunjung ke Benteng Maut serta menceritakan asal usulku yang sebenarnya?? musuh besarku adalah pemilik dari benteng maut itu, kenapa aku musti banyak bertingkah dengan segala macam hal yang tak berguna??"
"Sedikitpun tidak benar perkataanmu itu, dikemudian hari kau akan mengerti dengan sendirinya mengapa ibuku suruh kau berbuat demikian, sekarang lebih baik pergilah mengunjungi benteng maut"
"Mengunjungi musuh besarku??"
"Kau tak boleh mengatakan demikian, sekali lagi kuberitahukan kepadamu, ibuku sangat menaruh perhatian kepadamu, beliau suruh berbuat demikian tentulah didasarkan oleh maksud-maksud tertentu, bila kau tidak melakukan seperti apa yang dikatakan ibuku mungkin dendammu itu selamanya tak akan berhasil kau laksanakan"
Han Siong Kie jadi serba salah, bila ditinjau dari orang yang kehilangan sukma serta orang yang ada maksud dimasa yang lampau, anjuran perempuan itu pastilah mengandung maksud tertentu, tapi ia tak mengerti dan tak paham apa sebenarnya maksud orang itu??
"Han Siong Kie" orang yang ada maksud berkata kembali "Mau percaya atau tidak itu terserah pada dirimu sendiri sekarang aku mau pergi."
Selesai berkata dia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Han Siong Kie berdiri menjublak diatas tanah dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, perkembangan yang berlangsung selama ini membuat ia jadi bingung, perbuatan orang yang ada maksud serta ibunya memang begitu misterius hingga terasa amat menyeramkan.
"Baiklah akan kujajal perkataan mereka, aku hendak berkunjung ke benteng Maut serta melihat perobahan aneh apakah yang bakal terjadi."
Setelah mengambil keputusan didalam hati, ia segera membuka bungkusan kecil yang diberikan orang yang ada maksud itu, disitu ia temukan rambut palsu serta selembar topeng kulit manusia.
Setelah mengenakan rambut palsu itu serta topeng kulit manusia berangkatlah pemuda itu turun dari puncak bukit ketika bercermin diatas permukaan air nampaklah seorang pemuda yang berpenyakitan, ia jadi geli pikirnya:
"Aku harus mempunyai sebuah nama yang sesuai dengan potongan wajah serta badanku penyakitan... " malaikat penyakitan" benar nama ini bagus sekali, baiklah mulai sekarang aku akan munculkan diri didalam dunia persilatan dengan nama malaikat penyakitan"
Ia bersuit nyaring, tubuhnya dengan cepat berkelebat menuruni bukit itu, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya pikirnya:
"Aku harus berusaha keras untuk menemukan adik angkatku Tonghong Hwie lebih dahulu, ia selalu menganggap aku telah tiada lagi di kolong langit, aku harus temukan dirinya sebelum terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Tapi dunia begini luas, aku musti pergi kemana untuk menemui jejaknya."
Setelah termenung beberapa saat lamanya, ia lantas bergumam seorang diri:
"Aaaah benar perkumpulan Kaypang tersohor karena banyaknya anggota yang tersebar di mana2, asal aku berhasil temukan engkoh tuaku pengemis dari selatan, niscaya pencarian ini lebih mudah dilakukan. Perjalananku menuju keb enteng Maut lebih baik kutunda lebih dahulu"
Setelah mengambil keputusan, berangkatlah pemuda itu menuju arah selatan.
Entah sudah beberapa lama ia sudah berjalan, mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan aneh yang amat memekikan telinga, tanpa sadar Han Siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya.
Suitan tajam yang amat keras hingga memekikan telinga itu kembali bergema dari tempat kejauhan, kali ini juaranya lebih tajam dari suitan yang pertama, si anak muda itu sangsi sejenak setelah menentukan arah asalnya suara itu, ia segera meluncur kearah sebelah kanan dari hutan dihadapannya.
Beberapa puluh tombak sudah dia memasuki hutan tersebut, tapi sungguh aneh, disekeliling sana ternyata tak nampak sesosok bayangan manusiapun, sedang suara suitan tajam yang memekikkan telinga itupun tidak kedengaran lagi.
Pemuda itu jadi sangsi dan curiga, mungkinkah ia telah salah mendengar? ataukah memang ada seseorang lihay yang sedang mempermainkan dirinya??
Makin direnung pemuda itu semakin bingung, akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyelesaikan pekerjaan sendiri
"Perduli amat dengan orang yang bersuit tajam itu." pikirnya didalam hati. Ia segera putar badan dan siap berlalu dari situ ... "Bocah cilik, jangan pergi dulu..."
suara itu dingin seakan akan muncul dari gua salju yang menggidikkan hati. Han Siong Kie terkejut dan segera menoleh.
Tapi.. tak nampak sesosok bayangan manusiapun berada disekitar tempat itu, tidak terasa ia segera berseru: "siapa kau??"
"Aku?? haaah..haaah.haaah..."
suara itu se-olah2 dipancarkan dari suateu tempat sejauh sepuluh tombak dari hadapannya, yang aneh ternyata hanya suaranya saja yang kedengaran sedang bayangan manusianya sama sekali tak terlihat.
Bergidik hati sianak muda itu menjumpai keadaan tersebut, bulu kuduknya pada bangun berdiri, pikirnya:
"Jangan2 aku telah bertemu dengan setan? kalau tidak mengapa tak nampak sesosok bayangan manusiapun ditempat ini?" Sekali lagi ia membentak keras: "sebenarnya siapakah kau??"
"Haaah .haaah .haaaah... aku mengira aku bakal mati dengan menahan rasa sesal sepanjang masa, sungguh tak nyana sebelum ajalku tiba ternyata bisa bertemu dengan kau si bocah cilik. aaai.. inilah yang dikatakan Thian maha adil dan Thian punya mata, bocah cilik kau jangan pergi dari sini.."
selama pihak lawan berbicara, Hansaong Kie pusatkan perhatiannya coba menemukan arah berasalnya suara itu, tapi ia kecewa. sebab usahanya itu gagal dan tidak berhasil menemukan orang itu.
Akhirnya dengan perasaan heran bercampur sangsi, sekali lagi ia menegur:
"Sebenarnya siapakah kau"
"Aku adalah Mo-Mo cungcu Rasul dari segala iblis"
sedikitpun tidak salah, Rasul dari segala iblis atau disebut pula Mo tioan ci-mo atau Iblis diantara iblis"
"Kalau ditinjau dari juluknya itu, terang dia bukan manusia aliran lurus" pikir Han Siong Kie didalam hati, "Lebih baik aku kabur saja dari sini, toh persoalanku sendiri terlalu banyak. kenapa musti banyak ribut dengan manusia yang disebut Mo-Tiong ci-mo itu??"
Berpikir demikian ia lantas berkata dengan suara dingin.
"Aku masih ada urusan penting yang harus dikerjakan, selamat tinggai.."
"Eeeeei bocah cilik kau jangan pergi dari sini "
Han Siong Kie tidak menjawab ia lanjutkan gerakannya berlalu dari tempat itu.. "Bocah cilik masa kau tak mau menolong orang yang sedang kesusahan???"
Ucapan yang menegunkan hati Hanslong Kle, tubuhnya yang sedang meluncur pergi segera mendadak diudara dan melayang kembali keatas tanah pikirnya didalam hati.
"Melihat orang kesusahan tidak menolong, apakah maksudnya??? apakah manusia yang bernama iblis diantara iblis itu masih membutuhkan bantuan orang lain???" Ia segera menegur.
"Hei manusia yang bernama iblis diantara iblis, apa maksud perkataanmu itu??"
"Sulit untuk aku menceritakan dalam sepatah dua patah nanti saja kuceritakan kepadamu sedikit demi sedikit, sekarang singkirkan dahulu batu cadas yang amat besar itu"
"Batu cadas besar??"
"Sedikitpun tidak salah"
Han Siong Kie segera alihkan sinar matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, sedikitpun tidak salah pada jarak kurang lebih enam tombak dihadapannya terlihatlah sebuah batu cadas yang besarnya mencapai beberapa tombak.
"He, kau berada dimana?" teriak pemuda itu.
"Aku berada dibawah batu cadas itu"
"Kenapa kau bisa tertindih dibawah batu cadas itu??"
"Eeei.. si bocah cilik, kenapa sih begitu cerewet dan banyak omong?? singkirkan dahulu batu cadas itu kemudian kita baru berbicara lagi"
Han Siong Ktejadi murka, hawa pitamnya segera berkobar memenuhi benaknya, sambil mendengus dingin serunya:
"Luar biasa amat tabiatmu itu. Hmm kalau memang kau hebat dan lihay, kenapa tidak berusaha untuk menyingkirkan sendiri batu cadas itu?? maaf.. aku tak punya banyak waktu untuk bercanda dengan dirimu"
Mendengar sianak muda itu hendak berlalu, Iblis diantara iblis jadi sangat gelisah, buru2 serunya:
"Eeei..eeei.. bocah, kau jangan pergi dulu, kalau kau pergi dari sini niscaya aku bakal mati konyol"
Han Siong Kie jadi geli bercampur mendongkol, dengan perasaan apa boleh buat serunya: "Apakah cukup bagimu hanya menggeserkan batu cadas itu saja??"
"Ehmm bocah cilik mampukah kau hancurkan batu cadas itu hanya didalam tiga buah pukulan belaka??"
"Heeeh..beeeh..heeeh.. rupanya kau sengaja hendak menguji tenaga dalamku??" jengek Han Siong Kie sambil tertawa dingin.
"Aku sama sekali tak ada maksud menguji kekuatanmu, aku berbicara demikian karena mengandung maksud tertentu, katakan saja mampu tidak kau lakukan pekerjaan itu??"
"Coba saja nanti"
Per-lahan2 sianak muda itu berjalan mendekati batu cadas tersebut, setelah diamatinya sebentar, ia segera menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya kedalam telapak. serunya kemudian dengan suara berat:
"Saudara. hati2lah... aku segera akan melancarkan pukulan keatas batu cadas itu."
sebagai penutup kata sepasang telapaknya segera didorong kedepan dengan hawa murninya yang amat hebat serangan itu bisa dibayangkan sampai dimanakah kehebatannya.
“Blaaam...” terdengar benturan keras yang memekikan telinga, bumi tergetar laksana di landa gempa dahsyat, batu cadas yang besar itu terhajar remuk jadi empat lima bagian dan mencelat ke empat penjuru, dari bawah hatu cadas itu muncullah sebuah mulut gua yang gelap.
Sesosok kepala manusia yang sangat aneh segera menongol keluar dari mulut gua itu.
Dengan hati terkesiap bercampur kaget Han song Kie mundur tiga langkah kebelakang setelah diamati lebih seksama lagi maka tampaklah olehnya bahwa manusia aneh itu adalah seorang kakak tua yang bercambang lebat dengan rambut terurai kebawah, sepasang mata yang besar memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati jelas tenaga dalam yang dimiliki Mo Mo Cuncu telah mencapai puncak kesempurnaan.
"Haah haah haah... takdir takdir" seru kakek aneh itu sambil tertawa tergelak. "Bocah cilik, pukulan yang barusan kau lancarkan mengandung kekuatan tenaga dalam sebesar seratus tahun hasil latihan, hal ini sungguh berada diluar dugaanku. Rupanya takdir telah menentukan demikian dan aku memang mendapat pertolongan."
Habis berkata kembali ia tertawa terbahak2, begitu keras suaranya hingga Han Siong Kie merasakan kendang telinganya terasa amat sakit. "Apakah kau yang bernama Mo Mo Cuncu rasul dari segala Iblis? "
"Masa masih ada yang gadungan??"
"Dengan tenaga dalam yang kau miliki rasanya kau masih mampu untuk menyingkirkan batu itu bukan? kenapa hal itu tidak kau laksanakan sendiri" Rasul dari segala Iblis tidak menjawab pertanyaan itu, hanya serunya. "Bocah cilik, mari masuk kedalam gua"
Habis berkata kepalanya menyusup lebih dahulu masuk kedalam gua itu.
Melihat kesemuanya yang serba aneh itu Han Siong Kiejadi tercengang dan ingin tahu, dia ragu2 kemudian sebentar masuk kedalam gua itu.
Luas gua tersebut tidak begitu lebar, hanya dua tombak lebih sedikit, setelah berada diatas permukaan ia menyusup sejauh tiga tombak kesebelah kanan disitu dijumpainya seorang manusia aneh dalam keadaan bugil sedang duduk bersila, sepasang matanya dengan sorot mata tajam sedang mengawasi pemuda itu tanpa berkedip. "Bocah, duduklah kemari" kakek aneh itu berseru.
Bulu kuduk diseluruh tubuh Han Siong Kie pada bangun berdiri, tapi ia lanjutkan pula langkahnya menuju kedalam dan duduk dihadapan kakek itu. "Hey bocah cilik, aku lihat wajahmu berpenyakitan."
"Sedari dilahirkan aku memang memiliki raut wajah semecam ini"
"Siapakah namamu?? "
"Aku bernama malaikat penyakitan"
"Malaikat penyakitan?? Ha ah haah haah sungguhkah kau bernama malaikat penyakitan??"
"Mau percaya atau tidak terserah padamu"
"Baik, perduli kau adalah malaikat apa aku tak ada sangkut pautnya dengan diriku, bertemu denganmu itulah takdir, maukah kau membantu untuk menyelesaikan suatu keinginan hatiku??"
Sambil berkata dengan pandangan yang mengharapkan dia menatap tajam wajah Han Siong Kie.
"Keinginan hati apa??" tanya pemuda itu tercengang.
"Menantang seseorang untuk berduel"
"Oooh ... maksudmu mewakili dirimu pergi menantang seseorang untuk diajak berduel?"
"Sedikitpun tidak "
"Kenapa kau tidak melakukan sendiri?? bukankah tenaga lweekang yang kau miliki sangat tinggi"
Rasul dari segala iblis tertawa sedih. "Coba lihatlah sendiri" ia berkata.
Mengikuti arah yang dituding orang itu Han Siong Kle segera alihkan sorot matanya, dia lihat sepasang kaki dari kakek aneh itu sudah mengering dan menyusut kecil, kaki itu telah cacad dan tak dapat dipergunakan lagi untuk berjalan.
Timbullah perasaan iba bercampur kasihan didalam hati pemuda itu, tapi ia belum begitu paham mengenai watak kakek aneh yang bernama Rasul dari segala Iblis ini, maka pemuda itu tak mau mengabulkan permintaannya secara gegabah.
"Hei orang tua, aku ingin memahami lebih dahulu asal usulmu serta perbuatan2mu dimasa lampau."
"ooh. rupanya kau adalah seorang bocah cilik yang belum lama terjun kedalam dunia persilatan"
Han Siong Kie merasa tidak senang hati, sahutnya dengan suara dingin "Tidak salah, aku memang terjun kedunia persilatan belum seberapa lama"
"Tidak aneh kalau begitu, bila kau sudah lama terjun di dalam dunia persilatan, niscaya akan mengetahui namaku meskipun aku bergelar Mo mo cuncu Rasul dari segala Iblis, tetapi orang2 Bu-lim pada menyebut diriku sebagai Mo tiong ci mo Iblis di antara Iblis"
"Kalau memang demikian adanya, maka itu bukankah membuktikan bahwa perbuatanmu semasa masih berkelana didalam dunia persilatan dahulu lebih busuk dan keji daripada kawanan kaum iblis lainnya??"
"Benar atau salah yang terjadi didalam dunia persilatan sulit untuk dibedakan satu sama lain misalnya saja Tengkorak Maut.."
"Apa?? Tengkorak Maut???"
"Tidak salah, pemilik dari Benteng Maut itu"
"Kenapa dengan orang itu??" tanya Han Siong Kie sambil menahan emosi yang bergolak didalam dadanya.
"Setiap orang didalam dunia persilatan menganggap dia sebagai seorang iblis yang luar biasa kejinya, padahal dalam kenyataan belum tentu ia berwatak kejam"
Takkala sianak muda itu mendengar kakek aneh itu menyebut tentang musuh besar pembunuh keluarganya emosi bergelora dalam dadanya, ia merasa denyutan jantungnya bergerak lebih kencang, api dendam berkobar2 dan wajahnya berubah hebat.
Namun berhubung diatas wajahnya merupakan selembar topeng kulit manusia maka diluar golakan perasaannya itu sama sekali tidak kelihatan dengan setengah mendesak ia berseru kembali:
"Dari mana kau bisa tahu kalau ia tidak kejam?" "
"Meskipun Tengkorak Maut membunuh manusia2 dalam jumlah yang tak terbatas tetapi ia sendiripun mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan kepada orang lain."
Terbayang dua ratus jiwa lebih keluarganya yang mati terbunuh hingga tinggal tulang yang berserakan memenuhi perkampungan keluarga Han, Han Siong Kie segera mendengus dengan kebencian.
"Masa membunuh orangpun mempunyai kesulitan??" jengeknya.
"Hmmm... sebagian besar orang yang dibunuh olehnya adalah orang2 yang sudah sepantasnya dibunuh, tentu saja diantaranya terdapat pula mereka2 yang telah dibunuh tetapi hal ini tak bisa menyalahkan dirinya, bagaimanapun juga itulah bencana yang dicari sendiri oleh sang korban"
sebenarnya Han Siong Kle ingin menanyakan pula kematian keluarganya sebanyak dua ratus jiwa merupakan suatu pembunuhan yang pantas terjadi ataukah salah membunuh, tapi akhirnya ia menahan diri dan tak sampai mengutarakan asal usulnya, pikirnya didalam hati:
"Rupanya iblis diantara iblis ini bila bukan setali tiga uang dengan Tengkorak Maut, dia pastilah mempunyai hubungan yang erat dengan iblis itu, kalau tidak kenapa selalu membela dirinya???"
Menggunakan kesempatan baik itu ia berusaha untuk mengorek keterangan mengenai si Tengkorak Maut segera ujarnya.
"Kalau kulihat ucapanmu, rupanya kau mengetahui amat jelas tentang keadaan dari Tengkorak Maut??"
"Sedikitpun tidak salah" iblis diantara iblis mengangguk "aku berani berkata bahwa dikolong langit kecuali aku seorang tiada orang kedua yang mengetahui latar belakang peristiwa berdarah yang selalu menimpa dunia persilatan itu."
"Apakah kau bisa menerangkan kepadaku? seru Han Siong Kia dengan pikiran bergerak.
-0000000-
BAB 20
"TENTANG soal ini eeei bocah maafkanlah aku karena rahasia ini tak dapat kuterangkan padamu"
"Kenapa??"
"Aku sudah berjanji lebih dulu padanya, bahwa selama hidup rahasia itu tak akan kubocorkan kepada orang lain, sebagai pria sejati aku harus pegang janji itu erat2"
"Kalau memang kau tidak ingin mengatakannya, tentu saja tiada alasan untuk memaksa dirimu lebih jauh" ujar Han Siong Kie dengan hati kecewa "baiklah kalau begitu aku ingin mohon diri lebih dahulu "
"E eeei. . eeeei.... bocah kau tak boleh pergi."
Sambil berseru segulung tenaga hisap yang maha kuat menarik tubuh Han Siong Kie sehingga mundur tiga langkah kebelakang, begitu hebat daya hisap tadi hingga sianak muda itu tak mampu untuk bergeser kembali dari tempat itu.
Terkesiap hati Han Siong Kie menyaksikan tenaga yang maha sakti itu, peluh dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, tapi sebagai seorang pemuda yang sombong dari kaget jadi gusar bentaknya: "Eeei.. sebenarnya apa maksudmu?"
"Bocah, kau tak boleh pergi dari sini"
"Kenapa aku tak boleh pergi dari sini?? aku toh tak terikat oleh janji apapun dengan dirimu??"
"Kau harus mewakili diriku untuk mewujudkan suatu keinginanku, kau harus mewakili diriku untuk bertempur melawan seseorang"
"Aku tak mempunyai waktu yang begitu banyak bagimu"
"Bocah cilik, janganlah jual mahal. ..kau harus melakukan pertarungan itu mewakili diruku"
Han Siong Kie mendengus dingin.
"Hmmm aku toh berhak untuk menampik permintaan itu, kenapa kau memaksa terus??"
"ooooh... jadi kau tidak setuju deagan permintaan tolongku ini??"
"Maaf aku tak dapat memenuhi keinginanmu itu"
"sekalipun tidak mau kau harus melakukannya bagiku"
"Hmmm tidak bisa" Han Siong Kie mendengus lagi dengan suara berat.
Kembali tubuhnya bergerak kedepan, kali ini ia telah mengerahkan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, langkahnya enteng dan gerakannya cepat laksana sambaran kilat.
Siapa tahu ternyata tenaga hisapan yang dipancarkan Mo-mo cuncu luar biasa hebatnya, meskipun ia sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari tenaga h isapan tadi tetapi tubuhnya masih tetap berdiri di tempat semula. "Bocah ayoh jawab kau sanggup melakukan pertarungan itu bagiku atau tidak??"
"Tidak setuju kau mau apa???"
"Kalau kau berani tampik lagi permintaanku ini, sekali hantam kubabat tubuhmu sampai hancur"
Han Siong Kie jadi naik pitam mendengar ancaman itu, saking gusar dada terasa mau meledak dengan sombong ia berseru: "Tidak setuju tidak setuju kau mau apa?"
"Blaaam." segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera menghajar kedepan menimpa dada sianak muda itu.
Han Siong Kie berseru tertahan, tubuhnya terpental sejauh beberapa depa dari tempat semula, setelah termakan oleh pukulan itu, sekujur tubuhnya langsung terasa sakit bagaikan patah tulang, darah panas bergolak dalam dadanya sedang matanya ber kunang2 dan kepalanya pusing tujuh keliling, tapi sambil tahan diri per lahan2 ia bangkit berdiri
"Bocah, ayoh jawab setuju atau tidak?" seru Iblis diantara iblis lagi dengan suara geram..
"Tidak setuju"
"Eeei.. rupanya kau tidak takut mati??"
"Ehmm jangan harap kau bisa menggertak aku si malaikat penyakitan dengan kata mati aku bukanlah seorang pengecut yang takut menghadapi kematian..."
Melihat kekerasan hati lawannya, Mo tiong ci mo jadi kewalahan sendiri, ia menghela napas panjang dan berkata:
"Bocah, kau memang seorang pria sejati, kau memang seorang jago gagah yang tidak takut menghadapi kematian, aku kagum atas keberanianmu itu mari.. kemarilah, bagaimana kalau kila bicarakan lagi persoalan ini secara baik2"
"Aku rasa sudah tiada persoalan yang bisa kita bicarakan lagi, aku tak mau melakukan pekerjaan apapun bagimu, lebih baik carilah orang lain saja. " sahut Han Siong Kie dengan suara dingin.
"Bocah begini saja, bila kau suka melakukan tugas yang kubebankan kepadamu itu maka akan kuwariskan ilmu silatku yang maha sakti itu kepadamu, akan kuciptakan dirimu sebagai seorang jago Bu lim yang sangat lihay dan disegani orang, bagaimana?? kau tentu bersedia bukan??"
"Aku tidak tertarik oleh ilmu silatmu itu, aku tak sudi menerima tawaranmu itu"
"Hmm sekalipun kau tidak ingin belajar, aku akan paksa kau untuk mempelajarinya juga."
"Dikolong langit belum ada peraturan semacam ini, Hmm kau ingin menggunakan kekerasan untuk memaksa diriku??,jungan bermimpi di siang hari bolong.. aku si malaikat penyakitan tidak gentar menghadapi siapapun juga"
"Apakah kau tidak ingin jadi seorang jago silat yang sangat lihay dan disegani oleh setiap umat dunia??"
"Meskipun aku ingin jadi jagoan, tapi aku tak sudi angkat guru kepadamu Aku bisa mencari orang lain dan belajar darinya"
"Eeei bocah, kau keliru besar" seru Iblis diantara iblis dengan suara dalam, "Aku sama sekali tiada maksud untuk menerima dirimu sebagai muridku, tujuanku mewariskan ilmu silatku itu kepadamu bukan lain adalah sebagai balas jasa atas kesediaanmu untuk memahami satu keinginanku itu, anggaplah perbuatanku itu sebagai jasa dari timbal balik atas kesedianmu itu"
"Tapi sayang aku tidak punya kegembiraan untuk menerima tawaranmu itu, maaf lebih baik cari saja orang lain."
"Bocah" seru Iblis diantara iblis akhirnya dengan nada geram "Ini hari aku tak akan melepaskan kau untuk berlalu dari tempat ini, aku tidak ingin mati dengan membawa penyesalan. Disamping itu akupun merasa kecuali kau seorang dikolong langit sulit untuk menemukan seseorang yang sanggup berduel melawan Tengkorak Maut."
Terkesiap hati Han Siong Kie mendengar perkataan itu, tanpa terasa ia maju beberapa langkah kedepan dengan nada penuh emosi serunya:
"Apa??? kau hendak suruh aku pergi menantang Tengkorak maut untuk berduel??"
"Sedikitpun tidak salah apa kau takut??"
"Aku terima tawaranmu itu" jawab sang pemuda dengan cepat tanpa berpikir panjang lagi.
Mo Tiong ci-mo atau iblis diantara iblis jadi tercengang untuk beberapa saat ia berdiri melongo. Ia tak habis mengerti apa sebabnya pemula itu segera menyanggupi permintaannya setelah ia mengatakan bahwa orang yang dituju adalah Tengkorak Maut. . .
Dengan sepasang biji matanya yang tajam ia awasi wajah Han Siong Kie beberapa saat lamanya, lama... lama sekali tetapi tak sesuatu apapun yang berhasil ia temukan.
-0000000-
Jilid 10 : Tugas dari guru
DIATAS wajahnya yang berpenyakitan kecuali penuh kerutan bekas sakit sama sekali tidak tertampak perubahan perasaan apapun, wajah itu dingin dan menggidikkan hati.
"Malaikat penyakitan" akhirnya tak tahan lagi ia berseru: "Kau boleh dibilang merupakan satu2nya orang paling jumawa dan sombong yang pernah kujumpai selama ini, kau adalah seorang manusia yang paling dingin dan paling menyeramkan."
Han Siong Kie menenangkan hatinya talu tertawa hambar.
"Sejak dilahirkan demikianlah sudah watakku, sampai tuapun tabiat ini tak akan berubah"
"Baiklah, kita tak usah bicarakan soal yang tak berguna lagi, sekarang kau boleh duduk dengan hati tenang, marilah kita bicarakan lagi persoalan ini dari permulaan."
Han Siong Kle tidak banyak berbicara, ia segera duduk dihadapan kakek itu dan membungkam dalam seribu bahasa.
Iblis diantara iblis termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan nada kuatir ia bertanya kembali.
"Bocah. benarkah kau bersedia mewakili diriku untuk bertempur melawan pemilik Benteng Maut??"
"Sedikitpun tidak salah, kau tidak percaya"
"Dan kau juga menerima tawaranku untuk belajar silat dariku."
"Tentang soal iTu."
"Kau tak usah ini itu lagi" tukas Iblis di antara iblis dengan suara berat, "Dengan andalkan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bertarung melawan Tengkorak Maut sama artinya dengan telur membentur batu kau tak mungkin bisa menangkkan dirinya."
Diam2 Han Siong Kie membenarkan juga perkataannya itu, sebab apa yang dikatakan merupakan suatu kenyataan, tanpa terasa terbayang kembali dalam benaknya akan peristiwa yang baru saja terjadi, ketika belum lama berselang ia mengunjungi Benteng Maut ternyata sebelum berhasil melihat jelas bayangan tubuh lawannya, hanya satu pukulan berhawa dingin telah berhasil menggulung tubuhnya hingga mencelat keluar dari benteng dan tercebur kedalam sungai.
Akhirnya dengan nada berat pemuda itu mengangguk.
"Baiklah akan kuturuti perkataanmu" katanya.
Iblis diantara iblis segera angkat kepala dan tertawa ter bahak2.
"Haaah... haaah.. haaah... bocah, bila kau sanggup memenuhi harapanku ini, sampai matipun aku merasa amat berterima kasih kepadamu"
"Kau tak usah berterima kasih kepadaku, anggap saja kesanggupanku ini sebagai semacam jual beli. "
"Hmmm.. . kau memang terlalu jumawa dan tinggi hati luar biasa, baiklah, mari kita teruskan pembicaraan kita..."
" Cepat katakan "
"Hanya disebabkan karena rasa tak puas aku telah terkurung selama empat puluh tahun lamanya didalam gua bawah tanah ini."
"Empat puluh tahun?? " seru Han Siong Kie sambil menjulurkan lidahnya.
"Sedikitpun tidak salah, sepuluh hari lagi berarti genap aku terkurung selama empat puluh tahun"
"Sebenarnya apa yang telah terjadi?? kenapa kau sampai terkurung didalam gua bawah tanah?? " tanya pemuda itu dengan perasaan ingin tahu.
"Empat puluh tahun berselang, ia membunuh orang bagaikan membabat rumput, ilmu silatnya lihay dan tiada tandingan membuat dunia persilatan se akan2 sedang menemui saat untuk kiamat, jangan dikata orang Bu lim tak mampu untuk memberikan perlawanan, bahkan raut wajah yang sebenarnya pun tak diketahui orang.."
"Oooh..” Han Siong Kie berseru tertahan.
"Aku terjun kedalam dunia persilatan sepuluh tahun lebih duluan darinya dan berhasil merebut julukan sebagai "Mo Mo cungcu "Raja dari segala iblis, tetapi sebagian besar orang menyebut aku sebagai Mo tiong ci Mo atau Iblis diantara segala iblis, sejak Tengkorak Maut munculkan diri dalam dunia persilatan tersebar berita yang mengatakan satu Iblis muncul, satu iblis lenyap.
"Apakah arti perkataan itu???" tanya sang pemuda.
"Artinya setelah kemunculan Tengkorak maut berarti aku si Rasul dari segala Iblis bakal lenyap."
Han Siong Kie jadi semakin tertarik, ia merasa cerita ini merupakan satu kejadian Bu-lim yang luar biasa serunya kemudian. "Lalu bagaimanakah dalam kenyataan??"
"Kau jangan gelisah, dengarkanlah ceritaku ini lebih jauh, kau musti tahu bukan bahwa orang Bu-lim mengandung soal "nama" sebagai suatu hal yang lebih penting daripada jiwa sendiri, setelah mendengar ucapan itu aku jadi teramat gusar, maka suatu ketika aku ambil keputusan untuk menantang Tengkorak maut untuk berduel."
"Bagaimana kemudian??"
"Jejak Tengkorak maut bagaikan setan tanpa bayangan, ia ibaratnya naga sakti nampak kepala tak nampak ekornya, mau cari jago itu benar2 tidak gampang.."
"Kenapa kau tidak langsung menuju ke benteng Maut untuk mencari dirinya..?? kembali Han Siong Kie menyela.
"Waktu itu aku masih belum tahu bahwa Tengkorak Maut sebenarnya bukan lain adalah pemilik Benteng maut"
"Bukankah didepan pintu benteng Maut tertera sebuah lambang kepala tengkorak yang berlumuran darah?? apa kau tak bisa menduga kalau benda itu menandakan dirinya??"
"Kesemuanya itu adalah urusan belakangan, waktu itu yang diketahui umum hanya Benteng Maut dua patah kata.. Dengarkan dulu ceritaku lebih jauh, setelah tiga tahun lamanya aku menguber jejaknya kesana kemari akhirnya pada suatu kesempatan aku berhasil juga bertemu dengan dirinya, kami berdua segera berduel dengan serunya hingga beribu2 jurus telah berlalu.."
"Bagaimana akhirnya?? siapa yang berhasil menangkan pertarungan itu?? tanya Han Siong Kle dengan mata terbelalak.
"Akhirnya pada suatu kesempatan sebuah pukulannya berhasil menghajar telak ditubuhku hingga membuat aku muntah darah segar.."
Diam2 Han song Kie terkesiap juga mendengar kisah itu, ia tak menyangka kalau Iblis diantara iblis sanggup bertanding sebanyak ribuan jurus melawan Tengkorak Maut, hal ini membuktikan bahwa tenaga dalam yang dimiliki kakek aneh ini benar2 sangat tinggi. sambil menghembuskan napas panjang, serunya kemudian: "Jadi akhirnya kau yang menderita kekalahan??"
"Tidak salah, tetapi aku tak mana mengaku kalah dengan begitu saja dalam hati aku tetap merasa tidak puas dengan hasil pertarungan tersebut.."
"Tidak mau mengaku kalah??" hampir saja Han Siong Kle tertawa tergelak karena kegelian, dengan nada ingin tahu ia berseru,
"Apa maksudmu berkata demikian??"
"bukankah kau sudah jelas kalah?? kenapa kau tidak puas..??"
"Bila berbicara tentang soal jurus serangan, maka boleh dibilang kepandaian kita berdua setali tiga uang " ujar Iblis diantara iblis dengan nada emosi.
"Tapi celakanya ia berhasil melatih sejenis ilmu sakti yang disebut Kim kong sinkang, dengan ilmu saktinya itu tubuhnya jadi kebal terhadap serangan telapak. totokan jari maupun bacokan senjata tajam."
"Maka dari itu seranganmu sama sekali tidak berguna? " sambung pemuda itu cepat.
"Ehmm setelah menderita kekalahan aku segera bersumpah akan menciptakan sejenis ilmu sakti yang mampu menghancurkan pertahanan ilmu Kim kong sinkangnya."
"Dan sekarang apakah kau telah berhasil menciptakan kepandaian sakti tersebut??"
"Jangan menyela perkataanku, dengarkan kisahku lebih jauh" omel Iblis diantara iblis dengan mata melotot "setelah terjadi pertarungan itu, kami malah jadi sahabat secara terus terang ia menceritakan segala sesuatu tentang dirinya kepadaku."
"Jadi kau telah mengetahui semua rahasia pribadinya?? " sela Han song Kie kembali dengan kegirangan. .
Iblis diantara iblis melirik sekejap kearah pemuda itu, lalu menjawab.
"Kau tak usah keburu gembira, aku tak akan memberitahukan semua rahasia itu kepadamu, bila ada kesempatan selidikilah sendiri dengan andalkan otak serta kecerdasanmu. Begitulah.. setelah berhasil maka aku sebera menggali gua dibawah tanah ini dan bersumpah sebelum berhasil menciptakan ilmu semacam itu tak akan tinggalkan tempat ini lagi, siapa tahu sekali mendekam aku telah menghabiskan waktu selama empat puluh tahun lamanya, aku berhasil dengan kepandaianku, tapi akupun habis sudah riwayatnya sampai disini" selesai berkata ia menghela napas dalam2.
Diam2 Han Siong Kie merasa amat kagum dengan kebulatan tekad Iblis diantara iblis yang begitu kokoh melebihi batu karang, dengan sebutan yang lebih menghormat ia berkata:
"Locianpwee, semangat serta perjuanganmu yang tak kenal lelah itu membuat boanpwee merasa amat kagum"
"Hei, bocah, kenapa kau malah bersikap menghormat kepadaku?? " goda Mo-tiong ci-Mo sambil tersenyum.
"Setelah boanpwee dapat memahami duduk perkara yang sebetulnya, ialah sepantasnya kalau aku berubah sebulanku".
Mo Tiong ci Mo termenung beberapa saat lamanya, kemudian setelah menghembuskan napas panjang ujarnya
"Kepandaian sakti yang berhasil kuciptakan itu adalah sebuah ilmu jari yang kuberi nama " Tong Kim Ci.." "
"Tong Kim ci??.."
"Sedikirpun tidak salah, dalam jarak lima tombak dari sekeliling tubuhmu bila kau gunakan ilmu jari itu, maka emas akan berlubang batu akan hancur jadi bubuk. aku percaya dengan kepandaian sakti ini aku akan berhasil menghancurkan pertahanan tubuh "Kim kong sinkang" milik Tengkorak Maut, tapi sayang.. aaai dikala aku sedang melatih ilmu sakti itu, aku telah mengalami jalan api menuju neraka hingga mengakibatkan sepasang kakiku jadi cacad, maka tak mungkin lagi aku dapat memenuhi harapanku untuk memenuhi janji duel tersebut.. dan kini, kian hari sepasang kakiku telah semakin kaku, perasaan itu kian lima kian membumbung ke atas, aku sadar bahwa jiwaku sudah tak akan tahan berapa lama lagi.. oleh sebab itulah aku berharap bisa berjumpa dengan orang yang punya jodoh serta dapat mewakili diriku untuk memenuhi harapan yang telah kupendam selama empat puluh tahun lamanya ini..."
"Locianpwee, seandainya Tengkorak Maut memang ada janji dengan diri cianpwee, kenapa ia tak datang kemari untuk memenuhi janji" tanya Han Siong Kle dengan nada tercengang. .
"Ia tidak tahu kalau aku menyembunyikan diri didalam gua bawah tanah sudah tentu tak mungkin datang sendiri kemari..."
"Oooh... jadi locianpwee bersuit nyaring adalah bermaksud...."
"Benar, maksudku adalah untuk memancing kedatangan orang2 yang kebetulan lewat disini"
"Masa selama banyak tahun tak seorang manusiapun yang mendengar suara sultanmu itu???"
"Tentu saja ada, bahkan banyak... banyak sekali, hanya sayang mereka bukanlah manusia2 yang punya bakat untuk berlatih ilmu maha sakti ini"
"Kalau begitu darimana pula locianpwee bisa mengetahui bahwa boanpwee berbakat"
"Dari celah2 mulut gua aku telah menyaksikan gerakan tubuhmu sewaktu memasuki hutan, aku lihat tenaga dalammu cukup sempurna dan juga usianya masih muda maka lantas aku bersuara memanggil kedatanganmu kesini, setelah dekat aku semakin jelas mengetahui bahwa kau berbakat bagus, karena itu aku sengaja suruh kau menghancurkan batu cadas itu dalam tiga pukulan, tujuanku adalah untuk menjajal sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang kau miliki... sungguh tak kusangka meskipun usiamu masih muda namun kesempurnaan tenaga dalam yang kau miliki sudah sedemikian sempurnanya. bila dugaanku tak keliru maka kemungkinan besar kau pernah mendapat bantuan obat2 mujarab atau buah yang langka, kalau tidak darimana munculnya hawa murni sebesar seratus tahun hasil latihan??"
"Dugaan Loocianpwee tepat sekali, aku memang telah mangalami penemuan aneh"
"Baik, aku tak ingin tahu asal asul perguruanmu, aku cuma inginkan agar kau mewakili diriku guna memenuhi apa yang kuharapkan selama ini."
"Nah kini aku akan wariskan lebih dulu ilmu "Mo mo ciang hoat" ku lebih dahulu, kepandaian tersebut merupakan ilmu andalanku yang terampuh, setelah engkau berhasil menguasai barulah kuwa riskan pula ilmujari Tong Kim ci itu ...."
"Berapa lama yang dibutuhkan untuk mempelajari kepandaian tersebut??"
"Bagi dirimu yang telah memiliki kemampuan yang cukup kuat, aku rasa tiga hari sudah cukup"
Begitulah, sejak hari itu dengan tekun dan giat Han Siong Kie berlatih ilma silat di bawah pimpinan Iblis diantara iblis...
Waktu berlalu dengan cepatnya tanpa tetasa tiga hari sudah lewat, selama beberapa hari yang amat singkat itulah Han Siong Kie telah berhasil menguasai seluruh kepandaian Mo mo ciang hoat serta Tong kim ci yang diwariskan kakek Iblis diantara iblis kepadanya.
Ilmu telapak Mo mo cianghoat merupakan suatu jenis ilmu pukulan yang terdiri dari menghisap. menggetar menyerang serta bertahan empat bagian diantaranya bagian menyerang serta bertahan merupakan dua bagian pelajaran yang dipenuhi oleh jurus2 aneh yang maha sakti.
Kalau menyerang maka kehebatannya bagaikan sambaran kilat yang menggugurkan bukit, sedang kalau bertahan kokoh bagaikan benteng berlapiskan emas sekalipun menghadapi serangan yang bagaimana dahsyatpun sulit untuk memaksa mundur barang selangkahpun.
Selama tiga hari berkumpul dan berlatih silat atas petunjuk Iblis diantara iblis, tanpa terasa dalam hati kecil Han Siong Kie muncul suatu perasaan berat yang sangat aneh.
Tentu saja ia tak tahu bahwa sebelum mengasingkan diri, lblis diantara lblis mempunyai nama besar yang disegani orang, begitu tersohor namanya sebingga tidak berada dibawah nama besar Tengkorak maut, bahkan musuh2 besarnya tersebar di mana2.
Han Siong Kie amat menguatirkan keselamatan adik angkatnya Tonghong Hwie, disamping itu diapun hendak mengunjungi Benteng Maut, dengan mendapat tugas dari lblis diantara iblis, dia merasa tugas itu kebetulan sekali kepadanya. Maka pada hari keempat ia lantas berkata.
"Locianpwee, aku ingin mohon diri terlebih dahulu, aku pasti akan melanjutkan tugas yang cianpwee bebankan kepadaku, aku tak akan bikin hatimu kecewa"
Iblis diantara iblis termenung dan berpikir sebentar lalu berkata:
"Bocah meskipun ilmu jari Tong Kim ci berhasil kau pelajari namunnya sayang tenaga dalam yang kau miliki masih amat cetek, empat puluh tahun bukanlah suatu jangka waktu yang terhitung pendek siapa tahu sampai dimanakah kemajuan yang tercapai si Tengkoraak Maut didalam hal tenaga dalamnyaa... setelan kupikir pulang balik akhirnya aku berkesimpulan bahwa aku harus ulurkan tangan untuk membantu dirimu..."
Han Siong Kie sebagai seorang jago tentu saja dapat memahami perkataan itu, buru2 ia goyangkan tangannya berulang kali.
"Locianpwe jangan... jangan sekali kau lakukan hal itu atas diriku"
Iblis diantata iblis mendengus dingin, ia tak ambil peduli terhadap ucapan dari Han Siong Kie, sepasang telapaknya bekerja cepat dan terasalah segulung angin pukulan yang maha dahsyat sebera menekan tubuh sianak muda itu sehingga sama sekali tak berkutik.
Ketika tangannya ditekan kebawah, maka tak dapat dikuasai lagi Han Siong Kie jatuh tertunduk, jatuh diatas tanah, pada waktu itulah telapak yang lain laksana kilat ditempelkan diatas ubun2 pemuda itu.
"Bocah, pusatkalah perhatianmu dan pejamkanlah matamu rapat2" serunya dengan tiada serius " gunakanlah hawa murni yang ada dalam tububmu untuk menerina aliran hawa murni yarg kusalurkan ini"
Sambil berkata segulung aliran hawa panas yang menyegarkan hati segera mengalir masuk kedalam tubuh Han Siong Kie lewat jalan darah Hoa kay hiat diatas ubun2.
Han Siong Kie menyadari hebatnya ancaman bahaya bila dia tidak segera pusatkan perhatiannya dalam keadaan begini sekalipun dia tak mau terpaksa harus menerima pemberian aliran hawa panas tersebut, terpaksa ia pusatkan perhatiannya dan salurkan hawa tenaga dalam untuk mengiringi masuknya aliran hawa murni dari luar.
Ia pernah ganti tulang karena pengaruh air mukjijat dari bawah permukaan tanah kemudian mendapat pula saluran hawa murni lewat kura2 sakti, jalan darah penting disekujur tubuhnya boleh dibilang telah menembus semua, kini setelah mendapatkan saluran tenaga dalam dari Iblis diantara iblis, dengan amat lancar sekali hawa murni tadi melebur bersama hawa murni yang sudah di milikinya tadi.
Dalam sekejap mata Iblis diantara iblis telah menyelesaikan pekerjaannya menyalurkan hawa murni kedalam tubuh pemuda tersebut.
Telapak tangannya segera digeserkan dari atas ubun2 menunggu pemuda itu sudah menyelesaikan semedinya dan bangkit berdiri Iblis diantara iblis dengan tubuh bergetar keras sedang duduk disudut goa itu.
Timbul perasaan tidak tega didalam hati kecil Han Siong Kie, rasa menyesal berkecamuk didalam hatinya, andai kata pemilik dari benteng maut bukan musuh bebuyutannya, tak mungkin dia akan menerima permintaan dari Iblis diantara iblis.
Dan kini pihak lawan telah membayar kesanggupannya itu dengan suatu balas jasa yang tak ternilai harganya, ia telah mendapat saluran hawa murni dari kakek itu, hingga membuat Han Siong Kie merasa dirinya terlalu serakah, ia terlalu memahami diri sendiri.
Per lahan2 Iblis diantara iblis membuka matanya, sinar matanya telah pudar dan badannya nampak lemah sekali, dengan suara ter sengkal2 ujarnya .
"Bocah cilik, sekarang didalam tubuhmu telah terdapat hawa murni bagaikan hasil latihan selama dua ratus tahuni kejadian ini merupakan suatu peristiwa besar yang belum pernah dialami oleh orang Bu lim sebelumnya, perduli sampai dimanakah kemajuan tenaga lweekang yang dimiliki Tengkorak Maut, tak mungkin dia sanggup melampaui keampuhanmu sekarang"
"Locianpwee, aku merasa menyesal sekali karena selama ini telah merahasiakan satu persoalan terhadap dirimu" bisik Han Siong Kie dengan wajah amat sedih. "Rahasia apa..."
"Sebenarnya boanpwee mempunyai dendam kesumat dengan pemilik dari benteng maut itu, karena itulah aku dengan senang hati menerima tawaran dari lociaopwee "
"Oooh jadi kaupunya dendam dengan Tengkorak Maut??"
"Benar tapi Loocianpwee tak usah kuatir, aku berani bersumpah tak akan menggunakan ilmu sakti hasil pelajaran dari loocianpwee untuk melaksanakan tujuanku didalam membalas dendam"
Iblis diantara tblis tertegun sebentar kemudian tertawa ter-bahak2.
"Haaah... haaah.. haaah bocah cilik, aku kagum kejantananmu, kupuji dirimu sebagai seorang pendekar sejati di dalam dunia persilatan, dari perkataan itu akupun bisa membuktikan bahwa kau berjiwa besar dan berhati jujur, tak sia2 kusalurkan seluruh hawa murniku kedalam tubuhmu"
Tiba2 Han Siong Kie jatuhkan diri berlutut diatas tanah.
"Eeeei... bocah, apa yang hendak kau lakukan??" tegur Iblis diantara iblis dengan wajah tertegun.
"Sekalipun boanpwee telah memperoleh warisan ilmu silat dari Leng ku Siang-jin terlebih dulu hingga semestinya dalam peraturan aku harus mengakui dirinya sebagai guruku, tapi dalam kenyataan boanpwee sama sekali tidak terikat oleh perguruan manapun juga. Ini hari berkat baik hati dari locianpwee aku telah berhasil lebih mrnyempurnakan diriku, karena aku harap cianpwee suka meagijinkan diriku uatuk mengangkat cianpwee sebagai guruku !"
“Tent&ng soal ini., tentang soal ini,!” untuk beberapa saat lamanya iblis diantara iblis tidak berbicara, ia nampak termenung dan memandang keatas langit2 gua tanpa berkedip.
"Apakab cianpwee tak mau mengabulkan permitaaaku ini?” pinta Han Siong Kie kembali.
Iblis diantara iblis ragu2 sejenak, akhirnya dia mengangguk,
“Baiklah, aku terima kau sebagai muridku”
Han Siong Kie segera menjalankan penghormatan besar untuk mengangkat kakek itu sebagai gurunya. kemudian baru bangkit berdiri.
Rupaoya lblis diantara iblis merasa amat terharu sekali, sekujur tubuhnya tampak gemetar keras sedang air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang telah kusut. mimpi pun ia tak pernah menyangka pada saat akhir masa hidupnya ia telah menerima ahli waris yang begitu bagus.
"Muridku, aku sudah tak dapat hidup lebih lama lagi " ujar Iblis diantara
iblis setelah termenung beberapa saat. “Aku barap didalam sepulub hari kau sanggup menyelesaikan apa yang menjadi idam2anku itu, berduellah dengan pemilik Benteng Maut lalu berilah kabar baik kepada gurumu!”
"Tecu akan melaksanakan keinginan suhu, apakah masih ada lain pesan?”
“Persoalan yang lain kita bicarakan setelah kau kembali lagi kesini dan sekarang kau boleh segera berangkat melakukan sebaik baiknya:
Pertama, setelah tiba didepan Benteng Maut kau harus segera bersenanduag! Satu Iblis muncul, satu Iblis lenyap, Iblis diantara Iblis bertemu dengan raja langit” maka Tengkorak maut akan menyambut kedatanganmu secara baik2, sebab selamanya Benteng Maut amat benci bila ada orang berkunjung kesitu.”
Dengan perasaan tak habis mengerti Han Siong Kie mengangguk.
“Apakah pesanmu yang kedua?” tanyanya kemudian.
"Kedua pertarungan ini hanya terbatas untuk bertanding belaka, kedua belah pihak tiada dendam atau sakit hati maka aku larang kau gunakan ilmu sakti itu untuk melukai dirinya sebelum bertanding, kau musti jelaskan lebih dahulu bahwa pertarungan yang bakal berlangsung hanya terbatas sampai saling menutul belaka.
"Tecu akan mengingat selalu pesan suhu, dan apakah pesan yang ketiga itu"
"Ketiga aku melarang kau gunakan kesempatan ini untuk menuntut balas bagi sakit hati mu sendiri"
"Suhu tak usah kuatir," sahut Han Siong Kie dengan wajah serius, "tecu masih sanggup untuk membedakan mana budi mana dendam, mana tugas dan mana kesempatan untuk pribadi"
-0000000-
"KALAU kau memang bisa berpandangan jauh kedepan, akupun dengan lega hati akan menantikan kabar gembira darimu" ujar Iblis diantara Iblis sambil mengangguk " ingat didalam sepuluh hari kau harus segera kembali kemari, aku masih ada persoalan yang hendak disampaikan kepadamu, ingat hanya sepuluh hari, selewatnya sepuluh hari mungkin aku sudah tak dapat bertemu lagi dengan dirimu"
Han Siong Kie merasa terharu sekali hingga tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia tahu bahwa suhunya hanya mampu hidup selama sepuluh hari lagi karena ia telah menyalurkan seluruh hawa murni yang dimilikinya kedalam tubuh sendiri, tentu saja gurunya berbuat demikian karena melihat ia bisa mewakili dirinya untuk pergi ke Benteng maut dan berduel melawan Tengkorak maut.
"Suhu" ujarnya kemudian dengan suara sedih "tecu tak akan membiarkan kau orang tua merasa kecewa"
"Baiklah, sekarang kau boleh sebera berangkat setelah keluar dari gua ini carilah batu besar yang lain sebellah mulut gua ini"
"Tapi bagaimana dtngan makanan serta minuman kau orang tua?? sekarang keadaanmu sudah...." pemuda itu tak tega melanjutkan kata2nya dan segera membungkam. Iblis diantara iblis tertawa keras.
"Haahhh...haahhh...haaahhh.. maksudmu dengan keadaanku sekarang yang lemah tak bertenaga, aku sudah tak mampu lagi untuk makan?? tentang soal ini kau tak usah kuatir, aku masih punya persediaan ransum selama sepuluh hari, pergilah dengan hati tenang. Ingat jangan lupa dengan apa yang telah kukatakan"
"Tecu tak berani melupakannya, didalam sepuluh hari pasti aku akan kembali kemari"
Selesai memberi hormat ia keluar dari gua kemudian mencari batu besar untuk menyumbat mulut gua itu dan berlalu dengan sedih.
Perintah dari guru lebih penting untuk dilaksanakan lebih dulu, terpaksa Han Siong Kee harus singkirkan dahulu niatnya untuk mencari Tonghong Hwie, dia langsung berangkat menuju kebenteng maut.
Setelah memperoleh tenaga dalam sebesar seratus tahun hasil latihan milik Leng Ku siangjin dan sekarang mendapatkan pula seluruh tenaga dalam dari Iblis diantara iblis berarti sekarang ia telah memiliki tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan penemuan semacam ini boleh dibilang jarang sekali ditemui siapapun.
Ilmu meringankan tubuh Cahaya kilat lintasan cahaya yang digunakan pada saat ini jauh berbeda keadaannya dangan tempo dulu, kecepatannya pada saat ini sudah melebihi kecepatan sambaran kilat, seandainya bukan seorang jago lihay sukar untuk menemukan gerakan tubuhnya itu.
Sepuluh hari... ia harus berhasil balik kembali kedalam gua bawah tanah itu dalam sepuluh hari, karena Iblis diantara iblis hanya mempunyai waktu hidup hanya sepuluh hari saja
Setelah melintasi jalan gunung yang terjal dan berliku, ia tiba disebuah jalan raya.
Sebuah sungai besar terbentang didepan mata. sambil melakukan perjalanan menyelusuri pantai sungai itu ia berlari kencang. ia hendak mencapai Benteng Maut didalam sehari semalam.
Han Siong Kie tahu bahwa seandainya di dalam sepuluh bari ia tak dapat kembali maka hal itu merupakan suatu dosa yang tak dapat diampuni, sebab satu2nya harapan dari gurunya telah dititipkan diatas pundaknya, disamping itu dia harus berhasil menangkan pemilik dari Benteng Maut, kalau tidak gurunya akan mati dengan mata tidak meram!
Ilmu silat yang dimiliki pemilik Benteng Maut membuat hatinya bergidik, ia tak tahu dengan andalkan ilmu jari Tong kim ci tersebut mampukah ia menjebolkan pertahanan ilmu kebal Kim kong sinkarg yang dimiliki lawan?
Dalam hatinya terselip satu harapan. ia berharap didalam pertarungannya mewakili Iblis diantara Iblis ini ia berbasil membongkar raut wajah yang sebenarnya dari Tengkorak maut, disamping itu diapun bisa mengira-ngira sampai taraf yang bagaimana hebatnya ilmu silat dari musuh besar pembunuh keluarganya ini.
Tiba2.. dari depan mata muncul dua sosok bayangan hijau berkelebat memotong jalan raya dan lenyap dibalik hutan ditepi jalan, diantara bayangan hijau itu kelihatan mengempit sesosok benda putih yang mirip sekali dengan tubuh seorang gadis muda.
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak pemuda ini. ia menghentikan gerakan tubuhnya dan berpikir :
"Kedua orang itu pasti bukan manusia baik2, coba akan kuintil perjalanan mereka”
Berpikir demikian ia segera belok kesisi jalan dan melayang pula masuk kedalam hutan.
Baru saja tubuhnya mencapai hutan yang cukup lebat tadi, terdengar suara seseoraog yang serak tua sedang berkata :
“Turunkan dia keatas tanah, lepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan!”
"Suhu, perempuan ini…!” ujar orang kedua dengan nada tinggi melengking.
"Ada apa?”
“Tecu harap suhu suka menghadiahkan gadis ini..!”
"Bocah keparat, kau lihat apakah wajahnya terlalu cantik sehingga kau merasa keberatan bila kulalap??" jengek suara setan2 tua itu lagi sambil tertawa seram.
"Tentang soal ini.."
"Sudahlah, tak usah ini itu lagi, ayoh cepat lepaskan seluruh pakaiannya, aku akan segera mengisap sari kegadisannya"
Han Siong Kie kontan merasakan darah panas dalam didadanya bergolak keras, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya dan sepasang mata melotot bulat2, ia tak menyangka kalau disiang hari bolong itu ternyata ada orang yang berani melakukan perbuatan terkutuk semacam ini.
Ia merasa setelah kejadian ini ditemui olehnya, sebagai seorang pendekar penegak keadilan sudah seharusnya ia bunuh manusia2 itu. Dalam pada itu terdengar pemuda tadi telah berkata kembali:
"Suhu, bagaimana kalau kau hadiahkan gadis ini kepadaku saja?? aku akan carikan sepuluh orang gadis yang lain untuk kau siorang tua..."
"Sudah, kau tak usah banyak bicara lagi, perawan ini mempunyai tulang yang amat bagus dengan dasar tenaga dalam yang cukup sempurna, jarang sekali perempuan semacam ini ditemui dalam dunia persilatan, kau hendak pergi kemana untuk mencari gadis macam begini untukku?? ayoh cepat turun tangan lepas seluruh pakaiannya"
"Suhu, kau toh hanya ingin menghisap sari kegadisannya belaka, kenapa tidak kau hadiahkan kepadaku saja agar aku bisa mengawini dirinya."
"Bocah keparat, aku masih belum ingin modar, mengerti?? kalau kau berani banyak ngebacot lagi, jangan salahkan kalau kubacok dirimu lebih dahulu."
Han Siong Kie mendengus dingin, perlahan ia munculkan diri dari tempat persembunyiannya .
Pada saat yang hampir bersamaan terdengar suara pakaian yang ditarik hingga robek, diikuti dua jeritan kaget bergema memecahkan kesunyian.
Dihadapan mereka terlihatlah seorang kakek berjubah hijau yang berwajah menyeramkan sedang berdiri berdampingan dengan seorang pemuda berdandan busu warna hijau, seorang gadis baju putih yang bagian-bagian dadanya telah robek menggeletak diatas tanah, sepasang buah dadanya yang putih padat berdiri menongol keluar dari balik pakaian yang robek itu
Napsu membunuh menyelimuti wajah Han Siong Kie makin tebal, sorot mata ber api2 memancarkan cahaya yang amat tajam perlahan2 ia sapu kedua orang itu sambil tertawa dingin tiada hentinya. Kakek tua itu sebera tertawa seram:
"Bocah keparat, rupanya kau datang untuk mencari kematian buat dirimu sendiri" jengeknya.
Sedang pemuda busu tadi dengan cepat menggerakkan tubuhnya siap melancarkan serangan.
"Bagus sekali perbuatan kalian berdua" dengus Han Siong Kie sambil tertawa dingin.
Di siang hari bolongpun berani melakukan perbuatan terkutuk semacam ini. Hmm ini hari setelah bertemu dengan aku si malaikat penyakitan, jangan harap kalian berdua bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup "
"Keparat cilik. siapa namamu??"
"Malaikat penyakitan"
"Malaikat penyakitan?? Haah haah haah. sebentar lagi kau akan berubah jadi malaikat elmaut. Muridku bunuh dia."
Pemuda itu mengangguk dan segera menerjang kedepan sambil melancarkan satu pukulan dahsyat.
Han Siong Kie mendengus dingin, ia geser tubuhnya satu langkah kesamping lalu mengirim pula satu pukulan kearah depan.
"Blaaam" ditengah ledakan keras, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, tubuh pemuda busu itu tergetar keras dan mundur sejauh delapan depa dengan sempoyongan.
Air muka kakek jubah hijau itu kontan berubah hebat, ia tak menyangka pemuda berwajah penyakitan yang menyebut dirinya sebagai malaikat penyakitan ini memiliki ilmu silat yang sangat lihay, tapi aneh sekali kenapa dalam dunia persilatan belum pernah terdengar munculnya seorang pemuda yang demikian lihaynya?? Dalam malunya pemuda busu itu jadi teramat gusar, ia membentak keras dan sekali lagi menerjang kedepan. telapak kiri melancarkan pukulan, telapak tangan kanan mengancam dengan ilmu cengkeraman secara terpisah dari atas dan tengah mengancam dua bagian penting diatas tubuhnya.
Semua jurus dan gerakan dilakukan sangat aneh dan luar biasa, jauh berbeda dengan kepandaian silat aliran Tionggoan.
"Menghadapi manusia2 durjana semacam ini kenapa aku tidak coba mengguoakan ilmu jari Tong Kim Ci?" pikir Han Siong Kie didalam hati.
Berpikir demikian ia segera menghimpun tenaga dalamnya dan ayun tangan kearah depan.
Suara jeritan ngeri yang amat menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian. pemuda busu itu roboh terjengkang diatas tanah dengan darah segar menyembur keluar setinggi beberapa tombak. dadanya seketika berlubang besar sekali.
Diikuti “Kraak!” sebuah pohon besar yang berada dibelakang tubuh busu muda itu bergoncang keras serta muncul sebuah lubaag pula sebesar ibu jari.
Rupaeya serangan jari yang dilancarkan oleh Han Siong Kie seketika berhasil melubangi tubuh pihak lawan. siapa tahu tenaganya masih cukup besar maka telah menembusi tubuh busu muda itu sisa tenaga segera melubangi pula sebuah pobon yang berada pada jarak tiga tombak dari kalangan.
Kejadian ini sangat mengejutkan hati si anak muda itu ia tak mengira kalau kekuatap ilmu jari Tong kim ci yang dipelajari itu bisa sedemikian hebatnya.
Kakek jubah hijau itu lebih2 ketakutan selama hidup belum pernah ia mendengar ilmu jari semacam ini seorang jago yang dapat menotok jalan darah orang dari jarak jauh pun sudah terhitung kelas satu apalagi ilmu jari yang bisa menembusi tubuh lawan bahkan melobangi pula pohon jauh dibelakang sang korban.
Saking takutnya kakek itu mundur beberapa langkab kebelakang sambil serunya;
"Malaikat penyakitan tahukah engkau siapakah aku?”
"Coba kau katakan sendiri”
"Aku adalab pangawal istana terlarang dibawab kekuasaao Thian Lam Tee kun yang disebut orang pengawal baju bijau Pit Lee”
Han Siong Kie melongo ia tak tahu manusia macam apakah yang dimaksudkan sebagai Thian Lam Tee Kun itu tetapi ditinjau dari sebutan itu jelas orang itu merupakan seorang jagoan dari wilayah Thian Lam maka dengan nada seenaknya ia berkata:
"Kalau Thian-lam lantas kenapa???" Pengawal baju hijau tertawa seram.
"Hmmm.... hmmmm... kau berani menghalang-halangi pekerjaan dari pihak kami, berani pula melukai anggota perguruan kami berarti bahwa kau hendak memusuhi golongan Thian lam kami"
Sorot mata Han Siong Kie perlahan2 dialihkan kearah gadis yang menggeletak diatas tanah itu, ia begitu melihat wajahnya terkejut tubuhnya seketika gemetar keras hampir saja dadanya meledak karena kegusaran
Kiranya gadis baju putih itu bukan lain adalah Go Siauw Bi gadis yang pernah menyelamatkan jiwanya .
"Anjing tua, kau harus modar" bentaknya keras. Dengan nada terkesiap Pengawal baju hijau mundur satu langkah kebelakang.
"Malaikat penyakitan" teriaknya "Kau betul2 memusuhi golongan Thian lam kami?"
"Bangsat tua, kau tak usah banyak ngebacot lagi lihat serangan" secara beruntun ia lancarkan tiga jurus pukulan yang maha dahsyat.
Ternyata ilmu silat yang dimiliki pengawal baju hijau Pit Lee cukup tangguh, dengan gesit ia menghindar kesana kemari dengan gerakan yang cukup manis ia berhasil meloloskan diri dari tiga serangan maut yang dilancarkan Han Siong Kie itu.
Melihat tiga buah jurus mengenai sasaran kosong, Han Siong Kie semakin naik pitam, ditengah berkelebatnya bayangan telapak yang ber-lapis2 kembali ia lancarkan sebuah pukulan.
Pecahlah nyali pengawal baju hijau Pit Lee melihat kelihayan lawan dalam keadaan begini ia tak berani melancarkan serangan balasan, sambil melompat mundur sejauh satu tombak teriaknya dengan sutra gemetar: "Tahan Apa hubunganmu dengan iblis diantara iblis??"
Han Siong Kie jadi amat terkejut ketika melihat lawannya berhasil menebak permainan jurus Iblis diantara iblisnya yang sudah empat puluh tahun lamanya menyembunyikan diri dibawah tanah tetapi orang ini sekilas memandang berhasil menebaknya secara jitu, hal ini menunjukkan bahwa orang yang berada dihadapannya saat ini bukanlah manusia sembarangan. Dengan cepat ia menjawabi
"Bangsat tua, kau belum berhak mengajukan pertanyaan ini.."
"Apakah kau adalah ahli warisnya??? "
"Kalau benar mau apa???"
"Ooooh jadi Iblis diantara iblis masih hidup di.. kolong langit??"
"Tentang persoalan ini lebih baik kau tak mengurusinya"
Air muka pengawal baju hijau Pit-Lee berubah jadi sangat hebat tiba2 ia putar badan kabur dari situ
Tentu saja Han Siong Kie tak akan membiarkan musuhnya berhasil kabur dengan begitu saja sambil tertawa dingin bentaknya:
"Bangsat tua, kalau pingin kabur tinggalkan dulu selembar jiwa anjingmu"
sambil membentak segulung angin tajam laksana kilat meluncur kearah depan.
Jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma kembali berkumandang memecahkan kesunyian, hujan darah muncrat keempat penjuru dan pengawal baju hijau Pit Lee yang telah berhasil lari sejauh tiga tombak lebih itu roboh terjengkang keatas tanah ..sesaat sebelum menemui ajalnya ia sempat menjerit sekeras kerasnya: "Iblis diantara iblis..."
Han Siong Kie mendengus dingin, ia tendang mayat kakek baju hijau itu hingga mencelat kedalam hutan lalu putar badan dan mendekati tubuh Go Siauw Bi sebelum ia sempat berbuat sesuatu mendadak...
Dari belakang tubuhnya terdengar suara desiran angin bergema datang tanpa beraling ia menegur:
"Jago lihay dari mana yang telah datang kemari??"
"Haaah haaahh haaah sungguh tidak tahu malu jadi ahli waris dari Iblis diantara iblis."
Per-lahan2 Han Siong Kie putar badan, terlihatlah pada jarak lima tombak dibelakang tubuhnya berdiri berjejer dua orang kakek baju kuning, dalam hati segera pikirnya:
"Mereka berdua pasti terpancing datang kemari oleh jeritan keras bangsat tua itu sesaat sebelum modar.."
Dalam pada itu kedua orang kakek baju kuning itu nampak berdiri tertegun untuk beberapa saat lamanya, mungkin mereka tak pernah menyangka kalau ahli waris dari iblis diantara iblis ternyata adalah seorang pemuda berwajah penyakitan, bila kenyataan tak ada didepan mata siapapun tak akan percaya kalau pemuda dihadapannya saat ini adalah seorang jago yang amat lihay.
Dengan pandangan dingin Han Siong Kie menyapu sekejap kearah dua orang kakek baju kuning itu, lalu untuk kedua kalinya ia menegur: "Kalian berdua adalah jago lihay dari mana??"
salah seorang kakek yang punya tahi lalat merah diatas jidatnya itu segera menjawab: "Pengawal baju kuning dari istana Huan mo-kiong dibawah pimpinan Thian lam kun"
"Istana Huan Mo Kiong??"
"Sedikitpun tidak salah"
"Ooooh ..jadi kalian adalah satu aliran dengan bangsat tua baju biru itu??"
"Kalau sudah tahu kenapa mesti tanya lagi?? "
"Jadi kedatanganmu kedaratan Tionggoan juga khusus untuk memetik sari kegadisan orang2 Tionggoan??"
Air muka kedua orang kakek baju kuning itu seketika berubah hebat, dengan sorot mata bengis mereka maju dua langkah kedepan Han Siong Kie sendiri juga amat gusar dengan nada membunuh menyelimuti wajahnya ia mendengus dingin:
"Kalian berdua jangan harap bisa berlalu dari tempat ini dalam keadaan hidup,"
Tubuhnya melesat kearah depan sepasang telapak secara terpisah menyerang kedua orang pengawal baju kuning itu secara berbareng, serangannya dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat bukan begitu saja bahkan ganas dan luar biasa.
Siapa tahu kedua orang pengawal baju kuning itu dengan gampang sekali berhasil meloloskan diri dari ancaman itu kearah samping.
Diam2 Han Siong Kie terkesiap juga melihat kenyataan itu, kelihayan dari kedua orang kakek baju kuning ini ternyata beberapa tingkat lebih hebat dart kakek baju hijau yang telah menemui ajalnya diujung ilmu jari Tong kim ci itu ..
Terdengar salah satu diantara pengawal baju kuning itu berseru tertahan:
"Aaaah.. sedikltpun tak salah, ilmu pukulan yang dipergunakan bangsat ini bukan lain adalah ilmu telapak Mo mo ciang hoat"
Bersamaan dengan selesainya ucapan ini, tiba2 kedua orang ini meloncat mundur beberapa tombak ke belakang lalu kabur dari situ secepat-cepatnya.
Han Siong Kle amat terkejut, ia hendak mengejar namun sudah tak sempat, terpaksa sambil menarik nafas ia cuma geleng2 kepala berulang kali, dalam hati ia berpikir:
"Sungguh aneh sekali, ilmu pukulan yang kulancarkan barusan amat lihay dan hebat, bagi orang biasa jelas sulit menghindar diri, tapi kenyataan mereka berdua dapat meloloskan diri dari ancamanku dengan begitu mudah, jangan2 guruku iblis diantara iblis mempunyai hubungan yang erat dengan istana Huan mo kiong di Thian lam??.."
Ia termenung beberapa saat lamanya, kemudian pikirnya lagi:
"Kenapa aku musti pikirkan persoalan itu?? asal dalam sepuluh hari aku datang pulang kembali, bukankah persoalan ini dapat kutanyakan langsung kepada suhu??"
Berpikir demikian ia lantas putar badan dan dengan kembali sorot matanya kearah Go Siauw Bie, nampak matanya terpejam dan mulutnya terkatup rapat, tatkala sinar matanya terbentur dengan dadanya yang terbuka, jantungnya segera berdebar keras.
Tetapi hal itu hanyalah suatu perasaan spontan yang muncul dari dalam hati seorang pria yang normal, rasa bencinya terhadap kaum wanita segera menekan kembali perasaan tersebut kedalam hati.
Sekarang yang harus segera dilakukan adalah menyadarkan Go Siauw Bie serta memeriksa apakah ada jalan darahnya yang tertotok, tetapi sudah setengah harian lamanya ia periksa namun belum juga ditemukan sesuatu jalan darah yang tersumbat.
Dalam keadaan begini terpaksa ia keraskan hati untuk memeriksa jalan darah di bagian lain yang sensitip.
Dengan jantung berdebar keras pemuda itu periksa jalan darah disekitar dada, lambung, perut serta perut bagian bawah dari gadis itu.. tapi aneh sekali, ternyata tak sebuah jalan darahpun yang tertotok.
"Mungkinkah ia sudah terkena semacam obat pemabok yang bikin kesadarannya jadi lenyap??" pikirnya didalam hati.
Dengan cepat pemuda itu mendekati mayat kakek baju hijau itu dengan harapan berhasil menemukan obat pemunah yang sanggup menyadarkan gadis ini, siapa tahu usahanya tetap sia2 belaka, saku orang itu kosong melompong tak terdapat sesuatu benda apapun.
Han Siong Kie jadi amat gelisah, ia tutupi dahulu pakaian Go Siauw Bie yang robek dengan jubah luarnya, kemudian duduk disisinya sambil putar otak.
Pada saat ini ia buru2 hendak berangkat kebenteng maut untuk berduel melawan Tengkorak maut yang disegani setiap jago dari dunia persilatan, sebab itulah harapan dari suhunya Iblis diantara iblis, ia merasa dirinya tak bisa membuang waktu dengan percuma lagi karena gurunya hanya bisa hidup sepuluh hari lagi.
Disamping itu diapun merasa amat benci terhadap kaum wanita terutama sekali peristiwa di Lian huan tau baru2 ini dimana ia tertangkap oleh ibunya si Siang- go berwajah cantik Ong Cui Ing yang kejamnya melebihi ular yang menyebabkan hampir saja ia kehilangan jiwanya .
Andainya bukan orang yang ada maksud serta ibunya berusaha menyelamatkan dia, mungkin ia sudah mati sejak semula, maka dari itu rasa bencinya terhadap kaum wanita semakin berlipat ganda.
Tetapi Go Siauw Bie yang berada dihadapannya saat ini adalah tuan penolong yang pernah menyelamatkan jiwanya.
Ketika ia dihantam masuk kedalam sungai oleh Tengkorak Maut tempo dulu, andaikata bukan Go Siauw Bie yang menolong jiwanya, tak mungkin ia bisa hidup sampai sekarang bahkan pihak lawan dengan begitu kasih sayang telah merawat serta menempatkan dirinya dalam kamar pribadinya.
Han Siong Kle merasa budi kebaikan semacam ini bagaimanapun juga harus dibalas.
Untuk beberapa saat lamanya ia jadi bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan, berusaha untuk menyadarkan gadis ini, ataukah meninggalkan dirinya dengan begitu saja.
Setelah kebingungan beberapa waktu lamanya, terakhir pemuda itu ambil keputusan untuk membawa gadis ini pergi kekota terdekat guna mendapat pengobatan, sebab kecuali berbuat demikian sudah tak ada alasan lain yang bisa dilakukan.
Maka dengan perasaan berat ia bopong tubuh Go Siauw Bie kemudian berkelebat menuju kearah kota..
Belum sampai sepuluh li ia berjalan, tiba2 terdengar suara bentakan keras berkumandang dari tempat kejauhan, suara itu makin lama semarin mendekat hingga akhirnya tampaklah seorang gadis muda sedang bertempur di kerubuti oleh empat orang pria baju hijau..
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak sianak muda itu, pikirnya:
"Jangan2 mereka adalah manusia-manusia terkutuk dari istana Huan Mo kiong yang hendak melakukan perbuatan tercela lagi."
Tanpa terasa ia menghentikan perjalanannya dan menyaksikan jalannya pertarungan itu dari sisi kalangan.
Terlihatlah keadaan dari gadis itu keteter hebat, posisinya terjepit dan berada dibawah angin, nampaknya sebentar lagi ia bakal tertawan oleh musuh2nya.
Empat orang pria baju hijau yang melakukan pengeroyokan itu ternyata memakai baju serta dandanan yang mirip sekali dengan pengawal baju hijau Pit Le yang berhasil dibinasakan itu, atau dengan perkataan lain keempat orang itupun merupakan pengawal baju hijau dari istana Huan Mo Kiong.
"Tahan" dengan suara keras Han Siong Kle segera membentak keras, tubuhnya dengan sebat melayang masuk kedalam kalangan.
Keempat orang kakek baju hijau itu segera menghentikan serangannya dan meloncat mundur kebelakang.
Dengan pandangan dingin Han Siong Kie melirik sekejap kearah orang-orang dihadapannya, ia lihat keempat orang baju hijau itu mempunyai usia diantara enam puluh tahunan, sedang sang gadis mempunyai wajah yang amat cantik jelita, sekuntum bunga putih menghiasi sanggulnya, pakaian yang dikenakan adalah pakaian berkabung, walau dengan keringat bercucuran dan napas ter-sengkal2 ia berdiri disisi kalangan sambil memandang kearah pemuda itu tanpa berkedip.
Sementara itu ketika keempat orang kakek baju hijau itu melihat orang yang membentak meresa ternyata adalah seorang bocah muda berwajah penyakitan yang membopong seorang gadis, setelah tertegun sejenak mereka segera tertawa ter bahak2 salah satu diantara keempat orang itu segera maju dua langkah kedepan sambil ujarnya.
"Hey bocah penyakitan, rupanya kau sengaja datang untuk memberi hadiah buat kami??"
Sambil berkata sorot matanya dengan tajam melirik sekejap kearah Go Siauw Bi yang berada dibopongan pemuda itu.
Han Sioag Kie mendengus dingin, dia kempit Go Siauw Bi dibawah ketiak kirinya, lalu dengan tangan kanan yang kosong ia tuding keempat orang itu, bentaknya: "Apakah kau juga pengawal2 baju hijau dari istana Huan mo Kiong.???"
Sekilas rasa kaget berkelebat diatas wajah keempat orarng kakek itu, kakek yang maju kedepan tadi segera menjawab:
"Sedikitpun tidak salah bocah keparat siapa namamu???? dari mana kau bisa tahu kalau kami adalah ...."
"Hmmm, bagus sekali" dengus Han Siong Kie singkat "Ingat baik aku bernama Malaikat penyakitan, sekarang aku akan kirim kalian untuk pulang kerumah nenekmu" Bersamaan dengan selesainya ucapan itu telapak tangannya diayun kedepan.
Dalam anggapan kakak baju hijau itu ilmu silat pihak paling2 tidak seberapa lihaynya mereka bermaksud akan turun tangan bila serangan dari musuhnya itu sudah hampir mengenai sasaran, siapa tahu belum sempat ingatan lain berkelebat didalam benaknya, segulung desiran angin tajam telah tiba didepan dadanya, kakek itu jadi terkesiap dan terasalah sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya..
Jeritan ngeri berkumandang memenuhi seluruh angkasa, semburan darah menyebar ke empat penjuru, dengan dada berlubang hingga tembus pada punggungnya kakek itu roboh binasa diatas tanah.
Melihat kelihayan musuhnya, ketiga orang kakek baju hijau lainnya jadi terkejut, air muka mereka berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, rupanya mereka tahu bahwa keadaan tidak menguntungkan, buru2 ketiga orang itu putar badan dan siap melarikan diri.
Han Siong Kie menjengek sinis, telapak kanannya diayun berulang kali.. Kembali terdengar tiga kali jeritan ngeri berkumandang diangkasa, ketiga orang kakek tersebut dengan punggung berlubang hingga tembus pada dadanya roboh diatas tanah.
Dalam waktu singkat empat jago lihay dari Istana Huan Mo Kiong telah mati terbunuh semua dibawah serangan ilmU jari Tong Kim Ci tanpa sanggup melakukan perlawanan.
Gadis cantik berbaju berkabung itu berdiri melongo disisi kalangan karena kaget, ia merasa belum pernah menjumpai ilmu jari selihay ini.
Dengan pandangan dingin Han Siong Kie melirik sekejap kearah gadis cantik itu, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun ia putar badan dan berlalu dari situ.
"Saudara harap tunggu sebentar" seru gadis berbaju kabung itu sambil menghadang jalan pergi Han Siong Kie. sambil memberi hormat ujarnya kembali.
"Aku yang rendah Istri yang ditinggalkan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari saudara."
Han Siong Kie tertegun.
"Isteri yang ditinggalkan?? apakah nama yang dipergunakan juga sebuah julukan belaka??" pikirnya.
Tanpa terasa ia ulangi kembali ucapan itu setengah bergumam. " Isteri yang ditinggalkan??"
"Sedikitpun tidak salah, dan saudara apakah bergelar malaikat penyakitan??"
"Eeei.darimana nona bisa tahu akan julukan itu?? "
"Bukankah kau yang menyebutnya sendiri?"
"Ooh yaah.. aku memang pelupa, maaf"
Habis berkata ia putar badan siap berlalu lagi dari situ.
"Bolehkah aku mengetahui siapakah namamu?” seru istri yang ditinggalkan dengan suara nyaring:
"Malaikat penyakitan"
"Itu bukan namamu yang sebenarnya.."
"Nama yang sebenarnya atau bukan rasanya tiada sangkut pautnya dengan dirimu, aku rasa sudah seharusnya nona segera tinggalkan tempat ini..."
"Budi pertolongan yang telah kau berikan kepadaku, suatu ketika pasti akan kubalas"
"Tidak perlu kau balas, bantuan yang kuberikan bukanlah sengaja kulakukan, aku hanya turun tangan karena tidak senang melihat tingkah laku mereka.."
Gadis yang mengaku bernama istri yang ditinggalkan itu segera mengerutkan sepasang alisnya, ia merasa sikap maupun ucapan pihak lawan begitu dingin dan ketus hingga bikin hati orang gemetar keras, terutama sekali raut wajahnya yang penyakitan itu, andaikata pihak lawan bukan tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwanya mungkin sedari permulaan ia sudah berlalu dari situ. Setelah tertegun beberapa saat, ia berkata kembali: "Gadis yang berada dalam boponganmu itu adalah..."
"Dia senasib dengan dirimu hanya gadis ini jatuh ditangan pihak lawan yang berbeda." selesai berbicara tanpa menunggu jawaban lagi ia putar badan dan berlalu dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan mata.
Memandang bayangan punggungnya yang menjauh diam2 gadis Istri yang ditinggalkan menjulurkan lidahnya bukan saja malaikat penyakitan memiliki sikap yang dingin menggidikan bahkan tenaga dalam yang dimiliki benar2 telah mencapai puncak kesempurnaan.
Kiranya gadis yang mengaku sebagai Istri yang ditinggalkan bukan lain adalan Tonghong Hwie yang sudah ganti rupa dengan wajah aslinya, mimpipun gadis ini tak pernah menduga kalau malaikat penyakitan yang barusan berdiri dihadapannya bukan lain adalah engkoh Kie nya yang dikira sudih mati itu...
Tentu saja Han Siong Kie juga tak pernah menduga kalau istri yang ditinggalkan itu bukan lain adalah adik angkatnya Tonghong Hwie yang selalu dikuatirkan keselamatannya.
Tanpa saling mengenal satu sama lainnya ternyata sesudah berjumpa mereka saling berpisah kembali.
Dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang boleh dibilang Han Siong Kie pada saat ini jauh berbeda dengan keadaan dahulu, hingga dalam suara pembicaraanpun mengalami sedikit perubahan, bila tidak tentu saja Tonghong Hwie segera akan menaruh curiga.
Sebaliknya Tonghong Hwie ketika muncul dalam bentuk pengemis cilik, sengaja ia memyerakkan nada suaranya didalam ber-cakap2, dan sekarang ia bicara dengan suara sebenarnya, tentu saja hal ini membuat kedua belah pihak sama2 menganggap asing pihak lawan..
Sementara itu dalam sekejap mata Han Siong Kie telah menempuh jarak sejauh lima puluh li lebih, akhirnya sampailah dia disebuah kota besar dan menginap disebuah rumah penginapan yang memakai merek "Gwat-lay", kepada sang pelayan ia berpesan untuk carikan seorang tabib.
Beberapa saat kemudian pelayan muncul kembali sambil membawa seorang kakek tua, begitu melangkah masuk kepintu dengan pandangan tajam ia awasi wajah Han Siong Kie beberapa kejap. lalu serunya dengan suara terkejut:
"Aduuuh... siangkong, sungguh tidak enteng penyakit yang kau derita.. bila tidak cepat diobati tentu jiwamu terancam..."
Han Siong Kie tersenyum dan gelengkan kepalanya.
"silahkan sianseng masuk kedalam, yang sedang sakit bukan aku melainkan adalah.."
"Oooh. bukan siangkong yang sakit? bila pandangan mataku belum melamur, aku lihat air muka siangkong rada sedikit kurang beres.."
"Siangseng tak usah kuatir, sejak kecil wajahku sudah demikian keadaannya..."
"oooh.. kalau begitu yang sakit adalah...."
"Istri dari siangkong ini" seru sang pelayan dengan cepat.
Han song Kie jadi menyengir kuda, dalam keadaan begini, tentu saja ia tak leluasa untuk membantah, terpaksa jawabannya: "Harap sianseng suka periksa keadaan sakitnya."
Tabib tua itu mendekati pembaringan dan memeriksa denyutan nadinya, setelah termenung beberapa saat ia segera menggeleng.
"Sakit yang diderita istri siangkong disebabkan oleh perjalanan jauh yang terlalu melelahkan, baiklah aku akan beri obat pelemas otot."
Setelah makan beberapa kali, sakitnya pasti akan sembuh dengan sendirinya..."
-ooo0ooo-
BAB 22
HAN SIONG KIE jadi tertegun dan menyengir kuda, ia tahu penyakit semacam ini hanya bisa disembuhkan oleh orang Bu-lim saja, dengan andalkan kepandaian kaum Tabib semacam ini tak mungkin penyakitan itu bisa disembuhkan, lama setelah mengiakan dan menerima resep ia beri lima tahil perak untuk tabib itu.
Menunggu sang tabib telah berlalu, dengan kesal ia robek resep obat tadi lalu berjalan mondar mandir dalam kamar dengan kepala pusing tujuh keliling.
Go Siauw Bie masih tetap berada dalam keadaan tidak sadar, selembar wajahnya berubah jadi semu merah dan mengerikan sekali.
Dalam pikirannya sedang kalut dan tak tahu apa yang musti dilakukan, mendadak dari luar halaman berkumandang datang suara ketukan nyaring disusul teriakan keras:
"Kami ahli dalam mengobati segala penyakit aneh, bila tidak manjur kalian tak usah bayar mari2 siapa yang sedang menderita penyakit aneh cobalah undang kami... penyakit segera akan sembuh seperti sediakala."
Han Siong Kie jadi amat tertarik mendengar teriakan itu, ia segera mengintip. tampak seorang nenek tua beserta seorang gadis berusia delapan sembilan belas tahunan sambil membawa kain panjang yang bertuliskan Ahli penyakit menyaingi Hua Tuo kepandaian sakti tiada tandingan dijagad sedang berjalan melewati penginapan itu.
"Sungguh tekebur ucapan nenek itu " pikir Han Siong Kie didalam hati "Baiklah akan kujajal kepandaiannya siapa tahu."
Berpikir demikian ia berteriak keras: "Eeeei.. nenek silahkan mampir sebentar kemari??"
Nenek tua itu alihkan sorot matanya yang tajam mengawasi wajah Han Siong Kie sekejap kemudtan sapanya:
"Apakah kek koan yang memanggil aku?"
“Benar” diluar menjawab dalam hati pemuda itu tercekat hatinya sebab dari sorot mata yang tajam dari nenek itu jelas ia merupakan seorang jago lihay yang memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.
Setelah nenek tua itu masuk kekamar dan ambil tempat duduk gadis berwajah hitam itu menggulung kain panjangnya dan diletakkan diujung kamar lalu mengundurkan diri dari situ.
"Apakah Kek koan yang merasa kurang enak badan??" tegur nenek tua itu setelah suasana hening beberapa saat lama nya.
"Buu... bukan bukan"
"Lalu siapa yang menderita sakit??"
"Adik perempuanku"
"sekarang adikmu berada dimana??"
"Diatas pembaringan"
Han Siong Kie mendekati pembaringan dan segera menyingkap kelambu yang menutupi tempat itu.
Nenek tua itu berjalan mendekati sisi tubuh Go siau Bi, setelah memeriksa beberapa saat lamanya, tiba2 dengan suara terkesiap ia berseru:
"Aaah, adik perempuanmu ini sudah terkena bubuk Jit bi-san yang merupakan bubuk tercabul dikolong langit"
Han Siong Kie jadi amat terkejut, serunya dengan nada tercengang:
"Bubuk cabul Jit bie san??" -
"Sedikitpun tidak salah"
"Apa yang dimaksudkan dengan bubuk Jit bi-san?"
"Barang siapa yang terkena bubuk tersebut dan didalam tujuh jam belum memperoleh pengobatan, maka sekalipun ada dewa yang turun dari kahyangan puncak akan dapat menyelamatkan jiwanya "
Han Siong Kie bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri sebentar keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Terdengar nenek tua itu berkata lebih jauh.
"Adik perempuanmu sudah terkena racun keji tersebut kurang lebih lima jam lamanya, bila paras mukanya telah berubah jadi semu merah, itu berarti bahwa jiwanya tak dapat tertolong lagi"
"Cianpwee, Engkau toh sakti dan berilmu tinggi, mohon sudi kiranya cianpwee ringan tangan dan menyembuhkan sakitnya yang parah itu, atas kesediaan cianpwee ku ucapkan banyak2 terima kasih"
Nenek tua itu gelengkan kepalanya berulang kali:
"Bukannya aku tidak bersedia memberi pertolongan, dalam kenyataan aku memang sama sekali tak berdaya untuk menyelamatkan jiwanya"
"Cianpwee engkau berhati mulia dan baik terhadap sesama umatnya, tolonglah jiwanya dan sembuhkan luka tersebut..." pinta sang pemuda lebib jauh dengan hati gelisah.
"Sulit... sulit... aaaii terus terang saja kukatakan sulit sekali..."
"Cianpwee, bukankah engkau telah mengatakan sendiri bahwa segala macam penyakit aneh dapat engkau sembuhkan."
"Tidak salah, tapi yang diderita saudaramu ini bukan suatu penyakit aneh, engkau harus bisa membedakan"
"Jadi...jadi sudah tak tertolong lagi?"
"Bukannya tidak tertolong lagi cuma... "
"Cuma kenapa??"
Nenek itu melototkan sepasang matanya bulat2 dengan suara dalam ujarnya: "Sungguhkah gadis itu adikmu??" Han Siong Kle terperangah.
"Maksud cianpwee... kalau lantas.. bukan adikku...."
"Hmm menurut pendapatku, gadis itu bukan adik perempuanmu"
Diam2 Han Siong Kie merasa amat terperanjat, ia berusaha membantah: "Darimana engkau mengatakan demikian?"
"Paras muka adik perempuanmu itu sama sekali tidak mirip dengan paras muka kek koan"
Han Siong Kie menghembuskan napas lega, ia segera membantah..
"Aaah.. paras muka mana bisa dijadikan suatu dasar? naga beranak sembilan, toh wajahnya juga tak bisa berbeda satu sama lainnya?"
"Bukan begitu saja, aku bahkan kenal pula dengan gadis ini dan belum pernah kutemui dirimu"
"Oooh? engkau kenal dengan dirinya?"
"Tidak salah, bukankah ia bernama Go siauw Bi??"
Mendengar jawaban tersebut rasa terperanjat yang dialami Han Siong Kie tak dapat dilukiskan dengan kata2, ia tak mengira kalau nenek tua itu bisa kenal dengan gadis tersebut bahkan mengetahui pula kalau dia bernama Go siau Bi. Terdengar nenek tua itu tertawa serak. kemudian berkata lagi:
"Jika engkau tidak inginkan dirinya mati secara mengenaskan, sepantasnya kau jawab pertanyaanku dengan jujur, sebenarnya apa hubunganmu dengan dirinya?"
"Tiada hubungan apa2, aku hanya secara kebetulan saja menjumpai dirinya ditengah jalan, dan berhasil selamatkan jiwanya dari tangan orang2 durjana"
"Dari tangan orang bejad istana Huan-mo-kiong dari wilayah Thian lam?"
"Darimana cianpwee bisa tahu akan persoalan ini??"
"Pihak istana Huan mo kiong telah mengutus para jago lihaynya untuk masuk kedaratan Tionggan guna mencari gadis2 perawan yang akan diambil sari perawannya bagi Thian lam Te kun melatih ilmu si hun toa-hoan, peristiwa ini telah menggemparkan seluruh daratan Tionggoan dan banyak gadis telah jatuh korban, tentu saja aku mengetahui akan hal itu, disamping itu bubuk Jit bi san merupakan obat cabul yang sering kali dipergunakan oleh kaum durjana dari Thian lam pay, bukankah itu berarti bukti sudah tertera didepan mata??"
Han Siong Kie merasakan darah panas mendidih dalam dadanya, ia berseru dengan lantang:
"Apakah dari daratan Tionggoan tidak ada seorang pendekarpun yang munculkan diri guna mencegah terjadinya peristiwa2 biadab itu.?"
"Tak bisa dikatakan tak ada, tapi pihak lawan mungkin telah menyelesaikan tugasnya dan kembali kesarang mereka sekarang kita tak usah membicarakan soal itu lebih dahulu, yang penting adalah menolong orang lebih dahulu, aku nenek tua tidak percaya kalau engkau katakan bahwa kalian sama sekali tak ada hubungan apa2, dan pertolongan itu kau berikan secara kebetulan"
-ooo0ooo-
Jilid 11 : Akibat masa silam sang guru
DENGAN perasaan apa boleh buat Han Siong Kie berkata:
"Beberapa waktu berselang aku pernah mendapat budi kebaikan dari nona Go karena itu...."
"Karena itu engkau hendak membalas budi kebaikannya itu, kalau tidak tak nanti sikapmu begitu gelisah bercampur cemas"
Dengan mulut membungkam Han Siong Ki mengangguk diam2 ia merasa kagum atas ketajaman mata nenek tua ini serta kecermatannya untuk menilai keadaan.
"Kek koan apakah engkau dengan tulus ikhlas hendak menyelamatkan jiwanya?" terdengar nenek tua itu bertanya kembali.
"Tentu saja" "
"Engkau sudah menikah belum?"
"Tentang soal itu... bertunanganpun belum masa sudah menikah apa maksud cianpwee mengajukan pertanyaan itu?"
"Tentu saja aku punya alasan2 tertentu untuk mengajukkan pertanyaan2 tersebut, engkau sudah punya kekasih atau belum?"
"Cianpwee, terus terang saja kukatakan terhadap orang perempuan ehmm sebetulnya saja aku tak tertarik, bahkan boleh dibilang mendekati kata benci"
Sebetulnya pemuda itu mau mengatakan perasaan batinya itu dengan kata2 yang jauh lebih tajam, tetapi secara tiba2 ia teringat bahwa pihak lawan juga merupakan seorang perempuan karena itu terpaksa ia harus memperlunak perkataannya.
"Ooooh jadi kalau begitu engkau belum punya istri maupun kekasih??" sela sang nenek menegaskan.
Han Siong Kie mengangguk tanda membenarkan.
"Waahh kalau begitu persoalan ini gampang sekali diselesaikan"
"Gampang diselesaikan?? apa maksudmu?? " tanya sang pemuda keheranan.
"Bukankah engkau hendak membalas budi kebaikannya itu??"
"sedikitpun tak salah, aku memang ada maksud untuk menyelamatkan jiwanya"
"Bagus, kamu memang baik hati tapi untuk menyelamatkan selembar jiwanya apakah engkau bersedia mengorbankan segala sesuatunya??"
"Mengorbankan segala sesuatu??"
"Benar "
"Pengorbanan dalam bentuk apa??"
"Menjadi suami istri dengan dirinya."
Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras, ia mundur tiga langkah kebelakang dengan tindakan lebar se-akan2 pemuda itu tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Cianpwee apa... apa yang kau katakan?" serunya dergan hati terkesiap.
"Menjadi suami istri dengan dirinya pada saat ini juga" tegasnya dalam satu jam ini.
"Kee... kee... kenapa ha... harus begitu??"
"Untuk menyelamatkan jiwanya "
"Aku sama sekali tidak mengerti akan perkataanmu itu."
"Barang siapa terkena racun Jit bin san kecuali berbuat begitu tiada obat lain yang dapat menyelamatkan jiwanya apakah engkau bersedia msnolong jiwanya?”
Bagaikan disengat kala sekujur badan Han Siong Ki gemetar keras badannya merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
“Aku... aku... tak. tak mungkin akan melakukbn perbuatan yang tolol itu!"
“Kalau begitu maafkanlah daku, aku tak bisa membantu dirimu untuk menyelamatkan jiwanya lagi " kata sang nenek dengan dingin "mulai sekarang bersiap21ah untuk mengatur soal memakamkan jenasahnya”
Habis berkata ia bangkit berdiri dan siap berlalu,
Keringai dingin sebesar kacang hijau mengucur keluar tiada hentinya membasahi tubuhnya yang gemetar pemuda itu tak sudi menikah dengan gadis tersebut tapi ia adalah tuan penolong yang pernah menyelamatkan jiwanya ia tak tega gadis itu mati dalam keadaan mengenaskan.
"Cianpwe tunggu sebentar ...kau..kau.. jangan pergi dulu!” akhirnya pemuda itu berseru.
“Jadi engkau telah menyanggupi?”
“Selain melakukan perbuatan tersebut, apakah ada cara lain yang bisa digunakan untuk menolong jiwanya? aku bersedia untuk mengorbankan segala apapun!”
"Ada!"
Han Siong Kie amat kegirangan, buru2 dia barseru :
"Bagaimanakah caranya?”
“Kalau engkau merasa tega hati, sekarang juga carilah seorang pria lain yang memiliki tenaga dalam sebesar seratus tahun latihan untuk menggantikan kedudukanmu !"
Han Siong Kie terbungkam dalam seribu bahasa, bicara menurut perasaan hati kecilnya dan jiwa sebagai seorang pendekar. ia merasa keberatan untuk berbuat demikian. disamping itu dalam waktu singkat dia harus pergi kemana untuk mencari seseorang yang memiliki tenaga dalam sebesar seratus tahun tenaga latihan? bersediakah orang ini untuk melakukan perbuatan semacam itu?
Dalam pada itu paras muka Go Siau Bie dari semu merah telah berubah jadi kehitam2an, napasnya mulai memburu dan agak tersengkal.
Dengan suara dalam nenek tua itu berkata kembali:
"Bagaimanakah keputusanmu aku harap engkau segera menetapkan, mungkin tidak sampai satu jam kemudian ia bakal mati secara mengenaskan, aku tahu diantara kalian memang tak ada dasar cinta, peristiwa ini mungkin dilakukan terlalu ter-gesa2, tapi engkau musti ingat bahwa tindakan ini dilakukan untuk menyelamatkan jiwanya, untuk membalas budi kebaikan yang pernah kau hutang darinya, disamping itu dia toh putri dari ketua perkumpulan pat gi pang, paras mukanya tidak termasuk jelek, apakah engkau merasa bahwa gadis itu tak pantas jadi bini mu?"
Han Siong Kie merasakan hatinya amat sakit bagaikan di tusuk oleh pisau yang amat tajam, mimpipun ia tak menyangka bakal terjadi peristiwa semacam ini...
Untuk menyanggupi permintaan tersebut? hati kecilnya merasa tak bersedia, untuk menampik, ia merasa kasihan melihat tuan penolongnya sebentar lagi harus mati secara mengenaskan.
Sementara ia masih bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan, untuk kesekian kalinya nenek tua itu mendesak kembali.
"Waktu telah mendesak sekali, apakah engkau telah mengambil keputusan?"
Han Siong Ki putar otaknya keras2, ia memandang sekejap kearah wajah Go siau Bi yang telah berubah jadi merah menghitam akhirnya timbullah kasihan, ia ambil keputusan untuk berkorban demi keselamatan gadis tersebut.
"Baiklah" ia berseru sambil mengangguk.
Secepat kilat nenek itu merogoh sakunya dan ambil keluar sebuah botol porselen kecil, dari botol itu ia tuangkan tiga butir plt berwarna hijau dan dimasukan kedalam mulut Go siau Bi kemudian jari tangannya menari serta melepaskan delapan belas totokan kilat, semua totokan dilakukan dengan kecepatan yang sukar diikuti dengan pandangan dan ketetapan yang mengagumkan.
Selesai melakukan kesemuanya itu dengan muka serius pesannya kepada sianak muda itu.
"Ingatlah baik2, saat inilah kesempatan yang paling baik bagimu untuk membalas budi kebaikan yang pernah kau peroleh dari dirinya dan mulai hari ini engkau tak boleh melakukan perbuatan2 yang menyakitkan hatinya lagi sebab ia sudah menjadi istrimu, jika engkau tidak melaksanakan kesemuanya itu maka akulah yang menanggung semua dosa dan kesalahan ini"
"Cianpwee bolehkah aku tahu siapa namamu?"
"Tentang soal ini" nenek tua itu ragu sejenak "aku she Ong orang2 persilatan menyebut diriku nenek ong engkau boleh memanggil aku dengan sebutan itu saja"
Han Siong Kie mengambil setahil perak dan diangsurkan kedepan katanya dengan halus. "Cianpwee jumlah yang sangat kecil ini harap diterima sebagai biaya pengobatan"
"Haaahhh...haaahhh... haaahhh tidak usah pengobatan yang kulakukan saat ini akan kuanggap sebagai batuan sukarela" seru sang nenek sambil tertawa nyaring "semoga kalian berdua hidup rukun dan damai hingga akhir hayat nanti, selamat tinggal dan jangan lupa kalau waktu sudah tak banyak lagi."
Habis bicara dia ambil gulungan kain di ujung ruangan dan berlalu dari ruangan tersebut.
Diluar pintu kamar seorang gadis baju hitam telah menanti kedatangannya, ia melihat kemunculan nenek tua itu, dengan suara setengah berbisik segera tanyanya: "Ibu, apakah semua urusan telah beres ??"
"Hmm beres..."
"Perbuatanmu ini apakah tidak terlalu..."
"Nak, terpaksa aku harus berbuat demikian, aku kuatir jika sampai terjadi hal yang tak kuinginkan itu."
"Tapi apakah mereka bisa bahagia??"
"Aku rasa bisa"
Suara itu kian lama kian lirih akhirnya lenyap dari pendengaran. Han Siong Kie sebagai seorang pemuda yang memiliki tenaga dalam sebesar dua ratus tahun latihan memiliki ketajaman mata dan pendengaran melebihi siapapun, kendati bisikan yang dilakukan ibu dan anak diluar pintu itu dilakukan dengan suara lirih namun semua pembicaraan berhasil didengar dengan amat jelas, sekujur badannya kontan gemetar keras.
Tiba2 satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia merasa amat kenal sekali dengan suara itu, bukankah suara itu adalah suara dari "Yo sim jim" orang yang ada maksud beserta ibunya "su hun jin" orang yang kehilangan sukma?? mengapa mereka berdua harus mengatur kesemuanya ini...??
Ia berkelebat kearah pintu dan mengejar keluar, namun bayangan orang yang kehilangan sukma berdua telah lenyap tak berbekas.
Dengan perasaan bimbang bercampur curiga akhirnya sianak muda itu harus balik kembali kedalam kamar.
"Apakah aku harus melakukan perbuatan seperti apa yang dianjurkan oleh orang yang kehilangan sukma??" ingatan tersebut berulang kali berkecamuk dalam benaknya.
Butiran keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, pelbagai pikiran yang saling bertentangan berkecamuk dalam seluruh benaknya.
Ketika sorot matanya berpapasan dengan wajah Go siau Bi yang berbaring diatas pembaringan, hampir saja pemuda itu bersorak kegirangan, ia temukan paras muka yang berwarna merah semu ke hitam-hitaman itu sudah lenyap tidak berbekas, hal ini membuktikan bahwa tiga butir obat yang diberikan orang yang kehilangan sukma telah menunjukkan reaksinya.
Dengan hati berdebar keras ia duduk di samping pembaringan sambil menantikan perubahan selanjutnya, pemuda itu ambil keputusan untuk menunda pelaksanaan " Niat" nya tersebut sambil menunggu perkembangan lain.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia mulai berpikir apa sebabnya orang yang kehilangan sukma membohongi dirinya serta mengatur siasat agar dia kawini Go siau Bi??
Suatu persoalan yang rumit dan diliputi oleh suatu tanda tanya besar...
Mengapa orang yang ada maksud mengatakan: "... Untuk menjaga segala kemungkinan.." kemungkinan apakah yang bakal terjadi?
Diam2 pemuda itu bersyukur karena ia belum mengawini gadis itu secara gegabah, kalau tidak entah bagaimanakah akibatnya?.
Seperminum teh kemudian, Go siau Bi mulai menggerakkan tubuhnya dan membuka sepasang matanya kembali.
"Nona Go, akhirnya engkau sembuh juga." seru Han Siong Kie tanpa sadar.
Per-tama2 Go siau Bi temukan dirinya di atas pembaringan, ketika ia berpaling kesamping maka ditemuilah seorang pemuda asing yang berwajah penyakitan duduk dihadapannya tanpa terasa ia menjerit lengking dan loncat bangun dari atas pambaringan dengan rasa terkesiap curiga bercampur tak habis mengerti, ia tatap pemuda dihadapannya itu tanpa berkedip.
"Kau.. kau.. siapakah kau?"
"Malaikat penyakitan"
"Apa? malaikat penyakit? "dengan hati terkesiap Go Siau Bi mundur satu langkah kebelakang.
"Sedikitpun tidak salah."
"Lalu... lalu dimanakah kita berada saat ini?"
"Rumah penginapan"
Sekujur badan Go siau Bi gemetar keras suatu perasaan halus seorang gadis dara itu tanpa sadar memeriksa pakaian yang dikenakan olehnya sewaktu menyaksikan pakaian bagaian dadanya telah terbuka, pandangan matanya jadi gelap dan hampir saja ia roboh tak sadarkan diri
Rasa malu dan gusar berkecamuk jadi satu dalam dadanya, tiba2 ia membentak keras: "Bajingan keparat, aku akan beradu jiwa dengan dirimu" Han Siong Kie terperangah.
"Blaammm" sebuah pukulan yang amat keras bersarang diatas bahu pemuda itu dan "Blaamm" kembali pukulan lain menghajar dadanya.
Dalam keadaan tertegun bercampur kaget sianak muda itu sama sekali lupa untuk mengerahkan tenaga guna melawan hajaran2 yang dilontarkan keatas tubuhnya itu tanpa dapat dikuasai ia terdorong mundur sejauh tiga langkah kebelakang.
sementara itu, ketika Go siau Bi melihat pihak lawan sama sekali tidak melakukan pembelaan terhadap serangannya, ia jadi terperangah dan hentikan serangannya setelah membereskan pakaiannya bagian dadanya yang terbuka, ia tatap wajah lawannya tajam2 kemudian sambil menuding kemuka teriaknya keras:
"Malaikat penyakit, aku betsumpah tak akan hidup berdampingan dengan dirimu"
Butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia mengira kesucian tubuhnya telah ternoda ditangan lawan.
Han Siong Kie sendiri sebetulnya hendak melepaskan topeng kulit manusia yang dikenakan olehnya, tapi setelah berpikir sebentar ia segera batalkan niatnya itu sebab "orang yang ada maksud" pernah berpesan kepadanya bahwa manusia berwajah dingin sudah mati..
Sambil tertawa getir ujarnya:
"Nona Go, duduklah dahulu dan mari kita perlahan berbicara persoalan ini"
"Apa? darimana engkau bisa tahu kalau aku she Go?"
"Nona, pikirlah kembali.. apa yang kau alami setengah hari berselang?"
Rasa sangsi dan bingung terlintas diatas wajah Go siau Bi, ia dapat merasakan bahwa Malaikat penyakit yang berada dihadapannya tidak mirip seorang pemuda yang bermoral bejad, maka setelah mendengar perkataan itu, dara tersebut mulai duduk tenang dan mengingat kembali kejadian yang telah dialaminya beberapa waktu berselang.
Ia masih ingat ketika dirinya dikejar kejar oleh seorang kakek baju hijau dan seorang busu baju hijau, setelah tertawan tiba2 hidungnya mencium bau harum yang sangat aneh dan kesadarannya seketika lenyap tak berbekas.
Gadis ini mulai berpikir kenapa ia berada ditempat ini dan dari mana pula pemuda berwajah penyakitan itu bisa tahu kalau dia she Go?
Dalam pada itu dara tersebut sudah merasa yakin bahwa tubuh bagian bawahnya tidak menunjukan gejala kelainan atau rasa sakit, bahkan gaun yang dia kenakan masih utuh sama sekali ini membuat hatinya agak lega.
Dari perubahan wajah Go Siau Bi sianak muda itupun sudah tahu bahwa dara tadi mulai mengenang kembali peristiwa yang telah menimpa dirinya ia lantas berkata:
"Ketika aku sedang melakukan perjalanan kutemui nona sedang diculik oleh para durjana dari istana Huan mo kiong karena itu . . . ."
"ooooh jadi siangkong yang telah menyelamatkan diriku?"
"Benar, aku kasihan melihat nona menderita ditangan lawan maka aku telah menyelamatkan dirimu"
"Waah... kalau begitu akulah yang telah salah menuduh diri siangkong dengan pikiran yang bukan2, bila aku telah melakukan kekerasan kepadamu harap siangkong bersedia memberi maaf"
Habis berkata ia memberi hormat.
Dengan cepat Han Siong Kie menyingkir ke samping.
"Nona tak usah banyak adat" serunya.
Pemuda itupun segera menceritakan bagaimana ia telah membawa gadis itu kesitu untuk mencari pengobatan tentu saja ia telah merahasiakan persoalan tentang permintaan dari orang yang kehilangan sukma untuk mengawini gadis itu.
Selesai mendengarkan kisah tersebut Go siau Bi merasa amat berterima kasih sekali, kembali ia memberi hormat sambil berkata:
"Budi kebaikan siangkong suatu ketika pasti akan kubalas terimalah penghormatanku ini"
"Tak usah kau lakukan kesemuanya itu" buru2 Han song Ki goyangkan tangannya berula kali "anggaplah kesemuanya ini sebagai takdir dan justru karena peristiwa ini juga akupun bisa membalas kebaikan budi yang pernah kau lepaskan beberapa waktu yang lalu"
Go siau Bi terperangah, ia membelalakkan matanya lebar2 dan berseru dengan hati tercengang:
"Siangkong, apa... apa yang kau ucapkan?"
Han Siong Kie merasa bahwa ia telah salah berbicara, buru2 serunya kembali: "Nona, apakah engkau kenal dengan manusia berwajah dingin Han Siong Kie?"
Pucat pasi selembar wajah Go siau Bi mendengar nama itu, tubuhnya mundur dengan sempoyongan, jawabnya dengan sedih :
"Kenal, tapi dia.... dia telah mengalami nasib yang jelek dan meninggal dunia"
Han Siong Ki merasa tak habis mengerti, ia tak tahu kenapa Go Siau Bi begitu terpukul hatinya mendengar ucapan tersebut karena pandangan yang sempit dia merasakan anti perempuan yang berkecamuk dalam dadanya membuat pemuda itu tak mampu meresapi perasaan antara pria dan wanita. Dengan nada dingin katanya:
"Benar, nasibnya memang jelek dan kematian yang menimpa dirinya hampir boleh dibilang sama sekali diluar dugaan siapapun"
-0000000-
BAB 29
"SIANGKONG apa hubunganmu dengan dirinya?" tanya dara itu.
"Saudara sehidup semati"
"Oooh.. jadi dia... dia.. adalah saudara angkatmu?" Han Siong Kie mengangguk dingin, ujarnya kembali:
"Sudah lama berselang ketika ia dihantam oleh musuhnya hingga tercebur kedalam sungai, aku dengar jiwanya ditolong oleh seorang nona atas peristiwa itu saudaraku selalu mengingat dan mengenangnya dan sering kali membicarakan dengan diriku, sekarang ia telah mati maka sudah sepantasnya kalau akulah yang membayar budi pertolongan yang kau lepaskan kepadanya"
Dengan sedih Go siau Bi menghela napas panjang.
"Aaai.. siangkong keliru besar, aku melepaskan budi bukannya mengharapkan pembalasan, lagipula aku bisa menolong jiwamu hal itu hanya terjadi karena kebetulan, karenanya tak dapat dikatakan sebagai budi atau hutang, justru hari ini akulah yang telah berhutang budi terhadap diri siangkong.."
"Oooh... Bukannya aku bermaksud begitu, sahabat karibku itu paling mengutamakan membedakan mana budi mana dendam, sedang aku.."
Belum habis ia berkata, tiba2 dari halaman luar berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat keras dan menggetarkan seluruh angkasa, diikuti seseorang dengan suara yang berat berteriak:
"Malaikat penyakit, ayoh keluar untuk berbicara"
Sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras, segera pikirnya didalam hati:
"Kurang ajar manusia darimanakah yang telah mengejar diriku sampai kesinii?"
Go siau Bi pun kelihatan agak tercekat hatinya, ia segera berseru:
"Siangkong, ada orang menantang dirimu"
Han sioag Kie mengangguk dan sebera melangkah keluar dari ruangan. .
Ditengah halaman ia temukan seorang imam berjubah abu2 yang mempunyai perawakan badan setinggi delapan depa berdiri sambil melotot gusar kearahnya, sepasang matanya melotot bagaikan biji gundu, tampangnya bengis dan menyeramkan. sianak muda itu jadi keheranan, pikirnya:
"Heran aku sama sekali tak kenal dengan hidung kerbau ini, kenapa ia datang mencari gara2 dengan aku??"
Dalam pada itu imam tersebut dengan suara yang keras bagaikan geledek telah berseru kembali:
"Apakah engkau adalah Malaikat penyakit yang baru saja munculkan diri di dalam dunia persilatan??"
"Tidak salah, tolong tanya siapakah diri totiang??"
"Aku adalah Malaikat raksasa Leng Bengcu dari partai Khong-tong."
"Bolehkah aku tahu ada urusan apa totiang datang mencari diriku??"
"Aku harap engkau bersedia menuju ke pantai sungai kurang lebih lima li diluar kota"
Han Siong Kie tercengang bercampur tidak habis mengerti, ia tak tahu apa sebabnya partai Khong-tong mengutus jago lihaynya untuk mencari gara2 dengan dirinya.
"Apakah aku boleh tahu ada urusan apa kau mencari aku?" tegurnya dengan suara dingin-
Malaikat raksasa Leng Beng cu tertawa seram.
"Heehh..heehh..heeehh.... sampai waktunya engkau akan tahu sendiri, sekarang maafkanlah kalau terpaksa pintu akan jalan lebih dahulu."
Tanpa banyak bicara ia putar badan dan berlalu dari situ, diatas lantai bekas tempat yang dilalui olehnya tersisalah bekas2 telapak kaki sedalam satu cun.
Han Siong Kie tertawa dingin, sekarang ia telah menduga babwa pihak lawan datang untuk mencari balas, hanya ia tak habis mengerti darimana munculnya dendam tersebut.
"Kini luka yang diderita Go siau Bi telah sembuh, aku memang sudah sepantasnya untuk menerus kan perjalanan" pikirnya dihati.
Tapi sebelum ia berangkat tinggalkan tempat itu, dari arah belakang telah berkumandang suara teguran dari Go Siau Bi. "Siangkong, apa yang telah terjadi?"
"Ooh tak apa2, hanya suatu perjanjian yang harus segera kupenuhi"
"Menurut penglihatanku, imam tersebut mengandung suatu maksud yang tidak benar, lebih baik tak usah kau gubris" Han Siong Kie tertawa tawa.
"Aku rasa kejadian ini hanya suatu kesalah pahaman belaka, nona maafkan daku, sekarang aku ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, selamat tinggal nona dan sampai jumpa kembali lain waktu"
Bicara sampai disitu ia segera memanggil pelayan dan membereskan rekening kamarnya.
Go Siau Bi seperti mau mengucapkan sesuatu, wajahnya sedih sekali namun tak sepatah katapun yang meluncur keluar, setelah tertegun beberapa saat akhirnya dia berkata: "Siangkong, benarkah engkau adalah saudara sehidup semati dengan Han Siong Kie?"
"Sedikitpun tidak salah"
"Tentunya siangkong mengetahui juga bukan asal usulnya?"
"Tentu soal ini kenapa sih nona menanyakan persoalan itu?"
Air mata mengembang dalam kelopak mata Go siau Bi dengan sedih jawabnya lirih: "Terus terang kukatakan siangkong aku telah serahkan hatiku kepadanya"
Bagaikan disambar petir disiang hari bolong Han Siong Kie merasa amat terperanjat sekali untuk beberapa saat lamanya ia terpaku dan berdiri ter-mangu2
"Sedari kapan bibit cinta itu mulai bersemi apakah sejak ia beristirahat selama tiga hari dikamar tidurnya itu? Nona engkau telah serahkan hatimu kepadanya?" pemuda itu berseru tertahan-
"Benar sejak aku selamatkan jiwanya dari dalam sungai dan merawat dirinya selama tiga hari dikamar tidurku, aku telah bersembahyang didepan meja abu ayahku dan menyerahkan hatiku padanya."
Han Siong Ki merasakan jantungnya berdebar keras, persoalan ini betul2 merupakan suatu persoalan yang memusingkan kepalanya, diam2 ia bersyukur karena ia telah berubah wajahnya danpihak lawanpun sudah menyaksikan sendiri liang kubur yang digunakan untuk mengubur jenasahnya, kalau tidak pemuda itu tak dapat membayangkan sampai dimanakah kesulitan yang bakal dia alami
Andaikata gadis yang mengutarakan isi hatinya adalah gadis lain, mungkin pemuda itu hanya tersenyum belaka tapi pihak lawan pernah melepaskan budi kebaikan kepadanya urusan jadi tambah rumit. Dengan suara dalam segera ujarnya: "Sungguh tak beruntung, ia sudah mati"
"Benar. Ia telah mati, tapi aku telah serahkan seluruh jiwa ragaku kepadanya, karena itu aku hendak mengorbankan seluruh kehidupanku untuk berbakti kepada keluarganya" Air mata yang mengembang dalam kelopak mata, akhirnya menetes juga membasahi pipinya.
Han Siong Kie terharu dan badannya gemetar keras, dia paling benci kepada kaum wanita tapi perasaan cinta yang begitu suci dan murni yang diutarakan gadis itu telah mencair dihatinya, hampir saja ia hendak lepaskan topeng kulit manusia yang dikenakan diwajahnya, tapi setelah berpikir sebentar akhirnya ia batalkan niatnya itu. Dengan nada suara setenang mungkin dia berkata:
"Cinta suci yang nona perlihatkan benar2 mengagumkan, sukma yang ada didalam baka pasti akan tersenyum setelah mengetahui akan hal ini.. sayang rasa cinta nona yang begini murninya aku tak dapat disalurkan sesuai dengan apa yang nona harapkan"
"Kenapa?"
"Sebab dia tak punya rumah dan tak punya keluarga, dikolong langit hanya hidup sebatang kara"
Go siau Bi tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, ia menangis terisak. ujarnya:
"oooh aku tak menyangka kalau asal usulnya begitu menyedihkan dan patut dikasihani, sekarang akupun hidup sebatang kara, ibuku telah lama meninggal, ayahku juga mati ditangan orang sampai2.. impianku yang terakhirpun ikut lenyap dan musnah"
Han Siong Kie merasakan tenggorokannya tersumbat dan seakan-akan hendak menangis, ia berharap segera tinggalkan gadis itu karena ia takut terlalu lama berdiam, ia takut ia tak dapat menahan pergolakan perasaan dalam hati kecilnya, disamping itu diapun berharap cepat2 membuka tabir rahasia yang menyelimuti tantangan dari pihak Khong tong pay itu.. Dengan cepat ia alihkan pembicaraan kesoal lain dan berkata:
"Nona Go, tahukah engkau bahwa Han Siong Kie mempunyai sesuatu rahasia hati yang amat besar?"
"Rahasia apa?"
"sepanjang hidupnya dia paling.. paling.. benci berhubungan dengan kaum wanita, atau bicara dengan kata yang lebih tak sedap didengar, ia paling benci dengan kaum wanita"
"Kenapa? " tanya Go siau Bi terperangah.
"Mungkin ia pernah menderita sesuatu macam pukulan batin yang hebat, dan pukulan batin yang amat parah itu datangnya dari kaum wanita, bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya aku tak begitu jelas, tapi aku menguasahi penuh akan wataknya ini"
"Sungguhkah hal ini?"
"Aku tidak akan membohongi diri nona"
Mau tak mau Go siau Bi harus mempercayai perkataan itu, ia masih ingat dengan jelas sikap dan nada ucapan Han Siong Kie sewaktu meninggalkan pesanggrahan Teng to siau cu tempo hari, semuanya menunjukkan sikap yang begitu dingin hingga menggidikkan hati. Ia sebera mengangguk dan menjawab:
"Mungkin apa yang kau ucapkan memang benar2 merupakan kenyataan, tapi sekarang dia telah mati, rasa cintaku kepadanya-pun hanya selalu kusimpan dalam hati, aku tak pernah menunjukkan perasaanku itu di hadapannya, mungkin disinilah letak keberuntunganku, hingga tak usah dipandang dan dihadapi dengan sikap dingin"
"Ucapan nona sangat mengharukan hatiku, semoga engkau bisa baik2 jaga diri selamat berpisah"
"Budi kebaikan siangkong tak akan kulupakan untuk selamanya"
"Nona terlalu serius" ditengah pembicaraan tersebut tubuhnya dengan cepat telah berlalu dari rumah penginapan itu.
Setelah keluar dari rumah penginapan dengan cepat Han Siong Kie berangkat menuju ketepi sungai kurang lebih lima lie dari kota, perasaan hatinya kalut dan bingung, cinta suci dari Go siau Bi telah mengharukan perasaan hatinya, dan rasa bencinya terhadap kaum wanita tanpa terasa per-lahan2 jauh lebih menipis.
Beberapa saat kemudian, ia telah berada ditepi sungai, dari tempat kejauhan ia lihat ada tujuh orang telah menanti kedatangannya ditepi sungai yang berpasir, ketujuh orang itu berdandan sebagai imam semua, salah satu diantaranya bukan lain adalah malaikat raksasa Leng Beng cu.
Tujuh pasang mata yang tajam menyambut kedatangannya, dibalik cahaya yang tajam itu terpancarlah rasa benci, dendam yang amat tebal.
Dengan suatu gerakan yang manis Han Siong Kie melayang turun dihadapan ketujuh orang itu dan berhenti kurang lebih dua tombak dihadapannya.
seorang imam tua berambut ke perak2an yang berdiri dipaling depan segera buka suara dan menegur:
"Apakah sicu yang disebut orang sebagai malaikat penyakitan?"
"Sedikitpun tidak salah" jawab sang pemuda sambil mengangguk.
"Pintu adalah Kui Goan cu dari partai Khong tong, kami dengar orang berkata bahwa sicu adalah ahli waris dari Mo tiong ci mo. iblis diantara iblis, apakah berita ini benar?"
Han Siong Kie merasa amat terperanjat, ia tak menyangka kalau berita tersebut begitu cepat sudah tersiar dalam dunia persilatan-
Ketika terjadi pertarungan sengit melawan pengawal istana Huan mo kiong,jurus serangan yang dipergunakan olehnya berhasil diketahui asal usulnya oleh pihak lawan, dan sungguh tak nyana baru satu hari setengah telah muncul musuh2 tangguh yang mencari gara2 dengan dirinya.
Ia sendiripun tak tahu sebelum gurunya Mo tiong ci mo mengasingkan diri, perselisihan apa saja yang pernah dilakukan olehnya dengan orang persilatan, tapi setelah ia menerima pelajaran ilmu silat darinya itu berarti diapun harus bertanggung jawab pula atas resiko yang harus dihadapi.
Setelah berpikir sebentar dengan suara ketus dia segera menjawab: "Sedikltpun tidak salah, aku memang ahli waris dari dia orang tua"
Paras muka ketujuh orang imam itu berubah hebat, rasa benci dan dendam yang menghiasi wajah merekapun semakin menebal.
Kui Goan cu dengan sorot mata memancarkan cahaya kilat berseru dengan paras serius.
"Kalau memang begitu pinto akan mengajukan satu pertanyaan lagi, pinto harap siau sicu bersedia menjawab pertanyaanku dengan sejujurnya"
"Ajukanlah pertanyaanmu itu"
"Apakah gurumu masih hidup dikolong langit?"
"Masih ada apa?"
"Sekarang ia berada dimana?"
"Harap tootiang terangkan dahulu maksud kedatangan kalian"
"Tak ada gunanya kami terangkan padamu, asal engkau bersedia mengatakan dimanakah gurumu berdiam maka pinto tanggung kami tak akan menyusahkan dirimu"
"Seandainya aku tidak bersedia menjawab apa yang hendak kau lakukan?" ejek Han Siong Kie ketus.
Paras muka ketujuh orang imam itu kembali berubah hebat, ditengah perasaan benci yang teriintas diatas wajah mereka hawa amarah mulai berkobar membakar hati mereka.
Dengan suara beratpenuh kemarahan Kui Goan cusegera menjawab:
"siau sicu, kami tak akan membiarkan engkau bertindak sesuka hatimu, kalau engkau tidak bersedia menjawab maka ia berarti engkau sudah bosan hidup dikolong langit"
"Aaah belum tentu kalian mampu mengapa-apakan aku" ejek Han Siong Ki sambil mendengus sinis.
Malaikat raksasa Leng Beng cu yang berdiri dibelakang imam tua itu kontan berteriak dengan suara yang keras bagaikan guntur membelah bumi. "Belum tentu?. Huuh akan kusuruh engkau rasakan kelihayan kami.." sambil berseru ia segera menerjang maju kedepan sambil melepaskan satu pukulan.
Kun Goan cu yang berada disampingnya segera menghadang jalan pergi rekannya itu sambil berseru: "Jangan terburu napsu."
Kemudian kepada Han Siong Kie ia menambahkan.
"siau sicu, aku anjurkan kepadamu lebih baik jawablah dengan sejujurnya semua perkataan yang kuajukan"
"Maaf aku tak dapat memberitahukan kepadamu"
"Jadi siau sicu tetap keras kepala dan tak mau menjawab pertanyaanku itu?"
"Apa salahnya kalau tootiang terangkan dahulu maksud kedatanganmu itu?"
"setelah kuutarakan kelUar, apakah siau sicu dapat memberi pertanggunganjawabnya?"
"Mungkin "
Tiba2 diatas paras muka Kun Goin cu yang penuh keriputan terlintas rasa sedih, yang amat tebal ujarnya dengan penuh emosi:
"Empat puluh tahun berselang gurumu telah membinasakan cin siu Toojin, ketua ke sembilan belas dari partai kami beserta tiga puluh orang anggota perguruan"
Dengan hati terperangah Han Siong Kle mundur satu langkah kebelakang, ia tak menyangka gurunya pada empat puluhan tahun berselang telah membinasakan ketua ke sembilan belas dari partai Khong tongpay beserta tiga puluh orang muridnya, ia tahu peristiwa tersebut merupakan suatu peristiwa besar yang luar biasa sekali tanpa sadar serunya:
"Benarkah telah terjadi peristiwa semacam ini?"
"Pinto tak akan sengaja mengarang cerita bohong untuk mencari gara2, setiap umat persilatan dikolong langit mengetahui akan kejadian ini"
"Apakah tootiang tahu apa sebabnya hingga terjadi peristiwa berdarah itu?"
"Dahulu suhumu gemar membunuh manusia, ia membunuh orang bagaikan membabat rumput, apa sebabnya dia melakukan peristiwa yang biadab itu mungkin hanya dia seorang yang tahu"
"Jadi maksud tootiang engkau hendak mencari guruku untuk menuntut balas atas peristiwa berdarah itu?"
"Bu liang siu hud peristiwa berdarah ini sudah dipeti es kan selama empat puluhan tahun lebih, tentu saja sekarang harus diselesaikan sebagaimana mestinya"
Tentu saja Han Siong Ki tidak akan mengerti apa sebabnya gurunya Mo-tiong ci-mo, membunuh cing siu toojin beserta ketiga puluh lima orang anggota perguruannya pada masa silam tapi pada saat ini tentu saja ia tak bersedia menerangkan dimanakah gurunya sebab masa hidupnya masih tinggal sepuluh hari bahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya telah diberikan padanya membuat kakek itu jadi loyo dan sama sekali tak bertenaga.
Pemuda itu merasa dia sebagai ahli warisnya sudah menjadi kewajiban untuk menyelesaikan setiap persoalan yang diwariskan gurunya pada dia. Maka dengan suara lantang ia bertanya:
"Jadi maksud tootiang bagaimana caranya hendak menyelesaikan persoalan ini?"
"Apakah siau sicu dapat mengambil keputusan mengenai masalah tadi?"
"Aku akan menyelesaikan semua tanggung jawab dengan segala kemampuan yang kumiliki"
"Haaahh.... Haaahhh... haaahhh bocah cilik, engkau benar-benar tak tahu diri" seru Kui Goan cu sambil tettawa seram "lebih baik katakan saja dimana gurumu berdiam, pinto akan pergi mencari dirinya dan menyelesaikan sendiri persoalan ini dengan dirinya"
"Maaf, aku tak dapat memenuhi keinginanmu"
"Bocah keparat yang tak tahu tingginya langit tebalnya bumi, lebih baik tutup bacot anjingmu itu dan tak usah berlagak sok di tempat ini...." bentak Malaikat rakrasa Leng Beng-cu dengan penuh kegusaran.
Sambil membentak keras ia maju kedepan, telapak tangannya yang lebar bagaikan kipas segera diayUn kedepan mencengkeram tubuh Han Siong Kie, serangan ini bUkan saja dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, bahkan disertai pula tenaga pukulan yang maha dahsyat.
Dengan cekatan Han Siong Kle berkelit ke samping, tegurnya dengan suara ketus: "Aku anjurkan lebih baik persoalan ini diterangkan dahulu sampai selesai sebelum main kekerasan"
Tatkala menyaksikan cengkeramannya mengenai sasaran yang kosong, malaikat raksasa Leng Beng cu semakin naik pitam, dengan gusar bentaknya :
"Tutup bacot anjingmu, tooya akan beri pelajaran lebih dahulU kepadamU sebelum pembicaraan diteruskan"
sepasang telapak dilancarkan berbareng, segulUng hembusan angin pUyuh segera menggulUng kemUka bagaikan amukan ombak yang menghajar tepian pantai, kedahsyatannya benar2 sesuai dengan julukannya sebagai malaikat raksasa.
Diam2 Han Siong Kle terkesiap juga menghadapi serangan dahsyat itu, buru2 dia ayun telapak kanannya dan melancarkan satu pukulan dengan tenaga sebesar tujuh bagian.
"Blaamm.. ditengah getaran keras yang menggelegar diangkasa, pasir dan batu beterbangan memenuhi di angkasa, malaikat raksasa mundur delapan langkah kebelakang dengan sempoyongan.
Paras muka semua imam yang bordiri di tepi gelanggang sama2 berubah hebat, rasa bergidik timbul dalam hati mereka semua, mereka tak menyangka kalau sebuah pukulan lawan yang dilakukan dengan tangan sebelah berhasil memukul mundur Leng Beng cu yang tersohor akan kekuatan alamnya itu, peristiwa ini benar2 mengejutkan. Buru2 Kui Goan cu maju ke depan dan berkata dengan suara dalam:
"Siau sicu, tenaga dalam yang engkau miliki benar2 luar biasa sekali, tapi peristiwa berdarah ini sudah sepantasnya kalau diselesaikan sendiri oleh gurumu.."
Sementara itu Han Siong Kle telah mengambil keputusan dalam hatinya untuk menangani persoalan itu, dengan suara dingin menyeramkan ia segera menjawab:
"Maaf, sudah kukatakan tadi bahwa persoalan ini tak bisa kupenuhi"
Air muka Kui Goan cu berubah hebat, per-lahan2 ia mundur tiga langkah kebelakang.
Sekali lagi malaikat raksasa Leng Beng cu membentak keras kemudian bagaikan banteng terluka menerjang kedepan.
Han Siong Kle berdiri tegak bagaikan sebuah bukit karang, sepasang telapaknya berputar satu lingkaran dengan suatu gerakan yang sangat aneh, kemudian melepaskan satu pukulan mendorong balik tubuh malaikat raksasa, inilah gerakan bertahan yang tercantum dalam ilmu pukulan Mo mo ciang hoat, kesaktiannya luar biasa dengan perubahan yang sukar diikuti dengan kata2, meskipun hanya suatu gerakan yang sangat gampang namun tubuh lawan seketika terpental kebelakang.
Dalam hati kecilnya kendatipun Leng Beng-cu merasa amat terperanjat, namun ia tak sudi menelan kekalahan tersebut dengan begitu saja, setelah mundur, ia maju kembali kedepan, telapaknya yang besar bagaikan raksasa dengan menciptakan bayangan telapak bagaikan bukit segera melepaskan pukulan balasan, kedahsyatannya sukar dilukiskan dengan kata2.
Han Siong Kie memutar telapaknya dengan kencang, badannya tetap tegak bagaikan bukit Thay san, kendatipun Leng Beng cu telah melepaskan serangkaian pukulan yang mematikan, namun tetap gagal untuk menembusi pertahanan lawan, ini mengakibatkan ia jadi penasaran dan membentak keras tiada hentinya.
Lima orang imam yang berdiri dibelakang Kui Goan cu rupanya sudan kehabisan sabar, sambil membentak mereka segera terjunkan diripula kedalam gelanggang pertarungan.
Dalam sekejap mata hawa pukulan menderu2, bayangan telapak berkelebat memenuhi angkasa bagaikan bukit.
Enam sosok bayangan manusia saling melepaskan pukulan berantai secara kalap dan menggila, mereka berusaha merobohkan musuhnya secepat mungkin..
Han Siong Kie sendiri makin bertempur ia merasa semakin mantap hatinya, dengan jurus pertahanan yang tercantum dalam angin pukulan Mo mo ciang hoat, kendatipun keempat orang imam tersebut berusaha melontarkan jurus serangannya dari sudut yang manapun, usaha mereka selalu mengalami kegagalan total.
Kadangkala mereka berhasil menemukan titik kelemahan yang dalam pikiran mereka pasti akan menghasilkan suatu pukulan yang mantap. tetapi setelah pukulan dilontarkan ternyata dengan suatu gerakan yang sangat enteng dan seperti tak disengaja pukulan tersebut tertangkis kembali, hal ini membuat ketujuh orang jago lihay daripartai Khong-tong jadi kelabakan setengah mati. suatu ketika Han Siong Kie berseru lantang:
"Totiang, ketahuilah bahwa kesabaran orang ada batas2nya, apakah engkau hendak paksa aku untuk melukai orang??"
Serangan yang dilancarkan ketujuh orang imam itu semakin membabi buta, ibaratnya hujan badai mereka hamburkan semua pukulan yang rasanya dapat mendatangkan hasil untuk meneter dan mendesak lawan.
Diam2 Kiu Goan cu mengerutkan dahinya, ia telah menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki ahli waris dari Mo tiang ci mo ini sudah berhasil mencapai kesempurnaan bagaikan gurunya, jika pertarungan itu dilanjutkan, maka akhirnya toh pihak merekalah yang akan mengalami kerugian besar, karena itu setelah termenung sebentar dia segera berseru:
"Kalian semua segera mundur"
Keringat sebesar kacang kedelai telah mengucur keluar membasahi seluruh tubuh tujuh orang imam itu. napas mereka tersengkal2 bagaikan kerbau, mendengar perintah itu dengan cepat mereka tarik kembali serangannya dan mengundurkan diri kebelakang. Dengan paras muka amat serius Kui Goan cu maju beberapa langkah kedepan, ujarnya:
"Siau sicu apakah engkau tetap keras kepala dan tidak bersedia mengatakan tempat tinggal gurumu?"
"Sudah beberapa kali toh kuterangkan, permintaan kalian itu tak mungkn bisa kupenuhi"
"Kalau memang begitu, terpaksa pinto harus berbuat kasar kepada dirimu..."
"Silahkan"
Kiu Goan cu mengibaskan sepasang ujung bajunya, angin pukulan yang tajam bagaikan gunting segera menghantam tubuh Han Siong Kie.
Ku Goan cu adalah pemimpin dari Khong-tong sam tiang lo, tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna bisa dapat dibayangkan kedahsyatannya serangan yang dilancarkan olehnya ini.
Han Siong Kie scndiri diam2 merasa kagum juga melihat sikap imam tua yang tetap menjaga kesopanan kendatipun ia telah berhadapan muka dengan ahli waris musuh besarnya,
Pemuda itu tak mau melukai orang sebelum mengetahui jelas duduk perkara yang sebenarnya.
Ketika menyaksikan datangnya guntingan angin pukulan yang tajam dengan cekatan tubuhnya berkelebat delapan langkah kesamping guna meloloskan diri, serunya dengan suara dalam:
"Tootiang, apakah engkau bersedia mendengarkan penjelasanku??"
"Katakanlah " ujar Kui Goan cu sambil menarik kembali serangannya.
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan duduk persoalan yang mendasari terjadinya peristtwa berdarah itu, sementara tootiang sendiripun tidak bersedia menerangkan, hal ini membuat urusannya jadi makin kabur dan membingungkan hati..." Malaikat raksasa Leng Beng cu yang berada disamping segera menyela dengan gusar:
"Mo tiong ci mo membunuh manusia bagaikan membabat rumput, masih ada perkataan apa lagi yang harus diucapkan?"
Dengan sorot mata berkilat Han Siong Kie segera berpaling kearah Leng Bengcu, katanya:
"Jadi menurut maksudmu, apa yang harus dilakukan?"
Leng Beng cu merasa amat terperanjat, ia ngeri sekali melihat sorot mata la wan yang begitu tajam, bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri Kui Goan cu segera maju kedepan dan balik bertanya:
"Lalu apa pula maksud siau sicu? apa yang hendak kau lakukan untuk menyelesaikan persoalan ini?"
"Dewasa ini aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan lebih dahulu, aku tak ada kesempatan untuk menemani kalian lebib jauh, sepuluh hari kemudian setelah berhasil mengetahui jelas duduk persoalan ini, setiap saat kunantikan petunjuk dari kalian dalam dunia persilatan, cara bagaimana kalau tootiang yang menentukan waktu dan tempat untuk menyelesaikan persoalan ini?"
Sebelum Kui Goan cu sempat menjawab Leng Beng cu berseru lebih dahulu. "Hmm engkau anggap bisa lolos dari sini dangan alasan begitu gampang??" Han Siong Kie mengejek sinis.
"Kalau aku mau pergi siapa yang mampu menghalangi kepergianku?"
"Cobalah untuk kabur dari sini"
Han Siong Kie tak lagi menunda waktu terlalu lama lagi, karena dia harus segera melaksanakan perintah gurunya untuk adu kekuatan dengan pemilik Benteng Maut.selain itu sebelum duduk perkara dibikin jelas ia tak tahu tindakan apa yang harus dilakukan olehnya, maka ujarnya kemudian dengan dingin,
"Perkataanku sudah kuutarakan cukup jelas, setiap saat kunantikan petunjuk dari kalian maaf"
Tubuhnya meluncur kedepan dengan gerakan tubuh cahaya kilat lintasan bayangan, didalam sekejap mata tubuhnya sudah berada sejauh sepuluh tombak dari tempat semula kemudian dalam beberapa enjotan tubuhnya telah lenyap diujung jalan.
Tujuh orang jago lihay dari partai Khong tong itu hanya bisa berdiri saling berpandangan, mereka tahu bahwa gerakan tubuh pemuda itu terlalu cepat sehingga tak mungkin bagi mereka untuk menyusulnya.
Dalam pada itu Han Siong Kie sendiri sambil melakukan perjalanan cepat otaknya berputar terus tiada hentinya.
Ia berusaha menemukan alasan yang kuat untuk menerangkan apa sebabnya partai Khong tong beserta ketiga puluh lima orang muridnya dibunuh habis oleh gurunya dimasa silam??.
Ditinjau dari pembicaraan tersebut, sedikit banyak pemuda itu dapat merasa bahwa gurunya gemar sekali membunuh manusia atau dengan perkata an lain musuh besarnya tersebar luas di seluruh kolong langit.
Sekarang asal usulnya telah diketahui orang, berarti pula setiap langkahnya kemungkinan besar mengundang banyak kesulitan bagi dirinya.
Tiga hari kemudian tatkala fajar baru menyingsing ia telah berada kurang lebih seratus li dari benteng maut ditepi pantai, dibalik pepohonan bambu berdirilah sebuah bangunan mungil, tanpa terasa Han Siong Kie menghentikan langkahnya disitulah letak pesanggrahan Teng to siau cu tempat tinggal Go siau Bi, ia tak akan melupakan tempat itu, sebab ketika tubuhnya dihajar oleh pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai ditempat itulah jiwanya tertolong.
Dengan sedih pemuda itu memandang pesanggrahan Teng to siau cu, kenangan lama terlintas lagi dalam benaknya.
Tiba2 jeritan ngeri berkumandang datang dari arah pesanggrahan Teng to siau cu diikuti jilatan api membubung tinggi ke angkasa
0000000-
BAB 24
HAN SIONG KIE berhenti sebentar kemudian dengan satu loncatan lebar ia meluncur kearah pesanggrahan Teng to siau cu. Dibawah jilatan api terlihatlah beberapa bayangan manusia berkelebat lewat, dari dalam pesanggrahan itu menuju keluar.
Han Siong Kie segera meluncur kemuka sambil membentak keras: "semuanya berhenti?" Beberapa sosok bayangan manusia itu segera menghentikan gerakan tubuh mereka, orang yang berjalan dipaling depan adalah seorang pria setengah baya yang berwajah bersih dibelakangnya mengikuti delapan orang pria baju hitam.
Tatkala kesembilan orang itu menyaksikan orang yang menghadang jalan pergi mereka adalah seorang pemuda berwajah penyakitan, suara tertawa dingin berkumandang tiada hentinya.
Pria setengah baya itu dengan nada yang sinis segera menegur: "Keparat cilik, apa maksudmu menghadang jalan perginya kami?."
sambil menuding kearah pesanggrahan Teng to siau cu yang sedang dimakan api Han Siong Kie menegur:
"Apakah kalian yang membunuh orang dan melepaskan api untuk membakar pesanggrahan tersebut?"
"Sedikitpun tidak salah engkau mau apa?"
Napsu membunuh terlintas diatas wajah Han Siong Kie, katanya kembali.
"Aku ingin tahu apa alasannya sehingga kalian melakukan pembunuhan dan pembakaran rumah itu?"
setelah tertawa seram tiada hentinya pria setengah baya itu menjawab dengan nada menghina:
"Bocah keparat, rupanya engkau sengaja mencari gara2 dengan kami, tahukah engkau siapakah toayamu"
"Sebutkan siapa nama mu?"
"Heehh... heeehhh... heeehhh keparat aku hendak menerangkan lebih dahulu setelah toaya menyebutkan namanya itu berarti saat kematian bagimu sudah tiba, kami berasal dari perkumpulan Thian che kau"
"Apa? perkumpulan Thian che kau??"
"Sedikitpun tidak salah, engkau takut?"
Han Siong Kie terbayang kembali pemandangan sewaktu ia hampir menemui ajalnya ditangan orang perkumpulan Thian che-kau, napsu membunuh yang amat tebal segera berkelebat diatas wajahnya, dengan suara menyeramkan ia berkata:
"Engkau tak usah menyebutkan namamu lagi, sebab dengan dasar kaki tangan perkumpulan Thian che- kau sudah lebih dari cukup bagiku untuk melimpahkan sesuatu kepada kalian"
"Melimpahkan apa?"
"Kematian"
"Haahh..haahhhahh.. keparat cilik, benar engkau pentang bacot bicara yang bukan2, ketahuilah justru karena ucapanmu yang tidak keruan, kematian akan tiba lebiih cepat atas dirimu" "
Perlahan2 Han Siong Kie maju tiga langkah kedepan, sepatah demi sepatah ujarnya dengan dingin:
"Membunuh orang membakar rumah, tujuannya untuk membabat rumput seakar2nya, sayang orang yang kalian cari tak berada di sini, bukankah begitu???"
Paras muka pria berusia pertengahan itu berubah sangat hebat.
"Keparat cilik, apa hubunganmu dengan budak sialan dari perkumpulan pat gi pang tersebut??" tegurnya.
"Hmm tentang soal ini lebih baik engkau tak usah tahu"
Delapan orang pria baju hitam itu mendengus dingin, salah satu dlantaranya dengan gusar berkata:
"Hiangcu, lebih baik kita musnahkan saja bangoat ini, buat apa kita banyak bicara lagi ...."
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat Han Siong Kie menyapu sekejap kearah pria baju hitam iltu, membuat pria tersebutjadi bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, sebelum ucapan nya diutarakan hingga selesai, ia telah menelan kembali katanya.
Pria setengah baya yang dipanggil sebagai Hiang cu itu mendengus dingin, nafsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajah nya, dengan nada seram ia berseru.
"Bajingan cilik, dengarkanlah baik2, toa-yamu adalah Hiang cu bagian urusan luar dari perkumpulan Thian che kau yang disebut Lauseng dengan begitu setelah mampus engkau tak akan jadi setan kebingungan" Han Siong Ki mendesis penuh penghinaan:
"Huuh bagus sekali Lau Seng engkaupun harus ingat baik2 namaku orang menyebut diriku sebagai malaikat penyakitan"
"Apa? malaikat penyakitan? "
"Sedikitpun tidak salah"
Tiba2 dari balik hutan bambu tidak jauh dari gelanggang berkumandang datang suara seruan yang amat merdu.
"Lao hiangcu, kalian cepat mengundurkan diri dari situ dia.. dia adalah..."
Sembilan orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau itu nampak terperangah dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Han Siong Ki melirik sekejap kearah hutan bambu itu, kemudian sambil berpaling kearah Lau Seng ujarnya.
"Lao hiangcu, aku melihat kamu bersembilan lebih baik bereskan nyawa kalian sendiri daripada aku musti repot2"
"Lao hiangcu," suara merdu tadi kembali berkumandang datang: "dia adalah ahli waris dari Mo tiong ci mo iblis diantara iblis"
Begitu mendengar akan sebutan Mo tiong ci- mo paras muka sembilam orang yang ada dalam gelanggang berubah hebat, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh badan, Mereka tak menyangka kalau pemuda ingusan yang menyebut diri bernama malaikat penyakitan itu ternyata bukan lain adalah ahli waris dari Mo-tiong ci mo seorang tokoh sakti yang angkat nama ber-sama2 pemilik benteng maut.
Bersama dengan berakhirnya suara peringatan tadi tampaklah sesosok bayangan tubuh manusia yang berbadan ramping melarikan diri dari balik hutam bambu.
Sembilan orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau itu saling bertukar pandangan sekejap sebelum sempat kabur, Han siong Ki mendengus dingin dan berseru: "Lao seng engkau saja yang musti mampus lebih dahulu"
Telapak tangan terayun, segulung desiran angin tajam laksana kilat meluncur kedepan.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat lewat dalam benak Lau seng, dadanya sudah berlubang dan selembar jiwanya melayang tinggal kan raga kasarnya.
Delapan orang pria baju kitam lainnya jadi ketakutan setengah mati, mereka rasakan sukma serasa melayang tinggalkan raganya, tanpa banyak bicara orang2 itu putar badan dan kabur ter birit2.
Napsu membunuh telah membakar hati Han Siong Kie, tentu saja ia tak akan membiarkan musuh2nya melarikan diri dengan begitu saja, badannya meluncur kedepan dan laksana kilat berputar membentuk setengah lingkaran busur.
Delapan orang pria baju hitam itu merasakan pandangan matanya jadi kabur dan tahu2 segulung deruan angin pukulan yang maha dahsyat menghantam datang, memaksa tubuh mereka tergulung kembali ketempat semula.
"Disinilah mayat2 kalian akan dikuburkan" serentetan suara teguran yang dingin bagaikan es bergema diangkasa.
Meyusul ucapan tersebut, gulungan angin puyuh yang maha dahsyat bagaikan ambruknya sebuah bukit segera menindih tubuh kedelapan orang pria baju hitam itu.
Jeritan2 ngeri yang mendirikan bulu roma bergema saling susul menyusul, darah segar berhamburan membasahi seluruh lantai, delapan sosok mayat roboh bergelimpangan diatas tanah.
Han Siong Kie menghembus kan napas lega, sorot mata nya dialihkan kearah pesanggrahan Tang to siau cu, meskipun api telah padam namun bangunan tersebut sudah tinggal puing yang berserakan, ia segera menghela napas panjang dan berpikir:
"Kecepatan gerak tubuh Go siau Bi jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan kecepatan gerakku, mungkin ia masih belum kembali kesini.."
Setelah berdiri termangu beberapa saat, akhirnya dia gantung kesembilan sosok mayat itu diatas bambu, kemudian dengan darah ia menulis beberapa huruf diatas sebuah batu besar, tulisan itu berbunyi demikian:
"Membunuh orang melepaskan api adalah perbuatan dosa yang tak dapat diampuni, kaki tangan Thian chee kau sampai habis. Tertanda: malaikat penyakitan"
Tujuannya meninggalkan tulisan itu adalah berharap andaikata Go siau Bi telah kembali kesitu, maka ia dapat membaca peringatan yang ditinggalkan kepadanya itu sehingga kewaspadaannya dipertingkatkan dan tidak sampai terjatuh ketangan orang2 perkumpulan Thian che kau.
Sejak Go siau Bi gagal membalas dendam diwilayah Lian huan tau dan nyaris dibunuh kalau bukan tertolong oleh orang yang ada maksud" tentu saja orang2 dari perkumpulan Thian che kau tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.
Han Siong Kie menyapu sekejap seluruh gelanggang, sebelum ia tinggalkan tempat itu, mendadak anak muda itu menemukan sesosok bayangan manusia muncul pada jarak kurang lebih delapan depa dibelakang tubuhnya, ia sangat terperanjat dan secepat kilat ia putar tubuh kearah belakang.
Kurang lebih satu tombak dihadapannya berdirilah seorang sastrawan berusia setengah baya yang mengenakan jubah berwarna abu2.
orang itu bisa mendekati tubuhnya hingga jarak satu tombak tanpa diketahui jejaknya, dari sini bisa diketahui betapa dahsyat dan sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki orang itu.
"Siapakah engkau??" tegur Han Siong Kie dengan perasaan hati amat terperanjat. Bukannya menjawab, sastrawan berusia setengah baya itu malahan balik bertanya:
"Apakah engkau adalah malaikat penyakitan yang belum lama munculkan diri didalam dunia persilatan??"
"Sedikitpun tak salah "
"Benarkah engkau ahli waris dari Mo-tiong ci mo iblis diantara iblis??"
"Saudara ada urus an apa menanyakan soal ini??"
"Sejak kapan Mo tiong ci-mo menerima engkau sebagai ahli waris nya??"
"Apakah engkau tak merasa bahwa pertanyaan yang kau ajukan itu keterlaluan??"
"Ehmm guru harimau murid pasti harimau, watak keras kepalamu tak jauh berbeda dengan watak gurumu, apakah ia berada dalam keadaan baik2??" Han Siong Kie tak segera menjawab, diam-diam pikirnya didalam hati:
"Guruku sudah empat puluh tahun lama nya mengasingkan diri didalam gua bawah tanah dan tersohor pada lima puluh tahun berselang, sedangkan engkau sipelajar rudin paling2 baru berusia empat puluh tahunan, huuh.. buat apa pura2 berlagak kenal? sungguh suatu lelucon yang menggelikan sekali." Dengan suara dingin ia segera bertanya: "Apakah engkau kenal dengan guruku?"
"Haahh... haahh..haahh. sedikit banyak kami masih mempunyai sedikit hubungan" sahut sastrawin setengah baya itu sambil tertawa ter-bahak2. "Tolong tanya tahun ini engkau telah berusia berapa tahun?"
"Ooooh tentang soal itu lebih baik tak usah kau tanya kan, gurumu akan memberitahukan sendiri kepadamu"
Han Siong Kie segera tertawa dingin.
"Saudara, apakah engkau masih ada perkataan lain ang hendak diutarakan keluar? maaf aku takpunya waktu senggang"
"Waktu seng gang? haahh..haahh..haah... bocah, engkau dapat bercakap cakap dengan aku, itu berarti bahwa engkau punya rejeki yang amat besar"
"Siapakah sebenarnya dirimu??"
"Engkau tak akan tahu siapakah diriku sebab pengalamanmu masih terlalu cetek eeei .. sampai dimanakah kesempurnaanmu mempelajari ilmu telapak Mo mo ciang hoat."
Diam2 Han Siong Kie merasa keheranan, mungkinkah sastrawan setengah baya itu punya hubungan dengan gurunya dimasa lampau? tapi hal ini rasanya tak mungkin bisa terjadi, kalau ditinjau dari wajah nya maka paling tinggi ia berumur empat puluh tahunan, sewaktu gurunya mengasingkan diri mungkin ia baru dilahirkan dikolong langit, jangan2 orang ini sedang mempermainkan dirinya??"
Dengan nada gusar bercampur mendongkol sianak muda itu berseru kembali:
"Sebenarnya apakah tujuanmu yang sebenarnya??"
"Jawab dulu pertanyaan2 yang kuajukan dengan sejujurnya ...."
"Jika aku menolak untuk memberijawaban, engkau mau apa??"
"Gurumu sendiri tidak akan berani bicara selancang dan sekasar itu, berani benar engkau bersikap kurang ajar kepadaku"
Hawa amarah berkobar dalam benak Han Siong Kie, dengan suara ketus ia berseru kembali:
"Oooh... jadi engkau memang ada maksud untuk menghina dan mempermainkan guruku?"
"Tak dapat dikatakan menghina"
"Kalau begitu selamat tinggal"
Pemuda itu enjotkan badannya dan melayang sejauh sepuluh tombak dari tempat semula, mendadak pandangan matanya jadi kabur dan sastrawan berusia pertengahan itu sudah berdiri kurang lebih satu tombak dihadapan muka nya.
Han Siong Kie jadi terkejut bercamput terkesiap. ia mulai menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki pihak lawan jauh lebih tinggi dari kepandaian sendiri.
Kendatipun begitu, sebagai seorang pemuda yang berwatak angkuh dan tinggi hati, sekalipun hati merasa kaget akan tetapi di luaran ia tetap bersikap angkuh. "Hmm saudara, sebenarnya apa maksudmu?" tegurnya sambil mendengus dingin.
"Aku ingin berbicara tentang sesuatu dengan dirimu"
"Maaf, aku tak punya waktu senggang"
"Sekalipun engkau tak punya waktu senggang, pembicaraan tetap harus dilangsungkan, jika aku tidak mengijinkan engkau pergi maka sekalipun engkau bisa terbang juga tak akan dapat lolos dari sini"
Hawa amarah berkobar makin memuncak dalam benak Han Siong Kie, bentaknya keras2 "Aku tak sudi mendengarkan peringatanmu." sekali lagi dia enjotkan badandan meluncur kedepan.
Tapi baru saja tubuhnya mencapai setengah jalan, se-akan tubuhnya menumbuk diatas sebuah dinding baja, yang tak berwujud, badannya terpental kembali keatas tanah.
"Aku toh sudah bilang bahwa engkau tak nanti bisa lolos dari sini, bagaimana??" ejek sastrawan setengah baya itu.
Han Siong Kie merasa makin terperanjat, kobaran api amarah yang berkecamuk dalam benaknya sukar dikendalikan lagi, sepasang telapaknya diayun kedepan dan secara beruntun dia lepaskan sembilan jurus pukulan berantai.
setiap jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus2 pukulan aneh yang maha sakti dan maha dahsyat, mungkin dikolong langit dewasa ini jarang ada orang yang mampu menghadapi serangan berantai itu.
Si sastrawan setengah baya itu silangkan telapaknya dan dengan suatu gerakan yang sangat enteng dia punahkan ke sembilan jurus pukulan berantai yang maha dahsyat itu dengan nada tercengang serunya:
"Hey bocah, jurus serangan yang kau gunakan bukan saja mirip dengan ilmu pukulan Mo mo ciang hoat bahkan lebih mirip dengan langkah kura2 dari Leng ku siangjin" Han song Kie tersentak kaget dan mundur tiga langkah kebelakang dengan hati terkesiap. seratus tahun berselang Leng ku siangjin telah mati ditengah hutan belantara bahkan jenasah nya dialah yang menguburkan ketanah, dari mana sastrawan setengah baya itu bisa mengenali semua gerakan pukulanny a dengan begitu jelas?
"Akan kucoba lagi, apakab dia benar2 lihay atau tidak..." pikir pemuda itu dalam hati.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun telapaknya berputar melancarkan kembali serangan serangan dahsyat.
dengan gerakan yang cepat bagaikan sukma gentayangan sastrawan setengah baya itu menyingkir kesamping kemudian katanya:
"Hei bocah sungguh tak nyana engkau telah mewarisi segenap kepandaian silat yang dia miliki, jurus Mo hwee liau -coan atau api setan membakar ladang yang kau gunakan saat ini sedikitpun tak ada bedanya dengan jurus serangan yang dilakukan oleh Mo tiong ci mo sendiri dimasa lampau tapi secara bagaimana pula engkau bisa memperoleh warisan ilmu silat dari Leng ku sangjin?"
Han Siong Kie benar2 merasa amat terperanjat, ia tak dapat menduga asal usul dari sastrawan setengah baya yang berada dihadapannya, untuk beberapa saat ia cuma bisa berdiri dengan mata terbelalak dan mulut membungkam. Lama sekali ia baru berkata. "Bolehkah aku mengetahui namamu?"
"Haaahhh haahhh haaahhh sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah menggunakan namaku lagi, baiklah kuberitahukan kepadamu, aku bernama Put lo sianseng (tuan awet muda)"
"Tuan awet muda?"
"Tidak salah, apakah gurumu tidak pernah mengungkap soal ini?"
Diam2 Han Siong Kie mengulangi kembali nama "Put li sianseng" itu sampai beberapa kali, berapa puluh tahun tak pernah menggunakan namanya lagi? bukankah itu berarti bahwa ia sudah berusia amat lanjut namun memiliki wajah yang awet muda. "oooh jadi aku harus panggil locianpwce kepadamu?" serunya tanpa terasa.
"Hh mm panggilan itu boleh juga"
"Bolehkah aku tahu tahun ini locianpwee berusia berapa?"
"Aku? Hoohh hoohh hoohh seratus lima tahun"
"Berapa? seratus lima tahun"
"Sedikitpun tidak salah"
-0000000-
Jilid 12 : Masuk Benteng Maut
TAK kuasa lagi Han Siong Kie mengh embus kan napas dingin, berita ini benar2 sukar dipercaya oleh nya.
seorang sastrawan setengah baya yang sekilas pandangan belum mencapai empat puluh tahun, ternyata adalah seorang jago persilatan yang telah berusia seratus tahun lebih.
Dengan serta merta timbul perasaan kagUm dan menghormat dalam hati kecil pemuda itu, tanpa sadar secara terus terang ia ceriterakan bagaimana dia sudah mendapatkan warisan ilmu silat diri Leng ku siangjin kemudian bagaimana berjumpa dengan Mo tiong ci mo yang telah wariskan tenaga dan kepandaian silatnya kepadanya.
Selesai mendengar kisah tersebut, Put to sianseng atau tuan awet muda menghela napas panjang, katanya:
"Aaai yaa memang kawan2 lamaku di masa lampau sebagian besar telah reyot dimakan usia aku yang tidak mati2pun sudah ingin cepat2 tinggalkan dunia ini Eaei bocah engkau memang amat hok ki secara beruntun telah mewarisi ilmu silat dari beberapa orang jago2 lihay dunia persilatan masa depanmu benar2 amat cemerlang!”
Han Siong Kie ter-sipu2 ia cuma bisa mengucapkan kata2 merendah untuk memberi tanggapan.
Beberapa waktu kemudian terdengar Put-lo sianseng menegur:
“Eei bocah apakah engkau tidak menyesal mengangkat Mo tiong ci mo sebagai gurumu?”
"Menyesal? kenapa aku musti menyesal?"
"Engkau toh tahu musuh bebuyutan terdapat di mana2 seantero jagad?"
"Setelah aku bersedia menerima pelajaran yang diwariskan beliau kepadaku sudah se-pantasnya kalau aku bertanggung jawab atas semua perbuatannya yang dilakukan tempo dulu sudah menjadi kewajibanku untuk menanggulangi semua resiko yang ada kenapa musti aku menyesal?"
“Bagus, anak muda! engkau memang bersemangat..!”
“Ada suatu persoalan hingga kini aku kurang tahu, apa aku boleh bertanya kepada locianpwee?"
“Coba katakan dulu apa yang ingin kau tanyakan?”
“Sewaktu guruku sering kali melakukan pembunuhan dalam dunia persilatan tempo hari apakah ia selalu membedakan mana yang lurus dan mana yang sesat?”
Put-lo sianseng termenung dan berpikir sebentar, kemudian menjawab :
“Ditinjau dari beberapa kejadian yang kuketahui, pihak korban memang sangat beralasan untuk dibunuh. tapi mecgenai soal selanjutnya aku kurang begitu tahu, sebab korban yang mati ditangannya banyak tak terhitung jumlahnya, mereka terdiri dari pibak kaum lurus maupun kaum sesat, kalau tidak kejam tak mungkin orang persilatan memberi julukan iblis diantara iblis kepadanxa.. tapi . masa ia tidak mengatakan sesuatu kepadamu?”
Han Sioog Kie menggeleng.
"Sama sekali tidak..!”
"Ooh yaa, engkau toh baru tiga hari mengingat hubungan guru dan murid dengan dia kenapa.. "
“Sekarang aku sedang melaksanakan sebuah perintah dari guruku, dan tugas itu harus diselesaikan dalam waktu sepuluh hari!"
"Kenapa harus diselesaikan dalam sepuluh hari?”
“Sebab guruku dia orang tua hanya mempunyai waktu selama sepuluh hari untuk hidup di kolong langit!"
“Kerapa?” tanya Put-lo sianseng dengan muka berubah hebat.
“Ketika sedang melatih suatu jsnis ilmu silat, beliau mengalami musibah yakni jalan api menuju neraka yang mengakibatkan kedua belah kakinya lumpuh, setelah itu beliau pun wariskan segenap tenaga dalamnya kepadaku, maka.."
Bicara sampai disini, ia menghela napas dan membungkam.
Put-lo sianseng pun menghela napas sedih.
"Aku ingin bertemu muka untuk terakhir kalinya dengan gurumu, sekarang ini berada dimana?” katanya.
Sebenarnya Han Siong Kie hendak menjawab, tapi ingatan lain dengan cepat berkelebat dalam benaknya :
“Aku tak boleh bicara, aku masih belum tahu Put-lo sianseng adalah seorang yang dapat dipercaya atau tidak, andaikata ucapannya hanya merupakan suatu jebakan
bukankah berabe? keadaan suhu pada saat ini sudah cacad, lemah dan keadaannya tak jauh berbeda dengan msnusia biasa aku harus bersikap lebih ber-hati2,"
Berpikir sampai disini diapun lantas ber kata:
"Bagaimana kalau kuhantar engkau sehabis kulaksanakan tugasku? tempat itu sukar ditemukan!”
"Oooh! engkau kuatirkan keselamatan gurumu, engkau tak percaya dengan kepribadianku? haahh haahh haahh.. untuk mewujudkan rasa baktimu aku ingin turuti keinginanmu, tugas apa sih yang hendak kau lakukan?”
"Mencari pemilik benteng maut dan adu kepandaian dengan dirinya untuk memenuhi cita2nya ini guruku telah mengasingkan diri dan berlatih tekun selama empat puluh tahun lamanya!"
"Apa? engkau hendak adu kepandaian dengan mahluk aneh itu? gila.. sudah kau pikir masak2 tindakanmu itu?”
"Apa? mahluk aneh kau maksudkan?" seru Han Siong Kie dengan psrasaan agak tergerak.
"Benar dia adalah mahluk aneh dikolong langit"
"Kenapa tidak disebut saja iblis keji nomor satu dikolong langit?" sela sang pemuda Put to sianseng menggeleng.
"Dia cuma tabiatnya dalam kenyataan sama sekali tidak keji"
"Tindak tanduk tengkorak maut membawa dunia persilatan mendekati jurang kehancuran, setiap orang diliputi perasaan ngeri dan takut se akan2 menghadapi hari kiamat, darah membanjiri permukaan bumi mayat bergelimpangan di mana2, apakah perbuatan ini tidak termasuk perbuatan seorang iblis keji?"
"Apa? tengkorak maut??"
"Benar lambang tunggal dari pemilik benteng maut"
"Sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah muncul dalam dunia persilatan, kali inipun baru beberapa hari turun gunung karena itu banyak persoalan yang tidak kuketahui benarkah telah terjadi peristiwa berdarah seperti itu?"
"Betul? setiap orang persilatan tentu akan berubah muka jika membicarakan persoalan tentang tengkorak maut"
"Jadi makhluk aneh itu berani menggunakan tengkorak maut sebagai lambangnya untuk melakukan pembantaian secara menggila? "
"Benar dan beberapa waktu belakangan ini ia telah dua kali munculkan diri??"
"Tentang persoalan ini aku pasti akan lakukan penyelidikan duduknya perkara jadi jelas Nah sekarang marilah kita bicara pada pokok pembicaraan semula, apa hubunganmu dengan pemilik dari pesanggrahan Tong to siau cu ini?"
Han Siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir sebentar kemudian diambilnya keputusan untuk tidak menjawab sejujurnya ia menjawab.
"Seorang sahabat karibku yang bernama Han Siong Kie pernah menerima budi pertolongan dari Go siau Bi pemilik pesanggrahan ini, karena sahabatku telah meninggal maka aku mewakili sahabatku itu untuk membalas budi kebaikan ini"
"Ehmmm rasa setia kawanmu patut dipuji, tapi tahukah engkau apa sebabnya pihak perkumpulan Thian che kau berusaha membinasakan Go Yu Toe ketua dari perkumpulan Pat gi pang"
"Aku dengar katanya peristiwa berdarah itu berlangsung karena Go Yu Toe tak sudi menghadiri upacara ulang tahun dari ketua perkumpulan Thian cbe-kau?"
"Keliru, itu cuma alasan mereka yang sengaja di buat2" sahut Put to sianseng dengan cepat.
Han Siong Kie terperangah mendengar jawaban tersebut. "Lalu apa sebabnya yang utama?" ia bertanya.
Put to sianseng menghela napas panjang lalu dengan suara berat ia bertanya:
"Peristiwa itu terjadi karena sebuah benda mustika dunia persilatan-.."
"Benda mustika dunia persilatan ? benda mustika apakah itu? aku kok belum pernah mendengar?? "
"Aaaai... benda mustika itu adalah sejilid kitab pusaka ilmu silat yang dinamakan Thian tok pit liok.
"ooooh... kitab pusaka Thian tok pit liok" ulang Han Siong Kie dengan perasaan kaget bercampur tercengang.
"Benar, engkau pernah dengar nama kitab itu??" Han Siong Kie mengangguk.
"Sebenarnya apa saja isi kitab pusaka itu? apakab loocianpwee mengerti???"
"Selain ilmu silat yang maha sakti, terdapat pula ilmu menyaru muka yang amat sempurna"
"Ooooh kalau toh ketua perkumpulan pat gi-pang memiliki kitab pusaka selihay itu, bukankah ilmu silat yang dimilikinya sudah mencapai puncak kesempurnaan? kenapa ia bisa dibunuh oleh seorang tongcu dari perkumpulan Thian che-kau? bukankah kejadian ini aneh sekali?"
"Yaa kalau kalau kitab pusaka itu benar2 dimiliki olehnya tentu saja urusan akan beres, apa lacur kitab itu justru tak pernah dimiliki olehnya"
"Lalu berdasarkan alasan apa ketua perkumpulan Thian che kau hendak merampas benda mustika itu dari tangannya?
"Kakeknya pernah memiliki kitab pusaka itu hanya saja kitab itu tak pernah diwariskan kepada keturunannya atau dengan perkataan lain ketua perkumpulan Thian che kau telah salah taksir"
Makin mendengar kisah itu Han Siong Kie merasa semakin keheranan- bukankah Put to sianseng sudah puluhan tahun lamanya tak pernah muncul dalam dunia persilatan, darimana dia bisa tahu seluk beluk duduknya persoalan ini sehingga demikian jelasnya? Karena rasa ingin tahu dan keheranan dia pun bertanya:
"Locianpwee, darimana engkau bisa tahu duduknya persoalan ini hingga begitu jelas?" Put lo sianseng tertawa tawa.
"Kalau dibicarakan mungkin malah membingungkan hatimu, anggap saja kejadian ini hanya suatu kebetulan saja"
Han Siong Kie membungkam setelah orang lain tak mau bicara, tentu saja diapun tak dapat bertanya lebih jauh, sambil memberi hormat segera ujarnya: "Locianpwee, kalau engkau tak ada urusan lagi, aku hendak mohon diri lebih dahulu"
"Jadi engkau tetap akan akan berangkat kebenteng maut?"
"Benar, sampai ini hari masih tinggal waktu selama delapan hari saja, aku harus segera menyelesaikan tugasku dan kembali untuk memberi kabar kepada guruku"
"Baik, kalau begitu berangkatlah lebih dahulu memang sayang pesanggrahan Teng too siau cu terbakar oleh karena kedatanganku yang agak terlambat, tapi aku merasa amat berterima kasih kepadamu karena engkau telah mewakili aku untuk menyingkirkan badut-badut dan manusia kurcaci itu dari muka bumi... sebelum engkau berangkat kebenteng maut, aku harap engkau bersedia mendengarkan nasehatku"
"Harap loocianpwee memberi nasehat"
"Lebih baik temuilah pemilik benteng maut dengan wajah aslimu dari pada terjadi hal2 yang tak diinginkan, makhluk aneh itu benar2 seorang manusia yang sangat aneh sekali.
"Muka asli...." dengan hati terkesiap Han Siong Kie mundur dua langkah kebelakang.
"Benar, lepaskan topeng kulit manusia yang kau kenakan itu dan berangkatlah dengan muka aslimu"
Sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras karena terperanjat, ia tak mengira kalau Put lo sianseng bisa mengetahui jika ia mengenakan topeng kulit manusia untuk menutupi wajah aslinya, ketajaman mata semacam ini benar2 mengerikan sekali sebab dia yang sudah bergaul selama beberapa hari dengan Mo tiong ci mo pun bisa mengelabuhi mata gurunya, tak nyana jago tua tersebut bisa menebak jitu dalam sekali pandangan-Tanpa sadar dengan perasaan tak puas ia menegur:
"Locianpwee, ketajaman matamu memang luar biasa mengagumkan, tapi bagaimana caranya engkau mengetahui .."
"Gampang sekali untuk mengetahui penyamaranmu itu, dari nada ucapanmu aku bisa tahu kalau engkau memang adalah seorang manusia yang angkuh dan ingin menang sendiri tapi wajahmu kaku dan sama sekali tak berperasaan se-akan2 orang gobiok, padahal biji matamu jeli dan lincah, dari situlah aku lantas ambil kesimpulan kalau engkau mengenakan topeng untuk menutupi wajah aslimu."
"Cianpwee memang lihay, aku merasa amat kagum " akhirnya pemuda itu mengakui kelihayan lawan.
Setelah memberi hormat berangkatlah pemuda itu meneruskan perjalanan.
Dua jam kemudian Benteng Maut yang penuh rahasia, seram dan mengerikan itu sudah nampak dari kejauhan.
-0000000-
BAB 25
GULUNGAN ombak sungai kejar mengejar dan memecah ditepian batu karang yang berserakan disana sini.
Diatas Seluruh tebing batu karang yang kokoh, bertenggerlah Sebuah bangunan kuno yang antik, kokoh dan diliputi kegelapan, itulah Benteng Maut yang disegani dan ditakuti Setiap umat persilatan.
Dengan darah mendidih dan rasa dendam yang ber-kobar2 Han Siong Kie berdiri di tepi sungai memandang bangunan megah di hadapannya tanpa berkedip. pemilik benteng itu bukan lain adalah musuh besar yang telah membantai seluruh anggota keluarganya dan ini hari ia dengan kedudukan sebagai ahli waris dari Mo tiong Ci mo datang untuk mengadakan adu kepandaian-
Ia telah berjanji kepada gurunya untuk tidak membalas dendam dengan kepandaian sakti ajarannya, karena itu terhadap masalah balas dendam ia masih mempunyai pandangan yang samar ....
Sekarang ia sedang mempertimbangkan satu masalah, haruskah ia jumpai pemilik benteng maut dengan wajah asli atau wajah samaran??
Tidak akhirnya sianak muda itu mengambil keputusan, ia bertekad untuk masuk ke dalam benteng dengan wajahnya sebagai malaikat penyakitan, ia akan muncul dengan wajah aslinya jika hendak membalas dendam nanti.
orang yang kehilangan sukma pernah menganjurkan kepadanya agar menyambangi benteng maut dan menceritakan asal usulnya, tapi kenapa??
sampai sekarang ia tak dapat menjawab pertanyaan itu, dan barusan put to sianseng pun menganjurkan kepadanya agar berkunjung kebenteng itu dengan wajah aslinya, lalu kenapa ?? soal inipun ia tak dapat menjawab.
Tapi.. ia telah ambil keputusan untuk melaksanakan tugas yang dibebankan gurunya dengan muka yang palsu.
Apakah ilmu jari Tong kim ci dapat menundukkan ilmu kebal kim koan sin kang yang dimiliki lawan? hingga kini ia tak berani meramaikan, dan apakah ilmu pukulan Mo mo ciang hoat dapat mengalahkan jurus serangan lawan, ia sendiripun tak tahu.
Pemuda itu berpikir, andaikata ia tak mampu mengalahkan pihak lawan, bagaimana caranya untuk memberi jawaban dihadapan gurunya?
Mo tiong ci-mo sudah empat puluh tahun lamanya mengasingkan diri untuk melatih diri, jika ia kalah mampukah orang tua itu menahan rasa sesal serta pukulan batin yang sangat hebat itu?
Tidak. kekalahannya hanya bisa dikatakan sekali, keputus-asaan bagi gurunya, sebab rasanya mempunyai kesempatan hidup selama sepuluh hari saja, dia akan mati dengan hati menyesal dan kecewa..
Berpikir sampai disitu, pemuda tersebut segera mengepos tenaga, rasa ingin menang dan harus menang timbul dalam benaknya, ia berusaha menguasahi golakan batinnya yang ber kobar2..
seperminum teh kemudian, per-lahan2 ia baru melangkah keatas jembatan batu, ketika tiba didepan pintu gerbang, rasa dendam, harapan dan ingin menang berkecamuk makin keras, dan kali ini bertambah pula dengan rasa ngeri seram yang amat tebal.
Put-lo sianseng selalu menyebut pemilik benteng maut bagai makhluk aneh, makhluk aneh macam apakah dia?
Tengkorak maut berwarna merah darah yang tergantung menyeringai diatas pintu gerbang membuat darah panas Han Siong Kie kembali mendidih, ia teringat kembali dengan lambang tengkorak maut yang ditinggaikan diatas dinding perkampungan Han oleh sang pembunuh selesai melakukan pembantaian.
Lambang itu menandakan kekejaman kesadisan, darah yang mengalir mayat yang bertumpuk serta pembantaian brutal..
Tiba2 satu ingatan lagi berkelebat dalam benaknya, ia teringat kembali dengan janjinya bersama malaikat dingin Mo siu Ing, jika ia berhasil menemukan kabar berita tentang malaikat panas Kosu Ki maka dia akan menangkan seluruh kitab pusaka tangan Buddha dan dapat melatih ilmu si mi sinkang yang maha sakti itu kemudian membalas dendam dan menghancurkan benteng maut.
Begitu kesengsem dengan lamunannya, hampir saja Han Siong Kie lupa kalau ia sedang berada ditempat bahaya.
Dalam pada itu dari atas daratan ditepi sungai dari tempat yang tersembunyi muncullah berpuluh2 pasang mata yang mengawasi setiap gerak gerik dari Han Siong Kie dengan pandangan tak berkedip. sorot mata mereka memancarkan sinar kaget, heran, tercengang dan dendam..
Nun jauh dari bukit karang itu terdapat pula sepasang mata yang sedang mengintai gerak geriknya, hanya saja sorot mata orang itu penuh mengandung rasa kuatir dan penuh perhatian-
Tentu saja Han Siong Kie tidak merasakan kesemuanya itu, ia tak sadar kalau gerak geriknya dibawah pengawasan orang lain.
Bagaikan sebuah patung area sianak muda itu berdiri kaku didepan pintu benteng.
seperminum teh kemudian Han Siong Kie baru tarik kembali lamunannya dan kembali dalam kenyataan. .
Pemuda itu segera menghimpun hawa murninya, seperti apa yang dipesan oleh Mo tiong ci mo dengan suara lantang ia bersenandung nyaring:
"Satu iblis muncul satu iblis lenyap. iblis diantara iblis bertemu dengan langit sakti"
Terhadap isi dari senandung tersebut Han Siong Kie sendiripun agak kurang paham, ia cuma menduga sebutan "langit sakti" kemungkinan besar adalah menggantikan nama pemilik benteng maut atau mungkin juga mempunyai maksud tertentu, namun ia tak sudi untuk putar otak memikirkan persoalan itu.
Setelah bersenandung satu kali dia ulangi untuk kedua kalinya:.. tiga kali.
suara gemericingan yang amat mencekat hati bergema memekakkan kesunyian pintu benteng maut yang misterius per-lahan2 bergeser kearah samping dan muncullah sebuah lubang gelap yang dalam dan sukar ditembusi dengan pandangan mata.
Han Siong Kie merasakan jantungnya bergetar keras, ia hendak menghadapi suatu keadaan yang sukar dibayangkan dengan kata2
Meskipun tenaga dalamnya amat sempurna, wataknya angkuh dan ketus tapi sekarang musuh tangguh yang harus dihadapi olehnya adalah Tengkorak maut yang mendatangkan kengerian serta keseraman bagi umat persilatan selama puluhan tahun belakangan ini, hal tersebut membuat pemuda itu tak mampu menguasahi ketegangan, kengerian serta keseraman yang menyelimuti perasaannya.
Benteng maut dianggap sementara orang sebagai istana kematian tempat tingal malaikat elmaut dan sekarang dia hendak memasuki benteng iblis yang selama puluhan tahun tak seorang umat persilatanpun berani mendekat atau memasukinya.
Ia rasakan napasnya jadi sesak, sekujur badannya bergetar keras dan tanpa sadar bulu kuduknya pada bangun berdiri
Ia segera memikirkan tujuan dari kedatangannya sekarang, ia datang untuk menantang pemilik benteng maut sedang orang yang hendak ditantangnya ini bukan lain adalah musuh besar pembunuh keluarganya.
Maka sambil membusungkan dada berjalanlah sianak muda itu memasuki pintu benteng.
Segulung angin dingin berhembus lewat dari balik lorong yang dingin membuat ia bersin dan merinding.
Diam2 pemuda itu berpikir didalam hatinya, benarkah pertarungannya kali ini adalah suatu tantangan terhadap malaikat elmaut.
Dua kali Put to sianseng memperingatkan bahwa pemilik benteng maut adalah seorang makhluk aneh, hal ini menunjukkan bahwa Put to sianseng merupakan salah seorang di antara beberapa orang yang mengetahui latar belakang mengenai pemilik benteng maut tersebut.
sebelum ia berangkat gurunya Mo tiong ci mopun pernah berpesan kepadanya:
".... engkau tak boleh melukai dirinya, pertarungan harus diakhiri bila telah saling menutul... engkau tak boleh menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam.."
Mungkinkah gurunya sudah merasa yakin bahwa ilmu jari Tong kim-ci nya mampu mengalahkan ilmu kim kong milik lawan?
sampai dimanakah kedahsyatan ilmu jari Tong kim ci tersebut, sewaktu berada ditengah jalan ia telah menjajalnya dan kenyataan membuktikan bahwa ilmu tersebut benar-benar merupakan suatu kepandaian ampuh yang maha dahsyat.
Tapi ingatan lain berkelebat dalam benaknya, menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan ilmu silat yang dimiliki pemilik benteng maut sukar dilukiskan dengan kata2, berita itu sangat mengurangi kepercayaannya pada kekuatan sendiri
Empat puluh tahun bukan suatu jangka waktu yang pendek, siapa tahu kalau ilmu silat yang dimiliki pemilik benteng maut telah peroleh kemajuan yang pesat??
Lorong dibalik pintu gerbang terdiri dari lapisan batu cadas yang telah ditumbuhi lumut hijau, hawa lembab dan suasana yang gelap gulita menambah keseraman disitu.
Baru saja Han Siong Kie melangkahkan kakinya kedalam pintu benteng, serentetan suara yang tua dan seram bergema dari balik bangunan kuno tersebut. . "Hey bocah, hentikan langkahmu ?"
Han Song Kie terkesiap dan tanpa sadar hentikan langkahnya, ia dapat menangkap kalau ucapan tersebut disampaikan dengan ilmu cian li coan im atau menyampaikan suara seribu lie, suatu kepandaian ilmu menyampaikan suara tingkat tinggi. Sementara ia masih termenung, suara itu kembali berkumandang datang:
"Bocah cilik, nyalimu benar2 amat besar berant benar menyaru sebagai Mo tiong ci mo untuk menipu diriku"
Dari perkataan itu tak dapat diragukan lagi bahwasanya orang yang barusan berbicara bukan lain adalah pemilik benteng maut pribadi.
Setelah berhasil menguasahi pergolakan hatinya, Han Siong Kie menghimpun tenaga dalamnya kedalam pusar lalu berseru lantang. "Apakah engkau adalah pemilik benteng ini?"
"Benar ada apa?"
Han Siong Kie seketika merasakan darah panas dalam dadanya mendidih, sekarang ia baru yakin bahwa orang yang sedang diajak bicara bukan lain adalah musuh besar pembantai keluarganya.
Tapi bocah muda itu berusaha untuk menahan sabar, maksud tujuan dari kedatangannya kali ini adalah untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan Mo tiong ci mo kepadanya. Dengan suara dingin dan ketus ia segera menegur:
"Poocu berdasarkan apa engkau menuduh aku menyaru sebagai Mo tiong ci mo?"
"Heeehhh heeehhh heeehhh tahukah engkau akan peraturan dari benteng ku ini?"
"Peraturan soal apa??"
"Barang siapa berani ngintip benteng maut dia akan dijatuhi hukuman mati."
"Dari mana engkau bisa menduga aku mencuri lihat bentengmu??"
"Mengapa engkau berani menyaru sebagai iblis diantara iblis untuk memasuki..."
Han Siong Kie segera mendengus dingin.
"Hmm benarkah Begitu?" ejeknya.
Pemilik benteng maut tertawa seram.
"Heeehh heeehh heeeehhh bocah cilik, aku ingin tahu darimana engkau bisa tahu akan kode rahasia yang telah kujanjikan dengan iblis diantara iblis pada empat puluh tahun berselang??"
"Hmmpoocu, kenapa engkau tak menduga kalau aku datang sedang melaksanakan perintah seseorang??"
"Melaksanakan perintah siapa??"
"Perintah guruku"
"Siapakah gurumu??"
"Iblis diantara iblis."
"Apa? bocah cilik, kau jangan membohong, masa engkau adalah ahli waris dari iblis diantara iblis?"
"Benar, engkau tak percaya?"
"Kalau begitu dapat utarakan maksud tujuan dari kedatanganmu ini..."
Laksana kilat Han Siong Kie putar otaknya, ia teringat akan anjuran dari Manusia yang kehilangan sukma, dua kali perempuan itu anjurkan dirinya agar berkunjung kebenteng maut serta mengutarakan asal usulnya kenapa ia anjurkan dirinya berbuat begitu?
Andaikata ia hendak turuti anjuran tersebut, maka sekarang juga anjuran itu bisa dilaksanakan tapi setelah berpikir lebih jauh akhirnya dia ambil keputusan untuk tidak berbicara.
Tentu saja ia merasa bahwa perbuatannya yang menceriterakan asal usul sendiri dihadapan musuh besarnya adalah suatu perbuatan yang tolol, apalagi pihak lawan adalah iblis nomor satu dikolong langit, bagaimana akibatnya tentu saja siapapun dapat menduga. Maka dengan suara dingin ia berkata:
"Selama empat puluh tahun lamanya guruku tak pernah melupakan kekalahan yang dideritanya dimasa silam, dan sekarang aku hendak menuntut balas atas kekalahannya itu"
"Haahh...haahh..haahh... dalam suatu adu kepandaian, siapa menang siapa kalah sudah menjadi suatu kejadian yang jamak. apalagi kemenanganku diperoleh dengan andalkan kepandaian yang asli, heehh haahh haahh.., ia benar2 seorang yang berperasaan halus, bagaimana..? apakah ia tak mau datang sendiri untuk meneruskan pertarungan tempo hari?"
"Guruku tak mungkin akan datang kemari"
"Kenapa? tanya pemilik benteng maut keheranan.
"Jiwanya sudah hampir melayang"
"Apa? jiwanya sudah hampir melayang?"
"Benar, untuk melampiaskan rasa dongkolnya karena kekalahan tersebut, ia masih ada waktu selama beberapa hari untuk menantikan jawabanku"
Suaranya yang menyeramkan kian lama kian merendah dan memberat, seakan2 ucapan tersebut bukan muncul dari mulut seorang manusia hidup.
Dengan nada sedih dan bertambah lirih ia berkata :
"Aku tak paham dengan maksud ucapan mu itu!"
“Guruku sedang menanti kabar dariku, empat puluh tahun komudian ilmu silat siapakah yang jauh lebih unggul!"
"Jadi makscdmu..!”
“Aku datang mewakili dirimu untuk memenuhi janjinya pada empat puluh tahun berselang, aku hendak adu kepandaian dengan diri poo-cu dan mari kita buktikan kepandaian silat siapakah yang jauh lebih lihay!"
“Oooh ! jadi engkau datang mewakili dirinya untuk memenuhi janji tersebut?”
"Dugaanmu tepat sekali!"
“Dan engkau akan menantang aku uttuk berduel?”
“Tepat ucapanmu!"
“Haaah..haaah.,haaaah.." gelakan tertawa yang keras bagaikan gulungan ombak di tengah samudra bergema susul menyusul, suaranya keras, nyaring dan amat memekikkan telinga, membuat pikiran orang jadi kalut dan hatinya kacaau.
Suara tertawa iiu penuh mengandung hinan rasa pandang rendah dan sikap yang sombong.
Gelak tertawa itu kian lama kian meninggi, golakan darah dalam dada Han Siong Kie pun ikut bergolak naik turun tiada hentinya, ia sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan. buru2 hawa murninya disalurkan keseluruh badan guna melawan pengaruh suara tertawa yang tak sedap didengar itu..
Menanti gelak tertawa itu sirap, seluruh jidat dan tubuhnva telah basah oleh air keringat, ia mulai sadar bahwa tenaga dalam yang dimiiiki pemilik benteng maut benar2 sukar dijajaki.
Suara dari pemilik benteng maut berkumandang kembali, kali ini suaranya penuh mengandung rasa kaget dan terkesiap.
"Bocah cilik, sungguh tak nyana engkau sanggup menerima gelak tertawa ombak menggulungku yang lihay, engkau memang hebat !"
Han Siong Kie makin terkesiap, bukankah pihak lawan sama sekali tak bergerak dari tempatnya semula? darimana ia bisa tahu kalau isi perutnya sama sekali tidak terluka oleh pengaruh gelak tertawa itu? apakah ia memiliki ilmu memandang jauh yang l1bay?
Meskipuo hatinya tercekat dan jantungnya berdebar keras, namun diluaran ia tetap bersikap tenang.
“Aku sama sekali tidak kenal dengan apa yang dimaksudkan sebagai gelak tertawa ombak menggulung, aku cuma heran apa sebabnya poocu tertawa tergelak?"
"Ternyata iblis diantara iblis memerintahkan seorang bocah yang masih bau tetek untuk memenuhi janjinya, ia benar-benar bermimpi di siang hari bolong. suatu perbuatan yang menggelikan.."
Mendengar ucapan tersebut hawa amarah segera berkobar dalam benak Han Siong Kie. ia tertawa dtngin.
"Poocu, engkau tidak msrasa bahwa ucapanmu itu terlalu sombong dan tekebur?”
"Tekebur? engkau mengatakan aku tekebur? haahh haahh..haahh.. bocah! nyalimu yang besar sangat mengagumkan hatiku, di samping itu memandang diatas wajah iblis diantara iblis, engkau boleh segera tinggalkan tempat ini, karena engkau aku bersedia melanggar pantanganku yang telah kupegang teguh selama puluhan tahun lamaya.”
"Tak usah, poocu tak perlu melanggar pantanganmu sendiri!" tukas sang pemuda ketus.
“Oooh...lalu apa yang hendak kau lakukan?”
“Aku tak ingin mengabaikan perintah suhuku.”
“Jadi engkau bersikeras akan menantangku untuk berduel?”
“Itulah tujuan dari kedatanganku.”
“Heeeh heeehh heeehhh engkau benar2 tak tahu diri.”
“Tahu diri atau tidak, itu urusan pribadiku”
“Bocab cilik yang masih ingusan, engkau masih belum pantas untuk berduel melawan
Aku!”
Han Siong Kie semakin gusar, keberaniannya makin memuncak, tiba2 hardiknya:
"Jadi.. poocu hendak mengingkari janji?"
"Mengingkari janji apa? aku tak pernah m;ngikat janji dengan engkau?"
“Kalau memang begitu kenapa enggkau tak berani menerima tantanganku untuk diajak berduel?”
"Menantaag untuk berduel? heeehh heeehh heeebbh kalau iblis diantara iblis datang sendiri, mungkin saja aku bisa mempertimbangkan kembali...."
“Aku datang mewakili guruku, apa bedanya dengan kehadiran ia pribadi?”
“Tak usah banyak bicara lagi, ayoh segera tinggalkan tempat ini ! Mumpung aku masih belum berubah pikiran, kalau tidak ....”
“Kalau tidak kenapa?”
“Engkau akan menyesal untuk selamanya.”
Kegusaran yang berkobar dalam benak Han Siong Kie tak dapat dikendalikan lagi. ia lupa kalau musuhnya amat lihay, segera bentaknya dengan tegas.
“Aku tak sudi menuruti kemauanmu kau mau apa?”
"Tak mau? heh heeeehh heeehhh selama hidup baru pertama kali ini kudengar ada orang berani berbicara sekasar itu dengan diriku!"
"Hmm ! Siapa tahu kalau lebih dari itu” jengek Han Siong Kie dengan bangga.
"Bocah keparat engkau benar2 tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi rupanya engkau sudah bosan hidup dikolong langit?”
"Hmm! jadi engkau tak berani menerima tantangan untuk berduel? tak nyana pemilik benteng maut yang tersohor tak lebih hanya seorang manusia pengecut!”
"Heehh...heehh..heeebh... bukan pengecut atau tidak yang pokok engkau masih belum pantas untuk berduel melawan aku!"
"Pantas atau tidak apa salahnya kalau poo-cu coba dulu?"
"Bocah keparat kalau engkau memang sudah bosan hidup ayo masuklah kedalam, aku menantikan kedatanganmu disini!"
Han Siong Kie mendengus dingin tanpa ragu2 ia berjalan masuk kedalam istana tersebut.
Pantulaa suara langkah kakinya dalam lorong batu yaog kosong menimbuikan suara yang menyeramkan seakan-akan ada beberapa orang yang jalan bersama.
Setelab melewati lorong batu itu dua kerat bangunan batu tsrbentang didepan mata, semua bangunan terbuat dari lapisan batu karang yang gelap. bangunan itu tak ada jendela, yang ada cuma sebuah pintu besi yang hitam dan telah berkarat, pintu itu tertutup rapat dan tak dapat melihat apa isinya.
Lumut hijau tumbuh dengan suburnya diatas bangunan rumah batu itu, sarang laba2 tergantung disana sini.
Udaranya lembab dan busuk mendatangkan rasa muak bagi siapapun yang mencium, lapisan batu diatas tanah sebagian besar telah tertutup oleh rumput ilalang.
Walaupun waktu menunjukkan tengah hari, namun suasana dalam benteng maut tetap gelap gulita bagaikan berada dineraka.
Han Siong Kie merasakan jantungnya yang berdebar, berdetak makin keras, ia tak tahu pemilik benteng maut mengandung maksud2 tertentu terhadap dirinya. ?
sunyi.. sepi.. keheningan yang mencekam bagaikan berada dikuburan menyelimuti seluruh benteng.
Han Siong Kie merasa dirinya seakan2 sedang memasuki sebuah kuburan kuno yang besar dan gelap. sedikitpun tak ada hawa manusia hidup..
Mendadak.. sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dihadapan mukanya.
Dengan cekatan Han Siong Kit meng hentikan gerakan tubuhnya, dengan cepat sorot matanya dialihkan kearah orang itu.
Mendadak bulu kuduknya pada bangun berdiri, dengan badan merinding tanpa sadar ia mundur dua langkah ke belakang, tangannya disilangkan didepan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
sesosok makhluk aneh yang sukar dilihat paras mukanya, dengan rambut panjang yang terurai menutupi seluruh kepalanya, selangkah demi selangkah maju mendekat. Manusiakah? atau setankah makhluk aneh itu?
Jelas dia adalah manusia karena terdengar suara langkah kakinya yang berat.
"Berhenti" bocah muda itu segera membentak keras.
Makhluk aneh itu tetap tidak menggubris, selangkah demi selangkah ia lanjutkan perjalanannya maju kedepan.
Satu ingatan dengan cepat berkelebat daiam benak pemuda itu,jangan2 makhluk aneh ini adalah..
Hatinya makin tegang dengan suara berat ia segera menegur: "Engkau adalah pemilik benteng maut?."
Makhluk aneh itu tidak menjawab, ia maju kedepan dengan langkah lambat.
Han Siong Kie mulai memghimpun segenap tenaganya dalam telapak ia siap melancarkan serangan apabila keadaan terlalu memaksa, sekali lagi tegurnya:
"Siapa engkau?"
Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong.
Terhadap bentakan atau pun teguran dari Han Siong Kie itu makhluk aneh tersebut sama sekali tidak menggubris, kembali badannya menerjang kedepan.
Kegusaran yang berkobar dalam dada Han Siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sepasang telapaknya laksana kilat melancarkan serangan kedepan, serangan tersebut di lancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat.
Makhluk aneh itu segera mengegos kesamping dan membentuk gerakan setengah lingkaran keatas permukaan dengan gerakan yang lincah ia meloloskan diri daya serangan tersebut.
Dari kelihaian yang dilakukan orang itu, semakin besar membuktikan bahwa makhluk aneh itu adalah manusia yang memiliki ilmu silat sangat lihay, tanpa sadar Han Siong Kie melanjurkan lidahnya.
Dengan menggunakan tangannya yang kurus, makhluk aneh itu menyingkap rambutnya yang kusut dan menutupi wajahnya itu, sepasang biji matanya yang tajam dan memancarkan sinar berkilauan melirik sekejap kearah Han Siong Kie, kemudian ber kaok2 aneh.
Suaranya aneh dan menyeramkan, tidak mirip tertawa tidak mirip pula suara menangis, membuat bulu kuduk semua orang tanpa terasa pada bangun berdiri
Dengan tar manggu2 Han Siong Kie memandang makhluk aneh yang tiba2 putar badan serta mengundurkan diri dari hadapannya, dalam sekejap mata manusia aneh itu sudah lenyap dari pandangan, ia merasakan suatu perasaan yang tak sedap.
Terutama pandangan dari manusia aneh itu, sorot matanya penuh memancarkan sinar dingin, seram dan menggidikkan, membuat perasaan hatinya tak tenang.
Beberapa saat kemud ian ia melanjutkan kembali perjalanannya menuju kelorong sempit yang terbentang di antara bangunan rumah berbatu itu.
Tujuh delapan langkah baru saja lewat dua sosok bayangan manusia laksana kilat tiba2 menerjang keluar dari kedua belah sisinya, desiran angin tajam men-deru2 dan serasa menyayat badan.
Han Siong Kie merasa amat terperanjat, dia ayunkan telapaknya melancarkan dua buah pukulan yang amat dahsyat menyongsong datangnya ancaman dari kiri maupun kanan itu.
Benturan keras menggelegar diangkasa, dua sosok bayangan manusia itu terpental dan berhenti ditengah jalan.
sekarang Han Siong Kie dapat melihat jelas wajah dari dua sosok bayangan manusia itu, ternyata mereka adalah setan2 jelek yang bermulut lebar dan bergigi taring, begitu menyeramkan wajahnya hingga membuat bocah muda itu se-akan2 kehilangan sukma.
Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, setelah tertahan oleh pukulan lawan, dua sosok bayangan manusia berwajah setan itu melancarkan tubrukan kembali kearah depan, cakar setannya yang tajam langsung menyerang bocah muda itu habis2an..
Han Siong Kie amat terkesiap, buru2 ia keluarkan ilmu pukulan Mo-mo.ciang hoat untuk mempertahankan diri.
Dua orang setan jelek itu menyerang terus dengan gerakan2 yang nekad, mereka tak ambil peduli sampai dimana ketatnya pertahanan dari pemuda itu, terjangan demi terjangan dilancarkan terus dengan hebatnya.
"Blamm Blamm" dua benturan nyaring menggelegar diangkasa memecahkan kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu.
Han Siong Kie merasakan tulang telapaknya amat sakit seperti maupatah, ternyata pihak lawan memiliki tubuh yang keras bagaikan baja, baik pukulan maupun serangannya sama sekali gagal untuk merobohkan ke dua orang lawannya itu.
Dengan perasaan hati yang tercekat dan kaget, serta merta ia melayang mundursejauh tiga depa ke belakang dengan gerakannya yang tiba2 itu maka serangan cakar setan dari kedua orang setan itupun mengena disasaran yang kosong.
Ingatan kedua belum sempat berkelebat lewat, kedua orang setan jelek itu sudah saiing bertukar tempat dan sekali lagi melancarkan terjangan maut.
Kecepatan gerakannya, keanehan dari serangannya sangat jarang ditemui dikolong langit.
Kesalahan bukan terletak pada ketidak becusan Han Siong Kie, andaikata kedudukannya diganti dengan seorang jago lihay persilatan lainnya, niscaya orang itu sudah akan roboh ditangan sepasang manusia setan itupada serangannya yang pertama.
Belum sempat pemuda itu berdiri tegak, sekali lagi sepasang manusia setan itu melancarkan terjangan maut, dalam keadaan terburu napsu cepat2 dia himpun tenaganya hingga sebesar sepuluh bagian, secara terpisah didorongnya satu kekiri yang lain ke kanan-
"Blaamm.. benturan dahsyat kembali bergeletar diangkasa, dalam benturan itu ke empat buah cakar setan dari sepasang setan jelek itu tertahan kurang lebih satu depa dari tubuh Han Siong Kie oleh getaran tenaga dalamnya, kedua belah pihak sama-sama berdiri kaku dan siapapun tidak melakukan pergerakan lagi.
Diam2 sianak muda itu mengucurkan keringat dingin saking terperanjatnya, ia hendak tarik kembali telapaknya untuk mengganti jurus, tapi ia sadar jika telapaknya ditarik kembali niscaya kedua orang setan jelek itu akan memanfaatkan kesempatan itu se-baik2 nya untuk mencengkeram tubuhnya.
Karena itulah terpaksa ia kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk bertahan sedapat mungkin.
Sepasang setan jelek itu menerjang makin hebat daya tekanan yang terpancar keluar berat bagaikan be ribu2 kati baja.
Han Siong Kie mengerahkan segenap kekuatannya untuk melawan serangan musuh di samping itu diapun mulai mempertimbangkan situasi disekelilingnya.
suatu ketika mendadak ia temukan sesuatu, ternyata dua orang setan jelek yang sedang melancarkan serangan kearahnya itu bukan lain adalah setan2an yang terbuat dari baja murni, tak aneh kalau kekuatan daya tekanannya begitu hebat bagaikan bukit kecil.
Setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, keberaniannya semakin memuncak tapi daya tekanan yang terpancar keluar dari manusia besi itu kian lama sudah kian bertambah hebat.
pada saat itulah gelak tertawa pemilik benteng maut bergema datang disusul ia berseru.
"Haahh... haaahh... haaahh keparat cilik, akan kulihat engkau bisa bertahan sampai berapa lama kali ini aku akan memberi kesempatan kepadamu jika engkau bersedia undurkan diri dari sini maka aku tak akan mencelakai engkau lagi, katakan saja kepada gurumu kalau pemilik benteng maut masih sehat walafiat seperti sedia kala"
"Terima kasih atas maksud baikmu"
"Oooh jadi engkau sudah bertekad untuk tidak keluar dari benteng maut ini dalam keadaan hidup lagi?"
Han Siong Kie tertawa dingin tiada hentinya.
"Heehh heeehh heeehhh belum tentu begitu, sebelum kulaksanakan tugas yang di bebankan guruku, aku tak nanti akan mengundurkan diri dari sini"
"Kalau memang begitu, andaikata engkau bertemu dengan gurumu dialam baka nanti jangan salahkan kalau aku tak kenal kasihan"
Teringat kembali akan budi kebaikan gurunya yang telah salurkan hawa murni miliknya kedalam tubuhnya, dan teringat pula kalau usia gurunya sudah amat terbatas, timbul kembali semangat yang berkobar dalam dadanya, tiba2 ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya kedalam telapak, kemudian dengan gerakan " menggetar" dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat ia lancarkan suatu tolakan yang amat keras.
Keampuhan dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat ditambah pula dengan dua kali penemuan aneh yang dialami Han Siong Kie membuat tenaga dalam yang dimilikinya saat ini telah mencapai dua ratus tahun hasil latihan, tolakan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga ini benar2 luar biasa sekali.
-ooo0ooo-
“BLAAAMM Blaaamm” dua ledakan keras menggoncangkan seluruh permukaan bumi, sepasang iblis jelek yang terbuat dari baja itu terpental kesamping, alat kontrol yang mengendalikan kedua buah boneka itu hancur berantakan-
Ditengah percikan bunga api dan gugurnya pasir dan debu, dua buah dinding bangunan rumah tertunduk hingga roboh tak karuan-
Ditengah suara gemuruh yang amat keras terdengar dua jeritan ngeri bergema memenuhi seluruh ruangan-
Han Siong Kie merasa amat terperanjat mungkinkah dibalik ruangan batu itu terdapat jago silat yang disekap disitu??
sorot matanya segera dialihkan kearah dua deret bangunan batu yang terbentang didepan mata, ia lihat pintu besi tertutup rapat mungkinkah dibalik setiap pintu besi itu tersekap jago persilatan? mungkinkah mereka adalah jago2 persilatan yang melakukan penyelidikan terhadap benteng maut dan lenyap tak berbekas itu? atau mungkin mereka terdiri dari anak buah benteng maut??
"Heehh heeehh heeehhh keparat cilik, kau memang sangat hebat" seruan dari pemilik benteng maut bergema diangkasa, rupanya engkau lebih unggul satu tingkat di bandingkan dengan iblis diantara ibis dimasa lampau, tak kusangka engkau mampu menghancurkan sepasang malaikat pelindung benteng ku, meskipun begitu engkau masih belum....."
"Belum kenapa?" tukas sang pemuda cepat.
"Engkau masih belum pantas untuk mengajak aku berduel" Han Siong Kie jadi mendongkol sekali, hingga menggertak gigi rapat2.
Teriaknya dengan nada penasaran:
"Hmm kau anggap dengan andalkan beberapa patah katamu yang tekebur serta beberapa kepingan besi rongsokanmu itu maka aku lantas pecah nyali menyerah kalah dan undurkan diri dari sini??"
"Haahh..haahh..haahh... undurkan diri? engkau tak memiliki kesempatan untuk berbuat demikian lagi, rumah2 batu itu akan menjadi tempat tinggalmu untuk selamanya" Han Siong Kie makin penasaran dalam pikirnya:
"Jangan sombong dulu, lihatlah kelihayanku akan kuobrak abrik sarang kura2mu dan akan kulihat engkau si kura2 akan kabur kemana..??"
sekali enjot badan ia menerjang masuk kedalam lorong tempat yang menembusi rentetan bangunan batu itu, dalam beberapa pusaran saja ia sudah berada ditengah lingkaran bangunan tadi.
Tampaklah bangunan batu berjajar disana sini, lorong besar kecil bersimpang siur tak menentu, meskipun ia sudah berlarian selama seperminum teh lamanya, namun tubuhnya masih tetap berputar2 dalam lingkungan rumah batu tadi.
Lama kelamaan pemuda itu sadar, ia pasti sudah terjebak dalam sebuah barisan "ki bun tin" yang lihay dan ampuh.
Dalam keadaan begini, ia enjotkan badan melayang naik keatas atap bangunan batu itu, sekilas memandang ketempat kejauhan pemuda itu tertegun dan berdiri kaku, hati nya terjelos.
Rupanya yang terlihat sepanjang pandangannya cuma bangunaa batu yang ber-deret2,
tembok benteng telah lenyap bahkan suara gulungan ombak sungai pun sudah tak kedengaran lagi.
Sadarlah pemuda itu bahwa ia terjebak
Ia tak menyangka gerakannya selama ini lari kesana kemari sama sekali tak ada hasilnya, malahan tenaga dalamnya jauh berkurang karena perbuatan tersebut, ia loncat turun dari atap rumah batu dan ditemuinya ia masih berada ditempat semula.
Han Siong Kie jadi mendongkol sekali, dengan muka merah darah karena marah ia membentak keras:
"Huhh. mentang2 seorang pemilik benteng maut, tak tahunya cuma kura2 busuk yang andalkan kelihayan ilmu barisan untuk melindungi keselamatan jiwanya."
"Heeehh heeehh heeehh bocah muda, tak ada gunanya engkau mengonggong seperti anjing, bukankah suhumu iblis diantara iblis belum sempat mewariskan kepandaian semacam itu kepadamu? heehh heeeehhh heeehhh..."
Gelak tertawanya amat sombong dan takebur sekali, membuat Han Siong Kie makin gusar bercampur mendongkol, hampir saja dadanya meledak saking tak tahannya.
Ia sama sekali tak mengira kalau pemilik benteng maut tak mau unjukkan diri untuk menerima tantangannya. tentu saja kejadian ini sama sekali berada diluar dugaan iblis diantara iblis, kalau tidak ia pasti akan memberitahukan rahasia serta cara untuk memasuki benteng maut tersebut.
Bagaikan seekor burung elang yang terkurung kabut tebal, Han Siong Kie menerjang kesana kemari secara membabi buta, walau bagaimanapun juga ia berusaha ternyata usahanya selalu gagal dan ia tak mampu meloloskan diri dari kepungan barisan tersebut.
Tiba2 satu ingatan aneh muncul dari dasar hati kecilnya, ia merasa bahwa benteng maut luasnya cuma beberapa puluh tombak belaka, apa salahnya kalau ia rusak bangunan rumah batu itu? jika bangunan tersebut ambrol bukankah barisan itu dengan sendirinya bakal hancur berantakan?
Teringat akan sistim tersebut tenaga murninya segera dihimpun dalam telapak lalu dengan sepenuh tenaga dibabat kearah bangunan batu yang berada dihadapannya.
Angin pukulan men-deru2 dan dengan dahsyatnya meluncur kedepan, tapi bagaimana hasilnya? se-akan2 menghantam udara kosong sama sekali tiada reaksi apapun yang di temuinya.
Rasa terperanjat yang dialami Han Siong Kie kali ini sukar dilukiskan lagi dengan kata2, barisan tersebut memang luar biasa dan membuat orang sukar untuk menduga mana yang nyata dan mana yang maya.
Dia menerjang maju semakin kedepan dengan tangannya ia meraba bangunan batu itu terasa dingin dan karat sedikitpun tidak palsu.. tapi apa sebabnya pukulan yang dilancarkan dengan begitu dahsyat sama sekali tidak mendatangkan reaksi apapun?
Untuk kedua kalinya ia himpun segenap kekuatan murninya kedalam telapak baru saja ia bersiap sedia melancarkan pukulan dahsyat kearah bangunan rumah batu itu. Mendadak sebuah telapak tangan tahu2 sudah menempel diatas bahunya.
Han Siong Kie amat terperanjat sekujur badannya gemetar keras baru saja dia akan bergerak.
"Jangan bergerak"
Teguran dingin dan ketus yang membuat bati orang bergeridik bergema dari arah belakang, pemuda itu kenal suara itu sebagai suara teguran dari pemilik benteng maut.
"Apa maksudmu berbuat curang?" pemuda itu segera menegur.
"Kau mau takluk tidak??"
"Takluk haaahhh haaahhh haahhh hanya mengandalkan permainan setan yang sama sekali tak ada harganya itu??"
"Oooh.. jadi engkau tidak takluk??"
"Tidak"
"Bocah muda, engkau adalah manusia paling tekebur yang pernah kujumpai selama hidupku, apa yang harus kulakukan sehingga kau benar2 merasa takluk? tahukah engkau bahwa menurut peraturan benteng kami barang siapa telah memasuki benteng ku ini, dia selama hidup akan disekap dalam rumah batu dia harus mengakui sendiri kalau hati nya merasa takluk"
Han Siong Kie merasa agak tercengang, peraturan macam apakah itu tanpa terasa ia bertanya:
"Siapa sih yang disekap dalam rumah2 batu itu? apakah mereka adalah jago2 persilatan yang pernah menerjang masuk kedalam benteng ini?"
"Benar tapi sekarang mereka harus disebut sebagai manusia2 tolol yang tekebur dan tak tahu diri"
"jadi mereka telah menyatakan takluk seratus persen serta rela disekap sepanjang masa??"
"Tentu saja"
"Tapi sayang aku tak mau takluk kepadamu"
"Hmm engkau tak dapat menentukan pilihanmu sendiri"
"Jadi engkau hendak menggunakan cara yang begins rendah dan memalukan untuk paksa orang menyerah kalah?" teriak Han Siong Kie dengan penuh kegusaran-
"Memaksa Hmm, terhadap aku sih tak perlu terhadap orang persilatan macam apapun aku tak pernah menggunakan cara memaksa"
"Lalu bagaimana penjelasanmu tentang perbuatan yang kau lakukan pada saat ini?"
"setelah kuajukan beberapa buah pertanyaan akan kuberi kesempatan padamu untuk bertanding secara adil"
" Kalau begitu cepatlah bertanya"
"Benarkah engkau ahli waris dari iblis diantara iblis??"
"Benar"
"Sebutkan siapa namamu?"
"Malaikat penyakitan"
"Apa? engkau bernama Malaikat penyakitan??"
"Tepat sekali ucapanmu itu"
"Aku ingin mengetahui nama aslimu"
Pelbagai ingatan berkelebat dalam beriak Han Siong Kie, ia teringat kembali anjuran dari orang yang kehilangan sukma dimana ia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya kenapa harus berbuat begitu? apakah sekarang juga harus membeberkan asal usulnya??
Tidak sekarang bukan saatnya yang tepat sekarang sedang melaksanakan tugas dari gurunya lain kali jika ia hendak menuntut balas bukan saja asal usulnya akan dibeberkan bahkan diapun akan menuntut balas dengan wajah aslinya. setelah berpikir sampai disini iapun lantas menjawab dengan nada dingin: "Aku tak punya selamanya aku menggunakan malaikat penyakitan sebagai julukanku"
"Heehh... heeehhh heehhh kalau engkau tak mau menjawab akupun tak akan memaksa, tahun ini kau berumur berapa?"
"Aku rasa tiada kepentingan bagiku untuk memberitahukan usiaku padamu"
"Bocah muda engkau terlalu keras kepala, sekarang putarlah tubuhmu"
Han Siong Kie merasakan bahunya jadi kendor dan telapak yang semula menempel diatas bahunya kini sudah dialihkan, laksana kilat ia putar badan-
Kurang lebib satu tombak dihadapannya berdirilah seorang manusia aneh berbaju hijau dan berkain cadar warna hijau, telapak kanannya nampak putih mulus bagaikan pualam sedangkan tangan kirinya hitam pekat bagaikan tinta bak.
Han Siong Kie seketika itu juga merasakan darahnya mendidih, ia kenali Telapak itu pernah menghajar tubuhnya sampai terluka parah, meskipun hanya sekilas pandangan namun ia tak akan melupakan untuk selama-lamanya.
Api dendam yang membakar dadanya hampir saja membuat pemuda itu tak dapat menguasahi diri, hampir saja ia menyebut nama aslinya untuk menuntut balas tapi akhirnya ia dapat menguasahi diri, sekarang belum tiba saatnya untuk membalas dendam, ia harus menyelesaikan dulu tugas yang dibebankan iblis diantara iblis kepadanya.
Jikalau ia tidak menggunakan ilmu sakti warisan dari gurunya dan hanya andalkan jurus serangan dari Leng ku sianjin belaka sudah jelas ilmu silatnya masih bukan tandingan lawan-
Bergerak secara gegabah berarti mendatangkan penyesalan yang tak terkirakan sepanjang masa, ia mengerti akan teori tersebut, jika usahanya untuk membalas dendam menemui kegagalan dan malahan mengakibatkan kematian bagi dirinya, bagaimana mungkin ia bisa bertanggung jawab terhadap dua ratus lembar jiwa keluarganya yang mati di bantai orang, serta kematian dari susioknya Telapak naga beracun Thio Lin-.
Kematian yang menyangkut keluarga Han dan keluarga Thio kecuali telah diketahui bahwa pembunuhannya adalah Tengkorak maut, masih ada sebuah teka teki yang menyelimuti peristiwa tersebut, dan teka teki itu kemungkina besar ada sangkut pautnya dengan tengkorak maut.
Sewaktu susioknya telapak naga beracun Thio Lin bunuh diri, ia menyatakan bahwa perbuatannya itu dilakukan karena melaksanakan perintah perguruan, ia berpesan kepadanya agar jangan menuntut balas, jangan mengebumikan jenasahnya, tapi kenapa?? kenapa harus begitu? apakah dalam permusuhan ini menyangkut soal dendam perguruan dari generasi yang lampau..?
Yang patut disayangkan ia sama sekali tak akan tahu perguruan dari ayahnya, kalau tidak dengan tanda terang itu mungkin saja duduknya persoalan dapat diketahui.
Mendadak.. ia teringat kembali akan orang yang kehilangan sukma, manusia misterius itu se-akan2 mengetahui semua persoalan yang menyangkut tentang kehidupannya, bahkan dia tahu dengan begitu jelas.
Diam2 ia pun mengambil keputusan, seandainya bisa lolos dari benteng maut dalam keadaan selamat, maka pekerjaan pertama yang akan dilakukan olehnya adalah mencari orang yang kehilangan sukma untuk membongkar rahasia itu, tapi jejak orang yang kehilangan sukma amat sukar diikuti, kemana ia harus menemukan dirinya?? Pemuda itu merasa murung dan risau sekali. sementara itu Pemilik benteng maut telah berkata kembali:
"Bocah cilik, sekarang aku akan memberi kesempatan kepadamu untuk bertanding secara adil"
"Kesempatan untuk berduel??" seru Han Siong Kie sambil pusatkan kembali pikirannya.
"Heeehh... heeehh... heehh... engkau belum berhak untuk mengatakan berduel, anggap saja sebagai suatu percobaan ilmu"
"suatu percobaan ilmu??"
"Ehmm tepat sekali ucapanmu itu"
"Bagaimana caranya melakukan percobaan ilmu itu???"
"Kita saling mengadu jurus sebanyak tiga gebrakan- jika engkau berhasil menang maka kau boleh keluar dari benteng ini dengan bebas..."
"Andaikata kalah??"
"Engkau akan menjadi penghuni tetap dalam deretan rumah batu ini"
Diam2 Han Siong Kie merasakan hatinya terkesiap.
"Maksudmu selamanya tiada kesempatan lagi bagiku untuk keluar dari benteng ini?"
"oooh... itu sih tidak, selama disekap engkau bebas melatih ilmu silatmu, bila engkau sudah mampu memecahkan tiga jurus seranganku, maka pada saat itulah engkau bebas berlalu dari benteng ini, cuma aku perlu beritahu kepadamu, selama puluhan tahun terakhir ini belum pernah ada orang yang bisa keluar dari benteng ini dalam keadaan hidup"
Han Siong Kie tarik nafas panjang, ia rasakan hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, dari ucapan tersebut dapat diambil kesimpulan kalau tenaga dalam yang dimiliki pihak lawan telah mencapaipada taraf yang tiada tandingannya lagi.
"Andaikata seri??" tanya sianak muda itu beberapa saat kemudian.
"Engkau tetap dipersilahkan berlalu dari sini dalam keadaan hidup,"
"Andaikata kedatanganku di kemudian hari tetap ada maksud tertentu dan memaksa engkau untuk berduel???"
Rupanya Pemilik benteng maut sama sekali tak mengira kalau Han Siong Kie Begitu berani mengajukan pertanyaan seperti itu, setelah terperangah beberapa saat ia berkata: "Bocah cilik, jadi engkau akan datang lagi dengan maksud2 tertentu??"
"Aku cuma mengatakan seandainya saja, tentu saja dalam keadaan seperti itu sering kali bisa muncul keadaan2 yang istimewa" ujar Han Siong Kie dengan nada hambar.
"Kalau memang demikian keadaannya, maka hal itu harus ditentukan dari maksud hatimu itu."
Han Siong Kie mengangguk, pikirnya:
"Suatu ketika aku pasti akan datang lagi kesini."
Dengan suara berat dia lantas berseru:
"Kalau begitu bagaimana kalau sekarang juga kita mulai dengan pertarungan tersebut??" Pemilik benteng maut mengangguk.
"Bocah muda, selama puluhan tahun belakangan ini baru pertama kali ini aku mengecualikan pantanganku"
"Mengecualikan pantangan begitu??" tanya sang pemuda dengan perasaan kurang paham.
"Ehmm benar" pemilik benteng maut mengangguk.
"Poocu telah mengecualikan pantangan apa begitu??"
"Pertama, engkau tidak bersedia menyebutkan nama aslimu serta usiamu, dan aku tidak menuntut lebih jauh.."
"Aku toh bergelar Malaikat penyakitan dan merupakan ahli waris dari iblis diantara iblis, apa itu tidak cukup??"
"Selain itu..."
"Apa lagi?" sela sang pemuda cepat.
"Engkau mengenakan topeng kulit manusia, tapi aku tidak punya niat untuk melepaskan kedokmu serta melihat paras aslimu, apakah tindakan ini bukan suatu keringanan bagimu?"
Dengan perasaan amat terperanjat HanSiong Kie mundur tiga langkah lebar kebelakang, setelah Put lo sianseng kali ini merupakan kedua kalinya ada orang mengetahuinya kalau dia mengenakan topeng kulit manusia, ketajaman mata manusia semacam ini memang benar2 mengerikan sekali.
"Hey bocah cilik sekarang lancarkanlah serangan" terdengar pemilik benteng maut berseru dengan suara berat.
Han Siong Kie terkesiap. ia merasakan hatinya jadi tegang sekali sebab jika ia tak sanggup melakukan perlawanan dalam tiga jurus serangan tersebut, maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Bukan saja ia akan disekap dalam ruang batu, harapannya untuk balas dendam akan musnah dan sepuluh hari kemudian gurunya iblis diantara iblis akan mati dengan membawa penyesalan.
Tugas dari gurunya, dendam berdarah membuat semangat jantannya ber-kobar2, ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya kedalam sepasang telapak.
Ia akan menggunakan jurus serangan yang terampuh dan terdahsyat dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat untuk melancarkan serangan tersebut.
suasana diliputi keseraman, ketenangan membuat pemuda itu bergidik rasanya: "Hati2 poocu menghadapi serangan ini" teriak Han Siong Kie tiba2.
Ditengah bentakan keras ia gunakan jurus Mo ciang ciang liong atau telapak iblis menundukan naga melepaskan pukulan yang pertama, kedahsyatan angin serangannya benar-benar mengerikan.
Pemilik benteng maut menyilangkan telapaknya kemudian dengan menggunakan sebuah jurus serangan yang sangat aneh menyapu bersih datangnya ancaman yang amat hebat itu.
Han Siong Kie amat terperanjat, ingatan kedua belum sempat lewat hawa panas dan dingin tahu2 bagaikan guntingan pisau telah membabat pukulannya hingga lenyap. bahkan sisa tenaga bagaikan tindihan bukit karang menghantam dadanya.
Buru2 sianak muda ttu melepaskan pukulannya dan silangkan telapak untuk membendung datangnya ancaman tadi.
Blaamm benturan keras bergeletar di angkasa, pemuda itu rasakan darah panas dalam dadanya bergolak keras, tak kuasa lagi tubuhnya tergetar mundur lima langkah lebar kebelakang.
"Hey bocah muda, dalam gebrakan ini engkau telah kalah" seru pemilik benteng maut dengan suara lantang.
Han Siong Kie mendengus dingin, tubuhnya menerjang maju kedepan, dengan jurus yang lebih ampuh yakni raja iblis menyambangi neraka, laksana kilat ia lancarkan serangan kedua.
Jurus raja iblis menyambangi neraka merupakan salah satu jurus terampuh diantara tiga jurus sakti ilmu pukulan Mo mo ciang hoat, setelah dikembangkan kedahsyatannya mengerikan hati.
"suatu serangan yang amat bagus" puji pemilik benteng maut tanpa sadar.
Bukan mundur, ia malah maju kedepan, sepasang telapaknya diayun menyambut datangnya ancaman tersebut. "Duuukk"
serangan yang dilancarkan Han Siong Kie kali ini dengan telak berhasil menghantam dada lawan, ia rasakan telapaknya se akan2 membabat diatas sebuah dinding baja yang amat keras, telapaknya secara lapat2 terasa sakit sekali, ini membuat hatinya amat terperanjat.
Bukan begitu saja pada saat yang bersamaan diapun merasakan adanya pantulan tenaga yang balik menghantam tubuhnya dengan kecepatan bagaikan kilat begitu kerasnya hampir saja membuat pemuda itu muntah darah segar.
Di tengah dengusan berat tubuhnya mundur empat lima depa kebelakang dengan sempoyongan hampir saja ia roboh terjengkang di atas permukaan tanah.
Pada waktu yang bersamaan jari tangan kanan pemilik benteng maut tiba2 nyelonong masuk kearah jalan darah Tiong tong hiat di atas dada pemuda itu.
Gerakannya cepat bagaikan bayangan, mengikuti gerakan maju mundurnya, sang ujung jari selalu menjaga pada jarak tiga cun.
Han Siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras, otaknya mendengung dan pandangannya berkunang2.
Terdengar pemilik benteng maut berkata dengan suara dingin: "Dalam gebrakan kali ini, engkau kembali menderita kalah"
Habis berkata ia tarik kembali jari tangannya dan mengundukan diri sejauh satu tombak dari tempat semula.
Tentu saja andaikata pertarungan tersebut merupakan suatu duel kepandaian, sejak semula Han Siong Kie telah terkapar di atas tanah dalam keadaas tak bernyawa lagi.
-ooo0ooo-
Jilid 13 : Mencoba Ilmu jari Tong-kim-ci
DENGAN kepandaian sakti yang dimiliki pemilik benteng maut, asal jari tangannya dikerahkan sedikit tenaga saja, pemuda itu pasti mampus.
sebelum Han Siong Kie mengucapkan sesuatu, terdengar pemilik benteng maut berkata kembali.
"Bocah muda, engkau adalah orang pertama yang dapat menyarangkan pukulannya secara telak dibadanku, meskipun engkau kalah tapi aku akan menganggap pertarungan yang kedua ini berakhir dengan seri"
Han Siong Kie merasakan hatinya amat sedih dan sakit bagaikan di iris2 dengan pisau belati, rasa putus asa, kecewa muncul dari dasar hatinya. Kendatipun begitu, ia masih tetap ngotot serunya:
"Menang yaa menang, kalah yaa kalah, kau tak usah pura2 berlagak baik hati kepadaku
"Hmm!" pemilik benteng maut mendengus dingin "sekarang kita sampai pada jurus yang terakhir engkau masih mempunyai kesempatan sebesar sepertiga!"
Tiba2 Han Siong Kie teringat kembali akan ilmu jari Tong kim ci yang diyakinkan gurunya Iblis diantara iblis selama empat puluh tahun lamanya tanpa terasa semangatnya bangkit kembali.
Ilmu jarj Tong-kim ci adalah sejenis kepandaian yang sangat ampuh, setiap benda yang berada dalam jarak lima tombak jika terkena serangan itu pasti akan tembus dan hancur.
Pikirnya dalam hati.
“Kalau aku sisipkan ilmu jari Tong-kim ci dalam seranganku yang tak terduga olehnya kendati pun tengkorak maut memiliki tubuh yang kebal serangan pasti ia tak akan lolos dari serangan mautku ini.”
Beberapa saat kemudian, pikiran lain berkelebat pula dalam benaknya:
“Tapi. . perbuatan itu bukan perbuatan dari seorang lelaki sejati yang pantas dipuji sebagai seorang manusia dari golongan lurus aku tak boleh menyergap orang secara menggelap, aku harus berterus terang dan bersikep jantan”
Berpikir sampai disitu dengan nada serius ia lantas bertanya:
“Poocu, apakah engkau andalkan ilmu Kim kong sinkang untuk melindungi badanmu?”
“Dugaanmu tepat sekali!”
“Aku hendak mengeluarkan sejenis kepandaian ilmu jari yang sangat ampuh. aku harap poocu suka bertindak hati-hati”
“Haaahh haaahh haaahh, Ilmu jari apakah itu? coba katakana!"
“Ilmu jari Tong kim ci!”
Tiba2 pemilik benteng maut merasakan sekujur badannya gemetar keras, dengan nada terperanjat ia mengulangi:
“Apa kau bilang ? ilmu jari Tong kim ci ?”
“Tepat sekaii.”
"Haaahh haaahh hhaaahh sungeuh tak nyana empat puluh tabun kemudian Iblis di antara iblis berhasil melatih ilmu jari yang telah lama lenyap dari dunia persilatan itu kejadian ini sama sekali diluar dugaanku, bagus..bagusss..bagus..bagus, aku akan menyambut serangan ilmu jari Tong kim cimu itu"
"Kalau begitu ber hati2lah poocu"
"Tak usah kuatir seranglah"
Han Siong Kie segera mengayunkan telapak tangan kanannya, segulung desiran angin tajam laksana kilat meluncur kedepan dan menghajar pemilik benteng maut. Tengkorak maut sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit dari serangan tersebut.
"Duukkk" benturan nyaring bergema di angkasa tubuh pemilik benteng maut mundur satu langkah kebelakang dan mulutnya memperdengarkan suara dengusan tertahan-
Han Siong Kie merasakan sekujur badannya dingin bermandikan keringat, diluar dugaan ilmu jari Tong kim-ci yang paling di andalkan ternyata tidak mempan untuk merobohkan lawannya.
Lama... lama sekali.. pemilik benteng maut baru tertawa ter bahak2 "Haahh haahhh haahhh bocah muda, kali ini anggap engkau yang menang"
"Tapi... tapi poocu toh tidak menghindar ataupun melancarkan serangan balasan?" seru Han Siong Kie agak sangsi.
"Memang benar aku tidak menghindar atau membalas, tapi serangan jarimu itu hampir saja membuyarkan tenaga sakti pelindung tubuhku, dalam kolong langit dewasa ini kecuali engkau seorang, mungkin tiada orang lain yang mampu melakukan hal seperti ini, oleh sebab itulah engkau ku anggap menang"
Han Siong Kie merasa sedih sekali, tentu saja keadaan seperti itu tak bisa dikatakan sebagai suatu kemenangan, bagaimana caranya ia ceritakan kejadian ini kepada gurunya..
Walaupun begitu, diam2 pemuda itu masih bersyukur karena pihak lawan hanya akan beradu tiga gebrakan belaka, dan di dalam pertarungan tersebut dialah yang berada di pihak pemenang, dus berarti dia mempunyai kesempatan untuk keluar dari benteng itu, jika ia bisa lolos dari benteng itu berarti pula dia masih mempunyai kesempatan untuk menuntut balas.
Pada saat itulah.. tiba-tiba pintu besi sebelah kanan memperdengarkan suara gemerincingan yang amat nyaring, suara ramai yang muncul dari sustu tempat ibarat neraka ini kedengaran seram sekali, sebelum pemuda itu berbuat sesuatu. kembali berkumandang suara gelak tertawa yang mendirikan bulu roma.
Dengan hati terkesiap Han Siong Kie memandang kearah pintu besi yang telah berkarat itu. dia ingin tahu manusia macam apakah yang telah memperdengarkan gelak tertawa seram itu.
Dalam pada itu, pemilik benteng maut telah berpaling kearah pintu besi itu kemudian mengancam dengan suara berat :
"Hati2 kalau sampai kupunahkan seluruh ilmu silatmu!"
Gelak tertawa itu sama sekali tidak mereda, kurang lebih sepeminum teh kemudian orang itu baru berhenti tertawa dan berseru :
"Hey bocah muda, ditinjau dari nada suaramu aku yakin kalau usiamu belum melampaui dua puluh tahun. sungguh tak nyana pemilik benteng maut yang gagah perkasa telah mengaku kalah kepadamu, haahh haahh haahh peristiwa ini benar2 merupakan berita aneh yang belum pernah kujumpai selama puluhan tahun belakangan ini!"
Han Siong Kie tegurnya dengan cepat. "Siapa engkau?"
Sebelum orang yang berada diruangan batu itu sempat menjawab pemilik benteng maut sudah tertawa dingin tiada hentinya sambil berseru:
"Heee heehh heeehhh orang sbe Ko engkau telah melanggar psraturan benteng kami yang melarang setiap penghuni ditempat ini mengajak bicara dengan orang asing ilmu silatmu harus dipunahkan sama sekali”
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han Siong Kie pikirnya:
"Oooh rupanya orang yang ditawan ini sbe Ko tapi peraturan macam apa itu? masa cuma bicara sepatah dua patah kata dengan orang asing ilmu silatnya ia lantas dipunahkan? peraturan ini terlalu semena2 bukankah orang persilatan lebih baik dibunuh daripada dihina? peraturan ini sungguh teramat keji..."
Sementara itu terdengarlah orang yang berada dalam ruang batu itu telah berseru dengan suara keras:
"Tengkorak maut aku Ko Sun Ki sudah delapan belas tahun lamanya dikurung di tempat ini masa.."
Sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras setelah mendengar nama orang itu bagaikan kena listrik secara beruntun ia mundur tiga langkah kebelakang.
"Ko su Ki.... Ko su Ki "serunya berulang kali "engkau adalah malaikat hawa panas Ko su Ki??"
"Haahhh... haaahhh... haaahh tebakanmu tepat sekali hey bocah cilik, tebakanmu sangat tepat, aku memang salah satu diantara sepasang malaikat panas dingin yang disebut orang malaikat panas Ko su Ki sungguh tak nyana orang persilatan masih mengenal nama serta julukanku ini"
Tanpa sadar Han Siong Kie teringat kembali akan perbuatan2 kejam yang dilakukan malaikat dingin Mo siu Ing selama ini karena suaminya lenyap tak berbekas ia telah limpahkan semua kemarahannya pada umat persilatan, setiap tahun ia harus membantai seratus orang jago persilatan untuk melampiaskan amarah dan dendamnya itu.
Disamping kesemuanya itu, pemuda tersebutpun teringat kembali akan janjinya dengan Malaikat hawa dingin Mo siu Ing, andaikata ia dapat mencari tahu jejak dari Malaikat hawa panas Kosu Ki, maka dia akan menangkan sarung tangan pusaka Hud jiu poo pit yang sebelah lain-
Tak nyana apa yang semula dianggap sebagai suatu pekerjaan yang sangat berat, kini berhasil didapatkan dengan gampang, ternyata malaikat hawa panas Ko su Ki disekap dalam istana maut.
Saking emosi dan terpengaruh oleh keadaan, sekujur badan pemuda itu gemetar keras, ia tak tahu benarkah sarung tangan Hud jin Poo pit yang sebelah kiri masih berada dalam sakunya..
Tak tahan lagi ia berseru dengan suara keras: "Ko cianpwee, istrimu.."
"Tutup mulut" mendadak pemilik Benteng Maut membentak keras, suaranya amat dahsyat bagaikan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong membuat seluruh-ruangan bergetar keras dan pantulan suaranya memekikkan telinga.
"Kraaakk..! kraaakk..!" bunyi gemurutukan yang nyaring bergema tiada hentinya dari dalam ruangan batu itu tak terdengar suara dari Ko Su Ki lagi, jelas ada orang lain telah menggerakkan alat rahasia yang terpasang dalam ruang batu itu sehingga menggeserkan kedudukan malaikat hawa panas kearah sebelah lain.
Menyaksikan keadaan tersebut, dengan cepat Han Siong Kie putar badan, kemudian serunya kepada pemilik benreng maut :
"Poocu, apa yang telah kau lakukan terhadap dirinya?”
Pemilik benteng maut tertawa seram tiada hentinya.
"Heehh..heehh..heehh . bocah muda, perbuatanmu itu sama artinya sedang menggali liang kubur buat diri sendiri!"
“Poocu. apa masudmu mengucapkan kata2 seperti itu?” tegur Han Siong Kie dengan hati bergetar keras.
“Engkau telah kehilangan hakmu untuk tinggalkan benteng ini dalam keadaan selamat”
“Kenapa musti begitu?”
“Sebab rahasia benteng kami selamanya tidak diijinkan untuk bocor kedalam dunia persilatan”
Hawa amarah segera berkobar dalam dada Han Siong Kie membuat paras mukanya berubah jadi merah padam, ia mendengus dingin.
"Hmmm! apa yang hendak poocu lakukan terbadap diriku?" tantangnya kemudian.
“Akan kumusnahkan segenap ilmu silat yang kau miliki dan selama hidup disekap dalam istana ini.”
Sorot mata penuh kemarahan dan kebengisan terpancar keluar dari balik mata Han Siong Kie andaikata pihak lawan benar2 akan memusnahkan ilmu silat yang dimilikinya maka ia bersiap sedia untuk melakukan perlawanen hingga titik darah penghabisan.
00000O00000
BAB 27
DENGAN langkah yang tegap dan sikap yang gagah, sianak muda itu maju kedepan beberapa langkah, serunya dengan penuh kegemasan-
"Jadi poocu telah mengambil keputusan untuk menghadapi diriku dengan cara tersebut??"
"Hmm setiap perkataan yang kuucapkan keluar berat laksana bukit karang, selamanya aku tak akan merubah perkataan yang telah diucapkan keluar"
"Kalau begitu akupun akan beritahu kepada mu, jangan mimpi perbuatanmu itu dapat terlaksana"
"Heeeh heehh heeehhh" pemilik benteng maut tertawa seram tiada hentinya "buat aku tengkorak maut, tak ada perbuatan yang tak mungkin bisa kukerjakan"
Han Siong Kie menggertak giginya kencang2, segenap tenaga dalam yang dimilikinya dihimpun menjadi satu dan siap untuk melakukan pertarungan terakhir yang akan menentukan mati hidupnya ....
"Bocah muda, engkau masih coba akan melewati?? " jengek pemilik benteng maut sambil mendengus dingin.
"Tepat sekali selama hayat dikandung badan aku akan melakukan perlawanan yang gigih hingga titik darah penghabisan-"
"Kau anggap masih ada kesempatan bagimu untuk melakukan kesemuanya itu ?"
"Aku tak sudi mandah dibunuh dan dijagai orang tanpa melakukan perlawanan"
"Kalau memang engkau merasa punya kemampuan, apa salahnya kalau mencobanya lebih dahulu??"
Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari mulutnya, Pemilik Benteng maut segera menggosokkan sepasang telapaknya satu dengan yang lain, kemudian didorong kearah depan-
segumpal angin pukulan yang sangat tajam dan aneh segera meluncur keluar dengan dahsyatnya.
Han Siong Kie tak berani bertindak gegabah menghadapi serangan musuh yang begitu dahsyat, tatkala pihak lawan melepaskan pukulan mautnya, diapun segara ayunkan sepasang telapaknya kearah depan-.
Gulungan angin pukulan yang tajam dengan cepat meluncur kearah depan, namun sewaktu bertemu dengan gulungan angin aneh yang enteng seakan2 tiada benda itu ternyata ibarat saiju bertemu dengan api, setelah lenyap tak berbekas..
Si anak muda itu jadi amat terperanjat hingga merasa sukma melayang tinggalkan raganya, dari serangan telapak ia segera merubah ilmu jari sakti Tong kim ci untuk menghajar mundur serangan lawan-.
siapa tahu tenaga murninya sama sekali tak dapat dihimpun kembali, pemuda itu rasakan badannya lumpuh total.
Sementara itu dari balik sepasang telapak Pemilik benteng maut yang didorong keluar, gulungan angin serangan yang aneh masih meluncur keluar tiada hentinya.
Rasa kaget dan terkesiap yang dirasakan Han Siong Kie saat itu benar2 sukar dilukiskan dengan kata2, dalam hati kecilnya ia mengeluh:
"Habis sudah riwayatku .... entah ilmu aneh apa yang digunakan pihak lawan?? kenapa tenaga murniku tak dapat dihimpun kembali??"
Tapi sianak muda itu tak mau menyerah kalah dengan begitu saja, sekali dua kali secara beruntun ia telah mencoba sampai delapan kali banyaknya, akan tetapi hawa murninya masih tetap buyar dan sama sekali tidak dapat dihimpun kembali... Akhirnya dengan lunglai dan putus asa ia turunkan telapaknya kebawah.
Tiba2 satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia merasa pernah menjumpai ilmu sakti yang sangat aneh itu, belum lama berselang ia pernah mengalami nasib sama seperti hari ini dengan cepat berputar ia berpikir keras.
Akhirnya pemuda itu ingat, ketika berada diwilayah Liao hian tan pusat markas besar perkumpulan Thian che kau, ketua muda dari perkumpulan itu pernah menggunakan pula ilmu silat yang sangat aneh itu, membuat dia dalam waktu singkat mengalami kemacetan dalam pengerahan tenaga dalam, tapi itu hanya berlangsung sebentar saja untuk kemudian hawa murninya pulih kembali seperti sedia kala.
Waktu itu tenaga dalam yang dimilikinya hanya separuh dari apa yang dimiliki saat ini, dari sini dapat diketahui bahwa pengetahuan ketua muda perkumpulan Thian che- kau terhadap ilmu aneh tersebut masih cetek sekali, sedang pemilik benteng maut benar2 telah menguasahi segenap keampuhan ilmu tadi.
Tapi kenapa ketua muda perkumpulan Thian che kau bisa menggunakan pula kepandaian aneh itu.? jangan2 antara perkumpulannya dengan Benteng maut terikat hubungan yang erat? Kenangan lain yang memilukan hati, dengan cepat menyelinap kembali dalam benaknya..
Ibunya siang-go cantik ong cui Ing telah menerima sebuah pukulan dahsyatnya sebelum ia mendapat celaka, namun perempuan itu sama sekali tidak menderita luka apapun jua, jangan2 ilmu yang dipergunakan olehnya adalah ilmu Kim kong sinkang dari pemilik benteng maut?
Ditinjau dari kedua tanda tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa perkumpulan Thian che kau mempunyai ikatan hubungan yang erat dengan pemilik benteng maut.
Berpikir sampai disini dengan penuh emosi ia berseru:
"Apa hubungan benteng maut dengan perkumpulan Thian che kau?"
"Apa?? perkumpulan Thian che kau" seru pemilik benteng maut tercengang.
"Benar perkumpulan paling besar dikolong langit dan daya pengaruhnya melampaui perkumpulan serta partai2 lainnya"
"Belum pernah aku dengar yang dinamakan perkumpulan Thian che kau itu"
Han Siong Kie terperangah mendengar jawaban tersebut tapi dengan cepat la tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeahh..heehh..heehh... bocah cilik dan kaum wanitapun kenal apa yang dinamakan perkumpulan Thian che kau, masa engkau sebagai pimpinan persilatan sama sekali tak kenal nama itu, omong kosong ucapan yang cuma bisa membohongi anak kecil"
"Omong kosong..? HHmm aku bukan seorang manusia yang suka omong kosong, bocab muda kau anggap dengan mengada-ada pembicaraan maka engkau dapat meloloskan diri dengan menggunakan kesempatan itu? HHmm ... kalau engkau punya jalan pikiran semacam itu, maka terus terang kukatakan kepadamu, pikiran semacam itu hanya suatu impian disiang hari"
Pemilik benteng maut segera rentangkan sepasang telapaknya, jari tengah kiri dan kanannya di sentil kearah muka, dua desiran tajam laksana kilat meluncur kearah depan.
Dalam keadaan hawa murni yang sama sekali buyar, Han Siong Kie sama sekali tak mempunyai kemampuan untuk menangkis ataupun menghindarkan diri dari datangnya anca tersebut, ia rasakan badannya jadi kaku dan enam buah jalan darahnya tahu2 sudah tertotok semua hingga segenap hawa murninya buyar sama sekali.
Ditengah gelak tertawa yang membetot sukma, pemilik benteng maut enjotkan badan berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Han Siong Kie segera merasakan tubuhnya seakan2 terjerumus kedalam sebuah jurang yang tiada tara dalamnya, sukma serasa melayang tinggalkan raganya, ia merasa tubuh kasar itu sudah bukan menjadi miliknya lagi, ia merasa hatinya tercekam dalam suasana yang berat.. ia merasakan pukulan batin yang keras..
Dalam suatu sentilan jari yang sangat ringan, Pemilik benteng maut telah membuyarkan tenaga dalam hasil latihan selama dua ratus tahun yang dimiliki olehnya..
Pemuda itu menjublak dengan mata terbelalak lebar, badannya mulai sempoyongan bagaikan orang mabuk.
Setelah tenaga dalamnya punah berarti semua harapan, budi, dendam, cinta dan segala perasaan hatinya ikut lenyap tak berbekas.
Dua titik air mata tanpa terasa menetes keluar membasahi pipinya.. Lama.. lama sekali, ia baru berseru dengan nada serak:
"Tengkorak maut, hari kiamat bagimu tak akan terlalu jauh.. suatu saat pasti akan tiba saat sialmu itu.."
Pemuda itu temukan suaranya begitu lirih dan lemah, paling banter hanya bisa berkumandang sampai sepuluh tombak jauhnya dari tempat semula.
Pada saat itulah.. dari belakang tubuhnya berkumandang suara aneh yang mendirikan bulu roma, dengan kaku Han Siong Kie berpaling kebelakang, makhluk aneh setengah manusia setengah setan yang berambut panjang dan pernah ditemui sewaktu masuk kedalam benteng tadi tahu2 telah berdiri tiga langkah dihadapan mukanya.
Sorot matanya yang begitu dingin, menyeramkan dan membuat orang selama hidup tak dapat melupakannya kembali itu terpancar keluar lewat sela2 rambut dan menatap wajahnya tanpa berkedip.
Tanpa terasa pemuda itu kembali merasakan hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, sorot mata yang terpancar keluar dari balik mata makhtuk aneh itu, sama sekali tiada pancaran hawa manusia barang sedikltpunjua.
Setelah menatap Han Siong Kie beberapa saat lamanya, mahluk aneh itu putar badan dan berjalan kearah ruang batu disisinya diruang malaikat hawa panas Ko Su Ki mula-mula disekap.
Ia membuka rantai besi didepan pintu, membuka pintu baja yang berat kemudian menggape kearah Han Siong Kie dan menuding kearah dalam ruangan batu itu..
Tentu saja Han Song Kie mengerti apa yang dimaksudkan makhluk aneh itu, ia akan dijadikan tawanan dalam benteng maut dan selamanya tinggal disana.
Api kegusaran dan rasa dendam seketika berkobar dalam dadanya, ia tak menyangka kalau akhirnya dia bakal musnah ditangan musuh besar pembunuh keluarganya, dia ingin sekali membinasakan makhluk aneh itu kemudian musnahkan ruang batu dan akhirnya mencari tengkorak maut dan beradu jiwa dengan dirinya.
Namun sianak muda itu mengerti apa yang dibayangkan olehnya itu tak mungkin bisa dilaksanakan untuk selamanya sebab tenaga dalam yang ia miliki sama sekali telah punah.
Untuk kedua kalinya Makhluk aneh itu memberi tanda kepadanya, agar Han Siong Kie masuk kedalam ruangan.
Pemuda itu menggertak gigi kencang2, sorot matanya memancarlan api kegusaran dan rasa penasaran, sekujur badannya gemetar sangat keras.
Dengan perasaan putus asa ia menengadah memandang langit yang berwarna abu2, gumamnya seorang diri:
"Sungguh tak nyana aku bakal musnah dalam keadaan begini, dendam berdarah belum sempat kutuntut balas perintah guruku belum sempat kulaksanakan, sekalipun mati aku tak bakal mati dengan mata terpejam."
Belum habis dia bergumam, tubuhnya telah maju dengan sempoyongan, lengannya terasa jadi kencang dan sepasang kakinya sudah terangkat tinggalkan permukaan, bagaikan anak ayam disambar elang, tahu2 badannya sudah diangkat makhluk aneh itu dan dilemparkan kedalam ruang batu itu.
"Blaaamm.. badannya mencium tanah keras2, sekujur badannya terasa amat sakit bagaikan tulangnya sudah patah semua begitu terhempas keatas tanah pemuda itu sama sekali tak dapat berkutik lagi.
"Kraakk Kraakk " pintu baja tertutup rapat kemudian dikunci dari luar.
seketika itu juga suasana dalam ruangan itu jadi gelap gulita, begitu gelapnya hingga susah untuk melihat kelima jari tangan sendiri, hawa lembab yang dingin dan menyayat badan menyelimuti seluruh ruangan membuat badan jadi sakit bagaikan ditusuk2 jarum.
Dengan tenang dan sama sekali tak berkutik ia berbaring diatas papan batu yang dingin dan keras, benaknya serasa kosong melompong tiada ingatan apapun juga.
Dalam waktu singkat, ia tak mempunyai pikiran lagi, ingatan apapun tak tersisa dalam benaknya, pemuda itu merasakan dirinya seolah2 sudah mati . Waktu telah kehilangan arti dan manfaatnya dalam ruang baja yang gelap itu.
Ketika matanya sudah biasa dengan kegelapan dan ia sudah dapat membedakan setiap benda yang ada disekelilingnya, kesadaran perlahan2 pulih kembali seperti sedia kala, pertama-tama ia saksikan lebar ruang batu itu tiga tombak. empat penjuru merupakan dinding batu yang keras kecuali itu tiada sesuatu apapun yang tertinggal disana.
Hal ini membuktikan bahwa malaikat hawa panas Ko su Ki telah dipindahkan ketempat lain, bagaimanakah nasibnya sukar di duga dan sekarang ia telah menggantikan tempat kedudukannya itu serta menjadi penghuni tetap dalam ruang batu itu.
Malaikat hawa panas Ko su Ki sudah di sekap selama delapan belas tahun lamanya disana tapi tenaga dalamnya sama sekali belum punah, ia masih ada harapan untuk bisa meloloskan diri dari tempat terkutuk ini sedang dia sendiri? setengah dari harapan yang mereka milikipun tak ada, kehidupannya akan berakhir disana.
Pemuda itu bangkit dan duduk bersandar disisi dinding teringat kembali kenangan masa lampau hatinya terasa amat sakit bagaikan di iris2.
Dendam berdarah atas kematian dua ratus jiwa anggota keluarganya tak mungkin bisa dituntut balas untuk selamanya.
Keluarga paman gurunya telapak naga beracun Thio Lin ikut musnah dari muka bumi dan mereka hanya akan merana dan penasaran dialam baka.
sepuluh hari kemudian jika gurunya Mo tiong ci mo tidak dijumpai kemunculannya sesaat sebelum meninggal ia mesti sedih gusar dan penasaran, pukulan batin yang diterimanya waktu itu pasti sulit dilukiskan dalam kata2, cita2 serta harapannya yang terkandung sejak empat puluh tahun berselang akan musnah bagaikan kabut ditempa sinar matahari dan pasti akan mati tak tenang.
Budi kebaikan yang dilimpahkan orang yang kehilangan sukma dan orang yang ada maksud selama hidup tak mungkin bisa dibalas.
Adik angkatnya Tonghong Hwei selama ini menganggap dia sudah mati bahkan mendirikan tugu untuk memperingati kematiannya tak lama kemudian dia pasti akan bunuh diri untuk menyusul dirinya, meskipun aku tak membunuh Pak-jin tapi Pak jin mati lantaran aku..
Hampir saja pemuda itu otaknya jadi sinting, dosa karena tidak berbakti, tidak setia kawan- tidak setia pada perguruan, semuanya menimpa dirinya. Kematian, belum tentu bisa membebaskan semuanya itu dari dalam benaknya. Ia merasa hatinya tersayat, terluka, dan akhirnya mengucurkan darah.
"Apa yang harus kulakukan untuk mengatasi semua kesulitan ini? ingatan tersebut hampir merampas seluruh perhatian serta pikirannya.
Apakah dia harus hidup lebih jauh dalam keadaan yang lemah dan sama sekali tak berguna? apakah dia harus menerima keadaan tersebut hingga akhir hidupnya?
Mungkinkah dia harus menyelesaikan sendiri kehidupannya yang penuh kegagalan serta kekecewaan itu?
Ia sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk berusaha meloloskan diri dari situ, sebab segenap tenaga dalam yang dimilikinya telah musnah, sekalipun masih utuh, untuk meloloskan diri dari cengkeraman Pemilik benteng maut boleh dibilang ibaratnya bermimpi disiang hari bolong.
Cukup andalkan barisan rumah batu yang aneh dan sakti, tipis sudah harapannya untuk melarikan diri.
Rasa putus asa, bagaikan sebilah pisau tajam yang menyayat hatinya. Rasa ingin mati, kian lama kian tebal menyelimuti benaknya.
Mendadak... jari tangannya menyentuh suatu benda, serta merta ia ambil benda tadi dan diperiksanya dengan seksama.
Ternyata benda itu adalah sebuah bungkusan kain kecil, ketika diangkat terasa berat sekali, dengan cepat ia buka kain tadi.
Apa yang terlihat?? ternyata isi bungkusan itu adalah sebuah telapak tangan yang terbuat dari tembaga.
Ledakan rasa girang tak terbendung lagi, gumamnya seorang diri: "Hud jiu Poo pit. Kitab pusaka tangan Buddha... kitab pusaka..."
Tak dapat diragukan lagi, benda itu pasti sudah tertinggal tatkala malaikat hawa panas Ko su Ki dipindah dari tempat itu.
Jika sepasang sarung tangan itu digabungkan menjadi satu, maka dia akan berhasil mempelajari ilmu sakti see mi sinkang, bila ilmu sakti itu sudah diyakinkan olehnya maka ia tak usah jeri terhadap keampuhan Tengkorak maut lagi.
Tapi.. ketika ia teringat kembali bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah musnah dan harapannya untuk meloloskan diri telah punah, bagaikan kepalanya diguyur air dingin, ia berdiri terbelalak dan tak mampu berbuat sesuatu apapun-
Apa gunanya kitab pusaka tangan Buddha jika ia tak dapat melatihnya? benda itu ibaratnya barang yang tak berguna..
"Criing" tangannya jadi kendor dan benda mustika yang diincar setiap umat persilatan itu terlepas dari cekalannya dan jatuh kembali keatas tanah. seluruh ingatan dan pikirannya kembali tersita untuk memikirkan soal kematian-
Ia tak sudi hidup dalam keadaan cacad dan tak bertenaga, pemuda itu merasa lebih baik mati daripada menanggung derita dan kekecewaan-. sementara ia sedang putus harapan dan siap untuk bunuh diri
"criing criing" sentilan jari yang menyentuh permukaan pintu baja berkumandang tiada hentinya.
Han Siong Kie sama sekali tak mendongak ia segan untuk melakukan segala sesuatunya.
"Malaikat penyakitan, malaikat penyakitan" serentetan suara perempuan yang pernah di kenal olehnya berkumandang disisi telinga.
Sekujur tubuh Han sing Kie bergetar keras siapakah perempuan itu? mengapa ia muncul dalam benteng maut, dari mana ia tahu kalau dirinya disekap disitu? "Malaikat penyakitan " untuk kedua kalinya suara panggilan itu berkumandang. Han Siong Kie segera mendekati pintu baja itu dan tak tahan lagi dia bertanya. "Siapakah engkau?"
"Aku? engkau tak perlu tahu dulu, aku ingin tanya apakah engkau benar2 adalah malaikat penyakitan ahli waris dari Mo tiong ci mo?"
"Benar"
"Apakah engkau masih ingat dengan seorang gadis yang pernah kau tolong dari tangan empat pengawal baju hijau dari istana Huan mo kiong?" Han song Kie termenung dan berpikir sebentar lalu menjawab:
"Akulah gadis yang kau maksudkan itu"
"Engkau??"
"Betul, aku adakah istri yang ditinggalkan"
"Ooooh jadi nona adalah gadis yang menyebut diri sebagai istri yang ditinggalkan? sekarang aku ingat sudah"
Setelah berhenti sebentar, dengan rasa sangsi ia bertanya kembali:
"Kenapa nona bisa sampai disini ? dan darimana pula engkau tahu kalau aku disekap ditempat ini??"
"ooooh... soal itu engkau tak usah tahu"
"Apa nona adalah anggota benteng ini ??"
"Sudah kukatakan tadi, lebih baik tak perlu banyak bertanya, pernahkah engkau mendengar cerita tentang seorang sahabat yang membalas jasa atas budi yang pernah diterima olehnya???"
"Ada apa ? apakah nona..."
Sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kata2nya, gadis itu telah menanggapi:
"Dugaanmu tepat sekali, aku memang hendak membalas jasa baik yang pernah kuterima dari tanganmu, sekarang aku hendak tolong engkau untuk keluar dari benteng ini."
Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras hampir saja ia tidak percaya dengan telinga sendiri serunya dengan suara gemetar: "Nona hendak menolong aku lolos dari benteng ini"
"Betul tunggulah sebentar disitu aku segera akan muncul dalam ruangan batu itu" Begitu mengucapkan kata2 tersebut suaranya seketika lenyap tak berbekas.
Han Siong Kie merasakan hatinya bergejolak keras hampir saja tak dapat menahan pergolakan emosi yang luar biasa itu, gumamnya seorang diri:
"suatu pertemuan aneh benar2 kejadian ini merupakan suatu pengalaman aneh membuat orang bingung dan sama sekali tak habis mengerti" sesudah berpikir beberapa saat lamanya diam2 ia berpikir lebih jauh:
"Aaah tidak betul gadis yang menyebut dirinya sebagai istri yang ditinggalkan ini pastilah anggota benteng maut ini, kalau tidak dengan tenaga dalam yang dimilikinya tak mungkin ia bisa pergi kesana kemari dalam benteng tersebut dengan leluasa tapi apakah hubungannya dengan tengkorak maut, kalau toh dia anggota istana maut, kenapa tenaga dalam yang dimilikinya begitu biasa? bikin kepala jadi pusing."
"Kraaakrk kraaakkk "sebuah dinding batu per lahan2 bergeser kesamping dan muncullah sebuah pintu kecil.
Han Siong Kie rasakan jantungnya berdebar keras dengan pandangan tajam dia awasi terus pintu kecil itu.
sesosok bayangan tubuh yang ramping dan mulus per lahan2 muncul dalam ruangan itu, dia bukan lain adalab "Istri yang ditinggalkan"
Mendadak pelbagai pikiran dan ingatan berkecamuk dalam benak sianak muda itu pikirnya.
"Dewasa ini tenaga dalam yang kumiliki sama sekali telah buyar, sekalipun aku berhasil ditolong oleh " istri yang ditinggalkan" hingga lolos dari benteng maut tapi tugas yang dibebankan guruku belum terlaksana dengan muka apa aku harus berjumpa dengan guruku Mo tiong ci mo? disamping itu musuh bebuyutan yang punya dendam dengan aku terlalu banyak. sekalipun muncul dengan muka asliku atau dengan wajah malaikat penyakitan orang lain sudah pasti tak akan lepaskan diriku, kenapa aku musti menerima uluran tangannya sehingga berhutang budi kepada gadis yang bernama istri yang di tinggalkan ini??
Berpikir sampai disini dengan nada dingin ia lantas berkata: "Apakah nona hendak tolong aku untuk keluar dari benteng ini?"
"Benar, dengan menempuh bahaya aku melakukan hal ini, maksudku tidak lain adalah guna membalas budi atas pertolongan yang pernah engkau berikan padaku"
"Maksud baik nona biarlah kuterima dalam hati saja, nona tak usah menempuh bahaya ini demi diriku"
Istri yang ditinggalkan tertegun mendengar jawaban tersebut, dengan nada tercengang bercampur tak habis mengerti ia berseru:
"Jadi engkau rela mengorbankan dirimu untuk dikubur dalam benteng ini??"
"segenap tenaga dalam yang kumiliki telah punah, keadaanku tidak jauh berbeda dengan seorang manusia cacad, apa arti hidup bagiku??"
"Ooooh tentang soal itu terus terang kuberitahukan kepadamu, tenaga dalam yang kau miliki masih utuh, hanya jalan darahmu tertotok mengakibatkan urat dan nadi mu jadi kacau balau, oleh sebab itulah hawa murnimu tak dapat dihimpun kembali"
setelah mendengar keterangan tersebut, timbullah harapan untuk hidup dalam hati kecilnya, rasa putus asa yang semula menyelimuti hatinya kini tersapu lenyap dari benaknya, dengan penuh emosi ia berseru: "Sungguhkah apa yang nona ucapkan itu??"
"Aku rasa tiada kepentingan apa2 bagiku untuk membohongi dirimu"
"Lalu kepandaian apakah yang telah digunakan oleh pemilik benteng maut untuk melukai diriku ??"
"Suatu kepandaian rahasia yang tak pernah diwariskan kepada siapa2 dari Benteng Maut"
"Nona dapat memunahkannya?"
"Tentu saja dapat" sahut gadis itu sambil mengangguk "tapi aku tak dapat membebaskan jalan darahmu itu, sebab untuk melepaskan engkau dari sini aku telah menempuh suatu jalan yang amat berbahaya, jika aku bebaskan pula jalan darahmu yang tertotok itu berarti kematian yang tak bisa ditawar lagi bagiku, sebab itulah peraturan dari benteng maut ini"
"jadi nona adalah anggota benteng maut? " tegur Han Siong Kie dengan suara dalam.
"Benar, ucapanmu itu sama sekali tak keliru"
"Apa hubunganmu dengan pemilik benteng maut ini??"
"Maaf untuk sementara waktu aku tak dapat memberitahukan soal ini kepadamu"
"Tapi aku harus mengetahuinya lebih dahulu"
Rasa serba salah dan keberatan terlintas diatas wajah istri yang ditinggalkan, setelah ragu2 beberapa saat lamanya, ia tetap gelengkan kepalanya berulang kali. "Aku tak dapat beritahukan rahasia ini kepadamu" katanya. Melihat keputusan gadis itu, Han Siong Kie segera berpikir dalam hati:
"Kalau ditinjau dari sikapmu itu, sudah pasti ia mempunyai hubungan yang luar biasa dengan Tengkorak maut, sebaliknya antara aku dengan Tengkorak maut terikat oleh dendam sedalam lautan, darimana aku boleh menerima budinya ? tapi...Aaaai kalau aku tetap berdiam disini mana mungkin dendamku bisa terbalas?"
Harapan untuk pulihkan kembali kekuatan tubuh yang dimilikinya mendorong sianak muda itu untuk cepat2 tinggalkan benteng yang mirip neraka ini.
Dalam keluarga bakti kepada gurunya... serta masalah lain yang pelik kembali berkecamuk dalam benak pemuda itu, akhirnya tak tahan lagi ia bertanya:
"Siapakah orang2 dalam persilatan yang sanggup membebaskan aku dari pengaruh totokan ini?"
"Sulit untuk dikatakan? dunia persilatan amat luas, banyak keanehan yang terlingkup didalamnya, soal ini harus dilihat dari rejekimu sendiri, kalau ada jodoh aku rasa gampang untuk temukan manusia seperti itu, sebaliknya kalau tidak berjodoh...apa mau dikata lagi?"
Dengan mulut membungkam Han Siong Kie mengangguk. pikirnya didalam hati:
"Guruku Mo tiong ci mo sangat hapal dengan ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut, mungkin ia bisa bebaskan pengaruh totokan ini, selain itu bukankah masih ada orang yang kehilangan sukma, serta Put to sianseng beberapa orang jago misterius yang berkepandaian lihay? siapa tahu.."
Terdengar gadis itu berkata lebih jauh:
"Setelah engkau keluar dari benteng ini, aku harap engkau bersedia merahasiakan apa yang pernah kau saksikan dalam benteng ini sehingga tidak sampai bocor kedalam dunia persilatan?"
"Tentang soal ini aku bisa memenuhinya, tapi sebelum itu akupun hendak mengutarakan dua hal lebih dahulu"
"Katakanlah cepat"
"Pertama aku punya janji dengan malaikat hawa dingin Mo siu In untuk mencarikan jejak suaminya yakni malaikat hawa panas Ko su Ki untuk mencegah malaikat hawa dingin melakukan pembantaian lagi.
terhadap orang persilatan terpaksa aku harus bocorkan jejak suaminya itu kepada perempuan tersebut"
"Tentang soal itu sih boleh saja, jika malaikat hawa dingin berani mencari gara2 kemari itu berarti dalam benteng kami ini akan bertambah dengan seorang penghuni lagi"
"Kedua jika tenaga dalamku telah pulih kembali maka aku akan menyatroni kembali benteng maut ini.."
"Apa engkau akan datang lagi?"
"Betul"
"Kenapa?"
"Untuk membalas dendam"
"Oooh engkau punya dendam dengan poocu benteng ini?"
"Benar, dendamku lebih dalam dari pada samudra, jikalau nona menyesal untuk melepaskanku pergi dari sini sekarang juga engkau masih sempat menarik kembali tawaranmu itu"
Paras muka gadis yang bernama istri yang ditingalkan itu berubah hebat, akhirnya dengan sedih ia berkata:
"Baik, engkau boleh terhitung sebagai seorang pendekar jujur yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, hari ini kulepaskan dirimu karena ingin membalas budi pertolongan yang pernah kau berikan kepadaku sedangkan mengenai rencanamu untuk menuntut balas dalam benteng maut ini, hal itu boleh dianggap masalah lain"
"Dan nona tak akan menyesal dengan perbuatanmu itu?"
"Tiada alasan menyesal bagiku untuk perbuatan yang telah kulakukan dengan penuh kesadaran."
"Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih lebih dahulu atas bantuanmu itu"
"Engkau tak usah berterima kasih kepadaku, kita satu bayar satu, budi diantara kita sama sekali telah terhapus, dan sekarang kitapun harus segera berangkat"
"Bagaimana caranya kita keluar dari sint?"
Tiba2 gadis itu melancarkan sebuah totokan kilat keatas tubuh Han Siong Kie..
sianak muda itu seketika merasakan badannya merasa gemetar keras, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat dalam benaknya, ia sudah roboh terkapar diatas tanah.
Ketika ia sadar kembali dari pingsannya, terasa angin dingin berhembus lewat menggidikkan badan- suara gulungan ombak terdengar kembali dengan jelas, ketika ia buka matanya tampaklah bintang bertaburan diangkasa, dinding benteng yang hitam pekat berdiri mentereng dihadapannva, ternyata ia sudah berada diluar benteng maut.
"Saudara, sekarang engkau boleh segera tinggalkan tempat ini Nah, inilah benda milikmu yang ketinggalan, baik21ah kalau menyimpan-.^
Begitu ucapan tersebut selesai diutarakan, sebuah buntalan terjatuh disisinya sedang gadis itu sudah lenyap dari pandangan.
Han Siong Kie bangkit berdiri, dalam hati ia merasa bersyukur karena isi buntalan itu adalah sebagian dari Hud jiu Poopit yang diidamkan setiap umat persilatan, semula benda itu merupakan benda milik malaikat hawa panas yang tinggalkan disana, tapi gadis istri yang ditinggalkan mengira sebagai miliknya, kini benda itu dibawa keluar dan diserahkan kembali kepadanya.
Bukankah itu berarti bahwa benda mustika itu berjodoh dengan dirinya?? andaikata masih ketinggalan dalam benteng maut, bukankah semua harapannya ikut lenyap?
setelah menyimpan buntalan itu baik2, pemuda itu melirik sekejap kearah Benteng maut yang bercokol bagaikan iblis raksasa itu, kemudian putar badan dan berlalu dari sini.
setelah tenaga dalamnya punah, keadaan Han Siong Kie tidak jauh berbeda dengan manusia biasa, selangkah demi selangkah berjalan tinggalkan benteng itu.
Ia merasa dirinya seperti baru sadar dari suatu impian buruk, dalam sehari belaka dari seorang jago persilatan yang ampuh telah berubah jadi manusia biasa yang lemah tak bertenaga.
Dan satu hal yang mimpipun tak pernah disangka olehnya, ia telah berjumpa kembali dengan Tonghong Hui yang dirindukan olehnya selama ini...
Jika Tonghong Hui tahu kalau malaikat penyakitan yang telah ditolongnya olehnya bukan lain adalah engkoh Kie yang dianggap sudah mati dibunuh oleh orang2 perkumpulan Thian che kau, serta ia bersumpah hendak balaskan dendam sakit hatinya itu, mungkin ia bisa mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk bebaskan sianak muda itu dari pengaruh totokan.
Sedangkan Han Siong Kie sendiri, andaikata ia tahu kalau "istri yang ditinggaikan" adalah adik angkatnya Tonghong Hui, mungkin iapan akan membuka rahasianya hingga apa yang kemudian terjadipun bisa dibayangkan setiap orang.
Sayang, Takdir telah menentukan lain, sepasang merpati itupun harus melewatkan kesempatan baik itu dengan Begitu saja. .
Dengan susah payah Han Siong Kie menyeberangi jembatan batu dan tiba ditepi pantai berpasir, seCara lapat2 ia merasa se akan2 melihat adik angkatnya Tonghong Hui sedang duduk diatas batu cadas dimana mereka berjumpa untuk pertama kalinya, rasa sedih menyelimuti seluruh wajah pemuda ini.
Dengan langkah yang ling lung ia naik ke atas daratan danper-lahan2 meneruskan perjalanannya lewat jalan raya.
Ingatan pertama yang berkelebat dalam benaknya saat ini adalah bagaimana caranya tiba ditempat tinggal gurunya dengan gerak badan paling cepat dia harus tiba disitu sebelum sepuluh hari lewat karena gurunya pernah berkata bahwa ia masih ada pesan lain yang hendak disampaikan.
sementara itu dari tempat2 tersembunyi tidak jauh dari jalan raya berpuluh2 pasang mata dengan sorot mata penuh rasa kejut dan tercengang sedang mengamati gerak gerik dari Han Siong Kie..
Dengan mata kepala sendiri mereka saksikan pemuda itu masuk kedalam benteng dan sekarang mereka saksikan pula ia muncul dari dalam benteng dalam keadaan selamat.
Meskipun dari langkah kaki Han Siong Kie yang berat dan lambat menimbulkan perasaan heran dan tak habis mengerti dalam hati kecil mereka, namun siapapun tak berani mencabut kumis harimau secara gegabah kelihatannya dan kedahsyatannya Malaikat Penyakitan sudah amat tersohor dikolong langit:
-0000000-
BAB 28
SECARA diam2 mereka terus menguntit dibelakangnya, jauh dibelakang dan sangat hati2 sekali hingga sedikitpun tak menimbulkan suara, mereka takut jejaknya ketahuan oleh pemuda lihay itu.
Tentu saja mimpipun ia tak mengira kalau Malaikat penyakitan yang mereka takuti dan segani, kini sudah merupakan seekor harimau ompong. segenap ilmu silatnya punah tak berbekas.
sebaliknya Han Siong Kie sendiripun tak menyangka kalau ia dikuntit dan diawasi gerak geriknya oleh para jago silat.
Dengan cepat berita itu disiarkan oleh para jago persilatan yang berjaga disekitar benteng Maut kesegala penjuru dunia dengan cara yang paling cepat.
Malaikat penyakitan, ahli waris dari Mo-tiong ci-mo setelah masuk kedalam benteng maut ternyata telah muncul kembali dari benteng itu dalam keadaan selamat.
Begitu kabar itu tersiar dikolong langit sebagian besar orang persilatan segera menganggap pemilik benteng maut atau yang dikenal sebagai Tengkorak maut,pastilah hasil penyaruan dari Mo tiong ci mo, sebab pada empat puluh tahun berselang, Tengkorak maut dan iblis diantara iblis tak pernah munculkan diripada saat yang bersamaan.
Dengan tersiarnya kabar itu, maka Han Siong Kie menjadi sasaran dari perhatian segenap umat persilatan. terutama sekali mereka2 yang pernah merasakan kelihayan dan menderita kerugian ditangan Tengkorak maut serta iblis diantara iblis..
Fajar telah menyingsing .... sang surya memancarkan cahaya ke emas2an dari ufuk sebelah timur.
Han Siong Kie merasa lapar, dahaga bercampur penat . . . perjalanan yang ditempuh semalam suntuk hanya berhasil melampaui jarak sejauh enam puluh li, ia mempunyai tujuan untuk menuju kota yang terdekat, makan hingga kenyang kemudian membeli kuda untuk melanjutkan perjalanan.
Sebuah hutan lebat terbentang di depan mata, nun jauh diseberang hutan ia temukan sebuah dusun kecil penemuan itu membuat semangatnya bangkit kembali, ia segera percepat langkahnya menuju dusun tersebut.
Tiba2 desiran ujung baju tersampok angin berkumandang datang dari arah depan.
Han Siong Kie terkesiap. serentak ia menghentikan langkah kakinya dan berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.
Tiga sosok manusia meluncur datang dari depan dan secepat kilat mengepung sianak muda itu dalam posisi segi tiga.
Diikuti...sreet sreeet desiran tajam bergema tiada hentinya beb erapa puluh sosok bayangan manusia muncul dari arah empat arah delapan penjuru, diantara mereka terdapat aneka ragam manusia, dari padri, imam sampai kaum pengemis dari kay-pang jumlahnya diantara seratus orang..
Han Siong Kie merasa amat terkejut menghadapi pemunculan jago yang Begitu banyaknya, ia sadar bahwa orang2 itu muncul untuk mencari gara2 dengan dirinya, padahal tenaga dalam yang ia miliki telah punah, bukankah itu berarti hanya jalan kematian yang bakal diterima olehnya?
Dalam keadaan Begitu, Han Siong Kie tidak dapat berbuat lain kecuali mengawasi tiga orang jago yang berada disekelilingnya.
orang pertama adalah seorang imam tua yang rambut maupun alisnya telah putih, sekilas memandang ia segera kenali imam tua tersebut sebagai Kui Goan cu, ketua Tiangloo dari partai Khong tong yang pernah cari tahu jejak gurunya, ia tercekat dan jantungnya berdebar keras.
orang kedua adalah seorang padri tua bermuka merah, sedangkan orang ketiga adalah seorang nenek tua bermuka jelek. berwajah keriput dan membawa tongkat kuning berwarna ke emas2an.
Enam buah sorot mata yang tajam, laksana kilat menatap wajah Han Siong Kie tanpa berkedip.
setelah hening beberapa saat lamanya, per-tama2 Kui Goan cu dari partai Khong tong yang buka suara lebih dahulu tegurnya: "siau sicu, kembali kita berjumpa muka"
Han Siong Kie tahu bahwa ia tak dapat lolos dari kepungan lagi, sambil bulatkan tekad ia balas menegur dengan suara dingin, "Ada urusan apa kalian datang mencari aku?"
"Bu liang siu hud" seru Kui Goan cu sambil rangkap sepasang telapaknya "sebelum kita berbicara marilah aku perkenalkan dahulu dua orang jago ini, yang satu ini adalah Seng Gong taysu dari gereja siau lim si, sedang yang itu adalah Kim ciang popo dari gunung Yan san selain itu hadir pula umat persilatan dari pelbagai penjuru, adapun kehadiran kami semua adalah mengandung satu tujuan"
"Apa tujuan kalian?"
"Kami sangat berharap dapat mengetahui jejak dari gurumu Mo tiong ci mo"
Mendengar ucapan tersebut, diam2 Han sioag Kie mengeluh dalam hatinya.
"Habis sudah riwayatku ini hari, pasti aku akan menemui ajalnya ditempat ini."
Manusia apabila jiwanya terancam oleh bahaya maut, ia sudah putus asa kadangkala malah akan pasrah dan jauh lebih tenang sikapnya dari pada siapapun.
Demikian juga keadaan Han Siong Kie pada saat itu, bukannya jeri atau pecah nyali dia malahan berseru dengan nada angkuh:
"Kalau aku tidak bersedia menjawab kalian mau apa?" Paras muka tiga orang jago lihay itu seketika berubah hebat. Seng Gong taysu dari gereja siau lim si segera mendengus dingin.
"Hmm aku rasa siau sicu tak dapat ambil keputusan dengan seenak hatinya sendiri"
Kim ciang popo dari gunung Yao sanpun menepuk tongkat emasnya berulang kali, kemudian sambil menatap pemuda itu dengan pandangan tajam hardiknya.
"Hey bocah muda, aku harap engkau bersedia menjawab beberapa buah pertanyaanku secara jujur"
Han Siong Kie menyapu wajah Kim ciang po dengan pandangan dingin kemudian katanya.
"Aku bisa menjawab dengan sejujurnya asal pertanyaan yang kau ajukan pantas kujawab dengan jujur?"
"Hmm aku ingin tahu apakah Me tiong ci mo adalah hasil penyamaran dari pemilik benteng maut yang disebut Tengkorak maut"
Mendapat pertanyaan tersebut, Han Siong Kie malah terperanjat dibuatnya. "Darimana engkau bisa berkata demikiam?" serunya.
"Bukankah engkau adalah ahli waris dari iblis diantara iblis??"
"Tentu saja aku toh tak pernah menyangkal akan kebenaran tersebut?"
"Dan engkau .... bukankah baru saja keluar dari Benteng maut??"
satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han Siong Kie, ia tahu tindakannya memasuki benteng maut serta lolosnya dia dalam keadaan selamat pasti sudah diawasi oleh kawanan persilatan, sehingga dalam waktu singkat Begitu banyak umat persilatan yang telah berkumpul disana.
Dengan nada gamblang ia segera mengangguk tanda membenarkan-"Benar, aku memang baru saja keluar dari benteng maut itu"
"Kenapa engkau bisa keluar dari benteng tersebut dalam keadaan selamat?" desak Kim ciang popo lebih jauh.
"Aku rasa persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, jadi aku harap lebih baik engkau tutup mulut saja"
Paras muka Kim ciang popo yang jelek seketika berubah sangat hebat, rambutnya yang telah beruban bergetar keras, serunya lagi dengan nada menyeramkan-"sebenarnya lblis diantara iblis adalah penyaruan dari Tengkorak maut atau bukan?"
"Berdasarkan alasan apa engkau ajukan pertanyaan yang ngawur seperti itu?"
"Berdasarkan kedudukanmu serta tingkah lakumu yang dapat keluar masuk Istana maut secara bebas"
Meskipun tenaga dalam yang dimilikinya telah punah, kecongkakan dan kejumawaan dalam sikap Han Siong Kie sama sekali tidak berkurang, kontan ia tertawa dingin tiada hentinya. "Heehh heehh heehh.. apakah engkau tidak merasa terlalu brutal ucapanmu itu?"
"ooh.. jadi engkau tidak bersedia untuk bicara?"
"Jangan paksa aku untuk bicara kalau kau ingin tahu dudukperkara yang sebenarnya kenapa tidak berkunjung sendiri kedalam Istana maut untuk melakukan penyelidikan?"
Ucapan yang kasar dan sangat mengena di hati itu seketika membuat paras muka tiga orang jago persilatan itu berubah hebat.
Beberapa waktu kemudian seng Gong taysu dari gereja siau lim si berseru kembali:
"Kami akan berkunjung sendiri kesana untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan, segenap umat Bu- lim akan bersatu padu untuk menghancurkan benteng maut dari muka bumi, tapi bagi siau sicu sendiri aku rasa lebih baik bicara terus terang saja sebab kalau tidak.."
"Kalau tidak kenapa?"
"segenap umat persilatan yang hadir dalam gelanggang hari ini mungkin tak akan melepaskan siau sicu dengan begitu saja"
"Termasuk taysu sendiri?"
"omintohud mau tak mau terpaksa aku harus ikut serta dalam pergerakan ini"
Dalam hati timbullah keinginnan bagi Han Siong Kie untuk menerangkan bahwa Tengkorak maut bukanlah hasil penyaruan dari Mo tiong ci mo, tapi sebelum ia sempat berbicara, Kim ciang popo telah tak sabar lagi dan segera membentak keras. "Bocah keparat, ayoh bicara"
Mendengar bentakan itu, Han Siong Kie merasa gusar sekali, ia tahu seratus orang jago persilatan yang berkumpul disana waktu itu, semuanya merupakan lawan2 dari Tengkorak maut ataupun iblis diantara lblis. bicara atau tidak baginya sama saja tak ada artinya, maka dengan ketus pula dia menjawab "Aku tak mau bicara engkau mau apa?"
sejak lama Kim ciang popo, yang beradat keras sudah ada keinginan untuk mencoba kelihayan Malaikat penyakitan yang dikatakan sangat lihay itu, toya emasnya segera direntangkan didepan dada lalu berseru:
"Bocah dungu, engkau anggap dengan andalkan beberapa ilmu silat sesatmu itu maka engkau sudah dapat malang melintang dikolong langit tanpa tandingan?"
Han Siong Kie sadar jika lawannya turun tangan maka dia pasti tak akan lolos dari cengkeraman mautnya tapi bagi sianak muda itu tak ada jalan lain kecuali menerima kematian tersebut dengan pasrah.
Rasa sedih murung dan kesal berkecamuk dalam benaknya, ia tak menyangka setelah nyaris mati dalam benteng maut akhirnya toh harus menerima kematian ditangan para jago persilatan-
Sambil menggertak gigi segera serunya:
"Engkau tak usah mengancam, aku tak terbiasa dengan gertak sambal macam itu"
"Anak iblis sialan mulutmu benar2 sangat tajam akan kujajal dirimu lebih dahulu" bentak Kim ciang popo dengan penuh kegusaran.
Cahaya emas berkelebat lewat, toya emas itu secepat kilat meluncur kearah depan.
suasana dalam gelanggang seketika diliputi ketegangan, semua orang ingin tahu apa yang terjadi setelah nenek toya emas melepaskan serangan gencarnya.
Ditengah jeritan yang amat nyaring tubuh Han Siong Kie tersapu telak dan mencelat keangkasa, darah segar muncrat keluar dari bibirnya.
Tiga orang jago yang ada ditengah gelanggang kontan jadi tertegun dibuatnya.
Para jago yang ada disekeliling gelanggangpun memperdengarkan jeritan kaget bercampur nada heran.
"Blammm..." badan Han Siong Kie terlempar sejauh tiga tombak dari tempat semula dan roboh tak berkutik lagi diatas tanah.
Meskipun tenaga dalam masih dimiliki olehnya, tapi karena urat2 penting dalam tubuhnya ditotok oleh pemilik benteng maut maka hawa murni yang dimilikinya tak dapat dihimpun menjadi satu, kendatipun Begitu berkat tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan yang masih terkandung di dalam tubuhnya, ia selamat dari luka yang lebih parah akibat hantaman toya tersebut.
Peristiwa itu sama sekali berada diluar dugaan setiap orang, malaikat penyakitan yang dua hari berselang masih malang melintang tanpa tandingan dikolong langit, ternyata pada saat ini tak mampu menghadapi sebuah serangan dari Kim ciang popo.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?" per-tama2 Seng Gong taysu menegur lebih dulu dengan muka tercengang dan perasaan tidak habis mengerti.
Dengan perasaan bimbang dan ragu Kui Goan cu dari partai Khong tong ikut gelengkan kepalanya.
"Aku sendiripun tak dapat menjelaskan persoalan itu, sebab ketika untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan bocah itu, jelas kuketahui bahwa ia memiliki ilmu silat yang sangat lihay."
"Hei hidung kerbau, engkau yakin tak salah melihat?" tegur Kim ciang oopo dengan marah.
sebutan " Hidung kerbau" itu dirasakan tajam dan pedas dalam hati Kui Goan cu, merah padam selembar wajahnya, dengan terbata2 ia lalu menjawab: "Bukankah ia telah mengakui sendiri akan hal itu??"
"Tapi kenyataan membuktikan kalau ia sama sekali tidak berkepandaian silat, bagaimana penjelasanmu tentang soal ini??"
Dalam pada itu dengan sempoyongan perlahan2 Han Siong Kie bangkit berdiri dari atas tanah, para jago yang hadir dalam gelanggang kembali dibuat gempar oleh kejadian tersebut.
Sambil mengenyitkan alisnya yang tebal, Seng Gong taysu segera berkata:
"Kalau dikatakan ia sama sekali tak berilmu silat, hantaman toya tadi sudah cukup untuk mematahkan tulang punggungnya, tapi.. kenapa ia tidak mampus?" Kim ciang popo termenung beberapa saat lamany a, kemudian menjawab:
"Perduli bagaimanapun juga, duduk persoalan yang sebenarnya hanya bisa kita ketahui dari mulutnya sendiri"
Ia enjotkan badan dan melayang kehadapan Han Siong Kie.
Pada waktu itu pemuda she Han tersebut berdiri dengan sempoyongan, sekujur badannya terasa amat sakit, tenaganya ludas dan untuk berbicarapun tak kuat lagi, dengan pandangan sayu ia balas menatap wajah lawannya.
Mendadak.. Kim ciaog popo melihat sesuatu diatas tanah, ia temukan sebuah benda hitam menggeletak ditanah, ketika diambil ternyata benda itu adalah sebuah sarung tangan terbuat dari tembaga, diatas punggung dan telapak sarung tangan itu penuh terukir tulisan2 yang lembut.
Dengan hati berdebar perempuan itu, mengawasi lebih seksama lagi, tiba2 ia menjerit kaget:
"Aaaah kitab pusaka Hud jiu Poo pit"
Rupanya sewaktu tubuh Han Siong Kie terhantam oleh toya tadi dan mencelat keudara, tanpa disadari olehnya kitab pusaka tangan Buddha itu sudah terjatuh keatas tanah.
Betapa terperanjatnya sianak muda itu setelah mendengar seruan itu, tapi jiwanya pada saat ini terancam bahaya, tentu saja tidak sempat baginya lagi memikirkan benda itu lagi, maka melirikpun ia tidak.
Kui Goan cu dari partai Khong tong serta seng Gong taysu dari gereja siau lim si memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, kedua oraog itu menerjang kedepan ketika dilihatnya benda yang berada dalam genggaman Kim ciang popo ternyata bukan lain adalah kitab pusaka Hud jiu Poopit yang sudah tersohor namanya didalam dunia persilatan sejak seratus tahun berselang, mereka sama2 berdiri terperangah dibuatnya.
Baik Kui Goan cu maupun Seng Gong taysu sama2 merupakan orangZ beribadah yang beriman tinggi namun setelah menjumpai benda mestika yang tak ternilai harganya itu tak urung mereka unjukan pula rasa tamak dan napsU serakahnya.
Tiba2 antara gerombolan jara jago yang hadir disisi gelanggang terdengar seseorang dengan suara yang aneh dan berseru:
"Kitab pusaka telapak Buddha dari mana anak iblis ini bisa dapatkan benda mustika itu??"
Begitu teriakan tersebut keluar dari mulutnya seketika itu juga suasana jadi gempar dan para jago persilatan yang berada disekeliling gelanggang sama2 menerjang kedepan bagaikan gulungan air bah.
Buru2 Kim ciang popo masukan kitab pusaka telapak Buddha itu kedalam sakunya kemudian enjotkan badannya dan melayang keluar gelanggang dalam dua tiga kali loncatan saja tubuhnya sudah berada tiga puluh tombak jauhnya dari tempat semula.
Ditengah suara bentakan dan hiruk pikuk yang amat memekikkan telinga, semua jago persilatan yang berada disekeliling tempat itu sama2 mengerahkan segenap kekuatannya untuk melakukan pengejaran.
Gerakan tubuh Kim ciang popo cepat bagaikan sambaran kilat, dengan kepandaian silat yang dimilikinya untuk meloloskan diri bukaniah suatu pekerjaan yang terlalu sulit, tapi ketika untuk ketiga kalinya ia melayang keudara, mendadak segulung angin pukulan yang amat dahsyat dan santar menerjang kearah badannya dan memaksa perempuan itu mau tak mau harus meluncur kembali keatas tanah.
seorang kakek tua yang cebol dan gemuk bagaikan ibis, ibarat sukma yang melayang saja tahu2 sudah munculkan diri dihadapannya.
Begitu melihat siapa yang munculkan diri, diam2 Kim- ciang Popo tarik napas dingin, dengan hati terkesiap segera tegurnya:
"Tee heng sian Dewa berjalan dalam tanah apa maksudmu datang kemari?"
orang yang barusan munculkan diri itu bukan lain adalah " Tee heng sian" Dewa berjalan dalam tanah Tok Kun yang dikenal sebagai manusia paling sulit dilayani, jarang ada orang yang mengetahui akan asal usulnya, tiada orang pula yang mengetahui sampai dimanakah kelihayan tenaga dalam yang dimilikinya.
sementara itu dewa berjalan dalam tanah telah tertawa cekikikan sambil berkata:
"Hiihhh hiiihhh hiiiihhh Oei Cio Kiok siapa yang melihat ia mendapat bagian, masa engkau hendak mengangkangi benda mustika itu untuk kepentinganmu seorang diri?"
Dalam waktu yang amat singkat itulah semua jago persilatan yang mengejar dari belakang telah tiba disana dan mereka segera membentuk lingkaran kepngan yang berlapis- lapis.
-0000000-
Jilid 14 : Mustika Hud jiu poo pit
KARENA kemunculan harta mustika tadi, perhatian semua orang ditujukan kearah sarung tangan Hud jiu poo pit itu, dan Han Siong Kie untuk sementara waktu terlupakan.
Nenek bertoya emas Oei Ciu Kiok yang jalan perginya dihadang, hatinya merasa mendongkol bercamcur gusar, sambil menggertak gigi dan melototkan matanya bulat2 ia berseru:
"Dewa berjalan dalam tanah, apakah engkau hendak merampas barang milik orang lain? terus terang kuberitahukan kepadamu, aku oei ciu Kiok bukanlah lampu lentera yang kehabisan minyak, orang lain mungkin jeri kepadamu, tapi aku nenek tua sama sekali tidak memperdulikan akan soal itul"
Dewa berjalan dalam tanah menggerakkan badannya yang gemuk dan cebol hingga maju beberapa depa kedepan, sambil picingkan matanya jadi kecil ia menjawab:
"Ooooh tidak berani aku tidak berpikiran begitu, cuma kedatangan kita orang2 persilatan pada saat ini toh dikarenakan satu tujuan? tidak sepantasnya kalau engkau lupa kawan dan pergi dengan begitu saja"
suara bisikan dan kegaduhan menyelimuti seluruh gelanggang, berpuluh2 pasang mata yang memancarkan keserakahan sama2 ditujukan kearah kitab pusaka Hud ji Poo pit yang berada dalam saku nenek bertoya emas, semua orang mengilar dan ingin mendapatkannya.
Rupanya nenek bertoya emas mengetahui akan kekuatan sendiri, ia sadar asal manusia cebol itu turut campur dalam perebutan ini, maka semua perhitungannya akan meleset, rasa benci dan dendam segera menyelimuti hatinya, sambil silangkan toyanya didepan dada ia berseru:
"Cebol sialan, aku nenek tua mohon beberapa petunjuk ilmu silat darimu"
"ooooh ..... jangan salah paham, aku bukan datang kesini untuk ajak engkau berkelahi" sahut Dewa berjalan dalam tanah sambil mengebaskan ujung bajunya, "seorang pria sejati tak akan berkelahi dengan kaUm wanita sekalipun menang juga tak bisa dibanggakan."
"Kentut busuk"
Cahaya ke emas2an berkelebat lewat, toya emas itu bagaikan beribu2 ekor ular emas secepat kilat meluncur kedepan dan menghantam sekujur badan Dewa berjalan dalam tanah.
Merasakan datangnya ancaman tersebut, Dewa berjalan dalam tanah segera menggerakan tubuhnya dan meloloskan diri dari kurungan bayangan toya lawan ia menghardik:
"Tahan-. "
Cahaya emas jadi lenyap tahu2 ujung toya emas tersebut sudah kena dicengkeram oleh Dewa berjalan dalam tanah.
Demontrasi kepadaian yang amat luar biasa ini seketika membuat para jago persilatsn yang berada disisi gelanggang jadi amat terkesiap dan berubah wajah mereka, sama sekali tak mengira kalau ilmu silat yang di miliki Dewa berjalan dalam tanah begitu lihaynya sehingga dalam sekali gebrakan saja toya emas lawannya berhasil digenggam.
Paras muka Nenek bertoya emas yang pada dasarnya sudah jelek, kini berubah makin jelek lagi. sorot mata penuh kebencian dan perasaan dendam memancarkan keluar dari mata nenek tua, rambutnya yang telah beruban pada bangkit berdiri bagaikan landak.
Tiba2 Dewa berjalan dalam tanah mengendorkan cekalannya, Nenek bertoya emas segera mundur tiga langkah kebelakang.
Kenyataan dengan jelas membuktikan bahwa suatu persekongkolan untuk menghadapi ahli waris dari iblis diantama iblis, kini sudah berubah jadi suatu perebutan benda mustika yang melibatkan setiap umat persilatan dari segala penjuru kolong langit.
Dengan sorot mata yang tajam Dewa berjalan dalam tanah menyapu sekejap wajah semua jago yang hadir disana, kemudian tertawa terbahak2.
"Haahh haahh..haahh.. tujuan dari kehadiran rekan persilatan semua pada saat ini adalah untuk menghadapi anakan iblis tersebut, kemudian mencari tahu jejak dari iblis tua serta membalas dendam berdarah dari masing2 perguruan, oleh karena itu kita tak boleh merobah tujuan kita hanya disebabkan karena kemunculan benda pusaka yang sama sekali tak terduga ini"
semua orang anggukkan kepalanya tanda menyetujuinya namun sorot mata yang memancarkan kerakusan masih belum tergeser dari tubuh nenek bertoya emas.
Setelah berhenti sebentar Dewa berjalan dalam tanah melanjutkan kembali kata2nya:
"Dewasa ini kita harus bereskan dahulu persoalan kita yang terpenting, sedangkan mengenai pusaka yang muncul secara tak terduga ini Hiiihhh biiihhh hilihhh setiap orang yang hadir disini berhak untuk memperoleh bagian, penyelesaian boleh kita lakukan belakangan saja cuma ..."
Bicara sampai disini ia lantas berpaling kearah Nenek bertoya emas dan menambahkan-
"oei ciu Kiok. sekali lagi kuperingatkan kepadamu jikalau engkau hendak mengangkangi benda mustika tersebut seorang diri maka orang pertama yang akan dicari oleh iblis diantara iblis atau Tengkorak maut adalah engkau, percayakah engkau bahwa dengan kekuatanmu kamu bisa lolos dari bencana itu?"
Ucapan yang tajam dan tepat itu segera mengena dihati Nenek bertoya emas, membuat bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri, ia gelagapan dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun-
Dipihak lain.. setelah berdiri termangu2 beberapa saat lamanya, Han Siong Kie tersadar kembali dari lamunannya, sambil menahan rasa sakit yang tak terkirakan selangkah demi selangkah ia berjalan menuju keujung hutan, mempertahankan kehidupan adalah suatu tindakan yang jamak sebagai umat manusia, pemuda itu sadar bahwa jiwanya pada hari itu terancam bahaya, tapi sepenuh tenaga ia berusaha untuk mencoba selamatkan jiwanya dari ancaman tersebut.
Terdengar Dewa berjalan dalam tanah berkata kembali:
"sekarang lebih baik saudara sekalian menangkap bocah muda itu lebih dahulu. janganlah biarkan dia lolos dari tempat ini, siapa tahu kalau bocah muda itu sengaja menggunakan siasat untuk menipu kira dengan pura2 tak berkepandaian, karena melihat jumlah kita yang terlalu banyak dan sadar kalau tak mampu melakukan perlawanan, kita tidak boleh termakan oleh tipu muslihatnya itu..."
Kobaran semangat tersebut segera membangkitkan kembali semangat para jago untuk menangkap Han Siong Kie, tapi sebelum sempat berbuat sesuatu, mendadak .... Nenek bertoya emas dengan suara yang keras dan nyaring bagaikan geledek berseru:
"Bagus... bagus sekali... manusia cebol berani benar engkau gunakan ilmu mencopet untuk mencuri benda mustika Hud jiu Poo pit dari sakuku, ayoh cepat serahkan kembali kepadaku"
Begitu bentakan tersebut diutarakan keluar, sorot mata semua orangpun tanpa sadar sama2 dialihkan keatas badan Dewa berjalan dalam tanah.
Paras muka Dewa berjalan dalam tanah sama sekali tak berubah, deagan nada dingin ia menjawab:
"Heemmm hheeemmm engkau tak usah ribut2 terus untuk sementara waktu biarlah benda mustika aku yang simpan lebih dahulu".
Rasa benci dan dendam Nenek bertoya emas terhadap Dewa berjalan dalam tanah sudah mendarah daging, ia kontan mendengus dingin.
"Hmm engkau tak usah berlagak sok. perkataan semacam itu hanya bisa membohongi bocah berumur tiga tahun, kalau aku nenek tua tidak percaya dengan pribadimu lantas bagaimana??"
Ucapan ini seketika membungkamkan mulut Dewa berjalan dalam tanah, dari malu ia jadi gusar dan segera teriaknya:
"Anggap saja aku telah merampasnya dari tanganmu engkau mau apa?"
suasana dalam gelanggang kontan berubah jadi hening sunyi dan sedikiteun tak kedengaran apa2, semua orang tahu sampai dimana kelihayan ilmu silat yang dimiliki Dewa berjalan dalam tanah, oleh karena itu tak seorang pun ingin turun tangan lebih dahulu kendatipun begitu tak seorang manusiapun yang tinggalkan gelanggang.
Kesunyian yang mencekam seluruh jagad mendatangkan napsu membunuh yang berlapis2 dalam benak setiap orang.
Dalam pada itu, Han Siong Kie dengan tubuh sempoyongan telah berjalan, kurang lebih seratus tombak dari tempat semula..
Mendadak bayangan manusia berkelebat lewat, tujuh orang imam dan lima orang padri tahu2 menghadang jalan perginya.
Ketujuh orang imam tersebut adalab rombongan jago lihay partai Khong-tong yang dipimpin oleh Kui Goan cu, sedangkan lima orang padri adalah Seng Gong taysu dari gereja siau lim-si serta empat orang hweesio muda lain yang bertubuh kekar. Dengan paras muka membesi Kui Goan cu menegur:
"Siau sicu, aku harap engkau bersedia menjawab dengan sejujurnya, benarkah gurumu adalah penyaruan dari Tengkorak maut.?"
"Hmm aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu" sahut Han Siong Kie dengan suara lemah.
"Pinto datang kemari karena sedang melakukan perintah guruku,jika siau sicu tak bersedia menjawab pertanyaanku ini, bagaimana kalau kuundang kedatangan sicu keatas gunung Khong tong untuk menemui guruku??"
Walaupun sudah putus asa dan tak mempunyai kekuatan untuk melawan, keangkuhan dan kejumawaan Han Siong Kie masih menguasahi benaknya, ia menggeleng dengan ketus: "Aku tidak mau"
"Kui Goan too heng" sela Seng Gong taysu dari samping " lebih baik biar pinceng bawa dulu sicu ini pulang ke gunung Siong san, bila urusan kami telah selesai barulah kami undang kehadiran para wakil dari pelbagai perguruan untuk menyelesaikan persoalan ini, entah bagaimanakah pendapat kalian?"
Malaikat bertenaga raksasa Leng Beng cu yang beradat keras dan berangasan tak dapat menahan sabar lagi, terutama ia pernah mengalami kerugian besar ditangan Han Siong Kie, dengan suara keras segera bentaknya:
" Kenapa musti ribut terus? ayoh, kita bekuk dulu bangsat cilik ini"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, telapak yang besar bagaikan kipas langsung dibabat kearah dada si anak muda itu.
Ia tak tahu kalau kepandaian silat Han Siong Kie telah punah, dalam serangannya itu ia gunakan tenaga sebesar dua belas bagian, sebelum serangan tiba angin pukulan sudah cukup membuat pemuda itu sempoyongan, agaknva Han song Kie bakal mampus terhajar oleh
serangan dahsyat itu..
Disaat yang kritis dan amat mencekam perasaan itulah.. tiba2 jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyian- tubuh malaikat raksasa Leng Beng cu yang tinggi besar mencelat keudara, kemudian roboh terkapar diatas tanah. Darah kental.. perlahan2 meleleh keluar dari batok kepala bagian belakang.
Enam imam dan lima padri lainnya yang menyaksikan peristiwa itu, sama2 merasa tercekat hatinya dan tanpa terasa bulu kuduk pada bangun berdiri.
Dengan sempoyongan Han sing Kie mundur beberapa langkah kebelakang, "Blaam" ia roboh keatas tanah dan jatuh tak sadarkan diri
Sementara itu enam imam dari partai Khong-tong dan lima padri dari gereja siau lim si masih memandang kearah mayat malaikat raksasa Leng Beng cu dengan pandangan terkesiap. mata mereka terbelalak dan mulut mereka melongo, sementara badannya gemetar keras, rupanya diatas batok kepala imam raksasa itu tertancap selembar daun yang tipis.
Membunuh orang dengan sambitan daun, kepandaian ampuh semacam itu jarang sekali ditemui dalam kolong langit.
sesosok bayangan manusia laksana menyambar kilat berkelebat lewat dari sisi badan lima padri enam imam tersebut, semua orang merasa terperanjat, diantaranya Kui Goancu dan seng Goan taysu yang merupakan jago lihay kelas satu dalam dunia persilatann, ternyata tak sempat melihat jelas paras muka bayangan tersebut, bukan begitu saja, mereka pun tak tahu apakah orang itu seorang pria atau wanita. Malaikat penyakitan yang menggeletak di atas tanah, kini lenyap tak berbekas.
Melukai orang, menyelamatkan orang rupanya dilakukan oleh seorang yang sama dan dalam waktu yang bersamaan, tapi siapakah orang lihay itu?
Bentakan keras, benturan nyaring berkumandang datang dari samping gelanggang.
Tidak jauh dari tempat kejadian itu, beberapa ratus orang jago persilatan sedang melangsungkan suatu pertarungan yang paling seru dan paling dahsyat untuk memperebutkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit.
sekali lagi seng Gong taysu menyapu sekejap mayat Leng Beng cu yang terkapar diatas tanah, kemudian dengan badan ngeri ujarnya kepada Kui Goan-cu: "Too heng, mungkinkah perbuatan ini dilakukan oleh Iblis diantara iblis."
sebelum padri dari gereja siau lim si itu menyelesaikan kata2nya imam tua itu cepat- cepat menukas:
"Apabila kenyataan sesuai dengan berita yang tersiar dalam persilatan dan Tengkorak maut bukan lain adalah penyaruan dari iblis diantara iblis, itu berarti persoalan ini sudah mencapai keadaan yang paling serius dan kritis, pinto harus segera pulang ke gunung untuk minta petunjuk ketua kami" seng Gong taysu mengangguk:
"Betul, akupun mempunyai maksud untuk berbuat demikian."
Begitulah, salah satu diantara enam orang imam tersebut segera membopong jenasah dari Leng Beng-cu, kemudian tanpa membuang waktu lagi mereka segera berangkat untuk kembali kegunung Khong tong guna memberi laporan kepada ketua mereka.
Dipihak lain, pertarungan sengit untuk memperebutkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit masib berlangsung dengan serunya, semua pihak mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk merampas benda mestika ttu dari tangan orang lain, belum selang seperminum teh, sudah belasan orang jago lihay persilatan yang menemui ajalnya ditempat tersebut..
-ooo0ooo-
BAB 29
SEMENTARA itu, dipihak lain ketika Han Siong Kie sadar kembali dari pingsannya, ia temukan tubuhnya berbaring di tengah sebuah hutan belantara yang gelap hingga sinar matahari tak mampu menembus sampai kebawah.
Rasa sakit bagaikan di tusuk dengan jarum membuat pemuda itu tak dapat dikuasahi lagi mendengus berat. "Nak, engkau telah sadar?"
Teguran itu dirasakan Han Siong Kie amat mengetuk perasaan hatinya. dari suara itu pula dia segera mengetahui siapakah yang telah menolong jiwanya dari ancaman maut.
"Kau..kau.. adalah orang yang kehilangan sukma? bisiknya dengan suara gemetar.
"Benar"
"Kau.. untuk sekian kalinya telah menolong aku, budi kebaikan sebesar ini tak akan kulupakan untuk selamanya"
"Nak,jangan pikir yang bukan2 sekarang makanlah dahulu obat ini,pengaruh obat tersebut akan mengurangi penderitaan dalam tubuh.."
Baru saja Han Siong Kie akan menyatakan rasa terima kasihnya, sebutir obat dengan cepat telah meluncur masuk kedalam mulutnya dan tertelan kedalam perut.
Beberapa saat kemudian rasa nyeri dan sakit dalam tubuhnya semakin berkurang, buru2 ia merangkak bangun dan duduk diatas tanah, sepasang matanya terbelalak lebar2, namun suasana disekitar situ sunyi senyap tak terlihat sesosok bayangan manusia pun, ia tak tahu dimanakah orang yang kehilangan sukma menyembunyikan diri.
"Cianpwe, kenapa engkau tidak unjukkan diri untuk berjumpa dengan diriku?" ujarnya dengan perasaan tulus .
"sekarang masih belum tiba waktunya"
"Dari mana cianpwae bisa tahu kalau aku ...."
"Untuk sementara waktu engkau tak usah bertanya soal itu lebih dahulu, bukankah engkau telah masuk dalam benteng maut??"
"Benar aku telah berkunjung kedalam benteng tersebut"
"Dan engkau sudah bertemu dengan pemilik benteng maut?. "
"sudah dia adalah seorang manusia berkain cadar dimuka yang amat misterius, bertemu atau tidak sama sekali tak ada bedanya"
"Sudah kau ceritakan tentang asal usulmu?"
"Tidak. aku belum menceritakan apa2 kepadanya"
Mendengar jawaban tersebut orang yang kehilangan sukma menghela napas panjang. "Aaaai .. nak mengapa engkau tidak turuti perkataanku?"
"Sebab aku masih belum mengerti apa sebabnya cianpwee suruh aku berbuat begitu" jawab Han Siong Kie dengan perasaan minta maaf.
"Aaai.. nak engkau sudah salah, kini berbuat kesalahan yang jauh lebih besar, aku suruh engkau berbuat begitu tentu saja dengan disertai maksud-maksud tertentu, sedangkan mengenai apa sebabnya untuk sementara waktu aku tak dapat beritahu padamu, bukannya aku berlagak sok rahasia, dalam kenyataan aku tak dapat beritahukan persoalan ini langsung dengan mulutku sendiri aaai .. sekarang..."
Han Siong Kie merasa tak habis mengerti terhadap ucapan orang yang kehilangan sukma ia tak paham apa sebabnya perempuan itu tak dapat beritahukan persoalan itu kepadanya dengan mulut sendiri? suatu teka-teki yang membingungkan hatinya. Terdengar orang yang kehilangan sukma berkata kembali.
"Nak. kalau toh engkau tak mau berbuat seperti apa yang kupesankan kepadamu, mengapa engkau mengunjungi benteng maut dan bisa lolos dalam keadaan selamat?"
"Aku sedang melakukan tugas yang dibebankan guruku"
"Jadi engkau benar2 sudah angkat iblis diantara iblis sebagai gurumu?"
"Perkataan cianpwee sedikitpun tak salah"
"Boleh aku tahu kisahnya hingga engkau berjumpa dengan iblis diantara iblis serta angkat sebagai gurumu?"
Han Siong Kie mengangguk secara gamblang dan tidak merahasiakan sesuatu apapun ia menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama ini.
Selesai mendengar kisah tersebut dengan penuh emosi orang yang kehilangan sukma berseru:
"Kau maksudkan seorang gadis yang menyebut diri sebagai istri yang ditinggalkan telah selamatkan engkau dari dalam benteng"
"Benar, ia bersedia menolong aku karena akupun pernah selamatkan selembar jiwanya"
"Sungguh tak nyana dia.." mendadak orang yang kehilangan sukma teringat akan sesuatu dan perkataan yang belum sempat di selesaikanpun terpotong ditengah jalan-
"Ciancwee kenal gadis yang bernama istri yang ditinggalkan itu?" tanya Han Siong Kie cepat dengan perasaan tercengang.
"oooh... tidak... tidak aku tidak kenal, saat ini tenaga dalam yang kau miliki masih belum dapat dihimpun kembali" buru-buru orang yang kehilangan sukma mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain.
Dengan penuh panasaran dan rasa jengkel Han Siong Kie mendengus dingin-
"Hmm Benar, tenaga dalamku tak dapat dihimpun kembali, menurut gadis yang bernama Istri yang ditinggalkan, asal jalan darahku yang tertotok bisa dibebaskan maka tenaga dalamku masih tetap utuh seperti sedia kala"
"Maksudmu???"
"Mungkin dalam dunia persilatan tak ada orang lagi yang bisa bebaskan jalan darahku yang tertotok dengan kepandaian khusus benteng maut itu."
orang yang kehilangan sukma termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan nada yang sedih ia menjawab:
"Ucapanmu memang tidak keliru, dikolong langit dewasa ini memang jarang sekali ada orang yang mampu membebaskaa totokan jalan darah yang dilakukan secara khusus itu."
"Apakah cianpwee dapat membebaskan pengaruh totokan tersebut?" tanya sang pemuda dengan penuh harapan.
"Aku?"
"Aku hanya menduga begitu, sebab dengan tenaga dalam yang cianpwee miliki kemungkinan besar..."
"Dugaanmu tepat sekali, aku memang dapat membebaskan totokan tersebut"
Mendengar jawaban tersebut Han Siong Kiejadi amat terperanjat dan merasakan jantungnya berdebar keras, ia dapat merasakan bahwa perkataan yang diucapkan oleh orang yang kehilangan sukma diutarakan dengan perasaan hati tertekan, tak tahan lagi dia berseru:
"Cianpwee....kau..."
"Aku tak apa2 nak. aku akan bebaskan jalan darahmu yang tertotok" ujar orang yang kehilangan sukma lagi dengan suara lebih tenang dan datar.
Han Siong Kie merasa amat terharu sekali hingga seluruh badannya gemetar keras, ia tak menyangka kalau orang yang kehilangan sukma menyanggupi untuk bebaskan jalan darahnya yang tertotok. setelah jalan darah itu bebas maka tenaga dalam yang dimilikinya akan pulih kembali seperti sedia kala dan pertama2 dia akan mengunjungi suhunya lebih dahulu meskipun kedatangannya akan mendatangkan kekecewaan bagi gurunya tapi keadaan jadi jauh lebih baik dari pada sama sekali tak dapat berjumpa dengan dirinya.
Kedua dia akan merampas kembali sarung tangan Hud jiu Poo pitnya dan mengunjungi malaikat hawa dingin sehingga sepasang benda mustika itu dapat bersatu kembali dan.. Belum habis dia berpikir suara dari orang yang kehilangan sukma telah berkumandang: "Nak, aku ada satu pertanyaan hendak kuajukan kepadamu"
"Katakanlah yang hendak kau tanyakan?"
"Kau... kau... apakah engkau sangat membenci ibumu?"
Han Siong Kie tak menyangka kalau pihak lawan akan mengajukan pertanyaan tersebut, mendengar pertanyaan itu bagaikan di pagut ular berbisa sekujur tubuhnya bergetar keras.
Ucapan terakhir dari paman gurunya Telapak naga beracun Thio Lin sesaat sebelum meninggal dunia kembali berkumandang dalam sisi telinganya:
"...aku pernah membawa engkau untuk menemui ibumu, tapi ia hendak membinasakan kita berdua secara keji."
Selain itu, iapun teringat kembali dengan adegan ketika ibunya Siang Go cantik ong cui Ing turun tangan secara keji terhadap dirinya, ketika ia berada diwilayah Lian huan tan pusat kekuasaan perkumpulan Thian che kau.
Makin diingat perasaan hatinya makin sakit bagaikan di iris2, dengan penuh penderitaan ia mendengus berat. "Aku... aku tak punya ibu" sahutnya kemudian.
"Kebencianmu kepadanya sudah mencapai ketingkat itu??" tanya orang yang kehilangan sukma lebih jauh.
Han Siong Kie menggigit bibirnya kencang2. "Aku tak mau mengungkap soal dirinya lagi."
"Tapi dikolong langit toh tak ada orang tua yang tidak menyayangi putra kandUng sendiri???"
"Benar, bagi orang lain mungkin saja perkataan itu benar... tapi bagi diriku tidak"
"siapa tahu kalau ia mempunyai kesulitan yang memaksa dirinya terpaksa harus berbuat begitu??"
"Kesulitan? haaahh haaahh haaah"
Dengan kalap dan penuh ledakan perasaan emosi, Han Siong Kie tertawa keras, diantara gelak tertawanya penuh mengandUng rasa sedih, gusar, saklt hati serta perasaan lain yang mengaCaUkan pikirannya, ia benci kepada ibUnya yang berhati kejam bagaikan seekor ular beraCUn itu
"Nak, Cinta kasih orang tua terhadap anaknya tiada berbeda dikolong langit, suatu ketika engkau akan paham dengan sendirinya" nasehat orang yang kehilangan sukma lebih jauh.
"Hmm sekarangpun aku sudah mengerti" jawab pemuda itu penuh kebencian.
Melihat kekerasaa hati pemuda itu, orang yang kehilangan sukma menghela nafas panjang.
"Aaaai nak, suatu hari engkau akan merasa menyesal atas Cara berpikir serta pandangan yang kau kemukakan pada saat ini"
Han Siong Kie tercengang dan tidak habis berpikir terhadap ketepatan orang yang kehilangan sukma menebak latar belakangnya, siapakah orang itu? kenapa ia bisa tahu akan asal usulnya dengan begitu tepat? kenapa ia begitu menaruh perhatian terhadap dirinya?
Dari pertolongan yang diberikan perempuan ini setiap kali ia sedang mengalami kesulitan atau mara bahaya, hal ini sudah jelas membuktikan bahwa pertolongan itu bukan diberikan secara kebetulan saja, se-akan2 ia selalu mengikuti kemanapun dia pergi, kenapa ia berbuat demikian??
suatu teka teki yang tak terjawab? sejak kemunculan orang yang ada maksud hingga saat ini, teka-teki tersebut selalu membelenggu perasaan hatinya. Berpikir sampai disitu tak tahan lagi ia bertanya: "sekali lagi aku mohon bertanya, siapakah name cianpwee??"
"Nak, waktunya belum tiba, lebih baik janganiah kau tanyakan lebih dahulu tentang soal itu"
"Agaknya cianpwee merasa paham sekali dengan semua asal usulku..?"
"Betul, dan mungkln apa yang kuketahui jauh melebihi apa yang kau bayangkan sekarang"
satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han Siong Kie, jangan2 orang yang kehilangan sukma adalah sanak keluarga sendiri atau saudara saperguruan dari ayahnya, sebab perguruan dari ayahnya hingga saat ini masih merupakan teka teki besar, andaikata ia berhasil mendapat keterangan dari mulut perempuan ini mengenai sebab musabab bunuh dirinya sang paman guru Telapak naga beracun Thio Lin, siapa tahu kalau ia bakal memperoleh tanda2 yang bakal menguntungkan penyelidikannya? Berpikir sampai disitu, dengan nada menyelidik ia segera bertanya:
"Cianpwee, ada satu persoalan yang sampai kini tidak kupahami, aku harap apa yang membingungkan hatiku itu dapat kuketahui dari keterangan cianpwee, apakah engkau bersedia untuk menjawab?"
"Apa yang ingin kau tanyakan? coba utarakan lebih dahulu"
"Mengenai perguruan dari ayahku"
"ooooh tentang soal itu" orang yang kehilangan sukma sangsi sebentar "kali ini engkau bakal kecewa lagi sebab aku masih belum dapat memberitahukan soal ini kepadamu."
Mendengar jawaban tersebut Han Siong Kie dibuat apa boleh buat oleh kemisteriusan orang yang kehilangan sukma hatinya terjelos dan ia segera berseru: "Kalau begitu anggaplah aku telah banyak bertanya"
orang yang kehilangan sukma sama sekali tidak gusar oleh sindiran tersebut, beberapa saat kemudian ia berkata: "Nak, sekarang engkau boleh bangkit berdiri"
Han Siong Kie menurut dan bangkit berdiri
"Jangan bergerak, jangan berpaling kebelakang" kembali orang yang kehilangan sukma berkata.
Han Siong Kie merasakan hatinya jadi amat tegang, jantungnya terasa berdebar keras, ia tahu orang yang kehilangan sukma akan membebaskan jalan darahnya yang tertotok.
Desiran angin tajam menggulung, tiba2 dari tempat yang tak jauh dari sana "Duukk duuk duuk secara beruntun bersarang di atas beberapa jalan darah penting sianak muda itu, sekujur badannya gemetar keras, dan ia merasakan hawa murni yang mulai bergerak dalam tubuhnya, dengan cepat pemuda itu coba menyalurkan hawa murninya, ia merasakan tenaga dalamnya dapat dihimpun kembali dengan cepatnya.
Rasa girang yang menyelimuti hati pemuda itu sulit dilukiskan dengan kata2, ia segera berteriak:
"Aku berhasil pulihkan kembali tenaga dalamku aku segar kembali..."
"Benar anakku, meskipun tenaga dalammu telah pulih seperti sedia kala, namun akibat hantaman toya emas tadi luka dalam yang kau derita cukup parah, sekarang semedilah dahulu dan salurkan hawa murninu mengelilingi seluruh badan sebanyak sepuluh kali dengan pengerahan tenaga itu maka daya kerja obat yang kau telan tadi akan menunjukkan kasiat yang lebih besar."
Han Siong Kie menurut dan segera pejamkan matanya rapat2 berdiri ditempat itu juga dia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan sebanyak sepuluh kali setelah itu dia rasakan badannya jadi segar bugar kembali dan rasa sakit yang semula menyelimuti badannya kini sudah lenyap tak berbekas.
"Nak" rintihan lirih berkumandang datang dari balik hutan belantara.
Tenaga murni yang dimiliki Han Siong Kie saat itu telah pulih kembali seperti sedia kala, rintihan yang bagaimana lirihnya tak mungkin bisa mengelabuhi pendengarannya, ia terperangah mendengar suara aneh tersebut.
"Cianpwee kee . . kenapa engkau.." ia segera menegur
"Sambutlah bends ini"
Sebuah bungkusan berwarna putih tiba2 meluncur ke arahnya.
Dengan cepat Han Siong Kie terima benda itu dan diperiksanya dengan seksama, seketika itu juga sekujur badannya gemetar keras dengan bulu kuduk pa da bangun berdiri matanya terbelalak lebar bagaikan disambar geledek di siang hari belong dengan jantung berdebar keras secara beruntun ia mundur lima langkah ke belakang keringat dingin mengucur keluas membasahi seluruh badannya.
Ternyata benda yang dilemparkan orang yang kehilangan sukma barusan bukan lain adalah sebuah telapak tangan manusia yang ditebas sebatas pergelangan, darah masih mengalir dari bekas kutungan tersebut, jelas telapak tangan itu ditebas belum lama berselang atau mungkin disaat ia mendengar suara rintihan lirih tadi.
Dengan badan gemetar keras karena terkesiap bercampur kaget Han Siong Kie berdiri menjublak tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun lama... lama sekali ia baru berseru: "cianpwee kau... kau..."
"Nak engkau tak usah kaget, akulah yang telah menebas kutung telapak tangan sendiri"
Han Siong Kie mundur dengan sempoyongan, hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak dengan amat terperanjat ia menegur: "Kenapa cianpweee.... kenapa engkau berbuat begitu??"
orang yang kehilangan sukma menghela napas panjang, suaranya agak gemetar.
"Nak baik2lah simpan telapak tanganku itu, dikala engkau berkunjung kembali kedalam benteng maut dan bertemu dengan pemilik benteng maut, seandainya ia bertanya siapakah yang telah bebaskan jalan darahmu yang tertotok maka serahkanlah potongan telapak ini kepadanya"
Han Siong Kie merasakan telinganya mendengung keras dan pandangan matanya jadi gelap. hampir saja roboh tak sadarkan diri
"Cianpwee jadi engkau telah mengutungi telapak tanganmu karena telah membebaskan jalan darahku yang tertotok?" jeritnya dengan suara amat serak.
"Betul tapi engkau tak usah sedih ataupun memikirkan persoalan itu didalam hati"
Air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajah Han Siong Kie, ternyata orang yang kehilangan sukma mengutungi telapak tangan sendiri karena ia telah bebaskan jalan darahnya yang tertotok tapi apa sebabnya ia berbuat demikian? Bukan saja berulang kali ia telah berutang budi kepadanya, sekarang iapun berutang budi yang jauh lebih besar dari pada budi2 lainnya sebab orang itu telah mengorbankan lengannya untuk selamatkan jiwanya, bagaimana mungkin budi sebesar ini dapat dibalas?? saking terharunya pemuda itu menangis terisak. serunya dengan suara ter-bata2: "cianpwee kau... kau... kenapa kau berbuat demikian untukku?? kenapa??"
"Dikemudian hari engkau akan mengerti dengan sendirinya kenapa aku rela berkorban demi dirimu"
"Kalau sejak permulaan tadi aku sudah tahu begini, aku lebih rela tak punya kepandaian silat daripada harus mengorbankan telapak tangan cianpwee"
"Nak masih banyak pekerjaan dan tugas yang harus kau kerjakan, dalam keadaan begini engkau tak boleh kehilangan ilmu silat sebab hal itu sangat penting bagimu untuk menyelesaikan semua pekerjaan tersebut"
"Kendatipun begitu tiada alasan bagi cianpwee untuk berkorban sebesar ini demi diri ku"
"Siapa bilang tak beralasan? alasan tentu ada dan dikemudian hari engkau akan paham sendiri apa sebenarnya alasan itu"
"Tapi bagaimana mungkin aku bisa hidup tenteram akibat peristiwa ini?"
"Aku toh sudah suruh engkau tak usah pikirkan kejadian ini didalam hati?" sela orang yang kehilangan sukma dengan cepat, Han Siong Kie menghela napas panjang.
"Aaai budi yang cianpwee lepaskan kepadaku ibaratnya sang surya di angkasa bagaimana mungkin aku dapat membalas budi kebaikan sebesar ini"
"Nak. kejadian ini toh sudah berlalu kenapa musti engkau pikirkan terus?, sekarang ini kita masih berada didaerah pertempuran, sementara pertarungan seru masih terus berlangsung dengan hebatnya"
"Pertarungan sengit?? siapa yang sedang bertempur?" tanya sang pemuda keheranan:
"orang2 persilatan yang datang kemari karena kehadiranmu"
"Lalu apa sebabnya mereka saling bertempur sendiri?"
"Mereka sedang memperebutkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit yang terjatuh dari sakumu."
"oooh" Han Siong Kie berseru tertahan, perasaan hatinya merasa bergetar kertas. Kitab pusaka Hud jiu Poo pit sangat mempengaruhi rencana pembalasan dendamnya, tapi kini manusia2 tamak sedang memperebutkan benda miliknya itu secara memalukan sekali, tanpa terasa darah panas bergelora dalam benak pemuda ini.
sementara dia masih melamun, tiba2 terdengar orang yang kehilangan sukma berkata:
"Nak. aku hendak pergi dari sini, ada sebuah permintaan aku harap bagaimanapun juga harus kau sanggupi, apakah engkau bersedia??"
" Harap cianpwee katakan keluar, aku bersumpah pasti akan melaksanakannya"
"Kunjungilah Benteng maut sekali lagi, Ceritakanlah asal usulmu yang sebenarnya"
Tercekat hati Han Siong Kie mendengar permintaan itu, pikirnya didalam hati:
"Baiklah kusanggupi saja permintaan ini, tapi terlebih dahulu aku harus berhasil merampas kembali kitab pusaka Hud jiu Poo pit kemudian berangkat kebukit Kou lou san untuk menjumpai Malaikat hawa dingin dan memberitahukan jejak malaikat hawa panas, setelah sepasang sarung tangan itu berhasil aku memepelajari ilmu sakti sie mi sinkang akan kukunjungi kembali benteng maut. Berpikir sampai disini ia lantas menjawab: "Aku turuti permintaan cianpwee"
"Apakah sekarang juga engkau akan berangkat kesitu?"
Pemuda itu menggeleng.
"Aku masih ada dua persoalan penting yang harus diselesaikan lebih dahulu, kemudian baru kukunjungi kembali benteng maut"
"Baiklah kalau begitu, tapi ingat, engkau harus ceritakan asal usulmu yang sebenarnya, selain itu asal usulmu hanya boleh kau ceritakan kepada pemilik benteng maut seorang, janganlah sampai ada orang kedua yang mengetahui rahasia ini"
Walaupun dalam hati kecilnya sangsi dan bercampur curiga, namun diluaran ia menyahut juga:
"Akan kuingat selalu di dalam hati"
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, buru2 melanjutkan kembali kata2nya.
" Cianpwee, belum lama berselang ketika berada dalam sebuah rumah penginapan, aku telah bertemu dengan seorang cianpwee yang menyebut diri sebagai ong Popo, ia berhasil menemukan racun cabul Jit bi san yang mempengaruhi seorang gadis, apakah cianpwee itu adalah..."
"Dugaanmu tidak keliru, orang itu memang aku"
satu ingatan kembali berkelebat dalam benak Han Siong Kie, segera pikirnya:
Jangan2 paras muka itu adalah paras muka yang asli dari orang yang kehilangan sukma??"
sementara itu perempuan tersebut telah berkata kembali.
"Nak, apakah engkau telah melaksanakan perkataanku dan berbuat.."
"Maaf cianpwee, ketika kutemukan bahwa racun yang mengeram dalam tubuh nona Go siau Bi telah punah, maka aku tidak melakukan petunjuk dari cianpwee"
"Apa?? engkau tidak melakukan seperti apa yang kuucapkan?."
orang yang kehilangan sukma termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia menghela napas sedih.
"Aaaai .. perhitungan manusia toh akhirnya tak dapat menangkan perhitungan takdir."
Terperangahlah sianak muda itu mendengar keluhan tersebut, dengan nada tercengang ia berseru:
"cianpwee, apa yang kau katakan??"
"oooh...tidak....tidak apa-apa, Nak Aku tak dapat berdiam terlalu lama disini, selamat tinggal"
Han Siong Kie berdiri membungkam ditempat semula se-akan2 baru sadar dari suatu mimpi yang aneh, sesaat kemudian ia baru enjotkan badan dan meluncur kearah luar hutan.
Beberapa saat kemudian hutan belantara sudah ditinggalkan dan suara bentakan keras dan bentrokan senjata mana lapat2 mulai terdengar dari kejauhan-
Pemuda itu segera mempercepat gerakan badannya meluncur kearah gelanggang, sementara itu pertarungan diantara para jago persilatan masih berlangsung dengan sengitnya, korban yang terluka dan mati terkapar dimana2..
Pada saat itu Nenek bertoya emas sambil memegang toyanya sedang berdiri disisi kalangan.
seorang kakek tua bermuka lebar bertelinga besar sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru melawan Dewa yang berjalan dalam tanah.
Kedua belah pihak sama2 merupakan jago lihay dunia persilatan, pertarungan yang sedang berlangsung waktu itu benar2 seru sekali hingga membuat orang jadi tertegun dan berdiri menjublak.
Desiran angin puyuh disertai gulungan pasir dan debu beterbangan diseluruh angkasa, begitu tajam serangan2 yang mereka lancarkan sehingga membuat para jago yang mengikuti jalannya pertarungan darijarak lima tombakpun merasakan tajamnya desiran angin pukulan tersebut.
Tiba2.. Nenek bertoya emas menghentakkan toyanya keatas tanah, kemudian terjunkan diri kedalam gelanggang pertarungan, bersama sama dengan kakek bermuka lebar bertelinga besar ia mengerubuti Dewa berjalan dalam tanah habis2an-
Berbicara tentang ilmu silat, kepandaian yang dimiliki Dewa berjalan dalam tanah seimbang dengan kepandaian kakek bermuka lebar bertelinga besar itu,jika dibandingkan dengan kepandaian Kim ciang Popo atau nenek bertoya emas maka kepandaian mereka setingkat lebih tinggi, bila satu lawan satu tentu saja keadaan seimbang, tapi setelah main kerubut maka situasi dalam gelanggang pertarungan pun kembali mengalami perubahan besar.
Nenek bertoya emas sangat benci kepada Dewa berjalan dalam tanah setelah menyergap dari samping, semua serangan yang dilepaskan olehnya merupakan serangan2 keji yang luar biasa dahsyatnya.
Dalam waktu singkat Dewa berjalan dalam tanah terdesak pada posisi dibawah angin.
Tiga puluh gebrakan kemudian, Dewa berjalan dalam tanah telah terancam oleh bahaya, ia mulai terdesak hebat dan tak mampu membela diri, setiap saat kemungkinan besar jiwanya terancam.
Pada saat itulah Nenek bertoya emas dengan nada mengejek segera menyindir:
"Hei orang cebol katanya kamu lihay? kenapa tak becus begitu...?? kalau engkau bersedia serahkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit itu kepadaku, maka urusan diantara kita mudah dirundingkan"
"oei Ciu Kiok" seru Dewa berjalan dalam tanah dengan nafas tersengkal2 " engkau benar2 tak tahu malu, hutang ini dikemudian hari pasti akan kutagih sendiri kepadamu"
"Huuhh... cebol, pentang dulu matamu lebar2 dan coba lihat dulu, apakah engkau mampu untuk meloloskan diri dari kurungan kami. ..???"
"Hmm siapa bilang tak mampu???"
"Kalau begitu, lihat saja bagaimana hasilnya nanti."
Dalampada itu, kakek tua bermuka lebar bertelinga besar sekaligus telah melancarkan dua puluh empat buah serangan berantai yang memaksa Dewa berjalan dalam tanah sekali lagi terdesak mundur berulang kali.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah, Nenek bertoya emas segera membentak keras, toya emasnya membentuk selapis tembok emas yang amat rapat menyumbat mati jalan mundur Dewa berjalan dalam tanah
Dalam keadaan demikian, asal Dewa berjalan dalam tanah mundur dua langsah lagi kebelakang, niscaya tubuhnya akan menumbuk diatas dinding emas tersebut.
Tiba2 suara benturan keras yang amat memekikan telinga berkumandang, dari tengah udara bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya dan cahaya emaspun seketika lenyap tak berbekas dari pandangan..
Perawakan badan Dewa berjalan dalam tanah yang dasarnya sudah gemuk lagi cebol kini telah menggembang hingga bulat bagaikan sebuah bola udara.
sementara nenek bertoya emas dan kakek bermuka lebar bertelinga besar berdiri kurang lebih satu tombak dihadapannya dengan muka terkesiap bercampur ngeri.
Dari antara jago lihay yang hadir dalam gelanggang, segera terdengarlah ada orang yang menjerit kaget:
"Aaah ilmu sakti Tee tan-kang"
Ilmu sakti Dewa berjalan dalam tanah yang tak pernah digunakan selamanya. sekonyong2..
Sesosok bayangan manusia bagaikan burung elang menyambar turun ketengah gelanggang dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.
"Malaikat panyakitan. "
"Mala ikat penyakitan. "
Jeritan2 kaget berkumandang diantara para jago persilatan, sasaran utama mereka yang hampir saja terlupakan ini ternyata muncul kembali ditengah gelanggang dalam kondisi segar, peristiwa ini benar2 berada diluar dugaan setiap orang.
-0000000-
BAB 30
ADA SATU hal yang tidak dimengerti oleh para jago persilatan, bukankah Malaikat penyakitan sudah kena dihajar oleh hantaman toya emas Kim ciang Popo sehingga luka parah? kenapa saat ini dia bisa munculkan diri dengan gorakan tubuh yang begitu cepat hingga menggidikkan hati?
Tentu saja, diantara para jago persilatan itu Kim ciang Popo lah yang merasa paling terperanjat dan bergidik.
Ketika musuh besar saling berjumpa muka, sorot mata kedua belah pihak sama2 berubah jadi merah berapi2.
Begitu mencapai permukaan tanah, dengan sorot mata yang tajam laksana kilat Han Siong Kie menatap wajah Kim ciang Popo tanpa berkedip. membuat nenek itu jadi merinding dan bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri
Benarkah iblis kecil bermuka penyakitan yang berada dihadapannya sama sekali tak becus dalam ilmu silat seperti apa yang dialaminya belum lama berselang? atau mungkin ia sengaja sedang ber-pura2 berbuat begitu untuk mengibuli pandangan orang banyak terhadap dirinya??
Dalam pada itu Dewa berjalan dalam tanah telah tarik kembali ilmu sakti Tee tan kangnya, sambil picingkan matanya mengawasi ahli waris dari iblis diantara iblis itu dalam hati kecilnya diam2 ia mengambil pertimbangan, haruskah tinggalkan tempat ini? atau..
Suasana ditengah gelanggang seketika berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun
setelah lama sekali menatap wajah Nenek bertoya emas tanpa berkedip. dengan suara dingin ia menegur: "Bawa kemari"
"Apanya yang bawa kemari??" seru nenek bertoya emas pura2 tak mengerti.
" Nenek siluman, engkau tak usah berlagak pilon dihadapanku, ayoh bawa kemari".
seruan 'nenek siluman' yang bernada tak sedap didengar itu kontan membuat paras muka nenek bertoya emas yang pada dasarnya sudah jelek makin nampak jelek barupada kali ini ada orang berani memaki kejelekannya tepat dihadapan mukanya.
Begitu marah dan geramnya nenak tua itu sehingga sambil tertawa seram ia berseru:
"Bocah bangsat kemplangan toya ku tadi tidak berhasil mengirim engkau pulang ke rumah nenekmu sekarang.."
Belum habis ia berkata secepat sambaran petir Han song Kie telah meluncur kedepan dan tahu2 sudah kembali ketempat semula, dalam genggamannya kini telah bertambah dengan sejenis benda dan benda itu bukan lain adalah toya emas senjata andalan dari nenek bertoya emas tersebut.
Ditengah jeritan kaget yang berkumandang memecahkan kesunyian dengan hati terperanjat dia pecah nyali secara beruntun nenek bertoya emas mundur tiga langkah lebar ke belakang.
Demontrasi kepandaian sakti yang dilakukan Han Siong Kie ini dengan cepat membuat gempar seluruh gelanggang, paras muka semua jago persilatan yang hadir disitu sama2 berubah hebat, diam2 hati mereka terasa amat tercekat.
sekali lagi dengan suara yang dingin dan amat ketus Han Siong Kie menegur: "sebetulnya engkau mau serahkan kepadaku atau tidak??"
Bagaimanapun juga nenek bertoya emas adalah seorang jago persilatan yang sudah lama tersohor akan kelihayannya dikolong langit, sudah tentu ia tak mau menelan penghinaan tersebut dengan begitu saja, dengan muka merah membara karena gusar ia membentak keras: "Bocah bangsat, rupanya engkau pingin mampus???"
sepasang telapak disilangkan satu sama lainnya, kemudian badannya menerjang ke depan sambil melancarkan serangan.
Han Siong Kie masih teringat terus dengan dendam sebuah pukulan toyanya, melihat datangnya serangan tersebut, ia segera mendengus dingin.
"Hmm sebuah pukulan toya dibalas dengan sebuah pukulan toya, itu baru dinamakan adil"
Cahaya emas berkelebat lewat, diiringi jeritan kesakitan yang mengerikan, sambil muntah darah segar tubuh Nenek bertoya emas mencelat sejauh tiga tombak dari tempat semula.
Jeritan kaget bergema diseluruh kalangan, setiap jago merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri
Dengan tenaga dalam yang dimiliki Kim ciang popo, ternyata ia tak mampu menahan sebuah seranganpun dari musuhnya, kepandaian ampuh semacam ini benar2 membuat hati orang terkesiap. mungkin dalam gelanggang saat ini tak seorang manusiapun yang merupakan tandingannya .
Dengan sorot mata memancarkan kebengisan selangkah demi selangkah Han Siong Kie berjalan menghampiri nenek bertoya emas yang terkapar diatas tanah, langkah kakinya yang berbunyi gemirisik menimbulkan napsu membunuh yang makin lama semakin tebal, begitu tegang suasananya membuat setiap ortang terpukau dan berdiri menjublak.
Dengan sekuat tenaga Nenek bertoya emas berusaha untuk meronta bangun dari atas tanah tapi baru bangkit setengah jalan dengan lemas ia roboh kembali diatas tanah, hal ini menunjukkan bahwa luka dalam yang di derita olehnya cukup parah.
suasana dalam gelanggang tercekat dalam keseraman dan kengerian, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh udara membuat jantung semua orang berdebar keras.
Tiba2 Dewa berjalan dalam tanah yang gemuk dan cebol itu meloncat maju kedepan dengan suara keras ia berteriak:
"Hei bocah muda benda yang kau inginkan berada ditanganku."
sambil berkata dia ambil keluar sarung tangan Hud jiu Poo pit itu kemudian di acungkan keudara setelah itu buru2 benda itu dimasukan kedalam sakunya.
Dengan cepat Han song Kie putar badan, toya emas yang berada dalam gengamannya dibuang keatas tanah.
TindakanDewa berjalan dalam tanah yang ksatria dan jantan ini mendapatpujian dari setiap jago yang hadir digelanggang, sebab dengan perbuatannya itu dia tidak kehilangan jiwa jantan seorang jago persilatan, sebab justru dengan perbuatannya itu maka dengan selembar jiwa dari nenek bertoya emas berhasil diselamatkan.
Dengan berlangsungnya peristiwa ini, dengan cepat memandang pula tujuan semula dari kehadiran jago persilatan ditempat itu.
Mula pertama tampaklah kakek bermuka lebar bertelinga besar itu menggeserkan tubuhnya kesisi Dewa berjalan dalam tanah, diikuti semua jago persilatan yang berada disekeliling tempat itupun berbareng maju satu tombak kedepan, dengan begitu gelanggangpun semakin diperciut hingga empat tombak belaka luasnya. suatu pertempuran sengit rupanya segera akan berlangsung..
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat, Han Siong Kie menyapu sekejap seluruh gelanggang, kemudian dengan nada dingin tegurnya kepada dua orang yang berada dihadapannya:
"siapakah kalian berdua ??"
"Aku adalah Dewa berjalan dalam tanah, bocah muda engkau pernah mendengar nama ku?" Han Siong Kie menggeleng.
"Belum pernah kudengar nama itu" katanya, sorot matanya segera dialihkan kearah kakek bermuka lebar bertelinga besar tadi.
sebelum buka suara orang itu sudah memperkenalkan diri lebih dahulu: "Aku adalah Heng sang Pedagang pejalan kaki Ku It Hui..."
"Hmm baru pertama kali ini kudengar nama mu itu"
Mendengar ejekan tersebut baik Dewa berjalan dalam tanah maupun Pedagang perjalan kaki Ku It Hui sama2 tertawa dingin tiada hentinya.
sekali lagi Han Siong Kie maju beberapa langkah kedepan sambil menatap wajah Dewa berjalan dalam tanah tajam2 serunya:
"Benda itu toh berada ditanganmu ayoh cepat serahkan keluar" Dewa berjalan dalam tanah tertawa seram:
"Heeehh...heehhh...heehhh... bocah muda, kenapa tidak kau tanyakan dulu kepada semua sahabat yang hadir dalam gelanggang pada saat ini, apakah mereka setuju kalau kuserahkan kembali benda itu kepadamu atau tidak??"
Han Siong Kie segera naik darah, dengan muka merah membara ia mendengus dingin. "Hmm? sebenarnya engkau mau serahkan kembali benda itu kepadaku atau tidak??"
"Bukannya tak mau, cuma aku tak dapat berbuat demikian"
"Heeebh... heeehh heeehhh kalau memang begitu, jangan salahkan kalau aku tak akan berlaku sungkan2 lagi terhadap dirimu"
Begitu ucapan terakhir diutarakan keluar sepasang telapaknya disertai tenaga dalam yang luar biasa dahsyatnya langsung membacok badan Dewa berjalan dalam tanah.
Menyaksikan datangnya ancaman tersebut, hampir pada saat yang bersamaan Dewa berjalan dalam tanah serta Pedagang pejalan kaki Ku It Hui melancarkan serangan secara berbareng untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Blammm" bentrokan dahsyat yang amat memekikan telinga berkumandang di seluruh angkasa, Dewa berjalan dalam tanah serta Pedagang berjalan kaki Ku It Hui sama-sama tergentar hingga mencelat sejauh satu tombak dari tempat semula itupun badan mereka masih sempoyongan tiada hentinya.
Han Siong Kie tak sudi memberi kesempatan lebih jauh kepada musuhnya untuk berganti napas tubuhnya sekali lagi menerjang kedepan telapak kirinya menghajar tubuh Pedagang berjalan kaki Ku It Hui sedangkan tangan kanannya dengan lima jari dipentangkan bagaikan kuku garuda langsung mencengkeram Dewa berjalan dalam tanah.
Dalam satu jurus terbagi menjadi dua gerakan yang secara terpisah mengancam dua orang jago lihay dari dunia persilatan bukan saja pukulan yang dilepaskan berat bagaikan tindihan sebuah bukit karang, cengkeramanpun cepat lakana kilat.
Pedagang pejalan kaki Ku It Hui segera melayang delapan depa dari permukaan tanah, ia melepaskan sebuah serangan balasan yang tidak kalah hebatnya..
sedangkan Dewa berjalan dalam tanah menghindar kesamping dengan suatu gerakan yang cekatan ia meloloskan diri dari sambaran kilat tersebut..
Hampir pada saat yang bersamaan, delapan buah pedang pusaka disertai delapan buah desiran angin tajam menyergap tubuh Han Siong Kie dari arah belakang.
Dengan sigap Han Siong Kie meluncur ke udara dan melepaskan diri dari ancaman angin pukulan serta desiran pedang lawan, ketika dia berpaling kebelakang maka terlihatlah orang yang menyergap tubuhnya dengan serangan delapan bilah pedang tadi ternyata bukan lain adalah delapan orang pria setengah baya yang memakai jubah warna biru.
Dengan pandangan mata yang tajam pemuda itu menyapu sekejap wajah kedelapan orang jago pedang baju biru tersebut, lalu dengan suara adem tegurnya: "siapakah kalian berdelapan? sebutkan dahulu siapa nama kamu semua.."
"Kami adalah delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu"jawab salah seorang diantara delapan jago pedang itu dengan suara ketus dan dingin.
"Apa maksud kalian datang kemari?"
"Tujuan kedatangan semua umat persilatan yang berkumpul dalam gelanggang saat ini adalah sama yakni menuntut balas serta menagih hutang2 lama dari Mo tiong ci-mo."
Han Siong Kie terperangah dibuatnya, dari sini jelas sudah memperlihatkan bahwa musuh besar dari gurunya tersebar dikolong langit yang diketahui olehnya adalah jago2 dari partai Khong tong, gereja siau lim si serta Thian lam pay ditambah pula jago2 persilatan yang hadir dalam gelanggang dewasa ini...
Itu berarti dalam perjalanannya dikemudian hari ia telah memikul suatu tanggung jawab yang sangat berat pembalasan dendam pasti akan ditemuinya selama ini tapi dendam sakit hati apakah yang terikat diantara mereka? dia sendiripun tak tahu.
Berpikir sampai disitu diam2 dia ambil keputusan untuk merampas kembali kitab pusaka Hud jiu poo-pit lebih dahulu kemudian pulang ketempat tinggal gurunya untuk memberi laporan sebab batas waktu sepuluh hari sudah bakal habis, ia tak ingin gurunya mati dengan membawa penyesalan hingga gurunya mati tak pejamkan mata. setelah ambil keputusan dihati, dengan suara dingin segera katanya lantang:
"Pada waktu ini aku tak punya banyak waktu luang, dikemudian hari kalian pasti akan memperoleh penyelesaian yang adil dari persengketaan ini."
"Malaikat penyakitan, omong kosong tak ada gunanya, kau anggap dengan mengucapkan kata2 tersebut maka urusan dapat diselesaikan dengan begitu saja??"
"Lalu apa yang kalian kehendaki??"
"Katakanlah tempat persembunyian dari iblis diantara iblis"
"Andaikata aku tak mau bicara???"
Paras muka delapan pendekar pedang dari kota Tiong- ciu berubah hebat, pemimpin mereka segera berseru dengan nada kasar:
"Hmm aku rasa engkau tak mungkin bisa membungkam terus menerus"
"Huuhh... dengan andalkan kalian beberapa orang hendak paksa aku untuk bicara?, jangan mimpi disiang hari bolong"
Dihina dan dimaki dengan kata kata yang begitu memandang rendah terhadap mereka, delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu tak mampu menahan hawa amarahnya lagi, ditengah bentakan keras delapan bilah pedang dengan menciptakan selapis cahaya tajam yang berkilauan langsung mengurung badan Han Siong Kie, hawa pedang mendesir dan memancar keempat penjuru membuat para jago yang berada lima tombak disekitar tempat itupun ikut merasakan desiran angin tajam tadi.
Dikolong langit tidak terlalu banyak manusia yang mampu menghadapi serangan gabungan dari delapan pendekar pedang itu sekalipun belum sampai tarap tiada tandingan namun jarang sekali ada jago yang berani beradu kepandaian dengan mereka berdelapan sekaligus.
Menyaksikan datangnya ancaman yang begitu dahsyat, diam2 Han Siong Kie merasa amat tercekat hatinya, sepasang telapak diayun berulang kali dan sekaligus melancarkan lima buah serangan berantai.
Kelima buah pukulan yang dilepaskan itu cepat sekali hingga se-akan2 merupakan suatu penggabungan satu jurus serangan belaka, bukan begitu saja bahkan tenaga murni yang disertakan dalam serangan tersebut merupakan tenaga hasil latihan selama dua ratus tahun yang maha dahsyat, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan ngerinya serangan maut itu.
Dikala para jago persilatan yang hadir ditempat itu masih dibikin bingung dan tercengang oleh situasi yang mengerikan itu
"Bluumm .." suatu ledakan dahsyat yang sangat memekikkan telinga bergelegar diangkasa, jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, tiga sosok bayangan manusia mencelat ketengah udara dan lima kilatan cahaya tajam menggaris ditengah angkasa.
Suasana jadi gaduh dan kacau balau, bayangan manusia terpencar kesana kemari diantara delapan pendekar pedang dari Tiong- ciu, lima orang jago diantaranya kehilangan senjata, sedang tiga orang lainnya terpental sejauh dua tombak lebih dari tempat semula.
Paras muka mereka semua pucat pias bagaikan mayat, tubuh mereka gemetar keras dan untuk beberapa saat lamanya tak seorangpun diantara mereka yang buka suara ataupun meugucapkan sepatah kata.
Berhasil dengan serangannya yang pertama, Han Siong Kie tak mau buang tempo lebih jauh, secepat sambaran kilat ia menerjang kearah Dewa berjalan dalam tanah.
Pedagang pejalan kaki Ku It Hui yang berada disampingnya tanpa mengucapkan sepatah katapun tiba2 melancarkan sebuah pukulan yang mengerikan.
Han Siong Kie tak menduga kalau Pedagang pejalan kaki Ku It Hui bisa menyergap dari sisi gelanggang, waktu tidak mengijinkan baginya untuk berpikir panjang, berada ditengah udara tubuhnya segera berputar kearah mana berasalnya serangan itu, sepasang telapak didorong kedepan menyambut datangnya ancaman tersebut.
"Blaamm.." benturan nyaring kembali bergelegar diangkasa, Pedagang pejalan kaki Ku It Hui menjerit kesakitan, badannya mencelat sejauh empat tombak dari tempat semula dan terkapar diantara kerumunan para jago lainnya.
Dewa berjalan dalam tanah mengerti kalau gelagat tidak menguntungkan baginya, dalam detik terakhir itulah ia himpun tenaga sakti Tee tan kang miliknya, sekujur badan jadi bergelembung bagaikan bola angin.
Han Siong Kie yang menyaksikan keadaan aneh tersebut jadi tertegun untuk beberapa saat lamanya.
Dewa berjalan dalam tanah menggeram aneh sepasang telapaknya didorong keluar.
"Blaaammm " suatu ledakan hebat dahsyat meluncur kedepan langsung menghantam tubuh Han Siong Kie.
Sianak muda itu amat terperanjat, sepasang telapaknya segera didorong kedepan untuk menyambut datangnya ancaman itu, ketika dua jenis tenaga bertemu satu sama lainnya segera terjadi suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga kedua belah pihak sama tergentar mundur satu langkah kebelakang sementara sisa2 tenaga benturan itu bagaikan gulungan ombak segera memancar keempat penjuru.
Pada waktu itulah hujan senjata rahasia yang amat rapat bagaikan hujan gerimis tersebar diseluruh angkasa mengurung sekujur badan Han Siong Kie.
Pemuda itu membentak keras, sepasang telapak didorong kedepan secara beruntun, gelombang hawa murni selapis demi selapis memancar keluar dan mementalkan senjata2 rahasia yang mengancam kearahnya itu, tapi senjata rahasia tersebut berhamburan tiada hentinya bagaikan hujan gerimis, membuat siapapun yang memandang jadi terkesiap dan bergidik rasanya.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah delapan pendekar prdang dari kota Tiongciu mengundurkan diri dari gelanggang demikian juga dengan Dewa berjalan dalam tanah serta Pedagang pejalan kaki Ku It Hui kedua jago lihay ttu cepat2 mundur kebelakang.
Diantara senjata rahasia yang berhamburan diangkasa terdapat pula jarum2 halus yang sangat beracun, serangan lembut seperti itu terang tak mungkin ditangkis dengan pukulan telapak, untuk beberapa saat Han Siong Kie dibikin kalang kabut dan kelabakan tiada hentinya, kejadian ini dengan cepat memancing timbulnya hawa napsu membunuh dalam hatinya.
Sepasang telapak berputar membentuk lingkaran, senjata rahasia yang berhamburan segera terpental keempat penjuru, kemudian sepuluh jari tangannya tiba2 dibentangkan lebar2.
sepuluh gulung desiran angin tajam, secepat sambaran kilat memancarkan keluar..
Ilmu jari Tong kim ci adalah sejenis ilmu sentilan yang luar biasa dahsyatnya, emas dalam jarak lima tombak pun akan berlubang jika termakan oleh serangan tersebut.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema saling susul menyusul, begitu seramnya hingga menggidikkan hati semua orang.
seluruh jari berkelebat kesana kemari tiada hentinya, setiap penjuru dijelajahi secara merata dan tak ada yang kelewatan.
Jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, seluruh hutan belantara itu tercekam dalam suasana yang betul2 mengerikan, se-akan2 dunia persilatan sedang menghadari hari kiamat.
Hujan senjata rahasia segera terhenti, sementara jeritan ngeri makin lama semakin banyak dan makin melengking..
Diatas permukaan tanah tertambah dengan mayat2 yang bergelimpangan disana sini, kurang lebih lima puluh sosok mayat terkapar di atas tanah dalam keadaan yang mengerikan, dada atau batok kepala mereka berlubang, darah kental mengucur keluar tiada hentinya.
Pembantaian yang keji seperti ini, boleh dibilang jauh lebih mengerikan danjauh lebih menyeramkan daripada tindak tanduk Mo tiong ci mo dimasa lampau.
Semua jago persilatan yang hadir digelanggang tercekat semua dibuatnya, paras muka mereka pucat pias bagaikan mayat dan sukma seraya melayang tinggalkan raganya karena ketakutan.
Bau amis darah.. kebrutalan... kekejian menyelimuti seluruh gelanggang.
-ooo0ooo-
Jilid 15 : Kaisar ketiga belas Huan Mo-kiong
MENDADAK... seorang kakek cebol berbadan gemuk munculkan diri dari barisan para jago, setibanya ditengah gelanggang ia merogoh kedalam sakunya dan ambil ke luar sebuah benda, setelah diletakkan diatas tanah sambil tertawa seram katanya:
Inilah sarung tangan Hud jiu Poo pit, aku Dewa berjalan dalam tanah tidak ingin mencicipi harta kekayaan ini, sekarang benda ini kuserahkan kembali kepada rekan2 persilatan semua.
Habis berkata ia enjotkan badandan buru-buru tinggalkan tempat celaka itu.
sarung tangan tembaga hitam memancarkan Cahaya yang menyilaukan mata, semua sorot mata para jago dengan pandangan serakah ditujukkan keatas benda tersebut.
Siapapun ingin mendapatkan benda mustika yang diidamkan oleh setiap orang itu, siapapun ingin memilikinya, tindakan dari Dewa berjalan dalam tanah benar2 berada diluar dugaan setiap jago yang hadir digelanggang.
Han Siong Kie malahan dibuat terperangah oleh sikap lawannya, ia tak mengira kalau Dewa berialan dalam tanah secara suka rela bersedia serahkan benda mustika itu kepadanya, mungkin juga manusia cebol itu sudah mengerti andaikata ia tidak serahkan benda itu maka sulitlah baginya untuk meloloskan diri dari sana, selain itu mungkin diapun sudah dibuat ngeri oleh pemilik benda itu..
Sementara masih berpikir, pemuda she Han itu siap maju kedepan untuk memungut sarung tangan Hud jiu Poo pit itu..
Segulung desiran angin yang sangat aneh menggulung lewat dan mendorong sarung tangan Hud jiu Poo pit segera menggelinding sejauh dua tombak dari tempat semula, di ikuti seorang kakek tua berjubah hitam dan bermuka merah bagaikan darah tampil ditengah gelanggang.
Han Siong Kie merasa amat terkesiap, dengan cepat ia berpaling kebelakang, ketika sepasang mata saling bertemu pemuda itu merasakan hatinya tercekat, dari pancaran mata kakek baju hitam itu ia dapat merasakan hawa sesat yang membikin hati orang jadi bergidik.
Suasana jadi gaduh dan rata2 para jago persilatan yang hadir disana sama2 menunjukkan paras muka ngeri bercampur takut.
"siapakah engkau? tegur Han Siong Kie dengan nada dingin.
Kakek tua berjubah hitam itu mengerutkan wajahnya, lalu dengan seram ia menjawab: "Aku adalah Dewa racun Yu Hoat"
Dewa racun Yu Hoat tersohor karena ilmu racunnya yang sangat lihay dan tiada tandingan dikolong langit. setiap orang persilatan yang mendengar namanya pasti akan berubah wajah dan ketakutan, tak nyana iblis tua tersebut telah munculkan diri di tempat itu.
Han Siong Kie berpengalamau cetek dan tak kenal banyak jago persilatan, tentu saja ia tak tahu siapakah manusia yang menyebut diri sebagai Dawa racun Yu Hoat ini, ia segera mendengus dingin.
"Apa maksudmu datang kemari ?" tegur Han Siong Kie. Dewa racun Yu Hoat tertawa seram tiada hentinya.
"Heehhh..heehhh..heehhh . Malaikat penyakitan aku telah tertarik sekali dengan sarung tangan tembaga milikmu itu, aku harap engkau bersedia menghadiahkan kepadaku"
"Hmm engkau jangan mimpi disiang hari bolong" teriak Han Siong Kie dengan nada menghina
Pada waktu itu dua sosok bayangan manusia laksana kilat menerjang kedepan dan menyambar sarung tangan mustika Hud jiu Poo pit yang berada kurang lebih dua tombak jauhnya itu.
"Cari mampus" hardik Dewa racun Yu Hoat dengan geram, telapaknya langsung di ayun kedepan membabat tubuh kedua orang itu.
Ditengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati dua sosok bayangan manusia itu mencelat kebelakang dan roboh terkapar diatas tanah, setelah berkelejit sebentar mereka tak berkutik lagi, darah hitam mengalir keluar dari ketujuh lubang inderanya.
Diam2 Han Siong Kie merasa bergidik juga menghadapi kelihayan musuhnya yang amat luar biasa itu, ia tak mengira kalau kekejian racun Dewa racun Yu Hoat sudah mencapai taraf yang tak terkirakan-
Dewa racun Yu Hoat sendiri sama sekali tidak memandang sekejappun kearah dua sosok mayat yang mati akibat keracunan itu, sekali lagi dengan nada menyeramkan ia berseru: "Malaikat penyakitan, apakah engkau bersedia hadiahkan benda itu kepadaku?"
Han Siong Kie mendengus dingin.
"Hmm kalau engkaupunya kepandaian, silahkan ambil sendiri dari atas tanah"
Air muka Dewa racun Yu Hoat berubah sangat hebat, ia menggerakkan tubuhnya dan meluncur dua tombak kedepan, baru saja ia hendak ambil benda itu...
Mendadak tanpa angin tanpa puyuh sarung tangan mustika Hud jiu Poo-pit tersebut melayang sendiri ketengah udara.
Ia menjerit kaget dan segera mengikuti ke arah mana sarung tangan itu meluncur, ternyata Malaikat penyakitan dengan tenangnya sedang memegang sarung tangan mustika tadi.
Kiranya pada saat yang terakhir Han Siong Kie telah menggunakan unsur "
mengisap" dari ilmu telapak Mo-mo ciang hoat untuk mengisap pusaka Hud jiu Poo pit itu sehingga melayang kearahnya.
Kepandaian mengisap benda yang didemonstrasikan sianak muda itu seketika mencengangkan hati para jago yang hadir dalam gelanggang.
Mungkin kejadian ini merupakan kejadian yang pertama bagi Dewa racun Yu Hoat dimana ia jatuh kecundang ditangan orang, paras muka yang semula sudah pucat karena gusar kini berubah jadi kehijau2an, sepasang matanya memancarkan dua gulung cahaya yang menggidikkan hati.
"Bocah keparat" geramnya dengan penuh kemarahan, " engkau sendiri yang sudah ogah hidup, jangan salahkan kalau aku bertindak keji kepadamu"
"ooh.. kalau memang lihay, silahkan mencoba sendiri untuk merampas benda tersebut dari tanganku"
Han Siong Kie masukkan sarung tangan mustika Hud jiu Poo pit itu kedalam sakunya kemudian himpun tenaga dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, perasaan hatinya kaku dan tawar sementara hati kecilnya kebat kebit, sebab ia tahu bahwa ilmu racun yang dimiliki pihak lawan amat dahsyat dan tak mungkin bisa dilawan dengan andalkan tenaga dalam belaka. Dalam pada itu Dewa racun Yu Hoat maju selangkah kedepan.
Suasana dalam gelanggang tercekam dalam ketegangan, setiap orang merasakan hatinya kebat kebit tak karuan-
Seorang makhluk racun tua yang sudah tersohor akan kelihayannya akan berhadapan dengan seorang ahli waris iblis sakti yang pernah menggetarkan kolong langit.
Berpuluh2 pasang mata tidak sakejappun beralih dari tengah gelanggang, mereka ingin tahu siapakah yang bakal menang diantara kedua orang itu.
Han Siong Kie putar otak tiada hentinya, ia menganggap siapa menyerang lebih dulu dialah yang menang posisi, mendadak serangan telapak ditangan dan serangan jari tangan kanan dilancarkan secara berbareng....
Ditengah gulungan angin pukulan yang maha dahsyat terselip desingan totokan jari yang tajam dan luar biasa.
Dewa racun Yu Hoat tertawa dingin, secepat kilat tubuhnya menyingkir lima depa kesamping, setelah menghindarkan diri dari gempuran yang maha dahsyat itu, disaat sang badan berkelebat lewat sepasang telapaknya diluncurkan kedepan secara berbareng, kecepatannya luar biasa sekali.
Baru saja Han Siong Kie merasakan serangan jari dan telapaknya mengena disasaran yang kosong, segumpal angin pukulan berbau amis telah meluncur tiba.
Ia tahu bahwa angin pukulan tersebut mengandung sari racun yang amat jahat, barang siapa terkena pasti akan mati, tapi untuk meloloskan diri dari ancaman tanpa tersentuh oleh pukulan itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.
Dalam keadaan gelisah cepat2 jalan darahnya ditutup, sepasang telapakpun mendadak melepaskan pukulan.
"Bluumm" dentuman keras bergelepar diudara, Dewa racun Yu Hoat tergetar mundur lima langkah kebelakang dengan sempoyongan-
Han Siong Kie sendiri merasakan kepalanya nanar dan agak berkurang, kulit badan diluar pakaiannya terasa panas bercampur gatal, ia tahu bahwa tubuhnya sudah terkena racun keji, dalam terkesiapnya hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya, sepasang telapak diayun berbareng dan sepuluh desiran angin pukulan segera meluncur kedepan.
Dewa racun Yu Hoat amat terperanjat setelah mengetahut angin pukulan beracun yang berhasil menyapu tubuh lawan, ternyata sama sekali tidak dirasakan oleh musuhnya, mungkinkah Mala ikat penyakitan telah berhasil melatih tubuhnya sehingga kebal terhadap serangan pukulan beracun- .
Disaat pikiran tersebut masih berkelebat dalam benaknya, desiran angin totokan telah meluncur datang dengan hebatnya, jika terkena serangan tersebut niscaya tubuhnya akan berlubang dan mampus.
Dalam keadaan terkesiap bercampur gelisah, dewa racun itu tidak ambil perduli soal gengsi lagi, cepat2 ia jatuhkan diri ke atas tanah dan bergelinding sejauh delapan depa lebih dari tempat semula...
Jeritan ngeri kembali berkumandang tiada hentinya, delapan orang jago persilatan yang berdiri disekitar tempat kejadian tersambar oleh serangan tersebut dan segera roboh terkapar diatas tanah.
Dewa racun Yu Hoat sendiri saking terkejutnya keringat dingin sampai mengucur keluar tiada hentinya, ia tahu berdiam terus ditempat itu tak akan menguntungkan dirinya, dengan cepat ia enjotkan badan dan melarikan diri terbirit2.
Han Siong Kie sendiripun menyadari bahwa persoalan penting yang dibebankan di atas pundaknya masih banyak yang belum terselesaikan, ia tak ingin buang waktu lebih jauh, setelah menyapu sekejap kearah para jago yang hadir ditempat itu, dengan langkah lebar ia segera berlalu dari gelanggang tersebut.
semua jago lihay baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih tak ada yang berani tampil kedepan untuk menghadang jalan perginya, mereka semua membungkam dalam seribu bahasa.
Desiran angin menembusi angkasa bergema dari kejauhan, beberapa sosok bayangan manusia tiba2 dengan kecepatan bagaikan kilat meluncur masuk kedalam gelanggang.
Dengan cepat Han Siong Kie menghentikan langkah kakinya, begitu tahu siapa yang datang ia merasa amat girang dan hampir saja menyapa, tapi dengan cepat ia teringat kembali dengan penyaruannya pada waktu itu, ucapan yarg hampar meluncur keluar segera tertelan kembali kedalam perut.
Orang yang barusan datang bukan lain adalah saudara angkatnya yakni Lam kay pengemis dari selatan, dibelakangnya mengikuti pula empat orang pengemis berusia lima puluh tahunan yang semuanya membawa sebuah toya penggebuk anjing.
Pengemis dari selatan dan Padri dari utara, adalah jago2 lihay yang amat tersohor namanya dikolong langit pada waktu itu, kecuali beberapa orang gembong iblis jarang sekali ada orang yang mampu menandingi dirinya, kemunculan jago tua ini segera merubah suasana dalam gelanggang itu.
Berada dibadapan orang banyak. tentu saja Han Siong Kie tak dapat membongkar rahasia sendiri, ia segera maju selangkah kedepan dan memberi hormat. "Locianpwee, tolong tanya ada urusan apa engkau datang mencari aku?" tanyanya.
sikap yang sopan dari Han Siong Kie seketika membnat para jago terperangah dibuatnya, mungkinkah nama besar pengemis selatan telah menggetarkan hati Malaikat penyakitan sehingga ia bersikap begitu menghormat.
Tentu saja termasuk pengemis dari selatan sendiripun tak tahu apa sebabnya musuh mereka bersikap hormat.
Dengan sorot mata yang sangat tajam pengemis dari selatan mengawasi wajah Han Siong Kie beberapa saat lamanya, kemudian ia menegur:
"Engkau yang bernama Malaikat penyakitan??"
"Betul, itulah aku"
"Dan engkau adalah ahli waris dari Mo tiong-ci mo iblis diantara iblis??"
"Dugaanmu tak keliru"
"Engkau baru saja keluar dari dalam benteng maut??"
"Benar"
"Benarkah tengkorak maut bukan lain adalah iblis diantara iblis?"
"Keliru besar pendapatmu itu"
"Keliru besar?"
"Benar, keliru besar sekali"
"Baik" kata Pengemis dari selatan kemudian setelah termenung sebentar, "aku tak mau ambil perduli apakah berita itu benar atau tidak- aku pengemis tua hanya ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu.."
"Katakanlah, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Sekarang gurumu ada dimana?"
Diam2 Han Siong Kie terkejut, tentu saja tak dapat menerangkan dimanakah gurunya berada, setelah berpikir sebentar ia balik bertanya . . "Ada urusan apa locianpwee mencari guruku?"
"Empat puluh tahun berselang guru iblismu itu telah membantai seorang ketua cabang, tiga orang hiangcu, dua belas orang kepala regu dan lima puluh orang murid perkumpulan kay-pang kami dari kantor cabang sam siang, ini hari kami datang kemari untuk menagih hutang berdarah itu?"
Han Siong Kie jadi kelabakan dibuatnya, untuk beberapa saat lamanya ia tak tahu bagaimana musti menjawab.
Empat orang pengemis tua dibelakang pengemis dari selatan dengan nyata menunjukkan perasaan sedih bercampur gusar.
Pelbagai ingatan berkelebat dalam benak Han Siong Kie, ia berusaha mencari akal untuk mengatasi masalah pelik yang memusingkan kepalanya ini.
-ooo0ooo-
BAB 31
SETELAH termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu berpikir dalam hatinya, menurut perkataan gurunya orang2 yang dibunuh adalah mereka2 yang pantas dibinasakan, sedang menurut keterangan yang pernah diberikan put lo sianseng, seorang jago kawakan dari persilatan, gurunya tak pernah membunuh orang tanpa sebab.
Bagi dia sendiri, boleh dibilang tak sepotong keteranganpun yang diketahui olehnya mengenai dendam permusuhan yang terikat selama puluhan tahun belakangan ini, tapi sebagai ahli waris dari gurunya sudah menjadi kewajiban babinya untuk memikul tanggung jawab itu.
Apa yang harus ia terangkan kepada engkoh tuanya ini ?
Dalam pada itu pengemis dari selatan dengan muka memancarkan kegusaran telah menegur kembali dengan suara berat:
"Bocah keparat, sudah kau pertimbangkan masak2 persoalan ini??"
"sepuluh hari kemudian, bagaimana kalau aku berkunjung sendiri kemarkas besar locianpwee untuk memberikan keterangan?"
"Itu sih tak perlu, aku hanya ingin tahu jejak dari gurumu"
"Tapi aku tak mungkin bisa menerangkan soal ini kepada locianpwee"
"Bocah keparat, janganlah banyak main akal muslihat di hadapanku, bicaralah terus terang kemudian masing2 menempuh jalannya sendiri"
"Andaikata aku tidak bersedia untuk menjawab, apa yang hendak locianpwee lakukan?"
Empat orang pengemis tua dibelakang pengemis dari selatan segera mendengus dingin, dari sikap mereka jelas menunjukkan bahwa beberapa orang jago itu siap untuk melancarkan serangan-
Pengemis dari selatan sebera menengadah dan tertawa ter-bahak2.
"Haaah haaahh haaahhh bocah muda, engkau tak dapat ambil keputusan dengan seenaknya sendiri"
"Jadi locianpwee ada maksud untuk turun tangan??"
"Andaikata engkau tidak bersedia untuk bicara terus terang, apakah aku pengemis tua harus pulang dengan tangan hampa?"
Diam2 Han Siong Kie mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan itu, dalam kenyataan ia sungkan untuk turun tangan dan bertarung melawan kakak angkatnya sendiri, lagipula bertempur dengan kekerasan belum tentu dapat menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi.
Untuk meloloskan diri tentu saja sangat mudah sekali baginya, perbuatan itu dapat dilakukan ibarat membalik telapak sendiri, sebab termasuk pengemis dari selatan sendiri, seorang manusiapun yang dapat mengejar jalan perginya.
"Hmm, tentu saja tak sudi pergi dengan cara begitu, sebab demi nama besarnya dan nama besar gurunya ia tak boleh berbuat begitu, kalau mau pergi maka dia harus pergi secara gagah dan terang2an-"
Rupanya empat orang pengemis tua dibelakang pengemis dari selatan sudah tak sabar menahan diri lagi, mereka silangkan tongkat penggebuk anjingnya didepan dada, kemudian salah satu diantaranya berseru:
"Tiangloo, buat apa engkau banyak bicara dan bersilat lidah terus dengan bangsat itu?"
Dengan pandangan yang dingin dan menyeramkan, Han Siong Kie menyapu sekejap empat orang pengemis tua itu, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Menyaksikan tingkah laku anak buahnya, buru2 pengemis dari selatan goyangkan tangannya mencegah mereka turun tangan, serunya:
"Jangan bertindak gegabah kalian masih bukan tandingannya..." kemudian sambil berpaling kearaa Han Siong Kie sambungnya lebih lanjut:
"Bocah muda, aku pengemis tua paling segan untuk mengulur waktu lebih baik bertindaklah lebih terus terang dan terbuka "
Baru saja Han Siong Kie hendak menjawab. tiba2...
Pada saat itulah dari tempat kejauhan berkumandang datang suara pekikan setan yang amat membetot hati, suara itu begitu nyaring dan melengking diangkasa membuat semua jago persilatan yang hadir dalam kalangan sama2 merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri
Bersamaan dengan makin mendekatnya pekikan setan yang tajam dan memekikkan telinga itu, sesosok bayangan merah meluncur dari tengah udara dan jatuh ketengah gelanggang.
Benda itu bukan lain adalah sebuah tengkorak kepala yang penuh berlepotan darah, dengan angker dan seramnya benda tersebut bercokol digelanggang.
"Tengkorak maut" tak kuasa lagi Han Siong Kie menjerit lengking dengan nada terperanjat.
Pemilik benteng maut bisa muncul secara tiba2 ditempat tersebut, peristiwa ini benar2 berada di luar dugaan setiap orang.
Pengemis dari selatan dan keempat orang pengemis tua itu dengan hati terkesiap dan badan merinding, ber sama2 mundur satu tombak lebih kebelakang.
suasana dalam gelanggang seketika berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, begitu sunyinya hingga jarum yang jatuh ketanahpun dapat kedengaran-
Maut..kematian-. serta hawa seram yang menggidikkan mencekam seluruh angkasa, menekan perasaan setiap jago yang hadir di situ.
Paras muka semua jago persilatan yang hadir disana sama2 berubah jadi pucat keabu2an, badan serta tulang mereka terasa kaku dan tak bertenaga, tak seorangpun berani bergeser barang setengah langkahpun dari tempat semula, jangan dikata melarikan diri, untuk bergerak majupun tak berani, se-akan2 mereka beranggapan bahwa elmaut akan menjemput nyawa mereka jika mereka berani maju.
Dalam pada itu Nenek bertoya emas yang sedang bersemedi telah menyelesaikan latihannya, luka yang diderita sudah separuh bagian sembuh, sambil bangkit berdiri ia pungut senjata toyanya yang tergeletak diatas tanah.
Tapi tiba2 sorot matanya bertemu dengan tengkorak darah yang menggeletak ditengah gelanggang, nampaknya nenek itu merasa amat terperanjat, dengan sempoyongan tubuhnya roboh kembali keatas tanah dan sedikitpun tak berkutik.
Han Siong Kie sendiri dengan pandangan yang tajam dan sama sekali tak berkedip menatap tengkorak berwarna merah itu, pelbagai ingatan dan perasaam berkecamuk dalam benaknya...
Kenapa Pemilik benteng maut munculkan diri secara tiba2? apakah ia sudah tahu kalau jalan darahnya yang tertotok telah dibebaskan orang?
orang yang kehilangan sukma minta kepadanya untuk berkunjung kembali kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya, rahasia apakah yang terkandung dibalik peristiwa itu?
Kalau Pemilik benteng maut menanyakan urusan tentang dibebaskannya jalan darah yang tertotok, apakah dia harus mengeluarkan kutungan telapak tangan dari 0rang yang kehilangan sukma?
Kenapa orang yang kehilangan sukma mengutungi telapak tangan sendiri?
Ingatan tersebut berkecamuk tiada hentinya dalam benak sianak muda itu, Kian lama darah panas dalam dadanya kian mendidih, dendam berdarah ditambah rasa dendam karena orang yang kehilangan sukma harus mengutungi telapak tangan sendiri, membuat pemuda itu ingin melampiaskan semua perasaannya ke atas tubuh Pemilik benteng maut. Dalam waktu singkat, suasana disekitar gelanggang jadi beku dan membeku.
Suasana sepi, hening dan tak terdengar sedikit sUarapUn, begitu sunyinya se-akan2 berada disuatu tanah pekuburan yang luas.
Jago persilatan yang berkumpul di empat penjuru tak ada yang berkutik ataupun menunjukkan sesuatu reaksi apapun, mereka punya perasaan seakan2 sedang menunggu keputusan hukuman.
Tulang tengkorak yang penuh berlepotan darah ditambah mayat2 yang sejak semula telah bergelimpangan diatas tanah, menambah seramnya suasana disekeliling tempat itu.
Lama kelamaan.. akhirnya Han Siong Kie tak kuasa menahan diri, ia berteriak dengan geram:
"Tengkorak maut, kenapa belum juga munculkan diri?"
Teriakan tersebut kembali menggetarkan hati setiap jago persilatan yang hadir disekeliling gelanggang, mungkinkah Tengkorak maut betul2 bukan hasil penyaruan dari iblis diantara iblis? sebab kalau tidak ahli waris dari iblis diantara iblis yakni Malaikat penyakitan tak mungkin akan menantang gembong iblis itu untuk beradu kepandaian. Kenapa Malaikat penyakitan berani menantang Tengkorak maut untuk adu kepandaian?
Tentu saja kecuali Han Siong Kie pribadi, tak seorangpun yang mengetahui alasannya.
Dalam pandangan sebagian besar orang persilatan, Tengkorak maut bukan saja mendatangkan rasa seram dan ngeri, diapun membawa kemisteriusan yang membingungkan hati, selama puluhan tahun belakangan ini belum pernah ada orang yang menyaksikan paras muka aslinya.
sekarang, kecuali rasa kaget dan terkesiap mencekam perasaan hati setiap jago yang hadir disitu, merekapun merasa keheranan dan ingin tahu duduk perkara sebenarnya.
Begitu suara bentakan diri Han Siong Kie berkumandang diudara, pekikan setan itu segera berhenti berggema, semua orang merasakan pandangan matanya jadi kabur dantahu2 ditengah gelangang telah bertambah dengan sesosok bayangan manusia berjubah hijau, bertopi hijau dan berpakaian cadar warna hijau pula. "Aaah.. Pemilik benteng maut" para jago sama2 berbisik dalam hatinya.
Han Siong Kie sendiri dengan mata melotot besar bagaikan gundu menatap gembong iblis tersebut tanpa berkedip.
Suasana ditengah gelangggang makin sunyi dan tebang, apalagi setelah Tengkorak maut munculkan diri.
Sementara itu Tengkorak maut sendiri dengan seram dan angkernya berdiri dihadapan Han Siong Kie, ia membungkam dalam seribu bahasa.
Pengamis dari selatan beserta kempat orang pengemis tua disisinya tanpa disadari telah mundur kebelakang dan mendekatt tepi kalangan dimana para jago berkumpul.
Dengan begitu ditengah gelanggang pada saat ini tinggalkan Han Siong Kie dan Tengkorak maut itu saja yang berdiri saling berhadap2an.
Han Siong Kie menggertak gigi menahan rasa benci dalam hatinya, dengan suara lantang ia menegur:
"Poocu, engkau ada urusan apa datang kemari?"
Tengkorak maut sama sekali tidak menjawab pertanyaan sianak muda itu, dengan suara dalam ia berseru lantang:
"Hari ini sengaja aku berbuat murah hati, semua orang yang hadir disekitar gelanggang segera enyah dari sini"
Suara itu tidak begitu keras, tapi semuajugo persilatan yang hadir disekitar gelanggang, baik dekat maupun jauh sama2 merasakan telinganya jadi amat sakit.
se akan2 mendapat pengampunan, tanpa membuang waktu barang sedikitpun juga, para jago sama2 putar badan dan kabur dari tempat celaka itu dalam sekejap mata, semua orang sudah berlalu tak berbekas.
Hanya seorang jago yang tidak berlalu dari situ, orang itu bukan adalah ketua para tiang loo dari perkumpulan Kay pang, pengemis dari selatan adanya.
Tindakan dari pengemis tua ini sama sekali diluar dugaan Han Siong Kie, membuat sianak muda itu tercengang, bukankah kakak angkatnya dengan jelas mengetahui kalau kepandaian silat bukan tandingan Tengkorak maut ? bahkan belum lama berselang hampir saja jiwanya melayang ditangan gembong iblis itu, sekarang kenapa ia tidak pergi? maksud tujuan apa yang terkandung dalam hatinya? Tanpa berpaling kembali Tengkorak maut berseru:
"Hey pengemis tua yang tak tahu diri, rupanya engkau sudah bosan hidup dikolong langit?"
Pengemis dari selatan tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeeeh heeeehh heeeehhh poocu, apakah engkau hendak turun tangan terhadapapku pengemis tua?"
"Tentu saja, seandainya engkau masih juga tak tahu diri "
"Bagaimana sih baru bisa dikatakan tahu diri?"
"Sekarang sudah tak sempat lagi, engkau telah ditakdirkan untuk mampus ditanganku"
"Poocu apakah engkau sudah lupa dengan janjimu terhadap sutay cou perkumpulan kami Song Tiat koay?"
"Heeeehh heehhh heeehhh pengemis busuk, lebih baik jangan bermain setan dihadapanku "
Mendengar jawaban tersebut, tiba2 Pengemis dari selatan membentak keras:
"Bangsat kurang ajar, berani benar engkau menyaru sebagai tengkorak maut untuk meracuni dunia persilatan-"
Han Siong Kie sangat terperanjat mendengar seruan itu.
"Tengkorak maut ini adalah tengkeorak maut gadungan?" pikirnya dihati,
“berdasarkan alasan apa engkoh tua mengatakan Tengkorak maut ini adalah tengkorak maut gadungan?" setelah termenung sebentar, sianak muda itu berpikir lebih jauh:
"Aaah benar, persoalannya pasti terletak pada kata2 yang tercantum dalam janji antara sutay cou perkumpulannya Song Tiat koay dengan pemilik benteng maut dan Tengkorak maut yang hadir didepan mata pada saat ini sama sekali tak tahu akan persoalan itu"
Sementara ia masih termenung, bayangan hijau berkelebat lewat didepan matanya, dengan suatu jangkauan buas tahu2 Tengkorak maut itu sudah berdiri kurang lebih beberapa tombak dihadapan Pengemis dari selatan.
Menyaksikan datangnya terjangan tersebut, tanpa sadar pengemis dari selatan merasakan badannya merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, dengan cepat ia mundur beberapa langkah kebelakang.
Han Siong Kie tak ingin menyaksikan engkoh tuanya terancam bahaya, buru2 ia enjotkan badan dan ikut meluncur kedepan, dengan suatu gerakan yang manis ia rebut posisi disamping Tengkorak maut tersebut.
Dengan suara yang dingin menyeramkan Tengkorak maut mendengus dingin, serunya:
"Hei pengemis tua, engkau hendak selesaikan dirimu sendiri ataukah aku yang harus turun tangan untukmu?"
Pengemis dari selatan kembali mundur selangkah kebelakang, hardiknya lantang:
"Tengkorak maut engkau telah membunuh anak murid perkumpulan kami dalam kuil Bu hoo ditepi pantai pek swi tan, kemudian membinasakan pula pangcu kami yang baru dikuil sian kong bio."
"Tutup mulut, aku mau tanya kepadamu, engkau hendak turun tangan sendiri ataukah aku yang harus turun tangan bagimu??"
Pengemis dari selatan tertawa seram tiada hentinya. "Heeehhh heeeehh hheeehh Tengkorak maut, hari kiamatmu telah tiba"
Tengkorak maut mendengus penuh kegusaran, sepasang telapaknya diayun keatas dan telapaknya segera didorong ke arah luar.
Han Siong Kie merasakan hatinya tercekat, ia dapat membuktikan sekarang kalau Tengkorak maut yang hadir dihadapannya saat ini adalah Tengkorak maut gadungan, tapi berdasarkan apakah engkoh tuanya menuduh kalau tengkorak maut yang sedang dihadapinya saat ini adalah Tengkorak maut gadungan?
"Aah benar" pikir pemuda itu kemudian "pastilah bangsat tua ini tidak dapat menjawab pertanyaan yang dia ajukan tadi"
Rupanya semaktu Tengkorak maut memutar telapak tangannnya kearah depan itulah Han Siong Kie dapat melihat bahwa sepasang telapak musuhnya ini walaupun satu hitam yang lain putih namun sedikitpun tidak bercahaya, sebaliknya dia masih ingat pemilik benteng maut yang asli mempunyai telapak kiri yang hitam pekat dan bercahaya tajam, sedangkan telapak kanan berwarna putih bagaikan pualam.
Pengemis dari selatan mengalihkan sorot matanya kearah luar dan menyapu kesana kemari dengan hati gelisah, rupanya ia sedang menunggu datangnya bala bantuan-
Tiba2 Han Siong Kie membentak keras: "..Hey harap. tunggu sebentar"
"Bocah keparat, engkau tak usah gelisah lebih dahulu" seru Tengkorak maut tanpa berpaling barang sedikitpun jua, "aku akan mengantar keberangkatan pengemis tua ini lebilh dahulu.. "
Sambil berkata sepasang telapaknya digetarkan keras2.
Pengemis dari selatan ayunkan telapaknya, tiba2 ia temukan kalau tenaga dalam yang dimilikinya tak dapat dihimpun kembali, kejadian ini amat mengejutkan hatinya membuat pengemis itu merasakan sukmanya serasa melayang tinggalkan raganya, dengan muka berubah jadi hijau membesi ia mundur tiga langkah kebelakang.
Tengkorak maut berpekik nyaring, sepasang telapak ditarik dan didorong kearah depan, dua gulung angin pukulan yang amat panas dengan cepat menggulung kearah depan...
Paras muka Pengemis dari selatan berubah pucat pias, ia tak bisa bergerak kecuali menunggu saat kematian bagi diri sendiri
Disaat yang amat kritis dan amat berbahaya itulah mendadak dari arah samping menggulung lewat segulung angin pukulan yang maha dahsyat, begitu kerasnya pukulan itu membuat badan pengemis dari selatan terpental sejauh satu tombak lebih dari tempat semula dengan nyaris ia berhasil lolos dari gempuran Tengkorak maut yang maha dahsyat dan mengerikan itu.
Orang yang barusan melancarkan serangan bukan lain adalah Malaikat penyakitan ahli waris dari iblis diantara iblis.
Perbuatan malaikat penyakitan melancarkan serangan untuk menyelamatkan jiwanya ini, dengan cepat membuat pengemis dari selatan jadi tertegun dan tidak habis mengerti.
Dipihak lain dengan penuh kegusaran Tengkorak maut berpaling kearah Han Siong Kie lalun bentaknya:
"Malaikat penyakitan, kalau engkau pingin mampus janganlah bertindak terlalu terburu nafsu"
Dari ucapan ini Han Siong Kie semakin dapat tarik kesimpulan kalau tengkorak maut yang sedang dihadapinya saat ini bukanlah Tengkorak maut yang asli, tapi pemuda itu belum merasa yakin seratus prosen, ia ada maksud untuk mencoba sekali lagi sebelum ambil keputusan.
Sambil tertawa dingin segera serunya kembali:
"Tengkorak maut kemarin malam pukulanmu telah kutukar dengan sebuah totokan jari, secara beruntung kita bisa bertarung dalam keaadaan seimbang, beranikah engkau sambut tiga buah totokan jariku lagi??"
Mendengar seruan tersebut, Tengkorak maut tergetar mundur tiga langkah lebar kebelakang, mukanya tertegun dan tak tahu apa yang musti dijawabi
Apa yang diucapkan Han Siong Kie barusan tidak lebih hanya pembicaraan kosong belaka, tujuannya adalah untuk menyelidiki apakah pihak lawan benar-benar Tengkorak maut yang asli atau bukan, dari sikap yang diperlihatkan pihak lawan, Han Siong Kie pun dapat memastikan kalau pihak lawan adalah Tengkorak Maut gadungan-Tak kuasa lagi ia tertawa ter-bahak2, serunya:
"Haah..haahh..haahh.. saudara, kepandaianmu untuk menyaru sebagai Pemilik benteng maut masih selisih jauh sekali"
Napsu membunuh yang tebal seketika memencarkan keluar dari balik lubang mata di atas kain cadar Tengkorak maut, sambil menyeringai seram ia berseru: "Bocah keparat, ini hari saat kematianmu sudah tiba"
Sepasang telapak direntangkan kesamping dan pukulan dahsyatpun segera siap dilepaskan-..
Han Siong Kie tak berani memandang rendah pihak lawannya, dengan cepat ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi gempuran lawan.
Pada saat telapak tangannya sedang diangkat ketengah udara itulah, mendadak Tengkorak maut berkelebat kearah depan, sepasang telapaknya bukan menyerang kearah si anak muda itu sebaliknya malah menyerang Pengemis dari selatan yang berada disamping.
Tindakan ini sama sekali berada diluar dugaan Han Siong Kie, untuk menolong sudah tak sempat lagi, ia hanya bisa berdiri menjublak sambil memandang dengan mulut melongo.
Pengemis dari selatan sendiripun tak pernah menduga kalau pihak lawan bakal menggunakan akal selicik itu, sementara ia masih terperangah, angin pukulan telah menerjang tiba dengan hebatnya.
Ditengah dengusan ngeri karena kesakitan, tubuhnya terpental sejauh satu tombak lebih dari tempat semula, untung tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna sehingga pukulan tersebut tidak sampai merenggut jiwanya.
Setelah roboh terkapar diatis tanah, dengan cepat ia loncat bangun, titik darah kental mengalir keluar dengan derasnya dari ujung bibir menodai jenggotnya yang berwarna putih.
Han Siong Kie benar2 dibuat sangat gusar sekali, tangan kanannya diayun kedepan melepaskan sebuah totokan jari dengan ilmu Tong kim ci yang dilatih dan diselidiki selama hampir empat puluh tahun lamanya oleh iblis diantara iblis itu.
Lima gulung desiran angin tajam disertai desingan yang amat memekikan telinga, secepat sambaran kilat menerjang kedepan-
Begitu merasakan keanehan dibalik desiran angin tajam itu, buru2 tengkorak maut menghindar kesamting namun gerakan itu agak terlambat satu tindak.
Segulung desiran angin tajam langsung menghajar lengannya sehingga berlobang, dengan sempoyongan tubuhnya tergetar mundur tiga langkah kebelakang. jubahnya basah oleh darah segar.
Dengan cepat gembong iblis itu menutup jalan darahnya dan menghentikan aliran darah, sambil tertawa seram serunya:
"Bocah keparat, engkau jangan terkebur lebih dahulu, lihatlah aku akan cabut jiwa anjingmu"
Sembari berkata sepasang telapaknya disentak keluar melepaskan pukulan2 gencar.
sewaktu masih berada dalam benteng mautt tempo hari, dalam gerakan serangan semacam inilah Han Siong Kie kehilangan tenaganya, sekarang setelah menyaksikan pihak lawan menggunakan pula kepandaian seperti itu ia jadi amat terperanjat.
Hawa murninya dengan cepat dikerahkan menembusi seluruh bagian badan namun ia merasa jalan darahnya seakan akan tersumbat oleh sesuatu benda hingga tenaga dalamnya sama sekali tak dapat dikerahkan lagi.
Rasa terperanjat yang dialaminya kali ini benar-benar luar biasa sekali dan sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia tak mengira kalau kepandaian silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan telah mencapai tingkat yang begitu tinggi, bahkan aliran kepandaian Tengkorak maut yang asli ...
Dalam cemas bercampur mendongkol, sekali lagi ia himpun segenap kekuatan yang di milikinya, kali ini ia berhasil menembusi jalan darahnya yang tersumbat dan hawa murni pun segera menghimpun jadi satu.
"Syukur aku dapat menghimpun kembali tenagaku" pikirnya didalam hati, " rupanya tenaga dalam yang dimiliki Tengkorak maut gadungan masih selisih jauh sekali kalau dibandingkan dengan kepandaian dari Tengkorak maut yang asli.."
Han Siong Kie mengenakan topeng kulit manusia diatas wajahnya, hal ini membuat paras mukanya tetap kaku dan sama sekali tidak mengalami perubahan, begitu Tengkorak maut gadunganpun tak dapat menyelidiki perubahan sikapnya sehabis mengeluarkan kepandaian aneh itu..
Untuk beberapa saat lamammya ia jadi terperangah, gembong iblis itu tak dapat menebak apakah kepandaiannya telah mendatangkan hasil atau tidak..
Dikala ia masih terperangah itulah Han Siong Kie berhasil menghimpun kembali seluruh kekuatan tubuhnya, bila ia lancarkan serangan kilat dalam keadaan begini, niscaya sianak muda itu bakal mati atau paling sedikit terluka parah.
setelah tertegun beberapa saat lamanya, Tengkorak maut menggetarkan sepasang telapaknya kearah depan. dua gulung angin pukulan berhawa panas dan hawa dingin dengan dahsyatnya meluncur kedepan.
Han Siong Kie segera silangkan telapaknya dan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras...
"Blaamm" ditengah benturan yang amat dahsyat, kedua belah pihak sama2 terdorong mundur sejauh satu langkah lebar kearah belakang.
Tengkorak maut menb entak keras, ia menerjang maju kedepan, secara beruntun iblis itu melancarkan delapan jurus serangan dahsyat yang semuanya menggunakan jurus2 yang aneh dan tenaga pukulan yang mengerikan hati..
Dibawah desakan dan serangan gencar pihak musuh, Han Siong Kie keteter hebat sehingga harus mundur delapan langkah dari tempat semula.
Begitu delapan jurus serangan itu sudah berlalu, Han Siong Kie tak mau berdiam diri belaka, ia segera mengembangkun jurus2 serangan dari ilmu telapak Mo mo cianghoat untuk melancarkan serangan balasan- suatu pertarungan yang amat seru dan ramai pun segera berlangsung dengan hebatnya.
Dalam sekejap mata suara bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, deruan angin pukulan menggulung diempat penjuru membuat pasir dan debu beterbangan diangkasa..
Seperminum teh kemudian, Han Siong Kie mulai terdesak dibawah angin, ia keteter hebat.
Meskipun ia telah mengembangkan permainan ilmu jari Tong kim ci yang diyakininya, tapi pihak lawanpun telah mengadakan persiapan babkan kepandaian silat yang dipergunakan kian lama kian bertambah hebat hingga memaksa sianak muda itu sama sekali tak dapat berkutik.
Dua puluh jurus kembali sudah lewat, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuh Han Siong Kie, ia mulai terjerumus dalam posisi yang sangat berbahaya.
Pengemis dari selatan yang berada disisi kalangan meskipun pernah menerima budi pertolongan dari Han Siong Kie, namun dalam keadaan begini ia sama sekali tak bertenaga untuk memberi pertolongan, pengemis tua itu hanya dapat mengikuti jalannya pertempuran dengan hati amat gelisah.
Kini, Han Siong Kie sudah didesak hingga terpaksa harus mengubah taktik penyerangannya jadi posisi bertahan, kemudian ia sudah kerahkan segenap kesaktian jurus Mo-mo ciang hoat dalam bagian bertahan, namun ia masih tetap gagal untuk menutup rapat seluruh pertahanan tubuhnya secara sempurna.
Pemuda itu dapat menyadari bahwa tenaga dalam yang dimiliki Tengkorak maut ternyata jauh lebih tinggi satu kali lipat jika dibandingkan dengan Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing.
Ditengah suatu bentakan keras, tiba2 terdengar seseorang mendengus berat.
Han Siong Kie kena dihajar dadanya secara telak hingga tubuhnya mundur delapan depa kebelakang, hampir saja ia muntahkan darah segar.
Tengkorak maut bersuit nyaring, sekali lagi tubuhnya menerjang maju kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat ibarat tindihan sebuah bukit Tay-san langsung menggulung kearah tubuhnya dengan amat hebat dan dahsyat.
Han Siong Kie menggigit bibir kencang2, dia himpun segenap kekuataa yang dimilikinya untuk menangkis datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Benturan dahsyat yang amat memekikan telinga bergelegar ditengah udara, Han Siong Kie sambil memuntahkan darah segar segera roboh tarkapar keatas tanah.
Tengkorak maut tertawa seram, dengan suatu sambaran kilat yang amat dahsyat ia cengkeram kearah pinggang Han Siong Kie, rupanya tujuan dari penyerangan itu bukan lain adalah untuk merebut kitab pusaka Hud jiu Poo pit itu.
Mendadak....serentetan bentakan nyaring berkumandang datang dari kejauhan-"Tengkorak maut engkau berani melukai orang?"
Segulung desiran angin tajam yang amat aneh tahu2 meluncur kedepan dan menyapu kesekeliling gelanggang.
Han Siong Kie seketika itu juga merasakan pinggangnya jadi kencang dan kitab pusaka Hud jiu Poo pit itupun sudah berpindah tangan dari sakunya kedalam genggaman Tengkorak maut.
Pada saat yang bersamaan pula Tengkorak maut meluncur kebelakang dan mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula.
Gulungan angin aneh itu tidak berhenti sampai disitu saja, tubuh Han Siong Kie kena digulung sejauh satu tombak lebih dari tempat semula, tak tahan sianak muda itu kembali muntahkan darah segar dari ujung bibirnya.
Dalampada itu ditengah gelanggang telah bertambah dengan seorang dara muda yang berwajah sangat cantik.
Terdengar pengemis dari selatan dengan napas ter-engah2 berseru nyaring:
"Nona, kedatanganmu terlambat satu tindak, dimanakah kakekmu? kenapa tidak kelihatan?"
Dengan perasaan minta maaf gadis cantik itu melirik sekejap kearah pengemis dari selatan, kemudian jawabnya:
"Karena ada urusan yang sangat penting, kakekku tak dapat datang sendiri kemari, karena itu beliau memerintahkan siau titli untuk mewakili dirinya datang kesini"
Bicara sampai disitu, gadis cantik itu kembali putar telapaknya satu lingkaran dengan gerakan yang sangat aneh, segulung angin berpusing yang sangat aneh segera menerjang kearah Tengkorak maut.
Menyaksikan datangnya ancaman itu, gembong iblis tersebut dengan cepat menyingkir kesamping, setelah melotot sekejap kearah gadis cantik itu dengan pandangan penuh kebencian, ia mendengarkan suara pekikan panjang yang menyeramkan, sekali enjot badan sambil menyambar kepala tengkorak berwarna merah derah itu secepat kilat ia kabur dari tempat itu.
Gerakan tubuhnya benar2 cepat sekali sehingga sukar dilukiskan dengan kata2.
Sambil menggigit bibir Han Siong Kie bangkit berdiri dari atas tanah, tetapi setelah menyaksikan keadaan disekitarnya ia nampak terperangah dan sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Ternyata gadis muda yang baru saja menyelamatkan jiwanya bukan lain adalah Go Siau Bi yang pernah ditolong olehnya dan hampir saja menikah dengan dirinya atas praksasa dari orang yang kehilangan sukma.
Ia tahu sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Go siau Bi, sungguh tak disangka olehnya hanya terpisah selama beberapa hari saja ternyata ia telah berubah jadi seorang yang lain . Lalu siapakah kakeknya?
Kenapa Tengkorak maut melarikan diri setelah bertemu dengan gadis cantik ini?
Pemuda itu sadar, andai kata GO Siau Bi tidak datang tepat pada saatnya, Tengkorak maut gadungan tak nanti akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, bahkan Pengemis dari selatanpun akan mengalami nasib yang sama pula.
Karena itu dari temgat kejauhan ia segera menjura kearah Go siau Bi sambil berseru: "Nona, kuucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang kau berikan kepadaku."
Go siau Bi tertawa tawa.
"Siauhiap tak usah berterima kasih kepadaku, sebab akupun pernah menerima budi kebaikan darimu"
Tentu saja gadis cantik ini mimpipun tidak menyangka kalau pemuda berwajah penyakitan yang berada dihadapannya sekarang, bukan lain adalah pujaan hatinya "Manusia berwajah dingin Han Siong Kie" adanya, tapi sianak muda itu mengetahui dengan cepat bahwa ia telah berhutang budi kepada dara tersebut. sekali lagi Go siau Bi berkata dengan lembut:
"Luka yang sauhiap derita cukup parah, terimalah obat penyembuh dari kakek yang amat mujarab ini agar engkau cepat sehat kembali ...."
Han Siong Kie tertawa angkuh, dengan nada amat dingin ia menukas perkataan lawannya: "Maksud baik nona biarlah kuterima di dalam hati saja, luka sekecil ini masih bukan suatu persoalan bagiku"
Go Siau Bi tidak banyak bicara lagi, ia segera berpaling kearah pengemis dari selatan sambil berseru:
"Locianpwee, siau li ingin mohon diri lebih dahulu"
Seraya berkata ia memberi hormat, kemudian kepada Han Siong Kie dia berseru pula. "Selamat tinggal"
Sekali enjot badan tubuhnya segera melesat dari sana dan lenyap dibalik pepohonan, kecepatan gerakan tubuhnya begitu luar biasa sehingga tak kalah hebatnya dengan Tengkorak maut gadungan.
Memandang hingga bayangan punggungnya lenyap dari pandangan, diam2 Han Siong Kie merasakan hatinya kesal, tanpa sadar ia menghela napas panjang.
Sementara itu sepeninggal Go siau Bi, pengemis dari selatan kembali berpaling ke arah Han Siong Kie sambil berkata:
"Hey bocah muda, jembatan tetap jembatan, jalan raya tetap jalan raya, meskipun
engkau telah melepaskan budi pertolongan kepadaku yang tak akan kulupakan untuk selamanya, tapi aku masih letap akan menagih hutang piutang antara gurumu dengan perkumpulan kami di masa yang silam !"
Has Siong Kie tidak langsung menjawab, sebaliknya hanya berpikir dalam hatinya:
“..Kalau aku sampai unjukkan paras asliku dalam keadaan demikian tak mungkin engkoh tuaku akan mengesampingkan urusan perkumpulan karena hubungannya dengan aku sudah tentu akupun tak dapat berdiam diri belaka terhadap urusan dari suhu. Sekarang persoalan yang paling penting adalah apa sebabnya suhu melakukan pembantaian dimasa silam ? perbuatan itu dilakukan karena desakan dari kemauan sendiri ataukah karena ada alasan tertentu ?"
Setelah berpikir lebih jauh, ia merasa persoalan ini baru dapat dibikin jelas seandainya telah bertemu dengan gurunya nanti apalagi usia gurunya tinggal beberapa hari saja. niscaya hutang piutang itu akhirnya akan jatuh keatas pundaknya.
Berpikir sampai disitu, ia merasa lebih baik untuk menyimpan rabasia ini untuk sementara wsktu, sembari menjura katanya:
“Locianpwee, bagaimana kalau kita tetap dengan pembicaraan semula, selewatnya hari ini aku pasti akan berkunjung sendiri ke perkumpulan anda untuk memberi pertanggungan jawab?”
"Engkau akan datang sendiri untuk memberikan pertanggungan jawab?" tegur Pengemis dari selatan dangan alis mata melentik.
"Ucapanmu tepat sekali!"
“Siapa yang berhutang dialah yang harus membayar, sekalipun murid barus menanggung hasil perbuatan dari gurunya, tapi bagaimanapun juga,. .”
“Tentang soal ini dikemudian hari aku pasti akan memberi penjelasan yaig seterang2 nya.”
“Baik. kita tentukan begitu saja, untuk kali ini aku bersedia untuk msmpercayai perkataanmu.”
Dalam hati kecil Han Siong Kie terdapat banyak masalah rumit yang mencurigakan hatinya, namun dalam keadaan demikian ia merasa tak leluasa buka mulut, setelah ter-menung dan berpikir beberapa saat lamanya kemudian sambil keraskan kepala la berkata:
"Locianpwee, kalau kita kesampingkan masalah dendam atau sakit hati antara perguruan, apakah engkau bersedia untuk menjawab beberapa buah pertanyaanku?"
Pengemis dari selatan termenung dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya: "coba katakanlah "
"Kedatangan locianpwee pada saat ini adalah khusus untuk mencari satroni dengan diriku, ataukah karena Tengkorak gadungan tersebut?"
"Bocah muda, aku pengemis tua mendapat laporan dari anak buahku tentang kehadiran-mu disini, karena itu maksud tujuan dari kedatanganku adalah untuk mencari engkau"
"Apakah locianpwee tahu kalau tengkorak maut gadungan bakal munculkan diri?"
"Tidak, peristiwa ini sama sekali diluar dugaanku "
-ooooooo-
BAB 32
"KALAU peristiwa ini memang sama sekali berada diluar dugaanmu, apa sebabnya ketika locianpwee sedang diancam oleh Tengkorak maut gadungan tadi, aku lihat se-akan2 engkau sedang menantikan kedatangan seseorang?" desak Han Siong Kie lebih jauh.
"Bocah muda, ketajaman matamu benar2 luar biasa sekali, aku pengemis tua memang sedang menantikan kemunculan seseorang?"
"Siapakah orang itu??"
"Put-lo sianseng."
"Apa? Put lo sianseng...?" tanya Han Siong Kie dengan perasaan bergetar keras.
"Perkataanmu tak keliru, apakah engkau pernah mendengar dari jago persilatan ini."
"Dua hari berselang, secara kebetulan aku pernah berjumpa satu kali dengan dirinya..."
"Oooh kiranya begitu"
"Locianpwee" ujar Han Siong Kie lagi setelah termenung beberapa saat lamanya. "Darimana engkau bisa mengatakan jika tengkorak maut tersebut adalah tengkorak maut gadungan?"
"Tentang soal ini..suatu kali aku pengemis tua serta sahabat karibku padri dari utara hampir saja menemui ajalnya ditangan iblis tersebut, kemudian susiokku Seng tat koay tiba2 munculkan diri dan membuat ia jadi kaget hingga kabur, waktu itu aku sudah curiga kalau dia adalah manusia gadungan, sebab kalau pemilik benteng maut pribadi yang kami hadapi, tak mungkin dia bakalan kabur sebelum bertempur, setelah peristswa itu paman guruku berkunjung sendiri kebenteng maut untuk bikin terang duduknya persoalan, dan dari perkataanku tadi yang sengaja kuutarakan keluar ternyata bangsat itu memperlihatkan asalnya..".
Tiba2 Han Siong Kie teringat kembali akan song Tiat-koay sewaktu ia menanyakan soal Tengkorak maut kepadanya tempo hari, ia tertawa tergelak sambil berlalu, katanya selama ini dia tak akan munculkan diri kembali dalam dunia persilatan dan keadaan tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwasanya pengemis itu sudah menderita kerugian besar didalam benteng maut, tentu saja perkataan semacam ini tidak sampai diutarakan keluar pada saat ini.
Pokok pembicaraanpun segera dialihkan kemasalah lain, katanya.
"Mengapa Tengkorak maut gadungan melarikan diri ter-birit2 setelah kemunculan nona Go siau Bi tadi ?"
"Mungkin ia agak jeri terhadap nama besar kakeknya"
"Siapa sih kakeknya?"
"Put-loo sianseng"
"Oooh kiranya begitu.."
Sekarang Han Siong Kie baru tahu apa sebabnya dalam beberapa hari yang amat singkat Go siau Bi telah berubah jadi seseorang yang lain, bahkan tenaga dalamnya peroleh kemajuan yang sangat pesat, tak tahunya dia adalah cucu perempuan dari Put loo sianseng, manusia sakti dari dunia persilatan-
Sementara sianak muda itu masih termenung, pengemis dari selatan telah bertanya kembali:
"Bocah muda, apakah engkau masih ada pertanyaan lain yang hendak kau ajukan kepadaku?" "
sebenarnya Han Siong Kie hendak minta bantuan dari engkoh tuanya tni untuk menurunkan perintah kepada anak buahnya dan bantu dia untuk menemukan jejak Tonghong Hui, tapi setelah teringat bahwa saat itu dia muncul dengan muka lain dan tak mungkin baginya untuk buka suara, terpaksa ia cuma berkata:
"Terima kasih banyak atas petunjuk dari locianpwee, selamat berpisah dan sampai jumpa lagi dilain waktu"
"Jangan lupa, ada pengemis tua selalu menantikan kabar berita dari kalian guru dan murid" seru Pengemis dari selatan menegaskan.
"Aku tak akan mengingkari janji, beberapa hari kemudian aku pasti sudah berkunjung kemarkas besar kalian"
Selesai berkata, ia enjotkan badan meluncur keluar dari hutan dan melayang kearah jalan raya.
Sekarang perasaan hatinya bertambah berat, ia merasa se akan2 telah memikul beberapa beban yang lebih berat lagi.
Musuh besar gurunya tersebar dimana-mana bagaimanakah caranya untuk menyelesaikan semua pertikaian itu dikemudian hari??
Manusia macam apakah Tengkorak maut gadungan itu? kenapa ia hendak mencatut dari nama Tengkorak maut? dengan kedudukan dan kepandaian silat yang dimiliki Pemilik Benteng maut, apa sebabnya ia hanya berpeluk tangan belaka tanpa ada maksud untuk membikin terang duduknya persoalan? apa lagi aliran ilmu silat yang mereka miliki rupanya berasal dari satu sumber yang sama ....
Setelah kemunculan tengkorak maut gadungan, lalu musuh besar pembunuh keluarganya adalah Tengkorak maut yang asli ataukah tengkorak maut gadungan??
Kitab pusaka Hud jin Poo pit sudah dirampas oleh Tengkorak maut gadungan untuk merebutnya kembali jelas merupakan suatu pekerjaan yang amat sulit..
Teringat akan kitab pusaka hud jiu Poo pit itu, perasaan hatinya jadi murung bercampur sedih, sebab andaikata pusaka itu tak dapat direbut kembali maka ia tak akan berhasil melatih kepandaian silat yang lihay, itu berarti pula semua harapannya akan musnah bagaikan asap yang menguap, karena baik terhadap Tengkorak maut asli maupun terhadap Tengkorak maut gadungan, ia masih bukan tandingannya semua. Makin berpikir ia merasa makin murung, dan kacau pikirannya.
Akhirnya ia ambil keputusan untuk segera kembali dulu untuk menjumpai gurunya, dalam hati ia berdoa dan berharap agar dalam beberapa hari belakangan ini gurunya tidak sampai mengalami kejadian yang sama sekali diluar dugaan.
Siang malam tak hentinya ia melakukan perjalanan cepat, ketika fajar baru menyingsing menjelang hari ketiga, akhirnya sampailah pemuda itu ditengah hutan dimana Iblis diantara iblis berdiam.
Batu besar yang menyumbat mulut gua itu masih tetap berada ditempat semula, sedikit banyak pemuda itu merasa hatinya agak lega...
Tapi ingatan lain kembali berkelebat dalam benaknya membuat ia jadi ragu2 untuk mendorong batu besar itu kesamping, sebab perjalanannya kebenteng maut kali ini hanya membawa kekecewaan belaka, gurunya sudah empat puluh tahun berlatih diri hingga badannya cacad dan jiwanya terancam maut akibat tenaga dalamnya telah disalurkan kedalam tubuhnya, apa yang diharapkan hanya mendengar hasil laporan dari mulutnya, apakah ia tega membuat orang tua itu merasa kecewa ? membuat dia menyesal untuk selamanya?
Keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, jantung mulai berdebar dengan kerasnya, ia tak dapat ambil keputusan bagaimana caranya untuk mengatasi persoalan ini ?
sesudah termangu-mangu beberapa saat lamanya, pemuda itupun mantapkan hati dan segera menggeser hatu cadas tersebut dan masuk keruang bawah tanah.
"Siapa?" teguran yang lirih, lemah dan sama sekali tak bertenaga berkumandang dari balik ruang gua.
Han Siong Kie meras akan hatinya jadi kecut dan sedih sekali, buru2 jawabnya: "Suhu, tecu telah kembali"
Sambil menjawab pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya masuk kedalam ruangan, ia lihat gurunya Ibiis diantara iblis sedang bersandar diatas dinding gua dengan badan yang lemas tak bertenaga, sepasang matanya yang sayu dan tak bersinar terbelalak lebar2, pancaran mukanya penuh mengandung perasaan pengharapan.
Han Siong Kie segera memburu maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan gurunya.
"Nak, bagaimana dengan hasil perjalananmu kali ini?" tanya iblis diantara iblis dengan suara lemah.
Han Siong Kiem merasakan jantungnya berdebar keras dan perasaan hatinya tercekat. "suhu.."
Otot2 hijau pada menonjol keluar dari atas wajah iblis diantara iblis, ia segera mencengkeram bahu Han Siong Kie dan menggoncangkannya keras2 sambil berseru: "Bagaimana hasilnya? ayoh cepat jawab"
"Seperti apa yang suhu titahkan, tecu telah masuk kedalam benteng maut dan menantang Tengkorak maut untuk berduel."
"Cepat katakan bagaimana akhir pertarungan itu? ilmu jari Tong kim ci ilmu Tong kim-ci bagaimana hasilnya??"
"Ketika tecu mengeluarkan ilmu jari Tong kim ci, tubuh pihak lawan segera bergetar keras dan mendengus berat, rupanya ia sudah menderita luka."
"Haaah haaahh hhaaahhh ia terluka ? coba ulangi sekali lagi "
"Ia sudah terluka, cuma ...."
"Cukup anakku cukup, ia sudah terluka haaahh haaahhh hhaaaahhhh"
sambil tertawa keras bagaikan orang kalap Mo tiong ci mo iblis diantara iblis bersandar kembali keatas dinding gua, paras mukanya kian lama kian berubah hebat.
Kata2 selanjutnya tak mampu diutarakan keluar oleh Han Siong Kie, ia tak tega menyaksikan kakek tua itu mati dengan menanggung kecewa, dalam keadaan begini ia harus membohongi dirinya dan pemuda itupun tidak melanjutlan kembali kata2nya.
"Benar suhu" sahutnya dengan kaku.
"Dan.. pemilik benteng maut telah terluka oleh totokan ilmu jari Tong kim ci ku..."
Napas iblis diantara iblis mulai memburu dengan cepatnya, kabut putih mulai menyelimuti biji matanya.
Menyaksikan keadaan itu Han Siong Kie jadi amat terperanjat, tak tertahan lagi ia menjerit keras: "suhu. suhu.. kau..."
"Aku..aku.. aku merasa sangat puas" gumam iblis diantara iblis bagaikan orang mengigau.
Kepalanya miring kesamping, matanya tertutup rapat dan kakek tua yang pernah menggetarkan sungai telaga ini menghembuskan napasnya yang penghabisan-
Han Siong Kie tak dapat menahan rasa pedihnya lagi, ia menangis ter sedu2, meskipun hubungan mereka sebagai guru dan murid belum berlangsung lama, tapi apa yang dilimpahkan iblis diantara lbiis kepadanya sudah cukup untuk membekali masa hidup selanjutnya..
Lama... lama sekali ia baru berhenti menangis, sambil berlutut dan menyembah layon gurunya ia berbisik:
"Oooh suhu, tecu telah membohongi engkau orang tua, harap engkau suka memafkan kesalahanku ini, tapi tecu berjanji, suatu hari tecu pasti akan benar2 mengalahkan pemilik benteng maut untuk menghibur arwah suhu dialam baka" Selesai berdoa pemuda itu bangkit berdiri.
Mendadak.. ia temukan disamping jenasah gurunya tergeletak sejilid kitab kecil di atas kitab kecil itu terletak sebuah tanda pengenal sebesar setengah telapak yang terbuat dari perak, karena sinar yang gemeriapan dengan perasaan keheranan pemuda itu segera pungut benda itu dari tanah.
Pada permukaan tanda pengenal itu terukiriah seraut wajah setan yang bermuka bengis, tapi karena aus dimakan waktu pinggiran serta garis ukiran muka setan itu sudah banyak yang samar dan rusak.
Ketika ia membalik tanda pengenal itu ke permukaan yang lain, tiba2 saja serentetan cahaya yang amat menyilaukan mata memancar keempat penjuru dan menerangi seluruh bagian dari ruangan itu.
Han Siong Kie merasa amat terperanjat ketika diamati lebih seksama maka ditemuilah di tengah permukaan tanda pengenal terpancang sebutir mutiara sebesar buah kelengkeng, disekitar mutiara terukir beberapa huruf yang berbunyi: "Tanda pengenal mutiara setan bengis benda mestika dari istana"
Dengan perasaan tak habis mengerti Han Siong Kie gelengkan kepalanya berulang kali, tanda pengenal mutiara setan bengis sudah pasti adalah nama dari tanda pengenal itu, tapi apa maksud dari kata yang berbunyi benda mustika dari istana, istana apa yang dimaksudkan .... ? istana kaisar ? istana raja muda... Kenapa suhunya menyimpan benda seperti ini?
Dengan perasaan keheranan ia ambil kitab kecil itu dan dibaca, pada halaman pertama terteralah huruf yang berbunyi: "Kitab Catatan budi dan dendam dari Mo mo Cungcu"
Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras, kitab tersebut sudah pasti tercantum rahasia hidup dari gurunya, ia numpuk benda itu bersamaan dengan tanda pengenal mutiara setan bengis, itu berarti gurunya mengandung maksud yang sangat dalam, ia sebagai ahli warisnya sudah menjadi kewajiban untuk memikul semua resiko dan tanggung jawab atas budi dan dendam suhunya selama masih hidup dan sekarang benda tersebut di letakkan disitu, itu berarti gurunya memang sengaja meninggalkannya untuk dia lihat..
Berpikir sampai disitu, pemuda itu mulai membalikkan lembaran berikutnya, terbaca olehnya kitab itu penuh berisikan tulisan2 kecil yang rumit dan rapat, warna merah yang menyiarkan bau amis tersiar keluar dari balik kitab itu, sebagai seorang pemuda yang cerdik, Han Siong Kie segera dapat menduga kalau tulisan itu tentulah ditulis oleh gurunya belum lama berselang dengan menggunakan darah badannya.
Ternyata apa yang diduga sedikitpun tak salah, terbaca olehnya tulisan itu berbunyi demikian.
"Tulisan ini ditujukan buat muridku.
Gurumu bukan lain adalah kaisar Tee kun angkatan ketiga belas dari istana Huan mo kiong yang berada diwilayah Thian lam ....."
Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar sangat keras, ia tak mengira kalau suhunya bukan lain adalah kaisar Tee kun angkatan ketiga belas dari istana Huan mo kiong, tak aneh kalau para pengawal istana Huan mo kiong segera kenali perguruannya dan menanyakan jejak dari gurunya setelah mengenali permainan ilmu telapaknya ....."
-0000000-
Jilid 16 : Istri yang ditinggalkan
KEMBALI pemuda itu melanjutkan pembacaannya atas surat tersebut.
"Empat puluh lima tahun berselang, aku masuk kedaratan Tionggoan tapi karena menderita kalah ditangan Pemilik benteng maut, maka aku tak pernah kembali lagi kewilayah Thian-lam, oleh sebab itu dengan surat ini kuperintahkan kepadamu untuk meneruskan jabatanku sebagai kaisar Tee kun angkatan ke empat belas dari istana Huan mo kiong.."
Han Siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras karena emosi yang sukar dilukiskan, suhu memerintahkan dirinya untuk meneruskan jabatannya sebagai kaisar istana Huan mo kiong, tapi.. belum lama berselang dari mulut para pengawal istana baju hijau ia sempat mendengar kalau istana Huan mo kiong telah mempunyai seorang ketua baru, dan rombongan pengawal itu sedang melaksanakan perintah dari kaisarnya untuk masuk daratan Tionggoan mencari hawa perawan gadis persilatan, dari sini dapatlah diduga bahwa selama puluhan tahun gurunya tak pernah kembali kewilayah Thian-lam, disitu telah terjadi banyak perubahan besar ....
Setelah berpikir sebentar, ia membaca lagi isi surat itu:
"Apa yang barusan kukatakan merupakan suatu perintah yang tak boleh dibantah, tanda pengenal mutiara setan bengis merupakan tanda kekuasaan dari perguruan, dan benda itu hanya dimiliki oleh seorang ketua perguruan belaka.”
Kembali Han Siong Kie merasakan hatinya terperangah, kalau toh untuk memimpin perguruan diwilayah Thian lam itu seorang ketua harus memiliki tanda pengenal mutiara setan bengis, lalu dengan tanda pengenal apakah kaisar Tee Kun yang berkuasa diistana huan mo kiong pada saat ini naik tahta?
Dengan penuh kebingungan ia gelengkan kepalanya berulang kali, kemudian lanjutkan kembali membaca isi surat itu.
"Tanda pengeral mutiara setan bengis merupakan tanda pengenal yang diwariskan cousu perguruan kami, barang siapa yang jadi anggota perguruan Thian lam harus berlutut bila bertemu dengan benda ini, barang siapa berani membangkang perintah ini berarti ia hendak melenyapkan perguruan dan menghina cousu, orang itu harus dihukum mati ."
Membaca sampai disini tak kuasa lagi Han Siong Kie menelan air ludahnya, ia membaca lebih jauh:
"Mutiara dibalik permukaan tanda pengenal ini merupakan mutiara yang amat tersohor dinegeri Persia, keistimewaannya jika disaluri hawa murni maka pantulan cahaya yang memancarkan keluar akan melumpuhkan kesadaran otak pihak lawan, tapi berhubung selama ini aku selalu mengandalkan kekuatanku untuk menghadapi lawan, maka keampuhan tersebut belum pernah kucoba.."
Dari perkataan ini, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa lblis diantara iblis adalah seorang manusia yang jujur dan pandekar sejati.
Tanpa sadar rasa hormat dan kagum Han Siong Kie terhadap gurunya semakin menebal satu tingkat.
Terbaca olehnya kata2 selanjutnya berbunyi demikian.
"Ingatlah baik2. dalam perguruan kita terdapat sejenis ilmu sesat yang bernama Tui bun kang, jika pukulan itu dilepaskan maka settap korban yang berada didaerab seluas lima lombak pasti akan mati konyol tanpa bisa ditolong. Tapi berhubung kepandaian ini barus dilatih dari gabungan hawa murni yang dilatih sendiri dengan sari perawan seratus orang gadis muda yang pernah belajar ilmu silatdan kekejian dari ilmu ini luar biasa sekali, maka cousu angkatan kedelapan telah menurunkan perintah untuk melarang setiap anggota perguruan untuk mempelajari kepandaiao ini, siapa berani melanggar harus mati,
Tulisan darah dari :Tong Ceng
Setelah membaca surat itu, Han Sion gKie baru mengerti apa maksud dan tujuan para pengawal istana Huan mo kiong dikirim ke daratan Tionggoan untuk menangkap gadis2 perawaD yang belajar silat.
Sebagai seorang ahli waris dari perguruan Thian-lam yang diperintahkan gurunya untuk meneruskan kedudukannya sebagai kaisar istana Huan mo-kiong sudah tentu Han Siong Kie tak ingin menyaksikan perbuatan yang melanggar peraturan perguruan itu di lakukan terus. selama itu pemuda itupun sadar andaikata kepandaian sesat semacam ini berhasil dilatih hingga sempurna niscaya banyak orang persilatan yang akan menemui ajalnya ditangan mereka.
Berpikir sampai disitu, sianak muda itu segera membatin kembali.
“Aku harus mengerahkan segenap kemampuan yang kumiliki untuk mencegah perbuatan yang tak kenal peri kemanusiaan ini berlangsung hingga ber-larut2, selain itu aku pun hendak menyelidiki dengan andalkan apakah kaisar yang sekarang menjabat kcdudukan sebagai seorang ciangbunjin.”
Dengan penuh rasa hormat berlututlah pemuda itu dihadapan jenasah gurunya. setelah menyembah dengan rasa sedih ia berbisik :
"Tecu bersumpah akan melaksanakan pesan terakbir dari suhu untuk membangun kembali perguruan Thian-lam dan membasmi kanm durjana dari tubuh perguruan!"
Maka ia berikan tubuh suhunya iblis di antara iblis tepat ditengah ruangan, pikirnya lagi.
"Liang tanah ini merupakan tempat yang paling pantas untuk mengubur jenasah suhu, bila mulut gua kututup kemudian kudirikan batu nisan, bukankah urusan sudah beres..?"
Setelah ambil keputusan dalam hati kecilnya, ia periksa kembali sekeliling liang tanah itu dengan seksama, setelah yakin kalau disitu tak ada benda yang berharga lagi, ia tatap raut wajah gurunya untuk terakhir kalinya, tak kuasa air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajahnya.
Beberapa waktu kemudian Han Siong Kie menyimpan tanda pengenal mutiara setan bengis itu kedalam sakunya, kemudian membuka kembali kitab catatan budi dan dendam dari Mo mo cungcu.
Pada halaman pertama berisikan catatan mengenai riwayat hidupnya serta semua perbuatan yang pernah dilakukan selama hidupnya.
Setelah memeriksa halaman pertama, tanpa terasa sorot mata yang tajam melotot keluar dari balik mata si anak muda itu, sekarang ia tak usah kuatir menghadapi orang-orang yang datang mencari balas dengan dirinya tapi terutama sekali terhadap engkoh tuanya pengemis dari selatan, sekarang ia dapat memberi pertanggungan jawab yang sebenarnya.
Apa yang diucapkan gurunya sama sekali tidak salah, semua orang yang dibunuh olehnya semasa masih hidup merupakan orang2 yang memang patut dibunuh, sebab mereka punya cukup alasan yang kuat untuk menerima kematiannya.
Selain itu pemuda itupan merasakan susahnya untuk membedakan mana yang benar, mana yang salah bagi umat persilatan, sebab dengan tingkah laku dari gurunya yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, ternyata diberi julukan sebagai Iblis diantara iblis, tindakan ini benar2 sangat tidak adil.
Setelah termenung beberapa waktu lamanya, pemuda itu baru merangkak keluar dari dalam liang dan menutup mulut gua tersebut dengan sebuah batu cadas yang amat besar, kemudian dengan ilmu jarinya ia mengukir beberapa huruf diatas batu besar itu.
“Disinilah Mo mo cuncu Tong Ceng kaisar angkatan ketiga belas dari istana Huan mo kiong dimakamkan”
Dibawah ukiran tersebut tercantum pula beberapa huruf yang berbunyi: "Didirikan oleh tecu Han Siong Kie"
Selesai mengukir tulisan tersebut, pemuda itu mengamati kembali tulisan tersebut beberapa saat kemudian baruputar badan siap meninggalkan tempat itu.
Tiba2 desiran angin tajam menyambar lewat dari kejauhan, tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur masuk kedalam hutan.
Diam2 Han Siong Kie merasa amat terperanjat, perlahan2 ia putar badan dan alihkan sorot matanya kearah mana berasalnya suara itu, tapi begitu meugetahui siapa yang telah datang, darah panas dalam dadanya kontan mendidih, hawa napsu membunuh yang sangat tebalpun menyelimuti seluruh wajahnya.
Ternyata orang yang barusan datang itu bukan lain adalah sau kaucu dari perkumpulan Thian Che kau serta dua orang kakak berbaju kuning..
Ia tatap kembali salah seorang diantara dua kakek baju kuning yang bermata tunggal itu bernama Koan thian san atau Malaikat pangaet langit Ci Chong, sebab ketika ia tertangkap dan hendak dijatuhkan hukuman mati tempo hari, orang ini bertindak sebagai salah seorang pengawas pelaksana hukuman diantara empat orang lainnya.
Dengan sorot mata yang tajam Han Siong Kie menyapu sekejap wajah tiga orong itu, kemudian pandangannya yang dingin dan ketus berhenti diatas wajah ketua muda dari perkumpulan Thian Che kau.
Dalam pada itu ketiga orang tersebut telah alihkan pula sorot matanya keatas batu nisan tersebut, sementara paras mukanya seketika berubab hebat, orang2 itu nampak begitu terkesiap dan kaget.
"Han Siong Kie... Han Siong Kie... Han Siong Kie." gumam ketua muda perkumpulan Thian che-kau tiada hentinya.
Tiba2 ia mundur satu langkah lebar kebelakang, sambil menuding kearah sianak muda itu serunya lebih jauh:
"Engkau adalah Malaikat penyakitan, ahli waris dari iblis diantara iblis??"
"Tebakanmu sangat tepat"
"Dan engkau juga bernama Han Siong Kie?"
"Ada apa??"
"Kenapa engkau punya nama marga yang sama dengan Manusia berwajah dingin??"
Han Siong Kie tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeeh heeehh heeeehh kalau namaku sama dengan nama dari manusia berwajah dingin, lantas engkau mau apa??"
Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau sudah terbiasa angkuh dan sombong, mendengar perkataan itu air mukanya kontan berubah jadi dingin menyeramkan, tegurnya: "Tahukah engkau tempat apakah ini? "
"Hutan belantara yang jauh dari keramaian kau anggap tempat apakah ini?"
"Hmm lima puluh li disekitar markas besar perkumpulan kami merupakan daerah terlarang, umat persilatan dari manapUn juga tidak diperkenankan menginjakkan kakinya ditempat ini secara sembarangan... mengerti? "
Dengan penuh penghinaan Han Siong Kie mendengus dingin. "Hmm seandainya aku berkeliaran disini, kalian mau apa?"
"Mau apa?? Huuh.. nyawamu akan kami renggut"
"Haahh..haahh. haahh.. anjing cilik, engkau benar2 seorang manusia yang tak tahu diri, kematian sih sudah berada diambang pintu namun masih belum merasa"
Makian sebagai "anjing cilik" itu sangat menggusarkan hati sau kaucu dari perkumpulan Thian chee kau, paras mukanya berubah hebat dan hawa napsu membunuhpun seketika berkobar menyelimuti seluruh wajahnya.
Dua orang pelindung hukum baju kuning itupun keihatan sangat gusar, air muka mereka berubah hebat.
"Heehh... heehh heehh... malaikat penyakitan" seru sau kaucu dari perkumpulan Thian chee kau, sambil tertawa seram," aku akan bikin mampus dirimu lebih dahulu sebelum menggali kuburan ini"
Han Siong Kie naik pitam, hawa amarah yang berkobar dalam dadanya hampir saja sukar dikendalikan lagi, sinar matanya berapi2 dan mukanya menyeringai bengis, dengan suara berat ia berseru:
"Kalau engkau berani merusak atau mengganggu kuburan guruku, maka aku orang she Han akan basmi semua anggota perkumpulan Thian che kau secara keji"
Mendengar ancaman yang sangat mengerikan dan mendirikan bulu roma itu sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau serta dua orang kakek baju kuning itu nampak amat terkesiap hingga sekujur badannya gemetar keras, ancaman yang diutarakan oleh ahli waris iblis diantara iblis tak dapat di anggap sebagai satu gertak sambal belaka.
Tanpa sadar Han Siong Kie teringat kembali akan peristiwa yang berlangsung belum lama berselang. ketika ia ditangkap oleh ibunya yang kejam bagaikan ular dalam wilayah Liau huan tau serta dijebloskan kedalam penjara batu, pada saat itu ia pernah dihajar oleh sau kancu ini hingga muntah darah segar, andaikata ia tidak menggunakan ilmu Ku si tay hoat untuk pura2 mati kemudian mendapat bantuan pula dari orang yang kehilangan sukma serta putrinya niscaya ia sudah mati secara mengerikan.
Benci, rasa benci yang berlipat ganda menyelimuti seluruh perasaan hatinya.
Ayahnya telah mati dibunuh, keluarganya telah musnah dibantai orang, dan ibunya kawin lagi.
Ibunya telah kawin kembali dengan Thian che kaucu, bahkan hendak membinasakan pula dirinya, sementara ketua muda yang berada dihadapannya menyebut ibunya say siang-go atau siang go cantik ong cui Ing sebagai ibunya pula, itu berarti pemuda itu adalah anak jadahnya.
"Aku harus bunuh bangsat anak jadah ini" teriak Han Siong Kie dalam hati kecilnya, ia benci kepada ibunya, benci pula kepada saudara seibu lain ayah ini.
Perlahan2 ia maju kedepan, sambil menggigit bibir teriaknya keras2. "Bangsat cilik, akan kubunuh dirimu"
Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau itu terperangah, kemudian sambil tertawa seram sahutnya:
"Malaikat penyakitan,perkataan semacam ini lebih baik katakanlah sesudah berada di alam baka nanti"
Han Siong Kie mendengus dingin, per-lahan2 ia menggerakkan tangannya dan melepaskan topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya..
"Manusia bermuka dingin" tiga orang jago persilatan itu sama2 menjerit kaget.
Paras muka Malaikat pengamat langit ci Chong berkerut kencang, matanya yang tunggal memancarkan sinar penuh rasa kaget dan terkesiap. ketika melaksanakan hukumam mati tempo dulu ia, bertindak sebagai pengawas, dan kini kenyataan membuktikan bahwa Manusia bermuka dingin masih hidup, tentu saja orang itu jadi terkesiap dan kaget luar biasa.
"Engkau belum mampus..?" teriaknya tanpa sadar.
"Perkataanmu tak salah, aku memang belum mati"
Secara beruntun ketua muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur tiga langkah lebat kebelakang, dengan rasa kaget yang tak terkirakan ia ikut menegur: "Sebenarnya engkau manusia atau setan?"
"Haaaah haaahh haaahh bangsat cilik, engkau tak pernah menyangka bukan? aku adalah manusia"
Ketua muda perkumpulan Thian che kau berusaha keras untuk menekan pergolakan hatinya, kemudian ia berseru:
"Manusia bermuka dingin, engkau masih tetap ingin jadi setan??"
Hawa napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie sepatah demi sepatah serunya:
"Anjing cilik, dalam satu jurus aku hendak cabut jiwa anjingmu"
Malaikat penyakitan, ahli waris dari iblis diantara iblis ternyata adalah penyaruan dari manusia bermuka dingin Han Siong Kie, peristiwa ini benar2 suatu kejadian yang sama sekali tak terduga dan mimpipun tak pernah disangka oleh setiap orang.
Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau mendengus penuh kegusaran, baru saja dia akan menerjang maju kedepan...
Tiba2 Han Siong Kie bertindak jauh lebih cepat lagi, ia menggeserkan kakinya dan mendekati pihak lawan.
Suasana ditengah gelanggang seketika itu juga berubah jadi sangat tegang, hawa napsu membunuh menyelimtti seluruh udara.
Malaikat pengamat langit ci Chong, salah satu diantara dua pelindung hukum berbaju kuning dengan cepat berkelebat kearah depan dan menghadang tepat dihadapan sau kaucunya.
Han Siong Kie mendengus dingin, ia berjalan maju terus hingga pada jarak delapan depa dari lawannya baru berhenti, dengan suara dingin bagaikan saiju ia berseru: "Hmm engkau hendak berangkat selangkah lebih duluan??"
Empat pelindung hukum berbaju kuning merupakan tokoh2 sakti yang tingkatannya dalam perkumpulan Thian che kau, sedikit dibawah kedudukan ketua, ilmu silat yang mereka miliki termasuk dalam taraf yang amat sempurna sekali.
Malaikat pengamat langit ci Chong adalah salah satu diantara empat pelindung hukum, tenaga dalam yang ia miliki tentu saja termasuk luar biasa, mendengar perkataan itu dia segera membentak:
"Manusia bermuka dingin, aku kurang seksama dalam memeriksa keadaanmu setelah menjalankan hukuman tempo hari hingga engkau berhasil meloloskan diri, kini aku akan bunuh dirimu untuk menebus kesalahanku dimasa silam"
Begitu ucapan terakhir diutarakan keluar, sepasang telapaknya laksana sambaran petir dan gulungan ombak dahsyat ditengah samudra menghantam kearah depan.
Han Siong Kie sendiri begitu mengetahui kalau pihak lawan bukan lain adalah algejo dariperkumpulan Thian che kau, hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya semakin tebal, sepasang telapaknya dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya langsung melepaskan satu pukulan dahsyat kedepan, dengan andalkan hawa murni sebesar dua ratus tahun hasil latihan, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan yang dilepaskan dengan sepenuh tenaga itu.
"Blaamm .." ditengah benturan keras yang amat memekikkan telinga, tubuh malaikat pengamat langit ci Cho mencelat sejauh tiga tombak lebih dari tempat semula dan roboh terkapar diiatas tanah.
Dalam satu gebrakan Han Siong Kie berhasil membinasakan seorang jago silat kelas satu dalam dunia persilatan, kelihayan ilmu silatnya benar2 mengerikan sekali.
sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau serta pelindung hukum baju kuning lainnya jadi ketakutan setengah mati setelah menyaksikan kejadian itu, mereka rasakan sukma serasa melayang tinggalkan raganya, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuh.
Han Siong Kie mendengus dingin, dengan sorot mata memancarkan napsu membunuh ia tatap wajah sau-kaucu dari perkumpulan Thian che kau itu tanpa berkedip.
Ditatap sedemikian rupa oleh lawannya, ketua muda dari perkumpulan Thian che kau merasakan seluruh tubuhnya bergetar keras, paras mukanya kontan berubah jadi pucat ke hijau2an.
Pelindung hukum baju kuning lainnya tak mau berpeluk tangan dengan begitu saja, sambil membentak keras tiba2 ia lancarkan sebuah pukulan kearah depan-Dalam serangan tersebut, ia telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya.
Han Siong Kie dengan cekatan menyingkir ke samping, sepasang telapaknya disilangkan kedepan mengunci datangnya ancaman tersebut.
Pada saat yang bersamaan pula sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau menggosok sepasang telapaknya kemudian secepat kilat, di dorong kemuka.
segulung angin pukulan lembut meluncur kedepan, Han Siong Kie kontan merasakan sebagian dari tenaga pukulan yang dilancarkan keluar lenyap tak berbekas, hal ini membuat hatinya amat terperanjat...
-0000000-
BAB 33
"BLUUMMM . " benturan keras yang amat memekikkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian, ia serta pelindung hukum baju kuning itu masing2 tergetar mundur satu langkah kebelakang.
Terhadap kepandaian aneh yang dapat membuyarkan tenaga dalam milik orang itu, Han Siong Kie sama sekali tidak merasa asing, pertama kali dan mengalami keampuhan dari ilmu tersebut sewaktu berada diwilayah Lian huan tau, tapi hanya sebentar saja tenaga dalam yang lenyap pulih kembali seperti sedia kala.
Kedua kalinya pemilik benteng maut yang menggunakan ilmu aneh tersebut, waktu itu tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan pesat, tapi segenap kemampuannya sama sekali lenyap tak ketolongan.
Ketiga kalinya, Tengkorak maut gadungan yang menggunakan kepandaian tersebut, membuat tenaga dalamnya tak bisa dihimpun kembali tapi gejala itupun hanya berlangsung sebentar.
Sekarang untuk keempat kalinya dilakukan oleh sau- kaucu dari perkumpulan Thian che kau ini, berada dalam keadaan tak siap ia hanya merasakan hawa murninya sedikit buyar.
Dari sini dapatlah dibuktikan kalau tenaga dalam yang dimiliki ketua muda perkumpulan Thian che kau itu masih belum cukup untuk mempengaruhi dirinya, dan ia sendiri tentu saja jauh berbeda kalau dibandingkan dengan keadaannya tempo hari.
Andaikata tiada rintangan dari ketua muda perkumpulan Thian che kau, mungkin pelindung hukum baju kuning itu tak akan mampu menahan serangan Han Siong Kie yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu.
Sesudah mundur kebelakang, Han Siong Kie menggetarkan telapak kananaya berulang kali,angin pukulan yang berlapis- lapis meluncur kearah depan, dengan angin tajam menyapu kearah tubuh ketua muda perkumpulan Thian che kau dengan hebatnya sementara tangan kiri dengan kelima jari yang terpentang lebar melepaskan totokan jari Tong kim ci yang dahsyat untuk mendesak pelindung hukum baju kuning.
"Blaaam... blaaamm. ." terjadi benturan keras secara beruntun, dengan sepenuh tenaga ketua muda perkumpulan Thian che kau menangkis serangan itu, namun ia gagal untuk menahan kedahsyatan lawan sehingga badannya tergetar mundur beberapa langkah kebelakang.
Pelindung hukum baju kuning sendiri, di bawah desakan totokan jari maut dari pemuda itu, terpaksa harus berkelit kesana menghindar kemari dengan repotnya, ia berusaha keras untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya maut tersebut.
Ketika ketua muda perkumpulan Thian che kau berhasil didesak mundur itulah, tiba-tiba Han Siong Kie menarik kembali telapaknya dan pusatkan segenap kemampuan yang ia miliki untuk bereskan pelindung hukum baju kuning itu lebih dahulu.
Pemuda itu tahu asal pelindung hukum baja kuning berhasil disingkirkan dari muka bumi, maka dia akan jauh lebih mudah untuk membereskan diri ketua muda dari perkumpulan Thian che kau.
Dibawah serangan gencar yang dahsyat dan cepat bagaikan sambaran kilat itu, pelindung hukum baju kuning tak dapat menghindarkan diri dari ancaman maut lagi. SUatu jeritan ngeri yang menyayat hati segera memecahkan kesunyian.
sambil muntah darah segar, pelindung hukum baju kuning itu roboh terkapar keatas tanah dan selamanya tak pernah bangun lagi.
Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau merasakan hatinya bergidik, sukma serasa melayang tinggalkan raganya, ia putar badan dan siap kabur dari situ.
Han Siong Kie tertawa dingin, sekali enjot badan tahu2 ia sudah manghadang didepan tubuh lawannya.
Dengan wajah ketakutan, kaget bercampur ngeri, kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur tiga langkah ke belakang, serunya dengan suara gemetar: "Manusia bermuka dingin, apa yang ingin kau lakukan atas diriku??"
"Apa lagi,..? Heehh heehhh, tentu saja menjagal engkau bajingan terkutuk"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan maut kearah lawannya dengan jurus2 ampuh dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat.
Dengan sempoyongan kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur delapan langkah kebelakang, ia sama sekali sudah kehilangan kemampuannya untuk melakukan perlawanan.
Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie, sikap dan mimik wajahnya pada waktu itu sangat mengerikan dan cukup menggidikkan hati siapapun yang memandang.
Dengan suara yang dingin, sadis dan menyeramkan serunya lantang:
"Bocah keparat dalam satu jurus berikut ini, aku akan suruh engkau menggeletak di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa"
Sementara itu kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu sudah tcrdesak sehingga apa boleh buat lagi kecuali adu jiwa, timbullah kenekadan dalam hatinya, sambil membentak nyaring ia terjang kemuka dengan amat garang.
Bagaikan sukma yang gentayangan, sekali berkelebat Han Siong Kie sudah menghindarkan diri dari terjangan itu, hardiknya: "Kena"
Sekujur badan kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu bergetar keras, pergelangan kanannya kena dicengkeram dengan telak membuat semua kekuatan dalam tubuhnya lenyap tak berbekas, sementara sebuah telapak yang lain tahu2 sudah menempel di atas ubun2nya.
"Habis sudah riwayatku" bisik pemuda itu dengan sedih, sepasang matanya dipejamkan rapat2.
Telapak tangan Han Siong Kie yang menempel diatas ubun2 lawan boleh dibilang sudah menguasahi penuh mati hidup musuhnya, sebab asalkan hawa murni disalurkan keluar, niscaya batok kepala lawan bakal hancur berantakan dan isi benak akan berhamburan di mana2.
"Bocah keparat" hardiknya, " ayoh jawab, apa hubungan antara perkumpulan Thian che kau dengan benteng maut?"
Sepasang mata kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau yang sudah terpejam rapat kembali melotot, dengan sorot mata benci berCampur kaget ia awasi Han Siong Kie tanpa berkedip, beberapa saat kemudian baru tegurnya: "Apa yang kau katakan??"
"Apa hubungannya antara perkumpulan Thian che kau dengan benteng maut??"
"Darimana engkau bisa menuduh begitu?"
"Hmm tenaga dalam yang kau miliki persis seperti aliran tenaga dalam dari pemilik benteng maut"
"Segala macam ilmu silat yang ada dikolong langit sumbernya tetap satu, kenapa engkau musti terCengang melihat kesamaan itu?" bantah kaucu muda itu dengan cepat.
"Jadi kalau begitu, perkumpulan Thian-che kau sama sekali tak ada hubungannya dengan benteng maut??"
"Maaf, aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu" seru kaucu muda tersebut dengan tegas.
"Ehmmm...bagus...bagus sekali" teriak Han Siong Kiepenuh kegusaran yang meluap2, "Sekarang pejamkan matamu, dan nantikanlah kematian yang paling nyaman bagimu"
Disaat yang kritis dan berbahaya itulah, mendadak dari kejauhan berkumandang datang suara bentakan keras, disusul seorang berseru lantang:
"Han Siong Kie, engkau tak boleh melukai dirinya"
Han Siong Kie merasa amat terperanjat mendengar perkataan itu, dengan cepat ia tarik kembali serangannya sambil berpaling kearah mana berasalnya suara itu.
seorang gadis berkain cadar hitam berdiri tegak kurang lebih satu tombak di hadapannya, dan perempuan itu telah dikenal baik olehnya. Tanpa sadar lagi Pemuda she Han itu berseru kaget: "oooh... orang yang ada maksud"
"Sedikitpun tidak salah" gadis misterius yang muncul tepat pada saatnya untuk mencegah Han Siong Kie turun tangan keji atas diri kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu, bukan lain adalah orang yang ada maksud.
"Nona, baik2kah engkau selama ini?" sapa sang pemuda.
"Terima kasih atas perhatianmu, aku berada dalam keadaan sehat walafiat selama ini"
"Apa yang barusan nona katakan??"
"Engkau tak boleh membinasakan dirinya."
"Kenapa?? kenapa aku tak boleh membunuh dirinya?"
"Kalau orang itu kau bunuh, maka sepanjang masa engkau akan menderita penyesalan yang tak terhingga."
Perkataan yang sama sekali tak ada ujung pangkalnya itu sangat membingungkan hati siapapun juga yang mendengar, termasuk juga diri Han Siong Kie. Untuk beberapa saat lamanya pemuda itu berdiri terperangah, pikirnya dihati.
"Aneh benar kenapa aku bakal merasakan penyesalan yang tak terhingga jika kubunuh kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau ini? apa maksudnya?"
setelah berpikir sebentar, seakan2 ia telah memahami akan sesuatu, segera ujarnya: "Maksud nona...ibunya adalah..."
"Tutup mulut" orang yang ada maksud segera menukas ucapan Han Siong Kie yang belum sempat diselesaikan.
Kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau pun berdiri termangu karena keheranan, ia tak mengerti kenapa orang yang ada maksud muncul tepat pada saatnya dan menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut??
Setelah tertegun beberapa saat lamanya, dengan nada tercengang Han Siong Kie segera berseru.
"Nona, bersediakah engkau jelaskan perkataanmu itu dengan lebih terang lagi?"
"Lepaskanlah orang itu " pinta orang yang ada maksud dengan nada sedih.
"Kenapa? kenapa aku harus lepaskan dirinya?"
"Janganlah banyak bertanya, lepaskan dia dari sini dalam keadaan hidup2"
"Tentang soal ini... mungkin aku tak dapat memenuhi harapanmu"
"Jadi engkau bersikeras akan bunuh pemuda itu?"
"Benar bagaimanapun juga dia harus ku bunuh" "
"Kalau memeng begitu, sebelum kau bunuh dirinya terlebih dahulu menangkan dulu aku"
Han Siong Kie semakin terperangah.
"Jadi...jadi nona bersedia turun tangan melawan aku hanya disebabkan ingin melimdungi keselamatan jiwanya belaka?"
"Perkataanmu tidak salah, aku memang bermaksud demikian."
"Aku tak dapat berbuat sekurang ajar itu terhadap diri nona, apalagi nona dan ibu nona sudah terialu banyak melimpahkan budi kebaikan kepada diriku"
"Ucapan semacam itu lebih baik tak usah diutarakan lagi, pokoknya kalau engkau hendak membinasakan dirinya maka teriebih dahulu robohkan dulu aku, kemudian setelah aku tak dapat berkutik lagi, engkau boleh bebas melakukan segala apapun secara bebas"
Han Siong Kie jadi amat terkesiap, dengan nada menyelidik ia berkata lagi:
"Kalau aku hendak membinasakan dirinya, maka hal itu bisa kulakukan dengan gampang sekali ibarat membalik telapak sendiri, asal hawa murni kulontarkan keluar maka..."
"Han Siong Kie" ancam orang yang ada maksud," kalau engkau benar-benar berani turun tangan, maka salah satu diantara kira berdua tak akan dapat keluar dari sini dalam keadaan hidup."
"Aaah benarkah persoalan ini telah berubah jadi begitu serius?"
"Aku telah membentangkan semua persoalan kepadamu, aku harap engkau jangan paksakan sesuatu perpecahan diantara kita berdua. "
Han Siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh, selama hidup ia belum pernah tundukkan kepala kepada siapapun, tapi terhadap orang yang ada maksud ia nampak agak ragu2 Sebenarnya pemuda itu dapat selesaikan persoalan tersebut dengan gampang, asal ia bunuh kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu lebih dahulu kemudian baru memberi penjelasan kepada orang yang ada maksud, urusan akan beres dengan sendirinya.
Tapi sekarang, dengan tegas orang yang ada maksud telah kemukakan ancamannya, andaikata ia berkeras kepala untuk melaksanakan juga pembunuhan itu, maka akibatnya pasti mengerikan sekali dan sukar dilukiskan dengan kata2.
Tiba2... pemuda itu berhasil menemukan suatu kemungkinan dalam peristiwa ini, jangan2 orang yang ada maksud telah jatuh cinta kepada kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau ini?
Diantara mereka bertiga, Kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itulah yang paling merasa keheranan dan tak habis mengerti, ia menganggap jiwanya pasti melayang ditangan musuh, siapa tahu tiba2 muncul seorang perempuan berkerudung yang bernama orang yang ada maksud dan berusaha keras untuk melindungi jiwanya, siapakah gadis itu? sementara ia masih terpengah, terdengar orang yang ada maksud kembali berkata: "Lepaskan dia"
Perkataan itu menyerupai suatu perintah, membuat orang tak bisa berkata lain kecuali lepas tangan.
Akhirnya Han Siong Kie mengalah dan kendorkan tangannya dan mundur beberapa langkah kebelakang.
Se-akan2 baru saja lolos dari kematian, dengan peluh dingin membasahi badannya, Kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur kebelakang, lalu sambil menjura kepada orang yang ada maksud ujarnya lirih:
"Yu siu Kun mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan yang telah nona berikan kepadaku"
Mendengar nama tersebUt, satu ingatan segera berkelebat dalam benak Han Siong Kie pikirnya lagi.
"Bangsat muda itu bernama Yu siu Kun, kalau begitu ketua perkumpulan Thian che kau sudah pasti she Yu pula..."
Sementara itu orang yang ada maksud telah ulapkan tanganya sambil berkata: "Yu sau kaucu, anda tak usah berterima kasih kepadaku, cepatlah pergi dari sini"
"Bolehkah aku tahu siapakah nama nona ?"
"Orang yang ada maksud "
"Namamu..."
"Engkau tak usah pikirkan peristiwa yang telah terjadi pada saat ini didalam hati, Nah cepatlah berlalu"
Per-lahan2 Yu sau Kun putar badan, setelah melotot sekejap kearah Han Siong Kie dengan penuh kebencian serunya :
"Hei manusia bermuka dingin, selama gunung menghijau, air tetap mengalir... kita sampai jumpa lain waktu"
Han Siong Kie mendengus dengan nada menghina, hawa napsU membUnuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan seram ia menyahut:
"Yu sau Kun akupun akan memperingatkan dirimu, kalau engkau berani mengganggu kuburan dari mendiang guruku ini, maka perkumpulan Thian che kau akan kubasmi dari muka bumi"
Yu sau Kun mendengus dingin. "Manusia barwajah dingin, engkau tak usah tekebur, lihat saja bagaimana akhirnya nanti" teriaknya penuh kebencian.
Habis berkata dia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Menanti Yu sau Kun sudah jauh tinggalkan tempat itu, orang yang ada maksud baru berjalan kedepan kuburan itu, tangannya bergerak cepat menghapus tulisan diatas batu nisan tersebut.
Han Siong Tie merasa amat terperanjat cepat2 ia maju kedepan dengan maksud menghalangi, serunya dengan nada terperanjat: "Nona, apa yang kau lakukan ?"
"Aku hendak menghapus namamu dari atas batu nisan itu"
"Kenapa? "
"Apa engkau sudah lupa kalau Manusia bermuka dingin Han Siong Kie sudah mati, diatas bukit sebelah sana masih berdiri kuburanmu, sekarang kedudukanmu adalah Malaikat penyakitan, ahli waris dari iblis diantara iblis"
Han Siong Kie tersenyum.
"Buat seorang pria sejati, menentang maut tak akan mundur, kenapa aku musti berbuat main sembunyi macam cucu kura2 saja"
"Kedudukanmu saat ini ibarat api dan air dengan pihak perkumpulan Thian che kau, apa lagi saat ini engkau telah musnahkan pula dua orang pelindung hukum baju kuning dari perkumpulannya, sudah pasti mereka tak akan berpeluk tangan belaka, bagaimanakah akibatnya aku rasa engkau tentu sudah tahu ...."
"Apa yang musti aku takuti?" seru sang pemuda dengan angkuh.
"Jago2 lihay yang tergabung dalam perkumpulan Thian che kau sangat banyak sukar dihitung, kekuasaan mereka amat meluas dan memimpin bampir seluruh perkumpulan besar atau kecil yang ada dalam dunia persilatan, apa lagi tenaga murni yang dimiliki kaucu mereka luar biasa dahsyatnya..".
"Aku merasa amat berterima kasih atas maksud baik dari nona, tetapi aku tak sudi melakukan perbuatan yang main sembunyi terus macam cucu kura2"
"Ibuku toh pernah memberikan selembar kulit manusia kepadamu agar engkau bisa merubah wajah aslimu, sebetulnya ada di balik semuanya terkandung pula maksud yang mendalam sekali"
"Apakah aku boleh tahu maksud yang sebenarnya?" tanya sang pemuda dengan perasaan tertarik. .
Dengan nada tawar orang yang ada maksud gelengkan kepalanya berulang kali.
"Lain waktu engkau akan mengetahui dengan sendirinya semua persoalan tersebut, pokoknya ibuku ada maksud2 tertentu yang menguntungkan bagimu"
Han Siong Kie merasa amat tidak sabar untuk menantikan jawaban yang terkandung dibalik gerak gerik orang yang ada maksud serta ibunya yang serba misterius itu, tetapi diapun tak dapat berbuat apa2 kecuali menunggu dan menunggu terus, akhirnya sambil menuding ke arah batu nisan didepan kuburan itu ujarnya:
"Seorang murid mendirikan batu nisan bagi gurunya, masa sang murid itu tak dapat meninggalkan nama aslinya??"
"Mengapa engkau tidak dirikan saja batu nisan tersebut dikemudan hari??"
"Aku tidak ingin merusak batu nisan tersebut"
"Apakah engkau bisa menjamin kalau orang2 dari perkumpulan Thian che kau tak akan mengganggu jenasah dari gurumu, apa lagi daerah disekitar tempat ini merupakan daerah terlarang bagi perkumpulannya?"
Hawa nafsu membunuh yang sangat tebal memancar keluar dari balik sorot mata pemuda itu, dengan suara mendalam katanya:
"Aku telah memperingatkan lebih dahulu kepada mereka, andaikata ada orang berani mengganggu atau membongkar kuburan dari guruku, maka mayat akan bergelimpangan diseluruh wilayah Lian huan-tau, aku akan bantai seluruh isi keluarga mereka sehingga seorangpun tak ada yang bisa hidup lagi dengan tenang"
"Engkau hendak membantai seluruh anggota perkumpulan Thian che kau dengan andalkan kekuatanmu seorang diri?" tanya orang yang ada maksud.
"Benar, dan apabila nona tidak percaya silahkan saja menunggu sampai tanggal mainnya"
Untuk beberapa saat lamanya orang yang ada maksud termenung dan berpikir keras, kemudian ia berkata lagi:
"Ibu merasa amat menyesal sekali atas perbuatan dan tingkah lakumu pada akhir2 ini"
"Akupun menyesal karena harus membuat hati ibumu jadi sedih"
Dengan putus asa orang yang ada maksud meluruskan tangannya kebawah, lalu mundur selangkah kebelakang, serunya kembali:
"Jadi engkau bersikeras akan tetap mempertahankan namamu itu?"
"Benar, dan maaf sekali atas kekerasan kepalaku ini, aku harap kalian ibu dan anak tidak sampai tersinggung karena persoalan ini"
Orang yang ada maksud kembali termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, tanyanya:
"Apakah gurumu Iblis diantara iblis benar2 adalah ketua dari istana Huan-mo kiong diwilayah Thian lam?".
"Aku rasa tiada hal lain yang perlu dicurigakan lagi, memang guruku masih sempat meninggalkan benda tanda bukti kepadaku"
"Oooh.. jadi kalau begitu engkau sudah menjadi ahli waris dari istana Huan mo kiong tersebut??"
"Benar"
Tiba2 orang yang ada maksud mengalihkan sorot matanya mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, rupanya ia sedang menyelidiki apakah disekitar tempat itu tak ada orang yang bersembunyi atau tidak. setelah yakin kalau ditrmpat itu tak ada orangnya, dengan suara yang amat lirih dia baru bertanya:
"Benarkah engkau telah kehilangan sebuah benda mustika dari dunia persilatan?"
Han Siong Kie mengangguk.
"Benar, aku telah kehilangan sebuah benda mustika yang tak ternilai harganya, dari mana nona bisa mengetahui akan hal ini?"
"Bukan aku saja yang mengetahui akan peristiwa ini, orang lainpun ada pula yang sudah tahu"
"Meskipun untuk sementara waktu telah berpindah tangan, tapi aku bersumpah untuk mendapatkannya kembali" ujar pemuda itu dengan nada tegas.
"Tetapi ilmu silat yang kau miliki masih bukan tandingan kepandaian musuh"
"Nona maksudkan ilmu silat siapa..?"
"Tentu saja tengkorak maut gadungan itu"
"Aah belum tentu aku kalah dari dia"
"Tapi dalam kenyataan engkau toh masih belum mampu untuk menandingi kedahsyatan ilmu silatnya?"
"Lain dulu lain sekarang, kalau dulu kalah masa untuk selamanya aku selalu kalah terus?"
"Jadi sekarang engkau sudah mempunyai keyakinan untuk menangkan dirinya?"
"Mungkin begitu"
"Sungguhkah ucapanmu itu?" orang yang ada maksud berusaha untuk menegaskan.
"Selama aku tak pernah bicara bohong, apa lagi menganggap pembicaraan sebagai suatu gurauan belaka" sahut sang pemuda dengan paras muka serius.
Pada saat itulah...tiba2 dari kejauhan berkumandang datang suara ujung baju tersampok angin, sesosok bayangan manusia dengan gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat meluncur kurang lebih sepuluh tombak dihadapannya, begitu cepat gerakan tubuh orang itu sehingga andaikata seseorang tidak memiliki tenaga dalam setaraf dengan Han Siong Kie serta orang yang ada maksud pada saat ini, mungkin sulit untuk mengetahuinya. Buru2 orang yang ada maksud berkata: "Aku harus segera pergi dari sini, selamat tinggal"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, dia segera enjotkan badan dan lenyap dibalik pepohonan.
Satu ingatan dengan cepat berkelebit dalam benak Han Siong Kie, diam2 ia berpikir:
"Siapakah bayangan manusia yang barusan berkelebat lewat itu? kenapa orang yang ada maksud berlalu dari sini secara tergopoh2...??"
Pemuda itu tak mau banyak berpikir lagi, dengan suatu gerakan yang tak kalah cepatnya ia berkelebat menuju kearah mana bayangan manusia tadi melenyapkan diri, tujuannya adalah berharap dengan kesempatan itu ia berhasil mendapatkan tanda2 yang menunjukkan akan asal usul dari orang yang ada maksud serta ibunya, dengan begitu pelbagai persoalan yang mencurigakan dirinya selama inipun dapat terpecahkan.
Dari pembicaraan yang barusan berlangsung,jelas perkataan yang hendak diutarakan kepadanya oleh orang yang ada maksud belum sampai selesai, dia masih banyak perkataan yang hendak dibicarakan dengan dirinya, tapi justru karena kemunculan bayangan manusia yang amat mendadak. membuat gadis itu buru2 meninggalkan dirinya, itu berarti dibalik kesemuanya itu masih terkandung hal yang sangat mencurigakan.
Dengan sepenuh tenaga Hansioog Kie mengerahkan gerak tubuh cahaya kilat lintasan bayangan untuk mengejar bayangan manusia tadi, kecepatan gerak tubuhnya pada saat ini sukar dilukiskan dengan kata2.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba diujung hutan dan menginjak disebuah tanah lapang yang amat luas, kurang lebih puluhan tombak dihadapannya tampaklah sesosok bayangan manusia sedang bergerak dengan cepatnya, bayangan itu langsing menuju kearah sebuah bukit disebelah kiri
Tatkala Han Siong Kie telah berhasil mendekati lawannya sehingga kurang lebih dua puluh tombak dibelakangnya, ia mulai memperlambat larinya dan tetap mempertahankan jaraknya dengan orang itu, dalam keadaan demikian sulitlah bagi kedua belah pihak untuk mengetahui jelas keadaan indentitas dari lawannya.
Bayangan punggung orang itu sama sekali tidak terlalu asing baginya, tapi untuk beberapa saat lamanya Han Siong Kie tak dapat menebak siapa kah orang itu. Seperminum teh kemudian, mereka sudah da dua puluh li jauhnya dari tempat semula.
Sebuah bukit kecil muncul didepan mata, sianak muda itu mulai curiga bercampur tak habis mengerti, sebab dia lihat bayangan manusia yang agaknya pernah dikenal olehnya itu ternyata sedang bergerak menuju kearah bukit dimana kuburan palsunya berada.
Rupanya bayangan manusia yang bergerak didepan itu sama sekali tidak menduga kalau secara diam2 perjalanannya sedang dikuntit orang, tanpa ragu2 dia langsung meluncur naik keatas bukit.
Sungguh aneh, ternyata orang tadi benar2 hentikan gerakan tubuhnya tepat didepan kuburan palsu dari Han Siong Kie.
Kurang lebih sepuluh tombak dari kuburannya, sianak muda itu menghentikan gerakan tubuhnya dan menyembunyikan diri di belakang sebuah batu cadas yang besar.
Tiba2 bayangan manusia yang ternyata adalah seorang gadis itu berpaling, sorot matanya yang tajam menyapu sekejap kearah tempat persembunyian dari Han Siong Kie, kemudian ia memperdengarkan suara tertawa dingin yang amat ketus.
Kembali Han Siong Kie terperangah, pikirnya:
"Mungkinkah dia sudah tahu kalau perjalanannya sedang diikuti orang...? kalau memang begitu, kenapa ia tidak menegur?"
Sekarang pemuda itu dapat melihat dengan tegas, rupanya gadis itu bukan lain adalah Go siau Bi.
Dengan ter mangu2 dan rasa tercengang si anak muda itu mengawasi gerak gerik dari Go siau Bi, dia ingin lihat apa yang hendak dilakukan oleh gadis tersebut dihadapan kuburan palsunya.
Lama sekali Go siau Bi berdiri termangu-mangu didepan kuburan tersebut, tiba tiba ia ayun telapaknya dan melancarkan sebuah babatan kilat keatas kuburan tersebut.
Gerakan tubuhnya ini sangat mengejutkan hati Han Siong Kie, tetapi ia tiada maksud untuk menghalangi perbuatannya itu, sebab bagaimanapun juga kuburan itu adalah sebuah kuburan kosong.
Hanya saja ia tak dapat menebak. apa maksud dan tujuan Go siau Bi membongkar kuburannya itu?
Baru saja angin pukulan yang dilancarkan Go siau Bi hampir mengena diatas batu nisan kuburan itu, tiba2 suatu bentakan nyaring berkumandang datang dari sisi tubuhnya. "Tahan jangan bertindak sembarangan.."
Go siau Bi agak terperanjat, Ia segera tarik kembali serangannya dan mundur lima depa kebelakang.
Dari belakang kuburan kosong, per-lahan2 muncullah seorang gadis muda yang sangat cantik bagaikan bidadari.
Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras setelah bertemu dengan dara tersebut, sebab dia masih kenal gadis cantik itu sebagai "Istri yang ditinggaikan" yang pernah melepaskan dirinya dari dalam benteng maut.
Sementara itu Go siau Bi nampak tercengang menyaksikan kemunculan dara ayu itu, dengan keheranan dia menegur: "Nona, siapa kah engkau?"
"Sebutkan dahulu siapa kah namamu?" nona cantik itu balas menegur.
"Aku bernama Go siau Bi"
"Engkau adalah Go siau Bi?"
"Benar, ada apa?"
"Mengapa engkau hendak merusak kuburan ini?"
Teguran yang disertai sikap tak mau tahu keadaan orang lain itu sangat menggusarkan hati Go siau Bi dengan alis mata berkenyit dia balas menegur: "Lalu siapa kah namamu?"
"Nona panggil saja aku sebagai Istri yang ditinggaikan"
"Istri yang ditinggaikan ?"
"Benar. "
"Istri yang ditinggaikan, engkau adalab seorang janda?"
Paras muka Istri yang ditinggaikan berubah hebat, tegurnya dengan perasaan tak senang hati:
"Nona, aku harap sedikitlah tahu sopan kalau berbicara...." Go siau Bitertawa dingin.
"Engkau sendiri toh yang menyebut dirimu sebagai Istri yang ditinggalkan, masa aku telah salah bicara?"
Istri yang ditinggaikan tidak menggubris perkataan itu lagi, setelah termenung sebentar kembali ia menegur:
"Aku harap engkau bersedia menjelaskan kepadaku, apa sebabnya engkau hendak membongkar kuburan ini??"
"Aku senang berbuat begini, engkau mau apa??"
"Senang berbuat begitu? haaahh haaahh haaaahh apakah orang yang berada dalam kuburan ini pernah terikat dendam atau sakit hati dengan dirimu?"
"Tepat sekali tebakanmu itu dan dia mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan dirimu?"
"Dia? siapa yang kau maksud kan dia? "
"Manusia bermuka dingin Han Siong Kie"
Go siau Bi menengadah dan tertawa semakin keras, begitu kerasnya sehingga membelah kesunyian yang mencekam disekeliling tempat itu.
Han Siong Kie yang bersembunyi disamping kuburanpun jadi tertegun dibuatnya, sepasang matanya terbelalak lebar sementara mulutnya melongo, ia tak habis mengerti dibuatnya oleh keadaan yang tertera dihadapan matanya.
-ooooooo-
BAB 34
ISTRI YANG ditinggaikan melototkan sepasang matanya bulat2, ia menghardik: "Apa yang perlu kau tertawakan?"
Go siau Bi tarik kembali tertawanya, kemudian dengan wajah serius menjawab:
"Engkau tak perlu tahu kenapa aku tertawa, sebab aku ingin tertawa maka tiada orang yang bisa menghalangi niatku itu"
"Tapi aku justru bersikeras melarang engkau tertawa disini"
"Huuh... dengan andalkan apa engkau berani melarang aku tertawa disini?"
"Berdasarkan perbuatanmu yang hendak membongkar kuburan ini, sudah cukup alasan bagiku untuk membinasakan engkau"
"Omong kosong jangan berlagak sok dihadapanku, apalagi main gertak sambal yang sama sekali tak ada gunanya"
"Oooh... jadi engkau tak percaya? mari akan kubuktikan kebenaran dari ucapanku itu."
Dengan suatu gerakan tubuh yang sangat cepat Istri yang ditinggalkan melayang kedepan kuburan dan berdiri saling berhadapan dengan Go Siau Bi, kemudian tanpa banyak bicara sepasang telapaknya didorong kedepan melancarkan sebuah pukulan dengan suatu jurus serangan yang aneh dan ganas.
Sekali lagi Han Siong Kie dibikin terperangah oleh kehebatan serangan tersebut, tempo dulu ia pernah menyelamatkan jiwa Istri yang ditinggaikan karena ia tak mampu melayani keroyokan empat orang pengawai baju hijau dari istana Huan mo kiong, tapi kenyataan yang tertera didepan mata pada saat ini menunjukkan bahwa ilmu siiatnya amat dahsyat, itu berarti tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat dalam beberapa waktu yang amat singkat.
Go siau Bi mendengus dingin, tubuhnya melesat kesamping menghindarkan diri dari sergapan musuh yang amat dahsyat itu, sambil putar badan diapun balas melancarkan tiga buah jurus serangan secara berantai...
Dengan cepat istri yang ditinggalkan kena terbendung oleh pukulan itu, membuat dia mau tak mau terpaksa harus mundur tiga langkah kebelakang.
Dalam waktu singkat pertarungan yang amat sengitpun berlangsung, dua orang gadis itu saling serang menyerang dengan gencar membuat pasir dan debu beterbangan di seluruh angkasa.
Kedua belah pihak sama2 merupakan jago lihay, ilmu silat yang digunakanpun merupakan jurus2 ampuh yang luar biasa.
Hal ini membuat Han Siong Kie yang mengikuti jalannya pertarungan dari tempat persembuyiannya diam2 menjulurkan lidahnya.
Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling menyerang sebanyak beberapa ratus gebrakan lebih, namun kekuatan mereka tetap seimbang, siapapun tak dapat menangkan pertarungan tersebut dengan mudah.
Ditengah bentakan nyaring, mendadak Go siau Bi mundur kebelakang, telapak tangannya berputar kian kemari melancarkan jurus serangan yang kian lama kian bertambah aneh, segulung demi segulung anginpukulan yang aneh menyapu kedepan membuat suasana jadi mengerikan sekali.
Ditengah hembusan angin berputar yang sangat aneh itu, Istri yang ditinggalkan sama sekali tak mampu mengembangkan jurus serangannya, tanpa sadar dia berseru: "Oooh...ilmu pukulan angin berpusing, engkau adalah..."
sebelum ucapannya selesai diutarakan tiba2.. Duuk" sebuah pukulan dengan telak bersarang diatas tubuh Istri yang ditinggalkan membuat ia mundur dengan sempoyongan.
Dalam serangannya itu Go siau Bi telah mengerahkan tenaganya sebesar sepuluh bagian, dengan telak pukulan tadi menghantam dada lawan, kalau jago lihay biasa yang termakan pukulan itu niscaya isi perutnya akan goncang dan tulang dadanya pada retak, tapi Istri yang ditinggalkan hanya tergetar mundur belaka, ia sama sekali tidak mengeluh kesakitan.
Untuk sesaat Go siau Bi jadi tertegun, ia sama sekali tidak menyangka kalau pihak lawan mempunyai tenaga dalam sesempurna itu..
Sementara dia masib tertegun itulah, Istri yang ditinggalkan telah manfaatkan kesempatan itu se-baik2nya, telapak diayun kedepan secepat sambaran kilat, arah yang ditujupun merupakan tempat kematian yang sangat berbahaya.
Go siau Bi jadi kelabakan dibuatnya menghadapi serangan balasan yang luar biasa itu, tapi untung ia cukup cekatan, dengan cepat ujung kakinya menjejak tanah dan secepat kilat menghindar kearah samping.
Sayang gerakan tubuhnya masih tetap terlambat setengah langkah, bahu kanannya tersapu telak oleh pukulan lawan...
Rasa sakit yang luar biasa serasa sampai didalam tulang sumsum, tak tahan lagi gadis itu merintih kesakitan, dengan sempoyongan tubihnya mundur delapan depa ke belakang.
Kejadian itu sama sekali tidak mengherankan diri Han Siong Kie, dia tahu istri yang ditinggalkan berasal dari benteng maut, itu berarti diapun memiliki ilmu kebal yang tak mampu dihantam maupun dibacok. dengan sendirinya serangan diri Go siau Bi pun tak mungkin dapat melukai tubuhnya.
Tapi. ..mengapa Go siau Bi hendak menghancurkan kuburan kosongnya itu??
Dan apa sebabnya Istri yang ditinggalkan mati2an melindungi kuburan tersebut ? bahkan sejak permulaan ia sudah menyembunyikan diri dibelakang kuburan? Untuk beberapa saat lamanya pemuda itu hanya bisa berdiri tertegun sambil putar otak.
Kedua belah pihak sama2 pernah melepaskan budi kebaikan dan budi pertolongan kepadanya, apa kah dia harus munculkan diri untuk melerai pertarungan itu?
Dalam pada itu, setelah serangannya berhasil melukai tubuh lawan, istri yang ditinggalkan sama sekali tidak melanjutkan serangannya, dengan nada dingin ia menegur:
"Ilmu pukulan angin berpusing merupakan kepandaian silat tunggal dari Put-lo sianseng, apa hubungan nona Go dengan diri Put loo sianseng??"
Mengetahui pihak lawan kenal dengan asal usul ilmu silatnya, Go siau Bi merasa hatinya terperanjat, buru2 jawabnya. "Dia adalah kakekku"
"Oooooh... rupanya nona adalah cucu perempuan dari Put loo sianseng...maaf " Go siau Bi tak mau tunjukkan kelemahannya, dia segera menegur: "Apakah engkau adalah anak murid dari benteng maut??"
Sekarang gantian istri yang ditinggalkan yang berdiri terperangah, namun ia tidak menjawab sebaliknya alihkan pokok pembicaraan kesoal lain.
"Benarkah nona Go mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan diri Han Siong Kie??"
"Sama sekali tak ada"
"Lalu apa sebabnya engkau hendak membongkar kuburannya?? apa kah engkau bersedia memberi keterangan??"
"Tentang soal ini....jadi engkau pingin tahu?"
Rupanya Istri yang ditinggalkan sudah biasa mengumbar watak ingin menangnya, mendengar pertanyaan itu paras mukanya seketika berubah hebat. "...Masa aku tak boleh tanya?" tegurnya.
Se-akan2 telah menyadari akan sesuatu, Go siau Bi maju beberapa langkah kedepan, sahutnya dengan suara mendalam:
"Oooh...rupanya engkau adalah istri yang ditinggalkan dari Han Siong Kie??" Dengan sedih Istri yang ditinggalkan mengangguk. "Benar apa yang kau ucapkan sama sekali tidak keliru"
Han song Kie yang bersembunyi disamping kuburan tadi melongo dan duduk terperangah, suatu kejadian yang sangat ajaib baginya dia sama sekali tidak kenal dengan nona cantik itu, tapi nona itu mengakui sebagai istri yang ditinggalkan, kejadian semacam ini benar2 merupakan suatu peristiwa aneh yang tak pernah diduga sebelumnya.
Tentu saja ia sama sekali tak pernah menduga kalau Istri yang ditinggalkan yang berada dihadapannya saat ini adalah adik angkatnya Tonghong-Hui yang dirindukan setiap hari.
Paras muka Go siau Bi nampak berubah hebat, dengan nada gemetar ia menegur lagi: "Oooh... jadi ia sudah menikah?"
Dari pembicaraan lawan, istri yang ditinggalkan dapat menangkap apa yang dimaksudkan orang itu, dengan nada dingin ia balik bertanya: "Nona Go, apa kah engkau sangat mencintai dirinya??"
Merah jengah selembar wajah Go siau Bi, ia tidak menyangkal ...pun tidak mengakui.. Melihat nona itu membungkam, Istri yang ditinggalkan bertanya lebih jauh: "Jadi nona telah mengakuinya??"
"Tidak" sahut Go siau Bi tiba2 dengan nada setengah menjerit, "Aku sangat benci pada dirinya"
Han Siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan jadi gelengkan kepalanya sambil angkat bahu, terhadap diri Go siau Bi boleh dibilang tak pernah timbul ingatan atau perasaan untuk mencintai, bahkan terhadap semua perempuan yang pernah dijumpaipun ia tak pernah punya perasaan tersebut, sebab ia pernah bersumpah akan membenci kaum wanita untuk selama-lamanya.
Rupanya jawaban dari Go siau Bi itu sangat mencengangkan hati Istri yang ditinggalkan, ia berkata:
"Oleh karena engkau benci dia maka engkau hendak merusak kuburannya, apakah engkau tak merasa bahwa perbuatanmu itu keterlaluan."
Go siau Bi menggigit bibirnya:
"Aku tahu kuburan ini adalah kuburannya tapi apakah engkau yakin kalau dia benar2 berada dalam kuburan ini??"
Ucapan ini sangat mengejutkan hati Istri yang ditinggalkan, dengan wajah terkesiap dia mundur satu langkah kebelakang. "Apakah maksud perkataanmu itu?"
"Apakah engkau merasa seyakin2nya kalau Han Siong Kie benar2 sudah mati??"
"Tentu saja" Istri yang ditinggalkan mengangguk dengan tegas.
"Engkau saksikan dengan mata kepala sendiri??"
"Aku sendirilah vang membuat batu nisan didepan kuburan ini"
Han Siong Kie yang bersembunyi dibelakang batu lebih2 terperangah dibuatnya, dia sampai berdiri ter heran2. Menurut apa yang diketahui batu nisan dan kuburan itu dibangun oleh adik angkatnya Tonghong-Hui, bahkan dia pula yang telah mencantumkan namanya diatas batu nisan tersebut untuk memperingati dirinya... sekarang istri yang ditinggalkan mengakui kalau dialah yang mendirikan kuburan itu, lalu apa maksudnya? sementara sianak muda itu masih termenung, Go siau Bi telah tertawa dingin
"Heehh. heehh..heehh.. diatas batu nisan itu tertera nama dari dua orang, masa engkau juga yang mengebumikan jenasah dari pengemis cilik Tonghong Hui?"
Istri yang ditinggalkan termenung beberapa saat lamanya, tiba2 ia berkata: "Akulah Tonghong-Hui"
Hampir saja Han Siong Kie menjerit kaget menghadapi kenyataan tersebut, dia tak menyangka kalau Istri yang ditinggalkan mengaku dirinya sebagai Tonghong-Hui, suatu kejadian yang cukup membuat orang tertawa karena gelinya.
Mungkinkah dia tidak tahu kalau Tonghong-Hui adalah seorang pria, bahkan dia adalah seorang pengemis cilik? apakah nona ini menyangka Tonghong-Hui adalah seorang gadis seperti dirinya??
Tak tahan lagi Go siau Bi tertawa cekikikan karena gelinya, sambil menuding ke arah lawan dia berseru:
"Hiiihh hiiiih hiiiihhh engkau adalah Tonghong Hui? pengemis cilik??"
"Betul"
"Engkau tidak bohong? masa tampang seperti kau bisa jadi seorang pengemis cilik??"
"Aku sama sekali tidak bohong, akulah pengemis cilik Tonghong Hui"
"Kalau begitu, engkau adalah manusia atau setan??"
"Tentu saja aku adalah seorang manusia "
"Kalau toh seorang manusia, kenapa semua ucapan yang kau utarakan lebih mirip omongan setan??"
Dengan amat sedih Istri yang ditinggalkan menghela nafas panjang, ujarnya lebih jauh:
"Aaai berhubung engkau mencintai dirinya dan dia telah tiada dikolong langit, maka aku bersedia memberitahukan rahasia hatiku kepadamu, tujuanku mendirikan batu nisan ini adalah sebagai perlambang bahwasanya aku hendak balaskan dendam baginya, kemudian aku akan bunuh diri dan minta dikubur dalam satu liang yang sama bersama-sama dirinya "
Han Siong Kie yang mencuri dengar pembicaraan tersebut dari tempat persembunyiannya mulai merasa gusar, hawa amarahnya per lahan2 menyelimuti seluruh benaknya, ia tak menyangka kalau istri yang ditinggalkan bisa mengungkapkan kata2 yang begitu menarik hati tanpa tahu rasa malu, apakah ia tidak jengah mengarang cerita bohong yang begitu indah untuk menipu orang??
Tiba2 Go siau Bi tertawa keras, suaranya begitu nyaring sehingga membelah kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu.
Kontan istri yang ditinggalkan melototkan matanya bulat2, dengan suara keras dia menghardik:
"Nona, aku harap engkau bersedia tahu diri dan jagalah kesopanan dengan se-baik2nya"
-0000000-
(Bersambung ke Jilid 17)